Abdurachman POTENSI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm.

Binn) DI HUTAN ALAM LABANAN, KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman dan Amiril Saridan. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 225-236 , 2006 Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn) is one of timber product in East Kalimantan, which has a hight economical value. Ulin has been an important source of income for the forest community and National income. Information of potency and population A.zwageri Teijms. & Binn in natural forest is limited, other hand extraction or exploitation A zwageri Teijms. & Binn is still intensive, without knowing whether the tree has Ulin or not which will impact on genetic resource. This researsch was done at STREK project plots at Labanan tropical production forest with the area of plot each is 4 ha (200 m x 200 m). The totals of plots are 12 plots or 48 hectare. The objective of this research is to get information of stocking and distribution of the trees produced Ulin Eusideroxylon zwageri Teijm & Binn. The result shows that the total of trees on plots are 230 trees, which mean only 5 tree/ha (basal area are 1.9483 m2/ha). The maximum diameter in these plots is 95.2 cm while the minimum diameters were above 10 cm. Kata kunci: Ulin, Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn, Hutan alam, Labanan, Berau, Kalimantan Timur Abdurachman SEBARAN DIAMETER PADA HUTAN 1 TAHUN SETELAH PENEBANGAN DENGAN SISTEM KONVENSIONAL DI BERAU, KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 317-324 , 2006 The research was carried out the concession area of PT Inhutani I Labanan, Berau, East Kalimantan. Measurement was conducted at the plots 4 ha (200x200m). The measured diameters were from 10 cm dbh and above. The objective of this research were to know the stand structure from diameter

distribution after logging with conventional system based on exponential, Gamma, Beta, Lognormal and Logistic distribution functions. The result showed that the distribution based on number of tree follow the reserve-j pattern which is the phenomenon of mixed natural forest. Furthermore by using the regression equation based on highest coefficient of determination (R2) and the least standard deviation, the suitable function was obtained namely exponential distribution function. Kata kunci: Diameter, Struktur, Tegakan, Penebangan, Konvensional, Berau, Kalimantan Timur Ade PEMANFAATAN TANAMAN MIMBA UNTUK REHABILITASI LAHAN KERING SEKALIGUS MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN / Ade. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 71-84 , 2006 Tanaman Mimba intaran atau Nee (Azadirachta indica) adalah salah satu jenis pohon asli Indonesia yang tumbuh di daerah kering dan merupakan tanaman serbaguna yang bernilai jual ekonomi tinggi. Produk dari mimba antara lain: (1) untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik, (2) kosmetik dan toiletris seperti sabun batangan,-sabun cair, body lotion, shampo, dan pasta gigi, obat kumur, dan produk spa; (3) pembuatan obat seperti teh hijau, kapsul neem, obat luka dan balsem; (4) pakan ternak; (5) produk lain seperti obat nyamuk, minyak pelumas, pengusir hama gudang dan lain-lain. Dalam pembuatan kegiatan tanaman hutan tanaman yang meliputi teknik persemaian, penanaman dan pemeliharaan tidak memerlukan perlakuan khusus dan hampir sama dengan jenis tanaman lain. Khusus kegiatan panen dan pasca panen memerlukan teknologi khusus mulai dari pengambilan bahan tanaman yang dikaitkan dengan pengolahan pasca panen. Dalam pengembangan tanaman mimba PT. Intaran Indonesia menggunakan konsep Strategi Tiga Lingkaran a.l.: preparing, processing and developing, yang melibatkan kerjasama masyarakat, baik pemerintah, LSM, pengusaha dan kelompok tani. Kata kunci: Mimba, Rehabilitasi, Lahan kering, Ekonomi Masyarakat

1

Adinugroho, Wahyu Catur MODEL PENDUGAAN BIOMASSA POHON MAHONI (Swietenia macrophylla King) DI ATAS PERMUKAAN TANAH (Biomass Estimation Model of Above Ground Mahogany (Swietenia macrophylla King.) Tree) / Wahyu Catur Adinogroho; Kade Sidiyasa. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 103 - 117 , 2006 Protokol Kyoto meliputi mekanisme pembangunan bersih dalam rangka mengontrol karbon yang dihasilkan oleh negara-negara di dunia. Hutan menyerap CO2 dari udara melalui proses fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa hutan. Untuk menduga jumlah biomassa di dalam hutan, pendekatan secara tidak langsung melalui model alometrik dan metode biomass expansion factor (BEF) dapat digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh besarnya nilai BEF dan membuat model alometrik dalam menduga besarnya biomassa pada pohon mahoni. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut maka ditentukan sebanyak 30 pohon contoh yang ditetapkan secara purposif, yang selanjutnya dilakukan penghitungan biomassa. Biomassa batang dan cabang yang beraturan dihitung dengan menggunakan pendekatan volume sedangkan biomassa bagian lainnya dihitung dengan penimbangan langsung. Model pendugaan biomassa dihasilkan dengan menganalisa hubungan antara nilai biomassa dengan dimensi pohon. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah biomassa tertinggi terdapat pada bagian batang yakni mencapai 73 % dari biomassa keseluruhan pohon di atas permukaan tanah, kemudian diikuti oleh biomassa cabang (17 %), tunggak (5 %), daun (3 %), dan ranting (2 %). Model alometrik yang dihasilkan untuk menduga biomassa pada pohon mahoni adalah B = aDb, di mana B = biomassa (kg); D = diameter (cm); a, b = konstanta. Persamaan regresi yang dihasilkan tersebut adalah biomassa batang (Bbtg) = 0,044 D2,61 (R2 = 94,7 %), biomassa cabang (Bcab) = 0,00059 D3,46 (R2 = 83,5 %), biomassa ranting (Branting) = 0,0027 D2,42 (R2 = 65,6 %), biomassa tunggak (Btunggak) = 0,022 D1,96 (R2 = 65,6 %), biomassa daun (Bdaun) = 0,0138 D1,93 (R2 = 70 %), biomassa pohon di atas permukaan tanah (Btotal) = 0,048 D2,68 (R2 = 95,8 %). Sedangkan nilai ”BEF” rata-rata untuk pohon mahoni adalah 1,36 (biomassa batang keseluruhan) dan 2,16 (biomassa batang bebas cabang). Kata kunci : Mekanisme pembangunan bersih, biomassa, karbon, model alometrik biomassa, biomass expansion factor, Swietenia macrophylla King

Adman, Burhanuddin PENGARUH KULTUR MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN Araucaria cunninghamii Sw. DENGAN KULTUR JARINGAN (Effects of Culture Media on the Growth of Araucaria cunninghamii Sw. Explants with Tissue Culture) / Burhanuddin Adman; R. Mulyana Omon. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 67 - 73 , 2006 Penelitian pengaruh kultur media terhadap pertumbuhan eksplan Araucaria cunninghamii Sw. dengan kultur jaringan telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Petanian Universitas Papua, Manokwari, Irian Jaya. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan kultur media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan A. cunninghmii pada kultur jaringan. Percobaan dilakukan dengan tiga media kultur, yaitu MS, WPM, dan Anderson. Setiap media kultur yang volumenya 250 ml ditanami 10 eksplan A. cunninghamii. Hasil memperlihatkan bahwa WPM media telah berpengaruh terhadap pembentukan kalus (20 %) eksplan A. cunninghamii selama 16 minggu pengamatan. Sedangkan media MS dan media Anderson tidak memberikan pengaruh terhadap pembentukan kalus. Persentase pencoklatan masingmasing media berkisar antara 30 % dan 90 % dan persentase kontaminasi berkisar antara 10 % dan 50 %. Secara umum pencoklatan dan kontaminasi eksplan disebabkan oleh oksidasi substrat yang dihasilkan oleh A. cunninghamii. Dengan demikian pembiakkan vegetatif melalui teknik kultur jaringan pada eksplan A. cunninghamii harus dicoba dengan bahan kimia sterilisasi yang lain, misalnya NaOCl, dengan media WPM. Kata kunci : Araucaria cunninghamii Sw., media kultur (MS, WPM, dan Anderson), kultur jaringan Agustini, Luciasih KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR YANG POTENSIAL DALAM PEMBENTUKAN GAHARU DARI BATANG Aquilaria spp. (Biodiversity of Potential Agarwood Inducer Fungi Taken from Aquilaria spp. Stems) / Luciasih Agustini, Dono Wahyuno, dan Erdy Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.5 ; Halaman 555 564, 2006 Terbentuknya gaharu diyakini sebagai respon pohon gaharu terhadap banyak faktor, di antaranya fisiologis tanaman dan infeksi jamur. Sejumlah isolat jamur

2

yang berpotensi menginduksi gaharu telah diisolasi dari sampel kayu gaharu dari berbagai daerah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui keanekaragaman jenis isolat yang berhasil dikoleksi. Sampel kayu diambil dari beberapa lokasi penanaman gaharu di Jawa, Sumatera, Kalimatan, dan Maluku. Kegiatan isolasi, pemurnian, dan perbanyakan dilakukan dengan menumbuhkan pada berbagai media. Identifikasi dilakukan dengan mengamati ciri makroskopis dan mikroskopis isolat yang dibiakkan pada media PDA dan BLA yang diinkubasi pada suhu ruang dengan pencahayaan 300-400 lux selama 10-14 hari. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa biodiversitas isolat koleksi meliputi jenis Fusarium solani (Mart.) Appell and Walenw., F. tricinctum (Corda) Sacc., F. sambucinum Fuckel, dan Cylindrocarpon sp. Kata kunci: Keanekaragaman, Fusarium, Cylindrocarpon, ciri makroskopis dan mikroskopis Alrasjid, Harun PENERAPAN SISTEM TEBANG PILIH DI HUTAN RAWA GAMBUT / Harun Alrasjid. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 45-48 , 2006 Penerapan sistem silvikultur dalam mengelola hutan rawa gabut memerlukan penelitian yang seksama dalam jangka waktu yang lama. untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek diperlukan pengkajian ulang terhadap sistem silvikultur yang sudah mapan. Sebelum sistem silvikultur lainnya diterapkan dalam mengelola hutan rawa gambut patut ditelaah terlebih dahulu kondisi hutan rawa gambut dengan persyaratan yang diminta oleh sistem silvikultur tersebut. Penerapan sistem silvikultur TPTI untuk mengelola hutan rawa gambut perlu dikaji keakuratannya. Kata Kunci: Tebang Pilih, Hutan Rawa Gambut, Silvikultur

Alrasyid, Harun PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MENURUNNYA KELESTARIAN PRODUKSI KELOMPOK HUTAN ALAM TRENGWILIS - BOA ODAK, GUNUNG RINJANI, NUSA TENGGARA BARAT (Solution Approach of

Sustained Yield Declining Problem of Trengwilis - Boa Odak Natural Forest Complex, Mount Rinjani, West Nusa Tenggara) / Harun

Alrasyid; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 31 - 44 , 2006 Garu (Disoxylum densiflorum Miq.) merupakan salah satu jenis kayu primadona untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat ini produksi kayu tersebut setiap tahun semakin merosot, sehingga perlu ditangani segera melalui penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pemecahan masalah penurunan produksi hutan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa vegetasi. Hasil survey potensi hutan menunjukkan bahwa kelompok hutan Trengwilis – Boa Odak yang terletak di lereng Gunung Rinjani memiliki permudaan alam jenis perdagangan yang cukup. Rata-rata permudaan alam tingkat semai ada 9.740 batang per hektar, tingkat pancang 638 batang per hektar, dan permudaan alam tingkat tiang 75 pohon per hektar, namun jumlah volume kayu yang dapat dipungut sangat rendah (27,56 m³/ha untuk diameter 50 cm ke atas). Berdasarkan kondisi hutan tersebut di atas, penggunaan sistem Tebang Pilih dengan limit diameter tebang minimum 30 cm akan berakibat penebangan berkelebihan (44,63 m³/ha) sehingga kelestarian hutan akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan dengan cara : a. Limit diameter tebang dinaikkan minimum 40 cm, kecuali untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq., Eugenia polycephala Miq., dan Memecylum costatum Miq. dengan limit diameter tebang minimum 50 cm. Begitu pula untuk jenis pohon Duabanga moluccana Bl. dengan minimum diameter 70 cm; b. Perlu dilakukan pemeliharaan tegakan di areal bekas tebangan dan pengayaan tanaman khususnya untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq. Kata kunci : Kelestarian produksi hutan, Gunung Rinjani, Duabanga Moluccana Bl.., hutan alam Boa Odak, sistem silvikultur

3

4 % karbon organik. Selanjutnya. bunga pada keadaan mekar. Kwatrina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Bukit Lancang mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan dua lokasi lainnya. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan keragaman jenis dan peluangnya sebagai lokasi wisata alam di Granit Training 4 .552 gc/m2/th karbon organik. (1949).3 . Untuk menaksir tingkat pembusukan serasah dan laju akumulasi unsur mineral yang terurai menggunakan cara yang digunakan oleh Olson (1963 ) dan Yenny et al. Dengan diketahuinya tahapan fenologi ini maka dapat diprediksi berapa lama lagi buah mangrove akan matang. dengan rekomendasi bahwa Bukit Lancang dapat dikembangkan sebagai hutan pendidikan lingkungan dan jalur pendakian bagi pengunjung.2 . dan (c) Pemanenan biomas hutan yang tak terkontrol telah menghilangkan rata-rata 99. dan sekitar Air Terjun Granit. dekomposisi serasah. dan tingginya agak seragam. Sungai Sepada. No. Air Terjun Granit dan kawasan sekitar kolam sebagai bagian tak terpisahkan dari pelatihan dan demonstrasi pemadaman kebakaran hutan. Berdasar hasil pengamatan fenologi empat jenis mangrove di kawasan mangrove Suwung. Antoko dan Rozza T. West Kalimantan) / Harun Alrasyid. Halaman 513 -532 . Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : (a) Tegakan tinggal hutan mangrove menghasilkan rata rata 202. telah diketahui waktu-waktu yang diperlukan pada masing-masing proses tahapan fenologi mangrove : munculnya tunas bunga. Pengamatan dilakukan pada jenis-jenis vegetasi di kawasan GTC yang menarik pada lokasi penelitian yaitu Bukit Lancang. Serasah kering dikumpulkan setiap triwulan. Dengan mengadakan studi lapangan Heryati. pengelolaan kawasan. Rhizophora apiculata B. Riau. RIAU (Potency of Flora and Species Diversity in Granit Training Center. Kata kunci: Potensi flora. Tanahnya digenangi air pasang laut yang tingginya beberapa sentimeter. -.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. apabila dijumpai salah satu tahapan fenologi mangrove di lapangan. No. Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). munculnya bakal bunga. Yetti Alrasyid. keragaman jenis. bunga siap mekar. Bambang S POTENSI DAN KERAGAMAN JENIS FLORA PADA KAWASAN WISATA ALAM DI GRANIT TRAINING CENTER. Harun PELEPASAN UNSUR HARA MINERAL SELAMA PELAPUKAN SERASAH DAUN DI AREAL TEGAKAN SISA HUTAN ALAM MANGROVE SUNGAI SEPADA. memerlukan waktu 61 minggu. Halaman 237 247 . No. Hutannya didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata Lamk.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Bukit Tigapuluh National Park. -. TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. (b) Laju penguraian unsur mineral selama dekomposisi serasah adalah : P>N>Mg>C >Al >S>K>Fe>Cu>Zn>Ca>Mn. Taman Nasional Bukit Tigapuluh Anwar. Kalimantan Barat. Bruguiera gymnorrhiza (L. Analisis vegetasi dilakukan dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP) dan asosiasi antar jenis. Halaman 127 . Taman Hutan Raya Ngurah Rai.5 . Penaksiran jumlah serasah menggunakan 10 buah jaring serasah berukuran masing masing 1 m x 1 m dan diletakkan secara acak dalam hutan. Chairil PREDIKSI MUSIM PUNCAK BUAH EMPAT JENIS MANGROVE BERDASAR HASIL FENOLOGINYA (Fruit Peak Season Prediction of Four Mangrove Species Based on Phenology) / Chairil Anwar. KALIMANTAN BARAT (Loss of Mineral Element During Leaf Center (GTC).III. sekitar kolam.III. dan Bruguiera gymnorrhiza Lamk. lokasi penelitian tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam.L.III. Selain itu dikumpulkan juga data jenis satwa yang ada di lokasi penelitian. Bali. buah muda serta buah matang. Kata kunci : Mangrove. Sonneratia alba J. Riau) / Bambang S. terbentuknya bakal buah. mucronata Lamk 60 minggu. pelepasan unsur mineral Antoko. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang peranan hutan mangrove dalam memelihara kesuburan daerah perairan pantai di bawah tegakan tinggal hutan alam mangrove.Litter Decomposition in Residual Stand Areas of Natural Mangrove Forest. -. 2006 Pengamatan secara kontinyu proses terbentuknya buah mangrove matang dilakukan terhadap sepuluh tangkai yang memiliki bakal tunas bunga dari setiap pohon contoh. serta R. Smith memerlukan waktu 15 minggu untuk menjadi buah matang sejak munculnya tunas muda pada ketiak daun di ujung ranting. Lokasi penelitian terletak di komplek hutan alam mangrove Sungai Sepada.) Lamk 36 minggu.136 .

Pulau Menjangan. Sebangau. juga penyebabkan terjadinya perubahan ekosistem yang akan berakibat timbulnya kerugian sangat besar dikemudian hari . Kondisi ini akan memunculkan persoalan lingkungan hidup seperti terancam punahnya fauna dan flora. tujuh jenis merupakan elemen minor dan 33 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. Sonneratia. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. sehingga dapat menahan banjir pada musim hujan dan mampu mengalirkan air pada saat musin kemarau. Kata Kunci: Kanal. banjir. Berdasar hasil 5 . yang pada gilirannya menyebabkan lahan gambut sangat rentan terhadap kebakaran. Penambatan kanal merupakan salah satu upaya untuk memperlambat keluarnya air dan memperkecil fluktuasi permukaan air gambut yang diharapkan dapat memperbaiki ekosistem gambut untuk mendukung rehabilitasnya. Limabelas jenis vegetasi merupakan elemen mayor pembentuk mangrove. Halaman 223240 . 2006 Pembuatan kanal dalam wilayah lahan gambut selain akan memudahkan ekstraksi kayu dalam pembalakan liar. yang terdiri dari mangrove komplek Teluk Gilimanuk Kata kunci: Taman Nasional. Bruguiera Anwar. sedimentasi. Gambut di alam pada dasarnya merupakan bahan "spongy" yang mempunyai daya besar dalam menahan air hingga 4. Kata kunci: Fenologi mangrove. Empat belas jenis vegetasi merupakan elemen utama pembentuk mangrove. Chairil KERAGAMAN DAN SEBARAN MANGROVE DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Chairil Anwar. Chairil PENAMBATAN KANAL: UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI LINGKUNGAN PADA KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEBANGAU. Chairil SEBARAN MANGROVE DI PULAU LOMBOK. 10 jenis merupakan elemen tambahan dan 29 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. maka fluktuasi permukaan air tanah yang tinggi ini dapat menyebabkan gambut tidak akan dapat menyerap air kembali apabila tergenang oleh air berikutnya.guna mengetahui tahapan fenologi mangrove yang paling dominan pada suatu kawasan tertentu serta pada suatu saat tertentu. telah menyebabkan terjadinya banjir besar. Pengalaman lahan gambut Sebangau tahun 1994 menunjukan bahwa akibat adanya pembuatan kanal yang belum begitu banyak. Gilimanuk. yang pada gilirannya akan membantu dalam rangka perencanaan pengunduhan buah serta penyediaan bibit mangrove. konservasi.Mengingat lahan gambut memiliki sifat pengkerutan atau kering tak balik (irreversible) . sekurang-kurangnya terdapat 55 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati 30 komplek mangrove di Pulau Lombok. Sekurang-kurangnya dijumpai 53 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati lima komplek mangrove di TN Bali Barat.5-30 kali bobot keringnya. 2006 . KALTENG / Chairil Anwar. Halaman 155-165 . sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petani sekitar. Bali Barat. Teluk Trima. 2006 Taman Nasional (TN) Bali Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. Halaman 187-195 . Tanjung Gelap dan luas Anwar. Possumur. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Berdasar hasil pengukuran secara kasar.kebakaran hutan. Rhizophora.Pengalaman saat ini dengan semakin maraknya pembuatan kanal-kanal. 2006 Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. diperkirakan luas mangrove di wilayah TN Bali Barat adalah 551 ha.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Kalimantan Tengah Anwar. NUSA TENGGARA BARAT DAN KEMUNGKINANNYA SEBAGAI SUMBER BENIH / Chairil Anwar. -. Hutan rawa gambut. -.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . maka permukaan air tanah dapat mencapai antara 10-30 di atas permukaan tanah pada musim hujan dan dapat mencapai 100 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau. dan penurunan kualitas perairan sungai di sekitarnya. maka dapat diprediksi kapan akan terjadi musim puncak berbuah mangrove.

mucronata. pada fase seksual (Ascomycetes).apiculata.III.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. 28 jenis).592. KHDTK Rarung. daun menggulung. dan dapat menyebabkan embun tepung. No. C. Jawa Timur bertujuan untuk mengetahui gejala makroskopis dan mikroskopis dari penyebab penyakit yang menyerang tanaman Acacia auriculiformis A.) Kostel at Forest research (KHDTK) of Rarung.stylosa. Illa DIAGNOSA PENYAKIT EMBUN JELAGA DAN DAUN MENGGULUNG PADA KLICUNG (Diospyros malabarica (Desr. Ex Benth. dan malabarica (Desr. 31 jenis) dan pesisir Kabupaten Lombar Utara (11 ha. Lombok Barat. in Kediri. Cunn. dan penyakit daun menggulung disebabkan oleh virus. Mangrove Anggraeni. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 1994 membuat plot uji coba penanaman klicung di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rarung.2 .. embun jelaga.214 . pohon menjadi kering dan terselimuti Kata kunci : Acacia auriculiformis A. 6 . 18 jenis). Lombok Timur. Cunn.5 ha.marina. Jenis pohon ini tergolong lambat tumbuh (slow growth) dan tergolong jenis kayu mewah (fancy wood). Ex Benth. No. penyakit karat daun Anggraeni. Diospyros malabarica (Desr. Wint. Ex Benth. 2006 membelok).Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. alba dan S.55 %. BKPH Pare. Penelitian yang dilakukan di RPH Pandantoyo. L. Sumber benih. Meliola sp. NUSA TENGGARA BARAT (Diagnostic of Black Mildew and Rolled Leaf Diseases on Diospyros malabarica (Desr.5 ha dengan keragam 50 jenis mangrove. Lombok Tengah. -. Kostel) DI KHDTK BARUNG. Hasil pengamatan gejala di lapangan serta pengamatan mikroskopis di laboratorium penyebab penyakit embun jelaga adalah fungi Meliola sp. 27 jenis) . 2006 Acacia auriculiformis A. sehingga diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian secara efektif dan efisien.Cunn. Ex Benth. Akibat kedua penyakit tersebut tanaman pertumbuhannya menjadi terhambat. JAWA TIMUR (Powdery Mildew and Rust Attack on Acacia auriculiformis A. bagian pucuk bentuknya tidak normal (keriting. Halaman 209 . Ngatiman.pengukuran secara kasar. penyakit embun tepung. Benth. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tanaman Acacia auriculiformis A. caseolaris tersebar di Pulau Lombok yang dapat disarankan untuk dijadikan sumber benih mangrove. East Java) / Illa Anggraeni. Cunn. Ex Benth. Informasi dari penyakit embun jelaga dan daun menggulung yang keduanya sekaligus menyerang tanaman klicung belum pernah ada. diperkirakan luas mangrove di Pulau Lombok adalah 1. Illa SERANGAN PENYAKIT EMBUN TEPUNG DAN KARAT DAUN PADA Acacia auriculiformis A. DI KEDIRI. Lombok. berumur dua tahun serta akibat yang ditimbulkannya.Untuk keperluan rehabilitasi mangrove. membengkak.) Kostel) secara alami terdapat di Klicung (Diospyros Kabupaten Sumbawa dan Lombok Selatan. Hasil identifikasi dan determinasi penyebab pada fase aseksual penyakit embun tepung adalah fungi Oidium sp. terserang oleh dua jenis penyakit yaitu karat daun dan embun tepung. Cunn. KPH Kediri.Cunn.759 ha. Persentase serangan penyakit karat daun rata-rata sebesar 91. Halaman 45 53 . tagal.) Kostel.III. R. -. merupakan jenis pohon cepat tumbuh untuk penghijauan yang tanaman mudanya mudah terserang penyakit. Ari Wibowo. Kata kunci : Klicung. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang organisme penyebab penyakit embun jelaga dan daun menggulung serta ekobiologinya.44 %. R. Ex. R. (Deuteromycetes) atau disebut pula Erysiphe sp. racemosa. West Nusa Tenggara) / Illa Anggraeni. setidaknya terdapat sembilan jenis: A. Kabupaten Lotim Selatan (71 ha. penyakit karat daun disebabkan oleh Atelocauda digitata G. yang terserang embun tepung saja tidak ada sedangkan yang terserang kedua penyakit tersebut sebesar 8. Nusa Tenggara Barat seluas 5 hektar. Kata kunci: Pulau Lombok.1 . pesisir selatan Kabupaten Loteng (7 ha. yang tersebar pada pesisir Kabupaten Lotim Utara sekitar 1. pesisir Kabupaten Lombar Selatan (77. Kenyataan di lapangan ternyata tanaman klicung terserang oleh penyakit embun jelaga (black mildew) dan sekaligus juga oleh penyakit daun menggulung (roll leaf). S.

dan berbahaya bagi mahluk hidup serta pencemaran lingkungan. Kumbang ini merupakan hama penggerek daun (leaf miner) yang menyerang daun pulai dengan cara memakan daging daun pada permukaan daun. dan ikan. Kata Kunci: Bioinsektisida. Namun penggunaannya yang kurang bijaksana sering menimbulkan dampak negatif. obat-obatan. mamalia. Keberhasilan pembentukan pupa. Salah satunya yang memenuhi persyaratan ini dan layak dikembangkan adalah bioinsektisida (insektisida mikroba dan insektisida organisme non target. Halaman 115-124 . Masyarakat tradisional memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya (etnobotani) untuk keperluan berburu. bahan berburu maupun pangusir hama pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi jenis tumbuh-tumbuhan yang secara tradisional oleh masyarakat etnis Sumatera dimanfaatkan sebagai obat-obatan (tradisional medicine). 2006 Pulau Sumatera memiliki potensi besar dalam hal keaneragaman jenis tumbuhan tingkat tinggi. Inventarisasi jenis tumbuhan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Kumbang Cycotrachelus sp. Cecar. dan Sri Utami.) terlihat bahwa ekstrak kedua tumbuhan tersebut mampu mempengaruhi mortalitas. -. dan imago Helicoverpa armigera Hbn dan Spodoptera litura F. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . dan suku Rejang Lebong Tapus Bengkulu. terbunuhnya musuh alami. dan Enik Erna Wati Hadi. Berdasarkan hasil uji pendahuluan insektisida jenis belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn. tetapi tingkat kerusakannya masih sangat rendah. Oleh 7 . Pengendalian hama Asmaliyah PROSPEK PEMANFAATAN BIOINSEKTISIDA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENGENDALIAN HAMA PADA HUTAN TANAMAN / Asmaliyah. antara lain terjadinya resistensi resurjensi. Hutan Tanaman Asmaliyah PENGAMATAN SERANGGA HAMA BARU PADA TANAMAN PULAI DARAT (Alstonia angustiloba) DI PT. Keberadaan kumbang ini cenderung meningkat seiring menurunnya serangan ulat Clauges glauculalis. Kata Kunci: Etnobotani. Persentase serangan kumbang cukup tinggi. Halaman 145-150 . Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan lebih banyak lagi tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil pestisida nabati maupun efektivitasnya dalam mengendalikan serangga hama tanaman. (Coleoptera:Brenthidae) merupakan serangga hama baru yang ditemukan menyerang tanaman pulai (Alstonia angustiloba) di PT. dan pengendalian hama tanaman budidaya mereka. Sebanyak 52 jenis tumbuhan diantaranya diduga berpotensi besar sebagai penghasil pestisida nabati. Untuk menekan timbulnya berbagai permasalahan tersebut di atas. Halaman 95-103 . Lubuk Linggau. Pengendalian hama. karena dianggap paling cepat dan ampuh mengatasi gangguan hama. 2006 Sampai saat ini cara yang paling umum digunakan untuk mengendalikan hama adalah dengan menggunakan insektisida kimia.Asmaliyah POTENSI ETNOBOTANI SUMATERA SEBAGAI SUMBER PENGHASIL PESTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA / Asmaliyah. Xylo Indah Pratama (XIP). Penelitian dilakukan sejak Desember 2003 sampai dengan Maret 2005 pada kelompok masyarakat suku Talang Mamak di Riau. XYLO INDAH PRATAMA-CECAR / Asmaliyah. Edwin Martin.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . tidak meninggalkan residu terhadap lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari ketiga lokasi penelitian dapat ditemukan 266 jenis tumbuhan etnobotani. Kondisi ini dikhawatirkan suatu saat nanti serangan kumbang akan membahayakan tanaman apabila sejak dini tidak dikendalikan. suku Melayu Tua di jambi. -.) dan nango (Canangium sp. sebagai dasar untuk mengklasifikasi potensi masing-masing jenis sebagai tumbuhan penghasil pestisida nabati. Pestisida nabati. perlu dicari alternatif pengendalian yang efektif terhadap hama sasaran tetapi lebih aman. Sri utami.

Kata Kunci: Serangga. meliputi areal seluas 34. Peningkatan kebutuhan ini pada gilirannya melahirkan antagonisme dan konflik. antarbangsa. kebakaran hutan dan lahan. PT Xylo Indah Pratama Bastoni PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN JELUTUNG (Dyera lowii) PADA LAHAN RAWA SUMATERA / Bastoni dan Abdul Hakim Lukman. Halaman 69-76 . Saat ini sebagian besar lahan rawa dalam kondisi rusak yang disebabkan oleh kegiatan eksploitasi hutan. Halaman 19-30 . Pasar ekspor getah dan kayu jelutung terus mengalami penurunan pasokan sehingga peluang pasar masih sangat besar. 2006 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Sumatera Bau. Tanah. Pengalaman lapangan dari desa-desa di Pulau Timor memperlihatkan bahwa penanganan pembangunan kehutanan. serta kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan peternakan. yang bersifat vertikal antara rakyat dan negara. 2006 Potensi lahan rawa sangat besar. -. Alstonia angustiloba. Air 8 . pelaksana kebijakan dan pelaku ekonomi bersama-sama dengan masyarakat lokal melakukan rekayasa sosial. Dyera lowii. konversi lahan. termasuk penyelesaian antagonisme dan konflik yang terjadi hanya akan berhasil apabila para pembuat kebijakan. Coleoptera: Brenthidae. kebutuhan akan bahan makanan yang berkaitan dengan hutan sebagai gudang alam. dan aspek silvikulturnya sebagian besar telah dikuasi. Kata Kunci: Hutan tanaman.2 juta hektar (sumatera). pelaku ekonomi. khususnya dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam bentuk kebijakan dan program yang mengarah pada upaya tersebut serta input teknologi dari lembaga penelitian. Ketegangan dan konflik ini tidak akan pernah terselesaikan apabila para pihak yang terlibat tidak menggunakan kearifan yang tinggi yang dimilikinya. maupun yang berisfat trans nasional. Yanuarius Koli REKAYASA SOSIAL DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI NTT / Yanuaris Koli Bau. masyarakat bahkan negara bangsa sebagai pelaku ekonomi melakukan eksploitasi hutan secara berlebihan dan mengganggu keseimbangan ekosistem dan ketersediaan sumberdaya alam jangka panjang. kelompok atau bangsa akan sumberdaya alam. Dengan demikian persoalannya bukan lagi pada akhirnya masyarakat memperoleh manfaat dari tanah. air.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Cycotrachelus sp. menemukan kembali dan memanfaatkan proses belajar dinamis dari kapital sosial yang dimiliki masyarakat. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa. pemanas. tanpa harus mengorbankan kepentingan ekonomi dan politiknya masing-masing. dan masak memasak. Untuk mempercepat pemulihannya perlu dilakukan rehabilitasi melalui pembangunan hutan tanaman. tetapi pada mulanya warga masyarakat bersama-sama pembuat kebijakan. berfikir dan bekerja sehingga mereka mendapat manfaat optimal dan berkelanjutan. social forestry) untuk memperoleh hasil getah dan kayu serta pemulihan fungsi lingkungan.karena itu perlu pemantauan dan pengamatan secara periodik dan intensif terhadap perkembangan serangan kumbang Cycnotrachelus sp. sumber plasma nutfah tersebar dengan keragaman genetik yang besar. Jelutung (Dyera lowii) adalah jenis pohon lokal (Indigenous species) yang sangat prospektif untuk hutan tanaman produktivitas tinggi dan ramah lingkungan pada lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimiliki. Kondisi tersebut akan dapat menumbuhkan dan memacu minat budidaya dan minat kelola oleh masyarakat dan dunia usaha. dan hutan. Hama. Keberhasilan pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa sangat ditentukan oleh peran aktif banyak pihak. Jelutung. Pulai. yakni meningkatnya kebutuhan akan kayu untuk perumahan. pelaksana kebijakan. . Prospek pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa Sumatera sangat baik karena didukung oleh sumberdaya lahan yang luas. baik yang bersifat horisontal antar kelompok sosial.Peningkatan kebutuhan ini telah secara nyata mendorong individu. Pengelolaan hutan. Rawa. Hutan tanaman jelutung dapat dikelola dengan pola yang seragam (HTI.4 juta hektar (nasional) dan 7. Identifikasi di sejumlah negara menunjukan peningkatan kebutuhan nyata yang berkaitan langsung dengan hutan. 2006 Data di berbagai negara memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin pesat telah secara langsung menimbulkan peningkatan kebutuhan masyarakat baik secara individu. Kata kunci: Rekayasa sosial. perabot rumah tangga. pertumbuhan cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .

Sedangkan pengamatan lapangan dilakukan dengan cara menentukan satuan contoh berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 1 km x 1 km (100 ha). Penelitian dilakukan dengan membuat profil tanah di lokasi penelitian untuk dilakukan analisis tanah secara langsung maupun pengambilan contoh tanah untuk dilakukan analisa di laboratorium. No. baik pada media cair maupun udara. destilat.45 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4. dan minyak kemiri. briket arang.78 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25. Dari penelitian profil di lokasi menunjukan bahwa terjadi proses pedogenesis pada lapisan atas maupun bawah. kelat/jambu-jambu (Eugenia sp.al] . Heriyanto. Arang dan briket arang dapat digunakan sebagai sumber energi.05 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 9. Djoko Wahyono.25 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 8. 2006 Tanaman Kemiri merupakan tumbuhan serbaguna dan pemanfaatannya sudah dikenal baik oleh masyarakat terutama buahnya.000 m.SUNGAI BESIRI DI KABUPATEN FAKFAK. potensi tegakan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 69-76 . PAPUA (Standing Stock Classification of secara sistematik dengan jarak antar jalur 200 m.M. Halaman 437 . -. Pengukuran potensi pada citra satelit tersebut dilihat dari tone yang dijumpai.Butar-Butar. Destilat telah digunakan untuk memperbaiki sifat tanah dan pencegahan jenis hama dan penyakit tertentu. proses pelapukan berlangsung secara normal.80 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm = 16. kelompok hutan Darmawan. 2006 Telah dilakukan penelitian studi sifat-sifat tanah di Kebun Percobaan Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. N. kenari (Canarium maluense Lauterb.458 . lebar jalur 20 m.). Halaman 217-221 . sebenarnya memiliki kegunaan yang cukup bermanfaat. Kata kunci: Kebun percobaan Bu'at-SoE.60 N/ha). Metode yang digunakan yaitu pengukuran/penilaian potensi pada citra satelit dan pengamatan lapangan. 2006 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kelas kerapatan hutan dan potensi tegakan berdasarkan tampilan warna/tone pada citra satelit.4 .80 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 7. Papua) / Sofwan Bustomi.88 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =17. Jenis-jenis yang dominan berturut-turut resak/damar (Vatica rassak Bl. Dengan dihasilkannya produk Nature Forest Based on Landsat Imagery at Bomberai River . Di dalam plot bujur sangkar dibuat lima jalur ukur yang diletakkan 9 .). Prabu Alaska Unit I Fakfak pada hutan “jarang” sebesar 68.66 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 18. Kandungan bahan organik dan N total terbesar terletak pada lapisan ke dua. hutan “sedang” sebesar 76. Arang dan arang aktif juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki sifat tanah. arang aktif. Kemiri saat ini pemanfaatannya lebih terfokus pada kemiri isi dan kayunya.04 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =9.). NUSA TENGGARA TIMUR / Tigor Butar-Butar [et.Besiri River Forest Natural. Potensi pohon berdiameter ≥ 20 cm di areal kerja PT.06 m³/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 85. semakin rapat tegakan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. panjang 1. Beberapa produk dari hasil pengolahan tempurung kemiri adalah arang. Tigor STUDI SIFAT-SIFAT TANAH DI KEBUN PERCOBAAN BU'AT-SOE TIMOR TENGAH SELATAN. -. Arang aktif dapat digunakan sebagai bahan adsorben. Fakfak District. mersawa (Anisoptera polyandra Bl.III. Kata kunci : Klasifikasi. matoa (Pometia pinnata Forst. Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian ditemukan 48 jenis pohon yang tercakup ke dalam 27 famili.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.70 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4.). hal ini ditunjukkan oleh kerapatan tegakan hutan dengan diameter ≥ 20 cm pada hutan “jarang” sebesar 96. semakin jelas tone yang dihasilkan. hutan “sedang” sebesar 101. tanah masih relatif muda dan secara edafis masih dapat ditumbuhi oleh beberapa jenis tanaman.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.46 m³/ha). Hasil analisa laboratorium menunjukan bahwa pH tanah (H2O maupun KCI) semakin tinggi dari lapisan atas ke lapisan bawah.).25 N/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 118. Sifat tanah Bustomi. Sofwan KLASIFIKASI POTENSI TEGAKAN HUTAN ALAM BERDASARKAN CITRA SATELIT DI KELOMPOK HUTAN SUNGAI BOMBERAI . Pengkelasan hutan menurut warna/tone pada peta citra satelit dapat digunakan.25 N/ha). dan pala hutan (Myristica fatua Houtt.20 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 2.56 m³/ha).). Saptadi RAGAM MANFAAT KEMIRI / Saptadi Darmawan. -. citra satelit. Tempurung kemiri yang selama ini banyak dijadikan limbah. Jenis ini dapat tumbuh dengan baik di Nusa Tenggara dan penyebarannya cukup merata. 2006 .

dan keanekaragaman hayati. baik sebagai reservoir air. Destilat Darmawan. Halaman 205-215 . dan Sumatera Selatan. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan. habitatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15m.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . carbon storage. Di Kalimantan seluas 6. tysmanniana) atau Jelutung (Dyera lowii). Penelitian dilakukan dengan melakukan survey dan wawancara terhadap masyarakat untuk mendapatkan data pengusahaan gaharu dan membuat petak berukuran 20 m x 20 m dengan jarak antar petak 200 m dengan sistem jalur untuk melakukan inventarisasi inang gaharu. geronggang (Carborescens) merupakan jenis-jenis yang tahan hidup pada lahan sulfat asam. Selain itu jenis-jenis pionir seperti pulai rawa (Alstonia pnematophora).6 juta hektar yang meliputi Provinsi Jambi. Sedang pada lahan gambut dalam kategori dangkal. 2006 Telah dilakukan penelitian penyebaran dan keberadaan inang gaharu di alam. sedang HTI non pulp bisa dengan jenis meranti batu (Shorea uligonosa). Lahan sulfat masam aktual merupakan lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup di situ. Kecamatan Metawai Selatan. ekonomi. Briket arang. jenis gelam (Melaleuca sp. untuk tingkat pancang dan semai di petak analisis vegetasi masih dapat dijumpai dengan nilai indeks penting masingmasing sebesar 2. pembangunan Hutan Tanaman Industri untuk pulp dapat menggunakan jenis Acacia crasicarpa. Inang gaharu di alam pada tingkat pohon dan tiang sudah tidak dapat ditemukan. dalam melakukan vegetasi diperlukan pemilihan jenis yang tepat. dan rapuh (fragile). sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. -.000 hektar. geronggang (Cratoxylum glaucum).83 juta hektar/tahun termasuk kerusakan hutan rawa gambut. Pada masing-masing tipologi lahan. Limbah. Penelitian dilakukan pada bulan November 2004 di kawasan Hutan Timau Kecamatan Amfoang Kabupaten Kupang dan Kawasan Hutan Wanggameti. Dari hasil penelitian di lokasi penelitian diketahui inang gaharu dari jenis Aquilaria malaccensis sulit ditemukan. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus). Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas 17 juta hektar yang terbentang dari pantai timur Sumatera Timur seluas 9. Herman PEMANFAATAN LAHAN SECARA BIJAKSANA DAN VEGETASI DENGAN JENIS POHON TEPAT GUNA DI LAHAN RAWA GAMBUT TERDEGRADASI / Herman Daryono. Kata Kunci: Kemiri. dan budaya maupun fungsi ekologi. Inventarisasi Daryono. -. dan Irian Jaya seluas 70. Oleh karena itu.28. pada lokasi tempat ditemukannya gaharu/inang gaharu maupun bekas eksploitasi gaharu/inang gaharu. tanah-tanah (Combetocarpus rotundatus) juga dapat dipertimbangkan sebagai jenis untuk rehabilitasi. 2006 . Halaman 1-18 . pemanfaatan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial.olahan dari tempurung kemiri tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat bagi masyarakat.laporan terakhir dari Badan Planologi Kehutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi. dan kondisinya dalam keadaan terbuka pada kawasan produksi (gambut <3 m). baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode antara 1997-2000 di Indonesia mencapai 2. Saptadi PENYEBARAN DAN KEBERADAAN INANG GAHARU DI ALAM / Saptadi Darmawan dan Sumardi. meranti bunga (S. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Arang.3 juta hektar meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.86 dan 8. Gaharu. Kabupaten Sumba Timur. Berkurangnya inang gaharu di alam disebabkan oleh perburuan yang berlangsung secara besar-besaran tanpa dilakukan upaya konservasi dengan melakukan budidaya inang gaharu. sedang ataupun dalam 10 . Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. Survey. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. Pada lahan gambut yang telah mengalami kebakaran.). Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kata kunci: Inang. belangeran (S.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. balangeran). Punak (Teramerista glabra).

Yadi Setiadi. Eurema sp Darwo APLIKASI ENDOMIKORIZA. kompos.2 . Asam humat mampu meningkatkan pertumbuhan. dan lain-lain dapat ditanam di tipologi lahan tersebut. Wida UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN. Kata kunci : Reklamasi. Ranting. Insektisida ini berasal dari tanaman atau mikroorganisme. perlu direvegetasi dengan jenis asli setempat seperti jelutung karena hasil getahnya dapat dimanfaatkan tanpa menebang pohonnya. Compos. Halaman 195 207 . daya hidup.500 ppm. RANTING. asam humat 11 . kapurnaga (Callophylum macrocarpum). Kata Kunc: Pemanfaat lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang respon pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. dan biji terhadap hama daun Eurema s. Hasilnya menunjukan bahwa perlakuan ekstrak biji suren sangat efektif dan tercepat dalam pengendalian hama daun di laboratorium dengan jangka waktu 3 jam setelah perlakuan mortalitas terbanyak dibanding dengan ekstrak daun dan ranting.500 ppm belum cukup memenuhi kebutuhan hara tanaman (kadar C-organik dan nitrogen masih termasuk rendah) dan ditunjukkan tanaman kekurangan nitrogen. Erdy Santoso.yang habitatnya masih tedapat tegakan. jika bibit telah diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith yang ditanam pada lahan yang diberi 500 ml asam humat 1. hal ini dikarenakan kurang memperhatikan karakteristik bekas penambangan. Biji. Pada kawasan konservasi (gambut >3m) dalam keadaan terbuka. ranting. PUPUK KOMPOS. dan Mg). sedangkan untuk perlakuan ekstrak daun dan ranting memerlukan waktu sampai 72 jam. No. telah digunakan tanaman kehutanan yaitu Toona sureni Merr yang diketahui mengandung senyawa kimia melalui analisis kromatografi gas yang dapat berfungsi sebagai pembunuh hama. PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN BATU GAMPING DI CILEUNGSI-BOGOR Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III. Rawa gambut Darwati. -. Toona sureni Merr. Introduksi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith berkorelasi positif dengan asam humat dan keberadaan cendawan endomikoriza dan asam humat bersifat sinergis terhadap pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. Selain itu pada lahan gambut masyarakat. Kata Kunci: Uji efikasi. Vegetasi. -. batu gamping. 2006 Perlindungan Tanaman terhadap serangan hama dan penyakit mulai dikembangkan dengan insektisida yang tidak mencemari lingkungan. DAN ASAM HUMAT DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Khaya anathoteca Dx. Kabupaten Bogor sebagai bahan baku semen menunjukkan hasil yang tidak baik. (Lepidoptera : pieridae) PADA SKALA LABORATORIUM / Wida Darwiati. dan persen infeksi akar bermikoriza yang lebih baik. Semen Cibinong. at Post-Limestone Mining Land. tetapi yang menjadi faktor pembatas adalah reaksi tanah agak alkalis dengan nilai tukar kation Ca sangat tinggi dan kadar salinitas tinggi serta kandungan C-organik dan nitrogen sangat rendah. Suren. dapat dibangun dengan jenis jelutung dengan sistem agroforestry. endomikoriza. dosis yang digunakan 3 cc/100 cc air. Cileungsi. Rancangan penelitian menggunakan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap. dan kejenuhan basa ada dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan unsur hara (P. K. Cileungsi-Bogor) / Darwo. Uji efikasi kandungan senyawa dari tanaman Toona Sureni Merr yang digunakan adalah bagian daun. DAN BIJI SUREN (Toona sureni Merr: Meliaceae) TERHADAP HAMA DAUN Eurema spp.Jurnal Aktifitas reklamasi pada lahan pasca penambangan batu gamping seperti di PT. yang diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith terhadap pemberian pupuk kompos dan asam humat pada lahan bekas penambangan batu gamping serta tingkat infeksi cendawan endomikoriza pada tanaman tersebut. and Humic Acid to Growth Improvement of Khaya anthoteca Dx. teknik revegetasi. kapasitas tukar kation. Untuk mendapatkan insektisida yang berasal dari tanaman. 7cc/100 cc air. Pertumbuhan tanaman yang terbaik.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Ekstrak daun. Pada pengamatan selama 24 jam semua ulat mati. Hama daun. Halaman 125-128 . dan kontrol dengan rancangan acak lengkap. 2006 (Aplication of Endomycorrhyza. Dengan pemberian pupuk kompos 2 kg dan atau 500 ml asam humat 1. sehingga intensitas cahaya memenuhi persyaratan untuk hidup jenis komersial seperti ramin (Gonystylus bancanus). 5 cc/100cc air. dan penggunaan mikroorganisme tanah.

Peran fasilitator diperlukan sebagai pendamping proses tersebut. top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dengan pupuk NPK 0. 2006 Eboni (Diospyros celebica Bakh. Pemilihan jenis yang akan dibudidayakan harus mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia pelaksana.08 mm)..(et. dan top-soil murni dengan 1.18 mm). pembangunan kebun benih/bibit.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Kata Kunci: Teknologi. modal finansial yang tersedia. penyusunan standar pengujian dan mutu benih untuk berbagai jenis tanaman yang diperlukan serta peningkatan pengetahuan para praktisi di palangan dalam hal penyediaan. Keberhasilan program ini memerlukan dukungan ketersediaan benih dan bibit yang bermutu dan berasal dari sumber benih bersetifikat dalam jumlah besar. Standar. Demikian pula ketersediaan perangkat sistem dalam pengawasan mutu benih. Halaman 9 . dan Nurhasybi. Durahim PENGARUH MEDIA DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN MUTU BIBIT EBONI (Diospyros celebica Bakh. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 101-109 . bibit. -.5 g/bibit (3. Pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung seyogyanya dilakukan dengan memberdayakan masyarakat dalam seluruh proses pemanfaatan. Bibit. Tiga kombinasi perlakuan baik untuk pertumbuhan diameter batang bibit adalah top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v) tanpa pupuk (3. benih.) adalah salah satu jenis endemik di Pulau Sulawesi yang termasuk diprioritaskan untuk Hutan Tanaman Industri.). No. kawasan penyangga hutan lindung perlu dikelola pemanfaatannya agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menunjang fungsi hutan lindung sebagai penyangga tata air. 2006 Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) adalah program pemerintah dalam upaya merehabilitasi hutan dan lahan dengan target seluas 3 juta hektar selama kurun waktu 5 tahun (2003-2007). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi media dari tanah mineral dan bahan organik serta dosis pupuk NPK (17:17:17) terhadap pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni. Rehabilitasi menggunakan Faktorial Eksperimen dalam RCBD. Halaman 63-76 . Interaksi antara jenis medium dan dosis pupuk NPK nyata terhadap pertumbuhan diameter batang bibit. Hendromono. prospek keuntungan ekonomi bagi masyarakat. hingga monitoring dan evaluasi. Dede Rohadi. dan pengawasan mutu benih/bibit. top-soil. mulai dari perencanaan.III. serta fungsinya dalam menunjang konservasi tata air. Faktor-faktor yang diteliti adalah empat jenis kombinasi media dan tiga dosis pupuk NPK. Penelitian 12 .. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan penggunaan benih/bibit bermutu dalam program rehabilitasi hutan dan lahan di Indonesia. 2006 Mengingat fungsi ekologinya. seperti standar pengujian dan mutu benih/bibit. Tulisan ini bertujuan memaparkan proses penyusunan rancangan dan pembangunan model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung dengan penerapan pola agrofishery yang memadukan budidaya ikan dengan tanaman kehutanan/pertanian dalam satu unit lahan. Pada kenyataannya kemampuan produksi benih dari sumber benih yang bersertifikat belum memenuhi kebutuhan.) Seedling) / Durahim.10 mm). Kata kunci : Eboni (Diospyros celebica Bakh. sabut kelapa sawit.0 g/bibit (3.1 . Faiqotul MODEL PEMANFAATAN PARTISIPATIF KAWASAN PENYANGGA HUTAN LINDUNG DENGAN POLA AGROFORESTRY / Faiqotul Falah. baru tersedia untuk jenis-jenis komersial tertentu.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . penanggulangan.) (Effects of Media and NPK Fertilizer to the Growth and Quality of Eboni (Diospyros celebica Bakh. NPK Falah.17 . Tiap kombinasi perlakuan diulang tujuh kali dan tiap ulangan terdiri dari lima bibit. GERHAN. sabut kelapa.al) . Model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung harus disesuaikan dengan karakter biofisik dan sosial ekonomi setempat sehingga dapat lebih tepat guna dan berkelanjutan.Danu TEKNOLOGI DAN STANDARISASI BENIH DAN BIBIT DALAM RANGKA MENUNJANG KEBERHASILAN GERHAN / Danu. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni yang baik dicapai pada medium top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dan top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v). -. pelaksanaan. Di antara upaya-upaya tersebut adalah pemeliharaan sumber-sumber benih.

Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. KONSUMSI DAN PALATABILITAS PAKAN BURUNG BAYAN SUMBA (Electus roratus cornelia Bonaparte) DI PENANGKARAN (Consumption and Feed Palatability of Bayan Bird. Model pemanfaatan.29 kalori). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tingkat konsumsi dan palatabilitas pakan burung bayan. Penelitian menggunakan percobaan faktorial dengan dua faktor yaitu jenis kelamin dan jenis pakan yang berupa kacang-kacangan dan biji-bijian serta buah-buahan dan sayur-sayuran. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. Kata kunci: Bayan.13 kalori) dan burung bayan betina 185. Kupang. Arsitektur biologis. -. Penelitian ini dilakukan di penangkaran Oilsonbai. Electus roratus cornelia Bonaparte. I Made KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI BALI / I Made Gunaja.21 %) untuk burung betina. kualitas sumberdaya manusia sekitar hutan yang relatif rendah. -. palatabilitas dan penangkaran Garsetiasih. diketahui bahwa tingkat konsumsi terhadap tiap jenis pakan tidak berbeda nyata antara burung bayan jantan dan betina. konsumsi. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Halaman 75 . Imaculata ARSITEKTUR BIOLOGIS MENUJU EKSPLOITASI HUTAN YANG HARMONIS DI FLORES / Imaculata Fatima. adalah pepaya dengan rata-rata konsumsi 54. -. tingginya ketergantungan masyarakat Flores terhadap sumberdaya hutan.54 %) untuk burung jantan dan 48. 2006 Luas kawasan hutan di Provinsi Bali sekitar 23 persen. No.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan.Untuk menopang keberhasilan programprogram yang dilakukan. partisipatif. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan di daerah ini adalah illegal logging.93 gr/hari (231. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . berkurangnya peran lembaga adat. Tata Air Fatima. in Captive Breeding)/ R.82 . Kata kunci: Eksploitasi hutan. yang menunjukkan jenis pakan yang paling disukai. Untuk mengatasi permasalahan ini maka program pembangunan kehutanan di Provinsi Bali diprioritaskan pada rehabilitasi dan perlindungan hutan serta pengembangan hasil hutan bukan kayu yang melibatkan masyarakat sekitar hutan. Flores tahun) yang masing-masing dipelihara dalam kandang individu berukuran 160 cm x 120 cm x 100 cm. dan kebutuhan bahan baku yang tinggi. Garsetiasih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rata-rata konsumsi burung bayan jantan sebesar 205. 2005 : Halaman 97-102 . Dalam mengantisipasi kepunahan populasi perlu dilakukan penangkaran jenis burung bayan tersebut. sehingga mengakibatkan degradasi hutan yang semakin meningkat. Berdasarkan hasil analisis terhadap konsumsi pakan berupa buah-buahan dan sayur-sayuran serta pakan berupa kacang-kacangan dan biji-bijian. Penelitian menggunakan 8 individu burung terdiri dari 4 individu betina dan 4 individu jantan umur produktif (lebih dari 1 Gunaja. 2006 Pemanfaatan hutan yang tidak seimbang di Flores disebabkan oleh pandangan masyarakat yang hanya melihat nilai manfaat konsumtif (digunakan langsung sehari-hari tanpa mengolahnya untuk mandapatkan nilai tambah) dan nilai pemanfaatan produktif (langsung dijual ke pasar). Eclectus roratus cornelia Bonaparte.74 gr/hari (26. Hutan Lindung. Halaman 63-69 .43 gr/hari (255. 2006 Burung bayan (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) merupakan jenis burung endemik Pulau Sumba dengan status dilindungi karena populasinya yang terus menurun. Nusa Tenggara Timur pada bulan September 1999 sampai Januari 2000.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Jenis pakan yang paling banyak dikonsumsi. Mariana Takandjandji.III. peredaran ilegal hasil hutan (illegal trading).Kata Kunci: Kawasan penyangga. R. dan kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan masyarakat. Adapun faktor-faktor pendukung utama untuk pembangunan kehutanan di Provinsi Bali adalah: Potensi sosial budaya 13 . Konservasi. maka dukungan iptek terapan yang praktis dan dengan biaya murah sangat diperlukan. pendudukan kawasan hutan.53 gr/hari (26.1 . perambahan. masih di bawah luasan minimal 30 persen. Harmonis.

1.766. cabai. Agroforestry system able to contribued equal to 33.. talas.per hektar. 2006 Social Forestry merupakan salah satu kebijakan Departemen Kehutanan.masyarakat..024.000.750. Lombok Tengah Harun. penanaman dengan menggunakan jalur ganda berseling antara tanaman penghasil kayu dan buah merupakan model yang baik untuk dikembangkan. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi tipe dan model hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan keberhasilan pengembangannya. 1. The main objective of application agroforestryin agricultural land is for conserving soil and water.sampai dengan Rp. Halaman 209-224 . South Kalimantan Province and suggest to be a basic knowledge and one of way to rehabilitate the forest and land degradation. Perbandingan jenis penghasil kayu dan buah dengan perbandingan 70:30 mampu memberikan pendapatan petani sebesar Rp. alley cropping with the tongkongan and galengan technique. -. alley cropping with the surjan technique and (d). (b)..al) . Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Walaupun payung hukum pengembangan hutan kemasyarakatan belum mantap. regency Barito Kuala.. makin tingginya partisipasi masyarakat dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki hutan dan lingkungan dalam rangka menopang tujuan utama daerah wisata di Bali Kata kunci: Pembangunan kehutanan. economic and physic aspect of agroforestry system which have been developed by farmer in Sei Pantai Village. Program. Agroforestry system able to give income equal to 2. perencanaan bersama mekanisme penyelesaian konflik belum berkembang dengan baik. Multiple Cropping with the guludan technique. Pemilihan jenis tanaman belum sepenuhnya berorientasi pada pasar karena keterbatasan kemampuan teknis dan informasi pasar. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan masih menerapkan prinsip-prinsip Agroforestry Tradisional. alley cropping with the tongkongan technique.per petani per 0.000. which in the long run is expected to increase land productivity and improving farmer's income. Nilai hasil tanaman tumpangsari dari yang tertinggi sampai dengan terendah secara berurutan adalah pisang.(et. dan mengungkapkan permasalahan dan keberhasilan pengembangannya.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 111-125 .. 14 .683. The objective of this research is to analysis social. The result of this study showed that agroforestry system developed by local farmer is: (a). jagung. Model Social Forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Agroforestry application in a peat swamp land could be carried out either on agricultural or on forest lands. 305. dan ubi kayu. Hutan kemasyarakatan merupakan salah satu bentuk pengembangan program Social Forestry. Kata Kunci: Hutan kemasyarakatan. -. Agroforestry application in forest area is intended mainly for providing apportunity of landless farmer to cultivate land and also for the objective of establishing forest crops with the best way and cheapest cost. Demikian pula. pengalaman pengembangan hutan kemasyarakatn di Privinsi Nusa Tenggara Barat merupakan hal penting untuk bahan pengkajian. Lombok Barat. dengan kisaran nilai Rp.25 hektar. Marinus Kristiadi ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN FISIK SISTEM AGROFORESTRY KHAS LAHAN GAMBUT TIPIS DI DESA SEI PANTAI KABUPATEN BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN / Marinus Kristiadi Harun. Berdasarkan model yang berkembang. padi. Agroforestry application in a peat swamp land is able to maintaining high system stability and has a lower risk in land degradation. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi wilayah Nusa Tenggara Barat. Pengelolaan. Sumberdaya hutan Harisetijono PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI P. IPTEK. 2006 Development of agriculture in a peat swamp land should be environmentally sound and ensures the sustainability of production. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. Subdistrict Rantau Badauh. LOMBOK : STUDI KASUS PEMBANGUNAN MODEL HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN LOMBOK BARAT DAN LOMBOK TENGAH / Harisetijono. (c). Social forestry.503 rupiahs per month.18 percent from total farmer's income.040 rupiahs per year or 230.

serta 8. produksi dan laju pelapukan serasah 15 . BO rendah kecuali pada tegakan R.330). DHL. Kemasaman atau pH pada semua tegakan netral. Maryatul Qiptiyah. Barito Kuala.05 %/bl (R.40 ton/ha/th dan 28.Info Hutan : Vol. Perkembangan iptek sekarang ini telah menjanjikan suatu pendekatan teknologi terutama yang berkaitan dengan penggunaan mikoriza yang berperan dalam proses pertumbuhan tanaman. 15. sengon. Indek keragaman dan indek dominansi untuk A. Sedangkan kation-kation yang dapat tukar juga umumnya tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian mikoriza di lapangan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan sengon dan damar.20 %/bl (A. tetapi tidak pada tanaman bitti. Fauna tanah yang ditemukan mempunyai nilai indeks keragaman dan indeks dominansi yang berbeda pada setiap tegakan. Rhizophora Hasil penelitian mucronata Lamk. mucronata (0.377 . marina adalah 2. lahan kritis Anwar. substrat. alba). tinggi kecuali nitrogen. MORPHOEDAFIK. infeksi. Halaman 367 . Kualitas salinitas air tanah daratan cenderung semakin membaik dengan adanya bentangan mangrove di sepanjang pantai.632 dan 0. pupuk cepat larut. serta salinitas air tanah daratan pada berbagai jenis tegakan mangrove. dan damar. mikoriza. Kalimantan Selatan Halidah PERTUMBUHAN BEBERAPA JENIS TANAMAN TERINFEKSI MIKORIZA PADA LAHAN KRITIS DI SPUC MALILI (The Growth of Several Species Infected Mikorizae on Critical Land at Malili Research Station)/ Halidah. sedangkan pada tegakan S. alba oleh partikel pasir.. Morphoedaphic. Chairil Halidah PRODUKSI DAN LAJU PELAPUKAN SERASAH. Tiga jenis tegakan mangrove yang diamati adalah Sonneratia alba J. No. dan Avicennia marina (Forsk. mucronata didominasi oleh partikel debu pada kedalaman (0-20) cm dan pasir pada kedalaman (20-40) cm. alba (1. namun belum memperlihatkan hasil yang diharapkan. Lingkungan. sifat kimia.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III. Dengan melihat permasalahan dalam penanggulangan lahan kritis. 2006 Upaya rehabilitasi lahan kritis telah banyak dilakukan.96 ton/ha/th dan 26. dan biologi tanah. 2006 (Litter Productin and Decomposition Rate.4 . and Ground Water Salinity of Three Species Mangroves)/ Halidah. DAN SALINITAS AIR TANAH DARATAN PADA TIGA JENIS MANGROVE Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang produksi dan laju pelapukan serasah. Demikian juga unsur hara fosfor dan kalium. lahan gambut. Sosial ekonomi. salinitas. Kata kunci: Morphoedafik. jenis. Kata kunci : Pertumbuhan. Substrat pada tegakan R.III.)Vierh.500). Smith. Pada tegakan A. -. mucronata). sedangkan R.83 .. KTK umumnya tinggi. Tujuan penelitian ini menemukan teknologi rehabilitasi lahan kritis dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu bersimbiose dengan tanaman serta dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhannya pada lahan kritis. S.51 ton/ha/th dan 28. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan yaitu mikoriza. Halaman 75 .159. salinitas.926 dan 0. mangrove.Kata kunci: Agroforestry.023 dan 0. Saprudin. serta tanpa mikoriza dan pupuk (kontrol) yang diujikan pada tiga jenis tanaman yaitu bitti. mucronata. menunjukkan bahwa produksi dan laju pelapukan serasah masing-masing tegakan adalah 27.2 .93 %/bl (S. -. mikoriza + pupuk cepat larut. maka perlu dikaji kemampuan mikoriza bersimbiose dengan berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan dalam rehabilitasi lahan. marina). marina didominasi oleh partikel debu. No. Sei Pantai.

Asep Hidayat.ex Benth. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas naungan dan pemberian pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman nilam dan rendemen minyak dari daun yang dihasilkan.Harahap. tanaman nilam pada umumnya dibudidayakan secara monokultur pada lahan terbuka tanpa perlakuan yang memadai. Perhatian terhadap mekanisme produksi. dan Titi Kalima.S. dengan kegunaan untuk kayu bakar. Halaman 137 . adalah 2.146 .Cunn. mekanisme produksi Hendalastuti R. permudaan alam. dan Acacia mangium Willd. Kata kunci : Ramin.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III. ekaliptus. DI PADANGLAWAS.Cunn. Padanglawas 16 . 2006 Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth. sengon.ex Benth.600 anakan per hektar setelah tiga tahun terbakar. and Acacia mangium Willd. namun hal tersebut tidak menjamin penurunan tingkat kelangkaan ramin di Indonesia karena mekanisme tersebut tidak berjalan dengan baik.2 . Namun demikian. 2006 Penanaman akasia di Padanglawas dimulai dalam rangka pembangunan hutan tanaman secara swakelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. No. -. tercatat rataan permudaan Acacia crassicarpa A. Selain jenis akasia..III.94 . No.) memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan pada sektor kehutanan karena berpotensi sebagai tanaman bawah pada sistem penanaman tumpangsari dengan jenis tanaman keras lainnya.4-9. North Sumatra) / Rusli M. Pogostemon cablin Benth (Effects of Shading and Manure Application Pogostemon cablin Benth.. Kata kunci : Hendalastuti. juga ditanam mahoni.Info Hutan : Vol.III. Rusli M.675 ha merupakan bagian dari DAS Barumun dan Rokan. terdiri dari 4 perlakuan yang mengkombinasikan dua on the Plant growth and the Leaf Quantity and Quality of the Nilam. 2006 Jenis ramin (Gonystylus sp. Hutan Tanaman seluas 38. peredaran. masing-masing 13. pulp. Di Sialiali.Info Hutan : Vol. DAN Acacia mangium Willd.S EKOLOGI HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa A.ex Benth. Disarankan menanam akasia tersebut di lahan kritis Padanglawas terutama di punggungpunggung bukit dan sebagai pohon perindang jalan dengan harapan kelak menyebar secara alami dan meningkatkan kesuburan tanah. CITES. Acacia mangium Willd. crassicarpa A. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. dan meningkatkan fungsi DAS Baruman dan Rokan. SUMATERA UTARA (Plantation Forest Ecology of Acacia crassicarpa A.Harahap. -.ex Benth.2 . dan tampaknya ekaliptus dan akasia tumbuh dengan baik atau dapat beraklimatisasi.Cunn. lahan kritis. Persetujuan ramin untuk masuk ke dalam Appendix II CITES yang berlaku sejak 15 Januari 2005 merupakan perubahan yang menjadi harapan baru dalam mengontrol mekanisme produksi dan perdagangannya. Kosasih. Gonystylus sp.Cunn. in Padanglawas. Halaman 85 . bahan bangunan./ Henti Hendalastuti R. Meskipun jenis kayu ramin telah terdaftar dalam Appendix III Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) sejak Agustus 2001. -. Henti SISTEM PENGELOLAAN DAN KONSERVASI RAMIN DI HUTAN PRODUKSI (Management and Conservation System of Ramin in Production Forest) / Henti Hendalastuti. Rataan diameter untuk A..8 cm menunjukkan pertumbuhannya sangat dipengaruhi kesuburan tanah dan perlu diamati lebih lanjut.ex Benth.500 dan 5. Acacia crassicarpa A. Illa Anggraeni. Henti PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SERTA JUMLAH DAN MUTU DAUN NILAM.3 . Halaman 261-268 .1 cm dengan selang 0. Kebakaran yang terjadi hampir tiap tahun di berbagai lokasi lahan hutan tanaman menunjukkan bahwa jenis akasia dan ekaliptus menghasilkan permudaan yang cukup potensial untuk pengembangannya. dan budidaya pada unit manajemen merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menjamin kelestarian ramin pada masa-masa yang akan datang.. kelestarian.Cunn. No.) merupakan kayu bernilai komersial tinggi pada perdagangan internasional dengan harga yang bisa mencapai US$ 1. Asep Hidayat.000 untuk setiap meter kubiknya.

J. Jenis yang termasuk ke dalam anggrek endemik Jawa Timur yaitu Bulbophyllum mirun J. Rendemen minyak cenderung meningkat dalam daun pada tanaman yang diberi naungan dan/atau pupuk kandang. No.III. Halaman 575 . Jenis anggrek yang langka.. yaitu Maleolla dan Schoenorchis juncifoilia.3 . Seluruh aspek tersebut merupakan bagian dari sistem pengadaan benih 17 . ketiga mutu ini dapat ditingkatkan dengan tingkat kesulitan yang berbeda. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .J.. dan fisiologis. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode penyiapan bibit dan teknik pengepakan untuk memperkecil tingkat kerusakan bibit dalam pengangkutan jarak jauh sehingga menghasilkan bibit yang berdaya hidup tinggi dengan biaya murah.J. Asep Hidayat. berat basah daun 203. Kata kunci : Anggrek epifit. bibit rotan dan alpukat tidak memerlukan perlakuan sebagaimana bibit kemiri dan jengkol. teknik pengepakan. pengangkutan jarak jauh Herdiana. Nanang PENANGANAN BENIH TANAMAN HUTAN / Nanang Herdiana. Eria verruculosa J. Sm. Perlakuan pemberian naungan (34. Henti TEKNIK PENGEPAKAN BIBIT ROTAN DAN BEBERAPA JENIS MPTS UNTUK PENGANGKUTAN JARAK JAUH (Packaging Technique of Rattan and Multi Purpose Tree Species Seedlings for Long Transportation) / Henti Hendalastuti R. 2006 Mutu Benih merupakan hasil penampakan dari mutu genetik. dan berat kering daun 126 %. Metode yang dilakuan dengan cara mengamati semua anggrek epifit pada petak-petak contoh yang ditempatkan berdasarkan sistem jalur. Caelogyne flexuosa Rolfe. Pholidota canelostalix Rchb.58 %. -. Pengangkutan bibit kemiri dan jengkol sampai 120 jam perjalanan memerlukan balutan campuran sabut kelapa dan arang pada perakaran bibit. pupuk kandang.35 %) dan pemupukan 500g/lubang tanam telah terbukti secara nyata memberikan hasil peningkatan tinggi tanaman sebesar 116..J. dan Dodi Frianto. Microsaccus alfinis J. Setiap perlakuan terdiri dari 15 ulangan. Caelogyne speciosa var nn Blume Lindl. Sm.f. Sedangkan untuk penilaian mutu fisik dan fisiologis dapat diketahui melalui penanganan dan pengujian benih. dan Eria verrucullosa J. dan Pholidota ventricosa Blume Lindl. Halaman 137-144 . khususnya Blok Ireng-Ireng. Pogostemon cablin Benth.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. baliensis J.5 . Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data dan informasi tentang potensi anggrek epifit dalam upaya pelestariannya di TN Bromo Tengger Semeru. fisik.. Sm. inventarisasi. dan jengkol selama 60 jam perjalanan dengan modifikasi box plastic dilapisi styrofoam tanpa perlakuan pada perakaran bibit memberikan daya hidup bibit yang tinggi dengan biaya paling murah. rendemen minyak Hendalastuti R. Sm. alpukat. 2006 Anggrek merupakan salah satu jenis flora penting yang tumbuh di kawasan Taman Nasional (TN) Bromo Tengger Semeru. Halaman 201-212 .583 .35 %) dan pupuk kandang (0 g dan 500 g/tanaman).faktor yaitu intensitas naungan (0 % dan 34.III. Kata kunci : Nilam. Sm dan Trixpermum malayanum J.J. Sedangkan jenis yang masuk kategori genting adalah jenis Agrostophyllum laxum J. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 17 genus dan 40 spesies anggrek epifit dengan jenis yang paling dominan adalah jenis Caelogyne speciosa Blume Lindl.J. Rotan. -.J. plasma nutfah Herdiana.Penilaian untuk mengetahui mutu genetik salah satunya adalah dengan mengetahui sumber benih yang digunakan.Info Hutan : Vol. naungan. Dalam hal ini. Kata kunci : Bibit rotan. No. Nanang KERAGAMAN JENIS ANGGREK EPIFIT DI BLOK IRENG-IRENG TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU (Diversity of Epiphyte Orchid Species in Block of Ireng-Ireng Bromo Tengger Semeru National Park) / Nanang Herdiana. kemiri. Sm..815 %. Sm. Dendrobium jacobsonii Blume.

41). Altingia excelsa Noronha/rasamala (0. yang merupakan pencerminan kinerja dari suatu proses pengadaan benih. JAWA BARAT (Potency of Konyal (Passiflora edulis Sims.DC. Pengelolaan konyal sebagai jenis asing yang menginvasi di kawasan taman nasional dilakukan dengan pemberantasan secara manual oleh masyarakat lokal.M.64 . batang. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaman jenis pohon yang berpotensi sebagai obat. dan bagian daun (6 jenis). Jawa Barat dilakukan pada bulan Oktober 2002. dan Schima walichii Korth.1 . malaria. Taman Nasional Meru Betiri 18 . Tingkat belta jenis tersebut tidak termasuk dominan (INP < 10 %). induta Bl. N. Quercus teysmanii Bl. West Java) / N.000 m yang diletakkan memotong lereng. Tujuh jenis pohon berasosiasi dengan konyal (INP> 10 %) dan yang mendominasi tegakan yaitu : Castanopsis argentea A. East Java) / N.000 m. di antaranya yaitu besule (Chydenanthus excelsus Miers.52. kulit buah. tumbuhan obat. Satuan contoh berbentuk jalur sepanjang 1. Sloanea sigun L.bermutu. Cianjur District. Heriyanto dan Reny Sawitri. M. jabon (Anthocephallus cadamba Miq. Br. 2006 Penelitian potensi jenis konyal (Passiflora edulis Sims.10 kemudian disusul oleh jenis jabon (Anthocephallus cadamba Miq. Jenis-jenis yang berasosiasi kuat dengan konyal yaitu Castanopsis argentea A. dan Ostodes paniculata Benth. Altingia excelsa Noronha (rasamala).M. Kabupaten Cianjur.3 pohon per hektar.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. jumlah jalur pengamatan 3 jalur.) SEBAGAI JENIS INVASIF DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO KABUPATEN CIANJUR. Jenis penyakit yang dapat diobati atau dicegah yaitu penyakit kewanitaan. biji. (puspa). potensi. (pasang).07. demam.) dengan kerapatan 10 pohon per hektar. (saninten).M POTENSI JENIS KONYAL (Passiflora edulis Sims.48).3 . dan sakit perut. pengujian benih hingga ke penyimpanan. belta. dan wining (Pterocybium javanicum R. Kata Kunci: Mutu Benih. Schima walichii Korth.) nilai keanekaragaman jenis 0. buah. kecambah biji. Q. (muncang cina). yaitu dimulai dari sumber benih. batuk. dan wining (Pterocybium javanicum R. Sedangkan tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu bagian kulit batang (10 jenis). (beleketebe).) nilai keanekaragaman jenis 0. Tanaman Hutan Heriyanto.III.) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.DC. Br. No./puspa (0.) as an Invasive Species in The Gunung Gede Pangrango National Park. dan semai yang berasosiasi dengan konyal yang dibuat memotong garis ketinggian dan kontur.Info Hutan : Vol. Kata kunci : Konyal. kulit batang.) dengan kerapatan 15. akar.. bagian biji (8 jenis). kemudian diikuti oleh jenis Villebrunea rubescens Bl. (saninten) yang ditunjukkan oleh indeks asosiasi sebesar 0. -. N. Indeks keanekaragaman jenis pohon tumbuhan obat tertinggi dimiliki oleh besule (Chydenanthus excelsus Miers. Heriyanto. JAWA TIMUR (Studies on Diversity of Trees Potential for Medicine at Meru Betiri National Park. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang jalur 1.08. (pasang bodas). -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon tumbuhan obat yang dijumpai di Taman Nasional Meru Betiri berjumlah 28 jenis. Halaman 251-260 .5 pohon per hektar.) dengan kerapatan 12. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Heriyanto. prosesing benih. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat yaitu daun. KEANEKARAGAMAN JENIS POHON YNG BERPOTENSI OBAT DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. Kata Kunci : Jenis pohon. Passiflora edulis Sims./nangsi (0. lebar 20 m dan di dalam tiga jalur dibuat petak-petak untuk pengukuran dimensi ekologi pohon.) dengan nilai keanekaragaman sebesar 0. Halaman 55 .III.46). No. Jenis pohon yang dirambati konyal sebanyak 38 jenis dengan kerapatan 114 tanaman konyal/ha. dan getah.

III. Halaman 271-285 . Halaman 297 308 . -.Info Hutan : Vol.III. Pemetaan. Untuk mendapatkan data primer dilakukan wawancara dengan penarikan contoh terhadap tiga angkatan kerja pada masyarakat di tiga desa sekitar taman nasional. sehingga dalam pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana. dengan jumlah responden masing-masing desa sebanyak 40 orang (total 120 responden). 2006 Klasifikasi kepekaan tapak hutan adalah merupakan salah satu komponen dalam perencanaan pembalakan. Maming PEMETAAN KEPEKAAN TAPAK HUTAN UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN RAMAH LINGKUNGAN / Maming Iriansyah.5 %. No. Desa Curahnongko. dan desa Wonoasri dengan kawasan TNMB antara lain berbentuk pemanfaatan kayu untuk kayu bakar. Kegiatan pengelolaan lahan harus dilakukan secara sinergis dan simultan mulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi. dan Desa Wonoasri sebesar 65 %. akan tetapi mungkin untuk mempertahankan keadaan lahan tetap produktif dan dampak luaran kegiatan berupa erosi-sedimentasi yang terjadi tidak mengganggu proses yang berjalan dalam DAS. Ramah lingkungan Junaidi. Oleh karena itu diperlukan metode penentuan nilai erosi yang diperbolehkan pada setiap kegiatan Penelitian pola pengelolaan partisipatif antara masyarakat dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dilakukan di tiga desa yaitu Desa Andongrejo.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Kenyataannya tidaklah mungkin menekan dampak yang disebabkan oleh kegiatan pengelolaan lahan menjadi nol.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.3 . R. dikumpulkan data sekunder dari berbagai laporan dan literatur. Heriyanto. sehingga tingkat produktivitas meningkat.M. kayu. Perencanaan. -. masyarakat setempat 19 . Selain itu. dan Desa Wonoasri. agar tidak mengganggu sumberdaya lain dalam DAS. Pembalakan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa interaksi yang terjadi antara masyarakat desa Andongrejo. Halaman 187 .3 . Kata kunci : Interaksi. East Java) / N. Taman Nasional Meru Betiri. bersamaan dengan itu dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut berupa erosi dan sedimentasi di daerah hilirnya dapat diperkecil. JAWA TIMUR (Utilization of Forest Iriansyah. N. 2006 Pengelolaan lahan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS. desa Curahnongko.Resources by Local community in Meru Betiri National Park. serta pemanfaatan tumbuhan obat. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan TNMB pada umumnya baru pada taraf pengetahuan fungsi dari taman nasional dan cara melestarikannya. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pemanfaatan hutan terutama kayu oleh masyarakat sekitar TNMB dan informasi mengenai jasa hutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Desa Andongrejo memiliki persepsi yang paling tinggi yaitu sebesar 77. 2006 Heriyanto. Jenis hasil hutan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu kayu bakar untuk memasak. -. No. Endro Subiandono. Dari hasil penelitian yang diadakan di tiga desa. Garsetiasih. Sasaran utama dalam pengelolaan lahan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi lahan. Edy METODE PENENTUAN NILAI EROSI YANG DIPERBOLEHKAN PADA PENGELOLAAN DAS (Method in Determinating Tolerable Erosion Value in a Watershed Management) / Edy Junaidi. Prosedur dan strategi pemetaan dan penerapannya dengan menggunakan system informasi geografis (SIG) diuraikan dalam tulisan ini.M. diikuti Desa Curahnongko 70 %. Kata kunci: Tapak hutan. bahan bangunan perumahan dan peralatan rumah tangga.200.Kesemua hal tersebut dimaksudkan adalah untuk melengkapi perencanaan pembalakan yang ramah lingkungan agar produktivitas hutan dan ekosistemnya dapat lestari. PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .

Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan nilai erosi yang diperbolehkan. Dampak negatif langsung wisata alam terhadap lingkungan antara lain: (1) Geologi. 2000). -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 191-205 . 2006 Sektor pariwisata sebagian besar kegiatannya berada dalam lingkungan ekologi hutan. Kebakaran. L Michael Riwu TEKNOLOGI PERLINDUNGAN HUTAN DARI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN / L Michael Riwu Kaho. pemadatan tanah. Untuk mengetahui data dan informasi dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap erosi pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan. dilakukan pengambilan sampel/contoh tanah pada 10 titik pengamatan. 2006 .pengelolaan lahan. (2) Erosi. 2) pendekatan silvikultur.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. (2) Metode Hammer (1981). Pengendalian dan pencegahan kebakaran dapat dilakukan melalui.Tujuan dan sasaran penelitian ini adalah mengetahui dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap kondisi tanah pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan melalui pintu masuk Senaru. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 183-189 . Erosi tanah. 4) pendekatan hukum dan kelembagaan. koleksi souvenir). Penyebab utama kebakaran di NTT adalah kondisi iklim yang kering (arida). Monitoring terhadap dampak ini diperlukan dalam rangka pengendalian dampak negatif. 3) pendekatan sosial ekonomi dan budaya. serta kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang mendukung terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Salah satu penyebab dampak negatif penting adalah ditimbulkan oleh perilaku pengunjung. pengunjung berlebihan)(Wiranto dalam Fandell C. Taman Nasional. -. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan Mukhlison. fragmentasi. yaitu : (1) Metode Thompson (1957). Metode Wood dan Dent paling ideal digunakan untuk penentuan erosi yang diperbolehkan dalam pengelolaan DAS. Tindakan pencegahan erosi yang dapat digunakan adalah dengan metode vegetatif. Selanjutnya sampel/contoh tanah dianalisis di laboratorium tanah. pemberian dampak positif terhadap kegiatan wisata pada khususnya dan perekonomian daerah pada umumnya. dan (3) Metode Wood dan Dent (1983). 2006 Kebakaran merupakan salah satu penyebab gangguan terhadap hutan yang memerlukan pengendalian. mineral. Pemadaman dan penanggulangan kebakaran selain dengan penerapan teknologi. Segara Anakan. Hasil penelitian menunjukan terjadinya perubahan tekstur tanah dengan menurunnya fraksi liat pada jalur pendakian dan erodibilitas pada jalur pendakian lebih tinggi dibandingkan dengan di luar jalur pendakian. Lombok Kayat MANFAAT EKONOMIS EKOWISATA TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan I Made Widnyana. tukar menukar informasi. Kata kunci: Perlindungan hutan. Gunung Rinjani. penyuluhan serta penataan organisasi penanggulangan dan perencanaan pengendalian kebakaran. Kebakaran di wilayah propinsi Nusa tenggara Timur(NTT) adalah masalah serius yang terjadi secara berulang setiap tahun dan diyakini sebagai salah satu sebab deforestasi. Halaman 85-91 . Kata kunci : Pengelolaan DAS. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui 20 . penelusuran gua. lahan. 2006 Dampak positif wisata alam di bidang ekonomi disertai oleh dampak negatif pada kawasan. Kata Kunci: Ekowisata.(pembangunan fasilitas. pengelolaan lahan. hasil dianalisis secara deskriptif. dapat dilakukan dengan pengembangan peningkatan komunikasi. 1) pendekatan cuaca kebakaran. Lahan Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP EROSI TANAH DI JALUR PENDAKIAN MENUJU DANAU SEGARA ANAKAN TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan Tigor Butar-Butar. erosi yang diperbolehkan Kaho. dan fosil (pendakian. vegetasi yang didominasi oleh semak belukar dan savana padang rumput. Pendekatan. Lima sampel/contoh pada jalur pendakian dan lima sampel/contoh di luar jalur pendakian.

manfaat ekonomis kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), melalui kajian nilai ekonomi dari kegiatan ekowisata pada obyek-obyek yang sudah dikelola. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey melalui wawancara, pengamatan, dan perhitungan langsung nilai ekonomi yang dihasilkan para pelaku dan kegiatannya. Data dianalisis secara semi kuantitatif dan deskriptif. Kesimpulan di tarik berdasarkan nilai proporsi dan kualitas amatan. Total nilai manfaat ekonomi ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani dari obyek-obyek yang sudah dikelola adalah Rp. 3.067.851.250,-. Obyek wisata trekking memberikan nilai manfaat ekonomi yang dominan, yaitu Rp. 2.080.996.250,- (67,83 persen). Para pihak yang mendapatkan manfaat ekonomis dari ekowisata TNGR adalah: pengelola atau pemerintah (melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani), Rinjani Trekking Centre (RTC) dan Rinjani Information Centre (RIC),Trekking Organizer (TO), guide, porter, pengelola penginapan/homestay, restoran, penginapan dan kios/warung, menandakan adanya potensi positif ekowisata bagi pengembangan perekonomian masyarakat dan daerah, dan insentif bagi partisipasi masyarakat untuk pemantapan pengelolaan TNGR. Manfaat ekonomi ini masih mungkin ditingkatkan melalui pemantapan kelembagaan, peningkatan sarana-prasarana, serta promosi terutama obyek-obyek yang belum berkembang. Kata Kunci: Ekowisata, Taman Nasional, Gunung Rinjani Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP KONDISI BIOFISIK KAWASAN DAN SOSEKBUD MASYARAKAT SEKITAR TAMAN NASIONAL KOMODO/ Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 31-41 , 2006 Untuk menunjang kegiatan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo, pihak pengelola melakukan pengembangan obyek wisata alam. Pengembangan ini setidaknya akan menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif, sehingga perlu dilakukan kajian pengembangan obyek wisata tersebut. hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Kegiatan ekowisata di Loh Liang dan Loh Buaya antara lain pengamatan satwa liar, pendakian dan penjelajahan, photo hunting dan video shooting, menyelam dan snorkling, dan atraksi budaya tradisional; (2) Untuk meningkatkan minat pengunjung datang ke lokasi ekowisata, salah satu yang dilakukan oleh pengelola adalah

pembangunan sarana prasarana pendukung; (3) kondisi sosekbud masyarakat di Desa Komodo dan Desa Pasir Panjang, sebagian besar nelayan. Di Desa Komodo ada perubahan mata pencaharian dari nelayan ke pengrajin/penjual souvenir komodo; (4) Pihak yang merasakan manfaat ekonomis dari kegiatan ekowisata adalah pihak pengelola (TN Komodo), Pemda setempat (Kabupaten dan Provinsi), pemilik hotel, pemilik restoran, penyewaan boat, perusahaan dive, guide, perusahaan penerbangan, pedagang souvenir, kios/warung, angkutan, agen travel, dan money changer; (5) Dampak ekologis dari ekowisata berupa perubahan perilaku terhadap beberapa jenis satwa liar seperti komodo, rua, dan babi hutan, serta adanya ekspansi jenis kaktus. Kata kunci: Taman Nasional Komodo, Ekowisata, Pengembangan, Dampak, Sosekbud masyarakat

Koeslulat, Ermi E PELUANG PENGEMBANGAN LEBAH HUTAN MELALUI BUDIDAYA SISTEM KEREK / Ermi E Koeslulat. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 41-45 , 2006 Madu lebah hutan merupakan salah satu produk hasil hutan non kayu andalan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Timor. Selama ini usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas madu hutan belum dilakukan secara serius. Salah satu usaha peningkatan produktivitas adalah dengan melakukan uji coba teknis budidaya lebah hutan dengan sistem kerek di mana prinsipnya menyediakan tempat bersarang dengan kayu yang dapat dinaik-turunkan. Maksud diterapkannya teknik ini adalah agar dapat dilakukan panen sunat sehingga intensitas pemanenan dapat ditingkatkan. Meskipun hasil yang diperoleh belum menggembirakan namun berdasarkan pengalaman pemanenan diperoleh keuntungan lain seperti panen dilakukan pada siang hari dan terbuka bagi setiap orang karena tidak diperlukan keahlian memanjat. Walaupun hal tersebut bukan permasalahan pokok bagi masyarakat, namun hal ini dapat memberikan pengalaman berharga bagi masyarakat. Terlepas dari kelemahan teknik ini, penerapan sistem kerek ini memiliki peluang untuk dikembangkan mengingat adanya faktor-faktor yang mendukung seperti masih terdapatnya pohon lebah tinggi, minat masyarakat yang cukup besar, kemudahan pemeliharaan, pasaran madu yang selalu terbuka, dan sebagainya. Kata kunci: Lebah hutan, Lebah, Peluang, Sistem kerek, Budidaya

21

Komala KERAGAMAN PENOTIPA Agathis borneensis Warb. ASAL SIPAGIMBAR DI AEK NAULI SUMATERA UTARA (Phenotypic Variation of Agathis borneensis Warb. of Sipagimbar at Aek Nauli North Sumatera / Komala; Aswandi; Rusli M.S Harahap; dan Edi Kuwato. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 213-217 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi penotipa Agathis borneensis Warb. asal Sipagimbar yang ditanam di arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera di Aek Nauli. Keragaman penotipa yang diamati adalah tinggi total, diameter batang dan cabang, sudut cabang, panjang internoda, lebar tajuk, panjang dan lebar daun dari dua warna pucuk agathis yang telah berumur 7 tahun. Sumber benih berasal dari tegakan alami agathis di Sipagimbar, Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Analisis ragam terhadap sepuluh sampel dari masing-masing warna pucuk (hijau dan cokelat kemerahan) mengindikasikan terdapat perbedaan dalam ukuran tinggi total, diameter dan sudut cabang, jarak internoda, dan lebar tajuk. Sedangkan diameter batang dan lebar daun tidak berbeda antar kedua warna pucuk. Diduga terdapat dua jenis populasi alami agathis di Sipagimbar. Penelitian anatomi dan karakteristik kayu sebaiknya dilakukan apabila dua populasi tersebut mengindikasikan spesies atau varietas yang berbeda dan disarankan penanaman agathis secara in-situ di Sipagimbar. Kata kunci : Agathis borneensis Warb., keragaman penotipa, konservasi Kosasih, A.Syafari PENGARUH MEDIUM SAPIH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Shorea selanica BI DI PERSEMAIAN (The effect of Growing Medium to the Growth of Shorea selanica BI. Seedling at Nursery/ A. Syafari Kosasih; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.2 ; Halaman 147 - 155 , 2006 Medium sapih adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk memperoleh bibit yang berkualitas dalam waktu singkat. Oleh karena itu dalam mempersiapkan medium sapih perlu diperhatikan unsur hara yang tersedia dalam medium tersebut sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan optimal. Penelitian dilakukan di persemaian Hutan Penelitian Carita, Provinsi Banten dengan metode rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan

medium. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, setiap ulangan terdiri dari 50 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan medium sapih campuran tanah dan kompos dengan volume 4 : 1 memberikan respon yang terbaik pada persen jadi, pertumbuhan tinggi, dan diameter bibit Shorea selanica Bl. sampai umur enam bulan di persemaian. Kata kunci : Medium sapih, Shorea selanica Bl., pertumbuhan bibit Kuntadi TEKNOLOGI PENGELOLAAN LEBAH HUTAN Apis dorsata / Kuntadi. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 49-55 , 2006 Lebah hutan Apis dorsata adalah salah satu jenis lebah madu yang penyebarannya meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun lebah madu ini tergolong jenis liar yang tidak dapat dibudidayakan, namun termasuk yang paling potensial sebagai penghasil madu karena produktivitasnya yang sangat tinggi. Sampai saat ini lebah hutan adalah andalan utama penghasil madu di Indonesia. Permasalahan pokok dalam pengembangan lebah hutan adalah kerusakan habitat A. dorsata akibat tingginya laju deforestasi di Indonesia. Teknik pemanenan madu yang tidak berazaskan kelestarian juga merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup lebah hutan. Permasalahan lain yang tidak kurang pentingnya adalah kualitas madu lebah hutan yang rendah akibat pemanenan dan penanganan pasca panen yang kurang baik. Rehabilitasi hutan dan perbaikan teknik pengelolaan lebah hutan adalah upaya terbaik untuk memulihkan potensi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas produk lebah hutan. Teknologi pengelolaan A. dorsata yang meliputi teknik pengembangan sarang buatan dan teknik pemanenan dibahas dalam makalah ini. Kata Kunci: Lebah hutan, Apis dorsata, Madu Kuntadi PAKAN BUATAN UNTUK LEBAH MADU / Kuntadi. -- Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 149-154 , 2006 Sumber pakan utama lebah madu adalah nektar dan tepungsari (pollen) yang dihasilkan dari bunga tanaman. Masa pembungaan tanaman yang umumnya

22

bersifat musiman menyebabkan pada periode tertentu lebah madu mengalami krisis makanan. Kondisi demikian mengakibatkan penurunan populasi koloni. Kekurangan makanan tidak jarang juga menyebabkan hijrahnya koloni. Pemberian makanan buatan adalah salah satu alternatif cara mempertahankan koloni lebah madu , terutama dalam kondisi langka bunga. Makanan buatan terdiri dari makanan pengganti nektar dan makanan pengganti tepungsari. makalah ini membahas cara pembuatan dan pemberian makanan buatan untuk lebah madu yang dibudidayakan. Kata Kunci: Pakan buatan, Lebah madu Kurniadi, Rahman KAJIAN PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN HUTAN SEBAGAI EKOWISATA DI RIUNG / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 43-53 , 2006 Sampai saat ini sektor kehutanan telah menjadi perhatian banyak pihak karena keterkaitannya dengan banyaknya penduduk miskin di sekitar areal hutan. menurut data Potensi Desa (2003) dalam Ediawan (2005) desa yang berada di dalam dan di sekitar hutan lebih tertinggal dibandingkan dengan desa di luar hutan. Untuk membantu menganalisis permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui manfaat hutan sebagai ekowisata di Taman laut 17 Pulau Riung yang diperoleh masyarakat dan berupaya meningkatkannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi saat ini menfaat yang diterima masyarakat belum optimal. Untuk meningkatkan manfaat tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan arus kunjungan wisata ke Riung. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi dan meningkatkan sarana dan prasarana rekreasi di Riung. Hasil penelitian juga diperoleh fakta bahwa pemanfaatan hutan sebagai obyek ekowisata di Riung memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat dibandingkan pemanfaatan dalam bentuk lainnya. Disamping keuntungan ekologi, masyarakat sekitar obyek ekowisata di Riung memperoleh manfaat ekonomi. Kata kunci: Ekowisata, Pemanfaatan hutan, Riung, Manfaat ekologi, Manfaat ekonomi

Kurniadi, Rahman UPAYA PELESTARIAN PENYU DI BALI / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 55-62 , 2006 Penyu merupakan salah satu hewan langka dilindungi.Beberapa jenis penyu bahkan telah masuk ke dalam daftar Lampiran (Appendix I) Convention on International Trade of Endangered Species tahun 1978 (CITES). Sementara itu Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan guna melestarikan penyu. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan acuan untuk melestarikan penyu di daerah lain. hasil penelitian menunjukan bahwa berbagai upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali antara lain dengan pembentukan Peraturan Daerah, sosialisasi peraturan perundangan, penegakan hukum, penggantian daging penyu dengan daging babi, penggunaan teknologi penangkaran, pelibatan masyarakat dalam penangkaran penyu, dan pelibatan lembaga swadaya masyarakat. Kata kunci: Penyu, Pelestarian, Hewan langka, Satwa langka, Bali Kurniadi, Rahman TEKNOLOGI DAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI KAWASAN MUTIS / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 47-53 , 2006 Kawasan konservasi merupakan kawasan yang memperoleh perlakuan khusus karena kepentingan perlindungan sumberdaya alam. Segala kegiatan yang dilakukan di kawasan konservasi diatur oleh perundang-undangan. Namun demikian segala peraturan perundang-undangan tersebut tidak dapat menangkal kerusakan areal konservasi. Beberapa kawasan sangat rawan terhadap gangguan. Kawasan Cagar Alam Mutis dan Hutan Lindung Timau misalnya, sangat rawan terhadap gangguan ternak, pertambangan dan berbagai gangguan lainnya. Penelitian ini bertujuan memperoleh bentuk kelembagaan social forestry di kawasan Mutis dan memperoleh teknologi social forestry di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk social

23

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik budidaya rotan di Pulau Timor melalui teknik silvikultur yang tepat.1% hal tersebut dinilai responden sebagai peranan Balai TNBT). Peranan kelembagaan dalam penataan batas dan ruang serta perlindungan taman nasional merupakan prioritas program Balai TNBT (nilai = 0. Abdulah Syarief Mukhtar. 2006 .III. Parameter pengamatan adalah tinggi anakan rotan yang diukur dari permukaan media tumbuh semai sampai dengan titik tumbuh semai. blok terhadap diameter serta spesies dan blok terhadap jumlah daun.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Hasil penelitian menunjukan pada pengamatan I hanya spesies dan media yang memiliki pengaruh nyata terhadap tinggi. Social forestry. Kegiatan penelitian ini meliputi kegiatan di lingkup persemaian dalam rangka mendapatkan teknik budidaya yang paling tepat untuk memperoleh paket teknologi peningkatan produktivitas dan kualitas rotan.4 . Mutis Kurniawan. Teknologi.462). Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Karakteristik masyarakat sebagian besar merupakan penduduk asli. persepsi. artinya 33. persepsi. dan bekerja sebagai petani. Di samping itu teknologi social forestry yang dimiliki masyarakat belum mampu untuk membangun hutan. -.9 % dan 42.Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan blok. pupuk dan media berpengaruh nyata terhadap tinggi. dan interaksi) masyarakat dan peranan kelembagaan dalam pengelolaan zona penyangga TNBT. dan memberikan bantuan modal. 2006 Keberadaan masyarakat di sekitar zona penyangga akan mempunyai interaksi dan berpengaruh terhadap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). pelatihan. Oleh karena itu diperlukan pendampingan untuk membentuk kelembagaan social forestry yang mandiri dan untuk meningkatkan kemampuan teknis serta motivasi masyarakat dalam memelihara tanaman. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat dan stakeholder terkait yang dianalisis dengan tabel frekuensi dan sistem Analytic Hierarchy Process (AHP). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi (karakteristik. Hery BUDIDAYA ROTAN DENGAN BEBERAPA JENIS INTRODUKSI DI PULAU TIMOR / Hery Kurniawan. Kata kunci: Kelembagaan.421. Halaman 459 475 . diamter semai dan jumlah helaian daun tanaman semai di lapangan. Jenis introduksi Kuswanda.forestry di kawasan tersebut belum sesuai dengan kondisi ideal. Nasional Bukit Tigapuluh Taman Potencies and Institution Roles in The Bukit Tigpuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda. peningkatan sumberdaya manusia dan ekonomi sebagai prioritas lembaga masyarakat lokal (0. -. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan perlakuan dilakukan uji beda nyata taraf 5 persen. Wanda POTENSI MASYARAKAT DAN PERANAN KELEMBAGAAN DI ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Community Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. peranan kelembagaan. mulai dari pembibitan hingga pengembangannya di lapangan. No. spesies dan pupuk terhadap diameter serta pupuk dan blok terhadap jumlah daun. Program pemberdayaan lembaga masyarakat lokal dapat dilakukan dengan membuat kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Budidaya. beragama Islam. Persepsi masyarakat tergolong positif meskipun interaksi terhadap kawasan TNBT masih cukup tinggi. Halaman 147-159 . Pada pengamatan II diketahui bahwa spesies. Kata kunci: Zona penyangga. 2006 Keadaan iklim yang sangat kering dan jenis tanah yang miskin merupakan suatu kendala besar dalam pengembangan rotan secara luas di Nusa Tenggara Timur.339 dan 0. suku Melayu. Kata kunci: Rotan.315).Jurnal 24 . dan pemantauan pengelolaan daerah penyangga sebagai prioritas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (0.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang faktor penghambat utama dan strategi untuk mengembangkan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya alam di zona penyangga TNBT. dan pengamatan secara deskriptif.241). strategi. rasionalisasi batas kawasan dan zonasi TNBT. dan menciptakan kesempatan usaha pada masyarakat (0. -. Taman Nasional Bukit Tigapuluh menggunakan program expert choice dan Microsoft Excel.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. mulai dari perencanaan hingga pemungutan hasil hutan melalui suatu wadah atau organisasi yang dibentuk yaitu Koperasi Peran Serta Masyarakat Adat (KOPERMAS) yang bergerak di sektor kehutanan. Halaman 249 . Bukit Tigapuluh National Park. No. Kata kunci : Pemanfaatan lahan.7 % hal tersebut dinilai sebagai penghambat pengembangan kelembagaan zona penyangga) dan tingkat ekonomi dan peranserta masyarakat yang masih rendah (0.357.33 %) dan dikonsumsi (20 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama adalah kurang jelasnya batas dan fungsi zona penyangga (nilai = 0. Kata kunci : Faktor penghambat. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 127-135 .436). penataan kembali status dan peruntukan lahan untuk kawasan lindung dan budidaya di daerah penyangga (0. Halaman 491 .289). zonasi. 2006 Paradigma baru pembangunan kehutanan (khususnya di Papua) yang mengarah kepada keberpihakan terhadap masyarakat sekitar hutan. zona penyangga.323). Data dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner untuk masyarakat dan stakeholder. warisan orang tua 8. -. Oleh karena itu perlu adanya peraturan daerah yang mempertimbangkan unsur perpaduan antara hukum adat dan hukum formal yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya hutan KOPERMAS yang diharapkan Kuswanda.258 . Wanda POLA PEMANFAATAN LAHAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. Masyarakat di lokasi penelitian (Desa Lubuk Kambing dan Sungai Rotan) secara umum menggarap lahan pribadi/hak milik dengan luas rata-rata sekitar 3 ha/responden yang berasal dari membuka hutan 35 %.504 .33 %. PROVINSI JAMBI (The Patern Informasi pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal merupakan aspek penting yang harus diketahui di dalam menyusun rencana pengelolaan zona penyangga di taman nasional. masyarakat adat terlibat secara langsung dalam pengelolaan hutan.of Land-Use by Communities in Buffer Zone.3 .III. Oleh karena itu pengelolaan hutan di Papua dewasa ini memasuki era baru. menyatakan bahwa hutan merupakan sumber pangan dan protein selain sebagai sumber kayu dan pengakuan hak masyarakat adat atas suatu kawasan hutan. artinya 35.III.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. stakeholder Kuswandi. selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan tabel frekuensi. Hasil pengelolaan lahan dimanfaatkan untuk dijual (48. dan lainnya. meningkatkan kapasitas dan wawasan sumberdaya manusia. Jambi Province) / Wanda Kuswanda. Relawan MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT ADAT DI PAPUA / Relawan Kuswandi dan Pudja Mardi Utomo. Wanda STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Strategies on Institutions Development of Bukit Tigapuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda dan Abdullah Syarief Mukhtar. Koperasi ini menggunakan konsep kemitraan antar pengusaha mapan dengan masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya alam guna meningkatkan taraf hidup masyarakat pemilik hak adat dan hak ulayat. 2006 Kuswanda. 2006 Pengelolaan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) belum optimal karena kurangnya koordinasi dan sosialisasi antar lembaga terkait.5 . Namun peraturan perundangundangan dan petunjuk pelaksanaan yang dikeluarkan dalam mendukung pelaksanaan pengelolaan hutan oleh masyarakat cenderung tidak jelas dan tidak konsisten. No. Pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal untuk areal perkebunan. Program yang dapat dikembangkan di antaranya adalah mendayagunakan Badan Pengelola Multi Stakeholder (BPMS). wawancara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemilikan dan pola pemanfaatan lahan di Zona Penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. rasionalisasi. Semua penilaian Analytic Hierarchy Process (AHP) responden diolah dengan sistem 25 . pertanian (ladang dan sawah) dan keperluan lainnya (pekarangan rumah dan jalan). Alternatif strategi untuk mengembangkan kelembagaan adalah pembinaan dan pemberdayaan berbagai stakeholder terkait (0.

Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Kata kunci : Agroforestry haramay. Yamin Mile. Halaman 239-249. Selama ini pengelolaan hutan ulayat pada kenyataannya lebih banyak digunakan oleh pihak investor sebagai mitra kerja. Sistem silvikultur yang digunakan adalah sistem silvikultur TPTI modifikasi yang disederhanakan tetapi tetap mengacu pada prinsip pengelolaan hutan lestari. Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan dengan penyebaran kuesioner pada responden sebanyak 66 responden yang ada di zona penyangga dan tradisional TNBT. serat.000 ha dengan jangka waktu pengelolaan antara 10-20 tahun dan menggunakan sawmill portable atau chain saw. Dalam unit prosesing serat.III. sedangkan pengamatan satwaliar dilakukan dengan metode perjumpaan pada kelas aves. Kegiatan perekonomian masyarakat terutama berupa usaha pertanian ekstensif dan pemungutan hasil hutan. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. Data yang dikumpulkan meliputi data kondisi fisik. 11 jenis mamalia. Hal ini disebabkan oleh karena rendahnya tingkat pengetahuan. dan daerah penyangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan pada zona-zona yang diamati mempunyai indeks keanekaragaman jenis tumbuhan secara keseluruhan berkisar antara 2. dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.) Gaudich. dan fasilitas yang dimiliki oleh masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. pupuk organik cair. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. Masyarakat Adat. hasil hutan kayu dan non kayu Kwatrina. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L.606 . Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. Model pengelolaan hutan yang dianggap mudah dan dapat diterapkan adalah model pengelolaan hutan dalam skala kecil dengan berorientasi pada industri pengolahan kayu. dan konsentrat pakan ternak. sehingga bisa menjadi dasar bagi pengelolaan TNBT selanjutnya. baik dalam penyiapan lahan.. Empat kriteria zona TNBT telah sesuai dengan kriteria yang dimaksudkan dalam Peraturan Pemerintah No. pengembangan teknologi tepat guna.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M.17 sampai dengan 3. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. berdasarkan parameter fisik. dan sosial ekonomi. zona pemanfaatan intensif. Untuk itu perlu adanya suatu model pengelolaan hutan yang sesuai dengan kondisi masyarakat adat di Papua. dan primata. baik yang dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. Ditinjau dari aspek teknis.3 . biotik. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper.Info Hutan : Vol. zona rimba. china grass. biotik.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.5 . baik IUPHHK maupun non IUPHHK sebagai prasyarat legalitas untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan.71.dapat meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat adat.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yaitu zona inti.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L. Ditinjau dari prospek agribisnis. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan kriteria dan indikator yang tepat dalam penetapan zonasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Luas areal konsesi antara 1. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. social forestry. No. kemampuan.000-5. di samping serat sebagai produk utama. dan enam jenis primata yang dijumpai di zona-zona tersebut. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. -. Rozza Tri KRITERIA DAN INDIKATOR PENETAPAN ZONASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Criteria and Indicator of Appointed Bukit Tigapuluh National Park Zones) / Rozza Tri Kwatrina dan/and Abdullah Syarief Mukhtar. No. Kata Kunci: Sumberdaya Hutan. Papua Mile. Kondisi vegetasi diperoleh melalui analisis vegetasi pada setiap zona. mamalia. Terdapat 17 jenis aves. Halaman 585 . -. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang.III. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan.) Gaudich. Usulan indikator untuk masing-masing zona adalah zona inti 26 .) Gaudich.

-. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.sebanyak 13 indikator. 2006 Kegiatan konservasi ex-situ merupakan konservasi komponen keaneragaman hayati di luar habitat alaminya. 2003).Dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1998. Halaman 125-135 . 2006 . Bismark.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Rehabilitasi lahan. putusnya hubungan emosional masyarakat lokal dengan lingkungan dan bergesernya kegiatan perekonomian masyarakat sekitar hutan yang semula berladang menjadi kegiatan industri. Burung endemik Nusa Tenggara mempunyai tingkat keterancaman populasi tinggi sehubungan dengan luasnya kawasan hutan yang menjadi kawasan konservasi (di Nusa Tenggara barat 5.2 persen adalah jenis endemik Nusa Tenggara. Daerah M Hidayatullah PEMBANGUNAN KEBUN KONSERVASI EX-SITU CENDANA DI PULAU TIMOR / M Hidayatullah. Untuk menunjang kegiatan tersebut maka diperlukan 27 . kriteria.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.5 persen). 2006 . Upaya penanggulangan illegal logging telah banyak dilakukan. Semakin berkembangnya kehidupan dan bertambahnya kebutuhan hidup keluarga. zona rimba lima indikator. 10.8 juta hektar per tahun (WWF. pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di daerah penyangga kawasan konservasi. -. mulai dari tingkat pusat sampai ke level masyarakat (multi stakeholders) dan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar hutan agar upaya peningkatan pembangunan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. mendorong masyarakat untuk melakukan pembukaan hutan. Masyarakat sekitar hutan pada umumnya memiliki bentuk aktivitas tradisional pertanian ladang sebagai pilihan utama yang dilakukan setiap tahun guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kegiatan illegal logging memberikan dampak yang multidimensi pada berbagai sendi kehidupan masyarakat. 2006 Kegiatan illegal logging yang terjadi di Indonesia mengakibatkan kerusakan hutan semakin meningkat.8 persen dan Nusa Tenggara Timur 8. Dengan model variasi genetik yang berhubungan dengan daerah asal (provenans) yang banyak inilah diharapkan dapat dilakukan seleksi provenans yang terbaik dengan uji provenans serta kegiatan-kegiatan pemuliaan lebih lanjut untuk memperoleh kebun klon cendana yang memiliki sifat genetik unggul. zona rehabilitasi lima indikator. indikator Lestari. Avifauna. akan tetapi belum memberikan dampak yang nyata terhadap pengurangan laju deforestasi hutan. Masyarakat sekitar hutan M. Halaman 107-114 . kegiatan perambahan hutan dan illegal logging oleh masyarakat semakin merata.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. dan daerah penyangga sebanyak 13 indikator. Sosial ekonomi. Kata Kunci: Illegal logging. rehabilitasi lahan. kegiatan ini dapat dilakukan pada cendana karena memiliki siklus hidup yang relatif panjang maka prosedur yang lazim digunakan dalam pengembangannya adalah dengan cara menanam tanaman tersebut di lokasi yang telah direncanakan. zonasi. Biodiversitas Endemik. Kata kunci: Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. serta pengendalian perburuan dan perdagangan burung. Dari 697 jenis burung Walaceae. Pelestarian populasi burung endemik Nusa Tenggara di alam dapat dipertahankan dengan meningkatkan perlindungan dan perluasan kawasan konservasi.Sri ILLEGAL LOGGING DAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Sri Lestari. zona pemanfaatan tradisional 10 indikator. Bismark DIMENSI BIODIVERSITAS AVIFAUNA ENDEMIK WALLACEAE SUB KAWASAN NUSA TENGGARA / M. -. yaitu meningkatkannya tingkat ketergantungan masyarakat. penyangga. 2006 Kepulauan Nusa Tenggara sebagai sub kawasan Wallaceae mempunyai keanekaragaman jenis avifauna yang tinggi. variasi genetiknya diharapkan sangat banyak. Saat ini areal hutan Indonesia yang rusak telah mencapai luasan 43 juta hektar dengan laju kerusakan hutan 1. Kata kunci: Wallaceae. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari bebagai pihak. zona pemanfaatan intensif lima indikator. Halaman 77-84 . Dengan adanya sebaran alami yang luas serta lokasi yang kontinyu seperti kepulauan.

Untuk menunjang keberhasilan kegiatan tersebut. khususnya dalam kaitan alternatif obyek wisata.11. kegiatan pengelolaan Taman Nasional Bali Barat yang saat ini dilakukan meliputi pemantapan kawasan.56. Bali Barat Martin. pengelolaan penelitian dan pendidikan. Pendekatan yang dilakukan adalah inventarisasi dan identifikasi burung dan interaksinya dengan habitatnya. 2006 Social forestry diharapkan menjadi alternatif solusi pengelolaan kawasan hutan di Indonesia. pemberdayaan ekonomi masyarakat.33.Khusus untuk sosial budaya masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan lokal dan global dengan pengembangan partisipasi masyarakat lokal yang berbasis konsep budaya tradisional seperti Tri Hita Kirana. Agis Nursyam S dan Kayat.984 ha dan Cagar Alam Kelimutu 16 ha. dan pengelolaan potensi wisata. -. Taman Nasional Kelimutu Marbawa.92-7. Ekosistem.78-25. sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan kawasan. 2006 Taman Nasional (TN) Kalimutu yang luasnya 5. Kata kunci: Cendana. 2006 Secara umum pengelolaan taman nasional mempunyai tiga fungsi pokok yaitu: sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan. IPTEK. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Partisipasi masyarakat. Konservasi. Untuk mencapai fungsi dan tugas pokoknya. Halaman 199-204 .08-24. pengelolaan potensi kawasan. Jenis burung. Halaman 157-180 . -.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal.38 serta pada zona rehabilitasi adalah berkisar antara 3. -. sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. pengembangan dan pemanfaatan. pengelolaan potensi kawasan.rehabilitasi dan pemanfaatan. pembangunan integrasi dan koordinasi. mempunyai potensi flora dan fauna yang cukup beragam.33-13. terdiri dari kawasan Taman Wisata Kelimutu 4. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. teridentifikasi 22 jenis burung pada zona rimba.78-11.000 ha. 279/Kpts-II/1992.11 dan 4. dukungan iptek sangat diperlukan antara lain: sosial ekonomi. pada zona pemanfaatan adalah berkisar antara 3. pengelolaan wisata alam. Kata kunci: Taman Nasional. Taman Nasional Bali Barat adalah salah satu kawasan pelestarian jalak bali. Ex-situ cendana M Hidayatullah IDENTIFIKASI RAGAM JENIS BURUNG DI KAWASAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU ENDE / M Hidayatullah.55-26. Kata kunci : Identifikasi. 2006 . Hasil pengamatan menunjukkan. Penelitian ini bertujuan untuk jenis dan sebaran burung pada zona-zona di kawasan TN Kelimutu. Pembangunan. Edwin PERFORMANSI PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN BERBASIS SOCIAL FORESTRY DI PROVINSI JAMBI / Edwin Martin dan Bondan Winarno. pemuliaan potensi jalak bali. dan kerjasama pengelolaan wisata alam.65 dan 5.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Fakta menunjukan 28 . sehingga dapat dilakukan kegiatan konservasi insitu untuk kepentingan kegiatan konservasi ex-situ sebelum punah. dengan metode titik hitung dan garis transek. serta sebagai kawasan pemanfaatan secara lestari potensi sumberdaya alam dan ekosistemnya. dan 5.inventarisasi sebaran alami cendana di alam. I Ketut Catur KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / I Ketut Catur Marbawa. Social forestry bukan hal baru di Indonesia. penyusunan rencana pembangunan sarana-prasarana. Frekuensi relatif dan Indeks Nilai Penting (INP) dari 16 jenis pada zona rimba adalah berkisar antara 2. ditetapkan berdasarkan SK Menhut No. Halaman 41-53 .

perkandangan. Kata Kunci: Social forestry. Selain itu juga akan mengurangi perburuan liar oleh manusia serta salah satu upaya untuk melestarikan plasma nutfah hewani di Indonesia. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 57-68 . Peran serta masyarakat dan berbagai pihak yang terkait. baik dari segi teknis pelaksanaan maupun penyiapan kelembagaannya. dan pemanfaatan harus disosialisasikan ke masyarakat untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman penangkaran. Pendampingan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dari mulai identifikasi potensi masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teknologi dan kelembagaan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi. Panajam Paser Utara. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. Api-api. Kawasan hutan. Amir TEKNOLOGI PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DI DESA API-API KABUPATEN PANAJAM PASER UTARA KALIMANTAN TIMUR / Amir Ma'ruf.bahwa ada keragaman inisiatif dan pendekatan yang sudah dikembangkan dengan hasil yang bervariasi. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. Aplikasi bentuk-bentuk social forestry pada beragam kawasan cukup penting untuk dipelajari.) Gaudich. Halaman 239-249. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. Kalimantan Timur Mile. -. Yamin Mile. pengembangan teknologi tepat guna. Dalam unit prosesing serat. pupuk organik cair. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. Tri Atmoko. kesehatan. Cervus unicolor. dan pasca kegiatan merupakan cara yang efektif untuk membangun kelembagaan dan kemandirian masyarakat dalam program social forestry. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). Ditinjau dari aspek teknis. baik dalam penyiapan lahan.) Gaudich. Ditinjau dari prospek agribisnis. penanganan. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. Teknik pemeliharaan..Info Hutan : Vol. terutama tergantung pada kawasan hutan fungsi mana social forestry tersebut diterapkan. baik informasi maupun produk harus dibuat dengan baik sehingga budaya masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu tersebut dapat lestari. khususnya Kalimantan Timur. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Hasil penelitian penunjukan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi menggunakan pola pendekatan yang berbeda. Jambi Ma'ruf. pakan. Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal telah dan sedang mengaplikasikan varian social forestry adalah provinsi Jambi. -. di samping serat sebagai produk utama. Pengelolaan hutan. baik yang 29 .) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L.3 .) Gaudich. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. pelaksanaan kegiatan. No. baik dalam tingkat kecil (rumah tangga) maupun tingkat besar (peternakan). baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. Teknik konservasi maupun penangkaran satwa bernilai ekonomi tinggi ini perlu untuk selalu ditingkatkan sehingga pemanfaatannya dapat diusahakan secara lestari. mengingat orientasi pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat ini merupakan paradigma baru bagi pemerintah (Departemen Kehutanan). Kata Kunci: Rusa sambar. Upaya penangkaran rusa mempunyai potensi yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat selain sumber protein hewani lain yang sudah umum. Teknologi penangkaran. 2006 Rusa sambar (Cervus unicolor) adalah salah satu dari empat jenis rusa di Indonesia yang sudah dilindungi undang-undang dan jumlah populasinya terus berkurang akibat perburuan liar dan semakin tingginya degradasi habitat. perencanaan kegiatan. baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya merupakan modal penting untuk tercapainya tujuan tersebut di atas. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. dan konsentrat pakan ternak.III. dan Ismed Syahbani. Satu hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah teknik pengemasan.

2006 Pola pengelolaan Taman Nasional yang dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi saat ini seperti perambahan kawasan memerlukan pendekatan melalui sistem zonasi yang ditentukan bersama dengan berbagai pihak dengan dasar prinsip kolaborasi. Oleh karena itu kegiatan social forestry dengan pola agroforestry nilam memberikan prospek yang baik dalam meningkatkan pendapatan petani secara nyata. china grass. Oleh karena itu pola agroforestry nilam memperlihatkan prospek agribisnis yang cukup baik sehingga sangat sesuai untuk dijadikan salah satu model dalam kegiatan social forestry. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Nina SEKILAS TENTANG HUTAN PENELITIAN / Nina Mindawati. pada tahun 1937. hasil hutan kayu dan non kayu Mile. Pembuatan zonasi sebelumnya hanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah. Yamin Mile. khususnya di Jawa barat. saat ini perlu dilakukan secara bersama dengan masyarakat dan para pihak lainnya. Pogostemon cablin Benth. No.200-1. sumber benih. Timur Tengah. sehingga keberadaannya perlu di jaga dan dilestarikan Kata kunci: Hutan penelitian Muchtar. serat.400 ton/tahun dan setiap tahun meningkat mencapai 5-10 %. Halaman 229-238.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 137-148 . Menurut data dari BPS (2001). Abdullah Syarief STATUS RISET DALAM PENGUATAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU DAN TAMAN NASIONAL KOMODO / Abdullah Syarief Muchtar. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan pola agroforestry nilam. Minyak atsiri yang berasal dari nilam digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik. membangun kapasitas kelembagaan dan administrasi secara berkala dan keadilan dan kepastian hukum yang jelas dan dapat dipatuhi atau diterapkan oleh para pihak yang berkolaborasi.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Jepang. dan wisata bagi masyarakat. Indonesia mengekspor minyak atsiri ke lebih dari 25 negara seperti Amerika Serikat. Kondisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi nilam. minyak atsiri Mindawati. M Yamin KAJIAN TEKNIS PENGEMBANGAN SOCIAL FORESTRY DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM (Technical Analysis of Social Forestry Development Through Nilam Agroforestry Model) / M. -. diproyeksikan bahwa konsumsi minyak atsiri dunia mencapai 1. dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Agroforestry nilam adalah suatu model 30 . dan sebagainya. Kata kunci : Agroforestry haramay. Uni Eropa. Australia. pembuatan perangkat hukum secara bersama. baik untuk kosumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. -. share learning. koleksi. Adapun prinsip-prinsip kolaborasi yang harus dibangun bersama oleh pihak terkait adalah penataan ruang yang fleksibel. Kata kunci: Agroforestry berbasis nilam.. agribisnis. Saat ini keberadaan hutan penelitian semakin diperlukan karena selain untuk penelitian juga digunakan untuk pendidikan. 2006 kombinasi antara tanaman pokok kehutanan dengan usaha tani nilam (Pogostemon cablin Benth.III.). social forestry.dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. Nilam menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai nilai pasar tinggi dalam perdagangan internasional. 2006 Hutan Penelitian merupakan faktor penunjang yang sangat penting dalam rangka peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan hutan secara nasional khususnya sebagai tempat melakukan dan menghasilkan teknologi (IPTEK) bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Pengembangan social forestry dengan model agroforestry nilam akan meningkatkan nilai produk kayu. -Info Hutan : Vol. Kanada. 2005 : Halaman 1-12 . Sepuluh hutan penelitian telah dibangun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam sejak lembaga ini bernama Bousbouw Proefstation. social forestry.3 .

). Gliricidia sepium Steud. No. turi. Perlakuan dasar yang digunakan adalah pemberian pupuk kandang dosis 4.f. Halaman 173-180 . 2006 Dalam rehabilitasi lahan-lahan bekas tambang diperlukan teknologi yang efektif dan efisien. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. Jenis yang ditanam adalah tiga jenis tanaman penutup tanah tinggi yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk.) Steud).Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Kolaborasi Narendra. -. gamal. dan KTK.III. Budi Hadi PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS LEGUM TERHADAP KONDISI TANAH PADA AREAL BEKAS PENAMBANGAN BATU APUNG (Effect of Legume Species Planting on Soil Condition of the Area Formerly Used for Pumice Mining) / Budi Hadi Narendra dan Eka Multikaningsih. gamal (Gliricidea sepium (Jacq.Info Hutan : Vol. hasilnya menunjukkan bahwa tanaman jati dan mangga memiliki kemampuan hidup dan tumbuh dengan baik dan antar jenis tanaman lorong belum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pokok. kadar air.III. fisika tanah Narendra. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. dan bulk density. Setelah enam bulan pengamatan.3 . Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi pertumbuhan dan manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan sistem pertanaman lorong. Budi Hadi UJI COBA SISTEM PERTANAMAN LORONG DALAM REHABILITASI LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Trial of Alley Cropping system in Critical Land Rehabilitattion of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra.4 kg/m2 dan penggunaan tanaman penutup tanah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. namun untuk penganekaragaman manfaat yang diperoleh.) Poir).) De Wit. Dari ketiga jenis tanaman lorong.).) Pers. kimia tanah.).3 . infiltrasi. biomassa 31 .) Pers). Hasil analisis tanah menunjukkan terjadi perbaikan sifat kimia tanah berupa meningkatnya kandungan bahan organik.) De Wit.) dan mangga (Mangifera indica L. Demikian pula dengan sifat fisika tanah terjadi perbaikan pada permeabilitas. temperatur. diantaranya penggunaan tanaman penutup tanah dari famili legum yang terbukti dapat memperkaya hara tanah. pertumbuhan. -. turi (Sesbania grandiflora (L. Penanaman menggunakan sistem pertanaman lorong. Variabel yang diamati adalah perubahan sifat fisika dan kimia tanah sebelum dan setelah diadakan penanaman. jenis legum.Kata kunci: Kebijakan.). N total. Zonasi. Taman Nasional Kelimutu. dan tanaman penutup tanah rendah berupa sentro (Centrosema pubescens Benth. sistem pertanaman lorong. Taman Nasional Komodo. perlu dipertimbangkan untuk menanam ketiga jenis legum secara bersama dikombinasikan dengan sentro sebagai tanaman penutup tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis tanaman legum penutup tanah terhadap perubahan kondisi kimia dan fisika tanah di lahan bekas tambang batu apung.235 . turi (Sesbania grandiflora (L. Salah satu metode yang banyak memberi manfaat dalam merehabilitasi lahan kritis adalah penggunaan sistem pertanaman lorong (alley cropping). Kebutuhan teknologi tepat guna untuk merehabilitasi lahan bekas tambang batu apung penting saat ini.. Halaman 225 . 2006. sistem pertanaman lorong. Dengan menggunakan rancangan acak lengkap tersarang. diuji pengaruh tiga jenis tanaman lorong dari jenis legum yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala (Lamk. dan gamal (Gliricidia sepium Steud.) terhadap pertumbuhan tanaman pokok jati (Tectona grandis L. turi menghasilkan biomassa terbesar. Respon yang diamati adalah pertumbuhan tanaman pokok dan biomassa hasil pangkasan ketiga jenis tanaman lorong. lamtoro. No. Leucaena leucocephala (Lamk. Sesbania grandiflora (L.

Narendra. namun serangan rayap menyebabkan kematian. Hal ini berdampak negatif terhadap daya dukung lingkungan dalam menunjang kebutuhan manusia. Kata kunci: Meranti merah. Luas lahan kritis di Nusa Tenggara Timur mencapai 28 % dari total luas wilayah. kemampuan menutup tanah dan biomassanya. Penelitian ini menggunakan desain split plot. Budi Hadi TANAMAN PENUTUP LAHAN YANG SUSEAI PADA LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Cover Crop Species Trial on Critical Land of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra dan Syahidan. Halaman 19 . wawancara. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan intensitas serangan hama pada tanaman meranti merah (S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama yang menyebabkan tumor buah pada pucuk tanaman adalah sejenis kutu dengan hama perantara lalat. Berdasarkan kemampuan hidup. Kata kunci : Bekas tambang batu apung. sedangkan serangan hama rayap mengakibatkan kematian. -. pupuk kandang Ngatiman HAMA TANAMAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) / Ngatiman dan Armansyah. Metode pendekatan yang digunakan adalah observasi langsung terhadap karakteristik sistem kaliwu. 2006 Tambang batu apung di Lombok Timur. Bekas tambang ini merupakan lahan terdegradasi yang dibiarkan saja menjadi lahan kritis dengan permukaan berlubang-lubang yang sebagian besar tidak dimanfaatkan lagi. Hanya vegetasi tertentu saja yang masih dapat dijumpai pada lahan tersebut. khususnya di Ijobalit memiliki potensi dan produksi terbesar di Indonesia.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.).III.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. -. di mana tiga macam dosis pupuk kandang sebagai plot utama dan tiga jenis tanaman penutup tanah sebagai sub plot. fragmentasi hutan akibat penebangan liar dan perladangan serta faktor alam yang kurang menunjang pertumbuhan tanaman.1 .4 kg/m2 dapat diaplikasikan guna menambah kandungan bahan organik tanah. leprosula) dengan cara mengamati setiap individu tanaman di lapangan. Shorea leprosula Miq. teknologi rehabilitasi lahan. 2006 Pengelolaan hutan yang menekankan eksploitasi menyebabkan meningkatnya luas lahan kritis dan degradasi ekosistem hutan secara menyeluruh. Halaman 357 365 . Masing-masing kombinasi perlakuan ini diulang sebanyak 16 kali.III. 2006 Pada tanaman meranti merah (Shorea leprosula) umur 10 tahun lebih di lapangan terserang tumor buah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh alternatif rehabilitasi lahan dan konservasi melalui pengembangan hutan rakyat yang berbasis pada sistem social forestry murni masyarakat beserta kearifan lokalnya. mendukung pendapatan masyarakat dengan nilai NPV positif pada tingkat pengembalian modal lebih dari 12 % per tahun. tumor cabang dan rayap. Penggunaan pupuk kandang dengan dosis 4. No. Sedangkan di Pulau Sumba jumlah lahan kritis diperkirakan paling sedikit 32 % dari total luas daratan. Hama tanaman Njurumana. -. lahan kritis.30 . No. tanaman yang paling tepat digunakan sebagai penutup tanah adalah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. Gerson ND REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT BERBASIS SISTEM KALIWU DI PULAU SUMBA (The Study of Widhana Susila. Halaman 347-354 . Peningkatan lahan kritis disebabkan kebakaran lahan dan hutan. Keberadaan sistem kaliwu mampu menunjang tata air. serangan tumor buah dan tumor cabang tidak menyebabkan kematian. I Wayan 32 . Keuntungan Critical Land Rehabilitation through the development of Kaliwu Based Community Forest in Sumba Island) / Gerson ND Njurumana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kaliwu berpeluang dikembangkan untuk rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air di Sumba. Hama penyebab tumor batang dan jenis rayap belum teridentifikasi. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi dan teknologi budidaya jenis tanaman penutup tanah dan dosis pupuk kandang yang sesuai untuk rehabilitasi lahan kritis bekas tambang batu apung. Serangan tumor buah dan tumor cabang menyebabkan tajuk meranggas dan kering akan tetapi tanaman tidak mati. keragaman jenis tanaman yang tinggi serta dukungan masyarakat. Masyarakat menambang secara tradisional tanpa mengupayakan rehabilitasi dan konservasi tanah dan air. 4 .Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. tanaman penutup tanah. karena lahan telah mengalami kemunduran sifat fisika kimia tanahnya. dan pengumpulan data sekunder.

dan penyelarasan pengetahuan lokal dengan pengetahuan dari luar. Kata kunci : Sistem kaliwu. sehingga mendorong proses pembaruan. -. kaliwu. peguatan. 2006 Peningkatan degradasi lahan merupakan kesatuan yang bersifat simultan antara aspek sosial ekonomi. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Gerson ND PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN SISTEM IRIGASI SUBAK DI BALI / Gerson ND Njurumana. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. mamar. Kata kunci: DAS.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. I Wayan Widhiana S dan Tigor Butar-Butar. budaya. Gerson ND PENDEKATAN REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN MAMAR: STUDI KASUS MAMAR DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN / Gerson ND Njurumana. Sistem-sistem tersebut adalah merupakan kearifan lokal yang dapat dikembangkan untuk daerah-daerah yang dekat pemukiman. penggerakan. masyarakat sekitar hutan untuk membuat konsep pembangunan kehutanan secara bersama.pengembangan sistem kaliwu adalah diperolehnya landasan pengelolaan lahan kritis dan konservasi yang berbasis lokal (mengakomodir karakteristik wilayah. Karena itu upaya pengendalian dan rehabilitasi lahan kritis perlu melibatkan seluruh pihak termasuk aktor dari kegiatan degradasi lahan. konservasi dan hutan rakyat Njurumana. pemulihan lahan kritis tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan teknis dan sektoral semata. Halaman 1-11 . dan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan. Di pihak lain. Bali Njurumana. Kata kunci: Agroforestry. Subak. 2006 . Pengelolaan. tengah dan hilir merupakan salah satu pilar pendukung keberlanjutan sistem irigasi tersebut di masa mendatang. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan kearifan lokal) untuk menggugah peningkatan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan pengelolaan lahan. baik komponen internal maupun komponen eksternal. Halaman 143-154 . baik pusat atau daerah. tetapi perlu memberikan ruang bagi partisipasi multi pihak beserta seluruh modal sosial yang berkembang dalam masyarakat. Irigasi. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . dan lain-lain. rehabilitasi lahan. Mamar sebagai salah satu bentuk kearifan lokal 33 . 2006 Perubahan paradigma pembangunan kehutanan yang sebelumnya berbasis hanya untuk pemanfatan kayu oleh sekelompok masyarakat tertentu menjadi pemanfaatan hutan secara multi guna dengan melibatkan masyarakat hutan sekitar mengharuskan pihak terkait seperti pemerintah. 2005 : Halaman 111-122 . 2006 Keberlanjutan sistem irigasi Subak di Provinsi Bali sangat ditentukan oleh berfungsinya komponen pendukung Subak. Gerson ND PEMANFAATAN HUTAN SECARA ARIF DAN BIJAKSANA / Gerson ND Njurumana. Konsep pembangunan yang dapat dikembangkan masyarakat langsung adalah yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan secara multiguna atau agroforestry seperti amarasi. Khusus untuk daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) pembangunan kehutanan harus didasarkan pada kondisi obyektif sumberdaya alam dengan memperhatikan keterbatasan daya dukung sebagai akibat kurangnya pasokan air (sebagai salah satu ciri dari daerah semi arid). sosial budaya. Multiguna. Penguatan kelembagaan subak dalam membangun keterpaduan dalam pengelolaan mulai dari wilayah hulu. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan khususnya rehabilitasi lahan dan lingkungan diletakkan atas dasar pengetahuan masyarakat lokal. salah satunya adalah kearifan lokal. Kearifan lokal Njurumana. Faktor kesehatan DAS merupakan komponen eksternal yang menentukan keberlanjutan faktor internal.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. -.

ginjal. sekaligus mampu menjembatani konflik kepentingan terhadap sumberdaya lahan dan air. Konservasi air Njurumana. muntah darah. 2006 Kerusakan sumberdaya lahan dan hutan di Timor Barat mengalami peningkatan akibat tekanan penduduk. -. dan air diharapkan dapat mengapresiasi dan mendorong masyarakat untuk terlibat secara proaktif melalui kemitraan yang terbangun dalam pengelolaan sumberdaya hutan di Timor Barat. pembangunan sektor kehutanan di Timor Barat harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat secara obyektif melalui pendekatan site spesifik. konversi lahan. perambahan. pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO. dan mempelajarinya. Kebijakan Njurumana.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Dari aspek kebijakan. salah satunya pemanfaatan jenis tanaman yang memberikan manfaat ganda untuk jangka pendek. dan keberlanjutan yang cukup tinggi dalam mendukung kegiatan usaha tani. suasana yang gersang. polusi udara. Pendekatan site spesifik dilakukan dengan berbagai pendekatan. 2006 . penurunan air tanah. dan lingkungan. tanah. pencemaran air berupa air minum berbau. Gerson ND PELUANG DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI TIMOR BARAT / Gerson ND Njurumana. tanah dan air yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan kelestarian ekosistem. Halaman 183-197 .LSM dan swasta untuk mendukung tujuan pembangunan hutan kota Kata kunci: Hutan kota. 2006 . Tekanan penduduk yang tinggi mengindikasikan terbatasnya alternatif sumberdaya yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan hidupnya. oksida nitrogen dan belerang. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan dapat dilakukan dengan memanfaatkan dan memberdayakan potensi dan kekuatan yang sudah ada dalam masyarakat. 2006 Eksploitasi ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. dan buah/biji ulin untuk obat rambut.mengandung logam berat.Pengakuan terhadap kearifan lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan. Gerson ND NILAI PENTING HUTAN KOTA DALAM PEMBANGUNAN PERKOTAAN / Gerson ND Njurumana. karbon-dioksida.) Conservation and it's Utilization as Medicinal Plant) / Noorhidayah. Dengan demikian. pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap keragaman model kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. stabilitas. Halaman 103-117 .Info Hutan : Vol. Halaman 123 .2 . Selain memiliki kayu yang kuat dan awet. debu. Rehabilitasi lahan.130 . Ekologi. dan panjang. Lingkungan Noorhidayah Binn) DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm PEMANFAATANNYA SEBAGAI TUMBUHAN OBAT (The Ironwood (Eusideroxylon zwageri Teijsm Binn. dan pemanfaatan hutan. Kata kunci: Degradasi lahan dan hutan. Nilai penting. silvopasture. abrasi pantai. dan mengatasi bengkak. ternyata ulin juga memiliki manfaat non kayu sebagai bahan obat. 34 . menengah. Kata kunci: Mamar. kebakaran. memanfaatkan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. monoton. batang. Upaya konservasi ulin mencakup tindakan dapat dilakukan secara in-situ maupun ex-situ dan menjaga. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.ozon. intrusi air laut. Kade Sidiyasa. -.memiliki peluang untuk diberdayakan dalam rangka mendukung rehabilitasi lahan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. habitat flora dan fauna. Karena itu. No. bising dan kotor. Kearifan lokal. Konservasi tanah. 2006 Hutan kota diidentifikasikan sebagai status lahan yang dengan pohon-pohonan dalam satuan kawasan tertentu baik pada tanah negara maupun tanah milik yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan perkotaan dalam pengaturan tata air. -.) secara besar-besaran akan mengakibatkan terancam kelestariannya. Kehadiran hutan kota diharapkan dapat mengendalikan peningkatan suhu udara perkotaan. Nilai guna sistem mamar cukup baik terhadap aspek produktivitas. banjir/genangan. Masyarakat telah memanfaatkan daun.III. kehadiran hutan kota diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan ekologi perkotaan yang dapat dilakukan dengan mempertahankan kelestarian dan fungsi kawasan-kawasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun kerjasama dengan komponen masyarakat.

Penelitian diaksanakan di kebun Karangmalang dan Laboratorium Tanah Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.) DAN ULAT SUTERA PERSILANGAN (Bombyx mori Linn) TERHADAP KUALITAS ULAT. Kata Kunci: Serasah pinus. dan berat per satuan bibit tinggi. cenderung memberikan hasil yang baik.1 . dan Morus cathayana A. Bombyx mori Linn. ulat sutera persilangan. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh murbei (Morus spp. 2006 Media Semai dengan menggunakan media topsoil mempunyai banyak kelemahan diantaranya: media lekas padat. kokon.20 cm. Campuran media terdiri dari daun pinus.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci : Murbei persilangan. Untuk pertumbuhan diameter semai. Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. Oleh karena itu upaya penggunaan bahan lain sebagai media pertumbuhan dengan tujuan memperkecil pemakaian topsoil perlu segera dilakukan. kokon. Agung Wahyu PEMANFAATAN SERASAH PINUS SEBAGAI MEDIA SEMAI / Agung Wahyu Nugroho. Variasi aras campuran media 30 persen daun.Parameter yang diamati adalah tinggi dan diameter. No. Wahyudi Isnan. Ukuran dan kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik yaitu sebesar 1. 35 persen pupuk kandang.) terhadap kualitas ulat.73 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. obat.30 mm. Harry Budisantoso. Serasah daun pinus yang merupakan bahan organik yang bersifat lambat terdekomposisi dapat dijadikan media dengan cara dikomposkan dahulu. dan 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan pertumbuhan tinggi yang paling baik yaitu sebesar 11.38 cm. konservasi ex-situ Nugroho. 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik sebesar 1.) dan ulat sutera persilangan (Bombyx mori Linn. Cocoon. B2A. Halaman 129-136 . pupuk kandang. kualitas ulat.. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor yaitu: M (murbei persilangan) dan U (ulat sutera persilangan) dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. -.Kata kunci : Ulin. perlakuan yang berpengaruh nyata adalah ukuran daun dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media. dan serat sutera. dan serat sutera. Kombinasi M1U3 (murbei NI dan ulat sutera HG 8) cenderung memberikan hasil yang baik.III. kualitas serat 35 . 35 persen pupuk kandang. DAN SERAT SUTERA (Effect of Mulberry (Morus spp) and Silkworm Hybrid (Bombyx mori Linn. Sedangkan ulat sutera persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. KOKON.. Jumlah keseluruhan perlakuan ada 12 unit dan tiap unit ada 12 semai dan diulang secara acak pada 3 blok. Hasil penelitian menunjukan bahwa serasah daun pinus dapat dimanfaatkan sebagai media semai yang baik.23 mm dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media 30 persen daun kasar segar. Halaman 65 . Parameter yang diamati meliputi kualitas ulat. Data rerata tinggi dan diameter dianalisis dengan uji F dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata metode Duncan. Morus spp. kualitas kokon. -. dan tanah bermikoriza. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa serasah daun pinus yang lambat terdekomposisi dapat dimanfaatkan sebagai media semai dan mengetahui komposisi media pinus yang sesuai untuk pertumbuhan semai. Kombinasi antara murbei persilangan dan ulat sutera persilangan memberi pengaruh nyata pada rendemen pemeliharaan dan bobot kokon. Analisis statistik menunjukkan bahwa murbei persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. Jenis NI.) on Silkworm. Perlakuan yang menggunakan ukuran daun kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan tinggi semai yang paling baik yaitu sebesar 10. kokon. aerasi kurang baik. konservasi insitu. Digunakan 3 ukuran daun dan 4 variasi aras campuran media.. and Silk Quality) / Nurhaedah. dan serat sutera. tetapi tidak memberi pengaruh nyata terhadap kualitas kokon dan serat sutera dan belum ada jenis yang memberikan hasil yang baik. Media semai Nurhaedah M PENGARUH MURBEI (Morus spp.

) DI KAWASAN REHABILITASI SAMBOJA (Effect of Alang-alang (Imperata cylindrica L. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Shorea johorensis Foxw. No.III. 7 hari setelah mengokon dan 6 hari setelah mengokon serta kontrol (0 hari). Mulyana Omon. telah dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata.) Clearing with Herbicide on Teak (Tectona grandis L. Halaman 83 . Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan waktu pengupasan kokon yang baik untuk penetasan dan rendemen ulat kecil adalah 8 hari sedangkan untuk keperidian dan jumlah pupa jadi ngengat adalah 7 hari. Sedangkan suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup.84 %) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan.f.428 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. purposive dengan Pembuatan plot percobaan dilakukan secara mempertimbangkan keadaan topografi. dan persentase kolonisasi akar (81. 2006 Penelitian pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza terhadap pertumbuhan stek Shorea johorensis Foxw. Perlakuan dalam percobaan ini terdiri dari dua tingkat suhu dan tujuh periode lama penyimpanan. R. penanganan ulat dan kokon serta pencegahan penyakit. No. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak tiga kali. -. Samboja Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri 3 perlakuan waktu pengupasan kokon yaitu 8 hari setelah mengokon.f. Mulyana Omon. Ishak Yasir. Penelitian ini dilakukan di Balai Persuteraan Alam Bili-Bili. Kata kunci : Shorea johorensis Foxw. disamping itu waktu pengupasan kokon yang terlalu cepat dan tidak terseleksi (kontrol) menyebabkan waktu keluarnya ngengat lebih beragam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang teknik pemeliharaan tanaman jati pada lahan alang-alang. jumlah daun (4 helai). jumlah daun. No. Penelitian bertujuan untuk mengetahui waktu pengupasan kokon yang tepat sebagai bahan pembibitan ulat sutera. Kabupaten Gowa. stek. R. mikoriza tablet Omon.) PADA BEBERAPA WAKTU PENGUPASAN KOKON (Quality of Silkworm Eggs with Several Cocoon Peeling Period)/ Nurhaedah M.f. -. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. yang berkualitas di persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4o C atau 20o C untuk diinokulasikan pada stek Shorea johorensis Foxw. dengan dosis sebanyak 8 liter herbisida/ 800 liter air dan satu plot tanaman jati yang terletak di bukit tidak dilakukan penyemprotan sebagai kontrol.) Plantation in Samboja Rehabilitation Area) / R.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Tiap unit perlakuan terdiri dari 10 bibit. 2006 Pengaruh pembersihan alang-alang dengan penyemprotan herbisida pada tanaman jati (Tectona grandis L. kokon Omon.) umur 2. Sulawesi Selatan. pertumbuhan tinggi (4.5 tahun. Mulyana PENGARUH PEMBERSIHAN ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L. KUALITAS BIBIT ULAT SUTERA (BOMBYX MORI L. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal tablet mikoriza untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. . Cuttings in Greenhouse) / R. DI RUMAH KACA (Effects of Temperature and Storage Duration of Mycorrhizae Tablet to Growth of Shorea johorensis Foxw.. Hasil memperlihatkan bahwa penyimpanan tablet selama tiga bulan di kedua suhu yang berbeda (4o C dan 20o C) telah memberikan pengaruh yang nyata lebih baik terhadap persen hidup (86.) DENGAN HERBISIDA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L. Dua plot terletak di bukit berukuran 20 m x 25 m dengan ketinggian 87 m dpl (di atas permukaan laut) dan satu plot terletak di lembah dengan ukuran yang sama dengan ketinggian 47 m dpl. Halaman 177 .4 .2 .III.1 . Dengan demikian untuk rencana dan strategi penyediaan stek Shorea johorensis Foxw. dan persentase kolonisasi akar. Di kedua plot tanaman jati tersebut alang-alangnya disemprot dengan herbisida. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan penyemprotan alang-alang dengan 36 . pengupasan. 2006 Bibit ulat sutera yang berkualitas akan diperoleh jika pemeliharaan ulat induk menghasilkan kokon yang baik.III.Nurhaedah M. telah dilaksanakan di kawasan rehabilitasi Samboja.93 . pertumbuhan tinggi. Beauv. waktu penyimpanan. Halaman 421 .32 cm).184 . Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan penanganan khusus seperti pemberian pakan.67 %). Beauv. Kata kunci : Ulat sutera.

S. Dryobalanops lanceolata. Mulyana TEKNIK PEMBIAKAN VEGETATIF MELALUI STEK PUCUK DIPTEROCARPACEAE PADA MEDIA PADAT DAN AIR / R. teknik penyapihan dan pemeliharaan bibit di persemaian sesuai standar 37 . Selain itu pula telah dikembangkan teknik pembuatan kebun pangkas sebagai sumber bahan stek dan teknik inokulasi mikoriza sebagai pemacu pertumbuhan. paucifloria. S.. Dari hasil pembiakan vegetatif melalui stek ada beberapa jenis yang mudah tumbuh di media padat dan cair seperti Shorea leprosula dan Shorea selanica. Teknik pembiakan vegetatif melalui stek pucuk dengan media padat (pasir.5 kali untuk diameter dan tinggi sebesar 5 kali dibandingkan dengan tidak disemprot herbisida (kontrol). Perbedaan pertumbuhan tersebut. -. tidak terdapat deformasi batang dan akar anakan. Selain itu ada juga beberapa jenis yang mudah tumbuh di media air antara lain Anisoptera marginata.7 cm.f. lahan alang-alang. teknik pencabutan yang baik. S. R.43 cm dan 185. Teknik tersebut telah diaplikasikan oleh HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di Indonesia dan bahkan lebih dari 1. temperatur. Hal ini terkendala dengan masa berbuah massal yang tidak teratur dan bijinya bersifat recalcitrant yang tidak dapat disimpan lama yaitu hanya beberapa minggu saja. Stek pucuk. herbisida. Halaman 335-345 . johorensis. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Samarinda di Stasiun Penelitian Wanariset Samboja dengan Yayasan Tropenbos Belanda dengan nama MOF-Tropenbos Kalimantan Project yang dimulai pada tahun 1985 sampai tahun 2000. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . yaitu sebesar 3. S. Kelemahannya untuk yang pertama adalah diperlukan biaya yang besar yaitu harus tersedia kompresor atau aerator sebagai penghasil oksigen dan listrik. dan lain-lain. Sejak Juli 2002 Stasiun Penelitian Wanariset Samboja telah berubah menjadi Institusi Loka Litbang Satwa Primata. Media padat. S. Thailand. -. turut mempelajari metoda tersebut. Dipterocarpaceae. penggunaan media tepat. pengambilan bahan. masing-masing sebesar 2. dan vermikulit) dan air (water rooting system) diperoleh dari hasil kerja sama antara Departemen Kehutanan cq. Malaysia. Dengan demikian penyemprotan alang-alang dengan herbisida pada tanaman jati dengan dosis 8 liter herbisida/800 liter air per ha dapat direkomendasikan untuk pembersihan alang-alang pada tanaman jati. dan vermikulit) keuntungannya bahannya mudah diperoleh. Vietnam. Dipterocarpus hasseetii. dan hormon tumbuh yang digunakan. Sedangkan media cair (air) keuntungannya mudah dikontrol dan apabila belum berakar dapat dikembalikan ke tempat semula tanpa mengganggu proses perakaran dan tidak perlu penyiraman. teknik pengepakan dikondisikan lembab. Imperata cylindrica L. assamica. tetapi kelemahan tidak dapat dikontrol setiap saat apakah sudah berakar atau belum dan perlu penyiraman. Mulyana Omon. yaitu waktu pencabutan yang tepat. Hopea odorata. Media air Panjaitan. media. sehingga kendala pembuatan bibit dalam skala luas dan tepat waktu dapat diatasi untuk mendukung program pembangunan hutan tanaman. Kata kunci : Tanaman jati. gambut. dikarenakan kesuburan tanah di lembah lebih baik dibandingkan dengan di bukit. Teknik pembuatan bibit sistem cabutan anakan alam harus memenuhi syarat. dan Parashorea sp. Kata Kunci: Pembiakan vegetatif.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 19-27 . 2006 Pengadaan bibit Dipterocarpaceae dengan sistem cabutan anakan alam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kelemahan pengadaan bibit secara generatif (asal buah/biji).herbisida pada tanaman jati telah memberikan pengaruh efektif terhadap pertumbuhan.000 orang yang telah mengikuti training Alih Teknologi Stek Pucuk dan Kebun Pangkas di Wanariset Samboja. India. Keberhasilan perbanyakan dengan stek pucuk dipterokarpa dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain kelembaban. Sudin SISTEM CABUTAN ANAKAN ALAM SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PENYEDIAAN BIBIT JENIS DIPTEROCARPACEAE / Sudin Panjaitan. Omon. Beauv. gambut.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Tectona grandis L. laevis. smithiana. Sedangkan riap diameter dan tinggi tanaman jati yang di lembah lebih tinggi dibandingkan dengan di bukit. parvifolia. teknik. Untuk media padat (pasir. intensitas cahaya. S. Rusmana dan Marinus Kristiadi Harun. baik dari dalam dan luar negeri seperti Jepang. Selain itu banyak tamu-tamu yang datang. Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan informasi bagi para pelaksana di lapangan. 2006 Perbanyakan stek pucuk dari famili Dipterocarpaceae merupakan salah satu alternatif dalam pengadaan bibit di persemaian. ukuran anakan ideal.

Br. Herman R. Tri Fungsi Hutan.U. Pendekatan serupa bisa diterapkan di daerah lain yang memiliki kondisi sama. -. BANJARBARU/ Sudin Panjaitan. dan Awig-awig. menurut data Departemen Kehutanan tahun 2000 mencapai 1. Angka degradasi hutan tropis Indonesia selama 10 tahun terakhir. 2006 Kondisi sumbardaya hutan Indonesia pada saat ini mengalami kemunduran dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. I. 2006 Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli lingkungan serta berkomitmen dalam merehabilitasi lahan ialah dengan mengaitkan dan memanfaatkan pranata sosial masyarakat lokal setempat. Dalam hal ini masyarakat diingatkan dan diarahkan untuk menerapkan konsepsi. masyarakat menunjukkan antusias yang tinggi untuk terlibat dalam rehabilitasi lahan sejak awal perencanaan hingga pelaksanaan dan pemeliharaan serta berminat untuk meningkatkan kemampuan teknisnya. 6 gr. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan anakan pulai akibat pemberian pupuk pinufert dan NPK. Dalam rangka pengembangan budidaya pulai di persemaian disarankan menggunakan pupuk pinufert 5 gr atau NPK gr per batang.B Putera PEMANFAATAN PRANATA SOSIAL LOKAL DALAM REHABILITASI LAHAN: SEBUAH PENGALAMAN DI NUSA PENIDA BALI / I. Pulau Kecil dan kering yang berada di Tenggara pulau Bali.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Pranata sosial lokal Pudja M.6 juta ha/tahun. Banjar Pakraman. Tri hita karana. -. Dipterocarpaceae Panjaitan. Jumlah daun anakan juga dipengaruhi oleh pemberian pupuk dimana anakan yang diberi pupuk menghasilkan nilai tertinggi pada jumlah daun dibanding tanpa pupuk. dan Daud Leppe. Kata kunci: Rehabilitasi lahan. Percobaan disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dari perlakuan pupuk pada anakan pulai umur 16 minggu yang diulang sebanyak 7 kali. Hal ini merupakan hasil dari proses panjang kegiatan pengusahaan hutan alam tropis sejak dekade 70-an sampai 38 . Mahliani dan Acep Akbar. Pemberian pupuk berpengaruh nyata terhadap tinggi dan diameter batang. Lembaga Pelaksana Pura. Pertumbuhan. Sudin RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN PULAI (Alstonia scholaris (L) R. Tri Mandala.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Halaman 85-92 .Br) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK PINUFERT DAN NPK DI PERSEMAIAN BP2HTIBT. Anakan pulai. serta aturan yang mereka miliki sendiri untuk melaksanakan rehabilitasi lahan. Penyediaan bibit. Pendekatan pranata sosial masyarakat setempat yang telah diaktualisasi didaerah ini antara lain: Tri Hita karana. Pendekatan tersebut telah dicoba dilaksanakan di Nusa Penida. fisolofi. Halaman 355-373 . Pranata sosial lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup anakan adalah 10 persen. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . bukan diminta mengadopsi rehabilitasi lahan model baru.B PUTERA PARTHAMA DAN HADI S PASARIBU. Pupuk pinufert.Kata kunci: Cabutan anakan. Kata kunci: Pulai. Alstonia scholaris (L) R. 4 gr per anakan dengan pemberian pupuk pinufert 5 gr dan 10 gr per anakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Sedangkan antara anakan pulai yang diberi pupuk NPK 8 gr. Alternatif. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 77-86 .U KONSERVASI EMPAT JENIS ENDEMIK PAPUA DI PERTANAMAN BPPK PM MANOKWARI / Pudja M. NPK Parthama. Penerapan model ini menunjukkan hasil yang positip yaitu dengan tingkat keberhasilan tanaman 80 persen.

seperti Agathis labillardieri. Pinnata umur 5 tahun 5. Pometia sp. pertumbuhan diameter rata-rata P. GERHAN Pratiwi REHABILITASI LAHAN KRITIS DI WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR / Pratiwi. Balai Litbang Kehutanan Papua dan Maluku telah melakukan penanaman beberapa jenis endemik (jenis asli) potensial yang mulai terancam keberadaannya di hutan alam. Oleh karena itu setelah umur tanaman di atas 10 tahun biasanya pertumbuhan mulai membaik. Halaman 55-68 . dan sertifikasi mutu bibit dalam mendukung GERHAN. dan Araucaria sp. 2006 Pembangunan tanaman hutan yang berkualitas memerlukan benih dan bibit bermutu. Faktor dominan yang berpengaruh terhadap mutu benih/bibit adalah genetik dan lingkungan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. -. Program ini merupakan salah satu dari lima program pokok Departemen Kehutanan. Oleh karena itu upaya rehabilitasi perlu dilakukan agar kerusakan lingkungan dapat dikurangi dan produktivitas lahan dapat ditingkatkan.14 cm/tahun. Sumber benih. Araucaria cuninninghamii. memberikan 3 cm/tahun. Endemik. Namun secara individual ada beberapa pohon mempunyai MAI yang cukup tinggi pada masing-masing jenis. Oleh karena itu perlu segera dilakukan program konservasi dan rehabilitasi. In-situ berarti melestarikan sumberdaya genetik pada habitat aslinya. dan kebun koleksi.00 cm/tahun. Instia sp. seperti Intsia sp. Sejak tahun 1986. Melihat kenyataan tersebut. Riap diameter rata-rata tahunan dan pertumbuhan diameter pada umur di bawah lima tahun umumnya lebih kecil dibandingkan tanaman setelah berumur di atas 10 tahun. -. riap di kebun koleksi dan arboretum ini dianggap masih kecil. Kondisi ini menunjukan bahwa pemilihan dan penanganan bibit yang tepat serta tempat tumbuh yang cocok bagi jenis-jenis tersebut diharapkan mempunyai pertumbuhan yang baik.12 cm/thn. dan lain-lain.sekarang. Belum adanya sertifikasi sumber benih. Agar rehabilitasi lahan kritis di daerah Nusa Tenggara Timur dapat berhasil.38 cm dan umur 16 dengan diameter rata-rata 16. Awal pertumbuhan yang umumnya sulit selain disebabkan pemeliharaan yang kurang intensif.38 cm dan MAI mencapai 1. tingkat persentase hidup tegakan tergolong baik yaitu lebih dari 70 persen dengan kesehatan tegakan termasuk baik.80 cm memberikan riap 1. Joko MANFAAT SERTIFIKASI SUMBER BENIH. 2006 Di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Mutu Bibit. Manukwari Pramono.3 cm/tahun. Sedangkan ex-situ di luar habitat aslinya. dalam bentuk arboretum kebun percobaan. sehingga produktivitasnya menurun. Konservasi secara umum dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu in-situ dan ex-situ. mutu benih.. 39 . kecuali pada jenis Pometia pinnata ada kecenderungan menurun setelah umur lebih dari 15 tahun. walaupun tempat tumbuh di tiga lokasi kurang subur. mutu benih maupun mutu bibit. Kata Kunci: Sertivikasi. jenis-jenis ini relatif mudah untuk dikonservasi dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan tanaman dalam hutan tanaman untuk mendukung gerakan rehabilitasi lahan di Papua. Dibandingkan dengan asumsi riap di hutan alam sebesar 1 cm/thn.20 cm memberikan riap 1. Faktor lingkungan yang ditentukan mutu non genetik dibedakan manjadi mutu fisik dan mutu fisiologi dan dipengaruhi oleh teknik penanganan benih/bibit. umur 11 tahun dengan diameter rata-rata 15.62 cm memberikan riap 1.8 cm/tahun. lahan kritis terjadi akibat sistem pengelolaan lahan yang tidak memadai dengan lingkungan iklim kering. Perbenihan tanaman hutan yang mengandung arti segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan benih tanaman hutan menunjukan perlu adanya sertifikasi sumber benih. diduga juga disebabkan tanah di Manokwari umumnya bercampur karang. sertifikasi mutu benih. MUTU BENIH. Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan tanah baik kimia maupun fisik.05 cm/thn. Hal ini juga berlaku pada ketiga jenis lainnya. Sebagai ilustrasi. dan mutu bibit menyebabkan konsumen tidak memperoleh jaminan terhadap asal-usul benih. Ternyata keadaan masih berlanjut pada tahun berikutnya di mana diameter rata-rata mencapai 19. DAN MUTU BIBIT DALAM MENDUKUNG GERHAN / Joko Pramono dan Hendi Suhaendi. Secara umum kondisi tanaman di kebun koleksi dan arboretum Inamberi dan Anggresi masih tergolong cukup baik. Halaman 49-61 .. Kata Kunci: Konservasi. Pometia sp. memberikan 2. 2006 .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. dapat mencapai 2. Papua.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . diperlukan informasi mengenai aspek-aspek karakteristik faktor lingkungan daerah NTT dan permasalahannya serta alternatif pengelolaannya. Mutu benih. Agathis sp. sehingga tanaman harus melakukan penetrasi akar terhadap karang. dapat mencapai 2. Mutu genetik dipengaruhi oleh asal-usul benih.

Dengan kondisi iklim kering dan solum tanah yang tipis dan berbatu-batu, curah hujan yang rendah dan topografi sebagian besar curam sampai sangat curam mengakibatkan kesuburan daerah ini sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan pemilihan jenis yang akan dikembangkan yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut, teknologi yang memadai dan kelembagaan yang mendukung keberhasilan program yang akan diterapkan. Kata kunci: Rehabilitasi, Lahan kritis, Nusa Tenggara Timur Prayudyaningsih, Retno HAMA DAN PENYAKIT JENIS MURBEY EKSOT DAN TINGKAT KEHILANGAN DAUNNYA PADA AKHIR MUSIM KEMARAU (Pest and Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.4 ; Halaman 429 - 435 , 2006

Kata kunci : Hama dan penyakit murbei, murbei eksot, tingkat kehilangan daun Prayudyaningsih, Retno PEMBUNGAAN DAN PEMBUAHAN BITTI (Vitex cofasus Reinw.) (Flowering and Fruiting of Bitti (Vitex cofasus Reinw.)) / Retno Prayudyaningsih; Edi Kurniawan. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 131 - 138 , 2006 Penelitian mengenai pembungaan dan pembuahan bitti (Vitex cofassus Reinw.) telah dilakukan di Arboretum dan Laboratorium Silvikultur Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi selama 6 bulan (Januari-Juni 2003). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bunga, produksi bunga, keberhasilan bunga membentuk buah, serangga pengunjung, produksi buah, dan produksi biji tanaman bitti. Informasi ini diharapkan dapat mendukung keberhasilan proses penyerbukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakterisitk bunga bitti adalah hermaprodit dengan malai berjumlah 549,33-2.768,67 kuntum bunga, panjang bunga 0,78-0,89 cm, diameter bunga 0,78-1,13 cm, panjang stamen 0,53-0,60 cm dan 0,45-0,59 cm, dan panjang putik 0,84-1,00 cm. Jenis serangga yang selalu mengunjungi bunga bitti adalah kupu-kupu, lebah madu, dan lebah tukang kayu. Produksi bunga per cabang adalah 10.805,32-167.544,86 kuntum bunga. Pada penyerbukan secara alami 2,13 %-11,95 % bunganya akan membentuk buah. Produksi buah per pohon adalah 7.215-45.210 buah dengan produksi biji sekitar 0,59-3,77 kg. Kata kunci : Karakteristik bunga, serangga pengunjung, bitti, Vitex cofassus Reinw., penyerbukan alami

Disease of Exotic Mulberry and level of it’s Leaves Lost I the End of Dry Season) / Retno Prayudyaningsih; Hermin Tikupadang; Budi

Serangan hama dan penyakit pada tanaman murbei akan mengakibatkan produksi daun menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya. Apabila masalah ini dibiarkan berlanjut, maka ada kemungkinan ketersediaan daun murbei akan berkurang dan pemeliharaan ulat sutera oleh petani akan terhambat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Enrekang pada bulan November 2003. Jenis tanaman murbei yang diamati adalah jenis murbei eksot (Morus indica S-54 dan Morus multicaulis) dan Morus nigra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot pada akhir musim kemarau serta tingkat kehilangan daun akibat serangan hama dan penyakit tersebut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan percobaan faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah jenis murbei dan faktor kedua adalah lokasi. Hasil penelitian menunjukkan ada delapan jenis hama dan empat jenis penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot selama akhir musim kemarau. Jenis hama yang paling banyak menyebabkan kerusakan adalah kutu daun (Maconellicoccus hirsutus Green) dan belalang (Valanga sp.), sedang jenis penyakit yang banyak menyebabkan kerusakan adalah bercak daun (Septogleum mori Briosi et Cavapa) dan karat (Aecidium mori Barclay). Lokasi yang tingkat kehilangan daunnya tinggi adalah Kabupaten Wajo (20,05 %) sedangkan jenis murbei yang mempunyai tingkat kehilangan daun paling tinggi adalah M. indica S-54 (15,32 %).

40

High Protein Contain of The Ornate Lorikeet (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity) / Indra A.S.L.P. Putri. -- Jurnal
Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.3 ; Halaman 259 270 , 2006

Putri, Indra A.S.L.P. PREFERENSI DAN KONSUMSI PAKAN BERPROTEIN TINGGI PADA BURUNG PERKICI DORA (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity DALAM PENANGKARAN (Preferences and Consumption of

Rahmat, Mamat PELUANG PERBAIKAN POLA AGROFORESTRY DALAM MENJAGA KELESTARIAN TAMAN NASIONAL : KASUS DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT WILAYAH SUMATERA SELATAN / Mamat Rahmat dan Manifas Zubay. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 85-93 , 2006 Program pemberdayaan masyarakat sudah seringkali dilakukan pada desa penyangga TNKS. Namun kegiatan yang bersifat destruktif masih terus berlangsung. Makalah ini mengulas pola mata pencaharian masyarakat dan interaksinya dengan kawasan TNKS, pola agroforestry yang sudah berlangsung selama ini, serta peluang perbaikan pola agroforestry tersebut dalam rangka menjaga kelestarian kawasan TNKS. Terdapat dua peluang yang keduanya bisa dilaksanakan secara bersamaan. Peluang pertama adalah melalui diversifikasi kebun karet dengan tanaman sela musiman dan tanaman pelapis dari jenis pulai. Kedua adalah dengan cara mengimplementasi model kebun campuran tersebut pada zona pemanfaatan khusus. Kata Kunci: Agroforestry, Taman Nasional, Daerah penyangga, Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Selatan Rachmawati, Ida PENGEMBANGAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas LINN) SEBAGAI ALTERNATIF PENDUKUNG ENERGI BIODISEL / Ida Rachmawati. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 13-19 , 2006 Ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi cukup tinggi menyebabkan kurangnya upaya eksploitasi sumberdaya alam untuk bahan bakar alternatif. Perlu diupayakan segera cara mengatasinya melalui aplikasi kebijakan energi nasional yang mencakup intensifikasi, konservasi, dan diversifikasi energi. Pemanfaatan biodisel merupakan alternatif yang cukup menjanjikan sebagai pengganti minyak disel asal fosil. Penggunaan biodisel mendesak untuk direalisasikan karena selain sebagai solusi menghadapi bahan energi asal fosil pada masa mendatang, juga bersifat ramah lingkungan dan terbarukan. Jarak pagar (Jatropha curcas Linn) sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai

Pakan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan upaya penangkaran burung. Pakan utama burung perkici dora (Trichoglossus ornatus Linne 1758) di habitatnya adalah pollen dan nektar yang mengandung protein tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi dan konsumsi pakan berprotein yang dibuat dari pakan alami yaitu pepaya dan pisang ambon dengan penambahan protein, serta dampak pemberian pakan terhadap berat badan burung Perkici dora. Jenis pakan berprotein yang ditambahkan pada pakan alami adalah telur dengan kadar 10 %, 15 %, dan 20 % dari total pakan yang disajikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square, t-paired sample test, anova satu arah, dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung perkici dora yang dipelihara dalam kandang penangkaran memiliki preferensi dan konsumsi terhadap pakan berprotein tinggi dengan urutan preferensi dan konsumsi pakan adalah pakan alami > pakan berkadar telur 20 % > pakan berkadar telur 10 % > pakan berkadar telur 15 %. Selain itu pemberian pakan berkadar protein tinggi secara signifikan berpengaruh pada kenaikan berat badan burung perkici dora. Kata kunci : Preferensi, konsumsi, protein, pakan, perkici dora, Trichoglossus ornatus Linne 1758

41

bahan baku biodisel. Jarak pagar adalah tanaman yang cepat tumbuh, sangat toleran terhadap iklim tropis, dan jenis tanah sehingga sesuai untuk dikembangkan sebagai tanaman konservasi. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisionil, pupuk, kosmetik, pestisida, dan industri rumah tangga. Pengembangan jarak pagar untuk mendukung biodisel bertujuan untuk mengganti bahan bakar fosil dan memperbaiki polusi udara yang disebabkan oleh emisi dari pembakaran biodisel. Namun perlu dicermati pengembangan penanaman jarak pagar secara monokultur mungkin menimbulkan permasalahan lingkungan seperti keseimbangan daya dukung lahan, kondisi ekonomi, dan kondisi sosial budaya. Perlu dilakukan penelitian berbagai model penanaman secara benar dan terencana secara berkesinambungan. Teknologi ini juga harus diikuti dengan teknologi pengolahan hasil yang dapat dikelola sendiri oleh masyarakat. Kata kunci: Jarak pagar, Jatropha curcas Linn, Biodisel, Konservasi, Energi Rahmayanti, Syofia APLIKASI PUPUK DAUN DAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA ANAKAN JABON (Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s (Leaf Fertilizer and Growth Regulator Application to Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s Seedling) / Syofia Rahmayanti; Eka Novriyanti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 95 - 102 , 2006 Pupuk daun dan zat pengatur tumbuh sebagai perlakuan yang diaplikasikan pada anakan jabon (Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp.). Pengujian statistik, menunjukkan perlakuan tersebut berpengaruh nyata hanya sampai dua bulan pertama sejak perlakuan terakhir. Saat itu, perlakuan pupuk daun 2 g/l + zat pengatur tumbuh 2 ml/l menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter yang terbesar, masing-masing dengan nilai 17,87 cm dan 3,16 cm. Perlakuan tersebut berpengaruh nyata dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi anakan jabon tapi tidak berbeda dengan perlakuan zat pengatur tumbuh 3 ml/l dalam meningkatkan pertumbuhan diameternya, yang nilainya 3,06 cm. Kata kunci: Anakan jabon, Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp., pupuk daun, zat pengatur tumbuh

Rayan PERLAKUAN MEDIA KECAMBAH TERHADAP BENIH TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) DI PERSEMAIAN BP2KK SAMARINDA. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 240-245 , 2006 Tumbuhan penghasil Gaharu (Aquilaria microcarpa) termasuk suku Thymelaceae bernilai ekonomis tinggi yang selalu diburu dan ditebang orang jika ditemukan pencari gaharu di hutan karena banyak kegunaannya seperti untuk pembuatan parfum, kosmetik dan obat-obatan dan lain-lain. Penelitian dilaksanakan di Persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan dan bertujuan untuk mengetahui media perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu (Aquilaria microcarpa) yang baik. Parameter yang diamati adalah kecepatan berkecambah dan daya kecambah benih. Metoda yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Kelompok dengan perlakuan-perlakuan media perkecambahan yaitu : P1 (Media Perkecambahan Pasir) dan P2 (Media Perkecambahan Pasir Campur Kompos (1:1) Hasil penelitian menunjukan bahwa proses perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu jenis Aquilaria microcarpa, mulai berkecambah pada hari ke 7 dan terakhir hari ke 22 dengan rata-rata kecepatan berkecabah selama 14 hari. Sedangkan daya kecambahnya rata-rata 77,67 persen, perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu dengan pemberian kompos pada media pasir disamping dapat meningkatkan daya perkecambahan juga dapat mempercepat perkecambahannya yaitu penaburan benih pada media pasir rata-rata daya kecambah dan kecepatan berkecambah masing-masing 76.67 persen dan 14.46 hari, sedangkan penaburan di media pasir campur kompos (1:1) masing-masing berturut-turut 78.67 persen dan 13,54 hari. Hal ini disebabkan karena media pasir campur kompos lebih basah/lembab dibandingkan dengan media pasir tanpa kompos dan salah satu syarat perkecambahan diantaranya harus kelembabannya stabil atau tetap terjaga dan setelah diuji secara statistik tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Kata kunci: Gaharu, Aquilaria microcarpa, Media kecambah, Daya kecambah, Kecepatan berkecambah

42

bahan organik.28 cm tetapi sebaliknya dengan persentase hidup yaitu persentase lebih rendah dengan pertumbuhan yang lebih tinggi. M2 (media topsoil campur tanah gambut (3:1). Bakasi Renden. NPK. yang dikombinasikan dengan tanaman Theobroma cacao Linn. With Planted Theobroma cacao Linn.C. antara lain: M1 (media topsoil).7 cm) lebih tinggi dari pada media topsoil (M1. Aquilaria microcarpa. No. Hasil penelitian penunjukan bahwa Rata-rata pertumbuhan tinggi mencapai 29. Kata kunci: Gaharu. M4 (media subsoil campur tanah gambut (3:1). dolomit 43 . rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan berbagai media sapih. penelitian ini diulang dengan 3 kali ulangan yang tiap-tiap ulangan terdiri dari 30 benih. dan sub perlakuan adalah kombinasi antara pupuk kandang dengan kapur dolomit. Gambut. Halaman 215 . Kata kunci : Agathis dammara (Lambert) L. Rich. M9 (media subsoil campur bokasi (3:1). Theobroma cacao Linn. karena itu mereka memperlakuan hutan secara tidak bijak tanpa mempertimbangkan kemampuan alam yang ada.93 dan pada lapisan bawah 5.28 cm dan persentase hidup mencapai 82. pupuk kandang. 2006 Hutan dijadikan sebagai sumber pemuas kebutuhan dan penghasilan. M10 (media subsoil campur bokasi (2:1).III. Selain itu pula teknik pembukaan lahan dilakukan secara tebas habis lalu dibakar (slash and burn) sehingga kerusakan lapisan topsoil tanah sulit dihindarkan. pada lahan kurang produktif di Malili. Penelitian dilaksanakan di persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Media sapih. kosmetik. at Lessproduction Land of Malili.43. Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan permudaan alam agatis sebaiknya menggunakan cara penanaman campuran dengan tanaman coklat karena pemupukan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok pada penambahan bahan organik pupuk NPK 100 gram + pupuk kandang 2 kilogam + kapur dolomit 300 gram. 2006 Gaharu adalah gumpalan resin berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum.3 .C. Halaman 326-333 . Ruben KOMBINASI PERMUDAAN ALAM Agathis dammara (Lambert) L. SULAWESI SELATAN (Combining Natural Regeneration of Agathis dammara (Lambert) L. serta merupakan komoditi elit dalam kelompok hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomis tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan parfum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan permudaan alam Agathis dammara (Lambert) L. Suhartati. South Sulawesi) / Ruben Renden. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .223 . DENGAN TANAMAN Theobroma cacao Linn.. 29.. -. pemberian Gambut pada media sapih pada umumnya cenderung meningkat tetapi pemberian pada media subsoil belum dapat menyamakan kesuburan topsoilnya.53 persen asal cabutan anakan alam selama 6 bulan di persemaian.34 cm dan yang disapih pada M1 adalah 0. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. M8 (media topsoil campur bokasi (2:1). 0. dengan perlakuan utama adalah dosis pupuk NPK.74 cm)begitu juga dengan pertumbuhan diameternya yaitu cabutan anakan alam yang di sapih pada M9. Menurunnya kandungan bahan organik tanah pada bagian hutan yang telah berubah menjadi lahan HKM yaitu pada lapisan atas 5.75 cm dengan diameter 0.C. Rich. Berbeda halnya dengan pemberian Bokasi pada media sapih disamping meningkatkan kesuburan tanah dan juga pemberian pada media subsoil dapat melebihi kesuburan topsoilnya. coklat. Rich. Merryana Kiding Allo.Rayan PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN CABUTAN ANAKAN ALAM JENIS TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) / Rayan. PADA LAHAN KURANG PRODUKTIF DI MALILI. dan obat-obatan. Rich.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Penyediaan paket teknologi sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan jenis andalan setempat melalui penerapan teknik konservasi tanah berupa pemupukan dalam rangka rehabilitasi lahan kurang produktif. Yaitu pertumbuhan tinggi cabutan yang disapih pada media subsoil campur bokasi (M9. yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika diduga akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. 32. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah atau Split Plot.C. M3 (media topsoil campur tanah gambut (2:1).

E.075. crassipes SOLMS pada DAS-DAS di propinsi Papua Indonesia ini. Penelitian dilakukan melalui pendekatan volume sedimen yang tertampung dalam Sabo Dam (Sabo Dam diasumsikan sebagai penampung sedimen). Di beberapa daerah Aliran Sungai (DAS) di Propinsi Papua Indonesia.III.crassipes SOLMS secara mekanis. Hasil pembalakan liar untuk memasok kebutuhan industri kecil. Pembalakan liar telah dimulai sejalan dengan pembukaan wilayah hutan oleh HPH. DAS. dan pulp. Demikian pula air yang ada pada Sabo Dam dianalisis kandungan unsur haranya. penanganan E.Retnowati.4 . 2006 Pembalakan liar dan penyelundupan kayu mempunyai hubungan erat. diketahui bahwa luas catchment Sabo Dam 6 adalah 74. Invasif eksotik. crassipes SOLMS pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh penjajah Belanda pada tahun 1894. Nilai erosi ini dihitung dengan pendekatan biaya ganti (replacement cost). Berdasarkan hasil penelitian. Pendekatan biaya ganti yang digunakan dimaksudkan untuk memberikan gambaran nilai kerugian secara kuantitatif yang dialami oleh suatu wilayah akibat erosi. kemudian diambil sampelnya untuk dianalisis kandungan unsur haranya. diketahui melalui pemodelan AGNPS (Agriculture Non Point Source Pollution Model) sehingga bisa diketahui besarnya kontribusi erosi masing-masing penggunaan lahan.III.193. sehingga hasil tangkapan dapat dilelang secara cepat dan disetor ke kas negara. Muhammad Sulaiman. Tegalan merupakan penggunaan lahan yang paling besar 44 . dan (2) memusnahkan E. No. Eulis PENANGANAN JENIS INVASIF EKSOTIK Eichhorniae crassipes Solms (ECENG GONDOK) PADA BEBERAPA DAS DI PROPINSI PAPUA. Papua Ruby. dapat dilakukan dengan cara: (1) memanfaatkan E. -. 2006 Eichhorniae crassipes SOLMS (eceng gondok) adalah tumbuhan air mengambang yang berasal dari Brazil. Dampak dari kejahatan tersebut dapat mengganggu aspek kehidupan. pupuk biogas. maupun budaya. South Sulawesi) / Andi Gustiani Salim. crassipes SOLMS sudah menjadi gulma (jenis invasif eksotik). Pemusnahan E. INDONESIA / Eulis Retnowati. jenis tumbuhan ini sudah menyebar di seluruh Indonesia. crassipes SOLMS untuk makanan ternak.250. No.000 m2 dan volume Sabo Dam 102. Saluran-saluran irigasi. Di Propinsi Papua Indonesia.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. unsur hara yang terbawa erosi diasumsikan sebagai nilai ekonomi erosi atau nilai kerugian lingkungan. Seluruh komponen masyarakat harus terlibat dalam penanganan jenis tumbuhan ini. Untuk itu.Info Hutan : Vol. penyelundupan kayu. Kata kunci : Pembalakan liar.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 155-161 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kerugian ekonomi lingkungan akibat erosi secara kuantitatif. dan mencemari beberapa smber air. Pembalakan liar tidak saja pada hutan produksi.000 m2. Untuk mengetahui sumber-sumber erosi. dan "German weed" (di Bangladesh). Pada saat ini.75 m3 dan pada Sabo Dam 8 volumenya sebesar 21. bahkan sudah merambah kepada hutan lindung. SULAWESI SELATAN (Quantification of Erosion Economics Value on Jeneberang Sub Watershed. yaitu nilai erosi didekati dengan biaya ganti tanah dan unsur hara yang hilang terbawa erosi. Sedimen yang terdapat pada Sabo Dam diukur volumenya. crassipes SOLMS tidak boleh dilakukan secara biologis atau secara kimiawi. Tanaman ini dikenal sebagai "Water hyacinth" (di Eropa dan Amerika) "blue devil" (di Bengal). Andi Gustiani KUANTIFIKASI NILAI EKONOMI EROSI DI SUB DAS JENEBERANG.122 . membuat kertas.crassipes SOLMS harus terpadu dan terkoordinir. Kamindar MASALAH PEMBALAKAN LIAR DAN PENYELUNDUPAN KAYU DI PROVINSI RIAU (The Issue of Illegal Logging and Log Smugglings in Riau Province)/ Kamindar Ruby. -.362. menengah dan tidak menutup kemungkinan untuk bahan baku industri besar.356 . baik dalam sektor ekonomi.5 m3 dengan luas catchment 47. -. E. Pembalakan liar dan penyelundupan kayu merupakan kejahatan yang terorganisir termasuk pelanggaran hukum pidana. Penanganan E. Tumbuhan jenis ini menutupi beberapa perairan. Laode Asir Tira. Halaman 343 . sosial. di mana perusahaan yang memegang ijin tersebut menebang di luar blok tebangan. maupun hutan konservasi. Halaman 117 . 2006 Pada penelitian ini. Kata Kunci: Enceng gondok.2 . Amerika Selatan. pemberantasan dan penyidikan harus terus menerus secara serius dilaksanakan dan berkas perkara kasus tersebut segera diajukan ke pengadilan dalam waktu relatif singkat. pelanggaran hukum Salim.

kelembagaan. Kata kunci : Kuantifikasi. SOSIAL-EKONOMI.083. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan teknik rehabilitasi lahan yang tepat untuk mengurangi laju degradasi lahan di DAS Limboto. budaya. Jumlah penduduk 575. hutan kemasyarakatan. 28. tingginya laju sedimentasi dan pendangkalan Danau Limboto. Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing satu hektar. BUDAYA. Halaman 159171. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan pengelolaan DAS Limboto diarahkan pada : Pelestarian fungsi kawasan. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan produksi di Indonesia telah dilakukan selama lebih dari 30 tahun. peningkatan pendapatan dan konservasi danau. sosial-ekonomi. Struktur geologi utama adalah sesar normal dan sesar jurus mendatar. 45.280 .545.6 cm/thn. -. Informasi tentang kondisi hutan terkini terutama luas bidang dasar sangat diperlukan untuk mengetahui produktivitas hutan setelah kegiatan penebangan. Socio-Economics. No.202. Penggunaan lahan terluas adalah tegalan.III. tidak dijumpai adanya indikasi perubahan struktur tegakan yang diukur dari sebaran kelas diameter Kata kunci : Hutan hujan tropik. erosi. aplikasi teknik konservasi tanah dan air. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30 tahun setelah eksploitasi. 2006 Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto merupakan salah satu DAS kritis prioritas I berdasarkan SK Menhut No.307.430. Culture. yaitu 40. unsur hara Salim. meningkatkan produktivitas.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 1. rehabilitasi Samsoedin.576. Kata kunci : Biofisik. Penelitian dilakukan pada kawasan hutan bekas tebangan milik PT. Hasil yang diperoleh yaitu karakteristik DAS Limboto meliputi bentuk DAS bulat dengan RC rasio mendekati 1(0.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. konservasi sempadan sungai/danau.8 m2/ha). Jenis tanah bervariasi dan didominasi jenis alfisol. Gorontalo) / Andi Gustiani Salim. produktivitas hutan kembali tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah pohon (577 pohon/ha) dan luas bidang dasar (46. dan 45 . pengintegrasian program. tanah. tingginya tekanan penduduk.menyumbangkan erosi pada Sabo Dam 6 dan Sabo Dam 8.-/thn Sabo Dam 8. 10. konversi hutan menjadi lahan budidaya dan perladangan berpindah. Andi Gustiani KARAKTERISTIK BIOFISIK. Penyebab utama luasnya lahan kritis adalah perambahan hutan.6 m2/ha) masih lebih rendah dibandingkan hutan primer.80 ha. hutan rakyat. mencegah banjir dan kekeringan. budaya dan kelembagaan DAS Limboto serta menentukan alternatif teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) DAS Limboto. DAN KELEMBAGAAN DAS LIMBOTO. agroforestry. peningkatan daerah resapan.333.-/thn untuk Sabo Dam 8. GORONTALO (Characteristic of Hunggul Yudono SHN. areal bekas tebangan. Dalam penelitian ini.368. Untuk mencapai tujuan tersebut disusun alternatif arahan teknik RLKT yaitu : (a) RLKT on site yaitu : reboisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik.191. c) Pengembangan sosial-ekonomi dan kelembagaan : pemberdayaan masyarakat. ekonomi. luas bidang dasar Biophysics. dan biaya ganti unsur hara sebesar Rp 7. sehingga tidak berbeda nyata dengan hutan primer (605 pohon/ha. and Institution of the Limboto Watershed.5 m2/ha) dan 10 tahun (501 pohon/ha. dan 30 tahun serta empat petak di lokasi hutan primer yang belum ditebang. Kerugian akibat erosi yang dihitung dengan pendekatan biaya ganti angkut sebesar Rp 3. 248/Kpts-II/1999.96). terdiri dari masing-masing empat petak di LOA-5. Inhutani I dan II di Kalimantan Timur. Kekritisan ini didasarkan pada luasnya lahan kritis. 32.3 . sosial-ekonomi.9 m2/ha). eksploitasi hutan.III. Halaman 271 . Ismayadi DINAMIKA LUAS BIDANG DASAR PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (The Dynamic of Basal Area in Logged-Over Forest in East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. penguatan kelembagaan.790 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 1%/thn dan lebih dari 52% bekerja sebagai petani.3 . Enik Eko Wati. penghijauan.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 274. pola aliran sungai dendritik dan luas DAS 86.678. No. sedangkan produktivitas LOA-5 (501 pohon/ha.Info Hutan : Vol. penegakan hukum dan perundangan. b) RLKT off site : normalisasi sungai. Topografi beragam dari landai sampai curam.

KALIMANTAN TIMUR (Natural Regeneration in Logged-over Production Forest in Malinau District. dan 30 tahun. Halaman 379 . 2006 Tropical Rain Forest Soil and Its Suitability for Some Crops in LoggedOver Production Forest of East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin Production Forest of PT. Pada hutan primer. No. dominan di strata tajuk paling atas (emergent) pada LOA-5. dengan tingkat kesesuaian lahan yang umumnya marginal 46 . Kata kunci : Hutan hujan tropik. Inhutani I dan II di Kabupaten Malinau. dan LOA-30 dan membandingkannya dengan hutan primer. dan LOA-30. sedangkan Koompassia malaccensis Maing. serta 4 petak pada hutan primer yang belum ditebang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak dijumpai adanya pohon menjulang (emergent) pada hutan primer dan LOA-30. terdiri dari 4 petak di LOA-5. LOA-5 memiliki jumlah yang terbesar yang tidak berbeda nyata dengan LOA-10 dan LOA-30. dan LOA-30. Dari hasil penelitian ditemukan anakan sebanyak 1. sedangkan untuk jumlah jenis.III. Tidak terjadi perbedaan yang nyata dalam jumlah jenis dan individu anakan antara lokasi bekas tebangan dan hutan primer. -. Penelitian ini dilakukan pada lokasi hutan produksi bekas tebangan milik PT. sedangkan pada LOA-5 didominasi oleh Shorea parvifolia Dyer. Penelitian dilakukan di lokasi hutan hujan tropik Hutan Penelitian Bulungan.512.3 . East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. LOA-10. 10. Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh tanah pada lokasi hutan bekas tebangan berumur 5. areal bekas tebangan. KALIMANTAN TIMUR (The Condition of Canopy Strata in Logged-Over Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing 1 hektar. dengan Dipterocarpaceae paling dominan dibandingkan dengan suku lain.4 . 2006 Penelitian yang dilakukan di hutan hujan tropik di Kabupaten Malinau. strata tajuk atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae. Ismayadi KESUBURAN TANAH HUTAN HUJAN TROPIK DAN KESESUAIANNYA UNTUK BEBERAPA JENIS TANAMAN PERTANIAN PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Fertility of dan I Wayan Susi Dharmawan. dan dominasi permudaan pada hutan bekas tebangan LOA-5. 30 tahun serta hutan primer untuk keperluan analisis dan penilaian.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. guna mengetahui kelayakan lahan sekitar hutan untuk kemungkinan pengembangan tanaman pertanian. Benth. Untuk pancang. Halaman 505 . dan 65 suku dengan 67 jenis dari suku Dipterocarpaceae.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Inhutani I and II in Malinau District. Ismayadi KONDISI STRATA TAJUK PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI AREAL KERJA PT. No.341 . Ismayadi PERMUDAAN ALAM HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KABUPATEN MALINAU. Penelitian dilaksanakan dengan menghitung jenis.) Taub. 10. areal bekas tebangan. Kalimantan Timur ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi permudaan alam (anakan dan pancang) pada hutan bekas tebangan. Kata kunci : Hutan hujan tropik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kesuburan tanah hutan pada hutan bekas tebangan berumur 5. ditemukan 802 jenis. jumlah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi hutan khususnya strata tajuk yang sangat diperlukan untuk mengetahui kerusakan hutan akibat kegiatan penebangan. dan 30 tahun dengan pembanding hutan primer pada ketinggian 100-300 m dpl. Tidak terjadi perbedaan nyata dalam jumlah individu pancang. 241 genus. Halaman 327 .Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kesuburan tanahnya rendah sampai dengan sangat rendah untuk produksi tanaman pertanian. Areal ini memiliki strata tajuk yang lebih rendah dibandingkan LOA-5 dan LOA-10. ex.022 jenis. -. Kalimantan Timur.III.Samsoedin.III.388 . No.5 . Pengetahuan tingkat kesuburan lahan hutan hujan tropik sangat diperlukan dalam mengembangkan tanaman pertanian untuk mendukung kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan. Kalimantan Timur pada hutan bekas tebangan berumur 5. yang terdiri dari 408 genus dan 111 suku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian adalah Oxisols. LOA-10. regenerasi alam Samsoedin. Pohon-pohon menjulang (emergent) pada LOA-10 didominasi oleh Koompassia excelsa (Becc. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. LOA-10. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan telah diketahui sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan hujan tropik di Indonesia. -. strata tajuk Samsoedin. INHUTANI I DAN II DI KABUPATEN MALINAU. guna mengurangi tekanan atau intervensi masyarakat terhadap hutan. 10.

Kalimantan Timur.III. sedang pada varietas AsI dosis pupuk terbaik adalah 40 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang 14. 20 g. Untuk parameter kandungan protein rancangan penelitian menggunakan rancangan Acak Lengkap secara faktorial dengan faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. Var. 10. NI dan Morus sp. Halaman 1 . dan volume kayu antara hutan primer dengan hutan bekas tebangan 5. Meskipun tidak berbeda nyata. Var. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dalam hal jumlah batang untuk sisa kayu berdiri dan rebah. 30 g.14 %.574. Var. Data dikumpulkan dari 16 petak berukuran masing-masing 1 ha. AsI) . Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai sisa kayu besar di hutan bekas tebangan dan hutan alam dalam rangka memperbaiki pengelolaan hutan dan menjaga keragaman jenis. Kata kunci : Hutan hujan tropik. Faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. Pada NI dosis pupuk urea sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan kandungan protein 3. 2006 Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili. sisa kayu pada hutan primer di lokasi penelitian sebesar 67. Halaman 564 . AsI)) / Budi Santoso. var.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. var. Bintarto Wahyu Wardani. tetapi hal ini juga menunjukkan kurang efektifnya pemanfaatan kayu dalam pemanenan hutan. Sisa kayu besar memiliki peran penting sebagai bahan nutrisi dan hara dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Provinsi Sulawesi Selatan.8 . Var. No. 10. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap Berblok secara faktorial.(S3) atau tidak layak (N). Kabupaten Luwu Timur. AsI). 2006 Adanya sisa kayu besar pada hutan alam bekas tebangan adalah hal yang tidak bisa dihindari karena sisa kayu dihasilkan secara alami oleh adanya pohon yang mati dan sisa kayu penebangan yang tidak termanfaatkan. Ismayadi POTENSI SISA KAYU PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Coarse Woody Debris Potential in Logged-Over Production Forest of East Kalimantan / Ismayadi Samsoedin dan/and I Wayan Susi Dharmawan. Penelitian ini dilakukan pada hutan produksi bekas tebangan di hutan hujan tropik dataran rendah.22 %. Kata kunci: Morus sp. Penambahan dosis pupuk urea dapat meningkatkan produksi daun murbei (Morus sp. NI dan Morus sp. kesesuaian lahan. NI and Morus sp. Pemberian pupuk urea dengan berbagai dosis dapat meningkatkan kandungan protein daun murbei (Morus sp. NI dan Morus sp. Kata kunci : Hutan hujan tropik.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. sedang faktor kedua adalah dosis pupuk urea yaitu 10 g. var. NI and Morus sp.46 %. NI. dan 30 tahun serta 4 petak pada hutan primer sebagai petak kontrol. Var. var.1 . namun pengaruh peningkatan dosis pupuk urea terhadap peningkatan kandungan protein daun tidak berbeda nyata.5 .III. sedang apabila ditingkatkan dosis pupuknya (40 g/tanaman) kandungan protein menurun menjadi 3. Var. Var. AsI). panjang cabang. Retno Prayudyaningsih. produksi daun. areal bekas tebangan. Pemberian pupuk urea pada NI dengan dosis sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang sebesar 6. Var. namun pengaruh perbedaan dosis pupuk terhadap peningkatan produksi daun tidak signifikan. AsI) dan faktor kedua dosis pupuk urea. NI dan Morus sp. No.32 %. AsI)) (Effectivity of Urea Fertilizer for Growth. AsI. sisa kayu besar Santoso. pupuk urea 47 . dan 30 tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa lahan hutan produksi dengan ekosistem hutan hujan tropik dataran rendah hanya cocok untuk mendukung kegiatan kehutanan. Budi EFEKTIVITAS PEMUPUKAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN. and Protein Content for Varieties Mulberry (Morus sp. -. PRODUKSI DAUN.3 m3/ha atau 2 kali lebih besar daripada hutan primer di Costa Rica. terdiri dari empat petak untuk tiap perlakuan yaitu petak bekas tebangan berumur 5. kandungan protein daun murbei. DAN KANDUNGAN PROTEIN DAUN MURBEI (Morus sp. dan 40 g/tanaman. Var. Sedang untuk parameter jumlah cabang dosis pupuk terbaik untuk kedua varietas murbei adalah 30 g/tanaman. -. luas bidang dasar. Leaf Production. tanaman pertanian Samsoedin. var. Morus sp.

. and Morus indica S-54) DI DAERAH BERLAHAN KERING (Percentage of Mulberry Leaf Fall and Leaf Production of Some Mulberry Species Morus multicaulis Perr.36 g/tanaman). 0. Retno Prayudyaningsih. No. Tanaman yang masuk dalam plot kemudian dilakukan pemangkasan setinggi 40 cm dari tanah. Pada setiap lokasi dibagi menjadi tiga blok dan setiap blok 48 . dan fisik serta kimia tanah daerah pengembangan persuteraan alam di Sulawesi Selatan pada musim kemarau. Jenis murbei yang produksi daunnya tertinggi adalah Morus multicaulis Perr. kultur jaringan. produksi daun. Morus nigra Linn.) VARIETAS KI 14 SECARA INVITRO (Invitro Multiplication of Mulberry KI 14 Variety) / Budi Santoso.5 ppm.05 ppm. Jenis murbei yang mempuyai tingkat kerontokan daun terbesar adalah Morus indica S-54 (43. Budi MULTIPLIKASI TANAMAN MURBEI (Morus sp. Halaman 119 . dan pelabelan. dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. No.2 . and Morus indica S-54 in a Dry Area) / Budi Santoso. -. perbaikan guludan. dan 0. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai produksi daun tertinggi adalah Enrekang (229. Kata kunci : NAA.15 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP (0.. No.10 ppm. Budi TINGKAT KERONTOKAN DAN PRODUKSI DAUN BEBERAPA JENIS MURBEI (Morus multicaulis Perr.5 . 2006 Penelitian tingkat kerontokan dan produksi daun beberapa jenis murbei di daerah kering ini dilakukan di empat kabupaten yang menjadi sentra utama persuteraan alam di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) konsentrasi NAA 0. curah hujan. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu Lawowoi (Kabupaten Sidrap) dan Sabangparu (Kabupaten Wajo). Halaman 157 164 .126 . Morus nigra Linn. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai tingkat kerontokan terbesar adalah Kabupaten Sidrap (48.2 . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kesesuaian jenis murbei. dan 3) kombinasi perlakuan NAA 0.05 ppm. Produksi daun dipengaruhi jenis murbei dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. Morus sp. pendangiran. BAP.III. pemupukan urea 20 g/tanaman. Morus indica S-54 Santoso.492 cm) pada tinggi tunas dalam media kultur varietas murbei KI 14. Penelitian dilakukan terhadap tiga jenis tanaman murbei berumur lima tahun dalam plot percobaan di lapangan yang ditetapkan secara purposive sampling.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.35 g/tanaman).5 ppm) setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. -. Halaman 533 .41 %). 2) jumlah tunas terbanyak (3 tunas) dicapai pada perlakuan NAA 0. Retno Prayudyaningsih. Budi KESESUAIAN JENIS MURBEI DAN BIOFISIK DAERAH KERING (Compatibility of Mulberry with Its Soils’s Biophysics at Dry Area of South Sulawesi) / Budi Santoso. varietas murbei KI 14. Setiap jenis tanaman murbei di setiap tempat diteliti dalam tiga plot dengan ukuran plot 10 m x 10 m masing-masing dengan 50 tanaman. dan 1. Kata kunci : Tingkat kerontokan daun.. Pelaksanaan penelitian selama tiga bulan antara bulan Maret sampai Mei 2004.III.539.III.49 %). lokasi tempat tumbuh. multiplikasi. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap tingkat kerontokan daun dan produksi daun. Tingkat kerontokan daun dipengaruhi jenis murbei.0 ppm. Andi Rismawati.8 hari. Bintarto Wahyu Wardani. Faktor pertama adalah konsentrasi NAA (0.(232.Santoso. Santoso. dengan rancangan acak lengkap secara faktorial.05 dan BAP 0. dan Retno Prayudyaningsih.5 ppm memberi respon paling tinggi (5. -. 1. 2006 Penelitian multiplikasi tanaman murbei varietas KI 14 bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang konsentrasi NAA dan BAP yang optimal pada perbanyakan tanaman murbei varietas KI 14 secara invitro. Perlakuan ini seragam di setiap lokasi penelitian.10 ppm yang terbaik untuk mempercepat terbentuknya tunas yaitu 5.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol..

dan di Kedung Coet.357 mg/l). Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Indramayu. BKPH Indramayu termasuk perairan antara eutrophic dan oligotrophic. Comal. ikan yang ditemukan 10 jenis. dan posfor serta diperbaiki tekstur tanahnya.05 mg/l). Comal. kualitas fisik dan kimia air. kawasan di S.III.III. Pemalang. Reny KAJIAN STATUS POPULASI BURUNG MERANDAI DI PANTAI UTARA PULAU JAWA (The Study Population Status of Shorebirds in North Beach of Java Island) / Reny Sawitri. Jawa. jenis benthos dan plankton Sawitri. yaitu Sungai Comal dan Sungai Kedung Coet. Di Pemalang. Indramayu) / Reny Sawitri. kesesuaian jenis.Jurnal Penelitian Hutan Pemanfaatan kawasan untuk jaringan pembuangan industri. Kedung Coet. dan kurangnya persediaan sumber pakan burung.373 mg/l dan 33. curah hujan. Kedung Coet. Endang Karlina. kalsium.Info Hutan : Vol.02 mg/l dan 0.0002 ppm dan 0.157 . Kata kunci: Lahan basah. Tanah di Lawowoi layak digunakan untuk budidaya tanaman murbei. pencemaran habitat sebagai dampak negatif konversi lahan basah menjadi tambak dan populasi ikan yang merupakan persediaan pakan burung serta arahan pengelolaan kawasan lahan basah habitat burung merandai menjadi kawasan ekosistem esensial.387 mg/l dan 0. besi (0. namun harus ditambahkan pupuk nitrogen. pertanian.33 %). Jawa Tengah. Sedang tanah di Sabbangparu harus dipupuk dengan nitrogen.0226 ppm.67 g/tanaman di Wajo dan 194. dan posfor. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang berapa besar pengaruh dari berbagai pemanfaatan kawasan terhadap kualitas air secara fisik maupun kimia dan pengaruhnya terhadap keragaman jenis benthos dan plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa. Sedangkan dari jenis plankton. Curah hujan di Lawowoi (Sidrap) dan Sabbangparu (Wajo) rendah. Terraponidae 9 %. yaitu 193.349 mg/l dan 12. Habitat burung merandai di Pemalang telah mengindikasikan adanya pencemaran berdasarkan temuan kandungan pestisida di air tambak dan cangkang telur berupa endosulfan dengan konsentrasi di bawah 0. burung penetap dan burung migran di pantai utara Pulau (P. Di S. N/P rasio (77. No.847 mg/l). Habitat burung merandai sebagai kawasan ekosistem esensial memerlukan pengayaan tanaman mangrove untuk menarik datangnya burung merandai dan memperkaya nutrisi perairan dengan serasah guna peningkatan Wetlands in Comal River. dan pertambakan berdampak negatif pada kualitas perairan lahan basah. Sedangkan di Kedung Coet. 2006 digolongkan ke dalam perairan eutrophic dan S.88 mg/l dan 77. RPH Cemara. enam jenis diantaranya dilindungi. Halaman 147 . Kata kunci : Murbei. 10 famili yang dibagi ke dalam Bagridae 18 %.193 . sifat fisik dan kimia tanah. dan Chanidae 9 %.76 mg/l).34 mg/l dan 6.00 g/tanaman di Sidrap. kualitas air secara fisik maupun kimia di kedua sungai tersebut menurun sebagai akibat dari eksploitasi vegetasi mangrove dan intrusi air laut dilihat dari residu terlarut (10.20 mg/l dan 188. BKPH Indramayu ditemukan 13 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam 6 famili. klorida (Cl) (3.100 ppm. salinitas (20 mg/l dan 25 mg/l). Pemalang dan S. COD (48. ikan yang ditemukan 32 jenis. Pemalang and Kedung Coet River. sehingga kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman murbei. daerah kering Sawitri. Reny KUALITAS PERAIRAN LAHAN BASAH DI SUNGAI COMAL.terdiri atas sembilan jenis/varietas murbei. 22 famili. Metode yang dipergunakan adalah transect line dengan menyusuri sungai menuju muara sungai. RPH Cemara. kalsium.) Jawa mengalami kecenderungan penurunan jumlah jenis maupun populasi sebagai akibat konversi lahan basah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status populasi burung merandai di pesisir utara P. 6 jenis diantaranya dilindungi. Burung merandai terutama yang termasuk burung migran mengalami penurunan dari tahun 1987-2004 sebesar 5 % per tahun. Gobidae 9 %. BKPH Indramayu. Jenis benthos yang mendominasi kawasan perairan adalah Gammarus spp. RPH Cemara. Endang Karlina. merupakan jenis yang bertoleransi terhadap pencemaran lingkungan. kondisi ini masih di bawah ambang batas 0. Cyprinidae 14 %. -. Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Cemara. Halaman 185 . -. Parameter yang diamati adalah produktivitas daun.117 mg/l). PEMALANG DAN SUNGAI KEDUNG COET.5 % dan 436. pencemaran. sulfat (179. dan tembaga (0.12 mg/l). 2006 Burung merandai terbagi dua. Pemalang 49 . konversi lahan. No.996 mg/l). Metode yang digunakan adalah purposive random sampling pada badan Sungai (S) Comal. Produksi daun tertinggi di Wajo dan Sidrap dihasilkan oleh Morus khunpa K.2 . ditemukan 17 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam empat famili. INDRAMAYU (Riverine Quality of dan Konservasi Alam : Vol. BOD (19.2 . sampah rumah tangga. eksploitasi sumberdaya alam.

3 . nilai ekonomi.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan model.400 . Hasil kuantifikasi jasa hutan lindung tersebut dalam satu tahun adalah Rp 116.09 mg/liter untuk P. tingkat erosi di sub DAS Miu adalah 0. dan pengurangan pemakaian pupuk non organik dan diganti dengan pupuk organik.25 mg/liter). dan kontingensi.III.451 ton atau setara dengan 15.294. DAS Palu sebagai dampak pengelolaan lahan serta informasi untuk menentukan arahan pengelolaan lahan di DAS tersebut. Palu Watershed) / Ogi Setiawan.4 % dari luas total DAS Palu (BAPLAN Kehutanan.526. Model AGNPS merupakan model kejadian hujan yang berbasis sel segi empat dengan tiga komponen utama yaitu hidrologi. dan mekanisme pembiayaan/insentif sangat diperlukan untuk menuju pengelolaan hutan lindung yang lestari. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kualitas aliran sub DAS Wuno dan sub DAS Miu. -. dan jasa proteksi terhadap banjir. Dalam analisis data untuk mengetahui hasil air sebagai dampak ada atau tidaknya hutan lindung terhadap jasa yang diberikan digunakan pendekatan bilangan kurva (curve number). Konsentrasi N (1.atau setara dengan Rp 1. dalam hal ini model AGNPS. dan COD (19 mg/liter) masih ada di bawah ambang batas maksimum yang diperbolehkan untuk semua pemanfaatan air. Penelitian ini dilaksanakan di DAS Palu yang mempunyai hutan lindung seluas 86.53 ton/ha/tahun untuk curah hujan tahunan 978. Kata kunci : Hutan lindung.965 ton. P (0.71 ton/ha dengan hasil sedimen 13. penerapan sistem agroforestry. ekosistem esensial lahan basah Setiawan. biaya pengganti. Hasil penelitian di sub DAS Wuno pada kejadian hujan 53 mm. kebun campuran. dan 124 mg/liter untuk COD. No. Kata kunci : Kualitas aliran.-/hektar/tahun.118. Halaman 309 . Sedangkan konsentrasi P masih berada di bawah ambang batas maksimum. Sedangkan untuk kuantifikasi jasa lingkungan yang diberikan hutan lindung dilakukan dua pendekatan yaitu nilai manfaat dan dampak. Konsentrasi N dan COD melebihi batas maksimum yang diperbolehkan untuk air minum. Bila curah hujan tahunan 1.8 mm. Hunggul Yudono SHN.41 ton/ha dengan hasil sedimen 7. aturan. Partisipasi aktif dan persamaan persepsi antar stakeholder.4 . pengatur tata air Setiawan. dan coklat merupakan sumber erosi terbesar. ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jasa hutan lindung DAS Palu sebagai pengatur tata air yaitu jasa pengatur tata air untuk pertanian. model AGNPS 50 .93 ton/ha/tahun. Ogi KUALITAS ALIRAN SUB DAS WUNO DAN MIU DAS PALU (Discharge Quality of Wuno and Miu Sub Watershed.326 .13 mg/liter). adanya dukungan kelembagaan termasuk di dalamnya lembaga.5 mm maka erosi yang terjadi setara dengan 6. Adapun sumber pencemar unsur hara adalah ladang dan kebun campuran.294 ha atau 25. dan unsur hara. Ryke Nandini. 2002).350. Ladang. harga pasar. Banyaknya manfaat yang diberikan hutan lindung sebagai pengatur tata air menunjukkan bahwa terdapat banyak stakeholder yang terlibat. Kedua pendekatan ini menggunakan beberapa metode perhitungan antara lain travel cost. Arahan pengelolaan lahan untuk kedua sub DAS secara umum adalah penerapan teknik konservasi tanah dan air. pengembalian kawasan fungsi lindung. dan peternakan. Ogi KUANTIFIKASI JASA HUTAN LINDUNG SEBAGAI PENGATUR TATA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) PALU (Quantification of Protected Forest as A Stream Regulator at Palu Watershed) / Ogi Setiawan. 0. Model ini juga mampu menentukan sumber erosi dan pencemar. Halaman 389 .populasi dan keragaman jenis ikan sebagai sumber pakan burung merandai di alam.335. Sumber erosi di sub DAS Wuno adalah ladang. jasa air untuk konsumsi rumah tangga. Pada kejadian hujan 65 mm.49 mg/liter untuk N.765. No. perikanan.. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). -. erosi yang dihasilkan adaalah 0.III. Konsentrasi unsur hara adalah 29. jasa air untuk perikanan.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan nilai ekonomi jasa hutan lindung khususnya sebagai pengatur tata air. erosi. Kata kunci : Burung merandai. pertanian.

9 %).(et.Rp 275. dan bantalan rel kereta api. 2006 .-/bulan. Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi biofisik. -. pembibitan. jenis tanah dominan podsolik merah kuning (45. Kualitas kayunya tinggi karena termasuk dalam kelas kuat I dan kelas awet I sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti konstruksi bangunan. Kegiatan rehabilitasi lahan dalam bentuk penghijauan /reboisasi bertujuan untuk memperbaiki lahan yang rusak dan tidak produktif serta mengurangi erosi permukaan dan meningkatkan kondisi hutan ke arah yang 51 . curah hujan rata-rata setahun berkisar antara 710-1. 2006 Ulin (Eusideroxylon zwager T.4 . No.5 ha (61.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.) / Hengki Siahaan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.468 jiwa. DAS Rongkong mempunyai kelembagaan formal dan informal yang berpotensi untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan DAS. Ryke Nandini. hingga penanaman di lapangan yang dirangkum dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan. Halaman 181-185 . Berdasarkan hasil analisis aliran permukaan. Kata kunci: Biofisik. sosial. dan kelas lereng didominasi lereng sangat curam (> 40 %). Halaman 137-146 . Halaman 401 419 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Arahan pemantapan pengelolaan DAS Rongkong adalah perbaikan kualitas penggunaan lahan.96 yang berarti bahwa kondisi DAS Rongkong termasuk sedang. Dengan kondisi seperti itu. yaitu interpretasi peta. Kata Kunci: Silvikultur. Jembatan.500 mm dengan hari hujan 50-100 hari. Jumlah penduduk DAS Rongkong 122. pengamatan lapangan serta wawancara dan studi literatur. Saat ini akibat eksploitasi ulin yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi kegiatan penanaman telah menjadikan potensi jenis ini semakin berkurang dan jika tidak segera diantisipasi dapat berdampak lebih buruk berupa kelangkaan dan kepunahan. ekonomi dan budaya DAS Rongkong mempunyai skor nilai 1.Jurnal Setiawan. Retno PERTUMBUHAN JENIS ANDALAN SETEMPAT UNTUK REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI / Retno Setyowati. lahan. penyumbang aliran permukaan terbesar adalah kebun campuran dan kebun sejenis. sosial dan ekonomi masyarakat.000.III. Nilai KRS mempunyai kecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat erosi 2. Ulin.et B) merupakan salah satu jenis andalan di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.3 ha.5 %). arahan penggunaan lahan Siahaan.et B Setyowati. -. pengelolaan DAS.011. Kabupaten Luwu Utara. Tipe iklim DAS Rongkong adalah A (sangat basah). banyak dijumpai lahan terdegradasi di NTT.. penerapan teknik konservasi tanah dan air serta adanya dukungan institusional. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap kegiatan.Biophisic and Social Economy of Community for Supporting Rongkong Watershed Management) / Ogi Setiawan.4 %) dan kebun campuran 44. 2006 Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara klimatologis dimasukkan ke dalam daerah semi arid karena curah hujan yang relatif rendah (sebagian besar tipe iklim E dan F) dan didominasi oleh keadaan vegetasi seperti savana dan stepa. DAS Rongkong mempunyai luas 182. Eusideroxylon zwager T. Hengki TEKNIK SILVIKULTUR ULIN (Eusideroxylon zwageri T.000. Berdasarkan kriteria dan indikator hidrologi.et B. Kelas KPL yang mendominasi DAS Rongkong adalah KPL IV.-/bulan . dengan tingkat pendapatan Rp 225. 2006 Penelitian ini dilaksanakan di DAS Rongkong. dan informasi tentang arahan penggunaan lahan di DAS Rongkong.al) .5 ha (23. konstruksi dalam air. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan informasi awal untuk melakukan budidaya dan konservasi jenis ulin. pemeliharaan bibit. -. Tulisan ini menyajikan teknik silvikultur ulin yang meliputi aspek perbenihan. Ogi STUDI BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PENGELOLAAN DAS RONGKONG (Study of Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lahan yang lebih parah maka perlu dilakukan upaya pengendalian yaitu melalui kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi.098. penggunaan lahan DAS Rongkong didominasi hutan campuran 110.35 mm/tahun..01 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi 1. sosial dan ekonomi.839.

Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .. Lagerstroemia speciosa Pers.. 2006 Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang mempunyai peranan penting untuk meningkatkan devisa negara dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. dan faktor fisik lainnya akan lebih mudah dikembangkan daripada mengembangkan jenis eksotik lainnya. Sulistyo A.pemungutan dan pengolahan gaharu.. Akan tetapi perlu pertimbangan jenis-jenis yang mendapat prioritas mengingat status konservasinya telah mulai mengalami kelangkaan di alam yaitu Manikara kauki (L. Santalum album Linn. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang pertumbuhan jenis-jenis andalan NTT sebagai bahan pertimbangan dalam rehabilitasi lahan dengan menggunakan berbagai perlakuan media tumbuh di persemaian. Mimusops elengi L. dan Yusliansyah. dan Murraya paniculata Jack. Malinau. Jenis andalan setempat. Kutai barat. Cordia subcordata Lamk. Dalbergia latifolia Roxb. tata niaga gaharu. pengelolaan dan standarisasi mutu. NTT Siran.. kajian sosial ekonomi masyarakat pencari gaharu dan pemasaran gaharu serta kajian pemanfaatan pohon penghasil gaharu untuk bahan baku MDF dan pensil. Siran. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Kata kunci: Pohon lokal. tata niaga dan klasifikasi mutu gaharu. Status penelitian gaharu di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan kalimantan antara lain budidaya meliputi teknik produksi bibit gaharu melalui biji. Dalam makalah ini diuraikan antara lain gambaran umum tumbuhan penghasil gaharu di Kalimantan Timur.lebih produktif. Halaman 93-100 . tata niaga gaharu. Dysoxylum caulostachyum Miq. dan stek pucuk. status penelitian gaharu dan program penelitian dan pengembangan gaharu. monitoring pengembangan gaharu serta sosialisasi dan diseminasi pengembangan gaharu dengan cara penyebaran informasi melalui media cetak dan media elektronik (RRI dan TVRI) dan penyebaran informasi dengan ekspose hasil-hasil penelitian. Pada pohon penghasil gaharu menggunakan inokulasi padat dan cair. Dengan adanya teknologi tepat guna rehabilitasi lahan terdegradasi ini diharapkan mampu mempercepat keberhasilan upaya rehabilitasi lahan terdegradasi di NTT.. cabutan . Kata kunci : Rehabilitasi lahan. penerbitan publikasi khusus mengenai gaharu. mempelajari beberapa kajian yang menyangkut manfaat gaharu. iklim. Konservasi. Kelangkaan jenis 52 .Konservasi insitu dan ex-situ pada jenis-jenis gaharu yang ada di kalimantan Timur. habitat tempat tumbuh gaharu. promosi. Ngatiman. Kayu komersial. pembentukan gaharu. habitat tempat tumbuh gaharu yang mempelajari mengenai penyebaran jenis gaharu secara alami dan ekologinya. Kata Kunci: Gaharu. teknik pemanenan.Program penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan mengenai pohon penghasil gaharu meliputi: litbang budidaya gaharu. HHBK. jenis penghasil gaharu. 2006 Pengembangan jenis-jenis lokal yang sudah sesuai dengan kondisi biofisik wlayah Bali seperti kondisi tanah. Kalimantan Timur Siregar. pembentukan gaharu dengan menginokulasikan Fusarium sp. NI KADEK EROSI UNDAHARTA DAN HARTUTININGSIH M SIREGAR. GAHARU.. Pasir. teknik penyulingan dengan menggunakan gaharu mutu rendah untuk menghasilkan minyak gaharu. -. kandungan dan manfaat gaharu. serta standarisasi produksi gaharu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar hutan. Heritiera littoralis Dryand. KOMODITI HHBK ANDALAN KALIMANTAN TIMUR / Sulistyo A. dan Nunukan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 29-48 ..) Dub. dan alih teknologi pengembangan gaharu yang dilakukan pada beberapa kabupaten seperti Berau. Mustaid TINJAUAN JENIS-JENIS POHON LOKAL BALI YANG BERPOTENSI DIKEMBANGKAN SEBAGAI KAYU KOMERSIL / MUSTAID SIREGAR.

83-0.929 mm) di Desa Buniwangi. mempelajari perubahan kandungan karbon tanah di bawah tegakan hutan tanaman adalah sangat penting. Penelitian dilaksanakan pada tipe tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim tipe B (curah hujan tahunan 2.24-3. Simpanan karbon dalam biomasa tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen hampir 3 kali lebih besar daripada biomasa pada vegetasi baseline-nya. dan simpanan karbon pada vegetasi baseline-nya sebesar 10.9445) berdasarkan persamaan DBH-biomasa total. falcataria lebih tinggi daripada kerapatan tanah pada vegetasi baseline pada kedalaman 0-30 cm. falcataria dan vegetasi baseline tidak menunjukkan perbedaan. Sistem tegakan hutan tanaman rakyat jenis P. 2006 Pertumbuhan pohon yang ditopang oleh proses fotosintesis dapat mengurangi konsentrasi karbondioksida di atmosfir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang dugaan peningkatan simpanan karbon pada biomasa hutan tanaman rakyat jenis Paraserinthes falcataria (L) Nielsen yang disajikan dalam model matematik.16 % dan 1. falcataria sedikit lebih tinggi daripada vegetasi baseline walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan.9 ton karbon/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 28. Pelabuhan Ratu. (R2 = 0.86 g/cc dan 0.43 ton/ha dan 51.96 ton C/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 9. Tujuan utama penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang perubahan kandungan karbon dengan cara membandingkan kandungan karbon tanah. yaitu berturut-turut 1. Peningkatan karbon terfiksasi dihitung berdasarkan perbedaan produksi karbon biomasa antara tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline. Jawa Barat. pendugaan fiksasi karbon pada tanaman pohon yang dihubungkan dengan isu pemanasan global menjadi penting sebagai bagian dari upaya untuk mengetahui simpanan karbon dalam biomasa.21 %. Harris Herman MODEL PERSAMAAN ALLOMETRI BIOMASA TOTAL UNTUK ESTIMASI AKUMULASI KARBON PADA TANAMAN PARASERIANTHES FALCATARIA (L) NIELSEN (Total Biomass Allomeric Equation Model For Assessing Accumulated Carbon In Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar.52-3.III.1479 (DBH)2. Oleh karena itu. yaitu sebesar 28.05 ton karbon/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa. kerapatan tanah.5 .Siringoringo. Halaman 541 553.5 . Pelabuhan Ratu. yaitu berturut-turut 0. JAWA BARAT (Soil Paraserianthes falcataria (L) Nielsen Plantation In Sukabumi.73-0. Sukabumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan allometri yang dibangun untuk menduga biomasa total tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah 0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan karbon tanah lebih tinggi pada lapisan permukaan tanah dan menurun pada lapisan tanah yang lebih bawah.16 ton/ha secara berurutan.0986 (DBH)2H0. dan simpanan karbon tanah kumulatif pada tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi awalnya (hutan sekunder). -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kata kunci : Karbon tanah.489. Sedangkan selisih produksi karbon dalam biomasa tumbuhan bawah tegakan Paraserinthes falcataria (L) 53 .2989. falcataria belum memberikan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan kandungan karbon tanah dan simpanan karbon tanah kumulatif pada saat tegakan berumur 6-7 tahun.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Sedangkan kerapatan tanah (BD) pada tegakan P. Oleh karena itu. No.76 g/cc. Karbon tanah pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. Penelitian dilaksanakan pada jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim B (curah hujan tahunan 2.05 ton C/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa). yaitu sebesar 59. -. Sementara simpanan karbon tanah kumulatif pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P.9458) berdasarkan persamaan (DBH)2Hbiomasa total. kerapatan tanah. simpanan karbon tanah kumulatif Carbon Changes Affected ByThe Establishment of Siringoringo. Harris Herman PERUBAHAN KANDUNGAN KARBON TANAH PADA TEGAKAN Paraserianthes falcataria (L) Nielsen DI SUKABUMI. Biomasa total Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline-nya diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara DBH dan biomasa total dan atau (DBH)2H dan biomasa total.8144. 2006 Karbon tanah dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. No. Jawa Barat. Sedangkan biomasa tumbuhan bawah pada tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan baseline diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara persen penutupan tajuk dikalikan dengan tinggi maksimum tumbuhan bawah (UC x UH-max) dan biomasa tumbuhan bawah di atas tanah.III. (R2 = 0. West Java / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar. Sukabumi.929 mm) di desa Buniwangi. Halaman 477 . dan 0.

juga dilakukan pengukuran tinggi dan diameter. umur dan pemeliharaan. nozel. yakni masing-masing sebesar 2. balangeran. sementara di beberapa wilayah Kabupaten OKU tanaman jati tumbuh normal. Persen beakar bervariasi antara 0 persen sampai 99 persen tergantung jenisnya. Kaltim. Tectona grandhis Linn. S. S. dengan kerapatan tegakan sebesar 1. Kata Kunci: Tanaman jati. Teknik ini mengatur kondisi ideal untuk proses perakaran dari jenis-jenis meranti seperti S. peningkatan karbon terfiksasi Sofyan. johorensis. gragaria. S.(et. guisso. S.leprosula dan S.. pinanga. Bogor. parvifolia. smithiana. ovalis. Jabar. Atok PENGEMBANGAN TEKNOLOGI STEK PUCUK UNTUK HUTAN TANAMAN / Atok Subiakto dan Chikaya Sakai. Sumatera Selatan Subiakto. -. (2) kelembaban di atas 95 persen. Balitbang Kehutanan Samarinda.. dan Fragaea fragrans. stenoptera. secara berurutan. 2006 Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam bekerjasama dengan KOMATSU Ltd. Riau. laevis. seminis. Vatica sumatrana.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi : Halaman 1-7 . hal ini menunjukan bahwa tanaman jati dapat dikembangkan di wilayah tertentu dengan kondisi lahan yang mempunyai persyaratan tempat tumbuh (edafis) dan iklim (klimatis) sesuai dengan kriteria kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jati (site-species matching). S. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . H. S. platyclados.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan.Nielsen dan tumbuhan bawah vegetasi baseline terbukti sangat kecil dan tidak berbeda nyata. S. dan termostat. Sistem ini bekerja secara otomatis bila temperatur dalam rumah kaca mencapai 30 derajat C. Kata kunci : Persamaan allometri. S. S. pengukuran pertumbuhan tanaman serta identifikasi kualitas tapak melalui pembuatan profil dan pengambilan contoh tanah untuk analisis kimia tanah pada masing-masing plot yang telah ditentukan. S..000 lux. telah berhasil mengembangkan teknik stek untuk propagasi secara massal jenis-jenis meranti dan pohon indigenous lainnya. Grandiflorus. (3) temperatur di bawah 30 derajat C. Komponen utama sistem ini adalah pompa air. S. D. Beberapa plot tanaman jati di wilayah Kabupaten OKI dan Banyuasin mengalami kendala pertumbuhan dan perkembangan tanaman. poros dan dapat mengikat air.000-20. Gonistylus bancanus. Pengembangan jenis eksot di wilayah Sumatera Selatan harus diketahui terlebih dahulu data dasar potensi lahan serta kesesuaiannya menyangkut persyaratan tumbuh jenis yang akan dikembangkan. javanica. palembanica. Kalsel. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandhis Linn. odorata. Balitbang HTI Banjarbaru. Dengan dukungan JICA. leprosula. Hopea bancana. 2006 Pertumbuhan tanaman jati pada berbagai lokasi di beberapa kabupaten di Sumatera penting untuk diketahui mengingat animo masyarakat pada tanaman jati sangat tinggi namun potensi kesesuaian lahannya belum diketahui. Teknik yang telah dikembangkan ini dinamakan KOFFCO system akronim dari Komatsu-FORDA Fog Cooling System. Shorea acuminatissima. alih teknologi teknik ini sedang dilaksanakan kepada sektor kehutanan di Indonesia. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa peningkatan karbon terfiksasi oleh tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah sebesar 1819 ton C/ha atau setara dengan 66-70 ton CO2/ha. Dyera costulata. Selanica. Kepada para pihak yang berminat memanfaatkan teknologi ini dapat menghubungi Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam di Bogor. Hutan tanaman 54 . biomasa total. dan Loka Litbang HHBK Kuok. S. Alstonia scholaris.300 pohon/ha. Kondisi lingkungan yang diupayakan optimal adalah (1) cahaya antara 5.9 ton C/ha. Halaman 77-83 . S. simpanan karbon. S. Ujicoba produksi stek masal dengan KOFFCO system telah dilaksanakan di P3HKA. dan (4) media yang higienis. S.al) . S. selanica. Kata Kunci: Stek pucuk.06 ton C/ha dan 1. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survey. H. Sampai saat ini sebanyak 24 jenis-jenis indigenous telah dicoba dengan KOFFCO system yaitu Anisoptera marginata. macrophylla.

Kayat. Komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan tunas planlet adalah 1.III. Media tersebut juga dapat untuk perbanyakan bibit bitti secara kultur jaringan. Kata kunci : Bitti. jenis mamalia 9 jenis. Komposisi jenis dan tingkat pertumbuhan pohon binaan yang terdapat di tegakan tinggal hutan rawa gambut di kelompok hutan Sungai Kumpeh dan Sungai Air Hitam Laut. Vitex cofassus Reinw..Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Jambi di dalam petak coba seluas 6 hektar terdiri dari 78 batang pohon (13 persen). efektif. pengatur tumbuh. sehingga pengelolaannya bisa fokus.) SECARA KULTUR JARINGAN (Seedling Cultivation Technique of Bitti (Vitex cofasus Reinw. dan pohon 41 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan ampupu (Eucalyptus urophylla). tingkat semai sebanyak 42 jenis didominasi oleh kirinyuh (Chromolaena odorata). Taman Nasional Kelimutu. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Rawa gambut.) dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Seyogyanya Taman Nasional yang telah ditunjuk sudah harus mengetahui potensi dan biofisik kawasannya.3 persen).1 ppm NAA menghasilkan perkembangan kalus yang terbaik yaitu 90 %. dengan cara menunjuk dan menandai minimal 100 batang per hektar pohon-pohon jenis komersial berdiameter di bawah 40 cm.) by Tissue Culture Methode) / Suhartati. Oleh karena itu menjadi urgen untuk mengkaji kondisi potensi dan biofisik kawasan. Halaman 31-43 . Kata kunci: Danau tiga warna. Potensi. dan reptilia 5 jenis. dan efisien.0 ppm BAP + 1. Makassar. -. belta 31 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan lamtoro (Leucaena leucacephalla). dan perlakuan berbagai jenis komposisi media kultur. kultur jaringan. Mariana Takandjandji.67 persen) Kata kunci: Teknik pemeliharaan. Flora. -. penebangan pohon dilakukan pada pohon berdiameter 40 cm ke atas. No. Hasil pengamatan (data primer) dan pengumpulan data sekunder menyatakan bahwa flora yang ditemukan dalam kawasan TN Kelimutu. Biofisik Suhaendi Hendi STRUKTUR DAN TEKNIK PEMELIHARAAN TEGAKAN TINGGAL HUTAN RAWA GAMBUT DI AREAL KERJA HPH PUTRA DUTA INDAH WOOD / Hendi Suhaendi. serta komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan planlet tanaman bitti. 98 batang tingkat tiang (16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara sumber eksplan embrio dan 0. Penelitian perbanyakan tanaman bitti secara kultur jaringan. Sedangkan fauna yang ditemukan terdiri dari jenis aves 20 jenis. Untuk menjamin adanya produksi kayu perdagangan pada rotasi tebang berikutnya. Halaman 165 176 .2 . bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh yang terbaik untuk perkembangan kalus. Agis Nursyam KAJIAN POTENSI DAN BIOFISIK TAMAN NASIONAL KELIMUTU DI PULAU FLORES/ Agis Nursyam Sugiana. Flores. 2006 Kajian potensi dan biofisik Taman Nasional perlu dilakukan agar data yang diperoleh bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah pengelolaan selanjutnya.0 ppm GA3. zat 55 . agar pengelolaan taman nasional lebih fokus dan tepat guna.Sugiana. Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh. Fauna. Putra Duta Indah Wood Suhartati TEKNIK PEMBIBITAN BITTI (VITEX COFASUS REINW. kalus media kultur. 2005 : Halaman 13-30 . dan 424 batang tingkat pancang (70. -. perlu dilakukan pemeliharaan tegakan tinggal. Pemeliharaan tegakan tinggal ditujukan untuk memelihara dan membina pohon-pohon jenis komersial.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Tegakan tinggal. 2006 Teknik pembibitan bitti (Vitex cofassus Reinw. termasuk di dalamnya pohon inti sebanyak 25 batang per hektar yang berdiameter >atau sama dengan 35 cm. 2006 Pengelolaan hutan rawa gambut dilaksanakan dengan system silvikultur Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI).

kemitraan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan galur Dt 15/II/KU mempunyai prospek baik untuk dikembangkan sebagai komoditi tanaman pangan di bawah tegakan pohon hutan dengan sistem tumpangsari. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 163-174 . Halaman 93-102 . 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. pH tanah rendah. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang.3) Upaya penanggulangan banjir. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. Hasil uji coba lima varietas/galur padi gogo di bawah tegakan hutan tanaman magium umur 5 tahun dengan intensitas cahaya 68 persen menunjukan bahwa produksi gabah tertinggi adalah padi gogo varietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. -. dan KPH Banyumas Barat. resisten naungan. tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk menyampaikan informasi hasil penelitian padi gogo tahan kekeringan. KPH Sukabumi. produksi gabah tertinggi adalah padi gogo verietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. dan berumur genjah di berbagai tegakan hutan tanaman. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkhinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir)sesuai dengan kewenangan dan hierarkhinya. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS). Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). NTT. yaitu DAS Benain. DAS Benain. 2006 Penelitian teknik budidaya padi Gogo di bawah tegakan mangium (Acacia mangium).2 ton/ha. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. Kata Kunci: Budidaya. dan Khaya (Khaya anthotheca0 telah dilakukan di areal hutan tanaman masing-masing di KPH Bogor. 42 DAS pada tahun 1998. 2) empat DAS kritis di NTT. DAS Aesesa. Jati (Tectona grandis). DAS Noelmina. Dibawah tegakan hutan tanaman khaya umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 70 persen produksi gabah tertinggi adalah padi gogo galur Dt 15/II/KU ratarata sebesar 1. Padi gogo. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. dan DAS Kambaniru. Selanjutnya informasi ini diharapkan dapat membantu petani sekitar hutan dalam pengadaan tanaman pangan padi gogo tahan naungan secara berkesinambungan melalui sistem tumpangsari. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS.3 ton/ha dan galur Dt 15/II/KU rata-rata sebesar 1. galur TB 177E-TB-28-B-3. DAS Noelmina.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.85 ton/ha sedangkan varietas Jatiluhur merupakan terendah dengan rata-rata produksi sebesar 1. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. Banjir Sumarhani TEKNIK BUDIDAYA PADI GOGO TAHAN NAUNGAN UNTUK KELANGSUNGAN USAHATANI TUMPANGSARI / Sumarhani. Di bawah tegakan hutan tanaman jati umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 64 persen.4 ton/ha dan galur TB 177E-TB-28-B-3 rata-rata sebesar 1. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu. Kata kunci: DAS. Dengan demikian padi gogo varietas Jatiluhur.25 ton/ha. 2006 . dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. Tumpangsari 56 . dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan.2 ton/ha.

Kata kunci: deglupta Zat pengatur tumbuh. produksi getah. Semua parameter genetika diduga tanpa melalui uji keturunan. diameter batang. Tanaman vanili (Vanila planifolia Andrews) merupakan salah satu komoditi yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di propinsi Nusa Tenggara Barat. nilai konsentrasi IBA yang optimal untuk persentase berakar stek adalah 2. tahan terhadap naungan.990 ppm. Nilai persentase berakar tertinggi dicapai oleh media pasir dengan konsentrasi IBA 200 ppm sedangkan berat kering total tertinggi diperoleh pada media serabut kelapa dengan konsentrasi IBA 200 ppm dan rasio teras akar tertinggi dicapai oleh media serabutkelapa dengan konsentrasi IBA 400 ppm. Stek merupakan salah satu alternatif pembiakan vegetatif untuk mengatasi tidak tersedianya bibit yang baik dalam waktu yang diperlukan. Kata kunci: Ekonomi rakyat. Stek.Suharti. Aceh. tebal kulit batang dan produksi getah kayu di lakukan di lapangan. dan tinggi total. -. -. dengan tujuan akhir menentukan sifat-sifat yang perlu dikembangkan dalam pemuliaan pohon untuk tujuan industri. Vanili. Hendi PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH "IBA" DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Eucalyptus deglupta Blume / Hendi Suhaendi. 2005 : Halaman 123-131 . Berdasarkan uji polinomial ortogonal. bentuk batang. Lima sifat pohon yang dikendalikan secara kuat oleh faktor genetik adalah diameter batang. Dengan peningkatan produktivitas hutan.Terciptanya kondisi fisiologis yang optimal serta tepatnya pemilihan bahan tanaman yang digunakan menentukan presentase keberhasilan yang tinggi. Seleksi simultan dapat dilakukan terhadap 57 .serta korelasi genetik dan korelasi fenotipa dari semua pasangan sifat pohon yang dibentuk. Keberhasilan pertumbuhan stek ditentukan oleh kecepatan terbentuknya akar lateral yang mendorong proses fisiologis berlangsung sempurna.776 ppm sedangkan konsentrasi IBA yang optimal untuk berat kering total adalah 2. pencampuran tanah ikut menentukan perkembangan stek.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 175-161 . tidak memerlukan tempat tumbuh sendiri karena sifatnya yang selalu memerlukan tanaman panjat sebagai inang.serta pasar masih terbuka lebar. merkusii strain Aceh. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Tujuan penelitian ialah menduga nilai heritabilitas luas dari setiap sifat pohon. IBA. Yang dikendalikan secara sedang oleh faktor genetik adalah tinggi bebas cabang. tebal kulit batang. Ragam genetik dan lingkungan diduga menurut metode Shrikhande (1957).Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman215-222 . Penggunaan media tumbuh yang cocok. Sri PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI BUDIDAYA VANILI (Vanilla planifolia Andrews) PADA KAWASAN HUTAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT / Sri Suharti. Vanilla planifolia Andrews Suhaendi. Media tumbuh. IBA merupakan zat pengatur tumbuh yang sifat kimiawinya stabil dan memiliki rentang konsentrasi yang lebah untuk merangsang perakaran. pendapatan masyarakat akan meningkat secara signifikan sehingga selanjutnya akan menurunkan tekanan masyarakat terhadap hutan. lahan hutan yang kondisi biofisiknya masih baik maupun yang sudah kurang terpelihara dapat ditingkatkan produktivitas.Tulisan ini mencoba menguraikan potensi dan prospek pengembangan budidaya tanaman vanili pada kawasan hutan melalui teknik wanatani di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu sentra produksi vanili di wilayah Indonesia Bagian Tengah.Beberapa keunggulan tanaman vanili antara lain. -. 2006 Salah satu bahan baku penting dalam industri terpadu pulp dan kertas adalah Blume. Dengan diketahuinya pola pewarisan genetik dari berbagai sifat pohon diharapkan akan diketahui tolok ukur untuk seleksi sifatsifat pohon. bentuk batang. 2005 Salah satu upaya untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan dan juga untuk mangakomodir perubahan paradigma dalam pengelolaan dan pembangunan di bidang kehutanan adalah pengembangan usahatani vanili dengan teknik wanatani (agroforestry). Eucalyptus Blume Suhaendi. harga produk relatif tinggi.Dengan teknik wanatani (agroforestry). Heritabilitas luas serta korelasi genetik dan fenotipa berikut peragam-peragamnya diduga menurut metode Sakai dan Hatakeyama (1963). Pengukuran tinggi total. tinggi bebas cabang.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. 2006 Penelitian ini dilakukan pada hutan tanaman P. dalam populasi Saree. Hendi POLA PEWARISAN GENETIK SIFAT-SIFAT MORFOLOGI DAN PRODUKSI GETAH PINUS MERKUSII STRAIN ACEH / Hendi Suhaendi.

-.WANGGAMETI DALAM MENYIMPAN KARBON/ Sumardi. dan pemanenan tularan kutu lak. 2005 : Halaman 103-110 . Nusa Tenggara Timur Sumardi PERANAN HUTAN TAMAN NASIONAL LAIWANGI . Seleksi untuk memperbaiki bentuk batang diduga akan memperbaiki pula tinggi bebas cabang dan diameter batang. -Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi media promosi untuk mempertinggi kemungkinan investasi dalam memajukan pengelolaan hutan alam di TNLW. Korelasi fenotipa. diameter batang. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Kayat dan Bernadus Ndolu. Lampung.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. 2006 Dewasa ini budidaya kutu lak telah menjadi primadona masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kondisinya terus mengalami penurunan produksi yang signifikan. 2005 : Halaman 77-85 . Kata kunci: Pinus merkusii. 2006 .5 x 2. Sebagai pembanding. Halaman 161-168 . Data yang didapatkan berupa data tinggi dan diameter digunakan untuk menghitung biomassa karbon dengan menggunakan model Brown dan metode Vademikum Kehutanan. Provenansi 58 . Hendi UJI COBA PROVENANSI INTERNASIONAL Pinus caribaea Morelet DAN Pinus oocarpa Schiede UMUR 13 TAHUN DI INDONESIA / Hendi Suhaendi. Tanaman inang. Satuan percobaan yang digunakan dalam analisis data adalah sembilan pohon. Sujarwo TEKNIK BUDIDAYA KUTU LAK DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA DI NUSA TENGGARA TIMUR / Sujarwo Sujatmoko. Budidaya. Penelitian dilakukan di Hutan TNLW. Pola budidaya kutu lak yang dilakukan oleh masyarakat NTT umumnya masih sederhana dan belum melalui tahapan budidaya yang standar.pasangan sifat tinggi total dan bentuk batang. Pinus oocarpa Schiede.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk menilai performans pertumbuhan umur 13 tahun dari provenansi-provenansi Pinus caribaea dan Pinus oocarpa yang tumbuh di Kebun Percobaan Sumberjaya. Marfologi Sujatmoko. Rancangan acak lengkap digunakan dalam tiap-tiap Pinus dengan ukuran petak awal adalah 25 pohon dalam bentuk bujur sangkar dengan jarak tanam 2. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pembuatan plot Metode Forest Health Forest Monitoring. Dengan menggunakan Suhaendi. oocarpa dinilai sifat-sifat pertumbuhannya dalam arti tinggi total. Penularan kutu lak pada pohon inang berikutnya menguntungkan pada tularan alam melalui angin. pemeliharaan. perbaikan sistem penularan.Seleksi untuk peningkatan diameter batang diduga akan menyebabkan peningkatan tebal kulitnya. Hertabilitas. Diameter batang yang besar diduga dapat digunakan secara efektif sebagai satu indeks untuk menyeleksi tetua-tetua yang produksi getahnya tinggi. Usaha peningkatan produksi dan kualitas usaha budidaya kutu lak dapat dilakukan melalui perbaikan sistem budidaya dan pemeliharaan tanaman inang. setelah itu ditinggalkan sampai panen. Tulisan ini bertujuan untuk menghitung dan mengevaluasi besarnya kapasitas biomassa tegakan (aboveground biomass) pada hutan alam TNLW dalam memfiksasi karbon melalui perhitungan biomasa pohon dan karbon.5. Dua belas provenansi P. Aceh. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kata kunci: Kutu lak. Kata kunci: Pinus caribaea Morelet. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. dan bentuk batang. 2006 Telah dilakukan penelitian peranan hutan Taman Nasional LaiwanggiWanggameti (TNLW) dalam menyimpan karbon. Petani melakukan penularan kutu lak sekali pada pohon inang yang sudah diberi tanda kepemilikan. Korelasi genetik. tinggi bebas cabang. -. caribaea dan enam provenansi P. dinilai pula dua provenansi lokal Pinus merkusii.

namun jika tidak disertai dengan pembinaan dan apabila keberadaan TNBB tidak memberikan peningkatan sosial ekonomi maka kerusakan ekosistem dapat terjadi dengan pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. Data dan informasi yang terkumpul di tabulasi dan dianalisa dengan analisis deskritif dan SWOT (Strengh. Penelitian bertujuan untuk mencari formula/strategi yang tepat dalam bentuk kegiatan nyata untuk pengelolaan TNBB berbasis masyarakat. monitoring. Halaman 121-131 . -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Upaya peningkatan produktivitasnya tidak terlepas dari pemilihan benih unggul yang menghasilkan tanaman dengan produksi daun dan kandungan minyak yang tinggi.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Bali Barat Sumardi EVALUASI UJI PEROLEHAN GENETIK KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi subsp cajuputi) Di Persemaian Sampai Umur 4 Bulan / Sumardi. Masyarakat sebagian besar setuju dengan keberadaan TNBB. wawancara. cajuputi pada tingkat semai sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan persemaian. Biomassa. Opportunities. Kayu putih.9) ton/ha dan 189. penyebaran kuesioner kepada masyarakat daerah penyangga (Sumberklampok dan Pejarakan) dan studi literatur. 2006 Telah dilakukan penelitian pengembangan daerah penyangga sebagai alternatif pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Pertumbuhan tanaman M. Pertumbuhan M. pelaksanaan. cajuputi tingkat semai tidak banyak menunjukan keragaman signifikan antar famili . Halaman 3340 . Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti Sumardi PENGEMBANGAN DAERAH PENYANGGA SEBAGAI ALTERNATIF PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Sumardi. Kata kunci: Konservasi. di Kabupaten Timor tengah Utara dan Kabupaten Sumba Timur.Penelitian ini bertujuan untuk evaluasi uji perolehan genetik tanaman kayu putih dari benih unggul. Dari informasi yang diperoleh diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengembangan kayu putih pada skala yang lebih besar. 2006 . Taman Nasional. Jenis unggul.Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kata kunci: Genetik. Hal tersebut kemungkinan karena ketiga famili tersebut merupakan pohon plus sebagai sumber benih yang merupakan hasil seleksi. di wilayah NTT.9 (lebih kurang 74. kayu bakar serta pemanfaatan lahan. Daerah penyangga.metode Brown (1997) dan Vademikum Kehutanan (1976). -. Meulaleuca cajuputi merupakan jenis yang menghasilkan minyak kayu putih bernilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan sebagai obat-obatan. Kata kunci: Karbon. Melaleuca cajuputi subsp cajuputi 59 . sehingga keragamannya cenderung kecil. Benih unggul yang digunakan pada penelitian ini berasal dari 3 pohon plus (famili) pada tegakan kebun benih uji keturunan Paliyan. Keterlibatan masyarakat sebenarnya akan memberikan dampak positif bagi TNBB karena masyarakat akan merasa lebih memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberadaan TNBB.5 ( lebih kurang 77. dan evaluasi terhadap pengelolaan TNBB. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Dari penelitian dihasilkan bahwa ketergantungan masyarakat desa Sumberklampok dan Pejarakan terhadap kawasan TNBB masih relatif tinggi dan bentuk interaksinya meliputi pemungutan hasil hutan non kayu. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan Threat) yang ditekankan pada fenomena-fenomena yang diakibatkan oleh kegiatan masyarakat. rata-rata jumlah biomasa karbon yang diserap oleh vegetasi yang berada di dalam kawasan TNLW cukup tinggi yaitu sebesar 197. 2006 Telah dilakukan penelitian evaluasi uji perolehan genetik kayu putih (Meulaleuca cajuputi subsp cajuputi) di persemaian sampai umur 4 bulan. Penelitian dilakukan dengan melakukan evaluasi pertumbuhan tinggi dan diameter semai kayu putih yang diukur setiap bulan.Masyarakat sebagian besar menginginkan adanya bentuk keterlibatan dalam perencanaan. Weakness. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .9) ton/ha.

Kelas tekstur tanah pada lokasi Peutana adalah liat sampai lempung berpasir. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. Data yang terkumpul di tabulasi dan dilakukan perhitungan riap rata-rata tahunan terhadap tinggi. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 2. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada.15 untuk pH KCI. sedangkan Kuafeu adalah liat lempung berpasir. -. I (2). Kandungan bahan organik pada lokasi Peutana yang meliputi lokasi I (1). 2006 Telah dilakukan penelitian produktivitas Gmelina arborea Roxb. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS). dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur.07 persen. di Stasiun Penelitian Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kata kunci: Tapak. Muhammad Hidayatullah dan Tigor Butar-Butar. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.7. NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi.33 persen. 0. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). diameter dan volumenya. DAS Benain. Topografi. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. yaitu DAS Benain. Kata kunci: Gmelina arborea Roxb. Timor Tengah Selatan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.08 persen dan 4.42 persen. I (2). Halaman 169176 .22 persen.07-7. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu. Timor Tengah Utara. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran 60 . Bobonaro.3) Upaya penanggulangan banjir. dengan bentuk unit lahan berbukit sampai bergunung. DAS Noelmina. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran tinggi dan diameter tegakan G. 0. 2006 . 2006 .38 untuk pH H2O dan 6. dan DAS Kambaniru. persentase batuan relatif tinggi. 42 DAS pada tahun 1998. Nusa Tenggara Timur Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno.Sumardi PRODUKTIVITAS Gmelina arborea ROXB. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS.16 persen. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994.92 . Lokasi Kuafeu terdapat 10 jenis tanaman dengan jenis pohon komersial dominan mahoni (Swietenia mahagoni) sedangkan lokasi Peutana terdapat jenis tanaman murni kemiri (Aluerites molucana) yang sudah berbuah dan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang pernah dipanen penduduk sekitar. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa riap rata-rata tahunan (MAI/diameter=2. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kandungan N total dari lokasi Peutama yang meliputi lokasi I (1).42 persen dan 0. bahan organik terbesar terdapat pada lokasi II (Peutana). DAS Noelmina. Riap.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. 2006 Telah dilakukan penelitian studi kualitas tapak beberapa lokasi di hutan produksi terbatas Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).82 persen. 3. 2006 . Halaman 93-102 . Nusa Tenggara Timur Sumardi STUDI KUALITAS TAPAK BEBERAPA LOKASI DI HUTAN PRODUKSI TERBATAS KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA. Lokasi penelitian memiliki kemiringan >25 derajat. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Halaman 119123 . DAS Aesesa. Produktivitas. KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi dan Martinus Lalus. PH tanah berkisar antara 7. 11. Tekstur. MAI-tinggi=1.13 cm. Arborea umur 6 tahun. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 0.20 m dan MAI-volume=0. MAI. 2) empat DAS kritis di NTT.0117 m3..

Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan.T Blake) DI FLORES PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR / I Komang Surata. Lewokukun. pada tipe iklim E menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Labalekan. Palueh. lle Mandiri.T. dan Lewokukun).dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. Kaliboluk. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu (Eucalyptus urophylla S. Kata kunci: Klicung. Urutan pertumbuhan penotipe pohon plus ampupu dari yang terbaik-terendah adalah: Ile Boleng. Blake) di Flores. Banjir Surata. Nusa Tenggara Barat Surata.Kwangau. Palueh. kemitraan. Nurdini Estikasari.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 918 . Dewasa ini populasinya sudah semakin menurun. Leworok. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. Kwangau. jenis tanah mediteran haplik. Natakolin. Hibrid 61 . Sumber benih. Ampupu. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. Diospyros malabarica Der Kostel. Kabupaten Flores Timur (Lewotobi. penanaman. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka penunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon di masa mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran alami ampupu di Flores terdapat di Kabupaten Sikka (Egon. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Musim panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus akan tetapi semua lokasi yang dieksploitasi berbuah banyak dan seragam. 2005 : Halaman 87-95 . dan Kurnaidi. Penotipe. Kata kunci: DAS. -. Kilawair. dan litosol. dukungan teknologi budidaya sangat diperlukan. -. Paket teknologi yang telah dihasilkan terutama teknik budidaya klicung yang meliputi teknik perbenihan. I Komang SEBARAN DAN PERTUMBUHAN PENOTIPE TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (Eucalyptus urophylla S. oleh sebab itu dalam pemanfaatannya perlu segera diikuti upaya pelestarian dan penanaman. Labalekan. alba. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir) sesuai dengan kewenangan dan hierarkinya. Ile Boleng. kambisol. Kilawair. Di samping itu dalam tulisan ini ditampilkan pula hasil plot uji coba pengembangan budidaya klicung di Rarung Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat serta permasalahannya yang sedang dihadapi yang sangat menentukan dalam menunjang keberhasilan pengembangan. Kata kunci: Eucalyptus urohpylla. Pada ketinggian di bawah 600 m dpl masih bercampur dengan E. Ile Ape. Budidaya. dan Hikong). I Komang DUKUNGAN HASIL LITBANG DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA KLICUNG (Diospyros malabarica Der Kostel) DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT / I Komang Surata. 2006 Klicung (Diospyros malabarica Der Kostel) adalah hasil hutan kayu yang tergolong penting di Provinsi Nusa Tenggara Barat karena merupakan spesies andemik. Ile Ape. dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. pembibitan. Hikong. Kawale) dan kabupaten Lembata (Ile Kerbau. Natakolin. Untuk mewujudkan upaya keberhasilan penanaman sebagaimana yang diharapkan. Leworok. Kaliboluk. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. NTT. dan Kwale. sebaran alami. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara telah berupaya untuk menyediakan paket teknologi yang dibutuhkan lewat kegiatan penelitian. Sebaran alami. Ile kerbau. Ilemandiri. Lewotobi. Kondisi tempat tumbuhnya terdapat di daerah pegunungan mulai dari kaki gunung sampai lereng pada ketinggian 150-980 m dpl. termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. urophylla dan E. Egon.

sistem tumpangsari. Silvikultur intensif Surata. dan kesiapan teknologi maka hampir sepertiga wilayah di Provinsi Bali memenuhi syarat untuk lokasi penanaman cendana. Tingkat partisipasi masyarakat untuk manjaga kelestarian mangrove sudah baik yaitu sebesar 98. sosial budaya. 2006 Cendana (Santalum album L. pembuatan jalan lingkar setapak yang menjadi pembatas zonasi mangrove dengan lahan masyarakat yang sekaligus sebagai jalan rekreasi. Halaman 19-31 . -. Kata kunci: Hutan mangrove. Kebutuhan kayu cendana di daerah ini semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kemajuan pariwisata. Untuk menjaga kelestarian mangrove beberapa keinginan masyarakat yang perlu menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengatasi permasalahan adalah menjaga keberhasilan sampah dari hulu dan masyarakat di sekitarnya. Untuk memenuhi kebutuhan kayu cendana di provinsi Bali maka perlu segera dilakukan penanaman. Kata kunci: Cendana. Prapat Benoa. Hutan rakyat. PROVINSI BALI / I Komang Surata. -.) yang dikenal dengan nama melayu sendana dan dalam dunia perdagangan sandalwood memegang peranan yang sangat penting sebagai penghasil kayu kerajinan dan memiliki nilai ritual keagamaan yang cukup tiggi di Provinsi Bali. Halaman 133-141 . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . model sumber benih. Bali 62 . Metode penelitian dilakukan secara deskriptif survei dari masingmasing desa adat di sekitar mangrove secara purpositive sampling dan juga instansi yang mengelola mangrove. Nilai ritual. Partisipasi.34 persen. pembentukan regu kebersihan mangrove. Pengelolaan.ekonomi masyarakat.66 persen. Penanaman dilakukan di lahan/ladang masyarakat (hutan rakyat) dalam bentuk tanaman jalur atau sisipan. tidak memberi ijin tukar menukar kawasan dan pinjam pakai mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal dalam kegiatan pengelolaan mangrove di Prapat-Benoa Bali masih rendah 2. Untuk menciptakan kemandirian masyarakat maka dalam penanaman cendana pemerintah pusat/daerah dalam 5 tahun pertama perlu memberikan bantuan bibit dan penyuluhan teknologi penanaman kepada petani peserta penanaman dan selanjutnya di masa mendatang masyarakat diharapkan sudah mampu mandiri untuk melaksanakan program pengembangan budidaya cendana. Model ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan lahan penanaman cendana yang terbatas dan masyarakat dapat berperan secara aktif untuk memelihara dan menjaga keamanan tanaman cendana serta dalam jangka panjang dapat menambah pendapatan masyarakat.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Dewasa ini tidak ada lagi pasokan bahan baku kayu cendana secara resmi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingat populasi cendana di daerah ini sudah menurun dan di beberapa tempat sudah hampir punah. I Komang PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN CENDANA (Santalum album L) DI PROPINSI BALI / I Komang Surata. Bedasarkan data biofisik wilayah. Masyarakat lokal.Surata. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Tindakan yang tidak partisipasif dalam kelestarian mangrove adalah 1. melengkapi sarana dan prasarana rekreasi/pariwisata dan sosialisasi program pengelolan mangrove yang dilakukan pemerintah.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengkaji data dan informasi partisipasi dan keinginan masyarakat lokal dalam menangani permasalahan kelestarian mangrove. I Komang PARTISIPASI DAN KEINGINAN MASYARAKAT LOKAL DALAM MENANGANI PERMASALAHAN HUTAN MANGROVE DI PRAPAT-BENOA. dan kepemilikannya dapat diserahkan ke masyarakat.34 persen terutama dalam kegiatan penanaman.

alba. Namun demikian pendekatan kemitraan atau social forestry yang dilakukan masih juga mengalami banyak kegagalan. dan pulp. PROVINSI NUSA TEMGGARA TIMUR / I Komang Surata. tipe iklim D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Hibrid Suryanto SOCIAL FORESTRY DI KHDTK SEBULU DAN SAMBOJA: SEBUAH MODEL PELIBATAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN BERSAMA PADA KAWASAN HUTAN TERDEGRADASI / Suryanto dan Sulistyo A. Leloboko. Naija Upat. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu di Pulau Timor. lakaan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Masyarakat hanya ditempatkan sebagai obyek atau pelaksana yang hanya menerima instruksi teknis yang harus dilaksanakan di lapangan. arang. Tutem. Wedomo masih bercampur dengan E. BLAKE) DI PULAU TIMOR. Tune. yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Bonmuti. Halaman 21-31 . akan tetapi tidak semua lokasi yang dieksplorasi berbuah banyak dan seragam. Hasil penelitian penunjukan bahwa penyebaran alami ampupu di Pulau Timor Barat terdapat di Kabupaten Kupang. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka menunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon dalam pembangunan hutan tanaman. yang dikenal dengan pola social forestry. Pengelolaan Bersama. Nuafin. dan memanfaatkan hutan. Masyarakat harus diajak bersama secara aktif. mengelola. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. urophylla dan E. menjaga. Aesrael. Urutan pertumbuhan penotipe terbaik-terendah: Nenbena. Haflustalf. Eucalyptus urophylla S. Humau. -. Pada umumnya ketidakberhasilan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dalam program social forestry karena program tersebut bersifat topdown. Hampir semua lokasi ampupu terancam kerusakan akibat perluasan untuk perladangan. Oepopo. Pertumbuhan penotipe. Sebaran alami. Mollo.T.T. I Komang EKSPLORASI TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (EUCALYPTUS UROPHYLLA S. Blake) adalah salah satu jenis dari 4 jenis Eucalyptus yang ada di Indonesia. sebaran alami. kebakaran. dan illegal logging. Pada ketinggian 500-600 m dpl provenan Humau. dan kedua dengan membuat komitmen bersama dalam menyusun rencana dan program sebagai keinginan dan kebutuhan bersama yang tentunya tidak terlepas pada prinsip pokoknya yaitu melestarikan hutan dan menyejahterakan masyarakat sekitar hutan. dan Kabupaten Belu yang berada di Pegunungan Mutis. kayu bakar. dan Lakaan pada ketinggian 500-2.Surata. pendekatan task-force untuk mengamankan hutan terhadap intervensi masyarakat (perambahan) untuk memenuhi hajat hidupnya banyak mengalami kegagalan. Obaem. Timau. 2006 Ampupu (Eucalyptus urophylla S. Partisipasi masyarakat. Salah satu model social forestry yang saat ini sedang dan sudah dilakukan penelitian untuk menyempurnakan model social forestry sebelumnya adalah menggunakan dua pendekatan sekaligus yaitu kemitraan yang sejajar antara pemerintah dan masyarakat. Fatumnasi. Kata kunci: Social forestry.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 87-99 . -. Kata kunci: Ampupu. jenis tanah Ustropept. KHDTK Sebulu. KHDTK Samboja. Blake.500 m dpl. Obaem.T. Nenas. 2006 . Siran. yang pada akhirnya masyarakat menjadi kurang serius dalam pelaksanaannya. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan yaitu merubah pendekatan task-force menjadi get the force melaui kemitraan atau partisipasi aktif masyarakat. Selain itu keberlangsungan dan keberlanjutan program social forestry yang diikutinya banyak yang tidak jelas. Fatuneno. Kabupaten Timor Tengah Selatan. Naususu. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. Susbian. Jenis ini mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting untuk kayu industri antara lain untuk kontruksi. Wedomo. Hutan terdegradasi 63 . yang salah satu penyebaran alaminya terdapat di Pulau Timor. Dystropepts menurut Soil Taxonomi. Musim berbunga ampupu terjadi pada bulan Januari-Maret dan panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus. 2006 Pada era demokrasi saat ini. Lelobatan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kabupaten Timor Tengah Utara.

Suryanto PENELITIAN PENDAHULUAN: HIRARKI PERMASALAHAN DALAM KEBIJAKAN OTONOMI BIDANG KEHUTANAN. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 247-269 , 2006 Secara komprehensif, terdapat 3 tahapan kegiatan penelitian yang meliputi identifikasi masalah, analisis prioritas dan perumusan multipihak. Penelitian pendahuluan ini terdapat pada tahap identifikasi masalah dengan tujuan mengidentifikasikan semua permasalahan berkenaan dengan kebijakan otonomi bidang kehutanan. Sasaran penelitian pendahuluan ini adalah menganalisa dan mengelompokkan semua permasalahan-permasalahan tersebut kedalam kerangka masalah yang sederhana, mewakili dan tepat dalam sebuah hirarki. Luaran adalah hirarki permasalahan dalam kebijakan otonomi bidang kehutanan. Luaran dari hasil penelitian ini akan digunakan sebagai bahan untuk analisis prioritas dan perumusan multistakeholders. Metode pokok penelitian yang digunakan adalah AHP atau Analytical Hierarchy Process (Proses Analisis Hirarki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua fokus permasalahan kebijakan, yaitu kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan pemerintah daerah. Permasalahan yang diidentifikasikan dalam fokus kebijakan pemerintah pusat terbentuk dalam 4 hirarki, yaitu fokus, pengaruh, faktor dan bentuk. Pilihan masalah yang perlu pemecahan prioritas dalam hirarki pengaruh terdiri dari 5 pilihan, meliputi kemauan, SDM pembuat kebijakan, latar belakang, SDM penerima kebijakan dan infrastruktur. Dan akhirnya, hirarki bentuk terdiri dari 2 pilihan meliputi kebijakan pusat berkaitan dengan kebijakan makro yang diaplikasikan dalam bentuk kebijakan makro dan mikro oleh pemerintah daerah dan kebijakan pemerintah pusat sudah meliputi kebijakan makro mikro yang diapkilasi oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana. Permasalahan yang terindentifikasi dalam fokus kebijakan pemerintah daerah terbentuk dalam 4 hirarki pengaruh terdiri dari 4 pilihan meliputi peluang kewenangan, sumber hukum, tuntutan dan dikotomi. Dalam hirarki bentuk terdiri dari 3 pilihan meliputi penjabaran, inisiatif sendiri dan kombinasi antar penjabaran dan inisiatif. Dan akhirnya hirarki aktor terdiri dari 3 pilihan kewenangan utuh pemerintah daerah, kewenangan pemerintah daerah di bawah koordinasi koordinator pemerintah propinsi dan kewenangan pemerintah daerah (kabupaten dan propinsi) dibawah koordinasi langsung pemerintah pusat.

Kata kunci: Kebijakan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, permasalahan, AHP, hirarki. Susanty, Farida Herry ANALISIS MODEL PENDUGAAN VOLUME JENIS Acacia mangium, Gmelina arborea DAN Switenia mahagoni DI HUTAN TANAMAN / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama HasilHasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 197-208 , 2006 Plantation inventory for estimation potency of stand needed for quantitative tools as volume prediction models or tree volume table with good validity. Aim of this research to arrange volume prediction models or tree volume table for plantation species in Timber Estate in Kalimantan to increase accuracy of mass or volume stand estimation. Measurement of sample trees using stereoscopis technique for standing tree of Acacia mangium, Gmelina arborea and Swietenia mahagoni of plantation area in Riam Kiwa, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Result of height curve indicated that Acacia mangium there was nonsignificant coorelation between diameter and heigh variable, while Gmelina arborea and Swietenia mahagoni there was significant coorelation (R2>70 persen), thus analysis of volume prediction models could be continued by using two and one variable (tariff). Volume prediction models from this research and some reference show that generally were set up in exponential and logaritmic pattern. Validation of chosen regression equation model base on agregative deviation and mean deviation shows that the equation could be using for tree volume table assesment. Kata kunci: Pendugaan volume, Tinggi, Model, Diameter, Acacia mangium, Gmelina arborea, Switenia mahagoni, Hutan tanaman

64

Susanty, Farida Herry TIPOLOGI EKOLOGI DAN ANALISIS POTENSI TEGAKAN PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 303-316 , 2006 Evaluation of degree of standing stock production potency and ecological effect resulting by harvesting technique which applied in Forest Management Unit (FMU), being one of many important aspect in fulfilling prerequisite Criterion and Indicator for Sustainable Forest Management. This research was aimed to describe the structure and potency of stand in old logged over forest thus examined to SK Menhut No. 8171/Kpts-II/2002 which suitable for forest biophysic condition in East Kalimantan. Data collecting done in PT. Hutan Sanggam Labanan Lestari (PT. HLL) and PT. Gunung Gajah Abadi (PT. GGA) that having different age were 19 and 20 years after logging (LOA 19 and LOA 20), covering:species, diameter, height and tree position in plot.Difference of FMU characteristic base on evaluation of ecological typologi resulting that PT.HLL was sensitive biology-sensitive physic, while PT. GGA was safety biology-sensitive physic. Base on varians analysis there in class diameter. Dominance of species composition for both area were by Dipterocarpaceae. Standing stock by total number of trees on LOA 19 and LOA 20 having higher than criterian having lower potency in class diameter 10-19 cm and 50 cm up. Kata kunci: Struktur, Potensi, Tegakan, Hutan bekas tebangan Susila, I Wayan Widhana UJI COBA JENIS-JENIS INTRODUKSI PADA LAHAN KRITIS DI DALAM KAWASAN HUTAN BATUR DAN BEDEGUL / I Wayan Widhana Susila, Gerson ND Njurumana Felipus Banani. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 33-40 , 2006 Lahan kritis diartikan sebagai lahan yang tanahnya secara potensial tidak mampu berperan dalam salah satu atau beberapa fungsi seperti: 1) unsur produksi, 2) media pengaturan tata air (fungsi hidrologi), dan 3) media

perlindungan alam lingkungan (fungsi orologi) atau lahan yang telah mengalami kerusakan, sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas yang ditentukan atau diharapkan. Luas lahan kritis Provinsi Bali adalah 307.035 ha, terdiri dari 127.706 ha tersebar di dalam kawasan hutan dan 179.329 ha tersebar di luar kawasan hutan. Jenis-jenis yang diujicobakan pada lahan kritis di Kawasan Batur dan Bedugul adalah ampupu(Eucalyptus urophylla), pulai (Alstonia scholaris), cendana (Santalum album), Acacia mangium, majegau (Dysoksilum sp.), gmelina (Gmelina arborea), mahoni (Sweitenia macrophylla), kayu putih (Meulaleuca leucadendron), gaharu (Aquilaria malaccensis), duabanga (Duabanga maluccana), mindi/jeminis (Melia azedarah), dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Jenis-jenis tersebut diujicoba melalui uji jenis dan uji produksi (ampupu, kayu putih, kamadulensis, dan duabanga). Hasil evaluasi tanaman umur enam bulan di lapangan dapat diinformasikan sebagai berikut: 1) Sengon buto merupakan jenis introduksi yang cocok pada kondisi lahan kritis di kawasan Batur yang ditunjukan oleh perkembangan pertumbuhan dan persen tumbuh yang tinggi, yaitu riap diameter 1,37 cm, riap tinggi 61,53 cm, persen tumbuh 96,15 persen, dan sampai umur 10 bulan di lapangan persen tumbuhnya 90,16 persen; 2) Jenis kayu putih dan ampupu merupakan jenis yang cukup sesuai untuk dikembangkan di kawasan kritis Batur dan Bedugul; dan 3) Pemberian kompos di Bedugul dan campuran tanah + kompos di Batur pada media tanam belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan persen tumbuh tanaman. Kata kunci: Lahan kritis, Ujicoba jenis, Ujicoba jenis, Kesesuaian tempat tumbuh, Uji produksi Suwandi PERLAKUAN MIKORIZA DAN NPKN PADA PERTUMBUHAN STUMP JATI (Tectona grandis L.f.) (Treatment of Mycorrhizae And NPK on the Growth of Tectona grandis L.f. Stump) / Suwandi; Surtinah; Kamindar Rubby. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 139 - 145 , 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian mikoriza dan NPK terhadap pertumbuhan stump jati (Tectona grandis L.f.). Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalam pola faktorial, yaitu faktor (M1), 3 mikoriza dengan perlakuan 0 g/tanaman (M0), 1,5 g/tanaman g/tanaman (M2), dan 4,5 g/tanaman (M3); kemudian faktor NPK (N) dengan perlakuan 0 g/tanaman (N0), 1 g/tanaman (N1), 2 g/tanaman (N2), 3 g/tanaman

65

(N3), dan 4 g/tanaman (N4), dengan dua ulangan, setiap ulangan terdiri dari empat tanaman. Jumlah 160 tanaman. Parameter yang diukur tinggi tunas, diameter, jumlah daun, lebar daun, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan stump jati. Pemberian NPK berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tunas, diameter, lebar daun, dan panjang akar; sedangkan interaksi mikoriza dan NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, diameter, dan panjang akar. Kata kunci : NPK , mikoriza, Tectona grandis L.f. Takandjandji, Mariana PENANGKARAN RUSA TIMOR OLEH MASYARAKAT / Mariana Takandjandji, Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 55-76 , 2006 Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 2 sub spesies rusa timor yang potensial untuk ditangkarkan. Potensi ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pemanfaatan rusa di alam. Namun masyarakat belum memanfaatkan secara optimal dan bijaksana. Oleh karena itu aset yang cukup besar potensinya ini perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai suatu usaha sekaligus konservasi. Sampai saat ini sudah ada 3 KK yang telah berhasil menangkarkan rusa, hal ini ditandai dengan rusa yang mereka pelihara telah beranak. Usaha penangkaran rusa cukup menjanjikan sehingga layak untuk dilaksanakan.Kegiatan penangkaran rusa cukup menguntungkan walaupun pada awalnya memerlukan biaya dan investasi yang lebih besar. Usaha ini memerlukan luas lahan yang lebih kecil, akan tetapi dapat memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari ternak-ternak yang sudah dikenal. Kata kunci: Penangkaran, Rusa timor, Aset, Potensi

Takandjandji, Mariana KAJIAN TEKNIK PENANGKARAN PENYU DI BALI / Mariana Takandjandji dan Edy Sutrisno. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 111-120 , 2006 Penyu merupakan reptil laut yang menarik karena mampu beradaptasi dengan baik untuk hidup di perairan laut. Di samping itu, penyu bersifat amphibious, di mana dapat menempuh hidup pada dua habitat yang berbeda. Biasanya penyu hidup di perairan laut dangkal kecuali lahir dan bertelur. Untuk mengkaji teknik penangkaran penyu di Bali, perlu diketahui potensi, penyebaran, bio-ekologi penyu dan statusnya serta kebijakan pemerintah terhadap upaya yang telah dilakukan. Namun permasalahan yang muncul dalam kajian tersebut adalah adanya penangkapan penyu yang dilakukan secara besar-besaran sehingga populasi menurun, baik kualitas maupun kuantitas. Pembinaan yang telah dilakukan antara lain melalui upaya perlindungan penyu dari kepunahan. Upaya tersebut ditempuh dengan cara melindungi panyu dari gangguan manusia dengan cara membuat peraturan yang melindungi penyu, dan upaya penambahan populasi penyu melalui penangkaran/budidaya. Kata kunci: Penangkaran, Penyu, Reptil, Amphibious, Bio-ekologi Tira, La Ode Asir KARAKTERISTIK LAHAN BEKAS TAMBANG BATU KAPUR DI KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN (Land Characteristic of Abandoned Lime Stone Mined in Pangkep Regency, South Sulawesi Province) / La Ode Asir Tira dan Eka Multikaningsih. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 219-228 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lahan bekas penambangan batu kapur di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa areal bekas penambangan berupa hamparan terbuka dan bergelombang dengan kemiringan 0-8 %. Penutupan vegetasi sangat sedikit, kurang dari 10 % dengan jenis vegetasi dominan adalah kersen (Muntingia colabura Linn.), akasia (Acacia auriculiformis A.Cunn), krinyu (Eupatorium pallescens DC), rumput jarum (Andropogon aciculatus

66

No.25 me/100 g. Kearifan ekologi tercermin dalam berbagai bentuk sistem kepercayaan (religi). lembaga swasta. Tujuan penelitian untuk menguji keefisienan teknik identifikasi berdasarkan sifat morfologi daun dari 51 jenis meranti (Shorea spp.09 me/100 g. Oleh karena itu diperlukan sarana pengenalan 67 . Hutan tanaman.lembaga formal. nama jenis Wardi. kebakaran hutan. lahan bekas tambang batu kapur Ulfa. -. wanakerti.66 me/100 g. tumpek uduh. daun. dan nilai budaya tri mandala. dan tepat. kation Ca 90. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. berdasarkan sifat vegetatif masih terbatas jenis yang mudah dipelajari dan dipraktekkan melalui sifat morfologi daun dan alat vegetatif lainnya. -. S. Kemampuan lahan digolongkan ke dalam kelas VIII dengan faktor pembatas utama untuk penggunaan adalah prosentase batuan permukaan (60-80 %). Berbagai bentuk nilai budaya yang diwarisi dan kemudian menjadi landasan etika lingkungan masyarakat Bali untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah: kalpataru. sehingga dengan melalui pengetahuan sifat morfologi daun diharapkan dapat membantu mengenal jenis meranti dengan mudah. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Halaman 151-155 .Retz. Sedangkan kendala pengelolaan sumberdaya hutan di Bali adalah: kemiskinan. KTK 8. kearifan dalam bentuk hukum adat ( awig-awig). N-total 0. P-tersedia 85 ppm. Daun adalah bagian utama dari pohon meranti yang selalu tersedia. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. I Nyoman POTENSI KELEMBAGAAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA LOKAL UNTUK MENDUKUNG PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI DAERAH BALI / I Nyoman Wardi. nilai filosofi figur banaspati dan bhoma. atrinervosa Sym. Kata kunci: Mikoriza. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Curah hujan rata-rata tahunan 3.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Daerah Bali dengan budidaya yang bercorak Hindu dikenal memiliki diversifikasi budaya yang tinggi dengan segala keunikannya. konflik kepentingan. sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. Kata kunci : Karakteristik.186 mm. Penelitian dilakukan dengan menggunakan spesimen herbarium jenis meranti yang tersimpan di herbarium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor. cerita mitos. lemahnya koordinasi lintas sektoral. sehingga dalam mengidentifikasi tidak memerlukan pengamatan sifat morfologi bunga dan buah.28 %. Kata kunci : Meranti. Rawa gambut Wardani. Halaman 281 .05 %. analog hutan dengan brahman. 2006 Sebagian besar lahan rawa gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. dan kedalaman tanah (<10 cm).).3. kation Mg 0. Marfu'ah IDENTIFIKASI JENIS MERANTI SUMATERA MELALUI SIFAT MORFOLOGI DAUN (Identification of Meranti Sumatera by Using its Leaves Morphology) / Marfu'ah Wardani.3 . Halaman 1-18 . Karakteristik kimia tanahnya adalah sebagai berikut pH (H2O) 8. S. K-tersedia 3 ppm. assamica Dyer. nilai teknologi aturan dan norma hukum adat (awig-awig).Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. faktor batuan singkapan (60-80 %).) dan alang-alang (Imperata cylindrica Beauv. 2006 Pengetahuan pengenalan jenis meranti seperti Shorea acuminata Dyer. dan kation Na 0.06 me/100 g. karakter morfologi. cepat. Salah satunya berupa kearifan lokal ekologi (lingkungan) yang merupakan bagian dari kearifan budaya.) berasal dari Sumatera. Lembaga adat yang terkait dengan pengelolaan hutan di Bali adalah: lembaga adat (subak.III.). rumput teki (Cyperus sp. pada pengalaman lapangan. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. C-organik 0. pencurian kayu. Pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang sinergi dengan kearifan lokal adalah social forestry.296 . desa adat/pakraman).

KHDTK Samboja.Kata kunci: Kelembagaan. saat ini Balai Litbang Kehutanan telah membangun plot model hutan rakyat masing-masing seluas 3 hektar dan 3. Karmilasanti dan Supartini. Meski pengakuan keberadaan hukum adat masih menemui sejumlah kendala dalam implementasinya di lapangan. Sosial forestry 68 . Ekologi Wiati. Nilai sosial budaya lokal. Kecamatan Muara Komam dan Desa Perkuwin. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Catur Budi IDENTIFIKASI KEBERADAAN HUKUM ADAT DAN PERANANNYA DALAM PENCEGAHAN ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG GUNUNG LUMUT / Catur Budi Wiati. Gunung Lumut Wiati. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. tetapi keberadaan hukum adat berpeluang untuk menjadi salah satu instrument dalam rangka pemberantasan illegal logging. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan cara pengaturan masalah pengusahaan dan pemanfaatan tanah dan hutan serta penghormatan mereka terhadap roh-roh penunggu melalui upacara-upacara adat yang masih dijalankan membuktikan bahwa hukum-hukum adat masih ada dan diterapkan oleh Masyarakat Mului. Di Desa Semoi Dua plot pembangunan hutan rakyat dilakukan secara monokultur.6 hektar di Desa Semoi Dua. Kata kunci: Hukum adat. Model social forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Kabupaten Kutai Kertanegara. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Dengan cara yang sama. keberadaan hukum adat dan adanya kegiatan illegal logging. hasil penelitian menunjukan bahwa hukum adat hampir tidak ada dan tidak dijalankan lagi pada Masyarakat Perkuwin. Selain itu berdasarkan tidak adanya sama sekali kegiatan penebangan liar (illeagl logging) di wilayah adat Masyarakat Mului dan cara mereka dalam menghadapi aksi tersebut mengindikasikan bahwa hukum adat terbukti dapat menjadi salah satu instrument untuk mencegah illegal logging. Catur Budi KONDISI HUTAN RAKYAT DI SEKITAR KHDTK SAMBOJA DAN SEBULU TAHUN 2005 DALAM KONSTEKS SOSIAL FORESTRY / Catur Budi Wiati. Untuk kegiatan plot hutan rakyat bekerjasama dengan Kelompok Tani sebagai mitra dari Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun baru dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2004 sampai 2005. Partisipasi masyarakat. Halaman 173-190 . Illegal logging. Kecamatan Long Kali. Halaman 287-302 . Untuk itu biasanya masyarakat tradisional yang masih menerapkan hukum adat memasukkan aturan-aturan pemanfaatan hutan dalam hukum-hukum adat. 2006 Ketergantungan masyarakat tradisional terhadap keberadaan hutan untuk mendukung kehidupan menyebabkan mereka harus menjaga dan mengatur pemanfaatannya agar tetap lestari. Hutan lindung. Pemasaran hasil kegiatan pembangunan plot hutan rakyat di Desa Semoi Dua belum memberikan hasil dibanding dengan Desa Sumber Sari. -. 2006 Pengembangan model hutan rakyat merupakan salah satu dari kebijakan pengembangan social forestry yang ditetapkan Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Dirjen RLPS). sedangkan di Desa Sumber Sari dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman palawija. Berdasarkan kedekatan dengan hutan lindung. Terkait dengan permasalahan tersebut kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan hukum adat dan peranannya dalam pencegahan illegal logging dirasakan sangat perlu untuk dilakukan. Kata kunci: Hutan rakyat. dua desa yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Kampung Mului. Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber Sari.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kertanegara dengan tujuan untuk mengetahui kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu tahun 2005 dalam konteks social forestry. Kearifan lokal. Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber sari. Propinsi Kalimantan Timur. -. kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu ditinjau dari status kawasan merupakan lahan yang tidak memiliki bukti kepemilikan tanah.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Berkaitan dengan hal tersebut. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Penelitian dilakukan di Desa Semoi Dua. di Kabupaten Pasir. Sebaliknya maraknya penebangan liar yang terjadi di Desa Perkuwin semakin memperkuat bukti bahwa hukum adat dapat berperan dalam pencegahan illegal logging.

Nusa Tenggara Timur.2 . Dalam hal dampak kegiatan rehabilitasi hutan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 207-214 .5 juta ha. tentang penyelengaraan hutan kemasyarakatan sebagai bentuk tindak lanjut dari kebijaksanaan tersebut. pada tahun anggaran 1998/1999. 10 provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat. No. Bengkulu. Pelaksanaan proyek pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan sistem kontrak telah memberikan pengalaman baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan meningkatkan fungsi hutan. perguruan tinggi. Persepsi laki-laki dan perempuan terhadap pembagian kerja pada kegiatan rehabilitasi dinilai sudah cukup fair. akan tetapi telah memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian hutan. baik laki-laki maupun perempuan terlibat dalam hampir semua kegiatan. -. Dalam pengambilan keputusan. Sulawesi Tengah.Info Hutan : Vol. serta daerah prioritas untuk dilindungi. Secara teknis. Selain itu.Wibowo. Raeuschel) di Indonesia mencapai 8. penyuluhan dan pelatihan. Chiharu Hiyama. -. Sulawesi Tenggara dan Maluku menerima bantuan dari Pemerintah Jepang melalui JBIC/OECF untuk melaksanakan pilot proyek pembangunan hutan kemasyarakatan. pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan pengelolaan hutan yang berorientasi pada kelestarian hutan dan peningkatan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan yang dituangkan dalam SK Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001. Kegiatan pengendalian lebih ditekankan kepada upaya pencegahan kebakaran. perlakuan untuk meminimkan bahan bakar dan kegiatan pemadaman. Indartik. dan sampai saat ini masih dianggap sebagai jenis gulma yang mengganggu. Kelompok petani yang 69 . 2006 Luas padang alang-alang (Imperata cylindrica L. Kata kunci: Hutan kemasyarakatan. sehingga perlu direhabilitasi agar menjadi kawasan hutan yang lebih produktif. Contohnya dalam kegiatan yang paling berat seperti pembersihan lahan ternyata dikerjakan oleh laki-laki dengan dibantu perempuan. Perempuan memiliki peran khusus dalam kegiatan rehabilitasi. Halaman 1 . Riau. Nusa Tenggara Barat. diperlukan pengetahuan mengenai daerah-daerah yang beresiko tinggi untuk terbakar (daerah penyebab). -. Halaman 49 .1 . yaitu pelaksana pekerjaan diserahkan kepada pihak swasta (konsultan dan kontraktor). Raeuschel. terdapat perbedaan yang lebih nyata di antara berbagai golongan masyarakat daripada antara laki-laki dan perempuan. 2006 Dalam rangka mencegah makin memburuknya kondisi hutan dan masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan. Kata kunci : Alang-alang. sistem kontrak Widiarti. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). akan tetapi kegagalan reboisasi umumnya disebabkan oleh kebakaran yang sering terjadi pada kawasan yang didominasi oleh alangalang. Imperata cylindrica L. Ari PEMBANGUNAN HUTAN KEMASYARAKATAN DENGAN SISTEM KONTRAK / Ari Wibowo. upaya rehabilitasi areal alang-alang telah dapat dikuasai. karena itu perempuan kurang memperoleh kesempatan untuk menghadiri pertemuanpertemuan. Dalam rangka pengendalian kebakaran pada padang alang-alang. Pelaksanaan proyek ini dilakukan dengan sistem kontrak. tidak terkecuali pekerjaan itu sifatnya berat atau ringan.III. Ini menunjukkan perempuan juga mempunyai kekuatan dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan di dalam keluarga.59 .30 . laki-laki memang mempunyai peran lebih besar dibandingkan perempuan. Areal yang didominasi oleh jenis ini dianggap sebagai lahan kritis yang tidak produktif. namun keputusan tersebut umumnya diambil setelah melalui proses diskusi antara suami dan istri. Sulawesi Selatan. kegiatan pengendalian kebakaran harus melibatkan masyarakat agar lebih efektif.III. Meskipun kegiatan ini mengalami banyak hambatan dalam pelaksanaannya. Ari PADANG ALANG-ALANG DI INDONESIA : KERAWANANNYA TERHADAP KEBAKARAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA (Imperata Grassland in Indonesia : Its Susceptibility to Fire and its Control Efforts) / Ari Wibowo. Jambi. Terjadi hubungan erat yang saling terkait antara masalah kebakaran dan timbulnya alang-alang. Curahan waktu kerja perempuan dalam kegiatan rehabilitasi adalah sekitar 40 %. Asmanah PEMBAGIAN PERAN JENDER DAN DAMPAK KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DI SUKABUMI (Gender Roles Distribution and Impact of Forest Rehabilitation in Sukabumi) / Asmanah Widiarti. 2006 Dari hasil penelitian aspek jender dan tipologi masyarakat pada kegiatan rehabilitasi hutan menunjukkan bahwa. kondisi iklim/musim kering yang terjadi. No.Info Hutan : Vol. Namun demikian perempuan memiliki kesempatan yang terbatas di masyarakat. pengendalian kebakaran Wibowo.

Secara keseluruhan kegiatan pengelolaan ini sangatlah kompleks karena melibatkan banyak pihak dengan berbagai peran dan kepentingan yang berbeda. Hal ini menyebabkan lahan terlantar. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. Kegiatan PHBM memerlukan biaya cukup besar. Pengelolaan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sangat membutuhkan dukungan dan peran serta berbagai pihak guna mengoptimalkan kawasan sesuai dengan fungsinya.III. Informasi PHBM harus didistribusikan secara merata kepada seluruh anggota masyarakat terlebih dahulu sebelum dimulainya program. Proporsi bagi hasil kayu seharusnya mempertimbangkan beban peserta dalam upaya rehabilitasi. Biaya tahun pertama merupakan faktor pembatas kelompok masyarakat sangat miskin untuk berpartisipasi. dan memanfaatan secara lestari. kaum marjinal. -. bahkan ada yang belum ditanami dengan pohon kayu-kayuan dan terjadi kesenjangan ekonomi di antara peserta PHBM. Handoyo. 2006 Berdasarkan Undang-Undang No. -. kaum miskin. Asmanah APAKAH KEGIATAN REHABILITASI HUTAN BERSAMA MASYARAKAT MEMBERIKAN MANFAAT KEPADA KAUM MISKIN? : STUDI KASUS DI BKPH PELABUHAN RATU KPH SUKABUMI (Do Forest Rehabilitation Activities Benefit to the Rural Poor? / Asmanah Widiarti. 51/1990 Taman nasional diartikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Dengan pengelolaan bersama ini diharapkan kawasan dapat menjadi lebih efisien dan efektif dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Halaman 31 .48 . pendidikan. manfaat. informasi. penunjang budidaya. Halaman 101-110 . pola 70 . Kegiatan penyuluhan dan pelatihan di bidang kehutanan tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga perempuan. wawancara. dan rekreasi. serta pembangunan sarana dan prasarana yang dalam pelaksanaannya menemui beberapa hambatan dan kekuatan.Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Pengelolaan bersama ini mengacu pada suatu bentuk kerjasama. yaitu perlindungan. ilmu pengetahuan. Chiharu Hiyama. koordinasi dan integrasi. hak. dampak rehabilitasi tanam perlu dikombinasikan dengan tanaman bernilai komersial dan berproduksi secara rutin. dan observasi. Agar PHBM bisa berkontribusi pada ekonomi rumah tangga peserta secara berkelanjutan. Ganti rugi hak lahan garapan dilakukan oleh sekitar 20 % anggota kelompok tani hutan yang umumnya sangat miskin kepada penduduk desa yang lebih mampu.1 . diperlukan mekanisme yang memungkinkan kelompok ini dapat berpartisipasi dalam kegiatan rehabilitasi.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Untuk itu pengembangan TNBB ke depannya diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat serta efisiensi pengelolaan menjamin keberlanjutan sumberdaya alam melalui pengelolaan bersama. Hal ini mengharuskan TNBB memperhatikan faktor lain di luar batas kawasannya. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. Untuk menghindari dampak negatif pada kelompok marjinal. Distribusi informasi PHBM kurang merata menyebabkan kesempatan masyarakat menjadi peserta tidak sama sehingga terjadi ketidakadilan distribusi lahan garapan. Widiarti. Peserta menganggap PHBM bermanfaat dari segi sosial dan lingkungan. Kegiatan yang berlangsung pada bulan Juli-September 2004 ini dimaksudkan untuk mengkaji pengelolaan kawasan TNBB. TNBB memiliki enam kegiatan pokok pengelolaan. Keterbatasan utama kaum marjinal ikut berpartisipasi adalah keterbatasan sumber modal dan akses informasi. pengawetan. yaitu pengamanan potensi kawasan. pariwisata.tidak memiliki lahan dan tidak ikut program PHBM adalah kaum marjinal yang tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan rehabilitasi hutan dan cenderung mendapat dampak negatifnya. dan tanggungjawab atas suatu kawasan.Info Hutan : Vol. Bagi kelompok rata-rata miskin biaya tersebut ditunjang oleh berbagai sumber penghasilan. jender. Eritrina KAJIAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Eritrina Windyarini. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . ganti rugi lahan garapan Windyarini. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PHBM memiliki kontribusi kecil pada penghasilan keluarga pesertanya. Lokasi penelitian di BKPH Pelabuhan Ratu KPH Sukabumi. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) bermanfaat bagi kaum miskin. Kata kunci : Kegiatan rehabilitasi hutan. di mana pihak yang berkepentingan setuju untuk saling berbagi peran dalam manajemen.

pengukuran intensitas serangan. serta uji pengendalian awal pada Ampupu. Penelitian meliputi identifikasi jenis dan penyebab kerusakan. 2006 Laporan Dinas Kehutanan Kabupaten Belu tanggal 17 Februari 2005 menyebutkan terjadinya kerusakan pada Kawasan Hutan Lakaan Mandeu (RTK 187) yang merupakan tegakan alam Eucalyptus urophylla (ampupu) dan Eucalyptus alba. dan tanaman surian di Sikabu-kabu (Payakumbuh).Info Hutan : Vol. Tindakan uji pengendalian awal injeksi pestisida (fungisida bahan aktif mankozeb dan insektisida bahan aktif monokrotofos) dengan dosis 5-10 ml/pohon belum memberikan pengaruh yang berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol. 2006 . dan di 71 . Meski demikian. Kata kunci: Konservasi in-situ. Eucalyptus urophylla. No. et V. Tanaman Ampupu yang sudah mati seluas lebih kurang 16 ha dan lebih kurang 15 ha sisanya sedang diserang/menunjukan gejala kematian. Jenis-jenis dipterocarpa yang berhasil ditanam sejak dulu dalam skala kecil adalah Shorea javanica K. Eritrina IDENTIFIKASI DAN PENGENDALIAN AWAL HAMA PENYAKIT PADA AMPUPU (Eucalyptus urophylla) di NTT. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kerusakan yang terjadi pada tegakan alam Ampupu di Kabupaten Belu serta usaha pengendalian awalnya. -.) kemenyan (Styrax benzoin Dryand).. Kajian pengelolaan Windyarini. secara keseluruhan individu dalam plot mengalami peningkatan kesehatan. Kata kunci: Hama penyakit.III.III. Pengendalian. Hasil pengamatan dan identifikasi menunjukan kerusakan yang penyebab bersifat kompleks. Halaman 61 - Konservasi sumber plasma nutfah sangat diperlukan untuk mengatasi cepatnya perubahan ekosistem yang disebabkan oleh pengrusakan hutan. dan geronggang (Cratoxylum spp. Halaman 181-185. Toona spp. yang ditanam untuk keperluan resin damarnya dan Shorea platyclados V.).Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. -. serta menjadi bahan masukan bagi pengelolaan ke depannya. Styrax benzoin Dryand (kemenyan). hutan tanaman Yafid.3 .Info Hutan : Vol. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Rehabilitasi lahan alang-alang dataran tinggi seperti di daerah Tapanuli (Tanah Karo) disarankan menggunakan jenis Styrax benzoin Dryand. blangiran (Shorea balangeran Burck). No. (surian).Sl (banio) jenis dipterokarpa yang berhasil ditanam di daerah tinggi di Simalungun. dan Hopea dryobalanoides Miq. sub famili Epilachninae. Hal ini dapat dicapai melalui konservasi in-situ maupun melalui penanaman (ex-situ). Bali Barat. -. Namun yang paling dominan adalah penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Curvularia sp dan serangan-serangan pemakan daun dari Famili Coccinelidae. Sumatera Utara. konservasi ex-situ. Ampupu. Cratoxylon (geronggang) dan Toona spp. 2006 Jenis pohon tahan api dan dapat tumbuh di padang alang-alang antara lain adalah tembesu (Fagraea fragrans Roxb. jenis pohon hutan. Penanaman dalam skala luas hendaknya dilaksanakan sehubungan dengan bahaya eksploitasi berlebihan jenis-jenis di dalam habitat aslinya. NTT Yafid. 2006 Sumatera and Their Relation to the Conservation of Plant Genetic Resources) / Bugris Yafid. Bugris PENANAMAN JENIS POHON HUTAN DI SUMATERA DAN KAITANNYA DENGAN PELESTARIAN PLASMA NUTFAH (Forest Tree Plantations in 66 .2 .3 persen. Halaman 177-182 .Kata kunci: Pengelolaan. Intensitas serangan pada plot pengamatan mencapai 83. tanaman meranti di Purbatongah (Purba/Simalungun). Informasi mengenai jenis hama dan penyakit di atas diharapkan mampu menjadi dasar bagi tindak lanjut upaya pengendalian yang lebih spesifik. Penanaman jenis pohon hutan di Sumatera yang telah sejak lama dilaksanakan dan berhasil dengan baik antara lain adalan rasamala (Altingia excelsa Noronha) dan antuang (Manglietia glauca Blume) di Merek dan Tongkoh (Kabanjahe). Jenis-jenis pohon hutan yang dapat ditanam dan direkomendasikan untuk penghutanan kembali atau untuk penanaman antara lain adalah Fagraea fragrans Roxb (tembesu). Bugris BEBERAPA JENIS POHON TAHAN API DAN PENANGKAL ALANG-ALANG (Some resistant Tree Species Suppressing the “Alang-alang”) / Bugris Yafid.

bagian yang digunakan serta cara penggunaannya. Styrax benzoin Dryand baik ditumbuhkan di tempat tinggi dengan tanah berpasir. Bahan bakar.)..81. mahoni (Swietenia macrophylla King).. Jatropha curcas L. macam penggunaannya. tanaman Yeny. Hasil yang baik adalah berupa tanaman campuran antara Fagraea fagrans Roxb. -.Tanaman jarak pagar memungkinkan dikembangkan di Kalimantan Timur. perkakas (9 jenis). Pengumpulan data jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan masyarakat Suku Hatam dan berada pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi (6. kayunya termasuk kelas awet I dan kelas kuat II-I dengan Berat Jenis 0. Selain untuk kebutuhan bangunan pemanfaatan jenis tumbuhan berkayu pada hutan diklat Tuwanwouwi sudah relatif berkurang. Rich. Dari hasil wawancara dan survey keberadaan jenis diketahui pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi didata 41 jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam sebagai bahan pangan (6 jenis). Irma JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKAYU BERMANFAAT BAGI SUKU HATAM DI HUTAN DIKLAT TUWANWOUWI. Hal ini disebabkan kebutuhan tersebut dapat diperoleh dari kebun maupun pasar terdekat. Fagraea fragrans Roxb.116 .C. Di lain pihak harga BBM naik berlipat ganda. Kata kunci: Pohon tahan api.000 ha) dilakukan dengan mewawancara tokoh adat dan melakukan survey keberadaan jenis dengan melakukan peninjauan lapangan. Keadaan ini menyadarkan pemerintah dan berbagai pihak untuk mencari bahan bakar alternatif yang lebih murah dan terbarukan.Pusat Penelitian dan Pengembangan hasil Hutan. Tuwanwouwi Yuliansyah MENGENAL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) PENGHASIL BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG TERBARUKAN. antara lain adalah puspa (Schima wallichii Korth.III. Jenis-jenis lain yang dapat tumbuh dan menekan alang-alang. pada tahap awal perlu dilakukan penanaman uji coba pada lahan yang sesuai dengan tanaman tersebut. sebagai cover crop. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan minyak nabati yang berasal dari biji jarak pagar. Fagraea fragrans Roxb. Halaman 191-195 . dan sengon/jeunjing (Paraserianthes falcataria Bakh). juga ditanam dalam rangka penghutanan kembali karena kayunya termasuk jenis bernilai ekonomi tinggi. Halaman 95 . (tembesu) dahulu ditanam di sepanjang jalan di daerah Sumatera Selatan.97 %) yang masih diperoleh 72 . Manokwari) / Irma Yeny .) tumbuh jauh lebih baik apabila cabang-cabang sampingnya dibebaskan. khususnya pada daerah-daerah dengan curah hujan < 2000. sarana seni budaya (8 jenis). Kata kunci : Identifikasi. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . seringkali ditanam sepanjang pinggir jalan dan sebagai pohon peneduh. Minyak yang dihasilkan dari biji tanaman tersebut telah pula digunakan masyarakat sebagai minyak lampu. dan Schima wallichii Korth. Biodisel is Exploited By Hatam Tribe at Diklat (Traning and Education) Tuwanwouwi Forest. pemanfaatan. [et al] . Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi sumber energi utama dunia saat ini cadangannya terus berkurang dan diperkirakan tidak lama lagi akan habis.2 .). minyak bakar kompor dan bahan pewarna pada bahan katun dan benang. konstruksi (25 jenis) dan obat-obatan (4 jenis). Secara tradisional benzoin ditanam bersamasama dengan padi.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. kemudian minyak kurkas untuk mesin diesel berputaran rendah dan Biodisel. Jumlah jenis tertinggi terlihat pada bentuk pemanfaatan bahan bangunan (25 jenis atau 60.Info Hutan Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis-jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam. Bogor telah berhasil mengolah biji jarak menjadi minyak jarak mentah (Crude Jatropha Oil) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor. tumbuhan berkayu.dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl dapat digunakan tembesu (Fagraea fragrans Roxb.) adalah tanaman perdu yang telah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman pagar dan tanaman obat. No. namun untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan kerusakan lingkungan. alang-alang. Jenis ini termasuk pionir tahan api dan tumbuh di tempat terbuka. -. Kata kunci: Jarak pagar. MANOKWARI (Wood Plants Which : Vol. Tembesu (Fagraea fagrans Roxb. (puspa) dengan Cassia multijuga L. alat berburu (5 jenis). 2006 dari kawasan hutan. (tembesu) merupakan tanaman asli Sumatera Selatan. 2006 Jarak pagar (Jatropha curcas L.

II.[et. Bahan cuplikan dilunakkan dalam panci bertekanan selama beberapa jam dengan media campuran gliserin dan air 1:1. -. Rendaman panas dengan suhu 65 derajat C selama 1. Setelah itu bahan dijepit dengan pemegang cuplikan pada mikrotom kemudian dilakukan pelunakkan kembali dengan uap panas selama kurang lebih 15 menit sebelum disayat. 2006 Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap organisme perusak kayu (OPK). Sasa BAGAN PENGAWETAN TIGA JENIS KAYU DENGAN BAHAN PENGAWET CCB SECARA RENDAMAN PANAS DINGIN DI SEL PENUH / Sasa Abdurrohim. 2006 Bagan pengawetan setiap jenis bagi kelengkapan spesifikasi pengawetan kayu perumahan dan gedung masih belum lengkap. berupa serangga.93 atau bahkan mungkin lebih. Lapangan kerja yang tersedia sekitar 24. Kata kunci: Mikroteknik botani. Sasa SIFAT KEAWETAN KAYU DAN PENYEMPURNAANNYA / Sasa Abdurrohim. -.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 29-41 . Kayu kelas awet I dan II.1 . Tanpa perlakuan khusus. Kayu yang dapat dihemat sebesar 7. Halaman 15-23 . Uap panas ini dihasilkan dari belanga presto yang dimodifikasi. Vakum awal dan akhir 65-70 cm Hg masing-masing 30 dan 15 menit. 2006 Pemahaman mikroteknik botani merupakan suatu dasar untuk penyediaan preparat guna pengamatan struktur mikro organ tumbuhan. Tulisan ini mengetengahkan teknik pembuatan preparat sayat untuk cuplikan kayu yang keras. serta tekanan 10 atm selama 1. Bagan pengawetan ketiga jenis kayu telah disusun. Kata kunci: Keawetan. Kata kunci: Pengawetan. Rendaman panas dingin. Ginuk Sumarni dan Jasni. 3. penyempurnaan melalui pengawetan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dua jenis kayu dan ketiga jenis dapat diawetkan masing-masing secara rendaman panas dingin dan sel penuh dengan bagan yang digunakan dalam penelitian ini.2 dan 3 jam.000 ha hutan alam yang dapat menekan illegal logging sebesar 20.al.35 juta m3/tahun atau setara 147..5%. Penelitian bagan pengawetan secara rendaman panas dingin dan sel penuh perlu dilakukan.9 trilyun/tahun.12 No. Abdurrohim. jamur. umur pohon. dan binatang laut penggerek kayu. Teknik ini dapat menghasilkan sayatan bidang lintang dengan baik pada cuplikan kayu dengan berat jenis 0. Sel penuh Andianto RANCANG BANGUN ALAT UNTUK PREPARASI CUPLIKAN KAYU KERAS DALAM STUDI ANATOMI / Andianto . -. Konsentrasi bahan pengawet tembaga-khrom-boron (CCB) pada kedua proses 5 dan 10 persen . Kesulitan sering dijumpai apabila cuplikan kayu yang akan disayat sangat lunak atau sebaliknya sangat keras.2 dan 3 jam diikuti rendaman dingin 1 hari. Anatomi kayu 73 . Setiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda terhadap OPK dan bergantung pada kandungan zat ekstraktif. hasil sayatan mikrotom biasanya sobek atau bahkan hancur. Berdasarkan umur pakai kayu perumahan dan gedung 5 tahun dan 15 tahun masing-masing pada kayu tidak awet yang tidak diawetkan dan diawetkan terlebih dahulu dapat dihitung kayu dan uang yang dapat dihemat serta kesempatan kerja yang dapat tersedia. penghematan. disalurkan melalui pipa ke permukaan cuplikan.Abdurrohim. sedangkan 85.III.3% tidak perlu disempurnakan melalui pengawetan. kecepatan tumbuh dan di mana kayu tersebut digunakan.7% kayu tidak awet ditambah kayu gubal kelas awet I dan II sebelum digunakan harus diawetkan terlebih dahulu. Keawetan kayu Indonesia dibagi menjadi 5 kelas yatu kelas awet I. Tiga jenis kayu ukuran kaso (4x6 cm) sepanjang 30 cm sebanyak 180 contoh uji diawetkan secara rendaman panas dingin dan sel penuh. bagian kayu dalam pohon.] . Uang yang dapat dihemat pada 15 tahun pertama sebesar Rp.IV dan V.. termasuk kayu. CCB. yang hanya 14.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 55-62 .Info Hasil Hutan : Vol.900 orang.

24. Perlakuan pemanasan pada biji kemiri dan daging kemiri sebelum proses pemecahan dan pengepresan serta penggunaan arang secara fisik sudah masak tebang dan dimensinya relatif stabil. Martono POLA SERANGAN DAN CARA PENCEGAHAN JAMUR BIRU / D. -. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Perlakuan proteksi serangan jamur biru dapat meningkatkan mutu kayu dan nilai tambah yang cukup nyata serta dapat mengeliminir limbah pengolahan kayu.448. dan tekstur dapat terjaga.5 . tengah dan ujung batang. Halaman 413 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu tali umur 4 tahun 40°C . Kata kunci: Kembang-susut. Saefudin. kelayakan teknis dan finansial D.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.3 . 6% dan 12%. tenaga surya. Uji coba dilakukan terhadap kayu jati (Tectona grandis L. 2006 Telah dilakukan uji coba teknis dan finansial terhadap mesin pengeringan kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku tipe SC+TI untuk kapasitas ± 19 m3 di salah satu industri/pengrajin kayu di Ngaringan. Kata kunci: Jamur biru.). 4 dan 5 tahun yang diambil dari bagian pangkal. Untuk mengeringkan sortimen kayu dengan kadar air 50% sampai mencapai kadar air 10% memerlukan waktu rata-rata 13 hari dan menghasilkan rendemen kayu kering sekitar 80%.24 No. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan finansial dari pemanfaatan mesin pengering tersebut. KAK. MARTONO. Perlakuan kadar air untuk pengujian sifat kembang susut dan KAK adalah 0%. Grobogan. Saptadi PEMBUATAN MINYAK KEMIRI DAN PEMURNIANNYA DENGAN ARANG AKTIF DAN BENTONIT (Extraction and Purification of Candlenut Oil with Activated Charcoal and Clay-bentonite) / Saptadi Darmawan.24. No. Kebutuhan panas pengeringan di siang hari diperoleh dari tenaga surya dan di malam hari atau tergantung kebutuhan diperoleh dari tungku pembakaran dengan bahan bakar biomas/limbah kayu dari penggergajian sendiri. -. 2006 Perubahan sumber asal bahan baku kayu perlu diikuti informasi sifat dasar kayu. Pengeringan bambu tali sampai ke kadar air 6% menghasilkan KAK pada level sekitar 9%. Oleh karena itu pengetahuan tentang sifat kembang susut dan KAK penting diketahui untuk menjaga mutu produk. yang didasari pengetahuan bioteknologi jamur biru. No. Halaman 437 . limbah kayu. gambar. Hasil uji coba menunjukan suhu ratarata harian dari panas surya yang diterima ruang pengering berkisar antara 74 . Halaman 241-250 . sementara suhu untuk pengeringan kayu jati berkisar antara 45°C . Kata kunci: Mesin pengering.423. Pengeringan menggunakan metode oven pada suhu 60o C. Pencegahan kerusakan akibat pewarnaan kayu dapat dilakukan dengan pestisida yang telah diizinkan. 2006 Pembuatan minyak kemiri dapat dilakukan dengan cara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat.5 . tungku tipe I.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. -. Efrida SIFAT KEMBANG SUSUT DAN KADAR AIR KESEIMBANGAN BAMBU TALI (Gigantochloa apus Kurtz) PADA BERBAGAI UMUR DAN TINGKAT KEKERINGAN (Shringkage-Swelling Properties and Equilibrium Moisture content of Bambu tali (Gigantochloa apus Kurtz) at Various age and Drying Level) / Efrida Basri.f. Keawetan kayu Darmawan. Penelitian dilakukan pada bambu tali {Gigantochloa apus Kurts) umut 3.70°C. jati. sehingga jenis-jenis kayu untuk mebeler dari kayu yang berwarna cerah.50°C. umur. 2006 Proses kembang susut berlangsung selama kadar air bambu belum mencapai kadar air keseimbangan (KAK) dengan lingkungannya. Organisme perusak. bambu Basri. tingkat kekeringan. Pencegahan kerusakan dalam proteksi disesuaikan perubahan sistem pengangkutan dan pengolahan kayu. Jawa Tengah.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005 : Halaman 43-54 . jamur biru sebagai organisme perusak dan cara pencegahannya. Konsumsi limbah kayu untuk bahan bakar tungku pada setiap periode pengeringan 8 m3.Basri. sifat keawetan alami. Efrida UJI COBA MESIN PENGERING KAYU KOMBINASI TENAGA SURYA DAN PANAS DARI TUNGKU TIPE I (Trial on Wood-drying Machine Powered by the Combined Solar Energy and Type-1 Heating-Stove) / Efrida Basri & Achmad Supriadi.

Diameter kayu yang dikeluarkan berkisar antara 20 .163m3/rit. P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of West Pekalongan Forest District) / Dulsalam.254/m3. 2. biaya pengeluaran kayu dan berbagai aspek operasional sistem kabel layang tersebut. Tujuanya untuk mendapatkan informasi tentang produktivitas. Sumatera Selatan telah dilakukan untuk mendapatkan informasi produktivitas dan biaya peralatan pemanenan hutan tanaman yang tepat guna dan ramah lingkungan.040-0.852/m3 dan Rp 79. Hasilnya menunjukkan bahwa: 1. bilangan iod dan bilangan asam. Dibandingkan dengan upah pengeluaran kayu setempat. 4 dan 5 jam).5 dan 17. arang aktif. Pengoperasian kabel layang P3HH24 untuk mengeluarkan kayu di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat dapat berjalan lancar. jumlah batang yang disarad per satu tahap operasi 75 .5 menit) dan pengovenan pada suhu 60oC (1. pemurnian.671/m3 . Kata kunci: Hutan tanaman. sedangkan untuk Volvo kedua besaran tersebut berturut-turut adalah Rp 6. pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 jauh lebih murah sehingga layak diusahakan. 3. mengetahui pengaruh pemanasan daging kemiri terhadap rendemen dan warna minyak yang dihasilkannya dan 2). SUMATERA SELATAN (Productivity and Cost of Harvesting Equipment in Forest Plantation: Case Study on PT Musi Hutan Persada. Pembuatan minyak dilakukan dengan cara kempa hidraulik pada suhu 60oC.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 1. Untuk Hitachi.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.334/m3.5 dan 2 jam) dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi terbaik dalam pembuatan minyak kemiri dilihat dari rendemen dan warna minyaknya. 2006 Penelitian peralatan pemanenan di hutan tanaman PT Musi Hutan Persada. penyangraian (7. Pemanasan pada biji kemiri berupa penjemuran (3.200/m3 dan Rp 12.155/m3 .24. berat jenis. mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan pemucat (arang aktif dan bentonit) terhadap sifat fisiko-kimia minyak kemiri. sedangkan biaya rata-rata pengeluaran kayu adalah Rp 15. Djaban Tinambunan. sistem kabel layang P3HH24.519 m3 /jam. Kata kunci : Minyak kemiri. Halaman 77 . biaya Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PERALATAN PEMANENAN HUTAN TANAMAN: STUDI KASUS DI PT MUSI HUTAN PERSADA. 12. Alat penebangan yang digunakan adalah chainsaw (gergaji rantai) berukuran kecil merek Husqvarna dengan rata-rata produktivitas sebesar 2. -.500 m3/rit dengan rata-rata 0. sedangkan -. Untuk pengeluaran kayu pada areal yang mempunyai kelerengan 15% ke atas. 2.764/ m3.25 m3/jam dengan rata-rata biaya berturutturut sebesar Rp39. (rit) berkisar antara 1-3 batang dengan volume berkisar antara 0. South Sumatera) / Dulsalam. rata-rata biaya muat adalah Rp 6.713/m3 . Minyak kemiri yang dihasilkan dari kondisi terbaik (penyangraian selama 1.. 4. Rata-rata produktivitasnya berturut-turut adalah 18. 5. Halaman 251-266 . Penyaradan dilakukan dengan menggunakan forwarder merek Timberjack G10 dan Timberjack 101 0B.5 jam) kemudian dimurnikan menggunakan arang aktif dan bentonit pada konsentrasi 2%.51 cm dengan rata-rata 36 cm.527 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1.25 m3/jam dan 21. Produktivitas pengeluaran kayu berkisar antara 1. No.24 No. bongkar adalah Rp 12.3 . 3% dan 4% serta diuji sifat fisiko-kimianya. Pemuatan dan bongkar kayu digunakan alat merek Hitachi dan Volvo dengan rata-rata produk-tivitas masing-rnasing sebesar 70 m3/jam untuk muat dan 34 m3/jam untuk bongkar muatan.656 m3 /jam dengan rata-rata 2. bentonit dan kualitas fisiko-kimia minyak kemiri. Djaban Tinambunan.1 . 2006 Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PENGELUARAN KAYU DARI HUTAN TANAMAN DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH 24 DI KPH PEKALONGAN BARAT (Productivity and Cost of Log Extraction Using Penelitian produktivitas dan biaya pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 telah dilakukan di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat pada tahun 2002.5. disarankan untuk menggunakan sistem kabel layang P3HH24. Penggunaan arang aktif sebesar 2% menghasilkan sifat fisiko-kimia minyak kemiri yang optimum dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia untuk indeks bias. 3.aktif dan bentonit pada tahap pemurnian minyak kemiri akan mempengaruhi kualitas minyak.88 . produktivitas. -.5. Penelitian ini bertujuan untuk 1).14 m3/jam dan biaya sebesar Rp 15.

ketiga hal itu menjadi unsur penting bagi kesinambungan pengelolaan hutan alam tersebut. produktivitas. Kata kunci: Kereta kayu Expo-2000.24 No.4 . -. pembukaan wilayah atau pembuatan jalam. Kata kunci: Pemanenan. Konsekuensinya berdampak pada meningkatnya lapisan tanah hutan yang terganggu dan terjadinya pengurangan tanaman tingkat pancang (diameter pohon 5-20 cm) sebesar 2. ukuran kayu. 6. Penyaradan kayu dengan forwarder Timberjack G10 dan Timberjack 101 OB menimbulkan pemadatan dan pergeseran tanah relatif kecil sedangkan pemuatan dengan alat pemuat Hitachi dan Volvo menimbulkan pergeseran tanah cukup besar. biaya Endom. Kombinasi peralatan perlu perbaikan dan produksi kayu yang minimal pada periode tertentu perlu ditentukan agar arus kayu lancar serta pekerja dan peralatan tidak banyak waktu tunggu. kabel layang. Sekalipun kerusakan hutan memang tidak dapat dihindarkan. Dari analisis biaya dengan suku bunga bank 18% per tahun dan dengan proyeksi biaya 6 tahun. rata-rata produktivitasnya sebesar 15 m3/jam dengan ratarata biaya sebesar Rp 37. 2006 Untuk mencapai pemanfaatan hutan produksi alam lestari. hasil kajian biaya operasi pengeluaran kayu adalah Rp60.175/jam atau Rp 620/m . 2006 Expo-2000 merupakan sebuah prototype alat yang dirancang dan dibangun untuk membantu dalam kegiatan pengeluaran kayu. Wesman KAJIAN OPERASI PENGELUARAN KAYU SISTEM KABEL LAYANG EXPO2000 DENGAN PENGGUNAAN ALAT PENDUKUNG (Study of Applying Expo-2000 Skyline with Auxiliaries for Extracting Logs) / Wesman Endom. wawasan lingkungan. alat bantu. Mengingat pentingnya penyelamatan industri pengolahan kayu yang telah menginvestasikan modalnya hingga ratusan milyar rupiah.Agar kelangsungan hutan produksi itu dapat terus berjalan dengan baik maka ada 5 aspek teknis penting yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan hutan produksi alam tersebut yaitu kegiatan perencanaan. faktanya antara lain diperlihatkan oleh kerapatan panjang jalan sarad hampir 3 kali lipat lebih besar dibanding cara pemanenan ramah lingkungan. 5. kondisi permukaan lapangan dan kerapatan tegakan. tiang penyangga dan kereta pengangkut kayu kabel layang model KM Exp-I. diantaranya yang memang diperlukan keberadaannya antara lain untuk pembuatan prasarana jalan.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 85-96 .676/m3. Dengan investasi sebesar Rp 100 juta (berikut kabel dan perlengkapan lainnya). Halaman 339357 . Pada tahun 2005 dilakukan kegiatan perbaikan pada alat Expo-2000 itu sendiri dan dibuat aksesoris pendukung lainnya dengan tujuan lebih mudah dalam pergerakannya dilapangan dan lebih tinggi hasil kinerjanya. hutan tanaman 76 . -.4. Misal pada praktek pemanenan yang tidak terencana dan terawasi dengan baik. Padahal.5 kali lipatnya. Tetapi pelaksanaan pemanenan itu sendiri cenderung boros terhadap kekayaan sumberdaya alam. peralatan tepat guna. pemanenan. Pengangkutan kayu dengan truk tunggal rata-rata produktivitasnya sebesar 5 m3/jam dengan rata-rata biaya sebesar Rp 44. nilai NPV didapat sebesar antara Rp 881 juta dengan IRR sebesar 22 .697/m3. Perhitungan ini diperoleh dengan menggunakan dasar biaya upah setempat sebesar Rp 35 ribu/m . kinerjanya menunjukkan produktivitas cukup baik sekitar 15 m . hutan tanaman. berarti mengelola keberadaan sumberdaya alam hutan alam produksi sebagai pemasoknya secara lestari sangat penting. tergantung jarak. Zakaria Basari.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Pembuatan aksesoris itu meliputi wahana angkutan lokal.base camp. serta akan memperbesar terjadinya erosi dan sedimentasi. Kata kunci: Pemanenan. produktivitas Endom. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan bulan Oktober tahun 2005. sedangkan truk semi gandengan. tempat workshop dan gudang.km/jam. jembatan. Penebangan pohon dan pengangkutan kayu tidak menimbulkan gangguan lingkungan yang berarti. penyiapan tempat pengumpulan kayu bundar (logyard). penyaradan. Wesman PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN ALAM/ Wesman Endom. pembalakan ramah lingkungan sangat penting untuk dipakai sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pengusahaan hutan tersebut.52%. dan Yuniawati. Hasil uji coba memperlihatkan kini produktivitasnya lebih meningkat setelah dipakai kereta model KM Exp-I yang dilengkapi dengan pengunci. penebangan.

jumlah dan luas TPn serta diagram lebar dan jarak jalan sarad.Info Hasil Hutan : Vol. Bengkulu dan Palembang bertujuan untuk melihat perbedaan karakteristik sifat fisis dan mekanis kayunya.2 .305 dan Rp 1.000 dan Rp 15. Mohammad Muslich. Lampung. No. Kutai. Bahan utama disadur dari Handbook for Guiding Skidding and Road Building in British Columbia yang diterbitkan oleh Forest Research Institute Canada (FERIC) tahun 1991 yang sedikit diperluas. Perbedaan BJ tersebut berpengaruh nyata pada kekakuan dan keteguhan tekan sejajar serat. produktif dengan biaya operasi dan perawatan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat jenis (BJ) kayu jati super lebih tinggi daripada kayu jati lokal.hm/jam dan untuk muat/bongkar 50m3/jam. Panajam. 2006 of Super and Local Teak Woods Originated from Several Plantation Areas) / Nurwati Hadjib. Jenis jati lokal dan super berpengaruh nyata terhadap berat jenis basah kayu tersebut.5 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. kayu.al] . pembalakan. sedangkan BJ tertinggi pada kayu jati super adalah dari Binjai dan terendah dari Maros. jati super dari Bengkulu. Halaman 359-369 . jati lokal dari Lampung. Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi. jati super dari Palembang. alat Expo-2000 Endom. Produktivitas yang dicapai dengan dilakukannya penyempurnaan berupa penambahan endless drum diperoleh hasil sebesar 5 m3. diikuti berturut-turut kayu jati super dari Lampung. sedangkan lokasi penanaman jati tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat jenis.12 No. Halaman 133-142 . Diharapkan pengetahuan ini dapat memperbaiki pengelolaan hutan yang berwawasan lingkungan. strategi perencanaan pembalakan. Wesman STRATEGI MENGURANGI KERUSAKAN TANAH DALAM PEMBALAKAN / Wesman Endom. mudah dioperasikan. jati lokal dari Kutai. Biaya ini jelas lebih efektif dan efisien dibanding cara konvensional yang besarnya mencapai masing-masing secara berurutan Rp 35.4 . klasifikasi tingkat dampak. super.24 No. -Penelitian sifat fisis dan mekanis kayu jati (Tectona grandis L. efisien. Ada beberapa acuan yang mungkin dapat diterapkan yaitu klasifikasi kerusakan tanah.24. jati super dari Parung. Kayu jati yang diteliti tergolong kelas kuat III-IV.135 per m3. efektif. jati lokal dari Sulawesi dan yang terendah jati super dari Sulawesi. kerusakan tanah minimal Hajib.) jenis lokal dan super dari daerah Binjai. Parung. Kegiatan pembalakan agar secepatnya diikuti dengan penanaman kembali di semua lokasi bekas tebangan agar tercapai pengelolaan hutan lestari.175 per jam. 2006 Tulisan ini menyajikan upaya mengurangi kerusakan tanah sebagai dampak dilakukannya kegiatan pembalakan. jati super dari Binjai. Dengan biaya investasi sebesar Rp 100 juta. Jawa Barat. Ginuk Sumarni.f. maka dengan biaya pemilikan dan pengoperasian alat berdasarkan perhitungan adalah sebesar Rp 60. diperlukan terobosan berupa penyediaan alat ekstraksi kayu yang tidak mahal. fisis. perencanaan. Sesuai dengan harapan itu dilakukan kegiatan penelitian uji coba pengumpulan kayu dan muat bongkar dengan menggunakan hasil rekayasa alat Expo-2000 di daerah hutan Resort Polisi Hutan (RPH) Ciguha. jati super dari Kutai.mekanis 77 .000 per m3 . Halaman 449 . lokal. Kata kunci: Strategi. -. Kayu yang terkuat adalah jati lokal dari Palembang. sehingga biaya pengumpulan dan pemuatan kayu secara berurutan masing-masing adalah Rp 12. jati lokal dari Binjai. Kata kunci: Kayu jati.Endom Wesman KAJIAN PENGELUARAN DAN PEMUATAN KAYU DENGAN ALAT EXPO2000 YANG DISEMPURNAKAN (Study on Logs Extraction and Loading Using Improved Expo-2000) / Wesman Endom [et. -. 2006 Dalam upaya mengatasi kesulitan mengumpulkan kayu-kayu hasil tebangan di daerah curam dengan cara manual. Maros.461. sedangkan lokasi tanaman berpengaruh nyata terhadap kekakuan dan kekuatan patahnya. Kata kunci : Pengumpulan. Nurwati SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU JATI SUPER DAN JATI LOKAL DARI BEBERAPA DAERAH PENANAMAN (Physical and Mechanical Properties Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.

3%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 2006 Tulisan ini menyajikan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian campuran dengan cara aktivasi uap.5. yodium. Venir luar dan bilah inti papan blok terbuat dari kayu sengon sedangkan venir silang terbuat dari kayu tusam.107.0 dan 12.Sulastiningsih. keteguhan rekat dan delaminasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari alternative pemanfaatan limbah dari pabrik minyak kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian menjadi arang aktif yang dapat memberikan nilai tambah. daya serap benzena 28. 750 dan 850 C.42 g/cm3.50%.5 dan 7.I. 2. kadar karbon terikat 79. Kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang aktif yang dibuat dari bahan baku serbuk kayu gergajian campuran pada suhu 850°C dengan konsentrasi H3P04 12. kadar abu 5. Halaman 145 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Djeni PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DAN SERBUK KAYU GERGAJIAN CAMPURAN (The Manufacture of Activated Charcoal from Oil Palm Shells and Mixture of Wood Sawdust) / Djeni Hendra. Pengujian keteguhan lentur papan blok dilakukan menurut Standar Jerman (DIN) sedangkan pengujian pengembangan dimensi papan blok lilakukan menurut Standar Amerika (ASTM). kadar zat mudah menguap 11. Tebal bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan lebar papan blok tetapi tidak berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan panjang papan blok. Angka daya serap benzena dan yodium ini memenuhi Standar Indonesia dan Jepang. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retort dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 650. kadar air 5. M. No.43% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1. Halaman 117 . No. daya serap terhadap benzena 26. Sedangkan arang aktif yang dibuat dari bahan baku tempurung kelapa sawit pada suhu 6500C dengan konsentrasi H3P04 7. benzena. SIFAT PAPAN BLOK SENGON DENGAN VENIR SILANG KAYU TUSAM (The Properties of Sengon Blockboard with Cross Core Layer from Tusam Wood) / M.5 cm) dan 3 macam lebar ( 0.Hendra. -.132 . Sebagai bahan pengaktif digunakan larutan H3P04 dengan konsentrasi masing-masing 7.I.2 .6% pada arah tegak lurus serat. Tebal venir luar 2 mm sedangkan tebal venir silang 3 mm. Iskandar.5%. kadar abu 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rata-rata papan blok adalah 12% sedangkan kerapatan rata-rata papan blok adalah 0.24. -.M. 2006 Papan perekat urea formaldehida.23% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1.30%.24.43 tng/g.6 cm). kadar zat mudah menguap 11. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran bilah inti terhadap sifat papan blok sengon dengan venir silang kayu tusam.74%.2 . Keteguhan lentur sejajar serat papan blok sengon yang dibuat dengan menggunakan venir silang kayu tusam semuanya memenuhi persyaratan Standar Jerman (DIN). Ukuran bilah inti terdiri dari dua macam ketebalan (1 dan 1. papan blok (Paraserianfhes falcataria) dan kayu tusan (Pinus merkusii) yang direkat dengan blok (5 lapis) sekala laboratorium dibuat dari kayu sengon 78 . venir silang. Kata kunci: Tempurung kelapa sawit. Penggunaan venir silang kayu tusam dalam pembuatan papan blok sengon meningkatkan keteguhan lentur sebesar 6. arang aktif. kadar air 7.86%.2% pada arah sejajar serat dan 18. kerapatan.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 63. Kata kunci: Sengon. Lebar bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan lebar papan blok. serbuk kayu gergajian campuran.30%.90%.44%. kadar karbon terikat 83.7. I.155 .10. Sifat papan blok diuji menurut Standar Indonesia (SNI) meliputi kadar air.27 mg/g.045. Keteguhan rekat papan blok yang diuji berdasarkan uji geser tarik dan uji delaminasi memenuhi persyaratan Standar Indonesia (SNI). tusam. Iskandar.04%.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 80%.

24. 2. Reaksi dilangsungkan pada suhu 70 –80oC selama 1 jam. didominasi di daerah Sumatera Selatan sekitar 176.218 . Untuk meningkatkan nilai tambah kayu mangium perlu peningkatan diversifikasi produknya antara lain untuk pembuatan venir indah sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah.Iskandar. rayap kayu kering. Kayu lapis. dengan lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. 2006 (Possible Application of Lignin-based Resin as a Chemical Agent to Prevent the attack of Dry Wood Termite (Cryptotermes cynocephalus Light. 3.4 . lingkaran tumbuhnya jelas oleh adanya parenkim pita tipis dan perbedaan ketebalan dinding selnya. Kayu ki bancet (Turpinia sphaerocarpa Hassk. -. Nisbah mol lignin: formalin =1:2. jari-jari 2 ukuran. Di industri pengolahan serpih kayu (chip) seperti PT Tanjung Enim Lestari bahan baku kayu mangium diolah menjadi serpih sebagai bahan baku pulp. Mutu kayu lapis yang dihasilkan pada umumnya dapat memenuhi persyaratan standar nasional Indonesia dan Jepang.)) / Jasni.I PEMANFAATAN KAYU MANGIUM UNTUK BAHAN KAYU LAPIS DAN KAYU LAPIS INDAH / M. Kelemahan kedua kayu tersebut mudah diserang organisme perusak kayu. Resin tersebut diaplikasikan pada kayu karet dan tusam. tusam Krisdianto ANATOMI DAN KUALITAS SERAT LIMA JENIS KAYU KURANG DIKENAL DARI LENGKONG. Dalam pemanfaatan kayu kurang dikenal diperlukan informasi struktur anatomi dan kualitas seratnya untuk keperluan pengenalan jenis dan pemanfaatannya.S. Halaman 201 . Kayu ki hantap {Sterculia oblongata R.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 117-130 .0% dan mampu meningkatkan kelas ketahanan kayu karet maupun tusam dari kelas IV (tanpa perlakuan) menjadi kelas II.) berwarna kuning keabu-abuan. dan difus berkelompok. Pembuluh kayu ki lubang bersusun dalam kelompok radial atau diagonal dan parenkim pita memanj ang yang kadang terputus. 4.4 . jari-jari 2 macam ukuran.615 ha.24 Kayu karet dan tusam banyak digunakan sebagai bahan mebel. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan untuk meningkatkan keawetannya.) formaldehida yang dibuat dari jenis lignin efektif dalam mencegah serangan rayap kayu kering pada kayu karet dan tusam tingkat kematian rayap kayu kering antara 62. Serat kelima jenis kayu termasuk dalam kelas kualitas I sebagai bahan baku pulp untuk kertas. ciri utama dari kelima jenis tersebut adalah: 1. No. ex Miq. Lingkaran tumbuh kayu ki bancet kurang jelas. SUKABUMI (Anatomy and Fiber Quality of Five Lesser Known Wood Species from Lengkong.100. lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. M.) berwarna coklat kemerahan dan termasuk dalarn kelompok kayu perdagangan bintangur.I.888. -.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Parenkim pita tebal membentuk corak garis-garis pudh pada produk kayunya. Kayu lapis indah Jasni PENGUJIAN RESIN BERBASIS LIGNIN SEBAGAI BAHAN PENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes cynocephalus Light.) berwarna kekuningan. Untuk keperluan identifikasi. karet. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan pencegah serangan rayap kayu kering menggunakan resin lignin formaldehida.Br. 5. No. 2006 Salah satu hutan tanaman industri yang telah berkembang adalah HTI mangium (Acacia mangium Willd. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin berbasis lignin 79 .) berwarna kuning cerah.3 . Kata kunci: Lignin formaldehida. Hasil penelitian menunjukan bahwa kayu mangium ternyata dapat dipergunakan sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah. agak lunak. jari-jari 2 ukuran.) berwarna kuning kepurihan dan agak keras. Kayu ki bulu (Gironniera subaequalis Planch. Kayu ki kuya (Ficus vasculosa Wall. Mangium.) Luas tanaman mangium sekitar 176. Pemanfaatan kayu mangium masih terbatas sebagai bahan baku pulp. Iskandar dan Suwandi Kliwon. pembuluhnya agak banyak dan berukuran agak kecil. Sukabumi) / Krisdianto. corak bergaris.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Kata kunci: Pemanfaatan kayu. Adi Santoso.24 Ha. Dalam penelitian ini resin dibuat dari 3 jenis lignin yang dihidroksimerilasi kemudian dikondensasi dengan larutan NaOH 50% dan formaldehida 37%. masing-masing mewakili kayu daun lebar dan kayu daun jarum yang selanjutnya ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering. Parenkim bentuk sayap. 2006 Sumber bahan baku alternarif untuk industri perkayuan nasional saat ini dan masa yang akan datang berasal dari hutan tanaman dan pemanfaatan jenis kayu kurang dikenal. Halaman 301-308 . Kayu ki lubang {Calophyllum grandiflorum JJ.

yaitu ikatan pembuluh dan jaringan parenkim dasar. dimensi serat Krisdianto PELENGKUNGAN DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN ROTAN / Krisdianto.84 um untuk kelapa dalam dan 23.24.) / Krisdianto. Kata kunci: Kelapa dalam. Berdasarkan persentase kayu terasnya kayu jati konvensional lebih baik parameter kualitas kayu yang lain juga harus diperhatikan seperti kualitas serat dan keawetan alaminya. lebih besar dari jari konvensional 20. pelengkungan. KALIMANTAN TIMUR (Heartwood Portion in Logs of 7 Years Old Fast Growing and Conventional Teak Taken from Penajam.5 . Batang kelapa mempunyai dua komponen utama. -. Salah satu parameter kualitas kayu jati dapat dilihat dari persentase kayu terasnya dalam batang. 2006 Pembuatan bentuk lengkung merupakan proses penting dalam industri mebel rotan. Penelitian ini bertujuan membandingkan persentase teras kayu jati super dan konvensional pada umur dan lokasi yang sama. Di dalam ikatan pembuluh terdapat pembuluh metaxylem. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bagian dalam lebih tipis dari bagian dekat kulitnya. Struktur anatomi batang kelapa dipelajari dari preparat sayatan. tengah dan pangkal. mutu. Secara umum. Berdasarkan SNI 01- 80 . Persentase kayu teras jati super rata-rata 39. Halaman 39-48 .Info Hasil Hutan : Vol.2 um untuk kelapa hibrida. Pada industri besar dan menengah jenis rotan manau lebih mudah dilengkungkan dari jenis lain. sedangkan dimensi serat diukur dari preparat maserasi. phloem dan ikatan serat. Panjang pembuluh metaxylem rata-rata 293 ± 2. Sedangkan kayu jati konvensional merupakan tanaman yang dikembangkan melalui perkecambahan biji. 2006 Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan kelapa hibrida berumur 19 tahun dipelajari untuk melengkapi data dan informasi struktur anatomi dan dimensi serat batang kelapa. dimensi serat batang kelapa bertambah panjang dari pangkal ke ujung pohon. Mutu hasil pelengkungan ditentukan tahap persiapan karena dalam tahap ini rotan harus dipilih bebas cacat dan bebas ruas.12 No.1 . No.11 um untuk kelapa hibrida. baik untuk keperluan fungsional maupun estetika. Mutu pelengkungan dengan mesin pada jenis yang sama tidak selalu lebih baik dari manual. Pelengkungan rotan selain manau pada industri menengah. mebel. Jati cepat tumbuh atau dikenal dengan nama dagang 'Jati super'. 2006 Kayu jati (Tectona grandis L. Halaman 1-14 .Kata kunci : Lima. terdapat yang menghasilkan mutu lebih baik. 'Jati unggul. Ketebalan dinding serat menunjukkan pola yang mirip dengan panjang serat. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh belum diketahui. yaitu persiapan dan pelengkungan. Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan hibrida tidak memiliki perbedaan yang nyata. anatomi.3%. Untuk meningkatkan mutu pelengkungan mungkin perlu diterapkan metode plastisasi alternatif sehingga kerjasama dengan instansi penelitian diperlukan. -. Sedangkan noktah pada dinding metaxylem berukuran 23.f. manau Krisdianto PERBANDINGAN PERSENTASE VOLUME TERAS KAYU JATI CEPAT TUMBUH DAN KONVENSIONAL UMUR 7 TAHUN ASAL PENAJAM. serat Krisdianto ANATOMI DAN DIMENSI SERAT BATANG KELAPA DALAM DAN HIBRIDA (Cocos nucifera L.6%. kayu. East Kalimantan) / Krisdianto & Ginuk Sumarni. kayu teras telah terbentuk pada seluruh lempengan kayu jati super maupun konvensional dari bagian ujung. -. anatomi. Ini diduga akibat operatornya lebih terampil. Hampir semua potongan rotan besar perlu dilengkungkan dalam proses pembuatan barang jadi. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bertambah panjang dari bagian tengah ke arah kulitnya. Tulisan ini bertujuan mempelajari proses dan mutu pelengkungan rotan dalam industri mebel.12 No.) telah dikenal sebagai bahan baku mebel dan konstruksi dengan kualitas tinggi. hibrida. protoxylem. 'Jati prima' atau 'Jati emas' merupakan tanaman jati yang dikembangkan melalui kultur jaringan dan bertujuan menambah pasokan bahan baku kayu jati.Info Hasil Hutan : Vol.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Jasni. Halaman 385 – 394. Kata kunci: Rotan.3 um untuk kelapa dalam dan 296 ± 3.1 . yaitu bagian pangkal batang lebih tebal dari bagian ujung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 7 tahun.9 ± 1. Proses pelengkungan melalui dua tahap.85 ± 2. idcnrinkasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi bahan baku berupa limbah penebangan dan industri penggergajian kayu dan batang kelapa banyak tersedia. menyebabkan mortalitas rayap lebih dari 80% pada perlakuan rayap terinfeksi dengan konsentrasi 50%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase mortalitas rayap cenderung meningkat setelah inkubasi dibandingkan dengan sebelum inkubasi. Propinsi Banten merupakan tujuan wisata penting di Indonesia. Neo Endra EFEKTIFITAS PENULARAN Metarhizium SERANGGA Lelana.5 gram per liter nira.1 . mortalitas rayap 81 . semakin panjang umur nira semakin rendah produksi nata. Isolat dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor (BGR). Kata kunci: Jati. penularan spora.64%.] .144 .. Isolat dari Bogor tampaknya paling efektif untuk ditularkan oleh rayap pekerja ke dalam koloninya. Umur nira dan penggunaan bahan suplemen pupuk ZA berpengaruh nyata terhadap rendemen produksi nata pinnata. A.24. diinkubasi dalam ruang gelap dan lembab pada suhu kamar selama 14 hari. sementara semakin tinggi dosis penggunaan pupuk ZA semakin tinggi rendemen nata. 2006 Kawasan Carita. Efektivitas penularan oleh kasta rayap pekerja Coptotermes curvignathus yang telah terinfeksi spora jamur dari 6 isolat yang dikumpulkan dari berbagai lokasi di Jawa dievaluasi.[et.22 %) diperoleh dari pengolahan yang menggunakan nira aren umur 6 jam dengan penambahan suplemen pupuk ZA sebanyak 2. Coptotermes curvignathus) / Neo BEBERAPA ISOLAT JAMUR PATOGEN Endra Lelana . Salah satu faktor pendukung pariwisata adalah cinderamata dengan bahan baku limbah penebangan dan industri baik kayu maupun kayu kelapa. Beberapa kelompok rayap yang terdiri dari campuran rayap pekerja yang terinfeksi spora dan yang sehat dimasukkan dalam botol kultur berisi media pasir steril yang lembab. M.1-2003. -. Neo Endra POTENSI BAHAN BAKU KAYU DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN INDUSTRI CINDERAMATA DI CARITA / Neo Endra Lelana. -. Data potensinya belum diketahui secara baik sehingga perlu dilakukan penelitian. anisopliae.). Kandungan nutrisi nata pinnata yang diolah dari nira aren (kadar air.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.12 No. protein.42% atau rata-rata-rata 55.5007.225 . Halaman 133 . konvensional. serat anisopliae OLEH RAYAP PEKERJA Coptotermes curvignathus (Effectiveness of Transmission of Some Isolates of Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae by Subterranean Termite Workers. Nata adalah sejenis makanan ringan yang menyerupai jelly yang biasanya diolah dari air kelapa. C.I. Rendemen produksi nata pinnata yang tinggi (94. -. batang kayu jati pada umur 7 tahun dapat masuk dalam kriteria kayu bulat kecil (KBK. 2006 Jamur patogen serangga Metarhizium anisopliae diketahui bersifat patogen terhadap banyak serangga termasuk rayap. Kabupaten Pandeglang. Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM)p dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Semarang (SMG) menunjukkan efektivitas penularan yang tinggi.2 .Info Hasil Hutan : Vol. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur nira dan penambahan pupuk ZA pada nira aren yang diolah untuk menghasilkan nata pinnata. vitamin. Selain itu industri cinderamata di sekitar Carita yang sudah berkembang juga dapat mendukungnya. No. Kata kunci: Jamur patogen serangga. industri penggergajian dan potensi bahan baku. Data dikumpulkan dari industri penggergajian dan kerajinan serta instansi maupun masyarakat terkait. Jasni. No.83% sampai 82. Penularan terjadi melalui penyebaran spora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nira aren yang diolah untuk memproduksi nata pinnata menghasilkan rendemen antara 23. Agus Ismanto.al. curvignathus. super. Kata kunci: Bahan baku. persentase. cinderamata. Data yang dikumpulkan berupa jumlah industri cinderamata.24. teras Lelana.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.. limbah industri dan pembalakan Lempang.3 . Halaman 219 . Mody RENDEMEN DAN KANDUNGAN NUTRISI NATA PINNATA YANG DIOLAH DARI NIRA AREN (Recovery and Nutrition Content of Nata Pinnata Processed from Aren Sap) / Mody Lempang. Halaman 33-38 .

kasar, lemak, abu, kalsium dan posfor) berbeda dengan kandungan nutrisi nata decoco yang diolah dari air kelapa, nira kelapa maupun kolang-kaling. Kata kunci: Nira aren, nata pinnata, rendemen, kandungan nutrisi Lempang, Mody STRUKTUR ANATOMI, SIFAT FISIK DAN MEKANIK KAYU PALASO (Aglaia sp) (Anatomical Structure, Physical and Mechanical Properties of Aglaia sp) / Mody Lempang; Muhammad Asdar. Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.2 ; Halaman 171 - 181 , 2006 Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi struktur anatomi, sifat fisik dan sifat mekanik kayu palado (Aglaia sp.) yang diambil dari hutan produksi alam di Kalukku kabupaten Mamuju, Propinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa palado memiliki kayu gubal berwarna putih sampai krem dan teras berwarna coklat muda sampai coklat kelabu; serat lurus, tekstur agak halus, pori sedikit (3 per.mm²) berbentuk lonjong dan tersebar tata baur; perforasi tipe sederhana; jari-jari luar biasa pendek, sempit dan jarang (tinggi 327 μm; lebar 25,52 μm dan frekuensi 5 per mm², parenkim tersebar atau baur. Panjang serat 1132 μm dan diameter serat 25,61 μm; diameter lumen 17,39 μm; dan tebal dinding 1,64 μm. Kadar air kering udara 15,85%; berat jenis kering udara 0,48 dan berat jenis kering tanur (kerapatan) 0,53; penyusutan kering udara ke kering tanur 2,71% (Radial) dan 4,67% (Tangensial); keteguhan lentur pada batas patah 612,72 kg/cm2 dan keteguhan tekan sejajar serat 402,28 kg/cm2 . Kata kunci : Kayu, sifat, anatomi, fisik, mekanik, Palado Lestari, Setyani B DIMENSI SERAT EMPAT JENIS BAMBU DARI JAWA TIMUR / Setyani B. Lestari & Yoswita. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 109114 , 2006 Tulisan ini menginformasikan nilai dimensi serat beserta nilai turunannya dari empat jenis bambu yang berasal dari Jawa Timur, yaitu bambu ampel (Bambusa vulgaris Schat), bambu petung (Dendrocalamus asper Bck), bambu apus (Gigantochloa apus Kurz) dan bambu jajang ulet (Gigantochloa apus kurz

forma). Bambu yang diteliti memiliki panjang serat antara 2600 sel berkisar antara 1,0 – 2,0 mikron, diameter lumen memiliki nilai antara 13-16,8 mikron. Berdasarkan nilai turunan dimeni serat, empat jenis bambu yang diteliti menunjukkan nilai karakteristik yang baik sebagai bahan baku pulp dan kertas. Kata kunci: Bambu, dimensi serat, nilai turunan Malik, Jamaludin TEKNOLOGI PEMADATAN MELALUI PENGEMPAAN DENGAN PERLAKUAN PENDAHULUAN PENGUKUSAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS KAYU / Jamaludin Malik. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.1 ; Halaman 49-58 , 2006 Jenis-jenis kayu inferior yang memiliki sifat tidak kuat dan tidak stabil dapat disempurnakan melalui teknologi pemadatan sehingga pemanfaatannya meluas. Teknologi ini sudah lama dikembangkan dengan berbagai metode. Salah satu metode pemadatan yang dianggap memiliki kelebihan adalah melalui pengempaan dengan perlakuan pendahuluan pengukusan. Proses utama metode ini adalah pengukusan, pengempaan dan pengkleman. Sifat dasar kayu yang mengalami peningkatan adalah kerapatan, keteguhan lentur stads (MOE & MOR), kekerasan, keteguhan tarik dan pukul, serta stabilitas dimensi. Peningkatannya dapat mencapai > 90%. Kayu yang dipadatkan dapat dimanfaatkan lebih luas, seperti untuk tiang bangunan, dinding, pegangan tangga, lantai, mebel, bingkai, pemintal tenun, kumparan, pegangan alat, baling-baling dan plat sambungan yang memerlukan kekuatan gesek tinggi. Kata kunci: Pemadatan, peningkatan kualitas, pemanfaatan Malik, Jamaludin PENGOLAHAN KAYU DIAMETER KECIL UNTUK KAYU LAMINA DAN KOMPONEN MEBEL / Jamaludin Malik, Abdurachman dan Achmad Supriadi. -- Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 153-163 , 2006 Produksi alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk yang diolah dari kayu diameter kecil adalah kayu lamina dan komponen mebel. Penelitian pembuatan produk tersebut telah dilakukan terhadap beberapa jenis

82

kayu yaitu tusam (Pinus merkusii) damar (Agathis sp.), gmelina (Gmelina arborea), bengkel (Nauclea sp), pisang-pisang (Alponsea teysmanii Boerl), dan jambu jambu (Eugenia spp.) dari bagian cabang. Sedangkan kayu lamina bentangan besar dibuat dari bagian batang utama kayu mangium (Acacia mangium Wild.) dan sengon (Paraserianthes falcataria) berdiameter kecil. Hasil penelitian penunjukan bahwa produk kayu lamina dan kayu lamina untuk bentangan besar yang dibuat dari kayu diameter kecil sengon dan mangium memenuhi syarat standar (SNI 2000, JAS 1996 dan JAS 2003). Komponen mebel dapat memenuhi standar pabrik. Kata kunci: Pengolahan kayu, kayu diameter kecil, kayu lamina, mebel

Mandang, Y.I DIGITALISASI BASIS DATA XYLARIUM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN BOGOR / Yance I. Mandang . -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 75-85 , 2006 Xylarium Bogoriense Pusat Litbang Hasil Hutan di Bogor menyimpan hampir 40.000 contoh kayu yang dikumpulkan dari seluruh kepulauan Indonesia. Semua contoh kayu dicatat dalam buku register dan setiap contoh memiliki keterangan yang meliputi nomor contoh kayu, nomor herbarium, nama setempat, suku, nama ilmiah, sinonim, asal contoh kayu, kolektor dan tanggal dikoleksi. Catatan tersebut ditulis tangan sejak tahun 1915 dalam 12 jilid buku. Masalahnya hampir semua buku register sudah lapuk dan datanya terancam musnah. Oleh karena itu perlu dicarikan cara untuk menyelamatkan data tersebut sekaligus disusun kembali dalam bentuk mutakhir. Dalam makalah ini disajikan pengalaman merenovasi sistem informasi xylarium dengan memanfaatkan perkembangan terakhir dalam bidang teknologi informasi. Untuk keperluan identifikasi kayu, deskripsi anatomi kayu dari berbagai sumber ditransformasikan ke dalam kode IAWA (International Association of Wood Anatomist) lalu diketik dalam format MS Access. Basis data koleksi dan basis data ciri kayu ini kemudian diimpor ke dalam MS SQL Server pada komputer server yang sudah disiapkan. Penelusuran informasi dan identifikasi kayu dilakukan dengan menuliskan query dalam bentuk pernyataan-pernyataan SQL lalu dieksekusi. Beberapa contoh proses penelusuran informasi dan identifikasi kayu disajikan. Waktu yang diperlukan untuk penelusuran informasi dan identifikasi kayu sangat singkat dibanding dengan cara lama. Kata kunci: Xylarium, Sistem informasi Misdarti KUALITAS BAMBU LAMINASI ASAL KABUPATEN TORAJA, SULAWESI SELATAN (Qualities of Laminated Bamboo of Toraja Regency, South Sulawesi) / Misdarti. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 183 - 189 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis bambu dan macam perekat poly vinyl acetate (PVAc) terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi. Jenis bambu yang digunakan adalah hitam dan parring. Sedangkan macam perekat PVAc yang digunakan adalah fox, tiger dan epoxy. Bambu

Malik, Jamaludin PENGARUH PEMADATAN TERHADAP LAJU PENURUNAN KADAR AIR KAYU RANDU ALAS (Gossampinus malabarica Alst.) / Jamaludin Malik & Andianto. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 143-147 , 2006 Pemadatan kayu randu alas (Gossampinus malabarica Alst) merubah struktur anatomis dan sifat fisis sehingga memberi peluang untuk dimanfaatkan sebagai perkakas. Perubahan kedua sifat ini merubah sifat pengeringan kayu yang dipadatkan. Penelitian sifat pengeringan kayu yang dipadatkan perlu dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal kayu yang dipadatkan 54%, lebih rendah 10,5% dari kayu yang tidak dipadatkan. Pengeringan kayu yang dipadatkan dan tidak dipadatkan selama sembilan hari masing-masing mencapai kadar air 15,9% dan 15%. Penurunan kadar airnya menunjukkan perbedaan nyata. Hubungan kadar air (Y) dan waktu pengeringan (X) pada kayu yang tidak dipadatkan mengikuti persamaan Y = 64,640 – 9,296x + 0,421x2 , dengan R2 = 0,999. Pada kayu yang dipadatkan mengikuti persamaan Y = 53,440 – 7,926x + 0,428x2 , dengan R2 = 0,999. Kata kunci: Randu alas, pemadatan, kadar air kayu, pengeringan

83

laminasi dibuat dengan menggunakan bambu kering udara dengan ukuran 51 x 2,5 x 0,5 cm. Kemudian sampel bambu dilaburi perekat secara merata pada salah satu sisi dengan berat labur 200 gr/m . Selanjutnya sampel bambu dari jenis yang sama direkat satu sama lain kemudian dikempa pada suhu ruangan dengan menggunakan klem selama 12 jam. Bambu lamina kemudian dikondisikan pada suhu ruangan selama 1 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan macam perekat berpengaruh tidak nyata terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi yang dibuat dari bilah bambu hitam dan bambu parring. Bambu laminasi dengan menggunakan lem epoxy cenderung memiliki nilai MOE dan keteguhan rekat yang lebih baik dibanding lem fox dan lem tiger. Efisiensi perekatan terbesar terjadi pada bambu laminasi parring dengan lem epoxy. Kata kunci : Bambu laminasi, macam perekat PVAc, sifat fisis dan mekanis Muslich, Mohammad KEAWETAN 25 JENIS KAYU DIPTEROCARPACEAE TERHADAP PENGGEREK KAYU DI LAUT (Durability of 25 Dipterocarpaceae Wood Species Against Marine Borers) / Muhammad Muslich; Ginuk Sumarni. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 191 - 200 , 2006 Dua puluh lima jenis kayu Dipterocarpaceae diuji sifat keawetannya terhadap serangan penggerek kayu di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm, direnteng dengan tali plastik, kemudian dipasang di perairan pulau Rambut dan diamati setelah 6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang keawetan 25 jenis kayu Dipterocarpaceae terhadap penggerek kayu di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 6 bulan, sebagian besar contoh uji mendapat serangan berat oleh famili Pholadidae dan Teredinidae. Lima dari 25 jenis kayu atau 20% tahan terhadap penggerek di laut. Giam durian (Cotylelobium flavum Pierre) dan balau laut [Shorea falcifera Dyer) termasuk dalam katagori sangat tahan, sedangkan giam tembaga (Cotylelobium melanoxylon Pierre), balau laut batu (Shorea elliptica Burck.), dan resak ayer (Vatica teysmanniana Burck.) termasuk dalam katagori tahan terhadap penggerek di laut. Kelima jenis kayu tersebut cocok untuk bangunan kelautan. Kata kunci: Keawetan, Dipterocarpaceae, penggerek di laut

Novrianto, Eka PENELAAHAN FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENETAPAN UKURAN SASARAN VENIR KAYU LAPIS (Assessing Factors That Affects the Determination of Targeted Veneer Size for Plywood) / Eka Novriyanto. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 371 - 384, 2006 Untuk mendapatkan konstruksi panel yang memiliki ukuran tebal yang diinginkan, maka diperlukan penetapan ukuran sasaran pada saat pengupasan vinir, Faktor-faktor penyusutan vinir, pengempaan panel, pengampelasan, dan penyusutan panel serta keragaman pengupasan total dapat mempengaruhi penetapan ukuran sasaran, Data yang dikumpulkan dalam percobaan ini adalah tebal vinir sesudah kupas 1,76 mm, penyusutan vinir 6,34%, pengaruh pengempaan 11,94%, pengaruh pengampelasan 0,44%, tebal vinir dalam panel 1,22 mm, rata-rata tebal panel akhir 28,02 mm, dan penyusutan panel 1,42%, Data-data tersebut selanjutnya diolah dengan formula yang diturunkan dari perubahan yang dialami vinir sampai menjadi panel oleh proses produksi, untuk mendapatkan ukuran sasaran pengupasan vinir kayu lapis konstruksi 19-lapis, Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ukuran sasaran pengupasan vinir adalah 1,870 ± 0,013 mm, Kata kunci : Kayu lapis, vinir, ukuran sasaran pengupasan vinir Nurhayati, Tjutju PRODUKSI DAN PEMANFAATAN ARANG DAN CUKA KAYU DARI SERBUK GERGAJI KAYU CAMPURAN (Production and Utilization of Charcoal and Wood Vinegar of Mixture Wood Sawdust) / Tjutju Nurhayati, Ridwan Ahmad Pasaribu & Dida Mulyadi. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 395 - 411, 2006 Penelitian produksi terpadu arang dan cuka kayu menggunakan serbuk gergaji kayu campuran asal hutan alam dan hutan tanaman dilakukan pada tungku sakuraba dan tungku blower. Arang serbuk dimanfaatkan untuk bahan baku produksi arang aktif dan cuka kayunya untuk budidaya tanaman padi. Hasilnya sebagai berikut ; Produksi terpadu arang dan cuka kayu ‘crude’dari serbuk gergaji kayu campuran hutan alam dan hutan tanaman pada tungku sakuraba masing-masing 292,68 kg/ton dan 232,24 kg/ton dan pada tungku blower 344,76 kg/ton dan 323,07 kg/ton. Rendemen arang dan cuka kayu ke dua jenis

84

arang aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang yang direndam asam fosfat 10%. alfa metil guaiakol.60%. struktur kimia. sedangkan untuk tinggi lapisan (Lc). -.400. para kreosol.20.0. leba aromatik 10.3% dan 22% (blower). Gustan KAJIAN STRUKTUR meningkatnya suhu karbonisasi. Spektrum FTIR dari arang lignin menunjukkan bahwa antara suhu 300-500 perubahan struktur kimia dari bahan baku secara nyata. sedangkan struktur eter dan dihasilkan aromatik makin berkembang. Halaman 9 . Proses pembuatan arang lignin dilakukan pada suhu 200. terdiri dari asam asetat. Analisis SEM menunjukkan bahwa jumlah dan diameter pori arang meningkat dengan naiknya suhu karbonisasi.72%. kadar air 8. Kata kunci : Serbuk gergaji kayu. -Dalam tulisan ini dikemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari kulit kayu Acacia mangium. Pada suhu 850°C arang yang mempunyai struktur aromatik yang permukaannya mempunyai gugus C-O-C. Untuk mengetahui perubahan struktur arang yang terjadi dilakukan analisis dengan menggunakan FTIR. Oleh karena itu produksi terpadu pada tungku blower lebih baik dari sakuraba. No.0 dan 15%. Ridwan A. tungku.39%.5% ini memberi petunjuk terhadap fungsinya sebagai pupuk dan merespon pertumbahan padi yang lebih baik.750 dan 850°C dalam suatu retort yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik. dengan lama waktu aktivasi 60 menit. Djeni Hendra. asetol.5% dengan hasil gabah kering giling yang sama yaitu 5.0. Bahan pengaktif yang digunakan adalah larutan asam fosfat (H3PO4) dengan konsentrasi 0.6% (sakuraba). jarak antar lapisan aromatik d(002) = 0.serbuk gergaji relatif sama pada masing-masing tungku yaitu 20. padi. kaku. No. lignin. cuka kayu.6 um.6% dan 14. keras dan struktur porinya makropori. Rendemen terpadunya pada tungku sakuraba 35.21 nm.46 .20%.2%) dan kadar zar mudah terbang (11. C=O dan C-H. Pari. Gustan PENGARUH LAMA WAKTU AKTIVASI DAN KONSENTRASI ASAM FOSFAT TERHADAP MUTU ARANG AKTIF KULIT KAYU ACACIA MANGIUM (The Influence of activation Time and Concentration of Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Cuka kayu ‘crude’ dari ke dua serbuk gergaji mengandung jenis komponen kimia yang sama pada kadar yang bervariasi.2% menunjukkan angka lebih rendah dari blower 41. 2006 Phosphoric Acid on the Quality of Activated Charcoal of Acacia mangium Bark) / Gustan Pari. difraksi. permukaannya bersifat polar.41 ton/ha. Kata kunci: Arang.9%) yang lebih rendah. dan kadar karbon tertambat (86. Arang ini mempunyai sifat keteraturan tertinggi. Sifat arang dari tungku blower lebih baik dari sakuraba ditunjukan oleh kadar abu (2. 5.500.300. kadar zat terbang 8. sikloheksana. Halaman 33 . Penggunaan cuka kayu distilat 2. Pemanfaatan cuka kayu distilasi 2. fenol.67. Produksi arang aktif dengan mutu baik ini diperoleh setelah tungku aktifasi diredam emisi panasnya dengan gelas wol.75 ton/ha. bahan organik 4.5% pada tanaman padi jenis ciherang dengan perlakuan penambahan pupuk NPK dapat menggantikan penggunaan bahan organik 2.21 nm dengan diameter port arang antara 12. arang. 2006 Tulisan ini membahas struktur arang dari lignin pada suhu karbonisasi yang berbeda. Produksi arang aktif memenuhi SNI pada parameter daya serap iod (857.al] .3%.96 nm. daya serap ARANG DARI LIGNIN (Study on Charcoal Structure of Lignin) / Gustan Pari [et. Kualitas arang yang baik diperoleh pada suhu karbonisasi 5000C menghasilkan derajat kristalinitas sebesar 33. 10. tinggi lapisan aromatik 3. dan C=C alifatik menurun dengan naiknya suhu.7%) yang lebih tinggi. furfural.10 ton /ha dan kontrol 3. kadar abu 26. derajat kristalinitas (X) dan jumlah lapisan aromatik (N) meningkat dengan makin naik karbonisasi. 19. metanol.21 ton/ha.35 nm i = 0. orto kreosol. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa jarak antar ruang lapisan aromarik (d) dan lebar lapisan (La) menurun dengan makin 85 . Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retor yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 750 C dengan lama waktu aktivasi 30.1 . Pari.70%. XRD dan SEM. 60 dan 90 menit. menghasilkan rendemen sebesar 98.7 mg/g) diperoleh dari perlakuan aktifasi perendaman asam fosfat 20% dan uap air pada suhu 695OC dan aktifasi dengan uap panas tanpa asam fosfat pada suhu 605OC (789. jumlah lapisan aromatik 8.1 .7 mg/).90 %. Ikatan OH.24. Pasaribu.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aktivasi dan konsentrasi bahan pengaktif terhadap hasil dan mutu arang aktif yang dihasilkan.24.650. kadar karbon terikat 64. Perlakuan tanpa pupuk NPK menghasilkan gabah kering giling paling tinggi pada cuka kayu yaitu 4.

Kata kunci: Acacia mangium. kapur.86%. kadar karbon terikat 52.75% dan kelarutan dalam NaOH 1% antara 9. Pari.10%. pentosan. kulit kayu.. salamander (Grevillia robusta A.0% untuk kadar abu. lignin. Sebelum dibuat arang aktif.4 . kapur. kapur.97% dan daya serap terhadap yodium sebesar 668. ki bawang (Melia excelsa). Gustan KOMPONEN KIMIA SEPULUH JENIS KAYU TANAMAN DARI JAWA BARAT (Chemical Component of Ten Planted Wood Species Originated from West Java) / Gustan Pari .53%. Jawa Barat.al. sengon buto (Entorolobium cyclo). Dalam penelitian ini digunakan larutan ((NH4)2C3 0.7%.2 – 0. Berdasarkan atas nilai skor dan hasil uji BNJ (Beda nyata jujur) komponen kimia 10 jenis kayu asal Jawa Barat (Tabel 3) ternyata hanya kayu ki sereh dan pulai kongo yang tidak cocok untuk bahan baku pulp kertas.71%. Pada proses aktivasi tersebut diperoleh rendemen arang aktif sebesar 72. Analisis ini merupakan dasar untuk menetapkan kegunaan kayu tersebut terutama sebagai bahan baku pulp kertas. suren (Toona sureni). kadar zat terbang 5.5 – 5..3%.2 – 6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif serbuk gergaji kayu yang terbaik adalah arang aktif yang direndam asam fosfat 5% pada suhu 900°C selama 30 menit. tusam dan ki lemo.4 – 6. alkohol benzena antara 1. pulai kongo (Alstonia kongoensis). Kadar lignin dan abu semua jenis kayu yang diteliti termasuk ke dalam kelas sedang. alkohol benzena dan kelarutan dalam NaOH 1%. lignin antara 26. suren. ki bawang. abu antara 0. Halaman 309-322 . salamander mahoni dan kayu ki lemo cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas dengan menggunakan proses kimia.cunn).23%. Arang aktif dari kulit kayu mangium ini hanya dapat digunakan untuk penjernihan air.5%. holoselulosa. tusam. No. terlebih dahulu serbuk gergaji kayu dibuat arang dengan menggunakan tungku semi kontinyu pada suhu 300 C..] . mahoni dan ki lemo. kapur (Dryobalanops aromatica). Proses aktivasi dilakukan di dalam retort yang terbuat dari besi tahan karat pada suhu 800.0 dan 10% selama 24 jam.9%..Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Kelarutan dalam air dingin antara 2. yodium.0 – 30.6 – 69. Analisis yang dilakukan mencakup penetapan kadar holoselulosa. sengon buto. -. -.terhadap yodium 513 mg/g dan daya serap terhadap benzena sebesar 16. pentosan.6 – 18%. 60 dan 90 menit.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. sengon buto. Jenis kayu tersebut adalah ki sereh (Cinnamomum parthenoxylon). Halaman 89 .9%. kimia. benzena 16. Arang yang dihasilkan selanjutnya direndam dalam larutan asam fosfat dengan konsentrasi 5.6%. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia 10 jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman di Jawa Barat.1 – 0.24 No. pentosan antara 15. Semua jenis kayu yang diteliti mengandung kadar holoselulosa yang tinggi lebih dari 65% yaitu kayu ki sereh. lignin.84%. tusam (Pinus merkusii Jungth).20% sebagai gas pengoksida.9%.24. sedangkan yang termasuk kelas rendah kurang dari 2% yaitu kayu sengon buto. ki bawang. air panas antara 3. dan yang termasuk ke dalam kelas tinggi lebih dari 4% yaitu kayu ki sereh dan pulai kongo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Pengaruh konsentrasi asam fosfat sebagai bahan pengaktif kimia. mahoni (Switenia macrophylla King) dan ki lemo (Litsea cubeba Pers). ki bawang.25%. 900°C dengan lama waktu aktivasi masing-masing 30. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergaji kayu dengan proses aktivasi kombinasi antara cara kimia dan fisika.[et al] .1 – 20. dan arang aktif yang dihasilkan mengandung kadar air 4. kadar abu 42. daya serap terhadap kloroform 24. Kata kunci : kayu.0 – 7. Nilai daya 86 .[et. silika antara 0. Gustan ARANG AKTIF SERBUK GERGAJI KAYU SEBAGAI BAHAN ADSORBEN PADA PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS (Activated Charcoal from Wood Sawdust as Adsorbent Material for Frying Oil Refinery) / Gustan Pari .2 . Kadar pentosan semua jenis kayu yang diteliti termasuk kelas rendah karena kadarnya kurang dari 21%. sedangkan ke delapan jenis kayu lainnya yang terdiri dari kayu suren. air panas. karena kadarnya ada di antara 18 – 33% untuk kadar lignin dan ada di antara 0.. dan semikimia. Sedangkan kadar zat ekstraktifnya terutama kelarutan dalam alkohol benzena yang termasuk kelas sedang antara 2 – 4% adalah kayu suren. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 64. kecuali kayu pulai kongo yaitu 64.101 . karbon terikat.3%. arang aktif. salamander. 2) Pengaruh suhu dan lama waktu aktivasi terhadap rnutu arang aktif dan 3) Pengaruh penambahan arang aktif terhadap mutu minyak goreng bekas. tusam. salamander dan mahoni. kelarutan dalam air dingin.63 mg/g. 850. abu. Pari.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2004 di Kecamatan Simanindo. Gustan PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN ARANG AKTIF SEBAGAI REDUKTOR EMISI FORMALDEHIDA KAYU LAPIS (Manufacturing and Application sedangkan emisi yang dihasilkan dengan penambahan arang aktif sebanyak 5% menjadi 15.96% dan daya serap terhadap formaldehida sebesar 26.17%. metilien biru 135. SUMATERA UTARA / Gunawan Pasaribu. Adi Santoso & Djeni Hendra. arang aktif . Sedangkan untuk kecerahan warna mengalami peningkatan dari 13.17% dan dari 18. Pulau Sumatera Utara.436.77%.24.98 menjadi 16. iodin. Kata kunci : Serbuk gergaji.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.12 No. Data sekunder dikumpulkan dari instansi-instansi pemerintah yang berada di lingkungan Pemda Samosir dan Pemda Tobasa.87 menjadi 10. kadar air 4. -.0 mg/g. Kabupaten Samusir. Halaman 97-107 . kloroform 28.33%.27% menjadi 0.5 .2 . -. 2006 Telah dilakukan penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergajian kayu Acacia mangium Willd. Arang aktif yang dihasilkan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida pada perekat kayu lapis.48 ppm Pasaribu. produksi pulp rayon dan papan isolasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah serbuk gergajian kayu mangium untuk dibuat arang aktif dan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida dalam perekat kayu lapis. serbuk gergaji diarangkan dalam pada suhu 500oC. produksi komponen mebel dan kayu lamina. arang aktif. Gunawan PROFIL KERAJINAN UKIRAN KAYU DI PUIAU SAMOSIR. fisika dan kombinasinya di dalam tungku baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik. asam lemak bebas Pari.96 meq 02/kg. kadar zat terbang 5.21%. Kata kunci : Arang aktif. Teknologi yang layak secara finansial untuk pengembagan industri kecil adalah teknologi produksi karton menggunakan bahan baku pulp dari limbah sebetan kayu gergajian dan jamur tiram menggunakan media limbah serbuk gergajian kayu. Kata kunci: pemanfaatan limbah. mangium. mulai dari penyediaan bahan baku. produksi arang briket. Arang yang dihasilkan diaktivasi secara kimia. 2006 Teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri kayu dari hasil penelitian yang dilakukan secara bertahap meliputi teknologi isolasi dan perbanyakan fungsi pelapuk putih. Kualitas minyak goreng bekas menjadi lebih baik setelah ditambahkan dengan arang aktif sebanyak 2. daya serap terhadap yodium sebesar 960.Info Hasil Hutan : Vol. kayu lapis. Sebelum dibuat arang aktif. 87 .serap ini memenuhi syarat Standar Amerika dan arang aktif yang dihasilkan permukaannya lebih bersifat polar sehingga dapat digunakan untuk menyerap polutan yang juga bersifat polar seperti aldehida. Mutu minyak goreng ini terutama asam lemak bebas dan bilangan perokisda memenuhi syarat minyak goreng yang ditetapkan SNI. kadar abu 8.2 mg/g. Pencampuran arang aktif pada perekat kayu lapis mampu menurunkan emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. benzena 14. Ridwan A. dan papan serat. TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK INDUSTRI SKALA KECIL / Ridwan A.5% yang ditunjukkan dengan menurunnya kandungan asam lemak bebas dan bilangan peroksida masing-masing dari 0. No.88%. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap para pengrajin ukiran kayu dengan menggunakan kuisioner. -. Industri skala kecil of Activated Charcoal as Reductor of Plywood Formaldehyde Emission) / Gustan Pari. emisi formaldehida Pasaribu.02%. Terbukti hasil uji emisi kayu lapis yang tanpa penambahan arang aktif sebesar 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif yang terbaik diperoleh dari serbuk gergajian kayu mangium yang diaktivasi dengan cara kombinasi oksidasi gas dan kimia dengan rendemen sebesar 53%. kadar karbon terikat 83.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 145-151 . Secara teknis. Pasaribu dan Tjutju Nurhayati. minyak goreng.36 ppm dengan tanpa mempengaruhi keteguhan rekat kayu lapis. serbuk gergaji kayu.59%. produk karton. produksi dan pemasaran belum ditangani secara baik oleh pengrajin. Halaman 425 . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profit teknis dan kelembagaan industri kerajinan ukiran kayu di Pulau Samosir.

Pulp dengan rendemen pulp tersaring tinggi dengan persentase reject rendah berindikasi tingkat degradasi fraksi karbohidrat rendah dan tidak undercooked. Sedangkan suhu maksium pemasakan bervariasi (170oC dan 175oC).5 persen. Tanaman berkayu lainnya yang dapat diandalkan untuk memasok industri perkayuan adalah bambu. -. Sifat fisik/kekuatan lembaran pulp dipengaruhi secara positif oleh perbandingan S/V dan secara negatif oleh berat jenis kayu. modifikasi kayu dan pembuatan produk majemuk. gmelina.Dari pengujian beberapa produk setengah jadi. Halaman 275-299 . dan sebaliknya. 88 . Osly DIVERSIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU / Osly Rachman.5212). kurang awet. bahan penolong dan teknologi serta pasar dalam negeri perlu mendapat perhatian dan ditangani lebih serius oleh instansi terkait. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan tanaman berkayu dari areal perkebunan yang jumlahnya sangat besar. 60.5972). Agar tetap survive dunia perkayuan harus berupaya melakukan diversifikasi bahan baku kayu tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan. dan juga kaitannya dengan sifat pengolahan pulp dan sifat fisik/kekuatan pulp. Noor Rahmawati. Produk kayu yang dapat dibuat dari kayu asal hutan tanaman dan tanaman perkebunan selain kayu gergajian. glulam. Kata kunci: Diservasi. dari pada oleh berat jenis kayu (R2 = 0. yang dilakukan masih ditemukan produk dengan nilai kadar air produk yang masih tinggi yaitu sekitar 50%. bahan baku. Pada kenyataannya tanaman tersebut tidak hanya mampu menghasilkan produk kayu bernilai tinggi tetapi juga ramah lingkungan. Han EXPLICABILITY OF THE H-FACTOR TO ACCOUNT FOR THE DELIGNIFICATION EXTENT AND PROPERTIES OF PLANTATION FOREST WOOD PULP IN THE KRAFT COOKING PROCESS (Penerapan Hutan : Vol. randu.Jurnal Penelitian Hasil Semakin terbatasnya sumber serat kayu di Indonesia dan anjuran mengurangi ketergantungannya dari hutan produksi alam untuk industri pulp dan kertas menyebabkan kekhawatiran serius. Tingkat delignifikasi selama pemasakan hingga selesai ditelaah dengan faktor H. Percobaan pengolahan pulp sulfat/kraft secara individu terhadap empat jenis kayu HTI (sengon. 2006 Faktor-H Untuk Menelaah tingkat Delignifikasi dan Sifat Pulp empat Jenis Kayu Hutan Tanaman Industri pada Proses Pengolahan Kimia Sulfat) / Han Roliadi. dan Jamal Balfas. seperti papan dan bilah sambung. kayu lapis dan kayu lapis indah. seperti diameter kecil.4 . sehingga dapat mengganggu sifat dari produk akhir yang dihasilkan. Tingkat delignifikasi lebih dipengaruhi oleh perbandingan banyaknya inti siringil dengan inti vanilin (S/V) dalam lignin (R2 = 0. sulfiditas 22. 2006 Salah satu faktor yang menyebabkan terpuruknya industri pengolahan kayu di tanah air saat ini adalah ketidakseimbangan antara pasokan bahan baku kayu yang lestari dan kebutuhan kayu untuk mencukupi kapasitas industri kayu. Kata kunci: Ukiran kayu. Sedangkan dari bambu selain produk konvensional seperti barang kerajinan dapat pula dihasilkan papan bambu lamina dan bambu lapis.24 No. dan positif dengan rendemen pulp tersaring. dan ternyata menghasilkan lembaran pulp/kertas dengan sifat kekuatan tinggi. stabilitas dimensi. Namun dengan teknologi perekatan. meranti. masing-masing dipertahankan dalam 4 taraf waktu (0. papan partikel. stabilitas dimensi dan kekuatan rendah. dan kayu hutan tanaman. Baik kayu yang berasal dari tanaman perkebunan maupun kayu hutan tanaman umumnya mempunyai sifat inferior. kelapa. dan perbandingan kayu dengan larutan pemasak 1:4. bahan baku. kelembagaan Rachman. Proses pengukiran kayu sampai penyelesaian akhir masih menggunakan cara sederhana tanpa bantuan alat mekanis yang lebih cangkih. meranti kuning. yaitu: Kayu karet. -. sawit. venir lamina. industri. Satu usaha mengatasinya adalah pembangunan hutan tanaman industri (HTI) sebagai pemasok serat kayu. bahan baku. hingga kapur. Tingkat delignifikasi tertinggi hingga terendah terjadi pada jenis kayu gmelina. 30.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 99-116 . Dalam kelembagaan. dan 90 menit). sengon. Nurwati Hadjib. dihasilkan pula produk olahan. sifat-sifat tersebut dapat diatasi. Produk kayu yang dihasilkan umumnya memenuhi standar industri yang disyaratkan. Perbedaaan jenis kayu HTI bisa mempengaruhi sifat pengolahan dan mutu hasil pulp/kertas tersebut. Tingkat tersebut berkorelasi negatif dengan rendemen pulp total dan persentase pulp reject. Dalam pemanfaatan bambu dan kayu dari perkebunan permasalahan kelembagaan dan kebijakan. pengolahan kayu Roliadi. densifikasi. hanya terdapat beberapa kelompok pengrajin yang aktif dan koperasi yang ada tidak banyak membantu usaha kerajinan kayu. dan kapur) dilakukan pada kondisi tetap pemasakan: alkali aktif 16 persen.

Kata kunci: Kayu hutan tanaman. tapioka 4%. berat jenis. Sampai saat ini kulit pohon mangium sebagian besar ditinggalkan di hutan atau di sekitar pabrik sebagai limbah. masing-masing dengan penambahan bahan aditif (kaolin 5%. Sifat fisik karton asal pulp TKKS 100% dan asal campurannya dengan sludge industri kertas (50% : 50%) lebih tinggi dari pada karton produksi industri rakyat (dari campuran kertas bekas 50% dan sludge 50%.17. Rata-rata rendemen pulp TKKS yang diperoleh 60. Ridwan Industri karton skala kecil saat ini mengalami kesulitan kontinuitas pasokan bahan baku (khususnya pulp dan kertas bekas). Han PEMBUATAN DAN KUALITAS KARTON DARI CAMPURAN PULP TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN SLUDGE INDUSTRI KERTAS Santoso. dan rosin size 2%). karton.81%. -. nilai banding serpih TKKS dengan larutan pemasak 1:5. 2006 Pemanfaatan kulit pohon mangium (Acacia mangium Wild) sebagai sumber tanin untuk bahan perekat di Indonesia pada masa mendatang diperkirakan semakin berkembang berkenaan dengan pemanfaatan limbah kulit kayu tersebut dalam upaya optimalisasi hasil hutan khususnya non kayu dari hutan tanaman. tetapi tanpa bahan aditif). Data potensi hutan rakyat.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. hal yang paling penting untuk diperbaiki adalah seimbangnya antara potensi aktual hasil hutan dengan kapasitas hasil industri hasil hutan yang ada. Adi KULIT MANGIUM SEBAGAI SUMBER TANIN UNTUK PEREKAT / Adi Santoso. Perekat tanin ini bisa diaplikasikan guna memproduksi berbagai jenis produk perekat yang ramah lingkungan seperti kayu lapis.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 19-26 .4 . bambu lamina dan papan partikel komposit dengan kualitas eksterior yang setara dengan perekat jenis fenol-dan resorsinol formaldehide Kata kunci: Kulit mangium. dan waktu pemasakan 2 jam pada suhu maksimum 120oC dan tekanan 1. balok lamina. pulp. -. Rangkuman dari beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kulit mangium sangat potensial sebagai sumber tanin untuk bahan baku perekat. 2006 (Manufacture and Qualities of Paperboard from the Mixture of Empty Oil-Palm Bunches Pulp and Paper-Mill Sludge)/ Han Roliadi. dan dari pulp TKKS 100%. Kapasitas izin IKPH tahun A.17%. 2006 Dalam rangka program restrukturisasi kehutanan. alum 2%. Hal ini mengisyaratkan prospek penggunaan pulp TKKS yang dicampur dengan sludge. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa rendemen kulit mangium berkisar 5-12 persen. Dalam upaya mengurangi kebergantungan terhadap perekat impor dan memenuhi kebutuhan perekat dalam negeri dengan bahan baku yang berasal bukan dari minyak bumi.24 No. Tanin. dan konsumsi alkali 9.5. bilangan kappa 38. industri karton rakyat 89 . TKKS sesudah dijadikan serpih. Halaman 323-337 . Kata kunci: Tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Prakiraan potensi kayu pada hutan alam. sebagai bahan baku altermatif/pengganti pada industri karton yang menggunakan kertas bekas. Makalah ini menyajikan data untuk menjawab permasalahan tersebut. tingkat delignifikasi. sehingga berindikasi pemanfaatannya sebagai bahan baku industri karton. Kulit tersebut bila diekstrak dengan air 1:3 bisa menghasilkan ekstrak tanin cair sebanyak 8 kali bobot kulitnya. -.2 – 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah mengembangkan perekat berkualitas WBP (Weather Boiling Proof) yang terbuat dari tanin yang berasal dari kulit pohon mangium. diolah menjadi pulp menggunakan proses semikimia soda panas tertutup pada ketel pemasak skala semi-pilot hasil rekayasa Pusat Litbang Hasil Hutan (Bogor) pada kondisi pemasakan: konsentrasi alkali (NaOH) 10%. Limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan serat berligno selulosa berlimpah jumlahnya dan belum banyak dimanfaatkan. perbandingan S/V Roliadi. Perekat Satyawardana PETA POTENSI AKTUAL HASIL HUTAN INDONESIA SEBAGAI PENGHARA INDUSTRI KEHUTANAN / Satyawardana. Lembaran karton dibentuk dari campuran pulp TKKS 50% dan sludge industri kertas 50%. faktor H.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 165-175 . yaitu isinya meliputi: Luas penutupan lahan Indonesia (2003). Data produksi kayu dari hutan tanaman.5 atmosfir. Pasaribu.

Suhartana. briket yang dibuat dari tempurung biji jarak pagar (100%) lebih tinggi di dalam kerapatan dan keteguhan tekan. tetapi lebih rendah dalam kerapatan dan keteguhan tekan dari briket tempurung biji jarak pagar. Industri kehutanan Sudradjat. untuk kegiatan penebangan di hutan tanaman industri (HTI) telah menggunakan chainsaw. KALIMANTAN TIMUR (Efficiency of Chainsaw Utilization on Felling: A Case Study at PT Surya Hutani Jaya. Permasalahan umum stok produksi hasil hutan kayu dan non kayu. East Kalimantan) / Sona Suhartana. TEKNIK PEMBUATAN DAN SIFAT BRIKET ARANG DARI TEMPURUNG DAN KAYU TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L. Pencampuran dengan tempurung kelapa dapat meningkatkan karbon terikat dan nilai kalor briket dari tempurung biji jarak. Sudradjat. Jarak pagar. Dengan tujuan memberikan informasi yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. 75 dan 100%.) telah lama dikenal sebagai penghasil minyak untuk bahan bakar dan obat. 2005 Biji Jarak (Jatropha curcas Linn. kadar air.) (Technical Setiawan. karbon terikat dan nilai kalor dari briket dari kayu jarak (100%). nilai kalor. No. Di dalam makalah ini dikemukakan mengenai aspek yang berhubungan dengan tanaman. -. Oleh karena itu informasi mengenai penggunaan Chainsaw ditinjau dari jumlah kebutuhannya perlu disampaikan. Sifat yang tidak memenuhi standar adalah: kerapatan.24. sekali tanam dapat dipanen selama 35 tahun serta hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi produk yang dapat dijual. hutan tanaman. Sudradjat dan D. kadar abu dan nilai kalor (kecuali briket arang dari kayu jarak B 50/50). -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan : Halaman 207-219 . 2006 Dewasa ini. D. Prospek pengembangan tanaman ini sebagai tanaman energi sangat baik karena daya adaptasi terhadap jenis tanah dan iklim sangat besar. tetapi lebih rendah di dalam kadar air. Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian penggunaan chainsaw untuk menebang tanaman mangium dan gmelina dan hasil tersebut selanjutnya 90 . tanaman ini sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai energi alternatif khususnya di pedesaan sekaligus memperluas lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. Briket kayu jarak pagar (100%) sebaliknya lebih tinggi dalam kadar air. serta meningkatkan kerapatan dan keteguhan tekan briket dari kayu jarak pagar. zat terbang. Kata kunci: Biodesel.2004. briket arang.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 400 dan 600 kg/cm2. 2006 Sudradjat. cepat tumbuh dan berbuah. Pedesaan Process and Characteristics oof Charcoal Briquette From Jatropha Curcas (Jatropha curcas L. Yuniawati. maka minyak jarak mulai diteliti kembali pemanfaatannya untuk pembuatan biodesel. 50. Setiawan. R BIODESEL DARI TANAMAN JARAK PAGAR SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF UNTUK PEDESAAN / R. tetapi belum diketahui secara pasti jumlah chainsaw yang sebaiknya digunakan agar hasilnya efisien. yaitu dalam rangka meningkatkan kelayakan ekonomi pengusahaan minyak jarak pagar untuk biodisel.3 . dan hutan rakyat. kandungan minyak sangat tinggi. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. R. Halaman 227-240 . Energi alternatif. Oleh karena itu.24 No. Data Produksi Hasil Hutan Non Kayu tahun 2004. kualitas produk dan aspek kelayakan finansial dalam pengusahaannya.76 . serta komposisi campuran bahan baku (tempurung biji dan kayu jarak pagar) dengan tempurung kelapa 0. karbon terikat (kecuali briket arang dari tempurung biji jarak B 100/0). Prakiraan stok produksi kayu di hutan alam. 25. Perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian tekanan 200. Beberapa sifat fisiko-kimia briket arang telah memenuhi Standar Jepang yaitu: keteguhan tekan. karbon terikat dan nilai kalor. Dengan adanya krisis energy. teknologi.1 . Hasil hutan. dapat ditanam pada lahan yang sempit dalam bentuk pagar. kayu jarak pagar. Sona EFISIENSI PENGGUNAAN CHAINSAW PADA KEGIATAN PENEBANGAN: STUDI KASUS DI PT SURYA HUTANI JAYA. Han Roliadi..) Shell and Wood) / R. Jatropha curcas Linn. Kata kunci: Tempurung biji jarak. Halaman 63 . Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan limbah dari tanaman jarak pagar berupa tempurung biji dan kayu untuk briket arang. Hasil penelitian menunjukkan. Kata kunci: Peta potensi.

efisiensi dan upaya peningkatan efisiensi pemanenan kayu.144 m (rata-rata 0. -.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 65-77 . efisiensi.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. NPV = Rp 75.8 detik/rit (rata-rata 161.215. sistem kabel layang P3HH24. Sona PENINGKATAN PRODUKSI HASIL HUTAN MELALUI IMPLEMENTASI PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN / Sona Suhartana. dan biaya pengeluaran kayu adalah Rp 16. Peningkatan efisiensi pemanenan kayu di hutan alam maupun di hutan tanaman ditujukan agar pemanfaatan sumberdaya hutan optimal dan gangguan lingkungan minimal.0. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah membuat alat pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 yang dirancang untuk mengeluarkan kayu pada areal berbukit. Untuk meningkatkan produksi hasil hutan terutama kayu dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi pemanenan kayu melalui implementasi pemanenan hutan yang berwawasan lingkungan (PBL). Pemanenan hutan. 2006 Bukan langkah yang bijak bila hutan alam yang sekarang ini kondisinya carut marut dijadikan tumpuan utama pemasok bahan baku kayu untuk industri. danB/C Ratio =1. Kata kunci: Peningkatan produksi.24.2 . Produksi kayu dari hutan tanaman masih relatif sedikit. biaya Suhartana. Penggunaan chainsaw sesuai jumlah yang ada di lapangan akan mempersingkat pekerjaan. Sistem tebang habis dan dimensi kayu yang relatif kecil menuntut perlakuan khusus agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat 91 . yaitu 21 unit untuk penebangan mangium dan 5 unit untuk penebangan gmelina.39 tahun.665 . Dulsalam. Hutan tanaman yang sekarang ini disorot.0 .51. Pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 adalah layak secara ekonomi dengan Pay Back Periode = 1. 2006 Pengeluaran kayu di areal hutan tanaman yang berbukit-bukit dengan ukuran kayu relatif lebih kecil perlu mendapat perhatian khusus. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi teknis dan finansial penggunaan alat pengeluaran kayu tersebut. manjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dilakukan teknik pemanenan yang tepat.169 . Halaman 157 .8. No. Wawasan lingkungan Sukadaryati PENGELUARAN KAYU DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH24 DI HUTAN TANAMAN KPH SUKABUMI (Log Extraction Using P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of Sukabumi Forest District) / Sukadaryati. target produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan jumlah kebutuhan chainsaw yang efisien adalah berdasarkan rencana produksi perusahaan.0 detik/rit). Kata kunci: Jumlah chainsaw. Kata kunci: Hutan tanaman. Pemanenan yang dilakukan di hutan tanaman tidak jauh berbeda dengan di hutan alam. Upaya peningkatan produksi hasil hutan dapat direalisasikan melalui implementasi PBL kaitannya dengan teknik. Kebutuhan kayu untuk industri pengolahan kayu cukup besar sementara jatah produksi tahunan relatif kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume kayu yang dikeluarkan dan waktu kerja yang diperlukan berturut-turut berkisar dari 0. pengeluaran kayu. IRR = 66.018m /jam (rata-rata 3. Produksi kayu dari hutan alam cenderung menurun dari tahun ke tahun.012 . -. Produktivitas pengeluaran kayu bervariasi antara 1.4%. -. Dulsalam.175.562 m /jam). Cepatnya waktu ini mengakibatkan alat tersebut tidak beroperasi lagi pada bulan nya sehingga mengakibatkan tingginya biaya untuk menutupi semua biaya tetap. Upaya tersebut diharapkan dapat dijadikan bahan acuan bagi para penentu kebijakan dan pelaksana di lapangan. Hasil hutan. Djaban Tinambunan.digunakan untuk mengetahui jumlah kebutuhan penggunaan chainsaw yang tepat dan efisien dalam penebangan pohon mangium dan gmelina.045.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 79-82 .300/m3. sehingga kelestarian produk tetap terjaga tanpa meninggalkan kelestarian ekologinya. produktivitas.046 m3) dan 77. 2006 Produksi hasil hutan terutama kayu memegang peranan cukup berarti dalam pembangunan nasional. biaya Sukadaryati PEMANENAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN TANAMAN / Sukadaryati dan Sukanda.

I. diversifikasi produk dan 92 .8 . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar perekat terhadap sifat papan partikel bambu. Bambu yang digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper). pengolahan.24. sifat fisis dan mekanis Sulastiningsih.10. bambu yang bentuk aslinya bulat dan berlubang dapat diolah menjadi produk perekatan bambu berbentuk papan bambu atau balok bambu yang dikenal dengan nama bambu lamina dan produk panel bambu berupa bambu lapis. Akan tetapi. -. No. papan partikel. Hutan tanaman Sulastiningsih. Kata kunci: Teknologi pembuatan. Kata kunci: Bambu. lebar dan panjang tertentu. PENGARUH KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL BAMBU (Effect of Resin Portion on Bamboo Particleboard Properties) / I. Oleh karena itu perlu ditingkatkan diversifikasi produk pengolahan bambu khususnya produk bambu yang dapat digunakan sebagai subtitusi kayu. Kata kunci: Pemanenan. Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan penunjang kayu atau bahan pengganti (subtitusi) kayu untuk mebel. dan biaya serta gangguan lingkungan yang ditimbulkan.11 dan 12% dari berat kering partikel bambu. Kemajuan dalam teknologi perekatan diharapkan dapat mengatasi keterbatasan bentuk dan dimensi bambu sebagai bahan subtitusi kayu. Untuk tujuan tersebut maka produk bambu yang dihasilkan harus dapat menggantikan fungsi papan atau balok kayu sehingga produk bambu tersebut memiliki ukuran tebal. Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat papan partikel bambu yang dihasilkan. masalah yang timbul dalam pemanfaatan bambu sebagai bahan mebel. bambu lapis Sumadiwangsa. Salah satu cara untuk mendapatkan teknik pemanenan yang efisien dan berdampak minimal adalah kesesuaian penggunaan alat pemanenan dengan kondisi hutan tanaman. Suwardi Sumadiwangsa. 2006 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bila dikelola secara seksama dapat berperan besar dalam meningkatkan nilai lahan hutan dan pendapatan masyarakat sekitar hutan. disamping mudah diserang bubuk. bahan bangunan serta penggunaan lain. bahan bangunan dan penggunaan lain adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. barang kerajinan dan supit. Sulastiningsih.1 . Halaman 1 . pasca panen. seleksi bibit. E. Papan partikel bambu sekala laboratorium dibuat dengan target kerapatan 0.M TEKNOLOGI PEMBUATAN BAMBU LAMINA DAN BAMBU LAPIS / I. kadar perekat. teknik penanaman dan pemeliharaan. sedangkan perekatnya adalah urea formaldehida (UF) cair. I.M. Agus Turoso. Wawasan lingkungan. Nurwati Hadjib dan Karnita Yuniarti.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 179-199 .70 g/cm dengan kadar perekat bervariasi yaitu 8. Pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini pada umumnya untuk mebel. Suwardi TEKNOLOGI PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU / E. 2006 Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia memiliki sumber daya bambu yang cukup potensial. Penggunaan kadar perekat minimum 11% dari berat kering partikel bambu menghasilkan papan partikel bambu yang cukup kuat dan stabil serta memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia. pengolahan dan diversifikasi produk masih dilakukan secara tradisional belum ditunjang IPTEK tepat guna yang memadai. -. -.dikurangi.M. IPTEK tepat guna yang diperlukan mencakup pemilihan jenis tumbuhan bernilai tinggi yang akan ditanam. dapat memacu perkembangan HHBK bernilai tinggi sesuai lahan hutan setempat.9. bambu lamina. Sumberdaya bambu tersebut perlu ditingkatkan pemanfaatannya agar dapat memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Penggunaan peralatan yang tidak tepat akan mempengaruhi efektifitas kerja. Sampai sekarang teknik budidaya pemanenan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan. Dengan menggunakan perekat tertentu. Sulastiningsih.M.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 131-141 . Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah melakukan beberapa penelitian mengenai bambu lamina dan bambu lapis. panen. Novitasari. Paradigma baru kehutanan bila telah dilaksanakan. produktivitas. Bentuk partikel bambu yang digunakan adalah untai.

24. Cunn.v. damar. BOGOR. Halaman 267-274 .. Potongan kayu yang biasa disebut sebagai limbah pemanenan pada umumnya ditinggalkan di hutan dan sebagian yang dianggap masih laik dijual kepada penduduk sekitar hutan untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau bahan baku energi lainnya. dapat diperoleh laba kotor dan laba bersih rata-rata per tahun masingmasmg sebesar Rp 16.000.M. serpih kayu Chip Production Using Portable Chipper: Case Study in BKPH Parungpanjang.11 Kata kunci : Hutan tanaman. -. (Acacia aulacocarpa A. Sedangkan kehilangan berat terendah (0. Bogor. dan Eucalyptus pellita F. yaitu bagian tepi dan dalam dolok. Kata kunci : Ketahanan kayu. mesin serpih mudah dipindahkan.teknik pemasaran.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.4 . Halaman 103 .109. Sihati KETAHANAN EMPAT JENIS KAYU HUTAN TANAMAN TERHADAP BEBERAPA JAMUR PERUSAK KAYU (The Resistance of Four Plantation Wood Species Against Several Wood Destroying Fungi) / Krisdianto. limbah.2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konversi rarta-rata limbah pemanenan untuk bahan baku serpih (chip) adalah 1 sm = 0. Cunn. Kata kunci: Teknologi pemanfaatan.4% (kelas IV). Achmad PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PRODUKSI SERPIH KAYU MENGGUNAKAN MESIN SERPIH MUDAH DIPINDAHKAN (SMD): STUDI KASUS DI BKPH PARUNGPANJANG. Acacia crassicarpa A. kopal.257 ton.000 per ton. kemudian diikuti Polyporus sp.3% (kelas III) lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan berat kayu bagian tepi sebesar 12. Acacia auriculiformis A. kehilangan berat Supriadi. kemampuan tertinggi dijumpai pada Tyromyces palustris.. Osly Rachman. dan Schizophyllum commu. telah dilakukan penelitian pengolahan limbah kayu jenis mangium (Accacia mangium) di areal hutan tanaman di BKPH Parungpanjang.. Contoh uji dibagi dalam dua kelompok secara radial. Acacia crassicarpa termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV). kemiri.691. Berdasarkan kemampuan untuk melapukkan kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu Acacia aulacocarpa dan Eucalyptus pellita termasuk kelompok kayu agak-tahan (kelas III) dan kayu Acacia auricultformis. Rendemen serpih sebelum disaring dan setelah disaring masing-masing adalah 97% dan 53%. Produktivitas penyerpihan adalah 1.115 . -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 2006 Hasil pemanenan kayu di areal hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman masih menyisakan potongan-potongan kayu kecil. Hasil hutan bukan kayu Suprapti. Berdasarkan dua kelompok contoh uji. kehilangan berat kayu bagian dalam sebesar 6.8%) terjadi pada bagian dalam I crassicarpa yang diletakkan pada biakan Pycnoporus sanguineus HHB-8149.227 per ton serpih.4791 m = 0.Iskandar. sagu.24 No.6 ton/hari. (Productivity and Cost of M.) diuji terhadap jamur menggunakan 93 . Selain itu juga dipaparkan mengenai diversifikasi produk yang dapat meningkatkan nilai tambah HHBK dan Beberapa hasil Penelitian yang sudah saatnya ditindaklanjuti dengan tahap uji coba di lapangan. kilemo dan ipuh kebanyakan masih dikelola secara lokal sehingga belum dapat menghasilkan produktivitas dan kualitas HHBK.113 dan harga pokok produksi serpih sebesar Rp 325.8%) terjadi pada bagian tepi kayu Acacia crassicarpa yang diletakan pada biakan Polyporus sp. Biaya produksi per tahun sebesar Rp 156. jernang.040 dan Rp 14. nilam. Dengan harga jual serpih Rp 360. Ketahanan empat jenis kayu hutan tanaman standar DIN 52176 yang telah dimodifikasi. Beberapa komoditi HHBK seperti gaharu. No. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan limbah kayu dari hasil pemanenan hutan tanaman. Bogor) / Achmad Supriadi. Pycnoporus sanguineus HHB-324. 2006 Pada umumnya kayu dari hutan tanaman memiliki diameter kecil dan mudah terserang jamur perusak kayu.I. gondorukem.000.. Cunn. kemenyan. Kehilangan berat tertinggi (36. jamur perusak. Investasi pendirian satu unit pengolahan serpih kayu sebesar Rp 38.

Pengkajian dilakukan di Pulau Jawa dan Sumatera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang terlebih dahulu direndam dalam larutan NaOH 3% selama 7 hari kemudian dikukus. yaitu kayu asam jawa (Tamarindus indica L. di TPKP paling lambat tersimpan dua minggu. Prihatiningsih. Kayu perkebunan mungkin dapat ditampung dalam Tempat Penampungan Kayu Perkebunan (TPKP) yang dilengkapi dengan sarana pengolahan dolok diameter kecil. perendaman.12 No. -.24. kendal (Eretia acuminata R. Achmad POTENSI DAN KONSEP PENGELOLAAN KAYU PERKEBUNAN UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI PERKAYUAN / Achmad Supriadi. sawit dan kelapa. potensi kayu perkebunan secara nasional adalah 61. Sebelum diolah atau terjual. 94 .24.) dan rasamala (Altingia excelsa N. bentuk. setiap dua minggu harus diberi pestisida kembali.3 juta m3/tahun. Waluyo. Supriadi. Tujuan kajian untuk mengetahui potensi dan mendapatkan sistem pengelolaan kayu perkebunan. Achmad SIFAT PELENGKUNGAN LIMA JENIS KAYU DENGAN DUA MACAM PERLAKUAN AWAL (Bending Characteristics of Five Wood Species With Two Types of Pretreatment) / Achmad Supriadi . pengukusan. selain dari hutan alam. alat-alat olah raga dan perahu. Dalam pengelolaan. Pemerintah telah mengatur kebijakan penebangan dan retribusi kayu perkebunan. lembaga pemasaran dan asosiasi.). marasi (Hymenaea sp.q. Ditjen Bina Produksi Kehutanan dan Departemen Pertanian c. penebangan. Dalam studi ini dilakukan determinasi karakteristik pelengkungan pada 5 jenis kayu. 2006 Industri kayu sekunder cukup banyak menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung seperti industri mebel.Supriadi. Hasil kajian menunjukkan. Cara pembuatan komponen lengkung dengan menggunakan gergaji cenderung menghasilkan rendemen yang rendah. kerapatan. Cara lain yang lebih efisien adalah pelengkungan kayu secara fisis dan kimia.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Kemenyan di pasaran dikelompokkan menjadi 6 kualitas berdasarkan kriteria uji ukuran (besar kecilnya) lempengan/ bongkahan dan warna kemenyan. Kayu asam jawa memiliki karakteristik pelengkungan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu marasi. ukuran. Poedji Hastoeti. pengembangan dimensi. -. KARAKTERISTIK DAN SIFAT FISIKO-KIMIA BERBAGAI KUALITAS KEMENYAN DI SUMATERA UTARA (Characteristics and Physicochemical Properties of Benzoin Gum qualities in North Sumatera) / Totok K. Apabila tersimpan lebih lama. Halaman 47 . kendal dan rasamala. swasta terkait. seyogyanya ada kebijakan pemerintah yang mendorong pihak terkait melakukan pengelolaan kayu dan tertarik untuk memanfaatkannya.4 juta m3/tahun.Info Hasil Hutan : Vol.) dengan dua macam perlakuan awal yaitu (1) pengukusan dan (2) perendaman dalam larutan NaOH 3% dilanjutkan dengan pengukusan.Br) balobo (Diplodiscus sp). terhadap kayu karet. yaitu kualitas I s/ d VI.31 . kayu sawit 30. tetapi industri perkayuan belum memperoleh kayu perkebunan secara maksimal. -.1 . Osly Rachman & Edi Sarwono. dapat dilengkungkan hingga radius 26 cm. Halaman 21 . Kata kunci: Pelengkungan. Ditjen Perkebunan Kata kunci: Kayu perkebunan.q. industri kayu. Abdurachman. Totok K. perlu dibentuk Tim Koordinasi Kayu Perkebunan (TKKP) di tingkat daerah dan pusat yang melibatkan Departemen Kehutanan c. Potensi dan pengolahannya belum diketahui sehingga perlu pengkajian. Osly Rachman. Di TPKP harus segera diberi pestisida pencegah jamur biru dan kumbang ambrosia. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan sifat fisiko-kimia kemenyan berbagai kualitas yang ada di pasaran. Data dikumpulkan dari berbagai instansi pemerintah. terdiri dari kayu karet 17. sedangkan kayu yang diberi pengukusan hanya dapat dilengkungkan hingga radius 51 cm.2 .4 juta m3/tahun dan kelapa 13. 2006 Industri perkayuan dituntut untuk mencari bahan baku alternatif.1 juta m3/tahun.1 . restribusi dan pengelolaan Waluyo. balobo. T.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 2006 Sumatera Utara merupakan sentra produksi kemenyan di Indonesia. Sifat fisiko-kimia kemenyan yang diuji adalah warna. sehingga diharapkan nantinya pengelompokkan kualitas kemenyan dapat dipertimbangkan secara kuantitatif berdasarkan unsur-unsur sifat fisikokimianya.61 . Halaman 87-95. No. No. Salah satu sumber alternatif adalah kayu perkebunan. Komponen dalam bentuk lengkungan tersebut umumnya dibentuk dengan cara digergaji mengikuti pola lengkungan. Dalam rangka mendorong pemanfaatan kayu perkebunan.

2006 Produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan produk yang bersifat kedaerahan. Kadar kotoran dan titik lunak kemenyan kualitas I. kualitas III berasal dari kemenyan kualitas V dan kualitas IV berasal dari kemenyan kualitas VI. Umi Kulsum.1 . II. IV dan V. Waluyo. III dan IV adalah relatif sama. Totok K.85% dan gaharu buaya 0. Halaman 59-65 . Perendaman 5 hari menghasilkan rendemen minyak gaharu tertinggi.al) . -. III. Waluyo. Penyulingan gaharu dilakukan dengan menggunakan metode sederhana (kohobasi). Pada waktu penyulingan ditambah satu sendok garam dan tanpa ditambah garam.Info Hasil Hutan : Vol. biji. efisiensi dan produktivitas. Sumadiwangsa. 10 hari dan tidak direndam dalam air.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 9-13 . sifat fisik-kimia. salah satunya adalah dengan cara penyulingan. banyak diburu di hutan alam sehingga keberadaannya di hutan dan di pasar semakin langka. Strategi tersebut mengupayakan penciptaan dan peningkatan nilai tambah. Akan tetapi produk HHBK pada umumnya dari dulu hingga saat ini banyak diperdagangkan masih berupa produk mentah atau asalan sehingga kurang memberikan kontribusi ekonomi pada masyarakat tersebut.12 No. maka perlu usaha diversifikasi produk gaharu. E. dan industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri. kadar kotoran. kemenyan. binatang dan lain-lain) dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitar hutan sejak dulu.75%. yaitu gaharu kamedangan 0. Kata kunci: Asam sinamat. jernang. Waluyo. stabilitas keamanan dan law enforcement. Kata kunci: Kualitas. Dengan demikian diharapkan adanya pengembangan jenis-jenis HHBK yang prospektif dan penerapan teknologi pemanfaatan yang siap pakai akan dapat meningkatkan nilai tambah produk HHBK sehingga dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya masyarakat sekitar hutan. berorientasi eksport dan berwawasan lingkungan. kilemo. buah. Kondisi sumber bahan baku 95 . BEBERAPA PRODUK-PRODUK HHBK PROSPEKTIF DAN TEKNOLOGI PEMANFAATANNYA YANG SIAP PAKAI / Totok K. kadar abu. 2006 Gaharu merupakan komoditi hasil hutan bukan kayu yang harganya sangat mahal.50 mesh. -. gaharu kamedangan. Saat ini yang ada di pasar umumnya gaharu dengan kualitas rendah dan harganya relatif murah seperti gaharu buaya dan gaharu kamedangan. damar Wargadalam. bunga. Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar air dan kadar abu relatif sama antara kemenyan kualitas I. banyak jenisnya (kulit. S. asam balsamat. Industri pengolahan hasil hutan di Indonesia merupakan industri yang memanfaatkan sumber bahan baku yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman. sedangkan kadar asam balsamat kemenyan kualitas I. II. II dan III relatif sama.. rendemen Waluyo. 2006 Kebijakan Pengembangan Industri Nasional diarahkan kepada peningkatan industri yang berdaya saing global yaitu industri yang mempunyai keunggulan kompetitif. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 201-206 . Tulisan ini memaparkan beberapa produk-produk HHBK yang prospektif dan teknologi yang siap pakai antara lain pemanenan dan pengolahannya. iklim usaha yang kondusif termasuk pembiayaan. Arian STRATEGI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DALAM PENYELAMATAN INDUSTRI KEHUTANAN / Arian Wargadalam. yaitu penyulingan dengan cara merebus. Dengan demikian disarankan pembagian kualitas kemenyan menjadi 4 kelas kualitas yaitu kualitas I berasal dari kemenyan kualitas I s/d III. Totok K PENYULINGAN GAHARU KAMEDANGAN DAN GAHARU BUAYA DENGAN METODA KOHOBASI / Totok K. dekstrin. Program pengembangan industri nasional ditujukan untuk meningkatkan lapangan kerja dengan cara mengembalikan dan meningkatkan kinerja industri berorientasi eksport. daun.. kohobasi. resin/getah. Untuk meningkatkan nilai tambah.kadar air. Kata kunci: Gaharu buaya. Sebelum penyulingan gaharu dijadikan serbuk berukuran 40 . Keberhasilan pengembangan industri memerlukan dukungan iklim investasi. kualitas II berasal dari kemenyan kualitas IV.(et. terutama gaharu kualitas tinggi (gaharu gubal/super). titik lunak dan kadar asam balsamat. selanjutnya direndam dalam air selama 5 hari.

). 2006 Penggunaan bahan pengawet pada nira aren sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti terbentuknya asam. -. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlakuan pendahuluan dan kecepatan putar berapa yang paling efektif agar menghasilkan persentase biji kemiri utuh yang tinggi.2 . Halaman 105-112. buah dan daging buah. Suwardi Sumadiwangsa. Kata kunci: Bahan pengawet. Santiyo BEBERAPA JENIS POHON SEBAGAI SUMBER PENGHASIL BAHAN PENGAWET NABATI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr. penanganan pasca panen. PENGOVENAN DAN PERENDAMAN TERHADAP KEUTUHAN BIJI KEMIRI / Ina Winarni & E. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengusahaan kulit kayu medang landit (Persea spp) di desa Bulu Mario. Pohon medang landit yang dipanen merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan hutan baik hutan rakyat maupun kawasan hutan negara.Info Hasil Hutan : Vol. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan kayu bulat tersebut antara lain disebabkan oleh semakin menurunnya kemampuan daya dukung hutan yang disebabkan oleh kurang baiknya manajemen pengolahan hutan dan semakin maraknya penjarahan hutan Kata kunci: Strategi.12 No. tingkat keutuhan biji kemiri akan semakin tinggi. buih putih dan lendir. kawao (Milletia sericea W. Semakin lama perlakuan perebusan dan pengovenan. moluccensis M. Permasalahannya pengupasan biji kemiri secara tradisional tidak dapat dilakukan lagi dalam skala industri sehingga dibuatnya mesin pengupasan biji kemiri untuk menghasilkan persentase keutuhan biji kemiri yang tinggi. Kulit kayu medang landit dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan obat anti nyamuk bakar dan dupa (hio). . Kata kunci: Kulit kayu medang landit. perendaman 96 .).12 No. Sipirok. sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq. Kata kunci : kemiri. 2006 Kemiri merupakan tanaman serbaguna. SIPIROK-TAPANULI SELATAN. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah perlakuan pendahuluan berupa perebusan. dupa Winarni. kulit kayu nyirih (Xilocarpus granatum Koen.. Nira yang telah rusak kurang baik jika digunakan untuk membuat produk turunannya. pengovenan dan perendaman. SUMATERA UTARA / Santiyo Wibowo. Cara pemanenan kulit medang landit dilakukan dengan menebang pohon. kayu belum dimanfaatkan secara optimal. Data yang dikumpulkan meliputi potensi.).2 . X. perebusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pohon medang landit adalah 14 pohon/ha.Info Hasil Hutan : Vol. oven 6 jam. Nilai keutuhan biji kemiri tertinggi (40 %) terdapat pada kecepatan putar 1000 rpm dengan perlakuan rebus 4 jam. kayu nangka (Artocarpus Integra Merr. nira aren. Halaman 115-122 . daun.Info Hasil Hutan : Vol. funi (Garcinia syzygiifolia Pierre). Halaman 67-74 . seperti batang. pemanenan.) / Santiyo Wibowo -. Sumatera Utara. industri kehutanan Wibowo.12 No. Beberapa jenis pohon sebagai sumber penghasil bahan pengawet nabati yang biasa digunakan untuk mengawetkan nira antara lain tuba (Denis eliptica Benth.Roem) dan cengal (Hopea sangal Korth). & A. jenis pohon Wibowo. dan rendam 24 jam. departemen perindustrian.tersebut dewasa ini semakin menipis potensinya karena adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan dari sisi industri pengolahannya. dan belum ada budidaya tanaman.). dimana hampir seluruh bagian dari tanaman kemiri dapat digunakan.). obat anti nyamuk. Santiyo PENGUSAHAAN KULIT KAYU MEDANG LANDIT DI DESA BULU MARIO. Ina PENGARUH PEREBUSAN. Tapanuli Selatan. kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn. produk turunan. tata niaga dan kendala pengusahaan melalui teknik observasi dan wawancara. cara pemanenan. pengovenan.1 .

pada areal yang luas. Kata kunci.2 . Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Caterpillar 966C beroda menghasilkan produktivitas muat tertinggi.081. kerusakan 97 .2 m. sistem penebangan. 2006 Muat bongkar dolok merupakan salah satu kegiatan dalam pemanenan hutan. pemadatan tanah dan penggeseran tanah. yaitu 32.12 No. topografi dan kondisi tanah. biaya Yuniawati KAJIAN PENYARADAN KAYU DENGAN TRAKTOR CATERPILLAR / Yuniawati & Sona Suhartana.56 m3/jam dengan jarak sarad 289. traktor Caterpillar. Biaya penyaradan dipengaruhi produktivitas. Penyaradan. produktivitas. Faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah jarak sarad.91/ m3. Kerusakan ekologi dipengaruhi kemiringan lapangan. Produktivitas bongkar tertinggi menggunakan Allis Chalrners 745H dengan risiko kerusakan kayu sangat kecil.12 No. produkdvitas. Harga alat muat bongkar sangat mahal sehingga perlu direncanakan secara matang sesuai keadaan lapangan.1 . Di luar Pulau Jawa.43 m3 dan waktu kerja 20. Sona Suhartana.Info Hasil Hutan : Vol. biaya.Info Hasil Hutan : Vol.Yuniawati PRODUKTIVITAS DAN BIAYA MUAT BONGKAR KAYU BULAT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS / Yuniawati. Kata kunci: Muat bongkar. muat bongkar umumnya menggunakan peralatan mekanis. Biaya muat bongkar yang terendah masingmasing menggunakan wheel/oaaferKomatsu WA350. pemilihan alat yang sesuai dapat lebih mudah dilakukan. volume kayu yang disarad. ekonomis dan ekologi. -. -.60 menit. Produktivitas penyaradan kayu dengan menggunakan traktor Caterpillar D7g memiliki nilai tinggi. Halaman 123-131 . Biaya penyaradan dengan traktor ini adalah sebesar Rp 7. Penggunaan traktor caterpillar tidak terlepas dari kerusakan ekologi yaitu kerusakan tegakan tinggal. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui produktivitas yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan serta kerusakan ekologi yang ditimbulkan pada beberapa tipe traktor Carterpillar. 2006 Penyaradan merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tunggak ke tempat pengumpulan kayu (TPn). Dengan mengetahui produkdvitas dan biaya muat bongkar. intensitas penggunaan jalan sarad dan kandungan air tanah. Halaman 25-32 . Penggunaan alat sarad mekanis traktor perlu mempertimbangkan segi teknis. volume kayu 10. kondisi topografi dan kondisi tanah.

80 persen. vegetatif. IAA. 2006 Salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah dengan cara sambungan yang dapat mempertahankan genotipe pada pohon induknya secara konsisten dan berkelanjutan. kemampuan bertunas Adinugraha. -. Cepi.Adinugraha.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas. Diameter rootstock yang lebih besar meningkatkan pertumbuhan tanaman sambungan. Halaman 37 . Scion yang berasal dari pertunasan cabang berdiameter lebih 3 mm memberikan pertumbuhan (jumlah dan panjang tunas) yang lebih tinggi dibanding scion hasil perlakuan batang tanaman (girlding).93g-18. Kata kunci: Eukaliptus pellita. A5 = Malino dan A6 = Sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sambungan adalah sekitar 10 persen .2 . Hidayat Moko. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh asal populasi tanaman sukun dan pemberian IAA terhadap pembentukan tunas sebagai bahan stek. panjang tunas dan berat kering tunas pada umur 12 minggu.60-10. Kata kunci: Artocarpus altilis. Sambungan Perbanyakan Adinugraha. Growth of Leafy Cuttings of Breadfruit Trees Taken from Nusa Tenggara Barat with Application of Growth Regulator Hormone)/ 98 .85 cm-7. -Wana Benih : Vol. A3 = DIY. untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh dalam penyambungan antara batang bawah (rootstock) dari hasil penyemaian benih dengan batang atas (scion) dari beberapa pohon plus E. asal populasi.57g dengan hasil terbaik dari Bone. Hamdan Adma KEMAMPUAN BERTUNAS TANAMAN SUKUN DI KEBUN PANGKAS DARI ENAM POPULASI DENGAN APLIKASI HORMON IAA (Sprouting Ability of Artocapus altilis from Several Population at Hedge Orchard with the Application of IAA) / Hamdan Adma Adinugraha. perlakuan naungan memberikan keberhasilan sambungan. Kebun Benih.67 tunas dengan hasil terbaik dari DIY. Dedi Setiadi dan Mulat Nuning Ambari. scion. pellita di kebun benih Wonogiri.10 cm dengan hasil terbaik dari Banyuwangi dan berat kering tunas rata-rata 8. A4 = Bone. Hamdan Adma STUDI PENYAMBUNGAN JENIS EKALIPTUS BERASAL DARI KEBUN BENIH WONOGIRI (Grafting Study of Eucalyptus pellita from Seed Orchard at Wonogiri) / Hamdan Adma Adinugraha.46 . Halaman 93 . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi bahan stek pucuk dan zat pengatur terhadap keberhasilan tumbuh stek pucuk tanaman sukun. jumlah dan panjang tunas yang lebih baik pada tanaman berumur 2 bulan. Halaman 265-273. -. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah tunas 6. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa asal populasi dan pemberian IAA berpengaruh terhadap jumlah tunas. penyambungan dengan cara sambung samping dan pemeliharaan tanaman sambungan. No.1 . panjang tunas total (cm) dan berat kering tunas (g). Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan split plot.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Suplement No. mendapatkan kombinasi asal tanaman sukun dengan pemberian IAA yang mempunyai kemampuan tunas terbaik.100 . Kompatibilitas.3. Faktor kedua sebagai anak petak adalah asal tanaman terdiri atas 6 aras yaitu Al = NTB. Salah satu kendala yang selalu dihadapi dalam sambungan adalah ketidaksesuaian pertautan sambungan. No.3 hari.3. Hamdan Adma PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN ASAL DARI POPULASI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH (The Hamdan Adma Adinugraha. Faktor pertama sebagai petak utama adalah Pemberian IAA terdiri atas 2 aras yaitu PO = tanpa disemprot IAA dan PI = disemprot IAA. Sambungan langsung dengan menggunakan scion segar diperoleh keberhasilan 80 persen lebih besar dibandingkan scion direndam air selama 1 . panjang tunas rata-rata 4.7. A2 = Banyuwangi. yang terdiri atas 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali.1 . Hidayat Moko. Penelitian dilaksanakan di Pusat Litbang Hutan Tanaman dengan metode penelitian melakukan beberapa kegiatan seperti persiapan rootstock.

99 . Rejuvenasi Anggraeni. jumlah dan panjang akar dibandingkan dengan stek pucuk bagian pangkal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengupasan kulit pada cabang memberikan persentase bertunas yang lebih tinggi. pemberian zat pengatur tumbuh memberikan hasil yang lebih baik terhadap seluruh parameter yang diamati dibandingkan dengan kontrol. Parameter yang diamati terhadap persentase stek bertunas. No. Pengupasan kulit. Kayu putih. K3 = 75% dan K4 = 100%. Hutan tanaman merupakan sebuah konsep pembangunan hutan yang bertujuan untuk mengatasi berbagai persoalan kehutanan yang bermuara pada terciptanya kelestarian ekosistem lingkungan dan keberlanjutan peranan sosial-ekonomi sumber daya hutan.HASIL PENELITIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN DAN IMPLEMENTASINYA / Illa Aggraeni. berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi menuntut kita semua untuk berupaya mengatasi dengan sebaik-baiknya. B2 = bahan akar). Oleh karena itu keberhasilan upaya pembangunan hutan tanaman sangat tergantung pada keberhasilan dalam mengatasi masalahmasalah yang dihadapi seperti ketidaksesuaian jenis tanaman dengan tapak. 2003). Halaman 1-14 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek pucuk bagian ujung memberikan pengaruh yang lebih baik secara nyata terhadap persentase stek bertunas. Sri Esti Intari dan Wida Darwiati. jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang terbentuk. viabilitas benih sangat besar dan perolehan genetik kurang optimal. 2006 Perbanyakan tanaman kayu putih biasa digunakan dengan biji (generatif) yang pada umumnya cara ini memiliki banyak kelemahan.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. 2006 Sejalan dengan kebijakan restrukturisasi sektor kehutanan. Zat pengatur tumbuh Adinugraha. Hamdan Adma PENGUPASAN KULIT PADA CABANGAN DAN AKAR DALAM REJUVENASI TANAMAN KAYU PUTIH (Treatment of Stem and Root Bark Peeling in Rejuvenation of Melaleuca cayuputi / Hamdan Adma Adinugraha. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor.1 . -. Setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dalam setiap ulangan terdapat 8 sample stek. jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang lebih banyak dibandingkan pengupasan kulit pada akar dan bahan yang tidak dikupas kulitnya. Jakarta 23 Nopember 2006 . Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial. yang terdiri atas KO = kontrol konsentrasi 25%. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengupasan kulit pada cabang dan akar selama rejuvenasi telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. sedangkan faktor kedua adalah pengupasan Kulit (KO=kulit tidak dikupas dan K1=kulit dikupas). dari total luas 9 juta hektar yang ditargetkan pembangunannya sampai dengan tahun 2009 tersebut.Wana Benih : Vol. Dalam perspektif tersebut diperlukan suatu konsep penyelenggaraan kegiatan rehabilitasi kawasan hutan tidak produktif yang dipadukan dengan ketersediaan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kehutanan (Iskandar dkk. persentase stek berakar. K2 = 50%.7. yaitu faktor pertama adalah bahan tanaman (B1 = bahan cabang. Untuk itu diperlukan cara perbanyakan yang efektif dan efisien seperti cara perbanyakan vegetatif. Illa HASIL. Departemen Kehutanan telah menetapkan target pembangunan hutan tanaman seluas 9 juta hektar sampai dengan tahun 1009 termasuk 3 juta hektar yang telah dibangun sampai dengan saat ini. persentase stek berakar. Kata kunci: Akar. di samping Hutan Tanaman Industri (HTI) terdapat kawasan yang akan dialokasikan sebagai kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang merupakan perwujudan dari kebijakan nasional "Revitalisasi Sektor Kehutanan". -. diantaranya jumlah benih yang berkualitas masih terbatas.Penelitian dilakukan di persemaian Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Penerapan sistem silvikultur intensif dalam pembangunan hutan tanaman merupakan suatu upaya pembangunan yang bersifat kompleks. Hidayat Moko. Faktor utama ada 2 yaitu pertama adalah posisi bahan stek pucuk yang terdiri atas bagian ujung tunas (PI) dan bagian pangkal tunas sedangkan kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh. Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan materi dalam perbanyakan vegetatif adalah rejuvenasi dengan menanam cabang atau akar pada media pasir. persen berkecambah rendah. Parameter yang diamati meliputi persentase bertunas. jumlah dan panjang akar. Sukun. Pembangunan hutan tanaman dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi tersebut dibangun dengan menerapkan silvikultur intensif. sejak bulan Mei sampai Oktober 2005. Kata kunci: Stek pucuk. Cabang. Halaman 9 16 . Sekalipun luas hutan tanaman yang ditargetkan 9 juta hektar. Nusa Tenggara Barat.

-Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada hutan tanaman Akasia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasi beberapa jenis insektisida terhadap hama C. 2006 Hutan dan Derah Sungai merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Proses domestikasi jenis ini berlangsung cepat dan serangkaian penelitian di bidang genetika. Halaman 83 . serta cara-cara penyerangan dan penularannya. 2006 Saat ini permasalahan pada tanaman pulai yang paling krusial untuk segera dipecahkan adalah masalah serangan hama. Xylo Indah Pratama (XIP). Sri Utami. Hardiyanto. Hardjono ACACIA MANGIUM / Hardjono Arisman dan Eko B. budidaya Asaad. mangium saat ini mencapai 9 juta m3/tahun sedangkan potensi produksi kayu bulat sekitar 165. Pengelolaan kawasan tersebut memerlukan suatu pengelolaan yang terintegrasi mengingat adanya suatu keterkaitan ekologis diantara kedua ekosistem tersebut. Penelitian di lapangan dilakukan mulai Mei sampai Agustus 2004. Ekowisata. perkembangan pasar kayu merupakan faktor resiko yang harus diperhitungkan. Lubuk Linggau. Gangguan hama/penyakit akan mudah timbul apabila tidak ada keseimbangan lagi antara hama penyebab/patogen penyebab. salah satunya pendekatan pengelolaan yang meliputi kedua aspek utama tersebut adalah pengelolaan dengan pendekatan ekowisata. Produksi kayu pulp A.3. Dalam rangka itulah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (P3HT) sangat berperan dalam memberikan informasi berbagai masalah tersebut bagi kepentingan para pengelola hutan agar tujuan pokok kehutanan di dalam pengembangan fungsi hutan semaksimal mungkin secara lestari dapat dicapai.Pada hutan tanaman komposisi tegakan hutan terdiri dari jumlah jenis yang terbatas atau bahkan seringkali monokultur. khusunya ikan. Salah satu pemecahannya adalah penggunaan bioinsektisida dan penggunaan insektisida kimia secara benar dan bijaksana. Berbagai jenis pengelolaan telah tersedia. Dalam keadaan yang demikian ekologinya cenderung untuk memacu peningkatan populasi hama/penyakit seperti halnya yang terjadi pada ekosistem perkebunan dan pertanian. DAS Asmaliyah EFIKASI BEBERAPA JENIS INSEKTISIDA TERHADAP HAMA PEMAKAN DAUN PADA TANAMAN PULAI DARAT (Efficacy of Some Types of Insecticides for Leaf Eating Pest on Pulai Darat Plantation) / Asmaliyah. glauculalis dalam skala 100 .2006 : Halaman 1-6 . Daerah Aliran Sungai. mangium pada akhirnya dipilih sebagai tanaman komersial untuk memenuhi kebutuhan industri karena kemampuannya beradaptasi pada lahan marjinal. A. glauculalis. Riparian. Indra Jaya Asaad dan Khairul Fattah. Untuk dapat mengatasi gangguan dari berbagai macam hama/penyakit yang timbul di lingkungan hutan tanaman sangat diperlukan penelitian dasar yang menyangkut kepada pengenalan jenis kepada hama/penyakit dengan mempelajari gejala dan akibat yang ditimbulkannya. -. ekobiologi dari hama/penyakit. Dari perspektif perikanan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Luas hutan tanaman jenis ini di Indonesia telah mencapai lebih dari 1 juta ha. Nursery. silvikultur dan pemanfaatan kayu telah dan sedang dilakukan. Yudhistira.serangan hama/penyakit. Ekosistem monokultur dapat lebih rentan terhadap kerusakan oleh hama/penyakit karena tidak adanya keanekaragaman jenis tanaman dan adanya perubahan cuaca yang disebabkan oleh manusia. Kata kunci: Hutan tepi. Kata kunci: Acacia mangium. Arisman. -.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 111-115 . tanaman inang dan lingkungan setempat. No. Jenis ini pertama kali ditanam di Sabah tahun 1966 dan Sumatera Selatan tahun 1979 sebagai tanaman sekat bakar pada lahan alang-alang (Imperata cylindrica) A.2 . Feeding grounds) bagi biota air. Hasil penelitian menunjukkan semua jenis insektisida yang digunakan efektif dalam menyebabkan kematian ulat C. Penelitian dilakukan di laboratorium perlindungan hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) Palembang dan di areal rakyat PT. tumbuh cepat dan sifat kayu yang baik. Indra Jaya PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DAN DAS MELALUI PENDEKATAN EKOWISATA / A. keterkaitan ekologis di antara keduanya mempunyai hubungan yang kuat terutama dalam fungsi S-N-F (Spawing.91 .000 m3/tahun. 2006 Makalah ini menguraikan perkembangan budidaya Acacia mangium di Indonesia.

5 m. Alstonia spp. Untuk perencanaan di bidang pertanian dasar seperti ini sangat diperlukan untuk membuat zonasi areal konservasi. Kondisi vegetasi pohon masih dominan di antaranya Asam Payo. Untuk perencanaan dibidang pertanian data dasar.glaucucalis adalah dengan menggunakan insektisida mikroba yang berbahan aktif dan bakteri Bacilus thuringiensis. Tulisan dalam makalah ini berisi tentang karakteristik serangan hama C. Pakis dan Gelam. glauculalis. larva C. Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam mewujudkan pencapaian pembangunan hutan tanaman pulai dengan produktivitas tinggi di PT Xylo Indah Pratama adalah serangan hama C. Jelutung. Manggris. 2006 Pulai (Alstonia spp. Penelitian menggunakan metode survey dengan bantuan teknologi penginderaan jauh. Pemanfaatan lahan rawa dan lahan gambut harus mempertimbangkan aspek lingkungan seperti kedalaman. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa rawa gambut di daerah Pedamaran-Pampangan dominan ditumbuhi oleh pakis dan perpat serta sedikit galam. Jalur pengamatan menggunakan sistem grid. glauculalis tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman pulai darat umur 1 tahun selama empat bulan pengamatan. Kedalaman gambut dari dangkal hingga sangat dalam (4 m hingga 6 m).2 m .40 km untuk masing-masing lokasi. Ulung Selapan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Serangan hama ini sudah terjadi dari tanaman berumur 4 bulan di lapangan dan sampai tanaman berumur 1 tahun merupakan kondisi kritis terhadap serangan hama C. Jarak jalur tiap lokasi 30 km . Kata kunci: Insektisida mikroba. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada areal rawa. bahkan pada masa populasi mencapai puncaknya dapat menyebabkan tanaman gundul. pulai darat. Meranti. sebaran rawa gambut menyebar dengan kedalamn yang berbeda. Pengendalian yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk mengatasi serangan hama C. Bacillus thuringiensis. Ogan Komering Ilir. Untuk mengelola lahan gambut diperlukan data dasar yang diperlukan untuk perencanaan akses dan pembuatan saluran drainase. Hama Clauges glauculalis 101 . -. Pedamaran-Pampangan. Bakri KAJIAN KARAKTERISTIK LAHAN GAMBUT DI DAERAH OGAN KOMERING ILIR. namun aplikasi insektisida mikroba secara campuran efektif dalam menekan serangan hama C. Rotan. A. BANYUASIN DAN MUSI BANYUASIN: DAERAH PEDAMARAN-PAMPANGAN.) saat ini merupakan jenis tanaman yang potensial dan prospektif untuk dikembangkan dalam upaya pembangunan hutan tanaman karena memiliki sebaran alami yang luas dan beragam manfaat kayunya. sebaran gambut menyebar dengan kedalaman yang berbeda. Kata kunci: Efikasi. Pulai. -. 2006 Pengembangan pertanian melalui ekstensifikasi ke lahan rawa dan lahan gambut saat ini menjadi alternatif karena terbatasnya lahan kering untuk usaha budidaya tanaman. jarak antar titik pengamatan adalah 500 m.1 m sampai 5. glauculalis terjadi sepanjang tahun dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim terutama curah hujan dan musuh alami. glauculalis.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 15-24 . Banyuasin. pembuatan aksesibilitas dan saluran. glaucucalis. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Pengetahuan tentang karakteristik serangan merupakan dasar dalam menentukan strategi pengendalian optimum. kering dan kemudian gugur.0 m. Kondisi lahan rawa gambut di daerah Muara Medak ditunjukkan oleh kedalaman gambut berkisar antara 0. Halaman 25-30 . Muara Medak angustiloba Asmaliyah KARAKRETISTIK SERANGAN HAMA Clouges glauculalis PADA HUTAN TANAMAN PULAI (Alstonia spp. Musi Banyuasin. TULUNG SELAPAN DAN MUARA MEDAK / Bakri. gambut tergolong matang dan jejak terbakar ditemukan pada semua titik pengamatan. Bakung. yang diaplikasikan secara campuran dan insektisida kimia yang sifat racun perutnya lebih kuat.7.laboratorium. Karakteristik. Kematangan gambut bervariasi dari safrik hingga febrik dan ditemukan jejak terbakar secara periodik. sebaran dan kematangan gambut.) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA / Asmaliyah. Serangan hama ini dapat mengakibatkan sebagian daun menjadi rusak. Penelitian dilakukan pada tahun 2004 dan 2005 dilokasi Pampangan. Karakteristik. Kata kunci: Lahan gambut. glauculalis dalam skala lapangan pada kondisi serangan ringan atau kepadatan populasi yang rendah. jenis insektisida. Karakteristik gambut di daerah Tulung Selapan mempunyai kedalaman 0. Serangan hama C. Sugihan dan Muara Medak merupakan kerjasama antara South Sumatera Forest Fire Management Project dengan Pusat Penelitian Manajemen Air dan Lahan Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya. Edwin Martin dan Fitri Windra Sari.

Swietenia macrophylla King. yaitu bahan bakar. ekonomi dan sosial budaya yang membatasi aktivitas budidaya pada lahan rawa. diantaranya adalah teknologi pembibitan. Pola agrosilvofishery semi intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa di daerah terpencil dan belum berkembang (desa-desa) hutan. Pengelolaan kebakaran antara lain ditujukan untuk meminimasi sumber dan potensi bahan bakar serta pengendalian sumber api melalui rekayasa teknologi dan kelembagaan yang dilakukan secara bersamaan. Halaman 91-94 . tidak produktif dan belum dikelola secara baik. macrophylla). -.)/ Bastoni dan Effendi Agus Waluyo. Pemahaman dan pengenalan tipe hutan dan tipe vegetasinya akan sangat membantu upaya pengelolaan bahan bakar. Hal tersebut sangat terkait dengan berbagai kendala biofisik lahan.5 hektar per kepala keluarga (KK). luas lahan dan tujuan pengembangannya. Pola agrosilvofishery merupakan sistem usaha tani atau penggunaan tanah yang memadukan potensi sumber daya pertanian. luas lahan 0.5 bulan setelah sapih.25 sampai 0. sumber api dan oksigen. Media sapih. 102 . Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak merubah ekosistem rawa secara radikal dan tetap mempertahankan sumberdaya awal. baik hutan alam maupun hutan tanaman. pertumbuhan bibit yang rendah pada media sapih gambut adalah pH (3.Prosiding Seminar HasilHasil Penelitian Hutan Tanaman. Pola agrosivolfishery dapat diterapkan secara intensif atau semi intensif tergantung dari lokasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sapih top soil dan sub soil tanah podsolik merah kuning (Ultisol) serta gambut (Histosol) terhadap pertumbuhan bibit mahoni (S. Lahan rawa yang terlantar hanya dikenal sebagai penghasil asap setiap musim kemarau. Salah satu faktor yang menentukan kualitas bibit adalah kualitas media sapih yang digunakan untuk pembibitan. Dampak yang diharapkan dari penerapan pola tersebut adalah terbentuknya pola pemanfaatan lahan rawa menetap yang efisien. -. 2006 Luas lahan rawa gambut yang terdapat di Sumatera Selatan sekitar 1. serta diversifikasi komoditi dan pendapatan. Kata kunci: Tipe vegetasi.42 juta hektar. -. Kebakaran merupakan rangkaian proses yang terjadi dari 3 faktor. luas lahan 1 sampai 2 hektar per KK. Bahan bakar. efisiensi pemanfaatan lahan. Top soil. Makalah ini menyajikan ragam tipe hutan dan tipe vegetasi yang terdapat di Sumatera Selatan dengan fokus pada tipe hutan dan vegetasi rawa yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibandingkan dengan tipe hutan lainnya. 2006 Mahoni (Swietenia macrophylla King) adalah jenis pohon eksotik yang cukup banyak dipilih untuk hutan tanaman karena mempunyai kualitas kayu yang unggul dan bernilai ekonomi tinggi. Agus Sumadi dan Efendi Agus Waluyo. Pengembangannya membutuhkan dukungan teknologi. intensif dan mampu meningkatkan pendapatan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Kebakaran hutan merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Sumatera Selatan Bastoni PENGARUH JENIS MEDIA SAPIH TOP SOIL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur 2. Saat ini kondisinya sebagian besar telah rusak.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Pola alternatif yang dapat diterapkan adalah Agrosilvofishery. khususnya untuk pemetaan bahan bakar dan cara-cara untuk meminimasi sumber dan potensinya. kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan. Pemilihan jenis komoditi pertanian. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 8593 . Oleh karena itu perlu dicari pola pemanfaatan terpadu untuk mengubah lahan rawa menjadi lahan yang produktif. Gambut adalah media sapih alternatif yang dapat menggantikan top soil. SUB SOIL DAN GAMBUT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MAHONI (Swietenia macrophylla King.11 persen) sangat rendah. Pola agrosilvofishery intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang dekat dengan pasar. Halaman 45-54 .34) sangat masam dan kejenuhan basa (4. Sub soil Bastoni PEMANFAATAN LAHAN RAWA TERPADU DENGAN POLA AGROSILVOFISHERY / Bastony. Kata kunci: Mahoni..Bastoni TIPE VEGETASI HUTAN SUMATERA SELATAN / Bastoni.

pendugaan. Sukabumi 103 . Persamaan tersebut disusun dengan analisis regresi menggunakan peubah bebas diameter atau kombinasi diameter dan tinggi pohon menggunakan 119 pohon model.1 . Mutu kayu Bustomi. -. kayu glondongan mangium dapat menjadi sumber kayu yang penting bagi pasar kayu pertukangan.kehutanan dan perikanan yang akan dikembangkan dalam pola agrosilvofishery harus didasarkan pada kesesuaian lahan dan pasar. Pemangkasan bentuk sebelum pemangkasan lift dilakukan dengan hasil akhir 300 batang pohon di pangkas hingga ketinggian 4. Kata kunci: Lahan rawa. Kata kunci: Isi. Suplement No. Persamaanpersamaan tersebut digunakan untuk menduga volume bebas cabang dan volume sampai diameter ujung batang 7 cm. Jarak tanaman yang rapat disaat penanaman merupakan salah satu pilihan. hutan A. Dengan rotasi yang tidak lebih dari 20 tahun (Srivastava 1993).) di KPH Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Dapat disimpulkan bahwa insiden heartrot dapat meningkat jika pemangkasan dilakukan pada saat tanaman rentan terhadap serangan dan adanya jamur penyebab yang masuk melalui luka bekas pangkas. Dengan pemangkasan dan penjarangan pertumbuhan pohon sampai akhir daur dapat diatur untuk menghasilkan pohon bebas cabang yang tinggi dan pertumbuhannya optimal. Hutan tanaman A. Cabang yang berukuran besar lebih sulit dipangkas dan berpotensi rentan terhadap masuknya penyakit. Agrosilvofishery Beadle. Terdapat 2 jenis persamaan volume yaitu persamaan regresi sederhana yang menunjukkan hubungan antara volume dengan diameter dan persamaan regresi ganda yang berdasarkan diameter dan tinggi pohon. mangium untuk produksi kayu bulat.2006 : Halaman 87-96 . mangium dapat ditanam hingga kerapatan 1000 pohon/ha. akan tetapi pengalaman dengan jenis lain menunjukkan bahwa kerapatan tanaman yang tinggi pada awal penanaman menjamin tersedianya pohon yang dapat memenuhi kriteria pemangkasan (Beadle et al. penampilan dan nilai kayu. Halaman 209-222 . mangium merupakan sumber kayu utama untuk bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia (Rimbawanto 2000). 1994). Sebagian pohon mangium juga menghasilkan batang ganda (multi-stem). puspa. Untuk itu diperlukan perlakuan pemangkasan. JAWA BARAT (Tree Volume Estimation for Puspa in the Sukabumi District of West Java) / Sofwan Bustomi. Adanya potensi cabang pohon untuk tumbuh besar dan resiko cabang mati sebagai titik masuknya jamur penyebab busuk hati menyebabkan perlunya dilakukan pemangkasan. Makalah ini menguraikan strategi pemangkasan dan penjarangan untuk Acacia mangium guna menghasilkan kayu dengan mutu yang memenuhi syarat sebagai kayu pertukangan. Chris STRATEGI PEMANGKASAN DAN PENJARANGAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU KAYU Acacia mangium / Chris Beadle. Knots dan busuk hati merupakan cacat yang mengurangi kekuatan fisik. Kata kunci: Acacia mangium. Tingkat kerapatan seperti di atas terlalu tinggi bila tegakan tersebut akan dikelola untuk menghasilkan kayu bulat. Penjarangan. Sofyan PENDUGAAN ISI POHON JENIS PUSPA DI DAERAH SUKABUMI. – .3. proposinya kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan tempat tumbuhya (Srivasta 1993). kayu mangium mulai digunakan sebagai bahan baku industri furnitur dan sebagian di ekspor ke pasar dunia (Hardiyanto 2005). Pohon berbatang tunggal merupakan prasyarat pokok untuk produksi kayu bulat. 2006 Beberapa persamaan telah dianalisa untuk menduga volume pohon puspa (Schima walliclii Korth. Di pasar domestik. Walaupun dugaan volume diperoleh dengan menggunakan peubah bebas diameter dan tinggi merupakan dugaan yang sangat teliti. Kerapatan yang tinggi juga dapat mempengaruhi rata-rata ukuran cabang. Pemanfaatan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Oleh sebab itu pemangkasan merupakan hal yang harus dilakukan sebagai bagian dari perlakuan silvikultur tanaman A. Pemangkasan. 2006 Hutan tanaman Acacia mangium di Indonesia berpotensi menghasilkan kayu untuk pasar furnitur baik di dalam maupun di luar negeri. namun dengan adanya kesulitan pengukuran tinggi pohon di lapangan maka persamaan hanya menggunakan peubah diameter tunggal diameter dapat merupakan pilihan. Rawa.5 m. Kayu mangium yang bebas dari cacat tumbuh mempunyai penampilan yang menyerupai jati (Gales 2002). Untuk tujuan kayu pulp.

Desember 2003. Lahan sulfat.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Lahan sulfat masam aktual merupakan salah satu lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup disitu. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. Selawesi 34. teknologi dan kelembagaan rehabilitasi perlu dikaji dan diketahui sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. habibatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15 m. tepung kanji.3% dengan perlakuan serbuk daun mimba. dan rapuh (fragile). hara mineral yang sangat miskin serta sifat keasaman yang tinggi dan mudah terbakar apabila dalam keadaan kering kekurangan air pada lahan gambut tersebut. vanili. Herman. Maluku 42. pengelolaan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Degradasi. Jenis galam (Melaleuca sp). yaitu ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. Lahan gambut mempunyai karakteristik yang spesifik seperti adanya subsidensi. sedangkan pada tanaman kehutanan lebih banyak yang ditanam dengan pola tumpang-sari. kentang dan lain-lain. uret 104 . sehingga dalam melakukan rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi dapat lebih berhasil. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus) dan lain-lain. Pengendalian dengan pestisida nabati terhadap larva uret memberikan pengaruh sebagai penghambat aktivitas makan (antifeedan).000 ha. Oleh karena itu.3% untuk perlakuan serbuk kulit mahoni. sifat irreversible drying. Berdasarkan uji beda nyata terkecil.000 ha. Ada beberapa tipologi di lahan rawa gambut yang perlu diketahui. masing-masing perlakuan digunakan 5 larva uret. Halaman 257-264.3. Pelestarian hutan rawa gambut dengan segala nilai kekayaan biodiversity harus segera ditindaklanjuti dengan nyata. jagung. Suplement No. 2006 Uret merupakan larva dari serangga Hollotricia helleri Brsk (Scarabaeidae) yang telah menjadi hama utama pada komoditas pertanian khususnya pada tanaman padi gogo. laporan terakhir dari Badan Planologi Khutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode tahun 1997-2000 di Indonesia mancapai 2.Daryono. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 35-50 . Pengelolaan bijaksana.000 ha. Hasil uji coba pengembangan jenis pohon asli dan bernilai ekonomi perlu diimplikasikan untuk rehabilitasi kawasan lahan gambut yang terdegradasi. sebagai pengganti pestisida kimia. Kata kunci: Rawa gambut. serta keanekaragaman hayati yang saat ini eksistensinya semakin terancam. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.000 ha dan Irian Jaya 8. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik.753. Pestisida nabati yang digunakan adalah jamur Beauveria bassiana. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas sekitar 17 juta ha yang meliputi di Sumatera 4.. rosot dan carbon storage.83 juta hektar/tahun termasuk di dalamnya kerusakan hutan lahan gambut. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi dicapai pada hari ke 4 dengan persentase kematian 83. ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. sehingga peran hidrologi/tata air di dalam gambut sangatlah penting. pestisida nabati. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 3 kali ulangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pestisida nabati yang berpotensi untuk dijadikan pengendali alternatif untuk hama uret.1 . sedangkan perlakuan mortalitas terendah dicapai pada hari ke 8 dengan persentase 83. Wida PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA URET SECARA IN VITRO (The Use of Floral Pesticides to Control Soil Pest by In Vitro) / Wida Darwiati. Pengujian dilakukan dengan cara mencampur bahan pestisida nabati tersebut dengan tanah media hidup uret di dalam wadah plastik. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. Kalimantan 3. Kata kunci: In vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit P3HKA Bogor pada bulan September. ekonomi dan budaya maupun fungsi ekologi sehingga kelestarian hutan rawa gambut dapat terjamin. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan baik sebagai resorvoir air. -. Herman PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT SECARA BIJAKSANA DALAM RANGKA MENJAGA KELESTARIANNYA / Daryono.613. juga sebagai insektisida kontak yaitu secara kontak langsung dengan tubuh mengakibatkan pingsan (paralisis) dan kematian larva. dengan merehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi. 2 perlakuan sangat nyata dalam pengendalian larva uret secara in vitro. Semua perlakuan pestisida nabati memberikan pengaruh yang nyata.531.000 ha. Pemilihan jenis yang tepat. Senyawa pirit Darwiati. jamur Metarhirizium anisopliae.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan terdapat 35 jenis ikan rawa dengan 10 macam alat tangkap dari beberapa habibat lahan rawa dan 10 jenis ikan ekonomis penting. Dengan kelayakan usaha perbandingan Benefit Cost Ratio (B/C) = 1. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk nitrogen terhadap produksi tunas dan kualitas stek pucuk. merawan. Penyakit akar yang mematikan yang menyerang K. sedangkan perlakuan pupuk 100 g NPK/tanaman menghasilkan kualitas stek pucuk yang lebih baik dibandingkan kontrol. Metode penelitian dilakukan dengan survei lapangan dan wawancara dengan dipandu kuesioner terpola. Muara Enim. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi jamur secara cepat tanpa tergantung pada cara identifikasi morphologi. Tectona grandis dan Khaya ivorensis di Semenanjung Malaysia. Dari jumlah 70 nelayan sebagai responden 50 persen status nelayan Full Time dan 50 persen status nelayan sambilan dengan pendapatan perbulan Rp. odorata)/ Ari Fiani. menuntut dilakukannya perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan stek pucuk. Penelitian dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. 2006 Penelitian aspek perikanan tangkap di lahan rawa yang merupakan bagian dari perairan umum tempat hidup dan berkembang biak beberapa jenis ikan rawa sekitar Patratani Kab.Dharyati. Kata kunci: Hasil tunas. Ekonomi komposisi ikan.5 g N (50 g NPK). Hutan tanaman. Alat tangkap. Ari PENGARUH PUPUK NITROGEN TERHADAP PRODUKSI TUNAS DAN KUALITAS STEK PUCUK MERAWAN (Effect of Nitrogen Fertilizers on Shoot Yield and its Quality as Shoot Cutting of H. aspek sosial ekonomi dilakukan dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal). Habibat Farid A. 2. 2006 Ketersediaan benih untuk bibit Merawan yang tidak teratur dan sifat rekalsitran dan benih. data yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif. No. -. Ikan. ivorensis ditemukan di wilayah negeri sembilan. 2006 Survei penyakit akar dilakukan pada tanaman Azadirachta excelsa. Ditemukan dua penyakit akar putih dan penyakit akar merah. 46 g N/tanaman (100 g urea) dan kontrol (tanpa pupuk). kebun pangkas. telah dilakukan di areal kebun pangkas di Kaliurang Yogyakarta sejak bulan Juli sampai Oktober 2002.al] . dan phellinus sp.-. Akar merah.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.3. -. habibat dan aspek social ekonomi. sampel ikan yang tertangkap ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan alat tangkap yang dioperasikan. Perlakuan pupuk diberikan kepada 10 baris tanaman sebagai ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. Akar putih. namun jamur penyebabnya belum dapat diidentifikasi. Mohd BUSUK AKAR PADA TANAMAN SELAIN ACACIA / Mohd Farid A [et. 23 g N (50 g urea). pupuk nitrogen. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah dan panjang tunas di kebun pangkas serta kualitas stek pucuk pada akhir percobaan.52 . Studi menggunakan penanda molekuler menemukan bahwa pasangan primer PNOX01/ITS4 dapat membedakan Phellinus noxius. masing-masing disebabkan oleh jamur Rigidoporus sp. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis ikan tertangkap dari beberapa habibat lahan rawa. Halaman 45 . Kata kunci: Perikanan. stek pucuk. penelitian meliputi jenis ikan. Penyakit akar putih. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 5 macam dosis pupuk N. alat tangkap.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 117-123 . 105 .39. Hidayat Moko. -.000.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.2006 : Halaman 62-70 . Kata kunci: Acacia mangium. Emmy PENELITIAN ASPEK PERIKANAN TANGKAP LAHAN RAWA DI SEKITAR PATRATANI KABUPATEN MUARA ENIM SUMATERA SELATAN / Emmy Dharyati. yaitu 7.090. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2001. Penyakit ini nampaknya berhubungan dengan buruknya cara persiapan lahan dan serangan jamur yang terjadi sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 50 g urea/tanaman menghasilkan jumlah dan panjang tunas yang lebih baik di kebun pangkas.1 . DNA Fiani. Penyakit. 15 g N (100 g NPK).

Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Identifikasi. Alat tangkap. A. Morag IDENTIFIKASI SECARA MOLEKULER ORGANISME PENYEBAB BUSUK AKAR DAN BUSUK HATI / Morag Glen [et. Morag PENGGUNAAN TEKNIK DNA UNTUK IDENTIFIKASI JAMUR / Morag Glen. Hutan rawa. Keragaman jenis ikan. sensitif dan dapat memberikan hasil dalam jumlah besar.2006 : Halaman 56-61 . kesehatan. 2006 DNA menyimpan banyak karakter taksonomi untuk identifikasi organisme yang mempunyai sedikit karakter morphologi. -. atau hanya mempunyai sifat-sifat yang unik hanya pada masa tertentu dari siklus hidupnya. memonitor keberadaan jamur simbiotik. ekologi. peternakan. (2) Lebak Sungai Mati dengan karakteristik vegetasi semai dan tumbuhan bawah berupa rumputan.Karim Gaffar dan Khairul Fatah. Di lebung pasunde alat tangkap yang paling tidak selektif adalah empang. Teknik ini juga banyak diterapkan untuk pengujian mutu pangan untuk mendeteksi kontaminasi jamur. Kabupaten Musi Banyuasin yaitu: (1) Lebung Pasunde dengan karakteristik rawa bervegetasi tipe pohon dan tiang.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 125-133 . Teknik DNA Glen. Kata kunci: Jamur. Teknik identifikasi DNA terutama diperlukan untuk identifikasi cepat misalnya untuk keperluan karantina atau bio-security. Diperairan hutan rawa lebung Pasunde Sungai Musi didapatkan 45 jenis ikan hasil. Teknik DNA merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk identifikasi jamur. Karim KEGIATAN PERIKANAN DI PERAIRAN HUTAN RAWA SUNGAI MUSI KECAMATAN SEKAYU / A. Meskipun banyak metode untuk menganalisa DNA.Desember 2005 pada 2 tipe rawa banjiran sungai Musi di Kecamatan Sekayu. Dimana identifikasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu menentukan perlakuan kesehatan yang tepat. saat ini yang paling banyak digunakan adalah metode yang berdasarkan pada PCR (polymerase chain reaction) karena cepat. Beberapa jenis jamur dapat dengan mudah ditumbuhkan dalam kultur dan menghasilkan karakter mikroskopis yang berguna untuk identifikasi. Busuk hati. Identifikasi 106 . Busuk akar. Kata kunci: Perikanan. 2006 Makalah ini membahas aplikasi teknik molekuler untuk identifikasi jamur penyebab busuk akar dan busuk hati pada Acacia mangium menggunakan empat sampel yang berbeda. sedangkan di lebak sungai Mati 14 jenis. Rawa banjiran. bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan yang tertangkap dan selektivitas alat tangkap. -. bagian yang digunakan untuk identifikasi taksonomi jenis jamur. Identifikasi DNA terhadap jamur yang berkaitan dengan tanaman juga berguna untuk meneliti jamur mikorhiza yang bermanfaat bagi tanaman. Teknik-teknik lain yang banyak digunakan dalam bidang pangan. biologi dan patologi jamur. Hasil ini menunjukkan kegunaan informasi sekuens DNA untuk mengklarifikasi informasi ekologis.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Metode yang dipilih untuk aplikasi tertentu dipengaruhi beberapa faktor.2006 : Halaman 50-55 .Gaffar.al] . termasuk jumlah sample dan jumlah kandidat jenis. Hasil tangkapan di lebak Sungai Mati didominasi oleh ikan Sapil (Helestoma temminkii) sedangkan di lebung Pasunde didominasi oleh ikan Lais (Cryptopterus spp). Semua teknik DNA memerlukan sample herbarium yang memadai dengan uraian morphologi yang lengkap untuk verifikasi hasil dari teknik DNA. dan penyakit tanaman juga diuraikan. Sementara sebagian lainnya sulit untuk ditumbuhkan dalam kultur atau kalaupun bisa tidak menghasilkan sifat-sifat yang spesifik. dan deteksi awal jamur perusak. Kata kunci: Acacia mangium. Ikan Glen. Tipe vegetasi. sedangkan di lebak Sungai Mati adalah jaring. Penggunaan teknik DNA untuk identifikasi jamur telah banyak diterapkan di bidang kesehatan manusia dan hewan.Teknik ini terutama berguna untuk identifikasi jamur yang tidak menghasilkan badan buah. 2006 Penelitian telah dilakukan selama delapan bulan mulai Mei . -.

2006 Tanaman murbei (Morus spp) banyak tumbuh di daerah tropis dan sub tropis pada ketinggian 400 m -700 m dpl dengan suhu rata-rata 21-25 derajat celcius (Katsumata. Didaerah Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal dengan nama besto.D. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar maka usaha pengendalian dengan insektisida sangat diperlukan. produksi kokon. pemangkasan. Kualitas dan kuantitas daun murbei sebagai bahan makanan ulat sutera sangat dipengaruhi aspek biologis. tuba. Hama penggerek. 1964) dan tanaman ini merupakan makanan utama ulat sutera (Bombyx mori). Perlu perlakuan awal lahan dengan melakukan pembuatan saluran drainase yang tepat dan pengapuran yang cukup untuk mendapatkan lahan yang optimal. Kata kunci: Hama. seperti akar tanaman tuba (Derris eliptica (Roxb) Benth). seperti pemilihan varietas yang ditanam. -. Akar tuba. tuwa leteng. serta mutu kokon yang dihasilkan oleh ulat sutra sehingga kondisi tanaman murbei sangat menentukan akan produksi yang dihasilkan oleh ulat sutera. Kelapa sawit. Halaman 61-63 . akar tuba. Pengelolaan yang baik dan benar dapat merubah lahan ini dari lahan marginal menjadi lahan yang memiliki potensi S1 dan S2 untuk kelapa sawit.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman.Keuntungan . G.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. pertumbuhan populasi.D PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI INDONESIA DAN ANCAMAN TERHADAP KELANGSUNGANNYA / G. bermutu tinggi dan ekonomis. Social ecological. sedangkan di Jawa Barat dikenal dengan nama tuwa. ternak peliharaan. Salah satu insektisida yang ramah lingkungan adalah insektisida nabati yaitu insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Keberlangsungan hutan tanaman terancam karena manajemen yang tidak tepat atas tanaman monokultur. Plantation forest. 2006 Lahan di wilayah Air Kumbang Padang pada umumnya merupakan lahan rawa pasang surut dan sebagian besar lahan ini merupakan lahan marginal sebelum adanya pengelolaan lahan lebih lanjut. oyod ketungkul. -. Pasang surut. Uji efikasi. tuwa laleue. Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dengan nama daerah akar jenu. kayu tuba. -. Mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida kimia (sintesis). Makalah ini menguraikan cara-cara untuk mengatasi hal diatas melalui cara pengelolaan yang tepat dan pendekatan multi-stakeholder untuk mengakhiri penebangan illegal. Agribisnis. Managemen. seperti keracunan pada manusia. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. namun ketersediaan tanaman ini sangat dipengaruhi oleh sistem budidaya. Hendi PROSPEK PENGELOLAAN LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI WILAYAH AIR KUMBANG PADANG / Hendi Hairudin dan Ulil Amri. tuba jenu.Golani. Penyakit. Hutan tanaman Hairudin. serangan hama dan penyakit pernah dilaporkan menyebabkan gagalnya budidaya ulat sutera di Indonesia. Teguh UJI EFIKASI AKAR TUBA TERHADAP HAMA PENGGEREK PUCUK MURBEI / Teguh Hardi TW dan Priyatna Wiraardinata. tuba kurung (Kalimantan Barat).Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 69-72 . Penduduk . Penelitian inter-disiplin akan terus memainkan peran dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Jakarta 23 Nopember 2006 . Rawa. Kata kunci: Acacia mangium. Air Kumbang Padang Hardi TW. Murbei 107 . Survei atas adanya kandungan dan kedalaman pirit menjadi sangat penting sebelum kita melakukan desain tata air di wilayah tersebut. kebakaran dan penebangan illegal.menyediakan kesempatan untuk pengembangan sosial dan pengentasan kemiskinan.menjamin suplai bahan baku serat yang terbarukan. Golani. sebelum melakukan standar budidaya kelapa sawit sebagaimana dilakukan dilahan kering pada umumnya. Tersedianya tanaman murbei yang baik merupakan salah satu penentu keseimbangan produksi benang sutera .2006 : Halaman 7-13 . polusi lingkungan dan hama menjadi resisten maka penggunaan insektisida ramah lingkungan merupakan alternatif yang tidak dapat ditawar lagi. 2006 Pengelolaan hutan tanaman yang berkelanjutan harus mencakup kepentingan Plane bumi-konservasi keragaman hayati dan mencegah kerusakan lingkungan.

Halaman 111-116 . -. -. pengadaan benih atau bibit serta informasi mengenai teknik budidayanya sangatlah penting.Hardiyanto. daun. Kata kunci: Acacia mangium. .)/ Nanang Herdiana. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan jenis media tabur hanya berpengaruh nyata terhadap parameter keserampakan tumbuh .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Nanang PENGARUH JENIS MEDIA TABUR TERHADAP PERKECAMBAHAN BAMBANG LANANG (Maduca aspera) / Nanang Herdiana. harga ini diharapkan akan meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Kayu bulat mangium yang sekarang tersedianya berasal dari tegakan yag tidak dipangkas dan tidak dijarangi. Halaman 137-140 . sehingga rendemen kayunya juga rendah (banyak mata cabang dan batangnya tidak lurus) sehingga rendemen kayunya juga rendah. tetapi kandungan tanah yang sangat tinggi akan berpengaruh pada struktur media (keremahan media). biji maupun yang lainya mempunyai potensi sebagai bahan baku obat dan masyarakat lokal sudah sejak dulu menggunakannya untuk pembuatan obat tradisional atau jamu. sehingga penelitian yang berkaitan dengan aspek ini masih diperlukan. mangium dapat dijadikan kayu bulat dengan daur 10 tahun dan dapat menghasilkan hingga 200 m3 per ha per tahun. Budidaya 108 . termasuk teknik pembibitanya belum banyak diketahui. Sampai saat ini informasi yang berkaitan dengan jenis ini. Kata kunci: Kepuh. Hengki Siahaan dan Teten Rahman S. Media tabur. Jenis media tabur yang paling sesuai untuk perkecambahan benih bambang lanang adalah media M3 (komposisi pasir: tanah = 50:50 v/v) dan M2 (komposisi pasir: tanah = 75:25 v/v). Eko B ACACIA MANGIUM UNTUK KAYU PERTUKANGAN / Eko B Hardiyanto.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Keserampakan tumbuh Herdiana. Di samping itu beberapa bagian dari tanaman ini baik kulit batang. sedangkan pada parameter daya berkecambah dan kecepatan berkecambah berbeda tidak nyata. 2006 Bambang lanang (Madhuca aspera) merupakan salah satu andalan lokal yang telah direkomendasikan untuk dikembangkan dalam kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Nanang POTENSI BUDIDAYA KEPUH (Sterculia foetida Linn. Tegakan A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media tabur yang paling optimal untuk perkecambahan benih bambang lanang.Permintaan akan kayu bulat mangium meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Jenis ini merupakan salah satu jenis substitusi yang paling baik bagi jenis ramin (Gonystylus bancanus) yang pada saat ini sudah semakin sukar didapatkan karena sudah langka dan telah masuk jenis yang dilindungi.. Jenis media yang diuji adalah perbedaan komposisi pasir dan tanah. Kayu pertukangan Herdiana. Maduca aspera. Perbedaan kemampuan setiap media yang diuji dalam mendukung perkecambahan bambang lanang terkait dengan perbedaan sifat fisik media. 2006 Kayu Acacia mangium tidak saja sesuai untuk bahan baku pulp dan kertas bermutu tinggi tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan baku kayu pertukangan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Meskipun pada saat ini harga kayu bulat mangium relatif rendah. 2006 : Halaman 97-104 . Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kecepatan berkecambah. Kayu jenis ini juga kemungkinan dapat digunakan untuk bahan baku pulp dan kertas. Sterculia foetida Linn. 2006 Kepuh (Sterculia foetida Linn) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia dan mempunyai kisaran tempat tumbuh yang luas walaupun lebih cocok untuk daerah pesisir. Sekitar 30 persen cocok untuk kayu bulat dengan diameter terkecil 30 cm. Kata kunci: Bambang lanang. Untuk mendukung program pengembangan kepuh ini. Daya berkecambah. Kayu mangium makin dikenal masyarakat dan meningkatnya mutu kayu sebagai hasil dari perlakuan silvikultur yang tepat untuk produksi kayu bulat. Kandungan-kandungan tanah akan berpengaruh dalam penyediaan air yang dibutuhkan selama proses perkecambahan. Perlakuan silvikultur yang tepat seperti pemangkasan sangatlah penting bila tegakan ditujukan sebagai penghasil kayu bulat.

Identifikasi Husna DIVERSITAS MIKORIZA PADA POHON PLUS JATI DI SULAWESI TENGGARA (Diversity ofMicoriza on PlusTtree of Teak in South East Sulawesi) / Husna. beberapa jenis membentuk hubungan mycorhizal yang menguntungkan dengan akar pohon inang. Kayu lapuk. Agribisnis. jamur papan dan jamur kerak. -. Jamur.3. Daerah Matakidi 109 . Buton (Sampolawa) dan Konawe Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 28 Maret . yaitu tahap pertama adalah pengambilan sampel tanah dan akar tanaman di 3 daerah pusat jati asal Kabupaten Muna (Raha.2 April 2005. Glomus ditemukan pada semua lokasi pengamatan dengan empat tipe spora. Junghuhnia vincta. Halaman 275284. Tahap kedua yaitu isolasi. Kata kunci: Acacia mangium. batang. Phellinus noxius dan beberapa jenis ganoderma. Basidiomycetes menempati banyak relung lingkungan termasuk pada sampah terdekomposisi.1 . Hasil penelitian menunjukan bahwa jati berasosiasi dengan CMA dengan ditemukan empat genus yaitu Glomus. Penyakit akar. Suplement No. R MODEL SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS DI LAHAN RAWA PASANG SURUT: KONSEPSI DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA / R Hermanto dan G Subowo. diperlukan strategi yang ditunjang oleh berbagai persyaratan tertentu sehingga pengembangan model tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan nilai tambah kepada petani serta menjadi wahana yang penting untuk menanggulangi kemiskinan di pedesaan. Rawa. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan model sistem dan usaha agribisnis di lahan rawa pasang surut. Oleh karena itu. sedangkan beberapa jenis yang lain merupakan patogen yang menyerang daun. Jenis-jenis Basidiomycetes secara tradisional diidentifikasi melalui bentuk dan struktur mikroskopis badan buah dan bentuk pertumbuhan ketika diisolasi dalam kultur laboratorium. Acaulospora dan Scutellospora. 2006 Sejumlah penyakit penting pada pohon dan tanaman di daerah tropis Asia disebabkan oleh jenis-jenis Basidiomycetes. kayu lapuk. untuk pengembangannya secara optimal dan berkelanjutan.2006 : Halaman 31-49 . Basiodiomycetes merupakan kelompok penting dari jamur yang mencakup bentuk-bentuk yang sudah dikenal seperti bentuk mushroom (jamur payung yang bisa dimakan). jamur toadstool (jamur payung beracun).Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. biofisik dan sosial ekonomi sehingga produktivitasnya masih relativ rendah. Taksonomi. Matakidi dan Wakuru).Hermanto.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 57-68 . Model tersebut merupakan serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dengan mengintegrasikan antara penerapan teknologi spesifik lokasi dan rekayasa kelembagaan pertanian. Hal ini berimplikasikan bahwa pembangunan pertanian di lahan rawa pasang surut harus dilakukan melalui serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dalam kerangka sistem dan usaha agribisnis. Ian A MIKOLOGI BASIDIOMYCETES / Ian A Hood. Basidiomycetes. telah mengarahkan pengembangan areal pertanian pada pemanfaatan lahan rawa pasang surut. Namun demikian pemanfaatan lahan tersebut belum dilakukan secara optimal karena adanya berbagai kendala teknis. yang digolongkan menurut produksi spora seksual di luar struktur mikroskopi yang disebut basidium. Penyakit penting pada pohon-pohon di Indonesia disebabkan oleh jenis Basidiomycetes seperti Rigidoporus microporus. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. jamur puffball (jamur kancing dengan banyak serbuk spora). Gigaspora. atau sistem perakaran pada beberapa jenis pohon yang berbeda. -. identifikasi dan pengamatan kolonisasi CMA dilakukan di Laboratorium Budidaya Pertanian Unit Kehutanan Fakultas Pertanian Unhalu Kendari. Pasang surut Hood. -.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Mikoriza Arbuskula (CMA) pada pohon induk Jati di Sulawesi Tenggara. dan tanah dengan habitat yang beragam seperti hutan maupun daerah terbuka. Penelitian dilaksanakan 2 tahap. 2006 Semakin menciutnya lahan subur untuk kegiatan non pertanian dan beberapa lahan sawah intensif yang telah mengalami jenuh produksi (leveling off) serta meningkatnya permintaan akan hasil pertanian khusunya pangan. Dari serangkaian pengkajian yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. Faisal DanuTuheteru dan Mahfudz. jamur earshstar (bintang) dan jamur koral.

-. hifa eksternal dan vesikula. Styrax benzoine.10 . multiplikasi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.01 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap multiplikasi.05 ppm terlihat hanya sesuai untuk induksi kalus dengan perkembangan lambat.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.01 ppm terbukti memberikan respon terbaik pada inisiasi tunas. kombinasi beberapa zat pengatur tumbuh akan diuji dalam kultur tunas ramin ini. Saat ini pengembangan jenis-jenis prioritas seperti jenis G.62 . 110 . benzoine. bancanus dan S benzoine mulai ditangani secara intensif.3. Kata kunci: Induksi. -.1 . benzoine. Media GD dengan BAP 1. kultur jaringan. -. zat pengatur tumbuh Jayusman KLASIFIKASI KEMENYAN BERDASARKAN VARIABILITAS FENOTIPIK DI TAPANULI UTARA (Styrax benzoine Classification Revealed Phenotypic Variability in North Tapanuli) / Jayusman.3. No. grandis dan A.1 .3. Kata kunci: Jayusman PERAN MEDIA DASAR DAN KONSENTRASI HORMON PERTUMBUHAN TERHADAP INDUKSI DAN MULTIPLIKASI TUNAS PUCUK KEMENYAN (The Effect of Basal Media and Plant Growth Regulator Concentration Hutan Tanaman : Vol. Halaman 53 . Pengujian dilakukan dengan berbagai media dasar yaitu Murashige and Skoogs (MS). bancanus. Sejumlah tanaman telah berhasil diproduksi secara komersial seperti T. kultur tunas. 2006 Towards The Succes of Induction and Multiplication in Shoot tip Culture of Styrax benzoione DRYAND) / Jayusman.Jurnal Penelitian Salah satu cabang bioteknologi yang telah diterapkan di Indonesia adalah perbanyakan kultur jaringan. jenis dan kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang ideal pada fase ini dan multiplikasi S.merupakan daerah dengan keanekaragaman CMA yang tinggi. Dua jenis Auxin: Indole Acetic Acid (IAA). No.05 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap induksi dan kombinasi media dasar MS dengan aplikasi kombinasi BAP 0. jati Jayusman INISIASI TUNAS RAMIN MELALUI KULTUR JARINGAN (Shoots initiation of Gonystylus bancanus Kurz In-vitro Propagation)/ Jayusman. Arif Setiawan. zat pengatur tumbuh. kultur jaringan. Pada skala luas diharapkan dapat menyediakan bibit skala produksi masal dalam waktu singkat dengan kualitas bibit sesuai induknya. Untuk itu percobaan ini ditujukan untuk mendapatkan media dasar.5 ppm + NAA 0. Halaman 233245. Suplement No. Halaman 1 . Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui variabilitas fenotipik jenis kemenyan di beberapa sentra produksi getah Gonystylus bancanus.1 . 2006 Pengembangan jenis-jenis prioritas seperti kemenyan mulai dilakukan secara intensif. diversitas. Bentuk kolonisasi yang ditemukan adalah hifa internal. 2006 Penelitian inisiasi tunas ramin (Gonystylus bancanus) melalui perbanyakan kultur jaringan telah dilakukan dengan obyek pengamatan meliputi (1) media dasar dan (2) kombinasi zat pengatur tumbuh (zpt) yang sesuai untuk kultur jaringan G. Untuk itu penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan deskripsi fenotipik jenis kemenyan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inisiasi eksplan pucuk pada media dasar 1/2 MS dengan aplikasi kombinasi ZPT BAP 1 ppm + IAA 0. Woody Plant Medium (WPM) dan Greshoff & Doys (GD).25 ppm + IAA 0. NAA dan Kinetin pada beberapa konsentrasi pada tahap induksi dan multiplikasi S. Hasil pengujian menunjukkan bahwa eksplan yang ditanam pada media 1/2 media dasar dengan kombinasi BAP 1 ppm + NAA 0. Pengujian di fokuskan pada aplikasi media dasar (MS dan ½ MS) dan aplikasi ZPT BAP. Napthalene Acetic Acid (NAA) dan jenis Sitokini (Benzyl Amino Purine-BAP) pada berbagai konsentrasi. 1/2 MS. mangium. Kata Kunci: Cendawan Mikoriza Arbuskula.

benzoine melalui kegiatan seleksi terhadap karakter unggul yang dimiliki. benzoine memiliki variabilitas fenotipik yang luas terutama pada karakter diameter batang. benzoine var hiliferum mengelompok berdasarkan karakter yang memiliki variabilitas fenotipik yang luas. Kata kunci: Kemenyan. Hasil penelitian ini membuka peluang identifikasi tanaman S. Sitoluama dan Aek Nauli.19 (perbedaan 0. tebal kulit dan luas daun.1 .5. Halaman 1 . benzoine dengan menggunakan elektrophoresis horizontal. 1. namun sebagian individu dari kedua jenis kemenyan tersebut mengelompok menjadi satu. Pertumbuhan tinggi semai. Styrax benzoine. Enam sistem enzim yang diuji menunjukkan adanya variasi aktivitas enzim dengan karakter migrasi pita isozim berkisar pada nilai Rf 20 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis S.27 . Glutamate oxaloacetate transaminase (Got).62. Temperatur elektrophoresis konstan 4 derajat Celcius.28 . S.7. Tapanuli Utara. Materi yang diuji dikoleksi dari tiga populasi (daerah koleksi benih) surian asal Propinsi Sumatera Utara yaitu: Ambarita (5 famili). Sipolha (3 famili) dan Tarutung (3 famili). Dua tipe variasi spesifik masing-masing ditemukan pada tipe getah pohon dan bentuk biji yang dibedakan atas tipe getah meleleh dan menggumpal serta bentuk dasar biji runcing dan agak datar. Famili. benzoine var hiliferum. Analisis isozim juga menguji kombinasi bufer ekstraksi. tipe tajuk.13 cm .Wana Benih : Vol. sistem enzim. Bufer ekstraksi. Zimogram Jayusman SERTIFIKASI ASAL KULTUR JARINGAN: IMPLEMENTASI DAN IMPLIKASINYA BAGI PERLINDUNGAN KONSUMEN/PENGGUNA / Jayusman. Analisis varians menunjukkan adanya perbedaan yang nyata diantara populasi pada sifat tinggi dan kekokohan semai dan tidak berbeda nyata pada sifat diameter semai.5 dan elektrolit bufer Natrium Borat pH 8. S. Kondisi eletroforesis optimum diperoleh dari ekstrak bufer TPTDAM pH 7. Malate dehydrogenase (Mdh). Phosphogluco isomerase (Pgi). No. Sistem enzim yang diuji Acid phosphatase (Acp). Famili yang diuji menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada semua pada sifat yang diuji. Simangonding. bufer elektrolit dan bufer gel dan karakter material daun.16 mm 1. Alcohol dehydrogenase (Adh) dan Glucosa-6-phosphate dehydrogenase (G-6-pdh). diameter dan berat biji). Penelitian ini mengkaji prosedur visualisasi sistem enzim di dalam populasi S.34 cm.7. karena jenis ini telah banyak dibudidayakan dalam skala luas khususnya hutan rakyat dan menjadi jenis pilihan utama dalam Gerakan Rehabilitasi Hutan dan 111 . Konsentrasi gel kentang adalah 13 persen dengan arus listrik 35 Ampere meter dengan voltase konstan 250 volt. Profinsi Sumatera Utara. Kata kunci: Fenotipik. 2006 Teknik Elektroforesis dapat diterapkan untuk mendeteksi isozim dalam perincian genotipe populasi tanaman kemenyan. -.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. seluruh individu pohon dari dua jenis S. Fase semai.10.7. Elektroforesis. getah. Variasi genetik Jayusman METODE EKSTRAKSI DAUN DAN INTENSITAS POLA PITA ISOZIM JENIS KEMENYAN (Leaf Extraction Method and Isozyme of Styrax benzoine Band Pattern Intensity) / Jayusman. diameter dan kekokohan semai bervariasi. Analisis gerombol menunjukkan bahwa kedua jenis S.1 . variabilitas Jayusman EVALUASI KERAGAMAN GENETIK BIBIT SURIAN DI PERSEMAIAN (Evaluation of Genetik Variation of Surian Seedling at Nursery Level)/ Jayusman. berturut-turut 5. Toona sinensis. Interpretasi genotipe berdasarkan profil pita isozim dalam bentuk zimogram menghasilkan struktur enzim monomer dan trimer dengan 10 lokus 20 alel. 2006 Jenis jati (Tectona grandis) saat ini tidak identik lagi dengan Perum Perhutani. Data dianalisis berdasarkan Uji Bartlett. -.32. 2006 Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan semai surian (Toona sinensis) di persemaian.Wana Benih : Vol. benzoine mampu disatukan dalam satu kelompok. Halaman 17 .kemenyan di Simasom.8 . bentuk buah (diameter dan berat buah) dan bentuk biji (panjang.5 yang tergolong migrasi lambat sampai sedang. No. perbandingan varians dengan standar deviasi variasi fenotipik dan analisis gerombol berdasarkan program NTSYSpc version 2. Koefisien kesamaan fenotipik menunjukkan bahwa pada skala kesamaan 0. Observasi dilakukan terhadap 15 karakter fenotipik pada 81 pohon yang berasal dari lokasi tersebut. benzoine var dryand dan S. Kata kunci: Surian. Masalah utama dalam ekstraksi isozim adalah munculnya senyawa sekunder dalam jaringan tanaman seperti tanin. senyawa fenolik serta subrat dalam sel yang sulit diidentifikasi. -. benzoine var dryand. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 35-41 .38 mm dan 4.81 atau 81%).

diantaranya materi perbanyakan harus lolos pemuliaan genetik. mengingat sertifikasi juga bersifat sukarela (voluntary) yang sangat terbuka untuk semua pihak berperan aktif memulai dan mengimplementasikan sertifikasi sumber benih. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Halaman 41-43 . Heru SERANGAN HAMA PENYAKIT DAN CARA ANTISIPASINYA PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI DAN HUTAN TANAMAN RAKYAT PT KUTAI TIMBER INDONESIA / Heru Judhiharto dan Agus Setiawan. Sertivikasi Judhiharto. sebagai berikut: Pihak perusahaan PT. mutu benih dan mutu bibit tanaman hutan. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Jabon (Gmelina arborea).5 juta pohon serta lokasi 2.Lahan (GERHAN). pemerintah juga mendapat mitra dalam pengadaan bibit. Saat ini masih banyak ketimpangan persepsi berkaitan potensi bibit kultur jaringan yang satu sisi dianggap selalu berkualitas dan memiliki keseragaman pertumbuhan dan disisi lain adanya keraguan mutu sumber materi genetik yang digunakan. Kutai Timber Indonesia (PT. Waru rangkang (Hibiscus similis). Hutan tanaman rakyat. antara lain persemaian. ekonomi. produksi bibit elit (berkualitas) tidak selalu atau harus dihasilkan melalui teknologi kultur jaringan. PT Kutai Timber Indonesia Kunarso. Beban sertifikasi tidak harus ditanggung pemerintah semata. dll. KTI melakukan manajemen penanaman sendiri dan pihak perusahaan PT. Kata kunci: Hama. pruning/rempesan cabang. persiapan lahan. Jakarta 23 Nopember 2006 . Halaman 95-101 . pemupukan. Tectona grandis.347 site dengan pola penanaman terintegrasi. Kultur jaringan.meskipun standarisasi dan sertifikasi bibit asal kultur jaringan tersebut belum optimal. pemeliharaan. Solusi yang dapat ditempuh adalah dengan (a) integrasi marker molekuler untuk pelacakan asal usul materi bibit.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. menegaskan bahwa bibit jati yang dipasarkan harus dilacak asal usulnya agar tidak memberi dampak negatif baik aspek lingkungan. Implementasi sertifikasi bibit asal kultur jaringan harus diawali pelacakan terhadap sumber materi genetik bibit. penangkar/produsen bibit mendapat harga jual yang pantas terhadap kualitas benih yang diproduksi serta pemulia pohon mendapatkan perlindungan intelektual. Didalam aktivitas perawatan tidak terlepas dari pada permasalah an-permasalahan tentang adanya serangan hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman tersebut dan didalam pelaksanaan dari silvikultur hutan tanaman. KTI melakukan pola kerjasama dengan masyarakat/institusi dengan sharing modal dan hasilnya. uji vigoritas) dikombinasikan dengan pelacakan marker molekuler. penanaman. antara lain adalah Sengon laut (Paraserienthes falcataria). 2006 Penanaman HTI (hutan Tanaman Industri) dan HTR (Hutan Tanaman Rakyat) dengan jenis tanaman fast growing species untuk bahan baku plywood industry. uji laboratorium. Kata kunci: Jati. Bibit jati asal kultur jaringan memberi kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan bibit jati di atas. 67/Menhut/-II/2004. Penyakit. Penanaman yang dilakukan oleh PT. Keputusan Menhut melalui SK No. Banyak faktor yang berperan dalam menghasilkan bibit unggul. KTI) sudah dilakukan sejak tahun 1997 sampai sekarang dengan luas kurang lebih 3000 ha dn jumlah tanaman 4. (b) menggunakan metoda gabungan antara sertifikasi konvensional (pemeriksaan lapangan. -. 2006 Hutan penelitian Kemampo adalah hutan yang dibangun dengan tujuan sebagai tempat berlangsungnya penelitian di bidang hutan tanaman untuk menghasilkan paket-paket teknologi tepat guna bagi perkembangan hutan 112 . Hutan tanaman industri. Implikasi dari implementasi sertifikasi diyakini memiliki multi dampak karena selain petani/konsumen mendapatkan harga ideal dan kepastian hasil. Balsa (Ochroma sp). dan sosial. penjarangan I dan II dan pemanenan. Bibit. Adi KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA: PENGALAMAN PENGELOLAAN HUTAN PENELITIAN / Adi Kunarso dan Edwin Martin.

Sementara itu upaya yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) sebagai pengelola hutan Kemampo antara lain: dengan pendekatan secara silvikultur yaitu dengan membuat sekat bakar (jalur hijau) dan ilaran api. Pengendalian kebakaran. kerusakan tertinggi dialami oleh A. Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.5 tahun di KHDTK Benakat. Hal ini disebabkan oleh ekosistem mikro yang kurang stabil/seimbang.. -. Industri rumah tangga. Salah satu bagian tanaman yang sudah dimanfaatkan serta diusahakan dalam skala industri rumah tangga di Sumatera Selatan yaitu daun.per hari. sementara uluran bantuan modal baik dari pemerintah maupun lembaga keuangan swasta tidak pernah menjangkau pengrajin atap daun nipah. Hutan Penelitian Kemampo. Keuntungan bersih yang diperoleh pengrajin atap nipah bisa mencapai Rp. selain itu tegakan monokultur bagi hama berarti akumulasi bahan makanan untuk kehidupannya. Palembang. Atap daun nipah. Dari hasil observasi di kelurahan Karyajaya. untuk memproduksi satu keping atap nipah dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp. Nypa fruticans. merupakan usaha padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Kalimantan Selatan yang hanya terserang 5.86 persen.-. Pengamatan dilakukan pada bulan September 2005. Patah pucuk merupakan jenis kerusakan yang umum dijumpai pada tanaman Acacia. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kerusakan ini menimbulkan kerugian dan banyak menyebabkan kematian tanaman. Tanaman ini banyak dijumpai dirawa-rawa air payau dan di depan muara-muara sungai.74 persen dari seluruh tanaman. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha ini adalah belum adanya kelembagaan yang mengakomodasi kepentingan pengrajin serta minimnya modal yang dimiliki.. sebagai bahan baku pembuatan atap.5 tahun di KHDTK Benakat rata-rata sebesar 12.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Sumatera Selatan Kurniawan. Mati pucuk. Salah satu ancaman bagi pengembangan dan pengelolaan hutan Kemampo adalah kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun. Pengelolan hutan Kunarso. Kata kunci: Nipah. mangium asal kebun benih Wonogiri. pengawasan untuk mendeteksi secara lebih dini kemungkinan terjadinya kebakaran serta penanggulangan secara fisik saat kejadian kebakaran. Nilai ekonomi. Adi POTENSI DAN POTRET PENGUSAHAAN NIPAH (Nypa fruticans) DALAM MENUNJANG EKONOMI RUMAH TANGGA DI SUMATERA SELATAN / Adi Kunarso. Usaha ini akan terus langgeng karena peminat atap sederhana ini tidak akan surut. 700.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 161-166 . Kerugian akibat kebakaran yang terjadi adalah rusak dan hilangnya plotplot penelitian yang berarti juga kehilangan data penelitian. Andriyani. kerusakan mencapai 21. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui intensitas kerusakan mati pucuk pada delapan asal sumber benih Acacia mangium umur 3. Kata kunci: Acacia mangium. 450. Usaha kecil atap daun nipah.. serta belum adanya tindakan hukum terhadap pelaku pembakaran. -.khususnya hutan tanaman.. 2006 Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi lahan rawa pasang surut yang cukup luas. 2006 Pembangunan hutan monokultur menyebabkan resiko kerusakan tanaman oleh hama menjadi meningkat. sedikitnya petugas dilokasi.hingga Rp. Asal sumber benih. Pada masing-masing asal sumber benih. Beberapa permasalahan yang dihadapi di hutan adalah: kurangnya sarana dan prasarana pencegahan dan pengendalian kebakaran. Halaman 87-90 . 600. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerusakan akibat mati pucuk pada tanaman Acacia mangium umur 3. 300. Agus EVALUASI INTENSITAS KERUSAKAN MATI PUCUK ASAL SUMBER BENIH ACACIA MANGIUM DI KHDTK BENAKAT / Agus Kurniawan dan C. Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu vegetasi penyusun ekosistem rawa pasang surut yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi. KHDTK Benakat 113 .000. Sedangkan kerusakan terendah ditujukan oleh tanaman A.1 persen. mangium asal tegakan benih Riam Kiwa.dengan harga jual Rp. 16. Kata kunci: Kebakaran hutan. Kecamatan Ilir Barat II.hingga Rp.

Sementara pasokan kayu (pertukangan) dari Hutan Tanaman Industri (HTI) hingga saat ini belum mampu memenuhi kekurangannya. pengembangan hutan tanaman tembesu di Sumatera 114 . -. Abdul Hakim ASPEK TEKNIK SILVIKULTUR DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN TEMBESU / Abdul Hakim Lukman. Hevea brasiliensis Muell Arg. Akan tetapi akibat banyaknya tekanan dan konversi. Untuk teknologi okulasi di tempat ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Sumatera Selatan Lukman. Lahan rawa merupakan salah satu tipe dari lahan basah. Secara ekologis. Melihat kenyataan tersebut. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Dari data pengujian klon pada lahan gambut tampaknya pertumbuhan awal. luas lahan basah makin menyusut hingga tinggal 40 juta hektar. Menurut ekosistemnya. Kata kunci: Rawa gambut. Tembesu (Fagraea fragrans) yang merupakan salah satu jenis pohon andalan setempat di Sumatera Selatan. saat ini sebanyak 167 sawmill legal di Sumsel terpaksa ditutup. mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Areal karet tersebut saat ini sebagian besar tersebar pada tanah-tanah mineral.000 meter kubik. 2006 Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan basah cukup luas di dunia yang mencapai 54. Lahan gambut. indikasi tersebut tampak dari semakin sulitnya beberapa industri (penggergajian. Kata kunci: Karet.061 ha. Dilaporkan. Hal ini disebabkan karena kesuburan dan besarnya potensi sumber daya alam yang berada disekitarnya. Irwansyah Reza PEMANFATAN HUTAN DAN LAHAN RAWA GAMBUT DI PANDANG DARI APEK KONSERVASI: PENGALAMAN KEGIATAN CCFPI DI SUMATERA SELATAN / Irwansyah Reza Lubis. jelutung dan tembesu. lahan basah rawa di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 tipe: (1) Hutan rawa air tawar (2) Rawa berumput/lebak (3) Rawa dan lahan gambut.3 juta ha dan menunjang perekonomian rakyat karena sebagian besar merupakan perkebunan karet rakyat. tanaman ini masih mampu tumbuh dan mencapai usia matang sadap sama dengan pertumbuhan karet pada tanah mineral.Khusus di Sumatera Selatan. maupun kerajinan khas Palembang) dan masyarakat memperoleh beberapa jenis kayu komersial yang berkualitas seperti ulin. Dengan melihat potensi lahan gambut yang ada di Indonesia dan dalam rangka pengembangan karet serta pemanfaatan lahan gambut yang ada maka klonklon ini dapat diujicobakan pada lahan gambut dengan beberapa perbaikan teknologi untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan saluran-saluran drainase dan juga melakukan okulasi di tempat sehingga perakaran tunggangnya tidak terganggu. raminn. membuat potensi hutan alam kita baik dalam skala nasional maupun lokal di Sumatera semakin menurun. Saat ini telah tersedia berbagai klon anjuran hasil pengujian yang dilakukan pada tanaman mineral. Klon karet Lubis. dengan areal mencapai 3.968.Lasminingsih.2 juta meter kubik menjadi 700. 2006 Tanaman karet di Indonesia merupakan salah satu sumber devisa negara yang memberikan kontribusi cukup tinggi. Selain itu kebanyakan HTI yang dibangun diperuntukkan memenuhi kebutuhan industri pulp. Lahan gambut. Salah satu kendalanya adalah dari ketahanannya terhadap ketumbangan/kemiringan pohon pada umur tanaman yang lebih lanjut.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 2534 . Sedangkan rawa gambut dan lahan gambut sendiri juga saat ini mulai mengkhawatirkan keberadaannya. akibat kelangkaan pasokan bahan baku yang turun drastis dari 4. pasar maupun penguasaan teknik silvikulturnya.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. CCFPI. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 151-159 . Lahan gambut yang tadinya dianggap lahan marginal dan tidak banyak dimanfaatkan mulai dibuka dan dikonversi karena dari semakin menyempitnya ketersediaan lahan. 2006 Akibat eksploitasi hutan yang tidak seimbang dengan upaya rehabilitasi yang dilakukan selama ini. Halaman 21-24 . Mudji PERKEMBANGAN BAHAN TANAM KARET DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA PADA LAHAN GAMBUT / Mudji Lasminingsih. -. sedangkan pada tanah gambut belum banyak walaupun pada beberapa tempat dijumpai pertanaman karet pada jenis tanah ini. Hutan rawa air tawar dan rawa berumput adalah jenis lahan rawa yang sudah banyak rusak dan semakin kurang keberadaanya. pembangunan hutan tanaman yang diperuntukkan sebagai pemasok bahan baku kayu pertukangan dengan jenis-jenis lokal yang komersil sudah selayaknya direalisasikan. saat ini (menurun sekitar 25 persen).

Zat pengatur tumbuh dan media tanam merupakan aspek penting dalam perbanyakan tanaman dengan cara tersebut. sedangkan faktor kedua adalah media tanam yaitu campuran tanah + pasir (l:l).34 . Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 43-47 . Kata kunci: Jati. Jarak tanam 2 m x 6 m memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam 3 m x 3 m. RPH Banaran. bobot basah dan bobot kering stek dan volume akar stek.3. 12 klon jati sebagai perlakuan dan 5 treeplot berbentuk bans untuk tiap perlakuan dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan 2 m x 6 m. zat pengatur tumbuh. klon.4. Hutan tanaman. Suplement No.3. Mahfudz VARIASI PERTUMBUHAN BEBERAPA KLON JATI HASIL STEK PUCUK PADA DUA JARAK TANAM DI GUNUNG KIDUL (The Growth Variation of Some Teak Clones from Cuttings on Two Planting Distances at Gunung Kidul) / Mahfudz. sejak juni sampai Desember 2004. Kata kunci: Tembesu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merbau dapat diperbanyak secara stek pucuk dan perlakuan zat pengatur tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot segar dan bobot kering stek dengan media tanaman yang mengandung bahan organik tinggi.29 m . Grafting merupakan salah satu cara dalam perbanyakan tanaman untuk penyediaan bibit yang diperlukan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Jenis andalan setempat. semak belukar dan hutan sekunder bervegetasi jarang. -. Teknik silvikultur Mahfudz PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK MERBAU (Effect of Growth Regulators and Plant Mediums on the Growth of Instia spp Shoot Cuttings) / Mahfudz.1 . Kegiatan pemangkasan cabang (pruning) dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan kualitas kayu berupa berkurangnya jumlah mata kayu. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.49 m untuk tinggi dan 2. Penelitian dilakukan di petak 22a. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh dan media tanam telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman sejak Juni sampai Desember 2004. No.63 m untuk diameter. media tanam.1 . Penelitian bertujuan untuk mengetahui sumber scion terhadap pertumbuhan bibit jati asal grafting telah dilakukan di persemaian Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Kata kunci: Biomasa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Lengkap Berblok dengan 5 perlakuan sumber scion yaitu: KG!.4. Halaman 247256.22 m . stek pucuk. 2006 Salah satu aspek penting dalam pengembangan hutan jati rakyat adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. Hasil analisis tanaman jati umur 22 bulan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman secara umum baik dengan kisaran 2. Salah satu upaya dalam pengadaan bibit adalah dengan perbanyakan tanaman secara stek pucuk. Isnaini. Hidayat Moko dan Aswan Ajarul. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pertumbuhan klon jati hasil stek pucuk dan jarak tanam yang tepat di lapangan. -. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 2 faktor perlakuan. yaitu faktor pertama zat pengatur tumbuh IBA dan IAA dengan konsentrasi 0 dan 20 ppm. LMG1. Tembesu dapat ditanam pada areal lahan yang didominasi alang-alang. pertumbuhan tanaman Mahfudz PENGARUH SUMBER SCION TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JATI ASAL GRAFTING / Mahfudz. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan. Tyastuti Purwani dan Wahyu Yudianto. Pemeliharaan tanaman pada awal pertumbuhan mutlak dilakukan yang berupa pembersihan tumbuhan bawah dan aplikasi pupuk. Halaman 25 . pasir + kompos (1:1) dan tanah + pasir + kompos (1:1:1) dengan ulangan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 10 stek. dengan penyiapan lahan secara manual tebas total dan jarak tanam rapat 2.5 m x 1 atau 3 m x 1 m.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. LMG2 dan LMG3 (scion dari Lamongan) dengan 5 kali ulangan dan setiap ulangan 115 . GK2 (scion dari Gunung Kidul). merbau.Selatan dimungkinkan dapat berhasil dengan baik. BKPH Playen Gunung Kidul pada bulan Nopember sampai Januari 2005. Penelitian menggunakan rancangan tersarang dengan 5 blok sebagai ulangan. 2006 Merbau (Instia spp) merupakan jenis tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam pembangunan hutan tanaman memerlukan pengadaan bibit dalam jumlah banyak. Hidayat Moko.

panjang tunas dan diameter tunas. social forestry 116 . jumlah daun. Pelaksanaan program social forestry hutan tanaman industri dengan pola MHBM seperti diterapkan oleh PT. semakin terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. lemahnya koordinasi antar lembaga yang terkait. rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) sejauh ini belum berhasil mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera.terdiri dari 5 tanaman hasil grafting. serta tidak dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan dan perumusan program. Penyebab kurang berhasilnya sosial forestry di masa lalu antara lain adalah kebijakan yang tidak mendukung. semakin berkurangnya intensitas konflik sosial dengan masyarakat. No. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Program social forestry MHBM dan MHR PT. Edwin KELAYAKAN EKONOMI DAN MANFAAT SOSIAL PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI (Economic Martin. tidak lagi berdasarkan asumsi-asumsi atau pandangan dan pendapat subjektif belaka. Alat analisis utama yang digunakan yaitu studi kelayakan usaha dan tinjauan manfaat sosial terhadap program tersebut. pertanyaan " Bagaimana melaksanakan program hutan rakyat di suatu daerah?" menjadi terjawab.2 .3. penghijauan. bukan sebagai salah satu sistem usaha produktif ekonomis. Halaman 31-44 .17. Ditengah kegalauan dalam mengelola kehutanan Indonesia.Scion yang berasal dari Lamongan menunjukkan pertumbuhan tanaman hasil grafting yang lebih baik dibandingkan dari Gunung Kidul. Manfaat sosial diterapkannya program social forestry yaitu menurunnya kejadian kebakaran di lahan konsesi HTI. Sumber scion Martin. Pengamatan dilakukan terhadap persentase hidup. Grafting. -.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. bahkan beberapa teknik justru didalami dan dipertajam hasilnya sesuai dengan Prinsip Triangulasi. Tidak semua teknik PRA digunakan untuk mengkaji keadaan masyarakat Desa Tanjung Sari II karena sesuai dengan prinsip PRA hasil yang optimal. MHP di Sumatera Selatan dijadikan sebagai objek studi kasus. manfaat sosial. 2006 Program pembangunan dimasa lalu seperti hutan kemasyarakatan (HKm). social forestry dianggap proyek. Rootstock. Salah satu teknik yang cukup dikenal dalam mengembangkan partisipasi masyarakat adalah PRA (Participatory rural appraisal).128 . Melalui perencanaan partisipatif ini. Tulisan ini hendak menyajikan hasil penelitian aksi perencanaan pengembangan hutan rakyat di Desa Tanjung Sari II Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir. Pelaksanaan kegiatan menggunakan teknik-teknik PRA. PRA. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang apakah program social forestry dapat dijadikan sebagai sebuah pilihan sistem usaha dalam pembangunan hutan tanaman industri. pada era tahun 2002-2003 Departemen Kehutanan menggaungkan "Social Forestry" sebagai payung semua program yang akan dilaksanakan. Edwin MANFAAT PERENCANAAN PARTISIPATIF DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH SOSIAL FORESTRY: DENGAN CONTOH KASUS APLIKASI PRA UNTUK PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DIDESA TANJUNG SARI II KECAMATAN LEMPUING OKI / Edwin Martin. Kompatibel. Fidelia Balle Galle. MHP bernilai ekonomis jika suku bunganya berada kisaran 14% -15. Outcame PRA seperti yang diaplikasikan di Desa Tanjung Sari II sangat berguna bagi Dinas Kehutanan untuk mengambil langkah-langkah taktis dalam melaksanakan tindakan kegiatan pengembangan hutan rakyat. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan scion yang berasal dari sumber yang berbeda tidak berbeda nyata terhadap semua parameter yang diamati. sedangkan untuk program MHR bernilai ekonomis jika suku bunganya berada pada kisaran 14% . hutan rakyat. 2006 Konsep perhutanan sosial (social forestry) seringkali dipahami hanya sebagai obat penawar untuk menangani konflik sosial usaha hutan tanaman. Lembaga pengembang program dapat melakukan aktifitasnya (sesuai tupoksinya) dengan arahan yang jelas. Kata kunci: Perencanaan partisipatif. Tectona grandis. Kata kunci: Jati. Helly Fitriyanti. Halaman 117 . Social forestry Feasibility and Social Benefit of Social Forestry Program at Industrial Plantation Forest)/ Edwin Martin. "Social Forestry" masih belum mampu memenuhi harapan banyak pihak dan perlu dibenahi.55%. kelayakan usaha.89%.

seperti Agathis lorantifolia. mecistopteryx 3. tepat.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Selain itu. Karen M Barry dan Ragil S. pertumbuhan. stenoptera sebesar 3. Yetti Heryati.71 . Rancangan yang digunakan adalah Acak Lengkap dengan dua tipe pemeliharaan yang dilakukan sampai tanaman berumur 3 tahun. 2006 Metode ini menguraikan tentang metode yang cepat. penanaman dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme. sedangkan jika pemeliharaan kurang intensif sebesar 56 HOK/ha. sureni yang menjadi liat. P tersedia dan KTK serta nilai INP tumbuhan bawah jika dibanding pemeliharaan intensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah di bawah tegakan umumnya masam sama dengan kondisi awal. Prestasi kerja pembangunan hutan tanaman meranti mulai dari penyiapan lahan.15 cm dan 15 cm . tengkawang Mindawati. Tekstur tanah setelah penanaman lempung liat berdebu. Syaffari Kosasih. satu di Riau dan lainnya di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa provenansi dapat mempengaruhi serangan busuk hati tetapi tidak ada hubungannya dengan kandungan ekstraktif kayu. Yetti Heryati. Nina PENGARUH FREKWENSI PEMELIHARAAN TANAMAN MUDA TERHADAP PERTUMBUHAN MERANTI DI LAPANGAN (The effect of Tending Frequency on Growth of Shorea Sapling at Field)/ Nina Mindawati. Pinus oocarpa. Kandungan bahan organik. Hasilnya dibandingkan dengan survei yang berdasarkan pada log hasil longitudinal pada log. Penanaman. Jawa Barat. sedangkan pengaruhnya terhadap porositas. Casuarina junghuhniana.B Irianto.3. Halaman 155 . tekstur dan penampilan dari kayu yang diserang. Kata kunci: Kesuburan tanah.43 m dan 3. Pohon hutan. Jawa Barat. berat jenis dan air tersedia berpengaruh positif. Nina PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS POHON HUTAN TERHADAP KONDISI KESUBURAN TANAH ANDOSOL ( The effect of Some Forest Species Plantation to Condition of Andosol Soil Fertility)/ Nina Mindawati. -. karena tanah yang subur memungkinkan pohon tumbuh dan menghasilkan kayu serta produk lainnya dengan baik. Kondisi tanah dan tumbuhan di areal dengan pemeliharaan yang intensif menunjukkan hasil yang lebih baik ditinjau dari pH tanah. -. Penilaian terhadap 2 percobaan. platyclados sangat masam. Jasinga. sedangkan jenis S. Busuk hati pada A. Penelitian mengenai macam dan frekwensi pemeliharaan terhadap tanaman muda di lapangan telah dilakukan di HP Haurbentes.Mindawati. 2006 : Halaman 20-30 . Khaya anthotheca dan Acacia cassicarpa telah dilakukan pada tanah andosol di dataran tinggi Cikole. A. kecuali T. Halaman 63 .2 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 Pembangunan hutan tanaman Industri perlu memperhatikan faktor kesuburan tanah. dan dapat diandalkan untuk mengenali serangan busuk hati dan busuk akar.3 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemeliharaan intensif berpengaruh nyata terhadap-rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter jenis S.Perkembangannya diikuti dengan perubahan warna. Busuk akar dibedakan menurut warna jaringan yang terserang jamur dan terkait dengan beragam 117 . Pengmbilan sampel tanah dilakukan dibawah tegakan yang telah berumur enam tahun pada 3 titik dan dicampur untuk dianalisa sifat kimia dan biologi tanahnya. Alnus nepalensis. Toona sureni. kecuali untuk jenis S.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Shorea platyclados. Program pembangunan HTI tengkawang tidak akan berhasil dengan baik jika tanpa dilakukan pemeliharaan pada tanaman muda di lapangan. -.64 cm. shorea. unsur hara makro dan kapasitas tukar kation pada umumnya sama. Tanda-tanda tersebut digunakan untuk menilai secara cepat kejadian dan tingkat serangan busuk hati pada log hasil penebangan di lapangan. yaitu berupa pemeliharaan intensif dan kurang intensif. 2006 Shorea atau meranti dikenal di perdagangan dunia sebagai kayu tropik yang cukup berperan penting. mangium disebabkan oleh hymenomycetes yang menyerang selulosa dan lignin.164 . jumlah fungsi dan respirasi di dalam tanah yang berdampak positif terhadap kesuburan tanah. Penelitian mengenai pengaruh penanaman jenis pohon hutan.76 cm.19 m dan 3. Caroline L BUSUK HATI DAN BUSUK AKAR PADA ACACIA MANGIUM : IDENTIFIKASI GEJALA DAN PENILAIAN TERHADAP TINGKAT SERANGAN / Caroline L Mohammed. No. Tanah andosol Mohammed.3. sehingga penanaman jenis dapat menstabilkan kondisi tanah. penanaman dengan pemeliharaan yang intensif selama 3 tahun memerlukan sekitar 66 HOK/ha. sedangkan sifat fisik sampel diambil pada dua kedalaman 0cm . No.30 cm dengan menggunakan ring sampel. Kata kunci: Frekuensi pemeliharaan. N total.

cepat dan mudah dilakukan oleh petugas lapangan dengan pelatihan secukupnya. Mewujudkan Sumsel sebagai lumbung Pangan. Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat serta Mewujudkan sumsel Bersatu Teguh yang selanjutnya akan dijabarkan lebih jauh dalam program-program pembangunan yang bersifat implementatif. Busuk hati. Teknik monokuler telah berhasil mengidentifikasi jamur Ganoderma philippi sebagai jamur penyebab busuk akar merah. 2000). mangium adalah pelapukan kayu oleh jamur saprotrophic yang menyebabkan penurunan mutu kayu meskipun tidak mematikan pohon. Pemahaman lebih lanjut terhadap isu-isu tersebut di atas. Survei yang akurat harus mencatat gejala di atas permukaan tanah.Penyakit busuk akar menyebabkan kematian tajuk. kekuatan sumberdaya manusia yang masih besar dan multidisiplin. persentase kejadian penyakit). Penelitian dilakukan di lapangan (untuk mengamati gejala. dan tidak secara khusus menyerang jaringan hidup. Illa Anggraeni.3 . Surya Hutani Jaya Sebulu. Dengan potensi sumberdaya alamnya yang besar. memacu Provinsi Sumatera Selatan untuk melasanakan pembangunan dengan memprioritaskan peningkatan kesejahteraan melalui berbagai langkah strategis dan kebijakan pokok yang dituangkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan jangka menengah daerah dan difokuskan pada agenda mewujudkan Sumsel sebagai Lumbung Energi Nasional. Kalimantan Timur. Sebagai daerah yang kaya akan sumberdaya alam. urophylla. Penggunaan teknik penginderaan jauh untuk survei penyakit juga diulas. Lahan rawa. Akibat penyakit tersebut daun-daun rontok dan tanaman kering meranggas. Kegiatan identifikasi merupakan suatu proses mencocokkan secara umum dan membandingkan ciriciri yang didapat secara makroskopis maupun mikroskopis dengan ciri-ciri yang ada dalam referensi. Survei terhadap penyakit pada hutan tanaman acacia menyimpulkan bahwa busuk hati. Kecepatan perkembangan penyakit nampaknya berhubungan dengan awal serangan busuk akar. Sumatera Selatan memiliki potensi posisi strategis dalam perekonomian nasional. Aris KEBIJAKAN PENGELOLAAN LAHAN RAWA SECARA TERPADU DI SUMATERA SELATAN / Aris Munandar dan Syafrul Yunardi. dan mengamati pola penularan penyakit.3.191 . 118 . Jamur penyebab busuk hati adalah parasit basidiomycetes yang masuk ke dalam pohon melalui luka. busuk akar. -. Busuk akar menyebar melalui hubungan antara akar yang sehat dengan akar yang terjangkit jamur busuk akar atau kayu yang membusuk akibat jamur akar. Busuk akar. Penilaian terhadap busuk hati dan busuk akar memerlukan pendekatan yang berbeda. termasuk potensi lahan rawa. kemudian dilanjutkan di laboratorium Kelti Perlindungan dan Pengaman Hutan. Kabupaten Kutai Kartanegara. kedudukan geografis dan kondisi geopolitan yang sangat terkendali. Puslitbang Hutan Tanaman Bogor untuk identifikasi patogen bercak daun. Sumatera Selatan Ngatiman PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN EKALIPTUS (Attack of leaf spot disease on Eucalyptus)/ Ngatiman. metode tersebut perlu sederhana. Busuk hati pada A. Kebijakan. Busuk akar adalah pelapukan akar oleh beberapa patogen basidiomycetes yang menyerang jaringan hidup dan dapat mengakibatkan kematian pohon. maka wilayah pembangunan di propinsi ini sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu daerah tumpuan strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 1-6 . No. Halaman 183 . Kata kunci. pertumbuhan terhambat dan akhirnya kematian pohon. pohon yang terserang cenderung terjadi secara acak namun kemudian mengelompok menandakan bahwa serangan jamur telah meluas. tanaman Eucalyptus urophylla Blake.basidiomycetes. memeriksa luasnya infeksi pada akar. Ketika busuk akar pertama kali ditemukan. bekas cabang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis pathogen dan gejala yang ditimbulkannya serta persentase kejadian penyakit pada E.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Hutan tanaman. juga masih menyisakan masalah-masalah pembangunan antara lain isu kemiskinan. Kata kunci: Acacia mangium. Untuk keperluan operasional di lapangan. Pelaksanaan pembangunan tersebut selain telah menghasilkan keberhasilan yang telah dicapai.. 2006 Di areal hutan tanaman PT. umur 3 tahun terserang penyakit bercak daun. dan karat daun adalah ancaman utama (Old et al. Hasil identifikasi ternyata penyakit bercak daun pada E. 2006 Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propivinsi Sumatera Selatan sampai saat ini merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara berkesinambungan dari kegiatan sebelumnya. Tingkat serangan Munandar. pengangguran dan rendahnya pendapatan perkapita yang perlu diantisipasi dan segera dicarikan jalan keluarnya.

Duri (Mimosa infisa). 2006 Danau Cala merupakan sungai mati (oxbow lake). Baung (Mystus nemurus). Serandang (Channa pleuropthalmus). Kepor (Pristolepis fasciata) dan Tapah (Wallago attu). Jenis-jenis tersebut adalah Ikan toman (Channa micropeltes). Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Sukun (Artocarpus comunis). Bujuk (Channa lucius).1 . Teki (Cyperus rotandus). Marsepang (Midraraetil tharipoides). yaitu rata-rata sebesar 39. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial 2x3 dengan pola acak lengkap yang diulang sebanyak 3 kali. Kalimantan Timur.46 persen dengan intensitas serangan 7. Mulyana Omon. Ikan Juar (Luciosoma setigerum) dan Ikan Seluang Batang (Epalzeorhnchos kalopterus). sedangkan persentase kejadian penyakit pada umur 5 tahun sebesar 40.urophylla umur 3 dan 5 tahun disebabkan oleh fungi Macrophoma sp.23 . Kukulang (Melostoma paliantum). Ikan.38 cm. Penangkapan ikan konsumsi dimulai setelah air mulai surut dengan cara menutup sungai-sungai kecil yang banyak terdapat di danau Cala. Bungur (Lagertrounia spiasa. Banyuasin. Sebanyak 58 jenis ikan perairan umum memanfaatkan hutan rawa untuk mencari makan (feeding ground). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi teknik rehabilitasi lahan alang-alang dengan jenis yang sesuai dari famili Dipterocarpaceae. Hutan rawa.79 cm dan sebesar 0.37 cm dan 0. Pandan (Pandanus tectorius). Perairan umum Vol. Musi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis. Setiap perlakuan dibuat petak coba dengan ukuran 50 m x 50 m (0. yaitu rata-rata sebesar 39. bentuknya setengah cincin dan letaknya berdekatan dengan sungai utamanya yaitu Sungai Musi dan perairan ini terletak di Kabupaten Musi Banyuasin. Teknik penyiapan lahan dilakukan sebelum penanaman adalah dengan menggunakan herbisida yang bertujuan untuk memusnahkan alang-alang. Kebarau (Hampala macrolepidota).38 cm. Persentase kejadian penyakit pada E.61 persen. lanceolata. Habibat. Cungcungre (Denox caniformis). Dengan demikian penanaman jenis dari suku 119 . -. No. Alat tangkap yang besar yang biasa dioperasikan di danau cala adalah empang.3. R.38 cm. Di danau Cala pada umumnya penangkapan dilakukan pada musim penghujan untuk menangkap ikan hias antara lain ikan botia (Botia macracantus) dan penangkapan ikan balashark atau ikan kutung hanyut (Balantiocheilos melanopterus). corong dan kilung. yaitu dengan rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter masing-masing sebesar 35. Kata kunci: Ekosistem.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 143-149 . -. Kalui (Osphronemus goramy). penyiapan lahan tanam dan interaksi antar jenis dan penyiapan lahan tanam tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup tanaman. Kata kunci: Eucalyptus urophylla Blake. 31 jenis diantaranya melakukan pemijahan (spanig ground) di perairan hutan rawa dan memanfaatkan pakan alami di hutan rawa untuk pembesaran larva dan benih dan 14 jenis larva ikan perairan umum masuk ke perairan hutan rawa dan memanfaatkan perairan hutan rawa sebagai tempat perawatan larva (nursery ground). Penyakit bercak daun Nurdawati.Mulyana PERTUMBUHAN KAYU KAMPER DAN HOPEA PADA LAHAN ALANGALANG DENGAN TEKNIK PENYIAPAN LAHAN TANAM (Growth of Pengaruh teknik persiapan lahan tanam telah dilakukan terhadap pertumbuhan Dryobalanops lanceolata dan Hopea sangal pada lahan lang-alang di hutan lindung Sungai Wain.08 persen. urophylla umur 3 tahun sebesar 57. Jenis-jenis vegetasi yang hidup di perairan hutan rawa danau Cala antara lain Nanggai (Talauma candolei). Tinggiran binti (Rhizophora micronata). Tembakang (Helostoma temminckii). Bengkal (Bruguera conjugate) dan Mangga Hutan (Magifera sp). Bambu (Bambusa sp). Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Sebagian besar perairan Danau Cala dikelilingi hutan rawa dan banyak terdapat sungai-sungai kecil yang bermuara ke danau. Untuk perlakuan jenis terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter yang paling besar adalah D.79 cm dan sebesar 0. Halaman 11 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Omon. Syarifah PERANAN EKOSISTEM HUTAN RAWA DI DANAU CALA KABUPATEN MUSI BANYUASIN SEBAGAI HABIBAT IKAN PERAIRAN UMUM / Syarifah Nurdawati. Sungai-sungai ini mengering pada musim kemarau dan menyatu dengan danau pada musim penghujan. Resan (Barcinia dulcis). Balikpapan. Danau cala.15 persen dengan intensitas serangan 4.25 ha) dengan jarak tanam 5 m x 5 m. ikan Lemak (leptobarbus hoevenii). Rumput gayu (Spinifex litorus). 2006 Kamper Wood and Hopea on Alang-alang Areas With Prepare Planting Technique) / R.

-. Tejo B KAJIAN PELUANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN JENIS LOKAL POTENSIAL DI SUMATERA / B. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil menunjukkan bahwa lama penyimpanan tablet selama 3 bulan di kedua suhu yang berbeda (4°C dan 20°C) telah memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen hidup (90%). Andriyani Prasetyawati dan Kristanta Tri Saputra. adanya penundaan perkembangan penyakit yang telah dibawa dari daerah asal. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Hopea sangal Omon. Banyaknya perusahaan hutan tanaman yang menggunakan jenis eksotik ini menyebabkan jenis lokal yang unggul mulai terpinggirkan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .138 . Kata kunci: Tanaman pioner. parvifolia yang berkualitas di rencana dan strategi penyediaan stek persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4°C atau 20°C masih dapat diinokulasikan pada stek S. Mulyana Oman. C Andriyani PERANAN TANAMAN PIONER DALAM REHABILITASI HUTAN / C.Dipterocarpacea khusus dari jenis D. parvifolia Kata kunci: Meranti merah. Andriyani Prasetyawati. 2006 Pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza telah dilaksanakan di Laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata. Tablet mikoriza. Dilain pihak banyak tanaman jenis lokal potensial untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena jenis lokal Temperature and Storage Duration of Mycorrizae Tablet to Growth of Red Meranti Cuttings)/ R. Suhu. Rehabilitasi hutan Premono. R. Suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. Pada awalnya gejala ini tidak akan nampak namun akan mningkatkan riap tegakan yang dihasilkan. Pemanfaatan jenis pioner sebagai salah satu usaha biologis disamping usaha mekanis yang selama ini diterapkan.28 gr) dan persentase kolonisasi akar stek bermikoriza S. Beberapa tanaman pioner dapat dikembangkan menjadi tanaman komersial yang mempunyai nilai jual tinggi. berat kering (0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.2 . Stek.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. -. Perlakuan dalam percobaan ini 2 suhu dan 6 lama penyimpanan. Halaman 131-135 . Jenis pioner dapat menjadi tanaman terpilih sesuai kondisi alam dan persyaratan tumbuhnya. -. Penggunaan tanaman jenis eksotik telah banyak dilakukan selama ini. Dengan demikian untuk S. 2006 Pembangunan hutan tanaman yang tujuan utama untuk menutupi defisit kebutuhan kayu yang semakin besar hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas tegakan yang dihasilkan. pertumbuhan tinggi. jumlah daun (5 helai). Shorea parvofolia. No. parvifolia (88%) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan. Samboja Kalimantan Timur. Kerusakan hutan. Usaha merehabilitasi banyak mengalami kendala di lapangan dan belum menggembirakan. dengan perlakuan penyiapan lahan disemprot total dengan herbisida. sangal telah memberi harapan yang baik untuk dikembangkan sebagai jenis komersial untuk ditanam di lahan yang terbuka (alang-alang). Tejo Premono dan C. Dryobalanops lanceolata. 2006 Tanaman pioner berperan penting dalam suksesi alam. Tanaman pioner mempunyai peranan penting dalam usaha perbaikan kondisi tapak maupun ekologi tanah. Halaman 77-84 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. herbisida. pertumbuhan tinggi (5 cm). Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MERANTI MERAH (The effect of Prasetyawati. jumlah daun. Kerusakan hutan yang memprihatinkan perlu mendapat perhatian. Tanaman jenis eksotik ini mempunyai kelemahan. waktu penyimpanan 120 . Tujuan dari percobaan adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. Kata kunci: Alang-alang. parvifolia. Keberadaan jenis pioner masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rehabilitasi hutan yang mengalami kerusakan. berat kering dan persen kolonisasi akar stek S.3. lanceolata dan H. lanceolata dan H. Halaman 129 .

Tissue Culture and Shoot Cutting)/ Priyono Suryanto. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari penggunaan penanda mikrosatelit bagi pengujian induk A. 2006 Pengelolaan hutan.1 . Dengan melihat kondisi tersebut maka perlu adanya perlindungan terhadap produsen (petani) dan konsumen (pembeli) yang berupa sertivikasi Hasil Hutan Non Kayu. W. Sambas Sabarnurdin. mempunyai data adaptasi yang lebih baik dengan kondisi alami tempat tumbuhnya selain menghasilkan kayu jenis lokal juga menghasilkan produk non kayu seperti getah. Halaman 139 . Yang menjadi utama perlu adanya pemuliaan tanaman jenis lokal untuk meningkatkan riap pertumbuhan sebagai syarat dalam pembangunan hutan tanaman. penanda mikrosatelit. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown Development of Teak from Seedling. Kata kunci: Acacia mangium. Sertifikasi. Istiana PENGGUNAAN PENANDA MIKROSATELIT UNTUK ANALISIS INDUK Acacia mangium Willd (Application of Microsatellitte Marker for Parentage Analysis of Acacia mangium Willd)/ Istiana Prihatini. Genotipa dari semua individu tersebut digunakan untuk menentukan pasangan induk dari setiap keturunan yang diuji. 2006 Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) sebagai hasil sampingan dari hutan (side product) yang dapat berasal dari bagian pohon baik berupa getah. Pemuliaan Premono. Sertivikasi ini bertujuan untuk melindungi petani dari banyaknya barang subtitusi (sintetis) yang menyebabkan permintaan terhadap barang yang terus menurun dan pada akhirnya harga HHNK akan turun. mangium. Jenis eksotik. PERLUKAH DIBERI SERTIFIKAT: ANTARA KELESTARIAN HUTAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT / B.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Penelitian yang dilakukan dapat mendeteksi pasangan induk dari 202 individu (68. Tejo HASIL HUTAN NON KAYU (HHNK) HUTAN RAKYAT. -. Program pencarian bahan tanaman 121 . Dalam pengembangan hutan model Agroforesty di Krui Lampung Timur dengan tanaman damar mata kucing (Shorea javanica). Kata kunci: Hasil Hutan Non Kayu.B. Reaksi PCR dilakukan menggunakan 15 penanda mikrosatelit (SSR). -. Halaman 103-110 . Namun produksinya cenderung menurun yang disebabkan antara lain harga yang rendah. Suryanto PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. teknologi yang belum tertata. Kata kunci: Pembangunan hutan tanaman. No. Aryono.43 .3. HHNK ini menjadi penghasil tambahan (side incomes) yang menjanjikan. No.2%). Halaman 35 . Dan juga adanya barang subtansi berupa barang sintetik yang menyebabkan daya saing HHNK ini semakin berkurang. B. cepat tumbuh dan mampu beradaptasi dengan lingkungan merupakan faktor penting dalam membangun hutan tanaman.3. Kelestarian hutan Prihatini.148 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Tejo Premono. kulit. daun maupun hasil hutan lainnya seperti rotan dan bambu. mangium dapat dibangun menggunakan individu-individu terpilih agar penyerbukan terbuka (open pollination) yang terjadi dapat menghasilkan individu unggul. Riap yang tinggi. 2006 Penanda molekuler diketahui memiliki potensi menggantikan upaya penyerbukan buatan secara manual dalam program pemuliaan. Analisis induk dilakukan menggunakan DNA genomik total dari 251 individu sebagai kandidat induk dan 296 individu hasil keturunannya. -.telah banyak dikenal oleh masyarakat. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. Sertifikasi juga bertujuan untuk melindungi kepada konsumen bahwa barang yang dihasilkan suatu produk adalah baik untuk kesehatan (green market).2 . SSR Priyono. Jenis lokal potensial. Anto Rimbawanto. Taryono. analisis induk. Dari segi pemanenan HHNK lebih menjamin adanya pengelolaan hutan yang lestari (sustainable Foret Management) karena sistem pemanenannya yang hanya mengambil bagian dari pohon melalui penyadapan sehingga tidak mempunyai dampak yang berarti terhadap kondisi ekologi dan lingkungan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Moh. Kebun benih persilangan A.

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Dalam makalah ini digambarkan beberapa strategi pengentasan kemiskinan. yang didasarkan pada karakteristik masyarakat miskin di dalam dan sekitar hutan. sedangkan kelompok kedua terdiri dari populasi Ternate dan Nabire. Sampel daun dikumpulkan dari 4 populasi dan dianalisa menggunakan 15 primer RAPD yang menghasilkan 77 lokus polimorfik. asal bahan tanam. Diusulkan tiga strategi pengentasan kemiskinan pada masyarakat di sekitar hutan rawa gambut di Sumatera Selatan. 2006 Intsia bijuga atau merbau merupakan jenis kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. Mamat STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN PADA MASYARAKAT SEKITAR HUTAN RAWA GAMBUT.141.f Rahmat. Kemiskinan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Rata-rata lokus polimorfik per primer adalah 5. Anto KERAGAMAN GENETIK EMPAT POPULASI Intsia bijuga BERDASARKAN PENANDA RAPD DAN IMPLIKASINYA BAGI PROGRAM KONSERVASI BAGI PROGRAM KONSERVASI GENETIK (Genetic diversity of Four Populations of Intsia bijuga Revealed by RAPD Markers and Its Anto Implications for Genetic Conservation Programme)/ Rimbawanto. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok.181 . Penanda RAPD Rimbawanto. Penelitian ini bertujuan mempelajari kaeragaman genetik populasi merbau guna membantu penyusunan strategi konservasi genetik. Keragaman genetik. Anto DISTRIBUSI KERAGAMAN GENETIK POPULASI Santalum album BERDASARKAN PENANDA RAPD (Genetic Diversity and Its Distribution of Santalum album Populations Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawantao. 2006 Santalum album atau yang dikenal dengan nama cendana merupakan jenis kayu bernilai tinggi dan telah mengalami degradasi sumber genetik yang serius. alasan ekonomi. No. DALAM KAITANNYA DENGAN KELESTARIAN HUTAN / Mamat Rahmat. Halaman 175 .jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. Pembagian kelompok antara Manokwari dan Naabire lebih memperjelas pembagian Papua menjadi 6 wilayah geogenetik. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. Sampel daun dikumpulkan dari 17 populasi dan dianalisa 122 . Kata kunci: Intsia bijuga.3. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berurut-urut 12 tahun. telah memicu berbagai kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan. 2006 Kemiskinan merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan kehutnan di Indonesia. -. Tectona grandis L. Hutan rawa gambut Rimbawanto. Nilai keragaman genetik rerata dalam populasi sebesasar 0.296 sedangkan keragaman antara populasi 0. untuk menjaga kelestarian hutan. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. pengentasan kemiskinan adalah upaya vital. AYPBC Widyatmoko dan Purnamila Sulistyowati. Halaman 149 . pembangunan infrastruktur dan pengembangan usaha ekonomi produktif. Jenis ini merupakan tanaman asli Propinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian.3 . Bila persediaan biji bermutu cukup.5 tahun bila biji. -Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dan hubungan kekerabatan populasi Santalum album untuk mendukung program konservasi dan pemuliaan jenis tersebut.3. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan denga intensifikasi lahan. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6 m x 2 m. kelestarian. Kata kunci: Perkembangan tajuk. sekitar 10. AYPBC Widyatmoko. No. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama sedangkan apabila persediaan benih terbatas. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 103-110 .3 . Pengentasan kemiskinan. diantaranya adalah melalui pemberian insentif.2 tahun dan 8.154 . Kata kunci: Kemiskinan. kultur jaringan dan stek. -.2 juta orang masyarakat miskin tinggal di dalam hutan dan sekitar 6 juta orang masyarakat desa sekitar hutan memperoleh sumber penghidupannya dari hutan. Analisis klaster membagi keempat populasi menjadi dua kelompok populasi yaitu Carita dan Manokwari pada kelompok pertama.1. 15. dengan menggunakan penanda RAPD.

dan karat puru (gall rust) pada sengon. Meratus.391 sedangkan keragaman antara populasi 0. Hamparan hutan tanaman satu jenis yang luas tersebut tentu saja merupakan sumber pohon inang yang sesuai bagi berkembangnya hama dan penyakit tanaman. RAPD. Anto KERAGAMAN POPULASI Eusideroxylon zwageri KALIMANTAN TIMUR Diversity of BERDASARKAN PENANDA RAPD (Population Eusideroxylon zwageri in East Kalimantan Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawanto. Analisi AMOVA menunjukkan bahwa 96 persen dari keragaman genetik terdapat di dalam populasi. Dari sekitar 1.208 . Dalam beberapa tahun terakhir ini serangan hama pada penyakit pada hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat telah mencapai tingkatan yang merugikan secara ekonomi. sedang populasi Lempake satu kelompok tersendiri. Konservasi. 2006 Persoalan ancaman hama dan penyakit pada hutan tanaman telah menjadi isu nyata yang dihadapi oleh banyak negara yang mengembangkan hutan tanaman dalam skala luas. Sampel daun dikumpulkan dari 5 populasi dan dianalisa menggunakan 19 primer RAPD yang menghasilkan 48 lokus polimorfik. S.5 juta ha hutan tanaman rakyat. AYPBC Widyatmoko.500. 2005). No. yang dikendalikan oleh faktor genetik dan interaksinya dengan sistem biologi hama dan penyakit merupakan kunci keberhasilan pengendalian dan pengelolaan ancaman tersebut. Dalam sepuluh tahun terakhir luas hutan tanaman di Asia meningkat dari 46 juta ha pada tahun 1990 menjadi lebih dari 65 juta ha di tahun 2005 (FAO 2005). Secara alamiah tanaman telah mempunyai cara mempertahankan diri dari serangan hama dan penyakit.menggunakan 17 primer RAPD yang menghasilkan 34 lokus polimorfik. Hama. Dari jumlah itu sebagian besar didominasi oleh tanaman Acacia mangium yang sesuai untuk tanah-tanah mineral. sedangkan untuk tanah gambut ditanam A. Memahami mekanisme sistem pertahanan diri tanaman. sedang sisanya ada di antara populasi.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman.3564 sedangkan keragaman antara populasi 0. Kata kunci: Genetik. 2005). hingga tahun 2004 telah dibangun hutan tanaman untuk pulp seluas 2. dengan menggunakan penanda RAPD.966 ha dan untuk kayu pertukangan 865. Analisis klaster menghasilkan dua kelompok populasi yaitu TN Kutai. Penyakit 123 . 2006 Euderoxylon zwageri atau ulin adalah kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif sehingga keberadaan tegakan ulin di hutan alam semakin langka. Disamping hutan tanaman industri di atas yang sebagian besar tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Sebagai contoh penyakit busuk akar (root rot) yang menyerang A.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.crassicarpa. mangium.0415. Di Indonesia.3. Secara umum pembagian kelompok tidak memperlihatkan hubungannya dengan jarak geografis.3 . Analisis klaster membagi 17 populasi menjadi dua kelompok besar. Wain dan Semboja.038. Santalum album Rimbawanto. Anto KERAGAMAN GENETIK DAN KETAHANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN / Anto Rimbawanto. Rimbawanto. Halaman 15-20 . hutan tanaman rakyat juga berkembang dengan pesat. Jakarta 23 Nopember 2006 . Nilai keragaman genetik rerrata dalam populasi sebesar 0. -. Penelitian ini bertujuan mempelajari keragaman genetik populasi ulin di Kalimantan Timur guna membantu program konservasi genetik. -. Harkingto. Ratarata lokus polimorfik per primer adalah 2. Halaman 201 . Disisi lain hama dan penyakit juga mempunyai sistem penyerangan yang sesungguhnya merupakan cara mempertahankan diri untuk hidup dan berkembang. Kata kunci: Keragaman genetik. sebagian besar didominasi oleh jenis jati dan sengon (Ditjen RLPS.256 ha (Ditjen BPK. tetapi populasi-populasi yang berdekatan mempunyai kecenderungan untuk membentuk satu sub-kelompok. Nilai rata-rata keragaman genetik dalam populasi sebesar 0.

Hal ini sejalan dengan keberhasilan program pemuliaan pohon jenis-jenis cepat tumbuh meningkatkan riap volume tegakan yang menggunakan benih unggul hasil pemuliaan. Pembangunan hutan tanaman di berbagai negara termasuk pembangunan HTI di Indonesia membuktikan bahwa benih genetik unggul (genetically superior seeds) hasil pemuliaan dapat melipatgandakan pertumbuhan dan mutu tegakan. Benih unggul adalah investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar. 2000). kebutuhan akan benih berbagai jenis tanaman juga meningkat. Jenis utama hutan tanaman di Indonesia adalah Acacia mangium yang juga rentan terhadap serangan busuk hati. Permintaan akan kayu baik untuk keperluan pasar dalam negeri maupun international terus meningkat dan pemerintah telah menetapkan program pembangunan hutan tanaman untuk menjamin kelangsungan pasokan kayu. maupun upaya rehabilitasi lahan kritis. Hutan tanaman. South East Asia and India"" (Old et al. Data dari beberapa perusahaan HTI menunjukan bahwa pengadaan benih unggul Acacia mangium hanya mengambil 4 persen dari total biaya pembangunan tanaman. -. 2006 : Halaman 14-19 .3 juta ha pada akhir tahun 2000 dan 10. baik untuk tujuan hutan industri. Pohon dengan batang yang lurus.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Sertivikasi benih.5 juta ha pada akhir tahun 2030. Namun dampak ekonomi dari investasi kecil itu dapat berupa peningkatan riap volume antara 20 persen . khususnya rotasi pendek yang sangat signifikan. benih jati Rimbawanto. Program pembangunan hutan tanaman mentargetkan pembangunan hutan seluas 2. 2006 Seiring dengan meningkatnya pembangunan hutan tanaman. Hutan tanaman jenis cepat tumbuh sangatlah penting bagi ekonomi negara-negara di Asia Pasifik termasuk Indonesia dan Australia.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Anto BUSUK HATI DI HUTAN TANAMAN: LATAR BELAKANG DAN PROYEK ACIAR / Anto Rimbawanto. Kepentingan petani kecil dalam system tumpangsari juga perlu diperhitungkan agar mereka juga dapat memperoleh keuntungan ekonomi. hutan rakyat. Mutu tegakan. Busuk hati. namun lebih dikarenakan oleh pertimbangan ekonomis semata. Ahli-ahli patologi dan pemuliaan pohon dari CSIRO telah menjalin kerjasama dengan para peneliti dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia dan lima negara lainnya di Asia Tenggara dengan dukungan ACIAR dan CIFOR. Kata kunci: Jati. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 17-19 . bebas cabang yang tinggi serta riap yang tinggi merupakan bukti keberhasilan pemuliaan pohon dalam meningkatkan mutu genetik tanaman. Sejak pertengahan tahun 1980an terjadi peningkatan luas hutan tanaman. Perkembangan pembangunan hutan tanaman industri yang pesat telah menumbuhkan kesadaran pengguna benih akan pentingnya mutu genetik benih.Rimbawanto. Salah satu proyek yang paling berhasil adalah survei tentang penyakit pada akasia tropis yang dilakukan pada tahun 1995-1996 termasuk lokakarya di Subanjeriji. Oleh karena itu untuk memberikan jaminan akan kebenaran mutu genetik sumber benih maka diperlukan sertifikat yang memberikan perlindungan hukum terhadap produsen dan konsumen benih. Anto SERTIFIKASI BENIH: UPAYA MENJAMIN MUTU BENIH DAN MUTU TEGAKAN YANG DIHASILKANNYA / Anto Rimbawanto. Ketersediaan benih unggul ditenggarai sebagai salah satu faktor utama bagi keberhasilan pembangunan hutan tanaman ini. Kata kunci: Acacia mangium. Salah satu penyakit penting yang dibahas dalam pertemuan itu adalah busuk hati pada Acacia mangium. 2006 Dalam dasa warsa terakhir peneliti dari Australia dan negara-negara Asia Tenggara telah menyelesaikan serangkaian penelitian bersama dalam bidang patologi hutan. ACIAR 124 . Jika masalah penyakit busuk hati ini tidak ditanggulangi secara tepat maka keunggulan genetik sebagai hasil pemuliaan tidak akan dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi. Kebutuhan akan sertifikasi benih akhir-akhir ini terasa meningkat sebagai konsekuensi dari diberlakukannya penerapan harga bibit oleh pemerintah berdasarkan asal sumber benihnya untuk program pengadaan bibit Gerhan.30 persen pada akhir daur. Salah satu hasil penting dari lokakarya itu adalah diterbitkannya buku ""A Manual of Diseases of Tropical Acacias in Australia. Penggunaan benih bermutu genetik tinggi tidak dapat dipisahkan dengan mutu tegakan yang dihasilkan. Peningkatan ini tidak dapar serta merta dihubungkan dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap benih bersertifikat. -. Mutu benih. Program pembangunan hutan tanaman pada saat ini diarahkan untuk menghasilkan bahan baku kayu untuk industri pulp dan kertas dan MDF.

Pohon induk. Kualitas semai baik bibit jati Muna asal biji dan stek dari kebun pangkas baik untuk ditanam. Halaman 165 . Maroangin Kabupaten Enrekang. ferririk. Tectona grandis.140 mm. Lokasi penelitian di persemaian PT. Kata kunci: Jati.40 mm dan terendah 3. Sulawesi Selatan. Variasi ukuran buah jati muna digolongkan 10 persen ukuran kecil. diameter 7. Kata kunci: Jati. Curah hujan rata-rata tahunan 2. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas stek tiap klon dari pangkas jati Muna di Malili. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 49-56 . Santoso. No. Okulasi. isohipertermik. Rerata pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jati Muna umur 4 bulan di lapangan yang tertinggi (34. Pertumbuhan tinggi dan diameter pada tingkat semai dari propagul keturunan pohon induk jati terjadi variasi antar pohon induk. Tectona grandis.173 . pertumbuhan tinggi dan diameter semai hasil okulasi pohon induk jati Muna. lempungan. Sulawesi Tenggara dan persemaiannya dilaksanakan di green house Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. sumber benih tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap persen perkecambahan. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Rerata pertumbuhan semai yang berasal dari biji umur tiga bulan tingginya mencapai mencapai 27. Data pengamatan meliputi persen tumbuh dan pertumbuhan awal pertanaman. tinggi semai dapat mencapai 37. jenis tanah termasuk famili Rhodic Hapludoxs. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata produksi stek di kebun pangkas tanaman jati Muna di Malili yang dapat dihasilkan perpohon mencapai 17. Pemanenan. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 57-61 . 2006 Penelitian keberhasilan okulasi pohon induk jati Muna (Tectona grandis L.) bertujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan okulasi. dengan pohon induk jati sebagai perlakuan. Budi VARIASI PERTUMBUHAN JATI MUNA HASIL OKULASI (Growth Variation of Bud Grafting of Muna Teak)/ Budi Santoso. Persen jadi okulasi hanya mencapai 35. Kata kunci: Jati Muna.53 persen. Lokasi terletak pada ketinggian 100 m dpl.97 cm.5 stek. -.45 mm) berasal dari generatif.3.50 cm.588 kg/pohon. sedangkan periode pemanenan berpengaruh terhadap persen perkecambahan. Pertumbuhan tinggi terjadi variasi antar semai keturunan pohon induk dan pertumbuhan tertinggi mencapai 40. Persen hidup di lapangan semai dari keturunan pohon induk jati cukup tinggi mencapai kisaran 95 persen .52 sedang dari stek 0. Benih. Fajar Agribisnis.33 mm dan jumlah daun 6 helai.07 persen. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produktivitas buah jati Muna per pohon. Jati muna. sedangkan yang berasal dari stek. Budi KUALITAS SEMAI DAN PERTUMBUHAN BIBIT JATI MUNA DARI KEBUN PANGKAS / Budi Santoso.35 cm dan terendah 10. Penelitian variasi kualitas benih menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan faktor pertama adalah sumber benih dan faktor kedua adalah periode pemanenan. -. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produktivitas buah jati Muna mencapai 1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Bintarto Wahyu Wardani. Kebun pangkas 125 . diameter 5. mengetahui variasi kualitas benih dan menentukan persen perkecambahan benih jati Muna dari berbagai sumber benih dan periode pemanenan buah. Indeks kualitas semai bibit yang berasal dari biji 0.22. Jati muna. Budi PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS BENIH JATI MUNA / Budi Santoso. sedang pertumbuhan diameter tingkat semai dari keturunan pohon induk terbesar 7. Kegiatan penelitian okulasi jati dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Sumber benih Santoso.3 . kualitas semai dari stek kebun pangkas jati Muna dan pertumbuhan bibit asal kebun pangkas.86 mm dan jumlah daun 6 helai. Tectona grandis L.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Penelitian ini dilaksanakan di hutan jati Muna. 65 persen ukuran sedang dan 25 persen ukuran besar.85 mm.100 persen.13 cm) besar (8.Santoso. Jumlah pohon induk yang diokulasi sebanyak 60 dan setiap pohon induk dibuat 75 ulangan.73 cm. Pemanenan buah pada tegakan jati yang dilaksanakan pada bulan September menghasilkan persen perkecambahan rata-rata 45. Persen perkecambahan terbaik diperoleh dari benih yang dikumpulkan pada bulan September.

persentase stek berakar dan jumlah.36 . Djoko PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT PADA DESA-DESA LAHAN RAWA GAMBUT SEBAGAI BAGIAN PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN YANG BERBASIS MASYARAKAT / Djoko Setijono. maka upaya untuk melestarikan ekosistem kawasan tersebut merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. 2006 Tanaman Sukun (Artocarpus artilis Forsbeg) merupakan tanaman serbaguna yang biasa ditanam di ladang/pekarangan. Kata kunci: Bibit. P3 = 40 cm dan P4 = 50 cm. baik pria maupun wanita dibantu oleh segenap stakeholders yang 126 . Suplement No. Prastyono. HI = 1250 ppm. sukun. -. -. Dedi PRODUKTIVITAS TRUBUSAN STEK AKAR SUKUN DARI BEBERAPA POPULASI DI JAWA DAN MADURA (Sprouting Productivity of Bread Fruit Root Cuttings from Several Populations in Java and Madura) / Dedi Setiadi. SSFFMP berpendapat pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang baik adalah dengan upaya pencegahan dan pemadaman dini. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 51-55 . Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan menguji 2 faktor. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan yang nyata antar sumber populasi untuk parameter jumlah trubusan. jumlah daun. Berdasar profil lingkungan hidup kawasan pantai timur Sumatera Selatan (Tim PPLH UNSRI. Mengingat fungsinya yang penting tersebut. yaitu : HO = tanpa IBA (kontrol).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. dengan 3 kali ulangan dengan setiap unit percobaan terdiri atas 5 stek pucuk. dan kekokohan bibit sedangkan untuk parat\meter panjang trubusan dan diameter trubusan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Dedi PENGARUH TINGGI PANGKASAN PADA BIBIT DAN KONSENTRASI IBA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN (Effect of Hedging Sukun (A. Provinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah. Parameter yang diamati meliputi jumlah trubusan. baik potensi fisik. tidak mengherankan bila daerah ini menjadi sasaran pembangunan. IBA. tinggi pangkasan bibit 30 cm dan konsentrasi IBA 1250 ppm memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap persentase hidup. Penelitian ini dirancang dalam pola rancangan acak lengkap. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bibit sukun dari empat populasi yang berasal dari Jawa Timur yaitu : Kediri dan Madura serta dari Jawa Barat yaitu: Lebak/Banten dan Sukabumi. Halaman 29 . tinggi tunas. Pengamatan dilakukan pada umur bibit 5 bulan setelah penyapihan.3. pangkasan. persentase bertunas. Bibit hasil koleksi dari populasi Kediri (Jawa Timur) menunjukkan kualitas yang paling baik dibandingkan dengan yang lainnya Kata kunci: Produktivitas trubusan. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada kawasan lahan rawa gambutdengan segala keterbatasan yang ada. sejak April sampai September 2005. tinggi tunas. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi pangkasan bibit sukun dan konsentrasi IBA dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. di mana perbanyakan tanaman ini biasa dilakukan secara vegetatif dengan stek akar. persentase stek bertunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi pangkasan dan IBA berpengaruh terhadap keberhasilan stek pucuk sukun. Sukun. kiranya tanpa kesaradan dan peran aktif masyarakat desa-desa setempat akan sulit dilakukan apabila hanya mengandalkn kepada regu-regu pemadam kebakaran hutan dan lahan yang terkonsentrasi di kota. Halaman 223-231 .Height on Seedling Stock and IBA Concentrations on the Growth of Breadfruit Shoot Cuttings) / Dedi Setiadi. khusunya pada daerah lahan rawa gambut. sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi IBA (H). persentase berakar dan jumlah akar. Parameter yang diamati meliputi persentase stek hidup. jumlah daun. Setiadi. kimia maupun biotik. P2 = 30 cm. panjang trubusan. 2006 Pada bencana kebakaran besar akibat fenomena El nino tahun 1997 yang lalu. No. konsentrasi. Hamdan A.7.1 . Hamdan Adma Adinugraha. Adinugraha dan Hidayat Moko. Sumber populasi Setijono. 2006 Setiadi.Wana Benih : Vol. diameter trubusan dan kekokohan bibit. setiap sumber populasi terdiri 5 ulangan masing-masing 10 bibit untuk parameter yang diamati. H2 = 2500 ppm dan H3 = 3750 ppm. 1992) dinyatakan bahwa kawasan rawa gambut di daerah tersebut mempunyai potensi alami yang tinggi. faktor pertama adalah tinggi pangkasan bibit (P) yaitu: PI = 20 cm. Oleh sebab itu. dengan peningkatan kesadaran dan peran serta seluruh masyarakat. altilis) merupakan salah satu jenis tanaman hutan rakyat yang menghasilkan buah dengan kandungan karbohidrat tinggi.1 .

Kata kunci: Tembesu. Pulau Laut Utara. Pembibitan tembesu dapat dilakukan secara generatif maupun secara vegetatif. karena hal ini menyangkut perhitungan untung rugi dalam jangka panjang. Selama masa pembangunan banyak sekali peluang terjadinya gangguan. Agus TEKNIK PEMBIBITAN TEMBESU / Agus Sofyan. Hadi PENGALAMAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA Acacia mangium DI HUTAN TANAMAN SEMARAS DAN Shorea polyandra DI PETAK UJI COBA PENANAMAN MERANTI DI PULAU LAUT UTARA. 2006 Jenis lokal telah menjadi prioritas dalam rangka memilih jenis pohon untuk merehabilitasi lahan kritis. sedangkan jenis daur panjang diuji cobakan membuat hutan tanaman meranti jenis meranti putih (S. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandis Linn. KALIMANTAN SELATAN / Hadi Siswoyo. Salah satu kendala yang dihadapi adalah minimnya informasi tentang teknik budidaya mulai dari tahap pembibitan hingga penanaman serta pemeliharaan di lapangan. Halaman 55-58 . Kebakaran hutan Siswoyo. termasuk di Sumatera Selatan. P. Meranti. Kata kunci: Hama. antara lain PT Inhutani II mencoba membangun hutan tanaman jenis fast growing jenis A. Mamat Rahmat dan Kusdi. Pembibitan Sofyan. Masyarakat akan dengan senang hati melaksanakan pencegahan kebakaran apabila hal tersebut menguntungkan/meningkatkn pendapatannya dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya. sehingga setiap bentuk gangguan memerlukan pertimbangan tindakan bijaksana. Halaman 55-60 . Tulisan ini menyajikan teknik pembibitan tembesu yang merupakan salah satu jenis lokal di Sumatera Selatan. Halaman 15-19 . Acacia mangium. Masyarakat. Seiring dengan penurunan potensi hutan alam Indonesia membuat para pengusaha kehutanan mulai untuk mencoba pembuatan hutan tanaman.al] . mangium dimulai tahun 1985 di Semaras. Laut Kalimantan Selatan. Setiap gangguan akan memberikan dampak negatif terhadap kualitas dan kuantitas hutan yang dibangun. sedangkan pembibitan vegetatif menggunakan bahan yang berasal dari bibit (seedling) maupun trubusan alam. Kalimantan Selatan Sofyan.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Hutan tanaman Semaras. PT INHUTANI II. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Berangkat dari pola pemikiran tersebut di atas. SSFFMP mengembangkan konsep pengelolaan kebakaran hutan dan lahan yang berbasis masyarakat pada tingkat desa di Sumatera Selatan Kata kunci: Pendapatan. 2006 Jati merupakan salah satu jenis tanaman yang cukup banyak diminati masyarakat. PT Inhutani II. Sedang pada usaha kehutanan gannguan terebut akan terbawa sampai akhir daur. Shorea polyandra. Jika akan dilakukan pembongkaran maka akn memulai dari awal lagi. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Lain halnya dengan sektor pertanian yang berumur pendek apabila terjadi gangguan. Dilain pihak waktu yang diperlukan cukup lama dan biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar. Winarto dan Rosilawati. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Laut Utara Kalimantan Selatan.terkait. 127 . bagi desa-desa di sekitar kawasan hutan dan lahan. antara lain serangan hama dan penyakit tanaman. -. polyandra) skala kecil yang dibuat pada tahun 1976 di area P. 2006 Usaha dibidang kehutanan memerlukan waktu yang lama. Semestinya dalam dunia kehutanan konsistensi perhatian harus lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian ditunjau dari panjang daur. tindakan yang dilakukan dapat lebih tegas: dibongkar atau diteruskan. Jakarta 23 Nopember 2006 . -.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Setiap bentuk kelengahan dalam pembangunan tanaman hutan yang dapat menyebabkan tanaman rusak oleh hama dan penyakit maka pengaruhnya akan dibawa sampai hasil akhir. hal ini tergambar dari begitu banyaknya permintaan jenis ini dalam program kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. penyakit. Pembibitan generatif yaitu pembiitan dengan menggunakan benih/biji. Lahan rawa gambut.

Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 23-28 . Faktor pembatas Sugiarto. Faktor lingkungan (edafis dan klimatis) sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jati.al] . Sumatera Selatan. 2006 Tulisan ini berisi tentang hasil penelitian teknik penyiangan tanaman jati (Tectona grandis Linn. Agus FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan dan Mamat Rahmat. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 29-33 . Kabupaten Banyuasin. -.Mengingat bahwa jati bukan tanaman asli Sumatera (jenis eksot). Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. Sumatera Selatan. yaitu tingkat kemasaman tanah yang rendah serta kedalaman solum yang dangkal. Kata kunci: Jati. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPPHT Palembang. Tidak jarang ditemui tanaman mengalami mati pucuk pada tahun kedua dan ketiga. Untuk mengetahui tentang prospek pengembangan jati di wilayah Sumatera Selatan. sehingga jati tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. dapat diketahui bahwa pada beberapa daerah di Sumsel. 4 perlakuan dan 20 tree plot per unit perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penyiangan total chemis menunjukan pertumbuhan diameter dan tinggi yang lebih besar pada saat tanaman berumur 3 tahun. Evaluasi kesesuaian tempat tumbuh penting dilakukan di Sumatera Selatan. untuk mengetahui daerah-daerah yang relatif cocok untuk penanaman jati. Kata kunci: Jati. Berkembangnya pembangunan hutan tanaman. Tectona grandis. Tectona grandis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sebagain besar lokasi yang diteliti terdapat kendala utama yang menghambat pertumbuhan jati secara permanen.) dalam rangka mencari teknik penyiangan tanaman jati yang paling optimal. Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi lahan pada lokasilokasi penelitian kurang sesuai untuk pengembangan tanaman jati. drainase dan kedalaman solum merupakan faktor pembatas pertumbuhan tanaman jati yang ditemukan pada lokasi penelitian. Kemampo. Kesesuaian lahan Sofyan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . tanaman jati tidak sesuai. rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Halaman 1-14 . Kesesuaian lahan. permasalahan sosial masyarakat hutan. Metode penelitian yang dilakukan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 blok. Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu. kebijakan pemerintah daerah bidang kehutanan yang mendukung serta kondisi internal seperti ketersediaan sumberdaya manusia dan sarana prasarana litbang. SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. maka kajian atau penelitian mengenai kelayakan pengembangan dan penanaman jati di wilayah ini sangat penting.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. -. Kata kunci: Jati.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. 2006 Penanaman jati oleh masyarakat khususnya di Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan sejak tanaman berumur 1 tahun hingga umur 3 tahun. Agus PENGARUH TEKNIK PENYIANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI KEMAMPO. Sumatera Selatan 128 . seringkali tidak memperhatikan kesesuaian lahan. 2006 Keberhasilan pembangunan dan kelestarian hutan tanaman antara lain memerlukan dukungan IPTEK yang tepat pada semua tahapan. tanaman jati ternyata dapat tumbuh dan berkembang dengan cukup baik di wilayah ini. -. mulai dari perencanaan hingga pemanenan serta kondisi masyarakat sekitar hutan yang mendukung. Sumatera Selatan. telah dilakukan penelitian mengenai kelas kesesuain lahan yang menyangkut berbagai persyaratan tumbuh jati pada tiga belas lokasi di tiga (3) Kabupaten yaitu Banyu Asin. Namun demikian pada lokasi tertentu di mana tingkat kemasan tanah serta kedalaman efektif terpenuhi. Sofyan. Balai Litbang Hutan Tanaman IBB memfokuskan penelitian di bidang pembangunan dan pengelolaan hutan tanman. karena kegiatan ini menyangkut investasi serta harapan hasil yang sangat besar. tingginya laju degradasi hutan dan lahan. Penyiangan. Pertumbuhan. Tingkat kemasaman tanah (pH). Bambang SOSIALISASI CORE RESEARCH BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN PALEMBANG / Bambang Sugiarto dan Triwilaida. Tectona grandis Linn.

menurunkan nilai Se (0. 2006 Penanaman jati pada tanah-tanah yang kurang subur perlu didukung silvikultur intensif seperti teknik pemeliharaan antara lain dengan pemberian pupuk. 150 gr. pinus (Pinus merkusii). Kegiatan penelitian dilaksanakan di Malili.33%). tetapi menaikkan nilai SA (0. Jakarta 23 Nopember 2006 . dan kontrol (tanpa pupuk). Halaman 73 . menurunkan SR (0.3. ekaliptus (Eucalyptus pellita). No.42%). Sumantoro. Jati dan pinus merupakan dua jenis tanaman yang paling luas ditanam di Jawa. antara lain mindi (melia azedarach). -. Pemili model terbaik berdasarkan pemberian peringkat terhadap nilai koefisien determinasi (determinai coeficient = R2). model.Kata kunci: Core research. Jati muna.200 . mimba (Azadiracha indica).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.00100 DH dengan mlai R2 (96. telah diprogramkan penanaman jenis taman yang paling luas ditanam di Jawa. Pujo PENGALAMAN DALAM PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT DAN PRAKTEK MANAJEMEN TANAMAN DI PERHUTANI / Pujo Sumantoro dan Sarkoro Doso B. sedangkan dosis 100 gr adalah dosis pupuk yang optimal untuk pertumbuhan tanaman jati pada umur 20 bulan di lapangan. telah diprogramkan penanaman jenis fast growing species. mangium (Acacia mangium). -. -.5%.49%) nilai SA (0. yaitu 50 gr. Model penduga volume pohon terbaik berdasarkan peubah bebas diameter dan tinggi pohon adalah persamaan V = . dengan petak utama adalah asal bibit dan anak petak adalah dosis pupuk NPK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jati muna dan jati super memiliki penampilan pertumbuhan lebih baik dibanding bibit asal biji. sono keling (Dalbergia latifolia) dan jenis lainnya dalam skala kecil. tinggi pohon.0. dan jati super. Dari berbagai jenis tanaman hutan tersebut. SR (1. Kata kunci: Diameter. permasalahan hama penyakit mulai dirasakan sebagai factor yang cukup serius mempengaruhi keberhasilan dan produktivitas hutan tanaman pada beberapa tahun terakhir.000751 D2 dengan nilai R2 (94.11%).Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Fatahul Azwar. Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong.81 .5 juta hektar yang terdiri dari jenis penunjang industri kayu dan industri non kayu. pada bulan Oktober 2004. simpangan rata- rata (mean deviation = SR) simpangan agregatif (agregatif'deviation = SA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal bibit yang pertumbuhannya paling baik. volume.91%) dan nilai SA (0.02%). SR (1. kayu putih (Melaleuca cajuputi). Nursyamsi. Petak utama terdiri atas tiga asal bibit jati Muna.000102 D2 + 0.3. Palembang Suhartati PENGARUH DOSIS PUPUK DAN ASAL BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN JATI (The Effect Fertilizer's Dosage and Seedling Process on the Growth of Teak)/ Suhartati.0. pulai darat (Alsionia angustiloba). Model penduga volume pohon dengan dua peubah bebas memiliki ketelitian 1 tinggi dengan meningkatkan nilai R2 sebesar 1.3 . 2006 Perum perhutani mengelola hutan tanaman di Jawa seluas sekitar 2. X Indah Pratama yang berlokasi di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan disusun berdasar satu peubah bebas diameter serta dengan dua peubah bebas diameter dan tinggi pohon. 100gr.0769 + 0. sengon laut (Paraserienthes falcataria). Hutan tanaman. Lahan kritis.Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong.31%). Silvikultur intensif Sumadi. sedangkan anak petak terdiri atas 4 taraf dosis pupuk. Sulawesi Selatan. galat baku (standard error = Se). Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan pada umur 20 bulan.69%).000045 D^ 0.2 . Jenis-jenis hama penyakit yang menyerang 129 .0127 D + 0.0795 .80%) (3. serta tingkat dosis pupuk yang efektif untuk petumbuhan yang optimal di lapangan. Model penduga pohon terbaik berdasarkan satu peubah bebas diameter adalah persamaan V = 0. 2006 Model penduga volume pohon jenis pulai darat (Alstonia angustiloba) yang dikembangkan PT.0093 H + 0. Agus PEMODELAN PENDUGA VOLUME POHON PULAI DARAT (Estimation Modelling of Pulai Darat Tree Volume) / Agus Sumadi. Se (2. Penelitian ini dirancang dengan pola Split Plot. Jenis-jenis tanaman tersebut antara lain jati (Tectona grandis). mahoni (Swietenia macrophylla). Halaman 47-53 . Jati super. Halaman 193 .43 %). Kata kunci: Jati. Joni Muara. kesambi (Schleichera aleosa). No.00885 0.30%).

pestisida digunakan untuk 130 . Jadi pestisida dalam kehutanan mungkin masih masuk dalam kategori "bidang lain". d) penyimpanan hasil pertanian. dan dalam kehutanan mulai mengambil porsi yang semakin signifikan. gudang. Halaman 35 . Terkait dengan menurunnya energi penduduk untuk melakukan kerja yang terkait dengan pertanian. Halaman 29-31 . penggunaan pestisida di USA sendiri untuk sektor kehutanan hanya berkisar antara 1 persen . fungisida dan rodentisida. g) pengendalian rayap. Manajemen tanaman.5 tahun bila biji. Jika berkaitan dengan kehutanan. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6m x 2m. 15. alasan ekonomi Kata kunci: Perkembangan tajuk. W. jati. -. Pestisida yang lazim dipakai dalam pengelolaan tanaman hutan produksi meliputi herbisida.B Aryono dan Sambas Sabarnurdin. kultur jaringan dan stek. Priyono PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. dan larvasida.2 tahun dan 8. Dalam PP No. Selain itu juga meliputi akarisida. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama. h) rumah tangga. Kata kunci: Hama. Tektona grndis L. baik di luar negeri maupun di Indonesia terutama ditujukan dalam upaya untuk meningkatkan produksi pertanian. j) industri lainnya seperti pada cat. i) fumigasi. sedangkan apabila persediaan benih terbatas. Namun demikian sejalan dengan perkembangan jaman. Perhutani Suryanto. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. perkebunan. b) peternakan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Penyakit. molluscisida. 7 th 1973 bahkan hormon pertumbuhan dimasukkan dalam kategori pestisida. yellow fever dan sebagainya.3. -.pertanaman di lapangan tersebut ada yang sudah lama dikenal dan jenis hama/penyakit baru dikenal pada jenis-jenis tanaman hutan. Bila kebutuhan pengguna pestisida untuk hutan produksi mulai meningkat. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. Jakarta 23 Nopember 2006 . dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. dan rumah tangga.1 . 2006 Selama ini penggunaan pestisida. beberapa penggunaan senyawa aktif dari bahan alam. Kultur jaringan. penggunaan pestisida untuk keperluan lain khususnya untuk pemakaian di rumah tangga. insektisida. f) pengendalian faktor penyakit manusia. Sebagai perbandingan. tampaknya pelu dimasukkan kegiatan pestisida untuk kehutanan dengan pengaturannya sendiri. Penggunaan pestisida untuk non-agricultural use juga masih terbatas pada upaya pengontrolan vektor penyakit pada manusia yang berkaitan dengan produksi pertanian. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. tissue culture and shoot cutting) / Priyono Suryanto. Asal bahan tanaman. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok.f Taufikurahman MENIMBANG PENGGUNAAN PESTISIDA DALAM PENANGGULANGAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN: TINJAUAN ASPEK MANFAAT DAN RESIKO LINGKUNGAN / Taufikurahman. gedung.43 . c) perikanan. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. Stek pucuk. KEPMENTAN TAHUN 2001 yang mengkategorikan bidang penggunaan pestisida meliputi: a) Pengelolaan tumbuhan. dan k) bidang lain.5 persen dari total penggunaan pestisida. Peruntukan pestisida di Indonesia masih terbatas pada penggunaan di lahan pertanian. hama penyakit mulai muncul dan berpotensi menimbulkan kerugian yang cukup signifikan. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown development of teak from seedling. Hassal (1990) menyimpulkan bahwa pengontrolan terhadap vektor penyakit malaria. Seiring dengan keluasan area tanaman dan lama daur pengelolaan suatu jenis hutan tanaman. Dalam pengelolaan kehutanan. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berturut-turut 12 tahun. Senyawa-senyawa pestisida tersebut pada umumnya merupakan senyawa kimia sintetik. Bila persediaan biji bermutu cukup. e) pengawetan hasil hutan. 2006 Pengelolaan hutan. anti pencemaran.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. penggunaan pestisida masih terbatas dalam kaitannya terutama dengan pengawetan kayu sebagai produk hutan. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan dengan intensifikasi lahan. sakit tidur. typhus. No. Program pencarian bahan tanaman jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji.

etunicatum berpengaruh pada persentase hidup tanaman untuk hidup di lahan bekas tambang. eucaliptus ataupun tanaman lain dalam Hutan Tanaman Industri (HTI). Kata kunci: Serangan penyakit. Untuk itu diperlukan bibit yang uniform. etunicatum dan perbedaan media sapih. Dalam kaitannya dengan tumbuhan. PT RAPP. masalah hama penyakit menjadi salah satu kendala yang semakin dirasakan penting artinya. Kata kunci: Hama. 2006 : Halaman 83-86 . Oleh sebab itu diperlukan perencanaan yang matang agar suplai bibit dari persemaian dapat tepat waktu dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. ekonomi dan menjamin produktivitas dan keberlanjutan HTI. Demikian pula dalam pengusahaan akasia. 2006 Penanaman kembali hutan tanaman bekas tebangan harus dilakukan segera setelah penebangan. Penyaki Ulfa. PT. Bangko Timur. PT. Edwin Martin. Budi MEMINIMALKAN SERANGAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN PADA Acacia crassicarpa DAN Acacia mangium / Budi Tjahjono. rodensia.) relatif tidak menunjukkan perbedaan parameter tinggi dan diameter di antara perlakuan. penyakit. Tanaman hutan Tjahjono. Riau andalan Pulp and Paper telah mengantisipasi masalah hama penyakit ini dengan serius. dan kehilangan akibat serangan penyakit harus minimalkan.).3. menggunakan Rancangan Acak Blok dengan tiga ulangan. RAPP melalui R&D nya berusaha untuk mengembangkan musuh alami seperti serangga Sycanus dan cendawan Trichoderma untuk pengendalian hayati hama dan penyakit. 2006 pertumbuhan tanaman pulai darat (Alstonia sp. Program Penelitian atau Bagian Hama dan Penyakit telah dibangun dalam R&D Riau Fiber. Halaman 45-46 . seperti ketersediaan nitrogen dan akumulasi bahan organik 131 . pertumbuhan pulai darat (Alstonia sp. Tetapi di sisi lain. bermutu tinggi. Pestisida. PT Rian andalan Pulp and Paper Tjahjono. Jakarta 23 Nopember 2006 . Budi PENGELOLAAN HAMA PENYAKIT DI HTI PT RAPP / Budi Tjahjono. Sumatera Selatan. pestisida digunakan untuk memperlakukan nonnative dan invasif spesies tumbuhan.106 . Acacia crassicarpa. Kata kunci: Hama. Bukit Asam. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) merekomendasikan cara hayati. untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan dan produktivitas hutan. yang ditunjukkan dengan hampir 100% hidup pulai darat (Alstonia sp.2 . Kekurangan produksi bibit di persemaian mempengaruhi secara langsung target penanaman dan dapat berakibat meningkatnya biaya pemeliharaan. inokulasi G. serangga.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 Masalah hama dan penyakit selalu dihadapi oleh usaha pertanian dan perkebunan dimanapun juga di muka bumi ini. setelah 9 bulan ditanam. Acacia mangium. misal penggunaan antagonis. -. Penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah ditanam di lahan. PT. Riset menggunakan 2 perlakuan. Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi. Manajemen APRIL PT. Maliyana PENGARUH INOKULASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA TANAMAN PULAI DI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA (The Effects of Arbuscular Mycorrizae Fungi Inoculation to Pulai at Ex Coal Mining) / Maliyana Ulfa. Hal tersebut diduga disebabkan oleh proses biokimia tanaman. sehat. Efendi Agus Waluyo. Untuk menekankan pentingnya kesehatan tanaman dan untuk memfasilitasi penelitian dan implementasi konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). G. Penyakit. sebagai bagian dari pengelolaan hama terpadu yang berwawasan lingkungan di HTI. -. inokulasi G. diameter dan persen hidup. Halaman 101 .) telah dilakukan di lahan reklamasi bekas tambang batubara pada Dumping Area Pit Tiga.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Tanjung Enim. No. Sebagai perusahaan yang telah mendapat sertifikasi LEI.mengontrol tumbuhan gulma. Hutan tanaman industri. etunicatum tidak cukup berpengaruh pada pertumbuhan pulai di lahan. RAPP telah berkomitmen untuk menangani masalah ini dengan cara berwawasan lingkungan.

sungkai dan mngium adalah Glomus etunicatum. Halaman 123-126 .). -. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. -. meliputi kondisi fisik.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. serta mampu mengefisienkan pemberian pupuk buatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza dapat meningkatkan kualitas bibit tanaman kehutanan tersebut. deposit bahan organik penyusun gambut habis terbakar sehingga menurunkan produktivitas lahan dan menurunkan daya dukung lahan. 2006 Sebagian besar lahan gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. 132 . Edwin Martin dan Efendi Agus Waluyo. mangium (Acacia mangium). mikoriza dapat memudahkan penyerapan nutrisi dan air. maka pemberiannya cukup dilakukan sekali di awal pembibitan dan menghemat biaya operasional. Selain itu tanamanpun akan lebih tahan terhadap kekeringan dan serangan patogen akar. Mikoriza Ulfa. Manfaat ini telah dibuktikan dengan menginokulasi mikoriza pada beberapa tanaman kehutanan. Halaman 127-130 . Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . bungur (Lagerstromia speciosa). mengingat dapat menyediakan bibit berkualitas dalam waktu yang singkat dalam jumlah yang banyak. kimia dan biologi tanah serta karakteristik dan tipologi lahannya. Maliyana PEMANFAATAN MIKORIZA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BIBIT JENIS PRIORITAS SUMATERA SELATAN / Maliyana Ulfa. antara lain pulai (Alstonia sp. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. sehingga mudah terserap oleh tanaman. Kebakaran. 2006 Aplikasi mikoriza merupakan alternatif teknologi dalam upaya mempersiapkan bibit berkualitas. Usaha rehabilitasi yang bisa diupayakan adalah dengan aplikasi mikoriza. Rehabilitasi Ulfa. bungur. Alstonia sp. Halaman 69-76 . Efendi Agus Waluyo dan Bastoni. Lahan rawa gambut. Jenis prioritas. Glomus clorum dan Gigaspora sp. sungkai (peremona canescens). Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Kualitas bibit. Kata kunci: Glomus etunicatum.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Jenis mikoriza yang diinokulasikan pada pulai. karena untuk seterusnya akan berkembang dengan sendirinya dan terus menginfeksi. seru (Scima wallicii) dan mahoni (Swietenia macrophylla) yang dilakukan di Balai Hutan Tanaman Palembang. Pada lahan kritis. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Maliyana POTENSI APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. Aplikasi ini dapat diterapkan dengan memperhatikan kondisi yang mendukung perkembangan mikoriza pada lahan rawa gambut pasca kebakaran.yang tidak terdekomposisi dengan baik. Kata kunci: Mikoriza. Bentuk teknologi ini lebih efektif dan efisien. 2006 Kerusakan hutan rawa gambut semakin meningkat setiap tahunnya. yang disebabkan oleh (1) eksploitasi hutan (2) konservasi lahan untuk pertanian dan (3) kebakaran hutan. lahan. Dampak kerusakan yang terparah disebabkan kebakaran hutan. Sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. Ulfa. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK REHABILITASI HUTAN RAWA GAMBUT BEKAS KEBAKARAN / Maliyana Ulfa. Hal tersebut menyebabkan sporulasi dan kolonisasi CMA tidak berjalan dengan baik. pulai. yang mengakibatkan kerusakan tidak hanya pada tegakan hutan tetapi juga pada tanah (gambut). sedangkan pada seru telah diuji diinfeksi dengan Glomus etunicatum. Selain itu karena yang diinokulasikan adalah jasad hidup. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. -.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.

Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 73-83 . serta informasi jangka panjang kegunaan dan nilai ekonomi dari tegakan yang ditanam. -. 2006 Departemen Kehutanan melalui program Revitalisasi Sektor Kehutanan telah mentargetkan untuk membangun sekitar 9 juta hektar hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat di dalam kawasan hutan yang terdegadrasi serta hutan rakyat pada lahan-lahan milik masyarakat. serangan hama dan penyakit. 133 . Hutan tanaman Ulya. ruas sungai yang terdapat lubuk dan danau rawa. Jakarta 23 Nopember 2006 . Ekosistem.484 juta hektar atau sekitar 20. Kehilangan habibat yang penting di perairan umum akan berdampak langsung pada kehidupan organisme air. -. Rawa gambut Utomo.Kata kunci: Rawa gambut. 2006 Peran penting perairan umum yaitu sebagai tempat hidup berbagai jenis organisme air tawar. demikian pula dengan "trend" penggunaan kayu.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. pendapatan asli daerah dan keseimbangan lingkungan. Suaka perikanan yang baik dapat meningkatkan produksi perikanan di perairan sekitarnya. Propinsi Sumatera Selatan mempunyai lahan gambut seluas kurang lebih 1. reklamasi lahan. Hutan tanaman. Timah-timah (Cryptopterpus apagon). Suaka perikanan dapat dipakai sebagai perangkat pelestarian plasma nutfah. Temparang (Macrothirictys microphirus). Hal ini juga menyebabkan rusaknya gambut yang berada di areal yang tidak berhutan tersebut. sumber protein hewani. Rehabilitasi. Mikoriza. Ikan Elang (Datniodes quadrifsciatus). sebagai indikasi tidak adanya keseimbangan ekologi dari jenis yang ditanam dengan keadaan lingkungan. Sengarat (Belodonticthys dinema). Salah satu teknik pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu dengan cara menyediakan habibat yang dilindungi untuk dijadikan suaka perikanan. Persoalan utama didalam membangun hutan tanaman adalah kemungkinan terjadinya ledakan populasi serangan dan epidemi penyakit yang berakibat pada serangan hama dan penyakit secara besar-besaran pada hutan tanaman.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 97-102 . Beberapa penyebab kerusakan habibat yaitu penebangan hutan rawa. dan topografi relatif cukup tersedia. relatif lebih mudah diperoleh. Kapas-kapas (Rochteichtys micropeltis). Informasi biofisik yang meliputi tanah. 2006 Indonesia merupakan salah satu negara dengan lahan rawa gambut terluas di dunia. Beberapa tipe habibat yang dapat dijadikan suaka perikanan yaitu Lebung. Di sisi lain pembangunan HTI hanya mampu menghasilkan 1/3 dari kebutuhan industri sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan percepatan pembangunan HTI. Halaman 21-27 . Perikanan Wasrin. Jenis ikan yang hampir punah antara lain Tengkeleso (Shclerophages formosus). Seringnya terjadi kebakaran hutan dan tingginya konversi lahan menyebabkan semakin menciutnya areal berhutan dalam kawasan hutan rawa gambut. tempat mata pencaharian bagi nelayan. -. Pengalaman dari beberapa perusahaan kehutanan dalam membangun hutan tanaman industri masih banyak menemui kendala antara lain resiko-resiko jangka panjang akibat dari pemilihan jenis tanaman yang tidak atau kurang sesuai dengan tapak. Upik Rosalina ASPEK EKOLOGI DALAM "VEGETATION MANAGEMENT” PADA HUTAN TANAMAN / Upik Rosalina Wasrin. Konversi lahan basah harus dipertimbangkan dengan masak agar nilai sumberdaya alam tidak hilang. Nur Arifatul PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN UNTUK REHABILITASI KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT / Nur Arifatul Ulya. Ekologi perairan umum sangat komplek dan sangat dipengaruhi oleh musim. iklim. kebutuhan industri pasar serta nilai ekonomi dari produk perkayuan. pemulihan populasi dan peningkatan produksi perikanan. Kata kunci: Rawa. Suaka perikanan mempunyai peran besar bagi penyediaan benih ikan secara alami di perairan umum. Mok-mok (Hemisilurus scheronema). Agus Djoko KETERKAITAN KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN EKOSISTEM PERAIRAN RAWA BESERTA UPAYA PELESTARIANNYA / Agus Djoko Utomo.6 Kata kunci: Hutan tanaman. Evaluasi kegunaan lahan basah diperlukan dalam rangka memberikan masukan bagi pengelola. Pemahaman ekosistem lahan basah sangat diperlukan untuk mengevaluasi kegunaan dan keuntungannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma spp. FHM penting dilakukan untuk mengetahui seberapa baik hutan dapat mendukung kehidupan manusia. Bagi masyarakat informasi tentang kesehatan hutan yang diperoleh secara benar akan meningkatkan kesadaran dan peran serta mereka dalam ikut memanfaatkan hutan secara benar. Uji coba mengenai kemampuan antagonistik isolat Trichoderma dalam menghambat fungi patogen pada beberapa tanaman. Seperti dilaporkan dalam sistem kitinolitik lain. kayu perkakas. habibat untuk wildlife. san Sclerotium rolfsii.1.2. Apabila informasi tentang kesehatan hutan dipadukan dengan program penataan administrasi yang baik serta dukungan pakar yang berkomitmen tinggi terhadap masalah-masalah lingkungan. Walaupun mekanisme mikroparasit belum diketahui sepenuhnya. Baru-baru ini. Hutan tanaman Widyastuti. -. SM POTENSI ANTAGONISTIK FUNGI TRICHODERMA SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI TERHADAP FUNGI PATOGEN TULAR TANAH / SM Widyastuti. Rhizoctonia spp. Pengendalian hayati pada patogen tanaman merupakan pendekatan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pertanian modern dan fungisida kimia yang dapat menyebabkan polusi lingkungan dan berkembangnya galur resisten. sebagai pengendali hayati patogen busuk akar Ganoderma spp. Bagi para pengelola hutan.14) merupakan salah satu enzim yang paling efektif sebagai antifungi dan aktivitas litik dibanding dengan enzim kitinolitik yang lain. Vegetation management. Halaman 33-39 . -. kayu bangunan. baik pada saat ini maupun masa yang akan datang. ekspresi dinding sel ekstraseluler dalam mendegradasi enzim diasumsikan merupakan bagian dari proses tersebut. Penyakit.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. informasi tentang kesehatan hutan dapat dimanfatkan untuk memperkirakan tingkat (kualitas) hutan yang pada gilirannya sangat penting untuk merespon keinginan pihakpihak yang berkepentingan. seperti Ganoderma spp. bahan pulp serta dapat digunakan untuk tempat rekreasi.2006 : Halaman 71-81 . Filamen fungi trichoderma spp. endokitinase (EC 3. Banyak pihak yang dapat memanfaatkan informasi tentang kesehatan hutan. Bagi pembuat kebijakan. Hutan yang sehat juga berfungsi sebagai sumber bahan pangan dan sebagai paru-paru dunia. Hutan tanaman. 32-kDa enzim kitinase telah dimurnikan dan dikarakterisasi dari T. Penyakit akar putih.reesei. bersifat mikroparasit terhadap patogen tanaman dan merupakan salah satu agen potensial yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati pada penyakit tanaman. termasuk enzim kitinolitik dan glukanolitik. maka akan dapat dihasilkan rencana strategis pengembangan hutan yang lestari dan lingkungan yang berkesinambungan. merupakan patogen busuk akar potensial yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada berbagai tipe hutan tanaman di Indonesia. Hutan Tanaman Widyastuti.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. 2006 Makalah ini mendeskripsikan kemampuan Trichoderma sp.Kata kunci: Ekologi. Fusarium sp. Fungsi hutan yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya adalah menyediakan air. FHM dapat dipakai sebagai dasar yang penting dalam pembuatan rencana strategis khususnya terkait dengan data perubahan kesehatan hutan. DNA 134 . SM FOREST HEALTH MONITORING DI HUTAN TANAMAN / SM Widyastuti.. Jakarta 23 Nopember 2006 . Kata kunci: Forest Health Monitoring. Ganoderma spp. 2006 Dalam dasawarsa terakhir ini Forest Healts Monitoring (FHM) sering dibicarakan. dapat secara efektif mampu menekan perkembangan fungi patogen secara in vitro dan eksperimen rumah kaca. Kata kunci: Acacia mangium. Ridigoporus microporus. Akar putih.. Akar merah.

(2) Pasar kayu jati belum terbentuk dengan jelas.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 135-141 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Halaman 61-67 .71 cm dan 7. Air tawar.90 m. Kondisi hutan rawa air tawar yang relatif lebih tenang dan banyak substrat atau tanaman mati yang merupakan media untuk menempelkan telur menjadikan hutan rawa air tawar sebagai daerah yang ideal untuk ikan-ikan yang bermigrasi untuk memijah. (2) Teknik budidaya jati mudah dikuasai dan sederhana.89 cm dan 6. (3) Budidaya jati secara monokultur tidak menyediakan ruang untuk budidaya jenis tanaman lain. Sebagian besar jati yang ada merupakan tanaman antara 1997-2001. Hutan rawa air tawar didominasi oleh vegetasi pohon. menjadikan daerah hutan rawa air tawar sebagai daerah reservat dan adanya peraturan penangkapan pada bulan-bulan tertentu terutama pada musim kawin atau musim pemijahan. -. Barikut adalah beberapa faktor yang memotivasi masyarakat untuk melakukan budidaya jati di Kaur: (1) Gambaran keuntungan ekonomi yang akan diperoleh.Wijaya. (3) Memanfaatkan lahan terlantar yang tidak produktif. -. Baung (Mytus nemurus) dan Putak (Notopterus notopterus).25 hektar berulangan untuk beberapa seri tahun tanam jati disajikan secara berturut-turut tahun tanam. Luas kepemilikan tanaman jati masyarakat sangat bervariasi antara 0. 1999: 13. 2000: 9. Hutan rawa.63 cm dan 6. tanaman air dan tanaman semak lainnya. 2006 Jati merupakan tanaman eksotis yang dibudidayakan oleh masyarakat Kaur. Masyarakat secara swadaya menanami lahannya yang terlantar (tidak produktif) dengan tanaman jati. Jati mulai menarik perhatian masyarakat Kaur pada pertengahan dekade 90-an seiring dengan maraknya budidaya jati di berbagai lokasi. Hutan rawa. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Penampakan kayu jati tersebut pada umumnya cukup baik tanpa gerowong dan cacat lain namun kayu tersebut belum berkembang dengan baik dan terlihat masih muda dengan kayu teras yang terlihat belum matang. 1998: 11. Tapa (Wallago leeri). Pemijahan. 2001: 8. perdu.51 cm dan 5. minat masyarakat Kaur terhadap budidaya jati mulai berkurang. dan (4) untuk memenuhi kebutuhan kayu di masa depan.14 m.81 m. 135 .74 cm. 2006 Salah satu tipe ekosistem perairan umum yang khas adalah ekosistem hutan rawa air tawar. Pelestarian hutan rawa air tawar perlu dilakukan guna menjaga kelestarian dan produksi ikan terutama ikan-ikan bernilai ekonomis dan ekologis.25-7 ha. Beberapa cara untuk pelestarian tersebut adalah dengan tidak melakukan penebangan liar. Kata kunci: Ekosistem. Perairan umum. Hutan rawa air tawar mempunyai nilai ekologis yang penting karena pada saat musim hujan daerah tersebut merupakan tempat memijah (spawning ground) bagi banyak ikan termasuk beberapa jenis ikan berniali ekonomis seperti ikan Belida (Chitala lopis). Peran dan fasilitas instansi pemerintah terkait terutama dinas kehutanan diperlukan dalam merespon perkembangan budidaya jati dan mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi di Kaur dari sisi teknis budidaya dan akses pasar. Hasil pengukuran potensi jati menggunakan plot ukur 0. Danu EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR SEBAGAI TEMPAT PEMIJAHAN (Spawning ground) BAGI IKAN-IKAN PERAIRAN UMUM / Danu Wijaya dan Safran Makmur. Pada tahun 2002. Spawning ground. Ekosistem hutan rawa air tawar biasanya terdapat pada Daerah Aliran Sungai bagian tengah. (4) mulai berkembangnya tanaman perkebunan yang dapat memberikan hasil lebih cepat dan kontiyu. Betutu (Oxyeleotris marmorata). Ikan Winarno. Sebagian besar tanaman jati di Kaur belum memasuki masa panen namun ada sebagian tanaman yang berumur 12-15 tahun telah dipanen dengan diameter batang 20 cm . Hutan rawa air tawar menjadi tempat pemijahan ikan terutama pada waktu musim hujan. BENGKULU / Bondan Winarno dan Edwin Martin. Bondan PENGEMBANGAN JATI SEBAGAI TANAMAN EKSOTIS: PELAJARAN DARI MASYARAKAT KAUR.25 cm dan 8.25 cm.13 m. Beberapa hal yang mendorong perkembangan budidaya jati di Bengkulu cenderung menurun adalah sebagai berikut: (1) Pertumbuhan dan perkembangan jati tergantung perawatan dan tempat tumbuh. rerata diameter dan tinggi bebas cabang: 2002 : 7.

provinsi dan kabupaten/kota. lereng dan lembah) dibuat petak yang berukuran 10 m x 10 m masing-masing sebanyak 5 buah petak. Tectona grandis Linn. Lahan milik. dengan jumlah 1288-2321 spora/50 g pada bulan kering dan pada bulan basah 1274-2163 spora/50 g tanah.3. Untuk hubungan antara potensi CMA dengan sifat-sifat tanahnya sangat ditentukan oleh kandungan P tersedia. Mulyana Omon. Untuk itu diperlukan strategi metamorfosis yang terbimbing untuk menuju keseimbangan ekosistem hutan rawa gambut yang baru. 2006 Ekosistem lahan basah dan rawa gambut mencakup sepertiga bagian dari total wilayah Provinsi sumatera Selatan. K tersedia (0. yang ditunjukkan dengan pH tanah yang masam (4. Untuk itu pemerintah Provinsi Sumatera Selatan harus menentukan solusi kebijakan strategis pengelolaan hutan rawa gambut dengan mendasarkan pada data/informasi yang terkini. dan terjadi korelasi negatif antara jumlah spora dengan kandungan P tersedia. Rekayasa proses suksesi ekologi hutan rawa gambut yang dipercepat dengan mengakomodasi kepentingan sosial ekonomi sangat diperlukan. No. 136 . Bengkulu Yassir. dalam penyelenggaraannya dilaksanakan oleh KPH dalam bentuk swakelola dan pemerintah dapat mendelegasikan pengelolaan hutan kepada Badan Usaha Milik Negara di bidang kehutanan. dan pembentukan KPH tersebut selanjutnya menjadi bagian dari penguatan sistem pengurusan hutan nasional. penyusunan rencana pengelolaan hutan.15%). karena proses suksesi hutan merupakan proses yang panjang sedangkan permasalahan sosial ekonomi memerlukan solusi yang segera. Acaulospora dan Gigaspora.32). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah di lokasi penelitian secara umum tidak subur. Kalimantan Timur. yaitu C-organik (2. -. Kepadatan spora CMA cukup baik. Pemahaman terhadap landasan kebijakan yang ditetapkan pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan rawa gambut dan pola KPH merupakan titik masuk bagi para pihak untuk dapat mengkritisi dan memberikan saran solusi terhadap upaya mewujudkan pengelolaan hutan lestari serta antisipatif terhadap kemungkinan munculnya permasalahan yang lebih komplek sebagai dampak negatif atas kebijakan pengelolaan hutan rawa Between Arbuscular Mycorrhizal. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari tersebut maka kawasan hutan dibagi kedalam kesatuan pengelolaan hutan (KPH). Kaur. Pada setiap kondisi topografi (puncak. pemberdayaan masyarakat. dari genus Glomus.Kata kunci: Jati. semak dan belukar. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan hutan yang meliputi tata hutan. R. Ishak HUBUNGAN POTENSI ANTARA CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA DAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAHAN KRITIS (The Relationship Hutan Tanaman : Vol.13%) P tersedia (498 ppm). -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 7-13 . tercakup di dalamnya sistem lahan dan hidrologi.115 . sistem silvikultur serta faktor-faktor sosial ekonomi yang terkandung di dalamnya. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metoda tunggal berdasarkan letak topografi dan komposisi tumbuhan.44 me/g) dan KTK (8.Jurnal Penelitian Penelitian tentang hubungan antara Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada lahan kritis telah dilakukan di areal rehabilitasi Samboja Lestari Km 35. yang ditunjukkan oleh jumlah spora CMA yang menurun selaras dengan meningkatnya kandungan P tersedia di dalam tanah. rehabilitasi hutan dan reklamasi serta perlindungan hutan dan konservasi alam. keragaman hayati dan dinamika populasi hutan rawa gambut. pemahaman yang memadai terhadap ekosistem hutan lahan basah dan rawa gambut. Jumlah petak yang diamati seluruhnya sebanyak 3 x 5 x 3 = 45 buah petak.99 me/100g). Halaman 107 . Tanaman eksotis. pemanfaatan hutan. Pengelolaan hutan rawa gambut merupakan usaha untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari. Di dalam petak berukuran 10 m x 10 m dibuat petak berukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan secara acak dan diulang sebanyak 3 kali. 2006 Zulfikhar KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DENGAN POLA KPH DI PROVINSI SUMATERA SELATAN / Zulfikhar. dan dua pertiga bagian di antaranya merupakan kawasan hutan dengan kondisi penutupan vegetasi sebagian kecil masih berupa hutan alam dan sebagian besar telah terombak menjadi padang rumput. bahan organik yang rendah sampai dengan sedang.2 . kandungan N total (0. di mana pada setiap KPH dikelola oleh suatu Unit Organisasi KPH. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat fisik dan kimia terhadap potensi CMA pada lahan kritis.Fungi Potency and Soil Properties in Marginal Land)/ Ishak Yassir.

Hutan rawa gambut.gambut dan dapat bermanfaat bagi para pihak sebagi acuan untuk mewujudkan pengelolaan hutan rawa gambut yang lebih baik di Propinsi Sumatera Selatan. Kebijakan. Sumatera Selatan 137 . KPH. Kata kunci: Rawa gambut.

Pengambilan data dilakukan dengan sengaja berdasarkan ketinggian tempat tumbuh yaitu dataran rendah dan dataran tinggi dan dilakukan survey potensi bambu dan produknya serta wawancara dengan petani. betung. Tasikmalaya Achmad. Halaman 164-174 . Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai kemungkinan upaya peningkatan potensi pemanfaatan bambu melalui perluasan variasi produk dan penyertaan teknologi untuk meningkatkan mutu dan nilai tambah produk. bambu surat. bambu hitam. 2005 Pengelolaan hutan tanaman secara lestari bisa dicapai jika jatah tebang tahunan (AAC) tidak melebihi riap. Kata kunci: Arang Bambu.464. Budiman ARANG BAMBU DARI LIMBAH INDUSTRI KERAJINAN: POTENSI EKONOMI YANG BELUM DIGALI DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. dan Devy Priambodo Kuswantoro. kekuatan desain.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.1 ha/plot diukur diameter dan 138 . Tegakan umut 1 sampai 4. dan gombong dan diuji kualitas arang yang dihasilkan menurut standar SNI.9 th dalam 50 plot dengan luasan 0. 6 Desember 2005 . Halaman 175-184 . -. Potensi usaha Achmad.13 persen dan kadar zat terbang 18. ater. 6 Desember 2005 . 2006 Potensi bambu di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi yakni sekitar 2. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan jenis bambu menghasilkan nilai kualitas arang bambu yang sangat berbeda nyata. Data diolah secara deskriptif dan dilakukan analisis keuntungan antara produk konvensional (standar) dengan produk pengembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mutu tapak dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan hasil dan menyediakan beberapa alternatif solusi untuk meminimalkan inefisiensi dalam pengelolaan hutan tanaman. Devy Priambodo Kuswantoro. Budiman PENGELOLAAN TAPAK HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERDASARKAN DAUR EKONOMIS / Budiman Achmad. tali. dan bambu temen. Budiman KAJIAN POTENSI USAHA BAMBU RAKYAT DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. -. Halaman 96-111 . Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat bisa dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu penerapan sistem silvikultur yang tepat.985. Input teknologi dan pemasaran menjadi faktor penentu disamping dukungan pemerintah. Potensi Ekonomi.957 batang menempati luasan 7. Propinsi Riau. Penelitian ini mencoba salah satu upaya pemanfaatan limbah dengan pembuatan arang bambu secara tradisional secara tumpuk timbun dengan menggunakan lima jenis bambu bahan baku industri sumpit yaitu bambu ampel. 6 Desember 2005 . 2005 Industri pembuatan sumpit sebagai salah satu upaya teknologi pemanfaatan bambu menghasilkan limbah yang cukup besar yaitu lebih kurang 65 persen yang perlu diupayakan pemanfaatannya agar menjadi produk yang bernilai tambah. Soleh Mulyana.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Limbah Kerajinan.98 persen. Kabupaten Tasikmalaya. pengrajin. kadar karbon terikat 74. Bambu tali sebagai bambu yang paling banyak digunakan untuk bahan baku sumpit ternyata menghasilkan kualitas arang bambu yang secara umum paling baik dibanding empat jenis bambu lainnya dengan besar nilai kalor 6.Achmad. Bambu tumbuh hampir merata di wilayah Kabupaten Tasikmalaya tetapi kurang didukung dengan meratanya ketrampilan sumberdaya manusia (SDM) sehingga terjadilah ketidakseimbangan antara potensi SDA (sumber daya alam) dengan potensi SDM yang merupakan indikator bahwa potensi usaha bambu belum digali secara optimal. dan eksportir.89 ha yang mampu membangkitkan kreatifitas usaha sebagian masyarakat Tasikmalaya.945 kal/g. dan harga serta jalinan kepercayaan antara produsen dan pembeli. -. Jenis yang paling banyak dijumpai adalah bambu tali.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. dan Soleh Mulyanan. Kata kunci: Bambu. Kunci untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat terletak pada seberapa jauh upaya peningkatan mutu.pengkelasan mutu dan pemanfaatan setiap bagian batang sesuai dengan potensi dan sifat dasarnya serta pemanfaatan limbah sebagai bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan dari proses produksi lain (interface). Penelitian ini dilaksanakan pada hutan tanaman Acacia mangium di Pasir Pangrayan.

Selama ini telah berjalan proses lelang terhadap kayu hasil temuan. Selain itu juga untuk mendapatkan alternatif penatausahaan kayu yang bisa menciptakan iklim usaha (market change) efektif dengan mempertimbangkan faktor kepraktisan dan kekhasan daerah tanpa mengorbankan efisiensi. sitaan. Tatausaha. Budiman KAJIAN IMPLEMENTASI TATAUSAHA DAN TATANIAGA KAYU RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN GARUT / Budiman Achmad. dan rampasan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kendala lain yang lebih bersifat disinsentif bersumber dari peraturan tatausaha yang tidak bersifat khas dengan daerah dan kurang mengakomodir kepentingan seluruh stakeholder secara berimbang. Akan tetapi. Kata kunci: Acacia mangium. dan Devy Priambodo Kuswantoro. Isu kehutanan 139 . Ada beberapa titik konsentrasi praktek penebangan liar serta penyelundupan kayu. Sektor kehutanan dengan segala potensinya pernah tercatat sebagai sumber pendapatan negara terbesar nomor dua setelah minyak. Hutan Tanaman.5 th dan 5 th untuk berturut-turut klas II. dan IV dan kelas V kemudian disusunlah grafik CAI dan MAI. -. Namun saat ini dengan maraknya kasus illegal logging negara harus menerima kerugian mencapai Rp.III. Kajian dilakukan dengan pengumpulan peraturan-peraturan mengenai tata usaha kayu yang ada. pada tanggal 13 Januari 2005 pemerintah telah mengesahkan tiga draft rancangan Peraturan Menteri Kehutanan tentang petunjuk pelaksanaan lelang kayu. Mutu Lahan Achmad. melakukan in-depth interview dengan responden ahli/kunci. demikian sebaliknya. Perairan Riau. 30 triliun/ha. dan wawancara dengan petani kayu dan pelaku usaha kayu untuk mengetahui interpretasinya terhadap tata usaha kayu rakyat. Garut Alviya. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui pola pemasaran dan kemungkinan pengembangannya sehingga persoalan yang terkait dengan in-efisiensi tataniaga bisa diminimalkan. yaitu perbatasan RIMalaysia di Kalimantan Barat. Untuk mendapatkan hasil optimal jumlah pohon yang ditanam harus mempertimbangkan mutu lahan. 5.Semakin rendah mutu lahan. 6 th. Berdasarkan hal tersebut. 13 September 2005 . -. Soleh Mulyana. Sistem insentif yang efektif perlu dikembangkan dengan dukungan peraturan yang perencanaannya bersifat kolektif dan inovative sehingga mampu menimbulkan komitmen sukarela. dan Kalimantan Timur. Diharapkan dengan kebijakan tersebut kerugian negara akibat illegal logging dapat ditekan dan praktek illegal logging yang umumnya menggunakan proses lelang kayu sebagai modus pemutihan kayu hasil tebangan liar tersebut dapat dihilangkan.2006 . Hasil penelitian menunjukan bahwa siklus tebang paling optimal adalah 6. 2005 Penebangan Liar (illegal logging) dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) merupakan salah satu dari lima kebijakan prioritas utama Departemen Kehutanan saat ini. Iis ILLEGAL LOGGING: KAJIAN PERKEMBANGAN ISU KEHUTANAN / Iis Alviya. Tataniaga. Inovasi nilai harga kayu maupun peraturan belum tertangani sebagaimana diindikasi oleh kecilnya margin yang diterima petani bersamaan dengan image biroaktif pengurusan perizinan yang berlaku. semakin tinggi kerapatan pohon yang ditanam. Halaman 85-96 .sebagaimana terlihat pada semakin sempitnya coverage relatif hutan di Kabupaten Garut yang tidak lebih dari 10 persen saja.5 th. Namun sistem pelaksanaan lelang tersebut belum berjalan secara efektif dan optimal sehingga menimbulkan kerugian bagi negara mencapai Rp. 500 miliar/tahun. perbatasan Papua. 2006 Hutan Rakyat merupakan alternatif yang semakin strategis untuk mengisi demand kayu yang semakin meningkat saat ini. Hasil kajian mengindikasikan bahwa arus informasi pasar ke petani cukup terbuka diduga karena profesi ganda sebagai petani sayur dan kayu berimbas pada semakin luasnya jaringan bisnis sehingga petani telah mampu meluaskan pasarnya.kelas III. Berdasarkan empat mutu tapak yang diperoleh yakni kelas II. Halaman 153-161 . Kata kunci: Kayu Rakyat.tingginya. Kasus illegal logging ini terus meningkat akibat lemahnya kemampuan aparat penegak hukum sehingga tidak mampu membongkar sampai ke akar permasalahannya. nilai strategis baik yang tangible maupun intangible belum ditempatkan sesuai fungsinya dan belum dihargai secara proporsional. Kata kunci: Illegal Logging. Kab.IV dan Klas V.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.

Astana. Interaksi dengan budaya luar. Jumlah responden 30 keluarga/rumahtangga.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. perlu dibarengi oleh kebijakan penguatan kelembagaan dan meningkatkan ekonomi secara konsisten. Runggandini. Kayu Bulat. -. 13 September 2005 . -. Ketersediaan unsur adat dan penegakan sanksi yang efektif bagi pelanggar. Metode survey dipergunakan untuk mengumpulkan data. namun hasilnya belum optimal. 2005 Lemahnya penegakan hukum menyebabkan kegiatan illegal logging meluas bukan hanya terjadi di hutan produksi. 2) aspek ekonomi. Halaman 4971 . Kata kunci: Illegal Logging. agar efektif. KEBUMEN. Satria PERANAN HUKUM ADAT DALAM UPAYA MENCEGAH ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG DAN KONSERVASI: PELUANG DAN TANTANGAN/ Satria Astana. Kelembagaan masyarakat hukum adat di sekitar hutan lindung dan konservasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen sosial budaya yang efektif dalam upaya mencegah illegal logging. Halaman 109-116 . 3) Kebijakan yang kurang kondusif. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor penentu suatu rumah tangga petani penyadap getah pinus tergolong miskin.al. Diukur dengan surplus produsen dan konsumen.2 . Dalam kaitan ini. Andy FAKTOR PENENTU KEMISKINAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI DESA SOMAGEDE. Upaya mencegah dampak buruk yang lebih jauh dapat dilakukan melalui intervensi kebijakan mengijinkan produksi kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium diekspor. kemiskinan pada masyarakat sekitar hutan harus dientaskan dan pemahaman terhadap faktor penentu atau penyebab kemiskinan menjadi penting. Peningkatan kemiskinan akan berdampak pada perusakan sumberdaya hutan. hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan kriteria KaldorHicks dampak kebijakan eksport kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium tanpa atau dengan pengenaan pajak eksport non-prohibitive adalah lebih baik dibanding kebijakan larangan ekspor. Pola jaringan illegal logging kapan saja dapat bangkit kembali dalam kehidupan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rentan dan lingkungan bisnis hutan yang tidak kondusif. Terdapat kekhawatiran yang luas terhadap harga kayu bulat yang terus rendah.. JAWA TENGAH (The Determinant factor of Pine Tapping Farmer Poverty in Somagede. Kebijakan ekspor Astana. Kata kunci: Acacia mangium.. yang ditujukan khususnya bagi masyarakat hukum adat yang daerahnya menghadapi tekanan illegal logging yang tinggi. Pemberantasan illegal logging melalui pendekatan keamanan telah dilakukan. merupakan suatu peluang hukum adat berperanan dalam upaya mencegah illegal logging. Ini pada gilirannya akan menyebabkan pembangunan hutan tanaman mengalami stagnasi. Central Java)/ S. dalam pemanfaatan hutan yang lestari. Andy Cahyono . Kebumen. antara lain: 1) intrusi budaya luar. Woro M. Hutan Lindung. 2006 Masyarakat sekitar hutan umumnya berada dalam kemiskinan dan keterbelakangan. dan kebijakan dapat menghasilkan asimilasi dan/atau akulturasi budaya yang dapat berdampak negatif atau positif terhadap kelestarian sumberdaya hutan. Kenyataannya. Namun unsur-unsur hukum adat secara terus-menerus mengalami tekanan dari banyak aspek. Konservasi Cahyono. dan Indartik. Salah satunya adalah rendahnya harga kayu bulat dalam negeri akibat kebijakan larangan ekspor. S. C. menyebabkan terjadinya asimilasi dan/atau akulturasi budaya. Model binary choice dengan fungsi logit 140 . [et. dampak kebijakan eksport kayu bulat perlu dikaji. 6 Desember 2006 .Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Hukum Adat. Satria ANALISIS KEBIJAKAN EKSPOR KAYU BULAT DARI HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM / Satria Astana. tetapi juga di hutan lindung dan hutan konservasi. Halaman 119 . Untuk itu.].Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 2006 Lambannya pembangunan hutan tanaman disebabkan oleh banyak faktor. aspek ekonomi. harga kayu bulat yang rendah bukan hanya menyebabkan nilai pengembalian investasi dalam pembangunan hutan tanaman khususnya Acacia mangium lebih rendah dari harga kapital yang digunakan tetapi juga mencegah masuknya investasi baru. Upaya mencegah illegal logging melalui instrumen hukum adat. merupakan suatu tantangan yang perlu dicermati. Sifat hukum adat yang terbuka dan dapat berubah. -.

Kebumen.33% lainnya termasuk dalam kategori keluarga tidak miskin. pendidikan. Andy IMBAL JASA MULTIFUNGSI DAS UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI / S. KEBUMEN. 2006 Pendekatan pengelolaan DAS yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumberdaya alam di DAS. Imbal jasa dapat berupa finansial maupun non finansial. 2006 Peningkatan pendapatan rumah tangga menentukan tingkat kesejahteraan keluarga dan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus. Paper ini mengurai imbal jasa multifungsi DAS untuk mendukung pengelolaan DAS dan jasa implementasinya. -. Pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi nyata secara statistik oleh pendapatan dari luar getah pinus. serta diversifikasi sumber pendapatan diluar getah pinus. pendapatan di luar penyadapan Cahyono. pendapatan dari luar getah pinus. pinus Cahyono. Pendekatan pengelolaan DAS yang menekankan pada jasa monofungsi DAS yang disederhanakan pada penanggulangan erosi sedimentasi perlu diubah dengan jasa multifungsi DAS baik tangible maupun intangible. 2006 : Halaman 63-81 . kualitas hidup lebih baik. and Central Java) / S. Dalam implementasinya.dipergunakan untuk mengetahui faktor penentu atau penyebab kemiskinan pada rumah tangga petani penyadap getah pinus. kapasitas stakeholder dan kesepakatan serta kesepahaman para stakeholder untuk merealisasikannya. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. Kata kunci: kegiatan. JAWA TENGAH umur pinus. Yonky Indrajaya. produktivitas pinus. dan umur penyadap. S. imbal jasa multifungsi DAS tergantung pada negosiasi. akses pada sumberdaya pada daerah penyedia jasa multifungsi akan lebih bermanfaat. kesehatan. Halaman 147-159 . Kemiskinan rumahtangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi secara signifikan oleh beberapa faktor. Andy KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP GETAH PINUS DI DESA (Socio-Economic SOMAGEDE. Imbal jasa multifungsi DAS dapat dipergunakan sebagai mekanisme kompensasi dari pemanfaatan jasa multifungsi kepada penyedia jasa multifungsi untuk menjaga ketersediaan jasa yang dihasilkan. Pendapatan rumah tangga dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pendapatan di luar sadap pinus dan peningkatan produktivitas pinus. petani penyadap getah pinus. Penelitian ini merekomendasikan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga penyadap dilakukan dengan diversifikasi pendapatan di luar pinus dan peningkatan produktivitas getah. Kata kunci: DAS. dan pendapatan di luar getah pinus. Andy Cahyono. determinan kemiskinan.67% rumahtangga penyadap pinus termasuk dalam kategori miskin. dan produksi getah pinus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46. 141 . sedangkan 53. Namun imbal jasa non finansial seperti ketersediaan infrastruktur. yaitu pendapatan dari getah pinus. Nur Ainun Jariyah. Implikasi kebijakannya adalah peningkatan produktivitas getah pinus dan harga getah. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap pinus. Untuk itu. Andy Cahyono dan Purwanto. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. Metode survey dipergunakan pada penelitian ini dengan penarikan sampel menggunakan metode simple random sampling pada 30 orang petani responden. Kata kunci: Kemiskinan.2 . S. Imbal Jasa Characteristics Affecting Household Income of Pine Gum Taper: Case Study in Somagede. Sementara peluang keluar dari kondisi miskin akan semakin besar dengan meningkatnya pendapatan dari getah pinus. umur tegakan. Analisis data menggunakan persamaan regresi linier berganda pada peubah karakteristik sosial ekonomi yang diduga mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik sosial ekonomi mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus.

Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.. Kata kunci: Acacia mangium. biaya proyek.(et. IRR adalah suatu tingkat bunga dimana seluruh arus kas bersih sesudah didiskonto sama jumlahnya dengan biaya investasi.-. Dengan perkataan lain.al) .0 persen dan 26. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor.(et. Terlihat bahwa penambahan nilai karbon sebesar Rp. dan IRR. 27. -. 2005 Pembangunan hutan rakyat selama ini didukung berbagai lembaga seperti kelompok tani.000 per hektar. Sehingga diharapkan pembangunan hutan tanaman mangium bisa dilestarikan. Sekaligus perlu diketahui bagaimana apabila peranan penambahan nilai karbon ditambahkan dalam analisis kelayakan tersebut.000 menjadi Rp. Nilai ini menunjukan bahwa keuntungan penambahan nilai karbon cukup signifikan dan menambah kelayakan pembuatan hutan tanaman.Kontribusi peranan setiap lembaga tersebut ditunjukan oleh sikap petani.. Sikap petani.Djaenudin. Analisis manfaat biaya dilakukan dengan menggunakan kriteria investasi NPV. Kriteria ini mengatakan bahwa proyek akan dipilih apabila NPV proyek sama dengan nol. Analisis biaya pembuatan dan nilai hutan tanaman dilakukan dengan metode Benefit Cost Ratio dengan menggunakan program EXCEL. hal tersebut disebabkan kurangnya responden mengetahui dan merasakan manfaat langsung dari LSM.942. Untuk itulah perlunya dilakukan kajian mengenai sikap petani terhadap lembaga pembangunan hutan rakyat yang dilakukan di Desa Cisitu. 2006 Bentuk pengembangan hutan rakyat di setiap wilayah akan berlainan dan memiliki kekhasan masing-masing.8 persen per hektar atau meningkat sebesar 5 persen. atau biaya mula-mula. lembaga usaha dan pemerintah. CIAMIS. WONOSOBO DAN KUNINGAN/ Dian Diniyati. Karena itu pembuatan hutan tanaman secara manual lebih menguntungkan daripada mekanik.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Sumatera Selatan Diniyati. Begitu juga dengan NPV meningkat dari Rp. Kabupaten Garut dan Desa Werasari mempunyai kecenderungan sama. 4. Net B/C. Halaman 103-120 .al). TASIKMALAYA. lembaga swadaya masyarakat (LSM). Selain itu pembuatan hutan tanaman secara manual juga lebih direkomendasikan karena melibatkan penggunaan tenaga kerja yang lebih besar. Halaman 79-95 . sehingga bisa mengurangi permasalahan pengangguran dan penambahan sumber pendapatan masyarakat. Untuk itu perlu diketahui kelayakan finansial dan ekonomi pembangunan hutan tanaman untuk keperluan investasi pembangunan hutan. Dian KONDISI DAN POTENSI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CILACAP. Kata kunci: Hutan Rakyat. Deden ANALISIS EKONOMI PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM DI SUMATERA SELATAN / Deden Djaenudin. karena menghasilkan IRR dan NPV yang lebih tinggi sebagai akibat dari biaya pembuatan yang lebih murah. meskipun sikap tersebut adakalanya tidak sesuai dengan harapan dari lembaga-lembaga yang mendukung pembangunan hutan rakyat. 2. atau meningkat sebesar 25 persen per hektar. 2006 Jenis tanaman yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman antara lain adalah Acacia mangium.500 per ton akan meningkatkan IRR dari 26. dan dapat dirumuskan sebagai berikut. Petani. 6 Desember 2005 . namun masih memiliki persamaan 142 . Garut Diniyati. IRR adalah suatu tingkat bunga yang menunjukan bahwa jumlah manfaat sekarang yang dihasilkan sama dengan total biaya sekarang yang dikeluarkan. Analisis Ekonomi. Selanjutnya sikap tersebut tidak dipengaruhi karakteristiknya. yaitu sikap yang positif terhadap kelompok tani. Hutan Tanaman. sedangkan sikap terhadap LSM untuk Desa Cisitu netral dan Desa Werasari negatif. dengan IRR sebesar 25.. lembaga usaha dan lembaga pemerintahan. 6 Desember 2006 .2 persen secara mekanik dan manual.482. NPV adalah selisih antara manfaat (B) dengan biaya (C) yang telah didiskonto. 6 Desember 2005 . dengan tingkat suku bunga yang dipakai adalah 15 persen untuk suku bunga private (finansial) dan 20 persen untuk suku bunga sosial (ekonomi).Hasil penelitian menunjukan bahwa pembangunan hutan tanaman mangium di Sumatera Selatan layak secara finansial maupun ekonomi.2 persen menjadi 28. Halaman 132-150 .. Dian KAJIAN SIKAP PETANI TERHADAP LEMBAGA PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT / Dian Diniyati dan Tri Sulistyati W.

untuk meningkatkan partisipatif dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga meningkat kemandiriannya dan pada akhirnya kesejahteraan akan tercapai. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Garut dan Desa Werasari Majalengka pada bulan Agustus 2005. Diharapkan dengan mengetahui persamaan dan permasalahan pengembangan hutan rakyat maka memudahkan dalam membuat kebijaksanaan untuk pengembangannya. Tasikmalaya. Ciamis dan Banjar pada bulan Nopember-Desember 2004. Dari hasil kajian di lapangan diketahui bahwa pembangunan huatn rakyat terbagi atas tiga tipe yaitu: (1) secara kemitraan antara masyarakat dengan BUMN. serta bentuk pemanenan dan pemasaran. 6 Desember 2005 . maka perlu dukungan dari semua pihak melalui kemitraan. GARUT DAN DESA WERASARI. melindungi aset negara dari perambahan. meningkatkan perfomance perusahaan. MALANGBONG. -. dan ini berguna untuk menilai keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. selanjutnya data yang terkumpul dianalisa secara diskriptif. Dengan pengelompokan persamaan pengembangan hutan rakyat setiap wilayah.diantaranya: kehomogenan petani pemilik hutan rakyat. letak topografi desa. diharapkan pembangunan hutan rakyat akan semakin tinggi sehingga pasokan kayu akan selalu terjamin keberadaannya. teknologi yang digunakan masih sederhana. Kata kunci: Hutan Rakyat. Majalengka Diniyati.BANTARUJEG. 2005 Beberapa faktor yang menjadi kendala yang dihadapi oleh petani dalam pengembangan dan pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah faktor modal. Motivasi dilaksanakan kemitraan ini yaitu melindungi sumberdaya alam. menyediakan tambahan lapangan pekerjaan untuk masyarakat 143 . Bentuk-bentuk pengembangan hutan rakyat ini sangat mempengaruhi terhadap pemberdayaan masyarakat.Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk menyediakan paket informasi mengenai beberapa pola pengembangan dan pembangunan hutan rakyat. (2) swadaya yang dibagi menjadi dua tipe.. 13 September 2005 . Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tasikmalaya. akan tetapi setiap kebijaksanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan lokasi. MAJALENGKA / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. dan kemitraan. budidaya hutan rakyat. Agar keberhasilan pembangunan hutan rakyat dapat tetap terjamin. Garut. 2005 Faktor pendukung terciptanya hutan rakyat pada satu lokasi sangat tergantung pada banyak hal dan berlainan sehingga akan tercipta hutan rakyat yang spesifik untuk setiap daerah. Ciamis. Kuningan Diniyati. Dian POLA KEMITRAAN UNTU MENDUKUNG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. namun demikian tetap mempunyai persamaannya karena kegiatan hutan rakyat ini banyak dilakukan secara proyek. selanjutnya pada masing-masing kabupaten dipilih secara sengaja desa sebagai lokasi penelitian.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Dengan demikian peranan penyuluh kehutanan sangat tinggi pada pembangunan hutan rakyat ini.Penyuluh sebagai mitra petani pada pembangunan hutan rakyat masih perlu ditingkatkan. Wonosobo. untuk itulah maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan faktor pendukung terciptanya hutan rakyat serta peranan penyuluh terhada keberhasilan pembangunan hutan rakyat. akan memudahkan untuk mengetahui permasalahannya. dan tipe pemilik tidak berada di lkasi hutan rakyat. -. peningkatan kesejahteraan petani. Dian HUTAN RAKYAT DAN PENYULUHAN KEHUTANAN: KASUS DI DESA CISITU. yaitu tpe pemilik berada dekat lokasi hutan rakyat. pemasaran dan kualitas sumberdaya manusia. walaupun dalam pemecahannya harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat. serta pemasaran. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan analisis petani pemilik dan penggarap hutan rakyat yang terlibat dalam kegiatan kemitraan. Penyuluh Kehutanan. seperti: jumlah tenaga yang kurang dan berubahnya fungsi penyuluh. swadaya . teknologi tepat guna. Halaman 151-163 . (3) serta kerjasama (kemitraan dengan pemerintah. fasilitas yang kurang memadai. Hasil dari kajian ini diketahui bahwa: kondisi hutan rakyatdi dua desa penelitian memiliki beberapa persamaan yaitu kondisi sosial petani. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan satistik deskriptif dan kemudian dianalisa sesuai dengan data yang diperoleh. Kata kunci: Hutan Rakyat. Halaman 227-239 . dengan kriteria adanya kegiatan kemitraan pada sektor hutan rakyat.Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Cilacap. hal ini berkaitan dengan faktor pembatas.

sedangkan peluang yang utama adanya dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung) dan ancaman yang utama yaitu kurangnya tenaga penyuluh di lapangan. -. dan biaya yang paling besar dikeluarkan petani adalah untuk tenaga kerja pada seluruh pola pengembangan. sedangkan kelemahan utamanya yaitu teknologi masih sangat tradisional.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Halaman 119 . kelemahan. adanya kepastian kawasan sehingga perencanaan dapat dilakukan dengan baik. Kata kunci: Hutan Rakyat. sebagai mediator antara peserta mitra dengan instansi pelaksana mitra. peluang dan ancaman dari kelompok tani sehingga dapat diramu strategi yang sesuai agar kelompok tani dapat mandiri dan berdayaguna bagi anggotannya. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut dan Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg. Hasil kajian diperoleh bahwa komponen biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari: persiapan lahan. Pemberdayaan masyarakat Diniyati. penanaman.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Dian STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYATI / Dian Diniyati dan Eva Fauziah.disekitar hutan. -. Metode kajian yang dilakukan adalah metode survey dan wawancara terhadap responden terpilih.2006 . hal ini sangat dipengaruhi faktor dari luar dan lingkungan kelompok itu sendiri. Selanjutnya untuk lebih meningkatkan kegiatan kemitraan ini maka sebaiknya ada lembaga pendamping. sedangkan yang menjadi kelemahan utama tingkat pendidikan yang masih rendah. keamanan hutan dapat terjamin karena masyarakat turut melindungi. Kata kunci: Sosial Forestry. Kelompok Tani Diniyati.2006 . Halaman 51-64 . Hasil kajian untuk Desa Werasari adalah sebagai berikut. Selanjutnya analisa data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Alat analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT. dimana lembaga pendamping harus independen.Kegiatan ini dilakukan di 4 desa yang dipilih secara acak pada bulan Agustus-Desember 2005. Untuk itulah maka kajian ini diperlukan untuk mengetahui besarnya biaya dari pendapatan pada semua pola pengembangan hutan rakyat. 2006 Manajemen yang digunakan pada pengembangan hutan rakyat pada umumnya adalah manajemen pemiliknya baik itu untuk aspek budidaya maupun aspek finansial. yang menjadi kekuatan utama yaitu memiliki lahan garapan.128 . Dini KAJIAN BIAYA DAN PENDAPATAN HUTAN RAKYAT YANG DIKELOLA PETANI PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. untuk itulah maka diperlukan kajian ini yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan. Seperti pada aspek finansial banyak faktor yang tidak diperhitungkan yang menyebabkan keuntungan semu bagi petani. Kata kunci: Hutan Rakyat. Kajian biaya. mencegah terjadinya okupasi lahan. 2006 Sub DAS Cicatih merupakan DAS lokal yang mempunyai karakteristik sosial ekonomi yang unik. diharapkan hasilnya dapat memberikan informasi sehingga dapat menarik minat petani untuk terus mengembangkan hutan rakyat. pemeliharaan. 2006 : Halaman 147-153 . Kabupaten Majalengka. sehingga tidak jarang hasil/keuntungan yang diterima petani masih jauh dari standar yang diharapkan. Petani Ekawati. Sulistya KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS LOKAL: SEBAGAI WACANA DALAM PENGELOLAAN SUB DAS CICATIH / Sulistya Ekawati. Dari segi finansial seharusnya pengelolaan Sub DAS 144 . Sedangkan pendapatan yang paling tinggi yaitu pola GNRHL. yaitu banyaknya industri yang memanfaatkan air yang berasal dari DAS tersebut. Responden adalah para pakar yang memahami tentang kelompok tani. dan terakhir yaitu ancaman utama kepemilikan lahan yang sempit. peluang utama yang dimiliki adalah adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan. -. Hasil pengolahan data diketahui kekuatan utama kelompok tani di Desa Cisitu adalah memiliki lahan garapan. dengan demikian keuntungan yang diperoleh petani yang paling tinggi pada pola GNRHL. Pendapatan. Pola Kemitraan. tenaga kerja dan pemanenan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. dalam perjalanannya banyak memiliki kelebihan dan kekurangan. 2006 Kelompok tani hutan rakyat merupakan perkumpulan para petani yang mengusahakan hutan rakyat. Untuk mengembangkan kelompok tani perlu dicari strategi yang tepat.

regulator/owner. Halaman 23-30 . 13 September 2005 . Hubungan PPTPA dengan stakeholders lain pada dasarnya bersifat konsultatif dan koordinatif.Gubernur. -. Kedudukan PPTPA tersebut sebagai fasilitator diantara para pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS (operator/provider. Puslittanak. Leading sector perencanaan jangka pendek oleh Bappeda kabupaten. Bappeda kabupaten dan LSM. one plan and multi management. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai.1 . Konsepsi dasar rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat yang tepat di laksanakan dengan mengacu 145 . Kata kunci: Kelembagaan. 2005 Prinsip dasar pengelolaan DAS terpadu adalah one river. Pengelolaan DAS. Di masa otonomi daerah ada kecenderungan egoisme daerah dan egoisme sektoral. propinsi dan kabupaten melakukan monev untuk sektornya masingmasing. user). khususnya untuk DAS-DAS lintas kabupaten dan lintas propinsi. Pembagian peran (role sharing) dalam pengelolaan DAS adalah sebagai berikut: leading sector perencanaan jangka panjang DAS nasional dilakukan oleh Bappenas. Hasil kerja PPTPA diserahkan kepada pihak regulator (Presiden. Role Sharing. Keanggotaan PPTPA juga harus terwakili oleh semua pihak. Untuk itu kajian ini diharapkan dapat membantu dalam menemukan metode yang tepat melalui pemberdayaan masyarakat penerima manfaat (beneficiary) yang didasarkan pada budaya dan kearifan lokal. Rachman KONSEPSI REHABILITASI LAHAN KRITIS DI JAWA BARAT / Rachman Effendi.006 ha yang terdiri dari kawasan hutan lindung (101.koordinasi pelaksanaan dan memonitor serta mengevaluasi kegiatan pengelolaan DAS.652 ha. Jenis lahan kritis dibedakan ke dalam 4 (empat) tingkat ke kritisan lahan yaitu potensial kritis. Bupati/Walikota) sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan yang terkait dalam kegiatan pengelolaan DAS. 1997). dirumuskan dan disepakati bersama karena merupakan motivator untuk membentuk suatu kelompok sosial. Bentuk kelembagaan yang disarankan adalah PPTPA (Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air).690 ha). kawasan hutan konservasi (34. tetapi aplikasi di lapangan hal tersebut sulit dilakukan.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. untuk mengatur perilaku seluruh stakeholders agar sejalan dengan tujuan sosial yang telah disepakati bersama. semi kritis. Sulistya PEMBAGIAN PERAN (ROLE SHARING) DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI: STUDI KASUS DI DAS SOLO DAN DAS PROGO / Sulistya Ekawati. DAS Progo Effendi. Lokasi pengkajian didasarkan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki tingkat erosi terbesar antara lain DAS Cisadane dan DAS Ciujung yang ada di Jawa Barat. Leading sector monev pengelolaan DAS regional oleh Bappeda propinsi. 2006 Issue lahan kritis dan lahan tidur di Jawa Barat telah muncul ke permukaan dan menjadi masalah ketika terjadi bencana alam berupa banjir dan kekeringan di tengah-tengah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk. Sylviani. Paimin.Cicatih belum mempunyai kelembagaan yang mapan. dalam rangka pelaksanaan program rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat. Koordinasi antar daerah dan antar sektor belum berjalan dengan baik. Agar sub DAS Cicatih terjaga kelestariannya diperlukan suatu kelembagaan. Tugas pokok dari PPTPA adalah menyusun kebijakan rencana. dan Purwanto. Pelaksana pengelolaan DAS adalah semua stakeholders. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) atau pengkajian desa secara cepat. Bappeda propinsi dan LSM. Perencanaan disusun dengan melibatkan semua stakeholders sesuai dengan kewenangannya. Keduanya merupakan DAS nasional (lintas propinsi). Penelitian ini dilakukan di DAS Solo dan DAS Progo. DAS Solo. DAS. sehingga pengelolaan DAS dilakukan secara terfragmentasi. Penetapan kebijakan tetap dilakukan pihak regulator. Halaman 37-48 . kritis dan sangat kritis dimana jumlah luas lahan kritis di Jawa Barat pada kawasan hutan mencapai 474. oleh karena itu perlu dirumuskan pembagian peran (role sharing) pada semua stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan DAS. Masing-masing stakeholders mempunyai kepentingan yang berbeda dan belum terjalin koordinasi diantara mereka. perencanaan jangka panjang DAS regional oleh Bappeda propinsi. Leading sector monev pengelolaan DAS nasional oleh Bappenas.664 ha) dan kawasan hutan produksi (337. DAS Cicatih Ekawati.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. -. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek teknis dan sosial ekonomi rehabilitasi lahan kritis secara tidak terkendali. Semua stakeholders di tingkat pusat. Kerjasama timbul apabila masing-masing pihak mempunyai tujuan yang sama dan pada saat yang sama mempunyai kesadaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Tulisan ini mengkaji nilai ekonomi manfaat lokal hutan lindung dan kawasan konservasi di Jawa Barat. sosial ekonomi masyarakat.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. ekonomi masyarakat. penelitian bertujuan untuk mengkaji pola pemberdayaan masyarakat melalui Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) dan kemitraan serta efektifitasnya dalam mencegah illegal logging di kawasan hutan alam produksi. hutan lindung Effendi.3 . Teknik rehabilitasi lahan di kawasan lindung yang terdiri dari kawasan hutan dan kawasan non hutan dilakukan melalui penghijauan untuk memperbaiki. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ketapang Propinsi Kalimantan Barat. Dari kabupaten tersebut ditentukan desa-desa yang berbatasan ataupun berada dalam kawasan hutan yang ada pola pemberdayaan dan tidak ada pola pemberdayaan. agroforestry di kawasan hutan. Kawasan Lindung. Kawasan budidaya terdiri dari hutan produksi. memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal. Rapid Rural Appraisal (RRA). banjir dan tanah longsor terutama di Kabupaten Garut. Rachman KAJIAN EFEKTIVITAS POLA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN PRODUKSI DALAM MENCEGAH ILLEGAL LOGGING / Rachman Effendi dan Indah Bangsawan. terutama air yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat. Kajian lebih difokuskan pada landasan teori nilai ekonomi manfaat lokal dari kawasan. Diperkirakan tinggal 10% dari luas wilayah Jawa Barat yang masih berupa hutan tutupan. Adapun Effendi. hutan rakyat dan pertanian lahan basah. nilai ekonomi. -. 2006 Degradasi hutan di propinsi Jawa Barat cukup tinggi akibat penebangan pohon legal maupun illegal secara berlebihan serta konversi menjadi lahan non-hutan. ekowisata. Hal ini telah dirasakan dampak negatifnya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Kuningan. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui seberapa besar jasa lingkungan yang dikorbankan dan tidak pernah diketahui besarnya. perlindungan hutan. 13 September 2005 . sedangkan selebihnya berupa tanah kosong yang tidak berfungsi lagi sebagai hutan. dan Sumedang. Besaran nilai ekonomi manfaat lokal sumber daya hutan (SDH) menunjukkan sejauh mana manfaat SDH.pada prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan model pendekatan kemitraan antara pemerintah. dimana rehabilitasi pada hutan produksi yang dibebani hak merupakan tanggungjawab pemegang hak atas tanah dan pada hutan produksi yang tidak dibebani hak merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Sosial Ekonomi. Selaras dengan persoalan tersebut. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan. Hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan harga hasil hutan sehingga mengurangi dampak negatif terhadap eksploitasi besarbesaran terhadap hutan Kata kunci : Degradasi hutan. dimana di kabupaten tersebut kegiatan illegal logging marak dilakukan di hutan produksi alam terutama pada areal pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). disamping itu bagi masyarakat dan kemungkinan peranannya terhadap sumber pendanaan bagi pengelolan SDH dan nilai tersebut dapat dijadikan dasar penetapan besaran pajak lingkungan yang dapat dikenakan. baik masyarakat di sekitar hutan maupun di hilirnya antara lain kekeringan. sedangkan aspek sosek dilakukan melalui kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat dan pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dilakukan melalui pengembangan wanafarma. namun apakah efektif untuk mencegah illegal logging belum banyak diungkapkan. 2005 Pola Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan sudah banyak dilakukan. Kerifan Lokal. Pemilihan teknik budidaya dan jenis tanaman diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sesuai dengan lokasi dan jenis yang benilai ekonomi tinggi. Kawasan Budidaya. Rachman KAJIAN NILAI EKONOMI MANFAAT LOKAL HUTAN LINDUNG DI JAWA BARAT (LANDASAN TEORI) / Rachman effendi . Pemerintah pusat atau daerah dapat memberlakukan pajak lingkungan (green tax) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan konservasi. Halaman 21-36 .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. Sylviani. Kata kunci : Rehabilitasi Lahan Kritis. Untuk itu perlu adanya upaya perlindungan hutan dan lahan untuk memberikan peran optimal bagi lingkungan dan sosial 146 . Rehabilitasi hutan dan lahan kritis pada hutan rakyat dapat dilakukan dengan pola insentif untuk memberikan rangsangan terhadap kegiatan pengelolaan kawasan budidaya dan pola disinsentif membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan pengelolaan kawasan budidaya. -. dunia usaha dan masyarakat. Halaman 197-204 .

2006 Nilai ekonomi manfaat hidrologis yang dihasilkan hutan lindung belum diketahui secara luas. Dian diniyati.]. Kata kunci: Illegal Logging. dan di Sub DAS Cirasea.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. pola kemitraan dengan pemerintah maupun perhutani jenis tanamannya cenderung monokuler tetapi kondisi tegakannya bagus. Karena itu. demikian juga halnya pendapatan masyarakat dari illegal logging di desa yang berpola kemitraan lebih kecil dari pada di desa yang berpola PMDH baik bagi industri sawmill.512. Pola pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dengan pola kemitraan lebih efektif dalam upaya pencegahan illegal logging dibanding dengan pola PMDH.al. Potensi Kayu Ginoga. Halaman 59-74 . pola swadaya dan pola kemitraan.1 . (2) Distribusi pendapatan. -. Penyerapan tenaga kerja pola kemitraan lebih besar dari pada pola PMDH. konflik air. 37.1 . Pola Pemberdayaan Masyarakat Fauziyah. 2006 Pola pengembangan hutan rakyat hingga saat ini terdiri dari pola subsidi (inpres.0. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuisioner terhadap responden sebanyak 20% petani hutan rakyat yang ikut dalam kegiatan kemitraan dan dipilih secara sengaja. Sedangkan pada pola kemitraan potensi kayu sengon belum dapat dihitung mengingat umur tanaman masih muda Kata kunci: Hutan rakyat.740.989/tahun. -. yaitu di Sub DAS Konto.832/tahun dan Rp. dan penurunan muka air tanah. Pola kemitraan. Sedangkan pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi hutan rakyat.data yang dikumpulkan berupa (1) Pendapatan masyarakat.Penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola kemitraan lebih kecil dari pada penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola PMDH. namun jenis dan jumlah pohonnya sangat bervariasi. Hutan Produksi. hulu DAS Citarum. tetapi distribusi pendapatan pada pola kemitraan lebih merata dibanding dengan pola PMDH. serta merupakan sumber air utama untuk Perum Jasa Tirta (PJT) I dan PJT II yang merupakan BUMN pensuplai air terbesar di pulau Jawa. Sengon.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. dan (4) substitusi usaha illegal logging. Penelitian dilakukan di bagian hulu-tengah DAS Brantas. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan masyarakat tidak memberikan perbedaan yang berarti antara pemberdayaan masyarakat pola PMDH dengan Kemitraan. Kondisi tegakan hutan rakyat pada pola pengembangan swadaya tipe pemilik dekat dengan lokasi hutan rakyat kurang bagus. potensi sengon terbesar pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi. memperhatikan waktu penanaman dan dilakukan pemeliharaan. penebang kayu maupun pedagang/pengumpul kayu illegal. Dari beberapa pola pengembangan yang ada. yang mencerminkan nilai minimal manfaat ekonomi air yang dirasakan rumah tangga di hulu DAS yang langsung memanfaatkan air dari sumber mata air hutan lindung. [et. sehingga apresiasi terhadap hutan lindung masih rendah dan tekanan terhadap hutan lindung masih terus berlangsung. padat karya). Analisis efektifitas dilakukan untuk masing-masing pola pemberdayaan (PMDH dan Kemitraan) dalam mencegah illegal logging dengan mengukur peubah-peubah yang berpengaruh terhadap pola pemberdayaan. Metode yang digunakan adalah pendekatan biaya pengadaan. Pola Swadaya. Hasil penelitian menunjukkan nilai ekonomi air untuk manfaat hidrologis Sub DAS Konto. Petani menjadikan hutan rakyat sebagai sumber mata pencaharian utama tetapi bibit yang ditanam berasal dari anakan alamiah yang tidak selalu tersedia sepanjang tahun sehingga penanaman tidak bisa dilakukan secara serentak.769. dan Sub DAS Cirasea. hanya permasalahan selanjutnya bentuk pola kemitraan yang bagaimana dapat efektif untuk untuk mencegah illegal logging. (3) Penyerapan tenaga kerja.. nilai ini adalah nilai yang diberikan oleh 147 .873. terutama polusi air permukaan. Kirsfianti Linda NILAI EKONOMI AIR DI SUB DAS KONTO DAN SUB DAS CIRASEA (The Economic Value of Water in Sub DAS Konto and Sub DAS Cirasea) / Kirsfianti Linda Ginoga .. Sebaran kelas diameter dan sebaran kelas tinggi tegakan pada pola hutan rakyat adalah sengon. Untuk itu pemberdayaan masyarakat dengan pola kemitraan dapat terus dilaksanakan dalam upaya pemcegahan illegal logging. masing-masing sebesar Rp. Tujuan dari kegiatan penelitian untuk mengetahui kondisi dan potensi hutan rakyat. karena pada pola ini sudah diterapkan sistem silvikultur yang baik. Analisis ini menggunakan software Minitab versi 13. Halaman 41-60 . Lokasi ini dipilih karena merupakan DAS yang paling banyak memiliki permasalahan. yang mengalirkan air ke waduk Selorejo. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-ekonomi manfaat hidrologis air dari hutan lindung. Eva KONDISI DAN POTENSI TEGAKAN PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN CIAMIS / Eva Fauziayah . 76.

dan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Paling tidak terdapat 84 peraturan yang berkaitan dengan hutan lindung. Hutan Lindung. akan tetapi arah kebijakan pengelolaan hutan lindung masih belum jelas. pusat-daerah. disatu sisi perlu dikonservasi tetapi di sisi lain masih dapat dibudidayakan. penekanan kewenangan pengelolaan hutan lindung tetap pada pemda/BUMN/D. mengetahui kondisi hutan lindung saat ini. tidak adanya overlapping antara kebijakan. tetapi kebijakan hutan lindung belum memberikan kepastian arah yang berati. 2005 Permasalahan hutan lindung Indonesia sudah sangat kritis. dan merekomendasikan kebijakan pengelolaan hutan lindung yang diperlukan untuk mencapai pembangunan hutan lindung yang berkelanjutan. Hasil perhitungan nilai ekonomi air dari manfaat hidrologis yang dihasilkan sebagai fungsi dari keberadaan kawasan hutan lindung di Sub DAS Brantas dan Sub DAS Cirasea ini. Halaman 77-96 . Sulistya Ekawati dan Deden Djaenudin. Hidrologis. Biaya Pengelolaan. pendekatan biaya pengadaan. Kata kunci: DAS. Hambatan kelembagaan sumberdaya air dapat diatasi apabila komitmen terhadap kesepakatan dapat ditingkatkan melalui penyebaran biaya dan manfaat yang lebih merata. dengan pengembangan koordinasi antar departemen. hanya sebagian kecil dari nilai ekonomi air total yang dikandung oleh kawasan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea karena masih banyak pengguna-pengguna air lain yang lebih besar seiring dengan mengalirnya air. laju penurunan luas dan alih fungsi hutan lindung terus meningkat. Kata kunci: Hutan Lindung. Ginoga. Kajian ini ingin menjawab bagaimana kebijakan dan peraturan perundangan menjawab permasalahan pengelolaan hutan lindung? Secara lebih khusus. kinerja PPTPA dapat ditingkatkan apabila tidak mengandalkan pengelolaan air saja. 2006 : Halaman 43-53 . -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. sekaligus mengurangi kemungkinan tingginya biaya transaksi. kesamaan persepsi tentang istilah yang berkaitan dengan kawasan hutan lindung. kajian bertujuan untuk mengkaji konsistensi dan sikronisasi kebijakan tersebut. yang harus ditindaklanjuti oleh departemen sektoral. -.Kirsfianti BIAYA TRANSAKSI PENGELOLAAN DAS PERSPEKTIF UNTUK SUB DAS CICATIH / Kirsfianti Ginoga.al) . Secara konseptual.Kesepakatan dalam kelembagaan DAS akan tercapai apabila biaya transaksi yang ditimbulkan dari aransemen kelembagaan lebih rendah dari manfaat yang dirasakan bagi setiap stakeholder dalam pengelolaan DAS. termasuk yang mengancam kelestarian kawasannya. dan tidak adanya ego sektoral antara pembuat kebijakan sehingga fungsi kawasan hutan lindung dan manfaatnya dapat dirasakan oleh pihak yang terkait baik di pusat dan daerah secara berkeadilan dan berkelanjutan. Kirsfianti KONTROVERSI KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG / Kirsfianti Ginoga. Pengelolaan 148 . Penguatan kelembagaan seperti PPTPA diperlukan untuk mengurangi biaya transaksi dan mencapai kesepakatan multi stakeholders. 2006 Penguatan kelembagaan air dalam konteks DAS mensyaratkan apa yang disebut sebagai biaya transaksi (transaction cost) . Secara khusus diperlukan peraturan perundangan yang mengatur aspek kelembagaan hutan lindung.(et. dan diperlukannya peraturan (PP atau Keppres) yang memuat perintah kebijakan pengembangan hutan lindung. DAS Cicatih Ginoga. Daerah Aliran Sungai (DAS). tidak adanya dualisme antara kebijakan. termasuk kelembagaan pusat dan daerah. Karena itu kajian ini menyarankan perlunya kebijakan yang jelas dan terarah antara yang dilarang dan dibolehkan. Pembangunan hutan rakyat dalam bentuk agroforestry diyakini mampu lebih luas menjangkau kantung-kantung konservasi dan preservasi sumberdaya air.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.keberadaan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea yang menghasilkan manfaat hidrologis terhadap rumah tangga... Kata kunci : Nilai ekonomi. Keberadaan hutan lindung menurut peraturan peraturan perundangan masih dilematis. 13 September 2005 . dimana peraturan tersebut mampu menunjukan adanya Sense of Crisis dalam pengelolaan hutan lindung.

pendekatan yang bersifat kultural-kuantitatif merupakan sebuah konsekwensi logis yang harus dterapkan di masa mendatang. Demikian juga peran tanaman sejenis dalam mengatur kesuburan tanah dan tata air akan lebih kecil dibanding dengan kawasan yang hutannya merupakan tanaman campuran dengan tajuk berlapis. Ngaloken HUTAN. Kita tidak memerlukan pendekatan arogansi birokrasi dan kekuasaan yang tersembunyi di balik istilah negara. Kelemahan yang juga sering terjadi adalah pengertian hutan yang tidak sama bagi masyarakat. monolog. proyek. berorientasi target. aspek manajemen dan aspek sosial budaya (kelembagaan) masyarakat setempat yang bersifat lokal spesifik dan dinamis dari sudut ruang dan waktu.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. HTI. Bukti-bukti bahwa di areal yang hutannya lebat juga pernah terjadi banjir dapat dimengerti tapi frekuensi banjir di daerah yang tidak berhutan akan lebih banyak dibanding dengan daerah yang berhutan. proyek. Akan tetapi kedua pola ini sudah menunjukan kemajuan besar dalam pembangunan dan pengelolaan hutan dimana pihak pengelola utamanya sudah banyak melibatkan banyak pihak terkait (stakeholders) dan memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan masyarakat dan pedesaan. Konsultasi Multipihak. MHP MUARA ENIM / Ismatul Hakim. dan orientasi jangka pendek. Tata Air. Sejak awal kita harus berani memulai menerapkan berbagai alternatif model Social Forestry yang merupakan hasil optimal kombinasi berbagai pertimbangan aspek teknologi. KHDTK Carita. Ngaloken Gintings. A. meskipun masyarakat sudah lebih banyak berperan dan memperoleh manfaat. Musi Hutan Persada (MHP) masih bernuansa pendekatan struktural-kuantitatif dari atas ke bawah. Pendekatan adaptif seperti ini yang diharapkan mampu mencapai cita-cita ideal dari konsep Social Forestry dalam pengelolaan hutan. Kata kunci: DAS. target. Pada akhir-akhir ini peran hutan tersebut sering menjadi perdebatan yang kontraversial karena dilakukan pada luasan yang relatif kecil. 2006 : Halaman 55-61 . PHBM. kaku dan statis telah menjadi penyebab kegagalan kita dalam mencapai cita-cita Hutan Lestari Rakyat Sejahtera. DAN KELESTARIAN DAS CICATIH / A.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Hanya dengan menerapkan berbagai model Social Forestry dalam pengelolaan lahan dan hutan dengan variasi aspek teknologi. Participatory Rural Appraisal (PRA) dan workshops yang melibatkan semua pihak terkait dapat memberikan masukan kebijakan dan langkah yang tepat dalam membangun model-model Social Foestry dan menerapkannya di lapangan. kaku. 2005 Pendekatan pembangunan kehutanan selama ini yang bersifat strukturalkuantitatif. MHR. Bagaimana peran hutan dalam mengatur tata air dan bagaimana kelestarian DAS Cicatih dapat dicapai akan dibahas dalam tulisan ini. PHBM. Halaman 115-138 . Beberapa pendekatan yang melibatkan para pihak seperti Rapid Rural Appraisal (RRA). Pola pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat (PHBM) oleh Perum Perhutani di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita dan pola mengelola hutan bersama masyarakat (MHBM) dan pola mengelola hutan rakyat (MHR) di kawasan produksi HTI Muara Enim oleh PT.statis. DAS Cicatih Hakim. TATA AIR. dengan memisahkan negara dari rakyatnya sendiri karena justru rakyat lebih banyak berhasil mengelola lahan miliknya menjadi Hutan Rakyat. Ismatul KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN HUTAN DENGAN PENDEKATAN SOCIAL FORESTRY: STUDI KASUS POLA PHBM DI KHDTK CARITA DAN POLA MHBM DAN MHR DI AREAL HTI PT. orientasi. Kata kunci: Social Forestry. -. 13 September 2005 . 2006 Peran hutan dalam menjaga kesuburan tanah dan mengatur tata air dalam suatu DAS sudah banyak dibuktikan. Model pengelolaan kawasan hutan ke depan harus merupakan model adaptif dalam bentuk pendekatan yang konprehensif. kita dapat membangun kelembagaan yang kuat di masyarakat dimana masyarakat menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat dalam membangun hutan lestari yang masih ada dan merehabilitasi hutan dan lahan yang sudah rusak. Oleh karena itu. -.Gintings. PT. monolog. aspek manajemen dan aspek sosial budaya kelembagaan pada tingkat mikro. Tanaman hutan yang berada di daerah yang miring dan dibawahnya ditanami ubi kayu akan mendatangkan erosi yang cukup besar di musim penghujan.Musi Hutan Persada 149 .

Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan berbagai peraturan operasional di bawahnya. Pengaturan yang berbelit belit terhadap peredaran dan pemasaran hasil kayu dari masyarakat akan menjadi disincentive bahkan distorsi dalam menumbuhkan budaya menanam pohon di masyarakat. Halaman 109-118 . 2006 Peranan hutan sebagai kawasan maupun sebagai tutupan vegetasi masyarakat pepohonan pada sebuah hamparan lahan sangat penting dalam mendukung kelestarian ekositem suatu daerah baik dari segi penataan air (hidro-orologis).2006 . 41 tahun 1999. -. Istilah Hutan Rakyat masih erupakan rekayasa dari atas yang tidak dikenal masyarakat. Perguruan Tinggi.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Ismatul KAJIAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM KONTEKS DESENTRALISASI : STUDI KASUS DI KABUPATEN PANDEGLANG. Kata kunci: Hutan Rakyat. pengaturan kelembagaan usaha di tingkat petani dalam bentuk Kelompk Tani. Peran dan fungsi hutan dalam bentuk kawasan tetap dan tutupan vegetasi hutan di kabupaten Pandeglang propinsi Banten seharusnya dapat dipahami secara tepat dan benar oleh semua pihak baik pemerintah (PEMDA. Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat dan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah telah mampu mendorong pertumbuhan kesempatan kerja. Pandangan dan pemahaman yang sama dari pihak Pemerintah Daerah atau Pemerintah Propinsi dengan 150 . Hutan Rakyat di beberapa daerah di Pulau Jawa seperti di Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten.Hakim. Surat Keputusan Kepala Dinas lainnya. RAPERDA/PERDA yang diajukan harus sejalan dengan isi dan substansi yang ada dalam peraturan perundangan tersebut termasuk 5 (lima) prioritas program yang sudah dicanangkan oleh Departemen Kehutanan yaitu prioritas program pembangunan kehutanan terdiri dari : (1) pemberatasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal. sehingga merupakan social capital penting bagi penguatan kelembagaan sektor kehutanan ke depan. Ismatul PENGUATAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT: SEBUAH SOCIAL CAPITAL BAGI MASA DEPAN KEHUTANAN INDONESIA / Ismatul Hakim. PROPINSI BANTEN / Ismatul Hakim. Untuk memperkuat pola dan kelembagaan pengelolaan Hutan Rakyat secara lestari. (2) revitalisasi sektor kehutanan. segi pengaturan tata iklim dan cuaca (udara) atau Clean Development Mechanisms (CDM). Peraturan Bupati. Peraturan Pemerintah.Adanya pertumbuhan budaya menanam yang demikian tinggi seperti Hutan Rakyat di masyarakat ini harus terus ditumbuhkembangkan oleh pemerintah dengan memberikan dorongan insentif dan kemudahan bagi pengembangan Hutan Rakyat di masa mendatang. Dalam konteks desentralisasi sektor kehutanan di daerah. Social Capital Hakim. dan pihak terkait lainnya). Isi dan kandungan daripada PERDA bidang kehutanan harus menampung dan menyerap berbagai permasalahan dan potensi aktual yang terjadi di tingkat kebijakan dan tingkat operasional lapangan baik horizontal maupun vertikal. Surat Keputusan Bupati. Disamping itu.2006 . dunia usaha (BUMN. 2006 Hutan rakyat yang tumbuh di Indonesia khususnya di Pulau Jawa merupakan hasil perpaduan antara budaya lokal/tradisional masyarakat/petani dalam menanam pohon dengan budaya baru yang mengandung muatan teknologi dan manajemen pohon yang lebih berorientasi pasar dan industri. Lembaga atau Organisasi Kemasyarakatan maupun kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam hutan dan lahan dalam membuat peraturan perundangan dan kebijakan seperti PERDA. BUMD. yang jelas masyarakat/petani sudah dapat meghasilkan kayu yang berasal dari lahan miliknya sendiri dan dikelola dengan modal sendiri. Halaman 22-42 .Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kelompok Usaha Bersama Ekonomi (KUBE dan Koperasi Tani) yang benar-benar tumbuh dan diciptakan dari masyarakat sendiri secara alami agar bisa lebih berdaya. segi pegaturan sosial ekonomi dan segi pertahanan sosial budaya masyarakat setempat.DPRD. dan (5) pemantapan kawasan hutan. khususnya industri kehutanan. kesempatan usaha. meningkatkan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). (4) pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan. maka para pihak di daerah harus dapat memahami berbagai peraturan perundangan terkait seperti Undang-undang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya No: 5 tahun 1990 dan Undang-undang Pokok Kehutanan No. (3) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan. perlu adanya dukungan kebijakan. Swasta). -.

rata-rata petani memiliki lahan pertanian atau empang ikan yang dikelola secara terpisah di luar kawasan hutan rakyat atau bekerja di luar sektor kehutanan dan Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) / 151 . Pendayagunaan salah satu atau beberapa unsur/komponen akan mempengaruhi komponen lainnya di dalam DAS dan dapat menimbulkan perubahan dari keadaan alaminya sehingga terjadi gangguan keseimbangan atau gangguan ekologis yang menunjukan terjadinya degradasi DAS. dan air. menjadikan pengelolaan DAS merupakan pendekatan yang penting dalam perencanaan pembangunan wilayah. 2006 Penelitian ini dilakukan terhadap anggota Kelompok Tani Hutan ”Bulu Dua” yang mengelola hutan rakyat di Desa Lasiwala. dan Sinergi. Daerah Aliran Sungai merupakan megasistem kompleks yang terbangun atas sistem fisik. integrasi. longsor dan sedimentasi serta distribusi aliran yang tidak seimbang/merata (timbulnya banjir dan kekeringan). kab. Desentralisasi. Untuk menambah sumber pendapatan selain dari sektor kehutanan.1 . Data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasi. 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengelolaan hutan rakyat dilakukan dalam bentuk monokultur tanpa tanaman pendamping. Dengan demikian pengelolaan DAS dapat ditinjau dari sudut pandang fisik maupun institusi sehingga kegiatan dan kebijakan pengelolaan DAS yang perlu ditempuh tidak hanya mendasarkan pada indikator fisik. Hidrolologi adalah indikator yang sangat signifikan untuk mengetahui adanya degradasi DAS seperti terjadinya erosi. 2006 : Halaman 123-143 . Banten Handayani. Dalam tulisan ini juga diberikan contoh aplikasi simulasi (model) hidrologi dikaitkan dengan penutupan/penggunaan lahan sehingga dapat diketahui pengaruh perubahan penutupan/penggunaan lahan terhadap perubahan hasil air DAS. Namun pendekatan pengelolaan DAS dalam perencanaan pembangunan wilayah masih belum populer/jarang digunakan dibanding pendekatan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengelolaan lahan kritis bersama masyarakat pada areal hutan rakyat. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner. sinkronisasi. dan setiap sub sistem saling berinteraksi (Kartodihardjo. Kata kunci: DAS. Pemanfaatan sumberdaya alam sebagai input pembangunan wilayah pada masa kini masih lebih banyak menekankan pada batas-batas yang bersifat politis atau administratif. Pengelolaan DAS adalah pengelolaan berbagai sumberdaya alam yang terdapat di dalam satuan DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi budaya yang berkembang di dalam DAS. -. Kata kunci: Kebijakan Kehutanan.pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan akan mampu mendorong kemantapan sektor kehutanan di daerah secara sinergis antara para pihak di daerah. Unsur penyusun sistem di dalam DAS tersebut antara lain berupa sumberdaya alam seperti tanah. Pandeglang. beberapa tujuan penggunaannya dan manfaat yang diperoleh. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. vegetasi. Wuri PENDEKATAN SIMULASI HIDROLOGI DALAM PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS / Wuri Handayani dan Gunardjo Tjakrawarsa. sedangkan manusia menjadi subyek atau pelaku pendayagunaan unsur-unsur tersebut (Murtilaksono. Kecamatan Pitu Riawa Provinsi Sulawesi Selatan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. padahal dampak yang ditimbulkan mengikuti batas alam/ekosistemnya yang tidak mengenal batas administrasi. Hidrologi. Tulisan ini akan memberikan gambaran penggunaan simulasi hidrologi dalam perencanaan pengelolaan DAS. Anggota kelompok tani pada umumnya mempunyai kebun di luar kawasan hutan Gmelina yang dikelola secara terpisah berupa kebun coklat. sistem biologis dan sistem manusia. dianalisis dan dibahas dengan metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. 2006 Ketertarikan komponen biofisik DAS dan kepentingan ekonomi wilayah. Nur POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Nur Hayati. Perencanaan pengelolaan DAS Hayati. sehingga dapat dicapai pengelolaan yang rasional untuk mencapai keuntungan optimal yaitu dalam waktu tak terbatas dan resiko kerusakan minimal. 1987). umumnya menjadi obyek atau sasaran fisik alamiah. Dengan pemahaman yang sama dan dukungan yang kuat antara semua pihak terkait dalam proses penyusunan sebuah perangkat peraturan dan perundangan seperti PERDA bidang/sektor kehutanan akan melahirkan komitmen dan tanggung jawab yang kuat semua dalam pencapaian misi dan visi serta penerapan substansi penguatan sektor kehutanan di daerah. jambu mete dan kelapa. Halaman 13-21 . tetapi keberhasilannya sangat didukung oleh adanya kelembagaan untu mewujudkan koordinasi.

Mengambil contoh pengelolaan Hutan Tanaman Industri. BP DAS Jeneberang Walanae dan LSM Yagrobitama. tidak ada tanah gersang dan lahan kering yang berupa alang-alang. 2005 Kebijakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) bertujuan untuk menanggulangi dan mengurangi laju penambahan lahan kritis. maka turunnya dana sebaiknya pada awal tahun anggaran. hal ini dapat diteruskan karena masing-masing daerah mempunyai ciri karakteristik yang berbeda. tetapi menguasai 70 persen Produk Domestik Bruto. Sedangkan untuk daerah yang telah membuat Peraturan Turunan dari peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. Hasil penelitian di Propinsi Kalimantan Tengah menunjukan bahwa untuk daerah-daerah (Kabupaten dan Kota) yang tidak membuat Peraturan Turunan dari Peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. 2006 Ada tiga pilar pelaku ekonomi yang diamanatkan di UUD 1945. untuk tahun-tahun ke depan selain penanaman dilakukan oleh daerah. Salah satu upaya yang dianggap tepat dalam memecahkan masalah ini adalah dengan melalui kemitraan. Oleh karena itu kajian kebijakan pemerintah tentang rehabilitasi hutan dan lahan sangat diperlukan. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. bibit juga diusahakan oleh daerah. Kemitraan dilakukan antara pengusaha besar dan kecil. Halaman 63-77 .pertanian. waktu yang sesuai. -. Kemitraan Pengelolaan Hendarto. Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. Hasil sensus ekonomi tahap III menunjukan bahwa pengusaha besar jumlahnya di bawah 1 persen. lahan kritis Hendarto. Halaman 161169 . -. Rehabilitasi lahan. Kebijakan 152 . yaitu Pemerintah swasta. agar rantai birokrasinya lebih pendek.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. perencanaan dan prioritas lokasi perlu diperhatikan. tulisan ini mencoba untuk menggambarkan tentang bagaimana pola kemitraan yang telah dilakukan dan apa saja kebijakan yang dapat ditelurkan agar proses kemitraan ini dapat terus berlanjut. untuk melakukan koordinasi dengan para petani khususnya dalam melakukan pembinaan. Meminimalisasi pihak-pihak yang terlibat dalam GERHAN. Kresno Agus KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kresno Agus. Struktur organisasi kelompok tani termasuk dalam kategori organisasi modern. erosi dan tanah longsor. dan usaha kecil/koperasi. Selain itu secara keseluruhan. Namun demikian ada beberapa kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang masih belum sinkron dan terintegrasi dengan kebijakan GERHAN. Kresno Agus MENINGKATKAN KEMITRAAN PENGELOLAAN DALAM HUTAN TANAMAN INDUSTRI: BEBERAPA KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN/ Kresno Agus Hendarto dan Krisdianto. hutan rakyat. Dampak lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya program hutan rakyat adalah lingkungan (iklim mikro) yang lebih baik. 6 Desember 2006 . serta standar biaya antara satu daerah dengan daerah lainnyapun menentukan baik tidaknya kegiatan rehabilitasi. Seandainya memungkinkan. Pendanaan untuk inventarisasi dan identifikasi sosekbud masyarakat dan perencanaan teknis dapat disalurkan minimal pada tahun T-1. Kata kunci : pengelolaan. 13 September 2005 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Adanya wadah kelompok tani ini semakin mempermudah pemerintah daerah. Kepastian jumlah dan waktu penyerahan bibit dari BPDAS agar pasti sehingga dapat memudahkan merencanakan kegiatan. dalam hal ini Dinas Kehutanan Kabupaten Sidrap. antara yang kuat dan yang lemah. kejelasan setelah kegiatan proyek selesai.

per bulan. dan dengan analisis studi kasus deskriptif. kelompok pemungut Indartik ILLEGAL LOGGING DI TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK) DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI/ Indartik.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.200. Kayu hasil illegal logging biasanya dilempar keluar untuk menghindari pencekkan dan kontrol. yaitu kelompok selatan dan utara.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No.. umumnya berstatus sebagai pekerjaan sampingan dan mampu menghasilkan pendapatan Rp 33. Kegiatan illegal logging saat ini marak terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu dan mulai mengancam kawasan konservasi Taman Nasional Betung Kerihun.000 – Rp.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.200. Berdasarkan jalur pengangkutan kayu dibedakan dalam 2 jalur. Dari hasil penelitian tersebut. Kresno Agus POTRET ILLEGAL LOGGING DI PROPINSI RIAU: STUDI KASUS PERUBAHAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DAN LEMBAGA EKONOMI DESA / Kresno Agus Hendarto dan Aneka Prawesti Suka. Asep ANALISIS PEMUNGUTAN ROTAN PADA DUA KELOMPOK MASYARAKAT PEMUNGUT (analysis of rattan Collection on Two Group Collector)/ Asep Hidayat.000. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kegiatan illegal logging memberikan dampak perubahan terhadap peran lembaga sosial yang ada di lokasi illegal logging. pemungutan. Kelembagaan Hidayat. yaitu sistem penjualan langsung (cash and carry) dan sistem ijon (rentenir).. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pola praktek illegal logging di TNBK. kegiatan pemungutan memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pemungut dan pemungutan yang dilakukan sangat memperhatikan kelestarian terutama yang dilakukan oleh masyarakat adat (Suku Kubu) Kata kunci : rotan.per bulan. Propinsi Riau.000. Pengujian faktor dominan dilakukan dengan metode ”one pair comparasion” Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya perbedaan beberapa aspek penelitian pada dua kelompok pemungut.000 – Rp. Mengambil lokasi di propinsi Riau. 3. khususnya Provinsi Kalimantan Barat. Sedangkan pada Suku Kubu pemungutan dilakukan secara berkelompok. -. merupakan pekerjaan utama bersama-sama dengan pengumpulan hasil hutan non kayu lainnya.Hendarto.000 Ha) memiliki nilai penting dan fungsi yang sangat strategis dalam mendukung sistem penyangga kehidupan serta mendukung pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. 13 September 2005 . Faktor-faktor yang mendorong terjadinya illegal logging adalah akibat kombinasi faktor sosial ekonomi (kemiskinan mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya hutan). Halaman 189-196 . Illegal logging adalah logging atau penebangan kayu di Taman Nasional atau kawasan konservasi lain. Kelompok selatan adalah illegal logging yang dilakukan oleh masyarakat di luar masyarakat adat secara individual atau berkelompok. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola dan aspek-aspek pemungutan rotan pada dua kelompok pemungut yaitu masyarakat biasa dan masyarakat adat/Kubu yang dikenal dengan sebutan Suku Kubu. yaitu darat dan air. Sedangkan yang dimaksud kelompok utara adalah kelompok masyarakat dalam bentuk badan usaha (koperasi) yang memiliki ijin HPHH 100 ha. Hasil pembahasan memperlihatkan pola illegal logging di TNBK dibedakan berdasarkan : (1) Jalur pengangkutan kayu.000. Halaman 75-85 . (2) Pelaku illegal logging. -. menggunakan metode sample bertujuan. dan (3) Sistem jual beli. Henti Hendalastuti R. Aneka Prawesti Suka. Rute darat terbagi menjadi jalur utara (Malaysia) dan jalur selatan (Pontianak). tanpa ijin dari pemerintah (yang oleh negara diserahi tanggung jawab untuk mengurus). Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan petani/kelompok tani pemungut/pengumpul. Nunung Parlinah. Perkembangan lanjut dari praktek illegal logging ini dalam praktek jual beli dikenal 2 sistem. Kata kunci: Illegal Logging. tulisan ini memcoba memberi gambaran singkat/memotret dampak dari kegiatan illegal logging terhadap perubahan peran kelembagaan yang ada. 4.2 . 2. dan mampu menghasilkan pendapatan Rp. 2006 Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sebagai salah satu taman nasional dengan areal yang cukup luas (800. Berdasarkan pelaku illegal logging dibagi 2 kelompok.. Dodi Frianto. -.2 . Halaman 91-107 . dan (3) Upaya-upaya apa yang telah dilakukan untuk mencegah praktek illegal logging?. 2) Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya illegal logging?. Pada masyarakat biasa pemungutan rotan dilakukan secara individual. 2005 Dengan kata yang ringkas. faktor hukum dan 153 .

stakeholder yang akan berkolaborasi memiliki kepentingan yang beragam sehingga perlu dibangun kesepahaman. 18 industri marmer (konsesi 2. Pemerintah Daerah (PEMDA) Sulawesi Selatan membuka peluang untuk berinvestasi pada usaha pariwisata alam. Pemerintah Kabupaten Maros dan jajarannya.1 . faktor sosial budaya (pergeseran tata nilai di masyarakat yang cenderung materialistis) dan permintaan kayu (Permintaan kayu tinggi). Biro Perjalanan Wisata 3. serta dalam proses penataan hutan khususnya zonasi kawasan. dapat memberi kontribusi pada Penerimaan Daerah. Dengan menyediakan sarana prasarana fisik dan kelembagaan. bahari serta budaya. Halaman 39-57 . namun dipandang kurang sejalan dengan kebijakan penunjukan kawasan kars tersebut sebagai kawasan konservasi. Industri Marmer. Kantor Pengelola Kawasan Bantimurung. potensi dan permasalahan sosial ekonomi dan kelembagaan yang ada di lokasi Taman Nasional (TN) BantimurungBulusaraung sebagai masukan dalam proses penyusunan rencana pengelolaannya. Dinas Pariwisata Provinsi telah menjalin kerja sama dengan sejumlah biro perjalanan wisata dan menyediakan paket-paket wisata. Pabrik Semen Tonasa. pelaku usaha tambang lainnya. Penambang pasir/pasir silika/batu gunung /emas. Stakeholder primer yang perlu diperhatikan kepentingan dan partisipasinya dalam menyusun rencana pengelolaan TN BantimurungBulusaraung adalah: 1.kebijakan (reformasi dan otonomi daerah). Hal ini diindikasikan dengan masih maraknya illegal logging. sehingga menjadi peluang kerja dan berusaha untuk memberdayakan masyarakat serta sebagai sumber Penerimaan Daerah. saling menguntungkan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. berada di desa-desa yang berbatasan dengan TN. Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam menanggulangi illegal logging diantaranya : Operasi Wanalaga. adil. dan penduduk desa setempat. saling percaya. Industri Marmer. ada peluang bagi masyarakat dan perlu pendampingan Kata kunci: Bantimurung-Bulusaraung. 2006 Tujuan kajian sosial ekonomi dan kelembagaan ini adalah memperoleh data dan informasi mengenai kondisi. Dinas Pariwisata. Pemerintah Pusat melalui Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Balai Perpetaan Kawasan Hutan Sulawesi Selatan. kelembagaan 154 . Keberadaan gua-gua di kawasan tersebut merupakan potensi untuk pengembangan obyek wisata alam. Selain sejalan dengan penunjukkan kawasan kars Bantimurung-Bulusaraung sebagai TN. Pengembangan wisata alam di Sulawesi Selatan dapat menjadi pengungkit bagi berkembangnya pemanfaatan jasa lingkungan terutama wisata alam yang ada di desa-desa sekitar TN BantimurungBulusaraung. partisipatif. dan penduduk desa setempat. Kata Kunci : TNBK. dan penambangan pasir/pasir silika/batu /batu gunung/semen/emas di Kabupaten Pangkep. Pabrik semen Bosowa (konsesi 1. pemanfaatan jasa wisata alam dapat menjadi alternatif pengganti pemanfaatan tambang yang kurang mendukung upaya konservasi. konservasi. -. Setiasih KAJIAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG DI SULAWESI SELATAN/ Setiasih Irawanti. Bila pengelolaan TN Bantimurung-Bulusaraung dilakukan secara kolaboratif /kemitraan. Pemerintah Kabupaten Maros dapat menghimpun Penerimaan Daerah dari Taman Wisata Alam Bantimurung yang makin meningkat dari tahun ke tahun. 2.Di Kabupaten Maros 6 diantara 10 obyek wisatanya.7 Ha). serta pabrik Semen Tonasa (konsesi 1. Pabrik Semen Bosowa. Pemerintah Kabupaten Pangkep dan jajarannya. Efektivitas penanggulangan illegal logging melalui pendekatan keamanan tersebut sampai saat ini dirasakan masih belum efektif. Pola Illegal Logging Irawanti. Mengelola jasa wisata alam dengan baik dapat menjadikannya sebagai sumber Penerimaan Daerah yang dapat diandalkan.7 Ha s/d 50 Ha) di Kabupaten Maros. Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan.000 Ha) dan 11 industri marmer (konsesi 2.354.7 Ha s/d 50 Ha). Dinas Pariwisata Kabupaten. serta di Kabupaten Pangkep 2 diantara 7 obyek wisatanya. patroli PolHut dan sarasehan multi pihak dalam mencari solusi penanggulangan illegal logging. 4. Illegal logging. Di kawasan TN masih ditemui pemukiman penduduk dari desadesa sekitarnya sehingga perlu dipertimbangkan dalam proses pengukuhan khususnya penataan batas.

banyak kebijakan daerah yang diluncurkan dalam upaya menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD). Masih 40% hutan mangrove di KPH Ciamis berupa rawa atau semak belukar. Usaha mengembangkan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) untuk hutan mangrove oleh KPH Ciamis baru dalam tahap wacana. 27. Seluruh hutan mangrove di KPH Ciamis kini tengah menghadapi bencana kepunahannya.3 . -. 2006 : Halaman 209-217 .450. Perhutani Karyono DAMPAK PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SUKABUMI / Karyono dan Kirsfianti Ginoga. dengan hasil sebagai berikut. Karena itu bagaimana agar dampak pemanfaatan air ini kembali kepada konservasi air perlu mendapat perhatian lembaga yang berwenang. Beragamnya data dan informasi tentang keberadaan hutan mangrove di Ciamis menarik perhatian untuk dikaji. Kuncoro Ariawan. 220. penerimaan pajak air bawah tanah mencapai Rp. Ciamis.370 orang dengan kemampuan investasi AMDK antara Rp.K. Pemanfaatan sumberdaya air melalui industri air minum dalam kemasan (AMDK) membuka kesempatan berusaha terhadap 28 perusahaan dan membuka kesempatan kerja sebanyak 2. Data keberadaan dan luas hutan mangrove di Kabupaten Ciamis sangat bervariasi namun dilaporkan sebagian besar berada di Desa Pamotan. selama empat tahun terakhir. dan politis. pengumpulan data menggunakan metoda pencatatan. serta metoda analisis tabulasi. sehingga keberadaannya sangat berarti bagi lingkungan dalam arti luas. Karakteristik laut dan pesisir sangat terbuka. Halaman 197-203 . Untuk kabupaten Sukabumi. strategis dan kaya sumberdaya alam.000. KPH Ciamis memberi perhatian atas hutan mangrovenya setelah sebagian dikonversi oleh masyarakat setempat menjadi persawahan dan pemukiman penduduk.-. Penelitian dilakukan pada awal tahun 2006 di Kabupaten Ciamis. sosial. 13 September 2005 . Halaman 205-217 . Proyek Rehabilitasi dan Konservasi Segara Anakan. serta Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mengkonservasi Segara Anakan dan hutan mangrove desa Pamotan di wilayah hilir DAS Citanduy.241. Pola investasi yang diterapkan pada pengembangan pariwisata alam 155 . OK PELUANG PENGUSAHA BERINVESTASI DI SEKTOR PARIWISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI / O.000. evaluatif. Kabupaten Sukabumi Karyono. Setiasih HUTAN MANGROVE CIAMIS YANG TERABAIKAN / Setiasih Irawanti . dan deskriptif.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Besarnya PAD dari pajak air ini masih belum sepenuhnya kembali kepada pengelolaan konservasi air. terutama pengelola hutan lindung dan kawasan konservasi. Karyono. namun selama hampir 30 tahun belum dilakukan pengelolaan atau pengusahaan sebagaimana mestinya sebuah kawasan hutan sehingga terkesan sebagai lahan tidur. namun di dalamnya telah dipenuhi patok-patok klaim hak atas lahan dari masyarakat setempat. -. Prasmadji Sulistyanto . 2006 Ekosistem mangrove dengan berbagai jenis vegetasi penyusunnya memiliki karakteristik khas.000. 34. 2003).214. salah satunya adalah pajak air bawah tanah (PABT) dan pajak air permukaan (PAP). dalam kawasan hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. Pendapatan Asli Daerah.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. tahun 2002 sampai 2005. -.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Kata kunci : Mangrove.000 s/d Rp. 1. konsultasi dan pengamatan lapangan. Kata kunci: Sumberdaya Air. 2006 Setelah diberlakukannya otonomi daerah tahun 1999. dengan cara melakukan rehabilitasi dan konservasi wilayah hulu DAS Citanduy. sehingga mereka beralih profesi menjadi petani padi. ekonomi. Pemda Sukabumi dan ASPARDIN.000. Konversi hutan mangrove tersebut oleh penduduk setempat menjadi lahan persawahan padi dan pemukiman dilakukan karena hasil tangkapan ikan nelayan Pamotan kian hari kian menurun akibat pendangkalan dan penyempitan Segara Anakan.000 dan pajak air permukaan mencapai Rp. Perlu pula dirintis kerjasama antara Perum Perhutani khususnya KPH Ciamis. karenanya ekosistem mangrove menghadapi ancaman sangat berat dari berbagai sektor atau stakeholder.152. aksesibilitas sangat baik. berbagai fungsi ekologi. 17 lokasi di kawasan Taman Hutan Raya dan 102 lokasi di kawasan Taman Wisata Alam (Dephut.Irawanti. Hutan mangrove di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis termasuk hutan produksi (HP) kelas hutan alam kayu lain tak baik untuk jati (HAKLTB). 2005 Kawasan Pelestarian Alam yang boleh dimanfaatkan untuk pariwisata alam sebanyak 41 lokasi di kawasan Taman Nasional.

6 Desember 2005 . sehingga dapat terus lestari dan mendukung terwujudnya masyarakat sejahtera.35 persen. Di era otonomi daerah. Halaman 134-141 . Dari produksi dan peredaran kayu di kabupaten Ciamis pada tahun 2005 memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) melalui pungutan-pungutan atau retribusi (Leges.d.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Terhadap kondisi tersebut di atas.BUMD. Tekanan-tekanan ini masih sering dijumpai dalam pengelolaan sumberdaya alam terutama hutan dan lahan akibat belum mempertimbangkan kelas kemampuan lahan dan penerapan teknik konservasi yang baik dan benar. Unit Percontohan Upaya Pelestarian Sumberdaya Alam (UP UPSA). kegiatan yang dibiayai oleh APBD II dan swadaya masyarakat dilaksanakan melalui kegiatan pembibitan/pembuatan persemaian. Taman Wisata Alam. Dilihat dari jumlah kawasan konservasi yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam dengan jumlah taman nasional yang sudah ada pengusahanya.356. Pemanfaatannya harus dilaksanakan secara hati-hati dan bijaksana. Juni 2004 adalah 43 perusahaan. Produksi dan peredaran kayu rakyat selama 5 tahun terakhir (2002 s/d 2005) mencapai 504. Kata kunci: Hutan Rakyat. Taman Nasional. Melalui pengembangan hutan rakyat.3 milyar. 1. Ditambah lagi dengan adanya krisis multidimensi yang berkepanjangan yang menyebabkan berbagai konflik kepentingan dalam pemanfaatan hutan dan lahan serta masih rendahnya peran aktif masyarakat umum terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan. Jawa Barat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tasikmalaya. Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK). dan lain-lain adalah upaya memulihkan atau memperbaiki kembali lahan kritis di luar kawasan hutan agar dapat berfungsi sebagai media produksi dan pengatur tata air yang baik serta mempertahankan dan meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan peruntukkannya. dan Koperasi serta kepada pihak-pihak tertentu (PMDN dan PMA) sesuai dengan peraturan yang berlaku.44 ha (9.301.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.534 dokumen.49 persen) dari luas Kab. -. Dewasa ini. 2006 Hutan dan lahan sebagai sumberdaya alam merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Pengasih. Kata kunci: Pariwisata Alam. Oleh 156 . dan Jati. embung. 15 buah pada kawasan Taman Nasional. Halaman 1-7 . Ciamis yang tersebar di 37 kecamatan dan didominasi oleh jenis kayu Albazia. Perda No. 2006 Luas hutan rakyat di Kabupaten Ciamis lebih kurang 24.Dari jumlah ini. maka petani dapat merasa diringankan beban ekonominya dari hasil penjualan kayunya dan pemerintah daerah dibantu untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya melalui retribusi dan pungutan sah lainnya. 28 buah pada kawasan Taman Wisata Alam (TWA). Kegiatan RHL baik melalui kegiatan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL).2006 .14 m kubik. Mahoni.memberikan kesempatan berusaha di bidang pariwisata alam yang bersifat komersial terutama BUMN. -.Jumlah modal yang diinvestasikan oleh pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) dalam kegiatan pariwisata alam tercatat Rp. Pendapatan Asli Daerah.089. sementara tingkat kesejahteraan dan pendidikan masih rendah. Jumlah pengusaha/investor yang menanamkan modalnya di sektor Pariwisata Alam s. Dalam peredaran kayu di kabupaten Ciamis selama 3 tahun terakhir dokumen angkutan kayu rakyat (SKSHH) mencapai 52.. diperlukan upayaupaya untuk memulihkan dan mempertahankan fungsinya kembali. pembangunan Hutan Rakyat/Kebun Rakyat.57 m kubik dengan rata-rata per tahun 126. pengembangan hutan rakyat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal maupun regional melalui kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dari hulu sampai hilir. 19/2004) sebesar 0. sumur resapan. Ciamis. terjadi degradasi kawasan hutan dan lahan sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. yang biasa dikenal dengan upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL).pengkayaan tanaman. masih terbuka peluang bagi investor/pengusaha untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata alam. Karyono KONTRIBUSI HUTAN RAKYAT DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD): STUDI KASUS KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT / Karyono dan Dian Diniyati. Kawasan konservasi sebab itu dalam tulisan ini dikaji sejauhmana kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan asli daerah.

Laju kerusakan hutan dan lahan sebagai akibat pemanfaatan hasil hutan kayu secara berlebihan meningkat dengan cepat. Kemasyarakatan. serta mempunyai peran dalam merehabilitasi lahan-lahan kritis di luar kawasan hutan. kebijakan. berbasis masyarakat.Selain dapat menekan illegan loging hutan rakyat yang sudah berkembang sejak lama di kalangan masyarakat Jawa barat juga dapat memenuhi kebutuhan produksi kayu yang belum terpenuhi dari hasil hutan. Namun demikian model pembangunan kehutanan saat ini juga telah memberikan dampak yang banyak merugikan yang kita rasakan dewasa ini. Kata kunci: Pembangunan hutan. Tulisan ini disajikan untuk memberikan gambaran tentang kebijakan pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di kabupaten Ciamis. -. Hal ini tampak dari penggunaan kayu mangium dalam industri pengolahan mebel dan pertukangan di sentra industri mebel Jawa 157 . 2006 Kondisi Industri Kehutanan saat ini dan di masa yang akan datang sangat bergantung dari pembangunan HTI (Hutan Tanaman Industri). 6 Desember 2006 . penjarahan dan perambahan hutan. Kab. Kab. Kemasyarakatan. Pada intinya dicapai dalam pembangunan kehutanan adalah suatu sistem pengelolaan hutan yang mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Salah satu jenis yang telah dikembangkan dalam areal HTI adalah kayu mangium (Acacia mangium Willd. 2006 Pembangunan Hutan Rakyat yang sejalan dengan landasan utama penyelenggaraan kehutanan dapat berfungsi sebagai penanggulangan lahan kritis. Pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan menjadi sangat penting dan strategis dalam mewujudkan pembangunan kehutanan sebagaimana tersebut di atas. Hutan rakyat (hutan hak/milik) dapat memberikan kontribusi terhadap penyediaan bahan baku kayu dan non kayu bagi rumah tangga dan industri yang semakin terbatas dihasilkan dari hutan negara. serta bersifat sentralistik menjadi pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya hutan. Hutan Kemasyarakatan. dan sosial secara berimbang. Halaman 151-159 . Tujuan pembangunan HTI adalah memenuhi kebutuhan kayu sebagai pulp dan kertas juga telah digunakan sebagai bahan baku mebel dan kayu pertukangan. 6 Desember 2005 . Hutan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN CIAMIS / Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. yang berakibat merosotnya kualitas lingkungan (banjir. sedangkan hutan kemasyarakatan yang merupakan hutan negara yang sistem pengelolaan bersama-sama masyarakat memberikan peluang usaha bagi masyarakat di dalam kawasan hutan tanpa Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI PROPINSI JAWA BARAT / Kepala Dinas Kehutanan di Propinsi Jawa Barat. Sebagai salah satu sektor pembangunan yang sangat strategis selama dekade terakhir sektor kehutanan telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi nasional. -. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. kebijakan. berorientasi lingkungan.Tasikmalaya Hutan Rakyat.) SEBAGAI BAHAN BAKU MEBEL/ Krisdianto dan Kresno Agus Hendarto. Kata kunci: Pembangunan hutan. Halaman 8-13 . Hutan mengganggu fungsi hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. Permasalahan ini semakin lama semakin komplek yang saat ini pada umumnya belum dapat diselesaikan secara tuntas. 2006 Paradigma pembangunan kehutanan nasional dewasa ini telah mengalami perubahan yang cukup mendasar dari yang semula dititikberatkan pada pengelolaan kayu dan komoditi. Disisi lain tingkat kesejahteraan masyarakat disekitar hutan sangat rendah yang semakin menambah laju kerusakan hutan akibat pencurian kayu. Tasikmalaya Hutan Rakyat. Propinsi Jawa Barat Rakyat.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Hutan Krisdianto PEMANFAATAN KAYU MANGIUM (Acacia mangium Willd. kekeringan). 6 Desember 2005 . ekologi. bersifat desentralistik dan berkeadilan. Kebijakan.Kata kunci: Pembangunan Hutan. erosi. Halaman 14-21 .).

bahan baku Mebel Kurniadi. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. I Made Widnyana. Saat ini kayu mangium telah digunakan sebagai substitusi kayu jati. keserasian. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. Halaman 209-315 . Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu.2 .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Sumatera. Halaman 235-241 .66.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.Tengah dan Jawa Barat. Kata kunci : Budaya. Salah satu kelebihan kayu mangium adalah warnanya mirip dengan kayu jati. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. Metode penelitian yang dipakai adalah PDC (Pemahaman Pedesaan Cepat) dan PDP (Pemahaman Pedesaan 158 . -. kebakaran hutan Kusumedi. Penggunaan kayu mangium saat ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mebel dan pertukangan dalam skala lokal.53 . Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. budaya maupun sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan.3 . Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. -. ekonomi. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan. dan Nusa Tenggara Timur. serta memiliki kehendak yang sama untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya alam. fire maniac. I Made Widnyana. Berat jenis kayu ini bervariasi dari 0. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. 25 Agustus 2005). 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang model kelembagaan berbasiskan masyarakat dalam rangka mewujudkan pengelolaan hutan lestari. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR) / Rahman Kurniadi . Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA MIO DAN DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR)/ Rahman Kurniadi . perladangan berpindah. Penggunaan kayu mangium sebagai pengganti kayu jati dilakukan secara parsial maupun secara total. dan budaya berburu. fire maniac. Acacia mangium Willd. dan budaya berburu. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. 2006 Kelembagaan dalam pengembangan hutan kemasyarakatan pada umumnya merupakan suatu perkumpulan petani yang anggotanya mempunyai kesamaan kepentingan dan kondisi lingkungan baik sosial. disamping adanya keakraban. Kayu mangium merupakan kayu dengan kelas kuat IIIII dan kelas awet III. Priyo KELEMBAGAAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KHDTK BORISALLO. dan Nusa Tenggara Timur. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung.. perladangan berpindah. kebakaran hutan Kurniadi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. Sumatera.3 . SULAWESI SELATAN / Priyo Kusumedi. Halaman 115-130 . Kata kunci: Kayu mangium. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung. 25 Agustus 2005). Kata kunci : Budaya.0. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.

mangium. Kata kunci : kelembagaan. Dian OPTIMALISASI HASIL MELALUI PENGATURAN JARAK TANAM HTI ACACIA MANGIUM UNTUK PRODUKSI KAYU PULP / Dian Lazuardi. kelompok tani hutan Lazuardi. Kayu Pulp Mairi. Di Kalimantan Selatan saat ini hanya HTI Hutan Rindang Banua (dulu PT Menara Hutan Buana) yang masih tetap sebagai HTI pulp. Realitasnya. Kristian STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kristian Mairi. Permasalahan ini dapat diatasi melalui upaya perbaikan tegakan (stand improvement) yang menyangkut peningkatan produktivitas dan secara bersamaan menghasilkan struktur tegakan sedemikian rupa yang mengurangi proporsi kelas diameter +20 cm. dan tidak sedikit tegakan dengan riap jauh di bawah target tersebut. Sebagai akibat meningkatnya nilai ekonomi kayu A. upayaupaya tersebut sangat memerlukan suatu kajian serius melalui hasil penelitian dan ujicoba-ujicoba lapangan sebelum mengaplikasikannya. pihak pengelola HTI dihadapkan pula pada problem tataguna lahan seperti klaim area tanam oleh masyarakat sekitar. Menindaklanjuti hal itu oleh pemerintah c. 2006 Bertitik tolak dari UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dimana masyarakat diberi kesempatan untuk ikut mengelola kawasan hutan sebagai alternatif bentuk pengelolaan hutan oleh masyarakat adalah merupakan inti dari konsep Social Forestry yang sekarang ini menjadi paradigma baru dalam pembangunan sektor kehutanan. Saat ini sebagian besar tanaman ditujukan untuk kayu pertukangan (furniture). Kejadian ini sudah tentu akan mengakibatkan tidak tercapainya target produksi yang telah ditetapkan. Jarak Tanam. khususnya di Kalimantan Selatan. tumpang tindih dengan penggunaan lahan lain seperti pertambangan dan perkebunan.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. riap ini merupakan riap dari tegakan berkualitas baik. Selain dihadapkan pada rendahnya produktivitas tegakan. 6 Desember 2006 . Halaman 39-47 .mangium tersebut salah satunya adalah peningkatan kerapatan tegakan dan penurunan daur. Kata kunci: Acacia mangium. Kondisi pertumbuhan di lapangan sangat beragam walau berada dalam hamparan yang relatif berdekatan. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan paradigma Social Forestry tersebut maka keberhasilan pembangunan kehutanan sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dalam berkontribusi terhadap upaya pengelolaan 159 .Partisipatif). 2006 : Halaman 189-208 . 1992. target produksi umumnya didasarkan pada riap 25m kubik/ha/th pada daur 8 tahun. hal ini diduga sebagai akibat dari variasi faktor edafis (Simpson. Inti dari program Social Forestry adalah masyarakat terlibatkan aktif secara langsung dalam pengelolaan hutan dengan tujuan masyarakat bisa sejahtera dan kondisi hutan bisa lebih baik. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu jenis tumbuh cepat (fast growing species) dari famili Leguminosae. Upaya peningkatan produktivitas tegakan A.mangium untuk tujuan kayu pulp. tetapi juga akan menghadapi peningkatan biaya dan problem teknis pembuatan pola tanamnya. mulai dikembangkan di Kalimantan Selatan pada tahun 1985. Peningkatan kerapatan tegakan memang akan meningkatkan produksi dan menurunkan diameter rata-ratanya. maka gangguan pencurian pohon berukuran 20 cm ke atas menjadi problem tambahan. Pembangunan HTI A. HTI.q Departemen Kehutanan pada bulan Juli 2003 dicanangkanlah program Social Forestry sebagai upaya perbaikan kondisi hutan di Indonesia sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. makalah ini mencoba untuk menyampaikan kajian awal terhadap perlakuan-perlakuan jarak tanam dalam hubungannya dengan peningkatan produksi. hutan kemasyarakatan. Adanya kedekatan lahan garapan. sehingga secara langsung lebih meningkatkan nilai ekonomi jenis ini dibandingkan ketika awal pengembangannya. Gessel and Harrison. Oleh karena itu. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 1992). biaya dan daur serta struktur tegakannya. -. permasalahan pemagaran lahan dengan kawat berduri dan pengembalaan liar oleh sebagian anggota sehingga membangun tata nilai bersama menjadi suatu kesepakatan dibentuknya lembaga (4 kelompok tani hutan) dan beberapa aturan interen/kesepakatan bersama. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas. Pada awalnya tujuan produksi adalah kayu pulp. dan secara luas pada tahun 1992 dalam bentuk HTI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan model kelembagaan berbasiskan masyarakat membutuhkan proses yang cukup panjang dengan membangun tata nilai bersama agar bisa diakui dan didukung oleh semua pihak.

pengendalian hama dan penyakit. maka strategi pemberdayaan masyarakat dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan mutlak dilaksanakan.Dalam upaya pengembangan kualitas masyarakat khususnya yang bermukim di dalam dan sekitar hutan agar maju dan mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan. Proses pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya bagaimana masyarakat itu dapat mengenal dan merefleksikan permasalahannya sendiri. Program penanaman Acacia mangium pada lahan milik memiliki banyak keunggulan dibanding program hutan tanaman konvensional/pada areal konsesi. 6 Desember 2006 . pemeliharaan. kesulitan memperoleh modal dan akses pemasaran yang belum memadai. Saat ini.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Pada kenyataannya di lapangan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kehutanan masih lemah karena belum didukung oleh kelembagaan masyarakat yang kuat antara lain pengetahuan dan ketrampilan yang rendah. -. Perlakuan yang diberikan meliputi komponen-komponen teknologi yang mendukung pengembangan model. hutan tanaman dan masyarakat saat ini bersifat layak dan perlu dilaksanakan. Siarudin. Musi Hutan Persada menunjukan bahwa usaha hutan tanaman Acacia mangium berbasis social forestry menguntungkan dari sisi finansial dan menghasilkan manfaat sosial ekonomi ganda. Pemberdayaan masyarakat Martin. Diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat mengawal proses sebuah kemajuan teknologi pengembangan hutan tanaman berbasis social forestry ini. 2006 Serangkaian penelitian dan pengembangan mengenai model wanafarma telah dilaksanakan di lokasi penelitian Loka Litbang Hutan Monsoon di Kecamatan Cilacap Jawa Tengah. Ujicoba model diterapkan melalui plot-plot percobaan yang didesain di lokasi penelitian. Rehabilitasi lahan. Padahal aspek kelembagaan mempunyai peranan sangat besar bagi kesuksesan pembangunan hingga dapat dikatakan bahwa kegagalan pembangunan umumnya dikarenakan lemahnya kelembagaan yang ada termasuk sektor kehutanan.penyiapan lahan. Percobaan ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan produktifitas lahan dan pendapatan petani melalui model wanafarma sengon+Jahe. persemaian. yang perlu dibuktikan oleh Acacia mangium adalah kemampuannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak lagi sekedar sebagai jenis utama dalam rehabilitasi tetapi harus mampu menjadi tanaman industri masyarakat. Yamin Mile dan M. penanaman. pemupukan. 160 . M. Yamin UJI COBA TEKNIK PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN MODEL AGROFORESTRY POLA WANAFARMA SENGON+JAHE / M. Dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan dimasa yang akan datang sebagaimana semangat dalam program Social Forestry maka hal yang sangat urgen dilakukan adalah membangun. Hutan tanaman. Studi kasus yang dilakukan di PT.antara lain: Seleksi benih. Salah satu pola tanam yang diujicobakan adalah kombinasi antara tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) (L) Nielsen) dan Jahe (Zingiber afficinale). Halaman 2338 . dan pemanenan. dan penanganan pasca panen. potensi diri dan lingkungannya serta memotivasi dalam mengembangkan potensi tersebut secara proporsional dengan cara/metode partisipatip. Pelajaran dari perkembangan hutan tanaman Acacia mangium telah mengisyaratkan bahwa integrasi antara industri. dengan berbagai kemajuan teknologi silvikultur dan pemuliaan pohon akhirnya Acacia mangium membuktikan bahwa meskipun eksotik ia mampu menjadi komoditas utama hutan tanaman. Kata kunci: Acacia mangium. -. memperkuat dan mengembangkan kelembagaan masyarakat yang terkait dengan pembangunan kehutanan. Social Forestry Mile. Halaman 46-61 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. 2006 Setelah hampir seperempat abad tumbuh di Sumatera Selatan. 6 Desember 2005 . Hasil sementara penelitian ini menunjukan bahwa beberapa input teknologi yang diterapkan berperan penting pada penyempurnaan model dalam bentuk pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman pohon dan peningkatan hasil tanaman pertanian.hutan dan kualitas sumberdaya manusia yang mendukungnya. Penelitian ini dilaksanakan untuk jangka 5 tahun yang dimulai pada tahun 2004. Penanaman jenis pohon pada lahan milik untuk kepentingan industri dapat disebut sebagai social forestry. Edwin PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERBASIS SOCIAL FORESTRY / Edwin Martin. sistem pengorganisasian yang belum sempurna.

Kata kunci: Agroforestry.Berbagai study mengenai peranan hutan rakyat terhadap tingkat pendapatan masyarakat telah banyak dilakukan. 13 September 2005 . Wanafarma. -. Sosial ekonomi. 6 Desember 2005 .6 juta ha/tahun (Direktorat Bina Hutan Kemasyarakatan Dep. Halaman 123-131 . 2005 Hutan rakyat saat ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu titik tumpuan ekonomi penduduk yang tinggal di Pulau Jawa (FKKM.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kawasan hutan dirambah untuk dijadikan usaha tani tanaman sayur-sayuran tanpa tindakan konservasi tanah sehingga terjadi aliran permukaan dan erosi yang besar. Kondisi ini menyebabkan lahan hutan semakin kritis sehingga tidak berfungsi lagi sebagai pengatur tata air. Mengingat model ini belum banyak dikenal oleh masyarakat.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Yamin Mile. sebagian besar dikelola seadanya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan permodalan yang dimiliki petani. kurangnya permodalan. Hut. Adanya jaminan pasar ini menyebabkan petani tidak ragu untuk menanam jenis pohon komersial di lahan milik mereka yang sempit karena dirasakan menguntungkan apalagi dilakukan dengan jalan tumpangsari (Agroforestry). pendekatan kelola usaha yang menyeluruh dan konprehensif hanya perlu dilakukan dengan jalan penerapan teknologi tepat guna dan managemen pengelolaan yang sesuai. Tanaman rami (Haramai) adalah sejenis tanaman serat berbentuk perdu yang sesuai baik di dataran rendah maupun di daerah ketinggian seperti Garut. Dalam rangka implementasi kegiatan Social forestry tersebut Pemerintah Kabupaten mengintrodusir suatu pola baru yang belum banyak dikenal sebelumnya oleh masyarakat yakni Tumpangsari antara tanaman pokok Kehutanan dengan tanaman rami yang dikenal dengan istilah Agroforestry Haramai. penanaman. M. Di Kabupaten Garut ketidakpastian pengelolaan hutan secara lestari sangat dirasakan. Pada musim hujan bencana tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di berbagai tempat yang mendatangkan kerugian yang tidak sedikit. Langkah strategis Mile. pemeliharaan. Rami. pemanenan. Dari hampir semua pola yang dijumpai di lapangan. dalam tulisan ini dikemukakan kajian pengembangannya ditinjau dari aspek teknis. Hutan Rakyat Mile. Yamin KONSEPSI PENGELOLAAN LAHAN DAN LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS HUTAN RAKYAT / M. Pengelolaan hutan rakyat secara intensif belum banyak dilakukan oleh petani. Sengon. Jahe. Konsekwensi dari orientasi industri berskala besar tersebut berdampak pada beberapa aspek antara lain: a) belum diperhitungkannya variable sosial ekonomi dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan. Kata kunci: Pengelolaan lahan. Hutan Rakyat. Halaman 139-151 . dan penanganan pasca panen). 2003). 2005 Selama lebih dari tiga dasawarsa sumber daya hutan telah memberikan kontribusi yang nyata sebagai penggerak roda perekonomian nasional melalui pengelolaan hutan berbasis kayu yang menekankan exploitasi hutan oleh industri berskala besar. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sebagai bahan baku industri tekstil serta memberikan pendapatan yang relatif cepat bagi masyarakat. Untuk itu perlu adanya konsepsi yang jelas mengenai pengelolaan lahan serta langkah-langkah strategis dalam upaya meningkatkan produktifitas hutan rakyat. Yamin PENGEMBANGAN SOSIAL FORESTRY DENGAN POLA WANATANI RAMI DI KABUPATEN GARUT: MENDUKUNG KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN / Ismatul Hakim. Kata kunci: Social Forestry. Apabila hutan rakyat ini diarahkan pada pengembangan suatu unit agribisnis. Hal ini disebabkan antara lain karena tingkat penguasaan technologi petani yang masih sederhana. serta sempitnya lahan usaha yang dimiliki. sementara laju deforestation mencapai 1. M. Wanatani. Dengan terbukanya peluang pasar akan hasil hutan rakyat berupa kayu dan non kayu. c) meningkatnya konflik pengelolaan sumberdaya hutan. b) tidak terdistribusinya manfaat sumberdaya hutan secara adil kepada masyarakat sekitar hutan. Beragam pola hutan rakyat ditemukan di masyarakat sesuai dengan keinginan masing-masing petani. Dengan kondisi seperti di atas pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari mengalami ketidakpastian sampai saat ini. 1999). maka produktifitas hutan rakyat perlu ditingkatkan menjadi unit usaha yang dikelola secara intensif mulai dari pemilihan jenis sampai pada sistim produksi (penyiapan lahan. Perkembangan hutan rakyat khususnya tanaman sengon menjadi dominan karena tersedianya pasar yang menampung hasil hutan rakyat tersebut. -. dan Lingkungan. Kabupaten Garut 161 . baik pasar domestik maupun pasar internasional.

Fitri PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI BAGIAN HULU DAS BRANTAS HULU: SEBAGAI PENGATUR TATA AIR / Fitri Nurfatriani. ketiga pendekatan itu adalah (1) analisis manfaat. Pada umumnya penjualan kayu sengon terbatas hanya olahan sederhana yang berupa kayu palet atau kayu persegian. Sosial Forestry. khususnya di Pantai Selatan Kabupaten Ciamis. 2006 Bencana tsunami yang terjadi pada bulan Juli 2006 di Pantai Selatan Pulau Jawa telah menimbulkan kerusakan yang serius. paling tidak ada tiga pendekatan yang harus dirancang secara tepat sehingga mampu menjawab tantangan tersebut. Petani lebih suka menjual kayu dalam bentuk gelondongan dengan system borong kebun. Kata kunci: Jalur Hijau. masing-masing model terdiri dari blok inti dan blok pemanfaat. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi hutan di bagian hulu DAS tersebut.Analisis ekonomi lingkungan dan (3). Yamin PENGEMBANGAN MODEL DAN DESAIN JALUR HIJAU DALAM RANGKA REHABILITASI. yakni: 1). 2006 Salah satu permasalahan utama dalam pola investasi hutan rakyat adalah masa menunggu hasil dari proses investasi yang dilakukan.Untuk mewujudkan tujuan tersebut. M.2006 . pemerintah merencanakan untuk mengadakan upaya rehabilitasi kawasan pantai melalui pembangunan jalur hijau di sempadan pantai.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.2006 . Belum ada variasi produk olahan kayu yang lain yang dapat memberikan tambahan nilai jual bagi petani. 2005). mengakibatkan posisi tawar petani cukup rendah karena volume produk yang dijual sangat terbatas.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Model jalur hijau untuk kawasan konservasi. Agribisnis. Bahkan masih ditemukan adanya system penjualan dengan system ijon yang sesungguhnya sangat merugikan pihak petani. terutama dari pihak swasta (melalui kemitraan bisnis) dan pemerintah (dengan kebijakan subsidi dan bantuan modal usaha). Model jalur hijau untuk kawasan wisata. Blok inti dirancang dengan fungsi utama sebagai jalur perlindungan (sheler belt). Beberapa hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang lurus dan nyata antara keberadaan hutan dengan berkurangnya jumlah titik mata air (Zaini. PENATAAN RUANG DAN SOSIAL FORESTRY DAN PANTAI SELATAN CIAMIS PASCA TSUNAMI / M. Hal ini perlu mendapat perhatian serius. Dengan demikian keberadaan hutan sangat krusial dalam satu siklus hidrologi yang tergambar dalam kondisi tata air di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Untuk maksud tersebut dalam tulisan ini dikemukakan empat rancangan model jalur hijau yang dapat dikembangkan. Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting 162 . (2). Dedi PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Dedi Natawijaya. Rehabilitasi. akibatnya harga yang diterima petani jauh lebih murah. 2006 : Halaman 227-244 .Mile. Untuk menanggulangi kerusakan tersebut dari aspek kehutanan. 2). -. kab.biaya ekonomi finansial. 2006 Berbagai teori telah dikemukakan oleh para ahli yang menyatakan berbagai fungsi hutan sebagai salah satu unsur dalam system penyangga kehidupan. Model jalur hijau untuk daerah pemukiman. Siarudin. Ciamis Natawijaya. Analisis ekonomi partisipasi. Sedangkan blok pemanfaat dirancang untuk pengembangan social forestry di wilayah pantai. Kab. Hutan mempunyai fungsi menyerap air melalui proses fotosintesa dan menyimpannya dalam perakaran dalam tanah. -. Menurut Asdak (1995) vegetasi hutan sangat berperan dalam daur hidrologi sebagai penahan air sebelum mencapai permukaan tanah untuk kemudian diserap dalam proses infliltrasi. -. terutama bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. sehingga mampu mengurangi resiko dari masalah menunggu hasil investasi tersebut. Kata kunci: Kayu Sengon.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. 4). Model jalur hijau untuk kawasan mangrove. 3). Masalah banjir dan kekeringan diyakini sebagai dampak dari system tata air di wilayah DAS yang buruk. Halaman 97108 . Yamin Mile dan M. Tasikmalaya Nurfatriani. Penentuan volume produksi dilakukan oleh pembeli. Halaman 7284 . Para pelaku perlu mencari suatu pola investasi yang cepat menghasilkan yang dirancang khusus untuk merespon kebutuhan sumber pendapatan.Belum adanya kelembagaan seperti koperasi dalam melakukan penjualan.

atau belum diketahui.]. Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai rendah. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami konsep nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif. peredaran kayu Pawitan. 1995). DAS cicatih dengan luas 53 ribu haktar memiliki 163 . sehingga aktivitas perubahan tata guna lahan yang dilaksanakan di daerah hulu DAS tidak hanya akan berpengaruh dimana kegiatan tersebut berlangsung (hulu DAS) tetapi juga akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan lainnya (Asdak.58%) dari total luas hutan Sumatra Selatan adalah hutan produksi. untuk mendapatkan total kesejahteraan masyarakat yang maksimal. Kata kunci : Hutan. khususnya untuk manfaat intangible yang tidak memiliki harga pasar. Kata Kunci: Produksi kayu. -. Indartik.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. industri. Halaman 151-159 . Lokasi yang dipilih sebagai studi kasus adalah Sumatra Selatan.al. 2006 : Halaman 1-16 .karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS yaitu dari segi fungsi tata air. Sementara itu produksi kayu dari Sumatra Selatan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Nunung PRODUKSI DAN PEREDARAN KAYU (STUDI KASUS DI SUMATERA SELATAN)/ Nunung Parlinah . dan 4) Peredaran kayu. nilai. 2) Produksi kayu. Hulu DAS. Makalah ini mencoba menyajikan secara ringkas hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penelitian untuk DAS Cicatih yang bertujuan untuk menggali informasi mengenai kondisi biofisik DAS yang meliputi fungsi dan jasa lingkungan DAS. DAS Brantas Hulu Nurfatriani. tetapi juga untuk propinsi lain. [et. 2006 Perkembangan beberapa dekade terakhir di Kecamatan Cidahu dicirikan oleh tumbuhnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang memanfaatkan sumber mata air dan sumur air bumi. Dengan diketahuinya manfaat dari SDH ini maka hal tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam (SDA) yang semakin langka dan melakukan distribusi manfaat SDA yang adil. Akibatnya untuk memenuhi bahan baku maka industri mandatangkan bahan baku dari luar Sumatra Selatan. ekonomi. 2006 Informasi tentang produksi dan peredaran kayu penting untuk diketahui dalam rangka memahami mekanisme pasar dalam memenuhi permintaan kayu.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.1 . Untuk itu tulisan ini dibuat sebagai gambaran mengenai kondisi hutan di bagian hulu DAS Brantas Hulu khususnya dalam kaitannya sebagai daerah resapan air. 3) Pasar Kayu. 2006 Sumberdaya hutan (SDH) menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible.2 . Hidayat Pawitan . Fitri KONSEP NILAI EKONOMI TOTAL DAN METODE PENILAIAN SUMBERDAYA HUTAN (Total Economic Value concept and Forest Resource Valuation Method) / Fitri Nurfatriani.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. sedangkan pasar kayu Sumatra Selatan relatif tinggi. -.. Terdapat kecenderungan produksi kayu semakin menurun karena berkurangnya potensi hutan alam dan maraknya illegal logging. diindikasikan dengan tingginya kapasitas industri terpasang. Berbagai teknik dan metode penilaian ekonomi sumberdaya alam (SDA) telah dikembangkan untuk menghitung nilai ekonomi SDA yang memiliki harga pasar ataupun tidak. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. sebagian besar (66. sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi manfaat-manfaat yang telah dikenal dari SDH secara berlebihan. serta mempelajari aspek sosio-ekonomi dan persepsi masyarakat terkait dengan kompensasi konservasinya atas dasar rasa keadilan yang saling menguntungkan. Halaman 1-16 . Dari hasil studi. Empat poin yang perlu dianalisis : 1)Luas hutan.Hidayat INDIKATOR BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI JASA LINGKUNGAN DAS: STUDI KASUS DAS CICATIH-CIMANDIRI/ S. pasar kayu. -. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan konsep nilai ekonomi total dan berbagai metode yang digunakan untuk menilai manfaat SDH dan lingkungan. Kata kunci: Kawasan Hutan.. manfaat Parlinah. dan sampai saat ini masih dapat berlangsung bersamaan dengan pemanfaatan air untuk PDAM dan oleh penduduk setempat yang telah lebih dulu memanfaatkan sumber-sumber air yang ada.

-/ha/tahun Kata kunci: DAS. adil dan memberdayakan daerah.-/m kubik. 2006 Hutan lindung di Indonesia seluas 29. Hutan Lindung. 13 September 2005 .2) Data nilai ekonomi air dikumpulkan melalui survey.. mencegah intrusi air laut. Sosial Ekonomi Purwanto KAJIAN NILAI EKONOMI HASIL AIR DARI HUTAN LINDUNG BATURADEN / Purwanto. Manusia sendiri dalam sistem komunitasnya sebagai pengelola sumberdaya alam DAS juga memiliki karakteristik yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap karakteristik bio-fisik DAS. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Data curah hujan dan debit air diperoleh dengan pemasangan plot dan pengukuran curah hujan dan debit air. seperti pada mata air Cibuntu (695 liter/s) dan Cipanas (2584 liter/s atau < 1000 liter/s).curah hujan tahunan sebesar 2970 mm dengan geologinya yang spesifik telah menghasilkan banyak sumber mata air dengan kapasitas yang cukup besar. -. Nilai ekonomi air baku untuk PDAM dari : 1). Rata-rata hasil air dari hutan lindung dalam tiga tahun (2003 s/d 2005): hulu Sub DAS Pelus 191. baik sifat alami maupun sifat yang terbangun sebagai hasil intervensi manusia. Dengan demikian karakteristik DAS terbangun sebagai hasil menyeluruh dari interaksi atau hubungan timbal balik antar unsur-unsur sumberdaya alam sendiri dan antara unsur alam dengan manusia. Salah satu produk hutan lindung adalah air yang pada saat ini sebagian besar masih merupakan barang publik walaupun di beberapa tempat telah menjadi barang ekonomi seperti yang dimanfaatkan untuk air mineral. khususnya dari mata air dan airbumi.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Nilai ekonomi hutan lindung yang bersifat intangible belum banyak dilakukan perhitungan sehingga nilai jasa hutan lindung sering dihargai kecil. Air. 2006 : Halaman 85-97 . Akibatnya penghargaan atau pengelolaan hutan lindung kurang optimal. sebaliknya karakteristik komunitas manusia juga dipengaruhi oleh karakteristik alam sekelilingnya. 2005 Setiap DAS memiliki sifat atau karakteristik berbeda-beda dalam memberikan tanggapan atau respon masukan air hujan menjadi hasil air. Hutan lindung sesuai fungsinya ditujukan untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air.(et. Biofisik. 310. hutan (21 persen) dan sebagian besar sisanya berupa lahan pertanian. Demikian juga sistem kakarkteristik DAS sebagai dasar dalam perencanaan pengelolaan DAS yang sekarang ada 164 . Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi nilai provisi pemanfaatan sumberdaya air. -. Jasa Lingkungan. Hutan Lindung Baturaden Purwanto ANALISIS KARAKTERISTIK PARAMETER SOSIAL EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JANGKA PANJANG: STUDI KASUS DAS SERAYU / Purwanto. Nilai Ekonomi. dan Dewi Retna Indrawati. Hal yang sama perlu dilakukan oleh perusahaan AMDK di Cidahu untuk turut berperan dalam program konservasi DAS hulu.963. dan memelihara kesuburan tanah.50 m kubik/tahun. indept interview dan diskusi dengan para pengguna.25 m kubik/s (24/08/2002) dan terbesar 209. Dengan diberlakukannya otonomi daerah maka kewenangan pengelolaan DAS pada setiap jenjang hierarki perlu diselaraskan dengan kewenangan pemerintah otonomi. mengendalikan erosi.500. Pengelolaan sumberdaya air perlu lebih mendapat perhatian dengan pertimbangan adanya pola musiman dan meningkatnya kebutuhan air untuk penggunaan air non-tradisional. mencegah banjir.al). Debit terukur pada stasiun Ubrug selama 1999-2005 terendah tercatat sebesar 5. Kualitas air dari seluruh lokasi penelitian dapat digunakan untuk air baku minum. Penutupan lahan didominasi oleh perkebunan (45 persen). Halaman 163-175 .04 juta ha atau 27.647. 2). Terdapat indikasi kuat bahwa penduduk lokal cenderung menghemat sumber daya air DAS Cicatih dan bersedia menanggung biaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan jasa lingkungan DAS hulu.00.05 m kubik/s (8/02/2001). Paimin. dalam kerangka kebijakan otonomi daerah dan sistem perpajakan yang lebih transparan. Data curah hujan dan debit air sungai dihitung berdasarkan rata-rata bulanan dan data nilai ekonomi air dihitung berdasarkan fungsi produksi untuk air irigasi dan rente ekonomi untuk air yang digunakan PDAM Kabupaten Banyumas.Hutan lindung Baturaden Rp.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. 23.Nilai ekonomi air dari hutan lindung di hulu Sub DAS Pelus (Baturadden) Rp.. Sasaran kajian (1) Diketahuinya hasil air dari hutan lindung Baturaden.69 persen dari total luas hutan. Kata kunci: DAS. Hasil sementara menunjukan nilai koefisien limpasan tahunan yang relatif tinggi. (2) Diketahuinya nilai ekonomi air hutan lindung Baturaden. Sasaran penelitian adalah diketahuinya nilai ekonomi hasil air dari hutan lindung.063.

industri kehutanan menghadapi tantangan yang mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri dengan kualitas tinggi dan dalam jumlah yang memadai yang dihasilkan dari tegakan-tegakan yang dikelola secara lestari. Beberapa upaya yang perlu ditempuh dalam menghadapi tantangan tersebut antara lain konsistensi pemakaian benih unggul hasil dari serangkaian kegiatan pemuliaan. Dengan disempurnakannya sistem karakterisasi DAS yang disertai dengan sistem informasi akan membantu pengelola dalam melakukan perencanaan. 6 Desember 2006 . manajemen tegakan. Tulisan ini merupakan eksplorasi peran parameter sosial ekonomi dalam karakterisasi daerah aliran sungai sebagai landasan dasar penyusunan sistem perencanaan jangka panjang pengelolaan DAS (perencanaan 15 tahunan). manajemen tapak dan nutrisi. Pembangunan hutan tanaman A. Kata kunci: Acacia mangium. manajemen hama dan penyakit. Padahal kondisi lapangan berkembang secara dinamis yang harus selalu diikuti agar data dan informasi tersaji selalu sesuai dengan kondisi terkini.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. seyogyanya sistem karakterisasi DAS lebih mengedepankan pendekatan yang praktis dan ekonomis dari pada pendekatan teoritis dan akademis seperti disarankan Sheng (1986. penelitian hibridisasi dan penyerbukan buatan.1990) Cara pendekatan ini bisa diistilahkan dengan 'sidik cepat degradasi DAS'. Sampai dengan tahun 1999. Mangium di Indonesia sebagai pemasok kebutuhan bahan baku industri kehutanan diharapkan akan mampu bersaing dalam kompetisi tersebut.000 hektar hutan tanaman A. penelitian penyakit serta penelitian biologi molekuler. Saat ini beberapa perusahaan telah mengelola hutan tanaman A. dan sumberdaya manusia. -. Dalam resume makalah ini maka disampaikan beberapa kegiatan penelitian beberapa input teknologi penunjangnya dalam penelitian pemuliaan A. maka pengembangan sistem karakterisasi tingkat sub DAS harus dilakukan secepat mungkin. Diharapkan hasil penelitian yang diperoleh juga bisa membantu penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pengelolaan DAS sesuai dengan jenjang kewenangannya. Sosial Ekonomi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman TEKNOLOGI PEMULIAAN ACACIA MANGIUM / Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.perlu ditelaah ulang agar memiliki kompatibilitas dengan institusi terkait pada setiap jenjang kewenangannya. dan pemanenan. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. Hal tersebut menunjukan masih lemahnya sistem karakteristik DAS yang selaras dengan kewenangan otonomi daerah. Mangium telah dibangun dengan tujuan utama sebagai pemasok kebutuhan bahan baku bagi industri pulp dan kertas. beberapa tantangan baru mulai muncul. Dalam era kompetisi global yang semakin intensif saat ini. maupun monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS secara efektif dan efisien disamping memberikan pengingatan dini kemungkinan terjadinya bencana alam pada setiap tingkatan pengelolaannya. Teknologi Pemuliaan 165 . terutama konsistensi sistem karakteristik yang sesuai dengan hierarki sistem perencanaan/pengelolaan DAS. baik untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri maupun rehabilitasi lahan. Seperti dalam program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang dicanangkan mulai tahun 2003. pembangunan gain trial. pelaksanaan. Pembangunan hutan tanaman A. manajemen penyiapan lahan. Namun melihat laju perkembangan lahan kritis dalam wilayah DAS yang cukup besar. Memasuki pembangunan hutan tanaman A. serta masih lemahnya sistem informasi pengelolaan DAS. sumber dana. Untuk membangun formula sistem tersebut diperlukan serangkaian data dan informasi yang diperoleh melalui penyelenggaraan penelitian dan pengembangan. khususnya dalam menjaga peningkatan kualitas dan produktivitas tegakan dalam jangka panjang. lebih dari 800.Data dan Informasi pengelolaan DAS yang sampai saat ini terkumpul belum dikelola secara mapan dalam sistem informasi pengelolaan. Halaman 1-6 . 2006 Acacia mangium merupakan salah satu fast growing yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. DAS. Mangium pada rotasi kedua. sehingga setiap kali diperlukan secara cepat masih sulit diperoleh secara memadai. tingkat biaya yang rendah serta ramah lingkungan. Mangium ini diperkirakan akan semakin luas sejalan dengan kebijakan Departemen Kehutanan yang menetapkan sasaran fasilitas pembangunan hutan tanaman seluas 5 juta hektar. Mangium rotasi kedua. meliputi kegiatan: teknologi pembangunan kebun benih generasi pertama dan kedua. Mengingat terbatasnya waktu. Mangium yang telah dilaksanakan oleh Puslitbang Hutan Tanaman. keperluan data yang segera dan akurat akan segera terlayani apabila sistem data dan informasi DAS telah terbangun dalam suatu sistem pengelolaan yang mapan dan selalu dilakukan pemutakhiran.

dan 2.16 cm. 2005 Salah satu masalah penting yang perlu diatasi dalam pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat adalah pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit.67 cm.8 ton. baik pada umur tanaman yang masih muda (semai) maupun pada tegakan di areal hutan.1 ton/ha.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Encep PERTUMBUHAN TUJUH PROVENAN SENGON (Paraserianthes Falcataria) DAN IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN / Encep Rachman. Pada umur 6 bulan masingmasing ulangan tersebut meningkat menjadi 187 cm. kupu-kuning (Eurema spp) dan Belalang (Valanga sp). pertumbuhan tinggi terbaik berasal dari Candiroto dengan pertambahan tinggi rata-rata 35. Produksi daun basah nilam dari ujicoba ini diperoleh 5. 185 cm. Intensitas serangan Eurema spp.Sedangkan sasaran penelitian yang ingin dicapai adalah terjadinya peningkatan produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan pada areal hutan rakyat/lahan petani yang sempit. dan Pteroma plagiophelps dibandingkan semai provenan Kediri. Encep PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM / Encep Rachman dan M.67 cm dan 0. Kecamatan Sariwangi.76 cm dan 83. Penyakit. Plot ujicoba dirancang dengan pola rotasi pembentukan struktur tegakan normal tanaman sengon dan nilam . -Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Sedangkan pada umur 6 bulan setiap anak petak menghasilkan diameter rata-rata masing-masing 2. Yamin Mile. sedangkan untuk penanaman nilam dilakukan serentak pada seluruh petak dalam bentuk jalur diantara tanaman sengon. Kata kunci: Agroforestry. Sehingga dari 5. Paraserianthes falcataria. Nilam. Halaman 114-122 . masing-masing anak petak dengan tiga ulangan menghasilkan rata-rata diameter masing-masing 0.2. -. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umur 3 bulan tanaman sengon pada petak penanaman tahun pertama.200 mm/tahun dan suhu rata-rata 25 derajat C. Halaman 62-78 . Biak.5 persen dan yang terendah adalah benih sengon yang berasal dari Wonogiri dengan pertambahan tinggi rata-rata 16. Jenis hama yang menyerang semai sengon adalah Ulat kantong (pteroma plagiophelps).1 cm dan persen hidup 90. Penelitian dilakukan di persemaian Loka Litbang Hutan Monsoon dengan menggunakan benih sengon dari 7 asal benih (provenans). Endah Suhendah. 0.1 ton daun basah/ha diperoleh daun kering kurang lebih 2. 86. Persemaian 166 . Hutan Rakyat Rachman. 6 Desember 2005 .72 cm.73 cm. dan 193 cm. Hama. Hasil penimbangan dari 100 kg daun basah diperoleh sebanyak 55 daun kering. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tingkat semai sengon dari tujuh asal benih dan jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman sengon tersebut di persemaian. Penanaman sengon dibagi dalam 6 rotasi tahunan.6 cm dan persentase hidup 52 persen.66 cm. Semai provenan Wamena rentan terhadap serangan hama Eurema spp. Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan rakyat milik petani di Desa Sukamulih. Wonogiri. Kabupaten Tasikmalaya. Candiroto.68 cm. Jenis Penyakit yang ditemukan di persemaian adalah Oidium sp (Embun tepung) Kata kunci: Sengon.Rachman.80 cm. cukup tinggi yaitu sebesar 30 persen dan lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas serangan Pteroma plagiophelps dan Valanga spp. 2005 Tujuan penelitian adalah merakit paket teknologi agroforestry Nilam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi maksimun dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Subang dan Ciamis. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 700 m dpl dengan curah hujan sebanyak 1. Data tinggi tanaman sengon berumur 3 bulan dari 3 anak petak dengan 3 ulangan masing-masing menghasilkan 87. 6 Desember 2005 . Hasil pengamatan diketahui bahwa pada umur semai 4 bulan dengan tiga kali pengukuran. dan Rusdi.

Pengukuran diameter. -. Sedayu dan Pecekelan. Pengaturan Tegakan Riyanto. Hal ini berarti bahwa harus ada komitmen yang kuat upaya dari setiap daerah untuk melakukan kegiatan pengelolaan DAS. sedang masyarakat hilir dengan membuat bangunan resapan. Lokasi survey adalah di Desa Jonggolsari. dalam pengelolaan DAS perlu keterpaduan dan kerjasama antara wilayah hulu dan hilir. Heru Dwi PROFIL HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN WONOSOBO: DITINJAU DARI STRUKTUR TEGAKAN DAN VEGETASI PENYUSUNANNYA / Heru Dwi Riyanto dan Wardojo -. Untu meningkatkan produktivitasnya melalui optimalisasi pengelolaan adalah dengan mengetahui dimensi strukturnya. Kabupaten Wonosobo. tinggi pohon. dimana pertumbuhan tegakan memberikan hasil tahunan tertinggi. 167 . Masyarakat yang memperoleh manfaat atas pengelolaan DAS wajib menanggung biaya pengelolaan berdasar prinsip kecukupan dana (cost recovery). Halaman 205-215 . dan jumlah serta jenis tanaman lainnya adalah kegiatan utama dalam penelitian ini. Di samping itu. 2005 Keberadaan hutan rakyat atau hutan milik sebagai salah satu alternatif penyedia kayu. Panjang dari daur dengan volume tertinggi adalah titik pertemuan umur tanaman ketika rata-rata riap tahunan (MAI) mencapai maksimum. bersamaan dengan makin menurunnya produktivitas hutan alam dari tahun ke tahun. 4) peningkatan partisipasi masyarakat lokal pada berbagai tingkat melalui penyuluhan. Waktu periode dari daur/rotasi tebang tergantung pada karakteristik pertumbuhan jenis. dan hal ini merupakan permasalahan utama yang harus dipecahkan. Paper ini adalah untuk menentukan umur daur/rotasi tebang berdasar daur rotasi volume maksimum di lokasi Benakat. Kata kunci: Pengelolaan DAS. 2006 : Halaman 177-187 . misi dan kebijakan pengelolaan DAS antar pemerintah kabupaten/propinsi. CAI. artinya pihak yang lebih diuntungkan diharapkan dapat memberikan kontribusinya dalam upaya pengelolaan DAS. 3) perlibatan berbagai aktor seperti LSM. Dalam konsep kerjasama hulu hilir pengelolaan DAS ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:1) harmonisasi dan sinkronisasi visi. Umur ini juga berarti antara grafik MAI dengan grafik CAI. Penelitian ini adalah penelitian observasi melalui survey pada areal pengembangan hutan rakyat. jumlah batang. Ini mengandung arti ada penanggungan biaya bersama (cost sharing) dalam pengelolaan DAS. Disayangkan hutan rakyat tersebut memiliki produktivitas yang rendah. Data dianalisa secara desktiftif serta disajikan secara gambar grafik untuk struktur tegakan.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. -. bagi industri perkayuan sangatlah penting. 2006 Pegelolaan tegakan hutan adalah bagaimana mengelola hutan dalam rangka mendapatkan hasil yang tinggi dalam pemanenan. Kata kunci: Acacia mangium. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan konservasi tanah dan air di bagian hulu DAS dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan adanya biaya dari stakehorders yang mendapat manfaat sebagai akibat adanya kegiatan tersebut. Satu daur rotasi adalah daur/rotasi volume maksimum. 2006 Air yang merupakan sumberdaya yang mengalir (flowing resource) dari hulu ke hilir dan wilayah DAS yang tidak mempunyai batas yang bertepatan dengan batas wilayah administrasi. dan 5) diberlakukan reward dan punishment untuk memacu tanggung jawab tiap wilayah untuk melaksanakan pengelolaan DAS.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.Retna I. Halaman 121-124 .Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. dimana masyarakat hulu menjaga kuantitas air dengan jalan konservasi tanah di daerah tangkapan air. sering menimbulkan konflik kepentingan antara daerah hulu dan hilir. Oleh karena itu. pakar sektor bisnis serta pemerintah dari pusat sampai daerah. Dewi KERJASAMA HULU HILIR DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)/ Dewi Retna I. 2) perumusan mekanisme kerjasama. Heru Dwi MAI DAN CAI ACACIA MANGIUM GUNA PENGATURAN TEGAKAN / Haru Dwi Riyanto. 6 Desember 2006 . MAI. struktur volume. perlu ada azas keadilan dalam kerjasama ini. hasil yang tinggi tergantung pada daur/rotasi tebang. Tata Air Riyanto. tujuan-tujuan pengelolaan dan pertimbangan-pertimbangan ekonomi. 13 September 2005 . Upaya keterpaduan dan kerjasama hulu dan hilir ini dapat dilakukan antara lain dengan masingmasing wilayah menjalankan fungsi dan tugas pengelolaan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada di wilayahnya.

755 ton. manfaat ekonomi hasil hutan bukan kayu belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Halaman 281-296 . penelitian mengenai hutan ulayat dalam pandangan sosial budaya diperlukan untuk menjawab kendala pengembangan di atas. Selain itu. . riap ini berarti produktivitas pertumbuhan pohon/tegakannya. menunjukkan bahwa hutan ulayat dalam pandangan Minangkabau telah diatur secara lengkap. Illegal logging. Halaman 1-12 . Dalam perkembangannya. manajemen produksi. Kapuas dan Barito telah semakin meningkatkan kegiatan illegal logging (pencurian kayu). Keadilan. desentralisasi sudah menjadi salah kaprah bagi masing-masing pihak yang menonjolkan arogansi kekuasaan. Komposisi dan struktur hutan ulayat tidak homogen. Kondisi ini tidak akan memberikan kontribusi yang baik bagi volume tegakan berdiri. yang meliputi : stasus tanah. Kata kunci: Hutan Rakyat. Hasil kajian oleh Centre For International Forestry Research (CIFOR) tahun 2003 menunjukkan bahwa desentralisasi sektor kehutanan di wilayah potensial seperti Propinsi Riau dan Kalimantan Timur seperti : Kutai Barat. Kesejahteraan Rakyat Rochmayanto.1 . sehingga dapat menjadi unggulan bagi pengembangan HHBK di hutan ulayat. Lukas DAMPAK DESENTRALISASI DI SEKTOR KEHUTANAN / Lukas Rumboko W. Oleh karena itu. Kerapatan tanaman di Desa Jonggolsari lebih kurang 24188 tanaman/ha.000 US $ pada tahun 2003. sosial budaya.408. Yanto PERSPEKTIF HUTAN ULAYAT DALAM BUDAYA MINANGKABAU (STUDI KASUS DI JORONG KOTO MALINTANG. Tateng Sasmita . Hasil penelitian di Nagari Duo Koto Kabupaten Agam. hutan ulayat sangat potensial secara sosial budaya sebagai asset bangsa dalam menyediakan alternatif model pengelolaan sumber daya hutan. dan nilai ekspor 6. Struktur Tegakan. Demokratisasi. 2006 Desentralisasi pada dasarnya merupakan konsekwensi dari semakin tingginya tuntutan perubahan (reformasi) di birokrasi dan keadilan yang merata di masyarakat. Namun demikian. Kayu manis adalah komoditi yang tercatat di BPS Propinsi Sumatera Barat yang memiliki kapasitas ekspor cukup tinggi dengan volume ekspor 12. Ismatul Hakim. Desa Sedayu lebih kurang 70 meter kubik/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 70 m kubik/ha. Dalam hal ini dalam menerapkan desentralisasi secara benar perlu kembali ke khittah (landasan berpijak)-nya yaitu mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. Sehingga riap tahunan periodik rata-rata dari ketiga desa tersebut adalah lebih kurang 19m kubik/ha/tahun. Kotawaringin Timur. Kata Kunci : Desentralisasi. sifat hak. Volume tegakan berdiri di Desa Jonggolsari lebih kurang 90 m kubik/ha. tapi mekanismenya kurang berjalan karena dualisme pengertian dan tumpang tindihnya peraturan. 2006 Hambatan utama pengembangan hutan ulayat terletak pada dimensi hukum dan ekonomi. Hutan Lestari.serta menggunakan indeks nilai penting untuk komposisi vegetasi. Bahkan di Kota Waringin terjadi penetapan pungutan atas pengangkutan kayu illegal. -.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. hasil hutan bukan kayu. Meski secara hukum keberadaannya diakui. desentralisasi menjadi ajang rebutan hak dan wewenang terhadap hasil hutan kayu dari hutan alam. -. 4 . munculnya aktor-aktor baru yang saling membekingi satu sama lain dan meningkatnya nafsu Pemda untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). perlu dilakukan reorientasi terhadap penerapan sistem desentralisasi sektor kehutanan baik pusat maupun daerah. Malinau. Kata kunci : Hutan ulayat. dengan istilah lain disebut pelegalan kayu-kayu illegal. mekanisme pengelolaan. dan merupakan hasil kriteria sejarah dan ekonomi. 168 . Hasil menunjukkan bahwa diameter kecil (sampling/pancang) memiliki jumlah yang lebih besar (74 persen) dibanding diameter yang lebih besar (pole/tiang) (23 persen) dan trees/pohon (3 persen). karena yang ditekankan selama ini adalah manfaat lindung dan koservasi. Kabupaten Wonosobo Rumboko W. Desa Sedayu lebih kurang 10885 tanaman/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 4251 tanaman/ha. belum terlihat dalam bentuk rebutan tanggung jawab menjaga kelestarian hutan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah. Melihat kecenderungan diatas. fungsi ulayat.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. KABUPATEN AGAM) / Yanto Rochmayanto . Syasri Jannetta. Di sektor kehutanan. sanksi dan kelembagaan.

Erdy PROSPEK APLIKASI TEKNOLOGI MIKROBA SIMBIOTIK DALAM MEMPERCEPAT REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TERDEGRADASI / Erdy Santoso. 2006 Perpaduan industri rumah tangga dan kearifan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya hutan memiliki prospek yang baik jika mendapat sentuhan manajemen dan investasi. Kata kunci : Industri rumah tangga. diantaranya jenis-jenis akasia. -. Dari hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan aplikasi teknologi mikroba dapat membantu peningkatan produksi bibit tanaman hutan dalam skala massal dan komersial. diperbanyak. jelutung. 6 Desember 2006 . Adi TEKNOLOGI PEMANFAATAN KAYU ACACIA MANGIUM / Adi Santoso. kerja sama internasional.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Beberapa jenis komoditi tanaman hutan yang penting telah memberikan pertumbuhan yang lebih baik setelah diinokulasi oleh beberapa jenis mikroba. Teknologi Santoso. 2006 Makalah ini mendiskusikan hasil-hasil penelitian tentang prospek aplikasi teknologi mikroba simbiotik dalam mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi. Halaman 297-308 . gaharu. meranti. Ragil SB Irianto. sistem pemasaran dan perluasan pasar.Rochmayanto. Otonomi daerah dapat diarahkan untuk memberikan jaminan birokrasi yang lebih pendek. salah satunya adalah mangium (Acacia mangium Willd) yang sampai saat ini telah mengalami spektrum lebih luas.. bintangur dan pinus. Dalam tulisan ini diuraikan hasil penelitian dasar dan aplikatif mulai dari eksplorasi mikroba. Mikroba Simbiotik Santoso.al) . screening dan ujicoba dalam skala laboratorium. Kata kunci: Acacia mangium. -. 2006 Keterpurukan industri pengolahan kayu di indonesia dewasa ini sudah mencapai titik kulminasi yang memerlukan penanganan menyeruluh dari berbagai aspek. Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan melalui pemanfaatan kayu dari hutan tanaman. kayu pertukangan maupun energi )bahan bakar & arang). ekaliptus. dan dipelihara pada media tumbuh mikroba. Yanto PENGEMBANGAN POLA KEARIFAN LOKAL MENJADI INDUSTRI RUMAH TANGGA HASIL HUTAN BUKAN KAYU / Yanto Rochmayanto. 6 Desember 2006 . Salah satunya adaah menyeimbangkan dengan segera pasokan bahan baku kayu guna memenuhi kapasitas industri pengolahan kayu. -. Sasaran utamanya adalah melalui kerja sama internasional industri rumah tangga hasil hutan bukan kayu dapat menjadi sektor ekonomi di bidang kehutanan yang kuat. mampu memberikan produk yang cukup diperhitungkan di pasaran. hasil hutan bukan kayu. Industri rumah tangga lebih banyak bergerak dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). persemaian dan lapangan. Industri rumah tangga ini telah terbukti dengan limbah dan kerusakan sumber daya minimal. Halaman 73-85 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Hal ini telah seiring dengan pergeseran paradigma Timber Management ke Social Forestry yang tidak menekankan kayu sebagai satu-satunya produk yang bernilai ekonomis dari hutan. pulai.. jati. 4 . Tulisan ini mengemukakan rangkuman hasil-hasil penelitian mengenai teknologi pemanfaatan kayu mangium sebagai bahan industri olahan dan ekstrak kulitnya sebagai bahan perekat kayu. Teknologi produksi massal telah dikembangkan untuk setiap jenis mikroba dan aplikasinya dapat digunakan untuk skala massal. Maman Turjaman. baik untuk kayu serat. kearifan tradisional. Pemanfaatan Kayu. Halaman 87-102 .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Sejumlah jenis mikroba telah diidentifikasi.(et. berskala internasional dan berbasis masyarakat. Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. selain itu kulit kayu mangium mengandung tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan perekat kayu. Kerja sama internasional dapat menumbuh kembangkan industri rumah tangga HHBK menjadi arena usaha yang memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pendekatan permodalan. berwawasan lingkungan. Kemungkinan kerja sama dengan luar negeri bisa langsung menyentuh ke masyarakat di daerah dengan bantuan teknis pemerintah pusat. 169 . khususnya yang menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi.

Oleh karena itu upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis (RHL) merupakan salah satu prioritas pembangunan sektor kehutanan. Tanggerang dan Bekasi). Tulisan ini akan membahas dan menguak secara detail tentang konsep megapolitan yang meliputi: (i) gambaran umum tentang megapolitan. tingginya laju erosi dan besarnya peluang terjadinya banjir dan kekeringan yang berdampak kepada menurunnya kualitas kehidupan. -. Kata kunci: Kebijakan. dan Banten. Luasnya kerusakan sumberdaya hutan telah menyebabkan mundurnya kualitas lingkungan hidup yang diindikasikan dengan rendahnya produktivitas lahan. lingkungan. penggembalaan liar. 13 September 2005 . Disamping itu. Sudrajat dan Nurhasybi. Selain itu.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. pemerintah DKI berusaha dan berupaya agar konsep seperti itu dapat menggapai lebih luas bagi wilayah perencanaannya dengan mengikutsertakan 2 provinsi tetangganya yang dikenal dengan konsep megapolitan. Nusa Tenggara Timur Sudrajat. Sebenarnya konsep Megapolitan bukanlah konsep baru dalam upaya menggabungkan perencanaan di wilayah yang termasuk dalam 3 provinsi. Otonomi daerah Subarudi KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN: STUDI KASUS DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)/ Subarudi dan Iis Alviya. tanggal 20 pebruari 2004. Konsep ini sebenarnya sudah lama diterapkan oleh Pemerintah DKI dalam perencanaan internalnya yang sudah umum dikenal sebagai kawasan Jabotabek (Jakarta. Halaman 177-188 . (iii) kelemahan dan kelebihan konsep megapolitan. 6 Desember 2006 . masih terjadi kesimpangsiuran dalam menjabarkan kebijakan dimaksud sehingga dalam masa transisi ini masih diperlukan adanya upaya-upaya untuk menyelaraskan persepsi dan visi dalam merumuskan kebijakan strategis di bidang pembangunan kehutanan baik nasional dan regional maupun tingkat lokal (NTT.Subarudi MEGAPOLITAN. Kegagalan penyediaan bibit siap tanam di lapangan seringkali disebabkan oleh minimnya penguasaan teknologi perbenihan dan pembibitan. Halaman 7-22 . (2) mengevaluasi pelaksanaan RHL. 2004). Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya laju kerusakan hutan yang mencapai 2. 2006 : Halaman 219-225 . 2004). perambahan kawasan hutan dan illegal logging (NTT. TEKNOLOGI PERBENIHAN DAN PERBIBITAN ACACIA MANGIUM/ Dede R. 2006 Konsep Megapolitan yang diusung oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) mendapat tanggapan yang luas dari beberapa pakar hukum. kebijakan nasional khususnya kebijakan yang menyangkut otonomi daerah dirasakan masih belum sepenuhnya dapat mendukung kemantapan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. Kemungkinan setelah sukses dengan konsep "internal" Jabotabeknya. dan (iv) strategi penerapan megapolitan di masa depan. KONSEP KONPENSASI HULU HILIR/ Subarudi. yaitu DKI.5 juta ha/tahun. tingkat efisiensi di persemaianpun dapat ditingkatkan 170 . Dede J. Rehabilitasi hutan. Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengetahui tentang kebijakan RHL di NTT. Rehabiitasi lahan. pemerintah NTT telah mengesahkan "Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2004-2008" melalui SK Gubernur NTT No: Tahun 2004. Jenis ini merupakan salah satu prioritas dalam pengembangan hutan tanaman. 2005 Pembangunan kehutanan di Indonesia pada saat ini dan masa yang akan datang menghadapi tantangan dan hambatan yang semakin kompleks. (ii) resistensi di era otonomi daerah. dan birokrat di wilayah lingkungan yang terkait dengan konsep tersebut. Konsep megapolitan ini banyak menimbulkan pro dan kontra dari para pihak sehingga kajian yang menyeluruh dan netral tentang hal ini sangat diperlukan sehingga konsep ini dapat diterapkan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. dengan menerapkan teknologi perbenihan dan pembibitan. jawa Barat. Laju kerusakan hutan khususnya di wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) disebabkan oleh kebakaran hutan. Kata kunci: Megapolitan. dan (4) merumuskan penyempurnaan kebijakan RHL di NTT. Bogor. bisnis. (3) menganalisis pembiayaan RHL. Berkaitan dengan hal tersebut diatas. 2006 Acacia mangium merupakan jenis pioner yang mampu tumbuh pada lahan yang marjinal.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas tegakan dan target penanaman yang harus dicapai. -.

Pertumbuhan Industri yang mengolah bahan baku kayu di tingkat lokal maupun regional (Jawa Barat dan Jawa Tengah) saat ini telah meningkatkan kebutuhan bahan baku kayu rakyat secara signifikan.(meningkatnya keberhasilan penyediaan bibit akan menyebabkan biaya per satuan bibit siap tanam menurun) yang akhirnya akan berpengaruh terhadap mutu tegakan yang dihasilkan. Ekonomi. yang mana penulis pernah terlibat didalamnya.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kata kunci: Acacia mangium.000 M kubik/tahun. Sementara itu pasokan kayu rakyat dari kabupaten Ciamis hanya mampu mencapai 326. kayu bakar) dipenuhi dari kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat (Djaja Percunda. dan kegiatan agribisnis perhutanan. LSM dan masyarakat akan pentingnya kelestarian hutan.2006 . -. Fakta menunjukan bahwa 70-90 persen kebutuhan kayu di Pulau Jawa (kayu pertukangan.571 M kubik/tahun (Subarudi.375. 2003). Perbenihan.5 juta M kubik/tahun (Suryohadi Kusumo dalam Suyarno dan Dian Diniyati. sedangkan produksi kayu Perhutani hanya mencapai 1. pemerintah hingga perusahaan baik usaha besar maupun usaha koperasi dan UKM. Pembibitan.000 M kubik/tahun seperti diutarakan di atas. Disarankan bahwa seluruh komponen masyarakat apapun statusnya perlu memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama bahwa hutan lestari dapat menyelamatkan kehidupan kita.1. -. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan jenis ini. Kata kunci: Kayu Rakyat. kab. Ditingkat lokal untuk memenuhi seluruh industri penggergajian kayu sekitar 400 unit diperlukan pasokan bahan baku antara 688. dan meningkatnya pembangunan ekonomi. Supply-Demand. Informasi pengembangan teknologi perbenihan dan pembibitan yang dihasilkan dari beberapa penelitian seyogyanya dapat menjadi acuan bagi praktisi di lapangan guna meningkatkan keberhasilan penanaman jenis ini. Kata kunci: Hutan Rakyat. Proyek MA-LU dapat menggerakkan pusat kekuasaan di desa sekitar hutan dalam menyelamatkan hutan. Kelompok Tani. 2006 Hutan pegang peranan penting.285 . Kegiatan agribisnis perhutanan dapat menggerakkan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. terutama bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. 2005). 2003). Sementara itu produksi kayu rakyat mencapai sekitar 326.000 M kubik/tahun yang tercatat melalui pelayanan SKAUK dan SKSHH (Dishut Ciamis. Disimpulkan bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara usaha ekonomi dan usaha ekologi dalam pengelolaan hutan. Berbagai komponen masyarakat dalam pengelolaan hasil hutan. dan Sudarmanto. Subarudi. Di kabupaten Ciamis produksi kayu dari Perum Perhutani hanya mencapai rata-rata sekitar 35. Manajemen Sukrianto. perlu dukungan teknologi perbenihan dan pembibitan yang tepat. dan diperkirakan hanya kurang dari 5 persen yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat. kebutuhan terhadap bahan baku kayu juga akan terus meningkat. seperti Proyek MA-LU.2006 . Kondisi tersebut di atas menunjukan bahwa betapa besarnya kesenjangan antara pasokan (suply) dan kebutuhan (demand) kayu yang berasal dari hutan negara. kegiatan penghijauan. Tiwa PENGELOLAAN SUPPLY-DEMAND KAYU RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS / Tiwa Sukrianto. kebutuhan kayu mencapai 9 juta M kubik/tahun. Ciamis 171 . 2006). Kegiatan penghijauan dapat menggerakkan aparatur pemerintah. Dalam beberapa tahun kedepan kesenjangan ini akan semakin besar karena pemerintah telah menerapkan pembatasan penerbangan dari hutan alam dan juga dari hutan tanaman. Di pulau jawa yang mempunyai penduduk paling besar. Pengelolaan hutan memerlukan adanya peran serta aktif dari berbagai komponen masyarakat mulai dari satuan rumah tangga. Teknologi perbenihan Sufyadi. Kebutuhan kayu secara Nasional diperkirakan mencapai 60 juta M kubik/tahun.Studi ini merupakan tinjauan empirik terhadap beberapa kegiatan tersebut di atas. 2002). Dedi TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EKONOMI DAN MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT / Dedi Sufyadi. Berbagai kegiatan telah diikhtiarkan oleh pemerintah melalui beberapa kegiatan. Kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang terus meningkat seperti diutarakan di atas. 2006 Sejalan dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk. Halaman 129-133 . Halaman 65-71 . sementara itu pasokan kayu dari hutan alam dan hutan tanaman hanya mampu mencapai sekitar 25 juta M kubik/tahun (RLPS.

maupun daun. serta antara daun dan serasah tanaman A. Musi Hutan Persada 172 . Supangat. juga berperan sebagai pengatur kondisi hidrologis DAS.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai CicatihCimandiri. R.52 Giga Joule/Ha.mangium cenderung semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. dan terbesar 8. Total potensi energi tanaman A. dengan nilai terkecil 0. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama periode 1998-2004.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor.Supangat. dengan studi kasus di PT. Segala tindakan pengelolaan hutan maupun gangguan yang terjadi akan menpengaruhi kondisi tata air DAS. mangium).ditunjukan nilai rata-rata koefisien limpasan yang lebih kecil dengan fluktuasi yang stabil. mangium semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. mangium sangat nyata terhadap parameter nilai kalor dan potensi energi. dimanfaatkan untuk menilai kondisi hidrologi yang dihasilkan. BKPH Pasarsore. Biomasa Hutan. Pengaruh umur tanaman A. melalui pengamatan papameter tata air pada DAS. SUMATERA SELATAN / Agung B. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomasa. CDM) serta international Emmision Trading (Carbon Trading). -. Tata Air. 2006 Keberadaan Hutan dalam DAS diketahui selain befungsi produksi (kayu). Oleh karenanya disarankan dalam perencanaan pengelolaan suatu wilayah DAS untuk menambah dan mempertahankan kawasan hutan terutama pada kawasan yang diperuntukan sebagai kawasan konservasi dan rawan bencana. Hasil penelitian di atas dapat menjadi masukan bagi pengelola kawasan.mangium tidak memperlihatkan kecenderungan meningkat. Sudrajat. baik pada batang. dan Sub DAS Soko (di luar kawasan) di kecamatan Bogorejo. Supangat dan Paimin. Kata kunci: DAS.97 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 1 tahun. Potensi energi biomasa hutan A. PERAN HUTAN TANAMAN JATI SEBAGAI PENGATUR TATA AIR: STUDI KASUS DI SUB DAS KAWASAN HUTAN JATI DI KPH CEPU / Agung B. baik kawasan hutan maupun non hutan tentang pentingnya mempertahankan kawasan hutan dalam suatu wilayah DAS. mangium dipengaruhi total nilai kalor dan potensi biomasa per hektar. Total potensi energi tiap-tiap umur tanaman A. Model DAS berpasangan antara DAS di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. Kata kunci: Acacia mangium. Agung B.mangium. Nilai Kalor. dan Ragil Bambang WMP. dapat disimpulkan bahwa secara umum berdasarkan nilai parameter hidrologi tahunan sub DAS kawasan hutan jati lebih baik dalam mengendalikan hujan untuk menjadi aliran permukaan. Penelitian dilaksanakan di Sub DAS Modang di areal hutan Jati di wilayah RPH Ngawenan. MUSI HUTAN PERSADA. 2006 Salah satu fungsi hutan adalah penyimpan kalor dalam bentuk karbon (Kayu) yang berpotensi untuk mengurangi terjadinya emisi karbon yang dapat menyebabkan kenaikan gas rumah kaca (GRK). Agung B. pada sub DAS kawasan hutan lebih baik dalam mengendalikan kedua parameter tersebut. Cadangan air tanah yang dikeluarkan pada musim kering sebagai aliran dasar lebih banyak (stabil) terjadi pada erosi dan laju sedimentasi. HTI. Musi Hutan Persada Sumatera Selatan. maka peningkatan panas bumi akibat kenaikan GRK yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dapat ditekan. Hutan Tanaman Jati. 2006 : Halaman 161-174 . -.mangium mempunyai nilai rata-rata sebesar 4. Halaman 125135 . INFORMASI NILAI KALOR BIOMASA HUTAN PADA LAHAN TEGAKAN AKASIA MANGIUM (A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hutan jati dalam menjaga tata air. Melalui upaya mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism. Untuk mendukung hal tersebut. kabupaten Blora. baik terhadap tanaman A. 6 Desember 2006 .67 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 7 tahun. Total nilai kalor tumbuhan bawah pada tegakan A. Hasil penelitian penunjukan bahwa nilai kalor tanaman A. diperlukan informasi karakteristik nilai kalor dan potensi energi yang tersimpan pada biomasa tegakan hutan. ranting. mangium. MANGIUM): STUDI KASUS DI HTI PT. KPH Cepu Supangat. tumbuhan bawah. nilai kalor dan total energi dari masing-masing biomasa hutan pada lahan tegakan Akasia (A. KPH Cepu.

2003).tahapan kegiatannya terdiri dari (1) identifikasi dan karakterisasi lokasi baik secara sosial ekonomi. Pertama. Halaman 43-50 . pengembangan perdagangannya (pemasarannya). serta keenam kurang berkembangnya pengembangan usaha-usaha produktif dari hasil non kayu maupun produk dari hasil olahan kayu. Kata kunci: Kelembagaan. masih lemahnya organisasi petani dalam satuan unit manajemen. Dalam praktiknya. Untuk itu perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI) bekerja sama dengan yayasan WWF Indonesia dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) melakukan kerjasama dalam pelaksanaan program "Menuju Sertifikasi Hutan Rakyat dan Pengembangan Akses Pasar Global". baik dalam pasar domestik maupun global. Sementara itu. Dengan demikian sekurangnya dapat dilakukan dua hal. formulasi aturan main manajemen/implementasi dan monitoring-evaluasi. pertama penguatan institusi petani dan peningkatan kapasitas petani dalam hal pengelolaan produksinya dalam 2 unit manajemen. Ekolabel.3 juta ha di seluruh Indonesia. Akibatnya pertambahan dan kecepatan nilai ekonomi dari hasil kayu tidak bisa memberi sumbangan secara cepat kepada petani. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. Besarnya angka-angka di atas menunjukan betapa pentingnya nilai strategis hutan rakyat sebagai penopang ekonomi dan sekaligus penyangga secara ekologis. tiadanya jaringan informasi harga kayu dan jaringan pemasaran yang memihak mereka. 2006 Tingginya laju penebangan hutan di Indonesia semenjak tahun 1998. sehingga mempersempit sisa hutan dunia yang tinggal 40 persen. berbicara pengembangan hutan rakyat masih dijumpai beberapa permasalahan. potensi produksi kayu dari hutan rakyat mencapai 43. Dalam rentang 5 tahun terakhir. lemahnya posisi tawar petani dalam proses tawar menawar. Teguh PENGALAMAN DALAM PENGAWALAN MENUJU SERTIFIKASI ECOLABEL HUTAN RAKYAT: CERITA DARI WONOGIRI / Teguh Suprapto. ketiga lemahnya posisi tawar dalam penentuan harga kayu. Di kabupaten Wonogiri. Keseluruhan tahapan kegiatan tersebut dilakukan secara partisipatif oleh seluruh pihak terkait. Laju tersebut diperkirakan mencapai 28 ha/menit. Tulisan ini merupakan hasil sintesa mengenai proses manajemen multipihak yang cocok diterapkan dalam pengembangan sosial forestry di SPUC Borisallo. 2005 Kebijakan sosial forestry merupakan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam sistem pengelolaan hutan. penjarangan dan pemupukan yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas hasil kayu. hutan rakyat yang biasa oleh masyarakat disebut dengan wono atau alas makin tahun menunjukan jumlah luasan secara berarti. SPUC Borisallo. dapat dilakukan pendekatan dalam pengembangan hutan rakyat yang mengarah pada perbaikan nilai secara ekonomi maupun ekologi. 13 September 2005 . Kata kunci: Hutan Rakyat. Kelima. Wonogiri Supriadi PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI STASION PENELITIAN DAN UJI COBA BORISALLO. Dengan luasan areal hutan sebesar 1. Semakin luasnya hutan rakyat tersebut merupakan peralihan fungsi dari lahan tegal atau pekarangan. SupriadiProsiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. -Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. telah menjadi persoalan serius. penambahan luasan hutan rakyat rerata 250 ha setiap tahunnya. diperlukan instrumen manajemen untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasinya tersebut.Suprapto.000 m kubik jati diproduksi oleh hutan rakyat di Jawa (Dephut. dan (4) monitoring-evaluasi dampak manajemen.000. 23.000. Keterbatasan dari aspek silvikultur pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya perawatan seperti perempelan.000 m kubik.2006 . terbatasnya pengetahuan petani dalam hal pasar dan pemasaran produk kayu jati. (2) identifikasi masalah dan kebutuhan lokal spesifik. Sosial Forestry. diakui bahwa terdapat sejumlah permasalahan mendasar dalam hal pengelolaan hutan rakyat secara umum. sosial kelembagaan maupun biofisik. Sekalipun begitu. Permasalahan tersebut diantaranya rendahnya harga kayu yang diterima oleh petani hutan. (3) fasilitas proses manajemen. masih kurangnya pemahaman pada aspek-aspek silvikultur. Halaman 217-225 . rendahnya harga kayu yang diterima. SULAWESI SELATAN / R.kedua. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa proses manajemen multipihak akan terdiri dari proses kajian dan analisa. dari jumlah tersebut. Sulawesi Selatan menggunakan metodologi penelitian aksi partisipatif atau partisipatory Action Research (PAR) untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasi masyarakat dalam proses manajemen. Meskipun demikian. Sulawesi Selatan 173 . dan kedua. keempat.

Kelayakan usaha Syahadat. seperti keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora. Namun demikian memilih komoditas atau aktivitas yang tepat bukan perkara yang terlalu mudah. sehingga susah dijual. harga yang diterima petani tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan. Pelaksanaan. lebih besar dibandingkan dengan profit income untuk petani peserta program. volume hasil produksi usahatani terlalu kecil untuk dijual.Manfaat ekologis dan sosial suatu program mungkin lebih besar dibandingkan dengan manfaat ekonomis.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Taman Nasional Gede Pangrango memiliki berbagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). PHBM. 6 Desember 2005 . Pada akhirnya.1 . -. Akar permasalahan biasanya erat kaitannya dengan aspek-aspek usahatani yaitu ukuran (size) usahatani yang dikelola tidak mencapai skala ekonomi (economic scale). fauna. Kata kunci: Hutan Rakyat. Halaman 22-33 . KPH Tasikmalaya Suprianto PANDUAN ANALISIS KELAYAKAN USAHA KOMODITAS YANG DIKEMBANGKAN PADA HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN / Suprianto.Suyarno KONTRIBUSI SWASTA DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM PHBM DI KPH TASIKMALAYA / Suyarno. Halaman 17-40 . Hutan Kemasyarakatan. maupun ekosistemnya termasuk keindahan panorama alamnya. kalaupun mendapatkan pasar. Kata kunci: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. sangat mungkin social benefit income atau keuntungan normatif dari suatu program. Berkaitan dengan hal itulah penulis mencoba menyajikan suatu panduan sederhana untuk memilih komoditas atau aktivitas yang diharapkan hasilnya mendekati target yang diharapkan. yang pada dasarnya sudah dimulai sejak dulu. Terlibatnya berbagai stakeholder dalam pengelolaan hutan salah satunya diwujudkan dalam pengelolaan hutan yang berbasis PHBM di KPH Tasikmalaya. Berkaca pada fenomena tersebut pemilihan komoditas atau aktivitas program yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan. produk yang dipasarkan masih dalam bentuk primer. memerlukan pemikiran dan perhitungan yang akurat. dan pembagian hasil usaha serta pembangunan kelembagaan kelompok. -. Epi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN WISATAWAN DI TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (The Factors with are Kehutanan : Volume 3 No. dimana program ini membuka ruang yang luas bagi berbagai pihak untuk berperan serta dalam pengelolaan hutan. 2005 Permasalahan klasik yang sering kita temui dalam pengembangan usaha di bidang pertanian khususnya pada tatanan sub sistem usahatani (on farm) yang melibatkan masyarakat banyak. program kurang berbasis pada sumberdaya lokal. 2006 Influences to a Tourism Visitor in Gede Pangrango National Park (GPNP)) / Epi Syahadat. Jumlah kunjungan ke Taman Nasional Gede Pangrango dapat dipengaruhi oleh faktor 174 . keterampilan petani belum mencapai standar yang dibutuhkan untuk mengelola aktivitas program yang dikembangkan. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sejak tahun 2000 telah dicanangkan melalui program pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). sumberdaya manusia yang tersedia belum memenuhi standar yang dibutuhhkan program. -. diantaranya adalah: Produk hasil usaha petani sulit menjangkau akses pasar. sehingga nilai tambah buat petani masih sangat kecil.prasarana dan sarana penunjang masih sangat minim dan lain sebagainya. Perum Pehutani dan pihak swasta mulai dari perencanaan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.Adapun distribusi yang diberikan oleh semua pihak yang terlibat dalam pembangunan PHBM merupakan hasil kesepakatan bersama yang didasarkan atas konsep sharing baik dalam penyertaan modal maupun pembagian hasil usaha. Permasalahan-permasalahan tersebut juga sangat mungkin kita temui dalam rangka pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. namun juga terlalu besar volumenya apabila hanya untuk dikonsumsi oleh keluarga petani. sehingga insentif untuk menggairahkan petani pekerja bersungguh-sungguh dan mencurahkan seluruh kapasitasnya tidak tercapai. Halaman 185-193 . 6 Desember 2005 .Pada gilirannya pencapaian target program kurang maksimal. Program PHBM ini melibatkan masyarakat sekitar hutan. 2005 Seiring dengan masih meningkatnya laju kerusakan dan perambahan hutan maka program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan terus dikembangkan.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Halaman 75-90 . dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan rakyat dapat tercipta dengan baik. maka dilakukan penelitian ini. Akan tetapi secara parsial.pelayanan. yaitu : pariwisata nasional. dan faktor keamanan. Syahadat. Kajian penatausahaan hasil hutan pada hutan rakyat dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan yang menyebabkan tidak efektif mengendalikan peredaran kayu.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Sehubungan dengan hal tersebut maka pelaksanaan pengembangan pengelolaan kepariwisataan di Taman Nasional Gede Pangrango harus mampu menjadi sarana untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. wawancara. faktor sarana prasarana. perencanaan kawasan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara orientasi lapangan. obyek dan daya tarik wisata alam. faktor obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). pemerintah. -. pengelolaan lingkungan. sampai kepada pengangkutan hasil hutan perlu disederhanakan tanpa mengurangi fungsi penatausahaan hasil hutan yang efektif dalam melestarikan hutan dan mejamin hak-hak negara atas hasil hutan. Halaman 117-132 . dari keempat faktor tersebut faktor keamanan yang mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) dan dominan terhadap jumlah pengunjung di Taman Nasional Gede Pangrango. pengangkutan. khususnya kebijakan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat. (GPNP) Management Strategy For Tourism Development In Forest Area) / Epi Syahadat. Keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan nasional di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dapat dicapai atau di raih berkat keterpaduan dan kesinergian antara kekuatan masyarakat. pengolahan data dilakukan menggunakan program “SPSS for windows versi 12”. dan pengusaha pariwisata. Karena itu untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut secara bersama-sama (simultan) terhadap jumlah pengunjung. pelayanan. maupun duplikasi data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pelayanan. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan yang ada. faktor sarana prasarana. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2005 dengan penentuan sampel secara accidental sampling yang dilakukan secara acak sederhana. Epi KAJIAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN RAKYAT SEBAGAI DASAR ACUAN PEMANFAATAN HUTAN RAKYAT Hasil kajian menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu disempurnakan dalam aturan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat agar ketertiban. selain daripada itu pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional.2 . keamanan. penataan ruang serta peraturan perundangan. (Study on Forest Product Administration Orientation in Community Forest as a Basic Reference in Community Forest Usage) / Epi Pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) merupakan bagian integral dari pembangunan kepariwisataan nasional. sosial ekonomi dan budaya.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No.1 . media masa. 2006 Syahadat. peredaran. pemanfaatan. Epi ANALISA STRATEGI PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (TNGP) UNTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA ALAM DI KAWASAN HUTAN (An Analysis of Gede Pangrango National Park Syahadat. Penyempurnaan mulai dari pembuatan Surat Izin Penebangan (SIP) serta perlu adanya berita acara pemeriksaan penebangan sebelum pengesahan LHP. Kata kunci : Taman Nasional Gede Pangrango. 2006 Penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat belum tertata dengan baik dan pelaksanaannya oleh petugas atau oleh instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. faktor obyek dan daya tarik wisata alam. dan faktor keamanan secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh terhadap jumlah pengunjung akan tetapi tidak secara nyata (tidak signifikan) di Taman Nasional Gede Pangrango. dengan jumlah responden sebanyak 142 orang. Adapun strategi pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam meliputi pengembangan : 175 . Analisa SWOT dilaksanakan untuk menyusun strategi peluang usaha di Taman Nasional Gede Pangrango. penatausahaan hasil hutan. Kata kunci : Hutan rakyat. kelancaran. sarana prasarana. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata alam. -.

Kualitas SDM yang bekerja di TN yang disurvey didominasi oleh lulusan SLTA dan SLTP dan hanya sedikit pegawai yang berpendidikan sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2) sehingga hal ini akan menjadi hambatan besar dalam rencana perubahan (agent of changes) pengelolaan TN yang lebih profesional. sesuai dengan Peraturam Menteri Kehutanan Nomor P. pengembangan pariwisata. dan Nomor P. Penyeragaman struktur organisasi TN hendaknya dihindari karena karakteristik pengelolaan dan permasalahan yang dihadapi berbeda-beda untuk setiap TN.26/2005. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. rata-rata pembiayaan tahunan untuk operasional TN yang disurvey berkisar antara Rp. peredaran.4 . Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001. sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No 126/2003. 13 September 2005 . Dokumen angkutan kayu rakyat yang berlaku pada saat ini adalah SKSHH yang di cap Kayu Rakyat (KR).aspek perencanaan pembangunan. Kajian penyempurnaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat (kasus di Provinsi Jawa Barat) dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat yang menyebabkan tidak efektif dalam mengendalikan peredaran hasil hutan. kayu karet dan kayu kelapa. Subarudi KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL: STUDI KASUS PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL DI PULAU JAWA / Subarudi. kawasan hutan . kondisi SDM. 2005 Saat ini luas kawasan konservasi di Indonesia mencapai 26. Apul Sianturi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. yaitu kayu sengon. Nomor P.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. -. akan tetapi SKAU ini hanya terbatas kepada 3 (tiga) jenis kayu. organisasi. sedangkan jenis kayu lainnya akan diatur kemudian oleh Menteri Kehutanan atas dasar usulan dari masing-masing Dinas Provinsi. wisata alam. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. aspek sarana dan prasarana. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. perijinan. Dimasa yang akan datang dalam pengangkutan kayu rakyat akan diberlakukan dokumen angkutan lain selain SKSHH yang di cap KR. dan menguntungkan. aspek pemasaran. Pengelolaan taman nasional (TN) saat ini dirasakan masih jauh dari kesan profesionalisme dan menguntungkan (profitable) karena selama ini pengelolaan TN diidentikan dengan pusat pengeluaran biaya (cost centre).18/2005. bertanggung jawab. mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan serta mengkaji kemampuan petugas dalam memantau produksi dan peredaran hasil hutan. aspek pengusahaan. hasil kajian menunjukan bahwa kebijakan pengelolaan TN yang menggunakan pendekatan keamanan (security approach) harus sudah ditinggalkan dan menggantinya dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dan berbasis masyarakat. Kata kunci: Penatausahaan.51/2006.25 juta hektar yang meliputi 486 unit kawasan (447 unit atau 82 persen konservasi daratan dan 39 unit konservasi laut) dengan lokasi yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.51/Menhut-II/2006. aspek peran serta masyarakat dan penelitian dan pengembangan. yaitu Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) sebagai dokumen resmi angkutan kayu rakyat yang diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat yang setara. Kata kunci : taman nasional gede pangrango. kayu rakyat. pengangkutan. Oleh karena itu kajian kelembagaan pengelolan TN sangat diperlukan untuk mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan yang muncul dibidang peraturan dan kebijakan. Halaman 317-331 . sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003. 1-4 milyar dan sumber dananya berasal dari angaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebanyak 20 persen dan sisanya (80 persen) berasal dari dana Reboisasi (DR) dan dana provisi sumber daya hutan (PSDH). aspek kelembagaan. aspek pengelolaan. -. Epi KAJIAN PENYEMPUNAAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN HAK RAKYAT (KASUS DI PROVINSI JAWA BARAT) / Epi Syahadat . kesejahteraan masyarakat. penebangan. Halaman 97113 . Oleh karena itu pengelolaan dan pengembangan taman 176 . dan struktur pembiayaan dalam pengelolaannya. kelestarian alam. Syahadat.

yakni diindikasikan dengan luas lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 455. Yakni kegiatan tanam menanam pohon kayu-kayuan dengan atau tanpa jenis tanaman Multiple Plan Trees Species (MPTS) yang ditunjang dengan atau tanpa tanaman semusim yang tergantung terhadap kondisi fisik wilayah dan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. serta dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. selain merehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak. Pengelolaan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. 12 ha. Dan hal lain juga berdampak terhadap penyediaan bahan baku kayu industri pertukangan. Konsep makro PS harus seiring dan seirama dengan program kehutanan nasional dan sesuai dengan sistem pengelolan hutan lestari. pulp/kertas. semakin terbatasnya areal pertanian serta belum tergalinya potensi ekonomi masyarakat sekitar hutan secara optimal. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui pengembangan perekonomian desa merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka penggalian potensi sumberdaya perekonomian masyarakat sekitar hutan dengan untuk memberi peluang berusaha kepada masyarakat. dan Pengelolaan Hutan Lestari Suherman KEBIJAKAN PROPINSI JAWA BARAT DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT / Suherman dan Yeyep Sudrajat. Karena kondisi kawasan hutan dan lahan di Jawa Barat saat ini dalam keadaan kritis dan memprihatinkan.303. Halaman 14-21 . Namun demikian pengertian SF tersebut masih belum dipahami oleh berbagai pihak terkait sehingga keberhasilan dari program tersebut sangat diragukan. Oleh karena tulisan itu mencoba mengkaji konsep makro SF yang terdiri dari: (i) pencarian istilah SF dalam bahasa Indonesia.nasional ke depan hendaknya para pengelola TN diberikan kewenangan yang besar (desentralisasi pengelolaan TN) untuk berimprovisasi dalam pengelolaannya sehingga pengelolaan taman nasionalnya dapat lebih professional dan menguntungkan. Kata Kunci : Rencana Makro.56 ha yang telah berdampak terhadap keadaan lingkungan. khususnya diwilayah yang berfungsi lindung. Halaman 31-38 . Peranan dan fungsi PS diyakini saat ini sebagai indikator penentu keberhasilan pengurusan hutan dan jaminan bagi keberadaan Dephut di masa depan.Dalam rangka pelestarian hutan dan lahan tersebut. dan lain-lain. (ii) konsep makro SF dan faktor-faktor penentunya. mebelair. Keadaan ini disebabkan masih rendahnya perekonomian masyarakat sekitar hutan. yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Social Forestry. tingkat sosial dan ekonomi masyarakat maupun terhadap sektor pembangunan di Jawa Barat.Pelestarian hutan dan lahan adalah merupakan langkah strategis dan agenda utama pembangunan bidang kehutanan Jawa Barat.749. 2006 Departemen Kehutanan (Dephut) saat ini sedang menyusun konsep makro social forestry (SF) sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan prioritas ketiga. Kata kunci: Taman Nasional. Strategi penyusunan konsep makro hendaknya tidak diberikan kepada pihak ketiga tetapi dikerjakan secara bersama dengan menggunakan pendekatan manajemen fungsi bagi setiap unit eselon I lingkup Dephut. juga mendukung penyediaan bahan baku kayu Jawa barat.2006 . 2006 Tekanan terhadap hutan semakin meningkat baik terhadap lahan kawasan hutan maupun hasil hutan dengan semakin merebaknya tingkat gangguan keamanan hutan berupa pencurian hasil hutan dan perambahan hutan. yakni dengan metoda vegetatif maupun secara sivil teknis. Pulau Jawa Subarudi KONSEP RENCANA MAKRO SOCIAL FORESTRY: KUNCI SUKSES MENUJU SISTEM PENGELOLAAN HUTAN LESTARI (SPHL)/ Subarudi. maka perlu ditunjang pula dengan merehabilitasi lahan-lahan diluar kawasan hutan. maka langkah yang efektif dan efisien adalah melalui metoda vegetatif dengan pembangunan hutan rakyat. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Dengan pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat menunjang perbaikan kondisi lingkungan Jawa Barat yang saat ini mengkhawatirkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Perhutanan Sosial (PS) menjadi istilah yang tepat pengganti kata SF. Guna menunjang program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis. dan di luar kawasan hutan seluas 514. 177 . -. dan (iii) strategi penyusunan konsep makro SF. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan sehingga ketergantungan terhadap hutan dan hasil hutan semakin berkurang.1 .

Berdasarkan data BPSDAWS saat ini tercatat ada 34 pengguna ( baik sebagai pengguna langsung maupun sebagai pengelola ) yang terdiri dari berbagai industri besar dan kecil. Balai Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungai ( BPSDAWS ) dan Perum Jasa Tirta I. Propinsi Jawa Barat Sylviani PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS (STUDI KASUS KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR)/ Sylviani. Tulung Agung dan Trenggalek. Halaman 131-149 . Pengesahan SKSHH oleh pejabat eselon III ini dinilai kurang efektif. diantaranya adalah tanda bukti pembayaran PSDH dan DR. laporan mutasi kayu bulat (LMKB) dan masih banyak lagi persyaratan untuk menentukan bahwa kayu itu legal 178 . Di dalam Kawasan Hutan lindung sumber-sumber mata air dimanfaatkan langsung oleh penduduk dengan menyalurkan melalui pipa yang dibangun secara swadaya dan dimanfaatkan oleh pengusaha peternakan dan perkebunan. Wilayah DAS Brantas merupakan sumber air bagi kebutuhan Propinsi Jawa Timur baik untuk air minum. rumah tangga maupun untuk kebutuhan sektor lainnya. akan tetapi hal tersebut harus dilakukan. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). SKSHH bukan merupakan ukuran. Kata kunci : Sumber air. Apakah mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH tersebut. Kata kunci: Hutan Rakyat. dan pemeriksaan administrasi. Pasal 20. Blitar. yang dikhawatirkan adanya penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab pejabat P2SKSHH. dan permohonan penerbitan menurut versi pemegang IUPHHK di Propinsi Kalimantan Timur. Pasal 20. kemudian diketahui dan disahkan oleh pejabat struktural (eselon III) pada Dinas Kabupaten/Kota yang menangani masalah kehutanan setempat.2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di Propinsi Kalimantan Timur. telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.18/2005. laporan hasil produksi (LHP). Walaupun masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. karena pada dasarnya. Dinas Kehutanan Kabupaten. bahwa kayu atau hasil hutan yang diangkut tersebut legal atau tidak. SKSHH diterbitkan oleh P2SKSHH. daftar hasil hutan (DHH). dan meminimalkan perdagangan kayu atau peredaran SKSHH yang ilegal. Ijin pemanfaatan dan pengambilan air permukaan dikeluarkan oleh Dinas PU dan Pengairan Propinsi setelah mendapat rekomendasi teknis dari BPSDAWS untuk sumber air yang berada dalam kewenangan Propinsi dan rekomtek PJT bila sumber air berada dalam wilayah kerja PJT I. (KASUS DI PROPINSI KALIMANTAN TIMUR)/ Epi Syahadat. karena hanya akan memperpanjang rantai birokrasi dalam pengurusan penerbitan SKSHH. Epi KAJIAN MEKANISME PERMOHONAN PENERTIBAN SURAT KETERANGAN SAHNYA HASIL HUTAN (SKSHH).Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. PDAM dan PLTA yang meliputi beberapa kabupaten antara lain Kabupaten Malang. unit kerja yang berwenang dalam menerbiktan SKSHH untuk melindungi hak-hak negara seperti PSDH & DR. seperti siapa yang dituju dalam surat permohonan penerbitan SKSHH. karena ini merupakan suatu alat kontrol yang dilakukan pemerintah pusat/daerah terhadap pejabat P2SKSHH. usaha peternakan. laporan hasil cruising (LHC). -. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan permasalahan yang serius.Disamping itu juga meningkatkan partisipasi aktif pengembangan budidaya usahatani hutan rakyat dan meningkatkan tingkat kesadaran pengelolaan lahan yang berwawasan pelestarian alam. Stakeholder yang berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya air Kali Brantas antara lain Dinas PU dan Pengairan Propinsi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No P. -. karena banyak faktor yang mengindikasikan bahwa kayu yang diangkut dari satu daerah ke daerah lain itu kayu legal. mengingat pejabat P2SKSHH berada jauh dari ibukota Kabupaten/Kota. Halaman 87-95 . 2006 Pemanfaatan sumber air dikawasan DAS Brantas mulai dari hulu sampai hilir (termasuk di kawasan hutan lindung dan sekitarnya) cukup tinggi.18/2005. pada dasarnya sudah berjalan sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. kawasan hutan lindung Syahadat. perkebunan. atas SKSHH yang telah diterbitkan. Sebagai pengelola sumberdaya air Perum Jasa Tirta I ( PJT I ) dengan beberapa bangunan waduknya tersebar hingga ke Kali Bengawan Solo.18/Menhut-II/2005. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauhmana mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di tingkat Propinsi. stakeholder.2 .

kronologis kayu Sylviani POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG DAN KAWASAN HUTAN LINDUNG (STUDI KASUS DI KABUPATEN GOWA. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara secara optimal. Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Sylviani KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR / Sylviani. produksi. Potensi sumberdaya air di Kab Gowa ada yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumbermata air di dalam kawasan HL dan dari sungai Jeberang melalui penampungan waduk/Dam Bili-bili yang dimanfaatkan untuk saluran irigasi. sistimatik dan berkesinambungan. distribusi. kayu rakyat. karenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanya penanganan yang teratur. -.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. -.. Terdapat kelembagaan pada masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air melalui tata tanam tahunan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan permohonan perijinan penggunaan air terutama untuk irigasi Kata kunci : Kelembagaan. Kata kunci : Penatausahaan hasil hutan. potensi dan pemanfaatan sumberdaya air. pemanfaatan air Syahadat.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. mekanisme. Kelembagaan pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) dapat berjalan dengan baik apabila adanya koordinasi diantara para pengelola SDA dan akan berdampak terhadap terjaganya kelestarian lingkungan. Epi KAJIAN PEREDARAN DAN TATA USAHA KAYU RAKYAT DI CIAMIS JAWA BARAT / Epi Syahadat. mekanisme/prosedur pemanfaatan air. UPTD BPSDA dan PDAM dengan tugas dan fungsinya masing-masing. -. seharusnya memberi iklim yang baik kepada petani untuk berpartisipasi dalam pembangunan hutan rakyat.atau tidak. serta tugas dan fungsi masing-masing instansi.3 . yang terpenting dan perlu diketahui dalam pengangkutan kayu. Berdasarkan UU No 7/2004 tentang SDA dijelaskan bahwa wewenang dan tanggung jawab dalam menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota adalah pemerintah propinsi c/q Dinas Pengelolan Sumber Daya Air setempat. Kajian penata-usahaan hasil hutan pada hutan hak/rakyat dilakukan untuk mengetahui efektifitas kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat. Halaman 263-279 . mengkaji kemampuan petugas serta memantau produksi dan peredaran hasil hutan. 179 . Elvida Yosefi S. Kajian kelembagaan pengelolaan SDA bertujuan untuk menganalisa peran para pihak/instansi yang terkait dalam pemanfaatan jasa air. 19 Tahun 2004. peredaran. 2006 Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat. Pengelolaan sumberdaya air melibatkan beberapa stakeholder antara lain Dinas PU dan Pengairan Kabupaten. adalah mengenai kronologis kayu. SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung. pengelolaan SDA. Halaman 219-234 . Kata kunci: penatausahaan. Demikian juga dengan Perda Kabupaten Ciamis No. organisasi. Halaman 243-262 .26/2005. pengesahan. 2006 Peranan air bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta lingkungan sangatlah penting dan merupakan kebutuhan pokok.3 . industri gula dan rumah tangga dibagian hilir melalui PDAM.18/2005 dan Nomor P.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelembagaan. Kata kunci : Kelembagaan.3 . Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001 sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai lagi dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. BPDAS. PROPINSI SULAWESI SELATAN) / Sylviani . mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan SDA di tingkat propinsi/kabupaten (Peraturan.

77. 0.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Rumah tangga mengalami penurunan tingkat pendapatan yang paling besar dibandingkan dengan pemerintah maupun perusahaan. Namun informasi dan data yang ada selama ini baru bersifat sektoral dan belum memberikan gambaran yang jelas tentang peran sektor kehutanan dalam keterkaitannya dengan sektor-sektor ekonomi lain.2 . Sedangkan untuk menjelaskan jalur keterkaitan antar sektor digunakan Analisis Jalur Struktural (Structural Path Analysis). Penelitian ini ditujukan untuk melihat tingkat keterkaitan sektor kehutanan dengan sektorsektor ekonomi lainnya dan peranan sektor kehutanan dalam penciptaan output. dan penyerapan tenaga kerja didalam proses produksi antar sektor. maupun pemerintah. Selain itu juga untuk mengidentifikasi jalur-jalur keterkaitan antar sector kegiatan perekonomian. keterkaitan. berdampak menurunkan tingkat pendapatan masyarakat sebesar Rp. ditemukan fakta bahwa ada jalur keterkaitan yang erat antara sektor kehutanan dengan sektor-sektor yang berbasiskan pertanian di pedesaan. model Input-output. Kejadian ini jelas akan berpengaruh terhadap pendapatan baik bagi masyarakat. Syafrul Yunardy. pengeluaran pemerintah dan ekspor) sektor kehutanan sebesar Rp.74 persen. -. Kata kunci : Pengganda neraca. 2006 Sejak kebakaran hutan besar tahun 1982/1983 yang membakar 3.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk setiap hektar kejadian kebakaran hutan di Indonesia. perusahaan. Halaman 133-146 .1979 milyar. peranan sektor kehutanan dalam perekonomian Indonesia dapat diketahui.Ulya. Metode analisis yang digunakan untuk mengukur besarnya nilai penurunan tingkat pendapatan (economic loss) adalah Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM). 1.44 juta. Secara struktural. penggandaan pendapatan. Kata kunci: Kebakaran hutan. Sedangkan nilai tambah yang diberikan oleh sektor kehutanan sebesar 82. sektor kehutanan. Nur Arifatul ANALISIS DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT (Analysis of the Impact of Forest Fire in Indonesia on Community Income Distribution) / Nur Arifatul Ulya. investasi. kebakaran hutan di Indonesia kian menyebar dan selalu berulang setiap tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi (share) sektor kehutanan terhadap output keseluruhan sebesar 0. Studi ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dampak kebakaran hutan di Indonesia terhadap masyarakat. yang merupakan suatu kerangka analisis ekonomi yang terpadu.pendapatan masyarakat Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Melalui pendekatan model transaksi input-output. kenaikan pendapatan total sebesar Rp. 1 milyar akan menyebabkan penciptaan output total sebesar Rp. Nur Arifatul ANALISIS PERANAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT (Analysis of Forestry sector Role in Indonesia Economy: An Input-Output Model Approach) / Nur Arifatul Ulya. dan penyerapan tenaga kerja total sebesar 41 orang.1 . sumbangan 180 .60 persen. Syafrul Yunardy. -. 2006 Pembangunan kehutanan selama ini telah ikut berperan dalam perekonomian Indonesia.2666 milyar. Halaman 61-74 . Structural Path Analysis (SPA) Ulya. Berdasarkan hasil analisis pengganda neraca (accounting multiplier) diketahui bahwa untuk setiap kenaikan permintaan akhir (konsumsi.5 juta hektar hutan alam di Kalimantan Timur.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski perkebunan berskala besar (karet. Hasil penelitian ini menununjukkan bahwa pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat dayak di Kabupaten Kutai Barat telah dipengaruhi oleh kebijakan pusat dan daerah. khususnya oleh adanya kebijakan Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) yang dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Wiati. 6 Desember 2006 . (c) Tanaman tradisional (kebun tradisional) dan (d) Hasil hutan kayu dan non kayu. desentralisasi Wiati.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 2006 Sejalan dengan adanya program pengembangan pengelolaan hutan bersama masyarakat. Kesesuaian lahan.4 . Catur Budi IMPLIKASI OTONOMI DAERAH TERHADAP PRAKTEK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI KALIMANTAN TIMUR (SUATU STUDI KASUS DI KAMPUNAG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. Suatu lokasi yang sesuai untuk suatu jenis tanaman (layak dari aspek fisik ).Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. sangat mudah ditemui adanya ketidakcocokan dan ketidaksinkronan antara kebijakan pusat dan kebijakan daerah yang berdampak negatif pada pengelolaan hutan khususnya yang dilakukan oleh masyarakat. Kalimantan Timur. -. Dalam memilih jenis tanaman yang akan dikembangkan selain dipertimbangkan aspek fisiknya (kesesuaiannya). analisa dan ditampilkan sesuai dengan tujuan analisa. Mahoni. -. masyarakat dayak. -. Jati dan Sono). 2006 Dengan sistem informasi geografis data dapat dikelola. Catur Budi KAJIAN POLA PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN SECARA TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DAYAK BENUAQ DAN TANJUNG DI KALIMANTAN TIMUR (STUDI KASUS DI KAMPUNG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. perlu dipertimbangakan juga tentang aspek non fisik (ekonomi). Kabupaten Kutai Barat. Kalimantan Timur. Halaman 333-345 . ditata.Wardojo APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK KESESUAIAN LAHAN PADA TANAMAN KEHUTANAN / Wardojo dan Ragil Bambang WMP. 181 . Fakta di lapangan menunjukkan bahwa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).2 . tidak selalu dapat berhasil untuk dikembangkan menjadi hutan yang bagus. Kata kunci : Sumberdaya hutan. Dalam analisa kesesuaian jenis tanaman kehutanan untuk pengembangannya data-data yang diperoleh dapat dimanipulasi sesuai dengan tujuan analisanya. Halaman 97-113 .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 2006 Di era desentralisasi. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. Posisi masyarakat penting. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan Arc View bisa digunakan untuk mengolah data-data atribut yang diperoleh dari kegiatan ISDL maupun data lain dari penafsiran potret udara. Halaman 137-149 . Tanaman kehutanan dimana masyarakat tetap dipertimbangkan memegang peranan penting dalam mengelola sumberdaya hutan. masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat tampak tidak terganggu dan tetap mempertahankan pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang terbagi atas budidaya: (a) Tanaman pangan. otonomi. untuk keperluan yang sama dapat dianalisa untuk jenis-jenis tanaman yang lain dengan menggunakan data dasar yang sudah tersedia. terutama pada era otonomi daerah dan desentralisasi. SIG. jati super dll) dan perusahaan kayu pemegang Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) telah beroperasi. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. Kabupaten Kutai Barat. Dalam makalah ini hanya dianalisa empat jenis tanaman (akasia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kembali implikasi otonomi daerah terhadap pola dan keberadadaan sumberdaya potensial yang dilakukan oleh masyarakat tradisional di Kalimantan Timur. peta dasar dan peta tematik yang ada. karena adanya banyak kendala. data dan informasi tentang model dan tipe pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat menjadi sangat penting. Program Arc View ini memberikan kemudahan untuk menampilkan banyak tampilan data dengan peta secara cepat dan mudah sesuai dengan keinginan. (b) Tanaman perkebunan. kelapa sawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung setelah era otonomi daerah dan desentralisasi. pemerintah lokal telah mengeksploitasi sumberdaya alam dengan tanpa mempertimbangkan aspek ekologinya.

Focus Group Discussion (FGD). Saat ini kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan secara lestari. dan sumber lain. yang terjadi karena adanya konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. Hal tersebut terlihat dari hasil kajian yang dilakukan di desa Bener dan desa Sepatnungal kecamatan Majenang kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah pada bulan Juni-Agustus 2006 terhadap 34 orang petani hutan rakyat yang diambil secara sengaja (metode purposive sampling).3 milyar. Sebagai gambaran.48 juta m kubik. Halaman 1-13 . kebutuhan bahan baku 17.17 milyar.2006 . sedangkan perempuan lebih banyak berperan disektor domestik (pekerjaan rumah tangga). investasi industri pulp dan kertas sebesar US$ 16 milyar. Akan terdapat perbedaan etos kerja antara petani laki-laki dan perempuan dalam mengelola HR. keterlibatannya dalam mengelola HR. jumlah industri pengolahan berdasarkan ijin yang ada sejumlah 1. Sedangkan plymill 107 unit. juga ditentukan oleh etos kerja petani selaku pelaku utamanya. Konflik ini melibatkan masyarakat lokal dengan masyarakat lokal atau masyarakat lokal dengan para pihak (konflik vertikal dan horizontal ) dan (b) Munculnya sistem kapital baru dalam masyarakat kampung terkait kemudahan dalam mengakses sumberdaya hutan. yang mana etos kerja tersebut akan dipengaruhi oleh persepsi atau sudut pandang petani tentang hutan rakyat.2006 . 2006 Pembangunan kehutanan di Indonesia masih mempunyai daya tarik bagi para investor. sedangkan kemampuan produksi kayu bulat rata-rata per tahun sebesar 22. hal ini terlihat dengan masuknya investasi bidang kehutanan yang mencapai US$27. Majenang Wijayanto. hutan tanaman. plywood US$33. Etos kerja. karena laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang bersifat produktif termasuk dalam mengelola hutan rakyat (rata-rata 45 jam seminggu) dibandingkan kaum perempuan (rata-rata 27 jam seminggu). kayu olahan (wood working) US$ 1. masyarakat dayak. 2005).61 juta m kubik per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan hutan rakyat juga dipengaruhi oleh budaya patriarkhi yang 182 . Hasil kajian menunjukkan bahwa kaum laki-laki memiliki etos kerja yang lebih tinggi dalam mengelola hutan rakyat dibandingkan kaum perempuan.60 juta m kubik per tahun (Antara News. -. dan lain-lain sebanyak 150 unit dengan kebutuhan bahan baku 4.91 juta m kubik per tahun. dan interaksinya dengan sumber daya alam yang ada disekitarnya. 2005).03 milyar. pulpmill 6 unit.80 milyar. Tri Sulistyati ETOS KERJA PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP / Tri Sulistyati Widyaningsih.618 unit dengan kebutuhan bahan baku 22. kebutuhan bahan baku 18.2 milyar. Kata kunci: Hutan Rakyat. dan dokumentasi yang kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.8 milyar dengan rincian. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan kebutuhan bahan baku sebesar 40. sebagian besar berupa sawmill.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.Barat. Halaman 142-152 . yang bersumber dari hutan alam. dan adhesive US$ 0. Dian Diniyati. logging US$ 3. Dampak dari kebijakan tersebut adalah: (a) Adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Nurheni STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI / Nurheni Wijayanto. Kata kunci : otonomi. Petani. bibit. desentralisasi.8 juta m kubik.881 unit. Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) masih melekat terutama dalam masyarakat Jawa. hutan dinyatakan sebagai Widyaningsih. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. penyuluhan. Dalam pasal 1 Ayat 2 UU No. 2005). Kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku kayu oleh industri (zero waste). Hal ini menunjukan bahwa industri kehutanan masih prospektif (Antara News. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara.87 juta m kubik per tahun. Cilacap. -. dan percepatan realisasi pembangunan hutan tanaman industri dan hutan rakyat (Antara News. hutan rakyat. furniture US$ 0.19 milyar. Berdasarkan ijin usaha yang telah diterbitkan tersebut kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan per tahun mencapai 63.09 juta m kubik per tahun. yaitu sebanyak 1. kerajinan (handicraft) US$ 0. 2006 Keberhasilan pengelolaan hutan rakyat (HR) selain ditunjang oleh sarana prasarana dan modal berupa lahan. bahwa laki-laki lebih berperan dalam sektor publik (pekerjaan di luar rumah) dan menjadi penentu kebijakan.

TANA TORAJA / Hunggul Yudono SHN dan Iwanuddin. Berdasarkan UU Kehutanan No. Walaupun demikian . memperbaiki kualitas lingkungan dan sumberdaya hutan. Das Mararin. Berdasarkan statusnya hutan terdiri dari hutan hak dan hutan negara. DAS menjadi istilah yang paling sering muncul baik dalam diskusi-diskusi ilmiah maupun dalam berita-berita di koran. dan manfaatnya untuk masyarakat. Pengelolaan hutan Yudono SHN. -. Akhirakhir ini ketika bencana banjir. melalui strategi dan program pengembangan yang tepat. Kata kunci: Kelembagaan. 2006 Sumberdaya alam yang secara spasial terbagi habis ke dalam DAS/Sub DAS. sektor angkutan. Makna yang tersurat dan tersirat adalah adanya kewajiban kepada kita semua untuk mengatur. dan longsor dimana-mana seiring dengan datangnya curah hujan. penyediaan kayu sebagai bahan baku bangunan. MULAI DARI DIRI SENDIRI DAN MULAI SAAT INI: PENGALAMAN DARI SUB DAS MARARIN. mengoptimalkan lahan garapan. Hutan hak tersebut sering disebut dengan hutan rakyat. disampaikan pengalaman mengelola DAS dalam skala mikro dengan menciptakan hubungan timbal balik potitif antara hutan dan masyarakat yang didukung oleh kelembagaan mikro sesuai yang diminta oleh masyarakat. Kata kunci: Hutan Rakyat. industri. dan memaksimumkan pendapatan usaha. diterima masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat. 41 Tahun 1999. DAS SADDANG. Hutan rakyat ini ada yang bersifat subsistem dan ada yang dengan tujuan komersial. hal ini antara lain disebabkan oleh semakin besar permintaan pasar akibat tumbuhnya berbagai jenis dan skala industri pengolahan kayu di setiap kabupaten dan propinsi. pengembangan hutan rakyat diarahkan kepada usaha-usaha rehabilitasi dan konservasi lahan di luar kawasan hutan negara. Usaha hutan rakyat merupakan suatu penerapan model usahatani yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas fisik per satuan luas lahan. sedangkan hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. tenaga kerja. penyediaan kayu bakar. mengelola dan memelihara sumberdaya hutan yang ada agar mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. lahan pertanian hancur. serta sebagai kawasan penyangga bagi kawasan hutan negara. sarana-prasarana rusak.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Tana Toraja 183 . kegiatan ini dapat juga dilaksanakan di atas lahan negara diperuntukkan untuk kegiatan penanaman pohon. peningkatan pendapatan masyarakat. bahan baku industri. Pada tulisan ini. Nilai air. usaha tersebut belum mampu meningkatkan kinerja usaha. lembaga keuangan. Awang (2003) menyatakan ciri dari hutan rakyat adalah bahwa kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan di atas lahan milik rakyat. pemeliharaan lingkungan hidup serta bagi pemerintah daerah. Kegiatan usaha hutan rakyat diharapkan memberikan dampak positif bagi rumah tangga pedesaan. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Namun demikian. Buruknya pengelolaan DAS menjadi satusatunya tertuduh. Demikian kalimat sakral yang tertuang dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. 2006 : Halaman 101-121 . penganekaragaman hasil pertanian yang diperlukan oleh masyarakat. Das. dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.Hunggul KELEMBAGAAN DAN NILAI AIR DAS MULAI DARI YANG KECIL. kondisi DAS kembali mendapat perhatian. dan sampai saat ini usaha tersebut semakin berkembang. Ketika korban manusia berjatuhan. Usaha hutan rakyat telah dilakukan sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Das Saddang. usaha perbaikan tata air dan lingkungan. dimana hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. sehingga usaha hutan rakyat tersebut perlu ditingkatkan kinerjanya agar lestari. termasuk di dalamnya penggunaan sumberdaya hutan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya.

energi listrik alternatif ini juga dapat digunakan untuk mengatasi krisis listrik yang saat ini banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Serta dilengkapi juga dengan pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat pengguna listrik dan pendampingannya. The aim of this research is to studying about watershed management in local and regional level. dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil ini juga dilakukan pengumpulan data dan survey agar dapat dihasilkan informasi yang akurat hubungan sebab akibat antara kondisi hutan. longsor. Sumatera. kekeringan. This is because the human resources. With this research can be know institution that take part in watershed management. Yudilastiantoro dan Tony Widianto. Lembaga Pengelola. DAS SaddangBilawalanae. serta 4) sistem pertanian di Indonesia yang boros air sehingga air kurang termanfaatkan dengan baik. SULAWESI SELATAN / C. This research located in South Sulawesi Province. 13 September 2005 .hasil air .Salah satu kegiatan yang dapat menjawab permasalahan hubungan antara hutan dan masyarakat adalah dengan pemanfaatan air sungai yang berasal dari hutan untuk menghasilkan sumber tenaga listrik alternatif bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. karena alasan kemiskinan dan merupakan sumber permasalahan. Untuk dapat lebih mengoptimalkan hasil. organization and law. Kata kunci: DAS. especially at saddang and Bilawalanae Watershed. akibat peningkatan jumlah penduduk dan kondisi DAS yang kritis. Kata kunci: Mikro Hydro Electrik. 2006 : Halaman 245-264 .energi listrik kesejahteraan masyarakat. organization and legislation supporting enough. locally and regionally. Sorotan juga diarahkan kepada masyarakat yang berada di wilayah hulu. Pembangkit Listrik. To gain data of the aim above. 2006 Decentralize era result the change of local government competency in the form of institutional reinforcement of watershed management. Halaman 4961 . Primary and secondary data analyzed with Stakeholders Analysis Method and SWOT Analysis Method. some regency wish the form of selfsupporting Otorita that still under conducting Governor as province leader. Govermental administration problems have to be managed according to administration boundary and on the other side watershed need to be managed with the boundary of watershed itself. melakukan perambahan hutan dan menggunakan lahan di kawasan lindung bertopografi berat untuk lahan budidaya tanpa memperhatikan daya dukung lahan. berbagai DAS menjadi sensitif terhadap bencana banjir. Pengelolaan DAS. not in the form of independent institution but under an appropriation to Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten this time.Yudono. Air Yudilastiantoro. through direct interview and filling questionair to the respondent.Secara langsung maupun tidak langsung ditengarai salah satu penyebabnya adalah eksploitasi kawasan hutan lindung di daerah hulu yang mempunyai fungsi sebagai pengatur tata air. this research used survey method. seen from human resources. Can be recommended that institute of local watershed management formed in every regency.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. dan Sulawesi. For regional watershed management. Disamping untuk kepentingan pembangunan kehutanan. Hulu DAS mengalami okupasi oleh masyarakat yang strategi bertahan hidupnya justru membuat mereka terpuruk dalam kemiskinan dan sekaligus juga membahayakan kelestarian fungsi DAS dan wilayah di bawahnya. C KONSEP LEMBAGA PENGELOLAAN DAS TINGKAT LOKAL DAN REGIONAL DI DAS SADDANG-BILAWALANAE. The research was done in DAS Jeneberang and Bilawalanae from August untul December 2005. -Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. with studying fundamental duty and institution function which related in watershed management. -. 2) Ada kecenderungan mulai terjadi defisit sumber daya air di Jawa. Sulawesi Selatan 184 . Hunggul MIKRO HYDRO ELECTRIK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR SKALA KECIL: MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT DAN MENJAGA HUTAN DENGAN HASIL AIR / Hunggul Yudono SHN dan Gunardjo TJ. 3) terjadinya peningkatan frekuensi banjir besar dan kekeringan di berbagai tempat. 2005 Kondisi di Indonesia dari data yang ada menunjukan adanya: 1) peningkatan jumlah DAS kritis satu dari tahun ke tahun.

144. Deden. 2. Indra Jaya. 74 Danu. 101 Astana. 146 Ekawati. 4 Alviya. 143. 1 Alrasjid. 3. 76. 77 F Falah. Imaculata. 75 Durahim. Yanuarius Koli. Dian. 141 C D D. Sasa. Illa. 103 Bustomi. 1 Abdurrohim. 103 Dharyati. Harun. 9 Cahyono. 100 Asaad. 101 Basri. Wahyu Catur. 13 Fauziyah. Saptadi. Rachman. 105 Fatima. Ari. 100. 139 Andianto. 98. 2 Alrasyid. 12 Farid A. Sofwan. 1 Agustini. 99 Adinugroho. 145. Mohd. Wida. A. 10. Bambang S. 140. Iis. 142 Dulsalam. 140 B Bakri. 12 E Effendi. 8. 4 Anwar. 9. 5 Arisman. Hardjono. 11 Daryono. 1 Adinugraha. Burhanuddin. 105 Diniyati. Harun. 4. 147 Fiani. 11 Darwiati. 73 Anggraeni. 1 Adman. 144 Djaenudin. Tigor. 105 185 . 104 Darwo. Sulistya. 9. Sofyan. Eva. 6. 138. Hamdan Adma. 99 Antoko. Faiqotul. 9 Bustomi. 7. 8 Beadle. Chris. Martono. Andy. 74 Bastoni. Satria. Herman.INDEKS PENULIS A Abdurachman. Efrida. 100 Asmaliyah. Wida. Budiman. 145 Endom. S. Chairil. 74 Darwati. Wesman. 142. Emmy. 103 Butar-Butar. 73 Achmad. 102 Bau. 12 Darmawan. Luciasih. 139 Ade.

Nur. Neo Endra. 107 Hajib. 82 Lestari. Ismatul. 14 Harun. Eko B. Agus. 22 Kurniadi. 156 Koeslulat. 155. Hery. 82 Lestari. 156 Kayat. 114 Lazuardi. 21 Komala. 80. Kirsfianti Linda. 23. Wanda. Karim. 19 K Kaho. Marinus Kristiadi. 112 Junaidi. 79 Jayusman. 110. Dian. 19 Iskandar. G. 78. 19 Hermanto. A. 20. 21 Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. 151 Hendalastuti R. 111 Judhiharto.79 J Jasni. 107 Gunaja.Sri. 157 Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya. Adi. 16. 109 Husna. 77 Hakim. 153 Hood. Nurwati. Setiasih. 17 Hendalastuti.D. 149. OK. 113 Kuntadi. R. 16 Hardi TW. 13 H Hairudin. 18. 152.Syafari. Edy. 157 Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. 147. 107 Hardiyanto. Ngaloken. 27 186 . 157 Kunarso. Heru. Nanang. Rahman. 158 Kurniawan. Mudji. 113 Kurniawan. 13 Ginoga. Henti.S. Priyo. 81. 158 Kuswanda. Hendi. L Michael Riwu. 150 Halidah. 153 Hendra. Teguh. 24 Kusumedi. 14 Hayati. 155 Iriansyah. Ermi E. Wuri. M. A.. Asep. Kresno Agus. Henti. N. Maming. 81 Lempang. 79. 148 Gintings.I. Morag. 22 Kosasih. 108 Harisetijono. 26 L Lasminingsih. Mody. Relawan. 154. R.. 17. I Made. A. 20 Karyono. Ian A. 25 Kuswandi. Djeni. 151 Harahap. 15 Handayani. 159 Lelana. 149 Glen. 106 Garsetiasih. 78 Herdiana.M. 24. 106 Golani. 153 Irawanti. 109 Hidayat.G Gaffar. Setyani B. 22 Krisdianto. 109 I Indartik. 112. Rozza Tri. 16 Hendarto. 25 Kwatrina. 108 Heriyanto. Rusli M.

117 Muchtar. Edwin. 41 Rahmat. 160 Ma'ruf. Yanto. 118 Muslich. 38 Pasaribu. 120 M M Hidayatullah. 35 Nurdawati. Ruben. 84 O P Panjaitan. I Ketut Catur. 87 Pramono. 82. Caroline L. 42. 29. 116. 28 Martin. 163 Nurhaedah M. 119. 163 Parthama. Indra A. 121 Premono.I. Heru Dwi. Dewi. I.S. 123. 83 Mandang. Encep. Irwansyah Reza. Amir. Abdul Hakim.P. 113 Lukman. Yamin. 122 Rahmayanti. Tjutju. 34 Noorhidayah. 42 Rayan. 162 Ngatiman. Dedi. 43 Retna I. 27.B Putera. 83 Marbawa. Syofia. 36. 118 Njurumana. 27 Mahfudz. Gunawan. 162 Mindawati. 36 Nurhayati. Sudin. 41. 166 Rachman. Ridwan A. Tejo. 84 Nugroho. Gerson ND. Fitri. 119 Nurfatriani. 39 Prasetyawati. 160. Jamaludin. R. Agung Wahyu. 86. Tejo B. M. 28. Retno. Bismark. 35 Nurhaedah M. 169 187 . Gustan. 41 R Rachman. Kristian. 115 Mairi. Ida. Anto. Istiana. 84 N Narendra. 38 Pari. M Yamin. 30 Mile. Syarifah. 26. 43 Renden. Budi Hadi. 122 Riyanto. Nunung. 168. Mamat. 165 Putri. 162. 167 Rochmayanto.. Eulis. 44 Rimbawanto. 32.L. 37. 30 Munandar. 87 Parlinah. 28 M.. 34 Novrianto. 87 Pasaribu. Osly. Joko. Suryanto. 38 Purwanto. Nina. Mulyana. 33. 32. B. 88 Rachmawati. Mohammad. Aris. 37.U. 117 Misdarti. Abdullah Syarief. 121 Priyono. 40 Premono. 39 Prayudyaningsih. 164 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.. 113 Omon. 85. Eka. 30. 121 Pudja M.Lubis. 29 Mile. 31. 161. 122. 32 Natawijaya. C Andriyani. 120 Prihatini. Y. 159 Malik. 120 Pratiwi. 83 Mohammed. 167 Retnowati.

M. 52 Siregar. 44. 175. 129 Sumardi. 58 Suhartana. 171 Sulastiningsih. 131 U Ulfa. 50.. Harris Herman.. 95 188 . 66 Taufikurahman. Agis Nursyam. Priyono. 129 Suharti. 130 Tira. Ogi.Roliadi. Erdy. Budi. 178. Mariana. 178. Sri. I. 52 Siringoringo. Hadi. Hengki. Bambang. 44 Rumboko W. Nur Arifatul. 94 Suprianto. Achmad. 174 Surata. 177 Subiakto. 173 Supriadi. 176. Djoko. 67. Sujarwo. 66 Tjahjono. Agus. 168 S Salim. Agung B. 173 Supriadi.. Suwardi. 128 Suhaendi Hendi. Ismayadi. 63. Hendi. Budi. R. 92 Sumantoro. 46. 64. 133. Sona. 65 Suyarno. Agus Djoko. 127 Sofyan. Retno. 58 Sukadaryati. 91 Sukresno. 170. 169 Santoso. 60 Sukrianto. Maliyana. 169 Satyawardana. 57. 62. Dedi. 89. 92 Sumadi. I Komang. 171 Sugiana. 93 Suprapto. Atok. 61. 172 Suprapti. Mustaid. Agus.. 48. 91 Suhartati. 127. 176. 60 Sumarhani. Epi. 45 Samsoedin. Han. 65 Susila. 125 Santoso. 89 Sawitri. 51 Siahaan. 55 Suhaendi. 64 Suryanto. 56 Supangat. 126 Setiawan. 63 Suryanto. 51 Setijono. 88. 129 Sumadiwangsa. Teguh. 54 Sudradjat. Farida Herry. 55. La Ode Asir. I Wayan Widhana. Dedi.. 89 Ruby. Kamindar. Totok K. Tiwa. Sulistyo A. 90. 51 Siran. 131. 65 Suwandi. 93. Pujo. 130 Susanty. Lukas. 180 Utomo. 132 Ulya. 174. Andi Gustiani. 174 Syahadat. 55 Sugiarto. 47. 53 Siswoyo. 90 Sudrajat. 179 T Takandjandji. Sihati. 49 Setiadi. Adi. 133 W Waluyo. 45. 54. 58. E. 170 Sufyadi. 126 Setyowati. 56. Reny. 59. 179 Sylviani. Dede J. 177 Sujatmoko. 57 Suherman. 128 Subarudi. 47 Santoso.

72 Yudilastiantoro.. Catur Budi. Nurheni. 97 Z Zulfikhar. Tri Sulistyati. 181 Wargadalam. 70. 72 Yuniawati. Asmanah. 71 Y Yafid. Ari. 67 Wardi. 182 Widyastuti. 68. 181 Wibowo. 95 Wardani. 96 Widiarti. 135 Wijayanto. 136 189 . Irma. Marfu'ah. 184 Yudono SHN. 182 Winarni. 69. 71 Yassir. Eritrina. Ishak. 133 Wiati. Bugris.Waluyo. 67 Wardojo. I Nyoman. C. SM. 136 Yeny. Totok K. 95 Wasrin. 134 Wijaya. 70 Widyaningsih.Hunggul. Upik Rosalina. 94. Danu. Hunggul. 96 Winarno. Bondan. Arian. Santiyo. 184 Yuliansyah. 183 Yudono. 69 Wibowo. 135 Windyarini. Ina.

166 Agrosilvofishery. 2 Areal Bekas Penambangan Batu Apung. 14 Anatomi. 124 C Cabutan Anakan. 79. 64 Analisis Sosial Ekonomi. 11 Aplikasi Mikoriza. 67 Bambang Lanang. See Jabon Aplikasi Endomikoriza. 14. 144 Biodiversitas.. 102 Alang-Alang. 170 Aceh. 71.. 26. 55. 138 Bambu Lamina. 160. 57 Adsorben. 55 Briket Arang. 12. 165. 48. 78. 43 1 . 49 Busuk Akar. 30. 24 Budidaya Vanili. 90 Budaya Masyarakat. 61. 51. 113. 71 Anakan Jabon. 92 Bambu Laminasi. 28. 4 Avifauna. 159.INDEK KATA KUNCI A Acacia Mangium. 92. 106. 85. 105. 28. 57 Burung.Br. 80. 62. 42 Analisis Model Pendugaan Volume Jenis. 13. 140. 73. 27 B Bahan Bakar Alternatif. 100. 117 Busuk Hati. 13 Burung Merandai. 41 Burung Bayan Sumba. 37. 119 Alat Expo-2000. 181 Aquilaria Microcarpa. 117. 172 Bitti. 108. 167. 38. 169. 74 Biaya Dan Pendapatan. 31 Areal Tegakan Sisa Hutan Alam. 7 Biomasa. 17 Antagonistik. 117. 72 Bali. 83 Benih Tanaman Hutan. 27 Biofisik. 17 Bentonit. See Gaharu Arang Aktif. 117 Anggrek. 142. 77 Alstonia Angustiloba. 21. 52. 5. See Kayu Palaso Agribisnis. 162 Agroforestry. 66. 109. 138. 29. 106. 83 Bambu Lapis. 138 Basidiomycetes. 36. 86. 87 Arang Bambu. 109 Basis Data. 92 Bambu Rakyat. 74. 158 Budidaya Kepuh. 82 Anatomi Kayu. 73 Andosol. 132 Aplikasi Sistem Informasi Geografis. 45. 29. 23. 26. 86 Aglaia Sp. 108 Budidaya Klicung. 63. 160. 134 Anthocephalus Chinensis (Lamk. 138 Araucaria Cunninghamii Sw. 69. 40. 61 Budidaya Rotan. 85. See Pulai Ampupu. 59. 33. 163 Bioinsektisida. 108 Bambu. 41. See Pulai Darat Alstonia Scholaris (L) R.

25. 65. 134 G Gaharu. 21. 146. 50. 16. 179 191 Eichhorniae Crassipes Solms. 34. See Ulin . 84 Dyera Lowii. 88 Endemik. 27. 40. 19. See Burung Bayan Sumba Elignification. 156. 121 Herbisida.T Blake. 179 Daerah Penyangga. 95 Genetik. 10. 140. 69. 68. 51. 4 Flora. 57. 84 D Daerah Aliran Sungai. 123 Gerhan. 34 Hutan Lindung. 20. 123. 133. See Eboni Diospyros Malabarica Der Kostel. 104. 38 Erosi. 169 Hasil Hutan Non Kayu. 13 Ekspor. 141 Getah Pinus Merkusii Strain. 130. 57 Gmelina Arborea Roxb. 151 Hormon Iaa. 4 Forest Health Monitoring. 46 Hutan Kemasyarakatan. 100 Ex-Situ. 44. 129. 9 Core Research. 52. See Ampupu Eusideroxylon Zwageri. 20. 27 F Fenologi. 150. 60 Gossampinus Malabarica Alst. 32. 39. 27. 117 Fungi Patogen. See Kayu Randu Alas H Hama. 110 Hukum Adat. 12. 42. 100. 50. See Hasil Hutan Bukan Kayu Hidrologi. 37. 140 Electus Roratus Cornelia Bonaparte. 99. 35.Cendana. 140 Hutan Bekas Tebangan. 127. 134 Fungi Trichoderma. 123 Eusideroxylon Zwageri Teijsm. 87 Frekwensi Pemeliharaan. 59. See Klicung Dipterocarpaceae. 41. 107. 118 Ekologi. 100 Eksploitasi Hutan. 98 Hormon Pertumbuhan. 140. See Eceng Gondok Ekaliptus. 52 Etnobotani. 68. 23. 14. 166 Hama Penyakit. 12. 168 Diospyros Celebica Bakh. 164.. See Rusa Sambar Citra Satelit. 11. 182 Eucalyptus Urophylla S. 101. 59 Desentralisasi. 148. 62 Cervus Unicolor. 134 Formaldehida. 122. 7 Etos Kerja. 174 Hutan Kota. 119. 111 Getah Pinus. 128 Cuka Kayu. 133 Ekologi Hutan. 111. See Jelutung E Eboni. 57 Ekosistem. 16 Ekonomi Rakyat. 12 Eceng Gondok. 45 Hutan Hujan Tropik. 7. 36 Hhbk. Binn. 57. 43. 157. 112. 158. 135 Ekowisata. 131 Hasil Hutan Bukan Kayu. 71. 44 Efikasi. 1. 98. 92.

136 Hutan Rawa Sungai. 172 Jatropha Curcas Linn. 161. 176. 80. 33 Isi Pohon. 10 K Kalimantan Barat. 135. 150. 73 192 . 179 Jawa Timur. 68. 93 Jarak Pagar. 173. 131 Invitro. 8 Hutan Tanaman Rakyat. 122. 47. 51 Jenis Burung. 6. 25. 129. 146. 60. 53 Karet. 121. 10 Industri Cinderamata. 104. 121. 178. 167. 157. 177. 4 Kalimantan Selatan. 160. 159 Jati. 178 Jelutung. 146. 182 Hutan Rawa. 79. See Alang-Alang Inang Gaharu. 177.Hutan Mangrove. 78 Kearifan Lokal.. 14. 108 Kayu Putih. 142. 27. 74 Jamur Patogen Serangga. 32. 168 I Identifikasi Jamur. 84 Keawetan Kayu. 5. 140 Kayu Kamper. 41. 3. 34. 54. 62 Hutan Tanaman Industri. 52. 79 Kayu Lapis. 53. 58 Karbon Tanah. 93. 174. 152 Hutan Tanaman Jelutung. 147. 95 Industri Perkayuan. 119 Hutan Rawa Air Tawar. 156. 103 Isolat. 19. 181 Karbon. 68. 123. 80. 109. 171. 115. 114 Karton. 59. 33. 82. 169 Keawetan 25 Jenis Kayu. 153 Imbal Jasa. 106 Identifikasi Jenis. 84. 4 Jenis Introduksi. 112. 86. 112 Hutan Ulayat. 106 Jamur Biru. 77. 166. 106 Hutan Tanaman Cendana. 81 Jamur Perusak Kayu. 90. 59. 81. 145. 4 Kayu Bulat. 125. 46. 73 Kayu Kurang Dikenal. 127. 12 Kawasan Wisata Alam. 139. 55. 48 Irigasi. 155 Kawasan Penyangga. 65. 74. Beauv. 46. 135 Hutan Rawa Gambut. 119 Kayu Keras. 103. 82 Kayu Pertukangan. 65. 30. See Jarak Pagar Jawa Barat. 29. 16. 157. 144. 116. 140. 94 Inokulasi Cendawan. 156. 45. 1. 36. 175. 62 Hutan Penelitian. 115. 128. 87 Kayu Palaso. 28 Jamur. 28 Jenis Flora. 132. 65 Jenis Pohon Tepat Guna. 127 Kalimantan Timur. 133. 89. 141 Imperata Cylindrica L. 67 Illegal Logging. 143. 89 Kawasan Konservasi. 146 Hutan Rakyat. 24. 81 J Jambi. 130. 90 Jarak Tanam. 72. 47. 8 Jenis Andalan Setempat. 112 Hutan Produksi. 18. 68 Kearifan Lokal. 97. 81 Industri Kehutanan. 116. 99 Kayu Randu Alas. 83 Kayu Tusam.

2. 170 Melaleuca Cajuputi Subsp Cajuputi. 156. 85 Kulit Kayu Medang Landit. 35. 5. 18 Kriteria Dan Indikator. 111 Kemiri. 87. 50 Kualitas Semai. 112. 158. 126. 150. 109 Mikoriza. 176. 184 Lignin. 120 Mesin Pengering. 56. 102 Media Tabur. 121. 110. 144. 27. 140. 132 Lahan Tegakan. 14. 169 193 Maduca Aspera. 151 Lahan Kurang Produktif. 108 Keragaman Jenis Anggrek. 46. 66 Lahan Gambut. 10. 107. 67. 150. 154. 10. 101. 2. 96 Kemiskinan. 146 Mati Pucuk. 58 L Lahan Basah. 9. 42 Media Kultur. 23. 96 Kulit Mangium. 89 Kultur Jaringan. 74 Kemenyan. 45. 184 Mikroba Simbiotik. 152 Kepuh. 132. 69 Kebakaran Hutan. 79 Kulit Kayu. 65. 170. 48 Kesuburan Tanah. 74 Mesin Serpih. 118. 22 Lebah Madu. 2. 32. 11 Lahan Rawa. 24. 67. 120. 65. See Kayu Putih Meranti Merah. 114. 64. 27 Kelapa Sawit. 55 Media Sapih. 60. 25. 102. 15. 180 Kebijakan. 8. 161. 55. 118. 111. 43 Lahan Pasca Penambangan Batu Gamping. 45 Kelembagaan. 36 Komponen Kimia. 86 Kontrak. 98 Kembang Susut. 48. 78. 144 Kemampuan Bertunas. 107 Kelayakan Usaha. 38. 17 Kerajinan. 4. 140 Kemitraan. 89. 131. 30. 61 Klon. 15. 69 Konyal. 74. 130 Kutu Lak. 87. 21. 157. 138 M Mahoni. 183 Kelompok Tani. 93 Metode Ekstraksi. 143. 172 Lebah Hutan. 152. 102 Mangrove. 105. 49 Lahan Bekas Tambang Batu Kapur. 136. 109. 126. 15. 136 Mikro Hydro Electrik. 36. 94. 114 Lahan Kritis. 113 Media Kecambah. 22 Lembaga Pengelolaan. 62. 148. 126. 115 Kohobasi. 79. 85 Limbah. 122. 174 Kelembagaan. 114. 6. 111 Mikologi. 138 Kesesuaian Jenis. 26 Kualitas Aliran. 149. 122. 117 Klicung. 158. 95 Kokon. 132 Lahan Rawa Gambut. 110. 109. 67. See Bambang Lanang . 155 Manokwari. 136. 125 Kualitas Serat.Kebakaran. 177 Kebun Konservasi. 143. 173. 32. 20. 67. 72 Masyarakat Sekitar Hutan. 108 Megapolitan. 179.

151 Pengelolaan Kawasan Hutan. 112. 157 Pembangunan Hutan Tanaman. 126. 178 Pengawet Nabati. 28 Passiflora Edulis Sims. 60. 77 Pembalakan Liar. 153 Pemupukan. 39 N Nata Pinnata. 39. 94 Peluang Dan Tantangan. 142 Pembangunan Kehutanan. 96 Nusa Tenggara Barat. 155. 9. 44 Pembangunan Hutan. 22. 35. 132. 88 Pengolahan Rotan. 69. 147. 164. 146. 39. 81. 25. 28. 47. 149. 19. 75. 2 Morfologi. 66 Penatausahaan Hasil Hutan. 6. 157 Pemanfaatan Lahan.Mikrosatelit. 48. 125 Otonomi Bidang Kehutanan. 107. 174 Pengelolaan Hutan Rakyat. 98 Nusa Tenggara Timur. 114. 67 Pembentukan Gaharu. 158. 82. 107. 34. 107. 175. 15 Pelengkungan. 80 Pengupasan Kulit. 12 Model Pendugaan Biomassa. 96 Pengawetan. 61. 161. 129 Penertiban Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan. 145. 22 Pakan Burung. 120. 67 Morphoedafik. 39. 124 Mutu Bibit. 103 Pembalakan. 41 Pakan Buatan. 64 P Pakan. 13 Papan Partikel. 61. 118. 4. See Konyal Pelapukan. 67. See Murbei Muat Bongkar. 100. See Nipah O Okulasi. 33. 33. 73 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 80. 92 Papua. 20. 140 Pemanenan. 76. 97 Murbei. See Sengon Partisipasi Masyarakat. 170 Nypa Fruticans. 44 Paraserianthes Falcataria. 44.. 41. 23. 19 Pemungutan Rotan. 10. 163. 3. 57. 107. 79 Pendapatan Asli Daerah. 58. 136. 57. 25. 177. 171. 76 Pemanfaatan Huta. 167 Pengelolaan Hutan. 164 Nipah. 15 Morus Spp. 81 Nilai Ekonomi. 151. 91 Pemanenan Hutan. 23 Pemanfaatan Kayu. 162 Pengelolaan Lahan. 113 Nira Aren. 37 Pemetaan. 13. 29. 182 Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. 104. 180 Penduga Volume Pohon. 13. 1 Model Input-Output. 2 Pembiakan Vegetatif. 107 Murbey Eksot. 155. 180 Model Pemanfaatan Partisipatif. 40 Mutu Benih. 47 Penangkaran. 133. 149. 12. 141. 87 Pemangkasan. 176 Pencegah Serangan Rayap. 99 194 . 156 Pendapatan Masyarakat. 13.. 38. 161. 121 Mimba. 19. 161 Pengolahan Kayu. 178 Pengelolaan Lahan. 79. 9. 25 Pemanfaatan Limbah. 5.

79 Rayap Pekerja. 75. 152. 160. 3 Social Capital. 145. 31. 52 Pohon Tahan Api. 92 Perencanaan Pengelolaan. 104. 153 Rumah Kaca. 129 Pupuk Daun. 7. 17. 130 Pestisida Nabati. 7. 38. 94 Sifat Fisis Dan Mekanis. 84. 7. See Meranti Merah Sifat Fisiko-Kimia. 124. 163 Perekat. 105. 105 Puspa. 151 Perhutanan Sosial. 66 Peran Hutan. 129. 153 Rotan. 112. 33. 93. 48 Produksi Kelompok Hutan Alam. 76. 130. 170 Rehabilitasi Hutan. 21 Sistem Pertanaman Lorong. 169. 7. 118 Penyakit Embun Jelaga. 61 Penyakit. 146 Perlindungan Hutan. 44. 159. 52. 82 Penjarangan. 150 195 Salinitas. 4. 70. 1. 20 Perlindungan Hutan. 115 Sengon. 77 Sifat Tanah. 32. 120. 20 Pestisida. 123. 78. 58 Pulai. 104 Peta Potensi. 162. 132. 173 Shorea Leprosula Miq. 31. 89. 89 Petani Penyadap. 131. 100. 86 Sertifikasi. 16. 127. 9 Pranata Sosial. 101. 40. 22 Penotipe. 7 Serasah. 65. 97 Provenansi. 6 Penyakit Embun Tepung. 129. 99 Rekayasa Sosial. 71 Potensi Tegakan Hutan Alam. 23. 120. 36 Rusa Sambar. 75. 91 Sistem Kaliwu. 69 Peredaran Kayu. 136. 51. 35 Serat Batang Kelapa. 1. 81 Rehabilitasi. 4. 33. 103 R Ramin. 116 Perikanan. 6 Penyaradan Kayu. 172 Peran Jender. 31 Sistem Tebang Pilih. 122. 111. 44 Penyu. 39. 133 Perlindungan Hutan. 39. 123 Scion. 110 Rayap Kayu Kering. 29 S Santalum Album. 70. 99. 140 Pohon Lokal. 36. 166 Serangga Hama. 31 Rehabilitasi Lahan. 3 Produktivitas Dan Biaya. 162. 6. 62. 159. 9. 38. 47. 69. 51. 80. 38. 106. 100. 38 Produksi Daun. 166 Penyakit Bercak Daun. 132. 103 Penotipa. 170 Rehabilitasi Lahan. 136 Sistem Kabel Layang. 80 Serbuk Gergaji. 71. 39. 24. 100. 169. 32 Sistem Kerek. 8 Rencana Makro. 145 Rejuvenasi. 69. 15 . 177 Riau. 133. 152. 13. 42 Pupuk Kandang. 15. 131 Pulai Darat. 32.Peningkatan Kualitas Kayu. 16 Pupuk Nitrogen. 97 Penyelundupan Kayu.

126. 12 Stek. 155. 158. 163. 178. 121. 19. 113 Sumber Daya Air. 102 Traktor Caterpillar. 70. 58 Taman Nasional Meru Betiri. 138 Tapak Hutan. 114. 63. 51. 128. 18. 179 Tataniaga. 184 Sulawesi Tenggara. 126 Sulawesi Selatan. 41. 107 Ukiran Kayu. 121. 72 Tumbuhan Obat. 136. 173. 18 Taman Nasional Gunung Rinjani. 18. 127. 96 Sumber Benih. 54. 19 Tanaman Mimba. 149. 167. 126 Sterculia Foetida Linn. 82 Teknologi Pemanfaatan Kayu. 1 Tanaman Penutup. 177 Sosial Ekonomi. 161. 163. See Kepuh Strata Tajuk. 54. 59. 98. 179 Sumberdaya Air. 57. 66 Teknik Pengelolaan. 175 Subak. 130 Stek Akar. 39. 153 Taman Nasional Bromo Tengger. 60. 46 Strategi Pengelolaan. 44. 28. 175 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 116.F. 163. 97 Tumbuhan Berkayu. 89 Tanin. 109 Sumatera Selatan. 160 Teknik Pengepakan. 130 Taman Nasional Bali Barat. 162. 55. 30. 26 Taman Nasional Gede Pangrango. 105. 70 Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. 127 Teknik Pemeliharaan Tegakan. 172 Tata Usaha Kayu. 139 Tectona Grandis L. 79. 37. 36. 4. 55 Teknik Penangkaran Penyu. 98. 68. 69. 33 Sukabumi. 179. 36 196 . 160. See Jati Teknik Budidaya Kutu Lak. 35. 114 Teknologi Mikroba Simbiotik. 22. 179 Sumberdaya Hutan. 19 Tumbuhan Obat. 102. 128 Teknik Silvikultur. 19 Tata Air. 141. 28. 75. 169 Teknologi Pemuliaan. 87 Ulat Sutera.Wanggameti. 28. 113. See Mahoni T Tajuk Pohon. 115. 165 Teknologi Perbenihan. 41 Taman Nasional Komodo. 19. 56 U Uji Efikasi. 24.Social Forestry. 58 Teknik Budidaya Padi Gogo. 170 Tingkat Kerontokan. 61. 154 Taman Nasional Betung Kerihun. 142. 21. 55 Taman Nasional Kerinci Seblat. 13. 34 Tumpangsari. 66. 30 Taman Nasional Laiwangi . 118. 27. 43. 105. 91. 169 Teknologi Pemadatan. 111 Swietenia Macrophylla King. 20 Taman Nasional Kelimutu. 63.. 154. 181 Supply-Demand. 5. 56 Teknik Pembibitan. 174. 83. 132. 16. 94. 87. 5. 173 Standarisasi Benih. 25. 164 Sosial Forestry. 171 Surian. 11. 120. 149. 48 Tipe Vegetasi. 17 Taman Nasional Bukit Tigapuluh. 154.. 23. 89 Tapak. 17 Teknik Penyiangan. 51. 30. 172 Sumatera Utara. 103 Sukun. 25. 32 Tandan Kosong.

See Bitti Volume Teras Kayu. 174 W Vanilla Planifolia Andrews. 76.. 83 X Z Zat Pengatur Tumbuh. 115 197 . 42.Ulin. See Vanili Vegetasi. 78 Vitex Cofasus Reinw. 98. 51 Urea. 47 V Vanili. 1. 78. 84 Venir Silang. 27 Wawasan Lingkungan. 102 Venir. 57 Wallaceae. 57. 80 Xylarium. 91 Wisatawan. 34.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful