Abdurachman POTENSI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm.

Binn) DI HUTAN ALAM LABANAN, KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman dan Amiril Saridan. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 225-236 , 2006 Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn) is one of timber product in East Kalimantan, which has a hight economical value. Ulin has been an important source of income for the forest community and National income. Information of potency and population A.zwageri Teijms. & Binn in natural forest is limited, other hand extraction or exploitation A zwageri Teijms. & Binn is still intensive, without knowing whether the tree has Ulin or not which will impact on genetic resource. This researsch was done at STREK project plots at Labanan tropical production forest with the area of plot each is 4 ha (200 m x 200 m). The totals of plots are 12 plots or 48 hectare. The objective of this research is to get information of stocking and distribution of the trees produced Ulin Eusideroxylon zwageri Teijm & Binn. The result shows that the total of trees on plots are 230 trees, which mean only 5 tree/ha (basal area are 1.9483 m2/ha). The maximum diameter in these plots is 95.2 cm while the minimum diameters were above 10 cm. Kata kunci: Ulin, Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn, Hutan alam, Labanan, Berau, Kalimantan Timur Abdurachman SEBARAN DIAMETER PADA HUTAN 1 TAHUN SETELAH PENEBANGAN DENGAN SISTEM KONVENSIONAL DI BERAU, KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 317-324 , 2006 The research was carried out the concession area of PT Inhutani I Labanan, Berau, East Kalimantan. Measurement was conducted at the plots 4 ha (200x200m). The measured diameters were from 10 cm dbh and above. The objective of this research were to know the stand structure from diameter

distribution after logging with conventional system based on exponential, Gamma, Beta, Lognormal and Logistic distribution functions. The result showed that the distribution based on number of tree follow the reserve-j pattern which is the phenomenon of mixed natural forest. Furthermore by using the regression equation based on highest coefficient of determination (R2) and the least standard deviation, the suitable function was obtained namely exponential distribution function. Kata kunci: Diameter, Struktur, Tegakan, Penebangan, Konvensional, Berau, Kalimantan Timur Ade PEMANFAATAN TANAMAN MIMBA UNTUK REHABILITASI LAHAN KERING SEKALIGUS MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN / Ade. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 71-84 , 2006 Tanaman Mimba intaran atau Nee (Azadirachta indica) adalah salah satu jenis pohon asli Indonesia yang tumbuh di daerah kering dan merupakan tanaman serbaguna yang bernilai jual ekonomi tinggi. Produk dari mimba antara lain: (1) untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik, (2) kosmetik dan toiletris seperti sabun batangan,-sabun cair, body lotion, shampo, dan pasta gigi, obat kumur, dan produk spa; (3) pembuatan obat seperti teh hijau, kapsul neem, obat luka dan balsem; (4) pakan ternak; (5) produk lain seperti obat nyamuk, minyak pelumas, pengusir hama gudang dan lain-lain. Dalam pembuatan kegiatan tanaman hutan tanaman yang meliputi teknik persemaian, penanaman dan pemeliharaan tidak memerlukan perlakuan khusus dan hampir sama dengan jenis tanaman lain. Khusus kegiatan panen dan pasca panen memerlukan teknologi khusus mulai dari pengambilan bahan tanaman yang dikaitkan dengan pengolahan pasca panen. Dalam pengembangan tanaman mimba PT. Intaran Indonesia menggunakan konsep Strategi Tiga Lingkaran a.l.: preparing, processing and developing, yang melibatkan kerjasama masyarakat, baik pemerintah, LSM, pengusaha dan kelompok tani. Kata kunci: Mimba, Rehabilitasi, Lahan kering, Ekonomi Masyarakat

1

Adinugroho, Wahyu Catur MODEL PENDUGAAN BIOMASSA POHON MAHONI (Swietenia macrophylla King) DI ATAS PERMUKAAN TANAH (Biomass Estimation Model of Above Ground Mahogany (Swietenia macrophylla King.) Tree) / Wahyu Catur Adinogroho; Kade Sidiyasa. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 103 - 117 , 2006 Protokol Kyoto meliputi mekanisme pembangunan bersih dalam rangka mengontrol karbon yang dihasilkan oleh negara-negara di dunia. Hutan menyerap CO2 dari udara melalui proses fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa hutan. Untuk menduga jumlah biomassa di dalam hutan, pendekatan secara tidak langsung melalui model alometrik dan metode biomass expansion factor (BEF) dapat digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh besarnya nilai BEF dan membuat model alometrik dalam menduga besarnya biomassa pada pohon mahoni. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut maka ditentukan sebanyak 30 pohon contoh yang ditetapkan secara purposif, yang selanjutnya dilakukan penghitungan biomassa. Biomassa batang dan cabang yang beraturan dihitung dengan menggunakan pendekatan volume sedangkan biomassa bagian lainnya dihitung dengan penimbangan langsung. Model pendugaan biomassa dihasilkan dengan menganalisa hubungan antara nilai biomassa dengan dimensi pohon. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah biomassa tertinggi terdapat pada bagian batang yakni mencapai 73 % dari biomassa keseluruhan pohon di atas permukaan tanah, kemudian diikuti oleh biomassa cabang (17 %), tunggak (5 %), daun (3 %), dan ranting (2 %). Model alometrik yang dihasilkan untuk menduga biomassa pada pohon mahoni adalah B = aDb, di mana B = biomassa (kg); D = diameter (cm); a, b = konstanta. Persamaan regresi yang dihasilkan tersebut adalah biomassa batang (Bbtg) = 0,044 D2,61 (R2 = 94,7 %), biomassa cabang (Bcab) = 0,00059 D3,46 (R2 = 83,5 %), biomassa ranting (Branting) = 0,0027 D2,42 (R2 = 65,6 %), biomassa tunggak (Btunggak) = 0,022 D1,96 (R2 = 65,6 %), biomassa daun (Bdaun) = 0,0138 D1,93 (R2 = 70 %), biomassa pohon di atas permukaan tanah (Btotal) = 0,048 D2,68 (R2 = 95,8 %). Sedangkan nilai ”BEF” rata-rata untuk pohon mahoni adalah 1,36 (biomassa batang keseluruhan) dan 2,16 (biomassa batang bebas cabang). Kata kunci : Mekanisme pembangunan bersih, biomassa, karbon, model alometrik biomassa, biomass expansion factor, Swietenia macrophylla King

Adman, Burhanuddin PENGARUH KULTUR MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN Araucaria cunninghamii Sw. DENGAN KULTUR JARINGAN (Effects of Culture Media on the Growth of Araucaria cunninghamii Sw. Explants with Tissue Culture) / Burhanuddin Adman; R. Mulyana Omon. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 67 - 73 , 2006 Penelitian pengaruh kultur media terhadap pertumbuhan eksplan Araucaria cunninghamii Sw. dengan kultur jaringan telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Petanian Universitas Papua, Manokwari, Irian Jaya. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan kultur media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan A. cunninghmii pada kultur jaringan. Percobaan dilakukan dengan tiga media kultur, yaitu MS, WPM, dan Anderson. Setiap media kultur yang volumenya 250 ml ditanami 10 eksplan A. cunninghamii. Hasil memperlihatkan bahwa WPM media telah berpengaruh terhadap pembentukan kalus (20 %) eksplan A. cunninghamii selama 16 minggu pengamatan. Sedangkan media MS dan media Anderson tidak memberikan pengaruh terhadap pembentukan kalus. Persentase pencoklatan masingmasing media berkisar antara 30 % dan 90 % dan persentase kontaminasi berkisar antara 10 % dan 50 %. Secara umum pencoklatan dan kontaminasi eksplan disebabkan oleh oksidasi substrat yang dihasilkan oleh A. cunninghamii. Dengan demikian pembiakkan vegetatif melalui teknik kultur jaringan pada eksplan A. cunninghamii harus dicoba dengan bahan kimia sterilisasi yang lain, misalnya NaOCl, dengan media WPM. Kata kunci : Araucaria cunninghamii Sw., media kultur (MS, WPM, dan Anderson), kultur jaringan Agustini, Luciasih KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR YANG POTENSIAL DALAM PEMBENTUKAN GAHARU DARI BATANG Aquilaria spp. (Biodiversity of Potential Agarwood Inducer Fungi Taken from Aquilaria spp. Stems) / Luciasih Agustini, Dono Wahyuno, dan Erdy Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.5 ; Halaman 555 564, 2006 Terbentuknya gaharu diyakini sebagai respon pohon gaharu terhadap banyak faktor, di antaranya fisiologis tanaman dan infeksi jamur. Sejumlah isolat jamur

2

yang berpotensi menginduksi gaharu telah diisolasi dari sampel kayu gaharu dari berbagai daerah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui keanekaragaman jenis isolat yang berhasil dikoleksi. Sampel kayu diambil dari beberapa lokasi penanaman gaharu di Jawa, Sumatera, Kalimatan, dan Maluku. Kegiatan isolasi, pemurnian, dan perbanyakan dilakukan dengan menumbuhkan pada berbagai media. Identifikasi dilakukan dengan mengamati ciri makroskopis dan mikroskopis isolat yang dibiakkan pada media PDA dan BLA yang diinkubasi pada suhu ruang dengan pencahayaan 300-400 lux selama 10-14 hari. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa biodiversitas isolat koleksi meliputi jenis Fusarium solani (Mart.) Appell and Walenw., F. tricinctum (Corda) Sacc., F. sambucinum Fuckel, dan Cylindrocarpon sp. Kata kunci: Keanekaragaman, Fusarium, Cylindrocarpon, ciri makroskopis dan mikroskopis Alrasjid, Harun PENERAPAN SISTEM TEBANG PILIH DI HUTAN RAWA GAMBUT / Harun Alrasjid. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 45-48 , 2006 Penerapan sistem silvikultur dalam mengelola hutan rawa gabut memerlukan penelitian yang seksama dalam jangka waktu yang lama. untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek diperlukan pengkajian ulang terhadap sistem silvikultur yang sudah mapan. Sebelum sistem silvikultur lainnya diterapkan dalam mengelola hutan rawa gambut patut ditelaah terlebih dahulu kondisi hutan rawa gambut dengan persyaratan yang diminta oleh sistem silvikultur tersebut. Penerapan sistem silvikultur TPTI untuk mengelola hutan rawa gambut perlu dikaji keakuratannya. Kata Kunci: Tebang Pilih, Hutan Rawa Gambut, Silvikultur

Alrasyid, Harun PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MENURUNNYA KELESTARIAN PRODUKSI KELOMPOK HUTAN ALAM TRENGWILIS - BOA ODAK, GUNUNG RINJANI, NUSA TENGGARA BARAT (Solution Approach of

Sustained Yield Declining Problem of Trengwilis - Boa Odak Natural Forest Complex, Mount Rinjani, West Nusa Tenggara) / Harun

Alrasyid; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 31 - 44 , 2006 Garu (Disoxylum densiflorum Miq.) merupakan salah satu jenis kayu primadona untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat ini produksi kayu tersebut setiap tahun semakin merosot, sehingga perlu ditangani segera melalui penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pemecahan masalah penurunan produksi hutan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa vegetasi. Hasil survey potensi hutan menunjukkan bahwa kelompok hutan Trengwilis – Boa Odak yang terletak di lereng Gunung Rinjani memiliki permudaan alam jenis perdagangan yang cukup. Rata-rata permudaan alam tingkat semai ada 9.740 batang per hektar, tingkat pancang 638 batang per hektar, dan permudaan alam tingkat tiang 75 pohon per hektar, namun jumlah volume kayu yang dapat dipungut sangat rendah (27,56 m³/ha untuk diameter 50 cm ke atas). Berdasarkan kondisi hutan tersebut di atas, penggunaan sistem Tebang Pilih dengan limit diameter tebang minimum 30 cm akan berakibat penebangan berkelebihan (44,63 m³/ha) sehingga kelestarian hutan akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan dengan cara : a. Limit diameter tebang dinaikkan minimum 40 cm, kecuali untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq., Eugenia polycephala Miq., dan Memecylum costatum Miq. dengan limit diameter tebang minimum 50 cm. Begitu pula untuk jenis pohon Duabanga moluccana Bl. dengan minimum diameter 70 cm; b. Perlu dilakukan pemeliharaan tegakan di areal bekas tebangan dan pengayaan tanaman khususnya untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq. Kata kunci : Kelestarian produksi hutan, Gunung Rinjani, Duabanga Moluccana Bl.., hutan alam Boa Odak, sistem silvikultur

3

mucronata Lamk 60 minggu. Sungai Sepada. Selanjutnya. Untuk menaksir tingkat pembusukan serasah dan laju akumulasi unsur mineral yang terurai menggunakan cara yang digunakan oleh Olson (1963 ) dan Yenny et al.III. No. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan keragaman jenis dan peluangnya sebagai lokasi wisata alam di Granit Training 4 . -. Bukit Tigapuluh National Park. Hutannya didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata Lamk.5 . Kata kunci : Mangrove. -. (b) Laju penguraian unsur mineral selama dekomposisi serasah adalah : P>N>Mg>C >Al >S>K>Fe>Cu>Zn>Ca>Mn. dan (c) Pemanenan biomas hutan yang tak terkontrol telah menghilangkan rata-rata 99. dengan rekomendasi bahwa Bukit Lancang dapat dikembangkan sebagai hutan pendidikan lingkungan dan jalur pendakian bagi pengunjung. TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. pengelolaan kawasan. buah muda serta buah matang. Tanahnya digenangi air pasang laut yang tingginya beberapa sentimeter. Lokasi penelitian terletak di komplek hutan alam mangrove Sungai Sepada. Kata kunci: Potensi flora. bunga pada keadaan mekar. Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).552 gc/m2/th karbon organik. Selain itu dikumpulkan juga data jenis satwa yang ada di lokasi penelitian. Bali.L.3 . keragaman jenis. Dengan mengadakan studi lapangan Heryati. dan Bruguiera gymnorrhiza Lamk. Taman Nasional Bukit Tigapuluh Anwar. Serasah kering dikumpulkan setiap triwulan.2 . West Kalimantan) / Harun Alrasyid. Riau) / Bambang S. Bruguiera gymnorrhiza (L. Riau. dekomposisi serasah. KALIMANTAN BARAT (Loss of Mineral Element During Leaf Center (GTC). serta R. Sonneratia alba J. RIAU (Potency of Flora and Species Diversity in Granit Training Center. -. Analisis vegetasi dilakukan dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP) dan asosiasi antar jenis.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kalimantan Barat.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang peranan hutan mangrove dalam memelihara kesuburan daerah perairan pantai di bawah tegakan tinggal hutan alam mangrove. No.) Lamk 36 minggu. telah diketahui waktu-waktu yang diperlukan pada masing-masing proses tahapan fenologi mangrove : munculnya tunas bunga. No. Halaman 127 . Harun PELEPASAN UNSUR HARA MINERAL SELAMA PELAPUKAN SERASAH DAUN DI AREAL TEGAKAN SISA HUTAN ALAM MANGROVE SUNGAI SEPADA.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.4 % karbon organik. dan sekitar Air Terjun Granit. pelepasan unsur mineral Antoko. Smith memerlukan waktu 15 minggu untuk menjadi buah matang sejak munculnya tunas muda pada ketiak daun di ujung ranting. Penaksiran jumlah serasah menggunakan 10 buah jaring serasah berukuran masing masing 1 m x 1 m dan diletakkan secara acak dalam hutan.III. sekitar kolam. Bambang S POTENSI DAN KERAGAMAN JENIS FLORA PADA KAWASAN WISATA ALAM DI GRANIT TRAINING CENTER. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : (a) Tegakan tinggal hutan mangrove menghasilkan rata rata 202. terbentuknya bakal buah. (1949). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Bukit Lancang mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan dua lokasi lainnya. Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Dengan diketahuinya tahapan fenologi ini maka dapat diprediksi berapa lama lagi buah mangrove akan matang. Rhizophora apiculata B. lokasi penelitian tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam. Yetti Alrasyid. memerlukan waktu 61 minggu. Antoko dan Rozza T. apabila dijumpai salah satu tahapan fenologi mangrove di lapangan. Chairil PREDIKSI MUSIM PUNCAK BUAH EMPAT JENIS MANGROVE BERDASAR HASIL FENOLOGINYA (Fruit Peak Season Prediction of Four Mangrove Species Based on Phenology) / Chairil Anwar. munculnya bakal bunga. bunga siap mekar. Pengamatan dilakukan pada jenis-jenis vegetasi di kawasan GTC yang menarik pada lokasi penelitian yaitu Bukit Lancang. Berdasar hasil pengamatan fenologi empat jenis mangrove di kawasan mangrove Suwung.136 .III. Air Terjun Granit dan kawasan sekitar kolam sebagai bagian tak terpisahkan dari pelatihan dan demonstrasi pemadaman kebakaran hutan. Halaman 237 247 . Halaman 513 -532 . 2006 Pengamatan secara kontinyu proses terbentuknya buah mangrove matang dilakukan terhadap sepuluh tangkai yang memiliki bakal tunas bunga dari setiap pohon contoh. Kwatrina.Litter Decomposition in Residual Stand Areas of Natural Mangrove Forest. dan tingginya agak seragam.

Kondisi ini akan memunculkan persoalan lingkungan hidup seperti terancam punahnya fauna dan flora. tujuh jenis merupakan elemen minor dan 33 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. Sekurang-kurangnya dijumpai 53 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati lima komplek mangrove di TN Bali Barat. Teluk Trima. maka dapat diprediksi kapan akan terjadi musim puncak berbuah mangrove.5-30 kali bobot keringnya. Sebangau. yang pada gilirannya akan membantu dalam rangka perencanaan pengunduhan buah serta penyediaan bibit mangrove. Pengalaman lahan gambut Sebangau tahun 1994 menunjukan bahwa akibat adanya pembuatan kanal yang belum begitu banyak. konservasi. -. Gambut di alam pada dasarnya merupakan bahan "spongy" yang mempunyai daya besar dalam menahan air hingga 4. -. Hutan rawa gambut. Tanjung Gelap dan luas Anwar. Halaman 155-165 . Gilimanuk. telah menyebabkan terjadinya banjir besar. Chairil SEBARAN MANGROVE DI PULAU LOMBOK. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Halaman 187-195 . 10 jenis merupakan elemen tambahan dan 29 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. maka fluktuasi permukaan air tanah yang tinggi ini dapat menyebabkan gambut tidak akan dapat menyerap air kembali apabila tergenang oleh air berikutnya. Halaman 223240 . sedimentasi. Empat belas jenis vegetasi merupakan elemen utama pembentuk mangrove. dan penurunan kualitas perairan sungai di sekitarnya. KALTENG / Chairil Anwar. yang terdiri dari mangrove komplek Teluk Gilimanuk Kata kunci: Taman Nasional.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Pengalaman saat ini dengan semakin maraknya pembuatan kanal-kanal.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petani sekitar. 2006 Taman Nasional (TN) Bali Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi.Mengingat lahan gambut memiliki sifat pengkerutan atau kering tak balik (irreversible) . Pulau Menjangan. 2006 . Bruguiera Anwar. yang pada gilirannya menyebabkan lahan gambut sangat rentan terhadap kebakaran. Chairil KERAGAMAN DAN SEBARAN MANGROVE DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Chairil Anwar. banjir. Kata kunci: Fenologi mangrove. Kalimantan Tengah Anwar. Possumur.guna mengetahui tahapan fenologi mangrove yang paling dominan pada suatu kawasan tertentu serta pada suatu saat tertentu. Sonneratia. sehingga dapat menahan banjir pada musim hujan dan mampu mengalirkan air pada saat musin kemarau. Berdasar hasil 5 . 2006 Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. Kata Kunci: Kanal. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. 2006 Pembuatan kanal dalam wilayah lahan gambut selain akan memudahkan ekstraksi kayu dalam pembalakan liar. sekurang-kurangnya terdapat 55 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati 30 komplek mangrove di Pulau Lombok. Bali Barat. diperkirakan luas mangrove di wilayah TN Bali Barat adalah 551 ha. Limabelas jenis vegetasi merupakan elemen mayor pembentuk mangrove.kebakaran hutan. juga penyebabkan terjadinya perubahan ekosistem yang akan berakibat timbulnya kerugian sangat besar dikemudian hari . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Rhizophora. Berdasar hasil pengukuran secara kasar. Chairil PENAMBATAN KANAL: UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI LINGKUNGAN PADA KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEBANGAU. Penambatan kanal merupakan salah satu upaya untuk memperlambat keluarnya air dan memperkecil fluktuasi permukaan air gambut yang diharapkan dapat memperbaiki ekosistem gambut untuk mendukung rehabilitasnya. NUSA TENGGARA BARAT DAN KEMUNGKINANNYA SEBAGAI SUMBER BENIH / Chairil Anwar. maka permukaan air tanah dapat mencapai antara 10-30 di atas permukaan tanah pada musim hujan dan dapat mencapai 100 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau.

Mangrove Anggraeni. caseolaris tersebar di Pulau Lombok yang dapat disarankan untuk dijadikan sumber benih mangrove. alba dan S. Penelitian yang dilakukan di RPH Pandantoyo.) Kostel. pesisir Kabupaten Lombar Selatan (77. bagian pucuk bentuknya tidak normal (keriting. JAWA TIMUR (Powdery Mildew and Rust Attack on Acacia auriculiformis A. R. L. Ex Benth. R. Hasil identifikasi dan determinasi penyebab pada fase aseksual penyakit embun tepung adalah fungi Oidium sp. S. Kata kunci : Klicung. -. sehingga diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian secara efektif dan efisien. pada fase seksual (Ascomycetes). Benth. racemosa. diperkirakan luas mangrove di Pulau Lombok adalah 1. Informasi dari penyakit embun jelaga dan daun menggulung yang keduanya sekaligus menyerang tanaman klicung belum pernah ada. Akibat kedua penyakit tersebut tanaman pertumbuhannya menjadi terhambat. merupakan jenis pohon cepat tumbuh untuk penghijauan yang tanaman mudanya mudah terserang penyakit. 2006 membelok).759 ha. Lombok Timur. Kabupaten Lotim Selatan (71 ha.Untuk keperluan rehabilitasi mangrove. 31 jenis) dan pesisir Kabupaten Lombar Utara (11 ha. East Java) / Illa Anggraeni. 18 jenis).apiculata.5 ha. 28 jenis). BKPH Pare. Kenyataan di lapangan ternyata tanaman klicung terserang oleh penyakit embun jelaga (black mildew) dan sekaligus juga oleh penyakit daun menggulung (roll leaf). Lombok Tengah. KHDTK Rarung.Cunn. Cunn.pengukuran secara kasar. Ex Benth. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tanaman Acacia auriculiformis A.55 %.5 ha dengan keragam 50 jenis mangrove.44 %. membengkak.) Kostel at Forest research (KHDTK) of Rarung. Wint. Jenis pohon ini tergolong lambat tumbuh (slow growth) dan tergolong jenis kayu mewah (fancy wood). No. Diospyros malabarica (Desr. embun jelaga. Ngatiman.592. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang organisme penyebab penyakit embun jelaga dan daun menggulung serta ekobiologinya. Meliola sp. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 1994 membuat plot uji coba penanaman klicung di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rarung. daun menggulung. C. 6 . penyakit embun tepung. yang terserang embun tepung saja tidak ada sedangkan yang terserang kedua penyakit tersebut sebesar 8.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. mucronata.) Kostel) secara alami terdapat di Klicung (Diospyros Kabupaten Sumbawa dan Lombok Selatan. in Kediri.2 . Lombok Barat. Persentase serangan penyakit karat daun rata-rata sebesar 91. Kata kunci: Pulau Lombok. Ex Benth.III.III. R.stylosa. berumur dua tahun serta akibat yang ditimbulkannya. Illa SERANGAN PENYAKIT EMBUN TEPUNG DAN KARAT DAUN PADA Acacia auriculiformis A. pohon menjadi kering dan terselimuti Kata kunci : Acacia auriculiformis A. pesisir selatan Kabupaten Loteng (7 ha. Sumber benih. tagal. dan penyakit daun menggulung disebabkan oleh virus.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.214 . Cunn.marina. West Nusa Tenggara) / Illa Anggraeni. Halaman 45 53 . Ex. Ari Wibowo. Cunn. Kostel) DI KHDTK BARUNG. 27 jenis) . terserang oleh dua jenis penyakit yaitu karat daun dan embun tepung. (Deuteromycetes) atau disebut pula Erysiphe sp. Hasil pengamatan gejala di lapangan serta pengamatan mikroskopis di laboratorium penyebab penyakit embun jelaga adalah fungi Meliola sp. penyakit karat daun Anggraeni.. -. DI KEDIRI. Ex Benth. 2006 Acacia auriculiformis A. Lombok. penyakit karat daun disebabkan oleh Atelocauda digitata G. dan dapat menyebabkan embun tepung.Cunn. setidaknya terdapat sembilan jenis: A. No. dan malabarica (Desr. NUSA TENGGARA BARAT (Diagnostic of Black Mildew and Rolled Leaf Diseases on Diospyros malabarica (Desr. KPH Kediri. Jawa Timur bertujuan untuk mengetahui gejala makroskopis dan mikroskopis dari penyebab penyakit yang menyerang tanaman Acacia auriculiformis A. Ex Benth. Halaman 209 . yang tersebar pada pesisir Kabupaten Lotim Utara sekitar 1. Cunn. Illa DIAGNOSA PENYAKIT EMBUN JELAGA DAN DAUN MENGGULUNG PADA KLICUNG (Diospyros malabarica (Desr. Nusa Tenggara Barat seluas 5 hektar.1 .

dan Enik Erna Wati Hadi. dan imago Helicoverpa armigera Hbn dan Spodoptera litura F. Cecar. suku Melayu Tua di jambi. 2006 Kumbang Cycotrachelus sp. dan suku Rejang Lebong Tapus Bengkulu. Pestisida nabati. perlu dicari alternatif pengendalian yang efektif terhadap hama sasaran tetapi lebih aman. XYLO INDAH PRATAMA-CECAR / Asmaliyah. Kondisi ini dikhawatirkan suatu saat nanti serangan kumbang akan membahayakan tanaman apabila sejak dini tidak dikendalikan. sebagai dasar untuk mengklasifikasi potensi masing-masing jenis sebagai tumbuhan penghasil pestisida nabati. Untuk menekan timbulnya berbagai permasalahan tersebut di atas.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Halaman 95-103 . Xylo Indah Pratama (XIP). karena dianggap paling cepat dan ampuh mengatasi gangguan hama. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi jenis tumbuh-tumbuhan yang secara tradisional oleh masyarakat etnis Sumatera dimanfaatkan sebagai obat-obatan (tradisional medicine). Inventarisasi jenis tumbuhan. Kumbang ini merupakan hama penggerek daun (leaf miner) yang menyerang daun pulai dengan cara memakan daging daun pada permukaan daun.) dan nango (Canangium sp. Pengendalian hama Asmaliyah PROSPEK PEMANFAATAN BIOINSEKTISIDA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENGENDALIAN HAMA PADA HUTAN TANAMAN / Asmaliyah. Edwin Martin. dan pengendalian hama tanaman budidaya mereka.) terlihat bahwa ekstrak kedua tumbuhan tersebut mampu mempengaruhi mortalitas. Pengendalian hama. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan lebih banyak lagi tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil pestisida nabati maupun efektivitasnya dalam mengendalikan serangga hama tanaman. bahan berburu maupun pangusir hama pertanian. 2006 Pulau Sumatera memiliki potensi besar dalam hal keaneragaman jenis tumbuhan tingkat tinggi. dan berbahaya bagi mahluk hidup serta pencemaran lingkungan. dan ikan. -. Sri utami. Sebanyak 52 jenis tumbuhan diantaranya diduga berpotensi besar sebagai penghasil pestisida nabati. tetapi tingkat kerusakannya masih sangat rendah. Salah satunya yang memenuhi persyaratan ini dan layak dikembangkan adalah bioinsektisida (insektisida mikroba dan insektisida organisme non target. Keberhasilan pembentukan pupa. antara lain terjadinya resistensi resurjensi. Halaman 145-150 . Hutan Tanaman Asmaliyah PENGAMATAN SERANGGA HAMA BARU PADA TANAMAN PULAI DARAT (Alstonia angustiloba) DI PT. Keberadaan kumbang ini cenderung meningkat seiring menurunnya serangan ulat Clauges glauculalis. (Coleoptera:Brenthidae) merupakan serangga hama baru yang ditemukan menyerang tanaman pulai (Alstonia angustiloba) di PT. Oleh 7 . -. Kata Kunci: Etnobotani. Berdasarkan hasil uji pendahuluan insektisida jenis belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn. dan Sri Utami. terbunuhnya musuh alami. Lubuk Linggau. Masyarakat tradisional memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya (etnobotani) untuk keperluan berburu. 2006 Sampai saat ini cara yang paling umum digunakan untuk mengendalikan hama adalah dengan menggunakan insektisida kimia. obat-obatan. Halaman 115-124 . Kata Kunci: Bioinsektisida. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari ketiga lokasi penelitian dapat ditemukan 266 jenis tumbuhan etnobotani. Namun penggunaannya yang kurang bijaksana sering menimbulkan dampak negatif. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Penelitian dilakukan sejak Desember 2003 sampai dengan Maret 2005 pada kelompok masyarakat suku Talang Mamak di Riau. Persentase serangan kumbang cukup tinggi. mamalia.Asmaliyah POTENSI ETNOBOTANI SUMATERA SEBAGAI SUMBER PENGHASIL PESTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA / Asmaliyah.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . tidak meninggalkan residu terhadap lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia.

. konversi lahan. pelaksana kebijakan dan pelaku ekonomi bersama-sama dengan masyarakat lokal melakukan rekayasa sosial. Rawa.Peningkatan kebutuhan ini telah secara nyata mendorong individu. maupun yang berisfat trans nasional. Alstonia angustiloba. social forestry) untuk memperoleh hasil getah dan kayu serta pemulihan fungsi lingkungan. Jelutung (Dyera lowii) adalah jenis pohon lokal (Indigenous species) yang sangat prospektif untuk hutan tanaman produktivitas tinggi dan ramah lingkungan pada lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimiliki. berfikir dan bekerja sehingga mereka mendapat manfaat optimal dan berkelanjutan. tetapi pada mulanya warga masyarakat bersama-sama pembuat kebijakan. yakni meningkatnya kebutuhan akan kayu untuk perumahan. Kata kunci: Rekayasa sosial. -. Yanuarius Koli REKAYASA SOSIAL DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI NTT / Yanuaris Koli Bau. 2006 Potensi lahan rawa sangat besar. Halaman 19-30 . kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut akan dapat menumbuhkan dan memacu minat budidaya dan minat kelola oleh masyarakat dan dunia usaha. pelaku ekonomi. Coleoptera: Brenthidae. pelaksana kebijakan. Halaman 69-76 . Pulai. khususnya dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam bentuk kebijakan dan program yang mengarah pada upaya tersebut serta input teknologi dari lembaga penelitian. yang bersifat vertikal antara rakyat dan negara. pertumbuhan cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Jelutung. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa. Saat ini sebagian besar lahan rawa dalam kondisi rusak yang disebabkan oleh kegiatan eksploitasi hutan. Prospek pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa Sumatera sangat baik karena didukung oleh sumberdaya lahan yang luas. dan aspek silvikulturnya sebagian besar telah dikuasi. Dyera lowii. Identifikasi di sejumlah negara menunjukan peningkatan kebutuhan nyata yang berkaitan langsung dengan hutan. Air 8 . 2006 . sumber plasma nutfah tersebar dengan keragaman genetik yang besar. dan hutan. Keberhasilan pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa sangat ditentukan oleh peran aktif banyak pihak. antarbangsa. Untuk mempercepat pemulihannya perlu dilakukan rehabilitasi melalui pembangunan hutan tanaman. kelompok atau bangsa akan sumberdaya alam. Pengalaman lapangan dari desa-desa di Pulau Timor memperlihatkan bahwa penanganan pembangunan kehutanan. Hama. tanpa harus mengorbankan kepentingan ekonomi dan politiknya masing-masing. PT Xylo Indah Pratama Bastoni PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN JELUTUNG (Dyera lowii) PADA LAHAN RAWA SUMATERA / Bastoni dan Abdul Hakim Lukman. kebutuhan akan bahan makanan yang berkaitan dengan hutan sebagai gudang alam. 2006 Data di berbagai negara memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin pesat telah secara langsung menimbulkan peningkatan kebutuhan masyarakat baik secara individu. Hutan tanaman jelutung dapat dikelola dengan pola yang seragam (HTI. serta kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan peternakan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Pengelolaan hutan. Peningkatan kebutuhan ini pada gilirannya melahirkan antagonisme dan konflik. menemukan kembali dan memanfaatkan proses belajar dinamis dari kapital sosial yang dimiliki masyarakat. Kata Kunci: Hutan tanaman. perabot rumah tangga. Tanah. Cycotrachelus sp.karena itu perlu pemantauan dan pengamatan secara periodik dan intensif terhadap perkembangan serangan kumbang Cycnotrachelus sp. termasuk penyelesaian antagonisme dan konflik yang terjadi hanya akan berhasil apabila para pembuat kebijakan. Pasar ekspor getah dan kayu jelutung terus mengalami penurunan pasokan sehingga peluang pasar masih sangat besar. pemanas. Sumatera Bau. meliputi areal seluas 34.2 juta hektar (sumatera). masyarakat bahkan negara bangsa sebagai pelaku ekonomi melakukan eksploitasi hutan secara berlebihan dan mengganggu keseimbangan ekosistem dan ketersediaan sumberdaya alam jangka panjang.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .4 juta hektar (nasional) dan 7. dan masak memasak. Ketegangan dan konflik ini tidak akan pernah terselesaikan apabila para pihak yang terlibat tidak menggunakan kearifan yang tinggi yang dimilikinya. air. baik yang bersifat horisontal antar kelompok sosial. Kata Kunci: Serangga. Dengan demikian persoalannya bukan lagi pada akhirnya masyarakat memperoleh manfaat dari tanah.

Di dalam plot bujur sangkar dibuat lima jalur ukur yang diletakkan 9 .000 m.). Halaman 217-221 .SUNGAI BESIRI DI KABUPATEN FAKFAK. Destilat telah digunakan untuk memperbaiki sifat tanah dan pencegahan jenis hama dan penyakit tertentu. panjang 1. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Tempurung kemiri yang selama ini banyak dijadikan limbah.25 N/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 118. Kata kunci : Klasifikasi.80 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 7.88 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =17.70 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 69-76 . No. 2006 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kelas kerapatan hutan dan potensi tegakan berdasarkan tampilan warna/tone pada citra satelit. hutan “sedang” sebesar 76. hutan “sedang” sebesar 101. Hasil penelitian ditemukan 48 jenis pohon yang tercakup ke dalam 27 famili. dan minyak kemiri.25 N/ha). PAPUA (Standing Stock Classification of secara sistematik dengan jarak antar jalur 200 m.). Arang dan arang aktif juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki sifat tanah. proses pelapukan berlangsung secara normal.Besiri River Forest Natural. Kemiri saat ini pemanfaatannya lebih terfokus pada kemiri isi dan kayunya. -. Saptadi RAGAM MANFAAT KEMIRI / Saptadi Darmawan.). matoa (Pometia pinnata Forst. 2006 Tanaman Kemiri merupakan tumbuhan serbaguna dan pemanfaatannya sudah dikenal baik oleh masyarakat terutama buahnya. Pengukuran potensi pada citra satelit tersebut dilihat dari tone yang dijumpai. Heriyanto. kenari (Canarium maluense Lauterb.4 . Fakfak District. tanah masih relatif muda dan secara edafis masih dapat ditumbuhi oleh beberapa jenis tanaman. Nusa Tenggara Timur. Jenis ini dapat tumbuh dengan baik di Nusa Tenggara dan penyebarannya cukup merata.25 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 8. citra satelit.). Arang dan briket arang dapat digunakan sebagai sumber energi. Potensi pohon berdiameter ≥ 20 cm di areal kerja PT.M. briket arang. Halaman 437 . Sifat tanah Bustomi. Jenis-jenis yang dominan berturut-turut resak/damar (Vatica rassak Bl.05 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 9.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.). potensi tegakan. N. semakin jelas tone yang dihasilkan. Beberapa produk dari hasil pengolahan tempurung kemiri adalah arang. -. Prabu Alaska Unit I Fakfak pada hutan “jarang” sebesar 68. Hasil analisa laboratorium menunjukan bahwa pH tanah (H2O maupun KCI) semakin tinggi dari lapisan atas ke lapisan bawah.56 m³/ha).). dan pala hutan (Myristica fatua Houtt.Butar-Butar. Kandungan bahan organik dan N total terbesar terletak pada lapisan ke dua. hal ini ditunjukkan oleh kerapatan tegakan hutan dengan diameter ≥ 20 cm pada hutan “jarang” sebesar 96.al] . Penelitian dilakukan dengan membuat profil tanah di lokasi penelitian untuk dilakukan analisis tanah secara langsung maupun pengambilan contoh tanah untuk dilakukan analisa di laboratorium.46 m³/ha). destilat.66 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 18. kelompok hutan Darmawan.45 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4.20 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 2.458 . arang aktif. Sofwan KLASIFIKASI POTENSI TEGAKAN HUTAN ALAM BERDASARKAN CITRA SATELIT DI KELOMPOK HUTAN SUNGAI BOMBERAI . Sedangkan pengamatan lapangan dilakukan dengan cara menentukan satuan contoh berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 1 km x 1 km (100 ha). 2006 Telah dilakukan penelitian studi sifat-sifat tanah di Kebun Percobaan Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.78 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25. Metode yang digunakan yaitu pengukuran/penilaian potensi pada citra satelit dan pengamatan lapangan. Kata kunci: Kebun percobaan Bu'at-SoE. Djoko Wahyono. lebar jalur 20 m. semakin rapat tegakan. Papua) / Sofwan Bustomi. Dari penelitian profil di lokasi menunjukan bahwa terjadi proses pedogenesis pada lapisan atas maupun bawah. kelat/jambu-jambu (Eugenia sp. Arang aktif dapat digunakan sebagai bahan adsorben.80 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm = 16.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.60 N/ha). mersawa (Anisoptera polyandra Bl. Pengkelasan hutan menurut warna/tone pada peta citra satelit dapat digunakan. -.06 m³/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 85. baik pada media cair maupun udara. 2006 . sebenarnya memiliki kegunaan yang cukup bermanfaat.04 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =9. Dengan dihasilkannya produk Nature Forest Based on Landsat Imagery at Bomberai River .III. NUSA TENGGARA TIMUR / Tigor Butar-Butar [et. Tigor STUDI SIFAT-SIFAT TANAH DI KEBUN PERCOBAAN BU'AT-SOE TIMOR TENGAH SELATAN.

Oleh karena itu. sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. pada lokasi tempat ditemukannya gaharu/inang gaharu maupun bekas eksploitasi gaharu/inang gaharu. untuk tingkat pancang dan semai di petak analisis vegetasi masih dapat dijumpai dengan nilai indeks penting masingmasing sebesar 2. Destilat Darmawan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. jenis gelam (Melaleuca sp. Gaharu. carbon storage. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus).3 juta hektar meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kata Kunci: Kemiri. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. Survey. Halaman 1-18 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan. Pada lahan gambut yang telah mengalami kebakaran. ekonomi. tanah-tanah (Combetocarpus rotundatus) juga dapat dipertimbangkan sebagai jenis untuk rehabilitasi. Kecamatan Metawai Selatan. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. dalam melakukan vegetasi diperlukan pemilihan jenis yang tepat. Kata kunci: Inang. habitatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15m. geronggang (Cratoxylum glaucum). Penelitian dilakukan pada bulan November 2004 di kawasan Hutan Timau Kecamatan Amfoang Kabupaten Kupang dan Kawasan Hutan Wanggameti. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas 17 juta hektar yang terbentang dari pantai timur Sumatera Timur seluas 9. dan kondisinya dalam keadaan terbuka pada kawasan produksi (gambut <3 m). pemanfaatan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Briket arang. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.28. dan rapuh (fragile). dan Irian Jaya seluas 70. -. Lahan sulfat masam aktual merupakan lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup di situ. Dari hasil penelitian di lokasi penelitian diketahui inang gaharu dari jenis Aquilaria malaccensis sulit ditemukan.83 juta hektar/tahun termasuk kerusakan hutan rawa gambut. balangeran). geronggang (Carborescens) merupakan jenis-jenis yang tahan hidup pada lahan sulfat asam. baik sebagai reservoir air. dan keanekaragaman hayati. Sedang pada lahan gambut dalam kategori dangkal. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. sedang ataupun dalam 10 . Punak (Teramerista glabra). Inang gaharu di alam pada tingkat pohon dan tiang sudah tidak dapat ditemukan. Kabupaten Sumba Timur. Berkurangnya inang gaharu di alam disebabkan oleh perburuan yang berlangsung secara besar-besaran tanpa dilakukan upaya konservasi dengan melakukan budidaya inang gaharu. dan Sumatera Selatan.). pembangunan Hutan Tanaman Industri untuk pulp dapat menggunakan jenis Acacia crasicarpa. Herman PEMANFAATAN LAHAN SECARA BIJAKSANA DAN VEGETASI DENGAN JENIS POHON TEPAT GUNA DI LAHAN RAWA GAMBUT TERDEGRADASI / Herman Daryono.86 dan 8. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian dilakukan dengan melakukan survey dan wawancara terhadap masyarakat untuk mendapatkan data pengusahaan gaharu dan membuat petak berukuran 20 m x 20 m dengan jarak antar petak 200 m dengan sistem jalur untuk melakukan inventarisasi inang gaharu. Pada masing-masing tipologi lahan. Limbah. Arang.6 juta hektar yang meliputi Provinsi Jambi. Selain itu jenis-jenis pionir seperti pulai rawa (Alstonia pnematophora). tysmanniana) atau Jelutung (Dyera lowii). -.laporan terakhir dari Badan Planologi Kehutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. dan budaya maupun fungsi ekologi. Inventarisasi Daryono. Di Kalimantan seluas 6. 2006 Telah dilakukan penelitian penyebaran dan keberadaan inang gaharu di alam.000 hektar.olahan dari tempurung kemiri tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat bagi masyarakat. belangeran (S. meranti bunga (S. 2006 . Halaman 205-215 . Saptadi PENYEBARAN DAN KEBERADAAN INANG GAHARU DI ALAM / Saptadi Darmawan dan Sumardi. sedang HTI non pulp bisa dengan jenis meranti batu (Shorea uligonosa). baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode antara 1997-2000 di Indonesia mencapai 2.

at Post-Limestone Mining Land. sedangkan untuk perlakuan ekstrak daun dan ranting memerlukan waktu sampai 72 jam. Yadi Setiadi. Vegetasi. perlu direvegetasi dengan jenis asli setempat seperti jelutung karena hasil getahnya dapat dimanfaatkan tanpa menebang pohonnya. Untuk mendapatkan insektisida yang berasal dari tanaman.500 ppm. daya hidup. Cileungsi. dan kejenuhan basa ada dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. kompos. Dengan pemberian pupuk kompos 2 kg dan atau 500 ml asam humat 1.Jurnal Aktifitas reklamasi pada lahan pasca penambangan batu gamping seperti di PT. Kata Kunci: Uji efikasi. jika bibit telah diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith yang ditanam pada lahan yang diberi 500 ml asam humat 1. Erdy Santoso. RANTING. PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN BATU GAMPING DI CILEUNGSI-BOGOR Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. dan Mg). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang respon pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. Rancangan penelitian menggunakan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap. No. and Humic Acid to Growth Improvement of Khaya anthoteca Dx. Introduksi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith berkorelasi positif dengan asam humat dan keberadaan cendawan endomikoriza dan asam humat bersifat sinergis terhadap pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. Pada pengamatan selama 24 jam semua ulat mati. -. Ekstrak daun. Compos. Pertumbuhan tanaman yang terbaik. -. Hasilnya menunjukan bahwa perlakuan ekstrak biji suren sangat efektif dan tercepat dalam pengendalian hama daun di laboratorium dengan jangka waktu 3 jam setelah perlakuan mortalitas terbanyak dibanding dengan ekstrak daun dan ranting. dapat dibangun dengan jenis jelutung dengan sistem agroforestry. Kata kunci : Reklamasi. 7cc/100 cc air.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . ranting. batu gamping. Ranting. Uji efikasi kandungan senyawa dari tanaman Toona Sureni Merr yang digunakan adalah bagian daun. dan kontrol dengan rancangan acak lengkap. Suren. Halaman 125-128 . Selain itu pada lahan gambut masyarakat. K. dan lain-lain dapat ditanam di tipologi lahan tersebut. asam humat 11 . DAN BIJI SUREN (Toona sureni Merr: Meliaceae) TERHADAP HAMA DAUN Eurema spp. Rawa gambut Darwati.III. 2006 Perlindungan Tanaman terhadap serangan hama dan penyakit mulai dikembangkan dengan insektisida yang tidak mencemari lingkungan. sehingga intensitas cahaya memenuhi persyaratan untuk hidup jenis komersial seperti ramin (Gonystylus bancanus). Wida UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN. hal ini dikarenakan kurang memperhatikan karakteristik bekas penambangan. Kata Kunc: Pemanfaat lahan. Eurema sp Darwo APLIKASI ENDOMIKORIZA. Asam humat mampu meningkatkan pertumbuhan. dan penggunaan mikroorganisme tanah. tetapi yang menjadi faktor pembatas adalah reaksi tanah agak alkalis dengan nilai tukar kation Ca sangat tinggi dan kadar salinitas tinggi serta kandungan C-organik dan nitrogen sangat rendah. PUPUK KOMPOS. dan persen infeksi akar bermikoriza yang lebih baik. telah digunakan tanaman kehutanan yaitu Toona sureni Merr yang diketahui mengandung senyawa kimia melalui analisis kromatografi gas yang dapat berfungsi sebagai pembunuh hama. Kabupaten Bogor sebagai bahan baku semen menunjukkan hasil yang tidak baik. 5 cc/100cc air.yang habitatnya masih tedapat tegakan. Biji. yang diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith terhadap pemberian pupuk kompos dan asam humat pada lahan bekas penambangan batu gamping serta tingkat infeksi cendawan endomikoriza pada tanaman tersebut.500 ppm belum cukup memenuhi kebutuhan hara tanaman (kadar C-organik dan nitrogen masih termasuk rendah) dan ditunjukkan tanaman kekurangan nitrogen. (Lepidoptera : pieridae) PADA SKALA LABORATORIUM / Wida Darwiati. 2006 (Aplication of Endomycorrhyza. Hama daun. kapurnaga (Callophylum macrocarpum). Insektisida ini berasal dari tanaman atau mikroorganisme. Toona sureni Merr. endomikoriza. Semen Cibinong. Pada kawasan konservasi (gambut >3m) dalam keadaan terbuka. DAN ASAM HUMAT DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Khaya anathoteca Dx. teknik revegetasi. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan unsur hara (P. Halaman 195 207 . dan biji terhadap hama daun Eurema s. kapasitas tukar kation.2 . Cileungsi-Bogor) / Darwo. dosis yang digunakan 3 cc/100 cc air.

Durahim PENGARUH MEDIA DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN MUTU BIBIT EBONI (Diospyros celebica Bakh.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 101-109 . No. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni yang baik dicapai pada medium top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dan top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v). dan Nurhasybi.. 2006 Mengingat fungsi ekologinya. Interaksi antara jenis medium dan dosis pupuk NPK nyata terhadap pertumbuhan diameter batang bibit. Rehabilitasi menggunakan Faktorial Eksperimen dalam RCBD. Kata kunci : Eboni (Diospyros celebica Bakh.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Tiga kombinasi perlakuan baik untuk pertumbuhan diameter batang bibit adalah top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v) tanpa pupuk (3.10 mm).III. benih. Keberhasilan program ini memerlukan dukungan ketersediaan benih dan bibit yang bermutu dan berasal dari sumber benih bersetifikat dalam jumlah besar. baru tersedia untuk jenis-jenis komersial tertentu. serta fungsinya dalam menunjang konservasi tata air. dan top-soil murni dengan 1. sabut kelapa sawit. Dede Rohadi. NPK Falah. Pemilihan jenis yang akan dibudidayakan harus mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia pelaksana. GERHAN. Halaman 63-76 .) adalah salah satu jenis endemik di Pulau Sulawesi yang termasuk diprioritaskan untuk Hutan Tanaman Industri.. dan pengawasan mutu benih/bibit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi media dari tanah mineral dan bahan organik serta dosis pupuk NPK (17:17:17) terhadap pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni. Hendromono.1 . Halaman 9 . pelaksanaan. Standar. modal finansial yang tersedia. Di antara upaya-upaya tersebut adalah pemeliharaan sumber-sumber benih.al) . Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan penggunaan benih/bibit bermutu dalam program rehabilitasi hutan dan lahan di Indonesia. mulai dari perencanaan.08 mm).17 .18 mm). prospek keuntungan ekonomi bagi masyarakat.) Seedling) / Durahim. sabut kelapa. Demikian pula ketersediaan perangkat sistem dalam pengawasan mutu benih. kawasan penyangga hutan lindung perlu dikelola pemanfaatannya agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menunjang fungsi hutan lindung sebagai penyangga tata air. Pada kenyataannya kemampuan produksi benih dari sumber benih yang bersertifikat belum memenuhi kebutuhan. Bibit. -. 2006 Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) adalah program pemerintah dalam upaya merehabilitasi hutan dan lahan dengan target seluas 3 juta hektar selama kurun waktu 5 tahun (2003-2007). Peran fasilitator diperlukan sebagai pendamping proses tersebut. penyusunan standar pengujian dan mutu benih untuk berbagai jenis tanaman yang diperlukan serta peningkatan pengetahuan para praktisi di palangan dalam hal penyediaan. Pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung seyogyanya dilakukan dengan memberdayakan masyarakat dalam seluruh proses pemanfaatan. Kata Kunci: Teknologi.(et. pembangunan kebun benih/bibit. Tulisan ini bertujuan memaparkan proses penyusunan rancangan dan pembangunan model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung dengan penerapan pola agrofishery yang memadukan budidaya ikan dengan tanaman kehutanan/pertanian dalam satu unit lahan.) (Effects of Media and NPK Fertilizer to the Growth and Quality of Eboni (Diospyros celebica Bakh. Faiqotul MODEL PEMANFAATAN PARTISIPATIF KAWASAN PENYANGGA HUTAN LINDUNG DENGAN POLA AGROFORESTRY / Faiqotul Falah.).0 g/bibit (3. Model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung harus disesuaikan dengan karakter biofisik dan sosial ekonomi setempat sehingga dapat lebih tepat guna dan berkelanjutan. -. hingga monitoring dan evaluasi. seperti standar pengujian dan mutu benih/bibit.5 g/bibit (3.Danu TEKNOLOGI DAN STANDARISASI BENIH DAN BIBIT DALAM RANGKA MENUNJANG KEBERHASILAN GERHAN / Danu. top-soil. Penelitian 12 . bibit. Tiap kombinasi perlakuan diulang tujuh kali dan tiap ulangan terdiri dari lima bibit. penanggulangan. Faktor-faktor yang diteliti adalah empat jenis kombinasi media dan tiga dosis pupuk NPK. top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dengan pupuk NPK 0. 2006 Eboni (Diospyros celebica Bakh.

tingginya ketergantungan masyarakat Flores terhadap sumberdaya hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tingkat konsumsi dan palatabilitas pakan burung bayan.54 %) untuk burung jantan dan 48.III. Electus roratus cornelia Bonaparte. partisipatif. 2005 : Halaman 97-102 . -. Kupang.13 kalori) dan burung bayan betina 185. dan kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan masyarakat. Kata kunci: Bayan. maka dukungan iptek terapan yang praktis dan dengan biaya murah sangat diperlukan. peredaran ilegal hasil hutan (illegal trading). Nusa Tenggara Timur pada bulan September 1999 sampai Januari 2000. -. Model pemanfaatan. sehingga mengakibatkan degradasi hutan yang semakin meningkat.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. dan kebutuhan bahan baku yang tinggi. adalah pepaya dengan rata-rata konsumsi 54. Imaculata ARSITEKTUR BIOLOGIS MENUJU EKSPLOITASI HUTAN YANG HARMONIS DI FLORES / Imaculata Fatima. 2006 Pemanfaatan hutan yang tidak seimbang di Flores disebabkan oleh pandangan masyarakat yang hanya melihat nilai manfaat konsumtif (digunakan langsung sehari-hari tanpa mengolahnya untuk mandapatkan nilai tambah) dan nilai pemanfaatan produktif (langsung dijual ke pasar). Arsitektur biologis. konsumsi. Halaman 63-69 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Flores tahun) yang masing-masing dipelihara dalam kandang individu berukuran 160 cm x 120 cm x 100 cm.1 . berkurangnya peran lembaga adat. Harmonis. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .21 %) untuk burung betina. Penelitian menggunakan percobaan faktorial dengan dua faktor yaitu jenis kelamin dan jenis pakan yang berupa kacang-kacangan dan biji-bijian serta buah-buahan dan sayur-sayuran.43 gr/hari (255. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. -.74 gr/hari (26. Tata Air Fatima. perambahan. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan di daerah ini adalah illegal logging. pendudukan kawasan hutan. Mariana Takandjandji. Eclectus roratus cornelia Bonaparte. No. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Adapun faktor-faktor pendukung utama untuk pembangunan kehutanan di Provinsi Bali adalah: Potensi sosial budaya 13 . kualitas sumberdaya manusia sekitar hutan yang relatif rendah.93 gr/hari (231.29 kalori). palatabilitas dan penangkaran Garsetiasih. Penelitian ini dilakukan di penangkaran Oilsonbai. Penelitian menggunakan 8 individu burung terdiri dari 4 individu betina dan 4 individu jantan umur produktif (lebih dari 1 Gunaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rata-rata konsumsi burung bayan jantan sebesar 205.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Halaman 75 . I Made KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI BALI / I Made Gunaja. Konservasi. 2006 Luas kawasan hutan di Provinsi Bali sekitar 23 persen.Untuk menopang keberhasilan programprogram yang dilakukan. masih di bawah luasan minimal 30 persen. 2006 Burung bayan (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) merupakan jenis burung endemik Pulau Sumba dengan status dilindungi karena populasinya yang terus menurun. Garsetiasih. Hutan Lindung. yang menunjukkan jenis pakan yang paling disukai. diketahui bahwa tingkat konsumsi terhadap tiap jenis pakan tidak berbeda nyata antara burung bayan jantan dan betina. Kata kunci: Eksploitasi hutan. Untuk mengatasi permasalahan ini maka program pembangunan kehutanan di Provinsi Bali diprioritaskan pada rehabilitasi dan perlindungan hutan serta pengembangan hasil hutan bukan kayu yang melibatkan masyarakat sekitar hutan.53 gr/hari (26. Dalam mengantisipasi kepunahan populasi perlu dilakukan penangkaran jenis burung bayan tersebut. in Captive Breeding)/ R.Kata Kunci: Kawasan penyangga. Jenis pakan yang paling banyak dikonsumsi. KONSUMSI DAN PALATABILITAS PAKAN BURUNG BAYAN SUMBA (Electus roratus cornelia Bonaparte) DI PENANGKARAN (Consumption and Feed Palatability of Bayan Bird. Berdasarkan hasil analisis terhadap konsumsi pakan berupa buah-buahan dan sayur-sayuran serta pakan berupa kacang-kacangan dan biji-bijian. R.82 .

per petani per 0. perencanaan bersama mekanisme penyelesaian konflik belum berkembang dengan baik.766. The main objective of application agroforestryin agricultural land is for conserving soil and water.. 1. -.. IPTEK. 2006 Development of agriculture in a peat swamp land should be environmentally sound and ensures the sustainability of production. jagung. South Kalimantan Province and suggest to be a basic knowledge and one of way to rehabilitate the forest and land degradation. LOMBOK : STUDI KASUS PEMBANGUNAN MODEL HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN LOMBOK BARAT DAN LOMBOK TENGAH / Harisetijono.masyarakat. Lombok Barat. Program. Agroforestry application in a peat swamp land is able to maintaining high system stability and has a lower risk in land degradation. padi. which in the long run is expected to increase land productivity and improving farmer's income.750. Kata Kunci: Hutan kemasyarakatan. Demikian pula. regency Barito Kuala.683.. talas.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan.25 hektar. Perbandingan jenis penghasil kayu dan buah dengan perbandingan 70:30 mampu memberikan pendapatan petani sebesar Rp. Agroforestry system able to contribued equal to 33.(et. Pemilihan jenis tanaman belum sepenuhnya berorientasi pada pasar karena keterbatasan kemampuan teknis dan informasi pasar. makin tingginya partisipasi masyarakat dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki hutan dan lingkungan dalam rangka menopang tujuan utama daerah wisata di Bali Kata kunci: Pembangunan kehutanan.024.000. 14 . Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi tipe dan model hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan keberhasilan pengembangannya. penanaman dengan menggunakan jalur ganda berseling antara tanaman penghasil kayu dan buah merupakan model yang baik untuk dikembangkan. 1.. pengalaman pengembangan hutan kemasyarakatn di Privinsi Nusa Tenggara Barat merupakan hal penting untuk bahan pengkajian. dan ubi kayu. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan masih menerapkan prinsip-prinsip Agroforestry Tradisional. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. Marinus Kristiadi ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN FISIK SISTEM AGROFORESTRY KHAS LAHAN GAMBUT TIPIS DI DESA SEI PANTAI KABUPATEN BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN / Marinus Kristiadi Harun. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan.al) . The result of this study showed that agroforestry system developed by local farmer is: (a). Multiple Cropping with the guludan technique.sampai dengan Rp. cabai.040 rupiahs per year or 230.000. (b). Walaupun payung hukum pengembangan hutan kemasyarakatan belum mantap. The objective of this research is to analysis social. Lombok Tengah Harun.503 rupiahs per month. dengan kisaran nilai Rp. Berdasarkan model yang berkembang. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Sumberdaya hutan Harisetijono PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI P. Agroforestry application in a peat swamp land could be carried out either on agricultural or on forest lands. Subdistrict Rantau Badauh. Model Social Forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Nilai hasil tanaman tumpangsari dari yang tertinggi sampai dengan terendah secara berurutan adalah pisang.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 111-125 . dan mengungkapkan permasalahan dan keberhasilan pengembangannya. Halaman 209-224 .per hektar. alley cropping with the surjan technique and (d).18 percent from total farmer's income. 305. economic and physic aspect of agroforestry system which have been developed by farmer in Sei Pantai Village. Hutan kemasyarakatan merupakan salah satu bentuk pengembangan program Social Forestry. alley cropping with the tongkongan and galengan technique. -. Social forestry. Agroforestry system able to give income equal to 2. Agroforestry application in forest area is intended mainly for providing apportunity of landless farmer to cultivate land and also for the objective of establishing forest crops with the best way and cheapest cost. (c).. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi wilayah Nusa Tenggara Barat. Pengelolaan. alley cropping with the tongkongan technique. 2006 Social Forestry merupakan salah satu kebijakan Departemen Kehutanan.

mucronata (0. 2006 (Litter Productin and Decomposition Rate.51 ton/ha/th dan 28. Morphoedaphic. and Ground Water Salinity of Three Species Mangroves)/ Halidah. Sedangkan kation-kation yang dapat tukar juga umumnya tinggi. DHL. tetapi tidak pada tanaman bitti. substrat. DAN SALINITAS AIR TANAH DARATAN PADA TIGA JENIS MANGROVE Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang produksi dan laju pelapukan serasah.330). alba (1. alba oleh partikel pasir. Halaman 367 . mucronata). S.500). tinggi kecuali nitrogen. mucronata. dan Avicennia marina (Forsk.III. Barito Kuala. mikoriza.Kata kunci: Agroforestry. Lingkungan. alba).05 %/bl (R. Smith. sedangkan pada tegakan S. mikoriza + pupuk cepat larut. lahan gambut. sedangkan R. marina). pupuk cepat larut.. Perkembangan iptek sekarang ini telah menjanjikan suatu pendekatan teknologi terutama yang berkaitan dengan penggunaan mikoriza yang berperan dalam proses pertumbuhan tanaman. serta 8.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. MORPHOEDAFIK. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan yaitu mikoriza.377 .2 . Kemasaman atau pH pada semua tegakan netral. serta salinitas air tanah daratan pada berbagai jenis tegakan mangrove. -.159.926 dan 0.III. dan damar. marina adalah 2. produksi dan laju pelapukan serasah 15 . Maryatul Qiptiyah. Tiga jenis tegakan mangrove yang diamati adalah Sonneratia alba J. Tujuan penelitian ini menemukan teknologi rehabilitasi lahan kritis dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu bersimbiose dengan tanaman serta dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhannya pada lahan kritis. lahan kritis Anwar. Chairil Halidah PRODUKSI DAN LAJU PELAPUKAN SERASAH. dan biologi tanah. BO rendah kecuali pada tegakan R. Indek keragaman dan indek dominansi untuk A.40 ton/ha/th dan 28.4 . maka perlu dikaji kemampuan mikoriza bersimbiose dengan berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan dalam rehabilitasi lahan. infeksi. mucronata didominasi oleh partikel debu pada kedalaman (0-20) cm dan pasir pada kedalaman (20-40) cm. Kata kunci : Pertumbuhan. menunjukkan bahwa produksi dan laju pelapukan serasah masing-masing tegakan adalah 27. Kalimantan Selatan Halidah PERTUMBUHAN BEBERAPA JENIS TANAMAN TERINFEKSI MIKORIZA PADA LAHAN KRITIS DI SPUC MALILI (The Growth of Several Species Infected Mikorizae on Critical Land at Malili Research Station)/ Halidah.632 dan 0. No. Substrat pada tegakan R. sifat kimia. salinitas.83 .20 %/bl (A. Sosial ekonomi. -. 15.. Demikian juga unsur hara fosfor dan kalium. marina didominasi oleh partikel debu. Sei Pantai.023 dan 0. Halaman 75 . namun belum memperlihatkan hasil yang diharapkan.)Vierh. sengon. mangrove. Kata kunci: Morphoedafik. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian mikoriza di lapangan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan sengon dan damar. Rhizophora Hasil penelitian mucronata Lamk. salinitas.93 %/bl (S.96 ton/ha/th dan 26. Fauna tanah yang ditemukan mempunyai nilai indeks keragaman dan indeks dominansi yang berbeda pada setiap tegakan. Kualitas salinitas air tanah daratan cenderung semakin membaik dengan adanya bentangan mangrove di sepanjang pantai.Info Hutan : Vol. 2006 Upaya rehabilitasi lahan kritis telah banyak dilakukan. Dengan melihat permasalahan dalam penanggulangan lahan kritis. Pada tegakan A. Saprudin. serta tanpa mikoriza dan pupuk (kontrol) yang diujikan pada tiga jenis tanaman yaitu bitti. KTK umumnya tinggi. jenis.

Kata kunci : Hendalastuti. Halaman 261-268 . dan tampaknya ekaliptus dan akasia tumbuh dengan baik atau dapat beraklimatisasi. 2006 Jenis ramin (Gonystylus sp. Disarankan menanam akasia tersebut di lahan kritis Padanglawas terutama di punggungpunggung bukit dan sebagai pohon perindang jalan dengan harapan kelak menyebar secara alami dan meningkatkan kesuburan tanah.2 . CITES. terdiri dari 4 perlakuan yang mengkombinasikan dua on the Plant growth and the Leaf Quantity and Quality of the Nilam.Info Hutan : Vol.ex Benth. Meskipun jenis kayu ramin telah terdaftar dalam Appendix III Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) sejak Agustus 2001. Henti SISTEM PENGELOLAAN DAN KONSERVASI RAMIN DI HUTAN PRODUKSI (Management and Conservation System of Ramin in Production Forest) / Henti Hendalastuti.S EKOLOGI HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa A. permudaan alam.. 2006 Penanaman akasia di Padanglawas dimulai dalam rangka pembangunan hutan tanaman secara swakelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Rataan diameter untuk A. Perhatian terhadap mekanisme produksi. mekanisme produksi Hendalastuti R. Henti PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SERTA JUMLAH DAN MUTU DAUN NILAM. DI PADANGLAWAS. kelestarian.) memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan pada sektor kehutanan karena berpotensi sebagai tanaman bawah pada sistem penanaman tumpangsari dengan jenis tanaman keras lainnya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Acacia mangium Willd.2 . -. namun hal tersebut tidak menjamin penurunan tingkat kelangkaan ramin di Indonesia karena mekanisme tersebut tidak berjalan dengan baik. and Acacia mangium Willd. Asep Hidayat. Asep Hidayat.Harahap. pulp.Cunn. adalah 2.500 dan 5. Di Sialiali. lahan kritis. Kebakaran yang terjadi hampir tiap tahun di berbagai lokasi lahan hutan tanaman menunjukkan bahwa jenis akasia dan ekaliptus menghasilkan permudaan yang cukup potensial untuk pengembangannya... -.ex Benth. North Sumatra) / Rusli M.Harahap.675 ha merupakan bagian dari DAS Barumun dan Rokan. Namun demikian. Persetujuan ramin untuk masuk ke dalam Appendix II CITES yang berlaku sejak 15 Januari 2005 merupakan perubahan yang menjadi harapan baru dalam mengontrol mekanisme produksi dan perdagangannya. dengan kegunaan untuk kayu bakar. juga ditanam mahoni. Kosasih. dan Acacia mangium Willd. Halaman 137 .ex Benth.600 anakan per hektar setelah tiga tahun terbakar. Selain jenis akasia. dan Titi Kalima. masing-masing 13.Cunn. Pogostemon cablin Benth (Effects of Shading and Manure Application Pogostemon cablin Benth. Kata kunci : Ramin.S.III. bahan bangunan. No.146 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas naungan dan pemberian pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman nilam dan rendemen minyak dari daun yang dihasilkan.Info Hutan : Vol. No. Halaman 85 . Padanglawas 16 .8 cm menunjukkan pertumbuhannya sangat dipengaruhi kesuburan tanah dan perlu diamati lebih lanjut./ Henti Hendalastuti R. dan meningkatkan fungsi DAS Baruman dan Rokan..) merupakan kayu bernilai komersial tinggi pada perdagangan internasional dengan harga yang bisa mencapai US$ 1. 2006 Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.III.94 . -. peredaran. ekaliptus.1 cm dengan selang 0. DAN Acacia mangium Willd. SUMATERA UTARA (Plantation Forest Ecology of Acacia crassicarpa A.ex Benth. in Padanglawas. dan budidaya pada unit manajemen merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menjamin kelestarian ramin pada masa-masa yang akan datang.4-9. tanaman nilam pada umumnya dibudidayakan secara monokultur pada lahan terbuka tanpa perlakuan yang memadai.Cunn.III. Gonystylus sp. Acacia crassicarpa A.Cunn. Hutan Tanaman seluas 38.3 . Rusli M.Cunn. tercatat rataan permudaan Acacia crassicarpa A. Illa Anggraeni. sengon. crassicarpa A.000 untuk setiap meter kubiknya.ex Benth. No.

Setiap perlakuan terdiri dari 15 ulangan. fisik. Seluruh aspek tersebut merupakan bagian dari sistem pengadaan benih 17 .5 . Kata kunci : Bibit rotan. dan berat kering daun 126 %. Sm dan Trixpermum malayanum J. Rotan. teknik pengepakan. Asep Hidayat. pengangkutan jarak jauh Herdiana. Nanang KERAGAMAN JENIS ANGGREK EPIFIT DI BLOK IRENG-IRENG TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU (Diversity of Epiphyte Orchid Species in Block of Ireng-Ireng Bromo Tengger Semeru National Park) / Nanang Herdiana. yaitu Maleolla dan Schoenorchis juncifoilia.. Pholidota canelostalix Rchb. Eria verruculosa J.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kata kunci : Nilam. ketiga mutu ini dapat ditingkatkan dengan tingkat kesulitan yang berbeda.f. plasma nutfah Herdiana. Halaman 201-212 . Nanang PENANGANAN BENIH TANAMAN HUTAN / Nanang Herdiana. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 17 genus dan 40 spesies anggrek epifit dengan jenis yang paling dominan adalah jenis Caelogyne speciosa Blume Lindl. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data dan informasi tentang potensi anggrek epifit dalam upaya pelestariannya di TN Bromo Tengger Semeru.J. bibit rotan dan alpukat tidak memerlukan perlakuan sebagaimana bibit kemiri dan jengkol. Henti TEKNIK PENGEPAKAN BIBIT ROTAN DAN BEBERAPA JENIS MPTS UNTUK PENGANGKUTAN JARAK JAUH (Packaging Technique of Rattan and Multi Purpose Tree Species Seedlings for Long Transportation) / Henti Hendalastuti R.J.815 %.J. baliensis J. Kata kunci : Anggrek epifit. inventarisasi.Penilaian untuk mengetahui mutu genetik salah satunya adalah dengan mengetahui sumber benih yang digunakan. Jenis yang termasuk ke dalam anggrek endemik Jawa Timur yaitu Bulbophyllum mirun J. 2006 Mutu Benih merupakan hasil penampakan dari mutu genetik. dan fisiologis. rendemen minyak Hendalastuti R.35 %) dan pemupukan 500g/lubang tanam telah terbukti secara nyata memberikan hasil peningkatan tinggi tanaman sebesar 116.faktor yaitu intensitas naungan (0 % dan 34.J. Metode yang dilakuan dengan cara mengamati semua anggrek epifit pada petak-petak contoh yang ditempatkan berdasarkan sistem jalur. 2006 Anggrek merupakan salah satu jenis flora penting yang tumbuh di kawasan Taman Nasional (TN) Bromo Tengger Semeru. dan jengkol selama 60 jam perjalanan dengan modifikasi box plastic dilapisi styrofoam tanpa perlakuan pada perakaran bibit memberikan daya hidup bibit yang tinggi dengan biaya paling murah.. alpukat. No. naungan. Sm. dan Eria verrucullosa J. -. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode penyiapan bibit dan teknik pengepakan untuk memperkecil tingkat kerusakan bibit dalam pengangkutan jarak jauh sehingga menghasilkan bibit yang berdaya hidup tinggi dengan biaya murah. Sedangkan jenis yang masuk kategori genting adalah jenis Agrostophyllum laxum J. -. dan Pholidota ventricosa Blume Lindl. Sm. Halaman 137-144 . Sm. Dendrobium jacobsonii Blume. pupuk kandang. Caelogyne flexuosa Rolfe. Caelogyne speciosa var nn Blume Lindl.583 . Sm. Halaman 575 . Dalam hal ini.. Rendemen minyak cenderung meningkat dalam daun pada tanaman yang diberi naungan dan/atau pupuk kandang. Pogostemon cablin Benth. No. Sm.III. kemiri.Info Hutan : Vol.J.58 %. khususnya Blok Ireng-Ireng.J.III. Pengangkutan bibit kemiri dan jengkol sampai 120 jam perjalanan memerlukan balutan campuran sabut kelapa dan arang pada perakaran bibit.J. dan Dodi Frianto. Microsaccus alfinis J. Perlakuan pemberian naungan (34..3 . berat basah daun 203. Sedangkan untuk penilaian mutu fisik dan fisiologis dapat diketahui melalui penanganan dan pengujian benih. Sm. Jenis anggrek yang langka..35 %) dan pupuk kandang (0 g dan 500 g/tanaman).

Passiflora edulis Sims. Pengelolaan konyal sebagai jenis asing yang menginvasi di kawasan taman nasional dilakukan dengan pemberantasan secara manual oleh masyarakat lokal. kecambah biji. Satuan contoh berbentuk jalur sepanjang 1. Br.Info Hutan : Vol. -. lebar 20 m dan di dalam tiga jalur dibuat petak-petak untuk pengukuran dimensi ekologi pohon. Kata kunci : Konyal. kulit batang. Heriyanto. Jenis penyakit yang dapat diobati atau dicegah yaitu penyakit kewanitaan. Tingkat belta jenis tersebut tidak termasuk dominan (INP < 10 %). jumlah jalur pengamatan 3 jalur. tumbuhan obat. Kabupaten Cianjur. induta Bl.48). JAWA TIMUR (Studies on Diversity of Trees Potential for Medicine at Meru Betiri National Park. Tanaman Hutan Heriyanto. Indeks keanekaragaman jenis pohon tumbuhan obat tertinggi dimiliki oleh besule (Chydenanthus excelsus Miers. N.) as an Invasive Species in The Gunung Gede Pangrango National Park. dan getah.M POTENSI JENIS KONYAL (Passiflora edulis Sims. jabon (Anthocephallus cadamba Miq.64 . pengujian benih hingga ke penyimpanan. kulit buah. biji. akar. Tujuh jenis pohon berasosiasi dengan konyal (INP> 10 %) dan yang mendominasi tegakan yaitu : Castanopsis argentea A.08. (puspa). Taman Nasional Meru Betiri 18 . Sloanea sigun L. Altingia excelsa Noronha/rasamala (0.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. dan bagian daun (6 jenis).bermutu.3 pohon per hektar. 2006 Penelitian potensi jenis konyal (Passiflora edulis Sims. No. Halaman 55 . di antaranya yaitu besule (Chydenanthus excelsus Miers. Jawa Barat dilakukan pada bulan Oktober 2002. Halaman 251-260 . Kata Kunci : Jenis pohon. KEANEKARAGAMAN JENIS POHON YNG BERPOTENSI OBAT DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI.. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat yaitu daun. (pasang bodas). East Java) / N.46)./puspa (0.000 m.) dengan kerapatan 15. Altingia excelsa Noronha (rasamala).III. (saninten) yang ditunjukkan oleh indeks asosiasi sebesar 0.) dengan kerapatan 12. Sedangkan tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu bagian kulit batang (10 jenis).52. belta. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Heriyanto./nangsi (0. (muncang cina). prosesing benih.DC.) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. bagian biji (8 jenis). buah. dan Ostodes paniculata Benth. kemudian diikuti oleh jenis Villebrunea rubescens Bl. Jenis pohon yang dirambati konyal sebanyak 38 jenis dengan kerapatan 114 tanaman konyal/ha. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaman jenis pohon yang berpotensi sebagai obat. malaria. potensi.) nilai keanekaragaman jenis 0. West Java) / N.M. Cianjur District.) dengan kerapatan 10 pohon per hektar. No. yaitu dimulai dari sumber benih.000 m yang diletakkan memotong lereng. dan Schima walichii Korth.) nilai keanekaragaman jenis 0. yang merupakan pencerminan kinerja dari suatu proses pengadaan benih. N. Quercus teysmanii Bl.DC.) SEBAGAI JENIS INVASIF DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO KABUPATEN CIANJUR.41). Q. batuk.M.3 . (pasang).III.10 kemudian disusul oleh jenis jabon (Anthocephallus cadamba Miq. JAWA BARAT (Potency of Konyal (Passiflora edulis Sims.5 pohon per hektar. Heriyanto dan Reny Sawitri. dan semai yang berasosiasi dengan konyal yang dibuat memotong garis ketinggian dan kontur. M. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang jalur 1. Br. dan wining (Pterocybium javanicum R. dan sakit perut. dan wining (Pterocybium javanicum R. Kata Kunci: Mutu Benih. (beleketebe).1 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon tumbuhan obat yang dijumpai di Taman Nasional Meru Betiri berjumlah 28 jenis. -. batang.07. Jenis-jenis yang berasosiasi kuat dengan konyal yaitu Castanopsis argentea A. demam.) dengan nilai keanekaragaman sebesar 0. Schima walichii Korth. (saninten).

III. 2006 Pengelolaan lahan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS. dengan jumlah responden masing-masing desa sebanyak 40 orang (total 120 responden). Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pemanfaatan hutan terutama kayu oleh masyarakat sekitar TNMB dan informasi mengenai jasa hutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Kata kunci : Interaksi. -. 2006 Klasifikasi kepekaan tapak hutan adalah merupakan salah satu komponen dalam perencanaan pembalakan.III. bahan bangunan perumahan dan peralatan rumah tangga. PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. JAWA TIMUR (Utilization of Forest Iriansyah. sehingga tingkat produktivitas meningkat. dan Desa Wonoasri sebesar 65 %.Info Hutan : Vol.Resources by Local community in Meru Betiri National Park. Sasaran utama dalam pengelolaan lahan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi lahan. diikuti Desa Curahnongko 70 %. No.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Prosedur dan strategi pemetaan dan penerapannya dengan menggunakan system informasi geografis (SIG) diuraikan dalam tulisan ini. R. Endro Subiandono. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . akan tetapi mungkin untuk mempertahankan keadaan lahan tetap produktif dan dampak luaran kegiatan berupa erosi-sedimentasi yang terjadi tidak mengganggu proses yang berjalan dalam DAS.200. -. Edy METODE PENENTUAN NILAI EROSI YANG DIPERBOLEHKAN PADA PENGELOLAAN DAS (Method in Determinating Tolerable Erosion Value in a Watershed Management) / Edy Junaidi. Halaman 187 . dan desa Wonoasri dengan kawasan TNMB antara lain berbentuk pemanfaatan kayu untuk kayu bakar. bersamaan dengan itu dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut berupa erosi dan sedimentasi di daerah hilirnya dapat diperkecil. kayu. sehingga dalam pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana. desa Curahnongko.3 . Dari hasil penelitian yang diadakan di tiga desa. dikumpulkan data sekunder dari berbagai laporan dan literatur. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa interaksi yang terjadi antara masyarakat desa Andongrejo. Pembalakan. Perencanaan. Taman Nasional Meru Betiri.Kesemua hal tersebut dimaksudkan adalah untuk melengkapi perencanaan pembalakan yang ramah lingkungan agar produktivitas hutan dan ekosistemnya dapat lestari. Ramah lingkungan Junaidi. Kenyataannya tidaklah mungkin menekan dampak yang disebabkan oleh kegiatan pengelolaan lahan menjadi nol. Kata kunci: Tapak hutan. 2006 Heriyanto. N.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Desa Curahnongko. masyarakat setempat 19 . Maming PEMETAAN KEPEKAAN TAPAK HUTAN UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN RAMAH LINGKUNGAN / Maming Iriansyah. serta pemanfaatan tumbuhan obat. Jenis hasil hutan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu kayu bakar untuk memasak. No. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan TNMB pada umumnya baru pada taraf pengetahuan fungsi dari taman nasional dan cara melestarikannya. agar tidak mengganggu sumberdaya lain dalam DAS.M. Kegiatan pengelolaan lahan harus dilakukan secara sinergis dan simultan mulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi. Desa Andongrejo memiliki persepsi yang paling tinggi yaitu sebesar 77. dan Desa Wonoasri. -. Pemetaan.5 %.3 .M. Untuk mendapatkan data primer dilakukan wawancara dengan penarikan contoh terhadap tiga angkatan kerja pada masyarakat di tiga desa sekitar taman nasional. Oleh karena itu diperlukan metode penentuan nilai erosi yang diperbolehkan pada setiap kegiatan Penelitian pola pengelolaan partisipatif antara masyarakat dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dilakukan di tiga desa yaitu Desa Andongrejo. Heriyanto. Selain itu. Garsetiasih. Halaman 297 308 . East Java) / N. Halaman 271-285 .

Pendekatan. 2000). dan fosil (pendakian. Tindakan pencegahan erosi yang dapat digunakan adalah dengan metode vegetatif. 3) pendekatan sosial ekonomi dan budaya. 2006 Sektor pariwisata sebagian besar kegiatannya berada dalam lingkungan ekologi hutan. Kata kunci: Perlindungan hutan.(pembangunan fasilitas. Kata kunci : Pengelolaan DAS. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 191-205 . Lahan Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP EROSI TANAH DI JALUR PENDAKIAN MENUJU DANAU SEGARA ANAKAN TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan Tigor Butar-Butar. Taman Nasional. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui 20 . Dampak negatif langsung wisata alam terhadap lingkungan antara lain: (1) Geologi. pemadatan tanah. Kebakaran. vegetasi yang didominasi oleh semak belukar dan savana padang rumput. Monitoring terhadap dampak ini diperlukan dalam rangka pengendalian dampak negatif. Penyebab utama kebakaran di NTT adalah kondisi iklim yang kering (arida). lahan. Metode Wood dan Dent paling ideal digunakan untuk penentuan erosi yang diperbolehkan dalam pengelolaan DAS. pengelolaan lahan. Erosi tanah. serta kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang mendukung terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Untuk mengetahui data dan informasi dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap erosi pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan.Tujuan dan sasaran penelitian ini adalah mengetahui dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap kondisi tanah pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan melalui pintu masuk Senaru. erosi yang diperbolehkan Kaho. 2006 Dampak positif wisata alam di bidang ekonomi disertai oleh dampak negatif pada kawasan. Lombok Kayat MANFAAT EKONOMIS EKOWISATA TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan I Made Widnyana. dan (3) Metode Wood dan Dent (1983). 2006 . 4) pendekatan hukum dan kelembagaan.pengelolaan lahan. Gunung Rinjani. dilakukan pengambilan sampel/contoh tanah pada 10 titik pengamatan. Kebakaran di wilayah propinsi Nusa tenggara Timur(NTT) adalah masalah serius yang terjadi secara berulang setiap tahun dan diyakini sebagai salah satu sebab deforestasi. mineral. Pemadaman dan penanggulangan kebakaran selain dengan penerapan teknologi. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. 2006 Kebakaran merupakan salah satu penyebab gangguan terhadap hutan yang memerlukan pengendalian.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. pemberian dampak positif terhadap kegiatan wisata pada khususnya dan perekonomian daerah pada umumnya. tukar menukar informasi. Kata Kunci: Ekowisata. -. Selanjutnya sampel/contoh tanah dianalisis di laboratorium tanah. dapat dilakukan dengan pengembangan peningkatan komunikasi. (2) Erosi. 1) pendekatan cuaca kebakaran. dan Mukhlison. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 183-189 . fragmentasi. penyuluhan serta penataan organisasi penanggulangan dan perencanaan pengendalian kebakaran. Hasil penelitian menunjukan terjadinya perubahan tekstur tanah dengan menurunnya fraksi liat pada jalur pendakian dan erodibilitas pada jalur pendakian lebih tinggi dibandingkan dengan di luar jalur pendakian. Salah satu penyebab dampak negatif penting adalah ditimbulkan oleh perilaku pengunjung. yaitu : (1) Metode Thompson (1957). Pengendalian dan pencegahan kebakaran dapat dilakukan melalui. Segara Anakan. hasil dianalisis secara deskriptif. Lima sampel/contoh pada jalur pendakian dan lima sampel/contoh di luar jalur pendakian. 2) pendekatan silvikultur. penelusuran gua. pengunjung berlebihan)(Wiranto dalam Fandell C. L Michael Riwu TEKNOLOGI PERLINDUNGAN HUTAN DARI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN / L Michael Riwu Kaho. Halaman 85-91 . (2) Metode Hammer (1981). koleksi souvenir). Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan nilai erosi yang diperbolehkan.

manfaat ekonomis kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), melalui kajian nilai ekonomi dari kegiatan ekowisata pada obyek-obyek yang sudah dikelola. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey melalui wawancara, pengamatan, dan perhitungan langsung nilai ekonomi yang dihasilkan para pelaku dan kegiatannya. Data dianalisis secara semi kuantitatif dan deskriptif. Kesimpulan di tarik berdasarkan nilai proporsi dan kualitas amatan. Total nilai manfaat ekonomi ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani dari obyek-obyek yang sudah dikelola adalah Rp. 3.067.851.250,-. Obyek wisata trekking memberikan nilai manfaat ekonomi yang dominan, yaitu Rp. 2.080.996.250,- (67,83 persen). Para pihak yang mendapatkan manfaat ekonomis dari ekowisata TNGR adalah: pengelola atau pemerintah (melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani), Rinjani Trekking Centre (RTC) dan Rinjani Information Centre (RIC),Trekking Organizer (TO), guide, porter, pengelola penginapan/homestay, restoran, penginapan dan kios/warung, menandakan adanya potensi positif ekowisata bagi pengembangan perekonomian masyarakat dan daerah, dan insentif bagi partisipasi masyarakat untuk pemantapan pengelolaan TNGR. Manfaat ekonomi ini masih mungkin ditingkatkan melalui pemantapan kelembagaan, peningkatan sarana-prasarana, serta promosi terutama obyek-obyek yang belum berkembang. Kata Kunci: Ekowisata, Taman Nasional, Gunung Rinjani Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP KONDISI BIOFISIK KAWASAN DAN SOSEKBUD MASYARAKAT SEKITAR TAMAN NASIONAL KOMODO/ Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 31-41 , 2006 Untuk menunjang kegiatan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo, pihak pengelola melakukan pengembangan obyek wisata alam. Pengembangan ini setidaknya akan menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif, sehingga perlu dilakukan kajian pengembangan obyek wisata tersebut. hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Kegiatan ekowisata di Loh Liang dan Loh Buaya antara lain pengamatan satwa liar, pendakian dan penjelajahan, photo hunting dan video shooting, menyelam dan snorkling, dan atraksi budaya tradisional; (2) Untuk meningkatkan minat pengunjung datang ke lokasi ekowisata, salah satu yang dilakukan oleh pengelola adalah

pembangunan sarana prasarana pendukung; (3) kondisi sosekbud masyarakat di Desa Komodo dan Desa Pasir Panjang, sebagian besar nelayan. Di Desa Komodo ada perubahan mata pencaharian dari nelayan ke pengrajin/penjual souvenir komodo; (4) Pihak yang merasakan manfaat ekonomis dari kegiatan ekowisata adalah pihak pengelola (TN Komodo), Pemda setempat (Kabupaten dan Provinsi), pemilik hotel, pemilik restoran, penyewaan boat, perusahaan dive, guide, perusahaan penerbangan, pedagang souvenir, kios/warung, angkutan, agen travel, dan money changer; (5) Dampak ekologis dari ekowisata berupa perubahan perilaku terhadap beberapa jenis satwa liar seperti komodo, rua, dan babi hutan, serta adanya ekspansi jenis kaktus. Kata kunci: Taman Nasional Komodo, Ekowisata, Pengembangan, Dampak, Sosekbud masyarakat

Koeslulat, Ermi E PELUANG PENGEMBANGAN LEBAH HUTAN MELALUI BUDIDAYA SISTEM KEREK / Ermi E Koeslulat. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 41-45 , 2006 Madu lebah hutan merupakan salah satu produk hasil hutan non kayu andalan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Timor. Selama ini usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas madu hutan belum dilakukan secara serius. Salah satu usaha peningkatan produktivitas adalah dengan melakukan uji coba teknis budidaya lebah hutan dengan sistem kerek di mana prinsipnya menyediakan tempat bersarang dengan kayu yang dapat dinaik-turunkan. Maksud diterapkannya teknik ini adalah agar dapat dilakukan panen sunat sehingga intensitas pemanenan dapat ditingkatkan. Meskipun hasil yang diperoleh belum menggembirakan namun berdasarkan pengalaman pemanenan diperoleh keuntungan lain seperti panen dilakukan pada siang hari dan terbuka bagi setiap orang karena tidak diperlukan keahlian memanjat. Walaupun hal tersebut bukan permasalahan pokok bagi masyarakat, namun hal ini dapat memberikan pengalaman berharga bagi masyarakat. Terlepas dari kelemahan teknik ini, penerapan sistem kerek ini memiliki peluang untuk dikembangkan mengingat adanya faktor-faktor yang mendukung seperti masih terdapatnya pohon lebah tinggi, minat masyarakat yang cukup besar, kemudahan pemeliharaan, pasaran madu yang selalu terbuka, dan sebagainya. Kata kunci: Lebah hutan, Lebah, Peluang, Sistem kerek, Budidaya

21

Komala KERAGAMAN PENOTIPA Agathis borneensis Warb. ASAL SIPAGIMBAR DI AEK NAULI SUMATERA UTARA (Phenotypic Variation of Agathis borneensis Warb. of Sipagimbar at Aek Nauli North Sumatera / Komala; Aswandi; Rusli M.S Harahap; dan Edi Kuwato. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 213-217 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi penotipa Agathis borneensis Warb. asal Sipagimbar yang ditanam di arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera di Aek Nauli. Keragaman penotipa yang diamati adalah tinggi total, diameter batang dan cabang, sudut cabang, panjang internoda, lebar tajuk, panjang dan lebar daun dari dua warna pucuk agathis yang telah berumur 7 tahun. Sumber benih berasal dari tegakan alami agathis di Sipagimbar, Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Analisis ragam terhadap sepuluh sampel dari masing-masing warna pucuk (hijau dan cokelat kemerahan) mengindikasikan terdapat perbedaan dalam ukuran tinggi total, diameter dan sudut cabang, jarak internoda, dan lebar tajuk. Sedangkan diameter batang dan lebar daun tidak berbeda antar kedua warna pucuk. Diduga terdapat dua jenis populasi alami agathis di Sipagimbar. Penelitian anatomi dan karakteristik kayu sebaiknya dilakukan apabila dua populasi tersebut mengindikasikan spesies atau varietas yang berbeda dan disarankan penanaman agathis secara in-situ di Sipagimbar. Kata kunci : Agathis borneensis Warb., keragaman penotipa, konservasi Kosasih, A.Syafari PENGARUH MEDIUM SAPIH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Shorea selanica BI DI PERSEMAIAN (The effect of Growing Medium to the Growth of Shorea selanica BI. Seedling at Nursery/ A. Syafari Kosasih; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.2 ; Halaman 147 - 155 , 2006 Medium sapih adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk memperoleh bibit yang berkualitas dalam waktu singkat. Oleh karena itu dalam mempersiapkan medium sapih perlu diperhatikan unsur hara yang tersedia dalam medium tersebut sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan optimal. Penelitian dilakukan di persemaian Hutan Penelitian Carita, Provinsi Banten dengan metode rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan

medium. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, setiap ulangan terdiri dari 50 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan medium sapih campuran tanah dan kompos dengan volume 4 : 1 memberikan respon yang terbaik pada persen jadi, pertumbuhan tinggi, dan diameter bibit Shorea selanica Bl. sampai umur enam bulan di persemaian. Kata kunci : Medium sapih, Shorea selanica Bl., pertumbuhan bibit Kuntadi TEKNOLOGI PENGELOLAAN LEBAH HUTAN Apis dorsata / Kuntadi. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 49-55 , 2006 Lebah hutan Apis dorsata adalah salah satu jenis lebah madu yang penyebarannya meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun lebah madu ini tergolong jenis liar yang tidak dapat dibudidayakan, namun termasuk yang paling potensial sebagai penghasil madu karena produktivitasnya yang sangat tinggi. Sampai saat ini lebah hutan adalah andalan utama penghasil madu di Indonesia. Permasalahan pokok dalam pengembangan lebah hutan adalah kerusakan habitat A. dorsata akibat tingginya laju deforestasi di Indonesia. Teknik pemanenan madu yang tidak berazaskan kelestarian juga merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup lebah hutan. Permasalahan lain yang tidak kurang pentingnya adalah kualitas madu lebah hutan yang rendah akibat pemanenan dan penanganan pasca panen yang kurang baik. Rehabilitasi hutan dan perbaikan teknik pengelolaan lebah hutan adalah upaya terbaik untuk memulihkan potensi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas produk lebah hutan. Teknologi pengelolaan A. dorsata yang meliputi teknik pengembangan sarang buatan dan teknik pemanenan dibahas dalam makalah ini. Kata Kunci: Lebah hutan, Apis dorsata, Madu Kuntadi PAKAN BUATAN UNTUK LEBAH MADU / Kuntadi. -- Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 149-154 , 2006 Sumber pakan utama lebah madu adalah nektar dan tepungsari (pollen) yang dihasilkan dari bunga tanaman. Masa pembungaan tanaman yang umumnya

22

bersifat musiman menyebabkan pada periode tertentu lebah madu mengalami krisis makanan. Kondisi demikian mengakibatkan penurunan populasi koloni. Kekurangan makanan tidak jarang juga menyebabkan hijrahnya koloni. Pemberian makanan buatan adalah salah satu alternatif cara mempertahankan koloni lebah madu , terutama dalam kondisi langka bunga. Makanan buatan terdiri dari makanan pengganti nektar dan makanan pengganti tepungsari. makalah ini membahas cara pembuatan dan pemberian makanan buatan untuk lebah madu yang dibudidayakan. Kata Kunci: Pakan buatan, Lebah madu Kurniadi, Rahman KAJIAN PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN HUTAN SEBAGAI EKOWISATA DI RIUNG / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 43-53 , 2006 Sampai saat ini sektor kehutanan telah menjadi perhatian banyak pihak karena keterkaitannya dengan banyaknya penduduk miskin di sekitar areal hutan. menurut data Potensi Desa (2003) dalam Ediawan (2005) desa yang berada di dalam dan di sekitar hutan lebih tertinggal dibandingkan dengan desa di luar hutan. Untuk membantu menganalisis permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui manfaat hutan sebagai ekowisata di Taman laut 17 Pulau Riung yang diperoleh masyarakat dan berupaya meningkatkannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi saat ini menfaat yang diterima masyarakat belum optimal. Untuk meningkatkan manfaat tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan arus kunjungan wisata ke Riung. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi dan meningkatkan sarana dan prasarana rekreasi di Riung. Hasil penelitian juga diperoleh fakta bahwa pemanfaatan hutan sebagai obyek ekowisata di Riung memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat dibandingkan pemanfaatan dalam bentuk lainnya. Disamping keuntungan ekologi, masyarakat sekitar obyek ekowisata di Riung memperoleh manfaat ekonomi. Kata kunci: Ekowisata, Pemanfaatan hutan, Riung, Manfaat ekologi, Manfaat ekonomi

Kurniadi, Rahman UPAYA PELESTARIAN PENYU DI BALI / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 55-62 , 2006 Penyu merupakan salah satu hewan langka dilindungi.Beberapa jenis penyu bahkan telah masuk ke dalam daftar Lampiran (Appendix I) Convention on International Trade of Endangered Species tahun 1978 (CITES). Sementara itu Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan guna melestarikan penyu. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan acuan untuk melestarikan penyu di daerah lain. hasil penelitian menunjukan bahwa berbagai upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali antara lain dengan pembentukan Peraturan Daerah, sosialisasi peraturan perundangan, penegakan hukum, penggantian daging penyu dengan daging babi, penggunaan teknologi penangkaran, pelibatan masyarakat dalam penangkaran penyu, dan pelibatan lembaga swadaya masyarakat. Kata kunci: Penyu, Pelestarian, Hewan langka, Satwa langka, Bali Kurniadi, Rahman TEKNOLOGI DAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI KAWASAN MUTIS / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 47-53 , 2006 Kawasan konservasi merupakan kawasan yang memperoleh perlakuan khusus karena kepentingan perlindungan sumberdaya alam. Segala kegiatan yang dilakukan di kawasan konservasi diatur oleh perundang-undangan. Namun demikian segala peraturan perundang-undangan tersebut tidak dapat menangkal kerusakan areal konservasi. Beberapa kawasan sangat rawan terhadap gangguan. Kawasan Cagar Alam Mutis dan Hutan Lindung Timau misalnya, sangat rawan terhadap gangguan ternak, pertambangan dan berbagai gangguan lainnya. Penelitian ini bertujuan memperoleh bentuk kelembagaan social forestry di kawasan Mutis dan memperoleh teknologi social forestry di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk social

23

blok terhadap diameter serta spesies dan blok terhadap jumlah daun. persepsi. Kata kunci: Rotan. Jenis introduksi Kuswanda. Mutis Kurniawan. Hery BUDIDAYA ROTAN DENGAN BEBERAPA JENIS INTRODUKSI DI PULAU TIMOR / Hery Kurniawan. Oleh karena itu diperlukan pendampingan untuk membentuk kelembagaan social forestry yang mandiri dan untuk meningkatkan kemampuan teknis serta motivasi masyarakat dalam memelihara tanaman.III. Halaman 147-159 .forestry di kawasan tersebut belum sesuai dengan kondisi ideal. suku Melayu. -. pelatihan.Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan blok. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik budidaya rotan di Pulau Timor melalui teknik silvikultur yang tepat. -.4 . No.421. Kata kunci: Zona penyangga.1% hal tersebut dinilai responden sebagai peranan Balai TNBT). Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan perlakuan dilakukan uji beda nyata taraf 5 persen. Abdulah Syarief Mukhtar. Peranan kelembagaan dalam penataan batas dan ruang serta perlindungan taman nasional merupakan prioritas program Balai TNBT (nilai = 0. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat dan stakeholder terkait yang dianalisis dengan tabel frekuensi dan sistem Analytic Hierarchy Process (AHP).462). Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Teknologi. Parameter pengamatan adalah tinggi anakan rotan yang diukur dari permukaan media tumbuh semai sampai dengan titik tumbuh semai. 2006 Keadaan iklim yang sangat kering dan jenis tanah yang miskin merupakan suatu kendala besar dalam pengembangan rotan secara luas di Nusa Tenggara Timur. artinya 33.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. 2006 Keberadaan masyarakat di sekitar zona penyangga akan mempunyai interaksi dan berpengaruh terhadap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Kata kunci: Kelembagaan. Pada pengamatan II diketahui bahwa spesies. persepsi. Karakteristik masyarakat sebagian besar merupakan penduduk asli.315).339 dan 0. peningkatan sumberdaya manusia dan ekonomi sebagai prioritas lembaga masyarakat lokal (0. peranan kelembagaan. Di samping itu teknologi social forestry yang dimiliki masyarakat belum mampu untuk membangun hutan.9 % dan 42. dan interaksi) masyarakat dan peranan kelembagaan dalam pengelolaan zona penyangga TNBT. diamter semai dan jumlah helaian daun tanaman semai di lapangan.Jurnal 24 . Persepsi masyarakat tergolong positif meskipun interaksi terhadap kawasan TNBT masih cukup tinggi. Wanda POTENSI MASYARAKAT DAN PERANAN KELEMBAGAAN DI ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Community Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Halaman 459 475 . Program pemberdayaan lembaga masyarakat lokal dapat dilakukan dengan membuat kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. beragama Islam. Social forestry. spesies dan pupuk terhadap diameter serta pupuk dan blok terhadap jumlah daun. dan bekerja sebagai petani. Nasional Bukit Tigapuluh Taman Potencies and Institution Roles in The Bukit Tigpuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda. dan pemantauan pengelolaan daerah penyangga sebagai prioritas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (0. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi (karakteristik. pupuk dan media berpengaruh nyata terhadap tinggi. dan memberikan bantuan modal. Budidaya. mulai dari pembibitan hingga pengembangannya di lapangan. Hasil penelitian menunjukan pada pengamatan I hanya spesies dan media yang memiliki pengaruh nyata terhadap tinggi. Kegiatan penelitian ini meliputi kegiatan di lingkup persemaian dalam rangka mendapatkan teknik budidaya yang paling tepat untuk memperoleh paket teknologi peningkatan produktivitas dan kualitas rotan. 2006 .

Taman Nasional Bukit Tigapuluh menggunakan program expert choice dan Microsoft Excel. Namun peraturan perundangundangan dan petunjuk pelaksanaan yang dikeluarkan dalam mendukung pelaksanaan pengelolaan hutan oleh masyarakat cenderung tidak jelas dan tidak konsisten. selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan tabel frekuensi. dan lainnya. strategi. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner untuk masyarakat dan stakeholder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemilikan dan pola pemanfaatan lahan di Zona Penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Koperasi ini menggunakan konsep kemitraan antar pengusaha mapan dengan masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya alam guna meningkatkan taraf hidup masyarakat pemilik hak adat dan hak ulayat. meningkatkan kapasitas dan wawasan sumberdaya manusia. 2006 Pengelolaan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) belum optimal karena kurangnya koordinasi dan sosialisasi antar lembaga terkait. pertanian (ladang dan sawah) dan keperluan lainnya (pekarangan rumah dan jalan). warisan orang tua 8. Masyarakat di lokasi penelitian (Desa Lubuk Kambing dan Sungai Rotan) secara umum menggarap lahan pribadi/hak milik dengan luas rata-rata sekitar 3 ha/responden yang berasal dari membuka hutan 35 %. -. penataan kembali status dan peruntukan lahan untuk kawasan lindung dan budidaya di daerah penyangga (0. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 127-135 . Bukit Tigapuluh National Park. PROVINSI JAMBI (The Patern Informasi pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal merupakan aspek penting yang harus diketahui di dalam menyusun rencana pengelolaan zona penyangga di taman nasional.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. zona penyangga. Alternatif strategi untuk mengembangkan kelembagaan adalah pembinaan dan pemberdayaan berbagai stakeholder terkait (0. Oleh karena itu pengelolaan hutan di Papua dewasa ini memasuki era baru. Hasil pengelolaan lahan dimanfaatkan untuk dijual (48.323). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama adalah kurang jelasnya batas dan fungsi zona penyangga (nilai = 0.5 . Kata kunci : Faktor penghambat. menyatakan bahwa hutan merupakan sumber pangan dan protein selain sebagai sumber kayu dan pengakuan hak masyarakat adat atas suatu kawasan hutan.III. Halaman 249 .357. No. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner.of Land-Use by Communities in Buffer Zone. rasionalisasi. Wanda POLA PEMANFAATAN LAHAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. zonasi.289). -.504 . Program yang dapat dikembangkan di antaranya adalah mendayagunakan Badan Pengelola Multi Stakeholder (BPMS). masyarakat adat terlibat secara langsung dalam pengelolaan hutan.33 %) dan dikonsumsi (20 %). Jambi Province) / Wanda Kuswanda. 2006 Paradigma baru pembangunan kehutanan (khususnya di Papua) yang mengarah kepada keberpihakan terhadap masyarakat sekitar hutan. Halaman 491 .3 . artinya 35. Oleh karena itu perlu adanya peraturan daerah yang mempertimbangkan unsur perpaduan antara hukum adat dan hukum formal yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya hutan KOPERMAS yang diharapkan Kuswanda. rasionalisasi batas kawasan dan zonasi TNBT.258 . Wanda STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Strategies on Institutions Development of Bukit Tigapuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda dan Abdullah Syarief Mukhtar. Relawan MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT ADAT DI PAPUA / Relawan Kuswandi dan Pudja Mardi Utomo. 2006 Kuswanda.III.7 % hal tersebut dinilai sebagai penghambat pengembangan kelembagaan zona penyangga) dan tingkat ekonomi dan peranserta masyarakat yang masih rendah (0. mulai dari perencanaan hingga pemungutan hasil hutan melalui suatu wadah atau organisasi yang dibentuk yaitu Koperasi Peran Serta Masyarakat Adat (KOPERMAS) yang bergerak di sektor kehutanan. dan menciptakan kesempatan usaha pada masyarakat (0. Semua penilaian Analytic Hierarchy Process (AHP) responden diolah dengan sistem 25 . Kata kunci : Pemanfaatan lahan. dan pengamatan secara deskriptif.33 %. stakeholder Kuswandi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang faktor penghambat utama dan strategi untuk mengembangkan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya alam di zona penyangga TNBT.241). Pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal untuk areal perkebunan. No. wawancara.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.436).

11 jenis mamalia. Luas areal konsesi antara 1. pupuk organik cair. Dalam unit prosesing serat. Ditinjau dari prospek agribisnis.Info Hutan : Vol. Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan dengan penyebaran kuesioner pada responden sebanyak 66 responden yang ada di zona penyangga dan tradisional TNBT. Selama ini pengelolaan hutan ulayat pada kenyataannya lebih banyak digunakan oleh pihak investor sebagai mitra kerja.III. Ditinjau dari aspek teknis. Untuk itu perlu adanya suatu model pengelolaan hutan yang sesuai dengan kondisi masyarakat adat di Papua. dan daerah penyangga. kemampuan. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. pengembangan teknologi tepat guna. dan enam jenis primata yang dijumpai di zona-zona tersebut. Papua Mile. zona pemanfaatan intensif.71. Empat kriteria zona TNBT telah sesuai dengan kriteria yang dimaksudkan dalam Peraturan Pemerintah No.3 . Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. Data yang dikumpulkan meliputi data kondisi fisik. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Yamin Mile. sehingga bisa menjadi dasar bagi pengelolaan TNBT selanjutnya. Sistem silvikultur yang digunakan adalah sistem silvikultur TPTI modifikasi yang disederhanakan tetapi tetap mengacu pada prinsip pengelolaan hutan lestari.606 . serat. baik yang dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan.. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L. Rozza Tri KRITERIA DAN INDIKATOR PENETAPAN ZONASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Criteria and Indicator of Appointed Bukit Tigapuluh National Park Zones) / Rozza Tri Kwatrina dan/and Abdullah Syarief Mukhtar. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yaitu zona inti. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry.) Gaudich.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L.) Gaudich.III. dan fasilitas yang dimiliki oleh masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. Kata kunci : Agroforestry haramay. sedangkan pengamatan satwaliar dilakukan dengan metode perjumpaan pada kelas aves. dan konsentrat pakan ternak. Masyarakat Adat. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. Hal ini disebabkan oleh karena rendahnya tingkat pengetahuan. -. Usulan indikator untuk masing-masing zona adalah zona inti 26 . No. dan primata. biotik.000-5.000 ha dengan jangka waktu pengelolaan antara 10-20 tahun dan menggunakan sawmill portable atau chain saw. Kata Kunci: Sumberdaya Hutan. dan sosial ekonomi.) Gaudich. Halaman 239-249. Halaman 585 .Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. -. No.17 sampai dengan 3. china grass.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M. berdasarkan parameter fisik. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar.5 . mamalia. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. Kondisi vegetasi diperoleh melalui analisis vegetasi pada setiap zona. Kegiatan perekonomian masyarakat terutama berupa usaha pertanian ekstensif dan pemungutan hasil hutan. Terdapat 17 jenis aves. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu.dapat meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat adat. social forestry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan pada zona-zona yang diamati mempunyai indeks keanekaragaman jenis tumbuhan secara keseluruhan berkisar antara 2. zona rimba. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. baik IUPHHK maupun non IUPHHK sebagai prasyarat legalitas untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan. hasil hutan kayu dan non kayu Kwatrina. biotik. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan kriteria dan indikator yang tepat dalam penetapan zonasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). baik dalam penyiapan lahan. di samping serat sebagai produk utama.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). Model pengelolaan hutan yang dianggap mudah dan dapat diterapkan adalah model pengelolaan hutan dalam skala kecil dengan berorientasi pada industri pengolahan kayu.

zona pemanfaatan tradisional 10 indikator. -. Daerah M Hidayatullah PEMBANGUNAN KEBUN KONSERVASI EX-SITU CENDANA DI PULAU TIMOR / M Hidayatullah. putusnya hubungan emosional masyarakat lokal dengan lingkungan dan bergesernya kegiatan perekonomian masyarakat sekitar hutan yang semula berladang menjadi kegiatan industri. pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di daerah penyangga kawasan konservasi. 2006 Kegiatan illegal logging yang terjadi di Indonesia mengakibatkan kerusakan hutan semakin meningkat. penyangga.5 persen).Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Kegiatan illegal logging memberikan dampak yang multidimensi pada berbagai sendi kehidupan masyarakat. Masyarakat sekitar hutan pada umumnya memiliki bentuk aktivitas tradisional pertanian ladang sebagai pilihan utama yang dilakukan setiap tahun guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Halaman 77-84 . Dengan adanya sebaran alami yang luas serta lokasi yang kontinyu seperti kepulauan. 2006 Kepulauan Nusa Tenggara sebagai sub kawasan Wallaceae mempunyai keanekaragaman jenis avifauna yang tinggi. rehabilitasi lahan. Bismark DIMENSI BIODIVERSITAS AVIFAUNA ENDEMIK WALLACEAE SUB KAWASAN NUSA TENGGARA / M. 2006 Kegiatan konservasi ex-situ merupakan konservasi komponen keaneragaman hayati di luar habitat alaminya. Halaman 125-135 . 10. 2003). serta pengendalian perburuan dan perdagangan burung.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . -. Kata kunci: Wallaceae. yaitu meningkatkannya tingkat ketergantungan masyarakat. Avifauna. Dengan model variasi genetik yang berhubungan dengan daerah asal (provenans) yang banyak inilah diharapkan dapat dilakukan seleksi provenans yang terbaik dengan uji provenans serta kegiatan-kegiatan pemuliaan lebih lanjut untuk memperoleh kebun klon cendana yang memiliki sifat genetik unggul. Semakin berkembangnya kehidupan dan bertambahnya kebutuhan hidup keluarga. Masyarakat sekitar hutan M. Sosial ekonomi. Dari 697 jenis burung Walaceae.8 persen dan Nusa Tenggara Timur 8. zona rehabilitasi lima indikator. zona pemanfaatan intensif lima indikator.8 juta hektar per tahun (WWF. -.Dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1998. zonasi. Kata Kunci: Illegal logging. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari bebagai pihak. mendorong masyarakat untuk melakukan pembukaan hutan. zona rimba lima indikator. Kata kunci: Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Untuk menunjang kegiatan tersebut maka diperlukan 27 . mulai dari tingkat pusat sampai ke level masyarakat (multi stakeholders) dan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar hutan agar upaya peningkatan pembangunan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. kegiatan ini dapat dilakukan pada cendana karena memiliki siklus hidup yang relatif panjang maka prosedur yang lazim digunakan dalam pengembangannya adalah dengan cara menanam tanaman tersebut di lokasi yang telah direncanakan. Saat ini areal hutan Indonesia yang rusak telah mencapai luasan 43 juta hektar dengan laju kerusakan hutan 1. Upaya penanggulangan illegal logging telah banyak dilakukan. 2006 . Halaman 107-114 .2 persen adalah jenis endemik Nusa Tenggara.Sri ILLEGAL LOGGING DAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Sri Lestari. Burung endemik Nusa Tenggara mempunyai tingkat keterancaman populasi tinggi sehubungan dengan luasnya kawasan hutan yang menjadi kawasan konservasi (di Nusa Tenggara barat 5. kriteria. akan tetapi belum memberikan dampak yang nyata terhadap pengurangan laju deforestasi hutan.sebanyak 13 indikator. Pelestarian populasi burung endemik Nusa Tenggara di alam dapat dipertahankan dengan meningkatkan perlindungan dan perluasan kawasan konservasi. indikator Lestari. variasi genetiknya diharapkan sangat banyak.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Rehabilitasi lahan. 2006 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan daerah penyangga sebanyak 13 indikator. kegiatan perambahan hutan dan illegal logging oleh masyarakat semakin merata. Bismark. Biodiversitas Endemik. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.

sehingga dapat dilakukan kegiatan konservasi insitu untuk kepentingan kegiatan konservasi ex-situ sebelum punah. pemuliaan potensi jalak bali. Jenis burung. sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan kawasan. pengelolaan penelitian dan pendidikan. Taman Nasional Bali Barat adalah salah satu kawasan pelestarian jalak bali. dan pengelolaan potensi wisata. dengan metode titik hitung dan garis transek.55-26. Social forestry bukan hal baru di Indonesia. dan kerjasama pengelolaan wisata alam. pengelolaan wisata alam. Kata kunci: Taman Nasional.Khusus untuk sosial budaya masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan lokal dan global dengan pengembangan partisipasi masyarakat lokal yang berbasis konsep budaya tradisional seperti Tri Hita Kirana. Hasil pengamatan menunjukkan. Partisipasi masyarakat.inventarisasi sebaran alami cendana di alam. pengelolaan potensi kawasan. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan tersebut. 2006 Secara umum pengelolaan taman nasional mempunyai tiga fungsi pokok yaitu: sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan. 2006 Taman Nasional (TN) Kalimutu yang luasnya 5. Untuk mencapai fungsi dan tugas pokoknya.11.08-24. Kata kunci: Cendana. Bali Barat Martin. Pendekatan yang dilakukan adalah inventarisasi dan identifikasi burung dan interaksinya dengan habitatnya. pengelolaan potensi kawasan. ditetapkan berdasarkan SK Menhut No. Halaman 41-53 . pemberdayaan ekonomi masyarakat. sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. dukungan iptek sangat diperlukan antara lain: sosial ekonomi.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. -. Edwin PERFORMANSI PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN BERBASIS SOCIAL FORESTRY DI PROVINSI JAMBI / Edwin Martin dan Bondan Winarno. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .33. pada zona pemanfaatan adalah berkisar antara 3. penyusunan rencana pembangunan sarana-prasarana.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Halaman 199-204 . Ekosistem. pembangunan integrasi dan koordinasi. -. serta sebagai kawasan pemanfaatan secara lestari potensi sumberdaya alam dan ekosistemnya.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Halaman 157-180 .65 dan 5.33-13.38 serta pada zona rehabilitasi adalah berkisar antara 3.56. 2006 Social forestry diharapkan menjadi alternatif solusi pengelolaan kawasan hutan di Indonesia. pengembangan dan pemanfaatan.000 ha. Konservasi.92-7. mempunyai potensi flora dan fauna yang cukup beragam. teridentifikasi 22 jenis burung pada zona rimba. Frekuensi relatif dan Indeks Nilai Penting (INP) dari 16 jenis pada zona rimba adalah berkisar antara 2. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. IPTEK. 279/Kpts-II/1992. Kata kunci : Identifikasi. dan 5. Fakta menunjukan 28 . 2006 .78-25. Pembangunan.78-11. kegiatan pengelolaan Taman Nasional Bali Barat yang saat ini dilakukan meliputi pemantapan kawasan. I Ketut Catur KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / I Ketut Catur Marbawa.rehabilitasi dan pemanfaatan. Ex-situ cendana M Hidayatullah IDENTIFIKASI RAGAM JENIS BURUNG DI KAWASAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU ENDE / M Hidayatullah. Agis Nursyam S dan Kayat. Penelitian ini bertujuan untuk jenis dan sebaran burung pada zona-zona di kawasan TN Kelimutu.984 ha dan Cagar Alam Kelimutu 16 ha. khususnya dalam kaitan alternatif obyek wisata. Taman Nasional Kelimutu Marbawa. -.11 dan 4. terdiri dari kawasan Taman Wisata Kelimutu 4.

Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teknologi dan kelembagaan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi.Info Hutan : Vol. Kawasan hutan. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. dan Ismed Syahbani. Tri Atmoko.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 57-68 . baik yang 29 . di samping serat sebagai produk utama.3 . -. pelaksanaan kegiatan. Aplikasi bentuk-bentuk social forestry pada beragam kawasan cukup penting untuk dipelajari. baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya merupakan modal penting untuk tercapainya tujuan tersebut di atas.. perkandangan. dan konsentrat pakan ternak. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L. Ditinjau dari prospek agribisnis. terutama tergantung pada kawasan hutan fungsi mana social forestry tersebut diterapkan. Kalimantan Timur Mile. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. pakan. baik informasi maupun produk harus dibuat dengan baik sehingga budaya masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu tersebut dapat lestari. Pengelolaan hutan. Panajam Paser Utara. khususnya Kalimantan Timur.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L. penanganan. Kata Kunci: Social forestry.III. Amir TEKNOLOGI PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DI DESA API-API KABUPATEN PANAJAM PASER UTARA KALIMANTAN TIMUR / Amir Ma'ruf. No.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M. Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal telah dan sedang mengaplikasikan varian social forestry adalah provinsi Jambi. Yamin Mile. Satu hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah teknik pengemasan.) Gaudich. pupuk organik cair. mengingat orientasi pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat ini merupakan paradigma baru bagi pemerintah (Departemen Kehutanan). Dalam unit prosesing serat. -. Peran serta masyarakat dan berbagai pihak yang terkait. 2006 Rusa sambar (Cervus unicolor) adalah salah satu dari empat jenis rusa di Indonesia yang sudah dilindungi undang-undang dan jumlah populasinya terus berkurang akibat perburuan liar dan semakin tingginya degradasi habitat. Kata Kunci: Rusa sambar. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. Api-api.) Gaudich. dan pemanfaatan harus disosialisasikan ke masyarakat untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman penangkaran. pengembangan teknologi tepat guna. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Teknik konservasi maupun penangkaran satwa bernilai ekonomi tinggi ini perlu untuk selalu ditingkatkan sehingga pemanfaatannya dapat diusahakan secara lestari. baik dari segi teknis pelaksanaan maupun penyiapan kelembagaannya. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. Pendampingan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dari mulai identifikasi potensi masyarakat. Hasil penelitian penunjukan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi menggunakan pola pendekatan yang berbeda. dan pasca kegiatan merupakan cara yang efektif untuk membangun kelembagaan dan kemandirian masyarakat dalam program social forestry. perencanaan kegiatan. baik dalam tingkat kecil (rumah tangga) maupun tingkat besar (peternakan). Teknologi penangkaran. kesehatan. Selain itu juga akan mengurangi perburuan liar oleh manusia serta salah satu upaya untuk melestarikan plasma nutfah hewani di Indonesia. Teknik pemeliharaan. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan.bahwa ada keragaman inisiatif dan pendekatan yang sudah dikembangkan dengan hasil yang bervariasi. Halaman 239-249. baik dalam penyiapan lahan. Jambi Ma'ruf. Ditinjau dari aspek teknis. Upaya penangkaran rusa mempunyai potensi yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat selain sumber protein hewani lain yang sudah umum.) Gaudich. Cervus unicolor.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay).

Saat ini keberadaan hutan penelitian semakin diperlukan karena selain untuk penelitian juga digunakan untuk pendidikan. Menurut data dari BPS (2001). Minyak atsiri yang berasal dari nilam digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik.dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. membangun kapasitas kelembagaan dan administrasi secara berkala dan keadilan dan kepastian hukum yang jelas dan dapat dipatuhi atau diterapkan oleh para pihak yang berkolaborasi. Abdullah Syarief STATUS RISET DALAM PENGUATAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU DAN TAMAN NASIONAL KOMODO / Abdullah Syarief Muchtar. pembuatan perangkat hukum secara bersama. Yamin Mile. hasil hutan kayu dan non kayu Mile. serat.200-1. sumber benih. dan sebagainya.. -. saat ini perlu dilakukan secara bersama dengan masyarakat dan para pihak lainnya. Sepuluh hutan penelitian telah dibangun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam sejak lembaga ini bernama Bousbouw Proefstation. -Info Hutan : Vol. pada tahun 1937. -. Halaman 229-238. Kondisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi nilam. china grass. Kata kunci : Agroforestry haramay. Pogostemon cablin Benth. Timur Tengah. M Yamin KAJIAN TEKNIS PENGEMBANGAN SOCIAL FORESTRY DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM (Technical Analysis of Social Forestry Development Through Nilam Agroforestry Model) / M. Australia. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. diproyeksikan bahwa konsumsi minyak atsiri dunia mencapai 1.). 2005 : Halaman 1-12 .III. agribisnis. minyak atsiri Mindawati. dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Pengembangan social forestry dengan model agroforestry nilam akan meningkatkan nilai produk kayu. Nilam menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai nilai pasar tinggi dalam perdagangan internasional. Indonesia mengekspor minyak atsiri ke lebih dari 25 negara seperti Amerika Serikat. 2006 Hutan Penelitian merupakan faktor penunjang yang sangat penting dalam rangka peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan hutan secara nasional khususnya sebagai tempat melakukan dan menghasilkan teknologi (IPTEK) bagi kemajuan ilmu pengetahuan. social forestry. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan pola agroforestry nilam. Pembuatan zonasi sebelumnya hanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah. Oleh karena itu kegiatan social forestry dengan pola agroforestry nilam memberikan prospek yang baik dalam meningkatkan pendapatan petani secara nyata. Agroforestry nilam adalah suatu model 30 . Uni Eropa.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. share learning. Adapun prinsip-prinsip kolaborasi yang harus dibangun bersama oleh pihak terkait adalah penataan ruang yang fleksibel. 2006 Pola pengelolaan Taman Nasional yang dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi saat ini seperti perambahan kawasan memerlukan pendekatan melalui sistem zonasi yang ditentukan bersama dengan berbagai pihak dengan dasar prinsip kolaborasi. Nina SEKILAS TENTANG HUTAN PENELITIAN / Nina Mindawati. baik untuk kosumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. khususnya di Jawa barat. No.400 ton/tahun dan setiap tahun meningkat mencapai 5-10 %.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 137-148 . 2006 kombinasi antara tanaman pokok kehutanan dengan usaha tani nilam (Pogostemon cablin Benth. Oleh karena itu pola agroforestry nilam memperlihatkan prospek agribisnis yang cukup baik sehingga sangat sesuai untuk dijadikan salah satu model dalam kegiatan social forestry. sehingga keberadaannya perlu di jaga dan dilestarikan Kata kunci: Hutan penelitian Muchtar.3 . Kata kunci: Agroforestry berbasis nilam. social forestry. dan wisata bagi masyarakat. Kanada. Jepang. koleksi.

dan bulk density.Info Hutan : Vol.). Kolaborasi Narendra.III. turi (Sesbania grandiflora (L. turi. jenis legum. -. 2006 Dalam rehabilitasi lahan-lahan bekas tambang diperlukan teknologi yang efektif dan efisien. lamtoro. Leucaena leucocephala (Lamk. Budi Hadi PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS LEGUM TERHADAP KONDISI TANAH PADA AREAL BEKAS PENAMBANGAN BATU APUNG (Effect of Legume Species Planting on Soil Condition of the Area Formerly Used for Pumice Mining) / Budi Hadi Narendra dan Eka Multikaningsih. diuji pengaruh tiga jenis tanaman lorong dari jenis legum yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala (Lamk.) De Wit.III. No.3 . Variabel yang diamati adalah perubahan sifat fisika dan kimia tanah sebelum dan setelah diadakan penanaman. Demikian pula dengan sifat fisika tanah terjadi perbaikan pada permeabilitas.) Steud).) Pers. turi menghasilkan biomassa terbesar. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. Kebutuhan teknologi tepat guna untuk merehabilitasi lahan bekas tambang batu apung penting saat ini. No.f.235 . namun untuk penganekaragaman manfaat yang diperoleh. dan tanaman penutup tanah rendah berupa sentro (Centrosema pubescens Benth. Hasil analisis tanah menunjukkan terjadi perbaikan sifat kimia tanah berupa meningkatnya kandungan bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi pertumbuhan dan manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan sistem pertanaman lorong. gamal. Respon yang diamati adalah pertumbuhan tanaman pokok dan biomassa hasil pangkasan ketiga jenis tanaman lorong. Dari ketiga jenis tanaman lorong. Halaman 173-180 . Salah satu metode yang banyak memberi manfaat dalam merehabilitasi lahan kritis adalah penggunaan sistem pertanaman lorong (alley cropping). sistem pertanaman lorong.) De Wit..4 kg/m2 dan penggunaan tanaman penutup tanah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. Zonasi.3 . dan KTK.). diantaranya penggunaan tanaman penutup tanah dari famili legum yang terbukti dapat memperkaya hara tanah. dan gamal (Gliricidia sepium Steud. biomassa 31 . -. Sesbania grandiflora (L. fisika tanah Narendra.Kata kunci: Kebijakan. 2006. infiltrasi. Penanaman menggunakan sistem pertanaman lorong. Dengan menggunakan rancangan acak lengkap tersarang. Perlakuan dasar yang digunakan adalah pemberian pupuk kandang dosis 4.). Jenis yang ditanam adalah tiga jenis tanaman penutup tanah tinggi yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk.) dan mangga (Mangifera indica L. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. perlu dipertimbangkan untuk menanam ketiga jenis legum secara bersama dikombinasikan dengan sentro sebagai tanaman penutup tanah. temperatur. Gliricidia sepium Steud. Halaman 225 . N total. turi (Sesbania grandiflora (L.).) terhadap pertumbuhan tanaman pokok jati (Tectona grandis L. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis tanaman legum penutup tanah terhadap perubahan kondisi kimia dan fisika tanah di lahan bekas tambang batu apung. kimia tanah. gamal (Gliricidea sepium (Jacq. sistem pertanaman lorong.) Poir). pertumbuhan. Budi Hadi UJI COBA SISTEM PERTANAMAN LORONG DALAM REHABILITASI LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Trial of Alley Cropping system in Critical Land Rehabilitattion of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra. kadar air. Taman Nasional Komodo. Taman Nasional Kelimutu. hasilnya menunjukkan bahwa tanaman jati dan mangga memiliki kemampuan hidup dan tumbuh dengan baik dan antar jenis tanaman lorong belum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pokok.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Setelah enam bulan pengamatan.) Pers).

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh alternatif rehabilitasi lahan dan konservasi melalui pengembangan hutan rakyat yang berbasis pada sistem social forestry murni masyarakat beserta kearifan lokalnya. 2006 Tambang batu apung di Lombok Timur. namun serangan rayap menyebabkan kematian. 2006 Pada tanaman meranti merah (Shorea leprosula) umur 10 tahun lebih di lapangan terserang tumor buah. Luas lahan kritis di Nusa Tenggara Timur mencapai 28 % dari total luas wilayah. No. Serangan tumor buah dan tumor cabang menyebabkan tajuk meranggas dan kering akan tetapi tanaman tidak mati. Sedangkan di Pulau Sumba jumlah lahan kritis diperkirakan paling sedikit 32 % dari total luas daratan. keragaman jenis tanaman yang tinggi serta dukungan masyarakat. Kata kunci: Meranti merah. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kaliwu berpeluang dikembangkan untuk rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air di Sumba. Penggunaan pupuk kandang dengan dosis 4. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .III. Penelitian ini menggunakan desain split plot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan intensitas serangan hama pada tanaman meranti merah (S. tumor cabang dan rayap.). Hanya vegetasi tertentu saja yang masih dapat dijumpai pada lahan tersebut. 4 .1 . Hama penyebab tumor batang dan jenis rayap belum teridentifikasi. Peningkatan lahan kritis disebabkan kebakaran lahan dan hutan. Bekas tambang ini merupakan lahan terdegradasi yang dibiarkan saja menjadi lahan kritis dengan permukaan berlubang-lubang yang sebagian besar tidak dimanfaatkan lagi. Berdasarkan kemampuan hidup. wawancara. leprosula) dengan cara mengamati setiap individu tanaman di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama yang menyebabkan tumor buah pada pucuk tanaman adalah sejenis kutu dengan hama perantara lalat. Halaman 19 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. tanaman penutup tanah. pupuk kandang Ngatiman HAMA TANAMAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) / Ngatiman dan Armansyah.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. di mana tiga macam dosis pupuk kandang sebagai plot utama dan tiga jenis tanaman penutup tanah sebagai sub plot. Budi Hadi TANAMAN PENUTUP LAHAN YANG SUSEAI PADA LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Cover Crop Species Trial on Critical Land of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra dan Syahidan.30 .4 kg/m2 dapat diaplikasikan guna menambah kandungan bahan organik tanah. -. kemampuan menutup tanah dan biomassanya. Masing-masing kombinasi perlakuan ini diulang sebanyak 16 kali.III. Gerson ND REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT BERBASIS SISTEM KALIWU DI PULAU SUMBA (The Study of Widhana Susila. Metode pendekatan yang digunakan adalah observasi langsung terhadap karakteristik sistem kaliwu. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi dan teknologi budidaya jenis tanaman penutup tanah dan dosis pupuk kandang yang sesuai untuk rehabilitasi lahan kritis bekas tambang batu apung. -. 2006 Pengelolaan hutan yang menekankan eksploitasi menyebabkan meningkatnya luas lahan kritis dan degradasi ekosistem hutan secara menyeluruh. Keberadaan sistem kaliwu mampu menunjang tata air. Hal ini berdampak negatif terhadap daya dukung lingkungan dalam menunjang kebutuhan manusia.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Shorea leprosula Miq. fragmentasi hutan akibat penebangan liar dan perladangan serta faktor alam yang kurang menunjang pertumbuhan tanaman. Halaman 357 365 . teknologi rehabilitasi lahan. karena lahan telah mengalami kemunduran sifat fisika kimia tanahnya. Hama tanaman Njurumana. tanaman yang paling tepat digunakan sebagai penutup tanah adalah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. I Wayan 32 . -.Narendra. mendukung pendapatan masyarakat dengan nilai NPV positif pada tingkat pengembalian modal lebih dari 12 % per tahun. Kata kunci : Bekas tambang batu apung. lahan kritis. sedangkan serangan hama rayap mengakibatkan kematian. serangan tumor buah dan tumor cabang tidak menyebabkan kematian. Halaman 347-354 . Masyarakat menambang secara tradisional tanpa mengupayakan rehabilitasi dan konservasi tanah dan air. khususnya di Ijobalit memiliki potensi dan produksi terbesar di Indonesia. dan pengumpulan data sekunder. Keuntungan Critical Land Rehabilitation through the development of Kaliwu Based Community Forest in Sumba Island) / Gerson ND Njurumana.

Kata kunci: DAS. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. sosial budaya. I Wayan Widhiana S dan Tigor Butar-Butar. 2005 : Halaman 111-122 . Kearifan lokal Njurumana. Halaman 1-11 . Kata kunci : Sistem kaliwu. Konsep pembangunan yang dapat dikembangkan masyarakat langsung adalah yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan secara multiguna atau agroforestry seperti amarasi. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . konservasi dan hutan rakyat Njurumana. Faktor kesehatan DAS merupakan komponen eksternal yang menentukan keberlanjutan faktor internal. Gerson ND PENDEKATAN REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN MAMAR: STUDI KASUS MAMAR DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN / Gerson ND Njurumana. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan khususnya rehabilitasi lahan dan lingkungan diletakkan atas dasar pengetahuan masyarakat lokal. baik pusat atau daerah. Bali Njurumana. Pengelolaan. mamar. tetapi perlu memberikan ruang bagi partisipasi multi pihak beserta seluruh modal sosial yang berkembang dalam masyarakat. peguatan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.pengembangan sistem kaliwu adalah diperolehnya landasan pengelolaan lahan kritis dan konservasi yang berbasis lokal (mengakomodir karakteristik wilayah. salah satunya adalah kearifan lokal. 2006 Peningkatan degradasi lahan merupakan kesatuan yang bersifat simultan antara aspek sosial ekonomi. Karena itu upaya pengendalian dan rehabilitasi lahan kritis perlu melibatkan seluruh pihak termasuk aktor dari kegiatan degradasi lahan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. dan penyelarasan pengetahuan lokal dengan pengetahuan dari luar. 2006 . penggerakan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. 2006 Keberlanjutan sistem irigasi Subak di Provinsi Bali sangat ditentukan oleh berfungsinya komponen pendukung Subak. masyarakat sekitar hutan untuk membuat konsep pembangunan kehutanan secara bersama. 2006 Perubahan paradigma pembangunan kehutanan yang sebelumnya berbasis hanya untuk pemanfatan kayu oleh sekelompok masyarakat tertentu menjadi pemanfaatan hutan secara multi guna dengan melibatkan masyarakat hutan sekitar mengharuskan pihak terkait seperti pemerintah. Penguatan kelembagaan subak dalam membangun keterpaduan dalam pengelolaan mulai dari wilayah hulu. budaya. Sistem-sistem tersebut adalah merupakan kearifan lokal yang dapat dikembangkan untuk daerah-daerah yang dekat pemukiman. Gerson ND PEMANFAATAN HUTAN SECARA ARIF DAN BIJAKSANA / Gerson ND Njurumana. tengah dan hilir merupakan salah satu pilar pendukung keberlanjutan sistem irigasi tersebut di masa mendatang. rehabilitasi lahan. Multiguna. Di pihak lain. Irigasi. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. dan kearifan lokal) untuk menggugah peningkatan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan pengelolaan lahan. Mamar sebagai salah satu bentuk kearifan lokal 33 . -. dan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan. -. Khusus untuk daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) pembangunan kehutanan harus didasarkan pada kondisi obyektif sumberdaya alam dengan memperhatikan keterbatasan daya dukung sebagai akibat kurangnya pasokan air (sebagai salah satu ciri dari daerah semi arid). baik komponen internal maupun komponen eksternal. Gerson ND PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN SISTEM IRIGASI SUBAK DI BALI / Gerson ND Njurumana. sehingga mendorong proses pembaruan. Subak. dan lain-lain. pemulihan lahan kritis tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan teknis dan sektoral semata. kaliwu. Kata kunci: Agroforestry. Halaman 143-154 .

Info Hutan : Vol. tanah dan air yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan kelestarian ekosistem.ozon.) secara besar-besaran akan mengakibatkan terancam kelestariannya. ternyata ulin juga memiliki manfaat non kayu sebagai bahan obat. tanah. ginjal. Pendekatan site spesifik dilakukan dengan berbagai pendekatan. No. 2006 Kerusakan sumberdaya lahan dan hutan di Timor Barat mengalami peningkatan akibat tekanan penduduk. suasana yang gersang. dan pemanfaatan hutan. abrasi pantai. Tekanan penduduk yang tinggi mengindikasikan terbatasnya alternatif sumberdaya yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan hidupnya. menengah.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. dan buah/biji ulin untuk obat rambut. banjir/genangan. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan dapat dilakukan dengan memanfaatkan dan memberdayakan potensi dan kekuatan yang sudah ada dalam masyarakat. perambahan.mengandung logam berat. Konservasi tanah.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap keragaman model kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. Rehabilitasi lahan. pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO. salah satunya pemanfaatan jenis tanaman yang memberikan manfaat ganda untuk jangka pendek. -. pembangunan sektor kehutanan di Timor Barat harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat secara obyektif melalui pendekatan site spesifik. Halaman 103-117 . kebakaran. silvopasture.III. Upaya konservasi ulin mencakup tindakan dapat dilakukan secara in-situ maupun ex-situ dan menjaga. bising dan kotor. Masyarakat telah memanfaatkan daun. -. 34 . Ekologi.memiliki peluang untuk diberdayakan dalam rangka mendukung rehabilitasi lahan. Nilai penting. 2006 . intrusi air laut. batang. Nilai guna sistem mamar cukup baik terhadap aspek produktivitas. dan lingkungan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Karena itu. dan mengatasi bengkak. Kearifan lokal.2 . stabilitas. dan mempelajarinya. polusi udara.Pengakuan terhadap kearifan lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan. pencemaran air berupa air minum berbau. Dengan demikian. 2006 Hutan kota diidentifikasikan sebagai status lahan yang dengan pohon-pohonan dalam satuan kawasan tertentu baik pada tanah negara maupun tanah milik yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan perkotaan dalam pengaturan tata air. Halaman 183-197 . 2006 . memanfaatkan. monoton. konversi lahan. Halaman 123 . habitat flora dan fauna. oksida nitrogen dan belerang. sekaligus mampu menjembatani konflik kepentingan terhadap sumberdaya lahan dan air. dan keberlanjutan yang cukup tinggi dalam mendukung kegiatan usaha tani. Kebijakan Njurumana. Konservasi air Njurumana. Kata kunci: Mamar. kehadiran hutan kota diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan ekologi perkotaan yang dapat dilakukan dengan mempertahankan kelestarian dan fungsi kawasan-kawasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun kerjasama dengan komponen masyarakat. dan air diharapkan dapat mengapresiasi dan mendorong masyarakat untuk terlibat secara proaktif melalui kemitraan yang terbangun dalam pengelolaan sumberdaya hutan di Timor Barat. Gerson ND PELUANG DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI TIMOR BARAT / Gerson ND Njurumana. muntah darah. dan panjang.130 . Gerson ND NILAI PENTING HUTAN KOTA DALAM PEMBANGUNAN PERKOTAAN / Gerson ND Njurumana. 2006 Eksploitasi ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.LSM dan swasta untuk mendukung tujuan pembangunan hutan kota Kata kunci: Hutan kota. Kade Sidiyasa. -. karbon-dioksida. debu. Selain memiliki kayu yang kuat dan awet. Kata kunci: Degradasi lahan dan hutan.) Conservation and it's Utilization as Medicinal Plant) / Noorhidayah. Lingkungan Noorhidayah Binn) DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm PEMANFAATANNYA SEBAGAI TUMBUHAN OBAT (The Ironwood (Eusideroxylon zwageri Teijsm Binn. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. penurunan air tanah. Dari aspek kebijakan. Kehadiran hutan kota diharapkan dapat mengendalikan peningkatan suhu udara perkotaan.

73 .. kokon. 2006 Media Semai dengan menggunakan media topsoil mempunyai banyak kelemahan diantaranya: media lekas padat. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor yaitu: M (murbei persilangan) dan U (ulat sutera persilangan) dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Agung Wahyu PEMANFAATAN SERASAH PINUS SEBAGAI MEDIA SEMAI / Agung Wahyu Nugroho..Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .23 mm dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media 30 persen daun kasar segar.) DAN ULAT SUTERA PERSILANGAN (Bombyx mori Linn) TERHADAP KUALITAS ULAT. dan 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan pertumbuhan tinggi yang paling baik yaitu sebesar 11. dan serat sutera. Cocoon. dan Morus cathayana A. KOKON.) terhadap kualitas ulat. 35 persen pupuk kandang. -. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh murbei (Morus spp. Kata kunci : Murbei persilangan. Kata Kunci: Serasah pinus.. -. Analisis statistik menunjukkan bahwa murbei persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa serasah daun pinus yang lambat terdekomposisi dapat dimanfaatkan sebagai media semai dan mengetahui komposisi media pinus yang sesuai untuk pertumbuhan semai. Wahyudi Isnan. dan serat sutera. konservasi ex-situ Nugroho. Halaman 129-136 . Harry Budisantoso. Oleh karena itu upaya penggunaan bahan lain sebagai media pertumbuhan dengan tujuan memperkecil pemakaian topsoil perlu segera dilakukan.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Bombyx mori Linn. Sedangkan ulat sutera persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. DAN SERAT SUTERA (Effect of Mulberry (Morus spp) and Silkworm Hybrid (Bombyx mori Linn.Kata kunci : Ulin. Parameter yang diamati meliputi kualitas ulat. dan serat sutera. dan berat per satuan bibit tinggi. Media semai Nurhaedah M PENGARUH MURBEI (Morus spp. kualitas ulat. Jumlah keseluruhan perlakuan ada 12 unit dan tiap unit ada 12 semai dan diulang secara acak pada 3 blok. Halaman 65 . ulat sutera persilangan. konservasi insitu. Perlakuan yang menggunakan ukuran daun kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan tinggi semai yang paling baik yaitu sebesar 10. Jenis NI.20 cm. Morus spp. obat.) on Silkworm. Kombinasi M1U3 (murbei NI dan ulat sutera HG 8) cenderung memberikan hasil yang baik.Parameter yang diamati adalah tinggi dan diameter.) dan ulat sutera persilangan (Bombyx mori Linn. kualitas kokon. B2A.1 .III. No. Ukuran dan kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik yaitu sebesar 1. Data rerata tinggi dan diameter dianalisis dengan uji F dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata metode Duncan. 35 persen pupuk kandang. and Silk Quality) / Nurhaedah. Hasil penelitian menunjukan bahwa serasah daun pinus dapat dimanfaatkan sebagai media semai yang baik. Variasi aras campuran media 30 persen daun. kokon. kokon. Digunakan 3 ukuran daun dan 4 variasi aras campuran media.30 mm. perlakuan yang berpengaruh nyata adalah ukuran daun dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media. cenderung memberikan hasil yang baik. Kombinasi antara murbei persilangan dan ulat sutera persilangan memberi pengaruh nyata pada rendemen pemeliharaan dan bobot kokon. aerasi kurang baik. pupuk kandang.38 cm. tetapi tidak memberi pengaruh nyata terhadap kualitas kokon dan serat sutera dan belum ada jenis yang memberikan hasil yang baik. 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik sebesar 1. Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. dan tanah bermikoriza. Untuk pertumbuhan diameter semai. Penelitian diaksanakan di kebun Karangmalang dan Laboratorium Tanah Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Campuran media terdiri dari daun pinus. Serasah daun pinus yang merupakan bahan organik yang bersifat lambat terdekomposisi dapat dijadikan media dengan cara dikomposkan dahulu. kualitas serat 35 .

f.5 tahun. purposive dengan Pembuatan plot percobaan dilakukan secara mempertimbangkan keadaan topografi.2 . jumlah daun (4 helai).III.428 .f. mikoriza tablet Omon.) DENGAN HERBISIDA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L. dan persentase kolonisasi akar (81. No. kokon Omon. pertumbuhan tinggi (4. Di kedua plot tanaman jati tersebut alang-alangnya disemprot dengan herbisida.67 %). Mulyana Omon. Tiap unit perlakuan terdiri dari 10 bibit. 7 hari setelah mengokon dan 6 hari setelah mengokon serta kontrol (0 hari). stek.Nurhaedah M. R. Halaman 83 . Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal tablet mikoriza untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. telah dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata. Beauv. Halaman 421 .32 cm).184 . Mulyana PENGARUH PEMBERSIHAN ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L. penanganan ulat dan kokon serta pencegahan penyakit. DI RUMAH KACA (Effects of Temperature and Storage Duration of Mycorrhizae Tablet to Growth of Shorea johorensis Foxw. dan persentase kolonisasi akar.1 .) DI KAWASAN REHABILITASI SAMBOJA (Effect of Alang-alang (Imperata cylindrica L. pertumbuhan tinggi.) Clearing with Herbicide on Teak (Tectona grandis L. disamping itu waktu pengupasan kokon yang terlalu cepat dan tidak terseleksi (kontrol) menyebabkan waktu keluarnya ngengat lebih beragam. Sedangkan suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. 2006 Pengaruh pembersihan alang-alang dengan penyemprotan herbisida pada tanaman jati (Tectona grandis L. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan penanganan khusus seperti pemberian pakan.f.4 .. telah dilaksanakan di kawasan rehabilitasi Samboja. Cuttings in Greenhouse) / R. 2006 Penelitian pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza terhadap pertumbuhan stek Shorea johorensis Foxw. No. Beauv. dengan dosis sebanyak 8 liter herbisida/ 800 liter air dan satu plot tanaman jati yang terletak di bukit tidak dilakukan penyemprotan sebagai kontrol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan penyemprotan alang-alang dengan 36 . pengupasan. 2006 Bibit ulat sutera yang berkualitas akan diperoleh jika pemeliharaan ulat induk menghasilkan kokon yang baik. waktu penyimpanan. Samboja Kalimantan Timur. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan waktu pengupasan kokon yang baik untuk penetasan dan rendemen ulat kecil adalah 8 hari sedangkan untuk keperidian dan jumlah pupa jadi ngengat adalah 7 hari. Penelitian bertujuan untuk mengetahui waktu pengupasan kokon yang tepat sebagai bahan pembibitan ulat sutera. Kabupaten Gowa. Kata kunci : Ulat sutera.84 %) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan.) Plantation in Samboja Rehabilitation Area) / R. KUALITAS BIBIT ULAT SUTERA (BOMBYX MORI L. jumlah daun. No. . Perlakuan dalam percobaan ini terdiri dari dua tingkat suhu dan tujuh periode lama penyimpanan.93 . Penelitian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri 3 perlakuan waktu pengupasan kokon yaitu 8 hari setelah mengokon. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Dua plot terletak di bukit berukuran 20 m x 25 m dengan ketinggian 87 m dpl (di atas permukaan laut) dan satu plot terletak di lembah dengan ukuran yang sama dengan ketinggian 47 m dpl.III.III. Penelitian ini dilakukan di Balai Persuteraan Alam Bili-Bili. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang teknik pemeliharaan tanaman jati pada lahan alang-alang. R. Sulawesi Selatan. yang berkualitas di persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4o C atau 20o C untuk diinokulasikan pada stek Shorea johorensis Foxw.) umur 2. Halaman 177 . Dengan demikian untuk rencana dan strategi penyediaan stek Shorea johorensis Foxw. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak tiga kali. Kata kunci : Shorea johorensis Foxw. Mulyana Omon. Hasil memperlihatkan bahwa penyimpanan tablet selama tiga bulan di kedua suhu yang berbeda (4o C dan 20o C) telah memberikan pengaruh yang nyata lebih baik terhadap persen hidup (86.) PADA BEBERAPA WAKTU PENGUPASAN KOKON (Quality of Silkworm Eggs with Several Cocoon Peeling Period)/ Nurhaedah M. Ishak Yasir.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. -. -. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Shorea johorensis Foxw.

lahan alang-alang. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Samarinda di Stasiun Penelitian Wanariset Samboja dengan Yayasan Tropenbos Belanda dengan nama MOF-Tropenbos Kalimantan Project yang dimulai pada tahun 1985 sampai tahun 2000. Hopea odorata. Rusmana dan Marinus Kristiadi Harun. dan hormon tumbuh yang digunakan. teknik pencabutan yang baik. yaitu waktu pencabutan yang tepat. assamica. Thailand. gambut. Selain itu pula telah dikembangkan teknik pembuatan kebun pangkas sebagai sumber bahan stek dan teknik inokulasi mikoriza sebagai pemacu pertumbuhan. Mulyana TEKNIK PEMBIAKAN VEGETATIF MELALUI STEK PUCUK DIPTEROCARPACEAE PADA MEDIA PADAT DAN AIR / R. intensitas cahaya. masing-masing sebesar 2. Halaman 335-345 . herbisida. Perbedaan pertumbuhan tersebut.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 19-27 . temperatur. Keberhasilan perbanyakan dengan stek pucuk dipterokarpa dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain kelembaban. S. R. Dipterocarpaceae. Dipterocarpus hasseetii. penggunaan media tepat. Imperata cylindrica L. gambut. Teknik tersebut telah diaplikasikan oleh HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di Indonesia dan bahkan lebih dari 1. yaitu sebesar 3. teknik pengepakan dikondisikan lembab. johorensis. media. tidak terdapat deformasi batang dan akar anakan. Teknik pembuatan bibit sistem cabutan anakan alam harus memenuhi syarat. Untuk media padat (pasir.. Dengan demikian penyemprotan alang-alang dengan herbisida pada tanaman jati dengan dosis 8 liter herbisida/800 liter air per ha dapat direkomendasikan untuk pembersihan alang-alang pada tanaman jati. sehingga kendala pembuatan bibit dalam skala luas dan tepat waktu dapat diatasi untuk mendukung program pembangunan hutan tanaman. 2006 Pengadaan bibit Dipterocarpaceae dengan sistem cabutan anakan alam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kelemahan pengadaan bibit secara generatif (asal buah/biji). turut mempelajari metoda tersebut. Teknik pembiakan vegetatif melalui stek pucuk dengan media padat (pasir. Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan informasi bagi para pelaksana di lapangan. Sejak Juli 2002 Stasiun Penelitian Wanariset Samboja telah berubah menjadi Institusi Loka Litbang Satwa Primata. Beauv. smithiana.herbisida pada tanaman jati telah memberikan pengaruh efektif terhadap pertumbuhan. Selain itu banyak tamu-tamu yang datang. dikarenakan kesuburan tanah di lembah lebih baik dibandingkan dengan di bukit. Media air Panjaitan.000 orang yang telah mengikuti training Alih Teknologi Stek Pucuk dan Kebun Pangkas di Wanariset Samboja. pengambilan bahan. Kelemahannya untuk yang pertama adalah diperlukan biaya yang besar yaitu harus tersedia kompresor atau aerator sebagai penghasil oksigen dan listrik. tetapi kelemahan tidak dapat dikontrol setiap saat apakah sudah berakar atau belum dan perlu penyiraman. Sudin SISTEM CABUTAN ANAKAN ALAM SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PENYEDIAAN BIBIT JENIS DIPTEROCARPACEAE / Sudin Panjaitan. S. paucifloria. Dari hasil pembiakan vegetatif melalui stek ada beberapa jenis yang mudah tumbuh di media padat dan cair seperti Shorea leprosula dan Shorea selanica. -. teknik penyapihan dan pemeliharaan bibit di persemaian sesuai standar 37 . 2006 Perbanyakan stek pucuk dari famili Dipterocarpaceae merupakan salah satu alternatif dalam pengadaan bibit di persemaian.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. parvifolia. S. Stek pucuk.f. Sedangkan media cair (air) keuntungannya mudah dikontrol dan apabila belum berakar dapat dikembalikan ke tempat semula tanpa mengganggu proses perakaran dan tidak perlu penyiraman. Sedangkan riap diameter dan tinggi tanaman jati yang di lembah lebih tinggi dibandingkan dengan di bukit. S. dan vermikulit) keuntungannya bahannya mudah diperoleh. India. Media padat. dan lain-lain. -. S. Malaysia. Omon.5 kali untuk diameter dan tinggi sebesar 5 kali dibandingkan dengan tidak disemprot herbisida (kontrol). Selain itu ada juga beberapa jenis yang mudah tumbuh di media air antara lain Anisoptera marginata. S. dan vermikulit) dan air (water rooting system) diperoleh dari hasil kerja sama antara Departemen Kehutanan cq. baik dari dalam dan luar negeri seperti Jepang. Tectona grandis L. teknik. Vietnam. Kata Kunci: Pembiakan vegetatif. ukuran anakan ideal. Dryobalanops lanceolata. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .43 cm dan 185. Mulyana Omon. Hal ini terkendala dengan masa berbuah massal yang tidak teratur dan bijinya bersifat recalcitrant yang tidak dapat disimpan lama yaitu hanya beberapa minggu saja.7 cm. dan Parashorea sp. Kata kunci : Tanaman jati. laevis.

Pupuk pinufert. I. Pemberian pupuk berpengaruh nyata terhadap tinggi dan diameter batang. Pertumbuhan. menurut data Departemen Kehutanan tahun 2000 mencapai 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup anakan adalah 10 persen. Mahliani dan Acep Akbar. dan Awig-awig. -.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Pendekatan tersebut telah dicoba dilaksanakan di Nusa Penida. NPK Parthama. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 77-86 . Penyediaan bibit. Sedangkan antara anakan pulai yang diberi pupuk NPK 8 gr. Jumlah daun anakan juga dipengaruhi oleh pemberian pupuk dimana anakan yang diberi pupuk menghasilkan nilai tertinggi pada jumlah daun dibanding tanpa pupuk. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . 6 gr. Halaman 85-92 . Dalam rangka pengembangan budidaya pulai di persemaian disarankan menggunakan pupuk pinufert 5 gr atau NPK gr per batang. Penerapan model ini menunjukkan hasil yang positip yaitu dengan tingkat keberhasilan tanaman 80 persen.U. 2006 Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli lingkungan serta berkomitmen dalam merehabilitasi lahan ialah dengan mengaitkan dan memanfaatkan pranata sosial masyarakat lokal setempat. 4 gr per anakan dengan pemberian pupuk pinufert 5 gr dan 10 gr per anakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Pranata sosial lokal Pudja M. Kata kunci: Pulai. Hal ini merupakan hasil dari proses panjang kegiatan pengusahaan hutan alam tropis sejak dekade 70-an sampai 38 . bukan diminta mengadopsi rehabilitasi lahan model baru. Pendekatan pranata sosial masyarakat setempat yang telah diaktualisasi didaerah ini antara lain: Tri Hita karana. Pulau Kecil dan kering yang berada di Tenggara pulau Bali. serta aturan yang mereka miliki sendiri untuk melaksanakan rehabilitasi lahan. BANJARBARU/ Sudin Panjaitan. masyarakat menunjukkan antusias yang tinggi untuk terlibat dalam rehabilitasi lahan sejak awal perencanaan hingga pelaksanaan dan pemeliharaan serta berminat untuk meningkatkan kemampuan teknisnya.B Putera PEMANFAATAN PRANATA SOSIAL LOKAL DALAM REHABILITASI LAHAN: SEBUAH PENGALAMAN DI NUSA PENIDA BALI / I.6 juta ha/tahun. Lembaga Pelaksana Pura. Alternatif. Sudin RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN PULAI (Alstonia scholaris (L) R. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan anakan pulai akibat pemberian pupuk pinufert dan NPK.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. -.Kata kunci: Cabutan anakan.Br. Kata kunci: Rehabilitasi lahan. Banjar Pakraman. Alstonia scholaris (L) R. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Herman R. Anakan pulai. Angka degradasi hutan tropis Indonesia selama 10 tahun terakhir.B PUTERA PARTHAMA DAN HADI S PASARIBU. 2006 Kondisi sumbardaya hutan Indonesia pada saat ini mengalami kemunduran dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.Br) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK PINUFERT DAN NPK DI PERSEMAIAN BP2HTIBT. fisolofi. Dalam hal ini masyarakat diingatkan dan diarahkan untuk menerapkan konsepsi. dan Daud Leppe. Pranata sosial lokal. Percobaan disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dari perlakuan pupuk pada anakan pulai umur 16 minggu yang diulang sebanyak 7 kali. Tri hita karana. Halaman 355-373 . Tri Fungsi Hutan.U KONSERVASI EMPAT JENIS ENDEMIK PAPUA DI PERTANAMAN BPPK PM MANOKWARI / Pudja M. Tri Mandala. Pendekatan serupa bisa diterapkan di daerah lain yang memiliki kondisi sama. Dipterocarpaceae Panjaitan.

Halaman 55-68 . Hal ini juga berlaku pada ketiga jenis lainnya.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .00 cm/tahun. Oleh karena itu setelah umur tanaman di atas 10 tahun biasanya pertumbuhan mulai membaik. 2006 . Konservasi secara umum dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu in-situ dan ex-situ. sehingga tanaman harus melakukan penetrasi akar terhadap karang. DAN MUTU BIBIT DALAM MENDUKUNG GERHAN / Joko Pramono dan Hendi Suhaendi. Pinnata umur 5 tahun 5. Belum adanya sertifikasi sumber benih.12 cm/thn. Oleh karena itu upaya rehabilitasi perlu dilakukan agar kerusakan lingkungan dapat dikurangi dan produktivitas lahan dapat ditingkatkan. Kondisi ini menunjukan bahwa pemilihan dan penanganan bibit yang tepat serta tempat tumbuh yang cocok bagi jenis-jenis tersebut diharapkan mempunyai pertumbuhan yang baik. Secara umum kondisi tanaman di kebun koleksi dan arboretum Inamberi dan Anggresi masih tergolong cukup baik. seperti Agathis labillardieri. jenis-jenis ini relatif mudah untuk dikonservasi dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan tanaman dalam hutan tanaman untuk mendukung gerakan rehabilitasi lahan di Papua.38 cm dan MAI mencapai 1. Kata Kunci: Konservasi. Program ini merupakan salah satu dari lima program pokok Departemen Kehutanan.62 cm memberikan riap 1.20 cm memberikan riap 1. Agathis sp.05 cm/thn. -. dapat mencapai 2.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Faktor lingkungan yang ditentukan mutu non genetik dibedakan manjadi mutu fisik dan mutu fisiologi dan dipengaruhi oleh teknik penanganan benih/bibit. 2006 Di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Riap diameter rata-rata tahunan dan pertumbuhan diameter pada umur di bawah lima tahun umumnya lebih kecil dibandingkan tanaman setelah berumur di atas 10 tahun. Pometia sp. mutu benih maupun mutu bibit. Papua. Pometia sp. Melihat kenyataan tersebut. dan mutu bibit menyebabkan konsumen tidak memperoleh jaminan terhadap asal-usul benih. Faktor dominan yang berpengaruh terhadap mutu benih/bibit adalah genetik dan lingkungan. Agar rehabilitasi lahan kritis di daerah Nusa Tenggara Timur dapat berhasil. 39 . -. MUTU BENIH. Oleh karena itu perlu segera dilakukan program konservasi dan rehabilitasi. GERHAN Pratiwi REHABILITASI LAHAN KRITIS DI WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR / Pratiwi. Araucaria cuninninghamii. Namun secara individual ada beberapa pohon mempunyai MAI yang cukup tinggi pada masing-masing jenis. lahan kritis terjadi akibat sistem pengelolaan lahan yang tidak memadai dengan lingkungan iklim kering. diperlukan informasi mengenai aspek-aspek karakteristik faktor lingkungan daerah NTT dan permasalahannya serta alternatif pengelolaannya. umur 11 tahun dengan diameter rata-rata 15. riap di kebun koleksi dan arboretum ini dianggap masih kecil. Endemik.80 cm memberikan riap 1. Awal pertumbuhan yang umumnya sulit selain disebabkan pemeliharaan yang kurang intensif. Manukwari Pramono.. Mutu genetik dipengaruhi oleh asal-usul benih. dan lain-lain. dan Araucaria sp. pertumbuhan diameter rata-rata P. Sedangkan ex-situ di luar habitat aslinya. tingkat persentase hidup tegakan tergolong baik yaitu lebih dari 70 persen dengan kesehatan tegakan termasuk baik.8 cm/tahun. In-situ berarti melestarikan sumberdaya genetik pada habitat aslinya. memberikan 2. dan sertifikasi mutu bibit dalam mendukung GERHAN. dapat mencapai 2. kecuali pada jenis Pometia pinnata ada kecenderungan menurun setelah umur lebih dari 15 tahun.sekarang. Instia sp. seperti Intsia sp. Sumber benih. dalam bentuk arboretum kebun percobaan. sertifikasi mutu benih. Kata Kunci: Sertivikasi. Perbenihan tanaman hutan yang mengandung arti segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan benih tanaman hutan menunjukan perlu adanya sertifikasi sumber benih. memberikan 3 cm/tahun. Halaman 49-61 . mutu benih. Balai Litbang Kehutanan Papua dan Maluku telah melakukan penanaman beberapa jenis endemik (jenis asli) potensial yang mulai terancam keberadaannya di hutan alam. diduga juga disebabkan tanah di Manokwari umumnya bercampur karang.3 cm/tahun. sehingga produktivitasnya menurun. dan kebun koleksi.38 cm dan umur 16 dengan diameter rata-rata 16. Mutu benih. Mutu Bibit. walaupun tempat tumbuh di tiga lokasi kurang subur. Dibandingkan dengan asumsi riap di hutan alam sebesar 1 cm/thn. Ternyata keadaan masih berlanjut pada tahun berikutnya di mana diameter rata-rata mencapai 19. Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan tanah baik kimia maupun fisik.14 cm/tahun. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Sebagai ilustrasi.. Joko MANFAAT SERTIFIKASI SUMBER BENIH. 2006 Pembangunan tanaman hutan yang berkualitas memerlukan benih dan bibit bermutu. Sejak tahun 1986.

Dengan kondisi iklim kering dan solum tanah yang tipis dan berbatu-batu, curah hujan yang rendah dan topografi sebagian besar curam sampai sangat curam mengakibatkan kesuburan daerah ini sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan pemilihan jenis yang akan dikembangkan yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut, teknologi yang memadai dan kelembagaan yang mendukung keberhasilan program yang akan diterapkan. Kata kunci: Rehabilitasi, Lahan kritis, Nusa Tenggara Timur Prayudyaningsih, Retno HAMA DAN PENYAKIT JENIS MURBEY EKSOT DAN TINGKAT KEHILANGAN DAUNNYA PADA AKHIR MUSIM KEMARAU (Pest and Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.4 ; Halaman 429 - 435 , 2006

Kata kunci : Hama dan penyakit murbei, murbei eksot, tingkat kehilangan daun Prayudyaningsih, Retno PEMBUNGAAN DAN PEMBUAHAN BITTI (Vitex cofasus Reinw.) (Flowering and Fruiting of Bitti (Vitex cofasus Reinw.)) / Retno Prayudyaningsih; Edi Kurniawan. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 131 - 138 , 2006 Penelitian mengenai pembungaan dan pembuahan bitti (Vitex cofassus Reinw.) telah dilakukan di Arboretum dan Laboratorium Silvikultur Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi selama 6 bulan (Januari-Juni 2003). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bunga, produksi bunga, keberhasilan bunga membentuk buah, serangga pengunjung, produksi buah, dan produksi biji tanaman bitti. Informasi ini diharapkan dapat mendukung keberhasilan proses penyerbukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakterisitk bunga bitti adalah hermaprodit dengan malai berjumlah 549,33-2.768,67 kuntum bunga, panjang bunga 0,78-0,89 cm, diameter bunga 0,78-1,13 cm, panjang stamen 0,53-0,60 cm dan 0,45-0,59 cm, dan panjang putik 0,84-1,00 cm. Jenis serangga yang selalu mengunjungi bunga bitti adalah kupu-kupu, lebah madu, dan lebah tukang kayu. Produksi bunga per cabang adalah 10.805,32-167.544,86 kuntum bunga. Pada penyerbukan secara alami 2,13 %-11,95 % bunganya akan membentuk buah. Produksi buah per pohon adalah 7.215-45.210 buah dengan produksi biji sekitar 0,59-3,77 kg. Kata kunci : Karakteristik bunga, serangga pengunjung, bitti, Vitex cofassus Reinw., penyerbukan alami

Disease of Exotic Mulberry and level of it’s Leaves Lost I the End of Dry Season) / Retno Prayudyaningsih; Hermin Tikupadang; Budi

Serangan hama dan penyakit pada tanaman murbei akan mengakibatkan produksi daun menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya. Apabila masalah ini dibiarkan berlanjut, maka ada kemungkinan ketersediaan daun murbei akan berkurang dan pemeliharaan ulat sutera oleh petani akan terhambat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Enrekang pada bulan November 2003. Jenis tanaman murbei yang diamati adalah jenis murbei eksot (Morus indica S-54 dan Morus multicaulis) dan Morus nigra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot pada akhir musim kemarau serta tingkat kehilangan daun akibat serangan hama dan penyakit tersebut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan percobaan faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah jenis murbei dan faktor kedua adalah lokasi. Hasil penelitian menunjukkan ada delapan jenis hama dan empat jenis penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot selama akhir musim kemarau. Jenis hama yang paling banyak menyebabkan kerusakan adalah kutu daun (Maconellicoccus hirsutus Green) dan belalang (Valanga sp.), sedang jenis penyakit yang banyak menyebabkan kerusakan adalah bercak daun (Septogleum mori Briosi et Cavapa) dan karat (Aecidium mori Barclay). Lokasi yang tingkat kehilangan daunnya tinggi adalah Kabupaten Wajo (20,05 %) sedangkan jenis murbei yang mempunyai tingkat kehilangan daun paling tinggi adalah M. indica S-54 (15,32 %).

40

High Protein Contain of The Ornate Lorikeet (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity) / Indra A.S.L.P. Putri. -- Jurnal
Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.3 ; Halaman 259 270 , 2006

Putri, Indra A.S.L.P. PREFERENSI DAN KONSUMSI PAKAN BERPROTEIN TINGGI PADA BURUNG PERKICI DORA (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity DALAM PENANGKARAN (Preferences and Consumption of

Rahmat, Mamat PELUANG PERBAIKAN POLA AGROFORESTRY DALAM MENJAGA KELESTARIAN TAMAN NASIONAL : KASUS DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT WILAYAH SUMATERA SELATAN / Mamat Rahmat dan Manifas Zubay. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 85-93 , 2006 Program pemberdayaan masyarakat sudah seringkali dilakukan pada desa penyangga TNKS. Namun kegiatan yang bersifat destruktif masih terus berlangsung. Makalah ini mengulas pola mata pencaharian masyarakat dan interaksinya dengan kawasan TNKS, pola agroforestry yang sudah berlangsung selama ini, serta peluang perbaikan pola agroforestry tersebut dalam rangka menjaga kelestarian kawasan TNKS. Terdapat dua peluang yang keduanya bisa dilaksanakan secara bersamaan. Peluang pertama adalah melalui diversifikasi kebun karet dengan tanaman sela musiman dan tanaman pelapis dari jenis pulai. Kedua adalah dengan cara mengimplementasi model kebun campuran tersebut pada zona pemanfaatan khusus. Kata Kunci: Agroforestry, Taman Nasional, Daerah penyangga, Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Selatan Rachmawati, Ida PENGEMBANGAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas LINN) SEBAGAI ALTERNATIF PENDUKUNG ENERGI BIODISEL / Ida Rachmawati. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 13-19 , 2006 Ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi cukup tinggi menyebabkan kurangnya upaya eksploitasi sumberdaya alam untuk bahan bakar alternatif. Perlu diupayakan segera cara mengatasinya melalui aplikasi kebijakan energi nasional yang mencakup intensifikasi, konservasi, dan diversifikasi energi. Pemanfaatan biodisel merupakan alternatif yang cukup menjanjikan sebagai pengganti minyak disel asal fosil. Penggunaan biodisel mendesak untuk direalisasikan karena selain sebagai solusi menghadapi bahan energi asal fosil pada masa mendatang, juga bersifat ramah lingkungan dan terbarukan. Jarak pagar (Jatropha curcas Linn) sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai

Pakan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan upaya penangkaran burung. Pakan utama burung perkici dora (Trichoglossus ornatus Linne 1758) di habitatnya adalah pollen dan nektar yang mengandung protein tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi dan konsumsi pakan berprotein yang dibuat dari pakan alami yaitu pepaya dan pisang ambon dengan penambahan protein, serta dampak pemberian pakan terhadap berat badan burung Perkici dora. Jenis pakan berprotein yang ditambahkan pada pakan alami adalah telur dengan kadar 10 %, 15 %, dan 20 % dari total pakan yang disajikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square, t-paired sample test, anova satu arah, dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung perkici dora yang dipelihara dalam kandang penangkaran memiliki preferensi dan konsumsi terhadap pakan berprotein tinggi dengan urutan preferensi dan konsumsi pakan adalah pakan alami > pakan berkadar telur 20 % > pakan berkadar telur 10 % > pakan berkadar telur 15 %. Selain itu pemberian pakan berkadar protein tinggi secara signifikan berpengaruh pada kenaikan berat badan burung perkici dora. Kata kunci : Preferensi, konsumsi, protein, pakan, perkici dora, Trichoglossus ornatus Linne 1758

41

bahan baku biodisel. Jarak pagar adalah tanaman yang cepat tumbuh, sangat toleran terhadap iklim tropis, dan jenis tanah sehingga sesuai untuk dikembangkan sebagai tanaman konservasi. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisionil, pupuk, kosmetik, pestisida, dan industri rumah tangga. Pengembangan jarak pagar untuk mendukung biodisel bertujuan untuk mengganti bahan bakar fosil dan memperbaiki polusi udara yang disebabkan oleh emisi dari pembakaran biodisel. Namun perlu dicermati pengembangan penanaman jarak pagar secara monokultur mungkin menimbulkan permasalahan lingkungan seperti keseimbangan daya dukung lahan, kondisi ekonomi, dan kondisi sosial budaya. Perlu dilakukan penelitian berbagai model penanaman secara benar dan terencana secara berkesinambungan. Teknologi ini juga harus diikuti dengan teknologi pengolahan hasil yang dapat dikelola sendiri oleh masyarakat. Kata kunci: Jarak pagar, Jatropha curcas Linn, Biodisel, Konservasi, Energi Rahmayanti, Syofia APLIKASI PUPUK DAUN DAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA ANAKAN JABON (Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s (Leaf Fertilizer and Growth Regulator Application to Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s Seedling) / Syofia Rahmayanti; Eka Novriyanti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 95 - 102 , 2006 Pupuk daun dan zat pengatur tumbuh sebagai perlakuan yang diaplikasikan pada anakan jabon (Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp.). Pengujian statistik, menunjukkan perlakuan tersebut berpengaruh nyata hanya sampai dua bulan pertama sejak perlakuan terakhir. Saat itu, perlakuan pupuk daun 2 g/l + zat pengatur tumbuh 2 ml/l menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter yang terbesar, masing-masing dengan nilai 17,87 cm dan 3,16 cm. Perlakuan tersebut berpengaruh nyata dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi anakan jabon tapi tidak berbeda dengan perlakuan zat pengatur tumbuh 3 ml/l dalam meningkatkan pertumbuhan diameternya, yang nilainya 3,06 cm. Kata kunci: Anakan jabon, Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp., pupuk daun, zat pengatur tumbuh

Rayan PERLAKUAN MEDIA KECAMBAH TERHADAP BENIH TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) DI PERSEMAIAN BP2KK SAMARINDA. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 240-245 , 2006 Tumbuhan penghasil Gaharu (Aquilaria microcarpa) termasuk suku Thymelaceae bernilai ekonomis tinggi yang selalu diburu dan ditebang orang jika ditemukan pencari gaharu di hutan karena banyak kegunaannya seperti untuk pembuatan parfum, kosmetik dan obat-obatan dan lain-lain. Penelitian dilaksanakan di Persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan dan bertujuan untuk mengetahui media perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu (Aquilaria microcarpa) yang baik. Parameter yang diamati adalah kecepatan berkecambah dan daya kecambah benih. Metoda yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Kelompok dengan perlakuan-perlakuan media perkecambahan yaitu : P1 (Media Perkecambahan Pasir) dan P2 (Media Perkecambahan Pasir Campur Kompos (1:1) Hasil penelitian menunjukan bahwa proses perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu jenis Aquilaria microcarpa, mulai berkecambah pada hari ke 7 dan terakhir hari ke 22 dengan rata-rata kecepatan berkecabah selama 14 hari. Sedangkan daya kecambahnya rata-rata 77,67 persen, perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu dengan pemberian kompos pada media pasir disamping dapat meningkatkan daya perkecambahan juga dapat mempercepat perkecambahannya yaitu penaburan benih pada media pasir rata-rata daya kecambah dan kecepatan berkecambah masing-masing 76.67 persen dan 14.46 hari, sedangkan penaburan di media pasir campur kompos (1:1) masing-masing berturut-turut 78.67 persen dan 13,54 hari. Hal ini disebabkan karena media pasir campur kompos lebih basah/lembab dibandingkan dengan media pasir tanpa kompos dan salah satu syarat perkecambahan diantaranya harus kelembabannya stabil atau tetap terjaga dan setelah diuji secara statistik tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Kata kunci: Gaharu, Aquilaria microcarpa, Media kecambah, Daya kecambah, Kecepatan berkecambah

42

Gambut.53 persen asal cabutan anakan alam selama 6 bulan di persemaian. Aquilaria microcarpa. penelitian ini diulang dengan 3 kali ulangan yang tiap-tiap ulangan terdiri dari 30 benih. Kata kunci : Agathis dammara (Lambert) L.3 . dengan perlakuan utama adalah dosis pupuk NPK.C. serta merupakan komoditi elit dalam kelompok hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomis tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan parfum. M10 (media subsoil campur bokasi (2:1). 2006 Hutan dijadikan sebagai sumber pemuas kebutuhan dan penghasilan. antara lain: M1 (media topsoil).Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan.75 cm dengan diameter 0. Rich.28 cm tetapi sebaliknya dengan persentase hidup yaitu persentase lebih rendah dengan pertumbuhan yang lebih tinggi. 0. yang dikombinasikan dengan tanaman Theobroma cacao Linn. Selain itu pula teknik pembukaan lahan dilakukan secara tebas habis lalu dibakar (slash and burn) sehingga kerusakan lapisan topsoil tanah sulit dihindarkan.93 dan pada lapisan bawah 5. Yaitu pertumbuhan tinggi cabutan yang disapih pada media subsoil campur bokasi (M9.28 cm dan persentase hidup mencapai 82. Rich. Penelitian dilaksanakan di persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. pada lahan kurang produktif di Malili. 29. Menurunnya kandungan bahan organik tanah pada bagian hutan yang telah berubah menjadi lahan HKM yaitu pada lapisan atas 5. Kata kunci: Gaharu. M2 (media topsoil campur tanah gambut (3:1). Ruben KOMBINASI PERMUDAAN ALAM Agathis dammara (Lambert) L. rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan berbagai media sapih. NPK. dolomit 43 . kosmetik. Merryana Kiding Allo.Rayan PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN CABUTAN ANAKAN ALAM JENIS TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) / Rayan. Rich.223 . South Sulawesi) / Ruben Renden.C. M9 (media subsoil campur bokasi (3:1). pemberian Gambut pada media sapih pada umumnya cenderung meningkat tetapi pemberian pada media subsoil belum dapat menyamakan kesuburan topsoilnya. SULAWESI SELATAN (Combining Natural Regeneration of Agathis dammara (Lambert) L. Media sapih. M4 (media subsoil campur tanah gambut (3:1). Bakasi Renden. Berbeda halnya dengan pemberian Bokasi pada media sapih disamping meningkatkan kesuburan tanah dan juga pemberian pada media subsoil dapat melebihi kesuburan topsoilnya.C. Halaman 326-333 . Penyediaan paket teknologi sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan jenis andalan setempat melalui penerapan teknik konservasi tanah berupa pemupukan dalam rangka rehabilitasi lahan kurang produktif. pupuk kandang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan permudaan alam Agathis dammara (Lambert) L. -. Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan permudaan alam agatis sebaiknya menggunakan cara penanaman campuran dengan tanaman coklat karena pemupukan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok pada penambahan bahan organik pupuk NPK 100 gram + pupuk kandang 2 kilogam + kapur dolomit 300 gram..C. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .7 cm) lebih tinggi dari pada media topsoil (M1. Suhartati. Halaman 215 . karena itu mereka memperlakuan hutan secara tidak bijak tanpa mempertimbangkan kemampuan alam yang ada. bahan organik. No. M3 (media topsoil campur tanah gambut (2:1). at Lessproduction Land of Malili.43. M8 (media topsoil campur bokasi (2:1).III. 2006 Gaharu adalah gumpalan resin berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum. Hasil penelitian penunjukan bahwa Rata-rata pertumbuhan tinggi mencapai 29.. PADA LAHAN KURANG PRODUKTIF DI MALILI. dan obat-obatan. DENGAN TANAMAN Theobroma cacao Linn.74 cm)begitu juga dengan pertumbuhan diameternya yaitu cabutan anakan alam yang di sapih pada M9. Theobroma cacao Linn.34 cm dan yang disapih pada M1 adalah 0. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah atau Split Plot. dan sub perlakuan adalah kombinasi antara pupuk kandang dengan kapur dolomit. 32. With Planted Theobroma cacao Linn. coklat. yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika diduga akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. Rich.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kerugian ekonomi lingkungan akibat erosi secara kuantitatif. unsur hara yang terbawa erosi diasumsikan sebagai nilai ekonomi erosi atau nilai kerugian lingkungan. pupuk biogas. crassipes SOLMS pada DAS-DAS di propinsi Papua Indonesia ini. bahkan sudah merambah kepada hutan lindung. Demikian pula air yang ada pada Sabo Dam dianalisis kandungan unsur haranya. SULAWESI SELATAN (Quantification of Erosion Economics Value on Jeneberang Sub Watershed. dan (2) memusnahkan E. INDONESIA / Eulis Retnowati.2 . Tumbuhan jenis ini menutupi beberapa perairan.122 .000 m2. baik dalam sektor ekonomi. Andi Gustiani KUANTIFIKASI NILAI EKONOMI EROSI DI SUB DAS JENEBERANG.Info Hutan : Vol. sosial. Hasil pembalakan liar untuk memasok kebutuhan industri kecil. Laode Asir Tira. Tegalan merupakan penggunaan lahan yang paling besar 44 . No.356 .4 . Di Propinsi Papua Indonesia. maupun budaya. -. E.crassipes SOLMS harus terpadu dan terkoordinir. menengah dan tidak menutup kemungkinan untuk bahan baku industri besar. -. crassipes SOLMS untuk makanan ternak. Seluruh komponen masyarakat harus terlibat dalam penanganan jenis tumbuhan ini. Kata Kunci: Enceng gondok. DAS. No.5 m3 dengan luas catchment 47. yaitu nilai erosi didekati dengan biaya ganti tanah dan unsur hara yang hilang terbawa erosi. Halaman 343 . penyelundupan kayu.III. South Sulawesi) / Andi Gustiani Salim. crassipes SOLMS tidak boleh dilakukan secara biologis atau secara kimiawi. Penelitian dilakukan melalui pendekatan volume sedimen yang tertampung dalam Sabo Dam (Sabo Dam diasumsikan sebagai penampung sedimen). 2006 Pembalakan liar dan penyelundupan kayu mempunyai hubungan erat. jenis tumbuhan ini sudah menyebar di seluruh Indonesia. crassipes SOLMS sudah menjadi gulma (jenis invasif eksotik). Eulis PENANGANAN JENIS INVASIF EKSOTIK Eichhorniae crassipes Solms (ECENG GONDOK) PADA BEBERAPA DAS DI PROPINSI PAPUA. Pemusnahan E. Pembalakan liar dan penyelundupan kayu merupakan kejahatan yang terorganisir termasuk pelanggaran hukum pidana. diketahui bahwa luas catchment Sabo Dam 6 adalah 74. Saluran-saluran irigasi. penanganan E. pelanggaran hukum Salim.III. dapat dilakukan dengan cara: (1) memanfaatkan E. dan mencemari beberapa smber air. Pendekatan biaya ganti yang digunakan dimaksudkan untuk memberikan gambaran nilai kerugian secara kuantitatif yang dialami oleh suatu wilayah akibat erosi. Invasif eksotik. Amerika Selatan.Retnowati. membuat kertas.362. kemudian diambil sampelnya untuk dianalisis kandungan unsur haranya. Dampak dari kejahatan tersebut dapat mengganggu aspek kehidupan. Papua Ruby. 2006 Pada penelitian ini. Penanganan E.75 m3 dan pada Sabo Dam 8 volumenya sebesar 21.000 m2 dan volume Sabo Dam 102. 2006 Eichhorniae crassipes SOLMS (eceng gondok) adalah tumbuhan air mengambang yang berasal dari Brazil. maupun hutan konservasi. pemberantasan dan penyidikan harus terus menerus secara serius dilaksanakan dan berkas perkara kasus tersebut segera diajukan ke pengadilan dalam waktu relatif singkat. Untuk itu. Kata kunci : Pembalakan liar. -. sehingga hasil tangkapan dapat dilelang secara cepat dan disetor ke kas negara. Pada saat ini. Halaman 117 .Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 155-161 . Berdasarkan hasil penelitian. Kamindar MASALAH PEMBALAKAN LIAR DAN PENYELUNDUPAN KAYU DI PROVINSI RIAU (The Issue of Illegal Logging and Log Smugglings in Riau Province)/ Kamindar Ruby. diketahui melalui pemodelan AGNPS (Agriculture Non Point Source Pollution Model) sehingga bisa diketahui besarnya kontribusi erosi masing-masing penggunaan lahan.crassipes SOLMS secara mekanis. Untuk mengetahui sumber-sumber erosi. dan pulp.075. crassipes SOLMS pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh penjajah Belanda pada tahun 1894.250.193. Pembalakan liar tidak saja pada hutan produksi. Muhammad Sulaiman.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Sedimen yang terdapat pada Sabo Dam diukur volumenya. di mana perusahaan yang memegang ijin tersebut menebang di luar blok tebangan. Nilai erosi ini dihitung dengan pendekatan biaya ganti (replacement cost). E. dan "German weed" (di Bangladesh). Pembalakan liar telah dimulai sejalan dengan pembukaan wilayah hutan oleh HPH. Di beberapa daerah Aliran Sungai (DAS) di Propinsi Papua Indonesia. Tanaman ini dikenal sebagai "Water hyacinth" (di Eropa dan Amerika) "blue devil" (di Bengal).

96). Penelitian dilakukan pada kawasan hutan bekas tebangan milik PT. ekonomi. penegakan hukum dan perundangan. dan 45 . dan 30 tahun serta empat petak di lokasi hutan primer yang belum ditebang.191. budaya dan kelembagaan DAS Limboto serta menentukan alternatif teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) DAS Limboto. Jenis tanah bervariasi dan didominasi jenis alfisol. 32. agroforestry. and Institution of the Limboto Watershed. pengintegrasian program. Untuk mencapai tujuan tersebut disusun alternatif arahan teknik RLKT yaitu : (a) RLKT on site yaitu : reboisasi. Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing satu hektar. Inhutani I dan II di Kalimantan Timur. tanah. mencegah banjir dan kekeringan. Kata kunci : Biofisik.678. -. -. SOSIAL-EKONOMI. Penyebab utama luasnya lahan kritis adalah perambahan hutan.576. tingginya tekanan penduduk.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 1.80 ha. b) RLKT off site : normalisasi sungai. Informasi tentang kondisi hutan terkini terutama luas bidang dasar sangat diperlukan untuk mengetahui produktivitas hutan setelah kegiatan penebangan. yaitu 40.6 cm/thn. dan biaya ganti unsur hara sebesar Rp 7. tingginya laju sedimentasi dan pendangkalan Danau Limboto. 248/Kpts-II/1999.368. Struktur geologi utama adalah sesar normal dan sesar jurus mendatar.-/thn Sabo Dam 8. unsur hara Salim. penguatan kelembagaan. BUDAYA.-/thn untuk Sabo Dam 8. produktivitas hutan kembali tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah pohon (577 pohon/ha) dan luas bidang dasar (46. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan produksi di Indonesia telah dilakukan selama lebih dari 30 tahun.3 . Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan teknik rehabilitasi lahan yang tepat untuk mengurangi laju degradasi lahan di DAS Limboto.III. DAN KELEMBAGAAN DAS LIMBOTO. Kata kunci : Kuantifikasi. hutan rakyat.307. sosial-ekonomi. luas bidang dasar Biophysics. sedangkan produktivitas LOA-5 (501 pohon/ha. pola aliran sungai dendritik dan luas DAS 86. eksploitasi hutan.9 m2/ha). konversi hutan menjadi lahan budidaya dan perladangan berpindah.menyumbangkan erosi pada Sabo Dam 6 dan Sabo Dam 8.430. Halaman 271 . hutan kemasyarakatan.202. penghijauan. Socio-Economics. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan pengelolaan DAS Limboto diarahkan pada : Pelestarian fungsi kawasan. sehingga tidak berbeda nyata dengan hutan primer (605 pohon/ha.790 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 1%/thn dan lebih dari 52% bekerja sebagai petani. No.III. tidak dijumpai adanya indikasi perubahan struktur tegakan yang diukur dari sebaran kelas diameter Kata kunci : Hutan hujan tropik. GORONTALO (Characteristic of Hunggul Yudono SHN. No. Kerugian akibat erosi yang dihitung dengan pendekatan biaya ganti angkut sebesar Rp 3. konservasi sempadan sungai/danau. Gorontalo) / Andi Gustiani Salim. peningkatan daerah resapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30 tahun setelah eksploitasi. 45. Hasil yang diperoleh yaitu karakteristik DAS Limboto meliputi bentuk DAS bulat dengan RC rasio mendekati 1(0. Dalam penelitian ini.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. c) Pengembangan sosial-ekonomi dan kelembagaan : pemberdayaan masyarakat. areal bekas tebangan.5 m2/ha) dan 10 tahun (501 pohon/ha.8 m2/ha). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik.545. Kekritisan ini didasarkan pada luasnya lahan kritis.083. kelembagaan. peningkatan pendapatan dan konservasi danau. Culture. 28. aplikasi teknik konservasi tanah dan air. meningkatkan produktivitas. sosial-ekonomi.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 274. Halaman 159171. Jumlah penduduk 575. Penggunaan lahan terluas adalah tegalan. 2006 Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto merupakan salah satu DAS kritis prioritas I berdasarkan SK Menhut No.3 . 10.333. Andi Gustiani KARAKTERISTIK BIOFISIK.280 . rehabilitasi Samsoedin. budaya. Topografi beragam dari landai sampai curam. Enik Eko Wati. erosi. terdiri dari masing-masing empat petak di LOA-5.Info Hutan : Vol.6 m2/ha) masih lebih rendah dibandingkan hutan primer. Ismayadi DINAMIKA LUAS BIDANG DASAR PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (The Dynamic of Basal Area in Logged-Over Forest in East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin.

Penelitian dilaksanakan dengan menghitung jenis. Inhutani I and II in Malinau District.Samsoedin.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kata kunci : Hutan hujan tropik. Untuk pancang. terdiri dari 4 petak di LOA-5. Halaman 327 . INHUTANI I DAN II DI KABUPATEN MALINAU. serta 4 petak pada hutan primer yang belum ditebang. Pada hutan primer. 2006 Tropical Rain Forest Soil and Its Suitability for Some Crops in LoggedOver Production Forest of East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin Production Forest of PT. areal bekas tebangan. regenerasi alam Samsoedin. Ismayadi KONDISI STRATA TAJUK PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI AREAL KERJA PT. jumlah. Halaman 505 . guna mengurangi tekanan atau intervensi masyarakat terhadap hutan. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. Kalimantan Timur pada hutan bekas tebangan berumur 5. Tidak terjadi perbedaan yang nyata dalam jumlah jenis dan individu anakan antara lokasi bekas tebangan dan hutan primer. -. LOA-10. sedangkan pada LOA-5 didominasi oleh Shorea parvifolia Dyer. ex. strata tajuk Samsoedin. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan telah diketahui sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan hujan tropik di Indonesia. dan 65 suku dengan 67 jenis dari suku Dipterocarpaceae. dengan tingkat kesesuaian lahan yang umumnya marginal 46 .341 .III. Pengetahuan tingkat kesuburan lahan hutan hujan tropik sangat diperlukan dalam mengembangkan tanaman pertanian untuk mendukung kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan. dan 30 tahun. dan LOA-30. Ismayadi KESUBURAN TANAH HUTAN HUJAN TROPIK DAN KESESUAIANNYA UNTUK BEBERAPA JENIS TANAMAN PERTANIAN PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Fertility of dan I Wayan Susi Dharmawan. No. Kalimantan Timur ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi permudaan alam (anakan dan pancang) pada hutan bekas tebangan. Kata kunci : Hutan hujan tropik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi hutan khususnya strata tajuk yang sangat diperlukan untuk mengetahui kerusakan hutan akibat kegiatan penebangan. LOA-10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak dijumpai adanya pohon menjulang (emergent) pada hutan primer dan LOA-30.) Taub. areal bekas tebangan.3 . Penelitian dilakukan di lokasi hutan hujan tropik Hutan Penelitian Bulungan. ditemukan 802 jenis.4 .5 . Pohon-pohon menjulang (emergent) pada LOA-10 didominasi oleh Koompassia excelsa (Becc.III. No.022 jenis. sedangkan untuk jumlah jenis.388 . 10. strata tajuk atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae. dominan di strata tajuk paling atas (emergent) pada LOA-5. yang terdiri dari 408 genus dan 111 suku. Ismayadi PERMUDAAN ALAM HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KABUPATEN MALINAU. dan LOA-30 dan membandingkannya dengan hutan primer. -. dan LOA-30. No.512. KALIMANTAN TIMUR (The Condition of Canopy Strata in Logged-Over Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing 1 hektar. KALIMANTAN TIMUR (Natural Regeneration in Logged-over Production Forest in Malinau District. Benth. 241 genus. LOA-10. Tidak terjadi perbedaan nyata dalam jumlah individu pancang. dan 30 tahun dengan pembanding hutan primer pada ketinggian 100-300 m dpl. 30 tahun serta hutan primer untuk keperluan analisis dan penilaian. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. LOA-5 memiliki jumlah yang terbesar yang tidak berbeda nyata dengan LOA-10 dan LOA-30.III. Kesuburan tanahnya rendah sampai dengan sangat rendah untuk produksi tanaman pertanian. Kalimantan Timur. Inhutani I dan II di Kabupaten Malinau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian adalah Oxisols.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Areal ini memiliki strata tajuk yang lebih rendah dibandingkan LOA-5 dan LOA-10. 2006 Penelitian yang dilakukan di hutan hujan tropik di Kabupaten Malinau. 10. guna mengetahui kelayakan lahan sekitar hutan untuk kemungkinan pengembangan tanaman pertanian. -. sedangkan Koompassia malaccensis Maing. Halaman 379 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kesuburan tanah hutan pada hutan bekas tebangan berumur 5. dengan Dipterocarpaceae paling dominan dibandingkan dengan suku lain. dan dominasi permudaan pada hutan bekas tebangan LOA-5.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh tanah pada lokasi hutan bekas tebangan berumur 5. Penelitian ini dilakukan pada lokasi hutan produksi bekas tebangan milik PT. Dari hasil penelitian ditemukan anakan sebanyak 1. 10.

AsI. Var. AsI). Ismayadi POTENSI SISA KAYU PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Coarse Woody Debris Potential in Logged-Over Production Forest of East Kalimantan / Ismayadi Samsoedin dan/and I Wayan Susi Dharmawan. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dalam hal jumlah batang untuk sisa kayu berdiri dan rebah. Penambahan dosis pupuk urea dapat meningkatkan produksi daun murbei (Morus sp. AsI). Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai sisa kayu besar di hutan bekas tebangan dan hutan alam dalam rangka memperbaiki pengelolaan hutan dan menjaga keragaman jenis. No. 20 g. AsI)) (Effectivity of Urea Fertilizer for Growth. pupuk urea 47 . 10. Pemberian pupuk urea pada NI dengan dosis sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang sebesar 6. Retno Prayudyaningsih. namun pengaruh perbedaan dosis pupuk terhadap peningkatan produksi daun tidak signifikan.1 . Sisa kayu besar memiliki peran penting sebagai bahan nutrisi dan hara dalam mempertahankan keanekaragaman hayati.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. and Protein Content for Varieties Mulberry (Morus sp. 10. NI dan Morus sp. Budi EFEKTIVITAS PEMUPUKAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN. sedang faktor kedua adalah dosis pupuk urea yaitu 10 g.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Var. Kata kunci : Hutan hujan tropik. Var. produksi daun. luas bidang dasar. AsI) . Provinsi Sulawesi Selatan. dan 40 g/tanaman. tetapi hal ini juga menunjukkan kurang efektifnya pemanfaatan kayu dalam pemanenan hutan. areal bekas tebangan. Data dikumpulkan dari 16 petak berukuran masing-masing 1 ha.32 %. NI dan Morus sp.574. NI and Morus sp. Leaf Production. NI dan Morus sp. Var. sisa kayu besar Santoso. var. var.3 m3/ha atau 2 kali lebih besar daripada hutan primer di Costa Rica. Hasil ini menunjukkan bahwa lahan hutan produksi dengan ekosistem hutan hujan tropik dataran rendah hanya cocok untuk mendukung kegiatan kehutanan. sedang pada varietas AsI dosis pupuk terbaik adalah 40 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang 14. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap Berblok secara faktorial. PRODUKSI DAUN. 2006 Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili. 30 g. Halaman 564 . Morus sp.22 %. dan 30 tahun serta 4 petak pada hutan primer sebagai petak kontrol. Pemberian pupuk urea dengan berbagai dosis dapat meningkatkan kandungan protein daun murbei (Morus sp. Bintarto Wahyu Wardani. var. AsI) dan faktor kedua dosis pupuk urea.III. Var. dan 30 tahun. Kabupaten Luwu Timur.46 %. dan volume kayu antara hutan primer dengan hutan bekas tebangan 5. Var. -. NI. namun pengaruh peningkatan dosis pupuk urea terhadap peningkatan kandungan protein daun tidak berbeda nyata. kandungan protein daun murbei. Kata kunci : Hutan hujan tropik. tanaman pertanian Samsoedin. Halaman 1 . Kata kunci: Morus sp. sedang apabila ditingkatkan dosis pupuknya (40 g/tanaman) kandungan protein menurun menjadi 3.14 %. sisa kayu pada hutan primer di lokasi penelitian sebesar 67.III. terdiri dari empat petak untuk tiap perlakuan yaitu petak bekas tebangan berumur 5.8 . No. Var. Pada NI dosis pupuk urea sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan kandungan protein 3. Sedang untuk parameter jumlah cabang dosis pupuk terbaik untuk kedua varietas murbei adalah 30 g/tanaman. Faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp.(S3) atau tidak layak (N). Untuk parameter kandungan protein rancangan penelitian menggunakan rancangan Acak Lengkap secara faktorial dengan faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. DAN KANDUNGAN PROTEIN DAUN MURBEI (Morus sp. var. -. panjang cabang. Penelitian ini dilakukan pada hutan produksi bekas tebangan di hutan hujan tropik dataran rendah.5 . NI and Morus sp. kesesuaian lahan. Meskipun tidak berbeda nyata. Var. AsI)) / Budi Santoso. NI dan Morus sp. 2006 Adanya sisa kayu besar pada hutan alam bekas tebangan adalah hal yang tidak bisa dihindari karena sisa kayu dihasilkan secara alami oleh adanya pohon yang mati dan sisa kayu penebangan yang tidak termanfaatkan. var. Kalimantan Timur. Var.

dan 3) kombinasi perlakuan NAA 0. 0.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III. Morus nigra Linn. -. Morus indica S-54 Santoso. Jenis murbei yang produksi daunnya tertinggi adalah Morus multicaulis Perr. dengan rancangan acak lengkap secara faktorial. dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu Lawowoi (Kabupaten Sidrap) dan Sabangparu (Kabupaten Wajo).126 . Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi.. Halaman 157 164 . multiplikasi.10 ppm yang terbaik untuk mempercepat terbentuknya tunas yaitu 5. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kesesuaian jenis murbei.36 g/tanaman).2 . 2006 Penelitian multiplikasi tanaman murbei varietas KI 14 bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang konsentrasi NAA dan BAP yang optimal pada perbanyakan tanaman murbei varietas KI 14 secara invitro.10 ppm. Andi Rismawati.05 ppm.III. No. lokasi tempat tumbuh.5 ppm) setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai produksi daun tertinggi adalah Enrekang (229.5 .8 hari.05 dan BAP 0. Halaman 533 .Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.15 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP (0. 2) jumlah tunas terbanyak (3 tunas) dicapai pada perlakuan NAA 0.41 %).539. Bintarto Wahyu Wardani. Kata kunci : NAA. Tanaman yang masuk dalam plot kemudian dilakukan pemangkasan setinggi 40 cm dari tanah. Morus nigra Linn.35 g/tanaman).05 ppm. pemupukan urea 20 g/tanaman.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III.492 cm) pada tinggi tunas dalam media kultur varietas murbei KI 14. Pada setiap lokasi dibagi menjadi tiga blok dan setiap blok 48 . -. No. Penelitian dilakukan terhadap tiga jenis tanaman murbei berumur lima tahun dalam plot percobaan di lapangan yang ditetapkan secara purposive sampling. BAP. Halaman 119 . Budi TINGKAT KERONTOKAN DAN PRODUKSI DAUN BEBERAPA JENIS MURBEI (Morus multicaulis Perr.. and Morus indica S-54 in a Dry Area) / Budi Santoso.2 . Tingkat kerontokan daun dipengaruhi jenis murbei. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap tingkat kerontokan daun dan produksi daun.(232. Budi MULTIPLIKASI TANAMAN MURBEI (Morus sp.. dan fisik serta kimia tanah daerah pengembangan persuteraan alam di Sulawesi Selatan pada musim kemarau. curah hujan. Retno Prayudyaningsih. -. 1.. Jenis murbei yang mempuyai tingkat kerontokan daun terbesar adalah Morus indica S-54 (43. Perlakuan ini seragam di setiap lokasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) konsentrasi NAA 0.) VARIETAS KI 14 SECARA INVITRO (Invitro Multiplication of Mulberry KI 14 Variety) / Budi Santoso. Pelaksanaan penelitian selama tiga bulan antara bulan Maret sampai Mei 2004. Budi KESESUAIAN JENIS MURBEI DAN BIOFISIK DAERAH KERING (Compatibility of Mulberry with Its Soils’s Biophysics at Dry Area of South Sulawesi) / Budi Santoso.Santoso. varietas murbei KI 14. Setiap jenis tanaman murbei di setiap tempat diteliti dalam tiga plot dengan ukuran plot 10 m x 10 m masing-masing dengan 50 tanaman. kultur jaringan. Faktor pertama adalah konsentrasi NAA (0. dan Retno Prayudyaningsih. dan pelabelan. Retno Prayudyaningsih. and Morus indica S-54) DI DAERAH BERLAHAN KERING (Percentage of Mulberry Leaf Fall and Leaf Production of Some Mulberry Species Morus multicaulis Perr. 2006 Penelitian tingkat kerontokan dan produksi daun beberapa jenis murbei di daerah kering ini dilakukan di empat kabupaten yang menjadi sentra utama persuteraan alam di Sulawesi Selatan. Morus sp. Kata kunci : Tingkat kerontokan daun. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai tingkat kerontokan terbesar adalah Kabupaten Sidrap (48. Produksi daun dipengaruhi jenis murbei dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. produksi daun.5 ppm. pendangiran. perbaikan guludan.5 ppm memberi respon paling tinggi (5.0 ppm.49 %). No. dan 1. Santoso. dan 0.

Reny KUALITAS PERAIRAN LAHAN BASAH DI SUNGAI COMAL. BKPH Indramayu. pertanian. enam jenis diantaranya dilindungi. Sedangkan dari jenis plankton. 2006 Burung merandai terbagi dua. Burung merandai terutama yang termasuk burung migran mengalami penurunan dari tahun 1987-2004 sebesar 5 % per tahun. merupakan jenis yang bertoleransi terhadap pencemaran lingkungan.12 mg/l). Terraponidae 9 %. yaitu Sungai Comal dan Sungai Kedung Coet.100 ppm. RPH Cemara. eksploitasi sumberdaya alam.193 .0002 ppm dan 0. No.387 mg/l dan 0.76 mg/l). Sedangkan di Kedung Coet. Jenis benthos yang mendominasi kawasan perairan adalah Gammarus spp. Halaman 185 . -. namun harus ditambahkan pupuk nitrogen. Pemalang 49 .02 mg/l dan 0. Kata kunci : Murbei.117 mg/l). Pemalang. yaitu 193. Produksi daun tertinggi di Wajo dan Sidrap dihasilkan oleh Morus khunpa K. Habitat burung merandai sebagai kawasan ekosistem esensial memerlukan pengayaan tanaman mangrove untuk menarik datangnya burung merandai dan memperkaya nutrisi perairan dengan serasah guna peningkatan Wetlands in Comal River. BOD (19. Metode yang dipergunakan adalah transect line dengan menyusuri sungai menuju muara sungai.Jurnal Penelitian Hutan Pemanfaatan kawasan untuk jaringan pembuangan industri. Di S. pencemaran habitat sebagai dampak negatif konversi lahan basah menjadi tambak dan populasi ikan yang merupakan persediaan pakan burung serta arahan pengelolaan kawasan lahan basah habitat burung merandai menjadi kawasan ekosistem esensial. INDRAMAYU (Riverine Quality of dan Konservasi Alam : Vol.III. N/P rasio (77. Halaman 147 . sifat fisik dan kimia tanah. ikan yang ditemukan 10 jenis. dan pertambakan berdampak negatif pada kualitas perairan lahan basah. Kedung Coet. jenis benthos dan plankton Sawitri. konversi lahan. Indramayu) / Reny Sawitri.33 %). sampah rumah tangga. kesesuaian jenis. daerah kering Sawitri. kondisi ini masih di bawah ambang batas 0. Gobidae 9 %. kalsium. pencemaran.34 mg/l dan 6. Jawa Tengah.terdiri atas sembilan jenis/varietas murbei.349 mg/l dan 12. Endang Karlina.357 mg/l). 2006 digolongkan ke dalam perairan eutrophic dan S. Pemalang dan S. 22 famili. BKPH Indramayu ditemukan 13 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam 6 famili. No. dan di Kedung Coet. Parameter yang diamati adalah produktivitas daun. dan tembaga (0. Sedang tanah di Sabbangparu harus dipupuk dengan nitrogen.0226 ppm. dan Chanidae 9 %. kualitas air secara fisik maupun kimia di kedua sungai tersebut menurun sebagai akibat dari eksploitasi vegetasi mangrove dan intrusi air laut dilihat dari residu terlarut (10.67 g/tanaman di Wajo dan 194.847 mg/l).00 g/tanaman di Sidrap.Info Hutan : Vol. ditemukan 17 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam empat famili. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa. Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Cemara.5 % dan 436. Curah hujan di Lawowoi (Sidrap) dan Sabbangparu (Wajo) rendah.05 mg/l).2 . kalsium. burung penetap dan burung migran di pantai utara Pulau (P. ikan yang ditemukan 32 jenis. 10 famili yang dibagi ke dalam Bagridae 18 %. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang berapa besar pengaruh dari berbagai pemanfaatan kawasan terhadap kualitas air secara fisik maupun kimia dan pengaruhnya terhadap keragaman jenis benthos dan plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. Habitat burung merandai di Pemalang telah mengindikasikan adanya pencemaran berdasarkan temuan kandungan pestisida di air tambak dan cangkang telur berupa endosulfan dengan konsentrasi di bawah 0. COD (48. kawasan di S. Kata kunci: Lahan basah. dan posfor. Tanah di Lawowoi layak digunakan untuk budidaya tanaman murbei. Cyprinidae 14 %.373 mg/l dan 33.996 mg/l).) Jawa mengalami kecenderungan penurunan jumlah jenis maupun populasi sebagai akibat konversi lahan basah. Endang Karlina. RPH Cemara. RPH Cemara.2 . sulfat (179. dan posfor serta diperbaiki tekstur tanahnya. Pemalang and Kedung Coet River. kualitas fisik dan kimia air. Comal. Di Pemalang. Jawa. 6 jenis diantaranya dilindungi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status populasi burung merandai di pesisir utara P.20 mg/l dan 188. dan kurangnya persediaan sumber pakan burung. Kedung Coet. BKPH Indramayu termasuk perairan antara eutrophic dan oligotrophic. salinitas (20 mg/l dan 25 mg/l). klorida (Cl) (3. besi (0.157 .III. curah hujan. Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Indramayu. -. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling pada badan Sungai (S) Comal.88 mg/l dan 77. Reny KAJIAN STATUS POPULASI BURUNG MERANDAI DI PANTAI UTARA PULAU JAWA (The Study Population Status of Shorebirds in North Beach of Java Island) / Reny Sawitri. PEMALANG DAN SUNGAI KEDUNG COET. sehingga kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman murbei. Comal.

Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.25 mg/liter).8 mm. model AGNPS 50 . Ryke Nandini.3 . Banyaknya manfaat yang diberikan hutan lindung sebagai pengatur tata air menunjukkan bahwa terdapat banyak stakeholder yang terlibat. Adapun sumber pencemar unsur hara adalah ladang dan kebun campuran.118. dan jasa proteksi terhadap banjir.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Hunggul Yudono SHN. No. dan pengurangan pemakaian pupuk non organik dan diganti dengan pupuk organik. kebun campuran. biaya pengganti. -. Halaman 309 . Ogi KUANTIFIKASI JASA HUTAN LINDUNG SEBAGAI PENGATUR TATA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) PALU (Quantification of Protected Forest as A Stream Regulator at Palu Watershed) / Ogi Setiawan. 0. Hasil penelitian di sub DAS Wuno pada kejadian hujan 53 mm. Bila curah hujan tahunan 1. Kata kunci : Hutan lindung. 2002). Kedua pendekatan ini menggunakan beberapa metode perhitungan antara lain travel cost. Palu Watershed) / Ogi Setiawan. harga pasar.13 mg/liter).765. Konsentrasi N dan COD melebihi batas maksimum yang diperbolehkan untuk air minum. Halaman 389 . nilai ekonomi.III. Sumber erosi di sub DAS Wuno adalah ladang. DAS Palu sebagai dampak pengelolaan lahan serta informasi untuk menentukan arahan pengelolaan lahan di DAS tersebut. dan mekanisme pembiayaan/insentif sangat diperlukan untuk menuju pengelolaan hutan lindung yang lestari.526. ikan. ekosistem esensial lahan basah Setiawan. P (0.. Sedangkan konsentrasi P masih berada di bawah ambang batas maksimum.335. aturan.09 mg/liter untuk P. No. Model ini juga mampu menentukan sumber erosi dan pencemar. Arahan pengelolaan lahan untuk kedua sub DAS secara umum adalah penerapan teknik konservasi tanah dan air. pengatur tata air Setiawan. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan nilai ekonomi jasa hutan lindung khususnya sebagai pengatur tata air. Model AGNPS merupakan model kejadian hujan yang berbasis sel segi empat dengan tiga komponen utama yaitu hidrologi.294 ha atau 25. pertanian. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan model. Hasil kuantifikasi jasa hutan lindung tersebut dalam satu tahun adalah Rp 116. dan unsur hara. dan COD (19 mg/liter) masih ada di bawah ambang batas maksimum yang diperbolehkan untuk semua pemanfaatan air. dan peternakan. Ogi KUALITAS ALIRAN SUB DAS WUNO DAN MIU DAS PALU (Discharge Quality of Wuno and Miu Sub Watershed. erosi. Sedangkan untuk kuantifikasi jasa lingkungan yang diberikan hutan lindung dilakukan dua pendekatan yaitu nilai manfaat dan dampak. tingkat erosi di sub DAS Miu adalah 0.-/hektar/tahun. penerapan sistem agroforestry. pengembalian kawasan fungsi lindung. Kata kunci : Burung merandai. Dalam analisis data untuk mengetahui hasil air sebagai dampak ada atau tidaknya hutan lindung terhadap jasa yang diberikan digunakan pendekatan bilangan kurva (curve number). Penelitian ini dilaksanakan di DAS Palu yang mempunyai hutan lindung seluas 86.350. Kata kunci : Kualitas aliran. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kualitas aliran sub DAS Wuno dan sub DAS Miu.451 ton atau setara dengan 15. Pada kejadian hujan 65 mm. -.965 ton.atau setara dengan Rp 1. erosi yang dihasilkan adaalah 0. Konsentrasi N (1. perikanan.400 .53 ton/ha/tahun untuk curah hujan tahunan 978. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jasa hutan lindung DAS Palu sebagai pengatur tata air yaitu jasa pengatur tata air untuk pertanian.4 . dan 124 mg/liter untuk COD.III. jasa air untuk perikanan.294.4 % dari luas total DAS Palu (BAPLAN Kehutanan. dan coklat merupakan sumber erosi terbesar. Partisipasi aktif dan persamaan persepsi antar stakeholder. Konsentrasi unsur hara adalah 29. Ladang.326 . dan kontingensi. dalam hal ini model AGNPS.71 ton/ha dengan hasil sedimen 13.41 ton/ha dengan hasil sedimen 7.93 ton/ha/tahun. jasa air untuk konsumsi rumah tangga. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).populasi dan keragaman jenis ikan sebagai sumber pakan burung merandai di alam.49 mg/liter untuk N. adanya dukungan kelembagaan termasuk di dalamnya lembaga.5 mm maka erosi yang terjadi setara dengan 6.

Berdasarkan hasil analisis aliran permukaan. pengelolaan DAS. Jembatan. Kelas KPL yang mendominasi DAS Rongkong adalah KPL IV. Hengki TEKNIK SILVIKULTUR ULIN (Eusideroxylon zwageri T.96 yang berarti bahwa kondisi DAS Rongkong termasuk sedang.839. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan informasi awal untuk melakukan budidaya dan konservasi jenis ulin. Nilai KRS mempunyai kecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat erosi 2. Ogi STUDI BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PENGELOLAAN DAS RONGKONG (Study of Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.Rp 275. yaitu interpretasi peta. Berdasarkan kriteria dan indikator hidrologi. pengamatan lapangan serta wawancara dan studi literatur. No. pembibitan. Tulisan ini menyajikan teknik silvikultur ulin yang meliputi aspek perbenihan. Arahan pemantapan pengelolaan DAS Rongkong adalah perbaikan kualitas penggunaan lahan. dan kelas lereng didominasi lereng sangat curam (> 40 %).4 .5 ha (23. Kualitas kayunya tinggi karena termasuk dalam kelas kuat I dan kelas awet I sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti konstruksi bangunan.Jurnal Setiawan.3 ha.et B Setyowati. Eusideroxylon zwager T. lahan.4 %) dan kebun campuran 44.Biophisic and Social Economy of Community for Supporting Rongkong Watershed Management) / Ogi Setiawan. curah hujan rata-rata setahun berkisar antara 710-1.) / Hengki Siahaan.5 %).-/bulan . konstruksi dalam air. dan informasi tentang arahan penggunaan lahan di DAS Rongkong. 2006 .098. sosial dan ekonomi masyarakat.(et. -. dengan tingkat pendapatan Rp 225.000.9 %).. penggunaan lahan DAS Rongkong didominasi hutan campuran 110. Dengan kondisi seperti itu. 2006 Ulin (Eusideroxylon zwager T.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. jenis tanah dominan podsolik merah kuning (45.et B) merupakan salah satu jenis andalan di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.011.468 jiwa.. Jumlah penduduk DAS Rongkong 122. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap kegiatan.5 ha (61. 2006 Penelitian ini dilaksanakan di DAS Rongkong.35 mm/tahun. Ryke Nandini. pemeliharaan bibit. Halaman 401 419 . Kegiatan rehabilitasi lahan dalam bentuk penghijauan /reboisasi bertujuan untuk memperbaiki lahan yang rusak dan tidak produktif serta mengurangi erosi permukaan dan meningkatkan kondisi hutan ke arah yang 51 . Retno PERTUMBUHAN JENIS ANDALAN SETEMPAT UNTUK REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI / Retno Setyowati. -.000. Ulin. Saat ini akibat eksploitasi ulin yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi kegiatan penanaman telah menjadikan potensi jenis ini semakin berkurang dan jika tidak segera diantisipasi dapat berdampak lebih buruk berupa kelangkaan dan kepunahan. sosial. arahan penggunaan lahan Siahaan. Kata kunci: Biofisik. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. banyak dijumpai lahan terdegradasi di NTT. penerapan teknik konservasi tanah dan air serta adanya dukungan institusional. 2006 Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara klimatologis dimasukkan ke dalam daerah semi arid karena curah hujan yang relatif rendah (sebagian besar tipe iklim E dan F) dan didominasi oleh keadaan vegetasi seperti savana dan stepa. -. Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi biofisik.500 mm dengan hari hujan 50-100 hari.et B. Halaman 181-185 . Kata Kunci: Silvikultur.01 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi 1. DAS Rongkong mempunyai kelembagaan formal dan informal yang berpotensi untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan DAS.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . sosial dan ekonomi.III. hingga penanaman di lapangan yang dirangkum dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan. dan bantalan rel kereta api. Untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lahan yang lebih parah maka perlu dilakukan upaya pengendalian yaitu melalui kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi.al) . DAS Rongkong mempunyai luas 182. Kabupaten Luwu Utara.-/bulan. Halaman 137-146 . Tipe iklim DAS Rongkong adalah A (sangat basah). penyumbang aliran permukaan terbesar adalah kebun campuran dan kebun sejenis. ekonomi dan budaya DAS Rongkong mempunyai skor nilai 1.

Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 29-48 . Jenis andalan setempat. Dalam makalah ini diuraikan antara lain gambaran umum tumbuhan penghasil gaharu di Kalimantan Timur. Santalum album Linn. mempelajari beberapa kajian yang menyangkut manfaat gaharu. tata niaga dan klasifikasi mutu gaharu.Program penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan mengenai pohon penghasil gaharu meliputi: litbang budidaya gaharu. HHBK. Siran. Halaman 93-100 . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Heritiera littoralis Dryand. pembentukan gaharu. Kelangkaan jenis 52 . Dengan adanya teknologi tepat guna rehabilitasi lahan terdegradasi ini diharapkan mampu mempercepat keberhasilan upaya rehabilitasi lahan terdegradasi di NTT.) Dub. Mustaid TINJAUAN JENIS-JENIS POHON LOKAL BALI YANG BERPOTENSI DIKEMBANGKAN SEBAGAI KAYU KOMERSIL / MUSTAID SIREGAR. Kata Kunci: Gaharu.. Ngatiman. NI KADEK EROSI UNDAHARTA DAN HARTUTININGSIH M SIREGAR. 2006 Pengembangan jenis-jenis lokal yang sudah sesuai dengan kondisi biofisik wlayah Bali seperti kondisi tanah. -. dan stek pucuk. monitoring pengembangan gaharu serta sosialisasi dan diseminasi pengembangan gaharu dengan cara penyebaran informasi melalui media cetak dan media elektronik (RRI dan TVRI) dan penyebaran informasi dengan ekspose hasil-hasil penelitian. dan faktor fisik lainnya akan lebih mudah dikembangkan daripada mengembangkan jenis eksotik lainnya. cabutan . Pada pohon penghasil gaharu menggunakan inokulasi padat dan cair..pemungutan dan pengolahan gaharu. dan Nunukan. Akan tetapi perlu pertimbangan jenis-jenis yang mendapat prioritas mengingat status konservasinya telah mulai mengalami kelangkaan di alam yaitu Manikara kauki (L. GAHARU. Kutai barat. habitat tempat tumbuh gaharu. Lagerstroemia speciosa Pers..lebih produktif. pengelolaan dan standarisasi mutu. Kayu komersial. Dalbergia latifolia Roxb. Sulistyo A. status penelitian gaharu dan program penelitian dan pengembangan gaharu. tata niaga gaharu. Mimusops elengi L. Konservasi. Kata kunci: Pohon lokal. KOMODITI HHBK ANDALAN KALIMANTAN TIMUR / Sulistyo A. Status penelitian gaharu di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan kalimantan antara lain budidaya meliputi teknik produksi bibit gaharu melalui biji.. NTT Siran. pembentukan gaharu dengan menginokulasikan Fusarium sp... -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal.. 2006 Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang mempunyai peranan penting untuk meningkatkan devisa negara dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. Cordia subcordata Lamk. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. penerbitan publikasi khusus mengenai gaharu. iklim. serta standarisasi produksi gaharu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar hutan. kandungan dan manfaat gaharu. Malinau. Kalimantan Timur Siregar. jenis penghasil gaharu. teknik pemanenan. teknik penyulingan dengan menggunakan gaharu mutu rendah untuk menghasilkan minyak gaharu. dan alih teknologi pengembangan gaharu yang dilakukan pada beberapa kabupaten seperti Berau.Konservasi insitu dan ex-situ pada jenis-jenis gaharu yang ada di kalimantan Timur. promosi. Dysoxylum caulostachyum Miq. dan Yusliansyah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang pertumbuhan jenis-jenis andalan NTT sebagai bahan pertimbangan dalam rehabilitasi lahan dengan menggunakan berbagai perlakuan media tumbuh di persemaian. dan Murraya paniculata Jack. habitat tempat tumbuh gaharu yang mempelajari mengenai penyebaran jenis gaharu secara alami dan ekologinya. kajian sosial ekonomi masyarakat pencari gaharu dan pemasaran gaharu serta kajian pemanfaatan pohon penghasil gaharu untuk bahan baku MDF dan pensil. tata niaga gaharu. Pasir.

kerapatan tanah. falcataria lebih tinggi daripada kerapatan tanah pada vegetasi baseline pada kedalaman 0-30 cm. -. Simpanan karbon dalam biomasa tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen hampir 3 kali lebih besar daripada biomasa pada vegetasi baseline-nya.2989.16 ton/ha secara berurutan. Sementara simpanan karbon tanah kumulatif pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P.24-3. yaitu berturut-turut 0. Harris Herman MODEL PERSAMAAN ALLOMETRI BIOMASA TOTAL UNTUK ESTIMASI AKUMULASI KARBON PADA TANAMAN PARASERIANTHES FALCATARIA (L) NIELSEN (Total Biomass Allomeric Equation Model For Assessing Accumulated Carbon In Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar. falcataria sedikit lebih tinggi daripada vegetasi baseline walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan. falcataria belum memberikan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan kandungan karbon tanah dan simpanan karbon tanah kumulatif pada saat tegakan berumur 6-7 tahun. Halaman 477 .96 ton C/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 9. pendugaan fiksasi karbon pada tanaman pohon yang dihubungkan dengan isu pemanasan global menjadi penting sebagai bagian dari upaya untuk mengetahui simpanan karbon dalam biomasa. Sedangkan selisih produksi karbon dalam biomasa tumbuhan bawah tegakan Paraserinthes falcataria (L) 53 .21 %. Pelabuhan Ratu. Karbon tanah pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P.8144.0986 (DBH)2H0. Tujuan utama penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang perubahan kandungan karbon dengan cara membandingkan kandungan karbon tanah. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.1479 (DBH)2. Halaman 541 553. Pelabuhan Ratu. 2006 Pertumbuhan pohon yang ditopang oleh proses fotosintesis dapat mengurangi konsentrasi karbondioksida di atmosfir.52-3.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Penelitian dilaksanakan pada jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim B (curah hujan tahunan 2. No. 2006 Karbon tanah dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.05 ton karbon/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa.05 ton C/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa). kerapatan tanah.5 . Oleh karena itu.9 ton karbon/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 28.929 mm) di Desa Buniwangi.83-0.489. No. Sukabumi.16 % dan 1. Penelitian dilaksanakan pada tipe tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim tipe B (curah hujan tahunan 2. West Java / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar.5 .Siringoringo. yaitu sebesar 28. Jawa Barat. mempelajari perubahan kandungan karbon tanah di bawah tegakan hutan tanaman adalah sangat penting. dan 0. Sistem tegakan hutan tanaman rakyat jenis P. Sedangkan biomasa tumbuhan bawah pada tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan baseline diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara persen penutupan tajuk dikalikan dengan tinggi maksimum tumbuhan bawah (UC x UH-max) dan biomasa tumbuhan bawah di atas tanah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan karbon tanah lebih tinggi pada lapisan permukaan tanah dan menurun pada lapisan tanah yang lebih bawah. Kata kunci : Karbon tanah. simpanan karbon tanah kumulatif Carbon Changes Affected ByThe Establishment of Siringoringo. Sukabumi. (R2 = 0. Sedangkan kerapatan tanah (BD) pada tegakan P.9445) berdasarkan persamaan DBH-biomasa total. yaitu berturut-turut 1.III. Peningkatan karbon terfiksasi dihitung berdasarkan perbedaan produksi karbon biomasa antara tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline. dan simpanan karbon tanah kumulatif pada tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi awalnya (hutan sekunder). dan simpanan karbon pada vegetasi baseline-nya sebesar 10.929 mm) di desa Buniwangi. Biomasa total Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline-nya diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara DBH dan biomasa total dan atau (DBH)2H dan biomasa total.86 g/cc dan 0.9458) berdasarkan persamaan (DBH)2Hbiomasa total.73-0. Oleh karena itu. Harris Herman PERUBAHAN KANDUNGAN KARBON TANAH PADA TEGAKAN Paraserianthes falcataria (L) Nielsen DI SUKABUMI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang dugaan peningkatan simpanan karbon pada biomasa hutan tanaman rakyat jenis Paraserinthes falcataria (L) Nielsen yang disajikan dalam model matematik. JAWA BARAT (Soil Paraserianthes falcataria (L) Nielsen Plantation In Sukabumi.76 g/cc. (R2 = 0. falcataria dan vegetasi baseline tidak menunjukkan perbedaan.III. yaitu sebesar 59. Jawa Barat.43 ton/ha dan 51. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan allometri yang dibangun untuk menduga biomasa total tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah 0.

Jabar. H. Balitbang Kehutanan Samarinda. telah berhasil mengembangkan teknik stek untuk propagasi secara massal jenis-jenis meranti dan pohon indigenous lainnya. Ujicoba produksi stek masal dengan KOFFCO system telah dilaksanakan di P3HKA. Gonistylus bancanus.. S. Kondisi lingkungan yang diupayakan optimal adalah (1) cahaya antara 5. pengukuran pertumbuhan tanaman serta identifikasi kualitas tapak melalui pembuatan profil dan pengambilan contoh tanah untuk analisis kimia tanah pada masing-masing plot yang telah ditentukan. smithiana. S. platyclados. Teknik ini mengatur kondisi ideal untuk proses perakaran dari jenis-jenis meranti seperti S. 2006 Pertumbuhan tanaman jati pada berbagai lokasi di beberapa kabupaten di Sumatera penting untuk diketahui mengingat animo masyarakat pada tanaman jati sangat tinggi namun potensi kesesuaian lahannya belum diketahui. Beberapa plot tanaman jati di wilayah Kabupaten OKI dan Banyuasin mengalami kendala pertumbuhan dan perkembangan tanaman.06 ton C/ha dan 1. macrophylla. Kata Kunci: Tanaman jati. Hopea bancana. odorata. (3) temperatur di bawah 30 derajat C. Vatica sumatrana. S. Tectona grandhis Linn. Pengembangan jenis eksot di wilayah Sumatera Selatan harus diketahui terlebih dahulu data dasar potensi lahan serta kesesuaiannya menyangkut persyaratan tumbuh jenis yang akan dikembangkan.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan. S. gragaria.al) . Kepada para pihak yang berminat memanfaatkan teknologi ini dapat menghubungi Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam di Bogor.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi : Halaman 1-7 . Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa peningkatan karbon terfiksasi oleh tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah sebesar 1819 ton C/ha atau setara dengan 66-70 ton CO2/ha. seminis. S. secara berurutan.300 pohon/ha. javanica. stenoptera.leprosula dan S. Sampai saat ini sebanyak 24 jenis-jenis indigenous telah dicoba dengan KOFFCO system yaitu Anisoptera marginata. umur dan pemeliharaan. S. laevis. nozel. dan Fragaea fragrans. Kata kunci : Persamaan allometri. S. selanica. Bogor. leprosula. S. D. S. biomasa total. alih teknologi teknik ini sedang dilaksanakan kepada sektor kehutanan di Indonesia.000-20. dan (4) media yang higienis. S. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survey. -. Dengan dukungan JICA.. S. dengan kerapatan tegakan sebesar 1. Hutan tanaman 54 . poros dan dapat mengikat air. Sumatera Selatan Subiakto. Selanica. S. Riau. Kalsel. parvifolia. (2) kelembaban di atas 95 persen. S. simpanan karbon. Grandiflorus. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandhis Linn. ovalis.000 lux. juga dilakukan pengukuran tinggi dan diameter. palembanica. dan termostat. Persen beakar bervariasi antara 0 persen sampai 99 persen tergantung jenisnya.(et. guisso. Teknik yang telah dikembangkan ini dinamakan KOFFCO system akronim dari Komatsu-FORDA Fog Cooling System. S. Dyera costulata. dan Loka Litbang HHBK Kuok. Kaltim.. Kata Kunci: Stek pucuk. Halaman 77-83 . yakni masing-masing sebesar 2. 2006 Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam bekerjasama dengan KOMATSU Ltd. Shorea acuminatissima. pinanga. Sistem ini bekerja secara otomatis bila temperatur dalam rumah kaca mencapai 30 derajat C. Alstonia scholaris.Nielsen dan tumbuhan bawah vegetasi baseline terbukti sangat kecil dan tidak berbeda nyata. Atok PENGEMBANGAN TEKNOLOGI STEK PUCUK UNTUK HUTAN TANAMAN / Atok Subiakto dan Chikaya Sakai. Komponen utama sistem ini adalah pompa air. H. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . hal ini menunjukan bahwa tanaman jati dapat dikembangkan di wilayah tertentu dengan kondisi lahan yang mempunyai persyaratan tempat tumbuh (edafis) dan iklim (klimatis) sesuai dengan kriteria kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jati (site-species matching). johorensis. peningkatan karbon terfiksasi Sofyan. S. Balitbang HTI Banjarbaru.9 ton C/ha. balangeran. S. sementara di beberapa wilayah Kabupaten OKU tanaman jati tumbuh normal.

Kayat. Flora.67 persen) Kata kunci: Teknik pemeliharaan.3 persen). No. Komposisi jenis dan tingkat pertumbuhan pohon binaan yang terdapat di tegakan tinggal hutan rawa gambut di kelompok hutan Sungai Kumpeh dan Sungai Air Hitam Laut. 2006 Kajian potensi dan biofisik Taman Nasional perlu dilakukan agar data yang diperoleh bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah pengelolaan selanjutnya. belta 31 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan lamtoro (Leucaena leucacephalla). dan reptilia 5 jenis. 2006 Teknik pembibitan bitti (Vitex cofassus Reinw.1 ppm NAA menghasilkan perkembangan kalus yang terbaik yaitu 90 %. Biofisik Suhaendi Hendi STRUKTUR DAN TEKNIK PEMELIHARAAN TEGAKAN TINGGAL HUTAN RAWA GAMBUT DI AREAL KERJA HPH PUTRA DUTA INDAH WOOD / Hendi Suhaendi.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Fauna.Sugiana. perlu dilakukan pemeliharaan tegakan tinggal. Tegakan tinggal. jenis mamalia 9 jenis. kultur jaringan. Agis Nursyam KAJIAN POTENSI DAN BIOFISIK TAMAN NASIONAL KELIMUTU DI PULAU FLORES/ Agis Nursyam Sugiana.. Halaman 165 176 . Rawa gambut. kalus media kultur.0 ppm BAP + 1.) SECARA KULTUR JARINGAN (Seedling Cultivation Technique of Bitti (Vitex cofasus Reinw. Seyogyanya Taman Nasional yang telah ditunjuk sudah harus mengetahui potensi dan biofisik kawasannya.) dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. Penelitian perbanyakan tanaman bitti secara kultur jaringan. Flores. tingkat semai sebanyak 42 jenis didominasi oleh kirinyuh (Chromolaena odorata).Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Jambi di dalam petak coba seluas 6 hektar terdiri dari 78 batang pohon (13 persen). penebangan pohon dilakukan pada pohon berdiameter 40 cm ke atas. Potensi. -. Kata kunci : Bitti.III. -. 98 batang tingkat tiang (16. Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh. termasuk di dalamnya pohon inti sebanyak 25 batang per hektar yang berdiameter >atau sama dengan 35 cm. Hasil pengamatan (data primer) dan pengumpulan data sekunder menyatakan bahwa flora yang ditemukan dalam kawasan TN Kelimutu. Pemeliharaan tegakan tinggal ditujukan untuk memelihara dan membina pohon-pohon jenis komersial. efektif. 2005 : Halaman 13-30 . sehingga pengelolaannya bisa fokus. bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh yang terbaik untuk perkembangan kalus. Kata kunci: Danau tiga warna. Sedangkan fauna yang ditemukan terdiri dari jenis aves 20 jenis. Oleh karena itu menjadi urgen untuk mengkaji kondisi potensi dan biofisik kawasan. dan efisien. Makassar. Media tersebut juga dapat untuk perbanyakan bibit bitti secara kultur jaringan. Komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan tunas planlet adalah 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara sumber eksplan embrio dan 0. Putra Duta Indah Wood Suhartati TEKNIK PEMBIBITAN BITTI (VITEX COFASUS REINW. Mariana Takandjandji. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Vitex cofassus Reinw. Taman Nasional Kelimutu. dan pohon 41 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan ampupu (Eucalyptus urophylla). Halaman 31-43 . zat 55 . Untuk menjamin adanya produksi kayu perdagangan pada rotasi tebang berikutnya. agar pengelolaan taman nasional lebih fokus dan tepat guna.2 . 2006 Pengelolaan hutan rawa gambut dilaksanakan dengan system silvikultur Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI). -.) by Tissue Culture Methode) / Suhartati. pengatur tumbuh.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.0 ppm GA3. serta komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan planlet tanaman bitti. dan perlakuan berbagai jenis komposisi media kultur. dengan cara menunjuk dan menandai minimal 100 batang per hektar pohon-pohon jenis komersial berdiameter di bawah 40 cm. dan 424 batang tingkat pancang (70.

galur TB 177E-TB-28-B-3. produksi gabah tertinggi adalah padi gogo verietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. Tumpangsari 56 . Di bawah tegakan hutan tanaman jati umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 64 persen. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. NTT. Jati (Tectona grandis).3 ton/ha dan galur Dt 15/II/KU rata-rata sebesar 1. Kata kunci: DAS. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. yaitu DAS Benain. dan DAS Kambaniru. Banjir Sumarhani TEKNIK BUDIDAYA PADI GOGO TAHAN NAUNGAN UNTUK KELANGSUNGAN USAHATANI TUMPANGSARI / Sumarhani. 2006 Penelitian teknik budidaya padi Gogo di bawah tegakan mangium (Acacia mangium). Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkhinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir)sesuai dengan kewenangan dan hierarkhinya. Dibawah tegakan hutan tanaman khaya umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 70 persen produksi gabah tertinggi adalah padi gogo galur Dt 15/II/KU ratarata sebesar 1. -. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS. resisten naungan. Hasil uji coba lima varietas/galur padi gogo di bawah tegakan hutan tanaman magium umur 5 tahun dengan intensitas cahaya 68 persen menunjukan bahwa produksi gabah tertinggi adalah padi gogo varietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. kemitraan. DAS Noelmina. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS). dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120.2 ton/ha. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk menyampaikan informasi hasil penelitian padi gogo tahan kekeringan. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 163-174 . dan Khaya (Khaya anthotheca0 telah dilakukan di areal hutan tanaman masing-masing di KPH Bogor.Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. dan KPH Banyumas Barat. dan galur Dt 15/II/KU mempunyai prospek baik untuk dikembangkan sebagai komoditi tanaman pangan di bawah tegakan pohon hutan dengan sistem tumpangsari. Kata Kunci: Budidaya.2 ton/ha. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu.3) Upaya penanggulangan banjir. pH tanah rendah. 42 DAS pada tahun 1998.85 ton/ha sedangkan varietas Jatiluhur merupakan terendah dengan rata-rata produksi sebesar 1. Halaman 93-102 .25 ton/ha. DAS Aesesa. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. DAS Noelmina. 2006 . Padi gogo. KPH Sukabumi. 2) empat DAS kritis di NTT. dan berumur genjah di berbagai tegakan hutan tanaman. Dengan demikian padi gogo varietas Jatiluhur.4 ton/ha dan galur TB 177E-TB-28-B-3 rata-rata sebesar 1. Selanjutnya informasi ini diharapkan dapat membantu petani sekitar hutan dalam pengadaan tanaman pangan padi gogo tahan naungan secara berkesinambungan melalui sistem tumpangsari. DAS Benain.

Terciptanya kondisi fisiologis yang optimal serta tepatnya pemilihan bahan tanaman yang digunakan menentukan presentase keberhasilan yang tinggi. 2006 Salah satu bahan baku penting dalam industri terpadu pulp dan kertas adalah Blume.serta korelasi genetik dan korelasi fenotipa dari semua pasangan sifat pohon yang dibentuk. IBA merupakan zat pengatur tumbuh yang sifat kimiawinya stabil dan memiliki rentang konsentrasi yang lebah untuk merangsang perakaran. Semua parameter genetika diduga tanpa melalui uji keturunan. 2005 : Halaman 123-131 . Nilai persentase berakar tertinggi dicapai oleh media pasir dengan konsentrasi IBA 200 ppm sedangkan berat kering total tertinggi diperoleh pada media serabut kelapa dengan konsentrasi IBA 200 ppm dan rasio teras akar tertinggi dicapai oleh media serabutkelapa dengan konsentrasi IBA 400 ppm.776 ppm sedangkan konsentrasi IBA yang optimal untuk berat kering total adalah 2. harga produk relatif tinggi. Tujuan penelitian ialah menduga nilai heritabilitas luas dari setiap sifat pohon. Keberhasilan pertumbuhan stek ditentukan oleh kecepatan terbentuknya akar lateral yang mendorong proses fisiologis berlangsung sempurna. tahan terhadap naungan. dan tinggi total. Ragam genetik dan lingkungan diduga menurut metode Shrikhande (1957).990 ppm. tinggi bebas cabang. Aceh. dengan tujuan akhir menentukan sifat-sifat yang perlu dikembangkan dalam pemuliaan pohon untuk tujuan industri. Dengan diketahuinya pola pewarisan genetik dari berbagai sifat pohon diharapkan akan diketahui tolok ukur untuk seleksi sifatsifat pohon. Hendi POLA PEWARISAN GENETIK SIFAT-SIFAT MORFOLOGI DAN PRODUKSI GETAH PINUS MERKUSII STRAIN ACEH / Hendi Suhaendi.Dengan teknik wanatani (agroforestry).Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 175-161 .Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Dengan peningkatan produktivitas hutan. diameter batang. Pengukuran tinggi total. Vanili. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Hendi PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH "IBA" DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Eucalyptus deglupta Blume / Hendi Suhaendi. Tanaman vanili (Vanila planifolia Andrews) merupakan salah satu komoditi yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di propinsi Nusa Tenggara Barat. Vanilla planifolia Andrews Suhaendi. merkusii strain Aceh. 2005 Salah satu upaya untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan dan juga untuk mangakomodir perubahan paradigma dalam pengelolaan dan pembangunan di bidang kehutanan adalah pengembangan usahatani vanili dengan teknik wanatani (agroforestry). Eucalyptus Blume Suhaendi. Lima sifat pohon yang dikendalikan secara kuat oleh faktor genetik adalah diameter batang. produksi getah. IBA. Stek. nilai konsentrasi IBA yang optimal untuk persentase berakar stek adalah 2. -. Seleksi simultan dapat dilakukan terhadap 57 . Berdasarkan uji polinomial ortogonal. pencampuran tanah ikut menentukan perkembangan stek. Kata kunci: Ekonomi rakyat. -. Kata kunci: deglupta Zat pengatur tumbuh. Stek merupakan salah satu alternatif pembiakan vegetatif untuk mengatasi tidak tersedianya bibit yang baik dalam waktu yang diperlukan. Media tumbuh. 2006 Penelitian ini dilakukan pada hutan tanaman P. bentuk batang. lahan hutan yang kondisi biofisiknya masih baik maupun yang sudah kurang terpelihara dapat ditingkatkan produktivitas.serta pasar masih terbuka lebar. tebal kulit batang dan produksi getah kayu di lakukan di lapangan.Beberapa keunggulan tanaman vanili antara lain. Sri PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI BUDIDAYA VANILI (Vanilla planifolia Andrews) PADA KAWASAN HUTAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT / Sri Suharti. -. Heritabilitas luas serta korelasi genetik dan fenotipa berikut peragam-peragamnya diduga menurut metode Sakai dan Hatakeyama (1963). tidak memerlukan tempat tumbuh sendiri karena sifatnya yang selalu memerlukan tanaman panjat sebagai inang.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman215-222 .Suharti. pendapatan masyarakat akan meningkat secara signifikan sehingga selanjutnya akan menurunkan tekanan masyarakat terhadap hutan. bentuk batang. dalam populasi Saree. Yang dikendalikan secara sedang oleh faktor genetik adalah tinggi bebas cabang. tebal kulit batang. Penggunaan media tumbuh yang cocok.Tulisan ini mencoba menguraikan potensi dan prospek pengembangan budidaya tanaman vanili pada kawasan hutan melalui teknik wanatani di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu sentra produksi vanili di wilayah Indonesia Bagian Tengah.

2006 Telah dilakukan penelitian peranan hutan Taman Nasional LaiwanggiWanggameti (TNLW) dalam menyimpan karbon. Kata kunci: Pinus merkusii. Hertabilitas. tinggi bebas cabang. Halaman 161-168 . Diameter batang yang besar diduga dapat digunakan secara efektif sebagai satu indeks untuk menyeleksi tetua-tetua yang produksi getahnya tinggi. perbaikan sistem penularan. Seleksi untuk memperbaiki bentuk batang diduga akan memperbaiki pula tinggi bebas cabang dan diameter batang. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Data yang didapatkan berupa data tinggi dan diameter digunakan untuk menghitung biomassa karbon dengan menggunakan model Brown dan metode Vademikum Kehutanan. -. 2005 : Halaman 103-110 . Dengan menggunakan Suhaendi. 2006 Dewasa ini budidaya kutu lak telah menjadi primadona masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kondisinya terus mengalami penurunan produksi yang signifikan.Seleksi untuk peningkatan diameter batang diduga akan menyebabkan peningkatan tebal kulitnya. Pola budidaya kutu lak yang dilakukan oleh masyarakat NTT umumnya masih sederhana dan belum melalui tahapan budidaya yang standar. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk menilai performans pertumbuhan umur 13 tahun dari provenansi-provenansi Pinus caribaea dan Pinus oocarpa yang tumbuh di Kebun Percobaan Sumberjaya.5 x 2. Marfologi Sujatmoko.pasangan sifat tinggi total dan bentuk batang. Kata kunci: Pinus caribaea Morelet. Hendi UJI COBA PROVENANSI INTERNASIONAL Pinus caribaea Morelet DAN Pinus oocarpa Schiede UMUR 13 TAHUN DI INDONESIA / Hendi Suhaendi. Dua belas provenansi P. Korelasi fenotipa. Kata kunci: Kutu lak. Sebagai pembanding. 2005 : Halaman 77-85 . Sujarwo TEKNIK BUDIDAYA KUTU LAK DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA DI NUSA TENGGARA TIMUR / Sujarwo Sujatmoko. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Nusa Tenggara Timur Sumardi PERANAN HUTAN TAMAN NASIONAL LAIWANGI .WANGGAMETI DALAM MENYIMPAN KARBON/ Sumardi.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. dan bentuk batang. -Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Satuan percobaan yang digunakan dalam analisis data adalah sembilan pohon. oocarpa dinilai sifat-sifat pertumbuhannya dalam arti tinggi total. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi media promosi untuk mempertinggi kemungkinan investasi dalam memajukan pengelolaan hutan alam di TNLW. dan pemanenan tularan kutu lak. pemeliharaan. -. Korelasi genetik. Petani melakukan penularan kutu lak sekali pada pohon inang yang sudah diberi tanda kepemilikan.5. Tulisan ini bertujuan untuk menghitung dan mengevaluasi besarnya kapasitas biomassa tegakan (aboveground biomass) pada hutan alam TNLW dalam memfiksasi karbon melalui perhitungan biomasa pohon dan karbon. dinilai pula dua provenansi lokal Pinus merkusii. Budidaya. Usaha peningkatan produksi dan kualitas usaha budidaya kutu lak dapat dilakukan melalui perbaikan sistem budidaya dan pemeliharaan tanaman inang. caribaea dan enam provenansi P. Aceh. Provenansi 58 . Tanaman inang. Penelitian dilakukan di Hutan TNLW. Kayat dan Bernadus Ndolu. Penularan kutu lak pada pohon inang berikutnya menguntungkan pada tularan alam melalui angin. 2006 . setelah itu ditinggalkan sampai panen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pembuatan plot Metode Forest Health Forest Monitoring. Lampung. Pinus oocarpa Schiede. diameter batang. Rancangan acak lengkap digunakan dalam tiap-tiap Pinus dengan ukuran petak awal adalah 25 pohon dalam bentuk bujur sangkar dengan jarak tanam 2.

2006 . penyebaran kuesioner kepada masyarakat daerah penyangga (Sumberklampok dan Pejarakan) dan studi literatur. Halaman 3340 .5 ( lebih kurang 77. Data dan informasi yang terkumpul di tabulasi dan dianalisa dengan analisis deskritif dan SWOT (Strengh. Pertumbuhan tanaman M. Dari informasi yang diperoleh diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengembangan kayu putih pada skala yang lebih besar. pelaksanaan. Kata kunci: Karbon.Penelitian ini bertujuan untuk evaluasi uji perolehan genetik tanaman kayu putih dari benih unggul. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Bali Barat Sumardi EVALUASI UJI PEROLEHAN GENETIK KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi subsp cajuputi) Di Persemaian Sampai Umur 4 Bulan / Sumardi. Opportunities. Penelitian dilakukan dengan melakukan evaluasi pertumbuhan tinggi dan diameter semai kayu putih yang diukur setiap bulan. Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti Sumardi PENGEMBANGAN DAERAH PENYANGGA SEBAGAI ALTERNATIF PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Sumardi.Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).9) ton/ha dan 189. Pertumbuhan M.9 (lebih kurang 74. monitoring. Keterlibatan masyarakat sebenarnya akan memberikan dampak positif bagi TNBB karena masyarakat akan merasa lebih memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberadaan TNBB. Biomassa. rata-rata jumlah biomasa karbon yang diserap oleh vegetasi yang berada di dalam kawasan TNLW cukup tinggi yaitu sebesar 197. sehingga keragamannya cenderung kecil. Benih unggul yang digunakan pada penelitian ini berasal dari 3 pohon plus (famili) pada tegakan kebun benih uji keturunan Paliyan. Kayu putih. Kata kunci: Genetik. cajuputi tingkat semai tidak banyak menunjukan keragaman signifikan antar famili . kayu bakar serta pemanfaatan lahan.metode Brown (1997) dan Vademikum Kehutanan (1976).Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal.9) ton/ha. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Weakness.Masyarakat sebagian besar menginginkan adanya bentuk keterlibatan dalam perencanaan. Masyarakat sebagian besar setuju dengan keberadaan TNBB. cajuputi pada tingkat semai sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan persemaian. Penelitian bertujuan untuk mencari formula/strategi yang tepat dalam bentuk kegiatan nyata untuk pengelolaan TNBB berbasis masyarakat. Jenis unggul. -. namun jika tidak disertai dengan pembinaan dan apabila keberadaan TNBB tidak memberikan peningkatan sosial ekonomi maka kerusakan ekosistem dapat terjadi dengan pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. dan Threat) yang ditekankan pada fenomena-fenomena yang diakibatkan oleh kegiatan masyarakat. Hal tersebut kemungkinan karena ketiga famili tersebut merupakan pohon plus sebagai sumber benih yang merupakan hasil seleksi. di wilayah NTT. Upaya peningkatan produktivitasnya tidak terlepas dari pemilihan benih unggul yang menghasilkan tanaman dengan produksi daun dan kandungan minyak yang tinggi. Melaleuca cajuputi subsp cajuputi 59 . 2006 Telah dilakukan penelitian pengembangan daerah penyangga sebagai alternatif pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Taman Nasional. Kata kunci: Konservasi. 2006 Telah dilakukan penelitian evaluasi uji perolehan genetik kayu putih (Meulaleuca cajuputi subsp cajuputi) di persemaian sampai umur 4 bulan. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Dari penelitian dihasilkan bahwa ketergantungan masyarakat desa Sumberklampok dan Pejarakan terhadap kawasan TNBB masih relatif tinggi dan bentuk interaksinya meliputi pemungutan hasil hutan non kayu. wawancara. di Kabupaten Timor tengah Utara dan Kabupaten Sumba Timur. Halaman 121-131 . Meulaleuca cajuputi merupakan jenis yang menghasilkan minyak kayu putih bernilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan sebagai obat-obatan. Daerah penyangga. dan evaluasi terhadap pengelolaan TNBB.

Nusa Tenggara Timur Sumardi STUDI KUALITAS TAPAK BEBERAPA LOKASI DI HUTAN PRODUKSI TERBATAS KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA. 0.08 persen dan 4. -. DAS Aesesa. Kata kunci: Gmelina arborea Roxb. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.42 persen dan 0. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang.07-7. 0. Bobonaro.42 persen. Halaman 169176 . DAS Noelmina. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120.22 persen.0117 m3. Halaman 119123 . diameter dan volumenya. DAS Benain. Kelas tekstur tanah pada lokasi Peutana adalah liat sampai lempung berpasir. Produktivitas. Tekstur. Topografi. dan DAS Kambaniru.15 untuk pH KCI. Riap. di Stasiun Penelitian Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.16 persen. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran 60 . Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. Lokasi penelitian memiliki kemiringan >25 derajat. NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.92 . Timor Tengah Utara. I (2). 42 DAS pada tahun 1998.38 untuk pH H2O dan 6.82 persen. KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi dan Martinus Lalus.20 m dan MAI-volume=0. 2006 . Nusa Tenggara Timur Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. Halaman 93-102 . II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 0.33 persen. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran tinggi dan diameter tegakan G. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. 2) empat DAS kritis di NTT. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu. Kandungan bahan organik pada lokasi Peutana yang meliputi lokasi I (1). -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. MAI. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. persentase batuan relatif tinggi. 2006 .07 persen. 2006 Telah dilakukan penelitian produktivitas Gmelina arborea Roxb.13 cm. Timor Tengah Selatan. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. I (2). II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 2. DAS Noelmina. 3.Sumardi PRODUKTIVITAS Gmelina arborea ROXB. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS. Data yang terkumpul di tabulasi dan dilakukan perhitungan riap rata-rata tahunan terhadap tinggi. dengan bentuk unit lahan berbukit sampai bergunung. Arborea umur 6 tahun.. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. Muhammad Hidayatullah dan Tigor Butar-Butar. PH tanah berkisar antara 7. MAI-tinggi=1. 2006 . tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. yaitu DAS Benain.3) Upaya penanggulangan banjir. 2006 Telah dilakukan penelitian studi kualitas tapak beberapa lokasi di hutan produksi terbatas Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kandungan N total dari lokasi Peutama yang meliputi lokasi I (1). Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kata kunci: Tapak. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering).7. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa riap rata-rata tahunan (MAI/diameter=2. sedangkan Kuafeu adalah liat lempung berpasir. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS). 11. Lokasi Kuafeu terdapat 10 jenis tanaman dengan jenis pohon komersial dominan mahoni (Swietenia mahagoni) sedangkan lokasi Peutana terdapat jenis tanaman murni kemiri (Aluerites molucana) yang sudah berbuah dan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang pernah dipanen penduduk sekitar. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. bahan organik terbesar terdapat pada lokasi II (Peutana).

Banjir Surata. dan Lewokukun). Kilawair. -. Kawale) dan kabupaten Lembata (Ile Kerbau. dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. alba. Diospyros malabarica Der Kostel.dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. Kata kunci: Eucalyptus urohpylla. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. pada tipe iklim E menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Ile kerbau. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. Labalekan. 2005 : Halaman 87-95 . dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu (Eucalyptus urophylla S. jenis tanah mediteran haplik. Musim panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus akan tetapi semua lokasi yang dieksploitasi berbuah banyak dan seragam. 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. Lewokukun. Kilawair. Ile Ape. Lewotobi. Hibrid 61 . Data yang dihasilkan berguna dalam rangka penunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon di masa mendatang. I Komang SEBARAN DAN PERTUMBUHAN PENOTIPE TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (Eucalyptus urophylla S. kambisol. I Komang DUKUNGAN HASIL LITBANG DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA KLICUNG (Diospyros malabarica Der Kostel) DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT / I Komang Surata. Penotipe. Nurdini Estikasari. termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Sebaran alami. 2006 Klicung (Diospyros malabarica Der Kostel) adalah hasil hutan kayu yang tergolong penting di Provinsi Nusa Tenggara Barat karena merupakan spesies andemik. NTT. Di samping itu dalam tulisan ini ditampilkan pula hasil plot uji coba pengembangan budidaya klicung di Rarung Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat serta permasalahannya yang sedang dihadapi yang sangat menentukan dalam menunjang keberhasilan pengembangan. Kwangau. -. Kondisi tempat tumbuhnya terdapat di daerah pegunungan mulai dari kaki gunung sampai lereng pada ketinggian 150-980 m dpl. Palueh. dan Kurnaidi. Ampupu. Natakolin. Paket teknologi yang telah dihasilkan terutama teknik budidaya klicung yang meliputi teknik perbenihan. Hikong. penanaman. Egon. pembibitan. Palueh.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 918 . Natakolin. oleh sebab itu dalam pemanfaatannya perlu segera diikuti upaya pelestarian dan penanaman. Labalekan. Dewasa ini populasinya sudah semakin menurun. Kaliboluk. Leworok. lle Mandiri. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. Kata kunci: Klicung. sebaran alami.Kwangau. Ilemandiri. Nusa Tenggara Barat Surata. Untuk mewujudkan upaya keberhasilan penanaman sebagaimana yang diharapkan. Kata kunci: DAS. kemitraan. Pada ketinggian di bawah 600 m dpl masih bercampur dengan E. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara telah berupaya untuk menyediakan paket teknologi yang dibutuhkan lewat kegiatan penelitian. Kabupaten Flores Timur (Lewotobi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran alami ampupu di Flores terdapat di Kabupaten Sikka (Egon. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. dukungan teknologi budidaya sangat diperlukan.T Blake) DI FLORES PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR / I Komang Surata.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. dan Kwale. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. dan litosol. Sumber benih.T. Blake) di Flores. Kaliboluk. Ile Ape. Ile Boleng. urophylla dan E. dan Hikong). Urutan pertumbuhan penotipe pohon plus ampupu dari yang terbaik-terendah adalah: Ile Boleng. Budidaya. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir) sesuai dengan kewenangan dan hierarkinya. Leworok.

tidak memberi ijin tukar menukar kawasan dan pinjam pakai mangrove. model sumber benih. Tingkat partisipasi masyarakat untuk manjaga kelestarian mangrove sudah baik yaitu sebesar 98.34 persen terutama dalam kegiatan penanaman. Kata kunci: Hutan mangrove. Kebutuhan kayu cendana di daerah ini semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kemajuan pariwisata. Halaman 19-31 . PROVINSI BALI / I Komang Surata. Untuk memenuhi kebutuhan kayu cendana di provinsi Bali maka perlu segera dilakukan penanaman.Surata. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengkaji data dan informasi partisipasi dan keinginan masyarakat lokal dalam menangani permasalahan kelestarian mangrove. Model ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan lahan penanaman cendana yang terbatas dan masyarakat dapat berperan secara aktif untuk memelihara dan menjaga keamanan tanaman cendana serta dalam jangka panjang dapat menambah pendapatan masyarakat. dan kesiapan teknologi maka hampir sepertiga wilayah di Provinsi Bali memenuhi syarat untuk lokasi penanaman cendana. Bedasarkan data biofisik wilayah. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal dalam kegiatan pengelolaan mangrove di Prapat-Benoa Bali masih rendah 2. Kata kunci: Cendana. pembuatan jalan lingkar setapak yang menjadi pembatas zonasi mangrove dengan lahan masyarakat yang sekaligus sebagai jalan rekreasi. Halaman 133-141 . Partisipasi. I Komang PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN CENDANA (Santalum album L) DI PROPINSI BALI / I Komang Surata. -. Pengelolaan. -. Untuk menjaga kelestarian mangrove beberapa keinginan masyarakat yang perlu menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengatasi permasalahan adalah menjaga keberhasilan sampah dari hulu dan masyarakat di sekitarnya. Bali 62 . Tindakan yang tidak partisipasif dalam kelestarian mangrove adalah 1.66 persen. sistem tumpangsari. Dewasa ini tidak ada lagi pasokan bahan baku kayu cendana secara resmi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingat populasi cendana di daerah ini sudah menurun dan di beberapa tempat sudah hampir punah. Penanaman dilakukan di lahan/ladang masyarakat (hutan rakyat) dalam bentuk tanaman jalur atau sisipan.34 persen.ekonomi masyarakat.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. pembentukan regu kebersihan mangrove.) yang dikenal dengan nama melayu sendana dan dalam dunia perdagangan sandalwood memegang peranan yang sangat penting sebagai penghasil kayu kerajinan dan memiliki nilai ritual keagamaan yang cukup tiggi di Provinsi Bali. Prapat Benoa. 2006 Cendana (Santalum album L. sosial budaya. I Komang PARTISIPASI DAN KEINGINAN MASYARAKAT LOKAL DALAM MENANGANI PERMASALAHAN HUTAN MANGROVE DI PRAPAT-BENOA. Silvikultur intensif Surata. Untuk menciptakan kemandirian masyarakat maka dalam penanaman cendana pemerintah pusat/daerah dalam 5 tahun pertama perlu memberikan bantuan bibit dan penyuluhan teknologi penanaman kepada petani peserta penanaman dan selanjutnya di masa mendatang masyarakat diharapkan sudah mampu mandiri untuk melaksanakan program pengembangan budidaya cendana. Hutan rakyat. melengkapi sarana dan prasarana rekreasi/pariwisata dan sosialisasi program pengelolan mangrove yang dilakukan pemerintah.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Nilai ritual. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif survei dari masingmasing desa adat di sekitar mangrove secara purpositive sampling dan juga instansi yang mengelola mangrove. Masyarakat lokal. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . dan kepemilikannya dapat diserahkan ke masyarakat.

yang salah satu penyebaran alaminya terdapat di Pulau Timor. Pengelolaan Bersama. Obaem. Kata kunci: Ampupu. Nuafin. Masyarakat hanya ditempatkan sebagai obyek atau pelaksana yang hanya menerima instruksi teknis yang harus dilaksanakan di lapangan. mengelola. Namun demikian pendekatan kemitraan atau social forestry yang dilakukan masih juga mengalami banyak kegagalan. BLAKE) DI PULAU TIMOR. Hibrid Suryanto SOCIAL FORESTRY DI KHDTK SEBULU DAN SAMBOJA: SEBUAH MODEL PELIBATAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN BERSAMA PADA KAWASAN HUTAN TERDEGRADASI / Suryanto dan Sulistyo A. -. 2006 Ampupu (Eucalyptus urophylla S. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka menunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon dalam pembangunan hutan tanaman. dan illegal logging. Pada ketinggian 500-600 m dpl provenan Humau. arang.500 m dpl. yang pada akhirnya masyarakat menjadi kurang serius dalam pelaksanaannya. Naija Upat. Salah satu model social forestry yang saat ini sedang dan sudah dilakukan penelitian untuk menyempurnakan model social forestry sebelumnya adalah menggunakan dua pendekatan sekaligus yaitu kemitraan yang sejajar antara pemerintah dan masyarakat. Kata kunci: Social forestry. yang dikenal dengan pola social forestry. dan kedua dengan membuat komitmen bersama dalam menyusun rencana dan program sebagai keinginan dan kebutuhan bersama yang tentunya tidak terlepas pada prinsip pokoknya yaitu melestarikan hutan dan menyejahterakan masyarakat sekitar hutan. dan Lakaan pada ketinggian 500-2. Blake. Musim berbunga ampupu terjadi pada bulan Januari-Maret dan panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus. I Komang EKSPLORASI TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (EUCALYPTUS UROPHYLLA S. Kabupaten Timor Tengah Utara. Jenis ini mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting untuk kayu industri antara lain untuk kontruksi. Obaem.T. KHDTK Sebulu. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu di Pulau Timor. PROVINSI NUSA TEMGGARA TIMUR / I Komang Surata. akan tetapi tidak semua lokasi yang dieksplorasi berbuah banyak dan seragam. Kabupaten Timor Tengah Selatan. Siran. kebakaran. yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Hutan terdegradasi 63 . Nenas. Haflustalf. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. Susbian. 2006 Pada era demokrasi saat ini. dan Kabupaten Belu yang berada di Pegunungan Mutis. 2006 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. menjaga. urophylla dan E. sebaran alami.Surata. lakaan. Partisipasi masyarakat. Tune. jenis tanah Ustropept. Humau. Pertumbuhan penotipe. Sebaran alami. kayu bakar. Urutan pertumbuhan penotipe terbaik-terendah: Nenbena. Masyarakat harus diajak bersama secara aktif. Wedomo masih bercampur dengan E. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan yaitu merubah pendekatan task-force menjadi get the force melaui kemitraan atau partisipasi aktif masyarakat. alba. Pada umumnya ketidakberhasilan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dalam program social forestry karena program tersebut bersifat topdown. Tutem. Naususu.T.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 87-99 . Fatuneno. Wedomo. Selain itu keberlangsungan dan keberlanjutan program social forestry yang diikutinya banyak yang tidak jelas. Fatumnasi.T. tipe iklim D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Timau. Mollo.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. -. Lelobatan. Hasil penelitian penunjukan bahwa penyebaran alami ampupu di Pulau Timor Barat terdapat di Kabupaten Kupang. Aesrael. pendekatan task-force untuk mengamankan hutan terhadap intervensi masyarakat (perambahan) untuk memenuhi hajat hidupnya banyak mengalami kegagalan. Leloboko. Dystropepts menurut Soil Taxonomi. Oepopo. KHDTK Samboja. dan memanfaatkan hutan. Eucalyptus urophylla S. Halaman 21-31 . Blake) adalah salah satu jenis dari 4 jenis Eucalyptus yang ada di Indonesia. Bonmuti. dan pulp. Hampir semua lokasi ampupu terancam kerusakan akibat perluasan untuk perladangan. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E.

Suryanto PENELITIAN PENDAHULUAN: HIRARKI PERMASALAHAN DALAM KEBIJAKAN OTONOMI BIDANG KEHUTANAN. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 247-269 , 2006 Secara komprehensif, terdapat 3 tahapan kegiatan penelitian yang meliputi identifikasi masalah, analisis prioritas dan perumusan multipihak. Penelitian pendahuluan ini terdapat pada tahap identifikasi masalah dengan tujuan mengidentifikasikan semua permasalahan berkenaan dengan kebijakan otonomi bidang kehutanan. Sasaran penelitian pendahuluan ini adalah menganalisa dan mengelompokkan semua permasalahan-permasalahan tersebut kedalam kerangka masalah yang sederhana, mewakili dan tepat dalam sebuah hirarki. Luaran adalah hirarki permasalahan dalam kebijakan otonomi bidang kehutanan. Luaran dari hasil penelitian ini akan digunakan sebagai bahan untuk analisis prioritas dan perumusan multistakeholders. Metode pokok penelitian yang digunakan adalah AHP atau Analytical Hierarchy Process (Proses Analisis Hirarki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua fokus permasalahan kebijakan, yaitu kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan pemerintah daerah. Permasalahan yang diidentifikasikan dalam fokus kebijakan pemerintah pusat terbentuk dalam 4 hirarki, yaitu fokus, pengaruh, faktor dan bentuk. Pilihan masalah yang perlu pemecahan prioritas dalam hirarki pengaruh terdiri dari 5 pilihan, meliputi kemauan, SDM pembuat kebijakan, latar belakang, SDM penerima kebijakan dan infrastruktur. Dan akhirnya, hirarki bentuk terdiri dari 2 pilihan meliputi kebijakan pusat berkaitan dengan kebijakan makro yang diaplikasikan dalam bentuk kebijakan makro dan mikro oleh pemerintah daerah dan kebijakan pemerintah pusat sudah meliputi kebijakan makro mikro yang diapkilasi oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana. Permasalahan yang terindentifikasi dalam fokus kebijakan pemerintah daerah terbentuk dalam 4 hirarki pengaruh terdiri dari 4 pilihan meliputi peluang kewenangan, sumber hukum, tuntutan dan dikotomi. Dalam hirarki bentuk terdiri dari 3 pilihan meliputi penjabaran, inisiatif sendiri dan kombinasi antar penjabaran dan inisiatif. Dan akhirnya hirarki aktor terdiri dari 3 pilihan kewenangan utuh pemerintah daerah, kewenangan pemerintah daerah di bawah koordinasi koordinator pemerintah propinsi dan kewenangan pemerintah daerah (kabupaten dan propinsi) dibawah koordinasi langsung pemerintah pusat.

Kata kunci: Kebijakan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, permasalahan, AHP, hirarki. Susanty, Farida Herry ANALISIS MODEL PENDUGAAN VOLUME JENIS Acacia mangium, Gmelina arborea DAN Switenia mahagoni DI HUTAN TANAMAN / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama HasilHasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 197-208 , 2006 Plantation inventory for estimation potency of stand needed for quantitative tools as volume prediction models or tree volume table with good validity. Aim of this research to arrange volume prediction models or tree volume table for plantation species in Timber Estate in Kalimantan to increase accuracy of mass or volume stand estimation. Measurement of sample trees using stereoscopis technique for standing tree of Acacia mangium, Gmelina arborea and Swietenia mahagoni of plantation area in Riam Kiwa, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Result of height curve indicated that Acacia mangium there was nonsignificant coorelation between diameter and heigh variable, while Gmelina arborea and Swietenia mahagoni there was significant coorelation (R2>70 persen), thus analysis of volume prediction models could be continued by using two and one variable (tariff). Volume prediction models from this research and some reference show that generally were set up in exponential and logaritmic pattern. Validation of chosen regression equation model base on agregative deviation and mean deviation shows that the equation could be using for tree volume table assesment. Kata kunci: Pendugaan volume, Tinggi, Model, Diameter, Acacia mangium, Gmelina arborea, Switenia mahagoni, Hutan tanaman

64

Susanty, Farida Herry TIPOLOGI EKOLOGI DAN ANALISIS POTENSI TEGAKAN PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 303-316 , 2006 Evaluation of degree of standing stock production potency and ecological effect resulting by harvesting technique which applied in Forest Management Unit (FMU), being one of many important aspect in fulfilling prerequisite Criterion and Indicator for Sustainable Forest Management. This research was aimed to describe the structure and potency of stand in old logged over forest thus examined to SK Menhut No. 8171/Kpts-II/2002 which suitable for forest biophysic condition in East Kalimantan. Data collecting done in PT. Hutan Sanggam Labanan Lestari (PT. HLL) and PT. Gunung Gajah Abadi (PT. GGA) that having different age were 19 and 20 years after logging (LOA 19 and LOA 20), covering:species, diameter, height and tree position in plot.Difference of FMU characteristic base on evaluation of ecological typologi resulting that PT.HLL was sensitive biology-sensitive physic, while PT. GGA was safety biology-sensitive physic. Base on varians analysis there in class diameter. Dominance of species composition for both area were by Dipterocarpaceae. Standing stock by total number of trees on LOA 19 and LOA 20 having higher than criterian having lower potency in class diameter 10-19 cm and 50 cm up. Kata kunci: Struktur, Potensi, Tegakan, Hutan bekas tebangan Susila, I Wayan Widhana UJI COBA JENIS-JENIS INTRODUKSI PADA LAHAN KRITIS DI DALAM KAWASAN HUTAN BATUR DAN BEDEGUL / I Wayan Widhana Susila, Gerson ND Njurumana Felipus Banani. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 33-40 , 2006 Lahan kritis diartikan sebagai lahan yang tanahnya secara potensial tidak mampu berperan dalam salah satu atau beberapa fungsi seperti: 1) unsur produksi, 2) media pengaturan tata air (fungsi hidrologi), dan 3) media

perlindungan alam lingkungan (fungsi orologi) atau lahan yang telah mengalami kerusakan, sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas yang ditentukan atau diharapkan. Luas lahan kritis Provinsi Bali adalah 307.035 ha, terdiri dari 127.706 ha tersebar di dalam kawasan hutan dan 179.329 ha tersebar di luar kawasan hutan. Jenis-jenis yang diujicobakan pada lahan kritis di Kawasan Batur dan Bedugul adalah ampupu(Eucalyptus urophylla), pulai (Alstonia scholaris), cendana (Santalum album), Acacia mangium, majegau (Dysoksilum sp.), gmelina (Gmelina arborea), mahoni (Sweitenia macrophylla), kayu putih (Meulaleuca leucadendron), gaharu (Aquilaria malaccensis), duabanga (Duabanga maluccana), mindi/jeminis (Melia azedarah), dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Jenis-jenis tersebut diujicoba melalui uji jenis dan uji produksi (ampupu, kayu putih, kamadulensis, dan duabanga). Hasil evaluasi tanaman umur enam bulan di lapangan dapat diinformasikan sebagai berikut: 1) Sengon buto merupakan jenis introduksi yang cocok pada kondisi lahan kritis di kawasan Batur yang ditunjukan oleh perkembangan pertumbuhan dan persen tumbuh yang tinggi, yaitu riap diameter 1,37 cm, riap tinggi 61,53 cm, persen tumbuh 96,15 persen, dan sampai umur 10 bulan di lapangan persen tumbuhnya 90,16 persen; 2) Jenis kayu putih dan ampupu merupakan jenis yang cukup sesuai untuk dikembangkan di kawasan kritis Batur dan Bedugul; dan 3) Pemberian kompos di Bedugul dan campuran tanah + kompos di Batur pada media tanam belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan persen tumbuh tanaman. Kata kunci: Lahan kritis, Ujicoba jenis, Ujicoba jenis, Kesesuaian tempat tumbuh, Uji produksi Suwandi PERLAKUAN MIKORIZA DAN NPKN PADA PERTUMBUHAN STUMP JATI (Tectona grandis L.f.) (Treatment of Mycorrhizae And NPK on the Growth of Tectona grandis L.f. Stump) / Suwandi; Surtinah; Kamindar Rubby. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 139 - 145 , 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian mikoriza dan NPK terhadap pertumbuhan stump jati (Tectona grandis L.f.). Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalam pola faktorial, yaitu faktor (M1), 3 mikoriza dengan perlakuan 0 g/tanaman (M0), 1,5 g/tanaman g/tanaman (M2), dan 4,5 g/tanaman (M3); kemudian faktor NPK (N) dengan perlakuan 0 g/tanaman (N0), 1 g/tanaman (N1), 2 g/tanaman (N2), 3 g/tanaman

65

(N3), dan 4 g/tanaman (N4), dengan dua ulangan, setiap ulangan terdiri dari empat tanaman. Jumlah 160 tanaman. Parameter yang diukur tinggi tunas, diameter, jumlah daun, lebar daun, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan stump jati. Pemberian NPK berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tunas, diameter, lebar daun, dan panjang akar; sedangkan interaksi mikoriza dan NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, diameter, dan panjang akar. Kata kunci : NPK , mikoriza, Tectona grandis L.f. Takandjandji, Mariana PENANGKARAN RUSA TIMOR OLEH MASYARAKAT / Mariana Takandjandji, Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 55-76 , 2006 Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 2 sub spesies rusa timor yang potensial untuk ditangkarkan. Potensi ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pemanfaatan rusa di alam. Namun masyarakat belum memanfaatkan secara optimal dan bijaksana. Oleh karena itu aset yang cukup besar potensinya ini perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai suatu usaha sekaligus konservasi. Sampai saat ini sudah ada 3 KK yang telah berhasil menangkarkan rusa, hal ini ditandai dengan rusa yang mereka pelihara telah beranak. Usaha penangkaran rusa cukup menjanjikan sehingga layak untuk dilaksanakan.Kegiatan penangkaran rusa cukup menguntungkan walaupun pada awalnya memerlukan biaya dan investasi yang lebih besar. Usaha ini memerlukan luas lahan yang lebih kecil, akan tetapi dapat memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari ternak-ternak yang sudah dikenal. Kata kunci: Penangkaran, Rusa timor, Aset, Potensi

Takandjandji, Mariana KAJIAN TEKNIK PENANGKARAN PENYU DI BALI / Mariana Takandjandji dan Edy Sutrisno. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 111-120 , 2006 Penyu merupakan reptil laut yang menarik karena mampu beradaptasi dengan baik untuk hidup di perairan laut. Di samping itu, penyu bersifat amphibious, di mana dapat menempuh hidup pada dua habitat yang berbeda. Biasanya penyu hidup di perairan laut dangkal kecuali lahir dan bertelur. Untuk mengkaji teknik penangkaran penyu di Bali, perlu diketahui potensi, penyebaran, bio-ekologi penyu dan statusnya serta kebijakan pemerintah terhadap upaya yang telah dilakukan. Namun permasalahan yang muncul dalam kajian tersebut adalah adanya penangkapan penyu yang dilakukan secara besar-besaran sehingga populasi menurun, baik kualitas maupun kuantitas. Pembinaan yang telah dilakukan antara lain melalui upaya perlindungan penyu dari kepunahan. Upaya tersebut ditempuh dengan cara melindungi panyu dari gangguan manusia dengan cara membuat peraturan yang melindungi penyu, dan upaya penambahan populasi penyu melalui penangkaran/budidaya. Kata kunci: Penangkaran, Penyu, Reptil, Amphibious, Bio-ekologi Tira, La Ode Asir KARAKTERISTIK LAHAN BEKAS TAMBANG BATU KAPUR DI KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN (Land Characteristic of Abandoned Lime Stone Mined in Pangkep Regency, South Sulawesi Province) / La Ode Asir Tira dan Eka Multikaningsih. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 219-228 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lahan bekas penambangan batu kapur di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa areal bekas penambangan berupa hamparan terbuka dan bergelombang dengan kemiringan 0-8 %. Penutupan vegetasi sangat sedikit, kurang dari 10 % dengan jenis vegetasi dominan adalah kersen (Muntingia colabura Linn.), akasia (Acacia auriculiformis A.Cunn), krinyu (Eupatorium pallescens DC), rumput jarum (Andropogon aciculatus

66

lembaga swasta. Lembaga adat yang terkait dengan pengelolaan hutan di Bali adalah: lembaga adat (subak. K-tersedia 3 ppm. 2006 Daerah Bali dengan budidaya yang bercorak Hindu dikenal memiliki diversifikasi budaya yang tinggi dengan segala keunikannya.Retz. nama jenis Wardi. berdasarkan sifat vegetatif masih terbatas jenis yang mudah dipelajari dan dipraktekkan melalui sifat morfologi daun dan alat vegetatif lainnya. Oleh karena itu diperlukan sarana pengenalan 67 . Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. Curah hujan rata-rata tahunan 3. dan tepat.3 .Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. dan kedalaman tanah (<10 cm). sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. nilai teknologi aturan dan norma hukum adat (awig-awig). Berbagai bentuk nilai budaya yang diwarisi dan kemudian menjadi landasan etika lingkungan masyarakat Bali untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah: kalpataru. Marfu'ah IDENTIFIKASI JENIS MERANTI SUMATERA MELALUI SIFAT MORFOLOGI DAUN (Identification of Meranti Sumatera by Using its Leaves Morphology) / Marfu'ah Wardani. cerita mitos. tumpek uduh. Sedangkan kendala pengelolaan sumberdaya hutan di Bali adalah: kemiskinan. Halaman 281 . Penelitian dilakukan dengan menggunakan spesimen herbarium jenis meranti yang tersimpan di herbarium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor. 2006 Pengetahuan pengenalan jenis meranti seperti Shorea acuminata Dyer. Kemampuan lahan digolongkan ke dalam kelas VIII dengan faktor pembatas utama untuk penggunaan adalah prosentase batuan permukaan (60-80 %). nilai filosofi figur banaspati dan bhoma.III. Rawa gambut Wardani. P-tersedia 85 ppm.lembaga formal. desa adat/pakraman). S. konflik kepentingan. karakter morfologi. wanakerti. pada pengalaman lapangan. Daun adalah bagian utama dari pohon meranti yang selalu tersedia. atrinervosa Sym. sehingga dalam mengidentifikasi tidak memerlukan pengamatan sifat morfologi bunga dan buah. assamica Dyer. sehingga dengan melalui pengetahuan sifat morfologi daun diharapkan dapat membantu mengenal jenis meranti dengan mudah. -. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. rumput teki (Cyperus sp.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.296 .3.66 me/100 g.).25 me/100 g. Kata kunci : Meranti. lemahnya koordinasi lintas sektoral. analog hutan dengan brahman. 2006 Sebagian besar lahan rawa gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan.05 %. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. Kata kunci: Mikoriza. Tujuan penelitian untuk menguji keefisienan teknik identifikasi berdasarkan sifat morfologi daun dari 51 jenis meranti (Shorea spp. dan kation Na 0. Halaman 151-155 . S.09 me/100 g. Hutan tanaman.). dan nilai budaya tri mandala. faktor batuan singkapan (60-80 %). N-total 0. -. KTK 8. No.06 me/100 g. I Nyoman POTENSI KELEMBAGAAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA LOKAL UNTUK MENDUKUNG PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI DAERAH BALI / I Nyoman Wardi. lahan bekas tambang batu kapur Ulfa.) berasal dari Sumatera. cepat. Kata kunci : Karakteristik. Kearifan ekologi tercermin dalam berbagai bentuk sistem kepercayaan (religi). pencurian kayu.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . C-organik 0. kation Ca 90. kebakaran hutan. Halaman 1-18 . kearifan dalam bentuk hukum adat ( awig-awig). Salah satunya berupa kearifan lokal ekologi (lingkungan) yang merupakan bagian dari kearifan budaya.) dan alang-alang (Imperata cylindrica Beauv. Karakteristik kimia tanahnya adalah sebagai berikut pH (H2O) 8. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .28 %. kation Mg 0.186 mm. daun. Pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang sinergi dengan kearifan lokal adalah social forestry. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. hasil penelitian menunjukan bahwa hukum adat hampir tidak ada dan tidak dijalankan lagi pada Masyarakat Perkuwin. Catur Budi KONDISI HUTAN RAKYAT DI SEKITAR KHDTK SAMBOJA DAN SEBULU TAHUN 2005 DALAM KONSTEKS SOSIAL FORESTRY / Catur Budi Wiati. Dengan cara yang sama. 2006 Pengembangan model hutan rakyat merupakan salah satu dari kebijakan pengembangan social forestry yang ditetapkan Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Dirjen RLPS). Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber Sari. Kabupaten Kutai Kertanegara.Kata kunci: Kelembagaan. sedangkan di Desa Sumber Sari dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman palawija. Kata kunci: Hutan rakyat. Kecamatan Long Kali. Berkaitan dengan hal tersebut. dua desa yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Kampung Mului. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. Berdasarkan kedekatan dengan hutan lindung. Sebaliknya maraknya penebangan liar yang terjadi di Desa Perkuwin semakin memperkuat bukti bahwa hukum adat dapat berperan dalam pencegahan illegal logging. Ekologi Wiati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun baru dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2004 sampai 2005. -. Partisipasi masyarakat. di Kabupaten Pasir. Kecamatan Muara Komam dan Desa Perkuwin. Halaman 173-190 . Terkait dengan permasalahan tersebut kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan hukum adat dan peranannya dalam pencegahan illegal logging dirasakan sangat perlu untuk dilakukan. Nilai sosial budaya lokal. Pemasaran hasil kegiatan pembangunan plot hutan rakyat di Desa Semoi Dua belum memberikan hasil dibanding dengan Desa Sumber Sari. Di Desa Semoi Dua plot pembangunan hutan rakyat dilakukan secara monokultur. Model social forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Selain itu berdasarkan tidak adanya sama sekali kegiatan penebangan liar (illeagl logging) di wilayah adat Masyarakat Mului dan cara mereka dalam menghadapi aksi tersebut mengindikasikan bahwa hukum adat terbukti dapat menjadi salah satu instrument untuk mencegah illegal logging. Illegal logging. Untuk kegiatan plot hutan rakyat bekerjasama dengan Kelompok Tani sebagai mitra dari Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Untuk itu biasanya masyarakat tradisional yang masih menerapkan hukum adat memasukkan aturan-aturan pemanfaatan hutan dalam hukum-hukum adat. saat ini Balai Litbang Kehutanan telah membangun plot model hutan rakyat masing-masing seluas 3 hektar dan 3.6 hektar di Desa Semoi Dua.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Kearifan lokal. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu ditinjau dari status kawasan merupakan lahan yang tidak memiliki bukti kepemilikan tanah. Meski pengakuan keberadaan hukum adat masih menemui sejumlah kendala dalam implementasinya di lapangan. Gunung Lumut Wiati. Catur Budi IDENTIFIKASI KEBERADAAN HUKUM ADAT DAN PERANANNYA DALAM PENCEGAHAN ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG GUNUNG LUMUT / Catur Budi Wiati. Penelitian dilakukan di Desa Semoi Dua. Propinsi Kalimantan Timur. Sosial forestry 68 . Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan cara pengaturan masalah pengusahaan dan pemanfaatan tanah dan hutan serta penghormatan mereka terhadap roh-roh penunggu melalui upacara-upacara adat yang masih dijalankan membuktikan bahwa hukum-hukum adat masih ada dan diterapkan oleh Masyarakat Mului. 2006 Ketergantungan masyarakat tradisional terhadap keberadaan hutan untuk mendukung kehidupan menyebabkan mereka harus menjaga dan mengatur pemanfaatannya agar tetap lestari. keberadaan hukum adat dan adanya kegiatan illegal logging. KHDTK Samboja. Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber sari. Karmilasanti dan Supartini. Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kertanegara dengan tujuan untuk mengetahui kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu tahun 2005 dalam konteks social forestry. Halaman 287-302 . Hutan lindung. Kata kunci: Hukum adat. -. tetapi keberadaan hukum adat berpeluang untuk menjadi salah satu instrument dalam rangka pemberantasan illegal logging.

Kegiatan pengendalian lebih ditekankan kepada upaya pencegahan kebakaran. 2006 Dari hasil penelitian aspek jender dan tipologi masyarakat pada kegiatan rehabilitasi hutan menunjukkan bahwa.Info Hutan : Vol. Bengkulu. sistem kontrak Widiarti. Meskipun kegiatan ini mengalami banyak hambatan dalam pelaksanaannya. Selain itu. Raeuschel. tentang penyelengaraan hutan kemasyarakatan sebagai bentuk tindak lanjut dari kebijaksanaan tersebut.1 . Sulawesi Tenggara dan Maluku menerima bantuan dari Pemerintah Jepang melalui JBIC/OECF untuk melaksanakan pilot proyek pembangunan hutan kemasyarakatan. No. Ini menunjukkan perempuan juga mempunyai kekuatan dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan di dalam keluarga.5 juta ha. Ari PADANG ALANG-ALANG DI INDONESIA : KERAWANANNYA TERHADAP KEBAKARAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA (Imperata Grassland in Indonesia : Its Susceptibility to Fire and its Control Efforts) / Ari Wibowo.Wibowo. -. perguruan tinggi. Indartik. serta daerah prioritas untuk dilindungi. Kelompok petani yang 69 .Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 207-214 . yaitu pelaksana pekerjaan diserahkan kepada pihak swasta (konsultan dan kontraktor). pada tahun anggaran 1998/1999.III. Perempuan memiliki peran khusus dalam kegiatan rehabilitasi. Imperata cylindrica L. Asmanah PEMBAGIAN PERAN JENDER DAN DAMPAK KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DI SUKABUMI (Gender Roles Distribution and Impact of Forest Rehabilitation in Sukabumi) / Asmanah Widiarti. Kata kunci : Alang-alang. penyuluhan dan pelatihan.2 . karena itu perempuan kurang memperoleh kesempatan untuk menghadiri pertemuanpertemuan. sehingga perlu direhabilitasi agar menjadi kawasan hutan yang lebih produktif. baik laki-laki maupun perempuan terlibat dalam hampir semua kegiatan. Raeuschel) di Indonesia mencapai 8. Terjadi hubungan erat yang saling terkait antara masalah kebakaran dan timbulnya alang-alang. tidak terkecuali pekerjaan itu sifatnya berat atau ringan. pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan pengelolaan hutan yang berorientasi pada kelestarian hutan dan peningkatan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan yang dituangkan dalam SK Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001. akan tetapi kegagalan reboisasi umumnya disebabkan oleh kebakaran yang sering terjadi pada kawasan yang didominasi oleh alangalang. Dalam pengambilan keputusan.30 . Curahan waktu kerja perempuan dalam kegiatan rehabilitasi adalah sekitar 40 %.59 . perlakuan untuk meminimkan bahan bakar dan kegiatan pemadaman. Areal yang didominasi oleh jenis ini dianggap sebagai lahan kritis yang tidak produktif. Nusa Tenggara Timur. namun keputusan tersebut umumnya diambil setelah melalui proses diskusi antara suami dan istri. -. 2006 Luas padang alang-alang (Imperata cylindrica L. Nusa Tenggara Barat. Kata kunci: Hutan kemasyarakatan. No. Jambi. Halaman 1 .Info Hutan : Vol. pengendalian kebakaran Wibowo. terdapat perbedaan yang lebih nyata di antara berbagai golongan masyarakat daripada antara laki-laki dan perempuan. upaya rehabilitasi areal alang-alang telah dapat dikuasai. -. laki-laki memang mempunyai peran lebih besar dibandingkan perempuan. 2006 Dalam rangka mencegah makin memburuknya kondisi hutan dan masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan. kondisi iklim/musim kering yang terjadi. Pelaksanaan proyek pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan sistem kontrak telah memberikan pengalaman baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan meningkatkan fungsi hutan. Dalam rangka pengendalian kebakaran pada padang alang-alang. Dalam hal dampak kegiatan rehabilitasi hutan. Pelaksanaan proyek ini dilakukan dengan sistem kontrak. dan sampai saat ini masih dianggap sebagai jenis gulma yang mengganggu. Chiharu Hiyama. Persepsi laki-laki dan perempuan terhadap pembagian kerja pada kegiatan rehabilitasi dinilai sudah cukup fair. Riau. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). akan tetapi telah memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian hutan. Namun demikian perempuan memiliki kesempatan yang terbatas di masyarakat. kegiatan pengendalian kebakaran harus melibatkan masyarakat agar lebih efektif. Ari PEMBANGUNAN HUTAN KEMASYARAKATAN DENGAN SISTEM KONTRAK / Ari Wibowo.III. Secara teknis. Contohnya dalam kegiatan yang paling berat seperti pembersihan lahan ternyata dikerjakan oleh laki-laki dengan dibantu perempuan. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tengah. Halaman 49 . 10 provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat. diperlukan pengetahuan mengenai daerah-daerah yang beresiko tinggi untuk terbakar (daerah penyebab).

Halaman 101-110 . bahkan ada yang belum ditanami dengan pohon kayu-kayuan dan terjadi kesenjangan ekonomi di antara peserta PHBM.III. serta pembangunan sarana dan prasarana yang dalam pelaksanaannya menemui beberapa hambatan dan kekuatan. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . diperlukan mekanisme yang memungkinkan kelompok ini dapat berpartisipasi dalam kegiatan rehabilitasi. pariwisata. Biaya tahun pertama merupakan faktor pembatas kelompok masyarakat sangat miskin untuk berpartisipasi. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) bermanfaat bagi kaum miskin. dan memanfaatan secara lestari. Hal ini mengharuskan TNBB memperhatikan faktor lain di luar batas kawasannya. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan di bidang kehutanan tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga perempuan. Untuk itu pengembangan TNBB ke depannya diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat serta efisiensi pengelolaan menjamin keberlanjutan sumberdaya alam melalui pengelolaan bersama. Kegiatan PHBM memerlukan biaya cukup besar. manfaat. Keterbatasan utama kaum marjinal ikut berpartisipasi adalah keterbatasan sumber modal dan akses informasi. Dengan pengelolaan bersama ini diharapkan kawasan dapat menjadi lebih efisien dan efektif dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Distribusi informasi PHBM kurang merata menyebabkan kesempatan masyarakat menjadi peserta tidak sama sehingga terjadi ketidakadilan distribusi lahan garapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PHBM memiliki kontribusi kecil pada penghasilan keluarga pesertanya.Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Untuk menghindari dampak negatif pada kelompok marjinal. 2006 Berdasarkan Undang-Undang No. wawancara. ilmu pengetahuan. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. dan rekreasi. dan tanggungjawab atas suatu kawasan. pola 70 . Secara keseluruhan kegiatan pengelolaan ini sangatlah kompleks karena melibatkan banyak pihak dengan berbagai peran dan kepentingan yang berbeda. penunjang budidaya. Pengelolaan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sangat membutuhkan dukungan dan peran serta berbagai pihak guna mengoptimalkan kawasan sesuai dengan fungsinya. -. 51/1990 Taman nasional diartikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli.Info Hutan : Vol. Pengelolaan bersama ini mengacu pada suatu bentuk kerjasama. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. Lokasi penelitian di BKPH Pelabuhan Ratu KPH Sukabumi. Peserta menganggap PHBM bermanfaat dari segi sosial dan lingkungan. hak. yaitu pengamanan potensi kawasan.48 . Ganti rugi hak lahan garapan dilakukan oleh sekitar 20 % anggota kelompok tani hutan yang umumnya sangat miskin kepada penduduk desa yang lebih mampu. Kata kunci : Kegiatan rehabilitasi hutan. Eritrina KAJIAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Eritrina Windyarini. Widiarti. Asmanah APAKAH KEGIATAN REHABILITASI HUTAN BERSAMA MASYARAKAT MEMBERIKAN MANFAAT KEPADA KAUM MISKIN? : STUDI KASUS DI BKPH PELABUHAN RATU KPH SUKABUMI (Do Forest Rehabilitation Activities Benefit to the Rural Poor? / Asmanah Widiarti. Bagi kelompok rata-rata miskin biaya tersebut ditunjang oleh berbagai sumber penghasilan. yaitu perlindungan.1 . Agar PHBM bisa berkontribusi pada ekonomi rumah tangga peserta secara berkelanjutan. Proporsi bagi hasil kayu seharusnya mempertimbangkan beban peserta dalam upaya rehabilitasi. kaum miskin. pengawetan. koordinasi dan integrasi. No. kaum marjinal.tidak memiliki lahan dan tidak ikut program PHBM adalah kaum marjinal yang tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan rehabilitasi hutan dan cenderung mendapat dampak negatifnya. jender. dan observasi. Kegiatan yang berlangsung pada bulan Juli-September 2004 ini dimaksudkan untuk mengkaji pengelolaan kawasan TNBB.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Halaman 31 . Hal ini menyebabkan lahan terlantar. informasi. dampak rehabilitasi tanam perlu dikombinasikan dengan tanaman bernilai komersial dan berproduksi secara rutin. ganti rugi lahan garapan Windyarini. Handoyo. -. Informasi PHBM harus didistribusikan secara merata kepada seluruh anggota masyarakat terlebih dahulu sebelum dimulainya program. di mana pihak yang berkepentingan setuju untuk saling berbagi peran dalam manajemen. TNBB memiliki enam kegiatan pokok pengelolaan. pendidikan. Chiharu Hiyama.

3 persen.). konservasi ex-situ. -.. Namun yang paling dominan adalah penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Curvularia sp dan serangan-serangan pemakan daun dari Famili Coccinelidae. Tindakan uji pengendalian awal injeksi pestisida (fungisida bahan aktif mankozeb dan insektisida bahan aktif monokrotofos) dengan dosis 5-10 ml/pohon belum memberikan pengaruh yang berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol.Kata kunci: Pengelolaan. secara keseluruhan individu dalam plot mengalami peningkatan kesehatan. Rehabilitasi lahan alang-alang dataran tinggi seperti di daerah Tapanuli (Tanah Karo) disarankan menggunakan jenis Styrax benzoin Dryand. Kata kunci: Hama penyakit. serta menjadi bahan masukan bagi pengelolaan ke depannya. blangiran (Shorea balangeran Burck). Kata kunci: Konservasi in-situ.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Halaman 177-182 . Eucalyptus urophylla. Bugris BEBERAPA JENIS POHON TAHAN API DAN PENANGKAL ALANG-ALANG (Some resistant Tree Species Suppressing the “Alang-alang”) / Bugris Yafid. NTT Yafid. Pengendalian. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kerusakan yang terjadi pada tegakan alam Ampupu di Kabupaten Belu serta usaha pengendalian awalnya. jenis pohon hutan. Penanaman dalam skala luas hendaknya dilaksanakan sehubungan dengan bahaya eksploitasi berlebihan jenis-jenis di dalam habitat aslinya. Toona spp. No. Hasil pengamatan dan identifikasi menunjukan kerusakan yang penyebab bersifat kompleks.Info Hutan : Vol. Jenis-jenis pohon hutan yang dapat ditanam dan direkomendasikan untuk penghutanan kembali atau untuk penanaman antara lain adalah Fagraea fragrans Roxb (tembesu). Sumatera Utara. Halaman 61 - Konservasi sumber plasma nutfah sangat diperlukan untuk mengatasi cepatnya perubahan ekosistem yang disebabkan oleh pengrusakan hutan. dan di 71 . Bali Barat. 2006 . Hal ini dapat dicapai melalui konservasi in-situ maupun melalui penanaman (ex-situ). yang ditanam untuk keperluan resin damarnya dan Shorea platyclados V. Styrax benzoin Dryand (kemenyan).III. Penelitian meliputi identifikasi jenis dan penyebab kerusakan. 2006 Jenis pohon tahan api dan dapat tumbuh di padang alang-alang antara lain adalah tembesu (Fagraea fragrans Roxb. Intensitas serangan pada plot pengamatan mencapai 83. Eritrina IDENTIFIKASI DAN PENGENDALIAN AWAL HAMA PENYAKIT PADA AMPUPU (Eucalyptus urophylla) di NTT. -. dan geronggang (Cratoxylum spp. Ampupu. Kajian pengelolaan Windyarini.3 . Halaman 181-185. serta uji pengendalian awal pada Ampupu. sub famili Epilachninae. Meski demikian. Informasi mengenai jenis hama dan penyakit di atas diharapkan mampu menjadi dasar bagi tindak lanjut upaya pengendalian yang lebih spesifik. -. Bugris PENANAMAN JENIS POHON HUTAN DI SUMATERA DAN KAITANNYA DENGAN PELESTARIAN PLASMA NUTFAH (Forest Tree Plantations in 66 . hutan tanaman Yafid. dan Hopea dryobalanoides Miq. Penanaman jenis pohon hutan di Sumatera yang telah sejak lama dilaksanakan dan berhasil dengan baik antara lain adalan rasamala (Altingia excelsa Noronha) dan antuang (Manglietia glauca Blume) di Merek dan Tongkoh (Kabanjahe). (surian). Tanaman Ampupu yang sudah mati seluas lebih kurang 16 ha dan lebih kurang 15 ha sisanya sedang diserang/menunjukan gejala kematian. tanaman meranti di Purbatongah (Purba/Simalungun).Sl (banio) jenis dipterokarpa yang berhasil ditanam di daerah tinggi di Simalungun. Cratoxylon (geronggang) dan Toona spp. et V. No. Jenis-jenis dipterocarpa yang berhasil ditanam sejak dulu dalam skala kecil adalah Shorea javanica K. pengukuran intensitas serangan.III.) kemenyan (Styrax benzoin Dryand).Info Hutan : Vol. 2006 Laporan Dinas Kehutanan Kabupaten Belu tanggal 17 Februari 2005 menyebutkan terjadinya kerusakan pada Kawasan Hutan Lakaan Mandeu (RTK 187) yang merupakan tegakan alam Eucalyptus urophylla (ampupu) dan Eucalyptus alba. 2006 Sumatera and Their Relation to the Conservation of Plant Genetic Resources) / Bugris Yafid.2 . dan tanaman surian di Sikabu-kabu (Payakumbuh).

alang-alang.. (tembesu) merupakan tanaman asli Sumatera Selatan.) adalah tanaman perdu yang telah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman pagar dan tanaman obat.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. No.81. dan sengon/jeunjing (Paraserianthes falcataria Bakh). (puspa) dengan Cassia multijuga L. Kata kunci: Jarak pagar.000 ha) dilakukan dengan mewawancara tokoh adat dan melakukan survey keberadaan jenis dengan melakukan peninjauan lapangan. Biodisel is Exploited By Hatam Tribe at Diklat (Traning and Education) Tuwanwouwi Forest.). Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . dan Schima wallichii Korth. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan minyak nabati yang berasal dari biji jarak pagar. Fagraea fragrans Roxb. Hasil yang baik adalah berupa tanaman campuran antara Fagraea fagrans Roxb. tumbuhan berkayu. -. Kata kunci: Pohon tahan api. 2006 dari kawasan hutan. MANOKWARI (Wood Plants Which : Vol. Irma JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKAYU BERMANFAAT BAGI SUKU HATAM DI HUTAN DIKLAT TUWANWOUWI. seringkali ditanam sepanjang pinggir jalan dan sebagai pohon peneduh. antara lain adalah puspa (Schima wallichii Korth. Selain untuk kebutuhan bangunan pemanfaatan jenis tumbuhan berkayu pada hutan diklat Tuwanwouwi sudah relatif berkurang. Halaman 191-195 . [et al] . Manokwari) / Irma Yeny . kayunya termasuk kelas awet I dan kelas kuat II-I dengan Berat Jenis 0.).Tanaman jarak pagar memungkinkan dikembangkan di Kalimantan Timur. Bahan bakar. tanaman Yeny. minyak bakar kompor dan bahan pewarna pada bahan katun dan benang. juga ditanam dalam rangka penghutanan kembali karena kayunya termasuk jenis bernilai ekonomi tinggi. Secara tradisional benzoin ditanam bersamasama dengan padi. khususnya pada daerah-daerah dengan curah hujan < 2000. Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi sumber energi utama dunia saat ini cadangannya terus berkurang dan diperkirakan tidak lama lagi akan habis. -. Fagraea fragrans Roxb. Jenis-jenis lain yang dapat tumbuh dan menekan alang-alang. konstruksi (25 jenis) dan obat-obatan (4 jenis). sarana seni budaya (8 jenis). Kata kunci : Identifikasi. bagian yang digunakan serta cara penggunaannya. Halaman 95 . Styrax benzoin Dryand baik ditumbuhkan di tempat tinggi dengan tanah berpasir. Pengumpulan data jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan masyarakat Suku Hatam dan berada pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi (6. Jenis ini termasuk pionir tahan api dan tumbuh di tempat terbuka. Jumlah jenis tertinggi terlihat pada bentuk pemanfaatan bahan bangunan (25 jenis atau 60. Rich.97 %) yang masih diperoleh 72 .Info Hutan Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis-jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam. (tembesu) dahulu ditanam di sepanjang jalan di daerah Sumatera Selatan.116 . Bogor telah berhasil mengolah biji jarak menjadi minyak jarak mentah (Crude Jatropha Oil) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor. Tembesu (Fagraea fagrans Roxb.C. Dari hasil wawancara dan survey keberadaan jenis diketahui pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi didata 41 jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam sebagai bahan pangan (6 jenis)..Pusat Penelitian dan Pengembangan hasil Hutan. 2006 Jarak pagar (Jatropha curcas L.) tumbuh jauh lebih baik apabila cabang-cabang sampingnya dibebaskan. Minyak yang dihasilkan dari biji tanaman tersebut telah pula digunakan masyarakat sebagai minyak lampu.2 . pada tahap awal perlu dilakukan penanaman uji coba pada lahan yang sesuai dengan tanaman tersebut. namun untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan kerusakan lingkungan. Di lain pihak harga BBM naik berlipat ganda.III. mahoni (Swietenia macrophylla King). Hal ini disebabkan kebutuhan tersebut dapat diperoleh dari kebun maupun pasar terdekat. perkakas (9 jenis). Keadaan ini menyadarkan pemerintah dan berbagai pihak untuk mencari bahan bakar alternatif yang lebih murah dan terbarukan. macam penggunaannya. kemudian minyak kurkas untuk mesin diesel berputaran rendah dan Biodisel.dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl dapat digunakan tembesu (Fagraea fragrans Roxb. sebagai cover crop. Tuwanwouwi Yuliansyah MENGENAL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) PENGHASIL BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG TERBARUKAN. Jatropha curcas L. alat berburu (5 jenis). pemanfaatan.

Rendaman panas dengan suhu 65 derajat C selama 1. yang hanya 14. Uang yang dapat dihemat pada 15 tahun pertama sebesar Rp.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 29-41 .Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 55-62 .12 No.Abdurrohim. Uap panas ini dihasilkan dari belanga presto yang dimodifikasi. Sasa SIFAT KEAWETAN KAYU DAN PENYEMPURNAANNYA / Sasa Abdurrohim.93 atau bahkan mungkin lebih. disalurkan melalui pipa ke permukaan cuplikan. Sel penuh Andianto RANCANG BANGUN ALAT UNTUK PREPARASI CUPLIKAN KAYU KERAS DALAM STUDI ANATOMI / Andianto .1 . Anatomi kayu 73 .35 juta m3/tahun atau setara 147. Penelitian bagan pengawetan secara rendaman panas dingin dan sel penuh perlu dilakukan. Tulisan ini mengetengahkan teknik pembuatan preparat sayat untuk cuplikan kayu yang keras. Kayu kelas awet I dan II.000 ha hutan alam yang dapat menekan illegal logging sebesar 20. sedangkan 85. penghematan. berupa serangga. dan binatang laut penggerek kayu. Rendaman panas dingin. -. Kata kunci: Mikroteknik botani.Info Hasil Hutan : Vol. kecepatan tumbuh dan di mana kayu tersebut digunakan.IV dan V.2 dan 3 jam. Teknik ini dapat menghasilkan sayatan bidang lintang dengan baik pada cuplikan kayu dengan berat jenis 0.3% tidak perlu disempurnakan melalui pengawetan. -. Setiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda terhadap OPK dan bergantung pada kandungan zat ekstraktif. 2006 Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap organisme perusak kayu (OPK). CCB.al. Ginuk Sumarni dan Jasni.II. Vakum awal dan akhir 65-70 cm Hg masing-masing 30 dan 15 menit. 2006 Bagan pengawetan setiap jenis bagi kelengkapan spesifikasi pengawetan kayu perumahan dan gedung masih belum lengkap.5%.] .900 orang. Berdasarkan umur pakai kayu perumahan dan gedung 5 tahun dan 15 tahun masing-masing pada kayu tidak awet yang tidak diawetkan dan diawetkan terlebih dahulu dapat dihitung kayu dan uang yang dapat dihemat serta kesempatan kerja yang dapat tersedia. 3. Kata kunci: Keawetan. Kesulitan sering dijumpai apabila cuplikan kayu yang akan disayat sangat lunak atau sebaliknya sangat keras. hasil sayatan mikrotom biasanya sobek atau bahkan hancur. Bagan pengawetan ketiga jenis kayu telah disusun. Bahan cuplikan dilunakkan dalam panci bertekanan selama beberapa jam dengan media campuran gliserin dan air 1:1.. Keawetan kayu Indonesia dibagi menjadi 5 kelas yatu kelas awet I. Lapangan kerja yang tersedia sekitar 24.[et.. Hasil penelitian menunjukan bahwa dua jenis kayu dan ketiga jenis dapat diawetkan masing-masing secara rendaman panas dingin dan sel penuh dengan bagan yang digunakan dalam penelitian ini. serta tekanan 10 atm selama 1. umur pohon.2 dan 3 jam diikuti rendaman dingin 1 hari. Setelah itu bahan dijepit dengan pemegang cuplikan pada mikrotom kemudian dilakukan pelunakkan kembali dengan uap panas selama kurang lebih 15 menit sebelum disayat. Tanpa perlakuan khusus. 2006 Pemahaman mikroteknik botani merupakan suatu dasar untuk penyediaan preparat guna pengamatan struktur mikro organ tumbuhan.9 trilyun/tahun. Kata kunci: Pengawetan. -.7% kayu tidak awet ditambah kayu gubal kelas awet I dan II sebelum digunakan harus diawetkan terlebih dahulu. Konsentrasi bahan pengawet tembaga-khrom-boron (CCB) pada kedua proses 5 dan 10 persen . Abdurrohim. jamur. bagian kayu dalam pohon. termasuk kayu. penyempurnaan melalui pengawetan. Tiga jenis kayu ukuran kaso (4x6 cm) sepanjang 30 cm sebanyak 180 contoh uji diawetkan secara rendaman panas dingin dan sel penuh.III. Sasa BAGAN PENGAWETAN TIGA JENIS KAYU DENGAN BAHAN PENGAWET CCB SECARA RENDAMAN PANAS DINGIN DI SEL PENUH / Sasa Abdurrohim. Halaman 15-23 . Kayu yang dapat dihemat sebesar 7.

Grobogan. -. kelayakan teknis dan finansial D. Penelitian dilakukan pada bambu tali {Gigantochloa apus Kurts) umut 3.Basri. dan tekstur dapat terjaga. Efrida UJI COBA MESIN PENGERING KAYU KOMBINASI TENAGA SURYA DAN PANAS DARI TUNGKU TIPE I (Trial on Wood-drying Machine Powered by the Combined Solar Energy and Type-1 Heating-Stove) / Efrida Basri & Achmad Supriadi.3 . -. Halaman 437 .24. 4 dan 5 tahun yang diambil dari bagian pangkal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu tali umur 4 tahun 40°C . tenaga surya.24. sementara suhu untuk pengeringan kayu jati berkisar antara 45°C . Oleh karena itu pengetahuan tentang sifat kembang susut dan KAK penting diketahui untuk menjaga mutu produk. 2006 Telah dilakukan uji coba teknis dan finansial terhadap mesin pengeringan kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku tipe SC+TI untuk kapasitas ± 19 m3 di salah satu industri/pengrajin kayu di Ngaringan. Keawetan kayu Darmawan. jamur biru sebagai organisme perusak dan cara pencegahannya. sehingga jenis-jenis kayu untuk mebeler dari kayu yang berwarna cerah. 2006 Proses kembang susut berlangsung selama kadar air bambu belum mencapai kadar air keseimbangan (KAK) dengan lingkungannya. 2006 Perubahan sumber asal bahan baku kayu perlu diikuti informasi sifat dasar kayu.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. umur. Efrida SIFAT KEMBANG SUSUT DAN KADAR AIR KESEIMBANGAN BAMBU TALI (Gigantochloa apus Kurtz) PADA BERBAGAI UMUR DAN TINGKAT KEKERINGAN (Shringkage-Swelling Properties and Equilibrium Moisture content of Bambu tali (Gigantochloa apus Kurtz) at Various age and Drying Level) / Efrida Basri. Saefudin. 6% dan 12%. sifat keawetan alami.448. tungku tipe I. yang didasari pengetahuan bioteknologi jamur biru. bambu Basri. -. Pengeringan menggunakan metode oven pada suhu 60o C. Perlakuan kadar air untuk pengujian sifat kembang susut dan KAK adalah 0%.5 . 2006 Pembuatan minyak kemiri dapat dilakukan dengan cara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat. KAK. Kata kunci: Jamur biru. Jawa Tengah. Halaman 241-250 . No. Halaman 413 . jati. MARTONO. tengah dan ujung batang.423. limbah kayu. Kebutuhan panas pengeringan di siang hari diperoleh dari tenaga surya dan di malam hari atau tergantung kebutuhan diperoleh dari tungku pembakaran dengan bahan bakar biomas/limbah kayu dari penggergajian sendiri. Organisme perusak. Pencegahan kerusakan dalam proteksi disesuaikan perubahan sistem pengangkutan dan pengolahan kayu. Konsumsi limbah kayu untuk bahan bakar tungku pada setiap periode pengeringan 8 m3. Kata kunci: Kembang-susut.). Perlakuan pemanasan pada biji kemiri dan daging kemiri sebelum proses pemecahan dan pengepresan serta penggunaan arang secara fisik sudah masak tebang dan dimensinya relatif stabil. Kata kunci: Mesin pengering. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan finansial dari pemanfaatan mesin pengering tersebut. gambar. Martono POLA SERANGAN DAN CARA PENCEGAHAN JAMUR BIRU / D.f. Pengeringan bambu tali sampai ke kadar air 6% menghasilkan KAK pada level sekitar 9%. Pencegahan kerusakan akibat pewarnaan kayu dapat dilakukan dengan pestisida yang telah diizinkan. Perlakuan proteksi serangan jamur biru dapat meningkatkan mutu kayu dan nilai tambah yang cukup nyata serta dapat mengeliminir limbah pengolahan kayu.24 No. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Uji coba dilakukan terhadap kayu jati (Tectona grandis L. Hasil uji coba menunjukan suhu ratarata harian dari panas surya yang diterima ruang pengering berkisar antara 74 . No.5 .70°C.50°C. Untuk mengeringkan sortimen kayu dengan kadar air 50% sampai mencapai kadar air 10% memerlukan waktu rata-rata 13 hari dan menghasilkan rendemen kayu kering sekitar 80%.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005 : Halaman 43-54 . Saptadi PEMBUATAN MINYAK KEMIRI DAN PEMURNIANNYA DENGAN ARANG AKTIF DAN BENTONIT (Extraction and Purification of Candlenut Oil with Activated Charcoal and Clay-bentonite) / Saptadi Darmawan. tingkat kekeringan.

25 m3/jam dengan rata-rata biaya berturutturut sebesar Rp39.5 menit) dan pengovenan pada suhu 60oC (1. biaya pengeluaran kayu dan berbagai aspek operasional sistem kabel layang tersebut. Untuk pengeluaran kayu pada areal yang mempunyai kelerengan 15% ke atas. Pembuatan minyak dilakukan dengan cara kempa hidraulik pada suhu 60oC. Alat penebangan yang digunakan adalah chainsaw (gergaji rantai) berukuran kecil merek Husqvarna dengan rata-rata produktivitas sebesar 2.14 m3/jam dan biaya sebesar Rp 15.aktif dan bentonit pada tahap pemurnian minyak kemiri akan mempengaruhi kualitas minyak. Halaman 77 . Minyak kemiri yang dihasilkan dari kondisi terbaik (penyangraian selama 1.519 m3 /jam. jumlah batang yang disarad per satu tahap operasi 75 .254/m3. Dibandingkan dengan upah pengeluaran kayu setempat. Sumatera Selatan telah dilakukan untuk mendapatkan informasi produktivitas dan biaya peralatan pemanenan hutan tanaman yang tepat guna dan ramah lingkungan. 2. Penelitian ini bertujuan untuk 1).Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. (rit) berkisar antara 1-3 batang dengan volume berkisar antara 0. mengetahui pengaruh pemanasan daging kemiri terhadap rendemen dan warna minyak yang dihasilkannya dan 2). mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan pemucat (arang aktif dan bentonit) terhadap sifat fisiko-kimia minyak kemiri. 2.. Pemuatan dan bongkar kayu digunakan alat merek Hitachi dan Volvo dengan rata-rata produk-tivitas masing-rnasing sebesar 70 m3/jam untuk muat dan 34 m3/jam untuk bongkar muatan.852/m3 dan Rp 79. Halaman 251-266 .527 . bilangan iod dan bilangan asam.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.3 .500 m3/rit dengan rata-rata 0. Produktivitas pengeluaran kayu berkisar antara 1. Pemanasan pada biji kemiri berupa penjemuran (3. 1. bongkar adalah Rp 12. disarankan untuk menggunakan sistem kabel layang P3HH24. penyangraian (7. Untuk Hitachi. sedangkan untuk Volvo kedua besaran tersebut berturut-turut adalah Rp 6.764/ m3. berat jenis. 4 dan 5 jam).334/m3. biaya Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PERALATAN PEMANENAN HUTAN TANAMAN: STUDI KASUS DI PT MUSI HUTAN PERSADA. South Sumatera) / Dulsalam. No. produktivitas.88 . P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of West Pekalongan Forest District) / Dulsalam.200/m3 dan Rp 12. 3.24 No. Kata kunci : Minyak kemiri. 3% dan 4% serta diuji sifat fisiko-kimianya.713/m3 .51 cm dengan rata-rata 36 cm. sedangkan -.5 dan 17. Pengoperasian kabel layang P3HH24 untuk mengeluarkan kayu di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat dapat berjalan lancar. 4.163m3/rit.1 . Djaban Tinambunan. -.25 m3/jam dan 21. pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 jauh lebih murah sehingga layak diusahakan. 2006 Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PENGELUARAN KAYU DARI HUTAN TANAMAN DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH 24 DI KPH PEKALONGAN BARAT (Productivity and Cost of Log Extraction Using Penelitian produktivitas dan biaya pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 telah dilakukan di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat pada tahun 2002.671/m3 .656 m3 /jam dengan rata-rata 2.5 jam) kemudian dimurnikan menggunakan arang aktif dan bentonit pada konsentrasi 2%. 3. Penyaradan dilakukan dengan menggunakan forwarder merek Timberjack G10 dan Timberjack 101 0B.5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. -. rata-rata biaya muat adalah Rp 6. sistem kabel layang P3HH24.155/m3 . SUMATERA SELATAN (Productivity and Cost of Harvesting Equipment in Forest Plantation: Case Study on PT Musi Hutan Persada. 5.5 dan 2 jam) dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi terbaik dalam pembuatan minyak kemiri dilihat dari rendemen dan warna minyaknya.24. Penggunaan arang aktif sebesar 2% menghasilkan sifat fisiko-kimia minyak kemiri yang optimum dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia untuk indeks bias. Diameter kayu yang dikeluarkan berkisar antara 20 . Kata kunci: Hutan tanaman. Hasilnya menunjukkan bahwa: 1. bentonit dan kualitas fisiko-kimia minyak kemiri. Tujuanya untuk mendapatkan informasi tentang produktivitas. arang aktif. pemurnian. Djaban Tinambunan.040-0.5. Rata-rata produktivitasnya berturut-turut adalah 18. sedangkan biaya rata-rata pengeluaran kayu adalah Rp 15. 12. 2006 Penelitian peralatan pemanenan di hutan tanaman PT Musi Hutan Persada.

Zakaria Basari. Kata kunci: Pemanenan. 6. serta akan memperbesar terjadinya erosi dan sedimentasi.Agar kelangsungan hutan produksi itu dapat terus berjalan dengan baik maka ada 5 aspek teknis penting yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan hutan produksi alam tersebut yaitu kegiatan perencanaan. 2006 Expo-2000 merupakan sebuah prototype alat yang dirancang dan dibangun untuk membantu dalam kegiatan pengeluaran kayu. wawasan lingkungan. Misal pada praktek pemanenan yang tidak terencana dan terawasi dengan baik.52%. kinerjanya menunjukkan produktivitas cukup baik sekitar 15 m . Halaman 339357 . 5. tergantung jarak. -.697/m3. nilai NPV didapat sebesar antara Rp 881 juta dengan IRR sebesar 22 . produktivitas Endom. Hasil uji coba memperlihatkan kini produktivitasnya lebih meningkat setelah dipakai kereta model KM Exp-I yang dilengkapi dengan pengunci. berarti mengelola keberadaan sumberdaya alam hutan alam produksi sebagai pemasoknya secara lestari sangat penting. kabel layang. Sekalipun kerusakan hutan memang tidak dapat dihindarkan.676/m3. Mengingat pentingnya penyelamatan industri pengolahan kayu yang telah menginvestasikan modalnya hingga ratusan milyar rupiah. Konsekuensinya berdampak pada meningkatnya lapisan tanah hutan yang terganggu dan terjadinya pengurangan tanaman tingkat pancang (diameter pohon 5-20 cm) sebesar 2. Pembuatan aksesoris itu meliputi wahana angkutan lokal. tiang penyangga dan kereta pengangkut kayu kabel layang model KM Exp-I. tempat workshop dan gudang. ukuran kayu.base camp.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.4. dan Yuniawati. penyaradan. Wesman PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN ALAM/ Wesman Endom.5 kali lipatnya. kondisi permukaan lapangan dan kerapatan tegakan. rata-rata produktivitasnya sebesar 15 m3/jam dengan ratarata biaya sebesar Rp 37. Pengangkutan kayu dengan truk tunggal rata-rata produktivitasnya sebesar 5 m3/jam dengan rata-rata biaya sebesar Rp 44. Penyaradan kayu dengan forwarder Timberjack G10 dan Timberjack 101 OB menimbulkan pemadatan dan pergeseran tanah relatif kecil sedangkan pemuatan dengan alat pemuat Hitachi dan Volvo menimbulkan pergeseran tanah cukup besar.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 85-96 . Wesman KAJIAN OPERASI PENGELUARAN KAYU SISTEM KABEL LAYANG EXPO2000 DENGAN PENGGUNAAN ALAT PENDUKUNG (Study of Applying Expo-2000 Skyline with Auxiliaries for Extracting Logs) / Wesman Endom. pembalakan ramah lingkungan sangat penting untuk dipakai sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pengusahaan hutan tersebut. Dari analisis biaya dengan suku bunga bank 18% per tahun dan dengan proyeksi biaya 6 tahun. ketiga hal itu menjadi unsur penting bagi kesinambungan pengelolaan hutan alam tersebut.km/jam. hutan tanaman 76 . Kata kunci: Pemanenan. Perhitungan ini diperoleh dengan menggunakan dasar biaya upah setempat sebesar Rp 35 ribu/m . penyiapan tempat pengumpulan kayu bundar (logyard). hasil kajian biaya operasi pengeluaran kayu adalah Rp60. sedangkan truk semi gandengan. jembatan. penebangan. diantaranya yang memang diperlukan keberadaannya antara lain untuk pembuatan prasarana jalan. Padahal. Kata kunci: Kereta kayu Expo-2000. produktivitas.24 No. -. peralatan tepat guna. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan bulan Oktober tahun 2005. faktanya antara lain diperlihatkan oleh kerapatan panjang jalan sarad hampir 3 kali lipat lebih besar dibanding cara pemanenan ramah lingkungan. Tetapi pelaksanaan pemanenan itu sendiri cenderung boros terhadap kekayaan sumberdaya alam. Kombinasi peralatan perlu perbaikan dan produksi kayu yang minimal pada periode tertentu perlu ditentukan agar arus kayu lancar serta pekerja dan peralatan tidak banyak waktu tunggu. Pada tahun 2005 dilakukan kegiatan perbaikan pada alat Expo-2000 itu sendiri dan dibuat aksesoris pendukung lainnya dengan tujuan lebih mudah dalam pergerakannya dilapangan dan lebih tinggi hasil kinerjanya. hutan tanaman. pembukaan wilayah atau pembuatan jalam.4 . pemanenan. biaya Endom. 2006 Untuk mencapai pemanfaatan hutan produksi alam lestari.175/jam atau Rp 620/m . Penebangan pohon dan pengangkutan kayu tidak menimbulkan gangguan lingkungan yang berarti. alat bantu. Dengan investasi sebesar Rp 100 juta (berikut kabel dan perlengkapan lainnya).

Kayu jati yang diteliti tergolong kelas kuat III-IV. Bahan utama disadur dari Handbook for Guiding Skidding and Road Building in British Columbia yang diterbitkan oleh Forest Research Institute Canada (FERIC) tahun 1991 yang sedikit diperluas.135 per m3.) jenis lokal dan super dari daerah Binjai.24 No. Ginuk Sumarni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat jenis (BJ) kayu jati super lebih tinggi daripada kayu jati lokal. jati super dari Kutai.175 per jam. diikuti berturut-turut kayu jati super dari Lampung. Perbedaan BJ tersebut berpengaruh nyata pada kekakuan dan keteguhan tekan sejajar serat.2 . No. kerusakan tanah minimal Hajib.Endom Wesman KAJIAN PENGELUARAN DAN PEMUATAN KAYU DENGAN ALAT EXPO2000 YANG DISEMPURNAKAN (Study on Logs Extraction and Loading Using Improved Expo-2000) / Wesman Endom [et. alat Expo-2000 Endom. efisien. Wesman STRATEGI MENGURANGI KERUSAKAN TANAH DALAM PEMBALAKAN / Wesman Endom. Jenis jati lokal dan super berpengaruh nyata terhadap berat jenis basah kayu tersebut. Diharapkan pengetahuan ini dapat memperbaiki pengelolaan hutan yang berwawasan lingkungan. jati lokal dari Lampung. Parung. Sesuai dengan harapan itu dilakukan kegiatan penelitian uji coba pengumpulan kayu dan muat bongkar dengan menggunakan hasil rekayasa alat Expo-2000 di daerah hutan Resort Polisi Hutan (RPH) Ciguha. -. jati lokal dari Sulawesi dan yang terendah jati super dari Sulawesi. diperlukan terobosan berupa penyediaan alat ekstraksi kayu yang tidak mahal. klasifikasi tingkat dampak. Kata kunci: Strategi.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Mohammad Muslich.hm/jam dan untuk muat/bongkar 50m3/jam.4 .305 dan Rp 1. Jawa Barat. sehingga biaya pengumpulan dan pemuatan kayu secara berurutan masing-masing adalah Rp 12. 2006 Dalam upaya mengatasi kesulitan mengumpulkan kayu-kayu hasil tebangan di daerah curam dengan cara manual. Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi. Produktivitas yang dicapai dengan dilakukannya penyempurnaan berupa penambahan endless drum diperoleh hasil sebesar 5 m3. 2006 of Super and Local Teak Woods Originated from Several Plantation Areas) / Nurwati Hadjib. Ada beberapa acuan yang mungkin dapat diterapkan yaitu klasifikasi kerusakan tanah. Halaman 449 . Lampung. sedangkan lokasi tanaman berpengaruh nyata terhadap kekakuan dan kekuatan patahnya.f. -Penelitian sifat fisis dan mekanis kayu jati (Tectona grandis L. jumlah dan luas TPn serta diagram lebar dan jarak jalan sarad.Info Hasil Hutan : Vol. Maros. -. Halaman 133-142 . jati super dari Parung. 2006 Tulisan ini menyajikan upaya mengurangi kerusakan tanah sebagai dampak dilakukannya kegiatan pembalakan.24. jati lokal dari Binjai. jati super dari Palembang.mekanis 77 . Kata kunci: Kayu jati. Kayu yang terkuat adalah jati lokal dari Palembang. jati super dari Bengkulu. jati super dari Binjai. super. Biaya ini jelas lebih efektif dan efisien dibanding cara konvensional yang besarnya mencapai masing-masing secara berurutan Rp 35.461. Kutai. jati lokal dari Kutai. efektif. Nurwati SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU JATI SUPER DAN JATI LOKAL DARI BEBERAPA DAERAH PENANAMAN (Physical and Mechanical Properties Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. maka dengan biaya pemilikan dan pengoperasian alat berdasarkan perhitungan adalah sebesar Rp 60. fisis. sedangkan BJ tertinggi pada kayu jati super adalah dari Binjai dan terendah dari Maros. Halaman 359-369 . pembalakan. Bengkulu dan Palembang bertujuan untuk melihat perbedaan karakteristik sifat fisis dan mekanis kayunya. strategi perencanaan pembalakan.al] . sedangkan lokasi penanaman jati tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat jenis.5 . lokal.12 No.000 per m3 . Panajam. kayu. perencanaan. Dengan biaya investasi sebesar Rp 100 juta. mudah dioperasikan. Kegiatan pembalakan agar secepatnya diikuti dengan penanaman kembali di semua lokasi bekas tebangan agar tercapai pengelolaan hutan lestari. Kata kunci : Pengumpulan. produktif dengan biaya operasi dan perawatan rendah.000 dan Rp 15.

132 .30%. yodium. Iskandar. Sebagai bahan pengaktif digunakan larutan H3P04 dengan konsentrasi masing-masing 7. Kata kunci: Tempurung kelapa sawit. kadar zat mudah menguap 11. Iskandar. -.5 cm) dan 3 macam lebar ( 0.5%.6% pada arah tegak lurus serat.Hendra.0 dan 12.23% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1.43 tng/g. papan blok (Paraserianfhes falcataria) dan kayu tusan (Pinus merkusii) yang direkat dengan blok (5 lapis) sekala laboratorium dibuat dari kayu sengon 78 . Penggunaan venir silang kayu tusam dalam pembuatan papan blok sengon meningkatkan keteguhan lentur sebesar 6. No.10.90%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Halaman 117 . daya serap terhadap benzena 26. Angka daya serap benzena dan yodium ini memenuhi Standar Indonesia dan Jepang. kadar abu 5. SIFAT PAPAN BLOK SENGON DENGAN VENIR SILANG KAYU TUSAM (The Properties of Sengon Blockboard with Cross Core Layer from Tusam Wood) / M. kadar karbon terikat 83.74%.5.M. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran bilah inti terhadap sifat papan blok sengon dengan venir silang kayu tusam. kerapatan. Kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang aktif yang dibuat dari bahan baku serbuk kayu gergajian campuran pada suhu 850°C dengan konsentrasi H3P04 12.3%. kadar air 7. 2.Sulastiningsih. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retort dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 650. Kata kunci: Sengon.7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rata-rata papan blok adalah 12% sedangkan kerapatan rata-rata papan blok adalah 0.045. Lebar bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan lebar papan blok. Venir luar dan bilah inti papan blok terbuat dari kayu sengon sedangkan venir silang terbuat dari kayu tusam. Sifat papan blok diuji menurut Standar Indonesia (SNI) meliputi kadar air.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.43% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1. 2006 Tulisan ini menyajikan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian campuran dengan cara aktivasi uap. Keteguhan lentur sejajar serat papan blok sengon yang dibuat dengan menggunakan venir silang kayu tusam semuanya memenuhi persyaratan Standar Jerman (DIN).5 dan 7. M. kadar air 5.42 g/cm3. venir silang.I. Halaman 145 . keteguhan rekat dan delaminasi. tusam. benzena.86%. 2006 Papan perekat urea formaldehida. Sedangkan arang aktif yang dibuat dari bahan baku tempurung kelapa sawit pada suhu 6500C dengan konsentrasi H3P04 7. serbuk kayu gergajian campuran.30%.50%.155 . kadar abu 8.I. I.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 63.2 . kadar karbon terikat 79.6 cm). Tebal venir luar 2 mm sedangkan tebal venir silang 3 mm.24. -. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari alternative pemanfaatan limbah dari pabrik minyak kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian menjadi arang aktif yang dapat memberikan nilai tambah. arang aktif. Pengujian keteguhan lentur papan blok dilakukan menurut Standar Jerman (DIN) sedangkan pengujian pengembangan dimensi papan blok lilakukan menurut Standar Amerika (ASTM).04%.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 80%. kadar zat mudah menguap 11. No. Ukuran bilah inti terdiri dari dua macam ketebalan (1 dan 1. 750 dan 850 C.2 . Djeni PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DAN SERBUK KAYU GERGAJIAN CAMPURAN (The Manufacture of Activated Charcoal from Oil Palm Shells and Mixture of Wood Sawdust) / Djeni Hendra.24.107.2% pada arah sejajar serat dan 18.27 mg/g. daya serap benzena 28. Keteguhan rekat papan blok yang diuji berdasarkan uji geser tarik dan uji delaminasi memenuhi persyaratan Standar Indonesia (SNI).44%. Tebal bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan lebar papan blok tetapi tidak berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan panjang papan blok.

tusam Krisdianto ANATOMI DAN KUALITAS SERAT LIMA JENIS KAYU KURANG DIKENAL DARI LENGKONG.24 Ha.Iskandar. Di industri pengolahan serpih kayu (chip) seperti PT Tanjung Enim Lestari bahan baku kayu mangium diolah menjadi serpih sebagai bahan baku pulp.) formaldehida yang dibuat dari jenis lignin efektif dalam mencegah serangan rayap kayu kering pada kayu karet dan tusam tingkat kematian rayap kayu kering antara 62. Kata kunci: Lignin formaldehida.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 117-130 . Serat kelima jenis kayu termasuk dalam kelas kualitas I sebagai bahan baku pulp untuk kertas. -. Pemanfaatan kayu mangium masih terbatas sebagai bahan baku pulp. 2006 Sumber bahan baku alternarif untuk industri perkayuan nasional saat ini dan masa yang akan datang berasal dari hutan tanaman dan pemanfaatan jenis kayu kurang dikenal. rayap kayu kering.24.) berwarna kuning cerah. Kayu ki kuya (Ficus vasculosa Wall. Dalam pemanfaatan kayu kurang dikenal diperlukan informasi struktur anatomi dan kualitas seratnya untuk keperluan pengenalan jenis dan pemanfaatannya.0% dan mampu meningkatkan kelas ketahanan kayu karet maupun tusam dari kelas IV (tanpa perlakuan) menjadi kelas II. -. dengan lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. Adi Santoso. No.I PEMANFAATAN KAYU MANGIUM UNTUK BAHAN KAYU LAPIS DAN KAYU LAPIS INDAH / M. Nisbah mol lignin: formalin =1:2.888. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan untuk meningkatkan keawetannya.4 . Parenkim pita tebal membentuk corak garis-garis pudh pada produk kayunya. agak lunak. Untuk meningkatkan nilai tambah kayu mangium perlu peningkatan diversifikasi produknya antara lain untuk pembuatan venir indah sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah. Kayu lapis indah Jasni PENGUJIAN RESIN BERBASIS LIGNIN SEBAGAI BAHAN PENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes cynocephalus Light. Dalam penelitian ini resin dibuat dari 3 jenis lignin yang dihidroksimerilasi kemudian dikondensasi dengan larutan NaOH 50% dan formaldehida 37%. Untuk keperluan identifikasi. Parenkim bentuk sayap. SUKABUMI (Anatomy and Fiber Quality of Five Lesser Known Wood Species from Lengkong. Kata kunci: Pemanfaatan kayu. Hasil penelitian menunjukan bahwa kayu mangium ternyata dapat dipergunakan sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah. Reaksi dilangsungkan pada suhu 70 –80oC selama 1 jam. 2006 Salah satu hutan tanaman industri yang telah berkembang adalah HTI mangium (Acacia mangium Willd.218 . ciri utama dari kelima jenis tersebut adalah: 1. Kayu ki lubang {Calophyllum grandiflorum JJ. 4.) berwarna kuning keabu-abuan. ex Miq.4 .) berwarna kekuningan. 3. lingkaran tumbuhnya jelas oleh adanya parenkim pita tipis dan perbedaan ketebalan dinding selnya. 5.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. No. -. dan difus berkelompok. Halaman 301-308 . jari-jari 2 macam ukuran.615 ha. Mutu kayu lapis yang dihasilkan pada umumnya dapat memenuhi persyaratan standar nasional Indonesia dan Jepang.) berwarna kuning kepurihan dan agak keras. Pembuluh kayu ki lubang bersusun dalam kelompok radial atau diagonal dan parenkim pita memanj ang yang kadang terputus. Kayu lapis.) berwarna coklat kemerahan dan termasuk dalarn kelompok kayu perdagangan bintangur. Sukabumi) / Krisdianto.)) / Jasni. Halaman 201 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Kayu ki bancet (Turpinia sphaerocarpa Hassk. jari-jari 2 ukuran.24 Kayu karet dan tusam banyak digunakan sebagai bahan mebel. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan pencegah serangan rayap kayu kering menggunakan resin lignin formaldehida. jari-jari 2 ukuran. 2006 (Possible Application of Lignin-based Resin as a Chemical Agent to Prevent the attack of Dry Wood Termite (Cryptotermes cynocephalus Light. 2. masing-masing mewakili kayu daun lebar dan kayu daun jarum yang selanjutnya ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering. Kayu ki hantap {Sterculia oblongata R.I. Iskandar dan Suwandi Kliwon.3 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin berbasis lignin 79 . Kelemahan kedua kayu tersebut mudah diserang organisme perusak kayu. Mangium.S. didominasi di daerah Sumatera Selatan sekitar 176. corak bergaris. karet.Br.) Luas tanaman mangium sekitar 176. lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. pembuluhnya agak banyak dan berukuran agak kecil. Lingkaran tumbuh kayu ki bancet kurang jelas. Resin tersebut diaplikasikan pada kayu karet dan tusam.100. Kayu ki bulu (Gironniera subaequalis Planch. M.

9 ± 1. Penelitian ini bertujuan membandingkan persentase teras kayu jati super dan konvensional pada umur dan lokasi yang sama.84 um untuk kelapa dalam dan 23. 'Jati unggul. pelengkungan. -.) telah dikenal sebagai bahan baku mebel dan konstruksi dengan kualitas tinggi. mutu. yaitu bagian pangkal batang lebih tebal dari bagian ujung. 2006 Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan kelapa hibrida berumur 19 tahun dipelajari untuk melengkapi data dan informasi struktur anatomi dan dimensi serat batang kelapa. Jasni. -. Kata kunci: Kelapa dalam. Mutu hasil pelengkungan ditentukan tahap persiapan karena dalam tahap ini rotan harus dipilih bebas cacat dan bebas ruas.f. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 7 tahun. Di dalam ikatan pembuluh terdapat pembuluh metaxylem. Sedangkan kayu jati konvensional merupakan tanaman yang dikembangkan melalui perkecambahan biji. baik untuk keperluan fungsional maupun estetika. Struktur anatomi batang kelapa dipelajari dari preparat sayatan. Ketebalan dinding serat menunjukkan pola yang mirip dengan panjang serat. idcnrinkasi.12 No. Berdasarkan SNI 01- 80 . mebel. phloem dan ikatan serat. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bertambah panjang dari bagian tengah ke arah kulitnya. East Kalimantan) / Krisdianto & Ginuk Sumarni.2 um untuk kelapa hibrida. Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan hibrida tidak memiliki perbedaan yang nyata.1 . Berdasarkan persentase kayu terasnya kayu jati konvensional lebih baik parameter kualitas kayu yang lain juga harus diperhatikan seperti kualitas serat dan keawetan alaminya.85 ± 2.11 um untuk kelapa hibrida. yaitu ikatan pembuluh dan jaringan parenkim dasar.Info Hasil Hutan : Vol. Batang kelapa mempunyai dua komponen utama. Ini diduga akibat operatornya lebih terampil.24.3%. yaitu persiapan dan pelengkungan. anatomi. Panjang pembuluh metaxylem rata-rata 293 ± 2.Kata kunci : Lima. Tulisan ini bertujuan mempelajari proses dan mutu pelengkungan rotan dalam industri mebel.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. KALIMANTAN TIMUR (Heartwood Portion in Logs of 7 Years Old Fast Growing and Conventional Teak Taken from Penajam. terdapat yang menghasilkan mutu lebih baik. serat Krisdianto ANATOMI DAN DIMENSI SERAT BATANG KELAPA DALAM DAN HIBRIDA (Cocos nucifera L. protoxylem. No. tengah dan pangkal. Kata kunci: Rotan. kayu. Halaman 1-14 . Mutu pelengkungan dengan mesin pada jenis yang sama tidak selalu lebih baik dari manual. 2006 Kayu jati (Tectona grandis L.) / Krisdianto. Salah satu parameter kualitas kayu jati dapat dilihat dari persentase kayu terasnya dalam batang. dimensi serat batang kelapa bertambah panjang dari pangkal ke ujung pohon. anatomi.5 . 2006 Pembuatan bentuk lengkung merupakan proses penting dalam industri mebel rotan.1 . Pelengkungan rotan selain manau pada industri menengah. dimensi serat Krisdianto PELENGKUNGAN DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN ROTAN / Krisdianto. Jati cepat tumbuh atau dikenal dengan nama dagang 'Jati super'. Hampir semua potongan rotan besar perlu dilengkungkan dalam proses pembuatan barang jadi. kayu teras telah terbentuk pada seluruh lempengan kayu jati super maupun konvensional dari bagian ujung. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh belum diketahui. Halaman 39-48 . lebih besar dari jari konvensional 20. Halaman 385 – 394. manau Krisdianto PERBANDINGAN PERSENTASE VOLUME TERAS KAYU JATI CEPAT TUMBUH DAN KONVENSIONAL UMUR 7 TAHUN ASAL PENAJAM.6%.12 No. hibrida.Info Hasil Hutan : Vol.3 um untuk kelapa dalam dan 296 ± 3. Untuk meningkatkan mutu pelengkungan mungkin perlu diterapkan metode plastisasi alternatif sehingga kerjasama dengan instansi penelitian diperlukan. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bagian dalam lebih tipis dari bagian dekat kulitnya. 'Jati prima' atau 'Jati emas' merupakan tanaman jati yang dikembangkan melalui kultur jaringan dan bertujuan menambah pasokan bahan baku kayu jati. Proses pelengkungan melalui dua tahap. sedangkan dimensi serat diukur dari preparat maserasi. -. Pada industri besar dan menengah jenis rotan manau lebih mudah dilengkungkan dari jenis lain. Persentase kayu teras jati super rata-rata 39. Sedangkan noktah pada dinding metaxylem berukuran 23. Secara umum.

Selain itu industri cinderamata di sekitar Carita yang sudah berkembang juga dapat mendukungnya.I. Data potensinya belum diketahui secara baik sehingga perlu dilakukan penelitian. Kata kunci: Jati. Jasni. Kata kunci: Jamur patogen serangga.83% sampai 82. C. -. Kata kunci: Bahan baku.144 . M. Halaman 133 . serat anisopliae OLEH RAYAP PEKERJA Coptotermes curvignathus (Effectiveness of Transmission of Some Isolates of Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae by Subterranean Termite Workers. Propinsi Banten merupakan tujuan wisata penting di Indonesia.42% atau rata-rata-rata 55. Neo Endra EFEKTIFITAS PENULARAN Metarhizium SERANGGA Lelana. Kandungan nutrisi nata pinnata yang diolah dari nira aren (kadar air. anisopliae.24.] . menyebabkan mortalitas rayap lebih dari 80% pada perlakuan rayap terinfeksi dengan konsentrasi 50%.5 gram per liter nira. super. Umur nira dan penggunaan bahan suplemen pupuk ZA berpengaruh nyata terhadap rendemen produksi nata pinnata. Penularan terjadi melalui penyebaran spora. Kabupaten Pandeglang. persentase. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur nira dan penambahan pupuk ZA pada nira aren yang diolah untuk menghasilkan nata pinnata.225 . Salah satu faktor pendukung pariwisata adalah cinderamata dengan bahan baku limbah penebangan dan industri baik kayu maupun kayu kelapa. Agus Ismanto.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Halaman 219 . Nata adalah sejenis makanan ringan yang menyerupai jelly yang biasanya diolah dari air kelapa. sementara semakin tinggi dosis penggunaan pupuk ZA semakin tinggi rendemen nata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase mortalitas rayap cenderung meningkat setelah inkubasi dibandingkan dengan sebelum inkubasi. limbah industri dan pembalakan Lempang. Isolat dari Bogor tampaknya paling efektif untuk ditularkan oleh rayap pekerja ke dalam koloninya.[et. curvignathus.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. konvensional. Isolat dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor (BGR). -. mortalitas rayap 81 . protein. Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM)p dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Semarang (SMG) menunjukkan efektivitas penularan yang tinggi. No. penularan spora.1-2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nira aren yang diolah untuk memproduksi nata pinnata menghasilkan rendemen antara 23. Efektivitas penularan oleh kasta rayap pekerja Coptotermes curvignathus yang telah terinfeksi spora jamur dari 6 isolat yang dikumpulkan dari berbagai lokasi di Jawa dievaluasi.Info Hasil Hutan : Vol.12 No.22 %) diperoleh dari pengolahan yang menggunakan nira aren umur 6 jam dengan penambahan suplemen pupuk ZA sebanyak 2. diinkubasi dalam ruang gelap dan lembab pada suhu kamar selama 14 hari.64%.. cinderamata. Data yang dikumpulkan berupa jumlah industri cinderamata. batang kayu jati pada umur 7 tahun dapat masuk dalam kriteria kayu bulat kecil (KBK.24.1 . Rendemen produksi nata pinnata yang tinggi (94.. Beberapa kelompok rayap yang terdiri dari campuran rayap pekerja yang terinfeksi spora dan yang sehat dimasukkan dalam botol kultur berisi media pasir steril yang lembab. Mody RENDEMEN DAN KANDUNGAN NUTRISI NATA PINNATA YANG DIOLAH DARI NIRA AREN (Recovery and Nutrition Content of Nata Pinnata Processed from Aren Sap) / Mody Lempang. Data dikumpulkan dari industri penggergajian dan kerajinan serta instansi maupun masyarakat terkait. 2006 Kawasan Carita.al. industri penggergajian dan potensi bahan baku.2 . Neo Endra POTENSI BAHAN BAKU KAYU DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN INDUSTRI CINDERAMATA DI CARITA / Neo Endra Lelana.3 .5007. 2006 Jamur patogen serangga Metarhizium anisopliae diketahui bersifat patogen terhadap banyak serangga termasuk rayap. semakin panjang umur nira semakin rendah produksi nata. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi bahan baku berupa limbah penebangan dan industri penggergajian kayu dan batang kelapa banyak tersedia. Halaman 33-38 . Coptotermes curvignathus) / Neo BEBERAPA ISOLAT JAMUR PATOGEN Endra Lelana . teras Lelana. vitamin. -. A.).

kasar, lemak, abu, kalsium dan posfor) berbeda dengan kandungan nutrisi nata decoco yang diolah dari air kelapa, nira kelapa maupun kolang-kaling. Kata kunci: Nira aren, nata pinnata, rendemen, kandungan nutrisi Lempang, Mody STRUKTUR ANATOMI, SIFAT FISIK DAN MEKANIK KAYU PALASO (Aglaia sp) (Anatomical Structure, Physical and Mechanical Properties of Aglaia sp) / Mody Lempang; Muhammad Asdar. Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.2 ; Halaman 171 - 181 , 2006 Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi struktur anatomi, sifat fisik dan sifat mekanik kayu palado (Aglaia sp.) yang diambil dari hutan produksi alam di Kalukku kabupaten Mamuju, Propinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa palado memiliki kayu gubal berwarna putih sampai krem dan teras berwarna coklat muda sampai coklat kelabu; serat lurus, tekstur agak halus, pori sedikit (3 per.mm²) berbentuk lonjong dan tersebar tata baur; perforasi tipe sederhana; jari-jari luar biasa pendek, sempit dan jarang (tinggi 327 μm; lebar 25,52 μm dan frekuensi 5 per mm², parenkim tersebar atau baur. Panjang serat 1132 μm dan diameter serat 25,61 μm; diameter lumen 17,39 μm; dan tebal dinding 1,64 μm. Kadar air kering udara 15,85%; berat jenis kering udara 0,48 dan berat jenis kering tanur (kerapatan) 0,53; penyusutan kering udara ke kering tanur 2,71% (Radial) dan 4,67% (Tangensial); keteguhan lentur pada batas patah 612,72 kg/cm2 dan keteguhan tekan sejajar serat 402,28 kg/cm2 . Kata kunci : Kayu, sifat, anatomi, fisik, mekanik, Palado Lestari, Setyani B DIMENSI SERAT EMPAT JENIS BAMBU DARI JAWA TIMUR / Setyani B. Lestari & Yoswita. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 109114 , 2006 Tulisan ini menginformasikan nilai dimensi serat beserta nilai turunannya dari empat jenis bambu yang berasal dari Jawa Timur, yaitu bambu ampel (Bambusa vulgaris Schat), bambu petung (Dendrocalamus asper Bck), bambu apus (Gigantochloa apus Kurz) dan bambu jajang ulet (Gigantochloa apus kurz

forma). Bambu yang diteliti memiliki panjang serat antara 2600 sel berkisar antara 1,0 – 2,0 mikron, diameter lumen memiliki nilai antara 13-16,8 mikron. Berdasarkan nilai turunan dimeni serat, empat jenis bambu yang diteliti menunjukkan nilai karakteristik yang baik sebagai bahan baku pulp dan kertas. Kata kunci: Bambu, dimensi serat, nilai turunan Malik, Jamaludin TEKNOLOGI PEMADATAN MELALUI PENGEMPAAN DENGAN PERLAKUAN PENDAHULUAN PENGUKUSAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS KAYU / Jamaludin Malik. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.1 ; Halaman 49-58 , 2006 Jenis-jenis kayu inferior yang memiliki sifat tidak kuat dan tidak stabil dapat disempurnakan melalui teknologi pemadatan sehingga pemanfaatannya meluas. Teknologi ini sudah lama dikembangkan dengan berbagai metode. Salah satu metode pemadatan yang dianggap memiliki kelebihan adalah melalui pengempaan dengan perlakuan pendahuluan pengukusan. Proses utama metode ini adalah pengukusan, pengempaan dan pengkleman. Sifat dasar kayu yang mengalami peningkatan adalah kerapatan, keteguhan lentur stads (MOE & MOR), kekerasan, keteguhan tarik dan pukul, serta stabilitas dimensi. Peningkatannya dapat mencapai > 90%. Kayu yang dipadatkan dapat dimanfaatkan lebih luas, seperti untuk tiang bangunan, dinding, pegangan tangga, lantai, mebel, bingkai, pemintal tenun, kumparan, pegangan alat, baling-baling dan plat sambungan yang memerlukan kekuatan gesek tinggi. Kata kunci: Pemadatan, peningkatan kualitas, pemanfaatan Malik, Jamaludin PENGOLAHAN KAYU DIAMETER KECIL UNTUK KAYU LAMINA DAN KOMPONEN MEBEL / Jamaludin Malik, Abdurachman dan Achmad Supriadi. -- Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 153-163 , 2006 Produksi alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk yang diolah dari kayu diameter kecil adalah kayu lamina dan komponen mebel. Penelitian pembuatan produk tersebut telah dilakukan terhadap beberapa jenis

82

kayu yaitu tusam (Pinus merkusii) damar (Agathis sp.), gmelina (Gmelina arborea), bengkel (Nauclea sp), pisang-pisang (Alponsea teysmanii Boerl), dan jambu jambu (Eugenia spp.) dari bagian cabang. Sedangkan kayu lamina bentangan besar dibuat dari bagian batang utama kayu mangium (Acacia mangium Wild.) dan sengon (Paraserianthes falcataria) berdiameter kecil. Hasil penelitian penunjukan bahwa produk kayu lamina dan kayu lamina untuk bentangan besar yang dibuat dari kayu diameter kecil sengon dan mangium memenuhi syarat standar (SNI 2000, JAS 1996 dan JAS 2003). Komponen mebel dapat memenuhi standar pabrik. Kata kunci: Pengolahan kayu, kayu diameter kecil, kayu lamina, mebel

Mandang, Y.I DIGITALISASI BASIS DATA XYLARIUM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN BOGOR / Yance I. Mandang . -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 75-85 , 2006 Xylarium Bogoriense Pusat Litbang Hasil Hutan di Bogor menyimpan hampir 40.000 contoh kayu yang dikumpulkan dari seluruh kepulauan Indonesia. Semua contoh kayu dicatat dalam buku register dan setiap contoh memiliki keterangan yang meliputi nomor contoh kayu, nomor herbarium, nama setempat, suku, nama ilmiah, sinonim, asal contoh kayu, kolektor dan tanggal dikoleksi. Catatan tersebut ditulis tangan sejak tahun 1915 dalam 12 jilid buku. Masalahnya hampir semua buku register sudah lapuk dan datanya terancam musnah. Oleh karena itu perlu dicarikan cara untuk menyelamatkan data tersebut sekaligus disusun kembali dalam bentuk mutakhir. Dalam makalah ini disajikan pengalaman merenovasi sistem informasi xylarium dengan memanfaatkan perkembangan terakhir dalam bidang teknologi informasi. Untuk keperluan identifikasi kayu, deskripsi anatomi kayu dari berbagai sumber ditransformasikan ke dalam kode IAWA (International Association of Wood Anatomist) lalu diketik dalam format MS Access. Basis data koleksi dan basis data ciri kayu ini kemudian diimpor ke dalam MS SQL Server pada komputer server yang sudah disiapkan. Penelusuran informasi dan identifikasi kayu dilakukan dengan menuliskan query dalam bentuk pernyataan-pernyataan SQL lalu dieksekusi. Beberapa contoh proses penelusuran informasi dan identifikasi kayu disajikan. Waktu yang diperlukan untuk penelusuran informasi dan identifikasi kayu sangat singkat dibanding dengan cara lama. Kata kunci: Xylarium, Sistem informasi Misdarti KUALITAS BAMBU LAMINASI ASAL KABUPATEN TORAJA, SULAWESI SELATAN (Qualities of Laminated Bamboo of Toraja Regency, South Sulawesi) / Misdarti. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 183 - 189 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis bambu dan macam perekat poly vinyl acetate (PVAc) terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi. Jenis bambu yang digunakan adalah hitam dan parring. Sedangkan macam perekat PVAc yang digunakan adalah fox, tiger dan epoxy. Bambu

Malik, Jamaludin PENGARUH PEMADATAN TERHADAP LAJU PENURUNAN KADAR AIR KAYU RANDU ALAS (Gossampinus malabarica Alst.) / Jamaludin Malik & Andianto. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 143-147 , 2006 Pemadatan kayu randu alas (Gossampinus malabarica Alst) merubah struktur anatomis dan sifat fisis sehingga memberi peluang untuk dimanfaatkan sebagai perkakas. Perubahan kedua sifat ini merubah sifat pengeringan kayu yang dipadatkan. Penelitian sifat pengeringan kayu yang dipadatkan perlu dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal kayu yang dipadatkan 54%, lebih rendah 10,5% dari kayu yang tidak dipadatkan. Pengeringan kayu yang dipadatkan dan tidak dipadatkan selama sembilan hari masing-masing mencapai kadar air 15,9% dan 15%. Penurunan kadar airnya menunjukkan perbedaan nyata. Hubungan kadar air (Y) dan waktu pengeringan (X) pada kayu yang tidak dipadatkan mengikuti persamaan Y = 64,640 – 9,296x + 0,421x2 , dengan R2 = 0,999. Pada kayu yang dipadatkan mengikuti persamaan Y = 53,440 – 7,926x + 0,428x2 , dengan R2 = 0,999. Kata kunci: Randu alas, pemadatan, kadar air kayu, pengeringan

83

laminasi dibuat dengan menggunakan bambu kering udara dengan ukuran 51 x 2,5 x 0,5 cm. Kemudian sampel bambu dilaburi perekat secara merata pada salah satu sisi dengan berat labur 200 gr/m . Selanjutnya sampel bambu dari jenis yang sama direkat satu sama lain kemudian dikempa pada suhu ruangan dengan menggunakan klem selama 12 jam. Bambu lamina kemudian dikondisikan pada suhu ruangan selama 1 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan macam perekat berpengaruh tidak nyata terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi yang dibuat dari bilah bambu hitam dan bambu parring. Bambu laminasi dengan menggunakan lem epoxy cenderung memiliki nilai MOE dan keteguhan rekat yang lebih baik dibanding lem fox dan lem tiger. Efisiensi perekatan terbesar terjadi pada bambu laminasi parring dengan lem epoxy. Kata kunci : Bambu laminasi, macam perekat PVAc, sifat fisis dan mekanis Muslich, Mohammad KEAWETAN 25 JENIS KAYU DIPTEROCARPACEAE TERHADAP PENGGEREK KAYU DI LAUT (Durability of 25 Dipterocarpaceae Wood Species Against Marine Borers) / Muhammad Muslich; Ginuk Sumarni. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 191 - 200 , 2006 Dua puluh lima jenis kayu Dipterocarpaceae diuji sifat keawetannya terhadap serangan penggerek kayu di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm, direnteng dengan tali plastik, kemudian dipasang di perairan pulau Rambut dan diamati setelah 6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang keawetan 25 jenis kayu Dipterocarpaceae terhadap penggerek kayu di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 6 bulan, sebagian besar contoh uji mendapat serangan berat oleh famili Pholadidae dan Teredinidae. Lima dari 25 jenis kayu atau 20% tahan terhadap penggerek di laut. Giam durian (Cotylelobium flavum Pierre) dan balau laut [Shorea falcifera Dyer) termasuk dalam katagori sangat tahan, sedangkan giam tembaga (Cotylelobium melanoxylon Pierre), balau laut batu (Shorea elliptica Burck.), dan resak ayer (Vatica teysmanniana Burck.) termasuk dalam katagori tahan terhadap penggerek di laut. Kelima jenis kayu tersebut cocok untuk bangunan kelautan. Kata kunci: Keawetan, Dipterocarpaceae, penggerek di laut

Novrianto, Eka PENELAAHAN FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENETAPAN UKURAN SASARAN VENIR KAYU LAPIS (Assessing Factors That Affects the Determination of Targeted Veneer Size for Plywood) / Eka Novriyanto. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 371 - 384, 2006 Untuk mendapatkan konstruksi panel yang memiliki ukuran tebal yang diinginkan, maka diperlukan penetapan ukuran sasaran pada saat pengupasan vinir, Faktor-faktor penyusutan vinir, pengempaan panel, pengampelasan, dan penyusutan panel serta keragaman pengupasan total dapat mempengaruhi penetapan ukuran sasaran, Data yang dikumpulkan dalam percobaan ini adalah tebal vinir sesudah kupas 1,76 mm, penyusutan vinir 6,34%, pengaruh pengempaan 11,94%, pengaruh pengampelasan 0,44%, tebal vinir dalam panel 1,22 mm, rata-rata tebal panel akhir 28,02 mm, dan penyusutan panel 1,42%, Data-data tersebut selanjutnya diolah dengan formula yang diturunkan dari perubahan yang dialami vinir sampai menjadi panel oleh proses produksi, untuk mendapatkan ukuran sasaran pengupasan vinir kayu lapis konstruksi 19-lapis, Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ukuran sasaran pengupasan vinir adalah 1,870 ± 0,013 mm, Kata kunci : Kayu lapis, vinir, ukuran sasaran pengupasan vinir Nurhayati, Tjutju PRODUKSI DAN PEMANFAATAN ARANG DAN CUKA KAYU DARI SERBUK GERGAJI KAYU CAMPURAN (Production and Utilization of Charcoal and Wood Vinegar of Mixture Wood Sawdust) / Tjutju Nurhayati, Ridwan Ahmad Pasaribu & Dida Mulyadi. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 395 - 411, 2006 Penelitian produksi terpadu arang dan cuka kayu menggunakan serbuk gergaji kayu campuran asal hutan alam dan hutan tanaman dilakukan pada tungku sakuraba dan tungku blower. Arang serbuk dimanfaatkan untuk bahan baku produksi arang aktif dan cuka kayunya untuk budidaya tanaman padi. Hasilnya sebagai berikut ; Produksi terpadu arang dan cuka kayu ‘crude’dari serbuk gergaji kayu campuran hutan alam dan hutan tanaman pada tungku sakuraba masing-masing 292,68 kg/ton dan 232,24 kg/ton dan pada tungku blower 344,76 kg/ton dan 323,07 kg/ton. Rendemen arang dan cuka kayu ke dua jenis

84

20%. Sifat arang dari tungku blower lebih baik dari sakuraba ditunjukan oleh kadar abu (2. 10. Rendemen terpadunya pada tungku sakuraba 35. -. Perlakuan tanpa pupuk NPK menghasilkan gabah kering giling paling tinggi pada cuka kayu yaitu 4.21 nm dengan diameter port arang antara 12.9%) yang lebih rendah.750 dan 850°C dalam suatu retort yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik. Ridwan A. No. metanol. leba aromatik 10. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retor yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 750 C dengan lama waktu aktivasi 30. arang aktif.1 . 19.21 nm. derajat kristalinitas (X) dan jumlah lapisan aromatik (N) meningkat dengan makin naik karbonisasi.46 . Spektrum FTIR dari arang lignin menunjukkan bahwa antara suhu 300-500 perubahan struktur kimia dari bahan baku secara nyata. alfa metil guaiakol. Gustan KAJIAN STRUKTUR meningkatnya suhu karbonisasi. kadar karbon terikat 64. dan C=C alifatik menurun dengan naiknya suhu. Djeni Hendra.72%.5% ini memberi petunjuk terhadap fungsinya sebagai pupuk dan merespon pertumbahan padi yang lebih baik. daya serap ARANG DARI LIGNIN (Study on Charcoal Structure of Lignin) / Gustan Pari [et.21 ton/ha.39%. Arang ini mempunyai sifat keteraturan tertinggi. tinggi lapisan aromatik 3. kadar abu 26. Cuka kayu ‘crude’ dari ke dua serbuk gergaji mengandung jenis komponen kimia yang sama pada kadar yang bervariasi.500. sedangkan untuk tinggi lapisan (Lc).20.0. 5. Pemanfaatan cuka kayu distilasi 2. Untuk mengetahui perubahan struktur arang yang terjadi dilakukan analisis dengan menggunakan FTIR. asetol.90 %.0.60%. 2006 Tulisan ini membahas struktur arang dari lignin pada suhu karbonisasi yang berbeda. para kreosol.0 dan 15%. No.2% menunjukkan angka lebih rendah dari blower 41. fenol.70%. Pada suhu 850°C arang yang mempunyai struktur aromatik yang permukaannya mempunyai gugus C-O-C.10 ton /ha dan kontrol 3.7 mg/). Halaman 33 . Kata kunci : Serbuk gergaji kayu. Pari.5% dengan hasil gabah kering giling yang sama yaitu 5. dengan lama waktu aktivasi 60 menit. sedangkan struktur eter dan dihasilkan aromatik makin berkembang. kadar air 8. kaku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aktivasi dan konsentrasi bahan pengaktif terhadap hasil dan mutu arang aktif yang dihasilkan. arang.41 ton/ha.75 ton/ha. terdiri dari asam asetat. jumlah lapisan aromatik 8. Pasaribu. Halaman 9 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.67.serbuk gergaji relatif sama pada masing-masing tungku yaitu 20.96 nm. keras dan struktur porinya makropori. Proses pembuatan arang lignin dilakukan pada suhu 200.6% (sakuraba).al] . Pari. permukaannya bersifat polar. Analisis SEM menunjukkan bahwa jumlah dan diameter pori arang meningkat dengan naiknya suhu karbonisasi. struktur kimia. padi. Kualitas arang yang baik diperoleh pada suhu karbonisasi 5000C menghasilkan derajat kristalinitas sebesar 33. XRD dan SEM. cuka kayu. Penggunaan cuka kayu distilat 2. Kata kunci: Arang.6 um. 2006 Phosphoric Acid on the Quality of Activated Charcoal of Acacia mangium Bark) / Gustan Pari. Oleh karena itu produksi terpadu pada tungku blower lebih baik dari sakuraba. Gustan PENGARUH LAMA WAKTU AKTIVASI DAN KONSENTRASI ASAM FOSFAT TERHADAP MUTU ARANG AKTIF KULIT KAYU ACACIA MANGIUM (The Influence of activation Time and Concentration of Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. kadar zat terbang 8.1 .24.300. menghasilkan rendemen sebesar 98. Produksi arang aktif memenuhi SNI pada parameter daya serap iod (857.400. Bahan pengaktif yang digunakan adalah larutan asam fosfat (H3PO4) dengan konsentrasi 0.3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang yang direndam asam fosfat 10%. sikloheksana. tungku.35 nm i = 0.650.3% dan 22% (blower). C=O dan C-H. difraksi. Produksi arang aktif dengan mutu baik ini diperoleh setelah tungku aktifasi diredam emisi panasnya dengan gelas wol.7 mg/g) diperoleh dari perlakuan aktifasi perendaman asam fosfat 20% dan uap air pada suhu 695OC dan aktifasi dengan uap panas tanpa asam fosfat pada suhu 605OC (789. orto kreosol. 60 dan 90 menit.5% pada tanaman padi jenis ciherang dengan perlakuan penambahan pupuk NPK dapat menggantikan penggunaan bahan organik 2. -Dalam tulisan ini dikemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari kulit kayu Acacia mangium. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa jarak antar ruang lapisan aromarik (d) dan lebar lapisan (La) menurun dengan makin 85 .7%) yang lebih tinggi. dan kadar karbon tertambat (86. furfural. bahan organik 4.6% dan 14.24. Ikatan OH. jarak antar lapisan aromatik d(002) = 0.2%) dan kadar zar mudah terbang (11. lignin.

daya serap terhadap kloroform 24.[et.1 – 0. salamander dan mahoni. tusam.25%.3%. mahoni dan ki lemo. kimia. Kata kunci : kayu. kapur (Dryobalanops aromatica).3%.71%.. arang aktif.97% dan daya serap terhadap yodium sebesar 668. air panas. yodium. tusam (Pinus merkusii Jungth). Berdasarkan atas nilai skor dan hasil uji BNJ (Beda nyata jujur) komponen kimia 10 jenis kayu asal Jawa Barat (Tabel 3) ternyata hanya kayu ki sereh dan pulai kongo yang tidak cocok untuk bahan baku pulp kertas. tusam. Jawa Barat. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia 10 jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman di Jawa Barat. Gustan KOMPONEN KIMIA SEPULUH JENIS KAYU TANAMAN DARI JAWA BARAT (Chemical Component of Ten Planted Wood Species Originated from West Java) / Gustan Pari .84%. Pada proses aktivasi tersebut diperoleh rendemen arang aktif sebesar 72. alkohol benzena antara 1. ki bawang. kapur. lignin antara 26. kadar abu 42. -. kulit kayu.al.] . suren (Toona sureni). kelarutan dalam air dingin. suren. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Pengaruh konsentrasi asam fosfat sebagai bahan pengaktif kimia.0 – 30. Sebelum dibuat arang aktif.0 dan 10% selama 24 jam. Semua jenis kayu yang diteliti mengandung kadar holoselulosa yang tinggi lebih dari 65% yaitu kayu ki sereh. salamander mahoni dan kayu ki lemo cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas dengan menggunakan proses kimia.5%. sengon buto (Entorolobium cyclo).2 – 0.5 – 5. 60 dan 90 menit.20% sebagai gas pengoksida.terhadap yodium 513 mg/g dan daya serap terhadap benzena sebesar 16. Dalam penelitian ini digunakan larutan ((NH4)2C3 0. kadar zat terbang 5.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. dan yang termasuk ke dalam kelas tinggi lebih dari 4% yaitu kayu ki sereh dan pulai kongo. Gustan ARANG AKTIF SERBUK GERGAJI KAYU SEBAGAI BAHAN ADSORBEN PADA PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS (Activated Charcoal from Wood Sawdust as Adsorbent Material for Frying Oil Refinery) / Gustan Pari . Analisis ini merupakan dasar untuk menetapkan kegunaan kayu tersebut terutama sebagai bahan baku pulp kertas. ki bawang. -. Arang aktif dari kulit kayu mangium ini hanya dapat digunakan untuk penjernihan air.6 – 69. lignin. holoselulosa.63 mg/g.9%. pulai kongo (Alstonia kongoensis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif serbuk gergaji kayu yang terbaik adalah arang aktif yang direndam asam fosfat 5% pada suhu 900°C selama 30 menit.53%. abu antara 0. pentosan antara 15. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 64. pentosan. 2) Pengaruh suhu dan lama waktu aktivasi terhadap rnutu arang aktif dan 3) Pengaruh penambahan arang aktif terhadap mutu minyak goreng bekas. kapur. ki bawang (Melia excelsa).9%. dan semikimia.1 – 20.[et al] . Jenis kayu tersebut adalah ki sereh (Cinnamomum parthenoxylon).Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. kapur. abu. lignin.86%. karbon terikat. Analisis yang dilakukan mencakup penetapan kadar holoselulosa.10%. tusam dan ki lemo..75% dan kelarutan dalam NaOH 1% antara 9.23%. Sedangkan kadar zat ekstraktifnya terutama kelarutan dalam alkohol benzena yang termasuk kelas sedang antara 2 – 4% adalah kayu suren.. terlebih dahulu serbuk gergaji kayu dibuat arang dengan menggunakan tungku semi kontinyu pada suhu 300 C. 900°C dengan lama waktu aktivasi masing-masing 30. karena kadarnya ada di antara 18 – 33% untuk kadar lignin dan ada di antara 0.. salamander. Halaman 89 . mahoni (Switenia macrophylla King) dan ki lemo (Litsea cubeba Pers). pentosan.0% untuk kadar abu. Kelarutan dalam air dingin antara 2.6 – 18%.9%. benzena 16. Kadar pentosan semua jenis kayu yang diteliti termasuk kelas rendah karena kadarnya kurang dari 21%.cunn). No. ki bawang. kadar karbon terikat 52. sedangkan ke delapan jenis kayu lainnya yang terdiri dari kayu suren. Halaman 309-322 . Nilai daya 86 .2 . Pari. Pari. air panas antara 3.24.0 – 7. dan arang aktif yang dihasilkan mengandung kadar air 4. Arang yang dihasilkan selanjutnya direndam dalam larutan asam fosfat dengan konsentrasi 5.6%. silika antara 0. salamander (Grevillia robusta A.2 – 6. Kata kunci: Acacia mangium.4 . Proses aktivasi dilakukan di dalam retort yang terbuat dari besi tahan karat pada suhu 800. Kadar lignin dan abu semua jenis kayu yang diteliti termasuk ke dalam kelas sedang.24 No. sengon buto. sedangkan yang termasuk kelas rendah kurang dari 2% yaitu kayu sengon buto. 850.101 . sengon buto. alkohol benzena dan kelarutan dalam NaOH 1%. kecuali kayu pulai kongo yaitu 64.4 – 6.7%. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergaji kayu dengan proses aktivasi kombinasi antara cara kimia dan fisika..

Terbukti hasil uji emisi kayu lapis yang tanpa penambahan arang aktif sebesar 16. 2006 Telah dilakukan penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergajian kayu Acacia mangium Willd. -. serbuk gergaji kayu.59%. Sedangkan untuk kecerahan warna mengalami peningkatan dari 13. Kualitas minyak goreng bekas menjadi lebih baik setelah ditambahkan dengan arang aktif sebanyak 2.5 .36 ppm dengan tanpa mempengaruhi keteguhan rekat kayu lapis.2 . emisi formaldehida Pasaribu. Kata kunci : Serbuk gergaji. Pasaribu dan Tjutju Nurhayati. arang aktif . dan papan serat. Arang aktif yang dihasilkan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. serbuk gergaji diarangkan dalam pada suhu 500oC. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2004 di Kecamatan Simanindo.12 No. produk karton. daya serap terhadap yodium sebesar 960. -. produksi arang briket. iodin. mulai dari penyediaan bahan baku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif yang terbaik diperoleh dari serbuk gergajian kayu mangium yang diaktivasi dengan cara kombinasi oksidasi gas dan kimia dengan rendemen sebesar 53%. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah serbuk gergajian kayu mangium untuk dibuat arang aktif dan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida dalam perekat kayu lapis. Kabupaten Samusir.88%.87 menjadi 10. mangium. kadar karbon terikat 83. minyak goreng. Arang yang dihasilkan diaktivasi secara kimia. SUMATERA UTARA / Gunawan Pasaribu. kloroform 28. metilien biru 135. kadar zat terbang 5. produksi dan pemasaran belum ditangani secara baik oleh pengrajin. 2006 Teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri kayu dari hasil penelitian yang dilakukan secara bertahap meliputi teknologi isolasi dan perbanyakan fungsi pelapuk putih.0 mg/g. fisika dan kombinasinya di dalam tungku baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik.96 meq 02/kg. Halaman 97-107 . Mutu minyak goreng ini terutama asam lemak bebas dan bilangan perokisda memenuhi syarat minyak goreng yang ditetapkan SNI. No.24. TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK INDUSTRI SKALA KECIL / Ridwan A. Ridwan A.serap ini memenuhi syarat Standar Amerika dan arang aktif yang dihasilkan permukaannya lebih bersifat polar sehingga dapat digunakan untuk menyerap polutan yang juga bersifat polar seperti aldehida.48 ppm Pasaribu.21%. kayu lapis. kadar air 4.27% menjadi 0.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Kata kunci: pemanfaatan limbah.77%. Secara teknis.5% yang ditunjukkan dengan menurunnya kandungan asam lemak bebas dan bilangan peroksida masing-masing dari 0. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap para pengrajin ukiran kayu dengan menggunakan kuisioner. 87 . Pulau Sumatera Utara. Gustan PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN ARANG AKTIF SEBAGAI REDUKTOR EMISI FORMALDEHIDA KAYU LAPIS (Manufacturing and Application sedangkan emisi yang dihasilkan dengan penambahan arang aktif sebanyak 5% menjadi 15.98 menjadi 16. benzena 14. kadar abu 8. asam lemak bebas Pari.33%. Sebelum dibuat arang aktif. Gunawan PROFIL KERAJINAN UKIRAN KAYU DI PUIAU SAMOSIR. -. Teknologi yang layak secara finansial untuk pengembagan industri kecil adalah teknologi produksi karton menggunakan bahan baku pulp dari limbah sebetan kayu gergajian dan jamur tiram menggunakan media limbah serbuk gergajian kayu.17% dan dari 18. produksi pulp rayon dan papan isolasi.Info Hasil Hutan : Vol.17%.436. produksi komponen mebel dan kayu lamina.2 mg/g.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 145-151 . Adi Santoso & Djeni Hendra.96% dan daya serap terhadap formaldehida sebesar 26.02%. Industri skala kecil of Activated Charcoal as Reductor of Plywood Formaldehyde Emission) / Gustan Pari. Pencampuran arang aktif pada perekat kayu lapis mampu menurunkan emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profit teknis dan kelembagaan industri kerajinan ukiran kayu di Pulau Samosir. Halaman 425 . Data sekunder dikumpulkan dari instansi-instansi pemerintah yang berada di lingkungan Pemda Samosir dan Pemda Tobasa. Kata kunci : Arang aktif. arang aktif.

Jurnal Penelitian Hasil Semakin terbatasnya sumber serat kayu di Indonesia dan anjuran mengurangi ketergantungannya dari hutan produksi alam untuk industri pulp dan kertas menyebabkan kekhawatiran serius. meranti. Tingkat delignifikasi selama pemasakan hingga selesai ditelaah dengan faktor H.4 . 2006 Faktor-H Untuk Menelaah tingkat Delignifikasi dan Sifat Pulp empat Jenis Kayu Hutan Tanaman Industri pada Proses Pengolahan Kimia Sulfat) / Han Roliadi. -. Tingkat delignifikasi lebih dipengaruhi oleh perbandingan banyaknya inti siringil dengan inti vanilin (S/V) dalam lignin (R2 = 0. Produk kayu yang dapat dibuat dari kayu asal hutan tanaman dan tanaman perkebunan selain kayu gergajian. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan tanaman berkayu dari areal perkebunan yang jumlahnya sangat besar.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 99-116 . Noor Rahmawati. Produk kayu yang dihasilkan umumnya memenuhi standar industri yang disyaratkan. Nurwati Hadjib. densifikasi. dari pada oleh berat jenis kayu (R2 = 0. Percobaan pengolahan pulp sulfat/kraft secara individu terhadap empat jenis kayu HTI (sengon. Perbedaaan jenis kayu HTI bisa mempengaruhi sifat pengolahan dan mutu hasil pulp/kertas tersebut. industri. Baik kayu yang berasal dari tanaman perkebunan maupun kayu hutan tanaman umumnya mempunyai sifat inferior. dan Jamal Balfas. sengon. Pulp dengan rendemen pulp tersaring tinggi dengan persentase reject rendah berindikasi tingkat degradasi fraksi karbohidrat rendah dan tidak undercooked. sehingga dapat mengganggu sifat dari produk akhir yang dihasilkan. Han EXPLICABILITY OF THE H-FACTOR TO ACCOUNT FOR THE DELIGNIFICATION EXTENT AND PROPERTIES OF PLANTATION FOREST WOOD PULP IN THE KRAFT COOKING PROCESS (Penerapan Hutan : Vol. glulam.5212). stabilitas dimensi. dan 90 menit). kelapa. venir lamina.5 persen. Tanaman berkayu lainnya yang dapat diandalkan untuk memasok industri perkayuan adalah bambu. Sedangkan suhu maksium pemasakan bervariasi (170oC dan 175oC). hanya terdapat beberapa kelompok pengrajin yang aktif dan koperasi yang ada tidak banyak membantu usaha kerajinan kayu. kurang awet. randu. stabilitas dimensi dan kekuatan rendah. 60. dan ternyata menghasilkan lembaran pulp/kertas dengan sifat kekuatan tinggi. dan positif dengan rendemen pulp tersaring. meranti kuning. Osly DIVERSIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU / Osly Rachman. sawit. bahan penolong dan teknologi serta pasar dalam negeri perlu mendapat perhatian dan ditangani lebih serius oleh instansi terkait. dan kapur) dilakukan pada kondisi tetap pemasakan: alkali aktif 16 persen. hingga kapur. yaitu: Kayu karet. Namun dengan teknologi perekatan.Dari pengujian beberapa produk setengah jadi. Sedangkan dari bambu selain produk konvensional seperti barang kerajinan dapat pula dihasilkan papan bambu lamina dan bambu lapis. dan juga kaitannya dengan sifat pengolahan pulp dan sifat fisik/kekuatan pulp. yang dilakukan masih ditemukan produk dengan nilai kadar air produk yang masih tinggi yaitu sekitar 50%. Kata kunci: Diservasi. Satu usaha mengatasinya adalah pembangunan hutan tanaman industri (HTI) sebagai pemasok serat kayu. Proses pengukiran kayu sampai penyelesaian akhir masih menggunakan cara sederhana tanpa bantuan alat mekanis yang lebih cangkih. modifikasi kayu dan pembuatan produk majemuk. -. pengolahan kayu Roliadi. Halaman 275-299 . Kata kunci: Ukiran kayu. bahan baku. dan kayu hutan tanaman. papan partikel. sulfiditas 22. kayu lapis dan kayu lapis indah. gmelina. 2006 Salah satu faktor yang menyebabkan terpuruknya industri pengolahan kayu di tanah air saat ini adalah ketidakseimbangan antara pasokan bahan baku kayu yang lestari dan kebutuhan kayu untuk mencukupi kapasitas industri kayu. dan perbandingan kayu dengan larutan pemasak 1:4. Agar tetap survive dunia perkayuan harus berupaya melakukan diversifikasi bahan baku kayu tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan. dan sebaliknya. Dalam pemanfaatan bambu dan kayu dari perkebunan permasalahan kelembagaan dan kebijakan. Sifat fisik/kekuatan lembaran pulp dipengaruhi secara positif oleh perbandingan S/V dan secara negatif oleh berat jenis kayu. 30. Dalam kelembagaan. 88 . seperti diameter kecil. Pada kenyataannya tanaman tersebut tidak hanya mampu menghasilkan produk kayu bernilai tinggi tetapi juga ramah lingkungan. bahan baku. Tingkat delignifikasi tertinggi hingga terendah terjadi pada jenis kayu gmelina.24 No. Tingkat tersebut berkorelasi negatif dengan rendemen pulp total dan persentase pulp reject. sifat-sifat tersebut dapat diatasi.5972). seperti papan dan bilah sambung. bahan baku. masing-masing dipertahankan dalam 4 taraf waktu (0. kelembagaan Rachman. dihasilkan pula produk olahan.

masing-masing dengan penambahan bahan aditif (kaolin 5%. Limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan serat berligno selulosa berlimpah jumlahnya dan belum banyak dimanfaatkan.Kata kunci: Kayu hutan tanaman. sehingga berindikasi pemanfaatannya sebagai bahan baku industri karton. dan rosin size 2%). karton. 2006 Pemanfaatan kulit pohon mangium (Acacia mangium Wild) sebagai sumber tanin untuk bahan perekat di Indonesia pada masa mendatang diperkirakan semakin berkembang berkenaan dengan pemanfaatan limbah kulit kayu tersebut dalam upaya optimalisasi hasil hutan khususnya non kayu dari hutan tanaman. Lembaran karton dibentuk dari campuran pulp TKKS 50% dan sludge industri kertas 50%. Rangkuman dari beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kulit mangium sangat potensial sebagai sumber tanin untuk bahan baku perekat. -. bambu lamina dan papan partikel komposit dengan kualitas eksterior yang setara dengan perekat jenis fenol-dan resorsinol formaldehide Kata kunci: Kulit mangium. Perekat tanin ini bisa diaplikasikan guna memproduksi berbagai jenis produk perekat yang ramah lingkungan seperti kayu lapis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah mengembangkan perekat berkualitas WBP (Weather Boiling Proof) yang terbuat dari tanin yang berasal dari kulit pohon mangium. Prakiraan potensi kayu pada hutan alam. industri karton rakyat 89 . 2006 Dalam rangka program restrukturisasi kehutanan. pulp. Halaman 323-337 .17%. Perekat Satyawardana PETA POTENSI AKTUAL HASIL HUTAN INDONESIA SEBAGAI PENGHARA INDUSTRI KEHUTANAN / Satyawardana. alum 2%. Han PEMBUATAN DAN KUALITAS KARTON DARI CAMPURAN PULP TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN SLUDGE INDUSTRI KERTAS Santoso. sebagai bahan baku altermatif/pengganti pada industri karton yang menggunakan kertas bekas. -.5 atmosfir. faktor H. Data potensi hutan rakyat. diolah menjadi pulp menggunakan proses semikimia soda panas tertutup pada ketel pemasak skala semi-pilot hasil rekayasa Pusat Litbang Hasil Hutan (Bogor) pada kondisi pemasakan: konsentrasi alkali (NaOH) 10%.5. berat jenis. Sifat fisik karton asal pulp TKKS 100% dan asal campurannya dengan sludge industri kertas (50% : 50%) lebih tinggi dari pada karton produksi industri rakyat (dari campuran kertas bekas 50% dan sludge 50%.4 . tetapi tanpa bahan aditif). Dalam upaya mengurangi kebergantungan terhadap perekat impor dan memenuhi kebutuhan perekat dalam negeri dengan bahan baku yang berasal bukan dari minyak bumi. balok lamina. perbandingan S/V Roliadi.81%. dan waktu pemasakan 2 jam pada suhu maksimum 120oC dan tekanan 1. bilangan kappa 38. Pasaribu. nilai banding serpih TKKS dengan larutan pemasak 1:5. Sampai saat ini kulit pohon mangium sebagian besar ditinggalkan di hutan atau di sekitar pabrik sebagai limbah.24 No. Rata-rata rendemen pulp TKKS yang diperoleh 60.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Makalah ini menyajikan data untuk menjawab permasalahan tersebut. dan konsumsi alkali 9. yaitu isinya meliputi: Luas penutupan lahan Indonesia (2003). -. Data produksi kayu dari hutan tanaman. Tanin. dan dari pulp TKKS 100%. tingkat delignifikasi. Ridwan Industri karton skala kecil saat ini mengalami kesulitan kontinuitas pasokan bahan baku (khususnya pulp dan kertas bekas). 2006 (Manufacture and Qualities of Paperboard from the Mixture of Empty Oil-Palm Bunches Pulp and Paper-Mill Sludge)/ Han Roliadi. tapioka 4%.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 165-175 . Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa rendemen kulit mangium berkisar 5-12 persen.17. Adi KULIT MANGIUM SEBAGAI SUMBER TANIN UNTUK PEREKAT / Adi Santoso. Kapasitas izin IKPH tahun A. Kata kunci: Tandan kosong kelapa sawit (TKKS).Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 19-26 .2 – 1. Hal ini mengisyaratkan prospek penggunaan pulp TKKS yang dicampur dengan sludge. Kulit tersebut bila diekstrak dengan air 1:3 bisa menghasilkan ekstrak tanin cair sebanyak 8 kali bobot kulitnya. hal yang paling penting untuk diperbaiki adalah seimbangnya antara potensi aktual hasil hutan dengan kapasitas hasil industri hasil hutan yang ada. TKKS sesudah dijadikan serpih.

hutan tanaman. tetapi lebih rendah dalam kerapatan dan keteguhan tekan dari briket tempurung biji jarak pagar. Hasil penelitian menunjukkan. Suhartana. karbon terikat dan nilai kalor dari briket dari kayu jarak (100%). 75 dan 100%. 50.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Data Produksi Hasil Hutan Non Kayu tahun 2004. Kata kunci: Peta potensi. 2006 Dewasa ini. Jarak pagar. sekali tanam dapat dipanen selama 35 tahun serta hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi produk yang dapat dijual. Pedesaan Process and Characteristics oof Charcoal Briquette From Jatropha Curcas (Jatropha curcas L.1 . Kata kunci: Biodesel. 25. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan : Halaman 207-219 . karbon terikat dan nilai kalor. No. briket yang dibuat dari tempurung biji jarak pagar (100%) lebih tinggi di dalam kerapatan dan keteguhan tekan.24 No. Sona EFISIENSI PENGGUNAAN CHAINSAW PADA KEGIATAN PENEBANGAN: STUDI KASUS DI PT SURYA HUTANI JAYA. Sudradjat dan D. Briket kayu jarak pagar (100%) sebaliknya lebih tinggi dalam kadar air. Perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian tekanan 200. KALIMANTAN TIMUR (Efficiency of Chainsaw Utilization on Felling: A Case Study at PT Surya Hutani Jaya.. briket arang. Yuniawati. Sifat yang tidak memenuhi standar adalah: kerapatan. serta komposisi campuran bahan baku (tempurung biji dan kayu jarak pagar) dengan tempurung kelapa 0.24. Kata kunci: Tempurung biji jarak. kandungan minyak sangat tinggi. Halaman 63 . kadar abu dan nilai kalor (kecuali briket arang dari kayu jarak B 50/50). East Kalimantan) / Sona Suhartana.2004. dapat ditanam pada lahan yang sempit dalam bentuk pagar. Oleh karena itu informasi mengenai penggunaan Chainsaw ditinjau dari jumlah kebutuhannya perlu disampaikan. Halaman 227-240 . Setiawan.) telah lama dikenal sebagai penghasil minyak untuk bahan bakar dan obat. nilai kalor. TEKNIK PEMBUATAN DAN SIFAT BRIKET ARANG DARI TEMPURUNG DAN KAYU TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L. karbon terikat (kecuali briket arang dari tempurung biji jarak B 100/0). untuk kegiatan penebangan di hutan tanaman industri (HTI) telah menggunakan chainsaw. Prospek pengembangan tanaman ini sebagai tanaman energi sangat baik karena daya adaptasi terhadap jenis tanah dan iklim sangat besar. Di dalam makalah ini dikemukakan mengenai aspek yang berhubungan dengan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan limbah dari tanaman jarak pagar berupa tempurung biji dan kayu untuk briket arang.) Shell and Wood) / R. tetapi belum diketahui secara pasti jumlah chainsaw yang sebaiknya digunakan agar hasilnya efisien. -. Jatropha curcas Linn. Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian penggunaan chainsaw untuk menebang tanaman mangium dan gmelina dan hasil tersebut selanjutnya 90 . Hasil hutan. zat terbang. Permasalahan umum stok produksi hasil hutan kayu dan non kayu. kualitas produk dan aspek kelayakan finansial dalam pengusahaannya. Energi alternatif. Industri kehutanan Sudradjat. D.) (Technical Setiawan. Beberapa sifat fisiko-kimia briket arang telah memenuhi Standar Jepang yaitu: keteguhan tekan. Sudradjat. yaitu dalam rangka meningkatkan kelayakan ekonomi pengusahaan minyak jarak pagar untuk biodisel. Pencampuran dengan tempurung kelapa dapat meningkatkan karbon terikat dan nilai kalor briket dari tempurung biji jarak. 400 dan 600 kg/cm2. tetapi lebih rendah di dalam kadar air. kayu jarak pagar. Dengan tujuan memberikan informasi yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan.3 . tanaman ini sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai energi alternatif khususnya di pedesaan sekaligus memperluas lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. cepat tumbuh dan berbuah. Prakiraan stok produksi kayu di hutan alam. Dengan adanya krisis energy.76 . dan hutan rakyat. teknologi. 2005 Biji Jarak (Jatropha curcas Linn. R BIODESEL DARI TANAMAN JARAK PAGAR SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF UNTUK PEDESAAN / R. Han Roliadi. R. maka minyak jarak mulai diteliti kembali pemanfaatannya untuk pembuatan biodesel. kadar air. serta meningkatkan kerapatan dan keteguhan tekan briket dari kayu jarak pagar. Oleh karena itu. 2006 Sudradjat.

665 . sistem kabel layang P3HH24. Produksi kayu dari hutan alam cenderung menurun dari tahun ke tahun. Upaya peningkatan produksi hasil hutan dapat direalisasikan melalui implementasi PBL kaitannya dengan teknik.0 .39 tahun. Hasil hutan. Sona PENINGKATAN PRODUKSI HASIL HUTAN MELALUI IMPLEMENTASI PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN / Sona Suhartana.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 79-82 . Djaban Tinambunan. Pemanenan yang dilakukan di hutan tanaman tidak jauh berbeda dengan di hutan alam. Peningkatan efisiensi pemanenan kayu di hutan alam maupun di hutan tanaman ditujukan agar pemanfaatan sumberdaya hutan optimal dan gangguan lingkungan minimal. 2006 Produksi hasil hutan terutama kayu memegang peranan cukup berarti dalam pembangunan nasional. sehingga kelestarian produk tetap terjaga tanpa meninggalkan kelestarian ekologinya.24. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi teknis dan finansial penggunaan alat pengeluaran kayu tersebut. NPV = Rp 75. Cepatnya waktu ini mengakibatkan alat tersebut tidak beroperasi lagi pada bulan nya sehingga mengakibatkan tingginya biaya untuk menutupi semua biaya tetap.169 . -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume kayu yang dikeluarkan dan waktu kerja yang diperlukan berturut-turut berkisar dari 0. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah membuat alat pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 yang dirancang untuk mengeluarkan kayu pada areal berbukit. manjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dilakukan teknik pemanenan yang tepat.51. danB/C Ratio =1.8 detik/rit (rata-rata 161. 2006 Bukan langkah yang bijak bila hutan alam yang sekarang ini kondisinya carut marut dijadikan tumpuan utama pemasok bahan baku kayu untuk industri. Halaman 157 . Pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 adalah layak secara ekonomi dengan Pay Back Periode = 1. Hutan tanaman yang sekarang ini disorot. efisiensi. Produksi kayu dari hutan tanaman masih relatif sedikit. -. Upaya tersebut diharapkan dapat dijadikan bahan acuan bagi para penentu kebijakan dan pelaksana di lapangan. -.045.144 m (rata-rata 0. Untuk meningkatkan produksi hasil hutan terutama kayu dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi pemanenan kayu melalui implementasi pemanenan hutan yang berwawasan lingkungan (PBL).0. Produktivitas pengeluaran kayu bervariasi antara 1. Dulsalam. biaya Suhartana.175. Kata kunci: Peningkatan produksi.012 . target produksi.digunakan untuk mengetahui jumlah kebutuhan penggunaan chainsaw yang tepat dan efisien dalam penebangan pohon mangium dan gmelina.046 m3) dan 77.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 65-77 . No. Wawasan lingkungan Sukadaryati PENGELUARAN KAYU DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH24 DI HUTAN TANAMAN KPH SUKABUMI (Log Extraction Using P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of Sukabumi Forest District) / Sukadaryati. Kata kunci: Hutan tanaman.215. Sistem tebang habis dan dimensi kayu yang relatif kecil menuntut perlakuan khusus agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat 91 .8.300/m3. Kata kunci: Jumlah chainsaw.2 .018m /jam (rata-rata 3. Kebutuhan kayu untuk industri pengolahan kayu cukup besar sementara jatah produksi tahunan relatif kecil. IRR = 66. dan biaya pengeluaran kayu adalah Rp 16.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Dulsalam.0 detik/rit). produktivitas. biaya Sukadaryati PEMANENAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN TANAMAN / Sukadaryati dan Sukanda. Pemanenan hutan. Penggunaan chainsaw sesuai jumlah yang ada di lapangan akan mempersingkat pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan jumlah kebutuhan chainsaw yang efisien adalah berdasarkan rencana produksi perusahaan. efisiensi dan upaya peningkatan efisiensi pemanenan kayu.562 m /jam). yaitu 21 unit untuk penebangan mangium dan 5 unit untuk penebangan gmelina.4%. pengeluaran kayu. 2006 Pengeluaran kayu di areal hutan tanaman yang berbukit-bukit dengan ukuran kayu relatif lebih kecil perlu mendapat perhatian khusus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar perekat terhadap sifat papan partikel bambu. Kemajuan dalam teknologi perekatan diharapkan dapat mengatasi keterbatasan bentuk dan dimensi bambu sebagai bahan subtitusi kayu. -. 2006 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bila dikelola secara seksama dapat berperan besar dalam meningkatkan nilai lahan hutan dan pendapatan masyarakat sekitar hutan. papan partikel. bambu lamina. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah melakukan beberapa penelitian mengenai bambu lamina dan bambu lapis. bambu yang bentuk aslinya bulat dan berlubang dapat diolah menjadi produk perekatan bambu berbentuk papan bambu atau balok bambu yang dikenal dengan nama bambu lamina dan produk panel bambu berupa bambu lapis. Penggunaan peralatan yang tidak tepat akan mempengaruhi efektifitas kerja. Untuk tujuan tersebut maka produk bambu yang dihasilkan harus dapat menggantikan fungsi papan atau balok kayu sehingga produk bambu tersebut memiliki ukuran tebal. bahan bangunan serta penggunaan lain. dapat memacu perkembangan HHBK bernilai tinggi sesuai lahan hutan setempat. Kata kunci: Bambu. I. bambu lapis Sumadiwangsa. Bentuk partikel bambu yang digunakan adalah untai. sedangkan perekatnya adalah urea formaldehida (UF) cair.10. Suwardi Sumadiwangsa. -. I. pasca panen. pengolahan dan diversifikasi produk masih dilakukan secara tradisional belum ditunjang IPTEK tepat guna yang memadai.1 . Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat papan partikel bambu yang dihasilkan. panen. Paradigma baru kehutanan bila telah dilaksanakan.9. Sulastiningsih.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.M TEKNOLOGI PEMBUATAN BAMBU LAMINA DAN BAMBU LAPIS / I. Kata kunci: Teknologi pembuatan. E. bahan bangunan dan penggunaan lain adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. seleksi bibit.24. Novitasari.70 g/cm dengan kadar perekat bervariasi yaitu 8. PENGARUH KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL BAMBU (Effect of Resin Portion on Bamboo Particleboard Properties) / I. Sumberdaya bambu tersebut perlu ditingkatkan pemanfaatannya agar dapat memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Papan partikel bambu sekala laboratorium dibuat dengan target kerapatan 0. Penggunaan kadar perekat minimum 11% dari berat kering partikel bambu menghasilkan papan partikel bambu yang cukup kuat dan stabil serta memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia. produktivitas. Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan penunjang kayu atau bahan pengganti (subtitusi) kayu untuk mebel. teknik penanaman dan pemeliharaan. Wawasan lingkungan. IPTEK tepat guna yang diperlukan mencakup pemilihan jenis tumbuhan bernilai tinggi yang akan ditanam. diversifikasi produk dan 92 .dikurangi.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 131-141 . Nurwati Hadjib dan Karnita Yuniarti. Kata kunci: Pemanenan.M. Halaman 1 . Sulastiningsih. Hutan tanaman Sulastiningsih. lebar dan panjang tertentu. Akan tetapi.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 179-199 . Bambu yang digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper). sifat fisis dan mekanis Sulastiningsih. Sampai sekarang teknik budidaya pemanenan. Suwardi TEKNOLOGI PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU / E. No. Salah satu cara untuk mendapatkan teknik pemanenan yang efisien dan berdampak minimal adalah kesesuaian penggunaan alat pemanenan dengan kondisi hutan tanaman. 2006 Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia memiliki sumber daya bambu yang cukup potensial. -.11 dan 12% dari berat kering partikel bambu. pengolahan. Oleh karena itu perlu ditingkatkan diversifikasi produk pengolahan bambu khususnya produk bambu yang dapat digunakan sebagai subtitusi kayu. disamping mudah diserang bubuk. Pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini pada umumnya untuk mebel.M. Dengan menggunakan perekat tertentu.M. masalah yang timbul dalam pemanfaatan bambu sebagai bahan mebel. kadar perekat. barang kerajinan dan supit. dan biaya serta gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Agus Turoso.8 .

Iskandar. Kata kunci : Ketahanan kayu. Hasil hutan bukan kayu Suprapti. Bogor) / Achmad Supriadi.4791 m = 0.. Pycnoporus sanguineus HHB-324. kehilangan berat Supriadi.000. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan limbah kayu dari hasil pemanenan hutan tanaman. nilam. damar.teknik pemasaran. jamur perusak.4% (kelas IV). Bogor. Dengan harga jual serpih Rp 360. dan Eucalyptus pellita F..24 No. -. kilemo dan ipuh kebanyakan masih dikelola secara lokal sehingga belum dapat menghasilkan produktivitas dan kualitas HHBK.2 . Kehilangan berat tertinggi (36. kopal. Contoh uji dibagi dalam dua kelompok secara radial.000. Berdasarkan dua kelompok contoh uji. kemenyan. 2006 Hasil pemanenan kayu di areal hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman masih menyisakan potongan-potongan kayu kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konversi rarta-rata limbah pemanenan untuk bahan baku serpih (chip) adalah 1 sm = 0. Produktivitas penyerpihan adalah 1. Kata kunci: Teknologi pemanfaatan.040 dan Rp 14. Investasi pendirian satu unit pengolahan serpih kayu sebesar Rp 38. Rendemen serpih sebelum disaring dan setelah disaring masing-masing adalah 97% dan 53%. Cunn.691. jernang.) diuji terhadap jamur menggunakan 93 . Halaman 103 .227 per ton serpih.113 dan harga pokok produksi serpih sebesar Rp 325. Selain itu juga dipaparkan mengenai diversifikasi produk yang dapat meningkatkan nilai tambah HHBK dan Beberapa hasil Penelitian yang sudah saatnya ditindaklanjuti dengan tahap uji coba di lapangan. Sedangkan kehilangan berat terendah (0. yaitu bagian tepi dan dalam dolok. Beberapa komoditi HHBK seperti gaharu. serpih kayu Chip Production Using Portable Chipper: Case Study in BKPH Parungpanjang. mesin serpih mudah dipindahkan. sagu. Halaman 267-274 . gondorukem. Acacia crassicarpa A. Cunn. Achmad PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PRODUKSI SERPIH KAYU MENGGUNAKAN MESIN SERPIH MUDAH DIPINDAHKAN (SMD): STUDI KASUS DI BKPH PARUNGPANJANG. Sihati KETAHANAN EMPAT JENIS KAYU HUTAN TANAMAN TERHADAP BEBERAPA JAMUR PERUSAK KAYU (The Resistance of Four Plantation Wood Species Against Several Wood Destroying Fungi) / Krisdianto. kemiri. No.24. kemampuan tertinggi dijumpai pada Tyromyces palustris. limbah.v.11 Kata kunci : Hutan tanaman. (Productivity and Cost of M. dan Schizophyllum commu.. kemudian diikuti Polyporus sp.257 ton.6 ton/hari.. (Acacia aulacocarpa A. Acacia auriculiformis A.8%) terjadi pada bagian dalam I crassicarpa yang diletakkan pada biakan Pycnoporus sanguineus HHB-8149. kehilangan berat kayu bagian dalam sebesar 6.I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu Acacia aulacocarpa dan Eucalyptus pellita termasuk kelompok kayu agak-tahan (kelas III) dan kayu Acacia auricultformis. Osly Rachman.115 . Acacia crassicarpa termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV). telah dilakukan penelitian pengolahan limbah kayu jenis mangium (Accacia mangium) di areal hutan tanaman di BKPH Parungpanjang.8%) terjadi pada bagian tepi kayu Acacia crassicarpa yang diletakan pada biakan Polyporus sp. dapat diperoleh laba kotor dan laba bersih rata-rata per tahun masingmasmg sebesar Rp 16. Potongan kayu yang biasa disebut sebagai limbah pemanenan pada umumnya ditinggalkan di hutan dan sebagian yang dianggap masih laik dijual kepada penduduk sekitar hutan untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau bahan baku energi lainnya.109. 2006 Pada umumnya kayu dari hutan tanaman memiliki diameter kecil dan mudah terserang jamur perusak kayu.000 per ton.4 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Ketahanan empat jenis kayu hutan tanaman standar DIN 52176 yang telah dimodifikasi. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. BOGOR.3% (kelas III) lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan berat kayu bagian tepi sebesar 12. Berdasarkan kemampuan untuk melapukkan kayu. Cunn. Biaya produksi per tahun sebesar Rp 156.M.

Halaman 87-95. Kemenyan di pasaran dikelompokkan menjadi 6 kualitas berdasarkan kriteria uji ukuran (besar kecilnya) lempengan/ bongkahan dan warna kemenyan. seyogyanya ada kebijakan pemerintah yang mendorong pihak terkait melakukan pengelolaan kayu dan tertarik untuk memanfaatkannya. alat-alat olah raga dan perahu. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan sifat fisiko-kimia kemenyan berbagai kualitas yang ada di pasaran.Br) balobo (Diplodiscus sp). -. balobo. No.q. kayu sawit 30. ukuran. kendal (Eretia acuminata R. industri kayu. tetapi industri perkayuan belum memperoleh kayu perkebunan secara maksimal. terhadap kayu karet. T. kerapatan.4 juta m3/tahun. Poedji Hastoeti. Dalam pengelolaan. Ditjen Bina Produksi Kehutanan dan Departemen Pertanian c. Potensi dan pengolahannya belum diketahui sehingga perlu pengkajian.1 . setiap dua minggu harus diberi pestisida kembali. Di TPKP harus segera diberi pestisida pencegah jamur biru dan kumbang ambrosia. kendal dan rasamala. penebangan. potensi kayu perkebunan secara nasional adalah 61. sehingga diharapkan nantinya pengelompokkan kualitas kemenyan dapat dipertimbangkan secara kuantitatif berdasarkan unsur-unsur sifat fisikokimianya. Waluyo. 94 . Pengkajian dilakukan di Pulau Jawa dan Sumatera. marasi (Hymenaea sp. No. Pemerintah telah mengatur kebijakan penebangan dan retribusi kayu perkebunan. Achmad SIFAT PELENGKUNGAN LIMA JENIS KAYU DENGAN DUA MACAM PERLAKUAN AWAL (Bending Characteristics of Five Wood Species With Two Types of Pretreatment) / Achmad Supriadi . terdiri dari kayu karet 17. Kata kunci: Pelengkungan. Kayu perkebunan mungkin dapat ditampung dalam Tempat Penampungan Kayu Perkebunan (TPKP) yang dilengkapi dengan sarana pengolahan dolok diameter kecil. Osly Rachman.24. di TPKP paling lambat tersimpan dua minggu.) dan rasamala (Altingia excelsa N. Supriadi.Info Hasil Hutan : Vol. Abdurachman. sawit dan kelapa. 2006 Sumatera Utara merupakan sentra produksi kemenyan di Indonesia.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 2006 Industri kayu sekunder cukup banyak menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung seperti industri mebel. Tujuan kajian untuk mengetahui potensi dan mendapatkan sistem pengelolaan kayu perkebunan. Dalam rangka mendorong pemanfaatan kayu perkebunan. KARAKTERISTIK DAN SIFAT FISIKO-KIMIA BERBAGAI KUALITAS KEMENYAN DI SUMATERA UTARA (Characteristics and Physicochemical Properties of Benzoin Gum qualities in North Sumatera) / Totok K. perendaman. Prihatiningsih. Data dikumpulkan dari berbagai instansi pemerintah. Cara pembuatan komponen lengkung dengan menggunakan gergaji cenderung menghasilkan rendemen yang rendah. Achmad POTENSI DAN KONSEP PENGELOLAAN KAYU PERKEBUNAN UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI PERKAYUAN / Achmad Supriadi. bentuk. Sebelum diolah atau terjual. yaitu kualitas I s/ d VI. sedangkan kayu yang diberi pengukusan hanya dapat dilengkungkan hingga radius 51 cm.4 juta m3/tahun dan kelapa 13. Komponen dalam bentuk lengkungan tersebut umumnya dibentuk dengan cara digergaji mengikuti pola lengkungan. lembaga pemasaran dan asosiasi. selain dari hutan alam.1 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.q.1 juta m3/tahun. 2006 Industri perkayuan dituntut untuk mencari bahan baku alternatif. pengukusan. Ditjen Perkebunan Kata kunci: Kayu perkebunan.3 juta m3/tahun. restribusi dan pengelolaan Waluyo. Apabila tersimpan lebih lama. Salah satu sumber alternatif adalah kayu perkebunan. Kayu asam jawa memiliki karakteristik pelengkungan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu marasi.) dengan dua macam perlakuan awal yaitu (1) pengukusan dan (2) perendaman dalam larutan NaOH 3% dilanjutkan dengan pengukusan.31 .Supriadi.61 .12 No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang terlebih dahulu direndam dalam larutan NaOH 3% selama 7 hari kemudian dikukus. -.). Sifat fisiko-kimia kemenyan yang diuji adalah warna. Osly Rachman & Edi Sarwono. Cara lain yang lebih efisien adalah pelengkungan kayu secara fisis dan kimia. Dalam studi ini dilakukan determinasi karakteristik pelengkungan pada 5 jenis kayu. swasta terkait. Totok K. dapat dilengkungkan hingga radius 26 cm. -. yaitu kayu asam jawa (Tamarindus indica L. Halaman 47 . Halaman 21 .2 . Hasil kajian menunjukkan. pengembangan dimensi.24. perlu dibentuk Tim Koordinasi Kayu Perkebunan (TKKP) di tingkat daerah dan pusat yang melibatkan Departemen Kehutanan c.

E. Kondisi sumber bahan baku 95 . Akan tetapi produk HHBK pada umumnya dari dulu hingga saat ini banyak diperdagangkan masih berupa produk mentah atau asalan sehingga kurang memberikan kontribusi ekonomi pada masyarakat tersebut.12 No. rendemen Waluyo. terutama gaharu kualitas tinggi (gaharu gubal/super). Strategi tersebut mengupayakan penciptaan dan peningkatan nilai tambah. yaitu gaharu kamedangan 0. Kata kunci: Kualitas. Waluyo. Perendaman 5 hari menghasilkan rendemen minyak gaharu tertinggi. stabilitas keamanan dan law enforcement. Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar air dan kadar abu relatif sama antara kemenyan kualitas I.1 . III. Keberhasilan pengembangan industri memerlukan dukungan iklim investasi. kadar kotoran. banyak jenisnya (kulit. Dengan demikian diharapkan adanya pengembangan jenis-jenis HHBK yang prospektif dan penerapan teknologi pemanfaatan yang siap pakai akan dapat meningkatkan nilai tambah produk HHBK sehingga dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya masyarakat sekitar hutan.. II.75%. resin/getah.kadar air. Untuk meningkatkan nilai tambah. kualitas III berasal dari kemenyan kualitas V dan kualitas IV berasal dari kemenyan kualitas VI. Kadar kotoran dan titik lunak kemenyan kualitas I. Pada waktu penyulingan ditambah satu sendok garam dan tanpa ditambah garam. binatang dan lain-lain) dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitar hutan sejak dulu.85% dan gaharu buaya 0.. Industri pengolahan hasil hutan di Indonesia merupakan industri yang memanfaatkan sumber bahan baku yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman. biji. II. kualitas II berasal dari kemenyan kualitas IV. titik lunak dan kadar asam balsamat. -. salah satunya adalah dengan cara penyulingan. banyak diburu di hutan alam sehingga keberadaannya di hutan dan di pasar semakin langka. 2006 Gaharu merupakan komoditi hasil hutan bukan kayu yang harganya sangat mahal. III dan IV adalah relatif sama. Totok K PENYULINGAN GAHARU KAMEDANGAN DAN GAHARU BUAYA DENGAN METODA KOHOBASI / Totok K. IV dan V. berorientasi eksport dan berwawasan lingkungan. Dengan demikian disarankan pembagian kualitas kemenyan menjadi 4 kelas kualitas yaitu kualitas I berasal dari kemenyan kualitas I s/d III. Tulisan ini memaparkan beberapa produk-produk HHBK yang prospektif dan teknologi yang siap pakai antara lain pemanenan dan pengolahannya. 2006 Kebijakan Pengembangan Industri Nasional diarahkan kepada peningkatan industri yang berdaya saing global yaitu industri yang mempunyai keunggulan kompetitif. Waluyo. buah. Waluyo. Penyulingan gaharu dilakukan dengan menggunakan metode sederhana (kohobasi). Program pengembangan industri nasional ditujukan untuk meningkatkan lapangan kerja dengan cara mengembalikan dan meningkatkan kinerja industri berorientasi eksport. Halaman 59-65 .(et. gaharu kamedangan. iklim usaha yang kondusif termasuk pembiayaan. Totok K. jernang.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 9-13 .al) . maka perlu usaha diversifikasi produk gaharu.Info Hasil Hutan : Vol. Kata kunci: Asam sinamat. damar Wargadalam. kohobasi. BEBERAPA PRODUK-PRODUK HHBK PROSPEKTIF DAN TEKNOLOGI PEMANFAATANNYA YANG SIAP PAKAI / Totok K. bunga. sedangkan kadar asam balsamat kemenyan kualitas I. daun. Saat ini yang ada di pasar umumnya gaharu dengan kualitas rendah dan harganya relatif murah seperti gaharu buaya dan gaharu kamedangan. Sumadiwangsa. asam balsamat. kadar abu. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 201-206 .50 mesh. efisiensi dan produktivitas. Umi Kulsum. selanjutnya direndam dalam air selama 5 hari. Sebelum penyulingan gaharu dijadikan serbuk berukuran 40 . -. Arian STRATEGI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DALAM PENYELAMATAN INDUSTRI KEHUTANAN / Arian Wargadalam. 2006 Produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan produk yang bersifat kedaerahan. dan industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri. II dan III relatif sama. S. Kata kunci: Gaharu buaya. dekstrin. kilemo. kemenyan. sifat fisik-kimia. 10 hari dan tidak direndam dalam air. yaitu penyulingan dengan cara merebus.

Pohon medang landit yang dipanen merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan hutan baik hutan rakyat maupun kawasan hutan negara. produk turunan. X. Permasalahannya pengupasan biji kemiri secara tradisional tidak dapat dilakukan lagi dalam skala industri sehingga dibuatnya mesin pengupasan biji kemiri untuk menghasilkan persentase keutuhan biji kemiri yang tinggi. Tapanuli Selatan.. perebusan.) / Santiyo Wibowo -. pemanenan.12 No. kawao (Milletia sericea W. daun.Roem) dan cengal (Hopea sangal Korth). Kata kunci : kemiri. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah perlakuan pendahuluan berupa perebusan.). perendaman 96 . Halaman 67-74 . Beberapa jenis pohon sebagai sumber penghasil bahan pengawet nabati yang biasa digunakan untuk mengawetkan nira antara lain tuba (Denis eliptica Benth.tersebut dewasa ini semakin menipis potensinya karena adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan dari sisi industri pengolahannya. nira aren. 2006 Penggunaan bahan pengawet pada nira aren sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti terbentuknya asam.2 . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlakuan pendahuluan dan kecepatan putar berapa yang paling efektif agar menghasilkan persentase biji kemiri utuh yang tinggi.).Info Hasil Hutan : Vol. industri kehutanan Wibowo. Sipirok. Nira yang telah rusak kurang baik jika digunakan untuk membuat produk turunannya. Kulit kayu medang landit dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan obat anti nyamuk bakar dan dupa (hio). Data yang dikumpulkan meliputi potensi. jenis pohon Wibowo. kayu belum dimanfaatkan secara optimal. pengovenan. sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq. Santiyo PENGUSAHAAN KULIT KAYU MEDANG LANDIT DI DESA BULU MARIO. cara pemanenan. Halaman 105-112. dupa Winarni. -. dan rendam 24 jam. penanganan pasca panen.12 No. Sumatera Utara. buah dan daging buah. 2006 Kemiri merupakan tanaman serbaguna.).Info Hasil Hutan : Vol.1 .Info Hasil Hutan : Vol. pengovenan dan perendaman.). kulit kayu nyirih (Xilocarpus granatum Koen. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengusahaan kulit kayu medang landit (Persea spp) di desa Bulu Mario. Kata kunci: Kulit kayu medang landit. kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn. departemen perindustrian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pohon medang landit adalah 14 pohon/ha. Ina PENGARUH PEREBUSAN.12 No. tingkat keutuhan biji kemiri akan semakin tinggi. obat anti nyamuk. Kata kunci: Bahan pengawet. Cara pemanenan kulit medang landit dilakukan dengan menebang pohon. dimana hampir seluruh bagian dari tanaman kemiri dapat digunakan. Suwardi Sumadiwangsa. PENGOVENAN DAN PERENDAMAN TERHADAP KEUTUHAN BIJI KEMIRI / Ina Winarni & E. Nilai keutuhan biji kemiri tertinggi (40 %) terdapat pada kecepatan putar 1000 rpm dengan perlakuan rebus 4 jam. kayu nangka (Artocarpus Integra Merr. buih putih dan lendir. Halaman 115-122 .2 . Santiyo BEBERAPA JENIS POHON SEBAGAI SUMBER PENGHASIL BAHAN PENGAWET NABATI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr. moluccensis M. tata niaga dan kendala pengusahaan melalui teknik observasi dan wawancara. seperti batang. . funi (Garcinia syzygiifolia Pierre). Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan kayu bulat tersebut antara lain disebabkan oleh semakin menurunnya kemampuan daya dukung hutan yang disebabkan oleh kurang baiknya manajemen pengolahan hutan dan semakin maraknya penjarahan hutan Kata kunci: Strategi.). SIPIROK-TAPANULI SELATAN. oven 6 jam. & A. SUMATERA UTARA / Santiyo Wibowo. dan belum ada budidaya tanaman. Semakin lama perlakuan perebusan dan pengovenan.

12 No. sistem penebangan. Penyaradan. kondisi topografi dan kondisi tanah.1 . Halaman 25-32 . Kata kunci: Muat bongkar.Info Hasil Hutan : Vol. volume kayu 10. topografi dan kondisi tanah. Halaman 123-131 .12 No. Kerusakan ekologi dipengaruhi kemiringan lapangan. yaitu 32. biaya Yuniawati KAJIAN PENYARADAN KAYU DENGAN TRAKTOR CATERPILLAR / Yuniawati & Sona Suhartana. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui produktivitas yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan serta kerusakan ekologi yang ditimbulkan pada beberapa tipe traktor Carterpillar. 2006 Penyaradan merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tunggak ke tempat pengumpulan kayu (TPn).2 .43 m3 dan waktu kerja 20. pada areal yang luas.60 menit.Info Hasil Hutan : Vol. Sona Suhartana. 2006 Muat bongkar dolok merupakan salah satu kegiatan dalam pemanenan hutan. Kata kunci.2 m. biaya. Produktivitas penyaradan kayu dengan menggunakan traktor Caterpillar D7g memiliki nilai tinggi. produktivitas. Dengan mengetahui produkdvitas dan biaya muat bongkar. Biaya penyaradan dengan traktor ini adalah sebesar Rp 7. intensitas penggunaan jalan sarad dan kandungan air tanah. Penggunaan alat sarad mekanis traktor perlu mempertimbangkan segi teknis.91/ m3.56 m3/jam dengan jarak sarad 289. kerusakan 97 . produkdvitas. pemilihan alat yang sesuai dapat lebih mudah dilakukan. -.Yuniawati PRODUKTIVITAS DAN BIAYA MUAT BONGKAR KAYU BULAT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS / Yuniawati. volume kayu yang disarad. Penggunaan traktor caterpillar tidak terlepas dari kerusakan ekologi yaitu kerusakan tegakan tinggal. traktor Caterpillar. Faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah jarak sarad. ekonomis dan ekologi. Di luar Pulau Jawa. Produktivitas bongkar tertinggi menggunakan Allis Chalrners 745H dengan risiko kerusakan kayu sangat kecil. muat bongkar umumnya menggunakan peralatan mekanis. Biaya muat bongkar yang terendah masingmasing menggunakan wheel/oaaferKomatsu WA350. Biaya penyaradan dipengaruhi produktivitas.081. pemadatan tanah dan penggeseran tanah. -. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Caterpillar 966C beroda menghasilkan produktivitas muat tertinggi. Harga alat muat bongkar sangat mahal sehingga perlu direncanakan secara matang sesuai keadaan lapangan.

3 hari. Dedi Setiadi dan Mulat Nuning Ambari. 2006 Salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah dengan cara sambungan yang dapat mempertahankan genotipe pada pohon induknya secara konsisten dan berkelanjutan. A2 = Banyuwangi. yang terdiri atas 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Kompatibilitas. panjang tunas rata-rata 4. Hamdan Adma KEMAMPUAN BERTUNAS TANAMAN SUKUN DI KEBUN PANGKAS DARI ENAM POPULASI DENGAN APLIKASI HORMON IAA (Sprouting Ability of Artocapus altilis from Several Population at Hedge Orchard with the Application of IAA) / Hamdan Adma Adinugraha. untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh dalam penyambungan antara batang bawah (rootstock) dari hasil penyemaian benih dengan batang atas (scion) dari beberapa pohon plus E.67 tunas dengan hasil terbaik dari DIY. No. panjang tunas dan berat kering tunas pada umur 12 minggu. Scion yang berasal dari pertunasan cabang berdiameter lebih 3 mm memberikan pertumbuhan (jumlah dan panjang tunas) yang lebih tinggi dibanding scion hasil perlakuan batang tanaman (girlding).Adinugraha.10 cm dengan hasil terbaik dari Banyuwangi dan berat kering tunas rata-rata 8. Hamdan Adma PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN ASAL DARI POPULASI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH (The Hamdan Adma Adinugraha. mendapatkan kombinasi asal tanaman sukun dengan pemberian IAA yang mempunyai kemampuan tunas terbaik.2 . Sambungan langsung dengan menggunakan scion segar diperoleh keberhasilan 80 persen lebih besar dibandingkan scion direndam air selama 1 . jumlah dan panjang tunas yang lebih baik pada tanaman berumur 2 bulan. penyambungan dengan cara sambung samping dan pemeliharaan tanaman sambungan. Growth of Leafy Cuttings of Breadfruit Trees Taken from Nusa Tenggara Barat with Application of Growth Regulator Hormone)/ 98 . Halaman 37 . -. pellita di kebun benih Wonogiri. -Wana Benih : Vol. Faktor kedua sebagai anak petak adalah asal tanaman terdiri atas 6 aras yaitu Al = NTB. Diameter rootstock yang lebih besar meningkatkan pertumbuhan tanaman sambungan. asal populasi.7. Halaman 93 . Sambungan Perbanyakan Adinugraha. Faktor pertama sebagai petak utama adalah Pemberian IAA terdiri atas 2 aras yaitu PO = tanpa disemprot IAA dan PI = disemprot IAA. -. IAA.93g-18.46 . A3 = DIY. Suplement No. Cepi. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa asal populasi dan pemberian IAA berpengaruh terhadap jumlah tunas. Hamdan Adma STUDI PENYAMBUNGAN JENIS EKALIPTUS BERASAL DARI KEBUN BENIH WONOGIRI (Grafting Study of Eucalyptus pellita from Seed Orchard at Wonogiri) / Hamdan Adma Adinugraha. Hidayat Moko. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi bahan stek pucuk dan zat pengatur terhadap keberhasilan tumbuh stek pucuk tanaman sukun. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sambungan adalah sekitar 10 persen . Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan split plot. Hidayat Moko.80 persen.57g dengan hasil terbaik dari Bone. Kata kunci: Artocarpus altilis. Kata kunci: Eukaliptus pellita. vegetatif.1 . perlakuan naungan memberikan keberhasilan sambungan. Halaman 265-273. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah tunas 6.3.60-10. A4 = Bone. A5 = Malino dan A6 = Sorong.85 cm-7.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.3. Salah satu kendala yang selalu dihadapi dalam sambungan adalah ketidaksesuaian pertautan sambungan.100 . panjang tunas total (cm) dan berat kering tunas (g). Penelitian dilaksanakan di Pusat Litbang Hutan Tanaman dengan metode penelitian melakukan beberapa kegiatan seperti persiapan rootstock. Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas.1 . scion. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh asal populasi tanaman sukun dan pemberian IAA terhadap pembentukan tunas sebagai bahan stek. Kebun Benih. kemampuan bertunas Adinugraha.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengupasan kulit pada cabang memberikan persentase bertunas yang lebih tinggi. sejak bulan Mei sampai Oktober 2005. yaitu faktor pertama adalah bahan tanaman (B1 = bahan cabang. Halaman 1-14 . B2 = bahan akar).Penelitian dilakukan di persemaian Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. -. No. Setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dalam setiap ulangan terdapat 8 sample stek. persen berkecambah rendah. jumlah dan panjang akar. Oleh karena itu keberhasilan upaya pembangunan hutan tanaman sangat tergantung pada keberhasilan dalam mengatasi masalahmasalah yang dihadapi seperti ketidaksesuaian jenis tanaman dengan tapak. diantaranya jumlah benih yang berkualitas masih terbatas. persentase stek berakar. K2 = 50%. Faktor utama ada 2 yaitu pertama adalah posisi bahan stek pucuk yang terdiri atas bagian ujung tunas (PI) dan bagian pangkal tunas sedangkan kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh. dari total luas 9 juta hektar yang ditargetkan pembangunannya sampai dengan tahun 2009 tersebut. Kayu putih. Zat pengatur tumbuh Adinugraha. -.HASIL PENELITIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN DAN IMPLEMENTASINYA / Illa Aggraeni. Penerapan sistem silvikultur intensif dalam pembangunan hutan tanaman merupakan suatu upaya pembangunan yang bersifat kompleks. 2006 Perbanyakan tanaman kayu putih biasa digunakan dengan biji (generatif) yang pada umumnya cara ini memiliki banyak kelemahan. Pengupasan kulit. Kata kunci: Stek pucuk. Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan materi dalam perbanyakan vegetatif adalah rejuvenasi dengan menanam cabang atau akar pada media pasir. Halaman 9 16 . Cabang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor. Sekalipun luas hutan tanaman yang ditargetkan 9 juta hektar. persentase stek berakar. jumlah dan panjang akar dibandingkan dengan stek pucuk bagian pangkal.7. 99 . di samping Hutan Tanaman Industri (HTI) terdapat kawasan yang akan dialokasikan sebagai kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang merupakan perwujudan dari kebijakan nasional "Revitalisasi Sektor Kehutanan". Sri Esti Intari dan Wida Darwiati. 2006 Sejalan dengan kebijakan restrukturisasi sektor kehutanan. Hutan tanaman merupakan sebuah konsep pembangunan hutan yang bertujuan untuk mengatasi berbagai persoalan kehutanan yang bermuara pada terciptanya kelestarian ekosistem lingkungan dan keberlanjutan peranan sosial-ekonomi sumber daya hutan. Rejuvenasi Anggraeni. Untuk itu diperlukan cara perbanyakan yang efektif dan efisien seperti cara perbanyakan vegetatif. yang terdiri atas KO = kontrol konsentrasi 25%.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Pembangunan hutan tanaman dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi tersebut dibangun dengan menerapkan silvikultur intensif. jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang lebih banyak dibandingkan pengupasan kulit pada akar dan bahan yang tidak dikupas kulitnya. Parameter yang diamati terhadap persentase stek bertunas. Illa HASIL.Wana Benih : Vol. K3 = 75% dan K4 = 100%. Hidayat Moko. Nusa Tenggara Barat. berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi menuntut kita semua untuk berupaya mengatasi dengan sebaik-baiknya. 2003). jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang terbentuk. Kata kunci: Akar. viabilitas benih sangat besar dan perolehan genetik kurang optimal. sedangkan faktor kedua adalah pengupasan Kulit (KO=kulit tidak dikupas dan K1=kulit dikupas). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial. Jakarta 23 Nopember 2006 . Departemen Kehutanan telah menetapkan target pembangunan hutan tanaman seluas 9 juta hektar sampai dengan tahun 1009 termasuk 3 juta hektar yang telah dibangun sampai dengan saat ini. Parameter yang diamati meliputi persentase bertunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek pucuk bagian ujung memberikan pengaruh yang lebih baik secara nyata terhadap persentase stek bertunas.1 . Dalam perspektif tersebut diperlukan suatu konsep penyelenggaraan kegiatan rehabilitasi kawasan hutan tidak produktif yang dipadukan dengan ketersediaan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kehutanan (Iskandar dkk. Hamdan Adma PENGUPASAN KULIT PADA CABANGAN DAN AKAR DALAM REJUVENASI TANAMAN KAYU PUTIH (Treatment of Stem and Root Bark Peeling in Rejuvenation of Melaleuca cayuputi / Hamdan Adma Adinugraha. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengupasan kulit pada cabang dan akar selama rejuvenasi telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. pemberian zat pengatur tumbuh memberikan hasil yang lebih baik terhadap seluruh parameter yang diamati dibandingkan dengan kontrol. Sukun.

Produksi kayu pulp A. tumbuh cepat dan sifat kayu yang baik. Luas hutan tanaman jenis ini di Indonesia telah mencapai lebih dari 1 juta ha. Ekosistem monokultur dapat lebih rentan terhadap kerusakan oleh hama/penyakit karena tidak adanya keanekaragaman jenis tanaman dan adanya perubahan cuaca yang disebabkan oleh manusia. Riparian. Indra Jaya Asaad dan Khairul Fattah.2 . Xylo Indah Pratama (XIP). Hasil penelitian menunjukkan semua jenis insektisida yang digunakan efektif dalam menyebabkan kematian ulat C.serangan hama/penyakit. Hardjono ACACIA MANGIUM / Hardjono Arisman dan Eko B. Halaman 83 . serta cara-cara penyerangan dan penularannya.2006 : Halaman 1-6 . -. Yudhistira. 2006 Makalah ini menguraikan perkembangan budidaya Acacia mangium di Indonesia. Indra Jaya PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DAN DAS MELALUI PENDEKATAN EKOWISATA / A. Untuk dapat mengatasi gangguan dari berbagai macam hama/penyakit yang timbul di lingkungan hutan tanaman sangat diperlukan penelitian dasar yang menyangkut kepada pengenalan jenis kepada hama/penyakit dengan mempelajari gejala dan akibat yang ditimbulkannya. Jenis ini pertama kali ditanam di Sabah tahun 1966 dan Sumatera Selatan tahun 1979 sebagai tanaman sekat bakar pada lahan alang-alang (Imperata cylindrica) A. Dari perspektif perikanan. Hardiyanto.Pada hutan tanaman komposisi tegakan hutan terdiri dari jumlah jenis yang terbatas atau bahkan seringkali monokultur. A. Dalam keadaan yang demikian ekologinya cenderung untuk memacu peningkatan populasi hama/penyakit seperti halnya yang terjadi pada ekosistem perkebunan dan pertanian. tanaman inang dan lingkungan setempat.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 111-115 . No.3. DAS Asmaliyah EFIKASI BEBERAPA JENIS INSEKTISIDA TERHADAP HAMA PEMAKAN DAUN PADA TANAMAN PULAI DARAT (Efficacy of Some Types of Insecticides for Leaf Eating Pest on Pulai Darat Plantation) / Asmaliyah.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Arisman. 2006 Hutan dan Derah Sungai merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu dengan yang lain.000 m3/tahun. Salah satu pemecahannya adalah penggunaan bioinsektisida dan penggunaan insektisida kimia secara benar dan bijaksana. Daerah Aliran Sungai. salah satunya pendekatan pengelolaan yang meliputi kedua aspek utama tersebut adalah pengelolaan dengan pendekatan ekowisata. Penelitian dilakukan di laboratorium perlindungan hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) Palembang dan di areal rakyat PT. Feeding grounds) bagi biota air. Kata kunci: Acacia mangium. ekobiologi dari hama/penyakit. glauculalis dalam skala 100 . Dalam rangka itulah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (P3HT) sangat berperan dalam memberikan informasi berbagai masalah tersebut bagi kepentingan para pengelola hutan agar tujuan pokok kehutanan di dalam pengembangan fungsi hutan semaksimal mungkin secara lestari dapat dicapai. -. Gangguan hama/penyakit akan mudah timbul apabila tidak ada keseimbangan lagi antara hama penyebab/patogen penyebab. budidaya Asaad. mangium saat ini mencapai 9 juta m3/tahun sedangkan potensi produksi kayu bulat sekitar 165. Nursery. keterkaitan ekologis di antara keduanya mempunyai hubungan yang kuat terutama dalam fungsi S-N-F (Spawing. Kata kunci: Hutan tepi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasi beberapa jenis insektisida terhadap hama C. Sri Utami. Lubuk Linggau. perkembangan pasar kayu merupakan faktor resiko yang harus diperhitungkan. silvikultur dan pemanfaatan kayu telah dan sedang dilakukan. mangium pada akhirnya dipilih sebagai tanaman komersial untuk memenuhi kebutuhan industri karena kemampuannya beradaptasi pada lahan marjinal.91 . 2006 Saat ini permasalahan pada tanaman pulai yang paling krusial untuk segera dipecahkan adalah masalah serangan hama. Pengelolaan kawasan tersebut memerlukan suatu pengelolaan yang terintegrasi mengingat adanya suatu keterkaitan ekologis diantara kedua ekosistem tersebut. Proses domestikasi jenis ini berlangsung cepat dan serangkaian penelitian di bidang genetika. Ekowisata. Penelitian di lapangan dilakukan mulai Mei sampai Agustus 2004. glauculalis. khusunya ikan. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada hutan tanaman Akasia. Berbagai jenis pengelolaan telah tersedia.

Untuk perencanaan di bidang pertanian dasar seperti ini sangat diperlukan untuk membuat zonasi areal konservasi. Pulai. Serangan hama ini sudah terjadi dari tanaman berumur 4 bulan di lapangan dan sampai tanaman berumur 1 tahun merupakan kondisi kritis terhadap serangan hama C. glauculalis dalam skala lapangan pada kondisi serangan ringan atau kepadatan populasi yang rendah. glaucucalis. Halaman 25-30 . Jelutung. pulai darat. Jarak jalur tiap lokasi 30 km . Edwin Martin dan Fitri Windra Sari. jarak antar titik pengamatan adalah 500 m. Penelitian dilakukan pada tahun 2004 dan 2005 dilokasi Pampangan.laboratorium. sebaran rawa gambut menyebar dengan kedalamn yang berbeda. Sugihan dan Muara Medak merupakan kerjasama antara South Sumatera Forest Fire Management Project dengan Pusat Penelitian Manajemen Air dan Lahan Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya. namun aplikasi insektisida mikroba secara campuran efektif dalam menekan serangan hama C.40 km untuk masing-masing lokasi. glauculalis tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman pulai darat umur 1 tahun selama empat bulan pengamatan. Kematangan gambut bervariasi dari safrik hingga febrik dan ditemukan jejak terbakar secara periodik. sebaran gambut menyebar dengan kedalaman yang berbeda. A.glaucucalis adalah dengan menggunakan insektisida mikroba yang berbahan aktif dan bakteri Bacilus thuringiensis. glauculalis. Serangan hama ini dapat mengakibatkan sebagian daun menjadi rusak.) saat ini merupakan jenis tanaman yang potensial dan prospektif untuk dikembangkan dalam upaya pembangunan hutan tanaman karena memiliki sebaran alami yang luas dan beragam manfaat kayunya. Kondisi vegetasi pohon masih dominan di antaranya Asam Payo. Karakteristik. 2006 Pulai (Alstonia spp. Ulung Selapan. Bakri KAJIAN KARAKTERISTIK LAHAN GAMBUT DI DAERAH OGAN KOMERING ILIR. Untuk perencanaan dibidang pertanian data dasar. Rotan. Hama Clauges glauculalis 101 . glauculalis. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa rawa gambut di daerah Pedamaran-Pampangan dominan ditumbuhi oleh pakis dan perpat serta sedikit galam. Kata kunci: Insektisida mikroba.) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA / Asmaliyah. Pengetahuan tentang karakteristik serangan merupakan dasar dalam menentukan strategi pengendalian optimum. glauculalis terjadi sepanjang tahun dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim terutama curah hujan dan musuh alami. Penelitian menggunakan metode survey dengan bantuan teknologi penginderaan jauh. BANYUASIN DAN MUSI BANYUASIN: DAERAH PEDAMARAN-PAMPANGAN. Tulisan dalam makalah ini berisi tentang karakteristik serangan hama C. -.1 m sampai 5. Musi Banyuasin. pembuatan aksesibilitas dan saluran. kering dan kemudian gugur.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 15-24 . Kata kunci: Efikasi.5 m. Ogan Komering Ilir. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Hasil kajian menunjukkan bahwa pada areal rawa. Bakung. yang diaplikasikan secara campuran dan insektisida kimia yang sifat racun perutnya lebih kuat.2 m .7. jenis insektisida. Bacillus thuringiensis. Karakteristik gambut di daerah Tulung Selapan mempunyai kedalaman 0. Kondisi lahan rawa gambut di daerah Muara Medak ditunjukkan oleh kedalaman gambut berkisar antara 0. -. sebaran dan kematangan gambut. Pengendalian yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk mengatasi serangan hama C. Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam mewujudkan pencapaian pembangunan hutan tanaman pulai dengan produktivitas tinggi di PT Xylo Indah Pratama adalah serangan hama C. Muara Medak angustiloba Asmaliyah KARAKRETISTIK SERANGAN HAMA Clouges glauculalis PADA HUTAN TANAMAN PULAI (Alstonia spp. Pedamaran-Pampangan. Jalur pengamatan menggunakan sistem grid. 2006 Pengembangan pertanian melalui ekstensifikasi ke lahan rawa dan lahan gambut saat ini menjadi alternatif karena terbatasnya lahan kering untuk usaha budidaya tanaman. Kata kunci: Lahan gambut. Pakis dan Gelam. gambut tergolong matang dan jejak terbakar ditemukan pada semua titik pengamatan. Manggris. TULUNG SELAPAN DAN MUARA MEDAK / Bakri. Untuk mengelola lahan gambut diperlukan data dasar yang diperlukan untuk perencanaan akses dan pembuatan saluran drainase. larva C. Serangan hama C. Alstonia spp. Pemanfaatan lahan rawa dan lahan gambut harus mempertimbangkan aspek lingkungan seperti kedalaman. Karakteristik. Meranti.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Kedalaman gambut dari dangkal hingga sangat dalam (4 m hingga 6 m). Banyuasin.0 m. bahkan pada masa populasi mencapai puncaknya dapat menyebabkan tanaman gundul.

Hal tersebut sangat terkait dengan berbagai kendala biofisik lahan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Sub soil Bastoni PEMANFAATAN LAHAN RAWA TERPADU DENGAN POLA AGROSILVOFISHERY / Bastony.Bastoni TIPE VEGETASI HUTAN SUMATERA SELATAN / Bastoni. Gambut adalah media sapih alternatif yang dapat menggantikan top soil. intensif dan mampu meningkatkan pendapatan. 2006 Kebakaran hutan merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Kata kunci: Mahoni. Pola agrosilvofishery semi intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa di daerah terpencil dan belum berkembang (desa-desa) hutan. efisiensi pemanfaatan lahan.. tidak produktif dan belum dikelola secara baik.)/ Bastoni dan Effendi Agus Waluyo. 2006 Mahoni (Swietenia macrophylla King) adalah jenis pohon eksotik yang cukup banyak dipilih untuk hutan tanaman karena mempunyai kualitas kayu yang unggul dan bernilai ekonomi tinggi. Salah satu faktor yang menentukan kualitas bibit adalah kualitas media sapih yang digunakan untuk pembibitan. Sumatera Selatan Bastoni PENGARUH JENIS MEDIA SAPIH TOP SOIL. Dampak yang diharapkan dari penerapan pola tersebut adalah terbentuknya pola pemanfaatan lahan rawa menetap yang efisien. yaitu bahan bakar.25 sampai 0. khususnya untuk pemetaan bahan bakar dan cara-cara untuk meminimasi sumber dan potensinya. Kebakaran merupakan rangkaian proses yang terjadi dari 3 faktor.5 hektar per kepala keluarga (KK). -. Pola agrosivolfishery dapat diterapkan secara intensif atau semi intensif tergantung dari lokasi. Makalah ini menyajikan ragam tipe hutan dan tipe vegetasi yang terdapat di Sumatera Selatan dengan fokus pada tipe hutan dan vegetasi rawa yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibandingkan dengan tipe hutan lainnya. 2006 Luas lahan rawa gambut yang terdapat di Sumatera Selatan sekitar 1. serta diversifikasi komoditi dan pendapatan. Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak merubah ekosistem rawa secara radikal dan tetap mempertahankan sumberdaya awal. Oleh karena itu perlu dicari pola pemanfaatan terpadu untuk mengubah lahan rawa menjadi lahan yang produktif. Top soil. SUB SOIL DAN GAMBUT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MAHONI (Swietenia macrophylla King. Pola agrosilvofishery intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang dekat dengan pasar. Media sapih. -. luas lahan dan tujuan pengembangannya. macrophylla). Pengembangannya membutuhkan dukungan teknologi. Halaman 45-54 .5 bulan setelah sapih. baik hutan alam maupun hutan tanaman. diantaranya adalah teknologi pembibitan. Pola agrosilvofishery merupakan sistem usaha tani atau penggunaan tanah yang memadukan potensi sumber daya pertanian. Halaman 91-94 . Agus Sumadi dan Efendi Agus Waluyo. ekonomi dan sosial budaya yang membatasi aktivitas budidaya pada lahan rawa.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 8593 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur 2. 102 . sumber api dan oksigen. luas lahan 0. luas lahan 1 sampai 2 hektar per KK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sapih top soil dan sub soil tanah podsolik merah kuning (Ultisol) serta gambut (Histosol) terhadap pertumbuhan bibit mahoni (S.Prosiding Seminar HasilHasil Penelitian Hutan Tanaman.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.34) sangat masam dan kejenuhan basa (4.42 juta hektar. Kata kunci: Tipe vegetasi. pertumbuhan bibit yang rendah pada media sapih gambut adalah pH (3. Saat ini kondisinya sebagian besar telah rusak. Pemilihan jenis komoditi pertanian.11 persen) sangat rendah. Swietenia macrophylla King. Pola alternatif yang dapat diterapkan adalah Agrosilvofishery. kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan. -. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Pengelolaan kebakaran antara lain ditujukan untuk meminimasi sumber dan potensi bahan bakar serta pengendalian sumber api melalui rekayasa teknologi dan kelembagaan yang dilakukan secara bersamaan. Lahan rawa yang terlantar hanya dikenal sebagai penghasil asap setiap musim kemarau. Pemahaman dan pengenalan tipe hutan dan tipe vegetasinya akan sangat membantu upaya pengelolaan bahan bakar. Bahan bakar.

Tingkat kerapatan seperti di atas terlalu tinggi bila tegakan tersebut akan dikelola untuk menghasilkan kayu bulat. Makalah ini menguraikan strategi pemangkasan dan penjarangan untuk Acacia mangium guna menghasilkan kayu dengan mutu yang memenuhi syarat sebagai kayu pertukangan.kehutanan dan perikanan yang akan dikembangkan dalam pola agrosilvofishery harus didasarkan pada kesesuaian lahan dan pasar. Dengan pemangkasan dan penjarangan pertumbuhan pohon sampai akhir daur dapat diatur untuk menghasilkan pohon bebas cabang yang tinggi dan pertumbuhannya optimal.5 m. Adanya potensi cabang pohon untuk tumbuh besar dan resiko cabang mati sebagai titik masuknya jamur penyebab busuk hati menyebabkan perlunya dilakukan pemangkasan. Pemanfaatan. Rawa. hutan A. Penjarangan. Pemangkasan bentuk sebelum pemangkasan lift dilakukan dengan hasil akhir 300 batang pohon di pangkas hingga ketinggian 4. Chris STRATEGI PEMANGKASAN DAN PENJARANGAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU KAYU Acacia mangium / Chris Beadle. Untuk itu diperlukan perlakuan pemangkasan. Kayu mangium yang bebas dari cacat tumbuh mempunyai penampilan yang menyerupai jati (Gales 2002). – . Di pasar domestik. Pemangkasan. Persamaan tersebut disusun dengan analisis regresi menggunakan peubah bebas diameter atau kombinasi diameter dan tinggi pohon menggunakan 119 pohon model. 2006 Beberapa persamaan telah dianalisa untuk menduga volume pohon puspa (Schima walliclii Korth. Untuk tujuan kayu pulp. Hutan tanaman A. Kerapatan yang tinggi juga dapat mempengaruhi rata-rata ukuran cabang. JAWA BARAT (Tree Volume Estimation for Puspa in the Sukabumi District of West Java) / Sofwan Bustomi. kayu glondongan mangium dapat menjadi sumber kayu yang penting bagi pasar kayu pertukangan. mangium dapat ditanam hingga kerapatan 1000 pohon/ha. Halaman 209-222 . Persamaanpersamaan tersebut digunakan untuk menduga volume bebas cabang dan volume sampai diameter ujung batang 7 cm. Cabang yang berukuran besar lebih sulit dipangkas dan berpotensi rentan terhadap masuknya penyakit. Sofyan PENDUGAAN ISI POHON JENIS PUSPA DI DAERAH SUKABUMI. kayu mangium mulai digunakan sebagai bahan baku industri furnitur dan sebagian di ekspor ke pasar dunia (Hardiyanto 2005). mangium merupakan sumber kayu utama untuk bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia (Rimbawanto 2000). Sebagian pohon mangium juga menghasilkan batang ganda (multi-stem). Mutu kayu Bustomi. puspa. 1994). Pohon berbatang tunggal merupakan prasyarat pokok untuk produksi kayu bulat. namun dengan adanya kesulitan pengukuran tinggi pohon di lapangan maka persamaan hanya menggunakan peubah diameter tunggal diameter dapat merupakan pilihan.1 . mangium untuk produksi kayu bulat. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. pendugaan.2006 : Halaman 87-96 .3. Agrosilvofishery Beadle. Kata kunci: Lahan rawa.) di KPH Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Suplement No. Sukabumi 103 . Dapat disimpulkan bahwa insiden heartrot dapat meningkat jika pemangkasan dilakukan pada saat tanaman rentan terhadap serangan dan adanya jamur penyebab yang masuk melalui luka bekas pangkas. Kata kunci: Isi. -. 2006 Hutan tanaman Acacia mangium di Indonesia berpotensi menghasilkan kayu untuk pasar furnitur baik di dalam maupun di luar negeri. Terdapat 2 jenis persamaan volume yaitu persamaan regresi sederhana yang menunjukkan hubungan antara volume dengan diameter dan persamaan regresi ganda yang berdasarkan diameter dan tinggi pohon.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. penampilan dan nilai kayu. Walaupun dugaan volume diperoleh dengan menggunakan peubah bebas diameter dan tinggi merupakan dugaan yang sangat teliti. Dengan rotasi yang tidak lebih dari 20 tahun (Srivastava 1993). Jarak tanaman yang rapat disaat penanaman merupakan salah satu pilihan. Oleh sebab itu pemangkasan merupakan hal yang harus dilakukan sebagai bagian dari perlakuan silvikultur tanaman A. proposinya kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan tempat tumbuhya (Srivasta 1993). akan tetapi pengalaman dengan jenis lain menunjukkan bahwa kerapatan tanaman yang tinggi pada awal penanaman menjamin tersedianya pohon yang dapat memenuhi kriteria pemangkasan (Beadle et al. Kata kunci: Acacia mangium. Knots dan busuk hati merupakan cacat yang mengurangi kekuatan fisik.

613. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus) dan lain-lain. pengelolaan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat.3.3% untuk perlakuan serbuk kulit mahoni.1 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pestisida nabati yang berpotensi untuk dijadikan pengendali alternatif untuk hama uret.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. yaitu ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. dan rapuh (fragile). Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. sehingga peran hidrologi/tata air di dalam gambut sangatlah penting. serta keanekaragaman hayati yang saat ini eksistensinya semakin terancam. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi dicapai pada hari ke 4 dengan persentase kematian 83. laporan terakhir dari Badan Planologi Khutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode tahun 1997-2000 di Indonesia mancapai 2. Semua perlakuan pestisida nabati memberikan pengaruh yang nyata. Pelestarian hutan rawa gambut dengan segala nilai kekayaan biodiversity harus segera ditindaklanjuti dengan nyata. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. sedangkan perlakuan mortalitas terendah dicapai pada hari ke 8 dengan persentase 83.Desember 2003. Kata kunci: Rawa gambut. habibatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15 m. Selawesi 34. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas sekitar 17 juta ha yang meliputi di Sumatera 4. hara mineral yang sangat miskin serta sifat keasaman yang tinggi dan mudah terbakar apabila dalam keadaan kering kekurangan air pada lahan gambut tersebut.3% dengan perlakuan serbuk daun mimba. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. Jenis galam (Melaleuca sp). uret 104 . Pengujian dilakukan dengan cara mencampur bahan pestisida nabati tersebut dengan tanah media hidup uret di dalam wadah plastik. Lahan sulfat masam aktual merupakan salah satu lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup disitu. Senyawa pirit Darwiati. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 35-50 .000 ha.531. masing-masing perlakuan digunakan 5 larva uret. ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba.000 ha.83 juta hektar/tahun termasuk di dalamnya kerusakan hutan lahan gambut. 2 perlakuan sangat nyata dalam pengendalian larva uret secara in vitro. -. Maluku 42. jagung. Pengendalian dengan pestisida nabati terhadap larva uret memberikan pengaruh sebagai penghambat aktivitas makan (antifeedan). sehingga dalam melakukan rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi dapat lebih berhasil. tepung kanji. Kata kunci: In vitro. sedangkan pada tanaman kehutanan lebih banyak yang ditanam dengan pola tumpang-sari. Hasil uji coba pengembangan jenis pohon asli dan bernilai ekonomi perlu diimplikasikan untuk rehabilitasi kawasan lahan gambut yang terdegradasi. Herman. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit P3HKA Bogor pada bulan September. Pestisida nabati yang digunakan adalah jamur Beauveria bassiana. rosot dan carbon storage.000 ha. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 3 kali ulangan. sifat irreversible drying. Suplement No. 2006 Uret merupakan larva dari serangga Hollotricia helleri Brsk (Scarabaeidae) yang telah menjadi hama utama pada komoditas pertanian khususnya pada tanaman padi gogo.Daryono. juga sebagai insektisida kontak yaitu secara kontak langsung dengan tubuh mengakibatkan pingsan (paralisis) dan kematian larva.. Oleh karena itu. Ada beberapa tipologi di lahan rawa gambut yang perlu diketahui. Kalimantan 3. jamur Metarhirizium anisopliae. Pengelolaan bijaksana.000 ha.000 ha dan Irian Jaya 8. pestisida nabati. Berdasarkan uji beda nyata terkecil.753. ekonomi dan budaya maupun fungsi ekologi sehingga kelestarian hutan rawa gambut dapat terjamin. dengan merehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan baik sebagai resorvoir air. vanili. kentang dan lain-lain. Pemilihan jenis yang tepat. sebagai pengganti pestisida kimia. Lahan gambut mempunyai karakteristik yang spesifik seperti adanya subsidensi. Degradasi. Halaman 257-264. Wida PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA URET SECARA IN VITRO (The Use of Floral Pesticides to Control Soil Pest by In Vitro) / Wida Darwiati. Herman PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT SECARA BIJAKSANA DALAM RANGKA MENJAGA KELESTARIANNYA / Daryono. teknologi dan kelembagaan rehabilitasi perlu dikaji dan diketahui sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. Lahan sulfat.

Halaman 45 .2006 : Halaman 62-70 . Ari PENGARUH PUPUK NITROGEN TERHADAP PRODUKSI TUNAS DAN KUALITAS STEK PUCUK MERAWAN (Effect of Nitrogen Fertilizers on Shoot Yield and its Quality as Shoot Cutting of H. 46 g N/tanaman (100 g urea) dan kontrol (tanpa pupuk).3. menuntut dilakukannya perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan stek pucuk.-. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah dan panjang tunas di kebun pangkas serta kualitas stek pucuk pada akhir percobaan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Ekonomi komposisi ikan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Penelitian dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. 15 g N (100 g NPK).52 . Habibat Farid A. No. 2006 Penelitian aspek perikanan tangkap di lahan rawa yang merupakan bagian dari perairan umum tempat hidup dan berkembang biak beberapa jenis ikan rawa sekitar Patratani Kab. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2001.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 117-123 .39. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis ikan tertangkap dari beberapa habibat lahan rawa. Tectona grandis dan Khaya ivorensis di Semenanjung Malaysia. dan phellinus sp. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk nitrogen terhadap produksi tunas dan kualitas stek pucuk. -. Penyakit ini nampaknya berhubungan dengan buruknya cara persiapan lahan dan serangan jamur yang terjadi sebelumnya. Muara Enim. Metode penelitian dilakukan dengan survei lapangan dan wawancara dengan dipandu kuesioner terpola. masing-masing disebabkan oleh jamur Rigidoporus sp. Alat tangkap. 2006 Ketersediaan benih untuk bibit Merawan yang tidak teratur dan sifat rekalsitran dan benih. Studi menggunakan penanda molekuler menemukan bahwa pasangan primer PNOX01/ITS4 dapat membedakan Phellinus noxius. Mohd BUSUK AKAR PADA TANAMAN SELAIN ACACIA / Mohd Farid A [et. Kata kunci: Perikanan. ivorensis ditemukan di wilayah negeri sembilan. merawan.Dharyati. Hutan tanaman. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 5 macam dosis pupuk N. stek pucuk. Kata kunci: Hasil tunas. alat tangkap. Emmy PENELITIAN ASPEK PERIKANAN TANGKAP LAHAN RAWA DI SEKITAR PATRATANI KABUPATEN MUARA ENIM SUMATERA SELATAN / Emmy Dharyati.090. -. 2006 Survei penyakit akar dilakukan pada tanaman Azadirachta excelsa. Kata kunci: Acacia mangium. aspek sosial ekonomi dilakukan dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal). Ikan.1 . Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi jamur secara cepat tanpa tergantung pada cara identifikasi morphologi. Perlakuan pupuk diberikan kepada 10 baris tanaman sebagai ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. Penyakit akar yang mematikan yang menyerang K. Dari jumlah 70 nelayan sebagai responden 50 persen status nelayan Full Time dan 50 persen status nelayan sambilan dengan pendapatan perbulan Rp. habibat dan aspek social ekonomi. data yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif. Penyakit. Dengan kelayakan usaha perbandingan Benefit Cost Ratio (B/C) = 1.al] . Akar putih. odorata)/ Ari Fiani. kebun pangkas. pupuk nitrogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan terdapat 35 jenis ikan rawa dengan 10 macam alat tangkap dari beberapa habibat lahan rawa dan 10 jenis ikan ekonomis penting. yaitu 7. Hidayat Moko. sedangkan perlakuan pupuk 100 g NPK/tanaman menghasilkan kualitas stek pucuk yang lebih baik dibandingkan kontrol. -.5 g N (50 g NPK). Penyakit akar putih. namun jamur penyebabnya belum dapat diidentifikasi. 23 g N (50 g urea). 2. sampel ikan yang tertangkap ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan alat tangkap yang dioperasikan. Ditemukan dua penyakit akar putih dan penyakit akar merah. telah dilakukan di areal kebun pangkas di Kaliurang Yogyakarta sejak bulan Juli sampai Oktober 2002. 105 . Akar merah.000. penelitian meliputi jenis ikan. DNA Fiani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 50 g urea/tanaman menghasilkan jumlah dan panjang tunas yang lebih baik di kebun pangkas.

peternakan. sedangkan di lebak sungai Mati 14 jenis. Hasil ini menunjukkan kegunaan informasi sekuens DNA untuk mengklarifikasi informasi ekologis. Identifikasi. bagian yang digunakan untuk identifikasi taksonomi jenis jamur.al] . Ikan Glen. bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan yang tertangkap dan selektivitas alat tangkap. Busuk hati. Semua teknik DNA memerlukan sample herbarium yang memadai dengan uraian morphologi yang lengkap untuk verifikasi hasil dari teknik DNA.Karim Gaffar dan Khairul Fatah. 2006 Penelitian telah dilakukan selama delapan bulan mulai Mei . Hutan rawa. Identifikasi DNA terhadap jamur yang berkaitan dengan tanaman juga berguna untuk meneliti jamur mikorhiza yang bermanfaat bagi tanaman. Teknik DNA merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk identifikasi jamur. Hasil tangkapan di lebak Sungai Mati didominasi oleh ikan Sapil (Helestoma temminkii) sedangkan di lebung Pasunde didominasi oleh ikan Lais (Cryptopterus spp). -. saat ini yang paling banyak digunakan adalah metode yang berdasarkan pada PCR (polymerase chain reaction) karena cepat. A. dan deteksi awal jamur perusak. Teknik DNA Glen. Morag IDENTIFIKASI SECARA MOLEKULER ORGANISME PENYEBAB BUSUK AKAR DAN BUSUK HATI / Morag Glen [et.Gaffar. Tipe vegetasi.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. -. Teknik identifikasi DNA terutama diperlukan untuk identifikasi cepat misalnya untuk keperluan karantina atau bio-security. -.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 125-133 . sedangkan di lebak Sungai Mati adalah jaring. Dimana identifikasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu menentukan perlakuan kesehatan yang tepat. Penggunaan teknik DNA untuk identifikasi jamur telah banyak diterapkan di bidang kesehatan manusia dan hewan. Identifikasi 106 . Rawa banjiran. Alat tangkap. Karim KEGIATAN PERIKANAN DI PERAIRAN HUTAN RAWA SUNGAI MUSI KECAMATAN SEKAYU / A. dan penyakit tanaman juga diuraikan. memonitor keberadaan jamur simbiotik. Sementara sebagian lainnya sulit untuk ditumbuhkan dalam kultur atau kalaupun bisa tidak menghasilkan sifat-sifat yang spesifik. sensitif dan dapat memberikan hasil dalam jumlah besar. Keragaman jenis ikan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Kata kunci: Acacia mangium. Morag PENGGUNAAN TEKNIK DNA UNTUK IDENTIFIKASI JAMUR / Morag Glen.2006 : Halaman 56-61 . kesehatan. (2) Lebak Sungai Mati dengan karakteristik vegetasi semai dan tumbuhan bawah berupa rumputan.2006 : Halaman 50-55 . atau hanya mempunyai sifat-sifat yang unik hanya pada masa tertentu dari siklus hidupnya. Di lebung pasunde alat tangkap yang paling tidak selektif adalah empang. ekologi. Kabupaten Musi Banyuasin yaitu: (1) Lebung Pasunde dengan karakteristik rawa bervegetasi tipe pohon dan tiang. Kata kunci: Perikanan. Teknik-teknik lain yang banyak digunakan dalam bidang pangan. biologi dan patologi jamur. termasuk jumlah sample dan jumlah kandidat jenis. 2006 DNA menyimpan banyak karakter taksonomi untuk identifikasi organisme yang mempunyai sedikit karakter morphologi. Beberapa jenis jamur dapat dengan mudah ditumbuhkan dalam kultur dan menghasilkan karakter mikroskopis yang berguna untuk identifikasi.Desember 2005 pada 2 tipe rawa banjiran sungai Musi di Kecamatan Sekayu. Teknik ini juga banyak diterapkan untuk pengujian mutu pangan untuk mendeteksi kontaminasi jamur. Meskipun banyak metode untuk menganalisa DNA. Busuk akar. Kata kunci: Jamur.Teknik ini terutama berguna untuk identifikasi jamur yang tidak menghasilkan badan buah. Metode yang dipilih untuk aplikasi tertentu dipengaruhi beberapa faktor. 2006 Makalah ini membahas aplikasi teknik molekuler untuk identifikasi jamur penyebab busuk akar dan busuk hati pada Acacia mangium menggunakan empat sampel yang berbeda. Diperairan hutan rawa lebung Pasunde Sungai Musi didapatkan 45 jenis ikan hasil.

sebelum melakukan standar budidaya kelapa sawit sebagaimana dilakukan dilahan kering pada umumnya. akar tuba. produksi kokon. Perlu perlakuan awal lahan dengan melakukan pembuatan saluran drainase yang tepat dan pengapuran yang cukup untuk mendapatkan lahan yang optimal. Kelapa sawit. Pasang surut. bermutu tinggi dan ekonomis. -.2006 : Halaman 7-13 . Air Kumbang Padang Hardi TW. sedangkan di Jawa Barat dikenal dengan nama tuwa.menjamin suplai bahan baku serat yang terbarukan. Murbei 107 . pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Halaman 61-63 . Mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida kimia (sintesis).D PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI INDONESIA DAN ANCAMAN TERHADAP KELANGSUNGANNYA / G. Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dengan nama daerah akar jenu. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar maka usaha pengendalian dengan insektisida sangat diperlukan. 2006 Pengelolaan hutan tanaman yang berkelanjutan harus mencakup kepentingan Plane bumi-konservasi keragaman hayati dan mencegah kerusakan lingkungan. Agribisnis. Kualitas dan kuantitas daun murbei sebagai bahan makanan ulat sutera sangat dipengaruhi aspek biologis. oyod ketungkul.Golani. Tersedianya tanaman murbei yang baik merupakan salah satu penentu keseimbangan produksi benang sutera . Managemen. tuba kurung (Kalimantan Barat). -. seperti pemilihan varietas yang ditanam. pemangkasan. 2006 Lahan di wilayah Air Kumbang Padang pada umumnya merupakan lahan rawa pasang surut dan sebagian besar lahan ini merupakan lahan marginal sebelum adanya pengelolaan lahan lebih lanjut. Keberlangsungan hutan tanaman terancam karena manajemen yang tidak tepat atas tanaman monokultur. Didaerah Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal dengan nama besto.D. 1964) dan tanaman ini merupakan makanan utama ulat sutera (Bombyx mori). Kata kunci: Hama. Uji efikasi. tuba. Salah satu insektisida yang ramah lingkungan adalah insektisida nabati yaitu insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. ternak peliharaan. tuwa laleue. Penelitian inter-disiplin akan terus memainkan peran dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. Hama penggerek. Survei atas adanya kandungan dan kedalaman pirit menjadi sangat penting sebelum kita melakukan desain tata air di wilayah tersebut. Plantation forest.menyediakan kesempatan untuk pengembangan sosial dan pengentasan kemiskinan. serta mutu kokon yang dihasilkan oleh ulat sutra sehingga kondisi tanaman murbei sangat menentukan akan produksi yang dihasilkan oleh ulat sutera. Social ecological. serangan hama dan penyakit pernah dilaporkan menyebabkan gagalnya budidaya ulat sutera di Indonesia. Hutan tanaman Hairudin. Teguh UJI EFIKASI AKAR TUBA TERHADAP HAMA PENGGEREK PUCUK MURBEI / Teguh Hardi TW dan Priyatna Wiraardinata. Kata kunci: Acacia mangium. pertumbuhan populasi.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. seperti keracunan pada manusia. Akar tuba. Pengelolaan yang baik dan benar dapat merubah lahan ini dari lahan marginal menjadi lahan yang memiliki potensi S1 dan S2 untuk kelapa sawit. -. Penduduk . kebakaran dan penebangan illegal. tuwa leteng. Penyakit. 2006 Tanaman murbei (Morus spp) banyak tumbuh di daerah tropis dan sub tropis pada ketinggian 400 m -700 m dpl dengan suhu rata-rata 21-25 derajat celcius (Katsumata.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Makalah ini menguraikan cara-cara untuk mengatasi hal diatas melalui cara pengelolaan yang tepat dan pendekatan multi-stakeholder untuk mengakhiri penebangan illegal. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. namun ketersediaan tanaman ini sangat dipengaruhi oleh sistem budidaya.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 69-72 . Golani.Keuntungan . tuba jenu. G. polusi lingkungan dan hama menjadi resisten maka penggunaan insektisida ramah lingkungan merupakan alternatif yang tidak dapat ditawar lagi. seperti akar tanaman tuba (Derris eliptica (Roxb) Benth). Jakarta 23 Nopember 2006 . kayu tuba. Rawa. Hendi PROSPEK PENGELOLAAN LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI WILAYAH AIR KUMBANG PADANG / Hendi Hairudin dan Ulil Amri.

biji maupun yang lainya mempunyai potensi sebagai bahan baku obat dan masyarakat lokal sudah sejak dulu menggunakannya untuk pembuatan obat tradisional atau jamu. tetapi kandungan tanah yang sangat tinggi akan berpengaruh pada struktur media (keremahan media). 2006 Bambang lanang (Madhuca aspera) merupakan salah satu andalan lokal yang telah direkomendasikan untuk dikembangkan dalam kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Meskipun pada saat ini harga kayu bulat mangium relatif rendah. Kayu bulat mangium yang sekarang tersedianya berasal dari tegakan yag tidak dipangkas dan tidak dijarangi. Kayu mangium makin dikenal masyarakat dan meningkatnya mutu kayu sebagai hasil dari perlakuan silvikultur yang tepat untuk produksi kayu bulat.Permintaan akan kayu bulat mangium meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Kata kunci: Kepuh. Kata kunci: Acacia mangium. sehingga penelitian yang berkaitan dengan aspek ini masih diperlukan. Nanang PENGARUH JENIS MEDIA TABUR TERHADAP PERKECAMBAHAN BAMBANG LANANG (Maduca aspera) / Nanang Herdiana. Di samping itu beberapa bagian dari tanaman ini baik kulit batang. Tegakan A. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media tabur yang paling optimal untuk perkecambahan benih bambang lanang. Kandungan-kandungan tanah akan berpengaruh dalam penyediaan air yang dibutuhkan selama proses perkecambahan. Perbedaan kemampuan setiap media yang diuji dalam mendukung perkecambahan bambang lanang terkait dengan perbedaan sifat fisik media. Eko B ACACIA MANGIUM UNTUK KAYU PERTUKANGAN / Eko B Hardiyanto. Untuk mendukung program pengembangan kepuh ini. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan jenis media tabur hanya berpengaruh nyata terhadap parameter keserampakan tumbuh . Maduca aspera. termasuk teknik pembibitanya belum banyak diketahui. Kayu pertukangan Herdiana. Nanang POTENSI BUDIDAYA KEPUH (Sterculia foetida Linn.)/ Nanang Herdiana. Jenis ini merupakan salah satu jenis substitusi yang paling baik bagi jenis ramin (Gonystylus bancanus) yang pada saat ini sudah semakin sukar didapatkan karena sudah langka dan telah masuk jenis yang dilindungi. 2006 Kayu Acacia mangium tidak saja sesuai untuk bahan baku pulp dan kertas bermutu tinggi tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan baku kayu pertukangan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Jenis media tabur yang paling sesuai untuk perkecambahan benih bambang lanang adalah media M3 (komposisi pasir: tanah = 50:50 v/v) dan M2 (komposisi pasir: tanah = 75:25 v/v). pengadaan benih atau bibit serta informasi mengenai teknik budidayanya sangatlah penting. Hengki Siahaan dan Teten Rahman S. . sedangkan pada parameter daya berkecambah dan kecepatan berkecambah berbeda tidak nyata. Jenis media yang diuji adalah perbedaan komposisi pasir dan tanah.Hardiyanto. Halaman 111-116 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Halaman 137-140 . harga ini diharapkan akan meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam.. Keserampakan tumbuh Herdiana. Budidaya 108 . Sekitar 30 persen cocok untuk kayu bulat dengan diameter terkecil 30 cm. Sterculia foetida Linn. Sampai saat ini informasi yang berkaitan dengan jenis ini. Perlakuan silvikultur yang tepat seperti pemangkasan sangatlah penting bila tegakan ditujukan sebagai penghasil kayu bulat. 2006 : Halaman 97-104 . 2006 Kepuh (Sterculia foetida Linn) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia dan mempunyai kisaran tempat tumbuh yang luas walaupun lebih cocok untuk daerah pesisir. Daya berkecambah. -. Kata kunci: Bambang lanang. daun. Kayu jenis ini juga kemungkinan dapat digunakan untuk bahan baku pulp dan kertas. sehingga rendemen kayunya juga rendah (banyak mata cabang dan batangnya tidak lurus) sehingga rendemen kayunya juga rendah. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . -. Media tabur. Kecepatan berkecambah. mangium dapat dijadikan kayu bulat dengan daur 10 tahun dan dapat menghasilkan hingga 200 m3 per ha per tahun.

Gigaspora. Daerah Matakidi 109 . Rawa. Hasil penelitian menunjukan bahwa jati berasosiasi dengan CMA dengan ditemukan empat genus yaitu Glomus. 2006 Sejumlah penyakit penting pada pohon dan tanaman di daerah tropis Asia disebabkan oleh jenis-jenis Basidiomycetes. telah mengarahkan pengembangan areal pertanian pada pemanfaatan lahan rawa pasang surut. Namun demikian pemanfaatan lahan tersebut belum dilakukan secara optimal karena adanya berbagai kendala teknis. yaitu tahap pertama adalah pengambilan sampel tanah dan akar tanaman di 3 daerah pusat jati asal Kabupaten Muna (Raha. Tahap kedua yaitu isolasi. identifikasi dan pengamatan kolonisasi CMA dilakukan di Laboratorium Budidaya Pertanian Unit Kehutanan Fakultas Pertanian Unhalu Kendari. Taksonomi. jamur puffball (jamur kancing dengan banyak serbuk spora).3. Jamur. R MODEL SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS DI LAHAN RAWA PASANG SURUT: KONSEPSI DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA / R Hermanto dan G Subowo. Buton (Sampolawa) dan Konawe Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 28 Maret . beberapa jenis membentuk hubungan mycorhizal yang menguntungkan dengan akar pohon inang. Agribisnis. Dari serangkaian pengkajian yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. -. sedangkan beberapa jenis yang lain merupakan patogen yang menyerang daun.Hermanto. Matakidi dan Wakuru). 2006 Semakin menciutnya lahan subur untuk kegiatan non pertanian dan beberapa lahan sawah intensif yang telah mengalami jenuh produksi (leveling off) serta meningkatnya permintaan akan hasil pertanian khusunya pangan. Penyakit penting pada pohon-pohon di Indonesia disebabkan oleh jenis Basidiomycetes seperti Rigidoporus microporus. Junghuhnia vincta. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. -. Kata kunci: Acacia mangium. Penelitian dilaksanakan 2 tahap. Halaman 275284. Identifikasi Husna DIVERSITAS MIKORIZA PADA POHON PLUS JATI DI SULAWESI TENGGARA (Diversity ofMicoriza on PlusTtree of Teak in South East Sulawesi) / Husna. Pasang surut Hood. biofisik dan sosial ekonomi sehingga produktivitasnya masih relativ rendah. Acaulospora dan Scutellospora. Oleh karena itu. Phellinus noxius dan beberapa jenis ganoderma. Basiodiomycetes merupakan kelompok penting dari jamur yang mencakup bentuk-bentuk yang sudah dikenal seperti bentuk mushroom (jamur payung yang bisa dimakan). kayu lapuk. 2006 Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Mikoriza Arbuskula (CMA) pada pohon induk Jati di Sulawesi Tenggara. jamur papan dan jamur kerak.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 57-68 . yang digolongkan menurut produksi spora seksual di luar struktur mikroskopi yang disebut basidium. diperlukan strategi yang ditunjang oleh berbagai persyaratan tertentu sehingga pengembangan model tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan nilai tambah kepada petani serta menjadi wahana yang penting untuk menanggulangi kemiskinan di pedesaan. Suplement No.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. -. dan tanah dengan habitat yang beragam seperti hutan maupun daerah terbuka.2006 : Halaman 31-49 . jamur toadstool (jamur payung beracun). Ian A MIKOLOGI BASIDIOMYCETES / Ian A Hood. Hal ini berimplikasikan bahwa pembangunan pertanian di lahan rawa pasang surut harus dilakukan melalui serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dalam kerangka sistem dan usaha agribisnis. Faisal DanuTuheteru dan Mahfudz. Glomus ditemukan pada semua lokasi pengamatan dengan empat tipe spora. batang. atau sistem perakaran pada beberapa jenis pohon yang berbeda. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan model sistem dan usaha agribisnis di lahan rawa pasang surut. Kayu lapuk.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Model tersebut merupakan serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dengan mengintegrasikan antara penerapan teknologi spesifik lokasi dan rekayasa kelembagaan pertanian.2 April 2005. Basidiomycetes. jamur earshstar (bintang) dan jamur koral. Basidiomycetes menempati banyak relung lingkungan termasuk pada sampah terdekomposisi. Jenis-jenis Basidiomycetes secara tradisional diidentifikasi melalui bentuk dan struktur mikroskopis badan buah dan bentuk pertumbuhan ketika diisolasi dalam kultur laboratorium. Penyakit akar. untuk pengembangannya secara optimal dan berkelanjutan.1 .

Hasil pengujian menunjukkan bahwa inisiasi eksplan pucuk pada media dasar 1/2 MS dengan aplikasi kombinasi ZPT BAP 1 ppm + IAA 0. kombinasi beberapa zat pengatur tumbuh akan diuji dalam kultur tunas ramin ini. mangium. Media GD dengan BAP 1.merupakan daerah dengan keanekaragaman CMA yang tinggi. Sejumlah tanaman telah berhasil diproduksi secara komersial seperti T.3. 1/2 MS.01 ppm terbukti memberikan respon terbaik pada inisiasi tunas. Styrax benzoine.3.05 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap induksi dan kombinasi media dasar MS dengan aplikasi kombinasi BAP 0. -. Bentuk kolonisasi yang ditemukan adalah hifa internal. hifa eksternal dan vesikula. grandis dan A. multiplikasi. Pada skala luas diharapkan dapat menyediakan bibit skala produksi masal dalam waktu singkat dengan kualitas bibit sesuai induknya.01 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap multiplikasi.Jurnal Penelitian Salah satu cabang bioteknologi yang telah diterapkan di Indonesia adalah perbanyakan kultur jaringan. zat pengatur tumbuh Jayusman KLASIFIKASI KEMENYAN BERDASARKAN VARIABILITAS FENOTIPIK DI TAPANULI UTARA (Styrax benzoine Classification Revealed Phenotypic Variability in North Tapanuli) / Jayusman. 110 . NAA dan Kinetin pada beberapa konsentrasi pada tahap induksi dan multiplikasi S. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui variabilitas fenotipik jenis kemenyan di beberapa sentra produksi getah Gonystylus bancanus. kultur jaringan. Kata kunci: Induksi. diversitas. Pengujian dilakukan dengan berbagai media dasar yaitu Murashige and Skoogs (MS). kultur jaringan.3. zat pengatur tumbuh.5 ppm + NAA 0. Halaman 53 . 2006 Pengembangan jenis-jenis prioritas seperti kemenyan mulai dilakukan secara intensif. Pengujian di fokuskan pada aplikasi media dasar (MS dan ½ MS) dan aplikasi ZPT BAP. bancanus. No. jati Jayusman INISIASI TUNAS RAMIN MELALUI KULTUR JARINGAN (Shoots initiation of Gonystylus bancanus Kurz In-vitro Propagation)/ Jayusman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Untuk itu percobaan ini ditujukan untuk mendapatkan media dasar. -. Arif Setiawan.1 .1 . kultur tunas. bancanus dan S benzoine mulai ditangani secara intensif.05 ppm terlihat hanya sesuai untuk induksi kalus dengan perkembangan lambat. Halaman 233245. Kata Kunci: Cendawan Mikoriza Arbuskula. Saat ini pengembangan jenis-jenis prioritas seperti jenis G. Woody Plant Medium (WPM) dan Greshoff & Doys (GD). Kata kunci: Jayusman PERAN MEDIA DASAR DAN KONSENTRASI HORMON PERTUMBUHAN TERHADAP INDUKSI DAN MULTIPLIKASI TUNAS PUCUK KEMENYAN (The Effect of Basal Media and Plant Growth Regulator Concentration Hutan Tanaman : Vol. Halaman 1 . Dua jenis Auxin: Indole Acetic Acid (IAA).10 .1 .25 ppm + IAA 0. benzoine. 2006 Towards The Succes of Induction and Multiplication in Shoot tip Culture of Styrax benzoione DRYAND) / Jayusman. jenis dan kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang ideal pada fase ini dan multiplikasi S. Napthalene Acetic Acid (NAA) dan jenis Sitokini (Benzyl Amino Purine-BAP) pada berbagai konsentrasi. Untuk itu penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan deskripsi fenotipik jenis kemenyan. 2006 Penelitian inisiasi tunas ramin (Gonystylus bancanus) melalui perbanyakan kultur jaringan telah dilakukan dengan obyek pengamatan meliputi (1) media dasar dan (2) kombinasi zat pengatur tumbuh (zpt) yang sesuai untuk kultur jaringan G. Hasil pengujian menunjukkan bahwa eksplan yang ditanam pada media 1/2 media dasar dengan kombinasi BAP 1 ppm + NAA 0. benzoine. No.62 . Suplement No. -.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.

Wana Benih : Vol. diameter dan berat biji).Wana Benih : Vol. Alcohol dehydrogenase (Adh) dan Glucosa-6-phosphate dehydrogenase (G-6-pdh). Styrax benzoine. Tapanuli Utara. Sitoluama dan Aek Nauli. 2006 Jenis jati (Tectona grandis) saat ini tidak identik lagi dengan Perum Perhutani.19 (perbedaan 0. Data dianalisis berdasarkan Uji Bartlett. Penelitian ini mengkaji prosedur visualisasi sistem enzim di dalam populasi S.16 mm 1. benzoine melalui kegiatan seleksi terhadap karakter unggul yang dimiliki. Dua tipe variasi spesifik masing-masing ditemukan pada tipe getah pohon dan bentuk biji yang dibedakan atas tipe getah meleleh dan menggumpal serta bentuk dasar biji runcing dan agak datar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis S. benzoine var dryand dan S.34 cm. Analisis isozim juga menguji kombinasi bufer ekstraksi. Zimogram Jayusman SERTIFIKASI ASAL KULTUR JARINGAN: IMPLEMENTASI DAN IMPLIKASINYA BAGI PERLINDUNGAN KONSUMEN/PENGGUNA / Jayusman. senyawa fenolik serta subrat dalam sel yang sulit diidentifikasi. Analisis varians menunjukkan adanya perbedaan yang nyata diantara populasi pada sifat tinggi dan kekokohan semai dan tidak berbeda nyata pada sifat diameter semai.7. Pertumbuhan tinggi semai.1 . Interpretasi genotipe berdasarkan profil pita isozim dalam bentuk zimogram menghasilkan struktur enzim monomer dan trimer dengan 10 lokus 20 alel. tebal kulit dan luas daun. diameter dan kekokohan semai bervariasi.5 dan elektrolit bufer Natrium Borat pH 8.38 mm dan 4. 2006 Teknik Elektroforesis dapat diterapkan untuk mendeteksi isozim dalam perincian genotipe populasi tanaman kemenyan. Profinsi Sumatera Utara. -. perbandingan varians dengan standar deviasi variasi fenotipik dan analisis gerombol berdasarkan program NTSYSpc version 2. -. Masalah utama dalam ekstraksi isozim adalah munculnya senyawa sekunder dalam jaringan tanaman seperti tanin. Elektroforesis. getah. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 35-41 . bentuk buah (diameter dan berat buah) dan bentuk biji (panjang. Kata kunci: Surian. variabilitas Jayusman EVALUASI KERAGAMAN GENETIK BIBIT SURIAN DI PERSEMAIAN (Evaluation of Genetik Variation of Surian Seedling at Nursery Level)/ Jayusman. Analisis gerombol menunjukkan bahwa kedua jenis S.28 . Bufer ekstraksi. benzoine var hiliferum mengelompok berdasarkan karakter yang memiliki variabilitas fenotipik yang luas. Variasi genetik Jayusman METODE EKSTRAKSI DAUN DAN INTENSITAS POLA PITA ISOZIM JENIS KEMENYAN (Leaf Extraction Method and Isozyme of Styrax benzoine Band Pattern Intensity) / Jayusman.62. Observasi dilakukan terhadap 15 karakter fenotipik pada 81 pohon yang berasal dari lokasi tersebut.7. benzoine memiliki variabilitas fenotipik yang luas terutama pada karakter diameter batang. S. Famili. Kata kunci: Kemenyan. Materi yang diuji dikoleksi dari tiga populasi (daerah koleksi benih) surian asal Propinsi Sumatera Utara yaitu: Ambarita (5 famili). Fase semai.5 yang tergolong migrasi lambat sampai sedang. Glutamate oxaloacetate transaminase (Got). berturut-turut 5.10. -.27 . seluruh individu pohon dari dua jenis S.8 . benzoine var dryand. No. Halaman 17 . Kata kunci: Fenotipik. Koefisien kesamaan fenotipik menunjukkan bahwa pada skala kesamaan 0. bufer elektrolit dan bufer gel dan karakter material daun.1 . tipe tajuk. Enam sistem enzim yang diuji menunjukkan adanya variasi aktivitas enzim dengan karakter migrasi pita isozim berkisar pada nilai Rf 20 . sistem enzim. Malate dehydrogenase (Mdh). 1. Famili yang diuji menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada semua pada sifat yang diuji. benzoine var hiliferum.7.32. Phosphogluco isomerase (Pgi). Sistem enzim yang diuji Acid phosphatase (Acp). Simangonding. benzoine dengan menggunakan elektrophoresis horizontal. Halaman 1 . No. namun sebagian individu dari kedua jenis kemenyan tersebut mengelompok menjadi satu.81 atau 81%). Temperatur elektrophoresis konstan 4 derajat Celcius. S.5. Konsentrasi gel kentang adalah 13 persen dengan arus listrik 35 Ampere meter dengan voltase konstan 250 volt. Sipolha (3 famili) dan Tarutung (3 famili). Hasil penelitian ini membuka peluang identifikasi tanaman S. 2006 Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan semai surian (Toona sinensis) di persemaian. Kondisi eletroforesis optimum diperoleh dari ekstrak bufer TPTDAM pH 7. benzoine mampu disatukan dalam satu kelompok.13 cm . Toona sinensis.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. karena jenis ini telah banyak dibudidayakan dalam skala luas khususnya hutan rakyat dan menjadi jenis pilihan utama dalam Gerakan Rehabilitasi Hutan dan 111 .kemenyan di Simasom.

Kutai Timber Indonesia (PT. pemerintah juga mendapat mitra dalam pengadaan bibit. 2006 Hutan penelitian Kemampo adalah hutan yang dibangun dengan tujuan sebagai tempat berlangsungnya penelitian di bidang hutan tanaman untuk menghasilkan paket-paket teknologi tepat guna bagi perkembangan hutan 112 . dan sosial. KTI melakukan pola kerjasama dengan masyarakat/institusi dengan sharing modal dan hasilnya. Keputusan Menhut melalui SK No. mengingat sertifikasi juga bersifat sukarela (voluntary) yang sangat terbuka untuk semua pihak berperan aktif memulai dan mengimplementasikan sertifikasi sumber benih. Waru rangkang (Hibiscus similis). Jabon (Gmelina arborea). sebagai berikut: Pihak perusahaan PT.Lahan (GERHAN). Saat ini masih banyak ketimpangan persepsi berkaitan potensi bibit kultur jaringan yang satu sisi dianggap selalu berkualitas dan memiliki keseragaman pertumbuhan dan disisi lain adanya keraguan mutu sumber materi genetik yang digunakan. mutu benih dan mutu bibit tanaman hutan. KTI melakukan manajemen penanaman sendiri dan pihak perusahaan PT. antara lain persemaian.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. pruning/rempesan cabang.meskipun standarisasi dan sertifikasi bibit asal kultur jaringan tersebut belum optimal.347 site dengan pola penanaman terintegrasi. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . penangkar/produsen bibit mendapat harga jual yang pantas terhadap kualitas benih yang diproduksi serta pemulia pohon mendapatkan perlindungan intelektual. penjarangan I dan II dan pemanenan. Adi KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA: PENGALAMAN PENGELOLAAN HUTAN PENELITIAN / Adi Kunarso dan Edwin Martin. PT Kutai Timber Indonesia Kunarso. (b) menggunakan metoda gabungan antara sertifikasi konvensional (pemeriksaan lapangan. Balsa (Ochroma sp). Halaman 41-43 . penanaman. uji vigoritas) dikombinasikan dengan pelacakan marker molekuler. Heru SERANGAN HAMA PENYAKIT DAN CARA ANTISIPASINYA PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI DAN HUTAN TANAMAN RAKYAT PT KUTAI TIMBER INDONESIA / Heru Judhiharto dan Agus Setiawan. Kultur jaringan. diantaranya materi perbanyakan harus lolos pemuliaan genetik. Bibit jati asal kultur jaringan memberi kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan bibit jati di atas. uji laboratorium. Halaman 95-101 . Tectona grandis. pemupukan. KTI) sudah dilakukan sejak tahun 1997 sampai sekarang dengan luas kurang lebih 3000 ha dn jumlah tanaman 4. Hutan tanaman rakyat. Penanaman yang dilakukan oleh PT. ekonomi. Bibit. pemeliharaan. persiapan lahan. Beban sertifikasi tidak harus ditanggung pemerintah semata. Banyak faktor yang berperan dalam menghasilkan bibit unggul. Implementasi sertifikasi bibit asal kultur jaringan harus diawali pelacakan terhadap sumber materi genetik bibit. Kata kunci: Jati. menegaskan bahwa bibit jati yang dipasarkan harus dilacak asal usulnya agar tidak memberi dampak negatif baik aspek lingkungan. Sertivikasi Judhiharto. Kata kunci: Hama. Didalam aktivitas perawatan tidak terlepas dari pada permasalah an-permasalahan tentang adanya serangan hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman tersebut dan didalam pelaksanaan dari silvikultur hutan tanaman. Solusi yang dapat ditempuh adalah dengan (a) integrasi marker molekuler untuk pelacakan asal usul materi bibit. antara lain adalah Sengon laut (Paraserienthes falcataria). Implikasi dari implementasi sertifikasi diyakini memiliki multi dampak karena selain petani/konsumen mendapatkan harga ideal dan kepastian hasil. 67/Menhut/-II/2004. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. produksi bibit elit (berkualitas) tidak selalu atau harus dihasilkan melalui teknologi kultur jaringan. 2006 Penanaman HTI (hutan Tanaman Industri) dan HTR (Hutan Tanaman Rakyat) dengan jenis tanaman fast growing species untuk bahan baku plywood industry.5 juta pohon serta lokasi 2. Penyakit. dll. Jakarta 23 Nopember 2006 . Hutan tanaman industri. -.

Kata kunci: Acacia mangium. kerusakan mencapai 21. Industri rumah tangga. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerusakan akibat mati pucuk pada tanaman Acacia mangium umur 3.hingga Rp. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Pengelolan hutan Kunarso. Sementara itu upaya yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) sebagai pengelola hutan Kemampo antara lain: dengan pendekatan secara silvikultur yaitu dengan membuat sekat bakar (jalur hijau) dan ilaran api. Hal ini disebabkan oleh ekosistem mikro yang kurang stabil/seimbang. Salah satu bagian tanaman yang sudah dimanfaatkan serta diusahakan dalam skala industri rumah tangga di Sumatera Selatan yaitu daun. 450. Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu vegetasi penyusun ekosistem rawa pasang surut yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi. selain itu tegakan monokultur bagi hama berarti akumulasi bahan makanan untuk kehidupannya. serta belum adanya tindakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Hutan Penelitian Kemampo.. 700. mangium asal kebun benih Wonogiri. -. 2006 Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi lahan rawa pasang surut yang cukup luas. mangium asal tegakan benih Riam Kiwa. merupakan usaha padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Kerusakan ini menimbulkan kerugian dan banyak menyebabkan kematian tanaman.5 tahun di KHDTK Benakat.74 persen dari seluruh tanaman... Nilai ekonomi. Kecamatan Ilir Barat II. Kalimantan Selatan yang hanya terserang 5. Pengamatan dilakukan pada bulan September 2005. Nypa fruticans.khususnya hutan tanaman. untuk memproduksi satu keping atap nipah dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp. Mati pucuk.. Pada masing-masing asal sumber benih. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha ini adalah belum adanya kelembagaan yang mengakomodasi kepentingan pengrajin serta minimnya modal yang dimiliki. Salah satu ancaman bagi pengembangan dan pengelolaan hutan Kemampo adalah kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun. 300.000. Asal sumber benih. Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Adi POTENSI DAN POTRET PENGUSAHAAN NIPAH (Nypa fruticans) DALAM MENUNJANG EKONOMI RUMAH TANGGA DI SUMATERA SELATAN / Adi Kunarso. 2006 Pembangunan hutan monokultur menyebabkan resiko kerusakan tanaman oleh hama menjadi meningkat. Pengendalian kebakaran.dengan harga jual Rp. Patah pucuk merupakan jenis kerusakan yang umum dijumpai pada tanaman Acacia.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui intensitas kerusakan mati pucuk pada delapan asal sumber benih Acacia mangium umur 3. pengawasan untuk mendeteksi secara lebih dini kemungkinan terjadinya kebakaran serta penanggulangan secara fisik saat kejadian kebakaran.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 161-166 .-. Tanaman ini banyak dijumpai dirawa-rawa air payau dan di depan muara-muara sungai.per hari. sedikitnya petugas dilokasi.5 tahun di KHDTK Benakat rata-rata sebesar 12. Halaman 87-90 . Kerugian akibat kebakaran yang terjadi adalah rusak dan hilangnya plotplot penelitian yang berarti juga kehilangan data penelitian. Usaha kecil atap daun nipah.1 persen. Palembang. Usaha ini akan terus langgeng karena peminat atap sederhana ini tidak akan surut. Dari hasil observasi di kelurahan Karyajaya. kerusakan tertinggi dialami oleh A. Atap daun nipah. Sumatera Selatan Kurniawan. Beberapa permasalahan yang dihadapi di hutan adalah: kurangnya sarana dan prasarana pencegahan dan pengendalian kebakaran. sebagai bahan baku pembuatan atap. 16.86 persen. Kata kunci: Kebakaran hutan. Andriyani. KHDTK Benakat 113 . Kata kunci: Nipah. 600.hingga Rp. sementara uluran bantuan modal baik dari pemerintah maupun lembaga keuangan swasta tidak pernah menjangkau pengrajin atap daun nipah. Sedangkan kerusakan terendah ditujukan oleh tanaman A. -. Keuntungan bersih yang diperoleh pengrajin atap nipah bisa mencapai Rp. Agus EVALUASI INTENSITAS KERUSAKAN MATI PUCUK ASAL SUMBER BENIH ACACIA MANGIUM DI KHDTK BENAKAT / Agus Kurniawan dan C.

Untuk teknologi okulasi di tempat ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Mudji PERKEMBANGAN BAHAN TANAM KARET DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA PADA LAHAN GAMBUT / Mudji Lasminingsih. mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan saluran-saluran drainase dan juga melakukan okulasi di tempat sehingga perakaran tunggangnya tidak terganggu. Halaman 21-24 .2 juta meter kubik menjadi 700. Lahan rawa merupakan salah satu tipe dari lahan basah. Lahan gambut yang tadinya dianggap lahan marginal dan tidak banyak dimanfaatkan mulai dibuka dan dikonversi karena dari semakin menyempitnya ketersediaan lahan. pasar maupun penguasaan teknik silvikulturnya. Dengan melihat potensi lahan gambut yang ada di Indonesia dan dalam rangka pengembangan karet serta pemanfaatan lahan gambut yang ada maka klonklon ini dapat diujicobakan pada lahan gambut dengan beberapa perbaikan teknologi untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul. Abdul Hakim ASPEK TEKNIK SILVIKULTUR DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN TEMBESU / Abdul Hakim Lukman. -. Selain itu kebanyakan HTI yang dibangun diperuntukkan memenuhi kebutuhan industri pulp. saat ini (menurun sekitar 25 persen). Sumatera Selatan Lukman. Dilaporkan. sedangkan pada tanah gambut belum banyak walaupun pada beberapa tempat dijumpai pertanaman karet pada jenis tanah ini. pengembangan hutan tanaman tembesu di Sumatera 114 . tanaman ini masih mampu tumbuh dan mencapai usia matang sadap sama dengan pertumbuhan karet pada tanah mineral. Menurut ekosistemnya. Tembesu (Fagraea fragrans) yang merupakan salah satu jenis pohon andalan setempat di Sumatera Selatan. 2006 Akibat eksploitasi hutan yang tidak seimbang dengan upaya rehabilitasi yang dilakukan selama ini. membuat potensi hutan alam kita baik dalam skala nasional maupun lokal di Sumatera semakin menurun.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. luas lahan basah makin menyusut hingga tinggal 40 juta hektar. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 151-159 . dengan areal mencapai 3. Secara ekologis.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 2534 . maupun kerajinan khas Palembang) dan masyarakat memperoleh beberapa jenis kayu komersial yang berkualitas seperti ulin. Hal ini disebabkan karena kesuburan dan besarnya potensi sumber daya alam yang berada disekitarnya. Melihat kenyataan tersebut. Hutan rawa air tawar dan rawa berumput adalah jenis lahan rawa yang sudah banyak rusak dan semakin kurang keberadaanya. Kata kunci: Karet. lahan basah rawa di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 tipe: (1) Hutan rawa air tawar (2) Rawa berumput/lebak (3) Rawa dan lahan gambut. Akan tetapi akibat banyaknya tekanan dan konversi. Areal karet tersebut saat ini sebagian besar tersebar pada tanah-tanah mineral. Salah satu kendalanya adalah dari ketahanannya terhadap ketumbangan/kemiringan pohon pada umur tanaman yang lebih lanjut. Lahan gambut. Sementara pasokan kayu (pertukangan) dari Hutan Tanaman Industri (HTI) hingga saat ini belum mampu memenuhi kekurangannya. 2006 Tanaman karet di Indonesia merupakan salah satu sumber devisa negara yang memberikan kontribusi cukup tinggi. Irwansyah Reza PEMANFATAN HUTAN DAN LAHAN RAWA GAMBUT DI PANDANG DARI APEK KONSERVASI: PENGALAMAN KEGIATAN CCFPI DI SUMATERA SELATAN / Irwansyah Reza Lubis. Hevea brasiliensis Muell Arg. CCFPI. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . saat ini sebanyak 167 sawmill legal di Sumsel terpaksa ditutup.000 meter kubik. Saat ini telah tersedia berbagai klon anjuran hasil pengujian yang dilakukan pada tanaman mineral. -.3 juta ha dan menunjang perekonomian rakyat karena sebagian besar merupakan perkebunan karet rakyat. 2006 Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan basah cukup luas di dunia yang mencapai 54. raminn.061 ha. indikasi tersebut tampak dari semakin sulitnya beberapa industri (penggergajian.968. pembangunan hutan tanaman yang diperuntukkan sebagai pemasok bahan baku kayu pertukangan dengan jenis-jenis lokal yang komersil sudah selayaknya direalisasikan. Dari data pengujian klon pada lahan gambut tampaknya pertumbuhan awal. jelutung dan tembesu. Klon karet Lubis.Khusus di Sumatera Selatan. Kata kunci: Rawa gambut.Lasminingsih. Lahan gambut. Sedangkan rawa gambut dan lahan gambut sendiri juga saat ini mulai mengkhawatirkan keberadaannya. akibat kelangkaan pasokan bahan baku yang turun drastis dari 4.

1 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa merbau dapat diperbanyak secara stek pucuk dan perlakuan zat pengatur tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot segar dan bobot kering stek dengan media tanaman yang mengandung bahan organik tinggi. Kegiatan pemangkasan cabang (pruning) dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan kualitas kayu berupa berkurangnya jumlah mata kayu. Jarak tanam 2 m x 6 m memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam 3 m x 3 m. Isnaini.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh dan media tanam telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman sejak Juni sampai Desember 2004. RPH Banaran. Tembesu dapat ditanam pada areal lahan yang didominasi alang-alang. Kata kunci: Tembesu. LMG1. Halaman 25 .34 . -. Hutan tanaman. Kata kunci: Biomasa. semak belukar dan hutan sekunder bervegetasi jarang. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan. Halaman 247256.3. Penelitian dilakukan di petak 22a. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pertumbuhan klon jati hasil stek pucuk dan jarak tanam yang tepat di lapangan. No. Zat pengatur tumbuh dan media tanam merupakan aspek penting dalam perbanyakan tanaman dengan cara tersebut. sejak juni sampai Desember 2004.63 m untuk diameter. Hidayat Moko. Jenis andalan setempat. stek pucuk. BKPH Playen Gunung Kidul pada bulan Nopember sampai Januari 2005. sedangkan faktor kedua adalah media tanam yaitu campuran tanah + pasir (l:l).5 m x 1 atau 3 m x 1 m. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sumber scion terhadap pertumbuhan bibit jati asal grafting telah dilakukan di persemaian Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Teknik silvikultur Mahfudz PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK MERBAU (Effect of Growth Regulators and Plant Mediums on the Growth of Instia spp Shoot Cuttings) / Mahfudz. LMG2 dan LMG3 (scion dari Lamongan) dengan 5 kali ulangan dan setiap ulangan 115 . Pemeliharaan tanaman pada awal pertumbuhan mutlak dilakukan yang berupa pembersihan tumbuhan bawah dan aplikasi pupuk. merbau. GK2 (scion dari Gunung Kidul). klon. 2006 Merbau (Instia spp) merupakan jenis tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam pembangunan hutan tanaman memerlukan pengadaan bibit dalam jumlah banyak. Hasil analisis tanaman jati umur 22 bulan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman secara umum baik dengan kisaran 2. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 2 faktor perlakuan. 12 klon jati sebagai perlakuan dan 5 treeplot berbentuk bans untuk tiap perlakuan dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan 2 m x 6 m. pasir + kompos (1:1) dan tanah + pasir + kompos (1:1:1) dengan ulangan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 10 stek. Penelitian menggunakan rancangan tersarang dengan 5 blok sebagai ulangan. zat pengatur tumbuh. media tanam. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Lengkap Berblok dengan 5 perlakuan sumber scion yaitu: KG!. Suplement No. Kata kunci: Jati. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.3.1 .Selatan dimungkinkan dapat berhasil dengan baik. dengan penyiapan lahan secara manual tebas total dan jarak tanam rapat 2.4.22 m .4. pertumbuhan tanaman Mahfudz PENGARUH SUMBER SCION TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JATI ASAL GRAFTING / Mahfudz. Grafting merupakan salah satu cara dalam perbanyakan tanaman untuk penyediaan bibit yang diperlukan. Tyastuti Purwani dan Wahyu Yudianto. Salah satu upaya dalam pengadaan bibit adalah dengan perbanyakan tanaman secara stek pucuk.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.29 m . 2006 Salah satu aspek penting dalam pengembangan hutan jati rakyat adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. Mahfudz VARIASI PERTUMBUHAN BEBERAPA KLON JATI HASIL STEK PUCUK PADA DUA JARAK TANAM DI GUNUNG KIDUL (The Growth Variation of Some Teak Clones from Cuttings on Two Planting Distances at Gunung Kidul) / Mahfudz. yaitu faktor pertama zat pengatur tumbuh IBA dan IAA dengan konsentrasi 0 dan 20 ppm. Hidayat Moko dan Aswan Ajarul. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 43-47 . bobot basah dan bobot kering stek dan volume akar stek. -.49 m untuk tinggi dan 2.

89%. Kata kunci: Perencanaan partisipatif. hutan rakyat. Fidelia Balle Galle. Edwin MANFAAT PERENCANAAN PARTISIPATIF DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH SOSIAL FORESTRY: DENGAN CONTOH KASUS APLIKASI PRA UNTUK PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DIDESA TANJUNG SARI II KECAMATAN LEMPUING OKI / Edwin Martin. MHP di Sumatera Selatan dijadikan sebagai objek studi kasus. Outcame PRA seperti yang diaplikasikan di Desa Tanjung Sari II sangat berguna bagi Dinas Kehutanan untuk mengambil langkah-langkah taktis dalam melaksanakan tindakan kegiatan pengembangan hutan rakyat. pada era tahun 2002-2003 Departemen Kehutanan menggaungkan "Social Forestry" sebagai payung semua program yang akan dilaksanakan. No. 2006 Program pembangunan dimasa lalu seperti hutan kemasyarakatan (HKm). Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan scion yang berasal dari sumber yang berbeda tidak berbeda nyata terhadap semua parameter yang diamati.Scion yang berasal dari Lamongan menunjukkan pertumbuhan tanaman hasil grafting yang lebih baik dibandingkan dari Gunung Kidul. lemahnya koordinasi antar lembaga yang terkait. MHP bernilai ekonomis jika suku bunganya berada kisaran 14% -15. Halaman 117 . social forestry 116 . sedangkan untuk program MHR bernilai ekonomis jika suku bunganya berada pada kisaran 14% . Melalui perencanaan partisipatif ini. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.128 . Halaman 31-44 . panjang tunas dan diameter tunas. Salah satu teknik yang cukup dikenal dalam mengembangkan partisipasi masyarakat adalah PRA (Participatory rural appraisal). Tulisan ini hendak menyajikan hasil penelitian aksi perencanaan pengembangan hutan rakyat di Desa Tanjung Sari II Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir. PRA. semakin berkurangnya intensitas konflik sosial dengan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan menggunakan teknik-teknik PRA. pertanyaan " Bagaimana melaksanakan program hutan rakyat di suatu daerah?" menjadi terjawab. jumlah daun. Helly Fitriyanti. Grafting.17. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang apakah program social forestry dapat dijadikan sebagai sebuah pilihan sistem usaha dalam pembangunan hutan tanaman industri. tidak lagi berdasarkan asumsi-asumsi atau pandangan dan pendapat subjektif belaka.terdiri dari 5 tanaman hasil grafting. Kata kunci: Jati. rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) sejauh ini belum berhasil mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. Pelaksanaan program social forestry hutan tanaman industri dengan pola MHBM seperti diterapkan oleh PT. penghijauan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Ditengah kegalauan dalam mengelola kehutanan Indonesia. Penyebab kurang berhasilnya sosial forestry di masa lalu antara lain adalah kebijakan yang tidak mendukung. Tidak semua teknik PRA digunakan untuk mengkaji keadaan masyarakat Desa Tanjung Sari II karena sesuai dengan prinsip PRA hasil yang optimal. serta tidak dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan dan perumusan program. Rootstock. manfaat sosial.3. -. Manfaat sosial diterapkannya program social forestry yaitu menurunnya kejadian kebakaran di lahan konsesi HTI. "Social Forestry" masih belum mampu memenuhi harapan banyak pihak dan perlu dibenahi. social forestry dianggap proyek.55%. Program social forestry MHBM dan MHR PT. bukan sebagai salah satu sistem usaha produktif ekonomis. Social forestry Feasibility and Social Benefit of Social Forestry Program at Industrial Plantation Forest)/ Edwin Martin. Lembaga pengembang program dapat melakukan aktifitasnya (sesuai tupoksinya) dengan arahan yang jelas. 2006 Konsep perhutanan sosial (social forestry) seringkali dipahami hanya sebagai obat penawar untuk menangani konflik sosial usaha hutan tanaman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Tectona grandis.2 . Kompatibel. bahkan beberapa teknik justru didalami dan dipertajam hasilnya sesuai dengan Prinsip Triangulasi. kelayakan usaha. Edwin KELAYAKAN EKONOMI DAN MANFAAT SOSIAL PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI (Economic Martin. Sumber scion Martin. semakin terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. Pengamatan dilakukan terhadap persentase hidup. Alat analisis utama yang digunakan yaitu studi kelayakan usaha dan tinjauan manfaat sosial terhadap program tersebut.

N total.164 . karena tanah yang subur memungkinkan pohon tumbuh dan menghasilkan kayu serta produk lainnya dengan baik. 2006 Shorea atau meranti dikenal di perdagangan dunia sebagai kayu tropik yang cukup berperan penting. Jawa Barat. Toona sureni. Rancangan yang digunakan adalah Acak Lengkap dengan dua tipe pemeliharaan yang dilakukan sampai tanaman berumur 3 tahun.3.71 . Jawa Barat. -. Jasinga. -. 2006 Metode ini menguraikan tentang metode yang cepat. Kondisi tanah dan tumbuhan di areal dengan pemeliharaan yang intensif menunjukkan hasil yang lebih baik ditinjau dari pH tanah. Pinus oocarpa. jumlah fungsi dan respirasi di dalam tanah yang berdampak positif terhadap kesuburan tanah. stenoptera sebesar 3. unsur hara makro dan kapasitas tukar kation pada umumnya sama. sehingga penanaman jenis dapat menstabilkan kondisi tanah. mecistopteryx 3. Penelitian mengenai macam dan frekwensi pemeliharaan terhadap tanaman muda di lapangan telah dilakukan di HP Haurbentes.43 m dan 3. sedangkan jenis S.Perkembangannya diikuti dengan perubahan warna. yaitu berupa pemeliharaan intensif dan kurang intensif.15 cm dan 15 cm . kecuali untuk jenis S. penanaman dengan pemeliharaan yang intensif selama 3 tahun memerlukan sekitar 66 HOK/ha. 2006 Pembangunan hutan tanaman Industri perlu memperhatikan faktor kesuburan tanah. Busuk hati pada A. berat jenis dan air tersedia berpengaruh positif. Penanaman.3. dan dapat diandalkan untuk mengenali serangan busuk hati dan busuk akar. Pohon hutan. platyclados sangat masam. No. 2006 : Halaman 20-30 . seperti Agathis lorantifolia.64 cm. Prestasi kerja pembangunan hutan tanaman meranti mulai dari penyiapan lahan. Casuarina junghuhniana. Penelitian mengenai pengaruh penanaman jenis pohon hutan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. P tersedia dan KTK serta nilai INP tumbuhan bawah jika dibanding pemeliharaan intensif. Yetti Heryati. Syaffari Kosasih. -. Alnus nepalensis. Hasilnya dibandingkan dengan survei yang berdasarkan pada log hasil longitudinal pada log.76 cm. sedangkan sifat fisik sampel diambil pada dua kedalaman 0cm . Penilaian terhadap 2 percobaan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.3 . Selain itu. Tanah andosol Mohammed. Pengmbilan sampel tanah dilakukan dibawah tegakan yang telah berumur enam tahun pada 3 titik dan dicampur untuk dianalisa sifat kimia dan biologi tanahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah di bawah tegakan umumnya masam sama dengan kondisi awal. penanaman dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme. tengkawang Mindawati. kecuali T.B Irianto. mangium disebabkan oleh hymenomycetes yang menyerang selulosa dan lignin. Shorea platyclados. satu di Riau dan lainnya di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa provenansi dapat mempengaruhi serangan busuk hati tetapi tidak ada hubungannya dengan kandungan ekstraktif kayu. Halaman 155 . Caroline L BUSUK HATI DAN BUSUK AKAR PADA ACACIA MANGIUM : IDENTIFIKASI GEJALA DAN PENILAIAN TERHADAP TINGKAT SERANGAN / Caroline L Mohammed.2 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. shorea.19 m dan 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemeliharaan intensif berpengaruh nyata terhadap-rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter jenis S. Kata kunci: Kesuburan tanah. Kandungan bahan organik. sureni yang menjadi liat. Kata kunci: Frekuensi pemeliharaan. No. tepat. Yetti Heryati. Tanda-tanda tersebut digunakan untuk menilai secara cepat kejadian dan tingkat serangan busuk hati pada log hasil penebangan di lapangan. pertumbuhan. Nina PENGARUH FREKWENSI PEMELIHARAAN TANAMAN MUDA TERHADAP PERTUMBUHAN MERANTI DI LAPANGAN (The effect of Tending Frequency on Growth of Shorea Sapling at Field)/ Nina Mindawati. Halaman 63 . sedangkan jika pemeliharaan kurang intensif sebesar 56 HOK/ha. Nina PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS POHON HUTAN TERHADAP KONDISI KESUBURAN TANAH ANDOSOL ( The effect of Some Forest Species Plantation to Condition of Andosol Soil Fertility)/ Nina Mindawati. Khaya anthotheca dan Acacia cassicarpa telah dilakukan pada tanah andosol di dataran tinggi Cikole. Busuk akar dibedakan menurut warna jaringan yang terserang jamur dan terkait dengan beragam 117 .Mindawati. Tekstur tanah setelah penanaman lempung liat berdebu. Program pembangunan HTI tengkawang tidak akan berhasil dengan baik jika tanpa dilakukan pemeliharaan pada tanaman muda di lapangan.30 cm dengan menggunakan ring sampel. Karen M Barry dan Ragil S. A. sedangkan pengaruhnya terhadap porositas. tekstur dan penampilan dari kayu yang diserang.

Teknik monokuler telah berhasil mengidentifikasi jamur Ganoderma philippi sebagai jamur penyebab busuk akar merah. Sebagai daerah yang kaya akan sumberdaya alam. Busuk akar menyebar melalui hubungan antara akar yang sehat dengan akar yang terjangkit jamur busuk akar atau kayu yang membusuk akibat jamur akar. persentase kejadian penyakit). bekas cabang. 2006 Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propivinsi Sumatera Selatan sampai saat ini merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara berkesinambungan dari kegiatan sebelumnya. dan tidak secara khusus menyerang jaringan hidup. Penilaian terhadap busuk hati dan busuk akar memerlukan pendekatan yang berbeda. busuk akar. pengangguran dan rendahnya pendapatan perkapita yang perlu diantisipasi dan segera dicarikan jalan keluarnya.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. memacu Provinsi Sumatera Selatan untuk melasanakan pembangunan dengan memprioritaskan peningkatan kesejahteraan melalui berbagai langkah strategis dan kebijakan pokok yang dituangkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan jangka menengah daerah dan difokuskan pada agenda mewujudkan Sumsel sebagai Lumbung Energi Nasional. Surya Hutani Jaya Sebulu. cepat dan mudah dilakukan oleh petugas lapangan dengan pelatihan secukupnya. mangium adalah pelapukan kayu oleh jamur saprotrophic yang menyebabkan penurunan mutu kayu meskipun tidak mematikan pohon. No. Survei terhadap penyakit pada hutan tanaman acacia menyimpulkan bahwa busuk hati. Busuk akar. Puslitbang Hutan Tanaman Bogor untuk identifikasi patogen bercak daun. kedudukan geografis dan kondisi geopolitan yang sangat terkendali. Kalimantan Timur. Illa Anggraeni. Sumatera Selatan Ngatiman PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN EKALIPTUS (Attack of leaf spot disease on Eucalyptus)/ Ngatiman. dan mengamati pola penularan penyakit.3 . Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis pathogen dan gejala yang ditimbulkannya serta persentase kejadian penyakit pada E. Lahan rawa. Sumatera Selatan memiliki potensi posisi strategis dalam perekonomian nasional. Busuk hati pada A. Busuk hati. 2006 Di areal hutan tanaman PT. juga masih menyisakan masalah-masalah pembangunan antara lain isu kemiskinan. Ketika busuk akar pertama kali ditemukan. Survei yang akurat harus mencatat gejala di atas permukaan tanah. Kegiatan identifikasi merupakan suatu proses mencocokkan secara umum dan membandingkan ciriciri yang didapat secara makroskopis maupun mikroskopis dengan ciri-ciri yang ada dalam referensi. Penelitian dilakukan di lapangan (untuk mengamati gejala. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 1-6 . Busuk akar adalah pelapukan akar oleh beberapa patogen basidiomycetes yang menyerang jaringan hidup dan dapat mengakibatkan kematian pohon. maka wilayah pembangunan di propinsi ini sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu daerah tumpuan strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional. -. Untuk keperluan operasional di lapangan. Tingkat serangan Munandar. Dengan potensi sumberdaya alamnya yang besar. kekuatan sumberdaya manusia yang masih besar dan multidisiplin.Penyakit busuk akar menyebabkan kematian tajuk. dan karat daun adalah ancaman utama (Old et al. Kata kunci.basidiomycetes. Akibat penyakit tersebut daun-daun rontok dan tanaman kering meranggas. metode tersebut perlu sederhana. Halaman 183 . Jamur penyebab busuk hati adalah parasit basidiomycetes yang masuk ke dalam pohon melalui luka. pertumbuhan terhambat dan akhirnya kematian pohon.. Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat serta Mewujudkan sumsel Bersatu Teguh yang selanjutnya akan dijabarkan lebih jauh dalam program-program pembangunan yang bersifat implementatif.191 . 2000). Kecepatan perkembangan penyakit nampaknya berhubungan dengan awal serangan busuk akar. pohon yang terserang cenderung terjadi secara acak namun kemudian mengelompok menandakan bahwa serangan jamur telah meluas.3. Penggunaan teknik penginderaan jauh untuk survei penyakit juga diulas. kemudian dilanjutkan di laboratorium Kelti Perlindungan dan Pengaman Hutan. Kata kunci: Acacia mangium. tanaman Eucalyptus urophylla Blake. memeriksa luasnya infeksi pada akar. Hasil identifikasi ternyata penyakit bercak daun pada E. urophylla. Pemahaman lebih lanjut terhadap isu-isu tersebut di atas. umur 3 tahun terserang penyakit bercak daun. Kabupaten Kutai Kartanegara. Kebijakan. termasuk potensi lahan rawa. Hutan tanaman. Pelaksanaan pembangunan tersebut selain telah menghasilkan keberhasilan yang telah dicapai. Mewujudkan Sumsel sebagai lumbung Pangan. 118 . Aris KEBIJAKAN PENGELOLAAN LAHAN RAWA SECARA TERPADU DI SUMATERA SELATAN / Aris Munandar dan Syafrul Yunardi.

Penangkapan ikan konsumsi dimulai setelah air mulai surut dengan cara menutup sungai-sungai kecil yang banyak terdapat di danau Cala.15 persen dengan intensitas serangan 4. Banyuasin. Bengkal (Bruguera conjugate) dan Mangga Hutan (Magifera sp).08 persen.46 persen dengan intensitas serangan 7. 2006 Kamper Wood and Hopea on Alang-alang Areas With Prepare Planting Technique) / R.38 cm. Marsepang (Midraraetil tharipoides). Teki (Cyperus rotandus). Sukun (Artocarpus comunis). Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.79 cm dan sebesar 0. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi teknik rehabilitasi lahan alang-alang dengan jenis yang sesuai dari famili Dipterocarpaceae. Kalui (Osphronemus goramy). Jenis-jenis vegetasi yang hidup di perairan hutan rawa danau Cala antara lain Nanggai (Talauma candolei).23 .38 cm. yaitu dengan rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter masing-masing sebesar 35. Sungai-sungai ini mengering pada musim kemarau dan menyatu dengan danau pada musim penghujan. Bungur (Lagertrounia spiasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis. Kepor (Pristolepis fasciata) dan Tapah (Wallago attu). 31 jenis diantaranya melakukan pemijahan (spanig ground) di perairan hutan rawa dan memanfaatkan pakan alami di hutan rawa untuk pembesaran larva dan benih dan 14 jenis larva ikan perairan umum masuk ke perairan hutan rawa dan memanfaatkan perairan hutan rawa sebagai tempat perawatan larva (nursery ground). -. Halaman 11 .38 cm. bentuknya setengah cincin dan letaknya berdekatan dengan sungai utamanya yaitu Sungai Musi dan perairan ini terletak di Kabupaten Musi Banyuasin. Baung (Mystus nemurus). Di danau Cala pada umumnya penangkapan dilakukan pada musim penghujan untuk menangkap ikan hias antara lain ikan botia (Botia macracantus) dan penangkapan ikan balashark atau ikan kutung hanyut (Balantiocheilos melanopterus). Bambu (Bambusa sp). Hutan rawa. Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pandan (Pandanus tectorius). Balikpapan. urophylla umur 3 tahun sebesar 57. Sebanyak 58 jenis ikan perairan umum memanfaatkan hutan rawa untuk mencari makan (feeding ground).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Omon. Jenis-jenis tersebut adalah Ikan toman (Channa micropeltes).urophylla umur 3 dan 5 tahun disebabkan oleh fungi Macrophoma sp. penyiapan lahan tanam dan interaksi antar jenis dan penyiapan lahan tanam tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup tanaman. Danau cala. Alat tangkap yang besar yang biasa dioperasikan di danau cala adalah empang. yaitu rata-rata sebesar 39. Rumput gayu (Spinifex litorus). Kebarau (Hampala macrolepidota). corong dan kilung. sedangkan persentase kejadian penyakit pada umur 5 tahun sebesar 40.3.Mulyana PERTUMBUHAN KAYU KAMPER DAN HOPEA PADA LAHAN ALANGALANG DENGAN TEKNIK PENYIAPAN LAHAN TANAM (Growth of Pengaruh teknik persiapan lahan tanam telah dilakukan terhadap pertumbuhan Dryobalanops lanceolata dan Hopea sangal pada lahan lang-alang di hutan lindung Sungai Wain. Ikan. yaitu rata-rata sebesar 39. Kata kunci: Eucalyptus urophylla Blake. Cungcungre (Denox caniformis). Kukulang (Melostoma paliantum).25 ha) dengan jarak tanam 5 m x 5 m. Mulyana Omon. Penyakit bercak daun Nurdawati.37 cm dan 0. -. lanceolata. Habibat.1 . R. Musi. Ikan Juar (Luciosoma setigerum) dan Ikan Seluang Batang (Epalzeorhnchos kalopterus). No.79 cm dan sebesar 0.61 persen. 2006 Danau Cala merupakan sungai mati (oxbow lake). Duri (Mimosa infisa). Tinggiran binti (Rhizophora micronata).Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 143-149 . Untuk perlakuan jenis terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter yang paling besar adalah D. Teknik penyiapan lahan dilakukan sebelum penanaman adalah dengan menggunakan herbisida yang bertujuan untuk memusnahkan alang-alang. Sebagian besar perairan Danau Cala dikelilingi hutan rawa dan banyak terdapat sungai-sungai kecil yang bermuara ke danau. Perairan umum Vol. Kata kunci: Ekosistem. Kalimantan Timur. Resan (Barcinia dulcis). Serandang (Channa pleuropthalmus). Bujuk (Channa lucius). Rancangan percobaan yang digunakan faktorial 2x3 dengan pola acak lengkap yang diulang sebanyak 3 kali. Tembakang (Helostoma temminckii). Dengan demikian penanaman jenis dari suku 119 . Persentase kejadian penyakit pada E. ikan Lemak (leptobarbus hoevenii). Syarifah PERANAN EKOSISTEM HUTAN RAWA DI DANAU CALA KABUPATEN MUSI BANYUASIN SEBAGAI HABIBAT IKAN PERAIRAN UMUM / Syarifah Nurdawati. Setiap perlakuan dibuat petak coba dengan ukuran 50 m x 50 m (0.

herbisida. Tejo Premono dan C. -. Shorea parvofolia.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. pertumbuhan tinggi (5 cm). waktu penyimpanan 120 . Dilain pihak banyak tanaman jenis lokal potensial untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena jenis lokal Temperature and Storage Duration of Mycorrizae Tablet to Growth of Red Meranti Cuttings)/ R. Pada awalnya gejala ini tidak akan nampak namun akan mningkatkan riap tegakan yang dihasilkan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.138 . Tablet mikoriza. C Andriyani PERANAN TANAMAN PIONER DALAM REHABILITASI HUTAN / C. Banyaknya perusahaan hutan tanaman yang menggunakan jenis eksotik ini menyebabkan jenis lokal yang unggul mulai terpinggirkan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . No. Tejo B KAJIAN PELUANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN JENIS LOKAL POTENSIAL DI SUMATERA / B. -. berat kering (0. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MERANTI MERAH (The effect of Prasetyawati. Andriyani Prasetyawati dan Kristanta Tri Saputra.3. Dengan demikian untuk S. R. Beberapa tanaman pioner dapat dikembangkan menjadi tanaman komersial yang mempunyai nilai jual tinggi. Perlakuan dalam percobaan ini 2 suhu dan 6 lama penyimpanan. Mulyana Oman. dengan perlakuan penyiapan lahan disemprot total dengan herbisida. Tujuan dari percobaan adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. Kerusakan hutan. Kerusakan hutan yang memprihatinkan perlu mendapat perhatian. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Tanaman jenis eksotik ini mempunyai kelemahan. lanceolata dan H. 2006 Pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza telah dilaksanakan di Laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata. parvifolia (88%) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan. sangal telah memberi harapan yang baik untuk dikembangkan sebagai jenis komersial untuk ditanam di lahan yang terbuka (alang-alang). Usaha merehabilitasi banyak mengalami kendala di lapangan dan belum menggembirakan. Halaman 131-135 .Dipterocarpacea khusus dari jenis D. 2006 Pembangunan hutan tanaman yang tujuan utama untuk menutupi defisit kebutuhan kayu yang semakin besar hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas tegakan yang dihasilkan. adanya penundaan perkembangan penyakit yang telah dibawa dari daerah asal. Suhu. pertumbuhan tinggi. Kata kunci: Tanaman pioner.2 . Samboja Kalimantan Timur. Suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. Hasil menunjukkan bahwa lama penyimpanan tablet selama 3 bulan di kedua suhu yang berbeda (4°C dan 20°C) telah memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen hidup (90%). Dryobalanops lanceolata. Jenis pioner dapat menjadi tanaman terpilih sesuai kondisi alam dan persyaratan tumbuhnya. lanceolata dan H. berat kering dan persen kolonisasi akar stek S. jumlah daun. Andriyani Prasetyawati. parvifolia Kata kunci: Meranti merah. parvifolia.28 gr) dan persentase kolonisasi akar stek bermikoriza S.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. parvifolia yang berkualitas di rencana dan strategi penyediaan stek persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4°C atau 20°C masih dapat diinokulasikan pada stek S. Halaman 77-84 . Halaman 129 . Rehabilitasi hutan Premono. 2006 Tanaman pioner berperan penting dalam suksesi alam. Keberadaan jenis pioner masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rehabilitasi hutan yang mengalami kerusakan. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Kata kunci: Alang-alang. Tanaman pioner mempunyai peranan penting dalam usaha perbaikan kondisi tapak maupun ekologi tanah. Stek. jumlah daun (5 helai). Pemanfaatan jenis pioner sebagai salah satu usaha biologis disamping usaha mekanis yang selama ini diterapkan. -. Hopea sangal Omon. Penggunaan tanaman jenis eksotik telah banyak dilakukan selama ini.

KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown Development of Teak from Seedling. Yang menjadi utama perlu adanya pemuliaan tanaman jenis lokal untuk meningkatkan riap pertumbuhan sebagai syarat dalam pembangunan hutan tanaman. daun maupun hasil hutan lainnya seperti rotan dan bambu. No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Jenis eksotik.43 . Kata kunci: Pembangunan hutan tanaman. Riap yang tinggi. Kebun benih persilangan A. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Tejo Premono.1 . Halaman 35 . -. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari penggunaan penanda mikrosatelit bagi pengujian induk A. Anto Rimbawanto. mangium dapat dibangun menggunakan individu-individu terpilih agar penyerbukan terbuka (open pollination) yang terjadi dapat menghasilkan individu unggul. 2006 Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) sebagai hasil sampingan dari hutan (side product) yang dapat berasal dari bagian pohon baik berupa getah. Dan juga adanya barang subtansi berupa barang sintetik yang menyebabkan daya saing HHNK ini semakin berkurang. Kelestarian hutan Prihatini. Jenis lokal potensial. Tejo HASIL HUTAN NON KAYU (HHNK) HUTAN RAKYAT. Dari segi pemanenan HHNK lebih menjamin adanya pengelolaan hutan yang lestari (sustainable Foret Management) karena sistem pemanenannya yang hanya mengambil bagian dari pohon melalui penyadapan sehingga tidak mempunyai dampak yang berarti terhadap kondisi ekologi dan lingkungan. Analisis induk dilakukan menggunakan DNA genomik total dari 251 individu sebagai kandidat induk dan 296 individu hasil keturunannya. 2006 Penanda molekuler diketahui memiliki potensi menggantikan upaya penyerbukan buatan secara manual dalam program pemuliaan. mempunyai data adaptasi yang lebih baik dengan kondisi alami tempat tumbuhnya selain menghasilkan kayu jenis lokal juga menghasilkan produk non kayu seperti getah. Program pencarian bahan tanaman 121 . Halaman 103-110 . PERLUKAH DIBERI SERTIFIKAT: ANTARA KELESTARIAN HUTAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT / B. Sertifikasi. Moh. teknologi yang belum tertata. Sertifikasi juga bertujuan untuk melindungi kepada konsumen bahwa barang yang dihasilkan suatu produk adalah baik untuk kesehatan (green market).3. Penelitian yang dilakukan dapat mendeteksi pasangan induk dari 202 individu (68. Dalam pengembangan hutan model Agroforesty di Krui Lampung Timur dengan tanaman damar mata kucing (Shorea javanica).3. kulit. Kata kunci: Hasil Hutan Non Kayu. penanda mikrosatelit. -. Istiana PENGGUNAAN PENANDA MIKROSATELIT UNTUK ANALISIS INDUK Acacia mangium Willd (Application of Microsatellitte Marker for Parentage Analysis of Acacia mangium Willd)/ Istiana Prihatini. W. Pemuliaan Premono. Aryono. B. Sambas Sabarnurdin. mangium. cepat tumbuh dan mampu beradaptasi dengan lingkungan merupakan faktor penting dalam membangun hutan tanaman. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan.2 . Kata kunci: Acacia mangium.148 . -. Namun produksinya cenderung menurun yang disebabkan antara lain harga yang rendah.2%). SSR Priyono.telah banyak dikenal oleh masyarakat. analisis induk.B. Dengan melihat kondisi tersebut maka perlu adanya perlindungan terhadap produsen (petani) dan konsumen (pembeli) yang berupa sertivikasi Hasil Hutan Non Kayu. HHNK ini menjadi penghasil tambahan (side incomes) yang menjanjikan. 2006 Pengelolaan hutan. Suryanto PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. Sertivikasi ini bertujuan untuk melindungi petani dari banyaknya barang subtitusi (sintetis) yang menyebabkan permintaan terhadap barang yang terus menurun dan pada akhirnya harga HHNK akan turun. No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Genotipa dari semua individu tersebut digunakan untuk menentukan pasangan induk dari setiap keturunan yang diuji. Taryono. Halaman 139 . Reaksi PCR dilakukan menggunakan 15 penanda mikrosatelit (SSR).Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Tissue Culture and Shoot Cutting)/ Priyono Suryanto.

2 juta orang masyarakat miskin tinggal di dalam hutan dan sekitar 6 juta orang masyarakat desa sekitar hutan memperoleh sumber penghidupannya dari hutan. Pengentasan kemiskinan. alasan ekonomi. Tectona grandis L.1. Kata kunci: Perkembangan tajuk.5 tahun bila biji. Kata kunci: Kemiskinan. telah memicu berbagai kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan. pembangunan infrastruktur dan pengembangan usaha ekonomi produktif.296 sedangkan keragaman antara populasi 0. Bila persediaan biji bermutu cukup.2 tahun dan 8. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6 m x 2 m. -. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berurut-urut 12 tahun. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. Pembagian kelompok antara Manokwari dan Naabire lebih memperjelas pembagian Papua menjadi 6 wilayah geogenetik. DALAM KAITANNYA DENGAN KELESTARIAN HUTAN / Mamat Rahmat. untuk menjaga kelestarian hutan.3 . 2006 Intsia bijuga atau merbau merupakan jenis kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif. Sampel daun dikumpulkan dari 17 populasi dan dianalisa 122 . Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan denga intensifikasi lahan. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama sedangkan apabila persediaan benih terbatas. 2006 Santalum album atau yang dikenal dengan nama cendana merupakan jenis kayu bernilai tinggi dan telah mengalami degradasi sumber genetik yang serius.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 103-110 . 2006 Kemiskinan merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan kehutnan di Indonesia.3. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. kultur jaringan dan stek. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. yang didasarkan pada karakteristik masyarakat miskin di dalam dan sekitar hutan.f Rahmat. No.3. asal bahan tanam. dengan menggunakan penanda RAPD. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. diantaranya adalah melalui pemberian insentif. Penelitian ini bertujuan mempelajari kaeragaman genetik populasi merbau guna membantu penyusunan strategi konservasi genetik. No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.181 . 15. kelestarian. Dalam makalah ini digambarkan beberapa strategi pengentasan kemiskinan. Diusulkan tiga strategi pengentasan kemiskinan pada masyarakat di sekitar hutan rawa gambut di Sumatera Selatan. Keragaman genetik. AYPBC Widyatmoko. Anto KERAGAMAN GENETIK EMPAT POPULASI Intsia bijuga BERDASARKAN PENANDA RAPD DAN IMPLIKASINYA BAGI PROGRAM KONSERVASI BAGI PROGRAM KONSERVASI GENETIK (Genetic diversity of Four Populations of Intsia bijuga Revealed by RAPD Markers and Its Anto Implications for Genetic Conservation Programme)/ Rimbawanto. sekitar 10.154 . Jenis ini merupakan tanaman asli Propinsi Nusa Tenggara Timur. Penanda RAPD Rimbawanto. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dan hubungan kekerabatan populasi Santalum album untuk mendukung program konservasi dan pemuliaan jenis tersebut. Kata kunci: Intsia bijuga. sedangkan kelompok kedua terdiri dari populasi Ternate dan Nabire. Kemiskinan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Nilai keragaman genetik rerata dalam populasi sebesasar 0. Dengan demikian. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. Sampel daun dikumpulkan dari 4 populasi dan dianalisa menggunakan 15 primer RAPD yang menghasilkan 77 lokus polimorfik. -.141. Analisis klaster membagi keempat populasi menjadi dua kelompok populasi yaitu Carita dan Manokwari pada kelompok pertama.jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. Anto DISTRIBUSI KERAGAMAN GENETIK POPULASI Santalum album BERDASARKAN PENANDA RAPD (Genetic Diversity and Its Distribution of Santalum album Populations Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawantao. Halaman 175 . Rata-rata lokus polimorfik per primer adalah 5. -Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. AYPBC Widyatmoko dan Purnamila Sulistyowati. Mamat STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN PADA MASYARAKAT SEKITAR HUTAN RAWA GAMBUT. Halaman 149 .3 . pengentasan kemiskinan adalah upaya vital. Hutan rawa gambut Rimbawanto.

tetapi populasi-populasi yang berdekatan mempunyai kecenderungan untuk membentuk satu sub-kelompok. Di Indonesia. 2005). Halaman 201 . sebagian besar didominasi oleh jenis jati dan sengon (Ditjen RLPS. S. Dalam sepuluh tahun terakhir luas hutan tanaman di Asia meningkat dari 46 juta ha pada tahun 1990 menjadi lebih dari 65 juta ha di tahun 2005 (FAO 2005).208 . Anto KERAGAMAN GENETIK DAN KETAHANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN / Anto Rimbawanto. 2006 Euderoxylon zwageri atau ulin adalah kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif sehingga keberadaan tegakan ulin di hutan alam semakin langka. Nilai rata-rata keragaman genetik dalam populasi sebesar 0. Harkingto. Analisis klaster menghasilkan dua kelompok populasi yaitu TN Kutai. -.038.0415. Jakarta 23 Nopember 2006 .crassicarpa. sedang sisanya ada di antara populasi. Penyakit 123 . Hama. Halaman 15-20 . No. Penelitian ini bertujuan mempelajari keragaman genetik populasi ulin di Kalimantan Timur guna membantu program konservasi genetik.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.3. hingga tahun 2004 telah dibangun hutan tanaman untuk pulp seluas 2. 2006 Persoalan ancaman hama dan penyakit pada hutan tanaman telah menjadi isu nyata yang dihadapi oleh banyak negara yang mengembangkan hutan tanaman dalam skala luas.3 .256 ha (Ditjen BPK. Memahami mekanisme sistem pertahanan diri tanaman.500. Secara alamiah tanaman telah mempunyai cara mempertahankan diri dari serangan hama dan penyakit. yang dikendalikan oleh faktor genetik dan interaksinya dengan sistem biologi hama dan penyakit merupakan kunci keberhasilan pengendalian dan pengelolaan ancaman tersebut. Nilai keragaman genetik rerrata dalam populasi sebesar 0. Rimbawanto. Santalum album Rimbawanto. dan karat puru (gall rust) pada sengon. Anto KERAGAMAN POPULASI Eusideroxylon zwageri KALIMANTAN TIMUR Diversity of BERDASARKAN PENANDA RAPD (Population Eusideroxylon zwageri in East Kalimantan Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawanto. Secara umum pembagian kelompok tidak memperlihatkan hubungannya dengan jarak geografis. 2005). Ratarata lokus polimorfik per primer adalah 2. Dari jumlah itu sebagian besar didominasi oleh tanaman Acacia mangium yang sesuai untuk tanah-tanah mineral. sedang populasi Lempake satu kelompok tersendiri.391 sedangkan keragaman antara populasi 0. -. dengan menggunakan penanda RAPD. Hamparan hutan tanaman satu jenis yang luas tersebut tentu saja merupakan sumber pohon inang yang sesuai bagi berkembangnya hama dan penyakit tanaman. Wain dan Semboja. Analisi AMOVA menunjukkan bahwa 96 persen dari keragaman genetik terdapat di dalam populasi. RAPD. Meratus. Analisis klaster membagi 17 populasi menjadi dua kelompok besar.menggunakan 17 primer RAPD yang menghasilkan 34 lokus polimorfik.3564 sedangkan keragaman antara populasi 0. Kata kunci: Keragaman genetik. Kata kunci: Genetik.966 ha dan untuk kayu pertukangan 865. Dalam beberapa tahun terakhir ini serangan hama pada penyakit pada hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat telah mencapai tingkatan yang merugikan secara ekonomi. AYPBC Widyatmoko. Konservasi.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Disamping hutan tanaman industri di atas yang sebagian besar tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Dari sekitar 1. Sebagai contoh penyakit busuk akar (root rot) yang menyerang A. mangium. Disisi lain hama dan penyakit juga mempunyai sistem penyerangan yang sesungguhnya merupakan cara mempertahankan diri untuk hidup dan berkembang. hutan tanaman rakyat juga berkembang dengan pesat. Sampel daun dikumpulkan dari 5 populasi dan dianalisa menggunakan 19 primer RAPD yang menghasilkan 48 lokus polimorfik.5 juta ha hutan tanaman rakyat. sedangkan untuk tanah gambut ditanam A.

Oleh karena itu untuk memberikan jaminan akan kebenaran mutu genetik sumber benih maka diperlukan sertifikat yang memberikan perlindungan hukum terhadap produsen dan konsumen benih. Data dari beberapa perusahaan HTI menunjukan bahwa pengadaan benih unggul Acacia mangium hanya mengambil 4 persen dari total biaya pembangunan tanaman. Peningkatan ini tidak dapar serta merta dihubungkan dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap benih bersertifikat. Kepentingan petani kecil dalam system tumpangsari juga perlu diperhitungkan agar mereka juga dapat memperoleh keuntungan ekonomi. Salah satu proyek yang paling berhasil adalah survei tentang penyakit pada akasia tropis yang dilakukan pada tahun 1995-1996 termasuk lokakarya di Subanjeriji. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 17-19 . maupun upaya rehabilitasi lahan kritis. 2006 Dalam dasa warsa terakhir peneliti dari Australia dan negara-negara Asia Tenggara telah menyelesaikan serangkaian penelitian bersama dalam bidang patologi hutan.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Kata kunci: Acacia mangium. khususnya rotasi pendek yang sangat signifikan. baik untuk tujuan hutan industri. Salah satu hasil penting dari lokakarya itu adalah diterbitkannya buku ""A Manual of Diseases of Tropical Acacias in Australia. Pembangunan hutan tanaman di berbagai negara termasuk pembangunan HTI di Indonesia membuktikan bahwa benih genetik unggul (genetically superior seeds) hasil pemuliaan dapat melipatgandakan pertumbuhan dan mutu tegakan. Hutan tanaman jenis cepat tumbuh sangatlah penting bagi ekonomi negara-negara di Asia Pasifik termasuk Indonesia dan Australia. -.5 juta ha pada akhir tahun 2030. Sejak pertengahan tahun 1980an terjadi peningkatan luas hutan tanaman. Permintaan akan kayu baik untuk keperluan pasar dalam negeri maupun international terus meningkat dan pemerintah telah menetapkan program pembangunan hutan tanaman untuk menjamin kelangsungan pasokan kayu. Program pembangunan hutan tanaman mentargetkan pembangunan hutan seluas 2. Anto SERTIFIKASI BENIH: UPAYA MENJAMIN MUTU BENIH DAN MUTU TEGAKAN YANG DIHASILKANNYA / Anto Rimbawanto.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Mutu benih. Hal ini sejalan dengan keberhasilan program pemuliaan pohon jenis-jenis cepat tumbuh meningkatkan riap volume tegakan yang menggunakan benih unggul hasil pemuliaan. Namun dampak ekonomi dari investasi kecil itu dapat berupa peningkatan riap volume antara 20 persen . 2006 : Halaman 14-19 .3 juta ha pada akhir tahun 2000 dan 10. Mutu tegakan. South East Asia and India"" (Old et al. Jenis utama hutan tanaman di Indonesia adalah Acacia mangium yang juga rentan terhadap serangan busuk hati. Perkembangan pembangunan hutan tanaman industri yang pesat telah menumbuhkan kesadaran pengguna benih akan pentingnya mutu genetik benih. Busuk hati. Ahli-ahli patologi dan pemuliaan pohon dari CSIRO telah menjalin kerjasama dengan para peneliti dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia dan lima negara lainnya di Asia Tenggara dengan dukungan ACIAR dan CIFOR. Salah satu penyakit penting yang dibahas dalam pertemuan itu adalah busuk hati pada Acacia mangium. kebutuhan akan benih berbagai jenis tanaman juga meningkat. Benih unggul adalah investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar. Kebutuhan akan sertifikasi benih akhir-akhir ini terasa meningkat sebagai konsekuensi dari diberlakukannya penerapan harga bibit oleh pemerintah berdasarkan asal sumber benihnya untuk program pengadaan bibit Gerhan. Program pembangunan hutan tanaman pada saat ini diarahkan untuk menghasilkan bahan baku kayu untuk industri pulp dan kertas dan MDF. 2006 Seiring dengan meningkatnya pembangunan hutan tanaman. Ketersediaan benih unggul ditenggarai sebagai salah satu faktor utama bagi keberhasilan pembangunan hutan tanaman ini. Penggunaan benih bermutu genetik tinggi tidak dapat dipisahkan dengan mutu tegakan yang dihasilkan. benih jati Rimbawanto. Anto BUSUK HATI DI HUTAN TANAMAN: LATAR BELAKANG DAN PROYEK ACIAR / Anto Rimbawanto. namun lebih dikarenakan oleh pertimbangan ekonomis semata. Kata kunci: Jati. -. Hutan tanaman. Sertivikasi benih.30 persen pada akhir daur. ACIAR 124 . 2000). Pohon dengan batang yang lurus.Rimbawanto. bebas cabang yang tinggi serta riap yang tinggi merupakan bukti keberhasilan pemuliaan pohon dalam meningkatkan mutu genetik tanaman. Jika masalah penyakit busuk hati ini tidak ditanggulangi secara tepat maka keunggulan genetik sebagai hasil pemuliaan tidak akan dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi. hutan rakyat.

Okulasi.45 mm) berasal dari generatif. diameter 5. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produktivitas buah jati Muna mencapai 1. Fajar Agribisnis. Pertumbuhan tinggi dan diameter pada tingkat semai dari propagul keturunan pohon induk jati terjadi variasi antar pohon induk. Lokasi penelitian di persemaian PT. Santoso. Persen hidup di lapangan semai dari keturunan pohon induk jati cukup tinggi mencapai kisaran 95 persen .85 mm. Penelitian variasi kualitas benih menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan faktor pertama adalah sumber benih dan faktor kedua adalah periode pemanenan.100 persen. Sumber benih Santoso. Curah hujan rata-rata tahunan 2. Sulawesi Tenggara dan persemaiannya dilaksanakan di green house Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. Kualitas semai baik bibit jati Muna asal biji dan stek dari kebun pangkas baik untuk ditanam.3.40 mm dan terendah 3.52 sedang dari stek 0. lempungan. Persen perkecambahan terbaik diperoleh dari benih yang dikumpulkan pada bulan September. Tectona grandis.97 cm. sedang pertumbuhan diameter tingkat semai dari keturunan pohon induk terbesar 7. Data pengamatan meliputi persen tumbuh dan pertumbuhan awal pertanaman. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Pemanenan. Persen jadi okulasi hanya mencapai 35. Sulawesi Selatan.50 cm. tinggi semai dapat mencapai 37.07 persen. Kata kunci: Jati.5 stek. sedangkan yang berasal dari stek. mengetahui variasi kualitas benih dan menentukan persen perkecambahan benih jati Muna dari berbagai sumber benih dan periode pemanenan buah.173 . Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 49-56 . Pemanenan buah pada tegakan jati yang dilaksanakan pada bulan September menghasilkan persen perkecambahan rata-rata 45. Budi KUALITAS SEMAI DAN PERTUMBUHAN BIBIT JATI MUNA DARI KEBUN PANGKAS / Budi Santoso.33 mm dan jumlah daun 6 helai. Benih. kualitas semai dari stek kebun pangkas jati Muna dan pertumbuhan bibit asal kebun pangkas. Jumlah pohon induk yang diokulasi sebanyak 60 dan setiap pohon induk dibuat 75 ulangan. Tectona grandis. sumber benih tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap persen perkecambahan. dengan pohon induk jati sebagai perlakuan. Bintarto Wahyu Wardani. Kata kunci: Jati. 2006 Penelitian keberhasilan okulasi pohon induk jati Muna (Tectona grandis L. No.140 mm. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas stek tiap klon dari pangkas jati Muna di Malili. 65 persen ukuran sedang dan 25 persen ukuran besar.) bertujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan okulasi. Jati muna. Indeks kualitas semai bibit yang berasal dari biji 0. Kegiatan penelitian okulasi jati dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. jenis tanah termasuk famili Rhodic Hapludoxs. sedangkan periode pemanenan berpengaruh terhadap persen perkecambahan.3 . Pohon induk.53 persen. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produktivitas buah jati Muna per pohon.22. Budi PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS BENIH JATI MUNA / Budi Santoso. pertumbuhan tinggi dan diameter semai hasil okulasi pohon induk jati Muna. isohipertermik. Kata kunci: Jati Muna.Santoso. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata produksi stek di kebun pangkas tanaman jati Muna di Malili yang dapat dihasilkan perpohon mencapai 17. Halaman 165 .Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. ferririk. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. -.73 cm. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 57-61 . Budi VARIASI PERTUMBUHAN JATI MUNA HASIL OKULASI (Growth Variation of Bud Grafting of Muna Teak)/ Budi Santoso.588 kg/pohon. Pertumbuhan tinggi terjadi variasi antar semai keturunan pohon induk dan pertumbuhan tertinggi mencapai 40. Lokasi terletak pada ketinggian 100 m dpl. Variasi ukuran buah jati muna digolongkan 10 persen ukuran kecil. Rerata pertumbuhan semai yang berasal dari biji umur tiga bulan tingginya mencapai mencapai 27. diameter 7. -. Maroangin Kabupaten Enrekang. Penelitian ini dilaksanakan di hutan jati Muna.35 cm dan terendah 10. Rerata pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jati Muna umur 4 bulan di lapangan yang tertinggi (34. Jati muna.86 mm dan jumlah daun 6 helai. Tectona grandis L. Kebun pangkas 125 .13 cm) besar (8.

panjang trubusan.Height on Seedling Stock and IBA Concentrations on the Growth of Breadfruit Shoot Cuttings) / Dedi Setiadi. Hamdan Adma Adinugraha. Adinugraha dan Hidayat Moko. kiranya tanpa kesaradan dan peran aktif masyarakat desa-desa setempat akan sulit dilakukan apabila hanya mengandalkn kepada regu-regu pemadam kebakaran hutan dan lahan yang terkonsentrasi di kota. Sumber populasi Setijono. persentase bertunas. Dedi PRODUKTIVITAS TRUBUSAN STEK AKAR SUKUN DARI BEBERAPA POPULASI DI JAWA DAN MADURA (Sprouting Productivity of Bread Fruit Root Cuttings from Several Populations in Java and Madura) / Dedi Setiadi. Penelitian ini dirancang dalam pola rancangan acak lengkap. Djoko PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT PADA DESA-DESA LAHAN RAWA GAMBUT SEBAGAI BAGIAN PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN YANG BERBASIS MASYARAKAT / Djoko Setijono. maka upaya untuk melestarikan ekosistem kawasan tersebut merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. Bibit hasil koleksi dari populasi Kediri (Jawa Timur) menunjukkan kualitas yang paling baik dibandingkan dengan yang lainnya Kata kunci: Produktivitas trubusan. sukun. 1992) dinyatakan bahwa kawasan rawa gambut di daerah tersebut mempunyai potensi alami yang tinggi. jumlah daun. Provinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah. 2006 Setiadi. Halaman 29 . Prastyono. pangkasan. Berdasar profil lingkungan hidup kawasan pantai timur Sumatera Selatan (Tim PPLH UNSRI. -. Dedi PENGARUH TINGGI PANGKASAN PADA BIBIT DAN KONSENTRASI IBA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN (Effect of Hedging Sukun (A.36 . Halaman 223-231 . Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi pangkasan bibit sukun dan konsentrasi IBA dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. tinggi pangkasan bibit 30 cm dan konsentrasi IBA 1250 ppm memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap persentase hidup. Sukun. tinggi tunas. IBA. sejak April sampai September 2005. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan menguji 2 faktor. tinggi tunas.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Suplement No.1 . tidak mengherankan bila daerah ini menjadi sasaran pembangunan. sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi IBA (H). Pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada kawasan lahan rawa gambutdengan segala keterbatasan yang ada. di mana perbanyakan tanaman ini biasa dilakukan secara vegetatif dengan stek akar. SSFFMP berpendapat pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang baik adalah dengan upaya pencegahan dan pemadaman dini. Pengamatan dilakukan pada umur bibit 5 bulan setelah penyapihan. Parameter yang diamati meliputi persentase stek hidup. konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi pangkasan dan IBA berpengaruh terhadap keberhasilan stek pucuk sukun. persentase stek bertunas. 2006 Pada bencana kebakaran besar akibat fenomena El nino tahun 1997 yang lalu. diameter trubusan dan kekokohan bibit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bibit sukun dari empat populasi yang berasal dari Jawa Timur yaitu : Kediri dan Madura serta dari Jawa Barat yaitu: Lebak/Banten dan Sukabumi. khusunya pada daerah lahan rawa gambut. baik pria maupun wanita dibantu oleh segenap stakeholders yang 126 . No. Oleh sebab itu. kimia maupun biotik. HI = 1250 ppm. Setiadi. jumlah daun. altilis) merupakan salah satu jenis tanaman hutan rakyat yang menghasilkan buah dengan kandungan karbohidrat tinggi. dengan peningkatan kesadaran dan peran serta seluruh masyarakat. -. setiap sumber populasi terdiri 5 ulangan masing-masing 10 bibit untuk parameter yang diamati. Hamdan A.1 . -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 51-55 . faktor pertama adalah tinggi pangkasan bibit (P) yaitu: PI = 20 cm.3. P3 = 40 cm dan P4 = 50 cm. P2 = 30 cm. 2006 Tanaman Sukun (Artocarpus artilis Forsbeg) merupakan tanaman serbaguna yang biasa ditanam di ladang/pekarangan. persentase stek berakar dan jumlah.Wana Benih : Vol. baik potensi fisik.7. Parameter yang diamati meliputi jumlah trubusan. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan yang nyata antar sumber populasi untuk parameter jumlah trubusan. dengan 3 kali ulangan dengan setiap unit percobaan terdiri atas 5 stek pucuk. yaitu : HO = tanpa IBA (kontrol). dan kekokohan bibit sedangkan untuk parat\meter panjang trubusan dan diameter trubusan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Kata kunci: Bibit. H2 = 2500 ppm dan H3 = 3750 ppm. persentase berakar dan jumlah akar. Mengingat fungsinya yang penting tersebut.

Halaman 55-60 . Kalimantan Selatan Sofyan. Pembibitan Sofyan. Hutan tanaman Semaras. karena hal ini menyangkut perhitungan untung rugi dalam jangka panjang. Pembibitan tembesu dapat dilakukan secara generatif maupun secara vegetatif. SSFFMP mengembangkan konsep pengelolaan kebakaran hutan dan lahan yang berbasis masyarakat pada tingkat desa di Sumatera Selatan Kata kunci: Pendapatan. tindakan yang dilakukan dapat lebih tegas: dibongkar atau diteruskan. termasuk di Sumatera Selatan.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. Halaman 15-19 . Kata kunci: Hama. sedangkan jenis daur panjang diuji cobakan membuat hutan tanaman meranti jenis meranti putih (S. Winarto dan Rosilawati. Halaman 55-58 . Laut Utara Kalimantan Selatan. antara lain serangan hama dan penyakit tanaman. Lahan rawa gambut. Kebakaran hutan Siswoyo. penyakit. Jakarta 23 Nopember 2006 . Tulisan ini menyajikan teknik pembibitan tembesu yang merupakan salah satu jenis lokal di Sumatera Selatan. sehingga setiap bentuk gangguan memerlukan pertimbangan tindakan bijaksana. Setiap gangguan akan memberikan dampak negatif terhadap kualitas dan kuantitas hutan yang dibangun.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Kata kunci: Tembesu. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Berangkat dari pola pemikiran tersebut di atas. Sedang pada usaha kehutanan gannguan terebut akan terbawa sampai akhir daur. Jika akan dilakukan pembongkaran maka akn memulai dari awal lagi. sedangkan pembibitan vegetatif menggunakan bahan yang berasal dari bibit (seedling) maupun trubusan alam. bagi desa-desa di sekitar kawasan hutan dan lahan. 2006 Usaha dibidang kehutanan memerlukan waktu yang lama. PT Inhutani II. mangium dimulai tahun 1985 di Semaras. P. Setiap bentuk kelengahan dalam pembangunan tanaman hutan yang dapat menyebabkan tanaman rusak oleh hama dan penyakit maka pengaruhnya akan dibawa sampai hasil akhir. Masyarakat. 127 . Laut Kalimantan Selatan. Mamat Rahmat dan Kusdi. Acacia mangium. Pulau Laut Utara. hal ini tergambar dari begitu banyaknya permintaan jenis ini dalam program kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Shorea polyandra. -. KALIMANTAN SELATAN / Hadi Siswoyo. Semestinya dalam dunia kehutanan konsistensi perhatian harus lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian ditunjau dari panjang daur. Masyarakat akan dengan senang hati melaksanakan pencegahan kebakaran apabila hal tersebut menguntungkan/meningkatkn pendapatannya dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya. 2006 Jenis lokal telah menjadi prioritas dalam rangka memilih jenis pohon untuk merehabilitasi lahan kritis. Salah satu kendala yang dihadapi adalah minimnya informasi tentang teknik budidaya mulai dari tahap pembibitan hingga penanaman serta pemeliharaan di lapangan. Seiring dengan penurunan potensi hutan alam Indonesia membuat para pengusaha kehutanan mulai untuk mencoba pembuatan hutan tanaman. Agus TEKNIK PEMBIBITAN TEMBESU / Agus Sofyan. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Hadi PENGALAMAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA Acacia mangium DI HUTAN TANAMAN SEMARAS DAN Shorea polyandra DI PETAK UJI COBA PENANAMAN MERANTI DI PULAU LAUT UTARA. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Dilain pihak waktu yang diperlukan cukup lama dan biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar.al] . Selama masa pembangunan banyak sekali peluang terjadinya gangguan. polyandra) skala kecil yang dibuat pada tahun 1976 di area P. Lain halnya dengan sektor pertanian yang berumur pendek apabila terjadi gangguan. Meranti. -. 2006 Jati merupakan salah satu jenis tanaman yang cukup banyak diminati masyarakat. Pembibitan generatif yaitu pembiitan dengan menggunakan benih/biji. antara lain PT Inhutani II mencoba membangun hutan tanaman jenis fast growing jenis A.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.terkait. PT INHUTANI II. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandis Linn.

untuk mengetahui daerah-daerah yang relatif cocok untuk penanaman jati. SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. Kata kunci: Jati. Kata kunci: Jati. 4 perlakuan dan 20 tree plot per unit perlakuan. Kemampo.al] . Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi lahan pada lokasilokasi penelitian kurang sesuai untuk pengembangan tanaman jati.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. 2006 Keberhasilan pembangunan dan kelestarian hutan tanaman antara lain memerlukan dukungan IPTEK yang tepat pada semua tahapan. permasalahan sosial masyarakat hutan. seringkali tidak memperhatikan kesesuaian lahan. drainase dan kedalaman solum merupakan faktor pembatas pertumbuhan tanaman jati yang ditemukan pada lokasi penelitian. Kata kunci: Jati. tingginya laju degradasi hutan dan lahan. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 23-28 . Agus FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan dan Mamat Rahmat. yaitu tingkat kemasaman tanah yang rendah serta kedalaman solum yang dangkal.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Tingkat kemasaman tanah (pH). Penelitian dilakukan sejak tanaman berumur 1 tahun hingga umur 3 tahun. Sumatera Selatan 128 . Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Penanaman jati oleh masyarakat khususnya di Sumatera Selatan. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. Kesesuaian lahan.) dalam rangka mencari teknik penyiangan tanaman jati yang paling optimal. Tidak jarang ditemui tanaman mengalami mati pucuk pada tahun kedua dan ketiga. karena kegiatan ini menyangkut investasi serta harapan hasil yang sangat besar. Pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sebagain besar lokasi yang diteliti terdapat kendala utama yang menghambat pertumbuhan jati secara permanen. tanaman jati tidak sesuai. Tectona grandis Linn. -. Evaluasi kesesuaian tempat tumbuh penting dilakukan di Sumatera Selatan. tanaman jati ternyata dapat tumbuh dan berkembang dengan cukup baik di wilayah ini. Agus PENGARUH TEKNIK PENYIANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI KEMAMPO.Mengingat bahwa jati bukan tanaman asli Sumatera (jenis eksot). Penyiangan. telah dilakukan penelitian mengenai kelas kesesuain lahan yang menyangkut berbagai persyaratan tumbuh jati pada tiga belas lokasi di tiga (3) Kabupaten yaitu Banyu Asin. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penyiangan total chemis menunjukan pertumbuhan diameter dan tinggi yang lebih besar pada saat tanaman berumur 3 tahun. Sumatera Selatan. Halaman 1-14 . rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Tectona grandis. -. Tectona grandis. mulai dari perencanaan hingga pemanenan serta kondisi masyarakat sekitar hutan yang mendukung. -. Kabupaten Banyuasin. Kesesuaian lahan Sofyan. Faktor pembatas Sugiarto. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 29-33 . Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPPHT Palembang. Metode penelitian yang dilakukan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 blok. 2006 Tulisan ini berisi tentang hasil penelitian teknik penyiangan tanaman jati (Tectona grandis Linn. Faktor lingkungan (edafis dan klimatis) sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jati. Untuk mengetahui tentang prospek pengembangan jati di wilayah Sumatera Selatan. Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu. kebijakan pemerintah daerah bidang kehutanan yang mendukung serta kondisi internal seperti ketersediaan sumberdaya manusia dan sarana prasarana litbang. maka kajian atau penelitian mengenai kelayakan pengembangan dan penanaman jati di wilayah ini sangat penting. Balai Litbang Hutan Tanaman IBB memfokuskan penelitian di bidang pembangunan dan pengelolaan hutan tanman. Sumatera Selatan. Berkembangnya pembangunan hutan tanaman. Bambang SOSIALISASI CORE RESEARCH BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN PALEMBANG / Bambang Sugiarto dan Triwilaida. dapat diketahui bahwa pada beberapa daerah di Sumsel. Namun demikian pada lokasi tertentu di mana tingkat kemasan tanah serta kedalaman efektif terpenuhi. Sumatera Selatan. sehingga jati tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Sofyan.

Hutan tanaman. tetapi menaikkan nilai SA (0.80%) (3. SR (1. tinggi pohon. -. Lahan kritis. Halaman 193 . Joni Muara. Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan pada umur 20 bulan.11%). sengon laut (Paraserienthes falcataria). volume.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.3. sedangkan dosis 100 gr adalah dosis pupuk yang optimal untuk pertumbuhan tanaman jati pada umur 20 bulan di lapangan.42%). Penelitian ini dirancang dengan pola Split Plot. mimba (Azadiracha indica). Silvikultur intensif Sumadi. dan kontrol (tanpa pupuk). serta tingkat dosis pupuk yang efektif untuk petumbuhan yang optimal di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal bibit yang pertumbuhannya paling baik. sedangkan anak petak terdiri atas 4 taraf dosis pupuk. X Indah Pratama yang berlokasi di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan disusun berdasar satu peubah bebas diameter serta dengan dua peubah bebas diameter dan tinggi pohon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jati muna dan jati super memiliki penampilan pertumbuhan lebih baik dibanding bibit asal biji.49%) nilai SA (0. Jati dan pinus merupakan dua jenis tanaman yang paling luas ditanam di Jawa. pada bulan Oktober 2004. dengan petak utama adalah asal bibit dan anak petak adalah dosis pupuk NPK. No. Jenis-jenis hama penyakit yang menyerang 129 . Model penduga pohon terbaik berdasarkan satu peubah bebas diameter adalah persamaan V = 0. menurunkan SR (0.00885 0. pulai darat (Alsionia angustiloba). Jati super.00100 DH dengan mlai R2 (96. telah diprogramkan penanaman jenis fast growing species. Jati muna. Kata kunci: Jati. -. No. Se (2. Fatahul Azwar. Palembang Suhartati PENGARUH DOSIS PUPUK DAN ASAL BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN JATI (The Effect Fertilizer's Dosage and Seedling Process on the Growth of Teak)/ Suhartati. model.200 . -. permasalahan hama penyakit mulai dirasakan sebagai factor yang cukup serius mempengaruhi keberhasilan dan produktivitas hutan tanaman pada beberapa tahun terakhir.81 .0769 + 0. Halaman 73 . pinus (Pinus merkusii). Nursyamsi.0795 . antara lain mindi (melia azedarach). Petak utama terdiri atas tiga asal bibit jati Muna. Kata kunci: Diameter.3 . dan jati super.0093 H + 0. 100gr. 2006 Model penduga volume pohon jenis pulai darat (Alstonia angustiloba) yang dikembangkan PT. Sumantoro. Dari berbagai jenis tanaman hutan tersebut.5%. galat baku (standard error = Se).0127 D + 0.0.69%).91%) dan nilai SA (0. 2006 Penanaman jati pada tanah-tanah yang kurang subur perlu didukung silvikultur intensif seperti teknik pemeliharaan antara lain dengan pemberian pupuk.000045 D^ 0. Jenis-jenis tanaman tersebut antara lain jati (Tectona grandis). SR (1.2 . mangium (Acacia mangium). Model penduga volume pohon dengan dua peubah bebas memiliki ketelitian 1 tinggi dengan meningkatkan nilai R2 sebesar 1. Agus PEMODELAN PENDUGA VOLUME POHON PULAI DARAT (Estimation Modelling of Pulai Darat Tree Volume) / Agus Sumadi. 2006 Perum perhutani mengelola hutan tanaman di Jawa seluas sekitar 2.Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong. kayu putih (Melaleuca cajuputi). simpangan rata- rata (mean deviation = SR) simpangan agregatif (agregatif'deviation = SA). 150 gr.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.30%).Kata kunci: Core research. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Malili.3.000751 D2 dengan nilai R2 (94. Halaman 47-53 . ekaliptus (Eucalyptus pellita). mahoni (Swietenia macrophylla). telah diprogramkan penanaman jenis taman yang paling luas ditanam di Jawa. Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong. kesambi (Schleichera aleosa).43 %).02%).0. menurunkan nilai Se (0.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. yaitu 50 gr.5 juta hektar yang terdiri dari jenis penunjang industri kayu dan industri non kayu. Model penduga volume pohon terbaik berdasarkan peubah bebas diameter dan tinggi pohon adalah persamaan V = .000102 D2 + 0.33%). Sulawesi Selatan. Pemili model terbaik berdasarkan pemberian peringkat terhadap nilai koefisien determinasi (determinai coeficient = R2). Jakarta 23 Nopember 2006 . sono keling (Dalbergia latifolia) dan jenis lainnya dalam skala kecil.31%). Pujo PENGALAMAN DALAM PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT DAN PRAKTEK MANAJEMEN TANAMAN DI PERHUTANI / Pujo Sumantoro dan Sarkoro Doso B.

Jakarta 23 Nopember 2006 . Tektona grndis L.1 . Pestisida yang lazim dipakai dalam pengelolaan tanaman hutan produksi meliputi herbisida.43 . -. h) rumah tangga. fungisida dan rodentisida. W. sakit tidur. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. dan k) bidang lain. alasan ekonomi Kata kunci: Perkembangan tajuk. f) pengendalian faktor penyakit manusia. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown development of teak from seedling. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. -. Namun demikian sejalan dengan perkembangan jaman. Program pencarian bahan tanaman jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji.3. tissue culture and shoot cutting) / Priyono Suryanto. hama penyakit mulai muncul dan berpotensi menimbulkan kerugian yang cukup signifikan. dan dalam kehutanan mulai mengambil porsi yang semakin signifikan. penggunaan pestisida untuk keperluan lain khususnya untuk pemakaian di rumah tangga. Manajemen tanaman. c) perikanan. No. molluscisida. Halaman 29-31 . Peruntukan pestisida di Indonesia masih terbatas pada penggunaan di lahan pertanian. jati. e) pengawetan hasil hutan. Selain itu juga meliputi akarisida. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6m x 2m. Senyawa-senyawa pestisida tersebut pada umumnya merupakan senyawa kimia sintetik. Bila kebutuhan pengguna pestisida untuk hutan produksi mulai meningkat. kultur jaringan dan stek. Kata kunci: Hama.B Aryono dan Sambas Sabarnurdin. yellow fever dan sebagainya. Asal bahan tanaman. penggunaan pestisida di USA sendiri untuk sektor kehutanan hanya berkisar antara 1 persen . biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama.pertanaman di lapangan tersebut ada yang sudah lama dikenal dan jenis hama/penyakit baru dikenal pada jenis-jenis tanaman hutan.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. penggunaan pestisida masih terbatas dalam kaitannya terutama dengan pengawetan kayu sebagai produk hutan.f Taufikurahman MENIMBANG PENGGUNAAN PESTISIDA DALAM PENANGGULANGAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN: TINJAUAN ASPEK MANFAAT DAN RESIKO LINGKUNGAN / Taufikurahman. Bila persediaan biji bermutu cukup.5 persen dari total penggunaan pestisida.2 tahun dan 8. 2006 Selama ini penggunaan pestisida. tampaknya pelu dimasukkan kegiatan pestisida untuk kehutanan dengan pengaturannya sendiri. Dalam PP No. dan rumah tangga. KEPMENTAN TAHUN 2001 yang mengkategorikan bidang penggunaan pestisida meliputi: a) Pengelolaan tumbuhan. Kultur jaringan. b) peternakan. gudang. 2006 Pengelolaan hutan. Perhutani Suryanto. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. typhus. perkebunan. sedangkan apabila persediaan benih terbatas. insektisida. Stek pucuk. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berturut-turut 12 tahun. 7 th 1973 bahkan hormon pertumbuhan dimasukkan dalam kategori pestisida. beberapa penggunaan senyawa aktif dari bahan alam. Dalam pengelolaan kehutanan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.5 tahun bila biji. baik di luar negeri maupun di Indonesia terutama ditujukan dalam upaya untuk meningkatkan produksi pertanian. Jadi pestisida dalam kehutanan mungkin masih masuk dalam kategori "bidang lain". anti pencemaran. 15. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. dan larvasida. Halaman 35 . pestisida digunakan untuk 130 . Penyakit. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. Terkait dengan menurunnya energi penduduk untuk melakukan kerja yang terkait dengan pertanian. j) industri lainnya seperti pada cat. d) penyimpanan hasil pertanian. gedung. Seiring dengan keluasan area tanaman dan lama daur pengelolaan suatu jenis hutan tanaman. g) pengendalian rayap. Priyono PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. i) fumigasi. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan dengan intensifikasi lahan. Hassal (1990) menyimpulkan bahwa pengontrolan terhadap vektor penyakit malaria. Penggunaan pestisida untuk non-agricultural use juga masih terbatas pada upaya pengontrolan vektor penyakit pada manusia yang berkaitan dengan produksi pertanian. Jika berkaitan dengan kehutanan. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. Sebagai perbandingan.

Untuk menekankan pentingnya kesehatan tanaman dan untuk memfasilitasi penelitian dan implementasi konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). misal penggunaan antagonis. Untuk itu diperlukan bibit yang uniform. Halaman 45-46 . No. -. Manajemen APRIL PT. PT. untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan dan produktivitas hutan. Pestisida. Tetapi di sisi lain. Riset menggunakan 2 perlakuan. PT RAPP.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. etunicatum berpengaruh pada persentase hidup tanaman untuk hidup di lahan bekas tambang. yang ditunjukkan dengan hampir 100% hidup pulai darat (Alstonia sp. Oleh sebab itu diperlukan perencanaan yang matang agar suplai bibit dari persemaian dapat tepat waktu dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.) relatif tidak menunjukkan perbedaan parameter tinggi dan diameter di antara perlakuan. Bangko Timur.2 . Penyaki Ulfa. Hutan tanaman industri. -. rodensia. Program Penelitian atau Bagian Hama dan Penyakit telah dibangun dalam R&D Riau Fiber. 2006 : Halaman 83-86 .Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Penyakit. Kekurangan produksi bibit di persemaian mempengaruhi secara langsung target penanaman dan dapat berakibat meningkatnya biaya pemeliharaan. eucaliptus ataupun tanaman lain dalam Hutan Tanaman Industri (HTI). Demikian pula dalam pengusahaan akasia. Penyakit. Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi. Kata kunci: Hama.) telah dilakukan di lahan reklamasi bekas tambang batubara pada Dumping Area Pit Tiga. Sebagai perusahaan yang telah mendapat sertifikasi LEI. Tanaman hutan Tjahjono. Riau andalan Pulp and Paper telah mengantisipasi masalah hama penyakit ini dengan serius. Kata kunci: Serangan penyakit. Efendi Agus Waluyo. seperti ketersediaan nitrogen dan akumulasi bahan organik 131 . RAPP telah berkomitmen untuk menangani masalah ini dengan cara berwawasan lingkungan. setelah 9 bulan ditanam. etunicatum tidak cukup berpengaruh pada pertumbuhan pulai di lahan. pertumbuhan pulai darat (Alstonia sp. 2006 Masalah hama dan penyakit selalu dihadapi oleh usaha pertanian dan perkebunan dimanapun juga di muka bumi ini. Hal tersebut diduga disebabkan oleh proses biokimia tanaman. etunicatum dan perbedaan media sapih. Acacia mangium. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) merekomendasikan cara hayati. Maliyana PENGARUH INOKULASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA TANAMAN PULAI DI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA (The Effects of Arbuscular Mycorrizae Fungi Inoculation to Pulai at Ex Coal Mining) / Maliyana Ulfa. pestisida digunakan untuk memperlakukan nonnative dan invasif spesies tumbuhan. dan kehilangan akibat serangan penyakit harus minimalkan. diameter dan persen hidup. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. PT Rian andalan Pulp and Paper Tjahjono. PT. masalah hama penyakit menjadi salah satu kendala yang semakin dirasakan penting artinya. Dalam kaitannya dengan tumbuhan. Tanjung Enim. Acacia crassicarpa. Edwin Martin. Kata kunci: Hama. Jakarta 23 Nopember 2006 . Bukit Asam. Halaman 101 . G. PT. 2006 pertumbuhan tanaman pulai darat (Alstonia sp. sebagai bagian dari pengelolaan hama terpadu yang berwawasan lingkungan di HTI. RAPP melalui R&D nya berusaha untuk mengembangkan musuh alami seperti serangga Sycanus dan cendawan Trichoderma untuk pengendalian hayati hama dan penyakit.106 . bermutu tinggi. 2006 Penanaman kembali hutan tanaman bekas tebangan harus dilakukan segera setelah penebangan. serangga. Sumatera Selatan. penyakit.). menggunakan Rancangan Acak Blok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah ditanam di lahan.3. sehat. Budi PENGELOLAAN HAMA PENYAKIT DI HTI PT RAPP / Budi Tjahjono. inokulasi G. Budi MEMINIMALKAN SERANGAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN PADA Acacia crassicarpa DAN Acacia mangium / Budi Tjahjono.mengontrol tumbuhan gulma. ekonomi dan menjamin produktivitas dan keberlanjutan HTI. inokulasi G.

). maka pemberiannya cukup dilakukan sekali di awal pembibitan dan menghemat biaya operasional.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. mengingat dapat menyediakan bibit berkualitas dalam waktu yang singkat dalam jumlah yang banyak. Kata kunci: Mikoriza. Kebakaran. yang mengakibatkan kerusakan tidak hanya pada tegakan hutan tetapi juga pada tanah (gambut).yang tidak terdekomposisi dengan baik. lahan. sungkai dan mngium adalah Glomus etunicatum. meliputi kondisi fisik. sungkai (peremona canescens). Manfaat ini telah dibuktikan dengan menginokulasi mikoriza pada beberapa tanaman kehutanan. -. serta mampu mengefisienkan pemberian pupuk buatan. Dampak kerusakan yang terparah disebabkan kebakaran hutan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Hal tersebut menyebabkan sporulasi dan kolonisasi CMA tidak berjalan dengan baik. yang disebabkan oleh (1) eksploitasi hutan (2) konservasi lahan untuk pertanian dan (3) kebakaran hutan. Bentuk teknologi ini lebih efektif dan efisien. 2006 Aplikasi mikoriza merupakan alternatif teknologi dalam upaya mempersiapkan bibit berkualitas. Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. Mikoriza Ulfa. mangium (Acacia mangium). sedangkan pada seru telah diuji diinfeksi dengan Glomus etunicatum. Efendi Agus Waluyo dan Bastoni. Aplikasi ini dapat diterapkan dengan memperhatikan kondisi yang mendukung perkembangan mikoriza pada lahan rawa gambut pasca kebakaran. 2006 Kerusakan hutan rawa gambut semakin meningkat setiap tahunnya. Jenis prioritas. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK REHABILITASI HUTAN RAWA GAMBUT BEKAS KEBAKARAN / Maliyana Ulfa. Maliyana PEMANFAATAN MIKORIZA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BIBIT JENIS PRIORITAS SUMATERA SELATAN / Maliyana Ulfa. Selain itu karena yang diinokulasikan adalah jasad hidup. antara lain pulai (Alstonia sp. Rehabilitasi Ulfa. Selain itu tanamanpun akan lebih tahan terhadap kekeringan dan serangan patogen akar. sehingga mudah terserap oleh tanaman. -. seru (Scima wallicii) dan mahoni (Swietenia macrophylla) yang dilakukan di Balai Hutan Tanaman Palembang. Halaman 123-126 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza dapat meningkatkan kualitas bibit tanaman kehutanan tersebut. Alstonia sp. 2006 Sebagian besar lahan gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Kualitas bibit. bungur (Lagerstromia speciosa). Sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. 132 . Ulfa. Kata kunci: Glomus etunicatum. -. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. Lahan rawa gambut. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. bungur. deposit bahan organik penyusun gambut habis terbakar sehingga menurunkan produktivitas lahan dan menurunkan daya dukung lahan. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. karena untuk seterusnya akan berkembang dengan sendirinya dan terus menginfeksi. Halaman 127-130 . pulai. mikoriza dapat memudahkan penyerapan nutrisi dan air.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Usaha rehabilitasi yang bisa diupayakan adalah dengan aplikasi mikoriza. Jenis mikoriza yang diinokulasikan pada pulai. Maliyana POTENSI APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. Halaman 69-76 . Glomus clorum dan Gigaspora sp. Edwin Martin dan Efendi Agus Waluyo. kimia dan biologi tanah serta karakteristik dan tipologi lahannya. Pada lahan kritis.

Persoalan utama didalam membangun hutan tanaman adalah kemungkinan terjadinya ledakan populasi serangan dan epidemi penyakit yang berakibat pada serangan hama dan penyakit secara besar-besaran pada hutan tanaman. Mok-mok (Hemisilurus scheronema). sumber protein hewani. serta informasi jangka panjang kegunaan dan nilai ekonomi dari tegakan yang ditanam. pendapatan asli daerah dan keseimbangan lingkungan. Suaka perikanan dapat dipakai sebagai perangkat pelestarian plasma nutfah. iklim. reklamasi lahan. tempat mata pencaharian bagi nelayan. Konversi lahan basah harus dipertimbangkan dengan masak agar nilai sumberdaya alam tidak hilang. Halaman 21-27 . -. Ekosistem. Rehabilitasi. pemulihan populasi dan peningkatan produksi perikanan. dan topografi relatif cukup tersedia. Beberapa tipe habibat yang dapat dijadikan suaka perikanan yaitu Lebung. serangan hama dan penyakit. Jakarta 23 Nopember 2006 . kebutuhan industri pasar serta nilai ekonomi dari produk perkayuan. Salah satu teknik pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu dengan cara menyediakan habibat yang dilindungi untuk dijadikan suaka perikanan. -. Suaka perikanan yang baik dapat meningkatkan produksi perikanan di perairan sekitarnya. Informasi biofisik yang meliputi tanah. Hutan tanaman. -. Nur Arifatul PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN UNTUK REHABILITASI KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT / Nur Arifatul Ulya. Ekologi perairan umum sangat komplek dan sangat dipengaruhi oleh musim. ruas sungai yang terdapat lubuk dan danau rawa. Propinsi Sumatera Selatan mempunyai lahan gambut seluas kurang lebih 1. Perikanan Wasrin. Timah-timah (Cryptopterpus apagon). relatif lebih mudah diperoleh. Di sisi lain pembangunan HTI hanya mampu menghasilkan 1/3 dari kebutuhan industri sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan percepatan pembangunan HTI.484 juta hektar atau sekitar 20. Evaluasi kegunaan lahan basah diperlukan dalam rangka memberikan masukan bagi pengelola.6 Kata kunci: Hutan tanaman. Hal ini juga menyebabkan rusaknya gambut yang berada di areal yang tidak berhutan tersebut. Agus Djoko KETERKAITAN KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN EKOSISTEM PERAIRAN RAWA BESERTA UPAYA PELESTARIANNYA / Agus Djoko Utomo. 2006 Peran penting perairan umum yaitu sebagai tempat hidup berbagai jenis organisme air tawar. 2006 Indonesia merupakan salah satu negara dengan lahan rawa gambut terluas di dunia.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Pengalaman dari beberapa perusahaan kehutanan dalam membangun hutan tanaman industri masih banyak menemui kendala antara lain resiko-resiko jangka panjang akibat dari pemilihan jenis tanaman yang tidak atau kurang sesuai dengan tapak. Hutan tanaman Ulya. Mikoriza. Kehilangan habibat yang penting di perairan umum akan berdampak langsung pada kehidupan organisme air. Kapas-kapas (Rochteichtys micropeltis).Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 97-102 . Pemahaman ekosistem lahan basah sangat diperlukan untuk mengevaluasi kegunaan dan keuntungannya.Kata kunci: Rawa gambut. Kata kunci: Rawa. Ikan Elang (Datniodes quadrifsciatus). Suaka perikanan mempunyai peran besar bagi penyediaan benih ikan secara alami di perairan umum. Beberapa penyebab kerusakan habibat yaitu penebangan hutan rawa. Sengarat (Belodonticthys dinema). Seringnya terjadi kebakaran hutan dan tingginya konversi lahan menyebabkan semakin menciutnya areal berhutan dalam kawasan hutan rawa gambut. sebagai indikasi tidak adanya keseimbangan ekologi dari jenis yang ditanam dengan keadaan lingkungan. 2006 Departemen Kehutanan melalui program Revitalisasi Sektor Kehutanan telah mentargetkan untuk membangun sekitar 9 juta hektar hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat di dalam kawasan hutan yang terdegadrasi serta hutan rakyat pada lahan-lahan milik masyarakat. demikian pula dengan "trend" penggunaan kayu. Upik Rosalina ASPEK EKOLOGI DALAM "VEGETATION MANAGEMENT” PADA HUTAN TANAMAN / Upik Rosalina Wasrin.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 73-83 . 133 . Temparang (Macrothirictys microphirus). Jenis ikan yang hampir punah antara lain Tengkeleso (Shclerophages formosus). Rawa gambut Utomo.

SM FOREST HEALTH MONITORING DI HUTAN TANAMAN / SM Widyastuti. sebagai pengendali hayati patogen busuk akar Ganoderma spp. baik pada saat ini maupun masa yang akan datang.2006 : Halaman 71-81 . Fusarium sp.reesei. dapat secara efektif mampu menekan perkembangan fungi patogen secara in vitro dan eksperimen rumah kaca. Penyakit akar putih.Kata kunci: Ekologi. SM POTENSI ANTAGONISTIK FUNGI TRICHODERMA SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI TERHADAP FUNGI PATOGEN TULAR TANAH / SM Widyastuti. Kata kunci: Acacia mangium. Bagi masyarakat informasi tentang kesehatan hutan yang diperoleh secara benar akan meningkatkan kesadaran dan peran serta mereka dalam ikut memanfaatkan hutan secara benar. Rhizoctonia spp. Hutan tanaman.. Uji coba mengenai kemampuan antagonistik isolat Trichoderma dalam menghambat fungi patogen pada beberapa tanaman. informasi tentang kesehatan hutan dapat dimanfatkan untuk memperkirakan tingkat (kualitas) hutan yang pada gilirannya sangat penting untuk merespon keinginan pihakpihak yang berkepentingan. habibat untuk wildlife. termasuk enzim kitinolitik dan glukanolitik. Vegetation management. kayu perkakas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma spp. 2006 Makalah ini mendeskripsikan kemampuan Trichoderma sp. bahan pulp serta dapat digunakan untuk tempat rekreasi. san Sclerotium rolfsii. Kata kunci: Forest Health Monitoring. Ridigoporus microporus. Pengendalian hayati pada patogen tanaman merupakan pendekatan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pertanian modern dan fungisida kimia yang dapat menyebabkan polusi lingkungan dan berkembangnya galur resisten. endokitinase (EC 3.2. -. Hutan Tanaman Widyastuti. Hutan yang sehat juga berfungsi sebagai sumber bahan pangan dan sebagai paru-paru dunia. Hutan tanaman Widyastuti.1. Walaupun mekanisme mikroparasit belum diketahui sepenuhnya. Akar merah. seperti Ganoderma spp. Akar putih.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.14) merupakan salah satu enzim yang paling efektif sebagai antifungi dan aktivitas litik dibanding dengan enzim kitinolitik yang lain. 2006 Dalam dasawarsa terakhir ini Forest Healts Monitoring (FHM) sering dibicarakan. FHM dapat dipakai sebagai dasar yang penting dalam pembuatan rencana strategis khususnya terkait dengan data perubahan kesehatan hutan. Bagi para pengelola hutan. Fungsi hutan yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya adalah menyediakan air. Ganoderma spp. bersifat mikroparasit terhadap patogen tanaman dan merupakan salah satu agen potensial yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati pada penyakit tanaman. 32-kDa enzim kitinase telah dimurnikan dan dikarakterisasi dari T. FHM penting dilakukan untuk mengetahui seberapa baik hutan dapat mendukung kehidupan manusia. Apabila informasi tentang kesehatan hutan dipadukan dengan program penataan administrasi yang baik serta dukungan pakar yang berkomitmen tinggi terhadap masalah-masalah lingkungan. Halaman 33-39 . Filamen fungi trichoderma spp.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. DNA 134 . Penyakit. ekspresi dinding sel ekstraseluler dalam mendegradasi enzim diasumsikan merupakan bagian dari proses tersebut. Banyak pihak yang dapat memanfaatkan informasi tentang kesehatan hutan. -. maka akan dapat dihasilkan rencana strategis pengembangan hutan yang lestari dan lingkungan yang berkesinambungan. Seperti dilaporkan dalam sistem kitinolitik lain. Bagi pembuat kebijakan.. Jakarta 23 Nopember 2006 . kayu bangunan. merupakan patogen busuk akar potensial yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada berbagai tipe hutan tanaman di Indonesia. Baru-baru ini.

(4) mulai berkembangnya tanaman perkebunan yang dapat memberikan hasil lebih cepat dan kontiyu. Hutan rawa air tawar didominasi oleh vegetasi pohon. (2) Pasar kayu jati belum terbentuk dengan jelas. perdu. -.Wijaya. Masyarakat secara swadaya menanami lahannya yang terlantar (tidak produktif) dengan tanaman jati. Peran dan fasilitas instansi pemerintah terkait terutama dinas kehutanan diperlukan dalam merespon perkembangan budidaya jati dan mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi di Kaur dari sisi teknis budidaya dan akses pasar.89 cm dan 6. Kata kunci: Ekosistem.25-7 ha. Ikan Winarno. Baung (Mytus nemurus) dan Putak (Notopterus notopterus). Luas kepemilikan tanaman jati masyarakat sangat bervariasi antara 0. 2006 Salah satu tipe ekosistem perairan umum yang khas adalah ekosistem hutan rawa air tawar. Kondisi hutan rawa air tawar yang relatif lebih tenang dan banyak substrat atau tanaman mati yang merupakan media untuk menempelkan telur menjadikan hutan rawa air tawar sebagai daerah yang ideal untuk ikan-ikan yang bermigrasi untuk memijah. Hutan rawa. 2006 Jati merupakan tanaman eksotis yang dibudidayakan oleh masyarakat Kaur.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. 2001: 8. Hutan rawa. Pada tahun 2002. 1999: 13.63 cm dan 6. dan (4) untuk memenuhi kebutuhan kayu di masa depan. Hutan rawa air tawar menjadi tempat pemijahan ikan terutama pada waktu musim hujan. tanaman air dan tanaman semak lainnya.13 m.25 cm dan 8. Hasil pengukuran potensi jati menggunakan plot ukur 0.14 m. Barikut adalah beberapa faktor yang memotivasi masyarakat untuk melakukan budidaya jati di Kaur: (1) Gambaran keuntungan ekonomi yang akan diperoleh. Pemijahan.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 135-141 . Pelestarian hutan rawa air tawar perlu dilakukan guna menjaga kelestarian dan produksi ikan terutama ikan-ikan bernilai ekonomis dan ekologis. Hutan rawa air tawar mempunyai nilai ekologis yang penting karena pada saat musim hujan daerah tersebut merupakan tempat memijah (spawning ground) bagi banyak ikan termasuk beberapa jenis ikan berniali ekonomis seperti ikan Belida (Chitala lopis). rerata diameter dan tinggi bebas cabang: 2002 : 7. BENGKULU / Bondan Winarno dan Edwin Martin. Jati mulai menarik perhatian masyarakat Kaur pada pertengahan dekade 90-an seiring dengan maraknya budidaya jati di berbagai lokasi. Spawning ground. Beberapa cara untuk pelestarian tersebut adalah dengan tidak melakukan penebangan liar. 2000: 9. minat masyarakat Kaur terhadap budidaya jati mulai berkurang. Betutu (Oxyeleotris marmorata). Ekosistem hutan rawa air tawar biasanya terdapat pada Daerah Aliran Sungai bagian tengah. -. Halaman 61-67 .25 cm. Sebagian besar jati yang ada merupakan tanaman antara 1997-2001.81 m.90 m. Danu EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR SEBAGAI TEMPAT PEMIJAHAN (Spawning ground) BAGI IKAN-IKAN PERAIRAN UMUM / Danu Wijaya dan Safran Makmur. Perairan umum. Bondan PENGEMBANGAN JATI SEBAGAI TANAMAN EKSOTIS: PELAJARAN DARI MASYARAKAT KAUR.71 cm dan 7. (3) Budidaya jati secara monokultur tidak menyediakan ruang untuk budidaya jenis tanaman lain. 1998: 11. Penampakan kayu jati tersebut pada umumnya cukup baik tanpa gerowong dan cacat lain namun kayu tersebut belum berkembang dengan baik dan terlihat masih muda dengan kayu teras yang terlihat belum matang.51 cm dan 5. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Beberapa hal yang mendorong perkembangan budidaya jati di Bengkulu cenderung menurun adalah sebagai berikut: (1) Pertumbuhan dan perkembangan jati tergantung perawatan dan tempat tumbuh. Tapa (Wallago leeri).25 hektar berulangan untuk beberapa seri tahun tanam jati disajikan secara berturut-turut tahun tanam. (3) Memanfaatkan lahan terlantar yang tidak produktif. menjadikan daerah hutan rawa air tawar sebagai daerah reservat dan adanya peraturan penangkapan pada bulan-bulan tertentu terutama pada musim kawin atau musim pemijahan. Sebagian besar tanaman jati di Kaur belum memasuki masa panen namun ada sebagian tanaman yang berumur 12-15 tahun telah dipanen dengan diameter batang 20 cm . Air tawar. 135 . (2) Teknik budidaya jati mudah dikuasai dan sederhana.74 cm.

Bengkulu Yassir. yaitu C-organik (2. Kepadatan spora CMA cukup baik. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan hutan yang meliputi tata hutan. provinsi dan kabupaten/kota. Mulyana Omon. Kalimantan Timur. bahan organik yang rendah sampai dengan sedang. Pada setiap kondisi topografi (puncak. 2006 Zulfikhar KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DENGAN POLA KPH DI PROVINSI SUMATERA SELATAN / Zulfikhar. dan pembentukan KPH tersebut selanjutnya menjadi bagian dari penguatan sistem pengurusan hutan nasional. yang ditunjukkan oleh jumlah spora CMA yang menurun selaras dengan meningkatnya kandungan P tersedia di dalam tanah. di mana pada setiap KPH dikelola oleh suatu Unit Organisasi KPH. dan dua pertiga bagian di antaranya merupakan kawasan hutan dengan kondisi penutupan vegetasi sebagian kecil masih berupa hutan alam dan sebagian besar telah terombak menjadi padang rumput. yang ditunjukkan dengan pH tanah yang masam (4. 2006 Ekosistem lahan basah dan rawa gambut mencakup sepertiga bagian dari total wilayah Provinsi sumatera Selatan. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metoda tunggal berdasarkan letak topografi dan komposisi tumbuhan.2 . karena proses suksesi hutan merupakan proses yang panjang sedangkan permasalahan sosial ekonomi memerlukan solusi yang segera. Kaur.13%) P tersedia (498 ppm). pemahaman yang memadai terhadap ekosistem hutan lahan basah dan rawa gambut. keragaman hayati dan dinamika populasi hutan rawa gambut. Tectona grandis Linn. Pengelolaan hutan rawa gambut merupakan usaha untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari.15%).Jurnal Penelitian Penelitian tentang hubungan antara Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada lahan kritis telah dilakukan di areal rehabilitasi Samboja Lestari Km 35.44 me/g) dan KTK (8. tercakup di dalamnya sistem lahan dan hidrologi. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari tersebut maka kawasan hutan dibagi kedalam kesatuan pengelolaan hutan (KPH). 136 . Pemahaman terhadap landasan kebijakan yang ditetapkan pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan rawa gambut dan pola KPH merupakan titik masuk bagi para pihak untuk dapat mengkritisi dan memberikan saran solusi terhadap upaya mewujudkan pengelolaan hutan lestari serta antisipatif terhadap kemungkinan munculnya permasalahan yang lebih komplek sebagai dampak negatif atas kebijakan pengelolaan hutan rawa Between Arbuscular Mycorrhizal.99 me/100g). K tersedia (0. rehabilitasi hutan dan reklamasi serta perlindungan hutan dan konservasi alam.3.115 . dalam penyelenggaraannya dilaksanakan oleh KPH dalam bentuk swakelola dan pemerintah dapat mendelegasikan pengelolaan hutan kepada Badan Usaha Milik Negara di bidang kehutanan. penyusunan rencana pengelolaan hutan. lereng dan lembah) dibuat petak yang berukuran 10 m x 10 m masing-masing sebanyak 5 buah petak. dan terjadi korelasi negatif antara jumlah spora dengan kandungan P tersedia. R. Lahan milik. Ishak HUBUNGAN POTENSI ANTARA CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA DAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAHAN KRITIS (The Relationship Hutan Tanaman : Vol. sistem silvikultur serta faktor-faktor sosial ekonomi yang terkandung di dalamnya. Di dalam petak berukuran 10 m x 10 m dibuat petak berukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan secara acak dan diulang sebanyak 3 kali. Untuk itu pemerintah Provinsi Sumatera Selatan harus menentukan solusi kebijakan strategis pengelolaan hutan rawa gambut dengan mendasarkan pada data/informasi yang terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah di lokasi penelitian secara umum tidak subur. dari genus Glomus.32). Tanaman eksotis.Kata kunci: Jati. Jumlah petak yang diamati seluruhnya sebanyak 3 x 5 x 3 = 45 buah petak. Untuk itu diperlukan strategi metamorfosis yang terbimbing untuk menuju keseimbangan ekosistem hutan rawa gambut yang baru. Rekayasa proses suksesi ekologi hutan rawa gambut yang dipercepat dengan mengakomodasi kepentingan sosial ekonomi sangat diperlukan. Halaman 107 . Acaulospora dan Gigaspora. No. kandungan N total (0. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 7-13 . pemberdayaan masyarakat. Untuk hubungan antara potensi CMA dengan sifat-sifat tanahnya sangat ditentukan oleh kandungan P tersedia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat fisik dan kimia terhadap potensi CMA pada lahan kritis. pemanfaatan hutan.Fungi Potency and Soil Properties in Marginal Land)/ Ishak Yassir. dengan jumlah 1288-2321 spora/50 g pada bulan kering dan pada bulan basah 1274-2163 spora/50 g tanah. -. semak dan belukar.

Sumatera Selatan 137 . Kata kunci: Rawa gambut.gambut dan dapat bermanfaat bagi para pihak sebagi acuan untuk mewujudkan pengelolaan hutan rawa gambut yang lebih baik di Propinsi Sumatera Selatan. Kebijakan. KPH. Hutan rawa gambut.

Kata kunci: Bambu. Halaman 96-111 . Input teknologi dan pemasaran menjadi faktor penentu disamping dukungan pemerintah. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan jenis bambu menghasilkan nilai kualitas arang bambu yang sangat berbeda nyata.9 th dalam 50 plot dengan luasan 0. Penelitian ini mencoba salah satu upaya pemanfaatan limbah dengan pembuatan arang bambu secara tradisional secara tumpuk timbun dengan menggunakan lima jenis bambu bahan baku industri sumpit yaitu bambu ampel. Kata kunci: Arang Bambu. kekuatan desain. Devy Priambodo Kuswantoro.945 kal/g. Kunci untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat terletak pada seberapa jauh upaya peningkatan mutu. 2005 Industri pembuatan sumpit sebagai salah satu upaya teknologi pemanfaatan bambu menghasilkan limbah yang cukup besar yaitu lebih kurang 65 persen yang perlu diupayakan pemanfaatannya agar menjadi produk yang bernilai tambah. Data diolah secara deskriptif dan dilakukan analisis keuntungan antara produk konvensional (standar) dengan produk pengembangan.98 persen. Budiman KAJIAN POTENSI USAHA BAMBU RAKYAT DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. Tasikmalaya Achmad. -. Halaman 164-174 . dan eksportir.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Jenis yang paling banyak dijumpai adalah bambu tali. Budiman ARANG BAMBU DARI LIMBAH INDUSTRI KERAJINAN: POTENSI EKONOMI YANG BELUM DIGALI DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. Penelitian ini dilaksanakan pada hutan tanaman Acacia mangium di Pasir Pangrayan. 2006 Potensi bambu di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi yakni sekitar 2.89 ha yang mampu membangkitkan kreatifitas usaha sebagian masyarakat Tasikmalaya.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kabupaten Tasikmalaya. tali. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai kemungkinan upaya peningkatan potensi pemanfaatan bambu melalui perluasan variasi produk dan penyertaan teknologi untuk meningkatkan mutu dan nilai tambah produk. dan Devy Priambodo Kuswantoro. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat bisa dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu penerapan sistem silvikultur yang tepat. 2005 Pengelolaan hutan tanaman secara lestari bisa dicapai jika jatah tebang tahunan (AAC) tidak melebihi riap.pengkelasan mutu dan pemanfaatan setiap bagian batang sesuai dengan potensi dan sifat dasarnya serta pemanfaatan limbah sebagai bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan dari proses produksi lain (interface). dan Soleh Mulyanan. dan bambu temen. Pengambilan data dilakukan dengan sengaja berdasarkan ketinggian tempat tumbuh yaitu dataran rendah dan dataran tinggi dan dilakukan survey potensi bambu dan produknya serta wawancara dengan petani.Achmad. ater. Budiman PENGELOLAAN TAPAK HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERDASARKAN DAUR EKONOMIS / Budiman Achmad. Potensi usaha Achmad. Bambu tali sebagai bambu yang paling banyak digunakan untuk bahan baku sumpit ternyata menghasilkan kualitas arang bambu yang secara umum paling baik dibanding empat jenis bambu lainnya dengan besar nilai kalor 6. -. Limbah Kerajinan.1 ha/plot diukur diameter dan 138 . Halaman 175-184 . dan harga serta jalinan kepercayaan antara produsen dan pembeli. 6 Desember 2005 .957 batang menempati luasan 7. bambu surat. Tegakan umut 1 sampai 4. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mutu tapak dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan hasil dan menyediakan beberapa alternatif solusi untuk meminimalkan inefisiensi dalam pengelolaan hutan tanaman. Bambu tumbuh hampir merata di wilayah Kabupaten Tasikmalaya tetapi kurang didukung dengan meratanya ketrampilan sumberdaya manusia (SDM) sehingga terjadilah ketidakseimbangan antara potensi SDA (sumber daya alam) dengan potensi SDM yang merupakan indikator bahwa potensi usaha bambu belum digali secara optimal. betung. 6 Desember 2005 . pengrajin. bambu hitam. -. Soleh Mulyana. kadar karbon terikat 74. 6 Desember 2005 .13 persen dan kadar zat terbang 18. Potensi Ekonomi.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.985. Propinsi Riau. dan gombong dan diuji kualitas arang yang dihasilkan menurut standar SNI.464.

Kajian dilakukan dengan pengumpulan peraturan-peraturan mengenai tata usaha kayu yang ada. Garut Alviya. Budiman KAJIAN IMPLEMENTASI TATAUSAHA DAN TATANIAGA KAYU RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN GARUT / Budiman Achmad. Soleh Mulyana. -. dan wawancara dengan petani kayu dan pelaku usaha kayu untuk mengetahui interpretasinya terhadap tata usaha kayu rakyat. Sistem insentif yang efektif perlu dikembangkan dengan dukungan peraturan yang perencanaannya bersifat kolektif dan inovative sehingga mampu menimbulkan komitmen sukarela. Perairan Riau. Iis ILLEGAL LOGGING: KAJIAN PERKEMBANGAN ISU KEHUTANAN / Iis Alviya. melakukan in-depth interview dengan responden ahli/kunci. Ada beberapa titik konsentrasi praktek penebangan liar serta penyelundupan kayu. -. semakin tinggi kerapatan pohon yang ditanam.tingginya. 6 th.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Hutan Tanaman. Isu kehutanan 139 . Kata kunci: Acacia mangium.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Untuk mendapatkan hasil optimal jumlah pohon yang ditanam harus mempertimbangkan mutu lahan. 2005 Penebangan Liar (illegal logging) dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) merupakan salah satu dari lima kebijakan prioritas utama Departemen Kehutanan saat ini. Berdasarkan empat mutu tapak yang diperoleh yakni kelas II. perbatasan Papua. nilai strategis baik yang tangible maupun intangible belum ditempatkan sesuai fungsinya dan belum dihargai secara proporsional. Kasus illegal logging ini terus meningkat akibat lemahnya kemampuan aparat penegak hukum sehingga tidak mampu membongkar sampai ke akar permasalahannya. dan Devy Priambodo Kuswantoro. 30 triliun/ha. Kendala lain yang lebih bersifat disinsentif bersumber dari peraturan tatausaha yang tidak bersifat khas dengan daerah dan kurang mengakomodir kepentingan seluruh stakeholder secara berimbang. Namun saat ini dengan maraknya kasus illegal logging negara harus menerima kerugian mencapai Rp. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui pola pemasaran dan kemungkinan pengembangannya sehingga persoalan yang terkait dengan in-efisiensi tataniaga bisa diminimalkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa siklus tebang paling optimal adalah 6. Kata kunci: Kayu Rakyat. Inovasi nilai harga kayu maupun peraturan belum tertangani sebagaimana diindikasi oleh kecilnya margin yang diterima petani bersamaan dengan image biroaktif pengurusan perizinan yang berlaku.sebagaimana terlihat pada semakin sempitnya coverage relatif hutan di Kabupaten Garut yang tidak lebih dari 10 persen saja. Halaman 85-96 . Namun sistem pelaksanaan lelang tersebut belum berjalan secara efektif dan optimal sehingga menimbulkan kerugian bagi negara mencapai Rp. pada tanggal 13 Januari 2005 pemerintah telah mengesahkan tiga draft rancangan Peraturan Menteri Kehutanan tentang petunjuk pelaksanaan lelang kayu. 13 September 2005 .kelas III. Hasil kajian mengindikasikan bahwa arus informasi pasar ke petani cukup terbuka diduga karena profesi ganda sebagai petani sayur dan kayu berimbas pada semakin luasnya jaringan bisnis sehingga petani telah mampu meluaskan pasarnya. 500 miliar/tahun.5 th.III. demikian sebaliknya. Akan tetapi.2006 . Mutu Lahan Achmad. dan rampasan.IV dan Klas V.Semakin rendah mutu lahan. dan Kalimantan Timur. Kata kunci: Illegal Logging. dan IV dan kelas V kemudian disusunlah grafik CAI dan MAI. sitaan. Berdasarkan hal tersebut.5 th dan 5 th untuk berturut-turut klas II. Selama ini telah berjalan proses lelang terhadap kayu hasil temuan. 2006 Hutan Rakyat merupakan alternatif yang semakin strategis untuk mengisi demand kayu yang semakin meningkat saat ini. Halaman 153-161 . Sektor kehutanan dengan segala potensinya pernah tercatat sebagai sumber pendapatan negara terbesar nomor dua setelah minyak. yaitu perbatasan RIMalaysia di Kalimantan Barat. 5. Selain itu juga untuk mendapatkan alternatif penatausahaan kayu yang bisa menciptakan iklim usaha (market change) efektif dengan mempertimbangkan faktor kepraktisan dan kekhasan daerah tanpa mengorbankan efisiensi. Diharapkan dengan kebijakan tersebut kerugian negara akibat illegal logging dapat ditekan dan praktek illegal logging yang umumnya menggunakan proses lelang kayu sebagai modus pemutihan kayu hasil tebangan liar tersebut dapat dihilangkan. Kab. Tataniaga. Tatausaha.

C. Kenyataannya. 2) aspek ekonomi.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan kriteria KaldorHicks dampak kebijakan eksport kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium tanpa atau dengan pengenaan pajak eksport non-prohibitive adalah lebih baik dibanding kebijakan larangan ekspor. Woro M. Satria PERANAN HUKUM ADAT DALAM UPAYA MENCEGAH ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG DAN KONSERVASI: PELUANG DAN TANTANGAN/ Satria Astana. Halaman 119 . Dalam kaitan ini.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Central Java)/ S. Ini pada gilirannya akan menyebabkan pembangunan hutan tanaman mengalami stagnasi. 2005 Lemahnya penegakan hukum menyebabkan kegiatan illegal logging meluas bukan hanya terjadi di hutan produksi. Kebumen. aspek ekonomi. agar efektif. dampak kebijakan eksport kayu bulat perlu dikaji. namun hasilnya belum optimal. harga kayu bulat yang rendah bukan hanya menyebabkan nilai pengembalian investasi dalam pembangunan hutan tanaman khususnya Acacia mangium lebih rendah dari harga kapital yang digunakan tetapi juga mencegah masuknya investasi baru.2 . Kelembagaan masyarakat hukum adat di sekitar hutan lindung dan konservasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen sosial budaya yang efektif dalam upaya mencegah illegal logging. Peningkatan kemiskinan akan berdampak pada perusakan sumberdaya hutan. -. JAWA TENGAH (The Determinant factor of Pine Tapping Farmer Poverty in Somagede. Satria ANALISIS KEBIJAKAN EKSPOR KAYU BULAT DARI HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM / Satria Astana. Untuk itu. Sifat hukum adat yang terbuka dan dapat berubah.. antara lain: 1) intrusi budaya luar. -. Jumlah responden 30 keluarga/rumahtangga.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Kata kunci: Illegal Logging. Halaman 109-116 . -. 13 September 2005 . Upaya mencegah dampak buruk yang lebih jauh dapat dilakukan melalui intervensi kebijakan mengijinkan produksi kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium diekspor. dan Indartik. Andy FAKTOR PENENTU KEMISKINAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI DESA SOMAGEDE. merupakan suatu tantangan yang perlu dicermati.al.. Diukur dengan surplus produsen dan konsumen. Upaya mencegah illegal logging melalui instrumen hukum adat. S. Runggandini. Salah satunya adalah rendahnya harga kayu bulat dalam negeri akibat kebijakan larangan ekspor. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor penentu suatu rumah tangga petani penyadap getah pinus tergolong miskin. 2006 Masyarakat sekitar hutan umumnya berada dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Hutan Lindung. perlu dibarengi oleh kebijakan penguatan kelembagaan dan meningkatkan ekonomi secara konsisten. Halaman 4971 . menyebabkan terjadinya asimilasi dan/atau akulturasi budaya. dan kebijakan dapat menghasilkan asimilasi dan/atau akulturasi budaya yang dapat berdampak negatif atau positif terhadap kelestarian sumberdaya hutan. Kata kunci: Acacia mangium. Hukum Adat. kemiskinan pada masyarakat sekitar hutan harus dientaskan dan pemahaman terhadap faktor penentu atau penyebab kemiskinan menjadi penting. Metode survey dipergunakan untuk mengumpulkan data. Konservasi Cahyono. 2006 Lambannya pembangunan hutan tanaman disebabkan oleh banyak faktor. Terdapat kekhawatiran yang luas terhadap harga kayu bulat yang terus rendah. Andy Cahyono . dalam pemanfaatan hutan yang lestari. Kayu Bulat. Pemberantasan illegal logging melalui pendekatan keamanan telah dilakukan. Namun unsur-unsur hukum adat secara terus-menerus mengalami tekanan dari banyak aspek. Kebijakan ekspor Astana.Astana. [et. KEBUMEN. Ketersediaan unsur adat dan penegakan sanksi yang efektif bagi pelanggar. Interaksi dengan budaya luar. Model binary choice dengan fungsi logit 140 . 6 Desember 2006 . tetapi juga di hutan lindung dan hutan konservasi.]. Pola jaringan illegal logging kapan saja dapat bangkit kembali dalam kehidupan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rentan dan lingkungan bisnis hutan yang tidak kondusif. 3) Kebijakan yang kurang kondusif. merupakan suatu peluang hukum adat berperanan dalam upaya mencegah illegal logging. yang ditujukan khususnya bagi masyarakat hukum adat yang daerahnya menghadapi tekanan illegal logging yang tinggi.

Sementara peluang keluar dari kondisi miskin akan semakin besar dengan meningkatnya pendapatan dari getah pinus. kesehatan. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap pinus. dan produksi getah pinus. Untuk itu. Kata kunci: DAS. -. Implikasi kebijakannya adalah peningkatan produktivitas getah pinus dan harga getah. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. kualitas hidup lebih baik. Kebumen. Pendapatan rumah tangga dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pendapatan di luar sadap pinus dan peningkatan produktivitas pinus. Imbal jasa dapat berupa finansial maupun non finansial. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. akses pada sumberdaya pada daerah penyedia jasa multifungsi akan lebih bermanfaat. Andy Cahyono. Pendekatan pengelolaan DAS yang menekankan pada jasa monofungsi DAS yang disederhanakan pada penanggulangan erosi sedimentasi perlu diubah dengan jasa multifungsi DAS baik tangible maupun intangible.33% lainnya termasuk dalam kategori keluarga tidak miskin. Imbal Jasa Characteristics Affecting Household Income of Pine Gum Taper: Case Study in Somagede. serta diversifikasi sumber pendapatan diluar getah pinus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46. pendidikan. 2006 : Halaman 63-81 . 2006 Pendekatan pengelolaan DAS yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumberdaya alam di DAS. Namun imbal jasa non finansial seperti ketersediaan infrastruktur. KEBUMEN. JAWA TENGAH umur pinus. Imbal jasa multifungsi DAS dapat dipergunakan sebagai mekanisme kompensasi dari pemanfaatan jasa multifungsi kepada penyedia jasa multifungsi untuk menjaga ketersediaan jasa yang dihasilkan. pendapatan di luar penyadapan Cahyono. pendapatan dari luar getah pinus. Dalam implementasinya. Kata kunci: Kemiskinan.dipergunakan untuk mengetahui faktor penentu atau penyebab kemiskinan pada rumah tangga petani penyadap getah pinus.2 . Pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi nyata secara statistik oleh pendapatan dari luar getah pinus. Penelitian ini merekomendasikan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga penyadap dilakukan dengan diversifikasi pendapatan di luar pinus dan peningkatan produktivitas getah. sedangkan 53.67% rumahtangga penyadap pinus termasuk dalam kategori miskin. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik sosial ekonomi mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus. 2006 Peningkatan pendapatan rumah tangga menentukan tingkat kesejahteraan keluarga dan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus. Paper ini mengurai imbal jasa multifungsi DAS untuk mendukung pengelolaan DAS dan jasa implementasinya. Nur Ainun Jariyah. petani penyadap getah pinus. umur tegakan. dan umur penyadap. Halaman 147-159 . 141 . and Central Java) / S. Analisis data menggunakan persamaan regresi linier berganda pada peubah karakteristik sosial ekonomi yang diduga mempengaruhi pendapatan rumah tangga. dan pendapatan di luar getah pinus. S. Metode survey dipergunakan pada penelitian ini dengan penarikan sampel menggunakan metode simple random sampling pada 30 orang petani responden. Andy KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP GETAH PINUS DI DESA (Socio-Economic SOMAGEDE. Yonky Indrajaya. produktivitas pinus. Andy IMBAL JASA MULTIFUNGSI DAS UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI / S.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. imbal jasa multifungsi DAS tergantung pada negosiasi. kapasitas stakeholder dan kesepakatan serta kesepahaman para stakeholder untuk merealisasikannya. yaitu pendapatan dari getah pinus. Kemiskinan rumahtangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi secara signifikan oleh beberapa faktor. Kata kunci: kegiatan. Andy Cahyono dan Purwanto. pinus Cahyono. determinan kemiskinan. S.

Analisis manfaat biaya dilakukan dengan menggunakan kriteria investasi NPV. Halaman 103-120 . Terlihat bahwa penambahan nilai karbon sebesar Rp. Sumatera Selatan Diniyati.(et. dan IRR. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor.Kontribusi peranan setiap lembaga tersebut ditunjukan oleh sikap petani. IRR adalah suatu tingkat bunga dimana seluruh arus kas bersih sesudah didiskonto sama jumlahnya dengan biaya investasi. 2. yaitu sikap yang positif terhadap kelompok tani. NPV adalah selisih antara manfaat (B) dengan biaya (C) yang telah didiskonto. WONOSOBO DAN KUNINGAN/ Dian Diniyati. CIAMIS. Nilai ini menunjukan bahwa keuntungan penambahan nilai karbon cukup signifikan dan menambah kelayakan pembuatan hutan tanaman. 6 Desember 2006 .al) . atau meningkat sebesar 25 persen per hektar. Begitu juga dengan NPV meningkat dari Rp. 2006 Bentuk pengembangan hutan rakyat di setiap wilayah akan berlainan dan memiliki kekhasan masing-masing. namun masih memiliki persamaan 142 . Kata kunci: Hutan Rakyat. Sekaligus perlu diketahui bagaimana apabila peranan penambahan nilai karbon ditambahkan dalam analisis kelayakan tersebut.Hasil penelitian menunjukan bahwa pembangunan hutan tanaman mangium di Sumatera Selatan layak secara finansial maupun ekonomi.000 per hektar.. Analisis Ekonomi. Dian KAJIAN SIKAP PETANI TERHADAP LEMBAGA PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT / Dian Diniyati dan Tri Sulistyati W. Dengan perkataan lain.8 persen per hektar atau meningkat sebesar 5 persen.Djaenudin. 6 Desember 2005 . Analisis biaya pembuatan dan nilai hutan tanaman dilakukan dengan metode Benefit Cost Ratio dengan menggunakan program EXCEL. dan dapat dirumuskan sebagai berikut.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. atau biaya mula-mula.2 persen secara mekanik dan manual. sedangkan sikap terhadap LSM untuk Desa Cisitu netral dan Desa Werasari negatif. Untuk itu perlu diketahui kelayakan finansial dan ekonomi pembangunan hutan tanaman untuk keperluan investasi pembangunan hutan. 2005 Pembangunan hutan rakyat selama ini didukung berbagai lembaga seperti kelompok tani. Selanjutnya sikap tersebut tidak dipengaruhi karakteristiknya. Halaman 79-95 .al). IRR adalah suatu tingkat bunga yang menunjukan bahwa jumlah manfaat sekarang yang dihasilkan sama dengan total biaya sekarang yang dikeluarkan. 27. lembaga usaha dan pemerintah.(et. Net B/C. Sehingga diharapkan pembangunan hutan tanaman mangium bisa dilestarikan. biaya proyek. Hutan Tanaman. 6 Desember 2005 . Dian KONDISI DAN POTENSI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CILACAP. Karena itu pembuatan hutan tanaman secara manual lebih menguntungkan daripada mekanik. Deden ANALISIS EKONOMI PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM DI SUMATERA SELATAN / Deden Djaenudin.2 persen menjadi 28. dengan IRR sebesar 25. Selain itu pembuatan hutan tanaman secara manual juga lebih direkomendasikan karena melibatkan penggunaan tenaga kerja yang lebih besar. Petani.000 menjadi Rp. Kabupaten Garut dan Desa Werasari mempunyai kecenderungan sama. 4. Garut Diniyati.. lembaga usaha dan lembaga pemerintahan. Sikap petani. 2006 Jenis tanaman yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman antara lain adalah Acacia mangium..-.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. sehingga bisa mengurangi permasalahan pengangguran dan penambahan sumber pendapatan masyarakat.942.. Kriteria ini mengatakan bahwa proyek akan dipilih apabila NPV proyek sama dengan nol. TASIKMALAYA. lembaga swadaya masyarakat (LSM).500 per ton akan meningkatkan IRR dari 26. Kata kunci: Acacia mangium. hal tersebut disebabkan kurangnya responden mengetahui dan merasakan manfaat langsung dari LSM.482. dengan tingkat suku bunga yang dipakai adalah 15 persen untuk suku bunga private (finansial) dan 20 persen untuk suku bunga sosial (ekonomi).0 persen dan 26. Halaman 132-150 . meskipun sikap tersebut adakalanya tidak sesuai dengan harapan dari lembaga-lembaga yang mendukung pembangunan hutan rakyat. karena menghasilkan IRR dan NPV yang lebih tinggi sebagai akibat dari biaya pembuatan yang lebih murah. Untuk itulah perlunya dilakukan kajian mengenai sikap petani terhadap lembaga pembangunan hutan rakyat yang dilakukan di Desa Cisitu. -.

Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. letak topografi desa. Majalengka Diniyati. Dari hasil kajian di lapangan diketahui bahwa pembangunan huatn rakyat terbagi atas tiga tipe yaitu: (1) secara kemitraan antara masyarakat dengan BUMN. dan ini berguna untuk menilai keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. menyediakan tambahan lapangan pekerjaan untuk masyarakat 143 .Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk menyediakan paket informasi mengenai beberapa pola pengembangan dan pembangunan hutan rakyat. peningkatan kesejahteraan petani. Ciamis.Penyuluh sebagai mitra petani pada pembangunan hutan rakyat masih perlu ditingkatkan.. Ciamis dan Banjar pada bulan Nopember-Desember 2004. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tasikmalaya. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan satistik deskriptif dan kemudian dianalisa sesuai dengan data yang diperoleh. Agar keberhasilan pembangunan hutan rakyat dapat tetap terjamin. akan memudahkan untuk mengetahui permasalahannya. Kata kunci: Hutan Rakyat. serta bentuk pemanenan dan pemasaran. Tasikmalaya. Bentuk-bentuk pengembangan hutan rakyat ini sangat mempengaruhi terhadap pemberdayaan masyarakat. (2) swadaya yang dibagi menjadi dua tipe. Penyuluh Kehutanan. (3) serta kerjasama (kemitraan dengan pemerintah. akan tetapi setiap kebijaksanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan lokasi. Kuningan Diniyati. yaitu tpe pemilik berada dekat lokasi hutan rakyat. namun demikian tetap mempunyai persamaannya karena kegiatan hutan rakyat ini banyak dilakukan secara proyek.diantaranya: kehomogenan petani pemilik hutan rakyat. Dian HUTAN RAKYAT DAN PENYULUHAN KEHUTANAN: KASUS DI DESA CISITU. walaupun dalam pemecahannya harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat. melindungi aset negara dari perambahan. 6 Desember 2005 . Motivasi dilaksanakan kemitraan ini yaitu melindungi sumberdaya alam. fasilitas yang kurang memadai. pemasaran dan kualitas sumberdaya manusia.Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Halaman 151-163 . selanjutnya data yang terkumpul dianalisa secara diskriptif. Diharapkan dengan mengetahui persamaan dan permasalahan pengembangan hutan rakyat maka memudahkan dalam membuat kebijaksanaan untuk pengembangannya. teknologi tepat guna. Halaman 227-239 . seperti: jumlah tenaga yang kurang dan berubahnya fungsi penyuluh. -. GARUT DAN DESA WERASARI. Wonosobo. -. MALANGBONG. Kata kunci: Hutan Rakyat. 2005 Beberapa faktor yang menjadi kendala yang dihadapi oleh petani dalam pengembangan dan pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah faktor modal. Dengan demikian peranan penyuluh kehutanan sangat tinggi pada pembangunan hutan rakyat ini. maka perlu dukungan dari semua pihak melalui kemitraan. Cilacap. dan tipe pemilik tidak berada di lkasi hutan rakyat. Garut. untuk itulah maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan faktor pendukung terciptanya hutan rakyat serta peranan penyuluh terhada keberhasilan pembangunan hutan rakyat. serta pemasaran. meningkatkan perfomance perusahaan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Dengan pengelompokan persamaan pengembangan hutan rakyat setiap wilayah. Hasil dari kajian ini diketahui bahwa: kondisi hutan rakyatdi dua desa penelitian memiliki beberapa persamaan yaitu kondisi sosial petani.BANTARUJEG. budidaya hutan rakyat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan analisis petani pemilik dan penggarap hutan rakyat yang terlibat dalam kegiatan kemitraan. dan kemitraan. MAJALENGKA / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. Dian POLA KEMITRAAN UNTU MENDUKUNG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. swadaya . Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Garut dan Desa Werasari Majalengka pada bulan Agustus 2005. diharapkan pembangunan hutan rakyat akan semakin tinggi sehingga pasokan kayu akan selalu terjamin keberadaannya. selanjutnya pada masing-masing kabupaten dipilih secara sengaja desa sebagai lokasi penelitian. untuk meningkatkan partisipatif dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga meningkat kemandiriannya dan pada akhirnya kesejahteraan akan tercapai. dengan kriteria adanya kegiatan kemitraan pada sektor hutan rakyat. 13 September 2005 . hal ini berkaitan dengan faktor pembatas. 2005 Faktor pendukung terciptanya hutan rakyat pada satu lokasi sangat tergantung pada banyak hal dan berlainan sehingga akan tercipta hutan rakyat yang spesifik untuk setiap daerah. teknologi yang digunakan masih sederhana.

2006 Sub DAS Cicatih merupakan DAS lokal yang mempunyai karakteristik sosial ekonomi yang unik. penanaman. -. diharapkan hasilnya dapat memberikan informasi sehingga dapat menarik minat petani untuk terus mengembangkan hutan rakyat. dalam perjalanannya banyak memiliki kelebihan dan kekurangan. sedangkan peluang yang utama adanya dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung) dan ancaman yang utama yaitu kurangnya tenaga penyuluh di lapangan. Kata kunci: Hutan Rakyat. untuk itulah maka diperlukan kajian ini yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan. Sedangkan pendapatan yang paling tinggi yaitu pola GNRHL. yaitu banyaknya industri yang memanfaatkan air yang berasal dari DAS tersebut. Sulistya KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS LOKAL: SEBAGAI WACANA DALAM PENGELOLAAN SUB DAS CICATIH / Sulistya Ekawati. Pola Kemitraan. Petani Ekawati. -. Metode kajian yang dilakukan adalah metode survey dan wawancara terhadap responden terpilih. hal ini sangat dipengaruhi faktor dari luar dan lingkungan kelompok itu sendiri.128 . mencegah terjadinya okupasi lahan. Hasil pengolahan data diketahui kekuatan utama kelompok tani di Desa Cisitu adalah memiliki lahan garapan. peluang utama yang dimiliki adalah adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan. Hasil kajian untuk Desa Werasari adalah sebagai berikut. Kata kunci: Sosial Forestry.2006 . Dari segi finansial seharusnya pengelolaan Sub DAS 144 . Dini KAJIAN BIAYA DAN PENDAPATAN HUTAN RAKYAT YANG DIKELOLA PETANI PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. sebagai mediator antara peserta mitra dengan instansi pelaksana mitra. Alat analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT. 2006 Manajemen yang digunakan pada pengembangan hutan rakyat pada umumnya adalah manajemen pemiliknya baik itu untuk aspek budidaya maupun aspek finansial. Selanjutnya analisa data yang digunakan adalah statistik deskriptif.2006 . dan biaya yang paling besar dikeluarkan petani adalah untuk tenaga kerja pada seluruh pola pengembangan. 2006 Kelompok tani hutan rakyat merupakan perkumpulan para petani yang mengusahakan hutan rakyat. Pemberdayaan masyarakat Diniyati. Kabupaten Majalengka. sedangkan kelemahan utamanya yaitu teknologi masih sangat tradisional. Hasil kajian diperoleh bahwa komponen biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari: persiapan lahan. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut dan Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg.Kegiatan ini dilakukan di 4 desa yang dipilih secara acak pada bulan Agustus-Desember 2005. Kata kunci: Hutan Rakyat. Selanjutnya untuk lebih meningkatkan kegiatan kemitraan ini maka sebaiknya ada lembaga pendamping. sedangkan yang menjadi kelemahan utama tingkat pendidikan yang masih rendah. Responden adalah para pakar yang memahami tentang kelompok tani. Pendapatan. Kajian biaya. dan terakhir yaitu ancaman utama kepemilikan lahan yang sempit. 2006 : Halaman 147-153 . pemeliharaan. Untuk mengembangkan kelompok tani perlu dicari strategi yang tepat. yang menjadi kekuatan utama yaitu memiliki lahan garapan. Halaman 119 . Kelompok Tani Diniyati. dengan demikian keuntungan yang diperoleh petani yang paling tinggi pada pola GNRHL. dimana lembaga pendamping harus independen. peluang dan ancaman dari kelompok tani sehingga dapat diramu strategi yang sesuai agar kelompok tani dapat mandiri dan berdayaguna bagi anggotannya. keamanan hutan dapat terjamin karena masyarakat turut melindungi. Halaman 51-64 .Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. -. Dian STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYATI / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. Seperti pada aspek finansial banyak faktor yang tidak diperhitungkan yang menyebabkan keuntungan semu bagi petani. tenaga kerja dan pemanenan.disekitar hutan. kelemahan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. adanya kepastian kawasan sehingga perencanaan dapat dilakukan dengan baik. Untuk itulah maka kajian ini diperlukan untuk mengetahui besarnya biaya dari pendapatan pada semua pola pengembangan hutan rakyat. sehingga tidak jarang hasil/keuntungan yang diterima petani masih jauh dari standar yang diharapkan.

Pembagian peran (role sharing) dalam pengelolaan DAS adalah sebagai berikut: leading sector perencanaan jangka panjang DAS nasional dilakukan oleh Bappenas. khususnya untuk DAS-DAS lintas kabupaten dan lintas propinsi.koordinasi pelaksanaan dan memonitor serta mengevaluasi kegiatan pengelolaan DAS. DAS.652 ha. Masing-masing stakeholders mempunyai kepentingan yang berbeda dan belum terjalin koordinasi diantara mereka. Halaman 37-48 . tetapi aplikasi di lapangan hal tersebut sulit dilakukan. Penetapan kebijakan tetap dilakukan pihak regulator. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek teknis dan sosial ekonomi rehabilitasi lahan kritis secara tidak terkendali. Koordinasi antar daerah dan antar sektor belum berjalan dengan baik. one plan and multi management. Untuk itu kajian ini diharapkan dapat membantu dalam menemukan metode yang tepat melalui pemberdayaan masyarakat penerima manfaat (beneficiary) yang didasarkan pada budaya dan kearifan lokal. 2006 Issue lahan kritis dan lahan tidur di Jawa Barat telah muncul ke permukaan dan menjadi masalah ketika terjadi bencana alam berupa banjir dan kekeringan di tengah-tengah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk. Bappeda kabupaten dan LSM. Semua stakeholders di tingkat pusat. Pengelolaan DAS.690 ha). perencanaan jangka panjang DAS regional oleh Bappeda propinsi. Bentuk kelembagaan yang disarankan adalah PPTPA (Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air). DAS Progo Effendi.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. DAS Cicatih Ekawati. Pelaksana pengelolaan DAS adalah semua stakeholders. 13 September 2005 . Leading sector perencanaan jangka pendek oleh Bappeda kabupaten. -. Di masa otonomi daerah ada kecenderungan egoisme daerah dan egoisme sektoral. Tugas pokok dari PPTPA adalah menyusun kebijakan rencana. Sulistya PEMBAGIAN PERAN (ROLE SHARING) DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI: STUDI KASUS DI DAS SOLO DAN DAS PROGO / Sulistya Ekawati. Paimin. semi kritis. Kata kunci: Kelembagaan. Rachman KONSEPSI REHABILITASI LAHAN KRITIS DI JAWA BARAT / Rachman Effendi. Hasil kerja PPTPA diserahkan kepada pihak regulator (Presiden.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. dirumuskan dan disepakati bersama karena merupakan motivator untuk membentuk suatu kelompok sosial. Perencanaan disusun dengan melibatkan semua stakeholders sesuai dengan kewenangannya. kawasan hutan konservasi (34. Hubungan PPTPA dengan stakeholders lain pada dasarnya bersifat konsultatif dan koordinatif. dan Purwanto. propinsi dan kabupaten melakukan monev untuk sektornya masingmasing. untuk mengatur perilaku seluruh stakeholders agar sejalan dengan tujuan sosial yang telah disepakati bersama. -. oleh karena itu perlu dirumuskan pembagian peran (role sharing) pada semua stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan DAS.1 . Bappeda propinsi dan LSM.Cicatih belum mempunyai kelembagaan yang mapan.Gubernur. DAS Solo. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai.006 ha yang terdiri dari kawasan hutan lindung (101. user). Penelitian ini dilakukan di DAS Solo dan DAS Progo. kritis dan sangat kritis dimana jumlah luas lahan kritis di Jawa Barat pada kawasan hutan mencapai 474.664 ha) dan kawasan hutan produksi (337. Lokasi pengkajian didasarkan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki tingkat erosi terbesar antara lain DAS Cisadane dan DAS Ciujung yang ada di Jawa Barat. Keanggotaan PPTPA juga harus terwakili oleh semua pihak. Kerjasama timbul apabila masing-masing pihak mempunyai tujuan yang sama dan pada saat yang sama mempunyai kesadaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kedudukan PPTPA tersebut sebagai fasilitator diantara para pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS (operator/provider. Puslittanak. Agar sub DAS Cicatih terjaga kelestariannya diperlukan suatu kelembagaan. Halaman 23-30 . sehingga pengelolaan DAS dilakukan secara terfragmentasi. Konsepsi dasar rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat yang tepat di laksanakan dengan mengacu 145 . Sylviani. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) atau pengkajian desa secara cepat. 2005 Prinsip dasar pengelolaan DAS terpadu adalah one river. dalam rangka pelaksanaan program rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat. Leading sector monev pengelolaan DAS regional oleh Bappeda propinsi. Leading sector monev pengelolaan DAS nasional oleh Bappenas. regulator/owner. Role Sharing. Jenis lahan kritis dibedakan ke dalam 4 (empat) tingkat ke kritisan lahan yaitu potensial kritis. 1997). Keduanya merupakan DAS nasional (lintas propinsi). Bupati/Walikota) sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan yang terkait dalam kegiatan pengelolaan DAS.

dimana di kabupaten tersebut kegiatan illegal logging marak dilakukan di hutan produksi alam terutama pada areal pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). 2005 Pola Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan sudah banyak dilakukan. Diperkirakan tinggal 10% dari luas wilayah Jawa Barat yang masih berupa hutan tutupan. agroforestry di kawasan hutan. perlindungan hutan. Hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan harga hasil hutan sehingga mengurangi dampak negatif terhadap eksploitasi besarbesaran terhadap hutan Kata kunci : Degradasi hutan. sedangkan selebihnya berupa tanah kosong yang tidak berfungsi lagi sebagai hutan. hutan lindung Effendi. terutama air yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat. nilai ekonomi. Kuningan. penelitian bertujuan untuk mengkaji pola pemberdayaan masyarakat melalui Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) dan kemitraan serta efektifitasnya dalam mencegah illegal logging di kawasan hutan alam produksi.3 . Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui seberapa besar jasa lingkungan yang dikorbankan dan tidak pernah diketahui besarnya. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan. sosial ekonomi masyarakat. Rachman KAJIAN EFEKTIVITAS POLA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN PRODUKSI DALAM MENCEGAH ILLEGAL LOGGING / Rachman Effendi dan Indah Bangsawan. Kajian lebih difokuskan pada landasan teori nilai ekonomi manfaat lokal dari kawasan. Kawasan Budidaya. Halaman 21-36 . Rehabilitasi hutan dan lahan kritis pada hutan rakyat dapat dilakukan dengan pola insentif untuk memberikan rangsangan terhadap kegiatan pengelolaan kawasan budidaya dan pola disinsentif membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan pengelolaan kawasan budidaya. Rapid Rural Appraisal (RRA). Kawasan budidaya terdiri dari hutan produksi.pada prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan model pendekatan kemitraan antara pemerintah. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ketapang Propinsi Kalimantan Barat. Sosial Ekonomi. -. Pemilihan teknik budidaya dan jenis tanaman diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sesuai dengan lokasi dan jenis yang benilai ekonomi tinggi. Tulisan ini mengkaji nilai ekonomi manfaat lokal hutan lindung dan kawasan konservasi di Jawa Barat. sedangkan aspek sosek dilakukan melalui kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat dan pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dilakukan melalui pengembangan wanafarma. Kata kunci : Rehabilitasi Lahan Kritis. Sylviani. dunia usaha dan masyarakat. baik masyarakat di sekitar hutan maupun di hilirnya antara lain kekeringan. Kerifan Lokal. Dari kabupaten tersebut ditentukan desa-desa yang berbatasan ataupun berada dalam kawasan hutan yang ada pola pemberdayaan dan tidak ada pola pemberdayaan. disamping itu bagi masyarakat dan kemungkinan peranannya terhadap sumber pendanaan bagi pengelolan SDH dan nilai tersebut dapat dijadikan dasar penetapan besaran pajak lingkungan yang dapat dikenakan. 2006 Degradasi hutan di propinsi Jawa Barat cukup tinggi akibat penebangan pohon legal maupun illegal secara berlebihan serta konversi menjadi lahan non-hutan. Kawasan Lindung. Hal ini telah dirasakan dampak negatifnya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. namun apakah efektif untuk mencegah illegal logging belum banyak diungkapkan. ekonomi masyarakat. Teknik rehabilitasi lahan di kawasan lindung yang terdiri dari kawasan hutan dan kawasan non hutan dilakukan melalui penghijauan untuk memperbaiki. memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal. hutan rakyat dan pertanian lahan basah. Selaras dengan persoalan tersebut. banjir dan tanah longsor terutama di Kabupaten Garut. dan Sumedang. 13 September 2005 . Untuk itu perlu adanya upaya perlindungan hutan dan lahan untuk memberikan peran optimal bagi lingkungan dan sosial 146 . Pemerintah pusat atau daerah dapat memberlakukan pajak lingkungan (green tax) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan konservasi. -.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. dimana rehabilitasi pada hutan produksi yang dibebani hak merupakan tanggungjawab pemegang hak atas tanah dan pada hutan produksi yang tidak dibebani hak merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Adapun Effendi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. ekowisata. Halaman 197-204 . Besaran nilai ekonomi manfaat lokal sumber daya hutan (SDH) menunjukkan sejauh mana manfaat SDH. Rachman KAJIAN NILAI EKONOMI MANFAAT LOKAL HUTAN LINDUNG DI JAWA BARAT (LANDASAN TEORI) / Rachman effendi .

Dian diniyati. hanya permasalahan selanjutnya bentuk pola kemitraan yang bagaimana dapat efektif untuk untuk mencegah illegal logging. Eva KONDISI DAN POTENSI TEGAKAN PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN CIAMIS / Eva Fauziayah . dan penurunan muka air tanah.769. Tujuan dari kegiatan penelitian untuk mengetahui kondisi dan potensi hutan rakyat. Penyerapan tenaga kerja pola kemitraan lebih besar dari pada pola PMDH..740.al.512. dan di Sub DAS Cirasea. dan Sub DAS Cirasea. terutama polusi air permukaan. demikian juga halnya pendapatan masyarakat dari illegal logging di desa yang berpola kemitraan lebih kecil dari pada di desa yang berpola PMDH baik bagi industri sawmill. dan (4) substitusi usaha illegal logging. Petani menjadikan hutan rakyat sebagai sumber mata pencaharian utama tetapi bibit yang ditanam berasal dari anakan alamiah yang tidak selalu tersedia sepanjang tahun sehingga penanaman tidak bisa dilakukan secara serentak. namun jenis dan jumlah pohonnya sangat bervariasi. sehingga apresiasi terhadap hutan lindung masih rendah dan tekanan terhadap hutan lindung masih terus berlangsung. Kirsfianti Linda NILAI EKONOMI AIR DI SUB DAS KONTO DAN SUB DAS CIRASEA (The Economic Value of Water in Sub DAS Konto and Sub DAS Cirasea) / Kirsfianti Linda Ginoga . yang mencerminkan nilai minimal manfaat ekonomi air yang dirasakan rumah tangga di hulu DAS yang langsung memanfaatkan air dari sumber mata air hutan lindung. Pola Swadaya.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Hutan Produksi.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. 2006 Nilai ekonomi manfaat hidrologis yang dihasilkan hutan lindung belum diketahui secara luas. Sedangkan pada pola kemitraan potensi kayu sengon belum dapat dihitung mengingat umur tanaman masih muda Kata kunci: Hutan rakyat. memperhatikan waktu penanaman dan dilakukan pemeliharaan. Metode yang digunakan adalah pendekatan biaya pengadaan. 76. pola swadaya dan pola kemitraan. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-ekonomi manfaat hidrologis air dari hutan lindung. Lokasi ini dipilih karena merupakan DAS yang paling banyak memiliki permasalahan. Dari beberapa pola pengembangan yang ada. yaitu di Sub DAS Konto. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan masyarakat tidak memberikan perbedaan yang berarti antara pemberdayaan masyarakat pola PMDH dengan Kemitraan.873.832/tahun dan Rp. tetapi distribusi pendapatan pada pola kemitraan lebih merata dibanding dengan pola PMDH. Untuk itu pemberdayaan masyarakat dengan pola kemitraan dapat terus dilaksanakan dalam upaya pemcegahan illegal logging. Sedangkan pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi hutan rakyat. Kondisi tegakan hutan rakyat pada pola pengembangan swadaya tipe pemilik dekat dengan lokasi hutan rakyat kurang bagus. yang mengalirkan air ke waduk Selorejo. 37. Pola pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dengan pola kemitraan lebih efektif dalam upaya pencegahan illegal logging dibanding dengan pola PMDH.0. penebang kayu maupun pedagang/pengumpul kayu illegal. -. Sebaran kelas diameter dan sebaran kelas tinggi tegakan pada pola hutan rakyat adalah sengon. Pola Pemberdayaan Masyarakat Fauziyah. padat karya).1 .1 .989/tahun. Penelitian dilakukan di bagian hulu-tengah DAS Brantas. (2) Distribusi pendapatan. 2006 Pola pengembangan hutan rakyat hingga saat ini terdiri dari pola subsidi (inpres. serta merupakan sumber air utama untuk Perum Jasa Tirta (PJT) I dan PJT II yang merupakan BUMN pensuplai air terbesar di pulau Jawa. konflik air. Kata kunci: Illegal Logging.]. masing-masing sebesar Rp. karena pada pola ini sudah diterapkan sistem silvikultur yang baik. -. potensi sengon terbesar pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi. [et. Analisis ini menggunakan software Minitab versi 13. Analisis efektifitas dilakukan untuk masing-masing pola pemberdayaan (PMDH dan Kemitraan) dalam mencegah illegal logging dengan mengukur peubah-peubah yang berpengaruh terhadap pola pemberdayaan.data yang dikumpulkan berupa (1) Pendapatan masyarakat.Penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola kemitraan lebih kecil dari pada penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola PMDH. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuisioner terhadap responden sebanyak 20% petani hutan rakyat yang ikut dalam kegiatan kemitraan dan dipilih secara sengaja. Potensi Kayu Ginoga. Halaman 59-74 .. pola kemitraan dengan pemerintah maupun perhutani jenis tanamannya cenderung monokuler tetapi kondisi tegakannya bagus. Halaman 41-60 . (3) Penyerapan tenaga kerja. hulu DAS Citarum. Karena itu. Hasil penelitian menunjukkan nilai ekonomi air untuk manfaat hidrologis Sub DAS Konto. Pola kemitraan. Sengon. nilai ini adalah nilai yang diberikan oleh 147 .

dan diperlukannya peraturan (PP atau Keppres) yang memuat perintah kebijakan pengembangan hutan lindung.. Hasil perhitungan nilai ekonomi air dari manfaat hidrologis yang dihasilkan sebagai fungsi dari keberadaan kawasan hutan lindung di Sub DAS Brantas dan Sub DAS Cirasea ini. Secara khusus diperlukan peraturan perundangan yang mengatur aspek kelembagaan hutan lindung. Halaman 77-96 . termasuk kelembagaan pusat dan daerah. kinerja PPTPA dapat ditingkatkan apabila tidak mengandalkan pengelolaan air saja.. Hambatan kelembagaan sumberdaya air dapat diatasi apabila komitmen terhadap kesepakatan dapat ditingkatkan melalui penyebaran biaya dan manfaat yang lebih merata. dan antara satu daerah dengan daerah lainnya. tidak adanya overlapping antara kebijakan. Penguatan kelembagaan seperti PPTPA diperlukan untuk mengurangi biaya transaksi dan mencapai kesepakatan multi stakeholders. 2006 Penguatan kelembagaan air dalam konteks DAS mensyaratkan apa yang disebut sebagai biaya transaksi (transaction cost) . tetapi kebijakan hutan lindung belum memberikan kepastian arah yang berati.keberadaan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea yang menghasilkan manfaat hidrologis terhadap rumah tangga. termasuk yang mengancam kelestarian kawasannya. sekaligus mengurangi kemungkinan tingginya biaya transaksi.(et. Ginoga. Pembangunan hutan rakyat dalam bentuk agroforestry diyakini mampu lebih luas menjangkau kantung-kantung konservasi dan preservasi sumberdaya air.Kesepakatan dalam kelembagaan DAS akan tercapai apabila biaya transaksi yang ditimbulkan dari aransemen kelembagaan lebih rendah dari manfaat yang dirasakan bagi setiap stakeholder dalam pengelolaan DAS. Pengelolaan 148 . mengetahui kondisi hutan lindung saat ini. Kirsfianti KONTROVERSI KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG / Kirsfianti Ginoga. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. akan tetapi arah kebijakan pengelolaan hutan lindung masih belum jelas. dan merekomendasikan kebijakan pengelolaan hutan lindung yang diperlukan untuk mencapai pembangunan hutan lindung yang berkelanjutan. pusat-daerah. Kata kunci: DAS. DAS Cicatih Ginoga. 2005 Permasalahan hutan lindung Indonesia sudah sangat kritis. hanya sebagian kecil dari nilai ekonomi air total yang dikandung oleh kawasan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea karena masih banyak pengguna-pengguna air lain yang lebih besar seiring dengan mengalirnya air.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. laju penurunan luas dan alih fungsi hutan lindung terus meningkat. 2006 : Halaman 43-53 . dan tidak adanya ego sektoral antara pembuat kebijakan sehingga fungsi kawasan hutan lindung dan manfaatnya dapat dirasakan oleh pihak yang terkait baik di pusat dan daerah secara berkeadilan dan berkelanjutan. 13 September 2005 . Kata kunci: Hutan Lindung. yang harus ditindaklanjuti oleh departemen sektoral. Daerah Aliran Sungai (DAS).Kirsfianti BIAYA TRANSAKSI PENGELOLAAN DAS PERSPEKTIF UNTUK SUB DAS CICATIH / Kirsfianti Ginoga. -. Keberadaan hutan lindung menurut peraturan peraturan perundangan masih dilematis. Hidrologis.al) . Secara konseptual. tidak adanya dualisme antara kebijakan. kajian bertujuan untuk mengkaji konsistensi dan sikronisasi kebijakan tersebut. Kata kunci : Nilai ekonomi. pendekatan biaya pengadaan. penekanan kewenangan pengelolaan hutan lindung tetap pada pemda/BUMN/D. dimana peraturan tersebut mampu menunjukan adanya Sense of Crisis dalam pengelolaan hutan lindung. Sulistya Ekawati dan Deden Djaenudin. disatu sisi perlu dikonservasi tetapi di sisi lain masih dapat dibudidayakan. Karena itu kajian ini menyarankan perlunya kebijakan yang jelas dan terarah antara yang dilarang dan dibolehkan. Hutan Lindung. kesamaan persepsi tentang istilah yang berkaitan dengan kawasan hutan lindung. Paling tidak terdapat 84 peraturan yang berkaitan dengan hutan lindung. Kajian ini ingin menjawab bagaimana kebijakan dan peraturan perundangan menjawab permasalahan pengelolaan hutan lindung? Secara lebih khusus. dengan pengembangan koordinasi antar departemen. Biaya Pengelolaan.

Oleh karena itu. Ismatul KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN HUTAN DENGAN PENDEKATAN SOCIAL FORESTRY: STUDI KASUS POLA PHBM DI KHDTK CARITA DAN POLA MHBM DAN MHR DI AREAL HTI PT. DAS Cicatih Hakim. orientasi. monolog. PHBM.statis. 2006 : Halaman 55-61 . Beberapa pendekatan yang melibatkan para pihak seperti Rapid Rural Appraisal (RRA). dengan memisahkan negara dari rakyatnya sendiri karena justru rakyat lebih banyak berhasil mengelola lahan miliknya menjadi Hutan Rakyat. Bukti-bukti bahwa di areal yang hutannya lebat juga pernah terjadi banjir dapat dimengerti tapi frekuensi banjir di daerah yang tidak berhutan akan lebih banyak dibanding dengan daerah yang berhutan. Bagaimana peran hutan dalam mengatur tata air dan bagaimana kelestarian DAS Cicatih dapat dicapai akan dibahas dalam tulisan ini. Participatory Rural Appraisal (PRA) dan workshops yang melibatkan semua pihak terkait dapat memberikan masukan kebijakan dan langkah yang tepat dalam membangun model-model Social Foestry dan menerapkannya di lapangan. Ngaloken Gintings. 2005 Pendekatan pembangunan kehutanan selama ini yang bersifat strukturalkuantitatif. Model pengelolaan kawasan hutan ke depan harus merupakan model adaptif dalam bentuk pendekatan yang konprehensif. Sejak awal kita harus berani memulai menerapkan berbagai alternatif model Social Forestry yang merupakan hasil optimal kombinasi berbagai pertimbangan aspek teknologi. TATA AIR. -. PHBM. kaku. PT. Pendekatan adaptif seperti ini yang diharapkan mampu mencapai cita-cita ideal dari konsep Social Forestry dalam pengelolaan hutan. DAN KELESTARIAN DAS CICATIH / A.Gintings. aspek manajemen dan aspek sosial budaya (kelembagaan) masyarakat setempat yang bersifat lokal spesifik dan dinamis dari sudut ruang dan waktu. aspek manajemen dan aspek sosial budaya kelembagaan pada tingkat mikro. 13 September 2005 . A. berorientasi target. proyek. kita dapat membangun kelembagaan yang kuat di masyarakat dimana masyarakat menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat dalam membangun hutan lestari yang masih ada dan merehabilitasi hutan dan lahan yang sudah rusak. Ngaloken HUTAN. dan orientasi jangka pendek. Musi Hutan Persada (MHP) masih bernuansa pendekatan struktural-kuantitatif dari atas ke bawah. proyek. Demikian juga peran tanaman sejenis dalam mengatur kesuburan tanah dan tata air akan lebih kecil dibanding dengan kawasan yang hutannya merupakan tanaman campuran dengan tajuk berlapis. 2006 Peran hutan dalam menjaga kesuburan tanah dan mengatur tata air dalam suatu DAS sudah banyak dibuktikan. kaku dan statis telah menjadi penyebab kegagalan kita dalam mencapai cita-cita Hutan Lestari Rakyat Sejahtera. meskipun masyarakat sudah lebih banyak berperan dan memperoleh manfaat. Kelemahan yang juga sering terjadi adalah pengertian hutan yang tidak sama bagi masyarakat. Halaman 115-138 . Akan tetapi kedua pola ini sudah menunjukan kemajuan besar dalam pembangunan dan pengelolaan hutan dimana pihak pengelola utamanya sudah banyak melibatkan banyak pihak terkait (stakeholders) dan memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan masyarakat dan pedesaan. monolog. Pada akhir-akhir ini peran hutan tersebut sering menjadi perdebatan yang kontraversial karena dilakukan pada luasan yang relatif kecil. KHDTK Carita. Kita tidak memerlukan pendekatan arogansi birokrasi dan kekuasaan yang tersembunyi di balik istilah negara. MHR. MHP MUARA ENIM / Ismatul Hakim.Musi Hutan Persada 149 . target. Kata kunci: DAS. HTI. Hanya dengan menerapkan berbagai model Social Forestry dalam pengelolaan lahan dan hutan dengan variasi aspek teknologi.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Tanaman hutan yang berada di daerah yang miring dan dibawahnya ditanami ubi kayu akan mendatangkan erosi yang cukup besar di musim penghujan. pendekatan yang bersifat kultural-kuantitatif merupakan sebuah konsekwensi logis yang harus dterapkan di masa mendatang. -. Konsultasi Multipihak. Pola pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat (PHBM) oleh Perum Perhutani di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita dan pola mengelola hutan bersama masyarakat (MHBM) dan pola mengelola hutan rakyat (MHR) di kawasan produksi HTI Muara Enim oleh PT. Kata kunci: Social Forestry. Tata Air.

pengaturan kelembagaan usaha di tingkat petani dalam bentuk Kelompk Tani. dan (5) pemantapan kawasan hutan.2006 . BUMD. (3) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan. RAPERDA/PERDA yang diajukan harus sejalan dengan isi dan substansi yang ada dalam peraturan perundangan tersebut termasuk 5 (lima) prioritas program yang sudah dicanangkan oleh Departemen Kehutanan yaitu prioritas program pembangunan kehutanan terdiri dari : (1) pemberatasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal. -. 2006 Peranan hutan sebagai kawasan maupun sebagai tutupan vegetasi masyarakat pepohonan pada sebuah hamparan lahan sangat penting dalam mendukung kelestarian ekositem suatu daerah baik dari segi penataan air (hidro-orologis). Istilah Hutan Rakyat masih erupakan rekayasa dari atas yang tidak dikenal masyarakat. segi pegaturan sosial ekonomi dan segi pertahanan sosial budaya masyarakat setempat. Surat Keputusan Kepala Dinas lainnya. yang jelas masyarakat/petani sudah dapat meghasilkan kayu yang berasal dari lahan miliknya sendiri dan dikelola dengan modal sendiri. Social Capital Hakim. Swasta). Halaman 109-118 .DPRD. meningkatkan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ismatul PENGUATAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT: SEBUAH SOCIAL CAPITAL BAGI MASA DEPAN KEHUTANAN INDONESIA / Ismatul Hakim. (4) pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan. sehingga merupakan social capital penting bagi penguatan kelembagaan sektor kehutanan ke depan. Peraturan Pemerintah. Peraturan Bupati. maka para pihak di daerah harus dapat memahami berbagai peraturan perundangan terkait seperti Undang-undang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya No: 5 tahun 1990 dan Undang-undang Pokok Kehutanan No. Kelompok Usaha Bersama Ekonomi (KUBE dan Koperasi Tani) yang benar-benar tumbuh dan diciptakan dari masyarakat sendiri secara alami agar bisa lebih berdaya. Ismatul KAJIAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM KONTEKS DESENTRALISASI : STUDI KASUS DI KABUPATEN PANDEGLANG. Hutan Rakyat di beberapa daerah di Pulau Jawa seperti di Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten.Adanya pertumbuhan budaya menanam yang demikian tinggi seperti Hutan Rakyat di masyarakat ini harus terus ditumbuhkembangkan oleh pemerintah dengan memberikan dorongan insentif dan kemudahan bagi pengembangan Hutan Rakyat di masa mendatang.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Perguruan Tinggi. (2) revitalisasi sektor kehutanan. Dalam konteks desentralisasi sektor kehutanan di daerah. perlu adanya dukungan kebijakan. -. kesempatan usaha. Disamping itu. Isi dan kandungan daripada PERDA bidang kehutanan harus menampung dan menyerap berbagai permasalahan dan potensi aktual yang terjadi di tingkat kebijakan dan tingkat operasional lapangan baik horizontal maupun vertikal. 2006 Hutan rakyat yang tumbuh di Indonesia khususnya di Pulau Jawa merupakan hasil perpaduan antara budaya lokal/tradisional masyarakat/petani dalam menanam pohon dengan budaya baru yang mengandung muatan teknologi dan manajemen pohon yang lebih berorientasi pasar dan industri. dunia usaha (BUMN. dan pihak terkait lainnya). segi pengaturan tata iklim dan cuaca (udara) atau Clean Development Mechanisms (CDM).Hakim. Halaman 22-42 . Surat Keputusan Bupati. Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat dan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah telah mampu mendorong pertumbuhan kesempatan kerja. khususnya industri kehutanan. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan berbagai peraturan operasional di bawahnya. 41 tahun 1999. Pandangan dan pemahaman yang sama dari pihak Pemerintah Daerah atau Pemerintah Propinsi dengan 150 .Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.2006 . Untuk memperkuat pola dan kelembagaan pengelolaan Hutan Rakyat secara lestari. Peran dan fungsi hutan dalam bentuk kawasan tetap dan tutupan vegetasi hutan di kabupaten Pandeglang propinsi Banten seharusnya dapat dipahami secara tepat dan benar oleh semua pihak baik pemerintah (PEMDA. Kata kunci: Hutan Rakyat. PROPINSI BANTEN / Ismatul Hakim. Pengaturan yang berbelit belit terhadap peredaran dan pemasaran hasil kayu dari masyarakat akan menjadi disincentive bahkan distorsi dalam menumbuhkan budaya menanam pohon di masyarakat. Lembaga atau Organisasi Kemasyarakatan maupun kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam hutan dan lahan dalam membuat peraturan perundangan dan kebijakan seperti PERDA.

-Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.1 . umumnya menjadi obyek atau sasaran fisik alamiah. sinkronisasi. dan Sinergi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Namun pendekatan pengelolaan DAS dalam perencanaan pembangunan wilayah masih belum populer/jarang digunakan dibanding pendekatan lainnya. Pendayagunaan salah satu atau beberapa unsur/komponen akan mempengaruhi komponen lainnya di dalam DAS dan dapat menimbulkan perubahan dari keadaan alaminya sehingga terjadi gangguan keseimbangan atau gangguan ekologis yang menunjukan terjadinya degradasi DAS. Kata kunci: Kebijakan Kehutanan. Dengan pemahaman yang sama dan dukungan yang kuat antara semua pihak terkait dalam proses penyusunan sebuah perangkat peraturan dan perundangan seperti PERDA bidang/sektor kehutanan akan melahirkan komitmen dan tanggung jawab yang kuat semua dalam pencapaian misi dan visi serta penerapan substansi penguatan sektor kehutanan di daerah. Dalam tulisan ini juga diberikan contoh aplikasi simulasi (model) hidrologi dikaitkan dengan penutupan/penggunaan lahan sehingga dapat diketahui pengaruh perubahan penutupan/penggunaan lahan terhadap perubahan hasil air DAS. Kecamatan Pitu Riawa Provinsi Sulawesi Selatan. jambu mete dan kelapa. -. Daerah Aliran Sungai merupakan megasistem kompleks yang terbangun atas sistem fisik. sedangkan manusia menjadi subyek atau pelaku pendayagunaan unsur-unsur tersebut (Murtilaksono. kab. 2006 : Halaman 123-143 . 2006 Penelitian ini dilakukan terhadap anggota Kelompok Tani Hutan ”Bulu Dua” yang mengelola hutan rakyat di Desa Lasiwala. sehingga dapat dicapai pengelolaan yang rasional untuk mencapai keuntungan optimal yaitu dalam waktu tak terbatas dan resiko kerusakan minimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengelolaan lahan kritis bersama masyarakat pada areal hutan rakyat. 2005). Tulisan ini akan memberikan gambaran penggunaan simulasi hidrologi dalam perencanaan pengelolaan DAS. menjadikan pengelolaan DAS merupakan pendekatan yang penting dalam perencanaan pembangunan wilayah. Pandeglang. dan setiap sub sistem saling berinteraksi (Kartodihardjo. integrasi. Nur POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Nur Hayati. Pemanfaatan sumberdaya alam sebagai input pembangunan wilayah pada masa kini masih lebih banyak menekankan pada batas-batas yang bersifat politis atau administratif. Halaman 13-21 . Untuk menambah sumber pendapatan selain dari sektor kehutanan. tetapi keberhasilannya sangat didukung oleh adanya kelembagaan untu mewujudkan koordinasi. padahal dampak yang ditimbulkan mengikuti batas alam/ekosistemnya yang tidak mengenal batas administrasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasi. dianalisis dan dibahas dengan metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. 1987). 2006 Ketertarikan komponen biofisik DAS dan kepentingan ekonomi wilayah. Unsur penyusun sistem di dalam DAS tersebut antara lain berupa sumberdaya alam seperti tanah. Perencanaan pengelolaan DAS Hayati. beberapa tujuan penggunaannya dan manfaat yang diperoleh.pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan akan mampu mendorong kemantapan sektor kehutanan di daerah secara sinergis antara para pihak di daerah. Hidrologi. rata-rata petani memiliki lahan pertanian atau empang ikan yang dikelola secara terpisah di luar kawasan hutan rakyat atau bekerja di luar sektor kehutanan dan Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) / 151 . Kata kunci: DAS. Anggota kelompok tani pada umumnya mempunyai kebun di luar kawasan hutan Gmelina yang dikelola secara terpisah berupa kebun coklat. sistem biologis dan sistem manusia. Banten Handayani. longsor dan sedimentasi serta distribusi aliran yang tidak seimbang/merata (timbulnya banjir dan kekeringan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengelolaan hutan rakyat dilakukan dalam bentuk monokultur tanpa tanaman pendamping. Wuri PENDEKATAN SIMULASI HIDROLOGI DALAM PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS / Wuri Handayani dan Gunardjo Tjakrawarsa. Desentralisasi. Hidrolologi adalah indikator yang sangat signifikan untuk mengetahui adanya degradasi DAS seperti terjadinya erosi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner. Pengelolaan DAS adalah pengelolaan berbagai sumberdaya alam yang terdapat di dalam satuan DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi budaya yang berkembang di dalam DAS. dan air. Dengan demikian pengelolaan DAS dapat ditinjau dari sudut pandang fisik maupun institusi sehingga kegiatan dan kebijakan pengelolaan DAS yang perlu ditempuh tidak hanya mendasarkan pada indikator fisik. vegetasi.

Oleh karena itu kajian kebijakan pemerintah tentang rehabilitasi hutan dan lahan sangat diperlukan. antara yang kuat dan yang lemah.pertanian. Meminimalisasi pihak-pihak yang terlibat dalam GERHAN. BP DAS Jeneberang Walanae dan LSM Yagrobitama. Halaman 161169 . Pendanaan untuk inventarisasi dan identifikasi sosekbud masyarakat dan perencanaan teknis dapat disalurkan minimal pada tahun T-1. Selain itu secara keseluruhan. Kata kunci: Hutan Tanaman Industri.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Rehabilitasi lahan. Mengambil contoh pengelolaan Hutan Tanaman Industri. waktu yang sesuai. hutan rakyat. 2005 Kebijakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) bertujuan untuk menanggulangi dan mengurangi laju penambahan lahan kritis. 2006 Ada tiga pilar pelaku ekonomi yang diamanatkan di UUD 1945. tetapi menguasai 70 persen Produk Domestik Bruto. maka turunnya dana sebaiknya pada awal tahun anggaran. bibit juga diusahakan oleh daerah. perencanaan dan prioritas lokasi perlu diperhatikan. 6 Desember 2006 . Salah satu upaya yang dianggap tepat dalam memecahkan masalah ini adalah dengan melalui kemitraan. kejelasan setelah kegiatan proyek selesai. Kresno Agus KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kresno Agus. Struktur organisasi kelompok tani termasuk dalam kategori organisasi modern. Halaman 63-77 . Seandainya memungkinkan. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. Hasil penelitian di Propinsi Kalimantan Tengah menunjukan bahwa untuk daerah-daerah (Kabupaten dan Kota) yang tidak membuat Peraturan Turunan dari Peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. tidak ada tanah gersang dan lahan kering yang berupa alang-alang. Kemitraan dilakukan antara pengusaha besar dan kecil. erosi dan tanah longsor. dan usaha kecil/koperasi. Sedangkan untuk daerah yang telah membuat Peraturan Turunan dari peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. Kepastian jumlah dan waktu penyerahan bibit dari BPDAS agar pasti sehingga dapat memudahkan merencanakan kegiatan. Hasil sensus ekonomi tahap III menunjukan bahwa pengusaha besar jumlahnya di bawah 1 persen. -. Kata kunci : pengelolaan. agar rantai birokrasinya lebih pendek. lahan kritis Hendarto. Dampak lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya program hutan rakyat adalah lingkungan (iklim mikro) yang lebih baik. untuk melakukan koordinasi dengan para petani khususnya dalam melakukan pembinaan.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 13 September 2005 . Adanya wadah kelompok tani ini semakin mempermudah pemerintah daerah. Kebijakan 152 . tulisan ini mencoba untuk menggambarkan tentang bagaimana pola kemitraan yang telah dilakukan dan apa saja kebijakan yang dapat ditelurkan agar proses kemitraan ini dapat terus berlanjut. Kresno Agus MENINGKATKAN KEMITRAAN PENGELOLAAN DALAM HUTAN TANAMAN INDUSTRI: BEBERAPA KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN/ Kresno Agus Hendarto dan Krisdianto. Kemitraan Pengelolaan Hendarto. dalam hal ini Dinas Kehutanan Kabupaten Sidrap. -. yaitu Pemerintah swasta. serta standar biaya antara satu daerah dengan daerah lainnyapun menentukan baik tidaknya kegiatan rehabilitasi. untuk tahun-tahun ke depan selain penanaman dilakukan oleh daerah. hal ini dapat diteruskan karena masing-masing daerah mempunyai ciri karakteristik yang berbeda. Namun demikian ada beberapa kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang masih belum sinkron dan terintegrasi dengan kebijakan GERHAN.

dan mampu menghasilkan pendapatan Rp.200. Henti Hendalastuti R. 2005 Dengan kata yang ringkas.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. Sedangkan yang dimaksud kelompok utara adalah kelompok masyarakat dalam bentuk badan usaha (koperasi) yang memiliki ijin HPHH 100 ha. Kelompok selatan adalah illegal logging yang dilakukan oleh masyarakat di luar masyarakat adat secara individual atau berkelompok. yaitu sistem penjualan langsung (cash and carry) dan sistem ijon (rentenir). 2006 Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola dan aspek-aspek pemungutan rotan pada dua kelompok pemungut yaitu masyarakat biasa dan masyarakat adat/Kubu yang dikenal dengan sebutan Suku Kubu. Halaman 91-107 .200. Kegiatan illegal logging saat ini marak terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu dan mulai mengancam kawasan konservasi Taman Nasional Betung Kerihun.000 Ha) memiliki nilai penting dan fungsi yang sangat strategis dalam mendukung sistem penyangga kehidupan serta mendukung pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. kegiatan pemungutan memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pemungut dan pemungutan yang dilakukan sangat memperhatikan kelestarian terutama yang dilakukan oleh masyarakat adat (Suku Kubu) Kata kunci : rotan. Halaman 189-196 . khususnya Provinsi Kalimantan Barat. dan dengan analisis studi kasus deskriptif.2 . Dodi Frianto. 2. Kayu hasil illegal logging biasanya dilempar keluar untuk menghindari pencekkan dan kontrol. umumnya berstatus sebagai pekerjaan sampingan dan mampu menghasilkan pendapatan Rp 33. Pengujian faktor dominan dilakukan dengan metode ”one pair comparasion” Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya perbedaan beberapa aspek penelitian pada dua kelompok pemungut. pemungutan. -. (2) Pelaku illegal logging. Kelembagaan Hidayat.000 – Rp. Sedangkan pada Suku Kubu pemungutan dilakukan secara berkelompok. dan (3) Sistem jual beli. Asep ANALISIS PEMUNGUTAN ROTAN PADA DUA KELOMPOK MASYARAKAT PEMUNGUT (analysis of rattan Collection on Two Group Collector)/ Asep Hidayat. Berdasarkan jalur pengangkutan kayu dibedakan dalam 2 jalur. Propinsi Riau. 13 September 2005 . Illegal logging adalah logging atau penebangan kayu di Taman Nasional atau kawasan konservasi lain.per bulan. Halaman 75-85 . dan (3) Upaya-upaya apa yang telah dilakukan untuk mencegah praktek illegal logging?.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 3.2 . -. faktor hukum dan 153 . Pada masyarakat biasa pemungutan rotan dilakukan secara individual. kelompok pemungut Indartik ILLEGAL LOGGING DI TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK) DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI/ Indartik.. 2006 Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sebagai salah satu taman nasional dengan areal yang cukup luas (800. Dari hasil penelitian tersebut.000. Aneka Prawesti Suka. Berdasarkan pelaku illegal logging dibagi 2 kelompok. yaitu kelompok selatan dan utara. 4. 2) Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya illegal logging?. menggunakan metode sample bertujuan.Hendarto.000. Hasil pembahasan memperlihatkan pola illegal logging di TNBK dibedakan berdasarkan : (1) Jalur pengangkutan kayu.000 – Rp. Kata kunci: Illegal Logging. merupakan pekerjaan utama bersama-sama dengan pengumpulan hasil hutan non kayu lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kegiatan illegal logging memberikan dampak perubahan terhadap peran lembaga sosial yang ada di lokasi illegal logging. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pola praktek illegal logging di TNBK. Perkembangan lanjut dari praktek illegal logging ini dalam praktek jual beli dikenal 2 sistem. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan petani/kelompok tani pemungut/pengumpul.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. yaitu darat dan air. Rute darat terbagi menjadi jalur utara (Malaysia) dan jalur selatan (Pontianak). tanpa ijin dari pemerintah (yang oleh negara diserahi tanggung jawab untuk mengurus).000.per bulan. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya illegal logging adalah akibat kombinasi faktor sosial ekonomi (kemiskinan mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya hutan). Nunung Parlinah. Kresno Agus POTRET ILLEGAL LOGGING DI PROPINSI RIAU: STUDI KASUS PERUBAHAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DAN LEMBAGA EKONOMI DESA / Kresno Agus Hendarto dan Aneka Prawesti Suka... tulisan ini memcoba memberi gambaran singkat/memotret dampak dari kegiatan illegal logging terhadap perubahan peran kelembagaan yang ada. -. Mengambil lokasi di propinsi Riau.

stakeholder yang akan berkolaborasi memiliki kepentingan yang beragam sehingga perlu dibangun kesepahaman. berada di desa-desa yang berbatasan dengan TN. potensi dan permasalahan sosial ekonomi dan kelembagaan yang ada di lokasi Taman Nasional (TN) BantimurungBulusaraung sebagai masukan dalam proses penyusunan rencana pengelolaannya. Pemerintah Daerah (PEMDA) Sulawesi Selatan membuka peluang untuk berinvestasi pada usaha pariwisata alam. serta pabrik Semen Tonasa (konsesi 1. Pemerintah Kabupaten Maros dapat menghimpun Penerimaan Daerah dari Taman Wisata Alam Bantimurung yang makin meningkat dari tahun ke tahun. -. 4. dapat memberi kontribusi pada Penerimaan Daerah. Dinas Pariwisata. Pemerintah Pusat melalui Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Balai Perpetaan Kawasan Hutan Sulawesi Selatan. dan penduduk desa setempat. Setiasih KAJIAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG DI SULAWESI SELATAN/ Setiasih Irawanti. partisipatif.7 Ha).000 Ha) dan 11 industri marmer (konsesi 2. Efektivitas penanggulangan illegal logging melalui pendekatan keamanan tersebut sampai saat ini dirasakan masih belum efektif. pelaku usaha tambang lainnya. pemanfaatan jasa wisata alam dapat menjadi alternatif pengganti pemanfaatan tambang yang kurang mendukung upaya konservasi. Industri Marmer. Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan.7 Ha s/d 50 Ha) di Kabupaten Maros. Biro Perjalanan Wisata 3.1 . Mengelola jasa wisata alam dengan baik dapat menjadikannya sebagai sumber Penerimaan Daerah yang dapat diandalkan. ada peluang bagi masyarakat dan perlu pendampingan Kata kunci: Bantimurung-Bulusaraung. Dinas Pariwisata Provinsi telah menjalin kerja sama dengan sejumlah biro perjalanan wisata dan menyediakan paket-paket wisata. Illegal logging. saling percaya.354. Pabrik Semen Bosowa. sehingga menjadi peluang kerja dan berusaha untuk memberdayakan masyarakat serta sebagai sumber Penerimaan Daerah. Kata Kunci : TNBK. dan penambangan pasir/pasir silika/batu /batu gunung/semen/emas di Kabupaten Pangkep. Pemerintah Kabupaten Pangkep dan jajarannya. Pabrik semen Bosowa (konsesi 1. Halaman 39-57 .kebijakan (reformasi dan otonomi daerah). bahari serta budaya.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Dengan menyediakan sarana prasarana fisik dan kelembagaan. Dinas Pariwisata Kabupaten. Pola Illegal Logging Irawanti. Kantor Pengelola Kawasan Bantimurung. patroli PolHut dan sarasehan multi pihak dalam mencari solusi penanggulangan illegal logging. Penambang pasir/pasir silika/batu gunung /emas. Pabrik Semen Tonasa. Pengembangan wisata alam di Sulawesi Selatan dapat menjadi pengungkit bagi berkembangnya pemanfaatan jasa lingkungan terutama wisata alam yang ada di desa-desa sekitar TN BantimurungBulusaraung. Bila pengelolaan TN Bantimurung-Bulusaraung dilakukan secara kolaboratif /kemitraan. serta dalam proses penataan hutan khususnya zonasi kawasan. Stakeholder primer yang perlu diperhatikan kepentingan dan partisipasinya dalam menyusun rencana pengelolaan TN BantimurungBulusaraung adalah: 1. Pemerintah Kabupaten Maros dan jajarannya. 18 industri marmer (konsesi 2. Industri Marmer. Di kawasan TN masih ditemui pemukiman penduduk dari desadesa sekitarnya sehingga perlu dipertimbangkan dalam proses pengukuhan khususnya penataan batas. namun dipandang kurang sejalan dengan kebijakan penunjukan kawasan kars tersebut sebagai kawasan konservasi. faktor sosial budaya (pergeseran tata nilai di masyarakat yang cenderung materialistis) dan permintaan kayu (Permintaan kayu tinggi). Selain sejalan dengan penunjukkan kawasan kars Bantimurung-Bulusaraung sebagai TN. konservasi. 2006 Tujuan kajian sosial ekonomi dan kelembagaan ini adalah memperoleh data dan informasi mengenai kondisi.Di Kabupaten Maros 6 diantara 10 obyek wisatanya. 2. saling menguntungkan. Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam menanggulangi illegal logging diantaranya : Operasi Wanalaga. Keberadaan gua-gua di kawasan tersebut merupakan potensi untuk pengembangan obyek wisata alam. serta di Kabupaten Pangkep 2 diantara 7 obyek wisatanya. dan penduduk desa setempat. kelembagaan 154 .7 Ha s/d 50 Ha). Hal ini diindikasikan dengan masih maraknya illegal logging. adil.

Karena itu bagaimana agar dampak pemanfaatan air ini kembali kepada konservasi air perlu mendapat perhatian lembaga yang berwenang. Prasmadji Sulistyanto .000. 1. Perlu pula dirintis kerjasama antara Perum Perhutani khususnya KPH Ciamis. tahun 2002 sampai 2005. Kata kunci: Sumberdaya Air. dengan cara melakukan rehabilitasi dan konservasi wilayah hulu DAS Citanduy. sehingga mereka beralih profesi menjadi petani padi. 2006 : Halaman 209-217 . Kabupaten Sukabumi Karyono.450.K. selama empat tahun terakhir. 220. terutama pengelola hutan lindung dan kawasan konservasi.152. -. Masih 40% hutan mangrove di KPH Ciamis berupa rawa atau semak belukar. Halaman 197-203 . Kuncoro Ariawan. serta metoda analisis tabulasi. pengumpulan data menggunakan metoda pencatatan. strategis dan kaya sumberdaya alam. -. 2005 Kawasan Pelestarian Alam yang boleh dimanfaatkan untuk pariwisata alam sebanyak 41 lokasi di kawasan Taman Nasional. Data keberadaan dan luas hutan mangrove di Kabupaten Ciamis sangat bervariasi namun dilaporkan sebagian besar berada di Desa Pamotan. 2003).Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Setiasih HUTAN MANGROVE CIAMIS YANG TERABAIKAN / Setiasih Irawanti . Untuk kabupaten Sukabumi. KPH Ciamis memberi perhatian atas hutan mangrovenya setelah sebagian dikonversi oleh masyarakat setempat menjadi persawahan dan pemukiman penduduk. dalam kawasan hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. Halaman 205-217 . Pemda Sukabumi dan ASPARDIN. namun di dalamnya telah dipenuhi patok-patok klaim hak atas lahan dari masyarakat setempat. 13 September 2005 . Pemanfaatan sumberdaya air melalui industri air minum dalam kemasan (AMDK) membuka kesempatan berusaha terhadap 28 perusahaan dan membuka kesempatan kerja sebanyak 2.370 orang dengan kemampuan investasi AMDK antara Rp. Karakteristik laut dan pesisir sangat terbuka. 2006 Setelah diberlakukannya otonomi daerah tahun 1999. sosial. Kata kunci : Mangrove. dengan hasil sebagai berikut.Irawanti. namun selama hampir 30 tahun belum dilakukan pengelolaan atau pengusahaan sebagaimana mestinya sebuah kawasan hutan sehingga terkesan sebagai lahan tidur.241.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.000 s/d Rp. OK PELUANG PENGUSAHA BERINVESTASI DI SEKTOR PARIWISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI / O.-. karenanya ekosistem mangrove menghadapi ancaman sangat berat dari berbagai sektor atau stakeholder. Usaha mengembangkan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) untuk hutan mangrove oleh KPH Ciamis baru dalam tahap wacana. banyak kebijakan daerah yang diluncurkan dalam upaya menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD). Besarnya PAD dari pajak air ini masih belum sepenuhnya kembali kepada pengelolaan konservasi air.3 .000. Pendapatan Asli Daerah. salah satunya adalah pajak air bawah tanah (PABT) dan pajak air permukaan (PAP). Hutan mangrove di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis termasuk hutan produksi (HP) kelas hutan alam kayu lain tak baik untuk jati (HAKLTB). Beragamnya data dan informasi tentang keberadaan hutan mangrove di Ciamis menarik perhatian untuk dikaji. -. dan deskriptif. berbagai fungsi ekologi. serta Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mengkonservasi Segara Anakan dan hutan mangrove desa Pamotan di wilayah hilir DAS Citanduy. Proyek Rehabilitasi dan Konservasi Segara Anakan. Pola investasi yang diterapkan pada pengembangan pariwisata alam 155 .214.000 dan pajak air permukaan mencapai Rp. Perhutani Karyono DAMPAK PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SUKABUMI / Karyono dan Kirsfianti Ginoga. Ciamis. Seluruh hutan mangrove di KPH Ciamis kini tengah menghadapi bencana kepunahannya. penerimaan pajak air bawah tanah mencapai Rp. Konversi hutan mangrove tersebut oleh penduduk setempat menjadi lahan persawahan padi dan pemukiman dilakukan karena hasil tangkapan ikan nelayan Pamotan kian hari kian menurun akibat pendangkalan dan penyempitan Segara Anakan. 17 lokasi di kawasan Taman Hutan Raya dan 102 lokasi di kawasan Taman Wisata Alam (Dephut. 34. 2006 Ekosistem mangrove dengan berbagai jenis vegetasi penyusunnya memiliki karakteristik khas.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Penelitian dilakukan pada awal tahun 2006 di Kabupaten Ciamis. ekonomi. aksesibilitas sangat baik. 27. dan politis. konsultasi dan pengamatan lapangan. Karyono.000.000. evaluatif. sehingga keberadaannya sangat berarti bagi lingkungan dalam arti luas.

2006 Luas hutan rakyat di Kabupaten Ciamis lebih kurang 24. dan lain-lain adalah upaya memulihkan atau memperbaiki kembali lahan kritis di luar kawasan hutan agar dapat berfungsi sebagai media produksi dan pengatur tata air yang baik serta mempertahankan dan meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan peruntukkannya.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. maka petani dapat merasa diringankan beban ekonominya dari hasil penjualan kayunya dan pemerintah daerah dibantu untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya melalui retribusi dan pungutan sah lainnya.memberikan kesempatan berusaha di bidang pariwisata alam yang bersifat komersial terutama BUMN. Dalam peredaran kayu di kabupaten Ciamis selama 3 tahun terakhir dokumen angkutan kayu rakyat (SKSHH) mencapai 52. terjadi degradasi kawasan hutan dan lahan sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Unit Percontohan Upaya Pelestarian Sumberdaya Alam (UP UPSA). 28 buah pada kawasan Taman Wisata Alam (TWA). Halaman 1-7 .14 m kubik. Kegiatan RHL baik melalui kegiatan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL). Terhadap kondisi tersebut di atas.. Oleh 156 . 6 Desember 2005 . Perda No. pembangunan Hutan Rakyat/Kebun Rakyat. dan Jati. Halaman 134-141 .44 ha (9.2006 . Kawasan konservasi sebab itu dalam tulisan ini dikaji sejauhmana kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan asli daerah. Ciamis yang tersebar di 37 kecamatan dan didominasi oleh jenis kayu Albazia. sumur resapan. Ditambah lagi dengan adanya krisis multidimensi yang berkepanjangan yang menyebabkan berbagai konflik kepentingan dalam pemanfaatan hutan dan lahan serta masih rendahnya peran aktif masyarakat umum terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan. -.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kata kunci: Hutan Rakyat. Produksi dan peredaran kayu rakyat selama 5 tahun terakhir (2002 s/d 2005) mencapai 504.3 milyar. Ciamis. Taman Nasional. Melalui pengembangan hutan rakyat.Dari jumlah ini. yang biasa dikenal dengan upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). 2006 Hutan dan lahan sebagai sumberdaya alam merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Pengasih. 15 buah pada kawasan Taman Nasional.BUMD. sehingga dapat terus lestari dan mendukung terwujudnya masyarakat sejahtera. diperlukan upayaupaya untuk memulihkan dan mempertahankan fungsinya kembali. Kata kunci: Pariwisata Alam. 19/2004) sebesar 0. Pendapatan Asli Daerah. pengembangan hutan rakyat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal maupun regional melalui kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dari hulu sampai hilir. Di era otonomi daerah. Mahoni. sementara tingkat kesejahteraan dan pendidikan masih rendah.49 persen) dari luas Kab. Taman Wisata Alam. Tekanan-tekanan ini masih sering dijumpai dalam pengelolaan sumberdaya alam terutama hutan dan lahan akibat belum mempertimbangkan kelas kemampuan lahan dan penerapan teknik konservasi yang baik dan benar.d.35 persen.57 m kubik dengan rata-rata per tahun 126. embung. Jumlah pengusaha/investor yang menanamkan modalnya di sektor Pariwisata Alam s. masih terbuka peluang bagi investor/pengusaha untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata alam. Dilihat dari jumlah kawasan konservasi yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam dengan jumlah taman nasional yang sudah ada pengusahanya. Karyono KONTRIBUSI HUTAN RAKYAT DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD): STUDI KASUS KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT / Karyono dan Dian Diniyati. Dari produksi dan peredaran kayu di kabupaten Ciamis pada tahun 2005 memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) melalui pungutan-pungutan atau retribusi (Leges. Pemanfaatannya harus dilaksanakan secara hati-hati dan bijaksana. Jawa Barat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tasikmalaya. kegiatan yang dibiayai oleh APBD II dan swadaya masyarakat dilaksanakan melalui kegiatan pembibitan/pembuatan persemaian.Jumlah modal yang diinvestasikan oleh pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) dalam kegiatan pariwisata alam tercatat Rp. -. Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK).534 dokumen.356.301. Juni 2004 adalah 43 perusahaan.pengkayaan tanaman. 1. Dewasa ini.089. dan Koperasi serta kepada pihak-pihak tertentu (PMDN dan PMA) sesuai dengan peraturan yang berlaku.

kebijakan. Hal ini tampak dari penggunaan kayu mangium dalam industri pengolahan mebel dan pertukangan di sentra industri mebel Jawa 157 . Kemasyarakatan. Hutan mengganggu fungsi hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun demikian model pembangunan kehutanan saat ini juga telah memberikan dampak yang banyak merugikan yang kita rasakan dewasa ini. Disisi lain tingkat kesejahteraan masyarakat disekitar hutan sangat rendah yang semakin menambah laju kerusakan hutan akibat pencurian kayu. Permasalahan ini semakin lama semakin komplek yang saat ini pada umumnya belum dapat diselesaikan secara tuntas. Tulisan ini disajikan untuk memberikan gambaran tentang kebijakan pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di kabupaten Ciamis. Hutan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN CIAMIS / Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. Hutan Krisdianto PEMANFAATAN KAYU MANGIUM (Acacia mangium Willd.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kemasyarakatan. sedangkan hutan kemasyarakatan yang merupakan hutan negara yang sistem pengelolaan bersama-sama masyarakat memberikan peluang usaha bagi masyarakat di dalam kawasan hutan tanpa Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI PROPINSI JAWA BARAT / Kepala Dinas Kehutanan di Propinsi Jawa Barat. berorientasi lingkungan. kebijakan. 6 Desember 2005 . 2006 Paradigma pembangunan kehutanan nasional dewasa ini telah mengalami perubahan yang cukup mendasar dari yang semula dititikberatkan pada pengelolaan kayu dan komoditi. erosi. Kab. Halaman 151-159 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kata kunci: Pembangunan hutan. dan sosial secara berimbang. Hutan Kemasyarakatan. Kebijakan. -.) SEBAGAI BAHAN BAKU MEBEL/ Krisdianto dan Kresno Agus Hendarto.Selain dapat menekan illegan loging hutan rakyat yang sudah berkembang sejak lama di kalangan masyarakat Jawa barat juga dapat memenuhi kebutuhan produksi kayu yang belum terpenuhi dari hasil hutan. Pada intinya dicapai dalam pembangunan kehutanan adalah suatu sistem pengelolaan hutan yang mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi. 2006 Kondisi Industri Kehutanan saat ini dan di masa yang akan datang sangat bergantung dari pembangunan HTI (Hutan Tanaman Industri).Kata kunci: Pembangunan Hutan. Salah satu jenis yang telah dikembangkan dalam areal HTI adalah kayu mangium (Acacia mangium Willd. ekologi. Halaman 14-21 . Kata kunci: Pembangunan hutan. Hutan rakyat (hutan hak/milik) dapat memberikan kontribusi terhadap penyediaan bahan baku kayu dan non kayu bagi rumah tangga dan industri yang semakin terbatas dihasilkan dari hutan negara. Tasikmalaya Hutan Rakyat. serta mempunyai peran dalam merehabilitasi lahan-lahan kritis di luar kawasan hutan. Halaman 8-13 . Sebagai salah satu sektor pembangunan yang sangat strategis selama dekade terakhir sektor kehutanan telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi nasional. Laju kerusakan hutan dan lahan sebagai akibat pemanfaatan hasil hutan kayu secara berlebihan meningkat dengan cepat.). Kab. Tujuan pembangunan HTI adalah memenuhi kebutuhan kayu sebagai pulp dan kertas juga telah digunakan sebagai bahan baku mebel dan kayu pertukangan. penjarahan dan perambahan hutan.Tasikmalaya Hutan Rakyat. -. 6 Desember 2006 . serta bersifat sentralistik menjadi pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya hutan. kekeringan). Pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan menjadi sangat penting dan strategis dalam mewujudkan pembangunan kehutanan sebagaimana tersebut di atas. 2006 Pembangunan Hutan Rakyat yang sejalan dengan landasan utama penyelenggaraan kehutanan dapat berfungsi sebagai penanggulangan lahan kritis. Propinsi Jawa Barat Rakyat. yang berakibat merosotnya kualitas lingkungan (banjir. berbasis masyarakat. 6 Desember 2005 . -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. bersifat desentralistik dan berkeadilan.

3 . dan Nusa Tenggara Timur. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA MIO DAN DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR)/ Rahman Kurniadi . Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR) / Rahman Kurniadi . Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung. dan budaya berburu. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Berat jenis kayu ini bervariasi dari 0. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. bahan baku Mebel Kurniadi. Halaman 115-130 . -. Halaman 235-241 . dan Nusa Tenggara Timur. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. Salah satu kelebihan kayu mangium adalah warnanya mirip dengan kayu jati.66. perladangan berpindah.2 . 25 Agustus 2005). Halaman 209-315 . keserasian. Priyo KELEMBAGAAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KHDTK BORISALLO. disamping adanya keakraban. ekonomi.53 . Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. -. Penggunaan kayu mangium saat ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mebel dan pertukangan dalam skala lokal. Kayu mangium merupakan kayu dengan kelas kuat IIIII dan kelas awet III. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 25 Agustus 2005). kebakaran hutan Kurniadi. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung. Saat ini kayu mangium telah digunakan sebagai substitusi kayu jati. Penggunaan kayu mangium sebagai pengganti kayu jati dilakukan secara parsial maupun secara total. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan. Sumatera. I Made Widnyana. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. 2006 Kelembagaan dalam pengembangan hutan kemasyarakatan pada umumnya merupakan suatu perkumpulan petani yang anggotanya mempunyai kesamaan kepentingan dan kondisi lingkungan baik sosial.0. Kata kunci: Kayu mangium. kebakaran hutan Kusumedi. Acacia mangium Willd. I Made Widnyana. SULAWESI SELATAN / Priyo Kusumedi. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang model kelembagaan berbasiskan masyarakat dalam rangka mewujudkan pengelolaan hutan lestari.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. Metode penelitian yang dipakai adalah PDC (Pemahaman Pedesaan Cepat) dan PDP (Pemahaman Pedesaan 158 . Kata kunci : Budaya. fire maniac. dan budaya berburu. serta memiliki kehendak yang sama untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya alam. Kata kunci : Budaya.3 . fire maniac. Sumatera.Tengah dan Jawa Barat.. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. perladangan berpindah. budaya maupun sumberdaya alam dan sumberdaya manusia.

Permasalahan ini dapat diatasi melalui upaya perbaikan tegakan (stand improvement) yang menyangkut peningkatan produktivitas dan secara bersamaan menghasilkan struktur tegakan sedemikian rupa yang mengurangi proporsi kelas diameter +20 cm. Realitasnya. Kristian STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kristian Mairi. Berdasarkan paradigma Social Forestry tersebut maka keberhasilan pembangunan kehutanan sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dalam berkontribusi terhadap upaya pengelolaan 159 . maka gangguan pencurian pohon berukuran 20 cm ke atas menjadi problem tambahan. Inti dari program Social Forestry adalah masyarakat terlibatkan aktif secara langsung dalam pengelolaan hutan dengan tujuan masyarakat bisa sejahtera dan kondisi hutan bisa lebih baik. 1992). Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. biaya dan daur serta struktur tegakannya. Pada awalnya tujuan produksi adalah kayu pulp. Sebagai akibat meningkatnya nilai ekonomi kayu A. sehingga secara langsung lebih meningkatkan nilai ekonomi jenis ini dibandingkan ketika awal pengembangannya. 2006 : Halaman 189-208 . riap ini merupakan riap dari tegakan berkualitas baik. HTI. Kayu Pulp Mairi. 1992. Gessel and Harrison. Saat ini sebagian besar tanaman ditujukan untuk kayu pertukangan (furniture). pihak pengelola HTI dihadapkan pula pada problem tataguna lahan seperti klaim area tanam oleh masyarakat sekitar.Partisipatif). target produksi umumnya didasarkan pada riap 25m kubik/ha/th pada daur 8 tahun.mangium tersebut salah satunya adalah peningkatan kerapatan tegakan dan penurunan daur. Di Kalimantan Selatan saat ini hanya HTI Hutan Rindang Banua (dulu PT Menara Hutan Buana) yang masih tetap sebagai HTI pulp. Kata kunci : kelembagaan. Selain dihadapkan pada rendahnya produktivitas tegakan.mangium.q Departemen Kehutanan pada bulan Juli 2003 dicanangkanlah program Social Forestry sebagai upaya perbaikan kondisi hutan di Indonesia sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. Jarak Tanam. tumpang tindih dengan penggunaan lahan lain seperti pertambangan dan perkebunan. dan tidak sedikit tegakan dengan riap jauh di bawah target tersebut.mangium untuk tujuan kayu pulp. 6 Desember 2006 . -. Dian OPTIMALISASI HASIL MELALUI PENGATURAN JARAK TANAM HTI ACACIA MANGIUM UNTUK PRODUKSI KAYU PULP / Dian Lazuardi. dan secara luas pada tahun 1992 dalam bentuk HTI. Kondisi pertumbuhan di lapangan sangat beragam walau berada dalam hamparan yang relatif berdekatan. Upaya peningkatan produktivitas tegakan A. kelompok tani hutan Lazuardi. permasalahan pemagaran lahan dengan kawat berduri dan pengembalaan liar oleh sebagian anggota sehingga membangun tata nilai bersama menjadi suatu kesepakatan dibentuknya lembaga (4 kelompok tani hutan) dan beberapa aturan interen/kesepakatan bersama. Oleh karena itu. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Adanya kedekatan lahan garapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan model kelembagaan berbasiskan masyarakat membutuhkan proses yang cukup panjang dengan membangun tata nilai bersama agar bisa diakui dan didukung oleh semua pihak. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu jenis tumbuh cepat (fast growing species) dari famili Leguminosae. Peningkatan kerapatan tegakan memang akan meningkatkan produksi dan menurunkan diameter rata-ratanya. hutan kemasyarakatan. makalah ini mencoba untuk menyampaikan kajian awal terhadap perlakuan-perlakuan jarak tanam dalam hubungannya dengan peningkatan produksi. Menindaklanjuti hal itu oleh pemerintah c. hal ini diduga sebagai akibat dari variasi faktor edafis (Simpson. Pembangunan HTI A. mulai dikembangkan di Kalimantan Selatan pada tahun 1985. khususnya di Kalimantan Selatan. upayaupaya tersebut sangat memerlukan suatu kajian serius melalui hasil penelitian dan ujicoba-ujicoba lapangan sebelum mengaplikasikannya. Kejadian ini sudah tentu akan mengakibatkan tidak tercapainya target produksi yang telah ditetapkan. Kata kunci: Acacia mangium. tetapi juga akan menghadapi peningkatan biaya dan problem teknis pembuatan pola tanamnya. 2006 Bertitik tolak dari UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dimana masyarakat diberi kesempatan untuk ikut mengelola kawasan hutan sebagai alternatif bentuk pengelolaan hutan oleh masyarakat adalah merupakan inti dari konsep Social Forestry yang sekarang ini menjadi paradigma baru dalam pembangunan sektor kehutanan. Halaman 39-47 .

pengendalian hama dan penyakit. yang perlu dibuktikan oleh Acacia mangium adalah kemampuannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak lagi sekedar sebagai jenis utama dalam rehabilitasi tetapi harus mampu menjadi tanaman industri masyarakat. pemeliharaan. potensi diri dan lingkungannya serta memotivasi dalam mengembangkan potensi tersebut secara proporsional dengan cara/metode partisipatip. Hutan tanaman. 6 Desember 2006 . Pelajaran dari perkembangan hutan tanaman Acacia mangium telah mengisyaratkan bahwa integrasi antara industri. Penanaman jenis pohon pada lahan milik untuk kepentingan industri dapat disebut sebagai social forestry. Diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat mengawal proses sebuah kemajuan teknologi pengembangan hutan tanaman berbasis social forestry ini. dan penanganan pasca panen. hutan tanaman dan masyarakat saat ini bersifat layak dan perlu dilaksanakan. Kata kunci: Acacia mangium. Edwin PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERBASIS SOCIAL FORESTRY / Edwin Martin. Rehabilitasi lahan. Kata kunci: Rehabilitasi Hutan.Dalam upaya pengembangan kualitas masyarakat khususnya yang bermukim di dalam dan sekitar hutan agar maju dan mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan. dan pemanenan. Studi kasus yang dilakukan di PT. Yamin UJI COBA TEKNIK PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN MODEL AGROFORESTRY POLA WANAFARMA SENGON+JAHE / M.hutan dan kualitas sumberdaya manusia yang mendukungnya. memperkuat dan mengembangkan kelembagaan masyarakat yang terkait dengan pembangunan kehutanan. Padahal aspek kelembagaan mempunyai peranan sangat besar bagi kesuksesan pembangunan hingga dapat dikatakan bahwa kegagalan pembangunan umumnya dikarenakan lemahnya kelembagaan yang ada termasuk sektor kehutanan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.antara lain: Seleksi benih. Pemberdayaan masyarakat Martin. Ujicoba model diterapkan melalui plot-plot percobaan yang didesain di lokasi penelitian. -. 2006 Serangkaian penelitian dan pengembangan mengenai model wanafarma telah dilaksanakan di lokasi penelitian Loka Litbang Hutan Monsoon di Kecamatan Cilacap Jawa Tengah. persemaian. Halaman 2338 . Penelitian ini dilaksanakan untuk jangka 5 tahun yang dimulai pada tahun 2004. M. kesulitan memperoleh modal dan akses pemasaran yang belum memadai. Salah satu pola tanam yang diujicobakan adalah kombinasi antara tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) (L) Nielsen) dan Jahe (Zingiber afficinale).Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 6 Desember 2005 . Perlakuan yang diberikan meliputi komponen-komponen teknologi yang mendukung pengembangan model. Musi Hutan Persada menunjukan bahwa usaha hutan tanaman Acacia mangium berbasis social forestry menguntungkan dari sisi finansial dan menghasilkan manfaat sosial ekonomi ganda. Percobaan ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan produktifitas lahan dan pendapatan petani melalui model wanafarma sengon+Jahe. pemupukan. Hasil sementara penelitian ini menunjukan bahwa beberapa input teknologi yang diterapkan berperan penting pada penyempurnaan model dalam bentuk pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman pohon dan peningkatan hasil tanaman pertanian. 160 . Pada kenyataannya di lapangan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kehutanan masih lemah karena belum didukung oleh kelembagaan masyarakat yang kuat antara lain pengetahuan dan ketrampilan yang rendah. Halaman 46-61 . penanaman. Siarudin. dengan berbagai kemajuan teknologi silvikultur dan pemuliaan pohon akhirnya Acacia mangium membuktikan bahwa meskipun eksotik ia mampu menjadi komoditas utama hutan tanaman. Proses pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya bagaimana masyarakat itu dapat mengenal dan merefleksikan permasalahannya sendiri. -. sistem pengorganisasian yang belum sempurna. Saat ini. Program penanaman Acacia mangium pada lahan milik memiliki banyak keunggulan dibanding program hutan tanaman konvensional/pada areal konsesi. maka strategi pemberdayaan masyarakat dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan mutlak dilaksanakan.penyiapan lahan. Social Forestry Mile. Dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan dimasa yang akan datang sebagaimana semangat dalam program Social Forestry maka hal yang sangat urgen dilakukan adalah membangun. Yamin Mile dan M. 2006 Setelah hampir seperempat abad tumbuh di Sumatera Selatan.

Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Hutan Rakyat. pemanenan. Untuk itu perlu adanya konsepsi yang jelas mengenai pengelolaan lahan serta langkah-langkah strategis dalam upaya meningkatkan produktifitas hutan rakyat. Hal ini disebabkan antara lain karena tingkat penguasaan technologi petani yang masih sederhana. Mengingat model ini belum banyak dikenal oleh masyarakat. Hutan Rakyat Mile. Beragam pola hutan rakyat ditemukan di masyarakat sesuai dengan keinginan masing-masing petani. dalam tulisan ini dikemukakan kajian pengembangannya ditinjau dari aspek teknis. c) meningkatnya konflik pengelolaan sumberdaya hutan. Kata kunci: Social Forestry. Rami. Perkembangan hutan rakyat khususnya tanaman sengon menjadi dominan karena tersedianya pasar yang menampung hasil hutan rakyat tersebut.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Sengon. Wanatani. penanaman. Pada musim hujan bencana tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di berbagai tempat yang mendatangkan kerugian yang tidak sedikit. 2005 Hutan rakyat saat ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu titik tumpuan ekonomi penduduk yang tinggal di Pulau Jawa (FKKM. Langkah strategis Mile. kurangnya permodalan. Hut. 2003). Adanya jaminan pasar ini menyebabkan petani tidak ragu untuk menanam jenis pohon komersial di lahan milik mereka yang sempit karena dirasakan menguntungkan apalagi dilakukan dengan jalan tumpangsari (Agroforestry). Tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sebagai bahan baku industri tekstil serta memberikan pendapatan yang relatif cepat bagi masyarakat.6 juta ha/tahun (Direktorat Bina Hutan Kemasyarakatan Dep. Kata kunci: Pengelolaan lahan. -. sementara laju deforestation mencapai 1. Kondisi ini menyebabkan lahan hutan semakin kritis sehingga tidak berfungsi lagi sebagai pengatur tata air.Kata kunci: Agroforestry. maka produktifitas hutan rakyat perlu ditingkatkan menjadi unit usaha yang dikelola secara intensif mulai dari pemilihan jenis sampai pada sistim produksi (penyiapan lahan. M. Wanafarma. baik pasar domestik maupun pasar internasional. 1999). Kawasan hutan dirambah untuk dijadikan usaha tani tanaman sayur-sayuran tanpa tindakan konservasi tanah sehingga terjadi aliran permukaan dan erosi yang besar. 2005 Selama lebih dari tiga dasawarsa sumber daya hutan telah memberikan kontribusi yang nyata sebagai penggerak roda perekonomian nasional melalui pengelolaan hutan berbasis kayu yang menekankan exploitasi hutan oleh industri berskala besar. Jahe. serta sempitnya lahan usaha yang dimiliki. Halaman 139-151 . Tanaman rami (Haramai) adalah sejenis tanaman serat berbentuk perdu yang sesuai baik di dataran rendah maupun di daerah ketinggian seperti Garut. 6 Desember 2005 . pendekatan kelola usaha yang menyeluruh dan konprehensif hanya perlu dilakukan dengan jalan penerapan teknologi tepat guna dan managemen pengelolaan yang sesuai. dan penanganan pasca panen). Yamin PENGEMBANGAN SOSIAL FORESTRY DENGAN POLA WANATANI RAMI DI KABUPATEN GARUT: MENDUKUNG KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN / Ismatul Hakim.Berbagai study mengenai peranan hutan rakyat terhadap tingkat pendapatan masyarakat telah banyak dilakukan. Halaman 123-131 . Sosial ekonomi. b) tidak terdistribusinya manfaat sumberdaya hutan secara adil kepada masyarakat sekitar hutan. Dengan terbukanya peluang pasar akan hasil hutan rakyat berupa kayu dan non kayu. M. Yamin Mile. Konsekwensi dari orientasi industri berskala besar tersebut berdampak pada beberapa aspek antara lain: a) belum diperhitungkannya variable sosial ekonomi dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan. Dengan kondisi seperti di atas pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari mengalami ketidakpastian sampai saat ini. -. dan Lingkungan. Kabupaten Garut 161 . Dalam rangka implementasi kegiatan Social forestry tersebut Pemerintah Kabupaten mengintrodusir suatu pola baru yang belum banyak dikenal sebelumnya oleh masyarakat yakni Tumpangsari antara tanaman pokok Kehutanan dengan tanaman rami yang dikenal dengan istilah Agroforestry Haramai. Yamin KONSEPSI PENGELOLAAN LAHAN DAN LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS HUTAN RAKYAT / M. 13 September 2005 . sebagian besar dikelola seadanya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan permodalan yang dimiliki petani. pemeliharaan. Apabila hutan rakyat ini diarahkan pada pengembangan suatu unit agribisnis. Pengelolaan hutan rakyat secara intensif belum banyak dilakukan oleh petani. Dari hampir semua pola yang dijumpai di lapangan. Di Kabupaten Garut ketidakpastian pengelolaan hutan secara lestari sangat dirasakan.

Untuk maksud tersebut dalam tulisan ini dikemukakan empat rancangan model jalur hijau yang dapat dikembangkan. mengakibatkan posisi tawar petani cukup rendah karena volume produk yang dijual sangat terbatas. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi hutan di bagian hulu DAS tersebut.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. masing-masing model terdiri dari blok inti dan blok pemanfaat. Para pelaku perlu mencari suatu pola investasi yang cepat menghasilkan yang dirancang khusus untuk merespon kebutuhan sumber pendapatan. khususnya di Pantai Selatan Kabupaten Ciamis. Petani lebih suka menjual kayu dalam bentuk gelondongan dengan system borong kebun. Untuk menanggulangi kerusakan tersebut dari aspek kehutanan. Bahkan masih ditemukan adanya system penjualan dengan system ijon yang sesungguhnya sangat merugikan pihak petani.Belum adanya kelembagaan seperti koperasi dalam melakukan penjualan. Model jalur hijau untuk kawasan wisata. Kata kunci: Kayu Sengon.2006 .Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Masalah banjir dan kekeringan diyakini sebagai dampak dari system tata air di wilayah DAS yang buruk. 2). 2006 : Halaman 227-244 .biaya ekonomi finansial. Penentuan volume produksi dilakukan oleh pembeli. 3). akibatnya harga yang diterima petani jauh lebih murah. sehingga mampu mengurangi resiko dari masalah menunggu hasil investasi tersebut. Kata kunci: Jalur Hijau. Blok inti dirancang dengan fungsi utama sebagai jalur perlindungan (sheler belt). Hutan mempunyai fungsi menyerap air melalui proses fotosintesa dan menyimpannya dalam perakaran dalam tanah. PENATAAN RUANG DAN SOSIAL FORESTRY DAN PANTAI SELATAN CIAMIS PASCA TSUNAMI / M. ketiga pendekatan itu adalah (1) analisis manfaat. Tasikmalaya Nurfatriani. yakni: 1). Halaman 97108 . -. Dedi PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Dedi Natawijaya. -. paling tidak ada tiga pendekatan yang harus dirancang secara tepat sehingga mampu menjawab tantangan tersebut. terutama dari pihak swasta (melalui kemitraan bisnis) dan pemerintah (dengan kebijakan subsidi dan bantuan modal usaha). Halaman 7284 . Model jalur hijau untuk kawasan mangrove.Analisis ekonomi lingkungan dan (3). Agribisnis. 2006 Berbagai teori telah dikemukakan oleh para ahli yang menyatakan berbagai fungsi hutan sebagai salah satu unsur dalam system penyangga kehidupan. Sedangkan blok pemanfaat dirancang untuk pengembangan social forestry di wilayah pantai. M. Pada umumnya penjualan kayu sengon terbatas hanya olahan sederhana yang berupa kayu palet atau kayu persegian. Yamin Mile dan M. Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting 162 . Analisis ekonomi partisipasi. 2006 Salah satu permasalahan utama dalam pola investasi hutan rakyat adalah masa menunggu hasil dari proses investasi yang dilakukan. Model jalur hijau untuk kawasan konservasi. kab. Kab. Hal ini perlu mendapat perhatian serius. Menurut Asdak (1995) vegetasi hutan sangat berperan dalam daur hidrologi sebagai penahan air sebelum mencapai permukaan tanah untuk kemudian diserap dalam proses infliltrasi. pemerintah merencanakan untuk mengadakan upaya rehabilitasi kawasan pantai melalui pembangunan jalur hijau di sempadan pantai. 4). (2). Ciamis Natawijaya. 2005). Sosial Forestry.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. terutama bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Yamin PENGEMBANGAN MODEL DAN DESAIN JALUR HIJAU DALAM RANGKA REHABILITASI. Siarudin.Mile. -. Rehabilitasi. 2006 Bencana tsunami yang terjadi pada bulan Juli 2006 di Pantai Selatan Pulau Jawa telah menimbulkan kerusakan yang serius. Fitri PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI BAGIAN HULU DAS BRANTAS HULU: SEBAGAI PENGATUR TATA AIR / Fitri Nurfatriani.2006 . Beberapa hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang lurus dan nyata antara keberadaan hutan dengan berkurangnya jumlah titik mata air (Zaini. Model jalur hijau untuk daerah pemukiman. Dengan demikian keberadaan hutan sangat krusial dalam satu siklus hidrologi yang tergambar dalam kondisi tata air di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Belum ada variasi produk olahan kayu yang lain yang dapat memberikan tambahan nilai jual bagi petani.

Dengan diketahuinya manfaat dari SDH ini maka hal tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam (SDA) yang semakin langka dan melakukan distribusi manfaat SDA yang adil. 2006 Perkembangan beberapa dekade terakhir di Kecamatan Cidahu dicirikan oleh tumbuhnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang memanfaatkan sumber mata air dan sumur air bumi. sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi manfaat-manfaat yang telah dikenal dari SDH secara berlebihan. sebagian besar (66. sehingga aktivitas perubahan tata guna lahan yang dilaksanakan di daerah hulu DAS tidak hanya akan berpengaruh dimana kegiatan tersebut berlangsung (hulu DAS) tetapi juga akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan lainnya (Asdak. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. -. 2006 : Halaman 1-16 . 2006 Informasi tentang produksi dan peredaran kayu penting untuk diketahui dalam rangka memahami mekanisme pasar dalam memenuhi permintaan kayu. atau belum diketahui. industri.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.58%) dari total luas hutan Sumatra Selatan adalah hutan produksi. Indartik.karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS yaitu dari segi fungsi tata air. 2006 Sumberdaya hutan (SDH) menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible. Kata Kunci: Produksi kayu. tetapi juga untuk propinsi lain. -. sedangkan pasar kayu Sumatra Selatan relatif tinggi. ekonomi. Untuk itu tulisan ini dibuat sebagai gambaran mengenai kondisi hutan di bagian hulu DAS Brantas Hulu khususnya dalam kaitannya sebagai daerah resapan air.]. diindikasikan dengan tingginya kapasitas industri terpasang. peredaran kayu Pawitan. Hulu DAS. Hidayat Pawitan . Kata kunci: Kawasan Hutan.. Berbagai teknik dan metode penilaian ekonomi sumberdaya alam (SDA) telah dikembangkan untuk menghitung nilai ekonomi SDA yang memiliki harga pasar ataupun tidak. Akibatnya untuk memenuhi bahan baku maka industri mandatangkan bahan baku dari luar Sumatra Selatan. dan sampai saat ini masih dapat berlangsung bersamaan dengan pemanfaatan air untuk PDAM dan oleh penduduk setempat yang telah lebih dulu memanfaatkan sumber-sumber air yang ada. 2) Produksi kayu. Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai rendah.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Fitri KONSEP NILAI EKONOMI TOTAL DAN METODE PENILAIAN SUMBERDAYA HUTAN (Total Economic Value concept and Forest Resource Valuation Method) / Fitri Nurfatriani. Halaman 1-16 . DAS Brantas Hulu Nurfatriani.. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami konsep nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif.1 . Halaman 151-159 .2 . Nunung PRODUKSI DAN PEREDARAN KAYU (STUDI KASUS DI SUMATERA SELATAN)/ Nunung Parlinah . Kata kunci : Hutan. dan 4) Peredaran kayu. DAS cicatih dengan luas 53 ribu haktar memiliki 163 . Lokasi yang dipilih sebagai studi kasus adalah Sumatra Selatan. khususnya untuk manfaat intangible yang tidak memiliki harga pasar. Makalah ini mencoba menyajikan secara ringkas hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penelitian untuk DAS Cicatih yang bertujuan untuk menggali informasi mengenai kondisi biofisik DAS yang meliputi fungsi dan jasa lingkungan DAS.al. 1995). Dari hasil studi.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No.Hidayat INDIKATOR BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI JASA LINGKUNGAN DAS: STUDI KASUS DAS CICATIH-CIMANDIRI/ S. untuk mendapatkan total kesejahteraan masyarakat yang maksimal. Sementara itu produksi kayu dari Sumatra Selatan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan konsep nilai ekonomi total dan berbagai metode yang digunakan untuk menilai manfaat SDH dan lingkungan. 3) Pasar Kayu. nilai. -. pasar kayu. Terdapat kecenderungan produksi kayu semakin menurun karena berkurangnya potensi hutan alam dan maraknya illegal logging. serta mempelajari aspek sosio-ekonomi dan persepsi masyarakat terkait dengan kompensasi konservasinya atas dasar rasa keadilan yang saling menguntungkan. Empat poin yang perlu dianalisis : 1)Luas hutan. manfaat Parlinah. [et.

Hutan Lindung.. Pengelolaan sumberdaya air perlu lebih mendapat perhatian dengan pertimbangan adanya pola musiman dan meningkatnya kebutuhan air untuk penggunaan air non-tradisional. Nilai ekonomi hutan lindung yang bersifat intangible belum banyak dilakukan perhitungan sehingga nilai jasa hutan lindung sering dihargai kecil.063. Sasaran kajian (1) Diketahuinya hasil air dari hutan lindung Baturaden. hutan (21 persen) dan sebagian besar sisanya berupa lahan pertanian. Manusia sendiri dalam sistem komunitasnya sebagai pengelola sumberdaya alam DAS juga memiliki karakteristik yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap karakteristik bio-fisik DAS. dan Dewi Retna Indrawati. 13 September 2005 .Hutan lindung Baturaden Rp. 2005 Setiap DAS memiliki sifat atau karakteristik berbeda-beda dalam memberikan tanggapan atau respon masukan air hujan menjadi hasil air. (2) Diketahuinya nilai ekonomi air hutan lindung Baturaden. mencegah intrusi air laut.05 m kubik/s (8/02/2001). Hasil sementara menunjukan nilai koefisien limpasan tahunan yang relatif tinggi.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.963. Akibatnya penghargaan atau pengelolaan hutan lindung kurang optimal. Penutupan lahan didominasi oleh perkebunan (45 persen). Hutan Lindung Baturaden Purwanto ANALISIS KARAKTERISTIK PARAMETER SOSIAL EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JANGKA PANJANG: STUDI KASUS DAS SERAYU / Purwanto. Rata-rata hasil air dari hutan lindung dalam tiga tahun (2003 s/d 2005): hulu Sub DAS Pelus 191. dan memelihara kesuburan tanah. Dengan demikian karakteristik DAS terbangun sebagai hasil menyeluruh dari interaksi atau hubungan timbal balik antar unsur-unsur sumberdaya alam sendiri dan antara unsur alam dengan manusia. dalam kerangka kebijakan otonomi daerah dan sistem perpajakan yang lebih transparan. Biofisik. Sosial Ekonomi Purwanto KAJIAN NILAI EKONOMI HASIL AIR DARI HUTAN LINDUNG BATURADEN / Purwanto.69 persen dari total luas hutan.curah hujan tahunan sebesar 2970 mm dengan geologinya yang spesifik telah menghasilkan banyak sumber mata air dengan kapasitas yang cukup besar. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Data curah hujan dan debit air diperoleh dengan pemasangan plot dan pengukuran curah hujan dan debit air. baik sifat alami maupun sifat yang terbangun sebagai hasil intervensi manusia. Data curah hujan dan debit air sungai dihitung berdasarkan rata-rata bulanan dan data nilai ekonomi air dihitung berdasarkan fungsi produksi untuk air irigasi dan rente ekonomi untuk air yang digunakan PDAM Kabupaten Banyumas..-/m kubik. sebaliknya karakteristik komunitas manusia juga dipengaruhi oleh karakteristik alam sekelilingnya. Air. Jasa Lingkungan.-/ha/tahun Kata kunci: DAS.Nilai ekonomi air dari hutan lindung di hulu Sub DAS Pelus (Baturadden) Rp.2) Data nilai ekonomi air dikumpulkan melalui survey. Halaman 163-175 . Nilai ekonomi air baku untuk PDAM dari : 1). 2). khususnya dari mata air dan airbumi. Demikian juga sistem kakarkteristik DAS sebagai dasar dalam perencanaan pengelolaan DAS yang sekarang ada 164 . Hutan lindung sesuai fungsinya ditujukan untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. Salah satu produk hutan lindung adalah air yang pada saat ini sebagian besar masih merupakan barang publik walaupun di beberapa tempat telah menjadi barang ekonomi seperti yang dimanfaatkan untuk air mineral. 23.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.25 m kubik/s (24/08/2002) dan terbesar 209. mengendalikan erosi. Debit terukur pada stasiun Ubrug selama 1999-2005 terendah tercatat sebesar 5. Dengan diberlakukannya otonomi daerah maka kewenangan pengelolaan DAS pada setiap jenjang hierarki perlu diselaraskan dengan kewenangan pemerintah otonomi. mencegah banjir.00.500. Hal yang sama perlu dilakukan oleh perusahaan AMDK di Cidahu untuk turut berperan dalam program konservasi DAS hulu. Paimin. Kata kunci: DAS.(et.al). Terdapat indikasi kuat bahwa penduduk lokal cenderung menghemat sumber daya air DAS Cicatih dan bersedia menanggung biaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan jasa lingkungan DAS hulu. seperti pada mata air Cibuntu (695 liter/s) dan Cipanas (2584 liter/s atau < 1000 liter/s). indept interview dan diskusi dengan para pengguna. Sasaran penelitian adalah diketahuinya nilai ekonomi hasil air dari hutan lindung. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi nilai provisi pemanfaatan sumberdaya air. -.647. 2006 : Halaman 85-97 .04 juta ha atau 27.50 m kubik/tahun. 310. adil dan memberdayakan daerah. 2006 Hutan lindung di Indonesia seluas 29. -. Nilai Ekonomi. Kualitas air dari seluruh lokasi penelitian dapat digunakan untuk air baku minum.

Seperti dalam program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang dicanangkan mulai tahun 2003. seyogyanya sistem karakterisasi DAS lebih mengedepankan pendekatan yang praktis dan ekonomis dari pada pendekatan teoritis dan akademis seperti disarankan Sheng (1986. meliputi kegiatan: teknologi pembangunan kebun benih generasi pertama dan kedua. Dengan disempurnakannya sistem karakterisasi DAS yang disertai dengan sistem informasi akan membantu pengelola dalam melakukan perencanaan. Pembangunan hutan tanaman A. keperluan data yang segera dan akurat akan segera terlayani apabila sistem data dan informasi DAS telah terbangun dalam suatu sistem pengelolaan yang mapan dan selalu dilakukan pemutakhiran. Saat ini beberapa perusahaan telah mengelola hutan tanaman A. Sampai dengan tahun 1999. Mangium yang telah dilaksanakan oleh Puslitbang Hutan Tanaman.1990) Cara pendekatan ini bisa diistilahkan dengan 'sidik cepat degradasi DAS'. Teknologi Pemuliaan 165 . Pembangunan hutan tanaman A. penelitian hibridisasi dan penyerbukan buatan. Sosial Ekonomi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman TEKNOLOGI PEMULIAAN ACACIA MANGIUM / Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. manajemen penyiapan lahan.perlu ditelaah ulang agar memiliki kompatibilitas dengan institusi terkait pada setiap jenjang kewenangannya. serta masih lemahnya sistem informasi pengelolaan DAS. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu fast growing yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. Padahal kondisi lapangan berkembang secara dinamis yang harus selalu diikuti agar data dan informasi tersaji selalu sesuai dengan kondisi terkini. Halaman 1-6 . Memasuki pembangunan hutan tanaman A. sehingga setiap kali diperlukan secara cepat masih sulit diperoleh secara memadai. maka pengembangan sistem karakterisasi tingkat sub DAS harus dilakukan secepat mungkin. manajemen hama dan penyakit. Mangium rotasi kedua. baik untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri maupun rehabilitasi lahan. Diharapkan hasil penelitian yang diperoleh juga bisa membantu penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pengelolaan DAS sesuai dengan jenjang kewenangannya. 6 Desember 2006 . khususnya dalam menjaga peningkatan kualitas dan produktivitas tegakan dalam jangka panjang. Hal tersebut menunjukan masih lemahnya sistem karakteristik DAS yang selaras dengan kewenangan otonomi daerah. pembangunan gain trial. Mangium di Indonesia sebagai pemasok kebutuhan bahan baku industri kehutanan diharapkan akan mampu bersaing dalam kompetisi tersebut. dan sumberdaya manusia. penelitian penyakit serta penelitian biologi molekuler. Kata kunci: Acacia mangium. Dalam era kompetisi global yang semakin intensif saat ini. Mangium telah dibangun dengan tujuan utama sebagai pemasok kebutuhan bahan baku bagi industri pulp dan kertas. Untuk membangun formula sistem tersebut diperlukan serangkaian data dan informasi yang diperoleh melalui penyelenggaraan penelitian dan pengembangan. manajemen tapak dan nutrisi. industri kehutanan menghadapi tantangan yang mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri dengan kualitas tinggi dan dalam jumlah yang memadai yang dihasilkan dari tegakan-tegakan yang dikelola secara lestari. Beberapa upaya yang perlu ditempuh dalam menghadapi tantangan tersebut antara lain konsistensi pemakaian benih unggul hasil dari serangkaian kegiatan pemuliaan. Tulisan ini merupakan eksplorasi peran parameter sosial ekonomi dalam karakterisasi daerah aliran sungai sebagai landasan dasar penyusunan sistem perencanaan jangka panjang pengelolaan DAS (perencanaan 15 tahunan). DAS. manajemen tegakan. maupun monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS secara efektif dan efisien disamping memberikan pengingatan dini kemungkinan terjadinya bencana alam pada setiap tingkatan pengelolaannya. dan pemanenan.Data dan Informasi pengelolaan DAS yang sampai saat ini terkumpul belum dikelola secara mapan dalam sistem informasi pengelolaan. tingkat biaya yang rendah serta ramah lingkungan. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. Mangium pada rotasi kedua.000 hektar hutan tanaman A. sumber dana. pelaksanaan. -. beberapa tantangan baru mulai muncul. Dalam resume makalah ini maka disampaikan beberapa kegiatan penelitian beberapa input teknologi penunjangnya dalam penelitian pemuliaan A. Namun melihat laju perkembangan lahan kritis dalam wilayah DAS yang cukup besar. lebih dari 800.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Mengingat terbatasnya waktu. terutama konsistensi sistem karakteristik yang sesuai dengan hierarki sistem perencanaan/pengelolaan DAS. Mangium ini diperkirakan akan semakin luas sejalan dengan kebijakan Departemen Kehutanan yang menetapkan sasaran fasilitas pembangunan hutan tanaman seluas 5 juta hektar.

Kabupaten Tasikmalaya. -. Kecamatan Sariwangi. Subang dan Ciamis. Jenis hama yang menyerang semai sengon adalah Ulat kantong (pteroma plagiophelps). Biak.67 cm dan 0. Candiroto. 2005 Tujuan penelitian adalah merakit paket teknologi agroforestry Nilam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi maksimun dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Kata kunci: Agroforestry.200 mm/tahun dan suhu rata-rata 25 derajat C. 185 cm.1 ton daun basah/ha diperoleh daun kering kurang lebih 2. dan 2. Persemaian 166 . Paraserianthes falcataria. Produksi daun basah nilam dari ujicoba ini diperoleh 5. Penelitian dilakukan di persemaian Loka Litbang Hutan Monsoon dengan menggunakan benih sengon dari 7 asal benih (provenans).16 cm.1 ton/ha. Nilam. Jenis Penyakit yang ditemukan di persemaian adalah Oidium sp (Embun tepung) Kata kunci: Sengon.66 cm. Intensitas serangan Eurema spp. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 700 m dpl dengan curah hujan sebanyak 1. Halaman 62-78 . -Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. 0. cukup tinggi yaitu sebesar 30 persen dan lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas serangan Pteroma plagiophelps dan Valanga spp. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umur 3 bulan tanaman sengon pada petak penanaman tahun pertama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tingkat semai sengon dari tujuh asal benih dan jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman sengon tersebut di persemaian.72 cm.76 cm dan 83. masing-masing anak petak dengan tiga ulangan menghasilkan rata-rata diameter masing-masing 0. baik pada umur tanaman yang masih muda (semai) maupun pada tegakan di areal hutan.5 persen dan yang terendah adalah benih sengon yang berasal dari Wonogiri dengan pertambahan tinggi rata-rata 16. Wonogiri. Sehingga dari 5.Rachman. Hutan Rakyat Rachman. Plot ujicoba dirancang dengan pola rotasi pembentukan struktur tegakan normal tanaman sengon dan nilam .68 cm. Hasil pengamatan diketahui bahwa pada umur semai 4 bulan dengan tiga kali pengukuran. 6 Desember 2005 . Semai provenan Wamena rentan terhadap serangan hama Eurema spp.80 cm.6 cm dan persentase hidup 52 persen. Halaman 114-122 .67 cm. Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan rakyat milik petani di Desa Sukamulih.73 cm. Encep PERTUMBUHAN TUJUH PROVENAN SENGON (Paraserianthes Falcataria) DAN IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN / Encep Rachman. dan Rusdi. dan Pteroma plagiophelps dibandingkan semai provenan Kediri. sedangkan untuk penanaman nilam dilakukan serentak pada seluruh petak dalam bentuk jalur diantara tanaman sengon. Pada umur 6 bulan masingmasing ulangan tersebut meningkat menjadi 187 cm. Encep PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM / Encep Rachman dan M.1 cm dan persen hidup 90. 6 Desember 2005 . 86. dan 193 cm. 2005 Salah satu masalah penting yang perlu diatasi dalam pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat adalah pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.8 ton.Sedangkan sasaran penelitian yang ingin dicapai adalah terjadinya peningkatan produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan pada areal hutan rakyat/lahan petani yang sempit. Sedangkan pada umur 6 bulan setiap anak petak menghasilkan diameter rata-rata masing-masing 2.2. Yamin Mile. Penanaman sengon dibagi dalam 6 rotasi tahunan. pertumbuhan tinggi terbaik berasal dari Candiroto dengan pertambahan tinggi rata-rata 35. Penyakit. Hama. kupu-kuning (Eurema spp) dan Belalang (Valanga sp). Hasil penimbangan dari 100 kg daun basah diperoleh sebanyak 55 daun kering. Endah Suhendah. Data tinggi tanaman sengon berumur 3 bulan dari 3 anak petak dengan 3 ulangan masing-masing menghasilkan 87.

hasil yang tinggi tergantung pada daur/rotasi tebang. Lokasi survey adalah di Desa Jonggolsari. Dewi KERJASAMA HULU HILIR DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)/ Dewi Retna I. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan konservasi tanah dan air di bagian hulu DAS dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan adanya biaya dari stakehorders yang mendapat manfaat sebagai akibat adanya kegiatan tersebut. Di samping itu. Penelitian ini adalah penelitian observasi melalui survey pada areal pengembangan hutan rakyat. -. misi dan kebijakan pengelolaan DAS antar pemerintah kabupaten/propinsi.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. perlu ada azas keadilan dalam kerjasama ini. 2006 Air yang merupakan sumberdaya yang mengalir (flowing resource) dari hulu ke hilir dan wilayah DAS yang tidak mempunyai batas yang bertepatan dengan batas wilayah administrasi. Masyarakat yang memperoleh manfaat atas pengelolaan DAS wajib menanggung biaya pengelolaan berdasar prinsip kecukupan dana (cost recovery). pakar sektor bisnis serta pemerintah dari pusat sampai daerah. -. dan 5) diberlakukan reward dan punishment untuk memacu tanggung jawab tiap wilayah untuk melaksanakan pengelolaan DAS. Kata kunci: Pengelolaan DAS. Untu meningkatkan produktivitasnya melalui optimalisasi pengelolaan adalah dengan mengetahui dimensi strukturnya. artinya pihak yang lebih diuntungkan diharapkan dapat memberikan kontribusinya dalam upaya pengelolaan DAS. Heru Dwi MAI DAN CAI ACACIA MANGIUM GUNA PENGATURAN TEGAKAN / Haru Dwi Riyanto. 3) perlibatan berbagai aktor seperti LSM. Kata kunci: Acacia mangium. dimana masyarakat hulu menjaga kuantitas air dengan jalan konservasi tanah di daerah tangkapan air. 2005 Keberadaan hutan rakyat atau hutan milik sebagai salah satu alternatif penyedia kayu. 2006 : Halaman 177-187 . Halaman 121-124 . 2006 Pegelolaan tegakan hutan adalah bagaimana mengelola hutan dalam rangka mendapatkan hasil yang tinggi dalam pemanenan. Satu daur rotasi adalah daur/rotasi volume maksimum. 167 . sedang masyarakat hilir dengan membuat bangunan resapan. Pengaturan Tegakan Riyanto. CAI. Ini mengandung arti ada penanggungan biaya bersama (cost sharing) dalam pengelolaan DAS.Retna I. tujuan-tujuan pengelolaan dan pertimbangan-pertimbangan ekonomi. MAI. 4) peningkatan partisipasi masyarakat lokal pada berbagai tingkat melalui penyuluhan. dalam pengelolaan DAS perlu keterpaduan dan kerjasama antara wilayah hulu dan hilir. Pengukuran diameter. Paper ini adalah untuk menentukan umur daur/rotasi tebang berdasar daur rotasi volume maksimum di lokasi Benakat. tinggi pohon. Sedayu dan Pecekelan. bersamaan dengan makin menurunnya produktivitas hutan alam dari tahun ke tahun. struktur volume. dan hal ini merupakan permasalahan utama yang harus dipecahkan. Heru Dwi PROFIL HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN WONOSOBO: DITINJAU DARI STRUKTUR TEGAKAN DAN VEGETASI PENYUSUNANNYA / Heru Dwi Riyanto dan Wardojo -. bagi industri perkayuan sangatlah penting. Umur ini juga berarti antara grafik MAI dengan grafik CAI. Data dianalisa secara desktiftif serta disajikan secara gambar grafik untuk struktur tegakan. Kabupaten Wonosobo. sering menimbulkan konflik kepentingan antara daerah hulu dan hilir. Waktu periode dari daur/rotasi tebang tergantung pada karakteristik pertumbuhan jenis. Tata Air Riyanto. Oleh karena itu. dan jumlah serta jenis tanaman lainnya adalah kegiatan utama dalam penelitian ini. jumlah batang. dimana pertumbuhan tegakan memberikan hasil tahunan tertinggi. 2) perumusan mekanisme kerjasama. Dalam konsep kerjasama hulu hilir pengelolaan DAS ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:1) harmonisasi dan sinkronisasi visi. 13 September 2005 . Panjang dari daur dengan volume tertinggi adalah titik pertemuan umur tanaman ketika rata-rata riap tahunan (MAI) mencapai maksimum. Upaya keterpaduan dan kerjasama hulu dan hilir ini dapat dilakukan antara lain dengan masingmasing wilayah menjalankan fungsi dan tugas pengelolaan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada di wilayahnya. Hal ini berarti bahwa harus ada komitmen yang kuat upaya dari setiap daerah untuk melakukan kegiatan pengelolaan DAS. 6 Desember 2006 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Disayangkan hutan rakyat tersebut memiliki produktivitas yang rendah.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Halaman 205-215 .

Sehingga riap tahunan periodik rata-rata dari ketiga desa tersebut adalah lebih kurang 19m kubik/ha/tahun. -.1 . Desa Sedayu lebih kurang 10885 tanaman/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 4251 tanaman/ha. Yanto PERSPEKTIF HUTAN ULAYAT DALAM BUDAYA MINANGKABAU (STUDI KASUS DI JORONG KOTO MALINTANG. Kesejahteraan Rakyat Rochmayanto. Keadilan. Syasri Jannetta. Kabupaten Wonosobo Rumboko W.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Ismatul Hakim. Dalam hal ini dalam menerapkan desentralisasi secara benar perlu kembali ke khittah (landasan berpijak)-nya yaitu mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. perlu dilakukan reorientasi terhadap penerapan sistem desentralisasi sektor kehutanan baik pusat maupun daerah. tapi mekanismenya kurang berjalan karena dualisme pengertian dan tumpang tindihnya peraturan. Kondisi ini tidak akan memberikan kontribusi yang baik bagi volume tegakan berdiri. hasil hutan bukan kayu. 2006 Desentralisasi pada dasarnya merupakan konsekwensi dari semakin tingginya tuntutan perubahan (reformasi) di birokrasi dan keadilan yang merata di masyarakat. Kata kunci: Hutan Rakyat. sosial budaya. Selain itu. sanksi dan kelembagaan. yang meliputi : stasus tanah. Volume tegakan berdiri di Desa Jonggolsari lebih kurang 90 m kubik/ha. mekanisme pengelolaan. karena yang ditekankan selama ini adalah manfaat lindung dan koservasi. 4 . Malinau. belum terlihat dalam bentuk rebutan tanggung jawab menjaga kelestarian hutan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.serta menggunakan indeks nilai penting untuk komposisi vegetasi.408. Melihat kecenderungan diatas. Halaman 281-296 . KABUPATEN AGAM) / Yanto Rochmayanto . Hasil penelitian di Nagari Duo Koto Kabupaten Agam. dan nilai ekspor 6. Dalam perkembangannya. sifat hak. Hasil menunjukkan bahwa diameter kecil (sampling/pancang) memiliki jumlah yang lebih besar (74 persen) dibanding diameter yang lebih besar (pole/tiang) (23 persen) dan trees/pohon (3 persen). desentralisasi menjadi ajang rebutan hak dan wewenang terhadap hasil hutan kayu dari hutan alam. Tateng Sasmita . riap ini berarti produktivitas pertumbuhan pohon/tegakannya. Kotawaringin Timur. menunjukkan bahwa hutan ulayat dalam pandangan Minangkabau telah diatur secara lengkap. Halaman 1-12 . sehingga dapat menjadi unggulan bagi pengembangan HHBK di hutan ulayat. Desa Sedayu lebih kurang 70 meter kubik/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 70 m kubik/ha. desentralisasi sudah menjadi salah kaprah bagi masing-masing pihak yang menonjolkan arogansi kekuasaan. munculnya aktor-aktor baru yang saling membekingi satu sama lain dan meningkatnya nafsu Pemda untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).000 US $ pada tahun 2003. fungsi ulayat. Demokratisasi. -. Lukas DAMPAK DESENTRALISASI DI SEKTOR KEHUTANAN / Lukas Rumboko W. Namun demikian. Di sektor kehutanan. Kerapatan tanaman di Desa Jonggolsari lebih kurang 24188 tanaman/ha. manajemen produksi. Kapuas dan Barito telah semakin meningkatkan kegiatan illegal logging (pencurian kayu). dan merupakan hasil kriteria sejarah dan ekonomi. Kata Kunci : Desentralisasi. 2006 Hambatan utama pengembangan hutan ulayat terletak pada dimensi hukum dan ekonomi. Meski secara hukum keberadaannya diakui. hutan ulayat sangat potensial secara sosial budaya sebagai asset bangsa dalam menyediakan alternatif model pengelolaan sumber daya hutan. penelitian mengenai hutan ulayat dalam pandangan sosial budaya diperlukan untuk menjawab kendala pengembangan di atas. Struktur Tegakan. Hutan Lestari. dengan istilah lain disebut pelegalan kayu-kayu illegal. Kayu manis adalah komoditi yang tercatat di BPS Propinsi Sumatera Barat yang memiliki kapasitas ekspor cukup tinggi dengan volume ekspor 12. Hasil kajian oleh Centre For International Forestry Research (CIFOR) tahun 2003 menunjukkan bahwa desentralisasi sektor kehutanan di wilayah potensial seperti Propinsi Riau dan Kalimantan Timur seperti : Kutai Barat. 168 . Bahkan di Kota Waringin terjadi penetapan pungutan atas pengangkutan kayu illegal. . Komposisi dan struktur hutan ulayat tidak homogen. manfaat ekonomi hasil hutan bukan kayu belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Kata kunci : Hutan ulayat. Illegal logging.755 ton. Oleh karena itu.

. 6 Desember 2006 . Halaman 87-102 . jelutung. 2006 Perpaduan industri rumah tangga dan kearifan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya hutan memiliki prospek yang baik jika mendapat sentuhan manajemen dan investasi. gaharu. Industri rumah tangga lebih banyak bergerak dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). diperbanyak. Sejumlah jenis mikroba telah diidentifikasi. Maman Turjaman. Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan melalui pemanfaatan kayu dari hutan tanaman. dan dipelihara pada media tumbuh mikroba. meranti. screening dan ujicoba dalam skala laboratorium. baik untuk kayu serat. Dalam tulisan ini diuraikan hasil penelitian dasar dan aplikatif mulai dari eksplorasi mikroba.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Kemungkinan kerja sama dengan luar negeri bisa langsung menyentuh ke masyarakat di daerah dengan bantuan teknis pemerintah pusat.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.al) .Rochmayanto. 2006 Keterpurukan industri pengolahan kayu di indonesia dewasa ini sudah mencapai titik kulminasi yang memerlukan penanganan menyeruluh dari berbagai aspek. khususnya yang menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. Sasaran utamanya adalah melalui kerja sama internasional industri rumah tangga hasil hutan bukan kayu dapat menjadi sektor ekonomi di bidang kehutanan yang kuat. Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. 4 . sistem pemasaran dan perluasan pasar. 169 . Industri rumah tangga ini telah terbukti dengan limbah dan kerusakan sumber daya minimal. Tulisan ini mengemukakan rangkuman hasil-hasil penelitian mengenai teknologi pemanfaatan kayu mangium sebagai bahan industri olahan dan ekstrak kulitnya sebagai bahan perekat kayu. jati. persemaian dan lapangan. kayu pertukangan maupun energi )bahan bakar & arang). Beberapa jenis komoditi tanaman hutan yang penting telah memberikan pertumbuhan yang lebih baik setelah diinokulasi oleh beberapa jenis mikroba. Kata kunci: Acacia mangium. bintangur dan pinus. salah satunya adalah mangium (Acacia mangium Willd) yang sampai saat ini telah mengalami spektrum lebih luas. Ragil SB Irianto. Adi TEKNOLOGI PEMANFAATAN KAYU ACACIA MANGIUM / Adi Santoso. 6 Desember 2006 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. mampu memberikan produk yang cukup diperhitungkan di pasaran.(et. Teknologi Santoso. Kata kunci : Industri rumah tangga. Mikroba Simbiotik Santoso. Hal ini telah seiring dengan pergeseran paradigma Timber Management ke Social Forestry yang tidak menekankan kayu sebagai satu-satunya produk yang bernilai ekonomis dari hutan. berwawasan lingkungan. Halaman 73-85 . Erdy PROSPEK APLIKASI TEKNOLOGI MIKROBA SIMBIOTIK DALAM MEMPERCEPAT REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TERDEGRADASI / Erdy Santoso. hasil hutan bukan kayu. Kerja sama internasional dapat menumbuh kembangkan industri rumah tangga HHBK menjadi arena usaha yang memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pendekatan permodalan. -. selain itu kulit kayu mangium mengandung tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan perekat kayu. kerja sama internasional. 2006 Makalah ini mendiskusikan hasil-hasil penelitian tentang prospek aplikasi teknologi mikroba simbiotik dalam mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi. berskala internasional dan berbasis masyarakat. Yanto PENGEMBANGAN POLA KEARIFAN LOKAL MENJADI INDUSTRI RUMAH TANGGA HASIL HUTAN BUKAN KAYU / Yanto Rochmayanto. -. pulai. diantaranya jenis-jenis akasia. Teknologi produksi massal telah dikembangkan untuk setiap jenis mikroba dan aplikasinya dapat digunakan untuk skala massal. Halaman 297-308 . Salah satunya adaah menyeimbangkan dengan segera pasokan bahan baku kayu guna memenuhi kapasitas industri pengolahan kayu. Pemanfaatan Kayu. -. Dari hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan aplikasi teknologi mikroba dapat membantu peningkatan produksi bibit tanaman hutan dalam skala massal dan komersial. ekaliptus. kearifan tradisional. Otonomi daerah dapat diarahkan untuk memberikan jaminan birokrasi yang lebih pendek..

2004).Subarudi MEGAPOLITAN. tanggal 20 pebruari 2004. pemerintah DKI berusaha dan berupaya agar konsep seperti itu dapat menggapai lebih luas bagi wilayah perencanaannya dengan mengikutsertakan 2 provinsi tetangganya yang dikenal dengan konsep megapolitan. tingginya laju erosi dan besarnya peluang terjadinya banjir dan kekeringan yang berdampak kepada menurunnya kualitas kehidupan. Halaman 177-188 . Rehabiitasi lahan. Berkaitan dengan hal tersebut diatas. Jenis ini merupakan salah satu prioritas dalam pengembangan hutan tanaman. tingkat efisiensi di persemaianpun dapat ditingkatkan 170 . Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas tegakan dan target penanaman yang harus dicapai. 2005 Pembangunan kehutanan di Indonesia pada saat ini dan masa yang akan datang menghadapi tantangan dan hambatan yang semakin kompleks. 2004). TEKNOLOGI PERBENIHAN DAN PERBIBITAN ACACIA MANGIUM/ Dede R.5 juta ha/tahun. bisnis. Tanggerang dan Bekasi). KONSEP KONPENSASI HULU HILIR/ Subarudi. Disamping itu. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Halaman 7-22 . kebijakan nasional khususnya kebijakan yang menyangkut otonomi daerah dirasakan masih belum sepenuhnya dapat mendukung kemantapan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. (2) mengevaluasi pelaksanaan RHL. 6 Desember 2006 . Kata kunci: Kebijakan. penggembalaan liar. (iii) kelemahan dan kelebihan konsep megapolitan. Oleh karena itu upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis (RHL) merupakan salah satu prioritas pembangunan sektor kehutanan. dengan menerapkan teknologi perbenihan dan pembibitan. 2006 : Halaman 219-225 . dan (iv) strategi penerapan megapolitan di masa depan. (ii) resistensi di era otonomi daerah. pemerintah NTT telah mengesahkan "Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2004-2008" melalui SK Gubernur NTT No: Tahun 2004. Sebenarnya konsep Megapolitan bukanlah konsep baru dalam upaya menggabungkan perencanaan di wilayah yang termasuk dalam 3 provinsi. Otonomi daerah Subarudi KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN: STUDI KASUS DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)/ Subarudi dan Iis Alviya. dan Banten. 2006 Acacia mangium merupakan jenis pioner yang mampu tumbuh pada lahan yang marjinal. 2006 Konsep Megapolitan yang diusung oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) mendapat tanggapan yang luas dari beberapa pakar hukum. Kegagalan penyediaan bibit siap tanam di lapangan seringkali disebabkan oleh minimnya penguasaan teknologi perbenihan dan pembibitan. Nusa Tenggara Timur Sudrajat. jawa Barat. Konsep ini sebenarnya sudah lama diterapkan oleh Pemerintah DKI dalam perencanaan internalnya yang sudah umum dikenal sebagai kawasan Jabotabek (Jakarta. yaitu DKI.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Tulisan ini akan membahas dan menguak secara detail tentang konsep megapolitan yang meliputi: (i) gambaran umum tentang megapolitan. Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengetahui tentang kebijakan RHL di NTT.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya laju kerusakan hutan yang mencapai 2. Selain itu. Dede J. lingkungan. Luasnya kerusakan sumberdaya hutan telah menyebabkan mundurnya kualitas lingkungan hidup yang diindikasikan dengan rendahnya produktivitas lahan. Kemungkinan setelah sukses dengan konsep "internal" Jabotabeknya. masih terjadi kesimpangsiuran dalam menjabarkan kebijakan dimaksud sehingga dalam masa transisi ini masih diperlukan adanya upaya-upaya untuk menyelaraskan persepsi dan visi dalam merumuskan kebijakan strategis di bidang pembangunan kehutanan baik nasional dan regional maupun tingkat lokal (NTT. dan birokrat di wilayah lingkungan yang terkait dengan konsep tersebut. Rehabilitasi hutan. 13 September 2005 . dan (4) merumuskan penyempurnaan kebijakan RHL di NTT. Kata kunci: Megapolitan. -. Konsep megapolitan ini banyak menimbulkan pro dan kontra dari para pihak sehingga kajian yang menyeluruh dan netral tentang hal ini sangat diperlukan sehingga konsep ini dapat diterapkan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Bogor. perambahan kawasan hutan dan illegal logging (NTT. (3) menganalisis pembiayaan RHL. Laju kerusakan hutan khususnya di wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) disebabkan oleh kebakaran hutan. -. Sudrajat dan Nurhasybi.

dan diperkirakan hanya kurang dari 5 persen yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat.Studi ini merupakan tinjauan empirik terhadap beberapa kegiatan tersebut di atas.(meningkatnya keberhasilan penyediaan bibit akan menyebabkan biaya per satuan bibit siap tanam menurun) yang akhirnya akan berpengaruh terhadap mutu tegakan yang dihasilkan. 2003). kayu bakar) dipenuhi dari kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat (Djaja Percunda. Kata kunci: Hutan Rakyat. seperti Proyek MA-LU. sementara itu pasokan kayu dari hutan alam dan hutan tanaman hanya mampu mencapai sekitar 25 juta M kubik/tahun (RLPS. 2002). 2006 Hutan pegang peranan penting. kab. dan Sudarmanto. Halaman 65-71 .000 M kubik/tahun seperti diutarakan di atas.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.000 M kubik/tahun.000 M kubik/tahun yang tercatat melalui pelayanan SKAUK dan SKSHH (Dishut Ciamis. Informasi pengembangan teknologi perbenihan dan pembibitan yang dihasilkan dari beberapa penelitian seyogyanya dapat menjadi acuan bagi praktisi di lapangan guna meningkatkan keberhasilan penanaman jenis ini. Pembibitan. Sementara itu produksi kayu rakyat mencapai sekitar 326. 2003). kebutuhan terhadap bahan baku kayu juga akan terus meningkat. Perbenihan. Disimpulkan bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara usaha ekonomi dan usaha ekologi dalam pengelolaan hutan. Manajemen Sukrianto. Kegiatan agribisnis perhutanan dapat menggerakkan. yang mana penulis pernah terlibat didalamnya. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan jenis ini. 2005). Halaman 129-133 .2006 . terutama bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang terus meningkat seperti diutarakan di atas.375.1. 2006 Sejalan dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk. Kata kunci: Kayu Rakyat. Ditingkat lokal untuk memenuhi seluruh industri penggergajian kayu sekitar 400 unit diperlukan pasokan bahan baku antara 688. kegiatan penghijauan. Kebutuhan kayu secara Nasional diperkirakan mencapai 60 juta M kubik/tahun.285 . Dedi TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EKONOMI DAN MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT / Dedi Sufyadi. LSM dan masyarakat akan pentingnya kelestarian hutan. Ekonomi. Kondisi tersebut di atas menunjukan bahwa betapa besarnya kesenjangan antara pasokan (suply) dan kebutuhan (demand) kayu yang berasal dari hutan negara. Fakta menunjukan bahwa 70-90 persen kebutuhan kayu di Pulau Jawa (kayu pertukangan. Di pulau jawa yang mempunyai penduduk paling besar.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Pengelolaan hutan memerlukan adanya peran serta aktif dari berbagai komponen masyarakat mulai dari satuan rumah tangga. Dalam beberapa tahun kedepan kesenjangan ini akan semakin besar karena pemerintah telah menerapkan pembatasan penerbangan dari hutan alam dan juga dari hutan tanaman. sedangkan produksi kayu Perhutani hanya mencapai 1. Pertumbuhan Industri yang mengolah bahan baku kayu di tingkat lokal maupun regional (Jawa Barat dan Jawa Tengah) saat ini telah meningkatkan kebutuhan bahan baku kayu rakyat secara signifikan. 2006). Disarankan bahwa seluruh komponen masyarakat apapun statusnya perlu memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama bahwa hutan lestari dapat menyelamatkan kehidupan kita. dan kegiatan agribisnis perhutanan. Ciamis 171 . -. Supply-Demand.5 juta M kubik/tahun (Suryohadi Kusumo dalam Suyarno dan Dian Diniyati. Sementara itu pasokan kayu rakyat dari kabupaten Ciamis hanya mampu mencapai 326. Proyek MA-LU dapat menggerakkan pusat kekuasaan di desa sekitar hutan dalam menyelamatkan hutan. Berbagai komponen masyarakat dalam pengelolaan hasil hutan. Subarudi. Teknologi perbenihan Sufyadi. Di kabupaten Ciamis produksi kayu dari Perum Perhutani hanya mencapai rata-rata sekitar 35. Tiwa PENGELOLAAN SUPPLY-DEMAND KAYU RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS / Tiwa Sukrianto. perlu dukungan teknologi perbenihan dan pembibitan yang tepat.571 M kubik/tahun (Subarudi.2006 . dan meningkatnya pembangunan ekonomi. pemerintah hingga perusahaan baik usaha besar maupun usaha koperasi dan UKM. Kegiatan penghijauan dapat menggerakkan aparatur pemerintah. -. Kata kunci: Acacia mangium. Kelompok Tani. Berbagai kegiatan telah diikhtiarkan oleh pemerintah melalui beberapa kegiatan. kebutuhan kayu mencapai 9 juta M kubik/tahun.

Kata kunci: DAS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hutan jati dalam menjaga tata air. Total nilai kalor tumbuhan bawah pada tegakan A. KPH Cepu.ditunjukan nilai rata-rata koefisien limpasan yang lebih kecil dengan fluktuasi yang stabil. ranting. dengan nilai terkecil 0. SUMATERA SELATAN / Agung B. 6 Desember 2006 . diperlukan informasi karakteristik nilai kalor dan potensi energi yang tersimpan pada biomasa tegakan hutan. kabupaten Blora. Supangat. mangium semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai CicatihCimandiri. melalui pengamatan papameter tata air pada DAS. mangium). MANGIUM): STUDI KASUS DI HTI PT. nilai kalor dan total energi dari masing-masing biomasa hutan pada lahan tegakan Akasia (A. pada sub DAS kawasan hutan lebih baik dalam mengendalikan kedua parameter tersebut. Kata kunci: Acacia mangium. Pengaruh umur tanaman A. baik pada batang. Musi Hutan Persada Sumatera Selatan. INFORMASI NILAI KALOR BIOMASA HUTAN PADA LAHAN TEGAKAN AKASIA MANGIUM (A. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomasa.mangium cenderung semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Potensi energi biomasa hutan A. Hasil penelitian di atas dapat menjadi masukan bagi pengelola kawasan. maka peningkatan panas bumi akibat kenaikan GRK yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dapat ditekan. dan Sub DAS Soko (di luar kawasan) di kecamatan Bogorejo. Cadangan air tanah yang dikeluarkan pada musim kering sebagai aliran dasar lebih banyak (stabil) terjadi pada erosi dan laju sedimentasi.mangium. HTI. baik terhadap tanaman A. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama periode 1998-2004.Supangat. -. Agung B. tumbuhan bawah. MUSI HUTAN PERSADA. dapat disimpulkan bahwa secara umum berdasarkan nilai parameter hidrologi tahunan sub DAS kawasan hutan jati lebih baik dalam mengendalikan hujan untuk menjadi aliran permukaan. mangium. mangium sangat nyata terhadap parameter nilai kalor dan potensi energi. PERAN HUTAN TANAMAN JATI SEBAGAI PENGATUR TATA AIR: STUDI KASUS DI SUB DAS KAWASAN HUTAN JATI DI KPH CEPU / Agung B.52 Giga Joule/Ha. Segala tindakan pengelolaan hutan maupun gangguan yang terjadi akan menpengaruhi kondisi tata air DAS. R. baik kawasan hutan maupun non hutan tentang pentingnya mempertahankan kawasan hutan dalam suatu wilayah DAS. KPH Cepu Supangat.mangium mempunyai nilai rata-rata sebesar 4. Musi Hutan Persada 172 . Melalui upaya mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism. dan terbesar 8.mangium tidak memperlihatkan kecenderungan meningkat.97 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 1 tahun. dan Ragil Bambang WMP. Total potensi energi tanaman A. Hasil penelitian penunjukan bahwa nilai kalor tanaman A. Untuk mendukung hal tersebut. Supangat dan Paimin. 2006 Keberadaan Hutan dalam DAS diketahui selain befungsi produksi (kayu).67 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 7 tahun. 2006 Salah satu fungsi hutan adalah penyimpan kalor dalam bentuk karbon (Kayu) yang berpotensi untuk mengurangi terjadinya emisi karbon yang dapat menyebabkan kenaikan gas rumah kaca (GRK). Tata Air. Agung B. -. CDM) serta international Emmision Trading (Carbon Trading). 2006 : Halaman 161-174 . serta antara daun dan serasah tanaman A. Penelitian dilaksanakan di Sub DAS Modang di areal hutan Jati di wilayah RPH Ngawenan. dimanfaatkan untuk menilai kondisi hidrologi yang dihasilkan. Sudrajat. Biomasa Hutan. Oleh karenanya disarankan dalam perencanaan pengelolaan suatu wilayah DAS untuk menambah dan mempertahankan kawasan hutan terutama pada kawasan yang diperuntukan sebagai kawasan konservasi dan rawan bencana. Halaman 125135 . Nilai Kalor. mangium dipengaruhi total nilai kalor dan potensi biomasa per hektar. Hutan Tanaman Jati. Model DAS berpasangan antara DAS di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. maupun daun. BKPH Pasarsore. Total potensi energi tiap-tiap umur tanaman A. juga berperan sebagai pengatur kondisi hidrologis DAS. dengan studi kasus di PT.

Pertama. Di kabupaten Wonogiri.kedua. Wonogiri Supriadi PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI STASION PENELITIAN DAN UJI COBA BORISALLO. Sulawesi Selatan menggunakan metodologi penelitian aksi partisipatif atau partisipatory Action Research (PAR) untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasi masyarakat dalam proses manajemen.tahapan kegiatannya terdiri dari (1) identifikasi dan karakterisasi lokasi baik secara sosial ekonomi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. penjarangan dan pemupukan yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas hasil kayu. Semakin luasnya hutan rakyat tersebut merupakan peralihan fungsi dari lahan tegal atau pekarangan. (2) identifikasi masalah dan kebutuhan lokal spesifik. Kata kunci: Hutan Rakyat.2006 . Akibatnya pertambahan dan kecepatan nilai ekonomi dari hasil kayu tidak bisa memberi sumbangan secara cepat kepada petani. Teguh PENGALAMAN DALAM PENGAWALAN MENUJU SERTIFIKASI ECOLABEL HUTAN RAKYAT: CERITA DARI WONOGIRI / Teguh Suprapto. pertama penguatan institusi petani dan peningkatan kapasitas petani dalam hal pengelolaan produksinya dalam 2 unit manajemen.000. Laju tersebut diperkirakan mencapai 28 ha/menit. dan kedua. dapat dilakukan pendekatan dalam pengembangan hutan rakyat yang mengarah pada perbaikan nilai secara ekonomi maupun ekologi. dan (4) monitoring-evaluasi dampak manajemen.000 m kubik jati diproduksi oleh hutan rakyat di Jawa (Dephut. Tulisan ini merupakan hasil sintesa mengenai proses manajemen multipihak yang cocok diterapkan dalam pengembangan sosial forestry di SPUC Borisallo. Keterbatasan dari aspek silvikultur pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya perawatan seperti perempelan. Sulawesi Selatan 173 . baik dalam pasar domestik maupun global.000 m kubik. Sementara itu. terbatasnya pengetahuan petani dalam hal pasar dan pemasaran produk kayu jati. Besarnya angka-angka di atas menunjukan betapa pentingnya nilai strategis hutan rakyat sebagai penopang ekonomi dan sekaligus penyangga secara ekologis. formulasi aturan main manajemen/implementasi dan monitoring-evaluasi. Kata kunci: Kelembagaan. Untuk itu perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI) bekerja sama dengan yayasan WWF Indonesia dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) melakukan kerjasama dalam pelaksanaan program "Menuju Sertifikasi Hutan Rakyat dan Pengembangan Akses Pasar Global". SULAWESI SELATAN / R. (3) fasilitas proses manajemen.Suprapto. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa proses manajemen multipihak akan terdiri dari proses kajian dan analisa. Dalam rentang 5 tahun terakhir. masih kurangnya pemahaman pada aspek-aspek silvikultur. 2006 Tingginya laju penebangan hutan di Indonesia semenjak tahun 1998. dari jumlah tersebut. Permasalahan tersebut diantaranya rendahnya harga kayu yang diterima oleh petani hutan. Dengan luasan areal hutan sebesar 1. sosial kelembagaan maupun biofisik. rendahnya harga kayu yang diterima. keempat. pengembangan perdagangannya (pemasarannya). serta keenam kurang berkembangnya pengembangan usaha-usaha produktif dari hasil non kayu maupun produk dari hasil olahan kayu. 23. 13 September 2005 . Kelima. ketiga lemahnya posisi tawar dalam penentuan harga kayu. -Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Keseluruhan tahapan kegiatan tersebut dilakukan secara partisipatif oleh seluruh pihak terkait. diakui bahwa terdapat sejumlah permasalahan mendasar dalam hal pengelolaan hutan rakyat secara umum. 2003). 2005 Kebijakan sosial forestry merupakan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam sistem pengelolaan hutan. Halaman 43-50 . telah menjadi persoalan serius. diperlukan instrumen manajemen untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasinya tersebut. tiadanya jaringan informasi harga kayu dan jaringan pemasaran yang memihak mereka. Dengan demikian sekurangnya dapat dilakukan dua hal. SupriadiProsiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. sehingga mempersempit sisa hutan dunia yang tinggal 40 persen. Meskipun demikian. masih lemahnya organisasi petani dalam satuan unit manajemen. hutan rakyat yang biasa oleh masyarakat disebut dengan wono atau alas makin tahun menunjukan jumlah luasan secara berarti.000. Sosial Forestry. Dalam praktiknya. Ekolabel. Halaman 217-225 . SPUC Borisallo. potensi produksi kayu dari hutan rakyat mencapai 43. Sekalipun begitu.3 juta ha di seluruh Indonesia. berbicara pengembangan hutan rakyat masih dijumpai beberapa permasalahan. penambahan luasan hutan rakyat rerata 250 ha setiap tahunnya. lemahnya posisi tawar petani dalam proses tawar menawar.

seperti keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora. dan pembagian hasil usaha serta pembangunan kelembagaan kelompok. 2005 Seiring dengan masih meningkatnya laju kerusakan dan perambahan hutan maka program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan terus dikembangkan. Berkaca pada fenomena tersebut pemilihan komoditas atau aktivitas program yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan. 2005 Permasalahan klasik yang sering kita temui dalam pengembangan usaha di bidang pertanian khususnya pada tatanan sub sistem usahatani (on farm) yang melibatkan masyarakat banyak. lebih besar dibandingkan dengan profit income untuk petani peserta program. Kata kunci: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. -. kalaupun mendapatkan pasar. PHBM. sumberdaya manusia yang tersedia belum memenuhi standar yang dibutuhhkan program. -. keterampilan petani belum mencapai standar yang dibutuhkan untuk mengelola aktivitas program yang dikembangkan.1 . Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sejak tahun 2000 telah dicanangkan melalui program pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Namun demikian memilih komoditas atau aktivitas yang tepat bukan perkara yang terlalu mudah. sehingga insentif untuk menggairahkan petani pekerja bersungguh-sungguh dan mencurahkan seluruh kapasitasnya tidak tercapai. Hutan Kemasyarakatan. diantaranya adalah: Produk hasil usaha petani sulit menjangkau akses pasar. Berkaitan dengan hal itulah penulis mencoba menyajikan suatu panduan sederhana untuk memilih komoditas atau aktivitas yang diharapkan hasilnya mendekati target yang diharapkan. Kata kunci: Hutan Rakyat.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Taman Nasional Gede Pangrango memiliki berbagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA).Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Terlibatnya berbagai stakeholder dalam pengelolaan hutan salah satunya diwujudkan dalam pengelolaan hutan yang berbasis PHBM di KPH Tasikmalaya. Akar permasalahan biasanya erat kaitannya dengan aspek-aspek usahatani yaitu ukuran (size) usahatani yang dikelola tidak mencapai skala ekonomi (economic scale). Halaman 185-193 .prasarana dan sarana penunjang masih sangat minim dan lain sebagainya. Halaman 22-33 .Adapun distribusi yang diberikan oleh semua pihak yang terlibat dalam pembangunan PHBM merupakan hasil kesepakatan bersama yang didasarkan atas konsep sharing baik dalam penyertaan modal maupun pembagian hasil usaha. 2006 Influences to a Tourism Visitor in Gede Pangrango National Park (GPNP)) / Epi Syahadat. produk yang dipasarkan masih dalam bentuk primer. harga yang diterima petani tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan. Perum Pehutani dan pihak swasta mulai dari perencanaan. memerlukan pemikiran dan perhitungan yang akurat. Kelayakan usaha Syahadat. sehingga susah dijual. namun juga terlalu besar volumenya apabila hanya untuk dikonsumsi oleh keluarga petani. sangat mungkin social benefit income atau keuntungan normatif dari suatu program. 6 Desember 2005 . Permasalahan-permasalahan tersebut juga sangat mungkin kita temui dalam rangka pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. -. KPH Tasikmalaya Suprianto PANDUAN ANALISIS KELAYAKAN USAHA KOMODITAS YANG DIKEMBANGKAN PADA HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN / Suprianto. Jumlah kunjungan ke Taman Nasional Gede Pangrango dapat dipengaruhi oleh faktor 174 . fauna. yang pada dasarnya sudah dimulai sejak dulu. maupun ekosistemnya termasuk keindahan panorama alamnya. Pelaksanaan. sehingga nilai tambah buat petani masih sangat kecil. 6 Desember 2005 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Halaman 17-40 . dimana program ini membuka ruang yang luas bagi berbagai pihak untuk berperan serta dalam pengelolaan hutan.Manfaat ekologis dan sosial suatu program mungkin lebih besar dibandingkan dengan manfaat ekonomis. Epi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN WISATAWAN DI TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (The Factors with are Kehutanan : Volume 3 No. Program PHBM ini melibatkan masyarakat sekitar hutan. program kurang berbasis pada sumberdaya lokal.Suyarno KONTRIBUSI SWASTA DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM PHBM DI KPH TASIKMALAYA / Suyarno.Pada gilirannya pencapaian target program kurang maksimal. Pada akhirnya. volume hasil produksi usahatani terlalu kecil untuk dijual.

Akan tetapi secara parsial. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. (GPNP) Management Strategy For Tourism Development In Forest Area) / Epi Syahadat. (Study on Forest Product Administration Orientation in Community Forest as a Basic Reference in Community Forest Usage) / Epi Pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) merupakan bagian integral dari pembangunan kepariwisataan nasional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2005 dengan penentuan sampel secara accidental sampling yang dilakukan secara acak sederhana. 2006 Penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat belum tertata dengan baik dan pelaksanaannya oleh petugas atau oleh instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. Adapun strategi pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam meliputi pengembangan : 175 . kelancaran. faktor obyek dan daya tarik wisata alam. Analisa SWOT dilaksanakan untuk menyusun strategi peluang usaha di Taman Nasional Gede Pangrango. dan faktor keamanan secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh terhadap jumlah pengunjung akan tetapi tidak secara nyata (tidak signifikan) di Taman Nasional Gede Pangrango. Karena itu untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut secara bersama-sama (simultan) terhadap jumlah pengunjung. pemerintah. wawancara. maupun duplikasi data sekunder. penatausahaan hasil hutan. sarana prasarana. faktor obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). faktor sarana prasarana. khususnya kebijakan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat. Epi ANALISA STRATEGI PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (TNGP) UNTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA ALAM DI KAWASAN HUTAN (An Analysis of Gede Pangrango National Park Syahadat. Syahadat. Kajian penatausahaan hasil hutan pada hutan rakyat dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan yang menyebabkan tidak efektif mengendalikan peredaran kayu.2 . maka dilakukan penelitian ini. yaitu : pariwisata nasional. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata alam. keamanan. -. Halaman 117-132 . penataan ruang serta peraturan perundangan. faktor sarana prasarana.1 . sosial ekonomi dan budaya. dengan jumlah responden sebanyak 142 orang. 2006 Syahadat. dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan rakyat dapat tercipta dengan baik.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. -. peredaran.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. pengolahan data dilakukan menggunakan program “SPSS for windows versi 12”. selain daripada itu pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional. Keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan nasional di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dapat dicapai atau di raih berkat keterpaduan dan kesinergian antara kekuatan masyarakat. Kata kunci : Hutan rakyat. sampai kepada pengangkutan hasil hutan perlu disederhanakan tanpa mengurangi fungsi penatausahaan hasil hutan yang efektif dalam melestarikan hutan dan mejamin hak-hak negara atas hasil hutan. Sehubungan dengan hal tersebut maka pelaksanaan pengembangan pengelolaan kepariwisataan di Taman Nasional Gede Pangrango harus mampu menjadi sarana untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan yang ada. media masa. pelayanan. perencanaan kawasan. obyek dan daya tarik wisata alam. dari keempat faktor tersebut faktor keamanan yang mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) dan dominan terhadap jumlah pengunjung di Taman Nasional Gede Pangrango. pengangkutan.pelayanan. pengelolaan lingkungan. dan faktor keamanan. Kata kunci : Taman Nasional Gede Pangrango. Penyempurnaan mulai dari pembuatan Surat Izin Penebangan (SIP) serta perlu adanya berita acara pemeriksaan penebangan sebelum pengesahan LHP. pemanfaatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pelayanan. Epi KAJIAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN RAKYAT SEBAGAI DASAR ACUAN PEMANFAATAN HUTAN RAKYAT Hasil kajian menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu disempurnakan dalam aturan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat agar ketertiban. dan pengusaha pariwisata. Pengumpulan data dilakukan dengan cara orientasi lapangan. Halaman 75-90 .

Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. Kata kunci : taman nasional gede pangrango. sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No 126/2003. Oleh karena itu kajian kelembagaan pengelolan TN sangat diperlukan untuk mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan yang muncul dibidang peraturan dan kebijakan. Halaman 317-331 . kesejahteraan masyarakat. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. wisata alam. hasil kajian menunjukan bahwa kebijakan pengelolaan TN yang menggunakan pendekatan keamanan (security approach) harus sudah ditinggalkan dan menggantinya dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dan berbasis masyarakat. kondisi SDM. perijinan. dan Nomor P. -.aspek perencanaan pembangunan. Kata kunci: Penatausahaan. sedangkan jenis kayu lainnya akan diatur kemudian oleh Menteri Kehutanan atas dasar usulan dari masing-masing Dinas Provinsi. kelestarian alam. Dokumen angkutan kayu rakyat yang berlaku pada saat ini adalah SKSHH yang di cap Kayu Rakyat (KR). Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. Syahadat.26/2005. aspek pengusahaan. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Apul Sianturi.25 juta hektar yang meliputi 486 unit kawasan (447 unit atau 82 persen konservasi daratan dan 39 unit konservasi laut) dengan lokasi yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.18/2005.51/2006. akan tetapi SKAU ini hanya terbatas kepada 3 (tiga) jenis kayu. kayu karet dan kayu kelapa. 2005 Saat ini luas kawasan konservasi di Indonesia mencapai 26. Subarudi KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL: STUDI KASUS PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL DI PULAU JAWA / Subarudi. aspek peran serta masyarakat dan penelitian dan pengembangan. kayu rakyat. Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001. Kualitas SDM yang bekerja di TN yang disurvey didominasi oleh lulusan SLTA dan SLTP dan hanya sedikit pegawai yang berpendidikan sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2) sehingga hal ini akan menjadi hambatan besar dalam rencana perubahan (agent of changes) pengelolaan TN yang lebih profesional. sesuai dengan Peraturam Menteri Kehutanan Nomor P. dan struktur pembiayaan dalam pengelolaannya. Oleh karena itu pengelolaan dan pengembangan taman 176 . Penyeragaman struktur organisasi TN hendaknya dihindari karena karakteristik pengelolaan dan permasalahan yang dihadapi berbeda-beda untuk setiap TN. penebangan. organisasi. Halaman 97113 . aspek pemasaran. Epi KAJIAN PENYEMPUNAAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN HAK RAKYAT (KASUS DI PROVINSI JAWA BARAT) / Epi Syahadat . rata-rata pembiayaan tahunan untuk operasional TN yang disurvey berkisar antara Rp.4 . pengembangan pariwisata. aspek sarana dan prasarana.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Pengelolaan taman nasional (TN) saat ini dirasakan masih jauh dari kesan profesionalisme dan menguntungkan (profitable) karena selama ini pengelolaan TN diidentikan dengan pusat pengeluaran biaya (cost centre). mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan serta mengkaji kemampuan petugas dalam memantau produksi dan peredaran hasil hutan. 1-4 milyar dan sumber dananya berasal dari angaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebanyak 20 persen dan sisanya (80 persen) berasal dari dana Reboisasi (DR) dan dana provisi sumber daya hutan (PSDH). dan menguntungkan. aspek pengelolaan. Nomor P. 13 September 2005 . yaitu Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) sebagai dokumen resmi angkutan kayu rakyat yang diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat yang setara. Dimasa yang akan datang dalam pengangkutan kayu rakyat akan diberlakukan dokumen angkutan lain selain SKSHH yang di cap KR. bertanggung jawab. peredaran. -. Kajian penyempurnaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat (kasus di Provinsi Jawa Barat) dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat yang menyebabkan tidak efektif dalam mengendalikan peredaran hasil hutan. yaitu kayu sengon. pengangkutan. kawasan hutan . aspek kelembagaan. sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003.51/Menhut-II/2006.

2006 Tekanan terhadap hutan semakin meningkat baik terhadap lahan kawasan hutan maupun hasil hutan dengan semakin merebaknya tingkat gangguan keamanan hutan berupa pencurian hasil hutan dan perambahan hutan. Strategi penyusunan konsep makro hendaknya tidak diberikan kepada pihak ketiga tetapi dikerjakan secara bersama dengan menggunakan pendekatan manajemen fungsi bagi setiap unit eselon I lingkup Dephut. dan di luar kawasan hutan seluas 514. juga mendukung penyediaan bahan baku kayu Jawa barat. maka perlu ditunjang pula dengan merehabilitasi lahan-lahan diluar kawasan hutan. Social Forestry.Pelestarian hutan dan lahan adalah merupakan langkah strategis dan agenda utama pembangunan bidang kehutanan Jawa Barat. dan lain-lain.1 . Oleh karena tulisan itu mencoba mengkaji konsep makro SF yang terdiri dari: (i) pencarian istilah SF dalam bahasa Indonesia.749.nasional ke depan hendaknya para pengelola TN diberikan kewenangan yang besar (desentralisasi pengelolaan TN) untuk berimprovisasi dalam pengelolaannya sehingga pengelolaan taman nasionalnya dapat lebih professional dan menguntungkan. dan (iii) strategi penyusunan konsep makro SF. dan Pengelolaan Hutan Lestari Suherman KEBIJAKAN PROPINSI JAWA BARAT DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT / Suherman dan Yeyep Sudrajat. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui pengembangan perekonomian desa merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka penggalian potensi sumberdaya perekonomian masyarakat sekitar hutan dengan untuk memberi peluang berusaha kepada masyarakat. mebelair. Yakni kegiatan tanam menanam pohon kayu-kayuan dengan atau tanpa jenis tanaman Multiple Plan Trees Species (MPTS) yang ditunjang dengan atau tanpa tanaman semusim yang tergantung terhadap kondisi fisik wilayah dan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. 177 . Kata kunci: Taman Nasional. selain merehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak. (ii) konsep makro SF dan faktor-faktor penentunya.2006 . -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.56 ha yang telah berdampak terhadap keadaan lingkungan. Dan hal lain juga berdampak terhadap penyediaan bahan baku kayu industri pertukangan. khususnya diwilayah yang berfungsi lindung. Konsep makro PS harus seiring dan seirama dengan program kehutanan nasional dan sesuai dengan sistem pengelolan hutan lestari. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan sehingga ketergantungan terhadap hutan dan hasil hutan semakin berkurang. Namun demikian pengertian SF tersebut masih belum dipahami oleh berbagai pihak terkait sehingga keberhasilan dari program tersebut sangat diragukan. Kata Kunci : Rencana Makro.303. Dengan pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat menunjang perbaikan kondisi lingkungan Jawa Barat yang saat ini mengkhawatirkan. 12 ha. maka langkah yang efektif dan efisien adalah melalui metoda vegetatif dengan pembangunan hutan rakyat. Guna menunjang program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis. Halaman 14-21 . yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Peranan dan fungsi PS diyakini saat ini sebagai indikator penentu keberhasilan pengurusan hutan dan jaminan bagi keberadaan Dephut di masa depan. semakin terbatasnya areal pertanian serta belum tergalinya potensi ekonomi masyarakat sekitar hutan secara optimal. -. yakni dengan metoda vegetatif maupun secara sivil teknis. pulp/kertas. yakni diindikasikan dengan luas lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 455. Pengelolaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Perhutanan Sosial (PS) menjadi istilah yang tepat pengganti kata SF. Halaman 31-38 . 2006 Departemen Kehutanan (Dephut) saat ini sedang menyusun konsep makro social forestry (SF) sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan prioritas ketiga. Pulau Jawa Subarudi KONSEP RENCANA MAKRO SOCIAL FORESTRY: KUNCI SUKSES MENUJU SISTEM PENGELOLAAN HUTAN LESTARI (SPHL)/ Subarudi. tingkat sosial dan ekonomi masyarakat maupun terhadap sektor pembangunan di Jawa Barat. Karena kondisi kawasan hutan dan lahan di Jawa Barat saat ini dalam keadaan kritis dan memprihatinkan.Dalam rangka pelestarian hutan dan lahan tersebut. Keadaan ini disebabkan masih rendahnya perekonomian masyarakat sekitar hutan. serta dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

2006 Pemanfaatan sumber air dikawasan DAS Brantas mulai dari hulu sampai hilir (termasuk di kawasan hutan lindung dan sekitarnya) cukup tinggi. SKSHH diterbitkan oleh P2SKSHH. Epi KAJIAN MEKANISME PERMOHONAN PENERTIBAN SURAT KETERANGAN SAHNYA HASIL HUTAN (SKSHH). atas SKSHH yang telah diterbitkan. Balai Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungai ( BPSDAWS ) dan Perum Jasa Tirta I. -. karena pada dasarnya. SKSHH bukan merupakan ukuran. dan pemeriksaan administrasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No P. akan tetapi hal tersebut harus dilakukan. dan permohonan penerbitan menurut versi pemegang IUPHHK di Propinsi Kalimantan Timur. Di dalam Kawasan Hutan lindung sumber-sumber mata air dimanfaatkan langsung oleh penduduk dengan menyalurkan melalui pipa yang dibangun secara swadaya dan dimanfaatkan oleh pengusaha peternakan dan perkebunan. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). kawasan hutan lindung Syahadat. perkebunan. Berdasarkan data BPSDAWS saat ini tercatat ada 34 pengguna ( baik sebagai pengguna langsung maupun sebagai pengelola ) yang terdiri dari berbagai industri besar dan kecil. Pengesahan SKSHH oleh pejabat eselon III ini dinilai kurang efektif.18/2005. laporan hasil produksi (LHP).2 . diantaranya adalah tanda bukti pembayaran PSDH dan DR.Disamping itu juga meningkatkan partisipasi aktif pengembangan budidaya usahatani hutan rakyat dan meningkatkan tingkat kesadaran pengelolaan lahan yang berwawasan pelestarian alam. mengingat pejabat P2SKSHH berada jauh dari ibukota Kabupaten/Kota. Halaman 131-149 . Kata kunci : Sumber air. karena ini merupakan suatu alat kontrol yang dilakukan pemerintah pusat/daerah terhadap pejabat P2SKSHH. Ijin pemanfaatan dan pengambilan air permukaan dikeluarkan oleh Dinas PU dan Pengairan Propinsi setelah mendapat rekomendasi teknis dari BPSDAWS untuk sumber air yang berada dalam kewenangan Propinsi dan rekomtek PJT bila sumber air berada dalam wilayah kerja PJT I. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauhmana mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di tingkat Propinsi. Kata kunci: Hutan Rakyat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di Propinsi Kalimantan Timur. usaha peternakan. rumah tangga maupun untuk kebutuhan sektor lainnya. kemudian diketahui dan disahkan oleh pejabat struktural (eselon III) pada Dinas Kabupaten/Kota yang menangani masalah kehutanan setempat. stakeholder. Pasal 20. laporan hasil cruising (LHC). Stakeholder yang berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya air Kali Brantas antara lain Dinas PU dan Pengairan Propinsi. laporan mutasi kayu bulat (LMKB) dan masih banyak lagi persyaratan untuk menentukan bahwa kayu itu legal 178 . karena hanya akan memperpanjang rantai birokrasi dalam pengurusan penerbitan SKSHH. bahwa kayu atau hasil hutan yang diangkut tersebut legal atau tidak. (KASUS DI PROPINSI KALIMANTAN TIMUR)/ Epi Syahadat. telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Wilayah DAS Brantas merupakan sumber air bagi kebutuhan Propinsi Jawa Timur baik untuk air minum.18/2005. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan permasalahan yang serius. yang dikhawatirkan adanya penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab pejabat P2SKSHH.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. karena banyak faktor yang mengindikasikan bahwa kayu yang diangkut dari satu daerah ke daerah lain itu kayu legal. -. seperti siapa yang dituju dalam surat permohonan penerbitan SKSHH.2 . daftar hasil hutan (DHH). pada dasarnya sudah berjalan sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Propinsi Jawa Barat Sylviani PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS (STUDI KASUS KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR)/ Sylviani. Pasal 20. Halaman 87-95 . Blitar. PDAM dan PLTA yang meliputi beberapa kabupaten antara lain Kabupaten Malang.18/Menhut-II/2005. Tulung Agung dan Trenggalek. Walaupun masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya. Apakah mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH tersebut. Dinas Kehutanan Kabupaten. unit kerja yang berwenang dalam menerbiktan SKSHH untuk melindungi hak-hak negara seperti PSDH & DR. dan meminimalkan perdagangan kayu atau peredaran SKSHH yang ilegal. Sebagai pengelola sumberdaya air Perum Jasa Tirta I ( PJT I ) dengan beberapa bangunan waduknya tersebar hingga ke Kali Bengawan Solo.

Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. pengesahan.26/2005. serta tugas dan fungsi masing-masing instansi.3 . mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan.3 .3 . potensi dan pemanfaatan sumberdaya air. SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung. Potensi sumberdaya air di Kab Gowa ada yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumbermata air di dalam kawasan HL dan dari sungai Jeberang melalui penampungan waduk/Dam Bili-bili yang dimanfaatkan untuk saluran irigasi.atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelembagaan. Demikian juga dengan Perda Kabupaten Ciamis No. Kata kunci : Kelembagaan. peredaran. Halaman 219-234 . Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001 sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai lagi dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. -. karenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanya penanganan yang teratur. -. pengelolaan SDA. 19 Tahun 2004. produksi.18/2005 dan Nomor P. PROPINSI SULAWESI SELATAN) / Sylviani .. Kajian kelembagaan pengelolaan SDA bertujuan untuk menganalisa peran para pihak/instansi yang terkait dalam pemanfaatan jasa air. Epi KAJIAN PEREDARAN DAN TATA USAHA KAYU RAKYAT DI CIAMIS JAWA BARAT / Epi Syahadat. industri gula dan rumah tangga dibagian hilir melalui PDAM. Kelembagaan pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) dapat berjalan dengan baik apabila adanya koordinasi diantara para pengelola SDA dan akan berdampak terhadap terjaganya kelestarian lingkungan. BPDAS. UPTD BPSDA dan PDAM dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Terdapat kelembagaan pada masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air melalui tata tanam tahunan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan permohonan perijinan penggunaan air terutama untuk irigasi Kata kunci : Kelembagaan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. kronologis kayu Sylviani POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG DAN KAWASAN HUTAN LINDUNG (STUDI KASUS DI KABUPATEN GOWA. yang terpenting dan perlu diketahui dalam pengangkutan kayu. Elvida Yosefi S. adalah mengenai kronologis kayu. Kata kunci : Penatausahaan hasil hutan. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. pemanfaatan air Syahadat. Halaman 263-279 . 179 . Halaman 243-262 . seharusnya memberi iklim yang baik kepada petani untuk berpartisipasi dalam pembangunan hutan rakyat. 2006 Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat. sistimatik dan berkesinambungan. organisasi. Kajian penata-usahaan hasil hutan pada hutan hak/rakyat dilakukan untuk mengetahui efektifitas kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara secara optimal. 2006 Peranan air bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta lingkungan sangatlah penting dan merupakan kebutuhan pokok. mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan SDA di tingkat propinsi/kabupaten (Peraturan. mekanisme/prosedur pemanfaatan air. Kata kunci: penatausahaan. mekanisme. kayu rakyat. -. Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Sylviani KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR / Sylviani. Pengelolaan sumberdaya air melibatkan beberapa stakeholder antara lain Dinas PU dan Pengairan Kabupaten.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. distribusi. Berdasarkan UU No 7/2004 tentang SDA dijelaskan bahwa wewenang dan tanggung jawab dalam menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota adalah pemerintah propinsi c/q Dinas Pengelolan Sumber Daya Air setempat. mengkaji kemampuan petugas serta memantau produksi dan peredaran hasil hutan.

Sedangkan untuk menjelaskan jalur keterkaitan antar sektor digunakan Analisis Jalur Struktural (Structural Path Analysis). Sedangkan nilai tambah yang diberikan oleh sektor kehutanan sebesar 82. peranan sektor kehutanan dalam perekonomian Indonesia dapat diketahui. 1 milyar akan menyebabkan penciptaan output total sebesar Rp.pendapatan masyarakat Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Syafrul Yunardy. yang merupakan suatu kerangka analisis ekonomi yang terpadu. kenaikan pendapatan total sebesar Rp.60 persen. 1. sumbangan 180 .1 . Secara struktural.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No.44 juta. perusahaan. investasi.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Rumah tangga mengalami penurunan tingkat pendapatan yang paling besar dibandingkan dengan pemerintah maupun perusahaan. Halaman 133-146 . Structural Path Analysis (SPA) Ulya. 2006 Sejak kebakaran hutan besar tahun 1982/1983 yang membakar 3. maupun pemerintah.1979 milyar. Nur Arifatul ANALISIS PERANAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT (Analysis of Forestry sector Role in Indonesia Economy: An Input-Output Model Approach) / Nur Arifatul Ulya. dan penyerapan tenaga kerja total sebesar 41 orang. keterkaitan. Kata kunci: Kebakaran hutan. model Input-output.74 persen. ditemukan fakta bahwa ada jalur keterkaitan yang erat antara sektor kehutanan dengan sektor-sektor yang berbasiskan pertanian di pedesaan. Namun informasi dan data yang ada selama ini baru bersifat sektoral dan belum memberikan gambaran yang jelas tentang peran sektor kehutanan dalam keterkaitannya dengan sektor-sektor ekonomi lain. 77. Syafrul Yunardy.2 . Penelitian ini ditujukan untuk melihat tingkat keterkaitan sektor kehutanan dengan sektorsektor ekonomi lainnya dan peranan sektor kehutanan dalam penciptaan output. Kejadian ini jelas akan berpengaruh terhadap pendapatan baik bagi masyarakat. sektor kehutanan.2666 milyar.Ulya. Berdasarkan hasil analisis pengganda neraca (accounting multiplier) diketahui bahwa untuk setiap kenaikan permintaan akhir (konsumsi. 2006 Pembangunan kehutanan selama ini telah ikut berperan dalam perekonomian Indonesia.5 juta hektar hutan alam di Kalimantan Timur. -. Selain itu juga untuk mengidentifikasi jalur-jalur keterkaitan antar sector kegiatan perekonomian. Halaman 61-74 . Nur Arifatul ANALISIS DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT (Analysis of the Impact of Forest Fire in Indonesia on Community Income Distribution) / Nur Arifatul Ulya. pengeluaran pemerintah dan ekspor) sektor kehutanan sebesar Rp. 0. Kata kunci : Pengganda neraca. kebakaran hutan di Indonesia kian menyebar dan selalu berulang setiap tahun. dan penyerapan tenaga kerja didalam proses produksi antar sektor. penggandaan pendapatan. Melalui pendekatan model transaksi input-output. -. Metode analisis yang digunakan untuk mengukur besarnya nilai penurunan tingkat pendapatan (economic loss) adalah Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi (share) sektor kehutanan terhadap output keseluruhan sebesar 0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk setiap hektar kejadian kebakaran hutan di Indonesia. berdampak menurunkan tingkat pendapatan masyarakat sebesar Rp. Studi ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dampak kebakaran hutan di Indonesia terhadap masyarakat.

terutama pada era otonomi daerah dan desentralisasi. Halaman 137-149 .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. jati super dll) dan perusahaan kayu pemegang Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) telah beroperasi. Dalam memilih jenis tanaman yang akan dikembangkan selain dipertimbangkan aspek fisiknya (kesesuaiannya). 6 Desember 2006 . kelapa sawit. 181 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kembali implikasi otonomi daerah terhadap pola dan keberadadaan sumberdaya potensial yang dilakukan oleh masyarakat tradisional di Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Barat. masyarakat dayak.4 . Kata kunci : Sumberdaya hutan. Program Arc View ini memberikan kemudahan untuk menampilkan banyak tampilan data dengan peta secara cepat dan mudah sesuai dengan keinginan. -. ditata. (c) Tanaman tradisional (kebun tradisional) dan (d) Hasil hutan kayu dan non kayu. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis. 2006 Dengan sistem informasi geografis data dapat dikelola. -. 2006 Sejalan dengan adanya program pengembangan pengelolaan hutan bersama masyarakat. karena adanya banyak kendala.Wardojo APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK KESESUAIAN LAHAN PADA TANAMAN KEHUTANAN / Wardojo dan Ragil Bambang WMP. Mahoni. SIG. Catur Budi KAJIAN POLA PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN SECARA TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DAYAK BENUAQ DAN TANJUNG DI KALIMANTAN TIMUR (STUDI KASUS DI KAMPUNG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. khususnya oleh adanya kebijakan Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) yang dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Wiati. Halaman 97-113 . perlu dipertimbangakan juga tentang aspek non fisik (ekonomi). data dan informasi tentang model dan tipe pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat menjadi sangat penting. Dalam makalah ini hanya dianalisa empat jenis tanaman (akasia. Posisi masyarakat penting. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski perkebunan berskala besar (karet. Halaman 333-345 . Kalimantan Timur. Tanaman kehutanan dimana masyarakat tetap dipertimbangkan memegang peranan penting dalam mengelola sumberdaya hutan.2 . Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. Catur Budi IMPLIKASI OTONOMI DAERAH TERHADAP PRAKTEK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI KALIMANTAN TIMUR (SUATU STUDI KASUS DI KAMPUNAG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. 2006 Di era desentralisasi. Kalimantan Timur. analisa dan ditampilkan sesuai dengan tujuan analisa. desentralisasi Wiati. otonomi. Kesesuaian lahan. Dalam analisa kesesuaian jenis tanaman kehutanan untuk pengembangannya data-data yang diperoleh dapat dimanipulasi sesuai dengan tujuan analisanya. masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat tampak tidak terganggu dan tetap mempertahankan pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang terbagi atas budidaya: (a) Tanaman pangan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung setelah era otonomi daerah dan desentralisasi. Jati dan Sono). (b) Tanaman perkebunan. peta dasar dan peta tematik yang ada. sangat mudah ditemui adanya ketidakcocokan dan ketidaksinkronan antara kebijakan pusat dan kebijakan daerah yang berdampak negatif pada pengelolaan hutan khususnya yang dilakukan oleh masyarakat. Kabupaten Kutai Barat. pemerintah lokal telah mengeksploitasi sumberdaya alam dengan tanpa mempertimbangkan aspek ekologinya.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Suatu lokasi yang sesuai untuk suatu jenis tanaman (layak dari aspek fisik ). Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan Arc View bisa digunakan untuk mengolah data-data atribut yang diperoleh dari kegiatan ISDL maupun data lain dari penafsiran potret udara. Hasil penelitian ini menununjukkan bahwa pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat dayak di Kabupaten Kutai Barat telah dipengaruhi oleh kebijakan pusat dan daerah.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. tidak selalu dapat berhasil untuk dikembangkan menjadi hutan yang bagus. -. untuk keperluan yang sama dapat dianalisa untuk jenis-jenis tanaman yang lain dengan menggunakan data dasar yang sudah tersedia.

masyarakat dayak. dan adhesive US$ 0. hutan dinyatakan sebagai Widyaningsih. Kata kunci : otonomi. Dian Diniyati. sebagian besar berupa sawmill. jumlah industri pengolahan berdasarkan ijin yang ada sejumlah 1.48 juta m kubik. Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) masih melekat terutama dalam masyarakat Jawa. Akan terdapat perbedaan etos kerja antara petani laki-laki dan perempuan dalam mengelola HR. hutan rakyat.3 milyar. karena laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang bersifat produktif termasuk dalam mengelola hutan rakyat (rata-rata 45 jam seminggu) dibandingkan kaum perempuan (rata-rata 27 jam seminggu). pulpmill 6 unit. Kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku kayu oleh industri (zero waste). Nurheni STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI / Nurheni Wijayanto. keterlibatannya dalam mengelola HR. 2005). 2005). hutan tanaman. Konflik ini melibatkan masyarakat lokal dengan masyarakat lokal atau masyarakat lokal dengan para pihak (konflik vertikal dan horizontal ) dan (b) Munculnya sistem kapital baru dalam masyarakat kampung terkait kemudahan dalam mengakses sumberdaya hutan.2 milyar.60 juta m kubik per tahun (Antara News.03 milyar. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Halaman 1-13 . Saat ini kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan secara lestari.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. dan dokumentasi yang kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif. Etos kerja. dan percepatan realisasi pembangunan hutan tanaman industri dan hutan rakyat (Antara News.91 juta m kubik per tahun.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. yang mana etos kerja tersebut akan dipengaruhi oleh persepsi atau sudut pandang petani tentang hutan rakyat. -. Hal tersebut terlihat dari hasil kajian yang dilakukan di desa Bener dan desa Sepatnungal kecamatan Majenang kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah pada bulan Juni-Agustus 2006 terhadap 34 orang petani hutan rakyat yang diambil secara sengaja (metode purposive sampling). Majenang Wijayanto. Hal ini menunjukan bahwa industri kehutanan masih prospektif (Antara News. Tri Sulistyati ETOS KERJA PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP / Tri Sulistyati Widyaningsih. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara.8 milyar dengan rincian. Berdasarkan ijin usaha yang telah diterbitkan tersebut kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan per tahun mencapai 63. Petani. 2005).2006 . sedangkan kemampuan produksi kayu bulat rata-rata per tahun sebesar 22. Sedangkan plymill 107 unit.87 juta m kubik per tahun. Sebagai gambaran. Halaman 142-152 . juga ditentukan oleh etos kerja petani selaku pelaku utamanya. kebutuhan bahan baku 17.Barat. 2006 Keberhasilan pengelolaan hutan rakyat (HR) selain ditunjang oleh sarana prasarana dan modal berupa lahan.61 juta m kubik per tahun. 2006 Pembangunan kehutanan di Indonesia masih mempunyai daya tarik bagi para investor. kebutuhan bahan baku 18. bibit. yang terjadi karena adanya konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. furniture US$ 0.19 milyar. bahwa laki-laki lebih berperan dalam sektor publik (pekerjaan di luar rumah) dan menjadi penentu kebijakan. logging US$ 3.8 juta m kubik. yaitu sebanyak 1. Dampak dari kebijakan tersebut adalah: (a) Adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Dalam pasal 1 Ayat 2 UU No. Kata kunci: Hutan Rakyat.2006 . dan interaksinya dengan sumber daya alam yang ada disekitarnya.17 milyar. hal ini terlihat dengan masuknya investasi bidang kehutanan yang mencapai US$27.09 juta m kubik per tahun. investasi industri pulp dan kertas sebesar US$ 16 milyar. dan sumber lain. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan kebutuhan bahan baku sebesar 40.618 unit dengan kebutuhan bahan baku 22. dan lain-lain sebanyak 150 unit dengan kebutuhan bahan baku 4. kerajinan (handicraft) US$ 0. kayu olahan (wood working) US$ 1. sedangkan perempuan lebih banyak berperan disektor domestik (pekerjaan rumah tangga). plywood US$33. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan hutan rakyat juga dipengaruhi oleh budaya patriarkhi yang 182 . Hasil kajian menunjukkan bahwa kaum laki-laki memiliki etos kerja yang lebih tinggi dalam mengelola hutan rakyat dibandingkan kaum perempuan. -.881 unit. penyuluhan. yang bersumber dari hutan alam. Focus Group Discussion (FGD).80 milyar. desentralisasi. Cilacap.

lahan pertanian hancur. Berdasarkan statusnya hutan terdiri dari hutan hak dan hutan negara. TANA TORAJA / Hunggul Yudono SHN dan Iwanuddin. mengoptimalkan lahan garapan. Kata kunci: Hutan Rakyat. Pengelolaan hutan Yudono SHN. usaha tersebut belum mampu meningkatkan kinerja usaha. 41 Tahun 1999. Berdasarkan UU Kehutanan No. memperbaiki kualitas lingkungan dan sumberdaya hutan. mengelola dan memelihara sumberdaya hutan yang ada agar mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. penyediaan kayu bakar. usaha perbaikan tata air dan lingkungan. penyediaan kayu sebagai bahan baku bangunan. tenaga kerja. Usaha hutan rakyat telah dilakukan sejak beberapa puluh tahun yang lalu.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Kata kunci: Kelembagaan. Demikian kalimat sakral yang tertuang dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. termasuk di dalamnya penggunaan sumberdaya hutan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. dan memaksimumkan pendapatan usaha. penganekaragaman hasil pertanian yang diperlukan oleh masyarakat. Nilai air. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. MULAI DARI DIRI SENDIRI DAN MULAI SAAT INI: PENGALAMAN DARI SUB DAS MARARIN. Hutan hak tersebut sering disebut dengan hutan rakyat. Walaupun demikian . disampaikan pengalaman mengelola DAS dalam skala mikro dengan menciptakan hubungan timbal balik potitif antara hutan dan masyarakat yang didukung oleh kelembagaan mikro sesuai yang diminta oleh masyarakat. DAS menjadi istilah yang paling sering muncul baik dalam diskusi-diskusi ilmiah maupun dalam berita-berita di koran. melalui strategi dan program pengembangan yang tepat. hal ini antara lain disebabkan oleh semakin besar permintaan pasar akibat tumbuhnya berbagai jenis dan skala industri pengolahan kayu di setiap kabupaten dan propinsi. pemeliharaan lingkungan hidup serta bagi pemerintah daerah. industri. Tana Toraja 183 . sarana-prasarana rusak. kondisi DAS kembali mendapat perhatian. Pada tulisan ini. sedangkan hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Das.Hunggul KELEMBAGAAN DAN NILAI AIR DAS MULAI DARI YANG KECIL. dan manfaatnya untuk masyarakat. bahan baku industri. Awang (2003) menyatakan ciri dari hutan rakyat adalah bahwa kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan di atas lahan milik rakyat. sehingga usaha hutan rakyat tersebut perlu ditingkatkan kinerjanya agar lestari. Usaha hutan rakyat merupakan suatu penerapan model usahatani yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas fisik per satuan luas lahan. Kegiatan usaha hutan rakyat diharapkan memberikan dampak positif bagi rumah tangga pedesaan. dan sampai saat ini usaha tersebut semakin berkembang. Buruknya pengelolaan DAS menjadi satusatunya tertuduh. pengembangan hutan rakyat diarahkan kepada usaha-usaha rehabilitasi dan konservasi lahan di luar kawasan hutan negara. Akhirakhir ini ketika bencana banjir. -. 2006 : Halaman 101-121 . sektor angkutan. Makna yang tersurat dan tersirat adalah adanya kewajiban kepada kita semua untuk mengatur. kegiatan ini dapat juga dilaksanakan di atas lahan negara diperuntukkan untuk kegiatan penanaman pohon. dan longsor dimana-mana seiring dengan datangnya curah hujan. Hutan rakyat ini ada yang bersifat subsistem dan ada yang dengan tujuan komersial. Das Saddang. diterima masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat. dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. dimana hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. 2006 Sumberdaya alam yang secara spasial terbagi habis ke dalam DAS/Sub DAS. lembaga keuangan. Namun demikian. serta sebagai kawasan penyangga bagi kawasan hutan negara. Ketika korban manusia berjatuhan. peningkatan pendapatan masyarakat. Das Mararin. DAS SADDANG.

13 September 2005 . C KONSEP LEMBAGA PENGELOLAAN DAS TINGKAT LOKAL DAN REGIONAL DI DAS SADDANG-BILAWALANAE. especially at saddang and Bilawalanae Watershed.energi listrik kesejahteraan masyarakat.Secara langsung maupun tidak langsung ditengarai salah satu penyebabnya adalah eksploitasi kawasan hutan lindung di daerah hulu yang mempunyai fungsi sebagai pengatur tata air. this research used survey method. Primary and secondary data analyzed with Stakeholders Analysis Method and SWOT Analysis Method. serta 4) sistem pertanian di Indonesia yang boros air sehingga air kurang termanfaatkan dengan baik. Halaman 4961 . organization and legislation supporting enough. Pengelolaan DAS.Yudono. karena alasan kemiskinan dan merupakan sumber permasalahan. Serta dilengkapi juga dengan pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat pengguna listrik dan pendampingannya. not in the form of independent institution but under an appropriation to Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten this time. kekeringan. The aim of this research is to studying about watershed management in local and regional level. melakukan perambahan hutan dan menggunakan lahan di kawasan lindung bertopografi berat untuk lahan budidaya tanpa memperhatikan daya dukung lahan. Kata kunci: Mikro Hydro Electrik.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. with studying fundamental duty and institution function which related in watershed management. through direct interview and filling questionair to the respondent. longsor. Hulu DAS mengalami okupasi oleh masyarakat yang strategi bertahan hidupnya justru membuat mereka terpuruk dalam kemiskinan dan sekaligus juga membahayakan kelestarian fungsi DAS dan wilayah di bawahnya. Yudilastiantoro dan Tony Widianto. Lembaga Pengelola. Sumatera. Govermental administration problems have to be managed according to administration boundary and on the other side watershed need to be managed with the boundary of watershed itself. Air Yudilastiantoro. 2) Ada kecenderungan mulai terjadi defisit sumber daya air di Jawa. 2006 : Halaman 245-264 . -. energi listrik alternatif ini juga dapat digunakan untuk mengatasi krisis listrik yang saat ini banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia.Salah satu kegiatan yang dapat menjawab permasalahan hubungan antara hutan dan masyarakat adalah dengan pemanfaatan air sungai yang berasal dari hutan untuk menghasilkan sumber tenaga listrik alternatif bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil ini juga dilakukan pengumpulan data dan survey agar dapat dihasilkan informasi yang akurat hubungan sebab akibat antara kondisi hutan. With this research can be know institution that take part in watershed management. Untuk dapat lebih mengoptimalkan hasil. -Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. organization and law. Pembangkit Listrik. This is because the human resources.hasil air . Disamping untuk kepentingan pembangunan kehutanan. 3) terjadinya peningkatan frekuensi banjir besar dan kekeringan di berbagai tempat. Sulawesi Selatan 184 . This research located in South Sulawesi Province. akibat peningkatan jumlah penduduk dan kondisi DAS yang kritis. SULAWESI SELATAN / C. some regency wish the form of selfsupporting Otorita that still under conducting Governor as province leader. For regional watershed management. seen from human resources. 2006 Decentralize era result the change of local government competency in the form of institutional reinforcement of watershed management. Can be recommended that institute of local watershed management formed in every regency. Hunggul MIKRO HYDRO ELECTRIK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR SKALA KECIL: MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT DAN MENJAGA HUTAN DENGAN HASIL AIR / Hunggul Yudono SHN dan Gunardjo TJ. dan Sulawesi. DAS SaddangBilawalanae. locally and regionally. Sorotan juga diarahkan kepada masyarakat yang berada di wilayah hulu. Kata kunci: DAS. The research was done in DAS Jeneberang and Bilawalanae from August untul December 2005. 2005 Kondisi di Indonesia dari data yang ada menunjukan adanya: 1) peningkatan jumlah DAS kritis satu dari tahun ke tahun. To gain data of the aim above. berbagai DAS menjadi sensitif terhadap bencana banjir.

9 Bustomi. Faiqotul. Eva. 1 Abdurrohim. Yanuarius Koli. 6. 9. S. 101 Astana. Iis. 139 Ade. Sofwan. 4. 147 Fiani. 102 Bau. 12 E Effendi. Sulistya. 100 Asmaliyah. 103 Bustomi. 141 C D D. Wida. 9. Efrida. 11 Darwiati. 74 Darwati. Sasa. Wahyu Catur. 138. Andy. Wesman. 146 Ekawati. 105 Diniyati. 1 Adinugraha. 13 Fauziyah. Chris. 73 Anggraeni. 103 Dharyati. 8. Harun. 144 Djaenudin. 140. 12 Darmawan. 139 Andianto. Rachman. Harun. Indra Jaya. 76. 2. 99 Adinugroho. 142. 4 Anwar. 140 B Bakri. 145 Endom. 77 F Falah. Martono. 73 Achmad. Hardjono. 104 Darwo. 100. 142 Dulsalam. Imaculata. 105 185 . 74 Danu. Ari. 74 Bastoni. 8 Beadle. Burhanuddin. 100 Asaad. Mohd. Hamdan Adma. 105 Fatima. Wida. Satria. 10. 1 Adman. Herman. 5 Arisman. Sofyan. Emmy. 103 Butar-Butar. 3. 98. Luciasih. 1 Agustini. 2 Alrasyid. 11 Daryono. Chairil. A. Bambang S. 99 Antoko. 1 Alrasjid. 4 Alviya. 9 Cahyono. Dian. 145. 143. 144. 7. 12 Farid A. Illa. Tigor. 101 Basri. Deden. 75 Durahim. Budiman. Saptadi.INDEKS PENULIS A Abdurachman.

Djeni. Nur. 25 Kuswandi. 13 Ginoga.. A. 17.G Gaffar. 14 Harun.. 22 Kurniadi. Nurwati. I Made. 107 Hajib. 81. 21 Komala. 79. 149. Maming. N. Teguh. Morag. Wanda. 159 Lelana. Mody. Hendi. 81 Lempang.Sri. 155. 79 Jayusman. 110.M.S. R.79 J Jasni. 78. M. Heru. 157 Kunarso. Rahman. 80. 153 Hood. Adi. 109 Hidayat. 112 Junaidi. 158 Kurniawan. Dian. Rusli M. 107 Gunaja. Karim. 155 Iriansyah. 78 Herdiana. 16 Hendarto. 111 Judhiharto. Priyo. Hery. 108 Harisetijono. 114 Lazuardi. 14 Hayati. 20 Karyono. Kresno Agus.D. 27 186 . 154. 109 Husna. Rozza Tri. Nanang. 82 Lestari. 17 Hendalastuti. 21 Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. 24 Kusumedi. Ian A. 20. 25 Kwatrina. 77 Hakim. 82 Lestari. Henti. Agus. Eko B. Asep. Ismatul. 109 I Indartik. Ermi E. R. Kirsfianti Linda. Ngaloken. 19 Iskandar. 156 Kayat. 149 Glen. Edy. 150 Halidah. 13 H Hairudin. Setyani B. Neo Endra. A. Henti. 15 Handayani. Relawan. G. 151 Hendalastuti R. 107 Hardiyanto. OK. 156 Koeslulat. 157 Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. 153 Hendra. 19 Hermanto.I. Marinus Kristiadi. L Michael Riwu. 24. 153 Irawanti. 147. 108 Heriyanto. 113 Kurniawan. 157 Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya. A. 16. 158 Kuswanda. Wuri.Syafari. 112. 113 Kuntadi. 22 Kosasih. 22 Krisdianto. 26 L Lasminingsih. 19 K Kaho. 151 Harahap. 106 Golani. Mudji. 23. 106 Garsetiasih. 16 Hardi TW. 152. 18. Setiasih. 148 Gintings.

Fitri. Abdullah Syarief. Ida. 32 Natawijaya. Syarifah. Yanto. 116. 123. Amir. 85. 120 Prihatini. 120 Pratiwi. 28 M. 87 Pramono. 160 Ma'ruf. 122 Riyanto. 161. 166 Rachman. 84 N Narendra. Joko. 44 Rimbawanto. I. Dewi. Anto. 160. 163 Nurhaedah M. 121 Pudja M. 164 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. 39 Prayudyaningsih. 37. 41 R Rachman. 165 Putri. 117 Misdarti. Mamat. 162 Ngatiman. 169 187 . 36 Nurhayati. 32. 115 Mairi. Tejo B. 31. 87 Parlinah.. 162 Mindawati. Indra A. 121 Priyono. Nunung. Kristian. 26. 113 Lukman. Mohammad. 34 Novrianto. B. Ridwan A. 88 Rachmawati. 28. Gerson ND. 37. 28 Martin. 84 Nugroho. 27. Edwin. 163 Parthama. 38 Pari. Eka. Bismark. 83 Mandang.U.P.I. Tejo. 122. 118 Njurumana. Encep.L. 40 Premono. 34 Noorhidayah. 42. 86. Agung Wahyu. 30 Mile. 41 Rahmat. Caroline L. Y. 118 Muslich. 159 Malik. 36. Gunawan. Sudin. R. Tjutju. 30. 162.B Putera. Mulyana. 32. Eulis. 39 Prasetyawati. 30 Munandar. 87 Pasaribu. 43 Retna I. 167 Rochmayanto. Budi Hadi. 38 Purwanto. Istiana. Heru Dwi.S.. 29 Mile. 41. Jamaludin. 117 Muchtar. Ruben. 168. 120 M M Hidayatullah. 83 Mohammed. Irwansyah Reza. 83 Marbawa. M Yamin. Aris. Osly. 167 Retnowati. Retno.. 43 Renden. Syofia.Lubis. 119 Nurfatriani. C Andriyani. 42 Rayan. 35 Nurhaedah M. 121 Premono. Gustan. M. Nina. 82. Abdul Hakim. Yamin. 29. 122 Rahmayanti. 119. 35 Nurdawati. 113 Omon. I Ketut Catur. 27 Mahfudz. 33. Dedi. 38 Pasaribu. 84 O P Panjaitan. Suryanto.

66 Taufikurahman. 179 Sylviani. Sihati. 130 Susanty. 62. Ogi. E. Totok K. 171 Sugiana. 64 Suryanto.. 92 Sumantoro. Ismayadi. 56 Supangat. 66 Tjahjono. 45. Dede J. Reny. 60 Sukrianto. Budi. 95 188 . 128 Suhaendi Hendi. 92 Sumadi. 56. Epi. 67. Priyono. 129 Suharti. 63 Suryanto. Teguh. 65 Susila. 47 Santoso. 129 Sumardi. 49 Setiadi. 55. Agung B. 173 Supriadi. 178.. Erdy. 131 U Ulfa. 178. 45 Samsoedin. 180 Utomo. Pujo. 53 Siswoyo. 130 Tira. Adi. 89 Ruby. 169 Satyawardana. 129 Sumadiwangsa. 58 Suhartana. Mustaid. Atok. Maliyana. Han. Tiwa. 51 Siran. 89. 170. 88. Hadi. Achmad. 65 Suyarno. 132 Ulya. 51 Siahaan. I Wayan Widhana. Agus. Dedi. Hendi. 89 Sawitri.. 59. Agus. 52 Siregar. 48. 63. 91 Suhartati. Harris Herman. Mariana. 172 Suprapti. 51 Setijono. 127. 171 Sulastiningsih. 174 Syahadat. Retno. 94 Suprianto. 58. 57. Kamindar. I. 177 Subiakto. Agis Nursyam. 61. La Ode Asir. 44. 170 Sufyadi.. Sona. 55 Suhaendi. R. 168 S Salim. Dedi. 50. 90 Sudrajat. 93 Suprapto. 133 W Waluyo. Andi Gustiani. 126 Setyowati. 58 Sukadaryati. 176. 131. 175. 47. 55 Sugiarto. 44 Rumboko W. 54. 174.M. 93. 126 Setiawan. 60 Sumarhani. Bambang. 64.Roliadi. Sri.. Agus Djoko. I Komang. 127 Sofyan. 173 Supriadi. 179 T Takandjandji. 176. 54 Sudradjat. Lukas. 90. Sujarwo. 128 Subarudi. 52 Siringoringo. 91 Sukresno. 177 Sujatmoko. Sulistyo A. 133. 57 Suherman. 65 Suwandi. Suwardi. Nur Arifatul. 169 Santoso. 46. Hengki. 125 Santoso. Djoko. 174 Surata. Budi. Farida Herry.

95 Wasrin. 135 Wijayanto. Upik Rosalina. 69. 135 Windyarini.. 184 Yudono SHN. 136 Yeny. Danu.Hunggul. Ari. 136 189 . SM. Nurheni. Tri Sulistyati. Arian. Totok K. 70 Widyaningsih. 67 Wardojo. 70. Asmanah. Bugris. 182 Winarni. 71 Yassir. 97 Z Zulfikhar. 96 Widiarti. Santiyo. Eritrina. 183 Yudono. 134 Wijaya. Hunggul. Catur Budi. 72 Yudilastiantoro. C. 133 Wiati. 181 Wibowo. Ina. 184 Yuliansyah. 95 Wardani. Marfu'ah. 68. 94. 181 Wargadalam. 72 Yuniawati. Bondan. Irma. Ishak.Waluyo. 69 Wibowo. 182 Widyastuti. 96 Winarno. 71 Y Yafid. 67 Wardi. I Nyoman.

See Jabon Aplikasi Endomikoriza. 138. 51. 138 Bambu Lamina. 109 Basis Data. 85. 24 Budidaya Vanili. 57 Adsorben. 138 Araucaria Cunninghamii Sw. 160. 57 Burung. 117 Anggrek. 61. 92 Bambu Laminasi. 100. 28. 71. 109. 73. See Pulai Darat Alstonia Scholaris (L) R. 102 Alang-Alang. 55 Briket Arang. 74. 134 Anthocephalus Chinensis (Lamk. 108 Bambu. 78. 5. 41 Burung Bayan Sumba. 165. 160. 30. 17 Bentonit. 13 Burung Merandai. 119 Alat Expo-2000. 71 Anakan Jabon. 132 Aplikasi Sistem Informasi Geografis. 106. 74 Biaya Dan Pendapatan. See Gaharu Arang Aktif. 140.. 21.Br. 33. 27 B Bahan Bakar Alternatif. 162 Agroforestry. 14. 69. 41. 40. 108 Budidaya Klicung.INDEK KATA KUNCI A Acacia Mangium. 172 Bitti. 66. 142. 181 Aquilaria Microcarpa. 86. 17 Antagonistik. 106. 38. 14 Anatomi. 83 Benih Tanaman Hutan. 11 Aplikasi Mikoriza. 67 Bambang Lanang. 2 Areal Bekas Penambangan Batu Apung. 144 Biodiversitas. 13. 29. 166 Agrosilvofishery. 31 Areal Tegakan Sisa Hutan Alam. 105. 113. 138 Basidiomycetes. 12. 108. 43 1 . 23. 163 Bioinsektisida. 48. 85. 170 Aceh. 27 Biofisik. 169. 73 Andosol. 55. 28. 158 Budidaya Kepuh. 59.. See Pulai Ampupu. 159. 82 Anatomi Kayu. 29. 90 Budaya Masyarakat. 26. 49 Busuk Akar. 86 Aglaia Sp. 42 Analisis Model Pendugaan Volume Jenis. 72 Bali. 36. 7 Biomasa. 80. 26. 63. 87 Arang Bambu. 77 Alstonia Angustiloba. 61 Budidaya Rotan. 52. 37. 167. 92 Bambu Rakyat. See Kayu Palaso Agribisnis. 45. 79. 124 C Cabutan Anakan. 117. 64 Analisis Sosial Ekonomi. 4 Avifauna. 92. 117 Busuk Hati. 117. 83 Bambu Lapis. 62.

87 Frekwensi Pemeliharaan.. 100 Ex-Situ. 20. 148. 169 Hasil Hutan Non Kayu. See Eboni Diospyros Malabarica Der Kostel. 42. See Jelutung E Eboni. 16 Ekonomi Rakyat. 111 Getah Pinus. 35. 134 Fungi Trichoderma. 100 Eksploitasi Hutan. 140. 60 Gossampinus Malabarica Alst. 156. 104. 122. 52 Etnobotani. 69. 20. 27. 117 Fungi Patogen. 52. 101.Cendana. 157. 10. 39. 62 Cervus Unicolor. 130. 12 Eceng Gondok. 50. 44 Efikasi. 41. See Rusa Sambar Citra Satelit. 123 Gerhan. 158. 92. 135 Ekowisata. 123 Eusideroxylon Zwageri Teijsm. 19. 98. See Hasil Hutan Bukan Kayu Hidrologi. 11. 1. 59 Desentralisasi. 179 Daerah Penyangga. 133 Ekologi Hutan. 134 G Gaharu. 84 D Daerah Aliran Sungai. 16. 50. 166 Hama Penyakit. 119. 37. 182 Eucalyptus Urophylla S. 27. 14. 146. 151 Hormon Iaa. 127. 7 Etos Kerja. See Klicung Dipterocarpaceae. 100. See Ampupu Eusideroxylon Zwageri. 23. 51. 12. 150. 27 F Fenologi. 40. 164. 57 Gmelina Arborea Roxb. 71. 140 Electus Roratus Cornelia Bonaparte. 36 Hhbk. 111. 57 Ekosistem. 4 Flora. See Burung Bayan Sumba Elignification. 179 191 Eichhorniae Crassipes Solms. 123. 140 Hutan Bekas Tebangan. 38 Erosi. 12. 140. 174 Hutan Kota. 134 Formaldehida. See Ulin . 13 Ekspor. See Eceng Gondok Ekaliptus. 129. 9 Core Research. Binn. 133. 25. 98 Hormon Pertumbuhan. 68. 57. 128 Cuka Kayu. 44. 4 Forest Health Monitoring. 99. 45 Hutan Hujan Tropik. 34. 121 Herbisida. See Kayu Randu Alas H Hama. 57.T Blake. 131 Hasil Hutan Bukan Kayu. 168 Diospyros Celebica Bakh. 118 Ekologi. 95 Genetik. 46 Hutan Kemasyarakatan. 112. 21. 34 Hutan Lindung. 65. 7. 43. 59. 32. 68. 141 Getah Pinus Merkusii Strain. 84 Dyera Lowii. 107. 110 Hukum Adat. 88 Endemik.

104. 179 Jawa Timur. 95 Industri Perkayuan. 79. 12 Kawasan Wisata Alam. 99 Kayu Randu Alas. 169 Keawetan 25 Jenis Kayu. 177. 121. 46. 181 Karbon. 72. 119 Hutan Rawa Air Tawar. 112 Hutan Ulayat. 81. 97. See Jarak Pagar Jawa Barat. 115. 156. 156. 59. 33. 81 Industri Kehutanan. 106 Hutan Tanaman Cendana. 19. 167. 4 Jenis Introduksi. 30. 62 Hutan Tanaman Industri. 4 Kalimantan Selatan. 109. 130. 73 Kayu Kurang Dikenal. 82 Kayu Pertukangan. 77. 147. 68. 8 Jenis Andalan Setempat. 143. 106 Jamur Biru. 14. 168 I Identifikasi Jamur. 177. 128. 171. 172 Jatropha Curcas Linn. 89. 112 Hutan Produksi. 123. 146. 144. 119 Kayu Keras. 45. 121. 93 Jarak Pagar. 34. 89 Kawasan Konservasi. 150. 80. 157. Beauv. 47. 122. 133. 140 Kayu Kamper. 10 K Kalimantan Barat. 94 Inokulasi Cendawan. 74. 145. 115. 129. 1. 16. 106 Identifikasi Jenis. 157. 73 192 . 90 Jarak Tanam. 125. 74 Jamur Patogen Serangga. 4 Kayu Bulat. 41. 86. 108 Kayu Putih. 114 Karton. 153 Imbal Jasa. 10 Industri Cinderamata. 84. 27. 135. 18. 8 Hutan Tanaman Rakyat. 178. 52. 146 Hutan Rakyat. 116. 160.. 142. 58 Karbon Tanah. 6. 65. 176. 80. 132.Hutan Mangrove. 112. 46. 60. 65 Jenis Pohon Tepat Guna. 68 Kearifan Lokal. 155 Kawasan Penyangga. 175. 68. 166. 79 Kayu Lapis. 25. 178 Jelutung. 47. 84 Keawetan Kayu. 33 Isi Pohon. 116. 152 Hutan Tanaman Jelutung. 127. 173. 32. 82. 48 Irigasi. 90. 146. See Alang-Alang Inang Gaharu. 28 Jamur. 65. 140. 53 Karet. 135 Hutan Rawa Gambut. 87 Kayu Palaso. 55. 5. 28 Jenis Flora. 81 J Jambi. 53. 3. 51 Jenis Burung. 182 Hutan Rawa. 159 Jati. 78 Kearifan Lokal. 93. 103 Isolat. 131 Invitro. 67 Illegal Logging. 139. 83 Kayu Tusam. 36. 54. 141 Imperata Cylindrica L. 103. 24. 81 Jamur Perusak Kayu. 29. 161. 136 Hutan Rawa Sungai. 62 Hutan Penelitian. 174. 59. 127 Kalimantan Timur.

61 Klon. 89. 96 Kulit Mangium. 105. 20. 67. 102 Media Tabur. 144. 111 Kemiri. 21. 32. 122. 158. 102 Mangrove. 35. 121. 120 Mesin Pengering. 67. 65. 109. 140 Kemitraan. 109. 30. 95 Kokon. 140. 58 L Lahan Basah. 114. 15. 2. 45. 36. 55. 14. 143. 38. 15. 111 Mikologi. 132. 6.Kebakaran. 69 Konyal. 136. 4. 161. 172 Lebah Hutan. 48 Kesuburan Tanah. 112. 72 Masyarakat Sekitar Hutan. 27. 42 Media Kultur. 148. 26 Kualitas Aliran. 184 Lignin. 60. 94. 65. 126. 132 Lahan Tegakan. 170 Melaleuca Cajuputi Subsp Cajuputi. 126. See Bambang Lanang . 115 Kohobasi. 18 Kriteria Dan Indikator. 110. 48. See Kayu Putih Meranti Merah. 45 Kelembagaan. 43 Lahan Pasca Penambangan Batu Gamping. 150. 23. 169 193 Maduca Aspera. 122. 108 Keragaman Jenis Anggrek. 180 Kebijakan. 138 Kesesuaian Jenis. 110. 74 Kemenyan. 87. 79. 152. 114. 126. 49 Lahan Bekas Tambang Batu Kapur. 108 Megapolitan. 157. 179. 98 Kembang Susut. 32. 85 Limbah. 69 Kebakaran Hutan. 96 Kemiskinan. 66 Lahan Gambut. 158. 113 Media Kecambah. 22 Lembaga Pengelolaan. 125 Kualitas Serat. 117 Klicung. 101. 174 Kelembagaan. 136 Mikro Hydro Electrik. 154. 177 Kebun Konservasi. 118. 183 Kelompok Tani. 74 Mesin Serpih. 109 Mikoriza. 170. 151 Lahan Kurang Produktif. 86 Kontrak. 2. 138 M Mahoni. 67. 5. 144 Kemampuan Bertunas. 11 Lahan Rawa. 9. 173. 114 Lahan Kritis. 10. 74. 46. 150. 184 Mikroba Simbiotik. 156. 24. 2. 87. 79 Kulit Kayu. 130 Kutu Lak. 176. 55 Media Sapih. 136. 102. 17 Kerajinan. 155 Manokwari. 107 Kelayakan Usaha. 111. 143. 62. 149. 22 Lebah Madu. 10. 120. 78. 89 Kultur Jaringan. 152 Kepuh. 93 Metode Ekstraksi. 27 Kelapa Sawit. 107. 118. 67. 132 Lahan Rawa Gambut. 85 Kulit Kayu Medang Landit. 131. 146 Mati Pucuk. 8. 15. 36 Komponen Kimia. 56. 25. 64. 50 Kualitas Semai.

81. 96 Nusa Tenggara Barat. 76 Pemanfaatan Huta. 19 Pemungutan Rotan. 13. 44 Pembangunan Hutan. 79. 151. 178 Pengelolaan Lahan. 161. 57. 13. 22 Pakan Burung. 76. 161. 41 Pakan Buatan. 9. 178 Pengawet Nabati. 91 Pemanenan Hutan. 25. 5. 99 194 . 40 Mutu Benih. 162 Pengelolaan Lahan. 141. 124 Mutu Bibit. 39. 149. 126. 81 Nilai Ekonomi. 37 Pemetaan.Mikrosatelit. 156 Pendapatan Masyarakat. 129 Penertiban Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan. 125 Otonomi Bidang Kehutanan. 67 Morphoedafik. 64 P Pakan. 19. 107 Murbey Eksot. 151 Pengelolaan Kawasan Hutan. 33. 39. 67. 15 Morus Spp. 107.. See Nipah O Okulasi. 157 Pemanfaatan Lahan. See Konyal Pelapukan. 10. 34. 23. 67 Pembentukan Gaharu. 164. 146. 170 Nypa Fruticans. 118. 182 Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. 13. 120. 164 Nipah. 87 Pemangkasan. 112. 1 Model Input-Output. 163. 20. 80 Pengupasan Kulit. 47 Penangkaran. 41. 28. 79 Pendapatan Asli Daerah. 12. 4. 121 Mimba. 13 Papan Partikel. 98 Nusa Tenggara Timur. 133. 15 Pelengkungan. 114. 103 Pembalakan. 145. 2 Morfologi. 58. 3. 171. 44 Paraserianthes Falcataria. 47. 147. 96 Pengawetan. 149. 73 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 28 Passiflora Edulis Sims. 142 Pembangunan Kehutanan. 153 Pemupukan. 92 Papua. 136. 167 Pengelolaan Hutan. 88 Pengolahan Rotan. 69. 107. 175. 157 Pembangunan Hutan Tanaman. 48. 100. 44. 25. 94 Peluang Dan Tantangan. 61. 61. 77 Pembalakan Liar. 29. 23 Pemanfaatan Kayu. 75. See Murbei Muat Bongkar. 22. 33. 39 N Nata Pinnata. 107. 66 Penatausahaan Hasil Hutan. 35. 60. 12 Model Pendugaan Biomassa. 82. 155. 97 Murbei. 80. 180 Penduga Volume Pohon. 57. 38. 104. 107. See Sengon Partisipasi Masyarakat. 177. 2 Pembiakan Vegetatif. 39.. 176 Pencegah Serangan Rayap. 174 Pengelolaan Hutan Rakyat. 19. 161 Pengolahan Kayu. 140 Pemanenan. 158. 180 Model Pemanfaatan Partisipatif. 132. 6. 155. 9. 25 Pemanfaatan Limbah. 113 Nira Aren.

81 Rehabilitasi. 32. 1. 115 Sengon. 129. 133 Perlindungan Hutan. 47. 32 Sistem Kerek. 15. 152. 13. 173 Shorea Leprosula Miq. 170 Rehabilitasi Lahan. 169. 110 Rayap Kayu Kering. 100. 97 Provenansi. 61 Penyakit. 39. 76. 86 Sertifikasi. 153 Rotan. 38 Produksi Daun. 130. 31. 38. 39. 136. 77 Sifat Tanah. 131 Pulai Darat. 69. 80. 91 Sistem Kaliwu. 93. 40. 9 Pranata Sosial. 84. 38. 20 Perlindungan Hutan. 6. 79 Rayap Pekerja. 105 Puspa. 6 Penyaradan Kayu. 127. 75. 99 Rekayasa Sosial. 24. 111. 136 Sistem Kabel Layang. 4. 172 Peran Jender. 20 Pestisida. 23. 166 Penyakit Bercak Daun. 44. 52. 17. 38. 15 . 105. 159. 112. 71 Potensi Tegakan Hutan Alam. 65. 132. 153 Rumah Kaca. 118 Penyakit Embun Jelaga. 169. 70. 16. 120. 39. 36. 163 Perekat. 170 Rehabilitasi Hutan. 33. 146 Perlindungan Hutan. 159. 66 Peran Hutan. See Meranti Merah Sifat Fisiko-Kimia. 82 Penjarangan. 160. 166 Serangga Hama. 33. 162. 69. 42 Pupuk Kandang. 44 Penyu. 7. 122. 58 Pulai. 129 Pupuk Daun. 69 Peredaran Kayu. 7. 131. 152. 4. 100. 103 Penotipa. 92 Perencanaan Pengelolaan. 31 Rehabilitasi Lahan. 9. 35 Serat Batang Kelapa. 162. 21 Sistem Pertanaman Lorong. 1. 129. 106. 22 Penotipe. 140 Pohon Lokal. 120. 177 Riau. 6 Penyakit Embun Tepung. 8 Rencana Makro. 7. 75. 124. 16 Pupuk Nitrogen. 89 Petani Penyadap. 78.Peningkatan Kualitas Kayu. 48 Produksi Kelompok Hutan Alam. 29 S Santalum Album. 32. 51. 151 Perhutanan Sosial. 150 195 Salinitas. 103 R Ramin. 80 Serbuk Gergaji. 52 Pohon Tahan Api. 94 Sifat Fisis Dan Mekanis. 31. 71. 123. 123 Scion. 3 Social Capital. 100. 89. 104 Peta Potensi. 145 Rejuvenasi. 7 Serasah. 130 Pestisida Nabati. 62. 97 Penyelundupan Kayu. 101. 145. 3 Produktivitas Dan Biaya. 70. 116 Perikanan. 7. 104. 133. 99. 36 Rusa Sambar. 51. 132. 31 Sistem Tebang Pilih.

70. 17 Teknik Penyiangan. 126 Sterculia Foetida Linn. 160 Teknik Pengepakan. 26 Taman Nasional Gede Pangrango. 19. 163.Wanggameti. 103 Sukun. 41 Taman Nasional Komodo. 169 Teknologi Pemadatan. 34 Tumpangsari. 57. 21. 54. 36 196 . 5. 69. 98. 132. 18. 66 Teknik Pengelolaan. 179 Sumberdaya Hutan. 113 Sumber Daya Air. 173. 16. 126 Sulawesi Selatan. 158. 32 Tandan Kosong. 23. 102 Traktor Caterpillar. 19 Tumbuhan Obat. 56 Teknik Pembibitan. 75. 24. 44. 115. 127. 51. 114 Teknologi Mikroba Simbiotik. 72 Tumbuhan Obat. 130 Taman Nasional Bali Barat. 63. 83. 54. 97 Tumbuhan Berkayu. 163. 105. 60. See Jati Teknik Budidaya Kutu Lak. 155. 91. 169 Teknologi Pemuliaan. 19 Tata Air. 59. 116. 58 Teknik Budidaya Padi Gogo. 114. 19 Tanaman Mimba. 1 Tanaman Penutup. 33 Sukabumi. 173 Standarisasi Benih. 12 Stek. 41. 153 Taman Nasional Bromo Tengger. 89 Tapak. 28. 154. 136. 141. 22. 179 Sumberdaya Air. 172 Tata Usaha Kayu.Social Forestry. 167. 142. 126. 55. 5. 181 Supply-Demand. 4. 55 Taman Nasional Kerinci Seblat. 130 Stek Akar. 161. 154 Taman Nasional Betung Kerihun. 165 Teknologi Perbenihan. 27. 30. 36. 179. 127 Teknik Pemeliharaan Tegakan. 154. 175 Subak. 68. 170 Tingkat Kerontokan. 39. 30 Taman Nasional Laiwangi . 149. 162. 118. 63. 102.. 94. 18 Taman Nasional Gunung Rinjani. 11. 149. 87 Ulat Sutera. 87. 128 Teknik Silvikultur. 79. 160. 171 Surian. See Mahoni T Tajuk Pohon. 46 Strategi Pengelolaan. 25. 89 Tanin. 105. 18. 109 Sumatera Selatan. 121. 61. 70 Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. 20 Taman Nasional Kelimutu. 177 Sosial Ekonomi. 13. 107 Ukiran Kayu. 66. 35. 121. 28. 111 Swietenia Macrophylla King. 82 Teknologi Pemanfaatan Kayu. 164 Sosial Forestry. 25. 28. 172 Sumatera Utara. 56 U Uji Efikasi. 98. 48 Tipe Vegetasi.. 30. 139 Tectona Grandis L. 17 Taman Nasional Bukit Tigapuluh. 37. 184 Sulawesi Tenggara. 178. 120. 51. 55 Teknik Penangkaran Penyu. 96 Sumber Benih. 128. See Kepuh Strata Tajuk. 113. 138 Tapak Hutan. 58 Taman Nasional Meru Betiri. 43. 179 Tataniaga. 175 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 174. 163. 19.F.

78 Vitex Cofasus Reinw. 115 197 . 102 Venir. 80 Xylarium. 98.. 83 X Z Zat Pengatur Tumbuh. 42. See Bitti Volume Teras Kayu. See Vanili Vegetasi. 1. 57 Wallaceae. 34. 91 Wisatawan. 27 Wawasan Lingkungan. 84 Venir Silang. 78. 174 W Vanilla Planifolia Andrews. 47 V Vanili. 57. 76.Ulin. 51 Urea.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful