Abdurachman POTENSI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm.

Binn) DI HUTAN ALAM LABANAN, KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman dan Amiril Saridan. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 225-236 , 2006 Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn) is one of timber product in East Kalimantan, which has a hight economical value. Ulin has been an important source of income for the forest community and National income. Information of potency and population A.zwageri Teijms. & Binn in natural forest is limited, other hand extraction or exploitation A zwageri Teijms. & Binn is still intensive, without knowing whether the tree has Ulin or not which will impact on genetic resource. This researsch was done at STREK project plots at Labanan tropical production forest with the area of plot each is 4 ha (200 m x 200 m). The totals of plots are 12 plots or 48 hectare. The objective of this research is to get information of stocking and distribution of the trees produced Ulin Eusideroxylon zwageri Teijm & Binn. The result shows that the total of trees on plots are 230 trees, which mean only 5 tree/ha (basal area are 1.9483 m2/ha). The maximum diameter in these plots is 95.2 cm while the minimum diameters were above 10 cm. Kata kunci: Ulin, Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn, Hutan alam, Labanan, Berau, Kalimantan Timur Abdurachman SEBARAN DIAMETER PADA HUTAN 1 TAHUN SETELAH PENEBANGAN DENGAN SISTEM KONVENSIONAL DI BERAU, KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 317-324 , 2006 The research was carried out the concession area of PT Inhutani I Labanan, Berau, East Kalimantan. Measurement was conducted at the plots 4 ha (200x200m). The measured diameters were from 10 cm dbh and above. The objective of this research were to know the stand structure from diameter

distribution after logging with conventional system based on exponential, Gamma, Beta, Lognormal and Logistic distribution functions. The result showed that the distribution based on number of tree follow the reserve-j pattern which is the phenomenon of mixed natural forest. Furthermore by using the regression equation based on highest coefficient of determination (R2) and the least standard deviation, the suitable function was obtained namely exponential distribution function. Kata kunci: Diameter, Struktur, Tegakan, Penebangan, Konvensional, Berau, Kalimantan Timur Ade PEMANFAATAN TANAMAN MIMBA UNTUK REHABILITASI LAHAN KERING SEKALIGUS MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN / Ade. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 71-84 , 2006 Tanaman Mimba intaran atau Nee (Azadirachta indica) adalah salah satu jenis pohon asli Indonesia yang tumbuh di daerah kering dan merupakan tanaman serbaguna yang bernilai jual ekonomi tinggi. Produk dari mimba antara lain: (1) untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik, (2) kosmetik dan toiletris seperti sabun batangan,-sabun cair, body lotion, shampo, dan pasta gigi, obat kumur, dan produk spa; (3) pembuatan obat seperti teh hijau, kapsul neem, obat luka dan balsem; (4) pakan ternak; (5) produk lain seperti obat nyamuk, minyak pelumas, pengusir hama gudang dan lain-lain. Dalam pembuatan kegiatan tanaman hutan tanaman yang meliputi teknik persemaian, penanaman dan pemeliharaan tidak memerlukan perlakuan khusus dan hampir sama dengan jenis tanaman lain. Khusus kegiatan panen dan pasca panen memerlukan teknologi khusus mulai dari pengambilan bahan tanaman yang dikaitkan dengan pengolahan pasca panen. Dalam pengembangan tanaman mimba PT. Intaran Indonesia menggunakan konsep Strategi Tiga Lingkaran a.l.: preparing, processing and developing, yang melibatkan kerjasama masyarakat, baik pemerintah, LSM, pengusaha dan kelompok tani. Kata kunci: Mimba, Rehabilitasi, Lahan kering, Ekonomi Masyarakat

1

Adinugroho, Wahyu Catur MODEL PENDUGAAN BIOMASSA POHON MAHONI (Swietenia macrophylla King) DI ATAS PERMUKAAN TANAH (Biomass Estimation Model of Above Ground Mahogany (Swietenia macrophylla King.) Tree) / Wahyu Catur Adinogroho; Kade Sidiyasa. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 103 - 117 , 2006 Protokol Kyoto meliputi mekanisme pembangunan bersih dalam rangka mengontrol karbon yang dihasilkan oleh negara-negara di dunia. Hutan menyerap CO2 dari udara melalui proses fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa hutan. Untuk menduga jumlah biomassa di dalam hutan, pendekatan secara tidak langsung melalui model alometrik dan metode biomass expansion factor (BEF) dapat digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh besarnya nilai BEF dan membuat model alometrik dalam menduga besarnya biomassa pada pohon mahoni. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut maka ditentukan sebanyak 30 pohon contoh yang ditetapkan secara purposif, yang selanjutnya dilakukan penghitungan biomassa. Biomassa batang dan cabang yang beraturan dihitung dengan menggunakan pendekatan volume sedangkan biomassa bagian lainnya dihitung dengan penimbangan langsung. Model pendugaan biomassa dihasilkan dengan menganalisa hubungan antara nilai biomassa dengan dimensi pohon. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah biomassa tertinggi terdapat pada bagian batang yakni mencapai 73 % dari biomassa keseluruhan pohon di atas permukaan tanah, kemudian diikuti oleh biomassa cabang (17 %), tunggak (5 %), daun (3 %), dan ranting (2 %). Model alometrik yang dihasilkan untuk menduga biomassa pada pohon mahoni adalah B = aDb, di mana B = biomassa (kg); D = diameter (cm); a, b = konstanta. Persamaan regresi yang dihasilkan tersebut adalah biomassa batang (Bbtg) = 0,044 D2,61 (R2 = 94,7 %), biomassa cabang (Bcab) = 0,00059 D3,46 (R2 = 83,5 %), biomassa ranting (Branting) = 0,0027 D2,42 (R2 = 65,6 %), biomassa tunggak (Btunggak) = 0,022 D1,96 (R2 = 65,6 %), biomassa daun (Bdaun) = 0,0138 D1,93 (R2 = 70 %), biomassa pohon di atas permukaan tanah (Btotal) = 0,048 D2,68 (R2 = 95,8 %). Sedangkan nilai ”BEF” rata-rata untuk pohon mahoni adalah 1,36 (biomassa batang keseluruhan) dan 2,16 (biomassa batang bebas cabang). Kata kunci : Mekanisme pembangunan bersih, biomassa, karbon, model alometrik biomassa, biomass expansion factor, Swietenia macrophylla King

Adman, Burhanuddin PENGARUH KULTUR MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN Araucaria cunninghamii Sw. DENGAN KULTUR JARINGAN (Effects of Culture Media on the Growth of Araucaria cunninghamii Sw. Explants with Tissue Culture) / Burhanuddin Adman; R. Mulyana Omon. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 67 - 73 , 2006 Penelitian pengaruh kultur media terhadap pertumbuhan eksplan Araucaria cunninghamii Sw. dengan kultur jaringan telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Petanian Universitas Papua, Manokwari, Irian Jaya. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan kultur media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan A. cunninghmii pada kultur jaringan. Percobaan dilakukan dengan tiga media kultur, yaitu MS, WPM, dan Anderson. Setiap media kultur yang volumenya 250 ml ditanami 10 eksplan A. cunninghamii. Hasil memperlihatkan bahwa WPM media telah berpengaruh terhadap pembentukan kalus (20 %) eksplan A. cunninghamii selama 16 minggu pengamatan. Sedangkan media MS dan media Anderson tidak memberikan pengaruh terhadap pembentukan kalus. Persentase pencoklatan masingmasing media berkisar antara 30 % dan 90 % dan persentase kontaminasi berkisar antara 10 % dan 50 %. Secara umum pencoklatan dan kontaminasi eksplan disebabkan oleh oksidasi substrat yang dihasilkan oleh A. cunninghamii. Dengan demikian pembiakkan vegetatif melalui teknik kultur jaringan pada eksplan A. cunninghamii harus dicoba dengan bahan kimia sterilisasi yang lain, misalnya NaOCl, dengan media WPM. Kata kunci : Araucaria cunninghamii Sw., media kultur (MS, WPM, dan Anderson), kultur jaringan Agustini, Luciasih KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR YANG POTENSIAL DALAM PEMBENTUKAN GAHARU DARI BATANG Aquilaria spp. (Biodiversity of Potential Agarwood Inducer Fungi Taken from Aquilaria spp. Stems) / Luciasih Agustini, Dono Wahyuno, dan Erdy Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.5 ; Halaman 555 564, 2006 Terbentuknya gaharu diyakini sebagai respon pohon gaharu terhadap banyak faktor, di antaranya fisiologis tanaman dan infeksi jamur. Sejumlah isolat jamur

2

yang berpotensi menginduksi gaharu telah diisolasi dari sampel kayu gaharu dari berbagai daerah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui keanekaragaman jenis isolat yang berhasil dikoleksi. Sampel kayu diambil dari beberapa lokasi penanaman gaharu di Jawa, Sumatera, Kalimatan, dan Maluku. Kegiatan isolasi, pemurnian, dan perbanyakan dilakukan dengan menumbuhkan pada berbagai media. Identifikasi dilakukan dengan mengamati ciri makroskopis dan mikroskopis isolat yang dibiakkan pada media PDA dan BLA yang diinkubasi pada suhu ruang dengan pencahayaan 300-400 lux selama 10-14 hari. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa biodiversitas isolat koleksi meliputi jenis Fusarium solani (Mart.) Appell and Walenw., F. tricinctum (Corda) Sacc., F. sambucinum Fuckel, dan Cylindrocarpon sp. Kata kunci: Keanekaragaman, Fusarium, Cylindrocarpon, ciri makroskopis dan mikroskopis Alrasjid, Harun PENERAPAN SISTEM TEBANG PILIH DI HUTAN RAWA GAMBUT / Harun Alrasjid. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 45-48 , 2006 Penerapan sistem silvikultur dalam mengelola hutan rawa gabut memerlukan penelitian yang seksama dalam jangka waktu yang lama. untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek diperlukan pengkajian ulang terhadap sistem silvikultur yang sudah mapan. Sebelum sistem silvikultur lainnya diterapkan dalam mengelola hutan rawa gambut patut ditelaah terlebih dahulu kondisi hutan rawa gambut dengan persyaratan yang diminta oleh sistem silvikultur tersebut. Penerapan sistem silvikultur TPTI untuk mengelola hutan rawa gambut perlu dikaji keakuratannya. Kata Kunci: Tebang Pilih, Hutan Rawa Gambut, Silvikultur

Alrasyid, Harun PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MENURUNNYA KELESTARIAN PRODUKSI KELOMPOK HUTAN ALAM TRENGWILIS - BOA ODAK, GUNUNG RINJANI, NUSA TENGGARA BARAT (Solution Approach of

Sustained Yield Declining Problem of Trengwilis - Boa Odak Natural Forest Complex, Mount Rinjani, West Nusa Tenggara) / Harun

Alrasyid; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 31 - 44 , 2006 Garu (Disoxylum densiflorum Miq.) merupakan salah satu jenis kayu primadona untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat ini produksi kayu tersebut setiap tahun semakin merosot, sehingga perlu ditangani segera melalui penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pemecahan masalah penurunan produksi hutan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa vegetasi. Hasil survey potensi hutan menunjukkan bahwa kelompok hutan Trengwilis – Boa Odak yang terletak di lereng Gunung Rinjani memiliki permudaan alam jenis perdagangan yang cukup. Rata-rata permudaan alam tingkat semai ada 9.740 batang per hektar, tingkat pancang 638 batang per hektar, dan permudaan alam tingkat tiang 75 pohon per hektar, namun jumlah volume kayu yang dapat dipungut sangat rendah (27,56 m³/ha untuk diameter 50 cm ke atas). Berdasarkan kondisi hutan tersebut di atas, penggunaan sistem Tebang Pilih dengan limit diameter tebang minimum 30 cm akan berakibat penebangan berkelebihan (44,63 m³/ha) sehingga kelestarian hutan akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan dengan cara : a. Limit diameter tebang dinaikkan minimum 40 cm, kecuali untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq., Eugenia polycephala Miq., dan Memecylum costatum Miq. dengan limit diameter tebang minimum 50 cm. Begitu pula untuk jenis pohon Duabanga moluccana Bl. dengan minimum diameter 70 cm; b. Perlu dilakukan pemeliharaan tegakan di areal bekas tebangan dan pengayaan tanaman khususnya untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq. Kata kunci : Kelestarian produksi hutan, Gunung Rinjani, Duabanga Moluccana Bl.., hutan alam Boa Odak, sistem silvikultur

3

Kata kunci: Potensi flora. Harun PELEPASAN UNSUR HARA MINERAL SELAMA PELAPUKAN SERASAH DAUN DI AREAL TEGAKAN SISA HUTAN ALAM MANGROVE SUNGAI SEPADA. No. Air Terjun Granit dan kawasan sekitar kolam sebagai bagian tak terpisahkan dari pelatihan dan demonstrasi pemadaman kebakaran hutan.552 gc/m2/th karbon organik. Kalimantan Barat.Litter Decomposition in Residual Stand Areas of Natural Mangrove Forest. Halaman 513 -532 . KALIMANTAN BARAT (Loss of Mineral Element During Leaf Center (GTC). Rhizophora apiculata B. (b) Laju penguraian unsur mineral selama dekomposisi serasah adalah : P>N>Mg>C >Al >S>K>Fe>Cu>Zn>Ca>Mn.136 . dengan rekomendasi bahwa Bukit Lancang dapat dikembangkan sebagai hutan pendidikan lingkungan dan jalur pendakian bagi pengunjung. Berdasar hasil pengamatan fenologi empat jenis mangrove di kawasan mangrove Suwung. bunga pada keadaan mekar. Tanahnya digenangi air pasang laut yang tingginya beberapa sentimeter. serta R.) Lamk 36 minggu. Riau) / Bambang S. lokasi penelitian tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam. pengelolaan kawasan. Halaman 237 247 . Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).III. -. -. dan sekitar Air Terjun Granit. Kwatrina. keragaman jenis. Dengan diketahuinya tahapan fenologi ini maka dapat diprediksi berapa lama lagi buah mangrove akan matang. Sungai Sepada. bunga siap mekar.III. memerlukan waktu 61 minggu. apabila dijumpai salah satu tahapan fenologi mangrove di lapangan. Lokasi penelitian terletak di komplek hutan alam mangrove Sungai Sepada.3 . 2006 Pengamatan secara kontinyu proses terbentuknya buah mangrove matang dilakukan terhadap sepuluh tangkai yang memiliki bakal tunas bunga dari setiap pohon contoh. -. mucronata Lamk 60 minggu. Pengamatan dilakukan pada jenis-jenis vegetasi di kawasan GTC yang menarik pada lokasi penelitian yaitu Bukit Lancang. Analisis vegetasi dilakukan dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP) dan asosiasi antar jenis. dan (c) Pemanenan biomas hutan yang tak terkontrol telah menghilangkan rata-rata 99. sekitar kolam.4 % karbon organik. Selanjutnya.III. dan Bruguiera gymnorrhiza Lamk. Serasah kering dikumpulkan setiap triwulan. terbentuknya bakal buah. Sonneratia alba J. No. buah muda serta buah matang. dekomposisi serasah. Riau.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Smith memerlukan waktu 15 minggu untuk menjadi buah matang sejak munculnya tunas muda pada ketiak daun di ujung ranting. West Kalimantan) / Harun Alrasyid. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang peranan hutan mangrove dalam memelihara kesuburan daerah perairan pantai di bawah tegakan tinggal hutan alam mangrove. Untuk menaksir tingkat pembusukan serasah dan laju akumulasi unsur mineral yang terurai menggunakan cara yang digunakan oleh Olson (1963 ) dan Yenny et al. (1949). 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan keragaman jenis dan peluangnya sebagai lokasi wisata alam di Granit Training 4 . Yetti Alrasyid.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Taman Nasional Bukit Tigapuluh Anwar. Bambang S POTENSI DAN KERAGAMAN JENIS FLORA PADA KAWASAN WISATA ALAM DI GRANIT TRAINING CENTER. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Bukit Lancang mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan dua lokasi lainnya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : (a) Tegakan tinggal hutan mangrove menghasilkan rata rata 202. Chairil PREDIKSI MUSIM PUNCAK BUAH EMPAT JENIS MANGROVE BERDASAR HASIL FENOLOGINYA (Fruit Peak Season Prediction of Four Mangrove Species Based on Phenology) / Chairil Anwar.2 . No. TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. pelepasan unsur mineral Antoko. Kata kunci : Mangrove. Hutannya didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata Lamk.L. munculnya bakal bunga. Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Bali. RIAU (Potency of Flora and Species Diversity in Granit Training Center. Selain itu dikumpulkan juga data jenis satwa yang ada di lokasi penelitian.5 . telah diketahui waktu-waktu yang diperlukan pada masing-masing proses tahapan fenologi mangrove : munculnya tunas bunga. Halaman 127 . Bruguiera gymnorrhiza (L. dan tingginya agak seragam. Penaksiran jumlah serasah menggunakan 10 buah jaring serasah berukuran masing masing 1 m x 1 m dan diletakkan secara acak dalam hutan. Dengan mengadakan studi lapangan Heryati. Bukit Tigapuluh National Park. Antoko dan Rozza T.

Sebangau. Empat belas jenis vegetasi merupakan elemen utama pembentuk mangrove. Rhizophora. Bali Barat. Kata kunci: Fenologi mangrove. 2006 Taman Nasional (TN) Bali Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. Kondisi ini akan memunculkan persoalan lingkungan hidup seperti terancam punahnya fauna dan flora. maka dapat diprediksi kapan akan terjadi musim puncak berbuah mangrove. NUSA TENGGARA BARAT DAN KEMUNGKINANNYA SEBAGAI SUMBER BENIH / Chairil Anwar. yang pada gilirannya menyebabkan lahan gambut sangat rentan terhadap kebakaran. maka permukaan air tanah dapat mencapai antara 10-30 di atas permukaan tanah pada musim hujan dan dapat mencapai 100 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau. dan penurunan kualitas perairan sungai di sekitarnya. Halaman 187-195 . sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petani sekitar. -.Pengalaman saat ini dengan semakin maraknya pembuatan kanal-kanal. maka fluktuasi permukaan air tanah yang tinggi ini dapat menyebabkan gambut tidak akan dapat menyerap air kembali apabila tergenang oleh air berikutnya. Halaman 223240 . Limabelas jenis vegetasi merupakan elemen mayor pembentuk mangrove. Possumur. Penambatan kanal merupakan salah satu upaya untuk memperlambat keluarnya air dan memperkecil fluktuasi permukaan air gambut yang diharapkan dapat memperbaiki ekosistem gambut untuk mendukung rehabilitasnya.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .kebakaran hutan. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.Mengingat lahan gambut memiliki sifat pengkerutan atau kering tak balik (irreversible) . 2006 Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. 2006 . Sekurang-kurangnya dijumpai 53 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati lima komplek mangrove di TN Bali Barat. diperkirakan luas mangrove di wilayah TN Bali Barat adalah 551 ha. Kata Kunci: Kanal. tujuh jenis merupakan elemen minor dan 33 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. 2006 Pembuatan kanal dalam wilayah lahan gambut selain akan memudahkan ekstraksi kayu dalam pembalakan liar. Berdasar hasil 5 . sedimentasi. Teluk Trima. Sonneratia.5-30 kali bobot keringnya. Halaman 155-165 . Bruguiera Anwar. banjir. Gambut di alam pada dasarnya merupakan bahan "spongy" yang mempunyai daya besar dalam menahan air hingga 4. KALTENG / Chairil Anwar. telah menyebabkan terjadinya banjir besar. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . -. Gilimanuk. sehingga dapat menahan banjir pada musim hujan dan mampu mengalirkan air pada saat musin kemarau. Kalimantan Tengah Anwar. sekurang-kurangnya terdapat 55 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati 30 komplek mangrove di Pulau Lombok. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Berdasar hasil pengukuran secara kasar. Hutan rawa gambut. Chairil KERAGAMAN DAN SEBARAN MANGROVE DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Chairil Anwar. 10 jenis merupakan elemen tambahan dan 29 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. Chairil SEBARAN MANGROVE DI PULAU LOMBOK. Pengalaman lahan gambut Sebangau tahun 1994 menunjukan bahwa akibat adanya pembuatan kanal yang belum begitu banyak.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Chairil PENAMBATAN KANAL: UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI LINGKUNGAN PADA KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEBANGAU. Tanjung Gelap dan luas Anwar.guna mengetahui tahapan fenologi mangrove yang paling dominan pada suatu kawasan tertentu serta pada suatu saat tertentu. juga penyebabkan terjadinya perubahan ekosistem yang akan berakibat timbulnya kerugian sangat besar dikemudian hari . konservasi. yang terdiri dari mangrove komplek Teluk Gilimanuk Kata kunci: Taman Nasional. yang pada gilirannya akan membantu dalam rangka perencanaan pengunduhan buah serta penyediaan bibit mangrove. Pulau Menjangan.

Ari Wibowo. membengkak. Kenyataan di lapangan ternyata tanaman klicung terserang oleh penyakit embun jelaga (black mildew) dan sekaligus juga oleh penyakit daun menggulung (roll leaf). Cunn. terserang oleh dua jenis penyakit yaitu karat daun dan embun tepung. diperkirakan luas mangrove di Pulau Lombok adalah 1.Untuk keperluan rehabilitasi mangrove. 27 jenis) . pada fase seksual (Ascomycetes). Jawa Timur bertujuan untuk mengetahui gejala makroskopis dan mikroskopis dari penyebab penyakit yang menyerang tanaman Acacia auriculiformis A.marina. embun jelaga. yang terserang embun tepung saja tidak ada sedangkan yang terserang kedua penyakit tersebut sebesar 8. Ex Benth. penyakit karat daun disebabkan oleh Atelocauda digitata G. BKPH Pare. sehingga diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian secara efektif dan efisien. Persentase serangan penyakit karat daun rata-rata sebesar 91. Wint. Lombok. KHDTK Rarung. (Deuteromycetes) atau disebut pula Erysiphe sp. pesisir selatan Kabupaten Loteng (7 ha. dan dapat menyebabkan embun tepung. NUSA TENGGARA BARAT (Diagnostic of Black Mildew and Rolled Leaf Diseases on Diospyros malabarica (Desr. Cunn. mucronata. Benth. -.) Kostel.44 %.592.Cunn. Ex Benth. yang tersebar pada pesisir Kabupaten Lotim Utara sekitar 1. penyakit embun tepung.pengukuran secara kasar. Lombok Tengah. 6 . dan malabarica (Desr. Hasil pengamatan gejala di lapangan serta pengamatan mikroskopis di laboratorium penyebab penyakit embun jelaga adalah fungi Meliola sp. No. Lombok Barat.759 ha. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 1994 membuat plot uji coba penanaman klicung di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rarung. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang organisme penyebab penyakit embun jelaga dan daun menggulung serta ekobiologinya.III.) Kostel at Forest research (KHDTK) of Rarung. Ex.stylosa. L. C. S. bagian pucuk bentuknya tidak normal (keriting. JAWA TIMUR (Powdery Mildew and Rust Attack on Acacia auriculiformis A. 2006 membelok). 2006 Acacia auriculiformis A. in Kediri. Ex Benth. 31 jenis) dan pesisir Kabupaten Lombar Utara (11 ha. Ex Benth.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.1 . East Java) / Illa Anggraeni. Lombok Timur. Cunn. DI KEDIRI.III. Kabupaten Lotim Selatan (71 ha. alba dan S. Nusa Tenggara Barat seluas 5 hektar. Sumber benih. caseolaris tersebar di Pulau Lombok yang dapat disarankan untuk dijadikan sumber benih mangrove. penyakit karat daun Anggraeni. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tanaman Acacia auriculiformis A. Halaman 45 53 .apiculata. Kostel) DI KHDTK BARUNG. R. R. daun menggulung.55 %. pesisir Kabupaten Lombar Selatan (77. Illa SERANGAN PENYAKIT EMBUN TEPUNG DAN KARAT DAUN PADA Acacia auriculiformis A. tagal. Ex Benth. dan penyakit daun menggulung disebabkan oleh virus. Cunn. Kata kunci : Klicung. Ngatiman. merupakan jenis pohon cepat tumbuh untuk penghijauan yang tanaman mudanya mudah terserang penyakit. Hasil identifikasi dan determinasi penyebab pada fase aseksual penyakit embun tepung adalah fungi Oidium sp.5 ha dengan keragam 50 jenis mangrove. No. R. berumur dua tahun serta akibat yang ditimbulkannya. West Nusa Tenggara) / Illa Anggraeni. Illa DIAGNOSA PENYAKIT EMBUN JELAGA DAN DAUN MENGGULUNG PADA KLICUNG (Diospyros malabarica (Desr. Akibat kedua penyakit tersebut tanaman pertumbuhannya menjadi terhambat. racemosa. Halaman 209 . 18 jenis). Kata kunci: Pulau Lombok. -. setidaknya terdapat sembilan jenis: A..Cunn. Meliola sp. Informasi dari penyakit embun jelaga dan daun menggulung yang keduanya sekaligus menyerang tanaman klicung belum pernah ada.2 . pohon menjadi kering dan terselimuti Kata kunci : Acacia auriculiformis A.5 ha.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. 28 jenis).) Kostel) secara alami terdapat di Klicung (Diospyros Kabupaten Sumbawa dan Lombok Selatan. Mangrove Anggraeni.214 . Diospyros malabarica (Desr. KPH Kediri. Penelitian yang dilakukan di RPH Pandantoyo. Jenis pohon ini tergolong lambat tumbuh (slow growth) dan tergolong jenis kayu mewah (fancy wood).

Pengendalian hama. sebagai dasar untuk mengklasifikasi potensi masing-masing jenis sebagai tumbuhan penghasil pestisida nabati. dan pengendalian hama tanaman budidaya mereka. suku Melayu Tua di jambi. Xylo Indah Pratama (XIP). dan ikan. Namun penggunaannya yang kurang bijaksana sering menimbulkan dampak negatif. -. Lubuk Linggau. Inventarisasi jenis tumbuhan. Persentase serangan kumbang cukup tinggi. dan Sri Utami. Kata Kunci: Etnobotani.Asmaliyah POTENSI ETNOBOTANI SUMATERA SEBAGAI SUMBER PENGHASIL PESTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA / Asmaliyah. Salah satunya yang memenuhi persyaratan ini dan layak dikembangkan adalah bioinsektisida (insektisida mikroba dan insektisida organisme non target. dan imago Helicoverpa armigera Hbn dan Spodoptera litura F. Keberhasilan pembentukan pupa. dan berbahaya bagi mahluk hidup serta pencemaran lingkungan. dan Enik Erna Wati Hadi. 2006 Kumbang Cycotrachelus sp. tetapi tingkat kerusakannya masih sangat rendah. Sebanyak 52 jenis tumbuhan diantaranya diduga berpotensi besar sebagai penghasil pestisida nabati. XYLO INDAH PRATAMA-CECAR / Asmaliyah. Kumbang ini merupakan hama penggerek daun (leaf miner) yang menyerang daun pulai dengan cara memakan daging daun pada permukaan daun. obat-obatan. antara lain terjadinya resistensi resurjensi. Cecar.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Pulau Sumatera memiliki potensi besar dalam hal keaneragaman jenis tumbuhan tingkat tinggi. 2006 Sampai saat ini cara yang paling umum digunakan untuk mengendalikan hama adalah dengan menggunakan insektisida kimia. terbunuhnya musuh alami. dan suku Rejang Lebong Tapus Bengkulu. Halaman 115-124 . Penelitian dilakukan sejak Desember 2003 sampai dengan Maret 2005 pada kelompok masyarakat suku Talang Mamak di Riau. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Pestisida nabati. Berdasarkan hasil uji pendahuluan insektisida jenis belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn. Keberadaan kumbang ini cenderung meningkat seiring menurunnya serangan ulat Clauges glauculalis. Edwin Martin. -. bahan berburu maupun pangusir hama pertanian. Kata Kunci: Bioinsektisida. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari ketiga lokasi penelitian dapat ditemukan 266 jenis tumbuhan etnobotani. karena dianggap paling cepat dan ampuh mengatasi gangguan hama. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan lebih banyak lagi tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil pestisida nabati maupun efektivitasnya dalam mengendalikan serangga hama tanaman. tidak meninggalkan residu terhadap lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . perlu dicari alternatif pengendalian yang efektif terhadap hama sasaran tetapi lebih aman. Kondisi ini dikhawatirkan suatu saat nanti serangan kumbang akan membahayakan tanaman apabila sejak dini tidak dikendalikan. Halaman 95-103 .) dan nango (Canangium sp. Sri utami. (Coleoptera:Brenthidae) merupakan serangga hama baru yang ditemukan menyerang tanaman pulai (Alstonia angustiloba) di PT. Oleh 7 . Untuk menekan timbulnya berbagai permasalahan tersebut di atas. Masyarakat tradisional memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya (etnobotani) untuk keperluan berburu.) terlihat bahwa ekstrak kedua tumbuhan tersebut mampu mempengaruhi mortalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi jenis tumbuh-tumbuhan yang secara tradisional oleh masyarakat etnis Sumatera dimanfaatkan sebagai obat-obatan (tradisional medicine). Pengendalian hama Asmaliyah PROSPEK PEMANFAATAN BIOINSEKTISIDA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENGENDALIAN HAMA PADA HUTAN TANAMAN / Asmaliyah. Hutan Tanaman Asmaliyah PENGAMATAN SERANGGA HAMA BARU PADA TANAMAN PULAI DARAT (Alstonia angustiloba) DI PT. mamalia. Halaman 145-150 .

Kata kunci: Rekayasa sosial. pemanas. Cycotrachelus sp. pelaku ekonomi. Peningkatan kebutuhan ini pada gilirannya melahirkan antagonisme dan konflik. Jelutung. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa. baik yang bersifat horisontal antar kelompok sosial. Air 8 . meliputi areal seluas 34. Pasar ekspor getah dan kayu jelutung terus mengalami penurunan pasokan sehingga peluang pasar masih sangat besar. kebutuhan akan bahan makanan yang berkaitan dengan hutan sebagai gudang alam. Halaman 69-76 . Ketegangan dan konflik ini tidak akan pernah terselesaikan apabila para pihak yang terlibat tidak menggunakan kearifan yang tinggi yang dimilikinya. Yanuarius Koli REKAYASA SOSIAL DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI NTT / Yanuaris Koli Bau. maupun yang berisfat trans nasional. Hama. Prospek pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa Sumatera sangat baik karena didukung oleh sumberdaya lahan yang luas.Peningkatan kebutuhan ini telah secara nyata mendorong individu. Dengan demikian persoalannya bukan lagi pada akhirnya masyarakat memperoleh manfaat dari tanah. antarbangsa. Rawa. 2006 .karena itu perlu pemantauan dan pengamatan secara periodik dan intensif terhadap perkembangan serangan kumbang Cycnotrachelus sp. social forestry) untuk memperoleh hasil getah dan kayu serta pemulihan fungsi lingkungan. pelaksana kebijakan. air. pelaksana kebijakan dan pelaku ekonomi bersama-sama dengan masyarakat lokal melakukan rekayasa sosial. menemukan kembali dan memanfaatkan proses belajar dinamis dari kapital sosial yang dimiliki masyarakat. pertumbuhan cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal. 2006 Data di berbagai negara memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin pesat telah secara langsung menimbulkan peningkatan kebutuhan masyarakat baik secara individu. Kata Kunci: Serangga.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Hutan tanaman jelutung dapat dikelola dengan pola yang seragam (HTI. Coleoptera: Brenthidae. Halaman 19-30 . 2006 Potensi lahan rawa sangat besar. yang bersifat vertikal antara rakyat dan negara. serta kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan peternakan. Keberhasilan pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa sangat ditentukan oleh peran aktif banyak pihak. Saat ini sebagian besar lahan rawa dalam kondisi rusak yang disebabkan oleh kegiatan eksploitasi hutan. dan masak memasak. Pengelolaan hutan. -. dan hutan. Untuk mempercepat pemulihannya perlu dilakukan rehabilitasi melalui pembangunan hutan tanaman.2 juta hektar (sumatera). PT Xylo Indah Pratama Bastoni PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN JELUTUNG (Dyera lowii) PADA LAHAN RAWA SUMATERA / Bastoni dan Abdul Hakim Lukman. perabot rumah tangga. masyarakat bahkan negara bangsa sebagai pelaku ekonomi melakukan eksploitasi hutan secara berlebihan dan mengganggu keseimbangan ekosistem dan ketersediaan sumberdaya alam jangka panjang. khususnya dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam bentuk kebijakan dan program yang mengarah pada upaya tersebut serta input teknologi dari lembaga penelitian. yakni meningkatnya kebutuhan akan kayu untuk perumahan. Tanah. konversi lahan. . tetapi pada mulanya warga masyarakat bersama-sama pembuat kebijakan. sumber plasma nutfah tersebar dengan keragaman genetik yang besar. kelompok atau bangsa akan sumberdaya alam. Sumatera Bau. termasuk penyelesaian antagonisme dan konflik yang terjadi hanya akan berhasil apabila para pembuat kebijakan. Pengalaman lapangan dari desa-desa di Pulau Timor memperlihatkan bahwa penanganan pembangunan kehutanan. Identifikasi di sejumlah negara menunjukan peningkatan kebutuhan nyata yang berkaitan langsung dengan hutan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . dan aspek silvikulturnya sebagian besar telah dikuasi. berfikir dan bekerja sehingga mereka mendapat manfaat optimal dan berkelanjutan.4 juta hektar (nasional) dan 7. Dyera lowii. Kondisi tersebut akan dapat menumbuhkan dan memacu minat budidaya dan minat kelola oleh masyarakat dan dunia usaha. kebakaran hutan dan lahan. Jelutung (Dyera lowii) adalah jenis pohon lokal (Indigenous species) yang sangat prospektif untuk hutan tanaman produktivitas tinggi dan ramah lingkungan pada lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimiliki. Alstonia angustiloba. tanpa harus mengorbankan kepentingan ekonomi dan politiknya masing-masing. Pulai. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kata Kunci: Hutan tanaman.

Arang aktif dapat digunakan sebagai bahan adsorben. hutan “sedang” sebesar 101.04 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =9. Prabu Alaska Unit I Fakfak pada hutan “jarang” sebesar 68. baik pada media cair maupun udara.25 N/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 118. destilat.70 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4.).60 N/ha).000 m.56 m³/ha). dan pala hutan (Myristica fatua Houtt. -. Nusa Tenggara Timur.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 69-76 . 2006 Tanaman Kemiri merupakan tumbuhan serbaguna dan pemanfaatannya sudah dikenal baik oleh masyarakat terutama buahnya. hal ini ditunjukkan oleh kerapatan tegakan hutan dengan diameter ≥ 20 cm pada hutan “jarang” sebesar 96. Destilat telah digunakan untuk memperbaiki sifat tanah dan pencegahan jenis hama dan penyakit tertentu. Kata kunci : Klasifikasi. mersawa (Anisoptera polyandra Bl. N. Arang dan arang aktif juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki sifat tanah.III.78 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25. sebenarnya memiliki kegunaan yang cukup bermanfaat. -. arang aktif. Di dalam plot bujur sangkar dibuat lima jalur ukur yang diletakkan 9 .4 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.06 m³/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 85. kelompok hutan Darmawan. Sofwan KLASIFIKASI POTENSI TEGAKAN HUTAN ALAM BERDASARKAN CITRA SATELIT DI KELOMPOK HUTAN SUNGAI BOMBERAI .458 . citra satelit.80 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm = 16.25 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 8. briket arang. Sedangkan pengamatan lapangan dilakukan dengan cara menentukan satuan contoh berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 1 km x 1 km (100 ha).Butar-Butar.). Kandungan bahan organik dan N total terbesar terletak pada lapisan ke dua. 2006 Telah dilakukan penelitian studi sifat-sifat tanah di Kebun Percobaan Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. proses pelapukan berlangsung secara normal. 2006 . Papua) / Sofwan Bustomi. tanah masih relatif muda dan secara edafis masih dapat ditumbuhi oleh beberapa jenis tanaman. panjang 1. kelat/jambu-jambu (Eugenia sp. semakin jelas tone yang dihasilkan.). matoa (Pometia pinnata Forst.25 N/ha). Dari penelitian profil di lokasi menunjukan bahwa terjadi proses pedogenesis pada lapisan atas maupun bawah.05 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 9. Tempurung kemiri yang selama ini banyak dijadikan limbah.46 m³/ha).SUNGAI BESIRI DI KABUPATEN FAKFAK. -. Heriyanto. PAPUA (Standing Stock Classification of secara sistematik dengan jarak antar jalur 200 m. Saptadi RAGAM MANFAAT KEMIRI / Saptadi Darmawan.Besiri River Forest Natural. No.20 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 2. dan minyak kemiri. Arang dan briket arang dapat digunakan sebagai sumber energi. Pengukuran potensi pada citra satelit tersebut dilihat dari tone yang dijumpai.).88 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =17.45 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4.M.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Penelitian dilakukan dengan membuat profil tanah di lokasi penelitian untuk dilakukan analisis tanah secara langsung maupun pengambilan contoh tanah untuk dilakukan analisa di laboratorium. Beberapa produk dari hasil pengolahan tempurung kemiri adalah arang. Sifat tanah Bustomi. Tigor STUDI SIFAT-SIFAT TANAH DI KEBUN PERCOBAAN BU'AT-SOE TIMOR TENGAH SELATAN. 2006 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kelas kerapatan hutan dan potensi tegakan berdasarkan tampilan warna/tone pada citra satelit. Metode yang digunakan yaitu pengukuran/penilaian potensi pada citra satelit dan pengamatan lapangan. hutan “sedang” sebesar 76.). Jenis ini dapat tumbuh dengan baik di Nusa Tenggara dan penyebarannya cukup merata.80 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 7. NUSA TENGGARA TIMUR / Tigor Butar-Butar [et. Kata kunci: Kebun percobaan Bu'at-SoE.66 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 18. Dengan dihasilkannya produk Nature Forest Based on Landsat Imagery at Bomberai River . potensi tegakan. Jenis-jenis yang dominan berturut-turut resak/damar (Vatica rassak Bl. Potensi pohon berdiameter ≥ 20 cm di areal kerja PT. Djoko Wahyono. Halaman 217-221 . Hasil analisa laboratorium menunjukan bahwa pH tanah (H2O maupun KCI) semakin tinggi dari lapisan atas ke lapisan bawah.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kemiri saat ini pemanfaatannya lebih terfokus pada kemiri isi dan kayunya. Fakfak District.al] . Pengkelasan hutan menurut warna/tone pada peta citra satelit dapat digunakan. Hasil penelitian ditemukan 48 jenis pohon yang tercakup ke dalam 27 famili. kenari (Canarium maluense Lauterb. lebar jalur 20 m. Halaman 437 .). semakin rapat tegakan.

Berkurangnya inang gaharu di alam disebabkan oleh perburuan yang berlangsung secara besar-besaran tanpa dilakukan upaya konservasi dengan melakukan budidaya inang gaharu. geronggang (Carborescens) merupakan jenis-jenis yang tahan hidup pada lahan sulfat asam. dalam melakukan vegetasi diperlukan pemilihan jenis yang tepat. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan. -.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Halaman 205-215 . geronggang (Cratoxylum glaucum). dan keanekaragaman hayati. Arang. Inventarisasi Daryono. dan kondisinya dalam keadaan terbuka pada kawasan produksi (gambut <3 m). Saptadi PENYEBARAN DAN KEBERADAAN INANG GAHARU DI ALAM / Saptadi Darmawan dan Sumardi. Survey. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Inang gaharu di alam pada tingkat pohon dan tiang sudah tidak dapat ditemukan. Pada lahan gambut yang telah mengalami kebakaran. balangeran). sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari.olahan dari tempurung kemiri tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat bagi masyarakat. 2006 . tysmanniana) atau Jelutung (Dyera lowii). 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas 17 juta hektar yang terbentang dari pantai timur Sumatera Timur seluas 9. Halaman 1-18 . jenis gelam (Melaleuca sp.83 juta hektar/tahun termasuk kerusakan hutan rawa gambut. Lahan sulfat masam aktual merupakan lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup di situ.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. carbon storage. baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode antara 1997-2000 di Indonesia mencapai 2.86 dan 8. Limbah. Gaharu. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Dari hasil penelitian di lokasi penelitian diketahui inang gaharu dari jenis Aquilaria malaccensis sulit ditemukan. belangeran (S. habitatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15m. pembangunan Hutan Tanaman Industri untuk pulp dapat menggunakan jenis Acacia crasicarpa. Kata kunci: Inang. Herman PEMANFAATAN LAHAN SECARA BIJAKSANA DAN VEGETASI DENGAN JENIS POHON TEPAT GUNA DI LAHAN RAWA GAMBUT TERDEGRADASI / Herman Daryono. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus). ekonomi. Kecamatan Metawai Selatan. Di Kalimantan seluas 6. Penelitian dilakukan dengan melakukan survey dan wawancara terhadap masyarakat untuk mendapatkan data pengusahaan gaharu dan membuat petak berukuran 20 m x 20 m dengan jarak antar petak 200 m dengan sistem jalur untuk melakukan inventarisasi inang gaharu. Penelitian dilakukan pada bulan November 2004 di kawasan Hutan Timau Kecamatan Amfoang Kabupaten Kupang dan Kawasan Hutan Wanggameti. pada lokasi tempat ditemukannya gaharu/inang gaharu maupun bekas eksploitasi gaharu/inang gaharu. Selain itu jenis-jenis pionir seperti pulai rawa (Alstonia pnematophora). Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. -.000 hektar. Pada masing-masing tipologi lahan. Oleh karena itu. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. baik sebagai reservoir air. 2006 Telah dilakukan penelitian penyebaran dan keberadaan inang gaharu di alam. Punak (Teramerista glabra). dan Sumatera Selatan. tanah-tanah (Combetocarpus rotundatus) juga dapat dipertimbangkan sebagai jenis untuk rehabilitasi.). untuk tingkat pancang dan semai di petak analisis vegetasi masih dapat dijumpai dengan nilai indeks penting masingmasing sebesar 2. pemanfaatan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Sedang pada lahan gambut dalam kategori dangkal.3 juta hektar meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. dan budaya maupun fungsi ekologi.6 juta hektar yang meliputi Provinsi Jambi. meranti bunga (S.laporan terakhir dari Badan Planologi Kehutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi. dan rapuh (fragile). sedang ataupun dalam 10 . Briket arang. sedang HTI non pulp bisa dengan jenis meranti batu (Shorea uligonosa). Kata Kunci: Kemiri. dan Irian Jaya seluas 70. Kabupaten Sumba Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Destilat Darmawan.28.

kompos. No. Introduksi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith berkorelasi positif dengan asam humat dan keberadaan cendawan endomikoriza dan asam humat bersifat sinergis terhadap pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. 5 cc/100cc air. -. hal ini dikarenakan kurang memperhatikan karakteristik bekas penambangan. K. Hama daun.500 ppm. Cileungsi. dan Mg). Eurema sp Darwo APLIKASI ENDOMIKORIZA. Compos. DAN ASAM HUMAT DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Khaya anathoteca Dx. Kata Kunc: Pemanfaat lahan. Pada pengamatan selama 24 jam semua ulat mati. dapat dibangun dengan jenis jelutung dengan sistem agroforestry. daya hidup. Halaman 125-128 . dan lain-lain dapat ditanam di tipologi lahan tersebut. kapurnaga (Callophylum macrocarpum). (Lepidoptera : pieridae) PADA SKALA LABORATORIUM / Wida Darwiati. telah digunakan tanaman kehutanan yaitu Toona sureni Merr yang diketahui mengandung senyawa kimia melalui analisis kromatografi gas yang dapat berfungsi sebagai pembunuh hama. Kabupaten Bogor sebagai bahan baku semen menunjukkan hasil yang tidak baik. Untuk mendapatkan insektisida yang berasal dari tanaman.2 . Erdy Santoso. Pada kawasan konservasi (gambut >3m) dalam keadaan terbuka. Ekstrak daun. Dengan pemberian pupuk kompos 2 kg dan atau 500 ml asam humat 1. sehingga intensitas cahaya memenuhi persyaratan untuk hidup jenis komersial seperti ramin (Gonystylus bancanus). Pertumbuhan tanaman yang terbaik. 7cc/100 cc air. Hasilnya menunjukan bahwa perlakuan ekstrak biji suren sangat efektif dan tercepat dalam pengendalian hama daun di laboratorium dengan jangka waktu 3 jam setelah perlakuan mortalitas terbanyak dibanding dengan ekstrak daun dan ranting. jika bibit telah diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith yang ditanam pada lahan yang diberi 500 ml asam humat 1. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang respon pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. tetapi yang menjadi faktor pembatas adalah reaksi tanah agak alkalis dengan nilai tukar kation Ca sangat tinggi dan kadar salinitas tinggi serta kandungan C-organik dan nitrogen sangat rendah. Vegetasi. kapasitas tukar kation. Suren.Jurnal Aktifitas reklamasi pada lahan pasca penambangan batu gamping seperti di PT. dosis yang digunakan 3 cc/100 cc air. Kata Kunci: Uji efikasi. dan kontrol dengan rancangan acak lengkap. Biji. Insektisida ini berasal dari tanaman atau mikroorganisme. dan persen infeksi akar bermikoriza yang lebih baik. Asam humat mampu meningkatkan pertumbuhan. asam humat 11 . Halaman 195 207 . RANTING. Yadi Setiadi. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan unsur hara (P. Cileungsi-Bogor) / Darwo. 2006 Perlindungan Tanaman terhadap serangan hama dan penyakit mulai dikembangkan dengan insektisida yang tidak mencemari lingkungan. ranting.500 ppm belum cukup memenuhi kebutuhan hara tanaman (kadar C-organik dan nitrogen masih termasuk rendah) dan ditunjukkan tanaman kekurangan nitrogen. endomikoriza. sedangkan untuk perlakuan ekstrak daun dan ranting memerlukan waktu sampai 72 jam.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . yang diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith terhadap pemberian pupuk kompos dan asam humat pada lahan bekas penambangan batu gamping serta tingkat infeksi cendawan endomikoriza pada tanaman tersebut. Rancangan penelitian menggunakan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap. Selain itu pada lahan gambut masyarakat. Rawa gambut Darwati. -. PUPUK KOMPOS. dan kejenuhan basa ada dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Kata kunci : Reklamasi. at Post-Limestone Mining Land. and Humic Acid to Growth Improvement of Khaya anthoteca Dx. 2006 (Aplication of Endomycorrhyza. Toona sureni Merr. Uji efikasi kandungan senyawa dari tanaman Toona Sureni Merr yang digunakan adalah bagian daun. Wida UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN. DAN BIJI SUREN (Toona sureni Merr: Meliaceae) TERHADAP HAMA DAUN Eurema spp.III. Semen Cibinong. dan penggunaan mikroorganisme tanah. perlu direvegetasi dengan jenis asli setempat seperti jelutung karena hasil getahnya dapat dimanfaatkan tanpa menebang pohonnya.yang habitatnya masih tedapat tegakan. dan biji terhadap hama daun Eurema s. teknik revegetasi. PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN BATU GAMPING DI CILEUNGSI-BOGOR Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Ranting. batu gamping.

Pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung seyogyanya dilakukan dengan memberdayakan masyarakat dalam seluruh proses pemanfaatan. Kata kunci : Eboni (Diospyros celebica Bakh. No. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi media dari tanah mineral dan bahan organik serta dosis pupuk NPK (17:17:17) terhadap pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni. Halaman 63-76 . Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni yang baik dicapai pada medium top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dan top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v). Pemilihan jenis yang akan dibudidayakan harus mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia pelaksana. GERHAN.17 . Model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung harus disesuaikan dengan karakter biofisik dan sosial ekonomi setempat sehingga dapat lebih tepat guna dan berkelanjutan..5 g/bibit (3. benih. Penelitian 12 . Tulisan ini bertujuan memaparkan proses penyusunan rancangan dan pembangunan model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung dengan penerapan pola agrofishery yang memadukan budidaya ikan dengan tanaman kehutanan/pertanian dalam satu unit lahan.).. dan Nurhasybi. Di antara upaya-upaya tersebut adalah pemeliharaan sumber-sumber benih. penyusunan standar pengujian dan mutu benih untuk berbagai jenis tanaman yang diperlukan serta peningkatan pengetahuan para praktisi di palangan dalam hal penyediaan. penanggulangan. Peran fasilitator diperlukan sebagai pendamping proses tersebut. Keberhasilan program ini memerlukan dukungan ketersediaan benih dan bibit yang bermutu dan berasal dari sumber benih bersetifikat dalam jumlah besar.1 . 2006 Mengingat fungsi ekologinya.III. Durahim PENGARUH MEDIA DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN MUTU BIBIT EBONI (Diospyros celebica Bakh. Interaksi antara jenis medium dan dosis pupuk NPK nyata terhadap pertumbuhan diameter batang bibit.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .08 mm).(et. sabut kelapa sawit. bibit. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan penggunaan benih/bibit bermutu dalam program rehabilitasi hutan dan lahan di Indonesia. Tiga kombinasi perlakuan baik untuk pertumbuhan diameter batang bibit adalah top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v) tanpa pupuk (3. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 101-109 . Faktor-faktor yang diteliti adalah empat jenis kombinasi media dan tiga dosis pupuk NPK. 2006 Eboni (Diospyros celebica Bakh.0 g/bibit (3.10 mm). Demikian pula ketersediaan perangkat sistem dalam pengawasan mutu benih. sabut kelapa. serta fungsinya dalam menunjang konservasi tata air.18 mm). NPK Falah. top-soil. pembangunan kebun benih/bibit. Bibit. Hendromono.al) .) adalah salah satu jenis endemik di Pulau Sulawesi yang termasuk diprioritaskan untuk Hutan Tanaman Industri. baru tersedia untuk jenis-jenis komersial tertentu.) (Effects of Media and NPK Fertilizer to the Growth and Quality of Eboni (Diospyros celebica Bakh. Tiap kombinasi perlakuan diulang tujuh kali dan tiap ulangan terdiri dari lima bibit. -. 2006 Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) adalah program pemerintah dalam upaya merehabilitasi hutan dan lahan dengan target seluas 3 juta hektar selama kurun waktu 5 tahun (2003-2007). pelaksanaan. top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dengan pupuk NPK 0. Standar. prospek keuntungan ekonomi bagi masyarakat. Faiqotul MODEL PEMANFAATAN PARTISIPATIF KAWASAN PENYANGGA HUTAN LINDUNG DENGAN POLA AGROFORESTRY / Faiqotul Falah. Pada kenyataannya kemampuan produksi benih dari sumber benih yang bersertifikat belum memenuhi kebutuhan. Halaman 9 . Kata Kunci: Teknologi. Rehabilitasi menggunakan Faktorial Eksperimen dalam RCBD.) Seedling) / Durahim. hingga monitoring dan evaluasi. seperti standar pengujian dan mutu benih/bibit. -. mulai dari perencanaan. dan pengawasan mutu benih/bibit. modal finansial yang tersedia.Danu TEKNOLOGI DAN STANDARISASI BENIH DAN BIBIT DALAM RANGKA MENUNJANG KEBERHASILAN GERHAN / Danu. dan top-soil murni dengan 1. Dede Rohadi. kawasan penyangga hutan lindung perlu dikelola pemanfaatannya agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menunjang fungsi hutan lindung sebagai penyangga tata air.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.

Electus roratus cornelia Bonaparte. Eclectus roratus cornelia Bonaparte. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan di daerah ini adalah illegal logging. Flores tahun) yang masing-masing dipelihara dalam kandang individu berukuran 160 cm x 120 cm x 100 cm. Arsitektur biologis. No. 2006 Burung bayan (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) merupakan jenis burung endemik Pulau Sumba dengan status dilindungi karena populasinya yang terus menurun. konsumsi. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. sehingga mengakibatkan degradasi hutan yang semakin meningkat.53 gr/hari (26. Kata kunci: Eksploitasi hutan. Kupang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. berkurangnya peran lembaga adat.29 kalori). -. Nusa Tenggara Timur pada bulan September 1999 sampai Januari 2000.III. Garsetiasih. Jenis pakan yang paling banyak dikonsumsi.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. dan kebutuhan bahan baku yang tinggi. Penelitian menggunakan percobaan faktorial dengan dua faktor yaitu jenis kelamin dan jenis pakan yang berupa kacang-kacangan dan biji-bijian serta buah-buahan dan sayur-sayuran.Untuk menopang keberhasilan programprogram yang dilakukan. Mariana Takandjandji. Tata Air Fatima.93 gr/hari (231. Hutan Lindung. Kata kunci: Bayan. 2006 Pemanfaatan hutan yang tidak seimbang di Flores disebabkan oleh pandangan masyarakat yang hanya melihat nilai manfaat konsumtif (digunakan langsung sehari-hari tanpa mengolahnya untuk mandapatkan nilai tambah) dan nilai pemanfaatan produktif (langsung dijual ke pasar). partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rata-rata konsumsi burung bayan jantan sebesar 205. Penelitian ini dilakukan di penangkaran Oilsonbai. Dalam mengantisipasi kepunahan populasi perlu dilakukan penangkaran jenis burung bayan tersebut. Harmonis. Imaculata ARSITEKTUR BIOLOGIS MENUJU EKSPLOITASI HUTAN YANG HARMONIS DI FLORES / Imaculata Fatima. kualitas sumberdaya manusia sekitar hutan yang relatif rendah. tingginya ketergantungan masyarakat Flores terhadap sumberdaya hutan. in Captive Breeding)/ R.54 %) untuk burung jantan dan 48. peredaran ilegal hasil hutan (illegal trading). Konservasi. Berdasarkan hasil analisis terhadap konsumsi pakan berupa buah-buahan dan sayur-sayuran serta pakan berupa kacang-kacangan dan biji-bijian. 2005 : Halaman 97-102 .74 gr/hari (26. maka dukungan iptek terapan yang praktis dan dengan biaya murah sangat diperlukan. pendudukan kawasan hutan.13 kalori) dan burung bayan betina 185.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. KONSUMSI DAN PALATABILITAS PAKAN BURUNG BAYAN SUMBA (Electus roratus cornelia Bonaparte) DI PENANGKARAN (Consumption and Feed Palatability of Bayan Bird. 2006 Luas kawasan hutan di Provinsi Bali sekitar 23 persen. palatabilitas dan penangkaran Garsetiasih.1 . R. adalah pepaya dengan rata-rata konsumsi 54.Kata Kunci: Kawasan penyangga.43 gr/hari (255. I Made KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI BALI / I Made Gunaja. Halaman 63-69 . Untuk mengatasi permasalahan ini maka program pembangunan kehutanan di Provinsi Bali diprioritaskan pada rehabilitasi dan perlindungan hutan serta pengembangan hasil hutan bukan kayu yang melibatkan masyarakat sekitar hutan. Halaman 75 . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Penelitian menggunakan 8 individu burung terdiri dari 4 individu betina dan 4 individu jantan umur produktif (lebih dari 1 Gunaja.82 . diketahui bahwa tingkat konsumsi terhadap tiap jenis pakan tidak berbeda nyata antara burung bayan jantan dan betina. -.21 %) untuk burung betina. yang menunjukkan jenis pakan yang paling disukai. perambahan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Adapun faktor-faktor pendukung utama untuk pembangunan kehutanan di Provinsi Bali adalah: Potensi sosial budaya 13 . Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tingkat konsumsi dan palatabilitas pakan burung bayan. masih di bawah luasan minimal 30 persen. dan kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan masyarakat. Model pemanfaatan. -.

masyarakat.503 rupiahs per month. Marinus Kristiadi ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN FISIK SISTEM AGROFORESTRY KHAS LAHAN GAMBUT TIPIS DI DESA SEI PANTAI KABUPATEN BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN / Marinus Kristiadi Harun.per hektar. penanaman dengan menggunakan jalur ganda berseling antara tanaman penghasil kayu dan buah merupakan model yang baik untuk dikembangkan. alley cropping with the surjan technique and (d).000. regency Barito Kuala. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Sumberdaya hutan Harisetijono PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI P. Agroforestry system able to contribued equal to 33.024.. Agroforestry application in forest area is intended mainly for providing apportunity of landless farmer to cultivate land and also for the objective of establishing forest crops with the best way and cheapest cost. perencanaan bersama mekanisme penyelesaian konflik belum berkembang dengan baik.18 percent from total farmer's income. 2006 Development of agriculture in a peat swamp land should be environmentally sound and ensures the sustainability of production. Nilai hasil tanaman tumpangsari dari yang tertinggi sampai dengan terendah secara berurutan adalah pisang. dan ubi kayu. (b). The main objective of application agroforestryin agricultural land is for conserving soil and water..Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. (c).. 2006 Social Forestry merupakan salah satu kebijakan Departemen Kehutanan. jagung.. Agroforestry system able to give income equal to 2.25 hektar. Hutan kemasyarakatan merupakan salah satu bentuk pengembangan program Social Forestry. which in the long run is expected to increase land productivity and improving farmer's income. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .000.per petani per 0. padi. The result of this study showed that agroforestry system developed by local farmer is: (a). Halaman 209-224 . Walaupun payung hukum pengembangan hutan kemasyarakatan belum mantap. -. alley cropping with the tongkongan and galengan technique.al) . Agroforestry application in a peat swamp land is able to maintaining high system stability and has a lower risk in land degradation. 305. The objective of this research is to analysis social. dengan kisaran nilai Rp.(et. alley cropping with the tongkongan technique. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi wilayah Nusa Tenggara Barat.sampai dengan Rp. Perbandingan jenis penghasil kayu dan buah dengan perbandingan 70:30 mampu memberikan pendapatan petani sebesar Rp.750. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan masih menerapkan prinsip-prinsip Agroforestry Tradisional. Social forestry. makin tingginya partisipasi masyarakat dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki hutan dan lingkungan dalam rangka menopang tujuan utama daerah wisata di Bali Kata kunci: Pembangunan kehutanan. LOMBOK : STUDI KASUS PEMBANGUNAN MODEL HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN LOMBOK BARAT DAN LOMBOK TENGAH / Harisetijono. 1. 14 . talas. Agroforestry application in a peat swamp land could be carried out either on agricultural or on forest lands.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 111-125 . Berdasarkan model yang berkembang. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi tipe dan model hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan keberhasilan pengembangannya. IPTEK. Demikian pula.683. dan mengungkapkan permasalahan dan keberhasilan pengembangannya. Pengelolaan.. South Kalimantan Province and suggest to be a basic knowledge and one of way to rehabilitate the forest and land degradation. -. Kata Kunci: Hutan kemasyarakatan.766. Model Social Forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. pengalaman pengembangan hutan kemasyarakatn di Privinsi Nusa Tenggara Barat merupakan hal penting untuk bahan pengkajian. Multiple Cropping with the guludan technique. Lombok Barat. Pemilihan jenis tanaman belum sepenuhnya berorientasi pada pasar karena keterbatasan kemampuan teknis dan informasi pasar. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. Subdistrict Rantau Badauh. cabai. economic and physic aspect of agroforestry system which have been developed by farmer in Sei Pantai Village. 1.040 rupiahs per year or 230. Program. Lombok Tengah Harun.

20 %/bl (A.159.Info Hutan : Vol. Kalimantan Selatan Halidah PERTUMBUHAN BEBERAPA JENIS TANAMAN TERINFEKSI MIKORIZA PADA LAHAN KRITIS DI SPUC MALILI (The Growth of Several Species Infected Mikorizae on Critical Land at Malili Research Station)/ Halidah. maka perlu dikaji kemampuan mikoriza bersimbiose dengan berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan dalam rehabilitasi lahan. Tiga jenis tegakan mangrove yang diamati adalah Sonneratia alba J. salinitas. namun belum memperlihatkan hasil yang diharapkan. sedangkan R. alba). Barito Kuala. BO rendah kecuali pada tegakan R. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian mikoriza di lapangan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan sengon dan damar. Kata kunci: Morphoedafik. sifat kimia. Indek keragaman dan indek dominansi untuk A. marina adalah 2. mikoriza + pupuk cepat larut.96 ton/ha/th dan 26. Fauna tanah yang ditemukan mempunyai nilai indeks keragaman dan indeks dominansi yang berbeda pada setiap tegakan.93 %/bl (S.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kualitas salinitas air tanah daratan cenderung semakin membaik dengan adanya bentangan mangrove di sepanjang pantai.4 . No..632 dan 0. S. marina). mucronata). Tujuan penelitian ini menemukan teknologi rehabilitasi lahan kritis dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu bersimbiose dengan tanaman serta dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhannya pada lahan kritis.330). Perkembangan iptek sekarang ini telah menjanjikan suatu pendekatan teknologi terutama yang berkaitan dengan penggunaan mikoriza yang berperan dalam proses pertumbuhan tanaman. marina didominasi oleh partikel debu. Halaman 367 . Rhizophora Hasil penelitian mucronata Lamk. -.05 %/bl (R. Kemasaman atau pH pada semua tegakan netral.. alba oleh partikel pasir. mucronata. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan yaitu mikoriza.500).2 . mucronata (0.)Vierh. Sosial ekonomi. MORPHOEDAFIK. Kata kunci : Pertumbuhan.51 ton/ha/th dan 28. Chairil Halidah PRODUKSI DAN LAJU PELAPUKAN SERASAH. -. jenis. Demikian juga unsur hara fosfor dan kalium. lahan gambut.83 . 2006 (Litter Productin and Decomposition Rate. Lingkungan. serta salinitas air tanah daratan pada berbagai jenis tegakan mangrove.III. mikoriza. Halaman 75 . Morphoedaphic.926 dan 0. DAN SALINITAS AIR TANAH DARATAN PADA TIGA JENIS MANGROVE Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang produksi dan laju pelapukan serasah.III. dan Avicennia marina (Forsk. dan damar. sedangkan pada tegakan S. mangrove. 15. serta tanpa mikoriza dan pupuk (kontrol) yang diujikan pada tiga jenis tanaman yaitu bitti. Maryatul Qiptiyah. serta 8.377 . tetapi tidak pada tanaman bitti. mucronata didominasi oleh partikel debu pada kedalaman (0-20) cm dan pasir pada kedalaman (20-40) cm. menunjukkan bahwa produksi dan laju pelapukan serasah masing-masing tegakan adalah 27. sengon. alba (1. KTK umumnya tinggi. infeksi. No.40 ton/ha/th dan 28. Sedangkan kation-kation yang dapat tukar juga umumnya tinggi. pupuk cepat larut. salinitas. Sei Pantai. dan biologi tanah. Smith. Substrat pada tegakan R. Dengan melihat permasalahan dalam penanggulangan lahan kritis.Kata kunci: Agroforestry. tinggi kecuali nitrogen. produksi dan laju pelapukan serasah 15 .023 dan 0. and Ground Water Salinity of Three Species Mangroves)/ Halidah. 2006 Upaya rehabilitasi lahan kritis telah banyak dilakukan. DHL. lahan kritis Anwar. substrat. Pada tegakan A. Saprudin.

.94 .III.) memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan pada sektor kehutanan karena berpotensi sebagai tanaman bawah pada sistem penanaman tumpangsari dengan jenis tanaman keras lainnya.ex Benth.. -. Halaman 261-268 .3 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas naungan dan pemberian pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman nilam dan rendemen minyak dari daun yang dihasilkan.2 . -.III. sengon.III. Persetujuan ramin untuk masuk ke dalam Appendix II CITES yang berlaku sejak 15 Januari 2005 merupakan perubahan yang menjadi harapan baru dalam mengontrol mekanisme produksi dan perdagangannya. No. Perhatian terhadap mekanisme produksi. namun hal tersebut tidak menjamin penurunan tingkat kelangkaan ramin di Indonesia karena mekanisme tersebut tidak berjalan dengan baik.Cunn. dan Titi Kalima. Kosasih. juga ditanam mahoni. Kebakaran yang terjadi hampir tiap tahun di berbagai lokasi lahan hutan tanaman menunjukkan bahwa jenis akasia dan ekaliptus menghasilkan permudaan yang cukup potensial untuk pengembangannya. Asep Hidayat. pulp. Asep Hidayat. No.. Selain jenis akasia.Cunn.Cunn. SUMATERA UTARA (Plantation Forest Ecology of Acacia crassicarpa A. Meskipun jenis kayu ramin telah terdaftar dalam Appendix III Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) sejak Agustus 2001. Kata kunci : Ramin. DI PADANGLAWAS. Kata kunci : Hendalastuti. tercatat rataan permudaan Acacia crassicarpa A.600 anakan per hektar setelah tiga tahun terbakar. DAN Acacia mangium Willd.ex Benth. Acacia crassicarpa A. Henti SISTEM PENGELOLAAN DAN KONSERVASI RAMIN DI HUTAN PRODUKSI (Management and Conservation System of Ramin in Production Forest) / Henti Hendalastuti.500 dan 5.000 untuk setiap meter kubiknya. Halaman 137 . Padanglawas 16 .2 . terdiri dari 4 perlakuan yang mengkombinasikan dua on the Plant growth and the Leaf Quantity and Quality of the Nilam. adalah 2.) merupakan kayu bernilai komersial tinggi pada perdagangan internasional dengan harga yang bisa mencapai US$ 1.ex Benth.S EKOLOGI HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa A. dan Acacia mangium Willd. peredaran. Rusli M. bahan bangunan. kelestarian. dan budidaya pada unit manajemen merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menjamin kelestarian ramin pada masa-masa yang akan datang. 2006 Penanaman akasia di Padanglawas dimulai dalam rangka pembangunan hutan tanaman secara swakelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. CITES.146 . 2006 Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth. mekanisme produksi Hendalastuti R. in Padanglawas.Cunn. Henti PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SERTA JUMLAH DAN MUTU DAUN NILAM. lahan kritis.Cunn.ex Benth. and Acacia mangium Willd. dan meningkatkan fungsi DAS Baruman dan Rokan.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Namun demikian. tanaman nilam pada umumnya dibudidayakan secara monokultur pada lahan terbuka tanpa perlakuan yang memadai. No. masing-masing 13. Rataan diameter untuk A.Info Hutan : Vol. Pogostemon cablin Benth (Effects of Shading and Manure Application Pogostemon cablin Benth. Gonystylus sp.1 cm dengan selang 0. crassicarpa A..S. -.Harahap. Disarankan menanam akasia tersebut di lahan kritis Padanglawas terutama di punggungpunggung bukit dan sebagai pohon perindang jalan dengan harapan kelak menyebar secara alami dan meningkatkan kesuburan tanah. dengan kegunaan untuk kayu bakar.ex Benth./ Henti Hendalastuti R. Di Sialiali. 2006 Jenis ramin (Gonystylus sp. ekaliptus. dan tampaknya ekaliptus dan akasia tumbuh dengan baik atau dapat beraklimatisasi.675 ha merupakan bagian dari DAS Barumun dan Rokan. Acacia mangium Willd. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap.Harahap. North Sumatra) / Rusli M.Info Hutan : Vol. Hutan Tanaman seluas 38.4-9.8 cm menunjukkan pertumbuhannya sangat dipengaruhi kesuburan tanah dan perlu diamati lebih lanjut. permudaan alam. Illa Anggraeni. Halaman 85 .

fisik. Metode yang dilakuan dengan cara mengamati semua anggrek epifit pada petak-petak contoh yang ditempatkan berdasarkan sistem jalur. No. Eria verruculosa J. Henti TEKNIK PENGEPAKAN BIBIT ROTAN DAN BEBERAPA JENIS MPTS UNTUK PENGANGKUTAN JARAK JAUH (Packaging Technique of Rattan and Multi Purpose Tree Species Seedlings for Long Transportation) / Henti Hendalastuti R..815 %. Microsaccus alfinis J.583 . Sm dan Trixpermum malayanum J. dan fisiologis. Caelogyne flexuosa Rolfe. Halaman 201-212 . Sm. bibit rotan dan alpukat tidak memerlukan perlakuan sebagaimana bibit kemiri dan jengkol.J. berat basah daun 203.. Sm.Penilaian untuk mengetahui mutu genetik salah satunya adalah dengan mengetahui sumber benih yang digunakan. pupuk kandang. inventarisasi. dan Dodi Frianto. Kata kunci : Anggrek epifit. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Sm. dan Pholidota ventricosa Blume Lindl. Rotan. Jenis yang termasuk ke dalam anggrek endemik Jawa Timur yaitu Bulbophyllum mirun J. Kata kunci : Nilam.Info Hutan : Vol. Sedangkan jenis yang masuk kategori genting adalah jenis Agrostophyllum laxum J.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.J. Halaman 137-144 .. kemiri. Pholidota canelostalix Rchb.58 %. Sm.J. Nanang PENANGANAN BENIH TANAMAN HUTAN / Nanang Herdiana..J.III. Kata kunci : Bibit rotan. -. teknik pengepakan. dan jengkol selama 60 jam perjalanan dengan modifikasi box plastic dilapisi styrofoam tanpa perlakuan pada perakaran bibit memberikan daya hidup bibit yang tinggi dengan biaya paling murah. No. pengangkutan jarak jauh Herdiana. Asep Hidayat. Pogostemon cablin Benth. Setiap perlakuan terdiri dari 15 ulangan. naungan. Dalam hal ini. Rendemen minyak cenderung meningkat dalam daun pada tanaman yang diberi naungan dan/atau pupuk kandang. baliensis J. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data dan informasi tentang potensi anggrek epifit dalam upaya pelestariannya di TN Bromo Tengger Semeru. ketiga mutu ini dapat ditingkatkan dengan tingkat kesulitan yang berbeda.faktor yaitu intensitas naungan (0 % dan 34. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 17 genus dan 40 spesies anggrek epifit dengan jenis yang paling dominan adalah jenis Caelogyne speciosa Blume Lindl. Sm.3 . Sedangkan untuk penilaian mutu fisik dan fisiologis dapat diketahui melalui penanganan dan pengujian benih. Jenis anggrek yang langka.J. Dendrobium jacobsonii Blume. Sm.f.III. Nanang KERAGAMAN JENIS ANGGREK EPIFIT DI BLOK IRENG-IRENG TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU (Diversity of Epiphyte Orchid Species in Block of Ireng-Ireng Bromo Tengger Semeru National Park) / Nanang Herdiana. Seluruh aspek tersebut merupakan bagian dari sistem pengadaan benih 17 .. yaitu Maleolla dan Schoenorchis juncifoilia. Caelogyne speciosa var nn Blume Lindl. alpukat. plasma nutfah Herdiana.35 %) dan pupuk kandang (0 g dan 500 g/tanaman). Halaman 575 . 2006 Mutu Benih merupakan hasil penampakan dari mutu genetik. Pengangkutan bibit kemiri dan jengkol sampai 120 jam perjalanan memerlukan balutan campuran sabut kelapa dan arang pada perakaran bibit. khususnya Blok Ireng-Ireng.J.5 . dan Eria verrucullosa J. Perlakuan pemberian naungan (34. dan berat kering daun 126 %.J. 2006 Anggrek merupakan salah satu jenis flora penting yang tumbuh di kawasan Taman Nasional (TN) Bromo Tengger Semeru. rendemen minyak Hendalastuti R. -.35 %) dan pemupukan 500g/lubang tanam telah terbukti secara nyata memberikan hasil peningkatan tinggi tanaman sebesar 116. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode penyiapan bibit dan teknik pengepakan untuk memperkecil tingkat kerusakan bibit dalam pengangkutan jarak jauh sehingga menghasilkan bibit yang berdaya hidup tinggi dengan biaya murah.

08. Kata Kunci: Mutu Benih. dan getah. yang merupakan pencerminan kinerja dari suatu proses pengadaan benih. buah. Tanaman Hutan Heriyanto. -. Cianjur District. No.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. KEANEKARAGAMAN JENIS POHON YNG BERPOTENSI OBAT DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI.52.. dan bagian daun (6 jenis).M POTENSI JENIS KONYAL (Passiflora edulis Sims.48). bagian biji (8 jenis)./puspa (0. Kata Kunci : Jenis pohon. yaitu dimulai dari sumber benih. Kabupaten Cianjur. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang jalur 1. (muncang cina). lebar 20 m dan di dalam tiga jalur dibuat petak-petak untuk pengukuran dimensi ekologi pohon. Kata kunci : Konyal.) SEBAGAI JENIS INVASIF DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO KABUPATEN CIANJUR. potensi. Br. Tingkat belta jenis tersebut tidak termasuk dominan (INP < 10 %).07.000 m yang diletakkan memotong lereng.000 m. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat yaitu daun. Sloanea sigun L. jabon (Anthocephallus cadamba Miq. malaria.Info Hutan : Vol. Jawa Barat dilakukan pada bulan Oktober 2002. (pasang). JAWA BARAT (Potency of Konyal (Passiflora edulis Sims. M. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Heriyanto.5 pohon per hektar.10 kemudian disusul oleh jenis jabon (Anthocephallus cadamba Miq. No. Q. kemudian diikuti oleh jenis Villebrunea rubescens Bl.3 pohon per hektar. Passiflora edulis Sims. kulit buah. Sedangkan tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu bagian kulit batang (10 jenis). (saninten). (pasang bodas). (puspa). dan semai yang berasosiasi dengan konyal yang dibuat memotong garis ketinggian dan kontur./nangsi (0.bermutu.) nilai keanekaragaman jenis 0. dan Ostodes paniculata Benth. Jenis pohon yang dirambati konyal sebanyak 38 jenis dengan kerapatan 114 tanaman konyal/ha. Heriyanto dan Reny Sawitri. Altingia excelsa Noronha (rasamala).) dengan kerapatan 10 pohon per hektar. Jenis-jenis yang berasosiasi kuat dengan konyal yaitu Castanopsis argentea A. Schima walichii Korth. N. Altingia excelsa Noronha/rasamala (0. Halaman 55 . biji.) as an Invasive Species in The Gunung Gede Pangrango National Park. Quercus teysmanii Bl.41). JAWA TIMUR (Studies on Diversity of Trees Potential for Medicine at Meru Betiri National Park.) nilai keanekaragaman jenis 0. dan wining (Pterocybium javanicum R. Taman Nasional Meru Betiri 18 .46).M. tumbuhan obat. Br. dan wining (Pterocybium javanicum R.DC. induta Bl. 2006 Penelitian potensi jenis konyal (Passiflora edulis Sims. -. N. Indeks keanekaragaman jenis pohon tumbuhan obat tertinggi dimiliki oleh besule (Chydenanthus excelsus Miers.1 . (saninten) yang ditunjukkan oleh indeks asosiasi sebesar 0.) dengan kerapatan 12. akar. Tujuh jenis pohon berasosiasi dengan konyal (INP> 10 %) dan yang mendominasi tegakan yaitu : Castanopsis argentea A. kulit batang.) dengan kerapatan 15. dan sakit perut.) dengan nilai keanekaragaman sebesar 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon tumbuhan obat yang dijumpai di Taman Nasional Meru Betiri berjumlah 28 jenis.3 . West Java) / N. Heriyanto. prosesing benih. East Java) / N. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaman jenis pohon yang berpotensi sebagai obat. (beleketebe). pengujian benih hingga ke penyimpanan. kecambah biji. belta.64 .DC. jumlah jalur pengamatan 3 jalur. Satuan contoh berbentuk jalur sepanjang 1. batuk. demam.III. Pengelolaan konyal sebagai jenis asing yang menginvasi di kawasan taman nasional dilakukan dengan pemberantasan secara manual oleh masyarakat lokal. dan Schima walichii Korth. Halaman 251-260 . Jenis penyakit yang dapat diobati atau dicegah yaitu penyakit kewanitaan.III.M. batang. di antaranya yaitu besule (Chydenanthus excelsus Miers.

Halaman 271-285 . sehingga tingkat produktivitas meningkat. Kata kunci : Interaksi. Desa Andongrejo memiliki persepsi yang paling tinggi yaitu sebesar 77. Halaman 187 . Taman Nasional Meru Betiri. dengan jumlah responden masing-masing desa sebanyak 40 orang (total 120 responden). Oleh karena itu diperlukan metode penentuan nilai erosi yang diperbolehkan pada setiap kegiatan Penelitian pola pengelolaan partisipatif antara masyarakat dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dilakukan di tiga desa yaitu Desa Andongrejo. Perencanaan. 2006 Klasifikasi kepekaan tapak hutan adalah merupakan salah satu komponen dalam perencanaan pembalakan. masyarakat setempat 19 . -. Maming PEMETAAN KEPEKAAN TAPAK HUTAN UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN RAMAH LINGKUNGAN / Maming Iriansyah. Pembalakan.Info Hutan : Vol.Kesemua hal tersebut dimaksudkan adalah untuk melengkapi perencanaan pembalakan yang ramah lingkungan agar produktivitas hutan dan ekosistemnya dapat lestari. No. Kegiatan pengelolaan lahan harus dilakukan secara sinergis dan simultan mulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi. dan Desa Wonoasri sebesar 65 %. Halaman 297 308 . Dari hasil penelitian didapatkan bahwa interaksi yang terjadi antara masyarakat desa Andongrejo.III. dan desa Wonoasri dengan kawasan TNMB antara lain berbentuk pemanfaatan kayu untuk kayu bakar. dikumpulkan data sekunder dari berbagai laporan dan literatur. kayu.3 .5 %. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan TNMB pada umumnya baru pada taraf pengetahuan fungsi dari taman nasional dan cara melestarikannya. Jenis hasil hutan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu kayu bakar untuk memasak. -. dan Desa Wonoasri. Dari hasil penelitian yang diadakan di tiga desa. diikuti Desa Curahnongko 70 %. JAWA TIMUR (Utilization of Forest Iriansyah. Pemetaan. agar tidak mengganggu sumberdaya lain dalam DAS.III. Selain itu. Untuk mendapatkan data primer dilakukan wawancara dengan penarikan contoh terhadap tiga angkatan kerja pada masyarakat di tiga desa sekitar taman nasional. serta pemanfaatan tumbuhan obat.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. N. desa Curahnongko. Garsetiasih. Kata kunci: Tapak hutan. bersamaan dengan itu dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut berupa erosi dan sedimentasi di daerah hilirnya dapat diperkecil. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . 2006 Heriyanto. Endro Subiandono. Prosedur dan strategi pemetaan dan penerapannya dengan menggunakan system informasi geografis (SIG) diuraikan dalam tulisan ini. Sasaran utama dalam pengelolaan lahan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi lahan.M. Ramah lingkungan Junaidi. akan tetapi mungkin untuk mempertahankan keadaan lahan tetap produktif dan dampak luaran kegiatan berupa erosi-sedimentasi yang terjadi tidak mengganggu proses yang berjalan dalam DAS. -. R.200. sehingga dalam pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana.Resources by Local community in Meru Betiri National Park.M. Desa Curahnongko.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Heriyanto. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pemanfaatan hutan terutama kayu oleh masyarakat sekitar TNMB dan informasi mengenai jasa hutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. Kenyataannya tidaklah mungkin menekan dampak yang disebabkan oleh kegiatan pengelolaan lahan menjadi nol. Edy METODE PENENTUAN NILAI EROSI YANG DIPERBOLEHKAN PADA PENGELOLAAN DAS (Method in Determinating Tolerable Erosion Value in a Watershed Management) / Edy Junaidi. bahan bangunan perumahan dan peralatan rumah tangga. 2006 Pengelolaan lahan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS. No. East Java) / N.3 .

Selanjutnya sampel/contoh tanah dianalisis di laboratorium tanah. serta kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang mendukung terjadinya kebakaran lahan dan hutan. tukar menukar informasi. Kata kunci: Perlindungan hutan. penyuluhan serta penataan organisasi penanggulangan dan perencanaan pengendalian kebakaran. pemberian dampak positif terhadap kegiatan wisata pada khususnya dan perekonomian daerah pada umumnya. dapat dilakukan dengan pengembangan peningkatan komunikasi. mineral. pemadatan tanah. (2) Erosi. Kata kunci : Pengelolaan DAS. 2) pendekatan silvikultur. Salah satu penyebab dampak negatif penting adalah ditimbulkan oleh perilaku pengunjung. pengunjung berlebihan)(Wiranto dalam Fandell C. yaitu : (1) Metode Thompson (1957). 1) pendekatan cuaca kebakaran. pengelolaan lahan. koleksi souvenir). 2006 Kebakaran merupakan salah satu penyebab gangguan terhadap hutan yang memerlukan pengendalian. Lahan Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP EROSI TANAH DI JALUR PENDAKIAN MENUJU DANAU SEGARA ANAKAN TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan Tigor Butar-Butar. Dampak negatif langsung wisata alam terhadap lingkungan antara lain: (1) Geologi. Taman Nasional. (2) Metode Hammer (1981). 2006 Sektor pariwisata sebagian besar kegiatannya berada dalam lingkungan ekologi hutan. Erosi tanah. 2000). dan Mukhlison. -. Gunung Rinjani. Kebakaran.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Monitoring terhadap dampak ini diperlukan dalam rangka pengendalian dampak negatif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui 20 . Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan nilai erosi yang diperbolehkan. Hasil penelitian menunjukan terjadinya perubahan tekstur tanah dengan menurunnya fraksi liat pada jalur pendakian dan erodibilitas pada jalur pendakian lebih tinggi dibandingkan dengan di luar jalur pendakian.pengelolaan lahan. Penyebab utama kebakaran di NTT adalah kondisi iklim yang kering (arida). Lima sampel/contoh pada jalur pendakian dan lima sampel/contoh di luar jalur pendakian. 2006 . lahan. dan fosil (pendakian. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 183-189 . Pendekatan. Halaman 85-91 . L Michael Riwu TEKNOLOGI PERLINDUNGAN HUTAN DARI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN / L Michael Riwu Kaho. 4) pendekatan hukum dan kelembagaan. 3) pendekatan sosial ekonomi dan budaya. dilakukan pengambilan sampel/contoh tanah pada 10 titik pengamatan. Untuk mengetahui data dan informasi dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap erosi pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan. Kata Kunci: Ekowisata. penelusuran gua. Metode Wood dan Dent paling ideal digunakan untuk penentuan erosi yang diperbolehkan dalam pengelolaan DAS.Tujuan dan sasaran penelitian ini adalah mengetahui dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap kondisi tanah pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan melalui pintu masuk Senaru. Lombok Kayat MANFAAT EKONOMIS EKOWISATA TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan I Made Widnyana. 2006 Dampak positif wisata alam di bidang ekonomi disertai oleh dampak negatif pada kawasan. Segara Anakan. vegetasi yang didominasi oleh semak belukar dan savana padang rumput. erosi yang diperbolehkan Kaho. fragmentasi. Pemadaman dan penanggulangan kebakaran selain dengan penerapan teknologi. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kebakaran di wilayah propinsi Nusa tenggara Timur(NTT) adalah masalah serius yang terjadi secara berulang setiap tahun dan diyakini sebagai salah satu sebab deforestasi. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 191-205 . dan (3) Metode Wood dan Dent (1983). Pengendalian dan pencegahan kebakaran dapat dilakukan melalui. Tindakan pencegahan erosi yang dapat digunakan adalah dengan metode vegetatif.(pembangunan fasilitas. hasil dianalisis secara deskriptif.

manfaat ekonomis kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), melalui kajian nilai ekonomi dari kegiatan ekowisata pada obyek-obyek yang sudah dikelola. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey melalui wawancara, pengamatan, dan perhitungan langsung nilai ekonomi yang dihasilkan para pelaku dan kegiatannya. Data dianalisis secara semi kuantitatif dan deskriptif. Kesimpulan di tarik berdasarkan nilai proporsi dan kualitas amatan. Total nilai manfaat ekonomi ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani dari obyek-obyek yang sudah dikelola adalah Rp. 3.067.851.250,-. Obyek wisata trekking memberikan nilai manfaat ekonomi yang dominan, yaitu Rp. 2.080.996.250,- (67,83 persen). Para pihak yang mendapatkan manfaat ekonomis dari ekowisata TNGR adalah: pengelola atau pemerintah (melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani), Rinjani Trekking Centre (RTC) dan Rinjani Information Centre (RIC),Trekking Organizer (TO), guide, porter, pengelola penginapan/homestay, restoran, penginapan dan kios/warung, menandakan adanya potensi positif ekowisata bagi pengembangan perekonomian masyarakat dan daerah, dan insentif bagi partisipasi masyarakat untuk pemantapan pengelolaan TNGR. Manfaat ekonomi ini masih mungkin ditingkatkan melalui pemantapan kelembagaan, peningkatan sarana-prasarana, serta promosi terutama obyek-obyek yang belum berkembang. Kata Kunci: Ekowisata, Taman Nasional, Gunung Rinjani Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP KONDISI BIOFISIK KAWASAN DAN SOSEKBUD MASYARAKAT SEKITAR TAMAN NASIONAL KOMODO/ Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 31-41 , 2006 Untuk menunjang kegiatan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo, pihak pengelola melakukan pengembangan obyek wisata alam. Pengembangan ini setidaknya akan menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif, sehingga perlu dilakukan kajian pengembangan obyek wisata tersebut. hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Kegiatan ekowisata di Loh Liang dan Loh Buaya antara lain pengamatan satwa liar, pendakian dan penjelajahan, photo hunting dan video shooting, menyelam dan snorkling, dan atraksi budaya tradisional; (2) Untuk meningkatkan minat pengunjung datang ke lokasi ekowisata, salah satu yang dilakukan oleh pengelola adalah

pembangunan sarana prasarana pendukung; (3) kondisi sosekbud masyarakat di Desa Komodo dan Desa Pasir Panjang, sebagian besar nelayan. Di Desa Komodo ada perubahan mata pencaharian dari nelayan ke pengrajin/penjual souvenir komodo; (4) Pihak yang merasakan manfaat ekonomis dari kegiatan ekowisata adalah pihak pengelola (TN Komodo), Pemda setempat (Kabupaten dan Provinsi), pemilik hotel, pemilik restoran, penyewaan boat, perusahaan dive, guide, perusahaan penerbangan, pedagang souvenir, kios/warung, angkutan, agen travel, dan money changer; (5) Dampak ekologis dari ekowisata berupa perubahan perilaku terhadap beberapa jenis satwa liar seperti komodo, rua, dan babi hutan, serta adanya ekspansi jenis kaktus. Kata kunci: Taman Nasional Komodo, Ekowisata, Pengembangan, Dampak, Sosekbud masyarakat

Koeslulat, Ermi E PELUANG PENGEMBANGAN LEBAH HUTAN MELALUI BUDIDAYA SISTEM KEREK / Ermi E Koeslulat. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 41-45 , 2006 Madu lebah hutan merupakan salah satu produk hasil hutan non kayu andalan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Timor. Selama ini usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas madu hutan belum dilakukan secara serius. Salah satu usaha peningkatan produktivitas adalah dengan melakukan uji coba teknis budidaya lebah hutan dengan sistem kerek di mana prinsipnya menyediakan tempat bersarang dengan kayu yang dapat dinaik-turunkan. Maksud diterapkannya teknik ini adalah agar dapat dilakukan panen sunat sehingga intensitas pemanenan dapat ditingkatkan. Meskipun hasil yang diperoleh belum menggembirakan namun berdasarkan pengalaman pemanenan diperoleh keuntungan lain seperti panen dilakukan pada siang hari dan terbuka bagi setiap orang karena tidak diperlukan keahlian memanjat. Walaupun hal tersebut bukan permasalahan pokok bagi masyarakat, namun hal ini dapat memberikan pengalaman berharga bagi masyarakat. Terlepas dari kelemahan teknik ini, penerapan sistem kerek ini memiliki peluang untuk dikembangkan mengingat adanya faktor-faktor yang mendukung seperti masih terdapatnya pohon lebah tinggi, minat masyarakat yang cukup besar, kemudahan pemeliharaan, pasaran madu yang selalu terbuka, dan sebagainya. Kata kunci: Lebah hutan, Lebah, Peluang, Sistem kerek, Budidaya

21

Komala KERAGAMAN PENOTIPA Agathis borneensis Warb. ASAL SIPAGIMBAR DI AEK NAULI SUMATERA UTARA (Phenotypic Variation of Agathis borneensis Warb. of Sipagimbar at Aek Nauli North Sumatera / Komala; Aswandi; Rusli M.S Harahap; dan Edi Kuwato. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 213-217 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi penotipa Agathis borneensis Warb. asal Sipagimbar yang ditanam di arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera di Aek Nauli. Keragaman penotipa yang diamati adalah tinggi total, diameter batang dan cabang, sudut cabang, panjang internoda, lebar tajuk, panjang dan lebar daun dari dua warna pucuk agathis yang telah berumur 7 tahun. Sumber benih berasal dari tegakan alami agathis di Sipagimbar, Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Analisis ragam terhadap sepuluh sampel dari masing-masing warna pucuk (hijau dan cokelat kemerahan) mengindikasikan terdapat perbedaan dalam ukuran tinggi total, diameter dan sudut cabang, jarak internoda, dan lebar tajuk. Sedangkan diameter batang dan lebar daun tidak berbeda antar kedua warna pucuk. Diduga terdapat dua jenis populasi alami agathis di Sipagimbar. Penelitian anatomi dan karakteristik kayu sebaiknya dilakukan apabila dua populasi tersebut mengindikasikan spesies atau varietas yang berbeda dan disarankan penanaman agathis secara in-situ di Sipagimbar. Kata kunci : Agathis borneensis Warb., keragaman penotipa, konservasi Kosasih, A.Syafari PENGARUH MEDIUM SAPIH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Shorea selanica BI DI PERSEMAIAN (The effect of Growing Medium to the Growth of Shorea selanica BI. Seedling at Nursery/ A. Syafari Kosasih; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.2 ; Halaman 147 - 155 , 2006 Medium sapih adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk memperoleh bibit yang berkualitas dalam waktu singkat. Oleh karena itu dalam mempersiapkan medium sapih perlu diperhatikan unsur hara yang tersedia dalam medium tersebut sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan optimal. Penelitian dilakukan di persemaian Hutan Penelitian Carita, Provinsi Banten dengan metode rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan

medium. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, setiap ulangan terdiri dari 50 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan medium sapih campuran tanah dan kompos dengan volume 4 : 1 memberikan respon yang terbaik pada persen jadi, pertumbuhan tinggi, dan diameter bibit Shorea selanica Bl. sampai umur enam bulan di persemaian. Kata kunci : Medium sapih, Shorea selanica Bl., pertumbuhan bibit Kuntadi TEKNOLOGI PENGELOLAAN LEBAH HUTAN Apis dorsata / Kuntadi. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 49-55 , 2006 Lebah hutan Apis dorsata adalah salah satu jenis lebah madu yang penyebarannya meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun lebah madu ini tergolong jenis liar yang tidak dapat dibudidayakan, namun termasuk yang paling potensial sebagai penghasil madu karena produktivitasnya yang sangat tinggi. Sampai saat ini lebah hutan adalah andalan utama penghasil madu di Indonesia. Permasalahan pokok dalam pengembangan lebah hutan adalah kerusakan habitat A. dorsata akibat tingginya laju deforestasi di Indonesia. Teknik pemanenan madu yang tidak berazaskan kelestarian juga merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup lebah hutan. Permasalahan lain yang tidak kurang pentingnya adalah kualitas madu lebah hutan yang rendah akibat pemanenan dan penanganan pasca panen yang kurang baik. Rehabilitasi hutan dan perbaikan teknik pengelolaan lebah hutan adalah upaya terbaik untuk memulihkan potensi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas produk lebah hutan. Teknologi pengelolaan A. dorsata yang meliputi teknik pengembangan sarang buatan dan teknik pemanenan dibahas dalam makalah ini. Kata Kunci: Lebah hutan, Apis dorsata, Madu Kuntadi PAKAN BUATAN UNTUK LEBAH MADU / Kuntadi. -- Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 149-154 , 2006 Sumber pakan utama lebah madu adalah nektar dan tepungsari (pollen) yang dihasilkan dari bunga tanaman. Masa pembungaan tanaman yang umumnya

22

bersifat musiman menyebabkan pada periode tertentu lebah madu mengalami krisis makanan. Kondisi demikian mengakibatkan penurunan populasi koloni. Kekurangan makanan tidak jarang juga menyebabkan hijrahnya koloni. Pemberian makanan buatan adalah salah satu alternatif cara mempertahankan koloni lebah madu , terutama dalam kondisi langka bunga. Makanan buatan terdiri dari makanan pengganti nektar dan makanan pengganti tepungsari. makalah ini membahas cara pembuatan dan pemberian makanan buatan untuk lebah madu yang dibudidayakan. Kata Kunci: Pakan buatan, Lebah madu Kurniadi, Rahman KAJIAN PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN HUTAN SEBAGAI EKOWISATA DI RIUNG / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 43-53 , 2006 Sampai saat ini sektor kehutanan telah menjadi perhatian banyak pihak karena keterkaitannya dengan banyaknya penduduk miskin di sekitar areal hutan. menurut data Potensi Desa (2003) dalam Ediawan (2005) desa yang berada di dalam dan di sekitar hutan lebih tertinggal dibandingkan dengan desa di luar hutan. Untuk membantu menganalisis permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui manfaat hutan sebagai ekowisata di Taman laut 17 Pulau Riung yang diperoleh masyarakat dan berupaya meningkatkannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi saat ini menfaat yang diterima masyarakat belum optimal. Untuk meningkatkan manfaat tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan arus kunjungan wisata ke Riung. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi dan meningkatkan sarana dan prasarana rekreasi di Riung. Hasil penelitian juga diperoleh fakta bahwa pemanfaatan hutan sebagai obyek ekowisata di Riung memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat dibandingkan pemanfaatan dalam bentuk lainnya. Disamping keuntungan ekologi, masyarakat sekitar obyek ekowisata di Riung memperoleh manfaat ekonomi. Kata kunci: Ekowisata, Pemanfaatan hutan, Riung, Manfaat ekologi, Manfaat ekonomi

Kurniadi, Rahman UPAYA PELESTARIAN PENYU DI BALI / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 55-62 , 2006 Penyu merupakan salah satu hewan langka dilindungi.Beberapa jenis penyu bahkan telah masuk ke dalam daftar Lampiran (Appendix I) Convention on International Trade of Endangered Species tahun 1978 (CITES). Sementara itu Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan guna melestarikan penyu. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan acuan untuk melestarikan penyu di daerah lain. hasil penelitian menunjukan bahwa berbagai upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali antara lain dengan pembentukan Peraturan Daerah, sosialisasi peraturan perundangan, penegakan hukum, penggantian daging penyu dengan daging babi, penggunaan teknologi penangkaran, pelibatan masyarakat dalam penangkaran penyu, dan pelibatan lembaga swadaya masyarakat. Kata kunci: Penyu, Pelestarian, Hewan langka, Satwa langka, Bali Kurniadi, Rahman TEKNOLOGI DAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI KAWASAN MUTIS / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 47-53 , 2006 Kawasan konservasi merupakan kawasan yang memperoleh perlakuan khusus karena kepentingan perlindungan sumberdaya alam. Segala kegiatan yang dilakukan di kawasan konservasi diatur oleh perundang-undangan. Namun demikian segala peraturan perundang-undangan tersebut tidak dapat menangkal kerusakan areal konservasi. Beberapa kawasan sangat rawan terhadap gangguan. Kawasan Cagar Alam Mutis dan Hutan Lindung Timau misalnya, sangat rawan terhadap gangguan ternak, pertambangan dan berbagai gangguan lainnya. Penelitian ini bertujuan memperoleh bentuk kelembagaan social forestry di kawasan Mutis dan memperoleh teknologi social forestry di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk social

23

Pada pengamatan II diketahui bahwa spesies. 2006 Keadaan iklim yang sangat kering dan jenis tanah yang miskin merupakan suatu kendala besar dalam pengembangan rotan secara luas di Nusa Tenggara Timur. Wanda POTENSI MASYARAKAT DAN PERANAN KELEMBAGAAN DI ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Community Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi (karakteristik. peningkatan sumberdaya manusia dan ekonomi sebagai prioritas lembaga masyarakat lokal (0. spesies dan pupuk terhadap diameter serta pupuk dan blok terhadap jumlah daun. pupuk dan media berpengaruh nyata terhadap tinggi. dan pemantauan pengelolaan daerah penyangga sebagai prioritas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (0. persepsi. Jenis introduksi Kuswanda. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. blok terhadap diameter serta spesies dan blok terhadap jumlah daun.Jurnal 24 . Kegiatan penelitian ini meliputi kegiatan di lingkup persemaian dalam rangka mendapatkan teknik budidaya yang paling tepat untuk memperoleh paket teknologi peningkatan produktivitas dan kualitas rotan. Di samping itu teknologi social forestry yang dimiliki masyarakat belum mampu untuk membangun hutan. Social forestry.1% hal tersebut dinilai responden sebagai peranan Balai TNBT). Kata kunci: Kelembagaan. Peranan kelembagaan dalam penataan batas dan ruang serta perlindungan taman nasional merupakan prioritas program Balai TNBT (nilai = 0. -. dan bekerja sebagai petani.forestry di kawasan tersebut belum sesuai dengan kondisi ideal. persepsi.339 dan 0. Hasil penelitian menunjukan pada pengamatan I hanya spesies dan media yang memiliki pengaruh nyata terhadap tinggi.462). Kata kunci: Rotan. beragama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik budidaya rotan di Pulau Timor melalui teknik silvikultur yang tepat. pelatihan. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat dan stakeholder terkait yang dianalisis dengan tabel frekuensi dan sistem Analytic Hierarchy Process (AHP). artinya 33. dan memberikan bantuan modal. No. Karakteristik masyarakat sebagian besar merupakan penduduk asli. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan perlakuan dilakukan uji beda nyata taraf 5 persen. dan interaksi) masyarakat dan peranan kelembagaan dalam pengelolaan zona penyangga TNBT. Halaman 459 475 . 2006 Keberadaan masyarakat di sekitar zona penyangga akan mempunyai interaksi dan berpengaruh terhadap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). diamter semai dan jumlah helaian daun tanaman semai di lapangan. Persepsi masyarakat tergolong positif meskipun interaksi terhadap kawasan TNBT masih cukup tinggi. Hery BUDIDAYA ROTAN DENGAN BEBERAPA JENIS INTRODUKSI DI PULAU TIMOR / Hery Kurniawan. Halaman 147-159 . Parameter pengamatan adalah tinggi anakan rotan yang diukur dari permukaan media tumbuh semai sampai dengan titik tumbuh semai. suku Melayu. Teknologi.III.4 . Program pemberdayaan lembaga masyarakat lokal dapat dilakukan dengan membuat kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Budidaya.315). -. Abdulah Syarief Mukhtar.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.421. peranan kelembagaan. Mutis Kurniawan. mulai dari pembibitan hingga pengembangannya di lapangan. Oleh karena itu diperlukan pendampingan untuk membentuk kelembagaan social forestry yang mandiri dan untuk meningkatkan kemampuan teknis serta motivasi masyarakat dalam memelihara tanaman. Kata kunci: Zona penyangga. Nasional Bukit Tigapuluh Taman Potencies and Institution Roles in The Bukit Tigpuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda. 2006 .Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan blok.9 % dan 42.

2006 Kuswanda. No. Program yang dapat dikembangkan di antaranya adalah mendayagunakan Badan Pengelola Multi Stakeholder (BPMS). rasionalisasi batas kawasan dan zonasi TNBT.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. rasionalisasi.33 %. Semua penilaian Analytic Hierarchy Process (AHP) responden diolah dengan sistem 25 . Halaman 491 .Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Hasil pengelolaan lahan dimanfaatkan untuk dijual (48. Oleh karena itu perlu adanya peraturan daerah yang mempertimbangkan unsur perpaduan antara hukum adat dan hukum formal yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya hutan KOPERMAS yang diharapkan Kuswanda.III. Oleh karena itu pengelolaan hutan di Papua dewasa ini memasuki era baru. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner untuk masyarakat dan stakeholder. masyarakat adat terlibat secara langsung dalam pengelolaan hutan.5 . stakeholder Kuswandi. Alternatif strategi untuk mengembangkan kelembagaan adalah pembinaan dan pemberdayaan berbagai stakeholder terkait (0.289). Masyarakat di lokasi penelitian (Desa Lubuk Kambing dan Sungai Rotan) secara umum menggarap lahan pribadi/hak milik dengan luas rata-rata sekitar 3 ha/responden yang berasal dari membuka hutan 35 %. 2006 Paradigma baru pembangunan kehutanan (khususnya di Papua) yang mengarah kepada keberpihakan terhadap masyarakat sekitar hutan. zonasi. wawancara. menyatakan bahwa hutan merupakan sumber pangan dan protein selain sebagai sumber kayu dan pengakuan hak masyarakat adat atas suatu kawasan hutan. PROVINSI JAMBI (The Patern Informasi pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal merupakan aspek penting yang harus diketahui di dalam menyusun rencana pengelolaan zona penyangga di taman nasional.of Land-Use by Communities in Buffer Zone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama adalah kurang jelasnya batas dan fungsi zona penyangga (nilai = 0. Wanda POLA PEMANFAATAN LAHAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. meningkatkan kapasitas dan wawasan sumberdaya manusia.323). No. mulai dari perencanaan hingga pemungutan hasil hutan melalui suatu wadah atau organisasi yang dibentuk yaitu Koperasi Peran Serta Masyarakat Adat (KOPERMAS) yang bergerak di sektor kehutanan.7 % hal tersebut dinilai sebagai penghambat pengembangan kelembagaan zona penyangga) dan tingkat ekonomi dan peranserta masyarakat yang masih rendah (0. Wanda STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Strategies on Institutions Development of Bukit Tigapuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda dan Abdullah Syarief Mukhtar. -. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang faktor penghambat utama dan strategi untuk mengembangkan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya alam di zona penyangga TNBT. 2006 Pengelolaan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) belum optimal karena kurangnya koordinasi dan sosialisasi antar lembaga terkait. pertanian (ladang dan sawah) dan keperluan lainnya (pekarangan rumah dan jalan). Kata kunci : Pemanfaatan lahan.357. zona penyangga.436). penataan kembali status dan peruntukan lahan untuk kawasan lindung dan budidaya di daerah penyangga (0. Halaman 249 . Data dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner. Kata kunci : Faktor penghambat. Jambi Province) / Wanda Kuswanda.504 . Namun peraturan perundangundangan dan petunjuk pelaksanaan yang dikeluarkan dalam mendukung pelaksanaan pengelolaan hutan oleh masyarakat cenderung tidak jelas dan tidak konsisten.3 . Pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal untuk areal perkebunan. Koperasi ini menggunakan konsep kemitraan antar pengusaha mapan dengan masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya alam guna meningkatkan taraf hidup masyarakat pemilik hak adat dan hak ulayat. warisan orang tua 8.258 . -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 127-135 . dan pengamatan secara deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemilikan dan pola pemanfaatan lahan di Zona Penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. artinya 35. Bukit Tigapuluh National Park. dan menciptakan kesempatan usaha pada masyarakat (0. strategi.241). Relawan MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT ADAT DI PAPUA / Relawan Kuswandi dan Pudja Mardi Utomo. dan lainnya. -. selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan tabel frekuensi.III.33 %) dan dikonsumsi (20 %). Taman Nasional Bukit Tigapuluh menggunakan program expert choice dan Microsoft Excel.

68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yaitu zona inti. serat. dan fasilitas yang dimiliki oleh masyarakat adat dalam pengelolaan hutan.17 sampai dengan 3. -. Hal ini disebabkan oleh karena rendahnya tingkat pengetahuan.000-5. Yamin Mile. pupuk organik cair. Kegiatan perekonomian masyarakat terutama berupa usaha pertanian ekstensif dan pemungutan hasil hutan. Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan dengan penyebaran kuesioner pada responden sebanyak 66 responden yang ada di zona penyangga dan tradisional TNBT.dapat meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat adat. di samping serat sebagai produk utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan pada zona-zona yang diamati mempunyai indeks keanekaragaman jenis tumbuhan secara keseluruhan berkisar antara 2. mamalia. 11 jenis mamalia. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan kriteria dan indikator yang tepat dalam penetapan zonasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Halaman 585 . Kata kunci : Agroforestry haramay. sehingga bisa menjadi dasar bagi pengelolaan TNBT selanjutnya.Info Hutan : Vol. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. dan enam jenis primata yang dijumpai di zona-zona tersebut. dan konsentrat pakan ternak.) Gaudich. Selama ini pengelolaan hutan ulayat pada kenyataannya lebih banyak digunakan oleh pihak investor sebagai mitra kerja. social forestry.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay).) Gaudich. dan sosial ekonomi. pengembangan teknologi tepat guna.5 . baik dalam penyiapan lahan. Ditinjau dari aspek teknis. Halaman 239-249. Masyarakat Adat. Sistem silvikultur yang digunakan adalah sistem silvikultur TPTI modifikasi yang disederhanakan tetapi tetap mengacu pada prinsip pengelolaan hutan lestari. biotik. Papua Mile. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. Rozza Tri KRITERIA DAN INDIKATOR PENETAPAN ZONASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Criteria and Indicator of Appointed Bukit Tigapuluh National Park Zones) / Rozza Tri Kwatrina dan/and Abdullah Syarief Mukhtar.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper.000 ha dengan jangka waktu pengelolaan antara 10-20 tahun dan menggunakan sawmill portable atau chain saw. hasil hutan kayu dan non kayu Kwatrina. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. baik IUPHHK maupun non IUPHHK sebagai prasyarat legalitas untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan. china grass.3 .) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M. Ditinjau dari prospek agribisnis. Data yang dikumpulkan meliputi data kondisi fisik. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. Untuk itu perlu adanya suatu model pengelolaan hutan yang sesuai dengan kondisi masyarakat adat di Papua.71. Terdapat 17 jenis aves. Kata Kunci: Sumberdaya Hutan. Model pengelolaan hutan yang dianggap mudah dan dapat diterapkan adalah model pengelolaan hutan dalam skala kecil dengan berorientasi pada industri pengolahan kayu. No.III.III. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. biotik. -. dan primata. kemampuan. sedangkan pengamatan satwaliar dilakukan dengan metode perjumpaan pada kelas aves.) Gaudich.606 . Empat kriteria zona TNBT telah sesuai dengan kriteria yang dimaksudkan dalam Peraturan Pemerintah No. baik yang dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. Dalam unit prosesing serat. No. dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. zona pemanfaatan intensif. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. zona rimba. Luas areal konsesi antara 1.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L.. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. Kondisi vegetasi diperoleh melalui analisis vegetasi pada setiap zona. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. Usulan indikator untuk masing-masing zona adalah zona inti 26 . 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L. dan daerah penyangga. berdasarkan parameter fisik.

5 persen). dan daerah penyangga sebanyak 13 indikator. Untuk menunjang kegiatan tersebut maka diperlukan 27 . mendorong masyarakat untuk melakukan pembukaan hutan. 2006 Kepulauan Nusa Tenggara sebagai sub kawasan Wallaceae mempunyai keanekaragaman jenis avifauna yang tinggi. 2006 . Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari bebagai pihak. Semakin berkembangnya kehidupan dan bertambahnya kebutuhan hidup keluarga. pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di daerah penyangga kawasan konservasi. Upaya penanggulangan illegal logging telah banyak dilakukan.sebanyak 13 indikator. zonasi. zona rimba lima indikator. 2006 Kegiatan konservasi ex-situ merupakan konservasi komponen keaneragaman hayati di luar habitat alaminya. Masyarakat sekitar hutan pada umumnya memiliki bentuk aktivitas tradisional pertanian ladang sebagai pilihan utama yang dilakukan setiap tahun guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kata kunci: Wallaceae. Dengan model variasi genetik yang berhubungan dengan daerah asal (provenans) yang banyak inilah diharapkan dapat dilakukan seleksi provenans yang terbaik dengan uji provenans serta kegiatan-kegiatan pemuliaan lebih lanjut untuk memperoleh kebun klon cendana yang memiliki sifat genetik unggul. Saat ini areal hutan Indonesia yang rusak telah mencapai luasan 43 juta hektar dengan laju kerusakan hutan 1. zona pemanfaatan intensif lima indikator. Halaman 77-84 . Halaman 107-114 . 10. Dengan adanya sebaran alami yang luas serta lokasi yang kontinyu seperti kepulauan. Avifauna.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. indikator Lestari. putusnya hubungan emosional masyarakat lokal dengan lingkungan dan bergesernya kegiatan perekonomian masyarakat sekitar hutan yang semula berladang menjadi kegiatan industri.2 persen adalah jenis endemik Nusa Tenggara. kegiatan ini dapat dilakukan pada cendana karena memiliki siklus hidup yang relatif panjang maka prosedur yang lazim digunakan dalam pengembangannya adalah dengan cara menanam tanaman tersebut di lokasi yang telah direncanakan. akan tetapi belum memberikan dampak yang nyata terhadap pengurangan laju deforestasi hutan. -.Sri ILLEGAL LOGGING DAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Sri Lestari. Burung endemik Nusa Tenggara mempunyai tingkat keterancaman populasi tinggi sehubungan dengan luasnya kawasan hutan yang menjadi kawasan konservasi (di Nusa Tenggara barat 5.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. rehabilitasi lahan. Daerah M Hidayatullah PEMBANGUNAN KEBUN KONSERVASI EX-SITU CENDANA DI PULAU TIMOR / M Hidayatullah. 2003). zona pemanfaatan tradisional 10 indikator. mulai dari tingkat pusat sampai ke level masyarakat (multi stakeholders) dan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar hutan agar upaya peningkatan pembangunan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. penyangga. Kegiatan illegal logging memberikan dampak yang multidimensi pada berbagai sendi kehidupan masyarakat. Kata kunci: Taman Nasional Bukit Tigapuluh.Dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1998. Pelestarian populasi burung endemik Nusa Tenggara di alam dapat dipertahankan dengan meningkatkan perlindungan dan perluasan kawasan konservasi. 2006 . kegiatan perambahan hutan dan illegal logging oleh masyarakat semakin merata. Sosial ekonomi. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Halaman 125-135 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . -. zona rehabilitasi lima indikator. kriteria. yaitu meningkatkannya tingkat ketergantungan masyarakat.8 juta hektar per tahun (WWF.8 persen dan Nusa Tenggara Timur 8. Bismark. variasi genetiknya diharapkan sangat banyak. Bismark DIMENSI BIODIVERSITAS AVIFAUNA ENDEMIK WALLACEAE SUB KAWASAN NUSA TENGGARA / M. Biodiversitas Endemik. Dari 697 jenis burung Walaceae. Masyarakat sekitar hutan M. serta pengendalian perburuan dan perdagangan burung. Rehabilitasi lahan. 2006 Kegiatan illegal logging yang terjadi di Indonesia mengakibatkan kerusakan hutan semakin meningkat. -. Kata Kunci: Illegal logging.

984 ha dan Cagar Alam Kelimutu 16 ha. kegiatan pengelolaan Taman Nasional Bali Barat yang saat ini dilakukan meliputi pemantapan kawasan. IPTEK. 2006 . Kata kunci: Cendana.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.rehabilitasi dan pemanfaatan. Halaman 41-53 .78-11. pengelolaan wisata alam.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . dukungan iptek sangat diperlukan antara lain: sosial ekonomi. sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan kawasan. Frekuensi relatif dan Indeks Nilai Penting (INP) dari 16 jenis pada zona rimba adalah berkisar antara 2.92-7. Halaman 157-180 .78-25. Ekosistem. Jenis burung. pengelolaan penelitian dan pendidikan. dan kerjasama pengelolaan wisata alam. pemuliaan potensi jalak bali.000 ha. 2006 Social forestry diharapkan menjadi alternatif solusi pengelolaan kawasan hutan di Indonesia. pengembangan dan pemanfaatan. serta sebagai kawasan pemanfaatan secara lestari potensi sumberdaya alam dan ekosistemnya. Pendekatan yang dilakukan adalah inventarisasi dan identifikasi burung dan interaksinya dengan habitatnya.33.55-26. Penelitian ini bertujuan untuk jenis dan sebaran burung pada zona-zona di kawasan TN Kelimutu. Halaman 199-204 . mempunyai potensi flora dan fauna yang cukup beragam. pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kata kunci: Taman Nasional. Bali Barat Martin. pengelolaan potensi kawasan. -. Taman Nasional Bali Barat adalah salah satu kawasan pelestarian jalak bali. dan pengelolaan potensi wisata. Agis Nursyam S dan Kayat.Khusus untuk sosial budaya masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan lokal dan global dengan pengembangan partisipasi masyarakat lokal yang berbasis konsep budaya tradisional seperti Tri Hita Kirana. sehingga dapat dilakukan kegiatan konservasi insitu untuk kepentingan kegiatan konservasi ex-situ sebelum punah.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.08-24. Fakta menunjukan 28 .33-13.11 dan 4.11. Kata kunci : Identifikasi. 2006 Secara umum pengelolaan taman nasional mempunyai tiga fungsi pokok yaitu: sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan. Partisipasi masyarakat. pembangunan integrasi dan koordinasi. 2006 Taman Nasional (TN) Kalimutu yang luasnya 5. ditetapkan berdasarkan SK Menhut No. dan 5. -. I Ketut Catur KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / I Ketut Catur Marbawa. teridentifikasi 22 jenis burung pada zona rimba.65 dan 5.56. terdiri dari kawasan Taman Wisata Kelimutu 4. 279/Kpts-II/1992. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Social forestry bukan hal baru di Indonesia. pengelolaan potensi kawasan. penyusunan rencana pembangunan sarana-prasarana. Pembangunan.inventarisasi sebaran alami cendana di alam. pada zona pemanfaatan adalah berkisar antara 3. khususnya dalam kaitan alternatif obyek wisata. Hasil pengamatan menunjukkan. sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. Untuk mencapai fungsi dan tugas pokoknya. Konservasi. Edwin PERFORMANSI PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN BERBASIS SOCIAL FORESTRY DI PROVINSI JAMBI / Edwin Martin dan Bondan Winarno. -.38 serta pada zona rehabilitasi adalah berkisar antara 3. dengan metode titik hitung dan garis transek. Ex-situ cendana M Hidayatullah IDENTIFIKASI RAGAM JENIS BURUNG DI KAWASAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU ENDE / M Hidayatullah. Taman Nasional Kelimutu Marbawa. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan tersebut.

Info Hutan : Vol. Panajam Paser Utara. Halaman 239-249. pengembangan teknologi tepat guna. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. Dalam unit prosesing serat. baik dalam penyiapan lahan. Aplikasi bentuk-bentuk social forestry pada beragam kawasan cukup penting untuk dipelajari. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. di samping serat sebagai produk utama. dan pemanfaatan harus disosialisasikan ke masyarakat untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman penangkaran. Ditinjau dari aspek teknis. dan konsentrat pakan ternak. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. Cervus unicolor. Teknologi penangkaran. Peran serta masyarakat dan berbagai pihak yang terkait. baik dari segi teknis pelaksanaan maupun penyiapan kelembagaannya. pelaksanaan kegiatan.III. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. -. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teknologi dan kelembagaan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M. pakan. Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal telah dan sedang mengaplikasikan varian social forestry adalah provinsi Jambi. Kawasan hutan.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L. baik informasi maupun produk harus dibuat dengan baik sehingga budaya masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu tersebut dapat lestari. baik yang 29 . penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. Ditinjau dari prospek agribisnis. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. No.. Kata Kunci: Rusa sambar. Pengelolaan hutan. pupuk organik cair. Satu hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah teknik pengemasan. Selain itu juga akan mengurangi perburuan liar oleh manusia serta salah satu upaya untuk melestarikan plasma nutfah hewani di Indonesia. dan pasca kegiatan merupakan cara yang efektif untuk membangun kelembagaan dan kemandirian masyarakat dalam program social forestry.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 57-68 . Teknik pemeliharaan.3 .) Gaudich. Hasil penelitian penunjukan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi menggunakan pola pendekatan yang berbeda. Kata Kunci: Social forestry. mengingat orientasi pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat ini merupakan paradigma baru bagi pemerintah (Departemen Kehutanan).) Gaudich. Jambi Ma'ruf. perencanaan kegiatan.) Gaudich. Teknik konservasi maupun penangkaran satwa bernilai ekonomi tinggi ini perlu untuk selalu ditingkatkan sehingga pemanfaatannya dapat diusahakan secara lestari.bahwa ada keragaman inisiatif dan pendekatan yang sudah dikembangkan dengan hasil yang bervariasi. Kalimantan Timur Mile. dan Ismed Syahbani. khususnya Kalimantan Timur. -.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). penanganan. Tri Atmoko. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. terutama tergantung pada kawasan hutan fungsi mana social forestry tersebut diterapkan. baik dalam tingkat kecil (rumah tangga) maupun tingkat besar (peternakan). 2006 Rusa sambar (Cervus unicolor) adalah salah satu dari empat jenis rusa di Indonesia yang sudah dilindungi undang-undang dan jumlah populasinya terus berkurang akibat perburuan liar dan semakin tingginya degradasi habitat. Amir TEKNOLOGI PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DI DESA API-API KABUPATEN PANAJAM PASER UTARA KALIMANTAN TIMUR / Amir Ma'ruf. perkandangan. Upaya penangkaran rusa mempunyai potensi yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat selain sumber protein hewani lain yang sudah umum. Yamin Mile. Api-api. baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya merupakan modal penting untuk tercapainya tujuan tersebut di atas. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. kesehatan. Pendampingan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dari mulai identifikasi potensi masyarakat.

Yamin Mile. Uni Eropa.200-1. Halaman 229-238. dan sebagainya. Pengembangan social forestry dengan model agroforestry nilam akan meningkatkan nilai produk kayu.400 ton/tahun dan setiap tahun meningkat mencapai 5-10 %. M Yamin KAJIAN TEKNIS PENGEMBANGAN SOCIAL FORESTRY DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM (Technical Analysis of Social Forestry Development Through Nilam Agroforestry Model) / M. Agroforestry nilam adalah suatu model 30 . hasil hutan kayu dan non kayu Mile. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Oleh karena itu kegiatan social forestry dengan pola agroforestry nilam memberikan prospek yang baik dalam meningkatkan pendapatan petani secara nyata. Oleh karena itu pola agroforestry nilam memperlihatkan prospek agribisnis yang cukup baik sehingga sangat sesuai untuk dijadikan salah satu model dalam kegiatan social forestry. Abdullah Syarief STATUS RISET DALAM PENGUATAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU DAN TAMAN NASIONAL KOMODO / Abdullah Syarief Muchtar. social forestry. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan pola agroforestry nilam.3 . Timur Tengah. Nilam menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai nilai pasar tinggi dalam perdagangan internasional. Nina SEKILAS TENTANG HUTAN PENELITIAN / Nina Mindawati. Menurut data dari BPS (2001). Saat ini keberadaan hutan penelitian semakin diperlukan karena selain untuk penelitian juga digunakan untuk pendidikan. 2006 Hutan Penelitian merupakan faktor penunjang yang sangat penting dalam rangka peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan hutan secara nasional khususnya sebagai tempat melakukan dan menghasilkan teknologi (IPTEK) bagi kemajuan ilmu pengetahuan. -Info Hutan : Vol. Adapun prinsip-prinsip kolaborasi yang harus dibangun bersama oleh pihak terkait adalah penataan ruang yang fleksibel. minyak atsiri Mindawati. Pembuatan zonasi sebelumnya hanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah. sehingga keberadaannya perlu di jaga dan dilestarikan Kata kunci: Hutan penelitian Muchtar. Pogostemon cablin Benth. pada tahun 1937.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 137-148 . Kata kunci: Agroforestry berbasis nilam. Minyak atsiri yang berasal dari nilam digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik. 2005 : Halaman 1-12 . dengan kondisi lingkungan yang berbeda. pembuatan perangkat hukum secara bersama. Jepang. Indonesia mengekspor minyak atsiri ke lebih dari 25 negara seperti Amerika Serikat.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Kondisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi nilam. share learning. 2006 kombinasi antara tanaman pokok kehutanan dengan usaha tani nilam (Pogostemon cablin Benth. 2006 Pola pengelolaan Taman Nasional yang dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi saat ini seperti perambahan kawasan memerlukan pendekatan melalui sistem zonasi yang ditentukan bersama dengan berbagai pihak dengan dasar prinsip kolaborasi. membangun kapasitas kelembagaan dan administrasi secara berkala dan keadilan dan kepastian hukum yang jelas dan dapat dipatuhi atau diterapkan oleh para pihak yang berkolaborasi. china grass. diproyeksikan bahwa konsumsi minyak atsiri dunia mencapai 1. baik untuk kosumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. dan wisata bagi masyarakat. -. Sepuluh hutan penelitian telah dibangun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam sejak lembaga ini bernama Bousbouw Proefstation. khususnya di Jawa barat. No. agribisnis.III. saat ini perlu dilakukan secara bersama dengan masyarakat dan para pihak lainnya. sumber benih. koleksi. Kata kunci : Agroforestry haramay.). serat. social forestry.dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. Australia. Kanada.. -.

2006.). Dari ketiga jenis tanaman lorong.) terhadap pertumbuhan tanaman pokok jati (Tectona grandis L. kadar air. Budi Hadi PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS LEGUM TERHADAP KONDISI TANAH PADA AREAL BEKAS PENAMBANGAN BATU APUNG (Effect of Legume Species Planting on Soil Condition of the Area Formerly Used for Pumice Mining) / Budi Hadi Narendra dan Eka Multikaningsih. kimia tanah.) Poir). turi. fisika tanah Narendra. Respon yang diamati adalah pertumbuhan tanaman pokok dan biomassa hasil pangkasan ketiga jenis tanaman lorong. dan bulk density. pertumbuhan.) Pers). Taman Nasional Komodo. No. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. Demikian pula dengan sifat fisika tanah terjadi perbaikan pada permeabilitas. namun untuk penganekaragaman manfaat yang diperoleh. Zonasi. 2006 Dalam rehabilitasi lahan-lahan bekas tambang diperlukan teknologi yang efektif dan efisien.Kata kunci: Kebijakan. Variabel yang diamati adalah perubahan sifat fisika dan kimia tanah sebelum dan setelah diadakan penanaman. turi menghasilkan biomassa terbesar. biomassa 31 . hasilnya menunjukkan bahwa tanaman jati dan mangga memiliki kemampuan hidup dan tumbuh dengan baik dan antar jenis tanaman lorong belum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pokok. Halaman 173-180 .3 .235 . dan tanaman penutup tanah rendah berupa sentro (Centrosema pubescens Benth.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Leucaena leucocephala (Lamk. Setelah enam bulan pengamatan. Kata kunci : Rehabilitasi lahan.) dan mangga (Mangifera indica L.Info Hutan : Vol. Kolaborasi Narendra. Sesbania grandiflora (L. diantaranya penggunaan tanaman penutup tanah dari famili legum yang terbukti dapat memperkaya hara tanah. Dengan menggunakan rancangan acak lengkap tersarang. lamtoro. turi (Sesbania grandiflora (L.) De Wit. No. -. infiltrasi. dan KTK. sistem pertanaman lorong. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi pertumbuhan dan manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan sistem pertanaman lorong. perlu dipertimbangkan untuk menanam ketiga jenis legum secara bersama dikombinasikan dengan sentro sebagai tanaman penutup tanah. Jenis yang ditanam adalah tiga jenis tanaman penutup tanah tinggi yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk. diuji pengaruh tiga jenis tanaman lorong dari jenis legum yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala (Lamk. dan gamal (Gliricidia sepium Steud.3 . gamal (Gliricidea sepium (Jacq.) Steud). jenis legum.) De Wit. Gliricidia sepium Steud. Salah satu metode yang banyak memberi manfaat dalam merehabilitasi lahan kritis adalah penggunaan sistem pertanaman lorong (alley cropping).) Pers.). N total.III. Perlakuan dasar yang digunakan adalah pemberian pupuk kandang dosis 4. Hasil analisis tanah menunjukkan terjadi perbaikan sifat kimia tanah berupa meningkatnya kandungan bahan organik.f. turi (Sesbania grandiflora (L. Budi Hadi UJI COBA SISTEM PERTANAMAN LORONG DALAM REHABILITASI LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Trial of Alley Cropping system in Critical Land Rehabilitattion of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra.III. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis tanaman legum penutup tanah terhadap perubahan kondisi kimia dan fisika tanah di lahan bekas tambang batu apung. gamal. Kebutuhan teknologi tepat guna untuk merehabilitasi lahan bekas tambang batu apung penting saat ini. Penanaman menggunakan sistem pertanaman lorong.)..). -. temperatur. Halaman 225 .4 kg/m2 dan penggunaan tanaman penutup tanah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. sistem pertanaman lorong. Taman Nasional Kelimutu.

mendukung pendapatan masyarakat dengan nilai NPV positif pada tingkat pengembalian modal lebih dari 12 % per tahun.). I Wayan 32 . -. 4 . teknologi rehabilitasi lahan. tumor cabang dan rayap. No.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Keberadaan sistem kaliwu mampu menunjang tata air. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi dan teknologi budidaya jenis tanaman penutup tanah dan dosis pupuk kandang yang sesuai untuk rehabilitasi lahan kritis bekas tambang batu apung. dan pengumpulan data sekunder. serangan tumor buah dan tumor cabang tidak menyebabkan kematian. Berdasarkan kemampuan hidup. Masyarakat menambang secara tradisional tanpa mengupayakan rehabilitasi dan konservasi tanah dan air. Masing-masing kombinasi perlakuan ini diulang sebanyak 16 kali. kemampuan menutup tanah dan biomassanya. Budi Hadi TANAMAN PENUTUP LAHAN YANG SUSEAI PADA LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Cover Crop Species Trial on Critical Land of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra dan Syahidan. leprosula) dengan cara mengamati setiap individu tanaman di lapangan.4 kg/m2 dapat diaplikasikan guna menambah kandungan bahan organik tanah.1 . Hama penyebab tumor batang dan jenis rayap belum teridentifikasi.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. 2006 Pengelolaan hutan yang menekankan eksploitasi menyebabkan meningkatnya luas lahan kritis dan degradasi ekosistem hutan secara menyeluruh. 2006 Tambang batu apung di Lombok Timur. Gerson ND REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT BERBASIS SISTEM KALIWU DI PULAU SUMBA (The Study of Widhana Susila. karena lahan telah mengalami kemunduran sifat fisika kimia tanahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan intensitas serangan hama pada tanaman meranti merah (S. pupuk kandang Ngatiman HAMA TANAMAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) / Ngatiman dan Armansyah. Halaman 19 . Shorea leprosula Miq. lahan kritis. tanaman penutup tanah.III. -. Hal ini berdampak negatif terhadap daya dukung lingkungan dalam menunjang kebutuhan manusia. -. Penelitian ini menggunakan desain split plot. Kata kunci : Bekas tambang batu apung. khususnya di Ijobalit memiliki potensi dan produksi terbesar di Indonesia. Keuntungan Critical Land Rehabilitation through the development of Kaliwu Based Community Forest in Sumba Island) / Gerson ND Njurumana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama yang menyebabkan tumor buah pada pucuk tanaman adalah sejenis kutu dengan hama perantara lalat. Bekas tambang ini merupakan lahan terdegradasi yang dibiarkan saja menjadi lahan kritis dengan permukaan berlubang-lubang yang sebagian besar tidak dimanfaatkan lagi. Hama tanaman Njurumana. Serangan tumor buah dan tumor cabang menyebabkan tajuk meranggas dan kering akan tetapi tanaman tidak mati. No. namun serangan rayap menyebabkan kematian. Sedangkan di Pulau Sumba jumlah lahan kritis diperkirakan paling sedikit 32 % dari total luas daratan. tanaman yang paling tepat digunakan sebagai penutup tanah adalah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. keragaman jenis tanaman yang tinggi serta dukungan masyarakat. sedangkan serangan hama rayap mengakibatkan kematian. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .III. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh alternatif rehabilitasi lahan dan konservasi melalui pengembangan hutan rakyat yang berbasis pada sistem social forestry murni masyarakat beserta kearifan lokalnya. Luas lahan kritis di Nusa Tenggara Timur mencapai 28 % dari total luas wilayah. di mana tiga macam dosis pupuk kandang sebagai plot utama dan tiga jenis tanaman penutup tanah sebagai sub plot. wawancara. Kata kunci: Meranti merah. Halaman 357 365 .Narendra. Penggunaan pupuk kandang dengan dosis 4. Halaman 347-354 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kaliwu berpeluang dikembangkan untuk rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air di Sumba. Metode pendekatan yang digunakan adalah observasi langsung terhadap karakteristik sistem kaliwu.30 . 2006 Pada tanaman meranti merah (Shorea leprosula) umur 10 tahun lebih di lapangan terserang tumor buah.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. fragmentasi hutan akibat penebangan liar dan perladangan serta faktor alam yang kurang menunjang pertumbuhan tanaman. Peningkatan lahan kritis disebabkan kebakaran lahan dan hutan. Hanya vegetasi tertentu saja yang masih dapat dijumpai pada lahan tersebut.

2006 Perubahan paradigma pembangunan kehutanan yang sebelumnya berbasis hanya untuk pemanfatan kayu oleh sekelompok masyarakat tertentu menjadi pemanfaatan hutan secara multi guna dengan melibatkan masyarakat hutan sekitar mengharuskan pihak terkait seperti pemerintah. Kata kunci: DAS. dan lain-lain. -. Halaman 1-11 . mamar. peguatan. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan khususnya rehabilitasi lahan dan lingkungan diletakkan atas dasar pengetahuan masyarakat lokal. -. Mamar sebagai salah satu bentuk kearifan lokal 33 .Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. salah satunya adalah kearifan lokal. 2006 . 2006 Peningkatan degradasi lahan merupakan kesatuan yang bersifat simultan antara aspek sosial ekonomi. Konsep pembangunan yang dapat dikembangkan masyarakat langsung adalah yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan secara multiguna atau agroforestry seperti amarasi. I Wayan Widhiana S dan Tigor Butar-Butar. baik komponen internal maupun komponen eksternal. Irigasi. tetapi perlu memberikan ruang bagi partisipasi multi pihak beserta seluruh modal sosial yang berkembang dalam masyarakat. baik pusat atau daerah. pemulihan lahan kritis tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan teknis dan sektoral semata. konservasi dan hutan rakyat Njurumana. 2006 Keberlanjutan sistem irigasi Subak di Provinsi Bali sangat ditentukan oleh berfungsinya komponen pendukung Subak. penggerakan. Multiguna. sosial budaya. Sistem-sistem tersebut adalah merupakan kearifan lokal yang dapat dikembangkan untuk daerah-daerah yang dekat pemukiman. Kata kunci : Sistem kaliwu. kaliwu.pengembangan sistem kaliwu adalah diperolehnya landasan pengelolaan lahan kritis dan konservasi yang berbasis lokal (mengakomodir karakteristik wilayah. Gerson ND PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN SISTEM IRIGASI SUBAK DI BALI / Gerson ND Njurumana. budaya. Subak.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Di pihak lain. Pengelolaan. Kata kunci: Agroforestry. Karena itu upaya pengendalian dan rehabilitasi lahan kritis perlu melibatkan seluruh pihak termasuk aktor dari kegiatan degradasi lahan. Penguatan kelembagaan subak dalam membangun keterpaduan dalam pengelolaan mulai dari wilayah hulu. masyarakat sekitar hutan untuk membuat konsep pembangunan kehutanan secara bersama. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Faktor kesehatan DAS merupakan komponen eksternal yang menentukan keberlanjutan faktor internal. Khusus untuk daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) pembangunan kehutanan harus didasarkan pada kondisi obyektif sumberdaya alam dengan memperhatikan keterbatasan daya dukung sebagai akibat kurangnya pasokan air (sebagai salah satu ciri dari daerah semi arid). dan penyelarasan pengetahuan lokal dengan pengetahuan dari luar. dan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. rehabilitasi lahan. Bali Njurumana. Kearifan lokal Njurumana. 2005 : Halaman 111-122 . dan kearifan lokal) untuk menggugah peningkatan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan pengelolaan lahan. sehingga mendorong proses pembaruan. tengah dan hilir merupakan salah satu pilar pendukung keberlanjutan sistem irigasi tersebut di masa mendatang. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Gerson ND PEMANFAATAN HUTAN SECARA ARIF DAN BIJAKSANA / Gerson ND Njurumana. Halaman 143-154 . Gerson ND PENDEKATAN REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN MAMAR: STUDI KASUS MAMAR DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN / Gerson ND Njurumana.

2 .Pengakuan terhadap kearifan lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan. dan lingkungan. Tekanan penduduk yang tinggi mengindikasikan terbatasnya alternatif sumberdaya yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan hidupnya. dan pemanfaatan hutan. 2006 . kebakaran.memiliki peluang untuk diberdayakan dalam rangka mendukung rehabilitasi lahan. Selain memiliki kayu yang kuat dan awet. -. dan air diharapkan dapat mengapresiasi dan mendorong masyarakat untuk terlibat secara proaktif melalui kemitraan yang terbangun dalam pengelolaan sumberdaya hutan di Timor Barat. dan mengatasi bengkak. konversi lahan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. menengah. kehadiran hutan kota diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan ekologi perkotaan yang dapat dilakukan dengan mempertahankan kelestarian dan fungsi kawasan-kawasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun kerjasama dengan komponen masyarakat. monoton. habitat flora dan fauna. banjir/genangan. bising dan kotor. 2006 . Lingkungan Noorhidayah Binn) DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm PEMANFAATANNYA SEBAGAI TUMBUHAN OBAT (The Ironwood (Eusideroxylon zwageri Teijsm Binn. tanah dan air yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan kelestarian ekosistem. dan buah/biji ulin untuk obat rambut. -. 34 . Kata kunci: Degradasi lahan dan hutan. Dari aspek kebijakan.III. oksida nitrogen dan belerang. pembangunan sektor kehutanan di Timor Barat harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat secara obyektif melalui pendekatan site spesifik. Kearifan lokal. Gerson ND PELUANG DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI TIMOR BARAT / Gerson ND Njurumana. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan dapat dilakukan dengan memanfaatkan dan memberdayakan potensi dan kekuatan yang sudah ada dalam masyarakat. 2006 Hutan kota diidentifikasikan sebagai status lahan yang dengan pohon-pohonan dalam satuan kawasan tertentu baik pada tanah negara maupun tanah milik yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan perkotaan dalam pengaturan tata air. -. batang. karbon-dioksida. Halaman 103-117 . Halaman 183-197 .LSM dan swasta untuk mendukung tujuan pembangunan hutan kota Kata kunci: Hutan kota. intrusi air laut. Konservasi tanah. Halaman 123 .Info Hutan : Vol. 2006 Eksploitasi ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap keragaman model kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. Dengan demikian.) secara besar-besaran akan mengakibatkan terancam kelestariannya. 2006 Kerusakan sumberdaya lahan dan hutan di Timor Barat mengalami peningkatan akibat tekanan penduduk. Konservasi air Njurumana. debu. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. stabilitas. Nilai guna sistem mamar cukup baik terhadap aspek produktivitas. ternyata ulin juga memiliki manfaat non kayu sebagai bahan obat. ginjal. polusi udara. sekaligus mampu menjembatani konflik kepentingan terhadap sumberdaya lahan dan air. perambahan. tanah. memanfaatkan. Karena itu. Kebijakan Njurumana. dan mempelajarinya. Gerson ND NILAI PENTING HUTAN KOTA DALAM PEMBANGUNAN PERKOTAAN / Gerson ND Njurumana.) Conservation and it's Utilization as Medicinal Plant) / Noorhidayah. silvopasture.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. salah satunya pemanfaatan jenis tanaman yang memberikan manfaat ganda untuk jangka pendek. Pendekatan site spesifik dilakukan dengan berbagai pendekatan. Nilai penting. pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO. Masyarakat telah memanfaatkan daun.ozon. Kata kunci: Mamar. muntah darah.130 .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. suasana yang gersang. Upaya konservasi ulin mencakup tindakan dapat dilakukan secara in-situ maupun ex-situ dan menjaga. dan keberlanjutan yang cukup tinggi dalam mendukung kegiatan usaha tani. pencemaran air berupa air minum berbau. Ekologi. penurunan air tanah. Kade Sidiyasa.mengandung logam berat. Rehabilitasi lahan. dan panjang. Kehadiran hutan kota diharapkan dapat mengendalikan peningkatan suhu udara perkotaan. No. abrasi pantai.

Parameter yang diamati adalah tinggi dan diameter. Digunakan 3 ukuran daun dan 4 variasi aras campuran media. kokon. Kombinasi antara murbei persilangan dan ulat sutera persilangan memberi pengaruh nyata pada rendemen pemeliharaan dan bobot kokon.1 . perlakuan yang berpengaruh nyata adalah ukuran daun dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media. dan Morus cathayana A. Serasah daun pinus yang merupakan bahan organik yang bersifat lambat terdekomposisi dapat dijadikan media dengan cara dikomposkan dahulu. dan serat sutera. pupuk kandang. 35 persen pupuk kandang. cenderung memberikan hasil yang baik. konservasi insitu. ulat sutera persilangan. kokon.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Kata kunci : Murbei persilangan. Morus spp. Campuran media terdiri dari daun pinus. Agung Wahyu PEMANFAATAN SERASAH PINUS SEBAGAI MEDIA SEMAI / Agung Wahyu Nugroho. Ukuran dan kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik yaitu sebesar 1. 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik sebesar 1.) on Silkworm.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . dan serat sutera. Halaman 65 . Jumlah keseluruhan perlakuan ada 12 unit dan tiap unit ada 12 semai dan diulang secara acak pada 3 blok. Wahyudi Isnan. dan 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan pertumbuhan tinggi yang paling baik yaitu sebesar 11.) terhadap kualitas ulat.) DAN ULAT SUTERA PERSILANGAN (Bombyx mori Linn) TERHADAP KUALITAS ULAT. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh murbei (Morus spp. dan serat sutera.) dan ulat sutera persilangan (Bombyx mori Linn. Sedangkan ulat sutera persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat.38 cm. Media semai Nurhaedah M PENGARUH MURBEI (Morus spp.Kata kunci : Ulin. B2A. Oleh karena itu upaya penggunaan bahan lain sebagai media pertumbuhan dengan tujuan memperkecil pemakaian topsoil perlu segera dilakukan. Bombyx mori Linn. tetapi tidak memberi pengaruh nyata terhadap kualitas kokon dan serat sutera dan belum ada jenis yang memberikan hasil yang baik. dan tanah bermikoriza. Kombinasi M1U3 (murbei NI dan ulat sutera HG 8) cenderung memberikan hasil yang baik. Perlakuan yang menggunakan ukuran daun kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan tinggi semai yang paling baik yaitu sebesar 10.. -. Penelitian diaksanakan di kebun Karangmalang dan Laboratorium Tanah Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor yaitu: M (murbei persilangan) dan U (ulat sutera persilangan) dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Untuk pertumbuhan diameter semai. 2006 Media Semai dengan menggunakan media topsoil mempunyai banyak kelemahan diantaranya: media lekas padat. Kata Kunci: Serasah pinus.20 cm. Data rerata tinggi dan diameter dianalisis dengan uji F dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata metode Duncan. KOKON. 35 persen pupuk kandang. No. Analisis statistik menunjukkan bahwa murbei persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. Jenis NI.. aerasi kurang baik. Variasi aras campuran media 30 persen daun. DAN SERAT SUTERA (Effect of Mulberry (Morus spp) and Silkworm Hybrid (Bombyx mori Linn. kualitas serat 35 .30 mm. konservasi ex-situ Nugroho.III. Parameter yang diamati meliputi kualitas ulat. Halaman 129-136 . Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa serasah daun pinus yang lambat terdekomposisi dapat dimanfaatkan sebagai media semai dan mengetahui komposisi media pinus yang sesuai untuk pertumbuhan semai. and Silk Quality) / Nurhaedah. Harry Budisantoso. kualitas kokon. kualitas ulat.73 . obat. kokon. Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. Cocoon. dan berat per satuan bibit tinggi.23 mm dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media 30 persen daun kasar segar. -. Hasil penelitian menunjukan bahwa serasah daun pinus dapat dimanfaatkan sebagai media semai yang baik.

Perlakuan dalam percobaan ini terdiri dari dua tingkat suhu dan tujuh periode lama penyimpanan.93 . Halaman 83 . 2006 Penelitian pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza terhadap pertumbuhan stek Shorea johorensis Foxw. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak tiga kali.. Mulyana PENGARUH PEMBERSIHAN ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L. disamping itu waktu pengupasan kokon yang terlalu cepat dan tidak terseleksi (kontrol) menyebabkan waktu keluarnya ngengat lebih beragam. Mulyana Omon.) DENGAN HERBISIDA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L.Nurhaedah M.67 %).Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. -. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan waktu pengupasan kokon yang baik untuk penetasan dan rendemen ulat kecil adalah 8 hari sedangkan untuk keperidian dan jumlah pupa jadi ngengat adalah 7 hari.4 . mikoriza tablet Omon. 7 hari setelah mengokon dan 6 hari setelah mengokon serta kontrol (0 hari). No.184 .32 cm). stek. dan persentase kolonisasi akar (81. dengan dosis sebanyak 8 liter herbisida/ 800 liter air dan satu plot tanaman jati yang terletak di bukit tidak dilakukan penyemprotan sebagai kontrol. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri 3 perlakuan waktu pengupasan kokon yaitu 8 hari setelah mengokon. pengupasan. Kata kunci : Shorea johorensis Foxw.5 tahun. Hasil memperlihatkan bahwa penyimpanan tablet selama tiga bulan di kedua suhu yang berbeda (4o C dan 20o C) telah memberikan pengaruh yang nyata lebih baik terhadap persen hidup (86.84 %) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan. pertumbuhan tinggi (4. Penelitian bertujuan untuk mengetahui waktu pengupasan kokon yang tepat sebagai bahan pembibitan ulat sutera. Samboja Kalimantan Timur. R. Halaman 421 .) Clearing with Herbicide on Teak (Tectona grandis L. Dua plot terletak di bukit berukuran 20 m x 25 m dengan ketinggian 87 m dpl (di atas permukaan laut) dan satu plot terletak di lembah dengan ukuran yang sama dengan ketinggian 47 m dpl. Beauv.III. Ishak Yasir. penanganan ulat dan kokon serta pencegahan penyakit. yang berkualitas di persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4o C atau 20o C untuk diinokulasikan pada stek Shorea johorensis Foxw.III. No.f. kokon Omon.) DI KAWASAN REHABILITASI SAMBOJA (Effect of Alang-alang (Imperata cylindrica L. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan penanganan khusus seperti pemberian pakan.1 . Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal tablet mikoriza untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. . No. -. jumlah daun.f. jumlah daun (4 helai). purposive dengan Pembuatan plot percobaan dilakukan secara mempertimbangkan keadaan topografi. Mulyana Omon. Cuttings in Greenhouse) / R. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan penyemprotan alang-alang dengan 36 .) PADA BEBERAPA WAKTU PENGUPASAN KOKON (Quality of Silkworm Eggs with Several Cocoon Peeling Period)/ Nurhaedah M. Sulawesi Selatan. Dengan demikian untuk rencana dan strategi penyediaan stek Shorea johorensis Foxw. R.) umur 2. Sedangkan suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. Halaman 177 .2 . KUALITAS BIBIT ULAT SUTERA (BOMBYX MORI L. Kabupaten Gowa.f. 2006 Bibit ulat sutera yang berkualitas akan diperoleh jika pemeliharaan ulat induk menghasilkan kokon yang baik. Di kedua plot tanaman jati tersebut alang-alangnya disemprot dengan herbisida. waktu penyimpanan. dan persentase kolonisasi akar. DI RUMAH KACA (Effects of Temperature and Storage Duration of Mycorrhizae Tablet to Growth of Shorea johorensis Foxw. Kata kunci : Ulat sutera.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. telah dilaksanakan di kawasan rehabilitasi Samboja. 2006 Pengaruh pembersihan alang-alang dengan penyemprotan herbisida pada tanaman jati (Tectona grandis L. pertumbuhan tinggi.) Plantation in Samboja Rehabilitation Area) / R. Tiap unit perlakuan terdiri dari 10 bibit. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Shorea johorensis Foxw. Penelitian ini dilakukan di Balai Persuteraan Alam Bili-Bili.III. telah dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata.428 . Beauv. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang teknik pemeliharaan tanaman jati pada lahan alang-alang.

India. paucifloria. 2006 Pengadaan bibit Dipterocarpaceae dengan sistem cabutan anakan alam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kelemahan pengadaan bibit secara generatif (asal buah/biji). lahan alang-alang. Hopea odorata. Stek pucuk. Dengan demikian penyemprotan alang-alang dengan herbisida pada tanaman jati dengan dosis 8 liter herbisida/800 liter air per ha dapat direkomendasikan untuk pembersihan alang-alang pada tanaman jati. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . penggunaan media tepat. Sudin SISTEM CABUTAN ANAKAN ALAM SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PENYEDIAAN BIBIT JENIS DIPTEROCARPACEAE / Sudin Panjaitan. dikarenakan kesuburan tanah di lembah lebih baik dibandingkan dengan di bukit. S. dan vermikulit) keuntungannya bahannya mudah diperoleh.herbisida pada tanaman jati telah memberikan pengaruh efektif terhadap pertumbuhan. S. assamica. Imperata cylindrica L. Sedangkan riap diameter dan tinggi tanaman jati yang di lembah lebih tinggi dibandingkan dengan di bukit. S. S. gambut. sehingga kendala pembuatan bibit dalam skala luas dan tepat waktu dapat diatasi untuk mendukung program pembangunan hutan tanaman. Dryobalanops lanceolata. Dari hasil pembiakan vegetatif melalui stek ada beberapa jenis yang mudah tumbuh di media padat dan cair seperti Shorea leprosula dan Shorea selanica.f. Sejak Juli 2002 Stasiun Penelitian Wanariset Samboja telah berubah menjadi Institusi Loka Litbang Satwa Primata. Malaysia. Mulyana TEKNIK PEMBIAKAN VEGETATIF MELALUI STEK PUCUK DIPTEROCARPACEAE PADA MEDIA PADAT DAN AIR / R. Tectona grandis L. Dipterocarpus hasseetii.7 cm. Media padat. Selain itu banyak tamu-tamu yang datang. tidak terdapat deformasi batang dan akar anakan.43 cm dan 185. Kata Kunci: Pembiakan vegetatif. parvifolia. Omon. yaitu sebesar 3. Kata kunci : Tanaman jati. S. Kelemahannya untuk yang pertama adalah diperlukan biaya yang besar yaitu harus tersedia kompresor atau aerator sebagai penghasil oksigen dan listrik. Keberhasilan perbanyakan dengan stek pucuk dipterokarpa dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain kelembaban. teknik pengepakan dikondisikan lembab. gambut. smithiana. baik dari dalam dan luar negeri seperti Jepang. teknik pencabutan yang baik. tetapi kelemahan tidak dapat dikontrol setiap saat apakah sudah berakar atau belum dan perlu penyiraman.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan.5 kali untuk diameter dan tinggi sebesar 5 kali dibandingkan dengan tidak disemprot herbisida (kontrol). teknik. johorensis. dan lain-lain. Untuk media padat (pasir. Perbedaan pertumbuhan tersebut. intensitas cahaya. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Samarinda di Stasiun Penelitian Wanariset Samboja dengan Yayasan Tropenbos Belanda dengan nama MOF-Tropenbos Kalimantan Project yang dimulai pada tahun 1985 sampai tahun 2000. R. herbisida. temperatur. turut mempelajari metoda tersebut. media. Beauv. Hal ini terkendala dengan masa berbuah massal yang tidak teratur dan bijinya bersifat recalcitrant yang tidak dapat disimpan lama yaitu hanya beberapa minggu saja. Dipterocarpaceae. Sedangkan media cair (air) keuntungannya mudah dikontrol dan apabila belum berakar dapat dikembalikan ke tempat semula tanpa mengganggu proses perakaran dan tidak perlu penyiraman. Vietnam. Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan informasi bagi para pelaksana di lapangan. 2006 Perbanyakan stek pucuk dari famili Dipterocarpaceae merupakan salah satu alternatif dalam pengadaan bibit di persemaian. Teknik tersebut telah diaplikasikan oleh HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di Indonesia dan bahkan lebih dari 1. dan vermikulit) dan air (water rooting system) diperoleh dari hasil kerja sama antara Departemen Kehutanan cq.. Selain itu pula telah dikembangkan teknik pembuatan kebun pangkas sebagai sumber bahan stek dan teknik inokulasi mikoriza sebagai pemacu pertumbuhan. pengambilan bahan. teknik penyapihan dan pemeliharaan bibit di persemaian sesuai standar 37 . dan Parashorea sp. dan hormon tumbuh yang digunakan. laevis. Halaman 335-345 . S. Teknik pembuatan bibit sistem cabutan anakan alam harus memenuhi syarat. Selain itu ada juga beberapa jenis yang mudah tumbuh di media air antara lain Anisoptera marginata.000 orang yang telah mengikuti training Alih Teknologi Stek Pucuk dan Kebun Pangkas di Wanariset Samboja. Thailand. ukuran anakan ideal. yaitu waktu pencabutan yang tepat. Rusmana dan Marinus Kristiadi Harun. Teknik pembiakan vegetatif melalui stek pucuk dengan media padat (pasir. Media air Panjaitan. Mulyana Omon.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 19-27 . -. -. masing-masing sebesar 2.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup anakan adalah 10 persen. menurut data Departemen Kehutanan tahun 2000 mencapai 1. Pranata sosial lokal. 6 gr.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. serta aturan yang mereka miliki sendiri untuk melaksanakan rehabilitasi lahan.Br) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK PINUFERT DAN NPK DI PERSEMAIAN BP2HTIBT. Kata kunci: Rehabilitasi lahan.B PUTERA PARTHAMA DAN HADI S PASARIBU. Kata kunci: Pulai.U KONSERVASI EMPAT JENIS ENDEMIK PAPUA DI PERTANAMAN BPPK PM MANOKWARI / Pudja M. dan Awig-awig. Pemberian pupuk berpengaruh nyata terhadap tinggi dan diameter batang. Banjar Pakraman. Pranata sosial lokal Pudja M. NPK Parthama. Sudin RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN PULAI (Alstonia scholaris (L) R. Penerapan model ini menunjukkan hasil yang positip yaitu dengan tingkat keberhasilan tanaman 80 persen.Br. Tri hita karana. Halaman 355-373 . Tri Mandala. Alstonia scholaris (L) R. BANJARBARU/ Sudin Panjaitan. Mahliani dan Acep Akbar. Dalam hal ini masyarakat diingatkan dan diarahkan untuk menerapkan konsepsi.B Putera PEMANFAATAN PRANATA SOSIAL LOKAL DALAM REHABILITASI LAHAN: SEBUAH PENGALAMAN DI NUSA PENIDA BALI / I. 2006 Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli lingkungan serta berkomitmen dalam merehabilitasi lahan ialah dengan mengaitkan dan memanfaatkan pranata sosial masyarakat lokal setempat. fisolofi. Percobaan disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dari perlakuan pupuk pada anakan pulai umur 16 minggu yang diulang sebanyak 7 kali. -.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Hal ini merupakan hasil dari proses panjang kegiatan pengusahaan hutan alam tropis sejak dekade 70-an sampai 38 . Pendekatan pranata sosial masyarakat setempat yang telah diaktualisasi didaerah ini antara lain: Tri Hita karana. Halaman 85-92 . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Angka degradasi hutan tropis Indonesia selama 10 tahun terakhir. Alternatif. 4 gr per anakan dengan pemberian pupuk pinufert 5 gr dan 10 gr per anakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Dipterocarpaceae Panjaitan. Pendekatan tersebut telah dicoba dilaksanakan di Nusa Penida. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Pulau Kecil dan kering yang berada di Tenggara pulau Bali. dan Daud Leppe. Pertumbuhan. masyarakat menunjukkan antusias yang tinggi untuk terlibat dalam rehabilitasi lahan sejak awal perencanaan hingga pelaksanaan dan pemeliharaan serta berminat untuk meningkatkan kemampuan teknisnya. Herman R. Tri Fungsi Hutan. Pendekatan serupa bisa diterapkan di daerah lain yang memiliki kondisi sama. -.6 juta ha/tahun.Kata kunci: Cabutan anakan. I. bukan diminta mengadopsi rehabilitasi lahan model baru. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 77-86 .U. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan anakan pulai akibat pemberian pupuk pinufert dan NPK. Penyediaan bibit. Sedangkan antara anakan pulai yang diberi pupuk NPK 8 gr. Dalam rangka pengembangan budidaya pulai di persemaian disarankan menggunakan pupuk pinufert 5 gr atau NPK gr per batang. Lembaga Pelaksana Pura. 2006 Kondisi sumbardaya hutan Indonesia pada saat ini mengalami kemunduran dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Pupuk pinufert. Anakan pulai. Jumlah daun anakan juga dipengaruhi oleh pemberian pupuk dimana anakan yang diberi pupuk menghasilkan nilai tertinggi pada jumlah daun dibanding tanpa pupuk.

dapat mencapai 2. Riap diameter rata-rata tahunan dan pertumbuhan diameter pada umur di bawah lima tahun umumnya lebih kecil dibandingkan tanaman setelah berumur di atas 10 tahun.38 cm dan umur 16 dengan diameter rata-rata 16. Endemik. Mutu genetik dipengaruhi oleh asal-usul benih. mutu benih maupun mutu bibit. Melihat kenyataan tersebut. seperti Intsia sp. Awal pertumbuhan yang umumnya sulit selain disebabkan pemeliharaan yang kurang intensif. sehingga produktivitasnya menurun. Perbenihan tanaman hutan yang mengandung arti segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan benih tanaman hutan menunjukan perlu adanya sertifikasi sumber benih. umur 11 tahun dengan diameter rata-rata 15. kecuali pada jenis Pometia pinnata ada kecenderungan menurun setelah umur lebih dari 15 tahun. Oleh karena itu upaya rehabilitasi perlu dilakukan agar kerusakan lingkungan dapat dikurangi dan produktivitas lahan dapat ditingkatkan.62 cm memberikan riap 1. dalam bentuk arboretum kebun percobaan. lahan kritis terjadi akibat sistem pengelolaan lahan yang tidak memadai dengan lingkungan iklim kering. walaupun tempat tumbuh di tiga lokasi kurang subur. Pometia sp. Program ini merupakan salah satu dari lima program pokok Departemen Kehutanan. mutu benih. Pometia sp. MUTU BENIH. 2006 Pembangunan tanaman hutan yang berkualitas memerlukan benih dan bibit bermutu. dan Araucaria sp. dan kebun koleksi.05 cm/thn. diduga juga disebabkan tanah di Manokwari umumnya bercampur karang. -. Araucaria cuninninghamii.80 cm memberikan riap 1. Joko MANFAAT SERTIFIKASI SUMBER BENIH.14 cm/tahun. 2006 . jenis-jenis ini relatif mudah untuk dikonservasi dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan tanaman dalam hutan tanaman untuk mendukung gerakan rehabilitasi lahan di Papua.. memberikan 3 cm/tahun. Sedangkan ex-situ di luar habitat aslinya. seperti Agathis labillardieri. diperlukan informasi mengenai aspek-aspek karakteristik faktor lingkungan daerah NTT dan permasalahannya serta alternatif pengelolaannya.3 cm/tahun. dan sertifikasi mutu bibit dalam mendukung GERHAN. Halaman 49-61 . Sumber benih. dapat mencapai 2. DAN MUTU BIBIT DALAM MENDUKUNG GERHAN / Joko Pramono dan Hendi Suhaendi. Instia sp. Agar rehabilitasi lahan kritis di daerah Nusa Tenggara Timur dapat berhasil. Sejak tahun 1986. Oleh karena itu perlu segera dilakukan program konservasi dan rehabilitasi. pertumbuhan diameter rata-rata P. memberikan 2.38 cm dan MAI mencapai 1.. 39 . Konservasi secara umum dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu in-situ dan ex-situ.sekarang.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . dan lain-lain. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Secara umum kondisi tanaman di kebun koleksi dan arboretum Inamberi dan Anggresi masih tergolong cukup baik. Halaman 55-68 . Mutu benih. Balai Litbang Kehutanan Papua dan Maluku telah melakukan penanaman beberapa jenis endemik (jenis asli) potensial yang mulai terancam keberadaannya di hutan alam. 2006 Di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Mutu Bibit. Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan tanah baik kimia maupun fisik.12 cm/thn. Faktor lingkungan yang ditentukan mutu non genetik dibedakan manjadi mutu fisik dan mutu fisiologi dan dipengaruhi oleh teknik penanganan benih/bibit. Kondisi ini menunjukan bahwa pemilihan dan penanganan bibit yang tepat serta tempat tumbuh yang cocok bagi jenis-jenis tersebut diharapkan mempunyai pertumbuhan yang baik. GERHAN Pratiwi REHABILITASI LAHAN KRITIS DI WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR / Pratiwi. Oleh karena itu setelah umur tanaman di atas 10 tahun biasanya pertumbuhan mulai membaik. sehingga tanaman harus melakukan penetrasi akar terhadap karang. In-situ berarti melestarikan sumberdaya genetik pada habitat aslinya.00 cm/tahun.8 cm/tahun. Ternyata keadaan masih berlanjut pada tahun berikutnya di mana diameter rata-rata mencapai 19. sertifikasi mutu benih. tingkat persentase hidup tegakan tergolong baik yaitu lebih dari 70 persen dengan kesehatan tegakan termasuk baik. -.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Dibandingkan dengan asumsi riap di hutan alam sebesar 1 cm/thn.20 cm memberikan riap 1. riap di kebun koleksi dan arboretum ini dianggap masih kecil. Belum adanya sertifikasi sumber benih. Hal ini juga berlaku pada ketiga jenis lainnya. Pinnata umur 5 tahun 5. Faktor dominan yang berpengaruh terhadap mutu benih/bibit adalah genetik dan lingkungan. Agathis sp. Papua. Manukwari Pramono. Kata Kunci: Sertivikasi. Kata Kunci: Konservasi. Namun secara individual ada beberapa pohon mempunyai MAI yang cukup tinggi pada masing-masing jenis. dan mutu bibit menyebabkan konsumen tidak memperoleh jaminan terhadap asal-usul benih. Sebagai ilustrasi.

Dengan kondisi iklim kering dan solum tanah yang tipis dan berbatu-batu, curah hujan yang rendah dan topografi sebagian besar curam sampai sangat curam mengakibatkan kesuburan daerah ini sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan pemilihan jenis yang akan dikembangkan yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut, teknologi yang memadai dan kelembagaan yang mendukung keberhasilan program yang akan diterapkan. Kata kunci: Rehabilitasi, Lahan kritis, Nusa Tenggara Timur Prayudyaningsih, Retno HAMA DAN PENYAKIT JENIS MURBEY EKSOT DAN TINGKAT KEHILANGAN DAUNNYA PADA AKHIR MUSIM KEMARAU (Pest and Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.4 ; Halaman 429 - 435 , 2006

Kata kunci : Hama dan penyakit murbei, murbei eksot, tingkat kehilangan daun Prayudyaningsih, Retno PEMBUNGAAN DAN PEMBUAHAN BITTI (Vitex cofasus Reinw.) (Flowering and Fruiting of Bitti (Vitex cofasus Reinw.)) / Retno Prayudyaningsih; Edi Kurniawan. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 131 - 138 , 2006 Penelitian mengenai pembungaan dan pembuahan bitti (Vitex cofassus Reinw.) telah dilakukan di Arboretum dan Laboratorium Silvikultur Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi selama 6 bulan (Januari-Juni 2003). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bunga, produksi bunga, keberhasilan bunga membentuk buah, serangga pengunjung, produksi buah, dan produksi biji tanaman bitti. Informasi ini diharapkan dapat mendukung keberhasilan proses penyerbukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakterisitk bunga bitti adalah hermaprodit dengan malai berjumlah 549,33-2.768,67 kuntum bunga, panjang bunga 0,78-0,89 cm, diameter bunga 0,78-1,13 cm, panjang stamen 0,53-0,60 cm dan 0,45-0,59 cm, dan panjang putik 0,84-1,00 cm. Jenis serangga yang selalu mengunjungi bunga bitti adalah kupu-kupu, lebah madu, dan lebah tukang kayu. Produksi bunga per cabang adalah 10.805,32-167.544,86 kuntum bunga. Pada penyerbukan secara alami 2,13 %-11,95 % bunganya akan membentuk buah. Produksi buah per pohon adalah 7.215-45.210 buah dengan produksi biji sekitar 0,59-3,77 kg. Kata kunci : Karakteristik bunga, serangga pengunjung, bitti, Vitex cofassus Reinw., penyerbukan alami

Disease of Exotic Mulberry and level of it’s Leaves Lost I the End of Dry Season) / Retno Prayudyaningsih; Hermin Tikupadang; Budi

Serangan hama dan penyakit pada tanaman murbei akan mengakibatkan produksi daun menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya. Apabila masalah ini dibiarkan berlanjut, maka ada kemungkinan ketersediaan daun murbei akan berkurang dan pemeliharaan ulat sutera oleh petani akan terhambat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Enrekang pada bulan November 2003. Jenis tanaman murbei yang diamati adalah jenis murbei eksot (Morus indica S-54 dan Morus multicaulis) dan Morus nigra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot pada akhir musim kemarau serta tingkat kehilangan daun akibat serangan hama dan penyakit tersebut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan percobaan faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah jenis murbei dan faktor kedua adalah lokasi. Hasil penelitian menunjukkan ada delapan jenis hama dan empat jenis penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot selama akhir musim kemarau. Jenis hama yang paling banyak menyebabkan kerusakan adalah kutu daun (Maconellicoccus hirsutus Green) dan belalang (Valanga sp.), sedang jenis penyakit yang banyak menyebabkan kerusakan adalah bercak daun (Septogleum mori Briosi et Cavapa) dan karat (Aecidium mori Barclay). Lokasi yang tingkat kehilangan daunnya tinggi adalah Kabupaten Wajo (20,05 %) sedangkan jenis murbei yang mempunyai tingkat kehilangan daun paling tinggi adalah M. indica S-54 (15,32 %).

40

High Protein Contain of The Ornate Lorikeet (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity) / Indra A.S.L.P. Putri. -- Jurnal
Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.3 ; Halaman 259 270 , 2006

Putri, Indra A.S.L.P. PREFERENSI DAN KONSUMSI PAKAN BERPROTEIN TINGGI PADA BURUNG PERKICI DORA (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity DALAM PENANGKARAN (Preferences and Consumption of

Rahmat, Mamat PELUANG PERBAIKAN POLA AGROFORESTRY DALAM MENJAGA KELESTARIAN TAMAN NASIONAL : KASUS DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT WILAYAH SUMATERA SELATAN / Mamat Rahmat dan Manifas Zubay. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 85-93 , 2006 Program pemberdayaan masyarakat sudah seringkali dilakukan pada desa penyangga TNKS. Namun kegiatan yang bersifat destruktif masih terus berlangsung. Makalah ini mengulas pola mata pencaharian masyarakat dan interaksinya dengan kawasan TNKS, pola agroforestry yang sudah berlangsung selama ini, serta peluang perbaikan pola agroforestry tersebut dalam rangka menjaga kelestarian kawasan TNKS. Terdapat dua peluang yang keduanya bisa dilaksanakan secara bersamaan. Peluang pertama adalah melalui diversifikasi kebun karet dengan tanaman sela musiman dan tanaman pelapis dari jenis pulai. Kedua adalah dengan cara mengimplementasi model kebun campuran tersebut pada zona pemanfaatan khusus. Kata Kunci: Agroforestry, Taman Nasional, Daerah penyangga, Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Selatan Rachmawati, Ida PENGEMBANGAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas LINN) SEBAGAI ALTERNATIF PENDUKUNG ENERGI BIODISEL / Ida Rachmawati. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 13-19 , 2006 Ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi cukup tinggi menyebabkan kurangnya upaya eksploitasi sumberdaya alam untuk bahan bakar alternatif. Perlu diupayakan segera cara mengatasinya melalui aplikasi kebijakan energi nasional yang mencakup intensifikasi, konservasi, dan diversifikasi energi. Pemanfaatan biodisel merupakan alternatif yang cukup menjanjikan sebagai pengganti minyak disel asal fosil. Penggunaan biodisel mendesak untuk direalisasikan karena selain sebagai solusi menghadapi bahan energi asal fosil pada masa mendatang, juga bersifat ramah lingkungan dan terbarukan. Jarak pagar (Jatropha curcas Linn) sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai

Pakan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan upaya penangkaran burung. Pakan utama burung perkici dora (Trichoglossus ornatus Linne 1758) di habitatnya adalah pollen dan nektar yang mengandung protein tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi dan konsumsi pakan berprotein yang dibuat dari pakan alami yaitu pepaya dan pisang ambon dengan penambahan protein, serta dampak pemberian pakan terhadap berat badan burung Perkici dora. Jenis pakan berprotein yang ditambahkan pada pakan alami adalah telur dengan kadar 10 %, 15 %, dan 20 % dari total pakan yang disajikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square, t-paired sample test, anova satu arah, dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung perkici dora yang dipelihara dalam kandang penangkaran memiliki preferensi dan konsumsi terhadap pakan berprotein tinggi dengan urutan preferensi dan konsumsi pakan adalah pakan alami > pakan berkadar telur 20 % > pakan berkadar telur 10 % > pakan berkadar telur 15 %. Selain itu pemberian pakan berkadar protein tinggi secara signifikan berpengaruh pada kenaikan berat badan burung perkici dora. Kata kunci : Preferensi, konsumsi, protein, pakan, perkici dora, Trichoglossus ornatus Linne 1758

41

bahan baku biodisel. Jarak pagar adalah tanaman yang cepat tumbuh, sangat toleran terhadap iklim tropis, dan jenis tanah sehingga sesuai untuk dikembangkan sebagai tanaman konservasi. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisionil, pupuk, kosmetik, pestisida, dan industri rumah tangga. Pengembangan jarak pagar untuk mendukung biodisel bertujuan untuk mengganti bahan bakar fosil dan memperbaiki polusi udara yang disebabkan oleh emisi dari pembakaran biodisel. Namun perlu dicermati pengembangan penanaman jarak pagar secara monokultur mungkin menimbulkan permasalahan lingkungan seperti keseimbangan daya dukung lahan, kondisi ekonomi, dan kondisi sosial budaya. Perlu dilakukan penelitian berbagai model penanaman secara benar dan terencana secara berkesinambungan. Teknologi ini juga harus diikuti dengan teknologi pengolahan hasil yang dapat dikelola sendiri oleh masyarakat. Kata kunci: Jarak pagar, Jatropha curcas Linn, Biodisel, Konservasi, Energi Rahmayanti, Syofia APLIKASI PUPUK DAUN DAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA ANAKAN JABON (Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s (Leaf Fertilizer and Growth Regulator Application to Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s Seedling) / Syofia Rahmayanti; Eka Novriyanti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 95 - 102 , 2006 Pupuk daun dan zat pengatur tumbuh sebagai perlakuan yang diaplikasikan pada anakan jabon (Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp.). Pengujian statistik, menunjukkan perlakuan tersebut berpengaruh nyata hanya sampai dua bulan pertama sejak perlakuan terakhir. Saat itu, perlakuan pupuk daun 2 g/l + zat pengatur tumbuh 2 ml/l menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter yang terbesar, masing-masing dengan nilai 17,87 cm dan 3,16 cm. Perlakuan tersebut berpengaruh nyata dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi anakan jabon tapi tidak berbeda dengan perlakuan zat pengatur tumbuh 3 ml/l dalam meningkatkan pertumbuhan diameternya, yang nilainya 3,06 cm. Kata kunci: Anakan jabon, Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp., pupuk daun, zat pengatur tumbuh

Rayan PERLAKUAN MEDIA KECAMBAH TERHADAP BENIH TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) DI PERSEMAIAN BP2KK SAMARINDA. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 240-245 , 2006 Tumbuhan penghasil Gaharu (Aquilaria microcarpa) termasuk suku Thymelaceae bernilai ekonomis tinggi yang selalu diburu dan ditebang orang jika ditemukan pencari gaharu di hutan karena banyak kegunaannya seperti untuk pembuatan parfum, kosmetik dan obat-obatan dan lain-lain. Penelitian dilaksanakan di Persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan dan bertujuan untuk mengetahui media perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu (Aquilaria microcarpa) yang baik. Parameter yang diamati adalah kecepatan berkecambah dan daya kecambah benih. Metoda yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Kelompok dengan perlakuan-perlakuan media perkecambahan yaitu : P1 (Media Perkecambahan Pasir) dan P2 (Media Perkecambahan Pasir Campur Kompos (1:1) Hasil penelitian menunjukan bahwa proses perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu jenis Aquilaria microcarpa, mulai berkecambah pada hari ke 7 dan terakhir hari ke 22 dengan rata-rata kecepatan berkecabah selama 14 hari. Sedangkan daya kecambahnya rata-rata 77,67 persen, perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu dengan pemberian kompos pada media pasir disamping dapat meningkatkan daya perkecambahan juga dapat mempercepat perkecambahannya yaitu penaburan benih pada media pasir rata-rata daya kecambah dan kecepatan berkecambah masing-masing 76.67 persen dan 14.46 hari, sedangkan penaburan di media pasir campur kompos (1:1) masing-masing berturut-turut 78.67 persen dan 13,54 hari. Hal ini disebabkan karena media pasir campur kompos lebih basah/lembab dibandingkan dengan media pasir tanpa kompos dan salah satu syarat perkecambahan diantaranya harus kelembabannya stabil atau tetap terjaga dan setelah diuji secara statistik tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Kata kunci: Gaharu, Aquilaria microcarpa, Media kecambah, Daya kecambah, Kecepatan berkecambah

42

2006 Gaharu adalah gumpalan resin berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum. Kata kunci : Agathis dammara (Lambert) L. Rich. Merryana Kiding Allo. dolomit 43 .74 cm)begitu juga dengan pertumbuhan diameternya yaitu cabutan anakan alam yang di sapih pada M9. Yaitu pertumbuhan tinggi cabutan yang disapih pada media subsoil campur bokasi (M9.53 persen asal cabutan anakan alam selama 6 bulan di persemaian. Media sapih. 2006 Hutan dijadikan sebagai sumber pemuas kebutuhan dan penghasilan. penelitian ini diulang dengan 3 kali ulangan yang tiap-tiap ulangan terdiri dari 30 benih. dengan perlakuan utama adalah dosis pupuk NPK. Ruben KOMBINASI PERMUDAAN ALAM Agathis dammara (Lambert) L. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. kosmetik. Penyediaan paket teknologi sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan jenis andalan setempat melalui penerapan teknik konservasi tanah berupa pemupukan dalam rangka rehabilitasi lahan kurang produktif. Halaman 326-333 . karena itu mereka memperlakuan hutan secara tidak bijak tanpa mempertimbangkan kemampuan alam yang ada. PADA LAHAN KURANG PRODUKTIF DI MALILI.Rayan PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN CABUTAN ANAKAN ALAM JENIS TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) / Rayan.C. Rich.7 cm) lebih tinggi dari pada media topsoil (M1. at Lessproduction Land of Malili. serta merupakan komoditi elit dalam kelompok hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomis tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan parfum.75 cm dengan diameter 0. dan sub perlakuan adalah kombinasi antara pupuk kandang dengan kapur dolomit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan permudaan alam Agathis dammara (Lambert) L. 0. antara lain: M1 (media topsoil).C.C. Gambut. dan obat-obatan. M4 (media subsoil campur tanah gambut (3:1). yang dikombinasikan dengan tanaman Theobroma cacao Linn. South Sulawesi) / Ruben Renden. Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan permudaan alam agatis sebaiknya menggunakan cara penanaman campuran dengan tanaman coklat karena pemupukan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok pada penambahan bahan organik pupuk NPK 100 gram + pupuk kandang 2 kilogam + kapur dolomit 300 gram.. M2 (media topsoil campur tanah gambut (3:1).C. Penelitian dilaksanakan di persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. 32. bahan organik. Rich. Kata kunci: Gaharu. Halaman 215 . pupuk kandang. Menurunnya kandungan bahan organik tanah pada bagian hutan yang telah berubah menjadi lahan HKM yaitu pada lapisan atas 5.43. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah atau Split Plot. Bakasi Renden.III. Rich.28 cm tetapi sebaliknya dengan persentase hidup yaitu persentase lebih rendah dengan pertumbuhan yang lebih tinggi. pemberian Gambut pada media sapih pada umumnya cenderung meningkat tetapi pemberian pada media subsoil belum dapat menyamakan kesuburan topsoilnya. yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika diduga akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. With Planted Theobroma cacao Linn.223 ..28 cm dan persentase hidup mencapai 82.93 dan pada lapisan bawah 5.3 . pada lahan kurang produktif di Malili. rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan berbagai media sapih. Hasil penelitian penunjukan bahwa Rata-rata pertumbuhan tinggi mencapai 29. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. coklat.34 cm dan yang disapih pada M1 adalah 0. Suhartati. Aquilaria microcarpa. -. Selain itu pula teknik pembukaan lahan dilakukan secara tebas habis lalu dibakar (slash and burn) sehingga kerusakan lapisan topsoil tanah sulit dihindarkan. DENGAN TANAMAN Theobroma cacao Linn. NPK. M8 (media topsoil campur bokasi (2:1). 29. M10 (media subsoil campur bokasi (2:1). M3 (media topsoil campur tanah gambut (2:1). SULAWESI SELATAN (Combining Natural Regeneration of Agathis dammara (Lambert) L. Berbeda halnya dengan pemberian Bokasi pada media sapih disamping meningkatkan kesuburan tanah dan juga pemberian pada media subsoil dapat melebihi kesuburan topsoilnya. M9 (media subsoil campur bokasi (3:1). Theobroma cacao Linn. No.

kemudian diambil sampelnya untuk dianalisis kandungan unsur haranya. Saluran-saluran irigasi. Kamindar MASALAH PEMBALAKAN LIAR DAN PENYELUNDUPAN KAYU DI PROVINSI RIAU (The Issue of Illegal Logging and Log Smugglings in Riau Province)/ Kamindar Ruby.193. Halaman 343 . No.250.III. -. pelanggaran hukum Salim. Papua Ruby. dan "German weed" (di Bangladesh). Demikian pula air yang ada pada Sabo Dam dianalisis kandungan unsur haranya. Hasil pembalakan liar untuk memasok kebutuhan industri kecil. Tanaman ini dikenal sebagai "Water hyacinth" (di Eropa dan Amerika) "blue devil" (di Bengal).crassipes SOLMS secara mekanis.Info Hutan : Vol. Pemusnahan E. dan pulp. Kata kunci : Pembalakan liar. maupun hutan konservasi. Untuk itu. Untuk mengetahui sumber-sumber erosi. Laode Asir Tira. sehingga hasil tangkapan dapat dilelang secara cepat dan disetor ke kas negara. Penelitian dilakukan melalui pendekatan volume sedimen yang tertampung dalam Sabo Dam (Sabo Dam diasumsikan sebagai penampung sedimen). Pada saat ini. crassipes SOLMS pada DAS-DAS di propinsi Papua Indonesia ini.crassipes SOLMS harus terpadu dan terkoordinir. E. pemberantasan dan penyidikan harus terus menerus secara serius dilaksanakan dan berkas perkara kasus tersebut segera diajukan ke pengadilan dalam waktu relatif singkat. Di Propinsi Papua Indonesia. Halaman 117 . Sedimen yang terdapat pada Sabo Dam diukur volumenya.5 m3 dengan luas catchment 47. Pembalakan liar tidak saja pada hutan produksi. -. Invasif eksotik. dan (2) memusnahkan E. diketahui melalui pemodelan AGNPS (Agriculture Non Point Source Pollution Model) sehingga bisa diketahui besarnya kontribusi erosi masing-masing penggunaan lahan. Berdasarkan hasil penelitian. South Sulawesi) / Andi Gustiani Salim. Nilai erosi ini dihitung dengan pendekatan biaya ganti (replacement cost).III.362.356 . pupuk biogas. Dampak dari kejahatan tersebut dapat mengganggu aspek kehidupan. Pembalakan liar telah dimulai sejalan dengan pembukaan wilayah hutan oleh HPH. diketahui bahwa luas catchment Sabo Dam 6 adalah 74. crassipes SOLMS untuk makanan ternak.075. unsur hara yang terbawa erosi diasumsikan sebagai nilai ekonomi erosi atau nilai kerugian lingkungan. Di beberapa daerah Aliran Sungai (DAS) di Propinsi Papua Indonesia. jenis tumbuhan ini sudah menyebar di seluruh Indonesia. Tegalan merupakan penggunaan lahan yang paling besar 44 . crassipes SOLMS pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh penjajah Belanda pada tahun 1894. dan mencemari beberapa smber air. 2006 Pada penelitian ini.75 m3 dan pada Sabo Dam 8 volumenya sebesar 21. menengah dan tidak menutup kemungkinan untuk bahan baku industri besar. E. Eulis PENANGANAN JENIS INVASIF EKSOTIK Eichhorniae crassipes Solms (ECENG GONDOK) PADA BEBERAPA DAS DI PROPINSI PAPUA. di mana perusahaan yang memegang ijin tersebut menebang di luar blok tebangan. Tumbuhan jenis ini menutupi beberapa perairan. bahkan sudah merambah kepada hutan lindung. DAS. Pendekatan biaya ganti yang digunakan dimaksudkan untuk memberikan gambaran nilai kerugian secara kuantitatif yang dialami oleh suatu wilayah akibat erosi.2 . -. maupun budaya. crassipes SOLMS tidak boleh dilakukan secara biologis atau secara kimiawi. Penanganan E. baik dalam sektor ekonomi. Amerika Selatan. membuat kertas.4 . 2006 Eichhorniae crassipes SOLMS (eceng gondok) adalah tumbuhan air mengambang yang berasal dari Brazil. penanganan E. Kata Kunci: Enceng gondok. Pembalakan liar dan penyelundupan kayu merupakan kejahatan yang terorganisir termasuk pelanggaran hukum pidana. sosial.122 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kerugian ekonomi lingkungan akibat erosi secara kuantitatif.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Andi Gustiani KUANTIFIKASI NILAI EKONOMI EROSI DI SUB DAS JENEBERANG. dapat dilakukan dengan cara: (1) memanfaatkan E. crassipes SOLMS sudah menjadi gulma (jenis invasif eksotik). INDONESIA / Eulis Retnowati.000 m2. SULAWESI SELATAN (Quantification of Erosion Economics Value on Jeneberang Sub Watershed.Retnowati. No. Muhammad Sulaiman. penyelundupan kayu. 2006 Pembalakan liar dan penyelundupan kayu mempunyai hubungan erat.000 m2 dan volume Sabo Dam 102. Seluruh komponen masyarakat harus terlibat dalam penanganan jenis tumbuhan ini.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 155-161 . yaitu nilai erosi didekati dengan biaya ganti tanah dan unsur hara yang hilang terbawa erosi.

Jumlah penduduk 575. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan pengelolaan DAS Limboto diarahkan pada : Pelestarian fungsi kawasan. Kata kunci : Kuantifikasi. erosi. ekonomi. and Institution of the Limboto Watershed. areal bekas tebangan. Kerugian akibat erosi yang dihitung dengan pendekatan biaya ganti angkut sebesar Rp 3. dan biaya ganti unsur hara sebesar Rp 7. Untuk mencapai tujuan tersebut disusun alternatif arahan teknik RLKT yaitu : (a) RLKT on site yaitu : reboisasi. SOSIAL-EKONOMI.III. 10. -.545.80 ha. penghijauan. Culture.430. Enik Eko Wati.-/thn untuk Sabo Dam 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30 tahun setelah eksploitasi. Andi Gustiani KARAKTERISTIK BIOFISIK. aplikasi teknik konservasi tanah dan air. meningkatkan produktivitas. agroforestry. produktivitas hutan kembali tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah pohon (577 pohon/ha) dan luas bidang dasar (46. peningkatan daerah resapan. c) Pengembangan sosial-ekonomi dan kelembagaan : pemberdayaan masyarakat.3 . unsur hara Salim. eksploitasi hutan. konservasi sempadan sungai/danau. peningkatan pendapatan dan konservasi danau. 32. tanah. sosial-ekonomi. -.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 1. Penelitian dilakukan pada kawasan hutan bekas tebangan milik PT. Jenis tanah bervariasi dan didominasi jenis alfisol.6 m2/ha) masih lebih rendah dibandingkan hutan primer. Kekritisan ini didasarkan pada luasnya lahan kritis.3 . Penyebab utama luasnya lahan kritis adalah perambahan hutan.96). GORONTALO (Characteristic of Hunggul Yudono SHN.790 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 1%/thn dan lebih dari 52% bekerja sebagai petani. mencegah banjir dan kekeringan. Socio-Economics. sosial-ekonomi. Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing satu hektar. penguatan kelembagaan. Penggunaan lahan terluas adalah tegalan.083. terdiri dari masing-masing empat petak di LOA-5. tingginya laju sedimentasi dan pendangkalan Danau Limboto.III. Halaman 159171. pengintegrasian program. b) RLKT off site : normalisasi sungai. Halaman 271 . pola aliran sungai dendritik dan luas DAS 86. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan produksi di Indonesia telah dilakukan selama lebih dari 30 tahun. Topografi beragam dari landai sampai curam. konversi hutan menjadi lahan budidaya dan perladangan berpindah. hutan kemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik.menyumbangkan erosi pada Sabo Dam 6 dan Sabo Dam 8.307. DAN KELEMBAGAAN DAS LIMBOTO. yaitu 40. No. 45. dan 45 . kelembagaan.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.333. Struktur geologi utama adalah sesar normal dan sesar jurus mendatar. dan 30 tahun serta empat petak di lokasi hutan primer yang belum ditebang. rehabilitasi Samsoedin. Kata kunci : Biofisik. BUDAYA. Inhutani I dan II di Kalimantan Timur. sedangkan produktivitas LOA-5 (501 pohon/ha.678.202. Informasi tentang kondisi hutan terkini terutama luas bidang dasar sangat diperlukan untuk mengetahui produktivitas hutan setelah kegiatan penebangan. Ismayadi DINAMIKA LUAS BIDANG DASAR PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (The Dynamic of Basal Area in Logged-Over Forest in East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. 28. No. 2006 Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto merupakan salah satu DAS kritis prioritas I berdasarkan SK Menhut No. tingginya tekanan penduduk. budaya.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 274.576.-/thn Sabo Dam 8. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan teknik rehabilitasi lahan yang tepat untuk mengurangi laju degradasi lahan di DAS Limboto.5 m2/ha) dan 10 tahun (501 pohon/ha.191.368. penegakan hukum dan perundangan. sehingga tidak berbeda nyata dengan hutan primer (605 pohon/ha.280 . budaya dan kelembagaan DAS Limboto serta menentukan alternatif teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) DAS Limboto. Hasil yang diperoleh yaitu karakteristik DAS Limboto meliputi bentuk DAS bulat dengan RC rasio mendekati 1(0.6 cm/thn. Dalam penelitian ini. hutan rakyat. Gorontalo) / Andi Gustiani Salim. tidak dijumpai adanya indikasi perubahan struktur tegakan yang diukur dari sebaran kelas diameter Kata kunci : Hutan hujan tropik.Info Hutan : Vol.8 m2/ha). 248/Kpts-II/1999.9 m2/ha). luas bidang dasar Biophysics.

dan dominasi permudaan pada hutan bekas tebangan LOA-5. sedangkan Koompassia malaccensis Maing. dan LOA-30 dan membandingkannya dengan hutan primer. sedangkan pada LOA-5 didominasi oleh Shorea parvifolia Dyer. yang terdiri dari 408 genus dan 111 suku. Ismayadi KESUBURAN TANAH HUTAN HUJAN TROPIK DAN KESESUAIANNYA UNTUK BEBERAPA JENIS TANAMAN PERTANIAN PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Fertility of dan I Wayan Susi Dharmawan. dominan di strata tajuk paling atas (emergent) pada LOA-5. ditemukan 802 jenis. strata tajuk atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae. guna mengetahui kelayakan lahan sekitar hutan untuk kemungkinan pengembangan tanaman pertanian. KALIMANTAN TIMUR (The Condition of Canopy Strata in Logged-Over Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing 1 hektar. areal bekas tebangan. Halaman 505 .341 . Inhutani I and II in Malinau District. Penelitian dilakukan di lokasi hutan hujan tropik Hutan Penelitian Bulungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kesuburan tanah hutan pada hutan bekas tebangan berumur 5. jumlah.4 . Tidak terjadi perbedaan nyata dalam jumlah individu pancang. 241 genus. No. strata tajuk Samsoedin.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. LOA-5 memiliki jumlah yang terbesar yang tidak berbeda nyata dengan LOA-10 dan LOA-30. No.III. LOA-10. 10. KALIMANTAN TIMUR (Natural Regeneration in Logged-over Production Forest in Malinau District.III. LOA-10. 2006 Tropical Rain Forest Soil and Its Suitability for Some Crops in LoggedOver Production Forest of East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin Production Forest of PT. Pohon-pohon menjulang (emergent) pada LOA-10 didominasi oleh Koompassia excelsa (Becc. serta 4 petak pada hutan primer yang belum ditebang. Untuk pancang. 2006 Penelitian yang dilakukan di hutan hujan tropik di Kabupaten Malinau. dengan Dipterocarpaceae paling dominan dibandingkan dengan suku lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak dijumpai adanya pohon menjulang (emergent) pada hutan primer dan LOA-30. dan 30 tahun.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Pada hutan primer. Ismayadi KONDISI STRATA TAJUK PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI AREAL KERJA PT.5 . 10. sedangkan untuk jumlah jenis. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian adalah Oxisols. Kata kunci : Hutan hujan tropik.3 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi hutan khususnya strata tajuk yang sangat diperlukan untuk mengetahui kerusakan hutan akibat kegiatan penebangan. regenerasi alam Samsoedin. Tidak terjadi perbedaan yang nyata dalam jumlah jenis dan individu anakan antara lokasi bekas tebangan dan hutan primer. Kata kunci : Hutan hujan tropik.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kalimantan Timur pada hutan bekas tebangan berumur 5. dengan tingkat kesesuaian lahan yang umumnya marginal 46 . Kalimantan Timur ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi permudaan alam (anakan dan pancang) pada hutan bekas tebangan. terdiri dari 4 petak di LOA-5. Ismayadi PERMUDAAN ALAM HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KABUPATEN MALINAU. areal bekas tebangan. dan 30 tahun dengan pembanding hutan primer pada ketinggian 100-300 m dpl. dan LOA-30. -. Kalimantan Timur. -. Benth.512. 30 tahun serta hutan primer untuk keperluan analisis dan penilaian. Pengetahuan tingkat kesuburan lahan hutan hujan tropik sangat diperlukan dalam mengembangkan tanaman pertanian untuk mendukung kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan. Kesuburan tanahnya rendah sampai dengan sangat rendah untuk produksi tanaman pertanian. Inhutani I dan II di Kabupaten Malinau. 10. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. dan LOA-30. ex. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan telah diketahui sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan hujan tropik di Indonesia. dan 65 suku dengan 67 jenis dari suku Dipterocarpaceae. Dari hasil penelitian ditemukan anakan sebanyak 1.Samsoedin.) Taub. Penelitian ini dilakukan pada lokasi hutan produksi bekas tebangan milik PT. Penelitian dilaksanakan dengan menghitung jenis.III. Halaman 379 . guna mengurangi tekanan atau intervensi masyarakat terhadap hutan. Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh tanah pada lokasi hutan bekas tebangan berumur 5.388 . No. Areal ini memiliki strata tajuk yang lebih rendah dibandingkan LOA-5 dan LOA-10. -. INHUTANI I DAN II DI KABUPATEN MALINAU. Halaman 327 . LOA-10.022 jenis.

Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai sisa kayu besar di hutan bekas tebangan dan hutan alam dalam rangka memperbaiki pengelolaan hutan dan menjaga keragaman jenis. Data dikumpulkan dari 16 petak berukuran masing-masing 1 ha. AsI)) / Budi Santoso. Kata kunci: Morus sp. sisa kayu besar Santoso. Meskipun tidak berbeda nyata. Faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. Var. Var. dan volume kayu antara hutan primer dengan hutan bekas tebangan 5. 30 g. DAN KANDUNGAN PROTEIN DAUN MURBEI (Morus sp. Halaman 564 . Var. -. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap Berblok secara faktorial. NI dan Morus sp. 2006 Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili. Bintarto Wahyu Wardani. kesesuaian lahan. and Protein Content for Varieties Mulberry (Morus sp. AsI). Provinsi Sulawesi Selatan. Var. Halaman 1 . Kabupaten Luwu Timur. Penelitian ini dilakukan pada hutan produksi bekas tebangan di hutan hujan tropik dataran rendah. Morus sp. Kalimantan Timur. namun pengaruh peningkatan dosis pupuk urea terhadap peningkatan kandungan protein daun tidak berbeda nyata. Pada NI dosis pupuk urea sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan kandungan protein 3. AsI.III. AsI)) (Effectivity of Urea Fertilizer for Growth. Penambahan dosis pupuk urea dapat meningkatkan produksi daun murbei (Morus sp. -.3 m3/ha atau 2 kali lebih besar daripada hutan primer di Costa Rica. var.III. var. sedang faktor kedua adalah dosis pupuk urea yaitu 10 g.32 %. tanaman pertanian Samsoedin. 20 g. dan 40 g/tanaman. panjang cabang. No. Pemberian pupuk urea dengan berbagai dosis dapat meningkatkan kandungan protein daun murbei (Morus sp. NI dan Morus sp. terdiri dari empat petak untuk tiap perlakuan yaitu petak bekas tebangan berumur 5. Hasil ini menunjukkan bahwa lahan hutan produksi dengan ekosistem hutan hujan tropik dataran rendah hanya cocok untuk mendukung kegiatan kehutanan.(S3) atau tidak layak (N). Kata kunci : Hutan hujan tropik.574. AsI) . Ismayadi POTENSI SISA KAYU PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Coarse Woody Debris Potential in Logged-Over Production Forest of East Kalimantan / Ismayadi Samsoedin dan/and I Wayan Susi Dharmawan. luas bidang dasar. AsI). AsI) dan faktor kedua dosis pupuk urea. Var. pupuk urea 47 . produksi daun. dan 30 tahun serta 4 petak pada hutan primer sebagai petak kontrol. kandungan protein daun murbei. Var. var. dan 30 tahun. Sedang untuk parameter jumlah cabang dosis pupuk terbaik untuk kedua varietas murbei adalah 30 g/tanaman. Kata kunci : Hutan hujan tropik. sisa kayu pada hutan primer di lokasi penelitian sebesar 67. Var. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dalam hal jumlah batang untuk sisa kayu berdiri dan rebah.1 . Untuk parameter kandungan protein rancangan penelitian menggunakan rancangan Acak Lengkap secara faktorial dengan faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. sedang apabila ditingkatkan dosis pupuknya (40 g/tanaman) kandungan protein menurun menjadi 3.46 %. Budi EFEKTIVITAS PEMUPUKAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN. Pemberian pupuk urea pada NI dengan dosis sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang sebesar 6. Sisa kayu besar memiliki peran penting sebagai bahan nutrisi dan hara dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Var. NI dan Morus sp. NI and Morus sp. areal bekas tebangan. NI and Morus sp. tetapi hal ini juga menunjukkan kurang efektifnya pemanfaatan kayu dalam pemanenan hutan. 10. Var.5 . No.22 %. sedang pada varietas AsI dosis pupuk terbaik adalah 40 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang 14. NI.8 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. var. 10. Retno Prayudyaningsih. PRODUKSI DAUN. var. Leaf Production. NI dan Morus sp. 2006 Adanya sisa kayu besar pada hutan alam bekas tebangan adalah hal yang tidak bisa dihindari karena sisa kayu dihasilkan secara alami oleh adanya pohon yang mati dan sisa kayu penebangan yang tidak termanfaatkan.14 %. namun pengaruh perbedaan dosis pupuk terhadap peningkatan produksi daun tidak signifikan.

35 g/tanaman). Kata kunci : NAA. Morus nigra Linn. Budi TINGKAT KERONTOKAN DAN PRODUKSI DAUN BEBERAPA JENIS MURBEI (Morus multicaulis Perr.2 . dan Retno Prayudyaningsih. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap tingkat kerontokan daun dan produksi daun. Morus indica S-54 Santoso. Halaman 533 . produksi daun.8 hari. Penelitian dilakukan terhadap tiga jenis tanaman murbei berumur lima tahun dalam plot percobaan di lapangan yang ditetapkan secara purposive sampling.15 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP (0. kultur jaringan. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. and Morus indica S-54 in a Dry Area) / Budi Santoso. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai tingkat kerontokan terbesar adalah Kabupaten Sidrap (48. varietas murbei KI 14. Jenis murbei yang mempuyai tingkat kerontokan daun terbesar adalah Morus indica S-54 (43.41 %). dan fisik serta kimia tanah daerah pengembangan persuteraan alam di Sulawesi Selatan pada musim kemarau.36 g/tanaman). Halaman 157 164 . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kesesuaian jenis murbei.05 dan BAP 0. 1.(232. Morus sp. Andi Rismawati..5 ppm.5 ppm) setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Retno Prayudyaningsih. Santoso.2 . 2006 Penelitian multiplikasi tanaman murbei varietas KI 14 bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang konsentrasi NAA dan BAP yang optimal pada perbanyakan tanaman murbei varietas KI 14 secara invitro.10 ppm yang terbaik untuk mempercepat terbentuknya tunas yaitu 5.05 ppm. Setiap jenis tanaman murbei di setiap tempat diteliti dalam tiga plot dengan ukuran plot 10 m x 10 m masing-masing dengan 50 tanaman. Budi MULTIPLIKASI TANAMAN MURBEI (Morus sp. Morus nigra Linn. Pelaksanaan penelitian selama tiga bulan antara bulan Maret sampai Mei 2004..492 cm) pada tinggi tunas dalam media kultur varietas murbei KI 14.Santoso. Tingkat kerontokan daun dipengaruhi jenis murbei. dengan rancangan acak lengkap secara faktorial. No.10 ppm. Kata kunci : Tingkat kerontokan daun. 2006 Penelitian tingkat kerontokan dan produksi daun beberapa jenis murbei di daerah kering ini dilakukan di empat kabupaten yang menjadi sentra utama persuteraan alam di Sulawesi Selatan.126 .Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) konsentrasi NAA 0. Pada setiap lokasi dibagi menjadi tiga blok dan setiap blok 48 . Jenis murbei yang produksi daunnya tertinggi adalah Morus multicaulis Perr. dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh.49 %). dan 0. dan pelabelan. dan 1. curah hujan. dan 3) kombinasi perlakuan NAA 0. Tanaman yang masuk dalam plot kemudian dilakukan pemangkasan setinggi 40 cm dari tanah. Bintarto Wahyu Wardani. Faktor pertama adalah konsentrasi NAA (0. Perlakuan ini seragam di setiap lokasi penelitian.III.5 ppm memberi respon paling tinggi (5.) VARIETAS KI 14 SECARA INVITRO (Invitro Multiplication of Mulberry KI 14 Variety) / Budi Santoso.0 ppm.. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai produksi daun tertinggi adalah Enrekang (229.III. 0. No.5 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.539. -. BAP. Budi KESESUAIAN JENIS MURBEI DAN BIOFISIK DAERAH KERING (Compatibility of Mulberry with Its Soils’s Biophysics at Dry Area of South Sulawesi) / Budi Santoso. Retno Prayudyaningsih. No.. pemupukan urea 20 g/tanaman. -. and Morus indica S-54) DI DAERAH BERLAHAN KERING (Percentage of Mulberry Leaf Fall and Leaf Production of Some Mulberry Species Morus multicaulis Perr. pendangiran.III. Produksi daun dipengaruhi jenis murbei dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh.05 ppm.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. lokasi tempat tumbuh. Halaman 119 . multiplikasi. -. 2) jumlah tunas terbanyak (3 tunas) dicapai pada perlakuan NAA 0. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu Lawowoi (Kabupaten Sidrap) dan Sabangparu (Kabupaten Wajo). perbaikan guludan.

dan tembaga (0. salinitas (20 mg/l dan 25 mg/l). Metode yang digunakan adalah purposive random sampling pada badan Sungai (S) Comal.0226 ppm. Sedangkan di Kedung Coet. dan pertambakan berdampak negatif pada kualitas perairan lahan basah. dan kurangnya persediaan sumber pakan burung. dan Chanidae 9 %. ikan yang ditemukan 32 jenis. Sedang tanah di Sabbangparu harus dipupuk dengan nitrogen. kalsium.III. pertanian. Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Indramayu. Endang Karlina. Jawa. daerah kering Sawitri. PEMALANG DAN SUNGAI KEDUNG COET. Habitat burung merandai sebagai kawasan ekosistem esensial memerlukan pengayaan tanaman mangrove untuk menarik datangnya burung merandai dan memperkaya nutrisi perairan dengan serasah guna peningkatan Wetlands in Comal River. Pemalang. kawasan di S. Halaman 147 . ikan yang ditemukan 10 jenis. Produksi daun tertinggi di Wajo dan Sidrap dihasilkan oleh Morus khunpa K. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang berapa besar pengaruh dari berbagai pemanfaatan kawasan terhadap kualitas air secara fisik maupun kimia dan pengaruhnya terhadap keragaman jenis benthos dan plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. BKPH Indramayu. Kedung Coet.5 % dan 436. yaitu Sungai Comal dan Sungai Kedung Coet. Sedangkan dari jenis plankton.20 mg/l dan 188.157 . Pemalang and Kedung Coet River. dan di Kedung Coet.34 mg/l dan 6. Pemalang 49 . No. Pemalang dan S.847 mg/l). Terraponidae 9 %. sehingga kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman murbei. Di S. sampah rumah tangga.357 mg/l). Indramayu) / Reny Sawitri. merupakan jenis yang bertoleransi terhadap pencemaran lingkungan.373 mg/l dan 33. Jawa Tengah.Info Hutan : Vol. BKPH Indramayu termasuk perairan antara eutrophic dan oligotrophic. burung penetap dan burung migran di pantai utara Pulau (P. kualitas fisik dan kimia air. Reny KUALITAS PERAIRAN LAHAN BASAH DI SUNGAI COMAL. RPH Cemara. COD (48. 2006 Burung merandai terbagi dua. jenis benthos dan plankton Sawitri. namun harus ditambahkan pupuk nitrogen. yaitu 193. RPH Cemara. kualitas air secara fisik maupun kimia di kedua sungai tersebut menurun sebagai akibat dari eksploitasi vegetasi mangrove dan intrusi air laut dilihat dari residu terlarut (10. No.100 ppm. Parameter yang diamati adalah produktivitas daun.III. enam jenis diantaranya dilindungi.12 mg/l). Gobidae 9 %. ditemukan 17 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam empat famili. kalsium. pencemaran habitat sebagai dampak negatif konversi lahan basah menjadi tambak dan populasi ikan yang merupakan persediaan pakan burung serta arahan pengelolaan kawasan lahan basah habitat burung merandai menjadi kawasan ekosistem esensial. BOD (19. Comal. Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Cemara. -. 6 jenis diantaranya dilindungi. Kedung Coet. 10 famili yang dibagi ke dalam Bagridae 18 %.349 mg/l dan 12. dan posfor serta diperbaiki tekstur tanahnya. RPH Cemara.996 mg/l). INDRAMAYU (Riverine Quality of dan Konservasi Alam : Vol.2 .387 mg/l dan 0. klorida (Cl) (3. Burung merandai terutama yang termasuk burung migran mengalami penurunan dari tahun 1987-2004 sebesar 5 % per tahun.terdiri atas sembilan jenis/varietas murbei.33 %). besi (0. eksploitasi sumberdaya alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status populasi burung merandai di pesisir utara P.02 mg/l dan 0. BKPH Indramayu ditemukan 13 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam 6 famili.2 .67 g/tanaman di Wajo dan 194. dan posfor. curah hujan. Kata kunci : Murbei. pencemaran. Tanah di Lawowoi layak digunakan untuk budidaya tanaman murbei.) Jawa mengalami kecenderungan penurunan jumlah jenis maupun populasi sebagai akibat konversi lahan basah.0002 ppm dan 0. sifat fisik dan kimia tanah.88 mg/l dan 77. Jenis benthos yang mendominasi kawasan perairan adalah Gammarus spp. Halaman 185 .117 mg/l).Jurnal Penelitian Hutan Pemanfaatan kawasan untuk jaringan pembuangan industri. Reny KAJIAN STATUS POPULASI BURUNG MERANDAI DI PANTAI UTARA PULAU JAWA (The Study Population Status of Shorebirds in North Beach of Java Island) / Reny Sawitri. Di Pemalang.76 mg/l).193 . N/P rasio (77. Curah hujan di Lawowoi (Sidrap) dan Sabbangparu (Wajo) rendah. Endang Karlina.00 g/tanaman di Sidrap. 22 famili. 2006 digolongkan ke dalam perairan eutrophic dan S. -. kondisi ini masih di bawah ambang batas 0. Cyprinidae 14 %. kesesuaian jenis. sulfat (179. Kata kunci: Lahan basah. Comal.05 mg/l). Habitat burung merandai di Pemalang telah mengindikasikan adanya pencemaran berdasarkan temuan kandungan pestisida di air tambak dan cangkang telur berupa endosulfan dengan konsentrasi di bawah 0. Metode yang dipergunakan adalah transect line dengan menyusuri sungai menuju muara sungai. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa. konversi lahan.

Adapun sumber pencemar unsur hara adalah ladang dan kebun campuran. DAS Palu sebagai dampak pengelolaan lahan serta informasi untuk menentukan arahan pengelolaan lahan di DAS tersebut. Kedua pendekatan ini menggunakan beberapa metode perhitungan antara lain travel cost. Ogi KUALITAS ALIRAN SUB DAS WUNO DAN MIU DAS PALU (Discharge Quality of Wuno and Miu Sub Watershed. Penelitian ini dilaksanakan di DAS Palu yang mempunyai hutan lindung seluas 86. Konsentrasi N (1.335. Partisipasi aktif dan persamaan persepsi antar stakeholder. Model ini juga mampu menentukan sumber erosi dan pencemar. No. erosi. penerapan sistem agroforestry. Palu Watershed) / Ogi Setiawan.41 ton/ha dengan hasil sedimen 7. Kata kunci : Hutan lindung.09 mg/liter untuk P.3 . dan pengurangan pemakaian pupuk non organik dan diganti dengan pupuk organik. perikanan.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. pertanian.III.71 ton/ha dengan hasil sedimen 13. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan model. dan peternakan. Konsentrasi N dan COD melebihi batas maksimum yang diperbolehkan untuk air minum. 0. dan jasa proteksi terhadap banjir. model AGNPS 50 . pengatur tata air Setiawan. P (0. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kualitas aliran sub DAS Wuno dan sub DAS Miu. kebun campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jasa hutan lindung DAS Palu sebagai pengatur tata air yaitu jasa pengatur tata air untuk pertanian. -.965 ton. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan nilai ekonomi jasa hutan lindung khususnya sebagai pengatur tata air. dan 124 mg/liter untuk COD.93 ton/ha/tahun.53 ton/ha/tahun untuk curah hujan tahunan 978. pengembalian kawasan fungsi lindung. Hasil kuantifikasi jasa hutan lindung tersebut dalam satu tahun adalah Rp 116.-/hektar/tahun.350. Halaman 309 . Kata kunci : Burung merandai. ekosistem esensial lahan basah Setiawan.4 .294 ha atau 25. Hasil penelitian di sub DAS Wuno pada kejadian hujan 53 mm.400 . biaya pengganti. -.13 mg/liter).765. Ogi KUANTIFIKASI JASA HUTAN LINDUNG SEBAGAI PENGATUR TATA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) PALU (Quantification of Protected Forest as A Stream Regulator at Palu Watershed) / Ogi Setiawan. tingkat erosi di sub DAS Miu adalah 0. Kata kunci : Kualitas aliran. Halaman 389 . jasa air untuk konsumsi rumah tangga. ikan. aturan. Konsentrasi unsur hara adalah 29.. nilai ekonomi. dan coklat merupakan sumber erosi terbesar. harga pasar. dan COD (19 mg/liter) masih ada di bawah ambang batas maksimum yang diperbolehkan untuk semua pemanfaatan air.atau setara dengan Rp 1.294. jasa air untuk perikanan.526. Sedangkan untuk kuantifikasi jasa lingkungan yang diberikan hutan lindung dilakukan dua pendekatan yaitu nilai manfaat dan dampak. dalam hal ini model AGNPS.III. Hunggul Yudono SHN. 2002).4 % dari luas total DAS Palu (BAPLAN Kehutanan. Sedangkan konsentrasi P masih berada di bawah ambang batas maksimum. Sumber erosi di sub DAS Wuno adalah ladang. Dalam analisis data untuk mengetahui hasil air sebagai dampak ada atau tidaknya hutan lindung terhadap jasa yang diberikan digunakan pendekatan bilangan kurva (curve number). Bila curah hujan tahunan 1. Arahan pengelolaan lahan untuk kedua sub DAS secara umum adalah penerapan teknik konservasi tanah dan air.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. No.populasi dan keragaman jenis ikan sebagai sumber pakan burung merandai di alam.451 ton atau setara dengan 15.49 mg/liter untuk N. erosi yang dihasilkan adaalah 0. Model AGNPS merupakan model kejadian hujan yang berbasis sel segi empat dengan tiga komponen utama yaitu hidrologi.5 mm maka erosi yang terjadi setara dengan 6. dan kontingensi. dan unsur hara.326 . adanya dukungan kelembagaan termasuk di dalamnya lembaga. Pada kejadian hujan 65 mm.118. dan mekanisme pembiayaan/insentif sangat diperlukan untuk menuju pengelolaan hutan lindung yang lestari. Ladang.25 mg/liter). Banyaknya manfaat yang diberikan hutan lindung sebagai pengatur tata air menunjukkan bahwa terdapat banyak stakeholder yang terlibat. Ryke Nandini.8 mm.

098.500 mm dengan hari hujan 50-100 hari.. Retno PERTUMBUHAN JENIS ANDALAN SETEMPAT UNTUK REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI / Retno Setyowati. Ogi STUDI BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PENGELOLAAN DAS RONGKONG (Study of Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.35 mm/tahun. 2006 .Rp 275. Eusideroxylon zwager T. Tulisan ini menyajikan teknik silvikultur ulin yang meliputi aspek perbenihan.9 %).4 %) dan kebun campuran 44. -. dan informasi tentang arahan penggunaan lahan di DAS Rongkong. lahan. dan bantalan rel kereta api. Jembatan. pemeliharaan bibit. Kabupaten Luwu Utara. 2006 Ulin (Eusideroxylon zwager T. Jumlah penduduk DAS Rongkong 122. Hengki TEKNIK SILVIKULTUR ULIN (Eusideroxylon zwageri T. curah hujan rata-rata setahun berkisar antara 710-1. DAS Rongkong mempunyai luas 182. penerapan teknik konservasi tanah dan air serta adanya dukungan institusional. Berdasarkan kriteria dan indikator hidrologi. sosial dan ekonomi masyarakat.et B Setyowati.839.et B.-/bulan . -. 2006 Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara klimatologis dimasukkan ke dalam daerah semi arid karena curah hujan yang relatif rendah (sebagian besar tipe iklim E dan F) dan didominasi oleh keadaan vegetasi seperti savana dan stepa. -. Kata Kunci: Silvikultur. sosial.(et.5 ha (61.4 . arahan penggunaan lahan Siahaan. No. dan kelas lereng didominasi lereng sangat curam (> 40 %). Arahan pemantapan pengelolaan DAS Rongkong adalah perbaikan kualitas penggunaan lahan.5 %). pengelolaan DAS.-/bulan. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan informasi awal untuk melakukan budidaya dan konservasi jenis ulin. pembibitan.Jurnal Setiawan. konstruksi dalam air. pengamatan lapangan serta wawancara dan studi literatur. jenis tanah dominan podsolik merah kuning (45. penyumbang aliran permukaan terbesar adalah kebun campuran dan kebun sejenis. Kelas KPL yang mendominasi DAS Rongkong adalah KPL IV.96 yang berarti bahwa kondisi DAS Rongkong termasuk sedang.Biophisic and Social Economy of Community for Supporting Rongkong Watershed Management) / Ogi Setiawan. Halaman 401 419 . Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi biofisik.468 jiwa. Halaman 181-185 . Halaman 137-146 .000. dengan tingkat pendapatan Rp 225. Nilai KRS mempunyai kecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat erosi 2. Saat ini akibat eksploitasi ulin yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi kegiatan penanaman telah menjadikan potensi jenis ini semakin berkurang dan jika tidak segera diantisipasi dapat berdampak lebih buruk berupa kelangkaan dan kepunahan. penggunaan lahan DAS Rongkong didominasi hutan campuran 110. Ulin. Kata kunci: Biofisik..000. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap kegiatan. hingga penanaman di lapangan yang dirangkum dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan. banyak dijumpai lahan terdegradasi di NTT. yaitu interpretasi peta.5 ha (23. ekonomi dan budaya DAS Rongkong mempunyai skor nilai 1. Kegiatan rehabilitasi lahan dalam bentuk penghijauan /reboisasi bertujuan untuk memperbaiki lahan yang rusak dan tidak produktif serta mengurangi erosi permukaan dan meningkatkan kondisi hutan ke arah yang 51 . Kualitas kayunya tinggi karena termasuk dalam kelas kuat I dan kelas awet I sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti konstruksi bangunan. DAS Rongkong mempunyai kelembagaan formal dan informal yang berpotensi untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan DAS.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lahan yang lebih parah maka perlu dilakukan upaya pengendalian yaitu melalui kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi.III. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .01 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi 1. Dengan kondisi seperti itu. Tipe iklim DAS Rongkong adalah A (sangat basah). Berdasarkan hasil analisis aliran permukaan. Ryke Nandini.011.al) .et B) merupakan salah satu jenis andalan di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.3 ha.) / Hengki Siahaan. sosial dan ekonomi. 2006 Penelitian ini dilaksanakan di DAS Rongkong.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang pertumbuhan jenis-jenis andalan NTT sebagai bahan pertimbangan dalam rehabilitasi lahan dengan menggunakan berbagai perlakuan media tumbuh di persemaian. Siran. monitoring pengembangan gaharu serta sosialisasi dan diseminasi pengembangan gaharu dengan cara penyebaran informasi melalui media cetak dan media elektronik (RRI dan TVRI) dan penyebaran informasi dengan ekspose hasil-hasil penelitian.Program penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan mengenai pohon penghasil gaharu meliputi: litbang budidaya gaharu. Konservasi. dan faktor fisik lainnya akan lebih mudah dikembangkan daripada mengembangkan jenis eksotik lainnya. NTT Siran. teknik pemanenan. Kelangkaan jenis 52 . pengelolaan dan standarisasi mutu. Status penelitian gaharu di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan kalimantan antara lain budidaya meliputi teknik produksi bibit gaharu melalui biji. iklim. Lagerstroemia speciosa Pers.. Akan tetapi perlu pertimbangan jenis-jenis yang mendapat prioritas mengingat status konservasinya telah mulai mengalami kelangkaan di alam yaitu Manikara kauki (L. Kutai barat. Pada pohon penghasil gaharu menggunakan inokulasi padat dan cair. Santalum album Linn. KOMODITI HHBK ANDALAN KALIMANTAN TIMUR / Sulistyo A.pemungutan dan pengolahan gaharu. Ngatiman.lebih produktif. GAHARU.. pembentukan gaharu dengan menginokulasikan Fusarium sp. Sulistyo A. dan stek pucuk. HHBK. Kata kunci: Pohon lokal. tata niaga gaharu. mempelajari beberapa kajian yang menyangkut manfaat gaharu. Dalam makalah ini diuraikan antara lain gambaran umum tumbuhan penghasil gaharu di Kalimantan Timur. kajian sosial ekonomi masyarakat pencari gaharu dan pemasaran gaharu serta kajian pemanfaatan pohon penghasil gaharu untuk bahan baku MDF dan pensil. habitat tempat tumbuh gaharu. dan Nunukan.. penerbitan publikasi khusus mengenai gaharu. NI KADEK EROSI UNDAHARTA DAN HARTUTININGSIH M SIREGAR.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 29-48 . serta standarisasi produksi gaharu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar hutan. 2006 Pengembangan jenis-jenis lokal yang sudah sesuai dengan kondisi biofisik wlayah Bali seperti kondisi tanah. kandungan dan manfaat gaharu.. -. status penelitian gaharu dan program penelitian dan pengembangan gaharu. teknik penyulingan dengan menggunakan gaharu mutu rendah untuk menghasilkan minyak gaharu. Mustaid TINJAUAN JENIS-JENIS POHON LOKAL BALI YANG BERPOTENSI DIKEMBANGKAN SEBAGAI KAYU KOMERSIL / MUSTAID SIREGAR. dan alih teknologi pengembangan gaharu yang dilakukan pada beberapa kabupaten seperti Berau. Kata kunci : Rehabilitasi lahan.. Dysoxylum caulostachyum Miq. Jenis andalan setempat.) Dub. cabutan . Kalimantan Timur Siregar. Cordia subcordata Lamk. Halaman 93-100 . -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. pembentukan gaharu.. Kayu komersial. tata niaga dan klasifikasi mutu gaharu. Pasir. Mimusops elengi L. habitat tempat tumbuh gaharu yang mempelajari mengenai penyebaran jenis gaharu secara alami dan ekologinya. tata niaga gaharu. Heritiera littoralis Dryand. 2006 Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang mempunyai peranan penting untuk meningkatkan devisa negara dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. Malinau. Kata Kunci: Gaharu. jenis penghasil gaharu. dan Yusliansyah. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .. Dengan adanya teknologi tepat guna rehabilitasi lahan terdegradasi ini diharapkan mampu mempercepat keberhasilan upaya rehabilitasi lahan terdegradasi di NTT.Konservasi insitu dan ex-situ pada jenis-jenis gaharu yang ada di kalimantan Timur. dan Murraya paniculata Jack. Dalbergia latifolia Roxb. promosi.

No. Harris Herman PERUBAHAN KANDUNGAN KARBON TANAH PADA TEGAKAN Paraserianthes falcataria (L) Nielsen DI SUKABUMI.16 ton/ha secara berurutan. Halaman 541 553. (R2 = 0. falcataria sedikit lebih tinggi daripada vegetasi baseline walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan.Siringoringo. dan 0. kerapatan tanah. falcataria belum memberikan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan kandungan karbon tanah dan simpanan karbon tanah kumulatif pada saat tegakan berumur 6-7 tahun. Halaman 477 . Peningkatan karbon terfiksasi dihitung berdasarkan perbedaan produksi karbon biomasa antara tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline. yaitu berturut-turut 1. Sedangkan biomasa tumbuhan bawah pada tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan baseline diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara persen penutupan tajuk dikalikan dengan tinggi maksimum tumbuhan bawah (UC x UH-max) dan biomasa tumbuhan bawah di atas tanah. Pelabuhan Ratu.16 % dan 1. Sementara simpanan karbon tanah kumulatif pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P.2989.929 mm) di Desa Buniwangi. Oleh karena itu.1479 (DBH)2. -. simpanan karbon tanah kumulatif Carbon Changes Affected ByThe Establishment of Siringoringo.5 . yaitu berturut-turut 0. Harris Herman MODEL PERSAMAAN ALLOMETRI BIOMASA TOTAL UNTUK ESTIMASI AKUMULASI KARBON PADA TANAMAN PARASERIANTHES FALCATARIA (L) NIELSEN (Total Biomass Allomeric Equation Model For Assessing Accumulated Carbon In Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar.76 g/cc.III. yaitu sebesar 59.9445) berdasarkan persamaan DBH-biomasa total. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang dugaan peningkatan simpanan karbon pada biomasa hutan tanaman rakyat jenis Paraserinthes falcataria (L) Nielsen yang disajikan dalam model matematik. Penelitian dilaksanakan pada jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim B (curah hujan tahunan 2. Pelabuhan Ratu. pendugaan fiksasi karbon pada tanaman pohon yang dihubungkan dengan isu pemanasan global menjadi penting sebagai bagian dari upaya untuk mengetahui simpanan karbon dalam biomasa. Biomasa total Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline-nya diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara DBH dan biomasa total dan atau (DBH)2H dan biomasa total. Sedangkan selisih produksi karbon dalam biomasa tumbuhan bawah tegakan Paraserinthes falcataria (L) 53 .21 %.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. falcataria lebih tinggi daripada kerapatan tanah pada vegetasi baseline pada kedalaman 0-30 cm.929 mm) di desa Buniwangi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan karbon tanah lebih tinggi pada lapisan permukaan tanah dan menurun pada lapisan tanah yang lebih bawah.8144. 2006 Karbon tanah dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.9458) berdasarkan persamaan (DBH)2Hbiomasa total.5 . JAWA BARAT (Soil Paraserianthes falcataria (L) Nielsen Plantation In Sukabumi. Simpanan karbon dalam biomasa tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen hampir 3 kali lebih besar daripada biomasa pada vegetasi baseline-nya.96 ton C/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 9.05 ton karbon/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa. Sukabumi. kerapatan tanah. (R2 = 0. Oleh karena itu.73-0. Tujuan utama penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang perubahan kandungan karbon dengan cara membandingkan kandungan karbon tanah. Karbon tanah pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. West Java / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar.III. mempelajari perubahan kandungan karbon tanah di bawah tegakan hutan tanaman adalah sangat penting. falcataria dan vegetasi baseline tidak menunjukkan perbedaan. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Jawa Barat.05 ton C/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan allometri yang dibangun untuk menduga biomasa total tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah 0. Sedangkan kerapatan tanah (BD) pada tegakan P. No.9 ton karbon/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 28. Kata kunci : Karbon tanah. dan simpanan karbon tanah kumulatif pada tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi awalnya (hutan sekunder). dan simpanan karbon pada vegetasi baseline-nya sebesar 10. Sistem tegakan hutan tanaman rakyat jenis P.24-3. yaitu sebesar 28. Penelitian dilaksanakan pada tipe tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim tipe B (curah hujan tahunan 2.83-0.86 g/cc dan 0. Sukabumi.489.43 ton/ha dan 51. Jawa Barat.0986 (DBH)2H0.52-3. 2006 Pertumbuhan pohon yang ditopang oleh proses fotosintesis dapat mengurangi konsentrasi karbondioksida di atmosfir.

S. Teknik ini mengatur kondisi ideal untuk proses perakaran dari jenis-jenis meranti seperti S. S. pinanga. Komponen utama sistem ini adalah pompa air. gragaria. Kata Kunci: Stek pucuk. S. Gonistylus bancanus. seminis. S. yakni masing-masing sebesar 2. Hutan tanaman 54 .Nielsen dan tumbuhan bawah vegetasi baseline terbukti sangat kecil dan tidak berbeda nyata. sementara di beberapa wilayah Kabupaten OKU tanaman jati tumbuh normal. laevis. smithiana. Selanica. telah berhasil mengembangkan teknik stek untuk propagasi secara massal jenis-jenis meranti dan pohon indigenous lainnya. umur dan pemeliharaan. Atok PENGEMBANGAN TEKNOLOGI STEK PUCUK UNTUK HUTAN TANAMAN / Atok Subiakto dan Chikaya Sakai. pengukuran pertumbuhan tanaman serta identifikasi kualitas tapak melalui pembuatan profil dan pengambilan contoh tanah untuk analisis kimia tanah pada masing-masing plot yang telah ditentukan. Kepada para pihak yang berminat memanfaatkan teknologi ini dapat menghubungi Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam di Bogor. S. palembanica. simpanan karbon. S. Halaman 77-83 . Sumatera Selatan Subiakto. Persen beakar bervariasi antara 0 persen sampai 99 persen tergantung jenisnya. S. Kalsel. S. Riau. dan (4) media yang higienis. odorata. Vatica sumatrana.06 ton C/ha dan 1. Kaltim. (2) kelembaban di atas 95 persen.000-20. Alstonia scholaris. Sampai saat ini sebanyak 24 jenis-jenis indigenous telah dicoba dengan KOFFCO system yaitu Anisoptera marginata.300 pohon/ha. S. Sistem ini bekerja secara otomatis bila temperatur dalam rumah kaca mencapai 30 derajat C. hal ini menunjukan bahwa tanaman jati dapat dikembangkan di wilayah tertentu dengan kondisi lahan yang mempunyai persyaratan tempat tumbuh (edafis) dan iklim (klimatis) sesuai dengan kriteria kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jati (site-species matching). Grandiflorus.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan. dengan kerapatan tegakan sebesar 1. H. S.(et. balangeran. Bogor. dan termostat. Jabar. johorensis. S.000 lux. Balitbang Kehutanan Samarinda. peningkatan karbon terfiksasi Sofyan. leprosula. parvifolia. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa peningkatan karbon terfiksasi oleh tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah sebesar 1819 ton C/ha atau setara dengan 66-70 ton CO2/ha. S.leprosula dan S.al) . H. 2006 Pertumbuhan tanaman jati pada berbagai lokasi di beberapa kabupaten di Sumatera penting untuk diketahui mengingat animo masyarakat pada tanaman jati sangat tinggi namun potensi kesesuaian lahannya belum diketahui. Balitbang HTI Banjarbaru. guisso. Hopea bancana. stenoptera. S. selanica. poros dan dapat mengikat air. -. (3) temperatur di bawah 30 derajat C. S. 2006 Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam bekerjasama dengan KOMATSU Ltd. dan Loka Litbang HHBK Kuok. Beberapa plot tanaman jati di wilayah Kabupaten OKI dan Banyuasin mengalami kendala pertumbuhan dan perkembangan tanaman. S. secara berurutan. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandhis Linn. javanica. Pengembangan jenis eksot di wilayah Sumatera Selatan harus diketahui terlebih dahulu data dasar potensi lahan serta kesesuaiannya menyangkut persyaratan tumbuh jenis yang akan dikembangkan. nozel. D.9 ton C/ha. Kondisi lingkungan yang diupayakan optimal adalah (1) cahaya antara 5. dan Fragaea fragrans. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survey. ovalis. biomasa total.. Kata kunci : Persamaan allometri. Dengan dukungan JICA. macrophylla. S. platyclados. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Tectona grandhis Linn. Ujicoba produksi stek masal dengan KOFFCO system telah dilaksanakan di P3HKA.. juga dilakukan pengukuran tinggi dan diameter. Dyera costulata. Shorea acuminatissima. Teknik yang telah dikembangkan ini dinamakan KOFFCO system akronim dari Komatsu-FORDA Fog Cooling System. Kata Kunci: Tanaman jati. alih teknologi teknik ini sedang dilaksanakan kepada sektor kehutanan di Indonesia..Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi : Halaman 1-7 .

Taman Nasional Kelimutu.. Halaman 31-43 . Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Media tersebut juga dapat untuk perbanyakan bibit bitti secara kultur jaringan. zat 55 .Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. dan reptilia 5 jenis. Flores. Halaman 165 176 .67 persen) Kata kunci: Teknik pemeliharaan. kalus media kultur. Pemeliharaan tegakan tinggal ditujukan untuk memelihara dan membina pohon-pohon jenis komersial. Makassar. Rawa gambut. Seyogyanya Taman Nasional yang telah ditunjuk sudah harus mengetahui potensi dan biofisik kawasannya. 98 batang tingkat tiang (16. tingkat semai sebanyak 42 jenis didominasi oleh kirinyuh (Chromolaena odorata). -. pengatur tumbuh. Kayat. dengan cara menunjuk dan menandai minimal 100 batang per hektar pohon-pohon jenis komersial berdiameter di bawah 40 cm.1 ppm NAA menghasilkan perkembangan kalus yang terbaik yaitu 90 %. No. dan 424 batang tingkat pancang (70.) SECARA KULTUR JARINGAN (Seedling Cultivation Technique of Bitti (Vitex cofasus Reinw. efektif. Agis Nursyam KAJIAN POTENSI DAN BIOFISIK TAMAN NASIONAL KELIMUTU DI PULAU FLORES/ Agis Nursyam Sugiana. dan perlakuan berbagai jenis komposisi media kultur. perlu dilakukan pemeliharaan tegakan tinggal. Oleh karena itu menjadi urgen untuk mengkaji kondisi potensi dan biofisik kawasan. 2006 Kajian potensi dan biofisik Taman Nasional perlu dilakukan agar data yang diperoleh bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah pengelolaan selanjutnya. -.0 ppm BAP + 1. Tegakan tinggal. jenis mamalia 9 jenis. Putra Duta Indah Wood Suhartati TEKNIK PEMBIBITAN BITTI (VITEX COFASUS REINW. Hasil pengamatan (data primer) dan pengumpulan data sekunder menyatakan bahwa flora yang ditemukan dalam kawasan TN Kelimutu. dan efisien.0 ppm GA3. Biofisik Suhaendi Hendi STRUKTUR DAN TEKNIK PEMELIHARAAN TEGAKAN TINGGAL HUTAN RAWA GAMBUT DI AREAL KERJA HPH PUTRA DUTA INDAH WOOD / Hendi Suhaendi. 2005 : Halaman 13-30 . -.III. Penelitian perbanyakan tanaman bitti secara kultur jaringan. kultur jaringan. Sedangkan fauna yang ditemukan terdiri dari jenis aves 20 jenis. 2006 Pengelolaan hutan rawa gambut dilaksanakan dengan system silvikultur Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI).Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Komposisi jenis dan tingkat pertumbuhan pohon binaan yang terdapat di tegakan tinggal hutan rawa gambut di kelompok hutan Sungai Kumpeh dan Sungai Air Hitam Laut.Sugiana. sehingga pengelolaannya bisa fokus. Potensi. Kata kunci: Danau tiga warna. Kata kunci : Bitti.) by Tissue Culture Methode) / Suhartati. agar pengelolaan taman nasional lebih fokus dan tepat guna.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .) dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. penebangan pohon dilakukan pada pohon berdiameter 40 cm ke atas. Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh. Komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan tunas planlet adalah 1. serta komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan planlet tanaman bitti. termasuk di dalamnya pohon inti sebanyak 25 batang per hektar yang berdiameter >atau sama dengan 35 cm. Vitex cofassus Reinw.2 . belta 31 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan lamtoro (Leucaena leucacephalla). Fauna. Flora.3 persen). 2006 Teknik pembibitan bitti (Vitex cofassus Reinw. Untuk menjamin adanya produksi kayu perdagangan pada rotasi tebang berikutnya. Mariana Takandjandji. Jambi di dalam petak coba seluas 6 hektar terdiri dari 78 batang pohon (13 persen). bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh yang terbaik untuk perkembangan kalus. dan pohon 41 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan ampupu (Eucalyptus urophylla). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara sumber eksplan embrio dan 0.

Kata kunci: DAS. 2006 Penelitian teknik budidaya padi Gogo di bawah tegakan mangium (Acacia mangium).25 ton/ha. Jati (Tectona grandis). dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). dan DAS Kambaniru. Di bawah tegakan hutan tanaman jati umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 64 persen. Banjir Sumarhani TEKNIK BUDIDAYA PADI GOGO TAHAN NAUNGAN UNTUK KELANGSUNGAN USAHATANI TUMPANGSARI / Sumarhani. -. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Selanjutnya informasi ini diharapkan dapat membantu petani sekitar hutan dalam pengadaan tanaman pangan padi gogo tahan naungan secara berkesinambungan melalui sistem tumpangsari. 42 DAS pada tahun 1998. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. kemitraan. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. resisten naungan. Kata Kunci: Budidaya. 2006 .4 ton/ha dan galur TB 177E-TB-28-B-3 rata-rata sebesar 1.85 ton/ha sedangkan varietas Jatiluhur merupakan terendah dengan rata-rata produksi sebesar 1. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. DAS Aesesa. Halaman 93-102 . DAS Benain. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS).2 ton/ha. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. DAS Noelmina. yaitu DAS Benain.3 ton/ha dan galur Dt 15/II/KU rata-rata sebesar 1. produksi gabah tertinggi adalah padi gogo verietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan Khaya (Khaya anthotheca0 telah dilakukan di areal hutan tanaman masing-masing di KPH Bogor. pH tanah rendah. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 163-174 . DAS Noelmina. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk menyampaikan informasi hasil penelitian padi gogo tahan kekeringan. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan.Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno.2 ton/ha. Dengan demikian padi gogo varietas Jatiluhur. Dibawah tegakan hutan tanaman khaya umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 70 persen produksi gabah tertinggi adalah padi gogo galur Dt 15/II/KU ratarata sebesar 1. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). dan galur Dt 15/II/KU mempunyai prospek baik untuk dikembangkan sebagai komoditi tanaman pangan di bawah tegakan pohon hutan dengan sistem tumpangsari. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkhinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir)sesuai dengan kewenangan dan hierarkhinya. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. Hasil uji coba lima varietas/galur padi gogo di bawah tegakan hutan tanaman magium umur 5 tahun dengan intensitas cahaya 68 persen menunjukan bahwa produksi gabah tertinggi adalah padi gogo varietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. galur TB 177E-TB-28-B-3. Tumpangsari 56 . dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu. 2) empat DAS kritis di NTT. Padi gogo. dan berumur genjah di berbagai tegakan hutan tanaman.3) Upaya penanggulangan banjir. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. KPH Sukabumi. dan KPH Banyumas Barat. NTT.

merkusii strain Aceh. Vanili.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. -. Stek merupakan salah satu alternatif pembiakan vegetatif untuk mengatasi tidak tersedianya bibit yang baik dalam waktu yang diperlukan. bentuk batang. Semua parameter genetika diduga tanpa melalui uji keturunan. Lima sifat pohon yang dikendalikan secara kuat oleh faktor genetik adalah diameter batang. lahan hutan yang kondisi biofisiknya masih baik maupun yang sudah kurang terpelihara dapat ditingkatkan produktivitas.Terciptanya kondisi fisiologis yang optimal serta tepatnya pemilihan bahan tanaman yang digunakan menentukan presentase keberhasilan yang tinggi. Hendi PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH "IBA" DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Eucalyptus deglupta Blume / Hendi Suhaendi. tinggi bebas cabang.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 175-161 . Pengukuran tinggi total. Yang dikendalikan secara sedang oleh faktor genetik adalah tinggi bebas cabang. Dengan diketahuinya pola pewarisan genetik dari berbagai sifat pohon diharapkan akan diketahui tolok ukur untuk seleksi sifatsifat pohon. nilai konsentrasi IBA yang optimal untuk persentase berakar stek adalah 2.Suharti. produksi getah. IBA. dan tinggi total.Tulisan ini mencoba menguraikan potensi dan prospek pengembangan budidaya tanaman vanili pada kawasan hutan melalui teknik wanatani di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu sentra produksi vanili di wilayah Indonesia Bagian Tengah. tebal kulit batang dan produksi getah kayu di lakukan di lapangan. Stek. Vanilla planifolia Andrews Suhaendi. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. bentuk batang.serta pasar masih terbuka lebar. Kata kunci: deglupta Zat pengatur tumbuh.Dengan teknik wanatani (agroforestry). tahan terhadap naungan. diameter batang. Hendi POLA PEWARISAN GENETIK SIFAT-SIFAT MORFOLOGI DAN PRODUKSI GETAH PINUS MERKUSII STRAIN ACEH / Hendi Suhaendi. pendapatan masyarakat akan meningkat secara signifikan sehingga selanjutnya akan menurunkan tekanan masyarakat terhadap hutan. IBA merupakan zat pengatur tumbuh yang sifat kimiawinya stabil dan memiliki rentang konsentrasi yang lebah untuk merangsang perakaran. Heritabilitas luas serta korelasi genetik dan fenotipa berikut peragam-peragamnya diduga menurut metode Sakai dan Hatakeyama (1963).Beberapa keunggulan tanaman vanili antara lain. Dengan peningkatan produktivitas hutan. dalam populasi Saree. tebal kulit batang.776 ppm sedangkan konsentrasi IBA yang optimal untuk berat kering total adalah 2. Keberhasilan pertumbuhan stek ditentukan oleh kecepatan terbentuknya akar lateral yang mendorong proses fisiologis berlangsung sempurna. Media tumbuh.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman215-222 . -. harga produk relatif tinggi. Sri PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI BUDIDAYA VANILI (Vanilla planifolia Andrews) PADA KAWASAN HUTAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT / Sri Suharti. Tanaman vanili (Vanila planifolia Andrews) merupakan salah satu komoditi yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di propinsi Nusa Tenggara Barat. 2005 Salah satu upaya untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan dan juga untuk mangakomodir perubahan paradigma dalam pengelolaan dan pembangunan di bidang kehutanan adalah pengembangan usahatani vanili dengan teknik wanatani (agroforestry). Penggunaan media tumbuh yang cocok. Berdasarkan uji polinomial ortogonal. 2006 Penelitian ini dilakukan pada hutan tanaman P. Eucalyptus Blume Suhaendi. 2006 Salah satu bahan baku penting dalam industri terpadu pulp dan kertas adalah Blume. Aceh. Ragam genetik dan lingkungan diduga menurut metode Shrikhande (1957). -. Seleksi simultan dapat dilakukan terhadap 57 . 2005 : Halaman 123-131 . tidak memerlukan tempat tumbuh sendiri karena sifatnya yang selalu memerlukan tanaman panjat sebagai inang. pencampuran tanah ikut menentukan perkembangan stek. Kata kunci: Ekonomi rakyat.990 ppm. Tujuan penelitian ialah menduga nilai heritabilitas luas dari setiap sifat pohon.serta korelasi genetik dan korelasi fenotipa dari semua pasangan sifat pohon yang dibentuk. dengan tujuan akhir menentukan sifat-sifat yang perlu dikembangkan dalam pemuliaan pohon untuk tujuan industri. Nilai persentase berakar tertinggi dicapai oleh media pasir dengan konsentrasi IBA 200 ppm sedangkan berat kering total tertinggi diperoleh pada media serabut kelapa dengan konsentrasi IBA 200 ppm dan rasio teras akar tertinggi dicapai oleh media serabutkelapa dengan konsentrasi IBA 400 ppm.

Marfologi Sujatmoko. Petani melakukan penularan kutu lak sekali pada pohon inang yang sudah diberi tanda kepemilikan. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Halaman 161-168 . setelah itu ditinggalkan sampai panen. Hendi UJI COBA PROVENANSI INTERNASIONAL Pinus caribaea Morelet DAN Pinus oocarpa Schiede UMUR 13 TAHUN DI INDONESIA / Hendi Suhaendi. Kayat dan Bernadus Ndolu. 2006 Dewasa ini budidaya kutu lak telah menjadi primadona masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kondisinya terus mengalami penurunan produksi yang signifikan. Hertabilitas. diameter batang. Dengan menggunakan Suhaendi. Diameter batang yang besar diduga dapat digunakan secara efektif sebagai satu indeks untuk menyeleksi tetua-tetua yang produksi getahnya tinggi.5 x 2. Usaha peningkatan produksi dan kualitas usaha budidaya kutu lak dapat dilakukan melalui perbaikan sistem budidaya dan pemeliharaan tanaman inang. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk menilai performans pertumbuhan umur 13 tahun dari provenansi-provenansi Pinus caribaea dan Pinus oocarpa yang tumbuh di Kebun Percobaan Sumberjaya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pembuatan plot Metode Forest Health Forest Monitoring. Pinus oocarpa Schiede. dan bentuk batang. Korelasi genetik. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi media promosi untuk mempertinggi kemungkinan investasi dalam memajukan pengelolaan hutan alam di TNLW.5. dinilai pula dua provenansi lokal Pinus merkusii. Lampung. -. Sujarwo TEKNIK BUDIDAYA KUTU LAK DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA DI NUSA TENGGARA TIMUR / Sujarwo Sujatmoko. Penularan kutu lak pada pohon inang berikutnya menguntungkan pada tularan alam melalui angin. Pola budidaya kutu lak yang dilakukan oleh masyarakat NTT umumnya masih sederhana dan belum melalui tahapan budidaya yang standar. Provenansi 58 . tinggi bebas cabang. Korelasi fenotipa. Budidaya.pasangan sifat tinggi total dan bentuk batang. Seleksi untuk memperbaiki bentuk batang diduga akan memperbaiki pula tinggi bebas cabang dan diameter batang. perbaikan sistem penularan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Rancangan acak lengkap digunakan dalam tiap-tiap Pinus dengan ukuran petak awal adalah 25 pohon dalam bentuk bujur sangkar dengan jarak tanam 2. Kata kunci: Pinus merkusii. Data yang didapatkan berupa data tinggi dan diameter digunakan untuk menghitung biomassa karbon dengan menggunakan model Brown dan metode Vademikum Kehutanan. pemeliharaan. 2005 : Halaman 77-85 . caribaea dan enam provenansi P. dan pemanenan tularan kutu lak. -Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Nusa Tenggara Timur Sumardi PERANAN HUTAN TAMAN NASIONAL LAIWANGI . Satuan percobaan yang digunakan dalam analisis data adalah sembilan pohon. 2006 .WANGGAMETI DALAM MENYIMPAN KARBON/ Sumardi. Aceh. 2006 Telah dilakukan penelitian peranan hutan Taman Nasional LaiwanggiWanggameti (TNLW) dalam menyimpan karbon. Kata kunci: Kutu lak. Tulisan ini bertujuan untuk menghitung dan mengevaluasi besarnya kapasitas biomassa tegakan (aboveground biomass) pada hutan alam TNLW dalam memfiksasi karbon melalui perhitungan biomasa pohon dan karbon. Sebagai pembanding. Dua belas provenansi P. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. 2005 : Halaman 103-110 . oocarpa dinilai sifat-sifat pertumbuhannya dalam arti tinggi total.Seleksi untuk peningkatan diameter batang diduga akan menyebabkan peningkatan tebal kulitnya. Penelitian dilakukan di Hutan TNLW. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Tanaman inang. Kata kunci: Pinus caribaea Morelet.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. -.

Melaleuca cajuputi subsp cajuputi 59 . Keterlibatan masyarakat sebenarnya akan memberikan dampak positif bagi TNBB karena masyarakat akan merasa lebih memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberadaan TNBB.9 (lebih kurang 74. kayu bakar serta pemanfaatan lahan. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.9) ton/ha. Penelitian bertujuan untuk mencari formula/strategi yang tepat dalam bentuk kegiatan nyata untuk pengelolaan TNBB berbasis masyarakat. pelaksanaan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Daerah penyangga. Bali Barat Sumardi EVALUASI UJI PEROLEHAN GENETIK KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi subsp cajuputi) Di Persemaian Sampai Umur 4 Bulan / Sumardi. di wilayah NTT. rata-rata jumlah biomasa karbon yang diserap oleh vegetasi yang berada di dalam kawasan TNLW cukup tinggi yaitu sebesar 197.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Data dan informasi yang terkumpul di tabulasi dan dianalisa dengan analisis deskritif dan SWOT (Strengh. Upaya peningkatan produktivitasnya tidak terlepas dari pemilihan benih unggul yang menghasilkan tanaman dengan produksi daun dan kandungan minyak yang tinggi. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . 2006 Telah dilakukan penelitian evaluasi uji perolehan genetik kayu putih (Meulaleuca cajuputi subsp cajuputi) di persemaian sampai umur 4 bulan.Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Weakness. sehingga keragamannya cenderung kecil. dan Threat) yang ditekankan pada fenomena-fenomena yang diakibatkan oleh kegiatan masyarakat. penyebaran kuesioner kepada masyarakat daerah penyangga (Sumberklampok dan Pejarakan) dan studi literatur. Masyarakat sebagian besar setuju dengan keberadaan TNBB. Pertumbuhan tanaman M. Jenis unggul. Kata kunci: Genetik.Masyarakat sebagian besar menginginkan adanya bentuk keterlibatan dalam perencanaan. Taman Nasional. Kata kunci: Konservasi. -. 2006 Telah dilakukan penelitian pengembangan daerah penyangga sebagai alternatif pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Dari informasi yang diperoleh diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengembangan kayu putih pada skala yang lebih besar.9) ton/ha dan 189.Penelitian ini bertujuan untuk evaluasi uji perolehan genetik tanaman kayu putih dari benih unggul. dan evaluasi terhadap pengelolaan TNBB. Halaman 3340 . Halaman 121-131 . Pertumbuhan M. Benih unggul yang digunakan pada penelitian ini berasal dari 3 pohon plus (famili) pada tegakan kebun benih uji keturunan Paliyan. cajuputi tingkat semai tidak banyak menunjukan keragaman signifikan antar famili . cajuputi pada tingkat semai sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan persemaian.metode Brown (1997) dan Vademikum Kehutanan (1976). Opportunities. Hal tersebut kemungkinan karena ketiga famili tersebut merupakan pohon plus sebagai sumber benih yang merupakan hasil seleksi. namun jika tidak disertai dengan pembinaan dan apabila keberadaan TNBB tidak memberikan peningkatan sosial ekonomi maka kerusakan ekosistem dapat terjadi dengan pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti Sumardi PENGEMBANGAN DAERAH PENYANGGA SEBAGAI ALTERNATIF PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Sumardi. monitoring.5 ( lebih kurang 77. di Kabupaten Timor tengah Utara dan Kabupaten Sumba Timur. Biomassa. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Meulaleuca cajuputi merupakan jenis yang menghasilkan minyak kayu putih bernilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan sebagai obat-obatan. Kata kunci: Karbon. Kayu putih. Penelitian dilakukan dengan melakukan evaluasi pertumbuhan tinggi dan diameter semai kayu putih yang diukur setiap bulan. wawancara. Dari penelitian dihasilkan bahwa ketergantungan masyarakat desa Sumberklampok dan Pejarakan terhadap kawasan TNBB masih relatif tinggi dan bentuk interaksinya meliputi pemungutan hasil hutan non kayu. 2006 .

82 persen.07 persen.07-7.20 m dan MAI-volume=0. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 0. 11. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kandungan N total dari lokasi Peutama yang meliputi lokasi I (1). 2006 . Halaman 169176 . dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. Arborea umur 6 tahun. dengan bentuk unit lahan berbukit sampai bergunung.7. -. Data yang terkumpul di tabulasi dan dilakukan perhitungan riap rata-rata tahunan terhadap tinggi. Lokasi penelitian memiliki kemiringan >25 derajat. Riap. Halaman 119123 . Kandungan bahan organik pada lokasi Peutana yang meliputi lokasi I (1).92 . Nusa Tenggara Timur Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. I (2). diameter dan volumenya.15 untuk pH KCI. DAS Noelmina. Muhammad Hidayatullah dan Tigor Butar-Butar.16 persen.42 persen dan 0. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran tinggi dan diameter tegakan G. sedangkan Kuafeu adalah liat lempung berpasir.13 cm. Kata kunci: Tapak. NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi. Bobonaro. Tekstur. 0. PH tanah berkisar antara 7. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). di Stasiun Penelitian Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2006 . tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi dan Martinus Lalus. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. Produktivitas. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 2. yaitu DAS Benain.42 persen. DAS Noelmina. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa riap rata-rata tahunan (MAI/diameter=2.38 untuk pH H2O dan 6. 2) empat DAS kritis di NTT.08 persen dan 4. Lokasi Kuafeu terdapat 10 jenis tanaman dengan jenis pohon komersial dominan mahoni (Swietenia mahagoni) sedangkan lokasi Peutana terdapat jenis tanaman murni kemiri (Aluerites molucana) yang sudah berbuah dan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang pernah dipanen penduduk sekitar. MAI-tinggi=1.0117 m3. DAS Aesesa. Timor Tengah Selatan. Timor Tengah Utara.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. MAI. I (2). Topografi. DAS Benain. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Kelas tekstur tanah pada lokasi Peutana adalah liat sampai lempung berpasir. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. 2006 Telah dilakukan penelitian produktivitas Gmelina arborea Roxb. bahan organik terbesar terdapat pada lokasi II (Peutana). Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I.Sumardi PRODUKTIVITAS Gmelina arborea ROXB. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. 3. 42 DAS pada tahun 1998. Kata kunci: Gmelina arborea Roxb. dan DAS Kambaniru. 2006 .22 persen. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada.3) Upaya penanggulangan banjir. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering).33 persen. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran 60 . Halaman 93-102 . persentase batuan relatif tinggi. 0.. 2006 Telah dilakukan penelitian studi kualitas tapak beberapa lokasi di hutan produksi terbatas Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang. Nusa Tenggara Timur Sumardi STUDI KUALITAS TAPAK BEBERAPA LOKASI DI HUTAN PRODUKSI TERBATAS KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS).

Kata kunci: Eucalyptus urohpylla. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir) sesuai dengan kewenangan dan hierarkinya. sebaran alami. Natakolin. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. 2005 : Halaman 87-95 .Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Urutan pertumbuhan penotipe pohon plus ampupu dari yang terbaik-terendah adalah: Ile Boleng. oleh sebab itu dalam pemanfaatannya perlu segera diikuti upaya pelestarian dan penanaman. Palueh. Palueh. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka penunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon di masa mendatang. Banjir Surata.dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 918 . dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu (Eucalyptus urophylla S. Kwangau. Kata kunci: Klicung. Labalekan. lle Mandiri. Nusa Tenggara Barat Surata. -. Kilawair. dan Hikong). dan litosol. 2006 Klicung (Diospyros malabarica Der Kostel) adalah hasil hutan kayu yang tergolong penting di Provinsi Nusa Tenggara Barat karena merupakan spesies andemik. pada tipe iklim E menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. alba. Ilemandiri. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. Natakolin. Kondisi tempat tumbuhnya terdapat di daerah pegunungan mulai dari kaki gunung sampai lereng pada ketinggian 150-980 m dpl. Ile Ape. dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. Kawale) dan kabupaten Lembata (Ile Kerbau. urophylla dan E. Egon. Kilawair. Ampupu. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. Hibrid 61 . Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara telah berupaya untuk menyediakan paket teknologi yang dibutuhkan lewat kegiatan penelitian. jenis tanah mediteran haplik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran alami ampupu di Flores terdapat di Kabupaten Sikka (Egon. Pada ketinggian di bawah 600 m dpl masih bercampur dengan E. NTT.T. Hikong. termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Diospyros malabarica Der Kostel. Sumber benih. Kabupaten Flores Timur (Lewotobi. Untuk mewujudkan upaya keberhasilan penanaman sebagaimana yang diharapkan. Ile Ape. penanaman. kambisol. kemitraan. Dewasa ini populasinya sudah semakin menurun. Penotipe. Blake) di Flores. Kata kunci: DAS. Kaliboluk. 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. -. Di samping itu dalam tulisan ini ditampilkan pula hasil plot uji coba pengembangan budidaya klicung di Rarung Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat serta permasalahannya yang sedang dihadapi yang sangat menentukan dalam menunjang keberhasilan pengembangan. pembibitan. Budidaya. Ile Boleng. Labalekan.T Blake) DI FLORES PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR / I Komang Surata.Kwangau. Nurdini Estikasari. Lewotobi. dan Kurnaidi. Leworok. I Komang SEBARAN DAN PERTUMBUHAN PENOTIPE TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (Eucalyptus urophylla S. Lewokukun. Sebaran alami. Paket teknologi yang telah dihasilkan terutama teknik budidaya klicung yang meliputi teknik perbenihan. Leworok. Kaliboluk. I Komang DUKUNGAN HASIL LITBANG DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA KLICUNG (Diospyros malabarica Der Kostel) DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT / I Komang Surata. dan Lewokukun). dukungan teknologi budidaya sangat diperlukan. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. dan Kwale. Musim panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus akan tetapi semua lokasi yang dieksploitasi berbuah banyak dan seragam. Ile kerbau.

I Komang PARTISIPASI DAN KEINGINAN MASYARAKAT LOKAL DALAM MENANGANI PERMASALAHAN HUTAN MANGROVE DI PRAPAT-BENOA. Masyarakat lokal.34 persen terutama dalam kegiatan penanaman. melengkapi sarana dan prasarana rekreasi/pariwisata dan sosialisasi program pengelolan mangrove yang dilakukan pemerintah.66 persen. Hutan rakyat. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengkaji data dan informasi partisipasi dan keinginan masyarakat lokal dalam menangani permasalahan kelestarian mangrove.ekonomi masyarakat. Halaman 133-141 . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . I Komang PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN CENDANA (Santalum album L) DI PROPINSI BALI / I Komang Surata. Kata kunci: Cendana. Partisipasi.) yang dikenal dengan nama melayu sendana dan dalam dunia perdagangan sandalwood memegang peranan yang sangat penting sebagai penghasil kayu kerajinan dan memiliki nilai ritual keagamaan yang cukup tiggi di Provinsi Bali. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . -. Pengelolaan. Model ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan lahan penanaman cendana yang terbatas dan masyarakat dapat berperan secara aktif untuk memelihara dan menjaga keamanan tanaman cendana serta dalam jangka panjang dapat menambah pendapatan masyarakat.Surata. -. Kata kunci: Hutan mangrove. Penanaman dilakukan di lahan/ladang masyarakat (hutan rakyat) dalam bentuk tanaman jalur atau sisipan. Nilai ritual. 2006 Cendana (Santalum album L. pembuatan jalan lingkar setapak yang menjadi pembatas zonasi mangrove dengan lahan masyarakat yang sekaligus sebagai jalan rekreasi. Tingkat partisipasi masyarakat untuk manjaga kelestarian mangrove sudah baik yaitu sebesar 98. model sumber benih. Untuk menjaga kelestarian mangrove beberapa keinginan masyarakat yang perlu menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengatasi permasalahan adalah menjaga keberhasilan sampah dari hulu dan masyarakat di sekitarnya. Dewasa ini tidak ada lagi pasokan bahan baku kayu cendana secara resmi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingat populasi cendana di daerah ini sudah menurun dan di beberapa tempat sudah hampir punah. sistem tumpangsari. Untuk menciptakan kemandirian masyarakat maka dalam penanaman cendana pemerintah pusat/daerah dalam 5 tahun pertama perlu memberikan bantuan bibit dan penyuluhan teknologi penanaman kepada petani peserta penanaman dan selanjutnya di masa mendatang masyarakat diharapkan sudah mampu mandiri untuk melaksanakan program pengembangan budidaya cendana. Silvikultur intensif Surata. Bedasarkan data biofisik wilayah. Bali 62 . PROVINSI BALI / I Komang Surata.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif survei dari masingmasing desa adat di sekitar mangrove secara purpositive sampling dan juga instansi yang mengelola mangrove. Prapat Benoa.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. dan kepemilikannya dapat diserahkan ke masyarakat. tidak memberi ijin tukar menukar kawasan dan pinjam pakai mangrove. dan kesiapan teknologi maka hampir sepertiga wilayah di Provinsi Bali memenuhi syarat untuk lokasi penanaman cendana. Untuk memenuhi kebutuhan kayu cendana di provinsi Bali maka perlu segera dilakukan penanaman. Kebutuhan kayu cendana di daerah ini semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kemajuan pariwisata. Halaman 19-31 . Tindakan yang tidak partisipasif dalam kelestarian mangrove adalah 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal dalam kegiatan pengelolaan mangrove di Prapat-Benoa Bali masih rendah 2.34 persen. pembentukan regu kebersihan mangrove. sosial budaya.

arang. Masyarakat hanya ditempatkan sebagai obyek atau pelaksana yang hanya menerima instruksi teknis yang harus dilaksanakan di lapangan.Surata. Tune. Fatumnasi. Oepopo. Leloboko. Lelobatan.T. KHDTK Sebulu. lakaan. Jenis ini mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting untuk kayu industri antara lain untuk kontruksi.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 87-99 . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. Mollo. dan Lakaan pada ketinggian 500-2. Wedomo masih bercampur dengan E. Fatuneno. Musim berbunga ampupu terjadi pada bulan Januari-Maret dan panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus. Naususu.500 m dpl. -. jenis tanah Ustropept. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka menunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon dalam pembangunan hutan tanaman. Aesrael. Eucalyptus urophylla S. Kabupaten Timor Tengah Utara. Hutan terdegradasi 63 . dan Kabupaten Belu yang berada di Pegunungan Mutis. Obaem. 2006 Pada era demokrasi saat ini. I Komang EKSPLORASI TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (EUCALYPTUS UROPHYLLA S. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu di Pulau Timor. Wedomo. tipe iklim D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Kabupaten Timor Tengah Selatan. Partisipasi masyarakat. Susbian. KHDTK Samboja. Halaman 21-31 . kayu bakar. Nenas. 2006 . Pengelolaan Bersama. yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. urophylla dan E. dan kedua dengan membuat komitmen bersama dalam menyusun rencana dan program sebagai keinginan dan kebutuhan bersama yang tentunya tidak terlepas pada prinsip pokoknya yaitu melestarikan hutan dan menyejahterakan masyarakat sekitar hutan.T. Blake. dan illegal logging.T. Kata kunci: Social forestry. Pada umumnya ketidakberhasilan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dalam program social forestry karena program tersebut bersifat topdown. akan tetapi tidak semua lokasi yang dieksplorasi berbuah banyak dan seragam. Pertumbuhan penotipe. alba. menjaga. Bonmuti. Selain itu keberlangsungan dan keberlanjutan program social forestry yang diikutinya banyak yang tidak jelas. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Haflustalf. Hampir semua lokasi ampupu terancam kerusakan akibat perluasan untuk perladangan. Namun demikian pendekatan kemitraan atau social forestry yang dilakukan masih juga mengalami banyak kegagalan. Hasil penelitian penunjukan bahwa penyebaran alami ampupu di Pulau Timor Barat terdapat di Kabupaten Kupang.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Nuafin. Tutem. yang salah satu penyebaran alaminya terdapat di Pulau Timor. Dystropepts menurut Soil Taxonomi. yang pada akhirnya masyarakat menjadi kurang serius dalam pelaksanaannya. BLAKE) DI PULAU TIMOR. Pada ketinggian 500-600 m dpl provenan Humau. Humau. kebakaran. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. sebaran alami. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan yaitu merubah pendekatan task-force menjadi get the force melaui kemitraan atau partisipasi aktif masyarakat. Obaem. Sebaran alami. dan memanfaatkan hutan. 2006 Ampupu (Eucalyptus urophylla S. Salah satu model social forestry yang saat ini sedang dan sudah dilakukan penelitian untuk menyempurnakan model social forestry sebelumnya adalah menggunakan dua pendekatan sekaligus yaitu kemitraan yang sejajar antara pemerintah dan masyarakat. pendekatan task-force untuk mengamankan hutan terhadap intervensi masyarakat (perambahan) untuk memenuhi hajat hidupnya banyak mengalami kegagalan. Urutan pertumbuhan penotipe terbaik-terendah: Nenbena. Hibrid Suryanto SOCIAL FORESTRY DI KHDTK SEBULU DAN SAMBOJA: SEBUAH MODEL PELIBATAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN BERSAMA PADA KAWASAN HUTAN TERDEGRADASI / Suryanto dan Sulistyo A. mengelola. PROVINSI NUSA TEMGGARA TIMUR / I Komang Surata. dan pulp. Blake) adalah salah satu jenis dari 4 jenis Eucalyptus yang ada di Indonesia. -. yang dikenal dengan pola social forestry. Timau. Kata kunci: Ampupu. Naija Upat. Masyarakat harus diajak bersama secara aktif. Siran.

Suryanto PENELITIAN PENDAHULUAN: HIRARKI PERMASALAHAN DALAM KEBIJAKAN OTONOMI BIDANG KEHUTANAN. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 247-269 , 2006 Secara komprehensif, terdapat 3 tahapan kegiatan penelitian yang meliputi identifikasi masalah, analisis prioritas dan perumusan multipihak. Penelitian pendahuluan ini terdapat pada tahap identifikasi masalah dengan tujuan mengidentifikasikan semua permasalahan berkenaan dengan kebijakan otonomi bidang kehutanan. Sasaran penelitian pendahuluan ini adalah menganalisa dan mengelompokkan semua permasalahan-permasalahan tersebut kedalam kerangka masalah yang sederhana, mewakili dan tepat dalam sebuah hirarki. Luaran adalah hirarki permasalahan dalam kebijakan otonomi bidang kehutanan. Luaran dari hasil penelitian ini akan digunakan sebagai bahan untuk analisis prioritas dan perumusan multistakeholders. Metode pokok penelitian yang digunakan adalah AHP atau Analytical Hierarchy Process (Proses Analisis Hirarki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua fokus permasalahan kebijakan, yaitu kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan pemerintah daerah. Permasalahan yang diidentifikasikan dalam fokus kebijakan pemerintah pusat terbentuk dalam 4 hirarki, yaitu fokus, pengaruh, faktor dan bentuk. Pilihan masalah yang perlu pemecahan prioritas dalam hirarki pengaruh terdiri dari 5 pilihan, meliputi kemauan, SDM pembuat kebijakan, latar belakang, SDM penerima kebijakan dan infrastruktur. Dan akhirnya, hirarki bentuk terdiri dari 2 pilihan meliputi kebijakan pusat berkaitan dengan kebijakan makro yang diaplikasikan dalam bentuk kebijakan makro dan mikro oleh pemerintah daerah dan kebijakan pemerintah pusat sudah meliputi kebijakan makro mikro yang diapkilasi oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana. Permasalahan yang terindentifikasi dalam fokus kebijakan pemerintah daerah terbentuk dalam 4 hirarki pengaruh terdiri dari 4 pilihan meliputi peluang kewenangan, sumber hukum, tuntutan dan dikotomi. Dalam hirarki bentuk terdiri dari 3 pilihan meliputi penjabaran, inisiatif sendiri dan kombinasi antar penjabaran dan inisiatif. Dan akhirnya hirarki aktor terdiri dari 3 pilihan kewenangan utuh pemerintah daerah, kewenangan pemerintah daerah di bawah koordinasi koordinator pemerintah propinsi dan kewenangan pemerintah daerah (kabupaten dan propinsi) dibawah koordinasi langsung pemerintah pusat.

Kata kunci: Kebijakan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, permasalahan, AHP, hirarki. Susanty, Farida Herry ANALISIS MODEL PENDUGAAN VOLUME JENIS Acacia mangium, Gmelina arborea DAN Switenia mahagoni DI HUTAN TANAMAN / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama HasilHasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 197-208 , 2006 Plantation inventory for estimation potency of stand needed for quantitative tools as volume prediction models or tree volume table with good validity. Aim of this research to arrange volume prediction models or tree volume table for plantation species in Timber Estate in Kalimantan to increase accuracy of mass or volume stand estimation. Measurement of sample trees using stereoscopis technique for standing tree of Acacia mangium, Gmelina arborea and Swietenia mahagoni of plantation area in Riam Kiwa, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Result of height curve indicated that Acacia mangium there was nonsignificant coorelation between diameter and heigh variable, while Gmelina arborea and Swietenia mahagoni there was significant coorelation (R2>70 persen), thus analysis of volume prediction models could be continued by using two and one variable (tariff). Volume prediction models from this research and some reference show that generally were set up in exponential and logaritmic pattern. Validation of chosen regression equation model base on agregative deviation and mean deviation shows that the equation could be using for tree volume table assesment. Kata kunci: Pendugaan volume, Tinggi, Model, Diameter, Acacia mangium, Gmelina arborea, Switenia mahagoni, Hutan tanaman

64

Susanty, Farida Herry TIPOLOGI EKOLOGI DAN ANALISIS POTENSI TEGAKAN PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 303-316 , 2006 Evaluation of degree of standing stock production potency and ecological effect resulting by harvesting technique which applied in Forest Management Unit (FMU), being one of many important aspect in fulfilling prerequisite Criterion and Indicator for Sustainable Forest Management. This research was aimed to describe the structure and potency of stand in old logged over forest thus examined to SK Menhut No. 8171/Kpts-II/2002 which suitable for forest biophysic condition in East Kalimantan. Data collecting done in PT. Hutan Sanggam Labanan Lestari (PT. HLL) and PT. Gunung Gajah Abadi (PT. GGA) that having different age were 19 and 20 years after logging (LOA 19 and LOA 20), covering:species, diameter, height and tree position in plot.Difference of FMU characteristic base on evaluation of ecological typologi resulting that PT.HLL was sensitive biology-sensitive physic, while PT. GGA was safety biology-sensitive physic. Base on varians analysis there in class diameter. Dominance of species composition for both area were by Dipterocarpaceae. Standing stock by total number of trees on LOA 19 and LOA 20 having higher than criterian having lower potency in class diameter 10-19 cm and 50 cm up. Kata kunci: Struktur, Potensi, Tegakan, Hutan bekas tebangan Susila, I Wayan Widhana UJI COBA JENIS-JENIS INTRODUKSI PADA LAHAN KRITIS DI DALAM KAWASAN HUTAN BATUR DAN BEDEGUL / I Wayan Widhana Susila, Gerson ND Njurumana Felipus Banani. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 33-40 , 2006 Lahan kritis diartikan sebagai lahan yang tanahnya secara potensial tidak mampu berperan dalam salah satu atau beberapa fungsi seperti: 1) unsur produksi, 2) media pengaturan tata air (fungsi hidrologi), dan 3) media

perlindungan alam lingkungan (fungsi orologi) atau lahan yang telah mengalami kerusakan, sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas yang ditentukan atau diharapkan. Luas lahan kritis Provinsi Bali adalah 307.035 ha, terdiri dari 127.706 ha tersebar di dalam kawasan hutan dan 179.329 ha tersebar di luar kawasan hutan. Jenis-jenis yang diujicobakan pada lahan kritis di Kawasan Batur dan Bedugul adalah ampupu(Eucalyptus urophylla), pulai (Alstonia scholaris), cendana (Santalum album), Acacia mangium, majegau (Dysoksilum sp.), gmelina (Gmelina arborea), mahoni (Sweitenia macrophylla), kayu putih (Meulaleuca leucadendron), gaharu (Aquilaria malaccensis), duabanga (Duabanga maluccana), mindi/jeminis (Melia azedarah), dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Jenis-jenis tersebut diujicoba melalui uji jenis dan uji produksi (ampupu, kayu putih, kamadulensis, dan duabanga). Hasil evaluasi tanaman umur enam bulan di lapangan dapat diinformasikan sebagai berikut: 1) Sengon buto merupakan jenis introduksi yang cocok pada kondisi lahan kritis di kawasan Batur yang ditunjukan oleh perkembangan pertumbuhan dan persen tumbuh yang tinggi, yaitu riap diameter 1,37 cm, riap tinggi 61,53 cm, persen tumbuh 96,15 persen, dan sampai umur 10 bulan di lapangan persen tumbuhnya 90,16 persen; 2) Jenis kayu putih dan ampupu merupakan jenis yang cukup sesuai untuk dikembangkan di kawasan kritis Batur dan Bedugul; dan 3) Pemberian kompos di Bedugul dan campuran tanah + kompos di Batur pada media tanam belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan persen tumbuh tanaman. Kata kunci: Lahan kritis, Ujicoba jenis, Ujicoba jenis, Kesesuaian tempat tumbuh, Uji produksi Suwandi PERLAKUAN MIKORIZA DAN NPKN PADA PERTUMBUHAN STUMP JATI (Tectona grandis L.f.) (Treatment of Mycorrhizae And NPK on the Growth of Tectona grandis L.f. Stump) / Suwandi; Surtinah; Kamindar Rubby. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 139 - 145 , 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian mikoriza dan NPK terhadap pertumbuhan stump jati (Tectona grandis L.f.). Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalam pola faktorial, yaitu faktor (M1), 3 mikoriza dengan perlakuan 0 g/tanaman (M0), 1,5 g/tanaman g/tanaman (M2), dan 4,5 g/tanaman (M3); kemudian faktor NPK (N) dengan perlakuan 0 g/tanaman (N0), 1 g/tanaman (N1), 2 g/tanaman (N2), 3 g/tanaman

65

(N3), dan 4 g/tanaman (N4), dengan dua ulangan, setiap ulangan terdiri dari empat tanaman. Jumlah 160 tanaman. Parameter yang diukur tinggi tunas, diameter, jumlah daun, lebar daun, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan stump jati. Pemberian NPK berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tunas, diameter, lebar daun, dan panjang akar; sedangkan interaksi mikoriza dan NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, diameter, dan panjang akar. Kata kunci : NPK , mikoriza, Tectona grandis L.f. Takandjandji, Mariana PENANGKARAN RUSA TIMOR OLEH MASYARAKAT / Mariana Takandjandji, Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 55-76 , 2006 Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 2 sub spesies rusa timor yang potensial untuk ditangkarkan. Potensi ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pemanfaatan rusa di alam. Namun masyarakat belum memanfaatkan secara optimal dan bijaksana. Oleh karena itu aset yang cukup besar potensinya ini perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai suatu usaha sekaligus konservasi. Sampai saat ini sudah ada 3 KK yang telah berhasil menangkarkan rusa, hal ini ditandai dengan rusa yang mereka pelihara telah beranak. Usaha penangkaran rusa cukup menjanjikan sehingga layak untuk dilaksanakan.Kegiatan penangkaran rusa cukup menguntungkan walaupun pada awalnya memerlukan biaya dan investasi yang lebih besar. Usaha ini memerlukan luas lahan yang lebih kecil, akan tetapi dapat memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari ternak-ternak yang sudah dikenal. Kata kunci: Penangkaran, Rusa timor, Aset, Potensi

Takandjandji, Mariana KAJIAN TEKNIK PENANGKARAN PENYU DI BALI / Mariana Takandjandji dan Edy Sutrisno. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 111-120 , 2006 Penyu merupakan reptil laut yang menarik karena mampu beradaptasi dengan baik untuk hidup di perairan laut. Di samping itu, penyu bersifat amphibious, di mana dapat menempuh hidup pada dua habitat yang berbeda. Biasanya penyu hidup di perairan laut dangkal kecuali lahir dan bertelur. Untuk mengkaji teknik penangkaran penyu di Bali, perlu diketahui potensi, penyebaran, bio-ekologi penyu dan statusnya serta kebijakan pemerintah terhadap upaya yang telah dilakukan. Namun permasalahan yang muncul dalam kajian tersebut adalah adanya penangkapan penyu yang dilakukan secara besar-besaran sehingga populasi menurun, baik kualitas maupun kuantitas. Pembinaan yang telah dilakukan antara lain melalui upaya perlindungan penyu dari kepunahan. Upaya tersebut ditempuh dengan cara melindungi panyu dari gangguan manusia dengan cara membuat peraturan yang melindungi penyu, dan upaya penambahan populasi penyu melalui penangkaran/budidaya. Kata kunci: Penangkaran, Penyu, Reptil, Amphibious, Bio-ekologi Tira, La Ode Asir KARAKTERISTIK LAHAN BEKAS TAMBANG BATU KAPUR DI KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN (Land Characteristic of Abandoned Lime Stone Mined in Pangkep Regency, South Sulawesi Province) / La Ode Asir Tira dan Eka Multikaningsih. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 219-228 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lahan bekas penambangan batu kapur di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa areal bekas penambangan berupa hamparan terbuka dan bergelombang dengan kemiringan 0-8 %. Penutupan vegetasi sangat sedikit, kurang dari 10 % dengan jenis vegetasi dominan adalah kersen (Muntingia colabura Linn.), akasia (Acacia auriculiformis A.Cunn), krinyu (Eupatorium pallescens DC), rumput jarum (Andropogon aciculatus

66

lembaga swasta.25 me/100 g. Lembaga adat yang terkait dengan pengelolaan hutan di Bali adalah: lembaga adat (subak. lemahnya koordinasi lintas sektoral. 2006 Pengetahuan pengenalan jenis meranti seperti Shorea acuminata Dyer. Halaman 151-155 . karakter morfologi. Salah satunya berupa kearifan lokal ekologi (lingkungan) yang merupakan bagian dari kearifan budaya. 2006 Sebagian besar lahan rawa gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. S. Oleh karena itu diperlukan sarana pengenalan 67 . dan kedalaman tanah (<10 cm). atrinervosa Sym. Hutan tanaman. Tujuan penelitian untuk menguji keefisienan teknik identifikasi berdasarkan sifat morfologi daun dari 51 jenis meranti (Shorea spp.) berasal dari Sumatera.296 . assamica Dyer. wanakerti.3 . No. Kemampuan lahan digolongkan ke dalam kelas VIII dengan faktor pembatas utama untuk penggunaan adalah prosentase batuan permukaan (60-80 %).3.28 %. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan.III. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas.). K-tersedia 3 ppm. tumpek uduh.09 me/100 g. Halaman 1-18 . daun. kation Mg 0. nilai filosofi figur banaspati dan bhoma. konflik kepentingan. kation Ca 90. I Nyoman POTENSI KELEMBAGAAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA LOKAL UNTUK MENDUKUNG PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI DAERAH BALI / I Nyoman Wardi.186 mm. Rawa gambut Wardani.Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. berdasarkan sifat vegetatif masih terbatas jenis yang mudah dipelajari dan dipraktekkan melalui sifat morfologi daun dan alat vegetatif lainnya. Berbagai bentuk nilai budaya yang diwarisi dan kemudian menjadi landasan etika lingkungan masyarakat Bali untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah: kalpataru. P-tersedia 85 ppm. Penelitian dilakukan dengan menggunakan spesimen herbarium jenis meranti yang tersimpan di herbarium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor. N-total 0. nilai teknologi aturan dan norma hukum adat (awig-awig).Retz. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. -.lembaga formal. desa adat/pakraman). Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. pada pengalaman lapangan. Marfu'ah IDENTIFIKASI JENIS MERANTI SUMATERA MELALUI SIFAT MORFOLOGI DAUN (Identification of Meranti Sumatera by Using its Leaves Morphology) / Marfu'ah Wardani. Halaman 281 .66 me/100 g. sehingga dalam mengidentifikasi tidak memerlukan pengamatan sifat morfologi bunga dan buah. S. lahan bekas tambang batu kapur Ulfa. Kata kunci : Meranti. Kata kunci : Karakteristik. faktor batuan singkapan (60-80 %). Pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang sinergi dengan kearifan lokal adalah social forestry. C-organik 0. Sedangkan kendala pengelolaan sumberdaya hutan di Bali adalah: kemiskinan. KTK 8.). 2006 Daerah Bali dengan budidaya yang bercorak Hindu dikenal memiliki diversifikasi budaya yang tinggi dengan segala keunikannya. pencurian kayu. Kata kunci: Mikoriza.06 me/100 g. nama jenis Wardi. Karakteristik kimia tanahnya adalah sebagai berikut pH (H2O) 8.) dan alang-alang (Imperata cylindrica Beauv. Daun adalah bagian utama dari pohon meranti yang selalu tersedia. sehingga dengan melalui pengetahuan sifat morfologi daun diharapkan dapat membantu mengenal jenis meranti dengan mudah. kearifan dalam bentuk hukum adat ( awig-awig). analog hutan dengan brahman. -. Kearifan ekologi tercermin dalam berbagai bentuk sistem kepercayaan (religi). cerita mitos. cepat. dan kation Na 0. Curah hujan rata-rata tahunan 3. dan nilai budaya tri mandala.05 %. dan tepat. rumput teki (Cyperus sp. kebakaran hutan.

-. Berkaitan dengan hal tersebut. Kecamatan Long Kali. Karmilasanti dan Supartini. Berdasarkan kedekatan dengan hutan lindung. di Kabupaten Pasir. Dengan cara yang sama. Kabupaten Kutai Kertanegara. Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kertanegara dengan tujuan untuk mengetahui kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu tahun 2005 dalam konteks social forestry. hasil penelitian menunjukan bahwa hukum adat hampir tidak ada dan tidak dijalankan lagi pada Masyarakat Perkuwin. keberadaan hukum adat dan adanya kegiatan illegal logging. Kearifan lokal. Partisipasi masyarakat. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu ditinjau dari status kawasan merupakan lahan yang tidak memiliki bukti kepemilikan tanah. sedangkan di Desa Sumber Sari dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman palawija.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Sebaliknya maraknya penebangan liar yang terjadi di Desa Perkuwin semakin memperkuat bukti bahwa hukum adat dapat berperan dalam pencegahan illegal logging. Untuk itu biasanya masyarakat tradisional yang masih menerapkan hukum adat memasukkan aturan-aturan pemanfaatan hutan dalam hukum-hukum adat. -. Pemasaran hasil kegiatan pembangunan plot hutan rakyat di Desa Semoi Dua belum memberikan hasil dibanding dengan Desa Sumber Sari. Nilai sosial budaya lokal. dua desa yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Kampung Mului.Kata kunci: Kelembagaan.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . 2006 Pengembangan model hutan rakyat merupakan salah satu dari kebijakan pengembangan social forestry yang ditetapkan Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Dirjen RLPS). Ekologi Wiati. Untuk kegiatan plot hutan rakyat bekerjasama dengan Kelompok Tani sebagai mitra dari Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Catur Budi IDENTIFIKASI KEBERADAAN HUKUM ADAT DAN PERANANNYA DALAM PENCEGAHAN ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG GUNUNG LUMUT / Catur Budi Wiati.6 hektar di Desa Semoi Dua. tetapi keberadaan hukum adat berpeluang untuk menjadi salah satu instrument dalam rangka pemberantasan illegal logging. Kecamatan Muara Komam dan Desa Perkuwin. Di Desa Semoi Dua plot pembangunan hutan rakyat dilakukan secara monokultur. Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber sari. Halaman 287-302 . Kata kunci: Hutan rakyat. Terkait dengan permasalahan tersebut kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan hukum adat dan peranannya dalam pencegahan illegal logging dirasakan sangat perlu untuk dilakukan. Kata kunci: Hukum adat. Sosial forestry 68 . Halaman 173-190 . sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. 2006 Ketergantungan masyarakat tradisional terhadap keberadaan hutan untuk mendukung kehidupan menyebabkan mereka harus menjaga dan mengatur pemanfaatannya agar tetap lestari. Gunung Lumut Wiati. Meski pengakuan keberadaan hukum adat masih menemui sejumlah kendala dalam implementasinya di lapangan. Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber Sari. saat ini Balai Litbang Kehutanan telah membangun plot model hutan rakyat masing-masing seluas 3 hektar dan 3. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan cara pengaturan masalah pengusahaan dan pemanfaatan tanah dan hutan serta penghormatan mereka terhadap roh-roh penunggu melalui upacara-upacara adat yang masih dijalankan membuktikan bahwa hukum-hukum adat masih ada dan diterapkan oleh Masyarakat Mului. Model social forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Hutan lindung. Selain itu berdasarkan tidak adanya sama sekali kegiatan penebangan liar (illeagl logging) di wilayah adat Masyarakat Mului dan cara mereka dalam menghadapi aksi tersebut mengindikasikan bahwa hukum adat terbukti dapat menjadi salah satu instrument untuk mencegah illegal logging. Illegal logging. Propinsi Kalimantan Timur. Catur Budi KONDISI HUTAN RAKYAT DI SEKITAR KHDTK SAMBOJA DAN SEBULU TAHUN 2005 DALAM KONSTEKS SOSIAL FORESTRY / Catur Budi Wiati. Penelitian dilakukan di Desa Semoi Dua. KHDTK Samboja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun baru dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2004 sampai 2005. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .

akan tetapi telah memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian hutan. pada tahun anggaran 1998/1999. akan tetapi kegagalan reboisasi umumnya disebabkan oleh kebakaran yang sering terjadi pada kawasan yang didominasi oleh alangalang. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Selain itu. serta daerah prioritas untuk dilindungi. Nusa Tenggara Barat. pengendalian kebakaran Wibowo. Dalam hal dampak kegiatan rehabilitasi hutan. 2006 Luas padang alang-alang (Imperata cylindrica L. upaya rehabilitasi areal alang-alang telah dapat dikuasai. -. Pelaksanaan proyek ini dilakukan dengan sistem kontrak. karena itu perempuan kurang memperoleh kesempatan untuk menghadiri pertemuanpertemuan.2 . namun keputusan tersebut umumnya diambil setelah melalui proses diskusi antara suami dan istri. Riau. Secara teknis. Indartik. kegiatan pengendalian kebakaran harus melibatkan masyarakat agar lebih efektif. perguruan tinggi. Perempuan memiliki peran khusus dalam kegiatan rehabilitasi. Sulawesi Tengah. Imperata cylindrica L. sehingga perlu direhabilitasi agar menjadi kawasan hutan yang lebih produktif.1 . penyuluhan dan pelatihan. Kata kunci: Hutan kemasyarakatan. Pelaksanaan proyek pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan sistem kontrak telah memberikan pengalaman baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan meningkatkan fungsi hutan. Kelompok petani yang 69 . Ini menunjukkan perempuan juga mempunyai kekuatan dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan di dalam keluarga. Dalam pengambilan keputusan. Nusa Tenggara Timur. Areal yang didominasi oleh jenis ini dianggap sebagai lahan kritis yang tidak produktif.30 . Halaman 1 .Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 207-214 . No. yaitu pelaksana pekerjaan diserahkan kepada pihak swasta (konsultan dan kontraktor). Sulawesi Selatan. Chiharu Hiyama. Namun demikian perempuan memiliki kesempatan yang terbatas di masyarakat. Dalam rangka pengendalian kebakaran pada padang alang-alang.Info Hutan : Vol. 10 provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat. tentang penyelengaraan hutan kemasyarakatan sebagai bentuk tindak lanjut dari kebijaksanaan tersebut.III.59 . Curahan waktu kerja perempuan dalam kegiatan rehabilitasi adalah sekitar 40 %. Contohnya dalam kegiatan yang paling berat seperti pembersihan lahan ternyata dikerjakan oleh laki-laki dengan dibantu perempuan. diperlukan pengetahuan mengenai daerah-daerah yang beresiko tinggi untuk terbakar (daerah penyebab). sistem kontrak Widiarti.Wibowo. Raeuschel. Bengkulu. Terjadi hubungan erat yang saling terkait antara masalah kebakaran dan timbulnya alang-alang.5 juta ha. pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan pengelolaan hutan yang berorientasi pada kelestarian hutan dan peningkatan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan yang dituangkan dalam SK Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001. dan sampai saat ini masih dianggap sebagai jenis gulma yang mengganggu. Asmanah PEMBAGIAN PERAN JENDER DAN DAMPAK KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DI SUKABUMI (Gender Roles Distribution and Impact of Forest Rehabilitation in Sukabumi) / Asmanah Widiarti. kondisi iklim/musim kering yang terjadi. Raeuschel) di Indonesia mencapai 8. Kata kunci : Alang-alang. baik laki-laki maupun perempuan terlibat dalam hampir semua kegiatan. 2006 Dari hasil penelitian aspek jender dan tipologi masyarakat pada kegiatan rehabilitasi hutan menunjukkan bahwa. perlakuan untuk meminimkan bahan bakar dan kegiatan pemadaman. Ari PADANG ALANG-ALANG DI INDONESIA : KERAWANANNYA TERHADAP KEBAKARAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA (Imperata Grassland in Indonesia : Its Susceptibility to Fire and its Control Efforts) / Ari Wibowo. Persepsi laki-laki dan perempuan terhadap pembagian kerja pada kegiatan rehabilitasi dinilai sudah cukup fair. Halaman 49 . terdapat perbedaan yang lebih nyata di antara berbagai golongan masyarakat daripada antara laki-laki dan perempuan. Meskipun kegiatan ini mengalami banyak hambatan dalam pelaksanaannya.Info Hutan : Vol. No. Ari PEMBANGUNAN HUTAN KEMASYARAKATAN DENGAN SISTEM KONTRAK / Ari Wibowo. -. 2006 Dalam rangka mencegah makin memburuknya kondisi hutan dan masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan. laki-laki memang mempunyai peran lebih besar dibandingkan perempuan. Kegiatan pengendalian lebih ditekankan kepada upaya pencegahan kebakaran. -. Jambi. tidak terkecuali pekerjaan itu sifatnya berat atau ringan. Sulawesi Tenggara dan Maluku menerima bantuan dari Pemerintah Jepang melalui JBIC/OECF untuk melaksanakan pilot proyek pembangunan hutan kemasyarakatan.III.

yaitu perlindungan. Widiarti. Secara keseluruhan kegiatan pengelolaan ini sangatlah kompleks karena melibatkan banyak pihak dengan berbagai peran dan kepentingan yang berbeda. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. Kata kunci : Kegiatan rehabilitasi hutan. Keterbatasan utama kaum marjinal ikut berpartisipasi adalah keterbatasan sumber modal dan akses informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PHBM memiliki kontribusi kecil pada penghasilan keluarga pesertanya. pendidikan. Dengan pengelolaan bersama ini diharapkan kawasan dapat menjadi lebih efisien dan efektif dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.tidak memiliki lahan dan tidak ikut program PHBM adalah kaum marjinal yang tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan rehabilitasi hutan dan cenderung mendapat dampak negatifnya. pola 70 . wawancara. pariwisata. Pengelolaan bersama ini mengacu pada suatu bentuk kerjasama. -. Biaya tahun pertama merupakan faktor pembatas kelompok masyarakat sangat miskin untuk berpartisipasi. 2006 Berdasarkan Undang-Undang No. No. -. Kegiatan PHBM memerlukan biaya cukup besar. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) bermanfaat bagi kaum miskin. dan tanggungjawab atas suatu kawasan. Bagi kelompok rata-rata miskin biaya tersebut ditunjang oleh berbagai sumber penghasilan. serta pembangunan sarana dan prasarana yang dalam pelaksanaannya menemui beberapa hambatan dan kekuatan. jender. Chiharu Hiyama. ilmu pengetahuan. kaum marjinal. kaum miskin. Halaman 101-110 . dan rekreasi. Untuk menghindari dampak negatif pada kelompok marjinal. Kegiatan yang berlangsung pada bulan Juli-September 2004 ini dimaksudkan untuk mengkaji pengelolaan kawasan TNBB. Asmanah APAKAH KEGIATAN REHABILITASI HUTAN BERSAMA MASYARAKAT MEMBERIKAN MANFAAT KEPADA KAUM MISKIN? : STUDI KASUS DI BKPH PELABUHAN RATU KPH SUKABUMI (Do Forest Rehabilitation Activities Benefit to the Rural Poor? / Asmanah Widiarti. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan di bidang kehutanan tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga perempuan. Pengelolaan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sangat membutuhkan dukungan dan peran serta berbagai pihak guna mengoptimalkan kawasan sesuai dengan fungsinya. Halaman 31 . Lokasi penelitian di BKPH Pelabuhan Ratu KPH Sukabumi. di mana pihak yang berkepentingan setuju untuk saling berbagi peran dalam manajemen.1 . informasi.48 . Untuk itu pengembangan TNBB ke depannya diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat serta efisiensi pengelolaan menjamin keberlanjutan sumberdaya alam melalui pengelolaan bersama. Eritrina KAJIAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Eritrina Windyarini. Peserta menganggap PHBM bermanfaat dari segi sosial dan lingkungan. Ganti rugi hak lahan garapan dilakukan oleh sekitar 20 % anggota kelompok tani hutan yang umumnya sangat miskin kepada penduduk desa yang lebih mampu. Distribusi informasi PHBM kurang merata menyebabkan kesempatan masyarakat menjadi peserta tidak sama sehingga terjadi ketidakadilan distribusi lahan garapan. pengawetan. dan memanfaatan secara lestari. ganti rugi lahan garapan Windyarini. Proporsi bagi hasil kayu seharusnya mempertimbangkan beban peserta dalam upaya rehabilitasi. Handoyo. 51/1990 Taman nasional diartikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Hal ini mengharuskan TNBB memperhatikan faktor lain di luar batas kawasannya. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. dampak rehabilitasi tanam perlu dikombinasikan dengan tanaman bernilai komersial dan berproduksi secara rutin.III. yaitu pengamanan potensi kawasan. TNBB memiliki enam kegiatan pokok pengelolaan.Info Hutan : Vol. Agar PHBM bisa berkontribusi pada ekonomi rumah tangga peserta secara berkelanjutan.Metode yang digunakan adalah studi pustaka. manfaat. Informasi PHBM harus didistribusikan secara merata kepada seluruh anggota masyarakat terlebih dahulu sebelum dimulainya program. Hal ini menyebabkan lahan terlantar. penunjang budidaya. diperlukan mekanisme yang memungkinkan kelompok ini dapat berpartisipasi dalam kegiatan rehabilitasi. koordinasi dan integrasi.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. dan observasi. hak. bahkan ada yang belum ditanami dengan pohon kayu-kayuan dan terjadi kesenjangan ekonomi di antara peserta PHBM.

3 persen. pengukuran intensitas serangan. Toona spp. blangiran (Shorea balangeran Burck). dan tanaman surian di Sikabu-kabu (Payakumbuh). dan Hopea dryobalanoides Miq.). 2006 Laporan Dinas Kehutanan Kabupaten Belu tanggal 17 Februari 2005 menyebutkan terjadinya kerusakan pada Kawasan Hutan Lakaan Mandeu (RTK 187) yang merupakan tegakan alam Eucalyptus urophylla (ampupu) dan Eucalyptus alba. Namun yang paling dominan adalah penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Curvularia sp dan serangan-serangan pemakan daun dari Famili Coccinelidae. Informasi mengenai jenis hama dan penyakit di atas diharapkan mampu menjadi dasar bagi tindak lanjut upaya pengendalian yang lebih spesifik. Hal ini dapat dicapai melalui konservasi in-situ maupun melalui penanaman (ex-situ). Bali Barat. Hasil pengamatan dan identifikasi menunjukan kerusakan yang penyebab bersifat kompleks. Kata kunci: Konservasi in-situ. secara keseluruhan individu dalam plot mengalami peningkatan kesehatan. Tindakan uji pengendalian awal injeksi pestisida (fungisida bahan aktif mankozeb dan insektisida bahan aktif monokrotofos) dengan dosis 5-10 ml/pohon belum memberikan pengaruh yang berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol. Ampupu.Kata kunci: Pengelolaan.Info Hutan : Vol. Halaman 181-185. 2006 Jenis pohon tahan api dan dapat tumbuh di padang alang-alang antara lain adalah tembesu (Fagraea fragrans Roxb. Pengendalian. tanaman meranti di Purbatongah (Purba/Simalungun). Jenis-jenis dipterocarpa yang berhasil ditanam sejak dulu dalam skala kecil adalah Shorea javanica K. -. Intensitas serangan pada plot pengamatan mencapai 83. Jenis-jenis pohon hutan yang dapat ditanam dan direkomendasikan untuk penghutanan kembali atau untuk penanaman antara lain adalah Fagraea fragrans Roxb (tembesu). Eucalyptus urophylla.) kemenyan (Styrax benzoin Dryand). Rehabilitasi lahan alang-alang dataran tinggi seperti di daerah Tapanuli (Tanah Karo) disarankan menggunakan jenis Styrax benzoin Dryand. Eritrina IDENTIFIKASI DAN PENGENDALIAN AWAL HAMA PENYAKIT PADA AMPUPU (Eucalyptus urophylla) di NTT. 2006 . konservasi ex-situ. Penanaman jenis pohon hutan di Sumatera yang telah sejak lama dilaksanakan dan berhasil dengan baik antara lain adalan rasamala (Altingia excelsa Noronha) dan antuang (Manglietia glauca Blume) di Merek dan Tongkoh (Kabanjahe). -.III. jenis pohon hutan. Halaman 177-182 . yang ditanam untuk keperluan resin damarnya dan Shorea platyclados V. Penelitian meliputi identifikasi jenis dan penyebab kerusakan. Halaman 61 - Konservasi sumber plasma nutfah sangat diperlukan untuk mengatasi cepatnya perubahan ekosistem yang disebabkan oleh pengrusakan hutan.. (surian). 2006 Sumatera and Their Relation to the Conservation of Plant Genetic Resources) / Bugris Yafid. Bugris BEBERAPA JENIS POHON TAHAN API DAN PENANGKAL ALANG-ALANG (Some resistant Tree Species Suppressing the “Alang-alang”) / Bugris Yafid.Sl (banio) jenis dipterokarpa yang berhasil ditanam di daerah tinggi di Simalungun.Info Hutan : Vol.2 . No. No. Tanaman Ampupu yang sudah mati seluas lebih kurang 16 ha dan lebih kurang 15 ha sisanya sedang diserang/menunjukan gejala kematian. -. et V. Penanaman dalam skala luas hendaknya dilaksanakan sehubungan dengan bahaya eksploitasi berlebihan jenis-jenis di dalam habitat aslinya. NTT Yafid. Cratoxylon (geronggang) dan Toona spp. Kajian pengelolaan Windyarini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kerusakan yang terjadi pada tegakan alam Ampupu di Kabupaten Belu serta usaha pengendalian awalnya. sub famili Epilachninae. dan di 71 .3 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Meski demikian. dan geronggang (Cratoxylum spp. Styrax benzoin Dryand (kemenyan). hutan tanaman Yafid. Kata kunci: Hama penyakit. Sumatera Utara. serta uji pengendalian awal pada Ampupu. Bugris PENANAMAN JENIS POHON HUTAN DI SUMATERA DAN KAITANNYA DENGAN PELESTARIAN PLASMA NUTFAH (Forest Tree Plantations in 66 . serta menjadi bahan masukan bagi pengelolaan ke depannya.III.

pemanfaatan. Biodisel is Exploited By Hatam Tribe at Diklat (Traning and Education) Tuwanwouwi Forest.2 . mahoni (Swietenia macrophylla King). sebagai cover crop. tanaman Yeny.Info Hutan Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis-jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam.. Styrax benzoin Dryand baik ditumbuhkan di tempat tinggi dengan tanah berpasir. Fagraea fragrans Roxb. (tembesu) merupakan tanaman asli Sumatera Selatan. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .97 %) yang masih diperoleh 72 . Rich. konstruksi (25 jenis) dan obat-obatan (4 jenis). 2006 dari kawasan hutan. Secara tradisional benzoin ditanam bersamasama dengan padi.Pusat Penelitian dan Pengembangan hasil Hutan. Irma JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKAYU BERMANFAAT BAGI SUKU HATAM DI HUTAN DIKLAT TUWANWOUWI.000 ha) dilakukan dengan mewawancara tokoh adat dan melakukan survey keberadaan jenis dengan melakukan peninjauan lapangan. bagian yang digunakan serta cara penggunaannya.Tanaman jarak pagar memungkinkan dikembangkan di Kalimantan Timur. Kata kunci : Identifikasi. 2006 Jarak pagar (Jatropha curcas L.) tumbuh jauh lebih baik apabila cabang-cabang sampingnya dibebaskan. juga ditanam dalam rangka penghutanan kembali karena kayunya termasuk jenis bernilai ekonomi tinggi.81. Jatropha curcas L. dan Schima wallichii Korth. Manokwari) / Irma Yeny . Jenis ini termasuk pionir tahan api dan tumbuh di tempat terbuka.116 . (tembesu) dahulu ditanam di sepanjang jalan di daerah Sumatera Selatan.). khususnya pada daerah-daerah dengan curah hujan < 2000. Halaman 191-195 . Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan minyak nabati yang berasal dari biji jarak pagar. Bahan bakar. No. Minyak yang dihasilkan dari biji tanaman tersebut telah pula digunakan masyarakat sebagai minyak lampu. Pengumpulan data jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan masyarakat Suku Hatam dan berada pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi (6.) adalah tanaman perdu yang telah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman pagar dan tanaman obat. pada tahap awal perlu dilakukan penanaman uji coba pada lahan yang sesuai dengan tanaman tersebut. antara lain adalah puspa (Schima wallichii Korth. Tembesu (Fagraea fagrans Roxb. seringkali ditanam sepanjang pinggir jalan dan sebagai pohon peneduh. kemudian minyak kurkas untuk mesin diesel berputaran rendah dan Biodisel. perkakas (9 jenis). namun untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan kerusakan lingkungan. Hal ini disebabkan kebutuhan tersebut dapat diperoleh dari kebun maupun pasar terdekat. alat berburu (5 jenis). Jumlah jenis tertinggi terlihat pada bentuk pemanfaatan bahan bangunan (25 jenis atau 60. Fagraea fragrans Roxb. [et al] . Keadaan ini menyadarkan pemerintah dan berbagai pihak untuk mencari bahan bakar alternatif yang lebih murah dan terbarukan. Bogor telah berhasil mengolah biji jarak menjadi minyak jarak mentah (Crude Jatropha Oil) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor. dan sengon/jeunjing (Paraserianthes falcataria Bakh). Jenis-jenis lain yang dapat tumbuh dan menekan alang-alang. Kata kunci: Jarak pagar. Hasil yang baik adalah berupa tanaman campuran antara Fagraea fagrans Roxb. -. macam penggunaannya. sarana seni budaya (8 jenis).Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Dari hasil wawancara dan survey keberadaan jenis diketahui pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi didata 41 jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam sebagai bahan pangan (6 jenis). Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi sumber energi utama dunia saat ini cadangannya terus berkurang dan diperkirakan tidak lama lagi akan habis. Tuwanwouwi Yuliansyah MENGENAL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) PENGHASIL BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG TERBARUKAN. Selain untuk kebutuhan bangunan pemanfaatan jenis tumbuhan berkayu pada hutan diklat Tuwanwouwi sudah relatif berkurang.dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl dapat digunakan tembesu (Fagraea fragrans Roxb. minyak bakar kompor dan bahan pewarna pada bahan katun dan benang.). MANOKWARI (Wood Plants Which : Vol.C. kayunya termasuk kelas awet I dan kelas kuat II-I dengan Berat Jenis 0.. (puspa) dengan Cassia multijuga L. alang-alang. Di lain pihak harga BBM naik berlipat ganda. Kata kunci: Pohon tahan api. -. tumbuhan berkayu. Halaman 95 .III.

Keawetan kayu Indonesia dibagi menjadi 5 kelas yatu kelas awet I. Tiga jenis kayu ukuran kaso (4x6 cm) sepanjang 30 cm sebanyak 180 contoh uji diawetkan secara rendaman panas dingin dan sel penuh. Abdurrohim. Ginuk Sumarni dan Jasni. serta tekanan 10 atm selama 1. Halaman 15-23 . Tulisan ini mengetengahkan teknik pembuatan preparat sayat untuk cuplikan kayu yang keras. umur pohon. yang hanya 14.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 29-41 . Teknik ini dapat menghasilkan sayatan bidang lintang dengan baik pada cuplikan kayu dengan berat jenis 0.000 ha hutan alam yang dapat menekan illegal logging sebesar 20. Lapangan kerja yang tersedia sekitar 24. Sasa BAGAN PENGAWETAN TIGA JENIS KAYU DENGAN BAHAN PENGAWET CCB SECARA RENDAMAN PANAS DINGIN DI SEL PENUH / Sasa Abdurrohim.93 atau bahkan mungkin lebih.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 55-62 . dan binatang laut penggerek kayu. berupa serangga.II.2 dan 3 jam diikuti rendaman dingin 1 hari.2 dan 3 jam. Uang yang dapat dihemat pada 15 tahun pertama sebesar Rp.7% kayu tidak awet ditambah kayu gubal kelas awet I dan II sebelum digunakan harus diawetkan terlebih dahulu.1 . 2006 Bagan pengawetan setiap jenis bagi kelengkapan spesifikasi pengawetan kayu perumahan dan gedung masih belum lengkap. Kayu kelas awet I dan II. Kesulitan sering dijumpai apabila cuplikan kayu yang akan disayat sangat lunak atau sebaliknya sangat keras.al. hasil sayatan mikrotom biasanya sobek atau bahkan hancur. -. Uap panas ini dihasilkan dari belanga presto yang dimodifikasi.900 orang. 3. bagian kayu dalam pohon. Penelitian bagan pengawetan secara rendaman panas dingin dan sel penuh perlu dilakukan.] . Setiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda terhadap OPK dan bergantung pada kandungan zat ekstraktif... jamur. -. termasuk kayu.Abdurrohim.III.35 juta m3/tahun atau setara 147. Bagan pengawetan ketiga jenis kayu telah disusun. Berdasarkan umur pakai kayu perumahan dan gedung 5 tahun dan 15 tahun masing-masing pada kayu tidak awet yang tidak diawetkan dan diawetkan terlebih dahulu dapat dihitung kayu dan uang yang dapat dihemat serta kesempatan kerja yang dapat tersedia. 2006 Pemahaman mikroteknik botani merupakan suatu dasar untuk penyediaan preparat guna pengamatan struktur mikro organ tumbuhan.Info Hasil Hutan : Vol. Sasa SIFAT KEAWETAN KAYU DAN PENYEMPURNAANNYA / Sasa Abdurrohim.12 No.3% tidak perlu disempurnakan melalui pengawetan. Kata kunci: Mikroteknik botani. Kata kunci: Keawetan. disalurkan melalui pipa ke permukaan cuplikan.9 trilyun/tahun. Kayu yang dapat dihemat sebesar 7. Sel penuh Andianto RANCANG BANGUN ALAT UNTUK PREPARASI CUPLIKAN KAYU KERAS DALAM STUDI ANATOMI / Andianto . Vakum awal dan akhir 65-70 cm Hg masing-masing 30 dan 15 menit. 2006 Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap organisme perusak kayu (OPK). Tanpa perlakuan khusus. CCB. -. penyempurnaan melalui pengawetan. Konsentrasi bahan pengawet tembaga-khrom-boron (CCB) pada kedua proses 5 dan 10 persen . Kata kunci: Pengawetan. kecepatan tumbuh dan di mana kayu tersebut digunakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dua jenis kayu dan ketiga jenis dapat diawetkan masing-masing secara rendaman panas dingin dan sel penuh dengan bagan yang digunakan dalam penelitian ini. penghematan. Bahan cuplikan dilunakkan dalam panci bertekanan selama beberapa jam dengan media campuran gliserin dan air 1:1. Rendaman panas dengan suhu 65 derajat C selama 1.5%.IV dan V. sedangkan 85.[et. Rendaman panas dingin. Setelah itu bahan dijepit dengan pemegang cuplikan pada mikrotom kemudian dilakukan pelunakkan kembali dengan uap panas selama kurang lebih 15 menit sebelum disayat. Anatomi kayu 73 .

Kata kunci: Kembang-susut. 4 dan 5 tahun yang diambil dari bagian pangkal.Basri. sifat keawetan alami. Untuk mengeringkan sortimen kayu dengan kadar air 50% sampai mencapai kadar air 10% memerlukan waktu rata-rata 13 hari dan menghasilkan rendemen kayu kering sekitar 80%. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan finansial dari pemanfaatan mesin pengering tersebut.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu tali umur 4 tahun 40°C . Pengeringan menggunakan metode oven pada suhu 60o C. tingkat kekeringan. -. Kata kunci: Jamur biru. Organisme perusak. tenaga surya.50°C. Perlakuan proteksi serangan jamur biru dapat meningkatkan mutu kayu dan nilai tambah yang cukup nyata serta dapat mengeliminir limbah pengolahan kayu. jati. Jawa Tengah. 2006 Perubahan sumber asal bahan baku kayu perlu diikuti informasi sifat dasar kayu. Uji coba dilakukan terhadap kayu jati (Tectona grandis L. Hasil uji coba menunjukan suhu ratarata harian dari panas surya yang diterima ruang pengering berkisar antara 74 . dan tekstur dapat terjaga. No.3 . -. Perlakuan kadar air untuk pengujian sifat kembang susut dan KAK adalah 0%.24.448. Pencegahan kerusakan akibat pewarnaan kayu dapat dilakukan dengan pestisida yang telah diizinkan. Saptadi PEMBUATAN MINYAK KEMIRI DAN PEMURNIANNYA DENGAN ARANG AKTIF DAN BENTONIT (Extraction and Purification of Candlenut Oil with Activated Charcoal and Clay-bentonite) / Saptadi Darmawan. gambar. 2006 Proses kembang susut berlangsung selama kadar air bambu belum mencapai kadar air keseimbangan (KAK) dengan lingkungannya. sementara suhu untuk pengeringan kayu jati berkisar antara 45°C . Grobogan.70°C.423. 2006 Telah dilakukan uji coba teknis dan finansial terhadap mesin pengeringan kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku tipe SC+TI untuk kapasitas ± 19 m3 di salah satu industri/pengrajin kayu di Ngaringan. yang didasari pengetahuan bioteknologi jamur biru. tengah dan ujung batang.24.5 . Perlakuan pemanasan pada biji kemiri dan daging kemiri sebelum proses pemecahan dan pengepresan serta penggunaan arang secara fisik sudah masak tebang dan dimensinya relatif stabil. 2006 Pembuatan minyak kemiri dapat dilakukan dengan cara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat. KAK. Efrida SIFAT KEMBANG SUSUT DAN KADAR AIR KESEIMBANGAN BAMBU TALI (Gigantochloa apus Kurtz) PADA BERBAGAI UMUR DAN TINGKAT KEKERINGAN (Shringkage-Swelling Properties and Equilibrium Moisture content of Bambu tali (Gigantochloa apus Kurtz) at Various age and Drying Level) / Efrida Basri. sehingga jenis-jenis kayu untuk mebeler dari kayu yang berwarna cerah. MARTONO. Konsumsi limbah kayu untuk bahan bakar tungku pada setiap periode pengeringan 8 m3. 6% dan 12%. tungku tipe I.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. jamur biru sebagai organisme perusak dan cara pencegahannya. Halaman 413 . Efrida UJI COBA MESIN PENGERING KAYU KOMBINASI TENAGA SURYA DAN PANAS DARI TUNGKU TIPE I (Trial on Wood-drying Machine Powered by the Combined Solar Energy and Type-1 Heating-Stove) / Efrida Basri & Achmad Supriadi.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Saefudin. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. umur. Kebutuhan panas pengeringan di siang hari diperoleh dari tenaga surya dan di malam hari atau tergantung kebutuhan diperoleh dari tungku pembakaran dengan bahan bakar biomas/limbah kayu dari penggergajian sendiri.f. Kata kunci: Mesin pengering. -.5 . Halaman 437 . Halaman 241-250 . limbah kayu. Pengeringan bambu tali sampai ke kadar air 6% menghasilkan KAK pada level sekitar 9%. Oleh karena itu pengetahuan tentang sifat kembang susut dan KAK penting diketahui untuk menjaga mutu produk. Keawetan kayu Darmawan. Martono POLA SERANGAN DAN CARA PENCEGAHAN JAMUR BIRU / D. No.24 No. Pencegahan kerusakan dalam proteksi disesuaikan perubahan sistem pengangkutan dan pengolahan kayu.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005 : Halaman 43-54 . kelayakan teknis dan finansial D. Penelitian dilakukan pada bambu tali {Gigantochloa apus Kurts) umut 3. bambu Basri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Rata-rata produktivitasnya berturut-turut adalah 18. Produktivitas pengeluaran kayu berkisar antara 1. biaya pengeluaran kayu dan berbagai aspek operasional sistem kabel layang tersebut. disarankan untuk menggunakan sistem kabel layang P3HH24. Tujuanya untuk mendapatkan informasi tentang produktivitas. Djaban Tinambunan.852/m3 dan Rp 79. penyangraian (7. biaya Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PERALATAN PEMANENAN HUTAN TANAMAN: STUDI KASUS DI PT MUSI HUTAN PERSADA. 2. 12. berat jenis. Penyaradan dilakukan dengan menggunakan forwarder merek Timberjack G10 dan Timberjack 101 0B. Djaban Tinambunan.5. No. Dibandingkan dengan upah pengeluaran kayu setempat.163m3/rit.764/ m3. Pengoperasian kabel layang P3HH24 untuk mengeluarkan kayu di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat dapat berjalan lancar.713/m3 . -. Penelitian ini bertujuan untuk 1). rata-rata biaya muat adalah Rp 6. Halaman 77 .14 m3/jam dan biaya sebesar Rp 15. -. Halaman 251-266 .24 No. 3% dan 4% serta diuji sifat fisiko-kimianya.200/m3 dan Rp 12. sedangkan biaya rata-rata pengeluaran kayu adalah Rp 15.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. mengetahui pengaruh pemanasan daging kemiri terhadap rendemen dan warna minyak yang dihasilkannya dan 2). 3. produktivitas. 1. sedangkan untuk Volvo kedua besaran tersebut berturut-turut adalah Rp 6.25 m3/jam dengan rata-rata biaya berturutturut sebesar Rp39. Untuk Hitachi.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.519 m3 /jam. Minyak kemiri yang dihasilkan dari kondisi terbaik (penyangraian selama 1. jumlah batang yang disarad per satu tahap operasi 75 .500 m3/rit dengan rata-rata 0.5 jam) kemudian dimurnikan menggunakan arang aktif dan bentonit pada konsentrasi 2%.334/m3.aktif dan bentonit pada tahap pemurnian minyak kemiri akan mempengaruhi kualitas minyak. 2006 Penelitian peralatan pemanenan di hutan tanaman PT Musi Hutan Persada. 3. Kata kunci: Hutan tanaman.88 . bongkar adalah Rp 12. Pembuatan minyak dilakukan dengan cara kempa hidraulik pada suhu 60oC. Penggunaan arang aktif sebesar 2% menghasilkan sifat fisiko-kimia minyak kemiri yang optimum dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia untuk indeks bias.3 . 4. Alat penebangan yang digunakan adalah chainsaw (gergaji rantai) berukuran kecil merek Husqvarna dengan rata-rata produktivitas sebesar 2. sedangkan -. Hasilnya menunjukkan bahwa: 1.25 m3/jam dan 21.040-0.254/m3. 4 dan 5 jam). SUMATERA SELATAN (Productivity and Cost of Harvesting Equipment in Forest Plantation: Case Study on PT Musi Hutan Persada.656 m3 /jam dengan rata-rata 2.527 . 5.155/m3 . Untuk pengeluaran kayu pada areal yang mempunyai kelerengan 15% ke atas. arang aktif. Sumatera Selatan telah dilakukan untuk mendapatkan informasi produktivitas dan biaya peralatan pemanenan hutan tanaman yang tepat guna dan ramah lingkungan..51 cm dengan rata-rata 36 cm. South Sumatera) / Dulsalam.5 menit) dan pengovenan pada suhu 60oC (1.671/m3 . (rit) berkisar antara 1-3 batang dengan volume berkisar antara 0.5. pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 jauh lebih murah sehingga layak diusahakan. bentonit dan kualitas fisiko-kimia minyak kemiri. 2006 Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PENGELUARAN KAYU DARI HUTAN TANAMAN DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH 24 DI KPH PEKALONGAN BARAT (Productivity and Cost of Log Extraction Using Penelitian produktivitas dan biaya pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 telah dilakukan di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat pada tahun 2002. Diameter kayu yang dikeluarkan berkisar antara 20 . Kata kunci : Minyak kemiri.24. mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan pemucat (arang aktif dan bentonit) terhadap sifat fisiko-kimia minyak kemiri. sistem kabel layang P3HH24. bilangan iod dan bilangan asam.5 dan 2 jam) dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi terbaik dalam pembuatan minyak kemiri dilihat dari rendemen dan warna minyaknya. P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of West Pekalongan Forest District) / Dulsalam. 2. pemurnian. Pemanasan pada biji kemiri berupa penjemuran (3.1 .5 dan 17. Pemuatan dan bongkar kayu digunakan alat merek Hitachi dan Volvo dengan rata-rata produk-tivitas masing-rnasing sebesar 70 m3/jam untuk muat dan 34 m3/jam untuk bongkar muatan.

24 No. Pada tahun 2005 dilakukan kegiatan perbaikan pada alat Expo-2000 itu sendiri dan dibuat aksesoris pendukung lainnya dengan tujuan lebih mudah dalam pergerakannya dilapangan dan lebih tinggi hasil kinerjanya.4 . pembukaan wilayah atau pembuatan jalam. sedangkan truk semi gandengan. Perhitungan ini diperoleh dengan menggunakan dasar biaya upah setempat sebesar Rp 35 ribu/m .697/m3. ukuran kayu. 2006 Untuk mencapai pemanfaatan hutan produksi alam lestari. alat bantu. penyiapan tempat pengumpulan kayu bundar (logyard).Agar kelangsungan hutan produksi itu dapat terus berjalan dengan baik maka ada 5 aspek teknis penting yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan hutan produksi alam tersebut yaitu kegiatan perencanaan. pembalakan ramah lingkungan sangat penting untuk dipakai sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pengusahaan hutan tersebut. nilai NPV didapat sebesar antara Rp 881 juta dengan IRR sebesar 22 . tiang penyangga dan kereta pengangkut kayu kabel layang model KM Exp-I.52%. ketiga hal itu menjadi unsur penting bagi kesinambungan pengelolaan hutan alam tersebut. Konsekuensinya berdampak pada meningkatnya lapisan tanah hutan yang terganggu dan terjadinya pengurangan tanaman tingkat pancang (diameter pohon 5-20 cm) sebesar 2.175/jam atau Rp 620/m . Zakaria Basari. hasil kajian biaya operasi pengeluaran kayu adalah Rp60. Pembuatan aksesoris itu meliputi wahana angkutan lokal. 6.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. serta akan memperbesar terjadinya erosi dan sedimentasi. jembatan. tergantung jarak.5 kali lipatnya. 2006 Expo-2000 merupakan sebuah prototype alat yang dirancang dan dibangun untuk membantu dalam kegiatan pengeluaran kayu. -. Hasil uji coba memperlihatkan kini produktivitasnya lebih meningkat setelah dipakai kereta model KM Exp-I yang dilengkapi dengan pengunci. diantaranya yang memang diperlukan keberadaannya antara lain untuk pembuatan prasarana jalan. Wesman PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN ALAM/ Wesman Endom.4. Wesman KAJIAN OPERASI PENGELUARAN KAYU SISTEM KABEL LAYANG EXPO2000 DENGAN PENGGUNAAN ALAT PENDUKUNG (Study of Applying Expo-2000 Skyline with Auxiliaries for Extracting Logs) / Wesman Endom. -. penyaradan. dan Yuniawati. Kata kunci: Pemanenan. Dengan investasi sebesar Rp 100 juta (berikut kabel dan perlengkapan lainnya). Halaman 339357 . hutan tanaman. kinerjanya menunjukkan produktivitas cukup baik sekitar 15 m . Kombinasi peralatan perlu perbaikan dan produksi kayu yang minimal pada periode tertentu perlu ditentukan agar arus kayu lancar serta pekerja dan peralatan tidak banyak waktu tunggu. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan bulan Oktober tahun 2005. kabel layang. Sekalipun kerusakan hutan memang tidak dapat dihindarkan. peralatan tepat guna. berarti mengelola keberadaan sumberdaya alam hutan alam produksi sebagai pemasoknya secara lestari sangat penting. Mengingat pentingnya penyelamatan industri pengolahan kayu yang telah menginvestasikan modalnya hingga ratusan milyar rupiah. Tetapi pelaksanaan pemanenan itu sendiri cenderung boros terhadap kekayaan sumberdaya alam. Penebangan pohon dan pengangkutan kayu tidak menimbulkan gangguan lingkungan yang berarti. faktanya antara lain diperlihatkan oleh kerapatan panjang jalan sarad hampir 3 kali lipat lebih besar dibanding cara pemanenan ramah lingkungan. penebangan. pemanenan. Kata kunci: Pemanenan. produktivitas Endom. Penyaradan kayu dengan forwarder Timberjack G10 dan Timberjack 101 OB menimbulkan pemadatan dan pergeseran tanah relatif kecil sedangkan pemuatan dengan alat pemuat Hitachi dan Volvo menimbulkan pergeseran tanah cukup besar.km/jam. tempat workshop dan gudang. biaya Endom. produktivitas. rata-rata produktivitasnya sebesar 15 m3/jam dengan ratarata biaya sebesar Rp 37. Misal pada praktek pemanenan yang tidak terencana dan terawasi dengan baik.base camp.676/m3. wawasan lingkungan. 5. hutan tanaman 76 . Pengangkutan kayu dengan truk tunggal rata-rata produktivitasnya sebesar 5 m3/jam dengan rata-rata biaya sebesar Rp 44. kondisi permukaan lapangan dan kerapatan tegakan. Dari analisis biaya dengan suku bunga bank 18% per tahun dan dengan proyeksi biaya 6 tahun. Kata kunci: Kereta kayu Expo-2000. Padahal.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 85-96 .

jati lokal dari Binjai. Kata kunci: Kayu jati. mudah dioperasikan.305 dan Rp 1. Kata kunci: Strategi. jati super dari Bengkulu. Panajam. jati super dari Palembang. Jenis jati lokal dan super berpengaruh nyata terhadap berat jenis basah kayu tersebut.175 per jam. jumlah dan luas TPn serta diagram lebar dan jarak jalan sarad. jati lokal dari Kutai. perencanaan. sedangkan BJ tertinggi pada kayu jati super adalah dari Binjai dan terendah dari Maros. Kata kunci : Pengumpulan. Ada beberapa acuan yang mungkin dapat diterapkan yaitu klasifikasi kerusakan tanah. Kayu yang terkuat adalah jati lokal dari Palembang. Kayu jati yang diteliti tergolong kelas kuat III-IV. 2006 Dalam upaya mengatasi kesulitan mengumpulkan kayu-kayu hasil tebangan di daerah curam dengan cara manual. super.000 per m3 . diikuti berturut-turut kayu jati super dari Lampung. Produktivitas yang dicapai dengan dilakukannya penyempurnaan berupa penambahan endless drum diperoleh hasil sebesar 5 m3.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. sedangkan lokasi penanaman jati tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat jenis. Bahan utama disadur dari Handbook for Guiding Skidding and Road Building in British Columbia yang diterbitkan oleh Forest Research Institute Canada (FERIC) tahun 1991 yang sedikit diperluas. Parung. Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi. efektif. klasifikasi tingkat dampak. jati super dari Binjai.mekanis 77 . Maros.4 . jati lokal dari Lampung. jati super dari Kutai. Jawa Barat. efisien.hm/jam dan untuk muat/bongkar 50m3/jam. Wesman STRATEGI MENGURANGI KERUSAKAN TANAH DALAM PEMBALAKAN / Wesman Endom. lokal. Nurwati SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU JATI SUPER DAN JATI LOKAL DARI BEBERAPA DAERAH PENANAMAN (Physical and Mechanical Properties Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. pembalakan.) jenis lokal dan super dari daerah Binjai.461. diperlukan terobosan berupa penyediaan alat ekstraksi kayu yang tidak mahal. -. 2006 Tulisan ini menyajikan upaya mengurangi kerusakan tanah sebagai dampak dilakukannya kegiatan pembalakan. kayu. -.al] . Perbedaan BJ tersebut berpengaruh nyata pada kekakuan dan keteguhan tekan sejajar serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat jenis (BJ) kayu jati super lebih tinggi daripada kayu jati lokal.f. Halaman 359-369 .000 dan Rp 15. No. jati super dari Parung. Biaya ini jelas lebih efektif dan efisien dibanding cara konvensional yang besarnya mencapai masing-masing secara berurutan Rp 35. Kegiatan pembalakan agar secepatnya diikuti dengan penanaman kembali di semua lokasi bekas tebangan agar tercapai pengelolaan hutan lestari. sedangkan lokasi tanaman berpengaruh nyata terhadap kekakuan dan kekuatan patahnya. kerusakan tanah minimal Hajib. Sesuai dengan harapan itu dilakukan kegiatan penelitian uji coba pengumpulan kayu dan muat bongkar dengan menggunakan hasil rekayasa alat Expo-2000 di daerah hutan Resort Polisi Hutan (RPH) Ciguha.12 No. sehingga biaya pengumpulan dan pemuatan kayu secara berurutan masing-masing adalah Rp 12. produktif dengan biaya operasi dan perawatan rendah.Endom Wesman KAJIAN PENGELUARAN DAN PEMUATAN KAYU DENGAN ALAT EXPO2000 YANG DISEMPURNAKAN (Study on Logs Extraction and Loading Using Improved Expo-2000) / Wesman Endom [et. Lampung. Diharapkan pengetahuan ini dapat memperbaiki pengelolaan hutan yang berwawasan lingkungan. Bengkulu dan Palembang bertujuan untuk melihat perbedaan karakteristik sifat fisis dan mekanis kayunya. Dengan biaya investasi sebesar Rp 100 juta.24.5 . Halaman 133-142 .24 No. Ginuk Sumarni.135 per m3.Info Hasil Hutan : Vol. -Penelitian sifat fisis dan mekanis kayu jati (Tectona grandis L. maka dengan biaya pemilikan dan pengoperasian alat berdasarkan perhitungan adalah sebesar Rp 60. alat Expo-2000 Endom. Halaman 449 . 2006 of Super and Local Teak Woods Originated from Several Plantation Areas) / Nurwati Hadjib. Kutai. strategi perencanaan pembalakan. fisis. jati lokal dari Sulawesi dan yang terendah jati super dari Sulawesi.2 . Mohammad Muslich.

kadar zat mudah menguap 11. kadar abu 5. benzena. tusam.Sulastiningsih.42 g/cm3. Tebal bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan lebar papan blok tetapi tidak berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan panjang papan blok.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 63. arang aktif. Keteguhan rekat papan blok yang diuji berdasarkan uji geser tarik dan uji delaminasi memenuhi persyaratan Standar Indonesia (SNI). -.30%.045. Halaman 145 . Halaman 117 . venir silang. I.43 tng/g.24.2 .3%. papan blok (Paraserianfhes falcataria) dan kayu tusan (Pinus merkusii) yang direkat dengan blok (5 lapis) sekala laboratorium dibuat dari kayu sengon 78 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari alternative pemanfaatan limbah dari pabrik minyak kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian menjadi arang aktif yang dapat memberikan nilai tambah.04%. Kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang aktif yang dibuat dari bahan baku serbuk kayu gergajian campuran pada suhu 850°C dengan konsentrasi H3P04 12. 2006 Papan perekat urea formaldehida. Penggunaan venir silang kayu tusam dalam pembuatan papan blok sengon meningkatkan keteguhan lentur sebesar 6.2 .5%.90%. 750 dan 850 C. -. SIFAT PAPAN BLOK SENGON DENGAN VENIR SILANG KAYU TUSAM (The Properties of Sengon Blockboard with Cross Core Layer from Tusam Wood) / M.24.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 80%.86%.5 dan 7.155 . Kata kunci: Sengon. daya serap benzena 28.I. Sebagai bahan pengaktif digunakan larutan H3P04 dengan konsentrasi masing-masing 7.Hendra.7.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.43% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1. Ukuran bilah inti terdiri dari dua macam ketebalan (1 dan 1. kadar karbon terikat 79.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.30%. kadar air 7.5.2% pada arah sejajar serat dan 18.0 dan 12. Tebal venir luar 2 mm sedangkan tebal venir silang 3 mm. keteguhan rekat dan delaminasi. kadar zat mudah menguap 11. 2006 Tulisan ini menyajikan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian campuran dengan cara aktivasi uap.132 . 2. serbuk kayu gergajian campuran. kerapatan. yodium. Lebar bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan lebar papan blok. daya serap terhadap benzena 26. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retort dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 650. M. Iskandar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran bilah inti terhadap sifat papan blok sengon dengan venir silang kayu tusam.6% pada arah tegak lurus serat. Sifat papan blok diuji menurut Standar Indonesia (SNI) meliputi kadar air.10. Kata kunci: Tempurung kelapa sawit. No. Keteguhan lentur sejajar serat papan blok sengon yang dibuat dengan menggunakan venir silang kayu tusam semuanya memenuhi persyaratan Standar Jerman (DIN).74%.107.M. kadar karbon terikat 83.44%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rata-rata papan blok adalah 12% sedangkan kerapatan rata-rata papan blok adalah 0.27 mg/g. kadar abu 8. No. Angka daya serap benzena dan yodium ini memenuhi Standar Indonesia dan Jepang.5 cm) dan 3 macam lebar ( 0.50%.6 cm). kadar air 5. Sedangkan arang aktif yang dibuat dari bahan baku tempurung kelapa sawit pada suhu 6500C dengan konsentrasi H3P04 7.I.23% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1. Djeni PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DAN SERBUK KAYU GERGAJIAN CAMPURAN (The Manufacture of Activated Charcoal from Oil Palm Shells and Mixture of Wood Sawdust) / Djeni Hendra. Venir luar dan bilah inti papan blok terbuat dari kayu sengon sedangkan venir silang terbuat dari kayu tusam. Pengujian keteguhan lentur papan blok dilakukan menurut Standar Jerman (DIN) sedangkan pengujian pengembangan dimensi papan blok lilakukan menurut Standar Amerika (ASTM). Iskandar.

4 .S.3 . jari-jari 2 ukuran.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Dalam penelitian ini resin dibuat dari 3 jenis lignin yang dihidroksimerilasi kemudian dikondensasi dengan larutan NaOH 50% dan formaldehida 37%. Iskandar dan Suwandi Kliwon. Untuk meningkatkan nilai tambah kayu mangium perlu peningkatan diversifikasi produknya antara lain untuk pembuatan venir indah sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah. 2. lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita.Br. Kayu ki kuya (Ficus vasculosa Wall. Adi Santoso. Kayu ki hantap {Sterculia oblongata R. 3.) formaldehida yang dibuat dari jenis lignin efektif dalam mencegah serangan rayap kayu kering pada kayu karet dan tusam tingkat kematian rayap kayu kering antara 62.100. -. Parenkim bentuk sayap. Nisbah mol lignin: formalin =1:2.) berwarna kuning kepurihan dan agak keras. Halaman 201 .)) / Jasni.Iskandar. karet. Reaksi dilangsungkan pada suhu 70 –80oC selama 1 jam. lingkaran tumbuhnya jelas oleh adanya parenkim pita tipis dan perbedaan ketebalan dinding selnya.24 Ha. Kayu ki lubang {Calophyllum grandiflorum JJ.) berwarna coklat kemerahan dan termasuk dalarn kelompok kayu perdagangan bintangur. Di industri pengolahan serpih kayu (chip) seperti PT Tanjung Enim Lestari bahan baku kayu mangium diolah menjadi serpih sebagai bahan baku pulp.888. agak lunak. Mangium.I. Pembuluh kayu ki lubang bersusun dalam kelompok radial atau diagonal dan parenkim pita memanj ang yang kadang terputus.I PEMANFAATAN KAYU MANGIUM UNTUK BAHAN KAYU LAPIS DAN KAYU LAPIS INDAH / M. jari-jari 2 macam ukuran. dengan lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. Kayu ki bulu (Gironniera subaequalis Planch.615 ha. Kata kunci: Pemanfaatan kayu. jari-jari 2 ukuran. ciri utama dari kelima jenis tersebut adalah: 1. Resin tersebut diaplikasikan pada kayu karet dan tusam. SUKABUMI (Anatomy and Fiber Quality of Five Lesser Known Wood Species from Lengkong.) berwarna kuning cerah.24. rayap kayu kering. Pemanfaatan kayu mangium masih terbatas sebagai bahan baku pulp. 2006 Salah satu hutan tanaman industri yang telah berkembang adalah HTI mangium (Acacia mangium Willd. corak bergaris. 2006 Sumber bahan baku alternarif untuk industri perkayuan nasional saat ini dan masa yang akan datang berasal dari hutan tanaman dan pemanfaatan jenis kayu kurang dikenal. Kata kunci: Lignin formaldehida. Mutu kayu lapis yang dihasilkan pada umumnya dapat memenuhi persyaratan standar nasional Indonesia dan Jepang.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 117-130 . Kelemahan kedua kayu tersebut mudah diserang organisme perusak kayu.0% dan mampu meningkatkan kelas ketahanan kayu karet maupun tusam dari kelas IV (tanpa perlakuan) menjadi kelas II. No. dan difus berkelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin berbasis lignin 79 . 2006 (Possible Application of Lignin-based Resin as a Chemical Agent to Prevent the attack of Dry Wood Termite (Cryptotermes cynocephalus Light. Serat kelima jenis kayu termasuk dalam kelas kualitas I sebagai bahan baku pulp untuk kertas. didominasi di daerah Sumatera Selatan sekitar 176. -. Lingkaran tumbuh kayu ki bancet kurang jelas. Parenkim pita tebal membentuk corak garis-garis pudh pada produk kayunya. tusam Krisdianto ANATOMI DAN KUALITAS SERAT LIMA JENIS KAYU KURANG DIKENAL DARI LENGKONG. -. Halaman 301-308 .24 Kayu karet dan tusam banyak digunakan sebagai bahan mebel. Dalam pemanfaatan kayu kurang dikenal diperlukan informasi struktur anatomi dan kualitas seratnya untuk keperluan pengenalan jenis dan pemanfaatannya. masing-masing mewakili kayu daun lebar dan kayu daun jarum yang selanjutnya ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering.) berwarna kekuningan. 5. pembuluhnya agak banyak dan berukuran agak kecil.218 . M. Sukabumi) / Krisdianto. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan pencegah serangan rayap kayu kering menggunakan resin lignin formaldehida. ex Miq. 4. Kayu lapis indah Jasni PENGUJIAN RESIN BERBASIS LIGNIN SEBAGAI BAHAN PENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes cynocephalus Light.) Luas tanaman mangium sekitar 176.4 . Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan untuk meningkatkan keawetannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa kayu mangium ternyata dapat dipergunakan sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah.) berwarna kuning keabu-abuan. Untuk keperluan identifikasi. Kayu ki bancet (Turpinia sphaerocarpa Hassk. Kayu lapis. No.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.

baik untuk keperluan fungsional maupun estetika.12 No. 2006 Pembuatan bentuk lengkung merupakan proses penting dalam industri mebel rotan.11 um untuk kelapa hibrida.f. 2006 Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan kelapa hibrida berumur 19 tahun dipelajari untuk melengkapi data dan informasi struktur anatomi dan dimensi serat batang kelapa.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. mebel. kayu teras telah terbentuk pada seluruh lempengan kayu jati super maupun konvensional dari bagian ujung. sedangkan dimensi serat diukur dari preparat maserasi.2 um untuk kelapa hibrida. yaitu bagian pangkal batang lebih tebal dari bagian ujung.6%. Pelengkungan rotan selain manau pada industri menengah. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh belum diketahui.84 um untuk kelapa dalam dan 23.3 um untuk kelapa dalam dan 296 ± 3. -. anatomi. Ketebalan dinding serat menunjukkan pola yang mirip dengan panjang serat.) / Krisdianto. terdapat yang menghasilkan mutu lebih baik. Halaman 1-14 .Info Hasil Hutan : Vol. tengah dan pangkal. Panjang pembuluh metaxylem rata-rata 293 ± 2. Kata kunci: Kelapa dalam. Ini diduga akibat operatornya lebih terampil. -.3%.24. idcnrinkasi. Berdasarkan persentase kayu terasnya kayu jati konvensional lebih baik parameter kualitas kayu yang lain juga harus diperhatikan seperti kualitas serat dan keawetan alaminya. Struktur anatomi batang kelapa dipelajari dari preparat sayatan. -. Salah satu parameter kualitas kayu jati dapat dilihat dari persentase kayu terasnya dalam batang. Jati cepat tumbuh atau dikenal dengan nama dagang 'Jati super'. 'Jati unggul. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bagian dalam lebih tipis dari bagian dekat kulitnya. Sedangkan noktah pada dinding metaxylem berukuran 23.Kata kunci : Lima. dimensi serat batang kelapa bertambah panjang dari pangkal ke ujung pohon. yaitu persiapan dan pelengkungan. Hampir semua potongan rotan besar perlu dilengkungkan dalam proses pembuatan barang jadi. protoxylem. 'Jati prima' atau 'Jati emas' merupakan tanaman jati yang dikembangkan melalui kultur jaringan dan bertujuan menambah pasokan bahan baku kayu jati. Persentase kayu teras jati super rata-rata 39. Pada industri besar dan menengah jenis rotan manau lebih mudah dilengkungkan dari jenis lain. serat Krisdianto ANATOMI DAN DIMENSI SERAT BATANG KELAPA DALAM DAN HIBRIDA (Cocos nucifera L. Sedangkan kayu jati konvensional merupakan tanaman yang dikembangkan melalui perkecambahan biji. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 7 tahun. Di dalam ikatan pembuluh terdapat pembuluh metaxylem. hibrida. No.5 . Halaman 39-48 . 2006 Kayu jati (Tectona grandis L.) telah dikenal sebagai bahan baku mebel dan konstruksi dengan kualitas tinggi. Secara umum. Mutu pelengkungan dengan mesin pada jenis yang sama tidak selalu lebih baik dari manual. East Kalimantan) / Krisdianto & Ginuk Sumarni.Info Hasil Hutan : Vol. lebih besar dari jari konvensional 20. Tulisan ini bertujuan mempelajari proses dan mutu pelengkungan rotan dalam industri mebel. yaitu ikatan pembuluh dan jaringan parenkim dasar. Untuk meningkatkan mutu pelengkungan mungkin perlu diterapkan metode plastisasi alternatif sehingga kerjasama dengan instansi penelitian diperlukan. mutu. dimensi serat Krisdianto PELENGKUNGAN DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN ROTAN / Krisdianto. kayu. Proses pelengkungan melalui dua tahap.1 . Jasni. pelengkungan. Penelitian ini bertujuan membandingkan persentase teras kayu jati super dan konvensional pada umur dan lokasi yang sama. manau Krisdianto PERBANDINGAN PERSENTASE VOLUME TERAS KAYU JATI CEPAT TUMBUH DAN KONVENSIONAL UMUR 7 TAHUN ASAL PENAJAM. Kata kunci: Rotan. Mutu hasil pelengkungan ditentukan tahap persiapan karena dalam tahap ini rotan harus dipilih bebas cacat dan bebas ruas.1 . Halaman 385 – 394. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bertambah panjang dari bagian tengah ke arah kulitnya. Berdasarkan SNI 01- 80 .85 ± 2. Batang kelapa mempunyai dua komponen utama. Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan hibrida tidak memiliki perbedaan yang nyata. phloem dan ikatan serat.9 ± 1.12 No. anatomi. KALIMANTAN TIMUR (Heartwood Portion in Logs of 7 Years Old Fast Growing and Conventional Teak Taken from Penajam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi bahan baku berupa limbah penebangan dan industri penggergajian kayu dan batang kelapa banyak tersedia. Kata kunci: Jati. Selain itu industri cinderamata di sekitar Carita yang sudah berkembang juga dapat mendukungnya.[et.I.144 . Jasni.Info Hasil Hutan : Vol. 2006 Jamur patogen serangga Metarhizium anisopliae diketahui bersifat patogen terhadap banyak serangga termasuk rayap.64%. -. vitamin.225 .. Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM)p dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Semarang (SMG) menunjukkan efektivitas penularan yang tinggi. Rendemen produksi nata pinnata yang tinggi (94. A.24. Halaman 133 . -.3 . Data yang dikumpulkan berupa jumlah industri cinderamata.] . protein. cinderamata. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nira aren yang diolah untuk memproduksi nata pinnata menghasilkan rendemen antara 23. Efektivitas penularan oleh kasta rayap pekerja Coptotermes curvignathus yang telah terinfeksi spora jamur dari 6 isolat yang dikumpulkan dari berbagai lokasi di Jawa dievaluasi. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur nira dan penambahan pupuk ZA pada nira aren yang diolah untuk menghasilkan nata pinnata. industri penggergajian dan potensi bahan baku. Penularan terjadi melalui penyebaran spora. Umur nira dan penggunaan bahan suplemen pupuk ZA berpengaruh nyata terhadap rendemen produksi nata pinnata. menyebabkan mortalitas rayap lebih dari 80% pada perlakuan rayap terinfeksi dengan konsentrasi 50%. teras Lelana. Mody RENDEMEN DAN KANDUNGAN NUTRISI NATA PINNATA YANG DIOLAH DARI NIRA AREN (Recovery and Nutrition Content of Nata Pinnata Processed from Aren Sap) / Mody Lempang.1-2003. Halaman 33-38 .83% sampai 82.22 %) diperoleh dari pengolahan yang menggunakan nira aren umur 6 jam dengan penambahan suplemen pupuk ZA sebanyak 2.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.5007. penularan spora. Kabupaten Pandeglang. M. No. No.1 . super. C. Kata kunci: Bahan baku. persentase. Agus Ismanto.24. batang kayu jati pada umur 7 tahun dapat masuk dalam kriteria kayu bulat kecil (KBK. serat anisopliae OLEH RAYAP PEKERJA Coptotermes curvignathus (Effectiveness of Transmission of Some Isolates of Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae by Subterranean Termite Workers. 2006 Kawasan Carita. anisopliae. curvignathus. sementara semakin tinggi dosis penggunaan pupuk ZA semakin tinggi rendemen nata. Isolat dari Bogor tampaknya paling efektif untuk ditularkan oleh rayap pekerja ke dalam koloninya. Data dikumpulkan dari industri penggergajian dan kerajinan serta instansi maupun masyarakat terkait. mortalitas rayap 81 . Data potensinya belum diketahui secara baik sehingga perlu dilakukan penelitian. diinkubasi dalam ruang gelap dan lembab pada suhu kamar selama 14 hari. Isolat dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor (BGR). Coptotermes curvignathus) / Neo BEBERAPA ISOLAT JAMUR PATOGEN Endra Lelana . limbah industri dan pembalakan Lempang. Propinsi Banten merupakan tujuan wisata penting di Indonesia. Beberapa kelompok rayap yang terdiri dari campuran rayap pekerja yang terinfeksi spora dan yang sehat dimasukkan dalam botol kultur berisi media pasir steril yang lembab. Halaman 219 . Neo Endra EFEKTIFITAS PENULARAN Metarhizium SERANGGA Lelana. konvensional. semakin panjang umur nira semakin rendah produksi nata.12 No.2 . Nata adalah sejenis makanan ringan yang menyerupai jelly yang biasanya diolah dari air kelapa.5 gram per liter nira.al. Neo Endra POTENSI BAHAN BAKU KAYU DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN INDUSTRI CINDERAMATA DI CARITA / Neo Endra Lelana. Salah satu faktor pendukung pariwisata adalah cinderamata dengan bahan baku limbah penebangan dan industri baik kayu maupun kayu kelapa. Kandungan nutrisi nata pinnata yang diolah dari nira aren (kadar air.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase mortalitas rayap cenderung meningkat setelah inkubasi dibandingkan dengan sebelum inkubasi.42% atau rata-rata-rata 55. Kata kunci: Jamur patogen serangga.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.).

kasar, lemak, abu, kalsium dan posfor) berbeda dengan kandungan nutrisi nata decoco yang diolah dari air kelapa, nira kelapa maupun kolang-kaling. Kata kunci: Nira aren, nata pinnata, rendemen, kandungan nutrisi Lempang, Mody STRUKTUR ANATOMI, SIFAT FISIK DAN MEKANIK KAYU PALASO (Aglaia sp) (Anatomical Structure, Physical and Mechanical Properties of Aglaia sp) / Mody Lempang; Muhammad Asdar. Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.2 ; Halaman 171 - 181 , 2006 Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi struktur anatomi, sifat fisik dan sifat mekanik kayu palado (Aglaia sp.) yang diambil dari hutan produksi alam di Kalukku kabupaten Mamuju, Propinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa palado memiliki kayu gubal berwarna putih sampai krem dan teras berwarna coklat muda sampai coklat kelabu; serat lurus, tekstur agak halus, pori sedikit (3 per.mm²) berbentuk lonjong dan tersebar tata baur; perforasi tipe sederhana; jari-jari luar biasa pendek, sempit dan jarang (tinggi 327 μm; lebar 25,52 μm dan frekuensi 5 per mm², parenkim tersebar atau baur. Panjang serat 1132 μm dan diameter serat 25,61 μm; diameter lumen 17,39 μm; dan tebal dinding 1,64 μm. Kadar air kering udara 15,85%; berat jenis kering udara 0,48 dan berat jenis kering tanur (kerapatan) 0,53; penyusutan kering udara ke kering tanur 2,71% (Radial) dan 4,67% (Tangensial); keteguhan lentur pada batas patah 612,72 kg/cm2 dan keteguhan tekan sejajar serat 402,28 kg/cm2 . Kata kunci : Kayu, sifat, anatomi, fisik, mekanik, Palado Lestari, Setyani B DIMENSI SERAT EMPAT JENIS BAMBU DARI JAWA TIMUR / Setyani B. Lestari & Yoswita. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 109114 , 2006 Tulisan ini menginformasikan nilai dimensi serat beserta nilai turunannya dari empat jenis bambu yang berasal dari Jawa Timur, yaitu bambu ampel (Bambusa vulgaris Schat), bambu petung (Dendrocalamus asper Bck), bambu apus (Gigantochloa apus Kurz) dan bambu jajang ulet (Gigantochloa apus kurz

forma). Bambu yang diteliti memiliki panjang serat antara 2600 sel berkisar antara 1,0 – 2,0 mikron, diameter lumen memiliki nilai antara 13-16,8 mikron. Berdasarkan nilai turunan dimeni serat, empat jenis bambu yang diteliti menunjukkan nilai karakteristik yang baik sebagai bahan baku pulp dan kertas. Kata kunci: Bambu, dimensi serat, nilai turunan Malik, Jamaludin TEKNOLOGI PEMADATAN MELALUI PENGEMPAAN DENGAN PERLAKUAN PENDAHULUAN PENGUKUSAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS KAYU / Jamaludin Malik. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.1 ; Halaman 49-58 , 2006 Jenis-jenis kayu inferior yang memiliki sifat tidak kuat dan tidak stabil dapat disempurnakan melalui teknologi pemadatan sehingga pemanfaatannya meluas. Teknologi ini sudah lama dikembangkan dengan berbagai metode. Salah satu metode pemadatan yang dianggap memiliki kelebihan adalah melalui pengempaan dengan perlakuan pendahuluan pengukusan. Proses utama metode ini adalah pengukusan, pengempaan dan pengkleman. Sifat dasar kayu yang mengalami peningkatan adalah kerapatan, keteguhan lentur stads (MOE & MOR), kekerasan, keteguhan tarik dan pukul, serta stabilitas dimensi. Peningkatannya dapat mencapai > 90%. Kayu yang dipadatkan dapat dimanfaatkan lebih luas, seperti untuk tiang bangunan, dinding, pegangan tangga, lantai, mebel, bingkai, pemintal tenun, kumparan, pegangan alat, baling-baling dan plat sambungan yang memerlukan kekuatan gesek tinggi. Kata kunci: Pemadatan, peningkatan kualitas, pemanfaatan Malik, Jamaludin PENGOLAHAN KAYU DIAMETER KECIL UNTUK KAYU LAMINA DAN KOMPONEN MEBEL / Jamaludin Malik, Abdurachman dan Achmad Supriadi. -- Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 153-163 , 2006 Produksi alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk yang diolah dari kayu diameter kecil adalah kayu lamina dan komponen mebel. Penelitian pembuatan produk tersebut telah dilakukan terhadap beberapa jenis

82

kayu yaitu tusam (Pinus merkusii) damar (Agathis sp.), gmelina (Gmelina arborea), bengkel (Nauclea sp), pisang-pisang (Alponsea teysmanii Boerl), dan jambu jambu (Eugenia spp.) dari bagian cabang. Sedangkan kayu lamina bentangan besar dibuat dari bagian batang utama kayu mangium (Acacia mangium Wild.) dan sengon (Paraserianthes falcataria) berdiameter kecil. Hasil penelitian penunjukan bahwa produk kayu lamina dan kayu lamina untuk bentangan besar yang dibuat dari kayu diameter kecil sengon dan mangium memenuhi syarat standar (SNI 2000, JAS 1996 dan JAS 2003). Komponen mebel dapat memenuhi standar pabrik. Kata kunci: Pengolahan kayu, kayu diameter kecil, kayu lamina, mebel

Mandang, Y.I DIGITALISASI BASIS DATA XYLARIUM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN BOGOR / Yance I. Mandang . -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 75-85 , 2006 Xylarium Bogoriense Pusat Litbang Hasil Hutan di Bogor menyimpan hampir 40.000 contoh kayu yang dikumpulkan dari seluruh kepulauan Indonesia. Semua contoh kayu dicatat dalam buku register dan setiap contoh memiliki keterangan yang meliputi nomor contoh kayu, nomor herbarium, nama setempat, suku, nama ilmiah, sinonim, asal contoh kayu, kolektor dan tanggal dikoleksi. Catatan tersebut ditulis tangan sejak tahun 1915 dalam 12 jilid buku. Masalahnya hampir semua buku register sudah lapuk dan datanya terancam musnah. Oleh karena itu perlu dicarikan cara untuk menyelamatkan data tersebut sekaligus disusun kembali dalam bentuk mutakhir. Dalam makalah ini disajikan pengalaman merenovasi sistem informasi xylarium dengan memanfaatkan perkembangan terakhir dalam bidang teknologi informasi. Untuk keperluan identifikasi kayu, deskripsi anatomi kayu dari berbagai sumber ditransformasikan ke dalam kode IAWA (International Association of Wood Anatomist) lalu diketik dalam format MS Access. Basis data koleksi dan basis data ciri kayu ini kemudian diimpor ke dalam MS SQL Server pada komputer server yang sudah disiapkan. Penelusuran informasi dan identifikasi kayu dilakukan dengan menuliskan query dalam bentuk pernyataan-pernyataan SQL lalu dieksekusi. Beberapa contoh proses penelusuran informasi dan identifikasi kayu disajikan. Waktu yang diperlukan untuk penelusuran informasi dan identifikasi kayu sangat singkat dibanding dengan cara lama. Kata kunci: Xylarium, Sistem informasi Misdarti KUALITAS BAMBU LAMINASI ASAL KABUPATEN TORAJA, SULAWESI SELATAN (Qualities of Laminated Bamboo of Toraja Regency, South Sulawesi) / Misdarti. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 183 - 189 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis bambu dan macam perekat poly vinyl acetate (PVAc) terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi. Jenis bambu yang digunakan adalah hitam dan parring. Sedangkan macam perekat PVAc yang digunakan adalah fox, tiger dan epoxy. Bambu

Malik, Jamaludin PENGARUH PEMADATAN TERHADAP LAJU PENURUNAN KADAR AIR KAYU RANDU ALAS (Gossampinus malabarica Alst.) / Jamaludin Malik & Andianto. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 143-147 , 2006 Pemadatan kayu randu alas (Gossampinus malabarica Alst) merubah struktur anatomis dan sifat fisis sehingga memberi peluang untuk dimanfaatkan sebagai perkakas. Perubahan kedua sifat ini merubah sifat pengeringan kayu yang dipadatkan. Penelitian sifat pengeringan kayu yang dipadatkan perlu dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal kayu yang dipadatkan 54%, lebih rendah 10,5% dari kayu yang tidak dipadatkan. Pengeringan kayu yang dipadatkan dan tidak dipadatkan selama sembilan hari masing-masing mencapai kadar air 15,9% dan 15%. Penurunan kadar airnya menunjukkan perbedaan nyata. Hubungan kadar air (Y) dan waktu pengeringan (X) pada kayu yang tidak dipadatkan mengikuti persamaan Y = 64,640 – 9,296x + 0,421x2 , dengan R2 = 0,999. Pada kayu yang dipadatkan mengikuti persamaan Y = 53,440 – 7,926x + 0,428x2 , dengan R2 = 0,999. Kata kunci: Randu alas, pemadatan, kadar air kayu, pengeringan

83

laminasi dibuat dengan menggunakan bambu kering udara dengan ukuran 51 x 2,5 x 0,5 cm. Kemudian sampel bambu dilaburi perekat secara merata pada salah satu sisi dengan berat labur 200 gr/m . Selanjutnya sampel bambu dari jenis yang sama direkat satu sama lain kemudian dikempa pada suhu ruangan dengan menggunakan klem selama 12 jam. Bambu lamina kemudian dikondisikan pada suhu ruangan selama 1 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan macam perekat berpengaruh tidak nyata terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi yang dibuat dari bilah bambu hitam dan bambu parring. Bambu laminasi dengan menggunakan lem epoxy cenderung memiliki nilai MOE dan keteguhan rekat yang lebih baik dibanding lem fox dan lem tiger. Efisiensi perekatan terbesar terjadi pada bambu laminasi parring dengan lem epoxy. Kata kunci : Bambu laminasi, macam perekat PVAc, sifat fisis dan mekanis Muslich, Mohammad KEAWETAN 25 JENIS KAYU DIPTEROCARPACEAE TERHADAP PENGGEREK KAYU DI LAUT (Durability of 25 Dipterocarpaceae Wood Species Against Marine Borers) / Muhammad Muslich; Ginuk Sumarni. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 191 - 200 , 2006 Dua puluh lima jenis kayu Dipterocarpaceae diuji sifat keawetannya terhadap serangan penggerek kayu di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm, direnteng dengan tali plastik, kemudian dipasang di perairan pulau Rambut dan diamati setelah 6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang keawetan 25 jenis kayu Dipterocarpaceae terhadap penggerek kayu di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 6 bulan, sebagian besar contoh uji mendapat serangan berat oleh famili Pholadidae dan Teredinidae. Lima dari 25 jenis kayu atau 20% tahan terhadap penggerek di laut. Giam durian (Cotylelobium flavum Pierre) dan balau laut [Shorea falcifera Dyer) termasuk dalam katagori sangat tahan, sedangkan giam tembaga (Cotylelobium melanoxylon Pierre), balau laut batu (Shorea elliptica Burck.), dan resak ayer (Vatica teysmanniana Burck.) termasuk dalam katagori tahan terhadap penggerek di laut. Kelima jenis kayu tersebut cocok untuk bangunan kelautan. Kata kunci: Keawetan, Dipterocarpaceae, penggerek di laut

Novrianto, Eka PENELAAHAN FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENETAPAN UKURAN SASARAN VENIR KAYU LAPIS (Assessing Factors That Affects the Determination of Targeted Veneer Size for Plywood) / Eka Novriyanto. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 371 - 384, 2006 Untuk mendapatkan konstruksi panel yang memiliki ukuran tebal yang diinginkan, maka diperlukan penetapan ukuran sasaran pada saat pengupasan vinir, Faktor-faktor penyusutan vinir, pengempaan panel, pengampelasan, dan penyusutan panel serta keragaman pengupasan total dapat mempengaruhi penetapan ukuran sasaran, Data yang dikumpulkan dalam percobaan ini adalah tebal vinir sesudah kupas 1,76 mm, penyusutan vinir 6,34%, pengaruh pengempaan 11,94%, pengaruh pengampelasan 0,44%, tebal vinir dalam panel 1,22 mm, rata-rata tebal panel akhir 28,02 mm, dan penyusutan panel 1,42%, Data-data tersebut selanjutnya diolah dengan formula yang diturunkan dari perubahan yang dialami vinir sampai menjadi panel oleh proses produksi, untuk mendapatkan ukuran sasaran pengupasan vinir kayu lapis konstruksi 19-lapis, Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ukuran sasaran pengupasan vinir adalah 1,870 ± 0,013 mm, Kata kunci : Kayu lapis, vinir, ukuran sasaran pengupasan vinir Nurhayati, Tjutju PRODUKSI DAN PEMANFAATAN ARANG DAN CUKA KAYU DARI SERBUK GERGAJI KAYU CAMPURAN (Production and Utilization of Charcoal and Wood Vinegar of Mixture Wood Sawdust) / Tjutju Nurhayati, Ridwan Ahmad Pasaribu & Dida Mulyadi. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 395 - 411, 2006 Penelitian produksi terpadu arang dan cuka kayu menggunakan serbuk gergaji kayu campuran asal hutan alam dan hutan tanaman dilakukan pada tungku sakuraba dan tungku blower. Arang serbuk dimanfaatkan untuk bahan baku produksi arang aktif dan cuka kayunya untuk budidaya tanaman padi. Hasilnya sebagai berikut ; Produksi terpadu arang dan cuka kayu ‘crude’dari serbuk gergaji kayu campuran hutan alam dan hutan tanaman pada tungku sakuraba masing-masing 292,68 kg/ton dan 232,24 kg/ton dan pada tungku blower 344,76 kg/ton dan 323,07 kg/ton. Rendemen arang dan cuka kayu ke dua jenis

84

70%.9%) yang lebih rendah. 2006 Tulisan ini membahas struktur arang dari lignin pada suhu karbonisasi yang berbeda.1 . 5. Cuka kayu ‘crude’ dari ke dua serbuk gergaji mengandung jenis komponen kimia yang sama pada kadar yang bervariasi. tinggi lapisan aromatik 3. kadar air 8.7%) yang lebih tinggi. sedangkan struktur eter dan dihasilkan aromatik makin berkembang.500.96 nm. No.90 %. daya serap ARANG DARI LIGNIN (Study on Charcoal Structure of Lignin) / Gustan Pari [et. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retor yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 750 C dengan lama waktu aktivasi 30.3% dan 22% (blower). jumlah lapisan aromatik 8.2%) dan kadar zar mudah terbang (11.al] . Proses pembuatan arang lignin dilakukan pada suhu 200. Penggunaan cuka kayu distilat 2. Produksi arang aktif memenuhi SNI pada parameter daya serap iod (857. XRD dan SEM.20%.35 nm i = 0. difraksi.0 dan 15%. furfural.serbuk gergaji relatif sama pada masing-masing tungku yaitu 20.24. Djeni Hendra.750 dan 850°C dalam suatu retort yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik. arang. Halaman 9 .6% dan 14. Kualitas arang yang baik diperoleh pada suhu karbonisasi 5000C menghasilkan derajat kristalinitas sebesar 33. derajat kristalinitas (X) dan jumlah lapisan aromatik (N) meningkat dengan makin naik karbonisasi. Untuk mengetahui perubahan struktur arang yang terjadi dilakukan analisis dengan menggunakan FTIR. 60 dan 90 menit. sedangkan untuk tinggi lapisan (Lc). Kata kunci : Serbuk gergaji kayu.5% ini memberi petunjuk terhadap fungsinya sebagai pupuk dan merespon pertumbahan padi yang lebih baik.10 ton /ha dan kontrol 3. Ikatan OH. dan kadar karbon tertambat (86. para kreosol. 19. lignin.6% (sakuraba).7 mg/).Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Gustan PENGARUH LAMA WAKTU AKTIVASI DAN KONSENTRASI ASAM FOSFAT TERHADAP MUTU ARANG AKTIF KULIT KAYU ACACIA MANGIUM (The Influence of activation Time and Concentration of Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. dan C=C alifatik menurun dengan naiknya suhu.1 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aktivasi dan konsentrasi bahan pengaktif terhadap hasil dan mutu arang aktif yang dihasilkan. keras dan struktur porinya makropori. tungku.6 um. Gustan KAJIAN STRUKTUR meningkatnya suhu karbonisasi. metanol. orto kreosol. Spektrum FTIR dari arang lignin menunjukkan bahwa antara suhu 300-500 perubahan struktur kimia dari bahan baku secara nyata. kadar zat terbang 8. Oleh karena itu produksi terpadu pada tungku blower lebih baik dari sakuraba. 2006 Phosphoric Acid on the Quality of Activated Charcoal of Acacia mangium Bark) / Gustan Pari. -Dalam tulisan ini dikemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari kulit kayu Acacia mangium. alfa metil guaiakol. permukaannya bersifat polar.7 mg/g) diperoleh dari perlakuan aktifasi perendaman asam fosfat 20% dan uap air pada suhu 695OC dan aktifasi dengan uap panas tanpa asam fosfat pada suhu 605OC (789.0.20. Perlakuan tanpa pupuk NPK menghasilkan gabah kering giling paling tinggi pada cuka kayu yaitu 4. Kata kunci: Arang. arang aktif. padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang yang direndam asam fosfat 10%. struktur kimia. bahan organik 4. kaku. Analisis SEM menunjukkan bahwa jumlah dan diameter pori arang meningkat dengan naiknya suhu karbonisasi. fenol.300.75 ton/ha.0.400. Pada suhu 850°C arang yang mempunyai struktur aromatik yang permukaannya mempunyai gugus C-O-C.21 nm dengan diameter port arang antara 12. sikloheksana. Pasaribu. asetol. Pemanfaatan cuka kayu distilasi 2.60%. C=O dan C-H.72%. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa jarak antar ruang lapisan aromarik (d) dan lebar lapisan (La) menurun dengan makin 85 .39%. Bahan pengaktif yang digunakan adalah larutan asam fosfat (H3PO4) dengan konsentrasi 0.5% dengan hasil gabah kering giling yang sama yaitu 5. Halaman 33 . Pari.67.24. leba aromatik 10. Ridwan A. kadar karbon terikat 64. No.3%. kadar abu 26.650. Sifat arang dari tungku blower lebih baik dari sakuraba ditunjukan oleh kadar abu (2. Rendemen terpadunya pada tungku sakuraba 35. jarak antar lapisan aromatik d(002) = 0. dengan lama waktu aktivasi 60 menit.21 nm.46 . 10. menghasilkan rendemen sebesar 98.41 ton/ha. cuka kayu. Arang ini mempunyai sifat keteraturan tertinggi.2% menunjukkan angka lebih rendah dari blower 41. Pari. terdiri dari asam asetat. -. Produksi arang aktif dengan mutu baik ini diperoleh setelah tungku aktifasi diredam emisi panasnya dengan gelas wol.5% pada tanaman padi jenis ciherang dengan perlakuan penambahan pupuk NPK dapat menggantikan penggunaan bahan organik 2.21 ton/ha.

60 dan 90 menit. kadar zat terbang 5. benzena 16. alkohol benzena antara 1.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 64.al. Kadar lignin dan abu semua jenis kayu yang diteliti termasuk ke dalam kelas sedang. karbon terikat. dan arang aktif yang dihasilkan mengandung kadar air 4.2 – 6. terlebih dahulu serbuk gergaji kayu dibuat arang dengan menggunakan tungku semi kontinyu pada suhu 300 C. Kadar pentosan semua jenis kayu yang diteliti termasuk kelas rendah karena kadarnya kurang dari 21%.5 – 5.7%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Pengaruh konsentrasi asam fosfat sebagai bahan pengaktif kimia. abu.3%. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia 10 jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman di Jawa Barat. salamander (Grevillia robusta A. sedangkan yang termasuk kelas rendah kurang dari 2% yaitu kayu sengon buto.75% dan kelarutan dalam NaOH 1% antara 9. Pari. air panas antara 3. Kata kunci : kayu. No. Arang aktif dari kulit kayu mangium ini hanya dapat digunakan untuk penjernihan air.. Halaman 309-322 .. kimia. salamander dan mahoni. alkohol benzena dan kelarutan dalam NaOH 1%. ki bawang.terhadap yodium 513 mg/g dan daya serap terhadap benzena sebesar 16.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.cunn). pentosan. Jenis kayu tersebut adalah ki sereh (Cinnamomum parthenoxylon). Berdasarkan atas nilai skor dan hasil uji BNJ (Beda nyata jujur) komponen kimia 10 jenis kayu asal Jawa Barat (Tabel 3) ternyata hanya kayu ki sereh dan pulai kongo yang tidak cocok untuk bahan baku pulp kertas. pulai kongo (Alstonia kongoensis). -. Jawa Barat. dan yang termasuk ke dalam kelas tinggi lebih dari 4% yaitu kayu ki sereh dan pulai kongo.97% dan daya serap terhadap yodium sebesar 668. ki bawang (Melia excelsa).53%. tusam (Pinus merkusii Jungth). mahoni (Switenia macrophylla King) dan ki lemo (Litsea cubeba Pers).1 – 0. Pari. 850. abu antara 0. Proses aktivasi dilakukan di dalam retort yang terbuat dari besi tahan karat pada suhu 800. mahoni dan ki lemo.6%.0 – 30. kapur.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif serbuk gergaji kayu yang terbaik adalah arang aktif yang direndam asam fosfat 5% pada suhu 900°C selama 30 menit. kadar abu 42.6 – 69.4 – 6.2 – 0. karena kadarnya ada di antara 18 – 33% untuk kadar lignin dan ada di antara 0.24. Sedangkan kadar zat ekstraktifnya terutama kelarutan dalam alkohol benzena yang termasuk kelas sedang antara 2 – 4% adalah kayu suren. Arang yang dihasilkan selanjutnya direndam dalam larutan asam fosfat dengan konsentrasi 5.1 – 20.86%.4 . 900°C dengan lama waktu aktivasi masing-masing 30. lignin. tusam. kecuali kayu pulai kongo yaitu 64.5%. 2) Pengaruh suhu dan lama waktu aktivasi terhadap rnutu arang aktif dan 3) Pengaruh penambahan arang aktif terhadap mutu minyak goreng bekas. kulit kayu. kapur. Pada proses aktivasi tersebut diperoleh rendemen arang aktif sebesar 72.2 . daya serap terhadap kloroform 24.[et. sedangkan ke delapan jenis kayu lainnya yang terdiri dari kayu suren.71%.0 dan 10% selama 24 jam. Dalam penelitian ini digunakan larutan ((NH4)2C3 0.3%. ki bawang. dan semikimia. Kata kunci: Acacia mangium. suren (Toona sureni). suren.] . silika antara 0.23%. air panas. kapur (Dryobalanops aromatica). salamander. ki bawang..24 No. tusam. holoselulosa.9%. lignin antara 26.63 mg/g. salamander mahoni dan kayu ki lemo cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas dengan menggunakan proses kimia.6 – 18%. tusam dan ki lemo.[et al] . Halaman 89 .84%. sengon buto (Entorolobium cyclo).0% untuk kadar abu. Kelarutan dalam air dingin antara 2.101 . kadar karbon terikat 52. sengon buto. Gustan KOMPONEN KIMIA SEPULUH JENIS KAYU TANAMAN DARI JAWA BARAT (Chemical Component of Ten Planted Wood Species Originated from West Java) / Gustan Pari .10%. -. Analisis yang dilakukan mencakup penetapan kadar holoselulosa. lignin. Sebelum dibuat arang aktif. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergaji kayu dengan proses aktivasi kombinasi antara cara kimia dan fisika. Analisis ini merupakan dasar untuk menetapkan kegunaan kayu tersebut terutama sebagai bahan baku pulp kertas.9%. yodium. arang aktif.25%.0 – 7. kapur.. sengon buto. Gustan ARANG AKTIF SERBUK GERGAJI KAYU SEBAGAI BAHAN ADSORBEN PADA PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS (Activated Charcoal from Wood Sawdust as Adsorbent Material for Frying Oil Refinery) / Gustan Pari . kelarutan dalam air dingin.9%. pentosan antara 15. Nilai daya 86 .20% sebagai gas pengoksida. Semua jenis kayu yang diteliti mengandung kadar holoselulosa yang tinggi lebih dari 65% yaitu kayu ki sereh. pentosan.

96% dan daya serap terhadap formaldehida sebesar 26.21%. Halaman 425 . produk karton. 2006 Teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri kayu dari hasil penelitian yang dilakukan secara bertahap meliputi teknologi isolasi dan perbanyakan fungsi pelapuk putih. metilien biru 135.17%.24. minyak goreng. Sedangkan untuk kecerahan warna mengalami peningkatan dari 13. Halaman 97-107 .98 menjadi 16. serbuk gergaji diarangkan dalam pada suhu 500oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif yang terbaik diperoleh dari serbuk gergajian kayu mangium yang diaktivasi dengan cara kombinasi oksidasi gas dan kimia dengan rendemen sebesar 53%. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap para pengrajin ukiran kayu dengan menggunakan kuisioner. TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK INDUSTRI SKALA KECIL / Ridwan A. Arang aktif yang dihasilkan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. kadar air 4. Industri skala kecil of Activated Charcoal as Reductor of Plywood Formaldehyde Emission) / Gustan Pari. -. Kabupaten Samusir. Ridwan A. Secara teknis. fisika dan kombinasinya di dalam tungku baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik. daya serap terhadap yodium sebesar 960. produksi dan pemasaran belum ditangani secara baik oleh pengrajin. Gunawan PROFIL KERAJINAN UKIRAN KAYU DI PUIAU SAMOSIR.77%.436.59%.5% yang ditunjukkan dengan menurunnya kandungan asam lemak bebas dan bilangan peroksida masing-masing dari 0. Kata kunci : Arang aktif. -.87 menjadi 10. asam lemak bebas Pari. produksi komponen mebel dan kayu lamina.27% menjadi 0. mangium. Mutu minyak goreng ini terutama asam lemak bebas dan bilangan perokisda memenuhi syarat minyak goreng yang ditetapkan SNI.33%.12 No. Pulau Sumatera Utara. Pencampuran arang aktif pada perekat kayu lapis mampu menurunkan emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. kloroform 28.Info Hasil Hutan : Vol. Adi Santoso & Djeni Hendra. No. SUMATERA UTARA / Gunawan Pasaribu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah serbuk gergajian kayu mangium untuk dibuat arang aktif dan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida dalam perekat kayu lapis.88%. Gustan PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN ARANG AKTIF SEBAGAI REDUKTOR EMISI FORMALDEHIDA KAYU LAPIS (Manufacturing and Application sedangkan emisi yang dihasilkan dengan penambahan arang aktif sebanyak 5% menjadi 15.02%. kadar zat terbang 5. -. arang aktif . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profit teknis dan kelembagaan industri kerajinan ukiran kayu di Pulau Samosir.serap ini memenuhi syarat Standar Amerika dan arang aktif yang dihasilkan permukaannya lebih bersifat polar sehingga dapat digunakan untuk menyerap polutan yang juga bersifat polar seperti aldehida.2 . Teknologi yang layak secara finansial untuk pengembagan industri kecil adalah teknologi produksi karton menggunakan bahan baku pulp dari limbah sebetan kayu gergajian dan jamur tiram menggunakan media limbah serbuk gergajian kayu. Kata kunci: pemanfaatan limbah. arang aktif.2 mg/g.0 mg/g.36 ppm dengan tanpa mempengaruhi keteguhan rekat kayu lapis. Arang yang dihasilkan diaktivasi secara kimia. produksi arang briket. Data sekunder dikumpulkan dari instansi-instansi pemerintah yang berada di lingkungan Pemda Samosir dan Pemda Tobasa.48 ppm Pasaribu. mulai dari penyediaan bahan baku.96 meq 02/kg. kadar karbon terikat 83.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 145-151 . Terbukti hasil uji emisi kayu lapis yang tanpa penambahan arang aktif sebesar 16. Kualitas minyak goreng bekas menjadi lebih baik setelah ditambahkan dengan arang aktif sebanyak 2.5 . 2006 Telah dilakukan penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergajian kayu Acacia mangium Willd. benzena 14. kadar abu 8.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Kata kunci : Serbuk gergaji. emisi formaldehida Pasaribu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2004 di Kecamatan Simanindo. serbuk gergaji kayu. Pasaribu dan Tjutju Nurhayati. kayu lapis. Sebelum dibuat arang aktif. produksi pulp rayon dan papan isolasi.17% dan dari 18. 87 . dan papan serat. iodin.

pengolahan kayu Roliadi. kelapa. kurang awet. bahan penolong dan teknologi serta pasar dalam negeri perlu mendapat perhatian dan ditangani lebih serius oleh instansi terkait. Tingkat delignifikasi tertinggi hingga terendah terjadi pada jenis kayu gmelina. Produk kayu yang dihasilkan umumnya memenuhi standar industri yang disyaratkan. Sifat fisik/kekuatan lembaran pulp dipengaruhi secara positif oleh perbandingan S/V dan secara negatif oleh berat jenis kayu. Namun dengan teknologi perekatan. Pulp dengan rendemen pulp tersaring tinggi dengan persentase reject rendah berindikasi tingkat degradasi fraksi karbohidrat rendah dan tidak undercooked. Proses pengukiran kayu sampai penyelesaian akhir masih menggunakan cara sederhana tanpa bantuan alat mekanis yang lebih cangkih.Dari pengujian beberapa produk setengah jadi. yaitu: Kayu karet. sulfiditas 22. meranti. sehingga dapat mengganggu sifat dari produk akhir yang dihasilkan. Tingkat tersebut berkorelasi negatif dengan rendemen pulp total dan persentase pulp reject. 2006 Salah satu faktor yang menyebabkan terpuruknya industri pengolahan kayu di tanah air saat ini adalah ketidakseimbangan antara pasokan bahan baku kayu yang lestari dan kebutuhan kayu untuk mencukupi kapasitas industri kayu. 60. sawit. dan sebaliknya. dan kayu hutan tanaman. dan Jamal Balfas. dari pada oleh berat jenis kayu (R2 = 0. modifikasi kayu dan pembuatan produk majemuk. dan 90 menit). 2006 Faktor-H Untuk Menelaah tingkat Delignifikasi dan Sifat Pulp empat Jenis Kayu Hutan Tanaman Industri pada Proses Pengolahan Kimia Sulfat) / Han Roliadi. stabilitas dimensi dan kekuatan rendah. Produk kayu yang dapat dibuat dari kayu asal hutan tanaman dan tanaman perkebunan selain kayu gergajian. Dalam kelembagaan. bahan baku. dan juga kaitannya dengan sifat pengolahan pulp dan sifat fisik/kekuatan pulp. Kata kunci: Diservasi. Sedangkan suhu maksium pemasakan bervariasi (170oC dan 175oC). Noor Rahmawati. -. randu. Satu usaha mengatasinya adalah pembangunan hutan tanaman industri (HTI) sebagai pemasok serat kayu. papan partikel. glulam. sengon. dan perbandingan kayu dengan larutan pemasak 1:4. industri. seperti papan dan bilah sambung. Osly DIVERSIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU / Osly Rachman. Baik kayu yang berasal dari tanaman perkebunan maupun kayu hutan tanaman umumnya mempunyai sifat inferior. seperti diameter kecil.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 99-116 . Tingkat delignifikasi lebih dipengaruhi oleh perbandingan banyaknya inti siringil dengan inti vanilin (S/V) dalam lignin (R2 = 0. Han EXPLICABILITY OF THE H-FACTOR TO ACCOUNT FOR THE DELIGNIFICATION EXTENT AND PROPERTIES OF PLANTATION FOREST WOOD PULP IN THE KRAFT COOKING PROCESS (Penerapan Hutan : Vol. hanya terdapat beberapa kelompok pengrajin yang aktif dan koperasi yang ada tidak banyak membantu usaha kerajinan kayu. dihasilkan pula produk olahan.24 No. dan kapur) dilakukan pada kondisi tetap pemasakan: alkali aktif 16 persen. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan tanaman berkayu dari areal perkebunan yang jumlahnya sangat besar. Nurwati Hadjib. 30. Percobaan pengolahan pulp sulfat/kraft secara individu terhadap empat jenis kayu HTI (sengon. yang dilakukan masih ditemukan produk dengan nilai kadar air produk yang masih tinggi yaitu sekitar 50%. kelembagaan Rachman. Perbedaaan jenis kayu HTI bisa mempengaruhi sifat pengolahan dan mutu hasil pulp/kertas tersebut. dan ternyata menghasilkan lembaran pulp/kertas dengan sifat kekuatan tinggi. bahan baku. -. Pada kenyataannya tanaman tersebut tidak hanya mampu menghasilkan produk kayu bernilai tinggi tetapi juga ramah lingkungan. masing-masing dipertahankan dalam 4 taraf waktu (0. kayu lapis dan kayu lapis indah. gmelina. Halaman 275-299 . densifikasi. Sedangkan dari bambu selain produk konvensional seperti barang kerajinan dapat pula dihasilkan papan bambu lamina dan bambu lapis. Dalam pemanfaatan bambu dan kayu dari perkebunan permasalahan kelembagaan dan kebijakan. Kata kunci: Ukiran kayu. venir lamina. meranti kuning.5212). bahan baku. 88 . sifat-sifat tersebut dapat diatasi.5 persen. hingga kapur. Tanaman berkayu lainnya yang dapat diandalkan untuk memasok industri perkayuan adalah bambu.Jurnal Penelitian Hasil Semakin terbatasnya sumber serat kayu di Indonesia dan anjuran mengurangi ketergantungannya dari hutan produksi alam untuk industri pulp dan kertas menyebabkan kekhawatiran serius. Agar tetap survive dunia perkayuan harus berupaya melakukan diversifikasi bahan baku kayu tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan.5972).4 . stabilitas dimensi. Tingkat delignifikasi selama pemasakan hingga selesai ditelaah dengan faktor H. dan positif dengan rendemen pulp tersaring.

Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 19-26 . Tanin. Han PEMBUATAN DAN KUALITAS KARTON DARI CAMPURAN PULP TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN SLUDGE INDUSTRI KERTAS Santoso. alum 2%. Hal ini mengisyaratkan prospek penggunaan pulp TKKS yang dicampur dengan sludge. -. tingkat delignifikasi. 2006 (Manufacture and Qualities of Paperboard from the Mixture of Empty Oil-Palm Bunches Pulp and Paper-Mill Sludge)/ Han Roliadi. Makalah ini menyajikan data untuk menjawab permasalahan tersebut. Halaman 323-337 .81%. Data produksi kayu dari hutan tanaman. Perekat Satyawardana PETA POTENSI AKTUAL HASIL HUTAN INDONESIA SEBAGAI PENGHARA INDUSTRI KEHUTANAN / Satyawardana. faktor H. dan konsumsi alkali 9. -. industri karton rakyat 89 . Prakiraan potensi kayu pada hutan alam. Rangkuman dari beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kulit mangium sangat potensial sebagai sumber tanin untuk bahan baku perekat. berat jenis. Kulit tersebut bila diekstrak dengan air 1:3 bisa menghasilkan ekstrak tanin cair sebanyak 8 kali bobot kulitnya. TKKS sesudah dijadikan serpih. yaitu isinya meliputi: Luas penutupan lahan Indonesia (2003).5. dan dari pulp TKKS 100%. sehingga berindikasi pemanfaatannya sebagai bahan baku industri karton. Kata kunci: Tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan serat berligno selulosa berlimpah jumlahnya dan belum banyak dimanfaatkan.17. hal yang paling penting untuk diperbaiki adalah seimbangnya antara potensi aktual hasil hutan dengan kapasitas hasil industri hasil hutan yang ada. Dalam upaya mengurangi kebergantungan terhadap perekat impor dan memenuhi kebutuhan perekat dalam negeri dengan bahan baku yang berasal bukan dari minyak bumi. Rata-rata rendemen pulp TKKS yang diperoleh 60. Sampai saat ini kulit pohon mangium sebagian besar ditinggalkan di hutan atau di sekitar pabrik sebagai limbah. -.Kata kunci: Kayu hutan tanaman. masing-masing dengan penambahan bahan aditif (kaolin 5%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.4 . bilangan kappa 38. pulp. Ridwan Industri karton skala kecil saat ini mengalami kesulitan kontinuitas pasokan bahan baku (khususnya pulp dan kertas bekas). 2006 Pemanfaatan kulit pohon mangium (Acacia mangium Wild) sebagai sumber tanin untuk bahan perekat di Indonesia pada masa mendatang diperkirakan semakin berkembang berkenaan dengan pemanfaatan limbah kulit kayu tersebut dalam upaya optimalisasi hasil hutan khususnya non kayu dari hutan tanaman. nilai banding serpih TKKS dengan larutan pemasak 1:5.17%. Sifat fisik karton asal pulp TKKS 100% dan asal campurannya dengan sludge industri kertas (50% : 50%) lebih tinggi dari pada karton produksi industri rakyat (dari campuran kertas bekas 50% dan sludge 50%. dan rosin size 2%). karton. 2006 Dalam rangka program restrukturisasi kehutanan. bambu lamina dan papan partikel komposit dengan kualitas eksterior yang setara dengan perekat jenis fenol-dan resorsinol formaldehide Kata kunci: Kulit mangium. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah mengembangkan perekat berkualitas WBP (Weather Boiling Proof) yang terbuat dari tanin yang berasal dari kulit pohon mangium. diolah menjadi pulp menggunakan proses semikimia soda panas tertutup pada ketel pemasak skala semi-pilot hasil rekayasa Pusat Litbang Hasil Hutan (Bogor) pada kondisi pemasakan: konsentrasi alkali (NaOH) 10%. Lembaran karton dibentuk dari campuran pulp TKKS 50% dan sludge industri kertas 50%. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa rendemen kulit mangium berkisar 5-12 persen. tapioka 4%.24 No. Pasaribu. tetapi tanpa bahan aditif).5 atmosfir. perbandingan S/V Roliadi.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 165-175 . dan waktu pemasakan 2 jam pada suhu maksimum 120oC dan tekanan 1. Data potensi hutan rakyat. balok lamina.2 – 1. Perekat tanin ini bisa diaplikasikan guna memproduksi berbagai jenis produk perekat yang ramah lingkungan seperti kayu lapis. sebagai bahan baku altermatif/pengganti pada industri karton yang menggunakan kertas bekas. Kapasitas izin IKPH tahun A. Adi KULIT MANGIUM SEBAGAI SUMBER TANIN UNTUK PEREKAT / Adi Santoso.

) telah lama dikenal sebagai penghasil minyak untuk bahan bakar dan obat.. Kata kunci: Peta potensi. Setiawan. tetapi lebih rendah dalam kerapatan dan keteguhan tekan dari briket tempurung biji jarak pagar. Pencampuran dengan tempurung kelapa dapat meningkatkan karbon terikat dan nilai kalor briket dari tempurung biji jarak. Industri kehutanan Sudradjat. Data Produksi Hasil Hutan Non Kayu tahun 2004. R. hutan tanaman. Dengan adanya krisis energy. Han Roliadi. Dengan tujuan memberikan informasi yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. serta meningkatkan kerapatan dan keteguhan tekan briket dari kayu jarak pagar.24. Energi alternatif. tetapi lebih rendah di dalam kadar air. kayu jarak pagar. Jatropha curcas Linn. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan : Halaman 207-219 . kandungan minyak sangat tinggi. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. briket arang. Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian penggunaan chainsaw untuk menebang tanaman mangium dan gmelina dan hasil tersebut selanjutnya 90 .3 . Halaman 63 . Sudradjat.) (Technical Setiawan.76 . Hasil penelitian menunjukkan. kualitas produk dan aspek kelayakan finansial dalam pengusahaannya. East Kalimantan) / Sona Suhartana. Sifat yang tidak memenuhi standar adalah: kerapatan.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Oleh karena itu informasi mengenai penggunaan Chainsaw ditinjau dari jumlah kebutuhannya perlu disampaikan. KALIMANTAN TIMUR (Efficiency of Chainsaw Utilization on Felling: A Case Study at PT Surya Hutani Jaya. 400 dan 600 kg/cm2.24 No. karbon terikat dan nilai kalor dari briket dari kayu jarak (100%). Jarak pagar. karbon terikat dan nilai kalor. Oleh karena itu. Yuniawati. Kata kunci: Tempurung biji jarak. tanaman ini sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai energi alternatif khususnya di pedesaan sekaligus memperluas lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. zat terbang. nilai kalor. dan hutan rakyat.2004. Di dalam makalah ini dikemukakan mengenai aspek yang berhubungan dengan tanaman. Pedesaan Process and Characteristics oof Charcoal Briquette From Jatropha Curcas (Jatropha curcas L. Halaman 227-240 . -. Permasalahan umum stok produksi hasil hutan kayu dan non kayu. 2006 Sudradjat.) Shell and Wood) / R. 50. dapat ditanam pada lahan yang sempit dalam bentuk pagar. kadar air. tetapi belum diketahui secara pasti jumlah chainsaw yang sebaiknya digunakan agar hasilnya efisien. briket yang dibuat dari tempurung biji jarak pagar (100%) lebih tinggi di dalam kerapatan dan keteguhan tekan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan limbah dari tanaman jarak pagar berupa tempurung biji dan kayu untuk briket arang. Suhartana. kadar abu dan nilai kalor (kecuali briket arang dari kayu jarak B 50/50).1 . Perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian tekanan 200. D. yaitu dalam rangka meningkatkan kelayakan ekonomi pengusahaan minyak jarak pagar untuk biodisel. 75 dan 100%. 2006 Dewasa ini. teknologi. 25. 2005 Biji Jarak (Jatropha curcas Linn. Sona EFISIENSI PENGGUNAAN CHAINSAW PADA KEGIATAN PENEBANGAN: STUDI KASUS DI PT SURYA HUTANI JAYA. Kata kunci: Biodesel. TEKNIK PEMBUATAN DAN SIFAT BRIKET ARANG DARI TEMPURUNG DAN KAYU TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L. R BIODESEL DARI TANAMAN JARAK PAGAR SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF UNTUK PEDESAAN / R. Hasil hutan. sekali tanam dapat dipanen selama 35 tahun serta hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi produk yang dapat dijual. No. Prakiraan stok produksi kayu di hutan alam. karbon terikat (kecuali briket arang dari tempurung biji jarak B 100/0). maka minyak jarak mulai diteliti kembali pemanfaatannya untuk pembuatan biodesel. Prospek pengembangan tanaman ini sebagai tanaman energi sangat baik karena daya adaptasi terhadap jenis tanah dan iklim sangat besar. Briket kayu jarak pagar (100%) sebaliknya lebih tinggi dalam kadar air. untuk kegiatan penebangan di hutan tanaman industri (HTI) telah menggunakan chainsaw. Beberapa sifat fisiko-kimia briket arang telah memenuhi Standar Jepang yaitu: keteguhan tekan. serta komposisi campuran bahan baku (tempurung biji dan kayu jarak pagar) dengan tempurung kelapa 0. cepat tumbuh dan berbuah. Sudradjat dan D.

Pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 adalah layak secara ekonomi dengan Pay Back Periode = 1. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi teknis dan finansial penggunaan alat pengeluaran kayu tersebut. Djaban Tinambunan. 2006 Pengeluaran kayu di areal hutan tanaman yang berbukit-bukit dengan ukuran kayu relatif lebih kecil perlu mendapat perhatian khusus. Produktivitas pengeluaran kayu bervariasi antara 1.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 79-82 . Kebutuhan kayu untuk industri pengolahan kayu cukup besar sementara jatah produksi tahunan relatif kecil. No. Produksi kayu dari hutan alam cenderung menurun dari tahun ke tahun.169 . dan biaya pengeluaran kayu adalah Rp 16.562 m /jam).4%.24. Hutan tanaman yang sekarang ini disorot. IRR = 66. danB/C Ratio =1. Sona PENINGKATAN PRODUKSI HASIL HUTAN MELALUI IMPLEMENTASI PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN / Sona Suhartana. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah membuat alat pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 yang dirancang untuk mengeluarkan kayu pada areal berbukit.144 m (rata-rata 0.39 tahun.0 .8 detik/rit (rata-rata 161.046 m3) dan 77. Kata kunci: Hutan tanaman.0. Kata kunci: Peningkatan produksi. -.digunakan untuk mengetahui jumlah kebutuhan penggunaan chainsaw yang tepat dan efisien dalam penebangan pohon mangium dan gmelina. -. Pemanenan hutan. yaitu 21 unit untuk penebangan mangium dan 5 unit untuk penebangan gmelina.012 . Dulsalam.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Penggunaan chainsaw sesuai jumlah yang ada di lapangan akan mempersingkat pekerjaan. biaya Sukadaryati PEMANENAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN TANAMAN / Sukadaryati dan Sukanda. Upaya tersebut diharapkan dapat dijadikan bahan acuan bagi para penentu kebijakan dan pelaksana di lapangan. sistem kabel layang P3HH24. Kata kunci: Jumlah chainsaw. Halaman 157 . pengeluaran kayu. Wawasan lingkungan Sukadaryati PENGELUARAN KAYU DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH24 DI HUTAN TANAMAN KPH SUKABUMI (Log Extraction Using P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of Sukabumi Forest District) / Sukadaryati. Pemanenan yang dilakukan di hutan tanaman tidak jauh berbeda dengan di hutan alam.175. -. biaya Suhartana. efisiensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume kayu yang dikeluarkan dan waktu kerja yang diperlukan berturut-turut berkisar dari 0.300/m3. sehingga kelestarian produk tetap terjaga tanpa meninggalkan kelestarian ekologinya.045. efisiensi dan upaya peningkatan efisiensi pemanenan kayu.018m /jam (rata-rata 3. Cepatnya waktu ini mengakibatkan alat tersebut tidak beroperasi lagi pada bulan nya sehingga mengakibatkan tingginya biaya untuk menutupi semua biaya tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan jumlah kebutuhan chainsaw yang efisien adalah berdasarkan rencana produksi perusahaan. Sistem tebang habis dan dimensi kayu yang relatif kecil menuntut perlakuan khusus agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat 91 . Dulsalam. Peningkatan efisiensi pemanenan kayu di hutan alam maupun di hutan tanaman ditujukan agar pemanfaatan sumberdaya hutan optimal dan gangguan lingkungan minimal. Upaya peningkatan produksi hasil hutan dapat direalisasikan melalui implementasi PBL kaitannya dengan teknik.665 . produktivitas.8.215.51.0 detik/rit). Produksi kayu dari hutan tanaman masih relatif sedikit. target produksi.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 65-77 . 2006 Bukan langkah yang bijak bila hutan alam yang sekarang ini kondisinya carut marut dijadikan tumpuan utama pemasok bahan baku kayu untuk industri.2 . Untuk meningkatkan produksi hasil hutan terutama kayu dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi pemanenan kayu melalui implementasi pemanenan hutan yang berwawasan lingkungan (PBL). Hasil hutan. NPV = Rp 75. 2006 Produksi hasil hutan terutama kayu memegang peranan cukup berarti dalam pembangunan nasional. manjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dilakukan teknik pemanenan yang tepat.

Oleh karena itu perlu ditingkatkan diversifikasi produk pengolahan bambu khususnya produk bambu yang dapat digunakan sebagai subtitusi kayu.24.dikurangi.8 .1 . Bentuk partikel bambu yang digunakan adalah untai. dapat memacu perkembangan HHBK bernilai tinggi sesuai lahan hutan setempat. bahan bangunan serta penggunaan lain. Kemajuan dalam teknologi perekatan diharapkan dapat mengatasi keterbatasan bentuk dan dimensi bambu sebagai bahan subtitusi kayu. -. Akan tetapi. Wawasan lingkungan.10. seleksi bibit. Sampai sekarang teknik budidaya pemanenan. bambu lamina. Sulastiningsih. Halaman 1 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Suwardi Sumadiwangsa. panen. Kata kunci: Pemanenan. Hutan tanaman Sulastiningsih. Penggunaan kadar perekat minimum 11% dari berat kering partikel bambu menghasilkan papan partikel bambu yang cukup kuat dan stabil serta memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia. Kata kunci: Bambu. -. Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat papan partikel bambu yang dihasilkan.70 g/cm dengan kadar perekat bervariasi yaitu 8. Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan penunjang kayu atau bahan pengganti (subtitusi) kayu untuk mebel. Sumberdaya bambu tersebut perlu ditingkatkan pemanfaatannya agar dapat memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.11 dan 12% dari berat kering partikel bambu.M. bambu yang bentuk aslinya bulat dan berlubang dapat diolah menjadi produk perekatan bambu berbentuk papan bambu atau balok bambu yang dikenal dengan nama bambu lamina dan produk panel bambu berupa bambu lapis. bahan bangunan dan penggunaan lain adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. sedangkan perekatnya adalah urea formaldehida (UF) cair. I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan. -. masalah yang timbul dalam pemanfaatan bambu sebagai bahan mebel. Salah satu cara untuk mendapatkan teknik pemanenan yang efisien dan berdampak minimal adalah kesesuaian penggunaan alat pemanenan dengan kondisi hutan tanaman. lebar dan panjang tertentu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah melakukan beberapa penelitian mengenai bambu lamina dan bambu lapis. dan biaya serta gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Agus Turoso. Pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini pada umumnya untuk mebel.9. barang kerajinan dan supit.M.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 131-141 . Nurwati Hadjib dan Karnita Yuniarti. disamping mudah diserang bubuk. bambu lapis Sumadiwangsa. I. produktivitas. Kata kunci: Teknologi pembuatan.M TEKNOLOGI PEMBUATAN BAMBU LAMINA DAN BAMBU LAPIS / I. 2006 Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia memiliki sumber daya bambu yang cukup potensial. PENGARUH KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL BAMBU (Effect of Resin Portion on Bamboo Particleboard Properties) / I. E.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 179-199 . kadar perekat. Novitasari. Penggunaan peralatan yang tidak tepat akan mempengaruhi efektifitas kerja. IPTEK tepat guna yang diperlukan mencakup pemilihan jenis tumbuhan bernilai tinggi yang akan ditanam. Papan partikel bambu sekala laboratorium dibuat dengan target kerapatan 0. Sulastiningsih. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar perekat terhadap sifat papan partikel bambu. pasca panen. diversifikasi produk dan 92 . Suwardi TEKNOLOGI PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU / E.M. Untuk tujuan tersebut maka produk bambu yang dihasilkan harus dapat menggantikan fungsi papan atau balok kayu sehingga produk bambu tersebut memiliki ukuran tebal. sifat fisis dan mekanis Sulastiningsih. 2006 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bila dikelola secara seksama dapat berperan besar dalam meningkatkan nilai lahan hutan dan pendapatan masyarakat sekitar hutan. teknik penanaman dan pemeliharaan. No. Bambu yang digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper). pengolahan. papan partikel. pengolahan dan diversifikasi produk masih dilakukan secara tradisional belum ditunjang IPTEK tepat guna yang memadai. Paradigma baru kehutanan bila telah dilaksanakan. Dengan menggunakan perekat tertentu.

Kehilangan berat tertinggi (36.109. mesin serpih mudah dipindahkan. (Acacia aulacocarpa A. (Productivity and Cost of M. Halaman 267-274 .257 ton.) diuji terhadap jamur menggunakan 93 .8%) terjadi pada bagian tepi kayu Acacia crassicarpa yang diletakan pada biakan Polyporus sp. kopal. Sedangkan kehilangan berat terendah (0.v. kemenyan. Bogor.227 per ton serpih. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Bogor) / Achmad Supriadi. kemiri. 2006 Pada umumnya kayu dari hutan tanaman memiliki diameter kecil dan mudah terserang jamur perusak kayu. Dengan harga jual serpih Rp 360. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan limbah kayu dari hasil pemanenan hutan tanaman.. gondorukem.691. Osly Rachman.113 dan harga pokok produksi serpih sebesar Rp 325. dan Schizophyllum commu.000. dan Eucalyptus pellita F.040 dan Rp 14. Beberapa komoditi HHBK seperti gaharu. jernang. Berdasarkan dua kelompok contoh uji. Achmad PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PRODUKSI SERPIH KAYU MENGGUNAKAN MESIN SERPIH MUDAH DIPINDAHKAN (SMD): STUDI KASUS DI BKPH PARUNGPANJANG. Kata kunci: Teknologi pemanfaatan.115 . nilam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konversi rarta-rata limbah pemanenan untuk bahan baku serpih (chip) adalah 1 sm = 0. Biaya produksi per tahun sebesar Rp 156. Potongan kayu yang biasa disebut sebagai limbah pemanenan pada umumnya ditinggalkan di hutan dan sebagian yang dianggap masih laik dijual kepada penduduk sekitar hutan untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau bahan baku energi lainnya. limbah. Cunn. dapat diperoleh laba kotor dan laba bersih rata-rata per tahun masingmasmg sebesar Rp 16.4791 m = 0. yaitu bagian tepi dan dalam dolok. damar.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.000 per ton. -.11 Kata kunci : Hutan tanaman. 2006 Hasil pemanenan kayu di areal hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman masih menyisakan potongan-potongan kayu kecil.Iskandar. sagu.6 ton/hari. Acacia auriculiformis A.2 .. BOGOR. Pycnoporus sanguineus HHB-324. Berdasarkan kemampuan untuk melapukkan kayu. telah dilakukan penelitian pengolahan limbah kayu jenis mangium (Accacia mangium) di areal hutan tanaman di BKPH Parungpanjang. Ketahanan empat jenis kayu hutan tanaman standar DIN 52176 yang telah dimodifikasi.8%) terjadi pada bagian dalam I crassicarpa yang diletakkan pada biakan Pycnoporus sanguineus HHB-8149. Hasil hutan bukan kayu Suprapti. kemampuan tertinggi dijumpai pada Tyromyces palustris.24 No. Sihati KETAHANAN EMPAT JENIS KAYU HUTAN TANAMAN TERHADAP BEBERAPA JAMUR PERUSAK KAYU (The Resistance of Four Plantation Wood Species Against Several Wood Destroying Fungi) / Krisdianto. Contoh uji dibagi dalam dua kelompok secara radial. serpih kayu Chip Production Using Portable Chipper: Case Study in BKPH Parungpanjang. Acacia crassicarpa termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV).teknik pemasaran.000.. kehilangan berat kayu bagian dalam sebesar 6.4% (kelas IV). kilemo dan ipuh kebanyakan masih dikelola secara lokal sehingga belum dapat menghasilkan produktivitas dan kualitas HHBK.4 . Investasi pendirian satu unit pengolahan serpih kayu sebesar Rp 38. jamur perusak. Acacia crassicarpa A.I. Kata kunci : Ketahanan kayu. kehilangan berat Supriadi. Selain itu juga dipaparkan mengenai diversifikasi produk yang dapat meningkatkan nilai tambah HHBK dan Beberapa hasil Penelitian yang sudah saatnya ditindaklanjuti dengan tahap uji coba di lapangan. Produktivitas penyerpihan adalah 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu Acacia aulacocarpa dan Eucalyptus pellita termasuk kelompok kayu agak-tahan (kelas III) dan kayu Acacia auricultformis. Cunn. No.. Cunn.M. kemudian diikuti Polyporus sp. Halaman 103 . Rendemen serpih sebelum disaring dan setelah disaring masing-masing adalah 97% dan 53%.3% (kelas III) lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan berat kayu bagian tepi sebesar 12.24.

kayu sawit 30. potensi kayu perkebunan secara nasional adalah 61. Osly Rachman.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Achmad POTENSI DAN KONSEP PENGELOLAAN KAYU PERKEBUNAN UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI PERKAYUAN / Achmad Supriadi.12 No. terdiri dari kayu karet 17. Komponen dalam bentuk lengkungan tersebut umumnya dibentuk dengan cara digergaji mengikuti pola lengkungan.24.Info Hasil Hutan : Vol. Ditjen Bina Produksi Kehutanan dan Departemen Pertanian c. Kemenyan di pasaran dikelompokkan menjadi 6 kualitas berdasarkan kriteria uji ukuran (besar kecilnya) lempengan/ bongkahan dan warna kemenyan.1 .Supriadi. lembaga pemasaran dan asosiasi. selain dari hutan alam. Pengkajian dilakukan di Pulau Jawa dan Sumatera. -. Prihatiningsih. 94 . 2006 Industri perkayuan dituntut untuk mencari bahan baku alternatif.2 . dapat dilengkungkan hingga radius 26 cm.24. Halaman 87-95.) dengan dua macam perlakuan awal yaitu (1) pengukusan dan (2) perendaman dalam larutan NaOH 3% dilanjutkan dengan pengukusan.). seyogyanya ada kebijakan pemerintah yang mendorong pihak terkait melakukan pengelolaan kayu dan tertarik untuk memanfaatkannya. Waluyo. restribusi dan pengelolaan Waluyo. tetapi industri perkayuan belum memperoleh kayu perkebunan secara maksimal. Kayu perkebunan mungkin dapat ditampung dalam Tempat Penampungan Kayu Perkebunan (TPKP) yang dilengkapi dengan sarana pengolahan dolok diameter kecil. Apabila tersimpan lebih lama. kendal (Eretia acuminata R. ukuran. -. Ditjen Perkebunan Kata kunci: Kayu perkebunan.61 . Di TPKP harus segera diberi pestisida pencegah jamur biru dan kumbang ambrosia. Totok K. 2006 Sumatera Utara merupakan sentra produksi kemenyan di Indonesia.4 juta m3/tahun dan kelapa 13. swasta terkait. terhadap kayu karet. 2006 Industri kayu sekunder cukup banyak menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung seperti industri mebel. Supriadi.1 . Halaman 21 .1 juta m3/tahun. Hasil kajian menunjukkan. sehingga diharapkan nantinya pengelompokkan kualitas kemenyan dapat dipertimbangkan secara kuantitatif berdasarkan unsur-unsur sifat fisikokimianya. Data dikumpulkan dari berbagai instansi pemerintah. T.) dan rasamala (Altingia excelsa N. industri kayu. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan sifat fisiko-kimia kemenyan berbagai kualitas yang ada di pasaran. Cara pembuatan komponen lengkung dengan menggunakan gergaji cenderung menghasilkan rendemen yang rendah. Kata kunci: Pelengkungan. Achmad SIFAT PELENGKUNGAN LIMA JENIS KAYU DENGAN DUA MACAM PERLAKUAN AWAL (Bending Characteristics of Five Wood Species With Two Types of Pretreatment) / Achmad Supriadi . Cara lain yang lebih efisien adalah pelengkungan kayu secara fisis dan kimia. Pemerintah telah mengatur kebijakan penebangan dan retribusi kayu perkebunan. bentuk. Abdurachman.3 juta m3/tahun. No. marasi (Hymenaea sp. pengembangan dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang terlebih dahulu direndam dalam larutan NaOH 3% selama 7 hari kemudian dikukus. alat-alat olah raga dan perahu. Osly Rachman & Edi Sarwono. sedangkan kayu yang diberi pengukusan hanya dapat dilengkungkan hingga radius 51 cm. Tujuan kajian untuk mengetahui potensi dan mendapatkan sistem pengelolaan kayu perkebunan. Dalam rangka mendorong pemanfaatan kayu perkebunan. pengukusan. perlu dibentuk Tim Koordinasi Kayu Perkebunan (TKKP) di tingkat daerah dan pusat yang melibatkan Departemen Kehutanan c.q. setiap dua minggu harus diberi pestisida kembali.q. yaitu kayu asam jawa (Tamarindus indica L. yaitu kualitas I s/ d VI. penebangan. Kayu asam jawa memiliki karakteristik pelengkungan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu marasi.4 juta m3/tahun. Sebelum diolah atau terjual. Potensi dan pengolahannya belum diketahui sehingga perlu pengkajian. balobo. Dalam pengelolaan. No. Halaman 47 . kendal dan rasamala. di TPKP paling lambat tersimpan dua minggu.31 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. kerapatan.Br) balobo (Diplodiscus sp). Salah satu sumber alternatif adalah kayu perkebunan. KARAKTERISTIK DAN SIFAT FISIKO-KIMIA BERBAGAI KUALITAS KEMENYAN DI SUMATERA UTARA (Characteristics and Physicochemical Properties of Benzoin Gum qualities in North Sumatera) / Totok K. Poedji Hastoeti. perendaman. Dalam studi ini dilakukan determinasi karakteristik pelengkungan pada 5 jenis kayu. Sifat fisiko-kimia kemenyan yang diuji adalah warna. -. sawit dan kelapa.

Saat ini yang ada di pasar umumnya gaharu dengan kualitas rendah dan harganya relatif murah seperti gaharu buaya dan gaharu kamedangan. yaitu penyulingan dengan cara merebus.al) .75%. Pada waktu penyulingan ditambah satu sendok garam dan tanpa ditambah garam. Arian STRATEGI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DALAM PENYELAMATAN INDUSTRI KEHUTANAN / Arian Wargadalam. Waluyo. Akan tetapi produk HHBK pada umumnya dari dulu hingga saat ini banyak diperdagangkan masih berupa produk mentah atau asalan sehingga kurang memberikan kontribusi ekonomi pada masyarakat tersebut. Kata kunci: Kualitas. Program pengembangan industri nasional ditujukan untuk meningkatkan lapangan kerja dengan cara mengembalikan dan meningkatkan kinerja industri berorientasi eksport. Perendaman 5 hari menghasilkan rendemen minyak gaharu tertinggi. buah. Totok K. selanjutnya direndam dalam air selama 5 hari. gaharu kamedangan. jernang. bunga. III. 2006 Produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan produk yang bersifat kedaerahan.. -. Sumadiwangsa. Waluyo. Dengan demikian disarankan pembagian kualitas kemenyan menjadi 4 kelas kualitas yaitu kualitas I berasal dari kemenyan kualitas I s/d III. Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar air dan kadar abu relatif sama antara kemenyan kualitas I. biji. 2006 Gaharu merupakan komoditi hasil hutan bukan kayu yang harganya sangat mahal. kadar abu. Waluyo.1 . banyak jenisnya (kulit.12 No. kadar kotoran. Untuk meningkatkan nilai tambah. asam balsamat. kemenyan. II. Sebelum penyulingan gaharu dijadikan serbuk berukuran 40 . titik lunak dan kadar asam balsamat. salah satunya adalah dengan cara penyulingan. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 201-206 . kualitas II berasal dari kemenyan kualitas IV. Totok K PENYULINGAN GAHARU KAMEDANGAN DAN GAHARU BUAYA DENGAN METODA KOHOBASI / Totok K. Kata kunci: Gaharu buaya. 2006 Kebijakan Pengembangan Industri Nasional diarahkan kepada peningkatan industri yang berdaya saing global yaitu industri yang mempunyai keunggulan kompetitif. rendemen Waluyo. damar Wargadalam. dan industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri. binatang dan lain-lain) dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitar hutan sejak dulu. kualitas III berasal dari kemenyan kualitas V dan kualitas IV berasal dari kemenyan kualitas VI. maka perlu usaha diversifikasi produk gaharu. Kadar kotoran dan titik lunak kemenyan kualitas I. dekstrin. resin/getah. berorientasi eksport dan berwawasan lingkungan. IV dan V. banyak diburu di hutan alam sehingga keberadaannya di hutan dan di pasar semakin langka. Umi Kulsum. E. kilemo. 10 hari dan tidak direndam dalam air. Kata kunci: Asam sinamat. -. Strategi tersebut mengupayakan penciptaan dan peningkatan nilai tambah.85% dan gaharu buaya 0..50 mesh. Industri pengolahan hasil hutan di Indonesia merupakan industri yang memanfaatkan sumber bahan baku yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman. sedangkan kadar asam balsamat kemenyan kualitas I. Penyulingan gaharu dilakukan dengan menggunakan metode sederhana (kohobasi).Info Hasil Hutan : Vol. II. daun. Tulisan ini memaparkan beberapa produk-produk HHBK yang prospektif dan teknologi yang siap pakai antara lain pemanenan dan pengolahannya. III dan IV adalah relatif sama. BEBERAPA PRODUK-PRODUK HHBK PROSPEKTIF DAN TEKNOLOGI PEMANFAATANNYA YANG SIAP PAKAI / Totok K. Dengan demikian diharapkan adanya pengembangan jenis-jenis HHBK yang prospektif dan penerapan teknologi pemanfaatan yang siap pakai akan dapat meningkatkan nilai tambah produk HHBK sehingga dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya masyarakat sekitar hutan. II dan III relatif sama.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 9-13 . Halaman 59-65 . Kondisi sumber bahan baku 95 . S. sifat fisik-kimia. yaitu gaharu kamedangan 0. Keberhasilan pengembangan industri memerlukan dukungan iklim investasi.kadar air. terutama gaharu kualitas tinggi (gaharu gubal/super). efisiensi dan produktivitas. stabilitas keamanan dan law enforcement. kohobasi. iklim usaha yang kondusif termasuk pembiayaan.(et.

Halaman 67-74 . pemanenan.12 No. oven 6 jam. Data yang dikumpulkan meliputi potensi. . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengusahaan kulit kayu medang landit (Persea spp) di desa Bulu Mario. Kulit kayu medang landit dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan obat anti nyamuk bakar dan dupa (hio). Cara pemanenan kulit medang landit dilakukan dengan menebang pohon. & A. SIPIROK-TAPANULI SELATAN. 2006 Penggunaan bahan pengawet pada nira aren sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti terbentuknya asam. Halaman 115-122 . daun. Ina PENGARUH PEREBUSAN. 2006 Kemiri merupakan tanaman serbaguna. Suwardi Sumadiwangsa. Permasalahannya pengupasan biji kemiri secara tradisional tidak dapat dilakukan lagi dalam skala industri sehingga dibuatnya mesin pengupasan biji kemiri untuk menghasilkan persentase keutuhan biji kemiri yang tinggi.. Tapanuli Selatan.2 . -.). dan belum ada budidaya tanaman. tata niaga dan kendala pengusahaan melalui teknik observasi dan wawancara. kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn. dupa Winarni. perendaman 96 . kulit kayu nyirih (Xilocarpus granatum Koen. Kata kunci: Bahan pengawet.Info Hasil Hutan : Vol. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah perlakuan pendahuluan berupa perebusan. Sumatera Utara. PENGOVENAN DAN PERENDAMAN TERHADAP KEUTUHAN BIJI KEMIRI / Ina Winarni & E.) / Santiyo Wibowo -. perebusan.1 . Pohon medang landit yang dipanen merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan hutan baik hutan rakyat maupun kawasan hutan negara. produk turunan. seperti batang. Beberapa jenis pohon sebagai sumber penghasil bahan pengawet nabati yang biasa digunakan untuk mengawetkan nira antara lain tuba (Denis eliptica Benth. jenis pohon Wibowo. Santiyo BEBERAPA JENIS POHON SEBAGAI SUMBER PENGHASIL BAHAN PENGAWET NABATI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr.tersebut dewasa ini semakin menipis potensinya karena adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan dari sisi industri pengolahannya. kayu nangka (Artocarpus Integra Merr. sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq.12 No. SUMATERA UTARA / Santiyo Wibowo.). kayu belum dimanfaatkan secara optimal. kawao (Milletia sericea W. Santiyo PENGUSAHAAN KULIT KAYU MEDANG LANDIT DI DESA BULU MARIO. X. funi (Garcinia syzygiifolia Pierre).2 . tingkat keutuhan biji kemiri akan semakin tinggi. penanganan pasca panen.). dimana hampir seluruh bagian dari tanaman kemiri dapat digunakan. cara pemanenan. moluccensis M. dan rendam 24 jam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlakuan pendahuluan dan kecepatan putar berapa yang paling efektif agar menghasilkan persentase biji kemiri utuh yang tinggi. nira aren. Halaman 105-112.12 No. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan kayu bulat tersebut antara lain disebabkan oleh semakin menurunnya kemampuan daya dukung hutan yang disebabkan oleh kurang baiknya manajemen pengolahan hutan dan semakin maraknya penjarahan hutan Kata kunci: Strategi. departemen perindustrian.Roem) dan cengal (Hopea sangal Korth). pengovenan. Nilai keutuhan biji kemiri tertinggi (40 %) terdapat pada kecepatan putar 1000 rpm dengan perlakuan rebus 4 jam. Kata kunci : kemiri.). industri kehutanan Wibowo. buah dan daging buah. obat anti nyamuk.). buih putih dan lendir. Semakin lama perlakuan perebusan dan pengovenan.Info Hasil Hutan : Vol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pohon medang landit adalah 14 pohon/ha. Nira yang telah rusak kurang baik jika digunakan untuk membuat produk turunannya. Kata kunci: Kulit kayu medang landit.Info Hasil Hutan : Vol. pengovenan dan perendaman. Sipirok.

pada areal yang luas. Di luar Pulau Jawa.081. topografi dan kondisi tanah.56 m3/jam dengan jarak sarad 289.43 m3 dan waktu kerja 20. Biaya penyaradan dipengaruhi produktivitas. Halaman 123-131 . -. Produktivitas bongkar tertinggi menggunakan Allis Chalrners 745H dengan risiko kerusakan kayu sangat kecil.Info Hasil Hutan : Vol. yaitu 32. Penggunaan traktor caterpillar tidak terlepas dari kerusakan ekologi yaitu kerusakan tegakan tinggal. 2006 Muat bongkar dolok merupakan salah satu kegiatan dalam pemanenan hutan. Sona Suhartana. Penggunaan alat sarad mekanis traktor perlu mempertimbangkan segi teknis. Kata kunci: Muat bongkar. produkdvitas.2 . Halaman 25-32 . sistem penebangan. kerusakan 97 .12 No. pemadatan tanah dan penggeseran tanah. Kata kunci. muat bongkar umumnya menggunakan peralatan mekanis. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Caterpillar 966C beroda menghasilkan produktivitas muat tertinggi.Yuniawati PRODUKTIVITAS DAN BIAYA MUAT BONGKAR KAYU BULAT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS / Yuniawati. Faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah jarak sarad. produktivitas. ekonomis dan ekologi. Dengan mengetahui produkdvitas dan biaya muat bongkar. intensitas penggunaan jalan sarad dan kandungan air tanah. Biaya penyaradan dengan traktor ini adalah sebesar Rp 7. Produktivitas penyaradan kayu dengan menggunakan traktor Caterpillar D7g memiliki nilai tinggi. -.2 m. kondisi topografi dan kondisi tanah. Penyaradan.12 No.60 menit. volume kayu yang disarad. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui produktivitas yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan serta kerusakan ekologi yang ditimbulkan pada beberapa tipe traktor Carterpillar.1 . pemilihan alat yang sesuai dapat lebih mudah dilakukan. volume kayu 10. Biaya muat bongkar yang terendah masingmasing menggunakan wheel/oaaferKomatsu WA350. biaya.Info Hasil Hutan : Vol.91/ m3. Kerusakan ekologi dipengaruhi kemiringan lapangan. biaya Yuniawati KAJIAN PENYARADAN KAYU DENGAN TRAKTOR CATERPILLAR / Yuniawati & Sona Suhartana. 2006 Penyaradan merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tunggak ke tempat pengumpulan kayu (TPn). traktor Caterpillar. Harga alat muat bongkar sangat mahal sehingga perlu direncanakan secara matang sesuai keadaan lapangan.

80 persen. Halaman 93 . Cepi.100 . 2006 Salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah dengan cara sambungan yang dapat mempertahankan genotipe pada pohon induknya secara konsisten dan berkelanjutan. A4 = Bone. No. -Wana Benih : Vol. vegetatif. yang terdiri atas 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali. Salah satu kendala yang selalu dihadapi dalam sambungan adalah ketidaksesuaian pertautan sambungan. Growth of Leafy Cuttings of Breadfruit Trees Taken from Nusa Tenggara Barat with Application of Growth Regulator Hormone)/ 98 . Kata kunci: Artocarpus altilis. Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan split plot. asal populasi.1 .7. panjang tunas total (cm) dan berat kering tunas (g).60-10. Faktor kedua sebagai anak petak adalah asal tanaman terdiri atas 6 aras yaitu Al = NTB. Suplement No. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah tunas 6. -. Hamdan Adma PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN ASAL DARI POPULASI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH (The Hamdan Adma Adinugraha. Sambungan langsung dengan menggunakan scion segar diperoleh keberhasilan 80 persen lebih besar dibandingkan scion direndam air selama 1 . Dedi Setiadi dan Mulat Nuning Ambari. pellita di kebun benih Wonogiri. Halaman 265-273.67 tunas dengan hasil terbaik dari DIY.3.3. A2 = Banyuwangi. Kebun Benih. Penelitian dilaksanakan di Pusat Litbang Hutan Tanaman dengan metode penelitian melakukan beberapa kegiatan seperti persiapan rootstock. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh asal populasi tanaman sukun dan pemberian IAA terhadap pembentukan tunas sebagai bahan stek. A3 = DIY. Hamdan Adma KEMAMPUAN BERTUNAS TANAMAN SUKUN DI KEBUN PANGKAS DARI ENAM POPULASI DENGAN APLIKASI HORMON IAA (Sprouting Ability of Artocapus altilis from Several Population at Hedge Orchard with the Application of IAA) / Hamdan Adma Adinugraha.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh dalam penyambungan antara batang bawah (rootstock) dari hasil penyemaian benih dengan batang atas (scion) dari beberapa pohon plus E. Sambungan Perbanyakan Adinugraha. Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas. perlakuan naungan memberikan keberhasilan sambungan. Hidayat Moko. -.1 . Hamdan Adma STUDI PENYAMBUNGAN JENIS EKALIPTUS BERASAL DARI KEBUN BENIH WONOGIRI (Grafting Study of Eucalyptus pellita from Seed Orchard at Wonogiri) / Hamdan Adma Adinugraha. panjang tunas rata-rata 4. Scion yang berasal dari pertunasan cabang berdiameter lebih 3 mm memberikan pertumbuhan (jumlah dan panjang tunas) yang lebih tinggi dibanding scion hasil perlakuan batang tanaman (girlding). mendapatkan kombinasi asal tanaman sukun dengan pemberian IAA yang mempunyai kemampuan tunas terbaik. Halaman 37 .46 . Diameter rootstock yang lebih besar meningkatkan pertumbuhan tanaman sambungan. Kompatibilitas. kemampuan bertunas Adinugraha. scion.85 cm-7. Hidayat Moko. panjang tunas dan berat kering tunas pada umur 12 minggu. A5 = Malino dan A6 = Sorong. No.10 cm dengan hasil terbaik dari Banyuwangi dan berat kering tunas rata-rata 8.Adinugraha.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sambungan adalah sekitar 10 persen .93g-18. jumlah dan panjang tunas yang lebih baik pada tanaman berumur 2 bulan. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa asal populasi dan pemberian IAA berpengaruh terhadap jumlah tunas.3 hari. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi bahan stek pucuk dan zat pengatur terhadap keberhasilan tumbuh stek pucuk tanaman sukun. Kata kunci: Eukaliptus pellita. penyambungan dengan cara sambung samping dan pemeliharaan tanaman sambungan.57g dengan hasil terbaik dari Bone. IAA. Faktor pertama sebagai petak utama adalah Pemberian IAA terdiri atas 2 aras yaitu PO = tanpa disemprot IAA dan PI = disemprot IAA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek pucuk bagian ujung memberikan pengaruh yang lebih baik secara nyata terhadap persentase stek bertunas. persentase stek berakar. viabilitas benih sangat besar dan perolehan genetik kurang optimal. Parameter yang diamati terhadap persentase stek bertunas. 99 . Hutan tanaman merupakan sebuah konsep pembangunan hutan yang bertujuan untuk mengatasi berbagai persoalan kehutanan yang bermuara pada terciptanya kelestarian ekosistem lingkungan dan keberlanjutan peranan sosial-ekonomi sumber daya hutan. Halaman 9 16 . Hamdan Adma PENGUPASAN KULIT PADA CABANGAN DAN AKAR DALAM REJUVENASI TANAMAN KAYU PUTIH (Treatment of Stem and Root Bark Peeling in Rejuvenation of Melaleuca cayuputi / Hamdan Adma Adinugraha. sedangkan faktor kedua adalah pengupasan Kulit (KO=kulit tidak dikupas dan K1=kulit dikupas). Faktor utama ada 2 yaitu pertama adalah posisi bahan stek pucuk yang terdiri atas bagian ujung tunas (PI) dan bagian pangkal tunas sedangkan kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh. 2003). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial. 2006 Perbanyakan tanaman kayu putih biasa digunakan dengan biji (generatif) yang pada umumnya cara ini memiliki banyak kelemahan. Halaman 1-14 . jumlah dan panjang akar dibandingkan dengan stek pucuk bagian pangkal. 2006 Sejalan dengan kebijakan restrukturisasi sektor kehutanan. Penerapan sistem silvikultur intensif dalam pembangunan hutan tanaman merupakan suatu upaya pembangunan yang bersifat kompleks. K2 = 50%. yang terdiri atas KO = kontrol konsentrasi 25%. Kata kunci: Stek pucuk. Kayu putih.Penelitian dilakukan di persemaian Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Rejuvenasi Anggraeni. Setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dalam setiap ulangan terdapat 8 sample stek. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengupasan kulit pada cabang dan akar selama rejuvenasi telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. Sukun. Sekalipun luas hutan tanaman yang ditargetkan 9 juta hektar. Sri Esti Intari dan Wida Darwiati. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor. Dalam perspektif tersebut diperlukan suatu konsep penyelenggaraan kegiatan rehabilitasi kawasan hutan tidak produktif yang dipadukan dengan ketersediaan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kehutanan (Iskandar dkk.1 .HASIL PENELITIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN DAN IMPLEMENTASINYA / Illa Aggraeni. No. yaitu faktor pertama adalah bahan tanaman (B1 = bahan cabang. dari total luas 9 juta hektar yang ditargetkan pembangunannya sampai dengan tahun 2009 tersebut. B2 = bahan akar). jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang terbentuk. Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan materi dalam perbanyakan vegetatif adalah rejuvenasi dengan menanam cabang atau akar pada media pasir. Kata kunci: Akar. berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi menuntut kita semua untuk berupaya mengatasi dengan sebaik-baiknya. persentase stek berakar. Untuk itu diperlukan cara perbanyakan yang efektif dan efisien seperti cara perbanyakan vegetatif. jumlah dan panjang akar. Pengupasan kulit.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Illa HASIL.7. jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang lebih banyak dibandingkan pengupasan kulit pada akar dan bahan yang tidak dikupas kulitnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengupasan kulit pada cabang memberikan persentase bertunas yang lebih tinggi. pemberian zat pengatur tumbuh memberikan hasil yang lebih baik terhadap seluruh parameter yang diamati dibandingkan dengan kontrol. -. Oleh karena itu keberhasilan upaya pembangunan hutan tanaman sangat tergantung pada keberhasilan dalam mengatasi masalahmasalah yang dihadapi seperti ketidaksesuaian jenis tanaman dengan tapak. Hidayat Moko. -. K3 = 75% dan K4 = 100%. Pembangunan hutan tanaman dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi tersebut dibangun dengan menerapkan silvikultur intensif. Zat pengatur tumbuh Adinugraha. Departemen Kehutanan telah menetapkan target pembangunan hutan tanaman seluas 9 juta hektar sampai dengan tahun 1009 termasuk 3 juta hektar yang telah dibangun sampai dengan saat ini. diantaranya jumlah benih yang berkualitas masih terbatas. di samping Hutan Tanaman Industri (HTI) terdapat kawasan yang akan dialokasikan sebagai kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang merupakan perwujudan dari kebijakan nasional "Revitalisasi Sektor Kehutanan". Nusa Tenggara Barat. Jakarta 23 Nopember 2006 . Parameter yang diamati meliputi persentase bertunas. Cabang. sejak bulan Mei sampai Oktober 2005.Wana Benih : Vol. persen berkecambah rendah.

silvikultur dan pemanfaatan kayu telah dan sedang dilakukan. 2006 Hutan dan Derah Sungai merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu dengan yang lain. keterkaitan ekologis di antara keduanya mempunyai hubungan yang kuat terutama dalam fungsi S-N-F (Spawing. Indra Jaya PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DAN DAS MELALUI PENDEKATAN EKOWISATA / A. Halaman 83 . tumbuh cepat dan sifat kayu yang baik. budidaya Asaad. khusunya ikan. Luas hutan tanaman jenis ini di Indonesia telah mencapai lebih dari 1 juta ha. No. Pengelolaan kawasan tersebut memerlukan suatu pengelolaan yang terintegrasi mengingat adanya suatu keterkaitan ekologis diantara kedua ekosistem tersebut. Dalam keadaan yang demikian ekologinya cenderung untuk memacu peningkatan populasi hama/penyakit seperti halnya yang terjadi pada ekosistem perkebunan dan pertanian. Salah satu pemecahannya adalah penggunaan bioinsektisida dan penggunaan insektisida kimia secara benar dan bijaksana.Pada hutan tanaman komposisi tegakan hutan terdiri dari jumlah jenis yang terbatas atau bahkan seringkali monokultur. salah satunya pendekatan pengelolaan yang meliputi kedua aspek utama tersebut adalah pengelolaan dengan pendekatan ekowisata. mangium pada akhirnya dipilih sebagai tanaman komersial untuk memenuhi kebutuhan industri karena kemampuannya beradaptasi pada lahan marjinal. mangium saat ini mencapai 9 juta m3/tahun sedangkan potensi produksi kayu bulat sekitar 165. Indra Jaya Asaad dan Khairul Fattah. Produksi kayu pulp A.3. Penelitian dilakukan di laboratorium perlindungan hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) Palembang dan di areal rakyat PT. Arisman. Kata kunci: Acacia mangium. ekobiologi dari hama/penyakit. Daerah Aliran Sungai. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada hutan tanaman Akasia. Hardjono ACACIA MANGIUM / Hardjono Arisman dan Eko B. Gangguan hama/penyakit akan mudah timbul apabila tidak ada keseimbangan lagi antara hama penyebab/patogen penyebab. Untuk dapat mengatasi gangguan dari berbagai macam hama/penyakit yang timbul di lingkungan hutan tanaman sangat diperlukan penelitian dasar yang menyangkut kepada pengenalan jenis kepada hama/penyakit dengan mempelajari gejala dan akibat yang ditimbulkannya. 2006 Saat ini permasalahan pada tanaman pulai yang paling krusial untuk segera dipecahkan adalah masalah serangan hama. 2006 Makalah ini menguraikan perkembangan budidaya Acacia mangium di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasi beberapa jenis insektisida terhadap hama C. tanaman inang dan lingkungan setempat. serta cara-cara penyerangan dan penularannya.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 111-115 . Kata kunci: Hutan tepi. Riparian. Dari perspektif perikanan. glauculalis.2006 : Halaman 1-6 . Ekosistem monokultur dapat lebih rentan terhadap kerusakan oleh hama/penyakit karena tidak adanya keanekaragaman jenis tanaman dan adanya perubahan cuaca yang disebabkan oleh manusia. Lubuk Linggau. Ekowisata. Nursery. DAS Asmaliyah EFIKASI BEBERAPA JENIS INSEKTISIDA TERHADAP HAMA PEMAKAN DAUN PADA TANAMAN PULAI DARAT (Efficacy of Some Types of Insecticides for Leaf Eating Pest on Pulai Darat Plantation) / Asmaliyah. -. glauculalis dalam skala 100 .000 m3/tahun.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.serangan hama/penyakit. Proses domestikasi jenis ini berlangsung cepat dan serangkaian penelitian di bidang genetika.91 . Dalam rangka itulah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (P3HT) sangat berperan dalam memberikan informasi berbagai masalah tersebut bagi kepentingan para pengelola hutan agar tujuan pokok kehutanan di dalam pengembangan fungsi hutan semaksimal mungkin secara lestari dapat dicapai.2 . Yudhistira. Feeding grounds) bagi biota air. perkembangan pasar kayu merupakan faktor resiko yang harus diperhitungkan. Berbagai jenis pengelolaan telah tersedia. A. Jenis ini pertama kali ditanam di Sabah tahun 1966 dan Sumatera Selatan tahun 1979 sebagai tanaman sekat bakar pada lahan alang-alang (Imperata cylindrica) A. Penelitian di lapangan dilakukan mulai Mei sampai Agustus 2004. Sri Utami. -. Hasil penelitian menunjukkan semua jenis insektisida yang digunakan efektif dalam menyebabkan kematian ulat C. Hardiyanto. Xylo Indah Pratama (XIP).

Edwin Martin dan Fitri Windra Sari. Alstonia spp. glaucucalis. TULUNG SELAPAN DAN MUARA MEDAK / Bakri. Manggris. larva C. Jarak jalur tiap lokasi 30 km . sebaran dan kematangan gambut. Kedalaman gambut dari dangkal hingga sangat dalam (4 m hingga 6 m). kering dan kemudian gugur. Pengendalian yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk mengatasi serangan hama C. Untuk perencanaan dibidang pertanian data dasar. Kondisi lahan rawa gambut di daerah Muara Medak ditunjukkan oleh kedalaman gambut berkisar antara 0. Kondisi vegetasi pohon masih dominan di antaranya Asam Payo.glaucucalis adalah dengan menggunakan insektisida mikroba yang berbahan aktif dan bakteri Bacilus thuringiensis. Hama Clauges glauculalis 101 .2 m . sebaran gambut menyebar dengan kedalaman yang berbeda. jenis insektisida. Penelitian dilakukan pada tahun 2004 dan 2005 dilokasi Pampangan. Kata kunci: Lahan gambut. BANYUASIN DAN MUSI BANYUASIN: DAERAH PEDAMARAN-PAMPANGAN. Muara Medak angustiloba Asmaliyah KARAKRETISTIK SERANGAN HAMA Clouges glauculalis PADA HUTAN TANAMAN PULAI (Alstonia spp.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Kata kunci: Efikasi. 2006 Pengembangan pertanian melalui ekstensifikasi ke lahan rawa dan lahan gambut saat ini menjadi alternatif karena terbatasnya lahan kering untuk usaha budidaya tanaman. jarak antar titik pengamatan adalah 500 m. Pulai. glauculalis dalam skala lapangan pada kondisi serangan ringan atau kepadatan populasi yang rendah. pembuatan aksesibilitas dan saluran. Tulisan dalam makalah ini berisi tentang karakteristik serangan hama C. Bakri KAJIAN KARAKTERISTIK LAHAN GAMBUT DI DAERAH OGAN KOMERING ILIR. glauculalis. Bacillus thuringiensis. Kematangan gambut bervariasi dari safrik hingga febrik dan ditemukan jejak terbakar secara periodik. A. Meranti. Serangan hama C. Banyuasin. Karakteristik. Pakis dan Gelam. sebaran rawa gambut menyebar dengan kedalamn yang berbeda. Bakung. 2006 Pulai (Alstonia spp. Jalur pengamatan menggunakan sistem grid.0 m. yang diaplikasikan secara campuran dan insektisida kimia yang sifat racun perutnya lebih kuat. Sugihan dan Muara Medak merupakan kerjasama antara South Sumatera Forest Fire Management Project dengan Pusat Penelitian Manajemen Air dan Lahan Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya. Untuk mengelola lahan gambut diperlukan data dasar yang diperlukan untuk perencanaan akses dan pembuatan saluran drainase. bahkan pada masa populasi mencapai puncaknya dapat menyebabkan tanaman gundul.1 m sampai 5. glauculalis. Kata kunci: Insektisida mikroba.) saat ini merupakan jenis tanaman yang potensial dan prospektif untuk dikembangkan dalam upaya pembangunan hutan tanaman karena memiliki sebaran alami yang luas dan beragam manfaat kayunya.) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA / Asmaliyah. Pengetahuan tentang karakteristik serangan merupakan dasar dalam menentukan strategi pengendalian optimum. namun aplikasi insektisida mikroba secara campuran efektif dalam menekan serangan hama C. Serangan hama ini dapat mengakibatkan sebagian daun menjadi rusak. Musi Banyuasin. glauculalis terjadi sepanjang tahun dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim terutama curah hujan dan musuh alami. Untuk perencanaan di bidang pertanian dasar seperti ini sangat diperlukan untuk membuat zonasi areal konservasi. gambut tergolong matang dan jejak terbakar ditemukan pada semua titik pengamatan. Halaman 25-30 . Serangan hama ini sudah terjadi dari tanaman berumur 4 bulan di lapangan dan sampai tanaman berumur 1 tahun merupakan kondisi kritis terhadap serangan hama C. Ulung Selapan. Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam mewujudkan pencapaian pembangunan hutan tanaman pulai dengan produktivitas tinggi di PT Xylo Indah Pratama adalah serangan hama C. glauculalis tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman pulai darat umur 1 tahun selama empat bulan pengamatan. Penelitian menggunakan metode survey dengan bantuan teknologi penginderaan jauh. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Karakteristik. Ogan Komering Ilir. -. Pedamaran-Pampangan.5 m.40 km untuk masing-masing lokasi. -.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 15-24 . Pemanfaatan lahan rawa dan lahan gambut harus mempertimbangkan aspek lingkungan seperti kedalaman. Karakteristik gambut di daerah Tulung Selapan mempunyai kedalaman 0. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada areal rawa. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa rawa gambut di daerah Pedamaran-Pampangan dominan ditumbuhi oleh pakis dan perpat serta sedikit galam. pulai darat.7. Rotan.laboratorium. Jelutung.

khususnya untuk pemetaan bahan bakar dan cara-cara untuk meminimasi sumber dan potensinya. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . serta diversifikasi komoditi dan pendapatan. Dampak yang diharapkan dari penerapan pola tersebut adalah terbentuknya pola pemanfaatan lahan rawa menetap yang efisien. Pola alternatif yang dapat diterapkan adalah Agrosilvofishery. Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak merubah ekosistem rawa secara radikal dan tetap mempertahankan sumberdaya awal. Salah satu faktor yang menentukan kualitas bibit adalah kualitas media sapih yang digunakan untuk pembibitan.25 sampai 0. Pola agrosilvofishery merupakan sistem usaha tani atau penggunaan tanah yang memadukan potensi sumber daya pertanian. macrophylla).)/ Bastoni dan Effendi Agus Waluyo. Saat ini kondisinya sebagian besar telah rusak. Pemahaman dan pengenalan tipe hutan dan tipe vegetasinya akan sangat membantu upaya pengelolaan bahan bakar. -. Top soil. 102 .. Kebakaran merupakan rangkaian proses yang terjadi dari 3 faktor.11 persen) sangat rendah. Halaman 45-54 . Hal tersebut sangat terkait dengan berbagai kendala biofisik lahan. Kata kunci: Tipe vegetasi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. efisiensi pemanfaatan lahan. ekonomi dan sosial budaya yang membatasi aktivitas budidaya pada lahan rawa.5 hektar per kepala keluarga (KK). Swietenia macrophylla King.Prosiding Seminar HasilHasil Penelitian Hutan Tanaman. Pola agrosivolfishery dapat diterapkan secara intensif atau semi intensif tergantung dari lokasi. intensif dan mampu meningkatkan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur 2. Pola agrosilvofishery intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang dekat dengan pasar. Pemilihan jenis komoditi pertanian. Pengembangannya membutuhkan dukungan teknologi. SUB SOIL DAN GAMBUT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MAHONI (Swietenia macrophylla King. -. Oleh karena itu perlu dicari pola pemanfaatan terpadu untuk mengubah lahan rawa menjadi lahan yang produktif. Kata kunci: Mahoni. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan. Sub soil Bastoni PEMANFAATAN LAHAN RAWA TERPADU DENGAN POLA AGROSILVOFISHERY / Bastony. luas lahan dan tujuan pengembangannya. Halaman 91-94 . pertumbuhan bibit yang rendah pada media sapih gambut adalah pH (3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sapih top soil dan sub soil tanah podsolik merah kuning (Ultisol) serta gambut (Histosol) terhadap pertumbuhan bibit mahoni (S. Pengelolaan kebakaran antara lain ditujukan untuk meminimasi sumber dan potensi bahan bakar serta pengendalian sumber api melalui rekayasa teknologi dan kelembagaan yang dilakukan secara bersamaan.42 juta hektar. Bahan bakar. diantaranya adalah teknologi pembibitan. sumber api dan oksigen. yaitu bahan bakar. 2006 Kebakaran hutan merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan. tidak produktif dan belum dikelola secara baik. Agus Sumadi dan Efendi Agus Waluyo.5 bulan setelah sapih. Sumatera Selatan Bastoni PENGARUH JENIS MEDIA SAPIH TOP SOIL.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 8593 . 2006 Luas lahan rawa gambut yang terdapat di Sumatera Selatan sekitar 1. Pola agrosilvofishery semi intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa di daerah terpencil dan belum berkembang (desa-desa) hutan.34) sangat masam dan kejenuhan basa (4. baik hutan alam maupun hutan tanaman. Lahan rawa yang terlantar hanya dikenal sebagai penghasil asap setiap musim kemarau. luas lahan 1 sampai 2 hektar per KK.Bastoni TIPE VEGETASI HUTAN SUMATERA SELATAN / Bastoni. luas lahan 0. Gambut adalah media sapih alternatif yang dapat menggantikan top soil. Makalah ini menyajikan ragam tipe hutan dan tipe vegetasi yang terdapat di Sumatera Selatan dengan fokus pada tipe hutan dan vegetasi rawa yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibandingkan dengan tipe hutan lainnya. 2006 Mahoni (Swietenia macrophylla King) adalah jenis pohon eksotik yang cukup banyak dipilih untuk hutan tanaman karena mempunyai kualitas kayu yang unggul dan bernilai ekonomi tinggi. -. Media sapih.

Oleh sebab itu pemangkasan merupakan hal yang harus dilakukan sebagai bagian dari perlakuan silvikultur tanaman A. namun dengan adanya kesulitan pengukuran tinggi pohon di lapangan maka persamaan hanya menggunakan peubah diameter tunggal diameter dapat merupakan pilihan. Suplement No. JAWA BARAT (Tree Volume Estimation for Puspa in the Sukabumi District of West Java) / Sofwan Bustomi. Chris STRATEGI PEMANGKASAN DAN PENJARANGAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU KAYU Acacia mangium / Chris Beadle. 2006 Hutan tanaman Acacia mangium di Indonesia berpotensi menghasilkan kayu untuk pasar furnitur baik di dalam maupun di luar negeri. Halaman 209-222 . pendugaan. Kata kunci: Acacia mangium. -. Hutan tanaman A. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Pemangkasan bentuk sebelum pemangkasan lift dilakukan dengan hasil akhir 300 batang pohon di pangkas hingga ketinggian 4.5 m. Tingkat kerapatan seperti di atas terlalu tinggi bila tegakan tersebut akan dikelola untuk menghasilkan kayu bulat. Adanya potensi cabang pohon untuk tumbuh besar dan resiko cabang mati sebagai titik masuknya jamur penyebab busuk hati menyebabkan perlunya dilakukan pemangkasan. Kayu mangium yang bebas dari cacat tumbuh mempunyai penampilan yang menyerupai jati (Gales 2002). Dapat disimpulkan bahwa insiden heartrot dapat meningkat jika pemangkasan dilakukan pada saat tanaman rentan terhadap serangan dan adanya jamur penyebab yang masuk melalui luka bekas pangkas. 1994). akan tetapi pengalaman dengan jenis lain menunjukkan bahwa kerapatan tanaman yang tinggi pada awal penanaman menjamin tersedianya pohon yang dapat memenuhi kriteria pemangkasan (Beadle et al. 2006 Beberapa persamaan telah dianalisa untuk menduga volume pohon puspa (Schima walliclii Korth. Agrosilvofishery Beadle. Kata kunci: Isi. Pemangkasan. hutan A. Kata kunci: Lahan rawa.kehutanan dan perikanan yang akan dikembangkan dalam pola agrosilvofishery harus didasarkan pada kesesuaian lahan dan pasar. Sofyan PENDUGAAN ISI POHON JENIS PUSPA DI DAERAH SUKABUMI. Kerapatan yang tinggi juga dapat mempengaruhi rata-rata ukuran cabang. proposinya kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan tempat tumbuhya (Srivasta 1993).2006 : Halaman 87-96 . Mutu kayu Bustomi. puspa.3. Pohon berbatang tunggal merupakan prasyarat pokok untuk produksi kayu bulat. Jarak tanaman yang rapat disaat penanaman merupakan salah satu pilihan. mangium merupakan sumber kayu utama untuk bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia (Rimbawanto 2000).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Persamaan tersebut disusun dengan analisis regresi menggunakan peubah bebas diameter atau kombinasi diameter dan tinggi pohon menggunakan 119 pohon model. Untuk tujuan kayu pulp. kayu glondongan mangium dapat menjadi sumber kayu yang penting bagi pasar kayu pertukangan. Rawa.1 . Knots dan busuk hati merupakan cacat yang mengurangi kekuatan fisik. Walaupun dugaan volume diperoleh dengan menggunakan peubah bebas diameter dan tinggi merupakan dugaan yang sangat teliti.) di KPH Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Pemanfaatan. – . Untuk itu diperlukan perlakuan pemangkasan. mangium dapat ditanam hingga kerapatan 1000 pohon/ha. Dengan rotasi yang tidak lebih dari 20 tahun (Srivastava 1993). penampilan dan nilai kayu. Makalah ini menguraikan strategi pemangkasan dan penjarangan untuk Acacia mangium guna menghasilkan kayu dengan mutu yang memenuhi syarat sebagai kayu pertukangan. Sukabumi 103 . Terdapat 2 jenis persamaan volume yaitu persamaan regresi sederhana yang menunjukkan hubungan antara volume dengan diameter dan persamaan regresi ganda yang berdasarkan diameter dan tinggi pohon. Penjarangan. Persamaanpersamaan tersebut digunakan untuk menduga volume bebas cabang dan volume sampai diameter ujung batang 7 cm. kayu mangium mulai digunakan sebagai bahan baku industri furnitur dan sebagian di ekspor ke pasar dunia (Hardiyanto 2005). Di pasar domestik. Dengan pemangkasan dan penjarangan pertumbuhan pohon sampai akhir daur dapat diatur untuk menghasilkan pohon bebas cabang yang tinggi dan pertumbuhannya optimal. Cabang yang berukuran besar lebih sulit dipangkas dan berpotensi rentan terhadap masuknya penyakit. mangium untuk produksi kayu bulat. Sebagian pohon mangium juga menghasilkan batang ganda (multi-stem).

karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. vanili. sehingga dalam melakukan rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi dapat lebih berhasil.613. Kata kunci: Rawa gambut.1 . hara mineral yang sangat miskin serta sifat keasaman yang tinggi dan mudah terbakar apabila dalam keadaan kering kekurangan air pada lahan gambut tersebut.000 ha. ekonomi dan budaya maupun fungsi ekologi sehingga kelestarian hutan rawa gambut dapat terjamin. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit P3HKA Bogor pada bulan September. laporan terakhir dari Badan Planologi Khutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode tahun 1997-2000 di Indonesia mancapai 2..000 ha. dan rapuh (fragile). -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 35-50 .Desember 2003. Pengujian dilakukan dengan cara mencampur bahan pestisida nabati tersebut dengan tanah media hidup uret di dalam wadah plastik. Jenis galam (Melaleuca sp). juga sebagai insektisida kontak yaitu secara kontak langsung dengan tubuh mengakibatkan pingsan (paralisis) dan kematian larva. Pengendalian dengan pestisida nabati terhadap larva uret memberikan pengaruh sebagai penghambat aktivitas makan (antifeedan).83 juta hektar/tahun termasuk di dalamnya kerusakan hutan lahan gambut. Kata kunci: In vitro. jagung. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik.3% untuk perlakuan serbuk kulit mahoni. serta keanekaragaman hayati yang saat ini eksistensinya semakin terancam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pestisida nabati yang berpotensi untuk dijadikan pengendali alternatif untuk hama uret. Lahan sulfat. Wida PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA URET SECARA IN VITRO (The Use of Floral Pesticides to Control Soil Pest by In Vitro) / Wida Darwiati. Ada beberapa tipologi di lahan rawa gambut yang perlu diketahui. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Degradasi. sebagai pengganti pestisida kimia.Daryono.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Herman PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT SECARA BIJAKSANA DALAM RANGKA MENJAGA KELESTARIANNYA / Daryono. Lahan sulfat masam aktual merupakan salah satu lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup disitu. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus) dan lain-lain. habibatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15 m. -.000 ha dan Irian Jaya 8. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan baik sebagai resorvoir air. sifat irreversible drying. masing-masing perlakuan digunakan 5 larva uret. 2006 Uret merupakan larva dari serangga Hollotricia helleri Brsk (Scarabaeidae) yang telah menjadi hama utama pada komoditas pertanian khususnya pada tanaman padi gogo. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. dengan merehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi. Hasil uji coba pengembangan jenis pohon asli dan bernilai ekonomi perlu diimplikasikan untuk rehabilitasi kawasan lahan gambut yang terdegradasi. Suplement No.000 ha. sedangkan perlakuan mortalitas terendah dicapai pada hari ke 8 dengan persentase 83. Herman. sedangkan pada tanaman kehutanan lebih banyak yang ditanam dengan pola tumpang-sari. Halaman 257-264.753. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas sekitar 17 juta ha yang meliputi di Sumatera 4. Kalimantan 3. Berdasarkan uji beda nyata terkecil. yaitu ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba.3% dengan perlakuan serbuk daun mimba. Oleh karena itu. Lahan gambut mempunyai karakteristik yang spesifik seperti adanya subsidensi. uret 104 .3. ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi dicapai pada hari ke 4 dengan persentase kematian 83. Selawesi 34. teknologi dan kelembagaan rehabilitasi perlu dikaji dan diketahui sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. 2 perlakuan sangat nyata dalam pengendalian larva uret secara in vitro. pengelolaan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 3 kali ulangan.000 ha. rosot dan carbon storage.531. pestisida nabati. Maluku 42. sehingga peran hidrologi/tata air di dalam gambut sangatlah penting. Pestisida nabati yang digunakan adalah jamur Beauveria bassiana. Pemilihan jenis yang tepat. Semua perlakuan pestisida nabati memberikan pengaruh yang nyata. kentang dan lain-lain. tepung kanji. Pelestarian hutan rawa gambut dengan segala nilai kekayaan biodiversity harus segera ditindaklanjuti dengan nyata. jamur Metarhirizium anisopliae. Pengelolaan bijaksana. Senyawa pirit Darwiati.

-. stek pucuk. 2006 Survei penyakit akar dilakukan pada tanaman Azadirachta excelsa. No. Tectona grandis dan Khaya ivorensis di Semenanjung Malaysia. 46 g N/tanaman (100 g urea) dan kontrol (tanpa pupuk). Kata kunci: Acacia mangium. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah dan panjang tunas di kebun pangkas serta kualitas stek pucuk pada akhir percobaan. Metode penelitian dilakukan dengan survei lapangan dan wawancara dengan dipandu kuesioner terpola. Penyakit. 2006 Ketersediaan benih untuk bibit Merawan yang tidak teratur dan sifat rekalsitran dan benih.52 . Kata kunci: Perikanan. 23 g N (50 g urea). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2001. Mohd BUSUK AKAR PADA TANAMAN SELAIN ACACIA / Mohd Farid A [et. Akar merah. Ekonomi komposisi ikan. Emmy PENELITIAN ASPEK PERIKANAN TANGKAP LAHAN RAWA DI SEKITAR PATRATANI KABUPATEN MUARA ENIM SUMATERA SELATAN / Emmy Dharyati. -. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi jamur secara cepat tanpa tergantung pada cara identifikasi morphologi. alat tangkap. Dengan kelayakan usaha perbandingan Benefit Cost Ratio (B/C) = 1. yaitu 7. Habibat Farid A. Ikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis ikan tertangkap dari beberapa habibat lahan rawa. DNA Fiani. Hidayat Moko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan terdapat 35 jenis ikan rawa dengan 10 macam alat tangkap dari beberapa habibat lahan rawa dan 10 jenis ikan ekonomis penting. Kata kunci: Hasil tunas. 2006 Penelitian aspek perikanan tangkap di lahan rawa yang merupakan bagian dari perairan umum tempat hidup dan berkembang biak beberapa jenis ikan rawa sekitar Patratani Kab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 50 g urea/tanaman menghasilkan jumlah dan panjang tunas yang lebih baik di kebun pangkas. Penelitian dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. menuntut dilakukannya perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan stek pucuk.3.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. 105 . odorata)/ Ari Fiani.Dharyati.-. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk nitrogen terhadap produksi tunas dan kualitas stek pucuk.000. namun jamur penyebabnya belum dapat diidentifikasi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. data yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif. Perlakuan pupuk diberikan kepada 10 baris tanaman sebagai ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. pupuk nitrogen. masing-masing disebabkan oleh jamur Rigidoporus sp. Akar putih. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 5 macam dosis pupuk N. Penyakit akar yang mematikan yang menyerang K. Halaman 45 . Hutan tanaman. Ditemukan dua penyakit akar putih dan penyakit akar merah. penelitian meliputi jenis ikan. dan phellinus sp. 15 g N (100 g NPK). sampel ikan yang tertangkap ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan alat tangkap yang dioperasikan. aspek sosial ekonomi dilakukan dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal).2006 : Halaman 62-70 . ivorensis ditemukan di wilayah negeri sembilan.090.1 . Penyakit ini nampaknya berhubungan dengan buruknya cara persiapan lahan dan serangan jamur yang terjadi sebelumnya. 2. Dari jumlah 70 nelayan sebagai responden 50 persen status nelayan Full Time dan 50 persen status nelayan sambilan dengan pendapatan perbulan Rp. Penyakit akar putih. telah dilakukan di areal kebun pangkas di Kaliurang Yogyakarta sejak bulan Juli sampai Oktober 2002. -. Muara Enim. kebun pangkas.39. Studi menggunakan penanda molekuler menemukan bahwa pasangan primer PNOX01/ITS4 dapat membedakan Phellinus noxius. habibat dan aspek social ekonomi. sedangkan perlakuan pupuk 100 g NPK/tanaman menghasilkan kualitas stek pucuk yang lebih baik dibandingkan kontrol. Ari PENGARUH PUPUK NITROGEN TERHADAP PRODUKSI TUNAS DAN KUALITAS STEK PUCUK MERAWAN (Effect of Nitrogen Fertilizers on Shoot Yield and its Quality as Shoot Cutting of H.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 117-123 . merawan.5 g N (50 g NPK). Alat tangkap.al] .

dan deteksi awal jamur perusak. -. Keragaman jenis ikan. Teknik ini juga banyak diterapkan untuk pengujian mutu pangan untuk mendeteksi kontaminasi jamur. Teknik DNA merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk identifikasi jamur. Alat tangkap. Hasil tangkapan di lebak Sungai Mati didominasi oleh ikan Sapil (Helestoma temminkii) sedangkan di lebung Pasunde didominasi oleh ikan Lais (Cryptopterus spp).Gaffar. saat ini yang paling banyak digunakan adalah metode yang berdasarkan pada PCR (polymerase chain reaction) karena cepat. memonitor keberadaan jamur simbiotik. Busuk hati. Morag PENGGUNAAN TEKNIK DNA UNTUK IDENTIFIKASI JAMUR / Morag Glen. (2) Lebak Sungai Mati dengan karakteristik vegetasi semai dan tumbuhan bawah berupa rumputan. Morag IDENTIFIKASI SECARA MOLEKULER ORGANISME PENYEBAB BUSUK AKAR DAN BUSUK HATI / Morag Glen [et.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Beberapa jenis jamur dapat dengan mudah ditumbuhkan dalam kultur dan menghasilkan karakter mikroskopis yang berguna untuk identifikasi. Teknik-teknik lain yang banyak digunakan dalam bidang pangan. Sementara sebagian lainnya sulit untuk ditumbuhkan dalam kultur atau kalaupun bisa tidak menghasilkan sifat-sifat yang spesifik. Diperairan hutan rawa lebung Pasunde Sungai Musi didapatkan 45 jenis ikan hasil. Karim KEGIATAN PERIKANAN DI PERAIRAN HUTAN RAWA SUNGAI MUSI KECAMATAN SEKAYU / A. Rawa banjiran. Identifikasi. -. Identifikasi 106 . Di lebung pasunde alat tangkap yang paling tidak selektif adalah empang. Kata kunci: Acacia mangium. sedangkan di lebak Sungai Mati adalah jaring. Dimana identifikasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu menentukan perlakuan kesehatan yang tepat. ekologi.al] .2006 : Halaman 50-55 . Teknik DNA Glen.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.Karim Gaffar dan Khairul Fatah. bagian yang digunakan untuk identifikasi taksonomi jenis jamur. 2006 Penelitian telah dilakukan selama delapan bulan mulai Mei . atau hanya mempunyai sifat-sifat yang unik hanya pada masa tertentu dari siklus hidupnya. Kata kunci: Perikanan. Teknik identifikasi DNA terutama diperlukan untuk identifikasi cepat misalnya untuk keperluan karantina atau bio-security. 2006 Makalah ini membahas aplikasi teknik molekuler untuk identifikasi jamur penyebab busuk akar dan busuk hati pada Acacia mangium menggunakan empat sampel yang berbeda. Semua teknik DNA memerlukan sample herbarium yang memadai dengan uraian morphologi yang lengkap untuk verifikasi hasil dari teknik DNA. -. kesehatan. bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan yang tertangkap dan selektivitas alat tangkap. Hasil ini menunjukkan kegunaan informasi sekuens DNA untuk mengklarifikasi informasi ekologis. 2006 DNA menyimpan banyak karakter taksonomi untuk identifikasi organisme yang mempunyai sedikit karakter morphologi. Meskipun banyak metode untuk menganalisa DNA. Metode yang dipilih untuk aplikasi tertentu dipengaruhi beberapa faktor. Busuk akar. Ikan Glen.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 125-133 . biologi dan patologi jamur. Penggunaan teknik DNA untuk identifikasi jamur telah banyak diterapkan di bidang kesehatan manusia dan hewan.Teknik ini terutama berguna untuk identifikasi jamur yang tidak menghasilkan badan buah. peternakan. termasuk jumlah sample dan jumlah kandidat jenis. Kata kunci: Jamur. A. dan penyakit tanaman juga diuraikan.Desember 2005 pada 2 tipe rawa banjiran sungai Musi di Kecamatan Sekayu. Tipe vegetasi. Identifikasi DNA terhadap jamur yang berkaitan dengan tanaman juga berguna untuk meneliti jamur mikorhiza yang bermanfaat bagi tanaman. Hutan rawa. Kabupaten Musi Banyuasin yaitu: (1) Lebung Pasunde dengan karakteristik rawa bervegetasi tipe pohon dan tiang. sensitif dan dapat memberikan hasil dalam jumlah besar. sedangkan di lebak sungai Mati 14 jenis.2006 : Halaman 56-61 .

Survei atas adanya kandungan dan kedalaman pirit menjadi sangat penting sebelum kita melakukan desain tata air di wilayah tersebut. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut.Keuntungan . oyod ketungkul. Tersedianya tanaman murbei yang baik merupakan salah satu penentu keseimbangan produksi benang sutera . Perlu perlakuan awal lahan dengan melakukan pembuatan saluran drainase yang tepat dan pengapuran yang cukup untuk mendapatkan lahan yang optimal. kebakaran dan penebangan illegal.menyediakan kesempatan untuk pengembangan sosial dan pengentasan kemiskinan. tuwa leteng. Rawa. Jakarta 23 Nopember 2006 .Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 69-72 . Didaerah Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal dengan nama besto. pertumbuhan populasi. Kata kunci: Acacia mangium. Murbei 107 . Social ecological. tuba kurung (Kalimantan Barat). Salah satu insektisida yang ramah lingkungan adalah insektisida nabati yaitu insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Kelapa sawit. ternak peliharaan. sebelum melakukan standar budidaya kelapa sawit sebagaimana dilakukan dilahan kering pada umumnya. kayu tuba. Makalah ini menguraikan cara-cara untuk mengatasi hal diatas melalui cara pengelolaan yang tepat dan pendekatan multi-stakeholder untuk mengakhiri penebangan illegal. sedangkan di Jawa Barat dikenal dengan nama tuwa. Penduduk . serta mutu kokon yang dihasilkan oleh ulat sutra sehingga kondisi tanaman murbei sangat menentukan akan produksi yang dihasilkan oleh ulat sutera. Plantation forest.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Kualitas dan kuantitas daun murbei sebagai bahan makanan ulat sutera sangat dipengaruhi aspek biologis. polusi lingkungan dan hama menjadi resisten maka penggunaan insektisida ramah lingkungan merupakan alternatif yang tidak dapat ditawar lagi. Pasang surut. serangan hama dan penyakit pernah dilaporkan menyebabkan gagalnya budidaya ulat sutera di Indonesia. pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Managemen. produksi kokon. akar tuba. Uji efikasi. Pengelolaan yang baik dan benar dapat merubah lahan ini dari lahan marginal menjadi lahan yang memiliki potensi S1 dan S2 untuk kelapa sawit. seperti akar tanaman tuba (Derris eliptica (Roxb) Benth). tuwa laleue. Hutan tanaman Hairudin. -.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. G. tuba jenu. Penyakit. seperti keracunan pada manusia. -. pemangkasan. Golani. Air Kumbang Padang Hardi TW. 1964) dan tanaman ini merupakan makanan utama ulat sutera (Bombyx mori). Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dengan nama daerah akar jenu. namun ketersediaan tanaman ini sangat dipengaruhi oleh sistem budidaya. Kata kunci: Hama.Golani. bermutu tinggi dan ekonomis.D PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI INDONESIA DAN ANCAMAN TERHADAP KELANGSUNGANNYA / G. -. Halaman 61-63 . 2006 Pengelolaan hutan tanaman yang berkelanjutan harus mencakup kepentingan Plane bumi-konservasi keragaman hayati dan mencegah kerusakan lingkungan.menjamin suplai bahan baku serat yang terbarukan. seperti pemilihan varietas yang ditanam. Akar tuba. Keberlangsungan hutan tanaman terancam karena manajemen yang tidak tepat atas tanaman monokultur. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar maka usaha pengendalian dengan insektisida sangat diperlukan. Agribisnis. Hama penggerek. Penelitian inter-disiplin akan terus memainkan peran dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. tuba. 2006 Tanaman murbei (Morus spp) banyak tumbuh di daerah tropis dan sub tropis pada ketinggian 400 m -700 m dpl dengan suhu rata-rata 21-25 derajat celcius (Katsumata. Mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida kimia (sintesis).D. Teguh UJI EFIKASI AKAR TUBA TERHADAP HAMA PENGGEREK PUCUK MURBEI / Teguh Hardi TW dan Priyatna Wiraardinata.2006 : Halaman 7-13 . Hendi PROSPEK PENGELOLAAN LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI WILAYAH AIR KUMBANG PADANG / Hendi Hairudin dan Ulil Amri. 2006 Lahan di wilayah Air Kumbang Padang pada umumnya merupakan lahan rawa pasang surut dan sebagian besar lahan ini merupakan lahan marginal sebelum adanya pengelolaan lahan lebih lanjut.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan jenis media tabur hanya berpengaruh nyata terhadap parameter keserampakan tumbuh . Di samping itu beberapa bagian dari tanaman ini baik kulit batang. sehingga penelitian yang berkaitan dengan aspek ini masih diperlukan. Perlakuan silvikultur yang tepat seperti pemangkasan sangatlah penting bila tegakan ditujukan sebagai penghasil kayu bulat.Permintaan akan kayu bulat mangium meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Daya berkecambah. Kandungan-kandungan tanah akan berpengaruh dalam penyediaan air yang dibutuhkan selama proses perkecambahan. . Sekitar 30 persen cocok untuk kayu bulat dengan diameter terkecil 30 cm. pengadaan benih atau bibit serta informasi mengenai teknik budidayanya sangatlah penting.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. harga ini diharapkan akan meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Hengki Siahaan dan Teten Rahman S.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Jenis media yang diuji adalah perbedaan komposisi pasir dan tanah. Perbedaan kemampuan setiap media yang diuji dalam mendukung perkecambahan bambang lanang terkait dengan perbedaan sifat fisik media. sehingga rendemen kayunya juga rendah (banyak mata cabang dan batangnya tidak lurus) sehingga rendemen kayunya juga rendah. Kayu mangium makin dikenal masyarakat dan meningkatnya mutu kayu sebagai hasil dari perlakuan silvikultur yang tepat untuk produksi kayu bulat. daun. Tegakan A. -. Kecepatan berkecambah. termasuk teknik pembibitanya belum banyak diketahui.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Kayu jenis ini juga kemungkinan dapat digunakan untuk bahan baku pulp dan kertas. Jenis ini merupakan salah satu jenis substitusi yang paling baik bagi jenis ramin (Gonystylus bancanus) yang pada saat ini sudah semakin sukar didapatkan karena sudah langka dan telah masuk jenis yang dilindungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media tabur yang paling optimal untuk perkecambahan benih bambang lanang. sedangkan pada parameter daya berkecambah dan kecepatan berkecambah berbeda tidak nyata. Sampai saat ini informasi yang berkaitan dengan jenis ini. Media tabur. Kayu pertukangan Herdiana. Halaman 111-116 . Untuk mendukung program pengembangan kepuh ini. Kata kunci: Acacia mangium. mangium dapat dijadikan kayu bulat dengan daur 10 tahun dan dapat menghasilkan hingga 200 m3 per ha per tahun.)/ Nanang Herdiana. Meskipun pada saat ini harga kayu bulat mangium relatif rendah. -. Halaman 137-140 . biji maupun yang lainya mempunyai potensi sebagai bahan baku obat dan masyarakat lokal sudah sejak dulu menggunakannya untuk pembuatan obat tradisional atau jamu.. Kayu bulat mangium yang sekarang tersedianya berasal dari tegakan yag tidak dipangkas dan tidak dijarangi. Nanang PENGARUH JENIS MEDIA TABUR TERHADAP PERKECAMBAHAN BAMBANG LANANG (Maduca aspera) / Nanang Herdiana. 2006 Kayu Acacia mangium tidak saja sesuai untuk bahan baku pulp dan kertas bermutu tinggi tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan baku kayu pertukangan. Budidaya 108 . Jenis media tabur yang paling sesuai untuk perkecambahan benih bambang lanang adalah media M3 (komposisi pasir: tanah = 50:50 v/v) dan M2 (komposisi pasir: tanah = 75:25 v/v). Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Eko B ACACIA MANGIUM UNTUK KAYU PERTUKANGAN / Eko B Hardiyanto. 2006 Kepuh (Sterculia foetida Linn) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia dan mempunyai kisaran tempat tumbuh yang luas walaupun lebih cocok untuk daerah pesisir. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 : Halaman 97-104 .Hardiyanto. Nanang POTENSI BUDIDAYA KEPUH (Sterculia foetida Linn. Maduca aspera. Kata kunci: Kepuh. Sterculia foetida Linn. tetapi kandungan tanah yang sangat tinggi akan berpengaruh pada struktur media (keremahan media). 2006 Bambang lanang (Madhuca aspera) merupakan salah satu andalan lokal yang telah direkomendasikan untuk dikembangkan dalam kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Keserampakan tumbuh Herdiana. Kata kunci: Bambang lanang.

kayu lapuk. Taksonomi. 2006 Semakin menciutnya lahan subur untuk kegiatan non pertanian dan beberapa lahan sawah intensif yang telah mengalami jenuh produksi (leveling off) serta meningkatnya permintaan akan hasil pertanian khusunya pangan. Ian A MIKOLOGI BASIDIOMYCETES / Ian A Hood. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. Suplement No.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 57-68 . Penelitian dilaksanakan 2 tahap. batang. Daerah Matakidi 109 . untuk pengembangannya secara optimal dan berkelanjutan. -. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan model sistem dan usaha agribisnis di lahan rawa pasang surut. Model tersebut merupakan serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dengan mengintegrasikan antara penerapan teknologi spesifik lokasi dan rekayasa kelembagaan pertanian. 2006 Sejumlah penyakit penting pada pohon dan tanaman di daerah tropis Asia disebabkan oleh jenis-jenis Basidiomycetes. Jamur.1 . Halaman 275284. Penyakit penting pada pohon-pohon di Indonesia disebabkan oleh jenis Basidiomycetes seperti Rigidoporus microporus. Acaulospora dan Scutellospora. Matakidi dan Wakuru). Dari serangkaian pengkajian yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. diperlukan strategi yang ditunjang oleh berbagai persyaratan tertentu sehingga pengembangan model tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan nilai tambah kepada petani serta menjadi wahana yang penting untuk menanggulangi kemiskinan di pedesaan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. atau sistem perakaran pada beberapa jenis pohon yang berbeda. 2006 Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Mikoriza Arbuskula (CMA) pada pohon induk Jati di Sulawesi Tenggara. Basiodiomycetes merupakan kelompok penting dari jamur yang mencakup bentuk-bentuk yang sudah dikenal seperti bentuk mushroom (jamur payung yang bisa dimakan). -. yang digolongkan menurut produksi spora seksual di luar struktur mikroskopi yang disebut basidium. Rawa. biofisik dan sosial ekonomi sehingga produktivitasnya masih relativ rendah. -. jamur papan dan jamur kerak.3. jamur toadstool (jamur payung beracun). jamur puffball (jamur kancing dengan banyak serbuk spora). Junghuhnia vincta. Jenis-jenis Basidiomycetes secara tradisional diidentifikasi melalui bentuk dan struktur mikroskopis badan buah dan bentuk pertumbuhan ketika diisolasi dalam kultur laboratorium. Faisal DanuTuheteru dan Mahfudz. identifikasi dan pengamatan kolonisasi CMA dilakukan di Laboratorium Budidaya Pertanian Unit Kehutanan Fakultas Pertanian Unhalu Kendari. Hasil penelitian menunjukan bahwa jati berasosiasi dengan CMA dengan ditemukan empat genus yaitu Glomus. Basidiomycetes. Namun demikian pemanfaatan lahan tersebut belum dilakukan secara optimal karena adanya berbagai kendala teknis.2 April 2005. jamur earshstar (bintang) dan jamur koral.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. yaitu tahap pertama adalah pengambilan sampel tanah dan akar tanaman di 3 daerah pusat jati asal Kabupaten Muna (Raha.2006 : Halaman 31-49 .Hermanto. Kata kunci: Acacia mangium. beberapa jenis membentuk hubungan mycorhizal yang menguntungkan dengan akar pohon inang. Buton (Sampolawa) dan Konawe Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 28 Maret . Phellinus noxius dan beberapa jenis ganoderma. Tahap kedua yaitu isolasi. Agribisnis. Kayu lapuk. Glomus ditemukan pada semua lokasi pengamatan dengan empat tipe spora. Hal ini berimplikasikan bahwa pembangunan pertanian di lahan rawa pasang surut harus dilakukan melalui serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dalam kerangka sistem dan usaha agribisnis. Penyakit akar. Identifikasi Husna DIVERSITAS MIKORIZA PADA POHON PLUS JATI DI SULAWESI TENGGARA (Diversity ofMicoriza on PlusTtree of Teak in South East Sulawesi) / Husna. dan tanah dengan habitat yang beragam seperti hutan maupun daerah terbuka. Basidiomycetes menempati banyak relung lingkungan termasuk pada sampah terdekomposisi. telah mengarahkan pengembangan areal pertanian pada pemanfaatan lahan rawa pasang surut. Oleh karena itu. sedangkan beberapa jenis yang lain merupakan patogen yang menyerang daun. Gigaspora. Pasang surut Hood. R MODEL SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS DI LAHAN RAWA PASANG SURUT: KONSEPSI DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA / R Hermanto dan G Subowo.

Halaman 233245.Jurnal Penelitian Salah satu cabang bioteknologi yang telah diterapkan di Indonesia adalah perbanyakan kultur jaringan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Untuk itu penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan deskripsi fenotipik jenis kemenyan. bancanus.merupakan daerah dengan keanekaragaman CMA yang tinggi. kultur jaringan. jenis dan kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang ideal pada fase ini dan multiplikasi S.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. zat pengatur tumbuh Jayusman KLASIFIKASI KEMENYAN BERDASARKAN VARIABILITAS FENOTIPIK DI TAPANULI UTARA (Styrax benzoine Classification Revealed Phenotypic Variability in North Tapanuli) / Jayusman.01 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap multiplikasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa eksplan yang ditanam pada media 1/2 media dasar dengan kombinasi BAP 1 ppm + NAA 0.5 ppm + NAA 0. mangium.3. 2006 Penelitian inisiasi tunas ramin (Gonystylus bancanus) melalui perbanyakan kultur jaringan telah dilakukan dengan obyek pengamatan meliputi (1) media dasar dan (2) kombinasi zat pengatur tumbuh (zpt) yang sesuai untuk kultur jaringan G. 1/2 MS. Kata kunci: Jayusman PERAN MEDIA DASAR DAN KONSENTRASI HORMON PERTUMBUHAN TERHADAP INDUKSI DAN MULTIPLIKASI TUNAS PUCUK KEMENYAN (The Effect of Basal Media and Plant Growth Regulator Concentration Hutan Tanaman : Vol. jati Jayusman INISIASI TUNAS RAMIN MELALUI KULTUR JARINGAN (Shoots initiation of Gonystylus bancanus Kurz In-vitro Propagation)/ Jayusman. kultur jaringan.05 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap induksi dan kombinasi media dasar MS dengan aplikasi kombinasi BAP 0.1 . NAA dan Kinetin pada beberapa konsentrasi pada tahap induksi dan multiplikasi S. No.01 ppm terbukti memberikan respon terbaik pada inisiasi tunas. Arif Setiawan.1 . Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui variabilitas fenotipik jenis kemenyan di beberapa sentra produksi getah Gonystylus bancanus. Saat ini pengembangan jenis-jenis prioritas seperti jenis G. Media GD dengan BAP 1. -. Halaman 53 . Napthalene Acetic Acid (NAA) dan jenis Sitokini (Benzyl Amino Purine-BAP) pada berbagai konsentrasi. -. Halaman 1 . zat pengatur tumbuh.1 . Untuk itu percobaan ini ditujukan untuk mendapatkan media dasar. benzoine.05 ppm terlihat hanya sesuai untuk induksi kalus dengan perkembangan lambat. Suplement No. Pada skala luas diharapkan dapat menyediakan bibit skala produksi masal dalam waktu singkat dengan kualitas bibit sesuai induknya.3. kultur tunas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inisiasi eksplan pucuk pada media dasar 1/2 MS dengan aplikasi kombinasi ZPT BAP 1 ppm + IAA 0. Styrax benzoine. Woody Plant Medium (WPM) dan Greshoff & Doys (GD). -. Bentuk kolonisasi yang ditemukan adalah hifa internal. Dua jenis Auxin: Indole Acetic Acid (IAA). No. bancanus dan S benzoine mulai ditangani secara intensif. 2006 Towards The Succes of Induction and Multiplication in Shoot tip Culture of Styrax benzoione DRYAND) / Jayusman. benzoine.10 . Kata kunci: Induksi. grandis dan A. Sejumlah tanaman telah berhasil diproduksi secara komersial seperti T. multiplikasi. hifa eksternal dan vesikula. diversitas. kombinasi beberapa zat pengatur tumbuh akan diuji dalam kultur tunas ramin ini.3. 110 . Pengujian di fokuskan pada aplikasi media dasar (MS dan ½ MS) dan aplikasi ZPT BAP. Pengujian dilakukan dengan berbagai media dasar yaitu Murashige and Skoogs (MS).25 ppm + IAA 0.62 . 2006 Pengembangan jenis-jenis prioritas seperti kemenyan mulai dilakukan secara intensif. Kata Kunci: Cendawan Mikoriza Arbuskula.

Hasil penelitian ini membuka peluang identifikasi tanaman S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis S.1 . benzoine var hiliferum mengelompok berdasarkan karakter yang memiliki variabilitas fenotipik yang luas.7. Kata kunci: Fenotipik. No. Phosphogluco isomerase (Pgi). Kata kunci: Surian.kemenyan di Simasom. Bufer ekstraksi.38 mm dan 4. Variasi genetik Jayusman METODE EKSTRAKSI DAUN DAN INTENSITAS POLA PITA ISOZIM JENIS KEMENYAN (Leaf Extraction Method and Isozyme of Styrax benzoine Band Pattern Intensity) / Jayusman. benzoine dengan menggunakan elektrophoresis horizontal. Analisis gerombol menunjukkan bahwa kedua jenis S. -.7.Wana Benih : Vol. benzoine var dryand dan S. seluruh individu pohon dari dua jenis S. senyawa fenolik serta subrat dalam sel yang sulit diidentifikasi. Toona sinensis.Wana Benih : Vol. Masalah utama dalam ekstraksi isozim adalah munculnya senyawa sekunder dalam jaringan tanaman seperti tanin.62. -. -. diameter dan kekokohan semai bervariasi. Koefisien kesamaan fenotipik menunjukkan bahwa pada skala kesamaan 0.8 . 2006 Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan semai surian (Toona sinensis) di persemaian. 2006 Jenis jati (Tectona grandis) saat ini tidak identik lagi dengan Perum Perhutani. Sipolha (3 famili) dan Tarutung (3 famili). sistem enzim. variabilitas Jayusman EVALUASI KERAGAMAN GENETIK BIBIT SURIAN DI PERSEMAIAN (Evaluation of Genetik Variation of Surian Seedling at Nursery Level)/ Jayusman. Fase semai. Malate dehydrogenase (Mdh). diameter dan berat biji). Analisis isozim juga menguji kombinasi bufer ekstraksi.81 atau 81%). Kata kunci: Kemenyan. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 35-41 . Elektroforesis. benzoine var hiliferum. No. Simangonding. Dua tipe variasi spesifik masing-masing ditemukan pada tipe getah pohon dan bentuk biji yang dibedakan atas tipe getah meleleh dan menggumpal serta bentuk dasar biji runcing dan agak datar. Kondisi eletroforesis optimum diperoleh dari ekstrak bufer TPTDAM pH 7. Pertumbuhan tinggi semai. bufer elektrolit dan bufer gel dan karakter material daun. Alcohol dehydrogenase (Adh) dan Glucosa-6-phosphate dehydrogenase (G-6-pdh). tipe tajuk. Sistem enzim yang diuji Acid phosphatase (Acp). namun sebagian individu dari kedua jenis kemenyan tersebut mengelompok menjadi satu.1 . Glutamate oxaloacetate transaminase (Got). Observasi dilakukan terhadap 15 karakter fenotipik pada 81 pohon yang berasal dari lokasi tersebut.16 mm 1. S.5. Data dianalisis berdasarkan Uji Bartlett. Halaman 17 .10. tebal kulit dan luas daun. Zimogram Jayusman SERTIFIKASI ASAL KULTUR JARINGAN: IMPLEMENTASI DAN IMPLIKASINYA BAGI PERLINDUNGAN KONSUMEN/PENGGUNA / Jayusman.13 cm .5 yang tergolong migrasi lambat sampai sedang. Analisis varians menunjukkan adanya perbedaan yang nyata diantara populasi pada sifat tinggi dan kekokohan semai dan tidak berbeda nyata pada sifat diameter semai.34 cm. perbandingan varians dengan standar deviasi variasi fenotipik dan analisis gerombol berdasarkan program NTSYSpc version 2.5 dan elektrolit bufer Natrium Borat pH 8. Tapanuli Utara. Enam sistem enzim yang diuji menunjukkan adanya variasi aktivitas enzim dengan karakter migrasi pita isozim berkisar pada nilai Rf 20 . Sitoluama dan Aek Nauli. Konsentrasi gel kentang adalah 13 persen dengan arus listrik 35 Ampere meter dengan voltase konstan 250 volt. bentuk buah (diameter dan berat buah) dan bentuk biji (panjang. Halaman 1 . Profinsi Sumatera Utara. benzoine melalui kegiatan seleksi terhadap karakter unggul yang dimiliki. benzoine memiliki variabilitas fenotipik yang luas terutama pada karakter diameter batang. Temperatur elektrophoresis konstan 4 derajat Celcius. Famili. S. berturut-turut 5. Interpretasi genotipe berdasarkan profil pita isozim dalam bentuk zimogram menghasilkan struktur enzim monomer dan trimer dengan 10 lokus 20 alel. 1.27 .28 .32. Materi yang diuji dikoleksi dari tiga populasi (daerah koleksi benih) surian asal Propinsi Sumatera Utara yaitu: Ambarita (5 famili).7. benzoine mampu disatukan dalam satu kelompok. 2006 Teknik Elektroforesis dapat diterapkan untuk mendeteksi isozim dalam perincian genotipe populasi tanaman kemenyan. Styrax benzoine. Penelitian ini mengkaji prosedur visualisasi sistem enzim di dalam populasi S. Famili yang diuji menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada semua pada sifat yang diuji. benzoine var dryand.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. karena jenis ini telah banyak dibudidayakan dalam skala luas khususnya hutan rakyat dan menjadi jenis pilihan utama dalam Gerakan Rehabilitasi Hutan dan 111 . getah.19 (perbedaan 0.

Lahan (GERHAN). Saat ini masih banyak ketimpangan persepsi berkaitan potensi bibit kultur jaringan yang satu sisi dianggap selalu berkualitas dan memiliki keseragaman pertumbuhan dan disisi lain adanya keraguan mutu sumber materi genetik yang digunakan. Kutai Timber Indonesia (PT. Jabon (Gmelina arborea). mengingat sertifikasi juga bersifat sukarela (voluntary) yang sangat terbuka untuk semua pihak berperan aktif memulai dan mengimplementasikan sertifikasi sumber benih. Bibit jati asal kultur jaringan memberi kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan bibit jati di atas. mutu benih dan mutu bibit tanaman hutan. Kata kunci: Jati. dll. Penanaman yang dilakukan oleh PT. diantaranya materi perbanyakan harus lolos pemuliaan genetik. Kultur jaringan. Sertivikasi Judhiharto.meskipun standarisasi dan sertifikasi bibit asal kultur jaringan tersebut belum optimal. Bibit. Banyak faktor yang berperan dalam menghasilkan bibit unggul. (b) menggunakan metoda gabungan antara sertifikasi konvensional (pemeriksaan lapangan. uji laboratorium. PT Kutai Timber Indonesia Kunarso. KTI) sudah dilakukan sejak tahun 1997 sampai sekarang dengan luas kurang lebih 3000 ha dn jumlah tanaman 4. Halaman 41-43 . Implikasi dari implementasi sertifikasi diyakini memiliki multi dampak karena selain petani/konsumen mendapatkan harga ideal dan kepastian hasil. penangkar/produsen bibit mendapat harga jual yang pantas terhadap kualitas benih yang diproduksi serta pemulia pohon mendapatkan perlindungan intelektual. produksi bibit elit (berkualitas) tidak selalu atau harus dihasilkan melalui teknologi kultur jaringan. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Kata kunci: Hama. 2006 Penanaman HTI (hutan Tanaman Industri) dan HTR (Hutan Tanaman Rakyat) dengan jenis tanaman fast growing species untuk bahan baku plywood industry. dan sosial. KTI melakukan manajemen penanaman sendiri dan pihak perusahaan PT. pemeliharaan. persiapan lahan. -. menegaskan bahwa bibit jati yang dipasarkan harus dilacak asal usulnya agar tidak memberi dampak negatif baik aspek lingkungan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. antara lain adalah Sengon laut (Paraserienthes falcataria). KTI melakukan pola kerjasama dengan masyarakat/institusi dengan sharing modal dan hasilnya. 67/Menhut/-II/2004. Keputusan Menhut melalui SK No.5 juta pohon serta lokasi 2. antara lain persemaian. penjarangan I dan II dan pemanenan. Heru SERANGAN HAMA PENYAKIT DAN CARA ANTISIPASINYA PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI DAN HUTAN TANAMAN RAKYAT PT KUTAI TIMBER INDONESIA / Heru Judhiharto dan Agus Setiawan. pruning/rempesan cabang. Jakarta 23 Nopember 2006 . pemerintah juga mendapat mitra dalam pengadaan bibit. Solusi yang dapat ditempuh adalah dengan (a) integrasi marker molekuler untuk pelacakan asal usul materi bibit. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Hutan tanaman rakyat. Adi KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA: PENGALAMAN PENGELOLAAN HUTAN PENELITIAN / Adi Kunarso dan Edwin Martin. Halaman 95-101 . Implementasi sertifikasi bibit asal kultur jaringan harus diawali pelacakan terhadap sumber materi genetik bibit.347 site dengan pola penanaman terintegrasi. pemupukan. Waru rangkang (Hibiscus similis). penanaman. Balsa (Ochroma sp). Tectona grandis. 2006 Hutan penelitian Kemampo adalah hutan yang dibangun dengan tujuan sebagai tempat berlangsungnya penelitian di bidang hutan tanaman untuk menghasilkan paket-paket teknologi tepat guna bagi perkembangan hutan 112 . Beban sertifikasi tidak harus ditanggung pemerintah semata. Hutan tanaman industri. sebagai berikut: Pihak perusahaan PT. Didalam aktivitas perawatan tidak terlepas dari pada permasalah an-permasalahan tentang adanya serangan hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman tersebut dan didalam pelaksanaan dari silvikultur hutan tanaman. ekonomi. uji vigoritas) dikombinasikan dengan pelacakan marker molekuler. Penyakit.

sebagai bahan baku pembuatan atap. Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. kerusakan mencapai 21.hingga Rp. mangium asal kebun benih Wonogiri. 300. sedikitnya petugas dilokasi. Kata kunci: Kebakaran hutan.dengan harga jual Rp. Halaman 87-90 . Hutan Penelitian Kemampo. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha ini adalah belum adanya kelembagaan yang mengakomodasi kepentingan pengrajin serta minimnya modal yang dimiliki. Andriyani. KHDTK Benakat 113 . Kata kunci: Nipah. 450. Mati pucuk.74 persen dari seluruh tanaman. kerusakan tertinggi dialami oleh A. Salah satu ancaman bagi pengembangan dan pengelolaan hutan Kemampo adalah kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun. Sedangkan kerusakan terendah ditujukan oleh tanaman A. Keuntungan bersih yang diperoleh pengrajin atap nipah bisa mencapai Rp.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Usaha kecil atap daun nipah. Sementara itu upaya yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) sebagai pengelola hutan Kemampo antara lain: dengan pendekatan secara silvikultur yaitu dengan membuat sekat bakar (jalur hijau) dan ilaran api. sementara uluran bantuan modal baik dari pemerintah maupun lembaga keuangan swasta tidak pernah menjangkau pengrajin atap daun nipah. Industri rumah tangga. Pengamatan dilakukan pada bulan September 2005.5 tahun di KHDTK Benakat. Nypa fruticans.. pengawasan untuk mendeteksi secara lebih dini kemungkinan terjadinya kebakaran serta penanggulangan secara fisik saat kejadian kebakaran. Pengendalian kebakaran. Beberapa permasalahan yang dihadapi di hutan adalah: kurangnya sarana dan prasarana pencegahan dan pengendalian kebakaran. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerusakan akibat mati pucuk pada tanaman Acacia mangium umur 3. Kalimantan Selatan yang hanya terserang 5.per hari. Nilai ekonomi. -. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui intensitas kerusakan mati pucuk pada delapan asal sumber benih Acacia mangium umur 3. Sumatera Selatan Kurniawan. Dari hasil observasi di kelurahan Karyajaya. 16.-. Kerusakan ini menimbulkan kerugian dan banyak menyebabkan kematian tanaman.5 tahun di KHDTK Benakat rata-rata sebesar 12. Tanaman ini banyak dijumpai dirawa-rawa air payau dan di depan muara-muara sungai. Kecamatan Ilir Barat II. Palembang. Pengelolan hutan Kunarso. untuk memproduksi satu keping atap nipah dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp. merupakan usaha padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. 2006 Pembangunan hutan monokultur menyebabkan resiko kerusakan tanaman oleh hama menjadi meningkat.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 161-166 . Salah satu bagian tanaman yang sudah dimanfaatkan serta diusahakan dalam skala industri rumah tangga di Sumatera Selatan yaitu daun. Kerugian akibat kebakaran yang terjadi adalah rusak dan hilangnya plotplot penelitian yang berarti juga kehilangan data penelitian. Agus EVALUASI INTENSITAS KERUSAKAN MATI PUCUK ASAL SUMBER BENIH ACACIA MANGIUM DI KHDTK BENAKAT / Agus Kurniawan dan C.1 persen. Usaha ini akan terus langgeng karena peminat atap sederhana ini tidak akan surut. serta belum adanya tindakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Asal sumber benih. selain itu tegakan monokultur bagi hama berarti akumulasi bahan makanan untuk kehidupannya.. Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu vegetasi penyusun ekosistem rawa pasang surut yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi.000. mangium asal tegakan benih Riam Kiwa. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi lahan rawa pasang surut yang cukup luas.khususnya hutan tanaman.86 persen. Hal ini disebabkan oleh ekosistem mikro yang kurang stabil/seimbang. Adi POTENSI DAN POTRET PENGUSAHAAN NIPAH (Nypa fruticans) DALAM MENUNJANG EKONOMI RUMAH TANGGA DI SUMATERA SELATAN / Adi Kunarso. Atap daun nipah. Pada masing-masing asal sumber benih. -.. 600.. Kata kunci: Acacia mangium.hingga Rp. 700. Patah pucuk merupakan jenis kerusakan yang umum dijumpai pada tanaman Acacia.

Saat ini telah tersedia berbagai klon anjuran hasil pengujian yang dilakukan pada tanaman mineral. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . indikasi tersebut tampak dari semakin sulitnya beberapa industri (penggergajian.2 juta meter kubik menjadi 700. dengan areal mencapai 3. -. Sementara pasokan kayu (pertukangan) dari Hutan Tanaman Industri (HTI) hingga saat ini belum mampu memenuhi kekurangannya. Salah satu kendalanya adalah dari ketahanannya terhadap ketumbangan/kemiringan pohon pada umur tanaman yang lebih lanjut. Kata kunci: Rawa gambut.Lasminingsih. mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. lahan basah rawa di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 tipe: (1) Hutan rawa air tawar (2) Rawa berumput/lebak (3) Rawa dan lahan gambut. Kata kunci: Karet. 2006 Tanaman karet di Indonesia merupakan salah satu sumber devisa negara yang memberikan kontribusi cukup tinggi.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 2534 . Hevea brasiliensis Muell Arg. pembangunan hutan tanaman yang diperuntukkan sebagai pemasok bahan baku kayu pertukangan dengan jenis-jenis lokal yang komersil sudah selayaknya direalisasikan. pengembangan hutan tanaman tembesu di Sumatera 114 .Khusus di Sumatera Selatan. maupun kerajinan khas Palembang) dan masyarakat memperoleh beberapa jenis kayu komersial yang berkualitas seperti ulin. Dengan melihat potensi lahan gambut yang ada di Indonesia dan dalam rangka pengembangan karet serta pemanfaatan lahan gambut yang ada maka klonklon ini dapat diujicobakan pada lahan gambut dengan beberapa perbaikan teknologi untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul. Lahan rawa merupakan salah satu tipe dari lahan basah. Dari data pengujian klon pada lahan gambut tampaknya pertumbuhan awal. Tembesu (Fagraea fragrans) yang merupakan salah satu jenis pohon andalan setempat di Sumatera Selatan. Halaman 21-24 . Lahan gambut. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 151-159 . raminn. sedangkan pada tanah gambut belum banyak walaupun pada beberapa tempat dijumpai pertanaman karet pada jenis tanah ini. luas lahan basah makin menyusut hingga tinggal 40 juta hektar. Abdul Hakim ASPEK TEKNIK SILVIKULTUR DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN TEMBESU / Abdul Hakim Lukman. membuat potensi hutan alam kita baik dalam skala nasional maupun lokal di Sumatera semakin menurun. 2006 Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan basah cukup luas di dunia yang mencapai 54.061 ha. Dilaporkan. saat ini (menurun sekitar 25 persen). Lahan gambut yang tadinya dianggap lahan marginal dan tidak banyak dimanfaatkan mulai dibuka dan dikonversi karena dari semakin menyempitnya ketersediaan lahan. jelutung dan tembesu. Hutan rawa air tawar dan rawa berumput adalah jenis lahan rawa yang sudah banyak rusak dan semakin kurang keberadaanya. Mudji PERKEMBANGAN BAHAN TANAM KARET DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA PADA LAHAN GAMBUT / Mudji Lasminingsih. Selain itu kebanyakan HTI yang dibangun diperuntukkan memenuhi kebutuhan industri pulp. Klon karet Lubis. -.000 meter kubik. Lahan gambut. Sumatera Selatan Lukman. Akan tetapi akibat banyaknya tekanan dan konversi.3 juta ha dan menunjang perekonomian rakyat karena sebagian besar merupakan perkebunan karet rakyat. akibat kelangkaan pasokan bahan baku yang turun drastis dari 4. Areal karet tersebut saat ini sebagian besar tersebar pada tanah-tanah mineral. Untuk teknologi okulasi di tempat ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut. 2006 Akibat eksploitasi hutan yang tidak seimbang dengan upaya rehabilitasi yang dilakukan selama ini. Sedangkan rawa gambut dan lahan gambut sendiri juga saat ini mulai mengkhawatirkan keberadaannya. saat ini sebanyak 167 sawmill legal di Sumsel terpaksa ditutup. Secara ekologis. Menurut ekosistemnya. pasar maupun penguasaan teknik silvikulturnya. Irwansyah Reza PEMANFATAN HUTAN DAN LAHAN RAWA GAMBUT DI PANDANG DARI APEK KONSERVASI: PENGALAMAN KEGIATAN CCFPI DI SUMATERA SELATAN / Irwansyah Reza Lubis. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan saluran-saluran drainase dan juga melakukan okulasi di tempat sehingga perakaran tunggangnya tidak terganggu.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. tanaman ini masih mampu tumbuh dan mencapai usia matang sadap sama dengan pertumbuhan karet pada tanah mineral.968. Hal ini disebabkan karena kesuburan dan besarnya potensi sumber daya alam yang berada disekitarnya. CCFPI. Melihat kenyataan tersebut.

Mahfudz VARIASI PERTUMBUHAN BEBERAPA KLON JATI HASIL STEK PUCUK PADA DUA JARAK TANAM DI GUNUNG KIDUL (The Growth Variation of Some Teak Clones from Cuttings on Two Planting Distances at Gunung Kidul) / Mahfudz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merbau dapat diperbanyak secara stek pucuk dan perlakuan zat pengatur tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot segar dan bobot kering stek dengan media tanaman yang mengandung bahan organik tinggi. LMG1.5 m x 1 atau 3 m x 1 m. merbau. Suplement No.1 . Hasil analisis tanaman jati umur 22 bulan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman secara umum baik dengan kisaran 2. -.3. Jarak tanam 2 m x 6 m memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam 3 m x 3 m. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Lengkap Berblok dengan 5 perlakuan sumber scion yaitu: KG!. Zat pengatur tumbuh dan media tanam merupakan aspek penting dalam perbanyakan tanaman dengan cara tersebut. semak belukar dan hutan sekunder bervegetasi jarang.29 m .4. Kegiatan pemangkasan cabang (pruning) dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan kualitas kayu berupa berkurangnya jumlah mata kayu. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan.3. Tembesu dapat ditanam pada areal lahan yang didominasi alang-alang. Kata kunci: Biomasa. Teknik silvikultur Mahfudz PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK MERBAU (Effect of Growth Regulators and Plant Mediums on the Growth of Instia spp Shoot Cuttings) / Mahfudz. Grafting merupakan salah satu cara dalam perbanyakan tanaman untuk penyediaan bibit yang diperlukan.22 m . sedangkan faktor kedua adalah media tanam yaitu campuran tanah + pasir (l:l). Jenis andalan setempat. Kata kunci: Jati. Hidayat Moko. GK2 (scion dari Gunung Kidul).34 .49 m untuk tinggi dan 2. Hutan tanaman. RPH Banaran. Kata kunci: Tembesu. zat pengatur tumbuh. Penelitian dilakukan di petak 22a. No. Halaman 247256. 2006 Salah satu aspek penting dalam pengembangan hutan jati rakyat adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. -. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sumber scion terhadap pertumbuhan bibit jati asal grafting telah dilakukan di persemaian Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh dan media tanam telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman sejak Juni sampai Desember 2004. 12 klon jati sebagai perlakuan dan 5 treeplot berbentuk bans untuk tiap perlakuan dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan 2 m x 6 m. LMG2 dan LMG3 (scion dari Lamongan) dengan 5 kali ulangan dan setiap ulangan 115 . BKPH Playen Gunung Kidul pada bulan Nopember sampai Januari 2005.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pertumbuhan klon jati hasil stek pucuk dan jarak tanam yang tepat di lapangan. bobot basah dan bobot kering stek dan volume akar stek.1 . Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 43-47 . pasir + kompos (1:1) dan tanah + pasir + kompos (1:1:1) dengan ulangan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 10 stek. Tyastuti Purwani dan Wahyu Yudianto.Selatan dimungkinkan dapat berhasil dengan baik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 2 faktor perlakuan. klon. Penelitian menggunakan rancangan tersarang dengan 5 blok sebagai ulangan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. dengan penyiapan lahan secara manual tebas total dan jarak tanam rapat 2. pertumbuhan tanaman Mahfudz PENGARUH SUMBER SCION TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JATI ASAL GRAFTING / Mahfudz.4. Halaman 25 . media tanam. sejak juni sampai Desember 2004. Pemeliharaan tanaman pada awal pertumbuhan mutlak dilakukan yang berupa pembersihan tumbuhan bawah dan aplikasi pupuk. yaitu faktor pertama zat pengatur tumbuh IBA dan IAA dengan konsentrasi 0 dan 20 ppm. Hidayat Moko dan Aswan Ajarul. 2006 Merbau (Instia spp) merupakan jenis tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam pembangunan hutan tanaman memerlukan pengadaan bibit dalam jumlah banyak. stek pucuk.63 m untuk diameter. Isnaini. Salah satu upaya dalam pengadaan bibit adalah dengan perbanyakan tanaman secara stek pucuk.

pada era tahun 2002-2003 Departemen Kehutanan menggaungkan "Social Forestry" sebagai payung semua program yang akan dilaksanakan. Kata kunci: Perencanaan partisipatif. Kompatibel. Tectona grandis. manfaat sosial. Manfaat sosial diterapkannya program social forestry yaitu menurunnya kejadian kebakaran di lahan konsesi HTI. Kata kunci: Jati. Outcame PRA seperti yang diaplikasikan di Desa Tanjung Sari II sangat berguna bagi Dinas Kehutanan untuk mengambil langkah-langkah taktis dalam melaksanakan tindakan kegiatan pengembangan hutan rakyat. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang apakah program social forestry dapat dijadikan sebagai sebuah pilihan sistem usaha dalam pembangunan hutan tanaman industri. Tulisan ini hendak menyajikan hasil penelitian aksi perencanaan pengembangan hutan rakyat di Desa Tanjung Sari II Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir. 2006 Program pembangunan dimasa lalu seperti hutan kemasyarakatan (HKm). social forestry dianggap proyek. lemahnya koordinasi antar lembaga yang terkait. bahkan beberapa teknik justru didalami dan dipertajam hasilnya sesuai dengan Prinsip Triangulasi. Halaman 117 . Halaman 31-44 . Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . penghijauan. Pengamatan dilakukan terhadap persentase hidup. -.17. No. Social forestry Feasibility and Social Benefit of Social Forestry Program at Industrial Plantation Forest)/ Edwin Martin. Ditengah kegalauan dalam mengelola kehutanan Indonesia. sedangkan untuk program MHR bernilai ekonomis jika suku bunganya berada pada kisaran 14% . Tidak semua teknik PRA digunakan untuk mengkaji keadaan masyarakat Desa Tanjung Sari II karena sesuai dengan prinsip PRA hasil yang optimal. Edwin KELAYAKAN EKONOMI DAN MANFAAT SOSIAL PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI (Economic Martin. Helly Fitriyanti. PRA. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. MHP di Sumatera Selatan dijadikan sebagai objek studi kasus. Sumber scion Martin. Melalui perencanaan partisipatif ini.128 . Salah satu teknik yang cukup dikenal dalam mengembangkan partisipasi masyarakat adalah PRA (Participatory rural appraisal). tidak lagi berdasarkan asumsi-asumsi atau pandangan dan pendapat subjektif belaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan scion yang berasal dari sumber yang berbeda tidak berbeda nyata terhadap semua parameter yang diamati. panjang tunas dan diameter tunas.Scion yang berasal dari Lamongan menunjukkan pertumbuhan tanaman hasil grafting yang lebih baik dibandingkan dari Gunung Kidul. "Social Forestry" masih belum mampu memenuhi harapan banyak pihak dan perlu dibenahi. Pelaksanaan kegiatan menggunakan teknik-teknik PRA. semakin berkurangnya intensitas konflik sosial dengan masyarakat.89%. Program social forestry MHBM dan MHR PT. serta tidak dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan dan perumusan program. rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) sejauh ini belum berhasil mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. kelayakan usaha. Lembaga pengembang program dapat melakukan aktifitasnya (sesuai tupoksinya) dengan arahan yang jelas. Alat analisis utama yang digunakan yaitu studi kelayakan usaha dan tinjauan manfaat sosial terhadap program tersebut. hutan rakyat. 2006 Konsep perhutanan sosial (social forestry) seringkali dipahami hanya sebagai obat penawar untuk menangani konflik sosial usaha hutan tanaman. semakin terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. MHP bernilai ekonomis jika suku bunganya berada kisaran 14% -15.55%.3. Fidelia Balle Galle. pertanyaan " Bagaimana melaksanakan program hutan rakyat di suatu daerah?" menjadi terjawab. jumlah daun.terdiri dari 5 tanaman hasil grafting. social forestry 116 . Grafting. Edwin MANFAAT PERENCANAAN PARTISIPATIF DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH SOSIAL FORESTRY: DENGAN CONTOH KASUS APLIKASI PRA UNTUK PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DIDESA TANJUNG SARI II KECAMATAN LEMPUING OKI / Edwin Martin.2 . Rootstock. Penyebab kurang berhasilnya sosial forestry di masa lalu antara lain adalah kebijakan yang tidak mendukung.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. bukan sebagai salah satu sistem usaha produktif ekonomis. Pelaksanaan program social forestry hutan tanaman industri dengan pola MHBM seperti diterapkan oleh PT.

Jawa Barat. N total. berat jenis dan air tersedia berpengaruh positif. platyclados sangat masam. -. tengkawang Mindawati. sedangkan jika pemeliharaan kurang intensif sebesar 56 HOK/ha. sedangkan pengaruhnya terhadap porositas. tepat. Kata kunci: Kesuburan tanah. Syaffari Kosasih.43 m dan 3. sehingga penanaman jenis dapat menstabilkan kondisi tanah. sureni yang menjadi liat. Khaya anthotheca dan Acacia cassicarpa telah dilakukan pada tanah andosol di dataran tinggi Cikole. 2006 Metode ini menguraikan tentang metode yang cepat. dan dapat diandalkan untuk mengenali serangan busuk hati dan busuk akar. tekstur dan penampilan dari kayu yang diserang.Perkembangannya diikuti dengan perubahan warna. 2006 : Halaman 20-30 . Nina PENGARUH FREKWENSI PEMELIHARAAN TANAMAN MUDA TERHADAP PERTUMBUHAN MERANTI DI LAPANGAN (The effect of Tending Frequency on Growth of Shorea Sapling at Field)/ Nina Mindawati.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Rancangan yang digunakan adalah Acak Lengkap dengan dua tipe pemeliharaan yang dilakukan sampai tanaman berumur 3 tahun. sedangkan sifat fisik sampel diambil pada dua kedalaman 0cm .3. -. Halaman 63 . satu di Riau dan lainnya di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa provenansi dapat mempengaruhi serangan busuk hati tetapi tidak ada hubungannya dengan kandungan ekstraktif kayu. Busuk akar dibedakan menurut warna jaringan yang terserang jamur dan terkait dengan beragam 117 .3 . yaitu berupa pemeliharaan intensif dan kurang intensif. Shorea platyclados. penanaman dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme.71 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah di bawah tegakan umumnya masam sama dengan kondisi awal. 2006 Shorea atau meranti dikenal di perdagangan dunia sebagai kayu tropik yang cukup berperan penting. Penelitian mengenai macam dan frekwensi pemeliharaan terhadap tanaman muda di lapangan telah dilakukan di HP Haurbentes. mecistopteryx 3. Program pembangunan HTI tengkawang tidak akan berhasil dengan baik jika tanpa dilakukan pemeliharaan pada tanaman muda di lapangan. Hasilnya dibandingkan dengan survei yang berdasarkan pada log hasil longitudinal pada log. -. No.3. seperti Agathis lorantifolia.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.B Irianto. No. penanaman dengan pemeliharaan yang intensif selama 3 tahun memerlukan sekitar 66 HOK/ha. unsur hara makro dan kapasitas tukar kation pada umumnya sama. A. Nina PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS POHON HUTAN TERHADAP KONDISI KESUBURAN TANAH ANDOSOL ( The effect of Some Forest Species Plantation to Condition of Andosol Soil Fertility)/ Nina Mindawati. Tekstur tanah setelah penanaman lempung liat berdebu. sedangkan jenis S.2 . Yetti Heryati.Mindawati.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Jawa Barat. Kondisi tanah dan tumbuhan di areal dengan pemeliharaan yang intensif menunjukkan hasil yang lebih baik ditinjau dari pH tanah. stenoptera sebesar 3. Karen M Barry dan Ragil S. pertumbuhan. Pengmbilan sampel tanah dilakukan dibawah tegakan yang telah berumur enam tahun pada 3 titik dan dicampur untuk dianalisa sifat kimia dan biologi tanahnya. Alnus nepalensis. mangium disebabkan oleh hymenomycetes yang menyerang selulosa dan lignin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemeliharaan intensif berpengaruh nyata terhadap-rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter jenis S. Toona sureni. kecuali untuk jenis S.19 m dan 3. Yetti Heryati. P tersedia dan KTK serta nilai INP tumbuhan bawah jika dibanding pemeliharaan intensif. Penanaman. Pinus oocarpa.30 cm dengan menggunakan ring sampel. Kandungan bahan organik. Busuk hati pada A.76 cm. karena tanah yang subur memungkinkan pohon tumbuh dan menghasilkan kayu serta produk lainnya dengan baik. Prestasi kerja pembangunan hutan tanaman meranti mulai dari penyiapan lahan.164 . Halaman 155 . Tanda-tanda tersebut digunakan untuk menilai secara cepat kejadian dan tingkat serangan busuk hati pada log hasil penebangan di lapangan. Penilaian terhadap 2 percobaan. Tanah andosol Mohammed. Caroline L BUSUK HATI DAN BUSUK AKAR PADA ACACIA MANGIUM : IDENTIFIKASI GEJALA DAN PENILAIAN TERHADAP TINGKAT SERANGAN / Caroline L Mohammed. jumlah fungsi dan respirasi di dalam tanah yang berdampak positif terhadap kesuburan tanah.15 cm dan 15 cm . Casuarina junghuhniana. Kata kunci: Frekuensi pemeliharaan. Jasinga. Selain itu. Penelitian mengenai pengaruh penanaman jenis pohon hutan. shorea.64 cm. kecuali T. Pohon hutan. 2006 Pembangunan hutan tanaman Industri perlu memperhatikan faktor kesuburan tanah.

dan karat daun adalah ancaman utama (Old et al. mangium adalah pelapukan kayu oleh jamur saprotrophic yang menyebabkan penurunan mutu kayu meskipun tidak mematikan pohon. Akibat penyakit tersebut daun-daun rontok dan tanaman kering meranggas. umur 3 tahun terserang penyakit bercak daun.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. juga masih menyisakan masalah-masalah pembangunan antara lain isu kemiskinan. Hasil identifikasi ternyata penyakit bercak daun pada E. Busuk akar. Kata kunci. Untuk keperluan operasional di lapangan. persentase kejadian penyakit). Kata kunci: Acacia mangium.3 . Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat serta Mewujudkan sumsel Bersatu Teguh yang selanjutnya akan dijabarkan lebih jauh dalam program-program pembangunan yang bersifat implementatif. urophylla. termasuk potensi lahan rawa.191 .. Puslitbang Hutan Tanaman Bogor untuk identifikasi patogen bercak daun. 2006 Di areal hutan tanaman PT. Teknik monokuler telah berhasil mengidentifikasi jamur Ganoderma philippi sebagai jamur penyebab busuk akar merah. 2006 Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propivinsi Sumatera Selatan sampai saat ini merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara berkesinambungan dari kegiatan sebelumnya. Sebagai daerah yang kaya akan sumberdaya alam. Busuk hati pada A. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis pathogen dan gejala yang ditimbulkannya serta persentase kejadian penyakit pada E.basidiomycetes. Illa Anggraeni. 2000). Survei terhadap penyakit pada hutan tanaman acacia menyimpulkan bahwa busuk hati. Penelitian dilakukan di lapangan (untuk mengamati gejala. Pemahaman lebih lanjut terhadap isu-isu tersebut di atas.Penyakit busuk akar menyebabkan kematian tajuk. Kalimantan Timur. Hutan tanaman. pertumbuhan terhambat dan akhirnya kematian pohon. Kegiatan identifikasi merupakan suatu proses mencocokkan secara umum dan membandingkan ciriciri yang didapat secara makroskopis maupun mikroskopis dengan ciri-ciri yang ada dalam referensi. maka wilayah pembangunan di propinsi ini sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu daerah tumpuan strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Busuk akar adalah pelapukan akar oleh beberapa patogen basidiomycetes yang menyerang jaringan hidup dan dapat mengakibatkan kematian pohon. memeriksa luasnya infeksi pada akar. Lahan rawa. Sumatera Selatan memiliki potensi posisi strategis dalam perekonomian nasional. 118 . Kebijakan. metode tersebut perlu sederhana. Surya Hutani Jaya Sebulu. bekas cabang. pohon yang terserang cenderung terjadi secara acak namun kemudian mengelompok menandakan bahwa serangan jamur telah meluas. Kecepatan perkembangan penyakit nampaknya berhubungan dengan awal serangan busuk akar. memacu Provinsi Sumatera Selatan untuk melasanakan pembangunan dengan memprioritaskan peningkatan kesejahteraan melalui berbagai langkah strategis dan kebijakan pokok yang dituangkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan jangka menengah daerah dan difokuskan pada agenda mewujudkan Sumsel sebagai Lumbung Energi Nasional. Tingkat serangan Munandar. Survei yang akurat harus mencatat gejala di atas permukaan tanah. Sumatera Selatan Ngatiman PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN EKALIPTUS (Attack of leaf spot disease on Eucalyptus)/ Ngatiman. Kabupaten Kutai Kartanegara. Penggunaan teknik penginderaan jauh untuk survei penyakit juga diulas. Busuk akar menyebar melalui hubungan antara akar yang sehat dengan akar yang terjangkit jamur busuk akar atau kayu yang membusuk akibat jamur akar. No. Dengan potensi sumberdaya alamnya yang besar. Ketika busuk akar pertama kali ditemukan. Busuk hati. cepat dan mudah dilakukan oleh petugas lapangan dengan pelatihan secukupnya. busuk akar. -. kedudukan geografis dan kondisi geopolitan yang sangat terkendali.3. Aris KEBIJAKAN PENGELOLAAN LAHAN RAWA SECARA TERPADU DI SUMATERA SELATAN / Aris Munandar dan Syafrul Yunardi. Halaman 183 . dan mengamati pola penularan penyakit. tanaman Eucalyptus urophylla Blake. kekuatan sumberdaya manusia yang masih besar dan multidisiplin. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 1-6 . Jamur penyebab busuk hati adalah parasit basidiomycetes yang masuk ke dalam pohon melalui luka. Penilaian terhadap busuk hati dan busuk akar memerlukan pendekatan yang berbeda. Mewujudkan Sumsel sebagai lumbung Pangan. Pelaksanaan pembangunan tersebut selain telah menghasilkan keberhasilan yang telah dicapai. kemudian dilanjutkan di laboratorium Kelti Perlindungan dan Pengaman Hutan. pengangguran dan rendahnya pendapatan perkapita yang perlu diantisipasi dan segera dicarikan jalan keluarnya. dan tidak secara khusus menyerang jaringan hidup.

08 persen.38 cm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi teknik rehabilitasi lahan alang-alang dengan jenis yang sesuai dari famili Dipterocarpaceae.38 cm.1 . Alat tangkap yang besar yang biasa dioperasikan di danau cala adalah empang. Duri (Mimosa infisa).79 cm dan sebesar 0. bentuknya setengah cincin dan letaknya berdekatan dengan sungai utamanya yaitu Sungai Musi dan perairan ini terletak di Kabupaten Musi Banyuasin. Banyuasin. Syarifah PERANAN EKOSISTEM HUTAN RAWA DI DANAU CALA KABUPATEN MUSI BANYUASIN SEBAGAI HABIBAT IKAN PERAIRAN UMUM / Syarifah Nurdawati.46 persen dengan intensitas serangan 7. -. Kebarau (Hampala macrolepidota). Bengkal (Bruguera conjugate) dan Mangga Hutan (Magifera sp). Tinggiran binti (Rhizophora micronata).Mulyana PERTUMBUHAN KAYU KAMPER DAN HOPEA PADA LAHAN ALANGALANG DENGAN TEKNIK PENYIAPAN LAHAN TANAM (Growth of Pengaruh teknik persiapan lahan tanam telah dilakukan terhadap pertumbuhan Dryobalanops lanceolata dan Hopea sangal pada lahan lang-alang di hutan lindung Sungai Wain. Teknik penyiapan lahan dilakukan sebelum penanaman adalah dengan menggunakan herbisida yang bertujuan untuk memusnahkan alang-alang. Kukulang (Melostoma paliantum). Bujuk (Channa lucius).79 cm dan sebesar 0. R. Habibat. Resan (Barcinia dulcis). Sungai-sungai ini mengering pada musim kemarau dan menyatu dengan danau pada musim penghujan. Balikpapan. -.urophylla umur 3 dan 5 tahun disebabkan oleh fungi Macrophoma sp. sedangkan persentase kejadian penyakit pada umur 5 tahun sebesar 40. Musi. Ikan. Jenis-jenis tersebut adalah Ikan toman (Channa micropeltes). 31 jenis diantaranya melakukan pemijahan (spanig ground) di perairan hutan rawa dan memanfaatkan pakan alami di hutan rawa untuk pembesaran larva dan benih dan 14 jenis larva ikan perairan umum masuk ke perairan hutan rawa dan memanfaatkan perairan hutan rawa sebagai tempat perawatan larva (nursery ground). Bungur (Lagertrounia spiasa. Serandang (Channa pleuropthalmus).38 cm. Sebanyak 58 jenis ikan perairan umum memanfaatkan hutan rawa untuk mencari makan (feeding ground). Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian penanaman jenis dari suku 119 . Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Ikan Juar (Luciosoma setigerum) dan Ikan Seluang Batang (Epalzeorhnchos kalopterus).37 cm dan 0. yaitu rata-rata sebesar 39. Jenis-jenis vegetasi yang hidup di perairan hutan rawa danau Cala antara lain Nanggai (Talauma candolei). Halaman 11 . Perairan umum Vol. penyiapan lahan tanam dan interaksi antar jenis dan penyiapan lahan tanam tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup tanaman. No.3.23 . urophylla umur 3 tahun sebesar 57. Hutan rawa. Sebagian besar perairan Danau Cala dikelilingi hutan rawa dan banyak terdapat sungai-sungai kecil yang bermuara ke danau. Teki (Cyperus rotandus). yaitu rata-rata sebesar 39. Tembakang (Helostoma temminckii). lanceolata. Setiap perlakuan dibuat petak coba dengan ukuran 50 m x 50 m (0.61 persen. Rumput gayu (Spinifex litorus). Bambu (Bambusa sp). Pandan (Pandanus tectorius). ikan Lemak (leptobarbus hoevenii). Penyakit bercak daun Nurdawati. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial 2x3 dengan pola acak lengkap yang diulang sebanyak 3 kali. Sukun (Artocarpus comunis).15 persen dengan intensitas serangan 4. Cungcungre (Denox caniformis). Danau cala. yaitu dengan rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter masing-masing sebesar 35. Kepor (Pristolepis fasciata) dan Tapah (Wallago attu).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Omon. Untuk perlakuan jenis terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter yang paling besar adalah D. 2006 Kamper Wood and Hopea on Alang-alang Areas With Prepare Planting Technique) / R. Penangkapan ikan konsumsi dimulai setelah air mulai surut dengan cara menutup sungai-sungai kecil yang banyak terdapat di danau Cala. Di danau Cala pada umumnya penangkapan dilakukan pada musim penghujan untuk menangkap ikan hias antara lain ikan botia (Botia macracantus) dan penangkapan ikan balashark atau ikan kutung hanyut (Balantiocheilos melanopterus). 2006 Danau Cala merupakan sungai mati (oxbow lake). Marsepang (Midraraetil tharipoides).25 ha) dengan jarak tanam 5 m x 5 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis. Kalimantan Timur. Persentase kejadian penyakit pada E. Kalui (Osphronemus goramy). corong dan kilung. Baung (Mystus nemurus). Kata kunci: Ekosistem.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 143-149 . Mulyana Omon. Kata kunci: Eucalyptus urophylla Blake.

Banyaknya perusahaan hutan tanaman yang menggunakan jenis eksotik ini menyebabkan jenis lokal yang unggul mulai terpinggirkan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Dilain pihak banyak tanaman jenis lokal potensial untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena jenis lokal Temperature and Storage Duration of Mycorrizae Tablet to Growth of Red Meranti Cuttings)/ R. 2006 Tanaman pioner berperan penting dalam suksesi alam. jumlah daun (5 helai).Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Kata kunci: Alang-alang. Suhu. Keberadaan jenis pioner masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rehabilitasi hutan yang mengalami kerusakan. Jenis pioner dapat menjadi tanaman terpilih sesuai kondisi alam dan persyaratan tumbuhnya. -. Rehabilitasi hutan Premono. Kata kunci: Tanaman pioner. Pemanfaatan jenis pioner sebagai salah satu usaha biologis disamping usaha mekanis yang selama ini diterapkan. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MERANTI MERAH (The effect of Prasetyawati. parvifolia. pertumbuhan tinggi. Tujuan dari percobaan adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. 2006 Pembangunan hutan tanaman yang tujuan utama untuk menutupi defisit kebutuhan kayu yang semakin besar hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas tegakan yang dihasilkan. Halaman 129 . Beberapa tanaman pioner dapat dikembangkan menjadi tanaman komersial yang mempunyai nilai jual tinggi. pertumbuhan tinggi (5 cm). C Andriyani PERANAN TANAMAN PIONER DALAM REHABILITASI HUTAN / C. -. Tejo Premono dan C. Kerusakan hutan. Suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. jumlah daun. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Mulyana Oman. Dengan demikian untuk S. herbisida. berat kering dan persen kolonisasi akar stek S. parvifolia (88%) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan. dengan perlakuan penyiapan lahan disemprot total dengan herbisida. Stek. Perlakuan dalam percobaan ini 2 suhu dan 6 lama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali.138 . Tanaman jenis eksotik ini mempunyai kelemahan. Hasil menunjukkan bahwa lama penyimpanan tablet selama 3 bulan di kedua suhu yang berbeda (4°C dan 20°C) telah memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen hidup (90%). lanceolata dan H. Tablet mikoriza. Halaman 131-135 . R. lanceolata dan H. Hopea sangal Omon.Dipterocarpacea khusus dari jenis D. adanya penundaan perkembangan penyakit yang telah dibawa dari daerah asal. 2006 Pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza telah dilaksanakan di Laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata.28 gr) dan persentase kolonisasi akar stek bermikoriza S. Tejo B KAJIAN PELUANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN JENIS LOKAL POTENSIAL DI SUMATERA / B.2 . Samboja Kalimantan Timur. parvifolia Kata kunci: Meranti merah.3. Kerusakan hutan yang memprihatinkan perlu mendapat perhatian. -.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Dryobalanops lanceolata. sangal telah memberi harapan yang baik untuk dikembangkan sebagai jenis komersial untuk ditanam di lahan yang terbuka (alang-alang). Tanaman pioner mempunyai peranan penting dalam usaha perbaikan kondisi tapak maupun ekologi tanah. Penggunaan tanaman jenis eksotik telah banyak dilakukan selama ini. Shorea parvofolia. Andriyani Prasetyawati. parvifolia yang berkualitas di rencana dan strategi penyediaan stek persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4°C atau 20°C masih dapat diinokulasikan pada stek S. berat kering (0. No.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. waktu penyimpanan 120 . Andriyani Prasetyawati dan Kristanta Tri Saputra. Usaha merehabilitasi banyak mengalami kendala di lapangan dan belum menggembirakan. Halaman 77-84 . Pada awalnya gejala ini tidak akan nampak namun akan mningkatkan riap tegakan yang dihasilkan.

Yang menjadi utama perlu adanya pemuliaan tanaman jenis lokal untuk meningkatkan riap pertumbuhan sebagai syarat dalam pembangunan hutan tanaman. 2006 Pengelolaan hutan. Halaman 139 . Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Tejo HASIL HUTAN NON KAYU (HHNK) HUTAN RAKYAT. Aryono.148 .3. No. daun maupun hasil hutan lainnya seperti rotan dan bambu. B. penanda mikrosatelit. Kata kunci: Pembangunan hutan tanaman. -. Penelitian yang dilakukan dapat mendeteksi pasangan induk dari 202 individu (68. Dalam pengembangan hutan model Agroforesty di Krui Lampung Timur dengan tanaman damar mata kucing (Shorea javanica). cepat tumbuh dan mampu beradaptasi dengan lingkungan merupakan faktor penting dalam membangun hutan tanaman. Moh. Reaksi PCR dilakukan menggunakan 15 penanda mikrosatelit (SSR). analisis induk. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari penggunaan penanda mikrosatelit bagi pengujian induk A. Sambas Sabarnurdin.B. Kebun benih persilangan A. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. PERLUKAH DIBERI SERTIFIKAT: ANTARA KELESTARIAN HUTAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT / B. Tejo Premono. W. Jenis lokal potensial.43 . Sertivikasi ini bertujuan untuk melindungi petani dari banyaknya barang subtitusi (sintetis) yang menyebabkan permintaan terhadap barang yang terus menurun dan pada akhirnya harga HHNK akan turun.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. mangium. Halaman 103-110 . KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown Development of Teak from Seedling. Kata kunci: Acacia mangium. Istiana PENGGUNAAN PENANDA MIKROSATELIT UNTUK ANALISIS INDUK Acacia mangium Willd (Application of Microsatellitte Marker for Parentage Analysis of Acacia mangium Willd)/ Istiana Prihatini. SSR Priyono. Sertifikasi. mempunyai data adaptasi yang lebih baik dengan kondisi alami tempat tumbuhnya selain menghasilkan kayu jenis lokal juga menghasilkan produk non kayu seperti getah.2%). -. Riap yang tinggi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.1 . Pemuliaan Premono.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 Penanda molekuler diketahui memiliki potensi menggantikan upaya penyerbukan buatan secara manual dalam program pemuliaan. Program pencarian bahan tanaman 121 . Namun produksinya cenderung menurun yang disebabkan antara lain harga yang rendah. Tissue Culture and Shoot Cutting)/ Priyono Suryanto. Kelestarian hutan Prihatini. Dan juga adanya barang subtansi berupa barang sintetik yang menyebabkan daya saing HHNK ini semakin berkurang. Taryono.telah banyak dikenal oleh masyarakat. Sertifikasi juga bertujuan untuk melindungi kepada konsumen bahwa barang yang dihasilkan suatu produk adalah baik untuk kesehatan (green market).2 . Analisis induk dilakukan menggunakan DNA genomik total dari 251 individu sebagai kandidat induk dan 296 individu hasil keturunannya. Anto Rimbawanto. Jenis eksotik. Suryanto PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. -. 2006 Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) sebagai hasil sampingan dari hutan (side product) yang dapat berasal dari bagian pohon baik berupa getah. Dengan melihat kondisi tersebut maka perlu adanya perlindungan terhadap produsen (petani) dan konsumen (pembeli) yang berupa sertivikasi Hasil Hutan Non Kayu. Genotipa dari semua individu tersebut digunakan untuk menentukan pasangan induk dari setiap keturunan yang diuji. Halaman 35 .3. No. HHNK ini menjadi penghasil tambahan (side incomes) yang menjanjikan. Dari segi pemanenan HHNK lebih menjamin adanya pengelolaan hutan yang lestari (sustainable Foret Management) karena sistem pemanenannya yang hanya mengambil bagian dari pohon melalui penyadapan sehingga tidak mempunyai dampak yang berarti terhadap kondisi ekologi dan lingkungan. mangium dapat dibangun menggunakan individu-individu terpilih agar penyerbukan terbuka (open pollination) yang terjadi dapat menghasilkan individu unggul. teknologi yang belum tertata. kulit. Kata kunci: Hasil Hutan Non Kayu.

telah memicu berbagai kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. DALAM KAITANNYA DENGAN KELESTARIAN HUTAN / Mamat Rahmat.2 tahun dan 8. alasan ekonomi.154 . sekitar 10. Jenis ini merupakan tanaman asli Propinsi Nusa Tenggara Timur. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar.296 sedangkan keragaman antara populasi 0. Hutan rawa gambut Rimbawanto. No.3. Dengan demikian. Penelitian ini bertujuan mempelajari kaeragaman genetik populasi merbau guna membantu penyusunan strategi konservasi genetik. Keragaman genetik. pengentasan kemiskinan adalah upaya vital. No. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dan hubungan kekerabatan populasi Santalum album untuk mendukung program konservasi dan pemuliaan jenis tersebut. Diusulkan tiga strategi pengentasan kemiskinan pada masyarakat di sekitar hutan rawa gambut di Sumatera Selatan.3 . Analisis klaster membagi keempat populasi menjadi dua kelompok populasi yaitu Carita dan Manokwari pada kelompok pertama. Tectona grandis L. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6 m x 2 m. pembangunan infrastruktur dan pengembangan usaha ekonomi produktif. asal bahan tanam.141. -. untuk menjaga kelestarian hutan. AYPBC Widyatmoko. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan denga intensifikasi lahan.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 103-110 .jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. 2006 Kemiskinan merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan kehutnan di Indonesia. Kata kunci: Intsia bijuga. kultur jaringan dan stek. Kata kunci: Perkembangan tajuk. diantaranya adalah melalui pemberian insentif. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. Halaman 149 . Sampel daun dikumpulkan dari 17 populasi dan dianalisa 122 . Dalam makalah ini digambarkan beberapa strategi pengentasan kemiskinan. -. Kemiskinan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.181 . Rata-rata lokus polimorfik per primer adalah 5.f Rahmat. Penanda RAPD Rimbawanto. Anto KERAGAMAN GENETIK EMPAT POPULASI Intsia bijuga BERDASARKAN PENANDA RAPD DAN IMPLIKASINYA BAGI PROGRAM KONSERVASI BAGI PROGRAM KONSERVASI GENETIK (Genetic diversity of Four Populations of Intsia bijuga Revealed by RAPD Markers and Its Anto Implications for Genetic Conservation Programme)/ Rimbawanto. AYPBC Widyatmoko dan Purnamila Sulistyowati.3 . dengan menggunakan penanda RAPD. -Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. Mamat STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN PADA MASYARAKAT SEKITAR HUTAN RAWA GAMBUT.2 juta orang masyarakat miskin tinggal di dalam hutan dan sekitar 6 juta orang masyarakat desa sekitar hutan memperoleh sumber penghidupannya dari hutan. 15. 2006 Santalum album atau yang dikenal dengan nama cendana merupakan jenis kayu bernilai tinggi dan telah mengalami degradasi sumber genetik yang serius. Halaman 175 .1. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama sedangkan apabila persediaan benih terbatas. kelestarian. Pengentasan kemiskinan. yang didasarkan pada karakteristik masyarakat miskin di dalam dan sekitar hutan. Anto DISTRIBUSI KERAGAMAN GENETIK POPULASI Santalum album BERDASARKAN PENANDA RAPD (Genetic Diversity and Its Distribution of Santalum album Populations Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawantao. 2006 Intsia bijuga atau merbau merupakan jenis kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif. sedangkan kelompok kedua terdiri dari populasi Ternate dan Nabire. Pembagian kelompok antara Manokwari dan Naabire lebih memperjelas pembagian Papua menjadi 6 wilayah geogenetik.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berurut-urut 12 tahun.5 tahun bila biji. Bila persediaan biji bermutu cukup. Kata kunci: Kemiskinan. Sampel daun dikumpulkan dari 4 populasi dan dianalisa menggunakan 15 primer RAPD yang menghasilkan 77 lokus polimorfik.3. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. Nilai keragaman genetik rerata dalam populasi sebesasar 0.

Analisi AMOVA menunjukkan bahwa 96 persen dari keragaman genetik terdapat di dalam populasi.038.3. Dalam sepuluh tahun terakhir luas hutan tanaman di Asia meningkat dari 46 juta ha pada tahun 1990 menjadi lebih dari 65 juta ha di tahun 2005 (FAO 2005). Sampel daun dikumpulkan dari 5 populasi dan dianalisa menggunakan 19 primer RAPD yang menghasilkan 48 lokus polimorfik. AYPBC Widyatmoko. sebagian besar didominasi oleh jenis jati dan sengon (Ditjen RLPS.3 .391 sedangkan keragaman antara populasi 0. RAPD.crassicarpa. hutan tanaman rakyat juga berkembang dengan pesat. 2006 Persoalan ancaman hama dan penyakit pada hutan tanaman telah menjadi isu nyata yang dihadapi oleh banyak negara yang mengembangkan hutan tanaman dalam skala luas. 2006 Euderoxylon zwageri atau ulin adalah kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif sehingga keberadaan tegakan ulin di hutan alam semakin langka.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Disisi lain hama dan penyakit juga mempunyai sistem penyerangan yang sesungguhnya merupakan cara mempertahankan diri untuk hidup dan berkembang. Halaman 15-20 .500. Konservasi. sedang populasi Lempake satu kelompok tersendiri. 2005).256 ha (Ditjen BPK. Wain dan Semboja. Santalum album Rimbawanto.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Ratarata lokus polimorfik per primer adalah 2.966 ha dan untuk kayu pertukangan 865. Rimbawanto. Analisis klaster membagi 17 populasi menjadi dua kelompok besar.menggunakan 17 primer RAPD yang menghasilkan 34 lokus polimorfik. Secara umum pembagian kelompok tidak memperlihatkan hubungannya dengan jarak geografis. Memahami mekanisme sistem pertahanan diri tanaman. Nilai rata-rata keragaman genetik dalam populasi sebesar 0. Analisis klaster menghasilkan dua kelompok populasi yaitu TN Kutai. Jakarta 23 Nopember 2006 . Di Indonesia. Dari sekitar 1. Anto KERAGAMAN POPULASI Eusideroxylon zwageri KALIMANTAN TIMUR Diversity of BERDASARKAN PENANDA RAPD (Population Eusideroxylon zwageri in East Kalimantan Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawanto. S. yang dikendalikan oleh faktor genetik dan interaksinya dengan sistem biologi hama dan penyakit merupakan kunci keberhasilan pengendalian dan pengelolaan ancaman tersebut. hingga tahun 2004 telah dibangun hutan tanaman untuk pulp seluas 2.208 . Kata kunci: Keragaman genetik. Sebagai contoh penyakit busuk akar (root rot) yang menyerang A. No. Dari jumlah itu sebagian besar didominasi oleh tanaman Acacia mangium yang sesuai untuk tanah-tanah mineral. Dalam beberapa tahun terakhir ini serangan hama pada penyakit pada hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat telah mencapai tingkatan yang merugikan secara ekonomi.0415. Kata kunci: Genetik. 2005). -. sedang sisanya ada di antara populasi. Penelitian ini bertujuan mempelajari keragaman genetik populasi ulin di Kalimantan Timur guna membantu program konservasi genetik. mangium. -. Hama. Harkingto. Halaman 201 .5 juta ha hutan tanaman rakyat. Nilai keragaman genetik rerrata dalam populasi sebesar 0. Anto KERAGAMAN GENETIK DAN KETAHANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN / Anto Rimbawanto. Penyakit 123 . Hamparan hutan tanaman satu jenis yang luas tersebut tentu saja merupakan sumber pohon inang yang sesuai bagi berkembangnya hama dan penyakit tanaman. sedangkan untuk tanah gambut ditanam A. Meratus. Secara alamiah tanaman telah mempunyai cara mempertahankan diri dari serangan hama dan penyakit. dengan menggunakan penanda RAPD.3564 sedangkan keragaman antara populasi 0. tetapi populasi-populasi yang berdekatan mempunyai kecenderungan untuk membentuk satu sub-kelompok. dan karat puru (gall rust) pada sengon. Disamping hutan tanaman industri di atas yang sebagian besar tersebar di Sumatera dan Kalimantan.

Anto SERTIFIKASI BENIH: UPAYA MENJAMIN MUTU BENIH DAN MUTU TEGAKAN YANG DIHASILKANNYA / Anto Rimbawanto. Data dari beberapa perusahaan HTI menunjukan bahwa pengadaan benih unggul Acacia mangium hanya mengambil 4 persen dari total biaya pembangunan tanaman. Sertivikasi benih. Anto BUSUK HATI DI HUTAN TANAMAN: LATAR BELAKANG DAN PROYEK ACIAR / Anto Rimbawanto. Ketersediaan benih unggul ditenggarai sebagai salah satu faktor utama bagi keberhasilan pembangunan hutan tanaman ini. Kata kunci: Jati.5 juta ha pada akhir tahun 2030.Rimbawanto. Permintaan akan kayu baik untuk keperluan pasar dalam negeri maupun international terus meningkat dan pemerintah telah menetapkan program pembangunan hutan tanaman untuk menjamin kelangsungan pasokan kayu. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 17-19 . Busuk hati.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. kebutuhan akan benih berbagai jenis tanaman juga meningkat. 2006 Dalam dasa warsa terakhir peneliti dari Australia dan negara-negara Asia Tenggara telah menyelesaikan serangkaian penelitian bersama dalam bidang patologi hutan. 2006 : Halaman 14-19 . South East Asia and India"" (Old et al.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. maupun upaya rehabilitasi lahan kritis. 2000). -. ACIAR 124 . Oleh karena itu untuk memberikan jaminan akan kebenaran mutu genetik sumber benih maka diperlukan sertifikat yang memberikan perlindungan hukum terhadap produsen dan konsumen benih.30 persen pada akhir daur. Hutan tanaman.3 juta ha pada akhir tahun 2000 dan 10. Benih unggul adalah investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar. Pembangunan hutan tanaman di berbagai negara termasuk pembangunan HTI di Indonesia membuktikan bahwa benih genetik unggul (genetically superior seeds) hasil pemuliaan dapat melipatgandakan pertumbuhan dan mutu tegakan. bebas cabang yang tinggi serta riap yang tinggi merupakan bukti keberhasilan pemuliaan pohon dalam meningkatkan mutu genetik tanaman. Peningkatan ini tidak dapar serta merta dihubungkan dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap benih bersertifikat. Salah satu hasil penting dari lokakarya itu adalah diterbitkannya buku ""A Manual of Diseases of Tropical Acacias in Australia. hutan rakyat. Ahli-ahli patologi dan pemuliaan pohon dari CSIRO telah menjalin kerjasama dengan para peneliti dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia dan lima negara lainnya di Asia Tenggara dengan dukungan ACIAR dan CIFOR. Salah satu proyek yang paling berhasil adalah survei tentang penyakit pada akasia tropis yang dilakukan pada tahun 1995-1996 termasuk lokakarya di Subanjeriji. Salah satu penyakit penting yang dibahas dalam pertemuan itu adalah busuk hati pada Acacia mangium. Program pembangunan hutan tanaman pada saat ini diarahkan untuk menghasilkan bahan baku kayu untuk industri pulp dan kertas dan MDF. Hutan tanaman jenis cepat tumbuh sangatlah penting bagi ekonomi negara-negara di Asia Pasifik termasuk Indonesia dan Australia. 2006 Seiring dengan meningkatnya pembangunan hutan tanaman. khususnya rotasi pendek yang sangat signifikan. Kata kunci: Acacia mangium. Pohon dengan batang yang lurus. Kebutuhan akan sertifikasi benih akhir-akhir ini terasa meningkat sebagai konsekuensi dari diberlakukannya penerapan harga bibit oleh pemerintah berdasarkan asal sumber benihnya untuk program pengadaan bibit Gerhan. baik untuk tujuan hutan industri. -. Mutu benih. Jenis utama hutan tanaman di Indonesia adalah Acacia mangium yang juga rentan terhadap serangan busuk hati. Hal ini sejalan dengan keberhasilan program pemuliaan pohon jenis-jenis cepat tumbuh meningkatkan riap volume tegakan yang menggunakan benih unggul hasil pemuliaan. Sejak pertengahan tahun 1980an terjadi peningkatan luas hutan tanaman. Program pembangunan hutan tanaman mentargetkan pembangunan hutan seluas 2. Perkembangan pembangunan hutan tanaman industri yang pesat telah menumbuhkan kesadaran pengguna benih akan pentingnya mutu genetik benih. benih jati Rimbawanto. Jika masalah penyakit busuk hati ini tidak ditanggulangi secara tepat maka keunggulan genetik sebagai hasil pemuliaan tidak akan dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi. Namun dampak ekonomi dari investasi kecil itu dapat berupa peningkatan riap volume antara 20 persen . Penggunaan benih bermutu genetik tinggi tidak dapat dipisahkan dengan mutu tegakan yang dihasilkan. Mutu tegakan. Kepentingan petani kecil dalam system tumpangsari juga perlu diperhitungkan agar mereka juga dapat memperoleh keuntungan ekonomi. namun lebih dikarenakan oleh pertimbangan ekonomis semata.

Pohon induk. tinggi semai dapat mencapai 37.13 cm) besar (8. isohipertermik. 65 persen ukuran sedang dan 25 persen ukuran besar. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 49-56 .33 mm dan jumlah daun 6 helai. Persen jadi okulasi hanya mencapai 35. Sumber benih Santoso. Rerata pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jati Muna umur 4 bulan di lapangan yang tertinggi (34. mengetahui variasi kualitas benih dan menentukan persen perkecambahan benih jati Muna dari berbagai sumber benih dan periode pemanenan buah. sumber benih tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap persen perkecambahan.07 persen. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas stek tiap klon dari pangkas jati Muna di Malili. Budi KUALITAS SEMAI DAN PERTUMBUHAN BIBIT JATI MUNA DARI KEBUN PANGKAS / Budi Santoso. Jati muna. lempungan.3. Rerata pertumbuhan semai yang berasal dari biji umur tiga bulan tingginya mencapai mencapai 27. sedangkan periode pemanenan berpengaruh terhadap persen perkecambahan. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.140 mm. Okulasi. Halaman 165 .45 mm) berasal dari generatif.35 cm dan terendah 10. sedangkan yang berasal dari stek. Budi PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS BENIH JATI MUNA / Budi Santoso.5 stek. No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produktivitas buah jati Muna per pohon. Pertumbuhan tinggi dan diameter pada tingkat semai dari propagul keturunan pohon induk jati terjadi variasi antar pohon induk. Tectona grandis. Budi VARIASI PERTUMBUHAN JATI MUNA HASIL OKULASI (Growth Variation of Bud Grafting of Muna Teak)/ Budi Santoso. Pemanenan. Kebun pangkas 125 . Lokasi terletak pada ketinggian 100 m dpl. Pertumbuhan tinggi terjadi variasi antar semai keturunan pohon induk dan pertumbuhan tertinggi mencapai 40.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. 2006 Penelitian keberhasilan okulasi pohon induk jati Muna (Tectona grandis L.73 cm. Lokasi penelitian di persemaian PT. Santoso.52 sedang dari stek 0. Kegiatan penelitian okulasi jati dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Indeks kualitas semai bibit yang berasal dari biji 0. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 57-61 .86 mm dan jumlah daun 6 helai.) bertujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan okulasi. Benih. Data pengamatan meliputi persen tumbuh dan pertumbuhan awal pertanaman. Jati muna. Jumlah pohon induk yang diokulasi sebanyak 60 dan setiap pohon induk dibuat 75 ulangan. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. jenis tanah termasuk famili Rhodic Hapludoxs. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata produksi stek di kebun pangkas tanaman jati Muna di Malili yang dapat dihasilkan perpohon mencapai 17. Tectona grandis L. Bintarto Wahyu Wardani. Sulawesi Selatan.173 .Santoso. Persen perkecambahan terbaik diperoleh dari benih yang dikumpulkan pada bulan September. Tectona grandis. -.50 cm. Penelitian ini dilaksanakan di hutan jati Muna. sedang pertumbuhan diameter tingkat semai dari keturunan pohon induk terbesar 7. pertumbuhan tinggi dan diameter semai hasil okulasi pohon induk jati Muna. kualitas semai dari stek kebun pangkas jati Muna dan pertumbuhan bibit asal kebun pangkas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produktivitas buah jati Muna mencapai 1.588 kg/pohon. Penelitian variasi kualitas benih menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan faktor pertama adalah sumber benih dan faktor kedua adalah periode pemanenan.97 cm. Kata kunci: Jati.3 . Kualitas semai baik bibit jati Muna asal biji dan stek dari kebun pangkas baik untuk ditanam. Sulawesi Tenggara dan persemaiannya dilaksanakan di green house Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. diameter 5. Variasi ukuran buah jati muna digolongkan 10 persen ukuran kecil. dengan pohon induk jati sebagai perlakuan.85 mm. Kata kunci: Jati. Fajar Agribisnis.22. Maroangin Kabupaten Enrekang. Curah hujan rata-rata tahunan 2.53 persen. ferririk.40 mm dan terendah 3. -. Persen hidup di lapangan semai dari keturunan pohon induk jati cukup tinggi mencapai kisaran 95 persen . Pemanenan buah pada tegakan jati yang dilaksanakan pada bulan September menghasilkan persen perkecambahan rata-rata 45. Kata kunci: Jati Muna.100 persen. diameter 7.

baik potensi fisik. setiap sumber populasi terdiri 5 ulangan masing-masing 10 bibit untuk parameter yang diamati. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan menguji 2 faktor. tinggi tunas. Halaman 29 . tinggi pangkasan bibit 30 cm dan konsentrasi IBA 1250 ppm memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap persentase hidup. 2006 Tanaman Sukun (Artocarpus artilis Forsbeg) merupakan tanaman serbaguna yang biasa ditanam di ladang/pekarangan.36 . tidak mengherankan bila daerah ini menjadi sasaran pembangunan. persentase berakar dan jumlah akar. 1992) dinyatakan bahwa kawasan rawa gambut di daerah tersebut mempunyai potensi alami yang tinggi. Penelitian ini dirancang dalam pola rancangan acak lengkap. persentase stek berakar dan jumlah. panjang trubusan. -. Berdasar profil lingkungan hidup kawasan pantai timur Sumatera Selatan (Tim PPLH UNSRI. maka upaya untuk melestarikan ekosistem kawasan tersebut merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. Kata kunci: Bibit. altilis) merupakan salah satu jenis tanaman hutan rakyat yang menghasilkan buah dengan kandungan karbohidrat tinggi. No. kimia maupun biotik. 2006 Pada bencana kebakaran besar akibat fenomena El nino tahun 1997 yang lalu. -. H2 = 2500 ppm dan H3 = 3750 ppm. P2 = 30 cm. Halaman 223-231 . persentase bertunas. faktor pertama adalah tinggi pangkasan bibit (P) yaitu: PI = 20 cm. jumlah daun.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. jumlah daun. konsentrasi. P3 = 40 cm dan P4 = 50 cm. baik pria maupun wanita dibantu oleh segenap stakeholders yang 126 . Pengamatan dilakukan pada umur bibit 5 bulan setelah penyapihan. sejak April sampai September 2005. dengan peningkatan kesadaran dan peran serta seluruh masyarakat.Height on Seedling Stock and IBA Concentrations on the Growth of Breadfruit Shoot Cuttings) / Dedi Setiadi. pangkasan. dan kekokohan bibit sedangkan untuk parat\meter panjang trubusan dan diameter trubusan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.7. Parameter yang diamati meliputi jumlah trubusan. Provinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah. Parameter yang diamati meliputi persentase stek hidup. HI = 1250 ppm.3. sukun. sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi IBA (H). Dedi PENGARUH TINGGI PANGKASAN PADA BIBIT DAN KONSENTRASI IBA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN (Effect of Hedging Sukun (A. persentase stek bertunas. kiranya tanpa kesaradan dan peran aktif masyarakat desa-desa setempat akan sulit dilakukan apabila hanya mengandalkn kepada regu-regu pemadam kebakaran hutan dan lahan yang terkonsentrasi di kota. Sukun. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada kawasan lahan rawa gambutdengan segala keterbatasan yang ada.1 . Prastyono.Wana Benih : Vol. di mana perbanyakan tanaman ini biasa dilakukan secara vegetatif dengan stek akar. SSFFMP berpendapat pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang baik adalah dengan upaya pencegahan dan pemadaman dini. Bibit hasil koleksi dari populasi Kediri (Jawa Timur) menunjukkan kualitas yang paling baik dibandingkan dengan yang lainnya Kata kunci: Produktivitas trubusan. yaitu : HO = tanpa IBA (kontrol). Dedi PRODUKTIVITAS TRUBUSAN STEK AKAR SUKUN DARI BEBERAPA POPULASI DI JAWA DAN MADURA (Sprouting Productivity of Bread Fruit Root Cuttings from Several Populations in Java and Madura) / Dedi Setiadi. Suplement No. khusunya pada daerah lahan rawa gambut. Hamdan Adma Adinugraha. Hamdan A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi pangkasan dan IBA berpengaruh terhadap keberhasilan stek pucuk sukun. tinggi tunas. Oleh sebab itu. diameter trubusan dan kekokohan bibit.1 . dengan 3 kali ulangan dengan setiap unit percobaan terdiri atas 5 stek pucuk. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi pangkasan bibit sukun dan konsentrasi IBA dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan yang nyata antar sumber populasi untuk parameter jumlah trubusan. Mengingat fungsinya yang penting tersebut. Djoko PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT PADA DESA-DESA LAHAN RAWA GAMBUT SEBAGAI BAGIAN PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN YANG BERBASIS MASYARAKAT / Djoko Setijono. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 51-55 . Adinugraha dan Hidayat Moko. Sumber populasi Setijono. Setiadi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bibit sukun dari empat populasi yang berasal dari Jawa Timur yaitu : Kediri dan Madura serta dari Jawa Barat yaitu: Lebak/Banten dan Sukabumi. IBA. 2006 Setiadi.

hal ini tergambar dari begitu banyaknya permintaan jenis ini dalam program kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. sedangkan jenis daur panjang diuji cobakan membuat hutan tanaman meranti jenis meranti putih (S. Pembibitan Sofyan. antara lain PT Inhutani II mencoba membangun hutan tanaman jenis fast growing jenis A. 2006 Usaha dibidang kehutanan memerlukan waktu yang lama. penyakit. 127 . mangium dimulai tahun 1985 di Semaras. PT Inhutani II. Mamat Rahmat dan Kusdi. Jika akan dilakukan pembongkaran maka akn memulai dari awal lagi.terkait. Semestinya dalam dunia kehutanan konsistensi perhatian harus lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian ditunjau dari panjang daur. Kebakaran hutan Siswoyo. Hadi PENGALAMAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA Acacia mangium DI HUTAN TANAMAN SEMARAS DAN Shorea polyandra DI PETAK UJI COBA PENANAMAN MERANTI DI PULAU LAUT UTARA. Halaman 55-58 . Salah satu kendala yang dihadapi adalah minimnya informasi tentang teknik budidaya mulai dari tahap pembibitan hingga penanaman serta pemeliharaan di lapangan. Selama masa pembangunan banyak sekali peluang terjadinya gangguan. termasuk di Sumatera Selatan. Meranti.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. 2006 Jenis lokal telah menjadi prioritas dalam rangka memilih jenis pohon untuk merehabilitasi lahan kritis.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. bagi desa-desa di sekitar kawasan hutan dan lahan. Laut Kalimantan Selatan. Setiap gangguan akan memberikan dampak negatif terhadap kualitas dan kuantitas hutan yang dibangun. Pulau Laut Utara. Winarto dan Rosilawati. 2006 Jati merupakan salah satu jenis tanaman yang cukup banyak diminati masyarakat. Kalimantan Selatan Sofyan. antara lain serangan hama dan penyakit tanaman. karena hal ini menyangkut perhitungan untung rugi dalam jangka panjang. Lahan rawa gambut. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Masyarakat akan dengan senang hati melaksanakan pencegahan kebakaran apabila hal tersebut menguntungkan/meningkatkn pendapatannya dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya. Halaman 55-60 .al] . Masyarakat. tindakan yang dilakukan dapat lebih tegas: dibongkar atau diteruskan. -. -. Lain halnya dengan sektor pertanian yang berumur pendek apabila terjadi gangguan. Sedang pada usaha kehutanan gannguan terebut akan terbawa sampai akhir daur. Kata kunci: Tembesu. Jakarta 23 Nopember 2006 . Seiring dengan penurunan potensi hutan alam Indonesia membuat para pengusaha kehutanan mulai untuk mencoba pembuatan hutan tanaman. sedangkan pembibitan vegetatif menggunakan bahan yang berasal dari bibit (seedling) maupun trubusan alam. Halaman 15-19 . SSFFMP mengembangkan konsep pengelolaan kebakaran hutan dan lahan yang berbasis masyarakat pada tingkat desa di Sumatera Selatan Kata kunci: Pendapatan. Pembibitan generatif yaitu pembiitan dengan menggunakan benih/biji.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. P. Hutan tanaman Semaras. Setiap bentuk kelengahan dalam pembangunan tanaman hutan yang dapat menyebabkan tanaman rusak oleh hama dan penyakit maka pengaruhnya akan dibawa sampai hasil akhir. Dilain pihak waktu yang diperlukan cukup lama dan biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar. KALIMANTAN SELATAN / Hadi Siswoyo. Shorea polyandra. Berangkat dari pola pemikiran tersebut di atas. Kata kunci: Hama. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Agus TEKNIK PEMBIBITAN TEMBESU / Agus Sofyan. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. PT INHUTANI II. polyandra) skala kecil yang dibuat pada tahun 1976 di area P. Acacia mangium. Tulisan ini menyajikan teknik pembibitan tembesu yang merupakan salah satu jenis lokal di Sumatera Selatan. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandis Linn. Laut Utara Kalimantan Selatan. sehingga setiap bentuk gangguan memerlukan pertimbangan tindakan bijaksana. Pembibitan tembesu dapat dilakukan secara generatif maupun secara vegetatif.

dapat diketahui bahwa pada beberapa daerah di Sumsel. Agus FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan dan Mamat Rahmat. Balai Litbang Hutan Tanaman IBB memfokuskan penelitian di bidang pembangunan dan pengelolaan hutan tanman. Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi lahan pada lokasilokasi penelitian kurang sesuai untuk pengembangan tanaman jati. Penyiangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sebagain besar lokasi yang diteliti terdapat kendala utama yang menghambat pertumbuhan jati secara permanen. Sumatera Selatan 128 . permasalahan sosial masyarakat hutan. 2006 Keberhasilan pembangunan dan kelestarian hutan tanaman antara lain memerlukan dukungan IPTEK yang tepat pada semua tahapan. drainase dan kedalaman solum merupakan faktor pembatas pertumbuhan tanaman jati yang ditemukan pada lokasi penelitian. Tectona grandis. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Bambang SOSIALISASI CORE RESEARCH BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN PALEMBANG / Bambang Sugiarto dan Triwilaida. Berkembangnya pembangunan hutan tanaman. tanaman jati tidak sesuai. Kabupaten Banyuasin. Penelitian dilakukan sejak tanaman berumur 1 tahun hingga umur 3 tahun.Mengingat bahwa jati bukan tanaman asli Sumatera (jenis eksot). Kemampo. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 29-33 . SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. -. -. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPPHT Palembang. tingginya laju degradasi hutan dan lahan. Kesesuaian lahan. Sumatera Selatan. tanaman jati ternyata dapat tumbuh dan berkembang dengan cukup baik di wilayah ini. karena kegiatan ini menyangkut investasi serta harapan hasil yang sangat besar. 2006 Penanaman jati oleh masyarakat khususnya di Sumatera Selatan.al] . kebijakan pemerintah daerah bidang kehutanan yang mendukung serta kondisi internal seperti ketersediaan sumberdaya manusia dan sarana prasarana litbang. Kata kunci: Jati. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 23-28 . Metode penelitian yang dilakukan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 blok. Tectona grandis Linn. Faktor lingkungan (edafis dan klimatis) sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jati. Kata kunci: Jati.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Halaman 1-14 . sehingga jati tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Namun demikian pada lokasi tertentu di mana tingkat kemasan tanah serta kedalaman efektif terpenuhi. seringkali tidak memperhatikan kesesuaian lahan. Evaluasi kesesuaian tempat tumbuh penting dilakukan di Sumatera Selatan. maka kajian atau penelitian mengenai kelayakan pengembangan dan penanaman jati di wilayah ini sangat penting. mulai dari perencanaan hingga pemanenan serta kondisi masyarakat sekitar hutan yang mendukung.) dalam rangka mencari teknik penyiangan tanaman jati yang paling optimal. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. Pertumbuhan. Tingkat kemasaman tanah (pH). yaitu tingkat kemasaman tanah yang rendah serta kedalaman solum yang dangkal. Sofyan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penyiangan total chemis menunjukan pertumbuhan diameter dan tinggi yang lebih besar pada saat tanaman berumur 3 tahun. Faktor pembatas Sugiarto. Sumatera Selatan. Kesesuaian lahan Sofyan. telah dilakukan penelitian mengenai kelas kesesuain lahan yang menyangkut berbagai persyaratan tumbuh jati pada tiga belas lokasi di tiga (3) Kabupaten yaitu Banyu Asin. 2006 Tulisan ini berisi tentang hasil penelitian teknik penyiangan tanaman jati (Tectona grandis Linn. -. 4 perlakuan dan 20 tree plot per unit perlakuan. Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu. Kata kunci: Jati. Tidak jarang ditemui tanaman mengalami mati pucuk pada tahun kedua dan ketiga. Untuk mengetahui tentang prospek pengembangan jati di wilayah Sumatera Selatan. Tectona grandis.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Agus PENGARUH TEKNIK PENYIANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI KEMAMPO. rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. untuk mengetahui daerah-daerah yang relatif cocok untuk penanaman jati. Sumatera Selatan.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.3.02%).0093 H + 0. model. kayu putih (Melaleuca cajuputi). Jati dan pinus merupakan dua jenis tanaman yang paling luas ditanam di Jawa. 2006 Model penduga volume pohon jenis pulai darat (Alstonia angustiloba) yang dikembangkan PT. -. Jati super. -. volume. permasalahan hama penyakit mulai dirasakan sebagai factor yang cukup serius mempengaruhi keberhasilan dan produktivitas hutan tanaman pada beberapa tahun terakhir. tetapi menaikkan nilai SA (0. sono keling (Dalbergia latifolia) dan jenis lainnya dalam skala kecil. pada bulan Oktober 2004. No. dengan petak utama adalah asal bibit dan anak petak adalah dosis pupuk NPK.000045 D^ 0.0. Model penduga pohon terbaik berdasarkan satu peubah bebas diameter adalah persamaan V = 0. ekaliptus (Eucalyptus pellita).43 %).00100 DH dengan mlai R2 (96.30%). yaitu 50 gr.0.00885 0.31%). Dari berbagai jenis tanaman hutan tersebut.2 . Silvikultur intensif Sumadi.91%) dan nilai SA (0. tinggi pohon.33%). Joni Muara.0127 D + 0. Petak utama terdiri atas tiga asal bibit jati Muna. sengon laut (Paraserienthes falcataria). telah diprogramkan penanaman jenis fast growing species.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Sulawesi Selatan. 2006 Penanaman jati pada tanah-tanah yang kurang subur perlu didukung silvikultur intensif seperti teknik pemeliharaan antara lain dengan pemberian pupuk.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Malili.5 juta hektar yang terdiri dari jenis penunjang industri kayu dan industri non kayu. antara lain mindi (melia azedarach).0769 + 0. Sumantoro. SR (1. simpangan rata- rata (mean deviation = SR) simpangan agregatif (agregatif'deviation = SA). 100gr. Halaman 47-53 . Jakarta 23 Nopember 2006 . Pemili model terbaik berdasarkan pemberian peringkat terhadap nilai koefisien determinasi (determinai coeficient = R2). Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong. Model penduga volume pohon dengan dua peubah bebas memiliki ketelitian 1 tinggi dengan meningkatkan nilai R2 sebesar 1. No. Halaman 193 . Fatahul Azwar. pinus (Pinus merkusii). sedangkan anak petak terdiri atas 4 taraf dosis pupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal bibit yang pertumbuhannya paling baik. Palembang Suhartati PENGARUH DOSIS PUPUK DAN ASAL BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN JATI (The Effect Fertilizer's Dosage and Seedling Process on the Growth of Teak)/ Suhartati. Kata kunci: Diameter. serta tingkat dosis pupuk yang efektif untuk petumbuhan yang optimal di lapangan. -. Jenis-jenis hama penyakit yang menyerang 129 . Hutan tanaman. X Indah Pratama yang berlokasi di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan disusun berdasar satu peubah bebas diameter serta dengan dua peubah bebas diameter dan tinggi pohon.Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong.000751 D2 dengan nilai R2 (94. Lahan kritis. Se (2.49%) nilai SA (0.200 .000102 D2 + 0. Kata kunci: Jati. Nursyamsi. dan kontrol (tanpa pupuk). Penelitian ini dirancang dengan pola Split Plot. sedangkan dosis 100 gr adalah dosis pupuk yang optimal untuk pertumbuhan tanaman jati pada umur 20 bulan di lapangan. mimba (Azadiracha indica). galat baku (standard error = Se).Kata kunci: Core research.81 . Model penduga volume pohon terbaik berdasarkan peubah bebas diameter dan tinggi pohon adalah persamaan V = . Jati muna. 2006 Perum perhutani mengelola hutan tanaman di Jawa seluas sekitar 2. menurunkan SR (0.80%) (3.5%.3. Agus PEMODELAN PENDUGA VOLUME POHON PULAI DARAT (Estimation Modelling of Pulai Darat Tree Volume) / Agus Sumadi. kesambi (Schleichera aleosa). pulai darat (Alsionia angustiloba).42%). dan jati super. Halaman 73 .11%). telah diprogramkan penanaman jenis taman yang paling luas ditanam di Jawa. mangium (Acacia mangium). menurunkan nilai Se (0. SR (1. Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan pada umur 20 bulan.0795 . Jenis-jenis tanaman tersebut antara lain jati (Tectona grandis).3 .69%). 150 gr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jati muna dan jati super memiliki penampilan pertumbuhan lebih baik dibanding bibit asal biji. Pujo PENGALAMAN DALAM PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT DAN PRAKTEK MANAJEMEN TANAMAN DI PERHUTANI / Pujo Sumantoro dan Sarkoro Doso B. mahoni (Swietenia macrophylla).

Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan dengan intensifikasi lahan. Stek pucuk. penggunaan pestisida untuk keperluan lain khususnya untuk pemakaian di rumah tangga.2 tahun dan 8. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. tampaknya pelu dimasukkan kegiatan pestisida untuk kehutanan dengan pengaturannya sendiri. Halaman 29-31 . baik di luar negeri maupun di Indonesia terutama ditujukan dalam upaya untuk meningkatkan produksi pertanian.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. c) perikanan. hama penyakit mulai muncul dan berpotensi menimbulkan kerugian yang cukup signifikan. g) pengendalian rayap. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6m x 2m. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown development of teak from seedling. Penyakit. kultur jaringan dan stek.3. dan k) bidang lain. 7 th 1973 bahkan hormon pertumbuhan dimasukkan dalam kategori pestisida. yellow fever dan sebagainya. -. Priyono PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. insektisida. gudang. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. Program pencarian bahan tanaman jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. sakit tidur. e) pengawetan hasil hutan. dan larvasida. h) rumah tangga. perkebunan. gedung. -.5 tahun bila biji. alasan ekonomi Kata kunci: Perkembangan tajuk. beberapa penggunaan senyawa aktif dari bahan alam. b) peternakan. i) fumigasi.1 . Tektona grndis L. tissue culture and shoot cutting) / Priyono Suryanto. Sebagai perbandingan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Kultur jaringan. dan dalam kehutanan mulai mengambil porsi yang semakin signifikan. Asal bahan tanaman. molluscisida. dan rumah tangga. f) pengendalian faktor penyakit manusia. 15. Peruntukan pestisida di Indonesia masih terbatas pada penggunaan di lahan pertanian. j) industri lainnya seperti pada cat. sedangkan apabila persediaan benih terbatas. Namun demikian sejalan dengan perkembangan jaman. penggunaan pestisida di USA sendiri untuk sektor kehutanan hanya berkisar antara 1 persen . fungisida dan rodentisida. Bila persediaan biji bermutu cukup. KEPMENTAN TAHUN 2001 yang mengkategorikan bidang penggunaan pestisida meliputi: a) Pengelolaan tumbuhan. Dalam pengelolaan kehutanan. Terkait dengan menurunnya energi penduduk untuk melakukan kerja yang terkait dengan pertanian. Hassal (1990) menyimpulkan bahwa pengontrolan terhadap vektor penyakit malaria. pestisida digunakan untuk 130 . Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berturut-turut 12 tahun. Kata kunci: Hama. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. penggunaan pestisida masih terbatas dalam kaitannya terutama dengan pengawetan kayu sebagai produk hutan. Jika berkaitan dengan kehutanan. Senyawa-senyawa pestisida tersebut pada umumnya merupakan senyawa kimia sintetik. Jadi pestisida dalam kehutanan mungkin masih masuk dalam kategori "bidang lain". jati.5 persen dari total penggunaan pestisida. Manajemen tanaman.43 . Penggunaan pestisida untuk non-agricultural use juga masih terbatas pada upaya pengontrolan vektor penyakit pada manusia yang berkaitan dengan produksi pertanian. typhus. Halaman 35 . Jakarta 23 Nopember 2006 . Dalam PP No. No. anti pencemaran. Pestisida yang lazim dipakai dalam pengelolaan tanaman hutan produksi meliputi herbisida. W. Bila kebutuhan pengguna pestisida untuk hutan produksi mulai meningkat. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. 2006 Pengelolaan hutan.f Taufikurahman MENIMBANG PENGGUNAAN PESTISIDA DALAM PENANGGULANGAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN: TINJAUAN ASPEK MANFAAT DAN RESIKO LINGKUNGAN / Taufikurahman. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. Selain itu juga meliputi akarisida. d) penyimpanan hasil pertanian. Seiring dengan keluasan area tanaman dan lama daur pengelolaan suatu jenis hutan tanaman. 2006 Selama ini penggunaan pestisida.pertanaman di lapangan tersebut ada yang sudah lama dikenal dan jenis hama/penyakit baru dikenal pada jenis-jenis tanaman hutan. Perhutani Suryanto.B Aryono dan Sambas Sabarnurdin.

rodensia. Kekurangan produksi bibit di persemaian mempengaruhi secara langsung target penanaman dan dapat berakibat meningkatnya biaya pemeliharaan. No. Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi.2 . Bukit Asam. 2006 Masalah hama dan penyakit selalu dihadapi oleh usaha pertanian dan perkebunan dimanapun juga di muka bumi ini. etunicatum tidak cukup berpengaruh pada pertumbuhan pulai di lahan. etunicatum berpengaruh pada persentase hidup tanaman untuk hidup di lahan bekas tambang. Edwin Martin. diameter dan persen hidup. inokulasi G. Jakarta 23 Nopember 2006 . -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman.) telah dilakukan di lahan reklamasi bekas tambang batubara pada Dumping Area Pit Tiga. Maliyana PENGARUH INOKULASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA TANAMAN PULAI DI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA (The Effects of Arbuscular Mycorrizae Fungi Inoculation to Pulai at Ex Coal Mining) / Maliyana Ulfa. ekonomi dan menjamin produktivitas dan keberlanjutan HTI. Budi PENGELOLAAN HAMA PENYAKIT DI HTI PT RAPP / Budi Tjahjono. masalah hama penyakit menjadi salah satu kendala yang semakin dirasakan penting artinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah ditanam di lahan. Untuk itu diperlukan bibit yang uniform. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) merekomendasikan cara hayati.) relatif tidak menunjukkan perbedaan parameter tinggi dan diameter di antara perlakuan. PT. PT. Halaman 101 . Budi MEMINIMALKAN SERANGAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN PADA Acacia crassicarpa DAN Acacia mangium / Budi Tjahjono. serangga. Program Penelitian atau Bagian Hama dan Penyakit telah dibangun dalam R&D Riau Fiber. misal penggunaan antagonis. Tanaman hutan Tjahjono.3. Acacia mangium. inokulasi G. untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan dan produktivitas hutan. penyakit. PT Rian andalan Pulp and Paper Tjahjono. Kata kunci: Serangan penyakit. Riau andalan Pulp and Paper telah mengantisipasi masalah hama penyakit ini dengan serius. PT. Pestisida. eucaliptus ataupun tanaman lain dalam Hutan Tanaman Industri (HTI). Demikian pula dalam pengusahaan akasia. Hal tersebut diduga disebabkan oleh proses biokimia tanaman.mengontrol tumbuhan gulma. Efendi Agus Waluyo. setelah 9 bulan ditanam. pertumbuhan pulai darat (Alstonia sp. 2006 Penanaman kembali hutan tanaman bekas tebangan harus dilakukan segera setelah penebangan. -. RAPP melalui R&D nya berusaha untuk mengembangkan musuh alami seperti serangga Sycanus dan cendawan Trichoderma untuk pengendalian hayati hama dan penyakit.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Manajemen APRIL PT. Oleh sebab itu diperlukan perencanaan yang matang agar suplai bibit dari persemaian dapat tepat waktu dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. PT RAPP. menggunakan Rancangan Acak Blok dengan tiga ulangan. sebagai bagian dari pengelolaan hama terpadu yang berwawasan lingkungan di HTI. Penyakit. Untuk menekankan pentingnya kesehatan tanaman dan untuk memfasilitasi penelitian dan implementasi konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). dan kehilangan akibat serangan penyakit harus minimalkan. Tanjung Enim. Sebagai perusahaan yang telah mendapat sertifikasi LEI. Dalam kaitannya dengan tumbuhan. Penyaki Ulfa. pestisida digunakan untuk memperlakukan nonnative dan invasif spesies tumbuhan. etunicatum dan perbedaan media sapih. G.). Kata kunci: Hama. yang ditunjukkan dengan hampir 100% hidup pulai darat (Alstonia sp. Sumatera Selatan. seperti ketersediaan nitrogen dan akumulasi bahan organik 131 . 2006 pertumbuhan tanaman pulai darat (Alstonia sp. -. bermutu tinggi. Hutan tanaman industri. RAPP telah berkomitmen untuk menangani masalah ini dengan cara berwawasan lingkungan. sehat. 2006 : Halaman 83-86 . Penyakit.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Kata kunci: Hama.106 . Tetapi di sisi lain. Acacia crassicarpa. Halaman 45-46 . Riset menggunakan 2 perlakuan. Bangko Timur.

Selain itu karena yang diinokulasikan adalah jasad hidup. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza dapat meningkatkan kualitas bibit tanaman kehutanan tersebut. Alstonia sp. Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. mangium (Acacia mangium). Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK REHABILITASI HUTAN RAWA GAMBUT BEKAS KEBAKARAN / Maliyana Ulfa. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Kerusakan hutan rawa gambut semakin meningkat setiap tahunnya. Rehabilitasi Ulfa. Glomus clorum dan Gigaspora sp. 2006 Aplikasi mikoriza merupakan alternatif teknologi dalam upaya mempersiapkan bibit berkualitas. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. Halaman 123-126 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. mengingat dapat menyediakan bibit berkualitas dalam waktu yang singkat dalam jumlah yang banyak. Dampak kerusakan yang terparah disebabkan kebakaran hutan. 132 . Jenis prioritas. Selain itu tanamanpun akan lebih tahan terhadap kekeringan dan serangan patogen akar. Jenis mikoriza yang diinokulasikan pada pulai. karena untuk seterusnya akan berkembang dengan sendirinya dan terus menginfeksi. Mikoriza Ulfa. 2006 Sebagian besar lahan gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. Pada lahan kritis. mikoriza dapat memudahkan penyerapan nutrisi dan air. Manfaat ini telah dibuktikan dengan menginokulasi mikoriza pada beberapa tanaman kehutanan. Halaman 69-76 .yang tidak terdekomposisi dengan baik. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. bungur (Lagerstromia speciosa). Efendi Agus Waluyo dan Bastoni. -.). Hal tersebut menyebabkan sporulasi dan kolonisasi CMA tidak berjalan dengan baik. lahan. kimia dan biologi tanah serta karakteristik dan tipologi lahannya. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Mikoriza. Kebakaran. yang mengakibatkan kerusakan tidak hanya pada tegakan hutan tetapi juga pada tanah (gambut). Aplikasi ini dapat diterapkan dengan memperhatikan kondisi yang mendukung perkembangan mikoriza pada lahan rawa gambut pasca kebakaran. Ulfa. antara lain pulai (Alstonia sp. maka pemberiannya cukup dilakukan sekali di awal pembibitan dan menghemat biaya operasional. -. serta mampu mengefisienkan pemberian pupuk buatan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. sedangkan pada seru telah diuji diinfeksi dengan Glomus etunicatum. meliputi kondisi fisik. sehingga mudah terserap oleh tanaman. Bentuk teknologi ini lebih efektif dan efisien. Halaman 127-130 . Lahan rawa gambut. sungkai (peremona canescens). -. pulai. Kata kunci: Glomus etunicatum. yang disebabkan oleh (1) eksploitasi hutan (2) konservasi lahan untuk pertanian dan (3) kebakaran hutan. Usaha rehabilitasi yang bisa diupayakan adalah dengan aplikasi mikoriza. sungkai dan mngium adalah Glomus etunicatum. Sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. seru (Scima wallicii) dan mahoni (Swietenia macrophylla) yang dilakukan di Balai Hutan Tanaman Palembang. Maliyana POTENSI APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. Edwin Martin dan Efendi Agus Waluyo. Maliyana PEMANFAATAN MIKORIZA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BIBIT JENIS PRIORITAS SUMATERA SELATAN / Maliyana Ulfa. Kata kunci: Kualitas bibit. bungur.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. deposit bahan organik penyusun gambut habis terbakar sehingga menurunkan produktivitas lahan dan menurunkan daya dukung lahan.

Ikan Elang (Datniodes quadrifsciatus). Konversi lahan basah harus dipertimbangkan dengan masak agar nilai sumberdaya alam tidak hilang. relatif lebih mudah diperoleh. demikian pula dengan "trend" penggunaan kayu. kebutuhan industri pasar serta nilai ekonomi dari produk perkayuan. Upik Rosalina ASPEK EKOLOGI DALAM "VEGETATION MANAGEMENT” PADA HUTAN TANAMAN / Upik Rosalina Wasrin. pendapatan asli daerah dan keseimbangan lingkungan. Pemahaman ekosistem lahan basah sangat diperlukan untuk mengevaluasi kegunaan dan keuntungannya. -. serangan hama dan penyakit. Persoalan utama didalam membangun hutan tanaman adalah kemungkinan terjadinya ledakan populasi serangan dan epidemi penyakit yang berakibat pada serangan hama dan penyakit secara besar-besaran pada hutan tanaman. Hutan tanaman Ulya.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Agus Djoko KETERKAITAN KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN EKOSISTEM PERAIRAN RAWA BESERTA UPAYA PELESTARIANNYA / Agus Djoko Utomo. Salah satu teknik pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu dengan cara menyediakan habibat yang dilindungi untuk dijadikan suaka perikanan. Di sisi lain pembangunan HTI hanya mampu menghasilkan 1/3 dari kebutuhan industri sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan percepatan pembangunan HTI. Mok-mok (Hemisilurus scheronema).6 Kata kunci: Hutan tanaman. Suaka perikanan yang baik dapat meningkatkan produksi perikanan di perairan sekitarnya. sumber protein hewani. Kehilangan habibat yang penting di perairan umum akan berdampak langsung pada kehidupan organisme air.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 73-83 . Suaka perikanan dapat dipakai sebagai perangkat pelestarian plasma nutfah. Suaka perikanan mempunyai peran besar bagi penyediaan benih ikan secara alami di perairan umum.Kata kunci: Rawa gambut. -. Mikoriza. Rawa gambut Utomo. reklamasi lahan. Halaman 21-27 . serta informasi jangka panjang kegunaan dan nilai ekonomi dari tegakan yang ditanam. tempat mata pencaharian bagi nelayan. Hutan tanaman. Evaluasi kegunaan lahan basah diperlukan dalam rangka memberikan masukan bagi pengelola. Sengarat (Belodonticthys dinema). Ekologi perairan umum sangat komplek dan sangat dipengaruhi oleh musim. Nur Arifatul PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN UNTUK REHABILITASI KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT / Nur Arifatul Ulya. iklim. Hal ini juga menyebabkan rusaknya gambut yang berada di areal yang tidak berhutan tersebut. Timah-timah (Cryptopterpus apagon). Informasi biofisik yang meliputi tanah. ruas sungai yang terdapat lubuk dan danau rawa. 2006 Departemen Kehutanan melalui program Revitalisasi Sektor Kehutanan telah mentargetkan untuk membangun sekitar 9 juta hektar hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat di dalam kawasan hutan yang terdegadrasi serta hutan rakyat pada lahan-lahan milik masyarakat. Jakarta 23 Nopember 2006 .484 juta hektar atau sekitar 20. Jenis ikan yang hampir punah antara lain Tengkeleso (Shclerophages formosus). -. Seringnya terjadi kebakaran hutan dan tingginya konversi lahan menyebabkan semakin menciutnya areal berhutan dalam kawasan hutan rawa gambut. Perikanan Wasrin. Beberapa penyebab kerusakan habibat yaitu penebangan hutan rawa. Ekosistem. 2006 Peran penting perairan umum yaitu sebagai tempat hidup berbagai jenis organisme air tawar. dan topografi relatif cukup tersedia. Kapas-kapas (Rochteichtys micropeltis).Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 97-102 . 133 . Propinsi Sumatera Selatan mempunyai lahan gambut seluas kurang lebih 1. Kata kunci: Rawa. Pengalaman dari beberapa perusahaan kehutanan dalam membangun hutan tanaman industri masih banyak menemui kendala antara lain resiko-resiko jangka panjang akibat dari pemilihan jenis tanaman yang tidak atau kurang sesuai dengan tapak. 2006 Indonesia merupakan salah satu negara dengan lahan rawa gambut terluas di dunia. Temparang (Macrothirictys microphirus). Beberapa tipe habibat yang dapat dijadikan suaka perikanan yaitu Lebung. pemulihan populasi dan peningkatan produksi perikanan. Rehabilitasi. sebagai indikasi tidak adanya keseimbangan ekologi dari jenis yang ditanam dengan keadaan lingkungan.

Fungsi hutan yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya adalah menyediakan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma spp. Bagi para pengelola hutan. bersifat mikroparasit terhadap patogen tanaman dan merupakan salah satu agen potensial yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati pada penyakit tanaman. SM POTENSI ANTAGONISTIK FUNGI TRICHODERMA SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI TERHADAP FUNGI PATOGEN TULAR TANAH / SM Widyastuti. Penyakit akar putih. ekspresi dinding sel ekstraseluler dalam mendegradasi enzim diasumsikan merupakan bagian dari proses tersebut. bahan pulp serta dapat digunakan untuk tempat rekreasi.Kata kunci: Ekologi. -. Rhizoctonia spp. Bagi pembuat kebijakan. Halaman 33-39 . Jakarta 23 Nopember 2006 . 2006 Dalam dasawarsa terakhir ini Forest Healts Monitoring (FHM) sering dibicarakan. Uji coba mengenai kemampuan antagonistik isolat Trichoderma dalam menghambat fungi patogen pada beberapa tanaman. Hutan tanaman.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.. Kata kunci: Acacia mangium. dapat secara efektif mampu menekan perkembangan fungi patogen secara in vitro dan eksperimen rumah kaca. kayu perkakas. Pengendalian hayati pada patogen tanaman merupakan pendekatan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pertanian modern dan fungisida kimia yang dapat menyebabkan polusi lingkungan dan berkembangnya galur resisten. Seperti dilaporkan dalam sistem kitinolitik lain. Filamen fungi trichoderma spp. Hutan yang sehat juga berfungsi sebagai sumber bahan pangan dan sebagai paru-paru dunia. sebagai pengendali hayati patogen busuk akar Ganoderma spp.2.14) merupakan salah satu enzim yang paling efektif sebagai antifungi dan aktivitas litik dibanding dengan enzim kitinolitik yang lain. Akar merah. termasuk enzim kitinolitik dan glukanolitik. merupakan patogen busuk akar potensial yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada berbagai tipe hutan tanaman di Indonesia. maka akan dapat dihasilkan rencana strategis pengembangan hutan yang lestari dan lingkungan yang berkesinambungan. Apabila informasi tentang kesehatan hutan dipadukan dengan program penataan administrasi yang baik serta dukungan pakar yang berkomitmen tinggi terhadap masalah-masalah lingkungan. baik pada saat ini maupun masa yang akan datang. FHM dapat dipakai sebagai dasar yang penting dalam pembuatan rencana strategis khususnya terkait dengan data perubahan kesehatan hutan. seperti Ganoderma spp. Hutan tanaman Widyastuti. 32-kDa enzim kitinase telah dimurnikan dan dikarakterisasi dari T. kayu bangunan. san Sclerotium rolfsii. SM FOREST HEALTH MONITORING DI HUTAN TANAMAN / SM Widyastuti. Akar putih. 2006 Makalah ini mendeskripsikan kemampuan Trichoderma sp. Ganoderma spp.reesei. habibat untuk wildlife. -. Baru-baru ini. FHM penting dilakukan untuk mengetahui seberapa baik hutan dapat mendukung kehidupan manusia.2006 : Halaman 71-81 . DNA 134 .Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Walaupun mekanisme mikroparasit belum diketahui sepenuhnya. Banyak pihak yang dapat memanfaatkan informasi tentang kesehatan hutan. Ridigoporus microporus. Bagi masyarakat informasi tentang kesehatan hutan yang diperoleh secara benar akan meningkatkan kesadaran dan peran serta mereka dalam ikut memanfaatkan hutan secara benar. Vegetation management. Penyakit. endokitinase (EC 3. informasi tentang kesehatan hutan dapat dimanfatkan untuk memperkirakan tingkat (kualitas) hutan yang pada gilirannya sangat penting untuk merespon keinginan pihakpihak yang berkepentingan.1. Hutan Tanaman Widyastuti. Fusarium sp. Kata kunci: Forest Health Monitoring..

Hutan rawa air tawar menjadi tempat pemijahan ikan terutama pada waktu musim hujan. Barikut adalah beberapa faktor yang memotivasi masyarakat untuk melakukan budidaya jati di Kaur: (1) Gambaran keuntungan ekonomi yang akan diperoleh.Wijaya. Sebagian besar jati yang ada merupakan tanaman antara 1997-2001. Halaman 61-67 . menjadikan daerah hutan rawa air tawar sebagai daerah reservat dan adanya peraturan penangkapan pada bulan-bulan tertentu terutama pada musim kawin atau musim pemijahan. Tapa (Wallago leeri). -.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 135-141 . Pada tahun 2002. 2006 Jati merupakan tanaman eksotis yang dibudidayakan oleh masyarakat Kaur. Masyarakat secara swadaya menanami lahannya yang terlantar (tidak produktif) dengan tanaman jati.71 cm dan 7. Penampakan kayu jati tersebut pada umumnya cukup baik tanpa gerowong dan cacat lain namun kayu tersebut belum berkembang dengan baik dan terlihat masih muda dengan kayu teras yang terlihat belum matang.74 cm. 2006 Salah satu tipe ekosistem perairan umum yang khas adalah ekosistem hutan rawa air tawar.14 m. tanaman air dan tanaman semak lainnya. Danu EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR SEBAGAI TEMPAT PEMIJAHAN (Spawning ground) BAGI IKAN-IKAN PERAIRAN UMUM / Danu Wijaya dan Safran Makmur. (3) Memanfaatkan lahan terlantar yang tidak produktif.81 m. Kata kunci: Ekosistem. Hutan rawa. Kondisi hutan rawa air tawar yang relatif lebih tenang dan banyak substrat atau tanaman mati yang merupakan media untuk menempelkan telur menjadikan hutan rawa air tawar sebagai daerah yang ideal untuk ikan-ikan yang bermigrasi untuk memijah.13 m. (2) Pasar kayu jati belum terbentuk dengan jelas. -. Pelestarian hutan rawa air tawar perlu dilakukan guna menjaga kelestarian dan produksi ikan terutama ikan-ikan bernilai ekonomis dan ekologis.25 cm. 2001: 8. Hutan rawa. (2) Teknik budidaya jati mudah dikuasai dan sederhana. Beberapa hal yang mendorong perkembangan budidaya jati di Bengkulu cenderung menurun adalah sebagai berikut: (1) Pertumbuhan dan perkembangan jati tergantung perawatan dan tempat tumbuh. Jati mulai menarik perhatian masyarakat Kaur pada pertengahan dekade 90-an seiring dengan maraknya budidaya jati di berbagai lokasi. Peran dan fasilitas instansi pemerintah terkait terutama dinas kehutanan diperlukan dalam merespon perkembangan budidaya jati dan mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi di Kaur dari sisi teknis budidaya dan akses pasar. 135 .51 cm dan 5. (3) Budidaya jati secara monokultur tidak menyediakan ruang untuk budidaya jenis tanaman lain. BENGKULU / Bondan Winarno dan Edwin Martin. minat masyarakat Kaur terhadap budidaya jati mulai berkurang. Perairan umum.89 cm dan 6.25 hektar berulangan untuk beberapa seri tahun tanam jati disajikan secara berturut-turut tahun tanam. Beberapa cara untuk pelestarian tersebut adalah dengan tidak melakukan penebangan liar. Hasil pengukuran potensi jati menggunakan plot ukur 0.63 cm dan 6.25 cm dan 8.25-7 ha. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . (4) mulai berkembangnya tanaman perkebunan yang dapat memberikan hasil lebih cepat dan kontiyu. Sebagian besar tanaman jati di Kaur belum memasuki masa panen namun ada sebagian tanaman yang berumur 12-15 tahun telah dipanen dengan diameter batang 20 cm . Hutan rawa air tawar didominasi oleh vegetasi pohon. rerata diameter dan tinggi bebas cabang: 2002 : 7. 1998: 11.90 m. Luas kepemilikan tanaman jati masyarakat sangat bervariasi antara 0. Air tawar. Hutan rawa air tawar mempunyai nilai ekologis yang penting karena pada saat musim hujan daerah tersebut merupakan tempat memijah (spawning ground) bagi banyak ikan termasuk beberapa jenis ikan berniali ekonomis seperti ikan Belida (Chitala lopis). perdu. 1999: 13. Bondan PENGEMBANGAN JATI SEBAGAI TANAMAN EKSOTIS: PELAJARAN DARI MASYARAKAT KAUR. 2000: 9. Ekosistem hutan rawa air tawar biasanya terdapat pada Daerah Aliran Sungai bagian tengah.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Ikan Winarno. Pemijahan. Betutu (Oxyeleotris marmorata). Baung (Mytus nemurus) dan Putak (Notopterus notopterus). dan (4) untuk memenuhi kebutuhan kayu di masa depan. Spawning ground.

Kepadatan spora CMA cukup baik. Rekayasa proses suksesi ekologi hutan rawa gambut yang dipercepat dengan mengakomodasi kepentingan sosial ekonomi sangat diperlukan. Mulyana Omon. pemahaman yang memadai terhadap ekosistem hutan lahan basah dan rawa gambut. K tersedia (0. semak dan belukar.15%).Kata kunci: Jati.Jurnal Penelitian Penelitian tentang hubungan antara Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada lahan kritis telah dilakukan di areal rehabilitasi Samboja Lestari Km 35. Acaulospora dan Gigaspora. lereng dan lembah) dibuat petak yang berukuran 10 m x 10 m masing-masing sebanyak 5 buah petak. yang ditunjukkan oleh jumlah spora CMA yang menurun selaras dengan meningkatnya kandungan P tersedia di dalam tanah.99 me/100g). rehabilitasi hutan dan reklamasi serta perlindungan hutan dan konservasi alam. dan dua pertiga bagian di antaranya merupakan kawasan hutan dengan kondisi penutupan vegetasi sebagian kecil masih berupa hutan alam dan sebagian besar telah terombak menjadi padang rumput.13%) P tersedia (498 ppm). karena proses suksesi hutan merupakan proses yang panjang sedangkan permasalahan sosial ekonomi memerlukan solusi yang segera. dan pembentukan KPH tersebut selanjutnya menjadi bagian dari penguatan sistem pengurusan hutan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah di lokasi penelitian secara umum tidak subur. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 7-13 . Kalimantan Timur. Untuk itu pemerintah Provinsi Sumatera Selatan harus menentukan solusi kebijakan strategis pengelolaan hutan rawa gambut dengan mendasarkan pada data/informasi yang terkini. penyusunan rencana pengelolaan hutan. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan hutan yang meliputi tata hutan. Halaman 107 . pemberdayaan masyarakat. dengan jumlah 1288-2321 spora/50 g pada bulan kering dan pada bulan basah 1274-2163 spora/50 g tanah. keragaman hayati dan dinamika populasi hutan rawa gambut. Pengelolaan hutan rawa gambut merupakan usaha untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari.32). Ishak HUBUNGAN POTENSI ANTARA CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA DAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAHAN KRITIS (The Relationship Hutan Tanaman : Vol.2 . 2006 Zulfikhar KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DENGAN POLA KPH DI PROVINSI SUMATERA SELATAN / Zulfikhar. Lahan milik. provinsi dan kabupaten/kota. tercakup di dalamnya sistem lahan dan hidrologi. Kaur. bahan organik yang rendah sampai dengan sedang. -. Pada setiap kondisi topografi (puncak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat fisik dan kimia terhadap potensi CMA pada lahan kritis. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari tersebut maka kawasan hutan dibagi kedalam kesatuan pengelolaan hutan (KPH). R. kandungan N total (0. Untuk itu diperlukan strategi metamorfosis yang terbimbing untuk menuju keseimbangan ekosistem hutan rawa gambut yang baru. dan terjadi korelasi negatif antara jumlah spora dengan kandungan P tersedia. dari genus Glomus. sistem silvikultur serta faktor-faktor sosial ekonomi yang terkandung di dalamnya. 136 .115 . yaitu C-organik (2. Bengkulu Yassir. yang ditunjukkan dengan pH tanah yang masam (4. Tanaman eksotis. 2006 Ekosistem lahan basah dan rawa gambut mencakup sepertiga bagian dari total wilayah Provinsi sumatera Selatan. dalam penyelenggaraannya dilaksanakan oleh KPH dalam bentuk swakelola dan pemerintah dapat mendelegasikan pengelolaan hutan kepada Badan Usaha Milik Negara di bidang kehutanan. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metoda tunggal berdasarkan letak topografi dan komposisi tumbuhan. Jumlah petak yang diamati seluruhnya sebanyak 3 x 5 x 3 = 45 buah petak.44 me/g) dan KTK (8. Di dalam petak berukuran 10 m x 10 m dibuat petak berukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan secara acak dan diulang sebanyak 3 kali. pemanfaatan hutan. di mana pada setiap KPH dikelola oleh suatu Unit Organisasi KPH.3. Untuk hubungan antara potensi CMA dengan sifat-sifat tanahnya sangat ditentukan oleh kandungan P tersedia. Tectona grandis Linn. No. Pemahaman terhadap landasan kebijakan yang ditetapkan pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan rawa gambut dan pola KPH merupakan titik masuk bagi para pihak untuk dapat mengkritisi dan memberikan saran solusi terhadap upaya mewujudkan pengelolaan hutan lestari serta antisipatif terhadap kemungkinan munculnya permasalahan yang lebih komplek sebagai dampak negatif atas kebijakan pengelolaan hutan rawa Between Arbuscular Mycorrhizal.Fungi Potency and Soil Properties in Marginal Land)/ Ishak Yassir.

Kebijakan. Hutan rawa gambut. KPH. Sumatera Selatan 137 . Kata kunci: Rawa gambut.gambut dan dapat bermanfaat bagi para pihak sebagi acuan untuk mewujudkan pengelolaan hutan rawa gambut yang lebih baik di Propinsi Sumatera Selatan.

Kabupaten Tasikmalaya. 2005 Industri pembuatan sumpit sebagai salah satu upaya teknologi pemanfaatan bambu menghasilkan limbah yang cukup besar yaitu lebih kurang 65 persen yang perlu diupayakan pemanfaatannya agar menjadi produk yang bernilai tambah. Potensi usaha Achmad. Halaman 175-184 . Input teknologi dan pemasaran menjadi faktor penentu disamping dukungan pemerintah.945 kal/g. betung. bambu surat. Bambu tali sebagai bambu yang paling banyak digunakan untuk bahan baku sumpit ternyata menghasilkan kualitas arang bambu yang secara umum paling baik dibanding empat jenis bambu lainnya dengan besar nilai kalor 6. Budiman KAJIAN POTENSI USAHA BAMBU RAKYAT DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad.pengkelasan mutu dan pemanfaatan setiap bagian batang sesuai dengan potensi dan sifat dasarnya serta pemanfaatan limbah sebagai bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan dari proses produksi lain (interface). dan Soleh Mulyanan.1 ha/plot diukur diameter dan 138 . dan bambu temen. Halaman 96-111 . tali. Kata kunci: Arang Bambu. -. Pengambilan data dilakukan dengan sengaja berdasarkan ketinggian tempat tumbuh yaitu dataran rendah dan dataran tinggi dan dilakukan survey potensi bambu dan produknya serta wawancara dengan petani.957 batang menempati luasan 7. Devy Priambodo Kuswantoro. -. Kunci untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat terletak pada seberapa jauh upaya peningkatan mutu. Limbah Kerajinan. kekuatan desain.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Penelitian ini mencoba salah satu upaya pemanfaatan limbah dengan pembuatan arang bambu secara tradisional secara tumpuk timbun dengan menggunakan lima jenis bambu bahan baku industri sumpit yaitu bambu ampel.985.98 persen.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.9 th dalam 50 plot dengan luasan 0. Budiman PENGELOLAAN TAPAK HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERDASARKAN DAUR EKONOMIS / Budiman Achmad. dan Devy Priambodo Kuswantoro. Kata kunci: Bambu. 6 Desember 2005 .Achmad. ater. 2006 Potensi bambu di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi yakni sekitar 2. dan gombong dan diuji kualitas arang yang dihasilkan menurut standar SNI. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat bisa dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu penerapan sistem silvikultur yang tepat. 2005 Pengelolaan hutan tanaman secara lestari bisa dicapai jika jatah tebang tahunan (AAC) tidak melebihi riap. kadar karbon terikat 74.464. pengrajin. Budiman ARANG BAMBU DARI LIMBAH INDUSTRI KERAJINAN: POTENSI EKONOMI YANG BELUM DIGALI DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mutu tapak dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan hasil dan menyediakan beberapa alternatif solusi untuk meminimalkan inefisiensi dalam pengelolaan hutan tanaman. Soleh Mulyana.89 ha yang mampu membangkitkan kreatifitas usaha sebagian masyarakat Tasikmalaya. Halaman 164-174 . dan eksportir. 6 Desember 2005 . Tegakan umut 1 sampai 4. Tasikmalaya Achmad. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan jenis bambu menghasilkan nilai kualitas arang bambu yang sangat berbeda nyata.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Potensi Ekonomi. Jenis yang paling banyak dijumpai adalah bambu tali. Penelitian ini dilaksanakan pada hutan tanaman Acacia mangium di Pasir Pangrayan. -. dan harga serta jalinan kepercayaan antara produsen dan pembeli. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai kemungkinan upaya peningkatan potensi pemanfaatan bambu melalui perluasan variasi produk dan penyertaan teknologi untuk meningkatkan mutu dan nilai tambah produk. 6 Desember 2005 . Propinsi Riau.13 persen dan kadar zat terbang 18. Bambu tumbuh hampir merata di wilayah Kabupaten Tasikmalaya tetapi kurang didukung dengan meratanya ketrampilan sumberdaya manusia (SDM) sehingga terjadilah ketidakseimbangan antara potensi SDA (sumber daya alam) dengan potensi SDM yang merupakan indikator bahwa potensi usaha bambu belum digali secara optimal. Data diolah secara deskriptif dan dilakukan analisis keuntungan antara produk konvensional (standar) dengan produk pengembangan. bambu hitam.

nilai strategis baik yang tangible maupun intangible belum ditempatkan sesuai fungsinya dan belum dihargai secara proporsional.Semakin rendah mutu lahan. demikian sebaliknya. 500 miliar/tahun. dan Kalimantan Timur. 5. Halaman 153-161 . -. Kata kunci: Kayu Rakyat. 30 triliun/ha. Inovasi nilai harga kayu maupun peraturan belum tertangani sebagaimana diindikasi oleh kecilnya margin yang diterima petani bersamaan dengan image biroaktif pengurusan perizinan yang berlaku.5 th. Selain itu juga untuk mendapatkan alternatif penatausahaan kayu yang bisa menciptakan iklim usaha (market change) efektif dengan mempertimbangkan faktor kepraktisan dan kekhasan daerah tanpa mengorbankan efisiensi. dan rampasan. Namun sistem pelaksanaan lelang tersebut belum berjalan secara efektif dan optimal sehingga menimbulkan kerugian bagi negara mencapai Rp.5 th dan 5 th untuk berturut-turut klas II. Budiman KAJIAN IMPLEMENTASI TATAUSAHA DAN TATANIAGA KAYU RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN GARUT / Budiman Achmad. yaitu perbatasan RIMalaysia di Kalimantan Barat. Ada beberapa titik konsentrasi praktek penebangan liar serta penyelundupan kayu. Hasil kajian mengindikasikan bahwa arus informasi pasar ke petani cukup terbuka diduga karena profesi ganda sebagai petani sayur dan kayu berimbas pada semakin luasnya jaringan bisnis sehingga petani telah mampu meluaskan pasarnya. dan wawancara dengan petani kayu dan pelaku usaha kayu untuk mengetahui interpretasinya terhadap tata usaha kayu rakyat. Sektor kehutanan dengan segala potensinya pernah tercatat sebagai sumber pendapatan negara terbesar nomor dua setelah minyak. Soleh Mulyana. -. 13 September 2005 . perbatasan Papua. 6 th.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Namun saat ini dengan maraknya kasus illegal logging negara harus menerima kerugian mencapai Rp.IV dan Klas V. dan IV dan kelas V kemudian disusunlah grafik CAI dan MAI. Selama ini telah berjalan proses lelang terhadap kayu hasil temuan. 2005 Penebangan Liar (illegal logging) dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) merupakan salah satu dari lima kebijakan prioritas utama Departemen Kehutanan saat ini. Kata kunci: Acacia mangium. Kajian dilakukan dengan pengumpulan peraturan-peraturan mengenai tata usaha kayu yang ada. Kata kunci: Illegal Logging. Untuk mendapatkan hasil optimal jumlah pohon yang ditanam harus mempertimbangkan mutu lahan.III. Hasil penelitian menunjukan bahwa siklus tebang paling optimal adalah 6. Berdasarkan empat mutu tapak yang diperoleh yakni kelas II. dan Devy Priambodo Kuswantoro. Kab. Sistem insentif yang efektif perlu dikembangkan dengan dukungan peraturan yang perencanaannya bersifat kolektif dan inovative sehingga mampu menimbulkan komitmen sukarela. Tatausaha. semakin tinggi kerapatan pohon yang ditanam. Iis ILLEGAL LOGGING: KAJIAN PERKEMBANGAN ISU KEHUTANAN / Iis Alviya. Kasus illegal logging ini terus meningkat akibat lemahnya kemampuan aparat penegak hukum sehingga tidak mampu membongkar sampai ke akar permasalahannya.kelas III.2006 . Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui pola pemasaran dan kemungkinan pengembangannya sehingga persoalan yang terkait dengan in-efisiensi tataniaga bisa diminimalkan. pada tanggal 13 Januari 2005 pemerintah telah mengesahkan tiga draft rancangan Peraturan Menteri Kehutanan tentang petunjuk pelaksanaan lelang kayu. Garut Alviya. Berdasarkan hal tersebut.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.sebagaimana terlihat pada semakin sempitnya coverage relatif hutan di Kabupaten Garut yang tidak lebih dari 10 persen saja.tingginya. sitaan. Kendala lain yang lebih bersifat disinsentif bersumber dari peraturan tatausaha yang tidak bersifat khas dengan daerah dan kurang mengakomodir kepentingan seluruh stakeholder secara berimbang. Halaman 85-96 . Mutu Lahan Achmad. Tataniaga. Diharapkan dengan kebijakan tersebut kerugian negara akibat illegal logging dapat ditekan dan praktek illegal logging yang umumnya menggunakan proses lelang kayu sebagai modus pemutihan kayu hasil tebangan liar tersebut dapat dihilangkan. Hutan Tanaman. melakukan in-depth interview dengan responden ahli/kunci. 2006 Hutan Rakyat merupakan alternatif yang semakin strategis untuk mengisi demand kayu yang semakin meningkat saat ini. Perairan Riau. Isu kehutanan 139 . Akan tetapi.

Kelembagaan masyarakat hukum adat di sekitar hutan lindung dan konservasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen sosial budaya yang efektif dalam upaya mencegah illegal logging. dan kebijakan dapat menghasilkan asimilasi dan/atau akulturasi budaya yang dapat berdampak negatif atau positif terhadap kelestarian sumberdaya hutan. Sifat hukum adat yang terbuka dan dapat berubah. menyebabkan terjadinya asimilasi dan/atau akulturasi budaya.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. JAWA TENGAH (The Determinant factor of Pine Tapping Farmer Poverty in Somagede. Hutan Lindung. Terdapat kekhawatiran yang luas terhadap harga kayu bulat yang terus rendah. Ketersediaan unsur adat dan penegakan sanksi yang efektif bagi pelanggar. 6 Desember 2006 . 2006 Masyarakat sekitar hutan umumnya berada dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Metode survey dipergunakan untuk mengumpulkan data. Central Java)/ S. harga kayu bulat yang rendah bukan hanya menyebabkan nilai pengembalian investasi dalam pembangunan hutan tanaman khususnya Acacia mangium lebih rendah dari harga kapital yang digunakan tetapi juga mencegah masuknya investasi baru. 2) aspek ekonomi. Peningkatan kemiskinan akan berdampak pada perusakan sumberdaya hutan. tetapi juga di hutan lindung dan hutan konservasi. Kayu Bulat. Kata kunci: Acacia mangium. Woro M. Halaman 4971 . Dalam kaitan ini. dampak kebijakan eksport kayu bulat perlu dikaji.al.]. Kenyataannya. Upaya mencegah dampak buruk yang lebih jauh dapat dilakukan melalui intervensi kebijakan mengijinkan produksi kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium diekspor. Upaya mencegah illegal logging melalui instrumen hukum adat. merupakan suatu peluang hukum adat berperanan dalam upaya mencegah illegal logging. 13 September 2005 . agar efektif.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. Untuk itu. Halaman 119 . aspek ekonomi. kemiskinan pada masyarakat sekitar hutan harus dientaskan dan pemahaman terhadap faktor penentu atau penyebab kemiskinan menjadi penting. S.. Halaman 109-116 . dan Indartik. KEBUMEN. antara lain: 1) intrusi budaya luar. Interaksi dengan budaya luar. Kata kunci: Illegal Logging. Diukur dengan surplus produsen dan konsumen. Runggandini. C. 2005 Lemahnya penegakan hukum menyebabkan kegiatan illegal logging meluas bukan hanya terjadi di hutan produksi. Salah satunya adalah rendahnya harga kayu bulat dalam negeri akibat kebijakan larangan ekspor.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. namun hasilnya belum optimal. merupakan suatu tantangan yang perlu dicermati. Ini pada gilirannya akan menyebabkan pembangunan hutan tanaman mengalami stagnasi. [et. hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan kriteria KaldorHicks dampak kebijakan eksport kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium tanpa atau dengan pengenaan pajak eksport non-prohibitive adalah lebih baik dibanding kebijakan larangan ekspor. Hukum Adat. Pemberantasan illegal logging melalui pendekatan keamanan telah dilakukan. -. -. 3) Kebijakan yang kurang kondusif. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor penentu suatu rumah tangga petani penyadap getah pinus tergolong miskin. -. Satria PERANAN HUKUM ADAT DALAM UPAYA MENCEGAH ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG DAN KONSERVASI: PELUANG DAN TANTANGAN/ Satria Astana. Andy FAKTOR PENENTU KEMISKINAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI DESA SOMAGEDE. Jumlah responden 30 keluarga/rumahtangga. Kebumen. 2006 Lambannya pembangunan hutan tanaman disebabkan oleh banyak faktor.2 .. perlu dibarengi oleh kebijakan penguatan kelembagaan dan meningkatkan ekonomi secara konsisten. Andy Cahyono . Namun unsur-unsur hukum adat secara terus-menerus mengalami tekanan dari banyak aspek. yang ditujukan khususnya bagi masyarakat hukum adat yang daerahnya menghadapi tekanan illegal logging yang tinggi. Model binary choice dengan fungsi logit 140 . dalam pemanfaatan hutan yang lestari. Konservasi Cahyono. Satria ANALISIS KEBIJAKAN EKSPOR KAYU BULAT DARI HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM / Satria Astana. Kebijakan ekspor Astana.Astana. Pola jaringan illegal logging kapan saja dapat bangkit kembali dalam kehidupan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rentan dan lingkungan bisnis hutan yang tidak kondusif.

Pendekatan pengelolaan DAS yang menekankan pada jasa monofungsi DAS yang disederhanakan pada penanggulangan erosi sedimentasi perlu diubah dengan jasa multifungsi DAS baik tangible maupun intangible. Kata kunci: DAS. Imbal jasa dapat berupa finansial maupun non finansial. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik sosial ekonomi mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus.33% lainnya termasuk dalam kategori keluarga tidak miskin. kualitas hidup lebih baik. Andy Cahyono dan Purwanto. dan pendapatan di luar getah pinus. produktivitas pinus. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap pinus. pendidikan. determinan kemiskinan. pendapatan di luar penyadapan Cahyono. S. Kata kunci: Kemiskinan.67% rumahtangga penyadap pinus termasuk dalam kategori miskin. 2006 Pendekatan pengelolaan DAS yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumberdaya alam di DAS. Metode survey dipergunakan pada penelitian ini dengan penarikan sampel menggunakan metode simple random sampling pada 30 orang petani responden. yaitu pendapatan dari getah pinus. kapasitas stakeholder dan kesepakatan serta kesepahaman para stakeholder untuk merealisasikannya. JAWA TENGAH umur pinus. petani penyadap getah pinus. 2006 Peningkatan pendapatan rumah tangga menentukan tingkat kesejahteraan keluarga dan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus. S. Sementara peluang keluar dari kondisi miskin akan semakin besar dengan meningkatnya pendapatan dari getah pinus. akses pada sumberdaya pada daerah penyedia jasa multifungsi akan lebih bermanfaat. Imbal Jasa Characteristics Affecting Household Income of Pine Gum Taper: Case Study in Somagede. Andy IMBAL JASA MULTIFUNGSI DAS UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI / S. kesehatan. -. Nur Ainun Jariyah. Untuk itu. Analisis data menggunakan persamaan regresi linier berganda pada peubah karakteristik sosial ekonomi yang diduga mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Paper ini mengurai imbal jasa multifungsi DAS untuk mendukung pengelolaan DAS dan jasa implementasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46. Namun imbal jasa non finansial seperti ketersediaan infrastruktur. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Kebumen. serta diversifikasi sumber pendapatan diluar getah pinus. Pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi nyata secara statistik oleh pendapatan dari luar getah pinus. Pendapatan rumah tangga dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pendapatan di luar sadap pinus dan peningkatan produktivitas pinus. Halaman 147-159 . umur tegakan. Penelitian ini merekomendasikan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga penyadap dilakukan dengan diversifikasi pendapatan di luar pinus dan peningkatan produktivitas getah.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. imbal jasa multifungsi DAS tergantung pada negosiasi. Implikasi kebijakannya adalah peningkatan produktivitas getah pinus dan harga getah. Andy Cahyono. Dalam implementasinya. dan umur penyadap. Kata kunci: kegiatan. Andy KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP GETAH PINUS DI DESA (Socio-Economic SOMAGEDE. dan produksi getah pinus. and Central Java) / S.dipergunakan untuk mengetahui faktor penentu atau penyebab kemiskinan pada rumah tangga petani penyadap getah pinus. pinus Cahyono. pendapatan dari luar getah pinus. 2006 : Halaman 63-81 . Imbal jasa multifungsi DAS dapat dipergunakan sebagai mekanisme kompensasi dari pemanfaatan jasa multifungsi kepada penyedia jasa multifungsi untuk menjaga ketersediaan jasa yang dihasilkan. 141 . sedangkan 53. Yonky Indrajaya.2 . KEBUMEN. Kemiskinan rumahtangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi secara signifikan oleh beberapa faktor.

al) . sedangkan sikap terhadap LSM untuk Desa Cisitu netral dan Desa Werasari negatif. TASIKMALAYA. 2006 Bentuk pengembangan hutan rakyat di setiap wilayah akan berlainan dan memiliki kekhasan masing-masing. Karena itu pembuatan hutan tanaman secara manual lebih menguntungkan daripada mekanik.. atau meningkat sebesar 25 persen per hektar.8 persen per hektar atau meningkat sebesar 5 persen. lembaga usaha dan lembaga pemerintahan. IRR adalah suatu tingkat bunga dimana seluruh arus kas bersih sesudah didiskonto sama jumlahnya dengan biaya investasi. Hutan Tanaman.482.000 per hektar. Halaman 103-120 . hal tersebut disebabkan kurangnya responden mengetahui dan merasakan manfaat langsung dari LSM. atau biaya mula-mula..-. Sumatera Selatan Diniyati. 6 Desember 2005 . Halaman 79-95 . Net B/C. lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dian KAJIAN SIKAP PETANI TERHADAP LEMBAGA PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT / Dian Diniyati dan Tri Sulistyati W.2 persen secara mekanik dan manual. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 2.. dengan tingkat suku bunga yang dipakai adalah 15 persen untuk suku bunga private (finansial) dan 20 persen untuk suku bunga sosial (ekonomi). Sekaligus perlu diketahui bagaimana apabila peranan penambahan nilai karbon ditambahkan dalam analisis kelayakan tersebut. Kata kunci: Acacia mangium.000 menjadi Rp.500 per ton akan meningkatkan IRR dari 26.2 persen menjadi 28. Analisis Ekonomi. Deden ANALISIS EKONOMI PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM DI SUMATERA SELATAN / Deden Djaenudin.0 persen dan 26.Kontribusi peranan setiap lembaga tersebut ditunjukan oleh sikap petani. Selain itu pembuatan hutan tanaman secara manual juga lebih direkomendasikan karena melibatkan penggunaan tenaga kerja yang lebih besar. dan dapat dirumuskan sebagai berikut. lembaga usaha dan pemerintah. Begitu juga dengan NPV meningkat dari Rp. 2005 Pembangunan hutan rakyat selama ini didukung berbagai lembaga seperti kelompok tani. namun masih memiliki persamaan 142 . CIAMIS. Dian KONDISI DAN POTENSI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CILACAP. Garut Diniyati. 27.al). Selanjutnya sikap tersebut tidak dipengaruhi karakteristiknya. WONOSOBO DAN KUNINGAN/ Dian Diniyati. Petani. Nilai ini menunjukan bahwa keuntungan penambahan nilai karbon cukup signifikan dan menambah kelayakan pembuatan hutan tanaman. Halaman 132-150 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Analisis biaya pembuatan dan nilai hutan tanaman dilakukan dengan metode Benefit Cost Ratio dengan menggunakan program EXCEL. -. 6 Desember 2005 .942. meskipun sikap tersebut adakalanya tidak sesuai dengan harapan dari lembaga-lembaga yang mendukung pembangunan hutan rakyat. Dengan perkataan lain. Kriteria ini mengatakan bahwa proyek akan dipilih apabila NPV proyek sama dengan nol. NPV adalah selisih antara manfaat (B) dengan biaya (C) yang telah didiskonto.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.Hasil penelitian menunjukan bahwa pembangunan hutan tanaman mangium di Sumatera Selatan layak secara finansial maupun ekonomi. biaya proyek. Analisis manfaat biaya dilakukan dengan menggunakan kriteria investasi NPV. Sikap petani. dan IRR. 6 Desember 2006 . Sehingga diharapkan pembangunan hutan tanaman mangium bisa dilestarikan. dengan IRR sebesar 25. Untuk itu perlu diketahui kelayakan finansial dan ekonomi pembangunan hutan tanaman untuk keperluan investasi pembangunan hutan. karena menghasilkan IRR dan NPV yang lebih tinggi sebagai akibat dari biaya pembuatan yang lebih murah. IRR adalah suatu tingkat bunga yang menunjukan bahwa jumlah manfaat sekarang yang dihasilkan sama dengan total biaya sekarang yang dikeluarkan. sehingga bisa mengurangi permasalahan pengangguran dan penambahan sumber pendapatan masyarakat..Djaenudin. 4. 2006 Jenis tanaman yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman antara lain adalah Acacia mangium. Kabupaten Garut dan Desa Werasari mempunyai kecenderungan sama.(et.(et. Untuk itulah perlunya dilakukan kajian mengenai sikap petani terhadap lembaga pembangunan hutan rakyat yang dilakukan di Desa Cisitu. yaitu sikap yang positif terhadap kelompok tani. Terlihat bahwa penambahan nilai karbon sebesar Rp. Kata kunci: Hutan Rakyat.

MAJALENGKA / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. Bentuk-bentuk pengembangan hutan rakyat ini sangat mempengaruhi terhadap pemberdayaan masyarakat. namun demikian tetap mempunyai persamaannya karena kegiatan hutan rakyat ini banyak dilakukan secara proyek. Dari hasil kajian di lapangan diketahui bahwa pembangunan huatn rakyat terbagi atas tiga tipe yaitu: (1) secara kemitraan antara masyarakat dengan BUMN. dan tipe pemilik tidak berada di lkasi hutan rakyat. Kata kunci: Hutan Rakyat. -. selanjutnya pada masing-masing kabupaten dipilih secara sengaja desa sebagai lokasi penelitian. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Garut dan Desa Werasari Majalengka pada bulan Agustus 2005. Wonosobo. GARUT DAN DESA WERASARI. dan ini berguna untuk menilai keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. Dengan demikian peranan penyuluh kehutanan sangat tinggi pada pembangunan hutan rakyat ini.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. menyediakan tambahan lapangan pekerjaan untuk masyarakat 143 . Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan analisis petani pemilik dan penggarap hutan rakyat yang terlibat dalam kegiatan kemitraan. (2) swadaya yang dibagi menjadi dua tipe.diantaranya: kehomogenan petani pemilik hutan rakyat. Halaman 151-163 . Halaman 227-239 . serta pemasaran. maka perlu dukungan dari semua pihak melalui kemitraan. Kuningan Diniyati. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tasikmalaya. 13 September 2005 . Agar keberhasilan pembangunan hutan rakyat dapat tetap terjamin. Ciamis dan Banjar pada bulan Nopember-Desember 2004. selanjutnya data yang terkumpul dianalisa secara diskriptif. Dengan pengelompokan persamaan pengembangan hutan rakyat setiap wilayah. Diharapkan dengan mengetahui persamaan dan permasalahan pengembangan hutan rakyat maka memudahkan dalam membuat kebijaksanaan untuk pengembangannya. Tasikmalaya. Majalengka Diniyati. Ciamis. Cilacap.BANTARUJEG. yaitu tpe pemilik berada dekat lokasi hutan rakyat.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. serta bentuk pemanenan dan pemasaran. swadaya .Penyuluh sebagai mitra petani pada pembangunan hutan rakyat masih perlu ditingkatkan. akan memudahkan untuk mengetahui permasalahannya. 6 Desember 2005 . teknologi yang digunakan masih sederhana.Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk menyediakan paket informasi mengenai beberapa pola pengembangan dan pembangunan hutan rakyat. dan kemitraan. untuk meningkatkan partisipatif dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga meningkat kemandiriannya dan pada akhirnya kesejahteraan akan tercapai. untuk itulah maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan faktor pendukung terciptanya hutan rakyat serta peranan penyuluh terhada keberhasilan pembangunan hutan rakyat. -. hal ini berkaitan dengan faktor pembatas. fasilitas yang kurang memadai. Dian HUTAN RAKYAT DAN PENYULUHAN KEHUTANAN: KASUS DI DESA CISITU. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan satistik deskriptif dan kemudian dianalisa sesuai dengan data yang diperoleh. Kata kunci: Hutan Rakyat. Dian POLA KEMITRAAN UNTU MENDUKUNG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. diharapkan pembangunan hutan rakyat akan semakin tinggi sehingga pasokan kayu akan selalu terjamin keberadaannya. Hasil dari kajian ini diketahui bahwa: kondisi hutan rakyatdi dua desa penelitian memiliki beberapa persamaan yaitu kondisi sosial petani. dengan kriteria adanya kegiatan kemitraan pada sektor hutan rakyat. akan tetapi setiap kebijaksanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan lokasi. peningkatan kesejahteraan petani. meningkatkan perfomance perusahaan. MALANGBONG. pemasaran dan kualitas sumberdaya manusia. 2005 Beberapa faktor yang menjadi kendala yang dihadapi oleh petani dalam pengembangan dan pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah faktor modal. (3) serta kerjasama (kemitraan dengan pemerintah. Motivasi dilaksanakan kemitraan ini yaitu melindungi sumberdaya alam. seperti: jumlah tenaga yang kurang dan berubahnya fungsi penyuluh. walaupun dalam pemecahannya harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat. Penyuluh Kehutanan. 2005 Faktor pendukung terciptanya hutan rakyat pada satu lokasi sangat tergantung pada banyak hal dan berlainan sehingga akan tercipta hutan rakyat yang spesifik untuk setiap daerah. teknologi tepat guna.. melindungi aset negara dari perambahan. letak topografi desa.Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. budidaya hutan rakyat. Garut.

2006 . diharapkan hasilnya dapat memberikan informasi sehingga dapat menarik minat petani untuk terus mengembangkan hutan rakyat. dimana lembaga pendamping harus independen. Sedangkan pendapatan yang paling tinggi yaitu pola GNRHL. hal ini sangat dipengaruhi faktor dari luar dan lingkungan kelompok itu sendiri. Metode kajian yang dilakukan adalah metode survey dan wawancara terhadap responden terpilih. keamanan hutan dapat terjamin karena masyarakat turut melindungi.128 . 2006 Sub DAS Cicatih merupakan DAS lokal yang mempunyai karakteristik sosial ekonomi yang unik. sedangkan peluang yang utama adanya dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung) dan ancaman yang utama yaitu kurangnya tenaga penyuluh di lapangan. Selanjutnya analisa data yang digunakan adalah statistik deskriptif. -. pemeliharaan. sedangkan kelemahan utamanya yaitu teknologi masih sangat tradisional. -. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut dan Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg. dalam perjalanannya banyak memiliki kelebihan dan kekurangan.2006 . Dari segi finansial seharusnya pengelolaan Sub DAS 144 . mencegah terjadinya okupasi lahan. Kelompok Tani Diniyati. sehingga tidak jarang hasil/keuntungan yang diterima petani masih jauh dari standar yang diharapkan. Alat analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT. Seperti pada aspek finansial banyak faktor yang tidak diperhitungkan yang menyebabkan keuntungan semu bagi petani. Kata kunci: Hutan Rakyat. peluang utama yang dimiliki adalah adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan. Selanjutnya untuk lebih meningkatkan kegiatan kemitraan ini maka sebaiknya ada lembaga pendamping. Kata kunci: Hutan Rakyat. tenaga kerja dan pemanenan.disekitar hutan. Pendapatan. kelemahan. Hasil kajian diperoleh bahwa komponen biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari: persiapan lahan. 2006 Manajemen yang digunakan pada pengembangan hutan rakyat pada umumnya adalah manajemen pemiliknya baik itu untuk aspek budidaya maupun aspek finansial. Sulistya KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS LOKAL: SEBAGAI WACANA DALAM PENGELOLAAN SUB DAS CICATIH / Sulistya Ekawati. adanya kepastian kawasan sehingga perencanaan dapat dilakukan dengan baik. penanaman. sebagai mediator antara peserta mitra dengan instansi pelaksana mitra. Hasil kajian untuk Desa Werasari adalah sebagai berikut. Kajian biaya. peluang dan ancaman dari kelompok tani sehingga dapat diramu strategi yang sesuai agar kelompok tani dapat mandiri dan berdayaguna bagi anggotannya. Untuk mengembangkan kelompok tani perlu dicari strategi yang tepat.Kegiatan ini dilakukan di 4 desa yang dipilih secara acak pada bulan Agustus-Desember 2005.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Halaman 119 . Halaman 51-64 . Pola Kemitraan. dengan demikian keuntungan yang diperoleh petani yang paling tinggi pada pola GNRHL. Dini KAJIAN BIAYA DAN PENDAPATAN HUTAN RAKYAT YANG DIKELOLA PETANI PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. Kata kunci: Sosial Forestry. Dian STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYATI / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. 2006 Kelompok tani hutan rakyat merupakan perkumpulan para petani yang mengusahakan hutan rakyat. untuk itulah maka diperlukan kajian ini yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan. Petani Ekawati.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. yang menjadi kekuatan utama yaitu memiliki lahan garapan. Responden adalah para pakar yang memahami tentang kelompok tani. Untuk itulah maka kajian ini diperlukan untuk mengetahui besarnya biaya dari pendapatan pada semua pola pengembangan hutan rakyat. -. yaitu banyaknya industri yang memanfaatkan air yang berasal dari DAS tersebut. Kabupaten Majalengka. dan biaya yang paling besar dikeluarkan petani adalah untuk tenaga kerja pada seluruh pola pengembangan. 2006 : Halaman 147-153 .Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. sedangkan yang menjadi kelemahan utama tingkat pendidikan yang masih rendah. Pemberdayaan masyarakat Diniyati. Hasil pengolahan data diketahui kekuatan utama kelompok tani di Desa Cisitu adalah memiliki lahan garapan. dan terakhir yaitu ancaman utama kepemilikan lahan yang sempit.

Gubernur. Bupati/Walikota) sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan yang terkait dalam kegiatan pengelolaan DAS. Koordinasi antar daerah dan antar sektor belum berjalan dengan baik.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. Jenis lahan kritis dibedakan ke dalam 4 (empat) tingkat ke kritisan lahan yaitu potensial kritis. one plan and multi management. Bappeda kabupaten dan LSM. Masing-masing stakeholders mempunyai kepentingan yang berbeda dan belum terjalin koordinasi diantara mereka. Penetapan kebijakan tetap dilakukan pihak regulator. Hubungan PPTPA dengan stakeholders lain pada dasarnya bersifat konsultatif dan koordinatif. Puslittanak. Pelaksana pengelolaan DAS adalah semua stakeholders. DAS Solo. Untuk itu kajian ini diharapkan dapat membantu dalam menemukan metode yang tepat melalui pemberdayaan masyarakat penerima manfaat (beneficiary) yang didasarkan pada budaya dan kearifan lokal. 1997). Halaman 37-48 . Semua stakeholders di tingkat pusat. 13 September 2005 . Sulistya PEMBAGIAN PERAN (ROLE SHARING) DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI: STUDI KASUS DI DAS SOLO DAN DAS PROGO / Sulistya Ekawati.koordinasi pelaksanaan dan memonitor serta mengevaluasi kegiatan pengelolaan DAS. Konsepsi dasar rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat yang tepat di laksanakan dengan mengacu 145 . untuk mengatur perilaku seluruh stakeholders agar sejalan dengan tujuan sosial yang telah disepakati bersama. Leading sector monev pengelolaan DAS regional oleh Bappeda propinsi. dirumuskan dan disepakati bersama karena merupakan motivator untuk membentuk suatu kelompok sosial. Sylviani.690 ha). 2006 Issue lahan kritis dan lahan tidur di Jawa Barat telah muncul ke permukaan dan menjadi masalah ketika terjadi bencana alam berupa banjir dan kekeringan di tengah-tengah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk. regulator/owner. DAS Progo Effendi. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek teknis dan sosial ekonomi rehabilitasi lahan kritis secara tidak terkendali.652 ha. Leading sector perencanaan jangka pendek oleh Bappeda kabupaten. propinsi dan kabupaten melakukan monev untuk sektornya masingmasing.1 . khususnya untuk DAS-DAS lintas kabupaten dan lintas propinsi. Halaman 23-30 .006 ha yang terdiri dari kawasan hutan lindung (101. Agar sub DAS Cicatih terjaga kelestariannya diperlukan suatu kelembagaan. Role Sharing. Perencanaan disusun dengan melibatkan semua stakeholders sesuai dengan kewenangannya. DAS. kritis dan sangat kritis dimana jumlah luas lahan kritis di Jawa Barat pada kawasan hutan mencapai 474. sehingga pengelolaan DAS dilakukan secara terfragmentasi.Cicatih belum mempunyai kelembagaan yang mapan. DAS Cicatih Ekawati. Pengelolaan DAS. Rachman KONSEPSI REHABILITASI LAHAN KRITIS DI JAWA BARAT / Rachman Effendi. oleh karena itu perlu dirumuskan pembagian peran (role sharing) pada semua stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan DAS. Paimin. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. Bentuk kelembagaan yang disarankan adalah PPTPA (Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air). tetapi aplikasi di lapangan hal tersebut sulit dilakukan. kawasan hutan konservasi (34. perencanaan jangka panjang DAS regional oleh Bappeda propinsi. Lokasi pengkajian didasarkan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki tingkat erosi terbesar antara lain DAS Cisadane dan DAS Ciujung yang ada di Jawa Barat. Bappeda propinsi dan LSM. -.664 ha) dan kawasan hutan produksi (337. Penelitian ini dilakukan di DAS Solo dan DAS Progo. Hasil kerja PPTPA diserahkan kepada pihak regulator (Presiden. Keduanya merupakan DAS nasional (lintas propinsi). 2005 Prinsip dasar pengelolaan DAS terpadu adalah one river. -. Tugas pokok dari PPTPA adalah menyusun kebijakan rencana. Kedudukan PPTPA tersebut sebagai fasilitator diantara para pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS (operator/provider. Pembagian peran (role sharing) dalam pengelolaan DAS adalah sebagai berikut: leading sector perencanaan jangka panjang DAS nasional dilakukan oleh Bappenas. Leading sector monev pengelolaan DAS nasional oleh Bappenas. semi kritis. dalam rangka pelaksanaan program rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) atau pengkajian desa secara cepat. dan Purwanto. user). Kata kunci: Kelembagaan. Di masa otonomi daerah ada kecenderungan egoisme daerah dan egoisme sektoral.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Keanggotaan PPTPA juga harus terwakili oleh semua pihak. Kerjasama timbul apabila masing-masing pihak mempunyai tujuan yang sama dan pada saat yang sama mempunyai kesadaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Diperkirakan tinggal 10% dari luas wilayah Jawa Barat yang masih berupa hutan tutupan. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan. -. Kawasan Lindung. penelitian bertujuan untuk mengkaji pola pemberdayaan masyarakat melalui Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) dan kemitraan serta efektifitasnya dalam mencegah illegal logging di kawasan hutan alam produksi. Rachman KAJIAN NILAI EKONOMI MANFAAT LOKAL HUTAN LINDUNG DI JAWA BARAT (LANDASAN TEORI) / Rachman effendi . Kawasan budidaya terdiri dari hutan produksi. baik masyarakat di sekitar hutan maupun di hilirnya antara lain kekeringan. ekonomi masyarakat. Rachman KAJIAN EFEKTIVITAS POLA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN PRODUKSI DALAM MENCEGAH ILLEGAL LOGGING / Rachman Effendi dan Indah Bangsawan. Besaran nilai ekonomi manfaat lokal sumber daya hutan (SDH) menunjukkan sejauh mana manfaat SDH. 2006 Degradasi hutan di propinsi Jawa Barat cukup tinggi akibat penebangan pohon legal maupun illegal secara berlebihan serta konversi menjadi lahan non-hutan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ketapang Propinsi Kalimantan Barat. Dari kabupaten tersebut ditentukan desa-desa yang berbatasan ataupun berada dalam kawasan hutan yang ada pola pemberdayaan dan tidak ada pola pemberdayaan.pada prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan model pendekatan kemitraan antara pemerintah. sosial ekonomi masyarakat. Kuningan. 13 September 2005 . memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal. namun apakah efektif untuk mencegah illegal logging belum banyak diungkapkan. Teknik rehabilitasi lahan di kawasan lindung yang terdiri dari kawasan hutan dan kawasan non hutan dilakukan melalui penghijauan untuk memperbaiki.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. Kajian lebih difokuskan pada landasan teori nilai ekonomi manfaat lokal dari kawasan. Pemerintah pusat atau daerah dapat memberlakukan pajak lingkungan (green tax) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan konservasi. Hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan harga hasil hutan sehingga mengurangi dampak negatif terhadap eksploitasi besarbesaran terhadap hutan Kata kunci : Degradasi hutan. Untuk itu perlu adanya upaya perlindungan hutan dan lahan untuk memberikan peran optimal bagi lingkungan dan sosial 146 . nilai ekonomi. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui seberapa besar jasa lingkungan yang dikorbankan dan tidak pernah diketahui besarnya. disamping itu bagi masyarakat dan kemungkinan peranannya terhadap sumber pendanaan bagi pengelolan SDH dan nilai tersebut dapat dijadikan dasar penetapan besaran pajak lingkungan yang dapat dikenakan. -. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis pada hutan rakyat dapat dilakukan dengan pola insentif untuk memberikan rangsangan terhadap kegiatan pengelolaan kawasan budidaya dan pola disinsentif membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan pengelolaan kawasan budidaya. Kerifan Lokal.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Tulisan ini mengkaji nilai ekonomi manfaat lokal hutan lindung dan kawasan konservasi di Jawa Barat. Pemilihan teknik budidaya dan jenis tanaman diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sesuai dengan lokasi dan jenis yang benilai ekonomi tinggi. Sosial Ekonomi. Halaman 21-36 . perlindungan hutan. Hal ini telah dirasakan dampak negatifnya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. banjir dan tanah longsor terutama di Kabupaten Garut. Rapid Rural Appraisal (RRA). Selaras dengan persoalan tersebut. agroforestry di kawasan hutan. dimana rehabilitasi pada hutan produksi yang dibebani hak merupakan tanggungjawab pemegang hak atas tanah dan pada hutan produksi yang tidak dibebani hak merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Kawasan Budidaya. ekowisata. sedangkan selebihnya berupa tanah kosong yang tidak berfungsi lagi sebagai hutan. Sylviani. hutan lindung Effendi. 2005 Pola Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan sudah banyak dilakukan. dan Sumedang. Kata kunci : Rehabilitasi Lahan Kritis. dunia usaha dan masyarakat. dimana di kabupaten tersebut kegiatan illegal logging marak dilakukan di hutan produksi alam terutama pada areal pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). hutan rakyat dan pertanian lahan basah. Adapun Effendi. sedangkan aspek sosek dilakukan melalui kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat dan pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dilakukan melalui pengembangan wanafarma. terutama air yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat. Halaman 197-204 .3 .

Pola kemitraan. hanya permasalahan selanjutnya bentuk pola kemitraan yang bagaimana dapat efektif untuk untuk mencegah illegal logging. pola swadaya dan pola kemitraan. Metode yang digunakan adalah pendekatan biaya pengadaan. Penelitian dilakukan di bagian hulu-tengah DAS Brantas.1 . konflik air.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.769.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Halaman 41-60 .]. masing-masing sebesar Rp. karena pada pola ini sudah diterapkan sistem silvikultur yang baik. (3) Penyerapan tenaga kerja.Penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola kemitraan lebih kecil dari pada penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola PMDH. -. Halaman 59-74 . Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan masyarakat tidak memberikan perbedaan yang berarti antara pemberdayaan masyarakat pola PMDH dengan Kemitraan. Pola Pemberdayaan Masyarakat Fauziyah. Sengon. padat karya). memperhatikan waktu penanaman dan dilakukan pemeliharaan.832/tahun dan Rp. Eva KONDISI DAN POTENSI TEGAKAN PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN CIAMIS / Eva Fauziayah . Kondisi tegakan hutan rakyat pada pola pengembangan swadaya tipe pemilik dekat dengan lokasi hutan rakyat kurang bagus. -. Sedangkan pada pola kemitraan potensi kayu sengon belum dapat dihitung mengingat umur tanaman masih muda Kata kunci: Hutan rakyat. Petani menjadikan hutan rakyat sebagai sumber mata pencaharian utama tetapi bibit yang ditanam berasal dari anakan alamiah yang tidak selalu tersedia sepanjang tahun sehingga penanaman tidak bisa dilakukan secara serentak. 37. (2) Distribusi pendapatan. 2006 Pola pengembangan hutan rakyat hingga saat ini terdiri dari pola subsidi (inpres. yang mengalirkan air ke waduk Selorejo. Penyerapan tenaga kerja pola kemitraan lebih besar dari pada pola PMDH. sehingga apresiasi terhadap hutan lindung masih rendah dan tekanan terhadap hutan lindung masih terus berlangsung. nilai ini adalah nilai yang diberikan oleh 147 .al. Sedangkan pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi hutan rakyat. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuisioner terhadap responden sebanyak 20% petani hutan rakyat yang ikut dalam kegiatan kemitraan dan dipilih secara sengaja.740. terutama polusi air permukaan. Pola Swadaya.. demikian juga halnya pendapatan masyarakat dari illegal logging di desa yang berpola kemitraan lebih kecil dari pada di desa yang berpola PMDH baik bagi industri sawmill.0. Kata kunci: Illegal Logging. Hasil penelitian menunjukkan nilai ekonomi air untuk manfaat hidrologis Sub DAS Konto. Pola pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dengan pola kemitraan lebih efektif dalam upaya pencegahan illegal logging dibanding dengan pola PMDH.1 . dan penurunan muka air tanah. namun jenis dan jumlah pohonnya sangat bervariasi. Karena itu. 2006 Nilai ekonomi manfaat hidrologis yang dihasilkan hutan lindung belum diketahui secara luas. Kirsfianti Linda NILAI EKONOMI AIR DI SUB DAS KONTO DAN SUB DAS CIRASEA (The Economic Value of Water in Sub DAS Konto and Sub DAS Cirasea) / Kirsfianti Linda Ginoga . 76. Tujuan dari kegiatan penelitian untuk mengetahui kondisi dan potensi hutan rakyat. dan di Sub DAS Cirasea. potensi sengon terbesar pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi. dan Sub DAS Cirasea. tetapi distribusi pendapatan pada pola kemitraan lebih merata dibanding dengan pola PMDH. penebang kayu maupun pedagang/pengumpul kayu illegal. Untuk itu pemberdayaan masyarakat dengan pola kemitraan dapat terus dilaksanakan dalam upaya pemcegahan illegal logging. [et. Sebaran kelas diameter dan sebaran kelas tinggi tegakan pada pola hutan rakyat adalah sengon. Potensi Kayu Ginoga. Analisis ini menggunakan software Minitab versi 13. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-ekonomi manfaat hidrologis air dari hutan lindung.data yang dikumpulkan berupa (1) Pendapatan masyarakat.873. yaitu di Sub DAS Konto. pola kemitraan dengan pemerintah maupun perhutani jenis tanamannya cenderung monokuler tetapi kondisi tegakannya bagus. Analisis efektifitas dilakukan untuk masing-masing pola pemberdayaan (PMDH dan Kemitraan) dalam mencegah illegal logging dengan mengukur peubah-peubah yang berpengaruh terhadap pola pemberdayaan.512.989/tahun. serta merupakan sumber air utama untuk Perum Jasa Tirta (PJT) I dan PJT II yang merupakan BUMN pensuplai air terbesar di pulau Jawa. Lokasi ini dipilih karena merupakan DAS yang paling banyak memiliki permasalahan. hulu DAS Citarum. Hutan Produksi. Dian diniyati.. dan (4) substitusi usaha illegal logging. Dari beberapa pola pengembangan yang ada. yang mencerminkan nilai minimal manfaat ekonomi air yang dirasakan rumah tangga di hulu DAS yang langsung memanfaatkan air dari sumber mata air hutan lindung.

Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. kajian bertujuan untuk mengkaji konsistensi dan sikronisasi kebijakan tersebut. hanya sebagian kecil dari nilai ekonomi air total yang dikandung oleh kawasan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea karena masih banyak pengguna-pengguna air lain yang lebih besar seiring dengan mengalirnya air. Biaya Pengelolaan. Karena itu kajian ini menyarankan perlunya kebijakan yang jelas dan terarah antara yang dilarang dan dibolehkan. disatu sisi perlu dikonservasi tetapi di sisi lain masih dapat dibudidayakan. Daerah Aliran Sungai (DAS). Kata kunci: DAS. Hasil perhitungan nilai ekonomi air dari manfaat hidrologis yang dihasilkan sebagai fungsi dari keberadaan kawasan hutan lindung di Sub DAS Brantas dan Sub DAS Cirasea ini. Keberadaan hutan lindung menurut peraturan peraturan perundangan masih dilematis. Paling tidak terdapat 84 peraturan yang berkaitan dengan hutan lindung. Kata kunci : Nilai ekonomi. laju penurunan luas dan alih fungsi hutan lindung terus meningkat. kesamaan persepsi tentang istilah yang berkaitan dengan kawasan hutan lindung. Kata kunci: Hutan Lindung. 2006 Penguatan kelembagaan air dalam konteks DAS mensyaratkan apa yang disebut sebagai biaya transaksi (transaction cost) . akan tetapi arah kebijakan pengelolaan hutan lindung masih belum jelas. Hidrologis.. sekaligus mengurangi kemungkinan tingginya biaya transaksi. tidak adanya dualisme antara kebijakan.Kirsfianti BIAYA TRANSAKSI PENGELOLAAN DAS PERSPEKTIF UNTUK SUB DAS CICATIH / Kirsfianti Ginoga. penekanan kewenangan pengelolaan hutan lindung tetap pada pemda/BUMN/D.keberadaan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea yang menghasilkan manfaat hidrologis terhadap rumah tangga.al) . kinerja PPTPA dapat ditingkatkan apabila tidak mengandalkan pengelolaan air saja.Kesepakatan dalam kelembagaan DAS akan tercapai apabila biaya transaksi yang ditimbulkan dari aransemen kelembagaan lebih rendah dari manfaat yang dirasakan bagi setiap stakeholder dalam pengelolaan DAS. Kirsfianti KONTROVERSI KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG / Kirsfianti Ginoga. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. DAS Cicatih Ginoga. Pengelolaan 148 . 2005 Permasalahan hutan lindung Indonesia sudah sangat kritis. pusat-daerah. Sulistya Ekawati dan Deden Djaenudin. Hambatan kelembagaan sumberdaya air dapat diatasi apabila komitmen terhadap kesepakatan dapat ditingkatkan melalui penyebaran biaya dan manfaat yang lebih merata. yang harus ditindaklanjuti oleh departemen sektoral. dengan pengembangan koordinasi antar departemen. dan diperlukannya peraturan (PP atau Keppres) yang memuat perintah kebijakan pengembangan hutan lindung.(et. Pembangunan hutan rakyat dalam bentuk agroforestry diyakini mampu lebih luas menjangkau kantung-kantung konservasi dan preservasi sumberdaya air. dan tidak adanya ego sektoral antara pembuat kebijakan sehingga fungsi kawasan hutan lindung dan manfaatnya dapat dirasakan oleh pihak yang terkait baik di pusat dan daerah secara berkeadilan dan berkelanjutan. pendekatan biaya pengadaan. dimana peraturan tersebut mampu menunjukan adanya Sense of Crisis dalam pengelolaan hutan lindung. Ginoga. termasuk yang mengancam kelestarian kawasannya. 2006 : Halaman 43-53 . Secara khusus diperlukan peraturan perundangan yang mengatur aspek kelembagaan hutan lindung. 13 September 2005 .. Penguatan kelembagaan seperti PPTPA diperlukan untuk mengurangi biaya transaksi dan mencapai kesepakatan multi stakeholders. mengetahui kondisi hutan lindung saat ini. termasuk kelembagaan pusat dan daerah. tetapi kebijakan hutan lindung belum memberikan kepastian arah yang berati. dan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Halaman 77-96 . Hutan Lindung. -. dan merekomendasikan kebijakan pengelolaan hutan lindung yang diperlukan untuk mencapai pembangunan hutan lindung yang berkelanjutan. Kajian ini ingin menjawab bagaimana kebijakan dan peraturan perundangan menjawab permasalahan pengelolaan hutan lindung? Secara lebih khusus. Secara konseptual. tidak adanya overlapping antara kebijakan.

HTI. kaku dan statis telah menjadi penyebab kegagalan kita dalam mencapai cita-cita Hutan Lestari Rakyat Sejahtera. PT. Hanya dengan menerapkan berbagai model Social Forestry dalam pengelolaan lahan dan hutan dengan variasi aspek teknologi. PHBM. kaku. monolog. Kata kunci: DAS. meskipun masyarakat sudah lebih banyak berperan dan memperoleh manfaat. PHBM. kita dapat membangun kelembagaan yang kuat di masyarakat dimana masyarakat menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat dalam membangun hutan lestari yang masih ada dan merehabilitasi hutan dan lahan yang sudah rusak. DAS Cicatih Hakim. -. Pola pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat (PHBM) oleh Perum Perhutani di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita dan pola mengelola hutan bersama masyarakat (MHBM) dan pola mengelola hutan rakyat (MHR) di kawasan produksi HTI Muara Enim oleh PT. target. Pada akhir-akhir ini peran hutan tersebut sering menjadi perdebatan yang kontraversial karena dilakukan pada luasan yang relatif kecil. Pendekatan adaptif seperti ini yang diharapkan mampu mencapai cita-cita ideal dari konsep Social Forestry dalam pengelolaan hutan. Kata kunci: Social Forestry. Kelemahan yang juga sering terjadi adalah pengertian hutan yang tidak sama bagi masyarakat. Ngaloken HUTAN.statis. 2005 Pendekatan pembangunan kehutanan selama ini yang bersifat strukturalkuantitatif. dengan memisahkan negara dari rakyatnya sendiri karena justru rakyat lebih banyak berhasil mengelola lahan miliknya menjadi Hutan Rakyat.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. monolog. Halaman 115-138 . Tata Air. Beberapa pendekatan yang melibatkan para pihak seperti Rapid Rural Appraisal (RRA). Ismatul KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN HUTAN DENGAN PENDEKATAN SOCIAL FORESTRY: STUDI KASUS POLA PHBM DI KHDTK CARITA DAN POLA MHBM DAN MHR DI AREAL HTI PT. aspek manajemen dan aspek sosial budaya (kelembagaan) masyarakat setempat yang bersifat lokal spesifik dan dinamis dari sudut ruang dan waktu. Participatory Rural Appraisal (PRA) dan workshops yang melibatkan semua pihak terkait dapat memberikan masukan kebijakan dan langkah yang tepat dalam membangun model-model Social Foestry dan menerapkannya di lapangan. MHR. Oleh karena itu. pendekatan yang bersifat kultural-kuantitatif merupakan sebuah konsekwensi logis yang harus dterapkan di masa mendatang. 13 September 2005 . DAN KELESTARIAN DAS CICATIH / A. Musi Hutan Persada (MHP) masih bernuansa pendekatan struktural-kuantitatif dari atas ke bawah. Ngaloken Gintings. 2006 Peran hutan dalam menjaga kesuburan tanah dan mengatur tata air dalam suatu DAS sudah banyak dibuktikan. Konsultasi Multipihak. aspek manajemen dan aspek sosial budaya kelembagaan pada tingkat mikro. MHP MUARA ENIM / Ismatul Hakim.Musi Hutan Persada 149 . -. orientasi. berorientasi target. proyek. Demikian juga peran tanaman sejenis dalam mengatur kesuburan tanah dan tata air akan lebih kecil dibanding dengan kawasan yang hutannya merupakan tanaman campuran dengan tajuk berlapis.Gintings. dan orientasi jangka pendek. proyek. Tanaman hutan yang berada di daerah yang miring dan dibawahnya ditanami ubi kayu akan mendatangkan erosi yang cukup besar di musim penghujan. KHDTK Carita. 2006 : Halaman 55-61 . Model pengelolaan kawasan hutan ke depan harus merupakan model adaptif dalam bentuk pendekatan yang konprehensif. Sejak awal kita harus berani memulai menerapkan berbagai alternatif model Social Forestry yang merupakan hasil optimal kombinasi berbagai pertimbangan aspek teknologi. Kita tidak memerlukan pendekatan arogansi birokrasi dan kekuasaan yang tersembunyi di balik istilah negara. A. Akan tetapi kedua pola ini sudah menunjukan kemajuan besar dalam pembangunan dan pengelolaan hutan dimana pihak pengelola utamanya sudah banyak melibatkan banyak pihak terkait (stakeholders) dan memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan masyarakat dan pedesaan.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Bagaimana peran hutan dalam mengatur tata air dan bagaimana kelestarian DAS Cicatih dapat dicapai akan dibahas dalam tulisan ini. Bukti-bukti bahwa di areal yang hutannya lebat juga pernah terjadi banjir dapat dimengerti tapi frekuensi banjir di daerah yang tidak berhutan akan lebih banyak dibanding dengan daerah yang berhutan. TATA AIR.

Peran dan fungsi hutan dalam bentuk kawasan tetap dan tutupan vegetasi hutan di kabupaten Pandeglang propinsi Banten seharusnya dapat dipahami secara tepat dan benar oleh semua pihak baik pemerintah (PEMDA. Ismatul PENGUATAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT: SEBUAH SOCIAL CAPITAL BAGI MASA DEPAN KEHUTANAN INDONESIA / Ismatul Hakim.DPRD. Disamping itu. Untuk memperkuat pola dan kelembagaan pengelolaan Hutan Rakyat secara lestari. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan berbagai peraturan operasional di bawahnya. (3) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan. Kata kunci: Hutan Rakyat. BUMD. Dalam konteks desentralisasi sektor kehutanan di daerah. Peraturan Pemerintah. maka para pihak di daerah harus dapat memahami berbagai peraturan perundangan terkait seperti Undang-undang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya No: 5 tahun 1990 dan Undang-undang Pokok Kehutanan No.Adanya pertumbuhan budaya menanam yang demikian tinggi seperti Hutan Rakyat di masyarakat ini harus terus ditumbuhkembangkan oleh pemerintah dengan memberikan dorongan insentif dan kemudahan bagi pengembangan Hutan Rakyat di masa mendatang. meningkatkan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Istilah Hutan Rakyat masih erupakan rekayasa dari atas yang tidak dikenal masyarakat. Lembaga atau Organisasi Kemasyarakatan maupun kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam hutan dan lahan dalam membuat peraturan perundangan dan kebijakan seperti PERDA. Hutan Rakyat di beberapa daerah di Pulau Jawa seperti di Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten.2006 . 41 tahun 1999. Swasta). segi pengaturan tata iklim dan cuaca (udara) atau Clean Development Mechanisms (CDM). khususnya industri kehutanan. yang jelas masyarakat/petani sudah dapat meghasilkan kayu yang berasal dari lahan miliknya sendiri dan dikelola dengan modal sendiri. dan (5) pemantapan kawasan hutan. 2006 Hutan rakyat yang tumbuh di Indonesia khususnya di Pulau Jawa merupakan hasil perpaduan antara budaya lokal/tradisional masyarakat/petani dalam menanam pohon dengan budaya baru yang mengandung muatan teknologi dan manajemen pohon yang lebih berorientasi pasar dan industri. Kelompok Usaha Bersama Ekonomi (KUBE dan Koperasi Tani) yang benar-benar tumbuh dan diciptakan dari masyarakat sendiri secara alami agar bisa lebih berdaya.Hakim. perlu adanya dukungan kebijakan. dan pihak terkait lainnya). 2006 Peranan hutan sebagai kawasan maupun sebagai tutupan vegetasi masyarakat pepohonan pada sebuah hamparan lahan sangat penting dalam mendukung kelestarian ekositem suatu daerah baik dari segi penataan air (hidro-orologis).Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Social Capital Hakim. sehingga merupakan social capital penting bagi penguatan kelembagaan sektor kehutanan ke depan. dunia usaha (BUMN. Surat Keputusan Bupati. Peraturan Bupati. Halaman 109-118 . (4) pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan. -. kesempatan usaha. segi pegaturan sosial ekonomi dan segi pertahanan sosial budaya masyarakat setempat. Surat Keputusan Kepala Dinas lainnya. (2) revitalisasi sektor kehutanan. Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat dan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah telah mampu mendorong pertumbuhan kesempatan kerja. Halaman 22-42 . RAPERDA/PERDA yang diajukan harus sejalan dengan isi dan substansi yang ada dalam peraturan perundangan tersebut termasuk 5 (lima) prioritas program yang sudah dicanangkan oleh Departemen Kehutanan yaitu prioritas program pembangunan kehutanan terdiri dari : (1) pemberatasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal. Ismatul KAJIAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM KONTEKS DESENTRALISASI : STUDI KASUS DI KABUPATEN PANDEGLANG. Isi dan kandungan daripada PERDA bidang kehutanan harus menampung dan menyerap berbagai permasalahan dan potensi aktual yang terjadi di tingkat kebijakan dan tingkat operasional lapangan baik horizontal maupun vertikal. Pengaturan yang berbelit belit terhadap peredaran dan pemasaran hasil kayu dari masyarakat akan menjadi disincentive bahkan distorsi dalam menumbuhkan budaya menanam pohon di masyarakat.2006 . Pandangan dan pemahaman yang sama dari pihak Pemerintah Daerah atau Pemerintah Propinsi dengan 150 . Perguruan Tinggi. PROPINSI BANTEN / Ismatul Hakim. -. pengaturan kelembagaan usaha di tingkat petani dalam bentuk Kelompk Tani.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.

Dengan demikian pengelolaan DAS dapat ditinjau dari sudut pandang fisik maupun institusi sehingga kegiatan dan kebijakan pengelolaan DAS yang perlu ditempuh tidak hanya mendasarkan pada indikator fisik. padahal dampak yang ditimbulkan mengikuti batas alam/ekosistemnya yang tidak mengenal batas administrasi. Pendayagunaan salah satu atau beberapa unsur/komponen akan mempengaruhi komponen lainnya di dalam DAS dan dapat menimbulkan perubahan dari keadaan alaminya sehingga terjadi gangguan keseimbangan atau gangguan ekologis yang menunjukan terjadinya degradasi DAS. Daerah Aliran Sungai merupakan megasistem kompleks yang terbangun atas sistem fisik. kab. Anggota kelompok tani pada umumnya mempunyai kebun di luar kawasan hutan Gmelina yang dikelola secara terpisah berupa kebun coklat. sinkronisasi. Untuk menambah sumber pendapatan selain dari sektor kehutanan. Perencanaan pengelolaan DAS Hayati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengelolaan hutan rakyat dilakukan dalam bentuk monokultur tanpa tanaman pendamping. sedangkan manusia menjadi subyek atau pelaku pendayagunaan unsur-unsur tersebut (Murtilaksono. Wuri PENDEKATAN SIMULASI HIDROLOGI DALAM PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS / Wuri Handayani dan Gunardjo Tjakrawarsa.1 . Dengan pemahaman yang sama dan dukungan yang kuat antara semua pihak terkait dalam proses penyusunan sebuah perangkat peraturan dan perundangan seperti PERDA bidang/sektor kehutanan akan melahirkan komitmen dan tanggung jawab yang kuat semua dalam pencapaian misi dan visi serta penerapan substansi penguatan sektor kehutanan di daerah. Nur POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Nur Hayati. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner.pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan akan mampu mendorong kemantapan sektor kehutanan di daerah secara sinergis antara para pihak di daerah. Banten Handayani. dan setiap sub sistem saling berinteraksi (Kartodihardjo. dan air. 2005). Hidrologi. dianalisis dan dibahas dengan metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Kecamatan Pitu Riawa Provinsi Sulawesi Selatan. Tulisan ini akan memberikan gambaran penggunaan simulasi hidrologi dalam perencanaan pengelolaan DAS. 1987). vegetasi. umumnya menjadi obyek atau sasaran fisik alamiah. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. rata-rata petani memiliki lahan pertanian atau empang ikan yang dikelola secara terpisah di luar kawasan hutan rakyat atau bekerja di luar sektor kehutanan dan Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) / 151 . sistem biologis dan sistem manusia. Desentralisasi. tetapi keberhasilannya sangat didukung oleh adanya kelembagaan untu mewujudkan koordinasi. dan Sinergi. Pemanfaatan sumberdaya alam sebagai input pembangunan wilayah pada masa kini masih lebih banyak menekankan pada batas-batas yang bersifat politis atau administratif. sehingga dapat dicapai pengelolaan yang rasional untuk mencapai keuntungan optimal yaitu dalam waktu tak terbatas dan resiko kerusakan minimal. Kata kunci: DAS. Unsur penyusun sistem di dalam DAS tersebut antara lain berupa sumberdaya alam seperti tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengelolaan lahan kritis bersama masyarakat pada areal hutan rakyat. Dalam tulisan ini juga diberikan contoh aplikasi simulasi (model) hidrologi dikaitkan dengan penutupan/penggunaan lahan sehingga dapat diketahui pengaruh perubahan penutupan/penggunaan lahan terhadap perubahan hasil air DAS. beberapa tujuan penggunaannya dan manfaat yang diperoleh. Hidrolologi adalah indikator yang sangat signifikan untuk mengetahui adanya degradasi DAS seperti terjadinya erosi. integrasi. Halaman 13-21 . Pandeglang. longsor dan sedimentasi serta distribusi aliran yang tidak seimbang/merata (timbulnya banjir dan kekeringan). Data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasi. 2006 Penelitian ini dilakukan terhadap anggota Kelompok Tani Hutan ”Bulu Dua” yang mengelola hutan rakyat di Desa Lasiwala. 2006 : Halaman 123-143 . Kata kunci: Kebijakan Kehutanan. -. jambu mete dan kelapa. Namun pendekatan pengelolaan DAS dalam perencanaan pembangunan wilayah masih belum populer/jarang digunakan dibanding pendekatan lainnya. menjadikan pengelolaan DAS merupakan pendekatan yang penting dalam perencanaan pembangunan wilayah. 2006 Ketertarikan komponen biofisik DAS dan kepentingan ekonomi wilayah. Pengelolaan DAS adalah pengelolaan berbagai sumberdaya alam yang terdapat di dalam satuan DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi budaya yang berkembang di dalam DAS.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.

waktu yang sesuai. 6 Desember 2006 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. untuk tahun-tahun ke depan selain penanaman dilakukan oleh daerah. untuk melakukan koordinasi dengan para petani khususnya dalam melakukan pembinaan. Rehabilitasi lahan. Mengambil contoh pengelolaan Hutan Tanaman Industri. Hasil penelitian di Propinsi Kalimantan Tengah menunjukan bahwa untuk daerah-daerah (Kabupaten dan Kota) yang tidak membuat Peraturan Turunan dari Peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. Dampak lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya program hutan rakyat adalah lingkungan (iklim mikro) yang lebih baik. Salah satu upaya yang dianggap tepat dalam memecahkan masalah ini adalah dengan melalui kemitraan. perencanaan dan prioritas lokasi perlu diperhatikan. agar rantai birokrasinya lebih pendek. Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. BP DAS Jeneberang Walanae dan LSM Yagrobitama. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. erosi dan tanah longsor. -. Kata kunci : pengelolaan. Kresno Agus MENINGKATKAN KEMITRAAN PENGELOLAAN DALAM HUTAN TANAMAN INDUSTRI: BEBERAPA KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN/ Kresno Agus Hendarto dan Krisdianto. Meminimalisasi pihak-pihak yang terlibat dalam GERHAN. Kemitraan Pengelolaan Hendarto. tulisan ini mencoba untuk menggambarkan tentang bagaimana pola kemitraan yang telah dilakukan dan apa saja kebijakan yang dapat ditelurkan agar proses kemitraan ini dapat terus berlanjut. Kebijakan 152 . hal ini dapat diteruskan karena masing-masing daerah mempunyai ciri karakteristik yang berbeda. Halaman 161169 . Halaman 63-77 . lahan kritis Hendarto. Kemitraan dilakukan antara pengusaha besar dan kecil. Kresno Agus KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kresno Agus. tidak ada tanah gersang dan lahan kering yang berupa alang-alang. kejelasan setelah kegiatan proyek selesai. Oleh karena itu kajian kebijakan pemerintah tentang rehabilitasi hutan dan lahan sangat diperlukan. hutan rakyat. Sedangkan untuk daerah yang telah membuat Peraturan Turunan dari peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. dan usaha kecil/koperasi. Hasil sensus ekonomi tahap III menunjukan bahwa pengusaha besar jumlahnya di bawah 1 persen. 2005 Kebijakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) bertujuan untuk menanggulangi dan mengurangi laju penambahan lahan kritis. Kepastian jumlah dan waktu penyerahan bibit dari BPDAS agar pasti sehingga dapat memudahkan merencanakan kegiatan. dalam hal ini Dinas Kehutanan Kabupaten Sidrap. 13 September 2005 . Struktur organisasi kelompok tani termasuk dalam kategori organisasi modern. Adanya wadah kelompok tani ini semakin mempermudah pemerintah daerah. serta standar biaya antara satu daerah dengan daerah lainnyapun menentukan baik tidaknya kegiatan rehabilitasi. Selain itu secara keseluruhan. yaitu Pemerintah swasta. 2006 Ada tiga pilar pelaku ekonomi yang diamanatkan di UUD 1945. Pendanaan untuk inventarisasi dan identifikasi sosekbud masyarakat dan perencanaan teknis dapat disalurkan minimal pada tahun T-1. bibit juga diusahakan oleh daerah.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.pertanian. antara yang kuat dan yang lemah. Namun demikian ada beberapa kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang masih belum sinkron dan terintegrasi dengan kebijakan GERHAN. tetapi menguasai 70 persen Produk Domestik Bruto. -. maka turunnya dana sebaiknya pada awal tahun anggaran. Seandainya memungkinkan.

000.000 Ha) memiliki nilai penting dan fungsi yang sangat strategis dalam mendukung sistem penyangga kehidupan serta mendukung pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. Aneka Prawesti Suka. Sedangkan yang dimaksud kelompok utara adalah kelompok masyarakat dalam bentuk badan usaha (koperasi) yang memiliki ijin HPHH 100 ha. Kata kunci: Illegal Logging. Berdasarkan pelaku illegal logging dibagi 2 kelompok.000. Pada masyarakat biasa pemungutan rotan dilakukan secara individual. yaitu sistem penjualan langsung (cash and carry) dan sistem ijon (rentenir). -. (2) Pelaku illegal logging. 4. khususnya Provinsi Kalimantan Barat. 13 September 2005 . kegiatan pemungutan memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pemungut dan pemungutan yang dilakukan sangat memperhatikan kelestarian terutama yang dilakukan oleh masyarakat adat (Suku Kubu) Kata kunci : rotan. Kayu hasil illegal logging biasanya dilempar keluar untuk menghindari pencekkan dan kontrol. Dodi Frianto.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Halaman 189-196 .Hendarto. 2005 Dengan kata yang ringkas. yaitu darat dan air. -. merupakan pekerjaan utama bersama-sama dengan pengumpulan hasil hutan non kayu lainnya. -. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya illegal logging adalah akibat kombinasi faktor sosial ekonomi (kemiskinan mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya hutan). Kresno Agus POTRET ILLEGAL LOGGING DI PROPINSI RIAU: STUDI KASUS PERUBAHAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DAN LEMBAGA EKONOMI DESA / Kresno Agus Hendarto dan Aneka Prawesti Suka. pemungutan. Sedangkan pada Suku Kubu pemungutan dilakukan secara berkelompok. Kegiatan illegal logging saat ini marak terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu dan mulai mengancam kawasan konservasi Taman Nasional Betung Kerihun.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No..000 – Rp. dan (3) Sistem jual beli. Henti Hendalastuti R. tulisan ini memcoba memberi gambaran singkat/memotret dampak dari kegiatan illegal logging terhadap perubahan peran kelembagaan yang ada. menggunakan metode sample bertujuan. Kelompok selatan adalah illegal logging yang dilakukan oleh masyarakat di luar masyarakat adat secara individual atau berkelompok.. Berdasarkan jalur pengangkutan kayu dibedakan dalam 2 jalur.200. dan mampu menghasilkan pendapatan Rp. Illegal logging adalah logging atau penebangan kayu di Taman Nasional atau kawasan konservasi lain. kelompok pemungut Indartik ILLEGAL LOGGING DI TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK) DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI/ Indartik. Mengambil lokasi di propinsi Riau. faktor hukum dan 153 .. Halaman 75-85 . 2. Kelembagaan Hidayat. Pengujian faktor dominan dilakukan dengan metode ”one pair comparasion” Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya perbedaan beberapa aspek penelitian pada dua kelompok pemungut. dan (3) Upaya-upaya apa yang telah dilakukan untuk mencegah praktek illegal logging?.200.2 .Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. Dari hasil penelitian tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan petani/kelompok tani pemungut/pengumpul.per bulan. 2) Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya illegal logging?. Hasil pembahasan memperlihatkan pola illegal logging di TNBK dibedakan berdasarkan : (1) Jalur pengangkutan kayu. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pola praktek illegal logging di TNBK.000 – Rp. Perkembangan lanjut dari praktek illegal logging ini dalam praktek jual beli dikenal 2 sistem. Halaman 91-107 . dan dengan analisis studi kasus deskriptif. 3. yaitu kelompok selatan dan utara. tanpa ijin dari pemerintah (yang oleh negara diserahi tanggung jawab untuk mengurus). Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kegiatan illegal logging memberikan dampak perubahan terhadap peran lembaga sosial yang ada di lokasi illegal logging. Propinsi Riau. Nunung Parlinah. 2006 Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sebagai salah satu taman nasional dengan areal yang cukup luas (800. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola dan aspek-aspek pemungutan rotan pada dua kelompok pemungut yaitu masyarakat biasa dan masyarakat adat/Kubu yang dikenal dengan sebutan Suku Kubu.000.2 . Asep ANALISIS PEMUNGUTAN ROTAN PADA DUA KELOMPOK MASYARAKAT PEMUNGUT (analysis of rattan Collection on Two Group Collector)/ Asep Hidayat. umumnya berstatus sebagai pekerjaan sampingan dan mampu menghasilkan pendapatan Rp 33.per bulan. Rute darat terbagi menjadi jalur utara (Malaysia) dan jalur selatan (Pontianak).

Industri Marmer. Mengelola jasa wisata alam dengan baik dapat menjadikannya sebagai sumber Penerimaan Daerah yang dapat diandalkan. kelembagaan 154 . Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam menanggulangi illegal logging diantaranya : Operasi Wanalaga. dan penduduk desa setempat. Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. Penambang pasir/pasir silika/batu gunung /emas. 4. Setiasih KAJIAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG DI SULAWESI SELATAN/ Setiasih Irawanti. bahari serta budaya. Pemerintah Kabupaten Maros dapat menghimpun Penerimaan Daerah dari Taman Wisata Alam Bantimurung yang makin meningkat dari tahun ke tahun. namun dipandang kurang sejalan dengan kebijakan penunjukan kawasan kars tersebut sebagai kawasan konservasi. Keberadaan gua-gua di kawasan tersebut merupakan potensi untuk pengembangan obyek wisata alam. partisipatif. Dinas Pariwisata Kabupaten. Dinas Pariwisata. Pemerintah Pusat melalui Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Balai Perpetaan Kawasan Hutan Sulawesi Selatan. Efektivitas penanggulangan illegal logging melalui pendekatan keamanan tersebut sampai saat ini dirasakan masih belum efektif. Kantor Pengelola Kawasan Bantimurung. Pabrik semen Bosowa (konsesi 1. Pemerintah Kabupaten Pangkep dan jajarannya.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Pemerintah Daerah (PEMDA) Sulawesi Selatan membuka peluang untuk berinvestasi pada usaha pariwisata alam. Stakeholder primer yang perlu diperhatikan kepentingan dan partisipasinya dalam menyusun rencana pengelolaan TN BantimurungBulusaraung adalah: 1. Dengan menyediakan sarana prasarana fisik dan kelembagaan. 2. dan penambangan pasir/pasir silika/batu /batu gunung/semen/emas di Kabupaten Pangkep.kebijakan (reformasi dan otonomi daerah). Pabrik Semen Bosowa. dapat memberi kontribusi pada Penerimaan Daerah. saling menguntungkan. Pengembangan wisata alam di Sulawesi Selatan dapat menjadi pengungkit bagi berkembangnya pemanfaatan jasa lingkungan terutama wisata alam yang ada di desa-desa sekitar TN BantimurungBulusaraung.1 . Pola Illegal Logging Irawanti. adil. faktor sosial budaya (pergeseran tata nilai di masyarakat yang cenderung materialistis) dan permintaan kayu (Permintaan kayu tinggi). Di kawasan TN masih ditemui pemukiman penduduk dari desadesa sekitarnya sehingga perlu dipertimbangkan dalam proses pengukuhan khususnya penataan batas. Dinas Pariwisata Provinsi telah menjalin kerja sama dengan sejumlah biro perjalanan wisata dan menyediakan paket-paket wisata. saling percaya.354.7 Ha s/d 50 Ha). Bila pengelolaan TN Bantimurung-Bulusaraung dilakukan secara kolaboratif /kemitraan. Selain sejalan dengan penunjukkan kawasan kars Bantimurung-Bulusaraung sebagai TN. Illegal logging. Halaman 39-57 .7 Ha). Pemerintah Kabupaten Maros dan jajarannya.Di Kabupaten Maros 6 diantara 10 obyek wisatanya. sehingga menjadi peluang kerja dan berusaha untuk memberdayakan masyarakat serta sebagai sumber Penerimaan Daerah. 18 industri marmer (konsesi 2. patroli PolHut dan sarasehan multi pihak dalam mencari solusi penanggulangan illegal logging. stakeholder yang akan berkolaborasi memiliki kepentingan yang beragam sehingga perlu dibangun kesepahaman. Pabrik Semen Tonasa. Biro Perjalanan Wisata 3. ada peluang bagi masyarakat dan perlu pendampingan Kata kunci: Bantimurung-Bulusaraung. serta di Kabupaten Pangkep 2 diantara 7 obyek wisatanya. potensi dan permasalahan sosial ekonomi dan kelembagaan yang ada di lokasi Taman Nasional (TN) BantimurungBulusaraung sebagai masukan dalam proses penyusunan rencana pengelolaannya. Industri Marmer. Hal ini diindikasikan dengan masih maraknya illegal logging.7 Ha s/d 50 Ha) di Kabupaten Maros. dan penduduk desa setempat. -. serta dalam proses penataan hutan khususnya zonasi kawasan. Kata Kunci : TNBK. konservasi. serta pabrik Semen Tonasa (konsesi 1. berada di desa-desa yang berbatasan dengan TN. pemanfaatan jasa wisata alam dapat menjadi alternatif pengganti pemanfaatan tambang yang kurang mendukung upaya konservasi. pelaku usaha tambang lainnya. 2006 Tujuan kajian sosial ekonomi dan kelembagaan ini adalah memperoleh data dan informasi mengenai kondisi.000 Ha) dan 11 industri marmer (konsesi 2.

Untuk kabupaten Sukabumi. Hutan mangrove di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis termasuk hutan produksi (HP) kelas hutan alam kayu lain tak baik untuk jati (HAKLTB).241. 2005 Kawasan Pelestarian Alam yang boleh dimanfaatkan untuk pariwisata alam sebanyak 41 lokasi di kawasan Taman Nasional. 17 lokasi di kawasan Taman Hutan Raya dan 102 lokasi di kawasan Taman Wisata Alam (Dephut. konsultasi dan pengamatan lapangan.000. Usaha mengembangkan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) untuk hutan mangrove oleh KPH Ciamis baru dalam tahap wacana. 2003). Proyek Rehabilitasi dan Konservasi Segara Anakan. 34. Data keberadaan dan luas hutan mangrove di Kabupaten Ciamis sangat bervariasi namun dilaporkan sebagian besar berada di Desa Pamotan.Irawanti. tahun 2002 sampai 2005. Besarnya PAD dari pajak air ini masih belum sepenuhnya kembali kepada pengelolaan konservasi air. Seluruh hutan mangrove di KPH Ciamis kini tengah menghadapi bencana kepunahannya. namun di dalamnya telah dipenuhi patok-patok klaim hak atas lahan dari masyarakat setempat.450. sosial.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. dalam kawasan hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani.000. Karyono. Kata kunci: Sumberdaya Air. sehingga mereka beralih profesi menjadi petani padi. aksesibilitas sangat baik. Kuncoro Ariawan. Karena itu bagaimana agar dampak pemanfaatan air ini kembali kepada konservasi air perlu mendapat perhatian lembaga yang berwenang. dan politis. Masih 40% hutan mangrove di KPH Ciamis berupa rawa atau semak belukar. Prasmadji Sulistyanto .-. Kata kunci : Mangrove.152. -.214. serta Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mengkonservasi Segara Anakan dan hutan mangrove desa Pamotan di wilayah hilir DAS Citanduy.370 orang dengan kemampuan investasi AMDK antara Rp. salah satunya adalah pajak air bawah tanah (PABT) dan pajak air permukaan (PAP).Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 1. Karakteristik laut dan pesisir sangat terbuka. OK PELUANG PENGUSAHA BERINVESTASI DI SEKTOR PARIWISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI / O.000 dan pajak air permukaan mencapai Rp.000. sehingga keberadaannya sangat berarti bagi lingkungan dalam arti luas. 27. Kabupaten Sukabumi Karyono. Perlu pula dirintis kerjasama antara Perum Perhutani khususnya KPH Ciamis. Pemda Sukabumi dan ASPARDIN.K. 2006 : Halaman 209-217 .000 s/d Rp. dan deskriptif. berbagai fungsi ekologi.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. KPH Ciamis memberi perhatian atas hutan mangrovenya setelah sebagian dikonversi oleh masyarakat setempat menjadi persawahan dan pemukiman penduduk. selama empat tahun terakhir. Pemanfaatan sumberdaya air melalui industri air minum dalam kemasan (AMDK) membuka kesempatan berusaha terhadap 28 perusahaan dan membuka kesempatan kerja sebanyak 2. pengumpulan data menggunakan metoda pencatatan. penerimaan pajak air bawah tanah mencapai Rp. namun selama hampir 30 tahun belum dilakukan pengelolaan atau pengusahaan sebagaimana mestinya sebuah kawasan hutan sehingga terkesan sebagai lahan tidur. -. Setiasih HUTAN MANGROVE CIAMIS YANG TERABAIKAN / Setiasih Irawanti . 2006 Ekosistem mangrove dengan berbagai jenis vegetasi penyusunnya memiliki karakteristik khas. banyak kebijakan daerah yang diluncurkan dalam upaya menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD). dengan hasil sebagai berikut. Halaman 205-217 . terutama pengelola hutan lindung dan kawasan konservasi. -. Pola investasi yang diterapkan pada pengembangan pariwisata alam 155 . evaluatif.3 . Perhutani Karyono DAMPAK PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SUKABUMI / Karyono dan Kirsfianti Ginoga. 13 September 2005 . Halaman 197-203 . 2006 Setelah diberlakukannya otonomi daerah tahun 1999.000. serta metoda analisis tabulasi. karenanya ekosistem mangrove menghadapi ancaman sangat berat dari berbagai sektor atau stakeholder. Penelitian dilakukan pada awal tahun 2006 di Kabupaten Ciamis. Konversi hutan mangrove tersebut oleh penduduk setempat menjadi lahan persawahan padi dan pemukiman dilakukan karena hasil tangkapan ikan nelayan Pamotan kian hari kian menurun akibat pendangkalan dan penyempitan Segara Anakan. dengan cara melakukan rehabilitasi dan konservasi wilayah hulu DAS Citanduy. Beragamnya data dan informasi tentang keberadaan hutan mangrove di Ciamis menarik perhatian untuk dikaji. Ciamis. ekonomi. strategis dan kaya sumberdaya alam. 220. Pendapatan Asli Daerah.

Kata kunci: Pariwisata Alam.. 2006 Hutan dan lahan sebagai sumberdaya alam merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Pengasih. 28 buah pada kawasan Taman Wisata Alam (TWA).356. diperlukan upayaupaya untuk memulihkan dan mempertahankan fungsinya kembali. Unit Percontohan Upaya Pelestarian Sumberdaya Alam (UP UPSA). sementara tingkat kesejahteraan dan pendidikan masih rendah. 1.Dari jumlah ini. 2006 Luas hutan rakyat di Kabupaten Ciamis lebih kurang 24. Juni 2004 adalah 43 perusahaan. Pendapatan Asli Daerah. pengembangan hutan rakyat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal maupun regional melalui kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dari hulu sampai hilir. Taman Nasional. 15 buah pada kawasan Taman Nasional. Karyono KONTRIBUSI HUTAN RAKYAT DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD): STUDI KASUS KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT / Karyono dan Dian Diniyati. masih terbuka peluang bagi investor/pengusaha untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata alam. Dilihat dari jumlah kawasan konservasi yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam dengan jumlah taman nasional yang sudah ada pengusahanya. dan Jati. 19/2004) sebesar 0. maka petani dapat merasa diringankan beban ekonominya dari hasil penjualan kayunya dan pemerintah daerah dibantu untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya melalui retribusi dan pungutan sah lainnya. Kegiatan RHL baik melalui kegiatan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL).pengkayaan tanaman.35 persen.44 ha (9. -.14 m kubik. Melalui pengembangan hutan rakyat. Perda No. embung. Halaman 134-141 . Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK). Halaman 1-7 . Dalam peredaran kayu di kabupaten Ciamis selama 3 tahun terakhir dokumen angkutan kayu rakyat (SKSHH) mencapai 52. Ciamis. Mahoni.memberikan kesempatan berusaha di bidang pariwisata alam yang bersifat komersial terutama BUMN. Ciamis yang tersebar di 37 kecamatan dan didominasi oleh jenis kayu Albazia. Produksi dan peredaran kayu rakyat selama 5 tahun terakhir (2002 s/d 2005) mencapai 504.d. sumur resapan.534 dokumen. Di era otonomi daerah. Jumlah pengusaha/investor yang menanamkan modalnya di sektor Pariwisata Alam s.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.089. sehingga dapat terus lestari dan mendukung terwujudnya masyarakat sejahtera. Oleh 156 . Tekanan-tekanan ini masih sering dijumpai dalam pengelolaan sumberdaya alam terutama hutan dan lahan akibat belum mempertimbangkan kelas kemampuan lahan dan penerapan teknik konservasi yang baik dan benar. Kata kunci: Hutan Rakyat. Dewasa ini. Pemanfaatannya harus dilaksanakan secara hati-hati dan bijaksana.Jumlah modal yang diinvestasikan oleh pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) dalam kegiatan pariwisata alam tercatat Rp.2006 . Kawasan konservasi sebab itu dalam tulisan ini dikaji sejauhmana kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan asli daerah.3 milyar. Ditambah lagi dengan adanya krisis multidimensi yang berkepanjangan yang menyebabkan berbagai konflik kepentingan dalam pemanfaatan hutan dan lahan serta masih rendahnya peran aktif masyarakat umum terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan.49 persen) dari luas Kab. yang biasa dikenal dengan upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL).BUMD. Jawa Barat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tasikmalaya. terjadi degradasi kawasan hutan dan lahan sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. kegiatan yang dibiayai oleh APBD II dan swadaya masyarakat dilaksanakan melalui kegiatan pembibitan/pembuatan persemaian. dan lain-lain adalah upaya memulihkan atau memperbaiki kembali lahan kritis di luar kawasan hutan agar dapat berfungsi sebagai media produksi dan pengatur tata air yang baik serta mempertahankan dan meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan peruntukkannya.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. 6 Desember 2005 . dan Koperasi serta kepada pihak-pihak tertentu (PMDN dan PMA) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dari produksi dan peredaran kayu di kabupaten Ciamis pada tahun 2005 memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) melalui pungutan-pungutan atau retribusi (Leges. Terhadap kondisi tersebut di atas. pembangunan Hutan Rakyat/Kebun Rakyat. Taman Wisata Alam. -.301.57 m kubik dengan rata-rata per tahun 126.

Laju kerusakan hutan dan lahan sebagai akibat pemanfaatan hasil hutan kayu secara berlebihan meningkat dengan cepat. erosi. Tasikmalaya Hutan Rakyat. 2006 Kondisi Industri Kehutanan saat ini dan di masa yang akan datang sangat bergantung dari pembangunan HTI (Hutan Tanaman Industri). Halaman 14-21 . Kata kunci: Pembangunan hutan.Kata kunci: Pembangunan Hutan. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. berbasis masyarakat. ekologi.) SEBAGAI BAHAN BAKU MEBEL/ Krisdianto dan Kresno Agus Hendarto. Pada intinya dicapai dalam pembangunan kehutanan adalah suatu sistem pengelolaan hutan yang mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi. Kemasyarakatan. Halaman 8-13 . -. Tulisan ini disajikan untuk memberikan gambaran tentang kebijakan pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di kabupaten Ciamis. Hutan rakyat (hutan hak/milik) dapat memberikan kontribusi terhadap penyediaan bahan baku kayu dan non kayu bagi rumah tangga dan industri yang semakin terbatas dihasilkan dari hutan negara.).Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Halaman 151-159 . 6 Desember 2005 . 6 Desember 2005 . Kab. kekeringan). penjarahan dan perambahan hutan. Kab.Tasikmalaya Hutan Rakyat. Hal ini tampak dari penggunaan kayu mangium dalam industri pengolahan mebel dan pertukangan di sentra industri mebel Jawa 157 . Pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan menjadi sangat penting dan strategis dalam mewujudkan pembangunan kehutanan sebagaimana tersebut di atas. yang berakibat merosotnya kualitas lingkungan (banjir. Hutan Krisdianto PEMANFAATAN KAYU MANGIUM (Acacia mangium Willd. Hutan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN CIAMIS / Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. berorientasi lingkungan. Kemasyarakatan. Disisi lain tingkat kesejahteraan masyarakat disekitar hutan sangat rendah yang semakin menambah laju kerusakan hutan akibat pencurian kayu. Salah satu jenis yang telah dikembangkan dalam areal HTI adalah kayu mangium (Acacia mangium Willd. kebijakan. Kata kunci: Pembangunan hutan. Tujuan pembangunan HTI adalah memenuhi kebutuhan kayu sebagai pulp dan kertas juga telah digunakan sebagai bahan baku mebel dan kayu pertukangan. -. Namun demikian model pembangunan kehutanan saat ini juga telah memberikan dampak yang banyak merugikan yang kita rasakan dewasa ini.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. kebijakan. 2006 Paradigma pembangunan kehutanan nasional dewasa ini telah mengalami perubahan yang cukup mendasar dari yang semula dititikberatkan pada pengelolaan kayu dan komoditi. Hutan mengganggu fungsi hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. 2006 Pembangunan Hutan Rakyat yang sejalan dengan landasan utama penyelenggaraan kehutanan dapat berfungsi sebagai penanggulangan lahan kritis. Kebijakan.Selain dapat menekan illegan loging hutan rakyat yang sudah berkembang sejak lama di kalangan masyarakat Jawa barat juga dapat memenuhi kebutuhan produksi kayu yang belum terpenuhi dari hasil hutan. bersifat desentralistik dan berkeadilan. sedangkan hutan kemasyarakatan yang merupakan hutan negara yang sistem pengelolaan bersama-sama masyarakat memberikan peluang usaha bagi masyarakat di dalam kawasan hutan tanpa Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI PROPINSI JAWA BARAT / Kepala Dinas Kehutanan di Propinsi Jawa Barat. serta mempunyai peran dalam merehabilitasi lahan-lahan kritis di luar kawasan hutan. Propinsi Jawa Barat Rakyat. serta bersifat sentralistik menjadi pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya hutan. 6 Desember 2006 . Sebagai salah satu sektor pembangunan yang sangat strategis selama dekade terakhir sektor kehutanan telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi nasional. Hutan Kemasyarakatan. Permasalahan ini semakin lama semakin komplek yang saat ini pada umumnya belum dapat diselesaikan secara tuntas. dan sosial secara berimbang.

2006 Kelembagaan dalam pengembangan hutan kemasyarakatan pada umumnya merupakan suatu perkumpulan petani yang anggotanya mempunyai kesamaan kepentingan dan kondisi lingkungan baik sosial. kebakaran hutan Kusumedi. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. perladangan berpindah. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.66. dan budaya berburu. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung. dan Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. SULAWESI SELATAN / Priyo Kusumedi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. perladangan berpindah.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. dan budaya berburu. keserasian.0. -. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR) / Rahman Kurniadi . Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA MIO DAN DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR)/ Rahman Kurniadi . Kayu mangium merupakan kayu dengan kelas kuat IIIII dan kelas awet III. fire maniac. dan Nusa Tenggara Timur.Tengah dan Jawa Barat.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Saat ini kayu mangium telah digunakan sebagai substitusi kayu jati. Berat jenis kayu ini bervariasi dari 0. -. fire maniac. Salah satu kelebihan kayu mangium adalah warnanya mirip dengan kayu jati. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung.3 . bahan baku Mebel Kurniadi. Sumatera. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. Kata kunci : Budaya. Acacia mangium Willd. Penggunaan kayu mangium sebagai pengganti kayu jati dilakukan secara parsial maupun secara total. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. Kata kunci : Budaya. Kata kunci: Kayu mangium. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. Sumatera.53 . 25 Agustus 2005). disamping adanya keakraban. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan.. Halaman 209-315 .3 . Penggunaan kayu mangium saat ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mebel dan pertukangan dalam skala lokal. I Made Widnyana. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang model kelembagaan berbasiskan masyarakat dalam rangka mewujudkan pengelolaan hutan lestari. Priyo KELEMBAGAAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KHDTK BORISALLO. Metode penelitian yang dipakai adalah PDC (Pemahaman Pedesaan Cepat) dan PDP (Pemahaman Pedesaan 158 . kebakaran hutan Kurniadi. I Made Widnyana. Halaman 115-130 . ekonomi. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. serta memiliki kehendak yang sama untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya alam.2 . 25 Agustus 2005). budaya maupun sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Halaman 235-241 . Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar.

6 Desember 2006 . -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 2006 Bertitik tolak dari UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dimana masyarakat diberi kesempatan untuk ikut mengelola kawasan hutan sebagai alternatif bentuk pengelolaan hutan oleh masyarakat adalah merupakan inti dari konsep Social Forestry yang sekarang ini menjadi paradigma baru dalam pembangunan sektor kehutanan.mangium untuk tujuan kayu pulp. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas. sehingga secara langsung lebih meningkatkan nilai ekonomi jenis ini dibandingkan ketika awal pengembangannya. 1992. mulai dikembangkan di Kalimantan Selatan pada tahun 1985. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan model kelembagaan berbasiskan masyarakat membutuhkan proses yang cukup panjang dengan membangun tata nilai bersama agar bisa diakui dan didukung oleh semua pihak. tetapi juga akan menghadapi peningkatan biaya dan problem teknis pembuatan pola tanamnya. Sebagai akibat meningkatnya nilai ekonomi kayu A. Selain dihadapkan pada rendahnya produktivitas tegakan. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. 2006 : Halaman 189-208 . Kata kunci: Acacia mangium. hal ini diduga sebagai akibat dari variasi faktor edafis (Simpson. Oleh karena itu. makalah ini mencoba untuk menyampaikan kajian awal terhadap perlakuan-perlakuan jarak tanam dalam hubungannya dengan peningkatan produksi. Saat ini sebagian besar tanaman ditujukan untuk kayu pertukangan (furniture). Kondisi pertumbuhan di lapangan sangat beragam walau berada dalam hamparan yang relatif berdekatan. hutan kemasyarakatan. dan tidak sedikit tegakan dengan riap jauh di bawah target tersebut. biaya dan daur serta struktur tegakannya. Jarak Tanam. Pembangunan HTI A. -. Kata kunci : kelembagaan.Partisipatif).Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. HTI. Upaya peningkatan produktivitas tegakan A. Kejadian ini sudah tentu akan mengakibatkan tidak tercapainya target produksi yang telah ditetapkan. riap ini merupakan riap dari tegakan berkualitas baik. maka gangguan pencurian pohon berukuran 20 cm ke atas menjadi problem tambahan. Permasalahan ini dapat diatasi melalui upaya perbaikan tegakan (stand improvement) yang menyangkut peningkatan produktivitas dan secara bersamaan menghasilkan struktur tegakan sedemikian rupa yang mengurangi proporsi kelas diameter +20 cm. Dian OPTIMALISASI HASIL MELALUI PENGATURAN JARAK TANAM HTI ACACIA MANGIUM UNTUK PRODUKSI KAYU PULP / Dian Lazuardi. Halaman 39-47 . target produksi umumnya didasarkan pada riap 25m kubik/ha/th pada daur 8 tahun. Inti dari program Social Forestry adalah masyarakat terlibatkan aktif secara langsung dalam pengelolaan hutan dengan tujuan masyarakat bisa sejahtera dan kondisi hutan bisa lebih baik. permasalahan pemagaran lahan dengan kawat berduri dan pengembalaan liar oleh sebagian anggota sehingga membangun tata nilai bersama menjadi suatu kesepakatan dibentuknya lembaga (4 kelompok tani hutan) dan beberapa aturan interen/kesepakatan bersama. Peningkatan kerapatan tegakan memang akan meningkatkan produksi dan menurunkan diameter rata-ratanya. tumpang tindih dengan penggunaan lahan lain seperti pertambangan dan perkebunan. dan secara luas pada tahun 1992 dalam bentuk HTI. Pada awalnya tujuan produksi adalah kayu pulp. Kayu Pulp Mairi.mangium tersebut salah satunya adalah peningkatan kerapatan tegakan dan penurunan daur. upayaupaya tersebut sangat memerlukan suatu kajian serius melalui hasil penelitian dan ujicoba-ujicoba lapangan sebelum mengaplikasikannya. Kristian STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kristian Mairi.q Departemen Kehutanan pada bulan Juli 2003 dicanangkanlah program Social Forestry sebagai upaya perbaikan kondisi hutan di Indonesia sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu jenis tumbuh cepat (fast growing species) dari famili Leguminosae. Berdasarkan paradigma Social Forestry tersebut maka keberhasilan pembangunan kehutanan sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dalam berkontribusi terhadap upaya pengelolaan 159 . Menindaklanjuti hal itu oleh pemerintah c. pihak pengelola HTI dihadapkan pula pada problem tataguna lahan seperti klaim area tanam oleh masyarakat sekitar.mangium. 1992). Adanya kedekatan lahan garapan. Gessel and Harrison. khususnya di Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Selatan saat ini hanya HTI Hutan Rindang Banua (dulu PT Menara Hutan Buana) yang masih tetap sebagai HTI pulp. Realitasnya. kelompok tani hutan Lazuardi.

Penanaman jenis pohon pada lahan milik untuk kepentingan industri dapat disebut sebagai social forestry. Social Forestry Mile. 160 . Hasil sementara penelitian ini menunjukan bahwa beberapa input teknologi yang diterapkan berperan penting pada penyempurnaan model dalam bentuk pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman pohon dan peningkatan hasil tanaman pertanian. Proses pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya bagaimana masyarakat itu dapat mengenal dan merefleksikan permasalahannya sendiri. M. Ujicoba model diterapkan melalui plot-plot percobaan yang didesain di lokasi penelitian. Percobaan ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan produktifitas lahan dan pendapatan petani melalui model wanafarma sengon+Jahe. Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. Pemberdayaan masyarakat Martin.penyiapan lahan. 6 Desember 2005 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. pemupukan. Perlakuan yang diberikan meliputi komponen-komponen teknologi yang mendukung pengembangan model. Hutan tanaman. Padahal aspek kelembagaan mempunyai peranan sangat besar bagi kesuksesan pembangunan hingga dapat dikatakan bahwa kegagalan pembangunan umumnya dikarenakan lemahnya kelembagaan yang ada termasuk sektor kehutanan. Musi Hutan Persada menunjukan bahwa usaha hutan tanaman Acacia mangium berbasis social forestry menguntungkan dari sisi finansial dan menghasilkan manfaat sosial ekonomi ganda.hutan dan kualitas sumberdaya manusia yang mendukungnya. Studi kasus yang dilakukan di PT. memperkuat dan mengembangkan kelembagaan masyarakat yang terkait dengan pembangunan kehutanan. Edwin PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERBASIS SOCIAL FORESTRY / Edwin Martin. Halaman 2338 . dengan berbagai kemajuan teknologi silvikultur dan pemuliaan pohon akhirnya Acacia mangium membuktikan bahwa meskipun eksotik ia mampu menjadi komoditas utama hutan tanaman. Siarudin. kesulitan memperoleh modal dan akses pemasaran yang belum memadai. persemaian. Yamin Mile dan M. Halaman 46-61 . pemeliharaan. Diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat mengawal proses sebuah kemajuan teknologi pengembangan hutan tanaman berbasis social forestry ini. dan penanganan pasca panen.antara lain: Seleksi benih. pengendalian hama dan penyakit. penanaman. Yamin UJI COBA TEKNIK PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN MODEL AGROFORESTRY POLA WANAFARMA SENGON+JAHE / M.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. 2006 Setelah hampir seperempat abad tumbuh di Sumatera Selatan. Pada kenyataannya di lapangan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kehutanan masih lemah karena belum didukung oleh kelembagaan masyarakat yang kuat antara lain pengetahuan dan ketrampilan yang rendah. Kata kunci: Acacia mangium. Program penanaman Acacia mangium pada lahan milik memiliki banyak keunggulan dibanding program hutan tanaman konvensional/pada areal konsesi. maka strategi pemberdayaan masyarakat dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan mutlak dilaksanakan. -. potensi diri dan lingkungannya serta memotivasi dalam mengembangkan potensi tersebut secara proporsional dengan cara/metode partisipatip. Dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan dimasa yang akan datang sebagaimana semangat dalam program Social Forestry maka hal yang sangat urgen dilakukan adalah membangun. Pelajaran dari perkembangan hutan tanaman Acacia mangium telah mengisyaratkan bahwa integrasi antara industri. Saat ini.Dalam upaya pengembangan kualitas masyarakat khususnya yang bermukim di dalam dan sekitar hutan agar maju dan mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan. 2006 Serangkaian penelitian dan pengembangan mengenai model wanafarma telah dilaksanakan di lokasi penelitian Loka Litbang Hutan Monsoon di Kecamatan Cilacap Jawa Tengah. Salah satu pola tanam yang diujicobakan adalah kombinasi antara tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) (L) Nielsen) dan Jahe (Zingiber afficinale). 6 Desember 2006 . -. Rehabilitasi lahan. hutan tanaman dan masyarakat saat ini bersifat layak dan perlu dilaksanakan. yang perlu dibuktikan oleh Acacia mangium adalah kemampuannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak lagi sekedar sebagai jenis utama dalam rehabilitasi tetapi harus mampu menjadi tanaman industri masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan untuk jangka 5 tahun yang dimulai pada tahun 2004. dan pemanenan. sistem pengorganisasian yang belum sempurna.

6 Desember 2005 . Dengan terbukanya peluang pasar akan hasil hutan rakyat berupa kayu dan non kayu. serta sempitnya lahan usaha yang dimiliki. Dengan kondisi seperti di atas pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari mengalami ketidakpastian sampai saat ini. sebagian besar dikelola seadanya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan permodalan yang dimiliki petani. M. penanaman.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Perkembangan hutan rakyat khususnya tanaman sengon menjadi dominan karena tersedianya pasar yang menampung hasil hutan rakyat tersebut. Yamin PENGEMBANGAN SOSIAL FORESTRY DENGAN POLA WANATANI RAMI DI KABUPATEN GARUT: MENDUKUNG KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN / Ismatul Hakim.Kata kunci: Agroforestry. Yamin Mile. 2003). 2005 Selama lebih dari tiga dasawarsa sumber daya hutan telah memberikan kontribusi yang nyata sebagai penggerak roda perekonomian nasional melalui pengelolaan hutan berbasis kayu yang menekankan exploitasi hutan oleh industri berskala besar. Di Kabupaten Garut ketidakpastian pengelolaan hutan secara lestari sangat dirasakan. b) tidak terdistribusinya manfaat sumberdaya hutan secara adil kepada masyarakat sekitar hutan. Halaman 139-151 .Berbagai study mengenai peranan hutan rakyat terhadap tingkat pendapatan masyarakat telah banyak dilakukan.6 juta ha/tahun (Direktorat Bina Hutan Kemasyarakatan Dep. Mengingat model ini belum banyak dikenal oleh masyarakat. Halaman 123-131 . Hut. Kawasan hutan dirambah untuk dijadikan usaha tani tanaman sayur-sayuran tanpa tindakan konservasi tanah sehingga terjadi aliran permukaan dan erosi yang besar. Wanafarma. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sebagai bahan baku industri tekstil serta memberikan pendapatan yang relatif cepat bagi masyarakat. M. Apabila hutan rakyat ini diarahkan pada pengembangan suatu unit agribisnis. Langkah strategis Mile. sementara laju deforestation mencapai 1. Wanatani. Beragam pola hutan rakyat ditemukan di masyarakat sesuai dengan keinginan masing-masing petani. Kata kunci: Social Forestry. Jahe. Dalam rangka implementasi kegiatan Social forestry tersebut Pemerintah Kabupaten mengintrodusir suatu pola baru yang belum banyak dikenal sebelumnya oleh masyarakat yakni Tumpangsari antara tanaman pokok Kehutanan dengan tanaman rami yang dikenal dengan istilah Agroforestry Haramai. Hal ini disebabkan antara lain karena tingkat penguasaan technologi petani yang masih sederhana. pemeliharaan. Kata kunci: Pengelolaan lahan. Konsekwensi dari orientasi industri berskala besar tersebut berdampak pada beberapa aspek antara lain: a) belum diperhitungkannya variable sosial ekonomi dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan. -. dalam tulisan ini dikemukakan kajian pengembangannya ditinjau dari aspek teknis. Sengon. 1999). Rami. pendekatan kelola usaha yang menyeluruh dan konprehensif hanya perlu dilakukan dengan jalan penerapan teknologi tepat guna dan managemen pengelolaan yang sesuai. 2005 Hutan rakyat saat ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu titik tumpuan ekonomi penduduk yang tinggal di Pulau Jawa (FKKM. Pengelolaan hutan rakyat secara intensif belum banyak dilakukan oleh petani. baik pasar domestik maupun pasar internasional. Hutan Rakyat Mile. Kabupaten Garut 161 . Sosial ekonomi. Tanaman rami (Haramai) adalah sejenis tanaman serat berbentuk perdu yang sesuai baik di dataran rendah maupun di daerah ketinggian seperti Garut. Pada musim hujan bencana tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di berbagai tempat yang mendatangkan kerugian yang tidak sedikit.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 13 September 2005 . Untuk itu perlu adanya konsepsi yang jelas mengenai pengelolaan lahan serta langkah-langkah strategis dalam upaya meningkatkan produktifitas hutan rakyat. -. Hutan Rakyat. dan Lingkungan. Yamin KONSEPSI PENGELOLAAN LAHAN DAN LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS HUTAN RAKYAT / M. Dari hampir semua pola yang dijumpai di lapangan. Kondisi ini menyebabkan lahan hutan semakin kritis sehingga tidak berfungsi lagi sebagai pengatur tata air. Adanya jaminan pasar ini menyebabkan petani tidak ragu untuk menanam jenis pohon komersial di lahan milik mereka yang sempit karena dirasakan menguntungkan apalagi dilakukan dengan jalan tumpangsari (Agroforestry). dan penanganan pasca panen). c) meningkatnya konflik pengelolaan sumberdaya hutan. pemanenan. maka produktifitas hutan rakyat perlu ditingkatkan menjadi unit usaha yang dikelola secara intensif mulai dari pemilihan jenis sampai pada sistim produksi (penyiapan lahan. kurangnya permodalan.

2006 : Halaman 227-244 .Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. 2005). Pada umumnya penjualan kayu sengon terbatas hanya olahan sederhana yang berupa kayu palet atau kayu persegian. -. Sosial Forestry. Masalah banjir dan kekeringan diyakini sebagai dampak dari system tata air di wilayah DAS yang buruk. ketiga pendekatan itu adalah (1) analisis manfaat. Kata kunci: Kayu Sengon. 2006 Salah satu permasalahan utama dalam pola investasi hutan rakyat adalah masa menunggu hasil dari proses investasi yang dilakukan.biaya ekonomi finansial.2006 . Bahkan masih ditemukan adanya system penjualan dengan system ijon yang sesungguhnya sangat merugikan pihak petani. 4). 3). Siarudin. Agribisnis. Untuk menanggulangi kerusakan tersebut dari aspek kehutanan. M. Ciamis Natawijaya. masing-masing model terdiri dari blok inti dan blok pemanfaat. -. Halaman 7284 . akibatnya harga yang diterima petani jauh lebih murah. Kata kunci: Jalur Hijau. Model jalur hijau untuk kawasan konservasi. Tasikmalaya Nurfatriani.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Yamin PENGEMBANGAN MODEL DAN DESAIN JALUR HIJAU DALAM RANGKA REHABILITASI. Dengan demikian keberadaan hutan sangat krusial dalam satu siklus hidrologi yang tergambar dalam kondisi tata air di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS).2006 . terutama dari pihak swasta (melalui kemitraan bisnis) dan pemerintah (dengan kebijakan subsidi dan bantuan modal usaha). Hal ini perlu mendapat perhatian serius.Analisis ekonomi lingkungan dan (3). khususnya di Pantai Selatan Kabupaten Ciamis.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. 2). 2006 Bencana tsunami yang terjadi pada bulan Juli 2006 di Pantai Selatan Pulau Jawa telah menimbulkan kerusakan yang serius. Model jalur hijau untuk kawasan wisata. -. Menurut Asdak (1995) vegetasi hutan sangat berperan dalam daur hidrologi sebagai penahan air sebelum mencapai permukaan tanah untuk kemudian diserap dalam proses infliltrasi. PENATAAN RUANG DAN SOSIAL FORESTRY DAN PANTAI SELATAN CIAMIS PASCA TSUNAMI / M. Kab. Belum ada variasi produk olahan kayu yang lain yang dapat memberikan tambahan nilai jual bagi petani. terutama bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Model jalur hijau untuk daerah pemukiman. yakni: 1). Penentuan volume produksi dilakukan oleh pembeli. kab. Sedangkan blok pemanfaat dirancang untuk pengembangan social forestry di wilayah pantai. Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting 162 . Halaman 97108 . Blok inti dirancang dengan fungsi utama sebagai jalur perlindungan (sheler belt). (2). paling tidak ada tiga pendekatan yang harus dirancang secara tepat sehingga mampu menjawab tantangan tersebut. Hutan mempunyai fungsi menyerap air melalui proses fotosintesa dan menyimpannya dalam perakaran dalam tanah. 2006 Berbagai teori telah dikemukakan oleh para ahli yang menyatakan berbagai fungsi hutan sebagai salah satu unsur dalam system penyangga kehidupan. Petani lebih suka menjual kayu dalam bentuk gelondongan dengan system borong kebun.Mile. Para pelaku perlu mencari suatu pola investasi yang cepat menghasilkan yang dirancang khusus untuk merespon kebutuhan sumber pendapatan. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi hutan di bagian hulu DAS tersebut. Rehabilitasi. Yamin Mile dan M. sehingga mampu mengurangi resiko dari masalah menunggu hasil investasi tersebut. Model jalur hijau untuk kawasan mangrove. Untuk maksud tersebut dalam tulisan ini dikemukakan empat rancangan model jalur hijau yang dapat dikembangkan. Beberapa hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang lurus dan nyata antara keberadaan hutan dengan berkurangnya jumlah titik mata air (Zaini. Fitri PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI BAGIAN HULU DAS BRANTAS HULU: SEBAGAI PENGATUR TATA AIR / Fitri Nurfatriani. Dedi PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Dedi Natawijaya. mengakibatkan posisi tawar petani cukup rendah karena volume produk yang dijual sangat terbatas. pemerintah merencanakan untuk mengadakan upaya rehabilitasi kawasan pantai melalui pembangunan jalur hijau di sempadan pantai. Analisis ekonomi partisipasi.Belum adanya kelembagaan seperti koperasi dalam melakukan penjualan.

. khususnya untuk manfaat intangible yang tidak memiliki harga pasar. [et.58%) dari total luas hutan Sumatra Selatan adalah hutan produksi. ekonomi.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Nunung PRODUKSI DAN PEREDARAN KAYU (STUDI KASUS DI SUMATERA SELATAN)/ Nunung Parlinah .karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS yaitu dari segi fungsi tata air. 3) Pasar Kayu. -. Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai rendah. -.]. Dengan diketahuinya manfaat dari SDH ini maka hal tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam (SDA) yang semakin langka dan melakukan distribusi manfaat SDA yang adil. 2006 Sumberdaya hutan (SDH) menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible. tetapi juga untuk propinsi lain. 2006 Informasi tentang produksi dan peredaran kayu penting untuk diketahui dalam rangka memahami mekanisme pasar dalam memenuhi permintaan kayu. Fitri KONSEP NILAI EKONOMI TOTAL DAN METODE PENILAIAN SUMBERDAYA HUTAN (Total Economic Value concept and Forest Resource Valuation Method) / Fitri Nurfatriani. untuk mendapatkan total kesejahteraan masyarakat yang maksimal. 2006 : Halaman 1-16 .Hidayat INDIKATOR BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI JASA LINGKUNGAN DAS: STUDI KASUS DAS CICATIH-CIMANDIRI/ S. -. nilai. Hidayat Pawitan . dan 4) Peredaran kayu. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan konsep nilai ekonomi total dan berbagai metode yang digunakan untuk menilai manfaat SDH dan lingkungan. Untuk itu tulisan ini dibuat sebagai gambaran mengenai kondisi hutan di bagian hulu DAS Brantas Hulu khususnya dalam kaitannya sebagai daerah resapan air. Makalah ini mencoba menyajikan secara ringkas hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penelitian untuk DAS Cicatih yang bertujuan untuk menggali informasi mengenai kondisi biofisik DAS yang meliputi fungsi dan jasa lingkungan DAS. Dari hasil studi. Halaman 1-16 . Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami konsep nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif. Lokasi yang dipilih sebagai studi kasus adalah Sumatra Selatan. sebagian besar (66.1 . 2006 Perkembangan beberapa dekade terakhir di Kecamatan Cidahu dicirikan oleh tumbuhnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang memanfaatkan sumber mata air dan sumur air bumi. sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi manfaat-manfaat yang telah dikenal dari SDH secara berlebihan. Terdapat kecenderungan produksi kayu semakin menurun karena berkurangnya potensi hutan alam dan maraknya illegal logging. Halaman 151-159 . DAS cicatih dengan luas 53 ribu haktar memiliki 163 . 1995). dan sampai saat ini masih dapat berlangsung bersamaan dengan pemanfaatan air untuk PDAM dan oleh penduduk setempat yang telah lebih dulu memanfaatkan sumber-sumber air yang ada. Akibatnya untuk memenuhi bahan baku maka industri mandatangkan bahan baku dari luar Sumatra Selatan. pasar kayu. sehingga aktivitas perubahan tata guna lahan yang dilaksanakan di daerah hulu DAS tidak hanya akan berpengaruh dimana kegiatan tersebut berlangsung (hulu DAS) tetapi juga akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan lainnya (Asdak. Kata kunci: Kawasan Hutan. diindikasikan dengan tingginya kapasitas industri terpasang. sedangkan pasar kayu Sumatra Selatan relatif tinggi. Kata kunci : Hutan. industri.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Indartik.2 . Empat poin yang perlu dianalisis : 1)Luas hutan. DAS Brantas Hulu Nurfatriani. Berbagai teknik dan metode penilaian ekonomi sumberdaya alam (SDA) telah dikembangkan untuk menghitung nilai ekonomi SDA yang memiliki harga pasar ataupun tidak. Sementara itu produksi kayu dari Sumatra Selatan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal. manfaat Parlinah.. atau belum diketahui. serta mempelajari aspek sosio-ekonomi dan persepsi masyarakat terkait dengan kompensasi konservasinya atas dasar rasa keadilan yang saling menguntungkan. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. Hulu DAS.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. 2) Produksi kayu.al. peredaran kayu Pawitan. Kata Kunci: Produksi kayu.

mengendalikan erosi. Halaman 163-175 . 23.-/ha/tahun Kata kunci: DAS. Hal yang sama perlu dilakukan oleh perusahaan AMDK di Cidahu untuk turut berperan dalam program konservasi DAS hulu. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi nilai provisi pemanfaatan sumberdaya air. dan Dewi Retna Indrawati.00. dalam kerangka kebijakan otonomi daerah dan sistem perpajakan yang lebih transparan. Nilai Ekonomi.Nilai ekonomi air dari hutan lindung di hulu Sub DAS Pelus (Baturadden) Rp. Hutan lindung sesuai fungsinya ditujukan untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. sebaliknya karakteristik komunitas manusia juga dipengaruhi oleh karakteristik alam sekelilingnya. seperti pada mata air Cibuntu (695 liter/s) dan Cipanas (2584 liter/s atau < 1000 liter/s). (2) Diketahuinya nilai ekonomi air hutan lindung Baturaden. -. Salah satu produk hutan lindung adalah air yang pada saat ini sebagian besar masih merupakan barang publik walaupun di beberapa tempat telah menjadi barang ekonomi seperti yang dimanfaatkan untuk air mineral.. Biofisik. Sasaran penelitian adalah diketahuinya nilai ekonomi hasil air dari hutan lindung. Dengan demikian karakteristik DAS terbangun sebagai hasil menyeluruh dari interaksi atau hubungan timbal balik antar unsur-unsur sumberdaya alam sendiri dan antara unsur alam dengan manusia. Kata kunci: DAS. Jasa Lingkungan.. Nilai ekonomi air baku untuk PDAM dari : 1). 2). Hutan Lindung. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Data curah hujan dan debit air diperoleh dengan pemasangan plot dan pengukuran curah hujan dan debit air.25 m kubik/s (24/08/2002) dan terbesar 209. Data curah hujan dan debit air sungai dihitung berdasarkan rata-rata bulanan dan data nilai ekonomi air dihitung berdasarkan fungsi produksi untuk air irigasi dan rente ekonomi untuk air yang digunakan PDAM Kabupaten Banyumas. 13 September 2005 . 310. Air. -. Akibatnya penghargaan atau pengelolaan hutan lindung kurang optimal. Nilai ekonomi hutan lindung yang bersifat intangible belum banyak dilakukan perhitungan sehingga nilai jasa hutan lindung sering dihargai kecil.al). Hutan Lindung Baturaden Purwanto ANALISIS KARAKTERISTIK PARAMETER SOSIAL EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JANGKA PANJANG: STUDI KASUS DAS SERAYU / Purwanto.500. mencegah banjir. 2006 : Halaman 85-97 . khususnya dari mata air dan airbumi. Terdapat indikasi kuat bahwa penduduk lokal cenderung menghemat sumber daya air DAS Cicatih dan bersedia menanggung biaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan jasa lingkungan DAS hulu. adil dan memberdayakan daerah.2) Data nilai ekonomi air dikumpulkan melalui survey.063. hutan (21 persen) dan sebagian besar sisanya berupa lahan pertanian. Sasaran kajian (1) Diketahuinya hasil air dari hutan lindung Baturaden. Paimin.04 juta ha atau 27. Demikian juga sistem kakarkteristik DAS sebagai dasar dalam perencanaan pengelolaan DAS yang sekarang ada 164 .-/m kubik. Hasil sementara menunjukan nilai koefisien limpasan tahunan yang relatif tinggi. Manusia sendiri dalam sistem komunitasnya sebagai pengelola sumberdaya alam DAS juga memiliki karakteristik yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap karakteristik bio-fisik DAS. indept interview dan diskusi dengan para pengguna. 2005 Setiap DAS memiliki sifat atau karakteristik berbeda-beda dalam memberikan tanggapan atau respon masukan air hujan menjadi hasil air.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. dan memelihara kesuburan tanah.69 persen dari total luas hutan. Sosial Ekonomi Purwanto KAJIAN NILAI EKONOMI HASIL AIR DARI HUTAN LINDUNG BATURADEN / Purwanto.50 m kubik/tahun. Debit terukur pada stasiun Ubrug selama 1999-2005 terendah tercatat sebesar 5. 2006 Hutan lindung di Indonesia seluas 29.05 m kubik/s (8/02/2001). Pengelolaan sumberdaya air perlu lebih mendapat perhatian dengan pertimbangan adanya pola musiman dan meningkatnya kebutuhan air untuk penggunaan air non-tradisional. Penutupan lahan didominasi oleh perkebunan (45 persen). mencegah intrusi air laut.(et.647. Rata-rata hasil air dari hutan lindung dalam tiga tahun (2003 s/d 2005): hulu Sub DAS Pelus 191. baik sifat alami maupun sifat yang terbangun sebagai hasil intervensi manusia.963.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Kualitas air dari seluruh lokasi penelitian dapat digunakan untuk air baku minum.Hutan lindung Baturaden Rp. Dengan diberlakukannya otonomi daerah maka kewenangan pengelolaan DAS pada setiap jenjang hierarki perlu diselaraskan dengan kewenangan pemerintah otonomi.curah hujan tahunan sebesar 2970 mm dengan geologinya yang spesifik telah menghasilkan banyak sumber mata air dengan kapasitas yang cukup besar.

000 hektar hutan tanaman A. Hal tersebut menunjukan masih lemahnya sistem karakteristik DAS yang selaras dengan kewenangan otonomi daerah. Untuk membangun formula sistem tersebut diperlukan serangkaian data dan informasi yang diperoleh melalui penyelenggaraan penelitian dan pengembangan. Mangium yang telah dilaksanakan oleh Puslitbang Hutan Tanaman. Sampai dengan tahun 1999. Saat ini beberapa perusahaan telah mengelola hutan tanaman A. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu fast growing yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. khususnya dalam menjaga peningkatan kualitas dan produktivitas tegakan dalam jangka panjang.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. DAS. Mangium ini diperkirakan akan semakin luas sejalan dengan kebijakan Departemen Kehutanan yang menetapkan sasaran fasilitas pembangunan hutan tanaman seluas 5 juta hektar. Seperti dalam program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang dicanangkan mulai tahun 2003. beberapa tantangan baru mulai muncul. tingkat biaya yang rendah serta ramah lingkungan. pelaksanaan. Sosial Ekonomi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman TEKNOLOGI PEMULIAAN ACACIA MANGIUM / Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. manajemen hama dan penyakit. dan pemanenan. dan sumberdaya manusia. Padahal kondisi lapangan berkembang secara dinamis yang harus selalu diikuti agar data dan informasi tersaji selalu sesuai dengan kondisi terkini. pembangunan gain trial. penelitian penyakit serta penelitian biologi molekuler. Pembangunan hutan tanaman A. 6 Desember 2006 . -. Mangium telah dibangun dengan tujuan utama sebagai pemasok kebutuhan bahan baku bagi industri pulp dan kertas. meliputi kegiatan: teknologi pembangunan kebun benih generasi pertama dan kedua. manajemen tapak dan nutrisi. penelitian hibridisasi dan penyerbukan buatan. baik untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri maupun rehabilitasi lahan. Memasuki pembangunan hutan tanaman A. Kata kunci: Acacia mangium. manajemen tegakan. sehingga setiap kali diperlukan secara cepat masih sulit diperoleh secara memadai. Beberapa upaya yang perlu ditempuh dalam menghadapi tantangan tersebut antara lain konsistensi pemakaian benih unggul hasil dari serangkaian kegiatan pemuliaan.perlu ditelaah ulang agar memiliki kompatibilitas dengan institusi terkait pada setiap jenjang kewenangannya.1990) Cara pendekatan ini bisa diistilahkan dengan 'sidik cepat degradasi DAS'. Mangium rotasi kedua. keperluan data yang segera dan akurat akan segera terlayani apabila sistem data dan informasi DAS telah terbangun dalam suatu sistem pengelolaan yang mapan dan selalu dilakukan pemutakhiran.Data dan Informasi pengelolaan DAS yang sampai saat ini terkumpul belum dikelola secara mapan dalam sistem informasi pengelolaan. lebih dari 800. Dalam resume makalah ini maka disampaikan beberapa kegiatan penelitian beberapa input teknologi penunjangnya dalam penelitian pemuliaan A. Dalam era kompetisi global yang semakin intensif saat ini. Halaman 1-6 . Namun melihat laju perkembangan lahan kritis dalam wilayah DAS yang cukup besar. Mangium di Indonesia sebagai pemasok kebutuhan bahan baku industri kehutanan diharapkan akan mampu bersaing dalam kompetisi tersebut. Diharapkan hasil penelitian yang diperoleh juga bisa membantu penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pengelolaan DAS sesuai dengan jenjang kewenangannya. maupun monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS secara efektif dan efisien disamping memberikan pengingatan dini kemungkinan terjadinya bencana alam pada setiap tingkatan pengelolaannya. maka pengembangan sistem karakterisasi tingkat sub DAS harus dilakukan secepat mungkin. manajemen penyiapan lahan. Pembangunan hutan tanaman A. industri kehutanan menghadapi tantangan yang mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri dengan kualitas tinggi dan dalam jumlah yang memadai yang dihasilkan dari tegakan-tegakan yang dikelola secara lestari. sumber dana. serta masih lemahnya sistem informasi pengelolaan DAS. Dengan disempurnakannya sistem karakterisasi DAS yang disertai dengan sistem informasi akan membantu pengelola dalam melakukan perencanaan. seyogyanya sistem karakterisasi DAS lebih mengedepankan pendekatan yang praktis dan ekonomis dari pada pendekatan teoritis dan akademis seperti disarankan Sheng (1986. terutama konsistensi sistem karakteristik yang sesuai dengan hierarki sistem perencanaan/pengelolaan DAS. Mangium pada rotasi kedua. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. Mengingat terbatasnya waktu. Teknologi Pemuliaan 165 . Tulisan ini merupakan eksplorasi peran parameter sosial ekonomi dalam karakterisasi daerah aliran sungai sebagai landasan dasar penyusunan sistem perencanaan jangka panjang pengelolaan DAS (perencanaan 15 tahunan).

Semai provenan Wamena rentan terhadap serangan hama Eurema spp. cukup tinggi yaitu sebesar 30 persen dan lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas serangan Pteroma plagiophelps dan Valanga spp.2. 185 cm. Penelitian dilakukan di persemaian Loka Litbang Hutan Monsoon dengan menggunakan benih sengon dari 7 asal benih (provenans). Sedangkan pada umur 6 bulan setiap anak petak menghasilkan diameter rata-rata masing-masing 2. baik pada umur tanaman yang masih muda (semai) maupun pada tegakan di areal hutan. Wonogiri. masing-masing anak petak dengan tiga ulangan menghasilkan rata-rata diameter masing-masing 0.5 persen dan yang terendah adalah benih sengon yang berasal dari Wonogiri dengan pertambahan tinggi rata-rata 16. dan 2. -. 6 Desember 2005 .16 cm. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umur 3 bulan tanaman sengon pada petak penanaman tahun pertama. Intensitas serangan Eurema spp. sedangkan untuk penanaman nilam dilakukan serentak pada seluruh petak dalam bentuk jalur diantara tanaman sengon. Candiroto.1 ton daun basah/ha diperoleh daun kering kurang lebih 2. Hutan Rakyat Rachman.1 ton/ha. Hama. Halaman 62-78 . Kata kunci: Agroforestry. Paraserianthes falcataria. Subang dan Ciamis.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 700 m dpl dengan curah hujan sebanyak 1. dan Pteroma plagiophelps dibandingkan semai provenan Kediri. Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan rakyat milik petani di Desa Sukamulih.67 cm. Pada umur 6 bulan masingmasing ulangan tersebut meningkat menjadi 187 cm. Encep PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM / Encep Rachman dan M. Sehingga dari 5. dan 193 cm. dan Rusdi. Data tinggi tanaman sengon berumur 3 bulan dari 3 anak petak dengan 3 ulangan masing-masing menghasilkan 87. 6 Desember 2005 . 2005 Tujuan penelitian adalah merakit paket teknologi agroforestry Nilam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi maksimun dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. pertumbuhan tinggi terbaik berasal dari Candiroto dengan pertambahan tinggi rata-rata 35. Endah Suhendah.80 cm. Penanaman sengon dibagi dalam 6 rotasi tahunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tingkat semai sengon dari tujuh asal benih dan jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman sengon tersebut di persemaian.76 cm dan 83.6 cm dan persentase hidup 52 persen.67 cm dan 0.1 cm dan persen hidup 90.68 cm. Kabupaten Tasikmalaya. Plot ujicoba dirancang dengan pola rotasi pembentukan struktur tegakan normal tanaman sengon dan nilam .Sedangkan sasaran penelitian yang ingin dicapai adalah terjadinya peningkatan produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan pada areal hutan rakyat/lahan petani yang sempit. Produksi daun basah nilam dari ujicoba ini diperoleh 5. Hasil pengamatan diketahui bahwa pada umur semai 4 bulan dengan tiga kali pengukuran. Hasil penimbangan dari 100 kg daun basah diperoleh sebanyak 55 daun kering. Jenis hama yang menyerang semai sengon adalah Ulat kantong (pteroma plagiophelps). 2005 Salah satu masalah penting yang perlu diatasi dalam pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat adalah pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit. Penyakit. 0. Persemaian 166 . Encep PERTUMBUHAN TUJUH PROVENAN SENGON (Paraserianthes Falcataria) DAN IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN / Encep Rachman. Nilam. Halaman 114-122 . 86.8 ton. Jenis Penyakit yang ditemukan di persemaian adalah Oidium sp (Embun tepung) Kata kunci: Sengon.73 cm.66 cm. Yamin Mile. -Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kecamatan Sariwangi.200 mm/tahun dan suhu rata-rata 25 derajat C.72 cm.Rachman. Biak. kupu-kuning (Eurema spp) dan Belalang (Valanga sp).

Retna I. misi dan kebijakan pengelolaan DAS antar pemerintah kabupaten/propinsi. Oleh karena itu. Sedayu dan Pecekelan. Heru Dwi MAI DAN CAI ACACIA MANGIUM GUNA PENGATURAN TEGAKAN / Haru Dwi Riyanto. Lokasi survey adalah di Desa Jonggolsari.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. 2006 Air yang merupakan sumberdaya yang mengalir (flowing resource) dari hulu ke hilir dan wilayah DAS yang tidak mempunyai batas yang bertepatan dengan batas wilayah administrasi. Penelitian ini adalah penelitian observasi melalui survey pada areal pengembangan hutan rakyat. perlu ada azas keadilan dalam kerjasama ini. Kabupaten Wonosobo. Pengukuran diameter. sedang masyarakat hilir dengan membuat bangunan resapan. dalam pengelolaan DAS perlu keterpaduan dan kerjasama antara wilayah hulu dan hilir. hasil yang tinggi tergantung pada daur/rotasi tebang. Untu meningkatkan produktivitasnya melalui optimalisasi pengelolaan adalah dengan mengetahui dimensi strukturnya. Satu daur rotasi adalah daur/rotasi volume maksimum. Di samping itu. Upaya keterpaduan dan kerjasama hulu dan hilir ini dapat dilakukan antara lain dengan masingmasing wilayah menjalankan fungsi dan tugas pengelolaan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada di wilayahnya. Waktu periode dari daur/rotasi tebang tergantung pada karakteristik pertumbuhan jenis. jumlah batang. Hal ini berarti bahwa harus ada komitmen yang kuat upaya dari setiap daerah untuk melakukan kegiatan pengelolaan DAS. -. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan konservasi tanah dan air di bagian hulu DAS dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan adanya biaya dari stakehorders yang mendapat manfaat sebagai akibat adanya kegiatan tersebut. tujuan-tujuan pengelolaan dan pertimbangan-pertimbangan ekonomi. Heru Dwi PROFIL HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN WONOSOBO: DITINJAU DARI STRUKTUR TEGAKAN DAN VEGETASI PENYUSUNANNYA / Heru Dwi Riyanto dan Wardojo -. -. Halaman 205-215 . dan 5) diberlakukan reward dan punishment untuk memacu tanggung jawab tiap wilayah untuk melaksanakan pengelolaan DAS. Kata kunci: Acacia mangium. 167 . 2006 : Halaman 177-187 . Ini mengandung arti ada penanggungan biaya bersama (cost sharing) dalam pengelolaan DAS. 4) peningkatan partisipasi masyarakat lokal pada berbagai tingkat melalui penyuluhan. 6 Desember 2006 . Data dianalisa secara desktiftif serta disajikan secara gambar grafik untuk struktur tegakan. bersamaan dengan makin menurunnya produktivitas hutan alam dari tahun ke tahun.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. dimana masyarakat hulu menjaga kuantitas air dengan jalan konservasi tanah di daerah tangkapan air. 3) perlibatan berbagai aktor seperti LSM. Pengaturan Tegakan Riyanto. 2006 Pegelolaan tegakan hutan adalah bagaimana mengelola hutan dalam rangka mendapatkan hasil yang tinggi dalam pemanenan. Panjang dari daur dengan volume tertinggi adalah titik pertemuan umur tanaman ketika rata-rata riap tahunan (MAI) mencapai maksimum. MAI. Dewi KERJASAMA HULU HILIR DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)/ Dewi Retna I. tinggi pohon. CAI. Dalam konsep kerjasama hulu hilir pengelolaan DAS ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:1) harmonisasi dan sinkronisasi visi. Halaman 121-124 . Disayangkan hutan rakyat tersebut memiliki produktivitas yang rendah. struktur volume. sering menimbulkan konflik kepentingan antara daerah hulu dan hilir. dan hal ini merupakan permasalahan utama yang harus dipecahkan. dan jumlah serta jenis tanaman lainnya adalah kegiatan utama dalam penelitian ini. artinya pihak yang lebih diuntungkan diharapkan dapat memberikan kontribusinya dalam upaya pengelolaan DAS. Kata kunci: Pengelolaan DAS. Masyarakat yang memperoleh manfaat atas pengelolaan DAS wajib menanggung biaya pengelolaan berdasar prinsip kecukupan dana (cost recovery). dimana pertumbuhan tegakan memberikan hasil tahunan tertinggi. Paper ini adalah untuk menentukan umur daur/rotasi tebang berdasar daur rotasi volume maksimum di lokasi Benakat. 2) perumusan mekanisme kerjasama. Tata Air Riyanto. pakar sektor bisnis serta pemerintah dari pusat sampai daerah. Umur ini juga berarti antara grafik MAI dengan grafik CAI.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 2005 Keberadaan hutan rakyat atau hutan milik sebagai salah satu alternatif penyedia kayu. bagi industri perkayuan sangatlah penting. 13 September 2005 .

Komposisi dan struktur hutan ulayat tidak homogen. Hasil penelitian di Nagari Duo Koto Kabupaten Agam. Di sektor kehutanan. belum terlihat dalam bentuk rebutan tanggung jawab menjaga kelestarian hutan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. sanksi dan kelembagaan. Kerapatan tanaman di Desa Jonggolsari lebih kurang 24188 tanaman/ha.755 ton. Bahkan di Kota Waringin terjadi penetapan pungutan atas pengangkutan kayu illegal. Kayu manis adalah komoditi yang tercatat di BPS Propinsi Sumatera Barat yang memiliki kapasitas ekspor cukup tinggi dengan volume ekspor 12. karena yang ditekankan selama ini adalah manfaat lindung dan koservasi. Sehingga riap tahunan periodik rata-rata dari ketiga desa tersebut adalah lebih kurang 19m kubik/ha/tahun. 2006 Hambatan utama pengembangan hutan ulayat terletak pada dimensi hukum dan ekonomi. perlu dilakukan reorientasi terhadap penerapan sistem desentralisasi sektor kehutanan baik pusat maupun daerah. Oleh karena itu.408. tapi mekanismenya kurang berjalan karena dualisme pengertian dan tumpang tindihnya peraturan. hutan ulayat sangat potensial secara sosial budaya sebagai asset bangsa dalam menyediakan alternatif model pengelolaan sumber daya hutan. desentralisasi sudah menjadi salah kaprah bagi masing-masing pihak yang menonjolkan arogansi kekuasaan. Kesejahteraan Rakyat Rochmayanto. fungsi ulayat. Kabupaten Wonosobo Rumboko W. 168 . Namun demikian. manajemen produksi. Volume tegakan berdiri di Desa Jonggolsari lebih kurang 90 m kubik/ha. manfaat ekonomi hasil hutan bukan kayu belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Kata kunci: Hutan Rakyat. mekanisme pengelolaan. Struktur Tegakan. Syasri Jannetta. hasil hutan bukan kayu. Keadilan. Hasil menunjukkan bahwa diameter kecil (sampling/pancang) memiliki jumlah yang lebih besar (74 persen) dibanding diameter yang lebih besar (pole/tiang) (23 persen) dan trees/pohon (3 persen). penelitian mengenai hutan ulayat dalam pandangan sosial budaya diperlukan untuk menjawab kendala pengembangan di atas. dan nilai ekspor 6. Selain itu. Melihat kecenderungan diatas.serta menggunakan indeks nilai penting untuk komposisi vegetasi. Kata kunci : Hutan ulayat. Demokratisasi. sehingga dapat menjadi unggulan bagi pengembangan HHBK di hutan ulayat. Desa Sedayu lebih kurang 70 meter kubik/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 70 m kubik/ha. Halaman 281-296 .1 . Lukas DAMPAK DESENTRALISASI DI SEKTOR KEHUTANAN / Lukas Rumboko W. Kondisi ini tidak akan memberikan kontribusi yang baik bagi volume tegakan berdiri. desentralisasi menjadi ajang rebutan hak dan wewenang terhadap hasil hutan kayu dari hutan alam. sosial budaya. Yanto PERSPEKTIF HUTAN ULAYAT DALAM BUDAYA MINANGKABAU (STUDI KASUS DI JORONG KOTO MALINTANG. Illegal logging. Meski secara hukum keberadaannya diakui. KABUPATEN AGAM) / Yanto Rochmayanto . menunjukkan bahwa hutan ulayat dalam pandangan Minangkabau telah diatur secara lengkap. Kata Kunci : Desentralisasi. sifat hak. dengan istilah lain disebut pelegalan kayu-kayu illegal. Tateng Sasmita . Hasil kajian oleh Centre For International Forestry Research (CIFOR) tahun 2003 menunjukkan bahwa desentralisasi sektor kehutanan di wilayah potensial seperti Propinsi Riau dan Kalimantan Timur seperti : Kutai Barat. yang meliputi : stasus tanah. Kapuas dan Barito telah semakin meningkatkan kegiatan illegal logging (pencurian kayu). munculnya aktor-aktor baru yang saling membekingi satu sama lain dan meningkatnya nafsu Pemda untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). . Dalam hal ini dalam menerapkan desentralisasi secara benar perlu kembali ke khittah (landasan berpijak)-nya yaitu mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. Kotawaringin Timur.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Hutan Lestari. Desa Sedayu lebih kurang 10885 tanaman/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 4251 tanaman/ha. 2006 Desentralisasi pada dasarnya merupakan konsekwensi dari semakin tingginya tuntutan perubahan (reformasi) di birokrasi dan keadilan yang merata di masyarakat. Dalam perkembangannya. -. Halaman 1-12 . Malinau. Ismatul Hakim. -. riap ini berarti produktivitas pertumbuhan pohon/tegakannya. dan merupakan hasil kriteria sejarah dan ekonomi.000 US $ pada tahun 2003. 4 .

Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Teknologi produksi massal telah dikembangkan untuk setiap jenis mikroba dan aplikasinya dapat digunakan untuk skala massal. diantaranya jenis-jenis akasia. 6 Desember 2006 . -. Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan melalui pemanfaatan kayu dari hutan tanaman. Halaman 87-102 . 2006 Makalah ini mendiskusikan hasil-hasil penelitian tentang prospek aplikasi teknologi mikroba simbiotik dalam mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi. jati. dan dipelihara pada media tumbuh mikroba. -. Ragil SB Irianto. baik untuk kayu serat. Pemanfaatan Kayu. 2006 Keterpurukan industri pengolahan kayu di indonesia dewasa ini sudah mencapai titik kulminasi yang memerlukan penanganan menyeruluh dari berbagai aspek. Salah satunya adaah menyeimbangkan dengan segera pasokan bahan baku kayu guna memenuhi kapasitas industri pengolahan kayu. Sasaran utamanya adalah melalui kerja sama internasional industri rumah tangga hasil hutan bukan kayu dapat menjadi sektor ekonomi di bidang kehutanan yang kuat. Beberapa jenis komoditi tanaman hutan yang penting telah memberikan pertumbuhan yang lebih baik setelah diinokulasi oleh beberapa jenis mikroba. diperbanyak. screening dan ujicoba dalam skala laboratorium. kearifan tradisional. hasil hutan bukan kayu. mampu memberikan produk yang cukup diperhitungkan di pasaran. Kata kunci: Acacia mangium. Halaman 73-85 . sistem pemasaran dan perluasan pasar. persemaian dan lapangan. 2006 Perpaduan industri rumah tangga dan kearifan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya hutan memiliki prospek yang baik jika mendapat sentuhan manajemen dan investasi. kayu pertukangan maupun energi )bahan bakar & arang). Teknologi Santoso. pulai. Dalam tulisan ini diuraikan hasil penelitian dasar dan aplikatif mulai dari eksplorasi mikroba. Maman Turjaman. Kata kunci : Industri rumah tangga. Otonomi daerah dapat diarahkan untuk memberikan jaminan birokrasi yang lebih pendek. Erdy PROSPEK APLIKASI TEKNOLOGI MIKROBA SIMBIOTIK DALAM MEMPERCEPAT REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TERDEGRADASI / Erdy Santoso.al) . kerja sama internasional. jelutung. Sejumlah jenis mikroba telah diidentifikasi. 169 .(et. selain itu kulit kayu mangium mengandung tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan perekat kayu. Tulisan ini mengemukakan rangkuman hasil-hasil penelitian mengenai teknologi pemanfaatan kayu mangium sebagai bahan industri olahan dan ekstrak kulitnya sebagai bahan perekat kayu. Industri rumah tangga lebih banyak bergerak dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). meranti. Yanto PENGEMBANGAN POLA KEARIFAN LOKAL MENJADI INDUSTRI RUMAH TANGGA HASIL HUTAN BUKAN KAYU / Yanto Rochmayanto. Adi TEKNOLOGI PEMANFAATAN KAYU ACACIA MANGIUM / Adi Santoso. 6 Desember 2006 . ekaliptus. berwawasan lingkungan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. berskala internasional dan berbasis masyarakat. 4 .. khususnya yang menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. Kerja sama internasional dapat menumbuh kembangkan industri rumah tangga HHBK menjadi arena usaha yang memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pendekatan permodalan..Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor.Rochmayanto. Hal ini telah seiring dengan pergeseran paradigma Timber Management ke Social Forestry yang tidak menekankan kayu sebagai satu-satunya produk yang bernilai ekonomis dari hutan. Mikroba Simbiotik Santoso. salah satunya adalah mangium (Acacia mangium Willd) yang sampai saat ini telah mengalami spektrum lebih luas. Dari hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan aplikasi teknologi mikroba dapat membantu peningkatan produksi bibit tanaman hutan dalam skala massal dan komersial. bintangur dan pinus. Halaman 297-308 . Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. gaharu. Industri rumah tangga ini telah terbukti dengan limbah dan kerusakan sumber daya minimal. Kemungkinan kerja sama dengan luar negeri bisa langsung menyentuh ke masyarakat di daerah dengan bantuan teknis pemerintah pusat. -.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas. masih terjadi kesimpangsiuran dalam menjabarkan kebijakan dimaksud sehingga dalam masa transisi ini masih diperlukan adanya upaya-upaya untuk menyelaraskan persepsi dan visi dalam merumuskan kebijakan strategis di bidang pembangunan kehutanan baik nasional dan regional maupun tingkat lokal (NTT. 2006 : Halaman 219-225 . kebijakan nasional khususnya kebijakan yang menyangkut otonomi daerah dirasakan masih belum sepenuhnya dapat mendukung kemantapan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan.Subarudi MEGAPOLITAN. Dede J. (3) menganalisis pembiayaan RHL. Oleh karena itu upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis (RHL) merupakan salah satu prioritas pembangunan sektor kehutanan. TEKNOLOGI PERBENIHAN DAN PERBIBITAN ACACIA MANGIUM/ Dede R. Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengetahui tentang kebijakan RHL di NTT. Disamping itu. 13 September 2005 . lingkungan. 2004). 2004). Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya laju kerusakan hutan yang mencapai 2. Sudrajat dan Nurhasybi. dan birokrat di wilayah lingkungan yang terkait dengan konsep tersebut. jawa Barat. -. Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas tegakan dan target penanaman yang harus dicapai. Kata kunci: Kebijakan. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Jenis ini merupakan salah satu prioritas dalam pengembangan hutan tanaman.5 juta ha/tahun. 2005 Pembangunan kehutanan di Indonesia pada saat ini dan masa yang akan datang menghadapi tantangan dan hambatan yang semakin kompleks. Laju kerusakan hutan khususnya di wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) disebabkan oleh kebakaran hutan. Tanggerang dan Bekasi). 2006 Acacia mangium merupakan jenis pioner yang mampu tumbuh pada lahan yang marjinal. Nusa Tenggara Timur Sudrajat. Luasnya kerusakan sumberdaya hutan telah menyebabkan mundurnya kualitas lingkungan hidup yang diindikasikan dengan rendahnya produktivitas lahan.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 2006 Konsep Megapolitan yang diusung oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) mendapat tanggapan yang luas dari beberapa pakar hukum. 6 Desember 2006 . tingkat efisiensi di persemaianpun dapat ditingkatkan 170 . -. Konsep megapolitan ini banyak menimbulkan pro dan kontra dari para pihak sehingga kajian yang menyeluruh dan netral tentang hal ini sangat diperlukan sehingga konsep ini dapat diterapkan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Halaman 7-22 . dan Banten. dan (4) merumuskan penyempurnaan kebijakan RHL di NTT. yaitu DKI. bisnis. Selain itu. Kata kunci: Megapolitan. Konsep ini sebenarnya sudah lama diterapkan oleh Pemerintah DKI dalam perencanaan internalnya yang sudah umum dikenal sebagai kawasan Jabotabek (Jakarta. perambahan kawasan hutan dan illegal logging (NTT. Rehabiitasi lahan. Halaman 177-188 . tanggal 20 pebruari 2004. Otonomi daerah Subarudi KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN: STUDI KASUS DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)/ Subarudi dan Iis Alviya. (2) mengevaluasi pelaksanaan RHL. dan (iv) strategi penerapan megapolitan di masa depan. tingginya laju erosi dan besarnya peluang terjadinya banjir dan kekeringan yang berdampak kepada menurunnya kualitas kehidupan. Kegagalan penyediaan bibit siap tanam di lapangan seringkali disebabkan oleh minimnya penguasaan teknologi perbenihan dan pembibitan.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. dengan menerapkan teknologi perbenihan dan pembibitan. Rehabilitasi hutan. pemerintah NTT telah mengesahkan "Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2004-2008" melalui SK Gubernur NTT No: Tahun 2004. Kemungkinan setelah sukses dengan konsep "internal" Jabotabeknya. KONSEP KONPENSASI HULU HILIR/ Subarudi. (ii) resistensi di era otonomi daerah. penggembalaan liar. Sebenarnya konsep Megapolitan bukanlah konsep baru dalam upaya menggabungkan perencanaan di wilayah yang termasuk dalam 3 provinsi. Bogor. (iii) kelemahan dan kelebihan konsep megapolitan. Tulisan ini akan membahas dan menguak secara detail tentang konsep megapolitan yang meliputi: (i) gambaran umum tentang megapolitan. pemerintah DKI berusaha dan berupaya agar konsep seperti itu dapat menggapai lebih luas bagi wilayah perencanaannya dengan mengikutsertakan 2 provinsi tetangganya yang dikenal dengan konsep megapolitan.

LSM dan masyarakat akan pentingnya kelestarian hutan. kegiatan penghijauan.285 . Kelompok Tani. Di pulau jawa yang mempunyai penduduk paling besar. sementara itu pasokan kayu dari hutan alam dan hutan tanaman hanya mampu mencapai sekitar 25 juta M kubik/tahun (RLPS. Perbenihan. Ekonomi. sedangkan produksi kayu Perhutani hanya mencapai 1. kebutuhan terhadap bahan baku kayu juga akan terus meningkat. 2006 Sejalan dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk.1.2006 .000 M kubik/tahun yang tercatat melalui pelayanan SKAUK dan SKSHH (Dishut Ciamis. Kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang terus meningkat seperti diutarakan di atas.571 M kubik/tahun (Subarudi. Ditingkat lokal untuk memenuhi seluruh industri penggergajian kayu sekitar 400 unit diperlukan pasokan bahan baku antara 688. Dalam beberapa tahun kedepan kesenjangan ini akan semakin besar karena pemerintah telah menerapkan pembatasan penerbangan dari hutan alam dan juga dari hutan tanaman. Teknologi perbenihan Sufyadi. Dedi TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EKONOMI DAN MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT / Dedi Sufyadi. Tiwa PENGELOLAAN SUPPLY-DEMAND KAYU RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS / Tiwa Sukrianto. Berbagai komponen masyarakat dalam pengelolaan hasil hutan. Halaman 129-133 . Kata kunci: Acacia mangium. Subarudi. Di kabupaten Ciamis produksi kayu dari Perum Perhutani hanya mencapai rata-rata sekitar 35. dan kegiatan agribisnis perhutanan. dan diperkirakan hanya kurang dari 5 persen yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Kata kunci: Kayu Rakyat. Kegiatan penghijauan dapat menggerakkan aparatur pemerintah.000 M kubik/tahun seperti diutarakan di atas. Kata kunci: Hutan Rakyat. 2003). Ciamis 171 . yang mana penulis pernah terlibat didalamnya. Pertumbuhan Industri yang mengolah bahan baku kayu di tingkat lokal maupun regional (Jawa Barat dan Jawa Tengah) saat ini telah meningkatkan kebutuhan bahan baku kayu rakyat secara signifikan. Kebutuhan kayu secara Nasional diperkirakan mencapai 60 juta M kubik/tahun. terutama bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Sementara itu produksi kayu rakyat mencapai sekitar 326. perlu dukungan teknologi perbenihan dan pembibitan yang tepat. kayu bakar) dipenuhi dari kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat (Djaja Percunda. 2006).000 M kubik/tahun. seperti Proyek MA-LU.Studi ini merupakan tinjauan empirik terhadap beberapa kegiatan tersebut di atas. Kegiatan agribisnis perhutanan dapat menggerakkan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. 2002). 2005). 2003). Sementara itu pasokan kayu rakyat dari kabupaten Ciamis hanya mampu mencapai 326. dan Sudarmanto.2006 . pemerintah hingga perusahaan baik usaha besar maupun usaha koperasi dan UKM. kebutuhan kayu mencapai 9 juta M kubik/tahun.5 juta M kubik/tahun (Suryohadi Kusumo dalam Suyarno dan Dian Diniyati. Proyek MA-LU dapat menggerakkan pusat kekuasaan di desa sekitar hutan dalam menyelamatkan hutan. -. Informasi pengembangan teknologi perbenihan dan pembibitan yang dihasilkan dari beberapa penelitian seyogyanya dapat menjadi acuan bagi praktisi di lapangan guna meningkatkan keberhasilan penanaman jenis ini. -. Fakta menunjukan bahwa 70-90 persen kebutuhan kayu di Pulau Jawa (kayu pertukangan. Manajemen Sukrianto. Pembibitan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.375. 2006 Hutan pegang peranan penting. kab. Supply-Demand. dan meningkatnya pembangunan ekonomi. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan jenis ini.(meningkatnya keberhasilan penyediaan bibit akan menyebabkan biaya per satuan bibit siap tanam menurun) yang akhirnya akan berpengaruh terhadap mutu tegakan yang dihasilkan. Kondisi tersebut di atas menunjukan bahwa betapa besarnya kesenjangan antara pasokan (suply) dan kebutuhan (demand) kayu yang berasal dari hutan negara. Pengelolaan hutan memerlukan adanya peran serta aktif dari berbagai komponen masyarakat mulai dari satuan rumah tangga. Disimpulkan bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara usaha ekonomi dan usaha ekologi dalam pengelolaan hutan. Berbagai kegiatan telah diikhtiarkan oleh pemerintah melalui beberapa kegiatan. Halaman 65-71 . Disarankan bahwa seluruh komponen masyarakat apapun statusnya perlu memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama bahwa hutan lestari dapat menyelamatkan kehidupan kita.

Sudrajat. serta antara daun dan serasah tanaman A. mangium semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hutan jati dalam menjaga tata air. Hutan Tanaman Jati. Potensi energi biomasa hutan A. baik pada batang. Untuk mendukung hal tersebut. mangium). Agung B. mangium sangat nyata terhadap parameter nilai kalor dan potensi energi. Biomasa Hutan. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomasa. Kata kunci: DAS. 6 Desember 2006 . dan Sub DAS Soko (di luar kawasan) di kecamatan Bogorejo. Musi Hutan Persada 172 .mangium tidak memperlihatkan kecenderungan meningkat.52 Giga Joule/Ha.Supangat. Cadangan air tanah yang dikeluarkan pada musim kering sebagai aliran dasar lebih banyak (stabil) terjadi pada erosi dan laju sedimentasi.ditunjukan nilai rata-rata koefisien limpasan yang lebih kecil dengan fluktuasi yang stabil. dimanfaatkan untuk menilai kondisi hidrologi yang dihasilkan. Tata Air. Total potensi energi tiap-tiap umur tanaman A.97 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 1 tahun. PERAN HUTAN TANAMAN JATI SEBAGAI PENGATUR TATA AIR: STUDI KASUS DI SUB DAS KAWASAN HUTAN JATI DI KPH CEPU / Agung B. baik terhadap tanaman A. 2006 : Halaman 161-174 . Model DAS berpasangan antara DAS di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. Total potensi energi tanaman A. Melalui upaya mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism. R. Kata kunci: Acacia mangium. diperlukan informasi karakteristik nilai kalor dan potensi energi yang tersimpan pada biomasa tegakan hutan. 2006 Salah satu fungsi hutan adalah penyimpan kalor dalam bentuk karbon (Kayu) yang berpotensi untuk mengurangi terjadinya emisi karbon yang dapat menyebabkan kenaikan gas rumah kaca (GRK). dengan nilai terkecil 0. Hasil penelitian di atas dapat menjadi masukan bagi pengelola kawasan. SUMATERA SELATAN / Agung B. HTI. pada sub DAS kawasan hutan lebih baik dalam mengendalikan kedua parameter tersebut. Musi Hutan Persada Sumatera Selatan. dapat disimpulkan bahwa secara umum berdasarkan nilai parameter hidrologi tahunan sub DAS kawasan hutan jati lebih baik dalam mengendalikan hujan untuk menjadi aliran permukaan.mangium. ranting. BKPH Pasarsore. juga berperan sebagai pengatur kondisi hidrologis DAS. kabupaten Blora. dan Ragil Bambang WMP. tumbuhan bawah. INFORMASI NILAI KALOR BIOMASA HUTAN PADA LAHAN TEGAKAN AKASIA MANGIUM (A.mangium cenderung semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. -.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. KPH Cepu Supangat. Segala tindakan pengelolaan hutan maupun gangguan yang terjadi akan menpengaruhi kondisi tata air DAS. baik kawasan hutan maupun non hutan tentang pentingnya mempertahankan kawasan hutan dalam suatu wilayah DAS. Nilai Kalor. dan terbesar 8. Penelitian dilaksanakan di Sub DAS Modang di areal hutan Jati di wilayah RPH Ngawenan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama periode 1998-2004. KPH Cepu. Supangat. 2006 Keberadaan Hutan dalam DAS diketahui selain befungsi produksi (kayu).mangium mempunyai nilai rata-rata sebesar 4. -. nilai kalor dan total energi dari masing-masing biomasa hutan pada lahan tegakan Akasia (A. MANGIUM): STUDI KASUS DI HTI PT. melalui pengamatan papameter tata air pada DAS. maka peningkatan panas bumi akibat kenaikan GRK yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dapat ditekan. Hasil penelitian penunjukan bahwa nilai kalor tanaman A. Supangat dan Paimin. CDM) serta international Emmision Trading (Carbon Trading). Pengaruh umur tanaman A.67 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 7 tahun. mangium. MUSI HUTAN PERSADA. Agung B. dengan studi kasus di PT.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai CicatihCimandiri. Oleh karenanya disarankan dalam perencanaan pengelolaan suatu wilayah DAS untuk menambah dan mempertahankan kawasan hutan terutama pada kawasan yang diperuntukan sebagai kawasan konservasi dan rawan bencana. maupun daun. Halaman 125135 . mangium dipengaruhi total nilai kalor dan potensi biomasa per hektar. Total nilai kalor tumbuhan bawah pada tegakan A.

Keseluruhan tahapan kegiatan tersebut dilakukan secara partisipatif oleh seluruh pihak terkait.Suprapto. 2005 Kebijakan sosial forestry merupakan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam sistem pengelolaan hutan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa proses manajemen multipihak akan terdiri dari proses kajian dan analisa. Besarnya angka-angka di atas menunjukan betapa pentingnya nilai strategis hutan rakyat sebagai penopang ekonomi dan sekaligus penyangga secara ekologis. Semakin luasnya hutan rakyat tersebut merupakan peralihan fungsi dari lahan tegal atau pekarangan. masih kurangnya pemahaman pada aspek-aspek silvikultur. Pertama. Untuk itu perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI) bekerja sama dengan yayasan WWF Indonesia dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) melakukan kerjasama dalam pelaksanaan program "Menuju Sertifikasi Hutan Rakyat dan Pengembangan Akses Pasar Global". penjarangan dan pemupukan yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas hasil kayu. Sekalipun begitu. terbatasnya pengetahuan petani dalam hal pasar dan pemasaran produk kayu jati. Wonogiri Supriadi PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI STASION PENELITIAN DAN UJI COBA BORISALLO.000 m kubik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. 23.tahapan kegiatannya terdiri dari (1) identifikasi dan karakterisasi lokasi baik secara sosial ekonomi. telah menjadi persoalan serius.2006 . (3) fasilitas proses manajemen. sehingga mempersempit sisa hutan dunia yang tinggal 40 persen. hutan rakyat yang biasa oleh masyarakat disebut dengan wono atau alas makin tahun menunjukan jumlah luasan secara berarti. 2003). SULAWESI SELATAN / R. Akibatnya pertambahan dan kecepatan nilai ekonomi dari hasil kayu tidak bisa memberi sumbangan secara cepat kepada petani. Laju tersebut diperkirakan mencapai 28 ha/menit. Di kabupaten Wonogiri. Kata kunci: Kelembagaan. Teguh PENGALAMAN DALAM PENGAWALAN MENUJU SERTIFIKASI ECOLABEL HUTAN RAKYAT: CERITA DARI WONOGIRI / Teguh Suprapto. pengembangan perdagangannya (pemasarannya). rendahnya harga kayu yang diterima. Tulisan ini merupakan hasil sintesa mengenai proses manajemen multipihak yang cocok diterapkan dalam pengembangan sosial forestry di SPUC Borisallo. sosial kelembagaan maupun biofisik. lemahnya posisi tawar petani dalam proses tawar menawar. formulasi aturan main manajemen/implementasi dan monitoring-evaluasi. SupriadiProsiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. dan kedua. Dalam praktiknya. Kelima. serta keenam kurang berkembangnya pengembangan usaha-usaha produktif dari hasil non kayu maupun produk dari hasil olahan kayu. dapat dilakukan pendekatan dalam pengembangan hutan rakyat yang mengarah pada perbaikan nilai secara ekonomi maupun ekologi. penambahan luasan hutan rakyat rerata 250 ha setiap tahunnya.000 m kubik jati diproduksi oleh hutan rakyat di Jawa (Dephut.000. dan (4) monitoring-evaluasi dampak manajemen. Halaman 217-225 . pertama penguatan institusi petani dan peningkatan kapasitas petani dalam hal pengelolaan produksinya dalam 2 unit manajemen. potensi produksi kayu dari hutan rakyat mencapai 43. 13 September 2005 . diakui bahwa terdapat sejumlah permasalahan mendasar dalam hal pengelolaan hutan rakyat secara umum. Kata kunci: Hutan Rakyat. Sosial Forestry. Sulawesi Selatan 173 . SPUC Borisallo. baik dalam pasar domestik maupun global.000. dari jumlah tersebut.3 juta ha di seluruh Indonesia. tiadanya jaringan informasi harga kayu dan jaringan pemasaran yang memihak mereka. ketiga lemahnya posisi tawar dalam penentuan harga kayu. 2006 Tingginya laju penebangan hutan di Indonesia semenjak tahun 1998.kedua. Sementara itu. berbicara pengembangan hutan rakyat masih dijumpai beberapa permasalahan. Permasalahan tersebut diantaranya rendahnya harga kayu yang diterima oleh petani hutan. Sulawesi Selatan menggunakan metodologi penelitian aksi partisipatif atau partisipatory Action Research (PAR) untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasi masyarakat dalam proses manajemen. Ekolabel. Halaman 43-50 . diperlukan instrumen manajemen untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasinya tersebut. (2) identifikasi masalah dan kebutuhan lokal spesifik. Dalam rentang 5 tahun terakhir. masih lemahnya organisasi petani dalam satuan unit manajemen. Dengan demikian sekurangnya dapat dilakukan dua hal. keempat. -Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Meskipun demikian. Keterbatasan dari aspek silvikultur pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya perawatan seperti perempelan. Dengan luasan areal hutan sebesar 1.

Perum Pehutani dan pihak swasta mulai dari perencanaan. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sejak tahun 2000 telah dicanangkan melalui program pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). yang pada dasarnya sudah dimulai sejak dulu. Hutan Kemasyarakatan. harga yang diterima petani tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan. 6 Desember 2005 . Pelaksanaan. maupun ekosistemnya termasuk keindahan panorama alamnya. Halaman 22-33 . seperti keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora. sehingga nilai tambah buat petani masih sangat kecil. 6 Desember 2005 . KPH Tasikmalaya Suprianto PANDUAN ANALISIS KELAYAKAN USAHA KOMODITAS YANG DIKEMBANGKAN PADA HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN / Suprianto. lebih besar dibandingkan dengan profit income untuk petani peserta program. Kata kunci: Hutan Rakyat. Permasalahan-permasalahan tersebut juga sangat mungkin kita temui dalam rangka pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. produk yang dipasarkan masih dalam bentuk primer. keterampilan petani belum mencapai standar yang dibutuhkan untuk mengelola aktivitas program yang dikembangkan. -. diantaranya adalah: Produk hasil usaha petani sulit menjangkau akses pasar. sehingga insentif untuk menggairahkan petani pekerja bersungguh-sungguh dan mencurahkan seluruh kapasitasnya tidak tercapai. namun juga terlalu besar volumenya apabila hanya untuk dikonsumsi oleh keluarga petani.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. -. Akar permasalahan biasanya erat kaitannya dengan aspek-aspek usahatani yaitu ukuran (size) usahatani yang dikelola tidak mencapai skala ekonomi (economic scale). 2005 Seiring dengan masih meningkatnya laju kerusakan dan perambahan hutan maka program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan terus dikembangkan. Kelayakan usaha Syahadat. sehingga susah dijual. sumberdaya manusia yang tersedia belum memenuhi standar yang dibutuhhkan program. Halaman 17-40 . Pada akhirnya. volume hasil produksi usahatani terlalu kecil untuk dijual. Namun demikian memilih komoditas atau aktivitas yang tepat bukan perkara yang terlalu mudah.Pada gilirannya pencapaian target program kurang maksimal. Epi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN WISATAWAN DI TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (The Factors with are Kehutanan : Volume 3 No. PHBM.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.Suyarno KONTRIBUSI SWASTA DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM PHBM DI KPH TASIKMALAYA / Suyarno. Berkaitan dengan hal itulah penulis mencoba menyajikan suatu panduan sederhana untuk memilih komoditas atau aktivitas yang diharapkan hasilnya mendekati target yang diharapkan. memerlukan pemikiran dan perhitungan yang akurat. kalaupun mendapatkan pasar.Manfaat ekologis dan sosial suatu program mungkin lebih besar dibandingkan dengan manfaat ekonomis. 2005 Permasalahan klasik yang sering kita temui dalam pengembangan usaha di bidang pertanian khususnya pada tatanan sub sistem usahatani (on farm) yang melibatkan masyarakat banyak. Berkaca pada fenomena tersebut pemilihan komoditas atau aktivitas program yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan.Adapun distribusi yang diberikan oleh semua pihak yang terlibat dalam pembangunan PHBM merupakan hasil kesepakatan bersama yang didasarkan atas konsep sharing baik dalam penyertaan modal maupun pembagian hasil usaha.1 . fauna. Program PHBM ini melibatkan masyarakat sekitar hutan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Taman Nasional Gede Pangrango memiliki berbagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA).prasarana dan sarana penunjang masih sangat minim dan lain sebagainya. Jumlah kunjungan ke Taman Nasional Gede Pangrango dapat dipengaruhi oleh faktor 174 . program kurang berbasis pada sumberdaya lokal. -. Kata kunci: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. 2006 Influences to a Tourism Visitor in Gede Pangrango National Park (GPNP)) / Epi Syahadat. Halaman 185-193 . dimana program ini membuka ruang yang luas bagi berbagai pihak untuk berperan serta dalam pengelolaan hutan. sangat mungkin social benefit income atau keuntungan normatif dari suatu program. dan pembagian hasil usaha serta pembangunan kelembagaan kelompok. Terlibatnya berbagai stakeholder dalam pengelolaan hutan salah satunya diwujudkan dalam pengelolaan hutan yang berbasis PHBM di KPH Tasikmalaya.

pemerintah. Sehubungan dengan hal tersebut maka pelaksanaan pengembangan pengelolaan kepariwisataan di Taman Nasional Gede Pangrango harus mampu menjadi sarana untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dan faktor keamanan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2005 dengan penentuan sampel secara accidental sampling yang dilakukan secara acak sederhana.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. pemanfaatan. Kata kunci : Hutan rakyat. pengolahan data dilakukan menggunakan program “SPSS for windows versi 12”.2 . faktor sarana prasarana. Keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan nasional di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dapat dicapai atau di raih berkat keterpaduan dan kesinergian antara kekuatan masyarakat. Penyempurnaan mulai dari pembuatan Surat Izin Penebangan (SIP) serta perlu adanya berita acara pemeriksaan penebangan sebelum pengesahan LHP. 2006 Syahadat. dari keempat faktor tersebut faktor keamanan yang mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) dan dominan terhadap jumlah pengunjung di Taman Nasional Gede Pangrango. dan faktor keamanan secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh terhadap jumlah pengunjung akan tetapi tidak secara nyata (tidak signifikan) di Taman Nasional Gede Pangrango. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan yang ada. pengangkutan. 2006 Penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat belum tertata dengan baik dan pelaksanaannya oleh petugas atau oleh instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. yaitu : pariwisata nasional. Halaman 75-90 . Adapun strategi pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam meliputi pengembangan : 175 . Kajian penatausahaan hasil hutan pada hutan rakyat dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan yang menyebabkan tidak efektif mengendalikan peredaran kayu. penatausahaan hasil hutan. -. wawancara. (Study on Forest Product Administration Orientation in Community Forest as a Basic Reference in Community Forest Usage) / Epi Pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) merupakan bagian integral dari pembangunan kepariwisataan nasional. perencanaan kawasan. faktor sarana prasarana.1 . khususnya kebijakan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat. sampai kepada pengangkutan hasil hutan perlu disederhanakan tanpa mengurangi fungsi penatausahaan hasil hutan yang efektif dalam melestarikan hutan dan mejamin hak-hak negara atas hasil hutan. kelancaran. dan pengusaha pariwisata. obyek dan daya tarik wisata alam. dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan rakyat dapat tercipta dengan baik. faktor obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). pelayanan. dengan jumlah responden sebanyak 142 orang.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. media masa. faktor obyek dan daya tarik wisata alam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Syahadat. sosial ekonomi dan budaya. sarana prasarana. selain daripada itu pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional. -. Epi KAJIAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN RAKYAT SEBAGAI DASAR ACUAN PEMANFAATAN HUTAN RAKYAT Hasil kajian menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu disempurnakan dalam aturan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat agar ketertiban.pelayanan. (GPNP) Management Strategy For Tourism Development In Forest Area) / Epi Syahadat. peredaran. maupun duplikasi data sekunder. Analisa SWOT dilaksanakan untuk menyusun strategi peluang usaha di Taman Nasional Gede Pangrango. penataan ruang serta peraturan perundangan. Karena itu untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut secara bersama-sama (simultan) terhadap jumlah pengunjung. Halaman 117-132 . Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata alam. pengelolaan lingkungan. keamanan. Kata kunci : Taman Nasional Gede Pangrango. Akan tetapi secara parsial. maka dilakukan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pelayanan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara orientasi lapangan. Epi ANALISA STRATEGI PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (TNGP) UNTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA ALAM DI KAWASAN HUTAN (An Analysis of Gede Pangrango National Park Syahadat.

Dokumen angkutan kayu rakyat yang berlaku pada saat ini adalah SKSHH yang di cap Kayu Rakyat (KR). Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. aspek peran serta masyarakat dan penelitian dan pengembangan. Dimasa yang akan datang dalam pengangkutan kayu rakyat akan diberlakukan dokumen angkutan lain selain SKSHH yang di cap KR. sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No 126/2003. Syahadat. hasil kajian menunjukan bahwa kebijakan pengelolaan TN yang menggunakan pendekatan keamanan (security approach) harus sudah ditinggalkan dan menggantinya dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dan berbasis masyarakat. kelestarian alam. Penyeragaman struktur organisasi TN hendaknya dihindari karena karakteristik pengelolaan dan permasalahan yang dihadapi berbeda-beda untuk setiap TN. aspek sarana dan prasarana. Kualitas SDM yang bekerja di TN yang disurvey didominasi oleh lulusan SLTA dan SLTP dan hanya sedikit pegawai yang berpendidikan sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2) sehingga hal ini akan menjadi hambatan besar dalam rencana perubahan (agent of changes) pengelolaan TN yang lebih profesional. yaitu Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) sebagai dokumen resmi angkutan kayu rakyat yang diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat yang setara.25 juta hektar yang meliputi 486 unit kawasan (447 unit atau 82 persen konservasi daratan dan 39 unit konservasi laut) dengan lokasi yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. 2005 Saat ini luas kawasan konservasi di Indonesia mencapai 26. Kajian penyempurnaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat (kasus di Provinsi Jawa Barat) dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat yang menyebabkan tidak efektif dalam mengendalikan peredaran hasil hutan. Epi KAJIAN PENYEMPUNAAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN HAK RAKYAT (KASUS DI PROVINSI JAWA BARAT) / Epi Syahadat . -. dan Nomor P. Kata kunci : taman nasional gede pangrango. peredaran. kawasan hutan .Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. wisata alam. kondisi SDM. Oleh karena itu pengelolaan dan pengembangan taman 176 . sesuai dengan Peraturam Menteri Kehutanan Nomor P. -.51/2006. sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. aspek pemasaran. Subarudi KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL: STUDI KASUS PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL DI PULAU JAWA / Subarudi. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. Pengelolaan taman nasional (TN) saat ini dirasakan masih jauh dari kesan profesionalisme dan menguntungkan (profitable) karena selama ini pengelolaan TN diidentikan dengan pusat pengeluaran biaya (cost centre). akan tetapi SKAU ini hanya terbatas kepada 3 (tiga) jenis kayu. kayu karet dan kayu kelapa. aspek pengusahaan.51/Menhut-II/2006. kesejahteraan masyarakat.aspek perencanaan pembangunan. pengembangan pariwisata. aspek kelembagaan. organisasi. yaitu kayu sengon. 1-4 milyar dan sumber dananya berasal dari angaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebanyak 20 persen dan sisanya (80 persen) berasal dari dana Reboisasi (DR) dan dana provisi sumber daya hutan (PSDH).18/2005. Halaman 97113 . sedangkan jenis kayu lainnya akan diatur kemudian oleh Menteri Kehutanan atas dasar usulan dari masing-masing Dinas Provinsi. perijinan. penebangan.4 . aspek pengelolaan. Kata kunci: Penatausahaan. bertanggung jawab. kayu rakyat. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. Apul Sianturi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 13 September 2005 . mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan serta mengkaji kemampuan petugas dalam memantau produksi dan peredaran hasil hutan. pengangkutan. Oleh karena itu kajian kelembagaan pengelolan TN sangat diperlukan untuk mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan yang muncul dibidang peraturan dan kebijakan. dan menguntungkan. rata-rata pembiayaan tahunan untuk operasional TN yang disurvey berkisar antara Rp. Nomor P.26/2005. Halaman 317-331 . dan struktur pembiayaan dalam pengelolaannya. Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001.

2006 .Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui pengembangan perekonomian desa merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka penggalian potensi sumberdaya perekonomian masyarakat sekitar hutan dengan untuk memberi peluang berusaha kepada masyarakat. Pengelolaan. 12 ha. Halaman 14-21 . juga mendukung penyediaan bahan baku kayu Jawa barat. semakin terbatasnya areal pertanian serta belum tergalinya potensi ekonomi masyarakat sekitar hutan secara optimal. Hasil kajian menunjukkan bahwa Perhutanan Sosial (PS) menjadi istilah yang tepat pengganti kata SF. maka perlu ditunjang pula dengan merehabilitasi lahan-lahan diluar kawasan hutan. 2006 Departemen Kehutanan (Dephut) saat ini sedang menyusun konsep makro social forestry (SF) sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan prioritas ketiga. yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan sehingga ketergantungan terhadap hutan dan hasil hutan semakin berkurang. khususnya diwilayah yang berfungsi lindung. Namun demikian pengertian SF tersebut masih belum dipahami oleh berbagai pihak terkait sehingga keberhasilan dari program tersebut sangat diragukan. Dan hal lain juga berdampak terhadap penyediaan bahan baku kayu industri pertukangan. (ii) konsep makro SF dan faktor-faktor penentunya. Peranan dan fungsi PS diyakini saat ini sebagai indikator penentu keberhasilan pengurusan hutan dan jaminan bagi keberadaan Dephut di masa depan. Kata kunci: Taman Nasional.nasional ke depan hendaknya para pengelola TN diberikan kewenangan yang besar (desentralisasi pengelolaan TN) untuk berimprovisasi dalam pengelolaannya sehingga pengelolaan taman nasionalnya dapat lebih professional dan menguntungkan. Dengan pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat menunjang perbaikan kondisi lingkungan Jawa Barat yang saat ini mengkhawatirkan. yakni dengan metoda vegetatif maupun secara sivil teknis.56 ha yang telah berdampak terhadap keadaan lingkungan. Halaman 31-38 . Kata Kunci : Rencana Makro.1 .749. Konsep makro PS harus seiring dan seirama dengan program kehutanan nasional dan sesuai dengan sistem pengelolan hutan lestari. maka langkah yang efektif dan efisien adalah melalui metoda vegetatif dengan pembangunan hutan rakyat. Pulau Jawa Subarudi KONSEP RENCANA MAKRO SOCIAL FORESTRY: KUNCI SUKSES MENUJU SISTEM PENGELOLAAN HUTAN LESTARI (SPHL)/ Subarudi. Keadaan ini disebabkan masih rendahnya perekonomian masyarakat sekitar hutan.303. dan lain-lain. 177 . Yakni kegiatan tanam menanam pohon kayu-kayuan dengan atau tanpa jenis tanaman Multiple Plan Trees Species (MPTS) yang ditunjang dengan atau tanpa tanaman semusim yang tergantung terhadap kondisi fisik wilayah dan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. yakni diindikasikan dengan luas lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 455. dan (iii) strategi penyusunan konsep makro SF. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. mebelair.Pelestarian hutan dan lahan adalah merupakan langkah strategis dan agenda utama pembangunan bidang kehutanan Jawa Barat. serta dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.Dalam rangka pelestarian hutan dan lahan tersebut. Oleh karena tulisan itu mencoba mengkaji konsep makro SF yang terdiri dari: (i) pencarian istilah SF dalam bahasa Indonesia. Social Forestry. -. pulp/kertas. tingkat sosial dan ekonomi masyarakat maupun terhadap sektor pembangunan di Jawa Barat. Strategi penyusunan konsep makro hendaknya tidak diberikan kepada pihak ketiga tetapi dikerjakan secara bersama dengan menggunakan pendekatan manajemen fungsi bagi setiap unit eselon I lingkup Dephut. dan Pengelolaan Hutan Lestari Suherman KEBIJAKAN PROPINSI JAWA BARAT DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT / Suherman dan Yeyep Sudrajat. Karena kondisi kawasan hutan dan lahan di Jawa Barat saat ini dalam keadaan kritis dan memprihatinkan. selain merehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak. Guna menunjang program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis. 2006 Tekanan terhadap hutan semakin meningkat baik terhadap lahan kawasan hutan maupun hasil hutan dengan semakin merebaknya tingkat gangguan keamanan hutan berupa pencurian hasil hutan dan perambahan hutan. dan di luar kawasan hutan seluas 514.

diantaranya adalah tanda bukti pembayaran PSDH dan DR. Kata kunci : Sumber air. atas SKSHH yang telah diterbitkan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Propinsi Jawa Barat Sylviani PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS (STUDI KASUS KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR)/ Sylviani. seperti siapa yang dituju dalam surat permohonan penerbitan SKSHH. Wilayah DAS Brantas merupakan sumber air bagi kebutuhan Propinsi Jawa Timur baik untuk air minum. Halaman 87-95 . Stakeholder yang berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya air Kali Brantas antara lain Dinas PU dan Pengairan Propinsi. PDAM dan PLTA yang meliputi beberapa kabupaten antara lain Kabupaten Malang. Epi KAJIAN MEKANISME PERMOHONAN PENERTIBAN SURAT KETERANGAN SAHNYA HASIL HUTAN (SKSHH).18/Menhut-II/2005. laporan hasil cruising (LHC).Disamping itu juga meningkatkan partisipasi aktif pengembangan budidaya usahatani hutan rakyat dan meningkatkan tingkat kesadaran pengelolaan lahan yang berwawasan pelestarian alam. Apakah mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH tersebut. perkebunan. karena hanya akan memperpanjang rantai birokrasi dalam pengurusan penerbitan SKSHH. -. (KASUS DI PROPINSI KALIMANTAN TIMUR)/ Epi Syahadat. rumah tangga maupun untuk kebutuhan sektor lainnya. Halaman 131-149 . Dinas Kehutanan Kabupaten. SKSHH diterbitkan oleh P2SKSHH. karena pada dasarnya.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Pasal 20. daftar hasil hutan (DHH). Blitar. telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Sebagai pengelola sumberdaya air Perum Jasa Tirta I ( PJT I ) dengan beberapa bangunan waduknya tersebar hingga ke Kali Bengawan Solo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di Propinsi Kalimantan Timur. -. dan pemeriksaan administrasi. karena banyak faktor yang mengindikasikan bahwa kayu yang diangkut dari satu daerah ke daerah lain itu kayu legal. dan meminimalkan perdagangan kayu atau peredaran SKSHH yang ilegal. Walaupun masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya. pada dasarnya sudah berjalan sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Balai Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungai ( BPSDAWS ) dan Perum Jasa Tirta I. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No P. laporan hasil produksi (LHP). Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan permasalahan yang serius. usaha peternakan. kemudian diketahui dan disahkan oleh pejabat struktural (eselon III) pada Dinas Kabupaten/Kota yang menangani masalah kehutanan setempat.2 .2 . Pengesahan SKSHH oleh pejabat eselon III ini dinilai kurang efektif. unit kerja yang berwenang dalam menerbiktan SKSHH untuk melindungi hak-hak negara seperti PSDH & DR. mengingat pejabat P2SKSHH berada jauh dari ibukota Kabupaten/Kota. yang dikhawatirkan adanya penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab pejabat P2SKSHH. 2006 Pemanfaatan sumber air dikawasan DAS Brantas mulai dari hulu sampai hilir (termasuk di kawasan hutan lindung dan sekitarnya) cukup tinggi. laporan mutasi kayu bulat (LMKB) dan masih banyak lagi persyaratan untuk menentukan bahwa kayu itu legal 178 . Ijin pemanfaatan dan pengambilan air permukaan dikeluarkan oleh Dinas PU dan Pengairan Propinsi setelah mendapat rekomendasi teknis dari BPSDAWS untuk sumber air yang berada dalam kewenangan Propinsi dan rekomtek PJT bila sumber air berada dalam wilayah kerja PJT I. dan permohonan penerbitan menurut versi pemegang IUPHHK di Propinsi Kalimantan Timur. Pasal 20. kawasan hutan lindung Syahadat. akan tetapi hal tersebut harus dilakukan. Tulung Agung dan Trenggalek. Di dalam Kawasan Hutan lindung sumber-sumber mata air dimanfaatkan langsung oleh penduduk dengan menyalurkan melalui pipa yang dibangun secara swadaya dan dimanfaatkan oleh pengusaha peternakan dan perkebunan.18/2005. stakeholder.18/2005. bahwa kayu atau hasil hutan yang diangkut tersebut legal atau tidak. Kata kunci: Hutan Rakyat. Berdasarkan data BPSDAWS saat ini tercatat ada 34 pengguna ( baik sebagai pengguna langsung maupun sebagai pengelola ) yang terdiri dari berbagai industri besar dan kecil. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauhmana mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di tingkat Propinsi. SKSHH bukan merupakan ukuran. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). karena ini merupakan suatu alat kontrol yang dilakukan pemerintah pusat/daerah terhadap pejabat P2SKSHH.

serta tugas dan fungsi masing-masing instansi.3 .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. seharusnya memberi iklim yang baik kepada petani untuk berpartisipasi dalam pembangunan hutan rakyat. Demikian juga dengan Perda Kabupaten Ciamis No. Epi KAJIAN PEREDARAN DAN TATA USAHA KAYU RAKYAT DI CIAMIS JAWA BARAT / Epi Syahadat. -. Terdapat kelembagaan pada masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air melalui tata tanam tahunan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan permohonan perijinan penggunaan air terutama untuk irigasi Kata kunci : Kelembagaan. mekanisme/prosedur pemanfaatan air. Halaman 219-234 . Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Sylviani KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR / Sylviani. Kata kunci : Penatausahaan hasil hutan.. Kajian penata-usahaan hasil hutan pada hutan hak/rakyat dilakukan untuk mengetahui efektifitas kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat. SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung. Kata kunci: penatausahaan. Halaman 263-279 .atau tidak. produksi.3 . 2006 Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat. sistimatik dan berkesinambungan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. pengelolaan SDA.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 2006 Peranan air bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta lingkungan sangatlah penting dan merupakan kebutuhan pokok. 179 .3 . Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001 sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai lagi dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Halaman 243-262 . Elvida Yosefi S.18/2005 dan Nomor P. Kelembagaan pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) dapat berjalan dengan baik apabila adanya koordinasi diantara para pengelola SDA dan akan berdampak terhadap terjaganya kelestarian lingkungan.26/2005. mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan SDA di tingkat propinsi/kabupaten (Peraturan. Kajian kelembagaan pengelolaan SDA bertujuan untuk menganalisa peran para pihak/instansi yang terkait dalam pemanfaatan jasa air. pemanfaatan air Syahadat. kronologis kayu Sylviani POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG DAN KAWASAN HUTAN LINDUNG (STUDI KASUS DI KABUPATEN GOWA. Potensi sumberdaya air di Kab Gowa ada yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumbermata air di dalam kawasan HL dan dari sungai Jeberang melalui penampungan waduk/Dam Bili-bili yang dimanfaatkan untuk saluran irigasi. Pengelolaan sumberdaya air melibatkan beberapa stakeholder antara lain Dinas PU dan Pengairan Kabupaten. peredaran. yang terpenting dan perlu diketahui dalam pengangkutan kayu. karenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanya penanganan yang teratur. UPTD BPSDA dan PDAM dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelembagaan. -. Kata kunci : Kelembagaan. mekanisme. distribusi. mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara secara optimal. organisasi. PROPINSI SULAWESI SELATAN) / Sylviani . BPDAS. pengesahan. adalah mengenai kronologis kayu. potensi dan pemanfaatan sumberdaya air. mengkaji kemampuan petugas serta memantau produksi dan peredaran hasil hutan. Berdasarkan UU No 7/2004 tentang SDA dijelaskan bahwa wewenang dan tanggung jawab dalam menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota adalah pemerintah propinsi c/q Dinas Pengelolan Sumber Daya Air setempat. kayu rakyat. industri gula dan rumah tangga dibagian hilir melalui PDAM. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. 19 Tahun 2004. -.

Halaman 61-74 . Syafrul Yunardy. 77. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk setiap hektar kejadian kebakaran hutan di Indonesia. Secara struktural. Structural Path Analysis (SPA) Ulya. investasi. 1 milyar akan menyebabkan penciptaan output total sebesar Rp.60 persen. berdampak menurunkan tingkat pendapatan masyarakat sebesar Rp. Kata kunci : Pengganda neraca.44 juta. Melalui pendekatan model transaksi input-output. -. Nur Arifatul ANALISIS PERANAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT (Analysis of Forestry sector Role in Indonesia Economy: An Input-Output Model Approach) / Nur Arifatul Ulya.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. 2006 Pembangunan kehutanan selama ini telah ikut berperan dalam perekonomian Indonesia.5 juta hektar hutan alam di Kalimantan Timur. Selain itu juga untuk mengidentifikasi jalur-jalur keterkaitan antar sector kegiatan perekonomian. keterkaitan.2666 milyar.pendapatan masyarakat Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). peranan sektor kehutanan dalam perekonomian Indonesia dapat diketahui.1979 milyar. 2006 Sejak kebakaran hutan besar tahun 1982/1983 yang membakar 3. kebakaran hutan di Indonesia kian menyebar dan selalu berulang setiap tahun. Kata kunci: Kebakaran hutan. 0. 1. Kejadian ini jelas akan berpengaruh terhadap pendapatan baik bagi masyarakat. Metode analisis yang digunakan untuk mengukur besarnya nilai penurunan tingkat pendapatan (economic loss) adalah Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM). pengeluaran pemerintah dan ekspor) sektor kehutanan sebesar Rp. Syafrul Yunardy.2 . Penelitian ini ditujukan untuk melihat tingkat keterkaitan sektor kehutanan dengan sektorsektor ekonomi lainnya dan peranan sektor kehutanan dalam penciptaan output. dan penyerapan tenaga kerja total sebesar 41 orang. perusahaan. yang merupakan suatu kerangka analisis ekonomi yang terpadu. Namun informasi dan data yang ada selama ini baru bersifat sektoral dan belum memberikan gambaran yang jelas tentang peran sektor kehutanan dalam keterkaitannya dengan sektor-sektor ekonomi lain. Halaman 133-146 . model Input-output. Studi ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dampak kebakaran hutan di Indonesia terhadap masyarakat.74 persen. -. Sedangkan nilai tambah yang diberikan oleh sektor kehutanan sebesar 82. dan penyerapan tenaga kerja didalam proses produksi antar sektor. kenaikan pendapatan total sebesar Rp. sumbangan 180 . maupun pemerintah. Nur Arifatul ANALISIS DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT (Analysis of the Impact of Forest Fire in Indonesia on Community Income Distribution) / Nur Arifatul Ulya. penggandaan pendapatan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Rumah tangga mengalami penurunan tingkat pendapatan yang paling besar dibandingkan dengan pemerintah maupun perusahaan. Berdasarkan hasil analisis pengganda neraca (accounting multiplier) diketahui bahwa untuk setiap kenaikan permintaan akhir (konsumsi.1 . sektor kehutanan.Ulya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi (share) sektor kehutanan terhadap output keseluruhan sebesar 0. Sedangkan untuk menjelaskan jalur keterkaitan antar sektor digunakan Analisis Jalur Struktural (Structural Path Analysis). ditemukan fakta bahwa ada jalur keterkaitan yang erat antara sektor kehutanan dengan sektor-sektor yang berbasiskan pertanian di pedesaan.

(c) Tanaman tradisional (kebun tradisional) dan (d) Hasil hutan kayu dan non kayu. Kabupaten Kutai Barat.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. -. untuk keperluan yang sama dapat dianalisa untuk jenis-jenis tanaman yang lain dengan menggunakan data dasar yang sudah tersedia. Kesesuaian lahan. jati super dll) dan perusahaan kayu pemegang Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) telah beroperasi. Catur Budi KAJIAN POLA PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN SECARA TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DAYAK BENUAQ DAN TANJUNG DI KALIMANTAN TIMUR (STUDI KASUS DI KAMPUNG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. karena adanya banyak kendala. Catur Budi IMPLIKASI OTONOMI DAERAH TERHADAP PRAKTEK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI KALIMANTAN TIMUR (SUATU STUDI KASUS DI KAMPUNAG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. 2006 Dengan sistem informasi geografis data dapat dikelola. data dan informasi tentang model dan tipe pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat menjadi sangat penting. 2006 Sejalan dengan adanya program pengembangan pengelolaan hutan bersama masyarakat. otonomi. Kalimantan Timur. ditata.Wardojo APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK KESESUAIAN LAHAN PADA TANAMAN KEHUTANAN / Wardojo dan Ragil Bambang WMP. Halaman 333-345 . Posisi masyarakat penting. peta dasar dan peta tematik yang ada.4 . Kabupaten Kutai Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung setelah era otonomi daerah dan desentralisasi. Jati dan Sono). Fakta di lapangan menunjukkan bahwa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). tidak selalu dapat berhasil untuk dikembangkan menjadi hutan yang bagus. Halaman 137-149 . sangat mudah ditemui adanya ketidakcocokan dan ketidaksinkronan antara kebijakan pusat dan kebijakan daerah yang berdampak negatif pada pengelolaan hutan khususnya yang dilakukan oleh masyarakat. perlu dipertimbangakan juga tentang aspek non fisik (ekonomi). Kalimantan Timur. desentralisasi Wiati. -. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 2006 Di era desentralisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski perkebunan berskala besar (karet. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan Arc View bisa digunakan untuk mengolah data-data atribut yang diperoleh dari kegiatan ISDL maupun data lain dari penafsiran potret udara. analisa dan ditampilkan sesuai dengan tujuan analisa. Dalam makalah ini hanya dianalisa empat jenis tanaman (akasia. Hasil penelitian ini menununjukkan bahwa pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat dayak di Kabupaten Kutai Barat telah dipengaruhi oleh kebijakan pusat dan daerah. Tanaman kehutanan dimana masyarakat tetap dipertimbangkan memegang peranan penting dalam mengelola sumberdaya hutan.2 . Suatu lokasi yang sesuai untuk suatu jenis tanaman (layak dari aspek fisik ). Dalam analisa kesesuaian jenis tanaman kehutanan untuk pengembangannya data-data yang diperoleh dapat dimanipulasi sesuai dengan tujuan analisanya. (b) Tanaman perkebunan. Kata kunci : Sumberdaya hutan. 181 . Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. kelapa sawit. Program Arc View ini memberikan kemudahan untuk menampilkan banyak tampilan data dengan peta secara cepat dan mudah sesuai dengan keinginan. terutama pada era otonomi daerah dan desentralisasi. Halaman 97-113 . 6 Desember 2006 . Kata kunci: Sistem Informasi Geografis. Dalam memilih jenis tanaman yang akan dikembangkan selain dipertimbangkan aspek fisiknya (kesesuaiannya). khususnya oleh adanya kebijakan Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) yang dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Wiati. pemerintah lokal telah mengeksploitasi sumberdaya alam dengan tanpa mempertimbangkan aspek ekologinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kembali implikasi otonomi daerah terhadap pola dan keberadadaan sumberdaya potensial yang dilakukan oleh masyarakat tradisional di Kalimantan Timur. SIG. Mahoni. masyarakat dayak. -. masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat tampak tidak terganggu dan tetap mempertahankan pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang terbagi atas budidaya: (a) Tanaman pangan.

kerajinan (handicraft) US$ 0.09 juta m kubik per tahun. Sedangkan plymill 107 unit. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan hutan rakyat juga dipengaruhi oleh budaya patriarkhi yang 182 . Hal tersebut terlihat dari hasil kajian yang dilakukan di desa Bener dan desa Sepatnungal kecamatan Majenang kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah pada bulan Juni-Agustus 2006 terhadap 34 orang petani hutan rakyat yang diambil secara sengaja (metode purposive sampling). hutan tanaman.618 unit dengan kebutuhan bahan baku 22. dan sumber lain.87 juta m kubik per tahun. sebagian besar berupa sawmill. masyarakat dayak. Kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku kayu oleh industri (zero waste). Berdasarkan ijin usaha yang telah diterbitkan tersebut kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan per tahun mencapai 63.19 milyar.2006 . Nurheni STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI / Nurheni Wijayanto.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.Barat. desentralisasi. hutan dinyatakan sebagai Widyaningsih. Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) masih melekat terutama dalam masyarakat Jawa. juga ditentukan oleh etos kerja petani selaku pelaku utamanya. Tri Sulistyati ETOS KERJA PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP / Tri Sulistyati Widyaningsih. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan.8 milyar dengan rincian. sedangkan kemampuan produksi kayu bulat rata-rata per tahun sebesar 22. 2006 Pembangunan kehutanan di Indonesia masih mempunyai daya tarik bagi para investor.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaum laki-laki memiliki etos kerja yang lebih tinggi dalam mengelola hutan rakyat dibandingkan kaum perempuan. plywood US$33.60 juta m kubik per tahun (Antara News. Dian Diniyati. Dalam pasal 1 Ayat 2 UU No. 2005). dan dokumentasi yang kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif. penyuluhan. yaitu sebanyak 1.17 milyar. -.881 unit. dan adhesive US$ 0. Kata kunci: Hutan Rakyat. Etos kerja. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan kebutuhan bahan baku sebesar 40. jumlah industri pengolahan berdasarkan ijin yang ada sejumlah 1. Halaman 142-152 . investasi industri pulp dan kertas sebesar US$ 16 milyar. Majenang Wijayanto. dan percepatan realisasi pembangunan hutan tanaman industri dan hutan rakyat (Antara News. kebutuhan bahan baku 18. Hal ini menunjukan bahwa industri kehutanan masih prospektif (Antara News. -. bibit.91 juta m kubik per tahun. Konflik ini melibatkan masyarakat lokal dengan masyarakat lokal atau masyarakat lokal dengan para pihak (konflik vertikal dan horizontal ) dan (b) Munculnya sistem kapital baru dalam masyarakat kampung terkait kemudahan dalam mengakses sumberdaya hutan.80 milyar. yang bersumber dari hutan alam. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Halaman 1-13 . kayu olahan (wood working) US$ 1. furniture US$ 0. yang mana etos kerja tersebut akan dipengaruhi oleh persepsi atau sudut pandang petani tentang hutan rakyat. Saat ini kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan secara lestari. 2005). Kata kunci : otonomi. Sebagai gambaran.8 juta m kubik. Cilacap. keterlibatannya dalam mengelola HR. yang terjadi karena adanya konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. bahwa laki-laki lebih berperan dalam sektor publik (pekerjaan di luar rumah) dan menjadi penentu kebijakan. 2005).61 juta m kubik per tahun.2006 . Focus Group Discussion (FGD). pulpmill 6 unit.48 juta m kubik. Dampak dari kebijakan tersebut adalah: (a) Adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya hutan. dan lain-lain sebanyak 150 unit dengan kebutuhan bahan baku 4. hutan rakyat. hal ini terlihat dengan masuknya investasi bidang kehutanan yang mencapai US$27. dan interaksinya dengan sumber daya alam yang ada disekitarnya. karena laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang bersifat produktif termasuk dalam mengelola hutan rakyat (rata-rata 45 jam seminggu) dibandingkan kaum perempuan (rata-rata 27 jam seminggu).03 milyar. kebutuhan bahan baku 17. logging US$ 3. Akan terdapat perbedaan etos kerja antara petani laki-laki dan perempuan dalam mengelola HR.3 milyar. Petani. 2006 Keberhasilan pengelolaan hutan rakyat (HR) selain ditunjang oleh sarana prasarana dan modal berupa lahan.2 milyar. sedangkan perempuan lebih banyak berperan disektor domestik (pekerjaan rumah tangga).

dan sampai saat ini usaha tersebut semakin berkembang. dan longsor dimana-mana seiring dengan datangnya curah hujan. Usaha hutan rakyat telah dilakukan sejak beberapa puluh tahun yang lalu. kondisi DAS kembali mendapat perhatian. Berdasarkan UU Kehutanan No.Hunggul KELEMBAGAAN DAN NILAI AIR DAS MULAI DARI YANG KECIL. usaha perbaikan tata air dan lingkungan. disampaikan pengalaman mengelola DAS dalam skala mikro dengan menciptakan hubungan timbal balik potitif antara hutan dan masyarakat yang didukung oleh kelembagaan mikro sesuai yang diminta oleh masyarakat. lembaga keuangan. kegiatan ini dapat juga dilaksanakan di atas lahan negara diperuntukkan untuk kegiatan penanaman pohon. sektor angkutan. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. industri. Nilai air. penyediaan kayu sebagai bahan baku bangunan. Pada tulisan ini. Hutan hak tersebut sering disebut dengan hutan rakyat. Das. Ketika korban manusia berjatuhan. penyediaan kayu bakar. sarana-prasarana rusak. peningkatan pendapatan masyarakat. -. MULAI DARI DIRI SENDIRI DAN MULAI SAAT INI: PENGALAMAN DARI SUB DAS MARARIN. tenaga kerja. Usaha hutan rakyat merupakan suatu penerapan model usahatani yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas fisik per satuan luas lahan. pengembangan hutan rakyat diarahkan kepada usaha-usaha rehabilitasi dan konservasi lahan di luar kawasan hutan negara. sehingga usaha hutan rakyat tersebut perlu ditingkatkan kinerjanya agar lestari. 2006 : Halaman 101-121 . Kata kunci: Hutan Rakyat. Walaupun demikian .suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. serta sebagai kawasan penyangga bagi kawasan hutan negara. 2006 Sumberdaya alam yang secara spasial terbagi habis ke dalam DAS/Sub DAS. dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. termasuk di dalamnya penggunaan sumberdaya hutan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Hutan rakyat ini ada yang bersifat subsistem dan ada yang dengan tujuan komersial. penganekaragaman hasil pertanian yang diperlukan oleh masyarakat. Das Mararin. TANA TORAJA / Hunggul Yudono SHN dan Iwanuddin. dan memaksimumkan pendapatan usaha. DAS SADDANG. lahan pertanian hancur. usaha tersebut belum mampu meningkatkan kinerja usaha. memperbaiki kualitas lingkungan dan sumberdaya hutan. hal ini antara lain disebabkan oleh semakin besar permintaan pasar akibat tumbuhnya berbagai jenis dan skala industri pengolahan kayu di setiap kabupaten dan propinsi.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Awang (2003) menyatakan ciri dari hutan rakyat adalah bahwa kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan di atas lahan milik rakyat. pemeliharaan lingkungan hidup serta bagi pemerintah daerah. mengelola dan memelihara sumberdaya hutan yang ada agar mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Makna yang tersurat dan tersirat adalah adanya kewajiban kepada kita semua untuk mengatur. Demikian kalimat sakral yang tertuang dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. dan manfaatnya untuk masyarakat. melalui strategi dan program pengembangan yang tepat. diterima masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat. dimana hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. mengoptimalkan lahan garapan. sedangkan hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Buruknya pengelolaan DAS menjadi satusatunya tertuduh. Berdasarkan statusnya hutan terdiri dari hutan hak dan hutan negara. Pengelolaan hutan Yudono SHN. Namun demikian. Akhirakhir ini ketika bencana banjir. 41 Tahun 1999. Tana Toraja 183 . Kata kunci: Kelembagaan. Das Saddang. DAS menjadi istilah yang paling sering muncul baik dalam diskusi-diskusi ilmiah maupun dalam berita-berita di koran. bahan baku industri. Kegiatan usaha hutan rakyat diharapkan memberikan dampak positif bagi rumah tangga pedesaan.

especially at saddang and Bilawalanae Watershed. Yudilastiantoro dan Tony Widianto. Sulawesi Selatan 184 .Yudono. Hunggul MIKRO HYDRO ELECTRIK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR SKALA KECIL: MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT DAN MENJAGA HUTAN DENGAN HASIL AIR / Hunggul Yudono SHN dan Gunardjo TJ. The research was done in DAS Jeneberang and Bilawalanae from August untul December 2005. 2) Ada kecenderungan mulai terjadi defisit sumber daya air di Jawa. kekeringan. Sorotan juga diarahkan kepada masyarakat yang berada di wilayah hulu. Hulu DAS mengalami okupasi oleh masyarakat yang strategi bertahan hidupnya justru membuat mereka terpuruk dalam kemiskinan dan sekaligus juga membahayakan kelestarian fungsi DAS dan wilayah di bawahnya. -. This research located in South Sulawesi Province. seen from human resources. With this research can be know institution that take part in watershed management. this research used survey method. 2006 : Halaman 245-264 . Untuk dapat lebih mengoptimalkan hasil. longsor.hasil air .Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Govermental administration problems have to be managed according to administration boundary and on the other side watershed need to be managed with the boundary of watershed itself. SULAWESI SELATAN / C. Sumatera. Halaman 4961 . For regional watershed management. 3) terjadinya peningkatan frekuensi banjir besar dan kekeringan di berbagai tempat. dan Sulawesi. melakukan perambahan hutan dan menggunakan lahan di kawasan lindung bertopografi berat untuk lahan budidaya tanpa memperhatikan daya dukung lahan. berbagai DAS menjadi sensitif terhadap bencana banjir. locally and regionally. dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil ini juga dilakukan pengumpulan data dan survey agar dapat dihasilkan informasi yang akurat hubungan sebab akibat antara kondisi hutan. 13 September 2005 . serta 4) sistem pertanian di Indonesia yang boros air sehingga air kurang termanfaatkan dengan baik.energi listrik kesejahteraan masyarakat. -Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Pembangkit Listrik. Disamping untuk kepentingan pembangunan kehutanan. energi listrik alternatif ini juga dapat digunakan untuk mengatasi krisis listrik yang saat ini banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Serta dilengkapi juga dengan pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat pengguna listrik dan pendampingannya. Pengelolaan DAS. organization and law. Primary and secondary data analyzed with Stakeholders Analysis Method and SWOT Analysis Method. some regency wish the form of selfsupporting Otorita that still under conducting Governor as province leader. Kata kunci: DAS. karena alasan kemiskinan dan merupakan sumber permasalahan. with studying fundamental duty and institution function which related in watershed management. through direct interview and filling questionair to the respondent. This is because the human resources. Air Yudilastiantoro. akibat peningkatan jumlah penduduk dan kondisi DAS yang kritis. Lembaga Pengelola. organization and legislation supporting enough. not in the form of independent institution but under an appropriation to Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten this time. DAS SaddangBilawalanae. Kata kunci: Mikro Hydro Electrik.Secara langsung maupun tidak langsung ditengarai salah satu penyebabnya adalah eksploitasi kawasan hutan lindung di daerah hulu yang mempunyai fungsi sebagai pengatur tata air. The aim of this research is to studying about watershed management in local and regional level. Can be recommended that institute of local watershed management formed in every regency. 2006 Decentralize era result the change of local government competency in the form of institutional reinforcement of watershed management. To gain data of the aim above.Salah satu kegiatan yang dapat menjawab permasalahan hubungan antara hutan dan masyarakat adalah dengan pemanfaatan air sungai yang berasal dari hutan untuk menghasilkan sumber tenaga listrik alternatif bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. C KONSEP LEMBAGA PENGELOLAAN DAS TINGKAT LOKAL DAN REGIONAL DI DAS SADDANG-BILAWALANAE. 2005 Kondisi di Indonesia dari data yang ada menunjukan adanya: 1) peningkatan jumlah DAS kritis satu dari tahun ke tahun.

99 Adinugroho. 145 Endom. 100. Ari. 141 C D D. 6. 2 Alrasyid. 142 Dulsalam. 74 Danu. 9. Sasa. 12 E Effendi. Yanuarius Koli. 4 Alviya. 102 Bau. 105 Diniyati. 8 Beadle. 144. 13 Fauziyah. Wahyu Catur. 105 185 . 103 Bustomi. Budiman. Deden. 74 Darwati. Dian. 138. 77 F Falah.INDEKS PENULIS A Abdurachman. 143. 76. Martono. 8. Harun. 146 Ekawati. Hamdan Adma. 74 Bastoni. Saptadi. Chris. 147 Fiani. 1 Adinugraha. 140. 12 Darmawan. Bambang S. 10. 104 Darwo. 100 Asaad. Sofyan. 1 Alrasjid. 103 Butar-Butar. 12 Farid A. Chairil. 98. S. 9 Bustomi. 145. A. Iis. 101 Basri. Indra Jaya. 103 Dharyati. 2. Eva. 73 Achmad. Imaculata. Sulistya. 75 Durahim. Tigor. Faiqotul. Hardjono. Andy. 4 Anwar. 11 Daryono. Burhanuddin. 139 Ade. 5 Arisman. Satria. Wida. Sofwan. 1 Abdurrohim. 7. 140 B Bakri. Emmy. 99 Antoko. Rachman. Luciasih. 9. 73 Anggraeni. 4. 101 Astana. 105 Fatima. 1 Adman. 1 Agustini. 11 Darwiati. Efrida. Wesman. Herman. 142. 139 Andianto. 144 Djaenudin. Illa. Harun. 9 Cahyono. 100 Asmaliyah. Mohd. Wida. 3.

80. A. 114 Lazuardi. Ermi E. 22 Krisdianto. 112 Junaidi. 106 Garsetiasih. 17. Rusli M. 13 H Hairudin. Nurwati. Ngaloken. A. 19 K Kaho. 147. R.Syafari. 25 Kuswandi. N. Henti. Karim. Morag. 79. 156 Koeslulat. Kresno Agus. 150 Halidah. 110. I Made. A. 79 Jayusman. 113 Kurniawan. L Michael Riwu. Hendi. 81. Neo Endra. 156 Kayat. 16 Hardi TW. OK. 109 Hidayat. 155 Iriansyah. Edy. Teguh. 20 Karyono. Mudji. Heru. Eko B. Marinus Kristiadi. 111 Judhiharto. Rozza Tri. Wuri.. 149 Glen.M.79 J Jasni. Dian. 112. 18. 21 Komala. 19 Iskandar. 159 Lelana. 27 186 . Hery. 26 L Lasminingsih. 16 Hendarto. 108 Heriyanto. Setiasih. 82 Lestari. Adi. 157 Kunarso. 77 Hakim. G. Kirsfianti Linda. 21 Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. 24 Kusumedi. Nur. 107 Hajib. 16. 81 Lempang. 155. 113 Kuntadi. 153 Hood. 17 Hendalastuti. 106 Golani. R. 23. 107 Hardiyanto. Maming. Wanda. 154.D. Asep. Priyo. 158 Kuswanda. 19 Hermanto. 22 Kosasih. 82 Lestari. 78.. 25 Kwatrina. Djeni. 13 Ginoga. 153 Hendra. Ismatul. 157 Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya. 149. 108 Harisetijono. 14 Harun. M. 22 Kurniadi. 152. 24. 151 Hendalastuti R. Mody. 15 Handayani.Sri. 14 Hayati. Relawan. Henti.I. 153 Irawanti. 107 Gunaja. 109 Husna. Ian A. Nanang. 78 Herdiana. 20. 158 Kurniawan.S. 157 Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. 109 I Indartik. 151 Harahap. Rahman. Agus. 148 Gintings. Setyani B.G Gaffar.

40 Premono. Edwin. 117 Muchtar. 168. 162. Yamin. 29. R. 121 Premono.. Agung Wahyu. 120 Pratiwi. Caroline L. Gerson ND. 113 Omon. 31.L. Ida. 28. 161. 29 Mile. 123. Abdul Hakim. 38 Pasaribu. 166 Rachman. 84 O P Panjaitan. Encep. Mulyana. 28 M. Mohammad. 167 Retnowati. 119 Nurfatriani. 42. 122 Rahmayanti. 43 Retna I. Tejo B. Sudin.B Putera. 159 Malik. 44 Rimbawanto. Joko. Y. Syofia. Nunung. 36 Nurhayati. 86. 162 Mindawati. 85. Budi Hadi. 30 Mile. Bismark. Indra A. 122 Riyanto. Fitri. Ridwan A. 120 Prihatini. Heru Dwi. 169 187 . 27. B. Eulis. M. 35 Nurhaedah M. 41. 39 Prasetyawati. Mamat.. 117 Misdarti. 84 N Narendra. 32 Natawijaya.P. 164 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. 87 Pramono. 34 Noorhidayah. 35 Nurdawati. 87 Pasaribu. Suryanto. Irwansyah Reza. 122. Gunawan. Tjutju. 87 Parlinah. Ruben. Nina. Eka. Yanto. 118 Njurumana. Gustan. 37. 83 Mohammed. Retno. 38 Pari.Lubis. 28 Martin. I Ketut Catur. Dedi. 118 Muslich. Syarifah. 33. 83 Marbawa. 115 Mairi.U. 38 Purwanto. Osly. Jamaludin. 30 Munandar. 41 Rahmat. 165 Putri. 43 Renden. 42 Rayan. 163 Nurhaedah M. 121 Priyono. 163 Parthama. 39 Prayudyaningsih.. 167 Rochmayanto. Abdullah Syarief. 32. Anto. 30. C Andriyani. 121 Pudja M. 120 M M Hidayatullah. Dewi. 160. I. M Yamin. 26. Istiana. 41 R Rachman.I.S. Amir. 116. 27 Mahfudz. Aris. 83 Mandang. 162 Ngatiman. 34 Novrianto. 82. Tejo. 113 Lukman. 119. 32. 37. Kristian. 160 Ma'ruf. 36. 84 Nugroho. 88 Rachmawati.

64. 66 Taufikurahman. Hengki. 65 Susila.M. 46. 47 Santoso. 51 Siahaan. 126 Setyowati. 174. Han. 44 Rumboko W. 169 Santoso. 51 Siran. Sulistyo A. 126 Setiawan. Nur Arifatul. 178. 179 T Takandjandji. 128 Suhaendi Hendi. Kamindar. 177 Subiakto.. 171 Sugiana. 92 Sumadi. 57. 169 Satyawardana.. Dede J. I Wayan Widhana. 63. I. 170 Sufyadi. 90 Sudrajat. Reny. E. 129 Suharti. Hendi. 55. 179 Sylviani. 88. 58 Suhartana. R. Agung B. 174 Syahadat. Ismayadi. Tiwa. Sri. Sujarwo. 60 Sumarhani.. 45. 64 Suryanto. 89 Sawitri. 93. Dedi. 49 Setiadi. Pujo. 133 W Waluyo. 89. 130 Tira. Atok. Adi. 127 Sofyan. 44. 130 Susanty. 57 Suherman. 55 Sugiarto.. 171 Sulastiningsih. 51 Setijono. 67. Agus. 58 Sukadaryati. 95 188 . Budi. 174 Surata. 56 Supangat. 176. 173 Supriadi. 125 Santoso. 62. 131. Totok K. Teguh. 93 Suprapto. 168 S Salim. 55 Suhaendi. 53 Siswoyo. Andi Gustiani. Retno. Farida Herry. Epi. Erdy. 60 Sukrianto. Mustaid.Roliadi. 94 Suprianto. Djoko. Suwardi. 133. Sihati. 128 Subarudi. Agis Nursyam. 61. 66 Tjahjono. 132 Ulya. 90. 175. 56. 65 Suwandi. 45 Samsoedin. I Komang. Dedi. Harris Herman. 92 Sumantoro. Maliyana. 91 Suhartati. 127. 54. 129 Sumadiwangsa. 89 Ruby. La Ode Asir. 173 Supriadi. 180 Utomo. 131 U Ulfa. 91 Sukresno. 52 Siregar.. Achmad. 50. Agus. 172 Suprapti. Sona. 177 Sujatmoko. Bambang. 178. Hadi. 129 Sumardi. 176. 47. 54 Sudradjat. 59. 58. Agus Djoko. Lukas. 170. Ogi. Priyono. 65 Suyarno. Mariana. 63 Suryanto. 52 Siringoringo. Budi. 48.

72 Yudilastiantoro. Catur Budi. Bugris. 95 Wardani. 72 Yuniawati. 134 Wijaya. 71 Yassir. 96 Widiarti. 70 Widyaningsih. Ina. Nurheni. 184 Yudono SHN.Waluyo. Upik Rosalina. Ari. 136 189 . 181 Wibowo. 133 Wiati. 183 Yudono. 68. 71 Y Yafid. 69. Arian.Hunggul. Irma. I Nyoman. Marfu'ah. SM. 67 Wardi. Ishak. Tri Sulistyati. Hunggul.. 96 Winarno. 135 Wijayanto. Santiyo. 184 Yuliansyah. 97 Z Zulfikhar. 94. C. 70. 182 Widyastuti. Bondan. 136 Yeny. Danu. 67 Wardojo. 182 Winarni. Asmanah. 181 Wargadalam. 135 Windyarini. Eritrina. 95 Wasrin. Totok K. 69 Wibowo.

13. 2 Areal Bekas Penambangan Batu Apung. 5. 41 Burung Bayan Sumba. 90 Budaya Masyarakat. 12. 158 Budidaya Kepuh. 124 C Cabutan Anakan. 24 Budidaya Vanili. 29. 57 Burung. 169. 14 Anatomi. 72 Bali. 140. 167. 108 Budidaya Klicung. 7 Biomasa. 82 Anatomi Kayu. See Pulai Darat Alstonia Scholaris (L) R. 4 Avifauna. 27 Biofisik. 165. 105. 144 Biodiversitas. 181 Aquilaria Microcarpa. 117. 166 Agrosilvofishery. 61. 17 Antagonistik.. 62. 26. 28. 30. 71. 108 Bambu. 51. See Gaharu Arang Aktif. 74 Biaya Dan Pendapatan. 37. 172 Bitti. 26. 160. 36. 66. 11 Aplikasi Mikoriza. 92. 23. 83 Benih Tanaman Hutan. 38. 49 Busuk Akar. 41. 160. 142. 77 Alstonia Angustiloba. 138 Basidiomycetes. 163 Bioinsektisida. 132 Aplikasi Sistem Informasi Geografis. 67 Bambang Lanang. 55. 43 1 . 87 Arang Bambu. 113. 138 Araucaria Cunninghamii Sw. See Kayu Palaso Agribisnis. 134 Anthocephalus Chinensis (Lamk. 45..Br. See Pulai Ampupu. 109 Basis Data. 73. 106. 63. 92 Bambu Rakyat. 52. 138. 117. 40. 31 Areal Tegakan Sisa Hutan Alam. 119 Alat Expo-2000. 92 Bambu Laminasi. 79. 69. 80. 48. 57 Adsorben. 85. 73 Andosol. 78. 64 Analisis Sosial Ekonomi. 85. 108. 59. 102 Alang-Alang. 100. 170 Aceh. 83 Bambu Lapis. 42 Analisis Model Pendugaan Volume Jenis. See Jabon Aplikasi Endomikoriza. 162 Agroforestry. 13 Burung Merandai. 74. 27 B Bahan Bakar Alternatif. 28. 14. 106. 55 Briket Arang. 138 Bambu Lamina. 17 Bentonit. 159. 71 Anakan Jabon. 29. 21. 109. 61 Budidaya Rotan. 86. 117 Anggrek. 33. 117 Busuk Hati.INDEK KATA KUNCI A Acacia Mangium. 86 Aglaia Sp.

37. 169 Hasil Hutan Non Kayu. 39. 36 Hhbk. 112. 111 Getah Pinus. 32. 100 Ex-Situ. 141 Getah Pinus Merkusii Strain. 41. 146. 71. 20. See Ulin . 51. 134 Formaldehida. 27. 129.Cendana. 35. 88 Endemik. See Jelutung E Eboni. 100 Eksploitasi Hutan. 23. 12 Eceng Gondok. 164. 123. See Hasil Hutan Bukan Kayu Hidrologi. 166 Hama Penyakit. 68. 14. 27 F Fenologi. 119. 148. 140. 65. 179 Daerah Penyangga. 117 Fungi Patogen. 52 Etnobotani. 133 Ekologi Hutan. 84 Dyera Lowii. 110 Hukum Adat. 151 Hormon Iaa. 130. 20. 19. 57 Gmelina Arborea Roxb. 10. See Rusa Sambar Citra Satelit. 50. See Eboni Diospyros Malabarica Der Kostel. 69. 95 Genetik. 34 Hutan Lindung. 62 Cervus Unicolor. 158. 134 G Gaharu. 174 Hutan Kota. 59 Desentralisasi. 127. 44. 107. 101. 156. 7. 16. 150. 84 D Daerah Aliran Sungai. 40. 45 Hutan Hujan Tropik. 59. 44 Efikasi. 4 Flora. 157. 57. See Kayu Randu Alas H Hama. See Ampupu Eusideroxylon Zwageri. 50. 111. 98. See Klicung Dipterocarpaceae. 11.. See Eceng Gondok Ekaliptus. 34. 38 Erosi. See Burung Bayan Sumba Elignification. 52. 92. 122. 7 Etos Kerja. 46 Hutan Kemasyarakatan. 121 Herbisida. 134 Fungi Trichoderma. 128 Cuka Kayu. 140 Electus Roratus Cornelia Bonaparte. 135 Ekowisata. 57 Ekosistem. 104. 12. 100. 168 Diospyros Celebica Bakh. 99. 87 Frekwensi Pemeliharaan. 25. 140 Hutan Bekas Tebangan. Binn. 140. 57. 4 Forest Health Monitoring. 98 Hormon Pertumbuhan. 133. 179 191 Eichhorniae Crassipes Solms. 123 Gerhan. 12.T Blake. 60 Gossampinus Malabarica Alst. 16 Ekonomi Rakyat. 42. 27. 123 Eusideroxylon Zwageri Teijsm. 131 Hasil Hutan Bukan Kayu. 1. 13 Ekspor. 9 Core Research. 68. 118 Ekologi. 21. 182 Eucalyptus Urophylla S. 43.

81 Industri Kehutanan. 172 Jatropha Curcas Linn. 122. 129. 89 Kawasan Konservasi. 182 Hutan Rawa. 83 Kayu Tusam. 74 Jamur Patogen Serangga. 79. 81 Jamur Perusak Kayu. 82 Kayu Pertukangan. 59. 171. 139. 46. 10 K Kalimantan Barat. 178. 175. 177. 68. 1. 181 Karbon. 45. 62 Hutan Tanaman Industri. 160. 60. 141 Imperata Cylindrica L. 90 Jarak Tanam. 109. 95 Industri Perkayuan. 166. 104. 14. 10 Industri Cinderamata. 108 Kayu Putih. 3. 157. 65. 80. 52. 28 Jenis Flora. 99 Kayu Randu Alas. 106 Identifikasi Jenis. See Jarak Pagar Jawa Barat. 89. 55. 82. 157. 18. 93. 51 Jenis Burung. 47. 142. 103. Beauv. 135 Hutan Rawa Gambut. 90. 112 Hutan Ulayat. 128. 130. 116. 36. 73 Kayu Kurang Dikenal. 155 Kawasan Penyangga.. 79 Kayu Lapis. 168 I Identifikasi Jamur. 67 Illegal Logging. 161. 153 Imbal Jasa. 119 Kayu Keras. 54. 27. 29. 156. 115. 72. 4 Jenis Introduksi. 97. 177. 87 Kayu Palaso. 123. 159 Jati. 4 Kalimantan Selatan. 119 Hutan Rawa Air Tawar. 8 Jenis Andalan Setempat. 167. 173. 48 Irigasi. 121. 81 J Jambi. 65. 140. 68 Kearifan Lokal. 132. 152 Hutan Tanaman Jelutung. 28 Jamur. 5. 6. 80. 58 Karbon Tanah. 78 Kearifan Lokal. 127 Kalimantan Timur. 121. 32. 68. 106 Jamur Biru. 34. 53. 133. 84 Keawetan Kayu. 143. 115. 176. 136 Hutan Rawa Sungai. 33 Isi Pohon. 140 Kayu Kamper. 178 Jelutung. 125. 145. 24. 116. 77. 4 Kayu Bulat. 127. 144. 73 192 . 86. 169 Keawetan 25 Jenis Kayu. 114 Karton. 156. 112. 150. 47. 106 Hutan Tanaman Cendana. 146. 12 Kawasan Wisata Alam. 19. 16. 94 Inokulasi Cendawan. 146 Hutan Rakyat. 8 Hutan Tanaman Rakyat. 147. 103 Isolat. 81.Hutan Mangrove. 179 Jawa Timur. 25. 30. 33. 65 Jenis Pohon Tepat Guna. 62 Hutan Penelitian. 135. 46. 41. 59. 84. 112 Hutan Produksi. 74. 93 Jarak Pagar. 174. 131 Invitro. 53 Karet. See Alang-Alang Inang Gaharu. 146.

74. 132 Lahan Rawa Gambut. 67. 50 Kualitas Semai. 85 Kulit Kayu Medang Landit. 66 Lahan Gambut. 89 Kultur Jaringan. 15. 180 Kebijakan. 114. 111. 149. 152. 45 Kelembagaan. 177 Kebun Konservasi. 176. 93 Metode Ekstraksi. 108 Megapolitan. 79. 56. 107 Kelayakan Usaha. 94. 132 Lahan Tegakan. 61 Klon. 144. 107. 5. 9. 143. 173. 140 Kemitraan. 111 Kemiri. 78. 126. 17 Kerajinan. 30. 32. 148. 95 Kokon. 117 Klicung. 11 Lahan Rawa. 114.Kebakaran. 58 L Lahan Basah. 109 Mikoriza. 184 Lignin. 14. 20. 98 Kembang Susut. 184 Mikroba Simbiotik. 10. 152 Kepuh. 72 Masyarakat Sekitar Hutan. 115 Kohobasi. 60. 38. 151 Lahan Kurang Produktif. 113 Media Kecambah. 109. 110. 8. 174 Kelembagaan. 25. 64. 154. 24. 169 193 Maduca Aspera. 10. 2. 6. 143. 23. 102. 89. 131. 55 Media Sapih. 122. 118. 132. 125 Kualitas Serat. 110. 112. 26 Kualitas Aliran. 4. 109. 22 Lebah Madu. 130 Kutu Lak. 122. 161. 96 Kulit Mangium. 67. 156. See Kayu Putih Meranti Merah. 49 Lahan Bekas Tambang Batu Kapur. 87. 55. 18 Kriteria Dan Indikator. 87. 170 Melaleuca Cajuputi Subsp Cajuputi. 32. 35. 120 Mesin Pengering. 126. 144 Kemampuan Bertunas. 138 Kesesuaian Jenis. 158. 101. 45. 62. 27 Kelapa Sawit. 140. 136. 36 Komponen Kimia. 15. 96 Kemiskinan. 118. 2. See Bambang Lanang . 22 Lembaga Pengelolaan. 74 Mesin Serpih. 183 Kelompok Tani. 126. 158. 120. 69 Konyal. 65. 114 Lahan Kritis. 67. 46. 42 Media Kultur. 79 Kulit Kayu. 172 Lebah Hutan. 138 M Mahoni. 179. 136. 67. 170. 2. 150. 48. 111 Mikologi. 121. 155 Manokwari. 150. 36. 102 Media Tabur. 108 Keragaman Jenis Anggrek. 43 Lahan Pasca Penambangan Batu Gamping. 15. 48 Kesuburan Tanah. 86 Kontrak. 21. 27. 146 Mati Pucuk. 105. 74 Kemenyan. 69 Kebakaran Hutan. 65. 157. 136 Mikro Hydro Electrik. 85 Limbah. 102 Mangrove.

44 Pembangunan Hutan. 13. 155. 121 Mimba. 164 Nipah. 80 Pengupasan Kulit. 114. 39 N Nata Pinnata. 2 Morfologi. 67. 44 Paraserianthes Falcataria. 67 Pembentukan Gaharu. 151 Pengelolaan Kawasan Hutan. 25 Pemanfaatan Limbah. 96 Nusa Tenggara Barat. 33. 174 Pengelolaan Hutan Rakyat. 29. 22 Pakan Burung. 153 Pemupukan. 162 Pengelolaan Lahan. 99 194 . 147. 133. See Nipah O Okulasi. 64 P Pakan.Mikrosatelit. 126. 107 Murbey Eksot. 112. 12. 107. 13. 1 Model Input-Output. 39. 34. 13. 23. 177. 25. 9. 38. 92 Papua. 61. 178 Pengelolaan Lahan. 129 Penertiban Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan. 182 Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat.. 39. 57.. 107. 6. 82. 13 Papan Partikel. 149. 60. 161 Pengolahan Kayu. 28 Passiflora Edulis Sims. 79. 124 Mutu Bibit. 107. 140 Pemanenan. 155. 103 Pembalakan. 163. 2 Pembiakan Vegetatif. 107. 66 Penatausahaan Hasil Hutan. See Murbei Muat Bongkar. 37 Pemetaan. 167 Pengelolaan Hutan. 94 Peluang Dan Tantangan. 77 Pembalakan Liar. 3. 151. 145. 41 Pakan Buatan. 149. 20. 175. 96 Pengawetan. 73 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 97 Murbei. 39. 40 Mutu Benih. 10. 19 Pemungutan Rotan. 57. 79 Pendapatan Asli Daerah. 178 Pengawet Nabati. 35. 12 Model Pendugaan Biomassa. 161. 69. 23 Pemanfaatan Kayu. 48. 4. See Konyal Pelapukan. 81 Nilai Ekonomi. 76 Pemanfaatan Huta. 47 Penangkaran. 120. 158. 80. 142 Pembangunan Kehutanan. 44. 5. 47. 91 Pemanenan Hutan. 28. 9. 33. 180 Model Pemanfaatan Partisipatif. 15 Pelengkungan. 98 Nusa Tenggara Timur. 76. 67 Morphoedafik. 15 Morus Spp. 118. 136. 22. 125 Otonomi Bidang Kehutanan. 19. 58. See Sengon Partisipasi Masyarakat. 141. 100. 75. 161. 41. 19. 88 Pengolahan Rotan. 171. 157 Pemanfaatan Lahan. 113 Nira Aren. 170 Nypa Fruticans. 180 Penduga Volume Pohon. 132. 164. 87 Pemangkasan. 61. 156 Pendapatan Masyarakat. 25. 104. 146. 176 Pencegah Serangan Rayap. 157 Pembangunan Hutan Tanaman. 81.

177 Riau. 166 Penyakit Bercak Daun. 24. 75. 38 Produksi Daun. 71. 44 Penyu. 21 Sistem Pertanaman Lorong. 94 Sifat Fisis Dan Mekanis. 120. 159. 120. 71 Potensi Tegakan Hutan Alam. 129. 38. 39. 9 Pranata Sosial. 47. 15 . 52 Pohon Tahan Api. 6 Penyaradan Kayu. 6. 15. 78.Peningkatan Kualitas Kayu. 97 Provenansi. 7. 7. 33. 89. 151 Perhutanan Sosial. 170 Rehabilitasi Hutan. 169. 58 Pulai. 20 Perlindungan Hutan. 9. 93. 99. 89 Petani Penyadap. 166 Serangga Hama. 1. 62. 16. 173 Shorea Leprosula Miq. 82 Penjarangan. 104 Peta Potensi. 39. 124. 13. 100. 162. 32. 106. 111. 100. 129. 145. 79 Rayap Pekerja. 153 Rumah Kaca. 153 Rotan. 110 Rayap Kayu Kering. 123 Scion. 7. 38. 162. 35 Serat Batang Kelapa. 163 Perekat. 22 Penotipe. 32. 97 Penyelundupan Kayu. 65. 4. 69. 105 Puspa. 31. 6 Penyakit Embun Tepung. 66 Peran Hutan. 101. 136. 38. 172 Peran Jender. 77 Sifat Tanah. 7 Serasah. 51. 160. 150 195 Salinitas. 20 Pestisida. 52. 8 Rencana Makro. 31 Rehabilitasi Lahan. 16 Pupuk Nitrogen. 17. See Meranti Merah Sifat Fisiko-Kimia. 122. 3 Produktivitas Dan Biaya. 48 Produksi Kelompok Hutan Alam. 133. 152. 81 Rehabilitasi. 100. 145 Rejuvenasi. 91 Sistem Kaliwu. 104. 69. 80 Serbuk Gergaji. 80. 123. 115 Sengon. 69 Peredaran Kayu. 39. 44. 169. 70. 31 Sistem Tebang Pilih. 130. 3 Social Capital. 118 Penyakit Embun Jelaga. 1. 36. 23. 127. 4. 130 Pestisida Nabati. 31. 33. 105. 132. 51. 99 Rekayasa Sosial. 103 R Ramin. 92 Perencanaan Pengelolaan. 76. 36 Rusa Sambar. 152. 116 Perikanan. 42 Pupuk Kandang. 112. 70. 29 S Santalum Album. 131 Pulai Darat. 103 Penotipa. 75. 129 Pupuk Daun. 131. 7. 132. 136 Sistem Kabel Layang. 84. 140 Pohon Lokal. 133 Perlindungan Hutan. 159. 170 Rehabilitasi Lahan. 146 Perlindungan Hutan. 32 Sistem Kerek. 86 Sertifikasi. 40. 61 Penyakit.

25. 19. 28. 174. 17 Taman Nasional Bukit Tigapuluh. 22. 51. 30. 26 Taman Nasional Gede Pangrango. 127 Teknik Pemeliharaan Tegakan. 89 Tapak. 179. 21. 19. 98. 103 Sukun. 55 Teknik Penangkaran Penyu. See Mahoni T Tajuk Pohon.Social Forestry. 171 Surian. 128 Teknik Silvikultur. 179 Sumberdaya Hutan. 120. 160. 163... 178. 48 Tipe Vegetasi. 121. 61. 58 Taman Nasional Meru Betiri. 175 Subak. 102. 139 Tectona Grandis L. 154 Taman Nasional Betung Kerihun. 27. 184 Sulawesi Tenggara. 16. 70 Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. 66 Teknik Pengelolaan. 172 Tata Usaha Kayu. 58 Teknik Budidaya Padi Gogo. 179 Sumberdaya Air. 97 Tumbuhan Berkayu. 39. 59. 91. 167. 82 Teknologi Pemanfaatan Kayu. 5. 30. 24. 1 Tanaman Penutup. 105. 66. 105. 138 Tapak Hutan. 111 Swietenia Macrophylla King. 75. 177 Sosial Ekonomi. 132. 169 Teknologi Pemuliaan. 12 Stek. 172 Sumatera Utara. 114 Teknologi Mikroba Simbiotik. 36 196 . 23. 18 Taman Nasional Gunung Rinjani. 102 Traktor Caterpillar. 107 Ukiran Kayu. 79. 51. 170 Tingkat Kerontokan. 98. 63. 87 Ulat Sutera. 18. 43. 32 Tandan Kosong.F. 13. 163. 114. 28. 70. 96 Sumber Benih. 163. 181 Supply-Demand. 154. 44. 4. 164 Sosial Forestry. 54. 54. 126 Sulawesi Selatan. 37. 158. 19 Tumbuhan Obat. 33 Sukabumi. See Jati Teknik Budidaya Kutu Lak. 161. 175 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 149. 11. 169 Teknologi Pemadatan. 25. 118. 56 Teknik Pembibitan. 20 Taman Nasional Kelimutu. 149. 154. 55. 165 Teknologi Perbenihan. 17 Teknik Penyiangan. 83. 126. 41. 55 Taman Nasional Kerinci Seblat. 141. 19 Tanaman Mimba. 56 U Uji Efikasi. 109 Sumatera Selatan. 136. 160 Teknik Pengepakan. 28. 36. 130 Stek Akar. 113. 130 Taman Nasional Bali Barat. 142. 69. 19 Tata Air. 89 Tanin. 127. 68. 155. 113 Sumber Daya Air. 128. 87. 179 Tataniaga. 35. 5. 46 Strategi Pengelolaan. 115. 173. 30 Taman Nasional Laiwangi . 121. 94. 116. 162. 153 Taman Nasional Bromo Tengger. 57.Wanggameti. 34 Tumpangsari. 18. 63. 72 Tumbuhan Obat. 173 Standarisasi Benih. 60. See Kepuh Strata Tajuk. 126 Sterculia Foetida Linn. 41 Taman Nasional Komodo.

80 Xylarium. 78 Vitex Cofasus Reinw. 34. 78. 83 X Z Zat Pengatur Tumbuh. See Vanili Vegetasi. 84 Venir Silang. 1. 115 197 . 76. 42. See Bitti Volume Teras Kayu. 98.Ulin. 91 Wisatawan. 51 Urea. 27 Wawasan Lingkungan. 102 Venir.. 57. 174 W Vanilla Planifolia Andrews. 47 V Vanili. 57 Wallaceae.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful