Abdurachman POTENSI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm.

Binn) DI HUTAN ALAM LABANAN, KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman dan Amiril Saridan. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 225-236 , 2006 Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn) is one of timber product in East Kalimantan, which has a hight economical value. Ulin has been an important source of income for the forest community and National income. Information of potency and population A.zwageri Teijms. & Binn in natural forest is limited, other hand extraction or exploitation A zwageri Teijms. & Binn is still intensive, without knowing whether the tree has Ulin or not which will impact on genetic resource. This researsch was done at STREK project plots at Labanan tropical production forest with the area of plot each is 4 ha (200 m x 200 m). The totals of plots are 12 plots or 48 hectare. The objective of this research is to get information of stocking and distribution of the trees produced Ulin Eusideroxylon zwageri Teijm & Binn. The result shows that the total of trees on plots are 230 trees, which mean only 5 tree/ha (basal area are 1.9483 m2/ha). The maximum diameter in these plots is 95.2 cm while the minimum diameters were above 10 cm. Kata kunci: Ulin, Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn, Hutan alam, Labanan, Berau, Kalimantan Timur Abdurachman SEBARAN DIAMETER PADA HUTAN 1 TAHUN SETELAH PENEBANGAN DENGAN SISTEM KONVENSIONAL DI BERAU, KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 317-324 , 2006 The research was carried out the concession area of PT Inhutani I Labanan, Berau, East Kalimantan. Measurement was conducted at the plots 4 ha (200x200m). The measured diameters were from 10 cm dbh and above. The objective of this research were to know the stand structure from diameter

distribution after logging with conventional system based on exponential, Gamma, Beta, Lognormal and Logistic distribution functions. The result showed that the distribution based on number of tree follow the reserve-j pattern which is the phenomenon of mixed natural forest. Furthermore by using the regression equation based on highest coefficient of determination (R2) and the least standard deviation, the suitable function was obtained namely exponential distribution function. Kata kunci: Diameter, Struktur, Tegakan, Penebangan, Konvensional, Berau, Kalimantan Timur Ade PEMANFAATAN TANAMAN MIMBA UNTUK REHABILITASI LAHAN KERING SEKALIGUS MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN / Ade. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 71-84 , 2006 Tanaman Mimba intaran atau Nee (Azadirachta indica) adalah salah satu jenis pohon asli Indonesia yang tumbuh di daerah kering dan merupakan tanaman serbaguna yang bernilai jual ekonomi tinggi. Produk dari mimba antara lain: (1) untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik, (2) kosmetik dan toiletris seperti sabun batangan,-sabun cair, body lotion, shampo, dan pasta gigi, obat kumur, dan produk spa; (3) pembuatan obat seperti teh hijau, kapsul neem, obat luka dan balsem; (4) pakan ternak; (5) produk lain seperti obat nyamuk, minyak pelumas, pengusir hama gudang dan lain-lain. Dalam pembuatan kegiatan tanaman hutan tanaman yang meliputi teknik persemaian, penanaman dan pemeliharaan tidak memerlukan perlakuan khusus dan hampir sama dengan jenis tanaman lain. Khusus kegiatan panen dan pasca panen memerlukan teknologi khusus mulai dari pengambilan bahan tanaman yang dikaitkan dengan pengolahan pasca panen. Dalam pengembangan tanaman mimba PT. Intaran Indonesia menggunakan konsep Strategi Tiga Lingkaran a.l.: preparing, processing and developing, yang melibatkan kerjasama masyarakat, baik pemerintah, LSM, pengusaha dan kelompok tani. Kata kunci: Mimba, Rehabilitasi, Lahan kering, Ekonomi Masyarakat

1

Adinugroho, Wahyu Catur MODEL PENDUGAAN BIOMASSA POHON MAHONI (Swietenia macrophylla King) DI ATAS PERMUKAAN TANAH (Biomass Estimation Model of Above Ground Mahogany (Swietenia macrophylla King.) Tree) / Wahyu Catur Adinogroho; Kade Sidiyasa. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 103 - 117 , 2006 Protokol Kyoto meliputi mekanisme pembangunan bersih dalam rangka mengontrol karbon yang dihasilkan oleh negara-negara di dunia. Hutan menyerap CO2 dari udara melalui proses fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa hutan. Untuk menduga jumlah biomassa di dalam hutan, pendekatan secara tidak langsung melalui model alometrik dan metode biomass expansion factor (BEF) dapat digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh besarnya nilai BEF dan membuat model alometrik dalam menduga besarnya biomassa pada pohon mahoni. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut maka ditentukan sebanyak 30 pohon contoh yang ditetapkan secara purposif, yang selanjutnya dilakukan penghitungan biomassa. Biomassa batang dan cabang yang beraturan dihitung dengan menggunakan pendekatan volume sedangkan biomassa bagian lainnya dihitung dengan penimbangan langsung. Model pendugaan biomassa dihasilkan dengan menganalisa hubungan antara nilai biomassa dengan dimensi pohon. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah biomassa tertinggi terdapat pada bagian batang yakni mencapai 73 % dari biomassa keseluruhan pohon di atas permukaan tanah, kemudian diikuti oleh biomassa cabang (17 %), tunggak (5 %), daun (3 %), dan ranting (2 %). Model alometrik yang dihasilkan untuk menduga biomassa pada pohon mahoni adalah B = aDb, di mana B = biomassa (kg); D = diameter (cm); a, b = konstanta. Persamaan regresi yang dihasilkan tersebut adalah biomassa batang (Bbtg) = 0,044 D2,61 (R2 = 94,7 %), biomassa cabang (Bcab) = 0,00059 D3,46 (R2 = 83,5 %), biomassa ranting (Branting) = 0,0027 D2,42 (R2 = 65,6 %), biomassa tunggak (Btunggak) = 0,022 D1,96 (R2 = 65,6 %), biomassa daun (Bdaun) = 0,0138 D1,93 (R2 = 70 %), biomassa pohon di atas permukaan tanah (Btotal) = 0,048 D2,68 (R2 = 95,8 %). Sedangkan nilai ”BEF” rata-rata untuk pohon mahoni adalah 1,36 (biomassa batang keseluruhan) dan 2,16 (biomassa batang bebas cabang). Kata kunci : Mekanisme pembangunan bersih, biomassa, karbon, model alometrik biomassa, biomass expansion factor, Swietenia macrophylla King

Adman, Burhanuddin PENGARUH KULTUR MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN Araucaria cunninghamii Sw. DENGAN KULTUR JARINGAN (Effects of Culture Media on the Growth of Araucaria cunninghamii Sw. Explants with Tissue Culture) / Burhanuddin Adman; R. Mulyana Omon. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 67 - 73 , 2006 Penelitian pengaruh kultur media terhadap pertumbuhan eksplan Araucaria cunninghamii Sw. dengan kultur jaringan telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Petanian Universitas Papua, Manokwari, Irian Jaya. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan kultur media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan A. cunninghmii pada kultur jaringan. Percobaan dilakukan dengan tiga media kultur, yaitu MS, WPM, dan Anderson. Setiap media kultur yang volumenya 250 ml ditanami 10 eksplan A. cunninghamii. Hasil memperlihatkan bahwa WPM media telah berpengaruh terhadap pembentukan kalus (20 %) eksplan A. cunninghamii selama 16 minggu pengamatan. Sedangkan media MS dan media Anderson tidak memberikan pengaruh terhadap pembentukan kalus. Persentase pencoklatan masingmasing media berkisar antara 30 % dan 90 % dan persentase kontaminasi berkisar antara 10 % dan 50 %. Secara umum pencoklatan dan kontaminasi eksplan disebabkan oleh oksidasi substrat yang dihasilkan oleh A. cunninghamii. Dengan demikian pembiakkan vegetatif melalui teknik kultur jaringan pada eksplan A. cunninghamii harus dicoba dengan bahan kimia sterilisasi yang lain, misalnya NaOCl, dengan media WPM. Kata kunci : Araucaria cunninghamii Sw., media kultur (MS, WPM, dan Anderson), kultur jaringan Agustini, Luciasih KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR YANG POTENSIAL DALAM PEMBENTUKAN GAHARU DARI BATANG Aquilaria spp. (Biodiversity of Potential Agarwood Inducer Fungi Taken from Aquilaria spp. Stems) / Luciasih Agustini, Dono Wahyuno, dan Erdy Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.5 ; Halaman 555 564, 2006 Terbentuknya gaharu diyakini sebagai respon pohon gaharu terhadap banyak faktor, di antaranya fisiologis tanaman dan infeksi jamur. Sejumlah isolat jamur

2

yang berpotensi menginduksi gaharu telah diisolasi dari sampel kayu gaharu dari berbagai daerah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui keanekaragaman jenis isolat yang berhasil dikoleksi. Sampel kayu diambil dari beberapa lokasi penanaman gaharu di Jawa, Sumatera, Kalimatan, dan Maluku. Kegiatan isolasi, pemurnian, dan perbanyakan dilakukan dengan menumbuhkan pada berbagai media. Identifikasi dilakukan dengan mengamati ciri makroskopis dan mikroskopis isolat yang dibiakkan pada media PDA dan BLA yang diinkubasi pada suhu ruang dengan pencahayaan 300-400 lux selama 10-14 hari. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa biodiversitas isolat koleksi meliputi jenis Fusarium solani (Mart.) Appell and Walenw., F. tricinctum (Corda) Sacc., F. sambucinum Fuckel, dan Cylindrocarpon sp. Kata kunci: Keanekaragaman, Fusarium, Cylindrocarpon, ciri makroskopis dan mikroskopis Alrasjid, Harun PENERAPAN SISTEM TEBANG PILIH DI HUTAN RAWA GAMBUT / Harun Alrasjid. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 45-48 , 2006 Penerapan sistem silvikultur dalam mengelola hutan rawa gabut memerlukan penelitian yang seksama dalam jangka waktu yang lama. untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek diperlukan pengkajian ulang terhadap sistem silvikultur yang sudah mapan. Sebelum sistem silvikultur lainnya diterapkan dalam mengelola hutan rawa gambut patut ditelaah terlebih dahulu kondisi hutan rawa gambut dengan persyaratan yang diminta oleh sistem silvikultur tersebut. Penerapan sistem silvikultur TPTI untuk mengelola hutan rawa gambut perlu dikaji keakuratannya. Kata Kunci: Tebang Pilih, Hutan Rawa Gambut, Silvikultur

Alrasyid, Harun PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MENURUNNYA KELESTARIAN PRODUKSI KELOMPOK HUTAN ALAM TRENGWILIS - BOA ODAK, GUNUNG RINJANI, NUSA TENGGARA BARAT (Solution Approach of

Sustained Yield Declining Problem of Trengwilis - Boa Odak Natural Forest Complex, Mount Rinjani, West Nusa Tenggara) / Harun

Alrasyid; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 31 - 44 , 2006 Garu (Disoxylum densiflorum Miq.) merupakan salah satu jenis kayu primadona untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat ini produksi kayu tersebut setiap tahun semakin merosot, sehingga perlu ditangani segera melalui penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pemecahan masalah penurunan produksi hutan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa vegetasi. Hasil survey potensi hutan menunjukkan bahwa kelompok hutan Trengwilis – Boa Odak yang terletak di lereng Gunung Rinjani memiliki permudaan alam jenis perdagangan yang cukup. Rata-rata permudaan alam tingkat semai ada 9.740 batang per hektar, tingkat pancang 638 batang per hektar, dan permudaan alam tingkat tiang 75 pohon per hektar, namun jumlah volume kayu yang dapat dipungut sangat rendah (27,56 m³/ha untuk diameter 50 cm ke atas). Berdasarkan kondisi hutan tersebut di atas, penggunaan sistem Tebang Pilih dengan limit diameter tebang minimum 30 cm akan berakibat penebangan berkelebihan (44,63 m³/ha) sehingga kelestarian hutan akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan dengan cara : a. Limit diameter tebang dinaikkan minimum 40 cm, kecuali untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq., Eugenia polycephala Miq., dan Memecylum costatum Miq. dengan limit diameter tebang minimum 50 cm. Begitu pula untuk jenis pohon Duabanga moluccana Bl. dengan minimum diameter 70 cm; b. Perlu dilakukan pemeliharaan tegakan di areal bekas tebangan dan pengayaan tanaman khususnya untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq. Kata kunci : Kelestarian produksi hutan, Gunung Rinjani, Duabanga Moluccana Bl.., hutan alam Boa Odak, sistem silvikultur

3

III. Chairil PREDIKSI MUSIM PUNCAK BUAH EMPAT JENIS MANGROVE BERDASAR HASIL FENOLOGINYA (Fruit Peak Season Prediction of Four Mangrove Species Based on Phenology) / Chairil Anwar. No. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang peranan hutan mangrove dalam memelihara kesuburan daerah perairan pantai di bawah tegakan tinggal hutan alam mangrove. Penaksiran jumlah serasah menggunakan 10 buah jaring serasah berukuran masing masing 1 m x 1 m dan diletakkan secara acak dalam hutan. Yetti Alrasyid. Kwatrina. West Kalimantan) / Harun Alrasyid. Hutannya didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata Lamk. munculnya bakal bunga.) Lamk 36 minggu. Dengan mengadakan studi lapangan Heryati.5 . Rhizophora apiculata B. dan (c) Pemanenan biomas hutan yang tak terkontrol telah menghilangkan rata-rata 99. bunga siap mekar. -. lokasi penelitian tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam. pengelolaan kawasan. terbentuknya bakal buah.III. Taman Nasional Bukit Tigapuluh Anwar. Halaman 237 247 . Kata kunci : Mangrove. Bruguiera gymnorrhiza (L. dan tingginya agak seragam.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. dengan rekomendasi bahwa Bukit Lancang dapat dikembangkan sebagai hutan pendidikan lingkungan dan jalur pendakian bagi pengunjung.III.136 . Pengamatan dilakukan pada jenis-jenis vegetasi di kawasan GTC yang menarik pada lokasi penelitian yaitu Bukit Lancang. dekomposisi serasah. Serasah kering dikumpulkan setiap triwulan. (1949). Riau.Litter Decomposition in Residual Stand Areas of Natural Mangrove Forest. Kalimantan Barat.2 . No.4 % karbon organik. No. Bukit Tigapuluh National Park. Untuk menaksir tingkat pembusukan serasah dan laju akumulasi unsur mineral yang terurai menggunakan cara yang digunakan oleh Olson (1963 ) dan Yenny et al. Kata kunci: Potensi flora. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : (a) Tegakan tinggal hutan mangrove menghasilkan rata rata 202. Selanjutnya. -. Selain itu dikumpulkan juga data jenis satwa yang ada di lokasi penelitian.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. dan sekitar Air Terjun Granit. Bali. Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). keragaman jenis.3 . bunga pada keadaan mekar. -. KALIMANTAN BARAT (Loss of Mineral Element During Leaf Center (GTC). RIAU (Potency of Flora and Species Diversity in Granit Training Center. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan keragaman jenis dan peluangnya sebagai lokasi wisata alam di Granit Training 4 . mucronata Lamk 60 minggu. Berdasar hasil pengamatan fenologi empat jenis mangrove di kawasan mangrove Suwung. Air Terjun Granit dan kawasan sekitar kolam sebagai bagian tak terpisahkan dari pelatihan dan demonstrasi pemadaman kebakaran hutan.L. Analisis vegetasi dilakukan dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP) dan asosiasi antar jenis. sekitar kolam. Halaman 127 . Riau) / Bambang S. memerlukan waktu 61 minggu. Antoko dan Rozza T. pelepasan unsur mineral Antoko. 2006 Pengamatan secara kontinyu proses terbentuknya buah mangrove matang dilakukan terhadap sepuluh tangkai yang memiliki bakal tunas bunga dari setiap pohon contoh. Harun PELEPASAN UNSUR HARA MINERAL SELAMA PELAPUKAN SERASAH DAUN DI AREAL TEGAKAN SISA HUTAN ALAM MANGROVE SUNGAI SEPADA. serta R.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Sonneratia alba J.552 gc/m2/th karbon organik. Smith memerlukan waktu 15 minggu untuk menjadi buah matang sejak munculnya tunas muda pada ketiak daun di ujung ranting. apabila dijumpai salah satu tahapan fenologi mangrove di lapangan. Tanahnya digenangi air pasang laut yang tingginya beberapa sentimeter. buah muda serta buah matang. (b) Laju penguraian unsur mineral selama dekomposisi serasah adalah : P>N>Mg>C >Al >S>K>Fe>Cu>Zn>Ca>Mn. Lokasi penelitian terletak di komplek hutan alam mangrove Sungai Sepada. Sungai Sepada. Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Halaman 513 -532 . Bambang S POTENSI DAN KERAGAMAN JENIS FLORA PADA KAWASAN WISATA ALAM DI GRANIT TRAINING CENTER. dan Bruguiera gymnorrhiza Lamk. Dengan diketahuinya tahapan fenologi ini maka dapat diprediksi berapa lama lagi buah mangrove akan matang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Bukit Lancang mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan dua lokasi lainnya. telah diketahui waktu-waktu yang diperlukan pada masing-masing proses tahapan fenologi mangrove : munculnya tunas bunga.

-. Bruguiera Anwar. sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petani sekitar. Empat belas jenis vegetasi merupakan elemen utama pembentuk mangrove. maka permukaan air tanah dapat mencapai antara 10-30 di atas permukaan tanah pada musim hujan dan dapat mencapai 100 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. sehingga dapat menahan banjir pada musim hujan dan mampu mengalirkan air pada saat musin kemarau. juga penyebabkan terjadinya perubahan ekosistem yang akan berakibat timbulnya kerugian sangat besar dikemudian hari . Teluk Trima. Chairil PENAMBATAN KANAL: UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI LINGKUNGAN PADA KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEBANGAU. dan penurunan kualitas perairan sungai di sekitarnya. 2006 .Mengingat lahan gambut memiliki sifat pengkerutan atau kering tak balik (irreversible) . 10 jenis merupakan elemen tambahan dan 29 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. Bali Barat. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Sebangau. telah menyebabkan terjadinya banjir besar. 2006 Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . yang pada gilirannya akan membantu dalam rangka perencanaan pengunduhan buah serta penyediaan bibit mangrove. Penambatan kanal merupakan salah satu upaya untuk memperlambat keluarnya air dan memperkecil fluktuasi permukaan air gambut yang diharapkan dapat memperbaiki ekosistem gambut untuk mendukung rehabilitasnya. Limabelas jenis vegetasi merupakan elemen mayor pembentuk mangrove. Rhizophora. -. KALTENG / Chairil Anwar. Gilimanuk. Hutan rawa gambut. Gambut di alam pada dasarnya merupakan bahan "spongy" yang mempunyai daya besar dalam menahan air hingga 4. Chairil KERAGAMAN DAN SEBARAN MANGROVE DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Chairil Anwar. Pengalaman lahan gambut Sebangau tahun 1994 menunjukan bahwa akibat adanya pembuatan kanal yang belum begitu banyak. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. maka dapat diprediksi kapan akan terjadi musim puncak berbuah mangrove.5-30 kali bobot keringnya. diperkirakan luas mangrove di wilayah TN Bali Barat adalah 551 ha. Possumur. Pulau Menjangan. 2006 Pembuatan kanal dalam wilayah lahan gambut selain akan memudahkan ekstraksi kayu dalam pembalakan liar. NUSA TENGGARA BARAT DAN KEMUNGKINANNYA SEBAGAI SUMBER BENIH / Chairil Anwar. Berdasar hasil 5 . Halaman 187-195 .Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Chairil SEBARAN MANGROVE DI PULAU LOMBOK. konservasi. Kata kunci: Fenologi mangrove. yang terdiri dari mangrove komplek Teluk Gilimanuk Kata kunci: Taman Nasional. Sonneratia. Berdasar hasil pengukuran secara kasar. Kalimantan Tengah Anwar.Pengalaman saat ini dengan semakin maraknya pembuatan kanal-kanal. Halaman 155-165 . yang pada gilirannya menyebabkan lahan gambut sangat rentan terhadap kebakaran. Sekurang-kurangnya dijumpai 53 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati lima komplek mangrove di TN Bali Barat. sekurang-kurangnya terdapat 55 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati 30 komplek mangrove di Pulau Lombok. Kata Kunci: Kanal. Kondisi ini akan memunculkan persoalan lingkungan hidup seperti terancam punahnya fauna dan flora.guna mengetahui tahapan fenologi mangrove yang paling dominan pada suatu kawasan tertentu serta pada suatu saat tertentu. Tanjung Gelap dan luas Anwar. maka fluktuasi permukaan air tanah yang tinggi ini dapat menyebabkan gambut tidak akan dapat menyerap air kembali apabila tergenang oleh air berikutnya. Halaman 223240 . banjir. tujuh jenis merupakan elemen minor dan 33 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. 2006 Taman Nasional (TN) Bali Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. sedimentasi.kebakaran hutan.

Ex. Ex Benth. dan penyakit daun menggulung disebabkan oleh virus. JAWA TIMUR (Powdery Mildew and Rust Attack on Acacia auriculiformis A.5 ha. Nusa Tenggara Barat seluas 5 hektar. mucronata. pesisir selatan Kabupaten Loteng (7 ha. Halaman 45 53 . (Deuteromycetes) atau disebut pula Erysiphe sp. DI KEDIRI. -. Hasil pengamatan gejala di lapangan serta pengamatan mikroskopis di laboratorium penyebab penyakit embun jelaga adalah fungi Meliola sp. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 1994 membuat plot uji coba penanaman klicung di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rarung. Ari Wibowo.2 .marina. bagian pucuk bentuknya tidak normal (keriting. R. pesisir Kabupaten Lombar Selatan (77. Cunn. Halaman 209 . Kenyataan di lapangan ternyata tanaman klicung terserang oleh penyakit embun jelaga (black mildew) dan sekaligus juga oleh penyakit daun menggulung (roll leaf). S. racemosa. penyakit embun tepung. No. Kata kunci: Pulau Lombok. Akibat kedua penyakit tersebut tanaman pertumbuhannya menjadi terhambat.Cunn. Kostel) DI KHDTK BARUNG. Persentase serangan penyakit karat daun rata-rata sebesar 91. Hasil identifikasi dan determinasi penyebab pada fase aseksual penyakit embun tepung adalah fungi Oidium sp.) Kostel) secara alami terdapat di Klicung (Diospyros Kabupaten Sumbawa dan Lombok Selatan. Illa DIAGNOSA PENYAKIT EMBUN JELAGA DAN DAUN MENGGULUNG PADA KLICUNG (Diospyros malabarica (Desr. No. penyakit karat daun disebabkan oleh Atelocauda digitata G. Lombok Timur. KHDTK Rarung. West Nusa Tenggara) / Illa Anggraeni. diperkirakan luas mangrove di Pulau Lombok adalah 1. dan malabarica (Desr. berumur dua tahun serta akibat yang ditimbulkannya. Wint. Penelitian yang dilakukan di RPH Pandantoyo. 31 jenis) dan pesisir Kabupaten Lombar Utara (11 ha. KPH Kediri. Jenis pohon ini tergolong lambat tumbuh (slow growth) dan tergolong jenis kayu mewah (fancy wood).pengukuran secara kasar. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang organisme penyebab penyakit embun jelaga dan daun menggulung serta ekobiologinya. Lombok.. Jawa Timur bertujuan untuk mengetahui gejala makroskopis dan mikroskopis dari penyebab penyakit yang menyerang tanaman Acacia auriculiformis A. 27 jenis) .) Kostel. 6 . 28 jenis). C.Cunn.1 . Ex Benth. Ex Benth. yang terserang embun tepung saja tidak ada sedangkan yang terserang kedua penyakit tersebut sebesar 8. Ex Benth. terserang oleh dua jenis penyakit yaitu karat daun dan embun tepung. tagal. penyakit karat daun Anggraeni.stylosa. Ex Benth. Informasi dari penyakit embun jelaga dan daun menggulung yang keduanya sekaligus menyerang tanaman klicung belum pernah ada.apiculata. Kabupaten Lotim Selatan (71 ha. pada fase seksual (Ascomycetes). Cunn. Diospyros malabarica (Desr. yang tersebar pada pesisir Kabupaten Lotim Utara sekitar 1. Meliola sp. embun jelaga.) Kostel at Forest research (KHDTK) of Rarung.214 . Lombok Tengah. pohon menjadi kering dan terselimuti Kata kunci : Acacia auriculiformis A. -. sehingga diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian secara efektif dan efisien. daun menggulung. Mangrove Anggraeni. caseolaris tersebar di Pulau Lombok yang dapat disarankan untuk dijadikan sumber benih mangrove.III.Untuk keperluan rehabilitasi mangrove. 2006 Acacia auriculiformis A.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. R. membengkak. Lombok Barat. dan dapat menyebabkan embun tepung. Cunn. Sumber benih. Benth. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tanaman Acacia auriculiformis A. East Java) / Illa Anggraeni. R. BKPH Pare. L. NUSA TENGGARA BARAT (Diagnostic of Black Mildew and Rolled Leaf Diseases on Diospyros malabarica (Desr. Ngatiman. merupakan jenis pohon cepat tumbuh untuk penghijauan yang tanaman mudanya mudah terserang penyakit. in Kediri.44 %.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. alba dan S. 18 jenis).5 ha dengan keragam 50 jenis mangrove.55 %.759 ha. Illa SERANGAN PENYAKIT EMBUN TEPUNG DAN KARAT DAUN PADA Acacia auriculiformis A. setidaknya terdapat sembilan jenis: A.III. 2006 membelok).592. Kata kunci : Klicung. Cunn.

Inventarisasi jenis tumbuhan. 2006 Kumbang Cycotrachelus sp.) terlihat bahwa ekstrak kedua tumbuhan tersebut mampu mempengaruhi mortalitas. Sebanyak 52 jenis tumbuhan diantaranya diduga berpotensi besar sebagai penghasil pestisida nabati. dan pengendalian hama tanaman budidaya mereka. Edwin Martin. Kata Kunci: Etnobotani.Asmaliyah POTENSI ETNOBOTANI SUMATERA SEBAGAI SUMBER PENGHASIL PESTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA / Asmaliyah. Masyarakat tradisional memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya (etnobotani) untuk keperluan berburu. -. dan Enik Erna Wati Hadi. obat-obatan. Pengendalian hama. Pestisida nabati. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari ketiga lokasi penelitian dapat ditemukan 266 jenis tumbuhan etnobotani. Penelitian dilakukan sejak Desember 2003 sampai dengan Maret 2005 pada kelompok masyarakat suku Talang Mamak di Riau. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan lebih banyak lagi tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil pestisida nabati maupun efektivitasnya dalam mengendalikan serangga hama tanaman. Berdasarkan hasil uji pendahuluan insektisida jenis belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . antara lain terjadinya resistensi resurjensi. suku Melayu Tua di jambi. Persentase serangan kumbang cukup tinggi. Halaman 115-124 . Sri utami. dan Sri Utami. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi jenis tumbuh-tumbuhan yang secara tradisional oleh masyarakat etnis Sumatera dimanfaatkan sebagai obat-obatan (tradisional medicine). -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . perlu dicari alternatif pengendalian yang efektif terhadap hama sasaran tetapi lebih aman. XYLO INDAH PRATAMA-CECAR / Asmaliyah. Oleh 7 . dan suku Rejang Lebong Tapus Bengkulu. dan ikan. Cecar. (Coleoptera:Brenthidae) merupakan serangga hama baru yang ditemukan menyerang tanaman pulai (Alstonia angustiloba) di PT.) dan nango (Canangium sp. Kondisi ini dikhawatirkan suatu saat nanti serangan kumbang akan membahayakan tanaman apabila sejak dini tidak dikendalikan. karena dianggap paling cepat dan ampuh mengatasi gangguan hama. Salah satunya yang memenuhi persyaratan ini dan layak dikembangkan adalah bioinsektisida (insektisida mikroba dan insektisida organisme non target. -. Hutan Tanaman Asmaliyah PENGAMATAN SERANGGA HAMA BARU PADA TANAMAN PULAI DARAT (Alstonia angustiloba) DI PT. Keberhasilan pembentukan pupa. Keberadaan kumbang ini cenderung meningkat seiring menurunnya serangan ulat Clauges glauculalis. Halaman 95-103 . Untuk menekan timbulnya berbagai permasalahan tersebut di atas. Xylo Indah Pratama (XIP). Halaman 145-150 . Namun penggunaannya yang kurang bijaksana sering menimbulkan dampak negatif. mamalia. terbunuhnya musuh alami. dan berbahaya bagi mahluk hidup serta pencemaran lingkungan. Lubuk Linggau. 2006 Pulau Sumatera memiliki potensi besar dalam hal keaneragaman jenis tumbuhan tingkat tinggi. Pengendalian hama Asmaliyah PROSPEK PEMANFAATAN BIOINSEKTISIDA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENGENDALIAN HAMA PADA HUTAN TANAMAN / Asmaliyah.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . sebagai dasar untuk mengklasifikasi potensi masing-masing jenis sebagai tumbuhan penghasil pestisida nabati. tetapi tingkat kerusakannya masih sangat rendah. tidak meninggalkan residu terhadap lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia. bahan berburu maupun pangusir hama pertanian. Kata Kunci: Bioinsektisida. Kumbang ini merupakan hama penggerek daun (leaf miner) yang menyerang daun pulai dengan cara memakan daging daun pada permukaan daun. 2006 Sampai saat ini cara yang paling umum digunakan untuk mengendalikan hama adalah dengan menggunakan insektisida kimia. dan imago Helicoverpa armigera Hbn dan Spodoptera litura F.

dan masak memasak. yakni meningkatnya kebutuhan akan kayu untuk perumahan. -. Kata Kunci: Hutan tanaman. Dengan demikian persoalannya bukan lagi pada akhirnya masyarakat memperoleh manfaat dari tanah. Jelutung. Tanah. Air 8 . Cycotrachelus sp. Hutan tanaman jelutung dapat dikelola dengan pola yang seragam (HTI. khususnya dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam bentuk kebijakan dan program yang mengarah pada upaya tersebut serta input teknologi dari lembaga penelitian.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Yanuarius Koli REKAYASA SOSIAL DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI NTT / Yanuaris Koli Bau. kelompok atau bangsa akan sumberdaya alam. tanpa harus mengorbankan kepentingan ekonomi dan politiknya masing-masing. Ketegangan dan konflik ini tidak akan pernah terselesaikan apabila para pihak yang terlibat tidak menggunakan kearifan yang tinggi yang dimilikinya. 2006 . pelaksana kebijakan dan pelaku ekonomi bersama-sama dengan masyarakat lokal melakukan rekayasa sosial. maupun yang berisfat trans nasional. Hama. antarbangsa.Peningkatan kebutuhan ini telah secara nyata mendorong individu. Pulai. 2006 Data di berbagai negara memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin pesat telah secara langsung menimbulkan peningkatan kebutuhan masyarakat baik secara individu. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa. yang bersifat vertikal antara rakyat dan negara. Jelutung (Dyera lowii) adalah jenis pohon lokal (Indigenous species) yang sangat prospektif untuk hutan tanaman produktivitas tinggi dan ramah lingkungan pada lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimiliki. Pengelolaan hutan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.4 juta hektar (nasional) dan 7. Pasar ekspor getah dan kayu jelutung terus mengalami penurunan pasokan sehingga peluang pasar masih sangat besar. pelaku ekonomi. Halaman 19-30 . Keberhasilan pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa sangat ditentukan oleh peran aktif banyak pihak. Kata kunci: Rekayasa sosial. air. pemanas. masyarakat bahkan negara bangsa sebagai pelaku ekonomi melakukan eksploitasi hutan secara berlebihan dan mengganggu keseimbangan ekosistem dan ketersediaan sumberdaya alam jangka panjang. Identifikasi di sejumlah negara menunjukan peningkatan kebutuhan nyata yang berkaitan langsung dengan hutan. pertumbuhan cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal. Untuk mempercepat pemulihannya perlu dilakukan rehabilitasi melalui pembangunan hutan tanaman. sumber plasma nutfah tersebar dengan keragaman genetik yang besar. social forestry) untuk memperoleh hasil getah dan kayu serta pemulihan fungsi lingkungan.2 juta hektar (sumatera). Alstonia angustiloba. dan hutan. Sumatera Bau. Peningkatan kebutuhan ini pada gilirannya melahirkan antagonisme dan konflik. Pengalaman lapangan dari desa-desa di Pulau Timor memperlihatkan bahwa penanganan pembangunan kehutanan. PT Xylo Indah Pratama Bastoni PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN JELUTUNG (Dyera lowii) PADA LAHAN RAWA SUMATERA / Bastoni dan Abdul Hakim Lukman. termasuk penyelesaian antagonisme dan konflik yang terjadi hanya akan berhasil apabila para pembuat kebijakan. . dan aspek silvikulturnya sebagian besar telah dikuasi. meliputi areal seluas 34. tetapi pada mulanya warga masyarakat bersama-sama pembuat kebijakan. konversi lahan.karena itu perlu pemantauan dan pengamatan secara periodik dan intensif terhadap perkembangan serangan kumbang Cycnotrachelus sp. kebakaran hutan dan lahan. kebutuhan akan bahan makanan yang berkaitan dengan hutan sebagai gudang alam.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata Kunci: Serangga. baik yang bersifat horisontal antar kelompok sosial. Prospek pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa Sumatera sangat baik karena didukung oleh sumberdaya lahan yang luas. menemukan kembali dan memanfaatkan proses belajar dinamis dari kapital sosial yang dimiliki masyarakat. Halaman 69-76 . Coleoptera: Brenthidae. pelaksana kebijakan. Dyera lowii. berfikir dan bekerja sehingga mereka mendapat manfaat optimal dan berkelanjutan. serta kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan peternakan. 2006 Potensi lahan rawa sangat besar. perabot rumah tangga. Rawa. Kondisi tersebut akan dapat menumbuhkan dan memacu minat budidaya dan minat kelola oleh masyarakat dan dunia usaha. Saat ini sebagian besar lahan rawa dalam kondisi rusak yang disebabkan oleh kegiatan eksploitasi hutan.

Papua) / Sofwan Bustomi. PAPUA (Standing Stock Classification of secara sistematik dengan jarak antar jalur 200 m. kelat/jambu-jambu (Eugenia sp. semakin rapat tegakan.45 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4. 2006 . baik pada media cair maupun udara. Sifat tanah Bustomi.88 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =17. Arang dan briket arang dapat digunakan sebagai sumber energi. Halaman 217-221 . dan pala hutan (Myristica fatua Houtt.).).M.III. Kandungan bahan organik dan N total terbesar terletak pada lapisan ke dua. Kata kunci: Kebun percobaan Bu'at-SoE. Halaman 437 . NUSA TENGGARA TIMUR / Tigor Butar-Butar [et. Di dalam plot bujur sangkar dibuat lima jalur ukur yang diletakkan 9 .60 N/ha). Destilat telah digunakan untuk memperbaiki sifat tanah dan pencegahan jenis hama dan penyakit tertentu. Potensi pohon berdiameter ≥ 20 cm di areal kerja PT. proses pelapukan berlangsung secara normal. Djoko Wahyono.66 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 18. citra satelit. hal ini ditunjukkan oleh kerapatan tegakan hutan dengan diameter ≥ 20 cm pada hutan “jarang” sebesar 96.). Dari penelitian profil di lokasi menunjukan bahwa terjadi proses pedogenesis pada lapisan atas maupun bawah. Hasil penelitian ditemukan 48 jenis pohon yang tercakup ke dalam 27 famili.25 N/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 118.25 N/ha). semakin jelas tone yang dihasilkan. potensi tegakan.SUNGAI BESIRI DI KABUPATEN FAKFAK.000 m. destilat.Butar-Butar.4 .). lebar jalur 20 m. Arang dan arang aktif juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki sifat tanah. mersawa (Anisoptera polyandra Bl. Dengan dihasilkannya produk Nature Forest Based on Landsat Imagery at Bomberai River .).06 m³/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 85.78 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25. No. Sedangkan pengamatan lapangan dilakukan dengan cara menentukan satuan contoh berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 1 km x 1 km (100 ha). hutan “sedang” sebesar 101.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Metode yang digunakan yaitu pengukuran/penilaian potensi pada citra satelit dan pengamatan lapangan. Sofwan KLASIFIKASI POTENSI TEGAKAN HUTAN ALAM BERDASARKAN CITRA SATELIT DI KELOMPOK HUTAN SUNGAI BOMBERAI . Nusa Tenggara Timur. Jenis ini dapat tumbuh dengan baik di Nusa Tenggara dan penyebarannya cukup merata.56 m³/ha). Tigor STUDI SIFAT-SIFAT TANAH DI KEBUN PERCOBAAN BU'AT-SOE TIMOR TENGAH SELATAN.). 2006 Telah dilakukan penelitian studi sifat-sifat tanah di Kebun Percobaan Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.80 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm = 16.Besiri River Forest Natural. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Pengkelasan hutan menurut warna/tone pada peta citra satelit dapat digunakan. sebenarnya memiliki kegunaan yang cukup bermanfaat. Kemiri saat ini pemanfaatannya lebih terfokus pada kemiri isi dan kayunya. kelompok hutan Darmawan. Arang aktif dapat digunakan sebagai bahan adsorben. N. -. panjang 1. Hasil analisa laboratorium menunjukan bahwa pH tanah (H2O maupun KCI) semakin tinggi dari lapisan atas ke lapisan bawah.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.25 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 8.20 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 2. Penelitian dilakukan dengan membuat profil tanah di lokasi penelitian untuk dilakukan analisis tanah secara langsung maupun pengambilan contoh tanah untuk dilakukan analisa di laboratorium. 2006 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kelas kerapatan hutan dan potensi tegakan berdasarkan tampilan warna/tone pada citra satelit. Tempurung kemiri yang selama ini banyak dijadikan limbah. -. Jenis-jenis yang dominan berturut-turut resak/damar (Vatica rassak Bl. tanah masih relatif muda dan secara edafis masih dapat ditumbuhi oleh beberapa jenis tanaman. matoa (Pometia pinnata Forst. 2006 Tanaman Kemiri merupakan tumbuhan serbaguna dan pemanfaatannya sudah dikenal baik oleh masyarakat terutama buahnya. Beberapa produk dari hasil pengolahan tempurung kemiri adalah arang. -. Pengukuran potensi pada citra satelit tersebut dilihat dari tone yang dijumpai.80 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 7. hutan “sedang” sebesar 76. Prabu Alaska Unit I Fakfak pada hutan “jarang” sebesar 68.05 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 9. briket arang.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 69-76 . kenari (Canarium maluense Lauterb. Heriyanto. Fakfak District.70 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4. Saptadi RAGAM MANFAAT KEMIRI / Saptadi Darmawan.al] . arang aktif. dan minyak kemiri.04 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =9.458 .46 m³/ha). Kata kunci : Klasifikasi.

6 juta hektar yang meliputi Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan pada bulan November 2004 di kawasan Hutan Timau Kecamatan Amfoang Kabupaten Kupang dan Kawasan Hutan Wanggameti. Saptadi PENYEBARAN DAN KEBERADAAN INANG GAHARU DI ALAM / Saptadi Darmawan dan Sumardi. Kabupaten Sumba Timur.86 dan 8. Destilat Darmawan. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. 2006 . sedang HTI non pulp bisa dengan jenis meranti batu (Shorea uligonosa). Kata kunci: Inang. Halaman 205-215 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. dan rapuh (fragile). Sedang pada lahan gambut dalam kategori dangkal. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. meranti bunga (S. dan budaya maupun fungsi ekologi. Inang gaharu di alam pada tingkat pohon dan tiang sudah tidak dapat ditemukan. Pada masing-masing tipologi lahan.000 hektar. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas 17 juta hektar yang terbentang dari pantai timur Sumatera Timur seluas 9. carbon storage. Di Kalimantan seluas 6. Penelitian dilakukan dengan melakukan survey dan wawancara terhadap masyarakat untuk mendapatkan data pengusahaan gaharu dan membuat petak berukuran 20 m x 20 m dengan jarak antar petak 200 m dengan sistem jalur untuk melakukan inventarisasi inang gaharu. Pada lahan gambut yang telah mengalami kebakaran. Gaharu. sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. geronggang (Carborescens) merupakan jenis-jenis yang tahan hidup pada lahan sulfat asam. Limbah. dan Sumatera Selatan. pemanfaatan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Inventarisasi Daryono. Herman PEMANFAATAN LAHAN SECARA BIJAKSANA DAN VEGETASI DENGAN JENIS POHON TEPAT GUNA DI LAHAN RAWA GAMBUT TERDEGRADASI / Herman Daryono.3 juta hektar meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Lahan sulfat masam aktual merupakan lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup di situ. geronggang (Cratoxylum glaucum). tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus). pada lokasi tempat ditemukannya gaharu/inang gaharu maupun bekas eksploitasi gaharu/inang gaharu. Selain itu jenis-jenis pionir seperti pulai rawa (Alstonia pnematophora). dan keanekaragaman hayati. untuk tingkat pancang dan semai di petak analisis vegetasi masih dapat dijumpai dengan nilai indeks penting masingmasing sebesar 2.laporan terakhir dari Badan Planologi Kehutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi. tanah-tanah (Combetocarpus rotundatus) juga dapat dipertimbangkan sebagai jenis untuk rehabilitasi.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. baik sebagai reservoir air. Kecamatan Metawai Selatan. balangeran). dan Irian Jaya seluas 70. Arang. pembangunan Hutan Tanaman Industri untuk pulp dapat menggunakan jenis Acacia crasicarpa. ekonomi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . -. baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode antara 1997-2000 di Indonesia mencapai 2.28.).83 juta hektar/tahun termasuk kerusakan hutan rawa gambut. 2006 Telah dilakukan penelitian penyebaran dan keberadaan inang gaharu di alam. dan kondisinya dalam keadaan terbuka pada kawasan produksi (gambut <3 m). jenis gelam (Melaleuca sp.olahan dari tempurung kemiri tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat bagi masyarakat. -. sedang ataupun dalam 10 . Dari hasil penelitian di lokasi penelitian diketahui inang gaharu dari jenis Aquilaria malaccensis sulit ditemukan. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. Halaman 1-18 . Punak (Teramerista glabra). Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan. belangeran (S. Briket arang. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. Oleh karena itu. Survey. dalam melakukan vegetasi diperlukan pemilihan jenis yang tepat. habitatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15m. tysmanniana) atau Jelutung (Dyera lowii). Berkurangnya inang gaharu di alam disebabkan oleh perburuan yang berlangsung secara besar-besaran tanpa dilakukan upaya konservasi dengan melakukan budidaya inang gaharu. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kata Kunci: Kemiri.

Eurema sp Darwo APLIKASI ENDOMIKORIZA. Yadi Setiadi. ranting. jika bibit telah diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith yang ditanam pada lahan yang diberi 500 ml asam humat 1. and Humic Acid to Growth Improvement of Khaya anthoteca Dx. DAN BIJI SUREN (Toona sureni Merr: Meliaceae) TERHADAP HAMA DAUN Eurema spp. Dengan pemberian pupuk kompos 2 kg dan atau 500 ml asam humat 1.III. 5 cc/100cc air. Uji efikasi kandungan senyawa dari tanaman Toona Sureni Merr yang digunakan adalah bagian daun. asam humat 11 . tetapi yang menjadi faktor pembatas adalah reaksi tanah agak alkalis dengan nilai tukar kation Ca sangat tinggi dan kadar salinitas tinggi serta kandungan C-organik dan nitrogen sangat rendah. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan unsur hara (P. PUPUK KOMPOS. Asam humat mampu meningkatkan pertumbuhan. dan Mg). Ekstrak daun. telah digunakan tanaman kehutanan yaitu Toona sureni Merr yang diketahui mengandung senyawa kimia melalui analisis kromatografi gas yang dapat berfungsi sebagai pembunuh hama.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Toona sureni Merr. Vegetasi. batu gamping. dan kontrol dengan rancangan acak lengkap. teknik revegetasi. Hama daun. 2006 (Aplication of Endomycorrhyza. Insektisida ini berasal dari tanaman atau mikroorganisme. Pertumbuhan tanaman yang terbaik. DAN ASAM HUMAT DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Khaya anathoteca Dx. daya hidup. Pada pengamatan selama 24 jam semua ulat mati. -. Kata kunci : Reklamasi. Halaman 125-128 . Compos. RANTING.yang habitatnya masih tedapat tegakan. Ranting. Cileungsi. 2006 Perlindungan Tanaman terhadap serangan hama dan penyakit mulai dikembangkan dengan insektisida yang tidak mencemari lingkungan. 7cc/100 cc air.Jurnal Aktifitas reklamasi pada lahan pasca penambangan batu gamping seperti di PT. No. (Lepidoptera : pieridae) PADA SKALA LABORATORIUM / Wida Darwiati. Erdy Santoso. dan lain-lain dapat ditanam di tipologi lahan tersebut. Kata Kunc: Pemanfaat lahan. Selain itu pada lahan gambut masyarakat. dosis yang digunakan 3 cc/100 cc air. Suren. Kata Kunci: Uji efikasi. at Post-Limestone Mining Land. Wida UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN.500 ppm. yang diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith terhadap pemberian pupuk kompos dan asam humat pada lahan bekas penambangan batu gamping serta tingkat infeksi cendawan endomikoriza pada tanaman tersebut. -. Biji. dan penggunaan mikroorganisme tanah. Halaman 195 207 . Hasilnya menunjukan bahwa perlakuan ekstrak biji suren sangat efektif dan tercepat dalam pengendalian hama daun di laboratorium dengan jangka waktu 3 jam setelah perlakuan mortalitas terbanyak dibanding dengan ekstrak daun dan ranting. Cileungsi-Bogor) / Darwo. perlu direvegetasi dengan jenis asli setempat seperti jelutung karena hasil getahnya dapat dimanfaatkan tanpa menebang pohonnya. dan kejenuhan basa ada dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. sehingga intensitas cahaya memenuhi persyaratan untuk hidup jenis komersial seperti ramin (Gonystylus bancanus). Semen Cibinong. Kabupaten Bogor sebagai bahan baku semen menunjukkan hasil yang tidak baik. PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN BATU GAMPING DI CILEUNGSI-BOGOR Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.500 ppm belum cukup memenuhi kebutuhan hara tanaman (kadar C-organik dan nitrogen masih termasuk rendah) dan ditunjukkan tanaman kekurangan nitrogen. kompos. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang respon pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. Rancangan penelitian menggunakan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap. kapurnaga (Callophylum macrocarpum). Introduksi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith berkorelasi positif dengan asam humat dan keberadaan cendawan endomikoriza dan asam humat bersifat sinergis terhadap pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. sedangkan untuk perlakuan ekstrak daun dan ranting memerlukan waktu sampai 72 jam. Pada kawasan konservasi (gambut >3m) dalam keadaan terbuka. dapat dibangun dengan jenis jelutung dengan sistem agroforestry. kapasitas tukar kation. Untuk mendapatkan insektisida yang berasal dari tanaman. K. hal ini dikarenakan kurang memperhatikan karakteristik bekas penambangan.2 . endomikoriza. dan biji terhadap hama daun Eurema s. Rawa gambut Darwati. dan persen infeksi akar bermikoriza yang lebih baik.

Durahim PENGARUH MEDIA DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN MUTU BIBIT EBONI (Diospyros celebica Bakh. bibit. sabut kelapa sawit.al) . pembangunan kebun benih/bibit.). Dede Rohadi.Danu TEKNOLOGI DAN STANDARISASI BENIH DAN BIBIT DALAM RANGKA MENUNJANG KEBERHASILAN GERHAN / Danu. Halaman 9 . benih. penanggulangan.. serta fungsinya dalam menunjang konservasi tata air. 2006 Eboni (Diospyros celebica Bakh. penyusunan standar pengujian dan mutu benih untuk berbagai jenis tanaman yang diperlukan serta peningkatan pengetahuan para praktisi di palangan dalam hal penyediaan. Kata Kunci: Teknologi.5 g/bibit (3. Peran fasilitator diperlukan sebagai pendamping proses tersebut.18 mm). Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni yang baik dicapai pada medium top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dan top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v). -. Faktor-faktor yang diteliti adalah empat jenis kombinasi media dan tiga dosis pupuk NPK. seperti standar pengujian dan mutu benih/bibit. prospek keuntungan ekonomi bagi masyarakat. dan pengawasan mutu benih/bibit. top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dengan pupuk NPK 0.(et. dan Nurhasybi.) Seedling) / Durahim. Keberhasilan program ini memerlukan dukungan ketersediaan benih dan bibit yang bermutu dan berasal dari sumber benih bersetifikat dalam jumlah besar.0 g/bibit (3. Model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung harus disesuaikan dengan karakter biofisik dan sosial ekonomi setempat sehingga dapat lebih tepat guna dan berkelanjutan. Pada kenyataannya kemampuan produksi benih dari sumber benih yang bersertifikat belum memenuhi kebutuhan. pelaksanaan. Faiqotul MODEL PEMANFAATAN PARTISIPATIF KAWASAN PENYANGGA HUTAN LINDUNG DENGAN POLA AGROFORESTRY / Faiqotul Falah. Di antara upaya-upaya tersebut adalah pemeliharaan sumber-sumber benih. Demikian pula ketersediaan perangkat sistem dalam pengawasan mutu benih. hingga monitoring dan evaluasi. dan top-soil murni dengan 1.. top-soil. Tiga kombinasi perlakuan baik untuk pertumbuhan diameter batang bibit adalah top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v) tanpa pupuk (3. Kata kunci : Eboni (Diospyros celebica Bakh.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Tulisan ini bertujuan memaparkan proses penyusunan rancangan dan pembangunan model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung dengan penerapan pola agrofishery yang memadukan budidaya ikan dengan tanaman kehutanan/pertanian dalam satu unit lahan. Tiap kombinasi perlakuan diulang tujuh kali dan tiap ulangan terdiri dari lima bibit. Pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung seyogyanya dilakukan dengan memberdayakan masyarakat dalam seluruh proses pemanfaatan. 2006 Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) adalah program pemerintah dalam upaya merehabilitasi hutan dan lahan dengan target seluas 3 juta hektar selama kurun waktu 5 tahun (2003-2007). -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 101-109 . Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan penggunaan benih/bibit bermutu dalam program rehabilitasi hutan dan lahan di Indonesia. Penelitian 12 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi media dari tanah mineral dan bahan organik serta dosis pupuk NPK (17:17:17) terhadap pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni. 2006 Mengingat fungsi ekologinya. No. modal finansial yang tersedia.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . mulai dari perencanaan.17 . baru tersedia untuk jenis-jenis komersial tertentu. kawasan penyangga hutan lindung perlu dikelola pemanfaatannya agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menunjang fungsi hutan lindung sebagai penyangga tata air. Bibit.III. GERHAN. NPK Falah. sabut kelapa.10 mm).) adalah salah satu jenis endemik di Pulau Sulawesi yang termasuk diprioritaskan untuk Hutan Tanaman Industri. -. Halaman 63-76 . Standar. Pemilihan jenis yang akan dibudidayakan harus mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia pelaksana. Hendromono.1 .) (Effects of Media and NPK Fertilizer to the Growth and Quality of Eboni (Diospyros celebica Bakh.08 mm). Rehabilitasi menggunakan Faktorial Eksperimen dalam RCBD. Interaksi antara jenis medium dan dosis pupuk NPK nyata terhadap pertumbuhan diameter batang bibit.

Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara.29 kalori). Jenis pakan yang paling banyak dikonsumsi. Flores tahun) yang masing-masing dipelihara dalam kandang individu berukuran 160 cm x 120 cm x 100 cm. Eclectus roratus cornelia Bonaparte. pendudukan kawasan hutan. Harmonis. partisipatif. berkurangnya peran lembaga adat. Halaman 63-69 . Halaman 75 . Model pemanfaatan. Kupang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tingkat konsumsi dan palatabilitas pakan burung bayan. sehingga mengakibatkan degradasi hutan yang semakin meningkat. Arsitektur biologis. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan di daerah ini adalah illegal logging. Penelitian ini dilakukan di penangkaran Oilsonbai. 2006 Pemanfaatan hutan yang tidak seimbang di Flores disebabkan oleh pandangan masyarakat yang hanya melihat nilai manfaat konsumtif (digunakan langsung sehari-hari tanpa mengolahnya untuk mandapatkan nilai tambah) dan nilai pemanfaatan produktif (langsung dijual ke pasar). 2006 Luas kawasan hutan di Provinsi Bali sekitar 23 persen. Electus roratus cornelia Bonaparte. No.13 kalori) dan burung bayan betina 185. Kata kunci: Bayan. palatabilitas dan penangkaran Garsetiasih. Adapun faktor-faktor pendukung utama untuk pembangunan kehutanan di Provinsi Bali adalah: Potensi sosial budaya 13 . 2005 : Halaman 97-102 . Penelitian menggunakan 8 individu burung terdiri dari 4 individu betina dan 4 individu jantan umur produktif (lebih dari 1 Gunaja. dan kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rata-rata konsumsi burung bayan jantan sebesar 205. Garsetiasih. diketahui bahwa tingkat konsumsi terhadap tiap jenis pakan tidak berbeda nyata antara burung bayan jantan dan betina. -.Kata Kunci: Kawasan penyangga. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . adalah pepaya dengan rata-rata konsumsi 54.43 gr/hari (255. Dalam mengantisipasi kepunahan populasi perlu dilakukan penangkaran jenis burung bayan tersebut.93 gr/hari (231.82 . maka dukungan iptek terapan yang praktis dan dengan biaya murah sangat diperlukan. Imaculata ARSITEKTUR BIOLOGIS MENUJU EKSPLOITASI HUTAN YANG HARMONIS DI FLORES / Imaculata Fatima. R.53 gr/hari (26. in Captive Breeding)/ R. perambahan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Penelitian menggunakan percobaan faktorial dengan dua faktor yaitu jenis kelamin dan jenis pakan yang berupa kacang-kacangan dan biji-bijian serta buah-buahan dan sayur-sayuran.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III. yang menunjukkan jenis pakan yang paling disukai. masih di bawah luasan minimal 30 persen. Berdasarkan hasil analisis terhadap konsumsi pakan berupa buah-buahan dan sayur-sayuran serta pakan berupa kacang-kacangan dan biji-bijian. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. KONSUMSI DAN PALATABILITAS PAKAN BURUNG BAYAN SUMBA (Electus roratus cornelia Bonaparte) DI PENANGKARAN (Consumption and Feed Palatability of Bayan Bird. Tata Air Fatima. Konservasi. peredaran ilegal hasil hutan (illegal trading).54 %) untuk burung jantan dan 48. Mariana Takandjandji. Kata kunci: Eksploitasi hutan.74 gr/hari (26. Hutan Lindung. I Made KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI BALI / I Made Gunaja. konsumsi. 2006 Burung bayan (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) merupakan jenis burung endemik Pulau Sumba dengan status dilindungi karena populasinya yang terus menurun. dan kebutuhan bahan baku yang tinggi.Untuk menopang keberhasilan programprogram yang dilakukan. Untuk mengatasi permasalahan ini maka program pembangunan kehutanan di Provinsi Bali diprioritaskan pada rehabilitasi dan perlindungan hutan serta pengembangan hasil hutan bukan kayu yang melibatkan masyarakat sekitar hutan. -. kualitas sumberdaya manusia sekitar hutan yang relatif rendah. -.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. tingginya ketergantungan masyarakat Flores terhadap sumberdaya hutan. Nusa Tenggara Timur pada bulan September 1999 sampai Januari 2000.21 %) untuk burung betina.1 .

683. Sumberdaya hutan Harisetijono PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI P. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi wilayah Nusa Tenggara Barat.sampai dengan Rp. 14 . Agroforestry system able to give income equal to 2. Berdasarkan model yang berkembang. Marinus Kristiadi ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN FISIK SISTEM AGROFORESTRY KHAS LAHAN GAMBUT TIPIS DI DESA SEI PANTAI KABUPATEN BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN / Marinus Kristiadi Harun. Hutan kemasyarakatan merupakan salah satu bentuk pengembangan program Social Forestry.25 hektar.. Nilai hasil tanaman tumpangsari dari yang tertinggi sampai dengan terendah secara berurutan adalah pisang. The objective of this research is to analysis social. -. 305. Agroforestry system able to contribued equal to 33. alley cropping with the tongkongan technique. The result of this study showed that agroforestry system developed by local farmer is: (a). Social forestry.18 percent from total farmer's income. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan.040 rupiahs per year or 230. penanaman dengan menggunakan jalur ganda berseling antara tanaman penghasil kayu dan buah merupakan model yang baik untuk dikembangkan. -. talas. Agroforestry application in a peat swamp land is able to maintaining high system stability and has a lower risk in land degradation. Kata Kunci: Hutan kemasyarakatan. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan masih menerapkan prinsip-prinsip Agroforestry Tradisional. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi tipe dan model hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan keberhasilan pengembangannya. Program. Subdistrict Rantau Badauh. which in the long run is expected to increase land productivity and improving farmer's income. dan mengungkapkan permasalahan dan keberhasilan pengembangannya. (c). Perbandingan jenis penghasil kayu dan buah dengan perbandingan 70:30 mampu memberikan pendapatan petani sebesar Rp. South Kalimantan Province and suggest to be a basic knowledge and one of way to rehabilitate the forest and land degradation.503 rupiahs per month.750. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . makin tingginya partisipasi masyarakat dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki hutan dan lingkungan dalam rangka menopang tujuan utama daerah wisata di Bali Kata kunci: Pembangunan kehutanan. Pengelolaan. Lombok Tengah Harun. Halaman 209-224 . alley cropping with the tongkongan and galengan technique. Walaupun payung hukum pengembangan hutan kemasyarakatan belum mantap.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. padi. 1. alley cropping with the surjan technique and (d).024.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 111-125 . LOMBOK : STUDI KASUS PEMBANGUNAN MODEL HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN LOMBOK BARAT DAN LOMBOK TENGAH / Harisetijono. perencanaan bersama mekanisme penyelesaian konflik belum berkembang dengan baik.766. Model Social Forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. dan ubi kayu. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. Demikian pula. (b). Lombok Barat. 1. Agroforestry application in forest area is intended mainly for providing apportunity of landless farmer to cultivate land and also for the objective of establishing forest crops with the best way and cheapest cost.. Multiple Cropping with the guludan technique. Pemilihan jenis tanaman belum sepenuhnya berorientasi pada pasar karena keterbatasan kemampuan teknis dan informasi pasar.(et.. Agroforestry application in a peat swamp land could be carried out either on agricultural or on forest lands. IPTEK. jagung..al) .. regency Barito Kuala. 2006 Development of agriculture in a peat swamp land should be environmentally sound and ensures the sustainability of production. pengalaman pengembangan hutan kemasyarakatn di Privinsi Nusa Tenggara Barat merupakan hal penting untuk bahan pengkajian.000.per hektar. The main objective of application agroforestryin agricultural land is for conserving soil and water. economic and physic aspect of agroforestry system which have been developed by farmer in Sei Pantai Village. dengan kisaran nilai Rp. cabai.masyarakat. 2006 Social Forestry merupakan salah satu kebijakan Departemen Kehutanan.000.per petani per 0.

632 dan 0. No. mucronata didominasi oleh partikel debu pada kedalaman (0-20) cm dan pasir pada kedalaman (20-40) cm. Sei Pantai. sedangkan R. Smith.330). BO rendah kecuali pada tegakan R. sifat kimia.926 dan 0. maka perlu dikaji kemampuan mikoriza bersimbiose dengan berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan dalam rehabilitasi lahan. serta salinitas air tanah daratan pada berbagai jenis tegakan mangrove. Tiga jenis tegakan mangrove yang diamati adalah Sonneratia alba J.05 %/bl (R. marina). and Ground Water Salinity of Three Species Mangroves)/ Halidah. Barito Kuala. namun belum memperlihatkan hasil yang diharapkan. Substrat pada tegakan R.500).III. mikoriza. serta 8.Info Hutan : Vol. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan yaitu mikoriza. tinggi kecuali nitrogen. DHL. Kualitas salinitas air tanah daratan cenderung semakin membaik dengan adanya bentangan mangrove di sepanjang pantai. lahan kritis Anwar. -. Halaman 75 . Demikian juga unsur hara fosfor dan kalium. menunjukkan bahwa produksi dan laju pelapukan serasah masing-masing tegakan adalah 27. Pada tegakan A.4 . mucronata. marina didominasi oleh partikel debu. Chairil Halidah PRODUKSI DAN LAJU PELAPUKAN SERASAH. 2006 Upaya rehabilitasi lahan kritis telah banyak dilakukan. produksi dan laju pelapukan serasah 15 .III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian mikoriza di lapangan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan sengon dan damar. S. dan Avicennia marina (Forsk. pupuk cepat larut.159. Lingkungan. dan biologi tanah. mucronata). Tujuan penelitian ini menemukan teknologi rehabilitasi lahan kritis dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu bersimbiose dengan tanaman serta dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhannya pada lahan kritis. dan damar. tetapi tidak pada tanaman bitti. Halaman 367 . alba (1.Kata kunci: Agroforestry. Morphoedaphic. Sedangkan kation-kation yang dapat tukar juga umumnya tinggi. Saprudin. Kemasaman atau pH pada semua tegakan netral.377 .. 15. alba oleh partikel pasir. alba).023 dan 0. Fauna tanah yang ditemukan mempunyai nilai indeks keragaman dan indeks dominansi yang berbeda pada setiap tegakan.20 %/bl (A.40 ton/ha/th dan 28.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. MORPHOEDAFIK. serta tanpa mikoriza dan pupuk (kontrol) yang diujikan pada tiga jenis tanaman yaitu bitti.. jenis. sengon. salinitas. Rhizophora Hasil penelitian mucronata Lamk.2 . Kata kunci : Pertumbuhan. DAN SALINITAS AIR TANAH DARATAN PADA TIGA JENIS MANGROVE Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang produksi dan laju pelapukan serasah. -. Kata kunci: Morphoedafik. Indek keragaman dan indek dominansi untuk A.93 %/bl (S.96 ton/ha/th dan 26. KTK umumnya tinggi. mucronata (0.51 ton/ha/th dan 28. Sosial ekonomi. Perkembangan iptek sekarang ini telah menjanjikan suatu pendekatan teknologi terutama yang berkaitan dengan penggunaan mikoriza yang berperan dalam proses pertumbuhan tanaman.83 . mikoriza + pupuk cepat larut. Dengan melihat permasalahan dalam penanggulangan lahan kritis. salinitas. infeksi. No. sedangkan pada tegakan S. marina adalah 2. Kalimantan Selatan Halidah PERTUMBUHAN BEBERAPA JENIS TANAMAN TERINFEKSI MIKORIZA PADA LAHAN KRITIS DI SPUC MALILI (The Growth of Several Species Infected Mikorizae on Critical Land at Malili Research Station)/ Halidah. substrat. mangrove. Maryatul Qiptiyah. 2006 (Litter Productin and Decomposition Rate.)Vierh. lahan gambut.

SUMATERA UTARA (Plantation Forest Ecology of Acacia crassicarpa A.2 .. lahan kritis. Namun demikian./ Henti Hendalastuti R. Asep Hidayat.000 untuk setiap meter kubiknya. Kata kunci : Hendalastuti. dengan kegunaan untuk kayu bakar.. dan meningkatkan fungsi DAS Baruman dan Rokan.III. DI PADANGLAWAS. Hutan Tanaman seluas 38.Info Hutan : Vol. -.ex Benth.146 .III. mekanisme produksi Hendalastuti R.2 . Persetujuan ramin untuk masuk ke dalam Appendix II CITES yang berlaku sejak 15 Januari 2005 merupakan perubahan yang menjadi harapan baru dalam mengontrol mekanisme produksi dan perdagangannya. Kata kunci : Ramin. Henti SISTEM PENGELOLAAN DAN KONSERVASI RAMIN DI HUTAN PRODUKSI (Management and Conservation System of Ramin in Production Forest) / Henti Hendalastuti. Di Sialiali. 2006 Jenis ramin (Gonystylus sp.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.ex Benth. No. -. Kebakaran yang terjadi hampir tiap tahun di berbagai lokasi lahan hutan tanaman menunjukkan bahwa jenis akasia dan ekaliptus menghasilkan permudaan yang cukup potensial untuk pengembangannya. crassicarpa A. Meskipun jenis kayu ramin telah terdaftar dalam Appendix III Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) sejak Agustus 2001. Padanglawas 16 . No.3 . tanaman nilam pada umumnya dibudidayakan secara monokultur pada lahan terbuka tanpa perlakuan yang memadai.500 dan 5.8 cm menunjukkan pertumbuhannya sangat dipengaruhi kesuburan tanah dan perlu diamati lebih lanjut. Illa Anggraeni.1 cm dengan selang 0.94 .675 ha merupakan bagian dari DAS Barumun dan Rokan.) merupakan kayu bernilai komersial tinggi pada perdagangan internasional dengan harga yang bisa mencapai US$ 1.) memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan pada sektor kehutanan karena berpotensi sebagai tanaman bawah pada sistem penanaman tumpangsari dengan jenis tanaman keras lainnya. Halaman 137 . adalah 2. and Acacia mangium Willd. Halaman 261-268 . Kosasih.Cunn. Disarankan menanam akasia tersebut di lahan kritis Padanglawas terutama di punggungpunggung bukit dan sebagai pohon perindang jalan dengan harapan kelak menyebar secara alami dan meningkatkan kesuburan tanah. pulp.ex Benth.4-9.III. ekaliptus. Halaman 85 . Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Pogostemon cablin Benth (Effects of Shading and Manure Application Pogostemon cablin Benth. kelestarian. Acacia mangium Willd. namun hal tersebut tidak menjamin penurunan tingkat kelangkaan ramin di Indonesia karena mekanisme tersebut tidak berjalan dengan baik.S EKOLOGI HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa A. Gonystylus sp.S.ex Benth. No.. Henti PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SERTA JUMLAH DAN MUTU DAUN NILAM.Cunn.600 anakan per hektar setelah tiga tahun terbakar.ex Benth. DAN Acacia mangium Willd. permudaan alam. dan tampaknya ekaliptus dan akasia tumbuh dengan baik atau dapat beraklimatisasi. tercatat rataan permudaan Acacia crassicarpa A.. masing-masing 13. bahan bangunan. Rataan diameter untuk A. 2006 Penanaman akasia di Padanglawas dimulai dalam rangka pembangunan hutan tanaman secara swakelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. 2006 Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.Harahap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas naungan dan pemberian pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman nilam dan rendemen minyak dari daun yang dihasilkan.Cunn. Rusli M. -. dan budidaya pada unit manajemen merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menjamin kelestarian ramin pada masa-masa yang akan datang. CITES. dan Acacia mangium Willd.Cunn. Asep Hidayat.Info Hutan : Vol. Selain jenis akasia. Perhatian terhadap mekanisme produksi. dan Titi Kalima. Acacia crassicarpa A. peredaran. terdiri dari 4 perlakuan yang mengkombinasikan dua on the Plant growth and the Leaf Quantity and Quality of the Nilam.Cunn. juga ditanam mahoni. sengon. North Sumatra) / Rusli M. in Padanglawas.Harahap.

Rendemen minyak cenderung meningkat dalam daun pada tanaman yang diberi naungan dan/atau pupuk kandang. Setiap perlakuan terdiri dari 15 ulangan. baliensis J. 2006 Mutu Benih merupakan hasil penampakan dari mutu genetik. Sm. Microsaccus alfinis J. Sedangkan untuk penilaian mutu fisik dan fisiologis dapat diketahui melalui penanganan dan pengujian benih.J.. fisik. teknik pengepakan. khususnya Blok Ireng-Ireng. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data dan informasi tentang potensi anggrek epifit dalam upaya pelestariannya di TN Bromo Tengger Semeru. alpukat. Metode yang dilakuan dengan cara mengamati semua anggrek epifit pada petak-petak contoh yang ditempatkan berdasarkan sistem jalur.58 %.. Halaman 137-144 . Sm. naungan. Asep Hidayat. dan jengkol selama 60 jam perjalanan dengan modifikasi box plastic dilapisi styrofoam tanpa perlakuan pada perakaran bibit memberikan daya hidup bibit yang tinggi dengan biaya paling murah. kemiri. plasma nutfah Herdiana. Pengangkutan bibit kemiri dan jengkol sampai 120 jam perjalanan memerlukan balutan campuran sabut kelapa dan arang pada perakaran bibit.III. dan Dodi Frianto.J.3 . ketiga mutu ini dapat ditingkatkan dengan tingkat kesulitan yang berbeda. dan berat kering daun 126 %.III. Sm dan Trixpermum malayanum J.583 .. No.J. Sm. rendemen minyak Hendalastuti R. Henti TEKNIK PENGEPAKAN BIBIT ROTAN DAN BEBERAPA JENIS MPTS UNTUK PENGANGKUTAN JARAK JAUH (Packaging Technique of Rattan and Multi Purpose Tree Species Seedlings for Long Transportation) / Henti Hendalastuti R. -.35 %) dan pupuk kandang (0 g dan 500 g/tanaman).5 . Caelogyne speciosa var nn Blume Lindl. Kata kunci : Anggrek epifit..815 %. Kata kunci : Bibit rotan. yaitu Maleolla dan Schoenorchis juncifoilia. Dalam hal ini. Nanang KERAGAMAN JENIS ANGGREK EPIFIT DI BLOK IRENG-IRENG TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU (Diversity of Epiphyte Orchid Species in Block of Ireng-Ireng Bromo Tengger Semeru National Park) / Nanang Herdiana.J.J. Sm. inventarisasi. Dendrobium jacobsonii Blume. dan Eria verrucullosa J. berat basah daun 203.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Eria verruculosa J. Sm. Caelogyne flexuosa Rolfe. No. Nanang PENANGANAN BENIH TANAMAN HUTAN / Nanang Herdiana.faktor yaitu intensitas naungan (0 % dan 34.. Sm. Pogostemon cablin Benth. -. dan fisiologis.f. Halaman 575 . Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 17 genus dan 40 spesies anggrek epifit dengan jenis yang paling dominan adalah jenis Caelogyne speciosa Blume Lindl.J.35 %) dan pemupukan 500g/lubang tanam telah terbukti secara nyata memberikan hasil peningkatan tinggi tanaman sebesar 116. Jenis anggrek yang langka. Pholidota canelostalix Rchb. bibit rotan dan alpukat tidak memerlukan perlakuan sebagaimana bibit kemiri dan jengkol. Rotan.J. dan Pholidota ventricosa Blume Lindl. Perlakuan pemberian naungan (34. Kata kunci : Nilam. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode penyiapan bibit dan teknik pengepakan untuk memperkecil tingkat kerusakan bibit dalam pengangkutan jarak jauh sehingga menghasilkan bibit yang berdaya hidup tinggi dengan biaya murah.Penilaian untuk mengetahui mutu genetik salah satunya adalah dengan mengetahui sumber benih yang digunakan. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Anggrek merupakan salah satu jenis flora penting yang tumbuh di kawasan Taman Nasional (TN) Bromo Tengger Semeru. Sedangkan jenis yang masuk kategori genting adalah jenis Agrostophyllum laxum J. pupuk kandang.Info Hutan : Vol. Seluruh aspek tersebut merupakan bagian dari sistem pengadaan benih 17 . Jenis yang termasuk ke dalam anggrek endemik Jawa Timur yaitu Bulbophyllum mirun J. pengangkutan jarak jauh Herdiana. Halaman 201-212 .

Kata Kunci : Jenis pohon. belta. dan bagian daun (6 jenis). demam.) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.III. N. kemudian diikuti oleh jenis Villebrunea rubescens Bl. Br. M. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat yaitu daun. Taman Nasional Meru Betiri 18 . bagian biji (8 jenis). di antaranya yaitu besule (Chydenanthus excelsus Miers. Sloanea sigun L.5 pohon per hektar. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Heriyanto. jumlah jalur pengamatan 3 jalur. dan Schima walichii Korth. KEANEKARAGAMAN JENIS POHON YNG BERPOTENSI OBAT DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI./nangsi (0. (muncang cina). lebar 20 m dan di dalam tiga jalur dibuat petak-petak untuk pengukuran dimensi ekologi pohon.) dengan kerapatan 15. Kata Kunci: Mutu Benih. Heriyanto. West Java) / N. malaria. buah. potensi. Q. dan wining (Pterocybium javanicum R. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang jalur 1. kulit batang. Tanaman Hutan Heriyanto.DC. Heriyanto dan Reny Sawitri. Passiflora edulis Sims. Pengelolaan konyal sebagai jenis asing yang menginvasi di kawasan taman nasional dilakukan dengan pemberantasan secara manual oleh masyarakat lokal. (pasang bodas). Kata kunci : Konyal. akar.48). N. yang merupakan pencerminan kinerja dari suatu proses pengadaan benih.M POTENSI JENIS KONYAL (Passiflora edulis Sims. dan sakit perut. Jenis pohon yang dirambati konyal sebanyak 38 jenis dengan kerapatan 114 tanaman konyal/ha. Kabupaten Cianjur.3 pohon per hektar./puspa (0.M. induta Bl.M. biji. batang.) dengan kerapatan 10 pohon per hektar. (saninten).DC.) dengan kerapatan 12. Altingia excelsa Noronha/rasamala (0.000 m yang diletakkan memotong lereng. batuk.3 . jabon (Anthocephallus cadamba Miq. prosesing benih. (pasang). No. Indeks keanekaragaman jenis pohon tumbuhan obat tertinggi dimiliki oleh besule (Chydenanthus excelsus Miers. dan semai yang berasosiasi dengan konyal yang dibuat memotong garis ketinggian dan kontur. tumbuhan obat.10 kemudian disusul oleh jenis jabon (Anthocephallus cadamba Miq. yaitu dimulai dari sumber benih. Jenis penyakit yang dapat diobati atau dicegah yaitu penyakit kewanitaan. Sedangkan tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu bagian kulit batang (10 jenis).) nilai keanekaragaman jenis 0. Br. No. -. (beleketebe). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon tumbuhan obat yang dijumpai di Taman Nasional Meru Betiri berjumlah 28 jenis.III. Jenis-jenis yang berasosiasi kuat dengan konyal yaitu Castanopsis argentea A. Satuan contoh berbentuk jalur sepanjang 1.46).52.07. Schima walichii Korth.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Cianjur District. Halaman 251-260 .000 m.) SEBAGAI JENIS INVASIF DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO KABUPATEN CIANJUR. pengujian benih hingga ke penyimpanan. (puspa). -. dan Ostodes paniculata Benth.) nilai keanekaragaman jenis 0. kulit buah. 2006 Penelitian potensi jenis konyal (Passiflora edulis Sims.1 .bermutu. JAWA BARAT (Potency of Konyal (Passiflora edulis Sims. Jawa Barat dilakukan pada bulan Oktober 2002.) as an Invasive Species in The Gunung Gede Pangrango National Park. Altingia excelsa Noronha (rasamala). dan wining (Pterocybium javanicum R. Tujuh jenis pohon berasosiasi dengan konyal (INP> 10 %) dan yang mendominasi tegakan yaitu : Castanopsis argentea A. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaman jenis pohon yang berpotensi sebagai obat. East Java) / N.. JAWA TIMUR (Studies on Diversity of Trees Potential for Medicine at Meru Betiri National Park. Halaman 55 . (saninten) yang ditunjukkan oleh indeks asosiasi sebesar 0.41). kecambah biji. dan getah.64 .Info Hutan : Vol. Tingkat belta jenis tersebut tidak termasuk dominan (INP < 10 %). Quercus teysmanii Bl.08.) dengan nilai keanekaragaman sebesar 0.

Info Hutan : Vol. Desa Curahnongko. bersamaan dengan itu dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut berupa erosi dan sedimentasi di daerah hilirnya dapat diperkecil. Sasaran utama dalam pengelolaan lahan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi lahan. kayu.3 . Kegiatan pengelolaan lahan harus dilakukan secara sinergis dan simultan mulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi. Untuk mendapatkan data primer dilakukan wawancara dengan penarikan contoh terhadap tiga angkatan kerja pada masyarakat di tiga desa sekitar taman nasional. JAWA TIMUR (Utilization of Forest Iriansyah. Pembalakan.III. East Java) / N.M. R. Dari hasil penelitian yang diadakan di tiga desa. Selain itu. Garsetiasih. No. -. Heriyanto. Prosedur dan strategi pemetaan dan penerapannya dengan menggunakan system informasi geografis (SIG) diuraikan dalam tulisan ini.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Perencanaan. Taman Nasional Meru Betiri. Halaman 187 . Dari hasil penelitian didapatkan bahwa interaksi yang terjadi antara masyarakat desa Andongrejo. Jenis hasil hutan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu kayu bakar untuk memasak. dan Desa Wonoasri sebesar 65 %. Endro Subiandono. Kata kunci : Interaksi. bahan bangunan perumahan dan peralatan rumah tangga.5 %. dikumpulkan data sekunder dari berbagai laporan dan literatur. Ramah lingkungan Junaidi. Halaman 271-285 .M.Kesemua hal tersebut dimaksudkan adalah untuk melengkapi perencanaan pembalakan yang ramah lingkungan agar produktivitas hutan dan ekosistemnya dapat lestari. Edy METODE PENENTUAN NILAI EROSI YANG DIPERBOLEHKAN PADA PENGELOLAAN DAS (Method in Determinating Tolerable Erosion Value in a Watershed Management) / Edy Junaidi.200. akan tetapi mungkin untuk mempertahankan keadaan lahan tetap produktif dan dampak luaran kegiatan berupa erosi-sedimentasi yang terjadi tidak mengganggu proses yang berjalan dalam DAS. diikuti Desa Curahnongko 70 %. Kenyataannya tidaklah mungkin menekan dampak yang disebabkan oleh kegiatan pengelolaan lahan menjadi nol.3 . -. desa Curahnongko. Desa Andongrejo memiliki persepsi yang paling tinggi yaitu sebesar 77. No. serta pemanfaatan tumbuhan obat. N.Resources by Local community in Meru Betiri National Park. 2006 Pengelolaan lahan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pemanfaatan hutan terutama kayu oleh masyarakat sekitar TNMB dan informasi mengenai jasa hutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. sehingga dalam pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. dan desa Wonoasri dengan kawasan TNMB antara lain berbentuk pemanfaatan kayu untuk kayu bakar. dengan jumlah responden masing-masing desa sebanyak 40 orang (total 120 responden). Halaman 297 308 . 2006 Heriyanto. 2006 Klasifikasi kepekaan tapak hutan adalah merupakan salah satu komponen dalam perencanaan pembalakan. sehingga tingkat produktivitas meningkat. Kata kunci: Tapak hutan. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan TNMB pada umumnya baru pada taraf pengetahuan fungsi dari taman nasional dan cara melestarikannya. agar tidak mengganggu sumberdaya lain dalam DAS. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .III. dan Desa Wonoasri. PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. masyarakat setempat 19 . Pemetaan. -. Oleh karena itu diperlukan metode penentuan nilai erosi yang diperbolehkan pada setiap kegiatan Penelitian pola pengelolaan partisipatif antara masyarakat dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dilakukan di tiga desa yaitu Desa Andongrejo. Maming PEMETAAN KEPEKAAN TAPAK HUTAN UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN RAMAH LINGKUNGAN / Maming Iriansyah.

Lahan Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP EROSI TANAH DI JALUR PENDAKIAN MENUJU DANAU SEGARA ANAKAN TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan Tigor Butar-Butar.Tujuan dan sasaran penelitian ini adalah mengetahui dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap kondisi tanah pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan melalui pintu masuk Senaru. pemadatan tanah. vegetasi yang didominasi oleh semak belukar dan savana padang rumput. Hasil penelitian menunjukan terjadinya perubahan tekstur tanah dengan menurunnya fraksi liat pada jalur pendakian dan erodibilitas pada jalur pendakian lebih tinggi dibandingkan dengan di luar jalur pendakian. L Michael Riwu TEKNOLOGI PERLINDUNGAN HUTAN DARI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN / L Michael Riwu Kaho. Penyebab utama kebakaran di NTT adalah kondisi iklim yang kering (arida). 2006 Dampak positif wisata alam di bidang ekonomi disertai oleh dampak negatif pada kawasan. Pemadaman dan penanggulangan kebakaran selain dengan penerapan teknologi. dan fosil (pendakian. koleksi souvenir). -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 183-189 . lahan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui 20 . Erosi tanah. 3) pendekatan sosial ekonomi dan budaya. penelusuran gua. Metode Wood dan Dent paling ideal digunakan untuk penentuan erosi yang diperbolehkan dalam pengelolaan DAS.(pembangunan fasilitas. pemberian dampak positif terhadap kegiatan wisata pada khususnya dan perekonomian daerah pada umumnya. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. yaitu : (1) Metode Thompson (1957). pengelolaan lahan. mineral. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 191-205 . fragmentasi. Segara Anakan. erosi yang diperbolehkan Kaho. -. 2006 Kebakaran merupakan salah satu penyebab gangguan terhadap hutan yang memerlukan pengendalian. Kata Kunci: Ekowisata. Pendekatan. (2) Metode Hammer (1981). serta kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang mendukung terjadinya kebakaran lahan dan hutan. 1) pendekatan cuaca kebakaran. pengunjung berlebihan)(Wiranto dalam Fandell C. Lombok Kayat MANFAAT EKONOMIS EKOWISATA TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan I Made Widnyana. (2) Erosi. penyuluhan serta penataan organisasi penanggulangan dan perencanaan pengendalian kebakaran. 4) pendekatan hukum dan kelembagaan. Taman Nasional. dan Mukhlison. Monitoring terhadap dampak ini diperlukan dalam rangka pengendalian dampak negatif. dilakukan pengambilan sampel/contoh tanah pada 10 titik pengamatan. 2) pendekatan silvikultur. Dampak negatif langsung wisata alam terhadap lingkungan antara lain: (1) Geologi. hasil dianalisis secara deskriptif. Tindakan pencegahan erosi yang dapat digunakan adalah dengan metode vegetatif. 2000). dan (3) Metode Wood dan Dent (1983). Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan nilai erosi yang diperbolehkan. Untuk mengetahui data dan informasi dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap erosi pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan. Pengendalian dan pencegahan kebakaran dapat dilakukan melalui. Selanjutnya sampel/contoh tanah dianalisis di laboratorium tanah. Kata kunci : Pengelolaan DAS. Salah satu penyebab dampak negatif penting adalah ditimbulkan oleh perilaku pengunjung. 2006 . 2006 Sektor pariwisata sebagian besar kegiatannya berada dalam lingkungan ekologi hutan.pengelolaan lahan. Kata kunci: Perlindungan hutan. tukar menukar informasi. Halaman 85-91 . dapat dilakukan dengan pengembangan peningkatan komunikasi.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Lima sampel/contoh pada jalur pendakian dan lima sampel/contoh di luar jalur pendakian. Kebakaran di wilayah propinsi Nusa tenggara Timur(NTT) adalah masalah serius yang terjadi secara berulang setiap tahun dan diyakini sebagai salah satu sebab deforestasi. Kebakaran. Gunung Rinjani.

manfaat ekonomis kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), melalui kajian nilai ekonomi dari kegiatan ekowisata pada obyek-obyek yang sudah dikelola. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey melalui wawancara, pengamatan, dan perhitungan langsung nilai ekonomi yang dihasilkan para pelaku dan kegiatannya. Data dianalisis secara semi kuantitatif dan deskriptif. Kesimpulan di tarik berdasarkan nilai proporsi dan kualitas amatan. Total nilai manfaat ekonomi ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani dari obyek-obyek yang sudah dikelola adalah Rp. 3.067.851.250,-. Obyek wisata trekking memberikan nilai manfaat ekonomi yang dominan, yaitu Rp. 2.080.996.250,- (67,83 persen). Para pihak yang mendapatkan manfaat ekonomis dari ekowisata TNGR adalah: pengelola atau pemerintah (melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani), Rinjani Trekking Centre (RTC) dan Rinjani Information Centre (RIC),Trekking Organizer (TO), guide, porter, pengelola penginapan/homestay, restoran, penginapan dan kios/warung, menandakan adanya potensi positif ekowisata bagi pengembangan perekonomian masyarakat dan daerah, dan insentif bagi partisipasi masyarakat untuk pemantapan pengelolaan TNGR. Manfaat ekonomi ini masih mungkin ditingkatkan melalui pemantapan kelembagaan, peningkatan sarana-prasarana, serta promosi terutama obyek-obyek yang belum berkembang. Kata Kunci: Ekowisata, Taman Nasional, Gunung Rinjani Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP KONDISI BIOFISIK KAWASAN DAN SOSEKBUD MASYARAKAT SEKITAR TAMAN NASIONAL KOMODO/ Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 31-41 , 2006 Untuk menunjang kegiatan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo, pihak pengelola melakukan pengembangan obyek wisata alam. Pengembangan ini setidaknya akan menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif, sehingga perlu dilakukan kajian pengembangan obyek wisata tersebut. hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Kegiatan ekowisata di Loh Liang dan Loh Buaya antara lain pengamatan satwa liar, pendakian dan penjelajahan, photo hunting dan video shooting, menyelam dan snorkling, dan atraksi budaya tradisional; (2) Untuk meningkatkan minat pengunjung datang ke lokasi ekowisata, salah satu yang dilakukan oleh pengelola adalah

pembangunan sarana prasarana pendukung; (3) kondisi sosekbud masyarakat di Desa Komodo dan Desa Pasir Panjang, sebagian besar nelayan. Di Desa Komodo ada perubahan mata pencaharian dari nelayan ke pengrajin/penjual souvenir komodo; (4) Pihak yang merasakan manfaat ekonomis dari kegiatan ekowisata adalah pihak pengelola (TN Komodo), Pemda setempat (Kabupaten dan Provinsi), pemilik hotel, pemilik restoran, penyewaan boat, perusahaan dive, guide, perusahaan penerbangan, pedagang souvenir, kios/warung, angkutan, agen travel, dan money changer; (5) Dampak ekologis dari ekowisata berupa perubahan perilaku terhadap beberapa jenis satwa liar seperti komodo, rua, dan babi hutan, serta adanya ekspansi jenis kaktus. Kata kunci: Taman Nasional Komodo, Ekowisata, Pengembangan, Dampak, Sosekbud masyarakat

Koeslulat, Ermi E PELUANG PENGEMBANGAN LEBAH HUTAN MELALUI BUDIDAYA SISTEM KEREK / Ermi E Koeslulat. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 41-45 , 2006 Madu lebah hutan merupakan salah satu produk hasil hutan non kayu andalan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Timor. Selama ini usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas madu hutan belum dilakukan secara serius. Salah satu usaha peningkatan produktivitas adalah dengan melakukan uji coba teknis budidaya lebah hutan dengan sistem kerek di mana prinsipnya menyediakan tempat bersarang dengan kayu yang dapat dinaik-turunkan. Maksud diterapkannya teknik ini adalah agar dapat dilakukan panen sunat sehingga intensitas pemanenan dapat ditingkatkan. Meskipun hasil yang diperoleh belum menggembirakan namun berdasarkan pengalaman pemanenan diperoleh keuntungan lain seperti panen dilakukan pada siang hari dan terbuka bagi setiap orang karena tidak diperlukan keahlian memanjat. Walaupun hal tersebut bukan permasalahan pokok bagi masyarakat, namun hal ini dapat memberikan pengalaman berharga bagi masyarakat. Terlepas dari kelemahan teknik ini, penerapan sistem kerek ini memiliki peluang untuk dikembangkan mengingat adanya faktor-faktor yang mendukung seperti masih terdapatnya pohon lebah tinggi, minat masyarakat yang cukup besar, kemudahan pemeliharaan, pasaran madu yang selalu terbuka, dan sebagainya. Kata kunci: Lebah hutan, Lebah, Peluang, Sistem kerek, Budidaya

21

Komala KERAGAMAN PENOTIPA Agathis borneensis Warb. ASAL SIPAGIMBAR DI AEK NAULI SUMATERA UTARA (Phenotypic Variation of Agathis borneensis Warb. of Sipagimbar at Aek Nauli North Sumatera / Komala; Aswandi; Rusli M.S Harahap; dan Edi Kuwato. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 213-217 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi penotipa Agathis borneensis Warb. asal Sipagimbar yang ditanam di arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera di Aek Nauli. Keragaman penotipa yang diamati adalah tinggi total, diameter batang dan cabang, sudut cabang, panjang internoda, lebar tajuk, panjang dan lebar daun dari dua warna pucuk agathis yang telah berumur 7 tahun. Sumber benih berasal dari tegakan alami agathis di Sipagimbar, Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Analisis ragam terhadap sepuluh sampel dari masing-masing warna pucuk (hijau dan cokelat kemerahan) mengindikasikan terdapat perbedaan dalam ukuran tinggi total, diameter dan sudut cabang, jarak internoda, dan lebar tajuk. Sedangkan diameter batang dan lebar daun tidak berbeda antar kedua warna pucuk. Diduga terdapat dua jenis populasi alami agathis di Sipagimbar. Penelitian anatomi dan karakteristik kayu sebaiknya dilakukan apabila dua populasi tersebut mengindikasikan spesies atau varietas yang berbeda dan disarankan penanaman agathis secara in-situ di Sipagimbar. Kata kunci : Agathis borneensis Warb., keragaman penotipa, konservasi Kosasih, A.Syafari PENGARUH MEDIUM SAPIH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Shorea selanica BI DI PERSEMAIAN (The effect of Growing Medium to the Growth of Shorea selanica BI. Seedling at Nursery/ A. Syafari Kosasih; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.2 ; Halaman 147 - 155 , 2006 Medium sapih adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk memperoleh bibit yang berkualitas dalam waktu singkat. Oleh karena itu dalam mempersiapkan medium sapih perlu diperhatikan unsur hara yang tersedia dalam medium tersebut sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan optimal. Penelitian dilakukan di persemaian Hutan Penelitian Carita, Provinsi Banten dengan metode rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan

medium. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, setiap ulangan terdiri dari 50 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan medium sapih campuran tanah dan kompos dengan volume 4 : 1 memberikan respon yang terbaik pada persen jadi, pertumbuhan tinggi, dan diameter bibit Shorea selanica Bl. sampai umur enam bulan di persemaian. Kata kunci : Medium sapih, Shorea selanica Bl., pertumbuhan bibit Kuntadi TEKNOLOGI PENGELOLAAN LEBAH HUTAN Apis dorsata / Kuntadi. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 49-55 , 2006 Lebah hutan Apis dorsata adalah salah satu jenis lebah madu yang penyebarannya meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun lebah madu ini tergolong jenis liar yang tidak dapat dibudidayakan, namun termasuk yang paling potensial sebagai penghasil madu karena produktivitasnya yang sangat tinggi. Sampai saat ini lebah hutan adalah andalan utama penghasil madu di Indonesia. Permasalahan pokok dalam pengembangan lebah hutan adalah kerusakan habitat A. dorsata akibat tingginya laju deforestasi di Indonesia. Teknik pemanenan madu yang tidak berazaskan kelestarian juga merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup lebah hutan. Permasalahan lain yang tidak kurang pentingnya adalah kualitas madu lebah hutan yang rendah akibat pemanenan dan penanganan pasca panen yang kurang baik. Rehabilitasi hutan dan perbaikan teknik pengelolaan lebah hutan adalah upaya terbaik untuk memulihkan potensi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas produk lebah hutan. Teknologi pengelolaan A. dorsata yang meliputi teknik pengembangan sarang buatan dan teknik pemanenan dibahas dalam makalah ini. Kata Kunci: Lebah hutan, Apis dorsata, Madu Kuntadi PAKAN BUATAN UNTUK LEBAH MADU / Kuntadi. -- Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 149-154 , 2006 Sumber pakan utama lebah madu adalah nektar dan tepungsari (pollen) yang dihasilkan dari bunga tanaman. Masa pembungaan tanaman yang umumnya

22

bersifat musiman menyebabkan pada periode tertentu lebah madu mengalami krisis makanan. Kondisi demikian mengakibatkan penurunan populasi koloni. Kekurangan makanan tidak jarang juga menyebabkan hijrahnya koloni. Pemberian makanan buatan adalah salah satu alternatif cara mempertahankan koloni lebah madu , terutama dalam kondisi langka bunga. Makanan buatan terdiri dari makanan pengganti nektar dan makanan pengganti tepungsari. makalah ini membahas cara pembuatan dan pemberian makanan buatan untuk lebah madu yang dibudidayakan. Kata Kunci: Pakan buatan, Lebah madu Kurniadi, Rahman KAJIAN PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN HUTAN SEBAGAI EKOWISATA DI RIUNG / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 43-53 , 2006 Sampai saat ini sektor kehutanan telah menjadi perhatian banyak pihak karena keterkaitannya dengan banyaknya penduduk miskin di sekitar areal hutan. menurut data Potensi Desa (2003) dalam Ediawan (2005) desa yang berada di dalam dan di sekitar hutan lebih tertinggal dibandingkan dengan desa di luar hutan. Untuk membantu menganalisis permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui manfaat hutan sebagai ekowisata di Taman laut 17 Pulau Riung yang diperoleh masyarakat dan berupaya meningkatkannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi saat ini menfaat yang diterima masyarakat belum optimal. Untuk meningkatkan manfaat tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan arus kunjungan wisata ke Riung. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi dan meningkatkan sarana dan prasarana rekreasi di Riung. Hasil penelitian juga diperoleh fakta bahwa pemanfaatan hutan sebagai obyek ekowisata di Riung memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat dibandingkan pemanfaatan dalam bentuk lainnya. Disamping keuntungan ekologi, masyarakat sekitar obyek ekowisata di Riung memperoleh manfaat ekonomi. Kata kunci: Ekowisata, Pemanfaatan hutan, Riung, Manfaat ekologi, Manfaat ekonomi

Kurniadi, Rahman UPAYA PELESTARIAN PENYU DI BALI / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 55-62 , 2006 Penyu merupakan salah satu hewan langka dilindungi.Beberapa jenis penyu bahkan telah masuk ke dalam daftar Lampiran (Appendix I) Convention on International Trade of Endangered Species tahun 1978 (CITES). Sementara itu Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan guna melestarikan penyu. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan acuan untuk melestarikan penyu di daerah lain. hasil penelitian menunjukan bahwa berbagai upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali antara lain dengan pembentukan Peraturan Daerah, sosialisasi peraturan perundangan, penegakan hukum, penggantian daging penyu dengan daging babi, penggunaan teknologi penangkaran, pelibatan masyarakat dalam penangkaran penyu, dan pelibatan lembaga swadaya masyarakat. Kata kunci: Penyu, Pelestarian, Hewan langka, Satwa langka, Bali Kurniadi, Rahman TEKNOLOGI DAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI KAWASAN MUTIS / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 47-53 , 2006 Kawasan konservasi merupakan kawasan yang memperoleh perlakuan khusus karena kepentingan perlindungan sumberdaya alam. Segala kegiatan yang dilakukan di kawasan konservasi diatur oleh perundang-undangan. Namun demikian segala peraturan perundang-undangan tersebut tidak dapat menangkal kerusakan areal konservasi. Beberapa kawasan sangat rawan terhadap gangguan. Kawasan Cagar Alam Mutis dan Hutan Lindung Timau misalnya, sangat rawan terhadap gangguan ternak, pertambangan dan berbagai gangguan lainnya. Penelitian ini bertujuan memperoleh bentuk kelembagaan social forestry di kawasan Mutis dan memperoleh teknologi social forestry di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk social

23

Kata kunci: Kelembagaan. 2006 Keadaan iklim yang sangat kering dan jenis tanah yang miskin merupakan suatu kendala besar dalam pengembangan rotan secara luas di Nusa Tenggara Timur. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat dan stakeholder terkait yang dianalisis dengan tabel frekuensi dan sistem Analytic Hierarchy Process (AHP). Nasional Bukit Tigapuluh Taman Potencies and Institution Roles in The Bukit Tigpuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda.339 dan 0. Jenis introduksi Kuswanda. mulai dari pembibitan hingga pengembangannya di lapangan. Persepsi masyarakat tergolong positif meskipun interaksi terhadap kawasan TNBT masih cukup tinggi. dan memberikan bantuan modal. No. Abdulah Syarief Mukhtar.III. persepsi. dan interaksi) masyarakat dan peranan kelembagaan dalam pengelolaan zona penyangga TNBT. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan perlakuan dilakukan uji beda nyata taraf 5 persen. Pada pengamatan II diketahui bahwa spesies. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi (karakteristik.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Parameter pengamatan adalah tinggi anakan rotan yang diukur dari permukaan media tumbuh semai sampai dengan titik tumbuh semai. spesies dan pupuk terhadap diameter serta pupuk dan blok terhadap jumlah daun. Kata kunci: Zona penyangga. peningkatan sumberdaya manusia dan ekonomi sebagai prioritas lembaga masyarakat lokal (0. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan blok. Halaman 147-159 . suku Melayu. Hasil penelitian menunjukan pada pengamatan I hanya spesies dan media yang memiliki pengaruh nyata terhadap tinggi. Teknologi. Program pemberdayaan lembaga masyarakat lokal dapat dilakukan dengan membuat kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. pupuk dan media berpengaruh nyata terhadap tinggi. -. Oleh karena itu diperlukan pendampingan untuk membentuk kelembagaan social forestry yang mandiri dan untuk meningkatkan kemampuan teknis serta motivasi masyarakat dalam memelihara tanaman. Kata kunci: Rotan.462).forestry di kawasan tersebut belum sesuai dengan kondisi ideal. dan pemantauan pengelolaan daerah penyangga sebagai prioritas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (0. artinya 33. 2006 . Halaman 459 475 .421. Peranan kelembagaan dalam penataan batas dan ruang serta perlindungan taman nasional merupakan prioritas program Balai TNBT (nilai = 0. Budidaya. Hery BUDIDAYA ROTAN DENGAN BEBERAPA JENIS INTRODUKSI DI PULAU TIMOR / Hery Kurniawan. 2006 Keberadaan masyarakat di sekitar zona penyangga akan mempunyai interaksi dan berpengaruh terhadap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). peranan kelembagaan. beragama Islam. persepsi.4 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik budidaya rotan di Pulau Timor melalui teknik silvikultur yang tepat. Kegiatan penelitian ini meliputi kegiatan di lingkup persemaian dalam rangka mendapatkan teknik budidaya yang paling tepat untuk memperoleh paket teknologi peningkatan produktivitas dan kualitas rotan. Social forestry. blok terhadap diameter serta spesies dan blok terhadap jumlah daun.1% hal tersebut dinilai responden sebagai peranan Balai TNBT). dan bekerja sebagai petani.Jurnal 24 . -. diamter semai dan jumlah helaian daun tanaman semai di lapangan. Mutis Kurniawan. Karakteristik masyarakat sebagian besar merupakan penduduk asli. Di samping itu teknologi social forestry yang dimiliki masyarakat belum mampu untuk membangun hutan.9 % dan 42. pelatihan. Wanda POTENSI MASYARAKAT DAN PERANAN KELEMBAGAAN DI ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Community Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.315).

mulai dari perencanaan hingga pemungutan hasil hutan melalui suatu wadah atau organisasi yang dibentuk yaitu Koperasi Peran Serta Masyarakat Adat (KOPERMAS) yang bergerak di sektor kehutanan. masyarakat adat terlibat secara langsung dalam pengelolaan hutan.7 % hal tersebut dinilai sebagai penghambat pengembangan kelembagaan zona penyangga) dan tingkat ekonomi dan peranserta masyarakat yang masih rendah (0. -. Halaman 249 . Jambi Province) / Wanda Kuswanda. meningkatkan kapasitas dan wawasan sumberdaya manusia. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 127-135 . Data dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama adalah kurang jelasnya batas dan fungsi zona penyangga (nilai = 0. No. 2006 Pengelolaan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) belum optimal karena kurangnya koordinasi dan sosialisasi antar lembaga terkait. Kata kunci : Faktor penghambat.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.289).504 .of Land-Use by Communities in Buffer Zone. Wanda POLA PEMANFAATAN LAHAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemilikan dan pola pemanfaatan lahan di Zona Penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. rasionalisasi. Koperasi ini menggunakan konsep kemitraan antar pengusaha mapan dengan masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya alam guna meningkatkan taraf hidup masyarakat pemilik hak adat dan hak ulayat. selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan tabel frekuensi. zona penyangga. strategi. PROVINSI JAMBI (The Patern Informasi pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal merupakan aspek penting yang harus diketahui di dalam menyusun rencana pengelolaan zona penyangga di taman nasional. Masyarakat di lokasi penelitian (Desa Lubuk Kambing dan Sungai Rotan) secara umum menggarap lahan pribadi/hak milik dengan luas rata-rata sekitar 3 ha/responden yang berasal dari membuka hutan 35 %. Semua penilaian Analytic Hierarchy Process (AHP) responden diolah dengan sistem 25 .436). pertanian (ladang dan sawah) dan keperluan lainnya (pekarangan rumah dan jalan). No. Program yang dapat dikembangkan di antaranya adalah mendayagunakan Badan Pengelola Multi Stakeholder (BPMS). Halaman 491 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang faktor penghambat utama dan strategi untuk mengembangkan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya alam di zona penyangga TNBT.241).5 .323). 2006 Kuswanda. Oleh karena itu pengelolaan hutan di Papua dewasa ini memasuki era baru. menyatakan bahwa hutan merupakan sumber pangan dan protein selain sebagai sumber kayu dan pengakuan hak masyarakat adat atas suatu kawasan hutan. artinya 35. dan pengamatan secara deskriptif. warisan orang tua 8. Bukit Tigapuluh National Park. Alternatif strategi untuk mengembangkan kelembagaan adalah pembinaan dan pemberdayaan berbagai stakeholder terkait (0.258 .3 . Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner untuk masyarakat dan stakeholder.33 %) dan dikonsumsi (20 %). -. Wanda STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Strategies on Institutions Development of Bukit Tigapuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda dan Abdullah Syarief Mukhtar. Namun peraturan perundangundangan dan petunjuk pelaksanaan yang dikeluarkan dalam mendukung pelaksanaan pengelolaan hutan oleh masyarakat cenderung tidak jelas dan tidak konsisten. penataan kembali status dan peruntukan lahan untuk kawasan lindung dan budidaya di daerah penyangga (0. stakeholder Kuswandi. dan lainnya.33 %.III. rasionalisasi batas kawasan dan zonasi TNBT. Kata kunci : Pemanfaatan lahan. Pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal untuk areal perkebunan. zonasi.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Oleh karena itu perlu adanya peraturan daerah yang mempertimbangkan unsur perpaduan antara hukum adat dan hukum formal yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya hutan KOPERMAS yang diharapkan Kuswanda. Taman Nasional Bukit Tigapuluh menggunakan program expert choice dan Microsoft Excel. Hasil pengelolaan lahan dimanfaatkan untuk dijual (48. Relawan MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT ADAT DI PAPUA / Relawan Kuswandi dan Pudja Mardi Utomo. wawancara. 2006 Paradigma baru pembangunan kehutanan (khususnya di Papua) yang mengarah kepada keberpihakan terhadap masyarakat sekitar hutan.357.III. dan menciptakan kesempatan usaha pada masyarakat (0.

) Gaudich. Data yang dikumpulkan meliputi data kondisi fisik.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). sehingga bisa menjadi dasar bagi pengelolaan TNBT selanjutnya.17 sampai dengan 3.) Gaudich. berdasarkan parameter fisik. Dalam unit prosesing serat. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. Kondisi vegetasi diperoleh melalui analisis vegetasi pada setiap zona. Ditinjau dari prospek agribisnis. baik yang dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. dan daerah penyangga. Halaman 239-249. kemampuan. No. pupuk organik cair. Empat kriteria zona TNBT telah sesuai dengan kriteria yang dimaksudkan dalam Peraturan Pemerintah No. Usulan indikator untuk masing-masing zona adalah zona inti 26 . dan primata. Model pengelolaan hutan yang dianggap mudah dan dapat diterapkan adalah model pengelolaan hutan dalam skala kecil dengan berorientasi pada industri pengolahan kayu. -. di samping serat sebagai produk utama. dan sosial ekonomi. hasil hutan kayu dan non kayu Kwatrina. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan kriteria dan indikator yang tepat dalam penetapan zonasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan.) Gaudich. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. -. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yaitu zona inti.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kata Kunci: Sumberdaya Hutan. serat.5 . baik dalam penyiapan lahan.71. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. china grass.000-5. Ditinjau dari aspek teknis. No. dan enam jenis primata yang dijumpai di zona-zona tersebut.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L. zona rimba.Info Hutan : Vol.3 . 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L. Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan dengan penyebaran kuesioner pada responden sebanyak 66 responden yang ada di zona penyangga dan tradisional TNBT. Kegiatan perekonomian masyarakat terutama berupa usaha pertanian ekstensif dan pemungutan hasil hutan. sedangkan pengamatan satwaliar dilakukan dengan metode perjumpaan pada kelas aves. dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. 11 jenis mamalia.606 . Selama ini pengelolaan hutan ulayat pada kenyataannya lebih banyak digunakan oleh pihak investor sebagai mitra kerja.000 ha dengan jangka waktu pengelolaan antara 10-20 tahun dan menggunakan sawmill portable atau chain saw. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. Sistem silvikultur yang digunakan adalah sistem silvikultur TPTI modifikasi yang disederhanakan tetapi tetap mengacu pada prinsip pengelolaan hutan lestari. dan konsentrat pakan ternak. Hal ini disebabkan oleh karena rendahnya tingkat pengetahuan. mamalia. baik IUPHHK maupun non IUPHHK sebagai prasyarat legalitas untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan.III. social forestry. Rozza Tri KRITERIA DAN INDIKATOR PENETAPAN ZONASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Criteria and Indicator of Appointed Bukit Tigapuluh National Park Zones) / Rozza Tri Kwatrina dan/and Abdullah Syarief Mukhtar. zona pemanfaatan intensif. Terdapat 17 jenis aves. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. dan fasilitas yang dimiliki oleh masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. biotik. biotik. Untuk itu perlu adanya suatu model pengelolaan hutan yang sesuai dengan kondisi masyarakat adat di Papua. Kata kunci : Agroforestry haramay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan pada zona-zona yang diamati mempunyai indeks keanekaragaman jenis tumbuhan secara keseluruhan berkisar antara 2.dapat meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat adat. Halaman 585 . Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. Yamin Mile.. Masyarakat Adat. pengembangan teknologi tepat guna. Papua Mile. Luas areal konsesi antara 1.III.

10. Kegiatan illegal logging memberikan dampak yang multidimensi pada berbagai sendi kehidupan masyarakat.5 persen). Masyarakat sekitar hutan pada umumnya memiliki bentuk aktivitas tradisional pertanian ladang sebagai pilihan utama yang dilakukan setiap tahun guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. 2006 . indikator Lestari. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.Sri ILLEGAL LOGGING DAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Sri Lestari.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Daerah M Hidayatullah PEMBANGUNAN KEBUN KONSERVASI EX-SITU CENDANA DI PULAU TIMOR / M Hidayatullah.sebanyak 13 indikator. Halaman 77-84 . Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari bebagai pihak.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.8 juta hektar per tahun (WWF. Kata kunci: Wallaceae.Dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1998. zona pemanfaatan tradisional 10 indikator. zona rimba lima indikator. Untuk menunjang kegiatan tersebut maka diperlukan 27 . Bismark DIMENSI BIODIVERSITAS AVIFAUNA ENDEMIK WALLACEAE SUB KAWASAN NUSA TENGGARA / M. mendorong masyarakat untuk melakukan pembukaan hutan. Masyarakat sekitar hutan M. Burung endemik Nusa Tenggara mempunyai tingkat keterancaman populasi tinggi sehubungan dengan luasnya kawasan hutan yang menjadi kawasan konservasi (di Nusa Tenggara barat 5. Semakin berkembangnya kehidupan dan bertambahnya kebutuhan hidup keluarga. yaitu meningkatkannya tingkat ketergantungan masyarakat. zona pemanfaatan intensif lima indikator. kriteria. Halaman 107-114 . Dengan adanya sebaran alami yang luas serta lokasi yang kontinyu seperti kepulauan. variasi genetiknya diharapkan sangat banyak. akan tetapi belum memberikan dampak yang nyata terhadap pengurangan laju deforestasi hutan. 2006 Kegiatan konservasi ex-situ merupakan konservasi komponen keaneragaman hayati di luar habitat alaminya. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. 2006 Kegiatan illegal logging yang terjadi di Indonesia mengakibatkan kerusakan hutan semakin meningkat. mulai dari tingkat pusat sampai ke level masyarakat (multi stakeholders) dan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar hutan agar upaya peningkatan pembangunan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. Biodiversitas Endemik. -. Saat ini areal hutan Indonesia yang rusak telah mencapai luasan 43 juta hektar dengan laju kerusakan hutan 1. kegiatan ini dapat dilakukan pada cendana karena memiliki siklus hidup yang relatif panjang maka prosedur yang lazim digunakan dalam pengembangannya adalah dengan cara menanam tanaman tersebut di lokasi yang telah direncanakan. -. dan daerah penyangga sebanyak 13 indikator. rehabilitasi lahan. Bismark. Sosial ekonomi.2 persen adalah jenis endemik Nusa Tenggara. kegiatan perambahan hutan dan illegal logging oleh masyarakat semakin merata. pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di daerah penyangga kawasan konservasi. Upaya penanggulangan illegal logging telah banyak dilakukan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 . 2006 Kepulauan Nusa Tenggara sebagai sub kawasan Wallaceae mempunyai keanekaragaman jenis avifauna yang tinggi. Rehabilitasi lahan.8 persen dan Nusa Tenggara Timur 8. Kata kunci: Taman Nasional Bukit Tigapuluh. penyangga. zonasi. zona rehabilitasi lima indikator. putusnya hubungan emosional masyarakat lokal dengan lingkungan dan bergesernya kegiatan perekonomian masyarakat sekitar hutan yang semula berladang menjadi kegiatan industri. serta pengendalian perburuan dan perdagangan burung. Kata Kunci: Illegal logging. -. Avifauna. Pelestarian populasi burung endemik Nusa Tenggara di alam dapat dipertahankan dengan meningkatkan perlindungan dan perluasan kawasan konservasi. 2003). Halaman 125-135 . Dari 697 jenis burung Walaceae. Dengan model variasi genetik yang berhubungan dengan daerah asal (provenans) yang banyak inilah diharapkan dapat dilakukan seleksi provenans yang terbaik dengan uji provenans serta kegiatan-kegiatan pemuliaan lebih lanjut untuk memperoleh kebun klon cendana yang memiliki sifat genetik unggul.

Kata kunci : Identifikasi. pemberdayaan ekonomi masyarakat. Fakta menunjukan 28 . pada zona pemanfaatan adalah berkisar antara 3.78-25.rehabilitasi dan pemanfaatan. Frekuensi relatif dan Indeks Nilai Penting (INP) dari 16 jenis pada zona rimba adalah berkisar antara 2. pengelolaan potensi kawasan. serta sebagai kawasan pemanfaatan secara lestari potensi sumberdaya alam dan ekosistemnya. dan 5. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .55-26.11 dan 4. -. Halaman 41-53 .984 ha dan Cagar Alam Kelimutu 16 ha. khususnya dalam kaitan alternatif obyek wisata. pengelolaan potensi kawasan. 2006 Taman Nasional (TN) Kalimutu yang luasnya 5. pengembangan dan pemanfaatan.78-11. Jenis burung. pembangunan integrasi dan koordinasi. Bali Barat Martin. Partisipasi masyarakat. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. pemuliaan potensi jalak bali. penyusunan rencana pembangunan sarana-prasarana.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Pendekatan yang dilakukan adalah inventarisasi dan identifikasi burung dan interaksinya dengan habitatnya.11. dan pengelolaan potensi wisata. -.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Ekosistem. mempunyai potensi flora dan fauna yang cukup beragam. Taman Nasional Kelimutu Marbawa. Kata kunci: Cendana.08-24. dan kerjasama pengelolaan wisata alam. dukungan iptek sangat diperlukan antara lain: sosial ekonomi. Untuk mencapai fungsi dan tugas pokoknya. Social forestry bukan hal baru di Indonesia. kegiatan pengelolaan Taman Nasional Bali Barat yang saat ini dilakukan meliputi pemantapan kawasan. sehingga dapat dilakukan kegiatan konservasi insitu untuk kepentingan kegiatan konservasi ex-situ sebelum punah. sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan kawasan. dengan metode titik hitung dan garis transek.38 serta pada zona rehabilitasi adalah berkisar antara 3. pengelolaan penelitian dan pendidikan. I Ketut Catur KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / I Ketut Catur Marbawa. Taman Nasional Bali Barat adalah salah satu kawasan pelestarian jalak bali. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan tersebut. ditetapkan berdasarkan SK Menhut No.92-7. Penelitian ini bertujuan untuk jenis dan sebaran burung pada zona-zona di kawasan TN Kelimutu. terdiri dari kawasan Taman Wisata Kelimutu 4.Khusus untuk sosial budaya masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan lokal dan global dengan pengembangan partisipasi masyarakat lokal yang berbasis konsep budaya tradisional seperti Tri Hita Kirana. pengelolaan wisata alam. Pembangunan.33-13. Konservasi.33. -. teridentifikasi 22 jenis burung pada zona rimba. Hasil pengamatan menunjukkan. 279/Kpts-II/1992. Ex-situ cendana M Hidayatullah IDENTIFIKASI RAGAM JENIS BURUNG DI KAWASAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU ENDE / M Hidayatullah. Halaman 157-180 . Edwin PERFORMANSI PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN BERBASIS SOCIAL FORESTRY DI PROVINSI JAMBI / Edwin Martin dan Bondan Winarno. IPTEK. Kata kunci: Taman Nasional.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.inventarisasi sebaran alami cendana di alam.000 ha. 2006 . 2006 Secara umum pengelolaan taman nasional mempunyai tiga fungsi pokok yaitu: sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan. 2006 Social forestry diharapkan menjadi alternatif solusi pengelolaan kawasan hutan di Indonesia.65 dan 5.56. Halaman 199-204 . Agis Nursyam S dan Kayat.

pupuk organik cair. dan konsentrat pakan ternak. Kata Kunci: Social forestry.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 57-68 . Jambi Ma'ruf. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teknologi dan kelembagaan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi.III.bahwa ada keragaman inisiatif dan pendekatan yang sudah dikembangkan dengan hasil yang bervariasi. Peran serta masyarakat dan berbagai pihak yang terkait. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. Hasil penelitian penunjukan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi menggunakan pola pendekatan yang berbeda. Dalam unit prosesing serat. terutama tergantung pada kawasan hutan fungsi mana social forestry tersebut diterapkan.) Gaudich.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M. Kalimantan Timur Mile. -.) Gaudich. Ditinjau dari aspek teknis. Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal telah dan sedang mengaplikasikan varian social forestry adalah provinsi Jambi. Upaya penangkaran rusa mempunyai potensi yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat selain sumber protein hewani lain yang sudah umum. Selain itu juga akan mengurangi perburuan liar oleh manusia serta salah satu upaya untuk melestarikan plasma nutfah hewani di Indonesia. dan pasca kegiatan merupakan cara yang efektif untuk membangun kelembagaan dan kemandirian masyarakat dalam program social forestry.3 . Kata Kunci: Rusa sambar.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L. khususnya Kalimantan Timur. baik yang 29 . baik dari segi teknis pelaksanaan maupun penyiapan kelembagaannya. di samping serat sebagai produk utama. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. Cervus unicolor. Teknik konservasi maupun penangkaran satwa bernilai ekonomi tinggi ini perlu untuk selalu ditingkatkan sehingga pemanfaatannya dapat diusahakan secara lestari. No. baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya merupakan modal penting untuk tercapainya tujuan tersebut di atas. pengembangan teknologi tepat guna. baik dalam penyiapan lahan.) Gaudich. Tri Atmoko. dan Ismed Syahbani. -. pelaksanaan kegiatan.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). Kawasan hutan. Amir TEKNOLOGI PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DI DESA API-API KABUPATEN PANAJAM PASER UTARA KALIMANTAN TIMUR / Amir Ma'ruf.. Teknologi penangkaran. baik informasi maupun produk harus dibuat dengan baik sehingga budaya masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu tersebut dapat lestari. Ditinjau dari prospek agribisnis. Pengelolaan hutan. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. pakan. Api-api. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. 2006 Rusa sambar (Cervus unicolor) adalah salah satu dari empat jenis rusa di Indonesia yang sudah dilindungi undang-undang dan jumlah populasinya terus berkurang akibat perburuan liar dan semakin tingginya degradasi habitat. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. mengingat orientasi pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat ini merupakan paradigma baru bagi pemerintah (Departemen Kehutanan). Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. kesehatan. Teknik pemeliharaan. Pendampingan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dari mulai identifikasi potensi masyarakat. penanganan. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu. Yamin Mile. baik dalam tingkat kecil (rumah tangga) maupun tingkat besar (peternakan). perkandangan.Info Hutan : Vol. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. perencanaan kegiatan. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. Satu hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah teknik pengemasan. dan pemanfaatan harus disosialisasikan ke masyarakat untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman penangkaran. Panajam Paser Utara. Aplikasi bentuk-bentuk social forestry pada beragam kawasan cukup penting untuk dipelajari. Halaman 239-249. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L.

Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. No. Menurut data dari BPS (2001).dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Halaman 229-238.. Pogostemon cablin Benth. agribisnis. share learning. minyak atsiri Mindawati. serat. social forestry. Australia. Kata kunci: Agroforestry berbasis nilam.200-1.400 ton/tahun dan setiap tahun meningkat mencapai 5-10 %. Sepuluh hutan penelitian telah dibangun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam sejak lembaga ini bernama Bousbouw Proefstation. sehingga keberadaannya perlu di jaga dan dilestarikan Kata kunci: Hutan penelitian Muchtar. Agroforestry nilam adalah suatu model 30 . Nina SEKILAS TENTANG HUTAN PENELITIAN / Nina Mindawati. 2006 Hutan Penelitian merupakan faktor penunjang yang sangat penting dalam rangka peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan hutan secara nasional khususnya sebagai tempat melakukan dan menghasilkan teknologi (IPTEK) bagi kemajuan ilmu pengetahuan. social forestry. 2005 : Halaman 1-12 . pembuatan perangkat hukum secara bersama. dan wisata bagi masyarakat. -Info Hutan : Vol. M Yamin KAJIAN TEKNIS PENGEMBANGAN SOCIAL FORESTRY DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM (Technical Analysis of Social Forestry Development Through Nilam Agroforestry Model) / M.3 .Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 137-148 . -. koleksi. baik untuk kosumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. Minyak atsiri yang berasal dari nilam digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik. Kondisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi nilam. 2006 Pola pengelolaan Taman Nasional yang dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi saat ini seperti perambahan kawasan memerlukan pendekatan melalui sistem zonasi yang ditentukan bersama dengan berbagai pihak dengan dasar prinsip kolaborasi. Abdullah Syarief STATUS RISET DALAM PENGUATAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU DAN TAMAN NASIONAL KOMODO / Abdullah Syarief Muchtar. Saat ini keberadaan hutan penelitian semakin diperlukan karena selain untuk penelitian juga digunakan untuk pendidikan. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. khususnya di Jawa barat. Oleh karena itu pola agroforestry nilam memperlihatkan prospek agribisnis yang cukup baik sehingga sangat sesuai untuk dijadikan salah satu model dalam kegiatan social forestry. Uni Eropa.III. Kata kunci : Agroforestry haramay. Pembuatan zonasi sebelumnya hanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah. saat ini perlu dilakukan secara bersama dengan masyarakat dan para pihak lainnya. Indonesia mengekspor minyak atsiri ke lebih dari 25 negara seperti Amerika Serikat. pada tahun 1937. Pengembangan social forestry dengan model agroforestry nilam akan meningkatkan nilai produk kayu. Jepang. hasil hutan kayu dan non kayu Mile. Timur Tengah. Yamin Mile. diproyeksikan bahwa konsumsi minyak atsiri dunia mencapai 1. dan sebagainya. Nilam menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai nilai pasar tinggi dalam perdagangan internasional.). Oleh karena itu kegiatan social forestry dengan pola agroforestry nilam memberikan prospek yang baik dalam meningkatkan pendapatan petani secara nyata. -. membangun kapasitas kelembagaan dan administrasi secara berkala dan keadilan dan kepastian hukum yang jelas dan dapat dipatuhi atau diterapkan oleh para pihak yang berkolaborasi. Kanada. 2006 kombinasi antara tanaman pokok kehutanan dengan usaha tani nilam (Pogostemon cablin Benth. Adapun prinsip-prinsip kolaborasi yang harus dibangun bersama oleh pihak terkait adalah penataan ruang yang fleksibel. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan pola agroforestry nilam. sumber benih. china grass.

.) De Wit.) Steud). Leucaena leucocephala (Lamk. Perlakuan dasar yang digunakan adalah pemberian pupuk kandang dosis 4. Penanaman menggunakan sistem pertanaman lorong. turi. fisika tanah Narendra. temperatur. Halaman 173-180 . Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi pertumbuhan dan manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan sistem pertanaman lorong. Dengan menggunakan rancangan acak lengkap tersarang.Kata kunci: Kebijakan. Dari ketiga jenis tanaman lorong. dan tanaman penutup tanah rendah berupa sentro (Centrosema pubescens Benth. kimia tanah.) Poir). pertumbuhan.f. Zonasi. -. No. Demikian pula dengan sifat fisika tanah terjadi perbaikan pada permeabilitas. gamal. No. Taman Nasional Komodo. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. Salah satu metode yang banyak memberi manfaat dalam merehabilitasi lahan kritis adalah penggunaan sistem pertanaman lorong (alley cropping).) terhadap pertumbuhan tanaman pokok jati (Tectona grandis L.Info Hutan : Vol.3 . kadar air. gamal (Gliricidea sepium (Jacq. perlu dipertimbangkan untuk menanam ketiga jenis legum secara bersama dikombinasikan dengan sentro sebagai tanaman penutup tanah. sistem pertanaman lorong. Budi Hadi UJI COBA SISTEM PERTANAMAN LORONG DALAM REHABILITASI LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Trial of Alley Cropping system in Critical Land Rehabilitattion of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra.III. N total. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. diuji pengaruh tiga jenis tanaman lorong dari jenis legum yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala (Lamk. Halaman 225 . turi menghasilkan biomassa terbesar. namun untuk penganekaragaman manfaat yang diperoleh. Sesbania grandiflora (L. lamtoro.).) Pers. Respon yang diamati adalah pertumbuhan tanaman pokok dan biomassa hasil pangkasan ketiga jenis tanaman lorong. -. Jenis yang ditanam adalah tiga jenis tanaman penutup tanah tinggi yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk. Kebutuhan teknologi tepat guna untuk merehabilitasi lahan bekas tambang batu apung penting saat ini. turi (Sesbania grandiflora (L.). 2006 Dalam rehabilitasi lahan-lahan bekas tambang diperlukan teknologi yang efektif dan efisien. sistem pertanaman lorong.4 kg/m2 dan penggunaan tanaman penutup tanah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth.III.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. biomassa 31 .).235 . infiltrasi. dan KTK.3 . Hasil analisis tanah menunjukkan terjadi perbaikan sifat kimia tanah berupa meningkatnya kandungan bahan organik. 2006. Taman Nasional Kelimutu. Setelah enam bulan pengamatan. turi (Sesbania grandiflora (L. dan gamal (Gliricidia sepium Steud.). Kolaborasi Narendra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis tanaman legum penutup tanah terhadap perubahan kondisi kimia dan fisika tanah di lahan bekas tambang batu apung. dan bulk density.) dan mangga (Mangifera indica L. jenis legum. Variabel yang diamati adalah perubahan sifat fisika dan kimia tanah sebelum dan setelah diadakan penanaman.) Pers).) De Wit. hasilnya menunjukkan bahwa tanaman jati dan mangga memiliki kemampuan hidup dan tumbuh dengan baik dan antar jenis tanaman lorong belum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pokok. Budi Hadi PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS LEGUM TERHADAP KONDISI TANAH PADA AREAL BEKAS PENAMBANGAN BATU APUNG (Effect of Legume Species Planting on Soil Condition of the Area Formerly Used for Pumice Mining) / Budi Hadi Narendra dan Eka Multikaningsih. Gliricidia sepium Steud. diantaranya penggunaan tanaman penutup tanah dari famili legum yang terbukti dapat memperkaya hara tanah.

1 . khususnya di Ijobalit memiliki potensi dan produksi terbesar di Indonesia.30 . Gerson ND REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT BERBASIS SISTEM KALIWU DI PULAU SUMBA (The Study of Widhana Susila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama yang menyebabkan tumor buah pada pucuk tanaman adalah sejenis kutu dengan hama perantara lalat. Halaman 347-354 . Shorea leprosula Miq. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kaliwu berpeluang dikembangkan untuk rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air di Sumba. dan pengumpulan data sekunder. karena lahan telah mengalami kemunduran sifat fisika kimia tanahnya. I Wayan 32 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Keuntungan Critical Land Rehabilitation through the development of Kaliwu Based Community Forest in Sumba Island) / Gerson ND Njurumana.III.4 kg/m2 dapat diaplikasikan guna menambah kandungan bahan organik tanah.). 4 . 2006 Pengelolaan hutan yang menekankan eksploitasi menyebabkan meningkatnya luas lahan kritis dan degradasi ekosistem hutan secara menyeluruh. Serangan tumor buah dan tumor cabang menyebabkan tajuk meranggas dan kering akan tetapi tanaman tidak mati. -. pupuk kandang Ngatiman HAMA TANAMAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) / Ngatiman dan Armansyah. teknologi rehabilitasi lahan. wawancara. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Hama tanaman Njurumana. serangan tumor buah dan tumor cabang tidak menyebabkan kematian. Berdasarkan kemampuan hidup. Hal ini berdampak negatif terhadap daya dukung lingkungan dalam menunjang kebutuhan manusia. tanaman yang paling tepat digunakan sebagai penutup tanah adalah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. Keberadaan sistem kaliwu mampu menunjang tata air. -. mendukung pendapatan masyarakat dengan nilai NPV positif pada tingkat pengembalian modal lebih dari 12 % per tahun. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh alternatif rehabilitasi lahan dan konservasi melalui pengembangan hutan rakyat yang berbasis pada sistem social forestry murni masyarakat beserta kearifan lokalnya. Hama penyebab tumor batang dan jenis rayap belum teridentifikasi. tanaman penutup tanah. Penelitian ini menggunakan desain split plot.III. tumor cabang dan rayap. Kata kunci: Meranti merah. lahan kritis.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. 2006 Tambang batu apung di Lombok Timur.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. kemampuan menutup tanah dan biomassanya. No. Kata kunci : Bekas tambang batu apung. Peningkatan lahan kritis disebabkan kebakaran lahan dan hutan. Hanya vegetasi tertentu saja yang masih dapat dijumpai pada lahan tersebut. leprosula) dengan cara mengamati setiap individu tanaman di lapangan. Masyarakat menambang secara tradisional tanpa mengupayakan rehabilitasi dan konservasi tanah dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan intensitas serangan hama pada tanaman meranti merah (S. sedangkan serangan hama rayap mengakibatkan kematian. Penggunaan pupuk kandang dengan dosis 4. namun serangan rayap menyebabkan kematian.Narendra. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi dan teknologi budidaya jenis tanaman penutup tanah dan dosis pupuk kandang yang sesuai untuk rehabilitasi lahan kritis bekas tambang batu apung. Luas lahan kritis di Nusa Tenggara Timur mencapai 28 % dari total luas wilayah. Sedangkan di Pulau Sumba jumlah lahan kritis diperkirakan paling sedikit 32 % dari total luas daratan. Masing-masing kombinasi perlakuan ini diulang sebanyak 16 kali. keragaman jenis tanaman yang tinggi serta dukungan masyarakat. Budi Hadi TANAMAN PENUTUP LAHAN YANG SUSEAI PADA LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Cover Crop Species Trial on Critical Land of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra dan Syahidan. fragmentasi hutan akibat penebangan liar dan perladangan serta faktor alam yang kurang menunjang pertumbuhan tanaman. -. No. di mana tiga macam dosis pupuk kandang sebagai plot utama dan tiga jenis tanaman penutup tanah sebagai sub plot. Halaman 357 365 . 2006 Pada tanaman meranti merah (Shorea leprosula) umur 10 tahun lebih di lapangan terserang tumor buah. Metode pendekatan yang digunakan adalah observasi langsung terhadap karakteristik sistem kaliwu. Bekas tambang ini merupakan lahan terdegradasi yang dibiarkan saja menjadi lahan kritis dengan permukaan berlubang-lubang yang sebagian besar tidak dimanfaatkan lagi. Halaman 19 .

budaya. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Gerson ND PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN SISTEM IRIGASI SUBAK DI BALI / Gerson ND Njurumana. Kata kunci: DAS. Mamar sebagai salah satu bentuk kearifan lokal 33 . masyarakat sekitar hutan untuk membuat konsep pembangunan kehutanan secara bersama.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. I Wayan Widhiana S dan Tigor Butar-Butar. peguatan. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Kearifan lokal Njurumana. sehingga mendorong proses pembaruan. 2006 . kaliwu. -. rehabilitasi lahan. Multiguna. dan penyelarasan pengetahuan lokal dengan pengetahuan dari luar. 2006 Keberlanjutan sistem irigasi Subak di Provinsi Bali sangat ditentukan oleh berfungsinya komponen pendukung Subak. Subak. Kata kunci: Agroforestry.pengembangan sistem kaliwu adalah diperolehnya landasan pengelolaan lahan kritis dan konservasi yang berbasis lokal (mengakomodir karakteristik wilayah. Pengelolaan. Di pihak lain. Penguatan kelembagaan subak dalam membangun keterpaduan dalam pengelolaan mulai dari wilayah hulu. baik pusat atau daerah. pemulihan lahan kritis tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan teknis dan sektoral semata. Bali Njurumana. Kata kunci : Sistem kaliwu.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. sosial budaya. tengah dan hilir merupakan salah satu pilar pendukung keberlanjutan sistem irigasi tersebut di masa mendatang. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Karena itu upaya pengendalian dan rehabilitasi lahan kritis perlu melibatkan seluruh pihak termasuk aktor dari kegiatan degradasi lahan. Sistem-sistem tersebut adalah merupakan kearifan lokal yang dapat dikembangkan untuk daerah-daerah yang dekat pemukiman. -. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan khususnya rehabilitasi lahan dan lingkungan diletakkan atas dasar pengetahuan masyarakat lokal. mamar. penggerakan. Halaman 1-11 . Gerson ND PEMANFAATAN HUTAN SECARA ARIF DAN BIJAKSANA / Gerson ND Njurumana. dan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan. salah satunya adalah kearifan lokal. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . 2005 : Halaman 111-122 . Irigasi. baik komponen internal maupun komponen eksternal. konservasi dan hutan rakyat Njurumana. 2006 Perubahan paradigma pembangunan kehutanan yang sebelumnya berbasis hanya untuk pemanfatan kayu oleh sekelompok masyarakat tertentu menjadi pemanfaatan hutan secara multi guna dengan melibatkan masyarakat hutan sekitar mengharuskan pihak terkait seperti pemerintah. Halaman 143-154 . tetapi perlu memberikan ruang bagi partisipasi multi pihak beserta seluruh modal sosial yang berkembang dalam masyarakat. 2006 Peningkatan degradasi lahan merupakan kesatuan yang bersifat simultan antara aspek sosial ekonomi. Gerson ND PENDEKATAN REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN MAMAR: STUDI KASUS MAMAR DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN / Gerson ND Njurumana. dan lain-lain. Khusus untuk daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) pembangunan kehutanan harus didasarkan pada kondisi obyektif sumberdaya alam dengan memperhatikan keterbatasan daya dukung sebagai akibat kurangnya pasokan air (sebagai salah satu ciri dari daerah semi arid). Konsep pembangunan yang dapat dikembangkan masyarakat langsung adalah yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan secara multiguna atau agroforestry seperti amarasi. Faktor kesehatan DAS merupakan komponen eksternal yang menentukan keberlanjutan faktor internal. dan kearifan lokal) untuk menggugah peningkatan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan pengelolaan lahan.

bising dan kotor. 2006 Eksploitasi ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. 2006 Kerusakan sumberdaya lahan dan hutan di Timor Barat mengalami peningkatan akibat tekanan penduduk. dan mengatasi bengkak. Ekologi. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan dapat dilakukan dengan memanfaatkan dan memberdayakan potensi dan kekuatan yang sudah ada dalam masyarakat. Pendekatan site spesifik dilakukan dengan berbagai pendekatan. abrasi pantai. No.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. stabilitas. Kata kunci: Mamar. Kearifan lokal. konversi lahan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. suasana yang gersang. Nilai guna sistem mamar cukup baik terhadap aspek produktivitas. menengah. Dengan demikian. Selain memiliki kayu yang kuat dan awet. perambahan. silvopasture. Karena itu. kebakaran. salah satunya pemanfaatan jenis tanaman yang memberikan manfaat ganda untuk jangka pendek.mengandung logam berat. monoton. Nilai penting. pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO. Gerson ND PELUANG DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI TIMOR BARAT / Gerson ND Njurumana. 2006 Hutan kota diidentifikasikan sebagai status lahan yang dengan pohon-pohonan dalam satuan kawasan tertentu baik pada tanah negara maupun tanah milik yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan perkotaan dalam pengaturan tata air.Info Hutan : Vol.130 . Masyarakat telah memanfaatkan daun.ozon. tanah dan air yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan kelestarian ekosistem. Dari aspek kebijakan. -. Konservasi air Njurumana. Kata kunci: Degradasi lahan dan hutan. karbon-dioksida.) secara besar-besaran akan mengakibatkan terancam kelestariannya. 2006 . Kade Sidiyasa. muntah darah.memiliki peluang untuk diberdayakan dalam rangka mendukung rehabilitasi lahan. pencemaran air berupa air minum berbau. Halaman 103-117 . debu. sekaligus mampu menjembatani konflik kepentingan terhadap sumberdaya lahan dan air. Kehadiran hutan kota diharapkan dapat mengendalikan peningkatan suhu udara perkotaan. ternyata ulin juga memiliki manfaat non kayu sebagai bahan obat. dan buah/biji ulin untuk obat rambut. Halaman 183-197 . ginjal. dan keberlanjutan yang cukup tinggi dalam mendukung kegiatan usaha tani. 34 . -. Lingkungan Noorhidayah Binn) DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm PEMANFAATANNYA SEBAGAI TUMBUHAN OBAT (The Ironwood (Eusideroxylon zwageri Teijsm Binn. kehadiran hutan kota diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan ekologi perkotaan yang dapat dilakukan dengan mempertahankan kelestarian dan fungsi kawasan-kawasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun kerjasama dengan komponen masyarakat. memanfaatkan. dan mempelajarinya. Tekanan penduduk yang tinggi mengindikasikan terbatasnya alternatif sumberdaya yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan hidupnya.Pengakuan terhadap kearifan lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan. dan lingkungan. 2006 . intrusi air laut. banjir/genangan. Rehabilitasi lahan. dan panjang.III.) Conservation and it's Utilization as Medicinal Plant) / Noorhidayah. habitat flora dan fauna.LSM dan swasta untuk mendukung tujuan pembangunan hutan kota Kata kunci: Hutan kota. Konservasi tanah. polusi udara. Kebijakan Njurumana. tanah. dan air diharapkan dapat mengapresiasi dan mendorong masyarakat untuk terlibat secara proaktif melalui kemitraan yang terbangun dalam pengelolaan sumberdaya hutan di Timor Barat. pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap keragaman model kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. pembangunan sektor kehutanan di Timor Barat harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat secara obyektif melalui pendekatan site spesifik.2 . Upaya konservasi ulin mencakup tindakan dapat dilakukan secara in-situ maupun ex-situ dan menjaga. Gerson ND NILAI PENTING HUTAN KOTA DALAM PEMBANGUNAN PERKOTAAN / Gerson ND Njurumana. oksida nitrogen dan belerang. penurunan air tanah. Halaman 123 . -. dan pemanfaatan hutan. batang.

Kombinasi antara murbei persilangan dan ulat sutera persilangan memberi pengaruh nyata pada rendemen pemeliharaan dan bobot kokon. dan tanah bermikoriza. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor yaitu: M (murbei persilangan) dan U (ulat sutera persilangan) dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. tetapi tidak memberi pengaruh nyata terhadap kualitas kokon dan serat sutera dan belum ada jenis yang memberikan hasil yang baik. 35 persen pupuk kandang. Bombyx mori Linn.. Perlakuan yang menggunakan ukuran daun kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan tinggi semai yang paling baik yaitu sebesar 10. DAN SERAT SUTERA (Effect of Mulberry (Morus spp) and Silkworm Hybrid (Bombyx mori Linn. and Silk Quality) / Nurhaedah. konservasi ex-situ Nugroho.Parameter yang diamati adalah tinggi dan diameter. Ukuran dan kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik yaitu sebesar 1. Data rerata tinggi dan diameter dianalisis dengan uji F dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata metode Duncan. kokon. kualitas kokon.) terhadap kualitas ulat. kokon.20 cm.) on Silkworm.III. Parameter yang diamati meliputi kualitas ulat.) dan ulat sutera persilangan (Bombyx mori Linn. dan serat sutera. Kombinasi M1U3 (murbei NI dan ulat sutera HG 8) cenderung memberikan hasil yang baik. Serasah daun pinus yang merupakan bahan organik yang bersifat lambat terdekomposisi dapat dijadikan media dengan cara dikomposkan dahulu.Kata kunci : Ulin. ulat sutera persilangan. dan Morus cathayana A. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa serasah daun pinus yang lambat terdekomposisi dapat dimanfaatkan sebagai media semai dan mengetahui komposisi media pinus yang sesuai untuk pertumbuhan semai. kokon. KOKON. Penelitian diaksanakan di kebun Karangmalang dan Laboratorium Tanah Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. dan berat per satuan bibit tinggi. Wahyudi Isnan. Kata Kunci: Serasah pinus. dan serat sutera. Halaman 129-136 . konservasi insitu. Media semai Nurhaedah M PENGARUH MURBEI (Morus spp. obat. kualitas serat 35 . No. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh murbei (Morus spp.. Digunakan 3 ukuran daun dan 4 variasi aras campuran media.38 cm. Jenis NI. Sedangkan ulat sutera persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. kualitas ulat. Agung Wahyu PEMANFAATAN SERASAH PINUS SEBAGAI MEDIA SEMAI / Agung Wahyu Nugroho. Analisis statistik menunjukkan bahwa murbei persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . cenderung memberikan hasil yang baik.) DAN ULAT SUTERA PERSILANGAN (Bombyx mori Linn) TERHADAP KUALITAS ULAT..30 mm. dan 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan pertumbuhan tinggi yang paling baik yaitu sebesar 11.73 .23 mm dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media 30 persen daun kasar segar.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Variasi aras campuran media 30 persen daun. Campuran media terdiri dari daun pinus. Harry Budisantoso. B2A. pupuk kandang. Oleh karena itu upaya penggunaan bahan lain sebagai media pertumbuhan dengan tujuan memperkecil pemakaian topsoil perlu segera dilakukan. Kata kunci : Murbei persilangan. Cocoon. Morus spp. Jumlah keseluruhan perlakuan ada 12 unit dan tiap unit ada 12 semai dan diulang secara acak pada 3 blok. Halaman 65 . dan serat sutera. 35 persen pupuk kandang. 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik sebesar 1.1 . Untuk pertumbuhan diameter semai. 2006 Media Semai dengan menggunakan media topsoil mempunyai banyak kelemahan diantaranya: media lekas padat. -. -. perlakuan yang berpengaruh nyata adalah ukuran daun dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media. Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. aerasi kurang baik. Hasil penelitian menunjukan bahwa serasah daun pinus dapat dimanfaatkan sebagai media semai yang baik.

kokon Omon.III. -. . disamping itu waktu pengupasan kokon yang terlalu cepat dan tidak terseleksi (kontrol) menyebabkan waktu keluarnya ngengat lebih beragam. dan persentase kolonisasi akar. R.f. Ishak Yasir. Beauv. KUALITAS BIBIT ULAT SUTERA (BOMBYX MORI L. Halaman 177 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.32 cm). 2006 Pengaruh pembersihan alang-alang dengan penyemprotan herbisida pada tanaman jati (Tectona grandis L. jumlah daun (4 helai).) Plantation in Samboja Rehabilitation Area) / R.93 . DI RUMAH KACA (Effects of Temperature and Storage Duration of Mycorrhizae Tablet to Growth of Shorea johorensis Foxw.) PADA BEBERAPA WAKTU PENGUPASAN KOKON (Quality of Silkworm Eggs with Several Cocoon Peeling Period)/ Nurhaedah M. 7 hari setelah mengokon dan 6 hari setelah mengokon serta kontrol (0 hari).428 . purposive dengan Pembuatan plot percobaan dilakukan secara mempertimbangkan keadaan topografi. dan persentase kolonisasi akar (81. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Shorea johorensis Foxw.f. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak tiga kali. No. Tiap unit perlakuan terdiri dari 10 bibit. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal tablet mikoriza untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. Halaman 421 . -.184 . Dua plot terletak di bukit berukuran 20 m x 25 m dengan ketinggian 87 m dpl (di atas permukaan laut) dan satu plot terletak di lembah dengan ukuran yang sama dengan ketinggian 47 m dpl. pertumbuhan tinggi (4.. pertumbuhan tinggi.1 .67 %).III. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang teknik pemeliharaan tanaman jati pada lahan alang-alang. R. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan penanganan khusus seperti pemberian pakan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui waktu pengupasan kokon yang tepat sebagai bahan pembibitan ulat sutera. dengan dosis sebanyak 8 liter herbisida/ 800 liter air dan satu plot tanaman jati yang terletak di bukit tidak dilakukan penyemprotan sebagai kontrol. Hasil memperlihatkan bahwa penyimpanan tablet selama tiga bulan di kedua suhu yang berbeda (4o C dan 20o C) telah memberikan pengaruh yang nyata lebih baik terhadap persen hidup (86. Beauv.5 tahun. Mulyana PENGARUH PEMBERSIHAN ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L. Kabupaten Gowa. mikoriza tablet Omon. 2006 Penelitian pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza terhadap pertumbuhan stek Shorea johorensis Foxw. jumlah daun. Samboja Kalimantan Timur. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan waktu pengupasan kokon yang baik untuk penetasan dan rendemen ulat kecil adalah 8 hari sedangkan untuk keperidian dan jumlah pupa jadi ngengat adalah 7 hari.f. No. Di kedua plot tanaman jati tersebut alang-alangnya disemprot dengan herbisida. Mulyana Omon. Cuttings in Greenhouse) / R. telah dilaksanakan di kawasan rehabilitasi Samboja. yang berkualitas di persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4o C atau 20o C untuk diinokulasikan pada stek Shorea johorensis Foxw. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan penyemprotan alang-alang dengan 36 .) umur 2. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Halaman 83 . Penelitian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri 3 perlakuan waktu pengupasan kokon yaitu 8 hari setelah mengokon. Kata kunci : Shorea johorensis Foxw. Kata kunci : Ulat sutera. pengupasan. 2006 Bibit ulat sutera yang berkualitas akan diperoleh jika pemeliharaan ulat induk menghasilkan kokon yang baik.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.) DI KAWASAN REHABILITASI SAMBOJA (Effect of Alang-alang (Imperata cylindrica L. Mulyana Omon. Dengan demikian untuk rencana dan strategi penyediaan stek Shorea johorensis Foxw. stek. penanganan ulat dan kokon serta pencegahan penyakit.Nurhaedah M. Sulawesi Selatan. waktu penyimpanan.84 %) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan.) Clearing with Herbicide on Teak (Tectona grandis L.III. telah dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata. Sedangkan suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. No. Perlakuan dalam percobaan ini terdiri dari dua tingkat suhu dan tujuh periode lama penyimpanan. Penelitian ini dilakukan di Balai Persuteraan Alam Bili-Bili.2 .4 .) DENGAN HERBISIDA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L.

Thailand. Dipterocarpus hasseetii. Dipterocarpaceae.43 cm dan 185.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 19-27 . Beauv. Imperata cylindrica L. Mulyana Omon.5 kali untuk diameter dan tinggi sebesar 5 kali dibandingkan dengan tidak disemprot herbisida (kontrol). Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan informasi bagi para pelaksana di lapangan. Media padat. S. Selain itu ada juga beberapa jenis yang mudah tumbuh di media air antara lain Anisoptera marginata. Teknik tersebut telah diaplikasikan oleh HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di Indonesia dan bahkan lebih dari 1. dan vermikulit) dan air (water rooting system) diperoleh dari hasil kerja sama antara Departemen Kehutanan cq. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . penggunaan media tepat. ukuran anakan ideal. parvifolia. sehingga kendala pembuatan bibit dalam skala luas dan tepat waktu dapat diatasi untuk mendukung program pembangunan hutan tanaman. assamica. dan hormon tumbuh yang digunakan. Dryobalanops lanceolata. masing-masing sebesar 2. S. Selain itu banyak tamu-tamu yang datang. pengambilan bahan. teknik pengepakan dikondisikan lembab. yaitu waktu pencabutan yang tepat. S. 2006 Pengadaan bibit Dipterocarpaceae dengan sistem cabutan anakan alam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kelemahan pengadaan bibit secara generatif (asal buah/biji). Teknik pembiakan vegetatif melalui stek pucuk dengan media padat (pasir. teknik pencabutan yang baik. temperatur. Vietnam. baik dari dalam dan luar negeri seperti Jepang. herbisida.000 orang yang telah mengikuti training Alih Teknologi Stek Pucuk dan Kebun Pangkas di Wanariset Samboja. laevis. -. -. Perbedaan pertumbuhan tersebut.. Rusmana dan Marinus Kristiadi Harun. Sedangkan media cair (air) keuntungannya mudah dikontrol dan apabila belum berakar dapat dikembalikan ke tempat semula tanpa mengganggu proses perakaran dan tidak perlu penyiraman. Kata kunci : Tanaman jati. Malaysia. gambut. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Samarinda di Stasiun Penelitian Wanariset Samboja dengan Yayasan Tropenbos Belanda dengan nama MOF-Tropenbos Kalimantan Project yang dimulai pada tahun 1985 sampai tahun 2000. Halaman 335-345 . Selain itu pula telah dikembangkan teknik pembuatan kebun pangkas sebagai sumber bahan stek dan teknik inokulasi mikoriza sebagai pemacu pertumbuhan. dan Parashorea sp. smithiana. Hal ini terkendala dengan masa berbuah massal yang tidak teratur dan bijinya bersifat recalcitrant yang tidak dapat disimpan lama yaitu hanya beberapa minggu saja. Untuk media padat (pasir. tetapi kelemahan tidak dapat dikontrol setiap saat apakah sudah berakar atau belum dan perlu penyiraman. Media air Panjaitan. Hopea odorata. S. gambut. Keberhasilan perbanyakan dengan stek pucuk dipterokarpa dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain kelembaban.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. S. Mulyana TEKNIK PEMBIAKAN VEGETATIF MELALUI STEK PUCUK DIPTEROCARPACEAE PADA MEDIA PADAT DAN AIR / R. paucifloria.herbisida pada tanaman jati telah memberikan pengaruh efektif terhadap pertumbuhan. S. yaitu sebesar 3. lahan alang-alang. Tectona grandis L. teknik. Dengan demikian penyemprotan alang-alang dengan herbisida pada tanaman jati dengan dosis 8 liter herbisida/800 liter air per ha dapat direkomendasikan untuk pembersihan alang-alang pada tanaman jati. dikarenakan kesuburan tanah di lembah lebih baik dibandingkan dengan di bukit. Kata Kunci: Pembiakan vegetatif. dan lain-lain. Kelemahannya untuk yang pertama adalah diperlukan biaya yang besar yaitu harus tersedia kompresor atau aerator sebagai penghasil oksigen dan listrik. intensitas cahaya. media. Sejak Juli 2002 Stasiun Penelitian Wanariset Samboja telah berubah menjadi Institusi Loka Litbang Satwa Primata. turut mempelajari metoda tersebut.f. dan vermikulit) keuntungannya bahannya mudah diperoleh. 2006 Perbanyakan stek pucuk dari famili Dipterocarpaceae merupakan salah satu alternatif dalam pengadaan bibit di persemaian.7 cm. Teknik pembuatan bibit sistem cabutan anakan alam harus memenuhi syarat. tidak terdapat deformasi batang dan akar anakan. R. Omon. Dari hasil pembiakan vegetatif melalui stek ada beberapa jenis yang mudah tumbuh di media padat dan cair seperti Shorea leprosula dan Shorea selanica. Stek pucuk. teknik penyapihan dan pemeliharaan bibit di persemaian sesuai standar 37 . Sudin SISTEM CABUTAN ANAKAN ALAM SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PENYEDIAAN BIBIT JENIS DIPTEROCARPACEAE / Sudin Panjaitan. johorensis. Sedangkan riap diameter dan tinggi tanaman jati yang di lembah lebih tinggi dibandingkan dengan di bukit. India.

Jumlah daun anakan juga dipengaruhi oleh pemberian pupuk dimana anakan yang diberi pupuk menghasilkan nilai tertinggi pada jumlah daun dibanding tanpa pupuk. Sudin RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN PULAI (Alstonia scholaris (L) R. bukan diminta mengadopsi rehabilitasi lahan model baru.B PUTERA PARTHAMA DAN HADI S PASARIBU.Br) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK PINUFERT DAN NPK DI PERSEMAIAN BP2HTIBT. Angka degradasi hutan tropis Indonesia selama 10 tahun terakhir. Dalam rangka pengembangan budidaya pulai di persemaian disarankan menggunakan pupuk pinufert 5 gr atau NPK gr per batang. Penerapan model ini menunjukkan hasil yang positip yaitu dengan tingkat keberhasilan tanaman 80 persen. fisolofi. Pertumbuhan. Pulau Kecil dan kering yang berada di Tenggara pulau Bali. Herman R. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . 4 gr per anakan dengan pemberian pupuk pinufert 5 gr dan 10 gr per anakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. menurut data Departemen Kehutanan tahun 2000 mencapai 1. Pranata sosial lokal Pudja M. I. Hal ini merupakan hasil dari proses panjang kegiatan pengusahaan hutan alam tropis sejak dekade 70-an sampai 38 . serta aturan yang mereka miliki sendiri untuk melaksanakan rehabilitasi lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup anakan adalah 10 persen. Alstonia scholaris (L) R.U. dan Daud Leppe. Dalam hal ini masyarakat diingatkan dan diarahkan untuk menerapkan konsepsi.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal.B Putera PEMANFAATAN PRANATA SOSIAL LOKAL DALAM REHABILITASI LAHAN: SEBUAH PENGALAMAN DI NUSA PENIDA BALI / I. Kata kunci: Rehabilitasi lahan. -. BANJARBARU/ Sudin Panjaitan. Halaman 85-92 . 2006 Kondisi sumbardaya hutan Indonesia pada saat ini mengalami kemunduran dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Tri Mandala. -. Dipterocarpaceae Panjaitan. Mahliani dan Acep Akbar. Pendekatan serupa bisa diterapkan di daerah lain yang memiliki kondisi sama. Pranata sosial lokal. Banjar Pakraman. Lembaga Pelaksana Pura. Anakan pulai. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .Kata kunci: Cabutan anakan.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 77-86 . Tri Fungsi Hutan. masyarakat menunjukkan antusias yang tinggi untuk terlibat dalam rehabilitasi lahan sejak awal perencanaan hingga pelaksanaan dan pemeliharaan serta berminat untuk meningkatkan kemampuan teknisnya. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan anakan pulai akibat pemberian pupuk pinufert dan NPK. Halaman 355-373 . dan Awig-awig. Penyediaan bibit. 2006 Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli lingkungan serta berkomitmen dalam merehabilitasi lahan ialah dengan mengaitkan dan memanfaatkan pranata sosial masyarakat lokal setempat.6 juta ha/tahun. Pendekatan tersebut telah dicoba dilaksanakan di Nusa Penida. Sedangkan antara anakan pulai yang diberi pupuk NPK 8 gr. 6 gr. NPK Parthama. Pendekatan pranata sosial masyarakat setempat yang telah diaktualisasi didaerah ini antara lain: Tri Hita karana. Alternatif. Pemberian pupuk berpengaruh nyata terhadap tinggi dan diameter batang. Tri hita karana. Pupuk pinufert.Br.U KONSERVASI EMPAT JENIS ENDEMIK PAPUA DI PERTANAMAN BPPK PM MANOKWARI / Pudja M. Kata kunci: Pulai. Percobaan disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dari perlakuan pupuk pada anakan pulai umur 16 minggu yang diulang sebanyak 7 kali.

Pometia sp. Dibandingkan dengan asumsi riap di hutan alam sebesar 1 cm/thn. Sejak tahun 1986. dapat mencapai 2. sertifikasi mutu benih. dan Araucaria sp. pertumbuhan diameter rata-rata P. Secara umum kondisi tanaman di kebun koleksi dan arboretum Inamberi dan Anggresi masih tergolong cukup baik. Agar rehabilitasi lahan kritis di daerah Nusa Tenggara Timur dapat berhasil.8 cm/tahun. Perbenihan tanaman hutan yang mengandung arti segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan benih tanaman hutan menunjukan perlu adanya sertifikasi sumber benih. MUTU BENIH. dalam bentuk arboretum kebun percobaan. jenis-jenis ini relatif mudah untuk dikonservasi dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan tanaman dalam hutan tanaman untuk mendukung gerakan rehabilitasi lahan di Papua. Sumber benih. memberikan 2. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Sebagai ilustrasi. Faktor lingkungan yang ditentukan mutu non genetik dibedakan manjadi mutu fisik dan mutu fisiologi dan dipengaruhi oleh teknik penanganan benih/bibit.62 cm memberikan riap 1. seperti Intsia sp. mutu benih. Riap diameter rata-rata tahunan dan pertumbuhan diameter pada umur di bawah lima tahun umumnya lebih kecil dibandingkan tanaman setelah berumur di atas 10 tahun.12 cm/thn. tingkat persentase hidup tegakan tergolong baik yaitu lebih dari 70 persen dengan kesehatan tegakan termasuk baik. memberikan 3 cm/tahun. Kondisi ini menunjukan bahwa pemilihan dan penanganan bibit yang tepat serta tempat tumbuh yang cocok bagi jenis-jenis tersebut diharapkan mempunyai pertumbuhan yang baik. Melihat kenyataan tersebut. 39 . Manukwari Pramono. mutu benih maupun mutu bibit. dan kebun koleksi. Joko MANFAAT SERTIFIKASI SUMBER BENIH. dapat mencapai 2. Balai Litbang Kehutanan Papua dan Maluku telah melakukan penanaman beberapa jenis endemik (jenis asli) potensial yang mulai terancam keberadaannya di hutan alam. walaupun tempat tumbuh di tiga lokasi kurang subur. Mutu Bibit. Oleh karena itu perlu segera dilakukan program konservasi dan rehabilitasi. diperlukan informasi mengenai aspek-aspek karakteristik faktor lingkungan daerah NTT dan permasalahannya serta alternatif pengelolaannya. Pometia sp. Mutu genetik dipengaruhi oleh asal-usul benih. sehingga tanaman harus melakukan penetrasi akar terhadap karang. Halaman 55-68 . riap di kebun koleksi dan arboretum ini dianggap masih kecil. Namun secara individual ada beberapa pohon mempunyai MAI yang cukup tinggi pada masing-masing jenis. Awal pertumbuhan yang umumnya sulit selain disebabkan pemeliharaan yang kurang intensif. Kata Kunci: Konservasi. seperti Agathis labillardieri. Papua. Endemik. Araucaria cuninninghamii. Ternyata keadaan masih berlanjut pada tahun berikutnya di mana diameter rata-rata mencapai 19. Halaman 49-61 .14 cm/tahun.20 cm memberikan riap 1. Hal ini juga berlaku pada ketiga jenis lainnya. Oleh karena itu upaya rehabilitasi perlu dilakukan agar kerusakan lingkungan dapat dikurangi dan produktivitas lahan dapat ditingkatkan. lahan kritis terjadi akibat sistem pengelolaan lahan yang tidak memadai dengan lingkungan iklim kering. Agathis sp.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. diduga juga disebabkan tanah di Manokwari umumnya bercampur karang. 2006 Di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). dan lain-lain..sekarang. Kata Kunci: Sertivikasi. umur 11 tahun dengan diameter rata-rata 15.38 cm dan MAI mencapai 1. 2006 Pembangunan tanaman hutan yang berkualitas memerlukan benih dan bibit bermutu. GERHAN Pratiwi REHABILITASI LAHAN KRITIS DI WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR / Pratiwi. Oleh karena itu setelah umur tanaman di atas 10 tahun biasanya pertumbuhan mulai membaik. -. Instia sp. Faktor dominan yang berpengaruh terhadap mutu benih/bibit adalah genetik dan lingkungan.80 cm memberikan riap 1. Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan tanah baik kimia maupun fisik.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Program ini merupakan salah satu dari lima program pokok Departemen Kehutanan. Sedangkan ex-situ di luar habitat aslinya. dan sertifikasi mutu bibit dalam mendukung GERHAN. Konservasi secara umum dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu in-situ dan ex-situ.00 cm/tahun.3 cm/tahun.38 cm dan umur 16 dengan diameter rata-rata 16. Mutu benih. 2006 . In-situ berarti melestarikan sumberdaya genetik pada habitat aslinya. -.05 cm/thn. Belum adanya sertifikasi sumber benih. sehingga produktivitasnya menurun. dan mutu bibit menyebabkan konsumen tidak memperoleh jaminan terhadap asal-usul benih. DAN MUTU BIBIT DALAM MENDUKUNG GERHAN / Joko Pramono dan Hendi Suhaendi. kecuali pada jenis Pometia pinnata ada kecenderungan menurun setelah umur lebih dari 15 tahun.. Pinnata umur 5 tahun 5.

Dengan kondisi iklim kering dan solum tanah yang tipis dan berbatu-batu, curah hujan yang rendah dan topografi sebagian besar curam sampai sangat curam mengakibatkan kesuburan daerah ini sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan pemilihan jenis yang akan dikembangkan yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut, teknologi yang memadai dan kelembagaan yang mendukung keberhasilan program yang akan diterapkan. Kata kunci: Rehabilitasi, Lahan kritis, Nusa Tenggara Timur Prayudyaningsih, Retno HAMA DAN PENYAKIT JENIS MURBEY EKSOT DAN TINGKAT KEHILANGAN DAUNNYA PADA AKHIR MUSIM KEMARAU (Pest and Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.4 ; Halaman 429 - 435 , 2006

Kata kunci : Hama dan penyakit murbei, murbei eksot, tingkat kehilangan daun Prayudyaningsih, Retno PEMBUNGAAN DAN PEMBUAHAN BITTI (Vitex cofasus Reinw.) (Flowering and Fruiting of Bitti (Vitex cofasus Reinw.)) / Retno Prayudyaningsih; Edi Kurniawan. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 131 - 138 , 2006 Penelitian mengenai pembungaan dan pembuahan bitti (Vitex cofassus Reinw.) telah dilakukan di Arboretum dan Laboratorium Silvikultur Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi selama 6 bulan (Januari-Juni 2003). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bunga, produksi bunga, keberhasilan bunga membentuk buah, serangga pengunjung, produksi buah, dan produksi biji tanaman bitti. Informasi ini diharapkan dapat mendukung keberhasilan proses penyerbukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakterisitk bunga bitti adalah hermaprodit dengan malai berjumlah 549,33-2.768,67 kuntum bunga, panjang bunga 0,78-0,89 cm, diameter bunga 0,78-1,13 cm, panjang stamen 0,53-0,60 cm dan 0,45-0,59 cm, dan panjang putik 0,84-1,00 cm. Jenis serangga yang selalu mengunjungi bunga bitti adalah kupu-kupu, lebah madu, dan lebah tukang kayu. Produksi bunga per cabang adalah 10.805,32-167.544,86 kuntum bunga. Pada penyerbukan secara alami 2,13 %-11,95 % bunganya akan membentuk buah. Produksi buah per pohon adalah 7.215-45.210 buah dengan produksi biji sekitar 0,59-3,77 kg. Kata kunci : Karakteristik bunga, serangga pengunjung, bitti, Vitex cofassus Reinw., penyerbukan alami

Disease of Exotic Mulberry and level of it’s Leaves Lost I the End of Dry Season) / Retno Prayudyaningsih; Hermin Tikupadang; Budi

Serangan hama dan penyakit pada tanaman murbei akan mengakibatkan produksi daun menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya. Apabila masalah ini dibiarkan berlanjut, maka ada kemungkinan ketersediaan daun murbei akan berkurang dan pemeliharaan ulat sutera oleh petani akan terhambat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Enrekang pada bulan November 2003. Jenis tanaman murbei yang diamati adalah jenis murbei eksot (Morus indica S-54 dan Morus multicaulis) dan Morus nigra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot pada akhir musim kemarau serta tingkat kehilangan daun akibat serangan hama dan penyakit tersebut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan percobaan faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah jenis murbei dan faktor kedua adalah lokasi. Hasil penelitian menunjukkan ada delapan jenis hama dan empat jenis penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot selama akhir musim kemarau. Jenis hama yang paling banyak menyebabkan kerusakan adalah kutu daun (Maconellicoccus hirsutus Green) dan belalang (Valanga sp.), sedang jenis penyakit yang banyak menyebabkan kerusakan adalah bercak daun (Septogleum mori Briosi et Cavapa) dan karat (Aecidium mori Barclay). Lokasi yang tingkat kehilangan daunnya tinggi adalah Kabupaten Wajo (20,05 %) sedangkan jenis murbei yang mempunyai tingkat kehilangan daun paling tinggi adalah M. indica S-54 (15,32 %).

40

High Protein Contain of The Ornate Lorikeet (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity) / Indra A.S.L.P. Putri. -- Jurnal
Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.3 ; Halaman 259 270 , 2006

Putri, Indra A.S.L.P. PREFERENSI DAN KONSUMSI PAKAN BERPROTEIN TINGGI PADA BURUNG PERKICI DORA (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity DALAM PENANGKARAN (Preferences and Consumption of

Rahmat, Mamat PELUANG PERBAIKAN POLA AGROFORESTRY DALAM MENJAGA KELESTARIAN TAMAN NASIONAL : KASUS DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT WILAYAH SUMATERA SELATAN / Mamat Rahmat dan Manifas Zubay. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 85-93 , 2006 Program pemberdayaan masyarakat sudah seringkali dilakukan pada desa penyangga TNKS. Namun kegiatan yang bersifat destruktif masih terus berlangsung. Makalah ini mengulas pola mata pencaharian masyarakat dan interaksinya dengan kawasan TNKS, pola agroforestry yang sudah berlangsung selama ini, serta peluang perbaikan pola agroforestry tersebut dalam rangka menjaga kelestarian kawasan TNKS. Terdapat dua peluang yang keduanya bisa dilaksanakan secara bersamaan. Peluang pertama adalah melalui diversifikasi kebun karet dengan tanaman sela musiman dan tanaman pelapis dari jenis pulai. Kedua adalah dengan cara mengimplementasi model kebun campuran tersebut pada zona pemanfaatan khusus. Kata Kunci: Agroforestry, Taman Nasional, Daerah penyangga, Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Selatan Rachmawati, Ida PENGEMBANGAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas LINN) SEBAGAI ALTERNATIF PENDUKUNG ENERGI BIODISEL / Ida Rachmawati. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 13-19 , 2006 Ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi cukup tinggi menyebabkan kurangnya upaya eksploitasi sumberdaya alam untuk bahan bakar alternatif. Perlu diupayakan segera cara mengatasinya melalui aplikasi kebijakan energi nasional yang mencakup intensifikasi, konservasi, dan diversifikasi energi. Pemanfaatan biodisel merupakan alternatif yang cukup menjanjikan sebagai pengganti minyak disel asal fosil. Penggunaan biodisel mendesak untuk direalisasikan karena selain sebagai solusi menghadapi bahan energi asal fosil pada masa mendatang, juga bersifat ramah lingkungan dan terbarukan. Jarak pagar (Jatropha curcas Linn) sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai

Pakan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan upaya penangkaran burung. Pakan utama burung perkici dora (Trichoglossus ornatus Linne 1758) di habitatnya adalah pollen dan nektar yang mengandung protein tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi dan konsumsi pakan berprotein yang dibuat dari pakan alami yaitu pepaya dan pisang ambon dengan penambahan protein, serta dampak pemberian pakan terhadap berat badan burung Perkici dora. Jenis pakan berprotein yang ditambahkan pada pakan alami adalah telur dengan kadar 10 %, 15 %, dan 20 % dari total pakan yang disajikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square, t-paired sample test, anova satu arah, dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung perkici dora yang dipelihara dalam kandang penangkaran memiliki preferensi dan konsumsi terhadap pakan berprotein tinggi dengan urutan preferensi dan konsumsi pakan adalah pakan alami > pakan berkadar telur 20 % > pakan berkadar telur 10 % > pakan berkadar telur 15 %. Selain itu pemberian pakan berkadar protein tinggi secara signifikan berpengaruh pada kenaikan berat badan burung perkici dora. Kata kunci : Preferensi, konsumsi, protein, pakan, perkici dora, Trichoglossus ornatus Linne 1758

41

bahan baku biodisel. Jarak pagar adalah tanaman yang cepat tumbuh, sangat toleran terhadap iklim tropis, dan jenis tanah sehingga sesuai untuk dikembangkan sebagai tanaman konservasi. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisionil, pupuk, kosmetik, pestisida, dan industri rumah tangga. Pengembangan jarak pagar untuk mendukung biodisel bertujuan untuk mengganti bahan bakar fosil dan memperbaiki polusi udara yang disebabkan oleh emisi dari pembakaran biodisel. Namun perlu dicermati pengembangan penanaman jarak pagar secara monokultur mungkin menimbulkan permasalahan lingkungan seperti keseimbangan daya dukung lahan, kondisi ekonomi, dan kondisi sosial budaya. Perlu dilakukan penelitian berbagai model penanaman secara benar dan terencana secara berkesinambungan. Teknologi ini juga harus diikuti dengan teknologi pengolahan hasil yang dapat dikelola sendiri oleh masyarakat. Kata kunci: Jarak pagar, Jatropha curcas Linn, Biodisel, Konservasi, Energi Rahmayanti, Syofia APLIKASI PUPUK DAUN DAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA ANAKAN JABON (Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s (Leaf Fertilizer and Growth Regulator Application to Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s Seedling) / Syofia Rahmayanti; Eka Novriyanti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 95 - 102 , 2006 Pupuk daun dan zat pengatur tumbuh sebagai perlakuan yang diaplikasikan pada anakan jabon (Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp.). Pengujian statistik, menunjukkan perlakuan tersebut berpengaruh nyata hanya sampai dua bulan pertama sejak perlakuan terakhir. Saat itu, perlakuan pupuk daun 2 g/l + zat pengatur tumbuh 2 ml/l menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter yang terbesar, masing-masing dengan nilai 17,87 cm dan 3,16 cm. Perlakuan tersebut berpengaruh nyata dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi anakan jabon tapi tidak berbeda dengan perlakuan zat pengatur tumbuh 3 ml/l dalam meningkatkan pertumbuhan diameternya, yang nilainya 3,06 cm. Kata kunci: Anakan jabon, Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp., pupuk daun, zat pengatur tumbuh

Rayan PERLAKUAN MEDIA KECAMBAH TERHADAP BENIH TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) DI PERSEMAIAN BP2KK SAMARINDA. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 240-245 , 2006 Tumbuhan penghasil Gaharu (Aquilaria microcarpa) termasuk suku Thymelaceae bernilai ekonomis tinggi yang selalu diburu dan ditebang orang jika ditemukan pencari gaharu di hutan karena banyak kegunaannya seperti untuk pembuatan parfum, kosmetik dan obat-obatan dan lain-lain. Penelitian dilaksanakan di Persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan dan bertujuan untuk mengetahui media perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu (Aquilaria microcarpa) yang baik. Parameter yang diamati adalah kecepatan berkecambah dan daya kecambah benih. Metoda yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Kelompok dengan perlakuan-perlakuan media perkecambahan yaitu : P1 (Media Perkecambahan Pasir) dan P2 (Media Perkecambahan Pasir Campur Kompos (1:1) Hasil penelitian menunjukan bahwa proses perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu jenis Aquilaria microcarpa, mulai berkecambah pada hari ke 7 dan terakhir hari ke 22 dengan rata-rata kecepatan berkecabah selama 14 hari. Sedangkan daya kecambahnya rata-rata 77,67 persen, perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu dengan pemberian kompos pada media pasir disamping dapat meningkatkan daya perkecambahan juga dapat mempercepat perkecambahannya yaitu penaburan benih pada media pasir rata-rata daya kecambah dan kecepatan berkecambah masing-masing 76.67 persen dan 14.46 hari, sedangkan penaburan di media pasir campur kompos (1:1) masing-masing berturut-turut 78.67 persen dan 13,54 hari. Hal ini disebabkan karena media pasir campur kompos lebih basah/lembab dibandingkan dengan media pasir tanpa kompos dan salah satu syarat perkecambahan diantaranya harus kelembabannya stabil atau tetap terjaga dan setelah diuji secara statistik tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Kata kunci: Gaharu, Aquilaria microcarpa, Media kecambah, Daya kecambah, Kecepatan berkecambah

42

M8 (media topsoil campur bokasi (2:1). penelitian ini diulang dengan 3 kali ulangan yang tiap-tiap ulangan terdiri dari 30 benih. dolomit 43 . 2006 Gaharu adalah gumpalan resin berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum.. pupuk kandang. M9 (media subsoil campur bokasi (3:1).C. Penelitian dilaksanakan di persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. M3 (media topsoil campur tanah gambut (2:1). Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah atau Split Plot. antara lain: M1 (media topsoil). serta merupakan komoditi elit dalam kelompok hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomis tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan parfum. bahan organik. Kata kunci : Agathis dammara (Lambert) L. yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika diduga akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. Merryana Kiding Allo. dan sub perlakuan adalah kombinasi antara pupuk kandang dengan kapur dolomit. at Lessproduction Land of Malili. yang dikombinasikan dengan tanaman Theobroma cacao Linn. Suhartati. With Planted Theobroma cacao Linn.43.C. Hasil penelitian penunjukan bahwa Rata-rata pertumbuhan tinggi mencapai 29. pada lahan kurang produktif di Malili. NPK.3 . PADA LAHAN KURANG PRODUKTIF DI MALILI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan permudaan alam Agathis dammara (Lambert) L.53 persen asal cabutan anakan alam selama 6 bulan di persemaian.223 . Rich. dengan perlakuan utama adalah dosis pupuk NPK. 29. Berbeda halnya dengan pemberian Bokasi pada media sapih disamping meningkatkan kesuburan tanah dan juga pemberian pada media subsoil dapat melebihi kesuburan topsoilnya. Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan permudaan alam agatis sebaiknya menggunakan cara penanaman campuran dengan tanaman coklat karena pemupukan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok pada penambahan bahan organik pupuk NPK 100 gram + pupuk kandang 2 kilogam + kapur dolomit 300 gram. 2006 Hutan dijadikan sebagai sumber pemuas kebutuhan dan penghasilan.C. Aquilaria microcarpa. Halaman 215 .C.. Media sapih. Gambut. Menurunnya kandungan bahan organik tanah pada bagian hutan yang telah berubah menjadi lahan HKM yaitu pada lapisan atas 5. Halaman 326-333 . Rich. karena itu mereka memperlakuan hutan secara tidak bijak tanpa mempertimbangkan kemampuan alam yang ada.34 cm dan yang disapih pada M1 adalah 0. pemberian Gambut pada media sapih pada umumnya cenderung meningkat tetapi pemberian pada media subsoil belum dapat menyamakan kesuburan topsoilnya. Rich.93 dan pada lapisan bawah 5.Rayan PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN CABUTAN ANAKAN ALAM JENIS TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) / Rayan. Bakasi Renden. M10 (media subsoil campur bokasi (2:1). Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . 0.28 cm tetapi sebaliknya dengan persentase hidup yaitu persentase lebih rendah dengan pertumbuhan yang lebih tinggi. coklat. South Sulawesi) / Ruben Renden. Penyediaan paket teknologi sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan jenis andalan setempat melalui penerapan teknik konservasi tanah berupa pemupukan dalam rangka rehabilitasi lahan kurang produktif. rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan berbagai media sapih.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. No. DENGAN TANAMAN Theobroma cacao Linn.28 cm dan persentase hidup mencapai 82. Kata kunci: Gaharu.74 cm)begitu juga dengan pertumbuhan diameternya yaitu cabutan anakan alam yang di sapih pada M9. Yaitu pertumbuhan tinggi cabutan yang disapih pada media subsoil campur bokasi (M9. Theobroma cacao Linn. 32. Ruben KOMBINASI PERMUDAAN ALAM Agathis dammara (Lambert) L.III. M4 (media subsoil campur tanah gambut (3:1).7 cm) lebih tinggi dari pada media topsoil (M1. Selain itu pula teknik pembukaan lahan dilakukan secara tebas habis lalu dibakar (slash and burn) sehingga kerusakan lapisan topsoil tanah sulit dihindarkan. Rich. SULAWESI SELATAN (Combining Natural Regeneration of Agathis dammara (Lambert) L. M2 (media topsoil campur tanah gambut (3:1). -. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. kosmetik. dan obat-obatan.75 cm dengan diameter 0.

SULAWESI SELATAN (Quantification of Erosion Economics Value on Jeneberang Sub Watershed.5 m3 dengan luas catchment 47.Info Hutan : Vol. di mana perusahaan yang memegang ijin tersebut menebang di luar blok tebangan.III. maupun hutan konservasi.250. Di beberapa daerah Aliran Sungai (DAS) di Propinsi Papua Indonesia. Kamindar MASALAH PEMBALAKAN LIAR DAN PENYELUNDUPAN KAYU DI PROVINSI RIAU (The Issue of Illegal Logging and Log Smugglings in Riau Province)/ Kamindar Ruby. Pendekatan biaya ganti yang digunakan dimaksudkan untuk memberikan gambaran nilai kerugian secara kuantitatif yang dialami oleh suatu wilayah akibat erosi. Saluran-saluran irigasi. sehingga hasil tangkapan dapat dilelang secara cepat dan disetor ke kas negara.75 m3 dan pada Sabo Dam 8 volumenya sebesar 21. Amerika Selatan. dan "German weed" (di Bangladesh). crassipes SOLMS pada DAS-DAS di propinsi Papua Indonesia ini. pelanggaran hukum Salim. 2006 Eichhorniae crassipes SOLMS (eceng gondok) adalah tumbuhan air mengambang yang berasal dari Brazil. Penanganan E. Hasil pembalakan liar untuk memasok kebutuhan industri kecil. yaitu nilai erosi didekati dengan biaya ganti tanah dan unsur hara yang hilang terbawa erosi. baik dalam sektor ekonomi.000 m2 dan volume Sabo Dam 102. 2006 Pembalakan liar dan penyelundupan kayu mempunyai hubungan erat. crassipes SOLMS sudah menjadi gulma (jenis invasif eksotik).4 . Eulis PENANGANAN JENIS INVASIF EKSOTIK Eichhorniae crassipes Solms (ECENG GONDOK) PADA BEBERAPA DAS DI PROPINSI PAPUA. pupuk biogas. INDONESIA / Eulis Retnowati.crassipes SOLMS harus terpadu dan terkoordinir. bahkan sudah merambah kepada hutan lindung. diketahui melalui pemodelan AGNPS (Agriculture Non Point Source Pollution Model) sehingga bisa diketahui besarnya kontribusi erosi masing-masing penggunaan lahan. No.Retnowati. Invasif eksotik. -. dapat dilakukan dengan cara: (1) memanfaatkan E. Pembalakan liar telah dimulai sejalan dengan pembukaan wilayah hutan oleh HPH.crassipes SOLMS secara mekanis. Penelitian dilakukan melalui pendekatan volume sedimen yang tertampung dalam Sabo Dam (Sabo Dam diasumsikan sebagai penampung sedimen). membuat kertas. -. dan mencemari beberapa smber air. dan (2) memusnahkan E. Andi Gustiani KUANTIFIKASI NILAI EKONOMI EROSI DI SUB DAS JENEBERANG. pemberantasan dan penyidikan harus terus menerus secara serius dilaksanakan dan berkas perkara kasus tersebut segera diajukan ke pengadilan dalam waktu relatif singkat. Halaman 117 . 2006 Pada penelitian ini. Seluruh komponen masyarakat harus terlibat dalam penanganan jenis tumbuhan ini. Tumbuhan jenis ini menutupi beberapa perairan. DAS.III. Muhammad Sulaiman. Demikian pula air yang ada pada Sabo Dam dianalisis kandungan unsur haranya.362. Nilai erosi ini dihitung dengan pendekatan biaya ganti (replacement cost). Pada saat ini. Dampak dari kejahatan tersebut dapat mengganggu aspek kehidupan. E. Kata kunci : Pembalakan liar. Tegalan merupakan penggunaan lahan yang paling besar 44 . Tanaman ini dikenal sebagai "Water hyacinth" (di Eropa dan Amerika) "blue devil" (di Bengal). jenis tumbuhan ini sudah menyebar di seluruh Indonesia. Halaman 343 . unsur hara yang terbawa erosi diasumsikan sebagai nilai ekonomi erosi atau nilai kerugian lingkungan.000 m2.075.193. Di Propinsi Papua Indonesia. maupun budaya.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. dan pulp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kerugian ekonomi lingkungan akibat erosi secara kuantitatif. Pembalakan liar tidak saja pada hutan produksi. Sedimen yang terdapat pada Sabo Dam diukur volumenya. penyelundupan kayu. E. crassipes SOLMS tidak boleh dilakukan secara biologis atau secara kimiawi. crassipes SOLMS untuk makanan ternak. penanganan E. kemudian diambil sampelnya untuk dianalisis kandungan unsur haranya. sosial. Laode Asir Tira. South Sulawesi) / Andi Gustiani Salim. Untuk itu.356 .Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 155-161 . Untuk mengetahui sumber-sumber erosi. crassipes SOLMS pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh penjajah Belanda pada tahun 1894. Berdasarkan hasil penelitian. menengah dan tidak menutup kemungkinan untuk bahan baku industri besar.122 . diketahui bahwa luas catchment Sabo Dam 6 adalah 74. Papua Ruby. Pembalakan liar dan penyelundupan kayu merupakan kejahatan yang terorganisir termasuk pelanggaran hukum pidana. Kata Kunci: Enceng gondok.2 . -. No. Pemusnahan E.

dan 30 tahun serta empat petak di lokasi hutan primer yang belum ditebang. eksploitasi hutan.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 1. dan 45 . dan biaya ganti unsur hara sebesar Rp 7. pengintegrasian program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30 tahun setelah eksploitasi. Topografi beragam dari landai sampai curam. Penelitian dilakukan pada kawasan hutan bekas tebangan milik PT.083. Struktur geologi utama adalah sesar normal dan sesar jurus mendatar. aplikasi teknik konservasi tanah dan air. -.96). sehingga tidak berbeda nyata dengan hutan primer (605 pohon/ha. Kerugian akibat erosi yang dihitung dengan pendekatan biaya ganti angkut sebesar Rp 3.5 m2/ha) dan 10 tahun (501 pohon/ha. mencegah banjir dan kekeringan. budaya dan kelembagaan DAS Limboto serta menentukan alternatif teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) DAS Limboto. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan pengelolaan DAS Limboto diarahkan pada : Pelestarian fungsi kawasan. Kata kunci : Kuantifikasi.8 m2/ha). Kata kunci : Biofisik.6 cm/thn.191. hutan kemasyarakatan. GORONTALO (Characteristic of Hunggul Yudono SHN. Hasil yang diperoleh yaitu karakteristik DAS Limboto meliputi bentuk DAS bulat dengan RC rasio mendekati 1(0. DAN KELEMBAGAAN DAS LIMBOTO.307. 28. 10. Socio-Economics. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik. meningkatkan produktivitas. Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing satu hektar. produktivitas hutan kembali tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah pohon (577 pohon/ha) dan luas bidang dasar (46. ekonomi.Info Hutan : Vol. Halaman 159171. penghijauan. yaitu 40.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. areal bekas tebangan.9 m2/ha). 248/Kpts-II/1999.678.3 . c) Pengembangan sosial-ekonomi dan kelembagaan : pemberdayaan masyarakat.-/thn untuk Sabo Dam 8. 2006 Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto merupakan salah satu DAS kritis prioritas I berdasarkan SK Menhut No. rehabilitasi Samsoedin.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 274. tingginya tekanan penduduk. sedangkan produktivitas LOA-5 (501 pohon/ha. 32. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan produksi di Indonesia telah dilakukan selama lebih dari 30 tahun. hutan rakyat. and Institution of the Limboto Watershed. kelembagaan. erosi. Gorontalo) / Andi Gustiani Salim. budaya. tanah. pola aliran sungai dendritik dan luas DAS 86. penguatan kelembagaan.6 m2/ha) masih lebih rendah dibandingkan hutan primer. No. konservasi sempadan sungai/danau.III.202. unsur hara Salim. terdiri dari masing-masing empat petak di LOA-5. Ismayadi DINAMIKA LUAS BIDANG DASAR PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (The Dynamic of Basal Area in Logged-Over Forest in East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. b) RLKT off site : normalisasi sungai.368. Enik Eko Wati. Andi Gustiani KARAKTERISTIK BIOFISIK. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan teknik rehabilitasi lahan yang tepat untuk mengurangi laju degradasi lahan di DAS Limboto. BUDAYA. SOSIAL-EKONOMI.menyumbangkan erosi pada Sabo Dam 6 dan Sabo Dam 8. penegakan hukum dan perundangan.III. peningkatan daerah resapan.790 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 1%/thn dan lebih dari 52% bekerja sebagai petani.333.280 . sosial-ekonomi. konversi hutan menjadi lahan budidaya dan perladangan berpindah. -. Jenis tanah bervariasi dan didominasi jenis alfisol. Informasi tentang kondisi hutan terkini terutama luas bidang dasar sangat diperlukan untuk mengetahui produktivitas hutan setelah kegiatan penebangan. Halaman 271 . Kekritisan ini didasarkan pada luasnya lahan kritis.80 ha. 45. tingginya laju sedimentasi dan pendangkalan Danau Limboto. luas bidang dasar Biophysics. Inhutani I dan II di Kalimantan Timur. Penyebab utama luasnya lahan kritis adalah perambahan hutan. peningkatan pendapatan dan konservasi danau. Dalam penelitian ini. Penggunaan lahan terluas adalah tegalan. No.-/thn Sabo Dam 8. sosial-ekonomi. Untuk mencapai tujuan tersebut disusun alternatif arahan teknik RLKT yaitu : (a) RLKT on site yaitu : reboisasi. Culture.430. agroforestry. tidak dijumpai adanya indikasi perubahan struktur tegakan yang diukur dari sebaran kelas diameter Kata kunci : Hutan hujan tropik.545.576.3 . Jumlah penduduk 575.

III. dan LOA-30. dan 65 suku dengan 67 jenis dari suku Dipterocarpaceae. areal bekas tebangan. Benth.5 . LOA-10.341 . 30 tahun serta hutan primer untuk keperluan analisis dan penilaian. Kalimantan Timur. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. terdiri dari 4 petak di LOA-5. -. Kalimantan Timur pada hutan bekas tebangan berumur 5. Halaman 379 . Halaman 505 . -. sedangkan Koompassia malaccensis Maing. dan 30 tahun. Untuk pancang. Kalimantan Timur ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi permudaan alam (anakan dan pancang) pada hutan bekas tebangan. Inhutani I dan II di Kabupaten Malinau. LOA-10. Inhutani I and II in Malinau District. Kata kunci : Hutan hujan tropik. Halaman 327 .) Taub. 10. ditemukan 802 jenis. dan dominasi permudaan pada hutan bekas tebangan LOA-5. No. 2006 Penelitian yang dilakukan di hutan hujan tropik di Kabupaten Malinau. Areal ini memiliki strata tajuk yang lebih rendah dibandingkan LOA-5 dan LOA-10. INHUTANI I DAN II DI KABUPATEN MALINAU. Tidak terjadi perbedaan yang nyata dalam jumlah jenis dan individu anakan antara lokasi bekas tebangan dan hutan primer. serta 4 petak pada hutan primer yang belum ditebang. dengan Dipterocarpaceae paling dominan dibandingkan dengan suku lain. sedangkan untuk jumlah jenis. yang terdiri dari 408 genus dan 111 suku. dan 30 tahun dengan pembanding hutan primer pada ketinggian 100-300 m dpl.3 . guna mengurangi tekanan atau intervensi masyarakat terhadap hutan. Ismayadi KESUBURAN TANAH HUTAN HUJAN TROPIK DAN KESESUAIANNYA UNTUK BEBERAPA JENIS TANAMAN PERTANIAN PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Fertility of dan I Wayan Susi Dharmawan.388 . dan LOA-30 dan membandingkannya dengan hutan primer.022 jenis. Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh tanah pada lokasi hutan bekas tebangan berumur 5. Pohon-pohon menjulang (emergent) pada LOA-10 didominasi oleh Koompassia excelsa (Becc. guna mengetahui kelayakan lahan sekitar hutan untuk kemungkinan pengembangan tanaman pertanian. 10. Kesuburan tanahnya rendah sampai dengan sangat rendah untuk produksi tanaman pertanian.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak dijumpai adanya pohon menjulang (emergent) pada hutan primer dan LOA-30.III. strata tajuk atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi hutan khususnya strata tajuk yang sangat diperlukan untuk mengetahui kerusakan hutan akibat kegiatan penebangan. Penelitian dilakukan di lokasi hutan hujan tropik Hutan Penelitian Bulungan. jumlah. strata tajuk Samsoedin. LOA-5 memiliki jumlah yang terbesar yang tidak berbeda nyata dengan LOA-10 dan LOA-30. KALIMANTAN TIMUR (The Condition of Canopy Strata in Logged-Over Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing 1 hektar. Tidak terjadi perbedaan nyata dalam jumlah individu pancang. regenerasi alam Samsoedin. -. Dari hasil penelitian ditemukan anakan sebanyak 1. Ismayadi KONDISI STRATA TAJUK PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI AREAL KERJA PT. Kata kunci : Hutan hujan tropik.512. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kesuburan tanah hutan pada hutan bekas tebangan berumur 5. dengan tingkat kesesuaian lahan yang umumnya marginal 46 .Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. 10. Pada hutan primer. No.4 . Penelitian dilaksanakan dengan menghitung jenis. dan LOA-30. Pengetahuan tingkat kesuburan lahan hutan hujan tropik sangat diperlukan dalam mengembangkan tanaman pertanian untuk mendukung kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian adalah Oxisols. ex.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. KALIMANTAN TIMUR (Natural Regeneration in Logged-over Production Forest in Malinau District. 2006 Tropical Rain Forest Soil and Its Suitability for Some Crops in LoggedOver Production Forest of East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin Production Forest of PT. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan telah diketahui sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan hujan tropik di Indonesia. LOA-10. No. Ismayadi PERMUDAAN ALAM HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KABUPATEN MALINAU. dominan di strata tajuk paling atas (emergent) pada LOA-5. 241 genus. areal bekas tebangan. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin.Samsoedin. Penelitian ini dilakukan pada lokasi hutan produksi bekas tebangan milik PT.III. sedangkan pada LOA-5 didominasi oleh Shorea parvifolia Dyer.

30 g. Untuk parameter kandungan protein rancangan penelitian menggunakan rancangan Acak Lengkap secara faktorial dengan faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. 10. pupuk urea 47 . Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai sisa kayu besar di hutan bekas tebangan dan hutan alam dalam rangka memperbaiki pengelolaan hutan dan menjaga keragaman jenis. Morus sp. var. DAN KANDUNGAN PROTEIN DAUN MURBEI (Morus sp. Sedang untuk parameter jumlah cabang dosis pupuk terbaik untuk kedua varietas murbei adalah 30 g/tanaman. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap Berblok secara faktorial. 20 g. kesesuaian lahan. Sisa kayu besar memiliki peran penting sebagai bahan nutrisi dan hara dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Var. Pemberian pupuk urea dengan berbagai dosis dapat meningkatkan kandungan protein daun murbei (Morus sp. Data dikumpulkan dari 16 petak berukuran masing-masing 1 ha. Var. NI and Morus sp. Kata kunci : Hutan hujan tropik. Provinsi Sulawesi Selatan.1 . NI. No. NI dan Morus sp. luas bidang dasar. kandungan protein daun murbei. Budi EFEKTIVITAS PEMUPUKAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN. sedang faktor kedua adalah dosis pupuk urea yaitu 10 g. terdiri dari empat petak untuk tiap perlakuan yaitu petak bekas tebangan berumur 5. NI dan Morus sp. var.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Var. -. Halaman 1 . Faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. Penelitian ini dilakukan pada hutan produksi bekas tebangan di hutan hujan tropik dataran rendah.III. -. Ismayadi POTENSI SISA KAYU PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Coarse Woody Debris Potential in Logged-Over Production Forest of East Kalimantan / Ismayadi Samsoedin dan/and I Wayan Susi Dharmawan. AsI) . Kata kunci : Hutan hujan tropik. 10.574. Penambahan dosis pupuk urea dapat meningkatkan produksi daun murbei (Morus sp. Meskipun tidak berbeda nyata.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Var. Retno Prayudyaningsih. var. AsI). Var.8 . Kalimantan Timur. Var. var. sedang pada varietas AsI dosis pupuk terbaik adalah 40 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang 14. Kata kunci: Morus sp. produksi daun. sisa kayu besar Santoso. Pemberian pupuk urea pada NI dengan dosis sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang sebesar 6. and Protein Content for Varieties Mulberry (Morus sp. namun pengaruh perbedaan dosis pupuk terhadap peningkatan produksi daun tidak signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa lahan hutan produksi dengan ekosistem hutan hujan tropik dataran rendah hanya cocok untuk mendukung kegiatan kehutanan. 2006 Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili. sisa kayu pada hutan primer di lokasi penelitian sebesar 67. dan 40 g/tanaman. var. NI dan Morus sp. Pada NI dosis pupuk urea sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan kandungan protein 3. panjang cabang. Var. dan 30 tahun serta 4 petak pada hutan primer sebagai petak kontrol. Leaf Production. dan 30 tahun. Var. Kabupaten Luwu Timur. PRODUKSI DAUN. Bintarto Wahyu Wardani. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dalam hal jumlah batang untuk sisa kayu berdiri dan rebah. Halaman 564 .14 %.46 %. AsI)) / Budi Santoso. Var. AsI). NI dan Morus sp. dan volume kayu antara hutan primer dengan hutan bekas tebangan 5. 2006 Adanya sisa kayu besar pada hutan alam bekas tebangan adalah hal yang tidak bisa dihindari karena sisa kayu dihasilkan secara alami oleh adanya pohon yang mati dan sisa kayu penebangan yang tidak termanfaatkan.5 . tetapi hal ini juga menunjukkan kurang efektifnya pemanfaatan kayu dalam pemanenan hutan. namun pengaruh peningkatan dosis pupuk urea terhadap peningkatan kandungan protein daun tidak berbeda nyata.32 %.(S3) atau tidak layak (N). AsI) dan faktor kedua dosis pupuk urea. No. sedang apabila ditingkatkan dosis pupuknya (40 g/tanaman) kandungan protein menurun menjadi 3.3 m3/ha atau 2 kali lebih besar daripada hutan primer di Costa Rica. tanaman pertanian Samsoedin. areal bekas tebangan.22 %. NI and Morus sp. AsI.III. AsI)) (Effectivity of Urea Fertilizer for Growth.

Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu Lawowoi (Kabupaten Sidrap) dan Sabangparu (Kabupaten Wajo).10 ppm yang terbaik untuk mempercepat terbentuknya tunas yaitu 5.35 g/tanaman). Tingkat kerontokan daun dipengaruhi jenis murbei.05 ppm. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai tingkat kerontokan terbesar adalah Kabupaten Sidrap (48.5 ppm) setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. 0. kultur jaringan.III.5 ppm. dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. Kata kunci : Tingkat kerontokan daun. Jenis murbei yang mempuyai tingkat kerontokan daun terbesar adalah Morus indica S-54 (43.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. varietas murbei KI 14.(232. Faktor pertama adalah konsentrasi NAA (0. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai produksi daun tertinggi adalah Enrekang (229.49 %). -. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi.41 %).0 ppm. Jenis murbei yang produksi daunnya tertinggi adalah Morus multicaulis Perr..10 ppm. 2) jumlah tunas terbanyak (3 tunas) dicapai pada perlakuan NAA 0.2 .Santoso. Setiap jenis tanaman murbei di setiap tempat diteliti dalam tiga plot dengan ukuran plot 10 m x 10 m masing-masing dengan 50 tanaman.539. Budi KESESUAIAN JENIS MURBEI DAN BIOFISIK DAERAH KERING (Compatibility of Mulberry with Its Soils’s Biophysics at Dry Area of South Sulawesi) / Budi Santoso. Halaman 533 . Budi TINGKAT KERONTOKAN DAN PRODUKSI DAUN BEBERAPA JENIS MURBEI (Morus multicaulis Perr. dan 1. Pelaksanaan penelitian selama tiga bulan antara bulan Maret sampai Mei 2004. Perlakuan ini seragam di setiap lokasi penelitian. No.) VARIETAS KI 14 SECARA INVITRO (Invitro Multiplication of Mulberry KI 14 Variety) / Budi Santoso. lokasi tempat tumbuh. and Morus indica S-54 in a Dry Area) / Budi Santoso. dan 0. Morus indica S-54 Santoso. Retno Prayudyaningsih. Retno Prayudyaningsih. No. perbaikan guludan. pendangiran.. Halaman 119 .5 ppm memberi respon paling tinggi (5.492 cm) pada tinggi tunas dalam media kultur varietas murbei KI 14.. Kata kunci : NAA.05 dan BAP 0. -. 2006 Penelitian tingkat kerontokan dan produksi daun beberapa jenis murbei di daerah kering ini dilakukan di empat kabupaten yang menjadi sentra utama persuteraan alam di Sulawesi Selatan.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) konsentrasi NAA 0. curah hujan. 1. dan 3) kombinasi perlakuan NAA 0.III.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Santoso. Bintarto Wahyu Wardani. produksi daun. Morus sp. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap tingkat kerontokan daun dan produksi daun. dan pelabelan.126 . Tanaman yang masuk dalam plot kemudian dilakukan pemangkasan setinggi 40 cm dari tanah. BAP. 2006 Penelitian multiplikasi tanaman murbei varietas KI 14 bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang konsentrasi NAA dan BAP yang optimal pada perbanyakan tanaman murbei varietas KI 14 secara invitro.15 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP (0. No. and Morus indica S-54) DI DAERAH BERLAHAN KERING (Percentage of Mulberry Leaf Fall and Leaf Production of Some Mulberry Species Morus multicaulis Perr.36 g/tanaman). dengan rancangan acak lengkap secara faktorial. Halaman 157 164 . Penelitian dilakukan terhadap tiga jenis tanaman murbei berumur lima tahun dalam plot percobaan di lapangan yang ditetapkan secara purposive sampling. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kesesuaian jenis murbei. multiplikasi. Morus nigra Linn. pemupukan urea 20 g/tanaman.05 ppm.8 hari.5 . Budi MULTIPLIKASI TANAMAN MURBEI (Morus sp. dan fisik serta kimia tanah daerah pengembangan persuteraan alam di Sulawesi Selatan pada musim kemarau.III. Pada setiap lokasi dibagi menjadi tiga blok dan setiap blok 48 .. Andi Rismawati. Morus nigra Linn. Produksi daun dipengaruhi jenis murbei dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. dan Retno Prayudyaningsih. -.2 .

pencemaran. Di S. pertanian. Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Cemara. enam jenis diantaranya dilindungi. dan pertambakan berdampak negatif pada kualitas perairan lahan basah.373 mg/l dan 33. sifat fisik dan kimia tanah. Halaman 147 .2 . Endang Karlina. Habitat burung merandai di Pemalang telah mengindikasikan adanya pencemaran berdasarkan temuan kandungan pestisida di air tambak dan cangkang telur berupa endosulfan dengan konsentrasi di bawah 0. sampah rumah tangga. Tanah di Lawowoi layak digunakan untuk budidaya tanaman murbei. merupakan jenis yang bertoleransi terhadap pencemaran lingkungan. pencemaran habitat sebagai dampak negatif konversi lahan basah menjadi tambak dan populasi ikan yang merupakan persediaan pakan burung serta arahan pengelolaan kawasan lahan basah habitat burung merandai menjadi kawasan ekosistem esensial. ikan yang ditemukan 32 jenis. Halaman 185 . Pemalang dan S. BKPH Indramayu ditemukan 13 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam 6 famili. klorida (Cl) (3.5 % dan 436. ditemukan 17 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam empat famili. Parameter yang diamati adalah produktivitas daun. Reny KUALITAS PERAIRAN LAHAN BASAH DI SUNGAI COMAL.12 mg/l). Sedangkan dari jenis plankton.100 ppm. jenis benthos dan plankton Sawitri. dan posfor. Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Indramayu. Kedung Coet.33 %). Terraponidae 9 %. ikan yang ditemukan 10 jenis. Jenis benthos yang mendominasi kawasan perairan adalah Gammarus spp. kualitas fisik dan kimia air. Pemalang and Kedung Coet River. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang berapa besar pengaruh dari berbagai pemanfaatan kawasan terhadap kualitas air secara fisik maupun kimia dan pengaruhnya terhadap keragaman jenis benthos dan plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. 6 jenis diantaranya dilindungi.02 mg/l dan 0. namun harus ditambahkan pupuk nitrogen. Curah hujan di Lawowoi (Sidrap) dan Sabbangparu (Wajo) rendah. Reny KAJIAN STATUS POPULASI BURUNG MERANDAI DI PANTAI UTARA PULAU JAWA (The Study Population Status of Shorebirds in North Beach of Java Island) / Reny Sawitri.Info Hutan : Vol. Sedang tanah di Sabbangparu harus dipupuk dengan nitrogen. konversi lahan.0226 ppm. INDRAMAYU (Riverine Quality of dan Konservasi Alam : Vol. RPH Cemara. Jawa Tengah. Di Pemalang. BKPH Indramayu. salinitas (20 mg/l dan 25 mg/l). 22 famili. No. dan di Kedung Coet. kesesuaian jenis. dan tembaga (0. curah hujan.193 . Habitat burung merandai sebagai kawasan ekosistem esensial memerlukan pengayaan tanaman mangrove untuk menarik datangnya burung merandai dan memperkaya nutrisi perairan dengan serasah guna peningkatan Wetlands in Comal River. Jawa. Sedangkan di Kedung Coet.Jurnal Penelitian Hutan Pemanfaatan kawasan untuk jaringan pembuangan industri. Cyprinidae 14 %.34 mg/l dan 6. kawasan di S.III.III. dan kurangnya persediaan sumber pakan burung. PEMALANG DAN SUNGAI KEDUNG COET.67 g/tanaman di Wajo dan 194. 10 famili yang dibagi ke dalam Bagridae 18 %. BOD (19. Comal. kondisi ini masih di bawah ambang batas 0. burung penetap dan burung migran di pantai utara Pulau (P. Burung merandai terutama yang termasuk burung migran mengalami penurunan dari tahun 1987-2004 sebesar 5 % per tahun. dan posfor serta diperbaiki tekstur tanahnya. eksploitasi sumberdaya alam.2 .00 g/tanaman di Sidrap.20 mg/l dan 188. Indramayu) / Reny Sawitri.157 . Gobidae 9 %. Produksi daun tertinggi di Wajo dan Sidrap dihasilkan oleh Morus khunpa K. besi (0. -. BKPH Indramayu termasuk perairan antara eutrophic dan oligotrophic.76 mg/l).357 mg/l). daerah kering Sawitri. Pemalang 49 . Comal. yaitu 193. kalsium. Pemalang.847 mg/l). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status populasi burung merandai di pesisir utara P.387 mg/l dan 0.117 mg/l). No. kalsium.996 mg/l).05 mg/l). yaitu Sungai Comal dan Sungai Kedung Coet. Kedung Coet. Endang Karlina. 2006 digolongkan ke dalam perairan eutrophic dan S. RPH Cemara.terdiri atas sembilan jenis/varietas murbei. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling pada badan Sungai (S) Comal. Kata kunci : Murbei.88 mg/l dan 77. COD (48. sulfat (179. 2006 Burung merandai terbagi dua.) Jawa mengalami kecenderungan penurunan jumlah jenis maupun populasi sebagai akibat konversi lahan basah.0002 ppm dan 0. N/P rasio (77.349 mg/l dan 12. RPH Cemara. Metode yang dipergunakan adalah transect line dengan menyusuri sungai menuju muara sungai. -. dan Chanidae 9 %. sehingga kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman murbei. Kata kunci: Lahan basah. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa. kualitas air secara fisik maupun kimia di kedua sungai tersebut menurun sebagai akibat dari eksploitasi vegetasi mangrove dan intrusi air laut dilihat dari residu terlarut (10.

tingkat erosi di sub DAS Miu adalah 0.-/hektar/tahun. Hasil penelitian di sub DAS Wuno pada kejadian hujan 53 mm. Model AGNPS merupakan model kejadian hujan yang berbasis sel segi empat dengan tiga komponen utama yaitu hidrologi.8 mm.350.71 ton/ha dengan hasil sedimen 13.09 mg/liter untuk P. Hunggul Yudono SHN. -.4 . Halaman 389 . Palu Watershed) / Ogi Setiawan.populasi dan keragaman jenis ikan sebagai sumber pakan burung merandai di alam. Arahan pengelolaan lahan untuk kedua sub DAS secara umum adalah penerapan teknik konservasi tanah dan air. Model ini juga mampu menentukan sumber erosi dan pencemar. dan peternakan. Konsentrasi unsur hara adalah 29. No. Sedangkan untuk kuantifikasi jasa lingkungan yang diberikan hutan lindung dilakukan dua pendekatan yaitu nilai manfaat dan dampak. 2002). Konsentrasi N (1.III.93 ton/ha/tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jasa hutan lindung DAS Palu sebagai pengatur tata air yaitu jasa pengatur tata air untuk pertanian. 0. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kualitas aliran sub DAS Wuno dan sub DAS Miu.4 % dari luas total DAS Palu (BAPLAN Kehutanan.118.41 ton/ha dengan hasil sedimen 7.13 mg/liter).49 mg/liter untuk N. ekosistem esensial lahan basah Setiawan. pengatur tata air Setiawan. Bila curah hujan tahunan 1. dan COD (19 mg/liter) masih ada di bawah ambang batas maksimum yang diperbolehkan untuk semua pemanfaatan air. Kedua pendekatan ini menggunakan beberapa metode perhitungan antara lain travel cost. dalam hal ini model AGNPS. Ogi KUALITAS ALIRAN SUB DAS WUNO DAN MIU DAS PALU (Discharge Quality of Wuno and Miu Sub Watershed. dan pengurangan pemakaian pupuk non organik dan diganti dengan pupuk organik.326 . Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan model. Ryke Nandini. DAS Palu sebagai dampak pengelolaan lahan serta informasi untuk menentukan arahan pengelolaan lahan di DAS tersebut.335.3 .400 . No.53 ton/ha/tahun untuk curah hujan tahunan 978. erosi yang dihasilkan adaalah 0.5 mm maka erosi yang terjadi setara dengan 6. model AGNPS 50 .965 ton. biaya pengganti. harga pasar. Penelitian ini dilaksanakan di DAS Palu yang mempunyai hutan lindung seluas 86. aturan. dan jasa proteksi terhadap banjir. nilai ekonomi. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan nilai ekonomi jasa hutan lindung khususnya sebagai pengatur tata air. perikanan. penerapan sistem agroforestry. pengembalian kawasan fungsi lindung. Partisipasi aktif dan persamaan persepsi antar stakeholder. erosi. dan unsur hara. Kata kunci : Hutan lindung. dan 124 mg/liter untuk COD. Pada kejadian hujan 65 mm. Adapun sumber pencemar unsur hara adalah ladang dan kebun campuran.. jasa air untuk perikanan.526.294 ha atau 25.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. adanya dukungan kelembagaan termasuk di dalamnya lembaga.25 mg/liter).451 ton atau setara dengan 15. Konsentrasi N dan COD melebihi batas maksimum yang diperbolehkan untuk air minum.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. jasa air untuk konsumsi rumah tangga. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Ladang.III. dan mekanisme pembiayaan/insentif sangat diperlukan untuk menuju pengelolaan hutan lindung yang lestari. kebun campuran. Hasil kuantifikasi jasa hutan lindung tersebut dalam satu tahun adalah Rp 116. Sedangkan konsentrasi P masih berada di bawah ambang batas maksimum.294. Halaman 309 . Banyaknya manfaat yang diberikan hutan lindung sebagai pengatur tata air menunjukkan bahwa terdapat banyak stakeholder yang terlibat.atau setara dengan Rp 1.765. Dalam analisis data untuk mengetahui hasil air sebagai dampak ada atau tidaknya hutan lindung terhadap jasa yang diberikan digunakan pendekatan bilangan kurva (curve number). P (0. ikan. Kata kunci : Kualitas aliran. pertanian. Sumber erosi di sub DAS Wuno adalah ladang. dan kontingensi. Kata kunci : Burung merandai. Ogi KUANTIFIKASI JASA HUTAN LINDUNG SEBAGAI PENGATUR TATA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) PALU (Quantification of Protected Forest as A Stream Regulator at Palu Watershed) / Ogi Setiawan. -. dan coklat merupakan sumber erosi terbesar.

penerapan teknik konservasi tanah dan air serta adanya dukungan institusional.III.Biophisic and Social Economy of Community for Supporting Rongkong Watershed Management) / Ogi Setiawan.839. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Halaman 401 419 . dengan tingkat pendapatan Rp 225. Retno PERTUMBUHAN JENIS ANDALAN SETEMPAT UNTUK REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI / Retno Setyowati. 2006 Penelitian ini dilaksanakan di DAS Rongkong. banyak dijumpai lahan terdegradasi di NTT. Untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lahan yang lebih parah maka perlu dilakukan upaya pengendalian yaitu melalui kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi. lahan.96 yang berarti bahwa kondisi DAS Rongkong termasuk sedang. -.3 ha. sosial dan ekonomi.Jurnal Setiawan. Nilai KRS mempunyai kecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat erosi 2. 2006 Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara klimatologis dimasukkan ke dalam daerah semi arid karena curah hujan yang relatif rendah (sebagian besar tipe iklim E dan F) dan didominasi oleh keadaan vegetasi seperti savana dan stepa. Ogi STUDI BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PENGELOLAAN DAS RONGKONG (Study of Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kata kunci: Biofisik.468 jiwa. Arahan pemantapan pengelolaan DAS Rongkong adalah perbaikan kualitas penggunaan lahan. Ryke Nandini.5 ha (61.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Halaman 181-185 .(et.4 %) dan kebun campuran 44. Kabupaten Luwu Utara. Dengan kondisi seperti itu.4 .5 ha (23.5 %). Hengki TEKNIK SILVIKULTUR ULIN (Eusideroxylon zwageri T. Kelas KPL yang mendominasi DAS Rongkong adalah KPL IV. Kata Kunci: Silvikultur.500 mm dengan hari hujan 50-100 hari. dan bantalan rel kereta api.011.. 2006 Ulin (Eusideroxylon zwager T. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap kegiatan.35 mm/tahun. sosial.al) . Tipe iklim DAS Rongkong adalah A (sangat basah). Kegiatan rehabilitasi lahan dalam bentuk penghijauan /reboisasi bertujuan untuk memperbaiki lahan yang rusak dan tidak produktif serta mengurangi erosi permukaan dan meningkatkan kondisi hutan ke arah yang 51 . jenis tanah dominan podsolik merah kuning (45.-/bulan. -. Jembatan. DAS Rongkong mempunyai kelembagaan formal dan informal yang berpotensi untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan DAS. pengelolaan DAS. dan informasi tentang arahan penggunaan lahan di DAS Rongkong.098. arahan penggunaan lahan Siahaan.9 %). pengamatan lapangan serta wawancara dan studi literatur. Berdasarkan kriteria dan indikator hidrologi.Rp 275. Jumlah penduduk DAS Rongkong 122.) / Hengki Siahaan. DAS Rongkong mempunyai luas 182. pembibitan. konstruksi dalam air. 2006 . ekonomi dan budaya DAS Rongkong mempunyai skor nilai 1. Tulisan ini menyajikan teknik silvikultur ulin yang meliputi aspek perbenihan. Eusideroxylon zwager T.000. yaitu interpretasi peta.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . dan kelas lereng didominasi lereng sangat curam (> 40 %). penggunaan lahan DAS Rongkong didominasi hutan campuran 110. No.et B Setyowati.-/bulan . Saat ini akibat eksploitasi ulin yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi kegiatan penanaman telah menjadikan potensi jenis ini semakin berkurang dan jika tidak segera diantisipasi dapat berdampak lebih buruk berupa kelangkaan dan kepunahan. penyumbang aliran permukaan terbesar adalah kebun campuran dan kebun sejenis. sosial dan ekonomi masyarakat.et B.01 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi 1.. curah hujan rata-rata setahun berkisar antara 710-1. -. Halaman 137-146 .000.et B) merupakan salah satu jenis andalan di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan. Ulin. pemeliharaan bibit. Kualitas kayunya tinggi karena termasuk dalam kelas kuat I dan kelas awet I sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti konstruksi bangunan. Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi biofisik. Berdasarkan hasil analisis aliran permukaan. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan informasi awal untuk melakukan budidaya dan konservasi jenis ulin. hingga penanaman di lapangan yang dirangkum dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan.

habitat tempat tumbuh gaharu yang mempelajari mengenai penyebaran jenis gaharu secara alami dan ekologinya. dan stek pucuk. Sulistyo A. serta standarisasi produksi gaharu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang pertumbuhan jenis-jenis andalan NTT sebagai bahan pertimbangan dalam rehabilitasi lahan dengan menggunakan berbagai perlakuan media tumbuh di persemaian. NI KADEK EROSI UNDAHARTA DAN HARTUTININGSIH M SIREGAR. Kutai barat. dan Nunukan. dan Yusliansyah. Lagerstroemia speciosa Pers. pembentukan gaharu dengan menginokulasikan Fusarium sp. -. Mimusops elengi L. teknik penyulingan dengan menggunakan gaharu mutu rendah untuk menghasilkan minyak gaharu..lebih produktif.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 29-48 .. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. habitat tempat tumbuh gaharu. Santalum album Linn. HHBK. kandungan dan manfaat gaharu. teknik pemanenan.) Dub. Dengan adanya teknologi tepat guna rehabilitasi lahan terdegradasi ini diharapkan mampu mempercepat keberhasilan upaya rehabilitasi lahan terdegradasi di NTT. Status penelitian gaharu di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan kalimantan antara lain budidaya meliputi teknik produksi bibit gaharu melalui biji. Siran. Jenis andalan setempat. KOMODITI HHBK ANDALAN KALIMANTAN TIMUR / Sulistyo A. Heritiera littoralis Dryand.. dan faktor fisik lainnya akan lebih mudah dikembangkan daripada mengembangkan jenis eksotik lainnya.Konservasi insitu dan ex-situ pada jenis-jenis gaharu yang ada di kalimantan Timur. Malinau. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. Kata kunci: Pohon lokal. tata niaga dan klasifikasi mutu gaharu. dan Murraya paniculata Jack.Program penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan mengenai pohon penghasil gaharu meliputi: litbang budidaya gaharu. tata niaga gaharu. 2006 Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang mempunyai peranan penting untuk meningkatkan devisa negara dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. mempelajari beberapa kajian yang menyangkut manfaat gaharu. Halaman 93-100 . Akan tetapi perlu pertimbangan jenis-jenis yang mendapat prioritas mengingat status konservasinya telah mulai mengalami kelangkaan di alam yaitu Manikara kauki (L.. Pasir. penerbitan publikasi khusus mengenai gaharu. Pada pohon penghasil gaharu menggunakan inokulasi padat dan cair... tata niaga gaharu. pengelolaan dan standarisasi mutu. Ngatiman. jenis penghasil gaharu. Mustaid TINJAUAN JENIS-JENIS POHON LOKAL BALI YANG BERPOTENSI DIKEMBANGKAN SEBAGAI KAYU KOMERSIL / MUSTAID SIREGAR.. GAHARU. status penelitian gaharu dan program penelitian dan pengembangan gaharu. pembentukan gaharu. Kayu komersial. 2006 Pengembangan jenis-jenis lokal yang sudah sesuai dengan kondisi biofisik wlayah Bali seperti kondisi tanah. promosi. Dalbergia latifolia Roxb. Kelangkaan jenis 52 . NTT Siran.pemungutan dan pengolahan gaharu. cabutan . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Kalimantan Timur Siregar. kajian sosial ekonomi masyarakat pencari gaharu dan pemasaran gaharu serta kajian pemanfaatan pohon penghasil gaharu untuk bahan baku MDF dan pensil. Kata Kunci: Gaharu. iklim. Konservasi. dan alih teknologi pengembangan gaharu yang dilakukan pada beberapa kabupaten seperti Berau. monitoring pengembangan gaharu serta sosialisasi dan diseminasi pengembangan gaharu dengan cara penyebaran informasi melalui media cetak dan media elektronik (RRI dan TVRI) dan penyebaran informasi dengan ekspose hasil-hasil penelitian. Dysoxylum caulostachyum Miq. Cordia subcordata Lamk. Dalam makalah ini diuraikan antara lain gambaran umum tumbuhan penghasil gaharu di Kalimantan Timur.

No. yaitu berturut-turut 0. falcataria sedikit lebih tinggi daripada vegetasi baseline walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan.8144. Kata kunci : Karbon tanah.21 %.96 ton C/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 9.86 g/cc dan 0. Sukabumi. Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim B (curah hujan tahunan 2. Halaman 541 553. yaitu sebesar 59. simpanan karbon tanah kumulatif Carbon Changes Affected ByThe Establishment of Siringoringo.489.24-3.929 mm) di Desa Buniwangi. yaitu berturut-turut 1.05 ton C/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa). Biomasa total Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline-nya diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara DBH dan biomasa total dan atau (DBH)2H dan biomasa total. Harris Herman MODEL PERSAMAAN ALLOMETRI BIOMASA TOTAL UNTUK ESTIMASI AKUMULASI KARBON PADA TANAMAN PARASERIANTHES FALCATARIA (L) NIELSEN (Total Biomass Allomeric Equation Model For Assessing Accumulated Carbon In Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar. No. Jawa Barat. yaitu sebesar 28.05 ton karbon/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.52-3.0986 (DBH)2H0. Sedangkan biomasa tumbuhan bawah pada tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan baseline diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara persen penutupan tajuk dikalikan dengan tinggi maksimum tumbuhan bawah (UC x UH-max) dan biomasa tumbuhan bawah di atas tanah. Sedangkan kerapatan tanah (BD) pada tegakan P. Peningkatan karbon terfiksasi dihitung berdasarkan perbedaan produksi karbon biomasa antara tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline. -. Karbon tanah pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. JAWA BARAT (Soil Paraserianthes falcataria (L) Nielsen Plantation In Sukabumi.Siringoringo.9 ton karbon/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 28. Tujuan utama penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang perubahan kandungan karbon dengan cara membandingkan kandungan karbon tanah.III. Pelabuhan Ratu. 2006 Karbon tanah dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.9458) berdasarkan persamaan (DBH)2Hbiomasa total. (R2 = 0.929 mm) di desa Buniwangi.2989.73-0.16 % dan 1. dan simpanan karbon pada vegetasi baseline-nya sebesar 10.5 . falcataria belum memberikan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan kandungan karbon tanah dan simpanan karbon tanah kumulatif pada saat tegakan berumur 6-7 tahun. Penelitian dilaksanakan pada tipe tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim tipe B (curah hujan tahunan 2. Pelabuhan Ratu. West Java / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar.76 g/cc. 2006 Pertumbuhan pohon yang ditopang oleh proses fotosintesis dapat mengurangi konsentrasi karbondioksida di atmosfir. Sementara simpanan karbon tanah kumulatif pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. Simpanan karbon dalam biomasa tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen hampir 3 kali lebih besar daripada biomasa pada vegetasi baseline-nya.83-0. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang dugaan peningkatan simpanan karbon pada biomasa hutan tanaman rakyat jenis Paraserinthes falcataria (L) Nielsen yang disajikan dalam model matematik. mempelajari perubahan kandungan karbon tanah di bawah tegakan hutan tanaman adalah sangat penting.43 ton/ha dan 51. falcataria lebih tinggi daripada kerapatan tanah pada vegetasi baseline pada kedalaman 0-30 cm. Halaman 477 . Oleh karena itu.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Sedangkan selisih produksi karbon dalam biomasa tumbuhan bawah tegakan Paraserinthes falcataria (L) 53 . pendugaan fiksasi karbon pada tanaman pohon yang dihubungkan dengan isu pemanasan global menjadi penting sebagai bagian dari upaya untuk mengetahui simpanan karbon dalam biomasa.5 . Sistem tegakan hutan tanaman rakyat jenis P. Sukabumi.16 ton/ha secara berurutan.1479 (DBH)2.9445) berdasarkan persamaan DBH-biomasa total. falcataria dan vegetasi baseline tidak menunjukkan perbedaan. Harris Herman PERUBAHAN KANDUNGAN KARBON TANAH PADA TEGAKAN Paraserianthes falcataria (L) Nielsen DI SUKABUMI. dan 0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan karbon tanah lebih tinggi pada lapisan permukaan tanah dan menurun pada lapisan tanah yang lebih bawah. (R2 = 0. Oleh karena itu. kerapatan tanah. kerapatan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan allometri yang dibangun untuk menduga biomasa total tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah 0. dan simpanan karbon tanah kumulatif pada tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi awalnya (hutan sekunder).III.

leprosula. Ujicoba produksi stek masal dengan KOFFCO system telah dilaksanakan di P3HKA. Sumatera Selatan Subiakto. Pengembangan jenis eksot di wilayah Sumatera Selatan harus diketahui terlebih dahulu data dasar potensi lahan serta kesesuaiannya menyangkut persyaratan tumbuh jenis yang akan dikembangkan. Atok PENGEMBANGAN TEKNOLOGI STEK PUCUK UNTUK HUTAN TANAMAN / Atok Subiakto dan Chikaya Sakai. Hutan tanaman 54 . (3) temperatur di bawah 30 derajat C.000-20. Tectona grandhis Linn. telah berhasil mengembangkan teknik stek untuk propagasi secara massal jenis-jenis meranti dan pohon indigenous lainnya. Kata kunci : Persamaan allometri. Teknik yang telah dikembangkan ini dinamakan KOFFCO system akronim dari Komatsu-FORDA Fog Cooling System. Balitbang Kehutanan Samarinda. Komponen utama sistem ini adalah pompa air. S. poros dan dapat mengikat air. Alstonia scholaris. peningkatan karbon terfiksasi Sofyan. guisso.. (2) kelembaban di atas 95 persen. Grandiflorus. Bogor.06 ton C/ha dan 1. alih teknologi teknik ini sedang dilaksanakan kepada sektor kehutanan di Indonesia. ovalis. yakni masing-masing sebesar 2. Selanica. 2006 Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam bekerjasama dengan KOMATSU Ltd. Halaman 77-83 . javanica.000 lux.al) . Shorea acuminatissima. Kepada para pihak yang berminat memanfaatkan teknologi ini dapat menghubungi Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam di Bogor. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa peningkatan karbon terfiksasi oleh tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah sebesar 1819 ton C/ha atau setara dengan 66-70 ton CO2/ha. laevis. S. S. odorata. balangeran. Teknik ini mengatur kondisi ideal untuk proses perakaran dari jenis-jenis meranti seperti S. Kata Kunci: Tanaman jati. dengan kerapatan tegakan sebesar 1. juga dilakukan pengukuran tinggi dan diameter. selanica.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan. D. Hopea bancana. Dengan dukungan JICA. secara berurutan. Vatica sumatrana. parvifolia. macrophylla.(et.. S. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survey. S. gragaria. S.. Sampai saat ini sebanyak 24 jenis-jenis indigenous telah dicoba dengan KOFFCO system yaitu Anisoptera marginata. nozel. pengukuran pertumbuhan tanaman serta identifikasi kualitas tapak melalui pembuatan profil dan pengambilan contoh tanah untuk analisis kimia tanah pada masing-masing plot yang telah ditentukan. S. Kalsel. S.9 ton C/ha. Balitbang HTI Banjarbaru. Kata Kunci: Stek pucuk. S. S. Jabar. Dyera costulata. umur dan pemeliharaan.300 pohon/ha. dan Fragaea fragrans. H. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandhis Linn. Riau. hal ini menunjukan bahwa tanaman jati dapat dikembangkan di wilayah tertentu dengan kondisi lahan yang mempunyai persyaratan tempat tumbuh (edafis) dan iklim (klimatis) sesuai dengan kriteria kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jati (site-species matching). S. S. dan Loka Litbang HHBK Kuok. H. platyclados. biomasa total. pinanga.Nielsen dan tumbuhan bawah vegetasi baseline terbukti sangat kecil dan tidak berbeda nyata. Beberapa plot tanaman jati di wilayah Kabupaten OKI dan Banyuasin mengalami kendala pertumbuhan dan perkembangan tanaman.leprosula dan S. stenoptera. dan (4) media yang higienis. Kaltim. S. S. 2006 Pertumbuhan tanaman jati pada berbagai lokasi di beberapa kabupaten di Sumatera penting untuk diketahui mengingat animo masyarakat pada tanaman jati sangat tinggi namun potensi kesesuaian lahannya belum diketahui. S.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi : Halaman 1-7 . seminis. dan termostat. palembanica. Persen beakar bervariasi antara 0 persen sampai 99 persen tergantung jenisnya. Gonistylus bancanus. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . sementara di beberapa wilayah Kabupaten OKU tanaman jati tumbuh normal. johorensis. smithiana. Sistem ini bekerja secara otomatis bila temperatur dalam rumah kaca mencapai 30 derajat C. simpanan karbon. Kondisi lingkungan yang diupayakan optimal adalah (1) cahaya antara 5. -. S.

Hasil pengamatan (data primer) dan pengumpulan data sekunder menyatakan bahwa flora yang ditemukan dalam kawasan TN Kelimutu.. Vitex cofassus Reinw. -. Tegakan tinggal. Pemeliharaan tegakan tinggal ditujukan untuk memelihara dan membina pohon-pohon jenis komersial. Mariana Takandjandji. efektif. termasuk di dalamnya pohon inti sebanyak 25 batang per hektar yang berdiameter >atau sama dengan 35 cm. Flora. belta 31 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan lamtoro (Leucaena leucacephalla). zat 55 .0 ppm BAP + 1. 2006 Pengelolaan hutan rawa gambut dilaksanakan dengan system silvikultur Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI). Biofisik Suhaendi Hendi STRUKTUR DAN TEKNIK PEMELIHARAAN TEGAKAN TINGGAL HUTAN RAWA GAMBUT DI AREAL KERJA HPH PUTRA DUTA INDAH WOOD / Hendi Suhaendi. Kayat. Media tersebut juga dapat untuk perbanyakan bibit bitti secara kultur jaringan. Seyogyanya Taman Nasional yang telah ditunjuk sudah harus mengetahui potensi dan biofisik kawasannya. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara.1 ppm NAA menghasilkan perkembangan kalus yang terbaik yaitu 90 %. Untuk menjamin adanya produksi kayu perdagangan pada rotasi tebang berikutnya. Penelitian perbanyakan tanaman bitti secara kultur jaringan. bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh yang terbaik untuk perkembangan kalus. dan perlakuan berbagai jenis komposisi media kultur. jenis mamalia 9 jenis.67 persen) Kata kunci: Teknik pemeliharaan. sehingga pengelolaannya bisa fokus. Potensi. Kata kunci : Bitti. Oleh karena itu menjadi urgen untuk mengkaji kondisi potensi dan biofisik kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara sumber eksplan embrio dan 0. -. 2005 : Halaman 13-30 . penebangan pohon dilakukan pada pohon berdiameter 40 cm ke atas. Komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan tunas planlet adalah 1. Rawa gambut. 2006 Teknik pembibitan bitti (Vitex cofassus Reinw. Agis Nursyam KAJIAN POTENSI DAN BIOFISIK TAMAN NASIONAL KELIMUTU DI PULAU FLORES/ Agis Nursyam Sugiana.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. dan 424 batang tingkat pancang (70. Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh. Flores. Taman Nasional Kelimutu. Halaman 165 176 . dan efisien.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Kajian potensi dan biofisik Taman Nasional perlu dilakukan agar data yang diperoleh bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah pengelolaan selanjutnya. Putra Duta Indah Wood Suhartati TEKNIK PEMBIBITAN BITTI (VITEX COFASUS REINW. dan reptilia 5 jenis. -. Jambi di dalam petak coba seluas 6 hektar terdiri dari 78 batang pohon (13 persen).) by Tissue Culture Methode) / Suhartati. agar pengelolaan taman nasional lebih fokus dan tepat guna. Fauna.III. No. Kata kunci: Danau tiga warna. perlu dilakukan pemeliharaan tegakan tinggal.) dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. pengatur tumbuh.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan.) SECARA KULTUR JARINGAN (Seedling Cultivation Technique of Bitti (Vitex cofasus Reinw. dan pohon 41 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan ampupu (Eucalyptus urophylla). Halaman 31-43 . Makassar.3 persen).0 ppm GA3. Komposisi jenis dan tingkat pertumbuhan pohon binaan yang terdapat di tegakan tinggal hutan rawa gambut di kelompok hutan Sungai Kumpeh dan Sungai Air Hitam Laut. 98 batang tingkat tiang (16. dengan cara menunjuk dan menandai minimal 100 batang per hektar pohon-pohon jenis komersial berdiameter di bawah 40 cm.Sugiana. serta komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan planlet tanaman bitti. Sedangkan fauna yang ditemukan terdiri dari jenis aves 20 jenis. kalus media kultur. kultur jaringan.2 . tingkat semai sebanyak 42 jenis didominasi oleh kirinyuh (Chromolaena odorata).

DAS Noelmina di Kabupaten Kupang. dan galur Dt 15/II/KU mempunyai prospek baik untuk dikembangkan sebagai komoditi tanaman pangan di bawah tegakan pohon hutan dengan sistem tumpangsari. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu. galur TB 177E-TB-28-B-3. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS). dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. 2006 . Kata Kunci: Budidaya. Banjir Sumarhani TEKNIK BUDIDAYA PADI GOGO TAHAN NAUNGAN UNTUK KELANGSUNGAN USAHATANI TUMPANGSARI / Sumarhani. DAS Noelmina. KPH Sukabumi. Hasil uji coba lima varietas/galur padi gogo di bawah tegakan hutan tanaman magium umur 5 tahun dengan intensitas cahaya 68 persen menunjukan bahwa produksi gabah tertinggi adalah padi gogo varietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. Kata kunci: DAS. 2) empat DAS kritis di NTT.4 ton/ha dan galur TB 177E-TB-28-B-3 rata-rata sebesar 1. DAS Aesesa. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Dengan demikian padi gogo varietas Jatiluhur.2 ton/ha. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. dan Khaya (Khaya anthotheca0 telah dilakukan di areal hutan tanaman masing-masing di KPH Bogor. yaitu DAS Benain. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 163-174 .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. Tumpangsari 56 . pH tanah rendah. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS. dan DAS Kambaniru. 2006 Penelitian teknik budidaya padi Gogo di bawah tegakan mangium (Acacia mangium). Halaman 93-102 . Di bawah tegakan hutan tanaman jati umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 64 persen. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). resisten naungan. produksi gabah tertinggi adalah padi gogo verietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. Jati (Tectona grandis). Dibawah tegakan hutan tanaman khaya umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 70 persen produksi gabah tertinggi adalah padi gogo galur Dt 15/II/KU ratarata sebesar 1. kemitraan. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk menyampaikan informasi hasil penelitian padi gogo tahan kekeringan. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. 42 DAS pada tahun 1998. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. DAS Benain. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. dan KPH Banyumas Barat. dan berumur genjah di berbagai tegakan hutan tanaman. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain.3) Upaya penanggulangan banjir. DAS Noelmina. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkhinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir)sesuai dengan kewenangan dan hierarkhinya. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. Padi gogo. -. NTT.3 ton/ha dan galur Dt 15/II/KU rata-rata sebesar 1. Selanjutnya informasi ini diharapkan dapat membantu petani sekitar hutan dalam pengadaan tanaman pangan padi gogo tahan naungan secara berkesinambungan melalui sistem tumpangsari.85 ton/ha sedangkan varietas Jatiluhur merupakan terendah dengan rata-rata produksi sebesar 1.2 ton/ha.25 ton/ha.

Tanaman vanili (Vanila planifolia Andrews) merupakan salah satu komoditi yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di propinsi Nusa Tenggara Barat.serta pasar masih terbuka lebar. Vanili.Dengan teknik wanatani (agroforestry).Beberapa keunggulan tanaman vanili antara lain. Hendi POLA PEWARISAN GENETIK SIFAT-SIFAT MORFOLOGI DAN PRODUKSI GETAH PINUS MERKUSII STRAIN ACEH / Hendi Suhaendi.990 ppm. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. merkusii strain Aceh. lahan hutan yang kondisi biofisiknya masih baik maupun yang sudah kurang terpelihara dapat ditingkatkan produktivitas. Stek merupakan salah satu alternatif pembiakan vegetatif untuk mengatasi tidak tersedianya bibit yang baik dalam waktu yang diperlukan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman215-222 . Stek. Dengan diketahuinya pola pewarisan genetik dari berbagai sifat pohon diharapkan akan diketahui tolok ukur untuk seleksi sifatsifat pohon. dan tinggi total. Dengan peningkatan produktivitas hutan. harga produk relatif tinggi. Vanilla planifolia Andrews Suhaendi. tahan terhadap naungan. Penggunaan media tumbuh yang cocok. Kata kunci: Ekonomi rakyat. pendapatan masyarakat akan meningkat secara signifikan sehingga selanjutnya akan menurunkan tekanan masyarakat terhadap hutan. Eucalyptus Blume Suhaendi. -.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan.Tulisan ini mencoba menguraikan potensi dan prospek pengembangan budidaya tanaman vanili pada kawasan hutan melalui teknik wanatani di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu sentra produksi vanili di wilayah Indonesia Bagian Tengah. tidak memerlukan tempat tumbuh sendiri karena sifatnya yang selalu memerlukan tanaman panjat sebagai inang. tinggi bebas cabang. bentuk batang. Sri PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI BUDIDAYA VANILI (Vanilla planifolia Andrews) PADA KAWASAN HUTAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT / Sri Suharti. diameter batang. bentuk batang. dengan tujuan akhir menentukan sifat-sifat yang perlu dikembangkan dalam pemuliaan pohon untuk tujuan industri. Aceh. tebal kulit batang dan produksi getah kayu di lakukan di lapangan. nilai konsentrasi IBA yang optimal untuk persentase berakar stek adalah 2. pencampuran tanah ikut menentukan perkembangan stek. IBA merupakan zat pengatur tumbuh yang sifat kimiawinya stabil dan memiliki rentang konsentrasi yang lebah untuk merangsang perakaran. dalam populasi Saree. Ragam genetik dan lingkungan diduga menurut metode Shrikhande (1957). -. Yang dikendalikan secara sedang oleh faktor genetik adalah tinggi bebas cabang. Hendi PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH "IBA" DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Eucalyptus deglupta Blume / Hendi Suhaendi. Kata kunci: deglupta Zat pengatur tumbuh.serta korelasi genetik dan korelasi fenotipa dari semua pasangan sifat pohon yang dibentuk. Keberhasilan pertumbuhan stek ditentukan oleh kecepatan terbentuknya akar lateral yang mendorong proses fisiologis berlangsung sempurna. Seleksi simultan dapat dilakukan terhadap 57 . tebal kulit batang.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 175-161 .Suharti. Media tumbuh. Lima sifat pohon yang dikendalikan secara kuat oleh faktor genetik adalah diameter batang. Nilai persentase berakar tertinggi dicapai oleh media pasir dengan konsentrasi IBA 200 ppm sedangkan berat kering total tertinggi diperoleh pada media serabut kelapa dengan konsentrasi IBA 200 ppm dan rasio teras akar tertinggi dicapai oleh media serabutkelapa dengan konsentrasi IBA 400 ppm. Berdasarkan uji polinomial ortogonal. Tujuan penelitian ialah menduga nilai heritabilitas luas dari setiap sifat pohon.776 ppm sedangkan konsentrasi IBA yang optimal untuk berat kering total adalah 2. Heritabilitas luas serta korelasi genetik dan fenotipa berikut peragam-peragamnya diduga menurut metode Sakai dan Hatakeyama (1963). 2006 Penelitian ini dilakukan pada hutan tanaman P. Pengukuran tinggi total. 2006 Salah satu bahan baku penting dalam industri terpadu pulp dan kertas adalah Blume. 2005 Salah satu upaya untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan dan juga untuk mangakomodir perubahan paradigma dalam pengelolaan dan pembangunan di bidang kehutanan adalah pengembangan usahatani vanili dengan teknik wanatani (agroforestry). Semua parameter genetika diduga tanpa melalui uji keturunan. -. IBA. 2005 : Halaman 123-131 . produksi getah.Terciptanya kondisi fisiologis yang optimal serta tepatnya pemilihan bahan tanaman yang digunakan menentukan presentase keberhasilan yang tinggi.

oocarpa dinilai sifat-sifat pertumbuhannya dalam arti tinggi total. Korelasi genetik.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Dengan menggunakan Suhaendi. Petani melakukan penularan kutu lak sekali pada pohon inang yang sudah diberi tanda kepemilikan. pemeliharaan. Dua belas provenansi P. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pembuatan plot Metode Forest Health Forest Monitoring. 2005 : Halaman 77-85 . -Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Seleksi untuk memperbaiki bentuk batang diduga akan memperbaiki pula tinggi bebas cabang dan diameter batang. Hertabilitas. 2006 . Hendi UJI COBA PROVENANSI INTERNASIONAL Pinus caribaea Morelet DAN Pinus oocarpa Schiede UMUR 13 TAHUN DI INDONESIA / Hendi Suhaendi. -. Diameter batang yang besar diduga dapat digunakan secara efektif sebagai satu indeks untuk menyeleksi tetua-tetua yang produksi getahnya tinggi. perbaikan sistem penularan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. caribaea dan enam provenansi P.5. Satuan percobaan yang digunakan dalam analisis data adalah sembilan pohon. Tanaman inang. -.5 x 2. diameter batang. setelah itu ditinggalkan sampai panen. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi media promosi untuk mempertinggi kemungkinan investasi dalam memajukan pengelolaan hutan alam di TNLW. Penelitian dilakukan di Hutan TNLW. Penularan kutu lak pada pohon inang berikutnya menguntungkan pada tularan alam melalui angin. Data yang didapatkan berupa data tinggi dan diameter digunakan untuk menghitung biomassa karbon dengan menggunakan model Brown dan metode Vademikum Kehutanan.pasangan sifat tinggi total dan bentuk batang. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Aceh.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Usaha peningkatan produksi dan kualitas usaha budidaya kutu lak dapat dilakukan melalui perbaikan sistem budidaya dan pemeliharaan tanaman inang. 2006 Dewasa ini budidaya kutu lak telah menjadi primadona masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kondisinya terus mengalami penurunan produksi yang signifikan. Tulisan ini bertujuan untuk menghitung dan mengevaluasi besarnya kapasitas biomassa tegakan (aboveground biomass) pada hutan alam TNLW dalam memfiksasi karbon melalui perhitungan biomasa pohon dan karbon. Budidaya. Rancangan acak lengkap digunakan dalam tiap-tiap Pinus dengan ukuran petak awal adalah 25 pohon dalam bentuk bujur sangkar dengan jarak tanam 2. Pinus oocarpa Schiede. dinilai pula dua provenansi lokal Pinus merkusii. Nusa Tenggara Timur Sumardi PERANAN HUTAN TAMAN NASIONAL LAIWANGI . Lampung.Seleksi untuk peningkatan diameter batang diduga akan menyebabkan peningkatan tebal kulitnya. dan bentuk batang. Kayat dan Bernadus Ndolu. 2006 Telah dilakukan penelitian peranan hutan Taman Nasional LaiwanggiWanggameti (TNLW) dalam menyimpan karbon. 2005 : Halaman 103-110 . Provenansi 58 . Pola budidaya kutu lak yang dilakukan oleh masyarakat NTT umumnya masih sederhana dan belum melalui tahapan budidaya yang standar. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk menilai performans pertumbuhan umur 13 tahun dari provenansi-provenansi Pinus caribaea dan Pinus oocarpa yang tumbuh di Kebun Percobaan Sumberjaya. Kata kunci: Pinus merkusii. Kata kunci: Pinus caribaea Morelet. dan pemanenan tularan kutu lak. Sujarwo TEKNIK BUDIDAYA KUTU LAK DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA DI NUSA TENGGARA TIMUR / Sujarwo Sujatmoko. Kata kunci: Kutu lak. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Sebagai pembanding.WANGGAMETI DALAM MENYIMPAN KARBON/ Sumardi. Marfologi Sujatmoko. tinggi bebas cabang. Halaman 161-168 . Korelasi fenotipa.

sehingga keragamannya cenderung kecil. Masyarakat sebagian besar setuju dengan keberadaan TNBB. Pertumbuhan M. Kata kunci: Konservasi. Taman Nasional. di Kabupaten Timor tengah Utara dan Kabupaten Sumba Timur. Kata kunci: Genetik. Dari informasi yang diperoleh diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengembangan kayu putih pada skala yang lebih besar. Benih unggul yang digunakan pada penelitian ini berasal dari 3 pohon plus (famili) pada tegakan kebun benih uji keturunan Paliyan.Masyarakat sebagian besar menginginkan adanya bentuk keterlibatan dalam perencanaan. pelaksanaan. penyebaran kuesioner kepada masyarakat daerah penyangga (Sumberklampok dan Pejarakan) dan studi literatur. di wilayah NTT.metode Brown (1997) dan Vademikum Kehutanan (1976). -. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.5 ( lebih kurang 77. wawancara. Biomassa. Kata kunci: Karbon.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. cajuputi pada tingkat semai sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan persemaian.9) ton/ha. Halaman 3340 . Hal tersebut kemungkinan karena ketiga famili tersebut merupakan pohon plus sebagai sumber benih yang merupakan hasil seleksi. dan evaluasi terhadap pengelolaan TNBB. kayu bakar serta pemanfaatan lahan. Meulaleuca cajuputi merupakan jenis yang menghasilkan minyak kayu putih bernilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan sebagai obat-obatan. Jenis unggul. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti Sumardi PENGEMBANGAN DAERAH PENYANGGA SEBAGAI ALTERNATIF PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Sumardi. Bali Barat Sumardi EVALUASI UJI PEROLEHAN GENETIK KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi subsp cajuputi) Di Persemaian Sampai Umur 4 Bulan / Sumardi.Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). monitoring. Data dan informasi yang terkumpul di tabulasi dan dianalisa dengan analisis deskritif dan SWOT (Strengh. Penelitian bertujuan untuk mencari formula/strategi yang tepat dalam bentuk kegiatan nyata untuk pengelolaan TNBB berbasis masyarakat. namun jika tidak disertai dengan pembinaan dan apabila keberadaan TNBB tidak memberikan peningkatan sosial ekonomi maka kerusakan ekosistem dapat terjadi dengan pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. 2006 Telah dilakukan penelitian evaluasi uji perolehan genetik kayu putih (Meulaleuca cajuputi subsp cajuputi) di persemaian sampai umur 4 bulan.9) ton/ha dan 189. 2006 Telah dilakukan penelitian pengembangan daerah penyangga sebagai alternatif pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Keterlibatan masyarakat sebenarnya akan memberikan dampak positif bagi TNBB karena masyarakat akan merasa lebih memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberadaan TNBB. Kayu putih. Opportunities. Penelitian dilakukan dengan melakukan evaluasi pertumbuhan tinggi dan diameter semai kayu putih yang diukur setiap bulan. Weakness. Dari penelitian dihasilkan bahwa ketergantungan masyarakat desa Sumberklampok dan Pejarakan terhadap kawasan TNBB masih relatif tinggi dan bentuk interaksinya meliputi pemungutan hasil hutan non kayu. Melaleuca cajuputi subsp cajuputi 59 . Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Upaya peningkatan produktivitasnya tidak terlepas dari pemilihan benih unggul yang menghasilkan tanaman dengan produksi daun dan kandungan minyak yang tinggi. dan Threat) yang ditekankan pada fenomena-fenomena yang diakibatkan oleh kegiatan masyarakat. rata-rata jumlah biomasa karbon yang diserap oleh vegetasi yang berada di dalam kawasan TNLW cukup tinggi yaitu sebesar 197. Halaman 121-131 .Penelitian ini bertujuan untuk evaluasi uji perolehan genetik tanaman kayu putih dari benih unggul. Pertumbuhan tanaman M. 2006 .9 (lebih kurang 74. Daerah penyangga. cajuputi tingkat semai tidak banyak menunjukan keragaman signifikan antar famili .

dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu.0117 m3. Muhammad Hidayatullah dan Tigor Butar-Butar. Kandungan bahan organik pada lokasi Peutana yang meliputi lokasi I (1). 2006 .07 persen. I (2).20 m dan MAI-volume=0. di Stasiun Penelitian Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. DAS Aesesa. 0. MAI-tinggi=1. Halaman 169176 . Kelas tekstur tanah pada lokasi Peutana adalah liat sampai lempung berpasir. 2006 Telah dilakukan penelitian studi kualitas tapak beberapa lokasi di hutan produksi terbatas Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur.42 persen. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi dan Martinus Lalus. dengan bentuk unit lahan berbukit sampai bergunung.08 persen dan 4. Nusa Tenggara Timur Sumardi STUDI KUALITAS TAPAK BEBERAPA LOKASI DI HUTAN PRODUKSI TERBATAS KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. 2) empat DAS kritis di NTT. Bobonaro. Riap. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering).3) Upaya penanggulangan banjir..92 . tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. DAS Noelmina. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS.Sumardi PRODUKTIVITAS Gmelina arborea ROXB. yaitu DAS Benain. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran tinggi dan diameter tegakan G. Topografi. Data yang terkumpul di tabulasi dan dilakukan perhitungan riap rata-rata tahunan terhadap tinggi. I (2). 11. Halaman 119123 .16 persen. Kandungan N total dari lokasi Peutama yang meliputi lokasi I (1). Arborea umur 6 tahun. 3. bahan organik terbesar terdapat pada lokasi II (Peutana).38 untuk pH H2O dan 6. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. 0. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa riap rata-rata tahunan (MAI/diameter=2. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran 60 . NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi. Timor Tengah Utara. 2006 .42 persen dan 0. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 2.07-7. persentase batuan relatif tinggi. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. 2006 Telah dilakukan penelitian produktivitas Gmelina arborea Roxb. PH tanah berkisar antara 7. Kata kunci: Gmelina arborea Roxb. -. Produktivitas. Lokasi Kuafeu terdapat 10 jenis tanaman dengan jenis pohon komersial dominan mahoni (Swietenia mahagoni) sedangkan lokasi Peutana terdapat jenis tanaman murni kemiri (Aluerites molucana) yang sudah berbuah dan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang pernah dipanen penduduk sekitar. Tekstur.13 cm. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS). MAI. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten.82 persen.22 persen. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.7. 42 DAS pada tahun 1998.33 persen. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 0. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang. sedangkan Kuafeu adalah liat lempung berpasir. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. diameter dan volumenya. Halaman 93-102 . dan DAS Kambaniru.15 untuk pH KCI. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Timor Tengah Selatan. 2006 . DAS Noelmina. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kata kunci: Tapak. DAS Benain. Lokasi penelitian memiliki kemiringan >25 derajat.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Nusa Tenggara Timur Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno.

dan Kwale. Sebaran alami. 2006 Klicung (Diospyros malabarica Der Kostel) adalah hasil hutan kayu yang tergolong penting di Provinsi Nusa Tenggara Barat karena merupakan spesies andemik. Leworok. Nusa Tenggara Barat Surata. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. Ampupu. 2005 : Halaman 87-95 . Banjir Surata. Budidaya. dan Hikong). dan litosol. I Komang SEBARAN DAN PERTUMBUHAN PENOTIPE TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (Eucalyptus urophylla S. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. I Komang DUKUNGAN HASIL LITBANG DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA KLICUNG (Diospyros malabarica Der Kostel) DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT / I Komang Surata. Labalekan. Egon. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara telah berupaya untuk menyediakan paket teknologi yang dibutuhkan lewat kegiatan penelitian. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir) sesuai dengan kewenangan dan hierarkinya. Kata kunci: Eucalyptus urohpylla. Kwangau. Kondisi tempat tumbuhnya terdapat di daerah pegunungan mulai dari kaki gunung sampai lereng pada ketinggian 150-980 m dpl. Diospyros malabarica Der Kostel. -. -. dan Lewokukun). Untuk mewujudkan upaya keberhasilan penanaman sebagaimana yang diharapkan. sebaran alami. dan Kurnaidi. urophylla dan E. Ile Ape. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Pada ketinggian di bawah 600 m dpl masih bercampur dengan E.T Blake) DI FLORES PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR / I Komang Surata. Kata kunci: Klicung. pembibitan. Sumber benih. Nurdini Estikasari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran alami ampupu di Flores terdapat di Kabupaten Sikka (Egon. Leworok. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka penunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon di masa mendatang.T. Labalekan. NTT. Kabupaten Flores Timur (Lewotobi. oleh sebab itu dalam pemanfaatannya perlu segera diikuti upaya pelestarian dan penanaman.dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. Lewotobi. Dewasa ini populasinya sudah semakin menurun.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu (Eucalyptus urophylla S. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. kambisol. Natakolin. Blake) di Flores. dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. Hibrid 61 . pada tipe iklim E menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Ile kerbau. Kilawair. Hikong. dukungan teknologi budidaya sangat diperlukan. Kaliboluk. kemitraan.Kwangau. Kaliboluk. Di samping itu dalam tulisan ini ditampilkan pula hasil plot uji coba pengembangan budidaya klicung di Rarung Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat serta permasalahannya yang sedang dihadapi yang sangat menentukan dalam menunjang keberhasilan pengembangan. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. lle Mandiri. Kilawair. Natakolin. Urutan pertumbuhan penotipe pohon plus ampupu dari yang terbaik-terendah adalah: Ile Boleng. alba. termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ile Ape. Musim panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus akan tetapi semua lokasi yang dieksploitasi berbuah banyak dan seragam. Paket teknologi yang telah dihasilkan terutama teknik budidaya klicung yang meliputi teknik perbenihan. 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. Penotipe. penanaman. jenis tanah mediteran haplik.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 918 . Ilemandiri. Ile Boleng. Kawale) dan kabupaten Lembata (Ile Kerbau. Kata kunci: DAS. Palueh. Palueh. Lewokukun.

-. Pengelolaan. dan kepemilikannya dapat diserahkan ke masyarakat. Kata kunci: Cendana. Prapat Benoa. Untuk menciptakan kemandirian masyarakat maka dalam penanaman cendana pemerintah pusat/daerah dalam 5 tahun pertama perlu memberikan bantuan bibit dan penyuluhan teknologi penanaman kepada petani peserta penanaman dan selanjutnya di masa mendatang masyarakat diharapkan sudah mampu mandiri untuk melaksanakan program pengembangan budidaya cendana.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Tindakan yang tidak partisipasif dalam kelestarian mangrove adalah 1. Masyarakat lokal. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Untuk menjaga kelestarian mangrove beberapa keinginan masyarakat yang perlu menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengatasi permasalahan adalah menjaga keberhasilan sampah dari hulu dan masyarakat di sekitarnya. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal.34 persen. melengkapi sarana dan prasarana rekreasi/pariwisata dan sosialisasi program pengelolan mangrove yang dilakukan pemerintah. sistem tumpangsari. Bedasarkan data biofisik wilayah. dan kesiapan teknologi maka hampir sepertiga wilayah di Provinsi Bali memenuhi syarat untuk lokasi penanaman cendana. Penanaman dilakukan di lahan/ladang masyarakat (hutan rakyat) dalam bentuk tanaman jalur atau sisipan. pembuatan jalan lingkar setapak yang menjadi pembatas zonasi mangrove dengan lahan masyarakat yang sekaligus sebagai jalan rekreasi. Bali 62 . Nilai ritual. -. Dewasa ini tidak ada lagi pasokan bahan baku kayu cendana secara resmi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingat populasi cendana di daerah ini sudah menurun dan di beberapa tempat sudah hampir punah. sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal dalam kegiatan pengelolaan mangrove di Prapat-Benoa Bali masih rendah 2. Tingkat partisipasi masyarakat untuk manjaga kelestarian mangrove sudah baik yaitu sebesar 98. Kebutuhan kayu cendana di daerah ini semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kemajuan pariwisata. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif survei dari masingmasing desa adat di sekitar mangrove secara purpositive sampling dan juga instansi yang mengelola mangrove.) yang dikenal dengan nama melayu sendana dan dalam dunia perdagangan sandalwood memegang peranan yang sangat penting sebagai penghasil kayu kerajinan dan memiliki nilai ritual keagamaan yang cukup tiggi di Provinsi Bali. Kata kunci: Hutan mangrove. PROVINSI BALI / I Komang Surata.66 persen. Model ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan lahan penanaman cendana yang terbatas dan masyarakat dapat berperan secara aktif untuk memelihara dan menjaga keamanan tanaman cendana serta dalam jangka panjang dapat menambah pendapatan masyarakat. Silvikultur intensif Surata.34 persen terutama dalam kegiatan penanaman. 2006 Cendana (Santalum album L. tidak memberi ijin tukar menukar kawasan dan pinjam pakai mangrove. Untuk memenuhi kebutuhan kayu cendana di provinsi Bali maka perlu segera dilakukan penanaman.Surata. I Komang PARTISIPASI DAN KEINGINAN MASYARAKAT LOKAL DALAM MENANGANI PERMASALAHAN HUTAN MANGROVE DI PRAPAT-BENOA. pembentukan regu kebersihan mangrove.ekonomi masyarakat. Hutan rakyat. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengkaji data dan informasi partisipasi dan keinginan masyarakat lokal dalam menangani permasalahan kelestarian mangrove. Partisipasi. Halaman 19-31 . model sumber benih. Halaman 133-141 . I Komang PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN CENDANA (Santalum album L) DI PROPINSI BALI / I Komang Surata.

KHDTK Samboja.500 m dpl.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Kabupaten Timor Tengah Utara. dan pulp. Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tutem. -. Jenis ini mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting untuk kayu industri antara lain untuk kontruksi. Blake) adalah salah satu jenis dari 4 jenis Eucalyptus yang ada di Indonesia. Hampir semua lokasi ampupu terancam kerusakan akibat perluasan untuk perladangan. Selain itu keberlangsungan dan keberlanjutan program social forestry yang diikutinya banyak yang tidak jelas. Bonmuti. tipe iklim D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Naija Upat. PROVINSI NUSA TEMGGARA TIMUR / I Komang Surata. Urutan pertumbuhan penotipe terbaik-terendah: Nenbena.T. BLAKE) DI PULAU TIMOR. arang.T. dan kedua dengan membuat komitmen bersama dalam menyusun rencana dan program sebagai keinginan dan kebutuhan bersama yang tentunya tidak terlepas pada prinsip pokoknya yaitu melestarikan hutan dan menyejahterakan masyarakat sekitar hutan. Sebaran alami. jenis tanah Ustropept. Partisipasi masyarakat. I Komang EKSPLORASI TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (EUCALYPTUS UROPHYLLA S. dan illegal logging. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E.Surata. KHDTK Sebulu. Leloboko. yang salah satu penyebaran alaminya terdapat di Pulau Timor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. Halaman 21-31 . Hutan terdegradasi 63 . Eucalyptus urophylla S. Namun demikian pendekatan kemitraan atau social forestry yang dilakukan masih juga mengalami banyak kegagalan. Pengelolaan Bersama. dan Lakaan pada ketinggian 500-2. kayu bakar. yang dikenal dengan pola social forestry. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Lelobatan. Nuafin. Masyarakat harus diajak bersama secara aktif. Haflustalf. alba. Nenas. Hibrid Suryanto SOCIAL FORESTRY DI KHDTK SEBULU DAN SAMBOJA: SEBUAH MODEL PELIBATAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN BERSAMA PADA KAWASAN HUTAN TERDEGRADASI / Suryanto dan Sulistyo A. Wedomo. Susbian. Fatumnasi. Timau. menjaga. Tune. Kata kunci: Social forestry. Fatuneno. 2006 Pada era demokrasi saat ini.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 87-99 . Oepopo. kebakaran. Aesrael. Mollo. Humau. mengelola. Wedomo masih bercampur dengan E. Blake. yang pada akhirnya masyarakat menjadi kurang serius dalam pelaksanaannya. 2006 Ampupu (Eucalyptus urophylla S. Naususu. Salah satu model social forestry yang saat ini sedang dan sudah dilakukan penelitian untuk menyempurnakan model social forestry sebelumnya adalah menggunakan dua pendekatan sekaligus yaitu kemitraan yang sejajar antara pemerintah dan masyarakat. sebaran alami. urophylla dan E. dan memanfaatkan hutan. Pertumbuhan penotipe. Siran. Dystropepts menurut Soil Taxonomi. akan tetapi tidak semua lokasi yang dieksplorasi berbuah banyak dan seragam. Obaem. Pada ketinggian 500-600 m dpl provenan Humau. lakaan. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka menunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon dalam pembangunan hutan tanaman. Musim berbunga ampupu terjadi pada bulan Januari-Maret dan panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus. pendekatan task-force untuk mengamankan hutan terhadap intervensi masyarakat (perambahan) untuk memenuhi hajat hidupnya banyak mengalami kegagalan. yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Pada umumnya ketidakberhasilan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dalam program social forestry karena program tersebut bersifat topdown. -. Hasil penelitian penunjukan bahwa penyebaran alami ampupu di Pulau Timor Barat terdapat di Kabupaten Kupang. Kata kunci: Ampupu. Obaem. dan Kabupaten Belu yang berada di Pegunungan Mutis. 2006 .T. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu di Pulau Timor. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan yaitu merubah pendekatan task-force menjadi get the force melaui kemitraan atau partisipasi aktif masyarakat. Masyarakat hanya ditempatkan sebagai obyek atau pelaksana yang hanya menerima instruksi teknis yang harus dilaksanakan di lapangan.

Suryanto PENELITIAN PENDAHULUAN: HIRARKI PERMASALAHAN DALAM KEBIJAKAN OTONOMI BIDANG KEHUTANAN. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 247-269 , 2006 Secara komprehensif, terdapat 3 tahapan kegiatan penelitian yang meliputi identifikasi masalah, analisis prioritas dan perumusan multipihak. Penelitian pendahuluan ini terdapat pada tahap identifikasi masalah dengan tujuan mengidentifikasikan semua permasalahan berkenaan dengan kebijakan otonomi bidang kehutanan. Sasaran penelitian pendahuluan ini adalah menganalisa dan mengelompokkan semua permasalahan-permasalahan tersebut kedalam kerangka masalah yang sederhana, mewakili dan tepat dalam sebuah hirarki. Luaran adalah hirarki permasalahan dalam kebijakan otonomi bidang kehutanan. Luaran dari hasil penelitian ini akan digunakan sebagai bahan untuk analisis prioritas dan perumusan multistakeholders. Metode pokok penelitian yang digunakan adalah AHP atau Analytical Hierarchy Process (Proses Analisis Hirarki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua fokus permasalahan kebijakan, yaitu kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan pemerintah daerah. Permasalahan yang diidentifikasikan dalam fokus kebijakan pemerintah pusat terbentuk dalam 4 hirarki, yaitu fokus, pengaruh, faktor dan bentuk. Pilihan masalah yang perlu pemecahan prioritas dalam hirarki pengaruh terdiri dari 5 pilihan, meliputi kemauan, SDM pembuat kebijakan, latar belakang, SDM penerima kebijakan dan infrastruktur. Dan akhirnya, hirarki bentuk terdiri dari 2 pilihan meliputi kebijakan pusat berkaitan dengan kebijakan makro yang diaplikasikan dalam bentuk kebijakan makro dan mikro oleh pemerintah daerah dan kebijakan pemerintah pusat sudah meliputi kebijakan makro mikro yang diapkilasi oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana. Permasalahan yang terindentifikasi dalam fokus kebijakan pemerintah daerah terbentuk dalam 4 hirarki pengaruh terdiri dari 4 pilihan meliputi peluang kewenangan, sumber hukum, tuntutan dan dikotomi. Dalam hirarki bentuk terdiri dari 3 pilihan meliputi penjabaran, inisiatif sendiri dan kombinasi antar penjabaran dan inisiatif. Dan akhirnya hirarki aktor terdiri dari 3 pilihan kewenangan utuh pemerintah daerah, kewenangan pemerintah daerah di bawah koordinasi koordinator pemerintah propinsi dan kewenangan pemerintah daerah (kabupaten dan propinsi) dibawah koordinasi langsung pemerintah pusat.

Kata kunci: Kebijakan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, permasalahan, AHP, hirarki. Susanty, Farida Herry ANALISIS MODEL PENDUGAAN VOLUME JENIS Acacia mangium, Gmelina arborea DAN Switenia mahagoni DI HUTAN TANAMAN / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama HasilHasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 197-208 , 2006 Plantation inventory for estimation potency of stand needed for quantitative tools as volume prediction models or tree volume table with good validity. Aim of this research to arrange volume prediction models or tree volume table for plantation species in Timber Estate in Kalimantan to increase accuracy of mass or volume stand estimation. Measurement of sample trees using stereoscopis technique for standing tree of Acacia mangium, Gmelina arborea and Swietenia mahagoni of plantation area in Riam Kiwa, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Result of height curve indicated that Acacia mangium there was nonsignificant coorelation between diameter and heigh variable, while Gmelina arborea and Swietenia mahagoni there was significant coorelation (R2>70 persen), thus analysis of volume prediction models could be continued by using two and one variable (tariff). Volume prediction models from this research and some reference show that generally were set up in exponential and logaritmic pattern. Validation of chosen regression equation model base on agregative deviation and mean deviation shows that the equation could be using for tree volume table assesment. Kata kunci: Pendugaan volume, Tinggi, Model, Diameter, Acacia mangium, Gmelina arborea, Switenia mahagoni, Hutan tanaman

64

Susanty, Farida Herry TIPOLOGI EKOLOGI DAN ANALISIS POTENSI TEGAKAN PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 303-316 , 2006 Evaluation of degree of standing stock production potency and ecological effect resulting by harvesting technique which applied in Forest Management Unit (FMU), being one of many important aspect in fulfilling prerequisite Criterion and Indicator for Sustainable Forest Management. This research was aimed to describe the structure and potency of stand in old logged over forest thus examined to SK Menhut No. 8171/Kpts-II/2002 which suitable for forest biophysic condition in East Kalimantan. Data collecting done in PT. Hutan Sanggam Labanan Lestari (PT. HLL) and PT. Gunung Gajah Abadi (PT. GGA) that having different age were 19 and 20 years after logging (LOA 19 and LOA 20), covering:species, diameter, height and tree position in plot.Difference of FMU characteristic base on evaluation of ecological typologi resulting that PT.HLL was sensitive biology-sensitive physic, while PT. GGA was safety biology-sensitive physic. Base on varians analysis there in class diameter. Dominance of species composition for both area were by Dipterocarpaceae. Standing stock by total number of trees on LOA 19 and LOA 20 having higher than criterian having lower potency in class diameter 10-19 cm and 50 cm up. Kata kunci: Struktur, Potensi, Tegakan, Hutan bekas tebangan Susila, I Wayan Widhana UJI COBA JENIS-JENIS INTRODUKSI PADA LAHAN KRITIS DI DALAM KAWASAN HUTAN BATUR DAN BEDEGUL / I Wayan Widhana Susila, Gerson ND Njurumana Felipus Banani. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 33-40 , 2006 Lahan kritis diartikan sebagai lahan yang tanahnya secara potensial tidak mampu berperan dalam salah satu atau beberapa fungsi seperti: 1) unsur produksi, 2) media pengaturan tata air (fungsi hidrologi), dan 3) media

perlindungan alam lingkungan (fungsi orologi) atau lahan yang telah mengalami kerusakan, sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas yang ditentukan atau diharapkan. Luas lahan kritis Provinsi Bali adalah 307.035 ha, terdiri dari 127.706 ha tersebar di dalam kawasan hutan dan 179.329 ha tersebar di luar kawasan hutan. Jenis-jenis yang diujicobakan pada lahan kritis di Kawasan Batur dan Bedugul adalah ampupu(Eucalyptus urophylla), pulai (Alstonia scholaris), cendana (Santalum album), Acacia mangium, majegau (Dysoksilum sp.), gmelina (Gmelina arborea), mahoni (Sweitenia macrophylla), kayu putih (Meulaleuca leucadendron), gaharu (Aquilaria malaccensis), duabanga (Duabanga maluccana), mindi/jeminis (Melia azedarah), dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Jenis-jenis tersebut diujicoba melalui uji jenis dan uji produksi (ampupu, kayu putih, kamadulensis, dan duabanga). Hasil evaluasi tanaman umur enam bulan di lapangan dapat diinformasikan sebagai berikut: 1) Sengon buto merupakan jenis introduksi yang cocok pada kondisi lahan kritis di kawasan Batur yang ditunjukan oleh perkembangan pertumbuhan dan persen tumbuh yang tinggi, yaitu riap diameter 1,37 cm, riap tinggi 61,53 cm, persen tumbuh 96,15 persen, dan sampai umur 10 bulan di lapangan persen tumbuhnya 90,16 persen; 2) Jenis kayu putih dan ampupu merupakan jenis yang cukup sesuai untuk dikembangkan di kawasan kritis Batur dan Bedugul; dan 3) Pemberian kompos di Bedugul dan campuran tanah + kompos di Batur pada media tanam belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan persen tumbuh tanaman. Kata kunci: Lahan kritis, Ujicoba jenis, Ujicoba jenis, Kesesuaian tempat tumbuh, Uji produksi Suwandi PERLAKUAN MIKORIZA DAN NPKN PADA PERTUMBUHAN STUMP JATI (Tectona grandis L.f.) (Treatment of Mycorrhizae And NPK on the Growth of Tectona grandis L.f. Stump) / Suwandi; Surtinah; Kamindar Rubby. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 139 - 145 , 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian mikoriza dan NPK terhadap pertumbuhan stump jati (Tectona grandis L.f.). Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalam pola faktorial, yaitu faktor (M1), 3 mikoriza dengan perlakuan 0 g/tanaman (M0), 1,5 g/tanaman g/tanaman (M2), dan 4,5 g/tanaman (M3); kemudian faktor NPK (N) dengan perlakuan 0 g/tanaman (N0), 1 g/tanaman (N1), 2 g/tanaman (N2), 3 g/tanaman

65

(N3), dan 4 g/tanaman (N4), dengan dua ulangan, setiap ulangan terdiri dari empat tanaman. Jumlah 160 tanaman. Parameter yang diukur tinggi tunas, diameter, jumlah daun, lebar daun, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan stump jati. Pemberian NPK berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tunas, diameter, lebar daun, dan panjang akar; sedangkan interaksi mikoriza dan NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, diameter, dan panjang akar. Kata kunci : NPK , mikoriza, Tectona grandis L.f. Takandjandji, Mariana PENANGKARAN RUSA TIMOR OLEH MASYARAKAT / Mariana Takandjandji, Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 55-76 , 2006 Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 2 sub spesies rusa timor yang potensial untuk ditangkarkan. Potensi ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pemanfaatan rusa di alam. Namun masyarakat belum memanfaatkan secara optimal dan bijaksana. Oleh karena itu aset yang cukup besar potensinya ini perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai suatu usaha sekaligus konservasi. Sampai saat ini sudah ada 3 KK yang telah berhasil menangkarkan rusa, hal ini ditandai dengan rusa yang mereka pelihara telah beranak. Usaha penangkaran rusa cukup menjanjikan sehingga layak untuk dilaksanakan.Kegiatan penangkaran rusa cukup menguntungkan walaupun pada awalnya memerlukan biaya dan investasi yang lebih besar. Usaha ini memerlukan luas lahan yang lebih kecil, akan tetapi dapat memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari ternak-ternak yang sudah dikenal. Kata kunci: Penangkaran, Rusa timor, Aset, Potensi

Takandjandji, Mariana KAJIAN TEKNIK PENANGKARAN PENYU DI BALI / Mariana Takandjandji dan Edy Sutrisno. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 111-120 , 2006 Penyu merupakan reptil laut yang menarik karena mampu beradaptasi dengan baik untuk hidup di perairan laut. Di samping itu, penyu bersifat amphibious, di mana dapat menempuh hidup pada dua habitat yang berbeda. Biasanya penyu hidup di perairan laut dangkal kecuali lahir dan bertelur. Untuk mengkaji teknik penangkaran penyu di Bali, perlu diketahui potensi, penyebaran, bio-ekologi penyu dan statusnya serta kebijakan pemerintah terhadap upaya yang telah dilakukan. Namun permasalahan yang muncul dalam kajian tersebut adalah adanya penangkapan penyu yang dilakukan secara besar-besaran sehingga populasi menurun, baik kualitas maupun kuantitas. Pembinaan yang telah dilakukan antara lain melalui upaya perlindungan penyu dari kepunahan. Upaya tersebut ditempuh dengan cara melindungi panyu dari gangguan manusia dengan cara membuat peraturan yang melindungi penyu, dan upaya penambahan populasi penyu melalui penangkaran/budidaya. Kata kunci: Penangkaran, Penyu, Reptil, Amphibious, Bio-ekologi Tira, La Ode Asir KARAKTERISTIK LAHAN BEKAS TAMBANG BATU KAPUR DI KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN (Land Characteristic of Abandoned Lime Stone Mined in Pangkep Regency, South Sulawesi Province) / La Ode Asir Tira dan Eka Multikaningsih. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 219-228 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lahan bekas penambangan batu kapur di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa areal bekas penambangan berupa hamparan terbuka dan bergelombang dengan kemiringan 0-8 %. Penutupan vegetasi sangat sedikit, kurang dari 10 % dengan jenis vegetasi dominan adalah kersen (Muntingia colabura Linn.), akasia (Acacia auriculiformis A.Cunn), krinyu (Eupatorium pallescens DC), rumput jarum (Andropogon aciculatus

66

faktor batuan singkapan (60-80 %).186 mm. Halaman 1-18 . konflik kepentingan. 2006 Sebagian besar lahan rawa gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. pencurian kayu. sehingga dengan melalui pengetahuan sifat morfologi daun diharapkan dapat membantu mengenal jenis meranti dengan mudah. S. Halaman 151-155 . Tujuan penelitian untuk menguji keefisienan teknik identifikasi berdasarkan sifat morfologi daun dari 51 jenis meranti (Shorea spp.lembaga formal. S. kation Mg 0. Sedangkan kendala pengelolaan sumberdaya hutan di Bali adalah: kemiskinan. Halaman 281 . assamica Dyer. Oleh karena itu diperlukan sarana pengenalan 67 . Pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang sinergi dengan kearifan lokal adalah social forestry. Rawa gambut Wardani.III.66 me/100 g. C-organik 0. wanakerti. nama jenis Wardi.06 me/100 g. 2006 Pengetahuan pengenalan jenis meranti seperti Shorea acuminata Dyer.3.09 me/100 g. Kata kunci : Meranti. Kemampuan lahan digolongkan ke dalam kelas VIII dengan faktor pembatas utama untuk penggunaan adalah prosentase batuan permukaan (60-80 %).28 %. rumput teki (Cyperus sp.296 . tumpek uduh. karakter morfologi. sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai.).) dan alang-alang (Imperata cylindrica Beauv.25 me/100 g. N-total 0. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Penelitian dilakukan dengan menggunakan spesimen herbarium jenis meranti yang tersimpan di herbarium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor. kearifan dalam bentuk hukum adat ( awig-awig). Kata kunci: Mikoriza. Hutan tanaman. daun. -. dan nilai budaya tri mandala. Marfu'ah IDENTIFIKASI JENIS MERANTI SUMATERA MELALUI SIFAT MORFOLOGI DAUN (Identification of Meranti Sumatera by Using its Leaves Morphology) / Marfu'ah Wardani.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . berdasarkan sifat vegetatif masih terbatas jenis yang mudah dipelajari dan dipraktekkan melalui sifat morfologi daun dan alat vegetatif lainnya. kation Ca 90. P-tersedia 85 ppm. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. Curah hujan rata-rata tahunan 3. lahan bekas tambang batu kapur Ulfa. K-tersedia 3 ppm. sehingga dalam mengidentifikasi tidak memerlukan pengamatan sifat morfologi bunga dan buah. Lembaga adat yang terkait dengan pengelolaan hutan di Bali adalah: lembaga adat (subak. dan kedalaman tanah (<10 cm).Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. No. Kata kunci : Karakteristik. pada pengalaman lapangan. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo.3 . I Nyoman POTENSI KELEMBAGAAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA LOKAL UNTUK MENDUKUNG PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI DAERAH BALI / I Nyoman Wardi.05 %. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. lemahnya koordinasi lintas sektoral. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. Daun adalah bagian utama dari pohon meranti yang selalu tersedia. Kearifan ekologi tercermin dalam berbagai bentuk sistem kepercayaan (religi). nilai teknologi aturan dan norma hukum adat (awig-awig). Berbagai bentuk nilai budaya yang diwarisi dan kemudian menjadi landasan etika lingkungan masyarakat Bali untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah: kalpataru.) berasal dari Sumatera. KTK 8.Retz. Salah satunya berupa kearifan lokal ekologi (lingkungan) yang merupakan bagian dari kearifan budaya. atrinervosa Sym. Karakteristik kimia tanahnya adalah sebagai berikut pH (H2O) 8. dan tepat. nilai filosofi figur banaspati dan bhoma. lembaga swasta.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. cepat. dan kation Na 0.). analog hutan dengan brahman. desa adat/pakraman). -. 2006 Daerah Bali dengan budidaya yang bercorak Hindu dikenal memiliki diversifikasi budaya yang tinggi dengan segala keunikannya. cerita mitos. kebakaran hutan.

Sosial forestry 68 . Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . tetapi keberadaan hukum adat berpeluang untuk menjadi salah satu instrument dalam rangka pemberantasan illegal logging. Untuk itu biasanya masyarakat tradisional yang masih menerapkan hukum adat memasukkan aturan-aturan pemanfaatan hutan dalam hukum-hukum adat. Kecamatan Muara Komam dan Desa Perkuwin. Kata kunci: Hukum adat. Meski pengakuan keberadaan hukum adat masih menemui sejumlah kendala dalam implementasinya di lapangan. Berkaitan dengan hal tersebut. keberadaan hukum adat dan adanya kegiatan illegal logging. dua desa yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Kampung Mului. Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kertanegara dengan tujuan untuk mengetahui kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu tahun 2005 dalam konteks social forestry. Sebaliknya maraknya penebangan liar yang terjadi di Desa Perkuwin semakin memperkuat bukti bahwa hukum adat dapat berperan dalam pencegahan illegal logging. Karmilasanti dan Supartini. saat ini Balai Litbang Kehutanan telah membangun plot model hutan rakyat masing-masing seluas 3 hektar dan 3. Catur Budi IDENTIFIKASI KEBERADAAN HUKUM ADAT DAN PERANANNYA DALAM PENCEGAHAN ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG GUNUNG LUMUT / Catur Budi Wiati. Berdasarkan kedekatan dengan hutan lindung. Untuk kegiatan plot hutan rakyat bekerjasama dengan Kelompok Tani sebagai mitra dari Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Gunung Lumut Wiati. -. Selain itu berdasarkan tidak adanya sama sekali kegiatan penebangan liar (illeagl logging) di wilayah adat Masyarakat Mului dan cara mereka dalam menghadapi aksi tersebut mengindikasikan bahwa hukum adat terbukti dapat menjadi salah satu instrument untuk mencegah illegal logging. -. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan cara pengaturan masalah pengusahaan dan pemanfaatan tanah dan hutan serta penghormatan mereka terhadap roh-roh penunggu melalui upacara-upacara adat yang masih dijalankan membuktikan bahwa hukum-hukum adat masih ada dan diterapkan oleh Masyarakat Mului. KHDTK Samboja. sedangkan di Desa Sumber Sari dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman palawija. Kecamatan Long Kali. Hutan lindung. 2006 Pengembangan model hutan rakyat merupakan salah satu dari kebijakan pengembangan social forestry yang ditetapkan Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Dirjen RLPS). 2006 Ketergantungan masyarakat tradisional terhadap keberadaan hutan untuk mendukung kehidupan menyebabkan mereka harus menjaga dan mengatur pemanfaatannya agar tetap lestari. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. Kearifan lokal. Model social forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Dengan cara yang sama. Penelitian dilakukan di Desa Semoi Dua.6 hektar di Desa Semoi Dua. Halaman 287-302 . Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber sari. Terkait dengan permasalahan tersebut kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan hukum adat dan peranannya dalam pencegahan illegal logging dirasakan sangat perlu untuk dilakukan. Partisipasi masyarakat. Di Desa Semoi Dua plot pembangunan hutan rakyat dilakukan secara monokultur.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun baru dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2004 sampai 2005. Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber Sari. hasil penelitian menunjukan bahwa hukum adat hampir tidak ada dan tidak dijalankan lagi pada Masyarakat Perkuwin. Nilai sosial budaya lokal. Illegal logging. di Kabupaten Pasir. Catur Budi KONDISI HUTAN RAKYAT DI SEKITAR KHDTK SAMBOJA DAN SEBULU TAHUN 2005 DALAM KONSTEKS SOSIAL FORESTRY / Catur Budi Wiati. Halaman 173-190 . Kabupaten Kutai Kertanegara. Pemasaran hasil kegiatan pembangunan plot hutan rakyat di Desa Semoi Dua belum memberikan hasil dibanding dengan Desa Sumber Sari. Ekologi Wiati. Kata kunci: Hutan rakyat. Propinsi Kalimantan Timur.Kata kunci: Kelembagaan. kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu ditinjau dari status kawasan merupakan lahan yang tidak memiliki bukti kepemilikan tanah. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan.

2 . Sulawesi Tengah. Areal yang didominasi oleh jenis ini dianggap sebagai lahan kritis yang tidak produktif. Riau. Pelaksanaan proyek ini dilakukan dengan sistem kontrak. Curahan waktu kerja perempuan dalam kegiatan rehabilitasi adalah sekitar 40 %. baik laki-laki maupun perempuan terlibat dalam hampir semua kegiatan. Kelompok petani yang 69 . Kegiatan pengendalian lebih ditekankan kepada upaya pencegahan kebakaran. Halaman 49 . Sulawesi Tenggara dan Maluku menerima bantuan dari Pemerintah Jepang melalui JBIC/OECF untuk melaksanakan pilot proyek pembangunan hutan kemasyarakatan. tidak terkecuali pekerjaan itu sifatnya berat atau ringan. tentang penyelengaraan hutan kemasyarakatan sebagai bentuk tindak lanjut dari kebijaksanaan tersebut. Sulawesi Selatan. penyuluhan dan pelatihan. namun keputusan tersebut umumnya diambil setelah melalui proses diskusi antara suami dan istri. Dalam hal dampak kegiatan rehabilitasi hutan. Contohnya dalam kegiatan yang paling berat seperti pembersihan lahan ternyata dikerjakan oleh laki-laki dengan dibantu perempuan. Asmanah PEMBAGIAN PERAN JENDER DAN DAMPAK KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DI SUKABUMI (Gender Roles Distribution and Impact of Forest Rehabilitation in Sukabumi) / Asmanah Widiarti. Namun demikian perempuan memiliki kesempatan yang terbatas di masyarakat. yaitu pelaksana pekerjaan diserahkan kepada pihak swasta (konsultan dan kontraktor).1 . Terjadi hubungan erat yang saling terkait antara masalah kebakaran dan timbulnya alang-alang. Indartik. pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan pengelolaan hutan yang berorientasi pada kelestarian hutan dan peningkatan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan yang dituangkan dalam SK Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001. No. Imperata cylindrica L.5 juta ha. pengendalian kebakaran Wibowo. perguruan tinggi. Raeuschel) di Indonesia mencapai 8. kondisi iklim/musim kering yang terjadi. Perempuan memiliki peran khusus dalam kegiatan rehabilitasi. perlakuan untuk meminimkan bahan bakar dan kegiatan pemadaman. akan tetapi kegagalan reboisasi umumnya disebabkan oleh kebakaran yang sering terjadi pada kawasan yang didominasi oleh alangalang. Bengkulu. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kata kunci: Hutan kemasyarakatan. pada tahun anggaran 1998/1999.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 207-214 . kegiatan pengendalian kebakaran harus melibatkan masyarakat agar lebih efektif. karena itu perempuan kurang memperoleh kesempatan untuk menghadiri pertemuanpertemuan. 10 provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat. Persepsi laki-laki dan perempuan terhadap pembagian kerja pada kegiatan rehabilitasi dinilai sudah cukup fair. Chiharu Hiyama. akan tetapi telah memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian hutan. Dalam rangka pengendalian kebakaran pada padang alang-alang. -. -. Nusa Tenggara Barat. Ari PEMBANGUNAN HUTAN KEMASYARAKATAN DENGAN SISTEM KONTRAK / Ari Wibowo.III. Kata kunci : Alang-alang. Meskipun kegiatan ini mengalami banyak hambatan dalam pelaksanaannya. sistem kontrak Widiarti.Info Hutan : Vol.Wibowo. Secara teknis. Ari PADANG ALANG-ALANG DI INDONESIA : KERAWANANNYA TERHADAP KEBAKARAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA (Imperata Grassland in Indonesia : Its Susceptibility to Fire and its Control Efforts) / Ari Wibowo.Info Hutan : Vol. upaya rehabilitasi areal alang-alang telah dapat dikuasai. 2006 Dalam rangka mencegah makin memburuknya kondisi hutan dan masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan. 2006 Luas padang alang-alang (Imperata cylindrica L.59 . Jambi. sehingga perlu direhabilitasi agar menjadi kawasan hutan yang lebih produktif. terdapat perbedaan yang lebih nyata di antara berbagai golongan masyarakat daripada antara laki-laki dan perempuan. dan sampai saat ini masih dianggap sebagai jenis gulma yang mengganggu. Raeuschel.30 . -. laki-laki memang mempunyai peran lebih besar dibandingkan perempuan. Dalam pengambilan keputusan. Ini menunjukkan perempuan juga mempunyai kekuatan dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan di dalam keluarga. serta daerah prioritas untuk dilindungi. diperlukan pengetahuan mengenai daerah-daerah yang beresiko tinggi untuk terbakar (daerah penyebab). Pelaksanaan proyek pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan sistem kontrak telah memberikan pengalaman baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan meningkatkan fungsi hutan. Halaman 1 . No.III. Nusa Tenggara Timur. Selain itu. 2006 Dari hasil penelitian aspek jender dan tipologi masyarakat pada kegiatan rehabilitasi hutan menunjukkan bahwa.

yaitu perlindungan. Hal ini mengharuskan TNBB memperhatikan faktor lain di luar batas kawasannya.1 . pola 70 . manfaat. Kegiatan yang berlangsung pada bulan Juli-September 2004 ini dimaksudkan untuk mengkaji pengelolaan kawasan TNBB. dan tanggungjawab atas suatu kawasan. dan rekreasi. wawancara. dan memanfaatan secara lestari. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. Distribusi informasi PHBM kurang merata menyebabkan kesempatan masyarakat menjadi peserta tidak sama sehingga terjadi ketidakadilan distribusi lahan garapan.48 .Info Hutan : Vol. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan di bidang kehutanan tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga perempuan.III. informasi. serta pembangunan sarana dan prasarana yang dalam pelaksanaannya menemui beberapa hambatan dan kekuatan. penunjang budidaya. dampak rehabilitasi tanam perlu dikombinasikan dengan tanaman bernilai komersial dan berproduksi secara rutin. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . -.Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Ganti rugi hak lahan garapan dilakukan oleh sekitar 20 % anggota kelompok tani hutan yang umumnya sangat miskin kepada penduduk desa yang lebih mampu. Keterbatasan utama kaum marjinal ikut berpartisipasi adalah keterbatasan sumber modal dan akses informasi. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) bermanfaat bagi kaum miskin. Kata kunci : Kegiatan rehabilitasi hutan. ganti rugi lahan garapan Windyarini. yaitu pengamanan potensi kawasan. Asmanah APAKAH KEGIATAN REHABILITASI HUTAN BERSAMA MASYARAKAT MEMBERIKAN MANFAAT KEPADA KAUM MISKIN? : STUDI KASUS DI BKPH PELABUHAN RATU KPH SUKABUMI (Do Forest Rehabilitation Activities Benefit to the Rural Poor? / Asmanah Widiarti.tidak memiliki lahan dan tidak ikut program PHBM adalah kaum marjinal yang tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan rehabilitasi hutan dan cenderung mendapat dampak negatifnya. Untuk menghindari dampak negatif pada kelompok marjinal. kaum miskin. ilmu pengetahuan. Kegiatan PHBM memerlukan biaya cukup besar. Halaman 101-110 . Eritrina KAJIAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Eritrina Windyarini. pengawetan. Secara keseluruhan kegiatan pengelolaan ini sangatlah kompleks karena melibatkan banyak pihak dengan berbagai peran dan kepentingan yang berbeda. Agar PHBM bisa berkontribusi pada ekonomi rumah tangga peserta secara berkelanjutan. Proporsi bagi hasil kayu seharusnya mempertimbangkan beban peserta dalam upaya rehabilitasi. pariwisata. 51/1990 Taman nasional diartikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Pengelolaan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sangat membutuhkan dukungan dan peran serta berbagai pihak guna mengoptimalkan kawasan sesuai dengan fungsinya. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PHBM memiliki kontribusi kecil pada penghasilan keluarga pesertanya. dan observasi. Bagi kelompok rata-rata miskin biaya tersebut ditunjang oleh berbagai sumber penghasilan. diperlukan mekanisme yang memungkinkan kelompok ini dapat berpartisipasi dalam kegiatan rehabilitasi. Widiarti. Biaya tahun pertama merupakan faktor pembatas kelompok masyarakat sangat miskin untuk berpartisipasi. -. Informasi PHBM harus didistribusikan secara merata kepada seluruh anggota masyarakat terlebih dahulu sebelum dimulainya program.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Lokasi penelitian di BKPH Pelabuhan Ratu KPH Sukabumi. Handoyo. Chiharu Hiyama. Pengelolaan bersama ini mengacu pada suatu bentuk kerjasama. di mana pihak yang berkepentingan setuju untuk saling berbagi peran dalam manajemen. Halaman 31 . Hal ini menyebabkan lahan terlantar. 2006 Berdasarkan Undang-Undang No. kaum marjinal. hak. jender. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. pendidikan. Dengan pengelolaan bersama ini diharapkan kawasan dapat menjadi lebih efisien dan efektif dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. bahkan ada yang belum ditanami dengan pohon kayu-kayuan dan terjadi kesenjangan ekonomi di antara peserta PHBM. Untuk itu pengembangan TNBB ke depannya diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat serta efisiensi pengelolaan menjamin keberlanjutan sumberdaya alam melalui pengelolaan bersama. TNBB memiliki enam kegiatan pokok pengelolaan. Peserta menganggap PHBM bermanfaat dari segi sosial dan lingkungan. koordinasi dan integrasi.

blangiran (Shorea balangeran Burck). -. serta uji pengendalian awal pada Ampupu. Penanaman jenis pohon hutan di Sumatera yang telah sejak lama dilaksanakan dan berhasil dengan baik antara lain adalan rasamala (Altingia excelsa Noronha) dan antuang (Manglietia glauca Blume) di Merek dan Tongkoh (Kabanjahe). Toona spp.Kata kunci: Pengelolaan.Info Hutan : Vol. Eucalyptus urophylla. Kata kunci: Hama penyakit. Halaman 177-182 . Informasi mengenai jenis hama dan penyakit di atas diharapkan mampu menjadi dasar bagi tindak lanjut upaya pengendalian yang lebih spesifik. jenis pohon hutan. konservasi ex-situ. Sumatera Utara. Penanaman dalam skala luas hendaknya dilaksanakan sehubungan dengan bahaya eksploitasi berlebihan jenis-jenis di dalam habitat aslinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kerusakan yang terjadi pada tegakan alam Ampupu di Kabupaten Belu serta usaha pengendalian awalnya. No. NTT Yafid.). 2006 Sumatera and Their Relation to the Conservation of Plant Genetic Resources) / Bugris Yafid. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Halaman 181-185.Sl (banio) jenis dipterokarpa yang berhasil ditanam di daerah tinggi di Simalungun. Halaman 61 - Konservasi sumber plasma nutfah sangat diperlukan untuk mengatasi cepatnya perubahan ekosistem yang disebabkan oleh pengrusakan hutan. 2006 Laporan Dinas Kehutanan Kabupaten Belu tanggal 17 Februari 2005 menyebutkan terjadinya kerusakan pada Kawasan Hutan Lakaan Mandeu (RTK 187) yang merupakan tegakan alam Eucalyptus urophylla (ampupu) dan Eucalyptus alba. Hasil pengamatan dan identifikasi menunjukan kerusakan yang penyebab bersifat kompleks. Kajian pengelolaan Windyarini. et V. hutan tanaman Yafid. -. No. dan tanaman surian di Sikabu-kabu (Payakumbuh). dan Hopea dryobalanoides Miq.) kemenyan (Styrax benzoin Dryand). 2006 . Kata kunci: Konservasi in-situ. yang ditanam untuk keperluan resin damarnya dan Shorea platyclados V. secara keseluruhan individu dalam plot mengalami peningkatan kesehatan..Info Hutan : Vol.III. Jenis-jenis dipterocarpa yang berhasil ditanam sejak dulu dalam skala kecil adalah Shorea javanica K. Penelitian meliputi identifikasi jenis dan penyebab kerusakan. Eritrina IDENTIFIKASI DAN PENGENDALIAN AWAL HAMA PENYAKIT PADA AMPUPU (Eucalyptus urophylla) di NTT. (surian). Namun yang paling dominan adalah penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Curvularia sp dan serangan-serangan pemakan daun dari Famili Coccinelidae.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.2 . dan di 71 . Pengendalian. Rehabilitasi lahan alang-alang dataran tinggi seperti di daerah Tapanuli (Tanah Karo) disarankan menggunakan jenis Styrax benzoin Dryand.3 persen. serta menjadi bahan masukan bagi pengelolaan ke depannya. -. Bugris BEBERAPA JENIS POHON TAHAN API DAN PENANGKAL ALANG-ALANG (Some resistant Tree Species Suppressing the “Alang-alang”) / Bugris Yafid. Ampupu. dan geronggang (Cratoxylum spp. Intensitas serangan pada plot pengamatan mencapai 83. Tindakan uji pengendalian awal injeksi pestisida (fungisida bahan aktif mankozeb dan insektisida bahan aktif monokrotofos) dengan dosis 5-10 ml/pohon belum memberikan pengaruh yang berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol. Tanaman Ampupu yang sudah mati seluas lebih kurang 16 ha dan lebih kurang 15 ha sisanya sedang diserang/menunjukan gejala kematian. Styrax benzoin Dryand (kemenyan).3 . Cratoxylon (geronggang) dan Toona spp. tanaman meranti di Purbatongah (Purba/Simalungun). Bali Barat. sub famili Epilachninae. Hal ini dapat dicapai melalui konservasi in-situ maupun melalui penanaman (ex-situ). Meski demikian. pengukuran intensitas serangan. Bugris PENANAMAN JENIS POHON HUTAN DI SUMATERA DAN KAITANNYA DENGAN PELESTARIAN PLASMA NUTFAH (Forest Tree Plantations in 66 . Jenis-jenis pohon hutan yang dapat ditanam dan direkomendasikan untuk penghutanan kembali atau untuk penanaman antara lain adalah Fagraea fragrans Roxb (tembesu). 2006 Jenis pohon tahan api dan dapat tumbuh di padang alang-alang antara lain adalah tembesu (Fagraea fragrans Roxb.III.

namun untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan kerusakan lingkungan. Tuwanwouwi Yuliansyah MENGENAL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) PENGHASIL BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG TERBARUKAN. tanaman Yeny. seringkali ditanam sepanjang pinggir jalan dan sebagai pohon peneduh. kemudian minyak kurkas untuk mesin diesel berputaran rendah dan Biodisel.97 %) yang masih diperoleh 72 . Jumlah jenis tertinggi terlihat pada bentuk pemanfaatan bahan bangunan (25 jenis atau 60.Pusat Penelitian dan Pengembangan hasil Hutan. khususnya pada daerah-daerah dengan curah hujan < 2000. No. Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi sumber energi utama dunia saat ini cadangannya terus berkurang dan diperkirakan tidak lama lagi akan habis. -. -. Keadaan ini menyadarkan pemerintah dan berbagai pihak untuk mencari bahan bakar alternatif yang lebih murah dan terbarukan. Bogor telah berhasil mengolah biji jarak menjadi minyak jarak mentah (Crude Jatropha Oil) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor. Halaman 95 . Pengumpulan data jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan masyarakat Suku Hatam dan berada pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi (6. Bahan bakar.2 .116 . Hasil yang baik adalah berupa tanaman campuran antara Fagraea fagrans Roxb. Irma JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKAYU BERMANFAAT BAGI SUKU HATAM DI HUTAN DIKLAT TUWANWOUWI. Biodisel is Exploited By Hatam Tribe at Diklat (Traning and Education) Tuwanwouwi Forest. dan sengon/jeunjing (Paraserianthes falcataria Bakh). Jenis-jenis lain yang dapat tumbuh dan menekan alang-alang. (tembesu) dahulu ditanam di sepanjang jalan di daerah Sumatera Selatan. Rich.Tanaman jarak pagar memungkinkan dikembangkan di Kalimantan Timur. perkakas (9 jenis).000 ha) dilakukan dengan mewawancara tokoh adat dan melakukan survey keberadaan jenis dengan melakukan peninjauan lapangan. MANOKWARI (Wood Plants Which : Vol. bagian yang digunakan serta cara penggunaannya.) adalah tanaman perdu yang telah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman pagar dan tanaman obat.. Hal ini disebabkan kebutuhan tersebut dapat diperoleh dari kebun maupun pasar terdekat.dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl dapat digunakan tembesu (Fagraea fragrans Roxb. sebagai cover crop. Jenis ini termasuk pionir tahan api dan tumbuh di tempat terbuka. Kata kunci: Jarak pagar. minyak bakar kompor dan bahan pewarna pada bahan katun dan benang. Di lain pihak harga BBM naik berlipat ganda. Fagraea fragrans Roxb. Minyak yang dihasilkan dari biji tanaman tersebut telah pula digunakan masyarakat sebagai minyak lampu. 2006 Jarak pagar (Jatropha curcas L.). Dari hasil wawancara dan survey keberadaan jenis diketahui pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi didata 41 jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam sebagai bahan pangan (6 jenis).).81. Jatropha curcas L. konstruksi (25 jenis) dan obat-obatan (4 jenis).) tumbuh jauh lebih baik apabila cabang-cabang sampingnya dibebaskan. kayunya termasuk kelas awet I dan kelas kuat II-I dengan Berat Jenis 0. tumbuhan berkayu. Selain untuk kebutuhan bangunan pemanfaatan jenis tumbuhan berkayu pada hutan diklat Tuwanwouwi sudah relatif berkurang.III. Fagraea fragrans Roxb. macam penggunaannya. Manokwari) / Irma Yeny . 2006 dari kawasan hutan. Tembesu (Fagraea fagrans Roxb.Info Hutan Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis-jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam. Secara tradisional benzoin ditanam bersamasama dengan padi. (puspa) dengan Cassia multijuga L. Kata kunci: Pohon tahan api. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . mahoni (Swietenia macrophylla King).. dan Schima wallichii Korth. alat berburu (5 jenis). (tembesu) merupakan tanaman asli Sumatera Selatan.C. [et al] . alang-alang. Halaman 191-195 . pemanfaatan. antara lain adalah puspa (Schima wallichii Korth. juga ditanam dalam rangka penghutanan kembali karena kayunya termasuk jenis bernilai ekonomi tinggi. Kata kunci : Identifikasi. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan minyak nabati yang berasal dari biji jarak pagar. Styrax benzoin Dryand baik ditumbuhkan di tempat tinggi dengan tanah berpasir.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. sarana seni budaya (8 jenis). pada tahap awal perlu dilakukan penanaman uji coba pada lahan yang sesuai dengan tanaman tersebut.

Keawetan kayu Indonesia dibagi menjadi 5 kelas yatu kelas awet I. bagian kayu dalam pohon. jamur. hasil sayatan mikrotom biasanya sobek atau bahkan hancur. Bahan cuplikan dilunakkan dalam panci bertekanan selama beberapa jam dengan media campuran gliserin dan air 1:1. Tiga jenis kayu ukuran kaso (4x6 cm) sepanjang 30 cm sebanyak 180 contoh uji diawetkan secara rendaman panas dingin dan sel penuh. -. Halaman 15-23 . Lapangan kerja yang tersedia sekitar 24. Berdasarkan umur pakai kayu perumahan dan gedung 5 tahun dan 15 tahun masing-masing pada kayu tidak awet yang tidak diawetkan dan diawetkan terlebih dahulu dapat dihitung kayu dan uang yang dapat dihemat serta kesempatan kerja yang dapat tersedia. Sel penuh Andianto RANCANG BANGUN ALAT UNTUK PREPARASI CUPLIKAN KAYU KERAS DALAM STUDI ANATOMI / Andianto . Kayu yang dapat dihemat sebesar 7. Sasa BAGAN PENGAWETAN TIGA JENIS KAYU DENGAN BAHAN PENGAWET CCB SECARA RENDAMAN PANAS DINGIN DI SEL PENUH / Sasa Abdurrohim. Abdurrohim. disalurkan melalui pipa ke permukaan cuplikan.II. Setiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda terhadap OPK dan bergantung pada kandungan zat ekstraktif.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 29-41 .2 dan 3 jam diikuti rendaman dingin 1 hari.5%.III.Abdurrohim. CCB.93 atau bahkan mungkin lebih.7% kayu tidak awet ditambah kayu gubal kelas awet I dan II sebelum digunakan harus diawetkan terlebih dahulu. Uap panas ini dihasilkan dari belanga presto yang dimodifikasi. berupa serangga.000 ha hutan alam yang dapat menekan illegal logging sebesar 20.2 dan 3 jam. Rendaman panas dengan suhu 65 derajat C selama 1. Kayu kelas awet I dan II. Setelah itu bahan dijepit dengan pemegang cuplikan pada mikrotom kemudian dilakukan pelunakkan kembali dengan uap panas selama kurang lebih 15 menit sebelum disayat. Tanpa perlakuan khusus. Uang yang dapat dihemat pada 15 tahun pertama sebesar Rp. sedangkan 85. Hasil penelitian menunjukan bahwa dua jenis kayu dan ketiga jenis dapat diawetkan masing-masing secara rendaman panas dingin dan sel penuh dengan bagan yang digunakan dalam penelitian ini.] .3% tidak perlu disempurnakan melalui pengawetan. Vakum awal dan akhir 65-70 cm Hg masing-masing 30 dan 15 menit. Konsentrasi bahan pengawet tembaga-khrom-boron (CCB) pada kedua proses 5 dan 10 persen . Kata kunci: Pengawetan. umur pohon. Kata kunci: Keawetan.900 orang. -.12 No.al. 2006 Bagan pengawetan setiap jenis bagi kelengkapan spesifikasi pengawetan kayu perumahan dan gedung masih belum lengkap.. Bagan pengawetan ketiga jenis kayu telah disusun. dan binatang laut penggerek kayu. Ginuk Sumarni dan Jasni. 2006 Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap organisme perusak kayu (OPK). penghematan.[et. Penelitian bagan pengawetan secara rendaman panas dingin dan sel penuh perlu dilakukan. Kesulitan sering dijumpai apabila cuplikan kayu yang akan disayat sangat lunak atau sebaliknya sangat keras.1 . Sasa SIFAT KEAWETAN KAYU DAN PENYEMPURNAANNYA / Sasa Abdurrohim. Kata kunci: Mikroteknik botani. Teknik ini dapat menghasilkan sayatan bidang lintang dengan baik pada cuplikan kayu dengan berat jenis 0. Tulisan ini mengetengahkan teknik pembuatan preparat sayat untuk cuplikan kayu yang keras. kecepatan tumbuh dan di mana kayu tersebut digunakan. Anatomi kayu 73 .Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 55-62 .Info Hasil Hutan : Vol. Rendaman panas dingin. termasuk kayu. 3. 2006 Pemahaman mikroteknik botani merupakan suatu dasar untuk penyediaan preparat guna pengamatan struktur mikro organ tumbuhan.9 trilyun/tahun. yang hanya 14. -.35 juta m3/tahun atau setara 147. penyempurnaan melalui pengawetan.IV dan V. serta tekanan 10 atm selama 1..

dan tekstur dapat terjaga. Pencegahan kerusakan akibat pewarnaan kayu dapat dilakukan dengan pestisida yang telah diizinkan.). limbah kayu.24 No. tengah dan ujung batang.24. 6% dan 12%.5 . tenaga surya. Kata kunci: Jamur biru. Efrida SIFAT KEMBANG SUSUT DAN KADAR AIR KESEIMBANGAN BAMBU TALI (Gigantochloa apus Kurtz) PADA BERBAGAI UMUR DAN TINGKAT KEKERINGAN (Shringkage-Swelling Properties and Equilibrium Moisture content of Bambu tali (Gigantochloa apus Kurtz) at Various age and Drying Level) / Efrida Basri. sementara suhu untuk pengeringan kayu jati berkisar antara 45°C .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Hasil uji coba menunjukan suhu ratarata harian dari panas surya yang diterima ruang pengering berkisar antara 74 . Untuk mengeringkan sortimen kayu dengan kadar air 50% sampai mencapai kadar air 10% memerlukan waktu rata-rata 13 hari dan menghasilkan rendemen kayu kering sekitar 80%.70°C. Keawetan kayu Darmawan. jati. Pencegahan kerusakan dalam proteksi disesuaikan perubahan sistem pengangkutan dan pengolahan kayu.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. -.448.423. No.50°C. Penelitian dilakukan pada bambu tali {Gigantochloa apus Kurts) umut 3. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan finansial dari pemanfaatan mesin pengering tersebut. -. Kata kunci: Kembang-susut. Halaman 437 . 2006 Pembuatan minyak kemiri dapat dilakukan dengan cara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat. tingkat kekeringan.5 . Perlakuan kadar air untuk pengujian sifat kembang susut dan KAK adalah 0%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu tali umur 4 tahun 40°C . jamur biru sebagai organisme perusak dan cara pencegahannya.24. Jawa Tengah. Konsumsi limbah kayu untuk bahan bakar tungku pada setiap periode pengeringan 8 m3.f. Perlakuan proteksi serangan jamur biru dapat meningkatkan mutu kayu dan nilai tambah yang cukup nyata serta dapat mengeliminir limbah pengolahan kayu. tungku tipe I. kelayakan teknis dan finansial D. gambar. Saptadi PEMBUATAN MINYAK KEMIRI DAN PEMURNIANNYA DENGAN ARANG AKTIF DAN BENTONIT (Extraction and Purification of Candlenut Oil with Activated Charcoal and Clay-bentonite) / Saptadi Darmawan. yang didasari pengetahuan bioteknologi jamur biru. sifat keawetan alami. Perlakuan pemanasan pada biji kemiri dan daging kemiri sebelum proses pemecahan dan pengepresan serta penggunaan arang secara fisik sudah masak tebang dan dimensinya relatif stabil. 2006 Perubahan sumber asal bahan baku kayu perlu diikuti informasi sifat dasar kayu. MARTONO. 2006 Telah dilakukan uji coba teknis dan finansial terhadap mesin pengeringan kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku tipe SC+TI untuk kapasitas ± 19 m3 di salah satu industri/pengrajin kayu di Ngaringan. Organisme perusak. Halaman 241-250 . Kata kunci: Mesin pengering. Martono POLA SERANGAN DAN CARA PENCEGAHAN JAMUR BIRU / D. 2006 Proses kembang susut berlangsung selama kadar air bambu belum mencapai kadar air keseimbangan (KAK) dengan lingkungannya. Pengeringan bambu tali sampai ke kadar air 6% menghasilkan KAK pada level sekitar 9%. umur.Basri. sehingga jenis-jenis kayu untuk mebeler dari kayu yang berwarna cerah.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005 : Halaman 43-54 . Grobogan. Kebutuhan panas pengeringan di siang hari diperoleh dari tenaga surya dan di malam hari atau tergantung kebutuhan diperoleh dari tungku pembakaran dengan bahan bakar biomas/limbah kayu dari penggergajian sendiri. Efrida UJI COBA MESIN PENGERING KAYU KOMBINASI TENAGA SURYA DAN PANAS DARI TUNGKU TIPE I (Trial on Wood-drying Machine Powered by the Combined Solar Energy and Type-1 Heating-Stove) / Efrida Basri & Achmad Supriadi. -. Pengeringan menggunakan metode oven pada suhu 60o C. No. Saefudin. Oleh karena itu pengetahuan tentang sifat kembang susut dan KAK penting diketahui untuk menjaga mutu produk.3 . bambu Basri. Halaman 413 . 4 dan 5 tahun yang diambil dari bagian pangkal. KAK. Uji coba dilakukan terhadap kayu jati (Tectona grandis L.

14 m3/jam dan biaya sebesar Rp 15. penyangraian (7.25 m3/jam dengan rata-rata biaya berturutturut sebesar Rp39. (rit) berkisar antara 1-3 batang dengan volume berkisar antara 0.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. arang aktif. Hasilnya menunjukkan bahwa: 1. No. 2.656 m3 /jam dengan rata-rata 2. sedangkan untuk Volvo kedua besaran tersebut berturut-turut adalah Rp 6. pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 jauh lebih murah sehingga layak diusahakan. 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. bilangan iod dan bilangan asam. 3. Penyaradan dilakukan dengan menggunakan forwarder merek Timberjack G10 dan Timberjack 101 0B.5 menit) dan pengovenan pada suhu 60oC (1. SUMATERA SELATAN (Productivity and Cost of Harvesting Equipment in Forest Plantation: Case Study on PT Musi Hutan Persada.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.163m3/rit. berat jenis. Dibandingkan dengan upah pengeluaran kayu setempat. Minyak kemiri yang dihasilkan dari kondisi terbaik (penyangraian selama 1. 4. Pemanasan pada biji kemiri berupa penjemuran (3. 3% dan 4% serta diuji sifat fisiko-kimianya. Penelitian ini bertujuan untuk 1).671/m3 .aktif dan bentonit pada tahap pemurnian minyak kemiri akan mempengaruhi kualitas minyak. Kata kunci : Minyak kemiri. -.. P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of West Pekalongan Forest District) / Dulsalam.5 dan 2 jam) dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi terbaik dalam pembuatan minyak kemiri dilihat dari rendemen dan warna minyaknya. produktivitas.5.500 m3/rit dengan rata-rata 0.25 m3/jam dan 21.713/m3 . Halaman 251-266 .852/m3 dan Rp 79. Untuk pengeluaran kayu pada areal yang mempunyai kelerengan 15% ke atas. 1. rata-rata biaya muat adalah Rp 6.519 m3 /jam.764/ m3.3 .200/m3 dan Rp 12. Tujuanya untuk mendapatkan informasi tentang produktivitas. bentonit dan kualitas fisiko-kimia minyak kemiri. Sumatera Selatan telah dilakukan untuk mendapatkan informasi produktivitas dan biaya peralatan pemanenan hutan tanaman yang tepat guna dan ramah lingkungan. biaya pengeluaran kayu dan berbagai aspek operasional sistem kabel layang tersebut.5 jam) kemudian dimurnikan menggunakan arang aktif dan bentonit pada konsentrasi 2%.24 No. 2006 Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PENGELUARAN KAYU DARI HUTAN TANAMAN DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH 24 DI KPH PEKALONGAN BARAT (Productivity and Cost of Log Extraction Using Penelitian produktivitas dan biaya pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 telah dilakukan di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat pada tahun 2002.254/m3. jumlah batang yang disarad per satu tahap operasi 75 . 4 dan 5 jam). Djaban Tinambunan. pemurnian. Halaman 77 .5 dan 17. Pemuatan dan bongkar kayu digunakan alat merek Hitachi dan Volvo dengan rata-rata produk-tivitas masing-rnasing sebesar 70 m3/jam untuk muat dan 34 m3/jam untuk bongkar muatan. 2. Pengoperasian kabel layang P3HH24 untuk mengeluarkan kayu di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat dapat berjalan lancar. Diameter kayu yang dikeluarkan berkisar antara 20 .88 . sedangkan biaya rata-rata pengeluaran kayu adalah Rp 15. Alat penebangan yang digunakan adalah chainsaw (gergaji rantai) berukuran kecil merek Husqvarna dengan rata-rata produktivitas sebesar 2. -. mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan pemucat (arang aktif dan bentonit) terhadap sifat fisiko-kimia minyak kemiri. 5. Djaban Tinambunan. disarankan untuk menggunakan sistem kabel layang P3HH24. Pembuatan minyak dilakukan dengan cara kempa hidraulik pada suhu 60oC. sistem kabel layang P3HH24. Rata-rata produktivitasnya berturut-turut adalah 18.527 .24. 12.040-0.51 cm dengan rata-rata 36 cm.155/m3 . bongkar adalah Rp 12. biaya Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PERALATAN PEMANENAN HUTAN TANAMAN: STUDI KASUS DI PT MUSI HUTAN PERSADA.5. Penggunaan arang aktif sebesar 2% menghasilkan sifat fisiko-kimia minyak kemiri yang optimum dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia untuk indeks bias. Produktivitas pengeluaran kayu berkisar antara 1.1 . Kata kunci: Hutan tanaman. Untuk Hitachi. sedangkan -. 2006 Penelitian peralatan pemanenan di hutan tanaman PT Musi Hutan Persada. mengetahui pengaruh pemanasan daging kemiri terhadap rendemen dan warna minyak yang dihasilkannya dan 2). South Sumatera) / Dulsalam.334/m3.

diantaranya yang memang diperlukan keberadaannya antara lain untuk pembuatan prasarana jalan. Kata kunci: Pemanenan. Wesman PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN ALAM/ Wesman Endom. alat bantu. sedangkan truk semi gandengan.52%. Kata kunci: Pemanenan. kinerjanya menunjukkan produktivitas cukup baik sekitar 15 m .175/jam atau Rp 620/m .4. penyiapan tempat pengumpulan kayu bundar (logyard). -. Mengingat pentingnya penyelamatan industri pengolahan kayu yang telah menginvestasikan modalnya hingga ratusan milyar rupiah. Pengangkutan kayu dengan truk tunggal rata-rata produktivitasnya sebesar 5 m3/jam dengan rata-rata biaya sebesar Rp 44. tergantung jarak. tempat workshop dan gudang. tiang penyangga dan kereta pengangkut kayu kabel layang model KM Exp-I. Tetapi pelaksanaan pemanenan itu sendiri cenderung boros terhadap kekayaan sumberdaya alam. produktivitas Endom. 2006 Untuk mencapai pemanfaatan hutan produksi alam lestari. ukuran kayu. Pembuatan aksesoris itu meliputi wahana angkutan lokal.km/jam.5 kali lipatnya. dan Yuniawati. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan bulan Oktober tahun 2005. Misal pada praktek pemanenan yang tidak terencana dan terawasi dengan baik. kondisi permukaan lapangan dan kerapatan tegakan. 2006 Expo-2000 merupakan sebuah prototype alat yang dirancang dan dibangun untuk membantu dalam kegiatan pengeluaran kayu. Wesman KAJIAN OPERASI PENGELUARAN KAYU SISTEM KABEL LAYANG EXPO2000 DENGAN PENGGUNAAN ALAT PENDUKUNG (Study of Applying Expo-2000 Skyline with Auxiliaries for Extracting Logs) / Wesman Endom.697/m3. produktivitas. rata-rata produktivitasnya sebesar 15 m3/jam dengan ratarata biaya sebesar Rp 37. Penyaradan kayu dengan forwarder Timberjack G10 dan Timberjack 101 OB menimbulkan pemadatan dan pergeseran tanah relatif kecil sedangkan pemuatan dengan alat pemuat Hitachi dan Volvo menimbulkan pergeseran tanah cukup besar. Penebangan pohon dan pengangkutan kayu tidak menimbulkan gangguan lingkungan yang berarti. Dari analisis biaya dengan suku bunga bank 18% per tahun dan dengan proyeksi biaya 6 tahun. Pada tahun 2005 dilakukan kegiatan perbaikan pada alat Expo-2000 itu sendiri dan dibuat aksesoris pendukung lainnya dengan tujuan lebih mudah dalam pergerakannya dilapangan dan lebih tinggi hasil kinerjanya.24 No.base camp. Kata kunci: Kereta kayu Expo-2000. Zakaria Basari. -. pemanenan. ketiga hal itu menjadi unsur penting bagi kesinambungan pengelolaan hutan alam tersebut. biaya Endom. Hasil uji coba memperlihatkan kini produktivitasnya lebih meningkat setelah dipakai kereta model KM Exp-I yang dilengkapi dengan pengunci. jembatan. Kombinasi peralatan perlu perbaikan dan produksi kayu yang minimal pada periode tertentu perlu ditentukan agar arus kayu lancar serta pekerja dan peralatan tidak banyak waktu tunggu. Halaman 339357 . hasil kajian biaya operasi pengeluaran kayu adalah Rp60. Sekalipun kerusakan hutan memang tidak dapat dihindarkan.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 85-96 . penebangan.676/m3. Dengan investasi sebesar Rp 100 juta (berikut kabel dan perlengkapan lainnya). serta akan memperbesar terjadinya erosi dan sedimentasi. Padahal. wawasan lingkungan. pembalakan ramah lingkungan sangat penting untuk dipakai sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pengusahaan hutan tersebut. penyaradan. peralatan tepat guna. hutan tanaman 76 . hutan tanaman. faktanya antara lain diperlihatkan oleh kerapatan panjang jalan sarad hampir 3 kali lipat lebih besar dibanding cara pemanenan ramah lingkungan. Perhitungan ini diperoleh dengan menggunakan dasar biaya upah setempat sebesar Rp 35 ribu/m .4 . berarti mengelola keberadaan sumberdaya alam hutan alam produksi sebagai pemasoknya secara lestari sangat penting.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 6. pembukaan wilayah atau pembuatan jalam. 5. Konsekuensinya berdampak pada meningkatnya lapisan tanah hutan yang terganggu dan terjadinya pengurangan tanaman tingkat pancang (diameter pohon 5-20 cm) sebesar 2.Agar kelangsungan hutan produksi itu dapat terus berjalan dengan baik maka ada 5 aspek teknis penting yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan hutan produksi alam tersebut yaitu kegiatan perencanaan. nilai NPV didapat sebesar antara Rp 881 juta dengan IRR sebesar 22 . kabel layang.

jati super dari Kutai.24. Jenis jati lokal dan super berpengaruh nyata terhadap berat jenis basah kayu tersebut. Produktivitas yang dicapai dengan dilakukannya penyempurnaan berupa penambahan endless drum diperoleh hasil sebesar 5 m3. alat Expo-2000 Endom. Diharapkan pengetahuan ini dapat memperbaiki pengelolaan hutan yang berwawasan lingkungan. Kata kunci: Kayu jati. maka dengan biaya pemilikan dan pengoperasian alat berdasarkan perhitungan adalah sebesar Rp 60. Mohammad Muslich. sedangkan lokasi penanaman jati tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat jenis. fisis. Nurwati SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU JATI SUPER DAN JATI LOKAL DARI BEBERAPA DAERAH PENANAMAN (Physical and Mechanical Properties Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Kayu jati yang diteliti tergolong kelas kuat III-IV. Halaman 359-369 . -Penelitian sifat fisis dan mekanis kayu jati (Tectona grandis L.24 No.al] . jati lokal dari Binjai. Jawa Barat. produktif dengan biaya operasi dan perawatan rendah. Ginuk Sumarni. No. Dengan biaya investasi sebesar Rp 100 juta.Endom Wesman KAJIAN PENGELUARAN DAN PEMUATAN KAYU DENGAN ALAT EXPO2000 YANG DISEMPURNAKAN (Study on Logs Extraction and Loading Using Improved Expo-2000) / Wesman Endom [et.135 per m3. perencanaan.f. Kata kunci: Strategi. Kutai. Lampung. Bahan utama disadur dari Handbook for Guiding Skidding and Road Building in British Columbia yang diterbitkan oleh Forest Research Institute Canada (FERIC) tahun 1991 yang sedikit diperluas. jumlah dan luas TPn serta diagram lebar dan jarak jalan sarad.000 per m3 . klasifikasi tingkat dampak. diperlukan terobosan berupa penyediaan alat ekstraksi kayu yang tidak mahal.175 per jam. sedangkan BJ tertinggi pada kayu jati super adalah dari Binjai dan terendah dari Maros. Kata kunci : Pengumpulan. Parung. Biaya ini jelas lebih efektif dan efisien dibanding cara konvensional yang besarnya mencapai masing-masing secara berurutan Rp 35. strategi perencanaan pembalakan.Info Hasil Hutan : Vol.4 . Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi. sedangkan lokasi tanaman berpengaruh nyata terhadap kekakuan dan kekuatan patahnya.305 dan Rp 1.5 . -. jati super dari Parung. jati super dari Bengkulu. jati lokal dari Sulawesi dan yang terendah jati super dari Sulawesi. efektif. Maros. jati lokal dari Kutai. 2006 of Super and Local Teak Woods Originated from Several Plantation Areas) / Nurwati Hadjib. -. Kayu yang terkuat adalah jati lokal dari Palembang. Wesman STRATEGI MENGURANGI KERUSAKAN TANAH DALAM PEMBALAKAN / Wesman Endom.12 No.000 dan Rp 15. efisien. kerusakan tanah minimal Hajib. jati super dari Palembang.461. Perbedaan BJ tersebut berpengaruh nyata pada kekakuan dan keteguhan tekan sejajar serat. Halaman 449 . jati super dari Binjai. Kegiatan pembalakan agar secepatnya diikuti dengan penanaman kembali di semua lokasi bekas tebangan agar tercapai pengelolaan hutan lestari. Halaman 133-142 . Panajam.hm/jam dan untuk muat/bongkar 50m3/jam. pembalakan. super. lokal. jati lokal dari Lampung. Ada beberapa acuan yang mungkin dapat diterapkan yaitu klasifikasi kerusakan tanah. Bengkulu dan Palembang bertujuan untuk melihat perbedaan karakteristik sifat fisis dan mekanis kayunya. 2006 Dalam upaya mengatasi kesulitan mengumpulkan kayu-kayu hasil tebangan di daerah curam dengan cara manual. 2006 Tulisan ini menyajikan upaya mengurangi kerusakan tanah sebagai dampak dilakukannya kegiatan pembalakan.mekanis 77 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Sesuai dengan harapan itu dilakukan kegiatan penelitian uji coba pengumpulan kayu dan muat bongkar dengan menggunakan hasil rekayasa alat Expo-2000 di daerah hutan Resort Polisi Hutan (RPH) Ciguha.2 . kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat jenis (BJ) kayu jati super lebih tinggi daripada kayu jati lokal. mudah dioperasikan. sehingga biaya pengumpulan dan pemuatan kayu secara berurutan masing-masing adalah Rp 12.) jenis lokal dan super dari daerah Binjai. diikuti berturut-turut kayu jati super dari Lampung.

42 g/cm3.045.5%.50%.6 cm). Venir luar dan bilah inti papan blok terbuat dari kayu sengon sedangkan venir silang terbuat dari kayu tusam.24.Sulastiningsih. 2.5. 2006 Tulisan ini menyajikan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian campuran dengan cara aktivasi uap. 750 dan 850 C. serbuk kayu gergajian campuran. Iskandar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rata-rata papan blok adalah 12% sedangkan kerapatan rata-rata papan blok adalah 0.24.3%. keteguhan rekat dan delaminasi. Angka daya serap benzena dan yodium ini memenuhi Standar Indonesia dan Jepang. No.43 tng/g. Tebal bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan lebar papan blok tetapi tidak berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan panjang papan blok.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 63.86%. daya serap benzena 28. Sebagai bahan pengaktif digunakan larutan H3P04 dengan konsentrasi masing-masing 7.90%.5 dan 7. benzena. kadar abu 8. Djeni PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DAN SERBUK KAYU GERGAJIAN CAMPURAN (The Manufacture of Activated Charcoal from Oil Palm Shells and Mixture of Wood Sawdust) / Djeni Hendra.5 cm) dan 3 macam lebar ( 0.30%.10.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.6% pada arah tegak lurus serat. Sedangkan arang aktif yang dibuat dari bahan baku tempurung kelapa sawit pada suhu 6500C dengan konsentrasi H3P04 7.23% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1. I. daya serap terhadap benzena 26. Sifat papan blok diuji menurut Standar Indonesia (SNI) meliputi kadar air.43% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1. M.44%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.155 . kadar karbon terikat 83. kadar air 5. kadar zat mudah menguap 11. SIFAT PAPAN BLOK SENGON DENGAN VENIR SILANG KAYU TUSAM (The Properties of Sengon Blockboard with Cross Core Layer from Tusam Wood) / M. yodium.27 mg/g. Kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang aktif yang dibuat dari bahan baku serbuk kayu gergajian campuran pada suhu 850°C dengan konsentrasi H3P04 12.2 . arang aktif. kadar zat mudah menguap 11. kadar karbon terikat 79.107.2% pada arah sejajar serat dan 18. Kata kunci: Sengon. 2006 Papan perekat urea formaldehida. -.132 .I.M. Penggunaan venir silang kayu tusam dalam pembuatan papan blok sengon meningkatkan keteguhan lentur sebesar 6.I.30%.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 80%.7. kerapatan. papan blok (Paraserianfhes falcataria) dan kayu tusan (Pinus merkusii) yang direkat dengan blok (5 lapis) sekala laboratorium dibuat dari kayu sengon 78 . Keteguhan lentur sejajar serat papan blok sengon yang dibuat dengan menggunakan venir silang kayu tusam semuanya memenuhi persyaratan Standar Jerman (DIN). venir silang. Pengujian keteguhan lentur papan blok dilakukan menurut Standar Jerman (DIN) sedangkan pengujian pengembangan dimensi papan blok lilakukan menurut Standar Amerika (ASTM). tusam. Iskandar.Hendra. Halaman 117 . Lebar bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan lebar papan blok. kadar abu 5.2 . kadar air 7. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran bilah inti terhadap sifat papan blok sengon dengan venir silang kayu tusam.04%. Keteguhan rekat papan blok yang diuji berdasarkan uji geser tarik dan uji delaminasi memenuhi persyaratan Standar Indonesia (SNI).0 dan 12. -. Kata kunci: Tempurung kelapa sawit. No.74%. Halaman 145 . Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retort dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 650. Tebal venir luar 2 mm sedangkan tebal venir silang 3 mm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari alternative pemanfaatan limbah dari pabrik minyak kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian menjadi arang aktif yang dapat memberikan nilai tambah. Ukuran bilah inti terdiri dari dua macam ketebalan (1 dan 1.

tusam Krisdianto ANATOMI DAN KUALITAS SERAT LIMA JENIS KAYU KURANG DIKENAL DARI LENGKONG.Br.I PEMANFAATAN KAYU MANGIUM UNTUK BAHAN KAYU LAPIS DAN KAYU LAPIS INDAH / M. Parenkim bentuk sayap. Kayu ki hantap {Sterculia oblongata R.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 117-130 . No.888. lingkaran tumbuhnya jelas oleh adanya parenkim pita tipis dan perbedaan ketebalan dinding selnya.) formaldehida yang dibuat dari jenis lignin efektif dalam mencegah serangan rayap kayu kering pada kayu karet dan tusam tingkat kematian rayap kayu kering antara 62. Lingkaran tumbuh kayu ki bancet kurang jelas. 2006 Sumber bahan baku alternarif untuk industri perkayuan nasional saat ini dan masa yang akan datang berasal dari hutan tanaman dan pemanfaatan jenis kayu kurang dikenal. jari-jari 2 ukuran.)) / Jasni. Pemanfaatan kayu mangium masih terbatas sebagai bahan baku pulp. Kayu ki bulu (Gironniera subaequalis Planch. jari-jari 2 macam ukuran.100. No.) berwarna kuning kepurihan dan agak keras. Resin tersebut diaplikasikan pada kayu karet dan tusam. Untuk keperluan identifikasi. didominasi di daerah Sumatera Selatan sekitar 176. 2006 Salah satu hutan tanaman industri yang telah berkembang adalah HTI mangium (Acacia mangium Willd.) Luas tanaman mangium sekitar 176. Kayu ki bancet (Turpinia sphaerocarpa Hassk. M.Iskandar.4 . 2. Kayu lapis. Kelemahan kedua kayu tersebut mudah diserang organisme perusak kayu.24 Kayu karet dan tusam banyak digunakan sebagai bahan mebel.) berwarna coklat kemerahan dan termasuk dalarn kelompok kayu perdagangan bintangur. Pembuluh kayu ki lubang bersusun dalam kelompok radial atau diagonal dan parenkim pita memanj ang yang kadang terputus. Iskandar dan Suwandi Kliwon. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan pencegah serangan rayap kayu kering menggunakan resin lignin formaldehida. rayap kayu kering. Dalam pemanfaatan kayu kurang dikenal diperlukan informasi struktur anatomi dan kualitas seratnya untuk keperluan pengenalan jenis dan pemanfaatannya. agak lunak. Kayu lapis indah Jasni PENGUJIAN RESIN BERBASIS LIGNIN SEBAGAI BAHAN PENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes cynocephalus Light. jari-jari 2 ukuran. Adi Santoso. SUKABUMI (Anatomy and Fiber Quality of Five Lesser Known Wood Species from Lengkong. Mangium. lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. Untuk meningkatkan nilai tambah kayu mangium perlu peningkatan diversifikasi produknya antara lain untuk pembuatan venir indah sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah.3 . -. pembuluhnya agak banyak dan berukuran agak kecil.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.615 ha. Dalam penelitian ini resin dibuat dari 3 jenis lignin yang dihidroksimerilasi kemudian dikondensasi dengan larutan NaOH 50% dan formaldehida 37%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin berbasis lignin 79 . Kayu ki lubang {Calophyllum grandiflorum JJ.S.) berwarna kuning cerah. dengan lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita.218 . karet.) berwarna kekuningan.0% dan mampu meningkatkan kelas ketahanan kayu karet maupun tusam dari kelas IV (tanpa perlakuan) menjadi kelas II. 3. Hasil penelitian menunjukan bahwa kayu mangium ternyata dapat dipergunakan sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah. masing-masing mewakili kayu daun lebar dan kayu daun jarum yang selanjutnya ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering. Kata kunci: Pemanfaatan kayu. Kayu ki kuya (Ficus vasculosa Wall. ex Miq. 4.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Serat kelima jenis kayu termasuk dalam kelas kualitas I sebagai bahan baku pulp untuk kertas. Kata kunci: Lignin formaldehida.I. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan untuk meningkatkan keawetannya.4 . 2006 (Possible Application of Lignin-based Resin as a Chemical Agent to Prevent the attack of Dry Wood Termite (Cryptotermes cynocephalus Light. Di industri pengolahan serpih kayu (chip) seperti PT Tanjung Enim Lestari bahan baku kayu mangium diolah menjadi serpih sebagai bahan baku pulp. dan difus berkelompok. -.24. Nisbah mol lignin: formalin =1:2. Halaman 301-308 . corak bergaris. -.) berwarna kuning keabu-abuan. Sukabumi) / Krisdianto. Reaksi dilangsungkan pada suhu 70 –80oC selama 1 jam. Mutu kayu lapis yang dihasilkan pada umumnya dapat memenuhi persyaratan standar nasional Indonesia dan Jepang. ciri utama dari kelima jenis tersebut adalah: 1.24 Ha. Halaman 201 . Parenkim pita tebal membentuk corak garis-garis pudh pada produk kayunya. 5.

-. 'Jati unggul. kayu.3 um untuk kelapa dalam dan 296 ± 3. Mutu pelengkungan dengan mesin pada jenis yang sama tidak selalu lebih baik dari manual. 2006 Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan kelapa hibrida berumur 19 tahun dipelajari untuk melengkapi data dan informasi struktur anatomi dan dimensi serat batang kelapa. Sedangkan kayu jati konvensional merupakan tanaman yang dikembangkan melalui perkecambahan biji. -. Kata kunci: Kelapa dalam.85 ± 2. mebel. Panjang pembuluh metaxylem rata-rata 293 ± 2. pelengkungan. East Kalimantan) / Krisdianto & Ginuk Sumarni.11 um untuk kelapa hibrida.Kata kunci : Lima.2 um untuk kelapa hibrida. Tulisan ini bertujuan mempelajari proses dan mutu pelengkungan rotan dalam industri mebel. Struktur anatomi batang kelapa dipelajari dari preparat sayatan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 7 tahun. Penelitian ini bertujuan membandingkan persentase teras kayu jati super dan konvensional pada umur dan lokasi yang sama. Persentase kayu teras jati super rata-rata 39. Salah satu parameter kualitas kayu jati dapat dilihat dari persentase kayu terasnya dalam batang. yaitu bagian pangkal batang lebih tebal dari bagian ujung. Sedangkan noktah pada dinding metaxylem berukuran 23. baik untuk keperluan fungsional maupun estetika.12 No. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bertambah panjang dari bagian tengah ke arah kulitnya. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh belum diketahui. Pada industri besar dan menengah jenis rotan manau lebih mudah dilengkungkan dari jenis lain. Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan hibrida tidak memiliki perbedaan yang nyata. Mutu hasil pelengkungan ditentukan tahap persiapan karena dalam tahap ini rotan harus dipilih bebas cacat dan bebas ruas.) telah dikenal sebagai bahan baku mebel dan konstruksi dengan kualitas tinggi. KALIMANTAN TIMUR (Heartwood Portion in Logs of 7 Years Old Fast Growing and Conventional Teak Taken from Penajam. Kata kunci: Rotan. Jasni. terdapat yang menghasilkan mutu lebih baik. Batang kelapa mempunyai dua komponen utama.6%. serat Krisdianto ANATOMI DAN DIMENSI SERAT BATANG KELAPA DALAM DAN HIBRIDA (Cocos nucifera L.) / Krisdianto. dimensi serat Krisdianto PELENGKUNGAN DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN ROTAN / Krisdianto.Info Hasil Hutan : Vol. mutu. tengah dan pangkal. 2006 Pembuatan bentuk lengkung merupakan proses penting dalam industri mebel rotan. yaitu ikatan pembuluh dan jaringan parenkim dasar. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bagian dalam lebih tipis dari bagian dekat kulitnya. Untuk meningkatkan mutu pelengkungan mungkin perlu diterapkan metode plastisasi alternatif sehingga kerjasama dengan instansi penelitian diperlukan.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.84 um untuk kelapa dalam dan 23. Halaman 1-14 . Di dalam ikatan pembuluh terdapat pembuluh metaxylem. lebih besar dari jari konvensional 20.1 . dimensi serat batang kelapa bertambah panjang dari pangkal ke ujung pohon. Pelengkungan rotan selain manau pada industri menengah. protoxylem. Ketebalan dinding serat menunjukkan pola yang mirip dengan panjang serat.24. Jati cepat tumbuh atau dikenal dengan nama dagang 'Jati super'. anatomi. Berdasarkan persentase kayu terasnya kayu jati konvensional lebih baik parameter kualitas kayu yang lain juga harus diperhatikan seperti kualitas serat dan keawetan alaminya. Halaman 39-48 . anatomi.f. No. Ini diduga akibat operatornya lebih terampil. hibrida.9 ± 1. -.Info Hasil Hutan : Vol. Halaman 385 – 394. Secara umum. manau Krisdianto PERBANDINGAN PERSENTASE VOLUME TERAS KAYU JATI CEPAT TUMBUH DAN KONVENSIONAL UMUR 7 TAHUN ASAL PENAJAM.5 . phloem dan ikatan serat. idcnrinkasi. 2006 Kayu jati (Tectona grandis L. kayu teras telah terbentuk pada seluruh lempengan kayu jati super maupun konvensional dari bagian ujung. yaitu persiapan dan pelengkungan. Hampir semua potongan rotan besar perlu dilengkungkan dalam proses pembuatan barang jadi. sedangkan dimensi serat diukur dari preparat maserasi.1 . 'Jati prima' atau 'Jati emas' merupakan tanaman jati yang dikembangkan melalui kultur jaringan dan bertujuan menambah pasokan bahan baku kayu jati. Proses pelengkungan melalui dua tahap. Berdasarkan SNI 01- 80 .12 No.3%.

Jasni. Isolat dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor (BGR). konvensional. semakin panjang umur nira semakin rendah produksi nata. vitamin. Efektivitas penularan oleh kasta rayap pekerja Coptotermes curvignathus yang telah terinfeksi spora jamur dari 6 isolat yang dikumpulkan dari berbagai lokasi di Jawa dievaluasi.3 .Info Hasil Hutan : Vol. Mody RENDEMEN DAN KANDUNGAN NUTRISI NATA PINNATA YANG DIOLAH DARI NIRA AREN (Recovery and Nutrition Content of Nata Pinnata Processed from Aren Sap) / Mody Lempang. C. Halaman 219 . Kata kunci: Jati. Neo Endra POTENSI BAHAN BAKU KAYU DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN INDUSTRI CINDERAMATA DI CARITA / Neo Endra Lelana. super. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi bahan baku berupa limbah penebangan dan industri penggergajian kayu dan batang kelapa banyak tersedia. Neo Endra EFEKTIFITAS PENULARAN Metarhizium SERANGGA Lelana. Kabupaten Pandeglang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase mortalitas rayap cenderung meningkat setelah inkubasi dibandingkan dengan sebelum inkubasi.225 . Halaman 33-38 .12 No.144 .1 .24. A. Penularan terjadi melalui penyebaran spora. Rendemen produksi nata pinnata yang tinggi (94. M.64%.83% sampai 82. 2006 Jamur patogen serangga Metarhizium anisopliae diketahui bersifat patogen terhadap banyak serangga termasuk rayap. Kandungan nutrisi nata pinnata yang diolah dari nira aren (kadar air. Data yang dikumpulkan berupa jumlah industri cinderamata. serat anisopliae OLEH RAYAP PEKERJA Coptotermes curvignathus (Effectiveness of Transmission of Some Isolates of Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae by Subterranean Termite Workers.2 . Data potensinya belum diketahui secara baik sehingga perlu dilakukan penelitian. Agus Ismanto.] . Nata adalah sejenis makanan ringan yang menyerupai jelly yang biasanya diolah dari air kelapa.24. 2006 Kawasan Carita. penularan spora. anisopliae. protein. cinderamata. Umur nira dan penggunaan bahan suplemen pupuk ZA berpengaruh nyata terhadap rendemen produksi nata pinnata. diinkubasi dalam ruang gelap dan lembab pada suhu kamar selama 14 hari. Halaman 133 . limbah industri dan pembalakan Lempang.1-2003. -. teras Lelana.. Coptotermes curvignathus) / Neo BEBERAPA ISOLAT JAMUR PATOGEN Endra Lelana . Propinsi Banten merupakan tujuan wisata penting di Indonesia. curvignathus. mortalitas rayap 81 . No. batang kayu jati pada umur 7 tahun dapat masuk dalam kriteria kayu bulat kecil (KBK. No.42% atau rata-rata-rata 55.22 %) diperoleh dari pengolahan yang menggunakan nira aren umur 6 jam dengan penambahan suplemen pupuk ZA sebanyak 2. Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM)p dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Semarang (SMG) menunjukkan efektivitas penularan yang tinggi. Kata kunci: Jamur patogen serangga.[et. -. Beberapa kelompok rayap yang terdiri dari campuran rayap pekerja yang terinfeksi spora dan yang sehat dimasukkan dalam botol kultur berisi media pasir steril yang lembab. Data dikumpulkan dari industri penggergajian dan kerajinan serta instansi maupun masyarakat terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nira aren yang diolah untuk memproduksi nata pinnata menghasilkan rendemen antara 23. Kata kunci: Bahan baku. Salah satu faktor pendukung pariwisata adalah cinderamata dengan bahan baku limbah penebangan dan industri baik kayu maupun kayu kelapa. Isolat dari Bogor tampaknya paling efektif untuk ditularkan oleh rayap pekerja ke dalam koloninya.al. -.I. sementara semakin tinggi dosis penggunaan pupuk ZA semakin tinggi rendemen nata. Selain itu industri cinderamata di sekitar Carita yang sudah berkembang juga dapat mendukungnya. menyebabkan mortalitas rayap lebih dari 80% pada perlakuan rayap terinfeksi dengan konsentrasi 50%. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur nira dan penambahan pupuk ZA pada nira aren yang diolah untuk menghasilkan nata pinnata.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. persentase.).5007. industri penggergajian dan potensi bahan baku.5 gram per liter nira..Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.

kasar, lemak, abu, kalsium dan posfor) berbeda dengan kandungan nutrisi nata decoco yang diolah dari air kelapa, nira kelapa maupun kolang-kaling. Kata kunci: Nira aren, nata pinnata, rendemen, kandungan nutrisi Lempang, Mody STRUKTUR ANATOMI, SIFAT FISIK DAN MEKANIK KAYU PALASO (Aglaia sp) (Anatomical Structure, Physical and Mechanical Properties of Aglaia sp) / Mody Lempang; Muhammad Asdar. Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.2 ; Halaman 171 - 181 , 2006 Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi struktur anatomi, sifat fisik dan sifat mekanik kayu palado (Aglaia sp.) yang diambil dari hutan produksi alam di Kalukku kabupaten Mamuju, Propinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa palado memiliki kayu gubal berwarna putih sampai krem dan teras berwarna coklat muda sampai coklat kelabu; serat lurus, tekstur agak halus, pori sedikit (3 per.mm²) berbentuk lonjong dan tersebar tata baur; perforasi tipe sederhana; jari-jari luar biasa pendek, sempit dan jarang (tinggi 327 μm; lebar 25,52 μm dan frekuensi 5 per mm², parenkim tersebar atau baur. Panjang serat 1132 μm dan diameter serat 25,61 μm; diameter lumen 17,39 μm; dan tebal dinding 1,64 μm. Kadar air kering udara 15,85%; berat jenis kering udara 0,48 dan berat jenis kering tanur (kerapatan) 0,53; penyusutan kering udara ke kering tanur 2,71% (Radial) dan 4,67% (Tangensial); keteguhan lentur pada batas patah 612,72 kg/cm2 dan keteguhan tekan sejajar serat 402,28 kg/cm2 . Kata kunci : Kayu, sifat, anatomi, fisik, mekanik, Palado Lestari, Setyani B DIMENSI SERAT EMPAT JENIS BAMBU DARI JAWA TIMUR / Setyani B. Lestari & Yoswita. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 109114 , 2006 Tulisan ini menginformasikan nilai dimensi serat beserta nilai turunannya dari empat jenis bambu yang berasal dari Jawa Timur, yaitu bambu ampel (Bambusa vulgaris Schat), bambu petung (Dendrocalamus asper Bck), bambu apus (Gigantochloa apus Kurz) dan bambu jajang ulet (Gigantochloa apus kurz

forma). Bambu yang diteliti memiliki panjang serat antara 2600 sel berkisar antara 1,0 – 2,0 mikron, diameter lumen memiliki nilai antara 13-16,8 mikron. Berdasarkan nilai turunan dimeni serat, empat jenis bambu yang diteliti menunjukkan nilai karakteristik yang baik sebagai bahan baku pulp dan kertas. Kata kunci: Bambu, dimensi serat, nilai turunan Malik, Jamaludin TEKNOLOGI PEMADATAN MELALUI PENGEMPAAN DENGAN PERLAKUAN PENDAHULUAN PENGUKUSAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS KAYU / Jamaludin Malik. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.1 ; Halaman 49-58 , 2006 Jenis-jenis kayu inferior yang memiliki sifat tidak kuat dan tidak stabil dapat disempurnakan melalui teknologi pemadatan sehingga pemanfaatannya meluas. Teknologi ini sudah lama dikembangkan dengan berbagai metode. Salah satu metode pemadatan yang dianggap memiliki kelebihan adalah melalui pengempaan dengan perlakuan pendahuluan pengukusan. Proses utama metode ini adalah pengukusan, pengempaan dan pengkleman. Sifat dasar kayu yang mengalami peningkatan adalah kerapatan, keteguhan lentur stads (MOE & MOR), kekerasan, keteguhan tarik dan pukul, serta stabilitas dimensi. Peningkatannya dapat mencapai > 90%. Kayu yang dipadatkan dapat dimanfaatkan lebih luas, seperti untuk tiang bangunan, dinding, pegangan tangga, lantai, mebel, bingkai, pemintal tenun, kumparan, pegangan alat, baling-baling dan plat sambungan yang memerlukan kekuatan gesek tinggi. Kata kunci: Pemadatan, peningkatan kualitas, pemanfaatan Malik, Jamaludin PENGOLAHAN KAYU DIAMETER KECIL UNTUK KAYU LAMINA DAN KOMPONEN MEBEL / Jamaludin Malik, Abdurachman dan Achmad Supriadi. -- Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 153-163 , 2006 Produksi alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk yang diolah dari kayu diameter kecil adalah kayu lamina dan komponen mebel. Penelitian pembuatan produk tersebut telah dilakukan terhadap beberapa jenis

82

kayu yaitu tusam (Pinus merkusii) damar (Agathis sp.), gmelina (Gmelina arborea), bengkel (Nauclea sp), pisang-pisang (Alponsea teysmanii Boerl), dan jambu jambu (Eugenia spp.) dari bagian cabang. Sedangkan kayu lamina bentangan besar dibuat dari bagian batang utama kayu mangium (Acacia mangium Wild.) dan sengon (Paraserianthes falcataria) berdiameter kecil. Hasil penelitian penunjukan bahwa produk kayu lamina dan kayu lamina untuk bentangan besar yang dibuat dari kayu diameter kecil sengon dan mangium memenuhi syarat standar (SNI 2000, JAS 1996 dan JAS 2003). Komponen mebel dapat memenuhi standar pabrik. Kata kunci: Pengolahan kayu, kayu diameter kecil, kayu lamina, mebel

Mandang, Y.I DIGITALISASI BASIS DATA XYLARIUM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN BOGOR / Yance I. Mandang . -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 75-85 , 2006 Xylarium Bogoriense Pusat Litbang Hasil Hutan di Bogor menyimpan hampir 40.000 contoh kayu yang dikumpulkan dari seluruh kepulauan Indonesia. Semua contoh kayu dicatat dalam buku register dan setiap contoh memiliki keterangan yang meliputi nomor contoh kayu, nomor herbarium, nama setempat, suku, nama ilmiah, sinonim, asal contoh kayu, kolektor dan tanggal dikoleksi. Catatan tersebut ditulis tangan sejak tahun 1915 dalam 12 jilid buku. Masalahnya hampir semua buku register sudah lapuk dan datanya terancam musnah. Oleh karena itu perlu dicarikan cara untuk menyelamatkan data tersebut sekaligus disusun kembali dalam bentuk mutakhir. Dalam makalah ini disajikan pengalaman merenovasi sistem informasi xylarium dengan memanfaatkan perkembangan terakhir dalam bidang teknologi informasi. Untuk keperluan identifikasi kayu, deskripsi anatomi kayu dari berbagai sumber ditransformasikan ke dalam kode IAWA (International Association of Wood Anatomist) lalu diketik dalam format MS Access. Basis data koleksi dan basis data ciri kayu ini kemudian diimpor ke dalam MS SQL Server pada komputer server yang sudah disiapkan. Penelusuran informasi dan identifikasi kayu dilakukan dengan menuliskan query dalam bentuk pernyataan-pernyataan SQL lalu dieksekusi. Beberapa contoh proses penelusuran informasi dan identifikasi kayu disajikan. Waktu yang diperlukan untuk penelusuran informasi dan identifikasi kayu sangat singkat dibanding dengan cara lama. Kata kunci: Xylarium, Sistem informasi Misdarti KUALITAS BAMBU LAMINASI ASAL KABUPATEN TORAJA, SULAWESI SELATAN (Qualities of Laminated Bamboo of Toraja Regency, South Sulawesi) / Misdarti. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 183 - 189 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis bambu dan macam perekat poly vinyl acetate (PVAc) terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi. Jenis bambu yang digunakan adalah hitam dan parring. Sedangkan macam perekat PVAc yang digunakan adalah fox, tiger dan epoxy. Bambu

Malik, Jamaludin PENGARUH PEMADATAN TERHADAP LAJU PENURUNAN KADAR AIR KAYU RANDU ALAS (Gossampinus malabarica Alst.) / Jamaludin Malik & Andianto. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 143-147 , 2006 Pemadatan kayu randu alas (Gossampinus malabarica Alst) merubah struktur anatomis dan sifat fisis sehingga memberi peluang untuk dimanfaatkan sebagai perkakas. Perubahan kedua sifat ini merubah sifat pengeringan kayu yang dipadatkan. Penelitian sifat pengeringan kayu yang dipadatkan perlu dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal kayu yang dipadatkan 54%, lebih rendah 10,5% dari kayu yang tidak dipadatkan. Pengeringan kayu yang dipadatkan dan tidak dipadatkan selama sembilan hari masing-masing mencapai kadar air 15,9% dan 15%. Penurunan kadar airnya menunjukkan perbedaan nyata. Hubungan kadar air (Y) dan waktu pengeringan (X) pada kayu yang tidak dipadatkan mengikuti persamaan Y = 64,640 – 9,296x + 0,421x2 , dengan R2 = 0,999. Pada kayu yang dipadatkan mengikuti persamaan Y = 53,440 – 7,926x + 0,428x2 , dengan R2 = 0,999. Kata kunci: Randu alas, pemadatan, kadar air kayu, pengeringan

83

laminasi dibuat dengan menggunakan bambu kering udara dengan ukuran 51 x 2,5 x 0,5 cm. Kemudian sampel bambu dilaburi perekat secara merata pada salah satu sisi dengan berat labur 200 gr/m . Selanjutnya sampel bambu dari jenis yang sama direkat satu sama lain kemudian dikempa pada suhu ruangan dengan menggunakan klem selama 12 jam. Bambu lamina kemudian dikondisikan pada suhu ruangan selama 1 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan macam perekat berpengaruh tidak nyata terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi yang dibuat dari bilah bambu hitam dan bambu parring. Bambu laminasi dengan menggunakan lem epoxy cenderung memiliki nilai MOE dan keteguhan rekat yang lebih baik dibanding lem fox dan lem tiger. Efisiensi perekatan terbesar terjadi pada bambu laminasi parring dengan lem epoxy. Kata kunci : Bambu laminasi, macam perekat PVAc, sifat fisis dan mekanis Muslich, Mohammad KEAWETAN 25 JENIS KAYU DIPTEROCARPACEAE TERHADAP PENGGEREK KAYU DI LAUT (Durability of 25 Dipterocarpaceae Wood Species Against Marine Borers) / Muhammad Muslich; Ginuk Sumarni. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 191 - 200 , 2006 Dua puluh lima jenis kayu Dipterocarpaceae diuji sifat keawetannya terhadap serangan penggerek kayu di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm, direnteng dengan tali plastik, kemudian dipasang di perairan pulau Rambut dan diamati setelah 6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang keawetan 25 jenis kayu Dipterocarpaceae terhadap penggerek kayu di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 6 bulan, sebagian besar contoh uji mendapat serangan berat oleh famili Pholadidae dan Teredinidae. Lima dari 25 jenis kayu atau 20% tahan terhadap penggerek di laut. Giam durian (Cotylelobium flavum Pierre) dan balau laut [Shorea falcifera Dyer) termasuk dalam katagori sangat tahan, sedangkan giam tembaga (Cotylelobium melanoxylon Pierre), balau laut batu (Shorea elliptica Burck.), dan resak ayer (Vatica teysmanniana Burck.) termasuk dalam katagori tahan terhadap penggerek di laut. Kelima jenis kayu tersebut cocok untuk bangunan kelautan. Kata kunci: Keawetan, Dipterocarpaceae, penggerek di laut

Novrianto, Eka PENELAAHAN FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENETAPAN UKURAN SASARAN VENIR KAYU LAPIS (Assessing Factors That Affects the Determination of Targeted Veneer Size for Plywood) / Eka Novriyanto. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 371 - 384, 2006 Untuk mendapatkan konstruksi panel yang memiliki ukuran tebal yang diinginkan, maka diperlukan penetapan ukuran sasaran pada saat pengupasan vinir, Faktor-faktor penyusutan vinir, pengempaan panel, pengampelasan, dan penyusutan panel serta keragaman pengupasan total dapat mempengaruhi penetapan ukuran sasaran, Data yang dikumpulkan dalam percobaan ini adalah tebal vinir sesudah kupas 1,76 mm, penyusutan vinir 6,34%, pengaruh pengempaan 11,94%, pengaruh pengampelasan 0,44%, tebal vinir dalam panel 1,22 mm, rata-rata tebal panel akhir 28,02 mm, dan penyusutan panel 1,42%, Data-data tersebut selanjutnya diolah dengan formula yang diturunkan dari perubahan yang dialami vinir sampai menjadi panel oleh proses produksi, untuk mendapatkan ukuran sasaran pengupasan vinir kayu lapis konstruksi 19-lapis, Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ukuran sasaran pengupasan vinir adalah 1,870 ± 0,013 mm, Kata kunci : Kayu lapis, vinir, ukuran sasaran pengupasan vinir Nurhayati, Tjutju PRODUKSI DAN PEMANFAATAN ARANG DAN CUKA KAYU DARI SERBUK GERGAJI KAYU CAMPURAN (Production and Utilization of Charcoal and Wood Vinegar of Mixture Wood Sawdust) / Tjutju Nurhayati, Ridwan Ahmad Pasaribu & Dida Mulyadi. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 395 - 411, 2006 Penelitian produksi terpadu arang dan cuka kayu menggunakan serbuk gergaji kayu campuran asal hutan alam dan hutan tanaman dilakukan pada tungku sakuraba dan tungku blower. Arang serbuk dimanfaatkan untuk bahan baku produksi arang aktif dan cuka kayunya untuk budidaya tanaman padi. Hasilnya sebagai berikut ; Produksi terpadu arang dan cuka kayu ‘crude’dari serbuk gergaji kayu campuran hutan alam dan hutan tanaman pada tungku sakuraba masing-masing 292,68 kg/ton dan 232,24 kg/ton dan pada tungku blower 344,76 kg/ton dan 323,07 kg/ton. Rendemen arang dan cuka kayu ke dua jenis

84

Halaman 9 .60%. fenol. Kualitas arang yang baik diperoleh pada suhu karbonisasi 5000C menghasilkan derajat kristalinitas sebesar 33. arang. Pari. lignin. furfural. Kata kunci: Arang. 60 dan 90 menit.24. leba aromatik 10. Produksi arang aktif dengan mutu baik ini diperoleh setelah tungku aktifasi diredam emisi panasnya dengan gelas wol. jumlah lapisan aromatik 8.9%) yang lebih rendah. sikloheksana. Penggunaan cuka kayu distilat 2.39%. 2006 Phosphoric Acid on the Quality of Activated Charcoal of Acacia mangium Bark) / Gustan Pari.6% (sakuraba). Ikatan OH. orto kreosol. sedangkan untuk tinggi lapisan (Lc). 19. Rendemen terpadunya pada tungku sakuraba 35. No. XRD dan SEM. tungku.al] .35 nm i = 0. 2006 Tulisan ini membahas struktur arang dari lignin pada suhu karbonisasi yang berbeda. para kreosol. derajat kristalinitas (X) dan jumlah lapisan aromatik (N) meningkat dengan makin naik karbonisasi.21 nm dengan diameter port arang antara 12. dan C=C alifatik menurun dengan naiknya suhu. permukaannya bersifat polar. Oleh karena itu produksi terpadu pada tungku blower lebih baik dari sakuraba. cuka kayu. kadar karbon terikat 64. Cuka kayu ‘crude’ dari ke dua serbuk gergaji mengandung jenis komponen kimia yang sama pada kadar yang bervariasi.1 . C=O dan C-H.67. asetol. kadar abu 26. arang aktif.serbuk gergaji relatif sama pada masing-masing tungku yaitu 20.96 nm.1 .7 mg/g) diperoleh dari perlakuan aktifasi perendaman asam fosfat 20% dan uap air pada suhu 695OC dan aktifasi dengan uap panas tanpa asam fosfat pada suhu 605OC (789. menghasilkan rendemen sebesar 98. Gustan PENGARUH LAMA WAKTU AKTIVASI DAN KONSENTRASI ASAM FOSFAT TERHADAP MUTU ARANG AKTIF KULIT KAYU ACACIA MANGIUM (The Influence of activation Time and Concentration of Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.10 ton /ha dan kontrol 3.70%. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retor yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 750 C dengan lama waktu aktivasi 30. Pasaribu. Halaman 33 .300. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa jarak antar ruang lapisan aromarik (d) dan lebar lapisan (La) menurun dengan makin 85 . -Dalam tulisan ini dikemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari kulit kayu Acacia mangium. bahan organik 4.7%) yang lebih tinggi. kaku.3%. dan kadar karbon tertambat (86.0 dan 15%.21 ton/ha.5% ini memberi petunjuk terhadap fungsinya sebagai pupuk dan merespon pertumbahan padi yang lebih baik. Sifat arang dari tungku blower lebih baik dari sakuraba ditunjukan oleh kadar abu (2. Kata kunci : Serbuk gergaji kayu. Bahan pengaktif yang digunakan adalah larutan asam fosfat (H3PO4) dengan konsentrasi 0. difraksi.500.46 .6% dan 14. alfa metil guaiakol. Untuk mengetahui perubahan struktur arang yang terjadi dilakukan analisis dengan menggunakan FTIR. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aktivasi dan konsentrasi bahan pengaktif terhadap hasil dan mutu arang aktif yang dihasilkan.6 um. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang yang direndam asam fosfat 10%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. struktur kimia. Ridwan A. 5. 10. Arang ini mempunyai sifat keteraturan tertinggi.0.7 mg/). tinggi lapisan aromatik 3.41 ton/ha.0.650.20%. daya serap ARANG DARI LIGNIN (Study on Charcoal Structure of Lignin) / Gustan Pari [et. padi. Pemanfaatan cuka kayu distilasi 2.5% dengan hasil gabah kering giling yang sama yaitu 5. keras dan struktur porinya makropori.72%.2%) dan kadar zar mudah terbang (11. Pada suhu 850°C arang yang mempunyai struktur aromatik yang permukaannya mempunyai gugus C-O-C. -. Spektrum FTIR dari arang lignin menunjukkan bahwa antara suhu 300-500 perubahan struktur kimia dari bahan baku secara nyata.90 %. metanol.21 nm.5% pada tanaman padi jenis ciherang dengan perlakuan penambahan pupuk NPK dapat menggantikan penggunaan bahan organik 2. dengan lama waktu aktivasi 60 menit.400. Djeni Hendra. Produksi arang aktif memenuhi SNI pada parameter daya serap iod (857. kadar zat terbang 8. No. sedangkan struktur eter dan dihasilkan aromatik makin berkembang.24.75 ton/ha. kadar air 8. Perlakuan tanpa pupuk NPK menghasilkan gabah kering giling paling tinggi pada cuka kayu yaitu 4. Gustan KAJIAN STRUKTUR meningkatnya suhu karbonisasi.20. jarak antar lapisan aromatik d(002) = 0.750 dan 850°C dalam suatu retort yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik. Proses pembuatan arang lignin dilakukan pada suhu 200. Pari. terdiri dari asam asetat. Analisis SEM menunjukkan bahwa jumlah dan diameter pori arang meningkat dengan naiknya suhu karbonisasi.2% menunjukkan angka lebih rendah dari blower 41.3% dan 22% (blower).

kadar zat terbang 5. Gustan KOMPONEN KIMIA SEPULUH JENIS KAYU TANAMAN DARI JAWA BARAT (Chemical Component of Ten Planted Wood Species Originated from West Java) / Gustan Pari . tusam. alkohol benzena antara 1. mahoni dan ki lemo. ki bawang. abu antara 0. arang aktif. benzena 16. terlebih dahulu serbuk gergaji kayu dibuat arang dengan menggunakan tungku semi kontinyu pada suhu 300 C. Kata kunci : kayu.24. sengon buto. kapur. yodium. kadar abu 42. ki bawang.9%. karena kadarnya ada di antara 18 – 33% untuk kadar lignin dan ada di antara 0. Jawa Barat. Pada proses aktivasi tersebut diperoleh rendemen arang aktif sebesar 72. No. silika antara 0. alkohol benzena dan kelarutan dalam NaOH 1%.. kimia. Nilai daya 86 .[et. Kadar pentosan semua jenis kayu yang diteliti termasuk kelas rendah karena kadarnya kurang dari 21%.86%. Semua jenis kayu yang diteliti mengandung kadar holoselulosa yang tinggi lebih dari 65% yaitu kayu ki sereh.24 No. kecuali kayu pulai kongo yaitu 64.20% sebagai gas pengoksida.. tusam dan ki lemo.9%.3%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.. kulit kayu. Proses aktivasi dilakukan di dalam retort yang terbuat dari besi tahan karat pada suhu 800.6%. Halaman 89 .6 – 18%. pulai kongo (Alstonia kongoensis).[et al] .terhadap yodium 513 mg/g dan daya serap terhadap benzena sebesar 16. suren (Toona sureni). Pari.6 – 69.. sedangkan yang termasuk kelas rendah kurang dari 2% yaitu kayu sengon buto. 2) Pengaruh suhu dan lama waktu aktivasi terhadap rnutu arang aktif dan 3) Pengaruh penambahan arang aktif terhadap mutu minyak goreng bekas. Jenis kayu tersebut adalah ki sereh (Cinnamomum parthenoxylon). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Pengaruh konsentrasi asam fosfat sebagai bahan pengaktif kimia. -.71%.2 – 6. salamander mahoni dan kayu ki lemo cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas dengan menggunakan proses kimia. Berdasarkan atas nilai skor dan hasil uji BNJ (Beda nyata jujur) komponen kimia 10 jenis kayu asal Jawa Barat (Tabel 3) ternyata hanya kayu ki sereh dan pulai kongo yang tidak cocok untuk bahan baku pulp kertas. mahoni (Switenia macrophylla King) dan ki lemo (Litsea cubeba Pers). pentosan antara 15.1 – 20. dan semikimia. dan arang aktif yang dihasilkan mengandung kadar air 4.4 . 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia 10 jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman di Jawa Barat. air panas. tusam. air panas antara 3. -. kapur. Kata kunci: Acacia mangium.25%. salamander (Grevillia robusta A.10%. ki bawang. kadar karbon terikat 52. suren.75% dan kelarutan dalam NaOH 1% antara 9.0 – 7.] . holoselulosa. lignin. daya serap terhadap kloroform 24.3%.97% dan daya serap terhadap yodium sebesar 668. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 64. kelarutan dalam air dingin.4 – 6. Arang yang dihasilkan selanjutnya direndam dalam larutan asam fosfat dengan konsentrasi 5. sengon buto.63 mg/g.0% untuk kadar abu. 850. Pari. abu. Analisis ini merupakan dasar untuk menetapkan kegunaan kayu tersebut terutama sebagai bahan baku pulp kertas.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. lignin antara 26. kapur. pentosan.53%.101 . salamander. ki bawang (Melia excelsa).9%. Halaman 309-322 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif serbuk gergaji kayu yang terbaik adalah arang aktif yang direndam asam fosfat 5% pada suhu 900°C selama 30 menit. 900°C dengan lama waktu aktivasi masing-masing 30.0 dan 10% selama 24 jam. kapur (Dryobalanops aromatica).al. Sedangkan kadar zat ekstraktifnya terutama kelarutan dalam alkohol benzena yang termasuk kelas sedang antara 2 – 4% adalah kayu suren. sedangkan ke delapan jenis kayu lainnya yang terdiri dari kayu suren. lignin. Kadar lignin dan abu semua jenis kayu yang diteliti termasuk ke dalam kelas sedang.5 – 5. Dalam penelitian ini digunakan larutan ((NH4)2C3 0.23%. Arang aktif dari kulit kayu mangium ini hanya dapat digunakan untuk penjernihan air. Kelarutan dalam air dingin antara 2. dan yang termasuk ke dalam kelas tinggi lebih dari 4% yaitu kayu ki sereh dan pulai kongo. sengon buto (Entorolobium cyclo).84%. tusam (Pinus merkusii Jungth).2 .. salamander dan mahoni. Analisis yang dilakukan mencakup penetapan kadar holoselulosa. pentosan. karbon terikat.cunn).1 – 0. 60 dan 90 menit.2 – 0. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergaji kayu dengan proses aktivasi kombinasi antara cara kimia dan fisika. Gustan ARANG AKTIF SERBUK GERGAJI KAYU SEBAGAI BAHAN ADSORBEN PADA PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS (Activated Charcoal from Wood Sawdust as Adsorbent Material for Frying Oil Refinery) / Gustan Pari . Sebelum dibuat arang aktif.0 – 30.7%.5%.

2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profit teknis dan kelembagaan industri kerajinan ukiran kayu di Pulau Samosir. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah serbuk gergajian kayu mangium untuk dibuat arang aktif dan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida dalam perekat kayu lapis. produksi komponen mebel dan kayu lamina. Kata kunci : Serbuk gergaji. fisika dan kombinasinya di dalam tungku baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik.serap ini memenuhi syarat Standar Amerika dan arang aktif yang dihasilkan permukaannya lebih bersifat polar sehingga dapat digunakan untuk menyerap polutan yang juga bersifat polar seperti aldehida. Halaman 97-107 . -. Teknologi yang layak secara finansial untuk pengembagan industri kecil adalah teknologi produksi karton menggunakan bahan baku pulp dari limbah sebetan kayu gergajian dan jamur tiram menggunakan media limbah serbuk gergajian kayu.0 mg/g. 2006 Teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri kayu dari hasil penelitian yang dilakukan secara bertahap meliputi teknologi isolasi dan perbanyakan fungsi pelapuk putih. Arang yang dihasilkan diaktivasi secara kimia. mulai dari penyediaan bahan baku. kadar abu 8.2 mg/g. arang aktif . benzena 14.48 ppm Pasaribu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif yang terbaik diperoleh dari serbuk gergajian kayu mangium yang diaktivasi dengan cara kombinasi oksidasi gas dan kimia dengan rendemen sebesar 53%. No.02%. Gustan PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN ARANG AKTIF SEBAGAI REDUKTOR EMISI FORMALDEHIDA KAYU LAPIS (Manufacturing and Application sedangkan emisi yang dihasilkan dengan penambahan arang aktif sebanyak 5% menjadi 15. iodin. 87 . kayu lapis.27% menjadi 0. Data sekunder dikumpulkan dari instansi-instansi pemerintah yang berada di lingkungan Pemda Samosir dan Pemda Tobasa.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 145-151 . Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2004 di Kecamatan Simanindo. -. asam lemak bebas Pari. dan papan serat.59%. Kata kunci : Arang aktif.96 meq 02/kg. Terbukti hasil uji emisi kayu lapis yang tanpa penambahan arang aktif sebesar 16. kadar karbon terikat 83. metilien biru 135. Gunawan PROFIL KERAJINAN UKIRAN KAYU DI PUIAU SAMOSIR.24.5% yang ditunjukkan dengan menurunnya kandungan asam lemak bebas dan bilangan peroksida masing-masing dari 0.5 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. -.17%. Pasaribu dan Tjutju Nurhayati. Sebelum dibuat arang aktif. TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK INDUSTRI SKALA KECIL / Ridwan A.2 . kloroform 28.36 ppm dengan tanpa mempengaruhi keteguhan rekat kayu lapis. arang aktif. minyak goreng.33%.77%.87 menjadi 10. Mutu minyak goreng ini terutama asam lemak bebas dan bilangan perokisda memenuhi syarat minyak goreng yang ditetapkan SNI.Info Hasil Hutan : Vol. produksi pulp rayon dan papan isolasi. Halaman 425 .98 menjadi 16. SUMATERA UTARA / Gunawan Pasaribu. emisi formaldehida Pasaribu. 2006 Telah dilakukan penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergajian kayu Acacia mangium Willd.96% dan daya serap terhadap formaldehida sebesar 26. Kabupaten Samusir.12 No. Pulau Sumatera Utara.21%. Adi Santoso & Djeni Hendra. Secara teknis.17% dan dari 18. produksi dan pemasaran belum ditangani secara baik oleh pengrajin. Kualitas minyak goreng bekas menjadi lebih baik setelah ditambahkan dengan arang aktif sebanyak 2. Ridwan A. serbuk gergaji diarangkan dalam pada suhu 500oC. daya serap terhadap yodium sebesar 960. produk karton. Sedangkan untuk kecerahan warna mengalami peningkatan dari 13. kadar zat terbang 5. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap para pengrajin ukiran kayu dengan menggunakan kuisioner.88%. Kata kunci: pemanfaatan limbah. serbuk gergaji kayu. Pencampuran arang aktif pada perekat kayu lapis mampu menurunkan emisi formaldehida pada perekat kayu lapis.436. kadar air 4. produksi arang briket. mangium. Arang aktif yang dihasilkan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. Industri skala kecil of Activated Charcoal as Reductor of Plywood Formaldehyde Emission) / Gustan Pari.

Sedangkan suhu maksium pemasakan bervariasi (170oC dan 175oC). modifikasi kayu dan pembuatan produk majemuk. gmelina. meranti kuning. pengolahan kayu Roliadi. Produk kayu yang dihasilkan umumnya memenuhi standar industri yang disyaratkan. Sedangkan dari bambu selain produk konvensional seperti barang kerajinan dapat pula dihasilkan papan bambu lamina dan bambu lapis.4 . dan kayu hutan tanaman. sengon. Tingkat delignifikasi lebih dipengaruhi oleh perbandingan banyaknya inti siringil dengan inti vanilin (S/V) dalam lignin (R2 = 0. -. Nurwati Hadjib. Produk kayu yang dapat dibuat dari kayu asal hutan tanaman dan tanaman perkebunan selain kayu gergajian. Baik kayu yang berasal dari tanaman perkebunan maupun kayu hutan tanaman umumnya mempunyai sifat inferior. 2006 Faktor-H Untuk Menelaah tingkat Delignifikasi dan Sifat Pulp empat Jenis Kayu Hutan Tanaman Industri pada Proses Pengolahan Kimia Sulfat) / Han Roliadi. dari pada oleh berat jenis kayu (R2 = 0. bahan baku. kelapa. bahan penolong dan teknologi serta pasar dalam negeri perlu mendapat perhatian dan ditangani lebih serius oleh instansi terkait. dan perbandingan kayu dengan larutan pemasak 1:4. Tingkat delignifikasi tertinggi hingga terendah terjadi pada jenis kayu gmelina. Han EXPLICABILITY OF THE H-FACTOR TO ACCOUNT FOR THE DELIGNIFICATION EXTENT AND PROPERTIES OF PLANTATION FOREST WOOD PULP IN THE KRAFT COOKING PROCESS (Penerapan Hutan : Vol. Pada kenyataannya tanaman tersebut tidak hanya mampu menghasilkan produk kayu bernilai tinggi tetapi juga ramah lingkungan. masing-masing dipertahankan dalam 4 taraf waktu (0. dan ternyata menghasilkan lembaran pulp/kertas dengan sifat kekuatan tinggi. stabilitas dimensi dan kekuatan rendah. bahan baku. Tingkat delignifikasi selama pemasakan hingga selesai ditelaah dengan faktor H. papan partikel. 88 .5 persen. 30. sifat-sifat tersebut dapat diatasi. Agar tetap survive dunia perkayuan harus berupaya melakukan diversifikasi bahan baku kayu tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan. dan Jamal Balfas. dan 90 menit). kayu lapis dan kayu lapis indah. stabilitas dimensi. 60. dihasilkan pula produk olahan. Kata kunci: Ukiran kayu. glulam. hingga kapur. seperti diameter kecil. Perbedaaan jenis kayu HTI bisa mempengaruhi sifat pengolahan dan mutu hasil pulp/kertas tersebut. Sifat fisik/kekuatan lembaran pulp dipengaruhi secara positif oleh perbandingan S/V dan secara negatif oleh berat jenis kayu. sawit.Jurnal Penelitian Hasil Semakin terbatasnya sumber serat kayu di Indonesia dan anjuran mengurangi ketergantungannya dari hutan produksi alam untuk industri pulp dan kertas menyebabkan kekhawatiran serius. Proses pengukiran kayu sampai penyelesaian akhir masih menggunakan cara sederhana tanpa bantuan alat mekanis yang lebih cangkih.5212). Dalam pemanfaatan bambu dan kayu dari perkebunan permasalahan kelembagaan dan kebijakan. Dalam kelembagaan.5972). industri. venir lamina. dan kapur) dilakukan pada kondisi tetap pemasakan: alkali aktif 16 persen. Tanaman berkayu lainnya yang dapat diandalkan untuk memasok industri perkayuan adalah bambu. meranti. Tingkat tersebut berkorelasi negatif dengan rendemen pulp total dan persentase pulp reject. dan positif dengan rendemen pulp tersaring. dan juga kaitannya dengan sifat pengolahan pulp dan sifat fisik/kekuatan pulp. hanya terdapat beberapa kelompok pengrajin yang aktif dan koperasi yang ada tidak banyak membantu usaha kerajinan kayu. seperti papan dan bilah sambung. -. randu. Satu usaha mengatasinya adalah pembangunan hutan tanaman industri (HTI) sebagai pemasok serat kayu. yaitu: Kayu karet. Halaman 275-299 . densifikasi. Pulp dengan rendemen pulp tersaring tinggi dengan persentase reject rendah berindikasi tingkat degradasi fraksi karbohidrat rendah dan tidak undercooked. dan sebaliknya. Kata kunci: Diservasi. sehingga dapat mengganggu sifat dari produk akhir yang dihasilkan.24 No. Osly DIVERSIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU / Osly Rachman. sulfiditas 22. 2006 Salah satu faktor yang menyebabkan terpuruknya industri pengolahan kayu di tanah air saat ini adalah ketidakseimbangan antara pasokan bahan baku kayu yang lestari dan kebutuhan kayu untuk mencukupi kapasitas industri kayu.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 99-116 . bahan baku. yang dilakukan masih ditemukan produk dengan nilai kadar air produk yang masih tinggi yaitu sekitar 50%. kelembagaan Rachman.Dari pengujian beberapa produk setengah jadi. Namun dengan teknologi perekatan. kurang awet. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan tanaman berkayu dari areal perkebunan yang jumlahnya sangat besar. Noor Rahmawati. Percobaan pengolahan pulp sulfat/kraft secara individu terhadap empat jenis kayu HTI (sengon.

nilai banding serpih TKKS dengan larutan pemasak 1:5. 2006 (Manufacture and Qualities of Paperboard from the Mixture of Empty Oil-Palm Bunches Pulp and Paper-Mill Sludge)/ Han Roliadi. -. TKKS sesudah dijadikan serpih.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 165-175 . Pasaribu. hal yang paling penting untuk diperbaiki adalah seimbangnya antara potensi aktual hasil hutan dengan kapasitas hasil industri hasil hutan yang ada. alum 2%. 2006 Dalam rangka program restrukturisasi kehutanan. Sampai saat ini kulit pohon mangium sebagian besar ditinggalkan di hutan atau di sekitar pabrik sebagai limbah. Kapasitas izin IKPH tahun A. balok lamina. bambu lamina dan papan partikel komposit dengan kualitas eksterior yang setara dengan perekat jenis fenol-dan resorsinol formaldehide Kata kunci: Kulit mangium.5.24 No.4 .81%. Makalah ini menyajikan data untuk menjawab permasalahan tersebut.2 – 1. sehingga berindikasi pemanfaatannya sebagai bahan baku industri karton. pulp.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 19-26 . Kata kunci: Tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah mengembangkan perekat berkualitas WBP (Weather Boiling Proof) yang terbuat dari tanin yang berasal dari kulit pohon mangium. Rangkuman dari beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kulit mangium sangat potensial sebagai sumber tanin untuk bahan baku perekat. Data produksi kayu dari hutan tanaman. Limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan serat berligno selulosa berlimpah jumlahnya dan belum banyak dimanfaatkan. perbandingan S/V Roliadi. Hal ini mengisyaratkan prospek penggunaan pulp TKKS yang dicampur dengan sludge. -.Kata kunci: Kayu hutan tanaman. Tanin. Sifat fisik karton asal pulp TKKS 100% dan asal campurannya dengan sludge industri kertas (50% : 50%) lebih tinggi dari pada karton produksi industri rakyat (dari campuran kertas bekas 50% dan sludge 50%. diolah menjadi pulp menggunakan proses semikimia soda panas tertutup pada ketel pemasak skala semi-pilot hasil rekayasa Pusat Litbang Hasil Hutan (Bogor) pada kondisi pemasakan: konsentrasi alkali (NaOH) 10%. industri karton rakyat 89 . Adi KULIT MANGIUM SEBAGAI SUMBER TANIN UNTUK PEREKAT / Adi Santoso. dan waktu pemasakan 2 jam pada suhu maksimum 120oC dan tekanan 1.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. -. 2006 Pemanfaatan kulit pohon mangium (Acacia mangium Wild) sebagai sumber tanin untuk bahan perekat di Indonesia pada masa mendatang diperkirakan semakin berkembang berkenaan dengan pemanfaatan limbah kulit kayu tersebut dalam upaya optimalisasi hasil hutan khususnya non kayu dari hutan tanaman. Han PEMBUATAN DAN KUALITAS KARTON DARI CAMPURAN PULP TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN SLUDGE INDUSTRI KERTAS Santoso. Ridwan Industri karton skala kecil saat ini mengalami kesulitan kontinuitas pasokan bahan baku (khususnya pulp dan kertas bekas). bilangan kappa 38. dan rosin size 2%). Prakiraan potensi kayu pada hutan alam. masing-masing dengan penambahan bahan aditif (kaolin 5%.17%. Data potensi hutan rakyat. karton. Halaman 323-337 . Lembaran karton dibentuk dari campuran pulp TKKS 50% dan sludge industri kertas 50%. Perekat tanin ini bisa diaplikasikan guna memproduksi berbagai jenis produk perekat yang ramah lingkungan seperti kayu lapis. dan dari pulp TKKS 100%. dan konsumsi alkali 9. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa rendemen kulit mangium berkisar 5-12 persen. Dalam upaya mengurangi kebergantungan terhadap perekat impor dan memenuhi kebutuhan perekat dalam negeri dengan bahan baku yang berasal bukan dari minyak bumi.5 atmosfir. sebagai bahan baku altermatif/pengganti pada industri karton yang menggunakan kertas bekas.17. yaitu isinya meliputi: Luas penutupan lahan Indonesia (2003). faktor H. Perekat Satyawardana PETA POTENSI AKTUAL HASIL HUTAN INDONESIA SEBAGAI PENGHARA INDUSTRI KEHUTANAN / Satyawardana. berat jenis. tapioka 4%. Kulit tersebut bila diekstrak dengan air 1:3 bisa menghasilkan ekstrak tanin cair sebanyak 8 kali bobot kulitnya. tingkat delignifikasi. Rata-rata rendemen pulp TKKS yang diperoleh 60. tetapi tanpa bahan aditif).

East Kalimantan) / Sona Suhartana. Kata kunci: Biodesel. Prakiraan stok produksi kayu di hutan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan limbah dari tanaman jarak pagar berupa tempurung biji dan kayu untuk briket arang.24 No. Prospek pengembangan tanaman ini sebagai tanaman energi sangat baik karena daya adaptasi terhadap jenis tanah dan iklim sangat besar. Sona EFISIENSI PENGGUNAAN CHAINSAW PADA KEGIATAN PENEBANGAN: STUDI KASUS DI PT SURYA HUTANI JAYA.76 . cepat tumbuh dan berbuah. Briket kayu jarak pagar (100%) sebaliknya lebih tinggi dalam kadar air. serta meningkatkan kerapatan dan keteguhan tekan briket dari kayu jarak pagar. tetapi lebih rendah di dalam kadar air. kadar air. 2005 Biji Jarak (Jatropha curcas Linn. Oleh karena itu. 2006 Dewasa ini.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.3 . sekali tanam dapat dipanen selama 35 tahun serta hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi produk yang dapat dijual. Dengan tujuan memberikan informasi yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. Kata kunci: Tempurung biji jarak. teknologi. Sifat yang tidak memenuhi standar adalah: kerapatan. dan hutan rakyat. Halaman 63 . 400 dan 600 kg/cm2. R. tetapi belum diketahui secara pasti jumlah chainsaw yang sebaiknya digunakan agar hasilnya efisien. serta komposisi campuran bahan baku (tempurung biji dan kayu jarak pagar) dengan tempurung kelapa 0. 25. R BIODESEL DARI TANAMAN JARAK PAGAR SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF UNTUK PEDESAAN / R. zat terbang. Sudradjat. Setiawan. nilai kalor.) (Technical Setiawan. untuk kegiatan penebangan di hutan tanaman industri (HTI) telah menggunakan chainsaw.) telah lama dikenal sebagai penghasil minyak untuk bahan bakar dan obat. karbon terikat (kecuali briket arang dari tempurung biji jarak B 100/0). Hasil penelitian menunjukkan. Pencampuran dengan tempurung kelapa dapat meningkatkan karbon terikat dan nilai kalor briket dari tempurung biji jarak. KALIMANTAN TIMUR (Efficiency of Chainsaw Utilization on Felling: A Case Study at PT Surya Hutani Jaya. Halaman 227-240 .2004. Jatropha curcas Linn. No. Dengan adanya krisis energy. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan : Halaman 207-219 . kayu jarak pagar. 75 dan 100%. Di dalam makalah ini dikemukakan mengenai aspek yang berhubungan dengan tanaman. Yuniawati. kadar abu dan nilai kalor (kecuali briket arang dari kayu jarak B 50/50). briket arang.) Shell and Wood) / R. kandungan minyak sangat tinggi. Industri kehutanan Sudradjat. Suhartana. maka minyak jarak mulai diteliti kembali pemanfaatannya untuk pembuatan biodesel. Energi alternatif. Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian penggunaan chainsaw untuk menebang tanaman mangium dan gmelina dan hasil tersebut selanjutnya 90 . karbon terikat dan nilai kalor dari briket dari kayu jarak (100%). 2006 Sudradjat. Sudradjat dan D.24. Oleh karena itu informasi mengenai penggunaan Chainsaw ditinjau dari jumlah kebutuhannya perlu disampaikan. Permasalahan umum stok produksi hasil hutan kayu dan non kayu. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Beberapa sifat fisiko-kimia briket arang telah memenuhi Standar Jepang yaitu: keteguhan tekan. Han Roliadi. TEKNIK PEMBUATAN DAN SIFAT BRIKET ARANG DARI TEMPURUNG DAN KAYU TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L. kualitas produk dan aspek kelayakan finansial dalam pengusahaannya. yaitu dalam rangka meningkatkan kelayakan ekonomi pengusahaan minyak jarak pagar untuk biodisel. Data Produksi Hasil Hutan Non Kayu tahun 2004. briket yang dibuat dari tempurung biji jarak pagar (100%) lebih tinggi di dalam kerapatan dan keteguhan tekan. 50. Pedesaan Process and Characteristics oof Charcoal Briquette From Jatropha Curcas (Jatropha curcas L. dapat ditanam pada lahan yang sempit dalam bentuk pagar.. karbon terikat dan nilai kalor.1 . tanaman ini sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai energi alternatif khususnya di pedesaan sekaligus memperluas lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. hutan tanaman. Hasil hutan. D. tetapi lebih rendah dalam kerapatan dan keteguhan tekan dari briket tempurung biji jarak pagar. Kata kunci: Peta potensi. -. Perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian tekanan 200. Jarak pagar.

Djaban Tinambunan. -. yaitu 21 unit untuk penebangan mangium dan 5 unit untuk penebangan gmelina. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi teknis dan finansial penggunaan alat pengeluaran kayu tersebut.562 m /jam). No.665 . sistem kabel layang P3HH24.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 79-82 . Upaya peningkatan produksi hasil hutan dapat direalisasikan melalui implementasi PBL kaitannya dengan teknik. Peningkatan efisiensi pemanenan kayu di hutan alam maupun di hutan tanaman ditujukan agar pemanfaatan sumberdaya hutan optimal dan gangguan lingkungan minimal. efisiensi dan upaya peningkatan efisiensi pemanenan kayu. Pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 adalah layak secara ekonomi dengan Pay Back Periode = 1. Kata kunci: Hutan tanaman.8. Untuk meningkatkan produksi hasil hutan terutama kayu dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi pemanenan kayu melalui implementasi pemanenan hutan yang berwawasan lingkungan (PBL).digunakan untuk mengetahui jumlah kebutuhan penggunaan chainsaw yang tepat dan efisien dalam penebangan pohon mangium dan gmelina. Pemanenan hutan. Penggunaan chainsaw sesuai jumlah yang ada di lapangan akan mempersingkat pekerjaan. Hutan tanaman yang sekarang ini disorot. sehingga kelestarian produk tetap terjaga tanpa meninggalkan kelestarian ekologinya.045. -. NPV = Rp 75. Produksi kayu dari hutan tanaman masih relatif sedikit. Kebutuhan kayu untuk industri pengolahan kayu cukup besar sementara jatah produksi tahunan relatif kecil. Wawasan lingkungan Sukadaryati PENGELUARAN KAYU DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH24 DI HUTAN TANAMAN KPH SUKABUMI (Log Extraction Using P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of Sukabumi Forest District) / Sukadaryati. biaya Suhartana. Produktivitas pengeluaran kayu bervariasi antara 1. Cepatnya waktu ini mengakibatkan alat tersebut tidak beroperasi lagi pada bulan nya sehingga mengakibatkan tingginya biaya untuk menutupi semua biaya tetap. Dulsalam. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan jumlah kebutuhan chainsaw yang efisien adalah berdasarkan rencana produksi perusahaan.175. Hasil hutan. target produksi. Sistem tebang habis dan dimensi kayu yang relatif kecil menuntut perlakuan khusus agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat 91 . Sona PENINGKATAN PRODUKSI HASIL HUTAN MELALUI IMPLEMENTASI PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN / Sona Suhartana.144 m (rata-rata 0. Kata kunci: Jumlah chainsaw.0. 2006 Bukan langkah yang bijak bila hutan alam yang sekarang ini kondisinya carut marut dijadikan tumpuan utama pemasok bahan baku kayu untuk industri. Pemanenan yang dilakukan di hutan tanaman tidak jauh berbeda dengan di hutan alam. biaya Sukadaryati PEMANENAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN TANAMAN / Sukadaryati dan Sukanda. dan biaya pengeluaran kayu adalah Rp 16.2 .0 detik/rit).8 detik/rit (rata-rata 161.018m /jam (rata-rata 3. 2006 Pengeluaran kayu di areal hutan tanaman yang berbukit-bukit dengan ukuran kayu relatif lebih kecil perlu mendapat perhatian khusus. 2006 Produksi hasil hutan terutama kayu memegang peranan cukup berarti dalam pembangunan nasional.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 65-77 . Dulsalam. Kata kunci: Peningkatan produksi.0 .046 m3) dan 77. danB/C Ratio =1.24.012 .215. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume kayu yang dikeluarkan dan waktu kerja yang diperlukan berturut-turut berkisar dari 0. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah membuat alat pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 yang dirancang untuk mengeluarkan kayu pada areal berbukit.169 . produktivitas.51. pengeluaran kayu. Produksi kayu dari hutan alam cenderung menurun dari tahun ke tahun.300/m3. Upaya tersebut diharapkan dapat dijadikan bahan acuan bagi para penentu kebijakan dan pelaksana di lapangan. IRR = 66. Halaman 157 .39 tahun. efisiensi. manjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dilakukan teknik pemanenan yang tepat.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.4%.

11 dan 12% dari berat kering partikel bambu.M.M. dan biaya serta gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Dengan menggunakan perekat tertentu. I. sedangkan perekatnya adalah urea formaldehida (UF) cair. Suwardi Sumadiwangsa. Kemajuan dalam teknologi perekatan diharapkan dapat mengatasi keterbatasan bentuk dan dimensi bambu sebagai bahan subtitusi kayu.24. PENGARUH KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL BAMBU (Effect of Resin Portion on Bamboo Particleboard Properties) / I. dapat memacu perkembangan HHBK bernilai tinggi sesuai lahan hutan setempat. barang kerajinan dan supit. bambu yang bentuk aslinya bulat dan berlubang dapat diolah menjadi produk perekatan bambu berbentuk papan bambu atau balok bambu yang dikenal dengan nama bambu lamina dan produk panel bambu berupa bambu lapis. Bentuk partikel bambu yang digunakan adalah untai. IPTEK tepat guna yang diperlukan mencakup pemilihan jenis tumbuhan bernilai tinggi yang akan ditanam. Oleh karena itu perlu ditingkatkan diversifikasi produk pengolahan bambu khususnya produk bambu yang dapat digunakan sebagai subtitusi kayu. Kata kunci: Bambu. Wawasan lingkungan. produktivitas. -. No. kadar perekat.M TEKNOLOGI PEMBUATAN BAMBU LAMINA DAN BAMBU LAPIS / I. Kata kunci: Pemanenan. disamping mudah diserang bubuk. Pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini pada umumnya untuk mebel. Untuk tujuan tersebut maka produk bambu yang dihasilkan harus dapat menggantikan fungsi papan atau balok kayu sehingga produk bambu tersebut memiliki ukuran tebal. sifat fisis dan mekanis Sulastiningsih. bambu lamina. Salah satu cara untuk mendapatkan teknik pemanenan yang efisien dan berdampak minimal adalah kesesuaian penggunaan alat pemanenan dengan kondisi hutan tanaman. Bambu yang digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah melakukan beberapa penelitian mengenai bambu lamina dan bambu lapis. Penggunaan kadar perekat minimum 11% dari berat kering partikel bambu menghasilkan papan partikel bambu yang cukup kuat dan stabil serta memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia. Hutan tanaman Sulastiningsih. panen. bambu lapis Sumadiwangsa. Sampai sekarang teknik budidaya pemanenan. masalah yang timbul dalam pemanfaatan bambu sebagai bahan mebel.8 .10. Penggunaan peralatan yang tidak tepat akan mempengaruhi efektifitas kerja. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar perekat terhadap sifat papan partikel bambu. bahan bangunan serta penggunaan lain. Sulastiningsih. Suwardi TEKNOLOGI PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU / E. papan partikel. bahan bangunan dan penggunaan lain adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. pengolahan.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 179-199 . 2006 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bila dikelola secara seksama dapat berperan besar dalam meningkatkan nilai lahan hutan dan pendapatan masyarakat sekitar hutan. Kata kunci: Teknologi pembuatan. -.9. Sumberdaya bambu tersebut perlu ditingkatkan pemanfaatannya agar dapat memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.1 .M. seleksi bibit. E. -. Akan tetapi. Sulastiningsih. 2006 Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia memiliki sumber daya bambu yang cukup potensial. diversifikasi produk dan 92 . Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan penunjang kayu atau bahan pengganti (subtitusi) kayu untuk mebel.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 131-141 .70 g/cm dengan kadar perekat bervariasi yaitu 8. Halaman 1 . Agus Turoso. pengolahan dan diversifikasi produk masih dilakukan secara tradisional belum ditunjang IPTEK tepat guna yang memadai. Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat papan partikel bambu yang dihasilkan. Nurwati Hadjib dan Karnita Yuniarti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan. Papan partikel bambu sekala laboratorium dibuat dengan target kerapatan 0. teknik penanaman dan pemeliharaan.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. pasca panen.dikurangi. Paradigma baru kehutanan bila telah dilaksanakan. lebar dan panjang tertentu. I. Novitasari.

-Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan limbah kayu dari hasil pemanenan hutan tanaman.24 No.000.227 per ton serpih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konversi rarta-rata limbah pemanenan untuk bahan baku serpih (chip) adalah 1 sm = 0. kemiri.040 dan Rp 14. Ketahanan empat jenis kayu hutan tanaman standar DIN 52176 yang telah dimodifikasi. Sihati KETAHANAN EMPAT JENIS KAYU HUTAN TANAMAN TERHADAP BEBERAPA JAMUR PERUSAK KAYU (The Resistance of Four Plantation Wood Species Against Several Wood Destroying Fungi) / Krisdianto. nilam. Bogor. dapat diperoleh laba kotor dan laba bersih rata-rata per tahun masingmasmg sebesar Rp 16. serpih kayu Chip Production Using Portable Chipper: Case Study in BKPH Parungpanjang. Bogor) / Achmad Supriadi. Berdasarkan dua kelompok contoh uji. Sedangkan kehilangan berat terendah (0. kemenyan. Contoh uji dibagi dalam dua kelompok secara radial. Pycnoporus sanguineus HHB-324. Produktivitas penyerpihan adalah 1..257 ton.I. damar.000. Cunn. Kata kunci: Teknologi pemanfaatan.115 . kemampuan tertinggi dijumpai pada Tyromyces palustris.. Cunn. Osly Rachman.109.2 .8%) terjadi pada bagian tepi kayu Acacia crassicarpa yang diletakan pada biakan Polyporus sp.) diuji terhadap jamur menggunakan 93 . jernang. dan Eucalyptus pellita F.4% (kelas IV). Dengan harga jual serpih Rp 360.8%) terjadi pada bagian dalam I crassicarpa yang diletakkan pada biakan Pycnoporus sanguineus HHB-8149. -.000 per ton.6 ton/hari. Potongan kayu yang biasa disebut sebagai limbah pemanenan pada umumnya ditinggalkan di hutan dan sebagian yang dianggap masih laik dijual kepada penduduk sekitar hutan untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau bahan baku energi lainnya. gondorukem. Selain itu juga dipaparkan mengenai diversifikasi produk yang dapat meningkatkan nilai tambah HHBK dan Beberapa hasil Penelitian yang sudah saatnya ditindaklanjuti dengan tahap uji coba di lapangan.M.3% (kelas III) lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan berat kayu bagian tepi sebesar 12. (Acacia aulacocarpa A. (Productivity and Cost of M. kopal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu Acacia aulacocarpa dan Eucalyptus pellita termasuk kelompok kayu agak-tahan (kelas III) dan kayu Acacia auricultformis. mesin serpih mudah dipindahkan. Kata kunci : Ketahanan kayu. BOGOR.24. kehilangan berat Supriadi. kehilangan berat kayu bagian dalam sebesar 6. No. Cunn. telah dilakukan penelitian pengolahan limbah kayu jenis mangium (Accacia mangium) di areal hutan tanaman di BKPH Parungpanjang.. kilemo dan ipuh kebanyakan masih dikelola secara lokal sehingga belum dapat menghasilkan produktivitas dan kualitas HHBK.691.113 dan harga pokok produksi serpih sebesar Rp 325. yaitu bagian tepi dan dalam dolok. Halaman 103 .Iskandar.4791 m = 0.11 Kata kunci : Hutan tanaman.teknik pemasaran.v. Biaya produksi per tahun sebesar Rp 156. kemudian diikuti Polyporus sp. Acacia auriculiformis A. 2006 Hasil pemanenan kayu di areal hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman masih menyisakan potongan-potongan kayu kecil. dan Schizophyllum commu. Hasil hutan bukan kayu Suprapti. Berdasarkan kemampuan untuk melapukkan kayu. Kehilangan berat tertinggi (36. Acacia crassicarpa termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV). Halaman 267-274 . jamur perusak.4 . limbah.. Acacia crassicarpa A. Achmad PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PRODUKSI SERPIH KAYU MENGGUNAKAN MESIN SERPIH MUDAH DIPINDAHKAN (SMD): STUDI KASUS DI BKPH PARUNGPANJANG. sagu.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Investasi pendirian satu unit pengolahan serpih kayu sebesar Rp 38. Rendemen serpih sebelum disaring dan setelah disaring masing-masing adalah 97% dan 53%. Beberapa komoditi HHBK seperti gaharu. 2006 Pada umumnya kayu dari hutan tanaman memiliki diameter kecil dan mudah terserang jamur perusak kayu.

Tujuan kajian untuk mengetahui potensi dan mendapatkan sistem pengelolaan kayu perkebunan.Supriadi. sawit dan kelapa.4 juta m3/tahun. Sebelum diolah atau terjual.4 juta m3/tahun dan kelapa 13.24. Ditjen Perkebunan Kata kunci: Kayu perkebunan. Osly Rachman. Data dikumpulkan dari berbagai instansi pemerintah. balobo. industri kayu.1 . selain dari hutan alam.q. kendal (Eretia acuminata R. lembaga pemasaran dan asosiasi. KARAKTERISTIK DAN SIFAT FISIKO-KIMIA BERBAGAI KUALITAS KEMENYAN DI SUMATERA UTARA (Characteristics and Physicochemical Properties of Benzoin Gum qualities in North Sumatera) / Totok K. yaitu kayu asam jawa (Tamarindus indica L. T.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.Br) balobo (Diplodiscus sp). No. 2006 Industri kayu sekunder cukup banyak menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung seperti industri mebel. Kayu asam jawa memiliki karakteristik pelengkungan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu marasi. perendaman. Totok K. pengembangan dimensi. Apabila tersimpan lebih lama. Kata kunci: Pelengkungan.2 . Di TPKP harus segera diberi pestisida pencegah jamur biru dan kumbang ambrosia. Supriadi. sehingga diharapkan nantinya pengelompokkan kualitas kemenyan dapat dipertimbangkan secara kuantitatif berdasarkan unsur-unsur sifat fisikokimianya. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan sifat fisiko-kimia kemenyan berbagai kualitas yang ada di pasaran. Salah satu sumber alternatif adalah kayu perkebunan. Hasil kajian menunjukkan. Dalam studi ini dilakukan determinasi karakteristik pelengkungan pada 5 jenis kayu. Potensi dan pengolahannya belum diketahui sehingga perlu pengkajian. yaitu kualitas I s/ d VI.) dengan dua macam perlakuan awal yaitu (1) pengukusan dan (2) perendaman dalam larutan NaOH 3% dilanjutkan dengan pengukusan. Prihatiningsih. Achmad POTENSI DAN KONSEP PENGELOLAAN KAYU PERKEBUNAN UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI PERKAYUAN / Achmad Supriadi. penebangan. -. swasta terkait. Waluyo. Cara pembuatan komponen lengkung dengan menggunakan gergaji cenderung menghasilkan rendemen yang rendah. Halaman 47 . Abdurachman. Achmad SIFAT PELENGKUNGAN LIMA JENIS KAYU DENGAN DUA MACAM PERLAKUAN AWAL (Bending Characteristics of Five Wood Species With Two Types of Pretreatment) / Achmad Supriadi . Pemerintah telah mengatur kebijakan penebangan dan retribusi kayu perkebunan.12 No. marasi (Hymenaea sp. terdiri dari kayu karet 17. kayu sawit 30. -.24.61 .1 .). Dalam rangka mendorong pemanfaatan kayu perkebunan. Pengkajian dilakukan di Pulau Jawa dan Sumatera. No. alat-alat olah raga dan perahu. Halaman 87-95.q. Komponen dalam bentuk lengkungan tersebut umumnya dibentuk dengan cara digergaji mengikuti pola lengkungan. Cara lain yang lebih efisien adalah pelengkungan kayu secara fisis dan kimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang terlebih dahulu direndam dalam larutan NaOH 3% selama 7 hari kemudian dikukus. pengukusan. kerapatan.Info Hasil Hutan : Vol. di TPKP paling lambat tersimpan dua minggu. tetapi industri perkayuan belum memperoleh kayu perkebunan secara maksimal. restribusi dan pengelolaan Waluyo. 94 . -. 2006 Industri perkayuan dituntut untuk mencari bahan baku alternatif. dapat dilengkungkan hingga radius 26 cm. Halaman 21 .3 juta m3/tahun.31 . Kayu perkebunan mungkin dapat ditampung dalam Tempat Penampungan Kayu Perkebunan (TPKP) yang dilengkapi dengan sarana pengolahan dolok diameter kecil. ukuran.) dan rasamala (Altingia excelsa N. sedangkan kayu yang diberi pengukusan hanya dapat dilengkungkan hingga radius 51 cm.1 juta m3/tahun. perlu dibentuk Tim Koordinasi Kayu Perkebunan (TKKP) di tingkat daerah dan pusat yang melibatkan Departemen Kehutanan c. Ditjen Bina Produksi Kehutanan dan Departemen Pertanian c. Sifat fisiko-kimia kemenyan yang diuji adalah warna. potensi kayu perkebunan secara nasional adalah 61. Osly Rachman & Edi Sarwono.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Poedji Hastoeti. kendal dan rasamala. bentuk. setiap dua minggu harus diberi pestisida kembali. 2006 Sumatera Utara merupakan sentra produksi kemenyan di Indonesia. seyogyanya ada kebijakan pemerintah yang mendorong pihak terkait melakukan pengelolaan kayu dan tertarik untuk memanfaatkannya. Kemenyan di pasaran dikelompokkan menjadi 6 kualitas berdasarkan kriteria uji ukuran (besar kecilnya) lempengan/ bongkahan dan warna kemenyan. Dalam pengelolaan. terhadap kayu karet.

-Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 201-206 .85% dan gaharu buaya 0. kilemo. Dengan demikian diharapkan adanya pengembangan jenis-jenis HHBK yang prospektif dan penerapan teknologi pemanfaatan yang siap pakai akan dapat meningkatkan nilai tambah produk HHBK sehingga dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya masyarakat sekitar hutan. Perendaman 5 hari menghasilkan rendemen minyak gaharu tertinggi. 10 hari dan tidak direndam dalam air.Info Hasil Hutan : Vol. titik lunak dan kadar asam balsamat. terutama gaharu kualitas tinggi (gaharu gubal/super). damar Wargadalam. III. buah. stabilitas keamanan dan law enforcement. Kondisi sumber bahan baku 95 . II. -. Tulisan ini memaparkan beberapa produk-produk HHBK yang prospektif dan teknologi yang siap pakai antara lain pemanenan dan pengolahannya. sifat fisik-kimia. Program pengembangan industri nasional ditujukan untuk meningkatkan lapangan kerja dengan cara mengembalikan dan meningkatkan kinerja industri berorientasi eksport. IV dan V. 2006 Produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan produk yang bersifat kedaerahan. iklim usaha yang kondusif termasuk pembiayaan. BEBERAPA PRODUK-PRODUK HHBK PROSPEKTIF DAN TEKNOLOGI PEMANFAATANNYA YANG SIAP PAKAI / Totok K. kadar kotoran. selanjutnya direndam dalam air selama 5 hari. II dan III relatif sama. binatang dan lain-lain) dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitar hutan sejak dulu. Keberhasilan pengembangan industri memerlukan dukungan iklim investasi. Dengan demikian disarankan pembagian kualitas kemenyan menjadi 4 kelas kualitas yaitu kualitas I berasal dari kemenyan kualitas I s/d III..kadar air. Akan tetapi produk HHBK pada umumnya dari dulu hingga saat ini banyak diperdagangkan masih berupa produk mentah atau asalan sehingga kurang memberikan kontribusi ekonomi pada masyarakat tersebut.1 . 2006 Gaharu merupakan komoditi hasil hutan bukan kayu yang harganya sangat mahal. kualitas III berasal dari kemenyan kualitas V dan kualitas IV berasal dari kemenyan kualitas VI. Untuk meningkatkan nilai tambah. sedangkan kadar asam balsamat kemenyan kualitas I. asam balsamat. salah satunya adalah dengan cara penyulingan. gaharu kamedangan. Pada waktu penyulingan ditambah satu sendok garam dan tanpa ditambah garam. Kata kunci: Kualitas. dan industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri.12 No. S. Waluyo. Kata kunci: Gaharu buaya. bunga. Strategi tersebut mengupayakan penciptaan dan peningkatan nilai tambah. Waluyo. 2006 Kebijakan Pengembangan Industri Nasional diarahkan kepada peningkatan industri yang berdaya saing global yaitu industri yang mempunyai keunggulan kompetitif. kohobasi. Penyulingan gaharu dilakukan dengan menggunakan metode sederhana (kohobasi). Waluyo. kadar abu. banyak diburu di hutan alam sehingga keberadaannya di hutan dan di pasar semakin langka. Industri pengolahan hasil hutan di Indonesia merupakan industri yang memanfaatkan sumber bahan baku yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman. resin/getah. Sumadiwangsa. Sebelum penyulingan gaharu dijadikan serbuk berukuran 40 . maka perlu usaha diversifikasi produk gaharu.al) . Totok K. Saat ini yang ada di pasar umumnya gaharu dengan kualitas rendah dan harganya relatif murah seperti gaharu buaya dan gaharu kamedangan. II. efisiensi dan produktivitas. Kadar kotoran dan titik lunak kemenyan kualitas I.(et. Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar air dan kadar abu relatif sama antara kemenyan kualitas I. kualitas II berasal dari kemenyan kualitas IV.. Arian STRATEGI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DALAM PENYELAMATAN INDUSTRI KEHUTANAN / Arian Wargadalam. rendemen Waluyo. yaitu penyulingan dengan cara merebus. kemenyan. Kata kunci: Asam sinamat. Umi Kulsum. Halaman 59-65 . Totok K PENYULINGAN GAHARU KAMEDANGAN DAN GAHARU BUAYA DENGAN METODA KOHOBASI / Totok K. berorientasi eksport dan berwawasan lingkungan. -. dekstrin. biji. banyak jenisnya (kulit. jernang. daun. E. yaitu gaharu kamedangan 0. III dan IV adalah relatif sama.50 mesh.75%.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 9-13 .

. Beberapa jenis pohon sebagai sumber penghasil bahan pengawet nabati yang biasa digunakan untuk mengawetkan nira antara lain tuba (Denis eliptica Benth. dan belum ada budidaya tanaman.tersebut dewasa ini semakin menipis potensinya karena adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan dari sisi industri pengolahannya.Info Hasil Hutan : Vol. buah dan daging buah. nira aren. Sumatera Utara. jenis pohon Wibowo. kulit kayu nyirih (Xilocarpus granatum Koen.12 No. buih putih dan lendir. perebusan. Pohon medang landit yang dipanen merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan hutan baik hutan rakyat maupun kawasan hutan negara. X. Halaman 105-112. dupa Winarni. 2006 Kemiri merupakan tanaman serbaguna.). 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengusahaan kulit kayu medang landit (Persea spp) di desa Bulu Mario. tata niaga dan kendala pengusahaan melalui teknik observasi dan wawancara. Kulit kayu medang landit dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan obat anti nyamuk bakar dan dupa (hio). kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn. Ina PENGARUH PEREBUSAN. pengovenan. SUMATERA UTARA / Santiyo Wibowo. dan rendam 24 jam. kayu belum dimanfaatkan secara optimal. Suwardi Sumadiwangsa.) / Santiyo Wibowo -.Info Hasil Hutan : Vol. -. penanganan pasca panen.). funi (Garcinia syzygiifolia Pierre). Cara pemanenan kulit medang landit dilakukan dengan menebang pohon. daun.12 No. Data yang dikumpulkan meliputi potensi.Info Hasil Hutan : Vol. Nira yang telah rusak kurang baik jika digunakan untuk membuat produk turunannya. kawao (Milletia sericea W. Kata kunci: Kulit kayu medang landit. Tapanuli Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pohon medang landit adalah 14 pohon/ha.2 . departemen perindustrian. Santiyo BEBERAPA JENIS POHON SEBAGAI SUMBER PENGHASIL BAHAN PENGAWET NABATI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr. tingkat keutuhan biji kemiri akan semakin tinggi. SIPIROK-TAPANULI SELATAN. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah perlakuan pendahuluan berupa perebusan. oven 6 jam. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan kayu bulat tersebut antara lain disebabkan oleh semakin menurunnya kemampuan daya dukung hutan yang disebabkan oleh kurang baiknya manajemen pengolahan hutan dan semakin maraknya penjarahan hutan Kata kunci: Strategi. sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq. industri kehutanan Wibowo.1 . & A. Halaman 115-122 . dimana hampir seluruh bagian dari tanaman kemiri dapat digunakan. Kata kunci : kemiri. Sipirok.).Roem) dan cengal (Hopea sangal Korth). Semakin lama perlakuan perebusan dan pengovenan. 2006 Penggunaan bahan pengawet pada nira aren sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti terbentuknya asam. . PENGOVENAN DAN PERENDAMAN TERHADAP KEUTUHAN BIJI KEMIRI / Ina Winarni & E. seperti batang. kayu nangka (Artocarpus Integra Merr. Santiyo PENGUSAHAAN KULIT KAYU MEDANG LANDIT DI DESA BULU MARIO.2 . pemanenan. cara pemanenan. produk turunan. perendaman 96 . Halaman 67-74 .).).12 No. Kata kunci: Bahan pengawet. pengovenan dan perendaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlakuan pendahuluan dan kecepatan putar berapa yang paling efektif agar menghasilkan persentase biji kemiri utuh yang tinggi. moluccensis M. obat anti nyamuk. Permasalahannya pengupasan biji kemiri secara tradisional tidak dapat dilakukan lagi dalam skala industri sehingga dibuatnya mesin pengupasan biji kemiri untuk menghasilkan persentase keutuhan biji kemiri yang tinggi. Nilai keutuhan biji kemiri tertinggi (40 %) terdapat pada kecepatan putar 1000 rpm dengan perlakuan rebus 4 jam.

Dengan mengetahui produkdvitas dan biaya muat bongkar. biaya. Penyaradan.081.12 No. Sona Suhartana. pada areal yang luas. Produktivitas bongkar tertinggi menggunakan Allis Chalrners 745H dengan risiko kerusakan kayu sangat kecil. 2006 Penyaradan merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tunggak ke tempat pengumpulan kayu (TPn).43 m3 dan waktu kerja 20. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui produktivitas yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan serta kerusakan ekologi yang ditimbulkan pada beberapa tipe traktor Carterpillar. Penggunaan alat sarad mekanis traktor perlu mempertimbangkan segi teknis. kerusakan 97 . volume kayu yang disarad.2 m. muat bongkar umumnya menggunakan peralatan mekanis.Info Hasil Hutan : Vol. Kerusakan ekologi dipengaruhi kemiringan lapangan. produktivitas. topografi dan kondisi tanah. pemadatan tanah dan penggeseran tanah. kondisi topografi dan kondisi tanah.91/ m3. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Caterpillar 966C beroda menghasilkan produktivitas muat tertinggi. Produktivitas penyaradan kayu dengan menggunakan traktor Caterpillar D7g memiliki nilai tinggi. pemilihan alat yang sesuai dapat lebih mudah dilakukan. volume kayu 10. Kata kunci: Muat bongkar.12 No.56 m3/jam dengan jarak sarad 289. 2006 Muat bongkar dolok merupakan salah satu kegiatan dalam pemanenan hutan. Penggunaan traktor caterpillar tidak terlepas dari kerusakan ekologi yaitu kerusakan tegakan tinggal. traktor Caterpillar.1 .Yuniawati PRODUKTIVITAS DAN BIAYA MUAT BONGKAR KAYU BULAT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS / Yuniawati. Faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah jarak sarad. Halaman 25-32 . biaya Yuniawati KAJIAN PENYARADAN KAYU DENGAN TRAKTOR CATERPILLAR / Yuniawati & Sona Suhartana. sistem penebangan.60 menit. -.Info Hasil Hutan : Vol. Di luar Pulau Jawa. produkdvitas. Halaman 123-131 . Kata kunci. ekonomis dan ekologi.2 . Biaya penyaradan dipengaruhi produktivitas. Biaya muat bongkar yang terendah masingmasing menggunakan wheel/oaaferKomatsu WA350. yaitu 32. Harga alat muat bongkar sangat mahal sehingga perlu direncanakan secara matang sesuai keadaan lapangan. Biaya penyaradan dengan traktor ini adalah sebesar Rp 7. intensitas penggunaan jalan sarad dan kandungan air tanah. -.

80 persen.85 cm-7. asal populasi.100 . scion.7. Kebun Benih. panjang tunas rata-rata 4.46 . Dedi Setiadi dan Mulat Nuning Ambari. Hamdan Adma KEMAMPUAN BERTUNAS TANAMAN SUKUN DI KEBUN PANGKAS DARI ENAM POPULASI DENGAN APLIKASI HORMON IAA (Sprouting Ability of Artocapus altilis from Several Population at Hedge Orchard with the Application of IAA) / Hamdan Adma Adinugraha. Kata kunci: Eukaliptus pellita.93g-18. vegetatif. penyambungan dengan cara sambung samping dan pemeliharaan tanaman sambungan. -.3 hari. Kata kunci: Artocarpus altilis. Salah satu kendala yang selalu dihadapi dalam sambungan adalah ketidaksesuaian pertautan sambungan. No.2 . Halaman 93 . Halaman 265-273. Growth of Leafy Cuttings of Breadfruit Trees Taken from Nusa Tenggara Barat with Application of Growth Regulator Hormone)/ 98 .10 cm dengan hasil terbaik dari Banyuwangi dan berat kering tunas rata-rata 8. Cepi. panjang tunas dan berat kering tunas pada umur 12 minggu.1 . Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan split plot. 2006 Salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah dengan cara sambungan yang dapat mempertahankan genotipe pada pohon induknya secara konsisten dan berkelanjutan. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sambungan adalah sekitar 10 persen . A4 = Bone. A3 = DIY.3. Faktor pertama sebagai petak utama adalah Pemberian IAA terdiri atas 2 aras yaitu PO = tanpa disemprot IAA dan PI = disemprot IAA. untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh dalam penyambungan antara batang bawah (rootstock) dari hasil penyemaian benih dengan batang atas (scion) dari beberapa pohon plus E. Sambungan langsung dengan menggunakan scion segar diperoleh keberhasilan 80 persen lebih besar dibandingkan scion direndam air selama 1 . Faktor kedua sebagai anak petak adalah asal tanaman terdiri atas 6 aras yaitu Al = NTB. Hamdan Adma PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN ASAL DARI POPULASI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH (The Hamdan Adma Adinugraha. panjang tunas total (cm) dan berat kering tunas (g). -. Diameter rootstock yang lebih besar meningkatkan pertumbuhan tanaman sambungan. Halaman 37 .60-10. Hidayat Moko. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi bahan stek pucuk dan zat pengatur terhadap keberhasilan tumbuh stek pucuk tanaman sukun. A2 = Banyuwangi.3. yang terdiri atas 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali. mendapatkan kombinasi asal tanaman sukun dengan pemberian IAA yang mempunyai kemampuan tunas terbaik. Kompatibilitas. Sambungan Perbanyakan Adinugraha. pellita di kebun benih Wonogiri. Suplement No. Penelitian dilaksanakan di Pusat Litbang Hutan Tanaman dengan metode penelitian melakukan beberapa kegiatan seperti persiapan rootstock. -Wana Benih : Vol. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah tunas 6.67 tunas dengan hasil terbaik dari DIY. A5 = Malino dan A6 = Sorong. Scion yang berasal dari pertunasan cabang berdiameter lebih 3 mm memberikan pertumbuhan (jumlah dan panjang tunas) yang lebih tinggi dibanding scion hasil perlakuan batang tanaman (girlding). Hamdan Adma STUDI PENYAMBUNGAN JENIS EKALIPTUS BERASAL DARI KEBUN BENIH WONOGIRI (Grafting Study of Eucalyptus pellita from Seed Orchard at Wonogiri) / Hamdan Adma Adinugraha. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh asal populasi tanaman sukun dan pemberian IAA terhadap pembentukan tunas sebagai bahan stek. kemampuan bertunas Adinugraha.Adinugraha.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas. jumlah dan panjang tunas yang lebih baik pada tanaman berumur 2 bulan.57g dengan hasil terbaik dari Bone. perlakuan naungan memberikan keberhasilan sambungan. Hidayat Moko.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. IAA.1 . Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa asal populasi dan pemberian IAA berpengaruh terhadap jumlah tunas.

Halaman 9 16 . Cabang. persentase stek berakar. Oleh karena itu keberhasilan upaya pembangunan hutan tanaman sangat tergantung pada keberhasilan dalam mengatasi masalahmasalah yang dihadapi seperti ketidaksesuaian jenis tanaman dengan tapak. yaitu faktor pertama adalah bahan tanaman (B1 = bahan cabang. jumlah dan panjang akar dibandingkan dengan stek pucuk bagian pangkal. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengupasan kulit pada cabang memberikan persentase bertunas yang lebih tinggi. Untuk itu diperlukan cara perbanyakan yang efektif dan efisien seperti cara perbanyakan vegetatif. pemberian zat pengatur tumbuh memberikan hasil yang lebih baik terhadap seluruh parameter yang diamati dibandingkan dengan kontrol. Hidayat Moko. Pembangunan hutan tanaman dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi tersebut dibangun dengan menerapkan silvikultur intensif. Pengupasan kulit. Faktor utama ada 2 yaitu pertama adalah posisi bahan stek pucuk yang terdiri atas bagian ujung tunas (PI) dan bagian pangkal tunas sedangkan kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh. Kata kunci: Akar. jumlah dan panjang akar. Hamdan Adma PENGUPASAN KULIT PADA CABANGAN DAN AKAR DALAM REJUVENASI TANAMAN KAYU PUTIH (Treatment of Stem and Root Bark Peeling in Rejuvenation of Melaleuca cayuputi / Hamdan Adma Adinugraha. Departemen Kehutanan telah menetapkan target pembangunan hutan tanaman seluas 9 juta hektar sampai dengan tahun 1009 termasuk 3 juta hektar yang telah dibangun sampai dengan saat ini. Sukun. Zat pengatur tumbuh Adinugraha.7.HASIL PENELITIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN DAN IMPLEMENTASINYA / Illa Aggraeni. -.1 . jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang terbentuk. Parameter yang diamati meliputi persentase bertunas. 2003).Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dalam setiap ulangan terdapat 8 sample stek. yang terdiri atas KO = kontrol konsentrasi 25%. Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan materi dalam perbanyakan vegetatif adalah rejuvenasi dengan menanam cabang atau akar pada media pasir. di samping Hutan Tanaman Industri (HTI) terdapat kawasan yang akan dialokasikan sebagai kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang merupakan perwujudan dari kebijakan nasional "Revitalisasi Sektor Kehutanan". Rejuvenasi Anggraeni. 2006 Perbanyakan tanaman kayu putih biasa digunakan dengan biji (generatif) yang pada umumnya cara ini memiliki banyak kelemahan. No. Penerapan sistem silvikultur intensif dalam pembangunan hutan tanaman merupakan suatu upaya pembangunan yang bersifat kompleks. dari total luas 9 juta hektar yang ditargetkan pembangunannya sampai dengan tahun 2009 tersebut. sejak bulan Mei sampai Oktober 2005. jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang lebih banyak dibandingkan pengupasan kulit pada akar dan bahan yang tidak dikupas kulitnya. Kata kunci: Stek pucuk. B2 = bahan akar). berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi menuntut kita semua untuk berupaya mengatasi dengan sebaik-baiknya.Wana Benih : Vol. persen berkecambah rendah. Dalam perspektif tersebut diperlukan suatu konsep penyelenggaraan kegiatan rehabilitasi kawasan hutan tidak produktif yang dipadukan dengan ketersediaan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kehutanan (Iskandar dkk. Parameter yang diamati terhadap persentase stek bertunas.Penelitian dilakukan di persemaian Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengupasan kulit pada cabang dan akar selama rejuvenasi telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. Halaman 1-14 . 2006 Sejalan dengan kebijakan restrukturisasi sektor kehutanan. K3 = 75% dan K4 = 100%. diantaranya jumlah benih yang berkualitas masih terbatas. -. Hutan tanaman merupakan sebuah konsep pembangunan hutan yang bertujuan untuk mengatasi berbagai persoalan kehutanan yang bermuara pada terciptanya kelestarian ekosistem lingkungan dan keberlanjutan peranan sosial-ekonomi sumber daya hutan. persentase stek berakar. Jakarta 23 Nopember 2006 . 99 . Illa HASIL. sedangkan faktor kedua adalah pengupasan Kulit (KO=kulit tidak dikupas dan K1=kulit dikupas). Sekalipun luas hutan tanaman yang ditargetkan 9 juta hektar. Sri Esti Intari dan Wida Darwiati. Kayu putih. K2 = 50%. viabilitas benih sangat besar dan perolehan genetik kurang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek pucuk bagian ujung memberikan pengaruh yang lebih baik secara nyata terhadap persentase stek bertunas. Nusa Tenggara Barat.

Pada hutan tanaman komposisi tegakan hutan terdiri dari jumlah jenis yang terbatas atau bahkan seringkali monokultur.2 .000 m3/tahun. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada hutan tanaman Akasia. Arisman. tanaman inang dan lingkungan setempat. tumbuh cepat dan sifat kayu yang baik. Produksi kayu pulp A. Salah satu pemecahannya adalah penggunaan bioinsektisida dan penggunaan insektisida kimia secara benar dan bijaksana. 2006 Saat ini permasalahan pada tanaman pulai yang paling krusial untuk segera dipecahkan adalah masalah serangan hama. keterkaitan ekologis di antara keduanya mempunyai hubungan yang kuat terutama dalam fungsi S-N-F (Spawing. salah satunya pendekatan pengelolaan yang meliputi kedua aspek utama tersebut adalah pengelolaan dengan pendekatan ekowisata. Luas hutan tanaman jenis ini di Indonesia telah mencapai lebih dari 1 juta ha. Hardjono ACACIA MANGIUM / Hardjono Arisman dan Eko B. Hasil penelitian menunjukkan semua jenis insektisida yang digunakan efektif dalam menyebabkan kematian ulat C.serangan hama/penyakit. Sri Utami. Penelitian dilakukan di laboratorium perlindungan hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) Palembang dan di areal rakyat PT. 2006 Hutan dan Derah Sungai merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu dengan yang lain.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 111-115 . mangium pada akhirnya dipilih sebagai tanaman komersial untuk memenuhi kebutuhan industri karena kemampuannya beradaptasi pada lahan marjinal. mangium saat ini mencapai 9 juta m3/tahun sedangkan potensi produksi kayu bulat sekitar 165. khusunya ikan. ekobiologi dari hama/penyakit. Riparian. Feeding grounds) bagi biota air. Dalam keadaan yang demikian ekologinya cenderung untuk memacu peningkatan populasi hama/penyakit seperti halnya yang terjadi pada ekosistem perkebunan dan pertanian. DAS Asmaliyah EFIKASI BEBERAPA JENIS INSEKTISIDA TERHADAP HAMA PEMAKAN DAUN PADA TANAMAN PULAI DARAT (Efficacy of Some Types of Insecticides for Leaf Eating Pest on Pulai Darat Plantation) / Asmaliyah. Kata kunci: Hutan tepi.2006 : Halaman 1-6 . Yudhistira. Kata kunci: Acacia mangium.91 . silvikultur dan pemanfaatan kayu telah dan sedang dilakukan. Halaman 83 . Nursery. glauculalis. Hardiyanto. -. Daerah Aliran Sungai. 2006 Makalah ini menguraikan perkembangan budidaya Acacia mangium di Indonesia.3. A. Dari perspektif perikanan. Ekosistem monokultur dapat lebih rentan terhadap kerusakan oleh hama/penyakit karena tidak adanya keanekaragaman jenis tanaman dan adanya perubahan cuaca yang disebabkan oleh manusia. budidaya Asaad. Proses domestikasi jenis ini berlangsung cepat dan serangkaian penelitian di bidang genetika. Xylo Indah Pratama (XIP). glauculalis dalam skala 100 . Ekowisata. Berbagai jenis pengelolaan telah tersedia. Indra Jaya Asaad dan Khairul Fattah. Lubuk Linggau. Untuk dapat mengatasi gangguan dari berbagai macam hama/penyakit yang timbul di lingkungan hutan tanaman sangat diperlukan penelitian dasar yang menyangkut kepada pengenalan jenis kepada hama/penyakit dengan mempelajari gejala dan akibat yang ditimbulkannya. Jenis ini pertama kali ditanam di Sabah tahun 1966 dan Sumatera Selatan tahun 1979 sebagai tanaman sekat bakar pada lahan alang-alang (Imperata cylindrica) A. Penelitian di lapangan dilakukan mulai Mei sampai Agustus 2004. Pengelolaan kawasan tersebut memerlukan suatu pengelolaan yang terintegrasi mengingat adanya suatu keterkaitan ekologis diantara kedua ekosistem tersebut. -. No. Dalam rangka itulah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (P3HT) sangat berperan dalam memberikan informasi berbagai masalah tersebut bagi kepentingan para pengelola hutan agar tujuan pokok kehutanan di dalam pengembangan fungsi hutan semaksimal mungkin secara lestari dapat dicapai. perkembangan pasar kayu merupakan faktor resiko yang harus diperhitungkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasi beberapa jenis insektisida terhadap hama C. Gangguan hama/penyakit akan mudah timbul apabila tidak ada keseimbangan lagi antara hama penyebab/patogen penyebab.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Indra Jaya PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DAN DAS MELALUI PENDEKATAN EKOWISATA / A. serta cara-cara penyerangan dan penularannya.

Kondisi vegetasi pohon masih dominan di antaranya Asam Payo. Tulisan dalam makalah ini berisi tentang karakteristik serangan hama C. Edwin Martin dan Fitri Windra Sari.) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA / Asmaliyah. BANYUASIN DAN MUSI BANYUASIN: DAERAH PEDAMARAN-PAMPANGAN.5 m.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 15-24 . Serangan hama C. sebaran gambut menyebar dengan kedalaman yang berbeda. Kata kunci: Efikasi.) saat ini merupakan jenis tanaman yang potensial dan prospektif untuk dikembangkan dalam upaya pembangunan hutan tanaman karena memiliki sebaran alami yang luas dan beragam manfaat kayunya. Musi Banyuasin. -. Pakis dan Gelam. Kematangan gambut bervariasi dari safrik hingga febrik dan ditemukan jejak terbakar secara periodik.1 m sampai 5. Karakteristik. Ogan Komering Ilir. Karakteristik gambut di daerah Tulung Selapan mempunyai kedalaman 0. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada areal rawa. Jelutung.laboratorium. pulai darat. Bakri KAJIAN KARAKTERISTIK LAHAN GAMBUT DI DAERAH OGAN KOMERING ILIR. Banyuasin. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa rawa gambut di daerah Pedamaran-Pampangan dominan ditumbuhi oleh pakis dan perpat serta sedikit galam. kering dan kemudian gugur. A. Pedamaran-Pampangan. Kata kunci: Insektisida mikroba. namun aplikasi insektisida mikroba secara campuran efektif dalam menekan serangan hama C. Penelitian dilakukan pada tahun 2004 dan 2005 dilokasi Pampangan. Serangan hama ini sudah terjadi dari tanaman berumur 4 bulan di lapangan dan sampai tanaman berumur 1 tahun merupakan kondisi kritis terhadap serangan hama C.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Pengetahuan tentang karakteristik serangan merupakan dasar dalam menentukan strategi pengendalian optimum. Pulai. glauculalis tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman pulai darat umur 1 tahun selama empat bulan pengamatan. Hama Clauges glauculalis 101 . Bacillus thuringiensis. Meranti. Rotan. Pengendalian yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk mengatasi serangan hama C. Jarak jalur tiap lokasi 30 km . Penelitian menggunakan metode survey dengan bantuan teknologi penginderaan jauh. larva C. Jalur pengamatan menggunakan sistem grid. pembuatan aksesibilitas dan saluran. glaucucalis. Halaman 25-30 . Karakteristik. jenis insektisida. glauculalis dalam skala lapangan pada kondisi serangan ringan atau kepadatan populasi yang rendah. 2006 Pulai (Alstonia spp.glaucucalis adalah dengan menggunakan insektisida mikroba yang berbahan aktif dan bakteri Bacilus thuringiensis. yang diaplikasikan secara campuran dan insektisida kimia yang sifat racun perutnya lebih kuat. -.0 m. glauculalis.40 km untuk masing-masing lokasi. Untuk mengelola lahan gambut diperlukan data dasar yang diperlukan untuk perencanaan akses dan pembuatan saluran drainase. Kata kunci: Lahan gambut. Serangan hama ini dapat mengakibatkan sebagian daun menjadi rusak. TULUNG SELAPAN DAN MUARA MEDAK / Bakri. 2006 Pengembangan pertanian melalui ekstensifikasi ke lahan rawa dan lahan gambut saat ini menjadi alternatif karena terbatasnya lahan kering untuk usaha budidaya tanaman. Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam mewujudkan pencapaian pembangunan hutan tanaman pulai dengan produktivitas tinggi di PT Xylo Indah Pratama adalah serangan hama C. Ulung Selapan. Untuk perencanaan dibidang pertanian data dasar. Alstonia spp. Kondisi lahan rawa gambut di daerah Muara Medak ditunjukkan oleh kedalaman gambut berkisar antara 0. Untuk perencanaan di bidang pertanian dasar seperti ini sangat diperlukan untuk membuat zonasi areal konservasi. Kedalaman gambut dari dangkal hingga sangat dalam (4 m hingga 6 m). Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Muara Medak angustiloba Asmaliyah KARAKRETISTIK SERANGAN HAMA Clouges glauculalis PADA HUTAN TANAMAN PULAI (Alstonia spp. Sugihan dan Muara Medak merupakan kerjasama antara South Sumatera Forest Fire Management Project dengan Pusat Penelitian Manajemen Air dan Lahan Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya. jarak antar titik pengamatan adalah 500 m. sebaran rawa gambut menyebar dengan kedalamn yang berbeda. glauculalis. gambut tergolong matang dan jejak terbakar ditemukan pada semua titik pengamatan. glauculalis terjadi sepanjang tahun dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim terutama curah hujan dan musuh alami. bahkan pada masa populasi mencapai puncaknya dapat menyebabkan tanaman gundul.2 m . Bakung.7. Manggris. Pemanfaatan lahan rawa dan lahan gambut harus mempertimbangkan aspek lingkungan seperti kedalaman. sebaran dan kematangan gambut.

ekonomi dan sosial budaya yang membatasi aktivitas budidaya pada lahan rawa.34) sangat masam dan kejenuhan basa (4. Pola agrosilvofishery semi intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa di daerah terpencil dan belum berkembang (desa-desa) hutan. diantaranya adalah teknologi pembibitan. efisiensi pemanfaatan lahan. Agus Sumadi dan Efendi Agus Waluyo. khususnya untuk pemetaan bahan bakar dan cara-cara untuk meminimasi sumber dan potensinya. -.25 sampai 0. -. Gambut adalah media sapih alternatif yang dapat menggantikan top soil. Makalah ini menyajikan ragam tipe hutan dan tipe vegetasi yang terdapat di Sumatera Selatan dengan fokus pada tipe hutan dan vegetasi rawa yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibandingkan dengan tipe hutan lainnya.Prosiding Seminar HasilHasil Penelitian Hutan Tanaman.42 juta hektar. Salah satu faktor yang menentukan kualitas bibit adalah kualitas media sapih yang digunakan untuk pembibitan. SUB SOIL DAN GAMBUT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MAHONI (Swietenia macrophylla King. Pola agrosilvofishery intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang dekat dengan pasar.5 bulan setelah sapih. Dampak yang diharapkan dari penerapan pola tersebut adalah terbentuknya pola pemanfaatan lahan rawa menetap yang efisien. Kebakaran merupakan rangkaian proses yang terjadi dari 3 faktor. tidak produktif dan belum dikelola secara baik. kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan. 2006 Kebakaran hutan merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Bahan bakar. yaitu bahan bakar. Pola agrosilvofishery merupakan sistem usaha tani atau penggunaan tanah yang memadukan potensi sumber daya pertanian. luas lahan 0. sumber api dan oksigen.Bastoni TIPE VEGETASI HUTAN SUMATERA SELATAN / Bastoni.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 8593 . Halaman 91-94 . Kata kunci: Tipe vegetasi. Halaman 45-54 . Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak merubah ekosistem rawa secara radikal dan tetap mempertahankan sumberdaya awal. 2006 Luas lahan rawa gambut yang terdapat di Sumatera Selatan sekitar 1. Media sapih. Kata kunci: Mahoni. -. Top soil. intensif dan mampu meningkatkan pendapatan. Pola alternatif yang dapat diterapkan adalah Agrosilvofishery. Oleh karena itu perlu dicari pola pemanfaatan terpadu untuk mengubah lahan rawa menjadi lahan yang produktif. luas lahan 1 sampai 2 hektar per KK. Pengelolaan kebakaran antara lain ditujukan untuk meminimasi sumber dan potensi bahan bakar serta pengendalian sumber api melalui rekayasa teknologi dan kelembagaan yang dilakukan secara bersamaan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Sub soil Bastoni PEMANFAATAN LAHAN RAWA TERPADU DENGAN POLA AGROSILVOFISHERY / Bastony. 102 . Hal tersebut sangat terkait dengan berbagai kendala biofisik lahan. Pemahaman dan pengenalan tipe hutan dan tipe vegetasinya akan sangat membantu upaya pengelolaan bahan bakar. Saat ini kondisinya sebagian besar telah rusak. Lahan rawa yang terlantar hanya dikenal sebagai penghasil asap setiap musim kemarau. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .)/ Bastoni dan Effendi Agus Waluyo.11 persen) sangat rendah. serta diversifikasi komoditi dan pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sapih top soil dan sub soil tanah podsolik merah kuning (Ultisol) serta gambut (Histosol) terhadap pertumbuhan bibit mahoni (S.5 hektar per kepala keluarga (KK). Pengembangannya membutuhkan dukungan teknologi. Pola agrosivolfishery dapat diterapkan secara intensif atau semi intensif tergantung dari lokasi. Sumatera Selatan Bastoni PENGARUH JENIS MEDIA SAPIH TOP SOIL. 2006 Mahoni (Swietenia macrophylla King) adalah jenis pohon eksotik yang cukup banyak dipilih untuk hutan tanaman karena mempunyai kualitas kayu yang unggul dan bernilai ekonomi tinggi.. baik hutan alam maupun hutan tanaman. Pemilihan jenis komoditi pertanian. Swietenia macrophylla King. pertumbuhan bibit yang rendah pada media sapih gambut adalah pH (3.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. macrophylla). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur 2. luas lahan dan tujuan pengembangannya.

Makalah ini menguraikan strategi pemangkasan dan penjarangan untuk Acacia mangium guna menghasilkan kayu dengan mutu yang memenuhi syarat sebagai kayu pertukangan. kayu glondongan mangium dapat menjadi sumber kayu yang penting bagi pasar kayu pertukangan.5 m. Untuk tujuan kayu pulp. Persamaan tersebut disusun dengan analisis regresi menggunakan peubah bebas diameter atau kombinasi diameter dan tinggi pohon menggunakan 119 pohon model. proposinya kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan tempat tumbuhya (Srivasta 1993). Adanya potensi cabang pohon untuk tumbuh besar dan resiko cabang mati sebagai titik masuknya jamur penyebab busuk hati menyebabkan perlunya dilakukan pemangkasan. Sukabumi 103 . 1994). 2006 Hutan tanaman Acacia mangium di Indonesia berpotensi menghasilkan kayu untuk pasar furnitur baik di dalam maupun di luar negeri. Chris STRATEGI PEMANGKASAN DAN PENJARANGAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU KAYU Acacia mangium / Chris Beadle. Dengan pemangkasan dan penjarangan pertumbuhan pohon sampai akhir daur dapat diatur untuk menghasilkan pohon bebas cabang yang tinggi dan pertumbuhannya optimal. Sofyan PENDUGAAN ISI POHON JENIS PUSPA DI DAERAH SUKABUMI. Terdapat 2 jenis persamaan volume yaitu persamaan regresi sederhana yang menunjukkan hubungan antara volume dengan diameter dan persamaan regresi ganda yang berdasarkan diameter dan tinggi pohon. namun dengan adanya kesulitan pengukuran tinggi pohon di lapangan maka persamaan hanya menggunakan peubah diameter tunggal diameter dapat merupakan pilihan. Tingkat kerapatan seperti di atas terlalu tinggi bila tegakan tersebut akan dikelola untuk menghasilkan kayu bulat. 2006 Beberapa persamaan telah dianalisa untuk menduga volume pohon puspa (Schima walliclii Korth. mangium merupakan sumber kayu utama untuk bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia (Rimbawanto 2000). hutan A. Dengan rotasi yang tidak lebih dari 20 tahun (Srivastava 1993). Kata kunci: Isi. Pemanfaatan. Kerapatan yang tinggi juga dapat mempengaruhi rata-rata ukuran cabang. Persamaanpersamaan tersebut digunakan untuk menduga volume bebas cabang dan volume sampai diameter ujung batang 7 cm. penampilan dan nilai kayu.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. kayu mangium mulai digunakan sebagai bahan baku industri furnitur dan sebagian di ekspor ke pasar dunia (Hardiyanto 2005). JAWA BARAT (Tree Volume Estimation for Puspa in the Sukabumi District of West Java) / Sofwan Bustomi. Hutan tanaman A. Kayu mangium yang bebas dari cacat tumbuh mempunyai penampilan yang menyerupai jati (Gales 2002). Rawa. Pemangkasan bentuk sebelum pemangkasan lift dilakukan dengan hasil akhir 300 batang pohon di pangkas hingga ketinggian 4. Knots dan busuk hati merupakan cacat yang mengurangi kekuatan fisik.2006 : Halaman 87-96 . Penjarangan. Dapat disimpulkan bahwa insiden heartrot dapat meningkat jika pemangkasan dilakukan pada saat tanaman rentan terhadap serangan dan adanya jamur penyebab yang masuk melalui luka bekas pangkas.) di KPH Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Halaman 209-222 . Suplement No. mangium dapat ditanam hingga kerapatan 1000 pohon/ha. mangium untuk produksi kayu bulat. Pemangkasan. Jarak tanaman yang rapat disaat penanaman merupakan salah satu pilihan. Cabang yang berukuran besar lebih sulit dipangkas dan berpotensi rentan terhadap masuknya penyakit. Pohon berbatang tunggal merupakan prasyarat pokok untuk produksi kayu bulat. Kata kunci: Acacia mangium. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Mutu kayu Bustomi. Kata kunci: Lahan rawa. -. – . Di pasar domestik. Walaupun dugaan volume diperoleh dengan menggunakan peubah bebas diameter dan tinggi merupakan dugaan yang sangat teliti.1 . pendugaan.3. Sebagian pohon mangium juga menghasilkan batang ganda (multi-stem). puspa. akan tetapi pengalaman dengan jenis lain menunjukkan bahwa kerapatan tanaman yang tinggi pada awal penanaman menjamin tersedianya pohon yang dapat memenuhi kriteria pemangkasan (Beadle et al.kehutanan dan perikanan yang akan dikembangkan dalam pola agrosilvofishery harus didasarkan pada kesesuaian lahan dan pasar. Oleh sebab itu pemangkasan merupakan hal yang harus dilakukan sebagai bagian dari perlakuan silvikultur tanaman A. Untuk itu diperlukan perlakuan pemangkasan. Agrosilvofishery Beadle.

sebagai pengganti pestisida kimia. masing-masing perlakuan digunakan 5 larva uret. rosot dan carbon storage. Berdasarkan uji beda nyata terkecil. kentang dan lain-lain. tepung kanji. Pengelolaan bijaksana.000 ha. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit P3HKA Bogor pada bulan September.. sehingga dalam melakukan rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi dapat lebih berhasil. juga sebagai insektisida kontak yaitu secara kontak langsung dengan tubuh mengakibatkan pingsan (paralisis) dan kematian larva. Herman PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT SECARA BIJAKSANA DALAM RANGKA MENJAGA KELESTARIANNYA / Daryono. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. sifat irreversible drying. Pengujian dilakukan dengan cara mencampur bahan pestisida nabati tersebut dengan tanah media hidup uret di dalam wadah plastik.000 ha. Herman. jamur Metarhirizium anisopliae. uret 104 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus) dan lain-lain.Desember 2003. Pelestarian hutan rawa gambut dengan segala nilai kekayaan biodiversity harus segera ditindaklanjuti dengan nyata.1 . sehingga peran hidrologi/tata air di dalam gambut sangatlah penting. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 3 kali ulangan.3% untuk perlakuan serbuk kulit mahoni. 2 perlakuan sangat nyata dalam pengendalian larva uret secara in vitro. pestisida nabati. Pestisida nabati yang digunakan adalah jamur Beauveria bassiana. Kalimantan 3.000 ha. Kata kunci: Rawa gambut. pengelolaan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Wida PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA URET SECARA IN VITRO (The Use of Floral Pesticides to Control Soil Pest by In Vitro) / Wida Darwiati. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas sekitar 17 juta ha yang meliputi di Sumatera 4. Ada beberapa tipologi di lahan rawa gambut yang perlu diketahui.000 ha dan Irian Jaya 8. Semua perlakuan pestisida nabati memberikan pengaruh yang nyata. yaitu ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. teknologi dan kelembagaan rehabilitasi perlu dikaji dan diketahui sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 35-50 . dengan merehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi. Pemilihan jenis yang tepat. Lahan gambut mempunyai karakteristik yang spesifik seperti adanya subsidensi.3% dengan perlakuan serbuk daun mimba. serta keanekaragaman hayati yang saat ini eksistensinya semakin terancam. Degradasi.3. Halaman 257-264. habibatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15 m. Hasil uji coba pengembangan jenis pohon asli dan bernilai ekonomi perlu diimplikasikan untuk rehabilitasi kawasan lahan gambut yang terdegradasi. Lahan sulfat masam aktual merupakan salah satu lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup disitu.Daryono. Selawesi 34. Senyawa pirit Darwiati. hara mineral yang sangat miskin serta sifat keasaman yang tinggi dan mudah terbakar apabila dalam keadaan kering kekurangan air pada lahan gambut tersebut.753. 2006 Uret merupakan larva dari serangga Hollotricia helleri Brsk (Scarabaeidae) yang telah menjadi hama utama pada komoditas pertanian khususnya pada tanaman padi gogo. Lahan sulfat. dan rapuh (fragile). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pestisida nabati yang berpotensi untuk dijadikan pengendali alternatif untuk hama uret.531. Suplement No. ekonomi dan budaya maupun fungsi ekologi sehingga kelestarian hutan rawa gambut dapat terjamin.83 juta hektar/tahun termasuk di dalamnya kerusakan hutan lahan gambut. sedangkan pada tanaman kehutanan lebih banyak yang ditanam dengan pola tumpang-sari. Jenis galam (Melaleuca sp). laporan terakhir dari Badan Planologi Khutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode tahun 1997-2000 di Indonesia mancapai 2. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat.613. Maluku 42. Pengendalian dengan pestisida nabati terhadap larva uret memberikan pengaruh sebagai penghambat aktivitas makan (antifeedan). Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi dicapai pada hari ke 4 dengan persentase kematian 83. ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. Oleh karena itu. Kata kunci: In vitro. jagung.000 ha. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan baik sebagai resorvoir air. sedangkan perlakuan mortalitas terendah dicapai pada hari ke 8 dengan persentase 83. vanili. -.

Penyakit akar putih. Akar merah. Perlakuan pupuk diberikan kepada 10 baris tanaman sebagai ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. 2006 Penelitian aspek perikanan tangkap di lahan rawa yang merupakan bagian dari perairan umum tempat hidup dan berkembang biak beberapa jenis ikan rawa sekitar Patratani Kab. DNA Fiani. 46 g N/tanaman (100 g urea) dan kontrol (tanpa pupuk). Ekonomi komposisi ikan. kebun pangkas.090.3. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis ikan tertangkap dari beberapa habibat lahan rawa. habibat dan aspek social ekonomi. Penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan terdapat 35 jenis ikan rawa dengan 10 macam alat tangkap dari beberapa habibat lahan rawa dan 10 jenis ikan ekonomis penting. Studi menggunakan penanda molekuler menemukan bahwa pasangan primer PNOX01/ITS4 dapat membedakan Phellinus noxius. Tectona grandis dan Khaya ivorensis di Semenanjung Malaysia. menuntut dilakukannya perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan stek pucuk. odorata)/ Ari Fiani. Penelitian dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan.-.2006 : Halaman 62-70 . sampel ikan yang tertangkap ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan alat tangkap yang dioperasikan. 15 g N (100 g NPK).Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2001. 2. -. 2006 Survei penyakit akar dilakukan pada tanaman Azadirachta excelsa. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah dan panjang tunas di kebun pangkas serta kualitas stek pucuk pada akhir percobaan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 5 macam dosis pupuk N. Ari PENGARUH PUPUK NITROGEN TERHADAP PRODUKSI TUNAS DAN KUALITAS STEK PUCUK MERAWAN (Effect of Nitrogen Fertilizers on Shoot Yield and its Quality as Shoot Cutting of H. dan phellinus sp. Mohd BUSUK AKAR PADA TANAMAN SELAIN ACACIA / Mohd Farid A [et.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Kata kunci: Acacia mangium. data yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif. Muara Enim. penelitian meliputi jenis ikan. Hidayat Moko.1 .52 . Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi jamur secara cepat tanpa tergantung pada cara identifikasi morphologi. Hutan tanaman. Kata kunci: Perikanan. Ditemukan dua penyakit akar putih dan penyakit akar merah. masing-masing disebabkan oleh jamur Rigidoporus sp. merawan. sedangkan perlakuan pupuk 100 g NPK/tanaman menghasilkan kualitas stek pucuk yang lebih baik dibandingkan kontrol. yaitu 7. No. Ikan. 2006 Ketersediaan benih untuk bibit Merawan yang tidak teratur dan sifat rekalsitran dan benih. Penyakit akar yang mematikan yang menyerang K. Metode penelitian dilakukan dengan survei lapangan dan wawancara dengan dipandu kuesioner terpola. pupuk nitrogen. aspek sosial ekonomi dilakukan dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal). Akar putih. Penyakit ini nampaknya berhubungan dengan buruknya cara persiapan lahan dan serangan jamur yang terjadi sebelumnya. -. Dari jumlah 70 nelayan sebagai responden 50 persen status nelayan Full Time dan 50 persen status nelayan sambilan dengan pendapatan perbulan Rp.39.al] . Dengan kelayakan usaha perbandingan Benefit Cost Ratio (B/C) = 1. Emmy PENELITIAN ASPEK PERIKANAN TANGKAP LAHAN RAWA DI SEKITAR PATRATANI KABUPATEN MUARA ENIM SUMATERA SELATAN / Emmy Dharyati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 50 g urea/tanaman menghasilkan jumlah dan panjang tunas yang lebih baik di kebun pangkas. namun jamur penyebabnya belum dapat diidentifikasi.000. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk nitrogen terhadap produksi tunas dan kualitas stek pucuk. stek pucuk. alat tangkap. ivorensis ditemukan di wilayah negeri sembilan. Kata kunci: Hasil tunas.Dharyati.5 g N (50 g NPK). Halaman 45 . Habibat Farid A. telah dilakukan di areal kebun pangkas di Kaliurang Yogyakarta sejak bulan Juli sampai Oktober 2002.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 117-123 . 105 . 23 g N (50 g urea). Alat tangkap. -.

Keragaman jenis ikan. A.2006 : Halaman 56-61 . -. sedangkan di lebak Sungai Mati adalah jaring. Sementara sebagian lainnya sulit untuk ditumbuhkan dalam kultur atau kalaupun bisa tidak menghasilkan sifat-sifat yang spesifik. Hutan rawa. Metode yang dipilih untuk aplikasi tertentu dipengaruhi beberapa faktor. Identifikasi DNA terhadap jamur yang berkaitan dengan tanaman juga berguna untuk meneliti jamur mikorhiza yang bermanfaat bagi tanaman. 2006 DNA menyimpan banyak karakter taksonomi untuk identifikasi organisme yang mempunyai sedikit karakter morphologi. Penggunaan teknik DNA untuk identifikasi jamur telah banyak diterapkan di bidang kesehatan manusia dan hewan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Teknik DNA merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk identifikasi jamur. Teknik ini juga banyak diterapkan untuk pengujian mutu pangan untuk mendeteksi kontaminasi jamur.al] . 2006 Makalah ini membahas aplikasi teknik molekuler untuk identifikasi jamur penyebab busuk akar dan busuk hati pada Acacia mangium menggunakan empat sampel yang berbeda. Ikan Glen. (2) Lebak Sungai Mati dengan karakteristik vegetasi semai dan tumbuhan bawah berupa rumputan. Identifikasi 106 . Teknik-teknik lain yang banyak digunakan dalam bidang pangan. Diperairan hutan rawa lebung Pasunde Sungai Musi didapatkan 45 jenis ikan hasil. sedangkan di lebak sungai Mati 14 jenis. Kata kunci: Perikanan. atau hanya mempunyai sifat-sifat yang unik hanya pada masa tertentu dari siklus hidupnya. Di lebung pasunde alat tangkap yang paling tidak selektif adalah empang.Desember 2005 pada 2 tipe rawa banjiran sungai Musi di Kecamatan Sekayu. Kata kunci: Jamur. Rawa banjiran.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.Gaffar. Beberapa jenis jamur dapat dengan mudah ditumbuhkan dalam kultur dan menghasilkan karakter mikroskopis yang berguna untuk identifikasi. memonitor keberadaan jamur simbiotik. -. Hasil ini menunjukkan kegunaan informasi sekuens DNA untuk mengklarifikasi informasi ekologis. Meskipun banyak metode untuk menganalisa DNA.2006 : Halaman 50-55 . ekologi. 2006 Penelitian telah dilakukan selama delapan bulan mulai Mei .Teknik ini terutama berguna untuk identifikasi jamur yang tidak menghasilkan badan buah. dan deteksi awal jamur perusak. bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan yang tertangkap dan selektivitas alat tangkap. Karim KEGIATAN PERIKANAN DI PERAIRAN HUTAN RAWA SUNGAI MUSI KECAMATAN SEKAYU / A. Identifikasi. saat ini yang paling banyak digunakan adalah metode yang berdasarkan pada PCR (polymerase chain reaction) karena cepat. Busuk hati. Teknik DNA Glen. Tipe vegetasi. Kabupaten Musi Banyuasin yaitu: (1) Lebung Pasunde dengan karakteristik rawa bervegetasi tipe pohon dan tiang. sensitif dan dapat memberikan hasil dalam jumlah besar. termasuk jumlah sample dan jumlah kandidat jenis. Teknik identifikasi DNA terutama diperlukan untuk identifikasi cepat misalnya untuk keperluan karantina atau bio-security. peternakan. kesehatan. Morag PENGGUNAAN TEKNIK DNA UNTUK IDENTIFIKASI JAMUR / Morag Glen. Dimana identifikasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu menentukan perlakuan kesehatan yang tepat. -. Alat tangkap. Semua teknik DNA memerlukan sample herbarium yang memadai dengan uraian morphologi yang lengkap untuk verifikasi hasil dari teknik DNA. bagian yang digunakan untuk identifikasi taksonomi jenis jamur. Kata kunci: Acacia mangium. Morag IDENTIFIKASI SECARA MOLEKULER ORGANISME PENYEBAB BUSUK AKAR DAN BUSUK HATI / Morag Glen [et.Karim Gaffar dan Khairul Fatah. Busuk akar. Hasil tangkapan di lebak Sungai Mati didominasi oleh ikan Sapil (Helestoma temminkii) sedangkan di lebung Pasunde didominasi oleh ikan Lais (Cryptopterus spp). biologi dan patologi jamur.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 125-133 . dan penyakit tanaman juga diuraikan.

2006 Tanaman murbei (Morus spp) banyak tumbuh di daerah tropis dan sub tropis pada ketinggian 400 m -700 m dpl dengan suhu rata-rata 21-25 derajat celcius (Katsumata. polusi lingkungan dan hama menjadi resisten maka penggunaan insektisida ramah lingkungan merupakan alternatif yang tidak dapat ditawar lagi. Teguh UJI EFIKASI AKAR TUBA TERHADAP HAMA PENGGEREK PUCUK MURBEI / Teguh Hardi TW dan Priyatna Wiraardinata.D PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI INDONESIA DAN ANCAMAN TERHADAP KELANGSUNGANNYA / G. Air Kumbang Padang Hardi TW. serta mutu kokon yang dihasilkan oleh ulat sutra sehingga kondisi tanaman murbei sangat menentukan akan produksi yang dihasilkan oleh ulat sutera. oyod ketungkul. tuba. pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Kata kunci: Acacia mangium. produksi kokon. Pengelolaan yang baik dan benar dapat merubah lahan ini dari lahan marginal menjadi lahan yang memiliki potensi S1 dan S2 untuk kelapa sawit. Uji efikasi. Penelitian inter-disiplin akan terus memainkan peran dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. Didaerah Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal dengan nama besto.menyediakan kesempatan untuk pengembangan sosial dan pengentasan kemiskinan. tuwa leteng. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. 2006 Lahan di wilayah Air Kumbang Padang pada umumnya merupakan lahan rawa pasang surut dan sebagian besar lahan ini merupakan lahan marginal sebelum adanya pengelolaan lahan lebih lanjut. Murbei 107 . Plantation forest. Tersedianya tanaman murbei yang baik merupakan salah satu penentu keseimbangan produksi benang sutera . tuba jenu. 2006 Pengelolaan hutan tanaman yang berkelanjutan harus mencakup kepentingan Plane bumi-konservasi keragaman hayati dan mencegah kerusakan lingkungan.Keuntungan . tuwa laleue. Golani.D. ternak peliharaan. Hendi PROSPEK PENGELOLAAN LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI WILAYAH AIR KUMBANG PADANG / Hendi Hairudin dan Ulil Amri. -. sebelum melakukan standar budidaya kelapa sawit sebagaimana dilakukan dilahan kering pada umumnya.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Makalah ini menguraikan cara-cara untuk mengatasi hal diatas melalui cara pengelolaan yang tepat dan pendekatan multi-stakeholder untuk mengakhiri penebangan illegal. G. Keberlangsungan hutan tanaman terancam karena manajemen yang tidak tepat atas tanaman monokultur. namun ketersediaan tanaman ini sangat dipengaruhi oleh sistem budidaya.2006 : Halaman 7-13 . seperti akar tanaman tuba (Derris eliptica (Roxb) Benth). Kualitas dan kuantitas daun murbei sebagai bahan makanan ulat sutera sangat dipengaruhi aspek biologis. Jakarta 23 Nopember 2006 . Managemen. tuba kurung (Kalimantan Barat). pemangkasan. Rawa. sedangkan di Jawa Barat dikenal dengan nama tuwa. Kelapa sawit. Perlu perlakuan awal lahan dengan melakukan pembuatan saluran drainase yang tepat dan pengapuran yang cukup untuk mendapatkan lahan yang optimal. -. Survei atas adanya kandungan dan kedalaman pirit menjadi sangat penting sebelum kita melakukan desain tata air di wilayah tersebut. kayu tuba. bermutu tinggi dan ekonomis. serangan hama dan penyakit pernah dilaporkan menyebabkan gagalnya budidaya ulat sutera di Indonesia. Hutan tanaman Hairudin. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar maka usaha pengendalian dengan insektisida sangat diperlukan. kebakaran dan penebangan illegal. Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dengan nama daerah akar jenu. Hama penggerek. seperti keracunan pada manusia.menjamin suplai bahan baku serat yang terbarukan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Salah satu insektisida yang ramah lingkungan adalah insektisida nabati yaitu insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. seperti pemilihan varietas yang ditanam. Agribisnis. Halaman 61-63 . Kata kunci: Hama. Pasang surut. Penduduk .Golani. Akar tuba. akar tuba. pertumbuhan populasi. -.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 69-72 . 1964) dan tanaman ini merupakan makanan utama ulat sutera (Bombyx mori). Penyakit. Social ecological. Mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida kimia (sintesis).

Permintaan akan kayu bulat mangium meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. sehingga rendemen kayunya juga rendah (banyak mata cabang dan batangnya tidak lurus) sehingga rendemen kayunya juga rendah. Jenis ini merupakan salah satu jenis substitusi yang paling baik bagi jenis ramin (Gonystylus bancanus) yang pada saat ini sudah semakin sukar didapatkan karena sudah langka dan telah masuk jenis yang dilindungi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.)/ Nanang Herdiana. Sterculia foetida Linn.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Sekitar 30 persen cocok untuk kayu bulat dengan diameter terkecil 30 cm. harga ini diharapkan akan meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Kayu bulat mangium yang sekarang tersedianya berasal dari tegakan yag tidak dipangkas dan tidak dijarangi. Kata kunci: Acacia mangium. Kecepatan berkecambah. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Perlakuan silvikultur yang tepat seperti pemangkasan sangatlah penting bila tegakan ditujukan sebagai penghasil kayu bulat. Kayu jenis ini juga kemungkinan dapat digunakan untuk bahan baku pulp dan kertas. . sehingga penelitian yang berkaitan dengan aspek ini masih diperlukan. Kayu pertukangan Herdiana. biji maupun yang lainya mempunyai potensi sebagai bahan baku obat dan masyarakat lokal sudah sejak dulu menggunakannya untuk pembuatan obat tradisional atau jamu. Media tabur. mangium dapat dijadikan kayu bulat dengan daur 10 tahun dan dapat menghasilkan hingga 200 m3 per ha per tahun. Hengki Siahaan dan Teten Rahman S. Jenis media tabur yang paling sesuai untuk perkecambahan benih bambang lanang adalah media M3 (komposisi pasir: tanah = 50:50 v/v) dan M2 (komposisi pasir: tanah = 75:25 v/v). 2006 Bambang lanang (Madhuca aspera) merupakan salah satu andalan lokal yang telah direkomendasikan untuk dikembangkan dalam kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). pengadaan benih atau bibit serta informasi mengenai teknik budidayanya sangatlah penting. Di samping itu beberapa bagian dari tanaman ini baik kulit batang. Daya berkecambah. 2006 Kepuh (Sterculia foetida Linn) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia dan mempunyai kisaran tempat tumbuh yang luas walaupun lebih cocok untuk daerah pesisir. daun. Nanang PENGARUH JENIS MEDIA TABUR TERHADAP PERKECAMBAHAN BAMBANG LANANG (Maduca aspera) / Nanang Herdiana. Perbedaan kemampuan setiap media yang diuji dalam mendukung perkecambahan bambang lanang terkait dengan perbedaan sifat fisik media. 2006 : Halaman 97-104 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Untuk mendukung program pengembangan kepuh ini. Halaman 111-116 .Hardiyanto. termasuk teknik pembibitanya belum banyak diketahui. -. Halaman 137-140 . Budidaya 108 .. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan jenis media tabur hanya berpengaruh nyata terhadap parameter keserampakan tumbuh . Meskipun pada saat ini harga kayu bulat mangium relatif rendah. Tegakan A. tetapi kandungan tanah yang sangat tinggi akan berpengaruh pada struktur media (keremahan media). Kata kunci: Kepuh. Eko B ACACIA MANGIUM UNTUK KAYU PERTUKANGAN / Eko B Hardiyanto. Nanang POTENSI BUDIDAYA KEPUH (Sterculia foetida Linn. Kata kunci: Bambang lanang. Kandungan-kandungan tanah akan berpengaruh dalam penyediaan air yang dibutuhkan selama proses perkecambahan. Sampai saat ini informasi yang berkaitan dengan jenis ini. Keserampakan tumbuh Herdiana. Kayu mangium makin dikenal masyarakat dan meningkatnya mutu kayu sebagai hasil dari perlakuan silvikultur yang tepat untuk produksi kayu bulat. 2006 Kayu Acacia mangium tidak saja sesuai untuk bahan baku pulp dan kertas bermutu tinggi tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan baku kayu pertukangan. sedangkan pada parameter daya berkecambah dan kecepatan berkecambah berbeda tidak nyata. -. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media tabur yang paling optimal untuk perkecambahan benih bambang lanang. Jenis media yang diuji adalah perbedaan komposisi pasir dan tanah. Maduca aspera.

Basiodiomycetes merupakan kelompok penting dari jamur yang mencakup bentuk-bentuk yang sudah dikenal seperti bentuk mushroom (jamur payung yang bisa dimakan). dan tanah dengan habitat yang beragam seperti hutan maupun daerah terbuka. -. Namun demikian pemanfaatan lahan tersebut belum dilakukan secara optimal karena adanya berbagai kendala teknis. beberapa jenis membentuk hubungan mycorhizal yang menguntungkan dengan akar pohon inang. Hal ini berimplikasikan bahwa pembangunan pertanian di lahan rawa pasang surut harus dilakukan melalui serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dalam kerangka sistem dan usaha agribisnis. Junghuhnia vincta. Identifikasi Husna DIVERSITAS MIKORIZA PADA POHON PLUS JATI DI SULAWESI TENGGARA (Diversity ofMicoriza on PlusTtree of Teak in South East Sulawesi) / Husna. Suplement No. Ian A MIKOLOGI BASIDIOMYCETES / Ian A Hood. Hasil penelitian menunjukan bahwa jati berasosiasi dengan CMA dengan ditemukan empat genus yaitu Glomus. yang digolongkan menurut produksi spora seksual di luar struktur mikroskopi yang disebut basidium. Faisal DanuTuheteru dan Mahfudz. 2006 Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Mikoriza Arbuskula (CMA) pada pohon induk Jati di Sulawesi Tenggara.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. atau sistem perakaran pada beberapa jenis pohon yang berbeda. Agribisnis. Taksonomi. Penyakit akar. Matakidi dan Wakuru). sedangkan beberapa jenis yang lain merupakan patogen yang menyerang daun. Daerah Matakidi 109 . Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. Kayu lapuk. -. Basidiomycetes. Penelitian dilaksanakan 2 tahap.Hermanto.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 57-68 . Dari serangkaian pengkajian yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. 2006 Semakin menciutnya lahan subur untuk kegiatan non pertanian dan beberapa lahan sawah intensif yang telah mengalami jenuh produksi (leveling off) serta meningkatnya permintaan akan hasil pertanian khusunya pangan. Pasang surut Hood. identifikasi dan pengamatan kolonisasi CMA dilakukan di Laboratorium Budidaya Pertanian Unit Kehutanan Fakultas Pertanian Unhalu Kendari. telah mengarahkan pengembangan areal pertanian pada pemanfaatan lahan rawa pasang surut.1 . Kata kunci: Acacia mangium. jamur papan dan jamur kerak. 2006 Sejumlah penyakit penting pada pohon dan tanaman di daerah tropis Asia disebabkan oleh jenis-jenis Basidiomycetes. Basidiomycetes menempati banyak relung lingkungan termasuk pada sampah terdekomposisi. R MODEL SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS DI LAHAN RAWA PASANG SURUT: KONSEPSI DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA / R Hermanto dan G Subowo. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan model sistem dan usaha agribisnis di lahan rawa pasang surut. Model tersebut merupakan serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dengan mengintegrasikan antara penerapan teknologi spesifik lokasi dan rekayasa kelembagaan pertanian. Jamur. Gigaspora. Penyakit penting pada pohon-pohon di Indonesia disebabkan oleh jenis Basidiomycetes seperti Rigidoporus microporus. -. biofisik dan sosial ekonomi sehingga produktivitasnya masih relativ rendah. Jenis-jenis Basidiomycetes secara tradisional diidentifikasi melalui bentuk dan struktur mikroskopis badan buah dan bentuk pertumbuhan ketika diisolasi dalam kultur laboratorium. jamur puffball (jamur kancing dengan banyak serbuk spora).3.2006 : Halaman 31-49 . Phellinus noxius dan beberapa jenis ganoderma. jamur earshstar (bintang) dan jamur koral. batang. untuk pengembangannya secara optimal dan berkelanjutan. Rawa. kayu lapuk. yaitu tahap pertama adalah pengambilan sampel tanah dan akar tanaman di 3 daerah pusat jati asal Kabupaten Muna (Raha.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Halaman 275284. Acaulospora dan Scutellospora. Tahap kedua yaitu isolasi. jamur toadstool (jamur payung beracun). diperlukan strategi yang ditunjang oleh berbagai persyaratan tertentu sehingga pengembangan model tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan nilai tambah kepada petani serta menjadi wahana yang penting untuk menanggulangi kemiskinan di pedesaan. Oleh karena itu.2 April 2005. Buton (Sampolawa) dan Konawe Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 28 Maret . Glomus ditemukan pada semua lokasi pengamatan dengan empat tipe spora.

multiplikasi.01 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap multiplikasi. -. zat pengatur tumbuh Jayusman KLASIFIKASI KEMENYAN BERDASARKAN VARIABILITAS FENOTIPIK DI TAPANULI UTARA (Styrax benzoine Classification Revealed Phenotypic Variability in North Tapanuli) / Jayusman. Napthalene Acetic Acid (NAA) dan jenis Sitokini (Benzyl Amino Purine-BAP) pada berbagai konsentrasi. No.01 ppm terbukti memberikan respon terbaik pada inisiasi tunas. bancanus.05 ppm terlihat hanya sesuai untuk induksi kalus dengan perkembangan lambat.Jurnal Penelitian Salah satu cabang bioteknologi yang telah diterapkan di Indonesia adalah perbanyakan kultur jaringan. Saat ini pengembangan jenis-jenis prioritas seperti jenis G. bancanus dan S benzoine mulai ditangani secara intensif.3. jenis dan kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang ideal pada fase ini dan multiplikasi S. Pengujian dilakukan dengan berbagai media dasar yaitu Murashige and Skoogs (MS).5 ppm + NAA 0. Woody Plant Medium (WPM) dan Greshoff & Doys (GD). zat pengatur tumbuh.25 ppm + IAA 0. -. 2006 Penelitian inisiasi tunas ramin (Gonystylus bancanus) melalui perbanyakan kultur jaringan telah dilakukan dengan obyek pengamatan meliputi (1) media dasar dan (2) kombinasi zat pengatur tumbuh (zpt) yang sesuai untuk kultur jaringan G. Dua jenis Auxin: Indole Acetic Acid (IAA). 2006 Pengembangan jenis-jenis prioritas seperti kemenyan mulai dilakukan secara intensif. Arif Setiawan.1 .3. 110 . Kata kunci: Induksi. hifa eksternal dan vesikula. benzoine. Untuk itu percobaan ini ditujukan untuk mendapatkan media dasar. Kata kunci: Jayusman PERAN MEDIA DASAR DAN KONSENTRASI HORMON PERTUMBUHAN TERHADAP INDUKSI DAN MULTIPLIKASI TUNAS PUCUK KEMENYAN (The Effect of Basal Media and Plant Growth Regulator Concentration Hutan Tanaman : Vol. Hasil pengujian menunjukkan bahwa eksplan yang ditanam pada media 1/2 media dasar dengan kombinasi BAP 1 ppm + NAA 0.10 . 1/2 MS. kultur tunas. Pengujian di fokuskan pada aplikasi media dasar (MS dan ½ MS) dan aplikasi ZPT BAP. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inisiasi eksplan pucuk pada media dasar 1/2 MS dengan aplikasi kombinasi ZPT BAP 1 ppm + IAA 0. -. Sejumlah tanaman telah berhasil diproduksi secara komersial seperti T. Media GD dengan BAP 1. grandis dan A.1 . kultur jaringan. mangium. jati Jayusman INISIASI TUNAS RAMIN MELALUI KULTUR JARINGAN (Shoots initiation of Gonystylus bancanus Kurz In-vitro Propagation)/ Jayusman. kultur jaringan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui variabilitas fenotipik jenis kemenyan di beberapa sentra produksi getah Gonystylus bancanus. Halaman 1 . kombinasi beberapa zat pengatur tumbuh akan diuji dalam kultur tunas ramin ini. benzoine.62 . Halaman 233245. Styrax benzoine. Pada skala luas diharapkan dapat menyediakan bibit skala produksi masal dalam waktu singkat dengan kualitas bibit sesuai induknya. Untuk itu penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan deskripsi fenotipik jenis kemenyan. Kata Kunci: Cendawan Mikoriza Arbuskula.3. Suplement No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Halaman 53 . No.1 .05 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap induksi dan kombinasi media dasar MS dengan aplikasi kombinasi BAP 0.merupakan daerah dengan keanekaragaman CMA yang tinggi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. diversitas. NAA dan Kinetin pada beberapa konsentrasi pada tahap induksi dan multiplikasi S. 2006 Towards The Succes of Induction and Multiplication in Shoot tip Culture of Styrax benzoione DRYAND) / Jayusman. Bentuk kolonisasi yang ditemukan adalah hifa internal.

Kata kunci: Kemenyan. Fase semai. bentuk buah (diameter dan berat buah) dan bentuk biji (panjang. Sitoluama dan Aek Nauli.16 mm 1.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. sistem enzim. Pertumbuhan tinggi semai. senyawa fenolik serta subrat dalam sel yang sulit diidentifikasi.kemenyan di Simasom. benzoine var hiliferum mengelompok berdasarkan karakter yang memiliki variabilitas fenotipik yang luas. No. Penelitian ini mengkaji prosedur visualisasi sistem enzim di dalam populasi S. diameter dan kekokohan semai bervariasi.13 cm . Glutamate oxaloacetate transaminase (Got). benzoine memiliki variabilitas fenotipik yang luas terutama pada karakter diameter batang. Sistem enzim yang diuji Acid phosphatase (Acp).8 . -. Materi yang diuji dikoleksi dari tiga populasi (daerah koleksi benih) surian asal Propinsi Sumatera Utara yaitu: Ambarita (5 famili). Analisis gerombol menunjukkan bahwa kedua jenis S. Enam sistem enzim yang diuji menunjukkan adanya variasi aktivitas enzim dengan karakter migrasi pita isozim berkisar pada nilai Rf 20 . namun sebagian individu dari kedua jenis kemenyan tersebut mengelompok menjadi satu. Phosphogluco isomerase (Pgi).7. tebal kulit dan luas daun. S. benzoine dengan menggunakan elektrophoresis horizontal. diameter dan berat biji).Wana Benih : Vol. 1. benzoine var dryand dan S. Famili yang diuji menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada semua pada sifat yang diuji. 2006 Teknik Elektroforesis dapat diterapkan untuk mendeteksi isozim dalam perincian genotipe populasi tanaman kemenyan. Analisis isozim juga menguji kombinasi bufer ekstraksi.5 dan elektrolit bufer Natrium Borat pH 8. benzoine var hiliferum.28 . Dua tipe variasi spesifik masing-masing ditemukan pada tipe getah pohon dan bentuk biji yang dibedakan atas tipe getah meleleh dan menggumpal serta bentuk dasar biji runcing dan agak datar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis S. benzoine melalui kegiatan seleksi terhadap karakter unggul yang dimiliki. Hasil penelitian ini membuka peluang identifikasi tanaman S. Elektroforesis. Temperatur elektrophoresis konstan 4 derajat Celcius.7. Malate dehydrogenase (Mdh).62.27 . Interpretasi genotipe berdasarkan profil pita isozim dalam bentuk zimogram menghasilkan struktur enzim monomer dan trimer dengan 10 lokus 20 alel. benzoine var dryand. Kata kunci: Fenotipik. Profinsi Sumatera Utara. berturut-turut 5. Kondisi eletroforesis optimum diperoleh dari ekstrak bufer TPTDAM pH 7. tipe tajuk. Variasi genetik Jayusman METODE EKSTRAKSI DAUN DAN INTENSITAS POLA PITA ISOZIM JENIS KEMENYAN (Leaf Extraction Method and Isozyme of Styrax benzoine Band Pattern Intensity) / Jayusman. karena jenis ini telah banyak dibudidayakan dalam skala luas khususnya hutan rakyat dan menjadi jenis pilihan utama dalam Gerakan Rehabilitasi Hutan dan 111 . Analisis varians menunjukkan adanya perbedaan yang nyata diantara populasi pada sifat tinggi dan kekokohan semai dan tidak berbeda nyata pada sifat diameter semai. -. seluruh individu pohon dari dua jenis S. getah. variabilitas Jayusman EVALUASI KERAGAMAN GENETIK BIBIT SURIAN DI PERSEMAIAN (Evaluation of Genetik Variation of Surian Seedling at Nursery Level)/ Jayusman.1 . Halaman 1 . 2006 Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan semai surian (Toona sinensis) di persemaian. benzoine mampu disatukan dalam satu kelompok. Styrax benzoine.1 . Simangonding.19 (perbedaan 0. Zimogram Jayusman SERTIFIKASI ASAL KULTUR JARINGAN: IMPLEMENTASI DAN IMPLIKASINYA BAGI PERLINDUNGAN KONSUMEN/PENGGUNA / Jayusman. Famili. No. Kata kunci: Surian. Halaman 17 . Koefisien kesamaan fenotipik menunjukkan bahwa pada skala kesamaan 0. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 35-41 .10.38 mm dan 4.34 cm.81 atau 81%). bufer elektrolit dan bufer gel dan karakter material daun. Observasi dilakukan terhadap 15 karakter fenotipik pada 81 pohon yang berasal dari lokasi tersebut.32. Bufer ekstraksi. S. Masalah utama dalam ekstraksi isozim adalah munculnya senyawa sekunder dalam jaringan tanaman seperti tanin. Konsentrasi gel kentang adalah 13 persen dengan arus listrik 35 Ampere meter dengan voltase konstan 250 volt. -. Sipolha (3 famili) dan Tarutung (3 famili).7. 2006 Jenis jati (Tectona grandis) saat ini tidak identik lagi dengan Perum Perhutani. Tapanuli Utara.5 yang tergolong migrasi lambat sampai sedang. Alcohol dehydrogenase (Adh) dan Glucosa-6-phosphate dehydrogenase (G-6-pdh). Data dianalisis berdasarkan Uji Bartlett.5.Wana Benih : Vol. perbandingan varians dengan standar deviasi variasi fenotipik dan analisis gerombol berdasarkan program NTSYSpc version 2. Toona sinensis.

diantaranya materi perbanyakan harus lolos pemuliaan genetik. antara lain persemaian. Adi KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA: PENGALAMAN PENGELOLAAN HUTAN PENELITIAN / Adi Kunarso dan Edwin Martin. Sertivikasi Judhiharto. KTI melakukan pola kerjasama dengan masyarakat/institusi dengan sharing modal dan hasilnya. 2006 Penanaman HTI (hutan Tanaman Industri) dan HTR (Hutan Tanaman Rakyat) dengan jenis tanaman fast growing species untuk bahan baku plywood industry. Solusi yang dapat ditempuh adalah dengan (a) integrasi marker molekuler untuk pelacakan asal usul materi bibit. Implikasi dari implementasi sertifikasi diyakini memiliki multi dampak karena selain petani/konsumen mendapatkan harga ideal dan kepastian hasil. Tectona grandis. Waru rangkang (Hibiscus similis). Banyak faktor yang berperan dalam menghasilkan bibit unggul. Saat ini masih banyak ketimpangan persepsi berkaitan potensi bibit kultur jaringan yang satu sisi dianggap selalu berkualitas dan memiliki keseragaman pertumbuhan dan disisi lain adanya keraguan mutu sumber materi genetik yang digunakan. -. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Keputusan Menhut melalui SK No.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. pruning/rempesan cabang.meskipun standarisasi dan sertifikasi bibit asal kultur jaringan tersebut belum optimal. antara lain adalah Sengon laut (Paraserienthes falcataria). Bibit jati asal kultur jaringan memberi kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan bibit jati di atas. Jakarta 23 Nopember 2006 . pemerintah juga mendapat mitra dalam pengadaan bibit. penangkar/produsen bibit mendapat harga jual yang pantas terhadap kualitas benih yang diproduksi serta pemulia pohon mendapatkan perlindungan intelektual. ekonomi. Kultur jaringan. persiapan lahan. sebagai berikut: Pihak perusahaan PT. menegaskan bahwa bibit jati yang dipasarkan harus dilacak asal usulnya agar tidak memberi dampak negatif baik aspek lingkungan. Hutan tanaman industri. PT Kutai Timber Indonesia Kunarso. pemeliharaan. Heru SERANGAN HAMA PENYAKIT DAN CARA ANTISIPASINYA PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI DAN HUTAN TANAMAN RAKYAT PT KUTAI TIMBER INDONESIA / Heru Judhiharto dan Agus Setiawan. Halaman 95-101 . Kata kunci: Jati. KTI) sudah dilakukan sejak tahun 1997 sampai sekarang dengan luas kurang lebih 3000 ha dn jumlah tanaman 4. Halaman 41-43 . (b) menggunakan metoda gabungan antara sertifikasi konvensional (pemeriksaan lapangan.Lahan (GERHAN). 67/Menhut/-II/2004. uji vigoritas) dikombinasikan dengan pelacakan marker molekuler. dll. Bibit. Hutan tanaman rakyat. mutu benih dan mutu bibit tanaman hutan. Balsa (Ochroma sp). penjarangan I dan II dan pemanenan. uji laboratorium. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. KTI melakukan manajemen penanaman sendiri dan pihak perusahaan PT. dan sosial.347 site dengan pola penanaman terintegrasi. Didalam aktivitas perawatan tidak terlepas dari pada permasalah an-permasalahan tentang adanya serangan hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman tersebut dan didalam pelaksanaan dari silvikultur hutan tanaman. mengingat sertifikasi juga bersifat sukarela (voluntary) yang sangat terbuka untuk semua pihak berperan aktif memulai dan mengimplementasikan sertifikasi sumber benih. Implementasi sertifikasi bibit asal kultur jaringan harus diawali pelacakan terhadap sumber materi genetik bibit.5 juta pohon serta lokasi 2. pemupukan. Beban sertifikasi tidak harus ditanggung pemerintah semata. Penyakit. Kutai Timber Indonesia (PT. Penanaman yang dilakukan oleh PT. Kata kunci: Hama. produksi bibit elit (berkualitas) tidak selalu atau harus dihasilkan melalui teknologi kultur jaringan. Jabon (Gmelina arborea). penanaman. 2006 Hutan penelitian Kemampo adalah hutan yang dibangun dengan tujuan sebagai tempat berlangsungnya penelitian di bidang hutan tanaman untuk menghasilkan paket-paket teknologi tepat guna bagi perkembangan hutan 112 .

kerusakan tertinggi dialami oleh A. Kata kunci: Kebakaran hutan. Usaha kecil atap daun nipah. Kalimantan Selatan yang hanya terserang 5. Patah pucuk merupakan jenis kerusakan yang umum dijumpai pada tanaman Acacia. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha ini adalah belum adanya kelembagaan yang mengakomodasi kepentingan pengrajin serta minimnya modal yang dimiliki. Halaman 87-90 .5 tahun di KHDTK Benakat. KHDTK Benakat 113 . sebagai bahan baku pembuatan atap. pengawasan untuk mendeteksi secara lebih dini kemungkinan terjadinya kebakaran serta penanggulangan secara fisik saat kejadian kebakaran. merupakan usaha padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. 2006 Pembangunan hutan monokultur menyebabkan resiko kerusakan tanaman oleh hama menjadi meningkat. Kerusakan ini menimbulkan kerugian dan banyak menyebabkan kematian tanaman. Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu vegetasi penyusun ekosistem rawa pasang surut yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi. serta belum adanya tindakan hukum terhadap pelaku pembakaran.-. Pada masing-masing asal sumber benih.. Adi POTENSI DAN POTRET PENGUSAHAAN NIPAH (Nypa fruticans) DALAM MENUNJANG EKONOMI RUMAH TANGGA DI SUMATERA SELATAN / Adi Kunarso. Agus EVALUASI INTENSITAS KERUSAKAN MATI PUCUK ASAL SUMBER BENIH ACACIA MANGIUM DI KHDTK BENAKAT / Agus Kurniawan dan C. Kata kunci: Nipah.hingga Rp. Hal ini disebabkan oleh ekosistem mikro yang kurang stabil/seimbang. Sumatera Selatan Kurniawan. Andriyani. kerusakan mencapai 21. Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Mati pucuk.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 161-166 . Dari hasil observasi di kelurahan Karyajaya.1 persen. sedikitnya petugas dilokasi. Nilai ekonomi. selain itu tegakan monokultur bagi hama berarti akumulasi bahan makanan untuk kehidupannya.khususnya hutan tanaman. Kata kunci: Acacia mangium. Keuntungan bersih yang diperoleh pengrajin atap nipah bisa mencapai Rp. untuk memproduksi satu keping atap nipah dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp. 450. -.. 300. Asal sumber benih.74 persen dari seluruh tanaman.86 persen. 16. Palembang. Kerugian akibat kebakaran yang terjadi adalah rusak dan hilangnya plotplot penelitian yang berarti juga kehilangan data penelitian.hingga Rp. 2006 Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi lahan rawa pasang surut yang cukup luas. Beberapa permasalahan yang dihadapi di hutan adalah: kurangnya sarana dan prasarana pencegahan dan pengendalian kebakaran. Pengamatan dilakukan pada bulan September 2005. Pengelolan hutan Kunarso. sementara uluran bantuan modal baik dari pemerintah maupun lembaga keuangan swasta tidak pernah menjangkau pengrajin atap daun nipah. mangium asal tegakan benih Riam Kiwa.dengan harga jual Rp. Kecamatan Ilir Barat II. -. Hutan Penelitian Kemampo. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Sedangkan kerusakan terendah ditujukan oleh tanaman A. Salah satu ancaman bagi pengembangan dan pengelolaan hutan Kemampo adalah kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun. Pengendalian kebakaran. Tanaman ini banyak dijumpai dirawa-rawa air payau dan di depan muara-muara sungai. 700. Salah satu bagian tanaman yang sudah dimanfaatkan serta diusahakan dalam skala industri rumah tangga di Sumatera Selatan yaitu daun.5 tahun di KHDTK Benakat rata-rata sebesar 12.. Industri rumah tangga. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui intensitas kerusakan mati pucuk pada delapan asal sumber benih Acacia mangium umur 3. 600. Atap daun nipah. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerusakan akibat mati pucuk pada tanaman Acacia mangium umur 3.. mangium asal kebun benih Wonogiri. Sementara itu upaya yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) sebagai pengelola hutan Kemampo antara lain: dengan pendekatan secara silvikultur yaitu dengan membuat sekat bakar (jalur hijau) dan ilaran api.000. Usaha ini akan terus langgeng karena peminat atap sederhana ini tidak akan surut. Nypa fruticans.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.per hari.

Dengan melihat potensi lahan gambut yang ada di Indonesia dan dalam rangka pengembangan karet serta pemanfaatan lahan gambut yang ada maka klonklon ini dapat diujicobakan pada lahan gambut dengan beberapa perbaikan teknologi untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul. Hal ini disebabkan karena kesuburan dan besarnya potensi sumber daya alam yang berada disekitarnya.Lasminingsih. CCFPI.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. pembangunan hutan tanaman yang diperuntukkan sebagai pemasok bahan baku kayu pertukangan dengan jenis-jenis lokal yang komersil sudah selayaknya direalisasikan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 151-159 .3 juta ha dan menunjang perekonomian rakyat karena sebagian besar merupakan perkebunan karet rakyat. Irwansyah Reza PEMANFATAN HUTAN DAN LAHAN RAWA GAMBUT DI PANDANG DARI APEK KONSERVASI: PENGALAMAN KEGIATAN CCFPI DI SUMATERA SELATAN / Irwansyah Reza Lubis. saat ini sebanyak 167 sawmill legal di Sumsel terpaksa ditutup.000 meter kubik. -. Menurut ekosistemnya. Kata kunci: Rawa gambut.2 juta meter kubik menjadi 700. Untuk teknologi okulasi di tempat ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut. jelutung dan tembesu. Salah satu kendalanya adalah dari ketahanannya terhadap ketumbangan/kemiringan pohon pada umur tanaman yang lebih lanjut. maupun kerajinan khas Palembang) dan masyarakat memperoleh beberapa jenis kayu komersial yang berkualitas seperti ulin. pasar maupun penguasaan teknik silvikulturnya. Akan tetapi akibat banyaknya tekanan dan konversi. membuat potensi hutan alam kita baik dalam skala nasional maupun lokal di Sumatera semakin menurun. -. Tembesu (Fagraea fragrans) yang merupakan salah satu jenis pohon andalan setempat di Sumatera Selatan. raminn. Melihat kenyataan tersebut.968. Lahan gambut.Khusus di Sumatera Selatan. Selain itu kebanyakan HTI yang dibangun diperuntukkan memenuhi kebutuhan industri pulp. mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Sumatera Selatan Lukman. Mudji PERKEMBANGAN BAHAN TANAM KARET DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA PADA LAHAN GAMBUT / Mudji Lasminingsih. Dari data pengujian klon pada lahan gambut tampaknya pertumbuhan awal. indikasi tersebut tampak dari semakin sulitnya beberapa industri (penggergajian. Secara ekologis. sedangkan pada tanah gambut belum banyak walaupun pada beberapa tempat dijumpai pertanaman karet pada jenis tanah ini. Lahan gambut. lahan basah rawa di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 tipe: (1) Hutan rawa air tawar (2) Rawa berumput/lebak (3) Rawa dan lahan gambut. Kata kunci: Karet. Hevea brasiliensis Muell Arg. dengan areal mencapai 3. Abdul Hakim ASPEK TEKNIK SILVIKULTUR DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN TEMBESU / Abdul Hakim Lukman. Saat ini telah tersedia berbagai klon anjuran hasil pengujian yang dilakukan pada tanaman mineral. pengembangan hutan tanaman tembesu di Sumatera 114 . Dilaporkan. 2006 Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan basah cukup luas di dunia yang mencapai 54. luas lahan basah makin menyusut hingga tinggal 40 juta hektar. Halaman 21-24 . Sedangkan rawa gambut dan lahan gambut sendiri juga saat ini mulai mengkhawatirkan keberadaannya.061 ha. 2006 Tanaman karet di Indonesia merupakan salah satu sumber devisa negara yang memberikan kontribusi cukup tinggi. Areal karet tersebut saat ini sebagian besar tersebar pada tanah-tanah mineral. Lahan rawa merupakan salah satu tipe dari lahan basah. Lahan gambut yang tadinya dianggap lahan marginal dan tidak banyak dimanfaatkan mulai dibuka dan dikonversi karena dari semakin menyempitnya ketersediaan lahan. Klon karet Lubis. 2006 Akibat eksploitasi hutan yang tidak seimbang dengan upaya rehabilitasi yang dilakukan selama ini. tanaman ini masih mampu tumbuh dan mencapai usia matang sadap sama dengan pertumbuhan karet pada tanah mineral. akibat kelangkaan pasokan bahan baku yang turun drastis dari 4. Hutan rawa air tawar dan rawa berumput adalah jenis lahan rawa yang sudah banyak rusak dan semakin kurang keberadaanya.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 2534 . saat ini (menurun sekitar 25 persen). Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan saluran-saluran drainase dan juga melakukan okulasi di tempat sehingga perakaran tunggangnya tidak terganggu. Sementara pasokan kayu (pertukangan) dari Hutan Tanaman Industri (HTI) hingga saat ini belum mampu memenuhi kekurangannya.

LMG1. zat pengatur tumbuh. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 2 faktor perlakuan. Kata kunci: Tembesu. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh dan media tanam telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman sejak Juni sampai Desember 2004. Tembesu dapat ditanam pada areal lahan yang didominasi alang-alang. bobot basah dan bobot kering stek dan volume akar stek. Hutan tanaman. Hidayat Moko dan Aswan Ajarul. pasir + kompos (1:1) dan tanah + pasir + kompos (1:1:1) dengan ulangan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 10 stek.29 m . Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 43-47 . sedangkan faktor kedua adalah media tanam yaitu campuran tanah + pasir (l:l). Suplement No.Selatan dimungkinkan dapat berhasil dengan baik. -.63 m untuk diameter. Jarak tanam 2 m x 6 m memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam 3 m x 3 m. Zat pengatur tumbuh dan media tanam merupakan aspek penting dalam perbanyakan tanaman dengan cara tersebut. Penelitian menggunakan rancangan tersarang dengan 5 blok sebagai ulangan.1 . sejak juni sampai Desember 2004.4.1 . Halaman 25 .49 m untuk tinggi dan 2. klon. Kata kunci: Biomasa.34 . Jenis andalan setempat. Pemeliharaan tanaman pada awal pertumbuhan mutlak dilakukan yang berupa pembersihan tumbuhan bawah dan aplikasi pupuk. Mahfudz VARIASI PERTUMBUHAN BEBERAPA KLON JATI HASIL STEK PUCUK PADA DUA JARAK TANAM DI GUNUNG KIDUL (The Growth Variation of Some Teak Clones from Cuttings on Two Planting Distances at Gunung Kidul) / Mahfudz. Kegiatan pemangkasan cabang (pruning) dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan kualitas kayu berupa berkurangnya jumlah mata kayu. Hasil analisis tanaman jati umur 22 bulan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman secara umum baik dengan kisaran 2. Teknik silvikultur Mahfudz PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK MERBAU (Effect of Growth Regulators and Plant Mediums on the Growth of Instia spp Shoot Cuttings) / Mahfudz. stek pucuk. 12 klon jati sebagai perlakuan dan 5 treeplot berbentuk bans untuk tiap perlakuan dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan 2 m x 6 m. Halaman 247256. -. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Lengkap Berblok dengan 5 perlakuan sumber scion yaitu: KG!.3. No. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pertumbuhan klon jati hasil stek pucuk dan jarak tanam yang tepat di lapangan.3. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan. LMG2 dan LMG3 (scion dari Lamongan) dengan 5 kali ulangan dan setiap ulangan 115 . Grafting merupakan salah satu cara dalam perbanyakan tanaman untuk penyediaan bibit yang diperlukan. yaitu faktor pertama zat pengatur tumbuh IBA dan IAA dengan konsentrasi 0 dan 20 ppm.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Tyastuti Purwani dan Wahyu Yudianto. media tanam. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Hidayat Moko. GK2 (scion dari Gunung Kidul). Salah satu upaya dalam pengadaan bibit adalah dengan perbanyakan tanaman secara stek pucuk. Isnaini. Kata kunci: Jati.4. merbau. Penelitian dilakukan di petak 22a. BKPH Playen Gunung Kidul pada bulan Nopember sampai Januari 2005. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sumber scion terhadap pertumbuhan bibit jati asal grafting telah dilakukan di persemaian Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. 2006 Salah satu aspek penting dalam pengembangan hutan jati rakyat adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. semak belukar dan hutan sekunder bervegetasi jarang. pertumbuhan tanaman Mahfudz PENGARUH SUMBER SCION TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JATI ASAL GRAFTING / Mahfudz.5 m x 1 atau 3 m x 1 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merbau dapat diperbanyak secara stek pucuk dan perlakuan zat pengatur tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot segar dan bobot kering stek dengan media tanaman yang mengandung bahan organik tinggi. RPH Banaran.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 Merbau (Instia spp) merupakan jenis tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam pembangunan hutan tanaman memerlukan pengadaan bibit dalam jumlah banyak.22 m . dengan penyiapan lahan secara manual tebas total dan jarak tanam rapat 2.

hutan rakyat. Halaman 31-44 .terdiri dari 5 tanaman hasil grafting. Tulisan ini hendak menyajikan hasil penelitian aksi perencanaan pengembangan hutan rakyat di Desa Tanjung Sari II Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir. semakin terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. Kata kunci: Jati. Alat analisis utama yang digunakan yaitu studi kelayakan usaha dan tinjauan manfaat sosial terhadap program tersebut. MHP bernilai ekonomis jika suku bunganya berada kisaran 14% -15. MHP di Sumatera Selatan dijadikan sebagai objek studi kasus. Outcame PRA seperti yang diaplikasikan di Desa Tanjung Sari II sangat berguna bagi Dinas Kehutanan untuk mengambil langkah-langkah taktis dalam melaksanakan tindakan kegiatan pengembangan hutan rakyat. Lembaga pengembang program dapat melakukan aktifitasnya (sesuai tupoksinya) dengan arahan yang jelas. Kata kunci: Perencanaan partisipatif. lemahnya koordinasi antar lembaga yang terkait. Helly Fitriyanti.17. Pengamatan dilakukan terhadap persentase hidup. -. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan scion yang berasal dari sumber yang berbeda tidak berbeda nyata terhadap semua parameter yang diamati. pada era tahun 2002-2003 Departemen Kehutanan menggaungkan "Social Forestry" sebagai payung semua program yang akan dilaksanakan. Fidelia Balle Galle. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Pelaksanaan kegiatan menggunakan teknik-teknik PRA. social forestry dianggap proyek.2 . Pelaksanaan program social forestry hutan tanaman industri dengan pola MHBM seperti diterapkan oleh PT. Ditengah kegalauan dalam mengelola kehutanan Indonesia. bukan sebagai salah satu sistem usaha produktif ekonomis. serta tidak dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan dan perumusan program. Melalui perencanaan partisipatif ini. tidak lagi berdasarkan asumsi-asumsi atau pandangan dan pendapat subjektif belaka. Program social forestry MHBM dan MHR PT. Rootstock. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . manfaat sosial. Halaman 117 .89%.128 . Tectona grandis. Edwin MANFAAT PERENCANAAN PARTISIPATIF DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH SOSIAL FORESTRY: DENGAN CONTOH KASUS APLIKASI PRA UNTUK PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DIDESA TANJUNG SARI II KECAMATAN LEMPUING OKI / Edwin Martin. Grafting.3.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. "Social Forestry" masih belum mampu memenuhi harapan banyak pihak dan perlu dibenahi. kelayakan usaha. Edwin KELAYAKAN EKONOMI DAN MANFAAT SOSIAL PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI (Economic Martin. jumlah daun.55%. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang apakah program social forestry dapat dijadikan sebagai sebuah pilihan sistem usaha dalam pembangunan hutan tanaman industri. Kompatibel. panjang tunas dan diameter tunas. bahkan beberapa teknik justru didalami dan dipertajam hasilnya sesuai dengan Prinsip Triangulasi. semakin berkurangnya intensitas konflik sosial dengan masyarakat. social forestry 116 . 2006 Program pembangunan dimasa lalu seperti hutan kemasyarakatan (HKm). Penyebab kurang berhasilnya sosial forestry di masa lalu antara lain adalah kebijakan yang tidak mendukung. Social forestry Feasibility and Social Benefit of Social Forestry Program at Industrial Plantation Forest)/ Edwin Martin.Scion yang berasal dari Lamongan menunjukkan pertumbuhan tanaman hasil grafting yang lebih baik dibandingkan dari Gunung Kidul. No. Salah satu teknik yang cukup dikenal dalam mengembangkan partisipasi masyarakat adalah PRA (Participatory rural appraisal). PRA. Manfaat sosial diterapkannya program social forestry yaitu menurunnya kejadian kebakaran di lahan konsesi HTI. pertanyaan " Bagaimana melaksanakan program hutan rakyat di suatu daerah?" menjadi terjawab. penghijauan. rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) sejauh ini belum berhasil mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. Sumber scion Martin. Tidak semua teknik PRA digunakan untuk mengkaji keadaan masyarakat Desa Tanjung Sari II karena sesuai dengan prinsip PRA hasil yang optimal. sedangkan untuk program MHR bernilai ekonomis jika suku bunganya berada pada kisaran 14% . 2006 Konsep perhutanan sosial (social forestry) seringkali dipahami hanya sebagai obat penawar untuk menangani konflik sosial usaha hutan tanaman.

Perkembangannya diikuti dengan perubahan warna. 2006 Metode ini menguraikan tentang metode yang cepat. Jawa Barat. penanaman dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme.76 cm. kecuali T. 2006 Pembangunan hutan tanaman Industri perlu memperhatikan faktor kesuburan tanah. Tanah andosol Mohammed.30 cm dengan menggunakan ring sampel. Nina PENGARUH FREKWENSI PEMELIHARAAN TANAMAN MUDA TERHADAP PERTUMBUHAN MERANTI DI LAPANGAN (The effect of Tending Frequency on Growth of Shorea Sapling at Field)/ Nina Mindawati. Busuk akar dibedakan menurut warna jaringan yang terserang jamur dan terkait dengan beragam 117 . Penelitian mengenai pengaruh penanaman jenis pohon hutan. 2006 Shorea atau meranti dikenal di perdagangan dunia sebagai kayu tropik yang cukup berperan penting. sedangkan sifat fisik sampel diambil pada dua kedalaman 0cm . karena tanah yang subur memungkinkan pohon tumbuh dan menghasilkan kayu serta produk lainnya dengan baik. Casuarina junghuhniana. Penelitian mengenai macam dan frekwensi pemeliharaan terhadap tanaman muda di lapangan telah dilakukan di HP Haurbentes.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Jasinga. Busuk hati pada A. Yetti Heryati.164 . A. unsur hara makro dan kapasitas tukar kation pada umumnya sama. shorea. dan dapat diandalkan untuk mengenali serangan busuk hati dan busuk akar. platyclados sangat masam. satu di Riau dan lainnya di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa provenansi dapat mempengaruhi serangan busuk hati tetapi tidak ada hubungannya dengan kandungan ekstraktif kayu. seperti Agathis lorantifolia. sedangkan jika pemeliharaan kurang intensif sebesar 56 HOK/ha. Kandungan bahan organik. Tekstur tanah setelah penanaman lempung liat berdebu. yaitu berupa pemeliharaan intensif dan kurang intensif. No.B Irianto.43 m dan 3. Tanda-tanda tersebut digunakan untuk menilai secara cepat kejadian dan tingkat serangan busuk hati pada log hasil penebangan di lapangan. P tersedia dan KTK serta nilai INP tumbuhan bawah jika dibanding pemeliharaan intensif. Selain itu. tengkawang Mindawati. tekstur dan penampilan dari kayu yang diserang. Rancangan yang digunakan adalah Acak Lengkap dengan dua tipe pemeliharaan yang dilakukan sampai tanaman berumur 3 tahun. Toona sureni. sureni yang menjadi liat. N total. Penilaian terhadap 2 percobaan. kecuali untuk jenis S. mangium disebabkan oleh hymenomycetes yang menyerang selulosa dan lignin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah di bawah tegakan umumnya masam sama dengan kondisi awal. -. -.3. Halaman 155 . Halaman 63 .15 cm dan 15 cm .64 cm. 2006 : Halaman 20-30 . sedangkan pengaruhnya terhadap porositas. Program pembangunan HTI tengkawang tidak akan berhasil dengan baik jika tanpa dilakukan pemeliharaan pada tanaman muda di lapangan. Alnus nepalensis. Syaffari Kosasih. Kondisi tanah dan tumbuhan di areal dengan pemeliharaan yang intensif menunjukkan hasil yang lebih baik ditinjau dari pH tanah. Pinus oocarpa. Jawa Barat.71 . Kata kunci: Kesuburan tanah. Prestasi kerja pembangunan hutan tanaman meranti mulai dari penyiapan lahan. stenoptera sebesar 3. Karen M Barry dan Ragil S. mecistopteryx 3. Khaya anthotheca dan Acacia cassicarpa telah dilakukan pada tanah andosol di dataran tinggi Cikole. Nina PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS POHON HUTAN TERHADAP KONDISI KESUBURAN TANAH ANDOSOL ( The effect of Some Forest Species Plantation to Condition of Andosol Soil Fertility)/ Nina Mindawati. jumlah fungsi dan respirasi di dalam tanah yang berdampak positif terhadap kesuburan tanah. -. tepat.2 . No. Shorea platyclados. Hasilnya dibandingkan dengan survei yang berdasarkan pada log hasil longitudinal pada log.3 .3.19 m dan 3. pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemeliharaan intensif berpengaruh nyata terhadap-rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter jenis S. Caroline L BUSUK HATI DAN BUSUK AKAR PADA ACACIA MANGIUM : IDENTIFIKASI GEJALA DAN PENILAIAN TERHADAP TINGKAT SERANGAN / Caroline L Mohammed. sedangkan jenis S. Yetti Heryati. berat jenis dan air tersedia berpengaruh positif. sehingga penanaman jenis dapat menstabilkan kondisi tanah. Pohon hutan. penanaman dengan pemeliharaan yang intensif selama 3 tahun memerlukan sekitar 66 HOK/ha. Pengmbilan sampel tanah dilakukan dibawah tegakan yang telah berumur enam tahun pada 3 titik dan dicampur untuk dianalisa sifat kimia dan biologi tanahnya.Mindawati. Kata kunci: Frekuensi pemeliharaan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Penanaman.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.

Penelitian dilakukan di lapangan (untuk mengamati gejala. persentase kejadian penyakit). Pemahaman lebih lanjut terhadap isu-isu tersebut di atas. 118 .3. Teknik monokuler telah berhasil mengidentifikasi jamur Ganoderma philippi sebagai jamur penyebab busuk akar merah. Penggunaan teknik penginderaan jauh untuk survei penyakit juga diulas. Kegiatan identifikasi merupakan suatu proses mencocokkan secara umum dan membandingkan ciriciri yang didapat secara makroskopis maupun mikroskopis dengan ciri-ciri yang ada dalam referensi. kekuatan sumberdaya manusia yang masih besar dan multidisiplin. memeriksa luasnya infeksi pada akar. Hutan tanaman. mangium adalah pelapukan kayu oleh jamur saprotrophic yang menyebabkan penurunan mutu kayu meskipun tidak mematikan pohon. Akibat penyakit tersebut daun-daun rontok dan tanaman kering meranggas. Busuk akar adalah pelapukan akar oleh beberapa patogen basidiomycetes yang menyerang jaringan hidup dan dapat mengakibatkan kematian pohon. Mewujudkan Sumsel sebagai lumbung Pangan. Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat serta Mewujudkan sumsel Bersatu Teguh yang selanjutnya akan dijabarkan lebih jauh dalam program-program pembangunan yang bersifat implementatif. tanaman Eucalyptus urophylla Blake. Sumatera Selatan Ngatiman PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN EKALIPTUS (Attack of leaf spot disease on Eucalyptus)/ Ngatiman. kedudukan geografis dan kondisi geopolitan yang sangat terkendali. Survei terhadap penyakit pada hutan tanaman acacia menyimpulkan bahwa busuk hati. Busuk akar menyebar melalui hubungan antara akar yang sehat dengan akar yang terjangkit jamur busuk akar atau kayu yang membusuk akibat jamur akar. pengangguran dan rendahnya pendapatan perkapita yang perlu diantisipasi dan segera dicarikan jalan keluarnya. Puslitbang Hutan Tanaman Bogor untuk identifikasi patogen bercak daun. Kata kunci: Acacia mangium. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis pathogen dan gejala yang ditimbulkannya serta persentase kejadian penyakit pada E.. -. Kalimantan Timur. pohon yang terserang cenderung terjadi secara acak namun kemudian mengelompok menandakan bahwa serangan jamur telah meluas. maka wilayah pembangunan di propinsi ini sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu daerah tumpuan strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional. metode tersebut perlu sederhana. Aris KEBIJAKAN PENGELOLAAN LAHAN RAWA SECARA TERPADU DI SUMATERA SELATAN / Aris Munandar dan Syafrul Yunardi. Tingkat serangan Munandar. dan mengamati pola penularan penyakit. Surya Hutani Jaya Sebulu. kemudian dilanjutkan di laboratorium Kelti Perlindungan dan Pengaman Hutan. termasuk potensi lahan rawa. Kecepatan perkembangan penyakit nampaknya berhubungan dengan awal serangan busuk akar. memacu Provinsi Sumatera Selatan untuk melasanakan pembangunan dengan memprioritaskan peningkatan kesejahteraan melalui berbagai langkah strategis dan kebijakan pokok yang dituangkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan jangka menengah daerah dan difokuskan pada agenda mewujudkan Sumsel sebagai Lumbung Energi Nasional. Busuk akar. Dengan potensi sumberdaya alamnya yang besar. Jamur penyebab busuk hati adalah parasit basidiomycetes yang masuk ke dalam pohon melalui luka. Busuk hati pada A. Sebagai daerah yang kaya akan sumberdaya alam. No. Hasil identifikasi ternyata penyakit bercak daun pada E. Lahan rawa. umur 3 tahun terserang penyakit bercak daun.Penyakit busuk akar menyebabkan kematian tajuk. dan karat daun adalah ancaman utama (Old et al. Illa Anggraeni. Kabupaten Kutai Kartanegara. Survei yang akurat harus mencatat gejala di atas permukaan tanah. pertumbuhan terhambat dan akhirnya kematian pohon. Penilaian terhadap busuk hati dan busuk akar memerlukan pendekatan yang berbeda. 2006 Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propivinsi Sumatera Selatan sampai saat ini merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara berkesinambungan dari kegiatan sebelumnya. Kebijakan. Untuk keperluan operasional di lapangan. busuk akar. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 1-6 . Busuk hati. dan tidak secara khusus menyerang jaringan hidup. Ketika busuk akar pertama kali ditemukan. juga masih menyisakan masalah-masalah pembangunan antara lain isu kemiskinan. Pelaksanaan pembangunan tersebut selain telah menghasilkan keberhasilan yang telah dicapai. Kata kunci. 2006 Di areal hutan tanaman PT.3 .basidiomycetes. urophylla. 2000). Sumatera Selatan memiliki potensi posisi strategis dalam perekonomian nasional. cepat dan mudah dilakukan oleh petugas lapangan dengan pelatihan secukupnya.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.191 . bekas cabang. Halaman 183 .

Kata kunci: Eucalyptus urophylla Blake. 31 jenis diantaranya melakukan pemijahan (spanig ground) di perairan hutan rawa dan memanfaatkan pakan alami di hutan rawa untuk pembesaran larva dan benih dan 14 jenis larva ikan perairan umum masuk ke perairan hutan rawa dan memanfaatkan perairan hutan rawa sebagai tempat perawatan larva (nursery ground). 2006 Danau Cala merupakan sungai mati (oxbow lake). 2006 Kamper Wood and Hopea on Alang-alang Areas With Prepare Planting Technique) / R. Marsepang (Midraraetil tharipoides). corong dan kilung. Cungcungre (Denox caniformis). Habibat.38 cm. Rumput gayu (Spinifex litorus). Kebarau (Hampala macrolepidota). Musi. Bengkal (Bruguera conjugate) dan Mangga Hutan (Magifera sp).08 persen.1 . yaitu rata-rata sebesar 39.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 143-149 . Persentase kejadian penyakit pada E. Penangkapan ikan konsumsi dimulai setelah air mulai surut dengan cara menutup sungai-sungai kecil yang banyak terdapat di danau Cala. Kata kunci: Ekosistem. Kalimantan Timur. bentuknya setengah cincin dan letaknya berdekatan dengan sungai utamanya yaitu Sungai Musi dan perairan ini terletak di Kabupaten Musi Banyuasin. Syarifah PERANAN EKOSISTEM HUTAN RAWA DI DANAU CALA KABUPATEN MUSI BANYUASIN SEBAGAI HABIBAT IKAN PERAIRAN UMUM / Syarifah Nurdawati.15 persen dengan intensitas serangan 4.38 cm. Setiap perlakuan dibuat petak coba dengan ukuran 50 m x 50 m (0. Penyakit bercak daun Nurdawati. yaitu dengan rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter masing-masing sebesar 35. Jenis-jenis vegetasi yang hidup di perairan hutan rawa danau Cala antara lain Nanggai (Talauma candolei).79 cm dan sebesar 0. Serandang (Channa pleuropthalmus). ikan Lemak (leptobarbus hoevenii). lanceolata.46 persen dengan intensitas serangan 7. Kalui (Osphronemus goramy). Bambu (Bambusa sp). Sebanyak 58 jenis ikan perairan umum memanfaatkan hutan rawa untuk mencari makan (feeding ground). Untuk perlakuan jenis terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter yang paling besar adalah D. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial 2x3 dengan pola acak lengkap yang diulang sebanyak 3 kali.23 . Ikan Juar (Luciosoma setigerum) dan Ikan Seluang Batang (Epalzeorhnchos kalopterus). Balikpapan. Hutan rawa. Danau cala. sedangkan persentase kejadian penyakit pada umur 5 tahun sebesar 40. Sungai-sungai ini mengering pada musim kemarau dan menyatu dengan danau pada musim penghujan.61 persen. Mulyana Omon.3. Bungur (Lagertrounia spiasa. Teki (Cyperus rotandus). Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Halaman 11 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi teknik rehabilitasi lahan alang-alang dengan jenis yang sesuai dari famili Dipterocarpaceae.38 cm. Alat tangkap yang besar yang biasa dioperasikan di danau cala adalah empang. Tembakang (Helostoma temminckii). Dengan demikian penanaman jenis dari suku 119 . Bujuk (Channa lucius). -. Di danau Cala pada umumnya penangkapan dilakukan pada musim penghujan untuk menangkap ikan hias antara lain ikan botia (Botia macracantus) dan penangkapan ikan balashark atau ikan kutung hanyut (Balantiocheilos melanopterus).79 cm dan sebesar 0. Kepor (Pristolepis fasciata) dan Tapah (Wallago attu). Baung (Mystus nemurus). Teknik penyiapan lahan dilakukan sebelum penanaman adalah dengan menggunakan herbisida yang bertujuan untuk memusnahkan alang-alang. Resan (Barcinia dulcis). yaitu rata-rata sebesar 39. Sukun (Artocarpus comunis).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Omon. Pandan (Pandanus tectorius). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis.25 ha) dengan jarak tanam 5 m x 5 m. Sebagian besar perairan Danau Cala dikelilingi hutan rawa dan banyak terdapat sungai-sungai kecil yang bermuara ke danau. Kukulang (Melostoma paliantum).37 cm dan 0.Mulyana PERTUMBUHAN KAYU KAMPER DAN HOPEA PADA LAHAN ALANGALANG DENGAN TEKNIK PENYIAPAN LAHAN TANAM (Growth of Pengaruh teknik persiapan lahan tanam telah dilakukan terhadap pertumbuhan Dryobalanops lanceolata dan Hopea sangal pada lahan lang-alang di hutan lindung Sungai Wain. Perairan umum Vol. urophylla umur 3 tahun sebesar 57. No. Banyuasin. Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.urophylla umur 3 dan 5 tahun disebabkan oleh fungi Macrophoma sp. -. R. Ikan. Jenis-jenis tersebut adalah Ikan toman (Channa micropeltes). Duri (Mimosa infisa). penyiapan lahan tanam dan interaksi antar jenis dan penyiapan lahan tanam tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup tanaman. Tinggiran binti (Rhizophora micronata).

2006 Pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza telah dilaksanakan di Laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata. Tejo B KAJIAN PELUANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN JENIS LOKAL POTENSIAL DI SUMATERA / B. Hopea sangal Omon. Halaman 129 . lanceolata dan H. berat kering (0. adanya penundaan perkembangan penyakit yang telah dibawa dari daerah asal.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. dengan perlakuan penyiapan lahan disemprot total dengan herbisida. Mulyana Oman. Rehabilitasi hutan Premono. Kata kunci: Tanaman pioner. Pada awalnya gejala ini tidak akan nampak namun akan mningkatkan riap tegakan yang dihasilkan. Usaha merehabilitasi banyak mengalami kendala di lapangan dan belum menggembirakan.2 . Keberadaan jenis pioner masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rehabilitasi hutan yang mengalami kerusakan. C Andriyani PERANAN TANAMAN PIONER DALAM REHABILITASI HUTAN / C. No. Tanaman jenis eksotik ini mempunyai kelemahan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MERANTI MERAH (The effect of Prasetyawati. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Tejo Premono dan C. 2006 Tanaman pioner berperan penting dalam suksesi alam. Suhu. -. -. jumlah daun.Dipterocarpacea khusus dari jenis D. pertumbuhan tinggi. parvifolia (88%) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan. pertumbuhan tinggi (5 cm). Kerusakan hutan. Banyaknya perusahaan hutan tanaman yang menggunakan jenis eksotik ini menyebabkan jenis lokal yang unggul mulai terpinggirkan. herbisida. Tanaman pioner mempunyai peranan penting dalam usaha perbaikan kondisi tapak maupun ekologi tanah. Halaman 77-84 . Kata kunci: Alang-alang.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. parvifolia yang berkualitas di rencana dan strategi penyediaan stek persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4°C atau 20°C masih dapat diinokulasikan pada stek S. sangal telah memberi harapan yang baik untuk dikembangkan sebagai jenis komersial untuk ditanam di lahan yang terbuka (alang-alang). jumlah daun (5 helai). -. Dengan demikian untuk S. Andriyani Prasetyawati dan Kristanta Tri Saputra. Kerusakan hutan yang memprihatinkan perlu mendapat perhatian. Halaman 131-135 . Stek. Beberapa tanaman pioner dapat dikembangkan menjadi tanaman komersial yang mempunyai nilai jual tinggi. Perlakuan dalam percobaan ini 2 suhu dan 6 lama penyimpanan. berat kering dan persen kolonisasi akar stek S.138 . Samboja Kalimantan Timur. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. lanceolata dan H.3. waktu penyimpanan 120 . parvifolia. Dilain pihak banyak tanaman jenis lokal potensial untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena jenis lokal Temperature and Storage Duration of Mycorrizae Tablet to Growth of Red Meranti Cuttings)/ R. R. parvifolia Kata kunci: Meranti merah. Jenis pioner dapat menjadi tanaman terpilih sesuai kondisi alam dan persyaratan tumbuhnya. Penggunaan tanaman jenis eksotik telah banyak dilakukan selama ini. Tujuan dari percobaan adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. 2006 Pembangunan hutan tanaman yang tujuan utama untuk menutupi defisit kebutuhan kayu yang semakin besar hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas tegakan yang dihasilkan. Tablet mikoriza.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Shorea parvofolia. Dryobalanops lanceolata. Andriyani Prasetyawati. Pemanfaatan jenis pioner sebagai salah satu usaha biologis disamping usaha mekanis yang selama ini diterapkan. Hasil menunjukkan bahwa lama penyimpanan tablet selama 3 bulan di kedua suhu yang berbeda (4°C dan 20°C) telah memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen hidup (90%).28 gr) dan persentase kolonisasi akar stek bermikoriza S. Suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup.

-. mempunyai data adaptasi yang lebih baik dengan kondisi alami tempat tumbuhnya selain menghasilkan kayu jenis lokal juga menghasilkan produk non kayu seperti getah. Yang menjadi utama perlu adanya pemuliaan tanaman jenis lokal untuk meningkatkan riap pertumbuhan sebagai syarat dalam pembangunan hutan tanaman. Dengan melihat kondisi tersebut maka perlu adanya perlindungan terhadap produsen (petani) dan konsumen (pembeli) yang berupa sertivikasi Hasil Hutan Non Kayu. Tejo HASIL HUTAN NON KAYU (HHNK) HUTAN RAKYAT. Kebun benih persilangan A. Namun produksinya cenderung menurun yang disebabkan antara lain harga yang rendah. 2006 Penanda molekuler diketahui memiliki potensi menggantikan upaya penyerbukan buatan secara manual dalam program pemuliaan.B. penanda mikrosatelit. Penelitian yang dilakukan dapat mendeteksi pasangan induk dari 202 individu (68. Reaksi PCR dilakukan menggunakan 15 penanda mikrosatelit (SSR). Aryono. Kata kunci: Hasil Hutan Non Kayu.1 . Halaman 103-110 . Halaman 35 . W. Pemuliaan Premono. -. Sertivikasi ini bertujuan untuk melindungi petani dari banyaknya barang subtitusi (sintetis) yang menyebabkan permintaan terhadap barang yang terus menurun dan pada akhirnya harga HHNK akan turun. Suryanto PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI.148 . No. Anto Rimbawanto. Tejo Premono. Kata kunci: Pembangunan hutan tanaman. HHNK ini menjadi penghasil tambahan (side incomes) yang menjanjikan. Program pencarian bahan tanaman 121 .2 . Kata kunci: Acacia mangium. kulit. Halaman 139 . 2006 Pengelolaan hutan. Jenis lokal potensial. cepat tumbuh dan mampu beradaptasi dengan lingkungan merupakan faktor penting dalam membangun hutan tanaman.3. Kelestarian hutan Prihatini.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. -. Sertifikasi juga bertujuan untuk melindungi kepada konsumen bahwa barang yang dihasilkan suatu produk adalah baik untuk kesehatan (green market).43 . Taryono. B. Genotipa dari semua individu tersebut digunakan untuk menentukan pasangan induk dari setiap keturunan yang diuji.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. daun maupun hasil hutan lainnya seperti rotan dan bambu. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown Development of Teak from Seedling. mangium. Moh. Tissue Culture and Shoot Cutting)/ Priyono Suryanto.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Jenis eksotik. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari penggunaan penanda mikrosatelit bagi pengujian induk A. Dari segi pemanenan HHNK lebih menjamin adanya pengelolaan hutan yang lestari (sustainable Foret Management) karena sistem pemanenannya yang hanya mengambil bagian dari pohon melalui penyadapan sehingga tidak mempunyai dampak yang berarti terhadap kondisi ekologi dan lingkungan. Istiana PENGGUNAAN PENANDA MIKROSATELIT UNTUK ANALISIS INDUK Acacia mangium Willd (Application of Microsatellitte Marker for Parentage Analysis of Acacia mangium Willd)/ Istiana Prihatini. Dalam pengembangan hutan model Agroforesty di Krui Lampung Timur dengan tanaman damar mata kucing (Shorea javanica). 2006 Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) sebagai hasil sampingan dari hutan (side product) yang dapat berasal dari bagian pohon baik berupa getah. Dan juga adanya barang subtansi berupa barang sintetik yang menyebabkan daya saing HHNK ini semakin berkurang. Sambas Sabarnurdin. analisis induk. teknologi yang belum tertata.telah banyak dikenal oleh masyarakat. SSR Priyono. Riap yang tinggi. mangium dapat dibangun menggunakan individu-individu terpilih agar penyerbukan terbuka (open pollination) yang terjadi dapat menghasilkan individu unggul. Sertifikasi.2%). PERLUKAH DIBERI SERTIFIKAT: ANTARA KELESTARIAN HUTAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT / B.3. No. Analisis induk dilakukan menggunakan DNA genomik total dari 251 individu sebagai kandidat induk dan 296 individu hasil keturunannya.

Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berurut-urut 12 tahun. Nilai keragaman genetik rerata dalam populasi sebesasar 0. Kata kunci: Kemiskinan. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. DALAM KAITANNYA DENGAN KELESTARIAN HUTAN / Mamat Rahmat. Analisis klaster membagi keempat populasi menjadi dua kelompok populasi yaitu Carita dan Manokwari pada kelompok pertama. 15.181 . Mamat STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN PADA MASYARAKAT SEKITAR HUTAN RAWA GAMBUT. alasan ekonomi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. -. Sampel daun dikumpulkan dari 4 populasi dan dianalisa menggunakan 15 primer RAPD yang menghasilkan 77 lokus polimorfik. asal bahan tanam. Halaman 175 . 2006 Kemiskinan merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan kehutnan di Indonesia. Halaman 149 .Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 103-110 . No.jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. sedangkan kelompok kedua terdiri dari populasi Ternate dan Nabire.5 tahun bila biji.f Rahmat. kelestarian. Penelitian ini bertujuan mempelajari kaeragaman genetik populasi merbau guna membantu penyusunan strategi konservasi genetik. -. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6 m x 2 m. Tectona grandis L. dengan menggunakan penanda RAPD.154 .2 tahun dan 8. sekitar 10. pembangunan infrastruktur dan pengembangan usaha ekonomi produktif. Kemiskinan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. No. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. yang didasarkan pada karakteristik masyarakat miskin di dalam dan sekitar hutan. Pembagian kelompok antara Manokwari dan Naabire lebih memperjelas pembagian Papua menjadi 6 wilayah geogenetik. Pengentasan kemiskinan.3 . 2006 Santalum album atau yang dikenal dengan nama cendana merupakan jenis kayu bernilai tinggi dan telah mengalami degradasi sumber genetik yang serius.3 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dan hubungan kekerabatan populasi Santalum album untuk mendukung program konservasi dan pemuliaan jenis tersebut. Keragaman genetik. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. Dengan demikian. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. pengentasan kemiskinan adalah upaya vital. Hutan rawa gambut Rimbawanto. Diusulkan tiga strategi pengentasan kemiskinan pada masyarakat di sekitar hutan rawa gambut di Sumatera Selatan. telah memicu berbagai kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan denga intensifikasi lahan. kultur jaringan dan stek. -Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.1. 2006 Intsia bijuga atau merbau merupakan jenis kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif. Rata-rata lokus polimorfik per primer adalah 5.3. Anto DISTRIBUSI KERAGAMAN GENETIK POPULASI Santalum album BERDASARKAN PENANDA RAPD (Genetic Diversity and Its Distribution of Santalum album Populations Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawantao. untuk menjaga kelestarian hutan.3. Sampel daun dikumpulkan dari 17 populasi dan dianalisa 122 . AYPBC Widyatmoko dan Purnamila Sulistyowati. Jenis ini merupakan tanaman asli Propinsi Nusa Tenggara Timur.296 sedangkan keragaman antara populasi 0.141. Bila persediaan biji bermutu cukup. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama sedangkan apabila persediaan benih terbatas. AYPBC Widyatmoko. Penanda RAPD Rimbawanto. Kata kunci: Intsia bijuga. diantaranya adalah melalui pemberian insentif.2 juta orang masyarakat miskin tinggal di dalam hutan dan sekitar 6 juta orang masyarakat desa sekitar hutan memperoleh sumber penghidupannya dari hutan. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. Kata kunci: Perkembangan tajuk. Dalam makalah ini digambarkan beberapa strategi pengentasan kemiskinan. Anto KERAGAMAN GENETIK EMPAT POPULASI Intsia bijuga BERDASARKAN PENANDA RAPD DAN IMPLIKASINYA BAGI PROGRAM KONSERVASI BAGI PROGRAM KONSERVASI GENETIK (Genetic diversity of Four Populations of Intsia bijuga Revealed by RAPD Markers and Its Anto Implications for Genetic Conservation Programme)/ Rimbawanto.

No.256 ha (Ditjen BPK.208 .0415.500. sebagian besar didominasi oleh jenis jati dan sengon (Ditjen RLPS.3 .038. Halaman 201 . Konservasi. dan karat puru (gall rust) pada sengon. Dari sekitar 1. Di Indonesia. hingga tahun 2004 telah dibangun hutan tanaman untuk pulp seluas 2.966 ha dan untuk kayu pertukangan 865. Anto KERAGAMAN POPULASI Eusideroxylon zwageri KALIMANTAN TIMUR Diversity of BERDASARKAN PENANDA RAPD (Population Eusideroxylon zwageri in East Kalimantan Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawanto. Rimbawanto. sedang sisanya ada di antara populasi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.menggunakan 17 primer RAPD yang menghasilkan 34 lokus polimorfik. Meratus. 2005). Secara alamiah tanaman telah mempunyai cara mempertahankan diri dari serangan hama dan penyakit. Jakarta 23 Nopember 2006 . Wain dan Semboja. -. Hama. Disisi lain hama dan penyakit juga mempunyai sistem penyerangan yang sesungguhnya merupakan cara mempertahankan diri untuk hidup dan berkembang. hutan tanaman rakyat juga berkembang dengan pesat.crassicarpa.5 juta ha hutan tanaman rakyat. Analisis klaster menghasilkan dua kelompok populasi yaitu TN Kutai.3. Secara umum pembagian kelompok tidak memperlihatkan hubungannya dengan jarak geografis. Dalam sepuluh tahun terakhir luas hutan tanaman di Asia meningkat dari 46 juta ha pada tahun 1990 menjadi lebih dari 65 juta ha di tahun 2005 (FAO 2005). AYPBC Widyatmoko. Penyakit 123 . mangium. Dalam beberapa tahun terakhir ini serangan hama pada penyakit pada hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat telah mencapai tingkatan yang merugikan secara ekonomi. Harkingto. 2005). 2006 Persoalan ancaman hama dan penyakit pada hutan tanaman telah menjadi isu nyata yang dihadapi oleh banyak negara yang mengembangkan hutan tanaman dalam skala luas. -. dengan menggunakan penanda RAPD.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Disamping hutan tanaman industri di atas yang sebagian besar tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Sebagai contoh penyakit busuk akar (root rot) yang menyerang A. Sampel daun dikumpulkan dari 5 populasi dan dianalisa menggunakan 19 primer RAPD yang menghasilkan 48 lokus polimorfik. Anto KERAGAMAN GENETIK DAN KETAHANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN / Anto Rimbawanto. Ratarata lokus polimorfik per primer adalah 2. Memahami mekanisme sistem pertahanan diri tanaman. S. RAPD. sedangkan untuk tanah gambut ditanam A. Santalum album Rimbawanto. yang dikendalikan oleh faktor genetik dan interaksinya dengan sistem biologi hama dan penyakit merupakan kunci keberhasilan pengendalian dan pengelolaan ancaman tersebut. Kata kunci: Genetik.391 sedangkan keragaman antara populasi 0. tetapi populasi-populasi yang berdekatan mempunyai kecenderungan untuk membentuk satu sub-kelompok. Dari jumlah itu sebagian besar didominasi oleh tanaman Acacia mangium yang sesuai untuk tanah-tanah mineral.3564 sedangkan keragaman antara populasi 0. Kata kunci: Keragaman genetik. Analisi AMOVA menunjukkan bahwa 96 persen dari keragaman genetik terdapat di dalam populasi. Analisis klaster membagi 17 populasi menjadi dua kelompok besar. Nilai rata-rata keragaman genetik dalam populasi sebesar 0. Hamparan hutan tanaman satu jenis yang luas tersebut tentu saja merupakan sumber pohon inang yang sesuai bagi berkembangnya hama dan penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan mempelajari keragaman genetik populasi ulin di Kalimantan Timur guna membantu program konservasi genetik. 2006 Euderoxylon zwageri atau ulin adalah kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif sehingga keberadaan tegakan ulin di hutan alam semakin langka. Halaman 15-20 . Nilai keragaman genetik rerrata dalam populasi sebesar 0. sedang populasi Lempake satu kelompok tersendiri.

Hutan tanaman jenis cepat tumbuh sangatlah penting bagi ekonomi negara-negara di Asia Pasifik termasuk Indonesia dan Australia. -. Benih unggul adalah investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar. Perkembangan pembangunan hutan tanaman industri yang pesat telah menumbuhkan kesadaran pengguna benih akan pentingnya mutu genetik benih. Ahli-ahli patologi dan pemuliaan pohon dari CSIRO telah menjalin kerjasama dengan para peneliti dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia dan lima negara lainnya di Asia Tenggara dengan dukungan ACIAR dan CIFOR.3 juta ha pada akhir tahun 2000 dan 10. Sejak pertengahan tahun 1980an terjadi peningkatan luas hutan tanaman. kebutuhan akan benih berbagai jenis tanaman juga meningkat. 2006 Dalam dasa warsa terakhir peneliti dari Australia dan negara-negara Asia Tenggara telah menyelesaikan serangkaian penelitian bersama dalam bidang patologi hutan. Kepentingan petani kecil dalam system tumpangsari juga perlu diperhitungkan agar mereka juga dapat memperoleh keuntungan ekonomi. Data dari beberapa perusahaan HTI menunjukan bahwa pengadaan benih unggul Acacia mangium hanya mengambil 4 persen dari total biaya pembangunan tanaman. benih jati Rimbawanto. Kebutuhan akan sertifikasi benih akhir-akhir ini terasa meningkat sebagai konsekuensi dari diberlakukannya penerapan harga bibit oleh pemerintah berdasarkan asal sumber benihnya untuk program pengadaan bibit Gerhan. Penggunaan benih bermutu genetik tinggi tidak dapat dipisahkan dengan mutu tegakan yang dihasilkan.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. hutan rakyat.Rimbawanto. Sertivikasi benih. ACIAR 124 .Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Kata kunci: Jati. Anto SERTIFIKASI BENIH: UPAYA MENJAMIN MUTU BENIH DAN MUTU TEGAKAN YANG DIHASILKANNYA / Anto Rimbawanto.5 juta ha pada akhir tahun 2030. Jenis utama hutan tanaman di Indonesia adalah Acacia mangium yang juga rentan terhadap serangan busuk hati. Busuk hati. Hutan tanaman. -. 2006 : Halaman 14-19 . Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 17-19 . Pembangunan hutan tanaman di berbagai negara termasuk pembangunan HTI di Indonesia membuktikan bahwa benih genetik unggul (genetically superior seeds) hasil pemuliaan dapat melipatgandakan pertumbuhan dan mutu tegakan. Hal ini sejalan dengan keberhasilan program pemuliaan pohon jenis-jenis cepat tumbuh meningkatkan riap volume tegakan yang menggunakan benih unggul hasil pemuliaan. Jika masalah penyakit busuk hati ini tidak ditanggulangi secara tepat maka keunggulan genetik sebagai hasil pemuliaan tidak akan dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi. Mutu tegakan. Pohon dengan batang yang lurus. Anto BUSUK HATI DI HUTAN TANAMAN: LATAR BELAKANG DAN PROYEK ACIAR / Anto Rimbawanto. Salah satu penyakit penting yang dibahas dalam pertemuan itu adalah busuk hati pada Acacia mangium. Namun dampak ekonomi dari investasi kecil itu dapat berupa peningkatan riap volume antara 20 persen . Ketersediaan benih unggul ditenggarai sebagai salah satu faktor utama bagi keberhasilan pembangunan hutan tanaman ini. Salah satu proyek yang paling berhasil adalah survei tentang penyakit pada akasia tropis yang dilakukan pada tahun 1995-1996 termasuk lokakarya di Subanjeriji. South East Asia and India"" (Old et al. baik untuk tujuan hutan industri. 2000). Program pembangunan hutan tanaman pada saat ini diarahkan untuk menghasilkan bahan baku kayu untuk industri pulp dan kertas dan MDF. Kata kunci: Acacia mangium. namun lebih dikarenakan oleh pertimbangan ekonomis semata. Salah satu hasil penting dari lokakarya itu adalah diterbitkannya buku ""A Manual of Diseases of Tropical Acacias in Australia.30 persen pada akhir daur. khususnya rotasi pendek yang sangat signifikan. Program pembangunan hutan tanaman mentargetkan pembangunan hutan seluas 2. 2006 Seiring dengan meningkatnya pembangunan hutan tanaman. bebas cabang yang tinggi serta riap yang tinggi merupakan bukti keberhasilan pemuliaan pohon dalam meningkatkan mutu genetik tanaman. Peningkatan ini tidak dapar serta merta dihubungkan dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap benih bersertifikat. maupun upaya rehabilitasi lahan kritis. Oleh karena itu untuk memberikan jaminan akan kebenaran mutu genetik sumber benih maka diperlukan sertifikat yang memberikan perlindungan hukum terhadap produsen dan konsumen benih. Mutu benih. Permintaan akan kayu baik untuk keperluan pasar dalam negeri maupun international terus meningkat dan pemerintah telah menetapkan program pembangunan hutan tanaman untuk menjamin kelangsungan pasokan kayu.

ferririk. kualitas semai dari stek kebun pangkas jati Muna dan pertumbuhan bibit asal kebun pangkas. Budi KUALITAS SEMAI DAN PERTUMBUHAN BIBIT JATI MUNA DARI KEBUN PANGKAS / Budi Santoso.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. 2006 Penelitian keberhasilan okulasi pohon induk jati Muna (Tectona grandis L. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produktivitas buah jati Muna per pohon. Kegiatan penelitian okulasi jati dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Kata kunci: Jati. Jati muna. Tectona grandis. Okulasi.35 cm dan terendah 10. Pohon induk. isohipertermik. Lokasi penelitian di persemaian PT. diameter 5.588 kg/pohon. Data pengamatan meliputi persen tumbuh dan pertumbuhan awal pertanaman. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 57-61 .53 persen.3. Persen hidup di lapangan semai dari keturunan pohon induk jati cukup tinggi mencapai kisaran 95 persen . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas stek tiap klon dari pangkas jati Muna di Malili. Sulawesi Selatan. Kata kunci: Jati Muna. Kata kunci: Jati. Benih. diameter 7.140 mm. Budi PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS BENIH JATI MUNA / Budi Santoso. Penelitian ini dilaksanakan di hutan jati Muna. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata produksi stek di kebun pangkas tanaman jati Muna di Malili yang dapat dihasilkan perpohon mencapai 17.40 mm dan terendah 3. Maroangin Kabupaten Enrekang. Jumlah pohon induk yang diokulasi sebanyak 60 dan setiap pohon induk dibuat 75 ulangan. Lokasi terletak pada ketinggian 100 m dpl. Budi VARIASI PERTUMBUHAN JATI MUNA HASIL OKULASI (Growth Variation of Bud Grafting of Muna Teak)/ Budi Santoso. mengetahui variasi kualitas benih dan menentukan persen perkecambahan benih jati Muna dari berbagai sumber benih dan periode pemanenan buah. tinggi semai dapat mencapai 37. Rerata pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jati Muna umur 4 bulan di lapangan yang tertinggi (34. Santoso. Rerata pertumbuhan semai yang berasal dari biji umur tiga bulan tingginya mencapai mencapai 27. -. Fajar Agribisnis. sedangkan yang berasal dari stek. 65 persen ukuran sedang dan 25 persen ukuran besar. Pertumbuhan tinggi terjadi variasi antar semai keturunan pohon induk dan pertumbuhan tertinggi mencapai 40. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan.07 persen. Kualitas semai baik bibit jati Muna asal biji dan stek dari kebun pangkas baik untuk ditanam. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produktivitas buah jati Muna mencapai 1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Penelitian variasi kualitas benih menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan faktor pertama adalah sumber benih dan faktor kedua adalah periode pemanenan. sumber benih tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap persen perkecambahan. Persen jadi okulasi hanya mencapai 35.13 cm) besar (8. Persen perkecambahan terbaik diperoleh dari benih yang dikumpulkan pada bulan September. Variasi ukuran buah jati muna digolongkan 10 persen ukuran kecil.33 mm dan jumlah daun 6 helai. Bintarto Wahyu Wardani. Sulawesi Tenggara dan persemaiannya dilaksanakan di green house Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. Tectona grandis. Pemanenan.85 mm.3 . Kebun pangkas 125 . Pemanenan buah pada tegakan jati yang dilaksanakan pada bulan September menghasilkan persen perkecambahan rata-rata 45.) bertujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan okulasi. No. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 49-56 . dengan pohon induk jati sebagai perlakuan. Pertumbuhan tinggi dan diameter pada tingkat semai dari propagul keturunan pohon induk jati terjadi variasi antar pohon induk.Santoso.50 cm. sedang pertumbuhan diameter tingkat semai dari keturunan pohon induk terbesar 7.45 mm) berasal dari generatif. pertumbuhan tinggi dan diameter semai hasil okulasi pohon induk jati Muna.52 sedang dari stek 0. sedangkan periode pemanenan berpengaruh terhadap persen perkecambahan. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.173 . Sumber benih Santoso. Indeks kualitas semai bibit yang berasal dari biji 0.73 cm. Curah hujan rata-rata tahunan 2. -. Jati muna. jenis tanah termasuk famili Rhodic Hapludoxs.86 mm dan jumlah daun 6 helai. Halaman 165 . Tectona grandis L.22.100 persen.5 stek. lempungan.97 cm.

Penelitian ini dirancang dalam pola rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi pangkasan dan IBA berpengaruh terhadap keberhasilan stek pucuk sukun. diameter trubusan dan kekokohan bibit. Oleh sebab itu. dan kekokohan bibit sedangkan untuk parat\meter panjang trubusan dan diameter trubusan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Pengamatan dilakukan pada umur bibit 5 bulan setelah penyapihan.Wana Benih : Vol. tinggi tunas. Hamdan A. Halaman 29 . Mengingat fungsinya yang penting tersebut. Prastyono. P2 = 30 cm. sukun. dengan 3 kali ulangan dengan setiap unit percobaan terdiri atas 5 stek pucuk. Parameter yang diamati meliputi jumlah trubusan. dengan peningkatan kesadaran dan peran serta seluruh masyarakat. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi pangkasan bibit sukun dan konsentrasi IBA dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. P3 = 40 cm dan P4 = 50 cm. 2006 Setiadi. Sumber populasi Setijono. Dedi PENGARUH TINGGI PANGKASAN PADA BIBIT DAN KONSENTRASI IBA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN (Effect of Hedging Sukun (A.7.1 . Setiadi. tinggi pangkasan bibit 30 cm dan konsentrasi IBA 1250 ppm memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap persentase hidup. kiranya tanpa kesaradan dan peran aktif masyarakat desa-desa setempat akan sulit dilakukan apabila hanya mengandalkn kepada regu-regu pemadam kebakaran hutan dan lahan yang terkonsentrasi di kota. 2006 Pada bencana kebakaran besar akibat fenomena El nino tahun 1997 yang lalu. SSFFMP berpendapat pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang baik adalah dengan upaya pencegahan dan pemadaman dini. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 51-55 . persentase berakar dan jumlah akar. sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi IBA (H). baik pria maupun wanita dibantu oleh segenap stakeholders yang 126 . tinggi tunas. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan menguji 2 faktor. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan yang nyata antar sumber populasi untuk parameter jumlah trubusan.3. 1992) dinyatakan bahwa kawasan rawa gambut di daerah tersebut mempunyai potensi alami yang tinggi.Height on Seedling Stock and IBA Concentrations on the Growth of Breadfruit Shoot Cuttings) / Dedi Setiadi. Kata kunci: Bibit.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Hamdan Adma Adinugraha. konsentrasi. maka upaya untuk melestarikan ekosistem kawasan tersebut merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. Berdasar profil lingkungan hidup kawasan pantai timur Sumatera Selatan (Tim PPLH UNSRI. persentase stek berakar dan jumlah. khusunya pada daerah lahan rawa gambut.36 . -. jumlah daun. panjang trubusan. setiap sumber populasi terdiri 5 ulangan masing-masing 10 bibit untuk parameter yang diamati. Adinugraha dan Hidayat Moko. baik potensi fisik. yaitu : HO = tanpa IBA (kontrol). persentase bertunas. Sukun. Halaman 223-231 . Provinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah. Parameter yang diamati meliputi persentase stek hidup. -. tidak mengherankan bila daerah ini menjadi sasaran pembangunan. 2006 Tanaman Sukun (Artocarpus artilis Forsbeg) merupakan tanaman serbaguna yang biasa ditanam di ladang/pekarangan. sejak April sampai September 2005. IBA. persentase stek bertunas. Suplement No. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bibit sukun dari empat populasi yang berasal dari Jawa Timur yaitu : Kediri dan Madura serta dari Jawa Barat yaitu: Lebak/Banten dan Sukabumi. kimia maupun biotik. HI = 1250 ppm. Bibit hasil koleksi dari populasi Kediri (Jawa Timur) menunjukkan kualitas yang paling baik dibandingkan dengan yang lainnya Kata kunci: Produktivitas trubusan. pangkasan. faktor pertama adalah tinggi pangkasan bibit (P) yaitu: PI = 20 cm. H2 = 2500 ppm dan H3 = 3750 ppm. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada kawasan lahan rawa gambutdengan segala keterbatasan yang ada. Dedi PRODUKTIVITAS TRUBUSAN STEK AKAR SUKUN DARI BEBERAPA POPULASI DI JAWA DAN MADURA (Sprouting Productivity of Bread Fruit Root Cuttings from Several Populations in Java and Madura) / Dedi Setiadi. altilis) merupakan salah satu jenis tanaman hutan rakyat yang menghasilkan buah dengan kandungan karbohidrat tinggi. Djoko PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT PADA DESA-DESA LAHAN RAWA GAMBUT SEBAGAI BAGIAN PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN YANG BERBASIS MASYARAKAT / Djoko Setijono. di mana perbanyakan tanaman ini biasa dilakukan secara vegetatif dengan stek akar. jumlah daun.1 . No.

Selama masa pembangunan banyak sekali peluang terjadinya gangguan. bagi desa-desa di sekitar kawasan hutan dan lahan. hal ini tergambar dari begitu banyaknya permintaan jenis ini dalam program kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Hutan tanaman Semaras. Masyarakat. mangium dimulai tahun 1985 di Semaras. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. sedangkan jenis daur panjang diuji cobakan membuat hutan tanaman meranti jenis meranti putih (S. Setiap bentuk kelengahan dalam pembangunan tanaman hutan yang dapat menyebabkan tanaman rusak oleh hama dan penyakit maka pengaruhnya akan dibawa sampai hasil akhir. -. Shorea polyandra. Salah satu kendala yang dihadapi adalah minimnya informasi tentang teknik budidaya mulai dari tahap pembibitan hingga penanaman serta pemeliharaan di lapangan. 2006 Usaha dibidang kehutanan memerlukan waktu yang lama. termasuk di Sumatera Selatan. PT INHUTANI II. Pembibitan Sofyan. 2006 Jenis lokal telah menjadi prioritas dalam rangka memilih jenis pohon untuk merehabilitasi lahan kritis. P. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Jika akan dilakukan pembongkaran maka akn memulai dari awal lagi. Dilain pihak waktu yang diperlukan cukup lama dan biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar. Setiap gangguan akan memberikan dampak negatif terhadap kualitas dan kuantitas hutan yang dibangun. Meranti. Tulisan ini menyajikan teknik pembibitan tembesu yang merupakan salah satu jenis lokal di Sumatera Selatan. SSFFMP mengembangkan konsep pengelolaan kebakaran hutan dan lahan yang berbasis masyarakat pada tingkat desa di Sumatera Selatan Kata kunci: Pendapatan. Kata kunci: Tembesu. Lain halnya dengan sektor pertanian yang berumur pendek apabila terjadi gangguan. Semestinya dalam dunia kehutanan konsistensi perhatian harus lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian ditunjau dari panjang daur.al] . KALIMANTAN SELATAN / Hadi Siswoyo. tindakan yang dilakukan dapat lebih tegas: dibongkar atau diteruskan. Laut Utara Kalimantan Selatan. Halaman 55-60 . Winarto dan Rosilawati. Acacia mangium. antara lain PT Inhutani II mencoba membangun hutan tanaman jenis fast growing jenis A. Mamat Rahmat dan Kusdi. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandis Linn. Berangkat dari pola pemikiran tersebut di atas. sehingga setiap bentuk gangguan memerlukan pertimbangan tindakan bijaksana. 2006 Jati merupakan salah satu jenis tanaman yang cukup banyak diminati masyarakat. PT Inhutani II. Kebakaran hutan Siswoyo. Hadi PENGALAMAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA Acacia mangium DI HUTAN TANAMAN SEMARAS DAN Shorea polyandra DI PETAK UJI COBA PENANAMAN MERANTI DI PULAU LAUT UTARA. Kata kunci: Hama. Jakarta 23 Nopember 2006 . Kalimantan Selatan Sofyan. Lahan rawa gambut. karena hal ini menyangkut perhitungan untung rugi dalam jangka panjang. 127 . Halaman 15-19 .terkait. Laut Kalimantan Selatan. antara lain serangan hama dan penyakit tanaman. polyandra) skala kecil yang dibuat pada tahun 1976 di area P. Seiring dengan penurunan potensi hutan alam Indonesia membuat para pengusaha kehutanan mulai untuk mencoba pembuatan hutan tanaman. penyakit. Agus TEKNIK PEMBIBITAN TEMBESU / Agus Sofyan. Pembibitan tembesu dapat dilakukan secara generatif maupun secara vegetatif.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Pulau Laut Utara.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. Masyarakat akan dengan senang hati melaksanakan pencegahan kebakaran apabila hal tersebut menguntungkan/meningkatkn pendapatannya dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya. Halaman 55-58 . Pembibitan generatif yaitu pembiitan dengan menggunakan benih/biji. -. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Sedang pada usaha kehutanan gannguan terebut akan terbawa sampai akhir daur. sedangkan pembibitan vegetatif menggunakan bahan yang berasal dari bibit (seedling) maupun trubusan alam.

Halaman 1-14 . Tectona grandis Linn. SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. Kesesuaian lahan. -. 2006 Tulisan ini berisi tentang hasil penelitian teknik penyiangan tanaman jati (Tectona grandis Linn. Kemampo.al] . Sumatera Selatan 128 . Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi lahan pada lokasilokasi penelitian kurang sesuai untuk pengembangan tanaman jati. Berkembangnya pembangunan hutan tanaman. permasalahan sosial masyarakat hutan. Tectona grandis. telah dilakukan penelitian mengenai kelas kesesuain lahan yang menyangkut berbagai persyaratan tumbuh jati pada tiga belas lokasi di tiga (3) Kabupaten yaitu Banyu Asin. Penyiangan. Kata kunci: Jati. 4 perlakuan dan 20 tree plot per unit perlakuan. tingginya laju degradasi hutan dan lahan. Agus PENGARUH TEKNIK PENYIANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI KEMAMPO. Sumatera Selatan. Tidak jarang ditemui tanaman mengalami mati pucuk pada tahun kedua dan ketiga. dapat diketahui bahwa pada beberapa daerah di Sumsel. 2006 Keberhasilan pembangunan dan kelestarian hutan tanaman antara lain memerlukan dukungan IPTEK yang tepat pada semua tahapan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penyiangan total chemis menunjukan pertumbuhan diameter dan tinggi yang lebih besar pada saat tanaman berumur 3 tahun. yaitu tingkat kemasaman tanah yang rendah serta kedalaman solum yang dangkal. Penelitian dilakukan sejak tanaman berumur 1 tahun hingga umur 3 tahun. Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu. rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Pertumbuhan. -. Faktor lingkungan (edafis dan klimatis) sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jati. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 29-33 . 2006 Penanaman jati oleh masyarakat khususnya di Sumatera Selatan. Tingkat kemasaman tanah (pH).Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Kabupaten Banyuasin.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Sofyan. Untuk mengetahui tentang prospek pengembangan jati di wilayah Sumatera Selatan. karena kegiatan ini menyangkut investasi serta harapan hasil yang sangat besar. Balai Litbang Hutan Tanaman IBB memfokuskan penelitian di bidang pembangunan dan pengelolaan hutan tanman. Evaluasi kesesuaian tempat tumbuh penting dilakukan di Sumatera Selatan. kebijakan pemerintah daerah bidang kehutanan yang mendukung serta kondisi internal seperti ketersediaan sumberdaya manusia dan sarana prasarana litbang.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. sehingga jati tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Agus FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan dan Mamat Rahmat. seringkali tidak memperhatikan kesesuaian lahan. maka kajian atau penelitian mengenai kelayakan pengembangan dan penanaman jati di wilayah ini sangat penting. tanaman jati ternyata dapat tumbuh dan berkembang dengan cukup baik di wilayah ini. Sumatera Selatan. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. Bambang SOSIALISASI CORE RESEARCH BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN PALEMBANG / Bambang Sugiarto dan Triwilaida. Faktor pembatas Sugiarto. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPPHT Palembang. Tectona grandis. untuk mengetahui daerah-daerah yang relatif cocok untuk penanaman jati.) dalam rangka mencari teknik penyiangan tanaman jati yang paling optimal. Kata kunci: Jati. mulai dari perencanaan hingga pemanenan serta kondisi masyarakat sekitar hutan yang mendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sebagain besar lokasi yang diteliti terdapat kendala utama yang menghambat pertumbuhan jati secara permanen. Metode penelitian yang dilakukan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 blok. Namun demikian pada lokasi tertentu di mana tingkat kemasan tanah serta kedalaman efektif terpenuhi. Kata kunci: Jati. Kesesuaian lahan Sofyan. tanaman jati tidak sesuai. -. Sumatera Selatan.Mengingat bahwa jati bukan tanaman asli Sumatera (jenis eksot). Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 23-28 . drainase dan kedalaman solum merupakan faktor pembatas pertumbuhan tanaman jati yang ditemukan pada lokasi penelitian.

menurunkan SR (0.81 .33%). volume.3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal bibit yang pertumbuhannya paling baik.200 . sono keling (Dalbergia latifolia) dan jenis lainnya dalam skala kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jati muna dan jati super memiliki penampilan pertumbuhan lebih baik dibanding bibit asal biji. 2006 Model penduga volume pohon jenis pulai darat (Alstonia angustiloba) yang dikembangkan PT. 150 gr. Model penduga volume pohon terbaik berdasarkan peubah bebas diameter dan tinggi pohon adalah persamaan V = . Model penduga volume pohon dengan dua peubah bebas memiliki ketelitian 1 tinggi dengan meningkatkan nilai R2 sebesar 1.5%. Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong.0093 H + 0. dan kontrol (tanpa pupuk).Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. galat baku (standard error = Se). telah diprogramkan penanaman jenis taman yang paling luas ditanam di Jawa. Agus PEMODELAN PENDUGA VOLUME POHON PULAI DARAT (Estimation Modelling of Pulai Darat Tree Volume) / Agus Sumadi. Jenis-jenis hama penyakit yang menyerang 129 .5 juta hektar yang terdiri dari jenis penunjang industri kayu dan industri non kayu.000751 D2 dengan nilai R2 (94. No. yaitu 50 gr. Sumantoro. Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan pada umur 20 bulan. Pujo PENGALAMAN DALAM PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT DAN PRAKTEK MANAJEMEN TANAMAN DI PERHUTANI / Pujo Sumantoro dan Sarkoro Doso B. X Indah Pratama yang berlokasi di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan disusun berdasar satu peubah bebas diameter serta dengan dua peubah bebas diameter dan tinggi pohon. 2006 Penanaman jati pada tanah-tanah yang kurang subur perlu didukung silvikultur intensif seperti teknik pemeliharaan antara lain dengan pemberian pupuk.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Penelitian ini dirancang dengan pola Split Plot. -. Dari berbagai jenis tanaman hutan tersebut. mimba (Azadiracha indica). Jati dan pinus merupakan dua jenis tanaman yang paling luas ditanam di Jawa.000045 D^ 0.0. simpangan rata- rata (mean deviation = SR) simpangan agregatif (agregatif'deviation = SA).Kata kunci: Core research. sedangkan dosis 100 gr adalah dosis pupuk yang optimal untuk pertumbuhan tanaman jati pada umur 20 bulan di lapangan. Pemili model terbaik berdasarkan pemberian peringkat terhadap nilai koefisien determinasi (determinai coeficient = R2). Fatahul Azwar. Kata kunci: Jati. Petak utama terdiri atas tiga asal bibit jati Muna. SR (1.0795 .00100 DH dengan mlai R2 (96. ekaliptus (Eucalyptus pellita).0127 D + 0. kesambi (Schleichera aleosa). menurunkan nilai Se (0. SR (1. Halaman 193 .2 . Jati super.Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong.49%) nilai SA (0.43 %). Model penduga pohon terbaik berdasarkan satu peubah bebas diameter adalah persamaan V = 0. sedangkan anak petak terdiri atas 4 taraf dosis pupuk. Joni Muara.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. dan jati super. pada bulan Oktober 2004. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Malili. Jenis-jenis tanaman tersebut antara lain jati (Tectona grandis).3.80%) (3. Sulawesi Selatan. Palembang Suhartati PENGARUH DOSIS PUPUK DAN ASAL BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN JATI (The Effect Fertilizer's Dosage and Seedling Process on the Growth of Teak)/ Suhartati. 100gr. serta tingkat dosis pupuk yang efektif untuk petumbuhan yang optimal di lapangan. Lahan kritis. Hutan tanaman. mangium (Acacia mangium).0. Jakarta 23 Nopember 2006 . pulai darat (Alsionia angustiloba). Halaman 47-53 . mahoni (Swietenia macrophylla). model. antara lain mindi (melia azedarach). -.30%). 2006 Perum perhutani mengelola hutan tanaman di Jawa seluas sekitar 2. pinus (Pinus merkusii).3 . Halaman 73 .91%) dan nilai SA (0.02%).00885 0. telah diprogramkan penanaman jenis fast growing species.000102 D2 + 0. Nursyamsi. Se (2. tinggi pohon. tetapi menaikkan nilai SA (0. dengan petak utama adalah asal bibit dan anak petak adalah dosis pupuk NPK.42%).0769 + 0. No. permasalahan hama penyakit mulai dirasakan sebagai factor yang cukup serius mempengaruhi keberhasilan dan produktivitas hutan tanaman pada beberapa tahun terakhir. -. Jati muna. sengon laut (Paraserienthes falcataria). Kata kunci: Diameter.31%).11%). kayu putih (Melaleuca cajuputi). Silvikultur intensif Sumadi.69%).

Dalam pengelolaan kehutanan. W. sakit tidur. gedung.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. kultur jaringan dan stek. Penggunaan pestisida untuk non-agricultural use juga masih terbatas pada upaya pengontrolan vektor penyakit pada manusia yang berkaitan dengan produksi pertanian. Seiring dengan keluasan area tanaman dan lama daur pengelolaan suatu jenis hutan tanaman. Selain itu juga meliputi akarisida.1 . Stek pucuk. insektisida. beberapa penggunaan senyawa aktif dari bahan alam. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. dan dalam kehutanan mulai mengambil porsi yang semakin signifikan.5 persen dari total penggunaan pestisida. alasan ekonomi Kata kunci: Perkembangan tajuk.pertanaman di lapangan tersebut ada yang sudah lama dikenal dan jenis hama/penyakit baru dikenal pada jenis-jenis tanaman hutan. KEPMENTAN TAHUN 2001 yang mengkategorikan bidang penggunaan pestisida meliputi: a) Pengelolaan tumbuhan. Senyawa-senyawa pestisida tersebut pada umumnya merupakan senyawa kimia sintetik. f) pengendalian faktor penyakit manusia. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. -. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6m x 2m.3. Jadi pestisida dalam kehutanan mungkin masih masuk dalam kategori "bidang lain". h) rumah tangga. Kultur jaringan. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown development of teak from seedling. g) pengendalian rayap. Dalam PP No. fungisida dan rodentisida. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. e) pengawetan hasil hutan. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. Kata kunci: Hama. Halaman 35 . biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama. tissue culture and shoot cutting) / Priyono Suryanto. Jika berkaitan dengan kehutanan. Bila persediaan biji bermutu cukup. penggunaan pestisida masih terbatas dalam kaitannya terutama dengan pengawetan kayu sebagai produk hutan. jati.5 tahun bila biji. 2006 Selama ini penggunaan pestisida. Manajemen tanaman. Terkait dengan menurunnya energi penduduk untuk melakukan kerja yang terkait dengan pertanian.f Taufikurahman MENIMBANG PENGGUNAAN PESTISIDA DALAM PENANGGULANGAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN: TINJAUAN ASPEK MANFAAT DAN RESIKO LINGKUNGAN / Taufikurahman. penggunaan pestisida untuk keperluan lain khususnya untuk pemakaian di rumah tangga. Jakarta 23 Nopember 2006 . Asal bahan tanaman. Priyono PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. dan k) bidang lain. Perhutani Suryanto. No. pestisida digunakan untuk 130 . 15. b) peternakan. i) fumigasi. molluscisida. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan dengan intensifikasi lahan. d) penyimpanan hasil pertanian. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berturut-turut 12 tahun. Penyakit.B Aryono dan Sambas Sabarnurdin. penggunaan pestisida di USA sendiri untuk sektor kehutanan hanya berkisar antara 1 persen . 2006 Pengelolaan hutan. Peruntukan pestisida di Indonesia masih terbatas pada penggunaan di lahan pertanian.43 . dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. perkebunan.2 tahun dan 8. j) industri lainnya seperti pada cat. baik di luar negeri maupun di Indonesia terutama ditujukan dalam upaya untuk meningkatkan produksi pertanian. c) perikanan. Tektona grndis L. gudang. -. dan rumah tangga. Halaman 29-31 . typhus. Namun demikian sejalan dengan perkembangan jaman. anti pencemaran. Hassal (1990) menyimpulkan bahwa pengontrolan terhadap vektor penyakit malaria. dan larvasida. sedangkan apabila persediaan benih terbatas. hama penyakit mulai muncul dan berpotensi menimbulkan kerugian yang cukup signifikan. yellow fever dan sebagainya. Bila kebutuhan pengguna pestisida untuk hutan produksi mulai meningkat. 7 th 1973 bahkan hormon pertumbuhan dimasukkan dalam kategori pestisida. Sebagai perbandingan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Pestisida yang lazim dipakai dalam pengelolaan tanaman hutan produksi meliputi herbisida. Program pencarian bahan tanaman jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. tampaknya pelu dimasukkan kegiatan pestisida untuk kehutanan dengan pengaturannya sendiri. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan.

sehat. Budi PENGELOLAAN HAMA PENYAKIT DI HTI PT RAPP / Budi Tjahjono. ekonomi dan menjamin produktivitas dan keberlanjutan HTI. Sumatera Selatan. PT Rian andalan Pulp and Paper Tjahjono. etunicatum tidak cukup berpengaruh pada pertumbuhan pulai di lahan. 2006 Penanaman kembali hutan tanaman bekas tebangan harus dilakukan segera setelah penebangan. Oleh sebab itu diperlukan perencanaan yang matang agar suplai bibit dari persemaian dapat tepat waktu dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. -. Riset menggunakan 2 perlakuan. misal penggunaan antagonis. Kekurangan produksi bibit di persemaian mempengaruhi secara langsung target penanaman dan dapat berakibat meningkatnya biaya pemeliharaan. inokulasi G. Kata kunci: Hama. masalah hama penyakit menjadi salah satu kendala yang semakin dirasakan penting artinya. Jakarta 23 Nopember 2006 . Maliyana PENGARUH INOKULASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA TANAMAN PULAI DI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA (The Effects of Arbuscular Mycorrizae Fungi Inoculation to Pulai at Ex Coal Mining) / Maliyana Ulfa. Kata kunci: Serangan penyakit. 2006 Masalah hama dan penyakit selalu dihadapi oleh usaha pertanian dan perkebunan dimanapun juga di muka bumi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah ditanam di lahan. Halaman 101 . RAPP telah berkomitmen untuk menangani masalah ini dengan cara berwawasan lingkungan. Pestisida. rodensia.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. eucaliptus ataupun tanaman lain dalam Hutan Tanaman Industri (HTI). etunicatum berpengaruh pada persentase hidup tanaman untuk hidup di lahan bekas tambang. 2006 : Halaman 83-86 . PT. etunicatum dan perbedaan media sapih. Acacia mangium. Edwin Martin. dan kehilangan akibat serangan penyakit harus minimalkan. No. Budi MEMINIMALKAN SERANGAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN PADA Acacia crassicarpa DAN Acacia mangium / Budi Tjahjono. seperti ketersediaan nitrogen dan akumulasi bahan organik 131 . Acacia crassicarpa. Tanaman hutan Tjahjono. bermutu tinggi.mengontrol tumbuhan gulma. yang ditunjukkan dengan hampir 100% hidup pulai darat (Alstonia sp. Program Penelitian atau Bagian Hama dan Penyakit telah dibangun dalam R&D Riau Fiber. G. setelah 9 bulan ditanam. Sebagai perusahaan yang telah mendapat sertifikasi LEI.). sebagai bagian dari pengelolaan hama terpadu yang berwawasan lingkungan di HTI. Untuk menekankan pentingnya kesehatan tanaman dan untuk memfasilitasi penelitian dan implementasi konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). PT RAPP.2 . Halaman 45-46 . Dalam kaitannya dengan tumbuhan. pertumbuhan pulai darat (Alstonia sp. 2006 pertumbuhan tanaman pulai darat (Alstonia sp. untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan dan produktivitas hutan.3. PT. serangga. diameter dan persen hidup. Penyakit. PT. Tanjung Enim. Bangko Timur. Hutan tanaman industri. menggunakan Rancangan Acak Blok dengan tiga ulangan.106 . RAPP melalui R&D nya berusaha untuk mengembangkan musuh alami seperti serangga Sycanus dan cendawan Trichoderma untuk pengendalian hayati hama dan penyakit. Untuk itu diperlukan bibit yang uniform.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. pestisida digunakan untuk memperlakukan nonnative dan invasif spesies tumbuhan.) telah dilakukan di lahan reklamasi bekas tambang batubara pada Dumping Area Pit Tiga. penyakit. Penyaki Ulfa. Tetapi di sisi lain. Efendi Agus Waluyo. Kata kunci: Hama. Bukit Asam. Demikian pula dalam pengusahaan akasia. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) merekomendasikan cara hayati. inokulasi G. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Penyakit. -. Manajemen APRIL PT. Hal tersebut diduga disebabkan oleh proses biokimia tanaman.) relatif tidak menunjukkan perbedaan parameter tinggi dan diameter di antara perlakuan. Riau andalan Pulp and Paper telah mengantisipasi masalah hama penyakit ini dengan serius. Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi.

mangium (Acacia mangium). sungkai (peremona canescens). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza dapat meningkatkan kualitas bibit tanaman kehutanan tersebut. Rehabilitasi Ulfa. seru (Scima wallicii) dan mahoni (Swietenia macrophylla) yang dilakukan di Balai Hutan Tanaman Palembang. -. Glomus clorum dan Gigaspora sp. bungur (Lagerstromia speciosa). deposit bahan organik penyusun gambut habis terbakar sehingga menurunkan produktivitas lahan dan menurunkan daya dukung lahan. Jenis prioritas. Lahan rawa gambut. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK REHABILITASI HUTAN RAWA GAMBUT BEKAS KEBAKARAN / Maliyana Ulfa. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Halaman 123-126 . Maliyana PEMANFAATAN MIKORIZA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BIBIT JENIS PRIORITAS SUMATERA SELATAN / Maliyana Ulfa. 132 . sehingga mudah terserap oleh tanaman. Aplikasi ini dapat diterapkan dengan memperhatikan kondisi yang mendukung perkembangan mikoriza pada lahan rawa gambut pasca kebakaran. Dampak kerusakan yang terparah disebabkan kebakaran hutan.). Efendi Agus Waluyo dan Bastoni. sedangkan pada seru telah diuji diinfeksi dengan Glomus etunicatum. Kata kunci: Kualitas bibit. lahan. mikoriza dapat memudahkan penyerapan nutrisi dan air.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. yang disebabkan oleh (1) eksploitasi hutan (2) konservasi lahan untuk pertanian dan (3) kebakaran hutan.yang tidak terdekomposisi dengan baik. Manfaat ini telah dibuktikan dengan menginokulasi mikoriza pada beberapa tanaman kehutanan. antara lain pulai (Alstonia sp. Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. 2006 Kerusakan hutan rawa gambut semakin meningkat setiap tahunnya. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Jenis mikoriza yang diinokulasikan pada pulai. Selain itu tanamanpun akan lebih tahan terhadap kekeringan dan serangan patogen akar. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. maka pemberiannya cukup dilakukan sekali di awal pembibitan dan menghemat biaya operasional. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. 2006 Sebagian besar lahan gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. Usaha rehabilitasi yang bisa diupayakan adalah dengan aplikasi mikoriza. bungur. Maliyana POTENSI APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. Ulfa. Kebakaran. -. -. yang mengakibatkan kerusakan tidak hanya pada tegakan hutan tetapi juga pada tanah (gambut). Halaman 69-76 . Edwin Martin dan Efendi Agus Waluyo. sungkai dan mngium adalah Glomus etunicatum. kimia dan biologi tanah serta karakteristik dan tipologi lahannya. Hal tersebut menyebabkan sporulasi dan kolonisasi CMA tidak berjalan dengan baik. serta mampu mengefisienkan pemberian pupuk buatan. Halaman 127-130 . pulai. Bentuk teknologi ini lebih efektif dan efisien. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Mikoriza. meliputi kondisi fisik. Selain itu karena yang diinokulasikan adalah jasad hidup. Mikoriza Ulfa. Kata kunci: Glomus etunicatum. Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. 2006 Aplikasi mikoriza merupakan alternatif teknologi dalam upaya mempersiapkan bibit berkualitas. Alstonia sp. mengingat dapat menyediakan bibit berkualitas dalam waktu yang singkat dalam jumlah yang banyak. Sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. karena untuk seterusnya akan berkembang dengan sendirinya dan terus menginfeksi. Pada lahan kritis.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman.

Beberapa tipe habibat yang dapat dijadikan suaka perikanan yaitu Lebung. Agus Djoko KETERKAITAN KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN EKOSISTEM PERAIRAN RAWA BESERTA UPAYA PELESTARIANNYA / Agus Djoko Utomo. Rawa gambut Utomo. 2006 Departemen Kehutanan melalui program Revitalisasi Sektor Kehutanan telah mentargetkan untuk membangun sekitar 9 juta hektar hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat di dalam kawasan hutan yang terdegadrasi serta hutan rakyat pada lahan-lahan milik masyarakat. Mikoriza. iklim. Jakarta 23 Nopember 2006 . ruas sungai yang terdapat lubuk dan danau rawa. reklamasi lahan.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 97-102 .Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Ekologi perairan umum sangat komplek dan sangat dipengaruhi oleh musim. serta informasi jangka panjang kegunaan dan nilai ekonomi dari tegakan yang ditanam. Perikanan Wasrin. Timah-timah (Cryptopterpus apagon). Kata kunci: Rawa. Sengarat (Belodonticthys dinema). Beberapa penyebab kerusakan habibat yaitu penebangan hutan rawa. -. Di sisi lain pembangunan HTI hanya mampu menghasilkan 1/3 dari kebutuhan industri sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan percepatan pembangunan HTI. -. sumber protein hewani. Seringnya terjadi kebakaran hutan dan tingginya konversi lahan menyebabkan semakin menciutnya areal berhutan dalam kawasan hutan rawa gambut. Hal ini juga menyebabkan rusaknya gambut yang berada di areal yang tidak berhutan tersebut. Upik Rosalina ASPEK EKOLOGI DALAM "VEGETATION MANAGEMENT” PADA HUTAN TANAMAN / Upik Rosalina Wasrin. Suaka perikanan mempunyai peran besar bagi penyediaan benih ikan secara alami di perairan umum. Ikan Elang (Datniodes quadrifsciatus). Hutan tanaman. Pengalaman dari beberapa perusahaan kehutanan dalam membangun hutan tanaman industri masih banyak menemui kendala antara lain resiko-resiko jangka panjang akibat dari pemilihan jenis tanaman yang tidak atau kurang sesuai dengan tapak. Persoalan utama didalam membangun hutan tanaman adalah kemungkinan terjadinya ledakan populasi serangan dan epidemi penyakit yang berakibat pada serangan hama dan penyakit secara besar-besaran pada hutan tanaman. Hutan tanaman Ulya. Kehilangan habibat yang penting di perairan umum akan berdampak langsung pada kehidupan organisme air. Ekosistem.484 juta hektar atau sekitar 20. Propinsi Sumatera Selatan mempunyai lahan gambut seluas kurang lebih 1. Pemahaman ekosistem lahan basah sangat diperlukan untuk mengevaluasi kegunaan dan keuntungannya. 2006 Indonesia merupakan salah satu negara dengan lahan rawa gambut terluas di dunia. pemulihan populasi dan peningkatan produksi perikanan. Mok-mok (Hemisilurus scheronema). Informasi biofisik yang meliputi tanah. serangan hama dan penyakit. 2006 Peran penting perairan umum yaitu sebagai tempat hidup berbagai jenis organisme air tawar. Nur Arifatul PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN UNTUK REHABILITASI KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT / Nur Arifatul Ulya. Halaman 21-27 .Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 73-83 . Suaka perikanan yang baik dapat meningkatkan produksi perikanan di perairan sekitarnya. demikian pula dengan "trend" penggunaan kayu. dan topografi relatif cukup tersedia. Konversi lahan basah harus dipertimbangkan dengan masak agar nilai sumberdaya alam tidak hilang. Suaka perikanan dapat dipakai sebagai perangkat pelestarian plasma nutfah.6 Kata kunci: Hutan tanaman.Kata kunci: Rawa gambut. tempat mata pencaharian bagi nelayan. Salah satu teknik pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu dengan cara menyediakan habibat yang dilindungi untuk dijadikan suaka perikanan. kebutuhan industri pasar serta nilai ekonomi dari produk perkayuan. Evaluasi kegunaan lahan basah diperlukan dalam rangka memberikan masukan bagi pengelola. Kapas-kapas (Rochteichtys micropeltis). 133 . -. relatif lebih mudah diperoleh. Jenis ikan yang hampir punah antara lain Tengkeleso (Shclerophages formosus). Rehabilitasi. Temparang (Macrothirictys microphirus). sebagai indikasi tidak adanya keseimbangan ekologi dari jenis yang ditanam dengan keadaan lingkungan. pendapatan asli daerah dan keseimbangan lingkungan.

informasi tentang kesehatan hutan dapat dimanfatkan untuk memperkirakan tingkat (kualitas) hutan yang pada gilirannya sangat penting untuk merespon keinginan pihakpihak yang berkepentingan. Bagi pembuat kebijakan. Kata kunci: Acacia mangium. bersifat mikroparasit terhadap patogen tanaman dan merupakan salah satu agen potensial yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati pada penyakit tanaman. Ridigoporus microporus.14) merupakan salah satu enzim yang paling efektif sebagai antifungi dan aktivitas litik dibanding dengan enzim kitinolitik yang lain. termasuk enzim kitinolitik dan glukanolitik. san Sclerotium rolfsii. SM FOREST HEALTH MONITORING DI HUTAN TANAMAN / SM Widyastuti. ekspresi dinding sel ekstraseluler dalam mendegradasi enzim diasumsikan merupakan bagian dari proses tersebut. Kata kunci: Forest Health Monitoring. DNA 134 . Rhizoctonia spp. Fungsi hutan yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya adalah menyediakan air. -.. Walaupun mekanisme mikroparasit belum diketahui sepenuhnya. bahan pulp serta dapat digunakan untuk tempat rekreasi. baik pada saat ini maupun masa yang akan datang. Jakarta 23 Nopember 2006 .2006 : Halaman 71-81 . Hutan tanaman. Halaman 33-39 . kayu perkakas. Fusarium sp. Seperti dilaporkan dalam sistem kitinolitik lain. Hutan tanaman Widyastuti. kayu bangunan. 2006 Dalam dasawarsa terakhir ini Forest Healts Monitoring (FHM) sering dibicarakan.reesei.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. seperti Ganoderma spp. sebagai pengendali hayati patogen busuk akar Ganoderma spp. Hutan Tanaman Widyastuti. maka akan dapat dihasilkan rencana strategis pengembangan hutan yang lestari dan lingkungan yang berkesinambungan. FHM penting dilakukan untuk mengetahui seberapa baik hutan dapat mendukung kehidupan manusia.2. Bagi para pengelola hutan. endokitinase (EC 3. -. 32-kDa enzim kitinase telah dimurnikan dan dikarakterisasi dari T. dapat secara efektif mampu menekan perkembangan fungi patogen secara in vitro dan eksperimen rumah kaca. Ganoderma spp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma spp. Akar merah. 2006 Makalah ini mendeskripsikan kemampuan Trichoderma sp. Banyak pihak yang dapat memanfaatkan informasi tentang kesehatan hutan. Hutan yang sehat juga berfungsi sebagai sumber bahan pangan dan sebagai paru-paru dunia. Akar putih. Filamen fungi trichoderma spp.Kata kunci: Ekologi. Uji coba mengenai kemampuan antagonistik isolat Trichoderma dalam menghambat fungi patogen pada beberapa tanaman. Apabila informasi tentang kesehatan hutan dipadukan dengan program penataan administrasi yang baik serta dukungan pakar yang berkomitmen tinggi terhadap masalah-masalah lingkungan. Penyakit akar putih. Pengendalian hayati pada patogen tanaman merupakan pendekatan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pertanian modern dan fungisida kimia yang dapat menyebabkan polusi lingkungan dan berkembangnya galur resisten. SM POTENSI ANTAGONISTIK FUNGI TRICHODERMA SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI TERHADAP FUNGI PATOGEN TULAR TANAH / SM Widyastuti. merupakan patogen busuk akar potensial yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada berbagai tipe hutan tanaman di Indonesia. Baru-baru ini. Vegetation management. habibat untuk wildlife..Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. FHM dapat dipakai sebagai dasar yang penting dalam pembuatan rencana strategis khususnya terkait dengan data perubahan kesehatan hutan. Bagi masyarakat informasi tentang kesehatan hutan yang diperoleh secara benar akan meningkatkan kesadaran dan peran serta mereka dalam ikut memanfaatkan hutan secara benar.1. Penyakit.

Masyarakat secara swadaya menanami lahannya yang terlantar (tidak produktif) dengan tanaman jati. 2000: 9. Jati mulai menarik perhatian masyarakat Kaur pada pertengahan dekade 90-an seiring dengan maraknya budidaya jati di berbagai lokasi. Hutan rawa air tawar didominasi oleh vegetasi pohon. Barikut adalah beberapa faktor yang memotivasi masyarakat untuk melakukan budidaya jati di Kaur: (1) Gambaran keuntungan ekonomi yang akan diperoleh. (2) Pasar kayu jati belum terbentuk dengan jelas. Danu EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR SEBAGAI TEMPAT PEMIJAHAN (Spawning ground) BAGI IKAN-IKAN PERAIRAN UMUM / Danu Wijaya dan Safran Makmur.63 cm dan 6.25 hektar berulangan untuk beberapa seri tahun tanam jati disajikan secara berturut-turut tahun tanam. 2006 Jati merupakan tanaman eksotis yang dibudidayakan oleh masyarakat Kaur. tanaman air dan tanaman semak lainnya.74 cm. 2006 Salah satu tipe ekosistem perairan umum yang khas adalah ekosistem hutan rawa air tawar. perdu. Pada tahun 2002. Halaman 61-67 .14 m.Wijaya. 1998: 11. -. Luas kepemilikan tanaman jati masyarakat sangat bervariasi antara 0.89 cm dan 6. Kondisi hutan rawa air tawar yang relatif lebih tenang dan banyak substrat atau tanaman mati yang merupakan media untuk menempelkan telur menjadikan hutan rawa air tawar sebagai daerah yang ideal untuk ikan-ikan yang bermigrasi untuk memijah. Hutan rawa.13 m. Penampakan kayu jati tersebut pada umumnya cukup baik tanpa gerowong dan cacat lain namun kayu tersebut belum berkembang dengan baik dan terlihat masih muda dengan kayu teras yang terlihat belum matang. Ikan Winarno. Perairan umum. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Hutan rawa air tawar mempunyai nilai ekologis yang penting karena pada saat musim hujan daerah tersebut merupakan tempat memijah (spawning ground) bagi banyak ikan termasuk beberapa jenis ikan berniali ekonomis seperti ikan Belida (Chitala lopis). Pemijahan. Kata kunci: Ekosistem. (2) Teknik budidaya jati mudah dikuasai dan sederhana. rerata diameter dan tinggi bebas cabang: 2002 : 7. Sebagian besar jati yang ada merupakan tanaman antara 1997-2001.71 cm dan 7.25-7 ha. Beberapa hal yang mendorong perkembangan budidaya jati di Bengkulu cenderung menurun adalah sebagai berikut: (1) Pertumbuhan dan perkembangan jati tergantung perawatan dan tempat tumbuh. 135 . Beberapa cara untuk pelestarian tersebut adalah dengan tidak melakukan penebangan liar. dan (4) untuk memenuhi kebutuhan kayu di masa depan. Hasil pengukuran potensi jati menggunakan plot ukur 0.25 cm. Tapa (Wallago leeri). BENGKULU / Bondan Winarno dan Edwin Martin. 1999: 13. Ekosistem hutan rawa air tawar biasanya terdapat pada Daerah Aliran Sungai bagian tengah. Peran dan fasilitas instansi pemerintah terkait terutama dinas kehutanan diperlukan dalam merespon perkembangan budidaya jati dan mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi di Kaur dari sisi teknis budidaya dan akses pasar.51 cm dan 5. minat masyarakat Kaur terhadap budidaya jati mulai berkurang. Hutan rawa.81 m. (4) mulai berkembangnya tanaman perkebunan yang dapat memberikan hasil lebih cepat dan kontiyu. 2001: 8. Spawning ground.25 cm dan 8. Pelestarian hutan rawa air tawar perlu dilakukan guna menjaga kelestarian dan produksi ikan terutama ikan-ikan bernilai ekonomis dan ekologis. (3) Budidaya jati secara monokultur tidak menyediakan ruang untuk budidaya jenis tanaman lain. Bondan PENGEMBANGAN JATI SEBAGAI TANAMAN EKSOTIS: PELAJARAN DARI MASYARAKAT KAUR. Air tawar. Hutan rawa air tawar menjadi tempat pemijahan ikan terutama pada waktu musim hujan. Baung (Mytus nemurus) dan Putak (Notopterus notopterus). Sebagian besar tanaman jati di Kaur belum memasuki masa panen namun ada sebagian tanaman yang berumur 12-15 tahun telah dipanen dengan diameter batang 20 cm . -.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 135-141 . Betutu (Oxyeleotris marmorata).90 m.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. (3) Memanfaatkan lahan terlantar yang tidak produktif. menjadikan daerah hutan rawa air tawar sebagai daerah reservat dan adanya peraturan penangkapan pada bulan-bulan tertentu terutama pada musim kawin atau musim pemijahan.

yaitu C-organik (2. yang ditunjukkan oleh jumlah spora CMA yang menurun selaras dengan meningkatnya kandungan P tersedia di dalam tanah. keragaman hayati dan dinamika populasi hutan rawa gambut. dalam penyelenggaraannya dilaksanakan oleh KPH dalam bentuk swakelola dan pemerintah dapat mendelegasikan pengelolaan hutan kepada Badan Usaha Milik Negara di bidang kehutanan.3.32). tercakup di dalamnya sistem lahan dan hidrologi. yang ditunjukkan dengan pH tanah yang masam (4. Tectona grandis Linn. Lahan milik. R. dan pembentukan KPH tersebut selanjutnya menjadi bagian dari penguatan sistem pengurusan hutan nasional. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari tersebut maka kawasan hutan dibagi kedalam kesatuan pengelolaan hutan (KPH). dari genus Glomus.Kata kunci: Jati. provinsi dan kabupaten/kota. Pengelolaan hutan rawa gambut merupakan usaha untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari.13%) P tersedia (498 ppm). Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan hutan yang meliputi tata hutan. sistem silvikultur serta faktor-faktor sosial ekonomi yang terkandung di dalamnya. Untuk itu pemerintah Provinsi Sumatera Selatan harus menentukan solusi kebijakan strategis pengelolaan hutan rawa gambut dengan mendasarkan pada data/informasi yang terkini. Rekayasa proses suksesi ekologi hutan rawa gambut yang dipercepat dengan mengakomodasi kepentingan sosial ekonomi sangat diperlukan. Untuk hubungan antara potensi CMA dengan sifat-sifat tanahnya sangat ditentukan oleh kandungan P tersedia. 136 . dengan jumlah 1288-2321 spora/50 g pada bulan kering dan pada bulan basah 1274-2163 spora/50 g tanah. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metoda tunggal berdasarkan letak topografi dan komposisi tumbuhan. penyusunan rencana pengelolaan hutan. Ishak HUBUNGAN POTENSI ANTARA CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA DAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAHAN KRITIS (The Relationship Hutan Tanaman : Vol. semak dan belukar. Di dalam petak berukuran 10 m x 10 m dibuat petak berukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan secara acak dan diulang sebanyak 3 kali. Mulyana Omon.99 me/100g). dan dua pertiga bagian di antaranya merupakan kawasan hutan dengan kondisi penutupan vegetasi sebagian kecil masih berupa hutan alam dan sebagian besar telah terombak menjadi padang rumput. 2006 Zulfikhar KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DENGAN POLA KPH DI PROVINSI SUMATERA SELATAN / Zulfikhar. Kaur.15%).115 . Halaman 107 . dan terjadi korelasi negatif antara jumlah spora dengan kandungan P tersedia. pemberdayaan masyarakat. 2006 Ekosistem lahan basah dan rawa gambut mencakup sepertiga bagian dari total wilayah Provinsi sumatera Selatan. Acaulospora dan Gigaspora. pemanfaatan hutan.44 me/g) dan KTK (8. karena proses suksesi hutan merupakan proses yang panjang sedangkan permasalahan sosial ekonomi memerlukan solusi yang segera. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat fisik dan kimia terhadap potensi CMA pada lahan kritis. K tersedia (0. Pada setiap kondisi topografi (puncak. -.2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah di lokasi penelitian secara umum tidak subur. Tanaman eksotis. Untuk itu diperlukan strategi metamorfosis yang terbimbing untuk menuju keseimbangan ekosistem hutan rawa gambut yang baru. Kalimantan Timur. rehabilitasi hutan dan reklamasi serta perlindungan hutan dan konservasi alam. Pemahaman terhadap landasan kebijakan yang ditetapkan pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan rawa gambut dan pola KPH merupakan titik masuk bagi para pihak untuk dapat mengkritisi dan memberikan saran solusi terhadap upaya mewujudkan pengelolaan hutan lestari serta antisipatif terhadap kemungkinan munculnya permasalahan yang lebih komplek sebagai dampak negatif atas kebijakan pengelolaan hutan rawa Between Arbuscular Mycorrhizal. Jumlah petak yang diamati seluruhnya sebanyak 3 x 5 x 3 = 45 buah petak.Fungi Potency and Soil Properties in Marginal Land)/ Ishak Yassir.Jurnal Penelitian Penelitian tentang hubungan antara Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada lahan kritis telah dilakukan di areal rehabilitasi Samboja Lestari Km 35. pemahaman yang memadai terhadap ekosistem hutan lahan basah dan rawa gambut. Kepadatan spora CMA cukup baik. kandungan N total (0. No. di mana pada setiap KPH dikelola oleh suatu Unit Organisasi KPH. lereng dan lembah) dibuat petak yang berukuran 10 m x 10 m masing-masing sebanyak 5 buah petak. bahan organik yang rendah sampai dengan sedang. Bengkulu Yassir. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 7-13 .

Kata kunci: Rawa gambut. Sumatera Selatan 137 . KPH. Hutan rawa gambut. Kebijakan.gambut dan dapat bermanfaat bagi para pihak sebagi acuan untuk mewujudkan pengelolaan hutan rawa gambut yang lebih baik di Propinsi Sumatera Selatan.

Pengambilan data dilakukan dengan sengaja berdasarkan ketinggian tempat tumbuh yaitu dataran rendah dan dataran tinggi dan dilakukan survey potensi bambu dan produknya serta wawancara dengan petani. dan harga serta jalinan kepercayaan antara produsen dan pembeli. Penelitian ini mencoba salah satu upaya pemanfaatan limbah dengan pembuatan arang bambu secara tradisional secara tumpuk timbun dengan menggunakan lima jenis bambu bahan baku industri sumpit yaitu bambu ampel.13 persen dan kadar zat terbang 18. dan gombong dan diuji kualitas arang yang dihasilkan menurut standar SNI. Potensi usaha Achmad. Soleh Mulyana. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mutu tapak dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan hasil dan menyediakan beberapa alternatif solusi untuk meminimalkan inefisiensi dalam pengelolaan hutan tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat bisa dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu penerapan sistem silvikultur yang tepat. 6 Desember 2005 . Kata kunci: Arang Bambu.89 ha yang mampu membangkitkan kreatifitas usaha sebagian masyarakat Tasikmalaya. 2006 Potensi bambu di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi yakni sekitar 2. -. 6 Desember 2005 . -.957 batang menempati luasan 7. 2005 Industri pembuatan sumpit sebagai salah satu upaya teknologi pemanfaatan bambu menghasilkan limbah yang cukup besar yaitu lebih kurang 65 persen yang perlu diupayakan pemanfaatannya agar menjadi produk yang bernilai tambah. Potensi Ekonomi. betung. Jenis yang paling banyak dijumpai adalah bambu tali. dan eksportir. Tasikmalaya Achmad.Achmad. bambu hitam. Halaman 96-111 . Bambu tumbuh hampir merata di wilayah Kabupaten Tasikmalaya tetapi kurang didukung dengan meratanya ketrampilan sumberdaya manusia (SDM) sehingga terjadilah ketidakseimbangan antara potensi SDA (sumber daya alam) dengan potensi SDM yang merupakan indikator bahwa potensi usaha bambu belum digali secara optimal. Kabupaten Tasikmalaya. pengrajin. dan Soleh Mulyanan.985. -. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai kemungkinan upaya peningkatan potensi pemanfaatan bambu melalui perluasan variasi produk dan penyertaan teknologi untuk meningkatkan mutu dan nilai tambah produk. 6 Desember 2005 . 2005 Pengelolaan hutan tanaman secara lestari bisa dicapai jika jatah tebang tahunan (AAC) tidak melebihi riap. dan Devy Priambodo Kuswantoro.1 ha/plot diukur diameter dan 138 .pengkelasan mutu dan pemanfaatan setiap bagian batang sesuai dengan potensi dan sifat dasarnya serta pemanfaatan limbah sebagai bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan dari proses produksi lain (interface).Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Halaman 175-184 . Devy Priambodo Kuswantoro. Propinsi Riau.945 kal/g.464. Penelitian ini dilaksanakan pada hutan tanaman Acacia mangium di Pasir Pangrayan.9 th dalam 50 plot dengan luasan 0. Halaman 164-174 . Input teknologi dan pemasaran menjadi faktor penentu disamping dukungan pemerintah. bambu surat. Data diolah secara deskriptif dan dilakukan analisis keuntungan antara produk konvensional (standar) dengan produk pengembangan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. tali.98 persen. Budiman KAJIAN POTENSI USAHA BAMBU RAKYAT DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. ater. Budiman ARANG BAMBU DARI LIMBAH INDUSTRI KERAJINAN: POTENSI EKONOMI YANG BELUM DIGALI DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. Kunci untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat terletak pada seberapa jauh upaya peningkatan mutu. kadar karbon terikat 74. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan jenis bambu menghasilkan nilai kualitas arang bambu yang sangat berbeda nyata. kekuatan desain. Tegakan umut 1 sampai 4. Kata kunci: Bambu. Budiman PENGELOLAAN TAPAK HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERDASARKAN DAUR EKONOMIS / Budiman Achmad. dan bambu temen. Limbah Kerajinan. Bambu tali sebagai bambu yang paling banyak digunakan untuk bahan baku sumpit ternyata menghasilkan kualitas arang bambu yang secara umum paling baik dibanding empat jenis bambu lainnya dengan besar nilai kalor 6.

Berdasarkan hal tersebut.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Tataniaga. 13 September 2005 . dan Devy Priambodo Kuswantoro. Tatausaha. demikian sebaliknya. dan IV dan kelas V kemudian disusunlah grafik CAI dan MAI. Sektor kehutanan dengan segala potensinya pernah tercatat sebagai sumber pendapatan negara terbesar nomor dua setelah minyak.kelas III. Sistem insentif yang efektif perlu dikembangkan dengan dukungan peraturan yang perencanaannya bersifat kolektif dan inovative sehingga mampu menimbulkan komitmen sukarela. Halaman 153-161 . dan wawancara dengan petani kayu dan pelaku usaha kayu untuk mengetahui interpretasinya terhadap tata usaha kayu rakyat. -. Namun saat ini dengan maraknya kasus illegal logging negara harus menerima kerugian mencapai Rp. Mutu Lahan Achmad. Untuk mendapatkan hasil optimal jumlah pohon yang ditanam harus mempertimbangkan mutu lahan. melakukan in-depth interview dengan responden ahli/kunci. Selain itu juga untuk mendapatkan alternatif penatausahaan kayu yang bisa menciptakan iklim usaha (market change) efektif dengan mempertimbangkan faktor kepraktisan dan kekhasan daerah tanpa mengorbankan efisiensi. Diharapkan dengan kebijakan tersebut kerugian negara akibat illegal logging dapat ditekan dan praktek illegal logging yang umumnya menggunakan proses lelang kayu sebagai modus pemutihan kayu hasil tebangan liar tersebut dapat dihilangkan. Isu kehutanan 139 . dan Kalimantan Timur.5 th. Hasil penelitian menunjukan bahwa siklus tebang paling optimal adalah 6.Semakin rendah mutu lahan. 2006 Hutan Rakyat merupakan alternatif yang semakin strategis untuk mengisi demand kayu yang semakin meningkat saat ini. 5. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui pola pemasaran dan kemungkinan pengembangannya sehingga persoalan yang terkait dengan in-efisiensi tataniaga bisa diminimalkan. Garut Alviya. sitaan. Perairan Riau.sebagaimana terlihat pada semakin sempitnya coverage relatif hutan di Kabupaten Garut yang tidak lebih dari 10 persen saja. perbatasan Papua. pada tanggal 13 Januari 2005 pemerintah telah mengesahkan tiga draft rancangan Peraturan Menteri Kehutanan tentang petunjuk pelaksanaan lelang kayu.5 th dan 5 th untuk berturut-turut klas II. dan rampasan. Kata kunci: Acacia mangium.2006 . Ada beberapa titik konsentrasi praktek penebangan liar serta penyelundupan kayu. 2005 Penebangan Liar (illegal logging) dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) merupakan salah satu dari lima kebijakan prioritas utama Departemen Kehutanan saat ini. Inovasi nilai harga kayu maupun peraturan belum tertangani sebagaimana diindikasi oleh kecilnya margin yang diterima petani bersamaan dengan image biroaktif pengurusan perizinan yang berlaku.III. nilai strategis baik yang tangible maupun intangible belum ditempatkan sesuai fungsinya dan belum dihargai secara proporsional.tingginya. Namun sistem pelaksanaan lelang tersebut belum berjalan secara efektif dan optimal sehingga menimbulkan kerugian bagi negara mencapai Rp.IV dan Klas V. Akan tetapi. Berdasarkan empat mutu tapak yang diperoleh yakni kelas II. yaitu perbatasan RIMalaysia di Kalimantan Barat. Kasus illegal logging ini terus meningkat akibat lemahnya kemampuan aparat penegak hukum sehingga tidak mampu membongkar sampai ke akar permasalahannya. semakin tinggi kerapatan pohon yang ditanam. Kata kunci: Kayu Rakyat. Hasil kajian mengindikasikan bahwa arus informasi pasar ke petani cukup terbuka diduga karena profesi ganda sebagai petani sayur dan kayu berimbas pada semakin luasnya jaringan bisnis sehingga petani telah mampu meluaskan pasarnya. Hutan Tanaman. Budiman KAJIAN IMPLEMENTASI TATAUSAHA DAN TATANIAGA KAYU RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN GARUT / Budiman Achmad. Halaman 85-96 . Kab.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 500 miliar/tahun. Iis ILLEGAL LOGGING: KAJIAN PERKEMBANGAN ISU KEHUTANAN / Iis Alviya. 6 th. -. Kendala lain yang lebih bersifat disinsentif bersumber dari peraturan tatausaha yang tidak bersifat khas dengan daerah dan kurang mengakomodir kepentingan seluruh stakeholder secara berimbang. Kajian dilakukan dengan pengumpulan peraturan-peraturan mengenai tata usaha kayu yang ada. Kata kunci: Illegal Logging. Soleh Mulyana. 30 triliun/ha. Selama ini telah berjalan proses lelang terhadap kayu hasil temuan.

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor penentu suatu rumah tangga petani penyadap getah pinus tergolong miskin. dan kebijakan dapat menghasilkan asimilasi dan/atau akulturasi budaya yang dapat berdampak negatif atau positif terhadap kelestarian sumberdaya hutan. Pemberantasan illegal logging melalui pendekatan keamanan telah dilakukan. yang ditujukan khususnya bagi masyarakat hukum adat yang daerahnya menghadapi tekanan illegal logging yang tinggi. Upaya mencegah dampak buruk yang lebih jauh dapat dilakukan melalui intervensi kebijakan mengijinkan produksi kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium diekspor. Halaman 109-116 .. Woro M. S. JAWA TENGAH (The Determinant factor of Pine Tapping Farmer Poverty in Somagede. Hukum Adat. Dalam kaitan ini.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. tetapi juga di hutan lindung dan hutan konservasi. Konservasi Cahyono. Untuk itu. Terdapat kekhawatiran yang luas terhadap harga kayu bulat yang terus rendah. Namun unsur-unsur hukum adat secara terus-menerus mengalami tekanan dari banyak aspek.Astana. menyebabkan terjadinya asimilasi dan/atau akulturasi budaya. Ini pada gilirannya akan menyebabkan pembangunan hutan tanaman mengalami stagnasi. Hutan Lindung. Halaman 4971 . Sifat hukum adat yang terbuka dan dapat berubah. namun hasilnya belum optimal. dampak kebijakan eksport kayu bulat perlu dikaji. dan Indartik. Ketersediaan unsur adat dan penegakan sanksi yang efektif bagi pelanggar. 6 Desember 2006 . 2005 Lemahnya penegakan hukum menyebabkan kegiatan illegal logging meluas bukan hanya terjadi di hutan produksi. merupakan suatu peluang hukum adat berperanan dalam upaya mencegah illegal logging. aspek ekonomi. Kebijakan ekspor Astana. Runggandini. -. 3) Kebijakan yang kurang kondusif. 2) aspek ekonomi. [et. Andy FAKTOR PENENTU KEMISKINAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI DESA SOMAGEDE. Kayu Bulat. Kenyataannya. harga kayu bulat yang rendah bukan hanya menyebabkan nilai pengembalian investasi dalam pembangunan hutan tanaman khususnya Acacia mangium lebih rendah dari harga kapital yang digunakan tetapi juga mencegah masuknya investasi baru. Upaya mencegah illegal logging melalui instrumen hukum adat. Diukur dengan surplus produsen dan konsumen. Model binary choice dengan fungsi logit 140 .]. kemiskinan pada masyarakat sekitar hutan harus dientaskan dan pemahaman terhadap faktor penentu atau penyebab kemiskinan menjadi penting.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Kata kunci: Acacia mangium. Metode survey dipergunakan untuk mengumpulkan data. Halaman 119 . 13 September 2005 . merupakan suatu tantangan yang perlu dicermati. Kebumen. Peningkatan kemiskinan akan berdampak pada perusakan sumberdaya hutan. Interaksi dengan budaya luar. Satria ANALISIS KEBIJAKAN EKSPOR KAYU BULAT DARI HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM / Satria Astana. KEBUMEN. Andy Cahyono .. -. 2006 Lambannya pembangunan hutan tanaman disebabkan oleh banyak faktor. hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan kriteria KaldorHicks dampak kebijakan eksport kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium tanpa atau dengan pengenaan pajak eksport non-prohibitive adalah lebih baik dibanding kebijakan larangan ekspor. Salah satunya adalah rendahnya harga kayu bulat dalam negeri akibat kebijakan larangan ekspor. C. 2006 Masyarakat sekitar hutan umumnya berada dalam kemiskinan dan keterbelakangan.al.2 . dalam pemanfaatan hutan yang lestari. antara lain: 1) intrusi budaya luar. Satria PERANAN HUKUM ADAT DALAM UPAYA MENCEGAH ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG DAN KONSERVASI: PELUANG DAN TANTANGAN/ Satria Astana. Kelembagaan masyarakat hukum adat di sekitar hutan lindung dan konservasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen sosial budaya yang efektif dalam upaya mencegah illegal logging. Central Java)/ S. Jumlah responden 30 keluarga/rumahtangga. Kata kunci: Illegal Logging. perlu dibarengi oleh kebijakan penguatan kelembagaan dan meningkatkan ekonomi secara konsisten. Pola jaringan illegal logging kapan saja dapat bangkit kembali dalam kehidupan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rentan dan lingkungan bisnis hutan yang tidak kondusif. agar efektif. -.

2 . pinus Cahyono. dan umur penyadap. S. 2006 Pendekatan pengelolaan DAS yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumberdaya alam di DAS. Namun imbal jasa non finansial seperti ketersediaan infrastruktur. Dalam implementasinya. Kata kunci: kegiatan. Nur Ainun Jariyah. Imbal jasa dapat berupa finansial maupun non finansial. 2006 Peningkatan pendapatan rumah tangga menentukan tingkat kesejahteraan keluarga dan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus. Pendekatan pengelolaan DAS yang menekankan pada jasa monofungsi DAS yang disederhanakan pada penanggulangan erosi sedimentasi perlu diubah dengan jasa multifungsi DAS baik tangible maupun intangible. Andy KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP GETAH PINUS DI DESA (Socio-Economic SOMAGEDE. Kebumen. Implikasi kebijakannya adalah peningkatan produktivitas getah pinus dan harga getah. -. dan produksi getah pinus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46. kualitas hidup lebih baik. Andy Cahyono dan Purwanto. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap pinus. yaitu pendapatan dari getah pinus. sedangkan 53. Penelitian ini merekomendasikan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga penyadap dilakukan dengan diversifikasi pendapatan di luar pinus dan peningkatan produktivitas getah. Imbal Jasa Characteristics Affecting Household Income of Pine Gum Taper: Case Study in Somagede. 2006 : Halaman 63-81 . Pendapatan rumah tangga dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pendapatan di luar sadap pinus dan peningkatan produktivitas pinus. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. serta diversifikasi sumber pendapatan diluar getah pinus. petani penyadap getah pinus. imbal jasa multifungsi DAS tergantung pada negosiasi. Kemiskinan rumahtangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi secara signifikan oleh beberapa faktor. produktivitas pinus. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik sosial ekonomi mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus. 141 . Andy IMBAL JASA MULTIFUNGSI DAS UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI / S. Kata kunci: DAS. JAWA TENGAH umur pinus. Sementara peluang keluar dari kondisi miskin akan semakin besar dengan meningkatnya pendapatan dari getah pinus. Yonky Indrajaya. kapasitas stakeholder dan kesepakatan serta kesepahaman para stakeholder untuk merealisasikannya. Untuk itu. Kata kunci: Kemiskinan.67% rumahtangga penyadap pinus termasuk dalam kategori miskin.dipergunakan untuk mengetahui faktor penentu atau penyebab kemiskinan pada rumah tangga petani penyadap getah pinus. KEBUMEN. Imbal jasa multifungsi DAS dapat dipergunakan sebagai mekanisme kompensasi dari pemanfaatan jasa multifungsi kepada penyedia jasa multifungsi untuk menjaga ketersediaan jasa yang dihasilkan. Halaman 147-159 . pendidikan. and Central Java) / S. dan pendapatan di luar getah pinus. kesehatan. Analisis data menggunakan persamaan regresi linier berganda pada peubah karakteristik sosial ekonomi yang diduga mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi nyata secara statistik oleh pendapatan dari luar getah pinus.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. Andy Cahyono.33% lainnya termasuk dalam kategori keluarga tidak miskin. pendapatan dari luar getah pinus. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. determinan kemiskinan. Metode survey dipergunakan pada penelitian ini dengan penarikan sampel menggunakan metode simple random sampling pada 30 orang petani responden. umur tegakan. S. pendapatan di luar penyadapan Cahyono. akses pada sumberdaya pada daerah penyedia jasa multifungsi akan lebih bermanfaat. Paper ini mengurai imbal jasa multifungsi DAS untuk mendukung pengelolaan DAS dan jasa implementasinya.

942. atau meningkat sebesar 25 persen per hektar. Sikap petani. Selanjutnya sikap tersebut tidak dipengaruhi karakteristiknya. Hutan Tanaman. lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kata kunci: Hutan Rakyat.2 persen secara mekanik dan manual. NPV adalah selisih antara manfaat (B) dengan biaya (C) yang telah didiskonto. 6 Desember 2005 .Hasil penelitian menunjukan bahwa pembangunan hutan tanaman mangium di Sumatera Selatan layak secara finansial maupun ekonomi.482. TASIKMALAYA.al). Nilai ini menunjukan bahwa keuntungan penambahan nilai karbon cukup signifikan dan menambah kelayakan pembuatan hutan tanaman. atau biaya mula-mula..(et. Begitu juga dengan NPV meningkat dari Rp. Deden ANALISIS EKONOMI PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM DI SUMATERA SELATAN / Deden Djaenudin. biaya proyek.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. lembaga usaha dan lembaga pemerintahan. Sekaligus perlu diketahui bagaimana apabila peranan penambahan nilai karbon ditambahkan dalam analisis kelayakan tersebut. Halaman 79-95 . 2005 Pembangunan hutan rakyat selama ini didukung berbagai lembaga seperti kelompok tani. CIAMIS.0 persen dan 26. 4. 2006 Bentuk pengembangan hutan rakyat di setiap wilayah akan berlainan dan memiliki kekhasan masing-masing. Petani. Kriteria ini mengatakan bahwa proyek akan dipilih apabila NPV proyek sama dengan nol.8 persen per hektar atau meningkat sebesar 5 persen.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. yaitu sikap yang positif terhadap kelompok tani. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. IRR adalah suatu tingkat bunga dimana seluruh arus kas bersih sesudah didiskonto sama jumlahnya dengan biaya investasi. sehingga bisa mengurangi permasalahan pengangguran dan penambahan sumber pendapatan masyarakat.-. Untuk itu perlu diketahui kelayakan finansial dan ekonomi pembangunan hutan tanaman untuk keperluan investasi pembangunan hutan. Dian KAJIAN SIKAP PETANI TERHADAP LEMBAGA PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT / Dian Diniyati dan Tri Sulistyati W. dan IRR.al) . meskipun sikap tersebut adakalanya tidak sesuai dengan harapan dari lembaga-lembaga yang mendukung pembangunan hutan rakyat. 2. Halaman 103-120 .. Selain itu pembuatan hutan tanaman secara manual juga lebih direkomendasikan karena melibatkan penggunaan tenaga kerja yang lebih besar. dengan IRR sebesar 25. 2006 Jenis tanaman yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman antara lain adalah Acacia mangium. Halaman 132-150 . Dian KONDISI DAN POTENSI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CILACAP. Net B/C. Kabupaten Garut dan Desa Werasari mempunyai kecenderungan sama.000 menjadi Rp.(et.000 per hektar. Dengan perkataan lain.Kontribusi peranan setiap lembaga tersebut ditunjukan oleh sikap petani.. IRR adalah suatu tingkat bunga yang menunjukan bahwa jumlah manfaat sekarang yang dihasilkan sama dengan total biaya sekarang yang dikeluarkan. karena menghasilkan IRR dan NPV yang lebih tinggi sebagai akibat dari biaya pembuatan yang lebih murah. 6 Desember 2005 .Djaenudin. Untuk itulah perlunya dilakukan kajian mengenai sikap petani terhadap lembaga pembangunan hutan rakyat yang dilakukan di Desa Cisitu. Garut Diniyati.500 per ton akan meningkatkan IRR dari 26. Analisis biaya pembuatan dan nilai hutan tanaman dilakukan dengan metode Benefit Cost Ratio dengan menggunakan program EXCEL. Terlihat bahwa penambahan nilai karbon sebesar Rp.2 persen menjadi 28. Sehingga diharapkan pembangunan hutan tanaman mangium bisa dilestarikan. sedangkan sikap terhadap LSM untuk Desa Cisitu netral dan Desa Werasari negatif. Analisis manfaat biaya dilakukan dengan menggunakan kriteria investasi NPV. lembaga usaha dan pemerintah.. Kata kunci: Acacia mangium. -. dan dapat dirumuskan sebagai berikut. Karena itu pembuatan hutan tanaman secara manual lebih menguntungkan daripada mekanik. WONOSOBO DAN KUNINGAN/ Dian Diniyati. 27. hal tersebut disebabkan kurangnya responden mengetahui dan merasakan manfaat langsung dari LSM. dengan tingkat suku bunga yang dipakai adalah 15 persen untuk suku bunga private (finansial) dan 20 persen untuk suku bunga sosial (ekonomi). namun masih memiliki persamaan 142 . Sumatera Selatan Diniyati. 6 Desember 2006 . Analisis Ekonomi.

Motivasi dilaksanakan kemitraan ini yaitu melindungi sumberdaya alam. untuk itulah maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan faktor pendukung terciptanya hutan rakyat serta peranan penyuluh terhada keberhasilan pembangunan hutan rakyat. GARUT DAN DESA WERASARI. Dari hasil kajian di lapangan diketahui bahwa pembangunan huatn rakyat terbagi atas tiga tipe yaitu: (1) secara kemitraan antara masyarakat dengan BUMN. selanjutnya data yang terkumpul dianalisa secara diskriptif.. Halaman 227-239 . 13 September 2005 . Kuningan Diniyati. Halaman 151-163 . melindungi aset negara dari perambahan. maka perlu dukungan dari semua pihak melalui kemitraan. untuk meningkatkan partisipatif dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga meningkat kemandiriannya dan pada akhirnya kesejahteraan akan tercapai. 6 Desember 2005 . Kata kunci: Hutan Rakyat. namun demikian tetap mempunyai persamaannya karena kegiatan hutan rakyat ini banyak dilakukan secara proyek. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan satistik deskriptif dan kemudian dianalisa sesuai dengan data yang diperoleh. menyediakan tambahan lapangan pekerjaan untuk masyarakat 143 . (3) serta kerjasama (kemitraan dengan pemerintah. serta bentuk pemanenan dan pemasaran. swadaya . teknologi yang digunakan masih sederhana. Dengan demikian peranan penyuluh kehutanan sangat tinggi pada pembangunan hutan rakyat ini. dengan kriteria adanya kegiatan kemitraan pada sektor hutan rakyat. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Garut dan Desa Werasari Majalengka pada bulan Agustus 2005. peningkatan kesejahteraan petani. MAJALENGKA / Dian Diniyati dan Eva Fauziah.BANTARUJEG. selanjutnya pada masing-masing kabupaten dipilih secara sengaja desa sebagai lokasi penelitian. -. budidaya hutan rakyat. Dengan pengelompokan persamaan pengembangan hutan rakyat setiap wilayah. 2005 Faktor pendukung terciptanya hutan rakyat pada satu lokasi sangat tergantung pada banyak hal dan berlainan sehingga akan tercipta hutan rakyat yang spesifik untuk setiap daerah. serta pemasaran. (2) swadaya yang dibagi menjadi dua tipe.Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk menyediakan paket informasi mengenai beberapa pola pengembangan dan pembangunan hutan rakyat. 2005 Beberapa faktor yang menjadi kendala yang dihadapi oleh petani dalam pengembangan dan pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah faktor modal. dan tipe pemilik tidak berada di lkasi hutan rakyat. letak topografi desa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan analisis petani pemilik dan penggarap hutan rakyat yang terlibat dalam kegiatan kemitraan. Garut. Dian HUTAN RAKYAT DAN PENYULUHAN KEHUTANAN: KASUS DI DESA CISITU. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tasikmalaya. Penyuluh Kehutanan.Penyuluh sebagai mitra petani pada pembangunan hutan rakyat masih perlu ditingkatkan. akan memudahkan untuk mengetahui permasalahannya. Bentuk-bentuk pengembangan hutan rakyat ini sangat mempengaruhi terhadap pemberdayaan masyarakat. teknologi tepat guna. seperti: jumlah tenaga yang kurang dan berubahnya fungsi penyuluh.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Agar keberhasilan pembangunan hutan rakyat dapat tetap terjamin.diantaranya: kehomogenan petani pemilik hutan rakyat. meningkatkan perfomance perusahaan. Kata kunci: Hutan Rakyat. dan ini berguna untuk menilai keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. Diharapkan dengan mengetahui persamaan dan permasalahan pengembangan hutan rakyat maka memudahkan dalam membuat kebijaksanaan untuk pengembangannya. Hasil dari kajian ini diketahui bahwa: kondisi hutan rakyatdi dua desa penelitian memiliki beberapa persamaan yaitu kondisi sosial petani. MALANGBONG. pemasaran dan kualitas sumberdaya manusia. Dian POLA KEMITRAAN UNTU MENDUKUNG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. Wonosobo. Cilacap. Tasikmalaya.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. diharapkan pembangunan hutan rakyat akan semakin tinggi sehingga pasokan kayu akan selalu terjamin keberadaannya. Ciamis. hal ini berkaitan dengan faktor pembatas.Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. walaupun dalam pemecahannya harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat. Ciamis dan Banjar pada bulan Nopember-Desember 2004. akan tetapi setiap kebijaksanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan lokasi. Majalengka Diniyati. dan kemitraan. yaitu tpe pemilik berada dekat lokasi hutan rakyat. fasilitas yang kurang memadai. -.

Metode kajian yang dilakukan adalah metode survey dan wawancara terhadap responden terpilih. Selanjutnya analisa data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Sedangkan pendapatan yang paling tinggi yaitu pola GNRHL. yaitu banyaknya industri yang memanfaatkan air yang berasal dari DAS tersebut. peluang dan ancaman dari kelompok tani sehingga dapat diramu strategi yang sesuai agar kelompok tani dapat mandiri dan berdayaguna bagi anggotannya. dalam perjalanannya banyak memiliki kelebihan dan kekurangan. Seperti pada aspek finansial banyak faktor yang tidak diperhitungkan yang menyebabkan keuntungan semu bagi petani. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut dan Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg. Kata kunci: Hutan Rakyat.2006 . Pendapatan. Hasil kajian untuk Desa Werasari adalah sebagai berikut. -. dan biaya yang paling besar dikeluarkan petani adalah untuk tenaga kerja pada seluruh pola pengembangan. dimana lembaga pendamping harus independen. Petani Ekawati. sedangkan kelemahan utamanya yaitu teknologi masih sangat tradisional. Halaman 51-64 . dan terakhir yaitu ancaman utama kepemilikan lahan yang sempit. Dini KAJIAN BIAYA DAN PENDAPATAN HUTAN RAKYAT YANG DIKELOLA PETANI PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. dengan demikian keuntungan yang diperoleh petani yang paling tinggi pada pola GNRHL. 2006 Sub DAS Cicatih merupakan DAS lokal yang mempunyai karakteristik sosial ekonomi yang unik. Responden adalah para pakar yang memahami tentang kelompok tani.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kata kunci: Sosial Forestry. Untuk itulah maka kajian ini diperlukan untuk mengetahui besarnya biaya dari pendapatan pada semua pola pengembangan hutan rakyat. Hasil kajian diperoleh bahwa komponen biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari: persiapan lahan. keamanan hutan dapat terjamin karena masyarakat turut melindungi. Pemberdayaan masyarakat Diniyati. penanaman. yang menjadi kekuatan utama yaitu memiliki lahan garapan.Kegiatan ini dilakukan di 4 desa yang dipilih secara acak pada bulan Agustus-Desember 2005. 2006 : Halaman 147-153 .disekitar hutan. sebagai mediator antara peserta mitra dengan instansi pelaksana mitra.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.2006 . 2006 Manajemen yang digunakan pada pengembangan hutan rakyat pada umumnya adalah manajemen pemiliknya baik itu untuk aspek budidaya maupun aspek finansial. diharapkan hasilnya dapat memberikan informasi sehingga dapat menarik minat petani untuk terus mengembangkan hutan rakyat. sedangkan peluang yang utama adanya dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung) dan ancaman yang utama yaitu kurangnya tenaga penyuluh di lapangan. Kata kunci: Hutan Rakyat.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Alat analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT. kelemahan. untuk itulah maka diperlukan kajian ini yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan. mencegah terjadinya okupasi lahan. sehingga tidak jarang hasil/keuntungan yang diterima petani masih jauh dari standar yang diharapkan. Halaman 119 . -. Kajian biaya. tenaga kerja dan pemanenan. Untuk mengembangkan kelompok tani perlu dicari strategi yang tepat. hal ini sangat dipengaruhi faktor dari luar dan lingkungan kelompok itu sendiri. sedangkan yang menjadi kelemahan utama tingkat pendidikan yang masih rendah. peluang utama yang dimiliki adalah adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan. 2006 Kelompok tani hutan rakyat merupakan perkumpulan para petani yang mengusahakan hutan rakyat. pemeliharaan.128 . adanya kepastian kawasan sehingga perencanaan dapat dilakukan dengan baik. Hasil pengolahan data diketahui kekuatan utama kelompok tani di Desa Cisitu adalah memiliki lahan garapan. -. Selanjutnya untuk lebih meningkatkan kegiatan kemitraan ini maka sebaiknya ada lembaga pendamping. Dian STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYATI / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. Pola Kemitraan. Kelompok Tani Diniyati. Sulistya KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS LOKAL: SEBAGAI WACANA DALAM PENGELOLAAN SUB DAS CICATIH / Sulistya Ekawati. Dari segi finansial seharusnya pengelolaan Sub DAS 144 . Kabupaten Majalengka.

Hubungan PPTPA dengan stakeholders lain pada dasarnya bersifat konsultatif dan koordinatif. Pelaksana pengelolaan DAS adalah semua stakeholders.006 ha yang terdiri dari kawasan hutan lindung (101. Pembagian peran (role sharing) dalam pengelolaan DAS adalah sebagai berikut: leading sector perencanaan jangka panjang DAS nasional dilakukan oleh Bappenas. 13 September 2005 . Kerjasama timbul apabila masing-masing pihak mempunyai tujuan yang sama dan pada saat yang sama mempunyai kesadaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. DAS Cicatih Ekawati. 2005 Prinsip dasar pengelolaan DAS terpadu adalah one river. Leading sector perencanaan jangka pendek oleh Bappeda kabupaten. semi kritis. Masing-masing stakeholders mempunyai kepentingan yang berbeda dan belum terjalin koordinasi diantara mereka. Hasil kerja PPTPA diserahkan kepada pihak regulator (Presiden. perencanaan jangka panjang DAS regional oleh Bappeda propinsi. untuk mengatur perilaku seluruh stakeholders agar sejalan dengan tujuan sosial yang telah disepakati bersama. Perencanaan disusun dengan melibatkan semua stakeholders sesuai dengan kewenangannya. -. DAS. Kedudukan PPTPA tersebut sebagai fasilitator diantara para pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS (operator/provider. Paimin.664 ha) dan kawasan hutan produksi (337. Bappeda kabupaten dan LSM. Konsepsi dasar rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat yang tepat di laksanakan dengan mengacu 145 .Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. dalam rangka pelaksanaan program rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat. Bupati/Walikota) sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan yang terkait dalam kegiatan pengelolaan DAS. khususnya untuk DAS-DAS lintas kabupaten dan lintas propinsi. Bentuk kelembagaan yang disarankan adalah PPTPA (Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air). Jenis lahan kritis dibedakan ke dalam 4 (empat) tingkat ke kritisan lahan yaitu potensial kritis. regulator/owner.Gubernur. user). Penetapan kebijakan tetap dilakukan pihak regulator. Halaman 23-30 . Agar sub DAS Cicatih terjaga kelestariannya diperlukan suatu kelembagaan. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) atau pengkajian desa secara cepat. Tugas pokok dari PPTPA adalah menyusun kebijakan rencana.koordinasi pelaksanaan dan memonitor serta mengevaluasi kegiatan pengelolaan DAS. dirumuskan dan disepakati bersama karena merupakan motivator untuk membentuk suatu kelompok sosial.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. Lokasi pengkajian didasarkan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki tingkat erosi terbesar antara lain DAS Cisadane dan DAS Ciujung yang ada di Jawa Barat. 2006 Issue lahan kritis dan lahan tidur di Jawa Barat telah muncul ke permukaan dan menjadi masalah ketika terjadi bencana alam berupa banjir dan kekeringan di tengah-tengah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek teknis dan sosial ekonomi rehabilitasi lahan kritis secara tidak terkendali. 1997). Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. Rachman KONSEPSI REHABILITASI LAHAN KRITIS DI JAWA BARAT / Rachman Effendi.652 ha.690 ha). -. Keanggotaan PPTPA juga harus terwakili oleh semua pihak. Kata kunci: Kelembagaan. Keduanya merupakan DAS nasional (lintas propinsi). Sylviani. Di masa otonomi daerah ada kecenderungan egoisme daerah dan egoisme sektoral. Semua stakeholders di tingkat pusat. Halaman 37-48 . DAS Progo Effendi.1 . Penelitian ini dilakukan di DAS Solo dan DAS Progo. dan Purwanto. Sulistya PEMBAGIAN PERAN (ROLE SHARING) DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI: STUDI KASUS DI DAS SOLO DAN DAS PROGO / Sulistya Ekawati. Role Sharing. oleh karena itu perlu dirumuskan pembagian peran (role sharing) pada semua stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan DAS. Bappeda propinsi dan LSM. Pengelolaan DAS. Leading sector monev pengelolaan DAS regional oleh Bappeda propinsi. Puslittanak. tetapi aplikasi di lapangan hal tersebut sulit dilakukan. Untuk itu kajian ini diharapkan dapat membantu dalam menemukan metode yang tepat melalui pemberdayaan masyarakat penerima manfaat (beneficiary) yang didasarkan pada budaya dan kearifan lokal. kritis dan sangat kritis dimana jumlah luas lahan kritis di Jawa Barat pada kawasan hutan mencapai 474. kawasan hutan konservasi (34. sehingga pengelolaan DAS dilakukan secara terfragmentasi. DAS Solo. Koordinasi antar daerah dan antar sektor belum berjalan dengan baik. Leading sector monev pengelolaan DAS nasional oleh Bappenas. one plan and multi management. propinsi dan kabupaten melakukan monev untuk sektornya masingmasing.Cicatih belum mempunyai kelembagaan yang mapan.

nilai ekonomi. Kuningan. Adapun Effendi. -. Kawasan Budidaya. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan. Selaras dengan persoalan tersebut. Pemilihan teknik budidaya dan jenis tanaman diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sesuai dengan lokasi dan jenis yang benilai ekonomi tinggi. Halaman 21-36 . penelitian bertujuan untuk mengkaji pola pemberdayaan masyarakat melalui Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) dan kemitraan serta efektifitasnya dalam mencegah illegal logging di kawasan hutan alam produksi. Halaman 197-204 .3 .Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 2005 Pola Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan sudah banyak dilakukan. 13 September 2005 . Untuk itu perlu adanya upaya perlindungan hutan dan lahan untuk memberikan peran optimal bagi lingkungan dan sosial 146 . sosial ekonomi masyarakat. Sylviani. dan Sumedang. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ketapang Propinsi Kalimantan Barat. Dari kabupaten tersebut ditentukan desa-desa yang berbatasan ataupun berada dalam kawasan hutan yang ada pola pemberdayaan dan tidak ada pola pemberdayaan. Kata kunci : Rehabilitasi Lahan Kritis. Rachman KAJIAN NILAI EKONOMI MANFAAT LOKAL HUTAN LINDUNG DI JAWA BARAT (LANDASAN TEORI) / Rachman effendi . Teknik rehabilitasi lahan di kawasan lindung yang terdiri dari kawasan hutan dan kawasan non hutan dilakukan melalui penghijauan untuk memperbaiki. banjir dan tanah longsor terutama di Kabupaten Garut. dimana di kabupaten tersebut kegiatan illegal logging marak dilakukan di hutan produksi alam terutama pada areal pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). hutan rakyat dan pertanian lahan basah. -. Besaran nilai ekonomi manfaat lokal sumber daya hutan (SDH) menunjukkan sejauh mana manfaat SDH.pada prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan model pendekatan kemitraan antara pemerintah. dimana rehabilitasi pada hutan produksi yang dibebani hak merupakan tanggungjawab pemegang hak atas tanah dan pada hutan produksi yang tidak dibebani hak merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Hal ini telah dirasakan dampak negatifnya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. hutan lindung Effendi. Kajian lebih difokuskan pada landasan teori nilai ekonomi manfaat lokal dari kawasan. sedangkan aspek sosek dilakukan melalui kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat dan pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dilakukan melalui pengembangan wanafarma. ekonomi masyarakat. Sosial Ekonomi. Kerifan Lokal. namun apakah efektif untuk mencegah illegal logging belum banyak diungkapkan. 2006 Degradasi hutan di propinsi Jawa Barat cukup tinggi akibat penebangan pohon legal maupun illegal secara berlebihan serta konversi menjadi lahan non-hutan. Tulisan ini mengkaji nilai ekonomi manfaat lokal hutan lindung dan kawasan konservasi di Jawa Barat. Diperkirakan tinggal 10% dari luas wilayah Jawa Barat yang masih berupa hutan tutupan. dunia usaha dan masyarakat. disamping itu bagi masyarakat dan kemungkinan peranannya terhadap sumber pendanaan bagi pengelolan SDH dan nilai tersebut dapat dijadikan dasar penetapan besaran pajak lingkungan yang dapat dikenakan. terutama air yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui seberapa besar jasa lingkungan yang dikorbankan dan tidak pernah diketahui besarnya. sedangkan selebihnya berupa tanah kosong yang tidak berfungsi lagi sebagai hutan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. baik masyarakat di sekitar hutan maupun di hilirnya antara lain kekeringan. Rapid Rural Appraisal (RRA). perlindungan hutan. Rachman KAJIAN EFEKTIVITAS POLA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN PRODUKSI DALAM MENCEGAH ILLEGAL LOGGING / Rachman Effendi dan Indah Bangsawan. Kawasan budidaya terdiri dari hutan produksi. Hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan harga hasil hutan sehingga mengurangi dampak negatif terhadap eksploitasi besarbesaran terhadap hutan Kata kunci : Degradasi hutan. Pemerintah pusat atau daerah dapat memberlakukan pajak lingkungan (green tax) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan konservasi. Kawasan Lindung. ekowisata. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis pada hutan rakyat dapat dilakukan dengan pola insentif untuk memberikan rangsangan terhadap kegiatan pengelolaan kawasan budidaya dan pola disinsentif membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan pengelolaan kawasan budidaya. memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal. agroforestry di kawasan hutan.

Pola kemitraan. memperhatikan waktu penanaman dan dilakukan pemeliharaan. Pola Swadaya.. konflik air..]. Kirsfianti Linda NILAI EKONOMI AIR DI SUB DAS KONTO DAN SUB DAS CIRASEA (The Economic Value of Water in Sub DAS Konto and Sub DAS Cirasea) / Kirsfianti Linda Ginoga . karena pada pola ini sudah diterapkan sistem silvikultur yang baik. Sedangkan pada pola kemitraan potensi kayu sengon belum dapat dihitung mengingat umur tanaman masih muda Kata kunci: Hutan rakyat. tetapi distribusi pendapatan pada pola kemitraan lebih merata dibanding dengan pola PMDH. Analisis ini menggunakan software Minitab versi 13. namun jenis dan jumlah pohonnya sangat bervariasi. hulu DAS Citarum.1 . (2) Distribusi pendapatan. Sengon. pola kemitraan dengan pemerintah maupun perhutani jenis tanamannya cenderung monokuler tetapi kondisi tegakannya bagus. hanya permasalahan selanjutnya bentuk pola kemitraan yang bagaimana dapat efektif untuk untuk mencegah illegal logging.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Analisis efektifitas dilakukan untuk masing-masing pola pemberdayaan (PMDH dan Kemitraan) dalam mencegah illegal logging dengan mengukur peubah-peubah yang berpengaruh terhadap pola pemberdayaan. serta merupakan sumber air utama untuk Perum Jasa Tirta (PJT) I dan PJT II yang merupakan BUMN pensuplai air terbesar di pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan nilai ekonomi air untuk manfaat hidrologis Sub DAS Konto. Sebaran kelas diameter dan sebaran kelas tinggi tegakan pada pola hutan rakyat adalah sengon. terutama polusi air permukaan. dan penurunan muka air tanah. Kondisi tegakan hutan rakyat pada pola pengembangan swadaya tipe pemilik dekat dengan lokasi hutan rakyat kurang bagus.740. demikian juga halnya pendapatan masyarakat dari illegal logging di desa yang berpola kemitraan lebih kecil dari pada di desa yang berpola PMDH baik bagi industri sawmill. 2006 Nilai ekonomi manfaat hidrologis yang dihasilkan hutan lindung belum diketahui secara luas. Pola Pemberdayaan Masyarakat Fauziyah. pola swadaya dan pola kemitraan. potensi sengon terbesar pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi. Untuk itu pemberdayaan masyarakat dengan pola kemitraan dapat terus dilaksanakan dalam upaya pemcegahan illegal logging. Sedangkan pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi hutan rakyat. 37.0.1 . Penelitian dilakukan di bagian hulu-tengah DAS Brantas. Metode yang digunakan adalah pendekatan biaya pengadaan. Kata kunci: Illegal Logging. yaitu di Sub DAS Konto. 76. (3) Penyerapan tenaga kerja. dan di Sub DAS Cirasea. Petani menjadikan hutan rakyat sebagai sumber mata pencaharian utama tetapi bibit yang ditanam berasal dari anakan alamiah yang tidak selalu tersedia sepanjang tahun sehingga penanaman tidak bisa dilakukan secara serentak. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan masyarakat tidak memberikan perbedaan yang berarti antara pemberdayaan masyarakat pola PMDH dengan Kemitraan.769. Halaman 59-74 . Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuisioner terhadap responden sebanyak 20% petani hutan rakyat yang ikut dalam kegiatan kemitraan dan dipilih secara sengaja. Penyerapan tenaga kerja pola kemitraan lebih besar dari pada pola PMDH.873. Tujuan dari kegiatan penelitian untuk mengetahui kondisi dan potensi hutan rakyat.Penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola kemitraan lebih kecil dari pada penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola PMDH. dan (4) substitusi usaha illegal logging.989/tahun. sehingga apresiasi terhadap hutan lindung masih rendah dan tekanan terhadap hutan lindung masih terus berlangsung. Eva KONDISI DAN POTENSI TEGAKAN PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN CIAMIS / Eva Fauziayah . -. 2006 Pola pengembangan hutan rakyat hingga saat ini terdiri dari pola subsidi (inpres. Karena itu. Dari beberapa pola pengembangan yang ada. yang mencerminkan nilai minimal manfaat ekonomi air yang dirasakan rumah tangga di hulu DAS yang langsung memanfaatkan air dari sumber mata air hutan lindung. padat karya). yang mengalirkan air ke waduk Selorejo.832/tahun dan Rp.data yang dikumpulkan berupa (1) Pendapatan masyarakat. [et. Potensi Kayu Ginoga.al. -. Lokasi ini dipilih karena merupakan DAS yang paling banyak memiliki permasalahan. Hutan Produksi. masing-masing sebesar Rp. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-ekonomi manfaat hidrologis air dari hutan lindung.512. nilai ini adalah nilai yang diberikan oleh 147 .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Dian diniyati. Halaman 41-60 . dan Sub DAS Cirasea. penebang kayu maupun pedagang/pengumpul kayu illegal. Pola pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dengan pola kemitraan lebih efektif dalam upaya pencegahan illegal logging dibanding dengan pola PMDH.

2006 Penguatan kelembagaan air dalam konteks DAS mensyaratkan apa yang disebut sebagai biaya transaksi (transaction cost) . dan tidak adanya ego sektoral antara pembuat kebijakan sehingga fungsi kawasan hutan lindung dan manfaatnya dapat dirasakan oleh pihak yang terkait baik di pusat dan daerah secara berkeadilan dan berkelanjutan. pusat-daerah. Kajian ini ingin menjawab bagaimana kebijakan dan peraturan perundangan menjawab permasalahan pengelolaan hutan lindung? Secara lebih khusus. dengan pengembangan koordinasi antar departemen. dimana peraturan tersebut mampu menunjukan adanya Sense of Crisis dalam pengelolaan hutan lindung. laju penurunan luas dan alih fungsi hutan lindung terus meningkat. penekanan kewenangan pengelolaan hutan lindung tetap pada pemda/BUMN/D. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Daerah Aliran Sungai (DAS). pendekatan biaya pengadaan. Biaya Pengelolaan. termasuk kelembagaan pusat dan daerah. akan tetapi arah kebijakan pengelolaan hutan lindung masih belum jelas. Penguatan kelembagaan seperti PPTPA diperlukan untuk mengurangi biaya transaksi dan mencapai kesepakatan multi stakeholders. Hidrologis. DAS Cicatih Ginoga. 13 September 2005 . dan antara satu daerah dengan daerah lainnya.keberadaan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea yang menghasilkan manfaat hidrologis terhadap rumah tangga.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Pembangunan hutan rakyat dalam bentuk agroforestry diyakini mampu lebih luas menjangkau kantung-kantung konservasi dan preservasi sumberdaya air. dan diperlukannya peraturan (PP atau Keppres) yang memuat perintah kebijakan pengembangan hutan lindung.Kirsfianti BIAYA TRANSAKSI PENGELOLAAN DAS PERSPEKTIF UNTUK SUB DAS CICATIH / Kirsfianti Ginoga. Kirsfianti KONTROVERSI KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG / Kirsfianti Ginoga. Halaman 77-96 . -. Sulistya Ekawati dan Deden Djaenudin. Karena itu kajian ini menyarankan perlunya kebijakan yang jelas dan terarah antara yang dilarang dan dibolehkan. kesamaan persepsi tentang istilah yang berkaitan dengan kawasan hutan lindung. Kata kunci: DAS. tidak adanya dualisme antara kebijakan. Ginoga. Secara konseptual. tidak adanya overlapping antara kebijakan. tetapi kebijakan hutan lindung belum memberikan kepastian arah yang berati.. 2005 Permasalahan hutan lindung Indonesia sudah sangat kritis. mengetahui kondisi hutan lindung saat ini. kajian bertujuan untuk mengkaji konsistensi dan sikronisasi kebijakan tersebut. dan merekomendasikan kebijakan pengelolaan hutan lindung yang diperlukan untuk mencapai pembangunan hutan lindung yang berkelanjutan. yang harus ditindaklanjuti oleh departemen sektoral. Pengelolaan 148 . 2006 : Halaman 43-53 . disatu sisi perlu dikonservasi tetapi di sisi lain masih dapat dibudidayakan.Kesepakatan dalam kelembagaan DAS akan tercapai apabila biaya transaksi yang ditimbulkan dari aransemen kelembagaan lebih rendah dari manfaat yang dirasakan bagi setiap stakeholder dalam pengelolaan DAS.. Hasil perhitungan nilai ekonomi air dari manfaat hidrologis yang dihasilkan sebagai fungsi dari keberadaan kawasan hutan lindung di Sub DAS Brantas dan Sub DAS Cirasea ini. kinerja PPTPA dapat ditingkatkan apabila tidak mengandalkan pengelolaan air saja. Keberadaan hutan lindung menurut peraturan peraturan perundangan masih dilematis. Kata kunci : Nilai ekonomi. hanya sebagian kecil dari nilai ekonomi air total yang dikandung oleh kawasan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea karena masih banyak pengguna-pengguna air lain yang lebih besar seiring dengan mengalirnya air. termasuk yang mengancam kelestarian kawasannya. Hambatan kelembagaan sumberdaya air dapat diatasi apabila komitmen terhadap kesepakatan dapat ditingkatkan melalui penyebaran biaya dan manfaat yang lebih merata. Hutan Lindung. sekaligus mengurangi kemungkinan tingginya biaya transaksi.al) . Paling tidak terdapat 84 peraturan yang berkaitan dengan hutan lindung. Secara khusus diperlukan peraturan perundangan yang mengatur aspek kelembagaan hutan lindung.(et. Kata kunci: Hutan Lindung.

MHP MUARA ENIM / Ismatul Hakim. Ngaloken Gintings. proyek. monolog. Kelemahan yang juga sering terjadi adalah pengertian hutan yang tidak sama bagi masyarakat. TATA AIR.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. HTI. monolog. Oleh karena itu. 2006 : Halaman 55-61 . Akan tetapi kedua pola ini sudah menunjukan kemajuan besar dalam pembangunan dan pengelolaan hutan dimana pihak pengelola utamanya sudah banyak melibatkan banyak pihak terkait (stakeholders) dan memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan masyarakat dan pedesaan. Sejak awal kita harus berani memulai menerapkan berbagai alternatif model Social Forestry yang merupakan hasil optimal kombinasi berbagai pertimbangan aspek teknologi. aspek manajemen dan aspek sosial budaya (kelembagaan) masyarakat setempat yang bersifat lokal spesifik dan dinamis dari sudut ruang dan waktu. DAS Cicatih Hakim. PHBM. Pendekatan adaptif seperti ini yang diharapkan mampu mencapai cita-cita ideal dari konsep Social Forestry dalam pengelolaan hutan. target. Konsultasi Multipihak. kaku dan statis telah menjadi penyebab kegagalan kita dalam mencapai cita-cita Hutan Lestari Rakyat Sejahtera. A. PHBM. Beberapa pendekatan yang melibatkan para pihak seperti Rapid Rural Appraisal (RRA). Ismatul KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN HUTAN DENGAN PENDEKATAN SOCIAL FORESTRY: STUDI KASUS POLA PHBM DI KHDTK CARITA DAN POLA MHBM DAN MHR DI AREAL HTI PT. Kata kunci: Social Forestry. Musi Hutan Persada (MHP) masih bernuansa pendekatan struktural-kuantitatif dari atas ke bawah. Bagaimana peran hutan dalam mengatur tata air dan bagaimana kelestarian DAS Cicatih dapat dicapai akan dibahas dalam tulisan ini. PT. Hanya dengan menerapkan berbagai model Social Forestry dalam pengelolaan lahan dan hutan dengan variasi aspek teknologi. orientasi. Tata Air.Musi Hutan Persada 149 . pendekatan yang bersifat kultural-kuantitatif merupakan sebuah konsekwensi logis yang harus dterapkan di masa mendatang. aspek manajemen dan aspek sosial budaya kelembagaan pada tingkat mikro. proyek.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Kita tidak memerlukan pendekatan arogansi birokrasi dan kekuasaan yang tersembunyi di balik istilah negara. MHR. Participatory Rural Appraisal (PRA) dan workshops yang melibatkan semua pihak terkait dapat memberikan masukan kebijakan dan langkah yang tepat dalam membangun model-model Social Foestry dan menerapkannya di lapangan. kaku. Ngaloken HUTAN. Pada akhir-akhir ini peran hutan tersebut sering menjadi perdebatan yang kontraversial karena dilakukan pada luasan yang relatif kecil. kita dapat membangun kelembagaan yang kuat di masyarakat dimana masyarakat menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat dalam membangun hutan lestari yang masih ada dan merehabilitasi hutan dan lahan yang sudah rusak.statis. 13 September 2005 . Kata kunci: DAS. Bukti-bukti bahwa di areal yang hutannya lebat juga pernah terjadi banjir dapat dimengerti tapi frekuensi banjir di daerah yang tidak berhutan akan lebih banyak dibanding dengan daerah yang berhutan. Tanaman hutan yang berada di daerah yang miring dan dibawahnya ditanami ubi kayu akan mendatangkan erosi yang cukup besar di musim penghujan. Demikian juga peran tanaman sejenis dalam mengatur kesuburan tanah dan tata air akan lebih kecil dibanding dengan kawasan yang hutannya merupakan tanaman campuran dengan tajuk berlapis. DAN KELESTARIAN DAS CICATIH / A. Halaman 115-138 . 2005 Pendekatan pembangunan kehutanan selama ini yang bersifat strukturalkuantitatif. dengan memisahkan negara dari rakyatnya sendiri karena justru rakyat lebih banyak berhasil mengelola lahan miliknya menjadi Hutan Rakyat. Pola pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat (PHBM) oleh Perum Perhutani di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita dan pola mengelola hutan bersama masyarakat (MHBM) dan pola mengelola hutan rakyat (MHR) di kawasan produksi HTI Muara Enim oleh PT.Gintings. meskipun masyarakat sudah lebih banyak berperan dan memperoleh manfaat. 2006 Peran hutan dalam menjaga kesuburan tanah dan mengatur tata air dalam suatu DAS sudah banyak dibuktikan. dan orientasi jangka pendek. Model pengelolaan kawasan hutan ke depan harus merupakan model adaptif dalam bentuk pendekatan yang konprehensif. KHDTK Carita. -. -. berorientasi target.

DPRD. PROPINSI BANTEN / Ismatul Hakim. sehingga merupakan social capital penting bagi penguatan kelembagaan sektor kehutanan ke depan. Halaman 22-42 . Pengaturan yang berbelit belit terhadap peredaran dan pemasaran hasil kayu dari masyarakat akan menjadi disincentive bahkan distorsi dalam menumbuhkan budaya menanam pohon di masyarakat. Kata kunci: Hutan Rakyat. Lembaga atau Organisasi Kemasyarakatan maupun kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam hutan dan lahan dalam membuat peraturan perundangan dan kebijakan seperti PERDA. segi pengaturan tata iklim dan cuaca (udara) atau Clean Development Mechanisms (CDM). RAPERDA/PERDA yang diajukan harus sejalan dengan isi dan substansi yang ada dalam peraturan perundangan tersebut termasuk 5 (lima) prioritas program yang sudah dicanangkan oleh Departemen Kehutanan yaitu prioritas program pembangunan kehutanan terdiri dari : (1) pemberatasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal. khususnya industri kehutanan. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan berbagai peraturan operasional di bawahnya. -. Social Capital Hakim. Peraturan Bupati. Hutan Rakyat di beberapa daerah di Pulau Jawa seperti di Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten. Untuk memperkuat pola dan kelembagaan pengelolaan Hutan Rakyat secara lestari. (4) pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan. 2006 Peranan hutan sebagai kawasan maupun sebagai tutupan vegetasi masyarakat pepohonan pada sebuah hamparan lahan sangat penting dalam mendukung kelestarian ekositem suatu daerah baik dari segi penataan air (hidro-orologis). segi pegaturan sosial ekonomi dan segi pertahanan sosial budaya masyarakat setempat. pengaturan kelembagaan usaha di tingkat petani dalam bentuk Kelompk Tani. Isi dan kandungan daripada PERDA bidang kehutanan harus menampung dan menyerap berbagai permasalahan dan potensi aktual yang terjadi di tingkat kebijakan dan tingkat operasional lapangan baik horizontal maupun vertikal.2006 . Halaman 109-118 . maka para pihak di daerah harus dapat memahami berbagai peraturan perundangan terkait seperti Undang-undang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya No: 5 tahun 1990 dan Undang-undang Pokok Kehutanan No. Surat Keputusan Bupati. Disamping itu. dan (5) pemantapan kawasan hutan. (3) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan. kesempatan usaha. 2006 Hutan rakyat yang tumbuh di Indonesia khususnya di Pulau Jawa merupakan hasil perpaduan antara budaya lokal/tradisional masyarakat/petani dalam menanam pohon dengan budaya baru yang mengandung muatan teknologi dan manajemen pohon yang lebih berorientasi pasar dan industri. yang jelas masyarakat/petani sudah dapat meghasilkan kayu yang berasal dari lahan miliknya sendiri dan dikelola dengan modal sendiri.2006 .Hakim. Pandangan dan pemahaman yang sama dari pihak Pemerintah Daerah atau Pemerintah Propinsi dengan 150 . -. Peraturan Pemerintah. Peran dan fungsi hutan dalam bentuk kawasan tetap dan tutupan vegetasi hutan di kabupaten Pandeglang propinsi Banten seharusnya dapat dipahami secara tepat dan benar oleh semua pihak baik pemerintah (PEMDA. Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat dan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah telah mampu mendorong pertumbuhan kesempatan kerja. BUMD. meningkatkan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kelompok Usaha Bersama Ekonomi (KUBE dan Koperasi Tani) yang benar-benar tumbuh dan diciptakan dari masyarakat sendiri secara alami agar bisa lebih berdaya. Surat Keputusan Kepala Dinas lainnya. Swasta). dunia usaha (BUMN. 41 tahun 1999. dan pihak terkait lainnya). perlu adanya dukungan kebijakan.Adanya pertumbuhan budaya menanam yang demikian tinggi seperti Hutan Rakyat di masyarakat ini harus terus ditumbuhkembangkan oleh pemerintah dengan memberikan dorongan insentif dan kemudahan bagi pengembangan Hutan Rakyat di masa mendatang.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Dalam konteks desentralisasi sektor kehutanan di daerah. Ismatul PENGUATAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT: SEBUAH SOCIAL CAPITAL BAGI MASA DEPAN KEHUTANAN INDONESIA / Ismatul Hakim. Perguruan Tinggi. Istilah Hutan Rakyat masih erupakan rekayasa dari atas yang tidak dikenal masyarakat. Ismatul KAJIAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM KONTEKS DESENTRALISASI : STUDI KASUS DI KABUPATEN PANDEGLANG. (2) revitalisasi sektor kehutanan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.

1987). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengelolaan hutan rakyat dilakukan dalam bentuk monokultur tanpa tanaman pendamping. Dalam tulisan ini juga diberikan contoh aplikasi simulasi (model) hidrologi dikaitkan dengan penutupan/penggunaan lahan sehingga dapat diketahui pengaruh perubahan penutupan/penggunaan lahan terhadap perubahan hasil air DAS. beberapa tujuan penggunaannya dan manfaat yang diperoleh. Dengan pemahaman yang sama dan dukungan yang kuat antara semua pihak terkait dalam proses penyusunan sebuah perangkat peraturan dan perundangan seperti PERDA bidang/sektor kehutanan akan melahirkan komitmen dan tanggung jawab yang kuat semua dalam pencapaian misi dan visi serta penerapan substansi penguatan sektor kehutanan di daerah. Pandeglang. Banten Handayani. padahal dampak yang ditimbulkan mengikuti batas alam/ekosistemnya yang tidak mengenal batas administrasi. 2006 : Halaman 123-143 . Pengelolaan DAS adalah pengelolaan berbagai sumberdaya alam yang terdapat di dalam satuan DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi budaya yang berkembang di dalam DAS. 2006 Penelitian ini dilakukan terhadap anggota Kelompok Tani Hutan ”Bulu Dua” yang mengelola hutan rakyat di Desa Lasiwala. sistem biologis dan sistem manusia. integrasi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Dengan demikian pengelolaan DAS dapat ditinjau dari sudut pandang fisik maupun institusi sehingga kegiatan dan kebijakan pengelolaan DAS yang perlu ditempuh tidak hanya mendasarkan pada indikator fisik.pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan akan mampu mendorong kemantapan sektor kehutanan di daerah secara sinergis antara para pihak di daerah. tetapi keberhasilannya sangat didukung oleh adanya kelembagaan untu mewujudkan koordinasi. -. Tulisan ini akan memberikan gambaran penggunaan simulasi hidrologi dalam perencanaan pengelolaan DAS. sinkronisasi. sehingga dapat dicapai pengelolaan yang rasional untuk mencapai keuntungan optimal yaitu dalam waktu tak terbatas dan resiko kerusakan minimal.1 . dan Sinergi. Data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasi. umumnya menjadi obyek atau sasaran fisik alamiah. jambu mete dan kelapa. dan air. Kecamatan Pitu Riawa Provinsi Sulawesi Selatan. dianalisis dan dibahas dengan metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. menjadikan pengelolaan DAS merupakan pendekatan yang penting dalam perencanaan pembangunan wilayah. Hidrolologi adalah indikator yang sangat signifikan untuk mengetahui adanya degradasi DAS seperti terjadinya erosi. Pendayagunaan salah satu atau beberapa unsur/komponen akan mempengaruhi komponen lainnya di dalam DAS dan dapat menimbulkan perubahan dari keadaan alaminya sehingga terjadi gangguan keseimbangan atau gangguan ekologis yang menunjukan terjadinya degradasi DAS. Namun pendekatan pengelolaan DAS dalam perencanaan pembangunan wilayah masih belum populer/jarang digunakan dibanding pendekatan lainnya. Nur POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Nur Hayati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengelolaan lahan kritis bersama masyarakat pada areal hutan rakyat. Halaman 13-21 . 2006 Ketertarikan komponen biofisik DAS dan kepentingan ekonomi wilayah. 2005). Perencanaan pengelolaan DAS Hayati. Wuri PENDEKATAN SIMULASI HIDROLOGI DALAM PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS / Wuri Handayani dan Gunardjo Tjakrawarsa. Kata kunci: Kebijakan Kehutanan. vegetasi. Desentralisasi. dan setiap sub sistem saling berinteraksi (Kartodihardjo. kab. Anggota kelompok tani pada umumnya mempunyai kebun di luar kawasan hutan Gmelina yang dikelola secara terpisah berupa kebun coklat. Untuk menambah sumber pendapatan selain dari sektor kehutanan. rata-rata petani memiliki lahan pertanian atau empang ikan yang dikelola secara terpisah di luar kawasan hutan rakyat atau bekerja di luar sektor kehutanan dan Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) / 151 . Hidrologi. Daerah Aliran Sungai merupakan megasistem kompleks yang terbangun atas sistem fisik. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. sedangkan manusia menjadi subyek atau pelaku pendayagunaan unsur-unsur tersebut (Murtilaksono. Pemanfaatan sumberdaya alam sebagai input pembangunan wilayah pada masa kini masih lebih banyak menekankan pada batas-batas yang bersifat politis atau administratif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner. Unsur penyusun sistem di dalam DAS tersebut antara lain berupa sumberdaya alam seperti tanah. longsor dan sedimentasi serta distribusi aliran yang tidak seimbang/merata (timbulnya banjir dan kekeringan). Kata kunci: DAS.

Meminimalisasi pihak-pihak yang terlibat dalam GERHAN. Dampak lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya program hutan rakyat adalah lingkungan (iklim mikro) yang lebih baik. 2005 Kebijakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) bertujuan untuk menanggulangi dan mengurangi laju penambahan lahan kritis. tulisan ini mencoba untuk menggambarkan tentang bagaimana pola kemitraan yang telah dilakukan dan apa saja kebijakan yang dapat ditelurkan agar proses kemitraan ini dapat terus berlanjut. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. dan usaha kecil/koperasi. Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. 6 Desember 2006 . dalam hal ini Dinas Kehutanan Kabupaten Sidrap. Adanya wadah kelompok tani ini semakin mempermudah pemerintah daerah. lahan kritis Hendarto. hal ini dapat diteruskan karena masing-masing daerah mempunyai ciri karakteristik yang berbeda. Kemitraan Pengelolaan Hendarto. Pendanaan untuk inventarisasi dan identifikasi sosekbud masyarakat dan perencanaan teknis dapat disalurkan minimal pada tahun T-1. Halaman 63-77 . Mengambil contoh pengelolaan Hutan Tanaman Industri. yaitu Pemerintah swasta. Struktur organisasi kelompok tani termasuk dalam kategori organisasi modern. Kepastian jumlah dan waktu penyerahan bibit dari BPDAS agar pasti sehingga dapat memudahkan merencanakan kegiatan. Seandainya memungkinkan. Kresno Agus MENINGKATKAN KEMITRAAN PENGELOLAAN DALAM HUTAN TANAMAN INDUSTRI: BEBERAPA KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN/ Kresno Agus Hendarto dan Krisdianto. tidak ada tanah gersang dan lahan kering yang berupa alang-alang. Halaman 161169 . kejelasan setelah kegiatan proyek selesai. Namun demikian ada beberapa kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang masih belum sinkron dan terintegrasi dengan kebijakan GERHAN. Sedangkan untuk daerah yang telah membuat Peraturan Turunan dari peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. maka turunnya dana sebaiknya pada awal tahun anggaran. serta standar biaya antara satu daerah dengan daerah lainnyapun menentukan baik tidaknya kegiatan rehabilitasi. Kemitraan dilakukan antara pengusaha besar dan kecil. Kata kunci : pengelolaan. agar rantai birokrasinya lebih pendek. bibit juga diusahakan oleh daerah. waktu yang sesuai. Kresno Agus KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kresno Agus.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Selain itu secara keseluruhan. Kebijakan 152 . antara yang kuat dan yang lemah. Rehabilitasi lahan. Salah satu upaya yang dianggap tepat dalam memecahkan masalah ini adalah dengan melalui kemitraan.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 2006 Ada tiga pilar pelaku ekonomi yang diamanatkan di UUD 1945. untuk tahun-tahun ke depan selain penanaman dilakukan oleh daerah. erosi dan tanah longsor. hutan rakyat.pertanian. 13 September 2005 . -. untuk melakukan koordinasi dengan para petani khususnya dalam melakukan pembinaan. BP DAS Jeneberang Walanae dan LSM Yagrobitama. tetapi menguasai 70 persen Produk Domestik Bruto. perencanaan dan prioritas lokasi perlu diperhatikan. Oleh karena itu kajian kebijakan pemerintah tentang rehabilitasi hutan dan lahan sangat diperlukan. Hasil penelitian di Propinsi Kalimantan Tengah menunjukan bahwa untuk daerah-daerah (Kabupaten dan Kota) yang tidak membuat Peraturan Turunan dari Peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. -. Hasil sensus ekonomi tahap III menunjukan bahwa pengusaha besar jumlahnya di bawah 1 persen.

yaitu darat dan air.000. Kelompok selatan adalah illegal logging yang dilakukan oleh masyarakat di luar masyarakat adat secara individual atau berkelompok. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan petani/kelompok tani pemungut/pengumpul. dan (3) Upaya-upaya apa yang telah dilakukan untuk mencegah praktek illegal logging?. Dari hasil penelitian tersebut. faktor hukum dan 153 . dan dengan analisis studi kasus deskriptif.000. 2) Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya illegal logging?... -. Kegiatan illegal logging saat ini marak terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu dan mulai mengancam kawasan konservasi Taman Nasional Betung Kerihun. -.per bulan. (2) Pelaku illegal logging. 3. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pola praktek illegal logging di TNBK. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya illegal logging adalah akibat kombinasi faktor sosial ekonomi (kemiskinan mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya hutan). Kelembagaan Hidayat. Dodi Frianto.2 . Illegal logging adalah logging atau penebangan kayu di Taman Nasional atau kawasan konservasi lain.000 – Rp. 2005 Dengan kata yang ringkas. dan (3) Sistem jual beli. dan mampu menghasilkan pendapatan Rp.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor.200.per bulan. kegiatan pemungutan memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pemungut dan pemungutan yang dilakukan sangat memperhatikan kelestarian terutama yang dilakukan oleh masyarakat adat (Suku Kubu) Kata kunci : rotan.. yaitu sistem penjualan langsung (cash and carry) dan sistem ijon (rentenir). Sedangkan yang dimaksud kelompok utara adalah kelompok masyarakat dalam bentuk badan usaha (koperasi) yang memiliki ijin HPHH 100 ha. 2006 Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sebagai salah satu taman nasional dengan areal yang cukup luas (800. khususnya Provinsi Kalimantan Barat.Hendarto. 2. Mengambil lokasi di propinsi Riau. Perkembangan lanjut dari praktek illegal logging ini dalam praktek jual beli dikenal 2 sistem. Kayu hasil illegal logging biasanya dilempar keluar untuk menghindari pencekkan dan kontrol. pemungutan.000. Halaman 189-196 . Kata kunci: Illegal Logging. Aneka Prawesti Suka. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola dan aspek-aspek pemungutan rotan pada dua kelompok pemungut yaitu masyarakat biasa dan masyarakat adat/Kubu yang dikenal dengan sebutan Suku Kubu. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kegiatan illegal logging memberikan dampak perubahan terhadap peran lembaga sosial yang ada di lokasi illegal logging. 13 September 2005 . Hasil pembahasan memperlihatkan pola illegal logging di TNBK dibedakan berdasarkan : (1) Jalur pengangkutan kayu. Halaman 75-85 . Berdasarkan pelaku illegal logging dibagi 2 kelompok.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Halaman 91-107 . Sedangkan pada Suku Kubu pemungutan dilakukan secara berkelompok. Kresno Agus POTRET ILLEGAL LOGGING DI PROPINSI RIAU: STUDI KASUS PERUBAHAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DAN LEMBAGA EKONOMI DESA / Kresno Agus Hendarto dan Aneka Prawesti Suka. tanpa ijin dari pemerintah (yang oleh negara diserahi tanggung jawab untuk mengurus).Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. yaitu kelompok selatan dan utara. Pengujian faktor dominan dilakukan dengan metode ”one pair comparasion” Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya perbedaan beberapa aspek penelitian pada dua kelompok pemungut. tulisan ini memcoba memberi gambaran singkat/memotret dampak dari kegiatan illegal logging terhadap perubahan peran kelembagaan yang ada.000 – Rp.2 .200. Propinsi Riau. Henti Hendalastuti R. Asep ANALISIS PEMUNGUTAN ROTAN PADA DUA KELOMPOK MASYARAKAT PEMUNGUT (analysis of rattan Collection on Two Group Collector)/ Asep Hidayat. merupakan pekerjaan utama bersama-sama dengan pengumpulan hasil hutan non kayu lainnya.000 Ha) memiliki nilai penting dan fungsi yang sangat strategis dalam mendukung sistem penyangga kehidupan serta mendukung pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. kelompok pemungut Indartik ILLEGAL LOGGING DI TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK) DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI/ Indartik. Rute darat terbagi menjadi jalur utara (Malaysia) dan jalur selatan (Pontianak). Berdasarkan jalur pengangkutan kayu dibedakan dalam 2 jalur. Pada masyarakat biasa pemungutan rotan dilakukan secara individual. menggunakan metode sample bertujuan. umumnya berstatus sebagai pekerjaan sampingan dan mampu menghasilkan pendapatan Rp 33. -. Nunung Parlinah. 4.

Dinas Pariwisata Kabupaten. Pemerintah Daerah (PEMDA) Sulawesi Selatan membuka peluang untuk berinvestasi pada usaha pariwisata alam. dan penduduk desa setempat. 2. bahari serta budaya.kebijakan (reformasi dan otonomi daerah). serta dalam proses penataan hutan khususnya zonasi kawasan. -. stakeholder yang akan berkolaborasi memiliki kepentingan yang beragam sehingga perlu dibangun kesepahaman. berada di desa-desa yang berbatasan dengan TN. Bila pengelolaan TN Bantimurung-Bulusaraung dilakukan secara kolaboratif /kemitraan. Kata Kunci : TNBK. Keberadaan gua-gua di kawasan tersebut merupakan potensi untuk pengembangan obyek wisata alam. Industri Marmer. namun dipandang kurang sejalan dengan kebijakan penunjukan kawasan kars tersebut sebagai kawasan konservasi. Biro Perjalanan Wisata 3. Illegal logging. Mengelola jasa wisata alam dengan baik dapat menjadikannya sebagai sumber Penerimaan Daerah yang dapat diandalkan. 4. Pemerintah Kabupaten Maros dan jajarannya. Penambang pasir/pasir silika/batu gunung /emas. Kantor Pengelola Kawasan Bantimurung. Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam menanggulangi illegal logging diantaranya : Operasi Wanalaga. kelembagaan 154 . Dinas Pariwisata Provinsi telah menjalin kerja sama dengan sejumlah biro perjalanan wisata dan menyediakan paket-paket wisata. 2006 Tujuan kajian sosial ekonomi dan kelembagaan ini adalah memperoleh data dan informasi mengenai kondisi. Stakeholder primer yang perlu diperhatikan kepentingan dan partisipasinya dalam menyusun rencana pengelolaan TN BantimurungBulusaraung adalah: 1. serta pabrik Semen Tonasa (konsesi 1.000 Ha) dan 11 industri marmer (konsesi 2. patroli PolHut dan sarasehan multi pihak dalam mencari solusi penanggulangan illegal logging. saling menguntungkan. Pemerintah Kabupaten Maros dapat menghimpun Penerimaan Daerah dari Taman Wisata Alam Bantimurung yang makin meningkat dari tahun ke tahun. Efektivitas penanggulangan illegal logging melalui pendekatan keamanan tersebut sampai saat ini dirasakan masih belum efektif. dan penambangan pasir/pasir silika/batu /batu gunung/semen/emas di Kabupaten Pangkep. Pengembangan wisata alam di Sulawesi Selatan dapat menjadi pengungkit bagi berkembangnya pemanfaatan jasa lingkungan terutama wisata alam yang ada di desa-desa sekitar TN BantimurungBulusaraung. dan penduduk desa setempat. sehingga menjadi peluang kerja dan berusaha untuk memberdayakan masyarakat serta sebagai sumber Penerimaan Daerah. 18 industri marmer (konsesi 2. Dinas Pariwisata. Pemerintah Kabupaten Pangkep dan jajarannya. Pemerintah Pusat melalui Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Balai Perpetaan Kawasan Hutan Sulawesi Selatan. Industri Marmer.7 Ha s/d 50 Ha). Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. Pabrik semen Bosowa (konsesi 1. partisipatif. adil.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. dapat memberi kontribusi pada Penerimaan Daerah. ada peluang bagi masyarakat dan perlu pendampingan Kata kunci: Bantimurung-Bulusaraung. Setiasih KAJIAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG DI SULAWESI SELATAN/ Setiasih Irawanti. Di kawasan TN masih ditemui pemukiman penduduk dari desadesa sekitarnya sehingga perlu dipertimbangkan dalam proses pengukuhan khususnya penataan batas.7 Ha s/d 50 Ha) di Kabupaten Maros.354. Pabrik Semen Tonasa.Di Kabupaten Maros 6 diantara 10 obyek wisatanya. konservasi. Pabrik Semen Bosowa. pelaku usaha tambang lainnya. Halaman 39-57 . faktor sosial budaya (pergeseran tata nilai di masyarakat yang cenderung materialistis) dan permintaan kayu (Permintaan kayu tinggi). serta di Kabupaten Pangkep 2 diantara 7 obyek wisatanya. Dengan menyediakan sarana prasarana fisik dan kelembagaan. potensi dan permasalahan sosial ekonomi dan kelembagaan yang ada di lokasi Taman Nasional (TN) BantimurungBulusaraung sebagai masukan dalam proses penyusunan rencana pengelolaannya.7 Ha). Selain sejalan dengan penunjukkan kawasan kars Bantimurung-Bulusaraung sebagai TN. Hal ini diindikasikan dengan masih maraknya illegal logging. Pola Illegal Logging Irawanti. saling percaya.1 . pemanfaatan jasa wisata alam dapat menjadi alternatif pengganti pemanfaatan tambang yang kurang mendukung upaya konservasi.

dengan hasil sebagai berikut. 2006 Setelah diberlakukannya otonomi daerah tahun 1999. Seluruh hutan mangrove di KPH Ciamis kini tengah menghadapi bencana kepunahannya. namun di dalamnya telah dipenuhi patok-patok klaim hak atas lahan dari masyarakat setempat. Kabupaten Sukabumi Karyono. pengumpulan data menggunakan metoda pencatatan. Karakteristik laut dan pesisir sangat terbuka. Pemanfaatan sumberdaya air melalui industri air minum dalam kemasan (AMDK) membuka kesempatan berusaha terhadap 28 perusahaan dan membuka kesempatan kerja sebanyak 2. sehingga keberadaannya sangat berarti bagi lingkungan dalam arti luas. OK PELUANG PENGUSAHA BERINVESTASI DI SEKTOR PARIWISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI / O. dan deskriptif. 27. Prasmadji Sulistyanto . Pendapatan Asli Daerah.Irawanti. Kata kunci: Sumberdaya Air. Perhutani Karyono DAMPAK PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SUKABUMI / Karyono dan Kirsfianti Ginoga. serta metoda analisis tabulasi.K.000 dan pajak air permukaan mencapai Rp.214. terutama pengelola hutan lindung dan kawasan konservasi. 2005 Kawasan Pelestarian Alam yang boleh dimanfaatkan untuk pariwisata alam sebanyak 41 lokasi di kawasan Taman Nasional.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. dan politis. Data keberadaan dan luas hutan mangrove di Kabupaten Ciamis sangat bervariasi namun dilaporkan sebagian besar berada di Desa Pamotan. Konversi hutan mangrove tersebut oleh penduduk setempat menjadi lahan persawahan padi dan pemukiman dilakukan karena hasil tangkapan ikan nelayan Pamotan kian hari kian menurun akibat pendangkalan dan penyempitan Segara Anakan. 34.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.241. dengan cara melakukan rehabilitasi dan konservasi wilayah hulu DAS Citanduy. Setiasih HUTAN MANGROVE CIAMIS YANG TERABAIKAN / Setiasih Irawanti . Hutan mangrove di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis termasuk hutan produksi (HP) kelas hutan alam kayu lain tak baik untuk jati (HAKLTB).-. 2003).Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Besarnya PAD dari pajak air ini masih belum sepenuhnya kembali kepada pengelolaan konservasi air. strategis dan kaya sumberdaya alam.000. 13 September 2005 . sosial. Pemda Sukabumi dan ASPARDIN. tahun 2002 sampai 2005. 2006 : Halaman 209-217 . aksesibilitas sangat baik.000 s/d Rp. Pola investasi yang diterapkan pada pengembangan pariwisata alam 155 . konsultasi dan pengamatan lapangan. karenanya ekosistem mangrove menghadapi ancaman sangat berat dari berbagai sektor atau stakeholder. penerimaan pajak air bawah tanah mencapai Rp.000. 17 lokasi di kawasan Taman Hutan Raya dan 102 lokasi di kawasan Taman Wisata Alam (Dephut. KPH Ciamis memberi perhatian atas hutan mangrovenya setelah sebagian dikonversi oleh masyarakat setempat menjadi persawahan dan pemukiman penduduk. 220. Kuncoro Ariawan.000. -. evaluatif. Halaman 197-203 . Usaha mengembangkan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) untuk hutan mangrove oleh KPH Ciamis baru dalam tahap wacana.000. 1. Ciamis. salah satunya adalah pajak air bawah tanah (PABT) dan pajak air permukaan (PAP).3 . Beragamnya data dan informasi tentang keberadaan hutan mangrove di Ciamis menarik perhatian untuk dikaji. banyak kebijakan daerah yang diluncurkan dalam upaya menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD). 2006 Ekosistem mangrove dengan berbagai jenis vegetasi penyusunnya memiliki karakteristik khas.370 orang dengan kemampuan investasi AMDK antara Rp. Masih 40% hutan mangrove di KPH Ciamis berupa rawa atau semak belukar. Penelitian dilakukan pada awal tahun 2006 di Kabupaten Ciamis. ekonomi.450. -. Karyono. Karena itu bagaimana agar dampak pemanfaatan air ini kembali kepada konservasi air perlu mendapat perhatian lembaga yang berwenang. selama empat tahun terakhir. serta Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mengkonservasi Segara Anakan dan hutan mangrove desa Pamotan di wilayah hilir DAS Citanduy.152. Kata kunci : Mangrove. sehingga mereka beralih profesi menjadi petani padi. namun selama hampir 30 tahun belum dilakukan pengelolaan atau pengusahaan sebagaimana mestinya sebuah kawasan hutan sehingga terkesan sebagai lahan tidur. Untuk kabupaten Sukabumi. Halaman 205-217 . Proyek Rehabilitasi dan Konservasi Segara Anakan. berbagai fungsi ekologi. -. dalam kawasan hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. Perlu pula dirintis kerjasama antara Perum Perhutani khususnya KPH Ciamis.

Produksi dan peredaran kayu rakyat selama 5 tahun terakhir (2002 s/d 2005) mencapai 504. kegiatan yang dibiayai oleh APBD II dan swadaya masyarakat dilaksanakan melalui kegiatan pembibitan/pembuatan persemaian. Halaman 134-141 .301. sehingga dapat terus lestari dan mendukung terwujudnya masyarakat sejahtera. Melalui pengembangan hutan rakyat. pembangunan Hutan Rakyat/Kebun Rakyat. 2006 Hutan dan lahan sebagai sumberdaya alam merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Pengasih.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.BUMD. Ditambah lagi dengan adanya krisis multidimensi yang berkepanjangan yang menyebabkan berbagai konflik kepentingan dalam pemanfaatan hutan dan lahan serta masih rendahnya peran aktif masyarakat umum terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan.Jumlah modal yang diinvestasikan oleh pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) dalam kegiatan pariwisata alam tercatat Rp. Kata kunci: Pariwisata Alam.534 dokumen.pengkayaan tanaman. 6 Desember 2005 . Pendapatan Asli Daerah. Dewasa ini. embung. 1. maka petani dapat merasa diringankan beban ekonominya dari hasil penjualan kayunya dan pemerintah daerah dibantu untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya melalui retribusi dan pungutan sah lainnya. -. Kata kunci: Hutan Rakyat. Terhadap kondisi tersebut di atas.memberikan kesempatan berusaha di bidang pariwisata alam yang bersifat komersial terutama BUMN. yang biasa dikenal dengan upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). 19/2004) sebesar 0. dan lain-lain adalah upaya memulihkan atau memperbaiki kembali lahan kritis di luar kawasan hutan agar dapat berfungsi sebagai media produksi dan pengatur tata air yang baik serta mempertahankan dan meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan peruntukkannya.14 m kubik. Mahoni. Tekanan-tekanan ini masih sering dijumpai dalam pengelolaan sumberdaya alam terutama hutan dan lahan akibat belum mempertimbangkan kelas kemampuan lahan dan penerapan teknik konservasi yang baik dan benar. diperlukan upayaupaya untuk memulihkan dan mempertahankan fungsinya kembali. Taman Wisata Alam. Ciamis yang tersebar di 37 kecamatan dan didominasi oleh jenis kayu Albazia.35 persen. Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK). sumur resapan. Taman Nasional.. 2006 Luas hutan rakyat di Kabupaten Ciamis lebih kurang 24. Dalam peredaran kayu di kabupaten Ciamis selama 3 tahun terakhir dokumen angkutan kayu rakyat (SKSHH) mencapai 52. dan Jati. 15 buah pada kawasan Taman Nasional. Kegiatan RHL baik melalui kegiatan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL).d.356. dan Koperasi serta kepada pihak-pihak tertentu (PMDN dan PMA) sesuai dengan peraturan yang berlaku.Dari jumlah ini. Jumlah pengusaha/investor yang menanamkan modalnya di sektor Pariwisata Alam s. Jawa Barat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tasikmalaya. Unit Percontohan Upaya Pelestarian Sumberdaya Alam (UP UPSA).Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.3 milyar. sementara tingkat kesejahteraan dan pendidikan masih rendah. terjadi degradasi kawasan hutan dan lahan sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi.2006 . Juni 2004 adalah 43 perusahaan. Kawasan konservasi sebab itu dalam tulisan ini dikaji sejauhmana kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan asli daerah. Pemanfaatannya harus dilaksanakan secara hati-hati dan bijaksana. masih terbuka peluang bagi investor/pengusaha untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata alam.089.49 persen) dari luas Kab.44 ha (9. Perda No. Halaman 1-7 . -. Karyono KONTRIBUSI HUTAN RAKYAT DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD): STUDI KASUS KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT / Karyono dan Dian Diniyati. 28 buah pada kawasan Taman Wisata Alam (TWA). Oleh 156 .57 m kubik dengan rata-rata per tahun 126. pengembangan hutan rakyat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal maupun regional melalui kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dari hulu sampai hilir. Di era otonomi daerah. Ciamis. Dari produksi dan peredaran kayu di kabupaten Ciamis pada tahun 2005 memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) melalui pungutan-pungutan atau retribusi (Leges. Dilihat dari jumlah kawasan konservasi yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam dengan jumlah taman nasional yang sudah ada pengusahanya.

Kata kunci: Pembangunan hutan. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor.). Kata kunci: Pembangunan hutan. -.Tasikmalaya Hutan Rakyat.Kata kunci: Pembangunan Hutan. yang berakibat merosotnya kualitas lingkungan (banjir. Pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan menjadi sangat penting dan strategis dalam mewujudkan pembangunan kehutanan sebagaimana tersebut di atas. -. Salah satu jenis yang telah dikembangkan dalam areal HTI adalah kayu mangium (Acacia mangium Willd.Selain dapat menekan illegan loging hutan rakyat yang sudah berkembang sejak lama di kalangan masyarakat Jawa barat juga dapat memenuhi kebutuhan produksi kayu yang belum terpenuhi dari hasil hutan. berbasis masyarakat. serta bersifat sentralistik menjadi pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya hutan. Hutan Krisdianto PEMANFAATAN KAYU MANGIUM (Acacia mangium Willd. berorientasi lingkungan. Disisi lain tingkat kesejahteraan masyarakat disekitar hutan sangat rendah yang semakin menambah laju kerusakan hutan akibat pencurian kayu. serta mempunyai peran dalam merehabilitasi lahan-lahan kritis di luar kawasan hutan. 2006 Kondisi Industri Kehutanan saat ini dan di masa yang akan datang sangat bergantung dari pembangunan HTI (Hutan Tanaman Industri). 6 Desember 2006 . Kab. Kebijakan. sedangkan hutan kemasyarakatan yang merupakan hutan negara yang sistem pengelolaan bersama-sama masyarakat memberikan peluang usaha bagi masyarakat di dalam kawasan hutan tanpa Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI PROPINSI JAWA BARAT / Kepala Dinas Kehutanan di Propinsi Jawa Barat. ekologi. Halaman 14-21 . Sebagai salah satu sektor pembangunan yang sangat strategis selama dekade terakhir sektor kehutanan telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi nasional. Propinsi Jawa Barat Rakyat. Tasikmalaya Hutan Rakyat. Pada intinya dicapai dalam pembangunan kehutanan adalah suatu sistem pengelolaan hutan yang mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi. Halaman 8-13 . dan sosial secara berimbang. Tulisan ini disajikan untuk memberikan gambaran tentang kebijakan pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di kabupaten Ciamis. Kemasyarakatan. Hal ini tampak dari penggunaan kayu mangium dalam industri pengolahan mebel dan pertukangan di sentra industri mebel Jawa 157 . Tujuan pembangunan HTI adalah memenuhi kebutuhan kayu sebagai pulp dan kertas juga telah digunakan sebagai bahan baku mebel dan kayu pertukangan. Kab. Hutan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN CIAMIS / Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. bersifat desentralistik dan berkeadilan. Hutan Kemasyarakatan. kebijakan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. 6 Desember 2005 . Kemasyarakatan. Hutan rakyat (hutan hak/milik) dapat memberikan kontribusi terhadap penyediaan bahan baku kayu dan non kayu bagi rumah tangga dan industri yang semakin terbatas dihasilkan dari hutan negara. Laju kerusakan hutan dan lahan sebagai akibat pemanfaatan hasil hutan kayu secara berlebihan meningkat dengan cepat. Hutan mengganggu fungsi hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. kebijakan. erosi. 2006 Paradigma pembangunan kehutanan nasional dewasa ini telah mengalami perubahan yang cukup mendasar dari yang semula dititikberatkan pada pengelolaan kayu dan komoditi.) SEBAGAI BAHAN BAKU MEBEL/ Krisdianto dan Kresno Agus Hendarto. Permasalahan ini semakin lama semakin komplek yang saat ini pada umumnya belum dapat diselesaikan secara tuntas. Namun demikian model pembangunan kehutanan saat ini juga telah memberikan dampak yang banyak merugikan yang kita rasakan dewasa ini. Halaman 151-159 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. 6 Desember 2005 . penjarahan dan perambahan hutan. kekeringan). 2006 Pembangunan Hutan Rakyat yang sejalan dengan landasan utama penyelenggaraan kehutanan dapat berfungsi sebagai penanggulangan lahan kritis.

2006 Kelembagaan dalam pengembangan hutan kemasyarakatan pada umumnya merupakan suatu perkumpulan petani yang anggotanya mempunyai kesamaan kepentingan dan kondisi lingkungan baik sosial. -. budaya maupun sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. dan Nusa Tenggara Timur.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Saat ini kayu mangium telah digunakan sebagai substitusi kayu jati. ekonomi. Halaman 115-130 . Kayu mangium merupakan kayu dengan kelas kuat IIIII dan kelas awet III. keserasian. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. kebakaran hutan Kusumedi. dan budaya berburu.3 ..2 . Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan.3 . perladangan berpindah. Penggunaan kayu mangium saat ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mebel dan pertukangan dalam skala lokal.53 . Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR) / Rahman Kurniadi . dan budaya berburu. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan.0. Kata kunci : Budaya. dan Nusa Tenggara Timur. Halaman 209-315 . Priyo KELEMBAGAAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KHDTK BORISALLO. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang model kelembagaan berbasiskan masyarakat dalam rangka mewujudkan pengelolaan hutan lestari. I Made Widnyana. Sumatera. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. I Made Widnyana. serta memiliki kehendak yang sama untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya alam. -. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia. fire maniac. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. Metode penelitian yang dipakai adalah PDC (Pemahaman Pedesaan Cepat) dan PDP (Pemahaman Pedesaan 158 . Halaman 235-241 . Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. Acacia mangium Willd. perladangan berpindah. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. 25 Agustus 2005). 25 Agustus 2005).66. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. SULAWESI SELATAN / Priyo Kusumedi. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. fire maniac. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA MIO DAN DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR)/ Rahman Kurniadi . disamping adanya keakraban. Berat jenis kayu ini bervariasi dari 0. Salah satu kelebihan kayu mangium adalah warnanya mirip dengan kayu jati. Kata kunci : Budaya. Sumatera. kebakaran hutan Kurniadi. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. Penggunaan kayu mangium sebagai pengganti kayu jati dilakukan secara parsial maupun secara total. Kata kunci: Kayu mangium. bahan baku Mebel Kurniadi.Tengah dan Jawa Barat.

mangium. Saat ini sebagian besar tanaman ditujukan untuk kayu pertukangan (furniture). 2006 Bertitik tolak dari UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dimana masyarakat diberi kesempatan untuk ikut mengelola kawasan hutan sebagai alternatif bentuk pengelolaan hutan oleh masyarakat adalah merupakan inti dari konsep Social Forestry yang sekarang ini menjadi paradigma baru dalam pembangunan sektor kehutanan. sehingga secara langsung lebih meningkatkan nilai ekonomi jenis ini dibandingkan ketika awal pengembangannya. -. Peningkatan kerapatan tegakan memang akan meningkatkan produksi dan menurunkan diameter rata-ratanya. tumpang tindih dengan penggunaan lahan lain seperti pertambangan dan perkebunan. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu jenis tumbuh cepat (fast growing species) dari famili Leguminosae. Di Kalimantan Selatan saat ini hanya HTI Hutan Rindang Banua (dulu PT Menara Hutan Buana) yang masih tetap sebagai HTI pulp. upayaupaya tersebut sangat memerlukan suatu kajian serius melalui hasil penelitian dan ujicoba-ujicoba lapangan sebelum mengaplikasikannya. Realitasnya. Kayu Pulp Mairi. makalah ini mencoba untuk menyampaikan kajian awal terhadap perlakuan-perlakuan jarak tanam dalam hubungannya dengan peningkatan produksi.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.mangium untuk tujuan kayu pulp. Pada awalnya tujuan produksi adalah kayu pulp. Selain dihadapkan pada rendahnya produktivitas tegakan. Berdasarkan paradigma Social Forestry tersebut maka keberhasilan pembangunan kehutanan sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dalam berkontribusi terhadap upaya pengelolaan 159 . pihak pengelola HTI dihadapkan pula pada problem tataguna lahan seperti klaim area tanam oleh masyarakat sekitar. kelompok tani hutan Lazuardi. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. riap ini merupakan riap dari tegakan berkualitas baik.Partisipatif). dan tidak sedikit tegakan dengan riap jauh di bawah target tersebut. Kondisi pertumbuhan di lapangan sangat beragam walau berada dalam hamparan yang relatif berdekatan. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Halaman 39-47 . HTI. mulai dikembangkan di Kalimantan Selatan pada tahun 1985. maka gangguan pencurian pohon berukuran 20 cm ke atas menjadi problem tambahan. Permasalahan ini dapat diatasi melalui upaya perbaikan tegakan (stand improvement) yang menyangkut peningkatan produktivitas dan secara bersamaan menghasilkan struktur tegakan sedemikian rupa yang mengurangi proporsi kelas diameter +20 cm. Kata kunci : kelembagaan. 6 Desember 2006 . Sebagai akibat meningkatnya nilai ekonomi kayu A. Kejadian ini sudah tentu akan mengakibatkan tidak tercapainya target produksi yang telah ditetapkan. hutan kemasyarakatan. dan secara luas pada tahun 1992 dalam bentuk HTI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan model kelembagaan berbasiskan masyarakat membutuhkan proses yang cukup panjang dengan membangun tata nilai bersama agar bisa diakui dan didukung oleh semua pihak. Dian OPTIMALISASI HASIL MELALUI PENGATURAN JARAK TANAM HTI ACACIA MANGIUM UNTUK PRODUKSI KAYU PULP / Dian Lazuardi.q Departemen Kehutanan pada bulan Juli 2003 dicanangkanlah program Social Forestry sebagai upaya perbaikan kondisi hutan di Indonesia sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. tetapi juga akan menghadapi peningkatan biaya dan problem teknis pembuatan pola tanamnya. hal ini diduga sebagai akibat dari variasi faktor edafis (Simpson. khususnya di Kalimantan Selatan. Gessel and Harrison. permasalahan pemagaran lahan dengan kawat berduri dan pengembalaan liar oleh sebagian anggota sehingga membangun tata nilai bersama menjadi suatu kesepakatan dibentuknya lembaga (4 kelompok tani hutan) dan beberapa aturan interen/kesepakatan bersama. target produksi umumnya didasarkan pada riap 25m kubik/ha/th pada daur 8 tahun. Oleh karena itu. Menindaklanjuti hal itu oleh pemerintah c. Kata kunci: Acacia mangium. Inti dari program Social Forestry adalah masyarakat terlibatkan aktif secara langsung dalam pengelolaan hutan dengan tujuan masyarakat bisa sejahtera dan kondisi hutan bisa lebih baik. Kristian STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kristian Mairi. 2006 : Halaman 189-208 . Jarak Tanam. Upaya peningkatan produktivitas tegakan A. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas. Pembangunan HTI A.mangium tersebut salah satunya adalah peningkatan kerapatan tegakan dan penurunan daur. Adanya kedekatan lahan garapan. 1992. biaya dan daur serta struktur tegakannya. 1992).

Proses pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya bagaimana masyarakat itu dapat mengenal dan merefleksikan permasalahannya sendiri. Dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan dimasa yang akan datang sebagaimana semangat dalam program Social Forestry maka hal yang sangat urgen dilakukan adalah membangun. Salah satu pola tanam yang diujicobakan adalah kombinasi antara tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) (L) Nielsen) dan Jahe (Zingiber afficinale). pemupukan. dengan berbagai kemajuan teknologi silvikultur dan pemuliaan pohon akhirnya Acacia mangium membuktikan bahwa meskipun eksotik ia mampu menjadi komoditas utama hutan tanaman. -. Saat ini. penanaman. Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. persemaian. Yamin UJI COBA TEKNIK PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN MODEL AGROFORESTRY POLA WANAFARMA SENGON+JAHE / M. Pelajaran dari perkembangan hutan tanaman Acacia mangium telah mengisyaratkan bahwa integrasi antara industri.antara lain: Seleksi benih. Percobaan ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan produktifitas lahan dan pendapatan petani melalui model wanafarma sengon+Jahe.Dalam upaya pengembangan kualitas masyarakat khususnya yang bermukim di dalam dan sekitar hutan agar maju dan mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan. dan pemanenan. Hasil sementara penelitian ini menunjukan bahwa beberapa input teknologi yang diterapkan berperan penting pada penyempurnaan model dalam bentuk pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman pohon dan peningkatan hasil tanaman pertanian. Siarudin. Rehabilitasi lahan. kesulitan memperoleh modal dan akses pemasaran yang belum memadai. Padahal aspek kelembagaan mempunyai peranan sangat besar bagi kesuksesan pembangunan hingga dapat dikatakan bahwa kegagalan pembangunan umumnya dikarenakan lemahnya kelembagaan yang ada termasuk sektor kehutanan. Penanaman jenis pohon pada lahan milik untuk kepentingan industri dapat disebut sebagai social forestry. Edwin PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERBASIS SOCIAL FORESTRY / Edwin Martin. Pada kenyataannya di lapangan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kehutanan masih lemah karena belum didukung oleh kelembagaan masyarakat yang kuat antara lain pengetahuan dan ketrampilan yang rendah. Perlakuan yang diberikan meliputi komponen-komponen teknologi yang mendukung pengembangan model. Diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat mengawal proses sebuah kemajuan teknologi pengembangan hutan tanaman berbasis social forestry ini. -. Studi kasus yang dilakukan di PT. 6 Desember 2005 . sistem pengorganisasian yang belum sempurna. pemeliharaan. yang perlu dibuktikan oleh Acacia mangium adalah kemampuannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak lagi sekedar sebagai jenis utama dalam rehabilitasi tetapi harus mampu menjadi tanaman industri masyarakat. 160 . Yamin Mile dan M. dan penanganan pasca panen. Ujicoba model diterapkan melalui plot-plot percobaan yang didesain di lokasi penelitian.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. potensi diri dan lingkungannya serta memotivasi dalam mengembangkan potensi tersebut secara proporsional dengan cara/metode partisipatip.hutan dan kualitas sumberdaya manusia yang mendukungnya. 2006 Setelah hampir seperempat abad tumbuh di Sumatera Selatan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.penyiapan lahan. Social Forestry Mile. Program penanaman Acacia mangium pada lahan milik memiliki banyak keunggulan dibanding program hutan tanaman konvensional/pada areal konsesi. M. Halaman 46-61 . Pemberdayaan masyarakat Martin. Halaman 2338 . maka strategi pemberdayaan masyarakat dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan mutlak dilaksanakan. Penelitian ini dilaksanakan untuk jangka 5 tahun yang dimulai pada tahun 2004. Kata kunci: Acacia mangium. 6 Desember 2006 . hutan tanaman dan masyarakat saat ini bersifat layak dan perlu dilaksanakan. 2006 Serangkaian penelitian dan pengembangan mengenai model wanafarma telah dilaksanakan di lokasi penelitian Loka Litbang Hutan Monsoon di Kecamatan Cilacap Jawa Tengah. memperkuat dan mengembangkan kelembagaan masyarakat yang terkait dengan pembangunan kehutanan. Musi Hutan Persada menunjukan bahwa usaha hutan tanaman Acacia mangium berbasis social forestry menguntungkan dari sisi finansial dan menghasilkan manfaat sosial ekonomi ganda. pengendalian hama dan penyakit. Hutan tanaman.

1999). Pada musim hujan bencana tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di berbagai tempat yang mendatangkan kerugian yang tidak sedikit. Kondisi ini menyebabkan lahan hutan semakin kritis sehingga tidak berfungsi lagi sebagai pengatur tata air. Pengelolaan hutan rakyat secara intensif belum banyak dilakukan oleh petani. Kawasan hutan dirambah untuk dijadikan usaha tani tanaman sayur-sayuran tanpa tindakan konservasi tanah sehingga terjadi aliran permukaan dan erosi yang besar. penanaman. Dalam rangka implementasi kegiatan Social forestry tersebut Pemerintah Kabupaten mengintrodusir suatu pola baru yang belum banyak dikenal sebelumnya oleh masyarakat yakni Tumpangsari antara tanaman pokok Kehutanan dengan tanaman rami yang dikenal dengan istilah Agroforestry Haramai. sementara laju deforestation mencapai 1. Wanatani. kurangnya permodalan. 2003). pendekatan kelola usaha yang menyeluruh dan konprehensif hanya perlu dilakukan dengan jalan penerapan teknologi tepat guna dan managemen pengelolaan yang sesuai. 2005 Selama lebih dari tiga dasawarsa sumber daya hutan telah memberikan kontribusi yang nyata sebagai penggerak roda perekonomian nasional melalui pengelolaan hutan berbasis kayu yang menekankan exploitasi hutan oleh industri berskala besar. Kata kunci: Social Forestry. Beragam pola hutan rakyat ditemukan di masyarakat sesuai dengan keinginan masing-masing petani. Konsekwensi dari orientasi industri berskala besar tersebut berdampak pada beberapa aspek antara lain: a) belum diperhitungkannya variable sosial ekonomi dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan. Hal ini disebabkan antara lain karena tingkat penguasaan technologi petani yang masih sederhana. Yamin PENGEMBANGAN SOSIAL FORESTRY DENGAN POLA WANATANI RAMI DI KABUPATEN GARUT: MENDUKUNG KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN / Ismatul Hakim. maka produktifitas hutan rakyat perlu ditingkatkan menjadi unit usaha yang dikelola secara intensif mulai dari pemilihan jenis sampai pada sistim produksi (penyiapan lahan. Kata kunci: Pengelolaan lahan. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sebagai bahan baku industri tekstil serta memberikan pendapatan yang relatif cepat bagi masyarakat. Hutan Rakyat. dalam tulisan ini dikemukakan kajian pengembangannya ditinjau dari aspek teknis. pemanenan. sebagian besar dikelola seadanya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan permodalan yang dimiliki petani. Rami. M. Perkembangan hutan rakyat khususnya tanaman sengon menjadi dominan karena tersedianya pasar yang menampung hasil hutan rakyat tersebut. serta sempitnya lahan usaha yang dimiliki. Mengingat model ini belum banyak dikenal oleh masyarakat.Berbagai study mengenai peranan hutan rakyat terhadap tingkat pendapatan masyarakat telah banyak dilakukan. 2005 Hutan rakyat saat ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu titik tumpuan ekonomi penduduk yang tinggal di Pulau Jawa (FKKM. Yamin Mile. Hutan Rakyat Mile. M. Yamin KONSEPSI PENGELOLAAN LAHAN DAN LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS HUTAN RAKYAT / M. b) tidak terdistribusinya manfaat sumberdaya hutan secara adil kepada masyarakat sekitar hutan. Sengon. Halaman 123-131 . dan penanganan pasca panen). 13 September 2005 . Apabila hutan rakyat ini diarahkan pada pengembangan suatu unit agribisnis. 6 Desember 2005 . Dari hampir semua pola yang dijumpai di lapangan. c) meningkatnya konflik pengelolaan sumberdaya hutan. Halaman 139-151 . Kabupaten Garut 161 . Untuk itu perlu adanya konsepsi yang jelas mengenai pengelolaan lahan serta langkah-langkah strategis dalam upaya meningkatkan produktifitas hutan rakyat. Wanafarma. Sosial ekonomi. baik pasar domestik maupun pasar internasional.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Dengan terbukanya peluang pasar akan hasil hutan rakyat berupa kayu dan non kayu. -. -.Kata kunci: Agroforestry. Adanya jaminan pasar ini menyebabkan petani tidak ragu untuk menanam jenis pohon komersial di lahan milik mereka yang sempit karena dirasakan menguntungkan apalagi dilakukan dengan jalan tumpangsari (Agroforestry). Jahe.6 juta ha/tahun (Direktorat Bina Hutan Kemasyarakatan Dep. Dengan kondisi seperti di atas pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari mengalami ketidakpastian sampai saat ini. Di Kabupaten Garut ketidakpastian pengelolaan hutan secara lestari sangat dirasakan. dan Lingkungan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Tanaman rami (Haramai) adalah sejenis tanaman serat berbentuk perdu yang sesuai baik di dataran rendah maupun di daerah ketinggian seperti Garut. Langkah strategis Mile. pemeliharaan. Hut.

Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting 162 . akibatnya harga yang diterima petani jauh lebih murah. Hal ini perlu mendapat perhatian serius. Petani lebih suka menjual kayu dalam bentuk gelondongan dengan system borong kebun. Dedi PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Dedi Natawijaya. Model jalur hijau untuk kawasan mangrove. 4). yakni: 1). Masalah banjir dan kekeringan diyakini sebagai dampak dari system tata air di wilayah DAS yang buruk. -.biaya ekonomi finansial. Kata kunci: Kayu Sengon. kab. Yamin PENGEMBANGAN MODEL DAN DESAIN JALUR HIJAU DALAM RANGKA REHABILITASI. Model jalur hijau untuk kawasan konservasi. sehingga mampu mengurangi resiko dari masalah menunggu hasil investasi tersebut. ketiga pendekatan itu adalah (1) analisis manfaat.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Yamin Mile dan M. terutama dari pihak swasta (melalui kemitraan bisnis) dan pemerintah (dengan kebijakan subsidi dan bantuan modal usaha). Siarudin. Model jalur hijau untuk daerah pemukiman. Hutan mempunyai fungsi menyerap air melalui proses fotosintesa dan menyimpannya dalam perakaran dalam tanah.Mile. Para pelaku perlu mencari suatu pola investasi yang cepat menghasilkan yang dirancang khusus untuk merespon kebutuhan sumber pendapatan.Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Tasikmalaya Nurfatriani. 2006 Berbagai teori telah dikemukakan oleh para ahli yang menyatakan berbagai fungsi hutan sebagai salah satu unsur dalam system penyangga kehidupan. Untuk maksud tersebut dalam tulisan ini dikemukakan empat rancangan model jalur hijau yang dapat dikembangkan. -. Untuk menanggulangi kerusakan tersebut dari aspek kehutanan. Model jalur hijau untuk kawasan wisata. PENATAAN RUANG DAN SOSIAL FORESTRY DAN PANTAI SELATAN CIAMIS PASCA TSUNAMI / M. Pada umumnya penjualan kayu sengon terbatas hanya olahan sederhana yang berupa kayu palet atau kayu persegian. 2).2006 . paling tidak ada tiga pendekatan yang harus dirancang secara tepat sehingga mampu menjawab tantangan tersebut. masing-masing model terdiri dari blok inti dan blok pemanfaat. Rehabilitasi. 2006 Salah satu permasalahan utama dalam pola investasi hutan rakyat adalah masa menunggu hasil dari proses investasi yang dilakukan. Penentuan volume produksi dilakukan oleh pembeli. terutama bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian keberadaan hutan sangat krusial dalam satu siklus hidrologi yang tergambar dalam kondisi tata air di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Hal tersebut berkaitan dengan kondisi hutan di bagian hulu DAS tersebut. mengakibatkan posisi tawar petani cukup rendah karena volume produk yang dijual sangat terbatas. Ciamis Natawijaya. Belum ada variasi produk olahan kayu yang lain yang dapat memberikan tambahan nilai jual bagi petani. Beberapa hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang lurus dan nyata antara keberadaan hutan dengan berkurangnya jumlah titik mata air (Zaini. M. Fitri PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI BAGIAN HULU DAS BRANTAS HULU: SEBAGAI PENGATUR TATA AIR / Fitri Nurfatriani. Kata kunci: Jalur Hijau. pemerintah merencanakan untuk mengadakan upaya rehabilitasi kawasan pantai melalui pembangunan jalur hijau di sempadan pantai. Halaman 7284 . 3).Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. 2006 Bencana tsunami yang terjadi pada bulan Juli 2006 di Pantai Selatan Pulau Jawa telah menimbulkan kerusakan yang serius. Sedangkan blok pemanfaat dirancang untuk pengembangan social forestry di wilayah pantai. Halaman 97108 . Kab. Blok inti dirancang dengan fungsi utama sebagai jalur perlindungan (sheler belt). Analisis ekonomi partisipasi. Menurut Asdak (1995) vegetasi hutan sangat berperan dalam daur hidrologi sebagai penahan air sebelum mencapai permukaan tanah untuk kemudian diserap dalam proses infliltrasi. -. khususnya di Pantai Selatan Kabupaten Ciamis. Bahkan masih ditemukan adanya system penjualan dengan system ijon yang sesungguhnya sangat merugikan pihak petani.2006 .Belum adanya kelembagaan seperti koperasi dalam melakukan penjualan. Agribisnis. 2006 : Halaman 227-244 . (2).Analisis ekonomi lingkungan dan (3). Sosial Forestry.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. 2005).

-. 1995). -. Indartik. [et. untuk mendapatkan total kesejahteraan masyarakat yang maksimal.al. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami konsep nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif. dan 4) Peredaran kayu. tetapi juga untuk propinsi lain. DAS Brantas Hulu Nurfatriani. Halaman 151-159 .karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS yaitu dari segi fungsi tata air. atau belum diketahui. 2006 Sumberdaya hutan (SDH) menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible. Halaman 1-16 . Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai rendah. Dari hasil studi. sebagian besar (66. 2006 Perkembangan beberapa dekade terakhir di Kecamatan Cidahu dicirikan oleh tumbuhnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang memanfaatkan sumber mata air dan sumur air bumi. sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi manfaat-manfaat yang telah dikenal dari SDH secara berlebihan.2 .Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. peredaran kayu Pawitan. sedangkan pasar kayu Sumatra Selatan relatif tinggi.Hidayat INDIKATOR BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI JASA LINGKUNGAN DAS: STUDI KASUS DAS CICATIH-CIMANDIRI/ S. khususnya untuk manfaat intangible yang tidak memiliki harga pasar. Nunung PRODUKSI DAN PEREDARAN KAYU (STUDI KASUS DI SUMATERA SELATAN)/ Nunung Parlinah . Kata kunci : Hutan.58%) dari total luas hutan Sumatra Selatan adalah hutan produksi. manfaat Parlinah. Kata kunci: Kawasan Hutan. DAS cicatih dengan luas 53 ribu haktar memiliki 163 . dan sampai saat ini masih dapat berlangsung bersamaan dengan pemanfaatan air untuk PDAM dan oleh penduduk setempat yang telah lebih dulu memanfaatkan sumber-sumber air yang ada. Sementara itu produksi kayu dari Sumatra Selatan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Kata Kunci: Produksi kayu.. -. Untuk itu tulisan ini dibuat sebagai gambaran mengenai kondisi hutan di bagian hulu DAS Brantas Hulu khususnya dalam kaitannya sebagai daerah resapan air. pasar kayu. Terdapat kecenderungan produksi kayu semakin menurun karena berkurangnya potensi hutan alam dan maraknya illegal logging.1 . 2) Produksi kayu.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No.. diindikasikan dengan tingginya kapasitas industri terpasang. Hidayat Pawitan . 2006 : Halaman 1-16 . 2006 Informasi tentang produksi dan peredaran kayu penting untuk diketahui dalam rangka memahami mekanisme pasar dalam memenuhi permintaan kayu. Empat poin yang perlu dianalisis : 1)Luas hutan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. ekonomi. Makalah ini mencoba menyajikan secara ringkas hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penelitian untuk DAS Cicatih yang bertujuan untuk menggali informasi mengenai kondisi biofisik DAS yang meliputi fungsi dan jasa lingkungan DAS. Lokasi yang dipilih sebagai studi kasus adalah Sumatra Selatan. Dengan diketahuinya manfaat dari SDH ini maka hal tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam (SDA) yang semakin langka dan melakukan distribusi manfaat SDA yang adil. Fitri KONSEP NILAI EKONOMI TOTAL DAN METODE PENILAIAN SUMBERDAYA HUTAN (Total Economic Value concept and Forest Resource Valuation Method) / Fitri Nurfatriani. Akibatnya untuk memenuhi bahan baku maka industri mandatangkan bahan baku dari luar Sumatra Selatan.]. nilai. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan konsep nilai ekonomi total dan berbagai metode yang digunakan untuk menilai manfaat SDH dan lingkungan. serta mempelajari aspek sosio-ekonomi dan persepsi masyarakat terkait dengan kompensasi konservasinya atas dasar rasa keadilan yang saling menguntungkan. 3) Pasar Kayu. industri. Hulu DAS. sehingga aktivitas perubahan tata guna lahan yang dilaksanakan di daerah hulu DAS tidak hanya akan berpengaruh dimana kegiatan tersebut berlangsung (hulu DAS) tetapi juga akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan lainnya (Asdak. Berbagai teknik dan metode penilaian ekonomi sumberdaya alam (SDA) telah dikembangkan untuk menghitung nilai ekonomi SDA yang memiliki harga pasar ataupun tidak.

00.04 juta ha atau 27. 2006 : Halaman 85-97 . 2005 Setiap DAS memiliki sifat atau karakteristik berbeda-beda dalam memberikan tanggapan atau respon masukan air hujan menjadi hasil air. Kata kunci: DAS.-/m kubik. Sasaran penelitian adalah diketahuinya nilai ekonomi hasil air dari hutan lindung. Nilai ekonomi hutan lindung yang bersifat intangible belum banyak dilakukan perhitungan sehingga nilai jasa hutan lindung sering dihargai kecil. -. adil dan memberdayakan daerah. Penutupan lahan didominasi oleh perkebunan (45 persen). seperti pada mata air Cibuntu (695 liter/s) dan Cipanas (2584 liter/s atau < 1000 liter/s). Dengan demikian karakteristik DAS terbangun sebagai hasil menyeluruh dari interaksi atau hubungan timbal balik antar unsur-unsur sumberdaya alam sendiri dan antara unsur alam dengan manusia. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Data curah hujan dan debit air diperoleh dengan pemasangan plot dan pengukuran curah hujan dan debit air.063. Hutan Lindung Baturaden Purwanto ANALISIS KARAKTERISTIK PARAMETER SOSIAL EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JANGKA PANJANG: STUDI KASUS DAS SERAYU / Purwanto. baik sifat alami maupun sifat yang terbangun sebagai hasil intervensi manusia.500. Rata-rata hasil air dari hutan lindung dalam tiga tahun (2003 s/d 2005): hulu Sub DAS Pelus 191. dan memelihara kesuburan tanah. indept interview dan diskusi dengan para pengguna.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. mengendalikan erosi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi nilai provisi pemanfaatan sumberdaya air. 2006 Hutan lindung di Indonesia seluas 29.al). Sasaran kajian (1) Diketahuinya hasil air dari hutan lindung Baturaden. Manusia sendiri dalam sistem komunitasnya sebagai pengelola sumberdaya alam DAS juga memiliki karakteristik yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap karakteristik bio-fisik DAS..Nilai ekonomi air dari hutan lindung di hulu Sub DAS Pelus (Baturadden) Rp. Dengan diberlakukannya otonomi daerah maka kewenangan pengelolaan DAS pada setiap jenjang hierarki perlu diselaraskan dengan kewenangan pemerintah otonomi. Halaman 163-175 .(et. dan Dewi Retna Indrawati. Nilai Ekonomi. Data curah hujan dan debit air sungai dihitung berdasarkan rata-rata bulanan dan data nilai ekonomi air dihitung berdasarkan fungsi produksi untuk air irigasi dan rente ekonomi untuk air yang digunakan PDAM Kabupaten Banyumas.963. Nilai ekonomi air baku untuk PDAM dari : 1). hutan (21 persen) dan sebagian besar sisanya berupa lahan pertanian. Akibatnya penghargaan atau pengelolaan hutan lindung kurang optimal. Salah satu produk hutan lindung adalah air yang pada saat ini sebagian besar masih merupakan barang publik walaupun di beberapa tempat telah menjadi barang ekonomi seperti yang dimanfaatkan untuk air mineral. khususnya dari mata air dan airbumi.05 m kubik/s (8/02/2001). dalam kerangka kebijakan otonomi daerah dan sistem perpajakan yang lebih transparan. Sosial Ekonomi Purwanto KAJIAN NILAI EKONOMI HASIL AIR DARI HUTAN LINDUNG BATURADEN / Purwanto. Pengelolaan sumberdaya air perlu lebih mendapat perhatian dengan pertimbangan adanya pola musiman dan meningkatnya kebutuhan air untuk penggunaan air non-tradisional. mencegah intrusi air laut. (2) Diketahuinya nilai ekonomi air hutan lindung Baturaden. Hutan lindung sesuai fungsinya ditujukan untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. Terdapat indikasi kuat bahwa penduduk lokal cenderung menghemat sumber daya air DAS Cicatih dan bersedia menanggung biaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan jasa lingkungan DAS hulu. Biofisik.25 m kubik/s (24/08/2002) dan terbesar 209. Jasa Lingkungan. Hal yang sama perlu dilakukan oleh perusahaan AMDK di Cidahu untuk turut berperan dalam program konservasi DAS hulu. 2). 13 September 2005 .2) Data nilai ekonomi air dikumpulkan melalui survey.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. mencegah banjir. Kualitas air dari seluruh lokasi penelitian dapat digunakan untuk air baku minum. -. Hutan Lindung.curah hujan tahunan sebesar 2970 mm dengan geologinya yang spesifik telah menghasilkan banyak sumber mata air dengan kapasitas yang cukup besar. 310. Air.647.-/ha/tahun Kata kunci: DAS.Hutan lindung Baturaden Rp. Paimin.50 m kubik/tahun. Hasil sementara menunjukan nilai koefisien limpasan tahunan yang relatif tinggi. Demikian juga sistem kakarkteristik DAS sebagai dasar dalam perencanaan pengelolaan DAS yang sekarang ada 164 .69 persen dari total luas hutan. 23. sebaliknya karakteristik komunitas manusia juga dipengaruhi oleh karakteristik alam sekelilingnya.. Debit terukur pada stasiun Ubrug selama 1999-2005 terendah tercatat sebesar 5.

Pembangunan hutan tanaman A. tingkat biaya yang rendah serta ramah lingkungan. sehingga setiap kali diperlukan secara cepat masih sulit diperoleh secara memadai. Beberapa upaya yang perlu ditempuh dalam menghadapi tantangan tersebut antara lain konsistensi pemakaian benih unggul hasil dari serangkaian kegiatan pemuliaan. -. manajemen penyiapan lahan.Data dan Informasi pengelolaan DAS yang sampai saat ini terkumpul belum dikelola secara mapan dalam sistem informasi pengelolaan. Seperti dalam program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang dicanangkan mulai tahun 2003. Sampai dengan tahun 1999. Teknologi Pemuliaan 165 . baik untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri maupun rehabilitasi lahan. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. beberapa tantangan baru mulai muncul. Mangium pada rotasi kedua.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Dalam era kompetisi global yang semakin intensif saat ini. manajemen tegakan. Untuk membangun formula sistem tersebut diperlukan serangkaian data dan informasi yang diperoleh melalui penyelenggaraan penelitian dan pengembangan. Mengingat terbatasnya waktu. Dalam resume makalah ini maka disampaikan beberapa kegiatan penelitian beberapa input teknologi penunjangnya dalam penelitian pemuliaan A. pembangunan gain trial. Namun melihat laju perkembangan lahan kritis dalam wilayah DAS yang cukup besar. Tulisan ini merupakan eksplorasi peran parameter sosial ekonomi dalam karakterisasi daerah aliran sungai sebagai landasan dasar penyusunan sistem perencanaan jangka panjang pengelolaan DAS (perencanaan 15 tahunan). Mangium ini diperkirakan akan semakin luas sejalan dengan kebijakan Departemen Kehutanan yang menetapkan sasaran fasilitas pembangunan hutan tanaman seluas 5 juta hektar. Dengan disempurnakannya sistem karakterisasi DAS yang disertai dengan sistem informasi akan membantu pengelola dalam melakukan perencanaan. maupun monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS secara efektif dan efisien disamping memberikan pengingatan dini kemungkinan terjadinya bencana alam pada setiap tingkatan pengelolaannya. manajemen tapak dan nutrisi. Mangium yang telah dilaksanakan oleh Puslitbang Hutan Tanaman. Hal tersebut menunjukan masih lemahnya sistem karakteristik DAS yang selaras dengan kewenangan otonomi daerah. meliputi kegiatan: teknologi pembangunan kebun benih generasi pertama dan kedua. lebih dari 800. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu fast growing yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. DAS. sumber dana. Mangium rotasi kedua. maka pengembangan sistem karakterisasi tingkat sub DAS harus dilakukan secepat mungkin. Kata kunci: Acacia mangium. industri kehutanan menghadapi tantangan yang mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri dengan kualitas tinggi dan dalam jumlah yang memadai yang dihasilkan dari tegakan-tegakan yang dikelola secara lestari.1990) Cara pendekatan ini bisa diistilahkan dengan 'sidik cepat degradasi DAS'. Halaman 1-6 . 6 Desember 2006 . Memasuki pembangunan hutan tanaman A. khususnya dalam menjaga peningkatan kualitas dan produktivitas tegakan dalam jangka panjang. Pembangunan hutan tanaman A. Mangium telah dibangun dengan tujuan utama sebagai pemasok kebutuhan bahan baku bagi industri pulp dan kertas. Mangium di Indonesia sebagai pemasok kebutuhan bahan baku industri kehutanan diharapkan akan mampu bersaing dalam kompetisi tersebut. serta masih lemahnya sistem informasi pengelolaan DAS.perlu ditelaah ulang agar memiliki kompatibilitas dengan institusi terkait pada setiap jenjang kewenangannya. penelitian penyakit serta penelitian biologi molekuler. Saat ini beberapa perusahaan telah mengelola hutan tanaman A. terutama konsistensi sistem karakteristik yang sesuai dengan hierarki sistem perencanaan/pengelolaan DAS. Sosial Ekonomi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman TEKNOLOGI PEMULIAAN ACACIA MANGIUM / Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. dan sumberdaya manusia. keperluan data yang segera dan akurat akan segera terlayani apabila sistem data dan informasi DAS telah terbangun dalam suatu sistem pengelolaan yang mapan dan selalu dilakukan pemutakhiran. Padahal kondisi lapangan berkembang secara dinamis yang harus selalu diikuti agar data dan informasi tersaji selalu sesuai dengan kondisi terkini. seyogyanya sistem karakterisasi DAS lebih mengedepankan pendekatan yang praktis dan ekonomis dari pada pendekatan teoritis dan akademis seperti disarankan Sheng (1986.000 hektar hutan tanaman A. Diharapkan hasil penelitian yang diperoleh juga bisa membantu penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pengelolaan DAS sesuai dengan jenjang kewenangannya. pelaksanaan. penelitian hibridisasi dan penyerbukan buatan. manajemen hama dan penyakit. dan pemanenan.

Encep PERTUMBUHAN TUJUH PROVENAN SENGON (Paraserianthes Falcataria) DAN IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN / Encep Rachman.68 cm. -.Rachman. Encep PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM / Encep Rachman dan M. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 700 m dpl dengan curah hujan sebanyak 1. Pada umur 6 bulan masingmasing ulangan tersebut meningkat menjadi 187 cm. Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan rakyat milik petani di Desa Sukamulih.1 ton/ha.8 ton.200 mm/tahun dan suhu rata-rata 25 derajat C. Kecamatan Sariwangi. Yamin Mile. Sehingga dari 5. 185 cm.73 cm.76 cm dan 83. Penyakit. Hasil pengamatan diketahui bahwa pada umur semai 4 bulan dengan tiga kali pengukuran. Kabupaten Tasikmalaya. Endah Suhendah. 0. Persemaian 166 . Halaman 62-78 . Biak.5 persen dan yang terendah adalah benih sengon yang berasal dari Wonogiri dengan pertambahan tinggi rata-rata 16.66 cm. 86.16 cm. Hama. Plot ujicoba dirancang dengan pola rotasi pembentukan struktur tegakan normal tanaman sengon dan nilam . masing-masing anak petak dengan tiga ulangan menghasilkan rata-rata diameter masing-masing 0. Produksi daun basah nilam dari ujicoba ini diperoleh 5.72 cm. Paraserianthes falcataria. Penelitian dilakukan di persemaian Loka Litbang Hutan Monsoon dengan menggunakan benih sengon dari 7 asal benih (provenans). cukup tinggi yaitu sebesar 30 persen dan lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas serangan Pteroma plagiophelps dan Valanga spp. Semai provenan Wamena rentan terhadap serangan hama Eurema spp.Sedangkan sasaran penelitian yang ingin dicapai adalah terjadinya peningkatan produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan pada areal hutan rakyat/lahan petani yang sempit. kupu-kuning (Eurema spp) dan Belalang (Valanga sp). Sedangkan pada umur 6 bulan setiap anak petak menghasilkan diameter rata-rata masing-masing 2.67 cm dan 0. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umur 3 bulan tanaman sengon pada petak penanaman tahun pertama. Nilam.1 ton daun basah/ha diperoleh daun kering kurang lebih 2.67 cm.2. Intensitas serangan Eurema spp. Halaman 114-122 . Data tinggi tanaman sengon berumur 3 bulan dari 3 anak petak dengan 3 ulangan masing-masing menghasilkan 87. 2005 Salah satu masalah penting yang perlu diatasi dalam pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat adalah pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit. sedangkan untuk penanaman nilam dilakukan serentak pada seluruh petak dalam bentuk jalur diantara tanaman sengon. dan Pteroma plagiophelps dibandingkan semai provenan Kediri.1 cm dan persen hidup 90. Jenis hama yang menyerang semai sengon adalah Ulat kantong (pteroma plagiophelps). Penanaman sengon dibagi dalam 6 rotasi tahunan. Hasil penimbangan dari 100 kg daun basah diperoleh sebanyak 55 daun kering. 2005 Tujuan penelitian adalah merakit paket teknologi agroforestry Nilam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi maksimun dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. 6 Desember 2005 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Subang dan Ciamis. Candiroto. Wonogiri. dan 193 cm. dan Rusdi. 6 Desember 2005 .80 cm. Jenis Penyakit yang ditemukan di persemaian adalah Oidium sp (Embun tepung) Kata kunci: Sengon. Hutan Rakyat Rachman. pertumbuhan tinggi terbaik berasal dari Candiroto dengan pertambahan tinggi rata-rata 35. -Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.6 cm dan persentase hidup 52 persen. baik pada umur tanaman yang masih muda (semai) maupun pada tegakan di areal hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tingkat semai sengon dari tujuh asal benih dan jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman sengon tersebut di persemaian. Kata kunci: Agroforestry. dan 2.

Di samping itu. Dalam konsep kerjasama hulu hilir pengelolaan DAS ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:1) harmonisasi dan sinkronisasi visi. bersamaan dengan makin menurunnya produktivitas hutan alam dari tahun ke tahun. 6 Desember 2006 . 2) perumusan mekanisme kerjasama. Penelitian ini adalah penelitian observasi melalui survey pada areal pengembangan hutan rakyat. CAI. 2005 Keberadaan hutan rakyat atau hutan milik sebagai salah satu alternatif penyedia kayu. dimana pertumbuhan tegakan memberikan hasil tahunan tertinggi. dan jumlah serta jenis tanaman lainnya adalah kegiatan utama dalam penelitian ini. Data dianalisa secara desktiftif serta disajikan secara gambar grafik untuk struktur tegakan. -. artinya pihak yang lebih diuntungkan diharapkan dapat memberikan kontribusinya dalam upaya pengelolaan DAS. tinggi pohon. Pengukuran diameter. 2006 : Halaman 177-187 . Halaman 121-124 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Ini mengandung arti ada penanggungan biaya bersama (cost sharing) dalam pengelolaan DAS. Kata kunci: Pengelolaan DAS. pakar sektor bisnis serta pemerintah dari pusat sampai daerah. Umur ini juga berarti antara grafik MAI dengan grafik CAI. 167 . Heru Dwi PROFIL HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN WONOSOBO: DITINJAU DARI STRUKTUR TEGAKAN DAN VEGETASI PENYUSUNANNYA / Heru Dwi Riyanto dan Wardojo -. Dewi KERJASAMA HULU HILIR DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)/ Dewi Retna I. Kata kunci: Acacia mangium.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Sedayu dan Pecekelan. 2006 Air yang merupakan sumberdaya yang mengalir (flowing resource) dari hulu ke hilir dan wilayah DAS yang tidak mempunyai batas yang bertepatan dengan batas wilayah administrasi. Upaya keterpaduan dan kerjasama hulu dan hilir ini dapat dilakukan antara lain dengan masingmasing wilayah menjalankan fungsi dan tugas pengelolaan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada di wilayahnya. Hal ini berarti bahwa harus ada komitmen yang kuat upaya dari setiap daerah untuk melakukan kegiatan pengelolaan DAS. Oleh karena itu. perlu ada azas keadilan dalam kerjasama ini. 4) peningkatan partisipasi masyarakat lokal pada berbagai tingkat melalui penyuluhan. dan hal ini merupakan permasalahan utama yang harus dipecahkan. Halaman 205-215 . Untu meningkatkan produktivitasnya melalui optimalisasi pengelolaan adalah dengan mengetahui dimensi strukturnya. tujuan-tujuan pengelolaan dan pertimbangan-pertimbangan ekonomi. sering menimbulkan konflik kepentingan antara daerah hulu dan hilir. Tata Air Riyanto. Waktu periode dari daur/rotasi tebang tergantung pada karakteristik pertumbuhan jenis. Masyarakat yang memperoleh manfaat atas pengelolaan DAS wajib menanggung biaya pengelolaan berdasar prinsip kecukupan dana (cost recovery). -. sedang masyarakat hilir dengan membuat bangunan resapan. Disayangkan hutan rakyat tersebut memiliki produktivitas yang rendah. MAI. 2006 Pegelolaan tegakan hutan adalah bagaimana mengelola hutan dalam rangka mendapatkan hasil yang tinggi dalam pemanenan. misi dan kebijakan pengelolaan DAS antar pemerintah kabupaten/propinsi. dan 5) diberlakukan reward dan punishment untuk memacu tanggung jawab tiap wilayah untuk melaksanakan pengelolaan DAS. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan konservasi tanah dan air di bagian hulu DAS dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan adanya biaya dari stakehorders yang mendapat manfaat sebagai akibat adanya kegiatan tersebut. dimana masyarakat hulu menjaga kuantitas air dengan jalan konservasi tanah di daerah tangkapan air.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Lokasi survey adalah di Desa Jonggolsari. Heru Dwi MAI DAN CAI ACACIA MANGIUM GUNA PENGATURAN TEGAKAN / Haru Dwi Riyanto. hasil yang tinggi tergantung pada daur/rotasi tebang. Kabupaten Wonosobo. Panjang dari daur dengan volume tertinggi adalah titik pertemuan umur tanaman ketika rata-rata riap tahunan (MAI) mencapai maksimum. jumlah batang. Satu daur rotasi adalah daur/rotasi volume maksimum. bagi industri perkayuan sangatlah penting. struktur volume. dalam pengelolaan DAS perlu keterpaduan dan kerjasama antara wilayah hulu dan hilir. Pengaturan Tegakan Riyanto. Paper ini adalah untuk menentukan umur daur/rotasi tebang berdasar daur rotasi volume maksimum di lokasi Benakat.Retna I. 13 September 2005 . 3) perlibatan berbagai aktor seperti LSM.

Kotawaringin Timur. perlu dilakukan reorientasi terhadap penerapan sistem desentralisasi sektor kehutanan baik pusat maupun daerah. Hutan Lestari. Hasil menunjukkan bahwa diameter kecil (sampling/pancang) memiliki jumlah yang lebih besar (74 persen) dibanding diameter yang lebih besar (pole/tiang) (23 persen) dan trees/pohon (3 persen). desentralisasi sudah menjadi salah kaprah bagi masing-masing pihak yang menonjolkan arogansi kekuasaan. sanksi dan kelembagaan. Bahkan di Kota Waringin terjadi penetapan pungutan atas pengangkutan kayu illegal.1 .755 ton. Meski secara hukum keberadaannya diakui. Dalam hal ini dalam menerapkan desentralisasi secara benar perlu kembali ke khittah (landasan berpijak)-nya yaitu mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. Tateng Sasmita . Yanto PERSPEKTIF HUTAN ULAYAT DALAM BUDAYA MINANGKABAU (STUDI KASUS DI JORONG KOTO MALINTANG. Halaman 281-296 . Kata kunci : Hutan ulayat. Struktur Tegakan. desentralisasi menjadi ajang rebutan hak dan wewenang terhadap hasil hutan kayu dari hutan alam. Illegal logging. Keadilan. 168 . Di sektor kehutanan. sosial budaya. Komposisi dan struktur hutan ulayat tidak homogen.408. manfaat ekonomi hasil hutan bukan kayu belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat. KABUPATEN AGAM) / Yanto Rochmayanto . Kabupaten Wonosobo Rumboko W. Kesejahteraan Rakyat Rochmayanto. Halaman 1-12 . sehingga dapat menjadi unggulan bagi pengembangan HHBK di hutan ulayat. sifat hak. Lukas DAMPAK DESENTRALISASI DI SEKTOR KEHUTANAN / Lukas Rumboko W.serta menggunakan indeks nilai penting untuk komposisi vegetasi. tapi mekanismenya kurang berjalan karena dualisme pengertian dan tumpang tindihnya peraturan. Kata Kunci : Desentralisasi. Demokratisasi. Hasil penelitian di Nagari Duo Koto Kabupaten Agam. Oleh karena itu. manajemen produksi. hasil hutan bukan kayu. dan nilai ekspor 6. Desa Sedayu lebih kurang 70 meter kubik/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 70 m kubik/ha. Ismatul Hakim. Kapuas dan Barito telah semakin meningkatkan kegiatan illegal logging (pencurian kayu). Kondisi ini tidak akan memberikan kontribusi yang baik bagi volume tegakan berdiri. Dalam perkembangannya. penelitian mengenai hutan ulayat dalam pandangan sosial budaya diperlukan untuk menjawab kendala pengembangan di atas. belum terlihat dalam bentuk rebutan tanggung jawab menjaga kelestarian hutan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah. riap ini berarti produktivitas pertumbuhan pohon/tegakannya. dengan istilah lain disebut pelegalan kayu-kayu illegal. 2006 Desentralisasi pada dasarnya merupakan konsekwensi dari semakin tingginya tuntutan perubahan (reformasi) di birokrasi dan keadilan yang merata di masyarakat. 4 . Namun demikian. Sehingga riap tahunan periodik rata-rata dari ketiga desa tersebut adalah lebih kurang 19m kubik/ha/tahun. Malinau. mekanisme pengelolaan. Kayu manis adalah komoditi yang tercatat di BPS Propinsi Sumatera Barat yang memiliki kapasitas ekspor cukup tinggi dengan volume ekspor 12. -. . Desa Sedayu lebih kurang 10885 tanaman/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 4251 tanaman/ha. fungsi ulayat. Melihat kecenderungan diatas. -. munculnya aktor-aktor baru yang saling membekingi satu sama lain dan meningkatnya nafsu Pemda untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. menunjukkan bahwa hutan ulayat dalam pandangan Minangkabau telah diatur secara lengkap. Hasil kajian oleh Centre For International Forestry Research (CIFOR) tahun 2003 menunjukkan bahwa desentralisasi sektor kehutanan di wilayah potensial seperti Propinsi Riau dan Kalimantan Timur seperti : Kutai Barat.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Syasri Jannetta. Kerapatan tanaman di Desa Jonggolsari lebih kurang 24188 tanaman/ha. hutan ulayat sangat potensial secara sosial budaya sebagai asset bangsa dalam menyediakan alternatif model pengelolaan sumber daya hutan.000 US $ pada tahun 2003. Volume tegakan berdiri di Desa Jonggolsari lebih kurang 90 m kubik/ha. yang meliputi : stasus tanah. Selain itu. Kata kunci: Hutan Rakyat. dan merupakan hasil kriteria sejarah dan ekonomi. karena yang ditekankan selama ini adalah manfaat lindung dan koservasi. 2006 Hambatan utama pengembangan hutan ulayat terletak pada dimensi hukum dan ekonomi.

Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. 169 . Kemungkinan kerja sama dengan luar negeri bisa langsung menyentuh ke masyarakat di daerah dengan bantuan teknis pemerintah pusat.. selain itu kulit kayu mangium mengandung tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan perekat kayu. salah satunya adalah mangium (Acacia mangium Willd) yang sampai saat ini telah mengalami spektrum lebih luas. Erdy PROSPEK APLIKASI TEKNOLOGI MIKROBA SIMBIOTIK DALAM MEMPERCEPAT REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TERDEGRADASI / Erdy Santoso. Mikroba Simbiotik Santoso. Maman Turjaman. 6 Desember 2006 . gaharu. khususnya yang menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. persemaian dan lapangan. diperbanyak. Pemanfaatan Kayu. Adi TEKNOLOGI PEMANFAATAN KAYU ACACIA MANGIUM / Adi Santoso. Teknologi Santoso. hasil hutan bukan kayu. kayu pertukangan maupun energi )bahan bakar & arang). Kata kunci : Industri rumah tangga. 4 . baik untuk kayu serat. Ragil SB Irianto. 2006 Keterpurukan industri pengolahan kayu di indonesia dewasa ini sudah mencapai titik kulminasi yang memerlukan penanganan menyeruluh dari berbagai aspek. -. Sejumlah jenis mikroba telah diidentifikasi. -. kerja sama internasional. Industri rumah tangga ini telah terbukti dengan limbah dan kerusakan sumber daya minimal. 2006 Makalah ini mendiskusikan hasil-hasil penelitian tentang prospek aplikasi teknologi mikroba simbiotik dalam mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi. 2006 Perpaduan industri rumah tangga dan kearifan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya hutan memiliki prospek yang baik jika mendapat sentuhan manajemen dan investasi. 6 Desember 2006 . Otonomi daerah dapat diarahkan untuk memberikan jaminan birokrasi yang lebih pendek. Dalam tulisan ini diuraikan hasil penelitian dasar dan aplikatif mulai dari eksplorasi mikroba. Beberapa jenis komoditi tanaman hutan yang penting telah memberikan pertumbuhan yang lebih baik setelah diinokulasi oleh beberapa jenis mikroba. Tulisan ini mengemukakan rangkuman hasil-hasil penelitian mengenai teknologi pemanfaatan kayu mangium sebagai bahan industri olahan dan ekstrak kulitnya sebagai bahan perekat kayu. Halaman 73-85 . Industri rumah tangga lebih banyak bergerak dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). -. Kata kunci: Acacia mangium. Teknologi produksi massal telah dikembangkan untuk setiap jenis mikroba dan aplikasinya dapat digunakan untuk skala massal. Hal ini telah seiring dengan pergeseran paradigma Timber Management ke Social Forestry yang tidak menekankan kayu sebagai satu-satunya produk yang bernilai ekonomis dari hutan. Dari hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan aplikasi teknologi mikroba dapat membantu peningkatan produksi bibit tanaman hutan dalam skala massal dan komersial.al) . berskala internasional dan berbasis masyarakat. Sasaran utamanya adalah melalui kerja sama internasional industri rumah tangga hasil hutan bukan kayu dapat menjadi sektor ekonomi di bidang kehutanan yang kuat.Rochmayanto. Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan melalui pemanfaatan kayu dari hutan tanaman. Salah satunya adaah menyeimbangkan dengan segera pasokan bahan baku kayu guna memenuhi kapasitas industri pengolahan kayu. bintangur dan pinus. pulai..Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. sistem pemasaran dan perluasan pasar. dan dipelihara pada media tumbuh mikroba. mampu memberikan produk yang cukup diperhitungkan di pasaran. diantaranya jenis-jenis akasia. kearifan tradisional. berwawasan lingkungan. Kerja sama internasional dapat menumbuh kembangkan industri rumah tangga HHBK menjadi arena usaha yang memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pendekatan permodalan. screening dan ujicoba dalam skala laboratorium. ekaliptus. Halaman 297-308 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Halaman 87-102 .(et. jelutung. meranti.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Yanto PENGEMBANGAN POLA KEARIFAN LOKAL MENJADI INDUSTRI RUMAH TANGGA HASIL HUTAN BUKAN KAYU / Yanto Rochmayanto. jati.

-. Disamping itu. dan birokrat di wilayah lingkungan yang terkait dengan konsep tersebut. dan (4) merumuskan penyempurnaan kebijakan RHL di NTT. dengan menerapkan teknologi perbenihan dan pembibitan. Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas tegakan dan target penanaman yang harus dicapai. Luasnya kerusakan sumberdaya hutan telah menyebabkan mundurnya kualitas lingkungan hidup yang diindikasikan dengan rendahnya produktivitas lahan. Selain itu. KONSEP KONPENSASI HULU HILIR/ Subarudi. Tulisan ini akan membahas dan menguak secara detail tentang konsep megapolitan yang meliputi: (i) gambaran umum tentang megapolitan. Konsep ini sebenarnya sudah lama diterapkan oleh Pemerintah DKI dalam perencanaan internalnya yang sudah umum dikenal sebagai kawasan Jabotabek (Jakarta. -. Bogor. Nusa Tenggara Timur Sudrajat.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 2005 Pembangunan kehutanan di Indonesia pada saat ini dan masa yang akan datang menghadapi tantangan dan hambatan yang semakin kompleks. penggembalaan liar.Subarudi MEGAPOLITAN. 2004). kebijakan nasional khususnya kebijakan yang menyangkut otonomi daerah dirasakan masih belum sepenuhnya dapat mendukung kemantapan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. Halaman 7-22 . Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengetahui tentang kebijakan RHL di NTT. 2006 Acacia mangium merupakan jenis pioner yang mampu tumbuh pada lahan yang marjinal. tingkat efisiensi di persemaianpun dapat ditingkatkan 170 . Dede J. 2006 Konsep Megapolitan yang diusung oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) mendapat tanggapan yang luas dari beberapa pakar hukum. (3) menganalisis pembiayaan RHL. Sudrajat dan Nurhasybi. Rehabilitasi hutan. Tanggerang dan Bekasi).Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. 2006 : Halaman 219-225 . Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya laju kerusakan hutan yang mencapai 2. Otonomi daerah Subarudi KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN: STUDI KASUS DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)/ Subarudi dan Iis Alviya. pemerintah DKI berusaha dan berupaya agar konsep seperti itu dapat menggapai lebih luas bagi wilayah perencanaannya dengan mengikutsertakan 2 provinsi tetangganya yang dikenal dengan konsep megapolitan.5 juta ha/tahun. (ii) resistensi di era otonomi daerah. yaitu DKI. Konsep megapolitan ini banyak menimbulkan pro dan kontra dari para pihak sehingga kajian yang menyeluruh dan netral tentang hal ini sangat diperlukan sehingga konsep ini dapat diterapkan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. pemerintah NTT telah mengesahkan "Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2004-2008" melalui SK Gubernur NTT No: Tahun 2004. Berkaitan dengan hal tersebut diatas. Kegagalan penyediaan bibit siap tanam di lapangan seringkali disebabkan oleh minimnya penguasaan teknologi perbenihan dan pembibitan. perambahan kawasan hutan dan illegal logging (NTT. Jenis ini merupakan salah satu prioritas dalam pengembangan hutan tanaman. lingkungan. Kata kunci: Megapolitan. dan (iv) strategi penerapan megapolitan di masa depan. 2004). 13 September 2005 . Sebenarnya konsep Megapolitan bukanlah konsep baru dalam upaya menggabungkan perencanaan di wilayah yang termasuk dalam 3 provinsi. Kata kunci: Kebijakan. Rehabiitasi lahan. Kemungkinan setelah sukses dengan konsep "internal" Jabotabeknya. (2) mengevaluasi pelaksanaan RHL. Oleh karena itu upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis (RHL) merupakan salah satu prioritas pembangunan sektor kehutanan. jawa Barat. masih terjadi kesimpangsiuran dalam menjabarkan kebijakan dimaksud sehingga dalam masa transisi ini masih diperlukan adanya upaya-upaya untuk menyelaraskan persepsi dan visi dalam merumuskan kebijakan strategis di bidang pembangunan kehutanan baik nasional dan regional maupun tingkat lokal (NTT. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Halaman 177-188 . (iii) kelemahan dan kelebihan konsep megapolitan. 6 Desember 2006 . tingginya laju erosi dan besarnya peluang terjadinya banjir dan kekeringan yang berdampak kepada menurunnya kualitas kehidupan. tanggal 20 pebruari 2004. Laju kerusakan hutan khususnya di wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) disebabkan oleh kebakaran hutan. TEKNOLOGI PERBENIHAN DAN PERBIBITAN ACACIA MANGIUM/ Dede R. bisnis. dan Banten.

dan kegiatan agribisnis perhutanan. Sementara itu pasokan kayu rakyat dari kabupaten Ciamis hanya mampu mencapai 326. kegiatan penghijauan. Supply-Demand. Sementara itu produksi kayu rakyat mencapai sekitar 326.2006 . kebutuhan terhadap bahan baku kayu juga akan terus meningkat.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Halaman 129-133 .000 M kubik/tahun seperti diutarakan di atas. Kondisi tersebut di atas menunjukan bahwa betapa besarnya kesenjangan antara pasokan (suply) dan kebutuhan (demand) kayu yang berasal dari hutan negara. dan Sudarmanto.Studi ini merupakan tinjauan empirik terhadap beberapa kegiatan tersebut di atas. -.571 M kubik/tahun (Subarudi.000 M kubik/tahun yang tercatat melalui pelayanan SKAUK dan SKSHH (Dishut Ciamis. 2002).5 juta M kubik/tahun (Suryohadi Kusumo dalam Suyarno dan Dian Diniyati. Ekonomi. LSM dan masyarakat akan pentingnya kelestarian hutan.375.285 . Kata kunci: Hutan Rakyat. Kelompok Tani. sementara itu pasokan kayu dari hutan alam dan hutan tanaman hanya mampu mencapai sekitar 25 juta M kubik/tahun (RLPS. Berbagai komponen masyarakat dalam pengelolaan hasil hutan. Halaman 65-71 . Disimpulkan bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara usaha ekonomi dan usaha ekologi dalam pengelolaan hutan. Teknologi perbenihan Sufyadi. Perbenihan. Kegiatan penghijauan dapat menggerakkan aparatur pemerintah. pemerintah hingga perusahaan baik usaha besar maupun usaha koperasi dan UKM. Tiwa PENGELOLAAN SUPPLY-DEMAND KAYU RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS / Tiwa Sukrianto. Di pulau jawa yang mempunyai penduduk paling besar. 2005). Subarudi.(meningkatnya keberhasilan penyediaan bibit akan menyebabkan biaya per satuan bibit siap tanam menurun) yang akhirnya akan berpengaruh terhadap mutu tegakan yang dihasilkan.1. Pembibitan. seperti Proyek MA-LU. Ditingkat lokal untuk memenuhi seluruh industri penggergajian kayu sekitar 400 unit diperlukan pasokan bahan baku antara 688. 2006). Proyek MA-LU dapat menggerakkan pusat kekuasaan di desa sekitar hutan dalam menyelamatkan hutan. kayu bakar) dipenuhi dari kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat (Djaja Percunda. Kegiatan agribisnis perhutanan dapat menggerakkan. Disarankan bahwa seluruh komponen masyarakat apapun statusnya perlu memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama bahwa hutan lestari dapat menyelamatkan kehidupan kita. 2003). perlu dukungan teknologi perbenihan dan pembibitan yang tepat. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan jenis ini. Kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang terus meningkat seperti diutarakan di atas. Manajemen Sukrianto. kab. 2006 Hutan pegang peranan penting. Di kabupaten Ciamis produksi kayu dari Perum Perhutani hanya mencapai rata-rata sekitar 35. sedangkan produksi kayu Perhutani hanya mencapai 1. dan diperkirakan hanya kurang dari 5 persen yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Dalam beberapa tahun kedepan kesenjangan ini akan semakin besar karena pemerintah telah menerapkan pembatasan penerbangan dari hutan alam dan juga dari hutan tanaman. Dedi TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EKONOMI DAN MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT / Dedi Sufyadi. kebutuhan kayu mencapai 9 juta M kubik/tahun. terutama bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Kata kunci: Acacia mangium. Fakta menunjukan bahwa 70-90 persen kebutuhan kayu di Pulau Jawa (kayu pertukangan. dan meningkatnya pembangunan ekonomi. Ciamis 171 . 2003).Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.000 M kubik/tahun. Berbagai kegiatan telah diikhtiarkan oleh pemerintah melalui beberapa kegiatan.2006 . Pertumbuhan Industri yang mengolah bahan baku kayu di tingkat lokal maupun regional (Jawa Barat dan Jawa Tengah) saat ini telah meningkatkan kebutuhan bahan baku kayu rakyat secara signifikan. -. Kata kunci: Kayu Rakyat. Pengelolaan hutan memerlukan adanya peran serta aktif dari berbagai komponen masyarakat mulai dari satuan rumah tangga. yang mana penulis pernah terlibat didalamnya. Kebutuhan kayu secara Nasional diperkirakan mencapai 60 juta M kubik/tahun. Informasi pengembangan teknologi perbenihan dan pembibitan yang dihasilkan dari beberapa penelitian seyogyanya dapat menjadi acuan bagi praktisi di lapangan guna meningkatkan keberhasilan penanaman jenis ini. 2006 Sejalan dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk.

mangium cenderung semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. Total potensi energi tanaman A. Sudrajat.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. dan Ragil Bambang WMP. Cadangan air tanah yang dikeluarkan pada musim kering sebagai aliran dasar lebih banyak (stabil) terjadi pada erosi dan laju sedimentasi.mangium. Segala tindakan pengelolaan hutan maupun gangguan yang terjadi akan menpengaruhi kondisi tata air DAS.67 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 7 tahun. Untuk mendukung hal tersebut. Melalui upaya mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism. mangium semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. 2006 Salah satu fungsi hutan adalah penyimpan kalor dalam bentuk karbon (Kayu) yang berpotensi untuk mengurangi terjadinya emisi karbon yang dapat menyebabkan kenaikan gas rumah kaca (GRK). baik kawasan hutan maupun non hutan tentang pentingnya mempertahankan kawasan hutan dalam suatu wilayah DAS.97 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 1 tahun. KPH Cepu Supangat. Supangat dan Paimin.52 Giga Joule/Ha. Potensi energi biomasa hutan A.Supangat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama periode 1998-2004. Kata kunci: DAS. diperlukan informasi karakteristik nilai kalor dan potensi energi yang tersimpan pada biomasa tegakan hutan. Kata kunci: Acacia mangium. dengan studi kasus di PT. Halaman 125135 . Nilai Kalor. kabupaten Blora. serta antara daun dan serasah tanaman A.mangium mempunyai nilai rata-rata sebesar 4. ranting. juga berperan sebagai pengatur kondisi hidrologis DAS. 2006 Keberadaan Hutan dalam DAS diketahui selain befungsi produksi (kayu). MANGIUM): STUDI KASUS DI HTI PT. tumbuhan bawah. Agung B. mangium sangat nyata terhadap parameter nilai kalor dan potensi energi. Model DAS berpasangan antara DAS di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai CicatihCimandiri. melalui pengamatan papameter tata air pada DAS. -. Tata Air. R. nilai kalor dan total energi dari masing-masing biomasa hutan pada lahan tegakan Akasia (A. CDM) serta international Emmision Trading (Carbon Trading). Penelitian dilaksanakan di Sub DAS Modang di areal hutan Jati di wilayah RPH Ngawenan. mangium dipengaruhi total nilai kalor dan potensi biomasa per hektar. dan terbesar 8. Hasil penelitian penunjukan bahwa nilai kalor tanaman A. MUSI HUTAN PERSADA. Biomasa Hutan. mangium). dan Sub DAS Soko (di luar kawasan) di kecamatan Bogorejo. HTI. dapat disimpulkan bahwa secara umum berdasarkan nilai parameter hidrologi tahunan sub DAS kawasan hutan jati lebih baik dalam mengendalikan hujan untuk menjadi aliran permukaan. -. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hutan jati dalam menjaga tata air. mangium. PERAN HUTAN TANAMAN JATI SEBAGAI PENGATUR TATA AIR: STUDI KASUS DI SUB DAS KAWASAN HUTAN JATI DI KPH CEPU / Agung B. Hutan Tanaman Jati. Hasil penelitian di atas dapat menjadi masukan bagi pengelola kawasan. 2006 : Halaman 161-174 .ditunjukan nilai rata-rata koefisien limpasan yang lebih kecil dengan fluktuasi yang stabil. KPH Cepu. 6 Desember 2006 . pada sub DAS kawasan hutan lebih baik dalam mengendalikan kedua parameter tersebut. baik pada batang. Musi Hutan Persada 172 . Musi Hutan Persada Sumatera Selatan. baik terhadap tanaman A. Agung B. Supangat. SUMATERA SELATAN / Agung B. Total potensi energi tiap-tiap umur tanaman A. Oleh karenanya disarankan dalam perencanaan pengelolaan suatu wilayah DAS untuk menambah dan mempertahankan kawasan hutan terutama pada kawasan yang diperuntukan sebagai kawasan konservasi dan rawan bencana. dimanfaatkan untuk menilai kondisi hidrologi yang dihasilkan. Total nilai kalor tumbuhan bawah pada tegakan A. dengan nilai terkecil 0.mangium tidak memperlihatkan kecenderungan meningkat. INFORMASI NILAI KALOR BIOMASA HUTAN PADA LAHAN TEGAKAN AKASIA MANGIUM (A. maka peningkatan panas bumi akibat kenaikan GRK yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dapat ditekan. maupun daun. Pengaruh umur tanaman A. BKPH Pasarsore. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomasa.

Halaman 217-225 . SULAWESI SELATAN / R. dan kedua. Untuk itu perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI) bekerja sama dengan yayasan WWF Indonesia dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) melakukan kerjasama dalam pelaksanaan program "Menuju Sertifikasi Hutan Rakyat dan Pengembangan Akses Pasar Global". Semakin luasnya hutan rakyat tersebut merupakan peralihan fungsi dari lahan tegal atau pekarangan. Sekalipun begitu. diperlukan instrumen manajemen untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasinya tersebut. 2005 Kebijakan sosial forestry merupakan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam sistem pengelolaan hutan. 2006 Tingginya laju penebangan hutan di Indonesia semenjak tahun 1998. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa proses manajemen multipihak akan terdiri dari proses kajian dan analisa. telah menjadi persoalan serius. Akibatnya pertambahan dan kecepatan nilai ekonomi dari hasil kayu tidak bisa memberi sumbangan secara cepat kepada petani. Wonogiri Supriadi PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI STASION PENELITIAN DAN UJI COBA BORISALLO. rendahnya harga kayu yang diterima. terbatasnya pengetahuan petani dalam hal pasar dan pemasaran produk kayu jati. Sulawesi Selatan 173 . Meskipun demikian. Sulawesi Selatan menggunakan metodologi penelitian aksi partisipatif atau partisipatory Action Research (PAR) untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasi masyarakat dalam proses manajemen.kedua. Kata kunci: Kelembagaan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. (2) identifikasi masalah dan kebutuhan lokal spesifik. Keseluruhan tahapan kegiatan tersebut dilakukan secara partisipatif oleh seluruh pihak terkait. Keterbatasan dari aspek silvikultur pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya perawatan seperti perempelan. SPUC Borisallo. lemahnya posisi tawar petani dalam proses tawar menawar. Kata kunci: Hutan Rakyat. Dengan demikian sekurangnya dapat dilakukan dua hal.Suprapto. Di kabupaten Wonogiri. pertama penguatan institusi petani dan peningkatan kapasitas petani dalam hal pengelolaan produksinya dalam 2 unit manajemen.000. -Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. ketiga lemahnya posisi tawar dalam penentuan harga kayu.tahapan kegiatannya terdiri dari (1) identifikasi dan karakterisasi lokasi baik secara sosial ekonomi. potensi produksi kayu dari hutan rakyat mencapai 43. baik dalam pasar domestik maupun global. Besarnya angka-angka di atas menunjukan betapa pentingnya nilai strategis hutan rakyat sebagai penopang ekonomi dan sekaligus penyangga secara ekologis. Dengan luasan areal hutan sebesar 1. diakui bahwa terdapat sejumlah permasalahan mendasar dalam hal pengelolaan hutan rakyat secara umum.2006 . Dalam rentang 5 tahun terakhir. penambahan luasan hutan rakyat rerata 250 ha setiap tahunnya. serta keenam kurang berkembangnya pengembangan usaha-usaha produktif dari hasil non kayu maupun produk dari hasil olahan kayu. (3) fasilitas proses manajemen. Kelima.000. Teguh PENGALAMAN DALAM PENGAWALAN MENUJU SERTIFIKASI ECOLABEL HUTAN RAKYAT: CERITA DARI WONOGIRI / Teguh Suprapto. SupriadiProsiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Sosial Forestry. Laju tersebut diperkirakan mencapai 28 ha/menit. keempat. penjarangan dan pemupukan yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas hasil kayu. berbicara pengembangan hutan rakyat masih dijumpai beberapa permasalahan. pengembangan perdagangannya (pemasarannya). Sementara itu. sosial kelembagaan maupun biofisik. Permasalahan tersebut diantaranya rendahnya harga kayu yang diterima oleh petani hutan. masih lemahnya organisasi petani dalam satuan unit manajemen. tiadanya jaringan informasi harga kayu dan jaringan pemasaran yang memihak mereka. dan (4) monitoring-evaluasi dampak manajemen. Ekolabel. hutan rakyat yang biasa oleh masyarakat disebut dengan wono atau alas makin tahun menunjukan jumlah luasan secara berarti.000 m kubik. Tulisan ini merupakan hasil sintesa mengenai proses manajemen multipihak yang cocok diterapkan dalam pengembangan sosial forestry di SPUC Borisallo. Halaman 43-50 .000 m kubik jati diproduksi oleh hutan rakyat di Jawa (Dephut. formulasi aturan main manajemen/implementasi dan monitoring-evaluasi. 23. sehingga mempersempit sisa hutan dunia yang tinggal 40 persen. Dalam praktiknya. Pertama. dari jumlah tersebut. dapat dilakukan pendekatan dalam pengembangan hutan rakyat yang mengarah pada perbaikan nilai secara ekonomi maupun ekologi.3 juta ha di seluruh Indonesia. masih kurangnya pemahaman pada aspek-aspek silvikultur. 2003). 13 September 2005 .

Perum Pehutani dan pihak swasta mulai dari perencanaan.1 . sehingga susah dijual.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. 6 Desember 2005 . yang pada dasarnya sudah dimulai sejak dulu. -. sehingga nilai tambah buat petani masih sangat kecil. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sejak tahun 2000 telah dicanangkan melalui program pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Pelaksanaan. sehingga insentif untuk menggairahkan petani pekerja bersungguh-sungguh dan mencurahkan seluruh kapasitasnya tidak tercapai. Kata kunci: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. harga yang diterima petani tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.Adapun distribusi yang diberikan oleh semua pihak yang terlibat dalam pembangunan PHBM merupakan hasil kesepakatan bersama yang didasarkan atas konsep sharing baik dalam penyertaan modal maupun pembagian hasil usaha. Jumlah kunjungan ke Taman Nasional Gede Pangrango dapat dipengaruhi oleh faktor 174 . memerlukan pemikiran dan perhitungan yang akurat. sumberdaya manusia yang tersedia belum memenuhi standar yang dibutuhhkan program. 2005 Permasalahan klasik yang sering kita temui dalam pengembangan usaha di bidang pertanian khususnya pada tatanan sub sistem usahatani (on farm) yang melibatkan masyarakat banyak. kalaupun mendapatkan pasar. Halaman 17-40 . sangat mungkin social benefit income atau keuntungan normatif dari suatu program. 6 Desember 2005 . seperti keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora.Manfaat ekologis dan sosial suatu program mungkin lebih besar dibandingkan dengan manfaat ekonomis. Terlibatnya berbagai stakeholder dalam pengelolaan hutan salah satunya diwujudkan dalam pengelolaan hutan yang berbasis PHBM di KPH Tasikmalaya. diantaranya adalah: Produk hasil usaha petani sulit menjangkau akses pasar.Pada gilirannya pencapaian target program kurang maksimal. Pada akhirnya. volume hasil produksi usahatani terlalu kecil untuk dijual. Berkaitan dengan hal itulah penulis mencoba menyajikan suatu panduan sederhana untuk memilih komoditas atau aktivitas yang diharapkan hasilnya mendekati target yang diharapkan. program kurang berbasis pada sumberdaya lokal. keterampilan petani belum mencapai standar yang dibutuhkan untuk mengelola aktivitas program yang dikembangkan. -. Namun demikian memilih komoditas atau aktivitas yang tepat bukan perkara yang terlalu mudah. KPH Tasikmalaya Suprianto PANDUAN ANALISIS KELAYAKAN USAHA KOMODITAS YANG DIKEMBANGKAN PADA HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN / Suprianto. 2005 Seiring dengan masih meningkatnya laju kerusakan dan perambahan hutan maka program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan terus dikembangkan. Hutan Kemasyarakatan. dan pembagian hasil usaha serta pembangunan kelembagaan kelompok. 2006 Influences to a Tourism Visitor in Gede Pangrango National Park (GPNP)) / Epi Syahadat. -. fauna. dimana program ini membuka ruang yang luas bagi berbagai pihak untuk berperan serta dalam pengelolaan hutan.Suyarno KONTRIBUSI SWASTA DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM PHBM DI KPH TASIKMALAYA / Suyarno. Halaman 22-33 . PHBM. Epi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN WISATAWAN DI TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (The Factors with are Kehutanan : Volume 3 No. produk yang dipasarkan masih dalam bentuk primer. maupun ekosistemnya termasuk keindahan panorama alamnya.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Program PHBM ini melibatkan masyarakat sekitar hutan.prasarana dan sarana penunjang masih sangat minim dan lain sebagainya. Berkaca pada fenomena tersebut pemilihan komoditas atau aktivitas program yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan. Permasalahan-permasalahan tersebut juga sangat mungkin kita temui dalam rangka pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Taman Nasional Gede Pangrango memiliki berbagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). Halaman 185-193 . namun juga terlalu besar volumenya apabila hanya untuk dikonsumsi oleh keluarga petani. Akar permasalahan biasanya erat kaitannya dengan aspek-aspek usahatani yaitu ukuran (size) usahatani yang dikelola tidak mencapai skala ekonomi (economic scale). Kata kunci: Hutan Rakyat. lebih besar dibandingkan dengan profit income untuk petani peserta program. Kelayakan usaha Syahadat.

Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan yang ada. dengan jumlah responden sebanyak 142 orang. peredaran. Akan tetapi secara parsial. Kata kunci : Taman Nasional Gede Pangrango. pengelolaan lingkungan. dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan rakyat dapat tercipta dengan baik. perencanaan kawasan. faktor sarana prasarana. faktor obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). yaitu : pariwisata nasional. dan faktor keamanan secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh terhadap jumlah pengunjung akan tetapi tidak secara nyata (tidak signifikan) di Taman Nasional Gede Pangrango. kelancaran. pengolahan data dilakukan menggunakan program “SPSS for windows versi 12”. Halaman 117-132 . (GPNP) Management Strategy For Tourism Development In Forest Area) / Epi Syahadat. Karena itu untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut secara bersama-sama (simultan) terhadap jumlah pengunjung. pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pelayanan. pelayanan.2 .pelayanan. khususnya kebijakan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat. wawancara. Sehubungan dengan hal tersebut maka pelaksanaan pengembangan pengelolaan kepariwisataan di Taman Nasional Gede Pangrango harus mampu menjadi sarana untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2006 Penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat belum tertata dengan baik dan pelaksanaannya oleh petugas atau oleh instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal.1 . maka dilakukan penelitian ini. 2006 Syahadat. maupun duplikasi data sekunder. dan faktor keamanan. Analisa SWOT dilaksanakan untuk menyusun strategi peluang usaha di Taman Nasional Gede Pangrango. Epi ANALISA STRATEGI PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (TNGP) UNTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA ALAM DI KAWASAN HUTAN (An Analysis of Gede Pangrango National Park Syahadat. (Study on Forest Product Administration Orientation in Community Forest as a Basic Reference in Community Forest Usage) / Epi Pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) merupakan bagian integral dari pembangunan kepariwisataan nasional. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. sosial ekonomi dan budaya. Keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan nasional di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dapat dicapai atau di raih berkat keterpaduan dan kesinergian antara kekuatan masyarakat. obyek dan daya tarik wisata alam. faktor obyek dan daya tarik wisata alam. penatausahaan hasil hutan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara orientasi lapangan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2005 dengan penentuan sampel secara accidental sampling yang dilakukan secara acak sederhana. media masa.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. dari keempat faktor tersebut faktor keamanan yang mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) dan dominan terhadap jumlah pengunjung di Taman Nasional Gede Pangrango. Kata kunci : Hutan rakyat. Halaman 75-90 . faktor sarana prasarana.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. dan pengusaha pariwisata. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata alam. Adapun strategi pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam meliputi pengembangan : 175 . sarana prasarana. -. Epi KAJIAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN RAKYAT SEBAGAI DASAR ACUAN PEMANFAATAN HUTAN RAKYAT Hasil kajian menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu disempurnakan dalam aturan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat agar ketertiban. sampai kepada pengangkutan hasil hutan perlu disederhanakan tanpa mengurangi fungsi penatausahaan hasil hutan yang efektif dalam melestarikan hutan dan mejamin hak-hak negara atas hasil hutan. Syahadat. Penyempurnaan mulai dari pembuatan Surat Izin Penebangan (SIP) serta perlu adanya berita acara pemeriksaan penebangan sebelum pengesahan LHP. Kajian penatausahaan hasil hutan pada hutan rakyat dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan yang menyebabkan tidak efektif mengendalikan peredaran kayu. -. keamanan. pengangkutan. penataan ruang serta peraturan perundangan. pemanfaatan. selain daripada itu pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional.

aspek pengelolaan. aspek pemasaran. Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001. aspek kelembagaan. sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No 126/2003. Pengelolaan taman nasional (TN) saat ini dirasakan masih jauh dari kesan profesionalisme dan menguntungkan (profitable) karena selama ini pengelolaan TN diidentikan dengan pusat pengeluaran biaya (cost centre). organisasi. aspek pengusahaan. Kata kunci : taman nasional gede pangrango. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. Apul Sianturi. Halaman 317-331 . Dokumen angkutan kayu rakyat yang berlaku pada saat ini adalah SKSHH yang di cap Kayu Rakyat (KR). kayu rakyat. aspek sarana dan prasarana. dan Nomor P. Oleh karena itu kajian kelembagaan pengelolan TN sangat diperlukan untuk mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan yang muncul dibidang peraturan dan kebijakan. Subarudi KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL: STUDI KASUS PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL DI PULAU JAWA / Subarudi. dan struktur pembiayaan dalam pengelolaannya.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Oleh karena itu pengelolaan dan pengembangan taman 176 . mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan serta mengkaji kemampuan petugas dalam memantau produksi dan peredaran hasil hutan. Dimasa yang akan datang dalam pengangkutan kayu rakyat akan diberlakukan dokumen angkutan lain selain SKSHH yang di cap KR.51/Menhut-II/2006.18/2005. dan menguntungkan. aspek peran serta masyarakat dan penelitian dan pengembangan. sedangkan jenis kayu lainnya akan diatur kemudian oleh Menteri Kehutanan atas dasar usulan dari masing-masing Dinas Provinsi. Kualitas SDM yang bekerja di TN yang disurvey didominasi oleh lulusan SLTA dan SLTP dan hanya sedikit pegawai yang berpendidikan sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2) sehingga hal ini akan menjadi hambatan besar dalam rencana perubahan (agent of changes) pengelolaan TN yang lebih profesional. Epi KAJIAN PENYEMPUNAAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN HAK RAKYAT (KASUS DI PROVINSI JAWA BARAT) / Epi Syahadat . pengembangan pariwisata. 1-4 milyar dan sumber dananya berasal dari angaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebanyak 20 persen dan sisanya (80 persen) berasal dari dana Reboisasi (DR) dan dana provisi sumber daya hutan (PSDH). 13 September 2005 . Halaman 97113 . Kajian penyempurnaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat (kasus di Provinsi Jawa Barat) dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat yang menyebabkan tidak efektif dalam mengendalikan peredaran hasil hutan.4 . -. kelestarian alam. kesejahteraan masyarakat. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan.aspek perencanaan pembangunan. perijinan. hasil kajian menunjukan bahwa kebijakan pengelolaan TN yang menggunakan pendekatan keamanan (security approach) harus sudah ditinggalkan dan menggantinya dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dan berbasis masyarakat. Nomor P. wisata alam.26/2005. akan tetapi SKAU ini hanya terbatas kepada 3 (tiga) jenis kayu. kayu karet dan kayu kelapa. bertanggung jawab. rata-rata pembiayaan tahunan untuk operasional TN yang disurvey berkisar antara Rp. penebangan. -. sesuai dengan Peraturam Menteri Kehutanan Nomor P. Kata kunci: Penatausahaan. yaitu Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) sebagai dokumen resmi angkutan kayu rakyat yang diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat yang setara. Penyeragaman struktur organisasi TN hendaknya dihindari karena karakteristik pengelolaan dan permasalahan yang dihadapi berbeda-beda untuk setiap TN.25 juta hektar yang meliputi 486 unit kawasan (447 unit atau 82 persen konservasi daratan dan 39 unit konservasi laut) dengan lokasi yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003. yaitu kayu sengon. 2005 Saat ini luas kawasan konservasi di Indonesia mencapai 26. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. peredaran. pengangkutan. Syahadat.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. kondisi SDM.51/2006. kawasan hutan .

2006 Tekanan terhadap hutan semakin meningkat baik terhadap lahan kawasan hutan maupun hasil hutan dengan semakin merebaknya tingkat gangguan keamanan hutan berupa pencurian hasil hutan dan perambahan hutan. 12 ha. Peranan dan fungsi PS diyakini saat ini sebagai indikator penentu keberhasilan pengurusan hutan dan jaminan bagi keberadaan Dephut di masa depan. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. serta dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.56 ha yang telah berdampak terhadap keadaan lingkungan. maka perlu ditunjang pula dengan merehabilitasi lahan-lahan diluar kawasan hutan. Halaman 31-38 . Yakni kegiatan tanam menanam pohon kayu-kayuan dengan atau tanpa jenis tanaman Multiple Plan Trees Species (MPTS) yang ditunjang dengan atau tanpa tanaman semusim yang tergantung terhadap kondisi fisik wilayah dan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. tingkat sosial dan ekonomi masyarakat maupun terhadap sektor pembangunan di Jawa Barat. dan Pengelolaan Hutan Lestari Suherman KEBIJAKAN PROPINSI JAWA BARAT DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT / Suherman dan Yeyep Sudrajat. yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan. -. Guna menunjang program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis. juga mendukung penyediaan bahan baku kayu Jawa barat. Dan hal lain juga berdampak terhadap penyediaan bahan baku kayu industri pertukangan. Dengan pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat menunjang perbaikan kondisi lingkungan Jawa Barat yang saat ini mengkhawatirkan. mebelair. semakin terbatasnya areal pertanian serta belum tergalinya potensi ekonomi masyarakat sekitar hutan secara optimal.2006 . Kata kunci: Taman Nasional.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kata Kunci : Rencana Makro.303. Pengelolaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Perhutanan Sosial (PS) menjadi istilah yang tepat pengganti kata SF. Konsep makro PS harus seiring dan seirama dengan program kehutanan nasional dan sesuai dengan sistem pengelolan hutan lestari. khususnya diwilayah yang berfungsi lindung. pulp/kertas.Pelestarian hutan dan lahan adalah merupakan langkah strategis dan agenda utama pembangunan bidang kehutanan Jawa Barat. yakni diindikasikan dengan luas lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 455. Strategi penyusunan konsep makro hendaknya tidak diberikan kepada pihak ketiga tetapi dikerjakan secara bersama dengan menggunakan pendekatan manajemen fungsi bagi setiap unit eselon I lingkup Dephut. 2006 Departemen Kehutanan (Dephut) saat ini sedang menyusun konsep makro social forestry (SF) sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan prioritas ketiga. dan lain-lain. dan di luar kawasan hutan seluas 514. Karena kondisi kawasan hutan dan lahan di Jawa Barat saat ini dalam keadaan kritis dan memprihatinkan. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui pengembangan perekonomian desa merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka penggalian potensi sumberdaya perekonomian masyarakat sekitar hutan dengan untuk memberi peluang berusaha kepada masyarakat.1 . Social Forestry.749. Keadaan ini disebabkan masih rendahnya perekonomian masyarakat sekitar hutan. Pulau Jawa Subarudi KONSEP RENCANA MAKRO SOCIAL FORESTRY: KUNCI SUKSES MENUJU SISTEM PENGELOLAAN HUTAN LESTARI (SPHL)/ Subarudi. dan (iii) strategi penyusunan konsep makro SF. yakni dengan metoda vegetatif maupun secara sivil teknis. maka langkah yang efektif dan efisien adalah melalui metoda vegetatif dengan pembangunan hutan rakyat.nasional ke depan hendaknya para pengelola TN diberikan kewenangan yang besar (desentralisasi pengelolaan TN) untuk berimprovisasi dalam pengelolaannya sehingga pengelolaan taman nasionalnya dapat lebih professional dan menguntungkan. selain merehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak. Halaman 14-21 . Oleh karena tulisan itu mencoba mengkaji konsep makro SF yang terdiri dari: (i) pencarian istilah SF dalam bahasa Indonesia. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan sehingga ketergantungan terhadap hutan dan hasil hutan semakin berkurang. Namun demikian pengertian SF tersebut masih belum dipahami oleh berbagai pihak terkait sehingga keberhasilan dari program tersebut sangat diragukan.Dalam rangka pelestarian hutan dan lahan tersebut. (ii) konsep makro SF dan faktor-faktor penentunya. 177 .

Propinsi Jawa Barat Sylviani PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS (STUDI KASUS KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR)/ Sylviani. -.Disamping itu juga meningkatkan partisipasi aktif pengembangan budidaya usahatani hutan rakyat dan meningkatkan tingkat kesadaran pengelolaan lahan yang berwawasan pelestarian alam. SKSHH diterbitkan oleh P2SKSHH. karena ini merupakan suatu alat kontrol yang dilakukan pemerintah pusat/daerah terhadap pejabat P2SKSHH. Pasal 20. Balai Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungai ( BPSDAWS ) dan Perum Jasa Tirta I.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Berdasarkan data BPSDAWS saat ini tercatat ada 34 pengguna ( baik sebagai pengguna langsung maupun sebagai pengelola ) yang terdiri dari berbagai industri besar dan kecil. yang dikhawatirkan adanya penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab pejabat P2SKSHH. seperti siapa yang dituju dalam surat permohonan penerbitan SKSHH. atas SKSHH yang telah diterbitkan. Walaupun masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya. telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Stakeholder yang berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya air Kali Brantas antara lain Dinas PU dan Pengairan Propinsi. karena pada dasarnya. 2006 Pemanfaatan sumber air dikawasan DAS Brantas mulai dari hulu sampai hilir (termasuk di kawasan hutan lindung dan sekitarnya) cukup tinggi. unit kerja yang berwenang dalam menerbiktan SKSHH untuk melindungi hak-hak negara seperti PSDH & DR. karena banyak faktor yang mengindikasikan bahwa kayu yang diangkut dari satu daerah ke daerah lain itu kayu legal. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauhmana mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di tingkat Propinsi. akan tetapi hal tersebut harus dilakukan. SKSHH bukan merupakan ukuran.18/Menhut-II/2005. Epi KAJIAN MEKANISME PERMOHONAN PENERTIBAN SURAT KETERANGAN SAHNYA HASIL HUTAN (SKSHH). dan meminimalkan perdagangan kayu atau peredaran SKSHH yang ilegal. daftar hasil hutan (DHH).2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di Propinsi Kalimantan Timur. karena hanya akan memperpanjang rantai birokrasi dalam pengurusan penerbitan SKSHH. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No P. Pengesahan SKSHH oleh pejabat eselon III ini dinilai kurang efektif. Kata kunci : Sumber air. Blitar. Ijin pemanfaatan dan pengambilan air permukaan dikeluarkan oleh Dinas PU dan Pengairan Propinsi setelah mendapat rekomendasi teknis dari BPSDAWS untuk sumber air yang berada dalam kewenangan Propinsi dan rekomtek PJT bila sumber air berada dalam wilayah kerja PJT I. Halaman 87-95 . Halaman 131-149 . stakeholder. bahwa kayu atau hasil hutan yang diangkut tersebut legal atau tidak.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.2 . dan pemeriksaan administrasi. Dinas Kehutanan Kabupaten. Apakah mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH tersebut. Di dalam Kawasan Hutan lindung sumber-sumber mata air dimanfaatkan langsung oleh penduduk dengan menyalurkan melalui pipa yang dibangun secara swadaya dan dimanfaatkan oleh pengusaha peternakan dan perkebunan. laporan mutasi kayu bulat (LMKB) dan masih banyak lagi persyaratan untuk menentukan bahwa kayu itu legal 178 . Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).18/2005.18/2005. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan permasalahan yang serius. laporan hasil produksi (LHP). laporan hasil cruising (LHC). dan permohonan penerbitan menurut versi pemegang IUPHHK di Propinsi Kalimantan Timur. diantaranya adalah tanda bukti pembayaran PSDH dan DR. Sebagai pengelola sumberdaya air Perum Jasa Tirta I ( PJT I ) dengan beberapa bangunan waduknya tersebar hingga ke Kali Bengawan Solo. Wilayah DAS Brantas merupakan sumber air bagi kebutuhan Propinsi Jawa Timur baik untuk air minum. -. mengingat pejabat P2SKSHH berada jauh dari ibukota Kabupaten/Kota. Kata kunci: Hutan Rakyat. perkebunan. Pasal 20. kawasan hutan lindung Syahadat. (KASUS DI PROPINSI KALIMANTAN TIMUR)/ Epi Syahadat. pada dasarnya sudah berjalan sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. kemudian diketahui dan disahkan oleh pejabat struktural (eselon III) pada Dinas Kabupaten/Kota yang menangani masalah kehutanan setempat. Tulung Agung dan Trenggalek. PDAM dan PLTA yang meliputi beberapa kabupaten antara lain Kabupaten Malang. rumah tangga maupun untuk kebutuhan sektor lainnya. usaha peternakan.

adalah mengenai kronologis kayu.26/2005. BPDAS. Kajian kelembagaan pengelolaan SDA bertujuan untuk menganalisa peran para pihak/instansi yang terkait dalam pemanfaatan jasa air. Berdasarkan UU No 7/2004 tentang SDA dijelaskan bahwa wewenang dan tanggung jawab dalam menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota adalah pemerintah propinsi c/q Dinas Pengelolan Sumber Daya Air setempat. Kelembagaan pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) dapat berjalan dengan baik apabila adanya koordinasi diantara para pengelola SDA dan akan berdampak terhadap terjaganya kelestarian lingkungan..Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. mengkaji kemampuan petugas serta memantau produksi dan peredaran hasil hutan. UPTD BPSDA dan PDAM dengan tugas dan fungsinya masing-masing. serta tugas dan fungsi masing-masing instansi. sistimatik dan berkesinambungan. Terdapat kelembagaan pada masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air melalui tata tanam tahunan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan permohonan perijinan penggunaan air terutama untuk irigasi Kata kunci : Kelembagaan. Potensi sumberdaya air di Kab Gowa ada yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumbermata air di dalam kawasan HL dan dari sungai Jeberang melalui penampungan waduk/Dam Bili-bili yang dimanfaatkan untuk saluran irigasi. peredaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelembagaan. pemanfaatan air Syahadat. Kajian penata-usahaan hasil hutan pada hutan hak/rakyat dilakukan untuk mengetahui efektifitas kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat. pengesahan.3 . Kata kunci : Kelembagaan. mekanisme/prosedur pemanfaatan air. -. produksi. Halaman 243-262 .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. potensi dan pemanfaatan sumberdaya air. Demikian juga dengan Perda Kabupaten Ciamis No. Halaman 263-279 . mekanisme. Kata kunci : Penatausahaan hasil hutan. Halaman 219-234 . PROPINSI SULAWESI SELATAN) / Sylviani .3 .atau tidak. 179 . -. 19 Tahun 2004. -. Pengelolaan sumberdaya air melibatkan beberapa stakeholder antara lain Dinas PU dan Pengairan Kabupaten. SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung. 2006 Peranan air bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta lingkungan sangatlah penting dan merupakan kebutuhan pokok. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara secara optimal. Elvida Yosefi S. mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan. 2006 Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat. pengelolaan SDA. Kata kunci: penatausahaan. mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan SDA di tingkat propinsi/kabupaten (Peraturan. Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Sylviani KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR / Sylviani. seharusnya memberi iklim yang baik kepada petani untuk berpartisipasi dalam pembangunan hutan rakyat.18/2005 dan Nomor P. yang terpenting dan perlu diketahui dalam pengangkutan kayu. Epi KAJIAN PEREDARAN DAN TATA USAHA KAYU RAKYAT DI CIAMIS JAWA BARAT / Epi Syahadat. industri gula dan rumah tangga dibagian hilir melalui PDAM. karenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanya penanganan yang teratur.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.3 . kayu rakyat. kronologis kayu Sylviani POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG DAN KAWASAN HUTAN LINDUNG (STUDI KASUS DI KABUPATEN GOWA. Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001 sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai lagi dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. organisasi. distribusi.

penggandaan pendapatan. Berdasarkan hasil analisis pengganda neraca (accounting multiplier) diketahui bahwa untuk setiap kenaikan permintaan akhir (konsumsi. Selain itu juga untuk mengidentifikasi jalur-jalur keterkaitan antar sector kegiatan perekonomian. 1.5 juta hektar hutan alam di Kalimantan Timur. Syafrul Yunardy. 1 milyar akan menyebabkan penciptaan output total sebesar Rp. Rumah tangga mengalami penurunan tingkat pendapatan yang paling besar dibandingkan dengan pemerintah maupun perusahaan.Ulya. perusahaan. yang merupakan suatu kerangka analisis ekonomi yang terpadu. Nur Arifatul ANALISIS PERANAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT (Analysis of Forestry sector Role in Indonesia Economy: An Input-Output Model Approach) / Nur Arifatul Ulya. Penelitian ini ditujukan untuk melihat tingkat keterkaitan sektor kehutanan dengan sektorsektor ekonomi lainnya dan peranan sektor kehutanan dalam penciptaan output. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi (share) sektor kehutanan terhadap output keseluruhan sebesar 0. pengeluaran pemerintah dan ekspor) sektor kehutanan sebesar Rp. Secara struktural.2666 milyar. keterkaitan. Structural Path Analysis (SPA) Ulya. Melalui pendekatan model transaksi input-output. kebakaran hutan di Indonesia kian menyebar dan selalu berulang setiap tahun. Kejadian ini jelas akan berpengaruh terhadap pendapatan baik bagi masyarakat. dan penyerapan tenaga kerja total sebesar 41 orang. 77. Kata kunci : Pengganda neraca. ditemukan fakta bahwa ada jalur keterkaitan yang erat antara sektor kehutanan dengan sektor-sektor yang berbasiskan pertanian di pedesaan.44 juta. Metode analisis yang digunakan untuk mengukur besarnya nilai penurunan tingkat pendapatan (economic loss) adalah Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM). Nur Arifatul ANALISIS DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT (Analysis of the Impact of Forest Fire in Indonesia on Community Income Distribution) / Nur Arifatul Ulya. Sedangkan nilai tambah yang diberikan oleh sektor kehutanan sebesar 82. 2006 Pembangunan kehutanan selama ini telah ikut berperan dalam perekonomian Indonesia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dampak kebakaran hutan di Indonesia terhadap masyarakat. 0. model Input-output. -. Halaman 133-146 . Halaman 61-74 .2 . sektor kehutanan. investasi. dan penyerapan tenaga kerja didalam proses produksi antar sektor. sumbangan 180 . kenaikan pendapatan total sebesar Rp. 2006 Sejak kebakaran hutan besar tahun 1982/1983 yang membakar 3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk setiap hektar kejadian kebakaran hutan di Indonesia. Sedangkan untuk menjelaskan jalur keterkaitan antar sektor digunakan Analisis Jalur Struktural (Structural Path Analysis).1 .Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. peranan sektor kehutanan dalam perekonomian Indonesia dapat diketahui. Namun informasi dan data yang ada selama ini baru bersifat sektoral dan belum memberikan gambaran yang jelas tentang peran sektor kehutanan dalam keterkaitannya dengan sektor-sektor ekonomi lain. -. Kata kunci: Kebakaran hutan.74 persen. berdampak menurunkan tingkat pendapatan masyarakat sebesar Rp.pendapatan masyarakat Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE).1979 milyar. maupun pemerintah.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No.60 persen. Syafrul Yunardy.

Kalimantan Timur. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis. 2006 Dengan sistem informasi geografis data dapat dikelola. (c) Tanaman tradisional (kebun tradisional) dan (d) Hasil hutan kayu dan non kayu.4 . tidak selalu dapat berhasil untuk dikembangkan menjadi hutan yang bagus. Kesesuaian lahan. Mahoni. -. masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat tampak tidak terganggu dan tetap mempertahankan pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang terbagi atas budidaya: (a) Tanaman pangan. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan Arc View bisa digunakan untuk mengolah data-data atribut yang diperoleh dari kegiatan ISDL maupun data lain dari penafsiran potret udara. Dalam analisa kesesuaian jenis tanaman kehutanan untuk pengembangannya data-data yang diperoleh dapat dimanipulasi sesuai dengan tujuan analisanya. Posisi masyarakat penting. masyarakat dayak. karena adanya banyak kendala. Program Arc View ini memberikan kemudahan untuk menampilkan banyak tampilan data dengan peta secara cepat dan mudah sesuai dengan keinginan. Halaman 137-149 . Halaman 97-113 . perlu dipertimbangakan juga tentang aspek non fisik (ekonomi). Fakta di lapangan menunjukkan bahwa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 6 Desember 2006 . Jati dan Sono). Catur Budi IMPLIKASI OTONOMI DAERAH TERHADAP PRAKTEK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI KALIMANTAN TIMUR (SUATU STUDI KASUS DI KAMPUNAG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. ditata. Dalam makalah ini hanya dianalisa empat jenis tanaman (akasia. data dan informasi tentang model dan tipe pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat menjadi sangat penting. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski perkebunan berskala besar (karet. 181 .Wardojo APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK KESESUAIAN LAHAN PADA TANAMAN KEHUTANAN / Wardojo dan Ragil Bambang WMP. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kembali implikasi otonomi daerah terhadap pola dan keberadadaan sumberdaya potensial yang dilakukan oleh masyarakat tradisional di Kalimantan Timur. peta dasar dan peta tematik yang ada.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. analisa dan ditampilkan sesuai dengan tujuan analisa. Halaman 333-345 . Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Barat. (b) Tanaman perkebunan. terutama pada era otonomi daerah dan desentralisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung setelah era otonomi daerah dan desentralisasi. desentralisasi Wiati. Suatu lokasi yang sesuai untuk suatu jenis tanaman (layak dari aspek fisik ). Hasil penelitian ini menununjukkan bahwa pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat dayak di Kabupaten Kutai Barat telah dipengaruhi oleh kebijakan pusat dan daerah. sangat mudah ditemui adanya ketidakcocokan dan ketidaksinkronan antara kebijakan pusat dan kebijakan daerah yang berdampak negatif pada pengelolaan hutan khususnya yang dilakukan oleh masyarakat. otonomi. Dalam memilih jenis tanaman yang akan dikembangkan selain dipertimbangkan aspek fisiknya (kesesuaiannya). untuk keperluan yang sama dapat dianalisa untuk jenis-jenis tanaman yang lain dengan menggunakan data dasar yang sudah tersedia. Catur Budi KAJIAN POLA PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN SECARA TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DAYAK BENUAQ DAN TANJUNG DI KALIMANTAN TIMUR (STUDI KASUS DI KAMPUNG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. Kata kunci : Sumberdaya hutan. 2006 Sejalan dengan adanya program pengembangan pengelolaan hutan bersama masyarakat. SIG. Tanaman kehutanan dimana masyarakat tetap dipertimbangkan memegang peranan penting dalam mengelola sumberdaya hutan. pemerintah lokal telah mengeksploitasi sumberdaya alam dengan tanpa mempertimbangkan aspek ekologinya. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. Kabupaten Kutai Barat. khususnya oleh adanya kebijakan Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) yang dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Wiati. 2006 Di era desentralisasi. -.2 . -. jati super dll) dan perusahaan kayu pemegang Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) telah beroperasi. kelapa sawit.

Halaman 142-152 .60 juta m kubik per tahun (Antara News. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. yang mana etos kerja tersebut akan dipengaruhi oleh persepsi atau sudut pandang petani tentang hutan rakyat. juga ditentukan oleh etos kerja petani selaku pelaku utamanya. sedangkan kemampuan produksi kayu bulat rata-rata per tahun sebesar 22. desentralisasi.61 juta m kubik per tahun. Nurheni STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI / Nurheni Wijayanto. hutan rakyat.2006 . masyarakat dayak. sebagian besar berupa sawmill. dan lain-lain sebanyak 150 unit dengan kebutuhan bahan baku 4. Kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku kayu oleh industri (zero waste). hutan dinyatakan sebagai Widyaningsih.91 juta m kubik per tahun. bahwa laki-laki lebih berperan dalam sektor publik (pekerjaan di luar rumah) dan menjadi penentu kebijakan. Majenang Wijayanto. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan.Barat. Kata kunci: Hutan Rakyat. -.87 juta m kubik per tahun. logging US$ 3. kebutuhan bahan baku 17. sedangkan perempuan lebih banyak berperan disektor domestik (pekerjaan rumah tangga).2 milyar. hutan tanaman. plywood US$33. Dian Diniyati.17 milyar. dan percepatan realisasi pembangunan hutan tanaman industri dan hutan rakyat (Antara News. Akan terdapat perbedaan etos kerja antara petani laki-laki dan perempuan dalam mengelola HR. Hal ini menunjukan bahwa industri kehutanan masih prospektif (Antara News. investasi industri pulp dan kertas sebesar US$ 16 milyar. Petani.8 milyar dengan rincian.8 juta m kubik. karena laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang bersifat produktif termasuk dalam mengelola hutan rakyat (rata-rata 45 jam seminggu) dibandingkan kaum perempuan (rata-rata 27 jam seminggu). kerajinan (handicraft) US$ 0. kebutuhan bahan baku 18. Cilacap. Sebagai gambaran. pulpmill 6 unit. Tri Sulistyati ETOS KERJA PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP / Tri Sulistyati Widyaningsih. yaitu sebanyak 1. dan sumber lain. keterlibatannya dalam mengelola HR.881 unit. bibit. yang bersumber dari hutan alam. Berdasarkan ijin usaha yang telah diterbitkan tersebut kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan per tahun mencapai 63. dan interaksinya dengan sumber daya alam yang ada disekitarnya. dan dokumentasi yang kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. hal ini terlihat dengan masuknya investasi bidang kehutanan yang mencapai US$27. penyuluhan.3 milyar. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan kebutuhan bahan baku sebesar 40.618 unit dengan kebutuhan bahan baku 22. 2005). Kata kunci : otonomi.80 milyar.03 milyar. Sedangkan plymill 107 unit. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaum laki-laki memiliki etos kerja yang lebih tinggi dalam mengelola hutan rakyat dibandingkan kaum perempuan. Dalam pasal 1 Ayat 2 UU No. 2006 Keberhasilan pengelolaan hutan rakyat (HR) selain ditunjang oleh sarana prasarana dan modal berupa lahan.09 juta m kubik per tahun. yang terjadi karena adanya konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. Hal tersebut terlihat dari hasil kajian yang dilakukan di desa Bener dan desa Sepatnungal kecamatan Majenang kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah pada bulan Juni-Agustus 2006 terhadap 34 orang petani hutan rakyat yang diambil secara sengaja (metode purposive sampling). 2005). Konflik ini melibatkan masyarakat lokal dengan masyarakat lokal atau masyarakat lokal dengan para pihak (konflik vertikal dan horizontal ) dan (b) Munculnya sistem kapital baru dalam masyarakat kampung terkait kemudahan dalam mengakses sumberdaya hutan. Etos kerja. Halaman 1-13 .19 milyar.48 juta m kubik. Focus Group Discussion (FGD). Saat ini kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan secara lestari. jumlah industri pengolahan berdasarkan ijin yang ada sejumlah 1.2006 . Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) masih melekat terutama dalam masyarakat Jawa. -. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan hutan rakyat juga dipengaruhi oleh budaya patriarkhi yang 182 . Dampak dari kebijakan tersebut adalah: (a) Adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya hutan. 2005). kayu olahan (wood working) US$ 1. furniture US$ 0. dan adhesive US$ 0. 2006 Pembangunan kehutanan di Indonesia masih mempunyai daya tarik bagi para investor.

kondisi DAS kembali mendapat perhatian. sarana-prasarana rusak. termasuk di dalamnya penggunaan sumberdaya hutan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Pada tulisan ini. Nilai air. Buruknya pengelolaan DAS menjadi satusatunya tertuduh. tenaga kerja. diterima masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat. disampaikan pengalaman mengelola DAS dalam skala mikro dengan menciptakan hubungan timbal balik potitif antara hutan dan masyarakat yang didukung oleh kelembagaan mikro sesuai yang diminta oleh masyarakat.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. dan memaksimumkan pendapatan usaha. sektor angkutan. Namun demikian. dan manfaatnya untuk masyarakat. lahan pertanian hancur. bahan baku industri. MULAI DARI DIRI SENDIRI DAN MULAI SAAT INI: PENGALAMAN DARI SUB DAS MARARIN. dan sampai saat ini usaha tersebut semakin berkembang. kegiatan ini dapat juga dilaksanakan di atas lahan negara diperuntukkan untuk kegiatan penanaman pohon. serta sebagai kawasan penyangga bagi kawasan hutan negara. penyediaan kayu sebagai bahan baku bangunan. Kata kunci: Kelembagaan. DAS menjadi istilah yang paling sering muncul baik dalam diskusi-diskusi ilmiah maupun dalam berita-berita di koran. 41 Tahun 1999. 2006 : Halaman 101-121 . usaha tersebut belum mampu meningkatkan kinerja usaha. mengoptimalkan lahan garapan. penganekaragaman hasil pertanian yang diperlukan oleh masyarakat. 2006 Sumberdaya alam yang secara spasial terbagi habis ke dalam DAS/Sub DAS. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. mengelola dan memelihara sumberdaya hutan yang ada agar mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. usaha perbaikan tata air dan lingkungan. -. Das Saddang. Demikian kalimat sakral yang tertuang dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Makna yang tersurat dan tersirat adalah adanya kewajiban kepada kita semua untuk mengatur. Pengelolaan hutan Yudono SHN. Usaha hutan rakyat merupakan suatu penerapan model usahatani yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas fisik per satuan luas lahan. Berdasarkan UU Kehutanan No. Akhirakhir ini ketika bencana banjir. TANA TORAJA / Hunggul Yudono SHN dan Iwanuddin. pemeliharaan lingkungan hidup serta bagi pemerintah daerah. memperbaiki kualitas lingkungan dan sumberdaya hutan. melalui strategi dan program pengembangan yang tepat. sehingga usaha hutan rakyat tersebut perlu ditingkatkan kinerjanya agar lestari.Hunggul KELEMBAGAAN DAN NILAI AIR DAS MULAI DARI YANG KECIL. sedangkan hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Hutan hak tersebut sering disebut dengan hutan rakyat. Awang (2003) menyatakan ciri dari hutan rakyat adalah bahwa kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan di atas lahan milik rakyat. Usaha hutan rakyat telah dilakukan sejak beberapa puluh tahun yang lalu.suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. Das Mararin. DAS SADDANG. dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Hutan rakyat ini ada yang bersifat subsistem dan ada yang dengan tujuan komersial. dan longsor dimana-mana seiring dengan datangnya curah hujan. Ketika korban manusia berjatuhan. Kegiatan usaha hutan rakyat diharapkan memberikan dampak positif bagi rumah tangga pedesaan. hal ini antara lain disebabkan oleh semakin besar permintaan pasar akibat tumbuhnya berbagai jenis dan skala industri pengolahan kayu di setiap kabupaten dan propinsi. penyediaan kayu bakar. Berdasarkan statusnya hutan terdiri dari hutan hak dan hutan negara. Tana Toraja 183 . Walaupun demikian . pengembangan hutan rakyat diarahkan kepada usaha-usaha rehabilitasi dan konservasi lahan di luar kawasan hutan negara. industri. Das. peningkatan pendapatan masyarakat. dimana hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Kata kunci: Hutan Rakyat. lembaga keuangan.

Hulu DAS mengalami okupasi oleh masyarakat yang strategi bertahan hidupnya justru membuat mereka terpuruk dalam kemiskinan dan sekaligus juga membahayakan kelestarian fungsi DAS dan wilayah di bawahnya. To gain data of the aim above. -Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Sorotan juga diarahkan kepada masyarakat yang berada di wilayah hulu. Hunggul MIKRO HYDRO ELECTRIK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR SKALA KECIL: MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT DAN MENJAGA HUTAN DENGAN HASIL AIR / Hunggul Yudono SHN dan Gunardjo TJ.hasil air . For regional watershed management. This research located in South Sulawesi Province. Can be recommended that institute of local watershed management formed in every regency. Pengelolaan DAS. Govermental administration problems have to be managed according to administration boundary and on the other side watershed need to be managed with the boundary of watershed itself. Sulawesi Selatan 184 . not in the form of independent institution but under an appropriation to Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten this time. through direct interview and filling questionair to the respondent. Air Yudilastiantoro. Yudilastiantoro dan Tony Widianto. karena alasan kemiskinan dan merupakan sumber permasalahan. Disamping untuk kepentingan pembangunan kehutanan. seen from human resources. Pembangkit Listrik. Serta dilengkapi juga dengan pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat pengguna listrik dan pendampingannya. Kata kunci: Mikro Hydro Electrik.Secara langsung maupun tidak langsung ditengarai salah satu penyebabnya adalah eksploitasi kawasan hutan lindung di daerah hulu yang mempunyai fungsi sebagai pengatur tata air. C KONSEP LEMBAGA PENGELOLAAN DAS TINGKAT LOKAL DAN REGIONAL DI DAS SADDANG-BILAWALANAE. This is because the human resources. Untuk dapat lebih mengoptimalkan hasil. akibat peningkatan jumlah penduduk dan kondisi DAS yang kritis. 2) Ada kecenderungan mulai terjadi defisit sumber daya air di Jawa. melakukan perambahan hutan dan menggunakan lahan di kawasan lindung bertopografi berat untuk lahan budidaya tanpa memperhatikan daya dukung lahan. 13 September 2005 . Lembaga Pengelola.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. The research was done in DAS Jeneberang and Bilawalanae from August untul December 2005. 2006 Decentralize era result the change of local government competency in the form of institutional reinforcement of watershed management. serta 4) sistem pertanian di Indonesia yang boros air sehingga air kurang termanfaatkan dengan baik.Yudono. 2005 Kondisi di Indonesia dari data yang ada menunjukan adanya: 1) peningkatan jumlah DAS kritis satu dari tahun ke tahun. 2006 : Halaman 245-264 . this research used survey method. kekeringan. longsor. DAS SaddangBilawalanae. Halaman 4961 . locally and regionally. Kata kunci: DAS. with studying fundamental duty and institution function which related in watershed management. some regency wish the form of selfsupporting Otorita that still under conducting Governor as province leader. dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil ini juga dilakukan pengumpulan data dan survey agar dapat dihasilkan informasi yang akurat hubungan sebab akibat antara kondisi hutan. Primary and secondary data analyzed with Stakeholders Analysis Method and SWOT Analysis Method. 3) terjadinya peningkatan frekuensi banjir besar dan kekeringan di berbagai tempat. -.energi listrik kesejahteraan masyarakat.Salah satu kegiatan yang dapat menjawab permasalahan hubungan antara hutan dan masyarakat adalah dengan pemanfaatan air sungai yang berasal dari hutan untuk menghasilkan sumber tenaga listrik alternatif bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. organization and legislation supporting enough. Sumatera. With this research can be know institution that take part in watershed management. SULAWESI SELATAN / C. berbagai DAS menjadi sensitif terhadap bencana banjir. The aim of this research is to studying about watershed management in local and regional level. organization and law. energi listrik alternatif ini juga dapat digunakan untuk mengatasi krisis listrik yang saat ini banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. especially at saddang and Bilawalanae Watershed. dan Sulawesi.

INDEKS PENULIS A Abdurachman. Harun. 5 Arisman. 1 Alrasjid. Illa. 10. 102 Bau. Hardjono. 8 Beadle. 144. 142 Dulsalam. 2 Alrasyid. Andy. Iis. Faiqotul. 11 Daryono. 9 Cahyono. 11 Darwiati. 105 Fatima. 9 Bustomi. 99 Antoko. 4 Alviya. Sulistya. Deden. Dian. Indra Jaya. 1 Adman. A. Wida. Burhanuddin. 76. 12 E Effendi. 139 Andianto. 75 Durahim. Wesman. 147 Fiani. 105 Diniyati. 145 Endom. 141 C D D. 101 Basri. 2. Eva. 142. 1 Abdurrohim. 138. 73 Achmad. 139 Ade. 13 Fauziyah. Tigor. Luciasih. Wida. 100 Asaad. 74 Darwati. Satria. Chris. Ari. Yanuarius Koli. Imaculata. 73 Anggraeni. 100. Sofyan. 6. Wahyu Catur. Harun. 7. Sofwan. Emmy. 1 Adinugraha. 4. 9. 9. S. Efrida. 12 Darmawan. 98. 143. Martono. 74 Bastoni. Herman. Mohd. Chairil. 4 Anwar. 105 185 . 145. 74 Danu. 103 Bustomi. 1 Agustini. 103 Butar-Butar. 12 Farid A. 99 Adinugroho. 140 B Bakri. 103 Dharyati. 146 Ekawati. 101 Astana. 77 F Falah. 140. Saptadi. 8. Bambang S. 104 Darwo. Rachman. 3. Budiman. 100 Asmaliyah. Hamdan Adma. Sasa. 144 Djaenudin.

Marinus Kristiadi.S. 112. Kresno Agus. Djeni. 150 Halidah. Rahman. Dian. 14 Harun. 24 Kusumedi. Neo Endra. 25 Kuswandi. 15 Handayani. N. Setyani B. 114 Lazuardi. Henti. Mudji. A. 26 L Lasminingsih. I Made. Henti. 21 Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. 79. 81. 82 Lestari. 81 Lempang. 153 Irawanti. Eko B. 106 Golani. 108 Heriyanto..G Gaffar. Rozza Tri. Priyo. 156 Koeslulat. Relawan. 13 Ginoga. 78 Herdiana. 108 Harisetijono. 23. Nur. 19 K Kaho. Wanda. 19 Iskandar. Hery. 157 Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. G. Teguh. 109 I Indartik. 17 Hendalastuti. 149. A. 156 Kayat. 151 Harahap. R. 77 Hakim. 153 Hendra.. 113 Kuntadi. Heru.I. 19 Hermanto. 155 Iriansyah. 159 Lelana. Maming. Morag. 152. 14 Hayati. Kirsfianti Linda. 107 Gunaja. L Michael Riwu.Sri. M. 24. Ian A. R. 18. 25 Kwatrina. 16 Hardi TW. 112 Junaidi.D. OK. Wuri. 20 Karyono. 154. Ismatul. 109 Husna. 157 Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya. 107 Hajib. 107 Hardiyanto. 149 Glen. 22 Kurniadi. 110.79 J Jasni. Nanang. 106 Garsetiasih. 17. 151 Hendalastuti R. Hendi.M. 158 Kurniawan. 113 Kurniawan. Karim. 158 Kuswanda. 20. Adi. 16. 155. Asep. 78. Nurwati.Syafari. Ermi E. 22 Krisdianto. 21 Komala. 153 Hood. 157 Kunarso. 79 Jayusman. 22 Kosasih. 109 Hidayat. 27 186 . Mody. Ngaloken. Agus. 13 H Hairudin. 111 Judhiharto. A. 82 Lestari. Setiasih. Rusli M. 16 Hendarto. Edy. 147. 148 Gintings. 80.

39 Prasetyawati. Abdullah Syarief. 38 Pasaribu.I.L. 117 Misdarti. C Andriyani. 161. 83 Mohammed.Lubis. 36. B. Abdul Hakim. 41. Irwansyah Reza. 30 Munandar. Mohammad. Agung Wahyu. Gunawan. Anto. 86. M Yamin. Dewi. Jamaludin. 85. 30 Mile. Nunung. 41 Rahmat.B Putera. 163 Nurhaedah M. 30. 82. 162 Mindawati. Y. 118 Muslich. 34 Noorhidayah. Ruben. Ridwan A. Gustan. 37. 32. Sudin.P. 164 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. 84 Nugroho. Dedi. 119. 159 Malik. Tjutju. 87 Parlinah. 44 Rimbawanto. Syarifah. Nina.S. 29 Mile. 38 Purwanto. 169 187 . 31.. 118 Njurumana. 87 Pasaribu. 26. 119 Nurfatriani. 163 Parthama. 122 Riyanto. 27 Mahfudz. 37. Tejo B. 122 Rahmayanti. 113 Omon. R. 33. Syofia. Ida. 121 Premono. 120 M M Hidayatullah. Retno. 28 Martin. Indra A. 84 O P Panjaitan. 83 Marbawa. 83 Mandang. Aris. 115 Mairi. 165 Putri. Yanto. Mulyana. Yamin. 43 Renden. 117 Muchtar. 35 Nurhaedah M. Bismark. 167 Rochmayanto. Osly. 32 Natawijaya. I. 36 Nurhayati. Tejo. Eulis. Heru Dwi. 42. 27. Eka. Amir. 38 Pari. Encep. 88 Rachmawati. 87 Pramono. Budi Hadi. 35 Nurdawati. Joko. 160. 162. 121 Pudja M. 32. 40 Premono. 167 Retnowati. 120 Prihatini. Caroline L. Edwin. 42 Rayan.U. 29. 41 R Rachman. 120 Pratiwi.. Istiana.. Kristian. 166 Rachman. I Ketut Catur. Suryanto. 162 Ngatiman. 84 N Narendra. 28. 113 Lukman. 116. M. Mamat. 160 Ma'ruf. 168. 43 Retna I. Fitri. 123. 28 M. 121 Priyono. 39 Prayudyaningsih. 34 Novrianto. 122. Gerson ND.

179 T Takandjandji. 130 Tira. Dede J. 173 Supriadi. Atok. 52 Siringoringo. Ogi. Totok K. Achmad. 178. Agung B. 52 Siregar. Hendi. 126 Setiawan. Pujo. 169 Satyawardana.. Andi Gustiani. 127 Sofyan. 129 Suharti. 44 Rumboko W. 178. 54. 46. Lukas. 89 Ruby. Adi. 66 Taufikurahman. 171 Sulastiningsih.Roliadi. Retno. 89 Sawitri. 50. Budi. Teguh. 177 Sujatmoko. 130 Susanty. Sri. 172 Suprapti. R. E.. 126 Setyowati. 59. Djoko. 180 Utomo. 90. 64 Suryanto. 175. 176. 95 188 . Bambang. 93. 66 Tjahjono. 45 Samsoedin. 63 Suryanto. Sona. 125 Santoso. 91 Suhartati. 65 Susila.M. Hadi. 170. Han. 91 Sukresno. 177 Subiakto. I Komang. Sulistyo A. 176. 171 Sugiana. 56. 92 Sumadi. 47 Santoso. 48. 58 Suhartana. 93 Suprapto. 57. 64. 173 Supriadi. I. Agus Djoko.. 60 Sukrianto. 53 Siswoyo. 92 Sumantoro. 131 U Ulfa. 174 Surata. 51 Siahaan. 55 Suhaendi. 129 Sumardi. 89. 67. Sihati. 128 Subarudi. 60 Sumarhani. 128 Suhaendi Hendi. Reny. Erdy. 57 Suherman. Maliyana. Farida Herry. 49 Setiadi. Dedi. 169 Santoso. Priyono. I Wayan Widhana. Kamindar. Epi. Mustaid. 179 Sylviani. Mariana. 170 Sufyadi. 133 W Waluyo. Agis Nursyam. 168 S Salim. 88. La Ode Asir. 58 Sukadaryati. 55. 58. Hengki. 127. Agus. 51 Setijono. 54 Sudradjat. Ismayadi. Dedi. 47. 90 Sudrajat. 63. Budi. 44. Suwardi. Agus. Tiwa. 55 Sugiarto. 65 Suyarno. Sujarwo. 132 Ulya. 56 Supangat. 94 Suprianto... 174 Syahadat. 133. Harris Herman. 65 Suwandi. 51 Siran. 62. 174. 131. 45. Nur Arifatul. 61. 129 Sumadiwangsa.

Ishak. C. 182 Widyastuti. Catur Budi. 133 Wiati. 183 Yudono. Marfu'ah.. 68. 136 189 . 136 Yeny. 69. Asmanah. Santiyo. 181 Wargadalam. 135 Wijayanto. Irma. 71 Yassir. 69 Wibowo. 95 Wardani. 70. I Nyoman. Nurheni. Arian. Totok K. Eritrina. Ina. 96 Winarno. 72 Yudilastiantoro. 184 Yuliansyah. Ari. Hunggul. 71 Y Yafid. 135 Windyarini. Bondan. 94. 67 Wardi. 134 Wijaya. 182 Winarni. 96 Widiarti. 72 Yuniawati.Waluyo. 181 Wibowo. 70 Widyaningsih. Bugris.Hunggul. 67 Wardojo. 184 Yudono SHN. 95 Wasrin. SM. Tri Sulistyati. 97 Z Zulfikhar. Danu. Upik Rosalina.

29. 74 Biaya Dan Pendapatan. 138 Araucaria Cunninghamii Sw. 17 Bentonit. 90 Budaya Masyarakat. 100. See Gaharu Arang Aktif. 24 Budidaya Vanili. 43 1 . 62. 61 Budidaya Rotan. 92. 57 Burung. 181 Aquilaria Microcarpa. 117. 162 Agroforestry. 172 Bitti. 83 Benih Tanaman Hutan. 5. 27 B Bahan Bakar Alternatif. 59. 132 Aplikasi Sistem Informasi Geografis. 13. See Pulai Ampupu. 165. 106. 158 Budidaya Kepuh. 38. 14. 140. 106. 92 Bambu Rakyat.INDEK KATA KUNCI A Acacia Mangium. 102 Alang-Alang. 45. 119 Alat Expo-2000. 41. 28. See Jabon Aplikasi Endomikoriza. 28. See Pulai Darat Alstonia Scholaris (L) R. 163 Bioinsektisida. 170 Aceh. 78. 74.Br. 159. 63. 92 Bambu Laminasi. 117 Anggrek. 86 Aglaia Sp. 72 Bali. 17 Antagonistik. 160. 134 Anthocephalus Chinensis (Lamk. 113. 36. 48. 29. 86. 108 Bambu. 85. 85. 14 Anatomi. 49 Busuk Akar. 124 C Cabutan Anakan. 26. 4 Avifauna.. 82 Anatomi Kayu. 57 Adsorben. 144 Biodiversitas. 37. 166 Agrosilvofishery. 80.. 64 Analisis Sosial Ekonomi. 42 Analisis Model Pendugaan Volume Jenis. 109 Basis Data. 167. 51. 73 Andosol. See Kayu Palaso Agribisnis. 11 Aplikasi Mikoriza. 55 Briket Arang. 117. 160. 83 Bambu Lapis. 66. 69. 21. 40. 105. 71. 23. 109. 33. 41 Burung Bayan Sumba. 67 Bambang Lanang. 61. 30. 13 Burung Merandai. 79. 7 Biomasa. 26. 12. 73. 31 Areal Tegakan Sisa Hutan Alam. 2 Areal Bekas Penambangan Batu Apung. 138 Basidiomycetes. 117 Busuk Hati. 77 Alstonia Angustiloba. 108. 138 Bambu Lamina. 27 Biofisik. 169. 87 Arang Bambu. 71 Anakan Jabon. 52. 142. 108 Budidaya Klicung. 138. 55.

27. 39. 7. 101. 16. 151 Hormon Iaa. 69. 121 Herbisida. 21. 19. 68. 50. See Ulin . 59 Desentralisasi. 62 Cervus Unicolor. 11. 4 Flora. 140 Hutan Bekas Tebangan. 7 Etos Kerja. 135 Ekowisata. 156. 110 Hukum Adat. 118 Ekologi. 57. 1. 27. 158. 50. 42. 57 Ekosistem. 12. 44. 179 Daerah Penyangga. 71. See Klicung Dipterocarpaceae. See Ampupu Eusideroxylon Zwageri. 98. 9 Core Research. 4 Forest Health Monitoring. 111. 123. 169 Hasil Hutan Non Kayu. 34. 134 Fungi Trichoderma. Binn. 123 Eusideroxylon Zwageri Teijsm. 140. 10. 57 Gmelina Arborea Roxb. 52 Etnobotani. 51.Cendana. 107. See Hasil Hutan Bukan Kayu Hidrologi. 166 Hama Penyakit. 140 Electus Roratus Cornelia Bonaparte. 88 Endemik. See Eceng Gondok Ekaliptus. 100 Ex-Situ. 98 Hormon Pertumbuhan. 27 F Fenologi. 84 Dyera Lowii. 87 Frekwensi Pemeliharaan. See Rusa Sambar Citra Satelit. See Jelutung E Eboni. 84 D Daerah Aliran Sungai. 43. 13 Ekspor. 68. 12 Eceng Gondok.T Blake. 38 Erosi. 122. See Burung Bayan Sumba Elignification. 45 Hutan Hujan Tropik. 119. 100.. 111 Getah Pinus. 134 G Gaharu. 34 Hutan Lindung. 20. See Eboni Diospyros Malabarica Der Kostel. 60 Gossampinus Malabarica Alst. 32. 52. 133 Ekologi Hutan. 35. 59. 23. 174 Hutan Kota. 117 Fungi Patogen. 16 Ekonomi Rakyat. 148. 131 Hasil Hutan Bukan Kayu. 179 191 Eichhorniae Crassipes Solms. 182 Eucalyptus Urophylla S. 65. 150. 128 Cuka Kayu. 40. 95 Genetik. 99. 164. 100 Eksploitasi Hutan. See Kayu Randu Alas H Hama. 130. 146. 104. 92. 20. 36 Hhbk. 37. 25. 140. 46 Hutan Kemasyarakatan. 127. 123 Gerhan. 134 Formaldehida. 141 Getah Pinus Merkusii Strain. 157. 14. 112. 41. 133. 12. 129. 57. 44 Efikasi. 168 Diospyros Celebica Bakh.

65. 59. 175. 176. 19. 68 Kearifan Lokal. 142. 89 Kawasan Konservasi. 146. 86. 4 Jenis Introduksi. 54. 182 Hutan Rawa. 62 Hutan Tanaman Industri. 122. 160. 45. 132. 156. 79 Kayu Lapis. See Alang-Alang Inang Gaharu. 146 Hutan Rakyat. 119 Kayu Keras. 115. 60. 112 Hutan Ulayat. 79. 93 Jarak Pagar. 161. 168 I Identifikasi Jamur. 128. 47. 108 Kayu Putih. 65 Jenis Pohon Tepat Guna. 73 192 . 152 Hutan Tanaman Jelutung. 6. 94 Inokulasi Cendawan. 84 Keawetan Kayu. 5. 33. 34. 173. 90 Jarak Tanam. 78 Kearifan Lokal. 153 Imbal Jasa. 127 Kalimantan Timur. 136 Hutan Rawa Sungai.. 55. 155 Kawasan Penyangga. 8 Jenis Andalan Setempat. 150. 47. 106 Jamur Biru. 125. 178. 131 Invitro. 141 Imperata Cylindrica L. See Jarak Pagar Jawa Barat. 67 Illegal Logging. 53. 99 Kayu Randu Alas. 140 Kayu Kamper. 103 Isolat. 58 Karbon Tanah. 133. 90. 33 Isi Pohon. 140. 95 Industri Perkayuan. 167. 181 Karbon. 74 Jamur Patogen Serangga. 12 Kawasan Wisata Alam. 10 Industri Cinderamata. 18. 87 Kayu Palaso. 41. 121. 135 Hutan Rawa Gambut.Hutan Mangrove. 4 Kayu Bulat. 83 Kayu Tusam. 106 Identifikasi Jenis. 121. 74. 46. 8 Hutan Tanaman Rakyat. 109. 32. 65. 80. 82 Kayu Pertukangan. 68. 171. 81. 114 Karton. 172 Jatropha Curcas Linn. 143. 68. 157. 80. 174. 139. 106 Hutan Tanaman Cendana. 112. 30. 147. 46. 84. 135. 112 Hutan Produksi. 27. 82. 156. 14. 81 J Jambi. 53 Karet. 177. 72. 177. 28 Jamur. 24. 115. 81 Jamur Perusak Kayu. 29. 179 Jawa Timur. 81 Industri Kehutanan. Beauv. 178 Jelutung. 169 Keawetan 25 Jenis Kayu. 77. 146. 59. 116. 166. 103. 1. 62 Hutan Penelitian. 36. 159 Jati. 89. 51 Jenis Burung. 10 K Kalimantan Barat. 52. 73 Kayu Kurang Dikenal. 25. 93. 144. 127. 129. 48 Irigasi. 119 Hutan Rawa Air Tawar. 28 Jenis Flora. 130. 97. 16. 104. 116. 4 Kalimantan Selatan. 157. 123. 3. 145.

15. 140 Kemitraan. 170. 45. 4. 23. 170 Melaleuca Cajuputi Subsp Cajuputi. 74. 126. 143. 146 Mati Pucuk. 60. 22 Lembaga Pengelolaan. 74 Kemenyan. 150. 45 Kelembagaan. 120 Mesin Pengering. 113 Media Kecambah. 184 Lignin. 65. 132. 169 193 Maduca Aspera. 18 Kriteria Dan Indikator. 117 Klicung. 176. 177 Kebun Konservasi. 132 Lahan Rawa Gambut. 109. 10. 67. 184 Mikroba Simbiotik. 122. 32. 157. 69 Konyal. 20. 111 Kemiri. 49 Lahan Bekas Tambang Batu Kapur. 109 Mikoriza. 89 Kultur Jaringan. 66 Lahan Gambut. 24. 26 Kualitas Aliran. 109. 161. See Kayu Putih Meranti Merah. 130 Kutu Lak. 11 Lahan Rawa. 105. 102. 174 Kelembagaan. 101. 93 Metode Ekstraksi. 2. 35. 112. 126. 17 Kerajinan. 158. 136. 144. 15. 125 Kualitas Serat. 158. See Bambang Lanang . 155 Manokwari. 152 Kepuh. 108 Megapolitan. 42 Media Kultur. 9. 85 Limbah.Kebakaran. 138 Kesesuaian Jenis. 143. 27 Kelapa Sawit. 8. 64. 136. 85 Kulit Kayu Medang Landit. 55 Media Sapih. 110. 179. 30. 140. 87. 14. 25. 118. 10. 111 Mikologi. 58 L Lahan Basah. 79 Kulit Kayu. 2. 98 Kembang Susut. 95 Kokon. 114 Lahan Kritis. 27. 138 M Mahoni. 50 Kualitas Semai. 48 Kesuburan Tanah. 132 Lahan Tegakan. 61 Klon. 67. 74 Mesin Serpih. 114. 38. 131. 183 Kelompok Tani. 94. 87. 102 Mangrove. 46. 65. 107. 78. 79. 173. 172 Lebah Hutan. 89. 36 Komponen Kimia. 72 Masyarakat Sekitar Hutan. 126. 107 Kelayakan Usaha. 121. 144 Kemampuan Bertunas. 152. 111. 136 Mikro Hydro Electrik. 149. 150. 32. 108 Keragaman Jenis Anggrek. 15. 67. 36. 86 Kontrak. 151 Lahan Kurang Produktif. 69 Kebakaran Hutan. 21. 102 Media Tabur. 156. 115 Kohobasi. 6. 48. 56. 43 Lahan Pasca Penambangan Batu Gamping. 96 Kemiskinan. 96 Kulit Mangium. 120. 110. 22 Lebah Madu. 5. 180 Kebijakan. 122. 62. 118. 55. 148. 67. 154. 2. 114.

103 Pembalakan. 114. See Sengon Partisipasi Masyarakat. 164 Nipah. 19. 47. 107 Murbey Eksot. 167 Pengelolaan Hutan. 157 Pemanfaatan Lahan. 100. 112. 164. 96 Nusa Tenggara Barat. 67 Pembentukan Gaharu. 92 Papua. 61. 161. 10. 12 Model Pendugaan Biomassa. 22. 29. 79. 28 Passiflora Edulis Sims. 19 Pemungutan Rotan. 96 Pengawetan. 77 Pembalakan Liar. 67 Morphoedafik. 15 Morus Spp. 88 Pengolahan Rotan. 91 Pemanenan Hutan. 20. 25. 161. 175. 174 Pengelolaan Hutan Rakyat. 140 Pemanenan. 182 Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. 44. 121 Mimba. 5. 180 Model Pemanfaatan Partisipatif. 41. 155. 107. 180 Penduga Volume Pohon. 23. 124 Mutu Bibit. 177. 6. 79 Pendapatan Asli Daerah. 1 Model Input-Output. 66 Penatausahaan Hasil Hutan. 13. 176 Pencegah Serangan Rayap. 2 Morfologi. 76 Pemanfaatan Huta. 178 Pengawet Nabati. 12. 37 Pemetaan. 151. 13. 99 194 . 120. 69. 75. 57. 149. 13. 136.. 171. 34. 158. 82. 22 Pakan Burung. See Konyal Pelapukan. 107. 162 Pengelolaan Lahan. 156 Pendapatan Masyarakat. 39. 107. 145. 13 Papan Partikel. 157 Pembangunan Hutan Tanaman. 87 Pemangkasan. 39. 57.. See Nipah O Okulasi. 81 Nilai Ekonomi. 25. 146. 98 Nusa Tenggara Timur. 4. 170 Nypa Fruticans. 19. 104. 25 Pemanfaatan Limbah. 153 Pemupukan. 129 Penertiban Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan. 118. 35. 61. 39. 125 Otonomi Bidang Kehutanan. See Murbei Muat Bongkar. 73 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 149. 47 Penangkaran. 80 Pengupasan Kulit. 80. 94 Peluang Dan Tantangan. 23 Pemanfaatan Kayu. 44 Paraserianthes Falcataria. 28. 38. 2 Pembiakan Vegetatif. 33. 113 Nira Aren. 48. 58. 67. 41 Pakan Buatan. 161 Pengolahan Kayu. 97 Murbei. 60. 9. 107. 40 Mutu Benih. 141. 133. 142 Pembangunan Kehutanan. 76. 9. 155.Mikrosatelit. 151 Pengelolaan Kawasan Hutan. 81. 33. 132. 39 N Nata Pinnata. 64 P Pakan. 147. 3. 44 Pembangunan Hutan. 126. 15 Pelengkungan. 163. 178 Pengelolaan Lahan.

112. 15. 159. 153 Rotan. 9. 140 Pohon Lokal. 31 Rehabilitasi Lahan. 52. 91 Sistem Kaliwu. 44. 152. 38. 51. 4. 38. 65. 100. 7. 84. 76. 169. 130 Pestisida Nabati. 21 Sistem Pertanaman Lorong. 48 Produksi Kelompok Hutan Alam. 169. 52 Pohon Tahan Api. 15 . 3 Produktivitas Dan Biaya. 92 Perencanaan Pengelolaan. 136. 36 Rusa Sambar. 7. 38 Produksi Daun. 145 Rejuvenasi. 103 R Ramin. 79 Rayap Pekerja. 129. 152. 120. 136 Sistem Kabel Layang. 38. 177 Riau. 40. 150 195 Salinitas. 80 Serbuk Gergaji. 31. 3 Social Capital. 69. 120. 22 Penotipe. 16 Pupuk Nitrogen.Peningkatan Kualitas Kayu. 153 Rumah Kaca. 159. 58 Pulai. 127. 70. 129 Pupuk Daun. 111. 146 Perlindungan Hutan. 20 Pestisida. 115 Sengon. 163 Perekat. 7. 7. 75. 23. 100. See Meranti Merah Sifat Fisiko-Kimia. 75. 61 Penyakit. 97 Penyelundupan Kayu. 20 Perlindungan Hutan. 123 Scion. 124. 104 Peta Potensi. 89 Petani Penyadap. 123. 97 Provenansi. 4. 93. 173 Shorea Leprosula Miq. 122. 39. 31. 77 Sifat Tanah. 32 Sistem Kerek. 29 S Santalum Album. 69. 99 Rekayasa Sosial. 105 Puspa. 94 Sifat Fisis Dan Mekanis. 69 Peredaran Kayu. 36. 145. 116 Perikanan. 86 Sertifikasi. 166 Penyakit Bercak Daun. 133. 103 Penotipa. 132. 33. 78. 105. 9 Pranata Sosial. 47. 160. 31 Sistem Tebang Pilih. 17. 132. 6. 39. 131. 162. 8 Rencana Makro. 80. 24. 82 Penjarangan. 151 Perhutanan Sosial. 51. 162. 110 Rayap Kayu Kering. 101. 16. 166 Serangga Hama. 33. 42 Pupuk Kandang. 32. 44 Penyu. 133 Perlindungan Hutan. 100. 39. 172 Peran Jender. 170 Rehabilitasi Hutan. 170 Rehabilitasi Lahan. 32. 129. 99. 13. 130. 89. 7 Serasah. 1. 81 Rehabilitasi. 106. 6 Penyaradan Kayu. 70. 104. 131 Pulai Darat. 118 Penyakit Embun Jelaga. 71 Potensi Tegakan Hutan Alam. 35 Serat Batang Kelapa. 71. 6 Penyakit Embun Tepung. 66 Peran Hutan. 62. 1.

5. 19 Tumbuhan Obat. 126. 174. 24. 170 Tingkat Kerontokan. 127 Teknik Pemeliharaan Tegakan. 58 Taman Nasional Meru Betiri.Wanggameti. 136. 118. 91. 18. 175 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 13. 69. 178. 115. 121. 22. 34 Tumpangsari. 44. 16. 173. 35. 37. 113. 27. 126 Sterculia Foetida Linn. 68. 154. 103 Sukun. 175 Subak. 72 Tumbuhan Obat. 167. 19. 121. 87. 41. 169 Teknologi Pemadatan.Social Forestry. 109 Sumatera Selatan. 160 Teknik Pengepakan. 30. 55 Teknik Penangkaran Penyu. 56 Teknik Pembibitan. 116. 94. 114. 171 Surian. 128 Teknik Silvikultur. 181 Supply-Demand. 179 Tataniaga. 28. 25. 107 Ukiran Kayu. 139 Tectona Grandis L. 70. 70 Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. 36. 149. 179 Sumberdaya Air.F. 114 Teknologi Mikroba Simbiotik. 43. 66. 55 Taman Nasional Kerinci Seblat. 66 Teknik Pengelolaan. 89 Tapak. 12 Stek. 28. 126 Sulawesi Selatan. 105. 172 Sumatera Utara. 54. 1 Tanaman Penutup. 18. 26 Taman Nasional Gede Pangrango. 154. See Kepuh Strata Tajuk. 179 Sumberdaya Hutan. 165 Teknologi Perbenihan. 97 Tumbuhan Berkayu. 59. 61. 160. 32 Tandan Kosong. 169 Teknologi Pemuliaan. 54. 172 Tata Usaha Kayu. 173 Standarisasi Benih. 4. 128. 102 Traktor Caterpillar. See Jati Teknik Budidaya Kutu Lak. 96 Sumber Benih. 138 Tapak Hutan. 36 196 . 41 Taman Nasional Komodo.. 89 Tanin. 51. 102. 163. 48 Tipe Vegetasi. See Mahoni T Tajuk Pohon. 25. 82 Teknologi Pemanfaatan Kayu. 19 Tata Air. 161. 19 Tanaman Mimba. 127. 105. 158. 60. 57. 55. 19. 56 U Uji Efikasi. 58 Teknik Budidaya Padi Gogo. 184 Sulawesi Tenggara. 154 Taman Nasional Betung Kerihun. 30. 153 Taman Nasional Bromo Tengger. 163. 179. 155.. 79. 18 Taman Nasional Gunung Rinjani. 83. 5. 23. 163. 87 Ulat Sutera. 111 Swietenia Macrophylla King. 120. 142. 46 Strategi Pengelolaan. 113 Sumber Daya Air. 39. 141. 20 Taman Nasional Kelimutu. 130 Taman Nasional Bali Barat. 162. 51. 149. 28. 63. 75. 17 Taman Nasional Bukit Tigapuluh. 11. 130 Stek Akar. 30 Taman Nasional Laiwangi . 177 Sosial Ekonomi. 63. 33 Sukabumi. 164 Sosial Forestry. 98. 98. 21. 132. 17 Teknik Penyiangan.

57 Wallaceae. 78. 27 Wawasan Lingkungan. 78 Vitex Cofasus Reinw. 91 Wisatawan. 98. 34. 1. 84 Venir Silang. 42.Ulin.. 174 W Vanilla Planifolia Andrews. 83 X Z Zat Pengatur Tumbuh. See Vanili Vegetasi. 76. 80 Xylarium. See Bitti Volume Teras Kayu. 47 V Vanili. 51 Urea. 102 Venir. 115 197 . 57.