P. 1
mul JURNAL

mul JURNAL

|Views: 3,015|Likes:
Published by Jefry VoLution

More info:

Published by: Jefry VoLution on Dec 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2013

pdf

text

original

Abdurachman POTENSI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm.

Binn) DI HUTAN ALAM LABANAN, KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman dan Amiril Saridan. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 225-236 , 2006 Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn) is one of timber product in East Kalimantan, which has a hight economical value. Ulin has been an important source of income for the forest community and National income. Information of potency and population A.zwageri Teijms. & Binn in natural forest is limited, other hand extraction or exploitation A zwageri Teijms. & Binn is still intensive, without knowing whether the tree has Ulin or not which will impact on genetic resource. This researsch was done at STREK project plots at Labanan tropical production forest with the area of plot each is 4 ha (200 m x 200 m). The totals of plots are 12 plots or 48 hectare. The objective of this research is to get information of stocking and distribution of the trees produced Ulin Eusideroxylon zwageri Teijm & Binn. The result shows that the total of trees on plots are 230 trees, which mean only 5 tree/ha (basal area are 1.9483 m2/ha). The maximum diameter in these plots is 95.2 cm while the minimum diameters were above 10 cm. Kata kunci: Ulin, Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn, Hutan alam, Labanan, Berau, Kalimantan Timur Abdurachman SEBARAN DIAMETER PADA HUTAN 1 TAHUN SETELAH PENEBANGAN DENGAN SISTEM KONVENSIONAL DI BERAU, KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 317-324 , 2006 The research was carried out the concession area of PT Inhutani I Labanan, Berau, East Kalimantan. Measurement was conducted at the plots 4 ha (200x200m). The measured diameters were from 10 cm dbh and above. The objective of this research were to know the stand structure from diameter

distribution after logging with conventional system based on exponential, Gamma, Beta, Lognormal and Logistic distribution functions. The result showed that the distribution based on number of tree follow the reserve-j pattern which is the phenomenon of mixed natural forest. Furthermore by using the regression equation based on highest coefficient of determination (R2) and the least standard deviation, the suitable function was obtained namely exponential distribution function. Kata kunci: Diameter, Struktur, Tegakan, Penebangan, Konvensional, Berau, Kalimantan Timur Ade PEMANFAATAN TANAMAN MIMBA UNTUK REHABILITASI LAHAN KERING SEKALIGUS MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN / Ade. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 71-84 , 2006 Tanaman Mimba intaran atau Nee (Azadirachta indica) adalah salah satu jenis pohon asli Indonesia yang tumbuh di daerah kering dan merupakan tanaman serbaguna yang bernilai jual ekonomi tinggi. Produk dari mimba antara lain: (1) untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik, (2) kosmetik dan toiletris seperti sabun batangan,-sabun cair, body lotion, shampo, dan pasta gigi, obat kumur, dan produk spa; (3) pembuatan obat seperti teh hijau, kapsul neem, obat luka dan balsem; (4) pakan ternak; (5) produk lain seperti obat nyamuk, minyak pelumas, pengusir hama gudang dan lain-lain. Dalam pembuatan kegiatan tanaman hutan tanaman yang meliputi teknik persemaian, penanaman dan pemeliharaan tidak memerlukan perlakuan khusus dan hampir sama dengan jenis tanaman lain. Khusus kegiatan panen dan pasca panen memerlukan teknologi khusus mulai dari pengambilan bahan tanaman yang dikaitkan dengan pengolahan pasca panen. Dalam pengembangan tanaman mimba PT. Intaran Indonesia menggunakan konsep Strategi Tiga Lingkaran a.l.: preparing, processing and developing, yang melibatkan kerjasama masyarakat, baik pemerintah, LSM, pengusaha dan kelompok tani. Kata kunci: Mimba, Rehabilitasi, Lahan kering, Ekonomi Masyarakat

1

Adinugroho, Wahyu Catur MODEL PENDUGAAN BIOMASSA POHON MAHONI (Swietenia macrophylla King) DI ATAS PERMUKAAN TANAH (Biomass Estimation Model of Above Ground Mahogany (Swietenia macrophylla King.) Tree) / Wahyu Catur Adinogroho; Kade Sidiyasa. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 103 - 117 , 2006 Protokol Kyoto meliputi mekanisme pembangunan bersih dalam rangka mengontrol karbon yang dihasilkan oleh negara-negara di dunia. Hutan menyerap CO2 dari udara melalui proses fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa hutan. Untuk menduga jumlah biomassa di dalam hutan, pendekatan secara tidak langsung melalui model alometrik dan metode biomass expansion factor (BEF) dapat digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh besarnya nilai BEF dan membuat model alometrik dalam menduga besarnya biomassa pada pohon mahoni. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut maka ditentukan sebanyak 30 pohon contoh yang ditetapkan secara purposif, yang selanjutnya dilakukan penghitungan biomassa. Biomassa batang dan cabang yang beraturan dihitung dengan menggunakan pendekatan volume sedangkan biomassa bagian lainnya dihitung dengan penimbangan langsung. Model pendugaan biomassa dihasilkan dengan menganalisa hubungan antara nilai biomassa dengan dimensi pohon. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah biomassa tertinggi terdapat pada bagian batang yakni mencapai 73 % dari biomassa keseluruhan pohon di atas permukaan tanah, kemudian diikuti oleh biomassa cabang (17 %), tunggak (5 %), daun (3 %), dan ranting (2 %). Model alometrik yang dihasilkan untuk menduga biomassa pada pohon mahoni adalah B = aDb, di mana B = biomassa (kg); D = diameter (cm); a, b = konstanta. Persamaan regresi yang dihasilkan tersebut adalah biomassa batang (Bbtg) = 0,044 D2,61 (R2 = 94,7 %), biomassa cabang (Bcab) = 0,00059 D3,46 (R2 = 83,5 %), biomassa ranting (Branting) = 0,0027 D2,42 (R2 = 65,6 %), biomassa tunggak (Btunggak) = 0,022 D1,96 (R2 = 65,6 %), biomassa daun (Bdaun) = 0,0138 D1,93 (R2 = 70 %), biomassa pohon di atas permukaan tanah (Btotal) = 0,048 D2,68 (R2 = 95,8 %). Sedangkan nilai ”BEF” rata-rata untuk pohon mahoni adalah 1,36 (biomassa batang keseluruhan) dan 2,16 (biomassa batang bebas cabang). Kata kunci : Mekanisme pembangunan bersih, biomassa, karbon, model alometrik biomassa, biomass expansion factor, Swietenia macrophylla King

Adman, Burhanuddin PENGARUH KULTUR MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN Araucaria cunninghamii Sw. DENGAN KULTUR JARINGAN (Effects of Culture Media on the Growth of Araucaria cunninghamii Sw. Explants with Tissue Culture) / Burhanuddin Adman; R. Mulyana Omon. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 67 - 73 , 2006 Penelitian pengaruh kultur media terhadap pertumbuhan eksplan Araucaria cunninghamii Sw. dengan kultur jaringan telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Petanian Universitas Papua, Manokwari, Irian Jaya. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan kultur media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan A. cunninghmii pada kultur jaringan. Percobaan dilakukan dengan tiga media kultur, yaitu MS, WPM, dan Anderson. Setiap media kultur yang volumenya 250 ml ditanami 10 eksplan A. cunninghamii. Hasil memperlihatkan bahwa WPM media telah berpengaruh terhadap pembentukan kalus (20 %) eksplan A. cunninghamii selama 16 minggu pengamatan. Sedangkan media MS dan media Anderson tidak memberikan pengaruh terhadap pembentukan kalus. Persentase pencoklatan masingmasing media berkisar antara 30 % dan 90 % dan persentase kontaminasi berkisar antara 10 % dan 50 %. Secara umum pencoklatan dan kontaminasi eksplan disebabkan oleh oksidasi substrat yang dihasilkan oleh A. cunninghamii. Dengan demikian pembiakkan vegetatif melalui teknik kultur jaringan pada eksplan A. cunninghamii harus dicoba dengan bahan kimia sterilisasi yang lain, misalnya NaOCl, dengan media WPM. Kata kunci : Araucaria cunninghamii Sw., media kultur (MS, WPM, dan Anderson), kultur jaringan Agustini, Luciasih KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR YANG POTENSIAL DALAM PEMBENTUKAN GAHARU DARI BATANG Aquilaria spp. (Biodiversity of Potential Agarwood Inducer Fungi Taken from Aquilaria spp. Stems) / Luciasih Agustini, Dono Wahyuno, dan Erdy Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.5 ; Halaman 555 564, 2006 Terbentuknya gaharu diyakini sebagai respon pohon gaharu terhadap banyak faktor, di antaranya fisiologis tanaman dan infeksi jamur. Sejumlah isolat jamur

2

yang berpotensi menginduksi gaharu telah diisolasi dari sampel kayu gaharu dari berbagai daerah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui keanekaragaman jenis isolat yang berhasil dikoleksi. Sampel kayu diambil dari beberapa lokasi penanaman gaharu di Jawa, Sumatera, Kalimatan, dan Maluku. Kegiatan isolasi, pemurnian, dan perbanyakan dilakukan dengan menumbuhkan pada berbagai media. Identifikasi dilakukan dengan mengamati ciri makroskopis dan mikroskopis isolat yang dibiakkan pada media PDA dan BLA yang diinkubasi pada suhu ruang dengan pencahayaan 300-400 lux selama 10-14 hari. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa biodiversitas isolat koleksi meliputi jenis Fusarium solani (Mart.) Appell and Walenw., F. tricinctum (Corda) Sacc., F. sambucinum Fuckel, dan Cylindrocarpon sp. Kata kunci: Keanekaragaman, Fusarium, Cylindrocarpon, ciri makroskopis dan mikroskopis Alrasjid, Harun PENERAPAN SISTEM TEBANG PILIH DI HUTAN RAWA GAMBUT / Harun Alrasjid. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 45-48 , 2006 Penerapan sistem silvikultur dalam mengelola hutan rawa gabut memerlukan penelitian yang seksama dalam jangka waktu yang lama. untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek diperlukan pengkajian ulang terhadap sistem silvikultur yang sudah mapan. Sebelum sistem silvikultur lainnya diterapkan dalam mengelola hutan rawa gambut patut ditelaah terlebih dahulu kondisi hutan rawa gambut dengan persyaratan yang diminta oleh sistem silvikultur tersebut. Penerapan sistem silvikultur TPTI untuk mengelola hutan rawa gambut perlu dikaji keakuratannya. Kata Kunci: Tebang Pilih, Hutan Rawa Gambut, Silvikultur

Alrasyid, Harun PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MENURUNNYA KELESTARIAN PRODUKSI KELOMPOK HUTAN ALAM TRENGWILIS - BOA ODAK, GUNUNG RINJANI, NUSA TENGGARA BARAT (Solution Approach of

Sustained Yield Declining Problem of Trengwilis - Boa Odak Natural Forest Complex, Mount Rinjani, West Nusa Tenggara) / Harun

Alrasyid; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 31 - 44 , 2006 Garu (Disoxylum densiflorum Miq.) merupakan salah satu jenis kayu primadona untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat ini produksi kayu tersebut setiap tahun semakin merosot, sehingga perlu ditangani segera melalui penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pemecahan masalah penurunan produksi hutan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa vegetasi. Hasil survey potensi hutan menunjukkan bahwa kelompok hutan Trengwilis – Boa Odak yang terletak di lereng Gunung Rinjani memiliki permudaan alam jenis perdagangan yang cukup. Rata-rata permudaan alam tingkat semai ada 9.740 batang per hektar, tingkat pancang 638 batang per hektar, dan permudaan alam tingkat tiang 75 pohon per hektar, namun jumlah volume kayu yang dapat dipungut sangat rendah (27,56 m³/ha untuk diameter 50 cm ke atas). Berdasarkan kondisi hutan tersebut di atas, penggunaan sistem Tebang Pilih dengan limit diameter tebang minimum 30 cm akan berakibat penebangan berkelebihan (44,63 m³/ha) sehingga kelestarian hutan akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan dengan cara : a. Limit diameter tebang dinaikkan minimum 40 cm, kecuali untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq., Eugenia polycephala Miq., dan Memecylum costatum Miq. dengan limit diameter tebang minimum 50 cm. Begitu pula untuk jenis pohon Duabanga moluccana Bl. dengan minimum diameter 70 cm; b. Perlu dilakukan pemeliharaan tegakan di areal bekas tebangan dan pengayaan tanaman khususnya untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq. Kata kunci : Kelestarian produksi hutan, Gunung Rinjani, Duabanga Moluccana Bl.., hutan alam Boa Odak, sistem silvikultur

3

Chairil PREDIKSI MUSIM PUNCAK BUAH EMPAT JENIS MANGROVE BERDASAR HASIL FENOLOGINYA (Fruit Peak Season Prediction of Four Mangrove Species Based on Phenology) / Chairil Anwar. dan (c) Pemanenan biomas hutan yang tak terkontrol telah menghilangkan rata-rata 99. terbentuknya bakal buah. (1949). Taman Nasional Bukit Tigapuluh Anwar. Dengan diketahuinya tahapan fenologi ini maka dapat diprediksi berapa lama lagi buah mangrove akan matang. Smith memerlukan waktu 15 minggu untuk menjadi buah matang sejak munculnya tunas muda pada ketiak daun di ujung ranting. dekomposisi serasah. No. mucronata Lamk 60 minggu. Kata kunci: Potensi flora.552 gc/m2/th karbon organik.) Lamk 36 minggu. Untuk menaksir tingkat pembusukan serasah dan laju akumulasi unsur mineral yang terurai menggunakan cara yang digunakan oleh Olson (1963 ) dan Yenny et al. Selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Bukit Lancang mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan dua lokasi lainnya. TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. -. KALIMANTAN BARAT (Loss of Mineral Element During Leaf Center (GTC). Kata kunci : Mangrove. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang peranan hutan mangrove dalam memelihara kesuburan daerah perairan pantai di bawah tegakan tinggal hutan alam mangrove. Harun PELEPASAN UNSUR HARA MINERAL SELAMA PELAPUKAN SERASAH DAUN DI AREAL TEGAKAN SISA HUTAN ALAM MANGROVE SUNGAI SEPADA. Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Sungai Sepada. pengelolaan kawasan. dan Bruguiera gymnorrhiza Lamk. Serasah kering dikumpulkan setiap triwulan. -. (b) Laju penguraian unsur mineral selama dekomposisi serasah adalah : P>N>Mg>C >Al >S>K>Fe>Cu>Zn>Ca>Mn. RIAU (Potency of Flora and Species Diversity in Granit Training Center. 2006 Pengamatan secara kontinyu proses terbentuknya buah mangrove matang dilakukan terhadap sepuluh tangkai yang memiliki bakal tunas bunga dari setiap pohon contoh. Penaksiran jumlah serasah menggunakan 10 buah jaring serasah berukuran masing masing 1 m x 1 m dan diletakkan secara acak dalam hutan. buah muda serta buah matang. Halaman 513 -532 .136 . Riau) / Bambang S.5 . Kwatrina. Berdasar hasil pengamatan fenologi empat jenis mangrove di kawasan mangrove Suwung. Bali.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III. dan tingginya agak seragam. Lokasi penelitian terletak di komplek hutan alam mangrove Sungai Sepada. Analisis vegetasi dilakukan dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP) dan asosiasi antar jenis.4 % karbon organik. keragaman jenis. Halaman 237 247 . dengan rekomendasi bahwa Bukit Lancang dapat dikembangkan sebagai hutan pendidikan lingkungan dan jalur pendakian bagi pengunjung. Riau. Antoko dan Rozza T. Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). dan sekitar Air Terjun Granit. Pengamatan dilakukan pada jenis-jenis vegetasi di kawasan GTC yang menarik pada lokasi penelitian yaitu Bukit Lancang. telah diketahui waktu-waktu yang diperlukan pada masing-masing proses tahapan fenologi mangrove : munculnya tunas bunga. Hutannya didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata Lamk. Halaman 127 . Bambang S POTENSI DAN KERAGAMAN JENIS FLORA PADA KAWASAN WISATA ALAM DI GRANIT TRAINING CENTER. munculnya bakal bunga. Rhizophora apiculata B.Litter Decomposition in Residual Stand Areas of Natural Mangrove Forest. Dengan mengadakan studi lapangan Heryati. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : (a) Tegakan tinggal hutan mangrove menghasilkan rata rata 202.III. bunga pada keadaan mekar. sekitar kolam. serta R. Selain itu dikumpulkan juga data jenis satwa yang ada di lokasi penelitian. -. Tanahnya digenangi air pasang laut yang tingginya beberapa sentimeter. Bruguiera gymnorrhiza (L. Air Terjun Granit dan kawasan sekitar kolam sebagai bagian tak terpisahkan dari pelatihan dan demonstrasi pemadaman kebakaran hutan.L. No. lokasi penelitian tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. pelepasan unsur mineral Antoko. bunga siap mekar.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. West Kalimantan) / Harun Alrasyid. memerlukan waktu 61 minggu.2 .3 . Yetti Alrasyid. Kalimantan Barat. No. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan keragaman jenis dan peluangnya sebagai lokasi wisata alam di Granit Training 4 . Bukit Tigapuluh National Park.III. apabila dijumpai salah satu tahapan fenologi mangrove di lapangan. Sonneratia alba J.

yang terdiri dari mangrove komplek Teluk Gilimanuk Kata kunci: Taman Nasional. Berdasar hasil 5 . Pengalaman lahan gambut Sebangau tahun 1994 menunjukan bahwa akibat adanya pembuatan kanal yang belum begitu banyak. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . maka fluktuasi permukaan air tanah yang tinggi ini dapat menyebabkan gambut tidak akan dapat menyerap air kembali apabila tergenang oleh air berikutnya. KALTENG / Chairil Anwar. Chairil KERAGAMAN DAN SEBARAN MANGROVE DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Chairil Anwar. Sonneratia. Rhizophora. Gilimanuk. 2006 Pembuatan kanal dalam wilayah lahan gambut selain akan memudahkan ekstraksi kayu dalam pembalakan liar. 2006 Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. Halaman 223240 . tujuh jenis merupakan elemen minor dan 33 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. NUSA TENGGARA BARAT DAN KEMUNGKINANNYA SEBAGAI SUMBER BENIH / Chairil Anwar. Limabelas jenis vegetasi merupakan elemen mayor pembentuk mangrove. konservasi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 10 jenis merupakan elemen tambahan dan 29 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. Penambatan kanal merupakan salah satu upaya untuk memperlambat keluarnya air dan memperkecil fluktuasi permukaan air gambut yang diharapkan dapat memperbaiki ekosistem gambut untuk mendukung rehabilitasnya. dan penurunan kualitas perairan sungai di sekitarnya. Empat belas jenis vegetasi merupakan elemen utama pembentuk mangrove. 2006 Taman Nasional (TN) Bali Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. Bali Barat. sedimentasi. telah menyebabkan terjadinya banjir besar.Mengingat lahan gambut memiliki sifat pengkerutan atau kering tak balik (irreversible) . Kalimantan Tengah Anwar. Sekurang-kurangnya dijumpai 53 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati lima komplek mangrove di TN Bali Barat. Gambut di alam pada dasarnya merupakan bahan "spongy" yang mempunyai daya besar dalam menahan air hingga 4. 2006 . Chairil PENAMBATAN KANAL: UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI LINGKUNGAN PADA KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEBANGAU. Kondisi ini akan memunculkan persoalan lingkungan hidup seperti terancam punahnya fauna dan flora. sehingga dapat menahan banjir pada musim hujan dan mampu mengalirkan air pada saat musin kemarau. Halaman 187-195 .Pengalaman saat ini dengan semakin maraknya pembuatan kanal-kanal. Tanjung Gelap dan luas Anwar. -. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Bruguiera Anwar. Kata Kunci: Kanal.5-30 kali bobot keringnya. Kata kunci: Fenologi mangrove. diperkirakan luas mangrove di wilayah TN Bali Barat adalah 551 ha.guna mengetahui tahapan fenologi mangrove yang paling dominan pada suatu kawasan tertentu serta pada suatu saat tertentu. Halaman 155-165 . yang pada gilirannya akan membantu dalam rangka perencanaan pengunduhan buah serta penyediaan bibit mangrove. -. Sebangau.kebakaran hutan. maka dapat diprediksi kapan akan terjadi musim puncak berbuah mangrove. Berdasar hasil pengukuran secara kasar. Teluk Trima. banjir. Possumur. maka permukaan air tanah dapat mencapai antara 10-30 di atas permukaan tanah pada musim hujan dan dapat mencapai 100 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau. sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petani sekitar. Chairil SEBARAN MANGROVE DI PULAU LOMBOK. Pulau Menjangan. juga penyebabkan terjadinya perubahan ekosistem yang akan berakibat timbulnya kerugian sangat besar dikemudian hari . sekurang-kurangnya terdapat 55 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati 30 komplek mangrove di Pulau Lombok.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. yang pada gilirannya menyebabkan lahan gambut sangat rentan terhadap kebakaran. Hutan rawa gambut. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.

West Nusa Tenggara) / Illa Anggraeni. 27 jenis) . merupakan jenis pohon cepat tumbuh untuk penghijauan yang tanaman mudanya mudah terserang penyakit.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. penyakit karat daun disebabkan oleh Atelocauda digitata G. KHDTK Rarung. Halaman 209 .55 %. Hasil identifikasi dan determinasi penyebab pada fase aseksual penyakit embun tepung adalah fungi Oidium sp. 18 jenis).III. caseolaris tersebar di Pulau Lombok yang dapat disarankan untuk dijadikan sumber benih mangrove. L. Lombok Timur. -. mucronata.2 . Kabupaten Lotim Selatan (71 ha. BKPH Pare.5 ha dengan keragam 50 jenis mangrove. KPH Kediri. R. R. pada fase seksual (Ascomycetes). (Deuteromycetes) atau disebut pula Erysiphe sp. Meliola sp. Kata kunci : Klicung. Kenyataan di lapangan ternyata tanaman klicung terserang oleh penyakit embun jelaga (black mildew) dan sekaligus juga oleh penyakit daun menggulung (roll leaf). No. sehingga diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian secara efektif dan efisien. pohon menjadi kering dan terselimuti Kata kunci : Acacia auriculiformis A. Persentase serangan penyakit karat daun rata-rata sebesar 91. Akibat kedua penyakit tersebut tanaman pertumbuhannya menjadi terhambat. Jenis pohon ini tergolong lambat tumbuh (slow growth) dan tergolong jenis kayu mewah (fancy wood). Ex. S. Diospyros malabarica (Desr.5 ha. diperkirakan luas mangrove di Pulau Lombok adalah 1. Mangrove Anggraeni.) Kostel) secara alami terdapat di Klicung (Diospyros Kabupaten Sumbawa dan Lombok Selatan. No. tagal. Sumber benih. Kata kunci: Pulau Lombok. Illa DIAGNOSA PENYAKIT EMBUN JELAGA DAN DAUN MENGGULUNG PADA KLICUNG (Diospyros malabarica (Desr. Ari Wibowo. alba dan S. Lombok Barat. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tanaman Acacia auriculiformis A. Ex Benth. Illa SERANGAN PENYAKIT EMBUN TEPUNG DAN KARAT DAUN PADA Acacia auriculiformis A.III.marina.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. penyakit embun tepung.) Kostel at Forest research (KHDTK) of Rarung. Nusa Tenggara Barat seluas 5 hektar. Lombok. Cunn. 2006 membelok). Ngatiman.pengukuran secara kasar.214 . Informasi dari penyakit embun jelaga dan daun menggulung yang keduanya sekaligus menyerang tanaman klicung belum pernah ada. Cunn. Kostel) DI KHDTK BARUNG.apiculata.Cunn. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang organisme penyebab penyakit embun jelaga dan daun menggulung serta ekobiologinya.stylosa. Cunn. pesisir Kabupaten Lombar Selatan (77. Benth. Ex Benth. dan penyakit daun menggulung disebabkan oleh virus.1 . bagian pucuk bentuknya tidak normal (keriting. Wint. yang terserang embun tepung saja tidak ada sedangkan yang terserang kedua penyakit tersebut sebesar 8. dan malabarica (Desr. 2006 Acacia auriculiformis A. C. Cunn. racemosa. berumur dua tahun serta akibat yang ditimbulkannya. pesisir selatan Kabupaten Loteng (7 ha.592. DI KEDIRI.44 %. dan dapat menyebabkan embun tepung. R. 28 jenis). NUSA TENGGARA BARAT (Diagnostic of Black Mildew and Rolled Leaf Diseases on Diospyros malabarica (Desr. Penelitian yang dilakukan di RPH Pandantoyo. Hasil pengamatan gejala di lapangan serta pengamatan mikroskopis di laboratorium penyebab penyakit embun jelaga adalah fungi Meliola sp. daun menggulung. -. membengkak. terserang oleh dua jenis penyakit yaitu karat daun dan embun tepung. 6 . JAWA TIMUR (Powdery Mildew and Rust Attack on Acacia auriculiformis A. setidaknya terdapat sembilan jenis: A. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 1994 membuat plot uji coba penanaman klicung di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rarung.Cunn.) Kostel. East Java) / Illa Anggraeni. Jawa Timur bertujuan untuk mengetahui gejala makroskopis dan mikroskopis dari penyebab penyakit yang menyerang tanaman Acacia auriculiformis A. Ex Benth. Ex Benth.. embun jelaga. Ex Benth.759 ha. penyakit karat daun Anggraeni. Lombok Tengah.Untuk keperluan rehabilitasi mangrove. 31 jenis) dan pesisir Kabupaten Lombar Utara (11 ha. yang tersebar pada pesisir Kabupaten Lotim Utara sekitar 1. Halaman 45 53 . in Kediri.

Halaman 115-124 . Oleh 7 . -. Lubuk Linggau. Kondisi ini dikhawatirkan suatu saat nanti serangan kumbang akan membahayakan tanaman apabila sejak dini tidak dikendalikan. Berdasarkan hasil uji pendahuluan insektisida jenis belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn. (Coleoptera:Brenthidae) merupakan serangga hama baru yang ditemukan menyerang tanaman pulai (Alstonia angustiloba) di PT. Hutan Tanaman Asmaliyah PENGAMATAN SERANGGA HAMA BARU PADA TANAMAN PULAI DARAT (Alstonia angustiloba) DI PT. 2006 Sampai saat ini cara yang paling umum digunakan untuk mengendalikan hama adalah dengan menggunakan insektisida kimia. Xylo Indah Pratama (XIP). Masyarakat tradisional memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya (etnobotani) untuk keperluan berburu.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Pengendalian hama. Halaman 95-103 . -. Keberhasilan pembentukan pupa. dan Enik Erna Wati Hadi. 2006 Pulau Sumatera memiliki potensi besar dalam hal keaneragaman jenis tumbuhan tingkat tinggi.) dan nango (Canangium sp. Kumbang ini merupakan hama penggerek daun (leaf miner) yang menyerang daun pulai dengan cara memakan daging daun pada permukaan daun. Cecar. dan pengendalian hama tanaman budidaya mereka.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .) terlihat bahwa ekstrak kedua tumbuhan tersebut mampu mempengaruhi mortalitas. Pengendalian hama Asmaliyah PROSPEK PEMANFAATAN BIOINSEKTISIDA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENGENDALIAN HAMA PADA HUTAN TANAMAN / Asmaliyah. obat-obatan. Sri utami.Asmaliyah POTENSI ETNOBOTANI SUMATERA SEBAGAI SUMBER PENGHASIL PESTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA / Asmaliyah. mamalia. suku Melayu Tua di jambi. dan ikan. Inventarisasi jenis tumbuhan. karena dianggap paling cepat dan ampuh mengatasi gangguan hama. Halaman 145-150 . Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi jenis tumbuh-tumbuhan yang secara tradisional oleh masyarakat etnis Sumatera dimanfaatkan sebagai obat-obatan (tradisional medicine). Penelitian dilakukan sejak Desember 2003 sampai dengan Maret 2005 pada kelompok masyarakat suku Talang Mamak di Riau. dan imago Helicoverpa armigera Hbn dan Spodoptera litura F. antara lain terjadinya resistensi resurjensi. dan berbahaya bagi mahluk hidup serta pencemaran lingkungan. Kata Kunci: Bioinsektisida. Namun penggunaannya yang kurang bijaksana sering menimbulkan dampak negatif. 2006 Kumbang Cycotrachelus sp. Sebanyak 52 jenis tumbuhan diantaranya diduga berpotensi besar sebagai penghasil pestisida nabati. Pestisida nabati. tidak meninggalkan residu terhadap lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia. tetapi tingkat kerusakannya masih sangat rendah. XYLO INDAH PRATAMA-CECAR / Asmaliyah. sebagai dasar untuk mengklasifikasi potensi masing-masing jenis sebagai tumbuhan penghasil pestisida nabati. bahan berburu maupun pangusir hama pertanian. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan lebih banyak lagi tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil pestisida nabati maupun efektivitasnya dalam mengendalikan serangga hama tanaman. terbunuhnya musuh alami. Untuk menekan timbulnya berbagai permasalahan tersebut di atas. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Persentase serangan kumbang cukup tinggi. Salah satunya yang memenuhi persyaratan ini dan layak dikembangkan adalah bioinsektisida (insektisida mikroba dan insektisida organisme non target. Keberadaan kumbang ini cenderung meningkat seiring menurunnya serangan ulat Clauges glauculalis. dan Sri Utami. dan suku Rejang Lebong Tapus Bengkulu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari ketiga lokasi penelitian dapat ditemukan 266 jenis tumbuhan etnobotani. perlu dicari alternatif pengendalian yang efektif terhadap hama sasaran tetapi lebih aman. Kata Kunci: Etnobotani. Edwin Martin.

Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan masak memasak. serta kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan peternakan. tanpa harus mengorbankan kepentingan ekonomi dan politiknya masing-masing. . Kondisi tersebut akan dapat menumbuhkan dan memacu minat budidaya dan minat kelola oleh masyarakat dan dunia usaha. Halaman 19-30 . kebakaran hutan dan lahan. berfikir dan bekerja sehingga mereka mendapat manfaat optimal dan berkelanjutan. pertumbuhan cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal. kebutuhan akan bahan makanan yang berkaitan dengan hutan sebagai gudang alam. maupun yang berisfat trans nasional. Pulai. konversi lahan. Kata Kunci: Serangga. Kata Kunci: Hutan tanaman. social forestry) untuk memperoleh hasil getah dan kayu serta pemulihan fungsi lingkungan. Pengalaman lapangan dari desa-desa di Pulau Timor memperlihatkan bahwa penanganan pembangunan kehutanan. pelaksana kebijakan dan pelaku ekonomi bersama-sama dengan masyarakat lokal melakukan rekayasa sosial. antarbangsa.karena itu perlu pemantauan dan pengamatan secara periodik dan intensif terhadap perkembangan serangan kumbang Cycnotrachelus sp. Air 8 . Hama. 2006 . Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa. Sumatera Bau. menemukan kembali dan memanfaatkan proses belajar dinamis dari kapital sosial yang dimiliki masyarakat. Dengan demikian persoalannya bukan lagi pada akhirnya masyarakat memperoleh manfaat dari tanah. Ketegangan dan konflik ini tidak akan pernah terselesaikan apabila para pihak yang terlibat tidak menggunakan kearifan yang tinggi yang dimilikinya. Kata kunci: Rekayasa sosial. khususnya dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam bentuk kebijakan dan program yang mengarah pada upaya tersebut serta input teknologi dari lembaga penelitian. yang bersifat vertikal antara rakyat dan negara. dan aspek silvikulturnya sebagian besar telah dikuasi. 2006 Data di berbagai negara memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin pesat telah secara langsung menimbulkan peningkatan kebutuhan masyarakat baik secara individu. Yanuarius Koli REKAYASA SOSIAL DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI NTT / Yanuaris Koli Bau. Alstonia angustiloba. Jelutung (Dyera lowii) adalah jenis pohon lokal (Indigenous species) yang sangat prospektif untuk hutan tanaman produktivitas tinggi dan ramah lingkungan pada lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimiliki. Tanah. air.2 juta hektar (sumatera). Identifikasi di sejumlah negara menunjukan peningkatan kebutuhan nyata yang berkaitan langsung dengan hutan. sumber plasma nutfah tersebar dengan keragaman genetik yang besar. 2006 Potensi lahan rawa sangat besar. Cycotrachelus sp.Peningkatan kebutuhan ini telah secara nyata mendorong individu. Pasar ekspor getah dan kayu jelutung terus mengalami penurunan pasokan sehingga peluang pasar masih sangat besar. masyarakat bahkan negara bangsa sebagai pelaku ekonomi melakukan eksploitasi hutan secara berlebihan dan mengganggu keseimbangan ekosistem dan ketersediaan sumberdaya alam jangka panjang. pelaku ekonomi. baik yang bersifat horisontal antar kelompok sosial. termasuk penyelesaian antagonisme dan konflik yang terjadi hanya akan berhasil apabila para pembuat kebijakan. kelompok atau bangsa akan sumberdaya alam. PT Xylo Indah Pratama Bastoni PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN JELUTUNG (Dyera lowii) PADA LAHAN RAWA SUMATERA / Bastoni dan Abdul Hakim Lukman. Dyera lowii. Untuk mempercepat pemulihannya perlu dilakukan rehabilitasi melalui pembangunan hutan tanaman. pelaksana kebijakan. tetapi pada mulanya warga masyarakat bersama-sama pembuat kebijakan. -. Rawa. Jelutung. dan hutan. Coleoptera: Brenthidae. Halaman 69-76 .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Hutan tanaman jelutung dapat dikelola dengan pola yang seragam (HTI. Peningkatan kebutuhan ini pada gilirannya melahirkan antagonisme dan konflik.4 juta hektar (nasional) dan 7. pemanas. Saat ini sebagian besar lahan rawa dalam kondisi rusak yang disebabkan oleh kegiatan eksploitasi hutan. Keberhasilan pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa sangat ditentukan oleh peran aktif banyak pihak. Pengelolaan hutan. yakni meningkatnya kebutuhan akan kayu untuk perumahan. meliputi areal seluas 34. perabot rumah tangga.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Prospek pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa Sumatera sangat baik karena didukung oleh sumberdaya lahan yang luas.

mersawa (Anisoptera polyandra Bl. Kemiri saat ini pemanfaatannya lebih terfokus pada kemiri isi dan kayunya. matoa (Pometia pinnata Forst.88 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =17. dan minyak kemiri.46 m³/ha). kelat/jambu-jambu (Eugenia sp. Pengukuran potensi pada citra satelit tersebut dilihat dari tone yang dijumpai. Jenis ini dapat tumbuh dengan baik di Nusa Tenggara dan penyebarannya cukup merata.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Halaman 437 .al] . briket arang. -. Sedangkan pengamatan lapangan dilakukan dengan cara menentukan satuan contoh berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 1 km x 1 km (100 ha).Butar-Butar. Kata kunci: Kebun percobaan Bu'at-SoE. Metode yang digunakan yaitu pengukuran/penilaian potensi pada citra satelit dan pengamatan lapangan.).). Arang dan briket arang dapat digunakan sebagai sumber energi. potensi tegakan. Sofwan KLASIFIKASI POTENSI TEGAKAN HUTAN ALAM BERDASARKAN CITRA SATELIT DI KELOMPOK HUTAN SUNGAI BOMBERAI . Papua) / Sofwan Bustomi.).SUNGAI BESIRI DI KABUPATEN FAKFAK.04 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =9. Djoko Wahyono. kelompok hutan Darmawan.M. arang aktif.25 N/ha). Pengkelasan hutan menurut warna/tone pada peta citra satelit dapat digunakan. Nusa Tenggara Timur. Dari penelitian profil di lokasi menunjukan bahwa terjadi proses pedogenesis pada lapisan atas maupun bawah.25 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 8. lebar jalur 20 m.06 m³/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 85. 2006 . hutan “sedang” sebesar 76. -. Halaman 217-221 . 2006 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kelas kerapatan hutan dan potensi tegakan berdasarkan tampilan warna/tone pada citra satelit.56 m³/ha). Sifat tanah Bustomi. Kata kunci : Klasifikasi. semakin jelas tone yang dihasilkan. Potensi pohon berdiameter ≥ 20 cm di areal kerja PT. panjang 1.III.).60 N/ha). citra satelit. Tempurung kemiri yang selama ini banyak dijadikan limbah.). 2006 Tanaman Kemiri merupakan tumbuhan serbaguna dan pemanfaatannya sudah dikenal baik oleh masyarakat terutama buahnya. hal ini ditunjukkan oleh kerapatan tegakan hutan dengan diameter ≥ 20 cm pada hutan “jarang” sebesar 96. Beberapa produk dari hasil pengolahan tempurung kemiri adalah arang.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 69-76 . Hasil penelitian ditemukan 48 jenis pohon yang tercakup ke dalam 27 famili. dan pala hutan (Myristica fatua Houtt. Prabu Alaska Unit I Fakfak pada hutan “jarang” sebesar 68. -.80 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm = 16. hutan “sedang” sebesar 101.20 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 2. No.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.80 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 7. Penelitian dilakukan dengan membuat profil tanah di lokasi penelitian untuk dilakukan analisis tanah secara langsung maupun pengambilan contoh tanah untuk dilakukan analisa di laboratorium. PAPUA (Standing Stock Classification of secara sistematik dengan jarak antar jalur 200 m. sebenarnya memiliki kegunaan yang cukup bermanfaat.Besiri River Forest Natural.). Saptadi RAGAM MANFAAT KEMIRI / Saptadi Darmawan. Kandungan bahan organik dan N total terbesar terletak pada lapisan ke dua. Hasil analisa laboratorium menunjukan bahwa pH tanah (H2O maupun KCI) semakin tinggi dari lapisan atas ke lapisan bawah. Fakfak District.05 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 9. kenari (Canarium maluense Lauterb.70 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4.45 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4. Dengan dihasilkannya produk Nature Forest Based on Landsat Imagery at Bomberai River . N. baik pada media cair maupun udara. Arang dan arang aktif juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki sifat tanah. Destilat telah digunakan untuk memperbaiki sifat tanah dan pencegahan jenis hama dan penyakit tertentu.78 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25.000 m. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. semakin rapat tegakan. Heriyanto. Arang aktif dapat digunakan sebagai bahan adsorben.458 . Jenis-jenis yang dominan berturut-turut resak/damar (Vatica rassak Bl. proses pelapukan berlangsung secara normal. destilat. Di dalam plot bujur sangkar dibuat lima jalur ukur yang diletakkan 9 . tanah masih relatif muda dan secara edafis masih dapat ditumbuhi oleh beberapa jenis tanaman.66 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 18. NUSA TENGGARA TIMUR / Tigor Butar-Butar [et. Tigor STUDI SIFAT-SIFAT TANAH DI KEBUN PERCOBAAN BU'AT-SOE TIMOR TENGAH SELATAN. 2006 Telah dilakukan penelitian studi sifat-sifat tanah di Kebun Percobaan Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.25 N/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 118.4 .

Limbah. jenis gelam (Melaleuca sp. -. Survey. Gaharu.3 juta hektar meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. sedang ataupun dalam 10 . 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas 17 juta hektar yang terbentang dari pantai timur Sumatera Timur seluas 9.). Punak (Teramerista glabra). karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. Penelitian dilakukan pada bulan November 2004 di kawasan Hutan Timau Kecamatan Amfoang Kabupaten Kupang dan Kawasan Hutan Wanggameti. 2006 Telah dilakukan penelitian penyebaran dan keberadaan inang gaharu di alam. Halaman 205-215 . dalam melakukan vegetasi diperlukan pemilihan jenis yang tepat. dan rapuh (fragile). pada lokasi tempat ditemukannya gaharu/inang gaharu maupun bekas eksploitasi gaharu/inang gaharu. dan Sumatera Selatan. tysmanniana) atau Jelutung (Dyera lowii). geronggang (Cratoxylum glaucum). balangeran).000 hektar.laporan terakhir dari Badan Planologi Kehutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi. Kata Kunci: Kemiri.83 juta hektar/tahun termasuk kerusakan hutan rawa gambut. Herman PEMANFAATAN LAHAN SECARA BIJAKSANA DAN VEGETASI DENGAN JENIS POHON TEPAT GUNA DI LAHAN RAWA GAMBUT TERDEGRADASI / Herman Daryono. geronggang (Carborescens) merupakan jenis-jenis yang tahan hidup pada lahan sulfat asam.86 dan 8. Briket arang. Halaman 1-18 . sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. sedang HTI non pulp bisa dengan jenis meranti batu (Shorea uligonosa). dan keanekaragaman hayati. Kecamatan Metawai Selatan. dan budaya maupun fungsi ekologi. Penelitian dilakukan dengan melakukan survey dan wawancara terhadap masyarakat untuk mendapatkan data pengusahaan gaharu dan membuat petak berukuran 20 m x 20 m dengan jarak antar petak 200 m dengan sistem jalur untuk melakukan inventarisasi inang gaharu. Inventarisasi Daryono. Saptadi PENYEBARAN DAN KEBERADAAN INANG GAHARU DI ALAM / Saptadi Darmawan dan Sumardi. Arang. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus). 2006 . belangeran (S.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.28. -. Sedang pada lahan gambut dalam kategori dangkal. Dari hasil penelitian di lokasi penelitian diketahui inang gaharu dari jenis Aquilaria malaccensis sulit ditemukan. Lahan sulfat masam aktual merupakan lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup di situ. Kabupaten Sumba Timur. untuk tingkat pancang dan semai di petak analisis vegetasi masih dapat dijumpai dengan nilai indeks penting masingmasing sebesar 2. pemanfaatan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. pembangunan Hutan Tanaman Industri untuk pulp dapat menggunakan jenis Acacia crasicarpa. carbon storage. habitatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15m. Di Kalimantan seluas 6. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. dan kondisinya dalam keadaan terbuka pada kawasan produksi (gambut <3 m).6 juta hektar yang meliputi Provinsi Jambi. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada lahan gambut yang telah mengalami kebakaran. baik sebagai reservoir air.olahan dari tempurung kemiri tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat bagi masyarakat. Kata kunci: Inang. ekonomi. tanah-tanah (Combetocarpus rotundatus) juga dapat dipertimbangkan sebagai jenis untuk rehabilitasi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . meranti bunga (S. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan. dan Irian Jaya seluas 70. Destilat Darmawan. Pada masing-masing tipologi lahan. baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode antara 1997-2000 di Indonesia mencapai 2. Oleh karena itu. Inang gaharu di alam pada tingkat pohon dan tiang sudah tidak dapat ditemukan. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. Berkurangnya inang gaharu di alam disebabkan oleh perburuan yang berlangsung secara besar-besaran tanpa dilakukan upaya konservasi dengan melakukan budidaya inang gaharu. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Selain itu jenis-jenis pionir seperti pulai rawa (Alstonia pnematophora).

Hama daun. No. Kabupaten Bogor sebagai bahan baku semen menunjukkan hasil yang tidak baik. and Humic Acid to Growth Improvement of Khaya anthoteca Dx. PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN BATU GAMPING DI CILEUNGSI-BOGOR Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. dan biji terhadap hama daun Eurema s. Rancangan penelitian menggunakan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap. tetapi yang menjadi faktor pembatas adalah reaksi tanah agak alkalis dengan nilai tukar kation Ca sangat tinggi dan kadar salinitas tinggi serta kandungan C-organik dan nitrogen sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang respon pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. dan penggunaan mikroorganisme tanah. kompos. dan Mg). telah digunakan tanaman kehutanan yaitu Toona sureni Merr yang diketahui mengandung senyawa kimia melalui analisis kromatografi gas yang dapat berfungsi sebagai pembunuh hama. Rawa gambut Darwati.500 ppm belum cukup memenuhi kebutuhan hara tanaman (kadar C-organik dan nitrogen masih termasuk rendah) dan ditunjukkan tanaman kekurangan nitrogen. Cileungsi-Bogor) / Darwo. daya hidup. Insektisida ini berasal dari tanaman atau mikroorganisme. Dengan pemberian pupuk kompos 2 kg dan atau 500 ml asam humat 1. K. Eurema sp Darwo APLIKASI ENDOMIKORIZA. (Lepidoptera : pieridae) PADA SKALA LABORATORIUM / Wida Darwiati. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan unsur hara (P.Jurnal Aktifitas reklamasi pada lahan pasca penambangan batu gamping seperti di PT. 7cc/100 cc air.yang habitatnya masih tedapat tegakan. dan lain-lain dapat ditanam di tipologi lahan tersebut. Asam humat mampu meningkatkan pertumbuhan. ranting. perlu direvegetasi dengan jenis asli setempat seperti jelutung karena hasil getahnya dapat dimanfaatkan tanpa menebang pohonnya. dan persen infeksi akar bermikoriza yang lebih baik. Halaman 195 207 . Compos. Halaman 125-128 . Biji. Cileungsi. jika bibit telah diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith yang ditanam pada lahan yang diberi 500 ml asam humat 1. Pada kawasan konservasi (gambut >3m) dalam keadaan terbuka. Hasilnya menunjukan bahwa perlakuan ekstrak biji suren sangat efektif dan tercepat dalam pengendalian hama daun di laboratorium dengan jangka waktu 3 jam setelah perlakuan mortalitas terbanyak dibanding dengan ekstrak daun dan ranting. dan kontrol dengan rancangan acak lengkap. Untuk mendapatkan insektisida yang berasal dari tanaman. kapurnaga (Callophylum macrocarpum). Erdy Santoso. DAN BIJI SUREN (Toona sureni Merr: Meliaceae) TERHADAP HAMA DAUN Eurema spp. Yadi Setiadi. yang diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith terhadap pemberian pupuk kompos dan asam humat pada lahan bekas penambangan batu gamping serta tingkat infeksi cendawan endomikoriza pada tanaman tersebut. 2006 Perlindungan Tanaman terhadap serangan hama dan penyakit mulai dikembangkan dengan insektisida yang tidak mencemari lingkungan. DAN ASAM HUMAT DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Khaya anathoteca Dx. -. Kata kunci : Reklamasi. Kata Kunc: Pemanfaat lahan. Toona sureni Merr. Semen Cibinong. endomikoriza. -. teknik revegetasi. 2006 (Aplication of Endomycorrhyza. dosis yang digunakan 3 cc/100 cc air. 5 cc/100cc air. sehingga intensitas cahaya memenuhi persyaratan untuk hidup jenis komersial seperti ramin (Gonystylus bancanus). Wida UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN. Pada pengamatan selama 24 jam semua ulat mati. RANTING. Introduksi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith berkorelasi positif dengan asam humat dan keberadaan cendawan endomikoriza dan asam humat bersifat sinergis terhadap pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. Suren.500 ppm. Ranting. Selain itu pada lahan gambut masyarakat. PUPUK KOMPOS. batu gamping. Uji efikasi kandungan senyawa dari tanaman Toona Sureni Merr yang digunakan adalah bagian daun.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Pertumbuhan tanaman yang terbaik. sedangkan untuk perlakuan ekstrak daun dan ranting memerlukan waktu sampai 72 jam. hal ini dikarenakan kurang memperhatikan karakteristik bekas penambangan.III. dapat dibangun dengan jenis jelutung dengan sistem agroforestry. Kata Kunci: Uji efikasi. kapasitas tukar kation.2 . Ekstrak daun. Vegetasi. at Post-Limestone Mining Land. dan kejenuhan basa ada dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. asam humat 11 .

Bibit. pelaksanaan. Standar.Danu TEKNOLOGI DAN STANDARISASI BENIH DAN BIBIT DALAM RANGKA MENUNJANG KEBERHASILAN GERHAN / Danu. Faiqotul MODEL PEMANFAATAN PARTISIPATIF KAWASAN PENYANGGA HUTAN LINDUNG DENGAN POLA AGROFORESTRY / Faiqotul Falah.) Seedling) / Durahim.) adalah salah satu jenis endemik di Pulau Sulawesi yang termasuk diprioritaskan untuk Hutan Tanaman Industri.08 mm). seperti standar pengujian dan mutu benih/bibit. GERHAN. Hendromono. Demikian pula ketersediaan perangkat sistem dalam pengawasan mutu benih. Halaman 9 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Rehabilitasi menggunakan Faktorial Eksperimen dalam RCBD. No. Kata Kunci: Teknologi. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan penggunaan benih/bibit bermutu dalam program rehabilitasi hutan dan lahan di Indonesia.10 mm).18 mm). Halaman 63-76 . -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 101-109 . penyusunan standar pengujian dan mutu benih untuk berbagai jenis tanaman yang diperlukan serta peningkatan pengetahuan para praktisi di palangan dalam hal penyediaan. Durahim PENGARUH MEDIA DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN MUTU BIBIT EBONI (Diospyros celebica Bakh. Tiap kombinasi perlakuan diulang tujuh kali dan tiap ulangan terdiri dari lima bibit. Dede Rohadi.. prospek keuntungan ekonomi bagi masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni yang baik dicapai pada medium top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dan top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v). Kata kunci : Eboni (Diospyros celebica Bakh.1 . penanggulangan. dan pengawasan mutu benih/bibit.17 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi media dari tanah mineral dan bahan organik serta dosis pupuk NPK (17:17:17) terhadap pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni. Penelitian 12 . kawasan penyangga hutan lindung perlu dikelola pemanfaatannya agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menunjang fungsi hutan lindung sebagai penyangga tata air.III. sabut kelapa sawit. Tiga kombinasi perlakuan baik untuk pertumbuhan diameter batang bibit adalah top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v) tanpa pupuk (3. Model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung harus disesuaikan dengan karakter biofisik dan sosial ekonomi setempat sehingga dapat lebih tepat guna dan berkelanjutan. Pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung seyogyanya dilakukan dengan memberdayakan masyarakat dalam seluruh proses pemanfaatan. mulai dari perencanaan.). Interaksi antara jenis medium dan dosis pupuk NPK nyata terhadap pertumbuhan diameter batang bibit. Keberhasilan program ini memerlukan dukungan ketersediaan benih dan bibit yang bermutu dan berasal dari sumber benih bersetifikat dalam jumlah besar. Faktor-faktor yang diteliti adalah empat jenis kombinasi media dan tiga dosis pupuk NPK. Tulisan ini bertujuan memaparkan proses penyusunan rancangan dan pembangunan model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung dengan penerapan pola agrofishery yang memadukan budidaya ikan dengan tanaman kehutanan/pertanian dalam satu unit lahan. top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dengan pupuk NPK 0. pembangunan kebun benih/bibit. -. NPK Falah. 2006 Eboni (Diospyros celebica Bakh.. dan Nurhasybi. serta fungsinya dalam menunjang konservasi tata air. 2006 Mengingat fungsi ekologinya.5 g/bibit (3. -.0 g/bibit (3. Pemilihan jenis yang akan dibudidayakan harus mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia pelaksana. hingga monitoring dan evaluasi. bibit. Pada kenyataannya kemampuan produksi benih dari sumber benih yang bersertifikat belum memenuhi kebutuhan. sabut kelapa. baru tersedia untuk jenis-jenis komersial tertentu. top-soil.) (Effects of Media and NPK Fertilizer to the Growth and Quality of Eboni (Diospyros celebica Bakh. Peran fasilitator diperlukan sebagai pendamping proses tersebut.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Di antara upaya-upaya tersebut adalah pemeliharaan sumber-sumber benih. 2006 Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) adalah program pemerintah dalam upaya merehabilitasi hutan dan lahan dengan target seluas 3 juta hektar selama kurun waktu 5 tahun (2003-2007). modal finansial yang tersedia. benih.(et. dan top-soil murni dengan 1.al) .

partisipatif. Jenis pakan yang paling banyak dikonsumsi. dan kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan masyarakat. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan di daerah ini adalah illegal logging. tingginya ketergantungan masyarakat Flores terhadap sumberdaya hutan. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . -.82 . 2006 Pemanfaatan hutan yang tidak seimbang di Flores disebabkan oleh pandangan masyarakat yang hanya melihat nilai manfaat konsumtif (digunakan langsung sehari-hari tanpa mengolahnya untuk mandapatkan nilai tambah) dan nilai pemanfaatan produktif (langsung dijual ke pasar). berkurangnya peran lembaga adat. Kata kunci: Eksploitasi hutan. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Kata kunci: Bayan. peredaran ilegal hasil hutan (illegal trading). Penelitian menggunakan percobaan faktorial dengan dua faktor yaitu jenis kelamin dan jenis pakan yang berupa kacang-kacangan dan biji-bijian serta buah-buahan dan sayur-sayuran.54 %) untuk burung jantan dan 48. Nusa Tenggara Timur pada bulan September 1999 sampai Januari 2000.Untuk menopang keberhasilan programprogram yang dilakukan.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. perambahan. Electus roratus cornelia Bonaparte.Kata Kunci: Kawasan penyangga. konsumsi. 2006 Luas kawasan hutan di Provinsi Bali sekitar 23 persen. Halaman 63-69 . Berdasarkan hasil analisis terhadap konsumsi pakan berupa buah-buahan dan sayur-sayuran serta pakan berupa kacang-kacangan dan biji-bijian. Hutan Lindung. -. in Captive Breeding)/ R. Dalam mengantisipasi kepunahan populasi perlu dilakukan penangkaran jenis burung bayan tersebut. maka dukungan iptek terapan yang praktis dan dengan biaya murah sangat diperlukan. Tata Air Fatima. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tingkat konsumsi dan palatabilitas pakan burung bayan.29 kalori). Imaculata ARSITEKTUR BIOLOGIS MENUJU EKSPLOITASI HUTAN YANG HARMONIS DI FLORES / Imaculata Fatima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rata-rata konsumsi burung bayan jantan sebesar 205. Adapun faktor-faktor pendukung utama untuk pembangunan kehutanan di Provinsi Bali adalah: Potensi sosial budaya 13 .43 gr/hari (255. 2005 : Halaman 97-102 . KONSUMSI DAN PALATABILITAS PAKAN BURUNG BAYAN SUMBA (Electus roratus cornelia Bonaparte) DI PENANGKARAN (Consumption and Feed Palatability of Bayan Bird. sehingga mengakibatkan degradasi hutan yang semakin meningkat. Flores tahun) yang masing-masing dipelihara dalam kandang individu berukuran 160 cm x 120 cm x 100 cm. Model pemanfaatan.74 gr/hari (26. dan kebutuhan bahan baku yang tinggi. masih di bawah luasan minimal 30 persen. kualitas sumberdaya manusia sekitar hutan yang relatif rendah.93 gr/hari (231. -.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. I Made KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI BALI / I Made Gunaja. 2006 Burung bayan (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) merupakan jenis burung endemik Pulau Sumba dengan status dilindungi karena populasinya yang terus menurun. R.13 kalori) dan burung bayan betina 185.53 gr/hari (26. Penelitian ini dilakukan di penangkaran Oilsonbai. Kupang. pendudukan kawasan hutan. Harmonis. diketahui bahwa tingkat konsumsi terhadap tiap jenis pakan tidak berbeda nyata antara burung bayan jantan dan betina. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. yang menunjukkan jenis pakan yang paling disukai.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Garsetiasih.21 %) untuk burung betina. Arsitektur biologis. Eclectus roratus cornelia Bonaparte. Mariana Takandjandji. No. Untuk mengatasi permasalahan ini maka program pembangunan kehutanan di Provinsi Bali diprioritaskan pada rehabilitasi dan perlindungan hutan serta pengembangan hasil hutan bukan kayu yang melibatkan masyarakat sekitar hutan.1 . palatabilitas dan penangkaran Garsetiasih. Halaman 75 . adalah pepaya dengan rata-rata konsumsi 54. Penelitian menggunakan 8 individu burung terdiri dari 4 individu betina dan 4 individu jantan umur produktif (lebih dari 1 Gunaja.III. Konservasi.

Demikian pula. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi wilayah Nusa Tenggara Barat. Nilai hasil tanaman tumpangsari dari yang tertinggi sampai dengan terendah secara berurutan adalah pisang. dan mengungkapkan permasalahan dan keberhasilan pengembangannya.. Agroforestry application in a peat swamp land could be carried out either on agricultural or on forest lands.18 percent from total farmer's income. Perbandingan jenis penghasil kayu dan buah dengan perbandingan 70:30 mampu memberikan pendapatan petani sebesar Rp. Hutan kemasyarakatan merupakan salah satu bentuk pengembangan program Social Forestry. Social forestry. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan masih menerapkan prinsip-prinsip Agroforestry Tradisional. Multiple Cropping with the guludan technique. Pengelolaan. Halaman 209-224 .. The result of this study showed that agroforestry system developed by local farmer is: (a). regency Barito Kuala. Agroforestry application in a peat swamp land is able to maintaining high system stability and has a lower risk in land degradation. South Kalimantan Province and suggest to be a basic knowledge and one of way to rehabilitate the forest and land degradation. -. Sumberdaya hutan Harisetijono PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI P. 1. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . penanaman dengan menggunakan jalur ganda berseling antara tanaman penghasil kayu dan buah merupakan model yang baik untuk dikembangkan. economic and physic aspect of agroforestry system which have been developed by farmer in Sei Pantai Village.024. which in the long run is expected to increase land productivity and improving farmer's income. Kata Kunci: Hutan kemasyarakatan. 1.. jagung.al) .000. Berdasarkan model yang berkembang. alley cropping with the surjan technique and (d). Lombok Tengah Harun.766. 305. alley cropping with the tongkongan technique. dengan kisaran nilai Rp. LOMBOK : STUDI KASUS PEMBANGUNAN MODEL HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN LOMBOK BARAT DAN LOMBOK TENGAH / Harisetijono.000. Agroforestry system able to contribued equal to 33. -.503 rupiahs per month. perencanaan bersama mekanisme penyelesaian konflik belum berkembang dengan baik..per petani per 0. 14 . pengalaman pengembangan hutan kemasyarakatn di Privinsi Nusa Tenggara Barat merupakan hal penting untuk bahan pengkajian.040 rupiahs per year or 230. Agroforestry application in forest area is intended mainly for providing apportunity of landless farmer to cultivate land and also for the objective of establishing forest crops with the best way and cheapest cost. Model Social Forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya.750. (c). The objective of this research is to analysis social.(et. padi. IPTEK.. Program. Agroforestry system able to give income equal to 2.masyarakat. alley cropping with the tongkongan and galengan technique.per hektar. 2006 Social Forestry merupakan salah satu kebijakan Departemen Kehutanan.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. dan ubi kayu. 2006 Development of agriculture in a peat swamp land should be environmentally sound and ensures the sustainability of production. Pemilihan jenis tanaman belum sepenuhnya berorientasi pada pasar karena keterbatasan kemampuan teknis dan informasi pasar.25 hektar. Lombok Barat. cabai.683. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. (b). Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi tipe dan model hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan keberhasilan pengembangannya. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan.sampai dengan Rp. Walaupun payung hukum pengembangan hutan kemasyarakatan belum mantap. The main objective of application agroforestryin agricultural land is for conserving soil and water. Subdistrict Rantau Badauh. talas. Marinus Kristiadi ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN FISIK SISTEM AGROFORESTRY KHAS LAHAN GAMBUT TIPIS DI DESA SEI PANTAI KABUPATEN BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN / Marinus Kristiadi Harun.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 111-125 . makin tingginya partisipasi masyarakat dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki hutan dan lingkungan dalam rangka menopang tujuan utama daerah wisata di Bali Kata kunci: Pembangunan kehutanan.

Halaman 367 . KTK umumnya tinggi. Kata kunci : Pertumbuhan. and Ground Water Salinity of Three Species Mangroves)/ Halidah. substrat.96 ton/ha/th dan 26. Kualitas salinitas air tanah daratan cenderung semakin membaik dengan adanya bentangan mangrove di sepanjang pantai.2 . sedangkan R. Fauna tanah yang ditemukan mempunyai nilai indeks keragaman dan indeks dominansi yang berbeda pada setiap tegakan. 2006 (Litter Productin and Decomposition Rate. mucronata. MORPHOEDAFIK. Sedangkan kation-kation yang dapat tukar juga umumnya tinggi. DHL.83 . S. mangrove. -. Rhizophora Hasil penelitian mucronata Lamk. Perkembangan iptek sekarang ini telah menjanjikan suatu pendekatan teknologi terutama yang berkaitan dengan penggunaan mikoriza yang berperan dalam proses pertumbuhan tanaman.377 . lahan gambut. marina). tetapi tidak pada tanaman bitti. Morphoedaphic.93 %/bl (S. Barito Kuala..III. sifat kimia.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. mikoriza.926 dan 0. Kata kunci: Morphoedafik. Tiga jenis tegakan mangrove yang diamati adalah Sonneratia alba J. produksi dan laju pelapukan serasah 15 . infeksi.. mikoriza + pupuk cepat larut.632 dan 0. -. maka perlu dikaji kemampuan mikoriza bersimbiose dengan berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan dalam rehabilitasi lahan.500).III.40 ton/ha/th dan 28. menunjukkan bahwa produksi dan laju pelapukan serasah masing-masing tegakan adalah 27. sengon. alba oleh partikel pasir. DAN SALINITAS AIR TANAH DARATAN PADA TIGA JENIS MANGROVE Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang produksi dan laju pelapukan serasah. serta 8. salinitas. Halaman 75 . sedangkan pada tegakan S. mucronata didominasi oleh partikel debu pada kedalaman (0-20) cm dan pasir pada kedalaman (20-40) cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian mikoriza di lapangan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan sengon dan damar. No. Substrat pada tegakan R. 15.159. tinggi kecuali nitrogen.)Vierh. Sei Pantai.330).20 %/bl (A. Sosial ekonomi. lahan kritis Anwar. 2006 Upaya rehabilitasi lahan kritis telah banyak dilakukan.05 %/bl (R.51 ton/ha/th dan 28. Chairil Halidah PRODUKSI DAN LAJU PELAPUKAN SERASAH. serta tanpa mikoriza dan pupuk (kontrol) yang diujikan pada tiga jenis tanaman yaitu bitti. serta salinitas air tanah daratan pada berbagai jenis tegakan mangrove. mucronata (0. Kalimantan Selatan Halidah PERTUMBUHAN BEBERAPA JENIS TANAMAN TERINFEKSI MIKORIZA PADA LAHAN KRITIS DI SPUC MALILI (The Growth of Several Species Infected Mikorizae on Critical Land at Malili Research Station)/ Halidah.Info Hutan : Vol. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan yaitu mikoriza. No. dan Avicennia marina (Forsk. marina adalah 2. marina didominasi oleh partikel debu. dan damar. pupuk cepat larut. Pada tegakan A.Kata kunci: Agroforestry. Demikian juga unsur hara fosfor dan kalium. Saprudin. alba). Maryatul Qiptiyah.023 dan 0. Dengan melihat permasalahan dalam penanggulangan lahan kritis. jenis. Tujuan penelitian ini menemukan teknologi rehabilitasi lahan kritis dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu bersimbiose dengan tanaman serta dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhannya pada lahan kritis. salinitas.4 . BO rendah kecuali pada tegakan R. dan biologi tanah. Indek keragaman dan indek dominansi untuk A. alba (1. Smith. mucronata). namun belum memperlihatkan hasil yang diharapkan. Kemasaman atau pH pada semua tegakan netral. Lingkungan.

Halaman 85 . Rataan diameter untuk A.000 untuk setiap meter kubiknya.8 cm menunjukkan pertumbuhannya sangat dipengaruhi kesuburan tanah dan perlu diamati lebih lanjut. -. 2006 Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.675 ha merupakan bagian dari DAS Barumun dan Rokan. Pogostemon cablin Benth (Effects of Shading and Manure Application Pogostemon cablin Benth. kelestarian. dan Titi Kalima. dan Acacia mangium Willd. Acacia crassicarpa A.Cunn.. ekaliptus. Kebakaran yang terjadi hampir tiap tahun di berbagai lokasi lahan hutan tanaman menunjukkan bahwa jenis akasia dan ekaliptus menghasilkan permudaan yang cukup potensial untuk pengembangannya. 2006 Penanaman akasia di Padanglawas dimulai dalam rangka pembangunan hutan tanaman secara swakelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. namun hal tersebut tidak menjamin penurunan tingkat kelangkaan ramin di Indonesia karena mekanisme tersebut tidak berjalan dengan baik. No. North Sumatra) / Rusli M. DI PADANGLAWAS.S. in Padanglawas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. dengan kegunaan untuk kayu bakar.4-9.S EKOLOGI HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa A. Acacia mangium Willd. No.) merupakan kayu bernilai komersial tinggi pada perdagangan internasional dengan harga yang bisa mencapai US$ 1. Asep Hidayat.III.Cunn. Henti PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SERTA JUMLAH DAN MUTU DAUN NILAM. tanaman nilam pada umumnya dibudidayakan secara monokultur pada lahan terbuka tanpa perlakuan yang memadai. Hutan Tanaman seluas 38. adalah 2.ex Benth. Persetujuan ramin untuk masuk ke dalam Appendix II CITES yang berlaku sejak 15 Januari 2005 merupakan perubahan yang menjadi harapan baru dalam mengontrol mekanisme produksi dan perdagangannya. Disarankan menanam akasia tersebut di lahan kritis Padanglawas terutama di punggungpunggung bukit dan sebagai pohon perindang jalan dengan harapan kelak menyebar secara alami dan meningkatkan kesuburan tanah. dan tampaknya ekaliptus dan akasia tumbuh dengan baik atau dapat beraklimatisasi. -.. 2006 Jenis ramin (Gonystylus sp. juga ditanam mahoni. and Acacia mangium Willd.Harahap.Info Hutan : Vol. sengon. permudaan alam. Perhatian terhadap mekanisme produksi. Halaman 261-268 . dan meningkatkan fungsi DAS Baruman dan Rokan. Kata kunci : Ramin. Selain jenis akasia.Cunn.III.III.2 . SUMATERA UTARA (Plantation Forest Ecology of Acacia crassicarpa A. Illa Anggraeni. lahan kritis. peredaran. Rusli M.146 . Meskipun jenis kayu ramin telah terdaftar dalam Appendix III Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) sejak Agustus 2001. Gonystylus sp.) memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan pada sektor kehutanan karena berpotensi sebagai tanaman bawah pada sistem penanaman tumpangsari dengan jenis tanaman keras lainnya.2 . Kosasih.94 . Henti SISTEM PENGELOLAAN DAN KONSERVASI RAMIN DI HUTAN PRODUKSI (Management and Conservation System of Ramin in Production Forest) / Henti Hendalastuti.600 anakan per hektar setelah tiga tahun terbakar. -.. Namun demikian.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.ex Benth. pulp. masing-masing 13. DAN Acacia mangium Willd.1 cm dengan selang 0.Cunn. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas naungan dan pemberian pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman nilam dan rendemen minyak dari daun yang dihasilkan. terdiri dari 4 perlakuan yang mengkombinasikan dua on the Plant growth and the Leaf Quantity and Quality of the Nilam. CITES./ Henti Hendalastuti R.ex Benth. tercatat rataan permudaan Acacia crassicarpa A.3 . Kata kunci : Hendalastuti. mekanisme produksi Hendalastuti R.Cunn. Di Sialiali. Halaman 137 .500 dan 5. No. dan budidaya pada unit manajemen merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menjamin kelestarian ramin pada masa-masa yang akan datang. bahan bangunan. Asep Hidayat.Info Hutan : Vol. crassicarpa A.. Padanglawas 16 .Harahap.ex Benth.ex Benth.

dan Dodi Frianto. Metode yang dilakuan dengan cara mengamati semua anggrek epifit pada petak-petak contoh yang ditempatkan berdasarkan sistem jalur.J. Rotan. Sedangkan jenis yang masuk kategori genting adalah jenis Agrostophyllum laxum J. Jenis anggrek yang langka.35 %) dan pemupukan 500g/lubang tanam telah terbukti secara nyata memberikan hasil peningkatan tinggi tanaman sebesar 116.J.J.J.. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode penyiapan bibit dan teknik pengepakan untuk memperkecil tingkat kerusakan bibit dalam pengangkutan jarak jauh sehingga menghasilkan bibit yang berdaya hidup tinggi dengan biaya murah. -.III. dan jengkol selama 60 jam perjalanan dengan modifikasi box plastic dilapisi styrofoam tanpa perlakuan pada perakaran bibit memberikan daya hidup bibit yang tinggi dengan biaya paling murah. yaitu Maleolla dan Schoenorchis juncifoilia. Nanang PENANGANAN BENIH TANAMAN HUTAN / Nanang Herdiana.. Sm dan Trixpermum malayanum J. dan Eria verrucullosa J. Microsaccus alfinis J.5 . Sm. alpukat.Penilaian untuk mengetahui mutu genetik salah satunya adalah dengan mengetahui sumber benih yang digunakan.faktor yaitu intensitas naungan (0 % dan 34. Sm. Henti TEKNIK PENGEPAKAN BIBIT ROTAN DAN BEBERAPA JENIS MPTS UNTUK PENGANGKUTAN JARAK JAUH (Packaging Technique of Rattan and Multi Purpose Tree Species Seedlings for Long Transportation) / Henti Hendalastuti R.35 %) dan pupuk kandang (0 g dan 500 g/tanaman).f. No.58 %.J. dan fisiologis.. Kata kunci : Anggrek epifit. ketiga mutu ini dapat ditingkatkan dengan tingkat kesulitan yang berbeda.583 . Sm. khususnya Blok Ireng-Ireng. Pholidota canelostalix Rchb. Halaman 575 . naungan. Pengangkutan bibit kemiri dan jengkol sampai 120 jam perjalanan memerlukan balutan campuran sabut kelapa dan arang pada perakaran bibit. inventarisasi. dan berat kering daun 126 %. berat basah daun 203. pengangkutan jarak jauh Herdiana. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data dan informasi tentang potensi anggrek epifit dalam upaya pelestariannya di TN Bromo Tengger Semeru. Halaman 137-144 .J. Eria verruculosa J. baliensis J. -.III. Pogostemon cablin Benth. Setiap perlakuan terdiri dari 15 ulangan. Caelogyne flexuosa Rolfe. No. Dendrobium jacobsonii Blume. fisik. Seluruh aspek tersebut merupakan bagian dari sistem pengadaan benih 17 .. rendemen minyak Hendalastuti R. Sm. Dalam hal ini. Perlakuan pemberian naungan (34. Sm. teknik pengepakan. 2006 Mutu Benih merupakan hasil penampakan dari mutu genetik. Rendemen minyak cenderung meningkat dalam daun pada tanaman yang diberi naungan dan/atau pupuk kandang. dan Pholidota ventricosa Blume Lindl. Sm. 2006 Anggrek merupakan salah satu jenis flora penting yang tumbuh di kawasan Taman Nasional (TN) Bromo Tengger Semeru. Caelogyne speciosa var nn Blume Lindl. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 17 genus dan 40 spesies anggrek epifit dengan jenis yang paling dominan adalah jenis Caelogyne speciosa Blume Lindl. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . pupuk kandang. Kata kunci : Bibit rotan. Nanang KERAGAMAN JENIS ANGGREK EPIFIT DI BLOK IRENG-IRENG TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU (Diversity of Epiphyte Orchid Species in Block of Ireng-Ireng Bromo Tengger Semeru National Park) / Nanang Herdiana.J.. Asep Hidayat. Sedangkan untuk penilaian mutu fisik dan fisiologis dapat diketahui melalui penanganan dan pengujian benih. Halaman 201-212 . Kata kunci : Nilam. bibit rotan dan alpukat tidak memerlukan perlakuan sebagaimana bibit kemiri dan jengkol. kemiri.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.815 %.3 . plasma nutfah Herdiana. Jenis yang termasuk ke dalam anggrek endemik Jawa Timur yaitu Bulbophyllum mirun J.Info Hutan : Vol.

(pasang bodas). pengujian benih hingga ke penyimpanan. buah.) dengan nilai keanekaragaman sebesar 0. tumbuhan obat. Tingkat belta jenis tersebut tidak termasuk dominan (INP < 10 %). Br. No. jumlah jalur pengamatan 3 jalur.10 kemudian disusul oleh jenis jabon (Anthocephallus cadamba Miq. biji./puspa (0.1 . Indeks keanekaragaman jenis pohon tumbuhan obat tertinggi dimiliki oleh besule (Chydenanthus excelsus Miers. Taman Nasional Meru Betiri 18 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon tumbuhan obat yang dijumpai di Taman Nasional Meru Betiri berjumlah 28 jenis. Heriyanto dan Reny Sawitri. JAWA TIMUR (Studies on Diversity of Trees Potential for Medicine at Meru Betiri National Park. demam.Info Hutan : Vol.) dengan kerapatan 15. Altingia excelsa Noronha (rasamala). jabon (Anthocephallus cadamba Miq.) nilai keanekaragaman jenis 0. JAWA BARAT (Potency of Konyal (Passiflora edulis Sims. Kata Kunci : Jenis pohon. yaitu dimulai dari sumber benih. Kata Kunci: Mutu Benih. Satuan contoh berbentuk jalur sepanjang 1.DC. dan wining (Pterocybium javanicum R./nangsi (0. kulit buah. Quercus teysmanii Bl. Heriyanto. Q. KEANEKARAGAMAN JENIS POHON YNG BERPOTENSI OBAT DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. (pasang). Halaman 251-260 . Schima walichii Korth. Sloanea sigun L. Sedangkan tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu bagian kulit batang (10 jenis). dan semai yang berasosiasi dengan konyal yang dibuat memotong garis ketinggian dan kontur. dan wining (Pterocybium javanicum R. Tujuh jenis pohon berasosiasi dengan konyal (INP> 10 %) dan yang mendominasi tegakan yaitu : Castanopsis argentea A.48).3 .) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tanaman Hutan Heriyanto. dan Schima walichii Korth. N.5 pohon per hektar.000 m. Pengelolaan konyal sebagai jenis asing yang menginvasi di kawasan taman nasional dilakukan dengan pemberantasan secara manual oleh masyarakat lokal. dan getah.III.DC. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaman jenis pohon yang berpotensi sebagai obat. yang merupakan pencerminan kinerja dari suatu proses pengadaan benih. dan Ostodes paniculata Benth. Br..M. akar.) dengan kerapatan 10 pohon per hektar. Jenis pohon yang dirambati konyal sebanyak 38 jenis dengan kerapatan 114 tanaman konyal/ha. (beleketebe).) as an Invasive Species in The Gunung Gede Pangrango National Park. belta. kulit batang. dan bagian daun (6 jenis). Kata kunci : Konyal. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Heriyanto. malaria. (saninten) yang ditunjukkan oleh indeks asosiasi sebesar 0.3 pohon per hektar.M. dan sakit perut. kemudian diikuti oleh jenis Villebrunea rubescens Bl. Jenis penyakit yang dapat diobati atau dicegah yaitu penyakit kewanitaan.46). West Java) / N.52.) SEBAGAI JENIS INVASIF DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO KABUPATEN CIANJUR.07. induta Bl.III. M. East Java) / N. 2006 Penelitian potensi jenis konyal (Passiflora edulis Sims.64 .) nilai keanekaragaman jenis 0. No.bermutu. lebar 20 m dan di dalam tiga jalur dibuat petak-petak untuk pengukuran dimensi ekologi pohon. -. Halaman 55 . prosesing benih. Altingia excelsa Noronha/rasamala (0.M POTENSI JENIS KONYAL (Passiflora edulis Sims. Cianjur District.08. batuk. potensi.000 m yang diletakkan memotong lereng. Kabupaten Cianjur. Passiflora edulis Sims. N.) dengan kerapatan 12. di antaranya yaitu besule (Chydenanthus excelsus Miers. (saninten). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang jalur 1. (puspa). bagian biji (8 jenis).41). (muncang cina). -. Jenis-jenis yang berasosiasi kuat dengan konyal yaitu Castanopsis argentea A. Jawa Barat dilakukan pada bulan Oktober 2002. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat yaitu daun. kecambah biji. batang.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.

Kata kunci: Tapak hutan. No.M.200. sehingga dalam pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana.3 . -. dan Desa Wonoasri sebesar 65 %. 2006 Heriyanto. Edy METODE PENENTUAN NILAI EROSI YANG DIPERBOLEHKAN PADA PENGELOLAAN DAS (Method in Determinating Tolerable Erosion Value in a Watershed Management) / Edy Junaidi. Sasaran utama dalam pengelolaan lahan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi lahan. Halaman 271-285 .Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. bersamaan dengan itu dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut berupa erosi dan sedimentasi di daerah hilirnya dapat diperkecil. JAWA TIMUR (Utilization of Forest Iriansyah. Pemetaan. Endro Subiandono. Kata kunci : Interaksi. masyarakat setempat 19 . Heriyanto. 2006 Klasifikasi kepekaan tapak hutan adalah merupakan salah satu komponen dalam perencanaan pembalakan. dikumpulkan data sekunder dari berbagai laporan dan literatur. R.Info Hutan : Vol.M. bahan bangunan perumahan dan peralatan rumah tangga. PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. sehingga tingkat produktivitas meningkat. Maming PEMETAAN KEPEKAAN TAPAK HUTAN UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN RAMAH LINGKUNGAN / Maming Iriansyah. agar tidak mengganggu sumberdaya lain dalam DAS. Desa Curahnongko. Prosedur dan strategi pemetaan dan penerapannya dengan menggunakan system informasi geografis (SIG) diuraikan dalam tulisan ini. Kenyataannya tidaklah mungkin menekan dampak yang disebabkan oleh kegiatan pengelolaan lahan menjadi nol.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.5 %. Pembalakan. dan Desa Wonoasri.Resources by Local community in Meru Betiri National Park.III. Jenis hasil hutan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu kayu bakar untuk memasak. akan tetapi mungkin untuk mempertahankan keadaan lahan tetap produktif dan dampak luaran kegiatan berupa erosi-sedimentasi yang terjadi tidak mengganggu proses yang berjalan dalam DAS. Desa Andongrejo memiliki persepsi yang paling tinggi yaitu sebesar 77. dan desa Wonoasri dengan kawasan TNMB antara lain berbentuk pemanfaatan kayu untuk kayu bakar. diikuti Desa Curahnongko 70 %. No. Taman Nasional Meru Betiri. dengan jumlah responden masing-masing desa sebanyak 40 orang (total 120 responden). Dari hasil penelitian yang diadakan di tiga desa. Halaman 297 308 . Kegiatan pengelolaan lahan harus dilakukan secara sinergis dan simultan mulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi.3 . Dari hasil penelitian didapatkan bahwa interaksi yang terjadi antara masyarakat desa Andongrejo. East Java) / N. Garsetiasih. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan TNMB pada umumnya baru pada taraf pengetahuan fungsi dari taman nasional dan cara melestarikannya. -. Ramah lingkungan Junaidi.III. Halaman 187 . kayu. desa Curahnongko.Kesemua hal tersebut dimaksudkan adalah untuk melengkapi perencanaan pembalakan yang ramah lingkungan agar produktivitas hutan dan ekosistemnya dapat lestari. -. Perencanaan. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Oleh karena itu diperlukan metode penentuan nilai erosi yang diperbolehkan pada setiap kegiatan Penelitian pola pengelolaan partisipatif antara masyarakat dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dilakukan di tiga desa yaitu Desa Andongrejo. Untuk mendapatkan data primer dilakukan wawancara dengan penarikan contoh terhadap tiga angkatan kerja pada masyarakat di tiga desa sekitar taman nasional. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pemanfaatan hutan terutama kayu oleh masyarakat sekitar TNMB dan informasi mengenai jasa hutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. serta pemanfaatan tumbuhan obat. 2006 Pengelolaan lahan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS. Selain itu. N.

pemadatan tanah.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. pemberian dampak positif terhadap kegiatan wisata pada khususnya dan perekonomian daerah pada umumnya. dilakukan pengambilan sampel/contoh tanah pada 10 titik pengamatan. Halaman 85-91 . Gunung Rinjani. Penyebab utama kebakaran di NTT adalah kondisi iklim yang kering (arida). dapat dilakukan dengan pengembangan peningkatan komunikasi. Lima sampel/contoh pada jalur pendakian dan lima sampel/contoh di luar jalur pendakian. 3) pendekatan sosial ekonomi dan budaya. Salah satu penyebab dampak negatif penting adalah ditimbulkan oleh perilaku pengunjung. serta kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang mendukung terjadinya kebakaran lahan dan hutan. hasil dianalisis secara deskriptif. Untuk mengetahui data dan informasi dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap erosi pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan. yaitu : (1) Metode Thompson (1957). (2) Erosi. 1) pendekatan cuaca kebakaran. 2006 . erosi yang diperbolehkan Kaho. Metode Wood dan Dent paling ideal digunakan untuk penentuan erosi yang diperbolehkan dalam pengelolaan DAS. Tindakan pencegahan erosi yang dapat digunakan adalah dengan metode vegetatif.pengelolaan lahan. Lahan Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP EROSI TANAH DI JALUR PENDAKIAN MENUJU DANAU SEGARA ANAKAN TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan Tigor Butar-Butar. (2) Metode Hammer (1981). Kata kunci : Pengelolaan DAS. 2006 Dampak positif wisata alam di bidang ekonomi disertai oleh dampak negatif pada kawasan. Kata Kunci: Ekowisata. tukar menukar informasi. Pemadaman dan penanggulangan kebakaran selain dengan penerapan teknologi. dan (3) Metode Wood dan Dent (1983). -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 183-189 . pengelolaan lahan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. -. lahan. Kebakaran di wilayah propinsi Nusa tenggara Timur(NTT) adalah masalah serius yang terjadi secara berulang setiap tahun dan diyakini sebagai salah satu sebab deforestasi. Taman Nasional. dan Mukhlison. 2000). Pendekatan. 4) pendekatan hukum dan kelembagaan. pengunjung berlebihan)(Wiranto dalam Fandell C. 2006 Kebakaran merupakan salah satu penyebab gangguan terhadap hutan yang memerlukan pengendalian. L Michael Riwu TEKNOLOGI PERLINDUNGAN HUTAN DARI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN / L Michael Riwu Kaho. Selanjutnya sampel/contoh tanah dianalisis di laboratorium tanah. vegetasi yang didominasi oleh semak belukar dan savana padang rumput. Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan nilai erosi yang diperbolehkan. penyuluhan serta penataan organisasi penanggulangan dan perencanaan pengendalian kebakaran. Pengendalian dan pencegahan kebakaran dapat dilakukan melalui. 2006 Sektor pariwisata sebagian besar kegiatannya berada dalam lingkungan ekologi hutan. Segara Anakan.Tujuan dan sasaran penelitian ini adalah mengetahui dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap kondisi tanah pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan melalui pintu masuk Senaru. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 191-205 . mineral. Kebakaran. Dampak negatif langsung wisata alam terhadap lingkungan antara lain: (1) Geologi. penelusuran gua. Hasil penelitian menunjukan terjadinya perubahan tekstur tanah dengan menurunnya fraksi liat pada jalur pendakian dan erodibilitas pada jalur pendakian lebih tinggi dibandingkan dengan di luar jalur pendakian. Monitoring terhadap dampak ini diperlukan dalam rangka pengendalian dampak negatif. Lombok Kayat MANFAAT EKONOMIS EKOWISATA TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan I Made Widnyana.(pembangunan fasilitas. koleksi souvenir). 2) pendekatan silvikultur. Erosi tanah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui 20 . fragmentasi. dan fosil (pendakian. Kata kunci: Perlindungan hutan.

manfaat ekonomis kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), melalui kajian nilai ekonomi dari kegiatan ekowisata pada obyek-obyek yang sudah dikelola. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey melalui wawancara, pengamatan, dan perhitungan langsung nilai ekonomi yang dihasilkan para pelaku dan kegiatannya. Data dianalisis secara semi kuantitatif dan deskriptif. Kesimpulan di tarik berdasarkan nilai proporsi dan kualitas amatan. Total nilai manfaat ekonomi ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani dari obyek-obyek yang sudah dikelola adalah Rp. 3.067.851.250,-. Obyek wisata trekking memberikan nilai manfaat ekonomi yang dominan, yaitu Rp. 2.080.996.250,- (67,83 persen). Para pihak yang mendapatkan manfaat ekonomis dari ekowisata TNGR adalah: pengelola atau pemerintah (melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani), Rinjani Trekking Centre (RTC) dan Rinjani Information Centre (RIC),Trekking Organizer (TO), guide, porter, pengelola penginapan/homestay, restoran, penginapan dan kios/warung, menandakan adanya potensi positif ekowisata bagi pengembangan perekonomian masyarakat dan daerah, dan insentif bagi partisipasi masyarakat untuk pemantapan pengelolaan TNGR. Manfaat ekonomi ini masih mungkin ditingkatkan melalui pemantapan kelembagaan, peningkatan sarana-prasarana, serta promosi terutama obyek-obyek yang belum berkembang. Kata Kunci: Ekowisata, Taman Nasional, Gunung Rinjani Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP KONDISI BIOFISIK KAWASAN DAN SOSEKBUD MASYARAKAT SEKITAR TAMAN NASIONAL KOMODO/ Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 31-41 , 2006 Untuk menunjang kegiatan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo, pihak pengelola melakukan pengembangan obyek wisata alam. Pengembangan ini setidaknya akan menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif, sehingga perlu dilakukan kajian pengembangan obyek wisata tersebut. hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Kegiatan ekowisata di Loh Liang dan Loh Buaya antara lain pengamatan satwa liar, pendakian dan penjelajahan, photo hunting dan video shooting, menyelam dan snorkling, dan atraksi budaya tradisional; (2) Untuk meningkatkan minat pengunjung datang ke lokasi ekowisata, salah satu yang dilakukan oleh pengelola adalah

pembangunan sarana prasarana pendukung; (3) kondisi sosekbud masyarakat di Desa Komodo dan Desa Pasir Panjang, sebagian besar nelayan. Di Desa Komodo ada perubahan mata pencaharian dari nelayan ke pengrajin/penjual souvenir komodo; (4) Pihak yang merasakan manfaat ekonomis dari kegiatan ekowisata adalah pihak pengelola (TN Komodo), Pemda setempat (Kabupaten dan Provinsi), pemilik hotel, pemilik restoran, penyewaan boat, perusahaan dive, guide, perusahaan penerbangan, pedagang souvenir, kios/warung, angkutan, agen travel, dan money changer; (5) Dampak ekologis dari ekowisata berupa perubahan perilaku terhadap beberapa jenis satwa liar seperti komodo, rua, dan babi hutan, serta adanya ekspansi jenis kaktus. Kata kunci: Taman Nasional Komodo, Ekowisata, Pengembangan, Dampak, Sosekbud masyarakat

Koeslulat, Ermi E PELUANG PENGEMBANGAN LEBAH HUTAN MELALUI BUDIDAYA SISTEM KEREK / Ermi E Koeslulat. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 41-45 , 2006 Madu lebah hutan merupakan salah satu produk hasil hutan non kayu andalan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Timor. Selama ini usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas madu hutan belum dilakukan secara serius. Salah satu usaha peningkatan produktivitas adalah dengan melakukan uji coba teknis budidaya lebah hutan dengan sistem kerek di mana prinsipnya menyediakan tempat bersarang dengan kayu yang dapat dinaik-turunkan. Maksud diterapkannya teknik ini adalah agar dapat dilakukan panen sunat sehingga intensitas pemanenan dapat ditingkatkan. Meskipun hasil yang diperoleh belum menggembirakan namun berdasarkan pengalaman pemanenan diperoleh keuntungan lain seperti panen dilakukan pada siang hari dan terbuka bagi setiap orang karena tidak diperlukan keahlian memanjat. Walaupun hal tersebut bukan permasalahan pokok bagi masyarakat, namun hal ini dapat memberikan pengalaman berharga bagi masyarakat. Terlepas dari kelemahan teknik ini, penerapan sistem kerek ini memiliki peluang untuk dikembangkan mengingat adanya faktor-faktor yang mendukung seperti masih terdapatnya pohon lebah tinggi, minat masyarakat yang cukup besar, kemudahan pemeliharaan, pasaran madu yang selalu terbuka, dan sebagainya. Kata kunci: Lebah hutan, Lebah, Peluang, Sistem kerek, Budidaya

21

Komala KERAGAMAN PENOTIPA Agathis borneensis Warb. ASAL SIPAGIMBAR DI AEK NAULI SUMATERA UTARA (Phenotypic Variation of Agathis borneensis Warb. of Sipagimbar at Aek Nauli North Sumatera / Komala; Aswandi; Rusli M.S Harahap; dan Edi Kuwato. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 213-217 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi penotipa Agathis borneensis Warb. asal Sipagimbar yang ditanam di arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera di Aek Nauli. Keragaman penotipa yang diamati adalah tinggi total, diameter batang dan cabang, sudut cabang, panjang internoda, lebar tajuk, panjang dan lebar daun dari dua warna pucuk agathis yang telah berumur 7 tahun. Sumber benih berasal dari tegakan alami agathis di Sipagimbar, Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Analisis ragam terhadap sepuluh sampel dari masing-masing warna pucuk (hijau dan cokelat kemerahan) mengindikasikan terdapat perbedaan dalam ukuran tinggi total, diameter dan sudut cabang, jarak internoda, dan lebar tajuk. Sedangkan diameter batang dan lebar daun tidak berbeda antar kedua warna pucuk. Diduga terdapat dua jenis populasi alami agathis di Sipagimbar. Penelitian anatomi dan karakteristik kayu sebaiknya dilakukan apabila dua populasi tersebut mengindikasikan spesies atau varietas yang berbeda dan disarankan penanaman agathis secara in-situ di Sipagimbar. Kata kunci : Agathis borneensis Warb., keragaman penotipa, konservasi Kosasih, A.Syafari PENGARUH MEDIUM SAPIH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Shorea selanica BI DI PERSEMAIAN (The effect of Growing Medium to the Growth of Shorea selanica BI. Seedling at Nursery/ A. Syafari Kosasih; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.2 ; Halaman 147 - 155 , 2006 Medium sapih adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk memperoleh bibit yang berkualitas dalam waktu singkat. Oleh karena itu dalam mempersiapkan medium sapih perlu diperhatikan unsur hara yang tersedia dalam medium tersebut sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan optimal. Penelitian dilakukan di persemaian Hutan Penelitian Carita, Provinsi Banten dengan metode rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan

medium. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, setiap ulangan terdiri dari 50 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan medium sapih campuran tanah dan kompos dengan volume 4 : 1 memberikan respon yang terbaik pada persen jadi, pertumbuhan tinggi, dan diameter bibit Shorea selanica Bl. sampai umur enam bulan di persemaian. Kata kunci : Medium sapih, Shorea selanica Bl., pertumbuhan bibit Kuntadi TEKNOLOGI PENGELOLAAN LEBAH HUTAN Apis dorsata / Kuntadi. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 49-55 , 2006 Lebah hutan Apis dorsata adalah salah satu jenis lebah madu yang penyebarannya meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun lebah madu ini tergolong jenis liar yang tidak dapat dibudidayakan, namun termasuk yang paling potensial sebagai penghasil madu karena produktivitasnya yang sangat tinggi. Sampai saat ini lebah hutan adalah andalan utama penghasil madu di Indonesia. Permasalahan pokok dalam pengembangan lebah hutan adalah kerusakan habitat A. dorsata akibat tingginya laju deforestasi di Indonesia. Teknik pemanenan madu yang tidak berazaskan kelestarian juga merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup lebah hutan. Permasalahan lain yang tidak kurang pentingnya adalah kualitas madu lebah hutan yang rendah akibat pemanenan dan penanganan pasca panen yang kurang baik. Rehabilitasi hutan dan perbaikan teknik pengelolaan lebah hutan adalah upaya terbaik untuk memulihkan potensi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas produk lebah hutan. Teknologi pengelolaan A. dorsata yang meliputi teknik pengembangan sarang buatan dan teknik pemanenan dibahas dalam makalah ini. Kata Kunci: Lebah hutan, Apis dorsata, Madu Kuntadi PAKAN BUATAN UNTUK LEBAH MADU / Kuntadi. -- Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 149-154 , 2006 Sumber pakan utama lebah madu adalah nektar dan tepungsari (pollen) yang dihasilkan dari bunga tanaman. Masa pembungaan tanaman yang umumnya

22

bersifat musiman menyebabkan pada periode tertentu lebah madu mengalami krisis makanan. Kondisi demikian mengakibatkan penurunan populasi koloni. Kekurangan makanan tidak jarang juga menyebabkan hijrahnya koloni. Pemberian makanan buatan adalah salah satu alternatif cara mempertahankan koloni lebah madu , terutama dalam kondisi langka bunga. Makanan buatan terdiri dari makanan pengganti nektar dan makanan pengganti tepungsari. makalah ini membahas cara pembuatan dan pemberian makanan buatan untuk lebah madu yang dibudidayakan. Kata Kunci: Pakan buatan, Lebah madu Kurniadi, Rahman KAJIAN PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN HUTAN SEBAGAI EKOWISATA DI RIUNG / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 43-53 , 2006 Sampai saat ini sektor kehutanan telah menjadi perhatian banyak pihak karena keterkaitannya dengan banyaknya penduduk miskin di sekitar areal hutan. menurut data Potensi Desa (2003) dalam Ediawan (2005) desa yang berada di dalam dan di sekitar hutan lebih tertinggal dibandingkan dengan desa di luar hutan. Untuk membantu menganalisis permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui manfaat hutan sebagai ekowisata di Taman laut 17 Pulau Riung yang diperoleh masyarakat dan berupaya meningkatkannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi saat ini menfaat yang diterima masyarakat belum optimal. Untuk meningkatkan manfaat tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan arus kunjungan wisata ke Riung. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi dan meningkatkan sarana dan prasarana rekreasi di Riung. Hasil penelitian juga diperoleh fakta bahwa pemanfaatan hutan sebagai obyek ekowisata di Riung memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat dibandingkan pemanfaatan dalam bentuk lainnya. Disamping keuntungan ekologi, masyarakat sekitar obyek ekowisata di Riung memperoleh manfaat ekonomi. Kata kunci: Ekowisata, Pemanfaatan hutan, Riung, Manfaat ekologi, Manfaat ekonomi

Kurniadi, Rahman UPAYA PELESTARIAN PENYU DI BALI / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 55-62 , 2006 Penyu merupakan salah satu hewan langka dilindungi.Beberapa jenis penyu bahkan telah masuk ke dalam daftar Lampiran (Appendix I) Convention on International Trade of Endangered Species tahun 1978 (CITES). Sementara itu Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan guna melestarikan penyu. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan acuan untuk melestarikan penyu di daerah lain. hasil penelitian menunjukan bahwa berbagai upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali antara lain dengan pembentukan Peraturan Daerah, sosialisasi peraturan perundangan, penegakan hukum, penggantian daging penyu dengan daging babi, penggunaan teknologi penangkaran, pelibatan masyarakat dalam penangkaran penyu, dan pelibatan lembaga swadaya masyarakat. Kata kunci: Penyu, Pelestarian, Hewan langka, Satwa langka, Bali Kurniadi, Rahman TEKNOLOGI DAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI KAWASAN MUTIS / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 47-53 , 2006 Kawasan konservasi merupakan kawasan yang memperoleh perlakuan khusus karena kepentingan perlindungan sumberdaya alam. Segala kegiatan yang dilakukan di kawasan konservasi diatur oleh perundang-undangan. Namun demikian segala peraturan perundang-undangan tersebut tidak dapat menangkal kerusakan areal konservasi. Beberapa kawasan sangat rawan terhadap gangguan. Kawasan Cagar Alam Mutis dan Hutan Lindung Timau misalnya, sangat rawan terhadap gangguan ternak, pertambangan dan berbagai gangguan lainnya. Penelitian ini bertujuan memperoleh bentuk kelembagaan social forestry di kawasan Mutis dan memperoleh teknologi social forestry di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk social

23

mulai dari pembibitan hingga pengembangannya di lapangan. Oleh karena itu diperlukan pendampingan untuk membentuk kelembagaan social forestry yang mandiri dan untuk meningkatkan kemampuan teknis serta motivasi masyarakat dalam memelihara tanaman. 2006 Keadaan iklim yang sangat kering dan jenis tanah yang miskin merupakan suatu kendala besar dalam pengembangan rotan secara luas di Nusa Tenggara Timur. beragama Islam.339 dan 0. Halaman 147-159 . Social forestry. -. artinya 33. 2006 . suku Melayu. Di samping itu teknologi social forestry yang dimiliki masyarakat belum mampu untuk membangun hutan.Jurnal 24 .III. diamter semai dan jumlah helaian daun tanaman semai di lapangan.4 .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.1% hal tersebut dinilai responden sebagai peranan Balai TNBT). Halaman 459 475 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik budidaya rotan di Pulau Timor melalui teknik silvikultur yang tepat. pelatihan. Kegiatan penelitian ini meliputi kegiatan di lingkup persemaian dalam rangka mendapatkan teknik budidaya yang paling tepat untuk memperoleh paket teknologi peningkatan produktivitas dan kualitas rotan. persepsi. Parameter pengamatan adalah tinggi anakan rotan yang diukur dari permukaan media tumbuh semai sampai dengan titik tumbuh semai. -. Wanda POTENSI MASYARAKAT DAN PERANAN KELEMBAGAAN DI ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Community Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Budidaya. peningkatan sumberdaya manusia dan ekonomi sebagai prioritas lembaga masyarakat lokal (0.462). dan memberikan bantuan modal. Hasil penelitian menunjukan pada pengamatan I hanya spesies dan media yang memiliki pengaruh nyata terhadap tinggi. Teknologi. Program pemberdayaan lembaga masyarakat lokal dapat dilakukan dengan membuat kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi (karakteristik. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat dan stakeholder terkait yang dianalisis dengan tabel frekuensi dan sistem Analytic Hierarchy Process (AHP). dan bekerja sebagai petani. blok terhadap diameter serta spesies dan blok terhadap jumlah daun. Peranan kelembagaan dalam penataan batas dan ruang serta perlindungan taman nasional merupakan prioritas program Balai TNBT (nilai = 0. Kata kunci: Kelembagaan. peranan kelembagaan. Karakteristik masyarakat sebagian besar merupakan penduduk asli. dan pemantauan pengelolaan daerah penyangga sebagai prioritas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (0.Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan blok. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.forestry di kawasan tersebut belum sesuai dengan kondisi ideal. Pada pengamatan II diketahui bahwa spesies. Kata kunci: Zona penyangga. spesies dan pupuk terhadap diameter serta pupuk dan blok terhadap jumlah daun. Abdulah Syarief Mukhtar.315). 2006 Keberadaan masyarakat di sekitar zona penyangga akan mempunyai interaksi dan berpengaruh terhadap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Kata kunci: Rotan. Mutis Kurniawan.9 % dan 42. Hery BUDIDAYA ROTAN DENGAN BEBERAPA JENIS INTRODUKSI DI PULAU TIMOR / Hery Kurniawan. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan perlakuan dilakukan uji beda nyata taraf 5 persen. persepsi. Persepsi masyarakat tergolong positif meskipun interaksi terhadap kawasan TNBT masih cukup tinggi. Jenis introduksi Kuswanda. pupuk dan media berpengaruh nyata terhadap tinggi. Nasional Bukit Tigapuluh Taman Potencies and Institution Roles in The Bukit Tigpuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda. dan interaksi) masyarakat dan peranan kelembagaan dalam pengelolaan zona penyangga TNBT.421. No.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama adalah kurang jelasnya batas dan fungsi zona penyangga (nilai = 0. No. Taman Nasional Bukit Tigapuluh menggunakan program expert choice dan Microsoft Excel. Kata kunci : Faktor penghambat.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. 2006 Pengelolaan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) belum optimal karena kurangnya koordinasi dan sosialisasi antar lembaga terkait. dan lainnya. zona penyangga. Jambi Province) / Wanda Kuswanda.3 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang faktor penghambat utama dan strategi untuk mengembangkan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya alam di zona penyangga TNBT.33 %) dan dikonsumsi (20 %). Alternatif strategi untuk mengembangkan kelembagaan adalah pembinaan dan pemberdayaan berbagai stakeholder terkait (0. selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan tabel frekuensi. menyatakan bahwa hutan merupakan sumber pangan dan protein selain sebagai sumber kayu dan pengakuan hak masyarakat adat atas suatu kawasan hutan. artinya 35. Masyarakat di lokasi penelitian (Desa Lubuk Kambing dan Sungai Rotan) secara umum menggarap lahan pribadi/hak milik dengan luas rata-rata sekitar 3 ha/responden yang berasal dari membuka hutan 35 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemilikan dan pola pemanfaatan lahan di Zona Penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh.289). Hasil pengelolaan lahan dimanfaatkan untuk dijual (48. PROVINSI JAMBI (The Patern Informasi pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal merupakan aspek penting yang harus diketahui di dalam menyusun rencana pengelolaan zona penyangga di taman nasional.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.7 % hal tersebut dinilai sebagai penghambat pengembangan kelembagaan zona penyangga) dan tingkat ekonomi dan peranserta masyarakat yang masih rendah (0. masyarakat adat terlibat secara langsung dalam pengelolaan hutan. penataan kembali status dan peruntukan lahan untuk kawasan lindung dan budidaya di daerah penyangga (0.of Land-Use by Communities in Buffer Zone.33 %. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner. Wanda POLA PEMANFAATAN LAHAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. Koperasi ini menggunakan konsep kemitraan antar pengusaha mapan dengan masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya alam guna meningkatkan taraf hidup masyarakat pemilik hak adat dan hak ulayat. Wanda STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Strategies on Institutions Development of Bukit Tigapuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda dan Abdullah Syarief Mukhtar. Relawan MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT ADAT DI PAPUA / Relawan Kuswandi dan Pudja Mardi Utomo.III.5 . mulai dari perencanaan hingga pemungutan hasil hutan melalui suatu wadah atau organisasi yang dibentuk yaitu Koperasi Peran Serta Masyarakat Adat (KOPERMAS) yang bergerak di sektor kehutanan. strategi. Semua penilaian Analytic Hierarchy Process (AHP) responden diolah dengan sistem 25 . Halaman 249 . meningkatkan kapasitas dan wawasan sumberdaya manusia. Kata kunci : Pemanfaatan lahan.504 . -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 127-135 . 2006 Kuswanda. No. -. Oleh karena itu perlu adanya peraturan daerah yang mempertimbangkan unsur perpaduan antara hukum adat dan hukum formal yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya hutan KOPERMAS yang diharapkan Kuswanda.323). Pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal untuk areal perkebunan.241). zonasi. Bukit Tigapuluh National Park. Namun peraturan perundangundangan dan petunjuk pelaksanaan yang dikeluarkan dalam mendukung pelaksanaan pengelolaan hutan oleh masyarakat cenderung tidak jelas dan tidak konsisten. 2006 Paradigma baru pembangunan kehutanan (khususnya di Papua) yang mengarah kepada keberpihakan terhadap masyarakat sekitar hutan. dan pengamatan secara deskriptif. rasionalisasi. rasionalisasi batas kawasan dan zonasi TNBT.III.436). dan menciptakan kesempatan usaha pada masyarakat (0. warisan orang tua 8. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner untuk masyarakat dan stakeholder. Program yang dapat dikembangkan di antaranya adalah mendayagunakan Badan Pengelola Multi Stakeholder (BPMS). Oleh karena itu pengelolaan hutan di Papua dewasa ini memasuki era baru. Halaman 491 . wawancara. -.258 . pertanian (ladang dan sawah) dan keperluan lainnya (pekarangan rumah dan jalan).357. stakeholder Kuswandi.

71. mamalia. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper.III.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. serat. pupuk organik cair. kemampuan. Kata kunci : Agroforestry haramay. china grass. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan kriteria dan indikator yang tepat dalam penetapan zonasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Untuk itu perlu adanya suatu model pengelolaan hutan yang sesuai dengan kondisi masyarakat adat di Papua. Dalam unit prosesing serat. Kata Kunci: Sumberdaya Hutan. baik yang dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. berdasarkan parameter fisik. baik IUPHHK maupun non IUPHHK sebagai prasyarat legalitas untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan. -. Halaman 585 . 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yaitu zona inti. sedangkan pengamatan satwaliar dilakukan dengan metode perjumpaan pada kelas aves. Hal ini disebabkan oleh karena rendahnya tingkat pengetahuan.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L. Sistem silvikultur yang digunakan adalah sistem silvikultur TPTI modifikasi yang disederhanakan tetapi tetap mengacu pada prinsip pengelolaan hutan lestari. pengembangan teknologi tepat guna. Papua Mile. Kondisi vegetasi diperoleh melalui analisis vegetasi pada setiap zona.) Gaudich. dan fasilitas yang dimiliki oleh masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. dan primata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan pada zona-zona yang diamati mempunyai indeks keanekaragaman jenis tumbuhan secara keseluruhan berkisar antara 2. Empat kriteria zona TNBT telah sesuai dengan kriteria yang dimaksudkan dalam Peraturan Pemerintah No. Masyarakat Adat. sehingga bisa menjadi dasar bagi pengelolaan TNBT selanjutnya. Yamin Mile.17 sampai dengan 3.III. biotik.606 .000 ha dengan jangka waktu pengelolaan antara 10-20 tahun dan menggunakan sawmill portable atau chain saw.. Model pengelolaan hutan yang dianggap mudah dan dapat diterapkan adalah model pengelolaan hutan dalam skala kecil dengan berorientasi pada industri pengolahan kayu. Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan dengan penyebaran kuesioner pada responden sebanyak 66 responden yang ada di zona penyangga dan tradisional TNBT. hasil hutan kayu dan non kayu Kwatrina.dapat meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat adat. Luas areal konsesi antara 1. zona rimba. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. -. Data yang dikumpulkan meliputi data kondisi fisik. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. dan enam jenis primata yang dijumpai di zona-zona tersebut.3 . M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. baik dalam penyiapan lahan. Rozza Tri KRITERIA DAN INDIKATOR PENETAPAN ZONASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Criteria and Indicator of Appointed Bukit Tigapuluh National Park Zones) / Rozza Tri Kwatrina dan/and Abdullah Syarief Mukhtar.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M. No. dan daerah penyangga. Halaman 239-249.Info Hutan : Vol. Selama ini pengelolaan hutan ulayat pada kenyataannya lebih banyak digunakan oleh pihak investor sebagai mitra kerja. No. Ditinjau dari prospek agribisnis.000-5. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L. Kegiatan perekonomian masyarakat terutama berupa usaha pertanian ekstensif dan pemungutan hasil hutan. zona pemanfaatan intensif. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. biotik. dan konsentrat pakan ternak. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. di samping serat sebagai produk utama.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). dan sosial ekonomi.5 .) Gaudich. Terdapat 17 jenis aves. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. Usulan indikator untuk masing-masing zona adalah zona inti 26 . Ditinjau dari aspek teknis. social forestry.) Gaudich. 11 jenis mamalia.

Semakin berkembangnya kehidupan dan bertambahnya kebutuhan hidup keluarga.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Halaman 107-114 . Upaya penanggulangan illegal logging telah banyak dilakukan. pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di daerah penyangga kawasan konservasi. zona pemanfaatan intensif lima indikator. 2003). Dari 697 jenis burung Walaceae. 2006 Kegiatan konservasi ex-situ merupakan konservasi komponen keaneragaman hayati di luar habitat alaminya. -. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. variasi genetiknya diharapkan sangat banyak. Kata kunci: Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Masyarakat sekitar hutan M.Dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1998. 10. Sosial ekonomi. Kegiatan illegal logging memberikan dampak yang multidimensi pada berbagai sendi kehidupan masyarakat. Biodiversitas Endemik. dan daerah penyangga sebanyak 13 indikator.sebanyak 13 indikator. 2006 Kepulauan Nusa Tenggara sebagai sub kawasan Wallaceae mempunyai keanekaragaman jenis avifauna yang tinggi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . zona pemanfaatan tradisional 10 indikator. akan tetapi belum memberikan dampak yang nyata terhadap pengurangan laju deforestasi hutan. Bismark. zona rimba lima indikator. Saat ini areal hutan Indonesia yang rusak telah mencapai luasan 43 juta hektar dengan laju kerusakan hutan 1. Burung endemik Nusa Tenggara mempunyai tingkat keterancaman populasi tinggi sehubungan dengan luasnya kawasan hutan yang menjadi kawasan konservasi (di Nusa Tenggara barat 5. Kata kunci: Wallaceae. 2006 . 2006 . Avifauna.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. mendorong masyarakat untuk melakukan pembukaan hutan. mulai dari tingkat pusat sampai ke level masyarakat (multi stakeholders) dan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar hutan agar upaya peningkatan pembangunan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. rehabilitasi lahan. zonasi. Daerah M Hidayatullah PEMBANGUNAN KEBUN KONSERVASI EX-SITU CENDANA DI PULAU TIMOR / M Hidayatullah. Dengan adanya sebaran alami yang luas serta lokasi yang kontinyu seperti kepulauan.Sri ILLEGAL LOGGING DAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Sri Lestari. yaitu meningkatkannya tingkat ketergantungan masyarakat. penyangga. zona rehabilitasi lima indikator. Pelestarian populasi burung endemik Nusa Tenggara di alam dapat dipertahankan dengan meningkatkan perlindungan dan perluasan kawasan konservasi. Bismark DIMENSI BIODIVERSITAS AVIFAUNA ENDEMIK WALLACEAE SUB KAWASAN NUSA TENGGARA / M. kegiatan perambahan hutan dan illegal logging oleh masyarakat semakin merata. indikator Lestari. Halaman 77-84 . Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari bebagai pihak. Halaman 125-135 . kegiatan ini dapat dilakukan pada cendana karena memiliki siklus hidup yang relatif panjang maka prosedur yang lazim digunakan dalam pengembangannya adalah dengan cara menanam tanaman tersebut di lokasi yang telah direncanakan.2 persen adalah jenis endemik Nusa Tenggara.8 juta hektar per tahun (WWF. Masyarakat sekitar hutan pada umumnya memiliki bentuk aktivitas tradisional pertanian ladang sebagai pilihan utama yang dilakukan setiap tahun guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. kriteria. putusnya hubungan emosional masyarakat lokal dengan lingkungan dan bergesernya kegiatan perekonomian masyarakat sekitar hutan yang semula berladang menjadi kegiatan industri. -. Untuk menunjang kegiatan tersebut maka diperlukan 27 . Kata Kunci: Illegal logging. 2006 Kegiatan illegal logging yang terjadi di Indonesia mengakibatkan kerusakan hutan semakin meningkat.5 persen). serta pengendalian perburuan dan perdagangan burung. Dengan model variasi genetik yang berhubungan dengan daerah asal (provenans) yang banyak inilah diharapkan dapat dilakukan seleksi provenans yang terbaik dengan uji provenans serta kegiatan-kegiatan pemuliaan lebih lanjut untuk memperoleh kebun klon cendana yang memiliki sifat genetik unggul. -. Rehabilitasi lahan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.8 persen dan Nusa Tenggara Timur 8.

Halaman 41-53 . 2006 Social forestry diharapkan menjadi alternatif solusi pengelolaan kawasan hutan di Indonesia.78-25. Jenis burung. serta sebagai kawasan pemanfaatan secara lestari potensi sumberdaya alam dan ekosistemnya. pembangunan integrasi dan koordinasi. pengelolaan penelitian dan pendidikan. pada zona pemanfaatan adalah berkisar antara 3. -. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan tersebut.55-26. dan kerjasama pengelolaan wisata alam. Bali Barat Martin. Frekuensi relatif dan Indeks Nilai Penting (INP) dari 16 jenis pada zona rimba adalah berkisar antara 2. Ekosistem.000 ha. sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan kawasan. dengan metode titik hitung dan garis transek.11. -. Untuk mencapai fungsi dan tugas pokoknya.65 dan 5. pemuliaan potensi jalak bali. sehingga dapat dilakukan kegiatan konservasi insitu untuk kepentingan kegiatan konservasi ex-situ sebelum punah. 279/Kpts-II/1992.08-24. 2006 . sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. pemberdayaan ekonomi masyarakat. pengelolaan potensi kawasan. 2006 Secara umum pengelolaan taman nasional mempunyai tiga fungsi pokok yaitu: sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan. Halaman 199-204 . IPTEK. mempunyai potensi flora dan fauna yang cukup beragam. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Agis Nursyam S dan Kayat.inventarisasi sebaran alami cendana di alam. ditetapkan berdasarkan SK Menhut No.92-7. Taman Nasional Kelimutu Marbawa.33. Fakta menunjukan 28 . Partisipasi masyarakat.Khusus untuk sosial budaya masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan lokal dan global dengan pengembangan partisipasi masyarakat lokal yang berbasis konsep budaya tradisional seperti Tri Hita Kirana.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal.11 dan 4. Taman Nasional Bali Barat adalah salah satu kawasan pelestarian jalak bali. Social forestry bukan hal baru di Indonesia.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Ex-situ cendana M Hidayatullah IDENTIFIKASI RAGAM JENIS BURUNG DI KAWASAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU ENDE / M Hidayatullah. Halaman 157-180 . dukungan iptek sangat diperlukan antara lain: sosial ekonomi. Hasil pengamatan menunjukkan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.rehabilitasi dan pemanfaatan.33-13. penyusunan rencana pembangunan sarana-prasarana. Kata kunci: Cendana. I Ketut Catur KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / I Ketut Catur Marbawa. dan 5. Konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk jenis dan sebaran burung pada zona-zona di kawasan TN Kelimutu.984 ha dan Cagar Alam Kelimutu 16 ha. 2006 Taman Nasional (TN) Kalimutu yang luasnya 5. pengelolaan wisata alam.56.38 serta pada zona rehabilitasi adalah berkisar antara 3. khususnya dalam kaitan alternatif obyek wisata. pengembangan dan pemanfaatan. pengelolaan potensi kawasan. kegiatan pengelolaan Taman Nasional Bali Barat yang saat ini dilakukan meliputi pemantapan kawasan. Pendekatan yang dilakukan adalah inventarisasi dan identifikasi burung dan interaksinya dengan habitatnya. dan pengelolaan potensi wisata. teridentifikasi 22 jenis burung pada zona rimba. -. terdiri dari kawasan Taman Wisata Kelimutu 4. Kata kunci: Taman Nasional.78-11. Pembangunan. Kata kunci : Identifikasi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Edwin PERFORMANSI PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN BERBASIS SOCIAL FORESTRY DI PROVINSI JAMBI / Edwin Martin dan Bondan Winarno.

pupuk organik cair. -.. Kawasan hutan. Dalam unit prosesing serat. Teknologi penangkaran. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. Kata Kunci: Social forestry.) Gaudich. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. perkandangan. baik informasi maupun produk harus dibuat dengan baik sehingga budaya masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu tersebut dapat lestari.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teknologi dan kelembagaan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi. Ditinjau dari prospek agribisnis. Kata Kunci: Rusa sambar. Pendampingan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dari mulai identifikasi potensi masyarakat. perencanaan kegiatan. khususnya Kalimantan Timur. Ditinjau dari aspek teknis. Aplikasi bentuk-bentuk social forestry pada beragam kawasan cukup penting untuk dipelajari. Selain itu juga akan mengurangi perburuan liar oleh manusia serta salah satu upaya untuk melestarikan plasma nutfah hewani di Indonesia.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. Panajam Paser Utara. Yamin Mile. di samping serat sebagai produk utama. Api-api. No. Teknik pemeliharaan. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L.III. dan pasca kegiatan merupakan cara yang efektif untuk membangun kelembagaan dan kemandirian masyarakat dalam program social forestry. 2006 Rusa sambar (Cervus unicolor) adalah salah satu dari empat jenis rusa di Indonesia yang sudah dilindungi undang-undang dan jumlah populasinya terus berkurang akibat perburuan liar dan semakin tingginya degradasi habitat. pakan. Upaya penangkaran rusa mempunyai potensi yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat selain sumber protein hewani lain yang sudah umum. baik dalam tingkat kecil (rumah tangga) maupun tingkat besar (peternakan). baik dalam penyiapan lahan. penanganan. mengingat orientasi pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat ini merupakan paradigma baru bagi pemerintah (Departemen Kehutanan). pengembangan teknologi tepat guna.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay).bahwa ada keragaman inisiatif dan pendekatan yang sudah dikembangkan dengan hasil yang bervariasi.) Gaudich. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L.3 . dan pemanfaatan harus disosialisasikan ke masyarakat untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman penangkaran. baik yang 29 . baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 57-68 . baik dari segi teknis pelaksanaan maupun penyiapan kelembagaannya. terutama tergantung pada kawasan hutan fungsi mana social forestry tersebut diterapkan. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya merupakan modal penting untuk tercapainya tujuan tersebut di atas. Tri Atmoko. dan konsentrat pakan ternak. Jambi Ma'ruf. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. Teknik konservasi maupun penangkaran satwa bernilai ekonomi tinggi ini perlu untuk selalu ditingkatkan sehingga pemanfaatannya dapat diusahakan secara lestari. Pengelolaan hutan. Peran serta masyarakat dan berbagai pihak yang terkait. Satu hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah teknik pengemasan. Amir TEKNOLOGI PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DI DESA API-API KABUPATEN PANAJAM PASER UTARA KALIMANTAN TIMUR / Amir Ma'ruf. Halaman 239-249. Cervus unicolor. -. Hasil penelitian penunjukan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi menggunakan pola pendekatan yang berbeda.Info Hutan : Vol.) Gaudich. Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal telah dan sedang mengaplikasikan varian social forestry adalah provinsi Jambi. kesehatan. dan Ismed Syahbani. pelaksanaan kegiatan. Kalimantan Timur Mile. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar.

2005 : Halaman 1-12 . Jepang.III. agribisnis. social forestry. 2006 kombinasi antara tanaman pokok kehutanan dengan usaha tani nilam (Pogostemon cablin Benth. Kanada. Minyak atsiri yang berasal dari nilam digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik. Uni Eropa. Menurut data dari BPS (2001). sumber benih. 2006 Pola pengelolaan Taman Nasional yang dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi saat ini seperti perambahan kawasan memerlukan pendekatan melalui sistem zonasi yang ditentukan bersama dengan berbagai pihak dengan dasar prinsip kolaborasi. Yamin Mile. Timur Tengah. diproyeksikan bahwa konsumsi minyak atsiri dunia mencapai 1. Halaman 229-238. Nina SEKILAS TENTANG HUTAN PENELITIAN / Nina Mindawati. dengan kondisi lingkungan yang berbeda. M Yamin KAJIAN TEKNIS PENGEMBANGAN SOCIAL FORESTRY DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM (Technical Analysis of Social Forestry Development Through Nilam Agroforestry Model) / M. hasil hutan kayu dan non kayu Mile. saat ini perlu dilakukan secara bersama dengan masyarakat dan para pihak lainnya. sehingga keberadaannya perlu di jaga dan dilestarikan Kata kunci: Hutan penelitian Muchtar. -. Abdullah Syarief STATUS RISET DALAM PENGUATAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU DAN TAMAN NASIONAL KOMODO / Abdullah Syarief Muchtar. social forestry. Australia. Agroforestry nilam adalah suatu model 30 .Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 137-148 . 2006 Hutan Penelitian merupakan faktor penunjang yang sangat penting dalam rangka peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan hutan secara nasional khususnya sebagai tempat melakukan dan menghasilkan teknologi (IPTEK) bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Pengembangan social forestry dengan model agroforestry nilam akan meningkatkan nilai produk kayu. dan sebagainya. membangun kapasitas kelembagaan dan administrasi secara berkala dan keadilan dan kepastian hukum yang jelas dan dapat dipatuhi atau diterapkan oleh para pihak yang berkolaborasi. Kondisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi nilam. pada tahun 1937.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. -. khususnya di Jawa barat.400 ton/tahun dan setiap tahun meningkat mencapai 5-10 %. Indonesia mengekspor minyak atsiri ke lebih dari 25 negara seperti Amerika Serikat. Sepuluh hutan penelitian telah dibangun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam sejak lembaga ini bernama Bousbouw Proefstation. Nilam menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai nilai pasar tinggi dalam perdagangan internasional. Pogostemon cablin Benth. No.3 . -Info Hutan : Vol. Saat ini keberadaan hutan penelitian semakin diperlukan karena selain untuk penelitian juga digunakan untuk pendidikan. share learning. Oleh karena itu pola agroforestry nilam memperlihatkan prospek agribisnis yang cukup baik sehingga sangat sesuai untuk dijadikan salah satu model dalam kegiatan social forestry. Adapun prinsip-prinsip kolaborasi yang harus dibangun bersama oleh pihak terkait adalah penataan ruang yang fleksibel.). koleksi. Kata kunci: Agroforestry berbasis nilam. pembuatan perangkat hukum secara bersama. serat. dan wisata bagi masyarakat.200-1. Oleh karena itu kegiatan social forestry dengan pola agroforestry nilam memberikan prospek yang baik dalam meningkatkan pendapatan petani secara nyata.. china grass. Kata kunci : Agroforestry haramay. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan pola agroforestry nilam. Pembuatan zonasi sebelumnya hanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. baik untuk kosumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. minyak atsiri Mindawati.dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan.

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. dan tanaman penutup tanah rendah berupa sentro (Centrosema pubescens Benth. diantaranya penggunaan tanaman penutup tanah dari famili legum yang terbukti dapat memperkaya hara tanah.Info Hutan : Vol. pertumbuhan. Kolaborasi Narendra. jenis legum. Budi Hadi UJI COBA SISTEM PERTANAMAN LORONG DALAM REHABILITASI LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Trial of Alley Cropping system in Critical Land Rehabilitattion of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra. -. Dari ketiga jenis tanaman lorong.) terhadap pertumbuhan tanaman pokok jati (Tectona grandis L. -. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. sistem pertanaman lorong. sistem pertanaman lorong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis tanaman legum penutup tanah terhadap perubahan kondisi kimia dan fisika tanah di lahan bekas tambang batu apung. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi pertumbuhan dan manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan sistem pertanaman lorong. Respon yang diamati adalah pertumbuhan tanaman pokok dan biomassa hasil pangkasan ketiga jenis tanaman lorong. Penanaman menggunakan sistem pertanaman lorong. Hasil analisis tanah menunjukkan terjadi perbaikan sifat kimia tanah berupa meningkatnya kandungan bahan organik. dan gamal (Gliricidia sepium Steud. biomassa 31 .f. fisika tanah Narendra.) Poir). Budi Hadi PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS LEGUM TERHADAP KONDISI TANAH PADA AREAL BEKAS PENAMBANGAN BATU APUNG (Effect of Legume Species Planting on Soil Condition of the Area Formerly Used for Pumice Mining) / Budi Hadi Narendra dan Eka Multikaningsih.III. temperatur. Leucaena leucocephala (Lamk.3 . gamal. kimia tanah.) dan mangga (Mangifera indica L. Demikian pula dengan sifat fisika tanah terjadi perbaikan pada permeabilitas. Zonasi.) Steud). 2006. diuji pengaruh tiga jenis tanaman lorong dari jenis legum yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala (Lamk. turi (Sesbania grandiflora (L.) De Wit.).). dan KTK. Taman Nasional Kelimutu. Sesbania grandiflora (L.). Salah satu metode yang banyak memberi manfaat dalam merehabilitasi lahan kritis adalah penggunaan sistem pertanaman lorong (alley cropping). turi. Gliricidia sepium Steud..III. Variabel yang diamati adalah perubahan sifat fisika dan kimia tanah sebelum dan setelah diadakan penanaman.) Pers). Kata kunci : Rehabilitasi lahan. dan bulk density.).) De Wit. kadar air. infiltrasi.235 . turi menghasilkan biomassa terbesar.Kata kunci: Kebijakan. No. turi (Sesbania grandiflora (L. Jenis yang ditanam adalah tiga jenis tanaman penutup tanah tinggi yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk. hasilnya menunjukkan bahwa tanaman jati dan mangga memiliki kemampuan hidup dan tumbuh dengan baik dan antar jenis tanaman lorong belum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pokok. Halaman 173-180 . perlu dipertimbangkan untuk menanam ketiga jenis legum secara bersama dikombinasikan dengan sentro sebagai tanaman penutup tanah. Setelah enam bulan pengamatan. Taman Nasional Komodo.3 . 2006 Dalam rehabilitasi lahan-lahan bekas tambang diperlukan teknologi yang efektif dan efisien. No.4 kg/m2 dan penggunaan tanaman penutup tanah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. Perlakuan dasar yang digunakan adalah pemberian pupuk kandang dosis 4. gamal (Gliricidea sepium (Jacq.) Pers. Halaman 225 . Dengan menggunakan rancangan acak lengkap tersarang. namun untuk penganekaragaman manfaat yang diperoleh. lamtoro. N total. Kebutuhan teknologi tepat guna untuk merehabilitasi lahan bekas tambang batu apung penting saat ini.

Sedangkan di Pulau Sumba jumlah lahan kritis diperkirakan paling sedikit 32 % dari total luas daratan.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. I Wayan 32 . Budi Hadi TANAMAN PENUTUP LAHAN YANG SUSEAI PADA LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Cover Crop Species Trial on Critical Land of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra dan Syahidan. Hama penyebab tumor batang dan jenis rayap belum teridentifikasi. Halaman 357 365 . tumor cabang dan rayap. fragmentasi hutan akibat penebangan liar dan perladangan serta faktor alam yang kurang menunjang pertumbuhan tanaman.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan.4 kg/m2 dapat diaplikasikan guna menambah kandungan bahan organik tanah. -. Penggunaan pupuk kandang dengan dosis 4. tanaman yang paling tepat digunakan sebagai penutup tanah adalah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Kata kunci: Meranti merah. Keuntungan Critical Land Rehabilitation through the development of Kaliwu Based Community Forest in Sumba Island) / Gerson ND Njurumana. karena lahan telah mengalami kemunduran sifat fisika kimia tanahnya. Masing-masing kombinasi perlakuan ini diulang sebanyak 16 kali. teknologi rehabilitasi lahan. leprosula) dengan cara mengamati setiap individu tanaman di lapangan. Bekas tambang ini merupakan lahan terdegradasi yang dibiarkan saja menjadi lahan kritis dengan permukaan berlubang-lubang yang sebagian besar tidak dimanfaatkan lagi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan intensitas serangan hama pada tanaman meranti merah (S. Hama tanaman Njurumana. Peningkatan lahan kritis disebabkan kebakaran lahan dan hutan. tanaman penutup tanah. 2006 Pengelolaan hutan yang menekankan eksploitasi menyebabkan meningkatnya luas lahan kritis dan degradasi ekosistem hutan secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi dan teknologi budidaya jenis tanaman penutup tanah dan dosis pupuk kandang yang sesuai untuk rehabilitasi lahan kritis bekas tambang batu apung. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kaliwu berpeluang dikembangkan untuk rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air di Sumba. Hanya vegetasi tertentu saja yang masih dapat dijumpai pada lahan tersebut. 4 . serangan tumor buah dan tumor cabang tidak menyebabkan kematian. pupuk kandang Ngatiman HAMA TANAMAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) / Ngatiman dan Armansyah.Narendra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama yang menyebabkan tumor buah pada pucuk tanaman adalah sejenis kutu dengan hama perantara lalat. No. Gerson ND REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT BERBASIS SISTEM KALIWU DI PULAU SUMBA (The Study of Widhana Susila.30 . kemampuan menutup tanah dan biomassanya. wawancara. 2006 Tambang batu apung di Lombok Timur. Berdasarkan kemampuan hidup. Serangan tumor buah dan tumor cabang menyebabkan tajuk meranggas dan kering akan tetapi tanaman tidak mati. Halaman 19 .). Shorea leprosula Miq. namun serangan rayap menyebabkan kematian. Penelitian ini menggunakan desain split plot. lahan kritis. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .III. di mana tiga macam dosis pupuk kandang sebagai plot utama dan tiga jenis tanaman penutup tanah sebagai sub plot. Halaman 347-354 . Keberadaan sistem kaliwu mampu menunjang tata air. mendukung pendapatan masyarakat dengan nilai NPV positif pada tingkat pengembalian modal lebih dari 12 % per tahun. keragaman jenis tanaman yang tinggi serta dukungan masyarakat. 2006 Pada tanaman meranti merah (Shorea leprosula) umur 10 tahun lebih di lapangan terserang tumor buah. Metode pendekatan yang digunakan adalah observasi langsung terhadap karakteristik sistem kaliwu. dan pengumpulan data sekunder. Masyarakat menambang secara tradisional tanpa mengupayakan rehabilitasi dan konservasi tanah dan air.1 . Luas lahan kritis di Nusa Tenggara Timur mencapai 28 % dari total luas wilayah. khususnya di Ijobalit memiliki potensi dan produksi terbesar di Indonesia.III. No. sedangkan serangan hama rayap mengakibatkan kematian. Hal ini berdampak negatif terhadap daya dukung lingkungan dalam menunjang kebutuhan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh alternatif rehabilitasi lahan dan konservasi melalui pengembangan hutan rakyat yang berbasis pada sistem social forestry murni masyarakat beserta kearifan lokalnya. Kata kunci : Bekas tambang batu apung. -.

Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Irigasi. tetapi perlu memberikan ruang bagi partisipasi multi pihak beserta seluruh modal sosial yang berkembang dalam masyarakat. sehingga mendorong proses pembaruan. konservasi dan hutan rakyat Njurumana. 2006 Keberlanjutan sistem irigasi Subak di Provinsi Bali sangat ditentukan oleh berfungsinya komponen pendukung Subak. 2006 Peningkatan degradasi lahan merupakan kesatuan yang bersifat simultan antara aspek sosial ekonomi. masyarakat sekitar hutan untuk membuat konsep pembangunan kehutanan secara bersama. sosial budaya. Gerson ND PENDEKATAN REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN MAMAR: STUDI KASUS MAMAR DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN / Gerson ND Njurumana. 2006 Perubahan paradigma pembangunan kehutanan yang sebelumnya berbasis hanya untuk pemanfatan kayu oleh sekelompok masyarakat tertentu menjadi pemanfaatan hutan secara multi guna dengan melibatkan masyarakat hutan sekitar mengharuskan pihak terkait seperti pemerintah.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Mamar sebagai salah satu bentuk kearifan lokal 33 . baik komponen internal maupun komponen eksternal. pemulihan lahan kritis tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan teknis dan sektoral semata. Gerson ND PEMANFAATAN HUTAN SECARA ARIF DAN BIJAKSANA / Gerson ND Njurumana. Sistem-sistem tersebut adalah merupakan kearifan lokal yang dapat dikembangkan untuk daerah-daerah yang dekat pemukiman. dan penyelarasan pengetahuan lokal dengan pengetahuan dari luar. Kearifan lokal Njurumana. Multiguna. Kata kunci: Agroforestry. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. mamar. I Wayan Widhiana S dan Tigor Butar-Butar. Halaman 143-154 . Kata kunci : Sistem kaliwu. rehabilitasi lahan. 2006 . -. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan khususnya rehabilitasi lahan dan lingkungan diletakkan atas dasar pengetahuan masyarakat lokal. dan lain-lain. Faktor kesehatan DAS merupakan komponen eksternal yang menentukan keberlanjutan faktor internal. Halaman 1-11 . kaliwu.pengembangan sistem kaliwu adalah diperolehnya landasan pengelolaan lahan kritis dan konservasi yang berbasis lokal (mengakomodir karakteristik wilayah. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. 2005 : Halaman 111-122 . budaya. peguatan. Subak. Karena itu upaya pengendalian dan rehabilitasi lahan kritis perlu melibatkan seluruh pihak termasuk aktor dari kegiatan degradasi lahan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Gerson ND PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN SISTEM IRIGASI SUBAK DI BALI / Gerson ND Njurumana. Kata kunci: DAS. tengah dan hilir merupakan salah satu pilar pendukung keberlanjutan sistem irigasi tersebut di masa mendatang. baik pusat atau daerah. dan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan. Konsep pembangunan yang dapat dikembangkan masyarakat langsung adalah yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan secara multiguna atau agroforestry seperti amarasi. Pengelolaan. -. dan kearifan lokal) untuk menggugah peningkatan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan pengelolaan lahan. Di pihak lain. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Khusus untuk daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) pembangunan kehutanan harus didasarkan pada kondisi obyektif sumberdaya alam dengan memperhatikan keterbatasan daya dukung sebagai akibat kurangnya pasokan air (sebagai salah satu ciri dari daerah semi arid). penggerakan. Penguatan kelembagaan subak dalam membangun keterpaduan dalam pengelolaan mulai dari wilayah hulu. salah satunya adalah kearifan lokal. Bali Njurumana.

pencemaran air berupa air minum berbau.2 . memanfaatkan. Nilai guna sistem mamar cukup baik terhadap aspek produktivitas. sekaligus mampu menjembatani konflik kepentingan terhadap sumberdaya lahan dan air. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. intrusi air laut. silvopasture.ozon. Dengan demikian. 34 . 2006 . Masyarakat telah memanfaatkan daun. konversi lahan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. dan pemanfaatan hutan. banjir/genangan. dan buah/biji ulin untuk obat rambut. oksida nitrogen dan belerang. dan mempelajarinya. Halaman 123 . perambahan. salah satunya pemanfaatan jenis tanaman yang memberikan manfaat ganda untuk jangka pendek. 2006 Eksploitasi ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn.Info Hutan : Vol. pembangunan sektor kehutanan di Timor Barat harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat secara obyektif melalui pendekatan site spesifik. Selain memiliki kayu yang kuat dan awet. Kehadiran hutan kota diharapkan dapat mengendalikan peningkatan suhu udara perkotaan. stabilitas. Nilai penting.130 . Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan dapat dilakukan dengan memanfaatkan dan memberdayakan potensi dan kekuatan yang sudah ada dalam masyarakat. ginjal. Dari aspek kebijakan. Kata kunci: Degradasi lahan dan hutan. polusi udara. muntah darah. penurunan air tanah. tanah dan air yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan kelestarian ekosistem. Upaya konservasi ulin mencakup tindakan dapat dilakukan secara in-situ maupun ex-situ dan menjaga. debu. 2006 Hutan kota diidentifikasikan sebagai status lahan yang dengan pohon-pohonan dalam satuan kawasan tertentu baik pada tanah negara maupun tanah milik yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan perkotaan dalam pengaturan tata air. dan mengatasi bengkak. suasana yang gersang. pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap keragaman model kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. Tekanan penduduk yang tinggi mengindikasikan terbatasnya alternatif sumberdaya yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan hidupnya. kehadiran hutan kota diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan ekologi perkotaan yang dapat dilakukan dengan mempertahankan kelestarian dan fungsi kawasan-kawasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun kerjasama dengan komponen masyarakat. abrasi pantai. 2006 Kerusakan sumberdaya lahan dan hutan di Timor Barat mengalami peningkatan akibat tekanan penduduk. habitat flora dan fauna. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. monoton. Karena itu. -.) secara besar-besaran akan mengakibatkan terancam kelestariannya. Ekologi.III. dan keberlanjutan yang cukup tinggi dalam mendukung kegiatan usaha tani. No. Konservasi tanah. 2006 . Konservasi air Njurumana. Kade Sidiyasa.mengandung logam berat. Gerson ND NILAI PENTING HUTAN KOTA DALAM PEMBANGUNAN PERKOTAAN / Gerson ND Njurumana.Pengakuan terhadap kearifan lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan. karbon-dioksida. dan lingkungan. -. Halaman 183-197 . menengah. Kearifan lokal. dan panjang. ternyata ulin juga memiliki manfaat non kayu sebagai bahan obat. dan air diharapkan dapat mengapresiasi dan mendorong masyarakat untuk terlibat secara proaktif melalui kemitraan yang terbangun dalam pengelolaan sumberdaya hutan di Timor Barat.) Conservation and it's Utilization as Medicinal Plant) / Noorhidayah. Kebijakan Njurumana. Gerson ND PELUANG DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI TIMOR BARAT / Gerson ND Njurumana. tanah. kebakaran.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Pendekatan site spesifik dilakukan dengan berbagai pendekatan. pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO. -. batang. Lingkungan Noorhidayah Binn) DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm PEMANFAATANNYA SEBAGAI TUMBUHAN OBAT (The Ironwood (Eusideroxylon zwageri Teijsm Binn. Halaman 103-117 . bising dan kotor. Kata kunci: Mamar. Rehabilitasi lahan.memiliki peluang untuk diberdayakan dalam rangka mendukung rehabilitasi lahan.LSM dan swasta untuk mendukung tujuan pembangunan hutan kota Kata kunci: Hutan kota.

20 cm. kokon. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh murbei (Morus spp.38 cm. Harry Budisantoso. Halaman 65 .1 . Halaman 129-136 . aerasi kurang baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa serasah daun pinus dapat dimanfaatkan sebagai media semai yang baik.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .. 35 persen pupuk kandang. Bombyx mori Linn. dan tanah bermikoriza. Sedangkan ulat sutera persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik sebesar 1. kualitas kokon. ulat sutera persilangan. konservasi insitu. Media semai Nurhaedah M PENGARUH MURBEI (Morus spp. DAN SERAT SUTERA (Effect of Mulberry (Morus spp) and Silkworm Hybrid (Bombyx mori Linn. Kata Kunci: Serasah pinus. dan serat sutera.III. tetapi tidak memberi pengaruh nyata terhadap kualitas kokon dan serat sutera dan belum ada jenis yang memberikan hasil yang baik.. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor yaitu: M (murbei persilangan) dan U (ulat sutera persilangan) dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Analisis statistik menunjukkan bahwa murbei persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat.Parameter yang diamati adalah tinggi dan diameter. kualitas ulat. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa serasah daun pinus yang lambat terdekomposisi dapat dimanfaatkan sebagai media semai dan mengetahui komposisi media pinus yang sesuai untuk pertumbuhan semai. dan 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan pertumbuhan tinggi yang paling baik yaitu sebesar 11. Kombinasi antara murbei persilangan dan ulat sutera persilangan memberi pengaruh nyata pada rendemen pemeliharaan dan bobot kokon.) dan ulat sutera persilangan (Bombyx mori Linn.) terhadap kualitas ulat. dan serat sutera. Kombinasi M1U3 (murbei NI dan ulat sutera HG 8) cenderung memberikan hasil yang baik. pupuk kandang. Oleh karena itu upaya penggunaan bahan lain sebagai media pertumbuhan dengan tujuan memperkecil pemakaian topsoil perlu segera dilakukan. konservasi ex-situ Nugroho.23 mm dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media 30 persen daun kasar segar. Kata kunci : Murbei persilangan. B2A. Digunakan 3 ukuran daun dan 4 variasi aras campuran media. Serasah daun pinus yang merupakan bahan organik yang bersifat lambat terdekomposisi dapat dijadikan media dengan cara dikomposkan dahulu. No. dan Morus cathayana A. -. Agung Wahyu PEMANFAATAN SERASAH PINUS SEBAGAI MEDIA SEMAI / Agung Wahyu Nugroho. and Silk Quality) / Nurhaedah. KOKON.. Campuran media terdiri dari daun pinus. Parameter yang diamati meliputi kualitas ulat.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. 2006 Media Semai dengan menggunakan media topsoil mempunyai banyak kelemahan diantaranya: media lekas padat. perlakuan yang berpengaruh nyata adalah ukuran daun dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media. kokon. Data rerata tinggi dan diameter dianalisis dengan uji F dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata metode Duncan.) on Silkworm. Jenis NI.Kata kunci : Ulin. kualitas serat 35 . cenderung memberikan hasil yang baik. Untuk pertumbuhan diameter semai. Jumlah keseluruhan perlakuan ada 12 unit dan tiap unit ada 12 semai dan diulang secara acak pada 3 blok.73 . Morus spp. 35 persen pupuk kandang. dan berat per satuan bibit tinggi.30 mm. -. Perlakuan yang menggunakan ukuran daun kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan tinggi semai yang paling baik yaitu sebesar 10. Wahyudi Isnan. obat. kokon.) DAN ULAT SUTERA PERSILANGAN (Bombyx mori Linn) TERHADAP KUALITAS ULAT. Ukuran dan kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik yaitu sebesar 1. Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. dan serat sutera. Variasi aras campuran media 30 persen daun. Cocoon. Penelitian diaksanakan di kebun Karangmalang dan Laboratorium Tanah Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

93 .Nurhaedah M.. 2006 Penelitian pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza terhadap pertumbuhan stek Shorea johorensis Foxw. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Shorea johorensis Foxw.5 tahun. penanganan ulat dan kokon serta pencegahan penyakit. 2006 Pengaruh pembersihan alang-alang dengan penyemprotan herbisida pada tanaman jati (Tectona grandis L. Kata kunci : Ulat sutera. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan waktu pengupasan kokon yang baik untuk penetasan dan rendemen ulat kecil adalah 8 hari sedangkan untuk keperidian dan jumlah pupa jadi ngengat adalah 7 hari. Mulyana Omon. R. No. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri 3 perlakuan waktu pengupasan kokon yaitu 8 hari setelah mengokon. Beauv.2 . Perlakuan dalam percobaan ini terdiri dari dua tingkat suhu dan tujuh periode lama penyimpanan. Mulyana Omon.) DI KAWASAN REHABILITASI SAMBOJA (Effect of Alang-alang (Imperata cylindrica L. Samboja Kalimantan Timur. kokon Omon. No. telah dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata. No. Beauv.) PADA BEBERAPA WAKTU PENGUPASAN KOKON (Quality of Silkworm Eggs with Several Cocoon Peeling Period)/ Nurhaedah M. Di kedua plot tanaman jati tersebut alang-alangnya disemprot dengan herbisida. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak tiga kali. 7 hari setelah mengokon dan 6 hari setelah mengokon serta kontrol (0 hari). yang berkualitas di persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4o C atau 20o C untuk diinokulasikan pada stek Shorea johorensis Foxw. Penelitian ini dilakukan di Balai Persuteraan Alam Bili-Bili. Dengan demikian untuk rencana dan strategi penyediaan stek Shorea johorensis Foxw.4 .84 %) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan. mikoriza tablet Omon. dan persentase kolonisasi akar (81.1 . dengan dosis sebanyak 8 liter herbisida/ 800 liter air dan satu plot tanaman jati yang terletak di bukit tidak dilakukan penyemprotan sebagai kontrol.184 . Halaman 177 . purposive dengan Pembuatan plot percobaan dilakukan secara mempertimbangkan keadaan topografi. R. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang teknik pemeliharaan tanaman jati pada lahan alang-alang.) Clearing with Herbicide on Teak (Tectona grandis L. Sedangkan suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. Kabupaten Gowa. Mulyana PENGARUH PEMBERSIHAN ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L. jumlah daun (4 helai). Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal tablet mikoriza untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. Penelitian bertujuan untuk mengetahui waktu pengupasan kokon yang tepat sebagai bahan pembibitan ulat sutera.428 .) Plantation in Samboja Rehabilitation Area) / R. waktu penyimpanan.f. -.67 %). Halaman 83 . Tiap unit perlakuan terdiri dari 10 bibit. 2006 Bibit ulat sutera yang berkualitas akan diperoleh jika pemeliharaan ulat induk menghasilkan kokon yang baik. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.f. Sulawesi Selatan.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. disamping itu waktu pengupasan kokon yang terlalu cepat dan tidak terseleksi (kontrol) menyebabkan waktu keluarnya ngengat lebih beragam. Dua plot terletak di bukit berukuran 20 m x 25 m dengan ketinggian 87 m dpl (di atas permukaan laut) dan satu plot terletak di lembah dengan ukuran yang sama dengan ketinggian 47 m dpl.III.III.) umur 2. Kata kunci : Shorea johorensis Foxw.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan penyemprotan alang-alang dengan 36 . jumlah daun. Ishak Yasir. -. Cuttings in Greenhouse) / R.) DENGAN HERBISIDA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L. Hasil memperlihatkan bahwa penyimpanan tablet selama tiga bulan di kedua suhu yang berbeda (4o C dan 20o C) telah memberikan pengaruh yang nyata lebih baik terhadap persen hidup (86.f. KUALITAS BIBIT ULAT SUTERA (BOMBYX MORI L.32 cm). DI RUMAH KACA (Effects of Temperature and Storage Duration of Mycorrhizae Tablet to Growth of Shorea johorensis Foxw. dan persentase kolonisasi akar. Halaman 421 . .III. pertumbuhan tinggi (4. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan penanganan khusus seperti pemberian pakan. stek. telah dilaksanakan di kawasan rehabilitasi Samboja. pengupasan. pertumbuhan tinggi.

dan lain-lain. Sudin SISTEM CABUTAN ANAKAN ALAM SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PENYEDIAAN BIBIT JENIS DIPTEROCARPACEAE / Sudin Panjaitan. Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan informasi bagi para pelaksana di lapangan. Dipterocarpus hasseetii. yaitu sebesar 3. dan vermikulit) keuntungannya bahannya mudah diperoleh. turut mempelajari metoda tersebut. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Samarinda di Stasiun Penelitian Wanariset Samboja dengan Yayasan Tropenbos Belanda dengan nama MOF-Tropenbos Kalimantan Project yang dimulai pada tahun 1985 sampai tahun 2000. Tectona grandis L. gambut. Beauv.7 cm. Stek pucuk. Sedangkan riap diameter dan tinggi tanaman jati yang di lembah lebih tinggi dibandingkan dengan di bukit. teknik pencabutan yang baik. Mulyana TEKNIK PEMBIAKAN VEGETATIF MELALUI STEK PUCUK DIPTEROCARPACEAE PADA MEDIA PADAT DAN AIR / R. teknik pengepakan dikondisikan lembab. Kata kunci : Tanaman jati. smithiana. R.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. S. Dipterocarpaceae. intensitas cahaya. Teknik pembuatan bibit sistem cabutan anakan alam harus memenuhi syarat. Thailand. laevis. teknik penyapihan dan pemeliharaan bibit di persemaian sesuai standar 37 .Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 19-27 . Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Malaysia. Media padat. parvifolia. S. S. Kata Kunci: Pembiakan vegetatif. lahan alang-alang.. sehingga kendala pembuatan bibit dalam skala luas dan tepat waktu dapat diatasi untuk mendukung program pembangunan hutan tanaman. S. India. teknik. 2006 Pengadaan bibit Dipterocarpaceae dengan sistem cabutan anakan alam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kelemahan pengadaan bibit secara generatif (asal buah/biji). dan Parashorea sp. Rusmana dan Marinus Kristiadi Harun. Hal ini terkendala dengan masa berbuah massal yang tidak teratur dan bijinya bersifat recalcitrant yang tidak dapat disimpan lama yaitu hanya beberapa minggu saja. tidak terdapat deformasi batang dan akar anakan. yaitu waktu pencabutan yang tepat. temperatur. ukuran anakan ideal. Perbedaan pertumbuhan tersebut. pengambilan bahan. Teknik pembiakan vegetatif melalui stek pucuk dengan media padat (pasir. tetapi kelemahan tidak dapat dikontrol setiap saat apakah sudah berakar atau belum dan perlu penyiraman. dan hormon tumbuh yang digunakan.5 kali untuk diameter dan tinggi sebesar 5 kali dibandingkan dengan tidak disemprot herbisida (kontrol). johorensis.herbisida pada tanaman jati telah memberikan pengaruh efektif terhadap pertumbuhan. Mulyana Omon. Keberhasilan perbanyakan dengan stek pucuk dipterokarpa dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain kelembaban. dikarenakan kesuburan tanah di lembah lebih baik dibandingkan dengan di bukit.43 cm dan 185.000 orang yang telah mengikuti training Alih Teknologi Stek Pucuk dan Kebun Pangkas di Wanariset Samboja. Teknik tersebut telah diaplikasikan oleh HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di Indonesia dan bahkan lebih dari 1. Untuk media padat (pasir. herbisida. S. gambut. Selain itu ada juga beberapa jenis yang mudah tumbuh di media air antara lain Anisoptera marginata. Sedangkan media cair (air) keuntungannya mudah dikontrol dan apabila belum berakar dapat dikembalikan ke tempat semula tanpa mengganggu proses perakaran dan tidak perlu penyiraman. Dari hasil pembiakan vegetatif melalui stek ada beberapa jenis yang mudah tumbuh di media padat dan cair seperti Shorea leprosula dan Shorea selanica. Selain itu pula telah dikembangkan teknik pembuatan kebun pangkas sebagai sumber bahan stek dan teknik inokulasi mikoriza sebagai pemacu pertumbuhan. baik dari dalam dan luar negeri seperti Jepang. 2006 Perbanyakan stek pucuk dari famili Dipterocarpaceae merupakan salah satu alternatif dalam pengadaan bibit di persemaian. Omon. paucifloria. Halaman 335-345 . S. Dengan demikian penyemprotan alang-alang dengan herbisida pada tanaman jati dengan dosis 8 liter herbisida/800 liter air per ha dapat direkomendasikan untuk pembersihan alang-alang pada tanaman jati. -. Dryobalanops lanceolata. Sejak Juli 2002 Stasiun Penelitian Wanariset Samboja telah berubah menjadi Institusi Loka Litbang Satwa Primata. Media air Panjaitan. penggunaan media tepat. Kelemahannya untuk yang pertama adalah diperlukan biaya yang besar yaitu harus tersedia kompresor atau aerator sebagai penghasil oksigen dan listrik. Vietnam. -. dan vermikulit) dan air (water rooting system) diperoleh dari hasil kerja sama antara Departemen Kehutanan cq. assamica. Selain itu banyak tamu-tamu yang datang.f. media. Imperata cylindrica L. Hopea odorata. masing-masing sebesar 2.

Lembaga Pelaksana Pura. BANJARBARU/ Sudin Panjaitan.U KONSERVASI EMPAT JENIS ENDEMIK PAPUA DI PERTANAMAN BPPK PM MANOKWARI / Pudja M. Sudin RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN PULAI (Alstonia scholaris (L) R. Herman R. 4 gr per anakan dengan pemberian pupuk pinufert 5 gr dan 10 gr per anakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Alternatif. Pertumbuhan. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 77-86 . Pemberian pupuk berpengaruh nyata terhadap tinggi dan diameter batang. masyarakat menunjukkan antusias yang tinggi untuk terlibat dalam rehabilitasi lahan sejak awal perencanaan hingga pelaksanaan dan pemeliharaan serta berminat untuk meningkatkan kemampuan teknisnya.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Pendekatan tersebut telah dicoba dilaksanakan di Nusa Penida. Angka degradasi hutan tropis Indonesia selama 10 tahun terakhir. Hal ini merupakan hasil dari proses panjang kegiatan pengusahaan hutan alam tropis sejak dekade 70-an sampai 38 . Penyediaan bibit. 2006 Kondisi sumbardaya hutan Indonesia pada saat ini mengalami kemunduran dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Tri Mandala. Pendekatan serupa bisa diterapkan di daerah lain yang memiliki kondisi sama. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup anakan adalah 10 persen. -. I. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Penerapan model ini menunjukkan hasil yang positip yaitu dengan tingkat keberhasilan tanaman 80 persen. Dalam rangka pengembangan budidaya pulai di persemaian disarankan menggunakan pupuk pinufert 5 gr atau NPK gr per batang.U. NPK Parthama. Anakan pulai. serta aturan yang mereka miliki sendiri untuk melaksanakan rehabilitasi lahan. dan Daud Leppe. Dalam hal ini masyarakat diingatkan dan diarahkan untuk menerapkan konsepsi.B PUTERA PARTHAMA DAN HADI S PASARIBU. Kata kunci: Pulai.Br. menurut data Departemen Kehutanan tahun 2000 mencapai 1. Pendekatan pranata sosial masyarakat setempat yang telah diaktualisasi didaerah ini antara lain: Tri Hita karana. Halaman 355-373 . Pulau Kecil dan kering yang berada di Tenggara pulau Bali. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan anakan pulai akibat pemberian pupuk pinufert dan NPK. -. Dipterocarpaceae Panjaitan. Kata kunci: Rehabilitasi lahan. dan Awig-awig. Pranata sosial lokal Pudja M. Percobaan disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dari perlakuan pupuk pada anakan pulai umur 16 minggu yang diulang sebanyak 7 kali.6 juta ha/tahun.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan.Kata kunci: Cabutan anakan.Br) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK PINUFERT DAN NPK DI PERSEMAIAN BP2HTIBT. Alstonia scholaris (L) R. Tri Fungsi Hutan. Halaman 85-92 .B Putera PEMANFAATAN PRANATA SOSIAL LOKAL DALAM REHABILITASI LAHAN: SEBUAH PENGALAMAN DI NUSA PENIDA BALI / I. Tri hita karana. 6 gr. Mahliani dan Acep Akbar. Pranata sosial lokal. 2006 Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli lingkungan serta berkomitmen dalam merehabilitasi lahan ialah dengan mengaitkan dan memanfaatkan pranata sosial masyarakat lokal setempat. fisolofi. Jumlah daun anakan juga dipengaruhi oleh pemberian pupuk dimana anakan yang diberi pupuk menghasilkan nilai tertinggi pada jumlah daun dibanding tanpa pupuk. Banjar Pakraman. Pupuk pinufert. bukan diminta mengadopsi rehabilitasi lahan model baru. Sedangkan antara anakan pulai yang diberi pupuk NPK 8 gr.

Pometia sp. Agar rehabilitasi lahan kritis di daerah Nusa Tenggara Timur dapat berhasil. sertifikasi mutu benih. dan sertifikasi mutu bibit dalam mendukung GERHAN. dan kebun koleksi. mutu benih. mutu benih maupun mutu bibit.05 cm/thn.. Belum adanya sertifikasi sumber benih. memberikan 3 cm/tahun. -.sekarang. Araucaria cuninninghamii. umur 11 tahun dengan diameter rata-rata 15.. Konservasi secara umum dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu in-situ dan ex-situ. dapat mencapai 2. Sumber benih. dapat mencapai 2. Awal pertumbuhan yang umumnya sulit selain disebabkan pemeliharaan yang kurang intensif. Kondisi ini menunjukan bahwa pemilihan dan penanganan bibit yang tepat serta tempat tumbuh yang cocok bagi jenis-jenis tersebut diharapkan mempunyai pertumbuhan yang baik.14 cm/tahun. memberikan 2. -. dan lain-lain. tingkat persentase hidup tegakan tergolong baik yaitu lebih dari 70 persen dengan kesehatan tegakan termasuk baik. Mutu benih. Ternyata keadaan masih berlanjut pada tahun berikutnya di mana diameter rata-rata mencapai 19. Sejak tahun 1986.20 cm memberikan riap 1. lahan kritis terjadi akibat sistem pengelolaan lahan yang tidak memadai dengan lingkungan iklim kering. 39 . 2006 . riap di kebun koleksi dan arboretum ini dianggap masih kecil. seperti Intsia sp. Kata Kunci: Sertivikasi. Endemik. GERHAN Pratiwi REHABILITASI LAHAN KRITIS DI WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR / Pratiwi. 2006 Di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). sehingga produktivitasnya menurun. Riap diameter rata-rata tahunan dan pertumbuhan diameter pada umur di bawah lima tahun umumnya lebih kecil dibandingkan tanaman setelah berumur di atas 10 tahun. DAN MUTU BIBIT DALAM MENDUKUNG GERHAN / Joko Pramono dan Hendi Suhaendi. MUTU BENIH.3 cm/tahun. Instia sp. Halaman 49-61 . Namun secara individual ada beberapa pohon mempunyai MAI yang cukup tinggi pada masing-masing jenis. walaupun tempat tumbuh di tiga lokasi kurang subur. sehingga tanaman harus melakukan penetrasi akar terhadap karang. kecuali pada jenis Pometia pinnata ada kecenderungan menurun setelah umur lebih dari 15 tahun. 2006 Pembangunan tanaman hutan yang berkualitas memerlukan benih dan bibit bermutu. Halaman 55-68 . Sebagai ilustrasi.12 cm/thn. Manukwari Pramono. Pometia sp.62 cm memberikan riap 1. diperlukan informasi mengenai aspek-aspek karakteristik faktor lingkungan daerah NTT dan permasalahannya serta alternatif pengelolaannya. Joko MANFAAT SERTIFIKASI SUMBER BENIH.8 cm/tahun. Faktor lingkungan yang ditentukan mutu non genetik dibedakan manjadi mutu fisik dan mutu fisiologi dan dipengaruhi oleh teknik penanganan benih/bibit. Program ini merupakan salah satu dari lima program pokok Departemen Kehutanan. Kata Kunci: Konservasi.38 cm dan MAI mencapai 1. Papua.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Sedangkan ex-situ di luar habitat aslinya.00 cm/tahun. Faktor dominan yang berpengaruh terhadap mutu benih/bibit adalah genetik dan lingkungan. Balai Litbang Kehutanan Papua dan Maluku telah melakukan penanaman beberapa jenis endemik (jenis asli) potensial yang mulai terancam keberadaannya di hutan alam. Oleh karena itu setelah umur tanaman di atas 10 tahun biasanya pertumbuhan mulai membaik.80 cm memberikan riap 1. Pinnata umur 5 tahun 5. Oleh karena itu perlu segera dilakukan program konservasi dan rehabilitasi. Mutu Bibit. jenis-jenis ini relatif mudah untuk dikonservasi dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan tanaman dalam hutan tanaman untuk mendukung gerakan rehabilitasi lahan di Papua. Oleh karena itu upaya rehabilitasi perlu dilakukan agar kerusakan lingkungan dapat dikurangi dan produktivitas lahan dapat ditingkatkan. Secara umum kondisi tanaman di kebun koleksi dan arboretum Inamberi dan Anggresi masih tergolong cukup baik. Agathis sp. Melihat kenyataan tersebut. pertumbuhan diameter rata-rata P. Perbenihan tanaman hutan yang mengandung arti segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan benih tanaman hutan menunjukan perlu adanya sertifikasi sumber benih. dan Araucaria sp.38 cm dan umur 16 dengan diameter rata-rata 16. dalam bentuk arboretum kebun percobaan. diduga juga disebabkan tanah di Manokwari umumnya bercampur karang. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan tanah baik kimia maupun fisik.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Hal ini juga berlaku pada ketiga jenis lainnya. dan mutu bibit menyebabkan konsumen tidak memperoleh jaminan terhadap asal-usul benih. In-situ berarti melestarikan sumberdaya genetik pada habitat aslinya. Mutu genetik dipengaruhi oleh asal-usul benih. seperti Agathis labillardieri. Dibandingkan dengan asumsi riap di hutan alam sebesar 1 cm/thn.

Dengan kondisi iklim kering dan solum tanah yang tipis dan berbatu-batu, curah hujan yang rendah dan topografi sebagian besar curam sampai sangat curam mengakibatkan kesuburan daerah ini sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan pemilihan jenis yang akan dikembangkan yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut, teknologi yang memadai dan kelembagaan yang mendukung keberhasilan program yang akan diterapkan. Kata kunci: Rehabilitasi, Lahan kritis, Nusa Tenggara Timur Prayudyaningsih, Retno HAMA DAN PENYAKIT JENIS MURBEY EKSOT DAN TINGKAT KEHILANGAN DAUNNYA PADA AKHIR MUSIM KEMARAU (Pest and Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.4 ; Halaman 429 - 435 , 2006

Kata kunci : Hama dan penyakit murbei, murbei eksot, tingkat kehilangan daun Prayudyaningsih, Retno PEMBUNGAAN DAN PEMBUAHAN BITTI (Vitex cofasus Reinw.) (Flowering and Fruiting of Bitti (Vitex cofasus Reinw.)) / Retno Prayudyaningsih; Edi Kurniawan. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 131 - 138 , 2006 Penelitian mengenai pembungaan dan pembuahan bitti (Vitex cofassus Reinw.) telah dilakukan di Arboretum dan Laboratorium Silvikultur Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi selama 6 bulan (Januari-Juni 2003). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bunga, produksi bunga, keberhasilan bunga membentuk buah, serangga pengunjung, produksi buah, dan produksi biji tanaman bitti. Informasi ini diharapkan dapat mendukung keberhasilan proses penyerbukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakterisitk bunga bitti adalah hermaprodit dengan malai berjumlah 549,33-2.768,67 kuntum bunga, panjang bunga 0,78-0,89 cm, diameter bunga 0,78-1,13 cm, panjang stamen 0,53-0,60 cm dan 0,45-0,59 cm, dan panjang putik 0,84-1,00 cm. Jenis serangga yang selalu mengunjungi bunga bitti adalah kupu-kupu, lebah madu, dan lebah tukang kayu. Produksi bunga per cabang adalah 10.805,32-167.544,86 kuntum bunga. Pada penyerbukan secara alami 2,13 %-11,95 % bunganya akan membentuk buah. Produksi buah per pohon adalah 7.215-45.210 buah dengan produksi biji sekitar 0,59-3,77 kg. Kata kunci : Karakteristik bunga, serangga pengunjung, bitti, Vitex cofassus Reinw., penyerbukan alami

Disease of Exotic Mulberry and level of it’s Leaves Lost I the End of Dry Season) / Retno Prayudyaningsih; Hermin Tikupadang; Budi

Serangan hama dan penyakit pada tanaman murbei akan mengakibatkan produksi daun menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya. Apabila masalah ini dibiarkan berlanjut, maka ada kemungkinan ketersediaan daun murbei akan berkurang dan pemeliharaan ulat sutera oleh petani akan terhambat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Enrekang pada bulan November 2003. Jenis tanaman murbei yang diamati adalah jenis murbei eksot (Morus indica S-54 dan Morus multicaulis) dan Morus nigra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot pada akhir musim kemarau serta tingkat kehilangan daun akibat serangan hama dan penyakit tersebut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan percobaan faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah jenis murbei dan faktor kedua adalah lokasi. Hasil penelitian menunjukkan ada delapan jenis hama dan empat jenis penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot selama akhir musim kemarau. Jenis hama yang paling banyak menyebabkan kerusakan adalah kutu daun (Maconellicoccus hirsutus Green) dan belalang (Valanga sp.), sedang jenis penyakit yang banyak menyebabkan kerusakan adalah bercak daun (Septogleum mori Briosi et Cavapa) dan karat (Aecidium mori Barclay). Lokasi yang tingkat kehilangan daunnya tinggi adalah Kabupaten Wajo (20,05 %) sedangkan jenis murbei yang mempunyai tingkat kehilangan daun paling tinggi adalah M. indica S-54 (15,32 %).

40

High Protein Contain of The Ornate Lorikeet (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity) / Indra A.S.L.P. Putri. -- Jurnal
Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.3 ; Halaman 259 270 , 2006

Putri, Indra A.S.L.P. PREFERENSI DAN KONSUMSI PAKAN BERPROTEIN TINGGI PADA BURUNG PERKICI DORA (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity DALAM PENANGKARAN (Preferences and Consumption of

Rahmat, Mamat PELUANG PERBAIKAN POLA AGROFORESTRY DALAM MENJAGA KELESTARIAN TAMAN NASIONAL : KASUS DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT WILAYAH SUMATERA SELATAN / Mamat Rahmat dan Manifas Zubay. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 85-93 , 2006 Program pemberdayaan masyarakat sudah seringkali dilakukan pada desa penyangga TNKS. Namun kegiatan yang bersifat destruktif masih terus berlangsung. Makalah ini mengulas pola mata pencaharian masyarakat dan interaksinya dengan kawasan TNKS, pola agroforestry yang sudah berlangsung selama ini, serta peluang perbaikan pola agroforestry tersebut dalam rangka menjaga kelestarian kawasan TNKS. Terdapat dua peluang yang keduanya bisa dilaksanakan secara bersamaan. Peluang pertama adalah melalui diversifikasi kebun karet dengan tanaman sela musiman dan tanaman pelapis dari jenis pulai. Kedua adalah dengan cara mengimplementasi model kebun campuran tersebut pada zona pemanfaatan khusus. Kata Kunci: Agroforestry, Taman Nasional, Daerah penyangga, Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Selatan Rachmawati, Ida PENGEMBANGAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas LINN) SEBAGAI ALTERNATIF PENDUKUNG ENERGI BIODISEL / Ida Rachmawati. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 13-19 , 2006 Ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi cukup tinggi menyebabkan kurangnya upaya eksploitasi sumberdaya alam untuk bahan bakar alternatif. Perlu diupayakan segera cara mengatasinya melalui aplikasi kebijakan energi nasional yang mencakup intensifikasi, konservasi, dan diversifikasi energi. Pemanfaatan biodisel merupakan alternatif yang cukup menjanjikan sebagai pengganti minyak disel asal fosil. Penggunaan biodisel mendesak untuk direalisasikan karena selain sebagai solusi menghadapi bahan energi asal fosil pada masa mendatang, juga bersifat ramah lingkungan dan terbarukan. Jarak pagar (Jatropha curcas Linn) sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai

Pakan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan upaya penangkaran burung. Pakan utama burung perkici dora (Trichoglossus ornatus Linne 1758) di habitatnya adalah pollen dan nektar yang mengandung protein tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi dan konsumsi pakan berprotein yang dibuat dari pakan alami yaitu pepaya dan pisang ambon dengan penambahan protein, serta dampak pemberian pakan terhadap berat badan burung Perkici dora. Jenis pakan berprotein yang ditambahkan pada pakan alami adalah telur dengan kadar 10 %, 15 %, dan 20 % dari total pakan yang disajikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square, t-paired sample test, anova satu arah, dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung perkici dora yang dipelihara dalam kandang penangkaran memiliki preferensi dan konsumsi terhadap pakan berprotein tinggi dengan urutan preferensi dan konsumsi pakan adalah pakan alami > pakan berkadar telur 20 % > pakan berkadar telur 10 % > pakan berkadar telur 15 %. Selain itu pemberian pakan berkadar protein tinggi secara signifikan berpengaruh pada kenaikan berat badan burung perkici dora. Kata kunci : Preferensi, konsumsi, protein, pakan, perkici dora, Trichoglossus ornatus Linne 1758

41

bahan baku biodisel. Jarak pagar adalah tanaman yang cepat tumbuh, sangat toleran terhadap iklim tropis, dan jenis tanah sehingga sesuai untuk dikembangkan sebagai tanaman konservasi. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisionil, pupuk, kosmetik, pestisida, dan industri rumah tangga. Pengembangan jarak pagar untuk mendukung biodisel bertujuan untuk mengganti bahan bakar fosil dan memperbaiki polusi udara yang disebabkan oleh emisi dari pembakaran biodisel. Namun perlu dicermati pengembangan penanaman jarak pagar secara monokultur mungkin menimbulkan permasalahan lingkungan seperti keseimbangan daya dukung lahan, kondisi ekonomi, dan kondisi sosial budaya. Perlu dilakukan penelitian berbagai model penanaman secara benar dan terencana secara berkesinambungan. Teknologi ini juga harus diikuti dengan teknologi pengolahan hasil yang dapat dikelola sendiri oleh masyarakat. Kata kunci: Jarak pagar, Jatropha curcas Linn, Biodisel, Konservasi, Energi Rahmayanti, Syofia APLIKASI PUPUK DAUN DAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA ANAKAN JABON (Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s (Leaf Fertilizer and Growth Regulator Application to Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s Seedling) / Syofia Rahmayanti; Eka Novriyanti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 95 - 102 , 2006 Pupuk daun dan zat pengatur tumbuh sebagai perlakuan yang diaplikasikan pada anakan jabon (Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp.). Pengujian statistik, menunjukkan perlakuan tersebut berpengaruh nyata hanya sampai dua bulan pertama sejak perlakuan terakhir. Saat itu, perlakuan pupuk daun 2 g/l + zat pengatur tumbuh 2 ml/l menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter yang terbesar, masing-masing dengan nilai 17,87 cm dan 3,16 cm. Perlakuan tersebut berpengaruh nyata dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi anakan jabon tapi tidak berbeda dengan perlakuan zat pengatur tumbuh 3 ml/l dalam meningkatkan pertumbuhan diameternya, yang nilainya 3,06 cm. Kata kunci: Anakan jabon, Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp., pupuk daun, zat pengatur tumbuh

Rayan PERLAKUAN MEDIA KECAMBAH TERHADAP BENIH TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) DI PERSEMAIAN BP2KK SAMARINDA. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 240-245 , 2006 Tumbuhan penghasil Gaharu (Aquilaria microcarpa) termasuk suku Thymelaceae bernilai ekonomis tinggi yang selalu diburu dan ditebang orang jika ditemukan pencari gaharu di hutan karena banyak kegunaannya seperti untuk pembuatan parfum, kosmetik dan obat-obatan dan lain-lain. Penelitian dilaksanakan di Persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan dan bertujuan untuk mengetahui media perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu (Aquilaria microcarpa) yang baik. Parameter yang diamati adalah kecepatan berkecambah dan daya kecambah benih. Metoda yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Kelompok dengan perlakuan-perlakuan media perkecambahan yaitu : P1 (Media Perkecambahan Pasir) dan P2 (Media Perkecambahan Pasir Campur Kompos (1:1) Hasil penelitian menunjukan bahwa proses perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu jenis Aquilaria microcarpa, mulai berkecambah pada hari ke 7 dan terakhir hari ke 22 dengan rata-rata kecepatan berkecabah selama 14 hari. Sedangkan daya kecambahnya rata-rata 77,67 persen, perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu dengan pemberian kompos pada media pasir disamping dapat meningkatkan daya perkecambahan juga dapat mempercepat perkecambahannya yaitu penaburan benih pada media pasir rata-rata daya kecambah dan kecepatan berkecambah masing-masing 76.67 persen dan 14.46 hari, sedangkan penaburan di media pasir campur kompos (1:1) masing-masing berturut-turut 78.67 persen dan 13,54 hari. Hal ini disebabkan karena media pasir campur kompos lebih basah/lembab dibandingkan dengan media pasir tanpa kompos dan salah satu syarat perkecambahan diantaranya harus kelembabannya stabil atau tetap terjaga dan setelah diuji secara statistik tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Kata kunci: Gaharu, Aquilaria microcarpa, Media kecambah, Daya kecambah, Kecepatan berkecambah

42

-. bahan organik. Rich. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .C. Halaman 326-333 . rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan berbagai media sapih. Bakasi Renden.7 cm) lebih tinggi dari pada media topsoil (M1. M2 (media topsoil campur tanah gambut (3:1). PADA LAHAN KURANG PRODUKTIF DI MALILI. No.34 cm dan yang disapih pada M1 adalah 0.C.Rayan PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN CABUTAN ANAKAN ALAM JENIS TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) / Rayan. Merryana Kiding Allo. dan sub perlakuan adalah kombinasi antara pupuk kandang dengan kapur dolomit.28 cm tetapi sebaliknya dengan persentase hidup yaitu persentase lebih rendah dengan pertumbuhan yang lebih tinggi.28 cm dan persentase hidup mencapai 82. Rich. DENGAN TANAMAN Theobroma cacao Linn. at Lessproduction Land of Malili. Theobroma cacao Linn. karena itu mereka memperlakuan hutan secara tidak bijak tanpa mempertimbangkan kemampuan alam yang ada.74 cm)begitu juga dengan pertumbuhan diameternya yaitu cabutan anakan alam yang di sapih pada M9..43. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah atau Split Plot. M9 (media subsoil campur bokasi (3:1). Ruben KOMBINASI PERMUDAAN ALAM Agathis dammara (Lambert) L. dengan perlakuan utama adalah dosis pupuk NPK. serta merupakan komoditi elit dalam kelompok hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomis tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan parfum. Gambut. Rich. Penelitian dilaksanakan di persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. 29. M8 (media topsoil campur bokasi (2:1). Suhartati. NPK. SULAWESI SELATAN (Combining Natural Regeneration of Agathis dammara (Lambert) L. Halaman 215 . M10 (media subsoil campur bokasi (2:1). pemberian Gambut pada media sapih pada umumnya cenderung meningkat tetapi pemberian pada media subsoil belum dapat menyamakan kesuburan topsoilnya. Menurunnya kandungan bahan organik tanah pada bagian hutan yang telah berubah menjadi lahan HKM yaitu pada lapisan atas 5. Aquilaria microcarpa.C. Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan permudaan alam agatis sebaiknya menggunakan cara penanaman campuran dengan tanaman coklat karena pemupukan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok pada penambahan bahan organik pupuk NPK 100 gram + pupuk kandang 2 kilogam + kapur dolomit 300 gram. 2006 Hutan dijadikan sebagai sumber pemuas kebutuhan dan penghasilan.3 . penelitian ini diulang dengan 3 kali ulangan yang tiap-tiap ulangan terdiri dari 30 benih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan permudaan alam Agathis dammara (Lambert) L.93 dan pada lapisan bawah 5. pupuk kandang. M4 (media subsoil campur tanah gambut (3:1). pada lahan kurang produktif di Malili. dolomit 43 . With Planted Theobroma cacao Linn. South Sulawesi) / Ruben Renden.C. Kata kunci : Agathis dammara (Lambert) L. Yaitu pertumbuhan tinggi cabutan yang disapih pada media subsoil campur bokasi (M9. 0.III. Kata kunci: Gaharu. Rich. yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika diduga akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. coklat.53 persen asal cabutan anakan alam selama 6 bulan di persemaian.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan.. Berbeda halnya dengan pemberian Bokasi pada media sapih disamping meningkatkan kesuburan tanah dan juga pemberian pada media subsoil dapat melebihi kesuburan topsoilnya. antara lain: M1 (media topsoil). kosmetik. Penyediaan paket teknologi sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan jenis andalan setempat melalui penerapan teknik konservasi tanah berupa pemupukan dalam rangka rehabilitasi lahan kurang produktif. Selain itu pula teknik pembukaan lahan dilakukan secara tebas habis lalu dibakar (slash and burn) sehingga kerusakan lapisan topsoil tanah sulit dihindarkan. dan obat-obatan. 32.75 cm dengan diameter 0.223 . Media sapih. Hasil penelitian penunjukan bahwa Rata-rata pertumbuhan tinggi mencapai 29. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. yang dikombinasikan dengan tanaman Theobroma cacao Linn. 2006 Gaharu adalah gumpalan resin berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum. M3 (media topsoil campur tanah gambut (2:1).

Tumbuhan jenis ini menutupi beberapa perairan. Saluran-saluran irigasi. Untuk itu. E. Pada saat ini. penanganan E. Halaman 117 . Kata kunci : Pembalakan liar. crassipes SOLMS untuk makanan ternak.000 m2. pupuk biogas. Laode Asir Tira.356 . sehingga hasil tangkapan dapat dilelang secara cepat dan disetor ke kas negara. maupun hutan konservasi. Kata Kunci: Enceng gondok. Di Propinsi Papua Indonesia. unsur hara yang terbawa erosi diasumsikan sebagai nilai ekonomi erosi atau nilai kerugian lingkungan. kemudian diambil sampelnya untuk dianalisis kandungan unsur haranya.2 . INDONESIA / Eulis Retnowati. membuat kertas.III.III. dan (2) memusnahkan E. pemberantasan dan penyidikan harus terus menerus secara serius dilaksanakan dan berkas perkara kasus tersebut segera diajukan ke pengadilan dalam waktu relatif singkat. No.Info Hutan : Vol. -. dan "German weed" (di Bangladesh).122 . Demikian pula air yang ada pada Sabo Dam dianalisis kandungan unsur haranya.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Untuk mengetahui sumber-sumber erosi. DAS. Penanganan E. Hasil pembalakan liar untuk memasok kebutuhan industri kecil. Di beberapa daerah Aliran Sungai (DAS) di Propinsi Papua Indonesia.000 m2 dan volume Sabo Dam 102.crassipes SOLMS harus terpadu dan terkoordinir. Berdasarkan hasil penelitian.Retnowati.362. 2006 Pada penelitian ini. menengah dan tidak menutup kemungkinan untuk bahan baku industri besar. crassipes SOLMS pada DAS-DAS di propinsi Papua Indonesia ini. -. Nilai erosi ini dihitung dengan pendekatan biaya ganti (replacement cost). di mana perusahaan yang memegang ijin tersebut menebang di luar blok tebangan. No. Sedimen yang terdapat pada Sabo Dam diukur volumenya.75 m3 dan pada Sabo Dam 8 volumenya sebesar 21. E. Pembalakan liar telah dimulai sejalan dengan pembukaan wilayah hutan oleh HPH. Tegalan merupakan penggunaan lahan yang paling besar 44 . Papua Ruby. Tanaman ini dikenal sebagai "Water hyacinth" (di Eropa dan Amerika) "blue devil" (di Bengal).193. crassipes SOLMS sudah menjadi gulma (jenis invasif eksotik). Dampak dari kejahatan tersebut dapat mengganggu aspek kehidupan. Pendekatan biaya ganti yang digunakan dimaksudkan untuk memberikan gambaran nilai kerugian secara kuantitatif yang dialami oleh suatu wilayah akibat erosi. -. maupun budaya. Penelitian dilakukan melalui pendekatan volume sedimen yang tertampung dalam Sabo Dam (Sabo Dam diasumsikan sebagai penampung sedimen). Kamindar MASALAH PEMBALAKAN LIAR DAN PENYELUNDUPAN KAYU DI PROVINSI RIAU (The Issue of Illegal Logging and Log Smugglings in Riau Province)/ Kamindar Ruby. dan pulp. dan mencemari beberapa smber air. sosial. 2006 Pembalakan liar dan penyelundupan kayu mempunyai hubungan erat. crassipes SOLMS pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh penjajah Belanda pada tahun 1894. Invasif eksotik. Pembalakan liar tidak saja pada hutan produksi. penyelundupan kayu.250. Muhammad Sulaiman. Pemusnahan E. SULAWESI SELATAN (Quantification of Erosion Economics Value on Jeneberang Sub Watershed.4 . baik dalam sektor ekonomi. crassipes SOLMS tidak boleh dilakukan secara biologis atau secara kimiawi. South Sulawesi) / Andi Gustiani Salim. Halaman 343 . Andi Gustiani KUANTIFIKASI NILAI EKONOMI EROSI DI SUB DAS JENEBERANG. Eulis PENANGANAN JENIS INVASIF EKSOTIK Eichhorniae crassipes Solms (ECENG GONDOK) PADA BEBERAPA DAS DI PROPINSI PAPUA. Seluruh komponen masyarakat harus terlibat dalam penanganan jenis tumbuhan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kerugian ekonomi lingkungan akibat erosi secara kuantitatif. Pembalakan liar dan penyelundupan kayu merupakan kejahatan yang terorganisir termasuk pelanggaran hukum pidana. bahkan sudah merambah kepada hutan lindung. 2006 Eichhorniae crassipes SOLMS (eceng gondok) adalah tumbuhan air mengambang yang berasal dari Brazil. jenis tumbuhan ini sudah menyebar di seluruh Indonesia. Amerika Selatan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 155-161 .5 m3 dengan luas catchment 47. diketahui bahwa luas catchment Sabo Dam 6 adalah 74.075. diketahui melalui pemodelan AGNPS (Agriculture Non Point Source Pollution Model) sehingga bisa diketahui besarnya kontribusi erosi masing-masing penggunaan lahan.crassipes SOLMS secara mekanis. pelanggaran hukum Salim. yaitu nilai erosi didekati dengan biaya ganti tanah dan unsur hara yang hilang terbawa erosi. dapat dilakukan dengan cara: (1) memanfaatkan E.

BUDAYA. No.191.menyumbangkan erosi pada Sabo Dam 6 dan Sabo Dam 8. sedangkan produktivitas LOA-5 (501 pohon/ha. budaya.-/thn Sabo Dam 8. 32. sosial-ekonomi. SOSIAL-EKONOMI. tingginya laju sedimentasi dan pendangkalan Danau Limboto.3 . Kerugian akibat erosi yang dihitung dengan pendekatan biaya ganti angkut sebesar Rp 3. terdiri dari masing-masing empat petak di LOA-5. hutan rakyat.-/thn untuk Sabo Dam 8.III. Kata kunci : Biofisik. dan 30 tahun serta empat petak di lokasi hutan primer yang belum ditebang.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 1. Ismayadi DINAMIKA LUAS BIDANG DASAR PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (The Dynamic of Basal Area in Logged-Over Forest in East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. tanah. penguatan kelembagaan. yaitu 40. Enik Eko Wati. Jumlah penduduk 575. tingginya tekanan penduduk. Halaman 159171. Hasil yang diperoleh yaitu karakteristik DAS Limboto meliputi bentuk DAS bulat dengan RC rasio mendekati 1(0. aplikasi teknik konservasi tanah dan air. hutan kemasyarakatan. peningkatan daerah resapan. Penelitian dilakukan pada kawasan hutan bekas tebangan milik PT. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan produksi di Indonesia telah dilakukan selama lebih dari 30 tahun. pola aliran sungai dendritik dan luas DAS 86. -. and Institution of the Limboto Watershed. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan teknik rehabilitasi lahan yang tepat untuk mengurangi laju degradasi lahan di DAS Limboto.III.280 .80 ha. ekonomi. Untuk mencapai tujuan tersebut disusun alternatif arahan teknik RLKT yaitu : (a) RLKT on site yaitu : reboisasi. kelembagaan. Inhutani I dan II di Kalimantan Timur. mencegah banjir dan kekeringan.Info Hutan : Vol. 10.790 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 1%/thn dan lebih dari 52% bekerja sebagai petani. pengintegrasian program. eksploitasi hutan. luas bidang dasar Biophysics. DAN KELEMBAGAAN DAS LIMBOTO.202. Kekritisan ini didasarkan pada luasnya lahan kritis. peningkatan pendapatan dan konservasi danau. No.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.545. Informasi tentang kondisi hutan terkini terutama luas bidang dasar sangat diperlukan untuk mengetahui produktivitas hutan setelah kegiatan penebangan. tidak dijumpai adanya indikasi perubahan struktur tegakan yang diukur dari sebaran kelas diameter Kata kunci : Hutan hujan tropik. Jenis tanah bervariasi dan didominasi jenis alfisol. Penggunaan lahan terluas adalah tegalan.6 cm/thn. produktivitas hutan kembali tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah pohon (577 pohon/ha) dan luas bidang dasar (46. erosi. budaya dan kelembagaan DAS Limboto serta menentukan alternatif teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) DAS Limboto. 2006 Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto merupakan salah satu DAS kritis prioritas I berdasarkan SK Menhut No. meningkatkan produktivitas.576. Andi Gustiani KARAKTERISTIK BIOFISIK. Dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30 tahun setelah eksploitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik. dan 45 .368. agroforestry. Struktur geologi utama adalah sesar normal dan sesar jurus mendatar. penegakan hukum dan perundangan. Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing satu hektar.430. 28.6 m2/ha) masih lebih rendah dibandingkan hutan primer.8 m2/ha). sosial-ekonomi.3 .96). penghijauan.9 m2/ha). Culture. 248/Kpts-II/1999. 45. sehingga tidak berbeda nyata dengan hutan primer (605 pohon/ha. dan biaya ganti unsur hara sebesar Rp 7.333. konservasi sempadan sungai/danau. -. GORONTALO (Characteristic of Hunggul Yudono SHN. areal bekas tebangan. Kata kunci : Kuantifikasi.307. Socio-Economics.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 274.678. unsur hara Salim. Topografi beragam dari landai sampai curam. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan pengelolaan DAS Limboto diarahkan pada : Pelestarian fungsi kawasan. Halaman 271 . rehabilitasi Samsoedin. c) Pengembangan sosial-ekonomi dan kelembagaan : pemberdayaan masyarakat. konversi hutan menjadi lahan budidaya dan perladangan berpindah.5 m2/ha) dan 10 tahun (501 pohon/ha. b) RLKT off site : normalisasi sungai. Gorontalo) / Andi Gustiani Salim.083. Penyebab utama luasnya lahan kritis adalah perambahan hutan.

Kalimantan Timur. No. 30 tahun serta hutan primer untuk keperluan analisis dan penilaian.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kata kunci : Hutan hujan tropik.388 . yang terdiri dari 408 genus dan 111 suku. 241 genus. sedangkan pada LOA-5 didominasi oleh Shorea parvifolia Dyer. guna mengetahui kelayakan lahan sekitar hutan untuk kemungkinan pengembangan tanaman pertanian. Kata kunci : Hutan hujan tropik. dengan Dipterocarpaceae paling dominan dibandingkan dengan suku lain. LOA-10. serta 4 petak pada hutan primer yang belum ditebang.III. LOA-10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian adalah Oxisols. Penelitian dilaksanakan dengan menghitung jenis. Ismayadi PERMUDAAN ALAM HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KABUPATEN MALINAU. dan 30 tahun dengan pembanding hutan primer pada ketinggian 100-300 m dpl. Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh tanah pada lokasi hutan bekas tebangan berumur 5. Ismayadi KONDISI STRATA TAJUK PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI AREAL KERJA PT. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak dijumpai adanya pohon menjulang (emergent) pada hutan primer dan LOA-30.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. areal bekas tebangan. dan LOA-30 dan membandingkannya dengan hutan primer. areal bekas tebangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kesuburan tanah hutan pada hutan bekas tebangan berumur 5. dan LOA-30.4 . 10. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi hutan khususnya strata tajuk yang sangat diperlukan untuk mengetahui kerusakan hutan akibat kegiatan penebangan. Penelitian ini dilakukan pada lokasi hutan produksi bekas tebangan milik PT.3 . Benth. 10. sedangkan Koompassia malaccensis Maing.341 . Untuk pancang.III. -. dan LOA-30. Kalimantan Timur ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi permudaan alam (anakan dan pancang) pada hutan bekas tebangan. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan telah diketahui sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan hujan tropik di Indonesia. guna mengurangi tekanan atau intervensi masyarakat terhadap hutan. Inhutani I and II in Malinau District. 2006 Tropical Rain Forest Soil and Its Suitability for Some Crops in LoggedOver Production Forest of East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin Production Forest of PT. dominan di strata tajuk paling atas (emergent) pada LOA-5. dan 30 tahun. KALIMANTAN TIMUR (The Condition of Canopy Strata in Logged-Over Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing 1 hektar. Halaman 379 . dan dominasi permudaan pada hutan bekas tebangan LOA-5. Pada hutan primer. No. 10. ex. KALIMANTAN TIMUR (Natural Regeneration in Logged-over Production Forest in Malinau District. 2006 Penelitian yang dilakukan di hutan hujan tropik di Kabupaten Malinau. Tidak terjadi perbedaan yang nyata dalam jumlah jenis dan individu anakan antara lokasi bekas tebangan dan hutan primer. strata tajuk Samsoedin. -. Ismayadi KESUBURAN TANAH HUTAN HUJAN TROPIK DAN KESESUAIANNYA UNTUK BEBERAPA JENIS TANAMAN PERTANIAN PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Fertility of dan I Wayan Susi Dharmawan. Areal ini memiliki strata tajuk yang lebih rendah dibandingkan LOA-5 dan LOA-10. Kesuburan tanahnya rendah sampai dengan sangat rendah untuk produksi tanaman pertanian. Dari hasil penelitian ditemukan anakan sebanyak 1. Pohon-pohon menjulang (emergent) pada LOA-10 didominasi oleh Koompassia excelsa (Becc. jumlah. INHUTANI I DAN II DI KABUPATEN MALINAU. LOA-10.5 .Samsoedin. sedangkan untuk jumlah jenis. No. Tidak terjadi perbedaan nyata dalam jumlah individu pancang. Kalimantan Timur pada hutan bekas tebangan berumur 5. Halaman 505 . Inhutani I dan II di Kabupaten Malinau. Pengetahuan tingkat kesuburan lahan hutan hujan tropik sangat diperlukan dalam mengembangkan tanaman pertanian untuk mendukung kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan.III. LOA-5 memiliki jumlah yang terbesar yang tidak berbeda nyata dengan LOA-10 dan LOA-30. strata tajuk atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae. dan 65 suku dengan 67 jenis dari suku Dipterocarpaceae. dengan tingkat kesesuaian lahan yang umumnya marginal 46 . East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. terdiri dari 4 petak di LOA-5.512. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. Penelitian dilakukan di lokasi hutan hujan tropik Hutan Penelitian Bulungan.) Taub. ditemukan 802 jenis.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.022 jenis. regenerasi alam Samsoedin. Halaman 327 .

Var. Kata kunci : Hutan hujan tropik. namun pengaruh perbedaan dosis pupuk terhadap peningkatan produksi daun tidak signifikan. AsI). Hasil ini menunjukkan bahwa lahan hutan produksi dengan ekosistem hutan hujan tropik dataran rendah hanya cocok untuk mendukung kegiatan kehutanan.22 %.(S3) atau tidak layak (N). Penelitian ini dilakukan pada hutan produksi bekas tebangan di hutan hujan tropik dataran rendah. Var. Faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. Untuk parameter kandungan protein rancangan penelitian menggunakan rancangan Acak Lengkap secara faktorial dengan faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. AsI) . dan 30 tahun. 10. AsI)) / Budi Santoso. Kata kunci : Hutan hujan tropik. Pada NI dosis pupuk urea sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan kandungan protein 3. areal bekas tebangan. 20 g. dan 30 tahun serta 4 petak pada hutan primer sebagai petak kontrol. Kata kunci: Morus sp. No. Morus sp. dan volume kayu antara hutan primer dengan hutan bekas tebangan 5. Var.5 . 2006 Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili. luas bidang dasar. Provinsi Sulawesi Selatan.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. AsI. Kalimantan Timur. Bintarto Wahyu Wardani. tetapi hal ini juga menunjukkan kurang efektifnya pemanfaatan kayu dalam pemanenan hutan. sedang pada varietas AsI dosis pupuk terbaik adalah 40 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang 14. Var. NI. Halaman 564 . DAN KANDUNGAN PROTEIN DAUN MURBEI (Morus sp. 2006 Adanya sisa kayu besar pada hutan alam bekas tebangan adalah hal yang tidak bisa dihindari karena sisa kayu dihasilkan secara alami oleh adanya pohon yang mati dan sisa kayu penebangan yang tidak termanfaatkan. NI dan Morus sp.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.46 %. var. Data dikumpulkan dari 16 petak berukuran masing-masing 1 ha. dan 40 g/tanaman. Kabupaten Luwu Timur. kandungan protein daun murbei.14 %. Meskipun tidak berbeda nyata. Halaman 1 .8 . produksi daun. var. Pemberian pupuk urea dengan berbagai dosis dapat meningkatkan kandungan protein daun murbei (Morus sp. NI dan Morus sp.3 m3/ha atau 2 kali lebih besar daripada hutan primer di Costa Rica. AsI). Var. panjang cabang. Retno Prayudyaningsih. pupuk urea 47 . Var. Leaf Production. var. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai sisa kayu besar di hutan bekas tebangan dan hutan alam dalam rangka memperbaiki pengelolaan hutan dan menjaga keragaman jenis. 10. tanaman pertanian Samsoedin. Budi EFEKTIVITAS PEMUPUKAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN. and Protein Content for Varieties Mulberry (Morus sp. NI and Morus sp. Var. -.1 . No. sedang faktor kedua adalah dosis pupuk urea yaitu 10 g. sisa kayu besar Santoso. kesesuaian lahan. var. AsI) dan faktor kedua dosis pupuk urea. NI and Morus sp. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap Berblok secara faktorial. Ismayadi POTENSI SISA KAYU PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Coarse Woody Debris Potential in Logged-Over Production Forest of East Kalimantan / Ismayadi Samsoedin dan/and I Wayan Susi Dharmawan. var. Penambahan dosis pupuk urea dapat meningkatkan produksi daun murbei (Morus sp. 30 g. namun pengaruh peningkatan dosis pupuk urea terhadap peningkatan kandungan protein daun tidak berbeda nyata. -.574. Var. Pemberian pupuk urea pada NI dengan dosis sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang sebesar 6. AsI)) (Effectivity of Urea Fertilizer for Growth. terdiri dari empat petak untuk tiap perlakuan yaitu petak bekas tebangan berumur 5. NI dan Morus sp. sedang apabila ditingkatkan dosis pupuknya (40 g/tanaman) kandungan protein menurun menjadi 3. PRODUKSI DAUN. Sisa kayu besar memiliki peran penting sebagai bahan nutrisi dan hara dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dalam hal jumlah batang untuk sisa kayu berdiri dan rebah.III.32 %. NI dan Morus sp. sisa kayu pada hutan primer di lokasi penelitian sebesar 67. Sedang untuk parameter jumlah cabang dosis pupuk terbaik untuk kedua varietas murbei adalah 30 g/tanaman.III. Var.

BAP. Kata kunci : NAA. varietas murbei KI 14..49 %).5 . dan 1. No.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.2 . 2006 Penelitian multiplikasi tanaman murbei varietas KI 14 bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang konsentrasi NAA dan BAP yang optimal pada perbanyakan tanaman murbei varietas KI 14 secara invitro. Setiap jenis tanaman murbei di setiap tempat diteliti dalam tiga plot dengan ukuran plot 10 m x 10 m masing-masing dengan 50 tanaman. Jenis murbei yang mempuyai tingkat kerontokan daun terbesar adalah Morus indica S-54 (43. Morus nigra Linn. 2) jumlah tunas terbanyak (3 tunas) dicapai pada perlakuan NAA 0.10 ppm. dengan rancangan acak lengkap secara faktorial. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu Lawowoi (Kabupaten Sidrap) dan Sabangparu (Kabupaten Wajo).05 ppm. kultur jaringan. 0.) VARIETAS KI 14 SECARA INVITRO (Invitro Multiplication of Mulberry KI 14 Variety) / Budi Santoso. Santoso.. Bintarto Wahyu Wardani.41 %).36 g/tanaman). pendangiran. Halaman 157 164 . sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai produksi daun tertinggi adalah Enrekang (229. No. Penelitian dilakukan terhadap tiga jenis tanaman murbei berumur lima tahun dalam plot percobaan di lapangan yang ditetapkan secara purposive sampling. Morus indica S-54 Santoso.05 dan BAP 0. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap tingkat kerontokan daun dan produksi daun. -.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. lokasi tempat tumbuh.539. and Morus indica S-54) DI DAERAH BERLAHAN KERING (Percentage of Mulberry Leaf Fall and Leaf Production of Some Mulberry Species Morus multicaulis Perr. Kata kunci : Tingkat kerontokan daun. Morus nigra Linn. dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. Retno Prayudyaningsih.126 . pemupukan urea 20 g/tanaman. Perlakuan ini seragam di setiap lokasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) konsentrasi NAA 0. Morus sp.15 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP (0.. and Morus indica S-54 in a Dry Area) / Budi Santoso.Santoso. No. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kesesuaian jenis murbei. 2006 Penelitian tingkat kerontokan dan produksi daun beberapa jenis murbei di daerah kering ini dilakukan di empat kabupaten yang menjadi sentra utama persuteraan alam di Sulawesi Selatan.III.2 .5 ppm) setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Pada setiap lokasi dibagi menjadi tiga blok dan setiap blok 48 . Halaman 119 .5 ppm.(232. dan Retno Prayudyaningsih.10 ppm yang terbaik untuk mempercepat terbentuknya tunas yaitu 5. Budi TINGKAT KERONTOKAN DAN PRODUKSI DAUN BEBERAPA JENIS MURBEI (Morus multicaulis Perr. curah hujan. -. dan 0. Jenis murbei yang produksi daunnya tertinggi adalah Morus multicaulis Perr. Tanaman yang masuk dalam plot kemudian dilakukan pemangkasan setinggi 40 cm dari tanah. Tingkat kerontokan daun dipengaruhi jenis murbei.8 hari. Halaman 533 . -. Retno Prayudyaningsih. dan 3) kombinasi perlakuan NAA 0. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai tingkat kerontokan terbesar adalah Kabupaten Sidrap (48.0 ppm.III.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. dan pelabelan.5 ppm memberi respon paling tinggi (5. multiplikasi. Pelaksanaan penelitian selama tiga bulan antara bulan Maret sampai Mei 2004. Budi KESESUAIAN JENIS MURBEI DAN BIOFISIK DAERAH KERING (Compatibility of Mulberry with Its Soils’s Biophysics at Dry Area of South Sulawesi) / Budi Santoso. perbaikan guludan. 1.35 g/tanaman). Andi Rismawati. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. Faktor pertama adalah konsentrasi NAA (0. Produksi daun dipengaruhi jenis murbei dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh.492 cm) pada tinggi tunas dalam media kultur varietas murbei KI 14.05 ppm.. Budi MULTIPLIKASI TANAMAN MURBEI (Morus sp.III. dan fisik serta kimia tanah daerah pengembangan persuteraan alam di Sulawesi Selatan pada musim kemarau. produksi daun.

0226 ppm. klorida (Cl) (3. Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Cemara. BKPH Indramayu termasuk perairan antara eutrophic dan oligotrophic.88 mg/l dan 77.Info Hutan : Vol. 2006 Burung merandai terbagi dua.0002 ppm dan 0.2 . Halaman 185 . Gobidae 9 %. RPH Cemara.157 . Dari hasil penelitian disebutkan bahwa. Kedung Coet. Di S. Kata kunci : Murbei. Comal.20 mg/l dan 188. Reny KAJIAN STATUS POPULASI BURUNG MERANDAI DI PANTAI UTARA PULAU JAWA (The Study Population Status of Shorebirds in North Beach of Java Island) / Reny Sawitri. Comal. konversi lahan. dan pertambakan berdampak negatif pada kualitas perairan lahan basah. Cyprinidae 14 %.III. Indramayu) / Reny Sawitri.III. kondisi ini masih di bawah ambang batas 0. merupakan jenis yang bertoleransi terhadap pencemaran lingkungan. Endang Karlina. ditemukan 17 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam empat famili. curah hujan. pencemaran habitat sebagai dampak negatif konversi lahan basah menjadi tambak dan populasi ikan yang merupakan persediaan pakan burung serta arahan pengelolaan kawasan lahan basah habitat burung merandai menjadi kawasan ekosistem esensial. -. jenis benthos dan plankton Sawitri. dan kurangnya persediaan sumber pakan burung. Jenis benthos yang mendominasi kawasan perairan adalah Gammarus spp. Pemalang. dan posfor.349 mg/l dan 12. pencemaran. RPH Cemara. 22 famili. namun harus ditambahkan pupuk nitrogen. PEMALANG DAN SUNGAI KEDUNG COET. BKPH Indramayu. N/P rasio (77. Habitat burung merandai sebagai kawasan ekosistem esensial memerlukan pengayaan tanaman mangrove untuk menarik datangnya burung merandai dan memperkaya nutrisi perairan dengan serasah guna peningkatan Wetlands in Comal River.76 mg/l).34 mg/l dan 6. INDRAMAYU (Riverine Quality of dan Konservasi Alam : Vol.05 mg/l). COD (48. 10 famili yang dibagi ke dalam Bagridae 18 %. Reny KUALITAS PERAIRAN LAHAN BASAH DI SUNGAI COMAL. RPH Cemara. pertanian. besi (0. kualitas air secara fisik maupun kimia di kedua sungai tersebut menurun sebagai akibat dari eksploitasi vegetasi mangrove dan intrusi air laut dilihat dari residu terlarut (10. Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Indramayu. eksploitasi sumberdaya alam. Sedang tanah di Sabbangparu harus dipupuk dengan nitrogen.996 mg/l). Tanah di Lawowoi layak digunakan untuk budidaya tanaman murbei. Kata kunci: Lahan basah. yaitu Sungai Comal dan Sungai Kedung Coet. No. dan tembaga (0. Terraponidae 9 %. Burung merandai terutama yang termasuk burung migran mengalami penurunan dari tahun 1987-2004 sebesar 5 % per tahun.373 mg/l dan 33.387 mg/l dan 0. ikan yang ditemukan 32 jenis. Jawa.2 . sifat fisik dan kimia tanah. Curah hujan di Lawowoi (Sidrap) dan Sabbangparu (Wajo) rendah.5 % dan 436. Pemalang dan S. sampah rumah tangga. Habitat burung merandai di Pemalang telah mengindikasikan adanya pencemaran berdasarkan temuan kandungan pestisida di air tambak dan cangkang telur berupa endosulfan dengan konsentrasi di bawah 0. Pemalang and Kedung Coet River. Jawa Tengah. Metode yang dipergunakan adalah transect line dengan menyusuri sungai menuju muara sungai. kalsium. Endang Karlina. 2006 digolongkan ke dalam perairan eutrophic dan S. kualitas fisik dan kimia air. sehingga kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman murbei.12 mg/l).847 mg/l). dan Chanidae 9 %. salinitas (20 mg/l dan 25 mg/l). 6 jenis diantaranya dilindungi. yaitu 193. daerah kering Sawitri. Pemalang 49 . Di Pemalang. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling pada badan Sungai (S) Comal. Halaman 147 . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status populasi burung merandai di pesisir utara P.117 mg/l).100 ppm. No. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang berapa besar pengaruh dari berbagai pemanfaatan kawasan terhadap kualitas air secara fisik maupun kimia dan pengaruhnya terhadap keragaman jenis benthos dan plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. Sedangkan dari jenis plankton.Jurnal Penelitian Hutan Pemanfaatan kawasan untuk jaringan pembuangan industri. BOD (19. dan posfor serta diperbaiki tekstur tanahnya.00 g/tanaman di Sidrap.terdiri atas sembilan jenis/varietas murbei.193 . BKPH Indramayu ditemukan 13 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam 6 famili. kalsium. sulfat (179. ikan yang ditemukan 10 jenis. Sedangkan di Kedung Coet.33 %). dan di Kedung Coet. enam jenis diantaranya dilindungi.02 mg/l dan 0. burung penetap dan burung migran di pantai utara Pulau (P. -.357 mg/l).67 g/tanaman di Wajo dan 194.) Jawa mengalami kecenderungan penurunan jumlah jenis maupun populasi sebagai akibat konversi lahan basah. Parameter yang diamati adalah produktivitas daun. Produksi daun tertinggi di Wajo dan Sidrap dihasilkan oleh Morus khunpa K. kawasan di S. Kedung Coet. kesesuaian jenis.

III.atau setara dengan Rp 1. dan pengurangan pemakaian pupuk non organik dan diganti dengan pupuk organik. dan unsur hara. Kata kunci : Kualitas aliran. -. penerapan sistem agroforestry. erosi yang dihasilkan adaalah 0. Halaman 389 . pengatur tata air Setiawan.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Halaman 309 . No. Ogi KUALITAS ALIRAN SUB DAS WUNO DAN MIU DAS PALU (Discharge Quality of Wuno and Miu Sub Watershed.41 ton/ha dengan hasil sedimen 7. Konsentrasi unsur hara adalah 29. P (0. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan nilai ekonomi jasa hutan lindung khususnya sebagai pengatur tata air. -.populasi dan keragaman jenis ikan sebagai sumber pakan burung merandai di alam. dan COD (19 mg/liter) masih ada di bawah ambang batas maksimum yang diperbolehkan untuk semua pemanfaatan air. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan model. jasa air untuk perikanan.4 . Kata kunci : Burung merandai. Hasil kuantifikasi jasa hutan lindung tersebut dalam satu tahun adalah Rp 116. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kualitas aliran sub DAS Wuno dan sub DAS Miu. Model ini juga mampu menentukan sumber erosi dan pencemar. adanya dukungan kelembagaan termasuk di dalamnya lembaga. dan peternakan. dan kontingensi. nilai ekonomi. Palu Watershed) / Ogi Setiawan. Sumber erosi di sub DAS Wuno adalah ladang. dalam hal ini model AGNPS.25 mg/liter). Hunggul Yudono SHN. harga pasar. Dalam analisis data untuk mengetahui hasil air sebagai dampak ada atau tidaknya hutan lindung terhadap jasa yang diberikan digunakan pendekatan bilangan kurva (curve number). dan mekanisme pembiayaan/insentif sangat diperlukan untuk menuju pengelolaan hutan lindung yang lestari. Pada kejadian hujan 65 mm. Sedangkan konsentrasi P masih berada di bawah ambang batas maksimum. perikanan. Konsentrasi N dan COD melebihi batas maksimum yang diperbolehkan untuk air minum.3 .8 mm. Partisipasi aktif dan persamaan persepsi antar stakeholder. pengembalian kawasan fungsi lindung. ekosistem esensial lahan basah Setiawan. ikan.-/hektar/tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jasa hutan lindung DAS Palu sebagai pengatur tata air yaitu jasa pengatur tata air untuk pertanian. Bila curah hujan tahunan 1. jasa air untuk konsumsi rumah tangga..09 mg/liter untuk P.335. Sedangkan untuk kuantifikasi jasa lingkungan yang diberikan hutan lindung dilakukan dua pendekatan yaitu nilai manfaat dan dampak. biaya pengganti. Banyaknya manfaat yang diberikan hutan lindung sebagai pengatur tata air menunjukkan bahwa terdapat banyak stakeholder yang terlibat. Kedua pendekatan ini menggunakan beberapa metode perhitungan antara lain travel cost. Hasil penelitian di sub DAS Wuno pada kejadian hujan 53 mm. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Ryke Nandini. 2002). Ladang. kebun campuran.5 mm maka erosi yang terjadi setara dengan 6.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.350. Ogi KUANTIFIKASI JASA HUTAN LINDUNG SEBAGAI PENGATUR TATA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) PALU (Quantification of Protected Forest as A Stream Regulator at Palu Watershed) / Ogi Setiawan.294. dan jasa proteksi terhadap banjir.526. erosi.93 ton/ha/tahun. 0. DAS Palu sebagai dampak pengelolaan lahan serta informasi untuk menentukan arahan pengelolaan lahan di DAS tersebut.4 % dari luas total DAS Palu (BAPLAN Kehutanan.965 ton.400 . tingkat erosi di sub DAS Miu adalah 0.294 ha atau 25.765. Konsentrasi N (1.326 . pertanian.III. No.53 ton/ha/tahun untuk curah hujan tahunan 978. model AGNPS 50 . Arahan pengelolaan lahan untuk kedua sub DAS secara umum adalah penerapan teknik konservasi tanah dan air. dan coklat merupakan sumber erosi terbesar.13 mg/liter). Kata kunci : Hutan lindung. Penelitian ini dilaksanakan di DAS Palu yang mempunyai hutan lindung seluas 86.118. Adapun sumber pencemar unsur hara adalah ladang dan kebun campuran.49 mg/liter untuk N.451 ton atau setara dengan 15. aturan. Model AGNPS merupakan model kejadian hujan yang berbasis sel segi empat dengan tiga komponen utama yaitu hidrologi. dan 124 mg/liter untuk COD.71 ton/ha dengan hasil sedimen 13.

2006 Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara klimatologis dimasukkan ke dalam daerah semi arid karena curah hujan yang relatif rendah (sebagian besar tipe iklim E dan F) dan didominasi oleh keadaan vegetasi seperti savana dan stepa. -. 2006 Ulin (Eusideroxylon zwager T. sosial.Rp 275.-/bulan . Tulisan ini menyajikan teknik silvikultur ulin yang meliputi aspek perbenihan. penerapan teknik konservasi tanah dan air serta adanya dukungan institusional. jenis tanah dominan podsolik merah kuning (45. Halaman 401 419 . Eusideroxylon zwager T.468 jiwa. Kabupaten Luwu Utara. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Jumlah penduduk DAS Rongkong 122. Kelas KPL yang mendominasi DAS Rongkong adalah KPL IV. Berdasarkan kriteria dan indikator hidrologi. Retno PERTUMBUHAN JENIS ANDALAN SETEMPAT UNTUK REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI / Retno Setyowati.Biophisic and Social Economy of Community for Supporting Rongkong Watershed Management) / Ogi Setiawan.-/bulan.098. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap kegiatan.(et. No.96 yang berarti bahwa kondisi DAS Rongkong termasuk sedang. penggunaan lahan DAS Rongkong didominasi hutan campuran 110. Ryke Nandini. arahan penggunaan lahan Siahaan. ekonomi dan budaya DAS Rongkong mempunyai skor nilai 1.et B) merupakan salah satu jenis andalan di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan. Nilai KRS mempunyai kecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat erosi 2.01 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi 1.5 %). Kegiatan rehabilitasi lahan dalam bentuk penghijauan /reboisasi bertujuan untuk memperbaiki lahan yang rusak dan tidak produktif serta mengurangi erosi permukaan dan meningkatkan kondisi hutan ke arah yang 51 . Kata Kunci: Silvikultur.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .et B. pengelolaan DAS. Kualitas kayunya tinggi karena termasuk dalam kelas kuat I dan kelas awet I sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti konstruksi bangunan. dan kelas lereng didominasi lereng sangat curam (> 40 %)... pengamatan lapangan serta wawancara dan studi literatur. pemeliharaan bibit. Jembatan. hingga penanaman di lapangan yang dirangkum dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan.Jurnal Setiawan.5 ha (61.35 mm/tahun. pembibitan.et B Setyowati. lahan. curah hujan rata-rata setahun berkisar antara 710-1. dan informasi tentang arahan penggunaan lahan di DAS Rongkong. Kata kunci: Biofisik. sosial dan ekonomi. Hengki TEKNIK SILVIKULTUR ULIN (Eusideroxylon zwageri T. 2006 Penelitian ini dilaksanakan di DAS Rongkong.500 mm dengan hari hujan 50-100 hari. Berdasarkan hasil analisis aliran permukaan. yaitu interpretasi peta. Arahan pemantapan pengelolaan DAS Rongkong adalah perbaikan kualitas penggunaan lahan.III.011.000.9 %). dengan tingkat pendapatan Rp 225.4 . 2006 .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. -.) / Hengki Siahaan. Untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lahan yang lebih parah maka perlu dilakukan upaya pengendalian yaitu melalui kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi. penyumbang aliran permukaan terbesar adalah kebun campuran dan kebun sejenis.4 %) dan kebun campuran 44. konstruksi dalam air.al) . banyak dijumpai lahan terdegradasi di NTT. Halaman 137-146 . Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi biofisik.5 ha (23.000.839. dan bantalan rel kereta api.3 ha. DAS Rongkong mempunyai kelembagaan formal dan informal yang berpotensi untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan DAS. Dengan kondisi seperti itu. -. sosial dan ekonomi masyarakat. Halaman 181-185 . Ogi STUDI BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PENGELOLAAN DAS RONGKONG (Study of Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Saat ini akibat eksploitasi ulin yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi kegiatan penanaman telah menjadikan potensi jenis ini semakin berkurang dan jika tidak segera diantisipasi dapat berdampak lebih buruk berupa kelangkaan dan kepunahan. DAS Rongkong mempunyai luas 182. Ulin. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan informasi awal untuk melakukan budidaya dan konservasi jenis ulin. Tipe iklim DAS Rongkong adalah A (sangat basah).

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang pertumbuhan jenis-jenis andalan NTT sebagai bahan pertimbangan dalam rehabilitasi lahan dengan menggunakan berbagai perlakuan media tumbuh di persemaian... jenis penghasil gaharu. Mustaid TINJAUAN JENIS-JENIS POHON LOKAL BALI YANG BERPOTENSI DIKEMBANGKAN SEBAGAI KAYU KOMERSIL / MUSTAID SIREGAR. penerbitan publikasi khusus mengenai gaharu. Halaman 93-100 . Konservasi. dan Nunukan.) Dub. NI KADEK EROSI UNDAHARTA DAN HARTUTININGSIH M SIREGAR.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 29-48 . Pasir. -. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . teknik penyulingan dengan menggunakan gaharu mutu rendah untuk menghasilkan minyak gaharu. Heritiera littoralis Dryand. Dalam makalah ini diuraikan antara lain gambaran umum tumbuhan penghasil gaharu di Kalimantan Timur. GAHARU. Pada pohon penghasil gaharu menggunakan inokulasi padat dan cair. Kelangkaan jenis 52 . Dysoxylum caulostachyum Miq. Dengan adanya teknologi tepat guna rehabilitasi lahan terdegradasi ini diharapkan mampu mempercepat keberhasilan upaya rehabilitasi lahan terdegradasi di NTT. Akan tetapi perlu pertimbangan jenis-jenis yang mendapat prioritas mengingat status konservasinya telah mulai mengalami kelangkaan di alam yaitu Manikara kauki (L. Cordia subcordata Lamk. tata niaga dan klasifikasi mutu gaharu. status penelitian gaharu dan program penelitian dan pengembangan gaharu.pemungutan dan pengolahan gaharu. teknik pemanenan.. pengelolaan dan standarisasi mutu. tata niaga gaharu. kajian sosial ekonomi masyarakat pencari gaharu dan pemasaran gaharu serta kajian pemanfaatan pohon penghasil gaharu untuk bahan baku MDF dan pensil. Lagerstroemia speciosa Pers. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. Kutai barat. Kata kunci: Pohon lokal. Jenis andalan setempat. pembentukan gaharu dengan menginokulasikan Fusarium sp. Ngatiman. Sulistyo A. promosi. Kata Kunci: Gaharu. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. NTT Siran. Dalbergia latifolia Roxb. Malinau. serta standarisasi produksi gaharu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar hutan.. pembentukan gaharu. mempelajari beberapa kajian yang menyangkut manfaat gaharu. 2006 Pengembangan jenis-jenis lokal yang sudah sesuai dengan kondisi biofisik wlayah Bali seperti kondisi tanah. KOMODITI HHBK ANDALAN KALIMANTAN TIMUR / Sulistyo A.lebih produktif.Konservasi insitu dan ex-situ pada jenis-jenis gaharu yang ada di kalimantan Timur. Status penelitian gaharu di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan kalimantan antara lain budidaya meliputi teknik produksi bibit gaharu melalui biji. kandungan dan manfaat gaharu. Mimusops elengi L. tata niaga gaharu. Santalum album Linn. cabutan ... dan faktor fisik lainnya akan lebih mudah dikembangkan daripada mengembangkan jenis eksotik lainnya.. habitat tempat tumbuh gaharu yang mempelajari mengenai penyebaran jenis gaharu secara alami dan ekologinya. Kalimantan Timur Siregar. dan Yusliansyah. HHBK. monitoring pengembangan gaharu serta sosialisasi dan diseminasi pengembangan gaharu dengan cara penyebaran informasi melalui media cetak dan media elektronik (RRI dan TVRI) dan penyebaran informasi dengan ekspose hasil-hasil penelitian.Program penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan mengenai pohon penghasil gaharu meliputi: litbang budidaya gaharu. dan stek pucuk. Siran. habitat tempat tumbuh gaharu. Kayu komersial. iklim. dan alih teknologi pengembangan gaharu yang dilakukan pada beberapa kabupaten seperti Berau. 2006 Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang mempunyai peranan penting untuk meningkatkan devisa negara dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. dan Murraya paniculata Jack.

No.III.16 ton/ha secara berurutan.489. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan allometri yang dibangun untuk menduga biomasa total tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah 0. Halaman 541 553. Peningkatan karbon terfiksasi dihitung berdasarkan perbedaan produksi karbon biomasa antara tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline. Oleh karena itu.9 ton karbon/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 28.III. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang dugaan peningkatan simpanan karbon pada biomasa hutan tanaman rakyat jenis Paraserinthes falcataria (L) Nielsen yang disajikan dalam model matematik. Simpanan karbon dalam biomasa tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen hampir 3 kali lebih besar daripada biomasa pada vegetasi baseline-nya. kerapatan tanah.929 mm) di Desa Buniwangi. (R2 = 0. simpanan karbon tanah kumulatif Carbon Changes Affected ByThe Establishment of Siringoringo.2989. falcataria belum memberikan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan kandungan karbon tanah dan simpanan karbon tanah kumulatif pada saat tegakan berumur 6-7 tahun. dan 0. No. Penelitian dilaksanakan pada jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim B (curah hujan tahunan 2. Sukabumi. mempelajari perubahan kandungan karbon tanah di bawah tegakan hutan tanaman adalah sangat penting. Kata kunci : Karbon tanah. Sedangkan biomasa tumbuhan bawah pada tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan baseline diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara persen penutupan tajuk dikalikan dengan tinggi maksimum tumbuhan bawah (UC x UH-max) dan biomasa tumbuhan bawah di atas tanah. Halaman 477 . pendugaan fiksasi karbon pada tanaman pohon yang dihubungkan dengan isu pemanasan global menjadi penting sebagai bagian dari upaya untuk mengetahui simpanan karbon dalam biomasa.86 g/cc dan 0. yaitu sebesar 28. yaitu berturut-turut 0. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.21 %.16 % dan 1.5 . Jawa Barat. Sedangkan selisih produksi karbon dalam biomasa tumbuhan bawah tegakan Paraserinthes falcataria (L) 53 . falcataria lebih tinggi daripada kerapatan tanah pada vegetasi baseline pada kedalaman 0-30 cm.Siringoringo.9445) berdasarkan persamaan DBH-biomasa total. Penelitian dilaksanakan pada tipe tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim tipe B (curah hujan tahunan 2.5 .83-0. Sementara simpanan karbon tanah kumulatif pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. Oleh karena itu. Harris Herman PERUBAHAN KANDUNGAN KARBON TANAH PADA TEGAKAN Paraserianthes falcataria (L) Nielsen DI SUKABUMI. Sedangkan kerapatan tanah (BD) pada tegakan P.8144. falcataria sedikit lebih tinggi daripada vegetasi baseline walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan.96 ton C/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 9. yaitu sebesar 59.929 mm) di desa Buniwangi. West Java / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar. Pelabuhan Ratu. dan simpanan karbon tanah kumulatif pada tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi awalnya (hutan sekunder).76 g/cc.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan karbon tanah lebih tinggi pada lapisan permukaan tanah dan menurun pada lapisan tanah yang lebih bawah. yaitu berturut-turut 1. Tujuan utama penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang perubahan kandungan karbon dengan cara membandingkan kandungan karbon tanah. Pelabuhan Ratu. falcataria dan vegetasi baseline tidak menunjukkan perbedaan.24-3.05 ton C/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa).0986 (DBH)2H0.43 ton/ha dan 51.73-0. Karbon tanah pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. 2006 Karbon tanah dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. (R2 = 0.52-3.9458) berdasarkan persamaan (DBH)2Hbiomasa total.1479 (DBH)2. kerapatan tanah. 2006 Pertumbuhan pohon yang ditopang oleh proses fotosintesis dapat mengurangi konsentrasi karbondioksida di atmosfir. JAWA BARAT (Soil Paraserianthes falcataria (L) Nielsen Plantation In Sukabumi. Sukabumi. -. Biomasa total Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline-nya diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara DBH dan biomasa total dan atau (DBH)2H dan biomasa total. Harris Herman MODEL PERSAMAAN ALLOMETRI BIOMASA TOTAL UNTUK ESTIMASI AKUMULASI KARBON PADA TANAMAN PARASERIANTHES FALCATARIA (L) NIELSEN (Total Biomass Allomeric Equation Model For Assessing Accumulated Carbon In Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar. Sistem tegakan hutan tanaman rakyat jenis P.05 ton karbon/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa. Jawa Barat. dan simpanan karbon pada vegetasi baseline-nya sebesar 10.

Balitbang Kehutanan Samarinda. seminis. S.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi : Halaman 1-7 . Kalsel. S. hal ini menunjukan bahwa tanaman jati dapat dikembangkan di wilayah tertentu dengan kondisi lahan yang mempunyai persyaratan tempat tumbuh (edafis) dan iklim (klimatis) sesuai dengan kriteria kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jati (site-species matching). -. Vatica sumatrana. S. johorensis.300 pohon/ha. S. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .(et. dan (4) media yang higienis. Kaltim. Tectona grandhis Linn. Sumatera Selatan Subiakto. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandhis Linn. leprosula.Nielsen dan tumbuhan bawah vegetasi baseline terbukti sangat kecil dan tidak berbeda nyata. Ujicoba produksi stek masal dengan KOFFCO system telah dilaksanakan di P3HKA. Dyera costulata. S. Sistem ini bekerja secara otomatis bila temperatur dalam rumah kaca mencapai 30 derajat C. ovalis. S. telah berhasil mengembangkan teknik stek untuk propagasi secara massal jenis-jenis meranti dan pohon indigenous lainnya. Dengan dukungan JICA. Riau. S.leprosula dan S. (3) temperatur di bawah 30 derajat C. alih teknologi teknik ini sedang dilaksanakan kepada sektor kehutanan di Indonesia. Komponen utama sistem ini adalah pompa air.al) . sementara di beberapa wilayah Kabupaten OKU tanaman jati tumbuh normal. Alstonia scholaris. secara berurutan. S. Kata kunci : Persamaan allometri. Beberapa plot tanaman jati di wilayah Kabupaten OKI dan Banyuasin mengalami kendala pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kata Kunci: Stek pucuk.. S. simpanan karbon. D. Selanica. selanica. poros dan dapat mengikat air. Hopea bancana. pinanga. balangeran. umur dan pemeliharaan.000 lux. Teknik yang telah dikembangkan ini dinamakan KOFFCO system akronim dari Komatsu-FORDA Fog Cooling System. laevis.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan. Shorea acuminatissima.. odorata. Gonistylus bancanus. 2006 Pertumbuhan tanaman jati pada berbagai lokasi di beberapa kabupaten di Sumatera penting untuk diketahui mengingat animo masyarakat pada tanaman jati sangat tinggi namun potensi kesesuaian lahannya belum diketahui. smithiana.9 ton C/ha. gragaria. stenoptera. Hutan tanaman 54 . nozel. macrophylla. juga dilakukan pengukuran tinggi dan diameter.. S. Atok PENGEMBANGAN TEKNOLOGI STEK PUCUK UNTUK HUTAN TANAMAN / Atok Subiakto dan Chikaya Sakai. dan Loka Litbang HHBK Kuok. Teknik ini mengatur kondisi ideal untuk proses perakaran dari jenis-jenis meranti seperti S. Sampai saat ini sebanyak 24 jenis-jenis indigenous telah dicoba dengan KOFFCO system yaitu Anisoptera marginata. javanica. S. Persen beakar bervariasi antara 0 persen sampai 99 persen tergantung jenisnya. Kata Kunci: Tanaman jati. peningkatan karbon terfiksasi Sofyan. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survey. platyclados. S. guisso. S. H.06 ton C/ha dan 1. S. (2) kelembaban di atas 95 persen. Pengembangan jenis eksot di wilayah Sumatera Selatan harus diketahui terlebih dahulu data dasar potensi lahan serta kesesuaiannya menyangkut persyaratan tumbuh jenis yang akan dikembangkan. Balitbang HTI Banjarbaru. 2006 Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam bekerjasama dengan KOMATSU Ltd. Jabar. Grandiflorus. H. parvifolia. dengan kerapatan tegakan sebesar 1. dan termostat. dan Fragaea fragrans. palembanica. S. pengukuran pertumbuhan tanaman serta identifikasi kualitas tapak melalui pembuatan profil dan pengambilan contoh tanah untuk analisis kimia tanah pada masing-masing plot yang telah ditentukan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa peningkatan karbon terfiksasi oleh tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah sebesar 1819 ton C/ha atau setara dengan 66-70 ton CO2/ha. yakni masing-masing sebesar 2.000-20. biomasa total. Kepada para pihak yang berminat memanfaatkan teknologi ini dapat menghubungi Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam di Bogor. Halaman 77-83 . Bogor. Kondisi lingkungan yang diupayakan optimal adalah (1) cahaya antara 5. S.

Halaman 31-43 . Biofisik Suhaendi Hendi STRUKTUR DAN TEKNIK PEMELIHARAAN TEGAKAN TINGGAL HUTAN RAWA GAMBUT DI AREAL KERJA HPH PUTRA DUTA INDAH WOOD / Hendi Suhaendi. 2006 Pengelolaan hutan rawa gambut dilaksanakan dengan system silvikultur Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara sumber eksplan embrio dan 0. Flores.67 persen) Kata kunci: Teknik pemeliharaan.0 ppm GA3. Mariana Takandjandji. Hasil pengamatan (data primer) dan pengumpulan data sekunder menyatakan bahwa flora yang ditemukan dalam kawasan TN Kelimutu.1 ppm NAA menghasilkan perkembangan kalus yang terbaik yaitu 90 %. termasuk di dalamnya pohon inti sebanyak 25 batang per hektar yang berdiameter >atau sama dengan 35 cm. Fauna.) by Tissue Culture Methode) / Suhartati. Taman Nasional Kelimutu. dan pohon 41 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan ampupu (Eucalyptus urophylla). -. Komposisi jenis dan tingkat pertumbuhan pohon binaan yang terdapat di tegakan tinggal hutan rawa gambut di kelompok hutan Sungai Kumpeh dan Sungai Air Hitam Laut. serta komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan planlet tanaman bitti. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Oleh karena itu menjadi urgen untuk mengkaji kondisi potensi dan biofisik kawasan. Kayat. belta 31 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan lamtoro (Leucaena leucacephalla). Komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan tunas planlet adalah 1.) SECARA KULTUR JARINGAN (Seedling Cultivation Technique of Bitti (Vitex cofasus Reinw.. 2006 Teknik pembibitan bitti (Vitex cofassus Reinw. zat 55 . Putra Duta Indah Wood Suhartati TEKNIK PEMBIBITAN BITTI (VITEX COFASUS REINW. dan reptilia 5 jenis. 2005 : Halaman 13-30 .Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. -. sehingga pengelolaannya bisa fokus. pengatur tumbuh. Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh.3 persen). dengan cara menunjuk dan menandai minimal 100 batang per hektar pohon-pohon jenis komersial berdiameter di bawah 40 cm.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.0 ppm BAP + 1. 98 batang tingkat tiang (16. Untuk menjamin adanya produksi kayu perdagangan pada rotasi tebang berikutnya. Rawa gambut. bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh yang terbaik untuk perkembangan kalus. Agis Nursyam KAJIAN POTENSI DAN BIOFISIK TAMAN NASIONAL KELIMUTU DI PULAU FLORES/ Agis Nursyam Sugiana. No.2 . Seyogyanya Taman Nasional yang telah ditunjuk sudah harus mengetahui potensi dan biofisik kawasannya. agar pengelolaan taman nasional lebih fokus dan tepat guna. -.III. Penelitian perbanyakan tanaman bitti secara kultur jaringan. tingkat semai sebanyak 42 jenis didominasi oleh kirinyuh (Chromolaena odorata). dan 424 batang tingkat pancang (70.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . efektif. penebangan pohon dilakukan pada pohon berdiameter 40 cm ke atas. Media tersebut juga dapat untuk perbanyakan bibit bitti secara kultur jaringan. Makassar. 2006 Kajian potensi dan biofisik Taman Nasional perlu dilakukan agar data yang diperoleh bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah pengelolaan selanjutnya. kalus media kultur. Pemeliharaan tegakan tinggal ditujukan untuk memelihara dan membina pohon-pohon jenis komersial. Flora. dan efisien. Halaman 165 176 . jenis mamalia 9 jenis. perlu dilakukan pemeliharaan tegakan tinggal. Jambi di dalam petak coba seluas 6 hektar terdiri dari 78 batang pohon (13 persen). Potensi. Tegakan tinggal.Sugiana. Kata kunci : Bitti. dan perlakuan berbagai jenis komposisi media kultur. Kata kunci: Danau tiga warna. Sedangkan fauna yang ditemukan terdiri dari jenis aves 20 jenis. Vitex cofassus Reinw. kultur jaringan.) dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi.

Kata Kunci: Budidaya. Dengan demikian padi gogo varietas Jatiluhur. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). Jati (Tectona grandis).85 ton/ha sedangkan varietas Jatiluhur merupakan terendah dengan rata-rata produksi sebesar 1. dan galur Dt 15/II/KU mempunyai prospek baik untuk dikembangkan sebagai komoditi tanaman pangan di bawah tegakan pohon hutan dengan sistem tumpangsari. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. kemitraan. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. DAS Noelmina. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. 2006 Penelitian teknik budidaya padi Gogo di bawah tegakan mangium (Acacia mangium).2 ton/ha. 42 DAS pada tahun 1998. pH tanah rendah. resisten naungan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten.2 ton/ha. dan DAS Kambaniru. -. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu.Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. produksi gabah tertinggi adalah padi gogo verietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. dan Khaya (Khaya anthotheca0 telah dilakukan di areal hutan tanaman masing-masing di KPH Bogor. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. Tumpangsari 56 . Kata kunci: DAS. dan KPH Banyumas Barat. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada.25 ton/ha. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS. Hasil uji coba lima varietas/galur padi gogo di bawah tegakan hutan tanaman magium umur 5 tahun dengan intensitas cahaya 68 persen menunjukan bahwa produksi gabah tertinggi adalah padi gogo varietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. Dibawah tegakan hutan tanaman khaya umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 70 persen produksi gabah tertinggi adalah padi gogo galur Dt 15/II/KU ratarata sebesar 1. DAS Benain. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 163-174 .3 ton/ha dan galur Dt 15/II/KU rata-rata sebesar 1. Banjir Sumarhani TEKNIK BUDIDAYA PADI GOGO TAHAN NAUNGAN UNTUK KELANGSUNGAN USAHATANI TUMPANGSARI / Sumarhani. galur TB 177E-TB-28-B-3. Halaman 93-102 .3) Upaya penanggulangan banjir. Padi gogo. DAS Aesesa. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. Di bawah tegakan hutan tanaman jati umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 64 persen. 2006 .4 ton/ha dan galur TB 177E-TB-28-B-3 rata-rata sebesar 1. dan berumur genjah di berbagai tegakan hutan tanaman. yaitu DAS Benain. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS). tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. KPH Sukabumi. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkhinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir)sesuai dengan kewenangan dan hierarkhinya. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. Selanjutnya informasi ini diharapkan dapat membantu petani sekitar hutan dalam pengadaan tanaman pangan padi gogo tahan naungan secara berkesinambungan melalui sistem tumpangsari. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT. 2) empat DAS kritis di NTT. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk menyampaikan informasi hasil penelitian padi gogo tahan kekeringan. DAS Noelmina.

merkusii strain Aceh. Sri PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI BUDIDAYA VANILI (Vanilla planifolia Andrews) PADA KAWASAN HUTAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT / Sri Suharti.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 175-161 . tahan terhadap naungan. Kata kunci: deglupta Zat pengatur tumbuh. Seleksi simultan dapat dilakukan terhadap 57 . Heritabilitas luas serta korelasi genetik dan fenotipa berikut peragam-peragamnya diduga menurut metode Sakai dan Hatakeyama (1963). Stek merupakan salah satu alternatif pembiakan vegetatif untuk mengatasi tidak tersedianya bibit yang baik dalam waktu yang diperlukan.990 ppm. Ragam genetik dan lingkungan diduga menurut metode Shrikhande (1957). bentuk batang. bentuk batang. 2006 Penelitian ini dilakukan pada hutan tanaman P. Berdasarkan uji polinomial ortogonal. Nilai persentase berakar tertinggi dicapai oleh media pasir dengan konsentrasi IBA 200 ppm sedangkan berat kering total tertinggi diperoleh pada media serabut kelapa dengan konsentrasi IBA 200 ppm dan rasio teras akar tertinggi dicapai oleh media serabutkelapa dengan konsentrasi IBA 400 ppm. -. Vanili. Pengukuran tinggi total. 2005 : Halaman 123-131 . -. tidak memerlukan tempat tumbuh sendiri karena sifatnya yang selalu memerlukan tanaman panjat sebagai inang. Kata kunci: Ekonomi rakyat. Penggunaan media tumbuh yang cocok. Media tumbuh. Vanilla planifolia Andrews Suhaendi.Beberapa keunggulan tanaman vanili antara lain. Dengan peningkatan produktivitas hutan.serta pasar masih terbuka lebar.776 ppm sedangkan konsentrasi IBA yang optimal untuk berat kering total adalah 2. dengan tujuan akhir menentukan sifat-sifat yang perlu dikembangkan dalam pemuliaan pohon untuk tujuan industri.Terciptanya kondisi fisiologis yang optimal serta tepatnya pemilihan bahan tanaman yang digunakan menentukan presentase keberhasilan yang tinggi. Keberhasilan pertumbuhan stek ditentukan oleh kecepatan terbentuknya akar lateral yang mendorong proses fisiologis berlangsung sempurna.serta korelasi genetik dan korelasi fenotipa dari semua pasangan sifat pohon yang dibentuk.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Aceh. Semua parameter genetika diduga tanpa melalui uji keturunan. 2006 Salah satu bahan baku penting dalam industri terpadu pulp dan kertas adalah Blume. produksi getah.Dengan teknik wanatani (agroforestry). Hendi POLA PEWARISAN GENETIK SIFAT-SIFAT MORFOLOGI DAN PRODUKSI GETAH PINUS MERKUSII STRAIN ACEH / Hendi Suhaendi. diameter batang. Hendi PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH "IBA" DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Eucalyptus deglupta Blume / Hendi Suhaendi.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman215-222 . Yang dikendalikan secara sedang oleh faktor genetik adalah tinggi bebas cabang.Tulisan ini mencoba menguraikan potensi dan prospek pengembangan budidaya tanaman vanili pada kawasan hutan melalui teknik wanatani di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu sentra produksi vanili di wilayah Indonesia Bagian Tengah. Dengan diketahuinya pola pewarisan genetik dari berbagai sifat pohon diharapkan akan diketahui tolok ukur untuk seleksi sifatsifat pohon. IBA merupakan zat pengatur tumbuh yang sifat kimiawinya stabil dan memiliki rentang konsentrasi yang lebah untuk merangsang perakaran. dan tinggi total. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Tanaman vanili (Vanila planifolia Andrews) merupakan salah satu komoditi yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di propinsi Nusa Tenggara Barat. 2005 Salah satu upaya untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan dan juga untuk mangakomodir perubahan paradigma dalam pengelolaan dan pembangunan di bidang kehutanan adalah pengembangan usahatani vanili dengan teknik wanatani (agroforestry). pendapatan masyarakat akan meningkat secara signifikan sehingga selanjutnya akan menurunkan tekanan masyarakat terhadap hutan.Suharti. IBA. nilai konsentrasi IBA yang optimal untuk persentase berakar stek adalah 2. Tujuan penelitian ialah menduga nilai heritabilitas luas dari setiap sifat pohon. tinggi bebas cabang. tebal kulit batang. Lima sifat pohon yang dikendalikan secara kuat oleh faktor genetik adalah diameter batang. Stek. dalam populasi Saree. pencampuran tanah ikut menentukan perkembangan stek. tebal kulit batang dan produksi getah kayu di lakukan di lapangan. lahan hutan yang kondisi biofisiknya masih baik maupun yang sudah kurang terpelihara dapat ditingkatkan produktivitas. -. harga produk relatif tinggi. Eucalyptus Blume Suhaendi.

tinggi bebas cabang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pembuatan plot Metode Forest Health Forest Monitoring. -. Sebagai pembanding. Petani melakukan penularan kutu lak sekali pada pohon inang yang sudah diberi tanda kepemilikan. Lampung. -. caribaea dan enam provenansi P. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi media promosi untuk mempertinggi kemungkinan investasi dalam memajukan pengelolaan hutan alam di TNLW. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk menilai performans pertumbuhan umur 13 tahun dari provenansi-provenansi Pinus caribaea dan Pinus oocarpa yang tumbuh di Kebun Percobaan Sumberjaya. Hertabilitas. Nusa Tenggara Timur Sumardi PERANAN HUTAN TAMAN NASIONAL LAIWANGI . Satuan percobaan yang digunakan dalam analisis data adalah sembilan pohon. Seleksi untuk memperbaiki bentuk batang diduga akan memperbaiki pula tinggi bebas cabang dan diameter batang. dinilai pula dua provenansi lokal Pinus merkusii. Pinus oocarpa Schiede. 2005 : Halaman 103-110 . Korelasi fenotipa. Kayat dan Bernadus Ndolu. Dengan menggunakan Suhaendi. Kata kunci: Pinus caribaea Morelet. Penularan kutu lak pada pohon inang berikutnya menguntungkan pada tularan alam melalui angin. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Provenansi 58 . Halaman 161-168 . Dua belas provenansi P. Marfologi Sujatmoko. Hendi UJI COBA PROVENANSI INTERNASIONAL Pinus caribaea Morelet DAN Pinus oocarpa Schiede UMUR 13 TAHUN DI INDONESIA / Hendi Suhaendi. oocarpa dinilai sifat-sifat pertumbuhannya dalam arti tinggi total. 2006 .Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. pemeliharaan. Kata kunci: Pinus merkusii. Korelasi genetik. Tulisan ini bertujuan untuk menghitung dan mengevaluasi besarnya kapasitas biomassa tegakan (aboveground biomass) pada hutan alam TNLW dalam memfiksasi karbon melalui perhitungan biomasa pohon dan karbon. Pola budidaya kutu lak yang dilakukan oleh masyarakat NTT umumnya masih sederhana dan belum melalui tahapan budidaya yang standar. dan bentuk batang. Budidaya. dan pemanenan tularan kutu lak.WANGGAMETI DALAM MENYIMPAN KARBON/ Sumardi. Sujarwo TEKNIK BUDIDAYA KUTU LAK DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA DI NUSA TENGGARA TIMUR / Sujarwo Sujatmoko.5. Rancangan acak lengkap digunakan dalam tiap-tiap Pinus dengan ukuran petak awal adalah 25 pohon dalam bentuk bujur sangkar dengan jarak tanam 2. setelah itu ditinggalkan sampai panen. diameter batang. 2006 Dewasa ini budidaya kutu lak telah menjadi primadona masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kondisinya terus mengalami penurunan produksi yang signifikan. Tanaman inang. perbaikan sistem penularan. Diameter batang yang besar diduga dapat digunakan secara efektif sebagai satu indeks untuk menyeleksi tetua-tetua yang produksi getahnya tinggi.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Penelitian dilakukan di Hutan TNLW.pasangan sifat tinggi total dan bentuk batang. Aceh. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara.5 x 2. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Data yang didapatkan berupa data tinggi dan diameter digunakan untuk menghitung biomassa karbon dengan menggunakan model Brown dan metode Vademikum Kehutanan.Seleksi untuk peningkatan diameter batang diduga akan menyebabkan peningkatan tebal kulitnya. -Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Usaha peningkatan produksi dan kualitas usaha budidaya kutu lak dapat dilakukan melalui perbaikan sistem budidaya dan pemeliharaan tanaman inang. 2005 : Halaman 77-85 . Kata kunci: Kutu lak. 2006 Telah dilakukan penelitian peranan hutan Taman Nasional LaiwanggiWanggameti (TNLW) dalam menyimpan karbon.

2006 Telah dilakukan penelitian pengembangan daerah penyangga sebagai alternatif pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Keterlibatan masyarakat sebenarnya akan memberikan dampak positif bagi TNBB karena masyarakat akan merasa lebih memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberadaan TNBB. Benih unggul yang digunakan pada penelitian ini berasal dari 3 pohon plus (famili) pada tegakan kebun benih uji keturunan Paliyan. Kata kunci: Karbon. Pertumbuhan M.5 ( lebih kurang 77. Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti Sumardi PENGEMBANGAN DAERAH PENYANGGA SEBAGAI ALTERNATIF PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Sumardi. dan Threat) yang ditekankan pada fenomena-fenomena yang diakibatkan oleh kegiatan masyarakat. di wilayah NTT.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal.Masyarakat sebagian besar menginginkan adanya bentuk keterlibatan dalam perencanaan.9 (lebih kurang 74. kayu bakar serta pemanfaatan lahan. Daerah penyangga.Penelitian ini bertujuan untuk evaluasi uji perolehan genetik tanaman kayu putih dari benih unggul. Penelitian bertujuan untuk mencari formula/strategi yang tepat dalam bentuk kegiatan nyata untuk pengelolaan TNBB berbasis masyarakat. rata-rata jumlah biomasa karbon yang diserap oleh vegetasi yang berada di dalam kawasan TNLW cukup tinggi yaitu sebesar 197. Dari informasi yang diperoleh diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengembangan kayu putih pada skala yang lebih besar. Dari penelitian dihasilkan bahwa ketergantungan masyarakat desa Sumberklampok dan Pejarakan terhadap kawasan TNBB masih relatif tinggi dan bentuk interaksinya meliputi pemungutan hasil hutan non kayu. Halaman 3340 .Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).9) ton/ha. Bali Barat Sumardi EVALUASI UJI PEROLEHAN GENETIK KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi subsp cajuputi) Di Persemaian Sampai Umur 4 Bulan / Sumardi. 2006 . Kata kunci: Genetik. Data dan informasi yang terkumpul di tabulasi dan dianalisa dengan analisis deskritif dan SWOT (Strengh. Jenis unggul. Pertumbuhan tanaman M. dan evaluasi terhadap pengelolaan TNBB. monitoring. cajuputi pada tingkat semai sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan persemaian. 2006 Telah dilakukan penelitian evaluasi uji perolehan genetik kayu putih (Meulaleuca cajuputi subsp cajuputi) di persemaian sampai umur 4 bulan. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. sehingga keragamannya cenderung kecil. di Kabupaten Timor tengah Utara dan Kabupaten Sumba Timur. Melaleuca cajuputi subsp cajuputi 59 . Hal tersebut kemungkinan karena ketiga famili tersebut merupakan pohon plus sebagai sumber benih yang merupakan hasil seleksi. Weakness. Opportunities. pelaksanaan. -. penyebaran kuesioner kepada masyarakat daerah penyangga (Sumberklampok dan Pejarakan) dan studi literatur. Penelitian dilakukan dengan melakukan evaluasi pertumbuhan tinggi dan diameter semai kayu putih yang diukur setiap bulan. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . cajuputi tingkat semai tidak banyak menunjukan keragaman signifikan antar famili . Halaman 121-131 . Upaya peningkatan produktivitasnya tidak terlepas dari pemilihan benih unggul yang menghasilkan tanaman dengan produksi daun dan kandungan minyak yang tinggi. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan.metode Brown (1997) dan Vademikum Kehutanan (1976). wawancara. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Meulaleuca cajuputi merupakan jenis yang menghasilkan minyak kayu putih bernilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan sebagai obat-obatan. Biomassa. Kata kunci: Konservasi. Taman Nasional. Kayu putih.9) ton/ha dan 189. namun jika tidak disertai dengan pembinaan dan apabila keberadaan TNBB tidak memberikan peningkatan sosial ekonomi maka kerusakan ekosistem dapat terjadi dengan pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. Masyarakat sebagian besar setuju dengan keberadaan TNBB.

Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).7. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. dengan bentuk unit lahan berbukit sampai bergunung.. Tekstur. Topografi. I (2). diameter dan volumenya.33 persen.20 m dan MAI-volume=0. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran 60 .22 persen. yaitu DAS Benain. I (2). DAS Aesesa.42 persen dan 0. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu.08 persen dan 4. Kandungan N total dari lokasi Peutama yang meliputi lokasi I (1). Lokasi Kuafeu terdapat 10 jenis tanaman dengan jenis pohon komersial dominan mahoni (Swietenia mahagoni) sedangkan lokasi Peutana terdapat jenis tanaman murni kemiri (Aluerites molucana) yang sudah berbuah dan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang pernah dipanen penduduk sekitar.16 persen. 2006 Telah dilakukan penelitian produktivitas Gmelina arborea Roxb. Lokasi penelitian memiliki kemiringan >25 derajat. MAI-tinggi=1. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang.3) Upaya penanggulangan banjir. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. Produktivitas. 2) empat DAS kritis di NTT. dan DAS Kambaniru. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. Halaman 119123 . Timor Tengah Selatan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.0117 m3. Arborea umur 6 tahun. Bobonaro. PH tanah berkisar antara 7.42 persen.07-7.92 . MAI. Kandungan bahan organik pada lokasi Peutana yang meliputi lokasi I (1). II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 2. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran tinggi dan diameter tegakan G. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). Kata kunci: Gmelina arborea Roxb.07 persen. bahan organik terbesar terdapat pada lokasi II (Peutana). Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. DAS Noelmina. 11. DAS Noelmina. Kelas tekstur tanah pada lokasi Peutana adalah liat sampai lempung berpasir. 2006 . Timor Tengah Utara. persentase batuan relatif tinggi. Halaman 93-102 . 0. Nusa Tenggara Timur Sumardi STUDI KUALITAS TAPAK BEBERAPA LOKASI DI HUTAN PRODUKSI TERBATAS KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA.Sumardi PRODUKTIVITAS Gmelina arborea ROXB. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi dan Martinus Lalus. 3. Nusa Tenggara Timur Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS. Halaman 169176 . di Stasiun Penelitian Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. Data yang terkumpul di tabulasi dan dilakukan perhitungan riap rata-rata tahunan terhadap tinggi. DAS Benain.13 cm. 42 DAS pada tahun 1998.82 persen. 2006 . tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994.15 untuk pH KCI. Muhammad Hidayatullah dan Tigor Butar-Butar. 0. 2006 . Dari penelitian tersebut diketahui bahwa riap rata-rata tahunan (MAI/diameter=2. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS). Riap. sedangkan Kuafeu adalah liat lempung berpasir. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. -. Kata kunci: Tapak. 2006 Telah dilakukan penelitian studi kualitas tapak beberapa lokasi di hutan produksi terbatas Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur. NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 0.38 untuk pH H2O dan 6.

Kwangau. kemitraan. Leworok. Kaliboluk. Ile Ape. Kilawair.T. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara telah berupaya untuk menyediakan paket teknologi yang dibutuhkan lewat kegiatan penelitian. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. -. Egon. Dewasa ini populasinya sudah semakin menurun. Kaliboluk. alba. Hikong. Lewotobi. Budidaya. dan litosol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran alami ampupu di Flores terdapat di Kabupaten Sikka (Egon. Diospyros malabarica Der Kostel. dan Lewokukun). dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. Ile Boleng. Labalekan. 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. Ile Ape. Ampupu. Kondisi tempat tumbuhnya terdapat di daerah pegunungan mulai dari kaki gunung sampai lereng pada ketinggian 150-980 m dpl. Paket teknologi yang telah dihasilkan terutama teknik budidaya klicung yang meliputi teknik perbenihan. Kawale) dan kabupaten Lembata (Ile Kerbau. I Komang DUKUNGAN HASIL LITBANG DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA KLICUNG (Diospyros malabarica Der Kostel) DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT / I Komang Surata. jenis tanah mediteran haplik. Di samping itu dalam tulisan ini ditampilkan pula hasil plot uji coba pengembangan budidaya klicung di Rarung Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat serta permasalahannya yang sedang dihadapi yang sangat menentukan dalam menunjang keberhasilan pengembangan. Lewokukun. Sumber benih. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir) sesuai dengan kewenangan dan hierarkinya. Musim panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus akan tetapi semua lokasi yang dieksploitasi berbuah banyak dan seragam. Palueh. Sebaran alami. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka penunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon di masa mendatang. -. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. Pada ketinggian di bawah 600 m dpl masih bercampur dengan E. lle Mandiri. Untuk mewujudkan upaya keberhasilan penanaman sebagaimana yang diharapkan. Palueh. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. 2006 Klicung (Diospyros malabarica Der Kostel) adalah hasil hutan kayu yang tergolong penting di Provinsi Nusa Tenggara Barat karena merupakan spesies andemik. Kilawair. Nusa Tenggara Barat Surata. Banjir Surata. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. Natakolin.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 918 . pembibitan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Natakolin. pada tipe iklim E menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. NTT. Blake) di Flores. dan Hikong). Hibrid 61 . I Komang SEBARAN DAN PERTUMBUHAN PENOTIPE TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (Eucalyptus urophylla S. sebaran alami. urophylla dan E. Penotipe. Leworok.T Blake) DI FLORES PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR / I Komang Surata. Labalekan. Nurdini Estikasari.dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. oleh sebab itu dalam pemanfaatannya perlu segera diikuti upaya pelestarian dan penanaman. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. dan Kurnaidi. Kabupaten Flores Timur (Lewotobi. Kata kunci: Klicung. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu (Eucalyptus urophylla S. Ilemandiri. termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) dan mempunyai nilai ekonomi tinggi.Kwangau. dukungan teknologi budidaya sangat diperlukan. kambisol. Urutan pertumbuhan penotipe pohon plus ampupu dari yang terbaik-terendah adalah: Ile Boleng. 2005 : Halaman 87-95 . dan Kwale. Kata kunci: DAS. Kata kunci: Eucalyptus urohpylla. penanaman. Ile kerbau.

model sumber benih. melengkapi sarana dan prasarana rekreasi/pariwisata dan sosialisasi program pengelolan mangrove yang dilakukan pemerintah. 2006 Cendana (Santalum album L. Kata kunci: Hutan mangrove. Kebutuhan kayu cendana di daerah ini semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kemajuan pariwisata. sistem tumpangsari. I Komang PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN CENDANA (Santalum album L) DI PROPINSI BALI / I Komang Surata.66 persen. Masyarakat lokal. PROVINSI BALI / I Komang Surata.34 persen terutama dalam kegiatan penanaman. Penanaman dilakukan di lahan/ladang masyarakat (hutan rakyat) dalam bentuk tanaman jalur atau sisipan. Prapat Benoa. Dewasa ini tidak ada lagi pasokan bahan baku kayu cendana secara resmi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingat populasi cendana di daerah ini sudah menurun dan di beberapa tempat sudah hampir punah. Model ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan lahan penanaman cendana yang terbatas dan masyarakat dapat berperan secara aktif untuk memelihara dan menjaga keamanan tanaman cendana serta dalam jangka panjang dapat menambah pendapatan masyarakat. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Tingkat partisipasi masyarakat untuk manjaga kelestarian mangrove sudah baik yaitu sebesar 98. Bali 62 . Halaman 19-31 . 2006 Penelitian bertujuan untuk mengkaji data dan informasi partisipasi dan keinginan masyarakat lokal dalam menangani permasalahan kelestarian mangrove. Halaman 133-141 . Tindakan yang tidak partisipasif dalam kelestarian mangrove adalah 1. Kata kunci: Cendana. Hutan rakyat. Untuk memenuhi kebutuhan kayu cendana di provinsi Bali maka perlu segera dilakukan penanaman. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif survei dari masingmasing desa adat di sekitar mangrove secara purpositive sampling dan juga instansi yang mengelola mangrove. pembuatan jalan lingkar setapak yang menjadi pembatas zonasi mangrove dengan lahan masyarakat yang sekaligus sebagai jalan rekreasi. Untuk menjaga kelestarian mangrove beberapa keinginan masyarakat yang perlu menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengatasi permasalahan adalah menjaga keberhasilan sampah dari hulu dan masyarakat di sekitarnya.Surata. sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal dalam kegiatan pengelolaan mangrove di Prapat-Benoa Bali masih rendah 2. pembentukan regu kebersihan mangrove. Untuk menciptakan kemandirian masyarakat maka dalam penanaman cendana pemerintah pusat/daerah dalam 5 tahun pertama perlu memberikan bantuan bibit dan penyuluhan teknologi penanaman kepada petani peserta penanaman dan selanjutnya di masa mendatang masyarakat diharapkan sudah mampu mandiri untuk melaksanakan program pengembangan budidaya cendana. dan kepemilikannya dapat diserahkan ke masyarakat. Nilai ritual. I Komang PARTISIPASI DAN KEINGINAN MASYARAKAT LOKAL DALAM MENANGANI PERMASALAHAN HUTAN MANGROVE DI PRAPAT-BENOA. Partisipasi. tidak memberi ijin tukar menukar kawasan dan pinjam pakai mangrove. Silvikultur intensif Surata. dan kesiapan teknologi maka hampir sepertiga wilayah di Provinsi Bali memenuhi syarat untuk lokasi penanaman cendana. Pengelolaan. Bedasarkan data biofisik wilayah.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . -.34 persen. -.) yang dikenal dengan nama melayu sendana dan dalam dunia perdagangan sandalwood memegang peranan yang sangat penting sebagai penghasil kayu kerajinan dan memiliki nilai ritual keagamaan yang cukup tiggi di Provinsi Bali.ekonomi masyarakat.

Blake) adalah salah satu jenis dari 4 jenis Eucalyptus yang ada di Indonesia. akan tetapi tidak semua lokasi yang dieksplorasi berbuah banyak dan seragam. alba. Obaem. Bonmuti.T. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu di Pulau Timor. Pada ketinggian 500-600 m dpl provenan Humau. PROVINSI NUSA TEMGGARA TIMUR / I Komang Surata. sebaran alami. KHDTK Samboja. KHDTK Sebulu. Masyarakat harus diajak bersama secara aktif. Wedomo masih bercampur dengan E. Haflustalf. Naija Upat. yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. tipe iklim D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Humau. 2006 Ampupu (Eucalyptus urophylla S. dan illegal logging. Kata kunci: Ampupu. Kabupaten Timor Tengah Utara. Kata kunci: Social forestry. BLAKE) DI PULAU TIMOR. Wedomo. Mollo. kebakaran. Hutan terdegradasi 63 . dan Lakaan pada ketinggian 500-2. Halaman 21-31 . 2006 Pada era demokrasi saat ini. Tutem. Hasil penelitian penunjukan bahwa penyebaran alami ampupu di Pulau Timor Barat terdapat di Kabupaten Kupang. Musim berbunga ampupu terjadi pada bulan Januari-Maret dan panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus. Susbian. Dystropepts menurut Soil Taxonomi.Surata. Timau. Selain itu keberlangsungan dan keberlanjutan program social forestry yang diikutinya banyak yang tidak jelas. yang dikenal dengan pola social forestry. dan Kabupaten Belu yang berada di Pegunungan Mutis. Fatumnasi. yang pada akhirnya masyarakat menjadi kurang serius dalam pelaksanaannya. Nenas. Partisipasi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. Pertumbuhan penotipe. Fatuneno. Jenis ini mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting untuk kayu industri antara lain untuk kontruksi. Kabupaten Timor Tengah Selatan. Leloboko. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan kedua dengan membuat komitmen bersama dalam menyusun rencana dan program sebagai keinginan dan kebutuhan bersama yang tentunya tidak terlepas pada prinsip pokoknya yaitu melestarikan hutan dan menyejahterakan masyarakat sekitar hutan. yang salah satu penyebaran alaminya terdapat di Pulau Timor. kayu bakar. Aesrael. Blake.500 m dpl. Sebaran alami. Tune. Oepopo.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka menunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon dalam pembangunan hutan tanaman. Urutan pertumbuhan penotipe terbaik-terendah: Nenbena. Nuafin. Obaem. Pada umumnya ketidakberhasilan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dalam program social forestry karena program tersebut bersifat topdown. Lelobatan. Namun demikian pendekatan kemitraan atau social forestry yang dilakukan masih juga mengalami banyak kegagalan. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan yaitu merubah pendekatan task-force menjadi get the force melaui kemitraan atau partisipasi aktif masyarakat. -. Siran. Hampir semua lokasi ampupu terancam kerusakan akibat perluasan untuk perladangan. urophylla dan E. lakaan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 87-99 . menjaga. Pengelolaan Bersama.T. Naususu. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. -. Eucalyptus urophylla S. dan memanfaatkan hutan. Masyarakat hanya ditempatkan sebagai obyek atau pelaksana yang hanya menerima instruksi teknis yang harus dilaksanakan di lapangan.T. I Komang EKSPLORASI TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (EUCALYPTUS UROPHYLLA S. arang. 2006 . pendekatan task-force untuk mengamankan hutan terhadap intervensi masyarakat (perambahan) untuk memenuhi hajat hidupnya banyak mengalami kegagalan. Salah satu model social forestry yang saat ini sedang dan sudah dilakukan penelitian untuk menyempurnakan model social forestry sebelumnya adalah menggunakan dua pendekatan sekaligus yaitu kemitraan yang sejajar antara pemerintah dan masyarakat. dan pulp. jenis tanah Ustropept. Hibrid Suryanto SOCIAL FORESTRY DI KHDTK SEBULU DAN SAMBOJA: SEBUAH MODEL PELIBATAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN BERSAMA PADA KAWASAN HUTAN TERDEGRADASI / Suryanto dan Sulistyo A. mengelola.

Suryanto PENELITIAN PENDAHULUAN: HIRARKI PERMASALAHAN DALAM KEBIJAKAN OTONOMI BIDANG KEHUTANAN. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 247-269 , 2006 Secara komprehensif, terdapat 3 tahapan kegiatan penelitian yang meliputi identifikasi masalah, analisis prioritas dan perumusan multipihak. Penelitian pendahuluan ini terdapat pada tahap identifikasi masalah dengan tujuan mengidentifikasikan semua permasalahan berkenaan dengan kebijakan otonomi bidang kehutanan. Sasaran penelitian pendahuluan ini adalah menganalisa dan mengelompokkan semua permasalahan-permasalahan tersebut kedalam kerangka masalah yang sederhana, mewakili dan tepat dalam sebuah hirarki. Luaran adalah hirarki permasalahan dalam kebijakan otonomi bidang kehutanan. Luaran dari hasil penelitian ini akan digunakan sebagai bahan untuk analisis prioritas dan perumusan multistakeholders. Metode pokok penelitian yang digunakan adalah AHP atau Analytical Hierarchy Process (Proses Analisis Hirarki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua fokus permasalahan kebijakan, yaitu kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan pemerintah daerah. Permasalahan yang diidentifikasikan dalam fokus kebijakan pemerintah pusat terbentuk dalam 4 hirarki, yaitu fokus, pengaruh, faktor dan bentuk. Pilihan masalah yang perlu pemecahan prioritas dalam hirarki pengaruh terdiri dari 5 pilihan, meliputi kemauan, SDM pembuat kebijakan, latar belakang, SDM penerima kebijakan dan infrastruktur. Dan akhirnya, hirarki bentuk terdiri dari 2 pilihan meliputi kebijakan pusat berkaitan dengan kebijakan makro yang diaplikasikan dalam bentuk kebijakan makro dan mikro oleh pemerintah daerah dan kebijakan pemerintah pusat sudah meliputi kebijakan makro mikro yang diapkilasi oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana. Permasalahan yang terindentifikasi dalam fokus kebijakan pemerintah daerah terbentuk dalam 4 hirarki pengaruh terdiri dari 4 pilihan meliputi peluang kewenangan, sumber hukum, tuntutan dan dikotomi. Dalam hirarki bentuk terdiri dari 3 pilihan meliputi penjabaran, inisiatif sendiri dan kombinasi antar penjabaran dan inisiatif. Dan akhirnya hirarki aktor terdiri dari 3 pilihan kewenangan utuh pemerintah daerah, kewenangan pemerintah daerah di bawah koordinasi koordinator pemerintah propinsi dan kewenangan pemerintah daerah (kabupaten dan propinsi) dibawah koordinasi langsung pemerintah pusat.

Kata kunci: Kebijakan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, permasalahan, AHP, hirarki. Susanty, Farida Herry ANALISIS MODEL PENDUGAAN VOLUME JENIS Acacia mangium, Gmelina arborea DAN Switenia mahagoni DI HUTAN TANAMAN / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama HasilHasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 197-208 , 2006 Plantation inventory for estimation potency of stand needed for quantitative tools as volume prediction models or tree volume table with good validity. Aim of this research to arrange volume prediction models or tree volume table for plantation species in Timber Estate in Kalimantan to increase accuracy of mass or volume stand estimation. Measurement of sample trees using stereoscopis technique for standing tree of Acacia mangium, Gmelina arborea and Swietenia mahagoni of plantation area in Riam Kiwa, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Result of height curve indicated that Acacia mangium there was nonsignificant coorelation between diameter and heigh variable, while Gmelina arborea and Swietenia mahagoni there was significant coorelation (R2>70 persen), thus analysis of volume prediction models could be continued by using two and one variable (tariff). Volume prediction models from this research and some reference show that generally were set up in exponential and logaritmic pattern. Validation of chosen regression equation model base on agregative deviation and mean deviation shows that the equation could be using for tree volume table assesment. Kata kunci: Pendugaan volume, Tinggi, Model, Diameter, Acacia mangium, Gmelina arborea, Switenia mahagoni, Hutan tanaman

64

Susanty, Farida Herry TIPOLOGI EKOLOGI DAN ANALISIS POTENSI TEGAKAN PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 303-316 , 2006 Evaluation of degree of standing stock production potency and ecological effect resulting by harvesting technique which applied in Forest Management Unit (FMU), being one of many important aspect in fulfilling prerequisite Criterion and Indicator for Sustainable Forest Management. This research was aimed to describe the structure and potency of stand in old logged over forest thus examined to SK Menhut No. 8171/Kpts-II/2002 which suitable for forest biophysic condition in East Kalimantan. Data collecting done in PT. Hutan Sanggam Labanan Lestari (PT. HLL) and PT. Gunung Gajah Abadi (PT. GGA) that having different age were 19 and 20 years after logging (LOA 19 and LOA 20), covering:species, diameter, height and tree position in plot.Difference of FMU characteristic base on evaluation of ecological typologi resulting that PT.HLL was sensitive biology-sensitive physic, while PT. GGA was safety biology-sensitive physic. Base on varians analysis there in class diameter. Dominance of species composition for both area were by Dipterocarpaceae. Standing stock by total number of trees on LOA 19 and LOA 20 having higher than criterian having lower potency in class diameter 10-19 cm and 50 cm up. Kata kunci: Struktur, Potensi, Tegakan, Hutan bekas tebangan Susila, I Wayan Widhana UJI COBA JENIS-JENIS INTRODUKSI PADA LAHAN KRITIS DI DALAM KAWASAN HUTAN BATUR DAN BEDEGUL / I Wayan Widhana Susila, Gerson ND Njurumana Felipus Banani. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 33-40 , 2006 Lahan kritis diartikan sebagai lahan yang tanahnya secara potensial tidak mampu berperan dalam salah satu atau beberapa fungsi seperti: 1) unsur produksi, 2) media pengaturan tata air (fungsi hidrologi), dan 3) media

perlindungan alam lingkungan (fungsi orologi) atau lahan yang telah mengalami kerusakan, sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas yang ditentukan atau diharapkan. Luas lahan kritis Provinsi Bali adalah 307.035 ha, terdiri dari 127.706 ha tersebar di dalam kawasan hutan dan 179.329 ha tersebar di luar kawasan hutan. Jenis-jenis yang diujicobakan pada lahan kritis di Kawasan Batur dan Bedugul adalah ampupu(Eucalyptus urophylla), pulai (Alstonia scholaris), cendana (Santalum album), Acacia mangium, majegau (Dysoksilum sp.), gmelina (Gmelina arborea), mahoni (Sweitenia macrophylla), kayu putih (Meulaleuca leucadendron), gaharu (Aquilaria malaccensis), duabanga (Duabanga maluccana), mindi/jeminis (Melia azedarah), dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Jenis-jenis tersebut diujicoba melalui uji jenis dan uji produksi (ampupu, kayu putih, kamadulensis, dan duabanga). Hasil evaluasi tanaman umur enam bulan di lapangan dapat diinformasikan sebagai berikut: 1) Sengon buto merupakan jenis introduksi yang cocok pada kondisi lahan kritis di kawasan Batur yang ditunjukan oleh perkembangan pertumbuhan dan persen tumbuh yang tinggi, yaitu riap diameter 1,37 cm, riap tinggi 61,53 cm, persen tumbuh 96,15 persen, dan sampai umur 10 bulan di lapangan persen tumbuhnya 90,16 persen; 2) Jenis kayu putih dan ampupu merupakan jenis yang cukup sesuai untuk dikembangkan di kawasan kritis Batur dan Bedugul; dan 3) Pemberian kompos di Bedugul dan campuran tanah + kompos di Batur pada media tanam belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan persen tumbuh tanaman. Kata kunci: Lahan kritis, Ujicoba jenis, Ujicoba jenis, Kesesuaian tempat tumbuh, Uji produksi Suwandi PERLAKUAN MIKORIZA DAN NPKN PADA PERTUMBUHAN STUMP JATI (Tectona grandis L.f.) (Treatment of Mycorrhizae And NPK on the Growth of Tectona grandis L.f. Stump) / Suwandi; Surtinah; Kamindar Rubby. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 139 - 145 , 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian mikoriza dan NPK terhadap pertumbuhan stump jati (Tectona grandis L.f.). Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalam pola faktorial, yaitu faktor (M1), 3 mikoriza dengan perlakuan 0 g/tanaman (M0), 1,5 g/tanaman g/tanaman (M2), dan 4,5 g/tanaman (M3); kemudian faktor NPK (N) dengan perlakuan 0 g/tanaman (N0), 1 g/tanaman (N1), 2 g/tanaman (N2), 3 g/tanaman

65

(N3), dan 4 g/tanaman (N4), dengan dua ulangan, setiap ulangan terdiri dari empat tanaman. Jumlah 160 tanaman. Parameter yang diukur tinggi tunas, diameter, jumlah daun, lebar daun, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan stump jati. Pemberian NPK berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tunas, diameter, lebar daun, dan panjang akar; sedangkan interaksi mikoriza dan NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, diameter, dan panjang akar. Kata kunci : NPK , mikoriza, Tectona grandis L.f. Takandjandji, Mariana PENANGKARAN RUSA TIMOR OLEH MASYARAKAT / Mariana Takandjandji, Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 55-76 , 2006 Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 2 sub spesies rusa timor yang potensial untuk ditangkarkan. Potensi ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pemanfaatan rusa di alam. Namun masyarakat belum memanfaatkan secara optimal dan bijaksana. Oleh karena itu aset yang cukup besar potensinya ini perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai suatu usaha sekaligus konservasi. Sampai saat ini sudah ada 3 KK yang telah berhasil menangkarkan rusa, hal ini ditandai dengan rusa yang mereka pelihara telah beranak. Usaha penangkaran rusa cukup menjanjikan sehingga layak untuk dilaksanakan.Kegiatan penangkaran rusa cukup menguntungkan walaupun pada awalnya memerlukan biaya dan investasi yang lebih besar. Usaha ini memerlukan luas lahan yang lebih kecil, akan tetapi dapat memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari ternak-ternak yang sudah dikenal. Kata kunci: Penangkaran, Rusa timor, Aset, Potensi

Takandjandji, Mariana KAJIAN TEKNIK PENANGKARAN PENYU DI BALI / Mariana Takandjandji dan Edy Sutrisno. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 111-120 , 2006 Penyu merupakan reptil laut yang menarik karena mampu beradaptasi dengan baik untuk hidup di perairan laut. Di samping itu, penyu bersifat amphibious, di mana dapat menempuh hidup pada dua habitat yang berbeda. Biasanya penyu hidup di perairan laut dangkal kecuali lahir dan bertelur. Untuk mengkaji teknik penangkaran penyu di Bali, perlu diketahui potensi, penyebaran, bio-ekologi penyu dan statusnya serta kebijakan pemerintah terhadap upaya yang telah dilakukan. Namun permasalahan yang muncul dalam kajian tersebut adalah adanya penangkapan penyu yang dilakukan secara besar-besaran sehingga populasi menurun, baik kualitas maupun kuantitas. Pembinaan yang telah dilakukan antara lain melalui upaya perlindungan penyu dari kepunahan. Upaya tersebut ditempuh dengan cara melindungi panyu dari gangguan manusia dengan cara membuat peraturan yang melindungi penyu, dan upaya penambahan populasi penyu melalui penangkaran/budidaya. Kata kunci: Penangkaran, Penyu, Reptil, Amphibious, Bio-ekologi Tira, La Ode Asir KARAKTERISTIK LAHAN BEKAS TAMBANG BATU KAPUR DI KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN (Land Characteristic of Abandoned Lime Stone Mined in Pangkep Regency, South Sulawesi Province) / La Ode Asir Tira dan Eka Multikaningsih. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 219-228 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lahan bekas penambangan batu kapur di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa areal bekas penambangan berupa hamparan terbuka dan bergelombang dengan kemiringan 0-8 %. Penutupan vegetasi sangat sedikit, kurang dari 10 % dengan jenis vegetasi dominan adalah kersen (Muntingia colabura Linn.), akasia (Acacia auriculiformis A.Cunn), krinyu (Eupatorium pallescens DC), rumput jarum (Andropogon aciculatus

66

rumput teki (Cyperus sp. lembaga swasta.186 mm.06 me/100 g. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .3 . dan kedalaman tanah (<10 cm). kation Ca 90.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. lemahnya koordinasi lintas sektoral. Curah hujan rata-rata tahunan 3. N-total 0. Oleh karena itu diperlukan sarana pengenalan 67 . kearifan dalam bentuk hukum adat ( awig-awig). dan nilai budaya tri mandala. Kata kunci: Mikoriza. nilai teknologi aturan dan norma hukum adat (awig-awig).). -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Karakteristik kimia tanahnya adalah sebagai berikut pH (H2O) 8. C-organik 0.Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas.lembaga formal.28 %. kation Mg 0. No. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. Daun adalah bagian utama dari pohon meranti yang selalu tersedia. Kearifan ekologi tercermin dalam berbagai bentuk sistem kepercayaan (religi). Halaman 281 . kebakaran hutan.09 me/100 g. berdasarkan sifat vegetatif masih terbatas jenis yang mudah dipelajari dan dipraktekkan melalui sifat morfologi daun dan alat vegetatif lainnya. faktor batuan singkapan (60-80 %). Halaman 151-155 . Penelitian dilakukan dengan menggunakan spesimen herbarium jenis meranti yang tersimpan di herbarium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor. sehingga dalam mengidentifikasi tidak memerlukan pengamatan sifat morfologi bunga dan buah. desa adat/pakraman).3. K-tersedia 3 ppm. -. dan kation Na 0. konflik kepentingan. Tujuan penelitian untuk menguji keefisienan teknik identifikasi berdasarkan sifat morfologi daun dari 51 jenis meranti (Shorea spp. tumpek uduh. 2006 Sebagian besar lahan rawa gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. wanakerti. Pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang sinergi dengan kearifan lokal adalah social forestry. S. Rawa gambut Wardani.66 me/100 g. S. Hutan tanaman. KTK 8. Halaman 1-18 . Kata kunci : Karakteristik. pada pengalaman lapangan.25 me/100 g. 2006 Pengetahuan pengenalan jenis meranti seperti Shorea acuminata Dyer. Marfu'ah IDENTIFIKASI JENIS MERANTI SUMATERA MELALUI SIFAT MORFOLOGI DAUN (Identification of Meranti Sumatera by Using its Leaves Morphology) / Marfu'ah Wardani. dan tepat. lahan bekas tambang batu kapur Ulfa. Lembaga adat yang terkait dengan pengelolaan hutan di Bali adalah: lembaga adat (subak.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .). cepat. sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai.) berasal dari Sumatera. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. Berbagai bentuk nilai budaya yang diwarisi dan kemudian menjadi landasan etika lingkungan masyarakat Bali untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah: kalpataru.) dan alang-alang (Imperata cylindrica Beauv. -. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. analog hutan dengan brahman. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. daun. pencurian kayu. Kata kunci : Meranti.Retz. karakter morfologi. Kemampuan lahan digolongkan ke dalam kelas VIII dengan faktor pembatas utama untuk penggunaan adalah prosentase batuan permukaan (60-80 %). Sedangkan kendala pengelolaan sumberdaya hutan di Bali adalah: kemiskinan.296 . assamica Dyer. I Nyoman POTENSI KELEMBAGAAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA LOKAL UNTUK MENDUKUNG PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI DAERAH BALI / I Nyoman Wardi. nilai filosofi figur banaspati dan bhoma.05 %. sehingga dengan melalui pengetahuan sifat morfologi daun diharapkan dapat membantu mengenal jenis meranti dengan mudah. nama jenis Wardi. atrinervosa Sym. P-tersedia 85 ppm. 2006 Daerah Bali dengan budidaya yang bercorak Hindu dikenal memiliki diversifikasi budaya yang tinggi dengan segala keunikannya. cerita mitos. Salah satunya berupa kearifan lokal ekologi (lingkungan) yang merupakan bagian dari kearifan budaya.III.

Sebaliknya maraknya penebangan liar yang terjadi di Desa Perkuwin semakin memperkuat bukti bahwa hukum adat dapat berperan dalam pencegahan illegal logging. Model social forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Kata kunci: Hutan rakyat. dua desa yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Kampung Mului. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. Selain itu berdasarkan tidak adanya sama sekali kegiatan penebangan liar (illeagl logging) di wilayah adat Masyarakat Mului dan cara mereka dalam menghadapi aksi tersebut mengindikasikan bahwa hukum adat terbukti dapat menjadi salah satu instrument untuk mencegah illegal logging. Propinsi Kalimantan Timur. saat ini Balai Litbang Kehutanan telah membangun plot model hutan rakyat masing-masing seluas 3 hektar dan 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun baru dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2004 sampai 2005. Berdasarkan kedekatan dengan hutan lindung. Kecamatan Muara Komam dan Desa Perkuwin. Penelitian dilakukan di Desa Semoi Dua. hasil penelitian menunjukan bahwa hukum adat hampir tidak ada dan tidak dijalankan lagi pada Masyarakat Perkuwin. Dengan cara yang sama. Terkait dengan permasalahan tersebut kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan hukum adat dan peranannya dalam pencegahan illegal logging dirasakan sangat perlu untuk dilakukan.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. di Kabupaten Pasir. Untuk itu biasanya masyarakat tradisional yang masih menerapkan hukum adat memasukkan aturan-aturan pemanfaatan hutan dalam hukum-hukum adat. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan cara pengaturan masalah pengusahaan dan pemanfaatan tanah dan hutan serta penghormatan mereka terhadap roh-roh penunggu melalui upacara-upacara adat yang masih dijalankan membuktikan bahwa hukum-hukum adat masih ada dan diterapkan oleh Masyarakat Mului. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . tetapi keberadaan hukum adat berpeluang untuk menjadi salah satu instrument dalam rangka pemberantasan illegal logging. Halaman 173-190 . Ekologi Wiati. sedangkan di Desa Sumber Sari dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman palawija. Kabupaten Kutai Kertanegara. KHDTK Samboja. Untuk kegiatan plot hutan rakyat bekerjasama dengan Kelompok Tani sebagai mitra dari Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu ditinjau dari status kawasan merupakan lahan yang tidak memiliki bukti kepemilikan tanah. Meski pengakuan keberadaan hukum adat masih menemui sejumlah kendala dalam implementasinya di lapangan. Nilai sosial budaya lokal. Catur Budi IDENTIFIKASI KEBERADAAN HUKUM ADAT DAN PERANANNYA DALAM PENCEGAHAN ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG GUNUNG LUMUT / Catur Budi Wiati. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Illegal logging. Pemasaran hasil kegiatan pembangunan plot hutan rakyat di Desa Semoi Dua belum memberikan hasil dibanding dengan Desa Sumber Sari. Kearifan lokal. -. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Berkaitan dengan hal tersebut. Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber sari. -. Catur Budi KONDISI HUTAN RAKYAT DI SEKITAR KHDTK SAMBOJA DAN SEBULU TAHUN 2005 DALAM KONSTEKS SOSIAL FORESTRY / Catur Budi Wiati.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Gunung Lumut Wiati. Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber Sari.6 hektar di Desa Semoi Dua. Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kertanegara dengan tujuan untuk mengetahui kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu tahun 2005 dalam konteks social forestry. Di Desa Semoi Dua plot pembangunan hutan rakyat dilakukan secara monokultur. Karmilasanti dan Supartini. 2006 Ketergantungan masyarakat tradisional terhadap keberadaan hutan untuk mendukung kehidupan menyebabkan mereka harus menjaga dan mengatur pemanfaatannya agar tetap lestari. 2006 Pengembangan model hutan rakyat merupakan salah satu dari kebijakan pengembangan social forestry yang ditetapkan Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Dirjen RLPS). Partisipasi masyarakat. Halaman 287-302 . Hutan lindung.Kata kunci: Kelembagaan. Kecamatan Long Kali. Sosial forestry 68 . Kata kunci: Hukum adat. keberadaan hukum adat dan adanya kegiatan illegal logging.

Chiharu Hiyama. Ari PEMBANGUNAN HUTAN KEMASYARAKATAN DENGAN SISTEM KONTRAK / Ari Wibowo. namun keputusan tersebut umumnya diambil setelah melalui proses diskusi antara suami dan istri. Ari PADANG ALANG-ALANG DI INDONESIA : KERAWANANNYA TERHADAP KEBAKARAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA (Imperata Grassland in Indonesia : Its Susceptibility to Fire and its Control Efforts) / Ari Wibowo. Asmanah PEMBAGIAN PERAN JENDER DAN DAMPAK KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DI SUKABUMI (Gender Roles Distribution and Impact of Forest Rehabilitation in Sukabumi) / Asmanah Widiarti.III. tidak terkecuali pekerjaan itu sifatnya berat atau ringan. Areal yang didominasi oleh jenis ini dianggap sebagai lahan kritis yang tidak produktif. Raeuschel.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 207-214 .30 . Sulawesi Tenggara dan Maluku menerima bantuan dari Pemerintah Jepang melalui JBIC/OECF untuk melaksanakan pilot proyek pembangunan hutan kemasyarakatan. kegiatan pengendalian kebakaran harus melibatkan masyarakat agar lebih efektif. Riau. 2006 Dalam rangka mencegah makin memburuknya kondisi hutan dan masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan.1 . pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan pengelolaan hutan yang berorientasi pada kelestarian hutan dan peningkatan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan yang dituangkan dalam SK Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001. 10 provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat. baik laki-laki maupun perempuan terlibat dalam hampir semua kegiatan. No. Nusa Tenggara Barat. perlakuan untuk meminimkan bahan bakar dan kegiatan pemadaman. Terjadi hubungan erat yang saling terkait antara masalah kebakaran dan timbulnya alang-alang. Secara teknis. Kelompok petani yang 69 . Imperata cylindrica L.Info Hutan : Vol. akan tetapi telah memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian hutan.Wibowo. perguruan tinggi. laki-laki memang mempunyai peran lebih besar dibandingkan perempuan. Dalam hal dampak kegiatan rehabilitasi hutan. Selain itu. Pelaksanaan proyek ini dilakukan dengan sistem kontrak.59 . sehingga perlu direhabilitasi agar menjadi kawasan hutan yang lebih produktif. Persepsi laki-laki dan perempuan terhadap pembagian kerja pada kegiatan rehabilitasi dinilai sudah cukup fair. Bengkulu. Kata kunci: Hutan kemasyarakatan. 2006 Luas padang alang-alang (Imperata cylindrica L.5 juta ha. Contohnya dalam kegiatan yang paling berat seperti pembersihan lahan ternyata dikerjakan oleh laki-laki dengan dibantu perempuan. serta daerah prioritas untuk dilindungi. Jambi. Sulawesi Selatan. terdapat perbedaan yang lebih nyata di antara berbagai golongan masyarakat daripada antara laki-laki dan perempuan. Meskipun kegiatan ini mengalami banyak hambatan dalam pelaksanaannya. diperlukan pengetahuan mengenai daerah-daerah yang beresiko tinggi untuk terbakar (daerah penyebab). No. Kegiatan pengendalian lebih ditekankan kepada upaya pencegahan kebakaran. penyuluhan dan pelatihan. Ini menunjukkan perempuan juga mempunyai kekuatan dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan di dalam keluarga. Nusa Tenggara Timur.Info Hutan : Vol. -. dan sampai saat ini masih dianggap sebagai jenis gulma yang mengganggu. 2006 Dari hasil penelitian aspek jender dan tipologi masyarakat pada kegiatan rehabilitasi hutan menunjukkan bahwa. Pelaksanaan proyek pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan sistem kontrak telah memberikan pengalaman baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan meningkatkan fungsi hutan. upaya rehabilitasi areal alang-alang telah dapat dikuasai. Namun demikian perempuan memiliki kesempatan yang terbatas di masyarakat. -. Sulawesi Tengah. Halaman 49 . Dalam rangka pengendalian kebakaran pada padang alang-alang. Dalam pengambilan keputusan. Perempuan memiliki peran khusus dalam kegiatan rehabilitasi. Raeuschel) di Indonesia mencapai 8. karena itu perempuan kurang memperoleh kesempatan untuk menghadiri pertemuanpertemuan.III. Indartik. sistem kontrak Widiarti. yaitu pelaksana pekerjaan diserahkan kepada pihak swasta (konsultan dan kontraktor). pengendalian kebakaran Wibowo. Halaman 1 . dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). kondisi iklim/musim kering yang terjadi. Kata kunci : Alang-alang. akan tetapi kegagalan reboisasi umumnya disebabkan oleh kebakaran yang sering terjadi pada kawasan yang didominasi oleh alangalang. pada tahun anggaran 1998/1999.2 . -. tentang penyelengaraan hutan kemasyarakatan sebagai bentuk tindak lanjut dari kebijaksanaan tersebut. Curahan waktu kerja perempuan dalam kegiatan rehabilitasi adalah sekitar 40 %.

-. Ganti rugi hak lahan garapan dilakukan oleh sekitar 20 % anggota kelompok tani hutan yang umumnya sangat miskin kepada penduduk desa yang lebih mampu. Handoyo. Eritrina KAJIAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Eritrina Windyarini. Untuk menghindari dampak negatif pada kelompok marjinal. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. Informasi PHBM harus didistribusikan secara merata kepada seluruh anggota masyarakat terlebih dahulu sebelum dimulainya program. Widiarti. kaum miskin. Dengan pengelolaan bersama ini diharapkan kawasan dapat menjadi lebih efisien dan efektif dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini mengharuskan TNBB memperhatikan faktor lain di luar batas kawasannya. Untuk itu pengembangan TNBB ke depannya diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat serta efisiensi pengelolaan menjamin keberlanjutan sumberdaya alam melalui pengelolaan bersama. pengawetan. hak. bahkan ada yang belum ditanami dengan pohon kayu-kayuan dan terjadi kesenjangan ekonomi di antara peserta PHBM. Kata kunci : Kegiatan rehabilitasi hutan.48 .Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Lokasi penelitian di BKPH Pelabuhan Ratu KPH Sukabumi. Peserta menganggap PHBM bermanfaat dari segi sosial dan lingkungan. Kegiatan yang berlangsung pada bulan Juli-September 2004 ini dimaksudkan untuk mengkaji pengelolaan kawasan TNBB. diperlukan mekanisme yang memungkinkan kelompok ini dapat berpartisipasi dalam kegiatan rehabilitasi. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. di mana pihak yang berkepentingan setuju untuk saling berbagi peran dalam manajemen. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) bermanfaat bagi kaum miskin. dan rekreasi. TNBB memiliki enam kegiatan pokok pengelolaan. dan observasi. Secara keseluruhan kegiatan pengelolaan ini sangatlah kompleks karena melibatkan banyak pihak dengan berbagai peran dan kepentingan yang berbeda. Bagi kelompok rata-rata miskin biaya tersebut ditunjang oleh berbagai sumber penghasilan. kaum marjinal. dan tanggungjawab atas suatu kawasan. wawancara. Pengelolaan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sangat membutuhkan dukungan dan peran serta berbagai pihak guna mengoptimalkan kawasan sesuai dengan fungsinya. dampak rehabilitasi tanam perlu dikombinasikan dengan tanaman bernilai komersial dan berproduksi secara rutin. Chiharu Hiyama. pendidikan. Distribusi informasi PHBM kurang merata menyebabkan kesempatan masyarakat menjadi peserta tidak sama sehingga terjadi ketidakadilan distribusi lahan garapan. Pengelolaan bersama ini mengacu pada suatu bentuk kerjasama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PHBM memiliki kontribusi kecil pada penghasilan keluarga pesertanya. pola 70 . Halaman 101-110 . serta pembangunan sarana dan prasarana yang dalam pelaksanaannya menemui beberapa hambatan dan kekuatan. Keterbatasan utama kaum marjinal ikut berpartisipasi adalah keterbatasan sumber modal dan akses informasi. ilmu pengetahuan. Hal ini menyebabkan lahan terlantar. manfaat. informasi.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Asmanah APAKAH KEGIATAN REHABILITASI HUTAN BERSAMA MASYARAKAT MEMBERIKAN MANFAAT KEPADA KAUM MISKIN? : STUDI KASUS DI BKPH PELABUHAN RATU KPH SUKABUMI (Do Forest Rehabilitation Activities Benefit to the Rural Poor? / Asmanah Widiarti. jender. Halaman 31 . yaitu perlindungan. 51/1990 Taman nasional diartikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. No. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan di bidang kehutanan tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga perempuan. Kegiatan PHBM memerlukan biaya cukup besar.1 . pariwisata.Info Hutan : Vol. Biaya tahun pertama merupakan faktor pembatas kelompok masyarakat sangat miskin untuk berpartisipasi. yaitu pengamanan potensi kawasan. 2006 Berdasarkan Undang-Undang No. -.tidak memiliki lahan dan tidak ikut program PHBM adalah kaum marjinal yang tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan rehabilitasi hutan dan cenderung mendapat dampak negatifnya. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Agar PHBM bisa berkontribusi pada ekonomi rumah tangga peserta secara berkelanjutan. dan memanfaatan secara lestari. penunjang budidaya. Proporsi bagi hasil kayu seharusnya mempertimbangkan beban peserta dalam upaya rehabilitasi. ganti rugi lahan garapan Windyarini. koordinasi dan integrasi.III.

.Info Hutan : Vol. blangiran (Shorea balangeran Burck). dan tanaman surian di Sikabu-kabu (Payakumbuh). Meski demikian.3 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Namun yang paling dominan adalah penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Curvularia sp dan serangan-serangan pemakan daun dari Famili Coccinelidae. -. dan Hopea dryobalanoides Miq. Penanaman dalam skala luas hendaknya dilaksanakan sehubungan dengan bahaya eksploitasi berlebihan jenis-jenis di dalam habitat aslinya. dan di 71 . konservasi ex-situ. Halaman 181-185. -.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. 2006 Jenis pohon tahan api dan dapat tumbuh di padang alang-alang antara lain adalah tembesu (Fagraea fragrans Roxb. NTT Yafid. Jenis-jenis pohon hutan yang dapat ditanam dan direkomendasikan untuk penghutanan kembali atau untuk penanaman antara lain adalah Fagraea fragrans Roxb (tembesu).) kemenyan (Styrax benzoin Dryand). Toona spp. Penanaman jenis pohon hutan di Sumatera yang telah sejak lama dilaksanakan dan berhasil dengan baik antara lain adalan rasamala (Altingia excelsa Noronha) dan antuang (Manglietia glauca Blume) di Merek dan Tongkoh (Kabanjahe). Bugris PENANAMAN JENIS POHON HUTAN DI SUMATERA DAN KAITANNYA DENGAN PELESTARIAN PLASMA NUTFAH (Forest Tree Plantations in 66 .Info Hutan : Vol. Penelitian meliputi identifikasi jenis dan penyebab kerusakan. 2006 Sumatera and Their Relation to the Conservation of Plant Genetic Resources) / Bugris Yafid. Eritrina IDENTIFIKASI DAN PENGENDALIAN AWAL HAMA PENYAKIT PADA AMPUPU (Eucalyptus urophylla) di NTT. Pengendalian. hutan tanaman Yafid. Sumatera Utara. Kata kunci: Konservasi in-situ.). sub famili Epilachninae. Ampupu.3 persen. No.2 . Rehabilitasi lahan alang-alang dataran tinggi seperti di daerah Tapanuli (Tanah Karo) disarankan menggunakan jenis Styrax benzoin Dryand. tanaman meranti di Purbatongah (Purba/Simalungun). secara keseluruhan individu dalam plot mengalami peningkatan kesehatan. Cratoxylon (geronggang) dan Toona spp. Jenis-jenis dipterocarpa yang berhasil ditanam sejak dulu dalam skala kecil adalah Shorea javanica K. Hal ini dapat dicapai melalui konservasi in-situ maupun melalui penanaman (ex-situ). 2006 Laporan Dinas Kehutanan Kabupaten Belu tanggal 17 Februari 2005 menyebutkan terjadinya kerusakan pada Kawasan Hutan Lakaan Mandeu (RTK 187) yang merupakan tegakan alam Eucalyptus urophylla (ampupu) dan Eucalyptus alba. Informasi mengenai jenis hama dan penyakit di atas diharapkan mampu menjadi dasar bagi tindak lanjut upaya pengendalian yang lebih spesifik. dan geronggang (Cratoxylum spp.Sl (banio) jenis dipterokarpa yang berhasil ditanam di daerah tinggi di Simalungun. serta uji pengendalian awal pada Ampupu. Halaman 177-182 .III. Eucalyptus urophylla. Kata kunci: Hama penyakit. Bugris BEBERAPA JENIS POHON TAHAN API DAN PENANGKAL ALANG-ALANG (Some resistant Tree Species Suppressing the “Alang-alang”) / Bugris Yafid. Intensitas serangan pada plot pengamatan mencapai 83. 2006 . et V. Tindakan uji pengendalian awal injeksi pestisida (fungisida bahan aktif mankozeb dan insektisida bahan aktif monokrotofos) dengan dosis 5-10 ml/pohon belum memberikan pengaruh yang berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol. (surian). Halaman 61 - Konservasi sumber plasma nutfah sangat diperlukan untuk mengatasi cepatnya perubahan ekosistem yang disebabkan oleh pengrusakan hutan. No. Styrax benzoin Dryand (kemenyan). Kajian pengelolaan Windyarini.III.Kata kunci: Pengelolaan. serta menjadi bahan masukan bagi pengelolaan ke depannya. Bali Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kerusakan yang terjadi pada tegakan alam Ampupu di Kabupaten Belu serta usaha pengendalian awalnya. Tanaman Ampupu yang sudah mati seluas lebih kurang 16 ha dan lebih kurang 15 ha sisanya sedang diserang/menunjukan gejala kematian. pengukuran intensitas serangan. jenis pohon hutan. yang ditanam untuk keperluan resin damarnya dan Shorea platyclados V. Hasil pengamatan dan identifikasi menunjukan kerusakan yang penyebab bersifat kompleks. -.

III. tanaman Yeny. Jumlah jenis tertinggi terlihat pada bentuk pemanfaatan bahan bangunan (25 jenis atau 60. Styrax benzoin Dryand baik ditumbuhkan di tempat tinggi dengan tanah berpasir. No. pemanfaatan.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Jatropha curcas L.dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl dapat digunakan tembesu (Fagraea fragrans Roxb. (puspa) dengan Cassia multijuga L. sebagai cover crop. alang-alang. (tembesu) dahulu ditanam di sepanjang jalan di daerah Sumatera Selatan. -. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .).Pusat Penelitian dan Pengembangan hasil Hutan. Fagraea fragrans Roxb. Biodisel is Exploited By Hatam Tribe at Diklat (Traning and Education) Tuwanwouwi Forest.97 %) yang masih diperoleh 72 . Hal ini disebabkan kebutuhan tersebut dapat diperoleh dari kebun maupun pasar terdekat. Bogor telah berhasil mengolah biji jarak menjadi minyak jarak mentah (Crude Jatropha Oil) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor.Tanaman jarak pagar memungkinkan dikembangkan di Kalimantan Timur. Secara tradisional benzoin ditanam bersamasama dengan padi.2 .). Hasil yang baik adalah berupa tanaman campuran antara Fagraea fagrans Roxb. Jenis-jenis lain yang dapat tumbuh dan menekan alang-alang. kayunya termasuk kelas awet I dan kelas kuat II-I dengan Berat Jenis 0.C. Di lain pihak harga BBM naik berlipat ganda. (tembesu) merupakan tanaman asli Sumatera Selatan.. Kata kunci : Identifikasi. Minyak yang dihasilkan dari biji tanaman tersebut telah pula digunakan masyarakat sebagai minyak lampu. Irma JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKAYU BERMANFAAT BAGI SUKU HATAM DI HUTAN DIKLAT TUWANWOUWI.) adalah tanaman perdu yang telah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman pagar dan tanaman obat. Jenis ini termasuk pionir tahan api dan tumbuh di tempat terbuka. bagian yang digunakan serta cara penggunaannya. namun untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan kerusakan lingkungan. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan minyak nabati yang berasal dari biji jarak pagar. [et al] . pada tahap awal perlu dilakukan penanaman uji coba pada lahan yang sesuai dengan tanaman tersebut.116 . tumbuhan berkayu. Selain untuk kebutuhan bangunan pemanfaatan jenis tumbuhan berkayu pada hutan diklat Tuwanwouwi sudah relatif berkurang. mahoni (Swietenia macrophylla King). konstruksi (25 jenis) dan obat-obatan (4 jenis). 2006 dari kawasan hutan. Kata kunci: Jarak pagar. Dari hasil wawancara dan survey keberadaan jenis diketahui pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi didata 41 jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam sebagai bahan pangan (6 jenis). 2006 Jarak pagar (Jatropha curcas L. -. Halaman 191-195 . dan sengon/jeunjing (Paraserianthes falcataria Bakh).000 ha) dilakukan dengan mewawancara tokoh adat dan melakukan survey keberadaan jenis dengan melakukan peninjauan lapangan. perkakas (9 jenis). Kata kunci: Pohon tahan api. Fagraea fragrans Roxb. alat berburu (5 jenis). Bahan bakar. MANOKWARI (Wood Plants Which : Vol. Manokwari) / Irma Yeny . Keadaan ini menyadarkan pemerintah dan berbagai pihak untuk mencari bahan bakar alternatif yang lebih murah dan terbarukan. Halaman 95 . Pengumpulan data jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan masyarakat Suku Hatam dan berada pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi (6. seringkali ditanam sepanjang pinggir jalan dan sebagai pohon peneduh. Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi sumber energi utama dunia saat ini cadangannya terus berkurang dan diperkirakan tidak lama lagi akan habis.. juga ditanam dalam rangka penghutanan kembali karena kayunya termasuk jenis bernilai ekonomi tinggi.81. dan Schima wallichii Korth. kemudian minyak kurkas untuk mesin diesel berputaran rendah dan Biodisel. Tuwanwouwi Yuliansyah MENGENAL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) PENGHASIL BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG TERBARUKAN. sarana seni budaya (8 jenis).) tumbuh jauh lebih baik apabila cabang-cabang sampingnya dibebaskan. macam penggunaannya.Info Hutan Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis-jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam. Rich. Tembesu (Fagraea fagrans Roxb. minyak bakar kompor dan bahan pewarna pada bahan katun dan benang. khususnya pada daerah-daerah dengan curah hujan < 2000. antara lain adalah puspa (Schima wallichii Korth.

Rendaman panas dengan suhu 65 derajat C selama 1. Keawetan kayu Indonesia dibagi menjadi 5 kelas yatu kelas awet I.000 ha hutan alam yang dapat menekan illegal logging sebesar 20. Hasil penelitian menunjukan bahwa dua jenis kayu dan ketiga jenis dapat diawetkan masing-masing secara rendaman panas dingin dan sel penuh dengan bagan yang digunakan dalam penelitian ini. Sasa SIFAT KEAWETAN KAYU DAN PENYEMPURNAANNYA / Sasa Abdurrohim.3% tidak perlu disempurnakan melalui pengawetan.2 dan 3 jam. disalurkan melalui pipa ke permukaan cuplikan..2 dan 3 jam diikuti rendaman dingin 1 hari. penghematan.[et. Bagan pengawetan ketiga jenis kayu telah disusun. Lapangan kerja yang tersedia sekitar 24. Kata kunci: Mikroteknik botani.12 No. penyempurnaan melalui pengawetan. yang hanya 14. kecepatan tumbuh dan di mana kayu tersebut digunakan. 2006 Bagan pengawetan setiap jenis bagi kelengkapan spesifikasi pengawetan kayu perumahan dan gedung masih belum lengkap.93 atau bahkan mungkin lebih. hasil sayatan mikrotom biasanya sobek atau bahkan hancur. Kesulitan sering dijumpai apabila cuplikan kayu yang akan disayat sangat lunak atau sebaliknya sangat keras. 2006 Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap organisme perusak kayu (OPK)..9 trilyun/tahun. Kata kunci: Keawetan. Setelah itu bahan dijepit dengan pemegang cuplikan pada mikrotom kemudian dilakukan pelunakkan kembali dengan uap panas selama kurang lebih 15 menit sebelum disayat. Kayu yang dapat dihemat sebesar 7.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 55-62 . -. CCB.II. Bahan cuplikan dilunakkan dalam panci bertekanan selama beberapa jam dengan media campuran gliserin dan air 1:1. -. 2006 Pemahaman mikroteknik botani merupakan suatu dasar untuk penyediaan preparat guna pengamatan struktur mikro organ tumbuhan.900 orang. Teknik ini dapat menghasilkan sayatan bidang lintang dengan baik pada cuplikan kayu dengan berat jenis 0. Abdurrohim.Abdurrohim. Uap panas ini dihasilkan dari belanga presto yang dimodifikasi. Tanpa perlakuan khusus. Setiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda terhadap OPK dan bergantung pada kandungan zat ekstraktif. -.Info Hasil Hutan : Vol. Kayu kelas awet I dan II.5%.35 juta m3/tahun atau setara 147. berupa serangga. Penelitian bagan pengawetan secara rendaman panas dingin dan sel penuh perlu dilakukan. termasuk kayu. 3. Berdasarkan umur pakai kayu perumahan dan gedung 5 tahun dan 15 tahun masing-masing pada kayu tidak awet yang tidak diawetkan dan diawetkan terlebih dahulu dapat dihitung kayu dan uang yang dapat dihemat serta kesempatan kerja yang dapat tersedia.7% kayu tidak awet ditambah kayu gubal kelas awet I dan II sebelum digunakan harus diawetkan terlebih dahulu. Uang yang dapat dihemat pada 15 tahun pertama sebesar Rp. umur pohon. Tiga jenis kayu ukuran kaso (4x6 cm) sepanjang 30 cm sebanyak 180 contoh uji diawetkan secara rendaman panas dingin dan sel penuh. Anatomi kayu 73 .Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 29-41 . jamur.III.al. Sel penuh Andianto RANCANG BANGUN ALAT UNTUK PREPARASI CUPLIKAN KAYU KERAS DALAM STUDI ANATOMI / Andianto . serta tekanan 10 atm selama 1. Tulisan ini mengetengahkan teknik pembuatan preparat sayat untuk cuplikan kayu yang keras. Konsentrasi bahan pengawet tembaga-khrom-boron (CCB) pada kedua proses 5 dan 10 persen . Kata kunci: Pengawetan.1 . Ginuk Sumarni dan Jasni. dan binatang laut penggerek kayu.IV dan V.] . Halaman 15-23 . Vakum awal dan akhir 65-70 cm Hg masing-masing 30 dan 15 menit. Sasa BAGAN PENGAWETAN TIGA JENIS KAYU DENGAN BAHAN PENGAWET CCB SECARA RENDAMAN PANAS DINGIN DI SEL PENUH / Sasa Abdurrohim. sedangkan 85. bagian kayu dalam pohon. Rendaman panas dingin.

). Grobogan. 6% dan 12%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. gambar. sifat keawetan alami. Pencegahan kerusakan dalam proteksi disesuaikan perubahan sistem pengangkutan dan pengolahan kayu.423. umur. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Saefudin. 2006 Proses kembang susut berlangsung selama kadar air bambu belum mencapai kadar air keseimbangan (KAK) dengan lingkungannya. tengah dan ujung batang. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan finansial dari pemanfaatan mesin pengering tersebut. Efrida UJI COBA MESIN PENGERING KAYU KOMBINASI TENAGA SURYA DAN PANAS DARI TUNGKU TIPE I (Trial on Wood-drying Machine Powered by the Combined Solar Energy and Type-1 Heating-Stove) / Efrida Basri & Achmad Supriadi. tungku tipe I. Halaman 241-250 . 4 dan 5 tahun yang diambil dari bagian pangkal. -. Halaman 413 . KAK. Oleh karena itu pengetahuan tentang sifat kembang susut dan KAK penting diketahui untuk menjaga mutu produk. Kata kunci: Kembang-susut. Organisme perusak.70°C. Uji coba dilakukan terhadap kayu jati (Tectona grandis L. Kebutuhan panas pengeringan di siang hari diperoleh dari tenaga surya dan di malam hari atau tergantung kebutuhan diperoleh dari tungku pembakaran dengan bahan bakar biomas/limbah kayu dari penggergajian sendiri. sementara suhu untuk pengeringan kayu jati berkisar antara 45°C .f. dan tekstur dapat terjaga. Perlakuan kadar air untuk pengujian sifat kembang susut dan KAK adalah 0%. Konsumsi limbah kayu untuk bahan bakar tungku pada setiap periode pengeringan 8 m3. Untuk mengeringkan sortimen kayu dengan kadar air 50% sampai mencapai kadar air 10% memerlukan waktu rata-rata 13 hari dan menghasilkan rendemen kayu kering sekitar 80%.24 No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu tali umur 4 tahun 40°C .3 .24.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005 : Halaman 43-54 . Halaman 437 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Hasil uji coba menunjukan suhu ratarata harian dari panas surya yang diterima ruang pengering berkisar antara 74 . yang didasari pengetahuan bioteknologi jamur biru. limbah kayu.24. Pencegahan kerusakan akibat pewarnaan kayu dapat dilakukan dengan pestisida yang telah diizinkan. sehingga jenis-jenis kayu untuk mebeler dari kayu yang berwarna cerah. jamur biru sebagai organisme perusak dan cara pencegahannya. Kata kunci: Mesin pengering.448.5 . Perlakuan pemanasan pada biji kemiri dan daging kemiri sebelum proses pemecahan dan pengepresan serta penggunaan arang secara fisik sudah masak tebang dan dimensinya relatif stabil. tenaga surya. 2006 Telah dilakukan uji coba teknis dan finansial terhadap mesin pengeringan kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku tipe SC+TI untuk kapasitas ± 19 m3 di salah satu industri/pengrajin kayu di Ngaringan.5 . 2006 Perubahan sumber asal bahan baku kayu perlu diikuti informasi sifat dasar kayu. Keawetan kayu Darmawan. Saptadi PEMBUATAN MINYAK KEMIRI DAN PEMURNIANNYA DENGAN ARANG AKTIF DAN BENTONIT (Extraction and Purification of Candlenut Oil with Activated Charcoal and Clay-bentonite) / Saptadi Darmawan. Pengeringan bambu tali sampai ke kadar air 6% menghasilkan KAK pada level sekitar 9%. -. bambu Basri. MARTONO. No.50°C. Jawa Tengah. Martono POLA SERANGAN DAN CARA PENCEGAHAN JAMUR BIRU / D. Efrida SIFAT KEMBANG SUSUT DAN KADAR AIR KESEIMBANGAN BAMBU TALI (Gigantochloa apus Kurtz) PADA BERBAGAI UMUR DAN TINGKAT KEKERINGAN (Shringkage-Swelling Properties and Equilibrium Moisture content of Bambu tali (Gigantochloa apus Kurtz) at Various age and Drying Level) / Efrida Basri. 2006 Pembuatan minyak kemiri dapat dilakukan dengan cara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat. Kata kunci: Jamur biru. -. tingkat kekeringan.Basri. Pengeringan menggunakan metode oven pada suhu 60o C. Penelitian dilakukan pada bambu tali {Gigantochloa apus Kurts) umut 3. jati. No. kelayakan teknis dan finansial D. Perlakuan proteksi serangan jamur biru dapat meningkatkan mutu kayu dan nilai tambah yang cukup nyata serta dapat mengeliminir limbah pengolahan kayu.

No.852/m3 dan Rp 79.3 . sedangkan biaya rata-rata pengeluaran kayu adalah Rp 15. berat jenis.25 m3/jam dan 21. Sumatera Selatan telah dilakukan untuk mendapatkan informasi produktivitas dan biaya peralatan pemanenan hutan tanaman yang tepat guna dan ramah lingkungan. SUMATERA SELATAN (Productivity and Cost of Harvesting Equipment in Forest Plantation: Case Study on PT Musi Hutan Persada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Pemuatan dan bongkar kayu digunakan alat merek Hitachi dan Volvo dengan rata-rata produk-tivitas masing-rnasing sebesar 70 m3/jam untuk muat dan 34 m3/jam untuk bongkar muatan.527 . Pemanasan pada biji kemiri berupa penjemuran (3.1 . sistem kabel layang P3HH24.040-0. Diameter kayu yang dikeluarkan berkisar antara 20 .254/m3. Rata-rata produktivitasnya berturut-turut adalah 18.25 m3/jam dengan rata-rata biaya berturutturut sebesar Rp39. (rit) berkisar antara 1-3 batang dengan volume berkisar antara 0. Penelitian ini bertujuan untuk 1). Untuk pengeluaran kayu pada areal yang mempunyai kelerengan 15% ke atas. 2006 Penelitian peralatan pemanenan di hutan tanaman PT Musi Hutan Persada. 5. bilangan iod dan bilangan asam. 2.5 dan 2 jam) dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi terbaik dalam pembuatan minyak kemiri dilihat dari rendemen dan warna minyaknya.334/m3. arang aktif. South Sumatera) / Dulsalam. Produktivitas pengeluaran kayu berkisar antara 1. pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 jauh lebih murah sehingga layak diusahakan. Halaman 251-266 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. sedangkan untuk Volvo kedua besaran tersebut berturut-turut adalah Rp 6. biaya pengeluaran kayu dan berbagai aspek operasional sistem kabel layang tersebut. biaya Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PERALATAN PEMANENAN HUTAN TANAMAN: STUDI KASUS DI PT MUSI HUTAN PERSADA.88 . rata-rata biaya muat adalah Rp 6. mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan pemucat (arang aktif dan bentonit) terhadap sifat fisiko-kimia minyak kemiri.656 m3 /jam dengan rata-rata 2. 4 dan 5 jam).500 m3/rit dengan rata-rata 0. Penyaradan dilakukan dengan menggunakan forwarder merek Timberjack G10 dan Timberjack 101 0B. bongkar adalah Rp 12. 1. 12.5 menit) dan pengovenan pada suhu 60oC (1.aktif dan bentonit pada tahap pemurnian minyak kemiri akan mempengaruhi kualitas minyak. 2006 Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PENGELUARAN KAYU DARI HUTAN TANAMAN DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH 24 DI KPH PEKALONGAN BARAT (Productivity and Cost of Log Extraction Using Penelitian produktivitas dan biaya pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 telah dilakukan di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat pada tahun 2002. Alat penebangan yang digunakan adalah chainsaw (gergaji rantai) berukuran kecil merek Husqvarna dengan rata-rata produktivitas sebesar 2.200/m3 dan Rp 12. -. -.5 dan 17.671/m3 . 3. mengetahui pengaruh pemanasan daging kemiri terhadap rendemen dan warna minyak yang dihasilkannya dan 2). Penggunaan arang aktif sebesar 2% menghasilkan sifat fisiko-kimia minyak kemiri yang optimum dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia untuk indeks bias.. P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of West Pekalongan Forest District) / Dulsalam.51 cm dengan rata-rata 36 cm. 2. 3% dan 4% serta diuji sifat fisiko-kimianya. Dibandingkan dengan upah pengeluaran kayu setempat.764/ m3. Kata kunci : Minyak kemiri. Hasilnya menunjukkan bahwa: 1. Minyak kemiri yang dihasilkan dari kondisi terbaik (penyangraian selama 1. bentonit dan kualitas fisiko-kimia minyak kemiri.519 m3 /jam.14 m3/jam dan biaya sebesar Rp 15. Untuk Hitachi. Djaban Tinambunan. Pengoperasian kabel layang P3HH24 untuk mengeluarkan kayu di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat dapat berjalan lancar.155/m3 .24.163m3/rit. 4. Pembuatan minyak dilakukan dengan cara kempa hidraulik pada suhu 60oC.713/m3 . disarankan untuk menggunakan sistem kabel layang P3HH24. 3. produktivitas. Kata kunci: Hutan tanaman. Djaban Tinambunan.5 jam) kemudian dimurnikan menggunakan arang aktif dan bentonit pada konsentrasi 2%. jumlah batang yang disarad per satu tahap operasi 75 . pemurnian. Tujuanya untuk mendapatkan informasi tentang produktivitas.24 No.5.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. penyangraian (7.5. sedangkan -. Halaman 77 .

Hasil uji coba memperlihatkan kini produktivitasnya lebih meningkat setelah dipakai kereta model KM Exp-I yang dilengkapi dengan pengunci. diantaranya yang memang diperlukan keberadaannya antara lain untuk pembuatan prasarana jalan. nilai NPV didapat sebesar antara Rp 881 juta dengan IRR sebesar 22 . 5. 6.Agar kelangsungan hutan produksi itu dapat terus berjalan dengan baik maka ada 5 aspek teknis penting yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan hutan produksi alam tersebut yaitu kegiatan perencanaan. Penyaradan kayu dengan forwarder Timberjack G10 dan Timberjack 101 OB menimbulkan pemadatan dan pergeseran tanah relatif kecil sedangkan pemuatan dengan alat pemuat Hitachi dan Volvo menimbulkan pergeseran tanah cukup besar. dan Yuniawati. wawasan lingkungan. faktanya antara lain diperlihatkan oleh kerapatan panjang jalan sarad hampir 3 kali lipat lebih besar dibanding cara pemanenan ramah lingkungan. peralatan tepat guna. pembukaan wilayah atau pembuatan jalam. Pembuatan aksesoris itu meliputi wahana angkutan lokal.4. kondisi permukaan lapangan dan kerapatan tegakan. Zakaria Basari.4 . Kata kunci: Kereta kayu Expo-2000. Padahal. tempat workshop dan gudang.676/m3. alat bantu. ketiga hal itu menjadi unsur penting bagi kesinambungan pengelolaan hutan alam tersebut. rata-rata produktivitasnya sebesar 15 m3/jam dengan ratarata biaya sebesar Rp 37. pemanenan.24 No. Tetapi pelaksanaan pemanenan itu sendiri cenderung boros terhadap kekayaan sumberdaya alam.52%.175/jam atau Rp 620/m . Dengan investasi sebesar Rp 100 juta (berikut kabel dan perlengkapan lainnya). Konsekuensinya berdampak pada meningkatnya lapisan tanah hutan yang terganggu dan terjadinya pengurangan tanaman tingkat pancang (diameter pohon 5-20 cm) sebesar 2. jembatan. Penebangan pohon dan pengangkutan kayu tidak menimbulkan gangguan lingkungan yang berarti. -. penyaradan. tergantung jarak. penyiapan tempat pengumpulan kayu bundar (logyard). Pada tahun 2005 dilakukan kegiatan perbaikan pada alat Expo-2000 itu sendiri dan dibuat aksesoris pendukung lainnya dengan tujuan lebih mudah dalam pergerakannya dilapangan dan lebih tinggi hasil kinerjanya. ukuran kayu. Wesman PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN ALAM/ Wesman Endom. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan bulan Oktober tahun 2005. tiang penyangga dan kereta pengangkut kayu kabel layang model KM Exp-I. hutan tanaman. Halaman 339357 . Kata kunci: Pemanenan. produktivitas. Pengangkutan kayu dengan truk tunggal rata-rata produktivitasnya sebesar 5 m3/jam dengan rata-rata biaya sebesar Rp 44.5 kali lipatnya. hutan tanaman 76 . Dari analisis biaya dengan suku bunga bank 18% per tahun dan dengan proyeksi biaya 6 tahun. penebangan. produktivitas Endom.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 85-96 . Misal pada praktek pemanenan yang tidak terencana dan terawasi dengan baik. Kata kunci: Pemanenan.km/jam. kabel layang. Perhitungan ini diperoleh dengan menggunakan dasar biaya upah setempat sebesar Rp 35 ribu/m . 2006 Expo-2000 merupakan sebuah prototype alat yang dirancang dan dibangun untuk membantu dalam kegiatan pengeluaran kayu.base camp. serta akan memperbesar terjadinya erosi dan sedimentasi. biaya Endom. kinerjanya menunjukkan produktivitas cukup baik sekitar 15 m . 2006 Untuk mencapai pemanfaatan hutan produksi alam lestari. Kombinasi peralatan perlu perbaikan dan produksi kayu yang minimal pada periode tertentu perlu ditentukan agar arus kayu lancar serta pekerja dan peralatan tidak banyak waktu tunggu.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. -.697/m3. Wesman KAJIAN OPERASI PENGELUARAN KAYU SISTEM KABEL LAYANG EXPO2000 DENGAN PENGGUNAAN ALAT PENDUKUNG (Study of Applying Expo-2000 Skyline with Auxiliaries for Extracting Logs) / Wesman Endom. pembalakan ramah lingkungan sangat penting untuk dipakai sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pengusahaan hutan tersebut. berarti mengelola keberadaan sumberdaya alam hutan alam produksi sebagai pemasoknya secara lestari sangat penting. Mengingat pentingnya penyelamatan industri pengolahan kayu yang telah menginvestasikan modalnya hingga ratusan milyar rupiah. Sekalipun kerusakan hutan memang tidak dapat dihindarkan. sedangkan truk semi gandengan. hasil kajian biaya operasi pengeluaran kayu adalah Rp60.

jumlah dan luas TPn serta diagram lebar dan jarak jalan sarad. klasifikasi tingkat dampak. Diharapkan pengetahuan ini dapat memperbaiki pengelolaan hutan yang berwawasan lingkungan. sedangkan lokasi tanaman berpengaruh nyata terhadap kekakuan dan kekuatan patahnya. Bahan utama disadur dari Handbook for Guiding Skidding and Road Building in British Columbia yang diterbitkan oleh Forest Research Institute Canada (FERIC) tahun 1991 yang sedikit diperluas. sehingga biaya pengumpulan dan pemuatan kayu secara berurutan masing-masing adalah Rp 12. strategi perencanaan pembalakan. kerusakan tanah minimal Hajib. produktif dengan biaya operasi dan perawatan rendah. pembalakan. Bengkulu dan Palembang bertujuan untuk melihat perbedaan karakteristik sifat fisis dan mekanis kayunya. Halaman 359-369 . Wesman STRATEGI MENGURANGI KERUSAKAN TANAH DALAM PEMBALAKAN / Wesman Endom. Nurwati SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU JATI SUPER DAN JATI LOKAL DARI BEBERAPA DAERAH PENANAMAN (Physical and Mechanical Properties Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. diperlukan terobosan berupa penyediaan alat ekstraksi kayu yang tidak mahal. jati lokal dari Lampung. alat Expo-2000 Endom. -. efektif. Jawa Barat.5 .24. Jenis jati lokal dan super berpengaruh nyata terhadap berat jenis basah kayu tersebut.461.000 dan Rp 15. lokal. Dengan biaya investasi sebesar Rp 100 juta. Kayu jati yang diteliti tergolong kelas kuat III-IV. Mohammad Muslich.al] . jati super dari Parung. super. Kegiatan pembalakan agar secepatnya diikuti dengan penanaman kembali di semua lokasi bekas tebangan agar tercapai pengelolaan hutan lestari. Ginuk Sumarni.) jenis lokal dan super dari daerah Binjai. jati super dari Kutai. efisien. jati lokal dari Kutai. diikuti berturut-turut kayu jati super dari Lampung. jati lokal dari Sulawesi dan yang terendah jati super dari Sulawesi.mekanis 77 . Sesuai dengan harapan itu dilakukan kegiatan penelitian uji coba pengumpulan kayu dan muat bongkar dengan menggunakan hasil rekayasa alat Expo-2000 di daerah hutan Resort Polisi Hutan (RPH) Ciguha.Info Hasil Hutan : Vol. sedangkan lokasi penanaman jati tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat jenis.000 per m3 . Kata kunci: Strategi. Perbedaan BJ tersebut berpengaruh nyata pada kekakuan dan keteguhan tekan sejajar serat. maka dengan biaya pemilikan dan pengoperasian alat berdasarkan perhitungan adalah sebesar Rp 60. Halaman 449 . Kutai.175 per jam.f. Produktivitas yang dicapai dengan dilakukannya penyempurnaan berupa penambahan endless drum diperoleh hasil sebesar 5 m3. perencanaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat jenis (BJ) kayu jati super lebih tinggi daripada kayu jati lokal. -Penelitian sifat fisis dan mekanis kayu jati (Tectona grandis L. Maros.135 per m3. jati lokal dari Binjai. sedangkan BJ tertinggi pada kayu jati super adalah dari Binjai dan terendah dari Maros. Panajam. jati super dari Bengkulu. fisis. 2006 Tulisan ini menyajikan upaya mengurangi kerusakan tanah sebagai dampak dilakukannya kegiatan pembalakan. Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi. Parung. jati super dari Palembang.12 No.305 dan Rp 1.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. -. mudah dioperasikan. 2006 Dalam upaya mengatasi kesulitan mengumpulkan kayu-kayu hasil tebangan di daerah curam dengan cara manual.hm/jam dan untuk muat/bongkar 50m3/jam.4 .24 No. Kata kunci: Kayu jati.2 . Ada beberapa acuan yang mungkin dapat diterapkan yaitu klasifikasi kerusakan tanah. Lampung. No. jati super dari Binjai. 2006 of Super and Local Teak Woods Originated from Several Plantation Areas) / Nurwati Hadjib. Kata kunci : Pengumpulan.Endom Wesman KAJIAN PENGELUARAN DAN PEMUATAN KAYU DENGAN ALAT EXPO2000 YANG DISEMPURNAKAN (Study on Logs Extraction and Loading Using Improved Expo-2000) / Wesman Endom [et. Biaya ini jelas lebih efektif dan efisien dibanding cara konvensional yang besarnya mencapai masing-masing secara berurutan Rp 35. Kayu yang terkuat adalah jati lokal dari Palembang. Halaman 133-142 . kayu.

arang aktif. Kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang aktif yang dibuat dari bahan baku serbuk kayu gergajian campuran pada suhu 850°C dengan konsentrasi H3P04 12. kadar zat mudah menguap 11.42 g/cm3.5 dan 7.5%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. kadar air 7.6% pada arah tegak lurus serat. papan blok (Paraserianfhes falcataria) dan kayu tusan (Pinus merkusii) yang direkat dengan blok (5 lapis) sekala laboratorium dibuat dari kayu sengon 78 .132 .Sulastiningsih. serbuk kayu gergajian campuran.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 2. -.74%. Halaman 145 . Penggunaan venir silang kayu tusam dalam pembuatan papan blok sengon meningkatkan keteguhan lentur sebesar 6.7.44%. tusam. Kata kunci: Tempurung kelapa sawit. Sedangkan arang aktif yang dibuat dari bahan baku tempurung kelapa sawit pada suhu 6500C dengan konsentrasi H3P04 7.43% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1. kadar air 5. SIFAT PAPAN BLOK SENGON DENGAN VENIR SILANG KAYU TUSAM (The Properties of Sengon Blockboard with Cross Core Layer from Tusam Wood) / M. Kata kunci: Sengon. Ukuran bilah inti terdiri dari dua macam ketebalan (1 dan 1.2 .5. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran bilah inti terhadap sifat papan blok sengon dengan venir silang kayu tusam. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retort dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 650. M. kadar abu 8. Keteguhan lentur sejajar serat papan blok sengon yang dibuat dengan menggunakan venir silang kayu tusam semuanya memenuhi persyaratan Standar Jerman (DIN).0 dan 12.24. Venir luar dan bilah inti papan blok terbuat dari kayu sengon sedangkan venir silang terbuat dari kayu tusam. keteguhan rekat dan delaminasi.27 mg/g.86%.2% pada arah sejajar serat dan 18.04%. I. benzena. 2006 Papan perekat urea formaldehida. No.30%.23% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1. Sebagai bahan pengaktif digunakan larutan H3P04 dengan konsentrasi masing-masing 7. 2006 Tulisan ini menyajikan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian campuran dengan cara aktivasi uap. Sifat papan blok diuji menurut Standar Indonesia (SNI) meliputi kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rata-rata papan blok adalah 12% sedangkan kerapatan rata-rata papan blok adalah 0.30%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari alternative pemanfaatan limbah dari pabrik minyak kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian menjadi arang aktif yang dapat memberikan nilai tambah. yodium. Angka daya serap benzena dan yodium ini memenuhi Standar Indonesia dan Jepang. Halaman 117 .43 tng/g.I. kadar karbon terikat 83.155 .5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 80%. No.5 cm) dan 3 macam lebar ( 0. Iskandar. -. 750 dan 850 C.I. Djeni PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DAN SERBUK KAYU GERGAJIAN CAMPURAN (The Manufacture of Activated Charcoal from Oil Palm Shells and Mixture of Wood Sawdust) / Djeni Hendra.2 .Hendra.M. Pengujian keteguhan lentur papan blok dilakukan menurut Standar Jerman (DIN) sedangkan pengujian pengembangan dimensi papan blok lilakukan menurut Standar Amerika (ASTM). Iskandar. venir silang. daya serap terhadap benzena 26. Tebal venir luar 2 mm sedangkan tebal venir silang 3 mm.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 63.045. kadar zat mudah menguap 11.90%.107.10.50%.6 cm).3%. Lebar bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan lebar papan blok.24. Keteguhan rekat papan blok yang diuji berdasarkan uji geser tarik dan uji delaminasi memenuhi persyaratan Standar Indonesia (SNI). daya serap benzena 28. Tebal bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan lebar papan blok tetapi tidak berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan panjang papan blok. kadar abu 5. kadar karbon terikat 79. kerapatan.

rayap kayu kering. dengan lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. Untuk keperluan identifikasi.3 . ex Miq. Adi Santoso.24 Kayu karet dan tusam banyak digunakan sebagai bahan mebel. pembuluhnya agak banyak dan berukuran agak kecil.Iskandar. corak bergaris. dan difus berkelompok. -. Mutu kayu lapis yang dihasilkan pada umumnya dapat memenuhi persyaratan standar nasional Indonesia dan Jepang. Halaman 201 . Untuk meningkatkan nilai tambah kayu mangium perlu peningkatan diversifikasi produknya antara lain untuk pembuatan venir indah sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah.24 Ha.4 .24. Kelemahan kedua kayu tersebut mudah diserang organisme perusak kayu. M. Di industri pengolahan serpih kayu (chip) seperti PT Tanjung Enim Lestari bahan baku kayu mangium diolah menjadi serpih sebagai bahan baku pulp. Reaksi dilangsungkan pada suhu 70 –80oC selama 1 jam.615 ha. masing-masing mewakili kayu daun lebar dan kayu daun jarum yang selanjutnya ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering. 4. Kayu lapis. Kayu lapis indah Jasni PENGUJIAN RESIN BERBASIS LIGNIN SEBAGAI BAHAN PENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes cynocephalus Light.) berwarna kuning kepurihan dan agak keras. tusam Krisdianto ANATOMI DAN KUALITAS SERAT LIMA JENIS KAYU KURANG DIKENAL DARI LENGKONG.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. jari-jari 2 ukuran. Mangium.218 . Halaman 301-308 .I PEMANFAATAN KAYU MANGIUM UNTUK BAHAN KAYU LAPIS DAN KAYU LAPIS INDAH / M. Dalam penelitian ini resin dibuat dari 3 jenis lignin yang dihidroksimerilasi kemudian dikondensasi dengan larutan NaOH 50% dan formaldehida 37%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin berbasis lignin 79 . Resin tersebut diaplikasikan pada kayu karet dan tusam.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 2. 2006 (Possible Application of Lignin-based Resin as a Chemical Agent to Prevent the attack of Dry Wood Termite (Cryptotermes cynocephalus Light.)) / Jasni. No. Pembuluh kayu ki lubang bersusun dalam kelompok radial atau diagonal dan parenkim pita memanj ang yang kadang terputus. Parenkim bentuk sayap.Br. Lingkaran tumbuh kayu ki bancet kurang jelas.) berwarna kekuningan.888.100. jari-jari 2 macam ukuran. Serat kelima jenis kayu termasuk dalam kelas kualitas I sebagai bahan baku pulp untuk kertas. No. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan untuk meningkatkan keawetannya. Pemanfaatan kayu mangium masih terbatas sebagai bahan baku pulp. karet. Kata kunci: Lignin formaldehida.0% dan mampu meningkatkan kelas ketahanan kayu karet maupun tusam dari kelas IV (tanpa perlakuan) menjadi kelas II. Parenkim pita tebal membentuk corak garis-garis pudh pada produk kayunya.) Luas tanaman mangium sekitar 176. didominasi di daerah Sumatera Selatan sekitar 176. Kayu ki hantap {Sterculia oblongata R. Nisbah mol lignin: formalin =1:2. Kayu ki kuya (Ficus vasculosa Wall.) berwarna kuning keabu-abuan.) berwarna kuning cerah.4 .) berwarna coklat kemerahan dan termasuk dalarn kelompok kayu perdagangan bintangur. Kayu ki bancet (Turpinia sphaerocarpa Hassk. 2006 Sumber bahan baku alternarif untuk industri perkayuan nasional saat ini dan masa yang akan datang berasal dari hutan tanaman dan pemanfaatan jenis kayu kurang dikenal. -. ciri utama dari kelima jenis tersebut adalah: 1. Dalam pemanfaatan kayu kurang dikenal diperlukan informasi struktur anatomi dan kualitas seratnya untuk keperluan pengenalan jenis dan pemanfaatannya. Kayu ki bulu (Gironniera subaequalis Planch.S. SUKABUMI (Anatomy and Fiber Quality of Five Lesser Known Wood Species from Lengkong. 2006 Salah satu hutan tanaman industri yang telah berkembang adalah HTI mangium (Acacia mangium Willd.I. agak lunak. Iskandar dan Suwandi Kliwon. jari-jari 2 ukuran. Kayu ki lubang {Calophyllum grandiflorum JJ.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 117-130 . -.) formaldehida yang dibuat dari jenis lignin efektif dalam mencegah serangan rayap kayu kering pada kayu karet dan tusam tingkat kematian rayap kayu kering antara 62. Hasil penelitian menunjukan bahwa kayu mangium ternyata dapat dipergunakan sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah. Sukabumi) / Krisdianto. Kata kunci: Pemanfaatan kayu. 3. lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan pencegah serangan rayap kayu kering menggunakan resin lignin formaldehida. 5. lingkaran tumbuhnya jelas oleh adanya parenkim pita tipis dan perbedaan ketebalan dinding selnya.

Sedangkan noktah pada dinding metaxylem berukuran 23. Pelengkungan rotan selain manau pada industri menengah. anatomi. Halaman 39-48 .12 No. Sedangkan kayu jati konvensional merupakan tanaman yang dikembangkan melalui perkecambahan biji.1 . terdapat yang menghasilkan mutu lebih baik. East Kalimantan) / Krisdianto & Ginuk Sumarni.f.24. Ini diduga akibat operatornya lebih terampil.9 ± 1. yaitu persiapan dan pelengkungan. kayu.84 um untuk kelapa dalam dan 23. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 7 tahun. yaitu bagian pangkal batang lebih tebal dari bagian ujung. Pada industri besar dan menengah jenis rotan manau lebih mudah dilengkungkan dari jenis lain.Info Hasil Hutan : Vol. 'Jati prima' atau 'Jati emas' merupakan tanaman jati yang dikembangkan melalui kultur jaringan dan bertujuan menambah pasokan bahan baku kayu jati. Kata kunci: Kelapa dalam. lebih besar dari jari konvensional 20. KALIMANTAN TIMUR (Heartwood Portion in Logs of 7 Years Old Fast Growing and Conventional Teak Taken from Penajam. Persentase kayu teras jati super rata-rata 39. Untuk meningkatkan mutu pelengkungan mungkin perlu diterapkan metode plastisasi alternatif sehingga kerjasama dengan instansi penelitian diperlukan.6%.2 um untuk kelapa hibrida. No. Di dalam ikatan pembuluh terdapat pembuluh metaxylem. Secara umum.1 . Proses pelengkungan melalui dua tahap. kayu teras telah terbentuk pada seluruh lempengan kayu jati super maupun konvensional dari bagian ujung. dimensi serat batang kelapa bertambah panjang dari pangkal ke ujung pohon. 2006 Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan kelapa hibrida berumur 19 tahun dipelajari untuk melengkapi data dan informasi struktur anatomi dan dimensi serat batang kelapa.11 um untuk kelapa hibrida. Berdasarkan persentase kayu terasnya kayu jati konvensional lebih baik parameter kualitas kayu yang lain juga harus diperhatikan seperti kualitas serat dan keawetan alaminya. Hampir semua potongan rotan besar perlu dilengkungkan dalam proses pembuatan barang jadi. manau Krisdianto PERBANDINGAN PERSENTASE VOLUME TERAS KAYU JATI CEPAT TUMBUH DAN KONVENSIONAL UMUR 7 TAHUN ASAL PENAJAM. Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan hibrida tidak memiliki perbedaan yang nyata. Struktur anatomi batang kelapa dipelajari dari preparat sayatan. sedangkan dimensi serat diukur dari preparat maserasi. Kata kunci: Rotan. mutu. hibrida. dimensi serat Krisdianto PELENGKUNGAN DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN ROTAN / Krisdianto.) / Krisdianto. Mutu pelengkungan dengan mesin pada jenis yang sama tidak selalu lebih baik dari manual. mebel. Tulisan ini bertujuan mempelajari proses dan mutu pelengkungan rotan dalam industri mebel. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh belum diketahui. serat Krisdianto ANATOMI DAN DIMENSI SERAT BATANG KELAPA DALAM DAN HIBRIDA (Cocos nucifera L. Penelitian ini bertujuan membandingkan persentase teras kayu jati super dan konvensional pada umur dan lokasi yang sama. Panjang pembuluh metaxylem rata-rata 293 ± 2.Kata kunci : Lima. idcnrinkasi. 2006 Pembuatan bentuk lengkung merupakan proses penting dalam industri mebel rotan. 'Jati unggul. phloem dan ikatan serat. Mutu hasil pelengkungan ditentukan tahap persiapan karena dalam tahap ini rotan harus dipilih bebas cacat dan bebas ruas. -. Ketebalan dinding serat menunjukkan pola yang mirip dengan panjang serat. protoxylem. Halaman 1-14 . 2006 Kayu jati (Tectona grandis L. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bertambah panjang dari bagian tengah ke arah kulitnya. Jasni. baik untuk keperluan fungsional maupun estetika.12 No. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bagian dalam lebih tipis dari bagian dekat kulitnya. Berdasarkan SNI 01- 80 .3 um untuk kelapa dalam dan 296 ± 3.Info Hasil Hutan : Vol. tengah dan pangkal.85 ± 2.5 . Batang kelapa mempunyai dua komponen utama. pelengkungan. -.) telah dikenal sebagai bahan baku mebel dan konstruksi dengan kualitas tinggi. -.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Salah satu parameter kualitas kayu jati dapat dilihat dari persentase kayu terasnya dalam batang. anatomi. yaitu ikatan pembuluh dan jaringan parenkim dasar. Halaman 385 – 394. Jati cepat tumbuh atau dikenal dengan nama dagang 'Jati super'.3%.

24. Penularan terjadi melalui penyebaran spora. protein. cinderamata. vitamin. No. M. Isolat dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor (BGR). Halaman 33-38 .2 .64%. Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM)p dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Semarang (SMG) menunjukkan efektivitas penularan yang tinggi.I.12 No. curvignathus. Data yang dikumpulkan berupa jumlah industri cinderamata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi bahan baku berupa limbah penebangan dan industri penggergajian kayu dan batang kelapa banyak tersedia. C. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur nira dan penambahan pupuk ZA pada nira aren yang diolah untuk menghasilkan nata pinnata. -.al.83% sampai 82. persentase.. mortalitas rayap 81 . Neo Endra POTENSI BAHAN BAKU KAYU DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN INDUSTRI CINDERAMATA DI CARITA / Neo Endra Lelana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase mortalitas rayap cenderung meningkat setelah inkubasi dibandingkan dengan sebelum inkubasi. Halaman 133 . Kandungan nutrisi nata pinnata yang diolah dari nira aren (kadar air.24. Nata adalah sejenis makanan ringan yang menyerupai jelly yang biasanya diolah dari air kelapa.144 .).5007. serat anisopliae OLEH RAYAP PEKERJA Coptotermes curvignathus (Effectiveness of Transmission of Some Isolates of Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae by Subterranean Termite Workers. Kata kunci: Bahan baku.. Kata kunci: Jamur patogen serangga. No. Mody RENDEMEN DAN KANDUNGAN NUTRISI NATA PINNATA YANG DIOLAH DARI NIRA AREN (Recovery and Nutrition Content of Nata Pinnata Processed from Aren Sap) / Mody Lempang. menyebabkan mortalitas rayap lebih dari 80% pada perlakuan rayap terinfeksi dengan konsentrasi 50%. sementara semakin tinggi dosis penggunaan pupuk ZA semakin tinggi rendemen nata. 2006 Jamur patogen serangga Metarhizium anisopliae diketahui bersifat patogen terhadap banyak serangga termasuk rayap. Efektivitas penularan oleh kasta rayap pekerja Coptotermes curvignathus yang telah terinfeksi spora jamur dari 6 isolat yang dikumpulkan dari berbagai lokasi di Jawa dievaluasi. -. semakin panjang umur nira semakin rendah produksi nata. Data potensinya belum diketahui secara baik sehingga perlu dilakukan penelitian. teras Lelana. penularan spora.[et. konvensional. super. Data dikumpulkan dari industri penggergajian dan kerajinan serta instansi maupun masyarakat terkait.42% atau rata-rata-rata 55. diinkubasi dalam ruang gelap dan lembab pada suhu kamar selama 14 hari.] .22 %) diperoleh dari pengolahan yang menggunakan nira aren umur 6 jam dengan penambahan suplemen pupuk ZA sebanyak 2.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. anisopliae. Salah satu faktor pendukung pariwisata adalah cinderamata dengan bahan baku limbah penebangan dan industri baik kayu maupun kayu kelapa.5 gram per liter nira. Neo Endra EFEKTIFITAS PENULARAN Metarhizium SERANGGA Lelana. Kata kunci: Jati. Agus Ismanto. 2006 Kawasan Carita.1-2003.225 . batang kayu jati pada umur 7 tahun dapat masuk dalam kriteria kayu bulat kecil (KBK. -. industri penggergajian dan potensi bahan baku.3 . Propinsi Banten merupakan tujuan wisata penting di Indonesia. Isolat dari Bogor tampaknya paling efektif untuk ditularkan oleh rayap pekerja ke dalam koloninya. Umur nira dan penggunaan bahan suplemen pupuk ZA berpengaruh nyata terhadap rendemen produksi nata pinnata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nira aren yang diolah untuk memproduksi nata pinnata menghasilkan rendemen antara 23. Kabupaten Pandeglang. Jasni. Selain itu industri cinderamata di sekitar Carita yang sudah berkembang juga dapat mendukungnya. limbah industri dan pembalakan Lempang. Halaman 219 .Info Hasil Hutan : Vol. A. Beberapa kelompok rayap yang terdiri dari campuran rayap pekerja yang terinfeksi spora dan yang sehat dimasukkan dalam botol kultur berisi media pasir steril yang lembab. Rendemen produksi nata pinnata yang tinggi (94.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Coptotermes curvignathus) / Neo BEBERAPA ISOLAT JAMUR PATOGEN Endra Lelana .1 .

kasar, lemak, abu, kalsium dan posfor) berbeda dengan kandungan nutrisi nata decoco yang diolah dari air kelapa, nira kelapa maupun kolang-kaling. Kata kunci: Nira aren, nata pinnata, rendemen, kandungan nutrisi Lempang, Mody STRUKTUR ANATOMI, SIFAT FISIK DAN MEKANIK KAYU PALASO (Aglaia sp) (Anatomical Structure, Physical and Mechanical Properties of Aglaia sp) / Mody Lempang; Muhammad Asdar. Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.2 ; Halaman 171 - 181 , 2006 Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi struktur anatomi, sifat fisik dan sifat mekanik kayu palado (Aglaia sp.) yang diambil dari hutan produksi alam di Kalukku kabupaten Mamuju, Propinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa palado memiliki kayu gubal berwarna putih sampai krem dan teras berwarna coklat muda sampai coklat kelabu; serat lurus, tekstur agak halus, pori sedikit (3 per.mm²) berbentuk lonjong dan tersebar tata baur; perforasi tipe sederhana; jari-jari luar biasa pendek, sempit dan jarang (tinggi 327 μm; lebar 25,52 μm dan frekuensi 5 per mm², parenkim tersebar atau baur. Panjang serat 1132 μm dan diameter serat 25,61 μm; diameter lumen 17,39 μm; dan tebal dinding 1,64 μm. Kadar air kering udara 15,85%; berat jenis kering udara 0,48 dan berat jenis kering tanur (kerapatan) 0,53; penyusutan kering udara ke kering tanur 2,71% (Radial) dan 4,67% (Tangensial); keteguhan lentur pada batas patah 612,72 kg/cm2 dan keteguhan tekan sejajar serat 402,28 kg/cm2 . Kata kunci : Kayu, sifat, anatomi, fisik, mekanik, Palado Lestari, Setyani B DIMENSI SERAT EMPAT JENIS BAMBU DARI JAWA TIMUR / Setyani B. Lestari & Yoswita. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 109114 , 2006 Tulisan ini menginformasikan nilai dimensi serat beserta nilai turunannya dari empat jenis bambu yang berasal dari Jawa Timur, yaitu bambu ampel (Bambusa vulgaris Schat), bambu petung (Dendrocalamus asper Bck), bambu apus (Gigantochloa apus Kurz) dan bambu jajang ulet (Gigantochloa apus kurz

forma). Bambu yang diteliti memiliki panjang serat antara 2600 sel berkisar antara 1,0 – 2,0 mikron, diameter lumen memiliki nilai antara 13-16,8 mikron. Berdasarkan nilai turunan dimeni serat, empat jenis bambu yang diteliti menunjukkan nilai karakteristik yang baik sebagai bahan baku pulp dan kertas. Kata kunci: Bambu, dimensi serat, nilai turunan Malik, Jamaludin TEKNOLOGI PEMADATAN MELALUI PENGEMPAAN DENGAN PERLAKUAN PENDAHULUAN PENGUKUSAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS KAYU / Jamaludin Malik. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.1 ; Halaman 49-58 , 2006 Jenis-jenis kayu inferior yang memiliki sifat tidak kuat dan tidak stabil dapat disempurnakan melalui teknologi pemadatan sehingga pemanfaatannya meluas. Teknologi ini sudah lama dikembangkan dengan berbagai metode. Salah satu metode pemadatan yang dianggap memiliki kelebihan adalah melalui pengempaan dengan perlakuan pendahuluan pengukusan. Proses utama metode ini adalah pengukusan, pengempaan dan pengkleman. Sifat dasar kayu yang mengalami peningkatan adalah kerapatan, keteguhan lentur stads (MOE & MOR), kekerasan, keteguhan tarik dan pukul, serta stabilitas dimensi. Peningkatannya dapat mencapai > 90%. Kayu yang dipadatkan dapat dimanfaatkan lebih luas, seperti untuk tiang bangunan, dinding, pegangan tangga, lantai, mebel, bingkai, pemintal tenun, kumparan, pegangan alat, baling-baling dan plat sambungan yang memerlukan kekuatan gesek tinggi. Kata kunci: Pemadatan, peningkatan kualitas, pemanfaatan Malik, Jamaludin PENGOLAHAN KAYU DIAMETER KECIL UNTUK KAYU LAMINA DAN KOMPONEN MEBEL / Jamaludin Malik, Abdurachman dan Achmad Supriadi. -- Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 153-163 , 2006 Produksi alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk yang diolah dari kayu diameter kecil adalah kayu lamina dan komponen mebel. Penelitian pembuatan produk tersebut telah dilakukan terhadap beberapa jenis

82

kayu yaitu tusam (Pinus merkusii) damar (Agathis sp.), gmelina (Gmelina arborea), bengkel (Nauclea sp), pisang-pisang (Alponsea teysmanii Boerl), dan jambu jambu (Eugenia spp.) dari bagian cabang. Sedangkan kayu lamina bentangan besar dibuat dari bagian batang utama kayu mangium (Acacia mangium Wild.) dan sengon (Paraserianthes falcataria) berdiameter kecil. Hasil penelitian penunjukan bahwa produk kayu lamina dan kayu lamina untuk bentangan besar yang dibuat dari kayu diameter kecil sengon dan mangium memenuhi syarat standar (SNI 2000, JAS 1996 dan JAS 2003). Komponen mebel dapat memenuhi standar pabrik. Kata kunci: Pengolahan kayu, kayu diameter kecil, kayu lamina, mebel

Mandang, Y.I DIGITALISASI BASIS DATA XYLARIUM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN BOGOR / Yance I. Mandang . -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 75-85 , 2006 Xylarium Bogoriense Pusat Litbang Hasil Hutan di Bogor menyimpan hampir 40.000 contoh kayu yang dikumpulkan dari seluruh kepulauan Indonesia. Semua contoh kayu dicatat dalam buku register dan setiap contoh memiliki keterangan yang meliputi nomor contoh kayu, nomor herbarium, nama setempat, suku, nama ilmiah, sinonim, asal contoh kayu, kolektor dan tanggal dikoleksi. Catatan tersebut ditulis tangan sejak tahun 1915 dalam 12 jilid buku. Masalahnya hampir semua buku register sudah lapuk dan datanya terancam musnah. Oleh karena itu perlu dicarikan cara untuk menyelamatkan data tersebut sekaligus disusun kembali dalam bentuk mutakhir. Dalam makalah ini disajikan pengalaman merenovasi sistem informasi xylarium dengan memanfaatkan perkembangan terakhir dalam bidang teknologi informasi. Untuk keperluan identifikasi kayu, deskripsi anatomi kayu dari berbagai sumber ditransformasikan ke dalam kode IAWA (International Association of Wood Anatomist) lalu diketik dalam format MS Access. Basis data koleksi dan basis data ciri kayu ini kemudian diimpor ke dalam MS SQL Server pada komputer server yang sudah disiapkan. Penelusuran informasi dan identifikasi kayu dilakukan dengan menuliskan query dalam bentuk pernyataan-pernyataan SQL lalu dieksekusi. Beberapa contoh proses penelusuran informasi dan identifikasi kayu disajikan. Waktu yang diperlukan untuk penelusuran informasi dan identifikasi kayu sangat singkat dibanding dengan cara lama. Kata kunci: Xylarium, Sistem informasi Misdarti KUALITAS BAMBU LAMINASI ASAL KABUPATEN TORAJA, SULAWESI SELATAN (Qualities of Laminated Bamboo of Toraja Regency, South Sulawesi) / Misdarti. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 183 - 189 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis bambu dan macam perekat poly vinyl acetate (PVAc) terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi. Jenis bambu yang digunakan adalah hitam dan parring. Sedangkan macam perekat PVAc yang digunakan adalah fox, tiger dan epoxy. Bambu

Malik, Jamaludin PENGARUH PEMADATAN TERHADAP LAJU PENURUNAN KADAR AIR KAYU RANDU ALAS (Gossampinus malabarica Alst.) / Jamaludin Malik & Andianto. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 143-147 , 2006 Pemadatan kayu randu alas (Gossampinus malabarica Alst) merubah struktur anatomis dan sifat fisis sehingga memberi peluang untuk dimanfaatkan sebagai perkakas. Perubahan kedua sifat ini merubah sifat pengeringan kayu yang dipadatkan. Penelitian sifat pengeringan kayu yang dipadatkan perlu dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal kayu yang dipadatkan 54%, lebih rendah 10,5% dari kayu yang tidak dipadatkan. Pengeringan kayu yang dipadatkan dan tidak dipadatkan selama sembilan hari masing-masing mencapai kadar air 15,9% dan 15%. Penurunan kadar airnya menunjukkan perbedaan nyata. Hubungan kadar air (Y) dan waktu pengeringan (X) pada kayu yang tidak dipadatkan mengikuti persamaan Y = 64,640 – 9,296x + 0,421x2 , dengan R2 = 0,999. Pada kayu yang dipadatkan mengikuti persamaan Y = 53,440 – 7,926x + 0,428x2 , dengan R2 = 0,999. Kata kunci: Randu alas, pemadatan, kadar air kayu, pengeringan

83

laminasi dibuat dengan menggunakan bambu kering udara dengan ukuran 51 x 2,5 x 0,5 cm. Kemudian sampel bambu dilaburi perekat secara merata pada salah satu sisi dengan berat labur 200 gr/m . Selanjutnya sampel bambu dari jenis yang sama direkat satu sama lain kemudian dikempa pada suhu ruangan dengan menggunakan klem selama 12 jam. Bambu lamina kemudian dikondisikan pada suhu ruangan selama 1 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan macam perekat berpengaruh tidak nyata terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi yang dibuat dari bilah bambu hitam dan bambu parring. Bambu laminasi dengan menggunakan lem epoxy cenderung memiliki nilai MOE dan keteguhan rekat yang lebih baik dibanding lem fox dan lem tiger. Efisiensi perekatan terbesar terjadi pada bambu laminasi parring dengan lem epoxy. Kata kunci : Bambu laminasi, macam perekat PVAc, sifat fisis dan mekanis Muslich, Mohammad KEAWETAN 25 JENIS KAYU DIPTEROCARPACEAE TERHADAP PENGGEREK KAYU DI LAUT (Durability of 25 Dipterocarpaceae Wood Species Against Marine Borers) / Muhammad Muslich; Ginuk Sumarni. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 191 - 200 , 2006 Dua puluh lima jenis kayu Dipterocarpaceae diuji sifat keawetannya terhadap serangan penggerek kayu di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm, direnteng dengan tali plastik, kemudian dipasang di perairan pulau Rambut dan diamati setelah 6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang keawetan 25 jenis kayu Dipterocarpaceae terhadap penggerek kayu di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 6 bulan, sebagian besar contoh uji mendapat serangan berat oleh famili Pholadidae dan Teredinidae. Lima dari 25 jenis kayu atau 20% tahan terhadap penggerek di laut. Giam durian (Cotylelobium flavum Pierre) dan balau laut [Shorea falcifera Dyer) termasuk dalam katagori sangat tahan, sedangkan giam tembaga (Cotylelobium melanoxylon Pierre), balau laut batu (Shorea elliptica Burck.), dan resak ayer (Vatica teysmanniana Burck.) termasuk dalam katagori tahan terhadap penggerek di laut. Kelima jenis kayu tersebut cocok untuk bangunan kelautan. Kata kunci: Keawetan, Dipterocarpaceae, penggerek di laut

Novrianto, Eka PENELAAHAN FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENETAPAN UKURAN SASARAN VENIR KAYU LAPIS (Assessing Factors That Affects the Determination of Targeted Veneer Size for Plywood) / Eka Novriyanto. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 371 - 384, 2006 Untuk mendapatkan konstruksi panel yang memiliki ukuran tebal yang diinginkan, maka diperlukan penetapan ukuran sasaran pada saat pengupasan vinir, Faktor-faktor penyusutan vinir, pengempaan panel, pengampelasan, dan penyusutan panel serta keragaman pengupasan total dapat mempengaruhi penetapan ukuran sasaran, Data yang dikumpulkan dalam percobaan ini adalah tebal vinir sesudah kupas 1,76 mm, penyusutan vinir 6,34%, pengaruh pengempaan 11,94%, pengaruh pengampelasan 0,44%, tebal vinir dalam panel 1,22 mm, rata-rata tebal panel akhir 28,02 mm, dan penyusutan panel 1,42%, Data-data tersebut selanjutnya diolah dengan formula yang diturunkan dari perubahan yang dialami vinir sampai menjadi panel oleh proses produksi, untuk mendapatkan ukuran sasaran pengupasan vinir kayu lapis konstruksi 19-lapis, Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ukuran sasaran pengupasan vinir adalah 1,870 ± 0,013 mm, Kata kunci : Kayu lapis, vinir, ukuran sasaran pengupasan vinir Nurhayati, Tjutju PRODUKSI DAN PEMANFAATAN ARANG DAN CUKA KAYU DARI SERBUK GERGAJI KAYU CAMPURAN (Production and Utilization of Charcoal and Wood Vinegar of Mixture Wood Sawdust) / Tjutju Nurhayati, Ridwan Ahmad Pasaribu & Dida Mulyadi. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 395 - 411, 2006 Penelitian produksi terpadu arang dan cuka kayu menggunakan serbuk gergaji kayu campuran asal hutan alam dan hutan tanaman dilakukan pada tungku sakuraba dan tungku blower. Arang serbuk dimanfaatkan untuk bahan baku produksi arang aktif dan cuka kayunya untuk budidaya tanaman padi. Hasilnya sebagai berikut ; Produksi terpadu arang dan cuka kayu ‘crude’dari serbuk gergaji kayu campuran hutan alam dan hutan tanaman pada tungku sakuraba masing-masing 292,68 kg/ton dan 232,24 kg/ton dan pada tungku blower 344,76 kg/ton dan 323,07 kg/ton. Rendemen arang dan cuka kayu ke dua jenis

84

7 mg/g) diperoleh dari perlakuan aktifasi perendaman asam fosfat 20% dan uap air pada suhu 695OC dan aktifasi dengan uap panas tanpa asam fosfat pada suhu 605OC (789. C=O dan C-H. metanol.650. Pemanfaatan cuka kayu distilasi 2. arang aktif. Gustan PENGARUH LAMA WAKTU AKTIVASI DAN KONSENTRASI ASAM FOSFAT TERHADAP MUTU ARANG AKTIF KULIT KAYU ACACIA MANGIUM (The Influence of activation Time and Concentration of Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. XRD dan SEM. Pari. Ridwan A.35 nm i = 0. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aktivasi dan konsentrasi bahan pengaktif terhadap hasil dan mutu arang aktif yang dihasilkan.5% dengan hasil gabah kering giling yang sama yaitu 5.300. furfural.90 %. cuka kayu.1 . Kata kunci: Arang. tinggi lapisan aromatik 3.24.0.400. Kata kunci : Serbuk gergaji kayu.6 um. para kreosol. kadar air 8.10 ton /ha dan kontrol 3. Halaman 33 . Proses pembuatan arang lignin dilakukan pada suhu 200. Analisis SEM menunjukkan bahwa jumlah dan diameter pori arang meningkat dengan naiknya suhu karbonisasi.21 nm dengan diameter port arang antara 12.20.al] . dan kadar karbon tertambat (86.46 . Untuk mengetahui perubahan struktur arang yang terjadi dilakukan analisis dengan menggunakan FTIR. lignin.60%. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa jarak antar ruang lapisan aromarik (d) dan lebar lapisan (La) menurun dengan makin 85 .7 mg/). -. No. Produksi arang aktif dengan mutu baik ini diperoleh setelah tungku aktifasi diredam emisi panasnya dengan gelas wol.0 dan 15%.72%. jumlah lapisan aromatik 8.3%.750 dan 850°C dalam suatu retort yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik.6% (sakuraba). sedangkan struktur eter dan dihasilkan aromatik makin berkembang. kaku.2% menunjukkan angka lebih rendah dari blower 41. Arang ini mempunyai sifat keteraturan tertinggi. arang.96 nm. derajat kristalinitas (X) dan jumlah lapisan aromatik (N) meningkat dengan makin naik karbonisasi. dan C=C alifatik menurun dengan naiknya suhu.21 ton/ha. kadar zat terbang 8. tungku. Bahan pengaktif yang digunakan adalah larutan asam fosfat (H3PO4) dengan konsentrasi 0.21 nm. 2006 Tulisan ini membahas struktur arang dari lignin pada suhu karbonisasi yang berbeda. 2006 Phosphoric Acid on the Quality of Activated Charcoal of Acacia mangium Bark) / Gustan Pari.3% dan 22% (blower). 5. alfa metil guaiakol. Perlakuan tanpa pupuk NPK menghasilkan gabah kering giling paling tinggi pada cuka kayu yaitu 4. leba aromatik 10.serbuk gergaji relatif sama pada masing-masing tungku yaitu 20.6% dan 14. No. Rendemen terpadunya pada tungku sakuraba 35.39%.75 ton/ha. sikloheksana.9%) yang lebih rendah. Pasaribu. Oleh karena itu produksi terpadu pada tungku blower lebih baik dari sakuraba.24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang yang direndam asam fosfat 10%. padi. menghasilkan rendemen sebesar 98.7%) yang lebih tinggi. Pada suhu 850°C arang yang mempunyai struktur aromatik yang permukaannya mempunyai gugus C-O-C. asetol.500. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retor yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 750 C dengan lama waktu aktivasi 30. 10.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. jarak antar lapisan aromatik d(002) = 0. Djeni Hendra. kadar abu 26.70%.67. daya serap ARANG DARI LIGNIN (Study on Charcoal Structure of Lignin) / Gustan Pari [et. permukaannya bersifat polar. Cuka kayu ‘crude’ dari ke dua serbuk gergaji mengandung jenis komponen kimia yang sama pada kadar yang bervariasi. Produksi arang aktif memenuhi SNI pada parameter daya serap iod (857.0. Pari. Ikatan OH. Penggunaan cuka kayu distilat 2. sedangkan untuk tinggi lapisan (Lc). fenol. Spektrum FTIR dari arang lignin menunjukkan bahwa antara suhu 300-500 perubahan struktur kimia dari bahan baku secara nyata. dengan lama waktu aktivasi 60 menit. difraksi.5% ini memberi petunjuk terhadap fungsinya sebagai pupuk dan merespon pertumbahan padi yang lebih baik.1 . Kualitas arang yang baik diperoleh pada suhu karbonisasi 5000C menghasilkan derajat kristalinitas sebesar 33. terdiri dari asam asetat. keras dan struktur porinya makropori. struktur kimia. 19. Sifat arang dari tungku blower lebih baik dari sakuraba ditunjukan oleh kadar abu (2. -Dalam tulisan ini dikemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari kulit kayu Acacia mangium.2%) dan kadar zar mudah terbang (11. Halaman 9 . 60 dan 90 menit. orto kreosol. bahan organik 4.20%.41 ton/ha. kadar karbon terikat 64. Gustan KAJIAN STRUKTUR meningkatnya suhu karbonisasi.5% pada tanaman padi jenis ciherang dengan perlakuan penambahan pupuk NPK dapat menggantikan penggunaan bahan organik 2.

Halaman 309-322 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.0 dan 10% selama 24 jam.5 – 5. Arang yang dihasilkan selanjutnya direndam dalam larutan asam fosfat dengan konsentrasi 5. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergaji kayu dengan proses aktivasi kombinasi antara cara kimia dan fisika. terlebih dahulu serbuk gergaji kayu dibuat arang dengan menggunakan tungku semi kontinyu pada suhu 300 C. Pada proses aktivasi tersebut diperoleh rendemen arang aktif sebesar 72. pentosan antara 15. Gustan KOMPONEN KIMIA SEPULUH JENIS KAYU TANAMAN DARI JAWA BARAT (Chemical Component of Ten Planted Wood Species Originated from West Java) / Gustan Pari . lignin antara 26. salamander mahoni dan kayu ki lemo cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas dengan menggunakan proses kimia. lignin.. Pari. abu.2 – 6.10%. suren. Nilai daya 86 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. sengon buto (Entorolobium cyclo).6 – 69. Kata kunci: Acacia mangium.75% dan kelarutan dalam NaOH 1% antara 9. dan semikimia.3%.7%. Kata kunci : kayu.71%. Pari. benzena 16. tusam. Jawa Barat.] .4 – 6. silika antara 0. holoselulosa.al. 60 dan 90 menit. Sedangkan kadar zat ekstraktifnya terutama kelarutan dalam alkohol benzena yang termasuk kelas sedang antara 2 – 4% adalah kayu suren.23%.2 – 0. arang aktif. kadar karbon terikat 52. abu antara 0. Halaman 89 .25%. air panas. tusam (Pinus merkusii Jungth). kadar zat terbang 5. kecuali kayu pulai kongo yaitu 64. salamander (Grevillia robusta A. Berdasarkan atas nilai skor dan hasil uji BNJ (Beda nyata jujur) komponen kimia 10 jenis kayu asal Jawa Barat (Tabel 3) ternyata hanya kayu ki sereh dan pulai kongo yang tidak cocok untuk bahan baku pulp kertas.9%. mahoni dan ki lemo..0% untuk kadar abu. tusam dan ki lemo.1 – 20. Analisis yang dilakukan mencakup penetapan kadar holoselulosa. kimia.53%. Arang aktif dari kulit kayu mangium ini hanya dapat digunakan untuk penjernihan air..84%. dan arang aktif yang dihasilkan mengandung kadar air 4. alkohol benzena dan kelarutan dalam NaOH 1%.63 mg/g. Dalam penelitian ini digunakan larutan ((NH4)2C3 0.9%.9%.terhadap yodium 513 mg/g dan daya serap terhadap benzena sebesar 16. alkohol benzena antara 1.20% sebagai gas pengoksida.1 – 0. Analisis ini merupakan dasar untuk menetapkan kegunaan kayu tersebut terutama sebagai bahan baku pulp kertas. kadar abu 42.86%. Gustan ARANG AKTIF SERBUK GERGAJI KAYU SEBAGAI BAHAN ADSORBEN PADA PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS (Activated Charcoal from Wood Sawdust as Adsorbent Material for Frying Oil Refinery) / Gustan Pari .97% dan daya serap terhadap yodium sebesar 668. karena kadarnya ada di antara 18 – 33% untuk kadar lignin dan ada di antara 0. kulit kayu. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 64. No. sengon buto. kapur. 850.[et. sedangkan yang termasuk kelas rendah kurang dari 2% yaitu kayu sengon buto. Semua jenis kayu yang diteliti mengandung kadar holoselulosa yang tinggi lebih dari 65% yaitu kayu ki sereh. tusam. suren (Toona sureni). pentosan. kapur. daya serap terhadap kloroform 24. kapur. kelarutan dalam air dingin. air panas antara 3. mahoni (Switenia macrophylla King) dan ki lemo (Litsea cubeba Pers)..24. ki bawang.101 . ki bawang (Melia excelsa).3%. pentosan. sengon buto. -. salamander.6 – 18%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Pengaruh konsentrasi asam fosfat sebagai bahan pengaktif kimia.[et al] .2 . dan yang termasuk ke dalam kelas tinggi lebih dari 4% yaitu kayu ki sereh dan pulai kongo..5%. pulai kongo (Alstonia kongoensis). Kelarutan dalam air dingin antara 2. karbon terikat.0 – 7. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia 10 jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman di Jawa Barat. ki bawang.6%. -. yodium. Proses aktivasi dilakukan di dalam retort yang terbuat dari besi tahan karat pada suhu 800. Kadar lignin dan abu semua jenis kayu yang diteliti termasuk ke dalam kelas sedang.cunn). 2) Pengaruh suhu dan lama waktu aktivasi terhadap rnutu arang aktif dan 3) Pengaruh penambahan arang aktif terhadap mutu minyak goreng bekas. Jenis kayu tersebut adalah ki sereh (Cinnamomum parthenoxylon).0 – 30.24 No.4 . lignin. Kadar pentosan semua jenis kayu yang diteliti termasuk kelas rendah karena kadarnya kurang dari 21%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif serbuk gergaji kayu yang terbaik adalah arang aktif yang direndam asam fosfat 5% pada suhu 900°C selama 30 menit. sedangkan ke delapan jenis kayu lainnya yang terdiri dari kayu suren. kapur (Dryobalanops aromatica). ki bawang. 900°C dengan lama waktu aktivasi masing-masing 30. Sebelum dibuat arang aktif. salamander dan mahoni.

Pulau Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah serbuk gergajian kayu mangium untuk dibuat arang aktif dan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida dalam perekat kayu lapis.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.48 ppm Pasaribu.5 . Pencampuran arang aktif pada perekat kayu lapis mampu menurunkan emisi formaldehida pada perekat kayu lapis.436. serbuk gergaji kayu.21%.Info Hasil Hutan : Vol.02%. No. kloroform 28.96% dan daya serap terhadap formaldehida sebesar 26.87 menjadi 10. produk karton.27% menjadi 0. serbuk gergaji diarangkan dalam pada suhu 500oC.17% dan dari 18. 2006 Teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri kayu dari hasil penelitian yang dilakukan secara bertahap meliputi teknologi isolasi dan perbanyakan fungsi pelapuk putih. Halaman 97-107 . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profit teknis dan kelembagaan industri kerajinan ukiran kayu di Pulau Samosir.33%.98 menjadi 16. arang aktif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2004 di Kecamatan Simanindo. produksi pulp rayon dan papan isolasi. Terbukti hasil uji emisi kayu lapis yang tanpa penambahan arang aktif sebesar 16. Gustan PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN ARANG AKTIF SEBAGAI REDUKTOR EMISI FORMALDEHIDA KAYU LAPIS (Manufacturing and Application sedangkan emisi yang dihasilkan dengan penambahan arang aktif sebanyak 5% menjadi 15. asam lemak bebas Pari. produksi arang briket. benzena 14.59%.2 mg/g. mulai dari penyediaan bahan baku. kadar abu 8.77%. kadar zat terbang 5. -. Kualitas minyak goreng bekas menjadi lebih baik setelah ditambahkan dengan arang aktif sebanyak 2. Arang aktif yang dihasilkan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. Ridwan A. Adi Santoso & Djeni Hendra. 87 . -. iodin.88%. Mutu minyak goreng ini terutama asam lemak bebas dan bilangan perokisda memenuhi syarat minyak goreng yang ditetapkan SNI. fisika dan kombinasinya di dalam tungku baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik.36 ppm dengan tanpa mempengaruhi keteguhan rekat kayu lapis. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap para pengrajin ukiran kayu dengan menggunakan kuisioner.2 . arang aktif . Pasaribu dan Tjutju Nurhayati. metilien biru 135. kadar karbon terikat 83. Data sekunder dikumpulkan dari instansi-instansi pemerintah yang berada di lingkungan Pemda Samosir dan Pemda Tobasa. Arang yang dihasilkan diaktivasi secara kimia. kadar air 4. -.serap ini memenuhi syarat Standar Amerika dan arang aktif yang dihasilkan permukaannya lebih bersifat polar sehingga dapat digunakan untuk menyerap polutan yang juga bersifat polar seperti aldehida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif yang terbaik diperoleh dari serbuk gergajian kayu mangium yang diaktivasi dengan cara kombinasi oksidasi gas dan kimia dengan rendemen sebesar 53%. daya serap terhadap yodium sebesar 960.24. produksi komponen mebel dan kayu lamina. produksi dan pemasaran belum ditangani secara baik oleh pengrajin. 2006 Telah dilakukan penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergajian kayu Acacia mangium Willd. mangium. Kata kunci : Serbuk gergaji.0 mg/g.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 145-151 .17%. emisi formaldehida Pasaribu. Secara teknis.96 meq 02/kg. kayu lapis.5% yang ditunjukkan dengan menurunnya kandungan asam lemak bebas dan bilangan peroksida masing-masing dari 0. TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK INDUSTRI SKALA KECIL / Ridwan A. Kabupaten Samusir. Kata kunci : Arang aktif. Teknologi yang layak secara finansial untuk pengembagan industri kecil adalah teknologi produksi karton menggunakan bahan baku pulp dari limbah sebetan kayu gergajian dan jamur tiram menggunakan media limbah serbuk gergajian kayu. Sedangkan untuk kecerahan warna mengalami peningkatan dari 13. Gunawan PROFIL KERAJINAN UKIRAN KAYU DI PUIAU SAMOSIR. Industri skala kecil of Activated Charcoal as Reductor of Plywood Formaldehyde Emission) / Gustan Pari. dan papan serat.12 No. Halaman 425 . minyak goreng. SUMATERA UTARA / Gunawan Pasaribu. Sebelum dibuat arang aktif. Kata kunci: pemanfaatan limbah.

dan 90 menit). Noor Rahmawati. 30. sawit. dan positif dengan rendemen pulp tersaring. Pada kenyataannya tanaman tersebut tidak hanya mampu menghasilkan produk kayu bernilai tinggi tetapi juga ramah lingkungan.5212). Agar tetap survive dunia perkayuan harus berupaya melakukan diversifikasi bahan baku kayu tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan. Dalam kelembagaan. yaitu: Kayu karet. Kata kunci: Diservasi. Sedangkan suhu maksium pemasakan bervariasi (170oC dan 175oC). Perbedaaan jenis kayu HTI bisa mempengaruhi sifat pengolahan dan mutu hasil pulp/kertas tersebut. Baik kayu yang berasal dari tanaman perkebunan maupun kayu hutan tanaman umumnya mempunyai sifat inferior. Pulp dengan rendemen pulp tersaring tinggi dengan persentase reject rendah berindikasi tingkat degradasi fraksi karbohidrat rendah dan tidak undercooked.Dari pengujian beberapa produk setengah jadi. Satu usaha mengatasinya adalah pembangunan hutan tanaman industri (HTI) sebagai pemasok serat kayu. Proses pengukiran kayu sampai penyelesaian akhir masih menggunakan cara sederhana tanpa bantuan alat mekanis yang lebih cangkih. pengolahan kayu Roliadi. dihasilkan pula produk olahan. 2006 Salah satu faktor yang menyebabkan terpuruknya industri pengolahan kayu di tanah air saat ini adalah ketidakseimbangan antara pasokan bahan baku kayu yang lestari dan kebutuhan kayu untuk mencukupi kapasitas industri kayu. stabilitas dimensi dan kekuatan rendah. Tingkat delignifikasi selama pemasakan hingga selesai ditelaah dengan faktor H. dan Jamal Balfas.5972). randu. masing-masing dipertahankan dalam 4 taraf waktu (0. Han EXPLICABILITY OF THE H-FACTOR TO ACCOUNT FOR THE DELIGNIFICATION EXTENT AND PROPERTIES OF PLANTATION FOREST WOOD PULP IN THE KRAFT COOKING PROCESS (Penerapan Hutan : Vol. Produk kayu yang dapat dibuat dari kayu asal hutan tanaman dan tanaman perkebunan selain kayu gergajian. dan perbandingan kayu dengan larutan pemasak 1:4. bahan baku. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan tanaman berkayu dari areal perkebunan yang jumlahnya sangat besar. modifikasi kayu dan pembuatan produk majemuk. industri. dan sebaliknya. sifat-sifat tersebut dapat diatasi. bahan baku. Tingkat tersebut berkorelasi negatif dengan rendemen pulp total dan persentase pulp reject. meranti kuning. sengon. 88 . bahan baku.24 No. Osly DIVERSIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU / Osly Rachman. 2006 Faktor-H Untuk Menelaah tingkat Delignifikasi dan Sifat Pulp empat Jenis Kayu Hutan Tanaman Industri pada Proses Pengolahan Kimia Sulfat) / Han Roliadi. bahan penolong dan teknologi serta pasar dalam negeri perlu mendapat perhatian dan ditangani lebih serius oleh instansi terkait. densifikasi. Percobaan pengolahan pulp sulfat/kraft secara individu terhadap empat jenis kayu HTI (sengon. Produk kayu yang dihasilkan umumnya memenuhi standar industri yang disyaratkan. Tanaman berkayu lainnya yang dapat diandalkan untuk memasok industri perkayuan adalah bambu.5 persen. dan kapur) dilakukan pada kondisi tetap pemasakan: alkali aktif 16 persen. Tingkat delignifikasi lebih dipengaruhi oleh perbandingan banyaknya inti siringil dengan inti vanilin (S/V) dalam lignin (R2 = 0. dan juga kaitannya dengan sifat pengolahan pulp dan sifat fisik/kekuatan pulp. Halaman 275-299 . dari pada oleh berat jenis kayu (R2 = 0. venir lamina. dan kayu hutan tanaman. kayu lapis dan kayu lapis indah. stabilitas dimensi. -. Namun dengan teknologi perekatan. kelembagaan Rachman.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 99-116 . seperti diameter kecil. hanya terdapat beberapa kelompok pengrajin yang aktif dan koperasi yang ada tidak banyak membantu usaha kerajinan kayu. sulfiditas 22. papan partikel. Kata kunci: Ukiran kayu. yang dilakukan masih ditemukan produk dengan nilai kadar air produk yang masih tinggi yaitu sekitar 50%. sehingga dapat mengganggu sifat dari produk akhir yang dihasilkan. Nurwati Hadjib. kurang awet. -. seperti papan dan bilah sambung. Sifat fisik/kekuatan lembaran pulp dipengaruhi secara positif oleh perbandingan S/V dan secara negatif oleh berat jenis kayu. gmelina.Jurnal Penelitian Hasil Semakin terbatasnya sumber serat kayu di Indonesia dan anjuran mengurangi ketergantungannya dari hutan produksi alam untuk industri pulp dan kertas menyebabkan kekhawatiran serius. kelapa.4 . 60. hingga kapur. Tingkat delignifikasi tertinggi hingga terendah terjadi pada jenis kayu gmelina. meranti. Sedangkan dari bambu selain produk konvensional seperti barang kerajinan dapat pula dihasilkan papan bambu lamina dan bambu lapis. glulam. dan ternyata menghasilkan lembaran pulp/kertas dengan sifat kekuatan tinggi. Dalam pemanfaatan bambu dan kayu dari perkebunan permasalahan kelembagaan dan kebijakan.

Rata-rata rendemen pulp TKKS yang diperoleh 60.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 165-175 . alum 2%. 2006 Dalam rangka program restrukturisasi kehutanan. Pasaribu.4 . pulp. yaitu isinya meliputi: Luas penutupan lahan Indonesia (2003). Hal ini mengisyaratkan prospek penggunaan pulp TKKS yang dicampur dengan sludge. Sifat fisik karton asal pulp TKKS 100% dan asal campurannya dengan sludge industri kertas (50% : 50%) lebih tinggi dari pada karton produksi industri rakyat (dari campuran kertas bekas 50% dan sludge 50%. dan waktu pemasakan 2 jam pada suhu maksimum 120oC dan tekanan 1. -. tingkat delignifikasi.Kata kunci: Kayu hutan tanaman. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa rendemen kulit mangium berkisar 5-12 persen. -. Limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan serat berligno selulosa berlimpah jumlahnya dan belum banyak dimanfaatkan. Adi KULIT MANGIUM SEBAGAI SUMBER TANIN UNTUK PEREKAT / Adi Santoso. hal yang paling penting untuk diperbaiki adalah seimbangnya antara potensi aktual hasil hutan dengan kapasitas hasil industri hasil hutan yang ada. bambu lamina dan papan partikel komposit dengan kualitas eksterior yang setara dengan perekat jenis fenol-dan resorsinol formaldehide Kata kunci: Kulit mangium. dan rosin size 2%). Han PEMBUATAN DAN KUALITAS KARTON DARI CAMPURAN PULP TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN SLUDGE INDUSTRI KERTAS Santoso. -. tapioka 4%. Data produksi kayu dari hutan tanaman. berat jenis. sehingga berindikasi pemanfaatannya sebagai bahan baku industri karton. Ridwan Industri karton skala kecil saat ini mengalami kesulitan kontinuitas pasokan bahan baku (khususnya pulp dan kertas bekas). Data potensi hutan rakyat. Kapasitas izin IKPH tahun A. Tanin.81%. Prakiraan potensi kayu pada hutan alam. dan dari pulp TKKS 100%. Perekat Satyawardana PETA POTENSI AKTUAL HASIL HUTAN INDONESIA SEBAGAI PENGHARA INDUSTRI KEHUTANAN / Satyawardana. Kulit tersebut bila diekstrak dengan air 1:3 bisa menghasilkan ekstrak tanin cair sebanyak 8 kali bobot kulitnya. Makalah ini menyajikan data untuk menjawab permasalahan tersebut. bilangan kappa 38. 2006 (Manufacture and Qualities of Paperboard from the Mixture of Empty Oil-Palm Bunches Pulp and Paper-Mill Sludge)/ Han Roliadi. Rangkuman dari beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kulit mangium sangat potensial sebagai sumber tanin untuk bahan baku perekat. perbandingan S/V Roliadi. faktor H.17. Sampai saat ini kulit pohon mangium sebagian besar ditinggalkan di hutan atau di sekitar pabrik sebagai limbah. 2006 Pemanfaatan kulit pohon mangium (Acacia mangium Wild) sebagai sumber tanin untuk bahan perekat di Indonesia pada masa mendatang diperkirakan semakin berkembang berkenaan dengan pemanfaatan limbah kulit kayu tersebut dalam upaya optimalisasi hasil hutan khususnya non kayu dari hutan tanaman. diolah menjadi pulp menggunakan proses semikimia soda panas tertutup pada ketel pemasak skala semi-pilot hasil rekayasa Pusat Litbang Hasil Hutan (Bogor) pada kondisi pemasakan: konsentrasi alkali (NaOH) 10%.5. karton. masing-masing dengan penambahan bahan aditif (kaolin 5%.17%. industri karton rakyat 89 . Kata kunci: Tandan kosong kelapa sawit (TKKS). dan konsumsi alkali 9. Perekat tanin ini bisa diaplikasikan guna memproduksi berbagai jenis produk perekat yang ramah lingkungan seperti kayu lapis. tetapi tanpa bahan aditif). sebagai bahan baku altermatif/pengganti pada industri karton yang menggunakan kertas bekas. balok lamina.5 atmosfir. Lembaran karton dibentuk dari campuran pulp TKKS 50% dan sludge industri kertas 50%. Halaman 323-337 . nilai banding serpih TKKS dengan larutan pemasak 1:5. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah mengembangkan perekat berkualitas WBP (Weather Boiling Proof) yang terbuat dari tanin yang berasal dari kulit pohon mangium. TKKS sesudah dijadikan serpih.24 No.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 19-26 . Dalam upaya mengurangi kebergantungan terhadap perekat impor dan memenuhi kebutuhan perekat dalam negeri dengan bahan baku yang berasal bukan dari minyak bumi.2 – 1.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.

hutan tanaman. serta komposisi campuran bahan baku (tempurung biji dan kayu jarak pagar) dengan tempurung kelapa 0. yaitu dalam rangka meningkatkan kelayakan ekonomi pengusahaan minyak jarak pagar untuk biodisel. Kata kunci: Biodesel. R. -. Halaman 227-240 . tetapi belum diketahui secara pasti jumlah chainsaw yang sebaiknya digunakan agar hasilnya efisien. Jatropha curcas Linn. briket yang dibuat dari tempurung biji jarak pagar (100%) lebih tinggi di dalam kerapatan dan keteguhan tekan. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian tekanan 200.) Shell and Wood) / R. Permasalahan umum stok produksi hasil hutan kayu dan non kayu. kadar abu dan nilai kalor (kecuali briket arang dari kayu jarak B 50/50). Sona EFISIENSI PENGGUNAAN CHAINSAW PADA KEGIATAN PENEBANGAN: STUDI KASUS DI PT SURYA HUTANI JAYA. dapat ditanam pada lahan yang sempit dalam bentuk pagar.24. tanaman ini sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai energi alternatif khususnya di pedesaan sekaligus memperluas lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. karbon terikat (kecuali briket arang dari tempurung biji jarak B 100/0). Halaman 63 .2004. TEKNIK PEMBUATAN DAN SIFAT BRIKET ARANG DARI TEMPURUNG DAN KAYU TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) telah lama dikenal sebagai penghasil minyak untuk bahan bakar dan obat. 2006 Dewasa ini.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Sudradjat dan D. kualitas produk dan aspek kelayakan finansial dalam pengusahaannya. teknologi. 2006 Sudradjat. sekali tanam dapat dipanen selama 35 tahun serta hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi produk yang dapat dijual. R BIODESEL DARI TANAMAN JARAK PAGAR SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF UNTUK PEDESAAN / R. Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian penggunaan chainsaw untuk menebang tanaman mangium dan gmelina dan hasil tersebut selanjutnya 90 . tetapi lebih rendah dalam kerapatan dan keteguhan tekan dari briket tempurung biji jarak pagar.76 . Briket kayu jarak pagar (100%) sebaliknya lebih tinggi dalam kadar air. dan hutan rakyat. Hasil penelitian menunjukkan. Prakiraan stok produksi kayu di hutan alam. Pencampuran dengan tempurung kelapa dapat meningkatkan karbon terikat dan nilai kalor briket dari tempurung biji jarak. Hasil hutan. Beberapa sifat fisiko-kimia briket arang telah memenuhi Standar Jepang yaitu: keteguhan tekan. Oleh karena itu. D. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan : Halaman 207-219 . kandungan minyak sangat tinggi. Setiawan. kayu jarak pagar. nilai kalor. karbon terikat dan nilai kalor dari briket dari kayu jarak (100%). Sudradjat.24 No. maka minyak jarak mulai diteliti kembali pemanfaatannya untuk pembuatan biodesel. Suhartana.. Dengan tujuan memberikan informasi yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. untuk kegiatan penebangan di hutan tanaman industri (HTI) telah menggunakan chainsaw. Kata kunci: Peta potensi. Yuniawati. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan limbah dari tanaman jarak pagar berupa tempurung biji dan kayu untuk briket arang. serta meningkatkan kerapatan dan keteguhan tekan briket dari kayu jarak pagar. zat terbang. Data Produksi Hasil Hutan Non Kayu tahun 2004. Oleh karena itu informasi mengenai penggunaan Chainsaw ditinjau dari jumlah kebutuhannya perlu disampaikan. 400 dan 600 kg/cm2. Han Roliadi. KALIMANTAN TIMUR (Efficiency of Chainsaw Utilization on Felling: A Case Study at PT Surya Hutani Jaya. Prospek pengembangan tanaman ini sebagai tanaman energi sangat baik karena daya adaptasi terhadap jenis tanah dan iklim sangat besar. Industri kehutanan Sudradjat. 2005 Biji Jarak (Jatropha curcas Linn. briket arang.1 . No. cepat tumbuh dan berbuah. Sifat yang tidak memenuhi standar adalah: kerapatan. Kata kunci: Tempurung biji jarak.) (Technical Setiawan. East Kalimantan) / Sona Suhartana. karbon terikat dan nilai kalor. Di dalam makalah ini dikemukakan mengenai aspek yang berhubungan dengan tanaman. 50. Energi alternatif. Pedesaan Process and Characteristics oof Charcoal Briquette From Jatropha Curcas (Jatropha curcas L. 75 dan 100%. Jarak pagar.3 . 25. Dengan adanya krisis energy. tetapi lebih rendah di dalam kadar air. kadar air.

Hutan tanaman yang sekarang ini disorot. produktivitas. Cepatnya waktu ini mengakibatkan alat tersebut tidak beroperasi lagi pada bulan nya sehingga mengakibatkan tingginya biaya untuk menutupi semua biaya tetap.0 . Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi teknis dan finansial penggunaan alat pengeluaran kayu tersebut. dan biaya pengeluaran kayu adalah Rp 16.144 m (rata-rata 0. Kata kunci: Hutan tanaman. sehingga kelestarian produk tetap terjaga tanpa meninggalkan kelestarian ekologinya. Pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 adalah layak secara ekonomi dengan Pay Back Periode = 1.045. Produksi kayu dari hutan tanaman masih relatif sedikit. -.digunakan untuk mengetahui jumlah kebutuhan penggunaan chainsaw yang tepat dan efisien dalam penebangan pohon mangium dan gmelina. -. Produktivitas pengeluaran kayu bervariasi antara 1. Kata kunci: Jumlah chainsaw.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 79-82 .215.169 . pengeluaran kayu.39 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan jumlah kebutuhan chainsaw yang efisien adalah berdasarkan rencana produksi perusahaan. sistem kabel layang P3HH24.046 m3) dan 77. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah membuat alat pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 yang dirancang untuk mengeluarkan kayu pada areal berbukit. biaya Sukadaryati PEMANENAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN TANAMAN / Sukadaryati dan Sukanda.300/m3. Peningkatan efisiensi pemanenan kayu di hutan alam maupun di hutan tanaman ditujukan agar pemanfaatan sumberdaya hutan optimal dan gangguan lingkungan minimal.24. Upaya tersebut diharapkan dapat dijadikan bahan acuan bagi para penentu kebijakan dan pelaksana di lapangan. IRR = 66. Upaya peningkatan produksi hasil hutan dapat direalisasikan melalui implementasi PBL kaitannya dengan teknik. Produksi kayu dari hutan alam cenderung menurun dari tahun ke tahun. biaya Suhartana. Djaban Tinambunan.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. manjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dilakukan teknik pemanenan yang tepat.012 . 2006 Bukan langkah yang bijak bila hutan alam yang sekarang ini kondisinya carut marut dijadikan tumpuan utama pemasok bahan baku kayu untuk industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume kayu yang dikeluarkan dan waktu kerja yang diperlukan berturut-turut berkisar dari 0. Kebutuhan kayu untuk industri pengolahan kayu cukup besar sementara jatah produksi tahunan relatif kecil.0.665 . danB/C Ratio =1.51. yaitu 21 unit untuk penebangan mangium dan 5 unit untuk penebangan gmelina. Penggunaan chainsaw sesuai jumlah yang ada di lapangan akan mempersingkat pekerjaan. 2006 Produksi hasil hutan terutama kayu memegang peranan cukup berarti dalam pembangunan nasional. Hasil hutan. efisiensi.8 detik/rit (rata-rata 161.4%.0 detik/rit). Untuk meningkatkan produksi hasil hutan terutama kayu dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi pemanenan kayu melalui implementasi pemanenan hutan yang berwawasan lingkungan (PBL). Kata kunci: Peningkatan produksi.562 m /jam). Sona PENINGKATAN PRODUKSI HASIL HUTAN MELALUI IMPLEMENTASI PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN / Sona Suhartana. Halaman 157 . No.175. Sistem tebang habis dan dimensi kayu yang relatif kecil menuntut perlakuan khusus agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat 91 . Dulsalam. 2006 Pengeluaran kayu di areal hutan tanaman yang berbukit-bukit dengan ukuran kayu relatif lebih kecil perlu mendapat perhatian khusus. Pemanenan hutan. NPV = Rp 75. target produksi. -.8.018m /jam (rata-rata 3. Wawasan lingkungan Sukadaryati PENGELUARAN KAYU DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH24 DI HUTAN TANAMAN KPH SUKABUMI (Log Extraction Using P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of Sukabumi Forest District) / Sukadaryati. Dulsalam.2 .Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 65-77 . Pemanenan yang dilakukan di hutan tanaman tidak jauh berbeda dengan di hutan alam. efisiensi dan upaya peningkatan efisiensi pemanenan kayu.

Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat papan partikel bambu yang dihasilkan. bambu yang bentuk aslinya bulat dan berlubang dapat diolah menjadi produk perekatan bambu berbentuk papan bambu atau balok bambu yang dikenal dengan nama bambu lamina dan produk panel bambu berupa bambu lapis.M. 2006 Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia memiliki sumber daya bambu yang cukup potensial. Suwardi TEKNOLOGI PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU / E. sedangkan perekatnya adalah urea formaldehida (UF) cair. teknik penanaman dan pemeliharaan. Bambu yang digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper). barang kerajinan dan supit.M TEKNOLOGI PEMBUATAN BAMBU LAMINA DAN BAMBU LAPIS / I. No. lebar dan panjang tertentu. Penggunaan peralatan yang tidak tepat akan mempengaruhi efektifitas kerja.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Hutan tanaman Sulastiningsih. Sumberdaya bambu tersebut perlu ditingkatkan pemanfaatannya agar dapat memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Agus Turoso. dan biaya serta gangguan lingkungan yang ditimbulkan.1 . -. 2006 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bila dikelola secara seksama dapat berperan besar dalam meningkatkan nilai lahan hutan dan pendapatan masyarakat sekitar hutan. bambu lamina.8 . Kata kunci: Pemanenan. masalah yang timbul dalam pemanfaatan bambu sebagai bahan mebel. Sulastiningsih. IPTEK tepat guna yang diperlukan mencakup pemilihan jenis tumbuhan bernilai tinggi yang akan ditanam. Nurwati Hadjib dan Karnita Yuniarti. Untuk tujuan tersebut maka produk bambu yang dihasilkan harus dapat menggantikan fungsi papan atau balok kayu sehingga produk bambu tersebut memiliki ukuran tebal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan. -. Halaman 1 . sifat fisis dan mekanis Sulastiningsih. bahan bangunan serta penggunaan lain. seleksi bibit. Penggunaan kadar perekat minimum 11% dari berat kering partikel bambu menghasilkan papan partikel bambu yang cukup kuat dan stabil serta memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia. diversifikasi produk dan 92 . Bentuk partikel bambu yang digunakan adalah untai. Novitasari. disamping mudah diserang bubuk. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah melakukan beberapa penelitian mengenai bambu lamina dan bambu lapis. panen.11 dan 12% dari berat kering partikel bambu. Paradigma baru kehutanan bila telah dilaksanakan. bahan bangunan dan penggunaan lain adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. I.9. PENGARUH KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL BAMBU (Effect of Resin Portion on Bamboo Particleboard Properties) / I.dikurangi.24. E. Sampai sekarang teknik budidaya pemanenan.M. I. Salah satu cara untuk mendapatkan teknik pemanenan yang efisien dan berdampak minimal adalah kesesuaian penggunaan alat pemanenan dengan kondisi hutan tanaman. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar perekat terhadap sifat papan partikel bambu. Suwardi Sumadiwangsa. Kata kunci: Teknologi pembuatan. pasca panen. Pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini pada umumnya untuk mebel. Kemajuan dalam teknologi perekatan diharapkan dapat mengatasi keterbatasan bentuk dan dimensi bambu sebagai bahan subtitusi kayu. Papan partikel bambu sekala laboratorium dibuat dengan target kerapatan 0. Wawasan lingkungan. Oleh karena itu perlu ditingkatkan diversifikasi produk pengolahan bambu khususnya produk bambu yang dapat digunakan sebagai subtitusi kayu.70 g/cm dengan kadar perekat bervariasi yaitu 8.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 179-199 . pengolahan. Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan penunjang kayu atau bahan pengganti (subtitusi) kayu untuk mebel. papan partikel. Dengan menggunakan perekat tertentu. kadar perekat. bambu lapis Sumadiwangsa. dapat memacu perkembangan HHBK bernilai tinggi sesuai lahan hutan setempat.M. Kata kunci: Bambu.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 131-141 . pengolahan dan diversifikasi produk masih dilakukan secara tradisional belum ditunjang IPTEK tepat guna yang memadai. Sulastiningsih.10. -. Akan tetapi. produktivitas.

Sedangkan kehilangan berat terendah (0.000. Bogor. Investasi pendirian satu unit pengolahan serpih kayu sebesar Rp 38. kilemo dan ipuh kebanyakan masih dikelola secara lokal sehingga belum dapat menghasilkan produktivitas dan kualitas HHBK. sagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konversi rarta-rata limbah pemanenan untuk bahan baku serpih (chip) adalah 1 sm = 0. kehilangan berat kayu bagian dalam sebesar 6. No. BOGOR. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan limbah kayu dari hasil pemanenan hutan tanaman. jamur perusak.2 .109. 2006 Hasil pemanenan kayu di areal hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman masih menyisakan potongan-potongan kayu kecil.040 dan Rp 14. Biaya produksi per tahun sebesar Rp 156.24 No. Halaman 103 . Berdasarkan kemampuan untuk melapukkan kayu. (Acacia aulacocarpa A.257 ton. Kata kunci : Ketahanan kayu. kemudian diikuti Polyporus sp. Sihati KETAHANAN EMPAT JENIS KAYU HUTAN TANAMAN TERHADAP BEBERAPA JAMUR PERUSAK KAYU (The Resistance of Four Plantation Wood Species Against Several Wood Destroying Fungi) / Krisdianto.4% (kelas IV).000. mesin serpih mudah dipindahkan.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. kehilangan berat Supriadi.v. Bogor) / Achmad Supriadi.8%) terjadi pada bagian dalam I crassicarpa yang diletakkan pada biakan Pycnoporus sanguineus HHB-8149. Cunn.4791 m = 0.M. Contoh uji dibagi dalam dua kelompok secara radial. limbah. Kehilangan berat tertinggi (36. Acacia crassicarpa A.I.227 per ton serpih.. jernang. Halaman 267-274 . yaitu bagian tepi dan dalam dolok.691. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Beberapa komoditi HHBK seperti gaharu.) diuji terhadap jamur menggunakan 93 . serpih kayu Chip Production Using Portable Chipper: Case Study in BKPH Parungpanjang. Osly Rachman. damar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu Acacia aulacocarpa dan Eucalyptus pellita termasuk kelompok kayu agak-tahan (kelas III) dan kayu Acacia auricultformis.. Kata kunci: Teknologi pemanfaatan. Ketahanan empat jenis kayu hutan tanaman standar DIN 52176 yang telah dimodifikasi. gondorukem.. Cunn. (Productivity and Cost of M. 2006 Pada umumnya kayu dari hutan tanaman memiliki diameter kecil dan mudah terserang jamur perusak kayu. Acacia crassicarpa termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV).4 . Produktivitas penyerpihan adalah 1. Achmad PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PRODUKSI SERPIH KAYU MENGGUNAKAN MESIN SERPIH MUDAH DIPINDAHKAN (SMD): STUDI KASUS DI BKPH PARUNGPANJANG. Acacia auriculiformis A. Hasil hutan bukan kayu Suprapti..teknik pemasaran. kemiri. Pycnoporus sanguineus HHB-324.000 per ton.113 dan harga pokok produksi serpih sebesar Rp 325. nilam.11 Kata kunci : Hutan tanaman. dan Eucalyptus pellita F. Dengan harga jual serpih Rp 360. Selain itu juga dipaparkan mengenai diversifikasi produk yang dapat meningkatkan nilai tambah HHBK dan Beberapa hasil Penelitian yang sudah saatnya ditindaklanjuti dengan tahap uji coba di lapangan. dapat diperoleh laba kotor dan laba bersih rata-rata per tahun masingmasmg sebesar Rp 16.6 ton/hari. kopal. Berdasarkan dua kelompok contoh uji. -. telah dilakukan penelitian pengolahan limbah kayu jenis mangium (Accacia mangium) di areal hutan tanaman di BKPH Parungpanjang. dan Schizophyllum commu. kemenyan.115 .24. Rendemen serpih sebelum disaring dan setelah disaring masing-masing adalah 97% dan 53%. Potongan kayu yang biasa disebut sebagai limbah pemanenan pada umumnya ditinggalkan di hutan dan sebagian yang dianggap masih laik dijual kepada penduduk sekitar hutan untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau bahan baku energi lainnya. Cunn.Iskandar.3% (kelas III) lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan berat kayu bagian tepi sebesar 12. kemampuan tertinggi dijumpai pada Tyromyces palustris.8%) terjadi pada bagian tepi kayu Acacia crassicarpa yang diletakan pada biakan Polyporus sp.

2 . Halaman 87-95. 2006 Sumatera Utara merupakan sentra produksi kemenyan di Indonesia. ukuran. terhadap kayu karet. seyogyanya ada kebijakan pemerintah yang mendorong pihak terkait melakukan pengelolaan kayu dan tertarik untuk memanfaatkannya. Prihatiningsih. Kayu asam jawa memiliki karakteristik pelengkungan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu marasi.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Pemerintah telah mengatur kebijakan penebangan dan retribusi kayu perkebunan. dapat dilengkungkan hingga radius 26 cm. -.) dan rasamala (Altingia excelsa N. Kayu perkebunan mungkin dapat ditampung dalam Tempat Penampungan Kayu Perkebunan (TPKP) yang dilengkapi dengan sarana pengolahan dolok diameter kecil. KARAKTERISTIK DAN SIFAT FISIKO-KIMIA BERBAGAI KUALITAS KEMENYAN DI SUMATERA UTARA (Characteristics and Physicochemical Properties of Benzoin Gum qualities in North Sumatera) / Totok K. Dalam studi ini dilakukan determinasi karakteristik pelengkungan pada 5 jenis kayu.Supriadi. Halaman 21 .4 juta m3/tahun dan kelapa 13. Sifat fisiko-kimia kemenyan yang diuji adalah warna.Info Hasil Hutan : Vol. industri kayu. No. di TPKP paling lambat tersimpan dua minggu. Hasil kajian menunjukkan. marasi (Hymenaea sp. perlu dibentuk Tim Koordinasi Kayu Perkebunan (TKKP) di tingkat daerah dan pusat yang melibatkan Departemen Kehutanan c.) dengan dua macam perlakuan awal yaitu (1) pengukusan dan (2) perendaman dalam larutan NaOH 3% dilanjutkan dengan pengukusan. Tujuan kajian untuk mengetahui potensi dan mendapatkan sistem pengelolaan kayu perkebunan.1 juta m3/tahun. 2006 Industri kayu sekunder cukup banyak menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung seperti industri mebel. lembaga pemasaran dan asosiasi. Komponen dalam bentuk lengkungan tersebut umumnya dibentuk dengan cara digergaji mengikuti pola lengkungan. Supriadi. Osly Rachman. pengukusan.61 . Kata kunci: Pelengkungan. terdiri dari kayu karet 17. selain dari hutan alam.4 juta m3/tahun. Totok K. penebangan.3 juta m3/tahun.q. sedangkan kayu yang diberi pengukusan hanya dapat dilengkungkan hingga radius 51 cm.31 .Br) balobo (Diplodiscus sp). alat-alat olah raga dan perahu.q. Salah satu sumber alternatif adalah kayu perkebunan. yaitu kayu asam jawa (Tamarindus indica L. kayu sawit 30. restribusi dan pengelolaan Waluyo.12 No. Waluyo. -. T. Dalam rangka mendorong pemanfaatan kayu perkebunan. Achmad SIFAT PELENGKUNGAN LIMA JENIS KAYU DENGAN DUA MACAM PERLAKUAN AWAL (Bending Characteristics of Five Wood Species With Two Types of Pretreatment) / Achmad Supriadi . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang terlebih dahulu direndam dalam larutan NaOH 3% selama 7 hari kemudian dikukus. kendal dan rasamala. kerapatan. Cara pembuatan komponen lengkung dengan menggunakan gergaji cenderung menghasilkan rendemen yang rendah. Osly Rachman & Edi Sarwono.24. 2006 Industri perkayuan dituntut untuk mencari bahan baku alternatif. tetapi industri perkayuan belum memperoleh kayu perkebunan secara maksimal.1 . -.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Potensi dan pengolahannya belum diketahui sehingga perlu pengkajian. Ditjen Bina Produksi Kehutanan dan Departemen Pertanian c. Sebelum diolah atau terjual. Pengkajian dilakukan di Pulau Jawa dan Sumatera. Cara lain yang lebih efisien adalah pelengkungan kayu secara fisis dan kimia. Ditjen Perkebunan Kata kunci: Kayu perkebunan. 94 . yaitu kualitas I s/ d VI. kendal (Eretia acuminata R. Data dikumpulkan dari berbagai instansi pemerintah. No. perendaman. Dalam pengelolaan. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan sifat fisiko-kimia kemenyan berbagai kualitas yang ada di pasaran. Halaman 47 . setiap dua minggu harus diberi pestisida kembali. Apabila tersimpan lebih lama. balobo. pengembangan dimensi. Poedji Hastoeti. swasta terkait.). bentuk. Kemenyan di pasaran dikelompokkan menjadi 6 kualitas berdasarkan kriteria uji ukuran (besar kecilnya) lempengan/ bongkahan dan warna kemenyan.24. Achmad POTENSI DAN KONSEP PENGELOLAAN KAYU PERKEBUNAN UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI PERKAYUAN / Achmad Supriadi. sawit dan kelapa. Di TPKP harus segera diberi pestisida pencegah jamur biru dan kumbang ambrosia. Abdurachman.1 . sehingga diharapkan nantinya pengelompokkan kualitas kemenyan dapat dipertimbangkan secara kuantitatif berdasarkan unsur-unsur sifat fisikokimianya. potensi kayu perkebunan secara nasional adalah 61.

Keberhasilan pengembangan industri memerlukan dukungan iklim investasi. 2006 Kebijakan Pengembangan Industri Nasional diarahkan kepada peningkatan industri yang berdaya saing global yaitu industri yang mempunyai keunggulan kompetitif. efisiensi dan produktivitas. II. 2006 Gaharu merupakan komoditi hasil hutan bukan kayu yang harganya sangat mahal. bunga.85% dan gaharu buaya 0. kadar abu..12 No. binatang dan lain-lain) dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitar hutan sejak dulu. Penyulingan gaharu dilakukan dengan menggunakan metode sederhana (kohobasi).1 . Kata kunci: Gaharu buaya. Industri pengolahan hasil hutan di Indonesia merupakan industri yang memanfaatkan sumber bahan baku yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman. E.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 9-13 . Kata kunci: Kualitas. dan industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri. titik lunak dan kadar asam balsamat. Strategi tersebut mengupayakan penciptaan dan peningkatan nilai tambah. Umi Kulsum. gaharu kamedangan. jernang. Tulisan ini memaparkan beberapa produk-produk HHBK yang prospektif dan teknologi yang siap pakai antara lain pemanenan dan pengolahannya. kohobasi. -. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 201-206 . 2006 Produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan produk yang bersifat kedaerahan. Perendaman 5 hari menghasilkan rendemen minyak gaharu tertinggi. Untuk meningkatkan nilai tambah. banyak diburu di hutan alam sehingga keberadaannya di hutan dan di pasar semakin langka. Arian STRATEGI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DALAM PENYELAMATAN INDUSTRI KEHUTANAN / Arian Wargadalam. Kata kunci: Asam sinamat. -. Totok K. Waluyo. Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar air dan kadar abu relatif sama antara kemenyan kualitas I. Totok K PENYULINGAN GAHARU KAMEDANGAN DAN GAHARU BUAYA DENGAN METODA KOHOBASI / Totok K.kadar air. Waluyo. Dengan demikian diharapkan adanya pengembangan jenis-jenis HHBK yang prospektif dan penerapan teknologi pemanfaatan yang siap pakai akan dapat meningkatkan nilai tambah produk HHBK sehingga dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya masyarakat sekitar hutan. Waluyo. Pada waktu penyulingan ditambah satu sendok garam dan tanpa ditambah garam. kadar kotoran. yaitu gaharu kamedangan 0. Akan tetapi produk HHBK pada umumnya dari dulu hingga saat ini banyak diperdagangkan masih berupa produk mentah atau asalan sehingga kurang memberikan kontribusi ekonomi pada masyarakat tersebut. III dan IV adalah relatif sama. dekstrin. yaitu penyulingan dengan cara merebus. daun. kualitas III berasal dari kemenyan kualitas V dan kualitas IV berasal dari kemenyan kualitas VI. kilemo. sifat fisik-kimia. 10 hari dan tidak direndam dalam air. iklim usaha yang kondusif termasuk pembiayaan. BEBERAPA PRODUK-PRODUK HHBK PROSPEKTIF DAN TEKNOLOGI PEMANFAATANNYA YANG SIAP PAKAI / Totok K. biji. Program pengembangan industri nasional ditujukan untuk meningkatkan lapangan kerja dengan cara mengembalikan dan meningkatkan kinerja industri berorientasi eksport. II.al) .(et.. salah satunya adalah dengan cara penyulingan.75%. rendemen Waluyo. damar Wargadalam. kualitas II berasal dari kemenyan kualitas IV. terutama gaharu kualitas tinggi (gaharu gubal/super). banyak jenisnya (kulit. Saat ini yang ada di pasar umumnya gaharu dengan kualitas rendah dan harganya relatif murah seperti gaharu buaya dan gaharu kamedangan. Kadar kotoran dan titik lunak kemenyan kualitas I. II dan III relatif sama. Sebelum penyulingan gaharu dijadikan serbuk berukuran 40 . Halaman 59-65 . asam balsamat. S. stabilitas keamanan dan law enforcement. IV dan V. buah. berorientasi eksport dan berwawasan lingkungan. III.50 mesh. kemenyan. sedangkan kadar asam balsamat kemenyan kualitas I. Sumadiwangsa. Kondisi sumber bahan baku 95 .Info Hasil Hutan : Vol. selanjutnya direndam dalam air selama 5 hari. resin/getah. maka perlu usaha diversifikasi produk gaharu. Dengan demikian disarankan pembagian kualitas kemenyan menjadi 4 kelas kualitas yaitu kualitas I berasal dari kemenyan kualitas I s/d III.

& A. Cara pemanenan kulit medang landit dilakukan dengan menebang pohon. Beberapa jenis pohon sebagai sumber penghasil bahan pengawet nabati yang biasa digunakan untuk mengawetkan nira antara lain tuba (Denis eliptica Benth. 2006 Penggunaan bahan pengawet pada nira aren sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti terbentuknya asam. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan kayu bulat tersebut antara lain disebabkan oleh semakin menurunnya kemampuan daya dukung hutan yang disebabkan oleh kurang baiknya manajemen pengolahan hutan dan semakin maraknya penjarahan hutan Kata kunci: Strategi.).. pengovenan dan perendaman. Sumatera Utara. dupa Winarni. Halaman 115-122 . funi (Garcinia syzygiifolia Pierre).2 . Permasalahannya pengupasan biji kemiri secara tradisional tidak dapat dilakukan lagi dalam skala industri sehingga dibuatnya mesin pengupasan biji kemiri untuk menghasilkan persentase keutuhan biji kemiri yang tinggi. buah dan daging buah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah perlakuan pendahuluan berupa perebusan. tingkat keutuhan biji kemiri akan semakin tinggi. Kulit kayu medang landit dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan obat anti nyamuk bakar dan dupa (hio). Data yang dikumpulkan meliputi potensi. 2006 Kemiri merupakan tanaman serbaguna. Sipirok. daun.2 . kayu nangka (Artocarpus Integra Merr. obat anti nyamuk. . -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pohon medang landit adalah 14 pohon/ha. X. Santiyo PENGUSAHAAN KULIT KAYU MEDANG LANDIT DI DESA BULU MARIO.12 No. kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn. pengovenan. Santiyo BEBERAPA JENIS POHON SEBAGAI SUMBER PENGHASIL BAHAN PENGAWET NABATI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr. dan rendam 24 jam. Semakin lama perlakuan perebusan dan pengovenan. Tapanuli Selatan. Suwardi Sumadiwangsa. moluccensis M. jenis pohon Wibowo. kawao (Milletia sericea W. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengusahaan kulit kayu medang landit (Persea spp) di desa Bulu Mario. kulit kayu nyirih (Xilocarpus granatum Koen.).) / Santiyo Wibowo -. buih putih dan lendir. oven 6 jam. Halaman 105-112. Halaman 67-74 . kayu belum dimanfaatkan secara optimal.Info Hasil Hutan : Vol. seperti batang. sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq. Kata kunci : kemiri. Nira yang telah rusak kurang baik jika digunakan untuk membuat produk turunannya. Ina PENGARUH PEREBUSAN. perendaman 96 . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlakuan pendahuluan dan kecepatan putar berapa yang paling efektif agar menghasilkan persentase biji kemiri utuh yang tinggi. cara pemanenan. Nilai keutuhan biji kemiri tertinggi (40 %) terdapat pada kecepatan putar 1000 rpm dengan perlakuan rebus 4 jam. perebusan. dimana hampir seluruh bagian dari tanaman kemiri dapat digunakan. penanganan pasca panen. Pohon medang landit yang dipanen merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan hutan baik hutan rakyat maupun kawasan hutan negara.Roem) dan cengal (Hopea sangal Korth). Kata kunci: Kulit kayu medang landit. produk turunan. nira aren. industri kehutanan Wibowo. Kata kunci: Bahan pengawet.). SIPIROK-TAPANULI SELATAN. PENGOVENAN DAN PERENDAMAN TERHADAP KEUTUHAN BIJI KEMIRI / Ina Winarni & E. departemen perindustrian.). tata niaga dan kendala pengusahaan melalui teknik observasi dan wawancara.Info Hasil Hutan : Vol. dan belum ada budidaya tanaman.12 No.12 No. pemanenan. SUMATERA UTARA / Santiyo Wibowo.tersebut dewasa ini semakin menipis potensinya karena adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan dari sisi industri pengolahannya.Info Hasil Hutan : Vol.).1 .

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Caterpillar 966C beroda menghasilkan produktivitas muat tertinggi. Halaman 123-131 . biaya.2 m. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui produktivitas yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan serta kerusakan ekologi yang ditimbulkan pada beberapa tipe traktor Carterpillar. Penyaradan. Biaya penyaradan dengan traktor ini adalah sebesar Rp 7.91/ m3. Harga alat muat bongkar sangat mahal sehingga perlu direncanakan secara matang sesuai keadaan lapangan. Kata kunci: Muat bongkar.56 m3/jam dengan jarak sarad 289.081. kondisi topografi dan kondisi tanah. -. Biaya muat bongkar yang terendah masingmasing menggunakan wheel/oaaferKomatsu WA350.12 No. volume kayu 10. sistem penebangan. Biaya penyaradan dipengaruhi produktivitas. kerusakan 97 . volume kayu yang disarad. biaya Yuniawati KAJIAN PENYARADAN KAYU DENGAN TRAKTOR CATERPILLAR / Yuniawati & Sona Suhartana.Yuniawati PRODUKTIVITAS DAN BIAYA MUAT BONGKAR KAYU BULAT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS / Yuniawati. intensitas penggunaan jalan sarad dan kandungan air tanah. ekonomis dan ekologi. Dengan mengetahui produkdvitas dan biaya muat bongkar. produktivitas. pemadatan tanah dan penggeseran tanah.Info Hasil Hutan : Vol. topografi dan kondisi tanah. Produktivitas penyaradan kayu dengan menggunakan traktor Caterpillar D7g memiliki nilai tinggi. yaitu 32. 2006 Muat bongkar dolok merupakan salah satu kegiatan dalam pemanenan hutan. -.12 No.Info Hasil Hutan : Vol. Di luar Pulau Jawa. Halaman 25-32 . muat bongkar umumnya menggunakan peralatan mekanis. Faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah jarak sarad.2 . Produktivitas bongkar tertinggi menggunakan Allis Chalrners 745H dengan risiko kerusakan kayu sangat kecil. pemilihan alat yang sesuai dapat lebih mudah dilakukan. 2006 Penyaradan merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tunggak ke tempat pengumpulan kayu (TPn). Kerusakan ekologi dipengaruhi kemiringan lapangan.43 m3 dan waktu kerja 20. Sona Suhartana. pada areal yang luas. Penggunaan alat sarad mekanis traktor perlu mempertimbangkan segi teknis. Penggunaan traktor caterpillar tidak terlepas dari kerusakan ekologi yaitu kerusakan tegakan tinggal.1 . traktor Caterpillar. Kata kunci.60 menit. produkdvitas.

mendapatkan kombinasi asal tanaman sukun dengan pemberian IAA yang mempunyai kemampuan tunas terbaik. jumlah dan panjang tunas yang lebih baik pada tanaman berumur 2 bulan. Growth of Leafy Cuttings of Breadfruit Trees Taken from Nusa Tenggara Barat with Application of Growth Regulator Hormone)/ 98 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Scion yang berasal dari pertunasan cabang berdiameter lebih 3 mm memberikan pertumbuhan (jumlah dan panjang tunas) yang lebih tinggi dibanding scion hasil perlakuan batang tanaman (girlding). 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh asal populasi tanaman sukun dan pemberian IAA terhadap pembentukan tunas sebagai bahan stek. Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan split plot. Sambungan Perbanyakan Adinugraha. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa asal populasi dan pemberian IAA berpengaruh terhadap jumlah tunas.85 cm-7. Hidayat Moko. scion. yang terdiri atas 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Salah satu kendala yang selalu dihadapi dalam sambungan adalah ketidaksesuaian pertautan sambungan. Kebun Benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sambungan adalah sekitar 10 persen . Halaman 93 .46 .60-10. pellita di kebun benih Wonogiri. Sambungan langsung dengan menggunakan scion segar diperoleh keberhasilan 80 persen lebih besar dibandingkan scion direndam air selama 1 .3. Cepi.100 . Kata kunci: Eukaliptus pellita. Kompatibilitas.93g-18.10 cm dengan hasil terbaik dari Banyuwangi dan berat kering tunas rata-rata 8.80 persen. Faktor kedua sebagai anak petak adalah asal tanaman terdiri atas 6 aras yaitu Al = NTB. panjang tunas rata-rata 4. -. No.3. Suplement No. -Wana Benih : Vol. perlakuan naungan memberikan keberhasilan sambungan. Hamdan Adma KEMAMPUAN BERTUNAS TANAMAN SUKUN DI KEBUN PANGKAS DARI ENAM POPULASI DENGAN APLIKASI HORMON IAA (Sprouting Ability of Artocapus altilis from Several Population at Hedge Orchard with the Application of IAA) / Hamdan Adma Adinugraha. Hamdan Adma STUDI PENYAMBUNGAN JENIS EKALIPTUS BERASAL DARI KEBUN BENIH WONOGIRI (Grafting Study of Eucalyptus pellita from Seed Orchard at Wonogiri) / Hamdan Adma Adinugraha.1 .67 tunas dengan hasil terbaik dari DIY.57g dengan hasil terbaik dari Bone. A3 = DIY. Faktor pertama sebagai petak utama adalah Pemberian IAA terdiri atas 2 aras yaitu PO = tanpa disemprot IAA dan PI = disemprot IAA. A4 = Bone. -. IAA. Penelitian dilaksanakan di Pusat Litbang Hutan Tanaman dengan metode penelitian melakukan beberapa kegiatan seperti persiapan rootstock. Dedi Setiadi dan Mulat Nuning Ambari. Kata kunci: Artocarpus altilis. Halaman 265-273. No. A5 = Malino dan A6 = Sorong.Adinugraha. Hidayat Moko. panjang tunas total (cm) dan berat kering tunas (g). untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh dalam penyambungan antara batang bawah (rootstock) dari hasil penyemaian benih dengan batang atas (scion) dari beberapa pohon plus E. penyambungan dengan cara sambung samping dan pemeliharaan tanaman sambungan. vegetatif. A2 = Banyuwangi. kemampuan bertunas Adinugraha. panjang tunas dan berat kering tunas pada umur 12 minggu. 2006 Salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah dengan cara sambungan yang dapat mempertahankan genotipe pada pohon induknya secara konsisten dan berkelanjutan. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi bahan stek pucuk dan zat pengatur terhadap keberhasilan tumbuh stek pucuk tanaman sukun. Hamdan Adma PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN ASAL DARI POPULASI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH (The Hamdan Adma Adinugraha. Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas.7. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah tunas 6.2 . Diameter rootstock yang lebih besar meningkatkan pertumbuhan tanaman sambungan. asal populasi.1 . Halaman 37 .3 hari.

HASIL PENELITIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN DAN IMPLEMENTASINYA / Illa Aggraeni. Zat pengatur tumbuh Adinugraha. Setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dalam setiap ulangan terdapat 8 sample stek. Sukun. Penerapan sistem silvikultur intensif dalam pembangunan hutan tanaman merupakan suatu upaya pembangunan yang bersifat kompleks. Untuk itu diperlukan cara perbanyakan yang efektif dan efisien seperti cara perbanyakan vegetatif. Parameter yang diamati terhadap persentase stek bertunas. K2 = 50%. di samping Hutan Tanaman Industri (HTI) terdapat kawasan yang akan dialokasikan sebagai kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang merupakan perwujudan dari kebijakan nasional "Revitalisasi Sektor Kehutanan". jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang lebih banyak dibandingkan pengupasan kulit pada akar dan bahan yang tidak dikupas kulitnya. dari total luas 9 juta hektar yang ditargetkan pembangunannya sampai dengan tahun 2009 tersebut. Nusa Tenggara Barat. sedangkan faktor kedua adalah pengupasan Kulit (KO=kulit tidak dikupas dan K1=kulit dikupas). Oleh karena itu keberhasilan upaya pembangunan hutan tanaman sangat tergantung pada keberhasilan dalam mengatasi masalahmasalah yang dihadapi seperti ketidaksesuaian jenis tanaman dengan tapak. Illa HASIL. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengupasan kulit pada cabang dan akar selama rejuvenasi telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. diantaranya jumlah benih yang berkualitas masih terbatas. 2006 Sejalan dengan kebijakan restrukturisasi sektor kehutanan. Sekalipun luas hutan tanaman yang ditargetkan 9 juta hektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek pucuk bagian ujung memberikan pengaruh yang lebih baik secara nyata terhadap persentase stek bertunas. 2003). jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang terbentuk. 2006 Perbanyakan tanaman kayu putih biasa digunakan dengan biji (generatif) yang pada umumnya cara ini memiliki banyak kelemahan. jumlah dan panjang akar dibandingkan dengan stek pucuk bagian pangkal. persentase stek berakar. Kata kunci: Akar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial. Hamdan Adma PENGUPASAN KULIT PADA CABANGAN DAN AKAR DALAM REJUVENASI TANAMAN KAYU PUTIH (Treatment of Stem and Root Bark Peeling in Rejuvenation of Melaleuca cayuputi / Hamdan Adma Adinugraha. -. berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi menuntut kita semua untuk berupaya mengatasi dengan sebaik-baiknya.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Sri Esti Intari dan Wida Darwiati. Faktor utama ada 2 yaitu pertama adalah posisi bahan stek pucuk yang terdiri atas bagian ujung tunas (PI) dan bagian pangkal tunas sedangkan kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh. persen berkecambah rendah. Dalam perspektif tersebut diperlukan suatu konsep penyelenggaraan kegiatan rehabilitasi kawasan hutan tidak produktif yang dipadukan dengan ketersediaan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kehutanan (Iskandar dkk. B2 = bahan akar). Jakarta 23 Nopember 2006 . -. No. Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan materi dalam perbanyakan vegetatif adalah rejuvenasi dengan menanam cabang atau akar pada media pasir. yang terdiri atas KO = kontrol konsentrasi 25%. yaitu faktor pertama adalah bahan tanaman (B1 = bahan cabang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor. Hidayat Moko. Pengupasan kulit. Halaman 1-14 .Wana Benih : Vol.Penelitian dilakukan di persemaian Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengupasan kulit pada cabang memberikan persentase bertunas yang lebih tinggi. Pembangunan hutan tanaman dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi tersebut dibangun dengan menerapkan silvikultur intensif. jumlah dan panjang akar. Rejuvenasi Anggraeni. sejak bulan Mei sampai Oktober 2005.7. Departemen Kehutanan telah menetapkan target pembangunan hutan tanaman seluas 9 juta hektar sampai dengan tahun 1009 termasuk 3 juta hektar yang telah dibangun sampai dengan saat ini. Kayu putih. Halaman 9 16 . K3 = 75% dan K4 = 100%. Cabang. Parameter yang diamati meliputi persentase bertunas. viabilitas benih sangat besar dan perolehan genetik kurang optimal.1 . Kata kunci: Stek pucuk. 99 . pemberian zat pengatur tumbuh memberikan hasil yang lebih baik terhadap seluruh parameter yang diamati dibandingkan dengan kontrol. Hutan tanaman merupakan sebuah konsep pembangunan hutan yang bertujuan untuk mengatasi berbagai persoalan kehutanan yang bermuara pada terciptanya kelestarian ekosistem lingkungan dan keberlanjutan peranan sosial-ekonomi sumber daya hutan. persentase stek berakar.

Dalam keadaan yang demikian ekologinya cenderung untuk memacu peningkatan populasi hama/penyakit seperti halnya yang terjadi pada ekosistem perkebunan dan pertanian. keterkaitan ekologis di antara keduanya mempunyai hubungan yang kuat terutama dalam fungsi S-N-F (Spawing. Dalam rangka itulah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (P3HT) sangat berperan dalam memberikan informasi berbagai masalah tersebut bagi kepentingan para pengelola hutan agar tujuan pokok kehutanan di dalam pengembangan fungsi hutan semaksimal mungkin secara lestari dapat dicapai. mangium pada akhirnya dipilih sebagai tanaman komersial untuk memenuhi kebutuhan industri karena kemampuannya beradaptasi pada lahan marjinal. Kata kunci: Acacia mangium. Riparian. silvikultur dan pemanfaatan kayu telah dan sedang dilakukan. Hardjono ACACIA MANGIUM / Hardjono Arisman dan Eko B. tumbuh cepat dan sifat kayu yang baik. DAS Asmaliyah EFIKASI BEBERAPA JENIS INSEKTISIDA TERHADAP HAMA PEMAKAN DAUN PADA TANAMAN PULAI DARAT (Efficacy of Some Types of Insecticides for Leaf Eating Pest on Pulai Darat Plantation) / Asmaliyah. Arisman. tanaman inang dan lingkungan setempat. Berbagai jenis pengelolaan telah tersedia. 2006 Makalah ini menguraikan perkembangan budidaya Acacia mangium di Indonesia. 2006 Hutan dan Derah Sungai merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Xylo Indah Pratama (XIP). Gangguan hama/penyakit akan mudah timbul apabila tidak ada keseimbangan lagi antara hama penyebab/patogen penyebab. Penelitian dilakukan di laboratorium perlindungan hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) Palembang dan di areal rakyat PT. Untuk dapat mengatasi gangguan dari berbagai macam hama/penyakit yang timbul di lingkungan hutan tanaman sangat diperlukan penelitian dasar yang menyangkut kepada pengenalan jenis kepada hama/penyakit dengan mempelajari gejala dan akibat yang ditimbulkannya. -. Penelitian di lapangan dilakukan mulai Mei sampai Agustus 2004.3. 2006 Saat ini permasalahan pada tanaman pulai yang paling krusial untuk segera dipecahkan adalah masalah serangan hama. Luas hutan tanaman jenis ini di Indonesia telah mencapai lebih dari 1 juta ha. Dari perspektif perikanan. serta cara-cara penyerangan dan penularannya. Produksi kayu pulp A. Indra Jaya PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DAN DAS MELALUI PENDEKATAN EKOWISATA / A.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 111-115 . -. Halaman 83 . Ekosistem monokultur dapat lebih rentan terhadap kerusakan oleh hama/penyakit karena tidak adanya keanekaragaman jenis tanaman dan adanya perubahan cuaca yang disebabkan oleh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasi beberapa jenis insektisida terhadap hama C. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada hutan tanaman Akasia.2006 : Halaman 1-6 . glauculalis. Salah satu pemecahannya adalah penggunaan bioinsektisida dan penggunaan insektisida kimia secara benar dan bijaksana. salah satunya pendekatan pengelolaan yang meliputi kedua aspek utama tersebut adalah pengelolaan dengan pendekatan ekowisata. Kata kunci: Hutan tepi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Daerah Aliran Sungai. Proses domestikasi jenis ini berlangsung cepat dan serangkaian penelitian di bidang genetika. perkembangan pasar kayu merupakan faktor resiko yang harus diperhitungkan. budidaya Asaad.91 . Nursery.Pada hutan tanaman komposisi tegakan hutan terdiri dari jumlah jenis yang terbatas atau bahkan seringkali monokultur. Hardiyanto. mangium saat ini mencapai 9 juta m3/tahun sedangkan potensi produksi kayu bulat sekitar 165. Hasil penelitian menunjukkan semua jenis insektisida yang digunakan efektif dalam menyebabkan kematian ulat C.2 . Sri Utami. glauculalis dalam skala 100 . khusunya ikan. Pengelolaan kawasan tersebut memerlukan suatu pengelolaan yang terintegrasi mengingat adanya suatu keterkaitan ekologis diantara kedua ekosistem tersebut. Ekowisata. Jenis ini pertama kali ditanam di Sabah tahun 1966 dan Sumatera Selatan tahun 1979 sebagai tanaman sekat bakar pada lahan alang-alang (Imperata cylindrica) A.000 m3/tahun. Yudhistira. Feeding grounds) bagi biota air. ekobiologi dari hama/penyakit. Lubuk Linggau. A. No.serangan hama/penyakit. Indra Jaya Asaad dan Khairul Fattah.

Kata kunci: Efikasi. Bakung. Jalur pengamatan menggunakan sistem grid. glauculalis terjadi sepanjang tahun dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim terutama curah hujan dan musuh alami. Kata kunci: Insektisida mikroba. namun aplikasi insektisida mikroba secara campuran efektif dalam menekan serangan hama C. Kondisi vegetasi pohon masih dominan di antaranya Asam Payo. Untuk mengelola lahan gambut diperlukan data dasar yang diperlukan untuk perencanaan akses dan pembuatan saluran drainase. Kondisi lahan rawa gambut di daerah Muara Medak ditunjukkan oleh kedalaman gambut berkisar antara 0. Banyuasin. Tulisan dalam makalah ini berisi tentang karakteristik serangan hama C. 2006 Pengembangan pertanian melalui ekstensifikasi ke lahan rawa dan lahan gambut saat ini menjadi alternatif karena terbatasnya lahan kering untuk usaha budidaya tanaman. Rotan. Karakteristik. Ulung Selapan. Untuk perencanaan dibidang pertanian data dasar.7. Kematangan gambut bervariasi dari safrik hingga febrik dan ditemukan jejak terbakar secara periodik. A. sebaran dan kematangan gambut. Ogan Komering Ilir.40 km untuk masing-masing lokasi. Manggris. Sugihan dan Muara Medak merupakan kerjasama antara South Sumatera Forest Fire Management Project dengan Pusat Penelitian Manajemen Air dan Lahan Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya. Penelitian dilakukan pada tahun 2004 dan 2005 dilokasi Pampangan. jarak antar titik pengamatan adalah 500 m. yang diaplikasikan secara campuran dan insektisida kimia yang sifat racun perutnya lebih kuat. Meranti. Serangan hama C. Pakis dan Gelam. Jarak jalur tiap lokasi 30 km . glauculalis.) saat ini merupakan jenis tanaman yang potensial dan prospektif untuk dikembangkan dalam upaya pembangunan hutan tanaman karena memiliki sebaran alami yang luas dan beragam manfaat kayunya. Pengendalian yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk mengatasi serangan hama C. Kedalaman gambut dari dangkal hingga sangat dalam (4 m hingga 6 m). Pemanfaatan lahan rawa dan lahan gambut harus mempertimbangkan aspek lingkungan seperti kedalaman. Alstonia spp.1 m sampai 5. Untuk perencanaan di bidang pertanian dasar seperti ini sangat diperlukan untuk membuat zonasi areal konservasi.) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA / Asmaliyah. kering dan kemudian gugur. Hama Clauges glauculalis 101 . Edwin Martin dan Fitri Windra Sari. Penelitian menggunakan metode survey dengan bantuan teknologi penginderaan jauh. -. Jelutung. Muara Medak angustiloba Asmaliyah KARAKRETISTIK SERANGAN HAMA Clouges glauculalis PADA HUTAN TANAMAN PULAI (Alstonia spp. sebaran gambut menyebar dengan kedalaman yang berbeda. pembuatan aksesibilitas dan saluran. Karakteristik. Pengetahuan tentang karakteristik serangan merupakan dasar dalam menentukan strategi pengendalian optimum. TULUNG SELAPAN DAN MUARA MEDAK / Bakri.laboratorium. Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam mewujudkan pencapaian pembangunan hutan tanaman pulai dengan produktivitas tinggi di PT Xylo Indah Pratama adalah serangan hama C. Karakteristik gambut di daerah Tulung Selapan mempunyai kedalaman 0. Musi Banyuasin. gambut tergolong matang dan jejak terbakar ditemukan pada semua titik pengamatan. Pedamaran-Pampangan. 2006 Pulai (Alstonia spp. Bakri KAJIAN KARAKTERISTIK LAHAN GAMBUT DI DAERAH OGAN KOMERING ILIR. Serangan hama ini dapat mengakibatkan sebagian daun menjadi rusak. Pulai. bahkan pada masa populasi mencapai puncaknya dapat menyebabkan tanaman gundul.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 15-24 . glauculalis tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman pulai darat umur 1 tahun selama empat bulan pengamatan. Kata kunci: Lahan gambut. glaucucalis. Serangan hama ini sudah terjadi dari tanaman berumur 4 bulan di lapangan dan sampai tanaman berumur 1 tahun merupakan kondisi kritis terhadap serangan hama C. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa rawa gambut di daerah Pedamaran-Pampangan dominan ditumbuhi oleh pakis dan perpat serta sedikit galam.2 m . -.0 m.glaucucalis adalah dengan menggunakan insektisida mikroba yang berbahan aktif dan bakteri Bacilus thuringiensis.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. sebaran rawa gambut menyebar dengan kedalamn yang berbeda. BANYUASIN DAN MUSI BANYUASIN: DAERAH PEDAMARAN-PAMPANGAN. Halaman 25-30 .5 m. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada areal rawa. glauculalis dalam skala lapangan pada kondisi serangan ringan atau kepadatan populasi yang rendah. Bacillus thuringiensis. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . jenis insektisida. pulai darat. glauculalis. larva C.

Halaman 91-94 . yaitu bahan bakar. 102 . Pola agrosivolfishery dapat diterapkan secara intensif atau semi intensif tergantung dari lokasi.. Kebakaran merupakan rangkaian proses yang terjadi dari 3 faktor. tidak produktif dan belum dikelola secara baik. Pengelolaan kebakaran antara lain ditujukan untuk meminimasi sumber dan potensi bahan bakar serta pengendalian sumber api melalui rekayasa teknologi dan kelembagaan yang dilakukan secara bersamaan.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 8593 .5 hektar per kepala keluarga (KK). Pola agrosilvofishery semi intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa di daerah terpencil dan belum berkembang (desa-desa) hutan. 2006 Luas lahan rawa gambut yang terdapat di Sumatera Selatan sekitar 1. Salah satu faktor yang menentukan kualitas bibit adalah kualitas media sapih yang digunakan untuk pembibitan. Dampak yang diharapkan dari penerapan pola tersebut adalah terbentuknya pola pemanfaatan lahan rawa menetap yang efisien. Sub soil Bastoni PEMANFAATAN LAHAN RAWA TERPADU DENGAN POLA AGROSILVOFISHERY / Bastony. Gambut adalah media sapih alternatif yang dapat menggantikan top soil. Hal tersebut sangat terkait dengan berbagai kendala biofisik lahan. 2006 Kebakaran hutan merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. -. Lahan rawa yang terlantar hanya dikenal sebagai penghasil asap setiap musim kemarau. Pemilihan jenis komoditi pertanian. Swietenia macrophylla King.11 persen) sangat rendah. -.42 juta hektar. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak merubah ekosistem rawa secara radikal dan tetap mempertahankan sumberdaya awal. Halaman 45-54 . Kata kunci: Mahoni. serta diversifikasi komoditi dan pendapatan. -. luas lahan 0. ekonomi dan sosial budaya yang membatasi aktivitas budidaya pada lahan rawa.34) sangat masam dan kejenuhan basa (4. Kata kunci: Tipe vegetasi.Prosiding Seminar HasilHasil Penelitian Hutan Tanaman. Saat ini kondisinya sebagian besar telah rusak. Pola agrosilvofishery merupakan sistem usaha tani atau penggunaan tanah yang memadukan potensi sumber daya pertanian.)/ Bastoni dan Effendi Agus Waluyo. 2006 Mahoni (Swietenia macrophylla King) adalah jenis pohon eksotik yang cukup banyak dipilih untuk hutan tanaman karena mempunyai kualitas kayu yang unggul dan bernilai ekonomi tinggi. Bahan bakar. luas lahan 1 sampai 2 hektar per KK. efisiensi pemanfaatan lahan. diantaranya adalah teknologi pembibitan.5 bulan setelah sapih. Pengembangannya membutuhkan dukungan teknologi. pertumbuhan bibit yang rendah pada media sapih gambut adalah pH (3. macrophylla). baik hutan alam maupun hutan tanaman. sumber api dan oksigen. Pemahaman dan pengenalan tipe hutan dan tipe vegetasinya akan sangat membantu upaya pengelolaan bahan bakar. intensif dan mampu meningkatkan pendapatan.25 sampai 0. Pola agrosilvofishery intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang dekat dengan pasar. Makalah ini menyajikan ragam tipe hutan dan tipe vegetasi yang terdapat di Sumatera Selatan dengan fokus pada tipe hutan dan vegetasi rawa yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibandingkan dengan tipe hutan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sapih top soil dan sub soil tanah podsolik merah kuning (Ultisol) serta gambut (Histosol) terhadap pertumbuhan bibit mahoni (S. Media sapih. Top soil. Pola alternatif yang dapat diterapkan adalah Agrosilvofishery. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . SUB SOIL DAN GAMBUT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MAHONI (Swietenia macrophylla King. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur 2. khususnya untuk pemetaan bahan bakar dan cara-cara untuk meminimasi sumber dan potensinya. kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan. Oleh karena itu perlu dicari pola pemanfaatan terpadu untuk mengubah lahan rawa menjadi lahan yang produktif. Sumatera Selatan Bastoni PENGARUH JENIS MEDIA SAPIH TOP SOIL. Agus Sumadi dan Efendi Agus Waluyo.Bastoni TIPE VEGETASI HUTAN SUMATERA SELATAN / Bastoni. luas lahan dan tujuan pengembangannya.

mangium dapat ditanam hingga kerapatan 1000 pohon/ha. Persamaan tersebut disusun dengan analisis regresi menggunakan peubah bebas diameter atau kombinasi diameter dan tinggi pohon menggunakan 119 pohon model. JAWA BARAT (Tree Volume Estimation for Puspa in the Sukabumi District of West Java) / Sofwan Bustomi. kayu mangium mulai digunakan sebagai bahan baku industri furnitur dan sebagian di ekspor ke pasar dunia (Hardiyanto 2005). Sukabumi 103 . akan tetapi pengalaman dengan jenis lain menunjukkan bahwa kerapatan tanaman yang tinggi pada awal penanaman menjamin tersedianya pohon yang dapat memenuhi kriteria pemangkasan (Beadle et al. penampilan dan nilai kayu. Pemangkasan. puspa. mangium untuk produksi kayu bulat. Kayu mangium yang bebas dari cacat tumbuh mempunyai penampilan yang menyerupai jati (Gales 2002). Kata kunci: Lahan rawa. Sebagian pohon mangium juga menghasilkan batang ganda (multi-stem). proposinya kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan tempat tumbuhya (Srivasta 1993). Mutu kayu Bustomi. Chris STRATEGI PEMANGKASAN DAN PENJARANGAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU KAYU Acacia mangium / Chris Beadle. Cabang yang berukuran besar lebih sulit dipangkas dan berpotensi rentan terhadap masuknya penyakit. namun dengan adanya kesulitan pengukuran tinggi pohon di lapangan maka persamaan hanya menggunakan peubah diameter tunggal diameter dapat merupakan pilihan. Walaupun dugaan volume diperoleh dengan menggunakan peubah bebas diameter dan tinggi merupakan dugaan yang sangat teliti. 2006 Hutan tanaman Acacia mangium di Indonesia berpotensi menghasilkan kayu untuk pasar furnitur baik di dalam maupun di luar negeri.5 m. Adanya potensi cabang pohon untuk tumbuh besar dan resiko cabang mati sebagai titik masuknya jamur penyebab busuk hati menyebabkan perlunya dilakukan pemangkasan. Pemangkasan bentuk sebelum pemangkasan lift dilakukan dengan hasil akhir 300 batang pohon di pangkas hingga ketinggian 4. Di pasar domestik. Makalah ini menguraikan strategi pemangkasan dan penjarangan untuk Acacia mangium guna menghasilkan kayu dengan mutu yang memenuhi syarat sebagai kayu pertukangan. Knots dan busuk hati merupakan cacat yang mengurangi kekuatan fisik.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Hutan tanaman A. Sofyan PENDUGAAN ISI POHON JENIS PUSPA DI DAERAH SUKABUMI.1 . Rawa.) di KPH Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Pohon berbatang tunggal merupakan prasyarat pokok untuk produksi kayu bulat.kehutanan dan perikanan yang akan dikembangkan dalam pola agrosilvofishery harus didasarkan pada kesesuaian lahan dan pasar. kayu glondongan mangium dapat menjadi sumber kayu yang penting bagi pasar kayu pertukangan. hutan A. Jarak tanaman yang rapat disaat penanaman merupakan salah satu pilihan. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Penjarangan. -. Persamaanpersamaan tersebut digunakan untuk menduga volume bebas cabang dan volume sampai diameter ujung batang 7 cm. Terdapat 2 jenis persamaan volume yaitu persamaan regresi sederhana yang menunjukkan hubungan antara volume dengan diameter dan persamaan regresi ganda yang berdasarkan diameter dan tinggi pohon. 2006 Beberapa persamaan telah dianalisa untuk menduga volume pohon puspa (Schima walliclii Korth. pendugaan. Dengan pemangkasan dan penjarangan pertumbuhan pohon sampai akhir daur dapat diatur untuk menghasilkan pohon bebas cabang yang tinggi dan pertumbuhannya optimal. Kata kunci: Acacia mangium. 1994). mangium merupakan sumber kayu utama untuk bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia (Rimbawanto 2000).3. – . Suplement No. Halaman 209-222 .2006 : Halaman 87-96 . Kerapatan yang tinggi juga dapat mempengaruhi rata-rata ukuran cabang. Agrosilvofishery Beadle. Tingkat kerapatan seperti di atas terlalu tinggi bila tegakan tersebut akan dikelola untuk menghasilkan kayu bulat. Pemanfaatan. Oleh sebab itu pemangkasan merupakan hal yang harus dilakukan sebagai bagian dari perlakuan silvikultur tanaman A. Dapat disimpulkan bahwa insiden heartrot dapat meningkat jika pemangkasan dilakukan pada saat tanaman rentan terhadap serangan dan adanya jamur penyebab yang masuk melalui luka bekas pangkas. Kata kunci: Isi. Dengan rotasi yang tidak lebih dari 20 tahun (Srivastava 1993). Untuk tujuan kayu pulp. Untuk itu diperlukan perlakuan pemangkasan.

753. serta keanekaragaman hayati yang saat ini eksistensinya semakin terancam.531. Jenis galam (Melaleuca sp). juga sebagai insektisida kontak yaitu secara kontak langsung dengan tubuh mengakibatkan pingsan (paralisis) dan kematian larva. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus) dan lain-lain. Ada beberapa tipologi di lahan rawa gambut yang perlu diketahui. ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. -. 2 perlakuan sangat nyata dalam pengendalian larva uret secara in vitro.613. laporan terakhir dari Badan Planologi Khutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode tahun 1997-2000 di Indonesia mancapai 2. Pemilihan jenis yang tepat. ekonomi dan budaya maupun fungsi ekologi sehingga kelestarian hutan rawa gambut dapat terjamin. Pengelolaan bijaksana.000 ha. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas sekitar 17 juta ha yang meliputi di Sumatera 4. kentang dan lain-lain. sehingga peran hidrologi/tata air di dalam gambut sangatlah penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pestisida nabati yang berpotensi untuk dijadikan pengendali alternatif untuk hama uret. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. rosot dan carbon storage. sehingga dalam melakukan rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi dapat lebih berhasil.000 ha dan Irian Jaya 8. Semua perlakuan pestisida nabati memberikan pengaruh yang nyata. dan rapuh (fragile).3. Pengendalian dengan pestisida nabati terhadap larva uret memberikan pengaruh sebagai penghambat aktivitas makan (antifeedan). Kata kunci: Rawa gambut. dengan merehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi. sedangkan perlakuan mortalitas terendah dicapai pada hari ke 8 dengan persentase 83. jamur Metarhirizium anisopliae.000 ha. tepung kanji. teknologi dan kelembagaan rehabilitasi perlu dikaji dan diketahui sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari.Desember 2003. Kalimantan 3. Maluku 42.1 . Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 3 kali ulangan. pengelolaan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Oleh karena itu. Kata kunci: In vitro. yaitu ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. Herman. Suplement No. Berdasarkan uji beda nyata terkecil. Hasil uji coba pengembangan jenis pohon asli dan bernilai ekonomi perlu diimplikasikan untuk rehabilitasi kawasan lahan gambut yang terdegradasi.Daryono. jagung. pestisida nabati.83 juta hektar/tahun termasuk di dalamnya kerusakan hutan lahan gambut. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 35-50 .3% untuk perlakuan serbuk kulit mahoni. Lahan sulfat masam aktual merupakan salah satu lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup disitu. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Selawesi 34. Herman PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT SECARA BIJAKSANA DALAM RANGKA MENJAGA KELESTARIANNYA / Daryono. sedangkan pada tanaman kehutanan lebih banyak yang ditanam dengan pola tumpang-sari. sebagai pengganti pestisida kimia.000 ha. Pestisida nabati yang digunakan adalah jamur Beauveria bassiana. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. Pelestarian hutan rawa gambut dengan segala nilai kekayaan biodiversity harus segera ditindaklanjuti dengan nyata. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan baik sebagai resorvoir air. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun..3% dengan perlakuan serbuk daun mimba. Senyawa pirit Darwiati. masing-masing perlakuan digunakan 5 larva uret. 2006 Uret merupakan larva dari serangga Hollotricia helleri Brsk (Scarabaeidae) yang telah menjadi hama utama pada komoditas pertanian khususnya pada tanaman padi gogo. Degradasi. Wida PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA URET SECARA IN VITRO (The Use of Floral Pesticides to Control Soil Pest by In Vitro) / Wida Darwiati. uret 104 . Pengujian dilakukan dengan cara mencampur bahan pestisida nabati tersebut dengan tanah media hidup uret di dalam wadah plastik. hara mineral yang sangat miskin serta sifat keasaman yang tinggi dan mudah terbakar apabila dalam keadaan kering kekurangan air pada lahan gambut tersebut. sifat irreversible drying. Halaman 257-264. habibatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15 m. Lahan gambut mempunyai karakteristik yang spesifik seperti adanya subsidensi. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi dicapai pada hari ke 4 dengan persentase kematian 83. vanili. Lahan sulfat.000 ha. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit P3HKA Bogor pada bulan September.

Muara Enim. Halaman 45 . habibat dan aspek social ekonomi. Ikan. Mohd BUSUK AKAR PADA TANAMAN SELAIN ACACIA / Mohd Farid A [et. sedangkan perlakuan pupuk 100 g NPK/tanaman menghasilkan kualitas stek pucuk yang lebih baik dibandingkan kontrol. Ekonomi komposisi ikan. Penyakit.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2001. Ari PENGARUH PUPUK NITROGEN TERHADAP PRODUKSI TUNAS DAN KUALITAS STEK PUCUK MERAWAN (Effect of Nitrogen Fertilizers on Shoot Yield and its Quality as Shoot Cutting of H. No. yaitu 7. sampel ikan yang tertangkap ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan alat tangkap yang dioperasikan.al] .-. pupuk nitrogen. Ditemukan dua penyakit akar putih dan penyakit akar merah. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi jamur secara cepat tanpa tergantung pada cara identifikasi morphologi. DNA Fiani.5 g N (50 g NPK).090.1 . Akar merah. Kata kunci: Acacia mangium. 2. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk nitrogen terhadap produksi tunas dan kualitas stek pucuk. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis ikan tertangkap dari beberapa habibat lahan rawa. Kata kunci: Hasil tunas. Penyakit akar yang mematikan yang menyerang K. penelitian meliputi jenis ikan. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah dan panjang tunas di kebun pangkas serta kualitas stek pucuk pada akhir percobaan.Dharyati. dan phellinus sp. 2006 Ketersediaan benih untuk bibit Merawan yang tidak teratur dan sifat rekalsitran dan benih. Metode penelitian dilakukan dengan survei lapangan dan wawancara dengan dipandu kuesioner terpola. 105 . -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 50 g urea/tanaman menghasilkan jumlah dan panjang tunas yang lebih baik di kebun pangkas. Akar putih. aspek sosial ekonomi dilakukan dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal). Alat tangkap. 15 g N (100 g NPK). Kata kunci: Perikanan. 46 g N/tanaman (100 g urea) dan kontrol (tanpa pupuk). telah dilakukan di areal kebun pangkas di Kaliurang Yogyakarta sejak bulan Juli sampai Oktober 2002. stek pucuk. ivorensis ditemukan di wilayah negeri sembilan. kebun pangkas. odorata)/ Ari Fiani. Studi menggunakan penanda molekuler menemukan bahwa pasangan primer PNOX01/ITS4 dapat membedakan Phellinus noxius. -. Hutan tanaman. 23 g N (50 g urea). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 5 macam dosis pupuk N. Penyakit ini nampaknya berhubungan dengan buruknya cara persiapan lahan dan serangan jamur yang terjadi sebelumnya. merawan.2006 : Halaman 62-70 . data yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif. Tectona grandis dan Khaya ivorensis di Semenanjung Malaysia. Habibat Farid A.000. menuntut dilakukannya perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan stek pucuk.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 117-123 .39. 2006 Survei penyakit akar dilakukan pada tanaman Azadirachta excelsa. Dari jumlah 70 nelayan sebagai responden 50 persen status nelayan Full Time dan 50 persen status nelayan sambilan dengan pendapatan perbulan Rp.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. -. Emmy PENELITIAN ASPEK PERIKANAN TANGKAP LAHAN RAWA DI SEKITAR PATRATANI KABUPATEN MUARA ENIM SUMATERA SELATAN / Emmy Dharyati. masing-masing disebabkan oleh jamur Rigidoporus sp. Hidayat Moko. Dengan kelayakan usaha perbandingan Benefit Cost Ratio (B/C) = 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan terdapat 35 jenis ikan rawa dengan 10 macam alat tangkap dari beberapa habibat lahan rawa dan 10 jenis ikan ekonomis penting. Penelitian dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. Perlakuan pupuk diberikan kepada 10 baris tanaman sebagai ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. namun jamur penyebabnya belum dapat diidentifikasi.3.52 . Penyakit akar putih. alat tangkap. 2006 Penelitian aspek perikanan tangkap di lahan rawa yang merupakan bagian dari perairan umum tempat hidup dan berkembang biak beberapa jenis ikan rawa sekitar Patratani Kab.

Gaffar.Teknik ini terutama berguna untuk identifikasi jamur yang tidak menghasilkan badan buah. Hasil ini menunjukkan kegunaan informasi sekuens DNA untuk mengklarifikasi informasi ekologis. Metode yang dipilih untuk aplikasi tertentu dipengaruhi beberapa faktor. 2006 Penelitian telah dilakukan selama delapan bulan mulai Mei .al] . Karim KEGIATAN PERIKANAN DI PERAIRAN HUTAN RAWA SUNGAI MUSI KECAMATAN SEKAYU / A. Teknik DNA Glen. termasuk jumlah sample dan jumlah kandidat jenis. ekologi. kesehatan. Kata kunci: Perikanan. bagian yang digunakan untuk identifikasi taksonomi jenis jamur. Alat tangkap. sedangkan di lebak sungai Mati 14 jenis.Desember 2005 pada 2 tipe rawa banjiran sungai Musi di Kecamatan Sekayu. Morag IDENTIFIKASI SECARA MOLEKULER ORGANISME PENYEBAB BUSUK AKAR DAN BUSUK HATI / Morag Glen [et. -. saat ini yang paling banyak digunakan adalah metode yang berdasarkan pada PCR (polymerase chain reaction) karena cepat. Busuk akar. (2) Lebak Sungai Mati dengan karakteristik vegetasi semai dan tumbuhan bawah berupa rumputan. Meskipun banyak metode untuk menganalisa DNA. sensitif dan dapat memberikan hasil dalam jumlah besar. atau hanya mempunyai sifat-sifat yang unik hanya pada masa tertentu dari siklus hidupnya. Semua teknik DNA memerlukan sample herbarium yang memadai dengan uraian morphologi yang lengkap untuk verifikasi hasil dari teknik DNA. Penggunaan teknik DNA untuk identifikasi jamur telah banyak diterapkan di bidang kesehatan manusia dan hewan. Kabupaten Musi Banyuasin yaitu: (1) Lebung Pasunde dengan karakteristik rawa bervegetasi tipe pohon dan tiang. Hutan rawa. Identifikasi 106 . Morag PENGGUNAAN TEKNIK DNA UNTUK IDENTIFIKASI JAMUR / Morag Glen. dan penyakit tanaman juga diuraikan. bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan yang tertangkap dan selektivitas alat tangkap.2006 : Halaman 56-61 . Kata kunci: Jamur. Teknik-teknik lain yang banyak digunakan dalam bidang pangan. Tipe vegetasi. Hasil tangkapan di lebak Sungai Mati didominasi oleh ikan Sapil (Helestoma temminkii) sedangkan di lebung Pasunde didominasi oleh ikan Lais (Cryptopterus spp). Teknik ini juga banyak diterapkan untuk pengujian mutu pangan untuk mendeteksi kontaminasi jamur. Dimana identifikasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu menentukan perlakuan kesehatan yang tepat. Teknik DNA merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk identifikasi jamur.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. -. Diperairan hutan rawa lebung Pasunde Sungai Musi didapatkan 45 jenis ikan hasil. sedangkan di lebak Sungai Mati adalah jaring.Karim Gaffar dan Khairul Fatah. Ikan Glen.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Kata kunci: Acacia mangium. Sementara sebagian lainnya sulit untuk ditumbuhkan dalam kultur atau kalaupun bisa tidak menghasilkan sifat-sifat yang spesifik. Identifikasi DNA terhadap jamur yang berkaitan dengan tanaman juga berguna untuk meneliti jamur mikorhiza yang bermanfaat bagi tanaman. Identifikasi. Keragaman jenis ikan. dan deteksi awal jamur perusak. -. Rawa banjiran.2006 : Halaman 50-55 . Di lebung pasunde alat tangkap yang paling tidak selektif adalah empang. A. 2006 DNA menyimpan banyak karakter taksonomi untuk identifikasi organisme yang mempunyai sedikit karakter morphologi. Busuk hati. Beberapa jenis jamur dapat dengan mudah ditumbuhkan dalam kultur dan menghasilkan karakter mikroskopis yang berguna untuk identifikasi.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 125-133 . memonitor keberadaan jamur simbiotik. peternakan. biologi dan patologi jamur. Teknik identifikasi DNA terutama diperlukan untuk identifikasi cepat misalnya untuk keperluan karantina atau bio-security. 2006 Makalah ini membahas aplikasi teknik molekuler untuk identifikasi jamur penyebab busuk akar dan busuk hati pada Acacia mangium menggunakan empat sampel yang berbeda.

Pasang surut. Makalah ini menguraikan cara-cara untuk mengatasi hal diatas melalui cara pengelolaan yang tepat dan pendekatan multi-stakeholder untuk mengakhiri penebangan illegal. ternak peliharaan. Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dengan nama daerah akar jenu.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Plantation forest. sebelum melakukan standar budidaya kelapa sawit sebagaimana dilakukan dilahan kering pada umumnya. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar maka usaha pengendalian dengan insektisida sangat diperlukan. Kualitas dan kuantitas daun murbei sebagai bahan makanan ulat sutera sangat dipengaruhi aspek biologis. oyod ketungkul. tuba kurung (Kalimantan Barat).Keuntungan . Jakarta 23 Nopember 2006 . Teguh UJI EFIKASI AKAR TUBA TERHADAP HAMA PENGGEREK PUCUK MURBEI / Teguh Hardi TW dan Priyatna Wiraardinata.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. serta mutu kokon yang dihasilkan oleh ulat sutra sehingga kondisi tanaman murbei sangat menentukan akan produksi yang dihasilkan oleh ulat sutera. namun ketersediaan tanaman ini sangat dipengaruhi oleh sistem budidaya.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 69-72 . seperti keracunan pada manusia. pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Perlu perlakuan awal lahan dengan melakukan pembuatan saluran drainase yang tepat dan pengapuran yang cukup untuk mendapatkan lahan yang optimal. Hama penggerek.2006 : Halaman 7-13 . polusi lingkungan dan hama menjadi resisten maka penggunaan insektisida ramah lingkungan merupakan alternatif yang tidak dapat ditawar lagi. Keberlangsungan hutan tanaman terancam karena manajemen yang tidak tepat atas tanaman monokultur. tuwa laleue. Uji efikasi. tuba. Golani. Penelitian inter-disiplin akan terus memainkan peran dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. tuwa leteng. 2006 Tanaman murbei (Morus spp) banyak tumbuh di daerah tropis dan sub tropis pada ketinggian 400 m -700 m dpl dengan suhu rata-rata 21-25 derajat celcius (Katsumata. Penyakit. produksi kokon. seperti pemilihan varietas yang ditanam. Mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida kimia (sintesis). Air Kumbang Padang Hardi TW. Pengelolaan yang baik dan benar dapat merubah lahan ini dari lahan marginal menjadi lahan yang memiliki potensi S1 dan S2 untuk kelapa sawit. Agribisnis. 1964) dan tanaman ini merupakan makanan utama ulat sutera (Bombyx mori).menjamin suplai bahan baku serat yang terbarukan. sedangkan di Jawa Barat dikenal dengan nama tuwa. 2006 Lahan di wilayah Air Kumbang Padang pada umumnya merupakan lahan rawa pasang surut dan sebagian besar lahan ini merupakan lahan marginal sebelum adanya pengelolaan lahan lebih lanjut. Kata kunci: Hama.menyediakan kesempatan untuk pengembangan sosial dan pengentasan kemiskinan. serangan hama dan penyakit pernah dilaporkan menyebabkan gagalnya budidaya ulat sutera di Indonesia. -. Kata kunci: Acacia mangium. kayu tuba. -. Akar tuba. G. Penduduk . Murbei 107 . Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. kebakaran dan penebangan illegal.D PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI INDONESIA DAN ANCAMAN TERHADAP KELANGSUNGANNYA / G. 2006 Pengelolaan hutan tanaman yang berkelanjutan harus mencakup kepentingan Plane bumi-konservasi keragaman hayati dan mencegah kerusakan lingkungan. bermutu tinggi dan ekonomis. Managemen. Salah satu insektisida yang ramah lingkungan adalah insektisida nabati yaitu insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Hutan tanaman Hairudin. Tersedianya tanaman murbei yang baik merupakan salah satu penentu keseimbangan produksi benang sutera .D. tuba jenu. akar tuba. Didaerah Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal dengan nama besto. Rawa. pemangkasan. Halaman 61-63 . Social ecological. Kelapa sawit. pertumbuhan populasi. seperti akar tanaman tuba (Derris eliptica (Roxb) Benth).Golani. Survei atas adanya kandungan dan kedalaman pirit menjadi sangat penting sebelum kita melakukan desain tata air di wilayah tersebut. -. Hendi PROSPEK PENGELOLAAN LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI WILAYAH AIR KUMBANG PADANG / Hendi Hairudin dan Ulil Amri.

Kandungan-kandungan tanah akan berpengaruh dalam penyediaan air yang dibutuhkan selama proses perkecambahan. Sekitar 30 persen cocok untuk kayu bulat dengan diameter terkecil 30 cm. Maduca aspera. Media tabur. Budidaya 108 . Kayu pertukangan Herdiana. sehingga rendemen kayunya juga rendah (banyak mata cabang dan batangnya tidak lurus) sehingga rendemen kayunya juga rendah. termasuk teknik pembibitanya belum banyak diketahui. sedangkan pada parameter daya berkecambah dan kecepatan berkecambah berbeda tidak nyata. Keserampakan tumbuh Herdiana. Perbedaan kemampuan setiap media yang diuji dalam mendukung perkecambahan bambang lanang terkait dengan perbedaan sifat fisik media. Sampai saat ini informasi yang berkaitan dengan jenis ini. Halaman 111-116 . daun. Tegakan A. sehingga penelitian yang berkaitan dengan aspek ini masih diperlukan. 2006 Kayu Acacia mangium tidak saja sesuai untuk bahan baku pulp dan kertas bermutu tinggi tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan baku kayu pertukangan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Acacia mangium. mangium dapat dijadikan kayu bulat dengan daur 10 tahun dan dapat menghasilkan hingga 200 m3 per ha per tahun. Daya berkecambah. Sterculia foetida Linn. Nanang POTENSI BUDIDAYA KEPUH (Sterculia foetida Linn. Kecepatan berkecambah. Halaman 137-140 . 2006 : Halaman 97-104 . Untuk mendukung program pengembangan kepuh ini. Kayu bulat mangium yang sekarang tersedianya berasal dari tegakan yag tidak dipangkas dan tidak dijarangi.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media tabur yang paling optimal untuk perkecambahan benih bambang lanang. tetapi kandungan tanah yang sangat tinggi akan berpengaruh pada struktur media (keremahan media). pengadaan benih atau bibit serta informasi mengenai teknik budidayanya sangatlah penting. Perlakuan silvikultur yang tepat seperti pemangkasan sangatlah penting bila tegakan ditujukan sebagai penghasil kayu bulat.Permintaan akan kayu bulat mangium meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Jenis media tabur yang paling sesuai untuk perkecambahan benih bambang lanang adalah media M3 (komposisi pasir: tanah = 50:50 v/v) dan M2 (komposisi pasir: tanah = 75:25 v/v). . Kata kunci: Bambang lanang. Kata kunci: Kepuh. Eko B ACACIA MANGIUM UNTUK KAYU PERTUKANGAN / Eko B Hardiyanto. Kayu jenis ini juga kemungkinan dapat digunakan untuk bahan baku pulp dan kertas.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Jenis media yang diuji adalah perbedaan komposisi pasir dan tanah. Nanang PENGARUH JENIS MEDIA TABUR TERHADAP PERKECAMBAHAN BAMBANG LANANG (Maduca aspera) / Nanang Herdiana. Kayu mangium makin dikenal masyarakat dan meningkatnya mutu kayu sebagai hasil dari perlakuan silvikultur yang tepat untuk produksi kayu bulat. -. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Hardiyanto. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan jenis media tabur hanya berpengaruh nyata terhadap parameter keserampakan tumbuh . Di samping itu beberapa bagian dari tanaman ini baik kulit batang. Jenis ini merupakan salah satu jenis substitusi yang paling baik bagi jenis ramin (Gonystylus bancanus) yang pada saat ini sudah semakin sukar didapatkan karena sudah langka dan telah masuk jenis yang dilindungi. 2006 Kepuh (Sterculia foetida Linn) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia dan mempunyai kisaran tempat tumbuh yang luas walaupun lebih cocok untuk daerah pesisir. Meskipun pada saat ini harga kayu bulat mangium relatif rendah.. -.)/ Nanang Herdiana. biji maupun yang lainya mempunyai potensi sebagai bahan baku obat dan masyarakat lokal sudah sejak dulu menggunakannya untuk pembuatan obat tradisional atau jamu.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. harga ini diharapkan akan meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Hengki Siahaan dan Teten Rahman S. 2006 Bambang lanang (Madhuca aspera) merupakan salah satu andalan lokal yang telah direkomendasikan untuk dikembangkan dalam kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL).

Tahap kedua yaitu isolasi. untuk pengembangannya secara optimal dan berkelanjutan. Buton (Sampolawa) dan Konawe Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 28 Maret . atau sistem perakaran pada beberapa jenis pohon yang berbeda. Jamur. Gigaspora. Identifikasi Husna DIVERSITAS MIKORIZA PADA POHON PLUS JATI DI SULAWESI TENGGARA (Diversity ofMicoriza on PlusTtree of Teak in South East Sulawesi) / Husna. yang digolongkan menurut produksi spora seksual di luar struktur mikroskopi yang disebut basidium. jamur puffball (jamur kancing dengan banyak serbuk spora). Basidiomycetes menempati banyak relung lingkungan termasuk pada sampah terdekomposisi.2 April 2005. sedangkan beberapa jenis yang lain merupakan patogen yang menyerang daun. 2006 Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Mikoriza Arbuskula (CMA) pada pohon induk Jati di Sulawesi Tenggara. telah mengarahkan pengembangan areal pertanian pada pemanfaatan lahan rawa pasang surut.1 . yaitu tahap pertama adalah pengambilan sampel tanah dan akar tanaman di 3 daerah pusat jati asal Kabupaten Muna (Raha. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut.Hermanto. Pasang surut Hood.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan model sistem dan usaha agribisnis di lahan rawa pasang surut. Phellinus noxius dan beberapa jenis ganoderma.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. -. Namun demikian pemanfaatan lahan tersebut belum dilakukan secara optimal karena adanya berbagai kendala teknis.3. Ian A MIKOLOGI BASIDIOMYCETES / Ian A Hood. identifikasi dan pengamatan kolonisasi CMA dilakukan di Laboratorium Budidaya Pertanian Unit Kehutanan Fakultas Pertanian Unhalu Kendari. diperlukan strategi yang ditunjang oleh berbagai persyaratan tertentu sehingga pengembangan model tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan nilai tambah kepada petani serta menjadi wahana yang penting untuk menanggulangi kemiskinan di pedesaan. batang. Faisal DanuTuheteru dan Mahfudz. Jenis-jenis Basidiomycetes secara tradisional diidentifikasi melalui bentuk dan struktur mikroskopis badan buah dan bentuk pertumbuhan ketika diisolasi dalam kultur laboratorium. Penelitian dilaksanakan 2 tahap. dan tanah dengan habitat yang beragam seperti hutan maupun daerah terbuka. Taksonomi. beberapa jenis membentuk hubungan mycorhizal yang menguntungkan dengan akar pohon inang. jamur earshstar (bintang) dan jamur koral. Agribisnis.2006 : Halaman 31-49 . Rawa. -.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 57-68 . Oleh karena itu. Kata kunci: Acacia mangium. jamur papan dan jamur kerak. R MODEL SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS DI LAHAN RAWA PASANG SURUT: KONSEPSI DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA / R Hermanto dan G Subowo. Penyakit penting pada pohon-pohon di Indonesia disebabkan oleh jenis Basidiomycetes seperti Rigidoporus microporus. Suplement No. biofisik dan sosial ekonomi sehingga produktivitasnya masih relativ rendah. -. jamur toadstool (jamur payung beracun). Matakidi dan Wakuru). 2006 Sejumlah penyakit penting pada pohon dan tanaman di daerah tropis Asia disebabkan oleh jenis-jenis Basidiomycetes. kayu lapuk. Dari serangkaian pengkajian yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. Hal ini berimplikasikan bahwa pembangunan pertanian di lahan rawa pasang surut harus dilakukan melalui serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dalam kerangka sistem dan usaha agribisnis. Basiodiomycetes merupakan kelompok penting dari jamur yang mencakup bentuk-bentuk yang sudah dikenal seperti bentuk mushroom (jamur payung yang bisa dimakan). Acaulospora dan Scutellospora. Halaman 275284. Model tersebut merupakan serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dengan mengintegrasikan antara penerapan teknologi spesifik lokasi dan rekayasa kelembagaan pertanian. Kayu lapuk. 2006 Semakin menciutnya lahan subur untuk kegiatan non pertanian dan beberapa lahan sawah intensif yang telah mengalami jenuh produksi (leveling off) serta meningkatnya permintaan akan hasil pertanian khusunya pangan. Glomus ditemukan pada semua lokasi pengamatan dengan empat tipe spora. Penyakit akar. Junghuhnia vincta. Daerah Matakidi 109 . Basidiomycetes. Hasil penelitian menunjukan bahwa jati berasosiasi dengan CMA dengan ditemukan empat genus yaitu Glomus.

Bentuk kolonisasi yang ditemukan adalah hifa internal. Styrax benzoine. No. -. 1/2 MS. 110 .10 . Woody Plant Medium (WPM) dan Greshoff & Doys (GD).3.1 . 2006 Pengembangan jenis-jenis prioritas seperti kemenyan mulai dilakukan secara intensif. 2006 Towards The Succes of Induction and Multiplication in Shoot tip Culture of Styrax benzoione DRYAND) / Jayusman. mangium. zat pengatur tumbuh Jayusman KLASIFIKASI KEMENYAN BERDASARKAN VARIABILITAS FENOTIPIK DI TAPANULI UTARA (Styrax benzoine Classification Revealed Phenotypic Variability in North Tapanuli) / Jayusman. bancanus.1 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.Jurnal Penelitian Salah satu cabang bioteknologi yang telah diterapkan di Indonesia adalah perbanyakan kultur jaringan. Pengujian dilakukan dengan berbagai media dasar yaitu Murashige and Skoogs (MS).05 ppm terlihat hanya sesuai untuk induksi kalus dengan perkembangan lambat. Dua jenis Auxin: Indole Acetic Acid (IAA).merupakan daerah dengan keanekaragaman CMA yang tinggi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. No. Napthalene Acetic Acid (NAA) dan jenis Sitokini (Benzyl Amino Purine-BAP) pada berbagai konsentrasi. -. Arif Setiawan. Untuk itu penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan deskripsi fenotipik jenis kemenyan. Pengujian di fokuskan pada aplikasi media dasar (MS dan ½ MS) dan aplikasi ZPT BAP. kombinasi beberapa zat pengatur tumbuh akan diuji dalam kultur tunas ramin ini. benzoine.01 ppm terbukti memberikan respon terbaik pada inisiasi tunas. grandis dan A.62 .3. kultur jaringan. zat pengatur tumbuh. kultur jaringan. Saat ini pengembangan jenis-jenis prioritas seperti jenis G. Untuk itu percobaan ini ditujukan untuk mendapatkan media dasar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inisiasi eksplan pucuk pada media dasar 1/2 MS dengan aplikasi kombinasi ZPT BAP 1 ppm + IAA 0. Hasil pengujian menunjukkan bahwa eksplan yang ditanam pada media 1/2 media dasar dengan kombinasi BAP 1 ppm + NAA 0. jenis dan kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang ideal pada fase ini dan multiplikasi S. bancanus dan S benzoine mulai ditangani secara intensif. Kata kunci: Induksi. Suplement No. Halaman 53 . diversitas.05 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap induksi dan kombinasi media dasar MS dengan aplikasi kombinasi BAP 0. Kata kunci: Jayusman PERAN MEDIA DASAR DAN KONSENTRASI HORMON PERTUMBUHAN TERHADAP INDUKSI DAN MULTIPLIKASI TUNAS PUCUK KEMENYAN (The Effect of Basal Media and Plant Growth Regulator Concentration Hutan Tanaman : Vol.01 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap multiplikasi.5 ppm + NAA 0. NAA dan Kinetin pada beberapa konsentrasi pada tahap induksi dan multiplikasi S. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui variabilitas fenotipik jenis kemenyan di beberapa sentra produksi getah Gonystylus bancanus.1 . hifa eksternal dan vesikula.25 ppm + IAA 0. Pada skala luas diharapkan dapat menyediakan bibit skala produksi masal dalam waktu singkat dengan kualitas bibit sesuai induknya. kultur tunas. -. Halaman 233245. 2006 Penelitian inisiasi tunas ramin (Gonystylus bancanus) melalui perbanyakan kultur jaringan telah dilakukan dengan obyek pengamatan meliputi (1) media dasar dan (2) kombinasi zat pengatur tumbuh (zpt) yang sesuai untuk kultur jaringan G.3. benzoine. Halaman 1 . Sejumlah tanaman telah berhasil diproduksi secara komersial seperti T. Media GD dengan BAP 1. jati Jayusman INISIASI TUNAS RAMIN MELALUI KULTUR JARINGAN (Shoots initiation of Gonystylus bancanus Kurz In-vitro Propagation)/ Jayusman. multiplikasi. Kata Kunci: Cendawan Mikoriza Arbuskula.

berturut-turut 5.27 . Interpretasi genotipe berdasarkan profil pita isozim dalam bentuk zimogram menghasilkan struktur enzim monomer dan trimer dengan 10 lokus 20 alel. Hasil penelitian ini membuka peluang identifikasi tanaman S.8 . karena jenis ini telah banyak dibudidayakan dalam skala luas khususnya hutan rakyat dan menjadi jenis pilihan utama dalam Gerakan Rehabilitasi Hutan dan 111 .5 yang tergolong migrasi lambat sampai sedang. Sitoluama dan Aek Nauli. Analisis varians menunjukkan adanya perbedaan yang nyata diantara populasi pada sifat tinggi dan kekokohan semai dan tidak berbeda nyata pada sifat diameter semai. 2006 Teknik Elektroforesis dapat diterapkan untuk mendeteksi isozim dalam perincian genotipe populasi tanaman kemenyan. Elektroforesis. Dua tipe variasi spesifik masing-masing ditemukan pada tipe getah pohon dan bentuk biji yang dibedakan atas tipe getah meleleh dan menggumpal serta bentuk dasar biji runcing dan agak datar. S. S. Kata kunci: Kemenyan. Konsentrasi gel kentang adalah 13 persen dengan arus listrik 35 Ampere meter dengan voltase konstan 250 volt. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 35-41 . Malate dehydrogenase (Mdh). Observasi dilakukan terhadap 15 karakter fenotipik pada 81 pohon yang berasal dari lokasi tersebut.16 mm 1. getah. bufer elektrolit dan bufer gel dan karakter material daun. Toona sinensis. Bufer ekstraksi.7. Variasi genetik Jayusman METODE EKSTRAKSI DAUN DAN INTENSITAS POLA PITA ISOZIM JENIS KEMENYAN (Leaf Extraction Method and Isozyme of Styrax benzoine Band Pattern Intensity) / Jayusman. Famili yang diuji menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada semua pada sifat yang diuji.32. benzoine var hiliferum. seluruh individu pohon dari dua jenis S. Sipolha (3 famili) dan Tarutung (3 famili). tipe tajuk. Alcohol dehydrogenase (Adh) dan Glucosa-6-phosphate dehydrogenase (G-6-pdh).38 mm dan 4.5. 2006 Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan semai surian (Toona sinensis) di persemaian. benzoine dengan menggunakan elektrophoresis horizontal. Analisis isozim juga menguji kombinasi bufer ekstraksi. Zimogram Jayusman SERTIFIKASI ASAL KULTUR JARINGAN: IMPLEMENTASI DAN IMPLIKASINYA BAGI PERLINDUNGAN KONSUMEN/PENGGUNA / Jayusman. benzoine var dryand dan S. Profinsi Sumatera Utara.34 cm.28 .19 (perbedaan 0. Kata kunci: Surian. Penelitian ini mengkaji prosedur visualisasi sistem enzim di dalam populasi S. diameter dan kekokohan semai bervariasi. benzoine mampu disatukan dalam satu kelompok. 2006 Jenis jati (Tectona grandis) saat ini tidak identik lagi dengan Perum Perhutani. Simangonding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis S. Fase semai.Wana Benih : Vol. Masalah utama dalam ekstraksi isozim adalah munculnya senyawa sekunder dalam jaringan tanaman seperti tanin.1 . Koefisien kesamaan fenotipik menunjukkan bahwa pada skala kesamaan 0. Halaman 1 . Temperatur elektrophoresis konstan 4 derajat Celcius. Halaman 17 .7. benzoine var hiliferum mengelompok berdasarkan karakter yang memiliki variabilitas fenotipik yang luas. -. namun sebagian individu dari kedua jenis kemenyan tersebut mengelompok menjadi satu. tebal kulit dan luas daun.7. bentuk buah (diameter dan berat buah) dan bentuk biji (panjang. -.81 atau 81%). Kata kunci: Fenotipik. Tapanuli Utara. senyawa fenolik serta subrat dalam sel yang sulit diidentifikasi. 1. No. Analisis gerombol menunjukkan bahwa kedua jenis S. perbandingan varians dengan standar deviasi variasi fenotipik dan analisis gerombol berdasarkan program NTSYSpc version 2. diameter dan berat biji). benzoine var dryand. Enam sistem enzim yang diuji menunjukkan adanya variasi aktivitas enzim dengan karakter migrasi pita isozim berkisar pada nilai Rf 20 . Kondisi eletroforesis optimum diperoleh dari ekstrak bufer TPTDAM pH 7. Famili.62.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.Wana Benih : Vol. -.kemenyan di Simasom. Data dianalisis berdasarkan Uji Bartlett. variabilitas Jayusman EVALUASI KERAGAMAN GENETIK BIBIT SURIAN DI PERSEMAIAN (Evaluation of Genetik Variation of Surian Seedling at Nursery Level)/ Jayusman.13 cm . No. benzoine melalui kegiatan seleksi terhadap karakter unggul yang dimiliki.10.1 . Phosphogluco isomerase (Pgi). Glutamate oxaloacetate transaminase (Got). Materi yang diuji dikoleksi dari tiga populasi (daerah koleksi benih) surian asal Propinsi Sumatera Utara yaitu: Ambarita (5 famili). Pertumbuhan tinggi semai. benzoine memiliki variabilitas fenotipik yang luas terutama pada karakter diameter batang. Styrax benzoine.5 dan elektrolit bufer Natrium Borat pH 8. sistem enzim. Sistem enzim yang diuji Acid phosphatase (Acp).

pemeliharaan. pemupukan. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. -. mutu benih dan mutu bibit tanaman hutan. Halaman 95-101 . Hutan tanaman industri. Implikasi dari implementasi sertifikasi diyakini memiliki multi dampak karena selain petani/konsumen mendapatkan harga ideal dan kepastian hasil. Keputusan Menhut melalui SK No. pemerintah juga mendapat mitra dalam pengadaan bibit. persiapan lahan. Didalam aktivitas perawatan tidak terlepas dari pada permasalah an-permasalahan tentang adanya serangan hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman tersebut dan didalam pelaksanaan dari silvikultur hutan tanaman. uji laboratorium. KTI melakukan manajemen penanaman sendiri dan pihak perusahaan PT.347 site dengan pola penanaman terintegrasi. Tectona grandis. Bibit. antara lain adalah Sengon laut (Paraserienthes falcataria). Waru rangkang (Hibiscus similis).Lahan (GERHAN). menegaskan bahwa bibit jati yang dipasarkan harus dilacak asal usulnya agar tidak memberi dampak negatif baik aspek lingkungan. Solusi yang dapat ditempuh adalah dengan (a) integrasi marker molekuler untuk pelacakan asal usul materi bibit. Saat ini masih banyak ketimpangan persepsi berkaitan potensi bibit kultur jaringan yang satu sisi dianggap selalu berkualitas dan memiliki keseragaman pertumbuhan dan disisi lain adanya keraguan mutu sumber materi genetik yang digunakan. Sertivikasi Judhiharto. diantaranya materi perbanyakan harus lolos pemuliaan genetik. Kutai Timber Indonesia (PT. Kultur jaringan. sebagai berikut: Pihak perusahaan PT. (b) menggunakan metoda gabungan antara sertifikasi konvensional (pemeriksaan lapangan.5 juta pohon serta lokasi 2. penangkar/produsen bibit mendapat harga jual yang pantas terhadap kualitas benih yang diproduksi serta pemulia pohon mendapatkan perlindungan intelektual. Jabon (Gmelina arborea). PT Kutai Timber Indonesia Kunarso. ekonomi. pruning/rempesan cabang.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. 67/Menhut/-II/2004. KTI melakukan pola kerjasama dengan masyarakat/institusi dengan sharing modal dan hasilnya. Adi KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA: PENGALAMAN PENGELOLAAN HUTAN PENELITIAN / Adi Kunarso dan Edwin Martin. 2006 Hutan penelitian Kemampo adalah hutan yang dibangun dengan tujuan sebagai tempat berlangsungnya penelitian di bidang hutan tanaman untuk menghasilkan paket-paket teknologi tepat guna bagi perkembangan hutan 112 . dll. Bibit jati asal kultur jaringan memberi kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan bibit jati di atas. antara lain persemaian. 2006 Penanaman HTI (hutan Tanaman Industri) dan HTR (Hutan Tanaman Rakyat) dengan jenis tanaman fast growing species untuk bahan baku plywood industry. KTI) sudah dilakukan sejak tahun 1997 sampai sekarang dengan luas kurang lebih 3000 ha dn jumlah tanaman 4. Beban sertifikasi tidak harus ditanggung pemerintah semata. Banyak faktor yang berperan dalam menghasilkan bibit unggul. Hutan tanaman rakyat. Balsa (Ochroma sp). uji vigoritas) dikombinasikan dengan pelacakan marker molekuler. produksi bibit elit (berkualitas) tidak selalu atau harus dihasilkan melalui teknologi kultur jaringan. Jakarta 23 Nopember 2006 . Implementasi sertifikasi bibit asal kultur jaringan harus diawali pelacakan terhadap sumber materi genetik bibit. dan sosial. Penyakit. Halaman 41-43 . mengingat sertifikasi juga bersifat sukarela (voluntary) yang sangat terbuka untuk semua pihak berperan aktif memulai dan mengimplementasikan sertifikasi sumber benih.meskipun standarisasi dan sertifikasi bibit asal kultur jaringan tersebut belum optimal. Kata kunci: Hama. penanaman. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Penanaman yang dilakukan oleh PT. penjarangan I dan II dan pemanenan. Kata kunci: Jati. Heru SERANGAN HAMA PENYAKIT DAN CARA ANTISIPASINYA PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI DAN HUTAN TANAMAN RAKYAT PT KUTAI TIMBER INDONESIA / Heru Judhiharto dan Agus Setiawan.

sebagai bahan baku pembuatan atap.. Sumatera Selatan Kurniawan. Nilai ekonomi. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 300.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. selain itu tegakan monokultur bagi hama berarti akumulasi bahan makanan untuk kehidupannya. Keuntungan bersih yang diperoleh pengrajin atap nipah bisa mencapai Rp. Palembang.khususnya hutan tanaman. Kata kunci: Kebakaran hutan. 16.1 persen. -. Industri rumah tangga.5 tahun di KHDTK Benakat rata-rata sebesar 12.000. Pengamatan dilakukan pada bulan September 2005.74 persen dari seluruh tanaman. sedikitnya petugas dilokasi. 600. Salah satu ancaman bagi pengembangan dan pengelolaan hutan Kemampo adalah kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun.dengan harga jual Rp. Kalimantan Selatan yang hanya terserang 5. Dari hasil observasi di kelurahan Karyajaya. Tanaman ini banyak dijumpai dirawa-rawa air payau dan di depan muara-muara sungai. kerusakan tertinggi dialami oleh A. Halaman 87-90 . Kata kunci: Acacia mangium. Usaha kecil atap daun nipah. 2006 Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi lahan rawa pasang surut yang cukup luas. 2006 Pembangunan hutan monokultur menyebabkan resiko kerusakan tanaman oleh hama menjadi meningkat. Kerugian akibat kebakaran yang terjadi adalah rusak dan hilangnya plotplot penelitian yang berarti juga kehilangan data penelitian.hingga Rp. kerusakan mencapai 21. Hal ini disebabkan oleh ekosistem mikro yang kurang stabil/seimbang. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha ini adalah belum adanya kelembagaan yang mengakomodasi kepentingan pengrajin serta minimnya modal yang dimiliki.per hari.. Beberapa permasalahan yang dihadapi di hutan adalah: kurangnya sarana dan prasarana pencegahan dan pengendalian kebakaran. Pada masing-masing asal sumber benih. Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. pengawasan untuk mendeteksi secara lebih dini kemungkinan terjadinya kebakaran serta penanggulangan secara fisik saat kejadian kebakaran.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 161-166 . Mati pucuk. Pengendalian kebakaran. Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu vegetasi penyusun ekosistem rawa pasang surut yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi. Sementara itu upaya yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) sebagai pengelola hutan Kemampo antara lain: dengan pendekatan secara silvikultur yaitu dengan membuat sekat bakar (jalur hijau) dan ilaran api.. Kerusakan ini menimbulkan kerugian dan banyak menyebabkan kematian tanaman. Agus EVALUASI INTENSITAS KERUSAKAN MATI PUCUK ASAL SUMBER BENIH ACACIA MANGIUM DI KHDTK BENAKAT / Agus Kurniawan dan C. Andriyani. -. Kecamatan Ilir Barat II. Salah satu bagian tanaman yang sudah dimanfaatkan serta diusahakan dalam skala industri rumah tangga di Sumatera Selatan yaitu daun. mangium asal tegakan benih Riam Kiwa. KHDTK Benakat 113 . Asal sumber benih. merupakan usaha padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.5 tahun di KHDTK Benakat.86 persen. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerusakan akibat mati pucuk pada tanaman Acacia mangium umur 3. Sedangkan kerusakan terendah ditujukan oleh tanaman A. serta belum adanya tindakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Hutan Penelitian Kemampo. Patah pucuk merupakan jenis kerusakan yang umum dijumpai pada tanaman Acacia. untuk memproduksi satu keping atap nipah dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp.-. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui intensitas kerusakan mati pucuk pada delapan asal sumber benih Acacia mangium umur 3.hingga Rp. 450. Atap daun nipah. sementara uluran bantuan modal baik dari pemerintah maupun lembaga keuangan swasta tidak pernah menjangkau pengrajin atap daun nipah.. Kata kunci: Nipah. Nypa fruticans. Usaha ini akan terus langgeng karena peminat atap sederhana ini tidak akan surut. mangium asal kebun benih Wonogiri. Adi POTENSI DAN POTRET PENGUSAHAAN NIPAH (Nypa fruticans) DALAM MENUNJANG EKONOMI RUMAH TANGGA DI SUMATERA SELATAN / Adi Kunarso. Pengelolan hutan Kunarso. 700.

indikasi tersebut tampak dari semakin sulitnya beberapa industri (penggergajian. luas lahan basah makin menyusut hingga tinggal 40 juta hektar. mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Saat ini telah tersedia berbagai klon anjuran hasil pengujian yang dilakukan pada tanaman mineral. 2006 Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan basah cukup luas di dunia yang mencapai 54. jelutung dan tembesu. Lahan gambut. Hal ini disebabkan karena kesuburan dan besarnya potensi sumber daya alam yang berada disekitarnya. saat ini sebanyak 167 sawmill legal di Sumsel terpaksa ditutup. Mudji PERKEMBANGAN BAHAN TANAM KARET DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA PADA LAHAN GAMBUT / Mudji Lasminingsih. Melihat kenyataan tersebut.Lasminingsih. 2006 Akibat eksploitasi hutan yang tidak seimbang dengan upaya rehabilitasi yang dilakukan selama ini. Dilaporkan. Abdul Hakim ASPEK TEKNIK SILVIKULTUR DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN TEMBESU / Abdul Hakim Lukman. Sementara pasokan kayu (pertukangan) dari Hutan Tanaman Industri (HTI) hingga saat ini belum mampu memenuhi kekurangannya. tanaman ini masih mampu tumbuh dan mencapai usia matang sadap sama dengan pertumbuhan karet pada tanah mineral. Menurut ekosistemnya. Lahan rawa merupakan salah satu tipe dari lahan basah. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 151-159 . dengan areal mencapai 3. Salah satu kendalanya adalah dari ketahanannya terhadap ketumbangan/kemiringan pohon pada umur tanaman yang lebih lanjut. sedangkan pada tanah gambut belum banyak walaupun pada beberapa tempat dijumpai pertanaman karet pada jenis tanah ini. pembangunan hutan tanaman yang diperuntukkan sebagai pemasok bahan baku kayu pertukangan dengan jenis-jenis lokal yang komersil sudah selayaknya direalisasikan. pengembangan hutan tanaman tembesu di Sumatera 114 . Dari data pengujian klon pada lahan gambut tampaknya pertumbuhan awal. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Halaman 21-24 . Hutan rawa air tawar dan rawa berumput adalah jenis lahan rawa yang sudah banyak rusak dan semakin kurang keberadaanya. 2006 Tanaman karet di Indonesia merupakan salah satu sumber devisa negara yang memberikan kontribusi cukup tinggi. Lahan gambut. Areal karet tersebut saat ini sebagian besar tersebar pada tanah-tanah mineral. Kata kunci: Rawa gambut. -. saat ini (menurun sekitar 25 persen).Khusus di Sumatera Selatan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Kata kunci: Karet.061 ha. maupun kerajinan khas Palembang) dan masyarakat memperoleh beberapa jenis kayu komersial yang berkualitas seperti ulin.000 meter kubik. membuat potensi hutan alam kita baik dalam skala nasional maupun lokal di Sumatera semakin menurun. Klon karet Lubis. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan saluran-saluran drainase dan juga melakukan okulasi di tempat sehingga perakaran tunggangnya tidak terganggu.3 juta ha dan menunjang perekonomian rakyat karena sebagian besar merupakan perkebunan karet rakyat. Tembesu (Fagraea fragrans) yang merupakan salah satu jenis pohon andalan setempat di Sumatera Selatan. Akan tetapi akibat banyaknya tekanan dan konversi.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 2534 . lahan basah rawa di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 tipe: (1) Hutan rawa air tawar (2) Rawa berumput/lebak (3) Rawa dan lahan gambut. pasar maupun penguasaan teknik silvikulturnya. CCFPI. Hevea brasiliensis Muell Arg. Dengan melihat potensi lahan gambut yang ada di Indonesia dan dalam rangka pengembangan karet serta pemanfaatan lahan gambut yang ada maka klonklon ini dapat diujicobakan pada lahan gambut dengan beberapa perbaikan teknologi untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul. Lahan gambut yang tadinya dianggap lahan marginal dan tidak banyak dimanfaatkan mulai dibuka dan dikonversi karena dari semakin menyempitnya ketersediaan lahan.2 juta meter kubik menjadi 700. Sedangkan rawa gambut dan lahan gambut sendiri juga saat ini mulai mengkhawatirkan keberadaannya. Sumatera Selatan Lukman. raminn. Irwansyah Reza PEMANFATAN HUTAN DAN LAHAN RAWA GAMBUT DI PANDANG DARI APEK KONSERVASI: PENGALAMAN KEGIATAN CCFPI DI SUMATERA SELATAN / Irwansyah Reza Lubis. -.968. Untuk teknologi okulasi di tempat ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut. akibat kelangkaan pasokan bahan baku yang turun drastis dari 4. Secara ekologis. Selain itu kebanyakan HTI yang dibangun diperuntukkan memenuhi kebutuhan industri pulp.

Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 43-47 . Suplement No. bobot basah dan bobot kering stek dan volume akar stek.Selatan dimungkinkan dapat berhasil dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merbau dapat diperbanyak secara stek pucuk dan perlakuan zat pengatur tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot segar dan bobot kering stek dengan media tanaman yang mengandung bahan organik tinggi. Hutan tanaman. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 2 faktor perlakuan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sumber scion terhadap pertumbuhan bibit jati asal grafting telah dilakukan di persemaian Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta.5 m x 1 atau 3 m x 1 m. Penelitian dilakukan di petak 22a. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. semak belukar dan hutan sekunder bervegetasi jarang.1 . media tanam. GK2 (scion dari Gunung Kidul).49 m untuk tinggi dan 2. -.1 . LMG2 dan LMG3 (scion dari Lamongan) dengan 5 kali ulangan dan setiap ulangan 115 . Hasil analisis tanaman jati umur 22 bulan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman secara umum baik dengan kisaran 2. Penelitian menggunakan rancangan tersarang dengan 5 blok sebagai ulangan. -.3.34 .3.29 m . Isnaini. Kegiatan pemangkasan cabang (pruning) dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan kualitas kayu berupa berkurangnya jumlah mata kayu. BKPH Playen Gunung Kidul pada bulan Nopember sampai Januari 2005.4. Kata kunci: Tembesu. Kata kunci: Jati. Kata kunci: Biomasa. Mahfudz VARIASI PERTUMBUHAN BEBERAPA KLON JATI HASIL STEK PUCUK PADA DUA JARAK TANAM DI GUNUNG KIDUL (The Growth Variation of Some Teak Clones from Cuttings on Two Planting Distances at Gunung Kidul) / Mahfudz.4. yaitu faktor pertama zat pengatur tumbuh IBA dan IAA dengan konsentrasi 0 dan 20 ppm. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pertumbuhan klon jati hasil stek pucuk dan jarak tanam yang tepat di lapangan. Jarak tanam 2 m x 6 m memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam 3 m x 3 m.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. merbau. Tyastuti Purwani dan Wahyu Yudianto. dengan penyiapan lahan secara manual tebas total dan jarak tanam rapat 2. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan. Grafting merupakan salah satu cara dalam perbanyakan tanaman untuk penyediaan bibit yang diperlukan. Halaman 25 . Jenis andalan setempat. Hidayat Moko dan Aswan Ajarul. Hidayat Moko. pertumbuhan tanaman Mahfudz PENGARUH SUMBER SCION TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JATI ASAL GRAFTING / Mahfudz. LMG1. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh dan media tanam telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman sejak Juni sampai Desember 2004. 12 klon jati sebagai perlakuan dan 5 treeplot berbentuk bans untuk tiap perlakuan dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan 2 m x 6 m. Pemeliharaan tanaman pada awal pertumbuhan mutlak dilakukan yang berupa pembersihan tumbuhan bawah dan aplikasi pupuk.22 m . 2006 Salah satu aspek penting dalam pengembangan hutan jati rakyat adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. RPH Banaran. sejak juni sampai Desember 2004. sedangkan faktor kedua adalah media tanam yaitu campuran tanah + pasir (l:l).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. klon. Zat pengatur tumbuh dan media tanam merupakan aspek penting dalam perbanyakan tanaman dengan cara tersebut. pasir + kompos (1:1) dan tanah + pasir + kompos (1:1:1) dengan ulangan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 10 stek. stek pucuk. zat pengatur tumbuh. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Lengkap Berblok dengan 5 perlakuan sumber scion yaitu: KG!. Teknik silvikultur Mahfudz PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK MERBAU (Effect of Growth Regulators and Plant Mediums on the Growth of Instia spp Shoot Cuttings) / Mahfudz. No. Tembesu dapat ditanam pada areal lahan yang didominasi alang-alang.63 m untuk diameter. Salah satu upaya dalam pengadaan bibit adalah dengan perbanyakan tanaman secara stek pucuk. 2006 Merbau (Instia spp) merupakan jenis tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam pembangunan hutan tanaman memerlukan pengadaan bibit dalam jumlah banyak. Halaman 247256.

Ditengah kegalauan dalam mengelola kehutanan Indonesia. Melalui perencanaan partisipatif ini. Outcame PRA seperti yang diaplikasikan di Desa Tanjung Sari II sangat berguna bagi Dinas Kehutanan untuk mengambil langkah-langkah taktis dalam melaksanakan tindakan kegiatan pengembangan hutan rakyat. Salah satu teknik yang cukup dikenal dalam mengembangkan partisipasi masyarakat adalah PRA (Participatory rural appraisal). Pelaksanaan kegiatan menggunakan teknik-teknik PRA. lemahnya koordinasi antar lembaga yang terkait. Tidak semua teknik PRA digunakan untuk mengkaji keadaan masyarakat Desa Tanjung Sari II karena sesuai dengan prinsip PRA hasil yang optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang apakah program social forestry dapat dijadikan sebagai sebuah pilihan sistem usaha dalam pembangunan hutan tanaman industri. penghijauan.3. 2006 Program pembangunan dimasa lalu seperti hutan kemasyarakatan (HKm). tidak lagi berdasarkan asumsi-asumsi atau pandangan dan pendapat subjektif belaka. Kompatibel. Helly Fitriyanti. social forestry dianggap proyek. kelayakan usaha. Program social forestry MHBM dan MHR PT. Sumber scion Martin. bahkan beberapa teknik justru didalami dan dipertajam hasilnya sesuai dengan Prinsip Triangulasi. "Social Forestry" masih belum mampu memenuhi harapan banyak pihak dan perlu dibenahi.terdiri dari 5 tanaman hasil grafting. Grafting. hutan rakyat. Penyebab kurang berhasilnya sosial forestry di masa lalu antara lain adalah kebijakan yang tidak mendukung. Manfaat sosial diterapkannya program social forestry yaitu menurunnya kejadian kebakaran di lahan konsesi HTI. pada era tahun 2002-2003 Departemen Kehutanan menggaungkan "Social Forestry" sebagai payung semua program yang akan dilaksanakan. Fidelia Balle Galle. semakin berkurangnya intensitas konflik sosial dengan masyarakat. No. PRA. social forestry 116 . pertanyaan " Bagaimana melaksanakan program hutan rakyat di suatu daerah?" menjadi terjawab. Tulisan ini hendak menyajikan hasil penelitian aksi perencanaan pengembangan hutan rakyat di Desa Tanjung Sari II Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir.17. Alat analisis utama yang digunakan yaitu studi kelayakan usaha dan tinjauan manfaat sosial terhadap program tersebut. Kata kunci: Jati. panjang tunas dan diameter tunas. manfaat sosial. rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) sejauh ini belum berhasil mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. Tectona grandis. Pelaksanaan program social forestry hutan tanaman industri dengan pola MHBM seperti diterapkan oleh PT. Pengamatan dilakukan terhadap persentase hidup. Rootstock. sedangkan untuk program MHR bernilai ekonomis jika suku bunganya berada pada kisaran 14% . bukan sebagai salah satu sistem usaha produktif ekonomis.Scion yang berasal dari Lamongan menunjukkan pertumbuhan tanaman hasil grafting yang lebih baik dibandingkan dari Gunung Kidul. Halaman 117 . MHP bernilai ekonomis jika suku bunganya berada kisaran 14% -15. Social forestry Feasibility and Social Benefit of Social Forestry Program at Industrial Plantation Forest)/ Edwin Martin. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan scion yang berasal dari sumber yang berbeda tidak berbeda nyata terhadap semua parameter yang diamati. semakin terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. -. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .55%.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Lembaga pengembang program dapat melakukan aktifitasnya (sesuai tupoksinya) dengan arahan yang jelas.128 . Kata kunci: Perencanaan partisipatif. Edwin KELAYAKAN EKONOMI DAN MANFAAT SOSIAL PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI (Economic Martin. MHP di Sumatera Selatan dijadikan sebagai objek studi kasus.89%.2 . Halaman 31-44 . Edwin MANFAAT PERENCANAAN PARTISIPATIF DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH SOSIAL FORESTRY: DENGAN CONTOH KASUS APLIKASI PRA UNTUK PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DIDESA TANJUNG SARI II KECAMATAN LEMPUING OKI / Edwin Martin. serta tidak dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan dan perumusan program. 2006 Konsep perhutanan sosial (social forestry) seringkali dipahami hanya sebagai obat penawar untuk menangani konflik sosial usaha hutan tanaman. jumlah daun.

tekstur dan penampilan dari kayu yang diserang. No. Shorea platyclados.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. karena tanah yang subur memungkinkan pohon tumbuh dan menghasilkan kayu serta produk lainnya dengan baik.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Hasilnya dibandingkan dengan survei yang berdasarkan pada log hasil longitudinal pada log. Prestasi kerja pembangunan hutan tanaman meranti mulai dari penyiapan lahan.30 cm dengan menggunakan ring sampel. Pohon hutan.19 m dan 3. Jawa Barat. 2006 : Halaman 20-30 . sureni yang menjadi liat. seperti Agathis lorantifolia.Perkembangannya diikuti dengan perubahan warna. 2006 Shorea atau meranti dikenal di perdagangan dunia sebagai kayu tropik yang cukup berperan penting. sedangkan sifat fisik sampel diambil pada dua kedalaman 0cm . Halaman 63 . sedangkan jenis S. A. kecuali T. No. -. Jasinga. Tanda-tanda tersebut digunakan untuk menilai secara cepat kejadian dan tingkat serangan busuk hati pada log hasil penebangan di lapangan.2 . sedangkan pengaruhnya terhadap porositas. pertumbuhan. kecuali untuk jenis S. penanaman dengan pemeliharaan yang intensif selama 3 tahun memerlukan sekitar 66 HOK/ha. Karen M Barry dan Ragil S.76 cm. unsur hara makro dan kapasitas tukar kation pada umumnya sama.71 . Kandungan bahan organik. Tanah andosol Mohammed. Nina PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS POHON HUTAN TERHADAP KONDISI KESUBURAN TANAH ANDOSOL ( The effect of Some Forest Species Plantation to Condition of Andosol Soil Fertility)/ Nina Mindawati.43 m dan 3. Kondisi tanah dan tumbuhan di areal dengan pemeliharaan yang intensif menunjukkan hasil yang lebih baik ditinjau dari pH tanah. Yetti Heryati. Pinus oocarpa. Busuk akar dibedakan menurut warna jaringan yang terserang jamur dan terkait dengan beragam 117 . sedangkan jika pemeliharaan kurang intensif sebesar 56 HOK/ha. Program pembangunan HTI tengkawang tidak akan berhasil dengan baik jika tanpa dilakukan pemeliharaan pada tanaman muda di lapangan. tengkawang Mindawati. Nina PENGARUH FREKWENSI PEMELIHARAAN TANAMAN MUDA TERHADAP PERTUMBUHAN MERANTI DI LAPANGAN (The effect of Tending Frequency on Growth of Shorea Sapling at Field)/ Nina Mindawati.Mindawati. Penelitian mengenai macam dan frekwensi pemeliharaan terhadap tanaman muda di lapangan telah dilakukan di HP Haurbentes. -. Toona sureni.64 cm. Casuarina junghuhniana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah di bawah tegakan umumnya masam sama dengan kondisi awal. Selain itu. sehingga penanaman jenis dapat menstabilkan kondisi tanah. Busuk hati pada A. Penanaman. yaitu berupa pemeliharaan intensif dan kurang intensif. Halaman 155 . Kata kunci: Kesuburan tanah. Yetti Heryati. 2006 Metode ini menguraikan tentang metode yang cepat.3. N total. satu di Riau dan lainnya di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa provenansi dapat mempengaruhi serangan busuk hati tetapi tidak ada hubungannya dengan kandungan ekstraktif kayu. penanaman dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. -. Pengmbilan sampel tanah dilakukan dibawah tegakan yang telah berumur enam tahun pada 3 titik dan dicampur untuk dianalisa sifat kimia dan biologi tanahnya. P tersedia dan KTK serta nilai INP tumbuhan bawah jika dibanding pemeliharaan intensif. Alnus nepalensis. jumlah fungsi dan respirasi di dalam tanah yang berdampak positif terhadap kesuburan tanah. mangium disebabkan oleh hymenomycetes yang menyerang selulosa dan lignin.15 cm dan 15 cm .B Irianto. tepat. shorea. dan dapat diandalkan untuk mengenali serangan busuk hati dan busuk akar. Khaya anthotheca dan Acacia cassicarpa telah dilakukan pada tanah andosol di dataran tinggi Cikole. Kata kunci: Frekuensi pemeliharaan. platyclados sangat masam.3 . Caroline L BUSUK HATI DAN BUSUK AKAR PADA ACACIA MANGIUM : IDENTIFIKASI GEJALA DAN PENILAIAN TERHADAP TINGKAT SERANGAN / Caroline L Mohammed. berat jenis dan air tersedia berpengaruh positif. Jawa Barat.164 . Penelitian mengenai pengaruh penanaman jenis pohon hutan. Tekstur tanah setelah penanaman lempung liat berdebu. Syaffari Kosasih. stenoptera sebesar 3. Penilaian terhadap 2 percobaan.3. mecistopteryx 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemeliharaan intensif berpengaruh nyata terhadap-rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter jenis S. 2006 Pembangunan hutan tanaman Industri perlu memperhatikan faktor kesuburan tanah. Rancangan yang digunakan adalah Acak Lengkap dengan dua tipe pemeliharaan yang dilakukan sampai tanaman berumur 3 tahun.

pengangguran dan rendahnya pendapatan perkapita yang perlu diantisipasi dan segera dicarikan jalan keluarnya. cepat dan mudah dilakukan oleh petugas lapangan dengan pelatihan secukupnya. Teknik monokuler telah berhasil mengidentifikasi jamur Ganoderma philippi sebagai jamur penyebab busuk akar merah. kekuatan sumberdaya manusia yang masih besar dan multidisiplin. dan mengamati pola penularan penyakit. Kecepatan perkembangan penyakit nampaknya berhubungan dengan awal serangan busuk akar. busuk akar. Mewujudkan Sumsel sebagai lumbung Pangan. Sebagai daerah yang kaya akan sumberdaya alam. No. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis pathogen dan gejala yang ditimbulkannya serta persentase kejadian penyakit pada E. pohon yang terserang cenderung terjadi secara acak namun kemudian mengelompok menandakan bahwa serangan jamur telah meluas. Sumatera Selatan memiliki potensi posisi strategis dalam perekonomian nasional. Halaman 183 . Busuk hati pada A. Penilaian terhadap busuk hati dan busuk akar memerlukan pendekatan yang berbeda. Kabupaten Kutai Kartanegara. Puslitbang Hutan Tanaman Bogor untuk identifikasi patogen bercak daun. 2006 Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propivinsi Sumatera Selatan sampai saat ini merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara berkesinambungan dari kegiatan sebelumnya. Dengan potensi sumberdaya alamnya yang besar. maka wilayah pembangunan di propinsi ini sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu daerah tumpuan strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional. dan tidak secara khusus menyerang jaringan hidup. kedudukan geografis dan kondisi geopolitan yang sangat terkendali. Survei terhadap penyakit pada hutan tanaman acacia menyimpulkan bahwa busuk hati. Akibat penyakit tersebut daun-daun rontok dan tanaman kering meranggas. umur 3 tahun terserang penyakit bercak daun. Busuk akar. Illa Anggraeni. Kata kunci: Acacia mangium. Surya Hutani Jaya Sebulu. Pelaksanaan pembangunan tersebut selain telah menghasilkan keberhasilan yang telah dicapai. kemudian dilanjutkan di laboratorium Kelti Perlindungan dan Pengaman Hutan. bekas cabang. pertumbuhan terhambat dan akhirnya kematian pohon. Kalimantan Timur. 118 . memeriksa luasnya infeksi pada akar. memacu Provinsi Sumatera Selatan untuk melasanakan pembangunan dengan memprioritaskan peningkatan kesejahteraan melalui berbagai langkah strategis dan kebijakan pokok yang dituangkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan jangka menengah daerah dan difokuskan pada agenda mewujudkan Sumsel sebagai Lumbung Energi Nasional. dan karat daun adalah ancaman utama (Old et al. Busuk akar menyebar melalui hubungan antara akar yang sehat dengan akar yang terjangkit jamur busuk akar atau kayu yang membusuk akibat jamur akar. Lahan rawa. Survei yang akurat harus mencatat gejala di atas permukaan tanah. Kegiatan identifikasi merupakan suatu proses mencocokkan secara umum dan membandingkan ciriciri yang didapat secara makroskopis maupun mikroskopis dengan ciri-ciri yang ada dalam referensi. Pemahaman lebih lanjut terhadap isu-isu tersebut di atas. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 1-6 . Jamur penyebab busuk hati adalah parasit basidiomycetes yang masuk ke dalam pohon melalui luka. -.3. mangium adalah pelapukan kayu oleh jamur saprotrophic yang menyebabkan penurunan mutu kayu meskipun tidak mematikan pohon. termasuk potensi lahan rawa.. Untuk keperluan operasional di lapangan. Tingkat serangan Munandar. metode tersebut perlu sederhana. Penggunaan teknik penginderaan jauh untuk survei penyakit juga diulas. Kata kunci. urophylla. Kebijakan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Ketika busuk akar pertama kali ditemukan.3 . persentase kejadian penyakit).191 . Hasil identifikasi ternyata penyakit bercak daun pada E. Hutan tanaman. Sumatera Selatan Ngatiman PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN EKALIPTUS (Attack of leaf spot disease on Eucalyptus)/ Ngatiman. 2006 Di areal hutan tanaman PT. Busuk akar adalah pelapukan akar oleh beberapa patogen basidiomycetes yang menyerang jaringan hidup dan dapat mengakibatkan kematian pohon.Penyakit busuk akar menyebabkan kematian tajuk.basidiomycetes. Busuk hati. tanaman Eucalyptus urophylla Blake. Penelitian dilakukan di lapangan (untuk mengamati gejala. Aris KEBIJAKAN PENGELOLAAN LAHAN RAWA SECARA TERPADU DI SUMATERA SELATAN / Aris Munandar dan Syafrul Yunardi. 2000). Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat serta Mewujudkan sumsel Bersatu Teguh yang selanjutnya akan dijabarkan lebih jauh dalam program-program pembangunan yang bersifat implementatif. juga masih menyisakan masalah-masalah pembangunan antara lain isu kemiskinan.

sedangkan persentase kejadian penyakit pada umur 5 tahun sebesar 40. Setiap perlakuan dibuat petak coba dengan ukuran 50 m x 50 m (0. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi teknik rehabilitasi lahan alang-alang dengan jenis yang sesuai dari famili Dipterocarpaceae.37 cm dan 0. Danau cala.Mulyana PERTUMBUHAN KAYU KAMPER DAN HOPEA PADA LAHAN ALANGALANG DENGAN TEKNIK PENYIAPAN LAHAN TANAM (Growth of Pengaruh teknik persiapan lahan tanam telah dilakukan terhadap pertumbuhan Dryobalanops lanceolata dan Hopea sangal pada lahan lang-alang di hutan lindung Sungai Wain. Teki (Cyperus rotandus). Jenis-jenis vegetasi yang hidup di perairan hutan rawa danau Cala antara lain Nanggai (Talauma candolei). Persentase kejadian penyakit pada E. Duri (Mimosa infisa). Sebagian besar perairan Danau Cala dikelilingi hutan rawa dan banyak terdapat sungai-sungai kecil yang bermuara ke danau. Ikan Juar (Luciosoma setigerum) dan Ikan Seluang Batang (Epalzeorhnchos kalopterus). bentuknya setengah cincin dan letaknya berdekatan dengan sungai utamanya yaitu Sungai Musi dan perairan ini terletak di Kabupaten Musi Banyuasin. yaitu dengan rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter masing-masing sebesar 35.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Omon. Bujuk (Channa lucius). ikan Lemak (leptobarbus hoevenii). Musi. corong dan kilung.38 cm. Bengkal (Bruguera conjugate) dan Mangga Hutan (Magifera sp). Teknik penyiapan lahan dilakukan sebelum penanaman adalah dengan menggunakan herbisida yang bertujuan untuk memusnahkan alang-alang. Halaman 11 .79 cm dan sebesar 0. Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.1 . Alat tangkap yang besar yang biasa dioperasikan di danau cala adalah empang. Penyakit bercak daun Nurdawati.61 persen. Hutan rawa. Pandan (Pandanus tectorius).08 persen. Balikpapan.38 cm. Tinggiran binti (Rhizophora micronata).25 ha) dengan jarak tanam 5 m x 5 m.15 persen dengan intensitas serangan 4. Jenis-jenis tersebut adalah Ikan toman (Channa micropeltes). Rancangan percobaan yang digunakan faktorial 2x3 dengan pola acak lengkap yang diulang sebanyak 3 kali. Penangkapan ikan konsumsi dimulai setelah air mulai surut dengan cara menutup sungai-sungai kecil yang banyak terdapat di danau Cala. Perairan umum Vol. R. Habibat.38 cm. Tembakang (Helostoma temminckii). Untuk perlakuan jenis terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter yang paling besar adalah D. yaitu rata-rata sebesar 39. 2006 Danau Cala merupakan sungai mati (oxbow lake). No. Ikan. Serandang (Channa pleuropthalmus). -. Sebanyak 58 jenis ikan perairan umum memanfaatkan hutan rawa untuk mencari makan (feeding ground).3. Sungai-sungai ini mengering pada musim kemarau dan menyatu dengan danau pada musim penghujan. Kalimantan Timur. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis. Bungur (Lagertrounia spiasa.urophylla umur 3 dan 5 tahun disebabkan oleh fungi Macrophoma sp. Sukun (Artocarpus comunis). Kebarau (Hampala macrolepidota). Banyuasin. 2006 Kamper Wood and Hopea on Alang-alang Areas With Prepare Planting Technique) / R. Marsepang (Midraraetil tharipoides).Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 143-149 .79 cm dan sebesar 0. Kepor (Pristolepis fasciata) dan Tapah (Wallago attu). Resan (Barcinia dulcis). Kata kunci: Eucalyptus urophylla Blake. Kata kunci: Ekosistem.23 . Bambu (Bambusa sp). Rumput gayu (Spinifex litorus). lanceolata. Baung (Mystus nemurus). urophylla umur 3 tahun sebesar 57. Mulyana Omon. Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.46 persen dengan intensitas serangan 7. Kukulang (Melostoma paliantum). Cungcungre (Denox caniformis). Di danau Cala pada umumnya penangkapan dilakukan pada musim penghujan untuk menangkap ikan hias antara lain ikan botia (Botia macracantus) dan penangkapan ikan balashark atau ikan kutung hanyut (Balantiocheilos melanopterus). Syarifah PERANAN EKOSISTEM HUTAN RAWA DI DANAU CALA KABUPATEN MUSI BANYUASIN SEBAGAI HABIBAT IKAN PERAIRAN UMUM / Syarifah Nurdawati. Kalui (Osphronemus goramy). yaitu rata-rata sebesar 39. penyiapan lahan tanam dan interaksi antar jenis dan penyiapan lahan tanam tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup tanaman. 31 jenis diantaranya melakukan pemijahan (spanig ground) di perairan hutan rawa dan memanfaatkan pakan alami di hutan rawa untuk pembesaran larva dan benih dan 14 jenis larva ikan perairan umum masuk ke perairan hutan rawa dan memanfaatkan perairan hutan rawa sebagai tempat perawatan larva (nursery ground). Dengan demikian penanaman jenis dari suku 119 .

Mulyana Oman. jumlah daun (5 helai). Pemanfaatan jenis pioner sebagai salah satu usaha biologis disamping usaha mekanis yang selama ini diterapkan. R. Usaha merehabilitasi banyak mengalami kendala di lapangan dan belum menggembirakan. Pada awalnya gejala ini tidak akan nampak namun akan mningkatkan riap tegakan yang dihasilkan. parvifolia (88%) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.2 . -. Hopea sangal Omon. Jenis pioner dapat menjadi tanaman terpilih sesuai kondisi alam dan persyaratan tumbuhnya. Suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. lanceolata dan H. Kerusakan hutan. lanceolata dan H. Kata kunci: Alang-alang. 2006 Pembangunan hutan tanaman yang tujuan utama untuk menutupi defisit kebutuhan kayu yang semakin besar hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas tegakan yang dihasilkan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Tejo B KAJIAN PELUANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN JENIS LOKAL POTENSIAL DI SUMATERA / B. Tujuan dari percobaan adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. sangal telah memberi harapan yang baik untuk dikembangkan sebagai jenis komersial untuk ditanam di lahan yang terbuka (alang-alang). Kerusakan hutan yang memprihatinkan perlu mendapat perhatian. herbisida. Perlakuan dalam percobaan ini 2 suhu dan 6 lama penyimpanan. Dilain pihak banyak tanaman jenis lokal potensial untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena jenis lokal Temperature and Storage Duration of Mycorrizae Tablet to Growth of Red Meranti Cuttings)/ R. 2006 Pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza telah dilaksanakan di Laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata. Andriyani Prasetyawati. C Andriyani PERANAN TANAMAN PIONER DALAM REHABILITASI HUTAN / C.28 gr) dan persentase kolonisasi akar stek bermikoriza S. Shorea parvofolia. Hasil menunjukkan bahwa lama penyimpanan tablet selama 3 bulan di kedua suhu yang berbeda (4°C dan 20°C) telah memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen hidup (90%). Banyaknya perusahaan hutan tanaman yang menggunakan jenis eksotik ini menyebabkan jenis lokal yang unggul mulai terpinggirkan. -. Beberapa tanaman pioner dapat dikembangkan menjadi tanaman komersial yang mempunyai nilai jual tinggi. Tanaman jenis eksotik ini mempunyai kelemahan. Tablet mikoriza. No.3. parvifolia yang berkualitas di rencana dan strategi penyediaan stek persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4°C atau 20°C masih dapat diinokulasikan pada stek S. Samboja Kalimantan Timur. pertumbuhan tinggi (5 cm). 2006 Tanaman pioner berperan penting dalam suksesi alam. Halaman 77-84 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. berat kering (0. Halaman 131-135 . dengan perlakuan penyiapan lahan disemprot total dengan herbisida. Suhu. parvifolia Kata kunci: Meranti merah. Rehabilitasi hutan Premono. Halaman 129 . Rancangan percobaan yang digunakan faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Keberadaan jenis pioner masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rehabilitasi hutan yang mengalami kerusakan. Stek. adanya penundaan perkembangan penyakit yang telah dibawa dari daerah asal. jumlah daun. Tejo Premono dan C. Dryobalanops lanceolata. Penggunaan tanaman jenis eksotik telah banyak dilakukan selama ini.Dipterocarpacea khusus dari jenis D. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MERANTI MERAH (The effect of Prasetyawati. -. Kata kunci: Tanaman pioner. waktu penyimpanan 120 . berat kering dan persen kolonisasi akar stek S. parvifolia.138 . pertumbuhan tinggi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Dengan demikian untuk S. Tanaman pioner mempunyai peranan penting dalam usaha perbaikan kondisi tapak maupun ekologi tanah. Andriyani Prasetyawati dan Kristanta Tri Saputra.

Taryono.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Suryanto PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. Anto Rimbawanto.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Sertifikasi.3. mempunyai data adaptasi yang lebih baik dengan kondisi alami tempat tumbuhnya selain menghasilkan kayu jenis lokal juga menghasilkan produk non kayu seperti getah. SSR Priyono.B. Tejo Premono. mangium. analisis induk.2 . Dalam pengembangan hutan model Agroforesty di Krui Lampung Timur dengan tanaman damar mata kucing (Shorea javanica). Kelestarian hutan Prihatini. Kebun benih persilangan A. 2006 Pengelolaan hutan. B. cepat tumbuh dan mampu beradaptasi dengan lingkungan merupakan faktor penting dalam membangun hutan tanaman. kulit. Sertivikasi ini bertujuan untuk melindungi petani dari banyaknya barang subtitusi (sintetis) yang menyebabkan permintaan terhadap barang yang terus menurun dan pada akhirnya harga HHNK akan turun. Kata kunci: Acacia mangium. -. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari penggunaan penanda mikrosatelit bagi pengujian induk A. Tissue Culture and Shoot Cutting)/ Priyono Suryanto. Genotipa dari semua individu tersebut digunakan untuk menentukan pasangan induk dari setiap keturunan yang diuji. Jenis eksotik. Penelitian yang dilakukan dapat mendeteksi pasangan induk dari 202 individu (68. Jenis lokal potensial. daun maupun hasil hutan lainnya seperti rotan dan bambu. Sertifikasi juga bertujuan untuk melindungi kepada konsumen bahwa barang yang dihasilkan suatu produk adalah baik untuk kesehatan (green market).43 . Halaman 103-110 . No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Reaksi PCR dilakukan menggunakan 15 penanda mikrosatelit (SSR). -. penanda mikrosatelit. Program pencarian bahan tanaman 121 . -. Aryono.148 . KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown Development of Teak from Seedling. Namun produksinya cenderung menurun yang disebabkan antara lain harga yang rendah. Halaman 35 . Riap yang tinggi.telah banyak dikenal oleh masyarakat. Kata kunci: Pembangunan hutan tanaman. HHNK ini menjadi penghasil tambahan (side incomes) yang menjanjikan.1 . PERLUKAH DIBERI SERTIFIKAT: ANTARA KELESTARIAN HUTAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT / B. 2006 Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) sebagai hasil sampingan dari hutan (side product) yang dapat berasal dari bagian pohon baik berupa getah. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan.3. Dari segi pemanenan HHNK lebih menjamin adanya pengelolaan hutan yang lestari (sustainable Foret Management) karena sistem pemanenannya yang hanya mengambil bagian dari pohon melalui penyadapan sehingga tidak mempunyai dampak yang berarti terhadap kondisi ekologi dan lingkungan. No. Kata kunci: Hasil Hutan Non Kayu. Pemuliaan Premono. teknologi yang belum tertata. Dengan melihat kondisi tersebut maka perlu adanya perlindungan terhadap produsen (petani) dan konsumen (pembeli) yang berupa sertivikasi Hasil Hutan Non Kayu. W. Istiana PENGGUNAAN PENANDA MIKROSATELIT UNTUK ANALISIS INDUK Acacia mangium Willd (Application of Microsatellitte Marker for Parentage Analysis of Acacia mangium Willd)/ Istiana Prihatini. Dan juga adanya barang subtansi berupa barang sintetik yang menyebabkan daya saing HHNK ini semakin berkurang. Moh. 2006 Penanda molekuler diketahui memiliki potensi menggantikan upaya penyerbukan buatan secara manual dalam program pemuliaan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Yang menjadi utama perlu adanya pemuliaan tanaman jenis lokal untuk meningkatkan riap pertumbuhan sebagai syarat dalam pembangunan hutan tanaman. mangium dapat dibangun menggunakan individu-individu terpilih agar penyerbukan terbuka (open pollination) yang terjadi dapat menghasilkan individu unggul. Tejo HASIL HUTAN NON KAYU (HHNK) HUTAN RAKYAT. Halaman 139 . Sambas Sabarnurdin. Analisis induk dilakukan menggunakan DNA genomik total dari 251 individu sebagai kandidat induk dan 296 individu hasil keturunannya.2%).

pembangunan infrastruktur dan pengembangan usaha ekonomi produktif. Mamat STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN PADA MASYARAKAT SEKITAR HUTAN RAWA GAMBUT. Analisis klaster membagi keempat populasi menjadi dua kelompok populasi yaitu Carita dan Manokwari pada kelompok pertama. No. Penanda RAPD Rimbawanto. DALAM KAITANNYA DENGAN KELESTARIAN HUTAN / Mamat Rahmat. kelestarian. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan denga intensifikasi lahan. dengan menggunakan penanda RAPD. Kemiskinan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.141. diantaranya adalah melalui pemberian insentif. Nilai keragaman genetik rerata dalam populasi sebesasar 0. Sampel daun dikumpulkan dari 17 populasi dan dianalisa 122 .181 . Diusulkan tiga strategi pengentasan kemiskinan pada masyarakat di sekitar hutan rawa gambut di Sumatera Selatan. kultur jaringan dan stek. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. untuk menjaga kelestarian hutan.f Rahmat. Dalam makalah ini digambarkan beberapa strategi pengentasan kemiskinan.296 sedangkan keragaman antara populasi 0.3 . Penelitian ini bertujuan mempelajari kaeragaman genetik populasi merbau guna membantu penyusunan strategi konservasi genetik. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama sedangkan apabila persediaan benih terbatas. alasan ekonomi. Kata kunci: Intsia bijuga.154 . Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar.2 juta orang masyarakat miskin tinggal di dalam hutan dan sekitar 6 juta orang masyarakat desa sekitar hutan memperoleh sumber penghidupannya dari hutan. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. Halaman 149 . AYPBC Widyatmoko. 2006 Intsia bijuga atau merbau merupakan jenis kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif. Anto KERAGAMAN GENETIK EMPAT POPULASI Intsia bijuga BERDASARKAN PENANDA RAPD DAN IMPLIKASINYA BAGI PROGRAM KONSERVASI BAGI PROGRAM KONSERVASI GENETIK (Genetic diversity of Four Populations of Intsia bijuga Revealed by RAPD Markers and Its Anto Implications for Genetic Conservation Programme)/ Rimbawanto. Sampel daun dikumpulkan dari 4 populasi dan dianalisa menggunakan 15 primer RAPD yang menghasilkan 77 lokus polimorfik. 2006 Kemiskinan merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan kehutnan di Indonesia. Kata kunci: Perkembangan tajuk.3 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dan hubungan kekerabatan populasi Santalum album untuk mendukung program konservasi dan pemuliaan jenis tersebut.3. Tectona grandis L. sekitar 10.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 103-110 . 2006 Santalum album atau yang dikenal dengan nama cendana merupakan jenis kayu bernilai tinggi dan telah mengalami degradasi sumber genetik yang serius. Keragaman genetik. Halaman 175 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.2 tahun dan 8. Dengan demikian. -Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Pengentasan kemiskinan. pengentasan kemiskinan adalah upaya vital. Kata kunci: Kemiskinan.1.5 tahun bila biji. -. -. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. Jenis ini merupakan tanaman asli Propinsi Nusa Tenggara Timur.3. Bila persediaan biji bermutu cukup. 15.jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. sedangkan kelompok kedua terdiri dari populasi Ternate dan Nabire. yang didasarkan pada karakteristik masyarakat miskin di dalam dan sekitar hutan. Pembagian kelompok antara Manokwari dan Naabire lebih memperjelas pembagian Papua menjadi 6 wilayah geogenetik. Hutan rawa gambut Rimbawanto. Rata-rata lokus polimorfik per primer adalah 5. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. asal bahan tanam. telah memicu berbagai kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan. AYPBC Widyatmoko dan Purnamila Sulistyowati. No. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berurut-urut 12 tahun. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6 m x 2 m. Anto DISTRIBUSI KERAGAMAN GENETIK POPULASI Santalum album BERDASARKAN PENANDA RAPD (Genetic Diversity and Its Distribution of Santalum album Populations Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawantao.

S. Hama. hingga tahun 2004 telah dibangun hutan tanaman untuk pulp seluas 2. Harkingto. yang dikendalikan oleh faktor genetik dan interaksinya dengan sistem biologi hama dan penyakit merupakan kunci keberhasilan pengendalian dan pengelolaan ancaman tersebut.208 . Di Indonesia. Dari sekitar 1. RAPD. hutan tanaman rakyat juga berkembang dengan pesat.crassicarpa. Konservasi. Nilai rata-rata keragaman genetik dalam populasi sebesar 0. Anto KERAGAMAN GENETIK DAN KETAHANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN / Anto Rimbawanto.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Secara umum pembagian kelompok tidak memperlihatkan hubungannya dengan jarak geografis.0415. Wain dan Semboja. Disisi lain hama dan penyakit juga mempunyai sistem penyerangan yang sesungguhnya merupakan cara mempertahankan diri untuk hidup dan berkembang. Penyakit 123 .3 .menggunakan 17 primer RAPD yang menghasilkan 34 lokus polimorfik.391 sedangkan keragaman antara populasi 0. Hamparan hutan tanaman satu jenis yang luas tersebut tentu saja merupakan sumber pohon inang yang sesuai bagi berkembangnya hama dan penyakit tanaman.966 ha dan untuk kayu pertukangan 865. Kata kunci: Genetik. 2006 Euderoxylon zwageri atau ulin adalah kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif sehingga keberadaan tegakan ulin di hutan alam semakin langka. sebagian besar didominasi oleh jenis jati dan sengon (Ditjen RLPS. 2005). AYPBC Widyatmoko.038.500. dengan menggunakan penanda RAPD.3. Halaman 15-20 . sedang sisanya ada di antara populasi. tetapi populasi-populasi yang berdekatan mempunyai kecenderungan untuk membentuk satu sub-kelompok. Memahami mekanisme sistem pertahanan diri tanaman. sedangkan untuk tanah gambut ditanam A. Dari jumlah itu sebagian besar didominasi oleh tanaman Acacia mangium yang sesuai untuk tanah-tanah mineral. Dalam beberapa tahun terakhir ini serangan hama pada penyakit pada hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat telah mencapai tingkatan yang merugikan secara ekonomi. Santalum album Rimbawanto. Meratus. Analisis klaster menghasilkan dua kelompok populasi yaitu TN Kutai. Analisi AMOVA menunjukkan bahwa 96 persen dari keragaman genetik terdapat di dalam populasi. Analisis klaster membagi 17 populasi menjadi dua kelompok besar. -. sedang populasi Lempake satu kelompok tersendiri. dan karat puru (gall rust) pada sengon. Rimbawanto. Sampel daun dikumpulkan dari 5 populasi dan dianalisa menggunakan 19 primer RAPD yang menghasilkan 48 lokus polimorfik.5 juta ha hutan tanaman rakyat. Disamping hutan tanaman industri di atas yang sebagian besar tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Dalam sepuluh tahun terakhir luas hutan tanaman di Asia meningkat dari 46 juta ha pada tahun 1990 menjadi lebih dari 65 juta ha di tahun 2005 (FAO 2005). 2005). Penelitian ini bertujuan mempelajari keragaman genetik populasi ulin di Kalimantan Timur guna membantu program konservasi genetik. -. Ratarata lokus polimorfik per primer adalah 2. Halaman 201 . 2006 Persoalan ancaman hama dan penyakit pada hutan tanaman telah menjadi isu nyata yang dihadapi oleh banyak negara yang mengembangkan hutan tanaman dalam skala luas.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. mangium. Nilai keragaman genetik rerrata dalam populasi sebesar 0.256 ha (Ditjen BPK. Jakarta 23 Nopember 2006 . Sebagai contoh penyakit busuk akar (root rot) yang menyerang A. Kata kunci: Keragaman genetik. No.3564 sedangkan keragaman antara populasi 0. Anto KERAGAMAN POPULASI Eusideroxylon zwageri KALIMANTAN TIMUR Diversity of BERDASARKAN PENANDA RAPD (Population Eusideroxylon zwageri in East Kalimantan Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawanto. Secara alamiah tanaman telah mempunyai cara mempertahankan diri dari serangan hama dan penyakit.

30 persen pada akhir daur. Hal ini sejalan dengan keberhasilan program pemuliaan pohon jenis-jenis cepat tumbuh meningkatkan riap volume tegakan yang menggunakan benih unggul hasil pemuliaan. khususnya rotasi pendek yang sangat signifikan. benih jati Rimbawanto. baik untuk tujuan hutan industri.3 juta ha pada akhir tahun 2000 dan 10. Salah satu penyakit penting yang dibahas dalam pertemuan itu adalah busuk hati pada Acacia mangium. -.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. hutan rakyat. Mutu tegakan. Benih unggul adalah investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar. Anto BUSUK HATI DI HUTAN TANAMAN: LATAR BELAKANG DAN PROYEK ACIAR / Anto Rimbawanto. South East Asia and India"" (Old et al. Salah satu proyek yang paling berhasil adalah survei tentang penyakit pada akasia tropis yang dilakukan pada tahun 1995-1996 termasuk lokakarya di Subanjeriji. Sejak pertengahan tahun 1980an terjadi peningkatan luas hutan tanaman. bebas cabang yang tinggi serta riap yang tinggi merupakan bukti keberhasilan pemuliaan pohon dalam meningkatkan mutu genetik tanaman. Hutan tanaman jenis cepat tumbuh sangatlah penting bagi ekonomi negara-negara di Asia Pasifik termasuk Indonesia dan Australia. Salah satu hasil penting dari lokakarya itu adalah diterbitkannya buku ""A Manual of Diseases of Tropical Acacias in Australia. Program pembangunan hutan tanaman pada saat ini diarahkan untuk menghasilkan bahan baku kayu untuk industri pulp dan kertas dan MDF. Hutan tanaman.5 juta ha pada akhir tahun 2030. Program pembangunan hutan tanaman mentargetkan pembangunan hutan seluas 2. Penggunaan benih bermutu genetik tinggi tidak dapat dipisahkan dengan mutu tegakan yang dihasilkan. Pembangunan hutan tanaman di berbagai negara termasuk pembangunan HTI di Indonesia membuktikan bahwa benih genetik unggul (genetically superior seeds) hasil pemuliaan dapat melipatgandakan pertumbuhan dan mutu tegakan. Anto SERTIFIKASI BENIH: UPAYA MENJAMIN MUTU BENIH DAN MUTU TEGAKAN YANG DIHASILKANNYA / Anto Rimbawanto. 2006 Seiring dengan meningkatnya pembangunan hutan tanaman. Ahli-ahli patologi dan pemuliaan pohon dari CSIRO telah menjalin kerjasama dengan para peneliti dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia dan lima negara lainnya di Asia Tenggara dengan dukungan ACIAR dan CIFOR. Peningkatan ini tidak dapar serta merta dihubungkan dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap benih bersertifikat. Data dari beberapa perusahaan HTI menunjukan bahwa pengadaan benih unggul Acacia mangium hanya mengambil 4 persen dari total biaya pembangunan tanaman. Permintaan akan kayu baik untuk keperluan pasar dalam negeri maupun international terus meningkat dan pemerintah telah menetapkan program pembangunan hutan tanaman untuk menjamin kelangsungan pasokan kayu. 2000). -. Kata kunci: Jati. Jenis utama hutan tanaman di Indonesia adalah Acacia mangium yang juga rentan terhadap serangan busuk hati. Ketersediaan benih unggul ditenggarai sebagai salah satu faktor utama bagi keberhasilan pembangunan hutan tanaman ini. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 17-19 . Mutu benih. Sertivikasi benih.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. kebutuhan akan benih berbagai jenis tanaman juga meningkat.Rimbawanto. Kata kunci: Acacia mangium. Kebutuhan akan sertifikasi benih akhir-akhir ini terasa meningkat sebagai konsekuensi dari diberlakukannya penerapan harga bibit oleh pemerintah berdasarkan asal sumber benihnya untuk program pengadaan bibit Gerhan. Perkembangan pembangunan hutan tanaman industri yang pesat telah menumbuhkan kesadaran pengguna benih akan pentingnya mutu genetik benih. Namun dampak ekonomi dari investasi kecil itu dapat berupa peningkatan riap volume antara 20 persen . maupun upaya rehabilitasi lahan kritis. Pohon dengan batang yang lurus. namun lebih dikarenakan oleh pertimbangan ekonomis semata. Jika masalah penyakit busuk hati ini tidak ditanggulangi secara tepat maka keunggulan genetik sebagai hasil pemuliaan tidak akan dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi. Kepentingan petani kecil dalam system tumpangsari juga perlu diperhitungkan agar mereka juga dapat memperoleh keuntungan ekonomi. 2006 Dalam dasa warsa terakhir peneliti dari Australia dan negara-negara Asia Tenggara telah menyelesaikan serangkaian penelitian bersama dalam bidang patologi hutan. ACIAR 124 . 2006 : Halaman 14-19 . Oleh karena itu untuk memberikan jaminan akan kebenaran mutu genetik sumber benih maka diperlukan sertifikat yang memberikan perlindungan hukum terhadap produsen dan konsumen benih. Busuk hati.

Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 57-61 .5 stek.3 .33 mm dan jumlah daun 6 helai.07 persen.) bertujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan okulasi.97 cm.53 persen. Kata kunci: Jati Muna. isohipertermik.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Kata kunci: Jati. Lokasi terletak pada ketinggian 100 m dpl. Maroangin Kabupaten Enrekang. Sumber benih Santoso. Persen hidup di lapangan semai dari keturunan pohon induk jati cukup tinggi mencapai kisaran 95 persen . Sulawesi Selatan.173 .52 sedang dari stek 0.3. lempungan. Variasi ukuran buah jati muna digolongkan 10 persen ukuran kecil. Lokasi penelitian di persemaian PT. No. tinggi semai dapat mencapai 37. sedangkan periode pemanenan berpengaruh terhadap persen perkecambahan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produktivitas buah jati Muna mencapai 1.13 cm) besar (8. ferririk. jenis tanah termasuk famili Rhodic Hapludoxs.140 mm. kualitas semai dari stek kebun pangkas jati Muna dan pertumbuhan bibit asal kebun pangkas. Kualitas semai baik bibit jati Muna asal biji dan stek dari kebun pangkas baik untuk ditanam.85 mm. Data pengamatan meliputi persen tumbuh dan pertumbuhan awal pertanaman. diameter 5.45 mm) berasal dari generatif. Persen jadi okulasi hanya mencapai 35. -.73 cm. Pemanenan buah pada tegakan jati yang dilaksanakan pada bulan September menghasilkan persen perkecambahan rata-rata 45. Halaman 165 . dengan pohon induk jati sebagai perlakuan. Budi PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS BENIH JATI MUNA / Budi Santoso.50 cm.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.40 mm dan terendah 3. Santoso. Pertumbuhan tinggi terjadi variasi antar semai keturunan pohon induk dan pertumbuhan tertinggi mencapai 40.86 mm dan jumlah daun 6 helai. Pohon induk. Okulasi. Indeks kualitas semai bibit yang berasal dari biji 0. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata produksi stek di kebun pangkas tanaman jati Muna di Malili yang dapat dihasilkan perpohon mencapai 17. sedang pertumbuhan diameter tingkat semai dari keturunan pohon induk terbesar 7. Tectona grandis L.35 cm dan terendah 10. Bintarto Wahyu Wardani.100 persen. sumber benih tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap persen perkecambahan. diameter 7. Jati muna. Persen perkecambahan terbaik diperoleh dari benih yang dikumpulkan pada bulan September. Budi VARIASI PERTUMBUHAN JATI MUNA HASIL OKULASI (Growth Variation of Bud Grafting of Muna Teak)/ Budi Santoso. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara dan persemaiannya dilaksanakan di green house Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. Jati muna. Jumlah pohon induk yang diokulasi sebanyak 60 dan setiap pohon induk dibuat 75 ulangan. Benih. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas stek tiap klon dari pangkas jati Muna di Malili. Pertumbuhan tinggi dan diameter pada tingkat semai dari propagul keturunan pohon induk jati terjadi variasi antar pohon induk. Penelitian ini dilaksanakan di hutan jati Muna. Rerata pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jati Muna umur 4 bulan di lapangan yang tertinggi (34. Kebun pangkas 125 . Kegiatan penelitian okulasi jati dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap. mengetahui variasi kualitas benih dan menentukan persen perkecambahan benih jati Muna dari berbagai sumber benih dan periode pemanenan buah. Pemanenan. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produktivitas buah jati Muna per pohon. Kata kunci: Jati.588 kg/pohon. Rerata pertumbuhan semai yang berasal dari biji umur tiga bulan tingginya mencapai mencapai 27. Budi KUALITAS SEMAI DAN PERTUMBUHAN BIBIT JATI MUNA DARI KEBUN PANGKAS / Budi Santoso. Curah hujan rata-rata tahunan 2. pertumbuhan tinggi dan diameter semai hasil okulasi pohon induk jati Muna.Santoso. 65 persen ukuran sedang dan 25 persen ukuran besar. 2006 Penelitian keberhasilan okulasi pohon induk jati Muna (Tectona grandis L. sedangkan yang berasal dari stek.22. Fajar Agribisnis. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 49-56 . Tectona grandis. Tectona grandis. Penelitian variasi kualitas benih menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan faktor pertama adalah sumber benih dan faktor kedua adalah periode pemanenan. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. -.

Setiadi. pangkasan. khusunya pada daerah lahan rawa gambut. altilis) merupakan salah satu jenis tanaman hutan rakyat yang menghasilkan buah dengan kandungan karbohidrat tinggi. 2006 Pada bencana kebakaran besar akibat fenomena El nino tahun 1997 yang lalu.3. yaitu : HO = tanpa IBA (kontrol). jumlah daun. di mana perbanyakan tanaman ini biasa dilakukan secara vegetatif dengan stek akar. Sumber populasi Setijono. persentase stek bertunas. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 51-55 . Provinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah. setiap sumber populasi terdiri 5 ulangan masing-masing 10 bibit untuk parameter yang diamati. Dedi PENGARUH TINGGI PANGKASAN PADA BIBIT DAN KONSENTRASI IBA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN (Effect of Hedging Sukun (A. Dedi PRODUKTIVITAS TRUBUSAN STEK AKAR SUKUN DARI BEBERAPA POPULASI DI JAWA DAN MADURA (Sprouting Productivity of Bread Fruit Root Cuttings from Several Populations in Java and Madura) / Dedi Setiadi. Pengamatan dilakukan pada umur bibit 5 bulan setelah penyapihan. sukun. sejak April sampai September 2005. tinggi tunas. H2 = 2500 ppm dan H3 = 3750 ppm. faktor pertama adalah tinggi pangkasan bibit (P) yaitu: PI = 20 cm. Hamdan A. Kata kunci: Bibit. kimia maupun biotik. Mengingat fungsinya yang penting tersebut. Sukun. maka upaya untuk melestarikan ekosistem kawasan tersebut merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan.1 . Parameter yang diamati meliputi persentase stek hidup. Berdasar profil lingkungan hidup kawasan pantai timur Sumatera Selatan (Tim PPLH UNSRI. tinggi tunas. persentase bertunas. 2006 Setiadi. sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi IBA (H). -. kiranya tanpa kesaradan dan peran aktif masyarakat desa-desa setempat akan sulit dilakukan apabila hanya mengandalkn kepada regu-regu pemadam kebakaran hutan dan lahan yang terkonsentrasi di kota. tinggi pangkasan bibit 30 cm dan konsentrasi IBA 1250 ppm memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap persentase hidup.36 . jumlah daun. Penelitian ini dirancang dalam pola rancangan acak lengkap. dengan peningkatan kesadaran dan peran serta seluruh masyarakat. No. IBA. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada kawasan lahan rawa gambutdengan segala keterbatasan yang ada. Suplement No. -. baik pria maupun wanita dibantu oleh segenap stakeholders yang 126 . persentase berakar dan jumlah akar. 1992) dinyatakan bahwa kawasan rawa gambut di daerah tersebut mempunyai potensi alami yang tinggi. diameter trubusan dan kekokohan bibit. Parameter yang diamati meliputi jumlah trubusan. Adinugraha dan Hidayat Moko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi pangkasan dan IBA berpengaruh terhadap keberhasilan stek pucuk sukun.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Djoko PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT PADA DESA-DESA LAHAN RAWA GAMBUT SEBAGAI BAGIAN PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN YANG BERBASIS MASYARAKAT / Djoko Setijono. Halaman 29 . konsentrasi. dengan 3 kali ulangan dengan setiap unit percobaan terdiri atas 5 stek pucuk. panjang trubusan. baik potensi fisik. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan yang nyata antar sumber populasi untuk parameter jumlah trubusan. 2006 Tanaman Sukun (Artocarpus artilis Forsbeg) merupakan tanaman serbaguna yang biasa ditanam di ladang/pekarangan.7. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi pangkasan bibit sukun dan konsentrasi IBA dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. Hamdan Adma Adinugraha. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan menguji 2 faktor. Oleh sebab itu. P3 = 40 cm dan P4 = 50 cm. Halaman 223-231 .Height on Seedling Stock and IBA Concentrations on the Growth of Breadfruit Shoot Cuttings) / Dedi Setiadi. Prastyono. tidak mengherankan bila daerah ini menjadi sasaran pembangunan. P2 = 30 cm. HI = 1250 ppm. persentase stek berakar dan jumlah. SSFFMP berpendapat pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang baik adalah dengan upaya pencegahan dan pemadaman dini.1 . dan kekokohan bibit sedangkan untuk parat\meter panjang trubusan dan diameter trubusan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Bibit hasil koleksi dari populasi Kediri (Jawa Timur) menunjukkan kualitas yang paling baik dibandingkan dengan yang lainnya Kata kunci: Produktivitas trubusan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bibit sukun dari empat populasi yang berasal dari Jawa Timur yaitu : Kediri dan Madura serta dari Jawa Barat yaitu: Lebak/Banten dan Sukabumi.Wana Benih : Vol.

KALIMANTAN SELATAN / Hadi Siswoyo. Laut Utara Kalimantan Selatan. Dilain pihak waktu yang diperlukan cukup lama dan biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar. sedangkan jenis daur panjang diuji cobakan membuat hutan tanaman meranti jenis meranti putih (S. Hutan tanaman Semaras.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. Halaman 15-19 . Kata kunci: Tembesu. Tulisan ini menyajikan teknik pembibitan tembesu yang merupakan salah satu jenis lokal di Sumatera Selatan. Pembibitan generatif yaitu pembiitan dengan menggunakan benih/biji. Meranti. Salah satu kendala yang dihadapi adalah minimnya informasi tentang teknik budidaya mulai dari tahap pembibitan hingga penanaman serta pemeliharaan di lapangan.terkait. antara lain PT Inhutani II mencoba membangun hutan tanaman jenis fast growing jenis A. SSFFMP mengembangkan konsep pengelolaan kebakaran hutan dan lahan yang berbasis masyarakat pada tingkat desa di Sumatera Selatan Kata kunci: Pendapatan. Jika akan dilakukan pembongkaran maka akn memulai dari awal lagi. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Setiap bentuk kelengahan dalam pembangunan tanaman hutan yang dapat menyebabkan tanaman rusak oleh hama dan penyakit maka pengaruhnya akan dibawa sampai hasil akhir. polyandra) skala kecil yang dibuat pada tahun 1976 di area P. PT INHUTANI II. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandis Linn. Winarto dan Rosilawati.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. mangium dimulai tahun 1985 di Semaras. -. PT Inhutani II. 2006 Jenis lokal telah menjadi prioritas dalam rangka memilih jenis pohon untuk merehabilitasi lahan kritis. Pembibitan Sofyan. Jakarta 23 Nopember 2006 . Pembibitan tembesu dapat dilakukan secara generatif maupun secara vegetatif. Mamat Rahmat dan Kusdi. Pulau Laut Utara. Selama masa pembangunan banyak sekali peluang terjadinya gangguan. Lain halnya dengan sektor pertanian yang berumur pendek apabila terjadi gangguan. 2006 Jati merupakan salah satu jenis tanaman yang cukup banyak diminati masyarakat. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . sedangkan pembibitan vegetatif menggunakan bahan yang berasal dari bibit (seedling) maupun trubusan alam. bagi desa-desa di sekitar kawasan hutan dan lahan.al] . P. Laut Kalimantan Selatan. Hadi PENGALAMAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA Acacia mangium DI HUTAN TANAMAN SEMARAS DAN Shorea polyandra DI PETAK UJI COBA PENANAMAN MERANTI DI PULAU LAUT UTARA. antara lain serangan hama dan penyakit tanaman. hal ini tergambar dari begitu banyaknya permintaan jenis ini dalam program kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Semestinya dalam dunia kehutanan konsistensi perhatian harus lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian ditunjau dari panjang daur. -. Masyarakat akan dengan senang hati melaksanakan pencegahan kebakaran apabila hal tersebut menguntungkan/meningkatkn pendapatannya dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya. Seiring dengan penurunan potensi hutan alam Indonesia membuat para pengusaha kehutanan mulai untuk mencoba pembuatan hutan tanaman. Kebakaran hutan Siswoyo. karena hal ini menyangkut perhitungan untung rugi dalam jangka panjang. penyakit. sehingga setiap bentuk gangguan memerlukan pertimbangan tindakan bijaksana. 2006 Usaha dibidang kehutanan memerlukan waktu yang lama. Setiap gangguan akan memberikan dampak negatif terhadap kualitas dan kuantitas hutan yang dibangun. Berangkat dari pola pemikiran tersebut di atas. Acacia mangium. Sedang pada usaha kehutanan gannguan terebut akan terbawa sampai akhir daur. Lahan rawa gambut. Kalimantan Selatan Sofyan. 127 . termasuk di Sumatera Selatan. tindakan yang dilakukan dapat lebih tegas: dibongkar atau diteruskan. Masyarakat. Halaman 55-58 . Kata kunci: Hama. Agus TEKNIK PEMBIBITAN TEMBESU / Agus Sofyan.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Halaman 55-60 . Shorea polyandra. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .

Sumatera Selatan. permasalahan sosial masyarakat hutan. Balai Litbang Hutan Tanaman IBB memfokuskan penelitian di bidang pembangunan dan pengelolaan hutan tanman. kebijakan pemerintah daerah bidang kehutanan yang mendukung serta kondisi internal seperti ketersediaan sumberdaya manusia dan sarana prasarana litbang. yaitu tingkat kemasaman tanah yang rendah serta kedalaman solum yang dangkal. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penyiangan total chemis menunjukan pertumbuhan diameter dan tinggi yang lebih besar pada saat tanaman berumur 3 tahun. sehingga jati tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Faktor pembatas Sugiarto. Sumatera Selatan. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 29-33 . Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu. Bambang SOSIALISASI CORE RESEARCH BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN PALEMBANG / Bambang Sugiarto dan Triwilaida. Kesesuaian lahan. seringkali tidak memperhatikan kesesuaian lahan. Kabupaten Banyuasin. 4 perlakuan dan 20 tree plot per unit perlakuan. Metode penelitian yang dilakukan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 blok. Kesesuaian lahan Sofyan. -. Tidak jarang ditemui tanaman mengalami mati pucuk pada tahun kedua dan ketiga. Faktor lingkungan (edafis dan klimatis) sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jati. Tectona grandis Linn. Kata kunci: Jati. telah dilakukan penelitian mengenai kelas kesesuain lahan yang menyangkut berbagai persyaratan tumbuh jati pada tiga belas lokasi di tiga (3) Kabupaten yaitu Banyu Asin. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 23-28 . -. 2006 Penanaman jati oleh masyarakat khususnya di Sumatera Selatan. Untuk mengetahui tentang prospek pengembangan jati di wilayah Sumatera Selatan. Halaman 1-14 .al] . Tectona grandis. -. Namun demikian pada lokasi tertentu di mana tingkat kemasan tanah serta kedalaman efektif terpenuhi. Penelitian dilakukan sejak tanaman berumur 1 tahun hingga umur 3 tahun. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . dapat diketahui bahwa pada beberapa daerah di Sumsel. Tingkat kemasaman tanah (pH). tanaman jati tidak sesuai. tingginya laju degradasi hutan dan lahan. maka kajian atau penelitian mengenai kelayakan pengembangan dan penanaman jati di wilayah ini sangat penting. 2006 Keberhasilan pembangunan dan kelestarian hutan tanaman antara lain memerlukan dukungan IPTEK yang tepat pada semua tahapan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi lahan pada lokasilokasi penelitian kurang sesuai untuk pengembangan tanaman jati. SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPPHT Palembang.Mengingat bahwa jati bukan tanaman asli Sumatera (jenis eksot). Kemampo. rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Kata kunci: Jati. Agus FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan dan Mamat Rahmat. Pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sebagain besar lokasi yang diteliti terdapat kendala utama yang menghambat pertumbuhan jati secara permanen. Sofyan. karena kegiatan ini menyangkut investasi serta harapan hasil yang sangat besar. Agus PENGARUH TEKNIK PENYIANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI KEMAMPO. mulai dari perencanaan hingga pemanenan serta kondisi masyarakat sekitar hutan yang mendukung. Berkembangnya pembangunan hutan tanaman.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Tectona grandis. Penyiangan. tanaman jati ternyata dapat tumbuh dan berkembang dengan cukup baik di wilayah ini. Sumatera Selatan 128 . untuk mengetahui daerah-daerah yang relatif cocok untuk penanaman jati. Sumatera Selatan.) dalam rangka mencari teknik penyiangan tanaman jati yang paling optimal. Kata kunci: Jati. drainase dan kedalaman solum merupakan faktor pembatas pertumbuhan tanaman jati yang ditemukan pada lokasi penelitian. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. Evaluasi kesesuaian tempat tumbuh penting dilakukan di Sumatera Selatan.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. 2006 Tulisan ini berisi tentang hasil penelitian teknik penyiangan tanaman jati (Tectona grandis Linn.

2 .0795 .000102 D2 + 0.42%).43 %).30%). model. 150 gr.0. Nursyamsi. tinggi pohon. tetapi menaikkan nilai SA (0. -. Halaman 193 . sono keling (Dalbergia latifolia) dan jenis lainnya dalam skala kecil. mimba (Azadiracha indica).80%) (3. mahoni (Swietenia macrophylla).200 . No. 100gr. Halaman 47-53 .00885 0. pada bulan Oktober 2004.91%) dan nilai SA (0. simpangan rata- rata (mean deviation = SR) simpangan agregatif (agregatif'deviation = SA).Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Sulawesi Selatan. sengon laut (Paraserienthes falcataria). Penelitian ini dirancang dengan pola Split Plot. Jenis-jenis hama penyakit yang menyerang 129 .11%). galat baku (standard error = Se). Kata kunci: Diameter.000045 D^ 0. -. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Malili. sedangkan anak petak terdiri atas 4 taraf dosis pupuk. pulai darat (Alsionia angustiloba). 2006 Penanaman jati pada tanah-tanah yang kurang subur perlu didukung silvikultur intensif seperti teknik pemeliharaan antara lain dengan pemberian pupuk. dan jati super. kayu putih (Melaleuca cajuputi).0. Model penduga volume pohon dengan dua peubah bebas memiliki ketelitian 1 tinggi dengan meningkatkan nilai R2 sebesar 1.3 . Model penduga pohon terbaik berdasarkan satu peubah bebas diameter adalah persamaan V = 0. Silvikultur intensif Sumadi. Palembang Suhartati PENGARUH DOSIS PUPUK DAN ASAL BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN JATI (The Effect Fertilizer's Dosage and Seedling Process on the Growth of Teak)/ Suhartati. dan kontrol (tanpa pupuk). Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan pada umur 20 bulan. Lahan kritis. pinus (Pinus merkusii). Jakarta 23 Nopember 2006 .02%). mangium (Acacia mangium). telah diprogramkan penanaman jenis fast growing species. Hutan tanaman.5 juta hektar yang terdiri dari jenis penunjang industri kayu dan industri non kayu. Joni Muara.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.49%) nilai SA (0. SR (1. menurunkan nilai Se (0. Pemili model terbaik berdasarkan pemberian peringkat terhadap nilai koefisien determinasi (determinai coeficient = R2). Agus PEMODELAN PENDUGA VOLUME POHON PULAI DARAT (Estimation Modelling of Pulai Darat Tree Volume) / Agus Sumadi. volume. X Indah Pratama yang berlokasi di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan disusun berdasar satu peubah bebas diameter serta dengan dua peubah bebas diameter dan tinggi pohon.5%. 2006 Model penduga volume pohon jenis pulai darat (Alstonia angustiloba) yang dikembangkan PT. Jenis-jenis tanaman tersebut antara lain jati (Tectona grandis).000751 D2 dengan nilai R2 (94. dengan petak utama adalah asal bibit dan anak petak adalah dosis pupuk NPK. Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong.Kata kunci: Core research. Pujo PENGALAMAN DALAM PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT DAN PRAKTEK MANAJEMEN TANAMAN DI PERHUTANI / Pujo Sumantoro dan Sarkoro Doso B. permasalahan hama penyakit mulai dirasakan sebagai factor yang cukup serius mempengaruhi keberhasilan dan produktivitas hutan tanaman pada beberapa tahun terakhir.00100 DH dengan mlai R2 (96. kesambi (Schleichera aleosa). serta tingkat dosis pupuk yang efektif untuk petumbuhan yang optimal di lapangan.0769 + 0. antara lain mindi (melia azedarach). Sumantoro. Se (2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jati muna dan jati super memiliki penampilan pertumbuhan lebih baik dibanding bibit asal biji.81 . Model penduga volume pohon terbaik berdasarkan peubah bebas diameter dan tinggi pohon adalah persamaan V = . menurunkan SR (0. 2006 Perum perhutani mengelola hutan tanaman di Jawa seluas sekitar 2. sedangkan dosis 100 gr adalah dosis pupuk yang optimal untuk pertumbuhan tanaman jati pada umur 20 bulan di lapangan. Jati dan pinus merupakan dua jenis tanaman yang paling luas ditanam di Jawa. Jati muna.31%).33%). ekaliptus (Eucalyptus pellita).3. telah diprogramkan penanaman jenis taman yang paling luas ditanam di Jawa. -.3. Petak utama terdiri atas tiga asal bibit jati Muna.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Jati super. Halaman 73 .69%). SR (1.0093 H + 0. Fatahul Azwar. Kata kunci: Jati. yaitu 50 gr.0127 D + 0. Dari berbagai jenis tanaman hutan tersebut.Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal bibit yang pertumbuhannya paling baik. No.

Stek pucuk.f Taufikurahman MENIMBANG PENGGUNAAN PESTISIDA DALAM PENANGGULANGAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN: TINJAUAN ASPEK MANFAAT DAN RESIKO LINGKUNGAN / Taufikurahman. hama penyakit mulai muncul dan berpotensi menimbulkan kerugian yang cukup signifikan. Priyono PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. KEPMENTAN TAHUN 2001 yang mengkategorikan bidang penggunaan pestisida meliputi: a) Pengelolaan tumbuhan. tampaknya pelu dimasukkan kegiatan pestisida untuk kehutanan dengan pengaturannya sendiri. Sebagai perbandingan. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama. typhus. Bila persediaan biji bermutu cukup. tissue culture and shoot cutting) / Priyono Suryanto. 2006 Pengelolaan hutan. perkebunan. No. kultur jaringan dan stek. dan dalam kehutanan mulai mengambil porsi yang semakin signifikan. dan rumah tangga. Pestisida yang lazim dipakai dalam pengelolaan tanaman hutan produksi meliputi herbisida. penggunaan pestisida masih terbatas dalam kaitannya terutama dengan pengawetan kayu sebagai produk hutan. Penyakit. dan larvasida. Hassal (1990) menyimpulkan bahwa pengontrolan terhadap vektor penyakit malaria. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan dengan intensifikasi lahan. fungisida dan rodentisida. Selain itu juga meliputi akarisida. b) peternakan.B Aryono dan Sambas Sabarnurdin.5 persen dari total penggunaan pestisida. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. i) fumigasi. pestisida digunakan untuk 130 . Bila kebutuhan pengguna pestisida untuk hutan produksi mulai meningkat. baik di luar negeri maupun di Indonesia terutama ditujukan dalam upaya untuk meningkatkan produksi pertanian.2 tahun dan 8. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6m x 2m. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown development of teak from seedling. sedangkan apabila persediaan benih terbatas. penggunaan pestisida di USA sendiri untuk sektor kehutanan hanya berkisar antara 1 persen . Asal bahan tanaman. j) industri lainnya seperti pada cat. Jadi pestisida dalam kehutanan mungkin masih masuk dalam kategori "bidang lain". jati. Jakarta 23 Nopember 2006 . g) pengendalian rayap. beberapa penggunaan senyawa aktif dari bahan alam. Penggunaan pestisida untuk non-agricultural use juga masih terbatas pada upaya pengontrolan vektor penyakit pada manusia yang berkaitan dengan produksi pertanian. Kata kunci: Hama. alasan ekonomi Kata kunci: Perkembangan tajuk. d) penyimpanan hasil pertanian. h) rumah tangga. Seiring dengan keluasan area tanaman dan lama daur pengelolaan suatu jenis hutan tanaman. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. molluscisida. Dalam PP No. penggunaan pestisida untuk keperluan lain khususnya untuk pemakaian di rumah tangga. Halaman 29-31 . -. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. gedung. Peruntukan pestisida di Indonesia masih terbatas pada penggunaan di lahan pertanian. Terkait dengan menurunnya energi penduduk untuk melakukan kerja yang terkait dengan pertanian.1 .3. c) perikanan. 7 th 1973 bahkan hormon pertumbuhan dimasukkan dalam kategori pestisida. e) pengawetan hasil hutan. Perhutani Suryanto. Program pencarian bahan tanaman jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. sakit tidur. dan k) bidang lain.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. anti pencemaran. Senyawa-senyawa pestisida tersebut pada umumnya merupakan senyawa kimia sintetik. f) pengendalian faktor penyakit manusia. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berturut-turut 12 tahun. Jika berkaitan dengan kehutanan. Namun demikian sejalan dengan perkembangan jaman. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. 15.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Dalam pengelolaan kehutanan. Halaman 35 .pertanaman di lapangan tersebut ada yang sudah lama dikenal dan jenis hama/penyakit baru dikenal pada jenis-jenis tanaman hutan.43 . Manajemen tanaman. yellow fever dan sebagainya.5 tahun bila biji. -. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. gudang. Kultur jaringan. insektisida. 2006 Selama ini penggunaan pestisida. Tektona grndis L. W.

Maliyana PENGARUH INOKULASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA TANAMAN PULAI DI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA (The Effects of Arbuscular Mycorrizae Fungi Inoculation to Pulai at Ex Coal Mining) / Maliyana Ulfa. Untuk menekankan pentingnya kesehatan tanaman dan untuk memfasilitasi penelitian dan implementasi konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Acacia mangium. Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi. Edwin Martin. Budi MEMINIMALKAN SERANGAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN PADA Acacia crassicarpa DAN Acacia mangium / Budi Tjahjono. PT Rian andalan Pulp and Paper Tjahjono. menggunakan Rancangan Acak Blok dengan tiga ulangan. RAPP melalui R&D nya berusaha untuk mengembangkan musuh alami seperti serangga Sycanus dan cendawan Trichoderma untuk pengendalian hayati hama dan penyakit. inokulasi G.106 . PT RAPP. Jakarta 23 Nopember 2006 . G. Riset menggunakan 2 perlakuan. Kekurangan produksi bibit di persemaian mempengaruhi secara langsung target penanaman dan dapat berakibat meningkatnya biaya pemeliharaan. eucaliptus ataupun tanaman lain dalam Hutan Tanaman Industri (HTI). -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.) relatif tidak menunjukkan perbedaan parameter tinggi dan diameter di antara perlakuan. yang ditunjukkan dengan hampir 100% hidup pulai darat (Alstonia sp. Bangko Timur. Kata kunci: Hama. Penyaki Ulfa. Penyakit. etunicatum berpengaruh pada persentase hidup tanaman untuk hidup di lahan bekas tambang. pertumbuhan pulai darat (Alstonia sp. misal penggunaan antagonis. setelah 9 bulan ditanam. Untuk itu diperlukan bibit yang uniform. PT.). diameter dan persen hidup. masalah hama penyakit menjadi salah satu kendala yang semakin dirasakan penting artinya. 2006 pertumbuhan tanaman pulai darat (Alstonia sp.2 . Sebagai perusahaan yang telah mendapat sertifikasi LEI. etunicatum dan perbedaan media sapih. Acacia crassicarpa. Program Penelitian atau Bagian Hama dan Penyakit telah dibangun dalam R&D Riau Fiber. Dalam kaitannya dengan tumbuhan. penyakit.) telah dilakukan di lahan reklamasi bekas tambang batubara pada Dumping Area Pit Tiga. 2006 Penanaman kembali hutan tanaman bekas tebangan harus dilakukan segera setelah penebangan. pestisida digunakan untuk memperlakukan nonnative dan invasif spesies tumbuhan.mengontrol tumbuhan gulma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah ditanam di lahan. Bukit Asam. 2006 Masalah hama dan penyakit selalu dihadapi oleh usaha pertanian dan perkebunan dimanapun juga di muka bumi ini. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) merekomendasikan cara hayati. Halaman 101 . Budi PENGELOLAAN HAMA PENYAKIT DI HTI PT RAPP / Budi Tjahjono. seperti ketersediaan nitrogen dan akumulasi bahan organik 131 . Hal tersebut diduga disebabkan oleh proses biokimia tanaman. untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan dan produktivitas hutan. Hutan tanaman industri. Kata kunci: Serangan penyakit. inokulasi G. Tetapi di sisi lain. Kata kunci: Hama. Tanjung Enim. Pestisida. PT. bermutu tinggi. sehat. Tanaman hutan Tjahjono. serangga.3. Demikian pula dalam pengusahaan akasia. ekonomi dan menjamin produktivitas dan keberlanjutan HTI. Sumatera Selatan. RAPP telah berkomitmen untuk menangani masalah ini dengan cara berwawasan lingkungan. dan kehilangan akibat serangan penyakit harus minimalkan. etunicatum tidak cukup berpengaruh pada pertumbuhan pulai di lahan. Riau andalan Pulp and Paper telah mengantisipasi masalah hama penyakit ini dengan serius. -. Oleh sebab itu diperlukan perencanaan yang matang agar suplai bibit dari persemaian dapat tepat waktu dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Penyakit.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 : Halaman 83-86 . rodensia. No. sebagai bagian dari pengelolaan hama terpadu yang berwawasan lingkungan di HTI. -. Halaman 45-46 . Efendi Agus Waluyo. PT. Manajemen APRIL PT.

132 . sungkai dan mngium adalah Glomus etunicatum. Manfaat ini telah dibuktikan dengan menginokulasi mikoriza pada beberapa tanaman kehutanan.yang tidak terdekomposisi dengan baik. mikoriza dapat memudahkan penyerapan nutrisi dan air. -. karena untuk seterusnya akan berkembang dengan sendirinya dan terus menginfeksi. Bentuk teknologi ini lebih efektif dan efisien. Ulfa. Kebakaran. Mikoriza Ulfa. Maliyana POTENSI APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza dapat meningkatkan kualitas bibit tanaman kehutanan tersebut. Jenis prioritas. Pada lahan kritis.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. pulai. serta mampu mengefisienkan pemberian pupuk buatan. yang mengakibatkan kerusakan tidak hanya pada tegakan hutan tetapi juga pada tanah (gambut). sungkai (peremona canescens). mangium (Acacia mangium). Usaha rehabilitasi yang bisa diupayakan adalah dengan aplikasi mikoriza. lahan. seru (Scima wallicii) dan mahoni (Swietenia macrophylla) yang dilakukan di Balai Hutan Tanaman Palembang. Lahan rawa gambut. 2006 Kerusakan hutan rawa gambut semakin meningkat setiap tahunnya. Alstonia sp. deposit bahan organik penyusun gambut habis terbakar sehingga menurunkan produktivitas lahan dan menurunkan daya dukung lahan. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas.). Sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. kimia dan biologi tanah serta karakteristik dan tipologi lahannya. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Mikoriza. 2006 Aplikasi mikoriza merupakan alternatif teknologi dalam upaya mempersiapkan bibit berkualitas. -. yang disebabkan oleh (1) eksploitasi hutan (2) konservasi lahan untuk pertanian dan (3) kebakaran hutan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Selain itu tanamanpun akan lebih tahan terhadap kekeringan dan serangan patogen akar. Halaman 127-130 . sehingga mudah terserap oleh tanaman. Glomus clorum dan Gigaspora sp. maka pemberiannya cukup dilakukan sekali di awal pembibitan dan menghemat biaya operasional. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Glomus etunicatum. Dampak kerusakan yang terparah disebabkan kebakaran hutan. Jenis mikoriza yang diinokulasikan pada pulai. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. antara lain pulai (Alstonia sp. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK REHABILITASI HUTAN RAWA GAMBUT BEKAS KEBAKARAN / Maliyana Ulfa. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. Hal tersebut menyebabkan sporulasi dan kolonisasi CMA tidak berjalan dengan baik. Edwin Martin dan Efendi Agus Waluyo. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. 2006 Sebagian besar lahan gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. Aplikasi ini dapat diterapkan dengan memperhatikan kondisi yang mendukung perkembangan mikoriza pada lahan rawa gambut pasca kebakaran. Halaman 69-76 . Maliyana PEMANFAATAN MIKORIZA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BIBIT JENIS PRIORITAS SUMATERA SELATAN / Maliyana Ulfa. mengingat dapat menyediakan bibit berkualitas dalam waktu yang singkat dalam jumlah yang banyak. bungur (Lagerstromia speciosa). bungur. Efendi Agus Waluyo dan Bastoni. Selain itu karena yang diinokulasikan adalah jasad hidup. Kata kunci: Kualitas bibit. sedangkan pada seru telah diuji diinfeksi dengan Glomus etunicatum. Halaman 123-126 . Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. -. Rehabilitasi Ulfa. meliputi kondisi fisik.

Timah-timah (Cryptopterpus apagon). Sengarat (Belodonticthys dinema). Hutan tanaman Ulya. Nur Arifatul PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN UNTUK REHABILITASI KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT / Nur Arifatul Ulya. ruas sungai yang terdapat lubuk dan danau rawa. 2006 Peran penting perairan umum yaitu sebagai tempat hidup berbagai jenis organisme air tawar. Ekosistem. Hutan tanaman. Rawa gambut Utomo. dan topografi relatif cukup tersedia.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 73-83 . Suaka perikanan dapat dipakai sebagai perangkat pelestarian plasma nutfah. Jakarta 23 Nopember 2006 . Persoalan utama didalam membangun hutan tanaman adalah kemungkinan terjadinya ledakan populasi serangan dan epidemi penyakit yang berakibat pada serangan hama dan penyakit secara besar-besaran pada hutan tanaman. kebutuhan industri pasar serta nilai ekonomi dari produk perkayuan. Halaman 21-27 . 2006 Departemen Kehutanan melalui program Revitalisasi Sektor Kehutanan telah mentargetkan untuk membangun sekitar 9 juta hektar hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat di dalam kawasan hutan yang terdegadrasi serta hutan rakyat pada lahan-lahan milik masyarakat. tempat mata pencaharian bagi nelayan. Propinsi Sumatera Selatan mempunyai lahan gambut seluas kurang lebih 1. pendapatan asli daerah dan keseimbangan lingkungan. pemulihan populasi dan peningkatan produksi perikanan. -. Konversi lahan basah harus dipertimbangkan dengan masak agar nilai sumberdaya alam tidak hilang. Mok-mok (Hemisilurus scheronema). sumber protein hewani. Kehilangan habibat yang penting di perairan umum akan berdampak langsung pada kehidupan organisme air.Kata kunci: Rawa gambut. Ekologi perairan umum sangat komplek dan sangat dipengaruhi oleh musim. Informasi biofisik yang meliputi tanah. Temparang (Macrothirictys microphirus). Seringnya terjadi kebakaran hutan dan tingginya konversi lahan menyebabkan semakin menciutnya areal berhutan dalam kawasan hutan rawa gambut. Perikanan Wasrin. Salah satu teknik pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu dengan cara menyediakan habibat yang dilindungi untuk dijadikan suaka perikanan. relatif lebih mudah diperoleh. serangan hama dan penyakit. serta informasi jangka panjang kegunaan dan nilai ekonomi dari tegakan yang ditanam. Pengalaman dari beberapa perusahaan kehutanan dalam membangun hutan tanaman industri masih banyak menemui kendala antara lain resiko-resiko jangka panjang akibat dari pemilihan jenis tanaman yang tidak atau kurang sesuai dengan tapak. Kata kunci: Rawa. Mikoriza. -. Suaka perikanan yang baik dapat meningkatkan produksi perikanan di perairan sekitarnya.6 Kata kunci: Hutan tanaman. Suaka perikanan mempunyai peran besar bagi penyediaan benih ikan secara alami di perairan umum. reklamasi lahan. Ikan Elang (Datniodes quadrifsciatus). Kapas-kapas (Rochteichtys micropeltis). -. Beberapa tipe habibat yang dapat dijadikan suaka perikanan yaitu Lebung. sebagai indikasi tidak adanya keseimbangan ekologi dari jenis yang ditanam dengan keadaan lingkungan. Evaluasi kegunaan lahan basah diperlukan dalam rangka memberikan masukan bagi pengelola. demikian pula dengan "trend" penggunaan kayu. iklim. Pemahaman ekosistem lahan basah sangat diperlukan untuk mengevaluasi kegunaan dan keuntungannya. Rehabilitasi. Upik Rosalina ASPEK EKOLOGI DALAM "VEGETATION MANAGEMENT” PADA HUTAN TANAMAN / Upik Rosalina Wasrin. Beberapa penyebab kerusakan habibat yaitu penebangan hutan rawa. Hal ini juga menyebabkan rusaknya gambut yang berada di areal yang tidak berhutan tersebut. Jenis ikan yang hampir punah antara lain Tengkeleso (Shclerophages formosus). Agus Djoko KETERKAITAN KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN EKOSISTEM PERAIRAN RAWA BESERTA UPAYA PELESTARIANNYA / Agus Djoko Utomo.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 97-102 .484 juta hektar atau sekitar 20.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. 133 . Di sisi lain pembangunan HTI hanya mampu menghasilkan 1/3 dari kebutuhan industri sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan percepatan pembangunan HTI. 2006 Indonesia merupakan salah satu negara dengan lahan rawa gambut terluas di dunia.

Hutan Tanaman Widyastuti. san Sclerotium rolfsii. baik pada saat ini maupun masa yang akan datang. 2006 Makalah ini mendeskripsikan kemampuan Trichoderma sp.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Vegetation management. 32-kDa enzim kitinase telah dimurnikan dan dikarakterisasi dari T. -. Walaupun mekanisme mikroparasit belum diketahui sepenuhnya. Apabila informasi tentang kesehatan hutan dipadukan dengan program penataan administrasi yang baik serta dukungan pakar yang berkomitmen tinggi terhadap masalah-masalah lingkungan. SM POTENSI ANTAGONISTIK FUNGI TRICHODERMA SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI TERHADAP FUNGI PATOGEN TULAR TANAH / SM Widyastuti. merupakan patogen busuk akar potensial yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada berbagai tipe hutan tanaman di Indonesia. informasi tentang kesehatan hutan dapat dimanfatkan untuk memperkirakan tingkat (kualitas) hutan yang pada gilirannya sangat penting untuk merespon keinginan pihakpihak yang berkepentingan. Seperti dilaporkan dalam sistem kitinolitik lain.. Banyak pihak yang dapat memanfaatkan informasi tentang kesehatan hutan. -.2006 : Halaman 71-81 . Bagi pembuat kebijakan. Penyakit. endokitinase (EC 3. Fungsi hutan yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya adalah menyediakan air. Kata kunci: Forest Health Monitoring.1. Akar merah.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman.reesei. SM FOREST HEALTH MONITORING DI HUTAN TANAMAN / SM Widyastuti. Jakarta 23 Nopember 2006 . 2006 Dalam dasawarsa terakhir ini Forest Healts Monitoring (FHM) sering dibicarakan.14) merupakan salah satu enzim yang paling efektif sebagai antifungi dan aktivitas litik dibanding dengan enzim kitinolitik yang lain.. DNA 134 .2. Fusarium sp. kayu bangunan. Baru-baru ini. Ganoderma spp.Kata kunci: Ekologi. Pengendalian hayati pada patogen tanaman merupakan pendekatan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pertanian modern dan fungisida kimia yang dapat menyebabkan polusi lingkungan dan berkembangnya galur resisten. Rhizoctonia spp. maka akan dapat dihasilkan rencana strategis pengembangan hutan yang lestari dan lingkungan yang berkesinambungan. Penyakit akar putih. Akar putih. kayu perkakas. sebagai pengendali hayati patogen busuk akar Ganoderma spp. Ridigoporus microporus. bahan pulp serta dapat digunakan untuk tempat rekreasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma spp. bersifat mikroparasit terhadap patogen tanaman dan merupakan salah satu agen potensial yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati pada penyakit tanaman. Bagi para pengelola hutan. termasuk enzim kitinolitik dan glukanolitik. seperti Ganoderma spp. Filamen fungi trichoderma spp. habibat untuk wildlife. Kata kunci: Acacia mangium. FHM dapat dipakai sebagai dasar yang penting dalam pembuatan rencana strategis khususnya terkait dengan data perubahan kesehatan hutan. Bagi masyarakat informasi tentang kesehatan hutan yang diperoleh secara benar akan meningkatkan kesadaran dan peran serta mereka dalam ikut memanfaatkan hutan secara benar. Hutan tanaman Widyastuti. FHM penting dilakukan untuk mengetahui seberapa baik hutan dapat mendukung kehidupan manusia. ekspresi dinding sel ekstraseluler dalam mendegradasi enzim diasumsikan merupakan bagian dari proses tersebut. Uji coba mengenai kemampuan antagonistik isolat Trichoderma dalam menghambat fungi patogen pada beberapa tanaman. dapat secara efektif mampu menekan perkembangan fungi patogen secara in vitro dan eksperimen rumah kaca. Halaman 33-39 . Hutan tanaman. Hutan yang sehat juga berfungsi sebagai sumber bahan pangan dan sebagai paru-paru dunia.

Hutan rawa air tawar menjadi tempat pemijahan ikan terutama pada waktu musim hujan. menjadikan daerah hutan rawa air tawar sebagai daerah reservat dan adanya peraturan penangkapan pada bulan-bulan tertentu terutama pada musim kawin atau musim pemijahan. Kata kunci: Ekosistem. rerata diameter dan tinggi bebas cabang: 2002 : 7. 2000: 9.Wijaya. Pemijahan. Baung (Mytus nemurus) dan Putak (Notopterus notopterus). Danu EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR SEBAGAI TEMPAT PEMIJAHAN (Spawning ground) BAGI IKAN-IKAN PERAIRAN UMUM / Danu Wijaya dan Safran Makmur. Barikut adalah beberapa faktor yang memotivasi masyarakat untuk melakukan budidaya jati di Kaur: (1) Gambaran keuntungan ekonomi yang akan diperoleh. Hutan rawa.63 cm dan 6. Kondisi hutan rawa air tawar yang relatif lebih tenang dan banyak substrat atau tanaman mati yang merupakan media untuk menempelkan telur menjadikan hutan rawa air tawar sebagai daerah yang ideal untuk ikan-ikan yang bermigrasi untuk memijah. Ikan Winarno.71 cm dan 7. Spawning ground.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Beberapa hal yang mendorong perkembangan budidaya jati di Bengkulu cenderung menurun adalah sebagai berikut: (1) Pertumbuhan dan perkembangan jati tergantung perawatan dan tempat tumbuh. 1999: 13. Masyarakat secara swadaya menanami lahannya yang terlantar (tidak produktif) dengan tanaman jati. Peran dan fasilitas instansi pemerintah terkait terutama dinas kehutanan diperlukan dalam merespon perkembangan budidaya jati dan mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi di Kaur dari sisi teknis budidaya dan akses pasar.81 m. -. tanaman air dan tanaman semak lainnya. Air tawar. Ekosistem hutan rawa air tawar biasanya terdapat pada Daerah Aliran Sungai bagian tengah. 2001: 8. (2) Teknik budidaya jati mudah dikuasai dan sederhana. 135 .25-7 ha. Pelestarian hutan rawa air tawar perlu dilakukan guna menjaga kelestarian dan produksi ikan terutama ikan-ikan bernilai ekonomis dan ekologis. Hutan rawa air tawar didominasi oleh vegetasi pohon.13 m. Betutu (Oxyeleotris marmorata). (2) Pasar kayu jati belum terbentuk dengan jelas. 1998: 11. Hasil pengukuran potensi jati menggunakan plot ukur 0. (4) mulai berkembangnya tanaman perkebunan yang dapat memberikan hasil lebih cepat dan kontiyu. Sebagian besar tanaman jati di Kaur belum memasuki masa panen namun ada sebagian tanaman yang berumur 12-15 tahun telah dipanen dengan diameter batang 20 cm . dan (4) untuk memenuhi kebutuhan kayu di masa depan. perdu. Jati mulai menarik perhatian masyarakat Kaur pada pertengahan dekade 90-an seiring dengan maraknya budidaya jati di berbagai lokasi.90 m.89 cm dan 6.25 cm dan 8. Beberapa cara untuk pelestarian tersebut adalah dengan tidak melakukan penebangan liar. BENGKULU / Bondan Winarno dan Edwin Martin. Halaman 61-67 .25 hektar berulangan untuk beberapa seri tahun tanam jati disajikan secara berturut-turut tahun tanam. (3) Memanfaatkan lahan terlantar yang tidak produktif. -. Hutan rawa. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .14 m. Bondan PENGEMBANGAN JATI SEBAGAI TANAMAN EKSOTIS: PELAJARAN DARI MASYARAKAT KAUR.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 135-141 .51 cm dan 5. (3) Budidaya jati secara monokultur tidak menyediakan ruang untuk budidaya jenis tanaman lain.25 cm. Tapa (Wallago leeri).74 cm. minat masyarakat Kaur terhadap budidaya jati mulai berkurang. Pada tahun 2002. 2006 Jati merupakan tanaman eksotis yang dibudidayakan oleh masyarakat Kaur. Penampakan kayu jati tersebut pada umumnya cukup baik tanpa gerowong dan cacat lain namun kayu tersebut belum berkembang dengan baik dan terlihat masih muda dengan kayu teras yang terlihat belum matang. 2006 Salah satu tipe ekosistem perairan umum yang khas adalah ekosistem hutan rawa air tawar. Luas kepemilikan tanaman jati masyarakat sangat bervariasi antara 0. Hutan rawa air tawar mempunyai nilai ekologis yang penting karena pada saat musim hujan daerah tersebut merupakan tempat memijah (spawning ground) bagi banyak ikan termasuk beberapa jenis ikan berniali ekonomis seperti ikan Belida (Chitala lopis). Sebagian besar jati yang ada merupakan tanaman antara 1997-2001. Perairan umum.

Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metoda tunggal berdasarkan letak topografi dan komposisi tumbuhan. yaitu C-organik (2. Untuk itu diperlukan strategi metamorfosis yang terbimbing untuk menuju keseimbangan ekosistem hutan rawa gambut yang baru.Fungi Potency and Soil Properties in Marginal Land)/ Ishak Yassir.Jurnal Penelitian Penelitian tentang hubungan antara Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada lahan kritis telah dilakukan di areal rehabilitasi Samboja Lestari Km 35. karena proses suksesi hutan merupakan proses yang panjang sedangkan permasalahan sosial ekonomi memerlukan solusi yang segera. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 7-13 .99 me/100g). pemberdayaan masyarakat. Di dalam petak berukuran 10 m x 10 m dibuat petak berukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan secara acak dan diulang sebanyak 3 kali. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari tersebut maka kawasan hutan dibagi kedalam kesatuan pengelolaan hutan (KPH). Halaman 107 .Kata kunci: Jati. provinsi dan kabupaten/kota. dari genus Glomus. dalam penyelenggaraannya dilaksanakan oleh KPH dalam bentuk swakelola dan pemerintah dapat mendelegasikan pengelolaan hutan kepada Badan Usaha Milik Negara di bidang kehutanan. rehabilitasi hutan dan reklamasi serta perlindungan hutan dan konservasi alam. sistem silvikultur serta faktor-faktor sosial ekonomi yang terkandung di dalamnya. dengan jumlah 1288-2321 spora/50 g pada bulan kering dan pada bulan basah 1274-2163 spora/50 g tanah. bahan organik yang rendah sampai dengan sedang. K tersedia (0. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat fisik dan kimia terhadap potensi CMA pada lahan kritis.32). kandungan N total (0. keragaman hayati dan dinamika populasi hutan rawa gambut. Untuk itu pemerintah Provinsi Sumatera Selatan harus menentukan solusi kebijakan strategis pengelolaan hutan rawa gambut dengan mendasarkan pada data/informasi yang terkini. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan hutan yang meliputi tata hutan. Pemahaman terhadap landasan kebijakan yang ditetapkan pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan rawa gambut dan pola KPH merupakan titik masuk bagi para pihak untuk dapat mengkritisi dan memberikan saran solusi terhadap upaya mewujudkan pengelolaan hutan lestari serta antisipatif terhadap kemungkinan munculnya permasalahan yang lebih komplek sebagai dampak negatif atas kebijakan pengelolaan hutan rawa Between Arbuscular Mycorrhizal. dan dua pertiga bagian di antaranya merupakan kawasan hutan dengan kondisi penutupan vegetasi sebagian kecil masih berupa hutan alam dan sebagian besar telah terombak menjadi padang rumput. Kaur. pemanfaatan hutan. lereng dan lembah) dibuat petak yang berukuran 10 m x 10 m masing-masing sebanyak 5 buah petak. Tanaman eksotis. Kepadatan spora CMA cukup baik. Ishak HUBUNGAN POTENSI ANTARA CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA DAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAHAN KRITIS (The Relationship Hutan Tanaman : Vol. 2006 Ekosistem lahan basah dan rawa gambut mencakup sepertiga bagian dari total wilayah Provinsi sumatera Selatan. 136 . Jumlah petak yang diamati seluruhnya sebanyak 3 x 5 x 3 = 45 buah petak. Mulyana Omon. Lahan milik. No. -. penyusunan rencana pengelolaan hutan. di mana pada setiap KPH dikelola oleh suatu Unit Organisasi KPH. Acaulospora dan Gigaspora. Pada setiap kondisi topografi (puncak. 2006 Zulfikhar KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DENGAN POLA KPH DI PROVINSI SUMATERA SELATAN / Zulfikhar. R. pemahaman yang memadai terhadap ekosistem hutan lahan basah dan rawa gambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah di lokasi penelitian secara umum tidak subur.15%). Untuk hubungan antara potensi CMA dengan sifat-sifat tanahnya sangat ditentukan oleh kandungan P tersedia. Tectona grandis Linn.2 . dan pembentukan KPH tersebut selanjutnya menjadi bagian dari penguatan sistem pengurusan hutan nasional. Kalimantan Timur. dan terjadi korelasi negatif antara jumlah spora dengan kandungan P tersedia. tercakup di dalamnya sistem lahan dan hidrologi. yang ditunjukkan dengan pH tanah yang masam (4.13%) P tersedia (498 ppm). yang ditunjukkan oleh jumlah spora CMA yang menurun selaras dengan meningkatnya kandungan P tersedia di dalam tanah.3. Pengelolaan hutan rawa gambut merupakan usaha untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari.44 me/g) dan KTK (8. semak dan belukar. Bengkulu Yassir. Rekayasa proses suksesi ekologi hutan rawa gambut yang dipercepat dengan mengakomodasi kepentingan sosial ekonomi sangat diperlukan.115 .

Kata kunci: Rawa gambut. Hutan rawa gambut. Kebijakan. KPH.gambut dan dapat bermanfaat bagi para pihak sebagi acuan untuk mewujudkan pengelolaan hutan rawa gambut yang lebih baik di Propinsi Sumatera Selatan. Sumatera Selatan 137 .

Kunci untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat terletak pada seberapa jauh upaya peningkatan mutu. 2005 Industri pembuatan sumpit sebagai salah satu upaya teknologi pemanfaatan bambu menghasilkan limbah yang cukup besar yaitu lebih kurang 65 persen yang perlu diupayakan pemanfaatannya agar menjadi produk yang bernilai tambah. Limbah Kerajinan. -. Jenis yang paling banyak dijumpai adalah bambu tali. Halaman 96-111 . dan gombong dan diuji kualitas arang yang dihasilkan menurut standar SNI. Halaman 175-184 . Budiman ARANG BAMBU DARI LIMBAH INDUSTRI KERAJINAN: POTENSI EKONOMI YANG BELUM DIGALI DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad.1 ha/plot diukur diameter dan 138 . Potensi usaha Achmad. kekuatan desain. Tegakan umut 1 sampai 4. Budiman PENGELOLAAN TAPAK HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERDASARKAN DAUR EKONOMIS / Budiman Achmad. Kata kunci: Arang Bambu.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. 6 Desember 2005 . Budiman KAJIAN POTENSI USAHA BAMBU RAKYAT DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad.985. Kata kunci: Bambu.464. ater.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Data diolah secara deskriptif dan dilakukan analisis keuntungan antara produk konvensional (standar) dengan produk pengembangan.945 kal/g.Achmad. Halaman 164-174 . Propinsi Riau. Penelitian ini mencoba salah satu upaya pemanfaatan limbah dengan pembuatan arang bambu secara tradisional secara tumpuk timbun dengan menggunakan lima jenis bambu bahan baku industri sumpit yaitu bambu ampel. dan Devy Priambodo Kuswantoro. dan Soleh Mulyanan.13 persen dan kadar zat terbang 18. 2006 Potensi bambu di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi yakni sekitar 2. 6 Desember 2005 . dan bambu temen. -.89 ha yang mampu membangkitkan kreatifitas usaha sebagian masyarakat Tasikmalaya. Potensi Ekonomi. 6 Desember 2005 . Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai kemungkinan upaya peningkatan potensi pemanfaatan bambu melalui perluasan variasi produk dan penyertaan teknologi untuk meningkatkan mutu dan nilai tambah produk. Soleh Mulyana. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan jenis bambu menghasilkan nilai kualitas arang bambu yang sangat berbeda nyata. Input teknologi dan pemasaran menjadi faktor penentu disamping dukungan pemerintah. Kabupaten Tasikmalaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat bisa dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu penerapan sistem silvikultur yang tepat. pengrajin. bambu surat. Devy Priambodo Kuswantoro.9 th dalam 50 plot dengan luasan 0.pengkelasan mutu dan pemanfaatan setiap bagian batang sesuai dengan potensi dan sifat dasarnya serta pemanfaatan limbah sebagai bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan dari proses produksi lain (interface). dan eksportir.957 batang menempati luasan 7. Penelitian ini dilaksanakan pada hutan tanaman Acacia mangium di Pasir Pangrayan. betung.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Bambu tali sebagai bambu yang paling banyak digunakan untuk bahan baku sumpit ternyata menghasilkan kualitas arang bambu yang secara umum paling baik dibanding empat jenis bambu lainnya dengan besar nilai kalor 6. Tasikmalaya Achmad. tali. bambu hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mutu tapak dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan hasil dan menyediakan beberapa alternatif solusi untuk meminimalkan inefisiensi dalam pengelolaan hutan tanaman. kadar karbon terikat 74. -. Bambu tumbuh hampir merata di wilayah Kabupaten Tasikmalaya tetapi kurang didukung dengan meratanya ketrampilan sumberdaya manusia (SDM) sehingga terjadilah ketidakseimbangan antara potensi SDA (sumber daya alam) dengan potensi SDM yang merupakan indikator bahwa potensi usaha bambu belum digali secara optimal. 2005 Pengelolaan hutan tanaman secara lestari bisa dicapai jika jatah tebang tahunan (AAC) tidak melebihi riap. dan harga serta jalinan kepercayaan antara produsen dan pembeli. Pengambilan data dilakukan dengan sengaja berdasarkan ketinggian tempat tumbuh yaitu dataran rendah dan dataran tinggi dan dilakukan survey potensi bambu dan produknya serta wawancara dengan petani.98 persen.

Selain itu juga untuk mendapatkan alternatif penatausahaan kayu yang bisa menciptakan iklim usaha (market change) efektif dengan mempertimbangkan faktor kepraktisan dan kekhasan daerah tanpa mengorbankan efisiensi. Berdasarkan empat mutu tapak yang diperoleh yakni kelas II. Kab. Berdasarkan hal tersebut. nilai strategis baik yang tangible maupun intangible belum ditempatkan sesuai fungsinya dan belum dihargai secara proporsional. Kata kunci: Illegal Logging. Kajian dilakukan dengan pengumpulan peraturan-peraturan mengenai tata usaha kayu yang ada. Diharapkan dengan kebijakan tersebut kerugian negara akibat illegal logging dapat ditekan dan praktek illegal logging yang umumnya menggunakan proses lelang kayu sebagai modus pemutihan kayu hasil tebangan liar tersebut dapat dihilangkan. Namun saat ini dengan maraknya kasus illegal logging negara harus menerima kerugian mencapai Rp. 500 miliar/tahun.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Kata kunci: Kayu Rakyat.tingginya.Semakin rendah mutu lahan. Ada beberapa titik konsentrasi praktek penebangan liar serta penyelundupan kayu. 6 th. Tataniaga. Mutu Lahan Achmad. Halaman 153-161 . sitaan. Budiman KAJIAN IMPLEMENTASI TATAUSAHA DAN TATANIAGA KAYU RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN GARUT / Budiman Achmad. 5. 2006 Hutan Rakyat merupakan alternatif yang semakin strategis untuk mengisi demand kayu yang semakin meningkat saat ini. Inovasi nilai harga kayu maupun peraturan belum tertangani sebagaimana diindikasi oleh kecilnya margin yang diterima petani bersamaan dengan image biroaktif pengurusan perizinan yang berlaku. Hutan Tanaman. Namun sistem pelaksanaan lelang tersebut belum berjalan secara efektif dan optimal sehingga menimbulkan kerugian bagi negara mencapai Rp. Hasil penelitian menunjukan bahwa siklus tebang paling optimal adalah 6. -.III.sebagaimana terlihat pada semakin sempitnya coverage relatif hutan di Kabupaten Garut yang tidak lebih dari 10 persen saja. Untuk mendapatkan hasil optimal jumlah pohon yang ditanam harus mempertimbangkan mutu lahan. perbatasan Papua. yaitu perbatasan RIMalaysia di Kalimantan Barat. pada tanggal 13 Januari 2005 pemerintah telah mengesahkan tiga draft rancangan Peraturan Menteri Kehutanan tentang petunjuk pelaksanaan lelang kayu.kelas III. -. Perairan Riau. dan Kalimantan Timur. Sektor kehutanan dengan segala potensinya pernah tercatat sebagai sumber pendapatan negara terbesar nomor dua setelah minyak.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Isu kehutanan 139 . Akan tetapi. dan IV dan kelas V kemudian disusunlah grafik CAI dan MAI. Kendala lain yang lebih bersifat disinsentif bersumber dari peraturan tatausaha yang tidak bersifat khas dengan daerah dan kurang mengakomodir kepentingan seluruh stakeholder secara berimbang. semakin tinggi kerapatan pohon yang ditanam.IV dan Klas V.5 th dan 5 th untuk berturut-turut klas II.5 th. Garut Alviya. demikian sebaliknya.2006 . Selama ini telah berjalan proses lelang terhadap kayu hasil temuan. 13 September 2005 . Kata kunci: Acacia mangium. Soleh Mulyana. Kasus illegal logging ini terus meningkat akibat lemahnya kemampuan aparat penegak hukum sehingga tidak mampu membongkar sampai ke akar permasalahannya. Sistem insentif yang efektif perlu dikembangkan dengan dukungan peraturan yang perencanaannya bersifat kolektif dan inovative sehingga mampu menimbulkan komitmen sukarela. dan Devy Priambodo Kuswantoro. Tatausaha. Hasil kajian mengindikasikan bahwa arus informasi pasar ke petani cukup terbuka diduga karena profesi ganda sebagai petani sayur dan kayu berimbas pada semakin luasnya jaringan bisnis sehingga petani telah mampu meluaskan pasarnya. 2005 Penebangan Liar (illegal logging) dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) merupakan salah satu dari lima kebijakan prioritas utama Departemen Kehutanan saat ini. melakukan in-depth interview dengan responden ahli/kunci. 30 triliun/ha. Iis ILLEGAL LOGGING: KAJIAN PERKEMBANGAN ISU KEHUTANAN / Iis Alviya. Halaman 85-96 . dan rampasan. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui pola pemasaran dan kemungkinan pengembangannya sehingga persoalan yang terkait dengan in-efisiensi tataniaga bisa diminimalkan. dan wawancara dengan petani kayu dan pelaku usaha kayu untuk mengetahui interpretasinya terhadap tata usaha kayu rakyat.

Jumlah responden 30 keluarga/rumahtangga. Kata kunci: Acacia mangium. Interaksi dengan budaya luar. JAWA TENGAH (The Determinant factor of Pine Tapping Farmer Poverty in Somagede. C.2 . Satria ANALISIS KEBIJAKAN EKSPOR KAYU BULAT DARI HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM / Satria Astana. menyebabkan terjadinya asimilasi dan/atau akulturasi budaya. dan Indartik. S. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor penentu suatu rumah tangga petani penyadap getah pinus tergolong miskin. Sifat hukum adat yang terbuka dan dapat berubah. Upaya mencegah dampak buruk yang lebih jauh dapat dilakukan melalui intervensi kebijakan mengijinkan produksi kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium diekspor. Andy Cahyono . aspek ekonomi. Kebijakan ekspor Astana.. Peningkatan kemiskinan akan berdampak pada perusakan sumberdaya hutan. Kebumen. Central Java)/ S.al.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. 2005 Lemahnya penegakan hukum menyebabkan kegiatan illegal logging meluas bukan hanya terjadi di hutan produksi.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. harga kayu bulat yang rendah bukan hanya menyebabkan nilai pengembalian investasi dalam pembangunan hutan tanaman khususnya Acacia mangium lebih rendah dari harga kapital yang digunakan tetapi juga mencegah masuknya investasi baru. -. Pola jaringan illegal logging kapan saja dapat bangkit kembali dalam kehidupan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rentan dan lingkungan bisnis hutan yang tidak kondusif. 2006 Masyarakat sekitar hutan umumnya berada dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Kata kunci: Illegal Logging.]. [et.. Salah satunya adalah rendahnya harga kayu bulat dalam negeri akibat kebijakan larangan ekspor. hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan kriteria KaldorHicks dampak kebijakan eksport kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium tanpa atau dengan pengenaan pajak eksport non-prohibitive adalah lebih baik dibanding kebijakan larangan ekspor. Woro M. perlu dibarengi oleh kebijakan penguatan kelembagaan dan meningkatkan ekonomi secara konsisten. Kenyataannya. 6 Desember 2006 . merupakan suatu tantangan yang perlu dicermati. Model binary choice dengan fungsi logit 140 . Diukur dengan surplus produsen dan konsumen. dan kebijakan dapat menghasilkan asimilasi dan/atau akulturasi budaya yang dapat berdampak negatif atau positif terhadap kelestarian sumberdaya hutan. dampak kebijakan eksport kayu bulat perlu dikaji. Kayu Bulat. yang ditujukan khususnya bagi masyarakat hukum adat yang daerahnya menghadapi tekanan illegal logging yang tinggi. Namun unsur-unsur hukum adat secara terus-menerus mengalami tekanan dari banyak aspek. Ketersediaan unsur adat dan penegakan sanksi yang efektif bagi pelanggar. Ini pada gilirannya akan menyebabkan pembangunan hutan tanaman mengalami stagnasi.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Halaman 4971 . 2006 Lambannya pembangunan hutan tanaman disebabkan oleh banyak faktor. KEBUMEN. Halaman 119 . -. 13 September 2005 . Konservasi Cahyono. dalam pemanfaatan hutan yang lestari.Astana. -. tetapi juga di hutan lindung dan hutan konservasi. Pemberantasan illegal logging melalui pendekatan keamanan telah dilakukan. kemiskinan pada masyarakat sekitar hutan harus dientaskan dan pemahaman terhadap faktor penentu atau penyebab kemiskinan menjadi penting. Dalam kaitan ini. Terdapat kekhawatiran yang luas terhadap harga kayu bulat yang terus rendah. 3) Kebijakan yang kurang kondusif. Upaya mencegah illegal logging melalui instrumen hukum adat. Untuk itu. Hukum Adat. Hutan Lindung. Metode survey dipergunakan untuk mengumpulkan data. 2) aspek ekonomi. namun hasilnya belum optimal. Kelembagaan masyarakat hukum adat di sekitar hutan lindung dan konservasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen sosial budaya yang efektif dalam upaya mencegah illegal logging. Satria PERANAN HUKUM ADAT DALAM UPAYA MENCEGAH ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG DAN KONSERVASI: PELUANG DAN TANTANGAN/ Satria Astana. Halaman 109-116 . agar efektif. Runggandini. Andy FAKTOR PENENTU KEMISKINAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI DESA SOMAGEDE. merupakan suatu peluang hukum adat berperanan dalam upaya mencegah illegal logging. antara lain: 1) intrusi budaya luar.

2006 Pendekatan pengelolaan DAS yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumberdaya alam di DAS. S. Kata kunci: Kemiskinan. Andy IMBAL JASA MULTIFUNGSI DAS UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI / S. Paper ini mengurai imbal jasa multifungsi DAS untuk mendukung pengelolaan DAS dan jasa implementasinya. Pendekatan pengelolaan DAS yang menekankan pada jasa monofungsi DAS yang disederhanakan pada penanggulangan erosi sedimentasi perlu diubah dengan jasa multifungsi DAS baik tangible maupun intangible. and Central Java) / S. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Penelitian ini merekomendasikan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga penyadap dilakukan dengan diversifikasi pendapatan di luar pinus dan peningkatan produktivitas getah. Halaman 147-159 . akses pada sumberdaya pada daerah penyedia jasa multifungsi akan lebih bermanfaat. sedangkan 53. Andy Cahyono. Pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi nyata secara statistik oleh pendapatan dari luar getah pinus.67% rumahtangga penyadap pinus termasuk dalam kategori miskin. produktivitas pinus. Imbal jasa dapat berupa finansial maupun non finansial. dan umur penyadap. imbal jasa multifungsi DAS tergantung pada negosiasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46.33% lainnya termasuk dalam kategori keluarga tidak miskin. 2006 : Halaman 63-81 . kesehatan. determinan kemiskinan. Andy KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP GETAH PINUS DI DESA (Socio-Economic SOMAGEDE. Kemiskinan rumahtangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi secara signifikan oleh beberapa faktor. serta diversifikasi sumber pendapatan diluar getah pinus. Andy Cahyono dan Purwanto.dipergunakan untuk mengetahui faktor penentu atau penyebab kemiskinan pada rumah tangga petani penyadap getah pinus. Analisis data menggunakan persamaan regresi linier berganda pada peubah karakteristik sosial ekonomi yang diduga mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Yonky Indrajaya. Nur Ainun Jariyah. Metode survey dipergunakan pada penelitian ini dengan penarikan sampel menggunakan metode simple random sampling pada 30 orang petani responden. yaitu pendapatan dari getah pinus. Namun imbal jasa non finansial seperti ketersediaan infrastruktur. pendapatan di luar penyadapan Cahyono. Kata kunci: kegiatan. umur tegakan. petani penyadap getah pinus. Kata kunci: DAS. kapasitas stakeholder dan kesepakatan serta kesepahaman para stakeholder untuk merealisasikannya. pendapatan dari luar getah pinus. kualitas hidup lebih baik. dan pendapatan di luar getah pinus. Untuk itu. pendidikan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. Imbal jasa multifungsi DAS dapat dipergunakan sebagai mekanisme kompensasi dari pemanfaatan jasa multifungsi kepada penyedia jasa multifungsi untuk menjaga ketersediaan jasa yang dihasilkan. pinus Cahyono. Sementara peluang keluar dari kondisi miskin akan semakin besar dengan meningkatnya pendapatan dari getah pinus. Kebumen. JAWA TENGAH umur pinus. Dalam implementasinya. -. S. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik sosial ekonomi mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus. Pendapatan rumah tangga dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pendapatan di luar sadap pinus dan peningkatan produktivitas pinus. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. 2006 Peningkatan pendapatan rumah tangga menentukan tingkat kesejahteraan keluarga dan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus. Implikasi kebijakannya adalah peningkatan produktivitas getah pinus dan harga getah. 141 . Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap pinus. Imbal Jasa Characteristics Affecting Household Income of Pine Gum Taper: Case Study in Somagede. dan produksi getah pinus.2 . KEBUMEN.

Begitu juga dengan NPV meningkat dari Rp.0 persen dan 26. 2. Kriteria ini mengatakan bahwa proyek akan dipilih apabila NPV proyek sama dengan nol. Halaman 103-120 . dan IRR. sehingga bisa mengurangi permasalahan pengangguran dan penambahan sumber pendapatan masyarakat. Hutan Tanaman. Analisis biaya pembuatan dan nilai hutan tanaman dilakukan dengan metode Benefit Cost Ratio dengan menggunakan program EXCEL. IRR adalah suatu tingkat bunga yang menunjukan bahwa jumlah manfaat sekarang yang dihasilkan sama dengan total biaya sekarang yang dikeluarkan. sedangkan sikap terhadap LSM untuk Desa Cisitu netral dan Desa Werasari negatif. 2006 Bentuk pengembangan hutan rakyat di setiap wilayah akan berlainan dan memiliki kekhasan masing-masing. CIAMIS. Sumatera Selatan Diniyati. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 6 Desember 2006 . meskipun sikap tersebut adakalanya tidak sesuai dengan harapan dari lembaga-lembaga yang mendukung pembangunan hutan rakyat.Kontribusi peranan setiap lembaga tersebut ditunjukan oleh sikap petani. 6 Desember 2005 . dengan IRR sebesar 25..8 persen per hektar atau meningkat sebesar 5 persen.Djaenudin. Net B/C. Sikap petani. atau biaya mula-mula. namun masih memiliki persamaan 142 . yaitu sikap yang positif terhadap kelompok tani. lembaga swadaya masyarakat (LSM).-. hal tersebut disebabkan kurangnya responden mengetahui dan merasakan manfaat langsung dari LSM. Halaman 132-150 . Dian KAJIAN SIKAP PETANI TERHADAP LEMBAGA PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT / Dian Diniyati dan Tri Sulistyati W. Selain itu pembuatan hutan tanaman secara manual juga lebih direkomendasikan karena melibatkan penggunaan tenaga kerja yang lebih besar. lembaga usaha dan pemerintah.. karena menghasilkan IRR dan NPV yang lebih tinggi sebagai akibat dari biaya pembuatan yang lebih murah. IRR adalah suatu tingkat bunga dimana seluruh arus kas bersih sesudah didiskonto sama jumlahnya dengan biaya investasi. NPV adalah selisih antara manfaat (B) dengan biaya (C) yang telah didiskonto. 4. lembaga usaha dan lembaga pemerintahan. atau meningkat sebesar 25 persen per hektar.al) . Sekaligus perlu diketahui bagaimana apabila peranan penambahan nilai karbon ditambahkan dalam analisis kelayakan tersebut. Petani. Deden ANALISIS EKONOMI PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM DI SUMATERA SELATAN / Deden Djaenudin. Dengan perkataan lain. Nilai ini menunjukan bahwa keuntungan penambahan nilai karbon cukup signifikan dan menambah kelayakan pembuatan hutan tanaman. Analisis Ekonomi. Kata kunci: Hutan Rakyat. 6 Desember 2005 .000 menjadi Rp. Halaman 79-95 .Hasil penelitian menunjukan bahwa pembangunan hutan tanaman mangium di Sumatera Selatan layak secara finansial maupun ekonomi.(et. Kabupaten Garut dan Desa Werasari mempunyai kecenderungan sama. biaya proyek. -. Kata kunci: Acacia mangium.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Untuk itulah perlunya dilakukan kajian mengenai sikap petani terhadap lembaga pembangunan hutan rakyat yang dilakukan di Desa Cisitu. Garut Diniyati. dan dapat dirumuskan sebagai berikut.. Dian KONDISI DAN POTENSI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CILACAP.2 persen menjadi 28.000 per hektar.500 per ton akan meningkatkan IRR dari 26.942.(et.al). Terlihat bahwa penambahan nilai karbon sebesar Rp.482. WONOSOBO DAN KUNINGAN/ Dian Diniyati. 27. Karena itu pembuatan hutan tanaman secara manual lebih menguntungkan daripada mekanik. 2006 Jenis tanaman yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman antara lain adalah Acacia mangium.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.2 persen secara mekanik dan manual. 2005 Pembangunan hutan rakyat selama ini didukung berbagai lembaga seperti kelompok tani.. Analisis manfaat biaya dilakukan dengan menggunakan kriteria investasi NPV. Untuk itu perlu diketahui kelayakan finansial dan ekonomi pembangunan hutan tanaman untuk keperluan investasi pembangunan hutan. Selanjutnya sikap tersebut tidak dipengaruhi karakteristiknya. TASIKMALAYA. dengan tingkat suku bunga yang dipakai adalah 15 persen untuk suku bunga private (finansial) dan 20 persen untuk suku bunga sosial (ekonomi). Sehingga diharapkan pembangunan hutan tanaman mangium bisa dilestarikan.

Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tasikmalaya. Kata kunci: Hutan Rakyat.Penyuluh sebagai mitra petani pada pembangunan hutan rakyat masih perlu ditingkatkan. peningkatan kesejahteraan petani. Hasil dari kajian ini diketahui bahwa: kondisi hutan rakyatdi dua desa penelitian memiliki beberapa persamaan yaitu kondisi sosial petani. Ciamis dan Banjar pada bulan Nopember-Desember 2004. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Garut dan Desa Werasari Majalengka pada bulan Agustus 2005. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan satistik deskriptif dan kemudian dianalisa sesuai dengan data yang diperoleh. Halaman 151-163 . dengan kriteria adanya kegiatan kemitraan pada sektor hutan rakyat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan analisis petani pemilik dan penggarap hutan rakyat yang terlibat dalam kegiatan kemitraan. hal ini berkaitan dengan faktor pembatas. Diharapkan dengan mengetahui persamaan dan permasalahan pengembangan hutan rakyat maka memudahkan dalam membuat kebijaksanaan untuk pengembangannya.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. fasilitas yang kurang memadai. Bentuk-bentuk pengembangan hutan rakyat ini sangat mempengaruhi terhadap pemberdayaan masyarakat. untuk meningkatkan partisipatif dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga meningkat kemandiriannya dan pada akhirnya kesejahteraan akan tercapai. namun demikian tetap mempunyai persamaannya karena kegiatan hutan rakyat ini banyak dilakukan secara proyek. teknologi yang digunakan masih sederhana. seperti: jumlah tenaga yang kurang dan berubahnya fungsi penyuluh. teknologi tepat guna.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Dian HUTAN RAKYAT DAN PENYULUHAN KEHUTANAN: KASUS DI DESA CISITU. Halaman 227-239 . -. Cilacap. Dengan demikian peranan penyuluh kehutanan sangat tinggi pada pembangunan hutan rakyat ini. (3) serta kerjasama (kemitraan dengan pemerintah. 6 Desember 2005 . Majalengka Diniyati. Dengan pengelompokan persamaan pengembangan hutan rakyat setiap wilayah. dan kemitraan. MALANGBONG. melindungi aset negara dari perambahan. serta pemasaran. Garut. dan ini berguna untuk menilai keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. Dian POLA KEMITRAAN UNTU MENDUKUNG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. pemasaran dan kualitas sumberdaya manusia. letak topografi desa. Tasikmalaya.BANTARUJEG. maka perlu dukungan dari semua pihak melalui kemitraan. untuk itulah maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan faktor pendukung terciptanya hutan rakyat serta peranan penyuluh terhada keberhasilan pembangunan hutan rakyat. dan tipe pemilik tidak berada di lkasi hutan rakyat. -. Ciamis. selanjutnya pada masing-masing kabupaten dipilih secara sengaja desa sebagai lokasi penelitian. selanjutnya data yang terkumpul dianalisa secara diskriptif. 2005 Beberapa faktor yang menjadi kendala yang dihadapi oleh petani dalam pengembangan dan pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah faktor modal. meningkatkan perfomance perusahaan. MAJALENGKA / Dian Diniyati dan Eva Fauziah.diantaranya: kehomogenan petani pemilik hutan rakyat. Dari hasil kajian di lapangan diketahui bahwa pembangunan huatn rakyat terbagi atas tiga tipe yaitu: (1) secara kemitraan antara masyarakat dengan BUMN. diharapkan pembangunan hutan rakyat akan semakin tinggi sehingga pasokan kayu akan selalu terjamin keberadaannya.Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk menyediakan paket informasi mengenai beberapa pola pengembangan dan pembangunan hutan rakyat. akan memudahkan untuk mengetahui permasalahannya. swadaya . Wonosobo. Agar keberhasilan pembangunan hutan rakyat dapat tetap terjamin. Kuningan Diniyati. serta bentuk pemanenan dan pemasaran.Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Motivasi dilaksanakan kemitraan ini yaitu melindungi sumberdaya alam.. (2) swadaya yang dibagi menjadi dua tipe. budidaya hutan rakyat. 13 September 2005 . Kata kunci: Hutan Rakyat. 2005 Faktor pendukung terciptanya hutan rakyat pada satu lokasi sangat tergantung pada banyak hal dan berlainan sehingga akan tercipta hutan rakyat yang spesifik untuk setiap daerah. yaitu tpe pemilik berada dekat lokasi hutan rakyat. walaupun dalam pemecahannya harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat. menyediakan tambahan lapangan pekerjaan untuk masyarakat 143 . Penyuluh Kehutanan. akan tetapi setiap kebijaksanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan lokasi. GARUT DAN DESA WERASARI.

hal ini sangat dipengaruhi faktor dari luar dan lingkungan kelompok itu sendiri. sedangkan peluang yang utama adanya dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung) dan ancaman yang utama yaitu kurangnya tenaga penyuluh di lapangan. sedangkan kelemahan utamanya yaitu teknologi masih sangat tradisional. pemeliharaan. yang menjadi kekuatan utama yaitu memiliki lahan garapan. Sedangkan pendapatan yang paling tinggi yaitu pola GNRHL. Dian STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYATI / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. 2006 : Halaman 147-153 . yaitu banyaknya industri yang memanfaatkan air yang berasal dari DAS tersebut. keamanan hutan dapat terjamin karena masyarakat turut melindungi. dalam perjalanannya banyak memiliki kelebihan dan kekurangan. peluang dan ancaman dari kelompok tani sehingga dapat diramu strategi yang sesuai agar kelompok tani dapat mandiri dan berdayaguna bagi anggotannya. Hasil kajian diperoleh bahwa komponen biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari: persiapan lahan. -. Hasil pengolahan data diketahui kekuatan utama kelompok tani di Desa Cisitu adalah memiliki lahan garapan. sebagai mediator antara peserta mitra dengan instansi pelaksana mitra. dimana lembaga pendamping harus independen.Kegiatan ini dilakukan di 4 desa yang dipilih secara acak pada bulan Agustus-Desember 2005. mencegah terjadinya okupasi lahan. 2006 Sub DAS Cicatih merupakan DAS lokal yang mempunyai karakteristik sosial ekonomi yang unik. untuk itulah maka diperlukan kajian ini yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan. Kata kunci: Hutan Rakyat. dan biaya yang paling besar dikeluarkan petani adalah untuk tenaga kerja pada seluruh pola pengembangan. 2006 Manajemen yang digunakan pada pengembangan hutan rakyat pada umumnya adalah manajemen pemiliknya baik itu untuk aspek budidaya maupun aspek finansial. diharapkan hasilnya dapat memberikan informasi sehingga dapat menarik minat petani untuk terus mengembangkan hutan rakyat.2006 . Kata kunci: Sosial Forestry.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kata kunci: Hutan Rakyat. Hasil kajian untuk Desa Werasari adalah sebagai berikut. penanaman. Kelompok Tani Diniyati. Halaman 119 .2006 . Kabupaten Majalengka. Dari segi finansial seharusnya pengelolaan Sub DAS 144 . Selanjutnya untuk lebih meningkatkan kegiatan kemitraan ini maka sebaiknya ada lembaga pendamping. -. Responden adalah para pakar yang memahami tentang kelompok tani. Dini KAJIAN BIAYA DAN PENDAPATAN HUTAN RAKYAT YANG DIKELOLA PETANI PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. Pemberdayaan masyarakat Diniyati. dengan demikian keuntungan yang diperoleh petani yang paling tinggi pada pola GNRHL. 2006 Kelompok tani hutan rakyat merupakan perkumpulan para petani yang mengusahakan hutan rakyat. Sulistya KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS LOKAL: SEBAGAI WACANA DALAM PENGELOLAAN SUB DAS CICATIH / Sulistya Ekawati. Seperti pada aspek finansial banyak faktor yang tidak diperhitungkan yang menyebabkan keuntungan semu bagi petani. Petani Ekawati. Pendapatan.disekitar hutan. Selanjutnya analisa data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Halaman 51-64 . Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut dan Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg. Untuk itulah maka kajian ini diperlukan untuk mengetahui besarnya biaya dari pendapatan pada semua pola pengembangan hutan rakyat. Alat analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. peluang utama yang dimiliki adalah adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan. Kajian biaya. dan terakhir yaitu ancaman utama kepemilikan lahan yang sempit. -.128 . tenaga kerja dan pemanenan. kelemahan. sehingga tidak jarang hasil/keuntungan yang diterima petani masih jauh dari standar yang diharapkan. Metode kajian yang dilakukan adalah metode survey dan wawancara terhadap responden terpilih. Untuk mengembangkan kelompok tani perlu dicari strategi yang tepat.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. adanya kepastian kawasan sehingga perencanaan dapat dilakukan dengan baik. sedangkan yang menjadi kelemahan utama tingkat pendidikan yang masih rendah. Pola Kemitraan.

sehingga pengelolaan DAS dilakukan secara terfragmentasi. -. Leading sector perencanaan jangka pendek oleh Bappeda kabupaten. perencanaan jangka panjang DAS regional oleh Bappeda propinsi. 13 September 2005 . Pembagian peran (role sharing) dalam pengelolaan DAS adalah sebagai berikut: leading sector perencanaan jangka panjang DAS nasional dilakukan oleh Bappenas. dirumuskan dan disepakati bersama karena merupakan motivator untuk membentuk suatu kelompok sosial. Semua stakeholders di tingkat pusat. user). Kerjasama timbul apabila masing-masing pihak mempunyai tujuan yang sama dan pada saat yang sama mempunyai kesadaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kedudukan PPTPA tersebut sebagai fasilitator diantara para pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS (operator/provider. Bappeda propinsi dan LSM. Di masa otonomi daerah ada kecenderungan egoisme daerah dan egoisme sektoral.652 ha. Puslittanak. dalam rangka pelaksanaan program rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat. DAS. 2006 Issue lahan kritis dan lahan tidur di Jawa Barat telah muncul ke permukaan dan menjadi masalah ketika terjadi bencana alam berupa banjir dan kekeringan di tengah-tengah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk. Pengelolaan DAS. Keanggotaan PPTPA juga harus terwakili oleh semua pihak. Agar sub DAS Cicatih terjaga kelestariannya diperlukan suatu kelembagaan. DAS Progo Effendi. Leading sector monev pengelolaan DAS nasional oleh Bappenas. Paimin.664 ha) dan kawasan hutan produksi (337. Halaman 37-48 .Gubernur. khususnya untuk DAS-DAS lintas kabupaten dan lintas propinsi.006 ha yang terdiri dari kawasan hutan lindung (101. Bentuk kelembagaan yang disarankan adalah PPTPA (Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air). Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) atau pengkajian desa secara cepat. tetapi aplikasi di lapangan hal tersebut sulit dilakukan.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Tugas pokok dari PPTPA adalah menyusun kebijakan rencana. DAS Cicatih Ekawati. Jenis lahan kritis dibedakan ke dalam 4 (empat) tingkat ke kritisan lahan yaitu potensial kritis. one plan and multi management. untuk mengatur perilaku seluruh stakeholders agar sejalan dengan tujuan sosial yang telah disepakati bersama. Konsepsi dasar rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat yang tepat di laksanakan dengan mengacu 145 .koordinasi pelaksanaan dan memonitor serta mengevaluasi kegiatan pengelolaan DAS.1 . -. kritis dan sangat kritis dimana jumlah luas lahan kritis di Jawa Barat pada kawasan hutan mencapai 474. Untuk itu kajian ini diharapkan dapat membantu dalam menemukan metode yang tepat melalui pemberdayaan masyarakat penerima manfaat (beneficiary) yang didasarkan pada budaya dan kearifan lokal. Sulistya PEMBAGIAN PERAN (ROLE SHARING) DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI: STUDI KASUS DI DAS SOLO DAN DAS PROGO / Sulistya Ekawati. Halaman 23-30 . regulator/owner. Hubungan PPTPA dengan stakeholders lain pada dasarnya bersifat konsultatif dan koordinatif. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek teknis dan sosial ekonomi rehabilitasi lahan kritis secara tidak terkendali. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. 2005 Prinsip dasar pengelolaan DAS terpadu adalah one river. semi kritis.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. Pelaksana pengelolaan DAS adalah semua stakeholders. Masing-masing stakeholders mempunyai kepentingan yang berbeda dan belum terjalin koordinasi diantara mereka. Bappeda kabupaten dan LSM. propinsi dan kabupaten melakukan monev untuk sektornya masingmasing. Role Sharing. oleh karena itu perlu dirumuskan pembagian peran (role sharing) pada semua stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan DAS.690 ha). kawasan hutan konservasi (34. Perencanaan disusun dengan melibatkan semua stakeholders sesuai dengan kewenangannya. DAS Solo. Leading sector monev pengelolaan DAS regional oleh Bappeda propinsi. Hasil kerja PPTPA diserahkan kepada pihak regulator (Presiden. Penetapan kebijakan tetap dilakukan pihak regulator. Lokasi pengkajian didasarkan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki tingkat erosi terbesar antara lain DAS Cisadane dan DAS Ciujung yang ada di Jawa Barat. Bupati/Walikota) sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan yang terkait dalam kegiatan pengelolaan DAS. Keduanya merupakan DAS nasional (lintas propinsi). Kata kunci: Kelembagaan. Koordinasi antar daerah dan antar sektor belum berjalan dengan baik. 1997). Penelitian ini dilakukan di DAS Solo dan DAS Progo.Cicatih belum mempunyai kelembagaan yang mapan. Sylviani. dan Purwanto. Rachman KONSEPSI REHABILITASI LAHAN KRITIS DI JAWA BARAT / Rachman Effendi.

baik masyarakat di sekitar hutan maupun di hilirnya antara lain kekeringan. terutama air yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat. sedangkan selebihnya berupa tanah kosong yang tidak berfungsi lagi sebagai hutan. Halaman 197-204 . Adapun Effendi. Tulisan ini mengkaji nilai ekonomi manfaat lokal hutan lindung dan kawasan konservasi di Jawa Barat. disamping itu bagi masyarakat dan kemungkinan peranannya terhadap sumber pendanaan bagi pengelolan SDH dan nilai tersebut dapat dijadikan dasar penetapan besaran pajak lingkungan yang dapat dikenakan. dimana rehabilitasi pada hutan produksi yang dibebani hak merupakan tanggungjawab pemegang hak atas tanah dan pada hutan produksi yang tidak dibebani hak merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah pusat atau daerah dapat memberlakukan pajak lingkungan (green tax) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan konservasi.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. ekonomi masyarakat. Kawasan Lindung. Kerifan Lokal. -. Kawasan budidaya terdiri dari hutan produksi. 13 September 2005 . Untuk itu perlu adanya upaya perlindungan hutan dan lahan untuk memberikan peran optimal bagi lingkungan dan sosial 146 . hutan lindung Effendi. dan Sumedang. Teknik rehabilitasi lahan di kawasan lindung yang terdiri dari kawasan hutan dan kawasan non hutan dilakukan melalui penghijauan untuk memperbaiki. memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal. Hal ini telah dirasakan dampak negatifnya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. dimana di kabupaten tersebut kegiatan illegal logging marak dilakukan di hutan produksi alam terutama pada areal pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). agroforestry di kawasan hutan.pada prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan model pendekatan kemitraan antara pemerintah. ekowisata. Hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan harga hasil hutan sehingga mengurangi dampak negatif terhadap eksploitasi besarbesaran terhadap hutan Kata kunci : Degradasi hutan. Dari kabupaten tersebut ditentukan desa-desa yang berbatasan ataupun berada dalam kawasan hutan yang ada pola pemberdayaan dan tidak ada pola pemberdayaan. Kata kunci : Rehabilitasi Lahan Kritis. Pemilihan teknik budidaya dan jenis tanaman diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sesuai dengan lokasi dan jenis yang benilai ekonomi tinggi. sosial ekonomi masyarakat. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan. Diperkirakan tinggal 10% dari luas wilayah Jawa Barat yang masih berupa hutan tutupan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ketapang Propinsi Kalimantan Barat. Sosial Ekonomi. perlindungan hutan. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis pada hutan rakyat dapat dilakukan dengan pola insentif untuk memberikan rangsangan terhadap kegiatan pengelolaan kawasan budidaya dan pola disinsentif membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan pengelolaan kawasan budidaya. namun apakah efektif untuk mencegah illegal logging belum banyak diungkapkan. Rapid Rural Appraisal (RRA). Besaran nilai ekonomi manfaat lokal sumber daya hutan (SDH) menunjukkan sejauh mana manfaat SDH. dunia usaha dan masyarakat. Selaras dengan persoalan tersebut. nilai ekonomi. 2006 Degradasi hutan di propinsi Jawa Barat cukup tinggi akibat penebangan pohon legal maupun illegal secara berlebihan serta konversi menjadi lahan non-hutan. Kawasan Budidaya.3 . penelitian bertujuan untuk mengkaji pola pemberdayaan masyarakat melalui Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) dan kemitraan serta efektifitasnya dalam mencegah illegal logging di kawasan hutan alam produksi. 2005 Pola Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan sudah banyak dilakukan. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui seberapa besar jasa lingkungan yang dikorbankan dan tidak pernah diketahui besarnya. sedangkan aspek sosek dilakukan melalui kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat dan pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dilakukan melalui pengembangan wanafarma.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. Kuningan. Sylviani. -. Rachman KAJIAN NILAI EKONOMI MANFAAT LOKAL HUTAN LINDUNG DI JAWA BARAT (LANDASAN TEORI) / Rachman effendi . hutan rakyat dan pertanian lahan basah. Kajian lebih difokuskan pada landasan teori nilai ekonomi manfaat lokal dari kawasan. Rachman KAJIAN EFEKTIVITAS POLA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN PRODUKSI DALAM MENCEGAH ILLEGAL LOGGING / Rachman Effendi dan Indah Bangsawan. Halaman 21-36 . banjir dan tanah longsor terutama di Kabupaten Garut.

yang mencerminkan nilai minimal manfaat ekonomi air yang dirasakan rumah tangga di hulu DAS yang langsung memanfaatkan air dari sumber mata air hutan lindung. Halaman 41-60 .740. Tujuan dari kegiatan penelitian untuk mengetahui kondisi dan potensi hutan rakyat. namun jenis dan jumlah pohonnya sangat bervariasi. potensi sengon terbesar pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi. dan Sub DAS Cirasea. Analisis efektifitas dilakukan untuk masing-masing pola pemberdayaan (PMDH dan Kemitraan) dalam mencegah illegal logging dengan mengukur peubah-peubah yang berpengaruh terhadap pola pemberdayaan. Penyerapan tenaga kerja pola kemitraan lebih besar dari pada pola PMDH. masing-masing sebesar Rp. Kata kunci: Illegal Logging. [et. Lokasi ini dipilih karena merupakan DAS yang paling banyak memiliki permasalahan. konflik air. Karena itu. (2) Distribusi pendapatan. Dian diniyati. Untuk itu pemberdayaan masyarakat dengan pola kemitraan dapat terus dilaksanakan dalam upaya pemcegahan illegal logging.1 . Hasil penelitian menunjukkan nilai ekonomi air untuk manfaat hidrologis Sub DAS Konto. karena pada pola ini sudah diterapkan sistem silvikultur yang baik.873. Dari beberapa pola pengembangan yang ada.data yang dikumpulkan berupa (1) Pendapatan masyarakat.al. Pola Swadaya.Penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola kemitraan lebih kecil dari pada penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola PMDH. padat karya).. dan penurunan muka air tanah. Pola Pemberdayaan Masyarakat Fauziyah. dan (4) substitusi usaha illegal logging. Pola pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dengan pola kemitraan lebih efektif dalam upaya pencegahan illegal logging dibanding dengan pola PMDH. penebang kayu maupun pedagang/pengumpul kayu illegal. sehingga apresiasi terhadap hutan lindung masih rendah dan tekanan terhadap hutan lindung masih terus berlangsung.1 . Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan masyarakat tidak memberikan perbedaan yang berarti antara pemberdayaan masyarakat pola PMDH dengan Kemitraan. -.989/tahun.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. yaitu di Sub DAS Konto. -. dan di Sub DAS Cirasea. pola swadaya dan pola kemitraan. 37. Petani menjadikan hutan rakyat sebagai sumber mata pencaharian utama tetapi bibit yang ditanam berasal dari anakan alamiah yang tidak selalu tersedia sepanjang tahun sehingga penanaman tidak bisa dilakukan secara serentak. Metode yang digunakan adalah pendekatan biaya pengadaan.. Sedangkan pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi hutan rakyat.]. demikian juga halnya pendapatan masyarakat dari illegal logging di desa yang berpola kemitraan lebih kecil dari pada di desa yang berpola PMDH baik bagi industri sawmill.0. Hutan Produksi.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Analisis ini menggunakan software Minitab versi 13. pola kemitraan dengan pemerintah maupun perhutani jenis tanamannya cenderung monokuler tetapi kondisi tegakannya bagus. Sengon. terutama polusi air permukaan. Penelitian dilakukan di bagian hulu-tengah DAS Brantas. Kirsfianti Linda NILAI EKONOMI AIR DI SUB DAS KONTO DAN SUB DAS CIRASEA (The Economic Value of Water in Sub DAS Konto and Sub DAS Cirasea) / Kirsfianti Linda Ginoga . Kondisi tegakan hutan rakyat pada pola pengembangan swadaya tipe pemilik dekat dengan lokasi hutan rakyat kurang bagus. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuisioner terhadap responden sebanyak 20% petani hutan rakyat yang ikut dalam kegiatan kemitraan dan dipilih secara sengaja. 2006 Pola pengembangan hutan rakyat hingga saat ini terdiri dari pola subsidi (inpres. nilai ini adalah nilai yang diberikan oleh 147 . Sebaran kelas diameter dan sebaran kelas tinggi tegakan pada pola hutan rakyat adalah sengon.512. memperhatikan waktu penanaman dan dilakukan pemeliharaan. 2006 Nilai ekonomi manfaat hidrologis yang dihasilkan hutan lindung belum diketahui secara luas. yang mengalirkan air ke waduk Selorejo. 76. serta merupakan sumber air utama untuk Perum Jasa Tirta (PJT) I dan PJT II yang merupakan BUMN pensuplai air terbesar di pulau Jawa. Halaman 59-74 . Eva KONDISI DAN POTENSI TEGAKAN PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN CIAMIS / Eva Fauziayah . hulu DAS Citarum. Potensi Kayu Ginoga. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-ekonomi manfaat hidrologis air dari hutan lindung. tetapi distribusi pendapatan pada pola kemitraan lebih merata dibanding dengan pola PMDH. (3) Penyerapan tenaga kerja. hanya permasalahan selanjutnya bentuk pola kemitraan yang bagaimana dapat efektif untuk untuk mencegah illegal logging. Sedangkan pada pola kemitraan potensi kayu sengon belum dapat dihitung mengingat umur tanaman masih muda Kata kunci: Hutan rakyat. Pola kemitraan.769.832/tahun dan Rp.

Kata kunci: Hutan Lindung. Kata kunci : Nilai ekonomi. Ginoga. Secara konseptual. dan diperlukannya peraturan (PP atau Keppres) yang memuat perintah kebijakan pengembangan hutan lindung. dan tidak adanya ego sektoral antara pembuat kebijakan sehingga fungsi kawasan hutan lindung dan manfaatnya dapat dirasakan oleh pihak yang terkait baik di pusat dan daerah secara berkeadilan dan berkelanjutan. Biaya Pengelolaan. Hasil perhitungan nilai ekonomi air dari manfaat hidrologis yang dihasilkan sebagai fungsi dari keberadaan kawasan hutan lindung di Sub DAS Brantas dan Sub DAS Cirasea ini. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. kinerja PPTPA dapat ditingkatkan apabila tidak mengandalkan pengelolaan air saja. Karena itu kajian ini menyarankan perlunya kebijakan yang jelas dan terarah antara yang dilarang dan dibolehkan. Hutan Lindung.. 13 September 2005 . 2006 : Halaman 43-53 .keberadaan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea yang menghasilkan manfaat hidrologis terhadap rumah tangga. pendekatan biaya pengadaan. Pembangunan hutan rakyat dalam bentuk agroforestry diyakini mampu lebih luas menjangkau kantung-kantung konservasi dan preservasi sumberdaya air. Sulistya Ekawati dan Deden Djaenudin. 2005 Permasalahan hutan lindung Indonesia sudah sangat kritis. Penguatan kelembagaan seperti PPTPA diperlukan untuk mengurangi biaya transaksi dan mencapai kesepakatan multi stakeholders. kesamaan persepsi tentang istilah yang berkaitan dengan kawasan hutan lindung. tidak adanya overlapping antara kebijakan. tetapi kebijakan hutan lindung belum memberikan kepastian arah yang berati. tidak adanya dualisme antara kebijakan. Paling tidak terdapat 84 peraturan yang berkaitan dengan hutan lindung.Kirsfianti BIAYA TRANSAKSI PENGELOLAAN DAS PERSPEKTIF UNTUK SUB DAS CICATIH / Kirsfianti Ginoga. Halaman 77-96 . Kirsfianti KONTROVERSI KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG / Kirsfianti Ginoga. kajian bertujuan untuk mengkaji konsistensi dan sikronisasi kebijakan tersebut. 2006 Penguatan kelembagaan air dalam konteks DAS mensyaratkan apa yang disebut sebagai biaya transaksi (transaction cost) . Secara khusus diperlukan peraturan perundangan yang mengatur aspek kelembagaan hutan lindung. dan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Daerah Aliran Sungai (DAS).Kesepakatan dalam kelembagaan DAS akan tercapai apabila biaya transaksi yang ditimbulkan dari aransemen kelembagaan lebih rendah dari manfaat yang dirasakan bagi setiap stakeholder dalam pengelolaan DAS. DAS Cicatih Ginoga. akan tetapi arah kebijakan pengelolaan hutan lindung masih belum jelas. termasuk kelembagaan pusat dan daerah. sekaligus mengurangi kemungkinan tingginya biaya transaksi. penekanan kewenangan pengelolaan hutan lindung tetap pada pemda/BUMN/D. laju penurunan luas dan alih fungsi hutan lindung terus meningkat. yang harus ditindaklanjuti oleh departemen sektoral. hanya sebagian kecil dari nilai ekonomi air total yang dikandung oleh kawasan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea karena masih banyak pengguna-pengguna air lain yang lebih besar seiring dengan mengalirnya air. termasuk yang mengancam kelestarian kawasannya. Kajian ini ingin menjawab bagaimana kebijakan dan peraturan perundangan menjawab permasalahan pengelolaan hutan lindung? Secara lebih khusus. -. disatu sisi perlu dikonservasi tetapi di sisi lain masih dapat dibudidayakan. dan merekomendasikan kebijakan pengelolaan hutan lindung yang diperlukan untuk mencapai pembangunan hutan lindung yang berkelanjutan..al) . Pengelolaan 148 . mengetahui kondisi hutan lindung saat ini.(et. pusat-daerah. Hambatan kelembagaan sumberdaya air dapat diatasi apabila komitmen terhadap kesepakatan dapat ditingkatkan melalui penyebaran biaya dan manfaat yang lebih merata. Keberadaan hutan lindung menurut peraturan peraturan perundangan masih dilematis. dengan pengembangan koordinasi antar departemen.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Kata kunci: DAS. Hidrologis. dimana peraturan tersebut mampu menunjukan adanya Sense of Crisis dalam pengelolaan hutan lindung.

2006 : Halaman 55-61 . -. KHDTK Carita. dengan memisahkan negara dari rakyatnya sendiri karena justru rakyat lebih banyak berhasil mengelola lahan miliknya menjadi Hutan Rakyat. Pada akhir-akhir ini peran hutan tersebut sering menjadi perdebatan yang kontraversial karena dilakukan pada luasan yang relatif kecil.statis. Ismatul KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN HUTAN DENGAN PENDEKATAN SOCIAL FORESTRY: STUDI KASUS POLA PHBM DI KHDTK CARITA DAN POLA MHBM DAN MHR DI AREAL HTI PT. Oleh karena itu. Ngaloken Gintings. Pola pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat (PHBM) oleh Perum Perhutani di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita dan pola mengelola hutan bersama masyarakat (MHBM) dan pola mengelola hutan rakyat (MHR) di kawasan produksi HTI Muara Enim oleh PT. MHP MUARA ENIM / Ismatul Hakim.Gintings. Bagaimana peran hutan dalam mengatur tata air dan bagaimana kelestarian DAS Cicatih dapat dicapai akan dibahas dalam tulisan ini. kita dapat membangun kelembagaan yang kuat di masyarakat dimana masyarakat menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat dalam membangun hutan lestari yang masih ada dan merehabilitasi hutan dan lahan yang sudah rusak. Halaman 115-138 . aspek manajemen dan aspek sosial budaya kelembagaan pada tingkat mikro. Sejak awal kita harus berani memulai menerapkan berbagai alternatif model Social Forestry yang merupakan hasil optimal kombinasi berbagai pertimbangan aspek teknologi. PHBM. monolog. pendekatan yang bersifat kultural-kuantitatif merupakan sebuah konsekwensi logis yang harus dterapkan di masa mendatang. Bukti-bukti bahwa di areal yang hutannya lebat juga pernah terjadi banjir dapat dimengerti tapi frekuensi banjir di daerah yang tidak berhutan akan lebih banyak dibanding dengan daerah yang berhutan. MHR. orientasi. PHBM.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. DAS Cicatih Hakim. Pendekatan adaptif seperti ini yang diharapkan mampu mencapai cita-cita ideal dari konsep Social Forestry dalam pengelolaan hutan. DAN KELESTARIAN DAS CICATIH / A. Ngaloken HUTAN. HTI. TATA AIR. 2006 Peran hutan dalam menjaga kesuburan tanah dan mengatur tata air dalam suatu DAS sudah banyak dibuktikan. 13 September 2005 . kaku. monolog. PT. A. Kata kunci: DAS. aspek manajemen dan aspek sosial budaya (kelembagaan) masyarakat setempat yang bersifat lokal spesifik dan dinamis dari sudut ruang dan waktu. proyek. Konsultasi Multipihak. Hanya dengan menerapkan berbagai model Social Forestry dalam pengelolaan lahan dan hutan dengan variasi aspek teknologi. dan orientasi jangka pendek. 2005 Pendekatan pembangunan kehutanan selama ini yang bersifat strukturalkuantitatif. Akan tetapi kedua pola ini sudah menunjukan kemajuan besar dalam pembangunan dan pengelolaan hutan dimana pihak pengelola utamanya sudah banyak melibatkan banyak pihak terkait (stakeholders) dan memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan masyarakat dan pedesaan. Kelemahan yang juga sering terjadi adalah pengertian hutan yang tidak sama bagi masyarakat. Kita tidak memerlukan pendekatan arogansi birokrasi dan kekuasaan yang tersembunyi di balik istilah negara. Model pengelolaan kawasan hutan ke depan harus merupakan model adaptif dalam bentuk pendekatan yang konprehensif. target. proyek. Kata kunci: Social Forestry. Participatory Rural Appraisal (PRA) dan workshops yang melibatkan semua pihak terkait dapat memberikan masukan kebijakan dan langkah yang tepat dalam membangun model-model Social Foestry dan menerapkannya di lapangan. -. meskipun masyarakat sudah lebih banyak berperan dan memperoleh manfaat. Beberapa pendekatan yang melibatkan para pihak seperti Rapid Rural Appraisal (RRA). Tata Air. Demikian juga peran tanaman sejenis dalam mengatur kesuburan tanah dan tata air akan lebih kecil dibanding dengan kawasan yang hutannya merupakan tanaman campuran dengan tajuk berlapis. berorientasi target.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.Musi Hutan Persada 149 . kaku dan statis telah menjadi penyebab kegagalan kita dalam mencapai cita-cita Hutan Lestari Rakyat Sejahtera. Musi Hutan Persada (MHP) masih bernuansa pendekatan struktural-kuantitatif dari atas ke bawah. Tanaman hutan yang berada di daerah yang miring dan dibawahnya ditanami ubi kayu akan mendatangkan erosi yang cukup besar di musim penghujan.

Social Capital Hakim. -.DPRD. Peraturan Bupati. Pandangan dan pemahaman yang sama dari pihak Pemerintah Daerah atau Pemerintah Propinsi dengan 150 . Hutan Rakyat di beberapa daerah di Pulau Jawa seperti di Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten. segi pegaturan sosial ekonomi dan segi pertahanan sosial budaya masyarakat setempat. pengaturan kelembagaan usaha di tingkat petani dalam bentuk Kelompk Tani. -. dan (5) pemantapan kawasan hutan. Dalam konteks desentralisasi sektor kehutanan di daerah. BUMD. sehingga merupakan social capital penting bagi penguatan kelembagaan sektor kehutanan ke depan. kesempatan usaha. dunia usaha (BUMN. 2006 Hutan rakyat yang tumbuh di Indonesia khususnya di Pulau Jawa merupakan hasil perpaduan antara budaya lokal/tradisional masyarakat/petani dalam menanam pohon dengan budaya baru yang mengandung muatan teknologi dan manajemen pohon yang lebih berorientasi pasar dan industri. (3) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan. (4) pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan. PROPINSI BANTEN / Ismatul Hakim. Disamping itu. Lembaga atau Organisasi Kemasyarakatan maupun kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam hutan dan lahan dalam membuat peraturan perundangan dan kebijakan seperti PERDA. RAPERDA/PERDA yang diajukan harus sejalan dengan isi dan substansi yang ada dalam peraturan perundangan tersebut termasuk 5 (lima) prioritas program yang sudah dicanangkan oleh Departemen Kehutanan yaitu prioritas program pembangunan kehutanan terdiri dari : (1) pemberatasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal.2006 . yang jelas masyarakat/petani sudah dapat meghasilkan kayu yang berasal dari lahan miliknya sendiri dan dikelola dengan modal sendiri. perlu adanya dukungan kebijakan. Halaman 109-118 . Peraturan Pemerintah. Surat Keputusan Kepala Dinas lainnya. Pengaturan yang berbelit belit terhadap peredaran dan pemasaran hasil kayu dari masyarakat akan menjadi disincentive bahkan distorsi dalam menumbuhkan budaya menanam pohon di masyarakat. Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat dan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah telah mampu mendorong pertumbuhan kesempatan kerja. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan berbagai peraturan operasional di bawahnya.2006 . dan pihak terkait lainnya). Swasta). Kelompok Usaha Bersama Ekonomi (KUBE dan Koperasi Tani) yang benar-benar tumbuh dan diciptakan dari masyarakat sendiri secara alami agar bisa lebih berdaya.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Ismatul KAJIAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM KONTEKS DESENTRALISASI : STUDI KASUS DI KABUPATEN PANDEGLANG. Kata kunci: Hutan Rakyat. Istilah Hutan Rakyat masih erupakan rekayasa dari atas yang tidak dikenal masyarakat. 2006 Peranan hutan sebagai kawasan maupun sebagai tutupan vegetasi masyarakat pepohonan pada sebuah hamparan lahan sangat penting dalam mendukung kelestarian ekositem suatu daerah baik dari segi penataan air (hidro-orologis). Halaman 22-42 . Peran dan fungsi hutan dalam bentuk kawasan tetap dan tutupan vegetasi hutan di kabupaten Pandeglang propinsi Banten seharusnya dapat dipahami secara tepat dan benar oleh semua pihak baik pemerintah (PEMDA. (2) revitalisasi sektor kehutanan.Adanya pertumbuhan budaya menanam yang demikian tinggi seperti Hutan Rakyat di masyarakat ini harus terus ditumbuhkembangkan oleh pemerintah dengan memberikan dorongan insentif dan kemudahan bagi pengembangan Hutan Rakyat di masa mendatang. segi pengaturan tata iklim dan cuaca (udara) atau Clean Development Mechanisms (CDM). 41 tahun 1999. Isi dan kandungan daripada PERDA bidang kehutanan harus menampung dan menyerap berbagai permasalahan dan potensi aktual yang terjadi di tingkat kebijakan dan tingkat operasional lapangan baik horizontal maupun vertikal.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. maka para pihak di daerah harus dapat memahami berbagai peraturan perundangan terkait seperti Undang-undang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya No: 5 tahun 1990 dan Undang-undang Pokok Kehutanan No. Surat Keputusan Bupati. meningkatkan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).Hakim. Ismatul PENGUATAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT: SEBUAH SOCIAL CAPITAL BAGI MASA DEPAN KEHUTANAN INDONESIA / Ismatul Hakim. Untuk memperkuat pola dan kelembagaan pengelolaan Hutan Rakyat secara lestari. Perguruan Tinggi. khususnya industri kehutanan.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Hidrolologi adalah indikator yang sangat signifikan untuk mengetahui adanya degradasi DAS seperti terjadinya erosi. 2006 : Halaman 123-143 . 2006 Ketertarikan komponen biofisik DAS dan kepentingan ekonomi wilayah. vegetasi. Wuri PENDEKATAN SIMULASI HIDROLOGI DALAM PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS / Wuri Handayani dan Gunardjo Tjakrawarsa. longsor dan sedimentasi serta distribusi aliran yang tidak seimbang/merata (timbulnya banjir dan kekeringan). Desentralisasi. dianalisis dan dibahas dengan metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. dan air. Untuk menambah sumber pendapatan selain dari sektor kehutanan. dan setiap sub sistem saling berinteraksi (Kartodihardjo. umumnya menjadi obyek atau sasaran fisik alamiah. dan Sinergi. kab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengelolaan hutan rakyat dilakukan dalam bentuk monokultur tanpa tanaman pendamping. Pengelolaan DAS adalah pengelolaan berbagai sumberdaya alam yang terdapat di dalam satuan DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi budaya yang berkembang di dalam DAS. -. Dengan demikian pengelolaan DAS dapat ditinjau dari sudut pandang fisik maupun institusi sehingga kegiatan dan kebijakan pengelolaan DAS yang perlu ditempuh tidak hanya mendasarkan pada indikator fisik.1 . Banten Handayani. Dalam tulisan ini juga diberikan contoh aplikasi simulasi (model) hidrologi dikaitkan dengan penutupan/penggunaan lahan sehingga dapat diketahui pengaruh perubahan penutupan/penggunaan lahan terhadap perubahan hasil air DAS. Kata kunci: DAS. Namun pendekatan pengelolaan DAS dalam perencanaan pembangunan wilayah masih belum populer/jarang digunakan dibanding pendekatan lainnya. Pandeglang. tetapi keberhasilannya sangat didukung oleh adanya kelembagaan untu mewujudkan koordinasi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Unsur penyusun sistem di dalam DAS tersebut antara lain berupa sumberdaya alam seperti tanah. padahal dampak yang ditimbulkan mengikuti batas alam/ekosistemnya yang tidak mengenal batas administrasi. Nur POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Nur Hayati. 2006 Penelitian ini dilakukan terhadap anggota Kelompok Tani Hutan ”Bulu Dua” yang mengelola hutan rakyat di Desa Lasiwala. Halaman 13-21 . Pemanfaatan sumberdaya alam sebagai input pembangunan wilayah pada masa kini masih lebih banyak menekankan pada batas-batas yang bersifat politis atau administratif. Perencanaan pengelolaan DAS Hayati. Data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengelolaan lahan kritis bersama masyarakat pada areal hutan rakyat. Daerah Aliran Sungai merupakan megasistem kompleks yang terbangun atas sistem fisik. 1987). beberapa tujuan penggunaannya dan manfaat yang diperoleh. Hidrologi. sehingga dapat dicapai pengelolaan yang rasional untuk mencapai keuntungan optimal yaitu dalam waktu tak terbatas dan resiko kerusakan minimal. Tulisan ini akan memberikan gambaran penggunaan simulasi hidrologi dalam perencanaan pengelolaan DAS. integrasi.pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan akan mampu mendorong kemantapan sektor kehutanan di daerah secara sinergis antara para pihak di daerah. Anggota kelompok tani pada umumnya mempunyai kebun di luar kawasan hutan Gmelina yang dikelola secara terpisah berupa kebun coklat. sinkronisasi. Pendayagunaan salah satu atau beberapa unsur/komponen akan mempengaruhi komponen lainnya di dalam DAS dan dapat menimbulkan perubahan dari keadaan alaminya sehingga terjadi gangguan keseimbangan atau gangguan ekologis yang menunjukan terjadinya degradasi DAS. Kata kunci: Kebijakan Kehutanan. menjadikan pengelolaan DAS merupakan pendekatan yang penting dalam perencanaan pembangunan wilayah. sistem biologis dan sistem manusia. Kecamatan Pitu Riawa Provinsi Sulawesi Selatan. sedangkan manusia menjadi subyek atau pelaku pendayagunaan unsur-unsur tersebut (Murtilaksono. rata-rata petani memiliki lahan pertanian atau empang ikan yang dikelola secara terpisah di luar kawasan hutan rakyat atau bekerja di luar sektor kehutanan dan Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) / 151 . 2005). jambu mete dan kelapa. Dengan pemahaman yang sama dan dukungan yang kuat antara semua pihak terkait dalam proses penyusunan sebuah perangkat peraturan dan perundangan seperti PERDA bidang/sektor kehutanan akan melahirkan komitmen dan tanggung jawab yang kuat semua dalam pencapaian misi dan visi serta penerapan substansi penguatan sektor kehutanan di daerah.

Halaman 63-77 . Kresno Agus KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kresno Agus.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. serta standar biaya antara satu daerah dengan daerah lainnyapun menentukan baik tidaknya kegiatan rehabilitasi.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Kresno Agus MENINGKATKAN KEMITRAAN PENGELOLAAN DALAM HUTAN TANAMAN INDUSTRI: BEBERAPA KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN/ Kresno Agus Hendarto dan Krisdianto. Kemitraan dilakukan antara pengusaha besar dan kecil. Salah satu upaya yang dianggap tepat dalam memecahkan masalah ini adalah dengan melalui kemitraan. Halaman 161169 . kejelasan setelah kegiatan proyek selesai. tulisan ini mencoba untuk menggambarkan tentang bagaimana pola kemitraan yang telah dilakukan dan apa saja kebijakan yang dapat ditelurkan agar proses kemitraan ini dapat terus berlanjut. untuk tahun-tahun ke depan selain penanaman dilakukan oleh daerah. 6 Desember 2006 . tidak ada tanah gersang dan lahan kering yang berupa alang-alang. antara yang kuat dan yang lemah. lahan kritis Hendarto. Mengambil contoh pengelolaan Hutan Tanaman Industri. BP DAS Jeneberang Walanae dan LSM Yagrobitama. agar rantai birokrasinya lebih pendek. 13 September 2005 . Namun demikian ada beberapa kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang masih belum sinkron dan terintegrasi dengan kebijakan GERHAN. Hasil penelitian di Propinsi Kalimantan Tengah menunjukan bahwa untuk daerah-daerah (Kabupaten dan Kota) yang tidak membuat Peraturan Turunan dari Peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. erosi dan tanah longsor. yaitu Pemerintah swasta. bibit juga diusahakan oleh daerah. Hasil sensus ekonomi tahap III menunjukan bahwa pengusaha besar jumlahnya di bawah 1 persen. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. maka turunnya dana sebaiknya pada awal tahun anggaran. 2006 Ada tiga pilar pelaku ekonomi yang diamanatkan di UUD 1945. Kata kunci : pengelolaan. Rehabilitasi lahan. dan usaha kecil/koperasi. -. Kepastian jumlah dan waktu penyerahan bibit dari BPDAS agar pasti sehingga dapat memudahkan merencanakan kegiatan. Struktur organisasi kelompok tani termasuk dalam kategori organisasi modern.pertanian. Kemitraan Pengelolaan Hendarto. Sedangkan untuk daerah yang telah membuat Peraturan Turunan dari peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. Meminimalisasi pihak-pihak yang terlibat dalam GERHAN. 2005 Kebijakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) bertujuan untuk menanggulangi dan mengurangi laju penambahan lahan kritis. perencanaan dan prioritas lokasi perlu diperhatikan. untuk melakukan koordinasi dengan para petani khususnya dalam melakukan pembinaan. Kebijakan 152 . Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. Adanya wadah kelompok tani ini semakin mempermudah pemerintah daerah. Dampak lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya program hutan rakyat adalah lingkungan (iklim mikro) yang lebih baik. tetapi menguasai 70 persen Produk Domestik Bruto. Selain itu secara keseluruhan. hal ini dapat diteruskan karena masing-masing daerah mempunyai ciri karakteristik yang berbeda. hutan rakyat. Oleh karena itu kajian kebijakan pemerintah tentang rehabilitasi hutan dan lahan sangat diperlukan. Seandainya memungkinkan. dalam hal ini Dinas Kehutanan Kabupaten Sidrap. waktu yang sesuai. -. Pendanaan untuk inventarisasi dan identifikasi sosekbud masyarakat dan perencanaan teknis dapat disalurkan minimal pada tahun T-1.

000 – Rp. -.000 – Rp. -. -. menggunakan metode sample bertujuan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No.200. Berdasarkan jalur pengangkutan kayu dibedakan dalam 2 jalur. Halaman 189-196 . tulisan ini memcoba memberi gambaran singkat/memotret dampak dari kegiatan illegal logging terhadap perubahan peran kelembagaan yang ada. umumnya berstatus sebagai pekerjaan sampingan dan mampu menghasilkan pendapatan Rp 33.2 . Pengujian faktor dominan dilakukan dengan metode ”one pair comparasion” Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya perbedaan beberapa aspek penelitian pada dua kelompok pemungut.000. Henti Hendalastuti R.2 . Sedangkan yang dimaksud kelompok utara adalah kelompok masyarakat dalam bentuk badan usaha (koperasi) yang memiliki ijin HPHH 100 ha. 2006 Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sebagai salah satu taman nasional dengan areal yang cukup luas (800.. Perkembangan lanjut dari praktek illegal logging ini dalam praktek jual beli dikenal 2 sistem.. Kayu hasil illegal logging biasanya dilempar keluar untuk menghindari pencekkan dan kontrol. merupakan pekerjaan utama bersama-sama dengan pengumpulan hasil hutan non kayu lainnya. Berdasarkan pelaku illegal logging dibagi 2 kelompok. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya illegal logging adalah akibat kombinasi faktor sosial ekonomi (kemiskinan mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya hutan). 2) Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya illegal logging?. dan mampu menghasilkan pendapatan Rp. dan dengan analisis studi kasus deskriptif. 4. 2. yaitu darat dan air. Illegal logging adalah logging atau penebangan kayu di Taman Nasional atau kawasan konservasi lain. (2) Pelaku illegal logging. Dari hasil penelitian tersebut. Sedangkan pada Suku Kubu pemungutan dilakukan secara berkelompok. Rute darat terbagi menjadi jalur utara (Malaysia) dan jalur selatan (Pontianak). Kelembagaan Hidayat. Kelompok selatan adalah illegal logging yang dilakukan oleh masyarakat di luar masyarakat adat secara individual atau berkelompok. Nunung Parlinah. Kresno Agus POTRET ILLEGAL LOGGING DI PROPINSI RIAU: STUDI KASUS PERUBAHAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DAN LEMBAGA EKONOMI DESA / Kresno Agus Hendarto dan Aneka Prawesti Suka. 13 September 2005 . Aneka Prawesti Suka. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan petani/kelompok tani pemungut/pengumpul. Asep ANALISIS PEMUNGUTAN ROTAN PADA DUA KELOMPOK MASYARAKAT PEMUNGUT (analysis of rattan Collection on Two Group Collector)/ Asep Hidayat. Pada masyarakat biasa pemungutan rotan dilakukan secara individual. Halaman 75-85 .. Hasil pembahasan memperlihatkan pola illegal logging di TNBK dibedakan berdasarkan : (1) Jalur pengangkutan kayu. Kata kunci: Illegal Logging. yaitu sistem penjualan langsung (cash and carry) dan sistem ijon (rentenir). Mengambil lokasi di propinsi Riau. khususnya Provinsi Kalimantan Barat.per bulan. Dodi Frianto. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pola praktek illegal logging di TNBK. Halaman 91-107 . 2006 Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola dan aspek-aspek pemungutan rotan pada dua kelompok pemungut yaitu masyarakat biasa dan masyarakat adat/Kubu yang dikenal dengan sebutan Suku Kubu.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Kegiatan illegal logging saat ini marak terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu dan mulai mengancam kawasan konservasi Taman Nasional Betung Kerihun. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kegiatan illegal logging memberikan dampak perubahan terhadap peran lembaga sosial yang ada di lokasi illegal logging.per bulan. faktor hukum dan 153 . kegiatan pemungutan memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pemungut dan pemungutan yang dilakukan sangat memperhatikan kelestarian terutama yang dilakukan oleh masyarakat adat (Suku Kubu) Kata kunci : rotan. tanpa ijin dari pemerintah (yang oleh negara diserahi tanggung jawab untuk mengurus). 2005 Dengan kata yang ringkas. 3.000. dan (3) Upaya-upaya apa yang telah dilakukan untuk mencegah praktek illegal logging?.000.000 Ha) memiliki nilai penting dan fungsi yang sangat strategis dalam mendukung sistem penyangga kehidupan serta mendukung pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. dan (3) Sistem jual beli. kelompok pemungut Indartik ILLEGAL LOGGING DI TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK) DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI/ Indartik.200. pemungutan. yaitu kelompok selatan dan utara.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Propinsi Riau.Hendarto.

bahari serta budaya. pemanfaatan jasa wisata alam dapat menjadi alternatif pengganti pemanfaatan tambang yang kurang mendukung upaya konservasi. ada peluang bagi masyarakat dan perlu pendampingan Kata kunci: Bantimurung-Bulusaraung. saling menguntungkan.7 Ha s/d 50 Ha) di Kabupaten Maros. stakeholder yang akan berkolaborasi memiliki kepentingan yang beragam sehingga perlu dibangun kesepahaman. 18 industri marmer (konsesi 2. patroli PolHut dan sarasehan multi pihak dalam mencari solusi penanggulangan illegal logging.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Dinas Pariwisata Kabupaten. Illegal logging.354. 4. Pengembangan wisata alam di Sulawesi Selatan dapat menjadi pengungkit bagi berkembangnya pemanfaatan jasa lingkungan terutama wisata alam yang ada di desa-desa sekitar TN BantimurungBulusaraung. kelembagaan 154 . Pemerintah Kabupaten Maros dapat menghimpun Penerimaan Daerah dari Taman Wisata Alam Bantimurung yang makin meningkat dari tahun ke tahun. Dengan menyediakan sarana prasarana fisik dan kelembagaan. namun dipandang kurang sejalan dengan kebijakan penunjukan kawasan kars tersebut sebagai kawasan konservasi. Selain sejalan dengan penunjukkan kawasan kars Bantimurung-Bulusaraung sebagai TN.7 Ha s/d 50 Ha). 2. Dinas Pariwisata. serta pabrik Semen Tonasa (konsesi 1.kebijakan (reformasi dan otonomi daerah).7 Ha). sehingga menjadi peluang kerja dan berusaha untuk memberdayakan masyarakat serta sebagai sumber Penerimaan Daerah. pelaku usaha tambang lainnya. Industri Marmer. -. dan penambangan pasir/pasir silika/batu /batu gunung/semen/emas di Kabupaten Pangkep. Industri Marmer.1 . Setiasih KAJIAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG DI SULAWESI SELATAN/ Setiasih Irawanti. Efektivitas penanggulangan illegal logging melalui pendekatan keamanan tersebut sampai saat ini dirasakan masih belum efektif. Di kawasan TN masih ditemui pemukiman penduduk dari desadesa sekitarnya sehingga perlu dipertimbangkan dalam proses pengukuhan khususnya penataan batas. dapat memberi kontribusi pada Penerimaan Daerah. serta di Kabupaten Pangkep 2 diantara 7 obyek wisatanya. partisipatif. serta dalam proses penataan hutan khususnya zonasi kawasan.Di Kabupaten Maros 6 diantara 10 obyek wisatanya. Pemerintah Pusat melalui Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Balai Perpetaan Kawasan Hutan Sulawesi Selatan. Pola Illegal Logging Irawanti. Penambang pasir/pasir silika/batu gunung /emas. Pabrik Semen Tonasa. berada di desa-desa yang berbatasan dengan TN. dan penduduk desa setempat. Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. saling percaya. faktor sosial budaya (pergeseran tata nilai di masyarakat yang cenderung materialistis) dan permintaan kayu (Permintaan kayu tinggi). adil. potensi dan permasalahan sosial ekonomi dan kelembagaan yang ada di lokasi Taman Nasional (TN) BantimurungBulusaraung sebagai masukan dalam proses penyusunan rencana pengelolaannya. Hal ini diindikasikan dengan masih maraknya illegal logging. 2006 Tujuan kajian sosial ekonomi dan kelembagaan ini adalah memperoleh data dan informasi mengenai kondisi. Pabrik semen Bosowa (konsesi 1. Kata Kunci : TNBK. Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam menanggulangi illegal logging diantaranya : Operasi Wanalaga. Bila pengelolaan TN Bantimurung-Bulusaraung dilakukan secara kolaboratif /kemitraan.000 Ha) dan 11 industri marmer (konsesi 2. Keberadaan gua-gua di kawasan tersebut merupakan potensi untuk pengembangan obyek wisata alam. Pemerintah Kabupaten Pangkep dan jajarannya. Stakeholder primer yang perlu diperhatikan kepentingan dan partisipasinya dalam menyusun rencana pengelolaan TN BantimurungBulusaraung adalah: 1. dan penduduk desa setempat. Pemerintah Daerah (PEMDA) Sulawesi Selatan membuka peluang untuk berinvestasi pada usaha pariwisata alam. Biro Perjalanan Wisata 3. Halaman 39-57 . konservasi. Mengelola jasa wisata alam dengan baik dapat menjadikannya sebagai sumber Penerimaan Daerah yang dapat diandalkan. Kantor Pengelola Kawasan Bantimurung. Pemerintah Kabupaten Maros dan jajarannya. Pabrik Semen Bosowa. Dinas Pariwisata Provinsi telah menjalin kerja sama dengan sejumlah biro perjalanan wisata dan menyediakan paket-paket wisata.

tahun 2002 sampai 2005. -. 13 September 2005 . KPH Ciamis memberi perhatian atas hutan mangrovenya setelah sebagian dikonversi oleh masyarakat setempat menjadi persawahan dan pemukiman penduduk. pengumpulan data menggunakan metoda pencatatan. Karena itu bagaimana agar dampak pemanfaatan air ini kembali kepada konservasi air perlu mendapat perhatian lembaga yang berwenang. 27. Prasmadji Sulistyanto . Ciamis. Kata kunci : Mangrove. Penelitian dilakukan pada awal tahun 2006 di Kabupaten Ciamis. serta metoda analisis tabulasi. sehingga mereka beralih profesi menjadi petani padi. Pemda Sukabumi dan ASPARDIN. evaluatif. -. 2006 : Halaman 209-217 . 2003). dengan cara melakukan rehabilitasi dan konservasi wilayah hulu DAS Citanduy. Pemanfaatan sumberdaya air melalui industri air minum dalam kemasan (AMDK) membuka kesempatan berusaha terhadap 28 perusahaan dan membuka kesempatan kerja sebanyak 2. Besarnya PAD dari pajak air ini masih belum sepenuhnya kembali kepada pengelolaan konservasi air. berbagai fungsi ekologi. Halaman 205-217 . Masih 40% hutan mangrove di KPH Ciamis berupa rawa atau semak belukar.Irawanti. sosial.214. Perhutani Karyono DAMPAK PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SUKABUMI / Karyono dan Kirsfianti Ginoga. dengan hasil sebagai berikut. 220. 34. banyak kebijakan daerah yang diluncurkan dalam upaya menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD).K. konsultasi dan pengamatan lapangan. 2005 Kawasan Pelestarian Alam yang boleh dimanfaatkan untuk pariwisata alam sebanyak 41 lokasi di kawasan Taman Nasional. Beragamnya data dan informasi tentang keberadaan hutan mangrove di Ciamis menarik perhatian untuk dikaji.000.152. 2006 Setelah diberlakukannya otonomi daerah tahun 1999. Halaman 197-203 . OK PELUANG PENGUSAHA BERINVESTASI DI SEKTOR PARIWISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI / O. strategis dan kaya sumberdaya alam. Hutan mangrove di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis termasuk hutan produksi (HP) kelas hutan alam kayu lain tak baik untuk jati (HAKLTB).Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.000 s/d Rp. dan politis. Usaha mengembangkan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) untuk hutan mangrove oleh KPH Ciamis baru dalam tahap wacana.450. dalam kawasan hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. selama empat tahun terakhir. dan deskriptif.000. Pola investasi yang diterapkan pada pengembangan pariwisata alam 155 . 1. Seluruh hutan mangrove di KPH Ciamis kini tengah menghadapi bencana kepunahannya.000.370 orang dengan kemampuan investasi AMDK antara Rp. sehingga keberadaannya sangat berarti bagi lingkungan dalam arti luas. Karyono. 2006 Ekosistem mangrove dengan berbagai jenis vegetasi penyusunnya memiliki karakteristik khas. Kata kunci: Sumberdaya Air.-.3 . Kuncoro Ariawan.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. ekonomi. penerimaan pajak air bawah tanah mencapai Rp. Kabupaten Sukabumi Karyono.000. Perlu pula dirintis kerjasama antara Perum Perhutani khususnya KPH Ciamis. Proyek Rehabilitasi dan Konservasi Segara Anakan. serta Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mengkonservasi Segara Anakan dan hutan mangrove desa Pamotan di wilayah hilir DAS Citanduy. Pendapatan Asli Daerah. aksesibilitas sangat baik. Data keberadaan dan luas hutan mangrove di Kabupaten Ciamis sangat bervariasi namun dilaporkan sebagian besar berada di Desa Pamotan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Karakteristik laut dan pesisir sangat terbuka. namun di dalamnya telah dipenuhi patok-patok klaim hak atas lahan dari masyarakat setempat. karenanya ekosistem mangrove menghadapi ancaman sangat berat dari berbagai sektor atau stakeholder. -. Setiasih HUTAN MANGROVE CIAMIS YANG TERABAIKAN / Setiasih Irawanti .241.000 dan pajak air permukaan mencapai Rp. salah satunya adalah pajak air bawah tanah (PABT) dan pajak air permukaan (PAP). Konversi hutan mangrove tersebut oleh penduduk setempat menjadi lahan persawahan padi dan pemukiman dilakukan karena hasil tangkapan ikan nelayan Pamotan kian hari kian menurun akibat pendangkalan dan penyempitan Segara Anakan. terutama pengelola hutan lindung dan kawasan konservasi. Untuk kabupaten Sukabumi. namun selama hampir 30 tahun belum dilakukan pengelolaan atau pengusahaan sebagaimana mestinya sebuah kawasan hutan sehingga terkesan sebagai lahan tidur. 17 lokasi di kawasan Taman Hutan Raya dan 102 lokasi di kawasan Taman Wisata Alam (Dephut.

14 m kubik.. Dilihat dari jumlah kawasan konservasi yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam dengan jumlah taman nasional yang sudah ada pengusahanya.301.Dari jumlah ini.35 persen. Karyono KONTRIBUSI HUTAN RAKYAT DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD): STUDI KASUS KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT / Karyono dan Dian Diniyati.356. -. Dari produksi dan peredaran kayu di kabupaten Ciamis pada tahun 2005 memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) melalui pungutan-pungutan atau retribusi (Leges. 19/2004) sebesar 0. kegiatan yang dibiayai oleh APBD II dan swadaya masyarakat dilaksanakan melalui kegiatan pembibitan/pembuatan persemaian. Kata kunci: Hutan Rakyat. Unit Percontohan Upaya Pelestarian Sumberdaya Alam (UP UPSA). Ditambah lagi dengan adanya krisis multidimensi yang berkepanjangan yang menyebabkan berbagai konflik kepentingan dalam pemanfaatan hutan dan lahan serta masih rendahnya peran aktif masyarakat umum terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan.2006 . pengembangan hutan rakyat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal maupun regional melalui kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dari hulu sampai hilir.memberikan kesempatan berusaha di bidang pariwisata alam yang bersifat komersial terutama BUMN.d. Pemanfaatannya harus dilaksanakan secara hati-hati dan bijaksana.3 milyar. 15 buah pada kawasan Taman Nasional. Mahoni. yang biasa dikenal dengan upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). 1. 6 Desember 2005 . embung. Jumlah pengusaha/investor yang menanamkan modalnya di sektor Pariwisata Alam s. Ciamis. Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK). Dalam peredaran kayu di kabupaten Ciamis selama 3 tahun terakhir dokumen angkutan kayu rakyat (SKSHH) mencapai 52. 2006 Hutan dan lahan sebagai sumberdaya alam merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Pengasih. Produksi dan peredaran kayu rakyat selama 5 tahun terakhir (2002 s/d 2005) mencapai 504.49 persen) dari luas Kab. Halaman 134-141 .44 ha (9.Jumlah modal yang diinvestasikan oleh pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) dalam kegiatan pariwisata alam tercatat Rp. Jawa Barat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tasikmalaya. Ciamis yang tersebar di 37 kecamatan dan didominasi oleh jenis kayu Albazia. Tekanan-tekanan ini masih sering dijumpai dalam pengelolaan sumberdaya alam terutama hutan dan lahan akibat belum mempertimbangkan kelas kemampuan lahan dan penerapan teknik konservasi yang baik dan benar. Pendapatan Asli Daerah. diperlukan upayaupaya untuk memulihkan dan mempertahankan fungsinya kembali. Kegiatan RHL baik melalui kegiatan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL).Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. maka petani dapat merasa diringankan beban ekonominya dari hasil penjualan kayunya dan pemerintah daerah dibantu untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya melalui retribusi dan pungutan sah lainnya. Dewasa ini. dan Koperasi serta kepada pihak-pihak tertentu (PMDN dan PMA) sesuai dengan peraturan yang berlaku. masih terbuka peluang bagi investor/pengusaha untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata alam. Terhadap kondisi tersebut di atas.pengkayaan tanaman. Melalui pengembangan hutan rakyat. Juni 2004 adalah 43 perusahaan. Halaman 1-7 . sehingga dapat terus lestari dan mendukung terwujudnya masyarakat sejahtera. -. Taman Wisata Alam. Kata kunci: Pariwisata Alam. dan Jati.BUMD. Taman Nasional. sementara tingkat kesejahteraan dan pendidikan masih rendah. Perda No.089. Kawasan konservasi sebab itu dalam tulisan ini dikaji sejauhmana kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan asli daerah. pembangunan Hutan Rakyat/Kebun Rakyat.534 dokumen. dan lain-lain adalah upaya memulihkan atau memperbaiki kembali lahan kritis di luar kawasan hutan agar dapat berfungsi sebagai media produksi dan pengatur tata air yang baik serta mempertahankan dan meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan peruntukkannya. Di era otonomi daerah. 2006 Luas hutan rakyat di Kabupaten Ciamis lebih kurang 24. terjadi degradasi kawasan hutan dan lahan sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. 28 buah pada kawasan Taman Wisata Alam (TWA).Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. sumur resapan. Oleh 156 .57 m kubik dengan rata-rata per tahun 126.

Propinsi Jawa Barat Rakyat. yang berakibat merosotnya kualitas lingkungan (banjir. Kata kunci: Pembangunan hutan. Pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan menjadi sangat penting dan strategis dalam mewujudkan pembangunan kehutanan sebagaimana tersebut di atas. Disisi lain tingkat kesejahteraan masyarakat disekitar hutan sangat rendah yang semakin menambah laju kerusakan hutan akibat pencurian kayu. Hutan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN CIAMIS / Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. serta bersifat sentralistik menjadi pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya hutan. ekologi. Pada intinya dicapai dalam pembangunan kehutanan adalah suatu sistem pengelolaan hutan yang mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi. Halaman 14-21 . -. Kab. Kemasyarakatan. Salah satu jenis yang telah dikembangkan dalam areal HTI adalah kayu mangium (Acacia mangium Willd. Hutan rakyat (hutan hak/milik) dapat memberikan kontribusi terhadap penyediaan bahan baku kayu dan non kayu bagi rumah tangga dan industri yang semakin terbatas dihasilkan dari hutan negara. Halaman 151-159 . erosi. Namun demikian model pembangunan kehutanan saat ini juga telah memberikan dampak yang banyak merugikan yang kita rasakan dewasa ini. Kata kunci: Pembangunan hutan. Kab. 6 Desember 2006 . kebijakan.Tasikmalaya Hutan Rakyat. berbasis masyarakat.Kata kunci: Pembangunan Hutan.). kekeringan). bersifat desentralistik dan berkeadilan.) SEBAGAI BAHAN BAKU MEBEL/ Krisdianto dan Kresno Agus Hendarto. Hutan Krisdianto PEMANFAATAN KAYU MANGIUM (Acacia mangium Willd. -. Hutan mengganggu fungsi hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. Hutan Kemasyarakatan. 2006 Pembangunan Hutan Rakyat yang sejalan dengan landasan utama penyelenggaraan kehutanan dapat berfungsi sebagai penanggulangan lahan kritis. Kebijakan. 6 Desember 2005 . penjarahan dan perambahan hutan. Halaman 8-13 . berorientasi lingkungan. Hal ini tampak dari penggunaan kayu mangium dalam industri pengolahan mebel dan pertukangan di sentra industri mebel Jawa 157 . 2006 Kondisi Industri Kehutanan saat ini dan di masa yang akan datang sangat bergantung dari pembangunan HTI (Hutan Tanaman Industri).Selain dapat menekan illegan loging hutan rakyat yang sudah berkembang sejak lama di kalangan masyarakat Jawa barat juga dapat memenuhi kebutuhan produksi kayu yang belum terpenuhi dari hasil hutan. Tujuan pembangunan HTI adalah memenuhi kebutuhan kayu sebagai pulp dan kertas juga telah digunakan sebagai bahan baku mebel dan kayu pertukangan. Permasalahan ini semakin lama semakin komplek yang saat ini pada umumnya belum dapat diselesaikan secara tuntas. kebijakan. serta mempunyai peran dalam merehabilitasi lahan-lahan kritis di luar kawasan hutan. dan sosial secara berimbang. Sebagai salah satu sektor pembangunan yang sangat strategis selama dekade terakhir sektor kehutanan telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi nasional. Tasikmalaya Hutan Rakyat. Kemasyarakatan. Laju kerusakan hutan dan lahan sebagai akibat pemanfaatan hasil hutan kayu secara berlebihan meningkat dengan cepat. 6 Desember 2005 . Tulisan ini disajikan untuk memberikan gambaran tentang kebijakan pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di kabupaten Ciamis. 2006 Paradigma pembangunan kehutanan nasional dewasa ini telah mengalami perubahan yang cukup mendasar dari yang semula dititikberatkan pada pengelolaan kayu dan komoditi.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. sedangkan hutan kemasyarakatan yang merupakan hutan negara yang sistem pengelolaan bersama-sama masyarakat memberikan peluang usaha bagi masyarakat di dalam kawasan hutan tanpa Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI PROPINSI JAWA BARAT / Kepala Dinas Kehutanan di Propinsi Jawa Barat.

Kata kunci: Kayu mangium. Metode penelitian yang dipakai adalah PDC (Pemahaman Pedesaan Cepat) dan PDP (Pemahaman Pedesaan 158 . budaya maupun sumberdaya alam dan sumberdaya manusia.53 .Tengah dan Jawa Barat. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung. Acacia mangium Willd. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. Halaman 115-130 . dan budaya berburu. kebakaran hutan Kusumedi. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Saat ini kayu mangium telah digunakan sebagai substitusi kayu jati.3 . Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. Halaman 209-315 . SULAWESI SELATAN / Priyo Kusumedi. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. 25 Agustus 2005).2 . Penggunaan kayu mangium saat ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mebel dan pertukangan dalam skala lokal. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu.3 . serta memiliki kehendak yang sama untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya alam. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia.66. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang model kelembagaan berbasiskan masyarakat dalam rangka mewujudkan pengelolaan hutan lestari. ekonomi. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. dan Nusa Tenggara Timur. bahan baku Mebel Kurniadi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. Penggunaan kayu mangium sebagai pengganti kayu jati dilakukan secara parsial maupun secara total. I Made Widnyana. 2006 Kelembagaan dalam pengembangan hutan kemasyarakatan pada umumnya merupakan suatu perkumpulan petani yang anggotanya mempunyai kesamaan kepentingan dan kondisi lingkungan baik sosial. kebakaran hutan Kurniadi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Kata kunci : Budaya. -. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA MIO DAN DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR)/ Rahman Kurniadi .. disamping adanya keakraban. perladangan berpindah. 25 Agustus 2005). Berat jenis kayu ini bervariasi dari 0. fire maniac. Sumatera. dan budaya berburu. dan Nusa Tenggara Timur. -. Salah satu kelebihan kayu mangium adalah warnanya mirip dengan kayu jati. perladangan berpindah.0. Sumatera. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan. Halaman 235-241 . keserasian. Priyo KELEMBAGAAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KHDTK BORISALLO. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. I Made Widnyana. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung. fire maniac. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. Kata kunci : Budaya. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR) / Rahman Kurniadi . Kayu mangium merupakan kayu dengan kelas kuat IIIII dan kelas awet III.

dan secara luas pada tahun 1992 dalam bentuk HTI. hal ini diduga sebagai akibat dari variasi faktor edafis (Simpson. Halaman 39-47 . Kata kunci: Acacia mangium. -. Inti dari program Social Forestry adalah masyarakat terlibatkan aktif secara langsung dalam pengelolaan hutan dengan tujuan masyarakat bisa sejahtera dan kondisi hutan bisa lebih baik.q Departemen Kehutanan pada bulan Juli 2003 dicanangkanlah program Social Forestry sebagai upaya perbaikan kondisi hutan di Indonesia sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. Berdasarkan paradigma Social Forestry tersebut maka keberhasilan pembangunan kehutanan sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dalam berkontribusi terhadap upaya pengelolaan 159 . 1992. Di Kalimantan Selatan saat ini hanya HTI Hutan Rindang Banua (dulu PT Menara Hutan Buana) yang masih tetap sebagai HTI pulp. pihak pengelola HTI dihadapkan pula pada problem tataguna lahan seperti klaim area tanam oleh masyarakat sekitar. 1992). Kondisi pertumbuhan di lapangan sangat beragam walau berada dalam hamparan yang relatif berdekatan. permasalahan pemagaran lahan dengan kawat berduri dan pengembalaan liar oleh sebagian anggota sehingga membangun tata nilai bersama menjadi suatu kesepakatan dibentuknya lembaga (4 kelompok tani hutan) dan beberapa aturan interen/kesepakatan bersama. dan tidak sedikit tegakan dengan riap jauh di bawah target tersebut. Kejadian ini sudah tentu akan mengakibatkan tidak tercapainya target produksi yang telah ditetapkan. HTI.mangium tersebut salah satunya adalah peningkatan kerapatan tegakan dan penurunan daur. 2006 : Halaman 189-208 . 2006 Bertitik tolak dari UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dimana masyarakat diberi kesempatan untuk ikut mengelola kawasan hutan sebagai alternatif bentuk pengelolaan hutan oleh masyarakat adalah merupakan inti dari konsep Social Forestry yang sekarang ini menjadi paradigma baru dalam pembangunan sektor kehutanan. Saat ini sebagian besar tanaman ditujukan untuk kayu pertukangan (furniture). Kayu Pulp Mairi. Pada awalnya tujuan produksi adalah kayu pulp. biaya dan daur serta struktur tegakannya. Realitasnya. riap ini merupakan riap dari tegakan berkualitas baik. maka gangguan pencurian pohon berukuran 20 cm ke atas menjadi problem tambahan. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu jenis tumbuh cepat (fast growing species) dari famili Leguminosae. Kristian STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kristian Mairi.Partisipatif). khususnya di Kalimantan Selatan.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. hutan kemasyarakatan. makalah ini mencoba untuk menyampaikan kajian awal terhadap perlakuan-perlakuan jarak tanam dalam hubungannya dengan peningkatan produksi. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Dian OPTIMALISASI HASIL MELALUI PENGATURAN JARAK TANAM HTI ACACIA MANGIUM UNTUK PRODUKSI KAYU PULP / Dian Lazuardi. mulai dikembangkan di Kalimantan Selatan pada tahun 1985. tumpang tindih dengan penggunaan lahan lain seperti pertambangan dan perkebunan. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Menindaklanjuti hal itu oleh pemerintah c. Jarak Tanam. Upaya peningkatan produktivitas tegakan A. tetapi juga akan menghadapi peningkatan biaya dan problem teknis pembuatan pola tanamnya. target produksi umumnya didasarkan pada riap 25m kubik/ha/th pada daur 8 tahun. Kata kunci : kelembagaan. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas.mangium untuk tujuan kayu pulp. upayaupaya tersebut sangat memerlukan suatu kajian serius melalui hasil penelitian dan ujicoba-ujicoba lapangan sebelum mengaplikasikannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan model kelembagaan berbasiskan masyarakat membutuhkan proses yang cukup panjang dengan membangun tata nilai bersama agar bisa diakui dan didukung oleh semua pihak.mangium. Gessel and Harrison. Sebagai akibat meningkatnya nilai ekonomi kayu A. Pembangunan HTI A. Oleh karena itu. Peningkatan kerapatan tegakan memang akan meningkatkan produksi dan menurunkan diameter rata-ratanya. Adanya kedekatan lahan garapan. sehingga secara langsung lebih meningkatkan nilai ekonomi jenis ini dibandingkan ketika awal pengembangannya. Selain dihadapkan pada rendahnya produktivitas tegakan. Permasalahan ini dapat diatasi melalui upaya perbaikan tegakan (stand improvement) yang menyangkut peningkatan produktivitas dan secara bersamaan menghasilkan struktur tegakan sedemikian rupa yang mengurangi proporsi kelas diameter +20 cm. kelompok tani hutan Lazuardi. 6 Desember 2006 .

Saat ini. Percobaan ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan produktifitas lahan dan pendapatan petani melalui model wanafarma sengon+Jahe.penyiapan lahan. potensi diri dan lingkungannya serta memotivasi dalam mengembangkan potensi tersebut secara proporsional dengan cara/metode partisipatip. Perlakuan yang diberikan meliputi komponen-komponen teknologi yang mendukung pengembangan model. Edwin PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERBASIS SOCIAL FORESTRY / Edwin Martin. pengendalian hama dan penyakit. -. persemaian. penanaman. Pelajaran dari perkembangan hutan tanaman Acacia mangium telah mengisyaratkan bahwa integrasi antara industri. Ujicoba model diterapkan melalui plot-plot percobaan yang didesain di lokasi penelitian.Dalam upaya pengembangan kualitas masyarakat khususnya yang bermukim di dalam dan sekitar hutan agar maju dan mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan. dan penanganan pasca panen. Proses pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya bagaimana masyarakat itu dapat mengenal dan merefleksikan permasalahannya sendiri. Padahal aspek kelembagaan mempunyai peranan sangat besar bagi kesuksesan pembangunan hingga dapat dikatakan bahwa kegagalan pembangunan umumnya dikarenakan lemahnya kelembagaan yang ada termasuk sektor kehutanan. Penanaman jenis pohon pada lahan milik untuk kepentingan industri dapat disebut sebagai social forestry.hutan dan kualitas sumberdaya manusia yang mendukungnya. yang perlu dibuktikan oleh Acacia mangium adalah kemampuannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak lagi sekedar sebagai jenis utama dalam rehabilitasi tetapi harus mampu menjadi tanaman industri masyarakat. Siarudin. 6 Desember 2006 . kesulitan memperoleh modal dan akses pemasaran yang belum memadai. pemupukan. Musi Hutan Persada menunjukan bahwa usaha hutan tanaman Acacia mangium berbasis social forestry menguntungkan dari sisi finansial dan menghasilkan manfaat sosial ekonomi ganda. Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. Penelitian ini dilaksanakan untuk jangka 5 tahun yang dimulai pada tahun 2004. dengan berbagai kemajuan teknologi silvikultur dan pemuliaan pohon akhirnya Acacia mangium membuktikan bahwa meskipun eksotik ia mampu menjadi komoditas utama hutan tanaman. Program penanaman Acacia mangium pada lahan milik memiliki banyak keunggulan dibanding program hutan tanaman konvensional/pada areal konsesi. 6 Desember 2005 . Halaman 46-61 . 160 . Kata kunci: Acacia mangium. Social Forestry Mile. Rehabilitasi lahan. dan pemanenan. -. Halaman 2338 . 2006 Serangkaian penelitian dan pengembangan mengenai model wanafarma telah dilaksanakan di lokasi penelitian Loka Litbang Hutan Monsoon di Kecamatan Cilacap Jawa Tengah. maka strategi pemberdayaan masyarakat dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan mutlak dilaksanakan. Hutan tanaman.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Pemberdayaan masyarakat Martin. M.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Yamin UJI COBA TEKNIK PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN MODEL AGROFORESTRY POLA WANAFARMA SENGON+JAHE / M. Hasil sementara penelitian ini menunjukan bahwa beberapa input teknologi yang diterapkan berperan penting pada penyempurnaan model dalam bentuk pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman pohon dan peningkatan hasil tanaman pertanian. sistem pengorganisasian yang belum sempurna. Diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat mengawal proses sebuah kemajuan teknologi pengembangan hutan tanaman berbasis social forestry ini. Studi kasus yang dilakukan di PT. Dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan dimasa yang akan datang sebagaimana semangat dalam program Social Forestry maka hal yang sangat urgen dilakukan adalah membangun. 2006 Setelah hampir seperempat abad tumbuh di Sumatera Selatan. Yamin Mile dan M. memperkuat dan mengembangkan kelembagaan masyarakat yang terkait dengan pembangunan kehutanan. Salah satu pola tanam yang diujicobakan adalah kombinasi antara tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) (L) Nielsen) dan Jahe (Zingiber afficinale).antara lain: Seleksi benih. Pada kenyataannya di lapangan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kehutanan masih lemah karena belum didukung oleh kelembagaan masyarakat yang kuat antara lain pengetahuan dan ketrampilan yang rendah. pemeliharaan. hutan tanaman dan masyarakat saat ini bersifat layak dan perlu dilaksanakan.

Hut. Hutan Rakyat Mile. Hal ini disebabkan antara lain karena tingkat penguasaan technologi petani yang masih sederhana. Tanaman rami (Haramai) adalah sejenis tanaman serat berbentuk perdu yang sesuai baik di dataran rendah maupun di daerah ketinggian seperti Garut. 2003). Yamin Mile. 13 September 2005 . M. Pada musim hujan bencana tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di berbagai tempat yang mendatangkan kerugian yang tidak sedikit. Kabupaten Garut 161 . sebagian besar dikelola seadanya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan permodalan yang dimiliki petani. Rami. Dengan terbukanya peluang pasar akan hasil hutan rakyat berupa kayu dan non kayu. b) tidak terdistribusinya manfaat sumberdaya hutan secara adil kepada masyarakat sekitar hutan. Sengon. Kata kunci: Pengelolaan lahan. Hutan Rakyat.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. pemanenan. serta sempitnya lahan usaha yang dimiliki. -. dan penanganan pasca panen).Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kondisi ini menyebabkan lahan hutan semakin kritis sehingga tidak berfungsi lagi sebagai pengatur tata air. -. Langkah strategis Mile. c) meningkatnya konflik pengelolaan sumberdaya hutan. Dalam rangka implementasi kegiatan Social forestry tersebut Pemerintah Kabupaten mengintrodusir suatu pola baru yang belum banyak dikenal sebelumnya oleh masyarakat yakni Tumpangsari antara tanaman pokok Kehutanan dengan tanaman rami yang dikenal dengan istilah Agroforestry Haramai. penanaman. Sosial ekonomi. Halaman 123-131 .6 juta ha/tahun (Direktorat Bina Hutan Kemasyarakatan Dep. Wanatani.Kata kunci: Agroforestry. pendekatan kelola usaha yang menyeluruh dan konprehensif hanya perlu dilakukan dengan jalan penerapan teknologi tepat guna dan managemen pengelolaan yang sesuai. Untuk itu perlu adanya konsepsi yang jelas mengenai pengelolaan lahan serta langkah-langkah strategis dalam upaya meningkatkan produktifitas hutan rakyat. M. Dari hampir semua pola yang dijumpai di lapangan. Mengingat model ini belum banyak dikenal oleh masyarakat. Konsekwensi dari orientasi industri berskala besar tersebut berdampak pada beberapa aspek antara lain: a) belum diperhitungkannya variable sosial ekonomi dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan. 1999). pemeliharaan. 2005 Hutan rakyat saat ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu titik tumpuan ekonomi penduduk yang tinggal di Pulau Jawa (FKKM. Adanya jaminan pasar ini menyebabkan petani tidak ragu untuk menanam jenis pohon komersial di lahan milik mereka yang sempit karena dirasakan menguntungkan apalagi dilakukan dengan jalan tumpangsari (Agroforestry). Halaman 139-151 . sementara laju deforestation mencapai 1. Di Kabupaten Garut ketidakpastian pengelolaan hutan secara lestari sangat dirasakan. 2005 Selama lebih dari tiga dasawarsa sumber daya hutan telah memberikan kontribusi yang nyata sebagai penggerak roda perekonomian nasional melalui pengelolaan hutan berbasis kayu yang menekankan exploitasi hutan oleh industri berskala besar. Beragam pola hutan rakyat ditemukan di masyarakat sesuai dengan keinginan masing-masing petani. dan Lingkungan. Yamin KONSEPSI PENGELOLAAN LAHAN DAN LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS HUTAN RAKYAT / M. baik pasar domestik maupun pasar internasional. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sebagai bahan baku industri tekstil serta memberikan pendapatan yang relatif cepat bagi masyarakat. Dengan kondisi seperti di atas pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari mengalami ketidakpastian sampai saat ini. Yamin PENGEMBANGAN SOSIAL FORESTRY DENGAN POLA WANATANI RAMI DI KABUPATEN GARUT: MENDUKUNG KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN / Ismatul Hakim. kurangnya permodalan. Jahe. Kata kunci: Social Forestry. Wanafarma. maka produktifitas hutan rakyat perlu ditingkatkan menjadi unit usaha yang dikelola secara intensif mulai dari pemilihan jenis sampai pada sistim produksi (penyiapan lahan. Pengelolaan hutan rakyat secara intensif belum banyak dilakukan oleh petani. dalam tulisan ini dikemukakan kajian pengembangannya ditinjau dari aspek teknis. Perkembangan hutan rakyat khususnya tanaman sengon menjadi dominan karena tersedianya pasar yang menampung hasil hutan rakyat tersebut. Kawasan hutan dirambah untuk dijadikan usaha tani tanaman sayur-sayuran tanpa tindakan konservasi tanah sehingga terjadi aliran permukaan dan erosi yang besar.Berbagai study mengenai peranan hutan rakyat terhadap tingkat pendapatan masyarakat telah banyak dilakukan. Apabila hutan rakyat ini diarahkan pada pengembangan suatu unit agribisnis. 6 Desember 2005 .

Tasikmalaya Nurfatriani.Analisis ekonomi lingkungan dan (3). 2005). Halaman 97108 . 3). mengakibatkan posisi tawar petani cukup rendah karena volume produk yang dijual sangat terbatas. Menurut Asdak (1995) vegetasi hutan sangat berperan dalam daur hidrologi sebagai penahan air sebelum mencapai permukaan tanah untuk kemudian diserap dalam proses infliltrasi. Model jalur hijau untuk kawasan mangrove. masing-masing model terdiri dari blok inti dan blok pemanfaat. Hutan mempunyai fungsi menyerap air melalui proses fotosintesa dan menyimpannya dalam perakaran dalam tanah. Kab. sehingga mampu mengurangi resiko dari masalah menunggu hasil investasi tersebut. Bahkan masih ditemukan adanya system penjualan dengan system ijon yang sesungguhnya sangat merugikan pihak petani. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi hutan di bagian hulu DAS tersebut.Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Ciamis Natawijaya. Para pelaku perlu mencari suatu pola investasi yang cepat menghasilkan yang dirancang khusus untuk merespon kebutuhan sumber pendapatan. Hal ini perlu mendapat perhatian serius. -. Petani lebih suka menjual kayu dalam bentuk gelondongan dengan system borong kebun.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. khususnya di Pantai Selatan Kabupaten Ciamis. Fitri PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI BAGIAN HULU DAS BRANTAS HULU: SEBAGAI PENGATUR TATA AIR / Fitri Nurfatriani. Yamin Mile dan M. Model jalur hijau untuk kawasan konservasi.2006 . Model jalur hijau untuk kawasan wisata. 2006 : Halaman 227-244 . Dengan demikian keberadaan hutan sangat krusial dalam satu siklus hidrologi yang tergambar dalam kondisi tata air di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS).Mile.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Blok inti dirancang dengan fungsi utama sebagai jalur perlindungan (sheler belt). Kata kunci: Kayu Sengon. PENATAAN RUANG DAN SOSIAL FORESTRY DAN PANTAI SELATAN CIAMIS PASCA TSUNAMI / M. Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting 162 . 2006 Bencana tsunami yang terjadi pada bulan Juli 2006 di Pantai Selatan Pulau Jawa telah menimbulkan kerusakan yang serius. Siarudin. 2006 Salah satu permasalahan utama dalam pola investasi hutan rakyat adalah masa menunggu hasil dari proses investasi yang dilakukan. yakni: 1). Kata kunci: Jalur Hijau. Masalah banjir dan kekeringan diyakini sebagai dampak dari system tata air di wilayah DAS yang buruk. ketiga pendekatan itu adalah (1) analisis manfaat. Model jalur hijau untuk daerah pemukiman. Analisis ekonomi partisipasi. Untuk maksud tersebut dalam tulisan ini dikemukakan empat rancangan model jalur hijau yang dapat dikembangkan. (2). -. paling tidak ada tiga pendekatan yang harus dirancang secara tepat sehingga mampu menjawab tantangan tersebut.Belum adanya kelembagaan seperti koperasi dalam melakukan penjualan. Dedi PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Dedi Natawijaya. terutama bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. 2006 Berbagai teori telah dikemukakan oleh para ahli yang menyatakan berbagai fungsi hutan sebagai salah satu unsur dalam system penyangga kehidupan.2006 . Untuk menanggulangi kerusakan tersebut dari aspek kehutanan. Sedangkan blok pemanfaat dirancang untuk pengembangan social forestry di wilayah pantai. 4). Halaman 7284 . Penentuan volume produksi dilakukan oleh pembeli. -. Yamin PENGEMBANGAN MODEL DAN DESAIN JALUR HIJAU DALAM RANGKA REHABILITASI. Agribisnis. terutama dari pihak swasta (melalui kemitraan bisnis) dan pemerintah (dengan kebijakan subsidi dan bantuan modal usaha). akibatnya harga yang diterima petani jauh lebih murah. Rehabilitasi. Beberapa hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang lurus dan nyata antara keberadaan hutan dengan berkurangnya jumlah titik mata air (Zaini. M.biaya ekonomi finansial.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Sosial Forestry. pemerintah merencanakan untuk mengadakan upaya rehabilitasi kawasan pantai melalui pembangunan jalur hijau di sempadan pantai. 2). Pada umumnya penjualan kayu sengon terbatas hanya olahan sederhana yang berupa kayu palet atau kayu persegian. kab. Belum ada variasi produk olahan kayu yang lain yang dapat memberikan tambahan nilai jual bagi petani.

Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai rendah. Dengan diketahuinya manfaat dari SDH ini maka hal tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam (SDA) yang semakin langka dan melakukan distribusi manfaat SDA yang adil. Berbagai teknik dan metode penilaian ekonomi sumberdaya alam (SDA) telah dikembangkan untuk menghitung nilai ekonomi SDA yang memiliki harga pasar ataupun tidak. Kata kunci : Hutan.58%) dari total luas hutan Sumatra Selatan adalah hutan produksi.. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami konsep nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif. Indartik. [et. 2006 Informasi tentang produksi dan peredaran kayu penting untuk diketahui dalam rangka memahami mekanisme pasar dalam memenuhi permintaan kayu. Akibatnya untuk memenuhi bahan baku maka industri mandatangkan bahan baku dari luar Sumatra Selatan. serta mempelajari aspek sosio-ekonomi dan persepsi masyarakat terkait dengan kompensasi konservasinya atas dasar rasa keadilan yang saling menguntungkan. Dari hasil studi.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No.1 .. -. sebagian besar (66.]. peredaran kayu Pawitan. Fitri KONSEP NILAI EKONOMI TOTAL DAN METODE PENILAIAN SUMBERDAYA HUTAN (Total Economic Value concept and Forest Resource Valuation Method) / Fitri Nurfatriani. diindikasikan dengan tingginya kapasitas industri terpasang. sedangkan pasar kayu Sumatra Selatan relatif tinggi. dan 4) Peredaran kayu. Hulu DAS. tetapi juga untuk propinsi lain. Hidayat Pawitan . untuk mendapatkan total kesejahteraan masyarakat yang maksimal. -. Halaman 151-159 . 2006 Sumberdaya hutan (SDH) menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible. Kata kunci: Kawasan Hutan.Hidayat INDIKATOR BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI JASA LINGKUNGAN DAS: STUDI KASUS DAS CICATIH-CIMANDIRI/ S. nilai. atau belum diketahui. khususnya untuk manfaat intangible yang tidak memiliki harga pasar. DAS Brantas Hulu Nurfatriani. 3) Pasar Kayu. 2) Produksi kayu. Empat poin yang perlu dianalisis : 1)Luas hutan. 2006 Perkembangan beberapa dekade terakhir di Kecamatan Cidahu dicirikan oleh tumbuhnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang memanfaatkan sumber mata air dan sumur air bumi. pasar kayu. Sementara itu produksi kayu dari Sumatra Selatan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal. 1995).2 . manfaat Parlinah. Kata Kunci: Produksi kayu. Lokasi yang dipilih sebagai studi kasus adalah Sumatra Selatan. sehingga aktivitas perubahan tata guna lahan yang dilaksanakan di daerah hulu DAS tidak hanya akan berpengaruh dimana kegiatan tersebut berlangsung (hulu DAS) tetapi juga akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan lainnya (Asdak. ekonomi.karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS yaitu dari segi fungsi tata air. Halaman 1-16 . Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan konsep nilai ekonomi total dan berbagai metode yang digunakan untuk menilai manfaat SDH dan lingkungan. industri. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. dan sampai saat ini masih dapat berlangsung bersamaan dengan pemanfaatan air untuk PDAM dan oleh penduduk setempat yang telah lebih dulu memanfaatkan sumber-sumber air yang ada. sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi manfaat-manfaat yang telah dikenal dari SDH secara berlebihan. Nunung PRODUKSI DAN PEREDARAN KAYU (STUDI KASUS DI SUMATERA SELATAN)/ Nunung Parlinah .al. -. DAS cicatih dengan luas 53 ribu haktar memiliki 163 . Makalah ini mencoba menyajikan secara ringkas hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penelitian untuk DAS Cicatih yang bertujuan untuk menggali informasi mengenai kondisi biofisik DAS yang meliputi fungsi dan jasa lingkungan DAS.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 2006 : Halaman 1-16 . Terdapat kecenderungan produksi kayu semakin menurun karena berkurangnya potensi hutan alam dan maraknya illegal logging. Untuk itu tulisan ini dibuat sebagai gambaran mengenai kondisi hutan di bagian hulu DAS Brantas Hulu khususnya dalam kaitannya sebagai daerah resapan air.

sebaliknya karakteristik komunitas manusia juga dipengaruhi oleh karakteristik alam sekelilingnya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi nilai provisi pemanfaatan sumberdaya air. mengendalikan erosi. dan memelihara kesuburan tanah. Sasaran kajian (1) Diketahuinya hasil air dari hutan lindung Baturaden. Air. Halaman 163-175 .25 m kubik/s (24/08/2002) dan terbesar 209.(et. dan Dewi Retna Indrawati.69 persen dari total luas hutan. Hasil sementara menunjukan nilai koefisien limpasan tahunan yang relatif tinggi.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Salah satu produk hutan lindung adalah air yang pada saat ini sebagian besar masih merupakan barang publik walaupun di beberapa tempat telah menjadi barang ekonomi seperti yang dimanfaatkan untuk air mineral. Pengelolaan sumberdaya air perlu lebih mendapat perhatian dengan pertimbangan adanya pola musiman dan meningkatnya kebutuhan air untuk penggunaan air non-tradisional. Dengan diberlakukannya otonomi daerah maka kewenangan pengelolaan DAS pada setiap jenjang hierarki perlu diselaraskan dengan kewenangan pemerintah otonomi. 2005 Setiap DAS memiliki sifat atau karakteristik berbeda-beda dalam memberikan tanggapan atau respon masukan air hujan menjadi hasil air. -.647. seperti pada mata air Cibuntu (695 liter/s) dan Cipanas (2584 liter/s atau < 1000 liter/s). Nilai ekonomi air baku untuk PDAM dari : 1). Biofisik.063. indept interview dan diskusi dengan para pengguna. Dengan demikian karakteristik DAS terbangun sebagai hasil menyeluruh dari interaksi atau hubungan timbal balik antar unsur-unsur sumberdaya alam sendiri dan antara unsur alam dengan manusia. Nilai Ekonomi. Hal yang sama perlu dilakukan oleh perusahaan AMDK di Cidahu untuk turut berperan dalam program konservasi DAS hulu. khususnya dari mata air dan airbumi. adil dan memberdayakan daerah. Data curah hujan dan debit air sungai dihitung berdasarkan rata-rata bulanan dan data nilai ekonomi air dihitung berdasarkan fungsi produksi untuk air irigasi dan rente ekonomi untuk air yang digunakan PDAM Kabupaten Banyumas. 13 September 2005 .-/ha/tahun Kata kunci: DAS. Jasa Lingkungan. Hutan lindung sesuai fungsinya ditujukan untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. Hutan Lindung. 23.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. mencegah intrusi air laut..500.Nilai ekonomi air dari hutan lindung di hulu Sub DAS Pelus (Baturadden) Rp. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Data curah hujan dan debit air diperoleh dengan pemasangan plot dan pengukuran curah hujan dan debit air. Kata kunci: DAS. Debit terukur pada stasiun Ubrug selama 1999-2005 terendah tercatat sebesar 5. Kualitas air dari seluruh lokasi penelitian dapat digunakan untuk air baku minum.curah hujan tahunan sebesar 2970 mm dengan geologinya yang spesifik telah menghasilkan banyak sumber mata air dengan kapasitas yang cukup besar. Manusia sendiri dalam sistem komunitasnya sebagai pengelola sumberdaya alam DAS juga memiliki karakteristik yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap karakteristik bio-fisik DAS. 310.al). Terdapat indikasi kuat bahwa penduduk lokal cenderung menghemat sumber daya air DAS Cicatih dan bersedia menanggung biaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan jasa lingkungan DAS hulu. 2006 Hutan lindung di Indonesia seluas 29. hutan (21 persen) dan sebagian besar sisanya berupa lahan pertanian. Hutan Lindung Baturaden Purwanto ANALISIS KARAKTERISTIK PARAMETER SOSIAL EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JANGKA PANJANG: STUDI KASUS DAS SERAYU / Purwanto.00. mencegah banjir.-/m kubik. Rata-rata hasil air dari hutan lindung dalam tiga tahun (2003 s/d 2005): hulu Sub DAS Pelus 191.963. 2).04 juta ha atau 27.50 m kubik/tahun. -.2) Data nilai ekonomi air dikumpulkan melalui survey. baik sifat alami maupun sifat yang terbangun sebagai hasil intervensi manusia.. Demikian juga sistem kakarkteristik DAS sebagai dasar dalam perencanaan pengelolaan DAS yang sekarang ada 164 . Nilai ekonomi hutan lindung yang bersifat intangible belum banyak dilakukan perhitungan sehingga nilai jasa hutan lindung sering dihargai kecil. dalam kerangka kebijakan otonomi daerah dan sistem perpajakan yang lebih transparan. Paimin. 2006 : Halaman 85-97 . Penutupan lahan didominasi oleh perkebunan (45 persen). Akibatnya penghargaan atau pengelolaan hutan lindung kurang optimal.05 m kubik/s (8/02/2001). Sosial Ekonomi Purwanto KAJIAN NILAI EKONOMI HASIL AIR DARI HUTAN LINDUNG BATURADEN / Purwanto.Hutan lindung Baturaden Rp. Sasaran penelitian adalah diketahuinya nilai ekonomi hasil air dari hutan lindung. (2) Diketahuinya nilai ekonomi air hutan lindung Baturaden.

baik untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri maupun rehabilitasi lahan. sehingga setiap kali diperlukan secara cepat masih sulit diperoleh secara memadai. Namun melihat laju perkembangan lahan kritis dalam wilayah DAS yang cukup besar. Memasuki pembangunan hutan tanaman A. industri kehutanan menghadapi tantangan yang mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri dengan kualitas tinggi dan dalam jumlah yang memadai yang dihasilkan dari tegakan-tegakan yang dikelola secara lestari. manajemen penyiapan lahan. 6 Desember 2006 . Mangium ini diperkirakan akan semakin luas sejalan dengan kebijakan Departemen Kehutanan yang menetapkan sasaran fasilitas pembangunan hutan tanaman seluas 5 juta hektar. Halaman 1-6 . Pembangunan hutan tanaman A. maupun monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS secara efektif dan efisien disamping memberikan pengingatan dini kemungkinan terjadinya bencana alam pada setiap tingkatan pengelolaannya.000 hektar hutan tanaman A. Hal tersebut menunjukan masih lemahnya sistem karakteristik DAS yang selaras dengan kewenangan otonomi daerah. pembangunan gain trial. dan pemanenan. pelaksanaan. Teknologi Pemuliaan 165 . terutama konsistensi sistem karakteristik yang sesuai dengan hierarki sistem perencanaan/pengelolaan DAS. Saat ini beberapa perusahaan telah mengelola hutan tanaman A. sumber dana. Tulisan ini merupakan eksplorasi peran parameter sosial ekonomi dalam karakterisasi daerah aliran sungai sebagai landasan dasar penyusunan sistem perencanaan jangka panjang pengelolaan DAS (perencanaan 15 tahunan). Dalam era kompetisi global yang semakin intensif saat ini. beberapa tantangan baru mulai muncul. Seperti dalam program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang dicanangkan mulai tahun 2003. Mangium di Indonesia sebagai pemasok kebutuhan bahan baku industri kehutanan diharapkan akan mampu bersaing dalam kompetisi tersebut. Dalam resume makalah ini maka disampaikan beberapa kegiatan penelitian beberapa input teknologi penunjangnya dalam penelitian pemuliaan A. penelitian hibridisasi dan penyerbukan buatan.Data dan Informasi pengelolaan DAS yang sampai saat ini terkumpul belum dikelola secara mapan dalam sistem informasi pengelolaan. Mangium rotasi kedua. Kata kunci: Acacia mangium. Mengingat terbatasnya waktu. lebih dari 800. Beberapa upaya yang perlu ditempuh dalam menghadapi tantangan tersebut antara lain konsistensi pemakaian benih unggul hasil dari serangkaian kegiatan pemuliaan.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Sosial Ekonomi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman TEKNOLOGI PEMULIAAN ACACIA MANGIUM / Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Diharapkan hasil penelitian yang diperoleh juga bisa membantu penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pengelolaan DAS sesuai dengan jenjang kewenangannya. manajemen tegakan. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. Mangium telah dibangun dengan tujuan utama sebagai pemasok kebutuhan bahan baku bagi industri pulp dan kertas. Pembangunan hutan tanaman A. maka pengembangan sistem karakterisasi tingkat sub DAS harus dilakukan secepat mungkin. penelitian penyakit serta penelitian biologi molekuler. Untuk membangun formula sistem tersebut diperlukan serangkaian data dan informasi yang diperoleh melalui penyelenggaraan penelitian dan pengembangan. khususnya dalam menjaga peningkatan kualitas dan produktivitas tegakan dalam jangka panjang. manajemen tapak dan nutrisi. Dengan disempurnakannya sistem karakterisasi DAS yang disertai dengan sistem informasi akan membantu pengelola dalam melakukan perencanaan. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu fast growing yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. manajemen hama dan penyakit. dan sumberdaya manusia. seyogyanya sistem karakterisasi DAS lebih mengedepankan pendekatan yang praktis dan ekonomis dari pada pendekatan teoritis dan akademis seperti disarankan Sheng (1986. meliputi kegiatan: teknologi pembangunan kebun benih generasi pertama dan kedua. -. keperluan data yang segera dan akurat akan segera terlayani apabila sistem data dan informasi DAS telah terbangun dalam suatu sistem pengelolaan yang mapan dan selalu dilakukan pemutakhiran.1990) Cara pendekatan ini bisa diistilahkan dengan 'sidik cepat degradasi DAS'. Sampai dengan tahun 1999.perlu ditelaah ulang agar memiliki kompatibilitas dengan institusi terkait pada setiap jenjang kewenangannya. Mangium pada rotasi kedua. Mangium yang telah dilaksanakan oleh Puslitbang Hutan Tanaman. Padahal kondisi lapangan berkembang secara dinamis yang harus selalu diikuti agar data dan informasi tersaji selalu sesuai dengan kondisi terkini. DAS. tingkat biaya yang rendah serta ramah lingkungan. serta masih lemahnya sistem informasi pengelolaan DAS.

Penelitian dilakukan di persemaian Loka Litbang Hutan Monsoon dengan menggunakan benih sengon dari 7 asal benih (provenans). -Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Penyakit.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan rakyat milik petani di Desa Sukamulih.76 cm dan 83.6 cm dan persentase hidup 52 persen. kupu-kuning (Eurema spp) dan Belalang (Valanga sp).72 cm. Hasil pengamatan diketahui bahwa pada umur semai 4 bulan dengan tiga kali pengukuran. Jenis hama yang menyerang semai sengon adalah Ulat kantong (pteroma plagiophelps). cukup tinggi yaitu sebesar 30 persen dan lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas serangan Pteroma plagiophelps dan Valanga spp. 2005 Salah satu masalah penting yang perlu diatasi dalam pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat adalah pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit.2. Hama. Candiroto.16 cm. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umur 3 bulan tanaman sengon pada petak penanaman tahun pertama. 6 Desember 2005 . Lokasi penelitian berada pada ketinggian 700 m dpl dengan curah hujan sebanyak 1. Sedangkan pada umur 6 bulan setiap anak petak menghasilkan diameter rata-rata masing-masing 2. Plot ujicoba dirancang dengan pola rotasi pembentukan struktur tegakan normal tanaman sengon dan nilam . Yamin Mile. 0. Hasil penimbangan dari 100 kg daun basah diperoleh sebanyak 55 daun kering. sedangkan untuk penanaman nilam dilakukan serentak pada seluruh petak dalam bentuk jalur diantara tanaman sengon. Halaman 62-78 . 6 Desember 2005 . pertumbuhan tinggi terbaik berasal dari Candiroto dengan pertambahan tinggi rata-rata 35. Encep PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM / Encep Rachman dan M.67 cm dan 0. Data tinggi tanaman sengon berumur 3 bulan dari 3 anak petak dengan 3 ulangan masing-masing menghasilkan 87. Biak. 86. Semai provenan Wamena rentan terhadap serangan hama Eurema spp. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tingkat semai sengon dari tujuh asal benih dan jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman sengon tersebut di persemaian. masing-masing anak petak dengan tiga ulangan menghasilkan rata-rata diameter masing-masing 0. dan 193 cm. 185 cm. Penanaman sengon dibagi dalam 6 rotasi tahunan.1 ton/ha. Encep PERTUMBUHAN TUJUH PROVENAN SENGON (Paraserianthes Falcataria) DAN IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN / Encep Rachman. dan Rusdi. Kata kunci: Agroforestry.Rachman. Intensitas serangan Eurema spp. dan 2. Halaman 114-122 . Paraserianthes falcataria. Hutan Rakyat Rachman. Endah Suhendah. Produksi daun basah nilam dari ujicoba ini diperoleh 5. Wonogiri.200 mm/tahun dan suhu rata-rata 25 derajat C. Sehingga dari 5. Kabupaten Tasikmalaya.80 cm.1 ton daun basah/ha diperoleh daun kering kurang lebih 2.5 persen dan yang terendah adalah benih sengon yang berasal dari Wonogiri dengan pertambahan tinggi rata-rata 16. dan Pteroma plagiophelps dibandingkan semai provenan Kediri.1 cm dan persen hidup 90. 2005 Tujuan penelitian adalah merakit paket teknologi agroforestry Nilam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi maksimun dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Subang dan Ciamis.8 ton.73 cm.67 cm. -. Nilam.Sedangkan sasaran penelitian yang ingin dicapai adalah terjadinya peningkatan produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan pada areal hutan rakyat/lahan petani yang sempit. Jenis Penyakit yang ditemukan di persemaian adalah Oidium sp (Embun tepung) Kata kunci: Sengon. baik pada umur tanaman yang masih muda (semai) maupun pada tegakan di areal hutan. Pada umur 6 bulan masingmasing ulangan tersebut meningkat menjadi 187 cm. Kecamatan Sariwangi.68 cm.66 cm. Persemaian 166 .

Dewi KERJASAMA HULU HILIR DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)/ Dewi Retna I. dimana pertumbuhan tegakan memberikan hasil tahunan tertinggi. Kabupaten Wonosobo. 2005 Keberadaan hutan rakyat atau hutan milik sebagai salah satu alternatif penyedia kayu. dalam pengelolaan DAS perlu keterpaduan dan kerjasama antara wilayah hulu dan hilir. Disayangkan hutan rakyat tersebut memiliki produktivitas yang rendah. sering menimbulkan konflik kepentingan antara daerah hulu dan hilir. Sedayu dan Pecekelan. Heru Dwi PROFIL HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN WONOSOBO: DITINJAU DARI STRUKTUR TEGAKAN DAN VEGETASI PENYUSUNANNYA / Heru Dwi Riyanto dan Wardojo -. sedang masyarakat hilir dengan membuat bangunan resapan.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Dalam konsep kerjasama hulu hilir pengelolaan DAS ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:1) harmonisasi dan sinkronisasi visi. bersamaan dengan makin menurunnya produktivitas hutan alam dari tahun ke tahun. 2006 : Halaman 177-187 . Paper ini adalah untuk menentukan umur daur/rotasi tebang berdasar daur rotasi volume maksimum di lokasi Benakat. Ini mengandung arti ada penanggungan biaya bersama (cost sharing) dalam pengelolaan DAS. dimana masyarakat hulu menjaga kuantitas air dengan jalan konservasi tanah di daerah tangkapan air. Penelitian ini adalah penelitian observasi melalui survey pada areal pengembangan hutan rakyat. Upaya keterpaduan dan kerjasama hulu dan hilir ini dapat dilakukan antara lain dengan masingmasing wilayah menjalankan fungsi dan tugas pengelolaan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada di wilayahnya. Kata kunci: Pengelolaan DAS. Kata kunci: Acacia mangium. struktur volume. Pengukuran diameter. 6 Desember 2006 . misi dan kebijakan pengelolaan DAS antar pemerintah kabupaten/propinsi. tinggi pohon. Satu daur rotasi adalah daur/rotasi volume maksimum. Lokasi survey adalah di Desa Jonggolsari. Waktu periode dari daur/rotasi tebang tergantung pada karakteristik pertumbuhan jenis. hasil yang tinggi tergantung pada daur/rotasi tebang. Masyarakat yang memperoleh manfaat atas pengelolaan DAS wajib menanggung biaya pengelolaan berdasar prinsip kecukupan dana (cost recovery). 13 September 2005 . Untu meningkatkan produktivitasnya melalui optimalisasi pengelolaan adalah dengan mengetahui dimensi strukturnya. bagi industri perkayuan sangatlah penting. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan konservasi tanah dan air di bagian hulu DAS dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan adanya biaya dari stakehorders yang mendapat manfaat sebagai akibat adanya kegiatan tersebut. 4) peningkatan partisipasi masyarakat lokal pada berbagai tingkat melalui penyuluhan. Oleh karena itu. CAI. 2006 Pegelolaan tegakan hutan adalah bagaimana mengelola hutan dalam rangka mendapatkan hasil yang tinggi dalam pemanenan. Umur ini juga berarti antara grafik MAI dengan grafik CAI. pakar sektor bisnis serta pemerintah dari pusat sampai daerah. Data dianalisa secara desktiftif serta disajikan secara gambar grafik untuk struktur tegakan. Heru Dwi MAI DAN CAI ACACIA MANGIUM GUNA PENGATURAN TEGAKAN / Haru Dwi Riyanto. MAI. -. 2) perumusan mekanisme kerjasama. dan hal ini merupakan permasalahan utama yang harus dipecahkan. Halaman 205-215 . jumlah batang. dan 5) diberlakukan reward dan punishment untuk memacu tanggung jawab tiap wilayah untuk melaksanakan pengelolaan DAS. artinya pihak yang lebih diuntungkan diharapkan dapat memberikan kontribusinya dalam upaya pengelolaan DAS. perlu ada azas keadilan dalam kerjasama ini. Pengaturan Tegakan Riyanto.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Halaman 121-124 .Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Panjang dari daur dengan volume tertinggi adalah titik pertemuan umur tanaman ketika rata-rata riap tahunan (MAI) mencapai maksimum. Hal ini berarti bahwa harus ada komitmen yang kuat upaya dari setiap daerah untuk melakukan kegiatan pengelolaan DAS. -. Di samping itu. 167 . 3) perlibatan berbagai aktor seperti LSM. 2006 Air yang merupakan sumberdaya yang mengalir (flowing resource) dari hulu ke hilir dan wilayah DAS yang tidak mempunyai batas yang bertepatan dengan batas wilayah administrasi.Retna I. Tata Air Riyanto. tujuan-tujuan pengelolaan dan pertimbangan-pertimbangan ekonomi. dan jumlah serta jenis tanaman lainnya adalah kegiatan utama dalam penelitian ini.

Kerapatan tanaman di Desa Jonggolsari lebih kurang 24188 tanaman/ha. Kondisi ini tidak akan memberikan kontribusi yang baik bagi volume tegakan berdiri. Malinau. dan merupakan hasil kriteria sejarah dan ekonomi. 2006 Hambatan utama pengembangan hutan ulayat terletak pada dimensi hukum dan ekonomi. Meski secara hukum keberadaannya diakui. desentralisasi sudah menjadi salah kaprah bagi masing-masing pihak yang menonjolkan arogansi kekuasaan. yang meliputi : stasus tanah. Oleh karena itu. fungsi ulayat. Tateng Sasmita . Illegal logging. Selain itu. sifat hak. Hutan Lestari. Kotawaringin Timur. Halaman 1-12 . Kata Kunci : Desentralisasi. riap ini berarti produktivitas pertumbuhan pohon/tegakannya. Volume tegakan berdiri di Desa Jonggolsari lebih kurang 90 m kubik/ha. Kata kunci: Hutan Rakyat.755 ton. sosial budaya.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Kesejahteraan Rakyat Rochmayanto. munculnya aktor-aktor baru yang saling membekingi satu sama lain dan meningkatnya nafsu Pemda untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Komposisi dan struktur hutan ulayat tidak homogen. Hasil menunjukkan bahwa diameter kecil (sampling/pancang) memiliki jumlah yang lebih besar (74 persen) dibanding diameter yang lebih besar (pole/tiang) (23 persen) dan trees/pohon (3 persen). Bahkan di Kota Waringin terjadi penetapan pungutan atas pengangkutan kayu illegal. 2006 Desentralisasi pada dasarnya merupakan konsekwensi dari semakin tingginya tuntutan perubahan (reformasi) di birokrasi dan keadilan yang merata di masyarakat. Hasil penelitian di Nagari Duo Koto Kabupaten Agam. Hasil kajian oleh Centre For International Forestry Research (CIFOR) tahun 2003 menunjukkan bahwa desentralisasi sektor kehutanan di wilayah potensial seperti Propinsi Riau dan Kalimantan Timur seperti : Kutai Barat. hutan ulayat sangat potensial secara sosial budaya sebagai asset bangsa dalam menyediakan alternatif model pengelolaan sumber daya hutan. Kabupaten Wonosobo Rumboko W. Desa Sedayu lebih kurang 70 meter kubik/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 70 m kubik/ha. menunjukkan bahwa hutan ulayat dalam pandangan Minangkabau telah diatur secara lengkap. Namun demikian. Yanto PERSPEKTIF HUTAN ULAYAT DALAM BUDAYA MINANGKABAU (STUDI KASUS DI JORONG KOTO MALINTANG. Keadilan. KABUPATEN AGAM) / Yanto Rochmayanto . Syasri Jannetta. perlu dilakukan reorientasi terhadap penerapan sistem desentralisasi sektor kehutanan baik pusat maupun daerah. Kayu manis adalah komoditi yang tercatat di BPS Propinsi Sumatera Barat yang memiliki kapasitas ekspor cukup tinggi dengan volume ekspor 12. dengan istilah lain disebut pelegalan kayu-kayu illegal. Dalam hal ini dalam menerapkan desentralisasi secara benar perlu kembali ke khittah (landasan berpijak)-nya yaitu mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. dan nilai ekspor 6. Kapuas dan Barito telah semakin meningkatkan kegiatan illegal logging (pencurian kayu). Lukas DAMPAK DESENTRALISASI DI SEKTOR KEHUTANAN / Lukas Rumboko W. Desa Sedayu lebih kurang 10885 tanaman/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 4251 tanaman/ha. Halaman 281-296 . -. karena yang ditekankan selama ini adalah manfaat lindung dan koservasi. belum terlihat dalam bentuk rebutan tanggung jawab menjaga kelestarian hutan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah. . 4 . sehingga dapat menjadi unggulan bagi pengembangan HHBK di hutan ulayat. hasil hutan bukan kayu. Sehingga riap tahunan periodik rata-rata dari ketiga desa tersebut adalah lebih kurang 19m kubik/ha/tahun.serta menggunakan indeks nilai penting untuk komposisi vegetasi. sanksi dan kelembagaan.000 US $ pada tahun 2003. Kata kunci : Hutan ulayat. -.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Dalam perkembangannya.408.1 . manajemen produksi. Ismatul Hakim. Demokratisasi. desentralisasi menjadi ajang rebutan hak dan wewenang terhadap hasil hutan kayu dari hutan alam. Di sektor kehutanan. penelitian mengenai hutan ulayat dalam pandangan sosial budaya diperlukan untuk menjawab kendala pengembangan di atas. manfaat ekonomi hasil hutan bukan kayu belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat. tapi mekanismenya kurang berjalan karena dualisme pengertian dan tumpang tindihnya peraturan. Melihat kecenderungan diatas. Struktur Tegakan. 168 . mekanisme pengelolaan.

Teknologi Santoso. Dalam tulisan ini diuraikan hasil penelitian dasar dan aplikatif mulai dari eksplorasi mikroba. 2006 Keterpurukan industri pengolahan kayu di indonesia dewasa ini sudah mencapai titik kulminasi yang memerlukan penanganan menyeruluh dari berbagai aspek. 6 Desember 2006 . -. Sasaran utamanya adalah melalui kerja sama internasional industri rumah tangga hasil hutan bukan kayu dapat menjadi sektor ekonomi di bidang kehutanan yang kuat. Beberapa jenis komoditi tanaman hutan yang penting telah memberikan pertumbuhan yang lebih baik setelah diinokulasi oleh beberapa jenis mikroba. screening dan ujicoba dalam skala laboratorium. sistem pemasaran dan perluasan pasar. jati. diantaranya jenis-jenis akasia.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. -. selain itu kulit kayu mangium mengandung tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan perekat kayu. Maman Turjaman. Halaman 73-85 . baik untuk kayu serat. meranti. Tulisan ini mengemukakan rangkuman hasil-hasil penelitian mengenai teknologi pemanfaatan kayu mangium sebagai bahan industri olahan dan ekstrak kulitnya sebagai bahan perekat kayu. bintangur dan pinus. 169 . berskala internasional dan berbasis masyarakat. Otonomi daerah dapat diarahkan untuk memberikan jaminan birokrasi yang lebih pendek. jelutung.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 2006 Makalah ini mendiskusikan hasil-hasil penelitian tentang prospek aplikasi teknologi mikroba simbiotik dalam mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi. Adi TEKNOLOGI PEMANFAATAN KAYU ACACIA MANGIUM / Adi Santoso. Hal ini telah seiring dengan pergeseran paradigma Timber Management ke Social Forestry yang tidak menekankan kayu sebagai satu-satunya produk yang bernilai ekonomis dari hutan. hasil hutan bukan kayu. kearifan tradisional. ekaliptus. Teknologi produksi massal telah dikembangkan untuk setiap jenis mikroba dan aplikasinya dapat digunakan untuk skala massal. dan dipelihara pada media tumbuh mikroba. 6 Desember 2006 . Dari hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan aplikasi teknologi mikroba dapat membantu peningkatan produksi bibit tanaman hutan dalam skala massal dan komersial.(et. Halaman 297-308 . Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. 4 . Industri rumah tangga lebih banyak bergerak dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). persemaian dan lapangan. kerja sama internasional. Kemungkinan kerja sama dengan luar negeri bisa langsung menyentuh ke masyarakat di daerah dengan bantuan teknis pemerintah pusat. Ragil SB Irianto. Erdy PROSPEK APLIKASI TEKNOLOGI MIKROBA SIMBIOTIK DALAM MEMPERCEPAT REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TERDEGRADASI / Erdy Santoso. khususnya yang menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. 2006 Perpaduan industri rumah tangga dan kearifan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya hutan memiliki prospek yang baik jika mendapat sentuhan manajemen dan investasi. kayu pertukangan maupun energi )bahan bakar & arang). Kerja sama internasional dapat menumbuh kembangkan industri rumah tangga HHBK menjadi arena usaha yang memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pendekatan permodalan. -. Halaman 87-102 .. Pemanfaatan Kayu. mampu memberikan produk yang cukup diperhitungkan di pasaran. Kata kunci : Industri rumah tangga.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan melalui pemanfaatan kayu dari hutan tanaman. diperbanyak.al) . Salah satunya adaah menyeimbangkan dengan segera pasokan bahan baku kayu guna memenuhi kapasitas industri pengolahan kayu.. gaharu.Rochmayanto. Sejumlah jenis mikroba telah diidentifikasi. Kata kunci: Acacia mangium. Mikroba Simbiotik Santoso. berwawasan lingkungan. pulai. Yanto PENGEMBANGAN POLA KEARIFAN LOKAL MENJADI INDUSTRI RUMAH TANGGA HASIL HUTAN BUKAN KAYU / Yanto Rochmayanto. Industri rumah tangga ini telah terbukti dengan limbah dan kerusakan sumber daya minimal. salah satunya adalah mangium (Acacia mangium Willd) yang sampai saat ini telah mengalami spektrum lebih luas.

pemerintah DKI berusaha dan berupaya agar konsep seperti itu dapat menggapai lebih luas bagi wilayah perencanaannya dengan mengikutsertakan 2 provinsi tetangganya yang dikenal dengan konsep megapolitan. KONSEP KONPENSASI HULU HILIR/ Subarudi. yaitu DKI. 2006 Konsep Megapolitan yang diusung oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) mendapat tanggapan yang luas dari beberapa pakar hukum. (3) menganalisis pembiayaan RHL. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.5 juta ha/tahun. dengan menerapkan teknologi perbenihan dan pembibitan. tanggal 20 pebruari 2004. Kegagalan penyediaan bibit siap tanam di lapangan seringkali disebabkan oleh minimnya penguasaan teknologi perbenihan dan pembibitan. Kata kunci: Kebijakan. masih terjadi kesimpangsiuran dalam menjabarkan kebijakan dimaksud sehingga dalam masa transisi ini masih diperlukan adanya upaya-upaya untuk menyelaraskan persepsi dan visi dalam merumuskan kebijakan strategis di bidang pembangunan kehutanan baik nasional dan regional maupun tingkat lokal (NTT. Jenis ini merupakan salah satu prioritas dalam pengembangan hutan tanaman. Kata kunci: Megapolitan.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 2004). dan (iv) strategi penerapan megapolitan di masa depan. 2004). jawa Barat. Rehabiitasi lahan. Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengetahui tentang kebijakan RHL di NTT. Luasnya kerusakan sumberdaya hutan telah menyebabkan mundurnya kualitas lingkungan hidup yang diindikasikan dengan rendahnya produktivitas lahan. (2) mengevaluasi pelaksanaan RHL. pemerintah NTT telah mengesahkan "Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2004-2008" melalui SK Gubernur NTT No: Tahun 2004. Rehabilitasi hutan. Tanggerang dan Bekasi). Nusa Tenggara Timur Sudrajat. bisnis. Konsep ini sebenarnya sudah lama diterapkan oleh Pemerintah DKI dalam perencanaan internalnya yang sudah umum dikenal sebagai kawasan Jabotabek (Jakarta. Disamping itu. 2006 : Halaman 219-225 . (ii) resistensi di era otonomi daerah. (iii) kelemahan dan kelebihan konsep megapolitan. Otonomi daerah Subarudi KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN: STUDI KASUS DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)/ Subarudi dan Iis Alviya. Dede J. Bogor. perambahan kawasan hutan dan illegal logging (NTT. Laju kerusakan hutan khususnya di wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) disebabkan oleh kebakaran hutan. dan (4) merumuskan penyempurnaan kebijakan RHL di NTT.Subarudi MEGAPOLITAN. Sudrajat dan Nurhasybi. dan birokrat di wilayah lingkungan yang terkait dengan konsep tersebut.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. TEKNOLOGI PERBENIHAN DAN PERBIBITAN ACACIA MANGIUM/ Dede R. Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas tegakan dan target penanaman yang harus dicapai. 2005 Pembangunan kehutanan di Indonesia pada saat ini dan masa yang akan datang menghadapi tantangan dan hambatan yang semakin kompleks. Berkaitan dengan hal tersebut diatas. Tulisan ini akan membahas dan menguak secara detail tentang konsep megapolitan yang meliputi: (i) gambaran umum tentang megapolitan. kebijakan nasional khususnya kebijakan yang menyangkut otonomi daerah dirasakan masih belum sepenuhnya dapat mendukung kemantapan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. tingginya laju erosi dan besarnya peluang terjadinya banjir dan kekeringan yang berdampak kepada menurunnya kualitas kehidupan. -. Selain itu. lingkungan. Kemungkinan setelah sukses dengan konsep "internal" Jabotabeknya. Konsep megapolitan ini banyak menimbulkan pro dan kontra dari para pihak sehingga kajian yang menyeluruh dan netral tentang hal ini sangat diperlukan sehingga konsep ini dapat diterapkan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Sebenarnya konsep Megapolitan bukanlah konsep baru dalam upaya menggabungkan perencanaan di wilayah yang termasuk dalam 3 provinsi. tingkat efisiensi di persemaianpun dapat ditingkatkan 170 . Halaman 7-22 . 13 September 2005 . -. dan Banten. Halaman 177-188 . Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya laju kerusakan hutan yang mencapai 2. 2006 Acacia mangium merupakan jenis pioner yang mampu tumbuh pada lahan yang marjinal. 6 Desember 2006 . Oleh karena itu upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis (RHL) merupakan salah satu prioritas pembangunan sektor kehutanan. penggembalaan liar.

000 M kubik/tahun yang tercatat melalui pelayanan SKAUK dan SKSHH (Dishut Ciamis. Disimpulkan bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara usaha ekonomi dan usaha ekologi dalam pengelolaan hutan. pemerintah hingga perusahaan baik usaha besar maupun usaha koperasi dan UKM. Kelompok Tani. kebutuhan terhadap bahan baku kayu juga akan terus meningkat. Kata kunci: Acacia mangium.(meningkatnya keberhasilan penyediaan bibit akan menyebabkan biaya per satuan bibit siap tanam menurun) yang akhirnya akan berpengaruh terhadap mutu tegakan yang dihasilkan. seperti Proyek MA-LU. Kegiatan penghijauan dapat menggerakkan aparatur pemerintah.000 M kubik/tahun seperti diutarakan di atas. kab. dan meningkatnya pembangunan ekonomi. kebutuhan kayu mencapai 9 juta M kubik/tahun.1. Pengelolaan hutan memerlukan adanya peran serta aktif dari berbagai komponen masyarakat mulai dari satuan rumah tangga. Sementara itu pasokan kayu rakyat dari kabupaten Ciamis hanya mampu mencapai 326. Fakta menunjukan bahwa 70-90 persen kebutuhan kayu di Pulau Jawa (kayu pertukangan. 2002). kegiatan penghijauan. Tiwa PENGELOLAAN SUPPLY-DEMAND KAYU RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS / Tiwa Sukrianto. terutama bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini.2006 . Kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang terus meningkat seperti diutarakan di atas. 2003). Ditingkat lokal untuk memenuhi seluruh industri penggergajian kayu sekitar 400 unit diperlukan pasokan bahan baku antara 688. Kegiatan agribisnis perhutanan dapat menggerakkan. Di pulau jawa yang mempunyai penduduk paling besar. -. yang mana penulis pernah terlibat didalamnya. Berbagai kegiatan telah diikhtiarkan oleh pemerintah melalui beberapa kegiatan. Teknologi perbenihan Sufyadi. Pembibitan. Subarudi.2006 . Kata kunci: Kayu Rakyat. Ciamis 171 . Ekonomi. Halaman 129-133 .Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Disarankan bahwa seluruh komponen masyarakat apapun statusnya perlu memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama bahwa hutan lestari dapat menyelamatkan kehidupan kita. Manajemen Sukrianto. 2006). 2006 Sejalan dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk. 2003). -.000 M kubik/tahun. sementara itu pasokan kayu dari hutan alam dan hutan tanaman hanya mampu mencapai sekitar 25 juta M kubik/tahun (RLPS.285 . Berbagai komponen masyarakat dalam pengelolaan hasil hutan. Kata kunci: Hutan Rakyat. Proyek MA-LU dapat menggerakkan pusat kekuasaan di desa sekitar hutan dalam menyelamatkan hutan. Kondisi tersebut di atas menunjukan bahwa betapa besarnya kesenjangan antara pasokan (suply) dan kebutuhan (demand) kayu yang berasal dari hutan negara. 2005).Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Di kabupaten Ciamis produksi kayu dari Perum Perhutani hanya mencapai rata-rata sekitar 35. Pertumbuhan Industri yang mengolah bahan baku kayu di tingkat lokal maupun regional (Jawa Barat dan Jawa Tengah) saat ini telah meningkatkan kebutuhan bahan baku kayu rakyat secara signifikan. Dedi TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EKONOMI DAN MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT / Dedi Sufyadi. Dalam beberapa tahun kedepan kesenjangan ini akan semakin besar karena pemerintah telah menerapkan pembatasan penerbangan dari hutan alam dan juga dari hutan tanaman.5 juta M kubik/tahun (Suryohadi Kusumo dalam Suyarno dan Dian Diniyati. perlu dukungan teknologi perbenihan dan pembibitan yang tepat. Supply-Demand. 2006 Hutan pegang peranan penting. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan jenis ini. Halaman 65-71 . sedangkan produksi kayu Perhutani hanya mencapai 1. LSM dan masyarakat akan pentingnya kelestarian hutan. dan Sudarmanto. dan kegiatan agribisnis perhutanan.571 M kubik/tahun (Subarudi. Kebutuhan kayu secara Nasional diperkirakan mencapai 60 juta M kubik/tahun. Perbenihan.Studi ini merupakan tinjauan empirik terhadap beberapa kegiatan tersebut di atas. Sementara itu produksi kayu rakyat mencapai sekitar 326. kayu bakar) dipenuhi dari kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat (Djaja Percunda. dan diperkirakan hanya kurang dari 5 persen yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat.375. Informasi pengembangan teknologi perbenihan dan pembibitan yang dihasilkan dari beberapa penelitian seyogyanya dapat menjadi acuan bagi praktisi di lapangan guna meningkatkan keberhasilan penanaman jenis ini.

mangium.mangium cenderung semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. Tata Air. 6 Desember 2006 . BKPH Pasarsore. dan terbesar 8. dengan studi kasus di PT. Hasil penelitian penunjukan bahwa nilai kalor tanaman A. dan Sub DAS Soko (di luar kawasan) di kecamatan Bogorejo. dan Ragil Bambang WMP. mangium. Agung B. Untuk mendukung hal tersebut. tumbuhan bawah.97 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 1 tahun. MANGIUM): STUDI KASUS DI HTI PT. melalui pengamatan papameter tata air pada DAS. nilai kalor dan total energi dari masing-masing biomasa hutan pada lahan tegakan Akasia (A. diperlukan informasi karakteristik nilai kalor dan potensi energi yang tersimpan pada biomasa tegakan hutan.Supangat.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai CicatihCimandiri.67 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 7 tahun. Supangat dan Paimin. Musi Hutan Persada 172 . Hasil penelitian di atas dapat menjadi masukan bagi pengelola kawasan. 2006 Salah satu fungsi hutan adalah penyimpan kalor dalam bentuk karbon (Kayu) yang berpotensi untuk mengurangi terjadinya emisi karbon yang dapat menyebabkan kenaikan gas rumah kaca (GRK).ditunjukan nilai rata-rata koefisien limpasan yang lebih kecil dengan fluktuasi yang stabil. Oleh karenanya disarankan dalam perencanaan pengelolaan suatu wilayah DAS untuk menambah dan mempertahankan kawasan hutan terutama pada kawasan yang diperuntukan sebagai kawasan konservasi dan rawan bencana. Penelitian dilaksanakan di Sub DAS Modang di areal hutan Jati di wilayah RPH Ngawenan. kabupaten Blora. dengan nilai terkecil 0. KPH Cepu. R. mangium sangat nyata terhadap parameter nilai kalor dan potensi energi. INFORMASI NILAI KALOR BIOMASA HUTAN PADA LAHAN TEGAKAN AKASIA MANGIUM (A. baik kawasan hutan maupun non hutan tentang pentingnya mempertahankan kawasan hutan dalam suatu wilayah DAS. baik terhadap tanaman A. Hutan Tanaman Jati. Total potensi energi tanaman A. Melalui upaya mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism. Pengaruh umur tanaman A. -. Model DAS berpasangan antara DAS di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. SUMATERA SELATAN / Agung B.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. serta antara daun dan serasah tanaman A. mangium semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. 2006 Keberadaan Hutan dalam DAS diketahui selain befungsi produksi (kayu). MUSI HUTAN PERSADA. dapat disimpulkan bahwa secara umum berdasarkan nilai parameter hidrologi tahunan sub DAS kawasan hutan jati lebih baik dalam mengendalikan hujan untuk menjadi aliran permukaan. CDM) serta international Emmision Trading (Carbon Trading). Supangat. Halaman 125135 . pada sub DAS kawasan hutan lebih baik dalam mengendalikan kedua parameter tersebut.mangium mempunyai nilai rata-rata sebesar 4. Sudrajat. Cadangan air tanah yang dikeluarkan pada musim kering sebagai aliran dasar lebih banyak (stabil) terjadi pada erosi dan laju sedimentasi. 2006 : Halaman 161-174 . maka peningkatan panas bumi akibat kenaikan GRK yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dapat ditekan. HTI. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomasa. ranting. Kata kunci: Acacia mangium. mangium). PERAN HUTAN TANAMAN JATI SEBAGAI PENGATUR TATA AIR: STUDI KASUS DI SUB DAS KAWASAN HUTAN JATI DI KPH CEPU / Agung B. -. juga berperan sebagai pengatur kondisi hidrologis DAS. Total potensi energi tiap-tiap umur tanaman A. dimanfaatkan untuk menilai kondisi hidrologi yang dihasilkan. mangium dipengaruhi total nilai kalor dan potensi biomasa per hektar. Total nilai kalor tumbuhan bawah pada tegakan A. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama periode 1998-2004.52 Giga Joule/Ha. baik pada batang. Musi Hutan Persada Sumatera Selatan. Potensi energi biomasa hutan A.mangium tidak memperlihatkan kecenderungan meningkat. Kata kunci: DAS. Nilai Kalor. maupun daun. KPH Cepu Supangat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hutan jati dalam menjaga tata air. Biomasa Hutan. Segala tindakan pengelolaan hutan maupun gangguan yang terjadi akan menpengaruhi kondisi tata air DAS. Agung B.

diperlukan instrumen manajemen untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasinya tersebut.Suprapto. 2005 Kebijakan sosial forestry merupakan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam sistem pengelolaan hutan. SULAWESI SELATAN / R. dari jumlah tersebut. masih lemahnya organisasi petani dalam satuan unit manajemen. diakui bahwa terdapat sejumlah permasalahan mendasar dalam hal pengelolaan hutan rakyat secara umum. Ekolabel. Di kabupaten Wonogiri. 2006 Tingginya laju penebangan hutan di Indonesia semenjak tahun 1998. Keterbatasan dari aspek silvikultur pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya perawatan seperti perempelan. terbatasnya pengetahuan petani dalam hal pasar dan pemasaran produk kayu jati. -Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kelima. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. Wonogiri Supriadi PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI STASION PENELITIAN DAN UJI COBA BORISALLO. 13 September 2005 . SupriadiProsiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. baik dalam pasar domestik maupun global. Sementara itu. Tulisan ini merupakan hasil sintesa mengenai proses manajemen multipihak yang cocok diterapkan dalam pengembangan sosial forestry di SPUC Borisallo. berbicara pengembangan hutan rakyat masih dijumpai beberapa permasalahan. potensi produksi kayu dari hutan rakyat mencapai 43.000 m kubik. Halaman 43-50 . Pertama. formulasi aturan main manajemen/implementasi dan monitoring-evaluasi. Sosial Forestry. 2003). masih kurangnya pemahaman pada aspek-aspek silvikultur. Dalam rentang 5 tahun terakhir. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa proses manajemen multipihak akan terdiri dari proses kajian dan analisa. Meskipun demikian.kedua. sosial kelembagaan maupun biofisik. SPUC Borisallo. Sulawesi Selatan menggunakan metodologi penelitian aksi partisipatif atau partisipatory Action Research (PAR) untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasi masyarakat dalam proses manajemen. Dengan luasan areal hutan sebesar 1. sehingga mempersempit sisa hutan dunia yang tinggal 40 persen. 23. Dengan demikian sekurangnya dapat dilakukan dua hal. (2) identifikasi masalah dan kebutuhan lokal spesifik. serta keenam kurang berkembangnya pengembangan usaha-usaha produktif dari hasil non kayu maupun produk dari hasil olahan kayu. Kata kunci: Kelembagaan. keempat. Halaman 217-225 . Permasalahan tersebut diantaranya rendahnya harga kayu yang diterima oleh petani hutan.000. dapat dilakukan pendekatan dalam pengembangan hutan rakyat yang mengarah pada perbaikan nilai secara ekonomi maupun ekologi. Besarnya angka-angka di atas menunjukan betapa pentingnya nilai strategis hutan rakyat sebagai penopang ekonomi dan sekaligus penyangga secara ekologis. dan (4) monitoring-evaluasi dampak manajemen. Untuk itu perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI) bekerja sama dengan yayasan WWF Indonesia dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) melakukan kerjasama dalam pelaksanaan program "Menuju Sertifikasi Hutan Rakyat dan Pengembangan Akses Pasar Global". pertama penguatan institusi petani dan peningkatan kapasitas petani dalam hal pengelolaan produksinya dalam 2 unit manajemen. telah menjadi persoalan serius. Kata kunci: Hutan Rakyat. Sulawesi Selatan 173 . tiadanya jaringan informasi harga kayu dan jaringan pemasaran yang memihak mereka. lemahnya posisi tawar petani dalam proses tawar menawar. Teguh PENGALAMAN DALAM PENGAWALAN MENUJU SERTIFIKASI ECOLABEL HUTAN RAKYAT: CERITA DARI WONOGIRI / Teguh Suprapto.000 m kubik jati diproduksi oleh hutan rakyat di Jawa (Dephut. hutan rakyat yang biasa oleh masyarakat disebut dengan wono atau alas makin tahun menunjukan jumlah luasan secara berarti. ketiga lemahnya posisi tawar dalam penentuan harga kayu. Semakin luasnya hutan rakyat tersebut merupakan peralihan fungsi dari lahan tegal atau pekarangan. pengembangan perdagangannya (pemasarannya). penjarangan dan pemupukan yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas hasil kayu. (3) fasilitas proses manajemen. Laju tersebut diperkirakan mencapai 28 ha/menit. rendahnya harga kayu yang diterima. Keseluruhan tahapan kegiatan tersebut dilakukan secara partisipatif oleh seluruh pihak terkait. Sekalipun begitu. penambahan luasan hutan rakyat rerata 250 ha setiap tahunnya. Akibatnya pertambahan dan kecepatan nilai ekonomi dari hasil kayu tidak bisa memberi sumbangan secara cepat kepada petani.3 juta ha di seluruh Indonesia. Dalam praktiknya.000.tahapan kegiatannya terdiri dari (1) identifikasi dan karakterisasi lokasi baik secara sosial ekonomi. dan kedua.2006 .

Pada gilirannya pencapaian target program kurang maksimal. Jumlah kunjungan ke Taman Nasional Gede Pangrango dapat dipengaruhi oleh faktor 174 . program kurang berbasis pada sumberdaya lokal. diantaranya adalah: Produk hasil usaha petani sulit menjangkau akses pasar. seperti keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. KPH Tasikmalaya Suprianto PANDUAN ANALISIS KELAYAKAN USAHA KOMODITAS YANG DIKEMBANGKAN PADA HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN / Suprianto. Hutan Kemasyarakatan. lebih besar dibandingkan dengan profit income untuk petani peserta program. PHBM.prasarana dan sarana penunjang masih sangat minim dan lain sebagainya.Suyarno KONTRIBUSI SWASTA DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM PHBM DI KPH TASIKMALAYA / Suyarno. Berkaitan dengan hal itulah penulis mencoba menyajikan suatu panduan sederhana untuk memilih komoditas atau aktivitas yang diharapkan hasilnya mendekati target yang diharapkan. Berkaca pada fenomena tersebut pemilihan komoditas atau aktivitas program yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan. Perum Pehutani dan pihak swasta mulai dari perencanaan. Program PHBM ini melibatkan masyarakat sekitar hutan. Halaman 17-40 . produk yang dipasarkan masih dalam bentuk primer. 2005 Seiring dengan masih meningkatnya laju kerusakan dan perambahan hutan maka program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan terus dikembangkan. volume hasil produksi usahatani terlalu kecil untuk dijual. 6 Desember 2005 . Terlibatnya berbagai stakeholder dalam pengelolaan hutan salah satunya diwujudkan dalam pengelolaan hutan yang berbasis PHBM di KPH Tasikmalaya. memerlukan pemikiran dan perhitungan yang akurat. -.1 . kalaupun mendapatkan pasar. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sejak tahun 2000 telah dicanangkan melalui program pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Kelayakan usaha Syahadat. sehingga susah dijual. -. Kata kunci: Hutan Rakyat. 2006 Influences to a Tourism Visitor in Gede Pangrango National Park (GPNP)) / Epi Syahadat. yang pada dasarnya sudah dimulai sejak dulu. Epi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN WISATAWAN DI TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (The Factors with are Kehutanan : Volume 3 No. dimana program ini membuka ruang yang luas bagi berbagai pihak untuk berperan serta dalam pengelolaan hutan. Namun demikian memilih komoditas atau aktivitas yang tepat bukan perkara yang terlalu mudah. Kata kunci: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. sehingga insentif untuk menggairahkan petani pekerja bersungguh-sungguh dan mencurahkan seluruh kapasitasnya tidak tercapai. -. Halaman 22-33 .Manfaat ekologis dan sosial suatu program mungkin lebih besar dibandingkan dengan manfaat ekonomis. 2005 Permasalahan klasik yang sering kita temui dalam pengembangan usaha di bidang pertanian khususnya pada tatanan sub sistem usahatani (on farm) yang melibatkan masyarakat banyak. harga yang diterima petani tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.Adapun distribusi yang diberikan oleh semua pihak yang terlibat dalam pembangunan PHBM merupakan hasil kesepakatan bersama yang didasarkan atas konsep sharing baik dalam penyertaan modal maupun pembagian hasil usaha. sangat mungkin social benefit income atau keuntungan normatif dari suatu program. maupun ekosistemnya termasuk keindahan panorama alamnya. keterampilan petani belum mencapai standar yang dibutuhkan untuk mengelola aktivitas program yang dikembangkan. 6 Desember 2005 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. sumberdaya manusia yang tersedia belum memenuhi standar yang dibutuhhkan program. Halaman 185-193 . fauna. Akar permasalahan biasanya erat kaitannya dengan aspek-aspek usahatani yaitu ukuran (size) usahatani yang dikelola tidak mencapai skala ekonomi (economic scale). Pada akhirnya. sehingga nilai tambah buat petani masih sangat kecil. namun juga terlalu besar volumenya apabila hanya untuk dikonsumsi oleh keluarga petani.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Taman Nasional Gede Pangrango memiliki berbagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). dan pembagian hasil usaha serta pembangunan kelembagaan kelompok. Permasalahan-permasalahan tersebut juga sangat mungkin kita temui dalam rangka pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Pelaksanaan.

kelancaran. pemanfaatan. obyek dan daya tarik wisata alam. dengan jumlah responden sebanyak 142 orang. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan yang ada. Syahadat. Kajian penatausahaan hasil hutan pada hutan rakyat dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan yang menyebabkan tidak efektif mengendalikan peredaran kayu. penatausahaan hasil hutan. pelayanan. faktor sarana prasarana. Adapun strategi pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam meliputi pengembangan : 175 . Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata alam. Epi KAJIAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN RAKYAT SEBAGAI DASAR ACUAN PEMANFAATAN HUTAN RAKYAT Hasil kajian menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu disempurnakan dalam aturan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat agar ketertiban. 2006 Syahadat. Halaman 117-132 . faktor sarana prasarana. (Study on Forest Product Administration Orientation in Community Forest as a Basic Reference in Community Forest Usage) / Epi Pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) merupakan bagian integral dari pembangunan kepariwisataan nasional. maupun duplikasi data sekunder. sosial ekonomi dan budaya. sarana prasarana. dan faktor keamanan. -. peredaran. pengolahan data dilakukan menggunakan program “SPSS for windows versi 12”.1 . perencanaan kawasan. 2006 Penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat belum tertata dengan baik dan pelaksanaannya oleh petugas atau oleh instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. Keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan nasional di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dapat dicapai atau di raih berkat keterpaduan dan kesinergian antara kekuatan masyarakat. Kata kunci : Hutan rakyat. selain daripada itu pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional. dan pengusaha pariwisata. Analisa SWOT dilaksanakan untuk menyusun strategi peluang usaha di Taman Nasional Gede Pangrango. Sehubungan dengan hal tersebut maka pelaksanaan pengembangan pengelolaan kepariwisataan di Taman Nasional Gede Pangrango harus mampu menjadi sarana untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. khususnya kebijakan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat. faktor obyek dan daya tarik wisata alam. Epi ANALISA STRATEGI PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (TNGP) UNTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA ALAM DI KAWASAN HUTAN (An Analysis of Gede Pangrango National Park Syahadat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pelayanan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan rakyat dapat tercipta dengan baik. Pengumpulan data dilakukan dengan cara orientasi lapangan. Kata kunci : Taman Nasional Gede Pangrango. -. penataan ruang serta peraturan perundangan. Halaman 75-90 . wawancara. keamanan.pelayanan. pengangkutan. yaitu : pariwisata nasional. Penyempurnaan mulai dari pembuatan Surat Izin Penebangan (SIP) serta perlu adanya berita acara pemeriksaan penebangan sebelum pengesahan LHP. pemerintah.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. dan faktor keamanan secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh terhadap jumlah pengunjung akan tetapi tidak secara nyata (tidak signifikan) di Taman Nasional Gede Pangrango. (GPNP) Management Strategy For Tourism Development In Forest Area) / Epi Syahadat. dari keempat faktor tersebut faktor keamanan yang mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) dan dominan terhadap jumlah pengunjung di Taman Nasional Gede Pangrango. Akan tetapi secara parsial. maka dilakukan penelitian ini. media masa. pengelolaan lingkungan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Karena itu untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut secara bersama-sama (simultan) terhadap jumlah pengunjung.2 . faktor obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2005 dengan penentuan sampel secara accidental sampling yang dilakukan secara acak sederhana. sampai kepada pengangkutan hasil hutan perlu disederhanakan tanpa mengurangi fungsi penatausahaan hasil hutan yang efektif dalam melestarikan hutan dan mejamin hak-hak negara atas hasil hutan.

kesejahteraan masyarakat. Kata kunci: Penatausahaan. Subarudi KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL: STUDI KASUS PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL DI PULAU JAWA / Subarudi. Dokumen angkutan kayu rakyat yang berlaku pada saat ini adalah SKSHH yang di cap Kayu Rakyat (KR). aspek pengusahaan. aspek pemasaran. sedangkan jenis kayu lainnya akan diatur kemudian oleh Menteri Kehutanan atas dasar usulan dari masing-masing Dinas Provinsi. Halaman 97113 .aspek perencanaan pembangunan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. yaitu kayu sengon. 1-4 milyar dan sumber dananya berasal dari angaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebanyak 20 persen dan sisanya (80 persen) berasal dari dana Reboisasi (DR) dan dana provisi sumber daya hutan (PSDH). mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan serta mengkaji kemampuan petugas dalam memantau produksi dan peredaran hasil hutan. sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No 126/2003.26/2005. yaitu Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) sebagai dokumen resmi angkutan kayu rakyat yang diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat yang setara. Nomor P.25 juta hektar yang meliputi 486 unit kawasan (447 unit atau 82 persen konservasi daratan dan 39 unit konservasi laut) dengan lokasi yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Oleh karena itu pengelolaan dan pengembangan taman 176 . Kata kunci : taman nasional gede pangrango. Kualitas SDM yang bekerja di TN yang disurvey didominasi oleh lulusan SLTA dan SLTP dan hanya sedikit pegawai yang berpendidikan sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2) sehingga hal ini akan menjadi hambatan besar dalam rencana perubahan (agent of changes) pengelolaan TN yang lebih profesional. hasil kajian menunjukan bahwa kebijakan pengelolaan TN yang menggunakan pendekatan keamanan (security approach) harus sudah ditinggalkan dan menggantinya dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dan berbasis masyarakat. kawasan hutan . 2005 Saat ini luas kawasan konservasi di Indonesia mencapai 26. Pengelolaan taman nasional (TN) saat ini dirasakan masih jauh dari kesan profesionalisme dan menguntungkan (profitable) karena selama ini pengelolaan TN diidentikan dengan pusat pengeluaran biaya (cost centre). kondisi SDM. aspek sarana dan prasarana.51/2006. penebangan. Apul Sianturi. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Epi KAJIAN PENYEMPUNAAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN HAK RAKYAT (KASUS DI PROVINSI JAWA BARAT) / Epi Syahadat . kayu karet dan kayu kelapa. aspek peran serta masyarakat dan penelitian dan pengembangan.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. aspek kelembagaan.51/Menhut-II/2006. akan tetapi SKAU ini hanya terbatas kepada 3 (tiga) jenis kayu. rata-rata pembiayaan tahunan untuk operasional TN yang disurvey berkisar antara Rp. pengangkutan. wisata alam. Halaman 317-331 . Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. kayu rakyat. peredaran. Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001. Syahadat. pengembangan pariwisata. -. Penyeragaman struktur organisasi TN hendaknya dihindari karena karakteristik pengelolaan dan permasalahan yang dihadapi berbeda-beda untuk setiap TN.18/2005. perijinan. Oleh karena itu kajian kelembagaan pengelolan TN sangat diperlukan untuk mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan yang muncul dibidang peraturan dan kebijakan. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. dan struktur pembiayaan dalam pengelolaannya. aspek pengelolaan. bertanggung jawab. 13 September 2005 . dan Nomor P.4 . Dimasa yang akan datang dalam pengangkutan kayu rakyat akan diberlakukan dokumen angkutan lain selain SKSHH yang di cap KR. kelestarian alam. sesuai dengan Peraturam Menteri Kehutanan Nomor P. sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003. Kajian penyempurnaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat (kasus di Provinsi Jawa Barat) dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat yang menyebabkan tidak efektif dalam mengendalikan peredaran hasil hutan. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. -. organisasi. dan menguntungkan.

Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui pengembangan perekonomian desa merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka penggalian potensi sumberdaya perekonomian masyarakat sekitar hutan dengan untuk memberi peluang berusaha kepada masyarakat. Dan hal lain juga berdampak terhadap penyediaan bahan baku kayu industri pertukangan. dan lain-lain. mebelair. yakni dengan metoda vegetatif maupun secara sivil teknis.Dalam rangka pelestarian hutan dan lahan tersebut. tingkat sosial dan ekonomi masyarakat maupun terhadap sektor pembangunan di Jawa Barat. Pulau Jawa Subarudi KONSEP RENCANA MAKRO SOCIAL FORESTRY: KUNCI SUKSES MENUJU SISTEM PENGELOLAAN HUTAN LESTARI (SPHL)/ Subarudi. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.56 ha yang telah berdampak terhadap keadaan lingkungan. khususnya diwilayah yang berfungsi lindung. yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Strategi penyusunan konsep makro hendaknya tidak diberikan kepada pihak ketiga tetapi dikerjakan secara bersama dengan menggunakan pendekatan manajemen fungsi bagi setiap unit eselon I lingkup Dephut. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan sehingga ketergantungan terhadap hutan dan hasil hutan semakin berkurang. Kata Kunci : Rencana Makro.nasional ke depan hendaknya para pengelola TN diberikan kewenangan yang besar (desentralisasi pengelolaan TN) untuk berimprovisasi dalam pengelolaannya sehingga pengelolaan taman nasionalnya dapat lebih professional dan menguntungkan. Konsep makro PS harus seiring dan seirama dengan program kehutanan nasional dan sesuai dengan sistem pengelolan hutan lestari. dan di luar kawasan hutan seluas 514. 2006 Tekanan terhadap hutan semakin meningkat baik terhadap lahan kawasan hutan maupun hasil hutan dengan semakin merebaknya tingkat gangguan keamanan hutan berupa pencurian hasil hutan dan perambahan hutan. Oleh karena tulisan itu mencoba mengkaji konsep makro SF yang terdiri dari: (i) pencarian istilah SF dalam bahasa Indonesia. Karena kondisi kawasan hutan dan lahan di Jawa Barat saat ini dalam keadaan kritis dan memprihatinkan. serta dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Peranan dan fungsi PS diyakini saat ini sebagai indikator penentu keberhasilan pengurusan hutan dan jaminan bagi keberadaan Dephut di masa depan. Social Forestry. maka langkah yang efektif dan efisien adalah melalui metoda vegetatif dengan pembangunan hutan rakyat. Dengan pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat menunjang perbaikan kondisi lingkungan Jawa Barat yang saat ini mengkhawatirkan. juga mendukung penyediaan bahan baku kayu Jawa barat. maka perlu ditunjang pula dengan merehabilitasi lahan-lahan diluar kawasan hutan. Yakni kegiatan tanam menanam pohon kayu-kayuan dengan atau tanpa jenis tanaman Multiple Plan Trees Species (MPTS) yang ditunjang dengan atau tanpa tanaman semusim yang tergantung terhadap kondisi fisik wilayah dan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Namun demikian pengertian SF tersebut masih belum dipahami oleh berbagai pihak terkait sehingga keberhasilan dari program tersebut sangat diragukan.749. Pengelolaan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. -. (ii) konsep makro SF dan faktor-faktor penentunya. Halaman 31-38 . semakin terbatasnya areal pertanian serta belum tergalinya potensi ekonomi masyarakat sekitar hutan secara optimal. Keadaan ini disebabkan masih rendahnya perekonomian masyarakat sekitar hutan. 12 ha. Halaman 14-21 . Guna menunjang program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis.2006 . selain merehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak. pulp/kertas.303.Pelestarian hutan dan lahan adalah merupakan langkah strategis dan agenda utama pembangunan bidang kehutanan Jawa Barat. dan (iii) strategi penyusunan konsep makro SF. Hasil kajian menunjukkan bahwa Perhutanan Sosial (PS) menjadi istilah yang tepat pengganti kata SF. yakni diindikasikan dengan luas lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 455. 177 .1 . dan Pengelolaan Hutan Lestari Suherman KEBIJAKAN PROPINSI JAWA BARAT DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT / Suherman dan Yeyep Sudrajat. 2006 Departemen Kehutanan (Dephut) saat ini sedang menyusun konsep makro social forestry (SF) sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan prioritas ketiga. Kata kunci: Taman Nasional.

2 . Tulung Agung dan Trenggalek. mengingat pejabat P2SKSHH berada jauh dari ibukota Kabupaten/Kota. (KASUS DI PROPINSI KALIMANTAN TIMUR)/ Epi Syahadat. Kata kunci : Sumber air. Pasal 20. daftar hasil hutan (DHH). karena hanya akan memperpanjang rantai birokrasi dalam pengurusan penerbitan SKSHH. Halaman 131-149 . kawasan hutan lindung Syahadat.18/Menhut-II/2005.Disamping itu juga meningkatkan partisipasi aktif pengembangan budidaya usahatani hutan rakyat dan meningkatkan tingkat kesadaran pengelolaan lahan yang berwawasan pelestarian alam. Ijin pemanfaatan dan pengambilan air permukaan dikeluarkan oleh Dinas PU dan Pengairan Propinsi setelah mendapat rekomendasi teknis dari BPSDAWS untuk sumber air yang berada dalam kewenangan Propinsi dan rekomtek PJT bila sumber air berada dalam wilayah kerja PJT I. Kata kunci: Hutan Rakyat. Apakah mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH tersebut. -. dan meminimalkan perdagangan kayu atau peredaran SKSHH yang ilegal. Dinas Kehutanan Kabupaten. Sebagai pengelola sumberdaya air Perum Jasa Tirta I ( PJT I ) dengan beberapa bangunan waduknya tersebar hingga ke Kali Bengawan Solo. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan permasalahan yang serius. perkebunan. laporan hasil produksi (LHP). karena banyak faktor yang mengindikasikan bahwa kayu yang diangkut dari satu daerah ke daerah lain itu kayu legal. SKSHH bukan merupakan ukuran. atas SKSHH yang telah diterbitkan. pada dasarnya sudah berjalan sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Stakeholder yang berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya air Kali Brantas antara lain Dinas PU dan Pengairan Propinsi. Pasal 20.18/2005. seperti siapa yang dituju dalam surat permohonan penerbitan SKSHH. karena ini merupakan suatu alat kontrol yang dilakukan pemerintah pusat/daerah terhadap pejabat P2SKSHH. stakeholder. unit kerja yang berwenang dalam menerbiktan SKSHH untuk melindungi hak-hak negara seperti PSDH & DR. laporan hasil cruising (LHC).2 . akan tetapi hal tersebut harus dilakukan. Propinsi Jawa Barat Sylviani PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS (STUDI KASUS KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR)/ Sylviani. laporan mutasi kayu bulat (LMKB) dan masih banyak lagi persyaratan untuk menentukan bahwa kayu itu legal 178 . bahwa kayu atau hasil hutan yang diangkut tersebut legal atau tidak. rumah tangga maupun untuk kebutuhan sektor lainnya. kemudian diketahui dan disahkan oleh pejabat struktural (eselon III) pada Dinas Kabupaten/Kota yang menangani masalah kehutanan setempat. dan permohonan penerbitan menurut versi pemegang IUPHHK di Propinsi Kalimantan Timur.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. karena pada dasarnya. 2006 Pemanfaatan sumber air dikawasan DAS Brantas mulai dari hulu sampai hilir (termasuk di kawasan hutan lindung dan sekitarnya) cukup tinggi. telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. dan pemeriksaan administrasi. -. Di dalam Kawasan Hutan lindung sumber-sumber mata air dimanfaatkan langsung oleh penduduk dengan menyalurkan melalui pipa yang dibangun secara swadaya dan dimanfaatkan oleh pengusaha peternakan dan perkebunan. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauhmana mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di tingkat Propinsi. Epi KAJIAN MEKANISME PERMOHONAN PENERTIBAN SURAT KETERANGAN SAHNYA HASIL HUTAN (SKSHH). Blitar. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No P. Halaman 87-95 . diantaranya adalah tanda bukti pembayaran PSDH dan DR. yang dikhawatirkan adanya penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab pejabat P2SKSHH. SKSHH diterbitkan oleh P2SKSHH. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di Propinsi Kalimantan Timur. usaha peternakan. PDAM dan PLTA yang meliputi beberapa kabupaten antara lain Kabupaten Malang. Pengesahan SKSHH oleh pejabat eselon III ini dinilai kurang efektif. Balai Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungai ( BPSDAWS ) dan Perum Jasa Tirta I. Wilayah DAS Brantas merupakan sumber air bagi kebutuhan Propinsi Jawa Timur baik untuk air minum.18/2005.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Berdasarkan data BPSDAWS saat ini tercatat ada 34 pengguna ( baik sebagai pengguna langsung maupun sebagai pengelola ) yang terdiri dari berbagai industri besar dan kecil. Walaupun masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya.

kronologis kayu Sylviani POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG DAN KAWASAN HUTAN LINDUNG (STUDI KASUS DI KABUPATEN GOWA.18/2005 dan Nomor P. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelembagaan. pengelolaan SDA.26/2005. Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Sylviani KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR / Sylviani. industri gula dan rumah tangga dibagian hilir melalui PDAM. mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan SDA di tingkat propinsi/kabupaten (Peraturan. mekanisme. Pengelolaan sumberdaya air melibatkan beberapa stakeholder antara lain Dinas PU dan Pengairan Kabupaten. -.3 . -.3 . Halaman 263-279 . yang terpenting dan perlu diketahui dalam pengangkutan kayu. sistimatik dan berkesinambungan. pengesahan. mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara secara optimal.3 . Kajian penata-usahaan hasil hutan pada hutan hak/rakyat dilakukan untuk mengetahui efektifitas kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat. Halaman 243-262 . Kata kunci: penatausahaan. Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001 sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai lagi dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. produksi. organisasi. Kajian kelembagaan pengelolaan SDA bertujuan untuk menganalisa peran para pihak/instansi yang terkait dalam pemanfaatan jasa air. Epi KAJIAN PEREDARAN DAN TATA USAHA KAYU RAKYAT DI CIAMIS JAWA BARAT / Epi Syahadat.atau tidak. Kata kunci : Kelembagaan. adalah mengenai kronologis kayu. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. seharusnya memberi iklim yang baik kepada petani untuk berpartisipasi dalam pembangunan hutan rakyat. Terdapat kelembagaan pada masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air melalui tata tanam tahunan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan permohonan perijinan penggunaan air terutama untuk irigasi Kata kunci : Kelembagaan. Halaman 219-234 . Kata kunci : Penatausahaan hasil hutan. UPTD BPSDA dan PDAM dengan tugas dan fungsinya masing-masing. SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung. Kelembagaan pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) dapat berjalan dengan baik apabila adanya koordinasi diantara para pengelola SDA dan akan berdampak terhadap terjaganya kelestarian lingkungan. kayu rakyat. BPDAS. PROPINSI SULAWESI SELATAN) / Sylviani .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 2006 Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat. peredaran. 2006 Peranan air bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta lingkungan sangatlah penting dan merupakan kebutuhan pokok. Demikian juga dengan Perda Kabupaten Ciamis No.. potensi dan pemanfaatan sumberdaya air. mengkaji kemampuan petugas serta memantau produksi dan peredaran hasil hutan. 179 . 19 Tahun 2004. Potensi sumberdaya air di Kab Gowa ada yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumbermata air di dalam kawasan HL dan dari sungai Jeberang melalui penampungan waduk/Dam Bili-bili yang dimanfaatkan untuk saluran irigasi. serta tugas dan fungsi masing-masing instansi. -.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Elvida Yosefi S.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. pemanfaatan air Syahadat. mekanisme/prosedur pemanfaatan air. karenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanya penanganan yang teratur. Berdasarkan UU No 7/2004 tentang SDA dijelaskan bahwa wewenang dan tanggung jawab dalam menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota adalah pemerintah propinsi c/q Dinas Pengelolan Sumber Daya Air setempat. distribusi.

Kata kunci: Kebakaran hutan. penggandaan pendapatan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Syafrul Yunardy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi (share) sektor kehutanan terhadap output keseluruhan sebesar 0. berdampak menurunkan tingkat pendapatan masyarakat sebesar Rp. -. -.60 persen. 0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk setiap hektar kejadian kebakaran hutan di Indonesia. Penelitian ini ditujukan untuk melihat tingkat keterkaitan sektor kehutanan dengan sektorsektor ekonomi lainnya dan peranan sektor kehutanan dalam penciptaan output. Halaman 133-146 . yang merupakan suatu kerangka analisis ekonomi yang terpadu. Kata kunci : Pengganda neraca. Sedangkan untuk menjelaskan jalur keterkaitan antar sektor digunakan Analisis Jalur Struktural (Structural Path Analysis).2666 milyar. 1. Secara struktural.pendapatan masyarakat Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). pengeluaran pemerintah dan ekspor) sektor kehutanan sebesar Rp. Metode analisis yang digunakan untuk mengukur besarnya nilai penurunan tingkat pendapatan (economic loss) adalah Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM). Nur Arifatul ANALISIS PERANAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT (Analysis of Forestry sector Role in Indonesia Economy: An Input-Output Model Approach) / Nur Arifatul Ulya.2 . Studi ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dampak kebakaran hutan di Indonesia terhadap masyarakat. maupun pemerintah. ditemukan fakta bahwa ada jalur keterkaitan yang erat antara sektor kehutanan dengan sektor-sektor yang berbasiskan pertanian di pedesaan. Halaman 61-74 . Kejadian ini jelas akan berpengaruh terhadap pendapatan baik bagi masyarakat. dan penyerapan tenaga kerja didalam proses produksi antar sektor. peranan sektor kehutanan dalam perekonomian Indonesia dapat diketahui.Ulya. Berdasarkan hasil analisis pengganda neraca (accounting multiplier) diketahui bahwa untuk setiap kenaikan permintaan akhir (konsumsi. dan penyerapan tenaga kerja total sebesar 41 orang.74 persen. Syafrul Yunardy.1979 milyar. sektor kehutanan. Structural Path Analysis (SPA) Ulya. kenaikan pendapatan total sebesar Rp.5 juta hektar hutan alam di Kalimantan Timur. Sedangkan nilai tambah yang diberikan oleh sektor kehutanan sebesar 82. Selain itu juga untuk mengidentifikasi jalur-jalur keterkaitan antar sector kegiatan perekonomian. keterkaitan. Namun informasi dan data yang ada selama ini baru bersifat sektoral dan belum memberikan gambaran yang jelas tentang peran sektor kehutanan dalam keterkaitannya dengan sektor-sektor ekonomi lain. investasi. perusahaan. 1 milyar akan menyebabkan penciptaan output total sebesar Rp. sumbangan 180 . Nur Arifatul ANALISIS DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT (Analysis of the Impact of Forest Fire in Indonesia on Community Income Distribution) / Nur Arifatul Ulya. model Input-output.44 juta. Melalui pendekatan model transaksi input-output.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. kebakaran hutan di Indonesia kian menyebar dan selalu berulang setiap tahun.1 . 77. 2006 Pembangunan kehutanan selama ini telah ikut berperan dalam perekonomian Indonesia. 2006 Sejak kebakaran hutan besar tahun 1982/1983 yang membakar 3. Rumah tangga mengalami penurunan tingkat pendapatan yang paling besar dibandingkan dengan pemerintah maupun perusahaan.

2006 Dengan sistem informasi geografis data dapat dikelola.4 . pemerintah lokal telah mengeksploitasi sumberdaya alam dengan tanpa mempertimbangkan aspek ekologinya.Wardojo APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK KESESUAIAN LAHAN PADA TANAMAN KEHUTANAN / Wardojo dan Ragil Bambang WMP. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis. (c) Tanaman tradisional (kebun tradisional) dan (d) Hasil hutan kayu dan non kayu. -. Catur Budi KAJIAN POLA PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN SECARA TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DAYAK BENUAQ DAN TANJUNG DI KALIMANTAN TIMUR (STUDI KASUS DI KAMPUNG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski perkebunan berskala besar (karet. Halaman 97-113 . untuk keperluan yang sama dapat dianalisa untuk jenis-jenis tanaman yang lain dengan menggunakan data dasar yang sudah tersedia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung setelah era otonomi daerah dan desentralisasi. -. Dalam makalah ini hanya dianalisa empat jenis tanaman (akasia. terutama pada era otonomi daerah dan desentralisasi. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan Arc View bisa digunakan untuk mengolah data-data atribut yang diperoleh dari kegiatan ISDL maupun data lain dari penafsiran potret udara. 2006 Sejalan dengan adanya program pengembangan pengelolaan hutan bersama masyarakat. 181 . ditata. Dalam analisa kesesuaian jenis tanaman kehutanan untuk pengembangannya data-data yang diperoleh dapat dimanipulasi sesuai dengan tujuan analisanya. Kesesuaian lahan. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. 6 Desember 2006 . Tanaman kehutanan dimana masyarakat tetap dipertimbangkan memegang peranan penting dalam mengelola sumberdaya hutan. Program Arc View ini memberikan kemudahan untuk menampilkan banyak tampilan data dengan peta secara cepat dan mudah sesuai dengan keinginan.2 . Jati dan Sono). Catur Budi IMPLIKASI OTONOMI DAERAH TERHADAP PRAKTEK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI KALIMANTAN TIMUR (SUATU STUDI KASUS DI KAMPUNAG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. data dan informasi tentang model dan tipe pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat menjadi sangat penting. tidak selalu dapat berhasil untuk dikembangkan menjadi hutan yang bagus. Kalimantan Timur. Kalimantan Timur. Kata kunci : Sumberdaya hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kembali implikasi otonomi daerah terhadap pola dan keberadadaan sumberdaya potensial yang dilakukan oleh masyarakat tradisional di Kalimantan Timur. Halaman 333-345 . analisa dan ditampilkan sesuai dengan tujuan analisa. SIG. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam memilih jenis tanaman yang akan dikembangkan selain dipertimbangkan aspek fisiknya (kesesuaiannya). Posisi masyarakat penting. khususnya oleh adanya kebijakan Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) yang dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Wiati. Halaman 137-149 . 2006 Di era desentralisasi. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. -. Mahoni. desentralisasi Wiati. masyarakat dayak. jati super dll) dan perusahaan kayu pemegang Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) telah beroperasi. Kabupaten Kutai Barat. karena adanya banyak kendala. otonomi. sangat mudah ditemui adanya ketidakcocokan dan ketidaksinkronan antara kebijakan pusat dan kebijakan daerah yang berdampak negatif pada pengelolaan hutan khususnya yang dilakukan oleh masyarakat.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. peta dasar dan peta tematik yang ada. kelapa sawit. masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat tampak tidak terganggu dan tetap mempertahankan pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang terbagi atas budidaya: (a) Tanaman pangan. Kabupaten Kutai Barat. perlu dipertimbangakan juga tentang aspek non fisik (ekonomi). (b) Tanaman perkebunan. Hasil penelitian ini menununjukkan bahwa pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat dayak di Kabupaten Kutai Barat telah dipengaruhi oleh kebijakan pusat dan daerah. Suatu lokasi yang sesuai untuk suatu jenis tanaman (layak dari aspek fisik ).Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.

logging US$ 3. juga ditentukan oleh etos kerja petani selaku pelaku utamanya. jumlah industri pengolahan berdasarkan ijin yang ada sejumlah 1. hal ini terlihat dengan masuknya investasi bidang kehutanan yang mencapai US$27. -. sedangkan kemampuan produksi kayu bulat rata-rata per tahun sebesar 22. Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) masih melekat terutama dalam masyarakat Jawa. masyarakat dayak. dan interaksinya dengan sumber daya alam yang ada disekitarnya. kebutuhan bahan baku 18.Barat. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Akan terdapat perbedaan etos kerja antara petani laki-laki dan perempuan dalam mengelola HR. hutan tanaman. yang terjadi karena adanya konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. 2006 Keberhasilan pengelolaan hutan rakyat (HR) selain ditunjang oleh sarana prasarana dan modal berupa lahan. sebagian besar berupa sawmill. Majenang Wijayanto. Focus Group Discussion (FGD). karena laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang bersifat produktif termasuk dalam mengelola hutan rakyat (rata-rata 45 jam seminggu) dibandingkan kaum perempuan (rata-rata 27 jam seminggu).2006 .Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Tri Sulistyati ETOS KERJA PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP / Tri Sulistyati Widyaningsih.61 juta m kubik per tahun. 2005). Kata kunci: Hutan Rakyat. Saat ini kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan secara lestari. Dalam pasal 1 Ayat 2 UU No. pulpmill 6 unit. hutan dinyatakan sebagai Widyaningsih. Petani.881 unit. kerajinan (handicraft) US$ 0. Kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku kayu oleh industri (zero waste). sedangkan perempuan lebih banyak berperan disektor domestik (pekerjaan rumah tangga). Konflik ini melibatkan masyarakat lokal dengan masyarakat lokal atau masyarakat lokal dengan para pihak (konflik vertikal dan horizontal ) dan (b) Munculnya sistem kapital baru dalam masyarakat kampung terkait kemudahan dalam mengakses sumberdaya hutan. Dampak dari kebijakan tersebut adalah: (a) Adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya hutan.17 milyar.2006 . plywood US$33. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan kebutuhan bahan baku sebesar 40. penyuluhan. 2005). 2006 Pembangunan kehutanan di Indonesia masih mempunyai daya tarik bagi para investor. dan adhesive US$ 0. yang bersumber dari hutan alam. keterlibatannya dalam mengelola HR.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. furniture US$ 0. kayu olahan (wood working) US$ 1. yaitu sebanyak 1.91 juta m kubik per tahun. Halaman 1-13 . yang mana etos kerja tersebut akan dipengaruhi oleh persepsi atau sudut pandang petani tentang hutan rakyat. Nurheni STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI / Nurheni Wijayanto. Halaman 142-152 . Dian Diniyati.8 juta m kubik. kebutuhan bahan baku 17. hutan rakyat.618 unit dengan kebutuhan bahan baku 22. Kata kunci : otonomi. Sedangkan plymill 107 unit.8 milyar dengan rincian. investasi industri pulp dan kertas sebesar US$ 16 milyar. bahwa laki-laki lebih berperan dalam sektor publik (pekerjaan di luar rumah) dan menjadi penentu kebijakan.2 milyar.03 milyar.48 juta m kubik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan hutan rakyat juga dipengaruhi oleh budaya patriarkhi yang 182 .09 juta m kubik per tahun.80 milyar.87 juta m kubik per tahun.19 milyar. -. Berdasarkan ijin usaha yang telah diterbitkan tersebut kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan per tahun mencapai 63. dan lain-lain sebanyak 150 unit dengan kebutuhan bahan baku 4.60 juta m kubik per tahun (Antara News. Cilacap. Hal tersebut terlihat dari hasil kajian yang dilakukan di desa Bener dan desa Sepatnungal kecamatan Majenang kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah pada bulan Juni-Agustus 2006 terhadap 34 orang petani hutan rakyat yang diambil secara sengaja (metode purposive sampling). desentralisasi. bibit. Etos kerja. dan sumber lain. 2005). Sebagai gambaran.3 milyar. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaum laki-laki memiliki etos kerja yang lebih tinggi dalam mengelola hutan rakyat dibandingkan kaum perempuan. dan dokumentasi yang kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. dan percepatan realisasi pembangunan hutan tanaman industri dan hutan rakyat (Antara News. Hal ini menunjukan bahwa industri kehutanan masih prospektif (Antara News.

usaha tersebut belum mampu meningkatkan kinerja usaha. sehingga usaha hutan rakyat tersebut perlu ditingkatkan kinerjanya agar lestari. Usaha hutan rakyat merupakan suatu penerapan model usahatani yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas fisik per satuan luas lahan. dan longsor dimana-mana seiring dengan datangnya curah hujan. dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. diterima masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat. kondisi DAS kembali mendapat perhatian. industri. disampaikan pengalaman mengelola DAS dalam skala mikro dengan menciptakan hubungan timbal balik potitif antara hutan dan masyarakat yang didukung oleh kelembagaan mikro sesuai yang diminta oleh masyarakat. Pada tulisan ini. melalui strategi dan program pengembangan yang tepat. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. usaha perbaikan tata air dan lingkungan. sedangkan hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. penyediaan kayu bakar. Tana Toraja 183 . penyediaan kayu sebagai bahan baku bangunan. DAS menjadi istilah yang paling sering muncul baik dalam diskusi-diskusi ilmiah maupun dalam berita-berita di koran. Das. Makna yang tersurat dan tersirat adalah adanya kewajiban kepada kita semua untuk mengatur. peningkatan pendapatan masyarakat. kegiatan ini dapat juga dilaksanakan di atas lahan negara diperuntukkan untuk kegiatan penanaman pohon. termasuk di dalamnya penggunaan sumberdaya hutan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Walaupun demikian .suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. Usaha hutan rakyat telah dilakukan sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Das Saddang. lahan pertanian hancur. dan memaksimumkan pendapatan usaha. pengembangan hutan rakyat diarahkan kepada usaha-usaha rehabilitasi dan konservasi lahan di luar kawasan hutan negara.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. -. TANA TORAJA / Hunggul Yudono SHN dan Iwanuddin. Kegiatan usaha hutan rakyat diharapkan memberikan dampak positif bagi rumah tangga pedesaan. serta sebagai kawasan penyangga bagi kawasan hutan negara. 2006 : Halaman 101-121 . 41 Tahun 1999. penganekaragaman hasil pertanian yang diperlukan oleh masyarakat. sarana-prasarana rusak. Kata kunci: Hutan Rakyat. bahan baku industri. Buruknya pengelolaan DAS menjadi satusatunya tertuduh. dan sampai saat ini usaha tersebut semakin berkembang. Das Mararin. Hutan rakyat ini ada yang bersifat subsistem dan ada yang dengan tujuan komersial. dimana hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. MULAI DARI DIRI SENDIRI DAN MULAI SAAT INI: PENGALAMAN DARI SUB DAS MARARIN. memperbaiki kualitas lingkungan dan sumberdaya hutan. Demikian kalimat sakral yang tertuang dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. mengoptimalkan lahan garapan. Awang (2003) menyatakan ciri dari hutan rakyat adalah bahwa kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan di atas lahan milik rakyat. sektor angkutan. pemeliharaan lingkungan hidup serta bagi pemerintah daerah. dan manfaatnya untuk masyarakat. Hutan hak tersebut sering disebut dengan hutan rakyat. Berdasarkan UU Kehutanan No. Akhirakhir ini ketika bencana banjir.Hunggul KELEMBAGAAN DAN NILAI AIR DAS MULAI DARI YANG KECIL. lembaga keuangan. Nilai air. Namun demikian. Pengelolaan hutan Yudono SHN. hal ini antara lain disebabkan oleh semakin besar permintaan pasar akibat tumbuhnya berbagai jenis dan skala industri pengolahan kayu di setiap kabupaten dan propinsi. Kata kunci: Kelembagaan. mengelola dan memelihara sumberdaya hutan yang ada agar mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 2006 Sumberdaya alam yang secara spasial terbagi habis ke dalam DAS/Sub DAS. tenaga kerja. Berdasarkan statusnya hutan terdiri dari hutan hak dan hutan negara. Ketika korban manusia berjatuhan. DAS SADDANG.

organization and legislation supporting enough. Govermental administration problems have to be managed according to administration boundary and on the other side watershed need to be managed with the boundary of watershed itself. 2006 Decentralize era result the change of local government competency in the form of institutional reinforcement of watershed management. Disamping untuk kepentingan pembangunan kehutanan. 2005 Kondisi di Indonesia dari data yang ada menunjukan adanya: 1) peningkatan jumlah DAS kritis satu dari tahun ke tahun. not in the form of independent institution but under an appropriation to Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten this time. through direct interview and filling questionair to the respondent. especially at saddang and Bilawalanae Watershed. seen from human resources. melakukan perambahan hutan dan menggunakan lahan di kawasan lindung bertopografi berat untuk lahan budidaya tanpa memperhatikan daya dukung lahan.hasil air . Lembaga Pengelola. Air Yudilastiantoro. organization and law. C KONSEP LEMBAGA PENGELOLAAN DAS TINGKAT LOKAL DAN REGIONAL DI DAS SADDANG-BILAWALANAE. dan Sulawesi.Yudono. locally and regionally. this research used survey method. Pembangkit Listrik.Salah satu kegiatan yang dapat menjawab permasalahan hubungan antara hutan dan masyarakat adalah dengan pemanfaatan air sungai yang berasal dari hutan untuk menghasilkan sumber tenaga listrik alternatif bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. akibat peningkatan jumlah penduduk dan kondisi DAS yang kritis. Yudilastiantoro dan Tony Widianto. with studying fundamental duty and institution function which related in watershed management. Sulawesi Selatan 184 . SULAWESI SELATAN / C. 2006 : Halaman 245-264 . 3) terjadinya peningkatan frekuensi banjir besar dan kekeringan di berbagai tempat. longsor. With this research can be know institution that take part in watershed management. serta 4) sistem pertanian di Indonesia yang boros air sehingga air kurang termanfaatkan dengan baik. dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil ini juga dilakukan pengumpulan data dan survey agar dapat dihasilkan informasi yang akurat hubungan sebab akibat antara kondisi hutan. Kata kunci: Mikro Hydro Electrik. Hulu DAS mengalami okupasi oleh masyarakat yang strategi bertahan hidupnya justru membuat mereka terpuruk dalam kemiskinan dan sekaligus juga membahayakan kelestarian fungsi DAS dan wilayah di bawahnya. karena alasan kemiskinan dan merupakan sumber permasalahan. To gain data of the aim above. energi listrik alternatif ini juga dapat digunakan untuk mengatasi krisis listrik yang saat ini banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. DAS SaddangBilawalanae.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. 13 September 2005 . kekeringan. The aim of this research is to studying about watershed management in local and regional level.energi listrik kesejahteraan masyarakat. -. For regional watershed management. 2) Ada kecenderungan mulai terjadi defisit sumber daya air di Jawa. This research located in South Sulawesi Province. Untuk dapat lebih mengoptimalkan hasil. -Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. some regency wish the form of selfsupporting Otorita that still under conducting Governor as province leader.Secara langsung maupun tidak langsung ditengarai salah satu penyebabnya adalah eksploitasi kawasan hutan lindung di daerah hulu yang mempunyai fungsi sebagai pengatur tata air. This is because the human resources. Kata kunci: DAS. Halaman 4961 . Hunggul MIKRO HYDRO ELECTRIK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR SKALA KECIL: MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT DAN MENJAGA HUTAN DENGAN HASIL AIR / Hunggul Yudono SHN dan Gunardjo TJ. Sorotan juga diarahkan kepada masyarakat yang berada di wilayah hulu. berbagai DAS menjadi sensitif terhadap bencana banjir. Pengelolaan DAS. The research was done in DAS Jeneberang and Bilawalanae from August untul December 2005. Sumatera. Can be recommended that institute of local watershed management formed in every regency. Primary and secondary data analyzed with Stakeholders Analysis Method and SWOT Analysis Method. Serta dilengkapi juga dengan pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat pengguna listrik dan pendampingannya.

6. Chris. Illa. 105 Diniyati. 146 Ekawati. 5 Arisman. 101 Basri. S. Sasa. 103 Dharyati. 74 Bastoni. Imaculata. Burhanuddin. 105 Fatima. Hardjono. Deden. 100. Satria. 140 B Bakri. Budiman. 100 Asaad. 99 Adinugroho. Wida. 73 Achmad. Harun. 103 Bustomi. 99 Antoko.INDEKS PENULIS A Abdurachman. 100 Asmaliyah. 9. 74 Darwati. 102 Bau. 12 Darmawan. Efrida. Wahyu Catur. 4. 11 Daryono. Emmy. 4 Alviya. 144 Djaenudin. 140. 103 Butar-Butar. 105 185 . 8 Beadle. 13 Fauziyah. Sofwan. 142 Dulsalam. 142. Harun. Chairil. Iis. Saptadi. Rachman. Luciasih. 2 Alrasyid. 141 C D D. 7. 138. 10. 9 Bustomi. 98. Ari. 76. Wida. 12 E Effendi. 73 Anggraeni. 77 F Falah. 8. Sofyan. Tigor. 3. 9. 147 Fiani. 139 Ade. 75 Durahim. Indra Jaya. Martono. 104 Darwo. 1 Abdurrohim. Sulistya. 1 Adinugraha. Faiqotul. Dian. 143. Mohd. 145. 144. Yanuarius Koli. Hamdan Adma. Wesman. A. Andy. 1 Agustini. 145 Endom. 1 Adman. Eva. 74 Danu. 11 Darwiati. Bambang S. 4 Anwar. 101 Astana. 139 Andianto. 9 Cahyono. 12 Farid A. 2. 1 Alrasjid. Herman.

113 Kurniawan. Mudji. 155. N. 113 Kuntadi. 19 Hermanto. Ermi E. Wuri.I. 148 Gintings. 14 Hayati. Rusli M. 109 Hidayat. Ismatul. 24. A. 21 Komala. 82 Lestari. 155 Iriansyah.. Neo Endra. Teguh. Relawan. 151 Hendalastuti R. Nur. 24 Kusumedi. A. 77 Hakim. 79 Jayusman. Nurwati. 21 Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. Henti. 108 Harisetijono. 16. 151 Harahap. 156 Kayat. 16 Hendarto. Djeni.S. 23. 20. 158 Kuswanda. 149 Glen. 14 Harun. 152. Priyo. 81 Lempang. 109 I Indartik. 153 Hendra. 153 Irawanti. 159 Lelana. 110. 13 Ginoga. I Made. 19 Iskandar. 17 Hendalastuti. M. 80. 106 Garsetiasih. 17. Hery. 158 Kurniawan. Karim. Kirsfianti Linda.. Nanang. 22 Kurniadi. Wanda. 16 Hardi TW. Heru. 26 L Lasminingsih. 111 Judhiharto. 156 Koeslulat. Setiasih. Dian. 25 Kuswandi. 157 Kunarso. 107 Gunaja. 81. 112. 19 K Kaho. Rozza Tri. 109 Husna. Eko B.M. R. 107 Hajib. 13 H Hairudin. Morag.G Gaffar. R. 147. Hendi.Sri. Rahman. 108 Heriyanto. 149. Ngaloken.Syafari. 18. 106 Golani. 157 Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya. Marinus Kristiadi. Ian A. 114 Lazuardi. Asep. Mody. 20 Karyono. 107 Hardiyanto. 78. Maming.79 J Jasni. A. 22 Krisdianto. 153 Hood. Kresno Agus. 154. 15 Handayani. 79. Henti. 27 186 . OK. 82 Lestari. Edy. Adi. 78 Herdiana. 25 Kwatrina. Agus. 150 Halidah. L Michael Riwu. 112 Junaidi. Setyani B. 22 Kosasih. G.D. 157 Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat.

Amir. 118 Muslich. 121 Priyono. Abdullah Syarief. Y. 115 Mairi.S. 39 Prayudyaningsih. Fitri. Sudin. 82. Istiana. Ridwan A. 160 Ma'ruf. B. 120 M M Hidayatullah. Suryanto. 162 Ngatiman. Ruben. Yanto. 38 Purwanto. 116. 120 Pratiwi. Bismark. M. 169 187 . 29 Mile. Aris. Eulis. 167 Retnowati. 163 Nurhaedah M. 123.L. Retno. 27. 30 Mile. Anto. Agung Wahyu. 88 Rachmawati. 119 Nurfatriani. 117 Muchtar. 87 Pasaribu.I. 113 Omon. 85. 37. 26. 121 Pudja M. 30 Munandar. 42. 87 Parlinah. 122 Rahmayanti. 164 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Indra A. 117 Misdarti. 32. C Andriyani. Syofia. Dewi. 42 Rayan.P. 41 Rahmat. Abdul Hakim. 119. 167 Rochmayanto. Ida. 36. Heru Dwi. 83 Marbawa. 163 Parthama. 84 Nugroho. 33. 31. Caroline L. 118 Njurumana. 44 Rimbawanto. 28 M. Osly. 113 Lukman. 166 Rachman. Nunung. 32. 122 Riyanto. Irwansyah Reza. 29. Budi Hadi.Lubis. Gerson ND. 84 N Narendra. 34 Novrianto. 87 Pramono. 162. 35 Nurdawati. 36 Nurhayati. 120 Prihatini. 159 Malik. Yamin. 121 Premono. Mamat. 34 Noorhidayah.. Jamaludin. 41. 37. Nina. 40 Premono.B Putera. 161. I Ketut Catur. Tejo. Syarifah. Edwin. 168. 41 R Rachman. 30. 39 Prasetyawati. Mulyana. 28. 35 Nurhaedah M. Gunawan. 32 Natawijaya. 83 Mohammed. 84 O P Panjaitan. 122. Mohammad. 38 Pari. Eka. 165 Putri. 160. Kristian.. Joko. 83 Mandang. Tjutju. M Yamin.U. Dedi.. 43 Renden. R. 162 Mindawati. I. 28 Martin. 86. 27 Mahfudz. Tejo B. 38 Pasaribu. 43 Retna I. Encep. Gustan.

89 Sawitri. Priyono. 132 Ulya. E. 66 Tjahjono. 127 Sofyan. Hengki. 128 Subarudi. Sulistyo A. 175. 46. 63 Suryanto. Agung B. 44 Rumboko W. 47. Dedi. 52 Siregar. 55 Suhaendi. Reny. 88. 44. 50. 53 Siswoyo. 128 Suhaendi Hendi. 56. Harris Herman. 126 Setyowati.. Mustaid. Sihati.M. 45. Agus. 89 Ruby. 95 188 . Achmad. Pujo. Hadi. 178. 67. 51 Setijono. 89. 130 Tira. 47 Santoso. 180 Utomo. Sona. 52 Siringoringo. 176.. 51 Siran. 90. 133. 91 Suhartati. Hendi. 169 Satyawardana. Han. Agis Nursyam. Andi Gustiani. Teguh.. 65 Susila. 66 Taufikurahman. R. 58. Budi. Kamindar. Dedi.. 170 Sufyadi. Ogi. 129 Sumardi. 177 Subiakto. 49 Setiadi. Agus. 60 Sukrianto. 55 Sugiarto. Sri. Totok K. 90 Sudrajat. Retno. 59. 131 U Ulfa. 62. 60 Sumarhani. 56 Supangat. 63. 129 Sumadiwangsa. 179 T Takandjandji. 168 S Salim. Ismayadi. 178. Budi. La Ode Asir. 131. 94 Suprianto. 64. 54 Sudradjat. 57 Suherman. 54. I. Maliyana. I Wayan Widhana. Atok. 170. 130 Susanty. 125 Santoso. 48. 129 Suharti. 127. Sujarwo.. Farida Herry. 126 Setiawan. 171 Sulastiningsih. Tiwa. 61. Agus Djoko. 91 Sukresno. 58 Sukadaryati. 93. 93 Suprapto. 58 Suhartana. Bambang. Dede J. I Komang. 133 W Waluyo. 45 Samsoedin. 174 Surata. 174 Syahadat.Roliadi. 51 Siahaan. 171 Sugiana. Lukas. 64 Suryanto. 92 Sumadi. 55. 173 Supriadi. 173 Supriadi. 169 Santoso. 177 Sujatmoko. 174. Erdy. Mariana. 172 Suprapti. 57. 179 Sylviani. Djoko. Epi. 176. Adi. 65 Suyarno. Suwardi. 65 Suwandi. Nur Arifatul. 92 Sumantoro.

Ishak. 96 Widiarti.Hunggul. SM. Bondan. 182 Widyastuti. Tri Sulistyati. 72 Yudilastiantoro. 71 Yassir. Santiyo. 94. 71 Y Yafid. Danu. Irma. 135 Windyarini. Asmanah. 136 189 . 96 Winarno. 97 Z Zulfikhar. 135 Wijayanto. 70 Widyaningsih. 136 Yeny. Eritrina. 69 Wibowo. Arian. 95 Wasrin. 181 Wibowo. 183 Yudono. 67 Wardi. 69. 67 Wardojo. 134 Wijaya. Bugris. I Nyoman. 70. C. Hunggul. 181 Wargadalam. Upik Rosalina. Ina. Catur Budi. Nurheni. Marfu'ah. 95 Wardani. 68. Ari. Totok K.Waluyo. 72 Yuniawati.. 184 Yuliansyah. 133 Wiati. 182 Winarni. 184 Yudono SHN.

27 B Bahan Bakar Alternatif. 41. 73. 85. 166 Agrosilvofishery. 165. 113. 67 Bambang Lanang. 42 Analisis Model Pendugaan Volume Jenis. 45. 86. 142. 83 Benih Tanaman Hutan. 28. 124 C Cabutan Anakan. 82 Anatomi Kayu. See Kayu Palaso Agribisnis. 106. 167. 71 Anakan Jabon. 138 Bambu Lamina.. 181 Aquilaria Microcarpa. 132 Aplikasi Sistem Informasi Geografis. 106. 83 Bambu Lapis. 66. 59. 159. 40. 117. 13. 162 Agroforestry. 169. 71. 12. 26. 49 Busuk Akar. 117 Anggrek. 109. 117. 78. 80. 87 Arang Bambu. 4 Avifauna. 48. See Gaharu Arang Aktif. 52. 92 Bambu Laminasi. 24 Budidaya Vanili. 140. 119 Alat Expo-2000. 172 Bitti. 138. 31 Areal Tegakan Sisa Hutan Alam. 41 Burung Bayan Sumba. 92 Bambu Rakyat. 55. 144 Biodiversitas. 29. 14. 105. 13 Burung Merandai. 33. 77 Alstonia Angustiloba. 138 Araucaria Cunninghamii Sw. 102 Alang-Alang. 79. See Jabon Aplikasi Endomikoriza. 72 Bali. 37. 55 Briket Arang. 14 Anatomi. 57 Adsorben. 170 Aceh. 29. 108 Bambu. 61. 28. 61 Budidaya Rotan. 5. 36. 92. 108..Br. 7 Biomasa. 63. 74 Biaya Dan Pendapatan. 163 Bioinsektisida. 100. See Pulai Ampupu. 86 Aglaia Sp. 108 Budidaya Klicung. 2 Areal Bekas Penambangan Batu Apung. 64 Analisis Sosial Ekonomi. 74. 90 Budaya Masyarakat. 138 Basidiomycetes. See Pulai Darat Alstonia Scholaris (L) R. 69. 160. 85. 160. 43 1 . 38. 109 Basis Data. 26. 134 Anthocephalus Chinensis (Lamk. 17 Antagonistik.INDEK KATA KUNCI A Acacia Mangium. 117 Busuk Hati. 23. 30. 62. 73 Andosol. 11 Aplikasi Mikoriza. 57 Burung. 17 Bentonit. 51. 158 Budidaya Kepuh. 27 Biofisik. 21.

1. See Hasil Hutan Bukan Kayu Hidrologi. 121 Herbisida. 52. 40. 50. 123 Gerhan. 68. 20. 130. 25. 92. 27. 134 Fungi Trichoderma. 129. 57 Gmelina Arborea Roxb. 104.T Blake. 44. 12 Eceng Gondok. 88 Endemik. 123. 60 Gossampinus Malabarica Alst. 46 Hutan Kemasyarakatan.. See Eceng Gondok Ekaliptus. 10. 57 Ekosistem. 69. 100. 38 Erosi. See Eboni Diospyros Malabarica Der Kostel. 128 Cuka Kayu. 150. 169 Hasil Hutan Non Kayu. 37. 59 Desentralisasi. 50. See Burung Bayan Sumba Elignification. 12. 39. 27 F Fenologi. 140 Hutan Bekas Tebangan. 111. 87 Frekwensi Pemeliharaan. 12. 168 Diospyros Celebica Bakh. 140. 34. 158. 135 Ekowisata. 27. 51. 11. 182 Eucalyptus Urophylla S. 34 Hutan Lindung. 84 D Daerah Aliran Sungai. See Rusa Sambar Citra Satelit. 146. 179 191 Eichhorniae Crassipes Solms. 166 Hama Penyakit. 174 Hutan Kota. 122. See Klicung Dipterocarpaceae. 57. 134 Formaldehida. 32. 98. 98 Hormon Pertumbuhan. 41. Binn. 21. 4 Flora. 16.Cendana. 23. 19. 52 Etnobotani. 62 Cervus Unicolor. 65. See Kayu Randu Alas H Hama. 99. 117 Fungi Patogen. 101. 131 Hasil Hutan Bukan Kayu. 4 Forest Health Monitoring. 112. 100 Ex-Situ. 71. 100 Eksploitasi Hutan. 14. 45 Hutan Hujan Tropik. 127. 148. 179 Daerah Penyangga. 68. 140. 107. 157. 133. 9 Core Research. See Jelutung E Eboni. 134 G Gaharu. 42. 123 Eusideroxylon Zwageri Teijsm. 20. See Ulin . 119. 118 Ekologi. 43. 111 Getah Pinus. 7. 95 Genetik. 35. 151 Hormon Iaa. 7 Etos Kerja. 36 Hhbk. 16 Ekonomi Rakyat. 57. 141 Getah Pinus Merkusii Strain. 164. 84 Dyera Lowii. 156. 133 Ekologi Hutan. 110 Hukum Adat. See Ampupu Eusideroxylon Zwageri. 44 Efikasi. 140 Electus Roratus Cornelia Bonaparte. 59. 13 Ekspor.

3. 108 Kayu Putih. 119 Kayu Keras. 136 Hutan Rawa Sungai. 176. 174. 179 Jawa Timur. 172 Jatropha Curcas Linn. 181 Karbon. 114 Karton. 67 Illegal Logging. 54. 65 Jenis Pohon Tepat Guna. 123. 139. 116. 133. 156. 97. 99 Kayu Randu Alas. 153 Imbal Jasa. 79. 78 Kearifan Lokal. 106 Identifikasi Jenis. 171. 73 Kayu Kurang Dikenal. 47. 62 Hutan Penelitian. 144. 121. 55. 80. 53 Karet. 115. 84 Keawetan Kayu. 152 Hutan Tanaman Jelutung. See Alang-Alang Inang Gaharu. 46. 4 Kayu Bulat. 155 Kawasan Penyangga. 73 192 . 178 Jelutung. 178. 8 Hutan Tanaman Rakyat. 89 Kawasan Konservasi. 74 Jamur Patogen Serangga. 103. 41. See Jarak Pagar Jawa Barat. 58 Karbon Tanah. 68. 159 Jati. 140 Kayu Kamper. 8 Jenis Andalan Setempat. 52. 90. 146. 169 Keawetan 25 Jenis Kayu. 47. 74. 86. 82. 106 Jamur Biru. 83 Kayu Tusam. 95 Industri Perkayuan. 112. Beauv. 116. 48 Irigasi. 18. 34. 19. 135. 72. 93 Jarak Pagar. 177. 119 Hutan Rawa Air Tawar. 4 Kalimantan Selatan. 60. 160. 89. 30. 14. 121. 65. 173. 68. 90 Jarak Tanam. 6. 80. 79 Kayu Lapis. 157. 51 Jenis Burung. 127 Kalimantan Timur. 93. 33. 125. 166. 182 Hutan Rawa. 112 Hutan Produksi. 46. 145. 32. 146 Hutan Rakyat. 141 Imperata Cylindrica L.Hutan Mangrove. 94 Inokulasi Cendawan. 5. 132. 131 Invitro. 130. 45. 33 Isi Pohon. 115. 65. 103 Isolat. 127. 84. 142. 25. 106 Hutan Tanaman Cendana. 81. 168 I Identifikasi Jamur. 68 Kearifan Lokal. 112 Hutan Ulayat. 77. 146. 59. 128. 109. 135 Hutan Rawa Gambut. 81 Industri Kehutanan. 10 K Kalimantan Barat. 81 Jamur Perusak Kayu. 81 J Jambi. 53. 150. 156. 29. 28 Jenis Flora. 62 Hutan Tanaman Industri. 157.. 36. 161. 177. 175. 12 Kawasan Wisata Alam. 104. 143. 82 Kayu Pertukangan. 87 Kayu Palaso. 129. 1. 167. 27. 122. 10 Industri Cinderamata. 140. 24. 4 Jenis Introduksi. 59. 147. 16. 28 Jamur.

26 Kualitas Aliran. 176. 45 Kelembagaan. 14. 74 Mesin Serpih. 56. 122. 140. 130 Kutu Lak. 136. 38. 131. 36 Komponen Kimia. 46. 180 Kebijakan. 111 Mikologi. 21. 27. 158. 109 Mikoriza. 138 M Mahoni. 67. 69 Kebakaran Hutan. 2. 94. 170 Melaleuca Cajuputi Subsp Cajuputi. 24. 58 L Lahan Basah. 118. 108 Megapolitan. 79. 10.Kebakaran. 102 Media Tabur. 66 Lahan Gambut. 85 Limbah. 156. 98 Kembang Susut. 136 Mikro Hydro Electrik. 6. 65. 55. 55 Media Sapih. 49 Lahan Bekas Tambang Batu Kapur. 32. 144 Kemampuan Bertunas. 96 Kemiskinan. 74 Kemenyan. 11 Lahan Rawa. 43 Lahan Pasca Penambangan Batu Gamping. 18 Kriteria Dan Indikator. 15. 146 Mati Pucuk. 161. 50 Kualitas Semai. 87. 169 193 Maduca Aspera. 110. 85 Kulit Kayu Medang Landit. 157. 114. 20. 45. 36. 173. 154. 117 Klicung. 48 Kesuburan Tanah. 79 Kulit Kayu. 64. 86 Kontrak. 155 Manokwari. 126. 143. 177 Kebun Konservasi. 120 Mesin Pengering. 17 Kerajinan. 179. 23. 110. 170. 111. 74. 27 Kelapa Sawit. 4. 89. 72 Masyarakat Sekitar Hutan. 10. 109. 9. 172 Lebah Hutan. 67. 148. 126. 60. See Kayu Putih Meranti Merah. 48. 2. 152. 174 Kelembagaan. 184 Lignin. 152 Kepuh. 121. 118. 138 Kesesuaian Jenis. 114 Lahan Kritis. 126. 120. 132 Lahan Tegakan. 109. 65. 35. 112. 150. 107. 102. 2. 32. 15. 108 Keragaman Jenis Anggrek. 87. 62. 144. 22 Lembaga Pengelolaan. 78. 158. 67. 15. 22 Lebah Madu. 114. 69 Konyal. 30. 113 Media Kecambah. 132 Lahan Rawa Gambut. 136. 143. 42 Media Kultur. 132. 89 Kultur Jaringan. 151 Lahan Kurang Produktif. 102 Mangrove. 150. 8. 95 Kokon. 5. 184 Mikroba Simbiotik. 115 Kohobasi. 101. 105. 61 Klon. 96 Kulit Mangium. 25. 93 Metode Ekstraksi. 111 Kemiri. See Bambang Lanang . 125 Kualitas Serat. 67. 183 Kelompok Tani. 149. 107 Kelayakan Usaha. 140 Kemitraan. 122.

39. 33. 20. 164. 155. 2 Pembiakan Vegetatif. 107. 40 Mutu Benih. 178 Pengelolaan Lahan. 58. 157 Pemanfaatan Lahan. 15 Pelengkungan. See Konyal Pelapukan. 2 Morfologi. 104. 142 Pembangunan Kehutanan. 80. 19. 67 Pembentukan Gaharu. 81 Nilai Ekonomi. 66 Penatausahaan Hasil Hutan. 44 Pembangunan Hutan. 149. 170 Nypa Fruticans. 140 Pemanenan. 151 Pengelolaan Kawasan Hutan. 81. 113 Nira Aren. 76. 41. 37 Pemetaan. 39. 96 Pengawetan. 33. 39 N Nata Pinnata. 48. 178 Pengawet Nabati. 92 Papua. 156 Pendapatan Masyarakat. 118. 180 Model Pemanfaatan Partisipatif. 23. 76 Pemanfaatan Huta. 100. 19 Pemungutan Rotan.. 73 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 25 Pemanfaatan Limbah. 75. 133. 61. 107 Murbey Eksot. 79. 107. 82. 38. See Sengon Partisipasi Masyarakat. 164 Nipah. 171. 158.. 15 Morus Spp. 69. 29. 12 Model Pendugaan Biomassa. 35. 125 Otonomi Bidang Kehutanan. 132. 87 Pemangkasan. 80 Pengupasan Kulit. 60. 136. 96 Nusa Tenggara Barat. 22. 61. 9.Mikrosatelit. 161. 161 Pengolahan Kayu. 153 Pemupukan. 161. 121 Mimba. 3. 94 Peluang Dan Tantangan. 13. 88 Pengolahan Rotan. 155. 177. 182 Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. 28 Passiflora Edulis Sims. 129 Penertiban Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan. 67 Morphoedafik. 39. 157 Pembangunan Hutan Tanaman. 23 Pemanfaatan Kayu. 107. 10. 163. 79 Pendapatan Asli Daerah. 57. 176 Pencegah Serangan Rayap. 19. 151. 57. 145. 28. 6. 77 Pembalakan Liar. 9. 162 Pengelolaan Lahan. 22 Pakan Burung. 13. 25. 146. 175. 1 Model Input-Output. 5. 114. 112. 126. 147. 149. 25. 91 Pemanenan Hutan. See Nipah O Okulasi. 98 Nusa Tenggara Timur. 99 194 . 67. 180 Penduga Volume Pohon. 44. 103 Pembalakan. 174 Pengelolaan Hutan Rakyat. 97 Murbei. 13 Papan Partikel. 141. 47 Penangkaran. See Murbei Muat Bongkar. 124 Mutu Bibit. 12. 47. 107. 13. 4. 44 Paraserianthes Falcataria. 120. 41 Pakan Buatan. 64 P Pakan. 34. 167 Pengelolaan Hutan.

6. 69. 81 Rehabilitasi. 1. 38. 32. 44 Penyu. 8 Rencana Makro. 99. 131. 97 Penyelundupan Kayu. 103 R Ramin. 24. 7. 131 Pulai Darat. 153 Rumah Kaca. 172 Peran Jender. 130. 38. 132. 163 Perekat. 39. 170 Rehabilitasi Hutan. 162. 23. 79 Rayap Pekerja. 13. 105. 4. 20 Perlindungan Hutan. 36 Rusa Sambar. 39. 136. 3 Social Capital. 9. 9 Pranata Sosial. 65. 145 Rejuvenasi. 7. 153 Rotan. 33. 69. 76. 22 Penotipe. 127. 132. 80. 170 Rehabilitasi Lahan. 104. 169. 100. 123. 15. 89. 136 Sistem Kabel Layang.Peningkatan Kualitas Kayu. 92 Perencanaan Pengelolaan. 151 Perhutanan Sosial. 61 Penyakit. 84. 111. 52. 31. 129. 58 Pulai. 29 S Santalum Album. 51. 146 Perlindungan Hutan. 40. 93. 106. 120. 32 Sistem Kerek. 166 Serangga Hama. 48 Produksi Kelompok Hutan Alam. 116 Perikanan. 123 Scion. 100. 78. 39. 16. 110 Rayap Kayu Kering. 162. 124. 70. 140 Pohon Lokal. 118 Penyakit Embun Jelaga. 86 Sertifikasi. 91 Sistem Kaliwu. 130 Pestisida Nabati. 112. 75. 177 Riau. 70. 150 195 Salinitas. 33. 159. 169. 32. 152. 17. 80 Serbuk Gergaji. 38 Produksi Daun. 52 Pohon Tahan Api. 62. 20 Pestisida. 145. 104 Peta Potensi. 15 . 21 Sistem Pertanaman Lorong. 6 Penyaradan Kayu. 6 Penyakit Embun Tepung. 101. 97 Provenansi. 129 Pupuk Daun. 71 Potensi Tegakan Hutan Alam. See Meranti Merah Sifat Fisiko-Kimia. 31 Rehabilitasi Lahan. 94 Sifat Fisis Dan Mekanis. 47. 115 Sengon. 31. 129. 7 Serasah. 166 Penyakit Bercak Daun. 133. 3 Produktivitas Dan Biaya. 99 Rekayasa Sosial. 44. 75. 42 Pupuk Kandang. 152. 66 Peran Hutan. 103 Penotipa. 159. 77 Sifat Tanah. 38. 105 Puspa. 51. 4. 16 Pupuk Nitrogen. 35 Serat Batang Kelapa. 133 Perlindungan Hutan. 173 Shorea Leprosula Miq. 7. 69 Peredaran Kayu. 120. 36. 31 Sistem Tebang Pilih. 7. 71. 1. 89 Petani Penyadap. 160. 82 Penjarangan. 122. 100.

23. 154 Taman Nasional Betung Kerihun. 94. 75. 113 Sumber Daya Air. See Mahoni T Tajuk Pohon. 19 Tumbuhan Obat. 171 Surian.Wanggameti. 160. 60. 61. 18. 27. 170 Tingkat Kerontokan. 128. 132. 173 Standarisasi Benih. 169 Teknologi Pemuliaan. 19 Tata Air. 1 Tanaman Penutup. 179. 120. 35. 19. 177 Sosial Ekonomi. 55 Teknik Penangkaran Penyu. 46 Strategi Pengelolaan. 105. 173. 109 Sumatera Selatan. 48 Tipe Vegetasi. 175 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 136.F. 96 Sumber Benih. 169 Teknologi Pemadatan. 113. 107 Ukiran Kayu. 89 Tanin. 98. 121. 5. 30 Taman Nasional Laiwangi . 115.Social Forestry. 17 Teknik Penyiangan. 154. 87. 20 Taman Nasional Kelimutu. 51. 58 Taman Nasional Meru Betiri. 87 Ulat Sutera. 34 Tumpangsari. 172 Sumatera Utara. 178. 161. 5. 141. 102 Traktor Caterpillar. 91. 179 Tataniaga. 70 Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. 43.. 130 Stek Akar. 28. 17 Taman Nasional Bukit Tigapuluh. 163. 165 Teknologi Perbenihan. 118. 184 Sulawesi Tenggara. 59. 11. 114. 54. 12 Stek. 57. 163. See Jati Teknik Budidaya Kutu Lak. 139 Tectona Grandis L. 19 Tanaman Mimba. 174. 102. 56 U Uji Efikasi. 114 Teknologi Mikroba Simbiotik. 98. 24. 179 Sumberdaya Hutan. 16. 66. 30. 51. 126. 163. 126 Sterculia Foetida Linn. 179 Sumberdaya Air. 138 Tapak Hutan. 55 Taman Nasional Kerinci Seblat. 19. 25. 44. 36. 39. 153 Taman Nasional Bromo Tengger. 160 Teknik Pengepakan. 83. 158.. 54. 68. 82 Teknologi Pemanfaatan Kayu. 175 Subak. 4. 89 Tapak. See Kepuh Strata Tajuk. 130 Taman Nasional Bali Barat. 56 Teknik Pembibitan. 105. 66 Teknik Pengelolaan. 26 Taman Nasional Gede Pangrango. 63. 154. 121. 33 Sukabumi. 55. 25. 28. 149. 32 Tandan Kosong. 111 Swietenia Macrophylla King. 181 Supply-Demand. 97 Tumbuhan Berkayu. 155. 41. 72 Tumbuhan Obat. 28. 36 196 . 70. 22. 167. 149. 128 Teknik Silvikultur. 164 Sosial Forestry. 18. 63. 69. 127 Teknik Pemeliharaan Tegakan. 41 Taman Nasional Komodo. 127. 37. 79. 116. 126 Sulawesi Selatan. 172 Tata Usaha Kayu. 103 Sukun. 18 Taman Nasional Gunung Rinjani. 30. 21. 142. 162. 58 Teknik Budidaya Padi Gogo. 13.

27 Wawasan Lingkungan. 57 Wallaceae. 57. 115 197 . 47 V Vanili. 51 Urea. 1.Ulin.. 76. 102 Venir. See Vanili Vegetasi. See Bitti Volume Teras Kayu. 42. 78. 78 Vitex Cofasus Reinw. 174 W Vanilla Planifolia Andrews. 84 Venir Silang. 98. 91 Wisatawan. 34. 83 X Z Zat Pengatur Tumbuh. 80 Xylarium.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->