Abdurachman POTENSI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm.

Binn) DI HUTAN ALAM LABANAN, KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman dan Amiril Saridan. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 225-236 , 2006 Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn) is one of timber product in East Kalimantan, which has a hight economical value. Ulin has been an important source of income for the forest community and National income. Information of potency and population A.zwageri Teijms. & Binn in natural forest is limited, other hand extraction or exploitation A zwageri Teijms. & Binn is still intensive, without knowing whether the tree has Ulin or not which will impact on genetic resource. This researsch was done at STREK project plots at Labanan tropical production forest with the area of plot each is 4 ha (200 m x 200 m). The totals of plots are 12 plots or 48 hectare. The objective of this research is to get information of stocking and distribution of the trees produced Ulin Eusideroxylon zwageri Teijm & Binn. The result shows that the total of trees on plots are 230 trees, which mean only 5 tree/ha (basal area are 1.9483 m2/ha). The maximum diameter in these plots is 95.2 cm while the minimum diameters were above 10 cm. Kata kunci: Ulin, Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn, Hutan alam, Labanan, Berau, Kalimantan Timur Abdurachman SEBARAN DIAMETER PADA HUTAN 1 TAHUN SETELAH PENEBANGAN DENGAN SISTEM KONVENSIONAL DI BERAU, KALIMANTAN TIMUR / Abdurachman. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 317-324 , 2006 The research was carried out the concession area of PT Inhutani I Labanan, Berau, East Kalimantan. Measurement was conducted at the plots 4 ha (200x200m). The measured diameters were from 10 cm dbh and above. The objective of this research were to know the stand structure from diameter

distribution after logging with conventional system based on exponential, Gamma, Beta, Lognormal and Logistic distribution functions. The result showed that the distribution based on number of tree follow the reserve-j pattern which is the phenomenon of mixed natural forest. Furthermore by using the regression equation based on highest coefficient of determination (R2) and the least standard deviation, the suitable function was obtained namely exponential distribution function. Kata kunci: Diameter, Struktur, Tegakan, Penebangan, Konvensional, Berau, Kalimantan Timur Ade PEMANFAATAN TANAMAN MIMBA UNTUK REHABILITASI LAHAN KERING SEKALIGUS MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN / Ade. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 71-84 , 2006 Tanaman Mimba intaran atau Nee (Azadirachta indica) adalah salah satu jenis pohon asli Indonesia yang tumbuh di daerah kering dan merupakan tanaman serbaguna yang bernilai jual ekonomi tinggi. Produk dari mimba antara lain: (1) untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik, (2) kosmetik dan toiletris seperti sabun batangan,-sabun cair, body lotion, shampo, dan pasta gigi, obat kumur, dan produk spa; (3) pembuatan obat seperti teh hijau, kapsul neem, obat luka dan balsem; (4) pakan ternak; (5) produk lain seperti obat nyamuk, minyak pelumas, pengusir hama gudang dan lain-lain. Dalam pembuatan kegiatan tanaman hutan tanaman yang meliputi teknik persemaian, penanaman dan pemeliharaan tidak memerlukan perlakuan khusus dan hampir sama dengan jenis tanaman lain. Khusus kegiatan panen dan pasca panen memerlukan teknologi khusus mulai dari pengambilan bahan tanaman yang dikaitkan dengan pengolahan pasca panen. Dalam pengembangan tanaman mimba PT. Intaran Indonesia menggunakan konsep Strategi Tiga Lingkaran a.l.: preparing, processing and developing, yang melibatkan kerjasama masyarakat, baik pemerintah, LSM, pengusaha dan kelompok tani. Kata kunci: Mimba, Rehabilitasi, Lahan kering, Ekonomi Masyarakat

1

Adinugroho, Wahyu Catur MODEL PENDUGAAN BIOMASSA POHON MAHONI (Swietenia macrophylla King) DI ATAS PERMUKAAN TANAH (Biomass Estimation Model of Above Ground Mahogany (Swietenia macrophylla King.) Tree) / Wahyu Catur Adinogroho; Kade Sidiyasa. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 103 - 117 , 2006 Protokol Kyoto meliputi mekanisme pembangunan bersih dalam rangka mengontrol karbon yang dihasilkan oleh negara-negara di dunia. Hutan menyerap CO2 dari udara melalui proses fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa hutan. Untuk menduga jumlah biomassa di dalam hutan, pendekatan secara tidak langsung melalui model alometrik dan metode biomass expansion factor (BEF) dapat digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh besarnya nilai BEF dan membuat model alometrik dalam menduga besarnya biomassa pada pohon mahoni. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut maka ditentukan sebanyak 30 pohon contoh yang ditetapkan secara purposif, yang selanjutnya dilakukan penghitungan biomassa. Biomassa batang dan cabang yang beraturan dihitung dengan menggunakan pendekatan volume sedangkan biomassa bagian lainnya dihitung dengan penimbangan langsung. Model pendugaan biomassa dihasilkan dengan menganalisa hubungan antara nilai biomassa dengan dimensi pohon. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah biomassa tertinggi terdapat pada bagian batang yakni mencapai 73 % dari biomassa keseluruhan pohon di atas permukaan tanah, kemudian diikuti oleh biomassa cabang (17 %), tunggak (5 %), daun (3 %), dan ranting (2 %). Model alometrik yang dihasilkan untuk menduga biomassa pada pohon mahoni adalah B = aDb, di mana B = biomassa (kg); D = diameter (cm); a, b = konstanta. Persamaan regresi yang dihasilkan tersebut adalah biomassa batang (Bbtg) = 0,044 D2,61 (R2 = 94,7 %), biomassa cabang (Bcab) = 0,00059 D3,46 (R2 = 83,5 %), biomassa ranting (Branting) = 0,0027 D2,42 (R2 = 65,6 %), biomassa tunggak (Btunggak) = 0,022 D1,96 (R2 = 65,6 %), biomassa daun (Bdaun) = 0,0138 D1,93 (R2 = 70 %), biomassa pohon di atas permukaan tanah (Btotal) = 0,048 D2,68 (R2 = 95,8 %). Sedangkan nilai ”BEF” rata-rata untuk pohon mahoni adalah 1,36 (biomassa batang keseluruhan) dan 2,16 (biomassa batang bebas cabang). Kata kunci : Mekanisme pembangunan bersih, biomassa, karbon, model alometrik biomassa, biomass expansion factor, Swietenia macrophylla King

Adman, Burhanuddin PENGARUH KULTUR MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN EKSPLAN Araucaria cunninghamii Sw. DENGAN KULTUR JARINGAN (Effects of Culture Media on the Growth of Araucaria cunninghamii Sw. Explants with Tissue Culture) / Burhanuddin Adman; R. Mulyana Omon. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 67 - 73 , 2006 Penelitian pengaruh kultur media terhadap pertumbuhan eksplan Araucaria cunninghamii Sw. dengan kultur jaringan telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Petanian Universitas Papua, Manokwari, Irian Jaya. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan kultur media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan A. cunninghmii pada kultur jaringan. Percobaan dilakukan dengan tiga media kultur, yaitu MS, WPM, dan Anderson. Setiap media kultur yang volumenya 250 ml ditanami 10 eksplan A. cunninghamii. Hasil memperlihatkan bahwa WPM media telah berpengaruh terhadap pembentukan kalus (20 %) eksplan A. cunninghamii selama 16 minggu pengamatan. Sedangkan media MS dan media Anderson tidak memberikan pengaruh terhadap pembentukan kalus. Persentase pencoklatan masingmasing media berkisar antara 30 % dan 90 % dan persentase kontaminasi berkisar antara 10 % dan 50 %. Secara umum pencoklatan dan kontaminasi eksplan disebabkan oleh oksidasi substrat yang dihasilkan oleh A. cunninghamii. Dengan demikian pembiakkan vegetatif melalui teknik kultur jaringan pada eksplan A. cunninghamii harus dicoba dengan bahan kimia sterilisasi yang lain, misalnya NaOCl, dengan media WPM. Kata kunci : Araucaria cunninghamii Sw., media kultur (MS, WPM, dan Anderson), kultur jaringan Agustini, Luciasih KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR YANG POTENSIAL DALAM PEMBENTUKAN GAHARU DARI BATANG Aquilaria spp. (Biodiversity of Potential Agarwood Inducer Fungi Taken from Aquilaria spp. Stems) / Luciasih Agustini, Dono Wahyuno, dan Erdy Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.5 ; Halaman 555 564, 2006 Terbentuknya gaharu diyakini sebagai respon pohon gaharu terhadap banyak faktor, di antaranya fisiologis tanaman dan infeksi jamur. Sejumlah isolat jamur

2

yang berpotensi menginduksi gaharu telah diisolasi dari sampel kayu gaharu dari berbagai daerah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui keanekaragaman jenis isolat yang berhasil dikoleksi. Sampel kayu diambil dari beberapa lokasi penanaman gaharu di Jawa, Sumatera, Kalimatan, dan Maluku. Kegiatan isolasi, pemurnian, dan perbanyakan dilakukan dengan menumbuhkan pada berbagai media. Identifikasi dilakukan dengan mengamati ciri makroskopis dan mikroskopis isolat yang dibiakkan pada media PDA dan BLA yang diinkubasi pada suhu ruang dengan pencahayaan 300-400 lux selama 10-14 hari. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa biodiversitas isolat koleksi meliputi jenis Fusarium solani (Mart.) Appell and Walenw., F. tricinctum (Corda) Sacc., F. sambucinum Fuckel, dan Cylindrocarpon sp. Kata kunci: Keanekaragaman, Fusarium, Cylindrocarpon, ciri makroskopis dan mikroskopis Alrasjid, Harun PENERAPAN SISTEM TEBANG PILIH DI HUTAN RAWA GAMBUT / Harun Alrasjid. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 45-48 , 2006 Penerapan sistem silvikultur dalam mengelola hutan rawa gabut memerlukan penelitian yang seksama dalam jangka waktu yang lama. untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek diperlukan pengkajian ulang terhadap sistem silvikultur yang sudah mapan. Sebelum sistem silvikultur lainnya diterapkan dalam mengelola hutan rawa gambut patut ditelaah terlebih dahulu kondisi hutan rawa gambut dengan persyaratan yang diminta oleh sistem silvikultur tersebut. Penerapan sistem silvikultur TPTI untuk mengelola hutan rawa gambut perlu dikaji keakuratannya. Kata Kunci: Tebang Pilih, Hutan Rawa Gambut, Silvikultur

Alrasyid, Harun PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MENURUNNYA KELESTARIAN PRODUKSI KELOMPOK HUTAN ALAM TRENGWILIS - BOA ODAK, GUNUNG RINJANI, NUSA TENGGARA BARAT (Solution Approach of

Sustained Yield Declining Problem of Trengwilis - Boa Odak Natural Forest Complex, Mount Rinjani, West Nusa Tenggara) / Harun

Alrasyid; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 31 - 44 , 2006 Garu (Disoxylum densiflorum Miq.) merupakan salah satu jenis kayu primadona untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat ini produksi kayu tersebut setiap tahun semakin merosot, sehingga perlu ditangani segera melalui penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pemecahan masalah penurunan produksi hutan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa vegetasi. Hasil survey potensi hutan menunjukkan bahwa kelompok hutan Trengwilis – Boa Odak yang terletak di lereng Gunung Rinjani memiliki permudaan alam jenis perdagangan yang cukup. Rata-rata permudaan alam tingkat semai ada 9.740 batang per hektar, tingkat pancang 638 batang per hektar, dan permudaan alam tingkat tiang 75 pohon per hektar, namun jumlah volume kayu yang dapat dipungut sangat rendah (27,56 m³/ha untuk diameter 50 cm ke atas). Berdasarkan kondisi hutan tersebut di atas, penggunaan sistem Tebang Pilih dengan limit diameter tebang minimum 30 cm akan berakibat penebangan berkelebihan (44,63 m³/ha) sehingga kelestarian hutan akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan dengan cara : a. Limit diameter tebang dinaikkan minimum 40 cm, kecuali untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq., Eugenia polycephala Miq., dan Memecylum costatum Miq. dengan limit diameter tebang minimum 50 cm. Begitu pula untuk jenis pohon Duabanga moluccana Bl. dengan minimum diameter 70 cm; b. Perlu dilakukan pemeliharaan tegakan di areal bekas tebangan dan pengayaan tanaman khususnya untuk jenis Disoxylum densiflorum Miq. Kata kunci : Kelestarian produksi hutan, Gunung Rinjani, Duabanga Moluccana Bl.., hutan alam Boa Odak, sistem silvikultur

3

keragaman jenis. KALIMANTAN BARAT (Loss of Mineral Element During Leaf Center (GTC). Kwatrina. -.136 . Riau) / Bambang S. Untuk menaksir tingkat pembusukan serasah dan laju akumulasi unsur mineral yang terurai menggunakan cara yang digunakan oleh Olson (1963 ) dan Yenny et al. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan keragaman jenis dan peluangnya sebagai lokasi wisata alam di Granit Training 4 . Sungai Sepada. Kata kunci : Mangrove. Halaman 237 247 . pelepasan unsur mineral Antoko.Litter Decomposition in Residual Stand Areas of Natural Mangrove Forest. Air Terjun Granit dan kawasan sekitar kolam sebagai bagian tak terpisahkan dari pelatihan dan demonstrasi pemadaman kebakaran hutan. TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. Smith memerlukan waktu 15 minggu untuk menjadi buah matang sejak munculnya tunas muda pada ketiak daun di ujung ranting.III. Bruguiera gymnorrhiza (L. mucronata Lamk 60 minggu. Bambang S POTENSI DAN KERAGAMAN JENIS FLORA PADA KAWASAN WISATA ALAM DI GRANIT TRAINING CENTER. telah diketahui waktu-waktu yang diperlukan pada masing-masing proses tahapan fenologi mangrove : munculnya tunas bunga.L. Antoko dan Rozza T. memerlukan waktu 61 minggu. Halaman 513 -532 . No.) Lamk 36 minggu. No. (b) Laju penguraian unsur mineral selama dekomposisi serasah adalah : P>N>Mg>C >Al >S>K>Fe>Cu>Zn>Ca>Mn. pengelolaan kawasan. dan sekitar Air Terjun Granit. Chairil PREDIKSI MUSIM PUNCAK BUAH EMPAT JENIS MANGROVE BERDASAR HASIL FENOLOGINYA (Fruit Peak Season Prediction of Four Mangrove Species Based on Phenology) / Chairil Anwar. apabila dijumpai salah satu tahapan fenologi mangrove di lapangan. Analisis vegetasi dilakukan dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP) dan asosiasi antar jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Bukit Lancang mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan dua lokasi lainnya. Halaman 127 .III. Rhizophora apiculata B.3 . Penaksiran jumlah serasah menggunakan 10 buah jaring serasah berukuran masing masing 1 m x 1 m dan diletakkan secara acak dalam hutan.III. Dengan diketahuinya tahapan fenologi ini maka dapat diprediksi berapa lama lagi buah mangrove akan matang. Serasah kering dikumpulkan setiap triwulan. -. dengan rekomendasi bahwa Bukit Lancang dapat dikembangkan sebagai hutan pendidikan lingkungan dan jalur pendakian bagi pengunjung. Selain itu dikumpulkan juga data jenis satwa yang ada di lokasi penelitian. Berdasar hasil pengamatan fenologi empat jenis mangrove di kawasan mangrove Suwung. Riau. Selanjutnya. serta R. Kata kunci: Potensi flora. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : (a) Tegakan tinggal hutan mangrove menghasilkan rata rata 202.552 gc/m2/th karbon organik. West Kalimantan) / Harun Alrasyid.2 . lokasi penelitian tersebut mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam. Kalimantan Barat. Yetti Alrasyid. Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). 2006 Pengamatan secara kontinyu proses terbentuknya buah mangrove matang dilakukan terhadap sepuluh tangkai yang memiliki bakal tunas bunga dari setiap pohon contoh.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. dan Bruguiera gymnorrhiza Lamk. buah muda serta buah matang. Hutannya didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata Lamk. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang peranan hutan mangrove dalam memelihara kesuburan daerah perairan pantai di bawah tegakan tinggal hutan alam mangrove. RIAU (Potency of Flora and Species Diversity in Granit Training Center. munculnya bakal bunga. Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Taman Nasional Bukit Tigapuluh Anwar.4 % karbon organik. Bali. dekomposisi serasah. Tanahnya digenangi air pasang laut yang tingginya beberapa sentimeter. No. Dengan mengadakan studi lapangan Heryati. Lokasi penelitian terletak di komplek hutan alam mangrove Sungai Sepada.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.5 . bunga pada keadaan mekar.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. (1949). -. Pengamatan dilakukan pada jenis-jenis vegetasi di kawasan GTC yang menarik pada lokasi penelitian yaitu Bukit Lancang. dan (c) Pemanenan biomas hutan yang tak terkontrol telah menghilangkan rata-rata 99. Bukit Tigapuluh National Park. bunga siap mekar. Sonneratia alba J. Harun PELEPASAN UNSUR HARA MINERAL SELAMA PELAPUKAN SERASAH DAUN DI AREAL TEGAKAN SISA HUTAN ALAM MANGROVE SUNGAI SEPADA. sekitar kolam. terbentuknya bakal buah. dan tingginya agak seragam.

tujuh jenis merupakan elemen minor dan 33 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. sehingga dapat menahan banjir pada musim hujan dan mampu mengalirkan air pada saat musin kemarau. Sekurang-kurangnya dijumpai 53 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati lima komplek mangrove di TN Bali Barat. Limabelas jenis vegetasi merupakan elemen mayor pembentuk mangrove.5-30 kali bobot keringnya. Chairil KERAGAMAN DAN SEBARAN MANGROVE DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Chairil Anwar. 2006 Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. maka dapat diprediksi kapan akan terjadi musim puncak berbuah mangrove. Chairil PENAMBATAN KANAL: UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI LINGKUNGAN PADA KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEBANGAU. Kata kunci: Fenologi mangrove. Gilimanuk. Gambut di alam pada dasarnya merupakan bahan "spongy" yang mempunyai daya besar dalam menahan air hingga 4. sedimentasi. 2006 . konservasi. 10 jenis merupakan elemen tambahan dan 29 jenis selebihnya merupakan jenis-jenis vegetasi peralihan yang biasanya berasosiasi dengan mangrove. maka fluktuasi permukaan air tanah yang tinggi ini dapat menyebabkan gambut tidak akan dapat menyerap air kembali apabila tergenang oleh air berikutnya. Tanjung Gelap dan luas Anwar. telah menyebabkan terjadinya banjir besar. juga penyebabkan terjadinya perubahan ekosistem yang akan berakibat timbulnya kerugian sangat besar dikemudian hari . Sonneratia. 2006 Taman Nasional (TN) Bali Barat memiliki keragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. Empat belas jenis vegetasi merupakan elemen utama pembentuk mangrove. Halaman 223240 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Chairil SEBARAN MANGROVE DI PULAU LOMBOK. Bali Barat. KALTENG / Chairil Anwar. Rhizophora. dan penurunan kualitas perairan sungai di sekitarnya. Kondisi ini akan memunculkan persoalan lingkungan hidup seperti terancam punahnya fauna dan flora. yang terdiri dari mangrove komplek Teluk Gilimanuk Kata kunci: Taman Nasional. Berdasar hasil 5 . Possumur. sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petani sekitar. Kalimantan Tengah Anwar. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. banjir. Teluk Trima. Penambatan kanal merupakan salah satu upaya untuk memperlambat keluarnya air dan memperkecil fluktuasi permukaan air gambut yang diharapkan dapat memperbaiki ekosistem gambut untuk mendukung rehabilitasnya.guna mengetahui tahapan fenologi mangrove yang paling dominan pada suatu kawasan tertentu serta pada suatu saat tertentu.Mengingat lahan gambut memiliki sifat pengkerutan atau kering tak balik (irreversible) . NUSA TENGGARA BARAT DAN KEMUNGKINANNYA SEBAGAI SUMBER BENIH / Chairil Anwar. -. Berdasar hasil pengukuran secara kasar. Hutan rawa gambut. sekurang-kurangnya terdapat 55 jenis vegetasi mangrove dan vegetasi peralihannya yang menempati 30 komplek mangrove di Pulau Lombok. yang pada gilirannya menyebabkan lahan gambut sangat rentan terhadap kebakaran. Kata Kunci: Kanal. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Sebangau. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . maka permukaan air tanah dapat mencapai antara 10-30 di atas permukaan tanah pada musim hujan dan dapat mencapai 100 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau.kebakaran hutan. 2006 Pembuatan kanal dalam wilayah lahan gambut selain akan memudahkan ekstraksi kayu dalam pembalakan liar. Pengalaman lahan gambut Sebangau tahun 1994 menunjukan bahwa akibat adanya pembuatan kanal yang belum begitu banyak. yang pada gilirannya akan membantu dalam rangka perencanaan pengunduhan buah serta penyediaan bibit mangrove.Pengalaman saat ini dengan semakin maraknya pembuatan kanal-kanal. -. Bruguiera Anwar. Halaman 155-165 . Pulau Menjangan. diperkirakan luas mangrove di wilayah TN Bali Barat adalah 551 ha. Halaman 187-195 .

. Ex Benth. mucronata. setidaknya terdapat sembilan jenis: A. Ngatiman. Lombok. Lombok Tengah. yang terserang embun tepung saja tidak ada sedangkan yang terserang kedua penyakit tersebut sebesar 8. terserang oleh dua jenis penyakit yaitu karat daun dan embun tepung. Ex. membengkak.) Kostel. Ex Benth. Halaman 209 . East Java) / Illa Anggraeni. 2006 membelok). 31 jenis) dan pesisir Kabupaten Lombar Utara (11 ha. Ari Wibowo. Cunn.55 %. Penelitian yang dilakukan di RPH Pandantoyo. racemosa.2 . Diospyros malabarica (Desr. KHDTK Rarung.III.) Kostel) secara alami terdapat di Klicung (Diospyros Kabupaten Sumbawa dan Lombok Selatan. penyakit karat daun disebabkan oleh Atelocauda digitata G. Sumber benih. -.1 . R. Hasil identifikasi dan determinasi penyebab pada fase aseksual penyakit embun tepung adalah fungi Oidium sp. diperkirakan luas mangrove di Pulau Lombok adalah 1.44 %. Illa SERANGAN PENYAKIT EMBUN TEPUNG DAN KARAT DAUN PADA Acacia auriculiformis A.Cunn. KPH Kediri.Untuk keperluan rehabilitasi mangrove. Wint. Illa DIAGNOSA PENYAKIT EMBUN JELAGA DAN DAUN MENGGULUNG PADA KLICUNG (Diospyros malabarica (Desr. sehingga diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian secara efektif dan efisien. Hasil pengamatan gejala di lapangan serta pengamatan mikroskopis di laboratorium penyebab penyakit embun jelaga adalah fungi Meliola sp. Benth. Kabupaten Lotim Selatan (71 ha. BKPH Pare.III. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 1994 membuat plot uji coba penanaman klicung di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rarung. dan dapat menyebabkan embun tepung. JAWA TIMUR (Powdery Mildew and Rust Attack on Acacia auriculiformis A. Meliola sp. Cunn. Kostel) DI KHDTK BARUNG. Lombok Timur. 18 jenis). NUSA TENGGARA BARAT (Diagnostic of Black Mildew and Rolled Leaf Diseases on Diospyros malabarica (Desr. embun jelaga. 27 jenis) .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. 6 . Lombok Barat. Akibat kedua penyakit tersebut tanaman pertumbuhannya menjadi terhambat.5 ha. West Nusa Tenggara) / Illa Anggraeni. caseolaris tersebar di Pulau Lombok yang dapat disarankan untuk dijadikan sumber benih mangrove. bagian pucuk bentuknya tidak normal (keriting. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tanaman Acacia auriculiformis A. R. Cunn. Ex Benth. Mangrove Anggraeni. pesisir Kabupaten Lombar Selatan (77. R.stylosa.apiculata. (Deuteromycetes) atau disebut pula Erysiphe sp. dan malabarica (Desr. Ex Benth. Cunn. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang organisme penyebab penyakit embun jelaga dan daun menggulung serta ekobiologinya.214 .592. berumur dua tahun serta akibat yang ditimbulkannya. pesisir selatan Kabupaten Loteng (7 ha.pengukuran secara kasar.) Kostel at Forest research (KHDTK) of Rarung. alba dan S. penyakit embun tepung. merupakan jenis pohon cepat tumbuh untuk penghijauan yang tanaman mudanya mudah terserang penyakit. Kata kunci : Klicung. penyakit karat daun Anggraeni. No. dan penyakit daun menggulung disebabkan oleh virus.Cunn.marina. Halaman 45 53 . tagal. yang tersebar pada pesisir Kabupaten Lotim Utara sekitar 1. L. Kata kunci: Pulau Lombok. C. -. daun menggulung. 28 jenis). 2006 Acacia auriculiformis A. Kenyataan di lapangan ternyata tanaman klicung terserang oleh penyakit embun jelaga (black mildew) dan sekaligus juga oleh penyakit daun menggulung (roll leaf). Persentase serangan penyakit karat daun rata-rata sebesar 91. Informasi dari penyakit embun jelaga dan daun menggulung yang keduanya sekaligus menyerang tanaman klicung belum pernah ada. Jenis pohon ini tergolong lambat tumbuh (slow growth) dan tergolong jenis kayu mewah (fancy wood). pohon menjadi kering dan terselimuti Kata kunci : Acacia auriculiformis A. in Kediri. No.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Ex Benth. S.759 ha. Jawa Timur bertujuan untuk mengetahui gejala makroskopis dan mikroskopis dari penyebab penyakit yang menyerang tanaman Acacia auriculiformis A. pada fase seksual (Ascomycetes).5 ha dengan keragam 50 jenis mangrove. Nusa Tenggara Barat seluas 5 hektar. DI KEDIRI.

mamalia. dan ikan. antara lain terjadinya resistensi resurjensi. -. tetapi tingkat kerusakannya masih sangat rendah. (Coleoptera:Brenthidae) merupakan serangga hama baru yang ditemukan menyerang tanaman pulai (Alstonia angustiloba) di PT. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari ketiga lokasi penelitian dapat ditemukan 266 jenis tumbuhan etnobotani.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Hutan Tanaman Asmaliyah PENGAMATAN SERANGGA HAMA BARU PADA TANAMAN PULAI DARAT (Alstonia angustiloba) DI PT. tidak meninggalkan residu terhadap lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia. Kata Kunci: Etnobotani. 2006 Pulau Sumatera memiliki potensi besar dalam hal keaneragaman jenis tumbuhan tingkat tinggi. Kumbang ini merupakan hama penggerek daun (leaf miner) yang menyerang daun pulai dengan cara memakan daging daun pada permukaan daun. karena dianggap paling cepat dan ampuh mengatasi gangguan hama. Kondisi ini dikhawatirkan suatu saat nanti serangan kumbang akan membahayakan tanaman apabila sejak dini tidak dikendalikan.) dan nango (Canangium sp. terbunuhnya musuh alami. Namun penggunaannya yang kurang bijaksana sering menimbulkan dampak negatif. Xylo Indah Pratama (XIP). sebagai dasar untuk mengklasifikasi potensi masing-masing jenis sebagai tumbuhan penghasil pestisida nabati. dan pengendalian hama tanaman budidaya mereka. Berdasarkan hasil uji pendahuluan insektisida jenis belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn. Lubuk Linggau. dan Sri Utami. dan berbahaya bagi mahluk hidup serta pencemaran lingkungan. dan Enik Erna Wati Hadi. perlu dicari alternatif pengendalian yang efektif terhadap hama sasaran tetapi lebih aman. Untuk menekan timbulnya berbagai permasalahan tersebut di atas. Salah satunya yang memenuhi persyaratan ini dan layak dikembangkan adalah bioinsektisida (insektisida mikroba dan insektisida organisme non target.) terlihat bahwa ekstrak kedua tumbuhan tersebut mampu mempengaruhi mortalitas. suku Melayu Tua di jambi. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan lebih banyak lagi tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil pestisida nabati maupun efektivitasnya dalam mengendalikan serangga hama tanaman. Cecar. Halaman 95-103 . Sri utami. Kata Kunci: Bioinsektisida. 2006 Sampai saat ini cara yang paling umum digunakan untuk mengendalikan hama adalah dengan menggunakan insektisida kimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi jenis tumbuh-tumbuhan yang secara tradisional oleh masyarakat etnis Sumatera dimanfaatkan sebagai obat-obatan (tradisional medicine).Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Pengendalian hama Asmaliyah PROSPEK PEMANFAATAN BIOINSEKTISIDA SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENGENDALIAN HAMA PADA HUTAN TANAMAN / Asmaliyah. Halaman 145-150 . Penelitian dilakukan sejak Desember 2003 sampai dengan Maret 2005 pada kelompok masyarakat suku Talang Mamak di Riau. Sebanyak 52 jenis tumbuhan diantaranya diduga berpotensi besar sebagai penghasil pestisida nabati. obat-obatan. Pengendalian hama. Pestisida nabati. Masyarakat tradisional memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya (etnobotani) untuk keperluan berburu. Keberhasilan pembentukan pupa. Persentase serangan kumbang cukup tinggi. Oleh 7 . XYLO INDAH PRATAMA-CECAR / Asmaliyah. 2006 Kumbang Cycotrachelus sp. Inventarisasi jenis tumbuhan. -. dan suku Rejang Lebong Tapus Bengkulu. bahan berburu maupun pangusir hama pertanian. Edwin Martin. Keberadaan kumbang ini cenderung meningkat seiring menurunnya serangan ulat Clauges glauculalis.Asmaliyah POTENSI ETNOBOTANI SUMATERA SEBAGAI SUMBER PENGHASIL PESTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA / Asmaliyah. dan imago Helicoverpa armigera Hbn dan Spodoptera litura F. Halaman 115-124 .

Dengan demikian persoalannya bukan lagi pada akhirnya masyarakat memperoleh manfaat dari tanah. air. Alstonia angustiloba. kebakaran hutan dan lahan. Dyera lowii. dan masak memasak. Hutan tanaman jelutung dapat dikelola dengan pola yang seragam (HTI. pelaku ekonomi. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kata Kunci: Hutan tanaman. social forestry) untuk memperoleh hasil getah dan kayu serta pemulihan fungsi lingkungan. dan aspek silvikulturnya sebagian besar telah dikuasi. Hama. tanpa harus mengorbankan kepentingan ekonomi dan politiknya masing-masing. pelaksana kebijakan. menemukan kembali dan memanfaatkan proses belajar dinamis dari kapital sosial yang dimiliki masyarakat.2 juta hektar (sumatera). Saat ini sebagian besar lahan rawa dalam kondisi rusak yang disebabkan oleh kegiatan eksploitasi hutan.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. tetapi pada mulanya warga masyarakat bersama-sama pembuat kebijakan. Kondisi tersebut akan dapat menumbuhkan dan memacu minat budidaya dan minat kelola oleh masyarakat dan dunia usaha. Coleoptera: Brenthidae. Kata kunci: Rekayasa sosial. 2006 Data di berbagai negara memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin pesat telah secara langsung menimbulkan peningkatan kebutuhan masyarakat baik secara individu. Rawa. Untuk mempercepat pemulihannya perlu dilakukan rehabilitasi melalui pembangunan hutan tanaman. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa. perabot rumah tangga.Peningkatan kebutuhan ini telah secara nyata mendorong individu. yang bersifat vertikal antara rakyat dan negara. kebutuhan akan bahan makanan yang berkaitan dengan hutan sebagai gudang alam. termasuk penyelesaian antagonisme dan konflik yang terjadi hanya akan berhasil apabila para pembuat kebijakan. Jelutung.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Pasar ekspor getah dan kayu jelutung terus mengalami penurunan pasokan sehingga peluang pasar masih sangat besar. masyarakat bahkan negara bangsa sebagai pelaku ekonomi melakukan eksploitasi hutan secara berlebihan dan mengganggu keseimbangan ekosistem dan ketersediaan sumberdaya alam jangka panjang. Halaman 69-76 . yakni meningkatnya kebutuhan akan kayu untuk perumahan. Cycotrachelus sp. Jelutung (Dyera lowii) adalah jenis pohon lokal (Indigenous species) yang sangat prospektif untuk hutan tanaman produktivitas tinggi dan ramah lingkungan pada lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimiliki. konversi lahan. meliputi areal seluas 34. sumber plasma nutfah tersebar dengan keragaman genetik yang besar. 2006 Potensi lahan rawa sangat besar. Peningkatan kebutuhan ini pada gilirannya melahirkan antagonisme dan konflik.karena itu perlu pemantauan dan pengamatan secara periodik dan intensif terhadap perkembangan serangan kumbang Cycnotrachelus sp. Kata Kunci: Serangga. Pengelolaan hutan. khususnya dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam bentuk kebijakan dan program yang mengarah pada upaya tersebut serta input teknologi dari lembaga penelitian. antarbangsa. Keberhasilan pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa sangat ditentukan oleh peran aktif banyak pihak. Prospek pengembangan hutan tanaman jelutung pada lahan rawa Sumatera sangat baik karena didukung oleh sumberdaya lahan yang luas.4 juta hektar (nasional) dan 7. Air 8 . Tanah. Ketegangan dan konflik ini tidak akan pernah terselesaikan apabila para pihak yang terlibat tidak menggunakan kearifan yang tinggi yang dimilikinya. Identifikasi di sejumlah negara menunjukan peningkatan kebutuhan nyata yang berkaitan langsung dengan hutan. Halaman 19-30 . Sumatera Bau. kelompok atau bangsa akan sumberdaya alam. dan hutan. pertumbuhan cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal. -. 2006 . . Yanuarius Koli REKAYASA SOSIAL DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI NTT / Yanuaris Koli Bau. serta kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan peternakan. pemanas. Pulai. maupun yang berisfat trans nasional. pelaksana kebijakan dan pelaku ekonomi bersama-sama dengan masyarakat lokal melakukan rekayasa sosial. berfikir dan bekerja sehingga mereka mendapat manfaat optimal dan berkelanjutan. PT Xylo Indah Pratama Bastoni PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN JELUTUNG (Dyera lowii) PADA LAHAN RAWA SUMATERA / Bastoni dan Abdul Hakim Lukman. baik yang bersifat horisontal antar kelompok sosial. Pengalaman lapangan dari desa-desa di Pulau Timor memperlihatkan bahwa penanganan pembangunan kehutanan.

hutan “sedang” sebesar 76.70 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4. Kandungan bahan organik dan N total terbesar terletak pada lapisan ke dua.Butar-Butar. Sedangkan pengamatan lapangan dilakukan dengan cara menentukan satuan contoh berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 1 km x 1 km (100 ha).000 m.80 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 7.). Tempurung kemiri yang selama ini banyak dijadikan limbah. baik pada media cair maupun udara. Papua) / Sofwan Bustomi. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.56 m³/ha).SUNGAI BESIRI DI KABUPATEN FAKFAK. Djoko Wahyono.). hal ini ditunjukkan oleh kerapatan tegakan hutan dengan diameter ≥ 20 cm pada hutan “jarang” sebesar 96. dan minyak kemiri.20 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 2.25 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 8. potensi tegakan.04 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =9. 2006 . destilat. Hasil penelitian ditemukan 48 jenis pohon yang tercakup ke dalam 27 famili. Jenis-jenis yang dominan berturut-turut resak/damar (Vatica rassak Bl. N. Kata kunci: Kebun percobaan Bu'at-SoE.). tanah masih relatif muda dan secara edafis masih dapat ditumbuhi oleh beberapa jenis tanaman.Besiri River Forest Natural. dan pala hutan (Myristica fatua Houtt. -.).Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Beberapa produk dari hasil pengolahan tempurung kemiri adalah arang. Kata kunci : Klasifikasi.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 69-76 .25 N/ha).III.66 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 18.4 . Destilat telah digunakan untuk memperbaiki sifat tanah dan pencegahan jenis hama dan penyakit tertentu. Saptadi RAGAM MANFAAT KEMIRI / Saptadi Darmawan. sebenarnya memiliki kegunaan yang cukup bermanfaat. -. No. Nusa Tenggara Timur. Di dalam plot bujur sangkar dibuat lima jalur ukur yang diletakkan 9 .05 pohon/ha (diameter ≥ 50 cm = 9. Metode yang digunakan yaitu pengukuran/penilaian potensi pada citra satelit dan pengamatan lapangan. kelat/jambu-jambu (Eugenia sp. Halaman 437 .06 m³/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 85. kelompok hutan Darmawan. Penelitian dilakukan dengan membuat profil tanah di lokasi penelitian untuk dilakukan analisis tanah secara langsung maupun pengambilan contoh tanah untuk dilakukan analisa di laboratorium.). mersawa (Anisoptera polyandra Bl. Pengukuran potensi pada citra satelit tersebut dilihat dari tone yang dijumpai. Arang dan arang aktif juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki sifat tanah. Hasil analisa laboratorium menunjukan bahwa pH tanah (H2O maupun KCI) semakin tinggi dari lapisan atas ke lapisan bawah. Kemiri saat ini pemanfaatannya lebih terfokus pada kemiri isi dan kayunya. Dengan dihasilkannya produk Nature Forest Based on Landsat Imagery at Bomberai River .al] . Prabu Alaska Unit I Fakfak pada hutan “jarang” sebesar 68. lebar jalur 20 m. Halaman 217-221 .46 m³/ha).60 N/ha). Heriyanto. proses pelapukan berlangsung secara normal. 2006 Telah dilakukan penelitian studi sifat-sifat tanah di Kebun Percobaan Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. -.45 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4. Dari penelitian profil di lokasi menunjukan bahwa terjadi proses pedogenesis pada lapisan atas maupun bawah. 2006 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kelas kerapatan hutan dan potensi tegakan berdasarkan tampilan warna/tone pada citra satelit. Arang dan briket arang dapat digunakan sebagai sumber energi. PAPUA (Standing Stock Classification of secara sistematik dengan jarak antar jalur 200 m. arang aktif. Potensi pohon berdiameter ≥ 20 cm di areal kerja PT.88 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm =17. Sofwan KLASIFIKASI POTENSI TEGAKAN HUTAN ALAM BERDASARKAN CITRA SATELIT DI KELOMPOK HUTAN SUNGAI BOMBERAI . hutan “sedang” sebesar 101.458 . semakin rapat tegakan. matoa (Pometia pinnata Forst.M. semakin jelas tone yang dihasilkan. Tigor STUDI SIFAT-SIFAT TANAH DI KEBUN PERCOBAAN BU'AT-SOE TIMOR TENGAH SELATAN.78 m³/ha (diameter ≥ 50 cm = 25.). Arang aktif dapat digunakan sebagai bahan adsorben. panjang 1. NUSA TENGGARA TIMUR / Tigor Butar-Butar [et.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. citra satelit. Fakfak District. Pengkelasan hutan menurut warna/tone pada peta citra satelit dapat digunakan. briket arang. 2006 Tanaman Kemiri merupakan tumbuhan serbaguna dan pemanfaatannya sudah dikenal baik oleh masyarakat terutama buahnya. Jenis ini dapat tumbuh dengan baik di Nusa Tenggara dan penyebarannya cukup merata.25 N/ha) dan kerapatan tegakan hutan “rapat” sebesar 118. Sifat tanah Bustomi. kenari (Canarium maluense Lauterb.80 m³/ha dan diameter ≥ 60 cm = 16.

balangeran). Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat.laporan terakhir dari Badan Planologi Kehutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi.83 juta hektar/tahun termasuk kerusakan hutan rawa gambut. Survey. Gaharu. dan budaya maupun fungsi ekologi. dalam melakukan vegetasi diperlukan pemilihan jenis yang tepat. jenis gelam (Melaleuca sp. dan rapuh (fragile). geronggang (Cratoxylum glaucum). Di Kalimantan seluas 6.olahan dari tempurung kemiri tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat bagi masyarakat. meranti bunga (S. Penelitian dilakukan dengan melakukan survey dan wawancara terhadap masyarakat untuk mendapatkan data pengusahaan gaharu dan membuat petak berukuran 20 m x 20 m dengan jarak antar petak 200 m dengan sistem jalur untuk melakukan inventarisasi inang gaharu. Oleh karena itu.28. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas 17 juta hektar yang terbentang dari pantai timur Sumatera Timur seluas 9. Penelitian dilakukan pada bulan November 2004 di kawasan Hutan Timau Kecamatan Amfoang Kabupaten Kupang dan Kawasan Hutan Wanggameti. geronggang (Carborescens) merupakan jenis-jenis yang tahan hidup pada lahan sulfat asam. 2006 Telah dilakukan penelitian penyebaran dan keberadaan inang gaharu di alam. Lahan sulfat masam aktual merupakan lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup di situ. dan keanekaragaman hayati. sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. dan Irian Jaya seluas 70. Kata Kunci: Kemiri. Berkurangnya inang gaharu di alam disebabkan oleh perburuan yang berlangsung secara besar-besaran tanpa dilakukan upaya konservasi dengan melakukan budidaya inang gaharu. baik sebagai reservoir air. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus). tysmanniana) atau Jelutung (Dyera lowii). -. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain itu jenis-jenis pionir seperti pulai rawa (Alstonia pnematophora). pembangunan Hutan Tanaman Industri untuk pulp dapat menggunakan jenis Acacia crasicarpa. Inang gaharu di alam pada tingkat pohon dan tiang sudah tidak dapat ditemukan. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode antara 1997-2000 di Indonesia mencapai 2.).Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . habitatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15m. Arang. Halaman 1-18 . belangeran (S. Halaman 205-215 . dan Sumatera Selatan. Herman PEMANFAATAN LAHAN SECARA BIJAKSANA DAN VEGETASI DENGAN JENIS POHON TEPAT GUNA DI LAHAN RAWA GAMBUT TERDEGRADASI / Herman Daryono. Dari hasil penelitian di lokasi penelitian diketahui inang gaharu dari jenis Aquilaria malaccensis sulit ditemukan. Inventarisasi Daryono. dan kondisinya dalam keadaan terbuka pada kawasan produksi (gambut <3 m). karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. sedang ataupun dalam 10 .3 juta hektar meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Sedang pada lahan gambut dalam kategori dangkal. Kata kunci: Inang. tanah-tanah (Combetocarpus rotundatus) juga dapat dipertimbangkan sebagai jenis untuk rehabilitasi. Briket arang.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. pada lokasi tempat ditemukannya gaharu/inang gaharu maupun bekas eksploitasi gaharu/inang gaharu. Kecamatan Metawai Selatan. Destilat Darmawan. Kabupaten Sumba Timur. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan. sedang HTI non pulp bisa dengan jenis meranti batu (Shorea uligonosa).86 dan 8. Limbah. untuk tingkat pancang dan semai di petak analisis vegetasi masih dapat dijumpai dengan nilai indeks penting masingmasing sebesar 2. ekonomi. carbon storage. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. Punak (Teramerista glabra). Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Pada masing-masing tipologi lahan. Saptadi PENYEBARAN DAN KEBERADAAN INANG GAHARU DI ALAM / Saptadi Darmawan dan Sumardi. pemanfaatan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Pada lahan gambut yang telah mengalami kebakaran. -. 2006 .000 hektar.6 juta hektar yang meliputi Provinsi Jambi.

Rawa gambut Darwati. sehingga intensitas cahaya memenuhi persyaratan untuk hidup jenis komersial seperti ramin (Gonystylus bancanus).500 ppm belum cukup memenuhi kebutuhan hara tanaman (kadar C-organik dan nitrogen masih termasuk rendah) dan ditunjukkan tanaman kekurangan nitrogen. kapurnaga (Callophylum macrocarpum). Halaman 195 207 . DAN ASAM HUMAT DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Khaya anathoteca Dx. dan biji terhadap hama daun Eurema s. kompos. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan unsur hara (P. dan penggunaan mikroorganisme tanah. dan Mg). Pada kawasan konservasi (gambut >3m) dalam keadaan terbuka. Kata kunci : Reklamasi. 2006 Perlindungan Tanaman terhadap serangan hama dan penyakit mulai dikembangkan dengan insektisida yang tidak mencemari lingkungan.yang habitatnya masih tedapat tegakan. Introduksi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith berkorelasi positif dengan asam humat dan keberadaan cendawan endomikoriza dan asam humat bersifat sinergis terhadap pertumbuhan Khaya anthoteca Dx. Asam humat mampu meningkatkan pertumbuhan. 2006 (Aplication of Endomycorrhyza. Kata Kunci: Uji efikasi. -. (Lepidoptera : pieridae) PADA SKALA LABORATORIUM / Wida Darwiati. PADA LAHAN PASCA PENAMBANGAN BATU GAMPING DI CILEUNGSI-BOGOR Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.2 . Erdy Santoso.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . perlu direvegetasi dengan jenis asli setempat seperti jelutung karena hasil getahnya dapat dimanfaatkan tanpa menebang pohonnya. 5 cc/100cc air. endomikoriza. Insektisida ini berasal dari tanaman atau mikroorganisme. Cileungsi-Bogor) / Darwo. Pada pengamatan selama 24 jam semua ulat mati. No. Eurema sp Darwo APLIKASI ENDOMIKORIZA. Dengan pemberian pupuk kompos 2 kg dan atau 500 ml asam humat 1. Suren. tetapi yang menjadi faktor pembatas adalah reaksi tanah agak alkalis dengan nilai tukar kation Ca sangat tinggi dan kadar salinitas tinggi serta kandungan C-organik dan nitrogen sangat rendah. Untuk mendapatkan insektisida yang berasal dari tanaman. Hama daun. Vegetasi. Rancangan penelitian menggunakan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap. K. PUPUK KOMPOS. Hasilnya menunjukan bahwa perlakuan ekstrak biji suren sangat efektif dan tercepat dalam pengendalian hama daun di laboratorium dengan jangka waktu 3 jam setelah perlakuan mortalitas terbanyak dibanding dengan ekstrak daun dan ranting.III.Jurnal Aktifitas reklamasi pada lahan pasca penambangan batu gamping seperti di PT. ranting. Ranting. Compos. asam humat 11 . Selain itu pada lahan gambut masyarakat. jika bibit telah diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith yang ditanam pada lahan yang diberi 500 ml asam humat 1. and Humic Acid to Growth Improvement of Khaya anthoteca Dx. DAN BIJI SUREN (Toona sureni Merr: Meliaceae) TERHADAP HAMA DAUN Eurema spp. hal ini dikarenakan kurang memperhatikan karakteristik bekas penambangan. -. 7cc/100 cc air. kapasitas tukar kation. dan lain-lain dapat ditanam di tipologi lahan tersebut. Cileungsi. Ekstrak daun. dapat dibangun dengan jenis jelutung dengan sistem agroforestry. Uji efikasi kandungan senyawa dari tanaman Toona Sureni Merr yang digunakan adalah bagian daun. Semen Cibinong. at Post-Limestone Mining Land. Biji. dosis yang digunakan 3 cc/100 cc air. telah digunakan tanaman kehutanan yaitu Toona sureni Merr yang diketahui mengandung senyawa kimia melalui analisis kromatografi gas yang dapat berfungsi sebagai pembunuh hama. RANTING. Pertumbuhan tanaman yang terbaik. dan kejenuhan basa ada dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. sedangkan untuk perlakuan ekstrak daun dan ranting memerlukan waktu sampai 72 jam. dan persen infeksi akar bermikoriza yang lebih baik. Halaman 125-128 . teknik revegetasi. Kata Kunc: Pemanfaat lahan. Kabupaten Bogor sebagai bahan baku semen menunjukkan hasil yang tidak baik. batu gamping. yang diinokulasi cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith terhadap pemberian pupuk kompos dan asam humat pada lahan bekas penambangan batu gamping serta tingkat infeksi cendawan endomikoriza pada tanaman tersebut. Yadi Setiadi. daya hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang respon pertumbuhan Khaya anthoteca Dx.500 ppm. Wida UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN. Toona sureni Merr. dan kontrol dengan rancangan acak lengkap.

al) . Pada kenyataannya kemampuan produksi benih dari sumber benih yang bersertifikat belum memenuhi kebutuhan.III. benih.1 . -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 101-109 . modal finansial yang tersedia. serta fungsinya dalam menunjang konservasi tata air. Tulisan ini bertujuan memaparkan proses penyusunan rancangan dan pembangunan model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung dengan penerapan pola agrofishery yang memadukan budidaya ikan dengan tanaman kehutanan/pertanian dalam satu unit lahan. Dede Rohadi. Rehabilitasi menggunakan Faktorial Eksperimen dalam RCBD. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi media dari tanah mineral dan bahan organik serta dosis pupuk NPK (17:17:17) terhadap pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni.) adalah salah satu jenis endemik di Pulau Sulawesi yang termasuk diprioritaskan untuk Hutan Tanaman Industri. seperti standar pengujian dan mutu benih/bibit. No.5 g/bibit (3. top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dengan pupuk NPK 0. pembangunan kebun benih/bibit.) (Effects of Media and NPK Fertilizer to the Growth and Quality of Eboni (Diospyros celebica Bakh. dan top-soil murni dengan 1. -. baru tersedia untuk jenis-jenis komersial tertentu. GERHAN. Peran fasilitator diperlukan sebagai pendamping proses tersebut.Danu TEKNOLOGI DAN STANDARISASI BENIH DAN BIBIT DALAM RANGKA MENUNJANG KEBERHASILAN GERHAN / Danu.). Halaman 9 .0 g/bibit (3. penanggulangan.(et..Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Penelitian 12 . NPK Falah. Kata Kunci: Teknologi.17 . mulai dari perencanaan. Demikian pula ketersediaan perangkat sistem dalam pengawasan mutu benih. 2006 Eboni (Diospyros celebica Bakh.18 mm). Tiga kombinasi perlakuan baik untuk pertumbuhan diameter batang bibit adalah top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v) tanpa pupuk (3. Tiap kombinasi perlakuan diulang tujuh kali dan tiap ulangan terdiri dari lima bibit. Pemilihan jenis yang akan dibudidayakan harus mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia pelaksana. 2006 Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) adalah program pemerintah dalam upaya merehabilitasi hutan dan lahan dengan target seluas 3 juta hektar selama kurun waktu 5 tahun (2003-2007). pelaksanaan. hingga monitoring dan evaluasi. Hendromono. sabut kelapa sawit. Bibit. dan pengawasan mutu benih/bibit. kawasan penyangga hutan lindung perlu dikelola pemanfaatannya agar mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menunjang fungsi hutan lindung sebagai penyangga tata air.08 mm). Standar. 2006 Mengingat fungsi ekologinya. Pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung seyogyanya dilakukan dengan memberdayakan masyarakat dalam seluruh proses pemanfaatan. Interaksi antara jenis medium dan dosis pupuk NPK nyata terhadap pertumbuhan diameter batang bibit. Faiqotul MODEL PEMANFAATAN PARTISIPATIF KAWASAN PENYANGGA HUTAN LINDUNG DENGAN POLA AGROFORESTRY / Faiqotul Falah. Model pemanfaatan kawasan penyangga hutan lindung harus disesuaikan dengan karakter biofisik dan sosial ekonomi setempat sehingga dapat lebih tepat guna dan berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan dan mutu morfologi bibit eboni yang baik dicapai pada medium top-soil + sabut kelapa = 1 : 1 (v/v) dan top-soil + sabut kelapa sawit = 1 : 1 (v/v). Halaman 63-76 .. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan penggunaan benih/bibit bermutu dalam program rehabilitasi hutan dan lahan di Indonesia.) Seedling) / Durahim. dan Nurhasybi. Durahim PENGARUH MEDIA DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN MUTU BIBIT EBONI (Diospyros celebica Bakh. Faktor-faktor yang diteliti adalah empat jenis kombinasi media dan tiga dosis pupuk NPK. top-soil.10 mm). sabut kelapa. -. Di antara upaya-upaya tersebut adalah pemeliharaan sumber-sumber benih. penyusunan standar pengujian dan mutu benih untuk berbagai jenis tanaman yang diperlukan serta peningkatan pengetahuan para praktisi di palangan dalam hal penyediaan. prospek keuntungan ekonomi bagi masyarakat. Keberhasilan program ini memerlukan dukungan ketersediaan benih dan bibit yang bermutu dan berasal dari sumber benih bersetifikat dalam jumlah besar. bibit. Kata kunci : Eboni (Diospyros celebica Bakh.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.

2005 : Halaman 97-102 . Flores tahun) yang masing-masing dipelihara dalam kandang individu berukuran 160 cm x 120 cm x 100 cm. konsumsi. Harmonis. Garsetiasih. Halaman 75 . Dalam mengantisipasi kepunahan populasi perlu dilakukan penangkaran jenis burung bayan tersebut. Konservasi. -. Halaman 63-69 .43 gr/hari (255. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rata-rata konsumsi burung bayan jantan sebesar 205. masih di bawah luasan minimal 30 persen. Imaculata ARSITEKTUR BIOLOGIS MENUJU EKSPLOITASI HUTAN YANG HARMONIS DI FLORES / Imaculata Fatima. Tata Air Fatima. diketahui bahwa tingkat konsumsi terhadap tiap jenis pakan tidak berbeda nyata antara burung bayan jantan dan betina.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Jenis pakan yang paling banyak dikonsumsi.Kata Kunci: Kawasan penyangga. palatabilitas dan penangkaran Garsetiasih.53 gr/hari (26. Permasalahan pokok yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan di daerah ini adalah illegal logging. No. Mariana Takandjandji. I Made KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI BALI / I Made Gunaja. maka dukungan iptek terapan yang praktis dan dengan biaya murah sangat diperlukan. -. 2006 Pemanfaatan hutan yang tidak seimbang di Flores disebabkan oleh pandangan masyarakat yang hanya melihat nilai manfaat konsumtif (digunakan langsung sehari-hari tanpa mengolahnya untuk mandapatkan nilai tambah) dan nilai pemanfaatan produktif (langsung dijual ke pasar).III. in Captive Breeding)/ R. sehingga mengakibatkan degradasi hutan yang semakin meningkat. -. partisipatif.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. adalah pepaya dengan rata-rata konsumsi 54. Penelitian menggunakan percobaan faktorial dengan dua faktor yaitu jenis kelamin dan jenis pakan yang berupa kacang-kacangan dan biji-bijian serta buah-buahan dan sayur-sayuran. peredaran ilegal hasil hutan (illegal trading). Penelitian menggunakan 8 individu burung terdiri dari 4 individu betina dan 4 individu jantan umur produktif (lebih dari 1 Gunaja. Eclectus roratus cornelia Bonaparte. Kata kunci: Bayan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Adapun faktor-faktor pendukung utama untuk pembangunan kehutanan di Provinsi Bali adalah: Potensi sosial budaya 13 . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . pendudukan kawasan hutan.54 %) untuk burung jantan dan 48. Kupang.Untuk menopang keberhasilan programprogram yang dilakukan. 2006 Luas kawasan hutan di Provinsi Bali sekitar 23 persen.93 gr/hari (231. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tingkat konsumsi dan palatabilitas pakan burung bayan. kualitas sumberdaya manusia sekitar hutan yang relatif rendah. perambahan.1 . Penelitian ini dilakukan di penangkaran Oilsonbai. Model pemanfaatan. Electus roratus cornelia Bonaparte. Nusa Tenggara Timur pada bulan September 1999 sampai Januari 2000.82 . Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. Kata kunci: Eksploitasi hutan. Arsitektur biologis.74 gr/hari (26. Berdasarkan hasil analisis terhadap konsumsi pakan berupa buah-buahan dan sayur-sayuran serta pakan berupa kacang-kacangan dan biji-bijian. dan kebutuhan bahan baku yang tinggi. yang menunjukkan jenis pakan yang paling disukai.13 kalori) dan burung bayan betina 185. tingginya ketergantungan masyarakat Flores terhadap sumberdaya hutan. KONSUMSI DAN PALATABILITAS PAKAN BURUNG BAYAN SUMBA (Electus roratus cornelia Bonaparte) DI PENANGKARAN (Consumption and Feed Palatability of Bayan Bird. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara.21 %) untuk burung betina.29 kalori). R. 2006 Burung bayan (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) merupakan jenis burung endemik Pulau Sumba dengan status dilindungi karena populasinya yang terus menurun. berkurangnya peran lembaga adat. Untuk mengatasi permasalahan ini maka program pembangunan kehutanan di Provinsi Bali diprioritaskan pada rehabilitasi dan perlindungan hutan serta pengembangan hasil hutan bukan kayu yang melibatkan masyarakat sekitar hutan. Hutan Lindung. dan kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan masyarakat.

IPTEK. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. Pengelolaan. Agroforestry system able to give income equal to 2. penanaman dengan menggunakan jalur ganda berseling antara tanaman penghasil kayu dan buah merupakan model yang baik untuk dikembangkan. alley cropping with the tongkongan and galengan technique.503 rupiahs per month.000.al) . Program.. Agroforestry system able to contribued equal to 33.per hektar.masyarakat. -.18 percent from total farmer's income. 2006 Social Forestry merupakan salah satu kebijakan Departemen Kehutanan. Agroforestry application in a peat swamp land is able to maintaining high system stability and has a lower risk in land degradation..000. perencanaan bersama mekanisme penyelesaian konflik belum berkembang dengan baik. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi tipe dan model hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan keberhasilan pengembangannya. dan mengungkapkan permasalahan dan keberhasilan pengembangannya. pengalaman pengembangan hutan kemasyarakatn di Privinsi Nusa Tenggara Barat merupakan hal penting untuk bahan pengkajian.750. jagung.. Perbandingan jenis penghasil kayu dan buah dengan perbandingan 70:30 mampu memberikan pendapatan petani sebesar Rp. Subdistrict Rantau Badauh. 14 . 2006 Development of agriculture in a peat swamp land should be environmentally sound and ensures the sustainability of production. dengan kisaran nilai Rp. Sumberdaya hutan Harisetijono PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI P. (c). Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan masih menerapkan prinsip-prinsip Agroforestry Tradisional.. Agroforestry application in forest area is intended mainly for providing apportunity of landless farmer to cultivate land and also for the objective of establishing forest crops with the best way and cheapest cost. alley cropping with the tongkongan technique. Nilai hasil tanaman tumpangsari dari yang tertinggi sampai dengan terendah secara berurutan adalah pisang. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan hutan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi wilayah Nusa Tenggara Barat. The main objective of application agroforestryin agricultural land is for conserving soil and water.(et. The objective of this research is to analysis social. which in the long run is expected to increase land productivity and improving farmer's income.040 rupiahs per year or 230. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. 305.. padi. Walaupun payung hukum pengembangan hutan kemasyarakatan belum mantap.sampai dengan Rp.per petani per 0. Hutan kemasyarakatan merupakan salah satu bentuk pengembangan program Social Forestry. 1. Halaman 209-224 . makin tingginya partisipasi masyarakat dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki hutan dan lingkungan dalam rangka menopang tujuan utama daerah wisata di Bali Kata kunci: Pembangunan kehutanan. Kata Kunci: Hutan kemasyarakatan. Demikian pula. -. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . economic and physic aspect of agroforestry system which have been developed by farmer in Sei Pantai Village.25 hektar. cabai. Marinus Kristiadi ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN FISIK SISTEM AGROFORESTRY KHAS LAHAN GAMBUT TIPIS DI DESA SEI PANTAI KABUPATEN BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN / Marinus Kristiadi Harun. Multiple Cropping with the guludan technique. 1. alley cropping with the surjan technique and (d). dan ubi kayu. Lombok Barat. Social forestry. Agroforestry application in a peat swamp land could be carried out either on agricultural or on forest lands.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 111-125 .766.683. Pemilihan jenis tanaman belum sepenuhnya berorientasi pada pasar karena keterbatasan kemampuan teknis dan informasi pasar. South Kalimantan Province and suggest to be a basic knowledge and one of way to rehabilitate the forest and land degradation. (b).Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. The result of this study showed that agroforestry system developed by local farmer is: (a). Berdasarkan model yang berkembang. Model Social Forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. talas. Lombok Tengah Harun. regency Barito Kuala.024. LOMBOK : STUDI KASUS PEMBANGUNAN MODEL HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN LOMBOK BARAT DAN LOMBOK TENGAH / Harisetijono.

Tiga jenis tegakan mangrove yang diamati adalah Sonneratia alba J.05 %/bl (R. maka perlu dikaji kemampuan mikoriza bersimbiose dengan berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan dalam rehabilitasi lahan. sengon.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kemasaman atau pH pada semua tegakan netral.330). marina didominasi oleh partikel debu. substrat. dan damar. Halaman 367 . mucronata (0. KTK umumnya tinggi.4 . mikoriza + pupuk cepat larut. namun belum memperlihatkan hasil yang diharapkan. Demikian juga unsur hara fosfor dan kalium. produksi dan laju pelapukan serasah 15 . Saprudin. S.926 dan 0. Perkembangan iptek sekarang ini telah menjanjikan suatu pendekatan teknologi terutama yang berkaitan dengan penggunaan mikoriza yang berperan dalam proses pertumbuhan tanaman. Morphoedaphic. 2006 Upaya rehabilitasi lahan kritis telah banyak dilakukan. DHL. dan biologi tanah. Maryatul Qiptiyah. serta 8. salinitas. Rhizophora Hasil penelitian mucronata Lamk.51 ton/ha/th dan 28. sedangkan pada tegakan S.93 %/bl (S. sedangkan R.)Vierh. Sosial ekonomi.40 ton/ha/th dan 28. marina). alba oleh partikel pasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian mikoriza di lapangan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan sengon dan damar.III. and Ground Water Salinity of Three Species Mangroves)/ Halidah.20 %/bl (A. Kata kunci: Morphoedafik. Kalimantan Selatan Halidah PERTUMBUHAN BEBERAPA JENIS TANAMAN TERINFEKSI MIKORIZA PADA LAHAN KRITIS DI SPUC MALILI (The Growth of Several Species Infected Mikorizae on Critical Land at Malili Research Station)/ Halidah. MORPHOEDAFIK. No. Kualitas salinitas air tanah daratan cenderung semakin membaik dengan adanya bentangan mangrove di sepanjang pantai. Barito Kuala. marina adalah 2. Substrat pada tegakan R. Smith.83 . DAN SALINITAS AIR TANAH DARATAN PADA TIGA JENIS MANGROVE Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang produksi dan laju pelapukan serasah. Dengan melihat permasalahan dalam penanggulangan lahan kritis.159.. mangrove. alba (1. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan yaitu mikoriza. salinitas. mikoriza. -.632 dan 0. alba). lahan kritis Anwar. Fauna tanah yang ditemukan mempunyai nilai indeks keragaman dan indeks dominansi yang berbeda pada setiap tegakan. Indek keragaman dan indek dominansi untuk A.500). serta tanpa mikoriza dan pupuk (kontrol) yang diujikan pada tiga jenis tanaman yaitu bitti. No.Info Hutan : Vol. Tujuan penelitian ini menemukan teknologi rehabilitasi lahan kritis dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu bersimbiose dengan tanaman serta dapat meningkatkan daya hidup dan pertumbuhannya pada lahan kritis. serta salinitas air tanah daratan pada berbagai jenis tegakan mangrove. Sei Pantai. menunjukkan bahwa produksi dan laju pelapukan serasah masing-masing tegakan adalah 27. Lingkungan. mucronata.2 .96 ton/ha/th dan 26. tetapi tidak pada tanaman bitti.023 dan 0. pupuk cepat larut. Kata kunci : Pertumbuhan. Sedangkan kation-kation yang dapat tukar juga umumnya tinggi. sifat kimia.. tinggi kecuali nitrogen. lahan gambut.Kata kunci: Agroforestry. jenis. -. Pada tegakan A. BO rendah kecuali pada tegakan R. Chairil Halidah PRODUKSI DAN LAJU PELAPUKAN SERASAH. infeksi.377 . mucronata didominasi oleh partikel debu pada kedalaman (0-20) cm dan pasir pada kedalaman (20-40) cm. dan Avicennia marina (Forsk.III. 2006 (Litter Productin and Decomposition Rate. 15. mucronata). Halaman 75 .

Cunn.2 . bahan bangunan.4-9. SUMATERA UTARA (Plantation Forest Ecology of Acacia crassicarpa A. dan budidaya pada unit manajemen merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menjamin kelestarian ramin pada masa-masa yang akan datang.) memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan pada sektor kehutanan karena berpotensi sebagai tanaman bawah pada sistem penanaman tumpangsari dengan jenis tanaman keras lainnya.1 cm dengan selang 0. Gonystylus sp. in Padanglawas.ex Benth.600 anakan per hektar setelah tiga tahun terbakar. Rusli M. No.. Meskipun jenis kayu ramin telah terdaftar dalam Appendix III Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) sejak Agustus 2001.Cunn. Asep Hidayat./ Henti Hendalastuti R.94 . kelestarian. tercatat rataan permudaan Acacia crassicarpa A.. dan Acacia mangium Willd. Asep Hidayat. pulp. Rataan diameter untuk A.ex Benth. Kata kunci : Ramin. North Sumatra) / Rusli M. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. dengan kegunaan untuk kayu bakar. adalah 2.S EKOLOGI HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa A. Hutan Tanaman seluas 38. namun hal tersebut tidak menjamin penurunan tingkat kelangkaan ramin di Indonesia karena mekanisme tersebut tidak berjalan dengan baik. juga ditanam mahoni.146 . -.III. Henti PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SERTA JUMLAH DAN MUTU DAUN NILAM.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.Harahap. sengon. 2006 Jenis ramin (Gonystylus sp.8 cm menunjukkan pertumbuhannya sangat dipengaruhi kesuburan tanah dan perlu diamati lebih lanjut. lahan kritis. dan meningkatkan fungsi DAS Baruman dan Rokan. Disarankan menanam akasia tersebut di lahan kritis Padanglawas terutama di punggungpunggung bukit dan sebagai pohon perindang jalan dengan harapan kelak menyebar secara alami dan meningkatkan kesuburan tanah. 2006 Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.III. Kata kunci : Hendalastuti. Persetujuan ramin untuk masuk ke dalam Appendix II CITES yang berlaku sejak 15 Januari 2005 merupakan perubahan yang menjadi harapan baru dalam mengontrol mekanisme produksi dan perdagangannya. CITES.ex Benth. ekaliptus. No.Info Hutan : Vol.Harahap.675 ha merupakan bagian dari DAS Barumun dan Rokan. -... dan Titi Kalima.III. Henti SISTEM PENGELOLAAN DAN KONSERVASI RAMIN DI HUTAN PRODUKSI (Management and Conservation System of Ramin in Production Forest) / Henti Hendalastuti. -.) merupakan kayu bernilai komersial tinggi pada perdagangan internasional dengan harga yang bisa mencapai US$ 1. mekanisme produksi Hendalastuti R.500 dan 5.000 untuk setiap meter kubiknya. 2006 Penanaman akasia di Padanglawas dimulai dalam rangka pembangunan hutan tanaman secara swakelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. No. Halaman 261-268 . Pogostemon cablin Benth (Effects of Shading and Manure Application Pogostemon cablin Benth. masing-masing 13. peredaran. Kosasih. Namun demikian. Acacia mangium Willd. Kebakaran yang terjadi hampir tiap tahun di berbagai lokasi lahan hutan tanaman menunjukkan bahwa jenis akasia dan ekaliptus menghasilkan permudaan yang cukup potensial untuk pengembangannya. Perhatian terhadap mekanisme produksi.Cunn. crassicarpa A. and Acacia mangium Willd. Di Sialiali. tanaman nilam pada umumnya dibudidayakan secara monokultur pada lahan terbuka tanpa perlakuan yang memadai. terdiri dari 4 perlakuan yang mengkombinasikan dua on the Plant growth and the Leaf Quantity and Quality of the Nilam. Illa Anggraeni. Halaman 85 . DI PADANGLAWAS.Cunn.S. permudaan alam.Info Hutan : Vol.Cunn. DAN Acacia mangium Willd. dan tampaknya ekaliptus dan akasia tumbuh dengan baik atau dapat beraklimatisasi. Padanglawas 16 .ex Benth. Acacia crassicarpa A. Selain jenis akasia. Halaman 137 .ex Benth.2 .3 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas naungan dan pemberian pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman nilam dan rendemen minyak dari daun yang dihasilkan.

Asep Hidayat. Seluruh aspek tersebut merupakan bagian dari sistem pengadaan benih 17 . Sm.J. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 17 genus dan 40 spesies anggrek epifit dengan jenis yang paling dominan adalah jenis Caelogyne speciosa Blume Lindl.5 .35 %) dan pupuk kandang (0 g dan 500 g/tanaman).J. khususnya Blok Ireng-Ireng. Kata kunci : Bibit rotan. Jenis anggrek yang langka.Penilaian untuk mengetahui mutu genetik salah satunya adalah dengan mengetahui sumber benih yang digunakan. Caelogyne flexuosa Rolfe. inventarisasi. Henti TEKNIK PENGEPAKAN BIBIT ROTAN DAN BEBERAPA JENIS MPTS UNTUK PENGANGKUTAN JARAK JAUH (Packaging Technique of Rattan and Multi Purpose Tree Species Seedlings for Long Transportation) / Henti Hendalastuti R. Sedangkan untuk penilaian mutu fisik dan fisiologis dapat diketahui melalui penanganan dan pengujian benih. 2006 Mutu Benih merupakan hasil penampakan dari mutu genetik. Dendrobium jacobsonii Blume.J. alpukat. dan Dodi Frianto. Rendemen minyak cenderung meningkat dalam daun pada tanaman yang diberi naungan dan/atau pupuk kandang. Kata kunci : Nilam. Sedangkan jenis yang masuk kategori genting adalah jenis Agrostophyllum laxum J. Halaman 137-144 . Nanang KERAGAMAN JENIS ANGGREK EPIFIT DI BLOK IRENG-IRENG TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU (Diversity of Epiphyte Orchid Species in Block of Ireng-Ireng Bromo Tengger Semeru National Park) / Nanang Herdiana.815 %. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode penyiapan bibit dan teknik pengepakan untuk memperkecil tingkat kerusakan bibit dalam pengangkutan jarak jauh sehingga menghasilkan bibit yang berdaya hidup tinggi dengan biaya murah. Sm. dan Eria verrucullosa J. dan berat kering daun 126 %.. Sm dan Trixpermum malayanum J. Sm.. -. Pholidota canelostalix Rchb. No. Caelogyne speciosa var nn Blume Lindl.J.Info Hutan : Vol.faktor yaitu intensitas naungan (0 % dan 34. Sm. Kata kunci : Anggrek epifit. rendemen minyak Hendalastuti R. Halaman 201-212 .III.J. plasma nutfah Herdiana. Perlakuan pemberian naungan (34. fisik. Metode yang dilakuan dengan cara mengamati semua anggrek epifit pada petak-petak contoh yang ditempatkan berdasarkan sistem jalur. ketiga mutu ini dapat ditingkatkan dengan tingkat kesulitan yang berbeda.J.. teknik pengepakan.. bibit rotan dan alpukat tidak memerlukan perlakuan sebagaimana bibit kemiri dan jengkol. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .J. dan jengkol selama 60 jam perjalanan dengan modifikasi box plastic dilapisi styrofoam tanpa perlakuan pada perakaran bibit memberikan daya hidup bibit yang tinggi dengan biaya paling murah. 2006 Anggrek merupakan salah satu jenis flora penting yang tumbuh di kawasan Taman Nasional (TN) Bromo Tengger Semeru. berat basah daun 203. No.III. kemiri. Microsaccus alfinis J. Sm. baliensis J. dan Pholidota ventricosa Blume Lindl. pupuk kandang. pengangkutan jarak jauh Herdiana. Setiap perlakuan terdiri dari 15 ulangan..f. Halaman 575 . Eria verruculosa J. Rotan. dan fisiologis. naungan. -.3 . yaitu Maleolla dan Schoenorchis juncifoilia. Pengangkutan bibit kemiri dan jengkol sampai 120 jam perjalanan memerlukan balutan campuran sabut kelapa dan arang pada perakaran bibit. Pogostemon cablin Benth.58 %. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data dan informasi tentang potensi anggrek epifit dalam upaya pelestariannya di TN Bromo Tengger Semeru. Dalam hal ini. Nanang PENANGANAN BENIH TANAMAN HUTAN / Nanang Herdiana.583 .35 %) dan pemupukan 500g/lubang tanam telah terbukti secara nyata memberikan hasil peningkatan tinggi tanaman sebesar 116.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Sm. Jenis yang termasuk ke dalam anggrek endemik Jawa Timur yaitu Bulbophyllum mirun J.

Jenis pohon yang dirambati konyal sebanyak 38 jenis dengan kerapatan 114 tanaman konyal/ha.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.DC. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Heriyanto. Heriyanto dan Reny Sawitri. yang merupakan pencerminan kinerja dari suatu proses pengadaan benih. Indeks keanekaragaman jenis pohon tumbuhan obat tertinggi dimiliki oleh besule (Chydenanthus excelsus Miers. Kata Kunci : Jenis pohon.52. Tingkat belta jenis tersebut tidak termasuk dominan (INP < 10 %). N. kulit buah.bermutu.) nilai keanekaragaman jenis 0.07. Pengelolaan konyal sebagai jenis asing yang menginvasi di kawasan taman nasional dilakukan dengan pemberantasan secara manual oleh masyarakat lokal. demam. akar. Heriyanto.M.) nilai keanekaragaman jenis 0. lebar 20 m dan di dalam tiga jalur dibuat petak-petak untuk pengukuran dimensi ekologi pohon. kecambah biji. bagian biji (8 jenis). Sedangkan tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu bagian kulit batang (10 jenis). dan semai yang berasosiasi dengan konyal yang dibuat memotong garis ketinggian dan kontur. Satuan contoh berbentuk jalur sepanjang 1./nangsi (0. (saninten). West Java) / N. tumbuhan obat.III. Jenis-jenis yang berasosiasi kuat dengan konyal yaitu Castanopsis argentea A. East Java) / N. Passiflora edulis Sims.DC. kemudian diikuti oleh jenis Villebrunea rubescens Bl. belta. (pasang). Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat yaitu daun. Br. -. Q. Kata Kunci: Mutu Benih.M.) SEBAGAI JENIS INVASIF DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO KABUPATEN CIANJUR. Quercus teysmanii Bl.) dengan kerapatan 12. dan wining (Pterocybium javanicum R. kulit batang. N. induta Bl..000 m.46). yaitu dimulai dari sumber benih. JAWA BARAT (Potency of Konyal (Passiflora edulis Sims.) dengan nilai keanekaragaman sebesar 0. Altingia excelsa Noronha/rasamala (0. jumlah jalur pengamatan 3 jalur. (beleketebe). Sloanea sigun L.48)./puspa (0. batuk. biji. dan wining (Pterocybium javanicum R. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaman jenis pohon yang berpotensi sebagai obat.1 . jabon (Anthocephallus cadamba Miq. (saninten) yang ditunjukkan oleh indeks asosiasi sebesar 0. Tanaman Hutan Heriyanto. (muncang cina). prosesing benih.3 .Info Hutan : Vol. buah. Taman Nasional Meru Betiri 18 .41).3 pohon per hektar. di antaranya yaitu besule (Chydenanthus excelsus Miers. (puspa). Halaman 55 . No. dan Schima walichii Korth. pengujian benih hingga ke penyimpanan.) as an Invasive Species in The Gunung Gede Pangrango National Park. 2006 Penelitian potensi jenis konyal (Passiflora edulis Sims. dan bagian daun (6 jenis).) dengan kerapatan 10 pohon per hektar.10 kemudian disusul oleh jenis jabon (Anthocephallus cadamba Miq. (pasang bodas). -.) dengan kerapatan 15. Halaman 251-260 . dan Ostodes paniculata Benth. potensi. dan sakit perut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon tumbuhan obat yang dijumpai di Taman Nasional Meru Betiri berjumlah 28 jenis. malaria.III. Jenis penyakit yang dapat diobati atau dicegah yaitu penyakit kewanitaan. Schima walichii Korth. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang jalur 1. JAWA TIMUR (Studies on Diversity of Trees Potential for Medicine at Meru Betiri National Park. Altingia excelsa Noronha (rasamala). No.5 pohon per hektar. Kabupaten Cianjur. dan getah.M POTENSI JENIS KONYAL (Passiflora edulis Sims. Jawa Barat dilakukan pada bulan Oktober 2002. KEANEKARAGAMAN JENIS POHON YNG BERPOTENSI OBAT DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI.08. batang.) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Br.000 m yang diletakkan memotong lereng. Cianjur District.64 . Kata kunci : Konyal. M. Tujuh jenis pohon berasosiasi dengan konyal (INP> 10 %) dan yang mendominasi tegakan yaitu : Castanopsis argentea A.

Sasaran utama dalam pengelolaan lahan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi lahan. sehingga dalam pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana. Dari hasil penelitian yang diadakan di tiga desa. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pemanfaatan hutan terutama kayu oleh masyarakat sekitar TNMB dan informasi mengenai jasa hutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. kayu. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa interaksi yang terjadi antara masyarakat desa Andongrejo. Pembalakan. Perencanaan. Edy METODE PENENTUAN NILAI EROSI YANG DIPERBOLEHKAN PADA PENGELOLAAN DAS (Method in Determinating Tolerable Erosion Value in a Watershed Management) / Edy Junaidi. 2006 Heriyanto. 2006 Klasifikasi kepekaan tapak hutan adalah merupakan salah satu komponen dalam perencanaan pembalakan. -.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Oleh karena itu diperlukan metode penentuan nilai erosi yang diperbolehkan pada setiap kegiatan Penelitian pola pengelolaan partisipatif antara masyarakat dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dilakukan di tiga desa yaitu Desa Andongrejo.III. masyarakat setempat 19 . Desa Curahnongko. East Java) / N. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .Resources by Local community in Meru Betiri National Park.5 %. bersamaan dengan itu dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut berupa erosi dan sedimentasi di daerah hilirnya dapat diperkecil. No. diikuti Desa Curahnongko 70 %. Desa Andongrejo memiliki persepsi yang paling tinggi yaitu sebesar 77. agar tidak mengganggu sumberdaya lain dalam DAS. dengan jumlah responden masing-masing desa sebanyak 40 orang (total 120 responden).Info Hutan : Vol. PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. akan tetapi mungkin untuk mempertahankan keadaan lahan tetap produktif dan dampak luaran kegiatan berupa erosi-sedimentasi yang terjadi tidak mengganggu proses yang berjalan dalam DAS. Prosedur dan strategi pemetaan dan penerapannya dengan menggunakan system informasi geografis (SIG) diuraikan dalam tulisan ini. Taman Nasional Meru Betiri. Maming PEMETAAN KEPEKAAN TAPAK HUTAN UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN RAMAH LINGKUNGAN / Maming Iriansyah. -. Halaman 187 . dan Desa Wonoasri sebesar 65 %.M. desa Curahnongko. sehingga tingkat produktivitas meningkat. serta pemanfaatan tumbuhan obat.M. R. Halaman 271-285 . dan Desa Wonoasri.III. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan TNMB pada umumnya baru pada taraf pengetahuan fungsi dari taman nasional dan cara melestarikannya. Jenis hasil hutan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu kayu bakar untuk memasak. Heriyanto. Ramah lingkungan Junaidi. Pemetaan.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Garsetiasih.3 . Kata kunci: Tapak hutan. No. Kata kunci : Interaksi.3 . Kegiatan pengelolaan lahan harus dilakukan secara sinergis dan simultan mulai dari perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi. bahan bangunan perumahan dan peralatan rumah tangga. Selain itu. Endro Subiandono. dikumpulkan data sekunder dari berbagai laporan dan literatur. Halaman 297 308 . dan desa Wonoasri dengan kawasan TNMB antara lain berbentuk pemanfaatan kayu untuk kayu bakar. 2006 Pengelolaan lahan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS. Untuk mendapatkan data primer dilakukan wawancara dengan penarikan contoh terhadap tiga angkatan kerja pada masyarakat di tiga desa sekitar taman nasional. N.200. Kenyataannya tidaklah mungkin menekan dampak yang disebabkan oleh kegiatan pengelolaan lahan menjadi nol. JAWA TIMUR (Utilization of Forest Iriansyah. -.Kesemua hal tersebut dimaksudkan adalah untuk melengkapi perencanaan pembalakan yang ramah lingkungan agar produktivitas hutan dan ekosistemnya dapat lestari.

(2) Erosi. Kata kunci: Perlindungan hutan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Pengendalian dan pencegahan kebakaran dapat dilakukan melalui. pengelolaan lahan. 1) pendekatan cuaca kebakaran. Metode Wood dan Dent paling ideal digunakan untuk penentuan erosi yang diperbolehkan dalam pengelolaan DAS. Pendekatan. Monitoring terhadap dampak ini diperlukan dalam rangka pengendalian dampak negatif. penyuluhan serta penataan organisasi penanggulangan dan perencanaan pengendalian kebakaran. Segara Anakan. 4) pendekatan hukum dan kelembagaan. Kebakaran. penelusuran gua. L Michael Riwu TEKNOLOGI PERLINDUNGAN HUTAN DARI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN / L Michael Riwu Kaho. (2) Metode Hammer (1981). mineral. Kebakaran di wilayah propinsi Nusa tenggara Timur(NTT) adalah masalah serius yang terjadi secara berulang setiap tahun dan diyakini sebagai salah satu sebab deforestasi. Kata kunci : Pengelolaan DAS.Tujuan dan sasaran penelitian ini adalah mengetahui dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap kondisi tanah pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan melalui pintu masuk Senaru. Untuk mengetahui data dan informasi dampak kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani terhadap erosi pada jalur pendakian menuju Danau Segara Anakan. hasil dianalisis secara deskriptif. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 183-189 .(pembangunan fasilitas. dan fosil (pendakian. yaitu : (1) Metode Thompson (1957). Gunung Rinjani. 2006 Sektor pariwisata sebagian besar kegiatannya berada dalam lingkungan ekologi hutan. serta kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang mendukung terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Lahan Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP EROSI TANAH DI JALUR PENDAKIAN MENUJU DANAU SEGARA ANAKAN TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan Tigor Butar-Butar. pengunjung berlebihan)(Wiranto dalam Fandell C. Salah satu penyebab dampak negatif penting adalah ditimbulkan oleh perilaku pengunjung. pemadatan tanah. dan Mukhlison. tukar menukar informasi. Kata Kunci: Ekowisata. koleksi souvenir). dan (3) Metode Wood dan Dent (1983). 2006 Kebakaran merupakan salah satu penyebab gangguan terhadap hutan yang memerlukan pengendalian. Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan nilai erosi yang diperbolehkan. dapat dilakukan dengan pengembangan peningkatan komunikasi. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 191-205 . Hasil penelitian menunjukan terjadinya perubahan tekstur tanah dengan menurunnya fraksi liat pada jalur pendakian dan erodibilitas pada jalur pendakian lebih tinggi dibandingkan dengan di luar jalur pendakian. fragmentasi. 3) pendekatan sosial ekonomi dan budaya. -. Penyebab utama kebakaran di NTT adalah kondisi iklim yang kering (arida). vegetasi yang didominasi oleh semak belukar dan savana padang rumput. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui 20 . Halaman 85-91 . Pemadaman dan penanggulangan kebakaran selain dengan penerapan teknologi.pengelolaan lahan. Taman Nasional. pemberian dampak positif terhadap kegiatan wisata pada khususnya dan perekonomian daerah pada umumnya. dilakukan pengambilan sampel/contoh tanah pada 10 titik pengamatan. lahan. Dampak negatif langsung wisata alam terhadap lingkungan antara lain: (1) Geologi. 2006 . erosi yang diperbolehkan Kaho. Lima sampel/contoh pada jalur pendakian dan lima sampel/contoh di luar jalur pendakian. 2006 Dampak positif wisata alam di bidang ekonomi disertai oleh dampak negatif pada kawasan. Lombok Kayat MANFAAT EKONOMIS EKOWISATA TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK / Kayat dan I Made Widnyana. Selanjutnya sampel/contoh tanah dianalisis di laboratorium tanah. 2) pendekatan silvikultur. 2000). Tindakan pencegahan erosi yang dapat digunakan adalah dengan metode vegetatif. Erosi tanah.

manfaat ekonomis kegiatan ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), melalui kajian nilai ekonomi dari kegiatan ekowisata pada obyek-obyek yang sudah dikelola. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey melalui wawancara, pengamatan, dan perhitungan langsung nilai ekonomi yang dihasilkan para pelaku dan kegiatannya. Data dianalisis secara semi kuantitatif dan deskriptif. Kesimpulan di tarik berdasarkan nilai proporsi dan kualitas amatan. Total nilai manfaat ekonomi ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani dari obyek-obyek yang sudah dikelola adalah Rp. 3.067.851.250,-. Obyek wisata trekking memberikan nilai manfaat ekonomi yang dominan, yaitu Rp. 2.080.996.250,- (67,83 persen). Para pihak yang mendapatkan manfaat ekonomis dari ekowisata TNGR adalah: pengelola atau pemerintah (melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani), Rinjani Trekking Centre (RTC) dan Rinjani Information Centre (RIC),Trekking Organizer (TO), guide, porter, pengelola penginapan/homestay, restoran, penginapan dan kios/warung, menandakan adanya potensi positif ekowisata bagi pengembangan perekonomian masyarakat dan daerah, dan insentif bagi partisipasi masyarakat untuk pemantapan pengelolaan TNGR. Manfaat ekonomi ini masih mungkin ditingkatkan melalui pemantapan kelembagaan, peningkatan sarana-prasarana, serta promosi terutama obyek-obyek yang belum berkembang. Kata Kunci: Ekowisata, Taman Nasional, Gunung Rinjani Kayat DAMPAK EKOWISATA TERHADAP KONDISI BIOFISIK KAWASAN DAN SOSEKBUD MASYARAKAT SEKITAR TAMAN NASIONAL KOMODO/ Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 31-41 , 2006 Untuk menunjang kegiatan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo, pihak pengelola melakukan pengembangan obyek wisata alam. Pengembangan ini setidaknya akan menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif, sehingga perlu dilakukan kajian pengembangan obyek wisata tersebut. hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Kegiatan ekowisata di Loh Liang dan Loh Buaya antara lain pengamatan satwa liar, pendakian dan penjelajahan, photo hunting dan video shooting, menyelam dan snorkling, dan atraksi budaya tradisional; (2) Untuk meningkatkan minat pengunjung datang ke lokasi ekowisata, salah satu yang dilakukan oleh pengelola adalah

pembangunan sarana prasarana pendukung; (3) kondisi sosekbud masyarakat di Desa Komodo dan Desa Pasir Panjang, sebagian besar nelayan. Di Desa Komodo ada perubahan mata pencaharian dari nelayan ke pengrajin/penjual souvenir komodo; (4) Pihak yang merasakan manfaat ekonomis dari kegiatan ekowisata adalah pihak pengelola (TN Komodo), Pemda setempat (Kabupaten dan Provinsi), pemilik hotel, pemilik restoran, penyewaan boat, perusahaan dive, guide, perusahaan penerbangan, pedagang souvenir, kios/warung, angkutan, agen travel, dan money changer; (5) Dampak ekologis dari ekowisata berupa perubahan perilaku terhadap beberapa jenis satwa liar seperti komodo, rua, dan babi hutan, serta adanya ekspansi jenis kaktus. Kata kunci: Taman Nasional Komodo, Ekowisata, Pengembangan, Dampak, Sosekbud masyarakat

Koeslulat, Ermi E PELUANG PENGEMBANGAN LEBAH HUTAN MELALUI BUDIDAYA SISTEM KEREK / Ermi E Koeslulat. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 41-45 , 2006 Madu lebah hutan merupakan salah satu produk hasil hutan non kayu andalan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Timor. Selama ini usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas madu hutan belum dilakukan secara serius. Salah satu usaha peningkatan produktivitas adalah dengan melakukan uji coba teknis budidaya lebah hutan dengan sistem kerek di mana prinsipnya menyediakan tempat bersarang dengan kayu yang dapat dinaik-turunkan. Maksud diterapkannya teknik ini adalah agar dapat dilakukan panen sunat sehingga intensitas pemanenan dapat ditingkatkan. Meskipun hasil yang diperoleh belum menggembirakan namun berdasarkan pengalaman pemanenan diperoleh keuntungan lain seperti panen dilakukan pada siang hari dan terbuka bagi setiap orang karena tidak diperlukan keahlian memanjat. Walaupun hal tersebut bukan permasalahan pokok bagi masyarakat, namun hal ini dapat memberikan pengalaman berharga bagi masyarakat. Terlepas dari kelemahan teknik ini, penerapan sistem kerek ini memiliki peluang untuk dikembangkan mengingat adanya faktor-faktor yang mendukung seperti masih terdapatnya pohon lebah tinggi, minat masyarakat yang cukup besar, kemudahan pemeliharaan, pasaran madu yang selalu terbuka, dan sebagainya. Kata kunci: Lebah hutan, Lebah, Peluang, Sistem kerek, Budidaya

21

Komala KERAGAMAN PENOTIPA Agathis borneensis Warb. ASAL SIPAGIMBAR DI AEK NAULI SUMATERA UTARA (Phenotypic Variation of Agathis borneensis Warb. of Sipagimbar at Aek Nauli North Sumatera / Komala; Aswandi; Rusli M.S Harahap; dan Edi Kuwato. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 213-217 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi penotipa Agathis borneensis Warb. asal Sipagimbar yang ditanam di arboretum Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera di Aek Nauli. Keragaman penotipa yang diamati adalah tinggi total, diameter batang dan cabang, sudut cabang, panjang internoda, lebar tajuk, panjang dan lebar daun dari dua warna pucuk agathis yang telah berumur 7 tahun. Sumber benih berasal dari tegakan alami agathis di Sipagimbar, Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Analisis ragam terhadap sepuluh sampel dari masing-masing warna pucuk (hijau dan cokelat kemerahan) mengindikasikan terdapat perbedaan dalam ukuran tinggi total, diameter dan sudut cabang, jarak internoda, dan lebar tajuk. Sedangkan diameter batang dan lebar daun tidak berbeda antar kedua warna pucuk. Diduga terdapat dua jenis populasi alami agathis di Sipagimbar. Penelitian anatomi dan karakteristik kayu sebaiknya dilakukan apabila dua populasi tersebut mengindikasikan spesies atau varietas yang berbeda dan disarankan penanaman agathis secara in-situ di Sipagimbar. Kata kunci : Agathis borneensis Warb., keragaman penotipa, konservasi Kosasih, A.Syafari PENGARUH MEDIUM SAPIH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Shorea selanica BI DI PERSEMAIAN (The effect of Growing Medium to the Growth of Shorea selanica BI. Seedling at Nursery/ A. Syafari Kosasih; Yetti Heryati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.2 ; Halaman 147 - 155 , 2006 Medium sapih adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk memperoleh bibit yang berkualitas dalam waktu singkat. Oleh karena itu dalam mempersiapkan medium sapih perlu diperhatikan unsur hara yang tersedia dalam medium tersebut sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan optimal. Penelitian dilakukan di persemaian Hutan Penelitian Carita, Provinsi Banten dengan metode rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan

medium. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, setiap ulangan terdiri dari 50 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan medium sapih campuran tanah dan kompos dengan volume 4 : 1 memberikan respon yang terbaik pada persen jadi, pertumbuhan tinggi, dan diameter bibit Shorea selanica Bl. sampai umur enam bulan di persemaian. Kata kunci : Medium sapih, Shorea selanica Bl., pertumbuhan bibit Kuntadi TEKNOLOGI PENGELOLAAN LEBAH HUTAN Apis dorsata / Kuntadi. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 49-55 , 2006 Lebah hutan Apis dorsata adalah salah satu jenis lebah madu yang penyebarannya meliputi sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun lebah madu ini tergolong jenis liar yang tidak dapat dibudidayakan, namun termasuk yang paling potensial sebagai penghasil madu karena produktivitasnya yang sangat tinggi. Sampai saat ini lebah hutan adalah andalan utama penghasil madu di Indonesia. Permasalahan pokok dalam pengembangan lebah hutan adalah kerusakan habitat A. dorsata akibat tingginya laju deforestasi di Indonesia. Teknik pemanenan madu yang tidak berazaskan kelestarian juga merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup lebah hutan. Permasalahan lain yang tidak kurang pentingnya adalah kualitas madu lebah hutan yang rendah akibat pemanenan dan penanganan pasca panen yang kurang baik. Rehabilitasi hutan dan perbaikan teknik pengelolaan lebah hutan adalah upaya terbaik untuk memulihkan potensi dan meningkatkan kuantitas dan kualitas produk lebah hutan. Teknologi pengelolaan A. dorsata yang meliputi teknik pengembangan sarang buatan dan teknik pemanenan dibahas dalam makalah ini. Kata Kunci: Lebah hutan, Apis dorsata, Madu Kuntadi PAKAN BUATAN UNTUK LEBAH MADU / Kuntadi. -- Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 149-154 , 2006 Sumber pakan utama lebah madu adalah nektar dan tepungsari (pollen) yang dihasilkan dari bunga tanaman. Masa pembungaan tanaman yang umumnya

22

bersifat musiman menyebabkan pada periode tertentu lebah madu mengalami krisis makanan. Kondisi demikian mengakibatkan penurunan populasi koloni. Kekurangan makanan tidak jarang juga menyebabkan hijrahnya koloni. Pemberian makanan buatan adalah salah satu alternatif cara mempertahankan koloni lebah madu , terutama dalam kondisi langka bunga. Makanan buatan terdiri dari makanan pengganti nektar dan makanan pengganti tepungsari. makalah ini membahas cara pembuatan dan pemberian makanan buatan untuk lebah madu yang dibudidayakan. Kata Kunci: Pakan buatan, Lebah madu Kurniadi, Rahman KAJIAN PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN HUTAN SEBAGAI EKOWISATA DI RIUNG / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 43-53 , 2006 Sampai saat ini sektor kehutanan telah menjadi perhatian banyak pihak karena keterkaitannya dengan banyaknya penduduk miskin di sekitar areal hutan. menurut data Potensi Desa (2003) dalam Ediawan (2005) desa yang berada di dalam dan di sekitar hutan lebih tertinggal dibandingkan dengan desa di luar hutan. Untuk membantu menganalisis permasalahan tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui manfaat hutan sebagai ekowisata di Taman laut 17 Pulau Riung yang diperoleh masyarakat dan berupaya meningkatkannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi saat ini menfaat yang diterima masyarakat belum optimal. Untuk meningkatkan manfaat tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan arus kunjungan wisata ke Riung. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi dan meningkatkan sarana dan prasarana rekreasi di Riung. Hasil penelitian juga diperoleh fakta bahwa pemanfaatan hutan sebagai obyek ekowisata di Riung memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat dibandingkan pemanfaatan dalam bentuk lainnya. Disamping keuntungan ekologi, masyarakat sekitar obyek ekowisata di Riung memperoleh manfaat ekonomi. Kata kunci: Ekowisata, Pemanfaatan hutan, Riung, Manfaat ekologi, Manfaat ekonomi

Kurniadi, Rahman UPAYA PELESTARIAN PENYU DI BALI / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 55-62 , 2006 Penyu merupakan salah satu hewan langka dilindungi.Beberapa jenis penyu bahkan telah masuk ke dalam daftar Lampiran (Appendix I) Convention on International Trade of Endangered Species tahun 1978 (CITES). Sementara itu Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan guna melestarikan penyu. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan acuan untuk melestarikan penyu di daerah lain. hasil penelitian menunjukan bahwa berbagai upaya berbagai pihak untuk melestarikan penyu di Bali antara lain dengan pembentukan Peraturan Daerah, sosialisasi peraturan perundangan, penegakan hukum, penggantian daging penyu dengan daging babi, penggunaan teknologi penangkaran, pelibatan masyarakat dalam penangkaran penyu, dan pelibatan lembaga swadaya masyarakat. Kata kunci: Penyu, Pelestarian, Hewan langka, Satwa langka, Bali Kurniadi, Rahman TEKNOLOGI DAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI KAWASAN MUTIS / Rahman Kurniadi. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 47-53 , 2006 Kawasan konservasi merupakan kawasan yang memperoleh perlakuan khusus karena kepentingan perlindungan sumberdaya alam. Segala kegiatan yang dilakukan di kawasan konservasi diatur oleh perundang-undangan. Namun demikian segala peraturan perundang-undangan tersebut tidak dapat menangkal kerusakan areal konservasi. Beberapa kawasan sangat rawan terhadap gangguan. Kawasan Cagar Alam Mutis dan Hutan Lindung Timau misalnya, sangat rawan terhadap gangguan ternak, pertambangan dan berbagai gangguan lainnya. Penelitian ini bertujuan memperoleh bentuk kelembagaan social forestry di kawasan Mutis dan memperoleh teknologi social forestry di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk social

23

forestry di kawasan tersebut belum sesuai dengan kondisi ideal. Halaman 459 475 . peranan kelembagaan.III. Halaman 147-159 . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik budidaya rotan di Pulau Timor melalui teknik silvikultur yang tepat. beragama Islam. pelatihan. Kata kunci: Rotan. Budidaya. No. 2006 Keadaan iklim yang sangat kering dan jenis tanah yang miskin merupakan suatu kendala besar dalam pengembangan rotan secara luas di Nusa Tenggara Timur. dan interaksi) masyarakat dan peranan kelembagaan dalam pengelolaan zona penyangga TNBT. Teknologi. 2006 Keberadaan masyarakat di sekitar zona penyangga akan mempunyai interaksi dan berpengaruh terhadap Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). mulai dari pembibitan hingga pengembangannya di lapangan. Program pemberdayaan lembaga masyarakat lokal dapat dilakukan dengan membuat kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Parameter pengamatan adalah tinggi anakan rotan yang diukur dari permukaan media tumbuh semai sampai dengan titik tumbuh semai. dan memberikan bantuan modal. peningkatan sumberdaya manusia dan ekonomi sebagai prioritas lembaga masyarakat lokal (0. Oleh karena itu diperlukan pendampingan untuk membentuk kelembagaan social forestry yang mandiri dan untuk meningkatkan kemampuan teknis serta motivasi masyarakat dalam memelihara tanaman.9 % dan 42. Kata kunci: Zona penyangga. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Mutis Kurniawan. Abdulah Syarief Mukhtar. 2006 .Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan blok. Jenis introduksi Kuswanda. dan bekerja sebagai petani.339 dan 0. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara dengan masyarakat dan stakeholder terkait yang dianalisis dengan tabel frekuensi dan sistem Analytic Hierarchy Process (AHP). Kegiatan penelitian ini meliputi kegiatan di lingkup persemaian dalam rangka mendapatkan teknik budidaya yang paling tepat untuk memperoleh paket teknologi peningkatan produktivitas dan kualitas rotan. diamter semai dan jumlah helaian daun tanaman semai di lapangan.1% hal tersebut dinilai responden sebagai peranan Balai TNBT). dan pemantauan pengelolaan daerah penyangga sebagai prioritas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (0. -. persepsi. Hery BUDIDAYA ROTAN DENGAN BEBERAPA JENIS INTRODUKSI DI PULAU TIMOR / Hery Kurniawan. Wanda POTENSI MASYARAKAT DAN PERANAN KELEMBAGAAN DI ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Community Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kata kunci: Kelembagaan.462). spesies dan pupuk terhadap diameter serta pupuk dan blok terhadap jumlah daun. Persepsi masyarakat tergolong positif meskipun interaksi terhadap kawasan TNBT masih cukup tinggi. Peranan kelembagaan dalam penataan batas dan ruang serta perlindungan taman nasional merupakan prioritas program Balai TNBT (nilai = 0.Jurnal 24 . persepsi.315). -. Nasional Bukit Tigapuluh Taman Potencies and Institution Roles in The Bukit Tigpuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda. Social forestry.4 . suku Melayu. blok terhadap diameter serta spesies dan blok terhadap jumlah daun. Hasil penelitian menunjukan pada pengamatan I hanya spesies dan media yang memiliki pengaruh nyata terhadap tinggi.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Di samping itu teknologi social forestry yang dimiliki masyarakat belum mampu untuk membangun hutan. Pada pengamatan II diketahui bahwa spesies. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan perlakuan dilakukan uji beda nyata taraf 5 persen.421. pupuk dan media berpengaruh nyata terhadap tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi (karakteristik. Karakteristik masyarakat sebagian besar merupakan penduduk asli. artinya 33.

Halaman 249 . 2006 Paradigma baru pembangunan kehutanan (khususnya di Papua) yang mengarah kepada keberpihakan terhadap masyarakat sekitar hutan. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 127-135 . Wanda POLA PEMANFAATAN LAHAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama adalah kurang jelasnya batas dan fungsi zona penyangga (nilai = 0.33 %. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner untuk masyarakat dan stakeholder. Koperasi ini menggunakan konsep kemitraan antar pengusaha mapan dengan masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya alam guna meningkatkan taraf hidup masyarakat pemilik hak adat dan hak ulayat. wawancara.7 % hal tersebut dinilai sebagai penghambat pengembangan kelembagaan zona penyangga) dan tingkat ekonomi dan peranserta masyarakat yang masih rendah (0. Wanda STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Strategies on Institutions Development of Bukit Tigapuluh National Park Buffer Zone) / Wanda Kuswanda dan Abdullah Syarief Mukhtar.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.33 %) dan dikonsumsi (20 %). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemilikan dan pola pemanfaatan lahan di Zona Penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. zonasi. dan pengamatan secara deskriptif. Halaman 491 . 2006 Pengelolaan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) belum optimal karena kurangnya koordinasi dan sosialisasi antar lembaga terkait.III. dan menciptakan kesempatan usaha pada masyarakat (0. Kata kunci : Pemanfaatan lahan. Relawan MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT ADAT DI PAPUA / Relawan Kuswandi dan Pudja Mardi Utomo.436). zona penyangga. Alternatif strategi untuk mengembangkan kelembagaan adalah pembinaan dan pemberdayaan berbagai stakeholder terkait (0. -.of Land-Use by Communities in Buffer Zone. Namun peraturan perundangundangan dan petunjuk pelaksanaan yang dikeluarkan dalam mendukung pelaksanaan pengelolaan hutan oleh masyarakat cenderung tidak jelas dan tidak konsisten. 2006 Kuswanda. PROVINSI JAMBI (The Patern Informasi pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal merupakan aspek penting yang harus diketahui di dalam menyusun rencana pengelolaan zona penyangga di taman nasional. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner. Jambi Province) / Wanda Kuswanda. Masyarakat di lokasi penelitian (Desa Lubuk Kambing dan Sungai Rotan) secara umum menggarap lahan pribadi/hak milik dengan luas rata-rata sekitar 3 ha/responden yang berasal dari membuka hutan 35 %. artinya 35. selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan tabel frekuensi. -. rasionalisasi.241). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang faktor penghambat utama dan strategi untuk mengembangkan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya alam di zona penyangga TNBT. Oleh karena itu perlu adanya peraturan daerah yang mempertimbangkan unsur perpaduan antara hukum adat dan hukum formal yang terkait dalam pengelolaan sumberdaya hutan KOPERMAS yang diharapkan Kuswanda. strategi. dan lainnya. menyatakan bahwa hutan merupakan sumber pangan dan protein selain sebagai sumber kayu dan pengakuan hak masyarakat adat atas suatu kawasan hutan. No. pertanian (ladang dan sawah) dan keperluan lainnya (pekarangan rumah dan jalan). No.258 . Semua penilaian Analytic Hierarchy Process (AHP) responden diolah dengan sistem 25 . meningkatkan kapasitas dan wawasan sumberdaya manusia. warisan orang tua 8. Hasil pengelolaan lahan dimanfaatkan untuk dijual (48.289).Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. masyarakat adat terlibat secara langsung dalam pengelolaan hutan.323). Program yang dapat dikembangkan di antaranya adalah mendayagunakan Badan Pengelola Multi Stakeholder (BPMS). Oleh karena itu pengelolaan hutan di Papua dewasa ini memasuki era baru. stakeholder Kuswandi. Bukit Tigapuluh National Park. Kata kunci : Faktor penghambat.3 . penataan kembali status dan peruntukan lahan untuk kawasan lindung dan budidaya di daerah penyangga (0.504 .III.5 .357. Pemanfaatan lahan oleh masyarakat lokal untuk areal perkebunan. mulai dari perencanaan hingga pemungutan hasil hutan melalui suatu wadah atau organisasi yang dibentuk yaitu Koperasi Peran Serta Masyarakat Adat (KOPERMAS) yang bergerak di sektor kehutanan. Taman Nasional Bukit Tigapuluh menggunakan program expert choice dan Microsoft Excel. rasionalisasi batas kawasan dan zonasi TNBT.

) Gaudich. Halaman 585 . -. Terdapat 17 jenis aves. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang. Untuk itu perlu adanya suatu model pengelolaan hutan yang sesuai dengan kondisi masyarakat adat di Papua. sehingga bisa menjadi dasar bagi pengelolaan TNBT selanjutnya. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L.5 .) Gaudich. Halaman 239-249. pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar.17 sampai dengan 3. Usulan indikator untuk masing-masing zona adalah zona inti 26 .III. Ditinjau dari prospek agribisnis.) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L. Papua Mile. kemampuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan pada zona-zona yang diamati mempunyai indeks keanekaragaman jenis tumbuhan secara keseluruhan berkisar antara 2. Sistem silvikultur yang digunakan adalah sistem silvikultur TPTI modifikasi yang disederhanakan tetapi tetap mengacu pada prinsip pengelolaan hutan lestari. Kata kunci : Agroforestry haramay. dan daerah penyangga. Yamin Mile. sedangkan pengamatan satwaliar dilakukan dengan metode perjumpaan pada kelas aves. pengembangan teknologi tepat guna. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry. mamalia. Kegiatan perekonomian masyarakat terutama berupa usaha pertanian ekstensif dan pemungutan hasil hutan. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). serat. zona pemanfaatan intensif.Info Hutan : Vol. di samping serat sebagai produk utama.000 ha dengan jangka waktu pengelolaan antara 10-20 tahun dan menggunakan sawmill portable atau chain saw. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. No. No. -. baik yang dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan.3 .. Kondisi vegetasi diperoleh melalui analisis vegetasi pada setiap zona. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. dan fasilitas yang dimiliki oleh masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. Hal ini disebabkan oleh karena rendahnya tingkat pengetahuan. Ditinjau dari aspek teknis. pupuk organik cair. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yaitu zona inti. Empat kriteria zona TNBT telah sesuai dengan kriteria yang dimaksudkan dalam Peraturan Pemerintah No. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan kriteria dan indikator yang tepat dalam penetapan zonasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Luas areal konsesi antara 1.III. dan primata. biotik. china grass. baik dalam penyiapan lahan.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M.606 .000-5. baik IUPHHK maupun non IUPHHK sebagai prasyarat legalitas untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan. dan sosial ekonomi. Kata Kunci: Sumberdaya Hutan.dapat meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat adat. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. hasil hutan kayu dan non kayu Kwatrina.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. berdasarkan parameter fisik.) Gaudich. Pengumpulan data sosial ekonomi dilakukan dengan penyebaran kuesioner pada responden sebanyak 66 responden yang ada di zona penyangga dan tradisional TNBT. Model pengelolaan hutan yang dianggap mudah dan dapat diterapkan adalah model pengelolaan hutan dalam skala kecil dengan berorientasi pada industri pengolahan kayu. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. 11 jenis mamalia. biotik. Data yang dikumpulkan meliputi data kondisi fisik. zona rimba. Rozza Tri KRITERIA DAN INDIKATOR PENETAPAN ZONASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Criteria and Indicator of Appointed Bukit Tigapuluh National Park Zones) / Rozza Tri Kwatrina dan/and Abdullah Syarief Mukhtar. Masyarakat Adat. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. Selama ini pengelolaan hutan ulayat pada kenyataannya lebih banyak digunakan oleh pihak investor sebagai mitra kerja. social forestry. dan konsentrat pakan ternak. Dalam unit prosesing serat. dan enam jenis primata yang dijumpai di zona-zona tersebut.71.

Kata Kunci: Illegal logging.8 persen dan Nusa Tenggara Timur 8. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari bebagai pihak. Untuk menunjang kegiatan tersebut maka diperlukan 27 . dan daerah penyangga sebanyak 13 indikator. pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di daerah penyangga kawasan konservasi. Semakin berkembangnya kehidupan dan bertambahnya kebutuhan hidup keluarga.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Dengan model variasi genetik yang berhubungan dengan daerah asal (provenans) yang banyak inilah diharapkan dapat dilakukan seleksi provenans yang terbaik dengan uji provenans serta kegiatan-kegiatan pemuliaan lebih lanjut untuk memperoleh kebun klon cendana yang memiliki sifat genetik unggul. 2006 Kepulauan Nusa Tenggara sebagai sub kawasan Wallaceae mempunyai keanekaragaman jenis avifauna yang tinggi. Daerah M Hidayatullah PEMBANGUNAN KEBUN KONSERVASI EX-SITU CENDANA DI PULAU TIMOR / M Hidayatullah. Kata kunci: Wallaceae. -. Halaman 107-114 .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .5 persen). Avifauna. Upaya penanggulangan illegal logging telah banyak dilakukan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. indikator Lestari. putusnya hubungan emosional masyarakat lokal dengan lingkungan dan bergesernya kegiatan perekonomian masyarakat sekitar hutan yang semula berladang menjadi kegiatan industri. rehabilitasi lahan.Dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1998. zona pemanfaatan tradisional 10 indikator. Halaman 125-135 . Masyarakat sekitar hutan pada umumnya memiliki bentuk aktivitas tradisional pertanian ladang sebagai pilihan utama yang dilakukan setiap tahun guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kegiatan illegal logging memberikan dampak yang multidimensi pada berbagai sendi kehidupan masyarakat. 2006 Kegiatan illegal logging yang terjadi di Indonesia mengakibatkan kerusakan hutan semakin meningkat. Biodiversitas Endemik. Pelestarian populasi burung endemik Nusa Tenggara di alam dapat dipertahankan dengan meningkatkan perlindungan dan perluasan kawasan konservasi. kriteria. mulai dari tingkat pusat sampai ke level masyarakat (multi stakeholders) dan upaya pemberdayaan masyarakat sekitar hutan agar upaya peningkatan pembangunan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. kegiatan perambahan hutan dan illegal logging oleh masyarakat semakin merata. mendorong masyarakat untuk melakukan pembukaan hutan. -.8 juta hektar per tahun (WWF. Sosial ekonomi.sebanyak 13 indikator. serta pengendalian perburuan dan perdagangan burung. zona pemanfaatan intensif lima indikator.Sri ILLEGAL LOGGING DAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Sri Lestari. Kata kunci: Taman Nasional Bukit Tigapuluh. 2006 Kegiatan konservasi ex-situ merupakan konservasi komponen keaneragaman hayati di luar habitat alaminya. -. zona rehabilitasi lima indikator. Rehabilitasi lahan. Dari 697 jenis burung Walaceae. yaitu meningkatkannya tingkat ketergantungan masyarakat. Dengan adanya sebaran alami yang luas serta lokasi yang kontinyu seperti kepulauan. Burung endemik Nusa Tenggara mempunyai tingkat keterancaman populasi tinggi sehubungan dengan luasnya kawasan hutan yang menjadi kawasan konservasi (di Nusa Tenggara barat 5. Saat ini areal hutan Indonesia yang rusak telah mencapai luasan 43 juta hektar dengan laju kerusakan hutan 1. Masyarakat sekitar hutan M. zonasi. 2006 . akan tetapi belum memberikan dampak yang nyata terhadap pengurangan laju deforestasi hutan. variasi genetiknya diharapkan sangat banyak. 10. penyangga. 2003). Bismark DIMENSI BIODIVERSITAS AVIFAUNA ENDEMIK WALLACEAE SUB KAWASAN NUSA TENGGARA / M. Halaman 77-84 . kegiatan ini dapat dilakukan pada cendana karena memiliki siklus hidup yang relatif panjang maka prosedur yang lazim digunakan dalam pengembangannya adalah dengan cara menanam tanaman tersebut di lokasi yang telah direncanakan. 2006 .2 persen adalah jenis endemik Nusa Tenggara. Bismark. zona rimba lima indikator.

Taman Nasional Kelimutu Marbawa. serta sebagai kawasan pemanfaatan secara lestari potensi sumberdaya alam dan ekosistemnya. dengan metode titik hitung dan garis transek. dan pengelolaan potensi wisata. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . pengelolaan wisata alam. Halaman 157-180 . Bali Barat Martin. Halaman 41-53 .000 ha. Ex-situ cendana M Hidayatullah IDENTIFIKASI RAGAM JENIS BURUNG DI KAWASAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU ENDE / M Hidayatullah. pengelolaan penelitian dan pendidikan. pada zona pemanfaatan adalah berkisar antara 3. Kata kunci : Identifikasi. ditetapkan berdasarkan SK Menhut No.rehabilitasi dan pemanfaatan. Fakta menunjukan 28 . Halaman 199-204 . Partisipasi masyarakat. Taman Nasional Bali Barat adalah salah satu kawasan pelestarian jalak bali. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kata kunci: Cendana. Untuk mencapai fungsi dan tugas pokoknya. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan tersebut. Pendekatan yang dilakukan adalah inventarisasi dan identifikasi burung dan interaksinya dengan habitatnya.56. teridentifikasi 22 jenis burung pada zona rimba. Pembangunan.984 ha dan Cagar Alam Kelimutu 16 ha. dan kerjasama pengelolaan wisata alam.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . pengembangan dan pemanfaatan. 279/Kpts-II/1992. -. pemberdayaan ekonomi masyarakat. pengelolaan potensi kawasan. Konservasi. Frekuensi relatif dan Indeks Nilai Penting (INP) dari 16 jenis pada zona rimba adalah berkisar antara 2.33. dukungan iptek sangat diperlukan antara lain: sosial ekonomi. terdiri dari kawasan Taman Wisata Kelimutu 4.38 serta pada zona rehabilitasi adalah berkisar antara 3.08-24. 2006 Taman Nasional (TN) Kalimutu yang luasnya 5. pembangunan integrasi dan koordinasi. mempunyai potensi flora dan fauna yang cukup beragam. pengelolaan potensi kawasan. dan 5. khususnya dalam kaitan alternatif obyek wisata. 2006 .78-25. Agis Nursyam S dan Kayat.11. IPTEK. sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.11 dan 4. penyusunan rencana pembangunan sarana-prasarana.inventarisasi sebaran alami cendana di alam. Jenis burung. sehingga dapat dilakukan kegiatan konservasi insitu untuk kepentingan kegiatan konservasi ex-situ sebelum punah. Social forestry bukan hal baru di Indonesia. I Ketut Catur KEBUTUHAN DUKUNGAN IPTEK DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / I Ketut Catur Marbawa.65 dan 5. 2006 Social forestry diharapkan menjadi alternatif solusi pengelolaan kawasan hutan di Indonesia. Edwin PERFORMANSI PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN BERBASIS SOCIAL FORESTRY DI PROVINSI JAMBI / Edwin Martin dan Bondan Winarno. -. kegiatan pengelolaan Taman Nasional Bali Barat yang saat ini dilakukan meliputi pemantapan kawasan.78-11. Kata kunci: Taman Nasional. Ekosistem.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Hasil pengamatan menunjukkan. -.92-7.55-26. sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk jenis dan sebaran burung pada zona-zona di kawasan TN Kelimutu.33-13. pemuliaan potensi jalak bali.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.Khusus untuk sosial budaya masyarakat perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan lokal dan global dengan pengembangan partisipasi masyarakat lokal yang berbasis konsep budaya tradisional seperti Tri Hita Kirana. 2006 Secara umum pengelolaan taman nasional mempunyai tiga fungsi pokok yaitu: sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan.

pupuk organik cair. Hasil penelitian penunjukan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi menggunakan pola pendekatan yang berbeda. -.. baik dalam tingkat kecil (rumah tangga) maupun tingkat besar (peternakan).) : PROSPEK AGRIBISNIS DAN TEKNIK BUDIDAYANYA (Ramie (Boehmeria nivea (L.) merupakan salah satu bentuk agroforestry di mana tanaman pohon ditanam kombinasi dengan tanaman rami (haramay). penanganan. mengingat orientasi pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat ini merupakan paradigma baru bagi pemerintah (Departemen Kehutanan). terutama tergantung pada kawasan hutan fungsi mana social forestry tersebut diterapkan. Satu hal yang tidak dapat dikesampingkan adalah teknik pengemasan. baik dari segi teknis pelaksanaan maupun penyiapan kelembagaannya. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teknologi dan kelembagaan kegiatan social forestry yang sudah dan sedang dilaksanakan di provinsi Jambi. dan konsentrat pakan ternak. Halaman 239-249.) Agroforestry Model : Agrobusiness Prospect and Culture Techniques) / M. M Yamin POLA AGROFORESTRY HARAMAY (Boehmeria nivea (L. Model ini diarahkan untuk dikembangkan menjadi agribisnis kehutanan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. No. Pendampingan yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dari mulai identifikasi potensi masyarakat. baik dalam penyiapan lahan. dan Ismed Syahbani. Amir TEKNOLOGI PENANGKARAN RUSA SAMBAR (Cervus unicolor) DI DESA API-API KABUPATEN PANAJAM PASER UTARA KALIMANTAN TIMUR / Amir Ma'ruf. Tanaman pohon yang ditanam dapat berupa tanaman penghasil kayu maupun non kayu.) Gaudich. dan pemanfaatan harus disosialisasikan ke masyarakat untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman penangkaran. Kalimantan Timur Mile. kesehatan.) Gaudich.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 57-68 . pemasaran serat rami masih sangat terbuka lebar. pengembangan teknologi tepat guna. Oleh karena itu pengembangan agroforestry haramay dapat merangsang berdirinya industri pedesaan. Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal telah dan sedang mengaplikasikan varian social forestry adalah provinsi Jambi. Kawasan hutan. Tanaman rami menghasilkan serat untuk bahan baku industri tekstil/ sandang.bahwa ada keragaman inisiatif dan pendekatan yang sudah dikembangkan dengan hasil yang bervariasi. baik yang 29 . Aplikasi bentuk-bentuk social forestry pada beragam kawasan cukup penting untuk dipelajari. Selain itu juga akan mengurangi perburuan liar oleh manusia serta salah satu upaya untuk melestarikan plasma nutfah hewani di Indonesia. Tri Atmoko. 2006 Rusa sambar (Cervus unicolor) adalah salah satu dari empat jenis rusa di Indonesia yang sudah dilindungi undang-undang dan jumlah populasinya terus berkurang akibat perburuan liar dan semakin tingginya degradasi habitat. khususnya Kalimantan Timur. penanaman pemeliharaan maupun panen dan penanganan pasca panen sangat diperlukan untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. Panajam Paser Utara. baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya merupakan modal penting untuk tercapainya tujuan tersebut di atas. di samping serat sebagai produk utama. 2006 Pola Agroforestry (Wanatani) Haramay (Boehmeria nivea (L. Upaya penangkaran rusa mempunyai potensi yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat selain sumber protein hewani lain yang sudah umum. Teknik konservasi maupun penangkaran satwa bernilai ekonomi tinggi ini perlu untuk selalu ditingkatkan sehingga pemanfaatannya dapat diusahakan secara lestari. perkandangan. Cervus unicolor. Api-api. Peran serta masyarakat dan berbagai pihak yang terkait. Yamin Mile. baik informasi maupun produk harus dibuat dengan baik sehingga budaya masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu tersebut dapat lestari. Ditinjau dari prospek agribisnis. Kata Kunci: Social forestry. Pengelolaan hutan. pelaksanaan kegiatan.3 . -. perencanaan kegiatan. baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tekstil dalam negeri maupun untuk bahan ekspor. Teknologi penangkaran. pakan. Teknik pemeliharaan. Jambi Ma'ruf. Ditinjau dari aspek teknis.Info Hutan : Vol.) Gaudich. dari pengolahan rami dapat dihasilkan produk samping antara lain hand made paper. Dengan demikian pola agroforestry haramay diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jangka pendek petani yang berasal dari serat rami dan hasil ikutan lainnya serta kebutuhan jangka panjang berupa kayu dan non kayu. Kata Kunci: Rusa sambar. Pola agroforesstry haramay dapat diterapkan dalam rangka kegiatan social forestry.III. dan pasca kegiatan merupakan cara yang efektif untuk membangun kelembagaan dan kemandirian masyarakat dalam program social forestry. Dalam unit prosesing serat.

Timur Tengah. Kata kunci : Agroforestry haramay. agribisnis. -. pada tahun 1937. serat. khususnya di Jawa barat. Pengembangan social forestry dengan model agroforestry nilam akan meningkatkan nilai produk kayu. dan sebagainya.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 137-148 . membangun kapasitas kelembagaan dan administrasi secara berkala dan keadilan dan kepastian hukum yang jelas dan dapat dipatuhi atau diterapkan oleh para pihak yang berkolaborasi. Nilam menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai nilai pasar tinggi dalam perdagangan internasional. Minyak atsiri yang berasal dari nilam digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik. dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Adapun prinsip-prinsip kolaborasi yang harus dibangun bersama oleh pihak terkait adalah penataan ruang yang fleksibel. Halaman 229-238. -Info Hutan : Vol. china grass. saat ini perlu dilakukan secara bersama dengan masyarakat dan para pihak lainnya. dan wisata bagi masyarakat. sumber benih.400 ton/tahun dan setiap tahun meningkat mencapai 5-10 %.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan.). Oleh karena itu pola agroforestry nilam memperlihatkan prospek agribisnis yang cukup baik sehingga sangat sesuai untuk dijadikan salah satu model dalam kegiatan social forestry.III.200-1. minyak atsiri Mindawati. baik untuk kosumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. hasil hutan kayu dan non kayu Mile. social forestry. 2006 kombinasi antara tanaman pokok kehutanan dengan usaha tani nilam (Pogostemon cablin Benth. social forestry.dilaksanakan di luar kawasan maupun yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan. 2006 Hutan Penelitian merupakan faktor penunjang yang sangat penting dalam rangka peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan hutan secara nasional khususnya sebagai tempat melakukan dan menghasilkan teknologi (IPTEK) bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Pogostemon cablin Benth. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. No. diproyeksikan bahwa konsumsi minyak atsiri dunia mencapai 1.. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan pola agroforestry nilam. Agroforestry nilam adalah suatu model 30 .3 . sehingga keberadaannya perlu di jaga dan dilestarikan Kata kunci: Hutan penelitian Muchtar. -. pembuatan perangkat hukum secara bersama. share learning. Kata kunci: Agroforestry berbasis nilam. Menurut data dari BPS (2001). Pembuatan zonasi sebelumnya hanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah. M Yamin KAJIAN TEKNIS PENGEMBANGAN SOCIAL FORESTRY DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM (Technical Analysis of Social Forestry Development Through Nilam Agroforestry Model) / M. Indonesia mengekspor minyak atsiri ke lebih dari 25 negara seperti Amerika Serikat. Kondisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi nilam. Abdullah Syarief STATUS RISET DALAM PENGUATAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL KELIMUTU DAN TAMAN NASIONAL KOMODO / Abdullah Syarief Muchtar. Saat ini keberadaan hutan penelitian semakin diperlukan karena selain untuk penelitian juga digunakan untuk pendidikan. Nina SEKILAS TENTANG HUTAN PENELITIAN / Nina Mindawati. Oleh karena itu kegiatan social forestry dengan pola agroforestry nilam memberikan prospek yang baik dalam meningkatkan pendapatan petani secara nyata. Sepuluh hutan penelitian telah dibangun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam sejak lembaga ini bernama Bousbouw Proefstation. Kanada. Yamin Mile. Jepang. 2006 Pola pengelolaan Taman Nasional yang dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi saat ini seperti perambahan kawasan memerlukan pendekatan melalui sistem zonasi yang ditentukan bersama dengan berbagai pihak dengan dasar prinsip kolaborasi. koleksi. 2005 : Halaman 1-12 . Australia. Uni Eropa.

temperatur. fisika tanah Narendra. Leucaena leucocephala (Lamk.Info Hutan : Vol. biomassa 31 . No.) De Wit.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Taman Nasional Komodo.235 . gamal (Gliricidea sepium (Jacq. Dari ketiga jenis tanaman lorong. Budi Hadi UJI COBA SISTEM PERTANAMAN LORONG DALAM REHABILITASI LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Trial of Alley Cropping system in Critical Land Rehabilitattion of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra.. Halaman 173-180 . -.) Steud). turi menghasilkan biomassa terbesar. infiltrasi. Penanaman menggunakan sistem pertanaman lorong. sistem pertanaman lorong. Kata kunci : Rehabilitasi lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis tanaman legum penutup tanah terhadap perubahan kondisi kimia dan fisika tanah di lahan bekas tambang batu apung. namun untuk penganekaragaman manfaat yang diperoleh.) Pers. -. Perlakuan dasar yang digunakan adalah pemberian pupuk kandang dosis 4.).) dan mangga (Mangifera indica L.3 . Kata kunci : Rehabilitasi lahan. Respon yang diamati adalah pertumbuhan tanaman pokok dan biomassa hasil pangkasan ketiga jenis tanaman lorong. Budi Hadi PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS LEGUM TERHADAP KONDISI TANAH PADA AREAL BEKAS PENAMBANGAN BATU APUNG (Effect of Legume Species Planting on Soil Condition of the Area Formerly Used for Pumice Mining) / Budi Hadi Narendra dan Eka Multikaningsih. Jenis yang ditanam adalah tiga jenis tanaman penutup tanah tinggi yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk. perlu dipertimbangkan untuk menanam ketiga jenis legum secara bersama dikombinasikan dengan sentro sebagai tanaman penutup tanah. Sesbania grandiflora (L. Hasil analisis tanah menunjukkan terjadi perbaikan sifat kimia tanah berupa meningkatnya kandungan bahan organik. No.) Poir). Kolaborasi Narendra.). Zonasi. gamal.f. Dengan menggunakan rancangan acak lengkap tersarang. Halaman 225 .) terhadap pertumbuhan tanaman pokok jati (Tectona grandis L. dan tanaman penutup tanah rendah berupa sentro (Centrosema pubescens Benth. Variabel yang diamati adalah perubahan sifat fisika dan kimia tanah sebelum dan setelah diadakan penanaman. hasilnya menunjukkan bahwa tanaman jati dan mangga memiliki kemampuan hidup dan tumbuh dengan baik dan antar jenis tanaman lorong belum berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pokok. Salah satu metode yang banyak memberi manfaat dalam merehabilitasi lahan kritis adalah penggunaan sistem pertanaman lorong (alley cropping). kimia tanah. Gliricidia sepium Steud.Kata kunci: Kebijakan. Demikian pula dengan sifat fisika tanah terjadi perbaikan pada permeabilitas. turi. Kebutuhan teknologi tepat guna untuk merehabilitasi lahan bekas tambang batu apung penting saat ini.III. diuji pengaruh tiga jenis tanaman lorong dari jenis legum yaitu lamtoro (Leucaena leucocephala (Lamk. 2006 Dalam rehabilitasi lahan-lahan bekas tambang diperlukan teknologi yang efektif dan efisien. diantaranya penggunaan tanaman penutup tanah dari famili legum yang terbukti dapat memperkaya hara tanah. dan bulk density.4 kg/m2 dan penggunaan tanaman penutup tanah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth.). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi pertumbuhan dan manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan sistem pertanaman lorong. turi (Sesbania grandiflora (L.III.3 . dan gamal (Gliricidia sepium Steud. N total. jenis legum. pertumbuhan. Taman Nasional Kelimutu.). sistem pertanaman lorong.) Pers). lamtoro. dan KTK. kadar air. turi (Sesbania grandiflora (L.) De Wit. Setelah enam bulan pengamatan. 2006.

Masing-masing kombinasi perlakuan ini diulang sebanyak 16 kali. Hama penyebab tumor batang dan jenis rayap belum teridentifikasi. keragaman jenis tanaman yang tinggi serta dukungan masyarakat. Kata kunci : Bekas tambang batu apung. Hal ini berdampak negatif terhadap daya dukung lingkungan dalam menunjang kebutuhan manusia. Sedangkan di Pulau Sumba jumlah lahan kritis diperkirakan paling sedikit 32 % dari total luas daratan.III.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. 2006 Tambang batu apung di Lombok Timur. tumor cabang dan rayap. 4 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama yang menyebabkan tumor buah pada pucuk tanaman adalah sejenis kutu dengan hama perantara lalat. Penelitian ini menggunakan desain split plot.III.30 . Gerson ND REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT BERBASIS SISTEM KALIWU DI PULAU SUMBA (The Study of Widhana Susila. Kata kunci: Meranti merah. lahan kritis. Hanya vegetasi tertentu saja yang masih dapat dijumpai pada lahan tersebut. Keberadaan sistem kaliwu mampu menunjang tata air. karena lahan telah mengalami kemunduran sifat fisika kimia tanahnya. Serangan tumor buah dan tumor cabang menyebabkan tajuk meranggas dan kering akan tetapi tanaman tidak mati.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. sedangkan serangan hama rayap mengakibatkan kematian.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. wawancara. Keuntungan Critical Land Rehabilitation through the development of Kaliwu Based Community Forest in Sumba Island) / Gerson ND Njurumana. -. tanaman penutup tanah. namun serangan rayap menyebabkan kematian. I Wayan 32 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kaliwu berpeluang dikembangkan untuk rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dan air di Sumba. Halaman 357 365 . 2006 Pengelolaan hutan yang menekankan eksploitasi menyebabkan meningkatnya luas lahan kritis dan degradasi ekosistem hutan secara menyeluruh. kemampuan menutup tanah dan biomassanya.1 . Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Masyarakat menambang secara tradisional tanpa mengupayakan rehabilitasi dan konservasi tanah dan air. Budi Hadi TANAMAN PENUTUP LAHAN YANG SUSEAI PADA LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG (Cover Crop Species Trial on Critical Land of Pumice Mined) / Budi Hadi Narendra dan Syahidan. mendukung pendapatan masyarakat dengan nilai NPV positif pada tingkat pengembalian modal lebih dari 12 % per tahun. No. -. teknologi rehabilitasi lahan. Luas lahan kritis di Nusa Tenggara Timur mencapai 28 % dari total luas wilayah. Penggunaan pupuk kandang dengan dosis 4. Peningkatan lahan kritis disebabkan kebakaran lahan dan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan intensitas serangan hama pada tanaman meranti merah (S. dan pengumpulan data sekunder. Hama tanaman Njurumana. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi dan teknologi budidaya jenis tanaman penutup tanah dan dosis pupuk kandang yang sesuai untuk rehabilitasi lahan kritis bekas tambang batu apung. tanaman yang paling tepat digunakan sebagai penutup tanah adalah jenis sentro (Centrosema pubescens Benth. Halaman 347-354 . khususnya di Ijobalit memiliki potensi dan produksi terbesar di Indonesia.Narendra. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh alternatif rehabilitasi lahan dan konservasi melalui pengembangan hutan rakyat yang berbasis pada sistem social forestry murni masyarakat beserta kearifan lokalnya. serangan tumor buah dan tumor cabang tidak menyebabkan kematian. pupuk kandang Ngatiman HAMA TANAMAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) / Ngatiman dan Armansyah. 2006 Pada tanaman meranti merah (Shorea leprosula) umur 10 tahun lebih di lapangan terserang tumor buah. Shorea leprosula Miq.4 kg/m2 dapat diaplikasikan guna menambah kandungan bahan organik tanah. -. Bekas tambang ini merupakan lahan terdegradasi yang dibiarkan saja menjadi lahan kritis dengan permukaan berlubang-lubang yang sebagian besar tidak dimanfaatkan lagi. Berdasarkan kemampuan hidup. Metode pendekatan yang digunakan adalah observasi langsung terhadap karakteristik sistem kaliwu. di mana tiga macam dosis pupuk kandang sebagai plot utama dan tiga jenis tanaman penutup tanah sebagai sub plot. leprosula) dengan cara mengamati setiap individu tanaman di lapangan.). No. fragmentasi hutan akibat penebangan liar dan perladangan serta faktor alam yang kurang menunjang pertumbuhan tanaman. Halaman 19 .

Subak. Sistem-sistem tersebut adalah merupakan kearifan lokal yang dapat dikembangkan untuk daerah-daerah yang dekat pemukiman. Gerson ND PENDEKATAN REHABILITASI LAHAN KRITIS MELALUI PENGEMBANGAN MAMAR: STUDI KASUS MAMAR DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN / Gerson ND Njurumana. salah satunya adalah kearifan lokal. konservasi dan hutan rakyat Njurumana. budaya. mamar. -. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kata kunci : Sistem kaliwu. Halaman 1-11 . Penguatan kelembagaan subak dalam membangun keterpaduan dalam pengelolaan mulai dari wilayah hulu. Di pihak lain. Konsep pembangunan yang dapat dikembangkan masyarakat langsung adalah yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan secara multiguna atau agroforestry seperti amarasi.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. penggerakan. masyarakat sekitar hutan untuk membuat konsep pembangunan kehutanan secara bersama. Multiguna. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. -. 2006 Peningkatan degradasi lahan merupakan kesatuan yang bersifat simultan antara aspek sosial ekonomi. Mamar sebagai salah satu bentuk kearifan lokal 33 . Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . dan kearifan lokal) untuk menggugah peningkatan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan pengelolaan lahan. 2006 Perubahan paradigma pembangunan kehutanan yang sebelumnya berbasis hanya untuk pemanfatan kayu oleh sekelompok masyarakat tertentu menjadi pemanfaatan hutan secara multi guna dengan melibatkan masyarakat hutan sekitar mengharuskan pihak terkait seperti pemerintah. Gerson ND PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN SISTEM IRIGASI SUBAK DI BALI / Gerson ND Njurumana. Kata kunci: DAS. dan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan. Kearifan lokal Njurumana.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. 2006 Keberlanjutan sistem irigasi Subak di Provinsi Bali sangat ditentukan oleh berfungsinya komponen pendukung Subak. I Wayan Widhiana S dan Tigor Butar-Butar. Pengelolaan. kaliwu. Irigasi. Bali Njurumana. 2005 : Halaman 111-122 . tetapi perlu memberikan ruang bagi partisipasi multi pihak beserta seluruh modal sosial yang berkembang dalam masyarakat. sosial budaya. Faktor kesehatan DAS merupakan komponen eksternal yang menentukan keberlanjutan faktor internal. dan lain-lain. Khusus untuk daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) pembangunan kehutanan harus didasarkan pada kondisi obyektif sumberdaya alam dengan memperhatikan keterbatasan daya dukung sebagai akibat kurangnya pasokan air (sebagai salah satu ciri dari daerah semi arid). 2006 . Karena itu upaya pengendalian dan rehabilitasi lahan kritis perlu melibatkan seluruh pihak termasuk aktor dari kegiatan degradasi lahan. rehabilitasi lahan. baik pusat atau daerah. Halaman 143-154 . -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. sehingga mendorong proses pembaruan. tengah dan hilir merupakan salah satu pilar pendukung keberlanjutan sistem irigasi tersebut di masa mendatang. pemulihan lahan kritis tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan teknis dan sektoral semata. baik komponen internal maupun komponen eksternal. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan khususnya rehabilitasi lahan dan lingkungan diletakkan atas dasar pengetahuan masyarakat lokal. Gerson ND PEMANFAATAN HUTAN SECARA ARIF DAN BIJAKSANA / Gerson ND Njurumana. Kata kunci: Agroforestry.pengembangan sistem kaliwu adalah diperolehnya landasan pengelolaan lahan kritis dan konservasi yang berbasis lokal (mengakomodir karakteristik wilayah. peguatan. dan penyelarasan pengetahuan lokal dengan pengetahuan dari luar.

oksida nitrogen dan belerang. Konservasi tanah. Upaya konservasi ulin mencakup tindakan dapat dilakukan secara in-situ maupun ex-situ dan menjaga. ginjal.2 . dan panjang.mengandung logam berat. stabilitas. -. Rehabilitasi lahan. monoton. polusi udara. Pendekatan kearifan lokal memungkinkan prakarsa pembangunan dapat dilakukan dengan memanfaatkan dan memberdayakan potensi dan kekuatan yang sudah ada dalam masyarakat. dan pemanfaatan hutan. tanah. sekaligus mampu menjembatani konflik kepentingan terhadap sumberdaya lahan dan air. Halaman 183-197 . Masyarakat telah memanfaatkan daun. Halaman 103-117 . debu.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Kata kunci: Mamar. Lingkungan Noorhidayah Binn) DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm PEMANFAATANNYA SEBAGAI TUMBUHAN OBAT (The Ironwood (Eusideroxylon zwageri Teijsm Binn. Kata kunci: Degradasi lahan dan hutan. 34 . Nilai penting.) secara besar-besaran akan mengakibatkan terancam kelestariannya.130 .Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. tanah dan air yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan kelestarian ekosistem.memiliki peluang untuk diberdayakan dalam rangka mendukung rehabilitasi lahan. salah satunya pemanfaatan jenis tanaman yang memberikan manfaat ganda untuk jangka pendek. penurunan air tanah. Kade Sidiyasa. Konservasi air Njurumana. pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap keragaman model kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. Gerson ND PELUANG DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN SEKTOR KEHUTANAN DI TIMOR BARAT / Gerson ND Njurumana. Tekanan penduduk yang tinggi mengindikasikan terbatasnya alternatif sumberdaya yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan hidupnya. konversi lahan. pencemaran udara seperti meningkatnya kadar CO. Kearifan lokal. ternyata ulin juga memiliki manfaat non kayu sebagai bahan obat. karbon-dioksida. kebakaran. dan mengatasi bengkak. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. -.ozon. bising dan kotor. dan keberlanjutan yang cukup tinggi dalam mendukung kegiatan usaha tani. Halaman 123 . 2006 Hutan kota diidentifikasikan sebagai status lahan yang dengan pohon-pohonan dalam satuan kawasan tertentu baik pada tanah negara maupun tanah milik yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan perkotaan dalam pengaturan tata air. dan air diharapkan dapat mengapresiasi dan mendorong masyarakat untuk terlibat secara proaktif melalui kemitraan yang terbangun dalam pengelolaan sumberdaya hutan di Timor Barat.) Conservation and it's Utilization as Medicinal Plant) / Noorhidayah. Kebijakan Njurumana. Dengan demikian. Nilai guna sistem mamar cukup baik terhadap aspek produktivitas. dan mempelajarinya.LSM dan swasta untuk mendukung tujuan pembangunan hutan kota Kata kunci: Hutan kota. -. pencemaran air berupa air minum berbau. 2006 Kerusakan sumberdaya lahan dan hutan di Timor Barat mengalami peningkatan akibat tekanan penduduk. intrusi air laut. Dari aspek kebijakan. perambahan. dan buah/biji ulin untuk obat rambut. 2006 .Pengakuan terhadap kearifan lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan. abrasi pantai. Kehadiran hutan kota diharapkan dapat mengendalikan peningkatan suhu udara perkotaan. 2006 Eksploitasi ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. No. suasana yang gersang. Gerson ND NILAI PENTING HUTAN KOTA DALAM PEMBANGUNAN PERKOTAAN / Gerson ND Njurumana. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. silvopasture. Pendekatan site spesifik dilakukan dengan berbagai pendekatan. pembangunan sektor kehutanan di Timor Barat harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masyarakat secara obyektif melalui pendekatan site spesifik. batang. Karena itu. dan lingkungan. muntah darah. Ekologi. kehadiran hutan kota diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan ekologi perkotaan yang dapat dilakukan dengan mempertahankan kelestarian dan fungsi kawasan-kawasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun kerjasama dengan komponen masyarakat. habitat flora dan fauna. banjir/genangan.Info Hutan : Vol. menengah.III. 2006 . Selain memiliki kayu yang kuat dan awet. memanfaatkan.

Kata kunci : Murbei persilangan.30 mm. Untuk pertumbuhan diameter semai. kualitas kokon. dan berat per satuan bibit tinggi. Kombinasi M1U3 (murbei NI dan ulat sutera HG 8) cenderung memberikan hasil yang baik. Ukuran dan kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik yaitu sebesar 1. kokon. cenderung memberikan hasil yang baik. tetapi tidak memberi pengaruh nyata terhadap kualitas kokon dan serat sutera dan belum ada jenis yang memberikan hasil yang baik. KOKON. ulat sutera persilangan. Halaman 65 . DAN SERAT SUTERA (Effect of Mulberry (Morus spp) and Silkworm Hybrid (Bombyx mori Linn. kualitas ulat. Jumlah keseluruhan perlakuan ada 12 unit dan tiap unit ada 12 semai dan diulang secara acak pada 3 blok.III. dan Morus cathayana A.73 .. No. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa serasah daun pinus yang lambat terdekomposisi dapat dimanfaatkan sebagai media semai dan mengetahui komposisi media pinus yang sesuai untuk pertumbuhan semai. Campuran media terdiri dari daun pinus. Media semai Nurhaedah M PENGARUH MURBEI (Morus spp. Harry Budisantoso. dan serat sutera. dan serat sutera. and Silk Quality) / Nurhaedah. Sedangkan ulat sutera persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. Eusideroxylon zwageri Teijsm & Binn. dan 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan pertumbuhan tinggi yang paling baik yaitu sebesar 11.) on Silkworm. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial dengan dua faktor yaitu: M (murbei persilangan) dan U (ulat sutera persilangan) dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Halaman 129-136 . perlakuan yang berpengaruh nyata adalah ukuran daun dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media. Cocoon. Oleh karena itu upaya penggunaan bahan lain sebagai media pertumbuhan dengan tujuan memperkecil pemakaian topsoil perlu segera dilakukan. 35 persen tanah bermikoriza menghasilkan rerata pertumbuhan diameter yang paling baik sebesar 1. 35 persen pupuk kandang. kokon. kokon.Parameter yang diamati adalah tinggi dan diameter. Analisis statistik menunjukkan bahwa murbei persilangan memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas ulat. konservasi insitu. Bombyx mori Linn.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . dan serat sutera. Data rerata tinggi dan diameter dianalisis dengan uji F dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata metode Duncan. Morus spp. 2006 Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh murbei (Morus spp. 35 persen pupuk kandang. Agung Wahyu PEMANFAATAN SERASAH PINUS SEBAGAI MEDIA SEMAI / Agung Wahyu Nugroho.) DAN ULAT SUTERA PERSILANGAN (Bombyx mori Linn) TERHADAP KUALITAS ULAT. Digunakan 3 ukuran daun dan 4 variasi aras campuran media. obat.) dan ulat sutera persilangan (Bombyx mori Linn.. Jenis NI. Variasi aras campuran media 30 persen daun.) terhadap kualitas ulat.20 cm.Kata kunci : Ulin.1 . Parameter yang diamati meliputi kualitas ulat.23 mm dan interaksi antara ukuran daun dan variasi aras campuran media 30 persen daun kasar segar. -. Hasil penelitian menunjukan bahwa serasah daun pinus dapat dimanfaatkan sebagai media semai yang baik. Kata Kunci: Serasah pinus. konservasi ex-situ Nugroho. Perlakuan yang menggunakan ukuran daun kasar segar menghasilkan rerata pertumbuhan tinggi semai yang paling baik yaitu sebesar 10. kualitas serat 35 . B2A.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. pupuk kandang. Wahyudi Isnan. aerasi kurang baik. Kombinasi antara murbei persilangan dan ulat sutera persilangan memberi pengaruh nyata pada rendemen pemeliharaan dan bobot kokon. dan tanah bermikoriza. Serasah daun pinus yang merupakan bahan organik yang bersifat lambat terdekomposisi dapat dijadikan media dengan cara dikomposkan dahulu.. 2006 Media Semai dengan menggunakan media topsoil mempunyai banyak kelemahan diantaranya: media lekas padat. Penelitian diaksanakan di kebun Karangmalang dan Laboratorium Tanah Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. -.38 cm.

pengupasan.III.84 %) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan. No. Mulyana Omon. jumlah daun (4 helai).Nurhaedah M..) Clearing with Herbicide on Teak (Tectona grandis L. R.4 .III.f.67 %). yang berkualitas di persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4o C atau 20o C untuk diinokulasikan pada stek Shorea johorensis Foxw. dan persentase kolonisasi akar. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan penanganan khusus seperti pemberian pakan. No. Dengan demikian untuk rencana dan strategi penyediaan stek Shorea johorensis Foxw. Sedangkan suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. Hasil memperlihatkan bahwa penyimpanan tablet selama tiga bulan di kedua suhu yang berbeda (4o C dan 20o C) telah memberikan pengaruh yang nyata lebih baik terhadap persen hidup (86. 7 hari setelah mengokon dan 6 hari setelah mengokon serta kontrol (0 hari).32 cm). Dua plot terletak di bukit berukuran 20 m x 25 m dengan ketinggian 87 m dpl (di atas permukaan laut) dan satu plot terletak di lembah dengan ukuran yang sama dengan ketinggian 47 m dpl. Sulawesi Selatan. R. dan persentase kolonisasi akar (81.) DI KAWASAN REHABILITASI SAMBOJA (Effect of Alang-alang (Imperata cylindrica L. telah dilaksanakan di kawasan rehabilitasi Samboja. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan waktu pengupasan kokon yang baik untuk penetasan dan rendemen ulat kecil adalah 8 hari sedangkan untuk keperidian dan jumlah pupa jadi ngengat adalah 7 hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang teknik pemeliharaan tanaman jati pada lahan alang-alang. Di kedua plot tanaman jati tersebut alang-alangnya disemprot dengan herbisida. Perlakuan dalam percobaan ini terdiri dari dua tingkat suhu dan tujuh periode lama penyimpanan. Tiap unit perlakuan terdiri dari 10 bibit. 2006 Penelitian pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza terhadap pertumbuhan stek Shorea johorensis Foxw. Ishak Yasir.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. DI RUMAH KACA (Effects of Temperature and Storage Duration of Mycorrhizae Tablet to Growth of Shorea johorensis Foxw. penanganan ulat dan kokon serta pencegahan penyakit. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Halaman 83 . kokon Omon. stek. Samboja Kalimantan Timur. Mulyana Omon. Kata kunci : Ulat sutera. 2006 Bibit ulat sutera yang berkualitas akan diperoleh jika pemeliharaan ulat induk menghasilkan kokon yang baik. Halaman 177 . Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal tablet mikoriza untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. waktu penyimpanan. Beauv.f. disamping itu waktu pengupasan kokon yang terlalu cepat dan tidak terseleksi (kontrol) menyebabkan waktu keluarnya ngengat lebih beragam.1 . KUALITAS BIBIT ULAT SUTERA (BOMBYX MORI L. No.) Plantation in Samboja Rehabilitation Area) / R. Kata kunci : Shorea johorensis Foxw. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak tiga kali. pertumbuhan tinggi (4. purposive dengan Pembuatan plot percobaan dilakukan secara mempertimbangkan keadaan topografi.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. -. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri 3 perlakuan waktu pengupasan kokon yaitu 8 hari setelah mengokon.428 . Halaman 421 .) umur 2. Beauv.III.5 tahun. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Shorea johorensis Foxw.f. mikoriza tablet Omon. pertumbuhan tinggi.184 . Kabupaten Gowa. Penelitian ini dilakukan di Balai Persuteraan Alam Bili-Bili. -. jumlah daun. dengan dosis sebanyak 8 liter herbisida/ 800 liter air dan satu plot tanaman jati yang terletak di bukit tidak dilakukan penyemprotan sebagai kontrol.93 .) DENGAN HERBISIDA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L. Mulyana PENGARUH PEMBERSIHAN ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L.2 . Cuttings in Greenhouse) / R.) PADA BEBERAPA WAKTU PENGUPASAN KOKON (Quality of Silkworm Eggs with Several Cocoon Peeling Period)/ Nurhaedah M. 2006 Pengaruh pembersihan alang-alang dengan penyemprotan herbisida pada tanaman jati (Tectona grandis L. Penelitian bertujuan untuk mengetahui waktu pengupasan kokon yang tepat sebagai bahan pembibitan ulat sutera. . Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan penyemprotan alang-alang dengan 36 . telah dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata.

Tectona grandis L. Vietnam.f. Mulyana TEKNIK PEMBIAKAN VEGETATIF MELALUI STEK PUCUK DIPTEROCARPACEAE PADA MEDIA PADAT DAN AIR / R. Perbedaan pertumbuhan tersebut.43 cm dan 185. parvifolia. Stek pucuk. intensitas cahaya.000 orang yang telah mengikuti training Alih Teknologi Stek Pucuk dan Kebun Pangkas di Wanariset Samboja. R. S. Media air Panjaitan. S. Selain itu banyak tamu-tamu yang datang. gambut. Beauv. 2006 Perbanyakan stek pucuk dari famili Dipterocarpaceae merupakan salah satu alternatif dalam pengadaan bibit di persemaian. teknik. Sedangkan media cair (air) keuntungannya mudah dikontrol dan apabila belum berakar dapat dikembalikan ke tempat semula tanpa mengganggu proses perakaran dan tidak perlu penyiraman. yaitu waktu pencabutan yang tepat. lahan alang-alang. Dengan demikian penyemprotan alang-alang dengan herbisida pada tanaman jati dengan dosis 8 liter herbisida/800 liter air per ha dapat direkomendasikan untuk pembersihan alang-alang pada tanaman jati. Dryobalanops lanceolata. Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan informasi bagi para pelaksana di lapangan. S. dan hormon tumbuh yang digunakan. Teknik tersebut telah diaplikasikan oleh HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di Indonesia dan bahkan lebih dari 1. Kelemahannya untuk yang pertama adalah diperlukan biaya yang besar yaitu harus tersedia kompresor atau aerator sebagai penghasil oksigen dan listrik. herbisida. Hal ini terkendala dengan masa berbuah massal yang tidak teratur dan bijinya bersifat recalcitrant yang tidak dapat disimpan lama yaitu hanya beberapa minggu saja. Mulyana Omon. penggunaan media tepat. Thailand. tetapi kelemahan tidak dapat dikontrol setiap saat apakah sudah berakar atau belum dan perlu penyiraman. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . dan vermikulit) dan air (water rooting system) diperoleh dari hasil kerja sama antara Departemen Kehutanan cq. dikarenakan kesuburan tanah di lembah lebih baik dibandingkan dengan di bukit. Teknik pembiakan vegetatif melalui stek pucuk dengan media padat (pasir. tidak terdapat deformasi batang dan akar anakan. S.herbisida pada tanaman jati telah memberikan pengaruh efektif terhadap pertumbuhan. turut mempelajari metoda tersebut. Selain itu ada juga beberapa jenis yang mudah tumbuh di media air antara lain Anisoptera marginata. assamica. Kata Kunci: Pembiakan vegetatif. Halaman 335-345 . Hopea odorata. Sedangkan riap diameter dan tinggi tanaman jati yang di lembah lebih tinggi dibandingkan dengan di bukit. 2006 Pengadaan bibit Dipterocarpaceae dengan sistem cabutan anakan alam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kelemahan pengadaan bibit secara generatif (asal buah/biji). baik dari dalam dan luar negeri seperti Jepang. S. Selain itu pula telah dikembangkan teknik pembuatan kebun pangkas sebagai sumber bahan stek dan teknik inokulasi mikoriza sebagai pemacu pertumbuhan. S. gambut. Rusmana dan Marinus Kristiadi Harun.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 19-27 . Dari hasil pembiakan vegetatif melalui stek ada beberapa jenis yang mudah tumbuh di media padat dan cair seperti Shorea leprosula dan Shorea selanica. teknik pencabutan yang baik. Dipterocarpaceae.5 kali untuk diameter dan tinggi sebesar 5 kali dibandingkan dengan tidak disemprot herbisida (kontrol). -. johorensis. Kata kunci : Tanaman jati. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Samarinda di Stasiun Penelitian Wanariset Samboja dengan Yayasan Tropenbos Belanda dengan nama MOF-Tropenbos Kalimantan Project yang dimulai pada tahun 1985 sampai tahun 2000. dan vermikulit) keuntungannya bahannya mudah diperoleh. Imperata cylindrica L. Malaysia. Sudin SISTEM CABUTAN ANAKAN ALAM SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF PENYEDIAAN BIBIT JENIS DIPTEROCARPACEAE / Sudin Panjaitan. ukuran anakan ideal.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. dan Parashorea sp. paucifloria. sehingga kendala pembuatan bibit dalam skala luas dan tepat waktu dapat diatasi untuk mendukung program pembangunan hutan tanaman. teknik penyapihan dan pemeliharaan bibit di persemaian sesuai standar 37 . Dipterocarpus hasseetii. Untuk media padat (pasir. Keberhasilan perbanyakan dengan stek pucuk dipterokarpa dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain kelembaban. smithiana. Teknik pembuatan bibit sistem cabutan anakan alam harus memenuhi syarat. pengambilan bahan. teknik pengepakan dikondisikan lembab. -. Media padat.7 cm. yaitu sebesar 3. masing-masing sebesar 2. laevis.. India. temperatur. media. dan lain-lain. Omon. Sejak Juli 2002 Stasiun Penelitian Wanariset Samboja telah berubah menjadi Institusi Loka Litbang Satwa Primata.

Penyediaan bibit. -. Kata kunci: Pulai. BANJARBARU/ Sudin Panjaitan. Pulau Kecil dan kering yang berada di Tenggara pulau Bali. 6 gr.B Putera PEMANFAATAN PRANATA SOSIAL LOKAL DALAM REHABILITASI LAHAN: SEBUAH PENGALAMAN DI NUSA PENIDA BALI / I. Pendekatan pranata sosial masyarakat setempat yang telah diaktualisasi didaerah ini antara lain: Tri Hita karana. fisolofi. Pendekatan tersebut telah dicoba dilaksanakan di Nusa Penida. Lembaga Pelaksana Pura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup anakan adalah 10 persen.U. I. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . bukan diminta mengadopsi rehabilitasi lahan model baru. Tri Mandala.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. 2006 Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan peduli lingkungan serta berkomitmen dalam merehabilitasi lahan ialah dengan mengaitkan dan memanfaatkan pranata sosial masyarakat lokal setempat. Dipterocarpaceae Panjaitan. Jumlah daun anakan juga dipengaruhi oleh pemberian pupuk dimana anakan yang diberi pupuk menghasilkan nilai tertinggi pada jumlah daun dibanding tanpa pupuk. -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 77-86 . Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . -. Anakan pulai.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. menurut data Departemen Kehutanan tahun 2000 mencapai 1. Dalam hal ini masyarakat diingatkan dan diarahkan untuk menerapkan konsepsi. Pemberian pupuk berpengaruh nyata terhadap tinggi dan diameter batang. serta aturan yang mereka miliki sendiri untuk melaksanakan rehabilitasi lahan. Alternatif. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan anakan pulai akibat pemberian pupuk pinufert dan NPK. Percobaan disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dari perlakuan pupuk pada anakan pulai umur 16 minggu yang diulang sebanyak 7 kali. Banjar Pakraman. Sudin RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN PULAI (Alstonia scholaris (L) R. Penerapan model ini menunjukkan hasil yang positip yaitu dengan tingkat keberhasilan tanaman 80 persen. Mahliani dan Acep Akbar. Hal ini merupakan hasil dari proses panjang kegiatan pengusahaan hutan alam tropis sejak dekade 70-an sampai 38 . dan Awig-awig. Alstonia scholaris (L) R. Halaman 85-92 . Tri hita karana.U KONSERVASI EMPAT JENIS ENDEMIK PAPUA DI PERTANAMAN BPPK PM MANOKWARI / Pudja M. masyarakat menunjukkan antusias yang tinggi untuk terlibat dalam rehabilitasi lahan sejak awal perencanaan hingga pelaksanaan dan pemeliharaan serta berminat untuk meningkatkan kemampuan teknisnya. Kata kunci: Rehabilitasi lahan. Tri Fungsi Hutan. NPK Parthama. Angka degradasi hutan tropis Indonesia selama 10 tahun terakhir. Dalam rangka pengembangan budidaya pulai di persemaian disarankan menggunakan pupuk pinufert 5 gr atau NPK gr per batang. Herman R. Pendekatan serupa bisa diterapkan di daerah lain yang memiliki kondisi sama.Br) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK PINUFERT DAN NPK DI PERSEMAIAN BP2HTIBT. Pertumbuhan. Pupuk pinufert. Pranata sosial lokal Pudja M. Halaman 355-373 . Pranata sosial lokal. dan Daud Leppe.B PUTERA PARTHAMA DAN HADI S PASARIBU. 4 gr per anakan dengan pemberian pupuk pinufert 5 gr dan 10 gr per anakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. 2006 Kondisi sumbardaya hutan Indonesia pada saat ini mengalami kemunduran dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Sedangkan antara anakan pulai yang diberi pupuk NPK 8 gr.Br.6 juta ha/tahun.Kata kunci: Cabutan anakan.

Faktor dominan yang berpengaruh terhadap mutu benih/bibit adalah genetik dan lingkungan. kecuali pada jenis Pometia pinnata ada kecenderungan menurun setelah umur lebih dari 15 tahun. mutu benih. Endemik. dapat mencapai 2. 2006 . memberikan 3 cm/tahun. GERHAN Pratiwi REHABILITASI LAHAN KRITIS DI WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR / Pratiwi. Ternyata keadaan masih berlanjut pada tahun berikutnya di mana diameter rata-rata mencapai 19. Riap diameter rata-rata tahunan dan pertumbuhan diameter pada umur di bawah lima tahun umumnya lebih kecil dibandingkan tanaman setelah berumur di atas 10 tahun.14 cm/tahun. Sejak tahun 1986. dan sertifikasi mutu bibit dalam mendukung GERHAN.80 cm memberikan riap 1. Hal ini juga berlaku pada ketiga jenis lainnya. Melihat kenyataan tersebut. Kata Kunci: Konservasi. Halaman 55-68 . Balai Litbang Kehutanan Papua dan Maluku telah melakukan penanaman beberapa jenis endemik (jenis asli) potensial yang mulai terancam keberadaannya di hutan alam. diperlukan informasi mengenai aspek-aspek karakteristik faktor lingkungan daerah NTT dan permasalahannya serta alternatif pengelolaannya. dan Araucaria sp. Perbenihan tanaman hutan yang mengandung arti segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan benih tanaman hutan menunjukan perlu adanya sertifikasi sumber benih. 39 .62 cm memberikan riap 1. Instia sp. Kondisi ini menunjukan bahwa pemilihan dan penanganan bibit yang tepat serta tempat tumbuh yang cocok bagi jenis-jenis tersebut diharapkan mempunyai pertumbuhan yang baik. sehingga tanaman harus melakukan penetrasi akar terhadap karang.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. sehingga produktivitasnya menurun.05 cm/thn.38 cm dan MAI mencapai 1. Awal pertumbuhan yang umumnya sulit selain disebabkan pemeliharaan yang kurang intensif. dapat mencapai 2. 2006 Pembangunan tanaman hutan yang berkualitas memerlukan benih dan bibit bermutu. mutu benih maupun mutu bibit..3 cm/tahun. dan mutu bibit menyebabkan konsumen tidak memperoleh jaminan terhadap asal-usul benih. walaupun tempat tumbuh di tiga lokasi kurang subur. Araucaria cuninninghamii. Mutu benih.20 cm memberikan riap 1. riap di kebun koleksi dan arboretum ini dianggap masih kecil. Pometia sp. Namun secara individual ada beberapa pohon mempunyai MAI yang cukup tinggi pada masing-masing jenis. In-situ berarti melestarikan sumberdaya genetik pada habitat aslinya. Oleh karena itu upaya rehabilitasi perlu dilakukan agar kerusakan lingkungan dapat dikurangi dan produktivitas lahan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu setelah umur tanaman di atas 10 tahun biasanya pertumbuhan mulai membaik. Papua. Konservasi secara umum dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu in-situ dan ex-situ. umur 11 tahun dengan diameter rata-rata 15. dan lain-lain. Agathis sp. 2006 Di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Sumber benih. Manukwari Pramono. pertumbuhan diameter rata-rata P. Belum adanya sertifikasi sumber benih. Joko MANFAAT SERTIFIKASI SUMBER BENIH. Faktor lingkungan yang ditentukan mutu non genetik dibedakan manjadi mutu fisik dan mutu fisiologi dan dipengaruhi oleh teknik penanganan benih/bibit. DAN MUTU BIBIT DALAM MENDUKUNG GERHAN / Joko Pramono dan Hendi Suhaendi. MUTU BENIH. Sedangkan ex-situ di luar habitat aslinya. seperti Agathis labillardieri.12 cm/thn.. jenis-jenis ini relatif mudah untuk dikonservasi dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan tanaman dalam hutan tanaman untuk mendukung gerakan rehabilitasi lahan di Papua. tingkat persentase hidup tegakan tergolong baik yaitu lebih dari 70 persen dengan kesehatan tegakan termasuk baik. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Halaman 49-61 . seperti Intsia sp. -. Kata Kunci: Sertivikasi. Agar rehabilitasi lahan kritis di daerah Nusa Tenggara Timur dapat berhasil. Program ini merupakan salah satu dari lima program pokok Departemen Kehutanan. Pometia sp. diduga juga disebabkan tanah di Manokwari umumnya bercampur karang.00 cm/tahun. lahan kritis terjadi akibat sistem pengelolaan lahan yang tidak memadai dengan lingkungan iklim kering. Sebagai ilustrasi.38 cm dan umur 16 dengan diameter rata-rata 16. dan kebun koleksi. Oleh karena itu perlu segera dilakukan program konservasi dan rehabilitasi. Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan tanah baik kimia maupun fisik.sekarang. Mutu Bibit. Dibandingkan dengan asumsi riap di hutan alam sebesar 1 cm/thn.8 cm/tahun. sertifikasi mutu benih. Mutu genetik dipengaruhi oleh asal-usul benih. -. Pinnata umur 5 tahun 5. memberikan 2. Secara umum kondisi tanaman di kebun koleksi dan arboretum Inamberi dan Anggresi masih tergolong cukup baik. dalam bentuk arboretum kebun percobaan.

Dengan kondisi iklim kering dan solum tanah yang tipis dan berbatu-batu, curah hujan yang rendah dan topografi sebagian besar curam sampai sangat curam mengakibatkan kesuburan daerah ini sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan pemilihan jenis yang akan dikembangkan yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut, teknologi yang memadai dan kelembagaan yang mendukung keberhasilan program yang akan diterapkan. Kata kunci: Rehabilitasi, Lahan kritis, Nusa Tenggara Timur Prayudyaningsih, Retno HAMA DAN PENYAKIT JENIS MURBEY EKSOT DAN TINGKAT KEHILANGAN DAUNNYA PADA AKHIR MUSIM KEMARAU (Pest and Santoso. -- Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.4 ; Halaman 429 - 435 , 2006

Kata kunci : Hama dan penyakit murbei, murbei eksot, tingkat kehilangan daun Prayudyaningsih, Retno PEMBUNGAAN DAN PEMBUAHAN BITTI (Vitex cofasus Reinw.) (Flowering and Fruiting of Bitti (Vitex cofasus Reinw.)) / Retno Prayudyaningsih; Edi Kurniawan. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 131 - 138 , 2006 Penelitian mengenai pembungaan dan pembuahan bitti (Vitex cofassus Reinw.) telah dilakukan di Arboretum dan Laboratorium Silvikultur Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi selama 6 bulan (Januari-Juni 2003). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bunga, produksi bunga, keberhasilan bunga membentuk buah, serangga pengunjung, produksi buah, dan produksi biji tanaman bitti. Informasi ini diharapkan dapat mendukung keberhasilan proses penyerbukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakterisitk bunga bitti adalah hermaprodit dengan malai berjumlah 549,33-2.768,67 kuntum bunga, panjang bunga 0,78-0,89 cm, diameter bunga 0,78-1,13 cm, panjang stamen 0,53-0,60 cm dan 0,45-0,59 cm, dan panjang putik 0,84-1,00 cm. Jenis serangga yang selalu mengunjungi bunga bitti adalah kupu-kupu, lebah madu, dan lebah tukang kayu. Produksi bunga per cabang adalah 10.805,32-167.544,86 kuntum bunga. Pada penyerbukan secara alami 2,13 %-11,95 % bunganya akan membentuk buah. Produksi buah per pohon adalah 7.215-45.210 buah dengan produksi biji sekitar 0,59-3,77 kg. Kata kunci : Karakteristik bunga, serangga pengunjung, bitti, Vitex cofassus Reinw., penyerbukan alami

Disease of Exotic Mulberry and level of it’s Leaves Lost I the End of Dry Season) / Retno Prayudyaningsih; Hermin Tikupadang; Budi

Serangan hama dan penyakit pada tanaman murbei akan mengakibatkan produksi daun menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya. Apabila masalah ini dibiarkan berlanjut, maka ada kemungkinan ketersediaan daun murbei akan berkurang dan pemeliharaan ulat sutera oleh petani akan terhambat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Enrekang pada bulan November 2003. Jenis tanaman murbei yang diamati adalah jenis murbei eksot (Morus indica S-54 dan Morus multicaulis) dan Morus nigra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot pada akhir musim kemarau serta tingkat kehilangan daun akibat serangan hama dan penyakit tersebut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan percobaan faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah jenis murbei dan faktor kedua adalah lokasi. Hasil penelitian menunjukkan ada delapan jenis hama dan empat jenis penyakit yang menyerang tanaman murbei eksot selama akhir musim kemarau. Jenis hama yang paling banyak menyebabkan kerusakan adalah kutu daun (Maconellicoccus hirsutus Green) dan belalang (Valanga sp.), sedang jenis penyakit yang banyak menyebabkan kerusakan adalah bercak daun (Septogleum mori Briosi et Cavapa) dan karat (Aecidium mori Barclay). Lokasi yang tingkat kehilangan daunnya tinggi adalah Kabupaten Wajo (20,05 %) sedangkan jenis murbei yang mempunyai tingkat kehilangan daun paling tinggi adalah M. indica S-54 (15,32 %).

40

High Protein Contain of The Ornate Lorikeet (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity) / Indra A.S.L.P. Putri. -- Jurnal
Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III, No.3 ; Halaman 259 270 , 2006

Putri, Indra A.S.L.P. PREFERENSI DAN KONSUMSI PAKAN BERPROTEIN TINGGI PADA BURUNG PERKICI DORA (Trichoglossus ornatus Linne 1758) Diet in Capacity DALAM PENANGKARAN (Preferences and Consumption of

Rahmat, Mamat PELUANG PERBAIKAN POLA AGROFORESTRY DALAM MENJAGA KELESTARIAN TAMAN NASIONAL : KASUS DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT WILAYAH SUMATERA SELATAN / Mamat Rahmat dan Manifas Zubay. -- Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan ; Halaman 85-93 , 2006 Program pemberdayaan masyarakat sudah seringkali dilakukan pada desa penyangga TNKS. Namun kegiatan yang bersifat destruktif masih terus berlangsung. Makalah ini mengulas pola mata pencaharian masyarakat dan interaksinya dengan kawasan TNKS, pola agroforestry yang sudah berlangsung selama ini, serta peluang perbaikan pola agroforestry tersebut dalam rangka menjaga kelestarian kawasan TNKS. Terdapat dua peluang yang keduanya bisa dilaksanakan secara bersamaan. Peluang pertama adalah melalui diversifikasi kebun karet dengan tanaman sela musiman dan tanaman pelapis dari jenis pulai. Kedua adalah dengan cara mengimplementasi model kebun campuran tersebut pada zona pemanfaatan khusus. Kata Kunci: Agroforestry, Taman Nasional, Daerah penyangga, Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Selatan Rachmawati, Ida PENGEMBANGAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas LINN) SEBAGAI ALTERNATIF PENDUKUNG ENERGI BIODISEL / Ida Rachmawati. -- Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera, 2006 ; Halaman 13-19 , 2006 Ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi cukup tinggi menyebabkan kurangnya upaya eksploitasi sumberdaya alam untuk bahan bakar alternatif. Perlu diupayakan segera cara mengatasinya melalui aplikasi kebijakan energi nasional yang mencakup intensifikasi, konservasi, dan diversifikasi energi. Pemanfaatan biodisel merupakan alternatif yang cukup menjanjikan sebagai pengganti minyak disel asal fosil. Penggunaan biodisel mendesak untuk direalisasikan karena selain sebagai solusi menghadapi bahan energi asal fosil pada masa mendatang, juga bersifat ramah lingkungan dan terbarukan. Jarak pagar (Jatropha curcas Linn) sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai

Pakan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan upaya penangkaran burung. Pakan utama burung perkici dora (Trichoglossus ornatus Linne 1758) di habitatnya adalah pollen dan nektar yang mengandung protein tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi dan konsumsi pakan berprotein yang dibuat dari pakan alami yaitu pepaya dan pisang ambon dengan penambahan protein, serta dampak pemberian pakan terhadap berat badan burung Perkici dora. Jenis pakan berprotein yang ditambahkan pada pakan alami adalah telur dengan kadar 10 %, 15 %, dan 20 % dari total pakan yang disajikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square, t-paired sample test, anova satu arah, dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung perkici dora yang dipelihara dalam kandang penangkaran memiliki preferensi dan konsumsi terhadap pakan berprotein tinggi dengan urutan preferensi dan konsumsi pakan adalah pakan alami > pakan berkadar telur 20 % > pakan berkadar telur 10 % > pakan berkadar telur 15 %. Selain itu pemberian pakan berkadar protein tinggi secara signifikan berpengaruh pada kenaikan berat badan burung perkici dora. Kata kunci : Preferensi, konsumsi, protein, pakan, perkici dora, Trichoglossus ornatus Linne 1758

41

bahan baku biodisel. Jarak pagar adalah tanaman yang cepat tumbuh, sangat toleran terhadap iklim tropis, dan jenis tanah sehingga sesuai untuk dikembangkan sebagai tanaman konservasi. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisionil, pupuk, kosmetik, pestisida, dan industri rumah tangga. Pengembangan jarak pagar untuk mendukung biodisel bertujuan untuk mengganti bahan bakar fosil dan memperbaiki polusi udara yang disebabkan oleh emisi dari pembakaran biodisel. Namun perlu dicermati pengembangan penanaman jarak pagar secara monokultur mungkin menimbulkan permasalahan lingkungan seperti keseimbangan daya dukung lahan, kondisi ekonomi, dan kondisi sosial budaya. Perlu dilakukan penelitian berbagai model penanaman secara benar dan terencana secara berkesinambungan. Teknologi ini juga harus diikuti dengan teknologi pengolahan hasil yang dapat dikelola sendiri oleh masyarakat. Kata kunci: Jarak pagar, Jatropha curcas Linn, Biodisel, Konservasi, Energi Rahmayanti, Syofia APLIKASI PUPUK DAUN DAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA ANAKAN JABON (Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s (Leaf Fertilizer and Growth Regulator Application to Anthocephalus chinensis (lamk.) A.Rich. ex Walp.'s Seedling) / Syofia Rahmayanti; Eka Novriyanti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.III, No.1 ; Halaman 95 - 102 , 2006 Pupuk daun dan zat pengatur tumbuh sebagai perlakuan yang diaplikasikan pada anakan jabon (Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp.). Pengujian statistik, menunjukkan perlakuan tersebut berpengaruh nyata hanya sampai dua bulan pertama sejak perlakuan terakhir. Saat itu, perlakuan pupuk daun 2 g/l + zat pengatur tumbuh 2 ml/l menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter yang terbesar, masing-masing dengan nilai 17,87 cm dan 3,16 cm. Perlakuan tersebut berpengaruh nyata dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi anakan jabon tapi tidak berbeda dengan perlakuan zat pengatur tumbuh 3 ml/l dalam meningkatkan pertumbuhan diameternya, yang nilainya 3,06 cm. Kata kunci: Anakan jabon, Anthocephalus chinensis (Lamk.) A.Rich. ex Walp., pupuk daun, zat pengatur tumbuh

Rayan PERLAKUAN MEDIA KECAMBAH TERHADAP BENIH TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) DI PERSEMAIAN BP2KK SAMARINDA. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 240-245 , 2006 Tumbuhan penghasil Gaharu (Aquilaria microcarpa) termasuk suku Thymelaceae bernilai ekonomis tinggi yang selalu diburu dan ditebang orang jika ditemukan pencari gaharu di hutan karena banyak kegunaannya seperti untuk pembuatan parfum, kosmetik dan obat-obatan dan lain-lain. Penelitian dilaksanakan di Persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan dan bertujuan untuk mengetahui media perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu (Aquilaria microcarpa) yang baik. Parameter yang diamati adalah kecepatan berkecambah dan daya kecambah benih. Metoda yang digunakan adalah Rancangan Percobaan Acak Kelompok dengan perlakuan-perlakuan media perkecambahan yaitu : P1 (Media Perkecambahan Pasir) dan P2 (Media Perkecambahan Pasir Campur Kompos (1:1) Hasil penelitian menunjukan bahwa proses perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu jenis Aquilaria microcarpa, mulai berkecambah pada hari ke 7 dan terakhir hari ke 22 dengan rata-rata kecepatan berkecabah selama 14 hari. Sedangkan daya kecambahnya rata-rata 77,67 persen, perkecambahan benih tumbuhan penghasil gaharu dengan pemberian kompos pada media pasir disamping dapat meningkatkan daya perkecambahan juga dapat mempercepat perkecambahannya yaitu penaburan benih pada media pasir rata-rata daya kecambah dan kecepatan berkecambah masing-masing 76.67 persen dan 14.46 hari, sedangkan penaburan di media pasir campur kompos (1:1) masing-masing berturut-turut 78.67 persen dan 13,54 hari. Hal ini disebabkan karena media pasir campur kompos lebih basah/lembab dibandingkan dengan media pasir tanpa kompos dan salah satu syarat perkecambahan diantaranya harus kelembabannya stabil atau tetap terjaga dan setelah diuji secara statistik tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Kata kunci: Gaharu, Aquilaria microcarpa, Media kecambah, Daya kecambah, Kecepatan berkecambah

42

M8 (media topsoil campur bokasi (2:1). Halaman 215 . at Lessproduction Land of Malili. Theobroma cacao Linn. PADA LAHAN KURANG PRODUKTIF DI MALILI. 29. pupuk kandang. serta merupakan komoditi elit dalam kelompok hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomis tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan parfum..C.74 cm)begitu juga dengan pertumbuhan diameternya yaitu cabutan anakan alam yang di sapih pada M9. Halaman 326-333 .III. With Planted Theobroma cacao Linn.43. coklat. -. Menurunnya kandungan bahan organik tanah pada bagian hutan yang telah berubah menjadi lahan HKM yaitu pada lapisan atas 5.Rayan PENGARUH MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN CABUTAN ANAKAN ALAM JENIS TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria microcarpa) / Rayan. Media sapih. Berbeda halnya dengan pemberian Bokasi pada media sapih disamping meningkatkan kesuburan tanah dan juga pemberian pada media subsoil dapat melebihi kesuburan topsoilnya. M2 (media topsoil campur tanah gambut (3:1). Ruben KOMBINASI PERMUDAAN ALAM Agathis dammara (Lambert) L. Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan permudaan alam agatis sebaiknya menggunakan cara penanaman campuran dengan tanaman coklat karena pemupukan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok pada penambahan bahan organik pupuk NPK 100 gram + pupuk kandang 2 kilogam + kapur dolomit 300 gram. Kata kunci : Agathis dammara (Lambert) L. yang dikombinasikan dengan tanaman Theobroma cacao Linn. Aquilaria microcarpa. Bakasi Renden.53 persen asal cabutan anakan alam selama 6 bulan di persemaian. Kata kunci: Gaharu. DENGAN TANAMAN Theobroma cacao Linn.C.7 cm) lebih tinggi dari pada media topsoil (M1. Hasil penelitian penunjukan bahwa Rata-rata pertumbuhan tinggi mencapai 29. Yaitu pertumbuhan tinggi cabutan yang disapih pada media subsoil campur bokasi (M9. karena itu mereka memperlakuan hutan secara tidak bijak tanpa mempertimbangkan kemampuan alam yang ada. antara lain: M1 (media topsoil). dan sub perlakuan adalah kombinasi antara pupuk kandang dengan kapur dolomit. Penelitian dilaksanakan di persemaian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Rich. South Sulawesi) / Ruben Renden. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan permudaan alam Agathis dammara (Lambert) L. 2006 Hutan dijadikan sebagai sumber pemuas kebutuhan dan penghasilan. NPK. 2006 Gaharu adalah gumpalan resin berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum. 0. bahan organik.223 . M10 (media subsoil campur bokasi (2:1). No. M3 (media topsoil campur tanah gambut (2:1). Suhartati.75 cm dengan diameter 0. 32. penelitian ini diulang dengan 3 kali ulangan yang tiap-tiap ulangan terdiri dari 30 benih. Selain itu pula teknik pembukaan lahan dilakukan secara tebas habis lalu dibakar (slash and burn) sehingga kerusakan lapisan topsoil tanah sulit dihindarkan. rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan berbagai media sapih.28 cm tetapi sebaliknya dengan persentase hidup yaitu persentase lebih rendah dengan pertumbuhan yang lebih tinggi. Merryana Kiding Allo.C. Penyediaan paket teknologi sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan jenis andalan setempat melalui penerapan teknik konservasi tanah berupa pemupukan dalam rangka rehabilitasi lahan kurang produktif.C. M4 (media subsoil campur tanah gambut (3:1).93 dan pada lapisan bawah 5. SULAWESI SELATAN (Combining Natural Regeneration of Agathis dammara (Lambert) L. dengan perlakuan utama adalah dosis pupuk NPK. yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika diduga akibat terinfeksi oleh sejenis jamur.28 cm dan persentase hidup mencapai 82. kosmetik. Rich. pemberian Gambut pada media sapih pada umumnya cenderung meningkat tetapi pemberian pada media subsoil belum dapat menyamakan kesuburan topsoilnya. M9 (media subsoil campur bokasi (3:1).Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. pada lahan kurang produktif di Malili. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 .. dolomit 43 . Rich. dan obat-obatan.34 cm dan yang disapih pada M1 adalah 0. Gambut. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah atau Split Plot. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Rich.3 .

2006 Pembalakan liar dan penyelundupan kayu mempunyai hubungan erat. yaitu nilai erosi didekati dengan biaya ganti tanah dan unsur hara yang hilang terbawa erosi.75 m3 dan pada Sabo Dam 8 volumenya sebesar 21. crassipes SOLMS pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh penjajah Belanda pada tahun 1894. Pada saat ini. SULAWESI SELATAN (Quantification of Erosion Economics Value on Jeneberang Sub Watershed.362. Berdasarkan hasil penelitian.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Di Propinsi Papua Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kerugian ekonomi lingkungan akibat erosi secara kuantitatif. penyelundupan kayu. Penanganan E. crassipes SOLMS untuk makanan ternak. Amerika Selatan. Tanaman ini dikenal sebagai "Water hyacinth" (di Eropa dan Amerika) "blue devil" (di Bengal). sosial. South Sulawesi) / Andi Gustiani Salim. Dampak dari kejahatan tersebut dapat mengganggu aspek kehidupan. crassipes SOLMS pada DAS-DAS di propinsi Papua Indonesia ini. bahkan sudah merambah kepada hutan lindung. pupuk biogas.250.193. INDONESIA / Eulis Retnowati. Untuk mengetahui sumber-sumber erosi. Halaman 343 . Pendekatan biaya ganti yang digunakan dimaksudkan untuk memberikan gambaran nilai kerugian secara kuantitatif yang dialami oleh suatu wilayah akibat erosi. 2006 Pada penelitian ini. 2006 Eichhorniae crassipes SOLMS (eceng gondok) adalah tumbuhan air mengambang yang berasal dari Brazil. Di beberapa daerah Aliran Sungai (DAS) di Propinsi Papua Indonesia. Sedimen yang terdapat pada Sabo Dam diukur volumenya. pemberantasan dan penyidikan harus terus menerus secara serius dilaksanakan dan berkas perkara kasus tersebut segera diajukan ke pengadilan dalam waktu relatif singkat. maupun budaya. E.2 .122 . menengah dan tidak menutup kemungkinan untuk bahan baku industri besar. -. diketahui melalui pemodelan AGNPS (Agriculture Non Point Source Pollution Model) sehingga bisa diketahui besarnya kontribusi erosi masing-masing penggunaan lahan. crassipes SOLMS tidak boleh dilakukan secara biologis atau secara kimiawi. Pembalakan liar telah dimulai sejalan dengan pembukaan wilayah hutan oleh HPH. dan pulp. dapat dilakukan dengan cara: (1) memanfaatkan E. sehingga hasil tangkapan dapat dilelang secara cepat dan disetor ke kas negara. Invasif eksotik. maupun hutan konservasi. -. penanganan E. Halaman 117 . dan "German weed" (di Bangladesh). Pembalakan liar tidak saja pada hutan produksi. Seluruh komponen masyarakat harus terlibat dalam penanganan jenis tumbuhan ini. Andi Gustiani KUANTIFIKASI NILAI EKONOMI EROSI DI SUB DAS JENEBERANG.Info Hutan : Vol. Tumbuhan jenis ini menutupi beberapa perairan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 155-161 . Penelitian dilakukan melalui pendekatan volume sedimen yang tertampung dalam Sabo Dam (Sabo Dam diasumsikan sebagai penampung sedimen). pelanggaran hukum Salim.crassipes SOLMS secara mekanis.075. DAS. Eulis PENANGANAN JENIS INVASIF EKSOTIK Eichhorniae crassipes Solms (ECENG GONDOK) PADA BEBERAPA DAS DI PROPINSI PAPUA. Kata Kunci: Enceng gondok. dan (2) memusnahkan E. Kata kunci : Pembalakan liar. Nilai erosi ini dihitung dengan pendekatan biaya ganti (replacement cost). crassipes SOLMS sudah menjadi gulma (jenis invasif eksotik). unsur hara yang terbawa erosi diasumsikan sebagai nilai ekonomi erosi atau nilai kerugian lingkungan. Kamindar MASALAH PEMBALAKAN LIAR DAN PENYELUNDUPAN KAYU DI PROVINSI RIAU (The Issue of Illegal Logging and Log Smugglings in Riau Province)/ Kamindar Ruby. Muhammad Sulaiman.000 m2 dan volume Sabo Dam 102.5 m3 dengan luas catchment 47.crassipes SOLMS harus terpadu dan terkoordinir. No. membuat kertas.356 .III. dan mencemari beberapa smber air. Demikian pula air yang ada pada Sabo Dam dianalisis kandungan unsur haranya. -. Hasil pembalakan liar untuk memasok kebutuhan industri kecil. Laode Asir Tira. diketahui bahwa luas catchment Sabo Dam 6 adalah 74.III. di mana perusahaan yang memegang ijin tersebut menebang di luar blok tebangan. Pemusnahan E. Papua Ruby. Untuk itu. E. Tegalan merupakan penggunaan lahan yang paling besar 44 . kemudian diambil sampelnya untuk dianalisis kandungan unsur haranya. Saluran-saluran irigasi. jenis tumbuhan ini sudah menyebar di seluruh Indonesia.Retnowati. Pembalakan liar dan penyelundupan kayu merupakan kejahatan yang terorganisir termasuk pelanggaran hukum pidana. No.4 .000 m2. baik dalam sektor ekonomi.

083. sosial-ekonomi. pengintegrasian program. ekonomi. yaitu 40. peningkatan daerah resapan. Topografi beragam dari landai sampai curam. penghijauan. No. 10. peningkatan pendapatan dan konservasi danau.678.96). 32. 2006 Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto merupakan salah satu DAS kritis prioritas I berdasarkan SK Menhut No. BUDAYA. Struktur geologi utama adalah sesar normal dan sesar jurus mendatar. konversi hutan menjadi lahan budidaya dan perladangan berpindah. Dalam penelitian ini. tingginya tekanan penduduk. SOSIAL-EKONOMI. tanah. Kerugian akibat erosi yang dihitung dengan pendekatan biaya ganti angkut sebesar Rp 3. dan 30 tahun serta empat petak di lokasi hutan primer yang belum ditebang. budaya dan kelembagaan DAS Limboto serta menentukan alternatif teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) DAS Limboto. Culture. agroforestry. produktivitas hutan kembali tinggi yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah pohon (577 pohon/ha) dan luas bidang dasar (46.5 m2/ha) dan 10 tahun (501 pohon/ha. Untuk mencapai tujuan tersebut disusun alternatif arahan teknik RLKT yaitu : (a) RLKT on site yaitu : reboisasi. tidak dijumpai adanya indikasi perubahan struktur tegakan yang diukur dari sebaran kelas diameter Kata kunci : Hutan hujan tropik. hutan kemasyarakatan. Penelitian dilakukan pada kawasan hutan bekas tebangan milik PT.8 m2/ha). -. terdiri dari masing-masing empat petak di LOA-5. Jenis tanah bervariasi dan didominasi jenis alfisol.202. hutan rakyat.menyumbangkan erosi pada Sabo Dam 6 dan Sabo Dam 8. penguatan kelembagaan. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan pengelolaan DAS Limboto diarahkan pada : Pelestarian fungsi kawasan.6 m2/ha) masih lebih rendah dibandingkan hutan primer. budaya. Halaman 271 . tingginya laju sedimentasi dan pendangkalan Danau Limboto.790 jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 1%/thn dan lebih dari 52% bekerja sebagai petani.-/thn untuk Sabo Dam 8. Jumlah penduduk 575.III. GORONTALO (Characteristic of Hunggul Yudono SHN.Info Hutan : Vol. dan 45 .430. 28.333. kelembagaan. aplikasi teknik konservasi tanah dan air. 2006 Kegiatan eksploitasi hutan produksi di Indonesia telah dilakukan selama lebih dari 30 tahun.3 . Socio-Economics.-/thn Sabo Dam 8.9 m2/ha). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik.3 .576.368. Informasi tentang kondisi hutan terkini terutama luas bidang dasar sangat diperlukan untuk mengetahui produktivitas hutan setelah kegiatan penebangan. mencegah banjir dan kekeringan.280 . Kata kunci : Biofisik. erosi. 45. Penyebab utama luasnya lahan kritis adalah perambahan hutan. sosial-ekonomi. Gorontalo) / Andi Gustiani Salim. penegakan hukum dan perundangan. eksploitasi hutan.6 cm/thn.545. b) RLKT off site : normalisasi sungai. meningkatkan produktivitas. Enik Eko Wati. Hasil yang diperoleh yaitu karakteristik DAS Limboto meliputi bentuk DAS bulat dengan RC rasio mendekati 1(0. No. sehingga tidak berbeda nyata dengan hutan primer (605 pohon/ha. Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing satu hektar.80 ha. Kata kunci : Kuantifikasi. unsur hara Salim. Penggunaan lahan terluas adalah tegalan. -. dan biaya ganti unsur hara sebesar Rp 7. Halaman 159171. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan teknik rehabilitasi lahan yang tepat untuk mengurangi laju degradasi lahan di DAS Limboto.191.307. pola aliran sungai dendritik dan luas DAS 86. Andi Gustiani KARAKTERISTIK BIOFISIK. c) Pengembangan sosial-ekonomi dan kelembagaan : pemberdayaan masyarakat. areal bekas tebangan. sedangkan produktivitas LOA-5 (501 pohon/ha. DAN KELEMBAGAAN DAS LIMBOTO.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. 248/Kpts-II/1999.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 1.-/thn untuk Sabo Dam 6 dan Rp 274. luas bidang dasar Biophysics. Ismayadi DINAMIKA LUAS BIDANG DASAR PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (The Dynamic of Basal Area in Logged-Over Forest in East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin.III. rehabilitasi Samsoedin. Kekritisan ini didasarkan pada luasnya lahan kritis. Inhutani I dan II di Kalimantan Timur. konservasi sempadan sungai/danau. and Institution of the Limboto Watershed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30 tahun setelah eksploitasi.

sedangkan pada LOA-5 didominasi oleh Shorea parvifolia Dyer. Halaman 379 . sedangkan Koompassia malaccensis Maing. serta 4 petak pada hutan primer yang belum ditebang. guna mengetahui kelayakan lahan sekitar hutan untuk kemungkinan pengembangan tanaman pertanian. KALIMANTAN TIMUR (Natural Regeneration in Logged-over Production Forest in Malinau District.5 . 2006 Kegiatan eksploitasi hutan telah diketahui sebagai salah satu penyebab kerusakan hutan hujan tropik di Indonesia. Kata kunci : Hutan hujan tropik. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin. Areal ini memiliki strata tajuk yang lebih rendah dibandingkan LOA-5 dan LOA-10. dengan tingkat kesesuaian lahan yang umumnya marginal 46 . dan LOA-30.3 . ditemukan 802 jenis. dan dominasi permudaan pada hutan bekas tebangan LOA-5.512. Ismayadi PERMUDAAN ALAM HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KABUPATEN MALINAU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian adalah Oxisols. Tidak terjadi perbedaan nyata dalam jumlah individu pancang.4 . Penelitian dilakukan di lokasi hutan hujan tropik Hutan Penelitian Bulungan. Halaman 327 . No. Inhutani I and II in Malinau District. areal bekas tebangan. Inhutani I dan II di Kabupaten Malinau.Samsoedin. 10. Tidak terjadi perbedaan yang nyata dalam jumlah jenis dan individu anakan antara lokasi bekas tebangan dan hutan primer.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. 30 tahun serta hutan primer untuk keperluan analisis dan penilaian. East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Kalimantan Timur ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi permudaan alam (anakan dan pancang) pada hutan bekas tebangan. regenerasi alam Samsoedin. Kalimantan Timur. Penelitian ini dilakukan pada lokasi hutan produksi bekas tebangan milik PT. Pada hutan primer. Untuk pancang. 10. LOA-5 memiliki jumlah yang terbesar yang tidak berbeda nyata dengan LOA-10 dan LOA-30. yang terdiri dari 408 genus dan 111 suku. LOA-10. Ismayadi KESUBURAN TANAH HUTAN HUJAN TROPIK DAN KESESUAIANNYA UNTUK BEBERAPA JENIS TANAMAN PERTANIAN PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Fertility of dan I Wayan Susi Dharmawan. Pohon-pohon menjulang (emergent) pada LOA-10 didominasi oleh Koompassia excelsa (Becc. -.) Taub. dan LOA-30. Penelitian dilaksanakan dengan menghitung jenis. Kesuburan tanahnya rendah sampai dengan sangat rendah untuk produksi tanaman pertanian. 2006 Tropical Rain Forest Soil and Its Suitability for Some Crops in LoggedOver Production Forest of East Kalimantan) / Ismayadi Samsoedin Production Forest of PT.III.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tidak dijumpai adanya pohon menjulang (emergent) pada hutan primer dan LOA-30. Ismayadi KONDISI STRATA TAJUK PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI AREAL KERJA PT.III. dan 30 tahun. -. dominan di strata tajuk paling atas (emergent) pada LOA-5. sedangkan untuk jumlah jenis. dengan Dipterocarpaceae paling dominan dibandingkan dengan suku lain. dan 30 tahun dengan pembanding hutan primer pada ketinggian 100-300 m dpl. strata tajuk atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae.III. Pengetahuan tingkat kesuburan lahan hutan hujan tropik sangat diperlukan dalam mengembangkan tanaman pertanian untuk mendukung kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan. LOA-10. Halaman 505 . 2006 Penelitian yang dilakukan di hutan hujan tropik di Kabupaten Malinau. No. Kalimantan Timur pada hutan bekas tebangan berumur 5.341 . jumlah. Kata kunci : Hutan hujan tropik. -. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi hutan khususnya strata tajuk yang sangat diperlukan untuk mengetahui kerusakan hutan akibat kegiatan penebangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kesuburan tanah hutan pada hutan bekas tebangan berumur 5. Dari hasil penelitian ditemukan anakan sebanyak 1. dan LOA-30 dan membandingkannya dengan hutan primer. KALIMANTAN TIMUR (The Condition of Canopy Strata in Logged-Over Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing 1 hektar. Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh tanah pada lokasi hutan bekas tebangan berumur 5. strata tajuk Samsoedin. LOA-10. guna mengurangi tekanan atau intervensi masyarakat terhadap hutan. dan 65 suku dengan 67 jenis dari suku Dipterocarpaceae.022 jenis. INHUTANI I DAN II DI KABUPATEN MALINAU. 241 genus. terdiri dari 4 petak di LOA-5. Benth. No. areal bekas tebangan.388 . 10. ex.

dan volume kayu antara hutan primer dengan hutan bekas tebangan 5. NI dan Morus sp. panjang cabang. luas bidang dasar.III. Bintarto Wahyu Wardani. Var. No. Sedang untuk parameter jumlah cabang dosis pupuk terbaik untuk kedua varietas murbei adalah 30 g/tanaman. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap Berblok secara faktorial. var. Halaman 1 . Kata kunci : Hutan hujan tropik. Kata kunci : Hutan hujan tropik. dan 40 g/tanaman.5 . tanaman pertanian Samsoedin. AsI). AsI. NI dan Morus sp. sisa kayu pada hutan primer di lokasi penelitian sebesar 67. sisa kayu besar Santoso. -. Morus sp. 30 g. Pada NI dosis pupuk urea sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan kandungan protein 3. Kata kunci: Morus sp. AsI)) (Effectivity of Urea Fertilizer for Growth. Penelitian ini dilakukan pada hutan produksi bekas tebangan di hutan hujan tropik dataran rendah. dan 30 tahun serta 4 petak pada hutan primer sebagai petak kontrol. 2006 Adanya sisa kayu besar pada hutan alam bekas tebangan adalah hal yang tidak bisa dihindari karena sisa kayu dihasilkan secara alami oleh adanya pohon yang mati dan sisa kayu penebangan yang tidak termanfaatkan. 2006 Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili. dan 30 tahun.(S3) atau tidak layak (N). produksi daun.46 %. namun pengaruh peningkatan dosis pupuk urea terhadap peningkatan kandungan protein daun tidak berbeda nyata. sedang pada varietas AsI dosis pupuk terbaik adalah 40 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang 14.1 . NI. NI and Morus sp. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai sisa kayu besar di hutan bekas tebangan dan hutan alam dalam rangka memperbaiki pengelolaan hutan dan menjaga keragaman jenis. DAN KANDUNGAN PROTEIN DAUN MURBEI (Morus sp.14 %. Meskipun tidak berbeda nyata. Hasil ini menunjukkan bahwa lahan hutan produksi dengan ekosistem hutan hujan tropik dataran rendah hanya cocok untuk mendukung kegiatan kehutanan. Sisa kayu besar memiliki peran penting sebagai bahan nutrisi dan hara dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. var. AsI) .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.8 .574. NI and Morus sp. Faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. Halaman 564 .32 %.22 %. Kalimantan Timur. Data dikumpulkan dari 16 petak berukuran masing-masing 1 ha. Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Luwu Timur. Var. NI dan Morus sp. Var. -. AsI). Pemberian pupuk urea pada NI dengan dosis sebesar 30 g/tanaman dapat meningkatkan panjang cabang sebesar 6. Untuk parameter kandungan protein rancangan penelitian menggunakan rancangan Acak Lengkap secara faktorial dengan faktor pertama adalah jenis murbei (Morus sp. sedang faktor kedua adalah dosis pupuk urea yaitu 10 g. kandungan protein daun murbei. Penambahan dosis pupuk urea dapat meningkatkan produksi daun murbei (Morus sp. 10. Ismayadi POTENSI SISA KAYU PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR (Coarse Woody Debris Potential in Logged-Over Production Forest of East Kalimantan / Ismayadi Samsoedin dan/and I Wayan Susi Dharmawan. namun pengaruh perbedaan dosis pupuk terhadap peningkatan produksi daun tidak signifikan. kesesuaian lahan. terdiri dari empat petak untuk tiap perlakuan yaitu petak bekas tebangan berumur 5. tetapi hal ini juga menunjukkan kurang efektifnya pemanfaatan kayu dalam pemanenan hutan. No. Var. PRODUKSI DAUN. Pemberian pupuk urea dengan berbagai dosis dapat meningkatkan kandungan protein daun murbei (Morus sp. 20 g. sedang apabila ditingkatkan dosis pupuknya (40 g/tanaman) kandungan protein menurun menjadi 3. 10. pupuk urea 47 .Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dalam hal jumlah batang untuk sisa kayu berdiri dan rebah. AsI) dan faktor kedua dosis pupuk urea. Var. Budi EFEKTIVITAS PEMUPUKAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN. NI dan Morus sp. AsI)) / Budi Santoso. Leaf Production. Var. and Protein Content for Varieties Mulberry (Morus sp. Var. Var. var. Retno Prayudyaningsih.III. var. var. Var.3 m3/ha atau 2 kali lebih besar daripada hutan primer di Costa Rica. areal bekas tebangan.

. Setiap jenis tanaman murbei di setiap tempat diteliti dalam tiga plot dengan ukuran plot 10 m x 10 m masing-masing dengan 50 tanaman. 0. Pada setiap lokasi dibagi menjadi tiga blok dan setiap blok 48 . No. dengan rancangan acak lengkap secara faktorial.36 g/tanaman). Morus indica S-54 Santoso.05 ppm. Morus nigra Linn. Hasil penelitian ini menunjukkan : 1) konsentrasi NAA 0. Budi KESESUAIAN JENIS MURBEI DAN BIOFISIK DAERAH KERING (Compatibility of Mulberry with Its Soils’s Biophysics at Dry Area of South Sulawesi) / Budi Santoso. No.492 cm) pada tinggi tunas dalam media kultur varietas murbei KI 14.539. Morus sp. and Morus indica S-54 in a Dry Area) / Budi Santoso.III..(232.III. lokasi tempat tumbuh. -. Bintarto Wahyu Wardani. varietas murbei KI 14. dan 1. pendangiran. Halaman 157 164 .41 %). 2) jumlah tunas terbanyak (3 tunas) dicapai pada perlakuan NAA 0. -. -. produksi daun.2 .5 ppm.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.5 ppm) setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. dan fisik serta kimia tanah daerah pengembangan persuteraan alam di Sulawesi Selatan pada musim kemarau. Retno Prayudyaningsih.05 dan BAP 0. Andi Rismawati. multiplikasi. Budi TINGKAT KERONTOKAN DAN PRODUKSI DAUN BEBERAPA JENIS MURBEI (Morus multicaulis Perr. Pelaksanaan penelitian selama tiga bulan antara bulan Maret sampai Mei 2004.III. Tanaman yang masuk dalam plot kemudian dilakukan pemangkasan setinggi 40 cm dari tanah.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. Retno Prayudyaningsih.8 hari. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kesesuaian jenis murbei.5 . Halaman 533 .Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu Lawowoi (Kabupaten Sidrap) dan Sabangparu (Kabupaten Wajo). Budi MULTIPLIKASI TANAMAN MURBEI (Morus sp. Perlakuan ini seragam di setiap lokasi penelitian. kultur jaringan.. Produksi daun dipengaruhi jenis murbei dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. dan Retno Prayudyaningsih. dan 0.. Halaman 119 . Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap tingkat kerontokan daun dan produksi daun. Jenis murbei yang produksi daunnya tertinggi adalah Morus multicaulis Perr. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai tingkat kerontokan terbesar adalah Kabupaten Sidrap (48. Santoso.15 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP (0. pemupukan urea 20 g/tanaman.126 .0 ppm.Santoso. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. sedang lokasi yang tanaman murbeinya mempunyai produksi daun tertinggi adalah Enrekang (229. Morus nigra Linn. Kata kunci : NAA. curah hujan.35 g/tanaman). 2006 Penelitian multiplikasi tanaman murbei varietas KI 14 bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang konsentrasi NAA dan BAP yang optimal pada perbanyakan tanaman murbei varietas KI 14 secara invitro. perbaikan guludan.10 ppm yang terbaik untuk mempercepat terbentuknya tunas yaitu 5.10 ppm. dan interaksi antara jenis murbei dengan lokasi tempat tumbuh. 2006 Penelitian tingkat kerontokan dan produksi daun beberapa jenis murbei di daerah kering ini dilakukan di empat kabupaten yang menjadi sentra utama persuteraan alam di Sulawesi Selatan.5 ppm memberi respon paling tinggi (5. and Morus indica S-54) DI DAERAH BERLAHAN KERING (Percentage of Mulberry Leaf Fall and Leaf Production of Some Mulberry Species Morus multicaulis Perr. Tingkat kerontokan daun dipengaruhi jenis murbei. Jenis murbei yang mempuyai tingkat kerontokan daun terbesar adalah Morus indica S-54 (43.2 . Kata kunci : Tingkat kerontokan daun.49 %). dan 3) kombinasi perlakuan NAA 0.) VARIETAS KI 14 SECARA INVITRO (Invitro Multiplication of Mulberry KI 14 Variety) / Budi Santoso. Faktor pertama adalah konsentrasi NAA (0. 1. No. BAP. Penelitian dilakukan terhadap tiga jenis tanaman murbei berumur lima tahun dalam plot percobaan di lapangan yang ditetapkan secara purposive sampling.05 ppm. dan pelabelan.

Jenis benthos yang mendominasi kawasan perairan adalah Gammarus spp. 10 famili yang dibagi ke dalam Bagridae 18 %. BKPH Indramayu termasuk perairan antara eutrophic dan oligotrophic. dan Chanidae 9 %. Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Indramayu. COD (48. kalsium. kualitas fisik dan kimia air. salinitas (20 mg/l dan 25 mg/l). dan pertambakan berdampak negatif pada kualitas perairan lahan basah. yaitu Sungai Comal dan Sungai Kedung Coet. daerah kering Sawitri. 6 jenis diantaranya dilindungi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status populasi burung merandai di pesisir utara P. yaitu 193.) Jawa mengalami kecenderungan penurunan jumlah jenis maupun populasi sebagai akibat konversi lahan basah.387 mg/l dan 0. sampah rumah tangga.00 g/tanaman di Sidrap.373 mg/l dan 33.III. Pemalang dan S. BKPH Indramayu ditemukan 13 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam 6 famili. Comal. Sedang tanah di Sabbangparu harus dipupuk dengan nitrogen. Habitat burung merandai di Pemalang telah mengindikasikan adanya pencemaran berdasarkan temuan kandungan pestisida di air tambak dan cangkang telur berupa endosulfan dengan konsentrasi di bawah 0. Curah hujan di Lawowoi (Sidrap) dan Sabbangparu (Wajo) rendah. BOD (19. ditemukan 17 jenis burung merandai yang termasuk ke dalam empat famili. konversi lahan. Reny KUALITAS PERAIRAN LAHAN BASAH DI SUNGAI COMAL.193 . Metode yang dipergunakan adalah transect line dengan menyusuri sungai menuju muara sungai. Tanah di Lawowoi layak digunakan untuk budidaya tanaman murbei. Pemalang 49 . Habitat burung merandai sebagai kawasan ekosistem esensial memerlukan pengayaan tanaman mangrove untuk menarik datangnya burung merandai dan memperkaya nutrisi perairan dengan serasah guna peningkatan Wetlands in Comal River.157 . Reny KAJIAN STATUS POPULASI BURUNG MERANDAI DI PANTAI UTARA PULAU JAWA (The Study Population Status of Shorebirds in North Beach of Java Island) / Reny Sawitri. Burung merandai terutama yang termasuk burung migran mengalami penurunan dari tahun 1987-2004 sebesar 5 % per tahun.05 mg/l). Halaman 185 . RPH Cemara. merupakan jenis yang bertoleransi terhadap pencemaran lingkungan. Endang Karlina. Cyprinidae 14 %. curah hujan. dan posfor. jenis benthos dan plankton Sawitri. Kata kunci : Murbei. besi (0.terdiri atas sembilan jenis/varietas murbei. Jawa Tengah. Jawa.0002 ppm dan 0.2 . No. Sedangkan dari jenis plankton. klorida (Cl) (3.III.76 mg/l). Pemalang. sifat fisik dan kimia tanah. Kedung Coet. pertanian. 22 famili. pencemaran habitat sebagai dampak negatif konversi lahan basah menjadi tambak dan populasi ikan yang merupakan persediaan pakan burung serta arahan pengelolaan kawasan lahan basah habitat burung merandai menjadi kawasan ekosistem esensial. sehingga kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman murbei.996 mg/l).34 mg/l dan 6. N/P rasio (77. INDRAMAYU (Riverine Quality of dan Konservasi Alam : Vol. burung penetap dan burung migran di pantai utara Pulau (P. Pemalang and Kedung Coet River.349 mg/l dan 12. RPH Cemara. kualitas air secara fisik maupun kimia di kedua sungai tersebut menurun sebagai akibat dari eksploitasi vegetasi mangrove dan intrusi air laut dilihat dari residu terlarut (10. ikan yang ditemukan 32 jenis. dan di Kedung Coet.5 % dan 436. -. Di Pemalang.117 mg/l). ikan yang ditemukan 10 jenis. kondisi ini masih di bawah ambang batas 0. sulfat (179.12 mg/l).847 mg/l). -.357 mg/l). Terraponidae 9 %.88 mg/l dan 77.67 g/tanaman di Wajo dan 194. Kedung Coet.Info Hutan : Vol.02 mg/l dan 0. kawasan di S.2 . Kata kunci: Lahan basah. pencemaran. No. Gobidae 9 %. kalsium. Halaman 147 . 2006 Burung merandai terbagi dua. eksploitasi sumberdaya alam.Jurnal Penelitian Hutan Pemanfaatan kawasan untuk jaringan pembuangan industri. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang berapa besar pengaruh dari berbagai pemanfaatan kawasan terhadap kualitas air secara fisik maupun kimia dan pengaruhnya terhadap keragaman jenis benthos dan plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. 2006 digolongkan ke dalam perairan eutrophic dan S. RPH Cemara. kesesuaian jenis. PEMALANG DAN SUNGAI KEDUNG COET. Produksi daun tertinggi di Wajo dan Sidrap dihasilkan oleh Morus khunpa K. enam jenis diantaranya dilindungi. Endang Karlina.20 mg/l dan 188. Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Cemara.33 %). dan posfor serta diperbaiki tekstur tanahnya. dan tembaga (0. Parameter yang diamati adalah produktivitas daun. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling pada badan Sungai (S) Comal. Comal. BKPH Indramayu. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa. dan kurangnya persediaan sumber pakan burung. Indramayu) / Reny Sawitri. namun harus ditambahkan pupuk nitrogen. Sedangkan di Kedung Coet.0226 ppm.100 ppm. Di S.

118. dan mekanisme pembiayaan/insentif sangat diperlukan untuk menuju pengelolaan hutan lindung yang lestari.294. -.451 ton atau setara dengan 15. Ladang. dan kontingensi.atau setara dengan Rp 1. kebun campuran. Kedua pendekatan ini menggunakan beberapa metode perhitungan antara lain travel cost. Konsentrasi unsur hara adalah 29. dalam hal ini model AGNPS. No.49 mg/liter untuk N.5 mm maka erosi yang terjadi setara dengan 6. Konsentrasi N dan COD melebihi batas maksimum yang diperbolehkan untuk air minum. Hasil penelitian di sub DAS Wuno pada kejadian hujan 53 mm. dan unsur hara.294 ha atau 25. Partisipasi aktif dan persamaan persepsi antar stakeholder. dan peternakan. perikanan. penerapan sistem agroforestry. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). biaya pengganti.526.4 . Hasil kuantifikasi jasa hutan lindung tersebut dalam satu tahun adalah Rp 116. ekosistem esensial lahan basah Setiawan. erosi yang dihasilkan adaalah 0. pengatur tata air Setiawan.25 mg/liter). harga pasar. adanya dukungan kelembagaan termasuk di dalamnya lembaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jasa hutan lindung DAS Palu sebagai pengatur tata air yaitu jasa pengatur tata air untuk pertanian. Adapun sumber pencemar unsur hara adalah ladang dan kebun campuran. Ryke Nandini. dan 124 mg/liter untuk COD.8 mm.350. Model ini juga mampu menentukan sumber erosi dan pencemar. model AGNPS 50 .13 mg/liter). jasa air untuk konsumsi rumah tangga. aturan. Kata kunci : Kualitas aliran.. erosi. Sedangkan konsentrasi P masih berada di bawah ambang batas maksimum. ikan. Konsentrasi N (1.-/hektar/tahun. No. P (0.III. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan model.765. dan coklat merupakan sumber erosi terbesar. Model AGNPS merupakan model kejadian hujan yang berbasis sel segi empat dengan tiga komponen utama yaitu hidrologi.populasi dan keragaman jenis ikan sebagai sumber pakan burung merandai di alam. DAS Palu sebagai dampak pengelolaan lahan serta informasi untuk menentukan arahan pengelolaan lahan di DAS tersebut.71 ton/ha dengan hasil sedimen 13. 2002). Kata kunci : Hutan lindung. Banyaknya manfaat yang diberikan hutan lindung sebagai pengatur tata air menunjukkan bahwa terdapat banyak stakeholder yang terlibat.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.III. Sumber erosi di sub DAS Wuno adalah ladang. pertanian. Sedangkan untuk kuantifikasi jasa lingkungan yang diberikan hutan lindung dilakukan dua pendekatan yaitu nilai manfaat dan dampak. -.965 ton.400 .335. Pada kejadian hujan 65 mm. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan nilai ekonomi jasa hutan lindung khususnya sebagai pengatur tata air. Arahan pengelolaan lahan untuk kedua sub DAS secara umum adalah penerapan teknik konservasi tanah dan air. dan COD (19 mg/liter) masih ada di bawah ambang batas maksimum yang diperbolehkan untuk semua pemanfaatan air. pengembalian kawasan fungsi lindung. Dalam analisis data untuk mengetahui hasil air sebagai dampak ada atau tidaknya hutan lindung terhadap jasa yang diberikan digunakan pendekatan bilangan kurva (curve number).93 ton/ha/tahun. Ogi KUANTIFIKASI JASA HUTAN LINDUNG SEBAGAI PENGATUR TATA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) PALU (Quantification of Protected Forest as A Stream Regulator at Palu Watershed) / Ogi Setiawan. Ogi KUALITAS ALIRAN SUB DAS WUNO DAN MIU DAS PALU (Discharge Quality of Wuno and Miu Sub Watershed. nilai ekonomi.326 .3 .4 % dari luas total DAS Palu (BAPLAN Kehutanan. dan pengurangan pemakaian pupuk non organik dan diganti dengan pupuk organik. Hunggul Yudono SHN. tingkat erosi di sub DAS Miu adalah 0.41 ton/ha dengan hasil sedimen 7. Bila curah hujan tahunan 1. Halaman 309 . 0. jasa air untuk perikanan. Halaman 389 . Palu Watershed) / Ogi Setiawan. Kata kunci : Burung merandai. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang kualitas aliran sub DAS Wuno dan sub DAS Miu.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.09 mg/liter untuk P. dan jasa proteksi terhadap banjir.53 ton/ha/tahun untuk curah hujan tahunan 978. Penelitian ini dilaksanakan di DAS Palu yang mempunyai hutan lindung seluas 86.

4 . 2006 Penelitian ini dilaksanakan di DAS Rongkong.) / Hengki Siahaan.468 jiwa. Halaman 401 419 . Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi biofisik.Rp 275.-/bulan .000. Halaman 137-146 . yaitu interpretasi peta. Arahan pemantapan pengelolaan DAS Rongkong adalah perbaikan kualitas penggunaan lahan. banyak dijumpai lahan terdegradasi di NTT.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Ryke Nandini. penerapan teknik konservasi tanah dan air serta adanya dukungan institusional. Kualitas kayunya tinggi karena termasuk dalam kelas kuat I dan kelas awet I sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti konstruksi bangunan. Ogi STUDI BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PENGELOLAAN DAS RONGKONG (Study of Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. ekonomi dan budaya DAS Rongkong mempunyai skor nilai 1.et B Setyowati. Ulin. Jembatan.Biophisic and Social Economy of Community for Supporting Rongkong Watershed Management) / Ogi Setiawan. curah hujan rata-rata setahun berkisar antara 710-1. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. 2006 .(et.4 %) dan kebun campuran 44.500 mm dengan hari hujan 50-100 hari. sosial dan ekonomi.000. Eusideroxylon zwager T.839.098.Jurnal Setiawan. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan informasi awal untuk melakukan budidaya dan konservasi jenis ulin.5 ha (23. -. Saat ini akibat eksploitasi ulin yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi kegiatan penanaman telah menjadikan potensi jenis ini semakin berkurang dan jika tidak segera diantisipasi dapat berdampak lebih buruk berupa kelangkaan dan kepunahan. pengamatan lapangan serta wawancara dan studi literatur.III. -. lahan. Halaman 181-185 . pengelolaan DAS. dan kelas lereng didominasi lereng sangat curam (> 40 %). Hengki TEKNIK SILVIKULTUR ULIN (Eusideroxylon zwageri T. Dengan kondisi seperti itu. Jumlah penduduk DAS Rongkong 122. hingga penanaman di lapangan yang dirangkum dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan.5 ha (61.-/bulan. dengan tingkat pendapatan Rp 225. penyumbang aliran permukaan terbesar adalah kebun campuran dan kebun sejenis. Retno PERTUMBUHAN JENIS ANDALAN SETEMPAT UNTUK REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI / Retno Setyowati.96 yang berarti bahwa kondisi DAS Rongkong termasuk sedang.35 mm/tahun. DAS Rongkong mempunyai kelembagaan formal dan informal yang berpotensi untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan DAS.3 ha. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap kegiatan. Tipe iklim DAS Rongkong adalah A (sangat basah). -. Kabupaten Luwu Utara.011. Berdasarkan hasil analisis aliran permukaan. dan bantalan rel kereta api.. No. dan informasi tentang arahan penggunaan lahan di DAS Rongkong.5 %). sosial. pemeliharaan bibit.et B) merupakan salah satu jenis andalan di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan. 2006 Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara klimatologis dimasukkan ke dalam daerah semi arid karena curah hujan yang relatif rendah (sebagian besar tipe iklim E dan F) dan didominasi oleh keadaan vegetasi seperti savana dan stepa. konstruksi dalam air. pembibitan. 2006 Ulin (Eusideroxylon zwager T.al) .01 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi 1. Tulisan ini menyajikan teknik silvikultur ulin yang meliputi aspek perbenihan. arahan penggunaan lahan Siahaan. sosial dan ekonomi masyarakat. jenis tanah dominan podsolik merah kuning (45.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Biofisik.9 %). Untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lahan yang lebih parah maka perlu dilakukan upaya pengendalian yaitu melalui kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi. Kelas KPL yang mendominasi DAS Rongkong adalah KPL IV. Berdasarkan kriteria dan indikator hidrologi. DAS Rongkong mempunyai luas 182. Kata Kunci: Silvikultur.. Nilai KRS mempunyai kecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat erosi 2. Kegiatan rehabilitasi lahan dalam bentuk penghijauan /reboisasi bertujuan untuk memperbaiki lahan yang rusak dan tidak produktif serta mengurangi erosi permukaan dan meningkatkan kondisi hutan ke arah yang 51 .et B. penggunaan lahan DAS Rongkong didominasi hutan campuran 110.

Kayu komersial. kandungan dan manfaat gaharu. Lagerstroemia speciosa Pers.. Dalam makalah ini diuraikan antara lain gambaran umum tumbuhan penghasil gaharu di Kalimantan Timur. promosi. -. Kata kunci: Pohon lokal. jenis penghasil gaharu.. dan Murraya paniculata Jack. tata niaga gaharu. Halaman 93-100 .Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 29-48 . mempelajari beberapa kajian yang menyangkut manfaat gaharu. dan Yusliansyah. teknik pemanenan. Malinau. habitat tempat tumbuh gaharu. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Kelangkaan jenis 52 . teknik penyulingan dengan menggunakan gaharu mutu rendah untuk menghasilkan minyak gaharu.pemungutan dan pengolahan gaharu. iklim. Kata kunci : Rehabilitasi lahan.lebih produktif. NTT Siran. Santalum album Linn. Status penelitian gaharu di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan kalimantan antara lain budidaya meliputi teknik produksi bibit gaharu melalui biji. Siran. Pada pohon penghasil gaharu menggunakan inokulasi padat dan cair. 2006 Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang mempunyai peranan penting untuk meningkatkan devisa negara dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. Kalimantan Timur Siregar. KOMODITI HHBK ANDALAN KALIMANTAN TIMUR / Sulistyo A. Sulistyo A. Dengan adanya teknologi tepat guna rehabilitasi lahan terdegradasi ini diharapkan mampu mempercepat keberhasilan upaya rehabilitasi lahan terdegradasi di NTT.. serta standarisasi produksi gaharu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar hutan. penerbitan publikasi khusus mengenai gaharu. dan stek pucuk. Cordia subcordata Lamk. tata niaga dan klasifikasi mutu gaharu. Pasir... pengelolaan dan standarisasi mutu. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. dan Nunukan. kajian sosial ekonomi masyarakat pencari gaharu dan pemasaran gaharu serta kajian pemanfaatan pohon penghasil gaharu untuk bahan baku MDF dan pensil. GAHARU. HHBK. Mustaid TINJAUAN JENIS-JENIS POHON LOKAL BALI YANG BERPOTENSI DIKEMBANGKAN SEBAGAI KAYU KOMERSIL / MUSTAID SIREGAR. cabutan .Konservasi insitu dan ex-situ pada jenis-jenis gaharu yang ada di kalimantan Timur. monitoring pengembangan gaharu serta sosialisasi dan diseminasi pengembangan gaharu dengan cara penyebaran informasi melalui media cetak dan media elektronik (RRI dan TVRI) dan penyebaran informasi dengan ekspose hasil-hasil penelitian. Kutai barat. Konservasi. Heritiera littoralis Dryand. 2006 Pengembangan jenis-jenis lokal yang sudah sesuai dengan kondisi biofisik wlayah Bali seperti kondisi tanah. NI KADEK EROSI UNDAHARTA DAN HARTUTININGSIH M SIREGAR. Jenis andalan setempat. Kata Kunci: Gaharu. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang pertumbuhan jenis-jenis andalan NTT sebagai bahan pertimbangan dalam rehabilitasi lahan dengan menggunakan berbagai perlakuan media tumbuh di persemaian.) Dub. pembentukan gaharu dengan menginokulasikan Fusarium sp. Mimusops elengi L. status penelitian gaharu dan program penelitian dan pengembangan gaharu.. Ngatiman. Dalbergia latifolia Roxb. pembentukan gaharu. Akan tetapi perlu pertimbangan jenis-jenis yang mendapat prioritas mengingat status konservasinya telah mulai mengalami kelangkaan di alam yaitu Manikara kauki (L. Dysoxylum caulostachyum Miq. dan faktor fisik lainnya akan lebih mudah dikembangkan daripada mengembangkan jenis eksotik lainnya. habitat tempat tumbuh gaharu yang mempelajari mengenai penyebaran jenis gaharu secara alami dan ekologinya.Program penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan mengenai pohon penghasil gaharu meliputi: litbang budidaya gaharu. dan alih teknologi pengembangan gaharu yang dilakukan pada beberapa kabupaten seperti Berau. tata niaga gaharu..

1479 (DBH)2.9445) berdasarkan persamaan DBH-biomasa total.76 g/cc. dan simpanan karbon pada vegetasi baseline-nya sebesar 10. Peningkatan karbon terfiksasi dihitung berdasarkan perbedaan produksi karbon biomasa antara tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline.16 % dan 1.III. (R2 = 0. Sukabumi. Oleh karena itu. Harris Herman MODEL PERSAMAAN ALLOMETRI BIOMASA TOTAL UNTUK ESTIMASI AKUMULASI KARBON PADA TANAMAN PARASERIANTHES FALCATARIA (L) NIELSEN (Total Biomass Allomeric Equation Model For Assessing Accumulated Carbon In Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar.73-0.05 ton karbon/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa.86 g/cc dan 0.9 ton karbon/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 28.24-3. Oleh karena itu.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.929 mm) di Desa Buniwangi.2989.21 %. Kata kunci : Karbon tanah. simpanan karbon tanah kumulatif Carbon Changes Affected ByThe Establishment of Siringoringo. -. Sedangkan biomasa tumbuhan bawah pada tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan baseline diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara persen penutupan tajuk dikalikan dengan tinggi maksimum tumbuhan bawah (UC x UH-max) dan biomasa tumbuhan bawah di atas tanah. Sukabumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan allometri yang dibangun untuk menduga biomasa total tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah 0. West Java / Harris Herman Siringoringo dan/and Chairil Anwar Siregar.0986 (DBH)2H0.9458) berdasarkan persamaan (DBH)2Hbiomasa total. JAWA BARAT (Soil Paraserianthes falcataria (L) Nielsen Plantation In Sukabumi. Halaman 477 .489. pendugaan fiksasi karbon pada tanaman pohon yang dihubungkan dengan isu pemanasan global menjadi penting sebagai bagian dari upaya untuk mengetahui simpanan karbon dalam biomasa. Penelitian dilaksanakan pada jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim B (curah hujan tahunan 2. dan 0. No. Harris Herman PERUBAHAN KANDUNGAN KARBON TANAH PADA TEGAKAN Paraserianthes falcataria (L) Nielsen DI SUKABUMI. Halaman 541 553. kerapatan tanah. Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang dugaan peningkatan simpanan karbon pada biomasa hutan tanaman rakyat jenis Paraserinthes falcataria (L) Nielsen yang disajikan dalam model matematik. yaitu berturut-turut 0. Sedangkan selisih produksi karbon dalam biomasa tumbuhan bawah tegakan Paraserinthes falcataria (L) 53 . kerapatan tanah. Simpanan karbon dalam biomasa tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen hampir 3 kali lebih besar daripada biomasa pada vegetasi baseline-nya. -Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol.929 mm) di desa Buniwangi. Biomasa total Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi baseline-nya diduga dengan menggunakan keeratan hubungan allometri antara DBH dan biomasa total dan atau (DBH)2H dan biomasa total. Karbon tanah pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. yaitu sebesar 59.16 ton/ha secara berurutan.05 ton C/ha (persamaan (DBH)2H-biomasa).52-3. Sementara simpanan karbon tanah kumulatif pada kedalaman 0-30 cm di bawah tegakan P. Tujuan utama penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang perubahan kandungan karbon dengan cara membandingkan kandungan karbon tanah. falcataria dan vegetasi baseline tidak menunjukkan perbedaan.III.5 . Pelabuhan Ratu.83-0.5 .43 ton/ha dan 51. Jawa Barat. falcataria lebih tinggi daripada kerapatan tanah pada vegetasi baseline pada kedalaman 0-30 cm. No. 2006 Pertumbuhan pohon yang ditopang oleh proses fotosintesis dapat mengurangi konsentrasi karbondioksida di atmosfir. dan simpanan karbon tanah kumulatif pada tegakan hutan tanaman Paraserinthes falcataria (L) Nielsen dan vegetasi awalnya (hutan sekunder). Penelitian dilaksanakan pada tipe tanah Latosol Coklat Kemerahan (Ferralsols/Oxisols) dengan kondisi iklim tipe B (curah hujan tahunan 2. yaitu berturut-turut 1. falcataria sedikit lebih tinggi daripada vegetasi baseline walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan. mempelajari perubahan kandungan karbon tanah di bawah tegakan hutan tanaman adalah sangat penting. Sistem tegakan hutan tanaman rakyat jenis P. 2006 Karbon tanah dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Sedangkan kerapatan tanah (BD) pada tegakan P. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan karbon tanah lebih tinggi pada lapisan permukaan tanah dan menurun pada lapisan tanah yang lebih bawah. falcataria belum memberikan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan kandungan karbon tanah dan simpanan karbon tanah kumulatif pada saat tegakan berumur 6-7 tahun. yaitu sebesar 28.8144.Siringoringo. (R2 = 0.96 ton C/ha (persamaan DBH-biomasa) dan 9. Pelabuhan Ratu.

S. S. poros dan dapat mengikat air. biomasa total. Teknik ini mengatur kondisi ideal untuk proses perakaran dari jenis-jenis meranti seperti S. Sampai saat ini sebanyak 24 jenis-jenis indigenous telah dicoba dengan KOFFCO system yaitu Anisoptera marginata.(et. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survey. hal ini menunjukan bahwa tanaman jati dapat dikembangkan di wilayah tertentu dengan kondisi lahan yang mempunyai persyaratan tempat tumbuh (edafis) dan iklim (klimatis) sesuai dengan kriteria kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jati (site-species matching). Alstonia scholaris. Grandiflorus.300 pohon/ha. Kata Kunci: Stek pucuk. Shorea acuminatissima. S. S. S. Sumatera Selatan Subiakto. Sistem ini bekerja secara otomatis bila temperatur dalam rumah kaca mencapai 30 derajat C. H. Hutan tanaman 54 . S. Kaltim. Gonistylus bancanus. Kondisi lingkungan yang diupayakan optimal adalah (1) cahaya antara 5. dan Fragaea fragrans. selanica. balangeran. S. dengan kerapatan tegakan sebesar 1. S. S.al) . dan (4) media yang higienis.000-20. alih teknologi teknik ini sedang dilaksanakan kepada sektor kehutanan di Indonesia. Atok PENGEMBANGAN TEKNOLOGI STEK PUCUK UNTUK HUTAN TANAMAN / Atok Subiakto dan Chikaya Sakai. S.. Kata Kunci: Tanaman jati. nozel. Riau. Kalsel.000 lux. pengukuran pertumbuhan tanaman serta identifikasi kualitas tapak melalui pembuatan profil dan pengambilan contoh tanah untuk analisis kimia tanah pada masing-masing plot yang telah ditentukan. Selanica. Balitbang HTI Banjarbaru. odorata.. Vatica sumatrana. secara berurutan. johorensis. juga dilakukan pengukuran tinggi dan diameter. umur dan pemeliharaan. platyclados. Beberapa plot tanaman jati di wilayah Kabupaten OKI dan Banyuasin mengalami kendala pertumbuhan dan perkembangan tanaman. S.leprosula dan S. dan termostat. S. telah berhasil mengembangkan teknik stek untuk propagasi secara massal jenis-jenis meranti dan pohon indigenous lainnya.06 ton C/ha dan 1. leprosula. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandhis Linn. guisso. seminis. laevis. (2) kelembaban di atas 95 persen. simpanan karbon. Hopea bancana. Teknik yang telah dikembangkan ini dinamakan KOFFCO system akronim dari Komatsu-FORDA Fog Cooling System. S. Jabar. -. Dengan dukungan JICA. dan Loka Litbang HHBK Kuok. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa peningkatan karbon terfiksasi oleh tegakan Paraserinthes falcataria (L) Nielsen adalah sebesar 1819 ton C/ha atau setara dengan 66-70 ton CO2/ha. palembanica. smithiana. Tectona grandhis Linn. ovalis. macrophylla. Balitbang Kehutanan Samarinda. 2006 Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam bekerjasama dengan KOMATSU Ltd.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan. Bogor. Pengembangan jenis eksot di wilayah Sumatera Selatan harus diketahui terlebih dahulu data dasar potensi lahan serta kesesuaiannya menyangkut persyaratan tumbuh jenis yang akan dikembangkan. H. S. Kata kunci : Persamaan allometri. gragaria. Persen beakar bervariasi antara 0 persen sampai 99 persen tergantung jenisnya.9 ton C/ha.. stenoptera. Dyera costulata. D. Halaman 77-83 . Ujicoba produksi stek masal dengan KOFFCO system telah dilaksanakan di P3HKA. Komponen utama sistem ini adalah pompa air. parvifolia. pinanga. javanica. (3) temperatur di bawah 30 derajat C. 2006 Pertumbuhan tanaman jati pada berbagai lokasi di beberapa kabupaten di Sumatera penting untuk diketahui mengingat animo masyarakat pada tanaman jati sangat tinggi namun potensi kesesuaian lahannya belum diketahui. S. sementara di beberapa wilayah Kabupaten OKU tanaman jati tumbuh normal. Kepada para pihak yang berminat memanfaatkan teknologi ini dapat menghubungi Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam di Bogor. S. peningkatan karbon terfiksasi Sofyan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi : Halaman 1-7 . -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . yakni masing-masing sebesar 2.Nielsen dan tumbuhan bawah vegetasi baseline terbukti sangat kecil dan tidak berbeda nyata.

agar pengelolaan taman nasional lebih fokus dan tepat guna. Media tersebut juga dapat untuk perbanyakan bibit bitti secara kultur jaringan. Kata kunci: Danau tiga warna. Biofisik Suhaendi Hendi STRUKTUR DAN TEKNIK PEMELIHARAAN TEGAKAN TINGGAL HUTAN RAWA GAMBUT DI AREAL KERJA HPH PUTRA DUTA INDAH WOOD / Hendi Suhaendi. Taman Nasional Kelimutu.Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.0 ppm GA3. serta komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan planlet tanaman bitti. Rawa gambut. dan pohon 41 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan ampupu (Eucalyptus urophylla). belta 31 jenis didominasi oleh cemara (Casuarina junghuhniana) dan lamtoro (Leucaena leucacephalla). termasuk di dalamnya pohon inti sebanyak 25 batang per hektar yang berdiameter >atau sama dengan 35 cm.Sugiana. Tegakan tinggal. Hasil pengamatan (data primer) dan pengumpulan data sekunder menyatakan bahwa flora yang ditemukan dalam kawasan TN Kelimutu. 2006 Kajian potensi dan biofisik Taman Nasional perlu dilakukan agar data yang diperoleh bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah pengelolaan selanjutnya. Penelitian perbanyakan tanaman bitti secara kultur jaringan. 2005 : Halaman 13-30 . Halaman 165 176 . zat 55 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara sumber eksplan embrio dan 0. No. Oleh karena itu menjadi urgen untuk mengkaji kondisi potensi dan biofisik kawasan. Komposisi media yang terbaik untuk pertumbuhan tunas planlet adalah 1.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Jambi di dalam petak coba seluas 6 hektar terdiri dari 78 batang pohon (13 persen). kalus media kultur. Mariana Takandjandji. Flores.67 persen) Kata kunci: Teknik pemeliharaan.3 persen). Flora.) dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. kultur jaringan. Untuk menjamin adanya produksi kayu perdagangan pada rotasi tebang berikutnya.) SECARA KULTUR JARINGAN (Seedling Cultivation Technique of Bitti (Vitex cofasus Reinw.III. Pemeliharaan tegakan tinggal ditujukan untuk memelihara dan membina pohon-pohon jenis komersial. Halaman 31-43 . -. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. -. Putra Duta Indah Wood Suhartati TEKNIK PEMBIBITAN BITTI (VITEX COFASUS REINW. Sedangkan fauna yang ditemukan terdiri dari jenis aves 20 jenis. pengatur tumbuh. -.. Kayat.0 ppm BAP + 1. penebangan pohon dilakukan pada pohon berdiameter 40 cm ke atas. Agis Nursyam KAJIAN POTENSI DAN BIOFISIK TAMAN NASIONAL KELIMUTU DI PULAU FLORES/ Agis Nursyam Sugiana. dan perlakuan berbagai jenis komposisi media kultur.2 . bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh yang terbaik untuk perkembangan kalus. Potensi. 98 batang tingkat tiang (16. jenis mamalia 9 jenis. Fauna. dan 424 batang tingkat pancang (70. Makassar. tingkat semai sebanyak 42 jenis didominasi oleh kirinyuh (Chromolaena odorata).) by Tissue Culture Methode) / Suhartati. 2006 Pengelolaan hutan rawa gambut dilaksanakan dengan system silvikultur Tebang Pilih Tanaman Indonesia (TPTI). Kata kunci : Bitti. efektif. perlu dilakukan pemeliharaan tegakan tinggal. Komposisi jenis dan tingkat pertumbuhan pohon binaan yang terdapat di tegakan tinggal hutan rawa gambut di kelompok hutan Sungai Kumpeh dan Sungai Air Hitam Laut. dan reptilia 5 jenis. dengan cara menunjuk dan menandai minimal 100 batang per hektar pohon-pohon jenis komersial berdiameter di bawah 40 cm. Seyogyanya Taman Nasional yang telah ditunjuk sudah harus mengetahui potensi dan biofisik kawasannya. Vitex cofassus Reinw.1 ppm NAA menghasilkan perkembangan kalus yang terbaik yaitu 90 %. 2006 Teknik pembibitan bitti (Vitex cofassus Reinw.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi antara sumber eksplan dan jenis zat pengatur tumbuh. dan efisien. sehingga pengelolaannya bisa fokus.

3) Upaya penanggulangan banjir. DAS Noelmina. KPH Sukabumi. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). -Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 163-174 .2 ton/ha. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu. potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. dan galur Dt 15/II/KU mempunyai prospek baik untuk dikembangkan sebagai komoditi tanaman pangan di bawah tegakan pohon hutan dengan sistem tumpangsari. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. dan KPH Banyumas Barat. 2006 Penelitian teknik budidaya padi Gogo di bawah tegakan mangium (Acacia mangium). Selanjutnya informasi ini diharapkan dapat membantu petani sekitar hutan dalam pengadaan tanaman pangan padi gogo tahan naungan secara berkesinambungan melalui sistem tumpangsari. Dengan demikian padi gogo varietas Jatiluhur. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). yaitu DAS Benain. dan berumur genjah di berbagai tegakan hutan tanaman. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk menyampaikan informasi hasil penelitian padi gogo tahan kekeringan. galur TB 177E-TB-28-B-3. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang. DAS Benain. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. dan Khaya (Khaya anthotheca0 telah dilakukan di areal hutan tanaman masing-masing di KPH Bogor. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. Kata Kunci: Budidaya. Halaman 93-102 . NTT. pH tanah rendah. Kata kunci: DAS. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. 42 DAS pada tahun 1998. Tumpangsari 56 . Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. produksi gabah tertinggi adalah padi gogo verietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. DAS Noelmina.Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS).25 ton/ha. 2006 . dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. Jati (Tectona grandis). -. 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. resisten naungan. Hasil uji coba lima varietas/galur padi gogo di bawah tegakan hutan tanaman magium umur 5 tahun dengan intensitas cahaya 68 persen menunjukan bahwa produksi gabah tertinggi adalah padi gogo varietas Jatiluhur dengan rata-rata produksi sebesar 1. Di bawah tegakan hutan tanaman jati umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 64 persen. Dibawah tegakan hutan tanaman khaya umur 3 tahun dengan intensitas cahaya 70 persen produksi gabah tertinggi adalah padi gogo galur Dt 15/II/KU ratarata sebesar 1. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkhinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir)sesuai dengan kewenangan dan hierarkhinya. DAS Aesesa. 2) empat DAS kritis di NTT. dan DAS Kambaniru.2 ton/ha.4 ton/ha dan galur TB 177E-TB-28-B-3 rata-rata sebesar 1. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS.3 ton/ha dan galur Dt 15/II/KU rata-rata sebesar 1. Banjir Sumarhani TEKNIK BUDIDAYA PADI GOGO TAHAN NAUNGAN UNTUK KELANGSUNGAN USAHATANI TUMPANGSARI / Sumarhani.85 ton/ha sedangkan varietas Jatiluhur merupakan terendah dengan rata-rata produksi sebesar 1.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Padi gogo. kemitraan. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.

diameter batang. Vanilla planifolia Andrews Suhaendi. bentuk batang. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. 2005 Salah satu upaya untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan dan juga untuk mangakomodir perubahan paradigma dalam pengelolaan dan pembangunan di bidang kehutanan adalah pengembangan usahatani vanili dengan teknik wanatani (agroforestry). merkusii strain Aceh.Dengan teknik wanatani (agroforestry). dan tinggi total. Nilai persentase berakar tertinggi dicapai oleh media pasir dengan konsentrasi IBA 200 ppm sedangkan berat kering total tertinggi diperoleh pada media serabut kelapa dengan konsentrasi IBA 200 ppm dan rasio teras akar tertinggi dicapai oleh media serabutkelapa dengan konsentrasi IBA 400 ppm. dengan tujuan akhir menentukan sifat-sifat yang perlu dikembangkan dalam pemuliaan pohon untuk tujuan industri. Berdasarkan uji polinomial ortogonal. IBA.serta korelasi genetik dan korelasi fenotipa dari semua pasangan sifat pohon yang dibentuk.776 ppm sedangkan konsentrasi IBA yang optimal untuk berat kering total adalah 2. nilai konsentrasi IBA yang optimal untuk persentase berakar stek adalah 2. Tanaman vanili (Vanila planifolia Andrews) merupakan salah satu komoditi yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di propinsi Nusa Tenggara Barat. dalam populasi Saree. tidak memerlukan tempat tumbuh sendiri karena sifatnya yang selalu memerlukan tanaman panjat sebagai inang.Terciptanya kondisi fisiologis yang optimal serta tepatnya pemilihan bahan tanaman yang digunakan menentukan presentase keberhasilan yang tinggi. Media tumbuh. Hendi POLA PEWARISAN GENETIK SIFAT-SIFAT MORFOLOGI DAN PRODUKSI GETAH PINUS MERKUSII STRAIN ACEH / Hendi Suhaendi. tebal kulit batang. Pengukuran tinggi total.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 175-161 .Suharti. Lima sifat pohon yang dikendalikan secara kuat oleh faktor genetik adalah diameter batang. Stek merupakan salah satu alternatif pembiakan vegetatif untuk mengatasi tidak tersedianya bibit yang baik dalam waktu yang diperlukan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Dengan peningkatan produktivitas hutan. Keberhasilan pertumbuhan stek ditentukan oleh kecepatan terbentuknya akar lateral yang mendorong proses fisiologis berlangsung sempurna. bentuk batang. Seleksi simultan dapat dilakukan terhadap 57 . lahan hutan yang kondisi biofisiknya masih baik maupun yang sudah kurang terpelihara dapat ditingkatkan produktivitas.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman215-222 . Tujuan penelitian ialah menduga nilai heritabilitas luas dari setiap sifat pohon. Stek. pencampuran tanah ikut menentukan perkembangan stek. tinggi bebas cabang. Semua parameter genetika diduga tanpa melalui uji keturunan. 2005 : Halaman 123-131 . Yang dikendalikan secara sedang oleh faktor genetik adalah tinggi bebas cabang. produksi getah. 2006 Penelitian ini dilakukan pada hutan tanaman P. Ragam genetik dan lingkungan diduga menurut metode Shrikhande (1957). Kata kunci: Ekonomi rakyat. Sri PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI BUDIDAYA VANILI (Vanilla planifolia Andrews) PADA KAWASAN HUTAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT / Sri Suharti. harga produk relatif tinggi. tebal kulit batang dan produksi getah kayu di lakukan di lapangan. Dengan diketahuinya pola pewarisan genetik dari berbagai sifat pohon diharapkan akan diketahui tolok ukur untuk seleksi sifatsifat pohon. Heritabilitas luas serta korelasi genetik dan fenotipa berikut peragam-peragamnya diduga menurut metode Sakai dan Hatakeyama (1963).Beberapa keunggulan tanaman vanili antara lain. Eucalyptus Blume Suhaendi. IBA merupakan zat pengatur tumbuh yang sifat kimiawinya stabil dan memiliki rentang konsentrasi yang lebah untuk merangsang perakaran.990 ppm. Aceh. pendapatan masyarakat akan meningkat secara signifikan sehingga selanjutnya akan menurunkan tekanan masyarakat terhadap hutan. -. Vanili.Tulisan ini mencoba menguraikan potensi dan prospek pengembangan budidaya tanaman vanili pada kawasan hutan melalui teknik wanatani di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu sentra produksi vanili di wilayah Indonesia Bagian Tengah. 2006 Salah satu bahan baku penting dalam industri terpadu pulp dan kertas adalah Blume. Kata kunci: deglupta Zat pengatur tumbuh. tahan terhadap naungan. -. -. Penggunaan media tumbuh yang cocok.serta pasar masih terbuka lebar. Hendi PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH "IBA" DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Eucalyptus deglupta Blume / Hendi Suhaendi.

Tanaman inang. Kata kunci: Pinus caribaea Morelet. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi media promosi untuk mempertinggi kemungkinan investasi dalam memajukan pengelolaan hutan alam di TNLW. perbaikan sistem penularan. Tulisan ini bertujuan untuk menghitung dan mengevaluasi besarnya kapasitas biomassa tegakan (aboveground biomass) pada hutan alam TNLW dalam memfiksasi karbon melalui perhitungan biomasa pohon dan karbon. tinggi bebas cabang. Kata kunci: Pinus merkusii. setelah itu ditinggalkan sampai panen. -. Diameter batang yang besar diduga dapat digunakan secara efektif sebagai satu indeks untuk menyeleksi tetua-tetua yang produksi getahnya tinggi. oocarpa dinilai sifat-sifat pertumbuhannya dalam arti tinggi total. Pola budidaya kutu lak yang dilakukan oleh masyarakat NTT umumnya masih sederhana dan belum melalui tahapan budidaya yang standar. Halaman 161-168 . Petani melakukan penularan kutu lak sekali pada pohon inang yang sudah diberi tanda kepemilikan. Kata kunci: Kutu lak.5. dan bentuk batang. Pinus oocarpa Schiede. 2006 Telah dilakukan penelitian peranan hutan Taman Nasional LaiwanggiWanggameti (TNLW) dalam menyimpan karbon. Hendi UJI COBA PROVENANSI INTERNASIONAL Pinus caribaea Morelet DAN Pinus oocarpa Schiede UMUR 13 TAHUN DI INDONESIA / Hendi Suhaendi. Korelasi genetik. dinilai pula dua provenansi lokal Pinus merkusii. 2005 : Halaman 103-110 .5 x 2. 2006 . Seleksi untuk memperbaiki bentuk batang diduga akan memperbaiki pula tinggi bebas cabang dan diameter batang. Hertabilitas. Korelasi fenotipa. Dua belas provenansi P. Penelitian dilakukan di Hutan TNLW. pemeliharaan. Kayat dan Bernadus Ndolu. caribaea dan enam provenansi P. Penularan kutu lak pada pohon inang berikutnya menguntungkan pada tularan alam melalui angin. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pembuatan plot Metode Forest Health Forest Monitoring. Lampung. Marfologi Sujatmoko. Sebagai pembanding.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Nusa Tenggara Timur Sumardi PERANAN HUTAN TAMAN NASIONAL LAIWANGI . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk menilai performans pertumbuhan umur 13 tahun dari provenansi-provenansi Pinus caribaea dan Pinus oocarpa yang tumbuh di Kebun Percobaan Sumberjaya. Data yang didapatkan berupa data tinggi dan diameter digunakan untuk menghitung biomassa karbon dengan menggunakan model Brown dan metode Vademikum Kehutanan. -.WANGGAMETI DALAM MENYIMPAN KARBON/ Sumardi. 2006 Dewasa ini budidaya kutu lak telah menjadi primadona masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kondisinya terus mengalami penurunan produksi yang signifikan.pasangan sifat tinggi total dan bentuk batang.Seleksi untuk peningkatan diameter batang diduga akan menyebabkan peningkatan tebal kulitnya. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. Budidaya. Usaha peningkatan produksi dan kualitas usaha budidaya kutu lak dapat dilakukan melalui perbaikan sistem budidaya dan pemeliharaan tanaman inang. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. -Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Rancangan acak lengkap digunakan dalam tiap-tiap Pinus dengan ukuran petak awal adalah 25 pohon dalam bentuk bujur sangkar dengan jarak tanam 2. Satuan percobaan yang digunakan dalam analisis data adalah sembilan pohon. Sujarwo TEKNIK BUDIDAYA KUTU LAK DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA DI NUSA TENGGARA TIMUR / Sujarwo Sujatmoko. Dengan menggunakan Suhaendi. Provenansi 58 . dan pemanenan tularan kutu lak. diameter batang. 2005 : Halaman 77-85 . Aceh.

Kata kunci: Genetik. Dari informasi yang diperoleh diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengembangan kayu putih pada skala yang lebih besar.Penelitian ini bertujuan untuk evaluasi uji perolehan genetik tanaman kayu putih dari benih unggul.5 ( lebih kurang 77. Masyarakat sebagian besar setuju dengan keberadaan TNBB. monitoring. Kata kunci: Konservasi. wawancara. dan evaluasi terhadap pengelolaan TNBB. di Kabupaten Timor tengah Utara dan Kabupaten Sumba Timur. Opportunities. Data dan informasi yang terkumpul di tabulasi dan dianalisa dengan analisis deskritif dan SWOT (Strengh.9 (lebih kurang 74. Kayu putih. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. namun jika tidak disertai dengan pembinaan dan apabila keberadaan TNBB tidak memberikan peningkatan sosial ekonomi maka kerusakan ekosistem dapat terjadi dengan pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. Weakness.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti Sumardi PENGEMBANGAN DAERAH PENYANGGA SEBAGAI ALTERNATIF PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Sumardi. Upaya peningkatan produktivitasnya tidak terlepas dari pemilihan benih unggul yang menghasilkan tanaman dengan produksi daun dan kandungan minyak yang tinggi. -.Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bali Barat Sumardi EVALUASI UJI PEROLEHAN GENETIK KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi subsp cajuputi) Di Persemaian Sampai Umur 4 Bulan / Sumardi. rata-rata jumlah biomasa karbon yang diserap oleh vegetasi yang berada di dalam kawasan TNLW cukup tinggi yaitu sebesar 197. sehingga keragamannya cenderung kecil. di wilayah NTT. Halaman 121-131 . Hal tersebut kemungkinan karena ketiga famili tersebut merupakan pohon plus sebagai sumber benih yang merupakan hasil seleksi. Daerah penyangga. Penelitian dilakukan dengan melakukan evaluasi pertumbuhan tinggi dan diameter semai kayu putih yang diukur setiap bulan. Taman Nasional. Pertumbuhan tanaman M.9) ton/ha dan 189. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat .Masyarakat sebagian besar menginginkan adanya bentuk keterlibatan dalam perencanaan. dan Threat) yang ditekankan pada fenomena-fenomena yang diakibatkan oleh kegiatan masyarakat. Dari penelitian dihasilkan bahwa ketergantungan masyarakat desa Sumberklampok dan Pejarakan terhadap kawasan TNBB masih relatif tinggi dan bentuk interaksinya meliputi pemungutan hasil hutan non kayu. cajuputi pada tingkat semai sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan persemaian. Penelitian bertujuan untuk mencari formula/strategi yang tepat dalam bentuk kegiatan nyata untuk pengelolaan TNBB berbasis masyarakat. 2006 . Kata kunci: Karbon.metode Brown (1997) dan Vademikum Kehutanan (1976). Biomassa. Pertumbuhan M. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. 2006 Telah dilakukan penelitian pengembangan daerah penyangga sebagai alternatif pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Jenis unggul. pelaksanaan. Melaleuca cajuputi subsp cajuputi 59 . Keterlibatan masyarakat sebenarnya akan memberikan dampak positif bagi TNBB karena masyarakat akan merasa lebih memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberadaan TNBB. Meulaleuca cajuputi merupakan jenis yang menghasilkan minyak kayu putih bernilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan sebagai obat-obatan. penyebaran kuesioner kepada masyarakat daerah penyangga (Sumberklampok dan Pejarakan) dan studi literatur. cajuputi tingkat semai tidak banyak menunjukan keragaman signifikan antar famili . Benih unggul yang digunakan pada penelitian ini berasal dari 3 pohon plus (famili) pada tegakan kebun benih uji keturunan Paliyan. Halaman 3340 . 2006 Telah dilakukan penelitian evaluasi uji perolehan genetik kayu putih (Meulaleuca cajuputi subsp cajuputi) di persemaian sampai umur 4 bulan. kayu bakar serta pemanfaatan lahan.9) ton/ha.

Lokasi Kuafeu terdapat 10 jenis tanaman dengan jenis pohon komersial dominan mahoni (Swietenia mahagoni) sedangkan lokasi Peutana terdapat jenis tanaman murni kemiri (Aluerites molucana) yang sudah berbuah dan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang pernah dipanen penduduk sekitar. di Stasiun Penelitian Bu'at Kecamatan Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.42 persen dan 0. Tekstur.Sumardi PRODUKTIVITAS Gmelina arborea ROXB.7. tanah dan air telah meningkat jumlahnya dari semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi 39 DAS pada tahun 1994. 2006 . Hasil yang diperoleh yaitu: 1) Identifikasi permasalahan DAS atau Sub DAS dapat dilakukan secara langsung (data hidrologi yang diperoleh dari SPAS) dan atau pendugaan (sidik cepat penilaian degradasi sub DAS).15 untuk pH KCI. dengan bentuk unit lahan berbukit sampai bergunung. I (2). Data yang terkumpul di tabulasi dan dilakukan perhitungan riap rata-rata tahunan terhadap tinggi. Di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini empat DASnya masuk dalam kategori Prioritas I. Nusa Tenggara Timur Sumardi STUDI KUALITAS TAPAK BEBERAPA LOKASI DI HUTAN PRODUKSI TERBATAS KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA. DAS Aesesa. namun akhir-akhir ini bencana alam banjir dan tanah longsor intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap tahun di semua kabupaten. 11. DAS Noelmina di Kabupaten Kupang. persentase batuan relatif tinggi.42 persen. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa riap rata-rata tahunan (MAI/diameter=2. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 2. dan DAS Kambaniru. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.33 persen. Bobonaro. 2006 . Kata kunci: Gmelina arborea Roxb. PH tanah berkisar antara 7. DAS Noelmina. Topografi. NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi. Kelas tekstur tanah pada lokasi Peutana adalah liat sampai lempung berpasir.38 untuk pH H2O dan 6. 2006 Telah dilakukan penelitian produktivitas Gmelina arborea Roxb. Walaupun propinsi NTT dikenal sebagai daerah beriklim semi arid (kering). potensi banjir dan atau daerah rawan banjir sebaiknya didasarkan pada sumber penyebabnya serta kesesuaian tata ruang wilayahnya sehingga sasaran 60 .0117 m3. -. Halaman 169176 . Timor Tengah Selatan.08 persen dan 4..07 persen. 0.22 persen. dan DAS Kambaniru secara hidrologis tergolong kritis dengan nilai KRS (Qmks/Qmin)>120. dan 58 DAS pada tahun 2000 dari total 470 DAS. MAI. DAS Aesesa di Kabupaten Ngada. dan DAS Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur. Kandungan bahan organik pada lokasi Peutana yang meliputi lokasi I (1). 2006 Kondisi DAS super prioritas (kritis) yang harus segera direhabilitasi/dikonservasi untuk menyelamatkan sumberdaya hutan. I (2).16 persen. II dan lokasi Kuafeu yang meliputi lokasi III berturut-turut adalah 0. Riap.07-7. dimana secara administrasi DAS Benain terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Balu. Produktivitas.13 cm. KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NUSA TENGGARA TIMUR / Sumardi dan Martinus Lalus.82 persen.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. 3. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Lokasi penelitian memiliki kemiringan >25 derajat. diameter dan volumenya. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran tinggi dan diameter tegakan G. Nusa Tenggara Timur Sukresno PELUANG KEMITRAAN MULTI PIHAK DALAM PEMBANGUNAN BERBASIS DAS DI NTT / Sukresno. DAS Benain. 42 DAS pada tahun 1998.20 m dan MAI-volume=0. yaitu DAS Benain. Timor Tengah Utara. 0. Halaman 119123 . Muhammad Hidayatullah dan Tigor Butar-Butar. -Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Kata kunci: Tapak. 2006 Telah dilakukan penelitian studi kualitas tapak beberapa lokasi di hutan produksi terbatas Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2) empat DAS kritis di NTT. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. MAI-tinggi=1. Arborea umur 6 tahun. bahan organik terbesar terdapat pada lokasi II (Peutana). DAS Noelmina. sedangkan Kuafeu adalah liat lempung berpasir. Dengan pendekatan DAS sebagai unit analisis akan diteliti bagaimana peluang kemitraan multi pihak dalam pembangunan berbasis DAS di NTT khususnya dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah terkait isu bencana banjir dan tanah longsor pada empat DAS kritis di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).3) Upaya penanggulangan banjir.92 . 2006 . Halaman 93-102 . Kandungan N total dari lokasi Peutama yang meliputi lokasi I (1).

T. Labalekan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 918 . lle Mandiri. Dewasa ini populasinya sudah semakin menurun. Lewotobi. Paket teknologi yang telah dihasilkan terutama teknik budidaya klicung yang meliputi teknik perbenihan. Kwangau. I Komang SEBARAN DAN PERTUMBUHAN PENOTIPE TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (Eucalyptus urophylla S. kambisol. Blake) di Flores. Kilawair. urophylla dan E. Nusa Tenggara Barat Surata. termasuk jenis kayu mewah (fancy wood) dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. dan atau satuan lahan) untuk mengetahui sumber-sumber penyebabnya. alba. Labalekan. Kondisi tempat tumbuhnya terdapat di daerah pegunungan mulai dari kaki gunung sampai lereng pada ketinggian 150-980 m dpl. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara telah berupaya untuk menyediakan paket teknologi yang dibutuhkan lewat kegiatan penelitian. dan litosol. dan Kurnaidi. Ilemandiri. Diospyros malabarica Der Kostel. NTT. Banjir Surata. Pada ketinggian di bawah 600 m dpl masih bercampur dengan E.dan implementasi kegiatan yang dilakukan dapat lebih efektif. Kata kunci: DAS.Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan. Ampupu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran alami ampupu di Flores terdapat di Kabupaten Sikka (Egon. Urutan pertumbuhan penotipe pohon plus ampupu dari yang terbaik-terendah adalah: Ile Boleng.T Blake) DI FLORES PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR / I Komang Surata. -. Kata kunci: Klicung. Lewokukun. Sebaran alami. 5) Tindak lanjut analisis permasalahan banjir di DAS Benain. penanaman. Palueh. -. sebaran alami. Di samping itu dalam tulisan ini ditampilkan pula hasil plot uji coba pengembangan budidaya klicung di Rarung Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat serta permasalahannya yang sedang dihadapi yang sangat menentukan dalam menunjang keberhasilan pengembangan. Ile Ape. Kilawair. Natakolin. Nurdini Estikasari. Natakolin. Kata kunci: Eucalyptus urohpylla. Noelmina dan Kabaniru perlu dilakukan pada tingkat yang lebih detail (Sub DAS/Sub Sub DAS. dan Kwale. dan 6) peran dan kewenangan stakeholders terkait dapat dilakukan analisis lebih lanjut untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan. Leworok. Kaliboluk. dan Lewokukun). jenis tanah mediteran haplik. Ile Boleng. dan Hikong). oleh sebab itu dalam pemanfaatannya perlu segera diikuti upaya pelestarian dan penanaman. Palueh. Egon. dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu (Eucalyptus urophylla S. pada tipe iklim E menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Kawale) dan kabupaten Lembata (Ile Kerbau. 4) Dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam suatu DAS/Sub DAS serta rencana penanganan yang sesuai dengan hierarkinya maka dimungkinkan para pihak terkait (stakeholders) berperan aktif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut (misal kasus banjir) sesuai dengan kewenangan dan hierarkinya. Ile kerbau. Hibrid 61 . I Komang DUKUNGAN HASIL LITBANG DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA KLICUNG (Diospyros malabarica Der Kostel) DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT / I Komang Surata. Ile Ape. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara. pembibitan. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. Leworok. Hikong. Kaliboluk. 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. 2006 Klicung (Diospyros malabarica Der Kostel) adalah hasil hutan kayu yang tergolong penting di Provinsi Nusa Tenggara Barat karena merupakan spesies andemik. dukungan teknologi budidaya sangat diperlukan. Penotipe. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka penunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon di masa mendatang. Kabupaten Flores Timur (Lewotobi.Kwangau. kemitraan. Musim panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus akan tetapi semua lokasi yang dieksploitasi berbuah banyak dan seragam. Sumber benih. 2005 : Halaman 87-95 . Budidaya. Untuk mewujudkan upaya keberhasilan penanaman sebagaimana yang diharapkan.

melengkapi sarana dan prasarana rekreasi/pariwisata dan sosialisasi program pengelolan mangrove yang dilakukan pemerintah.66 persen. dan kesiapan teknologi maka hampir sepertiga wilayah di Provinsi Bali memenuhi syarat untuk lokasi penanaman cendana. 2006 Cendana (Santalum album L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal dalam kegiatan pengelolaan mangrove di Prapat-Benoa Bali masih rendah 2. model sumber benih. Hutan rakyat. -.ekonomi masyarakat. Silvikultur intensif Surata. PROVINSI BALI / I Komang Surata. Halaman 133-141 . Halaman 19-31 .) yang dikenal dengan nama melayu sendana dan dalam dunia perdagangan sandalwood memegang peranan yang sangat penting sebagai penghasil kayu kerajinan dan memiliki nilai ritual keagamaan yang cukup tiggi di Provinsi Bali. tidak memberi ijin tukar menukar kawasan dan pinjam pakai mangrove. Pengelolaan. Prapat Benoa. Untuk menjaga kelestarian mangrove beberapa keinginan masyarakat yang perlu menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengatasi permasalahan adalah menjaga keberhasilan sampah dari hulu dan masyarakat di sekitarnya. Partisipasi.34 persen. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengkaji data dan informasi partisipasi dan keinginan masyarakat lokal dalam menangani permasalahan kelestarian mangrove. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . pembuatan jalan lingkar setapak yang menjadi pembatas zonasi mangrove dengan lahan masyarakat yang sekaligus sebagai jalan rekreasi. Penanaman dilakukan di lahan/ladang masyarakat (hutan rakyat) dalam bentuk tanaman jalur atau sisipan. I Komang PROSPEK PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN CENDANA (Santalum album L) DI PROPINSI BALI / I Komang Surata.Surata. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Nilai ritual. Untuk menciptakan kemandirian masyarakat maka dalam penanaman cendana pemerintah pusat/daerah dalam 5 tahun pertama perlu memberikan bantuan bibit dan penyuluhan teknologi penanaman kepada petani peserta penanaman dan selanjutnya di masa mendatang masyarakat diharapkan sudah mampu mandiri untuk melaksanakan program pengembangan budidaya cendana. -. Tindakan yang tidak partisipasif dalam kelestarian mangrove adalah 1. pembentukan regu kebersihan mangrove. Bali 62 .34 persen terutama dalam kegiatan penanaman. I Komang PARTISIPASI DAN KEINGINAN MASYARAKAT LOKAL DALAM MENANGANI PERMASALAHAN HUTAN MANGROVE DI PRAPAT-BENOA. sistem tumpangsari. Kata kunci: Cendana.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Tingkat partisipasi masyarakat untuk manjaga kelestarian mangrove sudah baik yaitu sebesar 98. Dewasa ini tidak ada lagi pasokan bahan baku kayu cendana secara resmi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengingat populasi cendana di daerah ini sudah menurun dan di beberapa tempat sudah hampir punah. Masyarakat lokal.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif survei dari masingmasing desa adat di sekitar mangrove secara purpositive sampling dan juga instansi yang mengelola mangrove. Kata kunci: Hutan mangrove. Model ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan lahan penanaman cendana yang terbatas dan masyarakat dapat berperan secara aktif untuk memelihara dan menjaga keamanan tanaman cendana serta dalam jangka panjang dapat menambah pendapatan masyarakat. Kebutuhan kayu cendana di daerah ini semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan kemajuan pariwisata. Untuk memenuhi kebutuhan kayu cendana di provinsi Bali maka perlu segera dilakukan penanaman. Bedasarkan data biofisik wilayah. sosial budaya. dan kepemilikannya dapat diserahkan ke masyarakat.

dan pertumbuhan penotipe pohon plus tegakan alam ampupu di Pulau Timor. Musim berbunga ampupu terjadi pada bulan Januari-Maret dan panen raya buah terjadi pada bulan Juli-Agustus. Pada umumnya ketidakberhasilan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dalam program social forestry karena program tersebut bersifat topdown.T. Hasil penelitian penunjukan bahwa penyebaran alami ampupu di Pulau Timor Barat terdapat di Kabupaten Kupang. Fatumnasi. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan yaitu merubah pendekatan task-force menjadi get the force melaui kemitraan atau partisipasi aktif masyarakat. dan Kabupaten Belu yang berada di Pegunungan Mutis. 2006 Pada era demokrasi saat ini. Timau. kayu bakar. Jenis ini mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting untuk kayu industri antara lain untuk kontruksi. Leloboko. Halaman 21-31 .T. Pertumbuhan penotipe. BLAKE) DI PULAU TIMOR. arang. Mollo. Pada ketinggian 500-600 m dpl provenan Humau. Nenas. Susbian. Nuafin. Salah satu model social forestry yang saat ini sedang dan sudah dilakukan penelitian untuk menyempurnakan model social forestry sebelumnya adalah menggunakan dua pendekatan sekaligus yaitu kemitraan yang sejajar antara pemerintah dan masyarakat. yang salah satu penyebaran alaminya terdapat di Pulau Timor. dan Lakaan pada ketinggian 500-2. lakaan. Blake) adalah salah satu jenis dari 4 jenis Eucalyptus yang ada di Indonesia. 2006 Ampupu (Eucalyptus urophylla S. PROVINSI NUSA TEMGGARA TIMUR / I Komang Surata. Obaem. Hibrid Suryanto SOCIAL FORESTRY DI KHDTK SEBULU DAN SAMBOJA: SEBUAH MODEL PELIBATAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN BERSAMA PADA KAWASAN HUTAN TERDEGRADASI / Suryanto dan Sulistyo A. urophylla dan E. Fatuneno. Urutan pertumbuhan penotipe terbaik-terendah: Nenbena. Sebaran alami. alba. akan tetapi tidak semua lokasi yang dieksplorasi berbuah banyak dan seragam. -. KHDTK Sebulu. mengelola. Blake. menjaga. Kabupaten Timor Tengah Utara. dan pulp. Bonmuti. Naija Upat. yang pada akhirnya masyarakat menjadi kurang serius dalam pelaksanaannya. dan memanfaatkan hutan. Aesrael. Selain itu keberlangsungan dan keberlanjutan program social forestry yang diikutinya banyak yang tidak jelas. Obaem. Hampir semua lokasi ampupu terancam kerusakan akibat perluasan untuk perladangan.500 m dpl. I Komang EKSPLORASI TEGAKAN ALAM SUMBER BENIH AMPUPU (EUCALYPTUS UROPHYLLA S. Masyarakat hanya ditempatkan sebagai obyek atau pelaksana yang hanya menerima instruksi teknis yang harus dilaksanakan di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi kondisi tempat tumbuh. -. Eucalyptus urophylla S. Wedomo masih bercampur dengan E. Naususu. Tune. Masyarakat harus diajak bersama secara aktif. Wedomo.Surata. Kata kunci: Ampupu. jenis tanah Ustropept. tipe iklim D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Haflustalf. Humau. KHDTK Samboja. Tutem. alba sehingga benih yang dihasilkan hibrid antara E. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Kata kunci: Social forestry. sebaran alami. Kabupaten Timor Tengah Selatan. Oepopo. yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek. Hutan terdegradasi 63 . Siran. pendekatan task-force untuk mengamankan hutan terhadap intervensi masyarakat (perambahan) untuk memenuhi hajat hidupnya banyak mengalami kegagalan.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 87-99 . yang dikenal dengan pola social forestry. Pengelolaan Bersama. Partisipasi masyarakat. dan kedua dengan membuat komitmen bersama dalam menyusun rencana dan program sebagai keinginan dan kebutuhan bersama yang tentunya tidak terlepas pada prinsip pokoknya yaitu melestarikan hutan dan menyejahterakan masyarakat sekitar hutan. Namun demikian pendekatan kemitraan atau social forestry yang dilakukan masih juga mengalami banyak kegagalan. dan illegal logging. kebakaran. 2006 .T. Dystropepts menurut Soil Taxonomi. Data yang dihasilkan berguna dalam rangka menunjang kegiatan penunjukan dan pengelolaan sumber benih serta kegiatan penelitian pemuliaan pohon dalam pembangunan hutan tanaman. Lelobatan.

Suryanto PENELITIAN PENDAHULUAN: HIRARKI PERMASALAHAN DALAM KEBIJAKAN OTONOMI BIDANG KEHUTANAN. -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 247-269 , 2006 Secara komprehensif, terdapat 3 tahapan kegiatan penelitian yang meliputi identifikasi masalah, analisis prioritas dan perumusan multipihak. Penelitian pendahuluan ini terdapat pada tahap identifikasi masalah dengan tujuan mengidentifikasikan semua permasalahan berkenaan dengan kebijakan otonomi bidang kehutanan. Sasaran penelitian pendahuluan ini adalah menganalisa dan mengelompokkan semua permasalahan-permasalahan tersebut kedalam kerangka masalah yang sederhana, mewakili dan tepat dalam sebuah hirarki. Luaran adalah hirarki permasalahan dalam kebijakan otonomi bidang kehutanan. Luaran dari hasil penelitian ini akan digunakan sebagai bahan untuk analisis prioritas dan perumusan multistakeholders. Metode pokok penelitian yang digunakan adalah AHP atau Analytical Hierarchy Process (Proses Analisis Hirarki). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua fokus permasalahan kebijakan, yaitu kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan pemerintah daerah. Permasalahan yang diidentifikasikan dalam fokus kebijakan pemerintah pusat terbentuk dalam 4 hirarki, yaitu fokus, pengaruh, faktor dan bentuk. Pilihan masalah yang perlu pemecahan prioritas dalam hirarki pengaruh terdiri dari 5 pilihan, meliputi kemauan, SDM pembuat kebijakan, latar belakang, SDM penerima kebijakan dan infrastruktur. Dan akhirnya, hirarki bentuk terdiri dari 2 pilihan meliputi kebijakan pusat berkaitan dengan kebijakan makro yang diaplikasikan dalam bentuk kebijakan makro dan mikro oleh pemerintah daerah dan kebijakan pemerintah pusat sudah meliputi kebijakan makro mikro yang diapkilasi oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana. Permasalahan yang terindentifikasi dalam fokus kebijakan pemerintah daerah terbentuk dalam 4 hirarki pengaruh terdiri dari 4 pilihan meliputi peluang kewenangan, sumber hukum, tuntutan dan dikotomi. Dalam hirarki bentuk terdiri dari 3 pilihan meliputi penjabaran, inisiatif sendiri dan kombinasi antar penjabaran dan inisiatif. Dan akhirnya hirarki aktor terdiri dari 3 pilihan kewenangan utuh pemerintah daerah, kewenangan pemerintah daerah di bawah koordinasi koordinator pemerintah propinsi dan kewenangan pemerintah daerah (kabupaten dan propinsi) dibawah koordinasi langsung pemerintah pusat.

Kata kunci: Kebijakan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, permasalahan, AHP, hirarki. Susanty, Farida Herry ANALISIS MODEL PENDUGAAN VOLUME JENIS Acacia mangium, Gmelina arborea DAN Switenia mahagoni DI HUTAN TANAMAN / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama HasilHasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 197-208 , 2006 Plantation inventory for estimation potency of stand needed for quantitative tools as volume prediction models or tree volume table with good validity. Aim of this research to arrange volume prediction models or tree volume table for plantation species in Timber Estate in Kalimantan to increase accuracy of mass or volume stand estimation. Measurement of sample trees using stereoscopis technique for standing tree of Acacia mangium, Gmelina arborea and Swietenia mahagoni of plantation area in Riam Kiwa, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Result of height curve indicated that Acacia mangium there was nonsignificant coorelation between diameter and heigh variable, while Gmelina arborea and Swietenia mahagoni there was significant coorelation (R2>70 persen), thus analysis of volume prediction models could be continued by using two and one variable (tariff). Volume prediction models from this research and some reference show that generally were set up in exponential and logaritmic pattern. Validation of chosen regression equation model base on agregative deviation and mean deviation shows that the equation could be using for tree volume table assesment. Kata kunci: Pendugaan volume, Tinggi, Model, Diameter, Acacia mangium, Gmelina arborea, Switenia mahagoni, Hutan tanaman

64

Susanty, Farida Herry TIPOLOGI EKOLOGI DAN ANALISIS POTENSI TEGAKAN PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR / Farida Herry Susanty [et.al] . -- Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan, Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 ; Halaman 303-316 , 2006 Evaluation of degree of standing stock production potency and ecological effect resulting by harvesting technique which applied in Forest Management Unit (FMU), being one of many important aspect in fulfilling prerequisite Criterion and Indicator for Sustainable Forest Management. This research was aimed to describe the structure and potency of stand in old logged over forest thus examined to SK Menhut No. 8171/Kpts-II/2002 which suitable for forest biophysic condition in East Kalimantan. Data collecting done in PT. Hutan Sanggam Labanan Lestari (PT. HLL) and PT. Gunung Gajah Abadi (PT. GGA) that having different age were 19 and 20 years after logging (LOA 19 and LOA 20), covering:species, diameter, height and tree position in plot.Difference of FMU characteristic base on evaluation of ecological typologi resulting that PT.HLL was sensitive biology-sensitive physic, while PT. GGA was safety biology-sensitive physic. Base on varians analysis there in class diameter. Dominance of species composition for both area were by Dipterocarpaceae. Standing stock by total number of trees on LOA 19 and LOA 20 having higher than criterian having lower potency in class diameter 10-19 cm and 50 cm up. Kata kunci: Struktur, Potensi, Tegakan, Hutan bekas tebangan Susila, I Wayan Widhana UJI COBA JENIS-JENIS INTRODUKSI PADA LAHAN KRITIS DI DALAM KAWASAN HUTAN BATUR DAN BEDEGUL / I Wayan Widhana Susila, Gerson ND Njurumana Felipus Banani. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 33-40 , 2006 Lahan kritis diartikan sebagai lahan yang tanahnya secara potensial tidak mampu berperan dalam salah satu atau beberapa fungsi seperti: 1) unsur produksi, 2) media pengaturan tata air (fungsi hidrologi), dan 3) media

perlindungan alam lingkungan (fungsi orologi) atau lahan yang telah mengalami kerusakan, sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas yang ditentukan atau diharapkan. Luas lahan kritis Provinsi Bali adalah 307.035 ha, terdiri dari 127.706 ha tersebar di dalam kawasan hutan dan 179.329 ha tersebar di luar kawasan hutan. Jenis-jenis yang diujicobakan pada lahan kritis di Kawasan Batur dan Bedugul adalah ampupu(Eucalyptus urophylla), pulai (Alstonia scholaris), cendana (Santalum album), Acacia mangium, majegau (Dysoksilum sp.), gmelina (Gmelina arborea), mahoni (Sweitenia macrophylla), kayu putih (Meulaleuca leucadendron), gaharu (Aquilaria malaccensis), duabanga (Duabanga maluccana), mindi/jeminis (Melia azedarah), dan sengon buto (Enterolobium cyclocarpum). Jenis-jenis tersebut diujicoba melalui uji jenis dan uji produksi (ampupu, kayu putih, kamadulensis, dan duabanga). Hasil evaluasi tanaman umur enam bulan di lapangan dapat diinformasikan sebagai berikut: 1) Sengon buto merupakan jenis introduksi yang cocok pada kondisi lahan kritis di kawasan Batur yang ditunjukan oleh perkembangan pertumbuhan dan persen tumbuh yang tinggi, yaitu riap diameter 1,37 cm, riap tinggi 61,53 cm, persen tumbuh 96,15 persen, dan sampai umur 10 bulan di lapangan persen tumbuhnya 90,16 persen; 2) Jenis kayu putih dan ampupu merupakan jenis yang cukup sesuai untuk dikembangkan di kawasan kritis Batur dan Bedugul; dan 3) Pemberian kompos di Bedugul dan campuran tanah + kompos di Batur pada media tanam belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan persen tumbuh tanaman. Kata kunci: Lahan kritis, Ujicoba jenis, Ujicoba jenis, Kesesuaian tempat tumbuh, Uji produksi Suwandi PERLAKUAN MIKORIZA DAN NPKN PADA PERTUMBUHAN STUMP JATI (Tectona grandis L.f.) (Treatment of Mycorrhizae And NPK on the Growth of Tectona grandis L.f. Stump) / Suwandi; Surtinah; Kamindar Rubby. -- Info Hutan : Vol.III, No.2 ; Halaman 139 - 145 , 2006 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian mikoriza dan NPK terhadap pertumbuhan stump jati (Tectona grandis L.f.). Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalam pola faktorial, yaitu faktor (M1), 3 mikoriza dengan perlakuan 0 g/tanaman (M0), 1,5 g/tanaman g/tanaman (M2), dan 4,5 g/tanaman (M3); kemudian faktor NPK (N) dengan perlakuan 0 g/tanaman (N0), 1 g/tanaman (N1), 2 g/tanaman (N2), 3 g/tanaman

65

(N3), dan 4 g/tanaman (N4), dengan dua ulangan, setiap ulangan terdiri dari empat tanaman. Jumlah 160 tanaman. Parameter yang diukur tinggi tunas, diameter, jumlah daun, lebar daun, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan stump jati. Pemberian NPK berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tunas, diameter, lebar daun, dan panjang akar; sedangkan interaksi mikoriza dan NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, diameter, dan panjang akar. Kata kunci : NPK , mikoriza, Tectona grandis L.f. Takandjandji, Mariana PENANGKARAN RUSA TIMOR OLEH MASYARAKAT / Mariana Takandjandji, Kayat. -- Prosiding Gelar Teknologi dan Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara, 2005 : Halaman 55-76 , 2006 Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 2 sub spesies rusa timor yang potensial untuk ditangkarkan. Potensi ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pemanfaatan rusa di alam. Namun masyarakat belum memanfaatkan secara optimal dan bijaksana. Oleh karena itu aset yang cukup besar potensinya ini perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai suatu usaha sekaligus konservasi. Sampai saat ini sudah ada 3 KK yang telah berhasil menangkarkan rusa, hal ini ditandai dengan rusa yang mereka pelihara telah beranak. Usaha penangkaran rusa cukup menjanjikan sehingga layak untuk dilaksanakan.Kegiatan penangkaran rusa cukup menguntungkan walaupun pada awalnya memerlukan biaya dan investasi yang lebih besar. Usaha ini memerlukan luas lahan yang lebih kecil, akan tetapi dapat memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari ternak-ternak yang sudah dikenal. Kata kunci: Penangkaran, Rusa timor, Aset, Potensi

Takandjandji, Mariana KAJIAN TEKNIK PENANGKARAN PENYU DI BALI / Mariana Takandjandji dan Edy Sutrisno. -- Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal, Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat ; Halaman 111-120 , 2006 Penyu merupakan reptil laut yang menarik karena mampu beradaptasi dengan baik untuk hidup di perairan laut. Di samping itu, penyu bersifat amphibious, di mana dapat menempuh hidup pada dua habitat yang berbeda. Biasanya penyu hidup di perairan laut dangkal kecuali lahir dan bertelur. Untuk mengkaji teknik penangkaran penyu di Bali, perlu diketahui potensi, penyebaran, bio-ekologi penyu dan statusnya serta kebijakan pemerintah terhadap upaya yang telah dilakukan. Namun permasalahan yang muncul dalam kajian tersebut adalah adanya penangkapan penyu yang dilakukan secara besar-besaran sehingga populasi menurun, baik kualitas maupun kuantitas. Pembinaan yang telah dilakukan antara lain melalui upaya perlindungan penyu dari kepunahan. Upaya tersebut ditempuh dengan cara melindungi panyu dari gangguan manusia dengan cara membuat peraturan yang melindungi penyu, dan upaya penambahan populasi penyu melalui penangkaran/budidaya. Kata kunci: Penangkaran, Penyu, Reptil, Amphibious, Bio-ekologi Tira, La Ode Asir KARAKTERISTIK LAHAN BEKAS TAMBANG BATU KAPUR DI KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN (Land Characteristic of Abandoned Lime Stone Mined in Pangkep Regency, South Sulawesi Province) / La Ode Asir Tira dan Eka Multikaningsih. -- Info Hutan : Vol.III, No.3 ; Halaman 219-228 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lahan bekas penambangan batu kapur di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa areal bekas penambangan berupa hamparan terbuka dan bergelombang dengan kemiringan 0-8 %. Penutupan vegetasi sangat sedikit, kurang dari 10 % dengan jenis vegetasi dominan adalah kersen (Muntingia colabura Linn.), akasia (Acacia auriculiformis A.Cunn), krinyu (Eupatorium pallescens DC), rumput jarum (Andropogon aciculatus

66

daun. K-tersedia 3 ppm.Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2005 : Optimalisasi Peran Iptek dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . kearifan dalam bentuk hukum adat ( awig-awig). Tujuan penelitian untuk menguji keefisienan teknik identifikasi berdasarkan sifat morfologi daun dari 51 jenis meranti (Shorea spp.Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam : Vol. atrinervosa Sym. rumput teki (Cyperus sp. Rawa gambut Wardani. sehingga dengan melalui pengetahuan sifat morfologi daun diharapkan dapat membantu mengenal jenis meranti dengan mudah. C-organik 0. I Nyoman POTENSI KELEMBAGAAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA LOKAL UNTUK MENDUKUNG PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI DAERAH BALI / I Nyoman Wardi. Marfu'ah IDENTIFIKASI JENIS MERANTI SUMATERA MELALUI SIFAT MORFOLOGI DAUN (Identification of Meranti Sumatera by Using its Leaves Morphology) / Marfu'ah Wardani.3.3 . Kata kunci : Karakteristik. assamica Dyer. No. -Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. sehingga dalam mengidentifikasi tidak memerlukan pengamatan sifat morfologi bunga dan buah. Pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang sinergi dengan kearifan lokal adalah social forestry. nilai teknologi aturan dan norma hukum adat (awig-awig). Oleh karena itu diperlukan sarana pengenalan 67 .lembaga formal. Kearifan ekologi tercermin dalam berbagai bentuk sistem kepercayaan (religi). P-tersedia 85 ppm.05 %. Sedangkan kendala pengelolaan sumberdaya hutan di Bali adalah: kemiskinan.28 %. Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. Salah satunya berupa kearifan lokal ekologi (lingkungan) yang merupakan bagian dari kearifan budaya. Halaman 1-18 . pada pengalaman lapangan. analog hutan dengan brahman. Kata kunci : Meranti. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. dan tepat. Kemampuan lahan digolongkan ke dalam kelas VIII dengan faktor pembatas utama untuk penggunaan adalah prosentase batuan permukaan (60-80 %). Halaman 281 . S. 2006 Daerah Bali dengan budidaya yang bercorak Hindu dikenal memiliki diversifikasi budaya yang tinggi dengan segala keunikannya.III.). lemahnya koordinasi lintas sektoral. sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai.25 me/100 g. kation Ca 90. desa adat/pakraman). lembaga swasta. kebakaran hutan. cerita mitos. dan kedalaman tanah (<10 cm). faktor batuan singkapan (60-80 %). lahan bekas tambang batu kapur Ulfa. dan nilai budaya tri mandala. 2006 Sebagian besar lahan rawa gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. nama jenis Wardi. tumpek uduh. cepat.).06 me/100 g.296 .186 mm. Halaman 151-155 . Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. wanakerti. 2006 Pengetahuan pengenalan jenis meranti seperti Shorea acuminata Dyer. kation Mg 0. nilai filosofi figur banaspati dan bhoma. Lembaga adat yang terkait dengan pengelolaan hutan di Bali adalah: lembaga adat (subak. N-total 0. -. konflik kepentingan. Kata kunci: Mikoriza. Karakteristik kimia tanahnya adalah sebagai berikut pH (H2O) 8.Retz. dan kation Na 0. karakter morfologi. pencurian kayu. Curah hujan rata-rata tahunan 3. Berbagai bentuk nilai budaya yang diwarisi dan kemudian menjadi landasan etika lingkungan masyarakat Bali untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah: kalpataru. -.09 me/100 g. Daun adalah bagian utama dari pohon meranti yang selalu tersedia. S. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. berdasarkan sifat vegetatif masih terbatas jenis yang mudah dipelajari dan dipraktekkan melalui sifat morfologi daun dan alat vegetatif lainnya.66 me/100 g. KTK 8.) dan alang-alang (Imperata cylindrica Beauv. Hutan tanaman. Penelitian dilakukan dengan menggunakan spesimen herbarium jenis meranti yang tersimpan di herbarium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor.) berasal dari Sumatera.

Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . 2006 Ketergantungan masyarakat tradisional terhadap keberadaan hutan untuk mendukung kehidupan menyebabkan mereka harus menjaga dan mengatur pemanfaatannya agar tetap lestari. Pemasaran hasil kegiatan pembangunan plot hutan rakyat di Desa Semoi Dua belum memberikan hasil dibanding dengan Desa Sumber Sari. Nilai sosial budaya lokal. Kata kunci: Hutan rakyat. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan cara pengaturan masalah pengusahaan dan pemanfaatan tanah dan hutan serta penghormatan mereka terhadap roh-roh penunggu melalui upacara-upacara adat yang masih dijalankan membuktikan bahwa hukum-hukum adat masih ada dan diterapkan oleh Masyarakat Mului. tetapi keberadaan hukum adat berpeluang untuk menjadi salah satu instrument dalam rangka pemberantasan illegal logging. kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu ditinjau dari status kawasan merupakan lahan yang tidak memiliki bukti kepemilikan tanah. Karmilasanti dan Supartini. Partisipasi masyarakat. -. Ekologi Wiati. sehingga kebutuhan masyarakat dan kondisi pedo-klimat wilayah merupakan dua aspek yang penting. -. Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber Sari. Penelitian dilakukan di Desa Semoi Dua. Hutan lindung. Kecamatan Long Kali. Catur Budi KONDISI HUTAN RAKYAT DI SEKITAR KHDTK SAMBOJA DAN SEBULU TAHUN 2005 DALAM KONSTEKS SOSIAL FORESTRY / Catur Budi Wiati. Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kertanegara dengan tujuan untuk mengetahui kondisi hutan rakyat di sekitar KHDTK Samboja dan Sebulu tahun 2005 dalam konteks social forestry. keberadaan hukum adat dan adanya kegiatan illegal logging. di Kabupaten Pasir. Meski pengakuan keberadaan hukum adat masih menemui sejumlah kendala dalam implementasinya di lapangan. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Sebaliknya maraknya penebangan liar yang terjadi di Desa Perkuwin semakin memperkuat bukti bahwa hukum adat dapat berperan dalam pencegahan illegal logging. Selain itu berdasarkan tidak adanya sama sekali kegiatan penebangan liar (illeagl logging) di wilayah adat Masyarakat Mului dan cara mereka dalam menghadapi aksi tersebut mengindikasikan bahwa hukum adat terbukti dapat menjadi salah satu instrument untuk mencegah illegal logging. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Berdasarkan kedekatan dengan hutan lindung. Kearifan lokal. 2006 Pengembangan model hutan rakyat merupakan salah satu dari kebijakan pengembangan social forestry yang ditetapkan Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Dirjen RLPS). Berkaitan dengan hal tersebut. Catur Budi IDENTIFIKASI KEBERADAAN HUKUM ADAT DAN PERANANNYA DALAM PENCEGAHAN ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG GUNUNG LUMUT / Catur Budi Wiati. Untuk itu biasanya masyarakat tradisional yang masih menerapkan hukum adat memasukkan aturan-aturan pemanfaatan hutan dalam hukum-hukum adat.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. KHDTK Samboja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun baru dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2004 sampai 2005. Halaman 287-302 . dua desa yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Kampung Mului. Sosial forestry 68 . Di Desa Semoi Dua plot pembangunan hutan rakyat dilakukan secara monokultur. saat ini Balai Litbang Kehutanan telah membangun plot model hutan rakyat masing-masing seluas 3 hektar dan 3. Illegal logging. hasil penelitian menunjukan bahwa hukum adat hampir tidak ada dan tidak dijalankan lagi pada Masyarakat Perkuwin. Kata kunci: Hukum adat. Terkait dengan permasalahan tersebut kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan hukum adat dan peranannya dalam pencegahan illegal logging dirasakan sangat perlu untuk dilakukan.6 hektar di Desa Semoi Dua.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Model social forestry bersifat spesifik lokal yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Kabupaten Kutai Kertanegara.Kata kunci: Kelembagaan. Dengan cara yang sama. Kecamatan Muara Komam dan Desa Perkuwin. Halaman 173-190 . Gunung Lumut Wiati. Untuk kegiatan plot hutan rakyat bekerjasama dengan Kelompok Tani sebagai mitra dari Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara dan Desa Sumber sari. Propinsi Kalimantan Timur. sedangkan di Desa Sumber Sari dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman palawija.

Asmanah PEMBAGIAN PERAN JENDER DAN DAMPAK KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DI SUKABUMI (Gender Roles Distribution and Impact of Forest Rehabilitation in Sukabumi) / Asmanah Widiarti. karena itu perempuan kurang memperoleh kesempatan untuk menghadiri pertemuanpertemuan. Riau. sistem kontrak Widiarti. kondisi iklim/musim kering yang terjadi.30 . Curahan waktu kerja perempuan dalam kegiatan rehabilitasi adalah sekitar 40 %. Secara teknis. 2006 Dalam rangka mencegah makin memburuknya kondisi hutan dan masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan.Info Hutan : Vol. Kelompok petani yang 69 . Nusa Tenggara Timur.III. -. Dalam rangka pengendalian kebakaran pada padang alang-alang. Dalam pengambilan keputusan. Kata kunci: Hutan kemasyarakatan. namun keputusan tersebut umumnya diambil setelah melalui proses diskusi antara suami dan istri. serta daerah prioritas untuk dilindungi. tentang penyelengaraan hutan kemasyarakatan sebagai bentuk tindak lanjut dari kebijaksanaan tersebut. Selain itu. kegiatan pengendalian kebakaran harus melibatkan masyarakat agar lebih efektif. terdapat perbedaan yang lebih nyata di antara berbagai golongan masyarakat daripada antara laki-laki dan perempuan. Halaman 49 . Persepsi laki-laki dan perempuan terhadap pembagian kerja pada kegiatan rehabilitasi dinilai sudah cukup fair. baik laki-laki maupun perempuan terlibat dalam hampir semua kegiatan. laki-laki memang mempunyai peran lebih besar dibandingkan perempuan. Chiharu Hiyama. Ini menunjukkan perempuan juga mempunyai kekuatan dan pengaruh dalam proses pengambilan keputusan di dalam keluarga. Pelaksanaan proyek pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan sistem kontrak telah memberikan pengalaman baru dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan meningkatkan fungsi hutan. dan sampai saat ini masih dianggap sebagai jenis gulma yang mengganggu. pada tahun anggaran 1998/1999. Indartik. Halaman 1 .III.2 . Kata kunci : Alang-alang. Sulawesi Selatan. penyuluhan dan pelatihan. No. perguruan tinggi. perlakuan untuk meminimkan bahan bakar dan kegiatan pemadaman. 2006 Luas padang alang-alang (Imperata cylindrica L. tidak terkecuali pekerjaan itu sifatnya berat atau ringan. pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan pengelolaan hutan yang berorientasi pada kelestarian hutan dan peningkatan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan yang dituangkan dalam SK Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001.59 . sehingga perlu direhabilitasi agar menjadi kawasan hutan yang lebih produktif. 2006 Dari hasil penelitian aspek jender dan tipologi masyarakat pada kegiatan rehabilitasi hutan menunjukkan bahwa. Sulawesi Tenggara dan Maluku menerima bantuan dari Pemerintah Jepang melalui JBIC/OECF untuk melaksanakan pilot proyek pembangunan hutan kemasyarakatan. Pelaksanaan proyek ini dilakukan dengan sistem kontrak. upaya rehabilitasi areal alang-alang telah dapat dikuasai. Dalam hal dampak kegiatan rehabilitasi hutan. Sulawesi Tengah. No. diperlukan pengetahuan mengenai daerah-daerah yang beresiko tinggi untuk terbakar (daerah penyebab). Raeuschel.Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 207-214 . Terjadi hubungan erat yang saling terkait antara masalah kebakaran dan timbulnya alang-alang. pengendalian kebakaran Wibowo. Perempuan memiliki peran khusus dalam kegiatan rehabilitasi. Imperata cylindrica L. akan tetapi kegagalan reboisasi umumnya disebabkan oleh kebakaran yang sering terjadi pada kawasan yang didominasi oleh alangalang. yaitu pelaksana pekerjaan diserahkan kepada pihak swasta (konsultan dan kontraktor).Info Hutan : Vol.5 juta ha. Ari PADANG ALANG-ALANG DI INDONESIA : KERAWANANNYA TERHADAP KEBAKARAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA (Imperata Grassland in Indonesia : Its Susceptibility to Fire and its Control Efforts) / Ari Wibowo. 10 provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Barat. Namun demikian perempuan memiliki kesempatan yang terbatas di masyarakat. Ari PEMBANGUNAN HUTAN KEMASYARAKATAN DENGAN SISTEM KONTRAK / Ari Wibowo. Contohnya dalam kegiatan yang paling berat seperti pembersihan lahan ternyata dikerjakan oleh laki-laki dengan dibantu perempuan. Meskipun kegiatan ini mengalami banyak hambatan dalam pelaksanaannya.Wibowo. -. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Areal yang didominasi oleh jenis ini dianggap sebagai lahan kritis yang tidak produktif. -. akan tetapi telah memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian hutan. Raeuschel) di Indonesia mencapai 8. Nusa Tenggara Barat.1 . Kegiatan pengendalian lebih ditekankan kepada upaya pencegahan kebakaran. Jambi. Bengkulu.

dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. Asmanah APAKAH KEGIATAN REHABILITASI HUTAN BERSAMA MASYARAKAT MEMBERIKAN MANFAAT KEPADA KAUM MISKIN? : STUDI KASUS DI BKPH PELABUHAN RATU KPH SUKABUMI (Do Forest Rehabilitation Activities Benefit to the Rural Poor? / Asmanah Widiarti. Halaman 101-110 . yaitu pengamanan potensi kawasan. Untuk menghindari dampak negatif pada kelompok marjinal. Halaman 31 . Hal ini mengharuskan TNBB memperhatikan faktor lain di luar batas kawasannya. Bagi kelompok rata-rata miskin biaya tersebut ditunjang oleh berbagai sumber penghasilan. Lokasi penelitian di BKPH Pelabuhan Ratu KPH Sukabumi. Biaya tahun pertama merupakan faktor pembatas kelompok masyarakat sangat miskin untuk berpartisipasi. Secara keseluruhan kegiatan pengelolaan ini sangatlah kompleks karena melibatkan banyak pihak dengan berbagai peran dan kepentingan yang berbeda. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. Eritrina KAJIAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT / Eritrina Windyarini. Informasi PHBM harus didistribusikan secara merata kepada seluruh anggota masyarakat terlebih dahulu sebelum dimulainya program. Pengelolaan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sangat membutuhkan dukungan dan peran serta berbagai pihak guna mengoptimalkan kawasan sesuai dengan fungsinya. manfaat. kaum miskin. koordinasi dan integrasi. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan di bidang kehutanan tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga perempuan. diperlukan mekanisme yang memungkinkan kelompok ini dapat berpartisipasi dalam kegiatan rehabilitasi. No.Info Hutan : Vol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PHBM memiliki kontribusi kecil pada penghasilan keluarga pesertanya. dan observasi. wawancara. Kata kunci : Kegiatan rehabilitasi hutan. TNBB memiliki enam kegiatan pokok pengelolaan. Peserta menganggap PHBM bermanfaat dari segi sosial dan lingkungan. Dengan pengelolaan bersama ini diharapkan kawasan dapat menjadi lebih efisien dan efektif dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. pendidikan. -. kaum marjinal.Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Kehutanan : Melalui IPTEK Kehutanan dan Pemberdayaan Potensi Lokal. Widiarti. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) bermanfaat bagi kaum miskin. Chiharu Hiyama. dampak rehabilitasi tanam perlu dikombinasikan dengan tanaman bernilai komersial dan berproduksi secara rutin. informasi.48 . dan rekreasi. dan tanggungjawab atas suatu kawasan. serta pembangunan sarana dan prasarana yang dalam pelaksanaannya menemui beberapa hambatan dan kekuatan. ilmu pengetahuan. jender. Agar PHBM bisa berkontribusi pada ekonomi rumah tangga peserta secara berkelanjutan. Proporsi bagi hasil kayu seharusnya mempertimbangkan beban peserta dalam upaya rehabilitasi.1 . 2006 Berdasarkan Undang-Undang No. ganti rugi lahan garapan Windyarini.III. Ganti rugi hak lahan garapan dilakukan oleh sekitar 20 % anggota kelompok tani hutan yang umumnya sangat miskin kepada penduduk desa yang lebih mampu. dan memanfaatan secara lestari.Metode yang digunakan adalah studi pustaka. hak. di mana pihak yang berkepentingan setuju untuk saling berbagi peran dalam manajemen. Untuk itu pengembangan TNBB ke depannya diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat serta efisiensi pengelolaan menjamin keberlanjutan sumberdaya alam melalui pengelolaan bersama. Kegiatan PHBM memerlukan biaya cukup besar. pengawetan.tidak memiliki lahan dan tidak ikut program PHBM adalah kaum marjinal yang tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan rehabilitasi hutan dan cenderung mendapat dampak negatifnya. penunjang budidaya. pola 70 . yaitu perlindungan. Keterbatasan utama kaum marjinal ikut berpartisipasi adalah keterbatasan sumber modal dan akses informasi. pariwisata. Pengelolaan bersama ini mengacu pada suatu bentuk kerjasama. Hal ini menyebabkan lahan terlantar. -. Kita Tingkatkan Upaya Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat . Handoyo. Kegiatan yang berlangsung pada bulan Juli-September 2004 ini dimaksudkan untuk mengkaji pengelolaan kawasan TNBB. 51/1990 Taman nasional diartikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Distribusi informasi PHBM kurang merata menyebabkan kesempatan masyarakat menjadi peserta tidak sama sehingga terjadi ketidakadilan distribusi lahan garapan. bahkan ada yang belum ditanami dengan pohon kayu-kayuan dan terjadi kesenjangan ekonomi di antara peserta PHBM.

III.. -. Intensitas serangan pada plot pengamatan mencapai 83. Kata kunci: Konservasi in-situ. yang ditanam untuk keperluan resin damarnya dan Shorea platyclados V. No. Eucalyptus urophylla. Eritrina IDENTIFIKASI DAN PENGENDALIAN AWAL HAMA PENYAKIT PADA AMPUPU (Eucalyptus urophylla) di NTT. Rehabilitasi lahan alang-alang dataran tinggi seperti di daerah Tapanuli (Tanah Karo) disarankan menggunakan jenis Styrax benzoin Dryand. Meski demikian. Halaman 177-182 . hutan tanaman Yafid. serta uji pengendalian awal pada Ampupu. dan di 71 . et V. -. Sumatera Utara. Ampupu. Cratoxylon (geronggang) dan Toona spp. No. Informasi mengenai jenis hama dan penyakit di atas diharapkan mampu menjadi dasar bagi tindak lanjut upaya pengendalian yang lebih spesifik. Penelitian meliputi identifikasi jenis dan penyebab kerusakan.3 .) kemenyan (Styrax benzoin Dryand). 2006 . Bugris PENANAMAN JENIS POHON HUTAN DI SUMATERA DAN KAITANNYA DENGAN PELESTARIAN PLASMA NUTFAH (Forest Tree Plantations in 66 . dan tanaman surian di Sikabu-kabu (Payakumbuh). tanaman meranti di Purbatongah (Purba/Simalungun). Jenis-jenis dipterocarpa yang berhasil ditanam sejak dulu dalam skala kecil adalah Shorea javanica K. sub famili Epilachninae.Kata kunci: Pengelolaan. Penanaman dalam skala luas hendaknya dilaksanakan sehubungan dengan bahaya eksploitasi berlebihan jenis-jenis di dalam habitat aslinya. dan Hopea dryobalanoides Miq. pengukuran intensitas serangan. Tindakan uji pengendalian awal injeksi pestisida (fungisida bahan aktif mankozeb dan insektisida bahan aktif monokrotofos) dengan dosis 5-10 ml/pohon belum memberikan pengaruh yang berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol. Pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab kerusakan yang terjadi pada tegakan alam Ampupu di Kabupaten Belu serta usaha pengendalian awalnya. Kata kunci: Hama penyakit. dan geronggang (Cratoxylum spp.Info Hutan : Vol. Toona spp. Styrax benzoin Dryand (kemenyan). 2006 Sumatera and Their Relation to the Conservation of Plant Genetic Resources) / Bugris Yafid.Sl (banio) jenis dipterokarpa yang berhasil ditanam di daerah tinggi di Simalungun. Halaman 181-185.). secara keseluruhan individu dalam plot mengalami peningkatan kesehatan. Kajian pengelolaan Windyarini. Halaman 61 - Konservasi sumber plasma nutfah sangat diperlukan untuk mengatasi cepatnya perubahan ekosistem yang disebabkan oleh pengrusakan hutan. Bali Barat. konservasi ex-situ. NTT Yafid. Hal ini dapat dicapai melalui konservasi in-situ maupun melalui penanaman (ex-situ). serta menjadi bahan masukan bagi pengelolaan ke depannya.III. -. Tanaman Ampupu yang sudah mati seluas lebih kurang 16 ha dan lebih kurang 15 ha sisanya sedang diserang/menunjukan gejala kematian. (surian). 2006 Laporan Dinas Kehutanan Kabupaten Belu tanggal 17 Februari 2005 menyebutkan terjadinya kerusakan pada Kawasan Hutan Lakaan Mandeu (RTK 187) yang merupakan tegakan alam Eucalyptus urophylla (ampupu) dan Eucalyptus alba.Prosiding Sosialisasi Hasil Litbang Kepada Pengguna : Melalui Riset dan Iptek.3 persen. Bugris BEBERAPA JENIS POHON TAHAN API DAN PENANGKAL ALANG-ALANG (Some resistant Tree Species Suppressing the “Alang-alang”) / Bugris Yafid. 2006 Jenis pohon tahan api dan dapat tumbuh di padang alang-alang antara lain adalah tembesu (Fagraea fragrans Roxb. Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera. Namun yang paling dominan adalah penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Curvularia sp dan serangan-serangan pemakan daun dari Famili Coccinelidae. Hasil pengamatan dan identifikasi menunjukan kerusakan yang penyebab bersifat kompleks.Info Hutan : Vol. blangiran (Shorea balangeran Burck). Penanaman jenis pohon hutan di Sumatera yang telah sejak lama dilaksanakan dan berhasil dengan baik antara lain adalan rasamala (Altingia excelsa Noronha) dan antuang (Manglietia glauca Blume) di Merek dan Tongkoh (Kabanjahe). jenis pohon hutan.2 . Jenis-jenis pohon hutan yang dapat ditanam dan direkomendasikan untuk penghutanan kembali atau untuk penanaman antara lain adalah Fagraea fragrans Roxb (tembesu).

macam penggunaannya.). Halaman 95 .116 . tumbuhan berkayu. tanaman Yeny.81. Styrax benzoin Dryand baik ditumbuhkan di tempat tinggi dengan tanah berpasir. [et al] . Jenis-jenis lain yang dapat tumbuh dan menekan alang-alang. Tuwanwouwi Yuliansyah MENGENAL JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) PENGHASIL BAHAN BAKAR ALTERNATIF YANG TERBARUKAN.97 %) yang masih diperoleh 72 . Jenis ini termasuk pionir tahan api dan tumbuh di tempat terbuka. namun untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan kerusakan lingkungan. khususnya pada daerah-daerah dengan curah hujan < 2000. Dari hasil wawancara dan survey keberadaan jenis diketahui pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi didata 41 jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam sebagai bahan pangan (6 jenis).) adalah tanaman perdu yang telah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman pagar dan tanaman obat. minyak bakar kompor dan bahan pewarna pada bahan katun dan benang. konstruksi (25 jenis) dan obat-obatan (4 jenis). pemanfaatan. Bahan bakar.) tumbuh jauh lebih baik apabila cabang-cabang sampingnya dibebaskan. seringkali ditanam sepanjang pinggir jalan dan sebagai pohon peneduh. Rich. Manokwari) / Irma Yeny . Halaman 191-195 . Secara tradisional benzoin ditanam bersamasama dengan padi. Tembesu (Fagraea fagrans Roxb. (tembesu) dahulu ditanam di sepanjang jalan di daerah Sumatera Selatan. -.C.Info Hutan Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis-jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan oleh Suku Hatam. kemudian minyak kurkas untuk mesin diesel berputaran rendah dan Biodisel. dan Schima wallichii Korth. alat berburu (5 jenis). Fagraea fragrans Roxb. sebagai cover crop. dan sengon/jeunjing (Paraserianthes falcataria Bakh).2 . No. (puspa) dengan Cassia multijuga L. juga ditanam dalam rangka penghutanan kembali karena kayunya termasuk jenis bernilai ekonomi tinggi.Prosiding Seminar Bersama Hasil-Hasil Penelitian Balai Litbang Kehutanan Kalimantan. Fagraea fragrans Roxb. Kata kunci : Identifikasi. Jumlah jenis tertinggi terlihat pada bentuk pemanfaatan bahan bangunan (25 jenis atau 60. Di lain pihak harga BBM naik berlipat ganda. Jatropha curcas L.Tanaman jarak pagar memungkinkan dikembangkan di Kalimantan Timur. Keadaan ini menyadarkan pemerintah dan berbagai pihak untuk mencari bahan bakar alternatif yang lebih murah dan terbarukan. Minyak yang dihasilkan dari biji tanaman tersebut telah pula digunakan masyarakat sebagai minyak lampu. perkakas (9 jenis). Kata kunci: Pohon tahan api. -. 2006 dari kawasan hutan. Hal ini disebabkan kebutuhan tersebut dapat diperoleh dari kebun maupun pasar terdekat.III. Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi sumber energi utama dunia saat ini cadangannya terus berkurang dan diperkirakan tidak lama lagi akan habis. pada tahap awal perlu dilakukan penanaman uji coba pada lahan yang sesuai dengan tanaman tersebut. (tembesu) merupakan tanaman asli Sumatera Selatan. 2006 Jarak pagar (Jatropha curcas L. Pengumpulan data jenis tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan masyarakat Suku Hatam dan berada pada kawasan hutan diklat Tuwanwouwi (6. Hasil yang baik adalah berupa tanaman campuran antara Fagraea fagrans Roxb.). Selain untuk kebutuhan bangunan pemanfaatan jenis tumbuhan berkayu pada hutan diklat Tuwanwouwi sudah relatif berkurang. MANOKWARI (Wood Plants Which : Vol. sarana seni budaya (8 jenis). Kata kunci: Jarak pagar.. mahoni (Swietenia macrophylla King). alang-alang. kayunya termasuk kelas awet I dan kelas kuat II-I dengan Berat Jenis 0. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan minyak nabati yang berasal dari biji jarak pagar.000 ha) dilakukan dengan mewawancara tokoh adat dan melakukan survey keberadaan jenis dengan melakukan peninjauan lapangan.Pusat Penelitian dan Pengembangan hasil Hutan.. bagian yang digunakan serta cara penggunaannya. Bogor telah berhasil mengolah biji jarak menjadi minyak jarak mentah (Crude Jatropha Oil) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor. Balai Litbang Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur dan Loka Litbang Satwa Primata : Samarinda 12 April 2006 . Irma JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKAYU BERMANFAAT BAGI SUKU HATAM DI HUTAN DIKLAT TUWANWOUWI. antara lain adalah puspa (Schima wallichii Korth. Biodisel is Exploited By Hatam Tribe at Diklat (Traning and Education) Tuwanwouwi Forest.dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl dapat digunakan tembesu (Fagraea fragrans Roxb.

2 dan 3 jam diikuti rendaman dingin 1 hari.II. bagian kayu dalam pohon. Uap panas ini dihasilkan dari belanga presto yang dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dua jenis kayu dan ketiga jenis dapat diawetkan masing-masing secara rendaman panas dingin dan sel penuh dengan bagan yang digunakan dalam penelitian ini.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 55-62 . penghematan. jamur. 2006 Keawetan kayu adalah daya tahan suatu jenis kayu terhadap organisme perusak kayu (OPK). Keawetan kayu Indonesia dibagi menjadi 5 kelas yatu kelas awet I. Vakum awal dan akhir 65-70 cm Hg masing-masing 30 dan 15 menit.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 29-41 . CCB.7% kayu tidak awet ditambah kayu gubal kelas awet I dan II sebelum digunakan harus diawetkan terlebih dahulu. termasuk kayu.35 juta m3/tahun atau setara 147. Kata kunci: Mikroteknik botani.000 ha hutan alam yang dapat menekan illegal logging sebesar 20. dan binatang laut penggerek kayu. disalurkan melalui pipa ke permukaan cuplikan. Rendaman panas dengan suhu 65 derajat C selama 1. Abdurrohim.1 . Berdasarkan umur pakai kayu perumahan dan gedung 5 tahun dan 15 tahun masing-masing pada kayu tidak awet yang tidak diawetkan dan diawetkan terlebih dahulu dapat dihitung kayu dan uang yang dapat dihemat serta kesempatan kerja yang dapat tersedia. Sel penuh Andianto RANCANG BANGUN ALAT UNTUK PREPARASI CUPLIKAN KAYU KERAS DALAM STUDI ANATOMI / Andianto . Teknik ini dapat menghasilkan sayatan bidang lintang dengan baik pada cuplikan kayu dengan berat jenis 0.3% tidak perlu disempurnakan melalui pengawetan. Sasa BAGAN PENGAWETAN TIGA JENIS KAYU DENGAN BAHAN PENGAWET CCB SECARA RENDAMAN PANAS DINGIN DI SEL PENUH / Sasa Abdurrohim.III. Tiga jenis kayu ukuran kaso (4x6 cm) sepanjang 30 cm sebanyak 180 contoh uji diawetkan secara rendaman panas dingin dan sel penuh. Bahan cuplikan dilunakkan dalam panci bertekanan selama beberapa jam dengan media campuran gliserin dan air 1:1.12 No. Kata kunci: Keawetan. Setelah itu bahan dijepit dengan pemegang cuplikan pada mikrotom kemudian dilakukan pelunakkan kembali dengan uap panas selama kurang lebih 15 menit sebelum disayat. 2006 Pemahaman mikroteknik botani merupakan suatu dasar untuk penyediaan preparat guna pengamatan struktur mikro organ tumbuhan. Kesulitan sering dijumpai apabila cuplikan kayu yang akan disayat sangat lunak atau sebaliknya sangat keras.. Konsentrasi bahan pengawet tembaga-khrom-boron (CCB) pada kedua proses 5 dan 10 persen .93 atau bahkan mungkin lebih.] . umur pohon. -. Kata kunci: Pengawetan. kecepatan tumbuh dan di mana kayu tersebut digunakan.al.Abdurrohim. 3. -..IV dan V. Penelitian bagan pengawetan secara rendaman panas dingin dan sel penuh perlu dilakukan. Setiap jenis kayu mempunyai keawetan yang berbeda terhadap OPK dan bergantung pada kandungan zat ekstraktif.900 orang. yang hanya 14.[et.2 dan 3 jam. serta tekanan 10 atm selama 1. -. Halaman 15-23 . 2006 Bagan pengawetan setiap jenis bagi kelengkapan spesifikasi pengawetan kayu perumahan dan gedung masih belum lengkap. Ginuk Sumarni dan Jasni. Tulisan ini mengetengahkan teknik pembuatan preparat sayat untuk cuplikan kayu yang keras. Lapangan kerja yang tersedia sekitar 24. penyempurnaan melalui pengawetan. sedangkan 85. Kayu kelas awet I dan II. Uang yang dapat dihemat pada 15 tahun pertama sebesar Rp. Tanpa perlakuan khusus. Sasa SIFAT KEAWETAN KAYU DAN PENYEMPURNAANNYA / Sasa Abdurrohim.Info Hasil Hutan : Vol. Bagan pengawetan ketiga jenis kayu telah disusun.9 trilyun/tahun. Kayu yang dapat dihemat sebesar 7. Anatomi kayu 73 .5%. hasil sayatan mikrotom biasanya sobek atau bahkan hancur. Rendaman panas dingin. berupa serangga.

2006 Pembuatan minyak kemiri dapat dilakukan dengan cara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat.423.448. 6% dan 12%. -. KAK. Halaman 241-250 . bambu Basri.5 . kelayakan teknis dan finansial D. Konsumsi limbah kayu untuk bahan bakar tungku pada setiap periode pengeringan 8 m3. tengah dan ujung batang. Pencegahan kerusakan akibat pewarnaan kayu dapat dilakukan dengan pestisida yang telah diizinkan. Perlakuan proteksi serangan jamur biru dapat meningkatkan mutu kayu dan nilai tambah yang cukup nyata serta dapat mengeliminir limbah pengolahan kayu. Saptadi PEMBUATAN MINYAK KEMIRI DAN PEMURNIANNYA DENGAN ARANG AKTIF DAN BENTONIT (Extraction and Purification of Candlenut Oil with Activated Charcoal and Clay-bentonite) / Saptadi Darmawan. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan finansial dari pemanfaatan mesin pengering tersebut.5 .Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005 : Halaman 43-54 . No.). Oleh karena itu pengetahuan tentang sifat kembang susut dan KAK penting diketahui untuk menjaga mutu produk. Perlakuan pemanasan pada biji kemiri dan daging kemiri sebelum proses pemecahan dan pengepresan serta penggunaan arang secara fisik sudah masak tebang dan dimensinya relatif stabil. 4 dan 5 tahun yang diambil dari bagian pangkal. Kata kunci: Kembang-susut. Untuk mengeringkan sortimen kayu dengan kadar air 50% sampai mencapai kadar air 10% memerlukan waktu rata-rata 13 hari dan menghasilkan rendemen kayu kering sekitar 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu tali umur 4 tahun 40°C . Saefudin. Efrida SIFAT KEMBANG SUSUT DAN KADAR AIR KESEIMBANGAN BAMBU TALI (Gigantochloa apus Kurtz) PADA BERBAGAI UMUR DAN TINGKAT KEKERINGAN (Shringkage-Swelling Properties and Equilibrium Moisture content of Bambu tali (Gigantochloa apus Kurtz) at Various age and Drying Level) / Efrida Basri. MARTONO.50°C. sementara suhu untuk pengeringan kayu jati berkisar antara 45°C . Martono POLA SERANGAN DAN CARA PENCEGAHAN JAMUR BIRU / D. jamur biru sebagai organisme perusak dan cara pencegahannya. 2006 Proses kembang susut berlangsung selama kadar air bambu belum mencapai kadar air keseimbangan (KAK) dengan lingkungannya. Halaman 437 . -. 2006 Telah dilakukan uji coba teknis dan finansial terhadap mesin pengeringan kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku tipe SC+TI untuk kapasitas ± 19 m3 di salah satu industri/pengrajin kayu di Ngaringan. No. Perlakuan kadar air untuk pengujian sifat kembang susut dan KAK adalah 0%.3 . dan tekstur dapat terjaga. Keawetan kayu Darmawan. Kata kunci: Jamur biru. 2006 Perubahan sumber asal bahan baku kayu perlu diikuti informasi sifat dasar kayu.70°C. tungku tipe I.24. Kata kunci: Mesin pengering. Pengeringan menggunakan metode oven pada suhu 60o C. Pencegahan kerusakan dalam proteksi disesuaikan perubahan sistem pengangkutan dan pengolahan kayu. Penelitian dilakukan pada bambu tali {Gigantochloa apus Kurts) umut 3. tingkat kekeringan. Uji coba dilakukan terhadap kayu jati (Tectona grandis L. Halaman 413 . yang didasari pengetahuan bioteknologi jamur biru. umur.24. Hasil uji coba menunjukan suhu ratarata harian dari panas surya yang diterima ruang pengering berkisar antara 74 .f.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Grobogan. sifat keawetan alami. jati.24 No. Jawa Tengah. Organisme perusak. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. gambar.Basri. Kebutuhan panas pengeringan di siang hari diperoleh dari tenaga surya dan di malam hari atau tergantung kebutuhan diperoleh dari tungku pembakaran dengan bahan bakar biomas/limbah kayu dari penggergajian sendiri. Efrida UJI COBA MESIN PENGERING KAYU KOMBINASI TENAGA SURYA DAN PANAS DARI TUNGKU TIPE I (Trial on Wood-drying Machine Powered by the Combined Solar Energy and Type-1 Heating-Stove) / Efrida Basri & Achmad Supriadi. Pengeringan bambu tali sampai ke kadar air 6% menghasilkan KAK pada level sekitar 9%. sehingga jenis-jenis kayu untuk mebeler dari kayu yang berwarna cerah. limbah kayu. tenaga surya. -.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.

Rata-rata produktivitasnya berturut-turut adalah 18. Kata kunci: Hutan tanaman. bongkar adalah Rp 12. biaya Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PERALATAN PEMANENAN HUTAN TANAMAN: STUDI KASUS DI PT MUSI HUTAN PERSADA.040-0. Djaban Tinambunan. P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of West Pekalongan Forest District) / Dulsalam. sedangkan untuk Volvo kedua besaran tersebut berturut-turut adalah Rp 6. 5. Diameter kayu yang dikeluarkan berkisar antara 20 .527 . produktivitas. biaya pengeluaran kayu dan berbagai aspek operasional sistem kabel layang tersebut. mengetahui pengaruh pemanasan daging kemiri terhadap rendemen dan warna minyak yang dihasilkannya dan 2).1 . sedangkan -. Pemuatan dan bongkar kayu digunakan alat merek Hitachi dan Volvo dengan rata-rata produk-tivitas masing-rnasing sebesar 70 m3/jam untuk muat dan 34 m3/jam untuk bongkar muatan.51 cm dengan rata-rata 36 cm. jumlah batang yang disarad per satu tahap operasi 75 . Alat penebangan yang digunakan adalah chainsaw (gergaji rantai) berukuran kecil merek Husqvarna dengan rata-rata produktivitas sebesar 2.24.334/m3. Pengoperasian kabel layang P3HH24 untuk mengeluarkan kayu di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat dapat berjalan lancar. rata-rata biaya muat adalah Rp 6.25 m3/jam dan 21. bilangan iod dan bilangan asam. Untuk pengeluaran kayu pada areal yang mempunyai kelerengan 15% ke atas. Minyak kemiri yang dihasilkan dari kondisi terbaik (penyangraian selama 1.24 No. disarankan untuk menggunakan sistem kabel layang P3HH24. 1. South Sumatera) / Dulsalam. Halaman 251-266 .200/m3 dan Rp 12. No.14 m3/jam dan biaya sebesar Rp 15. pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 jauh lebih murah sehingga layak diusahakan. Kata kunci : Minyak kemiri.163m3/rit. penyangraian (7. pemurnian.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 2006 Dulsalam PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PENGELUARAN KAYU DARI HUTAN TANAMAN DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH 24 DI KPH PEKALONGAN BARAT (Productivity and Cost of Log Extraction Using Penelitian produktivitas dan biaya pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 telah dilakukan di hutan tanaman KPH Pekalongan Barat pada tahun 2002.764/ m3.25 m3/jam dengan rata-rata biaya berturutturut sebesar Rp39. Untuk Hitachi. sedangkan biaya rata-rata pengeluaran kayu adalah Rp 15.155/m3 . mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan pemucat (arang aktif dan bentonit) terhadap sifat fisiko-kimia minyak kemiri. Halaman 77 . Pembuatan minyak dilakukan dengan cara kempa hidraulik pada suhu 60oC.656 m3 /jam dengan rata-rata 2. arang aktif.5 dan 17. (rit) berkisar antara 1-3 batang dengan volume berkisar antara 0. Penyaradan dilakukan dengan menggunakan forwarder merek Timberjack G10 dan Timberjack 101 0B. Hasilnya menunjukkan bahwa: 1.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.852/m3 dan Rp 79. 12. sistem kabel layang P3HH24. Tujuanya untuk mendapatkan informasi tentang produktivitas.713/m3 . Sumatera Selatan telah dilakukan untuk mendapatkan informasi produktivitas dan biaya peralatan pemanenan hutan tanaman yang tepat guna dan ramah lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1.88 . SUMATERA SELATAN (Productivity and Cost of Harvesting Equipment in Forest Plantation: Case Study on PT Musi Hutan Persada.5 jam) kemudian dimurnikan menggunakan arang aktif dan bentonit pada konsentrasi 2%. 2. 3.aktif dan bentonit pada tahap pemurnian minyak kemiri akan mempengaruhi kualitas minyak. 2006 Penelitian peralatan pemanenan di hutan tanaman PT Musi Hutan Persada.5. bentonit dan kualitas fisiko-kimia minyak kemiri. Produktivitas pengeluaran kayu berkisar antara 1.254/m3.3 .5 dan 2 jam) dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi terbaik dalam pembuatan minyak kemiri dilihat dari rendemen dan warna minyaknya. Penggunaan arang aktif sebesar 2% menghasilkan sifat fisiko-kimia minyak kemiri yang optimum dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia untuk indeks bias. 4. 2.519 m3 /jam. Pemanasan pada biji kemiri berupa penjemuran (3. Penelitian ini bertujuan untuk 1).5 menit) dan pengovenan pada suhu 60oC (1.. Dibandingkan dengan upah pengeluaran kayu setempat. Djaban Tinambunan. -. 4 dan 5 jam). berat jenis.5. 3.671/m3 . 3% dan 4% serta diuji sifat fisiko-kimianya. -.500 m3/rit dengan rata-rata 0.

-. hutan tanaman 76 . Pembuatan aksesoris itu meliputi wahana angkutan lokal. penebangan. 2006 Expo-2000 merupakan sebuah prototype alat yang dirancang dan dibangun untuk membantu dalam kegiatan pengeluaran kayu. 5. kondisi permukaan lapangan dan kerapatan tegakan. Kata kunci: Kereta kayu Expo-2000. Kombinasi peralatan perlu perbaikan dan produksi kayu yang minimal pada periode tertentu perlu ditentukan agar arus kayu lancar serta pekerja dan peralatan tidak banyak waktu tunggu.52%. Halaman 339357 . Mengingat pentingnya penyelamatan industri pengolahan kayu yang telah menginvestasikan modalnya hingga ratusan milyar rupiah. Penyaradan kayu dengan forwarder Timberjack G10 dan Timberjack 101 OB menimbulkan pemadatan dan pergeseran tanah relatif kecil sedangkan pemuatan dengan alat pemuat Hitachi dan Volvo menimbulkan pergeseran tanah cukup besar. hutan tanaman. sedangkan truk semi gandengan. rata-rata produktivitasnya sebesar 15 m3/jam dengan ratarata biaya sebesar Rp 37. penyiapan tempat pengumpulan kayu bundar (logyard).5 kali lipatnya. Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan bulan Oktober tahun 2005.24 No. pembalakan ramah lingkungan sangat penting untuk dipakai sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pengusahaan hutan tersebut.676/m3. Padahal. Hasil uji coba memperlihatkan kini produktivitasnya lebih meningkat setelah dipakai kereta model KM Exp-I yang dilengkapi dengan pengunci. 2006 Untuk mencapai pemanfaatan hutan produksi alam lestari. alat bantu. tergantung jarak. Zakaria Basari. Kata kunci: Pemanenan. Dari analisis biaya dengan suku bunga bank 18% per tahun dan dengan proyeksi biaya 6 tahun.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 85-96 . pembukaan wilayah atau pembuatan jalam. nilai NPV didapat sebesar antara Rp 881 juta dengan IRR sebesar 22 . hasil kajian biaya operasi pengeluaran kayu adalah Rp60. Wesman PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN ALAM/ Wesman Endom. -. Penebangan pohon dan pengangkutan kayu tidak menimbulkan gangguan lingkungan yang berarti.4. Pada tahun 2005 dilakukan kegiatan perbaikan pada alat Expo-2000 itu sendiri dan dibuat aksesoris pendukung lainnya dengan tujuan lebih mudah dalam pergerakannya dilapangan dan lebih tinggi hasil kinerjanya.base camp. jembatan. tempat workshop dan gudang.km/jam.Agar kelangsungan hutan produksi itu dapat terus berjalan dengan baik maka ada 5 aspek teknis penting yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan hutan produksi alam tersebut yaitu kegiatan perencanaan. kinerjanya menunjukkan produktivitas cukup baik sekitar 15 m . penyaradan. berarti mengelola keberadaan sumberdaya alam hutan alam produksi sebagai pemasoknya secara lestari sangat penting. Kata kunci: Pemanenan. produktivitas. 6. wawasan lingkungan. diantaranya yang memang diperlukan keberadaannya antara lain untuk pembuatan prasarana jalan. biaya Endom.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Tetapi pelaksanaan pemanenan itu sendiri cenderung boros terhadap kekayaan sumberdaya alam.175/jam atau Rp 620/m .4 . Perhitungan ini diperoleh dengan menggunakan dasar biaya upah setempat sebesar Rp 35 ribu/m . Dengan investasi sebesar Rp 100 juta (berikut kabel dan perlengkapan lainnya). tiang penyangga dan kereta pengangkut kayu kabel layang model KM Exp-I. faktanya antara lain diperlihatkan oleh kerapatan panjang jalan sarad hampir 3 kali lipat lebih besar dibanding cara pemanenan ramah lingkungan. produktivitas Endom. ketiga hal itu menjadi unsur penting bagi kesinambungan pengelolaan hutan alam tersebut. Wesman KAJIAN OPERASI PENGELUARAN KAYU SISTEM KABEL LAYANG EXPO2000 DENGAN PENGGUNAAN ALAT PENDUKUNG (Study of Applying Expo-2000 Skyline with Auxiliaries for Extracting Logs) / Wesman Endom. Konsekuensinya berdampak pada meningkatnya lapisan tanah hutan yang terganggu dan terjadinya pengurangan tanaman tingkat pancang (diameter pohon 5-20 cm) sebesar 2. pemanenan. peralatan tepat guna. kabel layang. serta akan memperbesar terjadinya erosi dan sedimentasi. Pengangkutan kayu dengan truk tunggal rata-rata produktivitasnya sebesar 5 m3/jam dengan rata-rata biaya sebesar Rp 44. Misal pada praktek pemanenan yang tidak terencana dan terawasi dengan baik. ukuran kayu.697/m3. Sekalipun kerusakan hutan memang tidak dapat dihindarkan. dan Yuniawati.

Halaman 133-142 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Panajam. -. Kutai. kerusakan tanah minimal Hajib.f.000 dan Rp 15. Parung. Kayu yang terkuat adalah jati lokal dari Palembang. Perbedaan BJ tersebut berpengaruh nyata pada kekakuan dan keteguhan tekan sejajar serat. sedangkan lokasi penanaman jati tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat jenis. jati super dari Bengkulu.175 per jam. super. Lampung.4 . Diharapkan pengetahuan ini dapat memperbaiki pengelolaan hutan yang berwawasan lingkungan. mudah dioperasikan. 2006 Dalam upaya mengatasi kesulitan mengumpulkan kayu-kayu hasil tebangan di daerah curam dengan cara manual. Jenis jati lokal dan super berpengaruh nyata terhadap berat jenis basah kayu tersebut. sedangkan lokasi tanaman berpengaruh nyata terhadap kekakuan dan kekuatan patahnya. Wesman STRATEGI MENGURANGI KERUSAKAN TANAH DALAM PEMBALAKAN / Wesman Endom. jati super dari Parung. 2006 of Super and Local Teak Woods Originated from Several Plantation Areas) / Nurwati Hadjib.Info Hasil Hutan : Vol. jati super dari Palembang.Endom Wesman KAJIAN PENGELUARAN DAN PEMUATAN KAYU DENGAN ALAT EXPO2000 YANG DISEMPURNAKAN (Study on Logs Extraction and Loading Using Improved Expo-2000) / Wesman Endom [et.24 No. strategi perencanaan pembalakan. Mohammad Muslich. No. Nurwati SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU JATI SUPER DAN JATI LOKAL DARI BEBERAPA DAERAH PENANAMAN (Physical and Mechanical Properties Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. jati lokal dari Sulawesi dan yang terendah jati super dari Sulawesi. efektif. 2006 Tulisan ini menyajikan upaya mengurangi kerusakan tanah sebagai dampak dilakukannya kegiatan pembalakan. jati lokal dari Binjai. sehingga biaya pengumpulan dan pemuatan kayu secara berurutan masing-masing adalah Rp 12. Kata kunci: Strategi. maka dengan biaya pemilikan dan pengoperasian alat berdasarkan perhitungan adalah sebesar Rp 60. diperlukan terobosan berupa penyediaan alat ekstraksi kayu yang tidak mahal. klasifikasi tingkat dampak. Sesuai dengan harapan itu dilakukan kegiatan penelitian uji coba pengumpulan kayu dan muat bongkar dengan menggunakan hasil rekayasa alat Expo-2000 di daerah hutan Resort Polisi Hutan (RPH) Ciguha. Jawa Barat.24. jati lokal dari Kutai. alat Expo-2000 Endom. Bahan utama disadur dari Handbook for Guiding Skidding and Road Building in British Columbia yang diterbitkan oleh Forest Research Institute Canada (FERIC) tahun 1991 yang sedikit diperluas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat jenis (BJ) kayu jati super lebih tinggi daripada kayu jati lokal.2 . sedangkan BJ tertinggi pada kayu jati super adalah dari Binjai dan terendah dari Maros. jati super dari Kutai. Halaman 359-369 . Dengan biaya investasi sebesar Rp 100 juta. Kata kunci : Pengumpulan. Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi. diikuti berturut-turut kayu jati super dari Lampung. pembalakan.461.000 per m3 . produktif dengan biaya operasi dan perawatan rendah. Ada beberapa acuan yang mungkin dapat diterapkan yaitu klasifikasi kerusakan tanah. perencanaan.12 No. jumlah dan luas TPn serta diagram lebar dan jarak jalan sarad.) jenis lokal dan super dari daerah Binjai. Maros. -Penelitian sifat fisis dan mekanis kayu jati (Tectona grandis L. Produktivitas yang dicapai dengan dilakukannya penyempurnaan berupa penambahan endless drum diperoleh hasil sebesar 5 m3. Bengkulu dan Palembang bertujuan untuk melihat perbedaan karakteristik sifat fisis dan mekanis kayunya. fisis. Halaman 449 . efisien.al] .5 . Kayu jati yang diteliti tergolong kelas kuat III-IV.135 per m3. jati lokal dari Lampung. Biaya ini jelas lebih efektif dan efisien dibanding cara konvensional yang besarnya mencapai masing-masing secara berurutan Rp 35. lokal. -.mekanis 77 .305 dan Rp 1. kayu. jati super dari Binjai.hm/jam dan untuk muat/bongkar 50m3/jam. Kata kunci: Kayu jati. Kegiatan pembalakan agar secepatnya diikuti dengan penanaman kembali di semua lokasi bekas tebangan agar tercapai pengelolaan hutan lestari. Ginuk Sumarni.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran bilah inti terhadap sifat papan blok sengon dengan venir silang kayu tusam.43% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. kadar abu 8.90%.3%.132 .107.23% dan daya serap terhadap yodium sebesar 1.155 . yodium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rata-rata papan blok adalah 12% sedangkan kerapatan rata-rata papan blok adalah 0.30%.6% pada arah tegak lurus serat. venir silang. Sedangkan arang aktif yang dibuat dari bahan baku tempurung kelapa sawit pada suhu 6500C dengan konsentrasi H3P04 7.045. kadar karbon terikat 79. SIFAT PAPAN BLOK SENGON DENGAN VENIR SILANG KAYU TUSAM (The Properties of Sengon Blockboard with Cross Core Layer from Tusam Wood) / M. 2006 Tulisan ini menyajikan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian campuran dengan cara aktivasi uap. No.2 .27 mg/g.5 dan 7. serbuk kayu gergajian campuran. I. No. Halaman 145 .42 g/cm3. kadar zat mudah menguap 11.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 63. Keteguhan rekat papan blok yang diuji berdasarkan uji geser tarik dan uji delaminasi memenuhi persyaratan Standar Indonesia (SNI). Penggunaan venir silang kayu tusam dalam pembuatan papan blok sengon meningkatkan keteguhan lentur sebesar 6.Hendra. Pengujian keteguhan lentur papan blok dilakukan menurut Standar Jerman (DIN) sedangkan pengujian pengembangan dimensi papan blok lilakukan menurut Standar Amerika (ASTM).30%. Tebal bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan lebar papan blok tetapi tidak berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan panjang papan blok.I. kerapatan. Venir luar dan bilah inti papan blok terbuat dari kayu sengon sedangkan venir silang terbuat dari kayu tusam.43 tng/g. benzena.5 cm) dan 3 macam lebar ( 0. Tebal venir luar 2 mm sedangkan tebal venir silang 3 mm.2 . Djeni PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA SAWIT DAN SERBUK KAYU GERGAJIAN CAMPURAN (The Manufacture of Activated Charcoal from Oil Palm Shells and Mixture of Wood Sawdust) / Djeni Hendra.10.24.74%. kadar abu 5. Ukuran bilah inti terdiri dari dua macam ketebalan (1 dan 1.Sulastiningsih. Halaman 117 .86%.5.44%.24. 2006 Papan perekat urea formaldehida.6 cm).2% pada arah sejajar serat dan 18. -. Kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang aktif yang dibuat dari bahan baku serbuk kayu gergajian campuran pada suhu 850°C dengan konsentrasi H3P04 12. keteguhan rekat dan delaminasi. Iskandar. Kata kunci: Sengon. arang aktif. kadar zat mudah menguap 11.04%.5% menghasilkan rendemen arang aktif sebesar 80%. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retort dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 650. tusam. M. daya serap terhadap benzena 26. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari alternative pemanfaatan limbah dari pabrik minyak kelapa sawit dan serbuk kayu gergajian menjadi arang aktif yang dapat memberikan nilai tambah. kadar karbon terikat 83. kadar air 7. Sifat papan blok diuji menurut Standar Indonesia (SNI) meliputi kadar air.0 dan 12. kadar air 5.50%.M. Lebar bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan lebar papan blok.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. 2. 750 dan 850 C. -. Sebagai bahan pengaktif digunakan larutan H3P04 dengan konsentrasi masing-masing 7. Kata kunci: Tempurung kelapa sawit.I.5%.7. Iskandar. Keteguhan lentur sejajar serat papan blok sengon yang dibuat dengan menggunakan venir silang kayu tusam semuanya memenuhi persyaratan Standar Jerman (DIN). daya serap benzena 28. Angka daya serap benzena dan yodium ini memenuhi Standar Indonesia dan Jepang. papan blok (Paraserianfhes falcataria) dan kayu tusan (Pinus merkusii) yang direkat dengan blok (5 lapis) sekala laboratorium dibuat dari kayu sengon 78 .

Kata kunci: Pemanfaatan kayu.) formaldehida yang dibuat dari jenis lignin efektif dalam mencegah serangan rayap kayu kering pada kayu karet dan tusam tingkat kematian rayap kayu kering antara 62. jari-jari 2 ukuran. Pemanfaatan kayu mangium masih terbatas sebagai bahan baku pulp. Resin tersebut diaplikasikan pada kayu karet dan tusam. didominasi di daerah Sumatera Selatan sekitar 176. 5. 2006 (Possible Application of Lignin-based Resin as a Chemical Agent to Prevent the attack of Dry Wood Termite (Cryptotermes cynocephalus Light. Kayu ki hantap {Sterculia oblongata R. Hasil penelitian menunjukan bahwa kayu mangium ternyata dapat dipergunakan sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah. Kayu ki kuya (Ficus vasculosa Wall. Halaman 201 . masing-masing mewakili kayu daun lebar dan kayu daun jarum yang selanjutnya ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering. No. Mangium.Iskandar.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Untuk meningkatkan nilai tambah kayu mangium perlu peningkatan diversifikasi produknya antara lain untuk pembuatan venir indah sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu lapis indah.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. ciri utama dari kelima jenis tersebut adalah: 1. Untuk keperluan identifikasi.3 . jari-jari 2 ukuran. No. Kayu lapis. Nisbah mol lignin: formalin =1:2. Dalam penelitian ini resin dibuat dari 3 jenis lignin yang dihidroksimerilasi kemudian dikondensasi dengan larutan NaOH 50% dan formaldehida 37%.) berwarna kekuningan. Dalam pemanfaatan kayu kurang dikenal diperlukan informasi struktur anatomi dan kualitas seratnya untuk keperluan pengenalan jenis dan pemanfaatannya. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan untuk meningkatkan keawetannya.888.24 Kayu karet dan tusam banyak digunakan sebagai bahan mebel. Iskandar dan Suwandi Kliwon. 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resin berbasis lignin 79 . Lingkaran tumbuh kayu ki bancet kurang jelas.24. tusam Krisdianto ANATOMI DAN KUALITAS SERAT LIMA JENIS KAYU KURANG DIKENAL DARI LENGKONG. pembuluhnya agak banyak dan berukuran agak kecil.S. -.I.) Luas tanaman mangium sekitar 176. 2.) berwarna kuning kepurihan dan agak keras.0% dan mampu meningkatkan kelas ketahanan kayu karet maupun tusam dari kelas IV (tanpa perlakuan) menjadi kelas II.218 . dengan lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. Kata kunci: Lignin formaldehida. Kayu ki lubang {Calophyllum grandiflorum JJ. 3. 2006 Sumber bahan baku alternarif untuk industri perkayuan nasional saat ini dan masa yang akan datang berasal dari hutan tanaman dan pemanfaatan jenis kayu kurang dikenal.)) / Jasni. Kelemahan kedua kayu tersebut mudah diserang organisme perusak kayu. dan difus berkelompok. Halaman 301-308 . M.100.24 Ha.615 ha. Sukabumi) / Krisdianto. lingkaran tumbuh jelas oleh parenkim pita. -. Pembuluh kayu ki lubang bersusun dalam kelompok radial atau diagonal dan parenkim pita memanj ang yang kadang terputus. Serat kelima jenis kayu termasuk dalam kelas kualitas I sebagai bahan baku pulp untuk kertas.4 . ex Miq.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 117-130 .) berwarna kuning cerah. Mutu kayu lapis yang dihasilkan pada umumnya dapat memenuhi persyaratan standar nasional Indonesia dan Jepang.I PEMANFAATAN KAYU MANGIUM UNTUK BAHAN KAYU LAPIS DAN KAYU LAPIS INDAH / M. corak bergaris. Parenkim bentuk sayap. Kayu lapis indah Jasni PENGUJIAN RESIN BERBASIS LIGNIN SEBAGAI BAHAN PENCEGAH SERANGAN RAYAP KAYU KERING (Cryptotermes cynocephalus Light. Di industri pengolahan serpih kayu (chip) seperti PT Tanjung Enim Lestari bahan baku kayu mangium diolah menjadi serpih sebagai bahan baku pulp. lingkaran tumbuhnya jelas oleh adanya parenkim pita tipis dan perbedaan ketebalan dinding selnya. karet. -. Reaksi dilangsungkan pada suhu 70 –80oC selama 1 jam.4 . Parenkim pita tebal membentuk corak garis-garis pudh pada produk kayunya. agak lunak. jari-jari 2 macam ukuran. Kayu ki bancet (Turpinia sphaerocarpa Hassk. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan pencegah serangan rayap kayu kering menggunakan resin lignin formaldehida. Adi Santoso. rayap kayu kering.Br. 2006 Salah satu hutan tanaman industri yang telah berkembang adalah HTI mangium (Acacia mangium Willd.) berwarna kuning keabu-abuan. Kayu ki bulu (Gironniera subaequalis Planch.) berwarna coklat kemerahan dan termasuk dalarn kelompok kayu perdagangan bintangur. SUKABUMI (Anatomy and Fiber Quality of Five Lesser Known Wood Species from Lengkong.

serat Krisdianto ANATOMI DAN DIMENSI SERAT BATANG KELAPA DALAM DAN HIBRIDA (Cocos nucifera L. idcnrinkasi. yaitu bagian pangkal batang lebih tebal dari bagian ujung. dimensi serat batang kelapa bertambah panjang dari pangkal ke ujung pohon.6%. East Kalimantan) / Krisdianto & Ginuk Sumarni. kayu. -.84 um untuk kelapa dalam dan 23.Kata kunci : Lima. pelengkungan. mebel.12 No. Kata kunci: Rotan. Untuk meningkatkan mutu pelengkungan mungkin perlu diterapkan metode plastisasi alternatif sehingga kerjasama dengan instansi penelitian diperlukan.) / Krisdianto. Di dalam ikatan pembuluh terdapat pembuluh metaxylem.3 um untuk kelapa dalam dan 296 ± 3.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24. Jati cepat tumbuh atau dikenal dengan nama dagang 'Jati super'.Info Hasil Hutan : Vol. Secara umum. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bagian dalam lebih tipis dari bagian dekat kulitnya.2 um untuk kelapa hibrida. sedangkan berdasarkan kedalamannya serat bertambah panjang dari bagian tengah ke arah kulitnya. lebih besar dari jari konvensional 20. baik untuk keperluan fungsional maupun estetika. anatomi. sedangkan dimensi serat diukur dari preparat maserasi.Info Hasil Hutan : Vol. KALIMANTAN TIMUR (Heartwood Portion in Logs of 7 Years Old Fast Growing and Conventional Teak Taken from Penajam. -. No. Mutu pelengkungan dengan mesin pada jenis yang sama tidak selalu lebih baik dari manual. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 7 tahun. Hampir semua potongan rotan besar perlu dilengkungkan dalam proses pembuatan barang jadi. Tulisan ini bertujuan mempelajari proses dan mutu pelengkungan rotan dalam industri mebel. protoxylem.5 . yaitu persiapan dan pelengkungan. Ini diduga akibat operatornya lebih terampil. Sedangkan kayu jati konvensional merupakan tanaman yang dikembangkan melalui perkecambahan biji. Proses pelengkungan melalui dua tahap. Halaman 39-48 . Penelitian ini bertujuan membandingkan persentase teras kayu jati super dan konvensional pada umur dan lokasi yang sama. Halaman 385 – 394. Salah satu parameter kualitas kayu jati dapat dilihat dari persentase kayu terasnya dalam batang.1 .12 No.) telah dikenal sebagai bahan baku mebel dan konstruksi dengan kualitas tinggi. Berdasarkan SNI 01- 80 . Struktur anatomi batang kelapa dipelajari dari preparat sayatan. anatomi.9 ± 1. Halaman 1-14 . 2006 Pembuatan bentuk lengkung merupakan proses penting dalam industri mebel rotan. 2006 Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan kelapa hibrida berumur 19 tahun dipelajari untuk melengkapi data dan informasi struktur anatomi dan dimensi serat batang kelapa. Mutu hasil pelengkungan ditentukan tahap persiapan karena dalam tahap ini rotan harus dipilih bebas cacat dan bebas ruas. kayu teras telah terbentuk pada seluruh lempengan kayu jati super maupun konvensional dari bagian ujung. hibrida. Ketebalan dinding serat menunjukkan pola yang mirip dengan panjang serat. Informasi mengenai kualitas kayu jati cepat tumbuh belum diketahui. 'Jati prima' atau 'Jati emas' merupakan tanaman jati yang dikembangkan melalui kultur jaringan dan bertujuan menambah pasokan bahan baku kayu jati. Batang kelapa mempunyai dua komponen utama. Jasni. Persentase kayu teras jati super rata-rata 39. dimensi serat Krisdianto PELENGKUNGAN DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN ROTAN / Krisdianto. Sedangkan noktah pada dinding metaxylem berukuran 23. Panjang pembuluh metaxylem rata-rata 293 ± 2. Struktur anatomi dan dimensi serat kelapa dalam dan hibrida tidak memiliki perbedaan yang nyata. 2006 Kayu jati (Tectona grandis L. mutu. Pelengkungan rotan selain manau pada industri menengah. manau Krisdianto PERBANDINGAN PERSENTASE VOLUME TERAS KAYU JATI CEPAT TUMBUH DAN KONVENSIONAL UMUR 7 TAHUN ASAL PENAJAM. -.1 .f. terdapat yang menghasilkan mutu lebih baik. Kata kunci: Kelapa dalam.3%. Berdasarkan persentase kayu terasnya kayu jati konvensional lebih baik parameter kualitas kayu yang lain juga harus diperhatikan seperti kualitas serat dan keawetan alaminya. yaitu ikatan pembuluh dan jaringan parenkim dasar.85 ± 2. Pada industri besar dan menengah jenis rotan manau lebih mudah dilengkungkan dari jenis lain.11 um untuk kelapa hibrida. phloem dan ikatan serat. 'Jati unggul. tengah dan pangkal.

Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM)p dan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Semarang (SMG) menunjukkan efektivitas penularan yang tinggi. Coptotermes curvignathus) / Neo BEBERAPA ISOLAT JAMUR PATOGEN Endra Lelana . Isolat dari Bogor tampaknya paling efektif untuk ditularkan oleh rayap pekerja ke dalam koloninya. Data potensinya belum diketahui secara baik sehingga perlu dilakukan penelitian. Neo Endra EFEKTIFITAS PENULARAN Metarhizium SERANGGA Lelana. Rendemen produksi nata pinnata yang tinggi (94. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nira aren yang diolah untuk memproduksi nata pinnata menghasilkan rendemen antara 23. batang kayu jati pada umur 7 tahun dapat masuk dalam kriteria kayu bulat kecil (KBK. limbah industri dan pembalakan Lempang. Kata kunci: Jamur patogen serangga. C. industri penggergajian dan potensi bahan baku. Agus Ismanto. Mody RENDEMEN DAN KANDUNGAN NUTRISI NATA PINNATA YANG DIOLAH DARI NIRA AREN (Recovery and Nutrition Content of Nata Pinnata Processed from Aren Sap) / Mody Lempang.144 . Isolat dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor (BGR). Jasni.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. penularan spora.22 %) diperoleh dari pengolahan yang menggunakan nira aren umur 6 jam dengan penambahan suplemen pupuk ZA sebanyak 2. Kandungan nutrisi nata pinnata yang diolah dari nira aren (kadar air..5 gram per liter nira. semakin panjang umur nira semakin rendah produksi nata.1-2003. Halaman 219 .42% atau rata-rata-rata 55. protein. Selain itu industri cinderamata di sekitar Carita yang sudah berkembang juga dapat mendukungnya.5007.1 . super.[et..64%. Umur nira dan penggunaan bahan suplemen pupuk ZA berpengaruh nyata terhadap rendemen produksi nata pinnata. cinderamata. -. No.2 .Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24. Halaman 33-38 . Kata kunci: Jati. sementara semakin tinggi dosis penggunaan pupuk ZA semakin tinggi rendemen nata. Data dikumpulkan dari industri penggergajian dan kerajinan serta instansi maupun masyarakat terkait. Propinsi Banten merupakan tujuan wisata penting di Indonesia. mortalitas rayap 81 . No. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi bahan baku berupa limbah penebangan dan industri penggergajian kayu dan batang kelapa banyak tersedia. Data yang dikumpulkan berupa jumlah industri cinderamata. persentase.] . Halaman 133 . vitamin. anisopliae. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase mortalitas rayap cenderung meningkat setelah inkubasi dibandingkan dengan sebelum inkubasi. teras Lelana. serat anisopliae OLEH RAYAP PEKERJA Coptotermes curvignathus (Effectiveness of Transmission of Some Isolates of Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae by Subterranean Termite Workers.al. A. Kabupaten Pandeglang. Efektivitas penularan oleh kasta rayap pekerja Coptotermes curvignathus yang telah terinfeksi spora jamur dari 6 isolat yang dikumpulkan dari berbagai lokasi di Jawa dievaluasi.Info Hasil Hutan : Vol. 2006 Jamur patogen serangga Metarhizium anisopliae diketahui bersifat patogen terhadap banyak serangga termasuk rayap. 2006 Kawasan Carita. M. Kata kunci: Bahan baku.3 .I. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur nira dan penambahan pupuk ZA pada nira aren yang diolah untuk menghasilkan nata pinnata. diinkubasi dalam ruang gelap dan lembab pada suhu kamar selama 14 hari.24. Penularan terjadi melalui penyebaran spora. Beberapa kelompok rayap yang terdiri dari campuran rayap pekerja yang terinfeksi spora dan yang sehat dimasukkan dalam botol kultur berisi media pasir steril yang lembab. Neo Endra POTENSI BAHAN BAKU KAYU DAN KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN INDUSTRI CINDERAMATA DI CARITA / Neo Endra Lelana.). konvensional. curvignathus.225 .12 No.83% sampai 82. Salah satu faktor pendukung pariwisata adalah cinderamata dengan bahan baku limbah penebangan dan industri baik kayu maupun kayu kelapa. menyebabkan mortalitas rayap lebih dari 80% pada perlakuan rayap terinfeksi dengan konsentrasi 50%. Nata adalah sejenis makanan ringan yang menyerupai jelly yang biasanya diolah dari air kelapa.

kasar, lemak, abu, kalsium dan posfor) berbeda dengan kandungan nutrisi nata decoco yang diolah dari air kelapa, nira kelapa maupun kolang-kaling. Kata kunci: Nira aren, nata pinnata, rendemen, kandungan nutrisi Lempang, Mody STRUKTUR ANATOMI, SIFAT FISIK DAN MEKANIK KAYU PALASO (Aglaia sp) (Anatomical Structure, Physical and Mechanical Properties of Aglaia sp) / Mody Lempang; Muhammad Asdar. Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.2 ; Halaman 171 - 181 , 2006 Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi struktur anatomi, sifat fisik dan sifat mekanik kayu palado (Aglaia sp.) yang diambil dari hutan produksi alam di Kalukku kabupaten Mamuju, Propinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa palado memiliki kayu gubal berwarna putih sampai krem dan teras berwarna coklat muda sampai coklat kelabu; serat lurus, tekstur agak halus, pori sedikit (3 per.mm²) berbentuk lonjong dan tersebar tata baur; perforasi tipe sederhana; jari-jari luar biasa pendek, sempit dan jarang (tinggi 327 μm; lebar 25,52 μm dan frekuensi 5 per mm², parenkim tersebar atau baur. Panjang serat 1132 μm dan diameter serat 25,61 μm; diameter lumen 17,39 μm; dan tebal dinding 1,64 μm. Kadar air kering udara 15,85%; berat jenis kering udara 0,48 dan berat jenis kering tanur (kerapatan) 0,53; penyusutan kering udara ke kering tanur 2,71% (Radial) dan 4,67% (Tangensial); keteguhan lentur pada batas patah 612,72 kg/cm2 dan keteguhan tekan sejajar serat 402,28 kg/cm2 . Kata kunci : Kayu, sifat, anatomi, fisik, mekanik, Palado Lestari, Setyani B DIMENSI SERAT EMPAT JENIS BAMBU DARI JAWA TIMUR / Setyani B. Lestari & Yoswita. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 109114 , 2006 Tulisan ini menginformasikan nilai dimensi serat beserta nilai turunannya dari empat jenis bambu yang berasal dari Jawa Timur, yaitu bambu ampel (Bambusa vulgaris Schat), bambu petung (Dendrocalamus asper Bck), bambu apus (Gigantochloa apus Kurz) dan bambu jajang ulet (Gigantochloa apus kurz

forma). Bambu yang diteliti memiliki panjang serat antara 2600 sel berkisar antara 1,0 – 2,0 mikron, diameter lumen memiliki nilai antara 13-16,8 mikron. Berdasarkan nilai turunan dimeni serat, empat jenis bambu yang diteliti menunjukkan nilai karakteristik yang baik sebagai bahan baku pulp dan kertas. Kata kunci: Bambu, dimensi serat, nilai turunan Malik, Jamaludin TEKNOLOGI PEMADATAN MELALUI PENGEMPAAN DENGAN PERLAKUAN PENDAHULUAN PENGUKUSAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS KAYU / Jamaludin Malik. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.1 ; Halaman 49-58 , 2006 Jenis-jenis kayu inferior yang memiliki sifat tidak kuat dan tidak stabil dapat disempurnakan melalui teknologi pemadatan sehingga pemanfaatannya meluas. Teknologi ini sudah lama dikembangkan dengan berbagai metode. Salah satu metode pemadatan yang dianggap memiliki kelebihan adalah melalui pengempaan dengan perlakuan pendahuluan pengukusan. Proses utama metode ini adalah pengukusan, pengempaan dan pengkleman. Sifat dasar kayu yang mengalami peningkatan adalah kerapatan, keteguhan lentur stads (MOE & MOR), kekerasan, keteguhan tarik dan pukul, serta stabilitas dimensi. Peningkatannya dapat mencapai > 90%. Kayu yang dipadatkan dapat dimanfaatkan lebih luas, seperti untuk tiang bangunan, dinding, pegangan tangga, lantai, mebel, bingkai, pemintal tenun, kumparan, pegangan alat, baling-baling dan plat sambungan yang memerlukan kekuatan gesek tinggi. Kata kunci: Pemadatan, peningkatan kualitas, pemanfaatan Malik, Jamaludin PENGOLAHAN KAYU DIAMETER KECIL UNTUK KAYU LAMINA DAN KOMPONEN MEBEL / Jamaludin Malik, Abdurachman dan Achmad Supriadi. -- Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 153-163 , 2006 Produksi alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk yang diolah dari kayu diameter kecil adalah kayu lamina dan komponen mebel. Penelitian pembuatan produk tersebut telah dilakukan terhadap beberapa jenis

82

kayu yaitu tusam (Pinus merkusii) damar (Agathis sp.), gmelina (Gmelina arborea), bengkel (Nauclea sp), pisang-pisang (Alponsea teysmanii Boerl), dan jambu jambu (Eugenia spp.) dari bagian cabang. Sedangkan kayu lamina bentangan besar dibuat dari bagian batang utama kayu mangium (Acacia mangium Wild.) dan sengon (Paraserianthes falcataria) berdiameter kecil. Hasil penelitian penunjukan bahwa produk kayu lamina dan kayu lamina untuk bentangan besar yang dibuat dari kayu diameter kecil sengon dan mangium memenuhi syarat standar (SNI 2000, JAS 1996 dan JAS 2003). Komponen mebel dapat memenuhi standar pabrik. Kata kunci: Pengolahan kayu, kayu diameter kecil, kayu lamina, mebel

Mandang, Y.I DIGITALISASI BASIS DATA XYLARIUM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HASIL HUTAN BOGOR / Yance I. Mandang . -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 75-85 , 2006 Xylarium Bogoriense Pusat Litbang Hasil Hutan di Bogor menyimpan hampir 40.000 contoh kayu yang dikumpulkan dari seluruh kepulauan Indonesia. Semua contoh kayu dicatat dalam buku register dan setiap contoh memiliki keterangan yang meliputi nomor contoh kayu, nomor herbarium, nama setempat, suku, nama ilmiah, sinonim, asal contoh kayu, kolektor dan tanggal dikoleksi. Catatan tersebut ditulis tangan sejak tahun 1915 dalam 12 jilid buku. Masalahnya hampir semua buku register sudah lapuk dan datanya terancam musnah. Oleh karena itu perlu dicarikan cara untuk menyelamatkan data tersebut sekaligus disusun kembali dalam bentuk mutakhir. Dalam makalah ini disajikan pengalaman merenovasi sistem informasi xylarium dengan memanfaatkan perkembangan terakhir dalam bidang teknologi informasi. Untuk keperluan identifikasi kayu, deskripsi anatomi kayu dari berbagai sumber ditransformasikan ke dalam kode IAWA (International Association of Wood Anatomist) lalu diketik dalam format MS Access. Basis data koleksi dan basis data ciri kayu ini kemudian diimpor ke dalam MS SQL Server pada komputer server yang sudah disiapkan. Penelusuran informasi dan identifikasi kayu dilakukan dengan menuliskan query dalam bentuk pernyataan-pernyataan SQL lalu dieksekusi. Beberapa contoh proses penelusuran informasi dan identifikasi kayu disajikan. Waktu yang diperlukan untuk penelusuran informasi dan identifikasi kayu sangat singkat dibanding dengan cara lama. Kata kunci: Xylarium, Sistem informasi Misdarti KUALITAS BAMBU LAMINASI ASAL KABUPATEN TORAJA, SULAWESI SELATAN (Qualities of Laminated Bamboo of Toraja Regency, South Sulawesi) / Misdarti. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 183 - 189 , 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis bambu dan macam perekat poly vinyl acetate (PVAc) terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi. Jenis bambu yang digunakan adalah hitam dan parring. Sedangkan macam perekat PVAc yang digunakan adalah fox, tiger dan epoxy. Bambu

Malik, Jamaludin PENGARUH PEMADATAN TERHADAP LAJU PENURUNAN KADAR AIR KAYU RANDU ALAS (Gossampinus malabarica Alst.) / Jamaludin Malik & Andianto. -- Info Hasil Hutan : Vol.12 No.2 ; Halaman 143-147 , 2006 Pemadatan kayu randu alas (Gossampinus malabarica Alst) merubah struktur anatomis dan sifat fisis sehingga memberi peluang untuk dimanfaatkan sebagai perkakas. Perubahan kedua sifat ini merubah sifat pengeringan kayu yang dipadatkan. Penelitian sifat pengeringan kayu yang dipadatkan perlu dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal kayu yang dipadatkan 54%, lebih rendah 10,5% dari kayu yang tidak dipadatkan. Pengeringan kayu yang dipadatkan dan tidak dipadatkan selama sembilan hari masing-masing mencapai kadar air 15,9% dan 15%. Penurunan kadar airnya menunjukkan perbedaan nyata. Hubungan kadar air (Y) dan waktu pengeringan (X) pada kayu yang tidak dipadatkan mengikuti persamaan Y = 64,640 – 9,296x + 0,421x2 , dengan R2 = 0,999. Pada kayu yang dipadatkan mengikuti persamaan Y = 53,440 – 7,926x + 0,428x2 , dengan R2 = 0,999. Kata kunci: Randu alas, pemadatan, kadar air kayu, pengeringan

83

laminasi dibuat dengan menggunakan bambu kering udara dengan ukuran 51 x 2,5 x 0,5 cm. Kemudian sampel bambu dilaburi perekat secara merata pada salah satu sisi dengan berat labur 200 gr/m . Selanjutnya sampel bambu dari jenis yang sama direkat satu sama lain kemudian dikempa pada suhu ruangan dengan menggunakan klem selama 12 jam. Bambu lamina kemudian dikondisikan pada suhu ruangan selama 1 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan macam perekat berpengaruh tidak nyata terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi yang dibuat dari bilah bambu hitam dan bambu parring. Bambu laminasi dengan menggunakan lem epoxy cenderung memiliki nilai MOE dan keteguhan rekat yang lebih baik dibanding lem fox dan lem tiger. Efisiensi perekatan terbesar terjadi pada bambu laminasi parring dengan lem epoxy. Kata kunci : Bambu laminasi, macam perekat PVAc, sifat fisis dan mekanis Muslich, Mohammad KEAWETAN 25 JENIS KAYU DIPTEROCARPACEAE TERHADAP PENGGEREK KAYU DI LAUT (Durability of 25 Dipterocarpaceae Wood Species Against Marine Borers) / Muhammad Muslich; Ginuk Sumarni. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.3 ; Halaman 191 - 200 , 2006 Dua puluh lima jenis kayu Dipterocarpaceae diuji sifat keawetannya terhadap serangan penggerek kayu di laut. Masing-masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 2,5 cm x 5 cm x 30 cm, direnteng dengan tali plastik, kemudian dipasang di perairan pulau Rambut dan diamati setelah 6 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang keawetan 25 jenis kayu Dipterocarpaceae terhadap penggerek kayu di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 6 bulan, sebagian besar contoh uji mendapat serangan berat oleh famili Pholadidae dan Teredinidae. Lima dari 25 jenis kayu atau 20% tahan terhadap penggerek di laut. Giam durian (Cotylelobium flavum Pierre) dan balau laut [Shorea falcifera Dyer) termasuk dalam katagori sangat tahan, sedangkan giam tembaga (Cotylelobium melanoxylon Pierre), balau laut batu (Shorea elliptica Burck.), dan resak ayer (Vatica teysmanniana Burck.) termasuk dalam katagori tahan terhadap penggerek di laut. Kelima jenis kayu tersebut cocok untuk bangunan kelautan. Kata kunci: Keawetan, Dipterocarpaceae, penggerek di laut

Novrianto, Eka PENELAAHAN FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENETAPAN UKURAN SASARAN VENIR KAYU LAPIS (Assessing Factors That Affects the Determination of Targeted Veneer Size for Plywood) / Eka Novriyanto. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 371 - 384, 2006 Untuk mendapatkan konstruksi panel yang memiliki ukuran tebal yang diinginkan, maka diperlukan penetapan ukuran sasaran pada saat pengupasan vinir, Faktor-faktor penyusutan vinir, pengempaan panel, pengampelasan, dan penyusutan panel serta keragaman pengupasan total dapat mempengaruhi penetapan ukuran sasaran, Data yang dikumpulkan dalam percobaan ini adalah tebal vinir sesudah kupas 1,76 mm, penyusutan vinir 6,34%, pengaruh pengempaan 11,94%, pengaruh pengampelasan 0,44%, tebal vinir dalam panel 1,22 mm, rata-rata tebal panel akhir 28,02 mm, dan penyusutan panel 1,42%, Data-data tersebut selanjutnya diolah dengan formula yang diturunkan dari perubahan yang dialami vinir sampai menjadi panel oleh proses produksi, untuk mendapatkan ukuran sasaran pengupasan vinir kayu lapis konstruksi 19-lapis, Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ukuran sasaran pengupasan vinir adalah 1,870 ± 0,013 mm, Kata kunci : Kayu lapis, vinir, ukuran sasaran pengupasan vinir Nurhayati, Tjutju PRODUKSI DAN PEMANFAATAN ARANG DAN CUKA KAYU DARI SERBUK GERGAJI KAYU CAMPURAN (Production and Utilization of Charcoal and Wood Vinegar of Mixture Wood Sawdust) / Tjutju Nurhayati, Ridwan Ahmad Pasaribu & Dida Mulyadi. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.24, No.5 ; Halaman 395 - 411, 2006 Penelitian produksi terpadu arang dan cuka kayu menggunakan serbuk gergaji kayu campuran asal hutan alam dan hutan tanaman dilakukan pada tungku sakuraba dan tungku blower. Arang serbuk dimanfaatkan untuk bahan baku produksi arang aktif dan cuka kayunya untuk budidaya tanaman padi. Hasilnya sebagai berikut ; Produksi terpadu arang dan cuka kayu ‘crude’dari serbuk gergaji kayu campuran hutan alam dan hutan tanaman pada tungku sakuraba masing-masing 292,68 kg/ton dan 232,24 kg/ton dan pada tungku blower 344,76 kg/ton dan 323,07 kg/ton. Rendemen arang dan cuka kayu ke dua jenis

84

Perlakuan tanpa pupuk NPK menghasilkan gabah kering giling paling tinggi pada cuka kayu yaitu 4. lignin.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.0. Halaman 9 . arang.21 ton/ha. Gustan PENGARUH LAMA WAKTU AKTIVASI DAN KONSENTRASI ASAM FOSFAT TERHADAP MUTU ARANG AKTIF KULIT KAYU ACACIA MANGIUM (The Influence of activation Time and Concentration of Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. dengan lama waktu aktivasi 60 menit. Gustan KAJIAN STRUKTUR meningkatnya suhu karbonisasi. 60 dan 90 menit.39%. cuka kayu.0. Rendemen terpadunya pada tungku sakuraba 35. tinggi lapisan aromatik 3.24. 2006 Phosphoric Acid on the Quality of Activated Charcoal of Acacia mangium Bark) / Gustan Pari. alfa metil guaiakol. tungku. No. furfural.24. Kata kunci : Serbuk gergaji kayu.6% (sakuraba). Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa jarak antar ruang lapisan aromarik (d) dan lebar lapisan (La) menurun dengan makin 85 .6% dan 14. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aktivasi dan konsentrasi bahan pengaktif terhadap hasil dan mutu arang aktif yang dihasilkan. Ridwan A. 10.1 . Kata kunci: Arang. 2006 Tulisan ini membahas struktur arang dari lignin pada suhu karbonisasi yang berbeda.7 mg/). Halaman 33 . jarak antar lapisan aromatik d(002) = 0. daya serap ARANG DARI LIGNIN (Study on Charcoal Structure of Lignin) / Gustan Pari [et. Spektrum FTIR dari arang lignin menunjukkan bahwa antara suhu 300-500 perubahan struktur kimia dari bahan baku secara nyata. Djeni Hendra. metanol. Pada suhu 850°C arang yang mempunyai struktur aromatik yang permukaannya mempunyai gugus C-O-C.9%) yang lebih rendah. permukaannya bersifat polar. No.3% dan 22% (blower). dan C=C alifatik menurun dengan naiknya suhu.21 nm dengan diameter port arang antara 12.6 um.400. sikloheksana.90 %. menghasilkan rendemen sebesar 98. Ikatan OH. 5.35 nm i = 0. Sifat arang dari tungku blower lebih baik dari sakuraba ditunjukan oleh kadar abu (2.5% ini memberi petunjuk terhadap fungsinya sebagai pupuk dan merespon pertumbahan padi yang lebih baik. kadar zat terbang 8. jumlah lapisan aromatik 8. Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan menggunakan retor yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan elemen listrik pada suhu 750 C dengan lama waktu aktivasi 30. Pemanfaatan cuka kayu distilasi 2. derajat kristalinitas (X) dan jumlah lapisan aromatik (N) meningkat dengan makin naik karbonisasi. struktur kimia. Penggunaan cuka kayu distilat 2.2%) dan kadar zar mudah terbang (11. Bahan pengaktif yang digunakan adalah larutan asam fosfat (H3PO4) dengan konsentrasi 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk membuat arang aktif dengan kualitas terbaik dihasilkan dari arang yang direndam asam fosfat 10%. asetol. C=O dan C-H.10 ton /ha dan kontrol 3.2% menunjukkan angka lebih rendah dari blower 41.7 mg/g) diperoleh dari perlakuan aktifasi perendaman asam fosfat 20% dan uap air pada suhu 695OC dan aktifasi dengan uap panas tanpa asam fosfat pada suhu 605OC (789. bahan organik 4. Produksi arang aktif memenuhi SNI pada parameter daya serap iod (857. orto kreosol. terdiri dari asam asetat.serbuk gergaji relatif sama pada masing-masing tungku yaitu 20. kadar air 8.72%. Cuka kayu ‘crude’ dari ke dua serbuk gergaji mengandung jenis komponen kimia yang sama pada kadar yang bervariasi. fenol. Analisis SEM menunjukkan bahwa jumlah dan diameter pori arang meningkat dengan naiknya suhu karbonisasi.46 . Produksi arang aktif dengan mutu baik ini diperoleh setelah tungku aktifasi diredam emisi panasnya dengan gelas wol.5% dengan hasil gabah kering giling yang sama yaitu 5. Pasaribu. Kualitas arang yang baik diperoleh pada suhu karbonisasi 5000C menghasilkan derajat kristalinitas sebesar 33.60%. keras dan struktur porinya makropori.1 . sedangkan untuk tinggi lapisan (Lc).70%. Oleh karena itu produksi terpadu pada tungku blower lebih baik dari sakuraba. Pari.300.20.21 nm. kaku.750 dan 850°C dalam suatu retort yang terbuat dari baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik. padi. kadar abu 26.500.20%. -. -Dalam tulisan ini dikemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari kulit kayu Acacia mangium.7%) yang lebih tinggi. Arang ini mempunyai sifat keteraturan tertinggi. Proses pembuatan arang lignin dilakukan pada suhu 200. sedangkan struktur eter dan dihasilkan aromatik makin berkembang.5% pada tanaman padi jenis ciherang dengan perlakuan penambahan pupuk NPK dapat menggantikan penggunaan bahan organik 2. XRD dan SEM. 19.3%.96 nm. Pari.67.al] .41 ton/ha. Untuk mengetahui perubahan struktur arang yang terjadi dilakukan analisis dengan menggunakan FTIR. arang aktif. leba aromatik 10. dan kadar karbon tertambat (86. difraksi. para kreosol.0 dan 15%.75 ton/ha.650. kadar karbon terikat 64.

cunn). Analisis ini merupakan dasar untuk menetapkan kegunaan kayu tersebut terutama sebagai bahan baku pulp kertas. Proses aktivasi dilakukan di dalam retort yang terbuat dari besi tahan karat pada suhu 800. salamander (Grevillia robusta A. sengon buto. pentosan. Sedangkan kadar zat ekstraktifnya terutama kelarutan dalam alkohol benzena yang termasuk kelas sedang antara 2 – 4% adalah kayu suren.3%.5%. kapur (Dryobalanops aromatica). Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 64. Gustan KOMPONEN KIMIA SEPULUH JENIS KAYU TANAMAN DARI JAWA BARAT (Chemical Component of Ten Planted Wood Species Originated from West Java) / Gustan Pari .63 mg/g. Kata kunci : kayu. kadar zat terbang 5.al. sedangkan yang termasuk kelas rendah kurang dari 2% yaitu kayu sengon buto. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil analisis komponen kimia 10 jenis kayu yang berasal dari hutan tanaman di Jawa Barat.86%.0% untuk kadar abu.. kelarutan dalam air dingin. Analisis yang dilakukan mencakup penetapan kadar holoselulosa.4 – 6. Semua jenis kayu yang diteliti mengandung kadar holoselulosa yang tinggi lebih dari 65% yaitu kayu ki sereh. tusam (Pinus merkusii Jungth). Gustan ARANG AKTIF SERBUK GERGAJI KAYU SEBAGAI BAHAN ADSORBEN PADA PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS (Activated Charcoal from Wood Sawdust as Adsorbent Material for Frying Oil Refinery) / Gustan Pari .75% dan kelarutan dalam NaOH 1% antara 9. kapur. kulit kayu.4 . dan yang termasuk ke dalam kelas tinggi lebih dari 4% yaitu kayu ki sereh dan pulai kongo. abu. pulai kongo (Alstonia kongoensis). suren. Kadar lignin dan abu semua jenis kayu yang diteliti termasuk ke dalam kelas sedang. lignin. salamander.53%. kadar karbon terikat 52.20% sebagai gas pengoksida.84%. -. pentosan.[et. Pari. kimia.6 – 69.. suren (Toona sureni). 850. 900°C dengan lama waktu aktivasi masing-masing 30. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Pengaruh konsentrasi asam fosfat sebagai bahan pengaktif kimia. Berdasarkan atas nilai skor dan hasil uji BNJ (Beda nyata jujur) komponen kimia 10 jenis kayu asal Jawa Barat (Tabel 3) ternyata hanya kayu ki sereh dan pulai kongo yang tidak cocok untuk bahan baku pulp kertas. pentosan antara 15. Pada proses aktivasi tersebut diperoleh rendemen arang aktif sebesar 72. Jawa Barat.24. air panas antara 3. karena kadarnya ada di antara 18 – 33% untuk kadar lignin dan ada di antara 0. silika antara 0. abu antara 0. Kata kunci: Acacia mangium. Jenis kayu tersebut adalah ki sereh (Cinnamomum parthenoxylon). Kadar pentosan semua jenis kayu yang diteliti termasuk kelas rendah karena kadarnya kurang dari 21%. ki bawang.5 – 5. ki bawang. Arang aktif dari kulit kayu mangium ini hanya dapat digunakan untuk penjernihan air.2 .101 . tusam.2 – 6. dan semikimia.9%.[et al] . salamander dan mahoni. Arang yang dihasilkan selanjutnya direndam dalam larutan asam fosfat dengan konsentrasi 5. 2) Pengaruh suhu dan lama waktu aktivasi terhadap rnutu arang aktif dan 3) Pengaruh penambahan arang aktif terhadap mutu minyak goreng bekas. sengon buto. tusam dan ki lemo. kecuali kayu pulai kongo yaitu 64. Sebelum dibuat arang aktif.1 – 20.3%. ki bawang (Melia excelsa).71%. holoselulosa.. daya serap terhadap kloroform 24.24 No.6%. mahoni dan ki lemo.23%. Halaman 309-322 . kapur. Dalam penelitian ini digunakan larutan ((NH4)2C3 0. sedangkan ke delapan jenis kayu lainnya yang terdiri dari kayu suren.2 – 0. lignin antara 26.0 dan 10% selama 24 jam. ki bawang. kapur. alkohol benzena dan kelarutan dalam NaOH 1%.10%.1 – 0. 60 dan 90 menit. dan arang aktif yang dihasilkan mengandung kadar air 4.0 – 30. benzena 16. yodium. Pari.] . kadar abu 42.7%. air panas. sengon buto (Entorolobium cyclo). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif serbuk gergaji kayu yang terbaik adalah arang aktif yang direndam asam fosfat 5% pada suhu 900°C selama 30 menit.6 – 18%.. karbon terikat.0 – 7. alkohol benzena antara 1. arang aktif.9%.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. tusam. Kelarutan dalam air dingin antara 2.25%. 2006 Tulisan ini mengemukakan hasil penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergaji kayu dengan proses aktivasi kombinasi antara cara kimia dan fisika. Halaman 89 .9%. Nilai daya 86 .terhadap yodium 513 mg/g dan daya serap terhadap benzena sebesar 16. salamander mahoni dan kayu ki lemo cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk kertas dengan menggunakan proses kimia.97% dan daya serap terhadap yodium sebesar 668. lignin. No.. -.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. terlebih dahulu serbuk gergaji kayu dibuat arang dengan menggunakan tungku semi kontinyu pada suhu 300 C. mahoni (Switenia macrophylla King) dan ki lemo (Litsea cubeba Pers).

Pulau Sumatera Utara.17%. kayu lapis. kadar abu 8.87 menjadi 10. Ridwan A. Industri skala kecil of Activated Charcoal as Reductor of Plywood Formaldehyde Emission) / Gustan Pari. Terbukti hasil uji emisi kayu lapis yang tanpa penambahan arang aktif sebesar 16.88%. -.48 ppm Pasaribu. arang aktif. benzena 14. -. Gustan PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN ARANG AKTIF SEBAGAI REDUKTOR EMISI FORMALDEHIDA KAYU LAPIS (Manufacturing and Application sedangkan emisi yang dihasilkan dengan penambahan arang aktif sebanyak 5% menjadi 15. produksi komponen mebel dan kayu lamina. Mutu minyak goreng ini terutama asam lemak bebas dan bilangan perokisda memenuhi syarat minyak goreng yang ditetapkan SNI.36 ppm dengan tanpa mempengaruhi keteguhan rekat kayu lapis.59%. 2006 Teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri kayu dari hasil penelitian yang dilakukan secara bertahap meliputi teknologi isolasi dan perbanyakan fungsi pelapuk putih. Sedangkan untuk kecerahan warna mengalami peningkatan dari 13.98 menjadi 16. Pencampuran arang aktif pada perekat kayu lapis mampu menurunkan emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. Kata kunci: pemanfaatan limbah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Desember 2004 di Kecamatan Simanindo. TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK INDUSTRI SKALA KECIL / Ridwan A. mulai dari penyediaan bahan baku.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. dan papan serat. kadar air 4.33%.96 meq 02/kg. mangium. kadar karbon terikat 83. Arang aktif yang dihasilkan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida pada perekat kayu lapis. fisika dan kombinasinya di dalam tungku baja tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik. Kualitas minyak goreng bekas menjadi lebih baik setelah ditambahkan dengan arang aktif sebanyak 2. Arang yang dihasilkan diaktivasi secara kimia. Sebelum dibuat arang aktif.436. Halaman 425 . 2006 Telah dilakukan penelitian pembuatan arang aktif dari serbuk gergajian kayu Acacia mangium Willd. daya serap terhadap yodium sebesar 960.Info Hasil Hutan : Vol. metilien biru 135. kloroform 28. Adi Santoso & Djeni Hendra. -. minyak goreng. produksi arang briket. produksi pulp rayon dan papan isolasi. Secara teknis.2 mg/g. Halaman 97-107 . Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah serbuk gergajian kayu mangium untuk dibuat arang aktif dan digunakan sebagai reduktor emisi formaldehida dalam perekat kayu lapis. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap para pengrajin ukiran kayu dengan menggunakan kuisioner. produk karton.27% menjadi 0. Kata kunci : Serbuk gergaji. emisi formaldehida Pasaribu. Data sekunder dikumpulkan dari instansi-instansi pemerintah yang berada di lingkungan Pemda Samosir dan Pemda Tobasa. asam lemak bebas Pari. Kata kunci : Arang aktif.serap ini memenuhi syarat Standar Amerika dan arang aktif yang dihasilkan permukaannya lebih bersifat polar sehingga dapat digunakan untuk menyerap polutan yang juga bersifat polar seperti aldehida. serbuk gergaji kayu. arang aktif .77%. iodin. No. produksi dan pemasaran belum ditangani secara baik oleh pengrajin.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 145-151 .24.5 . 87 .12 No.0 mg/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas arang aktif yang terbaik diperoleh dari serbuk gergajian kayu mangium yang diaktivasi dengan cara kombinasi oksidasi gas dan kimia dengan rendemen sebesar 53%. Gunawan PROFIL KERAJINAN UKIRAN KAYU DI PUIAU SAMOSIR. SUMATERA UTARA / Gunawan Pasaribu. Teknologi yang layak secara finansial untuk pengembagan industri kecil adalah teknologi produksi karton menggunakan bahan baku pulp dari limbah sebetan kayu gergajian dan jamur tiram menggunakan media limbah serbuk gergajian kayu. Pasaribu dan Tjutju Nurhayati. serbuk gergaji diarangkan dalam pada suhu 500oC. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profit teknis dan kelembagaan industri kerajinan ukiran kayu di Pulau Samosir. Kabupaten Samusir.96% dan daya serap terhadap formaldehida sebesar 26.21%. kadar zat terbang 5.2 .17% dan dari 18.5% yang ditunjukkan dengan menurunnya kandungan asam lemak bebas dan bilangan peroksida masing-masing dari 0.02%.

sehingga dapat mengganggu sifat dari produk akhir yang dihasilkan. Halaman 275-299 . Agar tetap survive dunia perkayuan harus berupaya melakukan diversifikasi bahan baku kayu tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan. meranti. Tingkat tersebut berkorelasi negatif dengan rendemen pulp total dan persentase pulp reject. dihasilkan pula produk olahan. seperti diameter kecil. randu. kelapa.4 . dan 90 menit). Dalam pemanfaatan bambu dan kayu dari perkebunan permasalahan kelembagaan dan kebijakan. Sifat fisik/kekuatan lembaran pulp dipengaruhi secara positif oleh perbandingan S/V dan secara negatif oleh berat jenis kayu. dan kayu hutan tanaman. Produk kayu yang dihasilkan umumnya memenuhi standar industri yang disyaratkan. Pulp dengan rendemen pulp tersaring tinggi dengan persentase reject rendah berindikasi tingkat degradasi fraksi karbohidrat rendah dan tidak undercooked. seperti papan dan bilah sambung.24 No. yaitu: Kayu karet. Namun dengan teknologi perekatan. masing-masing dipertahankan dalam 4 taraf waktu (0. Nurwati Hadjib. Baik kayu yang berasal dari tanaman perkebunan maupun kayu hutan tanaman umumnya mempunyai sifat inferior. Tingkat delignifikasi lebih dipengaruhi oleh perbandingan banyaknya inti siringil dengan inti vanilin (S/V) dalam lignin (R2 = 0. meranti kuning.Dari pengujian beberapa produk setengah jadi. Proses pengukiran kayu sampai penyelesaian akhir masih menggunakan cara sederhana tanpa bantuan alat mekanis yang lebih cangkih. stabilitas dimensi. sawit.5972). Percobaan pengolahan pulp sulfat/kraft secara individu terhadap empat jenis kayu HTI (sengon. bahan baku. 88 . 30. dan perbandingan kayu dengan larutan pemasak 1:4. stabilitas dimensi dan kekuatan rendah. 2006 Salah satu faktor yang menyebabkan terpuruknya industri pengolahan kayu di tanah air saat ini adalah ketidakseimbangan antara pasokan bahan baku kayu yang lestari dan kebutuhan kayu untuk mencukupi kapasitas industri kayu. sulfiditas 22. dan ternyata menghasilkan lembaran pulp/kertas dengan sifat kekuatan tinggi. Perbedaaan jenis kayu HTI bisa mempengaruhi sifat pengolahan dan mutu hasil pulp/kertas tersebut. dan positif dengan rendemen pulp tersaring.5212). Pada kenyataannya tanaman tersebut tidak hanya mampu menghasilkan produk kayu bernilai tinggi tetapi juga ramah lingkungan. industri. dari pada oleh berat jenis kayu (R2 = 0. kurang awet. 2006 Faktor-H Untuk Menelaah tingkat Delignifikasi dan Sifat Pulp empat Jenis Kayu Hutan Tanaman Industri pada Proses Pengolahan Kimia Sulfat) / Han Roliadi. Noor Rahmawati. dan sebaliknya. bahan baku. dan kapur) dilakukan pada kondisi tetap pemasakan: alkali aktif 16 persen. -. Produk kayu yang dapat dibuat dari kayu asal hutan tanaman dan tanaman perkebunan selain kayu gergajian. Kata kunci: Ukiran kayu. sengon. Sedangkan suhu maksium pemasakan bervariasi (170oC dan 175oC). dan juga kaitannya dengan sifat pengolahan pulp dan sifat fisik/kekuatan pulp.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 99-116 . kayu lapis dan kayu lapis indah. Satu usaha mengatasinya adalah pembangunan hutan tanaman industri (HTI) sebagai pemasok serat kayu. Tanaman berkayu lainnya yang dapat diandalkan untuk memasok industri perkayuan adalah bambu. glulam.Jurnal Penelitian Hasil Semakin terbatasnya sumber serat kayu di Indonesia dan anjuran mengurangi ketergantungannya dari hutan produksi alam untuk industri pulp dan kertas menyebabkan kekhawatiran serius. bahan penolong dan teknologi serta pasar dalam negeri perlu mendapat perhatian dan ditangani lebih serius oleh instansi terkait. Tingkat delignifikasi selama pemasakan hingga selesai ditelaah dengan faktor H. yang dilakukan masih ditemukan produk dengan nilai kadar air produk yang masih tinggi yaitu sekitar 50%. dan Jamal Balfas. papan partikel. -. modifikasi kayu dan pembuatan produk majemuk. Kata kunci: Diservasi. pengolahan kayu Roliadi.5 persen. Sedangkan dari bambu selain produk konvensional seperti barang kerajinan dapat pula dihasilkan papan bambu lamina dan bambu lapis. gmelina. kelembagaan Rachman. venir lamina. Han EXPLICABILITY OF THE H-FACTOR TO ACCOUNT FOR THE DELIGNIFICATION EXTENT AND PROPERTIES OF PLANTATION FOREST WOOD PULP IN THE KRAFT COOKING PROCESS (Penerapan Hutan : Vol. Osly DIVERSIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU / Osly Rachman. 60. Dalam kelembagaan. hingga kapur. bahan baku. hanya terdapat beberapa kelompok pengrajin yang aktif dan koperasi yang ada tidak banyak membantu usaha kerajinan kayu. densifikasi. sifat-sifat tersebut dapat diatasi. Tingkat delignifikasi tertinggi hingga terendah terjadi pada jenis kayu gmelina. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan tanaman berkayu dari areal perkebunan yang jumlahnya sangat besar.

sehingga berindikasi pemanfaatannya sebagai bahan baku industri karton. Data potensi hutan rakyat. Han PEMBUATAN DAN KUALITAS KARTON DARI CAMPURAN PULP TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN SLUDGE INDUSTRI KERTAS Santoso. balok lamina. TKKS sesudah dijadikan serpih. Sampai saat ini kulit pohon mangium sebagian besar ditinggalkan di hutan atau di sekitar pabrik sebagai limbah.Kata kunci: Kayu hutan tanaman.81%. Kata kunci: Tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Ridwan Industri karton skala kecil saat ini mengalami kesulitan kontinuitas pasokan bahan baku (khususnya pulp dan kertas bekas). karton. faktor H.4 . Kulit tersebut bila diekstrak dengan air 1:3 bisa menghasilkan ekstrak tanin cair sebanyak 8 kali bobot kulitnya. dan waktu pemasakan 2 jam pada suhu maksimum 120oC dan tekanan 1.2 – 1. nilai banding serpih TKKS dengan larutan pemasak 1:5. tingkat delignifikasi. Data produksi kayu dari hutan tanaman. tapioka 4%. 2006 Pemanfaatan kulit pohon mangium (Acacia mangium Wild) sebagai sumber tanin untuk bahan perekat di Indonesia pada masa mendatang diperkirakan semakin berkembang berkenaan dengan pemanfaatan limbah kulit kayu tersebut dalam upaya optimalisasi hasil hutan khususnya non kayu dari hutan tanaman. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa rendemen kulit mangium berkisar 5-12 persen.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 19-26 . Limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai bahan serat berligno selulosa berlimpah jumlahnya dan belum banyak dimanfaatkan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah mengembangkan perekat berkualitas WBP (Weather Boiling Proof) yang terbuat dari tanin yang berasal dari kulit pohon mangium. perbandingan S/V Roliadi. 2006 (Manufacture and Qualities of Paperboard from the Mixture of Empty Oil-Palm Bunches Pulp and Paper-Mill Sludge)/ Han Roliadi.24 No. berat jenis.17. bilangan kappa 38.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. dan konsumsi alkali 9.17%. bambu lamina dan papan partikel komposit dengan kualitas eksterior yang setara dengan perekat jenis fenol-dan resorsinol formaldehide Kata kunci: Kulit mangium. Makalah ini menyajikan data untuk menjawab permasalahan tersebut. yaitu isinya meliputi: Luas penutupan lahan Indonesia (2003). Adi KULIT MANGIUM SEBAGAI SUMBER TANIN UNTUK PEREKAT / Adi Santoso. Tanin. tetapi tanpa bahan aditif). Dalam upaya mengurangi kebergantungan terhadap perekat impor dan memenuhi kebutuhan perekat dalam negeri dengan bahan baku yang berasal bukan dari minyak bumi. hal yang paling penting untuk diperbaiki adalah seimbangnya antara potensi aktual hasil hutan dengan kapasitas hasil industri hasil hutan yang ada. 2006 Dalam rangka program restrukturisasi kehutanan. dan dari pulp TKKS 100%. Pasaribu. industri karton rakyat 89 . dan rosin size 2%). Rangkuman dari beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa kulit mangium sangat potensial sebagai sumber tanin untuk bahan baku perekat. -. -. Perekat Satyawardana PETA POTENSI AKTUAL HASIL HUTAN INDONESIA SEBAGAI PENGHARA INDUSTRI KEHUTANAN / Satyawardana.5. Kapasitas izin IKPH tahun A. Hal ini mengisyaratkan prospek penggunaan pulp TKKS yang dicampur dengan sludge. Lembaran karton dibentuk dari campuran pulp TKKS 50% dan sludge industri kertas 50%. Perekat tanin ini bisa diaplikasikan guna memproduksi berbagai jenis produk perekat yang ramah lingkungan seperti kayu lapis. -.5 atmosfir. masing-masing dengan penambahan bahan aditif (kaolin 5%. Sifat fisik karton asal pulp TKKS 100% dan asal campurannya dengan sludge industri kertas (50% : 50%) lebih tinggi dari pada karton produksi industri rakyat (dari campuran kertas bekas 50% dan sludge 50%. pulp. diolah menjadi pulp menggunakan proses semikimia soda panas tertutup pada ketel pemasak skala semi-pilot hasil rekayasa Pusat Litbang Hasil Hutan (Bogor) pada kondisi pemasakan: konsentrasi alkali (NaOH) 10%. alum 2%. sebagai bahan baku altermatif/pengganti pada industri karton yang menggunakan kertas bekas.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 165-175 . Halaman 323-337 . Rata-rata rendemen pulp TKKS yang diperoleh 60. Prakiraan potensi kayu pada hutan alam.

serta meningkatkan kerapatan dan keteguhan tekan briket dari kayu jarak pagar. 25. Sudradjat dan D. Dengan tujuan memberikan informasi yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. karbon terikat dan nilai kalor..Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. untuk kegiatan penebangan di hutan tanaman industri (HTI) telah menggunakan chainsaw.24. 400 dan 600 kg/cm2. Dengan adanya krisis energy. kualitas produk dan aspek kelayakan finansial dalam pengusahaannya. Kata kunci: Peta potensi. Briket kayu jarak pagar (100%) sebaliknya lebih tinggi dalam kadar air. teknologi. karbon terikat dan nilai kalor dari briket dari kayu jarak (100%). R. tetapi lebih rendah dalam kerapatan dan keteguhan tekan dari briket tempurung biji jarak pagar. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan limbah dari tanaman jarak pagar berupa tempurung biji dan kayu untuk briket arang. kayu jarak pagar. Pedesaan Process and Characteristics oof Charcoal Briquette From Jatropha Curcas (Jatropha curcas L. Perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian tekanan 200.1 . Jarak pagar. Industri kehutanan Sudradjat. Energi alternatif. Oleh karena itu informasi mengenai penggunaan Chainsaw ditinjau dari jumlah kebutuhannya perlu disampaikan. Han Roliadi.) telah lama dikenal sebagai penghasil minyak untuk bahan bakar dan obat. tetapi belum diketahui secara pasti jumlah chainsaw yang sebaiknya digunakan agar hasilnya efisien. East Kalimantan) / Sona Suhartana. 2006 Sudradjat.2004. zat terbang. dapat ditanam pada lahan yang sempit dalam bentuk pagar. Hasil hutan. Sudradjat. Kata kunci: Tempurung biji jarak. Permasalahan umum stok produksi hasil hutan kayu dan non kayu. briket yang dibuat dari tempurung biji jarak pagar (100%) lebih tinggi di dalam kerapatan dan keteguhan tekan. Pencampuran dengan tempurung kelapa dapat meningkatkan karbon terikat dan nilai kalor briket dari tempurung biji jarak.76 . sekali tanam dapat dipanen selama 35 tahun serta hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi produk yang dapat dijual. tetapi lebih rendah di dalam kadar air. Kata kunci: Biodesel. tanaman ini sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai energi alternatif khususnya di pedesaan sekaligus memperluas lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. 75 dan 100%. hutan tanaman. dan hutan rakyat. Data Produksi Hasil Hutan Non Kayu tahun 2004. Setiawan. Prakiraan stok produksi kayu di hutan alam. Hasil penelitian menunjukkan. briket arang. karbon terikat (kecuali briket arang dari tempurung biji jarak B 100/0). KALIMANTAN TIMUR (Efficiency of Chainsaw Utilization on Felling: A Case Study at PT Surya Hutani Jaya. Prospek pengembangan tanaman ini sebagai tanaman energi sangat baik karena daya adaptasi terhadap jenis tanah dan iklim sangat besar. 50. cepat tumbuh dan berbuah. R BIODESEL DARI TANAMAN JARAK PAGAR SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF UNTUK PEDESAAN / R. 2006 Dewasa ini. Oleh karena itu. kandungan minyak sangat tinggi. Halaman 227-240 . Di dalam makalah ini dikemukakan mengenai aspek yang berhubungan dengan tanaman.) Shell and Wood) / R.24 No. D. Beberapa sifat fisiko-kimia briket arang telah memenuhi Standar Jepang yaitu: keteguhan tekan. kadar air. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Jatropha curcas Linn. -. yaitu dalam rangka meningkatkan kelayakan ekonomi pengusahaan minyak jarak pagar untuk biodisel. kadar abu dan nilai kalor (kecuali briket arang dari kayu jarak B 50/50). -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan : Halaman 207-219 . serta komposisi campuran bahan baku (tempurung biji dan kayu jarak pagar) dengan tempurung kelapa 0. 2005 Biji Jarak (Jatropha curcas Linn. Sona EFISIENSI PENGGUNAAN CHAINSAW PADA KEGIATAN PENEBANGAN: STUDI KASUS DI PT SURYA HUTANI JAYA.) (Technical Setiawan. Suhartana. nilai kalor. Yuniawati. Halaman 63 . TEKNIK PEMBUATAN DAN SIFAT BRIKET ARANG DARI TEMPURUNG DAN KAYU TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L. No. Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian penggunaan chainsaw untuk menebang tanaman mangium dan gmelina dan hasil tersebut selanjutnya 90 . Sifat yang tidak memenuhi standar adalah: kerapatan.3 . maka minyak jarak mulai diteliti kembali pemanfaatannya untuk pembuatan biodesel.

target produksi.0 . efisiensi.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 79-82 . produktivitas.24.045.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol.144 m (rata-rata 0. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi teknis dan finansial penggunaan alat pengeluaran kayu tersebut. Upaya peningkatan produksi hasil hutan dapat direalisasikan melalui implementasi PBL kaitannya dengan teknik. NPV = Rp 75. biaya Sukadaryati PEMANENAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI HUTAN TANAMAN / Sukadaryati dan Sukanda. manjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dilakukan teknik pemanenan yang tepat. IRR = 66. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah membuat alat pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 yang dirancang untuk mengeluarkan kayu pada areal berbukit.046 m3) dan 77. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentuan jumlah kebutuhan chainsaw yang efisien adalah berdasarkan rencana produksi perusahaan. 2006 Pengeluaran kayu di areal hutan tanaman yang berbukit-bukit dengan ukuran kayu relatif lebih kecil perlu mendapat perhatian khusus.562 m /jam). Peningkatan efisiensi pemanenan kayu di hutan alam maupun di hutan tanaman ditujukan agar pemanfaatan sumberdaya hutan optimal dan gangguan lingkungan minimal.012 . yaitu 21 unit untuk penebangan mangium dan 5 unit untuk penebangan gmelina. biaya Suhartana. pengeluaran kayu. Pengeluaran kayu dengan sistem kabel layang P3HH24 adalah layak secara ekonomi dengan Pay Back Periode = 1.8 detik/rit (rata-rata 161. Wawasan lingkungan Sukadaryati PENGELUARAN KAYU DENGAN SISTEM KABEL LAYANG P3HH24 DI HUTAN TANAMAN KPH SUKABUMI (Log Extraction Using P3HH24 Skyline System in Plantation Forest of Sukabumi Forest District) / Sukadaryati. Hasil hutan. Halaman 157 .215.665 . -.4%. Kata kunci: Peningkatan produksi. Upaya tersebut diharapkan dapat dijadikan bahan acuan bagi para penentu kebijakan dan pelaksana di lapangan. sehingga kelestarian produk tetap terjaga tanpa meninggalkan kelestarian ekologinya. 2006 Produksi hasil hutan terutama kayu memegang peranan cukup berarti dalam pembangunan nasional. Cepatnya waktu ini mengakibatkan alat tersebut tidak beroperasi lagi pada bulan nya sehingga mengakibatkan tingginya biaya untuk menutupi semua biaya tetap. -.018m /jam (rata-rata 3.digunakan untuk mengetahui jumlah kebutuhan penggunaan chainsaw yang tepat dan efisien dalam penebangan pohon mangium dan gmelina. sistem kabel layang P3HH24.175.0 detik/rit). Kata kunci: Jumlah chainsaw. -.169 . Djaban Tinambunan. Penggunaan chainsaw sesuai jumlah yang ada di lapangan akan mempersingkat pekerjaan.2 . 2006 Bukan langkah yang bijak bila hutan alam yang sekarang ini kondisinya carut marut dijadikan tumpuan utama pemasok bahan baku kayu untuk industri. efisiensi dan upaya peningkatan efisiensi pemanenan kayu. Sistem tebang habis dan dimensi kayu yang relatif kecil menuntut perlakuan khusus agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat 91 . danB/C Ratio =1. dan biaya pengeluaran kayu adalah Rp 16. Dulsalam.300/m3.51. Untuk meningkatkan produksi hasil hutan terutama kayu dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi pemanenan kayu melalui implementasi pemanenan hutan yang berwawasan lingkungan (PBL). Kebutuhan kayu untuk industri pengolahan kayu cukup besar sementara jatah produksi tahunan relatif kecil.8. No. Pemanenan hutan.0. Hutan tanaman yang sekarang ini disorot. Dulsalam.39 tahun. Kata kunci: Hutan tanaman.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 65-77 . Pemanenan yang dilakukan di hutan tanaman tidak jauh berbeda dengan di hutan alam. Produksi kayu dari hutan tanaman masih relatif sedikit. Produksi kayu dari hutan alam cenderung menurun dari tahun ke tahun. Sona PENINGKATAN PRODUKSI HASIL HUTAN MELALUI IMPLEMENTASI PEMANENAN HUTAN BERWAWASAN LINGKUNGAN / Sona Suhartana. Produktivitas pengeluaran kayu bervariasi antara 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume kayu yang dikeluarkan dan waktu kerja yang diperlukan berturut-turut berkisar dari 0.

papan partikel. Kata kunci: Teknologi pembuatan. Nurwati Hadjib dan Karnita Yuniarti. Sulastiningsih. IPTEK tepat guna yang diperlukan mencakup pemilihan jenis tumbuhan bernilai tinggi yang akan ditanam. Bambu yang digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper). No. produktivitas. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar perekat terhadap sifat papan partikel bambu.8 . Bentuk partikel bambu yang digunakan adalah untai. Paradigma baru kehutanan bila telah dilaksanakan. barang kerajinan dan supit. Pemanfaatan bambu di Indonesia saat ini pada umumnya untuk mebel. sifat fisis dan mekanis Sulastiningsih. sedangkan perekatnya adalah urea formaldehida (UF) cair. I. pengolahan dan diversifikasi produk masih dilakukan secara tradisional belum ditunjang IPTEK tepat guna yang memadai. bahan bangunan dan penggunaan lain adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. disamping mudah diserang bubuk. diversifikasi produk dan 92 .9. masalah yang timbul dalam pemanfaatan bambu sebagai bahan mebel. Halaman 1 . Kata kunci: Bambu. Sampai sekarang teknik budidaya pemanenan. pasca panen.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 131-141 .M. Wawasan lingkungan.dikurangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan. Novitasari. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah melakukan beberapa penelitian mengenai bambu lamina dan bambu lapis.11 dan 12% dari berat kering partikel bambu. Dengan menggunakan perekat tertentu. Sumberdaya bambu tersebut perlu ditingkatkan pemanfaatannya agar dapat memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. pengolahan. bambu yang bentuk aslinya bulat dan berlubang dapat diolah menjadi produk perekatan bambu berbentuk papan bambu atau balok bambu yang dikenal dengan nama bambu lamina dan produk panel bambu berupa bambu lapis.70 g/cm dengan kadar perekat bervariasi yaitu 8.M TEKNOLOGI PEMBUATAN BAMBU LAMINA DAN BAMBU LAPIS / I. Untuk tujuan tersebut maka produk bambu yang dihasilkan harus dapat menggantikan fungsi papan atau balok kayu sehingga produk bambu tersebut memiliki ukuran tebal. Kemajuan dalam teknologi perekatan diharapkan dapat mengatasi keterbatasan bentuk dan dimensi bambu sebagai bahan subtitusi kayu. lebar dan panjang tertentu. Suwardi TEKNOLOGI PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU / E.M. 2006 Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia memiliki sumber daya bambu yang cukup potensial.M. Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat papan partikel bambu yang dihasilkan. Kata kunci: Pemanenan. kadar perekat. -. PENGARUH KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL BAMBU (Effect of Resin Portion on Bamboo Particleboard Properties) / I. seleksi bibit. -.1 . bambu lamina. Papan partikel bambu sekala laboratorium dibuat dengan target kerapatan 0. Hutan tanaman Sulastiningsih. Agus Turoso. I. bambu lapis Sumadiwangsa.24.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 179-199 . 2006 Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bila dikelola secara seksama dapat berperan besar dalam meningkatkan nilai lahan hutan dan pendapatan masyarakat sekitar hutan. Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan penunjang kayu atau bahan pengganti (subtitusi) kayu untuk mebel. bahan bangunan serta penggunaan lain. Sulastiningsih. teknik penanaman dan pemeliharaan. Suwardi Sumadiwangsa. dapat memacu perkembangan HHBK bernilai tinggi sesuai lahan hutan setempat. dan biaya serta gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Salah satu cara untuk mendapatkan teknik pemanenan yang efisien dan berdampak minimal adalah kesesuaian penggunaan alat pemanenan dengan kondisi hutan tanaman. Akan tetapi. Penggunaan kadar perekat minimum 11% dari berat kering partikel bambu menghasilkan papan partikel bambu yang cukup kuat dan stabil serta memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. E. -. panen. Oleh karena itu perlu ditingkatkan diversifikasi produk pengolahan bambu khususnya produk bambu yang dapat digunakan sebagai subtitusi kayu. Penggunaan peralatan yang tidak tepat akan mempengaruhi efektifitas kerja.10.

kemiri. Sihati KETAHANAN EMPAT JENIS KAYU HUTAN TANAMAN TERHADAP BEBERAPA JAMUR PERUSAK KAYU (The Resistance of Four Plantation Wood Species Against Several Wood Destroying Fungi) / Krisdianto.) diuji terhadap jamur menggunakan 93 . Investasi pendirian satu unit pengolahan serpih kayu sebesar Rp 38. kehilangan berat Supriadi. damar.24. Hasil hutan bukan kayu Suprapti.8%) terjadi pada bagian dalam I crassicarpa yang diletakkan pada biakan Pycnoporus sanguineus HHB-8149.257 ton. Berdasarkan dua kelompok contoh uji. -. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konversi rarta-rata limbah pemanenan untuk bahan baku serpih (chip) adalah 1 sm = 0. jamur perusak. Cunn. dapat diperoleh laba kotor dan laba bersih rata-rata per tahun masingmasmg sebesar Rp 16. Kata kunci : Ketahanan kayu. serpih kayu Chip Production Using Portable Chipper: Case Study in BKPH Parungpanjang. Acacia crassicarpa A. Acacia auriculiformis A.000. sagu. limbah. Kehilangan berat tertinggi (36.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Cunn. jernang. kilemo dan ipuh kebanyakan masih dikelola secara lokal sehingga belum dapat menghasilkan produktivitas dan kualitas HHBK. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu Acacia aulacocarpa dan Eucalyptus pellita termasuk kelompok kayu agak-tahan (kelas III) dan kayu Acacia auricultformis. (Productivity and Cost of M. kehilangan berat kayu bagian dalam sebesar 6. Acacia crassicarpa termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV).000 per ton.227 per ton serpih. nilam.4% (kelas IV). gondorukem. Bogor.11 Kata kunci : Hutan tanaman.691..113 dan harga pokok produksi serpih sebesar Rp 325.6 ton/hari. Pycnoporus sanguineus HHB-324. Beberapa komoditi HHBK seperti gaharu. Achmad PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PRODUKSI SERPIH KAYU MENGGUNAKAN MESIN SERPIH MUDAH DIPINDAHKAN (SMD): STUDI KASUS DI BKPH PARUNGPANJANG. Sedangkan kehilangan berat terendah (0. telah dilakukan penelitian pengolahan limbah kayu jenis mangium (Accacia mangium) di areal hutan tanaman di BKPH Parungpanjang..115 . Halaman 267-274 . dan Schizophyllum commu. Kata kunci: Teknologi pemanfaatan. kopal.4 . Biaya produksi per tahun sebesar Rp 156. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan limbah kayu dari hasil pemanenan hutan tanaman. Halaman 103 . yaitu bagian tepi dan dalam dolok.24 No.109. Potongan kayu yang biasa disebut sebagai limbah pemanenan pada umumnya ditinggalkan di hutan dan sebagian yang dianggap masih laik dijual kepada penduduk sekitar hutan untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau bahan baku energi lainnya.3% (kelas III) lebih rendah dibandingkan dengan kehilangan berat kayu bagian tepi sebesar 12.000.8%) terjadi pada bagian tepi kayu Acacia crassicarpa yang diletakan pada biakan Polyporus sp. mesin serpih mudah dipindahkan.Iskandar. kemenyan.2 . Berdasarkan kemampuan untuk melapukkan kayu. kemampuan tertinggi dijumpai pada Tyromyces palustris. 2006 Pada umumnya kayu dari hutan tanaman memiliki diameter kecil dan mudah terserang jamur perusak kayu. Contoh uji dibagi dalam dua kelompok secara radial.4791 m = 0. Produktivitas penyerpihan adalah 1. kemudian diikuti Polyporus sp.M. 2006 Hasil pemanenan kayu di areal hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman masih menyisakan potongan-potongan kayu kecil. Cunn. Rendemen serpih sebelum disaring dan setelah disaring masing-masing adalah 97% dan 53%. Ketahanan empat jenis kayu hutan tanaman standar DIN 52176 yang telah dimodifikasi. dan Eucalyptus pellita F. Bogor) / Achmad Supriadi.I. Osly Rachman. Dengan harga jual serpih Rp 360.. -Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. BOGOR.040 dan Rp 14. Selain itu juga dipaparkan mengenai diversifikasi produk yang dapat meningkatkan nilai tambah HHBK dan Beberapa hasil Penelitian yang sudah saatnya ditindaklanjuti dengan tahap uji coba di lapangan.v.teknik pemasaran. (Acacia aulacocarpa A..

q. potensi kayu perkebunan secara nasional adalah 61. sedangkan kayu yang diberi pengukusan hanya dapat dilengkungkan hingga radius 51 cm. Kata kunci: Pelengkungan.Br) balobo (Diplodiscus sp).q. sawit dan kelapa. Hasil kajian menunjukkan. Sebelum diolah atau terjual. Dalam studi ini dilakukan determinasi karakteristik pelengkungan pada 5 jenis kayu. Potensi dan pengolahannya belum diketahui sehingga perlu pengkajian.1 . 94 . yaitu kualitas I s/ d VI. Di TPKP harus segera diberi pestisida pencegah jamur biru dan kumbang ambrosia. Cara lain yang lebih efisien adalah pelengkungan kayu secara fisis dan kimia. Prihatiningsih. restribusi dan pengelolaan Waluyo. selain dari hutan alam. kerapatan. alat-alat olah raga dan perahu. Pengkajian dilakukan di Pulau Jawa dan Sumatera.) dengan dua macam perlakuan awal yaitu (1) pengukusan dan (2) perendaman dalam larutan NaOH 3% dilanjutkan dengan pengukusan. No. kayu sawit 30. industri kayu. Achmad POTENSI DAN KONSEP PENGELOLAAN KAYU PERKEBUNAN UNTUK MENDUKUNG INDUSTRI PERKAYUAN / Achmad Supriadi.4 juta m3/tahun.24. Dalam pengelolaan.61 .4 juta m3/tahun dan kelapa 13. T. -. perlu dibentuk Tim Koordinasi Kayu Perkebunan (TKKP) di tingkat daerah dan pusat yang melibatkan Departemen Kehutanan c. perendaman. Salah satu sumber alternatif adalah kayu perkebunan.24. kendal (Eretia acuminata R. kendal dan rasamala. -. Cara pembuatan komponen lengkung dengan menggunakan gergaji cenderung menghasilkan rendemen yang rendah. Osly Rachman & Edi Sarwono. penebangan.3 juta m3/tahun.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Komponen dalam bentuk lengkungan tersebut umumnya dibentuk dengan cara digergaji mengikuti pola lengkungan. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan sifat fisiko-kimia kemenyan berbagai kualitas yang ada di pasaran. yaitu kayu asam jawa (Tamarindus indica L. Kayu asam jawa memiliki karakteristik pelengkungan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu marasi. 2006 Industri perkayuan dituntut untuk mencari bahan baku alternatif. Apabila tersimpan lebih lama. Achmad SIFAT PELENGKUNGAN LIMA JENIS KAYU DENGAN DUA MACAM PERLAKUAN AWAL (Bending Characteristics of Five Wood Species With Two Types of Pretreatment) / Achmad Supriadi . Pemerintah telah mengatur kebijakan penebangan dan retribusi kayu perkebunan. No. Kemenyan di pasaran dikelompokkan menjadi 6 kualitas berdasarkan kriteria uji ukuran (besar kecilnya) lempengan/ bongkahan dan warna kemenyan. pengukusan. setiap dua minggu harus diberi pestisida kembali. marasi (Hymenaea sp.). Totok K. Data dikumpulkan dari berbagai instansi pemerintah. Supriadi. Dalam rangka mendorong pemanfaatan kayu perkebunan. di TPKP paling lambat tersimpan dua minggu. tetapi industri perkayuan belum memperoleh kayu perkebunan secara maksimal.Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Vol. Halaman 47 .2 . Poedji Hastoeti. balobo. seyogyanya ada kebijakan pemerintah yang mendorong pihak terkait melakukan pengelolaan kayu dan tertarik untuk memanfaatkannya. lembaga pemasaran dan asosiasi. Halaman 87-95. Kayu perkebunan mungkin dapat ditampung dalam Tempat Penampungan Kayu Perkebunan (TPKP) yang dilengkapi dengan sarana pengolahan dolok diameter kecil. terhadap kayu karet. pengembangan dimensi.) dan rasamala (Altingia excelsa N. bentuk.Supriadi. Ditjen Bina Produksi Kehutanan dan Departemen Pertanian c. Waluyo. -. 2006 Sumatera Utara merupakan sentra produksi kemenyan di Indonesia. KARAKTERISTIK DAN SIFAT FISIKO-KIMIA BERBAGAI KUALITAS KEMENYAN DI SUMATERA UTARA (Characteristics and Physicochemical Properties of Benzoin Gum qualities in North Sumatera) / Totok K. swasta terkait. sehingga diharapkan nantinya pengelompokkan kualitas kemenyan dapat dipertimbangkan secara kuantitatif berdasarkan unsur-unsur sifat fisikokimianya. dapat dilengkungkan hingga radius 26 cm.Info Hasil Hutan : Vol. Abdurachman. Halaman 21 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang terlebih dahulu direndam dalam larutan NaOH 3% selama 7 hari kemudian dikukus. Tujuan kajian untuk mengetahui potensi dan mendapatkan sistem pengelolaan kayu perkebunan.1 .31 .1 juta m3/tahun. Ditjen Perkebunan Kata kunci: Kayu perkebunan. 2006 Industri kayu sekunder cukup banyak menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung seperti industri mebel. terdiri dari kayu karet 17. Osly Rachman.12 No. Sifat fisiko-kimia kemenyan yang diuji adalah warna. ukuran.

Keberhasilan pengembangan industri memerlukan dukungan iklim investasi. kadar kotoran.al) . Saat ini yang ada di pasar umumnya gaharu dengan kualitas rendah dan harganya relatif murah seperti gaharu buaya dan gaharu kamedangan. Totok K PENYULINGAN GAHARU KAMEDANGAN DAN GAHARU BUAYA DENGAN METODA KOHOBASI / Totok K. III. Umi Kulsum. stabilitas keamanan dan law enforcement.Info Hasil Hutan : Vol. Perendaman 5 hari menghasilkan rendemen minyak gaharu tertinggi.kadar air. salah satunya adalah dengan cara penyulingan. asam balsamat. Industri pengolahan hasil hutan di Indonesia merupakan industri yang memanfaatkan sumber bahan baku yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman. jernang. II dan III relatif sama. BEBERAPA PRODUK-PRODUK HHBK PROSPEKTIF DAN TEKNOLOGI PEMANFAATANNYA YANG SIAP PAKAI / Totok K. bunga. damar Wargadalam. buah. Kata kunci: Asam sinamat. Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar air dan kadar abu relatif sama antara kemenyan kualitas I. Waluyo. Halaman 59-65 . Totok K.85% dan gaharu buaya 0. Sebelum penyulingan gaharu dijadikan serbuk berukuran 40 . IV dan V. Kata kunci: Kualitas. iklim usaha yang kondusif termasuk pembiayaan. -. efisiensi dan produktivitas. 10 hari dan tidak direndam dalam air.1 . Strategi tersebut mengupayakan penciptaan dan peningkatan nilai tambah. yaitu penyulingan dengan cara merebus. Waluyo. kualitas II berasal dari kemenyan kualitas IV. Dengan demikian diharapkan adanya pengembangan jenis-jenis HHBK yang prospektif dan penerapan teknologi pemanfaatan yang siap pakai akan dapat meningkatkan nilai tambah produk HHBK sehingga dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya masyarakat sekitar hutan. kohobasi. banyak diburu di hutan alam sehingga keberadaannya di hutan dan di pasar semakin langka. dan industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri. banyak jenisnya (kulit. maka perlu usaha diversifikasi produk gaharu. gaharu kamedangan. -. daun. -Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 201-206 . kemenyan. sifat fisik-kimia. yaitu gaharu kamedangan 0. rendemen Waluyo. binatang dan lain-lain) dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat sekitar hutan sejak dulu. sedangkan kadar asam balsamat kemenyan kualitas I. 2006 Gaharu merupakan komoditi hasil hutan bukan kayu yang harganya sangat mahal. berorientasi eksport dan berwawasan lingkungan. II. Tulisan ini memaparkan beberapa produk-produk HHBK yang prospektif dan teknologi yang siap pakai antara lain pemanenan dan pengolahannya. Arian STRATEGI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DALAM PENYELAMATAN INDUSTRI KEHUTANAN / Arian Wargadalam.(et. Dengan demikian disarankan pembagian kualitas kemenyan menjadi 4 kelas kualitas yaitu kualitas I berasal dari kemenyan kualitas I s/d III.50 mesh.. Sumadiwangsa. Akan tetapi produk HHBK pada umumnya dari dulu hingga saat ini banyak diperdagangkan masih berupa produk mentah atau asalan sehingga kurang memberikan kontribusi ekonomi pada masyarakat tersebut. biji. titik lunak dan kadar asam balsamat.75%. kadar abu. S. resin/getah. III dan IV adalah relatif sama. 2006 Kebijakan Pengembangan Industri Nasional diarahkan kepada peningkatan industri yang berdaya saing global yaitu industri yang mempunyai keunggulan kompetitif. Penyulingan gaharu dilakukan dengan menggunakan metode sederhana (kohobasi). 2006 Produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan produk yang bersifat kedaerahan. terutama gaharu kualitas tinggi (gaharu gubal/super). selanjutnya direndam dalam air selama 5 hari. kilemo. Pada waktu penyulingan ditambah satu sendok garam dan tanpa ditambah garam. Kondisi sumber bahan baku 95 . kualitas III berasal dari kemenyan kualitas V dan kualitas IV berasal dari kemenyan kualitas VI. Untuk meningkatkan nilai tambah.Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2005: Halaman 9-13 . Waluyo.12 No. Program pengembangan industri nasional ditujukan untuk meningkatkan lapangan kerja dengan cara mengembalikan dan meningkatkan kinerja industri berorientasi eksport.. II. Kata kunci: Gaharu buaya. Kadar kotoran dan titik lunak kemenyan kualitas I. dekstrin. E.

). Santiyo PENGUSAHAAN KULIT KAYU MEDANG LANDIT DI DESA BULU MARIO. moluccensis M. Kulit kayu medang landit dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan obat anti nyamuk bakar dan dupa (hio).). dimana hampir seluruh bagian dari tanaman kemiri dapat digunakan. Permasalahannya pengupasan biji kemiri secara tradisional tidak dapat dilakukan lagi dalam skala industri sehingga dibuatnya mesin pengupasan biji kemiri untuk menghasilkan persentase keutuhan biji kemiri yang tinggi.). obat anti nyamuk. Sumatera Utara. tata niaga dan kendala pengusahaan melalui teknik observasi dan wawancara. seperti batang. perebusan. Pohon medang landit yang dipanen merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan hutan baik hutan rakyat maupun kawasan hutan negara. pemanenan. dupa Winarni. buih putih dan lendir. industri kehutanan Wibowo. oven 6 jam. Semakin lama perlakuan perebusan dan pengovenan.). Data yang dikumpulkan meliputi potensi. perendaman 96 . kulit kayu nyirih (Xilocarpus granatum Koen. Cara pemanenan kulit medang landit dilakukan dengan menebang pohon. Sipirok. Halaman 115-122 . Kata kunci: Bahan pengawet. nira aren. daun. departemen perindustrian. buah dan daging buah. Suwardi Sumadiwangsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pohon medang landit adalah 14 pohon/ha. tingkat keutuhan biji kemiri akan semakin tinggi. sesoot (Garcinia picrorrhiza Miq.12 No. PENGOVENAN DAN PERENDAMAN TERHADAP KEUTUHAN BIJI KEMIRI / Ina Winarni & E.) / Santiyo Wibowo -. Tapanuli Selatan.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlakuan pendahuluan dan kecepatan putar berapa yang paling efektif agar menghasilkan persentase biji kemiri utuh yang tinggi. Nilai keutuhan biji kemiri tertinggi (40 %) terdapat pada kecepatan putar 1000 rpm dengan perlakuan rebus 4 jam. pengovenan dan perendaman. 2006 Kemiri merupakan tanaman serbaguna. Ina PENGARUH PEREBUSAN. Halaman 105-112.tersebut dewasa ini semakin menipis potensinya karena adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan dari sisi industri pengolahannya. SUMATERA UTARA / Santiyo Wibowo. X. Halaman 67-74 . produk turunan. jenis pohon Wibowo. kayu nangka (Artocarpus Integra Merr. Beberapa jenis pohon sebagai sumber penghasil bahan pengawet nabati yang biasa digunakan untuk mengawetkan nira antara lain tuba (Denis eliptica Benth. dan belum ada budidaya tanaman. penanganan pasca panen.2 . kayu belum dimanfaatkan secara optimal.2 . 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengusahaan kulit kayu medang landit (Persea spp) di desa Bulu Mario.12 No. pengovenan.12 No. cara pemanenan. -. Kata kunci : kemiri. .Roem) dan cengal (Hopea sangal Korth). Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan kayu bulat tersebut antara lain disebabkan oleh semakin menurunnya kemampuan daya dukung hutan yang disebabkan oleh kurang baiknya manajemen pengolahan hutan dan semakin maraknya penjarahan hutan Kata kunci: Strategi.Info Hasil Hutan : Vol. dan rendam 24 jam. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah perlakuan pendahuluan berupa perebusan. SIPIROK-TAPANULI SELATAN. & A. kawao (Milletia sericea W. kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn.Info Hasil Hutan : Vol.). funi (Garcinia syzygiifolia Pierre). Nira yang telah rusak kurang baik jika digunakan untuk membuat produk turunannya.1 .Info Hasil Hutan : Vol. Kata kunci: Kulit kayu medang landit. Santiyo BEBERAPA JENIS POHON SEBAGAI SUMBER PENGHASIL BAHAN PENGAWET NABATI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr. 2006 Penggunaan bahan pengawet pada nira aren sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti terbentuknya asam.

2006 Muat bongkar dolok merupakan salah satu kegiatan dalam pemanenan hutan. yaitu 32.2 m.Info Hasil Hutan : Vol. pemilihan alat yang sesuai dapat lebih mudah dilakukan. biaya.60 menit.1 .Info Hasil Hutan : Vol. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Caterpillar 966C beroda menghasilkan produktivitas muat tertinggi. Kata kunci: Muat bongkar. kerusakan 97 . Tujuan tulisan ini untuk mengetahui produktivitas yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan serta kerusakan ekologi yang ditimbulkan pada beberapa tipe traktor Carterpillar. kondisi topografi dan kondisi tanah. Harga alat muat bongkar sangat mahal sehingga perlu direncanakan secara matang sesuai keadaan lapangan. Dengan mengetahui produkdvitas dan biaya muat bongkar.2 . pemadatan tanah dan penggeseran tanah. Biaya penyaradan dipengaruhi produktivitas. Di luar Pulau Jawa. Halaman 25-32 . muat bongkar umumnya menggunakan peralatan mekanis. volume kayu 10. Halaman 123-131 . Penyaradan. produkdvitas. Penggunaan traktor caterpillar tidak terlepas dari kerusakan ekologi yaitu kerusakan tegakan tinggal.56 m3/jam dengan jarak sarad 289.12 No. sistem penebangan. Kata kunci. 2006 Penyaradan merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tunggak ke tempat pengumpulan kayu (TPn). Faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah jarak sarad. -. Produktivitas penyaradan kayu dengan menggunakan traktor Caterpillar D7g memiliki nilai tinggi. intensitas penggunaan jalan sarad dan kandungan air tanah. topografi dan kondisi tanah. ekonomis dan ekologi. traktor Caterpillar.91/ m3. Biaya muat bongkar yang terendah masingmasing menggunakan wheel/oaaferKomatsu WA350.12 No. -.081. produktivitas. volume kayu yang disarad. Biaya penyaradan dengan traktor ini adalah sebesar Rp 7.43 m3 dan waktu kerja 20. Kerusakan ekologi dipengaruhi kemiringan lapangan.Yuniawati PRODUKTIVITAS DAN BIAYA MUAT BONGKAR KAYU BULAT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT MEKANIS / Yuniawati. Produktivitas bongkar tertinggi menggunakan Allis Chalrners 745H dengan risiko kerusakan kayu sangat kecil. Sona Suhartana. biaya Yuniawati KAJIAN PENYARADAN KAYU DENGAN TRAKTOR CATERPILLAR / Yuniawati & Sona Suhartana. Penggunaan alat sarad mekanis traktor perlu mempertimbangkan segi teknis. pada areal yang luas.

Suplement No. penyambungan dengan cara sambung samping dan pemeliharaan tanaman sambungan. Scion yang berasal dari pertunasan cabang berdiameter lebih 3 mm memberikan pertumbuhan (jumlah dan panjang tunas) yang lebih tinggi dibanding scion hasil perlakuan batang tanaman (girlding).57g dengan hasil terbaik dari Bone.7. Hamdan Adma PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN ASAL DARI POPULASI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH (The Hamdan Adma Adinugraha. Cepi. vegetatif. pellita di kebun benih Wonogiri. Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan split plot. asal populasi.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.3 hari. Growth of Leafy Cuttings of Breadfruit Trees Taken from Nusa Tenggara Barat with Application of Growth Regulator Hormone)/ 98 . Hidayat Moko. 2006 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh asal populasi tanaman sukun dan pemberian IAA terhadap pembentukan tunas sebagai bahan stek. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi bahan stek pucuk dan zat pengatur terhadap keberhasilan tumbuh stek pucuk tanaman sukun.46 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. No. untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh dalam penyambungan antara batang bawah (rootstock) dari hasil penyemaian benih dengan batang atas (scion) dari beberapa pohon plus E. 2006 Salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah dengan cara sambungan yang dapat mempertahankan genotipe pada pohon induknya secara konsisten dan berkelanjutan. Hamdan Adma STUDI PENYAMBUNGAN JENIS EKALIPTUS BERASAL DARI KEBUN BENIH WONOGIRI (Grafting Study of Eucalyptus pellita from Seed Orchard at Wonogiri) / Hamdan Adma Adinugraha.100 . panjang tunas total (cm) dan berat kering tunas (g). Halaman 37 .80 persen.1 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sambungan adalah sekitar 10 persen . panjang tunas rata-rata 4. -Wana Benih : Vol. jumlah dan panjang tunas yang lebih baik pada tanaman berumur 2 bulan. scion. Sambungan Perbanyakan Adinugraha. Dedi Setiadi dan Mulat Nuning Ambari. mendapatkan kombinasi asal tanaman sukun dengan pemberian IAA yang mempunyai kemampuan tunas terbaik. Sambungan langsung dengan menggunakan scion segar diperoleh keberhasilan 80 persen lebih besar dibandingkan scion direndam air selama 1 . Faktor pertama sebagai petak utama adalah Pemberian IAA terdiri atas 2 aras yaitu PO = tanpa disemprot IAA dan PI = disemprot IAA. Diameter rootstock yang lebih besar meningkatkan pertumbuhan tanaman sambungan. Halaman 265-273. yang terdiri atas 2 faktor dan diulang sebanyak 3 kali. perlakuan naungan memberikan keberhasilan sambungan. Hidayat Moko. Hamdan Adma KEMAMPUAN BERTUNAS TANAMAN SUKUN DI KEBUN PANGKAS DARI ENAM POPULASI DENGAN APLIKASI HORMON IAA (Sprouting Ability of Artocapus altilis from Several Population at Hedge Orchard with the Application of IAA) / Hamdan Adma Adinugraha. A4 = Bone. Halaman 93 . Parameter yang diamati meliputi jumlah tunas. -. Kompatibilitas.3.3.1 . Penelitian dilaksanakan di Pusat Litbang Hutan Tanaman dengan metode penelitian melakukan beberapa kegiatan seperti persiapan rootstock. Kata kunci: Artocarpus altilis. IAA. Kata kunci: Eukaliptus pellita.67 tunas dengan hasil terbaik dari DIY. No.Adinugraha. panjang tunas dan berat kering tunas pada umur 12 minggu. A3 = DIY.60-10. Kebun Benih. Faktor kedua sebagai anak petak adalah asal tanaman terdiri atas 6 aras yaitu Al = NTB.2 . Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa asal populasi dan pemberian IAA berpengaruh terhadap jumlah tunas. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah tunas 6.85 cm-7. -. A5 = Malino dan A6 = Sorong. kemampuan bertunas Adinugraha.93g-18. Salah satu kendala yang selalu dihadapi dalam sambungan adalah ketidaksesuaian pertautan sambungan.10 cm dengan hasil terbaik dari Banyuwangi dan berat kering tunas rata-rata 8. A2 = Banyuwangi.

jumlah dan panjang akar dibandingkan dengan stek pucuk bagian pangkal. Cabang. Hutan tanaman merupakan sebuah konsep pembangunan hutan yang bertujuan untuk mengatasi berbagai persoalan kehutanan yang bermuara pada terciptanya kelestarian ekosistem lingkungan dan keberlanjutan peranan sosial-ekonomi sumber daya hutan. Pengupasan kulit. Pembangunan hutan tanaman dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi tersebut dibangun dengan menerapkan silvikultur intensif. Untuk itu diperlukan cara perbanyakan yang efektif dan efisien seperti cara perbanyakan vegetatif. Faktor utama ada 2 yaitu pertama adalah posisi bahan stek pucuk yang terdiri atas bagian ujung tunas (PI) dan bagian pangkal tunas sedangkan kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh. 2006 Perbanyakan tanaman kayu putih biasa digunakan dengan biji (generatif) yang pada umumnya cara ini memiliki banyak kelemahan. jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang terbentuk. -. K2 = 50%. 2006 Sejalan dengan kebijakan restrukturisasi sektor kehutanan. -. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor. Zat pengatur tumbuh Adinugraha. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengupasan kulit pada cabang dan akar selama rejuvenasi telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. yang terdiri atas KO = kontrol konsentrasi 25%.HASIL PENELITIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN DAN IMPLEMENTASINYA / Illa Aggraeni. B2 = bahan akar).Wana Benih : Vol. Penerapan sistem silvikultur intensif dalam pembangunan hutan tanaman merupakan suatu upaya pembangunan yang bersifat kompleks. Setiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dalam setiap ulangan terdapat 8 sample stek. Halaman 1-14 . 99 . Sekalipun luas hutan tanaman yang ditargetkan 9 juta hektar. Salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan materi dalam perbanyakan vegetatif adalah rejuvenasi dengan menanam cabang atau akar pada media pasir. persentase stek berakar. diantaranya jumlah benih yang berkualitas masih terbatas. Sri Esti Intari dan Wida Darwiati. persentase stek berakar. Illa HASIL. berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi menuntut kita semua untuk berupaya mengatasi dengan sebaik-baiknya.1 . dari total luas 9 juta hektar yang ditargetkan pembangunannya sampai dengan tahun 2009 tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stek pucuk bagian ujung memberikan pengaruh yang lebih baik secara nyata terhadap persentase stek bertunas. persen berkecambah rendah. Kayu putih. Jakarta 23 Nopember 2006 . viabilitas benih sangat besar dan perolehan genetik kurang optimal.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Departemen Kehutanan telah menetapkan target pembangunan hutan tanaman seluas 9 juta hektar sampai dengan tahun 1009 termasuk 3 juta hektar yang telah dibangun sampai dengan saat ini. Hidayat Moko. Sukun. Hamdan Adma PENGUPASAN KULIT PADA CABANGAN DAN AKAR DALAM REJUVENASI TANAMAN KAYU PUTIH (Treatment of Stem and Root Bark Peeling in Rejuvenation of Melaleuca cayuputi / Hamdan Adma Adinugraha. di samping Hutan Tanaman Industri (HTI) terdapat kawasan yang akan dialokasikan sebagai kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang merupakan perwujudan dari kebijakan nasional "Revitalisasi Sektor Kehutanan". Halaman 9 16 . Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial. sejak bulan Mei sampai Oktober 2005. Dalam perspektif tersebut diperlukan suatu konsep penyelenggaraan kegiatan rehabilitasi kawasan hutan tidak produktif yang dipadukan dengan ketersediaan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kehutanan (Iskandar dkk.7. Oleh karena itu keberhasilan upaya pembangunan hutan tanaman sangat tergantung pada keberhasilan dalam mengatasi masalahmasalah yang dihadapi seperti ketidaksesuaian jenis tanaman dengan tapak. Nusa Tenggara Barat. Parameter yang diamati meliputi persentase bertunas. Kata kunci: Akar. No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengupasan kulit pada cabang memberikan persentase bertunas yang lebih tinggi. K3 = 75% dan K4 = 100%. jumlah dan panjang akar. 2003). Rejuvenasi Anggraeni. pemberian zat pengatur tumbuh memberikan hasil yang lebih baik terhadap seluruh parameter yang diamati dibandingkan dengan kontrol. jumlah mata tunas dan jumlah tunas yang lebih banyak dibandingkan pengupasan kulit pada akar dan bahan yang tidak dikupas kulitnya. Parameter yang diamati terhadap persentase stek bertunas.Penelitian dilakukan di persemaian Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. yaitu faktor pertama adalah bahan tanaman (B1 = bahan cabang. Kata kunci: Stek pucuk. sedangkan faktor kedua adalah pengupasan Kulit (KO=kulit tidak dikupas dan K1=kulit dikupas).

Penelitian di lapangan dilakukan mulai Mei sampai Agustus 2004. Xylo Indah Pratama (XIP). ekobiologi dari hama/penyakit. Halaman 83 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasi beberapa jenis insektisida terhadap hama C. DAS Asmaliyah EFIKASI BEBERAPA JENIS INSEKTISIDA TERHADAP HAMA PEMAKAN DAUN PADA TANAMAN PULAI DARAT (Efficacy of Some Types of Insecticides for Leaf Eating Pest on Pulai Darat Plantation) / Asmaliyah. Kata kunci: Acacia mangium. Proses domestikasi jenis ini berlangsung cepat dan serangkaian penelitian di bidang genetika. khusunya ikan. Dalam rangka itulah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (P3HT) sangat berperan dalam memberikan informasi berbagai masalah tersebut bagi kepentingan para pengelola hutan agar tujuan pokok kehutanan di dalam pengembangan fungsi hutan semaksimal mungkin secara lestari dapat dicapai. keterkaitan ekologis di antara keduanya mempunyai hubungan yang kuat terutama dalam fungsi S-N-F (Spawing. 2006 Saat ini permasalahan pada tanaman pulai yang paling krusial untuk segera dipecahkan adalah masalah serangan hama. budidaya Asaad.91 . -. Pengelolaan kawasan tersebut memerlukan suatu pengelolaan yang terintegrasi mengingat adanya suatu keterkaitan ekologis diantara kedua ekosistem tersebut. Indra Jaya PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DAN DAS MELALUI PENDEKATAN EKOWISATA / A.000 m3/tahun. Lubuk Linggau. glauculalis dalam skala 100 . Gangguan hama/penyakit akan mudah timbul apabila tidak ada keseimbangan lagi antara hama penyebab/patogen penyebab. Dalam keadaan yang demikian ekologinya cenderung untuk memacu peningkatan populasi hama/penyakit seperti halnya yang terjadi pada ekosistem perkebunan dan pertanian. Luas hutan tanaman jenis ini di Indonesia telah mencapai lebih dari 1 juta ha. Yudhistira. mangium pada akhirnya dipilih sebagai tanaman komersial untuk memenuhi kebutuhan industri karena kemampuannya beradaptasi pada lahan marjinal.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Hardjono ACACIA MANGIUM / Hardjono Arisman dan Eko B. Daerah Aliran Sungai. Jenis ini pertama kali ditanam di Sabah tahun 1966 dan Sumatera Selatan tahun 1979 sebagai tanaman sekat bakar pada lahan alang-alang (Imperata cylindrica) A.Pada hutan tanaman komposisi tegakan hutan terdiri dari jumlah jenis yang terbatas atau bahkan seringkali monokultur. Arisman. Indra Jaya Asaad dan Khairul Fattah. Hardiyanto. Ekowisata. No. tumbuh cepat dan sifat kayu yang baik. Produksi kayu pulp A. Feeding grounds) bagi biota air. glauculalis. perkembangan pasar kayu merupakan faktor resiko yang harus diperhitungkan. Nursery. Berbagai jenis pengelolaan telah tersedia. Dari perspektif perikanan. Penelitian dilakukan di laboratorium perlindungan hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) Palembang dan di areal rakyat PT. salah satunya pendekatan pengelolaan yang meliputi kedua aspek utama tersebut adalah pengelolaan dengan pendekatan ekowisata. Hasil penelitian menunjukkan semua jenis insektisida yang digunakan efektif dalam menyebabkan kematian ulat C. tanaman inang dan lingkungan setempat.2006 : Halaman 1-6 . Salah satu pemecahannya adalah penggunaan bioinsektisida dan penggunaan insektisida kimia secara benar dan bijaksana.2 .Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 111-115 . -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada hutan tanaman Akasia. -. mangium saat ini mencapai 9 juta m3/tahun sedangkan potensi produksi kayu bulat sekitar 165. 2006 Hutan dan Derah Sungai merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu dengan yang lain.3. serta cara-cara penyerangan dan penularannya. silvikultur dan pemanfaatan kayu telah dan sedang dilakukan. Kata kunci: Hutan tepi. Ekosistem monokultur dapat lebih rentan terhadap kerusakan oleh hama/penyakit karena tidak adanya keanekaragaman jenis tanaman dan adanya perubahan cuaca yang disebabkan oleh manusia. Riparian. Sri Utami. Untuk dapat mengatasi gangguan dari berbagai macam hama/penyakit yang timbul di lingkungan hutan tanaman sangat diperlukan penelitian dasar yang menyangkut kepada pengenalan jenis kepada hama/penyakit dengan mempelajari gejala dan akibat yang ditimbulkannya. 2006 Makalah ini menguraikan perkembangan budidaya Acacia mangium di Indonesia.serangan hama/penyakit. A.

-. Jelutung.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. sebaran gambut menyebar dengan kedalaman yang berbeda. glauculalis tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman pulai darat umur 1 tahun selama empat bulan pengamatan. Pulai. Ogan Komering Ilir. Kondisi lahan rawa gambut di daerah Muara Medak ditunjukkan oleh kedalaman gambut berkisar antara 0. A. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Bacillus thuringiensis. Pedamaran-Pampangan. jenis insektisida. TULUNG SELAPAN DAN MUARA MEDAK / Bakri. kering dan kemudian gugur. Sugihan dan Muara Medak merupakan kerjasama antara South Sumatera Forest Fire Management Project dengan Pusat Penelitian Manajemen Air dan Lahan Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya. jarak antar titik pengamatan adalah 500 m.5 m. Hama Clauges glauculalis 101 . Musi Banyuasin. Meranti.glaucucalis adalah dengan menggunakan insektisida mikroba yang berbahan aktif dan bakteri Bacilus thuringiensis. Karakteristik gambut di daerah Tulung Selapan mempunyai kedalaman 0. Untuk perencanaan di bidang pertanian dasar seperti ini sangat diperlukan untuk membuat zonasi areal konservasi. Penelitian dilakukan pada tahun 2004 dan 2005 dilokasi Pampangan. bahkan pada masa populasi mencapai puncaknya dapat menyebabkan tanaman gundul. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada areal rawa.0 m. larva C. Serangan hama C. Edwin Martin dan Fitri Windra Sari. Pemanfaatan lahan rawa dan lahan gambut harus mempertimbangkan aspek lingkungan seperti kedalaman. yang diaplikasikan secara campuran dan insektisida kimia yang sifat racun perutnya lebih kuat. Manggris.) saat ini merupakan jenis tanaman yang potensial dan prospektif untuk dikembangkan dalam upaya pembangunan hutan tanaman karena memiliki sebaran alami yang luas dan beragam manfaat kayunya. Halaman 25-30 . Pengendalian yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk mengatasi serangan hama C. -. gambut tergolong matang dan jejak terbakar ditemukan pada semua titik pengamatan. Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam mewujudkan pencapaian pembangunan hutan tanaman pulai dengan produktivitas tinggi di PT Xylo Indah Pratama adalah serangan hama C.laboratorium. Jarak jalur tiap lokasi 30 km . Tulisan dalam makalah ini berisi tentang karakteristik serangan hama C. glauculalis. glaucucalis. glauculalis dalam skala lapangan pada kondisi serangan ringan atau kepadatan populasi yang rendah.40 km untuk masing-masing lokasi. Untuk mengelola lahan gambut diperlukan data dasar yang diperlukan untuk perencanaan akses dan pembuatan saluran drainase. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa rawa gambut di daerah Pedamaran-Pampangan dominan ditumbuhi oleh pakis dan perpat serta sedikit galam. Ulung Selapan. Untuk perencanaan dibidang pertanian data dasar. Serangan hama ini sudah terjadi dari tanaman berumur 4 bulan di lapangan dan sampai tanaman berumur 1 tahun merupakan kondisi kritis terhadap serangan hama C. 2006 Pulai (Alstonia spp. Alstonia spp. Bakung. Muara Medak angustiloba Asmaliyah KARAKRETISTIK SERANGAN HAMA Clouges glauculalis PADA HUTAN TANAMAN PULAI (Alstonia spp. glauculalis. Serangan hama ini dapat mengakibatkan sebagian daun menjadi rusak. Penelitian menggunakan metode survey dengan bantuan teknologi penginderaan jauh. namun aplikasi insektisida mikroba secara campuran efektif dalam menekan serangan hama C. pulai darat. sebaran rawa gambut menyebar dengan kedalamn yang berbeda. Kondisi vegetasi pohon masih dominan di antaranya Asam Payo. Jalur pengamatan menggunakan sistem grid. Banyuasin. Rotan. Kata kunci: Efikasi. Pengetahuan tentang karakteristik serangan merupakan dasar dalam menentukan strategi pengendalian optimum.1 m sampai 5. sebaran dan kematangan gambut. Karakteristik. Kedalaman gambut dari dangkal hingga sangat dalam (4 m hingga 6 m).7.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 15-24 . 2006 Pengembangan pertanian melalui ekstensifikasi ke lahan rawa dan lahan gambut saat ini menjadi alternatif karena terbatasnya lahan kering untuk usaha budidaya tanaman.2 m . Pakis dan Gelam. glauculalis terjadi sepanjang tahun dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim terutama curah hujan dan musuh alami. pembuatan aksesibilitas dan saluran. Kematangan gambut bervariasi dari safrik hingga febrik dan ditemukan jejak terbakar secara periodik. Bakri KAJIAN KARAKTERISTIK LAHAN GAMBUT DI DAERAH OGAN KOMERING ILIR. Kata kunci: Lahan gambut. BANYUASIN DAN MUSI BANYUASIN: DAERAH PEDAMARAN-PAMPANGAN. Kata kunci: Insektisida mikroba. Karakteristik.) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA / Asmaliyah.

11 persen) sangat rendah. Pengelolaan kebakaran antara lain ditujukan untuk meminimasi sumber dan potensi bahan bakar serta pengendalian sumber api melalui rekayasa teknologi dan kelembagaan yang dilakukan secara bersamaan. sumber api dan oksigen. khususnya untuk pemetaan bahan bakar dan cara-cara untuk meminimasi sumber dan potensinya. Swietenia macrophylla King. Pengembangannya membutuhkan dukungan teknologi. Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak merubah ekosistem rawa secara radikal dan tetap mempertahankan sumberdaya awal. luas lahan dan tujuan pengembangannya. Sumatera Selatan Bastoni PENGARUH JENIS MEDIA SAPIH TOP SOIL. pertumbuhan bibit yang rendah pada media sapih gambut adalah pH (3. Salah satu faktor yang menentukan kualitas bibit adalah kualitas media sapih yang digunakan untuk pembibitan. 2006 Mahoni (Swietenia macrophylla King) adalah jenis pohon eksotik yang cukup banyak dipilih untuk hutan tanaman karena mempunyai kualitas kayu yang unggul dan bernilai ekonomi tinggi. intensif dan mampu meningkatkan pendapatan. -..25 sampai 0.5 hektar per kepala keluarga (KK). 102 .Bastoni TIPE VEGETASI HUTAN SUMATERA SELATAN / Bastoni. Pola agrosilvofishery semi intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa di daerah terpencil dan belum berkembang (desa-desa) hutan. Pola agrosivolfishery dapat diterapkan secara intensif atau semi intensif tergantung dari lokasi. Pemilihan jenis komoditi pertanian. Pola agrosilvofishery intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang dekat dengan pasar. efisiensi pemanfaatan lahan. tidak produktif dan belum dikelola secara baik. Media sapih. baik hutan alam maupun hutan tanaman. -. Oleh karena itu perlu dicari pola pemanfaatan terpadu untuk mengubah lahan rawa menjadi lahan yang produktif. luas lahan 1 sampai 2 hektar per KK. Pemahaman dan pengenalan tipe hutan dan tipe vegetasinya akan sangat membantu upaya pengelolaan bahan bakar. Pola agrosilvofishery merupakan sistem usaha tani atau penggunaan tanah yang memadukan potensi sumber daya pertanian. Hal tersebut sangat terkait dengan berbagai kendala biofisik lahan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. macrophylla). Halaman 91-94 . SUB SOIL DAN GAMBUT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT MAHONI (Swietenia macrophylla King. Top soil. ekonomi dan sosial budaya yang membatasi aktivitas budidaya pada lahan rawa. Halaman 45-54 . Pola alternatif yang dapat diterapkan adalah Agrosilvofishery.34) sangat masam dan kejenuhan basa (4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur 2. serta diversifikasi komoditi dan pendapatan. Kata kunci: Mahoni. Kebakaran merupakan rangkaian proses yang terjadi dari 3 faktor. yaitu bahan bakar. diantaranya adalah teknologi pembibitan. Dampak yang diharapkan dari penerapan pola tersebut adalah terbentuknya pola pemanfaatan lahan rawa menetap yang efisien. Bahan bakar.)/ Bastoni dan Effendi Agus Waluyo. -. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .5 bulan setelah sapih.Prosiding Seminar HasilHasil Penelitian Hutan Tanaman. kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan. 2006 Luas lahan rawa gambut yang terdapat di Sumatera Selatan sekitar 1. luas lahan 0. Agus Sumadi dan Efendi Agus Waluyo. Sub soil Bastoni PEMANFAATAN LAHAN RAWA TERPADU DENGAN POLA AGROSILVOFISHERY / Bastony. Gambut adalah media sapih alternatif yang dapat menggantikan top soil. Lahan rawa yang terlantar hanya dikenal sebagai penghasil asap setiap musim kemarau. 2006 Kebakaran hutan merupakan salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Saat ini kondisinya sebagian besar telah rusak. Kata kunci: Tipe vegetasi.42 juta hektar.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 8593 . Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sapih top soil dan sub soil tanah podsolik merah kuning (Ultisol) serta gambut (Histosol) terhadap pertumbuhan bibit mahoni (S. Makalah ini menyajikan ragam tipe hutan dan tipe vegetasi yang terdapat di Sumatera Selatan dengan fokus pada tipe hutan dan vegetasi rawa yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi dibandingkan dengan tipe hutan lainnya.

Walaupun dugaan volume diperoleh dengan menggunakan peubah bebas diameter dan tinggi merupakan dugaan yang sangat teliti. Untuk tujuan kayu pulp.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. penampilan dan nilai kayu. Sukabumi 103 . Dengan rotasi yang tidak lebih dari 20 tahun (Srivastava 1993).2006 : Halaman 87-96 . mangium dapat ditanam hingga kerapatan 1000 pohon/ha. Kata kunci: Acacia mangium. Tingkat kerapatan seperti di atas terlalu tinggi bila tegakan tersebut akan dikelola untuk menghasilkan kayu bulat. -Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Makalah ini menguraikan strategi pemangkasan dan penjarangan untuk Acacia mangium guna menghasilkan kayu dengan mutu yang memenuhi syarat sebagai kayu pertukangan. akan tetapi pengalaman dengan jenis lain menunjukkan bahwa kerapatan tanaman yang tinggi pada awal penanaman menjamin tersedianya pohon yang dapat memenuhi kriteria pemangkasan (Beadle et al. Pohon berbatang tunggal merupakan prasyarat pokok untuk produksi kayu bulat. Cabang yang berukuran besar lebih sulit dipangkas dan berpotensi rentan terhadap masuknya penyakit. Kayu mangium yang bebas dari cacat tumbuh mempunyai penampilan yang menyerupai jati (Gales 2002). 2006 Hutan tanaman Acacia mangium di Indonesia berpotensi menghasilkan kayu untuk pasar furnitur baik di dalam maupun di luar negeri. Jarak tanaman yang rapat disaat penanaman merupakan salah satu pilihan. Rawa. Sebagian pohon mangium juga menghasilkan batang ganda (multi-stem). proposinya kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan tempat tumbuhya (Srivasta 1993). – . Dengan pemangkasan dan penjarangan pertumbuhan pohon sampai akhir daur dapat diatur untuk menghasilkan pohon bebas cabang yang tinggi dan pertumbuhannya optimal.) di KPH Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Persamaan tersebut disusun dengan analisis regresi menggunakan peubah bebas diameter atau kombinasi diameter dan tinggi pohon menggunakan 119 pohon model. Kerapatan yang tinggi juga dapat mempengaruhi rata-rata ukuran cabang. 2006 Beberapa persamaan telah dianalisa untuk menduga volume pohon puspa (Schima walliclii Korth. Mutu kayu Bustomi. Pemangkasan bentuk sebelum pemangkasan lift dilakukan dengan hasil akhir 300 batang pohon di pangkas hingga ketinggian 4. Suplement No. Chris STRATEGI PEMANGKASAN DAN PENJARANGAN UNTUK MENINGKATKAN MUTU KAYU Acacia mangium / Chris Beadle. Kata kunci: Lahan rawa. puspa. Adanya potensi cabang pohon untuk tumbuh besar dan resiko cabang mati sebagai titik masuknya jamur penyebab busuk hati menyebabkan perlunya dilakukan pemangkasan. Untuk itu diperlukan perlakuan pemangkasan. hutan A.kehutanan dan perikanan yang akan dikembangkan dalam pola agrosilvofishery harus didasarkan pada kesesuaian lahan dan pasar. Penjarangan. JAWA BARAT (Tree Volume Estimation for Puspa in the Sukabumi District of West Java) / Sofwan Bustomi. kayu glondongan mangium dapat menjadi sumber kayu yang penting bagi pasar kayu pertukangan. pendugaan. Pemanfaatan. 1994). mangium untuk produksi kayu bulat. Dapat disimpulkan bahwa insiden heartrot dapat meningkat jika pemangkasan dilakukan pada saat tanaman rentan terhadap serangan dan adanya jamur penyebab yang masuk melalui luka bekas pangkas. Knots dan busuk hati merupakan cacat yang mengurangi kekuatan fisik. namun dengan adanya kesulitan pengukuran tinggi pohon di lapangan maka persamaan hanya menggunakan peubah diameter tunggal diameter dapat merupakan pilihan. Sofyan PENDUGAAN ISI POHON JENIS PUSPA DI DAERAH SUKABUMI.1 . Terdapat 2 jenis persamaan volume yaitu persamaan regresi sederhana yang menunjukkan hubungan antara volume dengan diameter dan persamaan regresi ganda yang berdasarkan diameter dan tinggi pohon. Hutan tanaman A. Pemangkasan.3. Di pasar domestik. Agrosilvofishery Beadle. Oleh sebab itu pemangkasan merupakan hal yang harus dilakukan sebagai bagian dari perlakuan silvikultur tanaman A. Halaman 209-222 . mangium merupakan sumber kayu utama untuk bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia (Rimbawanto 2000).5 m. Persamaanpersamaan tersebut digunakan untuk menduga volume bebas cabang dan volume sampai diameter ujung batang 7 cm. kayu mangium mulai digunakan sebagai bahan baku industri furnitur dan sebagian di ekspor ke pasar dunia (Hardiyanto 2005). Kata kunci: Isi. -.

000 ha. Pengujian dilakukan dengan cara mencampur bahan pestisida nabati tersebut dengan tanah media hidup uret di dalam wadah plastik. kentang dan lain-lain. laporan terakhir dari Badan Planologi Khutanan (2004) diperoleh bahwa laju deforestasi baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan pada periode tahun 1997-2000 di Indonesia mancapai 2. sehingga peran hidrologi/tata air di dalam gambut sangatlah penting. jagung.000 ha dan Irian Jaya 8. 2 perlakuan sangat nyata dalam pengendalian larva uret secara in vitro.3% dengan perlakuan serbuk daun mimba.613. Suplement No.Desember 2003. Wida PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA URET SECARA IN VITRO (The Use of Floral Pesticides to Control Soil Pest by In Vitro) / Wida Darwiati.000 ha.3% untuk perlakuan serbuk kulit mahoni. habibatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15 m. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan baik sebagai resorvoir air. juga sebagai insektisida kontak yaitu secara kontak langsung dengan tubuh mengakibatkan pingsan (paralisis) dan kematian larva. serta keanekaragaman hayati yang saat ini eksistensinya semakin terancam. Hasil uji coba pengembangan jenis pohon asli dan bernilai ekonomi perlu diimplikasikan untuk rehabilitasi kawasan lahan gambut yang terdegradasi. vanili. ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba.531. karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. uret 104 .. yaitu ekstrak kulit mahoni dan serbuk daun mimba. Herman PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT SECARA BIJAKSANA DALAM RANGKA MENJAGA KELESTARIANNYA / Daryono. Senyawa pirit Darwiati. Oleh karena itu. Pelestarian hutan rawa gambut dengan segala nilai kekayaan biodiversity harus segera ditindaklanjuti dengan nyata. jamur Metarhirizium anisopliae. 2006 Indonesia mempunyai lahan gambut seluas sekitar 17 juta ha yang meliputi di Sumatera 4. Laju kerusakan hutan dilaporkan terus meningkat. Pestisida nabati yang digunakan adalah jamur Beauveria bassiana. sehingga dalam melakukan rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi dapat lebih berhasil. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik. Pengendalian dengan pestisida nabati terhadap larva uret memberikan pengaruh sebagai penghambat aktivitas makan (antifeedan). teknologi dan kelembagaan rehabilitasi perlu dikaji dan diketahui sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. sifat irreversible drying. masing-masing perlakuan digunakan 5 larva uret. Degradasi. -. Lahan sulfat. hara mineral yang sangat miskin serta sifat keasaman yang tinggi dan mudah terbakar apabila dalam keadaan kering kekurangan air pada lahan gambut tersebut. Pemilihan jenis yang tepat. Maluku 42. Kata kunci: Rawa gambut.000 ha. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 35-50 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pestisida nabati yang berpotensi untuk dijadikan pengendali alternatif untuk hama uret. Ada beberapa tipologi di lahan rawa gambut yang perlu diketahui.1 .000 ha. Kata kunci: In vitro.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.83 juta hektar/tahun termasuk di dalamnya kerusakan hutan lahan gambut. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi dicapai pada hari ke 4 dengan persentase kematian 83. Kalimantan 3. Semua perlakuan pestisida nabati memberikan pengaruh yang nyata. Pengelolaan bijaksana. pengelolaan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit P3HKA Bogor pada bulan September. ekonomi dan budaya maupun fungsi ekologi sehingga kelestarian hutan rawa gambut dapat terjamin. Selawesi 34. dengan merehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi.3. sedangkan pada tanaman kehutanan lebih banyak yang ditanam dengan pola tumpang-sari. Berdasarkan uji beda nyata terkecil. Lahan gambut mempunyai karakteristik yang spesifik seperti adanya subsidensi.Daryono. tepung kanji. Halaman 257-264.753. rosot dan carbon storage. tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus) dan lain-lain. sebagai pengganti pestisida kimia. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 3 kali ulangan. 2006 Uret merupakan larva dari serangga Hollotricia helleri Brsk (Scarabaeidae) yang telah menjadi hama utama pada komoditas pertanian khususnya pada tanaman padi gogo. dan rapuh (fragile). pestisida nabati. Jenis galam (Melaleuca sp). Herman. sedangkan perlakuan mortalitas terendah dicapai pada hari ke 8 dengan persentase 83. Lahan sulfat masam aktual merupakan salah satu lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup disitu.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 5 macam dosis pupuk N.39.al] . 23 g N (50 g urea). 2006 Survei penyakit akar dilakukan pada tanaman Azadirachta excelsa. 46 g N/tanaman (100 g urea) dan kontrol (tanpa pupuk).3. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah dan panjang tunas di kebun pangkas serta kualitas stek pucuk pada akhir percobaan. Akar merah.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 117-123 . Penelitian dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. ivorensis ditemukan di wilayah negeri sembilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 50 g urea/tanaman menghasilkan jumlah dan panjang tunas yang lebih baik di kebun pangkas. stek pucuk. 15 g N (100 g NPK). Dengan kelayakan usaha perbandingan Benefit Cost Ratio (B/C) = 1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Ikan.2006 : Halaman 62-70 . Akar putih. telah dilakukan di areal kebun pangkas di Kaliurang Yogyakarta sejak bulan Juli sampai Oktober 2002. Tectona grandis dan Khaya ivorensis di Semenanjung Malaysia. Ditemukan dua penyakit akar putih dan penyakit akar merah. menuntut dilakukannya perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan stek pucuk. alat tangkap. Mohd BUSUK AKAR PADA TANAMAN SELAIN ACACIA / Mohd Farid A [et.Dharyati. Penyakit. Habibat Farid A. Perlakuan pupuk diberikan kepada 10 baris tanaman sebagai ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. 105 . data yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif. namun jamur penyebabnya belum dapat diidentifikasi. Penyakit akar putih. Hutan tanaman.-. 2. DNA Fiani. masing-masing disebabkan oleh jamur Rigidoporus sp. penelitian meliputi jenis ikan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Kata kunci: Acacia mangium. Hidayat Moko. Ekonomi komposisi ikan. No.090. sampel ikan yang tertangkap ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan alat tangkap yang dioperasikan. Emmy PENELITIAN ASPEK PERIKANAN TANGKAP LAHAN RAWA DI SEKITAR PATRATANI KABUPATEN MUARA ENIM SUMATERA SELATAN / Emmy Dharyati. Muara Enim. Studi menggunakan penanda molekuler menemukan bahwa pasangan primer PNOX01/ITS4 dapat membedakan Phellinus noxius. -. -. kebun pangkas. -. 2006 Ketersediaan benih untuk bibit Merawan yang tidak teratur dan sifat rekalsitran dan benih. dan phellinus sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan terdapat 35 jenis ikan rawa dengan 10 macam alat tangkap dari beberapa habibat lahan rawa dan 10 jenis ikan ekonomis penting. Alat tangkap.52 . Penyakit akar yang mematikan yang menyerang K. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis ikan tertangkap dari beberapa habibat lahan rawa. aspek sosial ekonomi dilakukan dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal). merawan. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk nitrogen terhadap produksi tunas dan kualitas stek pucuk. Metode penelitian dilakukan dengan survei lapangan dan wawancara dengan dipandu kuesioner terpola. Halaman 45 .1 . Ari PENGARUH PUPUK NITROGEN TERHADAP PRODUKSI TUNAS DAN KUALITAS STEK PUCUK MERAWAN (Effect of Nitrogen Fertilizers on Shoot Yield and its Quality as Shoot Cutting of H.000. pupuk nitrogen. Dari jumlah 70 nelayan sebagai responden 50 persen status nelayan Full Time dan 50 persen status nelayan sambilan dengan pendapatan perbulan Rp. Kata kunci: Perikanan. Kata kunci: Hasil tunas. yaitu 7. 2006 Penelitian aspek perikanan tangkap di lahan rawa yang merupakan bagian dari perairan umum tempat hidup dan berkembang biak beberapa jenis ikan rawa sekitar Patratani Kab. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi jamur secara cepat tanpa tergantung pada cara identifikasi morphologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2001. habibat dan aspek social ekonomi.5 g N (50 g NPK). sedangkan perlakuan pupuk 100 g NPK/tanaman menghasilkan kualitas stek pucuk yang lebih baik dibandingkan kontrol. odorata)/ Ari Fiani. Penyakit ini nampaknya berhubungan dengan buruknya cara persiapan lahan dan serangan jamur yang terjadi sebelumnya.

dan penyakit tanaman juga diuraikan. Morag PENGGUNAAN TEKNIK DNA UNTUK IDENTIFIKASI JAMUR / Morag Glen. Kata kunci: Jamur. dan deteksi awal jamur perusak. (2) Lebak Sungai Mati dengan karakteristik vegetasi semai dan tumbuhan bawah berupa rumputan. atau hanya mempunyai sifat-sifat yang unik hanya pada masa tertentu dari siklus hidupnya. Teknik-teknik lain yang banyak digunakan dalam bidang pangan. Kata kunci: Perikanan. Karim KEGIATAN PERIKANAN DI PERAIRAN HUTAN RAWA SUNGAI MUSI KECAMATAN SEKAYU / A. biologi dan patologi jamur. Kata kunci: Acacia mangium.Teknik ini terutama berguna untuk identifikasi jamur yang tidak menghasilkan badan buah. Hasil ini menunjukkan kegunaan informasi sekuens DNA untuk mengklarifikasi informasi ekologis. -. Sementara sebagian lainnya sulit untuk ditumbuhkan dalam kultur atau kalaupun bisa tidak menghasilkan sifat-sifat yang spesifik. bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan yang tertangkap dan selektivitas alat tangkap. Identifikasi. Identifikasi 106 . Tipe vegetasi. peternakan. Alat tangkap. Penggunaan teknik DNA untuk identifikasi jamur telah banyak diterapkan di bidang kesehatan manusia dan hewan. Busuk hati. Ikan Glen. Morag IDENTIFIKASI SECARA MOLEKULER ORGANISME PENYEBAB BUSUK AKAR DAN BUSUK HATI / Morag Glen [et. sedangkan di lebak sungai Mati 14 jenis. Teknik ini juga banyak diterapkan untuk pengujian mutu pangan untuk mendeteksi kontaminasi jamur.Karim Gaffar dan Khairul Fatah. ekologi. saat ini yang paling banyak digunakan adalah metode yang berdasarkan pada PCR (polymerase chain reaction) karena cepat. Metode yang dipilih untuk aplikasi tertentu dipengaruhi beberapa faktor. sedangkan di lebak Sungai Mati adalah jaring. Diperairan hutan rawa lebung Pasunde Sungai Musi didapatkan 45 jenis ikan hasil. Hasil tangkapan di lebak Sungai Mati didominasi oleh ikan Sapil (Helestoma temminkii) sedangkan di lebung Pasunde didominasi oleh ikan Lais (Cryptopterus spp). Keragaman jenis ikan. Identifikasi DNA terhadap jamur yang berkaitan dengan tanaman juga berguna untuk meneliti jamur mikorhiza yang bermanfaat bagi tanaman. Rawa banjiran. termasuk jumlah sample dan jumlah kandidat jenis. A.Desember 2005 pada 2 tipe rawa banjiran sungai Musi di Kecamatan Sekayu. Semua teknik DNA memerlukan sample herbarium yang memadai dengan uraian morphologi yang lengkap untuk verifikasi hasil dari teknik DNA. Teknik DNA merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk identifikasi jamur.2006 : Halaman 50-55 . -. 2006 Penelitian telah dilakukan selama delapan bulan mulai Mei . Teknik identifikasi DNA terutama diperlukan untuk identifikasi cepat misalnya untuk keperluan karantina atau bio-security.al] .Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Beberapa jenis jamur dapat dengan mudah ditumbuhkan dalam kultur dan menghasilkan karakter mikroskopis yang berguna untuk identifikasi. Di lebung pasunde alat tangkap yang paling tidak selektif adalah empang. 2006 DNA menyimpan banyak karakter taksonomi untuk identifikasi organisme yang mempunyai sedikit karakter morphologi. sensitif dan dapat memberikan hasil dalam jumlah besar. -. bagian yang digunakan untuk identifikasi taksonomi jenis jamur. Hutan rawa. Busuk akar. memonitor keberadaan jamur simbiotik. kesehatan.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 125-133 .2006 : Halaman 56-61 .Gaffar.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Teknik DNA Glen. Meskipun banyak metode untuk menganalisa DNA. Dimana identifikasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk membantu menentukan perlakuan kesehatan yang tepat. Kabupaten Musi Banyuasin yaitu: (1) Lebung Pasunde dengan karakteristik rawa bervegetasi tipe pohon dan tiang. 2006 Makalah ini membahas aplikasi teknik molekuler untuk identifikasi jamur penyebab busuk akar dan busuk hati pada Acacia mangium menggunakan empat sampel yang berbeda.

Golani. tuba jenu. 2006 Tanaman murbei (Morus spp) banyak tumbuh di daerah tropis dan sub tropis pada ketinggian 400 m -700 m dpl dengan suhu rata-rata 21-25 derajat celcius (Katsumata. Didaerah Jawa Timur dan Jawa Tengah dikenal dengan nama besto. seperti akar tanaman tuba (Derris eliptica (Roxb) Benth). Keberlangsungan hutan tanaman terancam karena manajemen yang tidak tepat atas tanaman monokultur. Akar tuba.D. Jakarta 23 Nopember 2006 . Rawa. akar tuba. Managemen. Social ecological. Kata kunci: Acacia mangium. Kualitas dan kuantitas daun murbei sebagai bahan makanan ulat sutera sangat dipengaruhi aspek biologis.D PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI INDONESIA DAN ANCAMAN TERHADAP KELANGSUNGANNYA / G. bermutu tinggi dan ekonomis. oyod ketungkul. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar maka usaha pengendalian dengan insektisida sangat diperlukan. produksi kokon.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Perlu perlakuan awal lahan dengan melakukan pembuatan saluran drainase yang tepat dan pengapuran yang cukup untuk mendapatkan lahan yang optimal. Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dengan nama daerah akar jenu. -. 2006 Pengelolaan hutan tanaman yang berkelanjutan harus mencakup kepentingan Plane bumi-konservasi keragaman hayati dan mencegah kerusakan lingkungan. Penduduk . Murbei 107 . Kata kunci: Hama. ternak peliharaan. Kelapa sawit. 2006 Lahan di wilayah Air Kumbang Padang pada umumnya merupakan lahan rawa pasang surut dan sebagian besar lahan ini merupakan lahan marginal sebelum adanya pengelolaan lahan lebih lanjut. Makalah ini menguraikan cara-cara untuk mengatasi hal diatas melalui cara pengelolaan yang tepat dan pendekatan multi-stakeholder untuk mengakhiri penebangan illegal. Teguh UJI EFIKASI AKAR TUBA TERHADAP HAMA PENGGEREK PUCUK MURBEI / Teguh Hardi TW dan Priyatna Wiraardinata. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. serangan hama dan penyakit pernah dilaporkan menyebabkan gagalnya budidaya ulat sutera di Indonesia. pertumbuhan populasi. Uji efikasi. Hutan tanaman Hairudin. sedangkan di Jawa Barat dikenal dengan nama tuwa. tuwa laleue. Halaman 61-63 .menyediakan kesempatan untuk pengembangan sosial dan pengentasan kemiskinan. namun ketersediaan tanaman ini sangat dipengaruhi oleh sistem budidaya. G. -.Keuntungan . pemangkasan. Hendi PROSPEK PENGELOLAAN LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI WILAYAH AIR KUMBANG PADANG / Hendi Hairudin dan Ulil Amri. serta mutu kokon yang dihasilkan oleh ulat sutra sehingga kondisi tanaman murbei sangat menentukan akan produksi yang dihasilkan oleh ulat sutera. 1964) dan tanaman ini merupakan makanan utama ulat sutera (Bombyx mori). Agribisnis. tuba kurung (Kalimantan Barat).menjamin suplai bahan baku serat yang terbarukan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. sebelum melakukan standar budidaya kelapa sawit sebagaimana dilakukan dilahan kering pada umumnya. Air Kumbang Padang Hardi TW. -. Plantation forest. kayu tuba. kebakaran dan penebangan illegal. Salah satu insektisida yang ramah lingkungan adalah insektisida nabati yaitu insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. tuwa leteng. polusi lingkungan dan hama menjadi resisten maka penggunaan insektisida ramah lingkungan merupakan alternatif yang tidak dapat ditawar lagi. seperti keracunan pada manusia. Pengelolaan yang baik dan benar dapat merubah lahan ini dari lahan marginal menjadi lahan yang memiliki potensi S1 dan S2 untuk kelapa sawit.2006 : Halaman 7-13 . Hama penggerek. Penelitian inter-disiplin akan terus memainkan peran dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida kimia (sintesis). Pasang surut. Golani. Survei atas adanya kandungan dan kedalaman pirit menjadi sangat penting sebelum kita melakukan desain tata air di wilayah tersebut. Tersedianya tanaman murbei yang baik merupakan salah satu penentu keseimbangan produksi benang sutera . seperti pemilihan varietas yang ditanam. tuba.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 69-72 . Penyakit.

2006 Kepuh (Sterculia foetida Linn) merupakan salah satu jenis tanaman asli Indonesia dan mempunyai kisaran tempat tumbuh yang luas walaupun lebih cocok untuk daerah pesisir. . 2006 Kayu Acacia mangium tidak saja sesuai untuk bahan baku pulp dan kertas bermutu tinggi tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan baku kayu pertukangan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan jenis media tabur hanya berpengaruh nyata terhadap parameter keserampakan tumbuh . Budidaya 108 . Maduca aspera. -. Perlakuan silvikultur yang tepat seperti pemangkasan sangatlah penting bila tegakan ditujukan sebagai penghasil kayu bulat. Kayu pertukangan Herdiana. tetapi kandungan tanah yang sangat tinggi akan berpengaruh pada struktur media (keremahan media). -. Tegakan A. Sampai saat ini informasi yang berkaitan dengan jenis ini.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. mangium dapat dijadikan kayu bulat dengan daur 10 tahun dan dapat menghasilkan hingga 200 m3 per ha per tahun. Nanang POTENSI BUDIDAYA KEPUH (Sterculia foetida Linn. harga ini diharapkan akan meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam. Perbedaan kemampuan setiap media yang diuji dalam mendukung perkecambahan bambang lanang terkait dengan perbedaan sifat fisik media. sedangkan pada parameter daya berkecambah dan kecepatan berkecambah berbeda tidak nyata. Kayu bulat mangium yang sekarang tersedianya berasal dari tegakan yag tidak dipangkas dan tidak dijarangi. Jenis ini merupakan salah satu jenis substitusi yang paling baik bagi jenis ramin (Gonystylus bancanus) yang pada saat ini sudah semakin sukar didapatkan karena sudah langka dan telah masuk jenis yang dilindungi. Sekitar 30 persen cocok untuk kayu bulat dengan diameter terkecil 30 cm.Hardiyanto. termasuk teknik pembibitanya belum banyak diketahui. daun. Jenis media tabur yang paling sesuai untuk perkecambahan benih bambang lanang adalah media M3 (komposisi pasir: tanah = 50:50 v/v) dan M2 (komposisi pasir: tanah = 75:25 v/v). Kecepatan berkecambah. Kata kunci: Kepuh. Kata kunci: Bambang lanang. Kayu mangium makin dikenal masyarakat dan meningkatnya mutu kayu sebagai hasil dari perlakuan silvikultur yang tepat untuk produksi kayu bulat. Kayu jenis ini juga kemungkinan dapat digunakan untuk bahan baku pulp dan kertas. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Bambang lanang (Madhuca aspera) merupakan salah satu andalan lokal yang telah direkomendasikan untuk dikembangkan dalam kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). biji maupun yang lainya mempunyai potensi sebagai bahan baku obat dan masyarakat lokal sudah sejak dulu menggunakannya untuk pembuatan obat tradisional atau jamu. Jenis media yang diuji adalah perbedaan komposisi pasir dan tanah.Permintaan akan kayu bulat mangium meningkat seiring dengan berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Eko B ACACIA MANGIUM UNTUK KAYU PERTUKANGAN / Eko B Hardiyanto. Sterculia foetida Linn. Keserampakan tumbuh Herdiana.)/ Nanang Herdiana. Di samping itu beberapa bagian dari tanaman ini baik kulit batang. Hengki Siahaan dan Teten Rahman S. Kata kunci: Acacia mangium.. Meskipun pada saat ini harga kayu bulat mangium relatif rendah. Halaman 137-140 . Media tabur. sehingga penelitian yang berkaitan dengan aspek ini masih diperlukan. Daya berkecambah. Untuk mendukung program pengembangan kepuh ini. Nanang PENGARUH JENIS MEDIA TABUR TERHADAP PERKECAMBAHAN BAMBANG LANANG (Maduca aspera) / Nanang Herdiana.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Halaman 111-116 . sehingga rendemen kayunya juga rendah (banyak mata cabang dan batangnya tidak lurus) sehingga rendemen kayunya juga rendah. Kandungan-kandungan tanah akan berpengaruh dalam penyediaan air yang dibutuhkan selama proses perkecambahan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media tabur yang paling optimal untuk perkecambahan benih bambang lanang. 2006 : Halaman 97-104 . pengadaan benih atau bibit serta informasi mengenai teknik budidayanya sangatlah penting.

yaitu tahap pertama adalah pengambilan sampel tanah dan akar tanaman di 3 daerah pusat jati asal Kabupaten Muna (Raha. Kata kunci: Acacia mangium. Junghuhnia vincta. jamur earshstar (bintang) dan jamur koral. -. Gigaspora.3. Buton (Sampolawa) dan Konawe Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 28 Maret . jamur papan dan jamur kerak. Phellinus noxius dan beberapa jenis ganoderma. Kayu lapuk.1 . Dari serangkaian pengkajian yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. jamur puffball (jamur kancing dengan banyak serbuk spora). telah mengarahkan pengembangan areal pertanian pada pemanfaatan lahan rawa pasang surut. Penyakit penting pada pohon-pohon di Indonesia disebabkan oleh jenis Basidiomycetes seperti Rigidoporus microporus. Halaman 275284. Agribisnis. diperlukan strategi yang ditunjang oleh berbagai persyaratan tertentu sehingga pengembangan model tersebut mampu meningkatkan pendapatan dan nilai tambah kepada petani serta menjadi wahana yang penting untuk menanggulangi kemiskinan di pedesaan. batang.2 April 2005. 2006 Semakin menciutnya lahan subur untuk kegiatan non pertanian dan beberapa lahan sawah intensif yang telah mengalami jenuh produksi (leveling off) serta meningkatnya permintaan akan hasil pertanian khusunya pangan. sedangkan beberapa jenis yang lain merupakan patogen yang menyerang daun. Identifikasi Husna DIVERSITAS MIKORIZA PADA POHON PLUS JATI DI SULAWESI TENGGARA (Diversity ofMicoriza on PlusTtree of Teak in South East Sulawesi) / Husna.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Rawa. biofisik dan sosial ekonomi sehingga produktivitasnya masih relativ rendah. Namun demikian pemanfaatan lahan tersebut belum dilakukan secara optimal karena adanya berbagai kendala teknis. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan model sistem dan usaha agribisnis di lahan rawa pasang surut.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 57-68 . Suplement No. Hasil penelitian menunjukan bahwa jati berasosiasi dengan CMA dengan ditemukan empat genus yaitu Glomus. jamur toadstool (jamur payung beracun). Basiodiomycetes merupakan kelompok penting dari jamur yang mencakup bentuk-bentuk yang sudah dikenal seperti bentuk mushroom (jamur payung yang bisa dimakan). Faisal DanuTuheteru dan Mahfudz. Daerah Matakidi 109 . Oleh karena itu. Jenis-jenis Basidiomycetes secara tradisional diidentifikasi melalui bentuk dan struktur mikroskopis badan buah dan bentuk pertumbuhan ketika diisolasi dalam kultur laboratorium. -. Taksonomi. kayu lapuk. Penyakit akar. Hal ini berimplikasikan bahwa pembangunan pertanian di lahan rawa pasang surut harus dilakukan melalui serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dalam kerangka sistem dan usaha agribisnis. yang digolongkan menurut produksi spora seksual di luar struktur mikroskopi yang disebut basidium. 2006 Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman Mikoriza Arbuskula (CMA) pada pohon induk Jati di Sulawesi Tenggara. untuk pengembangannya secara optimal dan berkelanjutan. Acaulospora dan Scutellospora. Glomus ditemukan pada semua lokasi pengamatan dengan empat tipe spora. Ian A MIKOLOGI BASIDIOMYCETES / Ian A Hood. Tahap kedua yaitu isolasi. beberapa jenis membentuk hubungan mycorhizal yang menguntungkan dengan akar pohon inang. Basidiomycetes menempati banyak relung lingkungan termasuk pada sampah terdekomposisi. atau sistem perakaran pada beberapa jenis pohon yang berbeda. Kata kunci: Lahan rawa pasang surut. Basidiomycetes. Penelitian dilaksanakan 2 tahap. -. Pasang surut Hood. 2006 Sejumlah penyakit penting pada pohon dan tanaman di daerah tropis Asia disebabkan oleh jenis-jenis Basidiomycetes.Hermanto. Jamur. identifikasi dan pengamatan kolonisasi CMA dilakukan di Laboratorium Budidaya Pertanian Unit Kehutanan Fakultas Pertanian Unhalu Kendari. Matakidi dan Wakuru).Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. Model tersebut merupakan serangkaian kegiatan terpadu di sektor pertanian dengan mengintegrasikan antara penerapan teknologi spesifik lokasi dan rekayasa kelembagaan pertanian. R MODEL SISTEM DAN USAHA AGRIBISNIS DI LAHAN RAWA PASANG SURUT: KONSEPSI DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA / R Hermanto dan G Subowo. dan tanah dengan habitat yang beragam seperti hutan maupun daerah terbuka.2006 : Halaman 31-49 .

2006 Towards The Succes of Induction and Multiplication in Shoot tip Culture of Styrax benzoione DRYAND) / Jayusman. Pengujian di fokuskan pada aplikasi media dasar (MS dan ½ MS) dan aplikasi ZPT BAP. Kata kunci: Jayusman PERAN MEDIA DASAR DAN KONSENTRASI HORMON PERTUMBUHAN TERHADAP INDUKSI DAN MULTIPLIKASI TUNAS PUCUK KEMENYAN (The Effect of Basal Media and Plant Growth Regulator Concentration Hutan Tanaman : Vol. kombinasi beberapa zat pengatur tumbuh akan diuji dalam kultur tunas ramin ini. Styrax benzoine. 2006 Penelitian inisiasi tunas ramin (Gonystylus bancanus) melalui perbanyakan kultur jaringan telah dilakukan dengan obyek pengamatan meliputi (1) media dasar dan (2) kombinasi zat pengatur tumbuh (zpt) yang sesuai untuk kultur jaringan G. kultur jaringan.merupakan daerah dengan keanekaragaman CMA yang tinggi. Untuk itu percobaan ini ditujukan untuk mendapatkan media dasar. Woody Plant Medium (WPM) dan Greshoff & Doys (GD). -. zat pengatur tumbuh Jayusman KLASIFIKASI KEMENYAN BERDASARKAN VARIABILITAS FENOTIPIK DI TAPANULI UTARA (Styrax benzoine Classification Revealed Phenotypic Variability in North Tapanuli) / Jayusman.3.1 . bancanus dan S benzoine mulai ditangani secara intensif. hifa eksternal dan vesikula.62 . Pengujian dilakukan dengan berbagai media dasar yaitu Murashige and Skoogs (MS). diversitas. benzoine.1 . Halaman 53 . Saat ini pengembangan jenis-jenis prioritas seperti jenis G.10 .01 ppm terbukti memberikan respon terbaik pada inisiasi tunas. jati Jayusman INISIASI TUNAS RAMIN MELALUI KULTUR JARINGAN (Shoots initiation of Gonystylus bancanus Kurz In-vitro Propagation)/ Jayusman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. -. Dua jenis Auxin: Indole Acetic Acid (IAA).05 ppm terlihat hanya sesuai untuk induksi kalus dengan perkembangan lambat. No.01 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap multiplikasi. multiplikasi. 2006 Pengembangan jenis-jenis prioritas seperti kemenyan mulai dilakukan secara intensif. Halaman 1 . 1/2 MS. bancanus. zat pengatur tumbuh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inisiasi eksplan pucuk pada media dasar 1/2 MS dengan aplikasi kombinasi ZPT BAP 1 ppm + IAA 0.05 ppm terbukti menjadi perlakuan terbaik tahap induksi dan kombinasi media dasar MS dengan aplikasi kombinasi BAP 0.25 ppm + IAA 0. kultur tunas. Kata Kunci: Cendawan Mikoriza Arbuskula. kultur jaringan. Sejumlah tanaman telah berhasil diproduksi secara komersial seperti T. No. mangium. Media GD dengan BAP 1. Suplement No. Bentuk kolonisasi yang ditemukan adalah hifa internal. 110 . Arif Setiawan. Halaman 233245. grandis dan A. Napthalene Acetic Acid (NAA) dan jenis Sitokini (Benzyl Amino Purine-BAP) pada berbagai konsentrasi. NAA dan Kinetin pada beberapa konsentrasi pada tahap induksi dan multiplikasi S. Kata kunci: Induksi.5 ppm + NAA 0.1 . Untuk itu penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan deskripsi fenotipik jenis kemenyan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. jenis dan kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang ideal pada fase ini dan multiplikasi S. Pada skala luas diharapkan dapat menyediakan bibit skala produksi masal dalam waktu singkat dengan kualitas bibit sesuai induknya.3. Hasil pengujian menunjukkan bahwa eksplan yang ditanam pada media 1/2 media dasar dengan kombinasi BAP 1 ppm + NAA 0. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui variabilitas fenotipik jenis kemenyan di beberapa sentra produksi getah Gonystylus bancanus. benzoine. -.3.Jurnal Penelitian Salah satu cabang bioteknologi yang telah diterapkan di Indonesia adalah perbanyakan kultur jaringan.

Phosphogluco isomerase (Pgi). 2006 Jenis jati (Tectona grandis) saat ini tidak identik lagi dengan Perum Perhutani.27 . sistem enzim. Variasi genetik Jayusman METODE EKSTRAKSI DAUN DAN INTENSITAS POLA PITA ISOZIM JENIS KEMENYAN (Leaf Extraction Method and Isozyme of Styrax benzoine Band Pattern Intensity) / Jayusman. Kata kunci: Fenotipik. Tapanuli Utara. Data dianalisis berdasarkan Uji Bartlett. Sipolha (3 famili) dan Tarutung (3 famili).5 dan elektrolit bufer Natrium Borat pH 8.34 cm. Sitoluama dan Aek Nauli. Temperatur elektrophoresis konstan 4 derajat Celcius.81 atau 81%). Simangonding.32.16 mm 1.7. No.1 . Halaman 1 . Halaman 17 . benzoine var dryand dan S. Hasil penelitian ini membuka peluang identifikasi tanaman S. Profinsi Sumatera Utara.10. benzoine melalui kegiatan seleksi terhadap karakter unggul yang dimiliki.kemenyan di Simasom. senyawa fenolik serta subrat dalam sel yang sulit diidentifikasi. Elektroforesis.19 (perbedaan 0. Analisis varians menunjukkan adanya perbedaan yang nyata diantara populasi pada sifat tinggi dan kekokohan semai dan tidak berbeda nyata pada sifat diameter semai. Sistem enzim yang diuji Acid phosphatase (Acp). Analisis isozim juga menguji kombinasi bufer ekstraksi. Malate dehydrogenase (Mdh). 2006 Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan semai surian (Toona sinensis) di persemaian. bufer elektrolit dan bufer gel dan karakter material daun. berturut-turut 5. benzoine var hiliferum mengelompok berdasarkan karakter yang memiliki variabilitas fenotipik yang luas. benzoine var dryand.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.7. Kondisi eletroforesis optimum diperoleh dari ekstrak bufer TPTDAM pH 7. -. Glutamate oxaloacetate transaminase (Got). tebal kulit dan luas daun. Zimogram Jayusman SERTIFIKASI ASAL KULTUR JARINGAN: IMPLEMENTASI DAN IMPLIKASINYA BAGI PERLINDUNGAN KONSUMEN/PENGGUNA / Jayusman. Kata kunci: Kemenyan.Wana Benih : Vol. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 35-41 . Famili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis S. Toona sinensis. Fase semai. Kata kunci: Surian. Bufer ekstraksi.13 cm . S. Dua tipe variasi spesifik masing-masing ditemukan pada tipe getah pohon dan bentuk biji yang dibedakan atas tipe getah meleleh dan menggumpal serta bentuk dasar biji runcing dan agak datar. diameter dan berat biji). -. Styrax benzoine. benzoine var hiliferum. variabilitas Jayusman EVALUASI KERAGAMAN GENETIK BIBIT SURIAN DI PERSEMAIAN (Evaluation of Genetik Variation of Surian Seedling at Nursery Level)/ Jayusman. S. Famili yang diuji menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada semua pada sifat yang diuji. diameter dan kekokohan semai bervariasi. Materi yang diuji dikoleksi dari tiga populasi (daerah koleksi benih) surian asal Propinsi Sumatera Utara yaitu: Ambarita (5 famili). Penelitian ini mengkaji prosedur visualisasi sistem enzim di dalam populasi S. Masalah utama dalam ekstraksi isozim adalah munculnya senyawa sekunder dalam jaringan tanaman seperti tanin.8 . bentuk buah (diameter dan berat buah) dan bentuk biji (panjang. getah.Wana Benih : Vol. Observasi dilakukan terhadap 15 karakter fenotipik pada 81 pohon yang berasal dari lokasi tersebut. Konsentrasi gel kentang adalah 13 persen dengan arus listrik 35 Ampere meter dengan voltase konstan 250 volt.38 mm dan 4.1 . Interpretasi genotipe berdasarkan profil pita isozim dalam bentuk zimogram menghasilkan struktur enzim monomer dan trimer dengan 10 lokus 20 alel.5 yang tergolong migrasi lambat sampai sedang.7. Enam sistem enzim yang diuji menunjukkan adanya variasi aktivitas enzim dengan karakter migrasi pita isozim berkisar pada nilai Rf 20 . karena jenis ini telah banyak dibudidayakan dalam skala luas khususnya hutan rakyat dan menjadi jenis pilihan utama dalam Gerakan Rehabilitasi Hutan dan 111 . seluruh individu pohon dari dua jenis S. Alcohol dehydrogenase (Adh) dan Glucosa-6-phosphate dehydrogenase (G-6-pdh). 2006 Teknik Elektroforesis dapat diterapkan untuk mendeteksi isozim dalam perincian genotipe populasi tanaman kemenyan. Analisis gerombol menunjukkan bahwa kedua jenis S.62.5. benzoine dengan menggunakan elektrophoresis horizontal. perbandingan varians dengan standar deviasi variasi fenotipik dan analisis gerombol berdasarkan program NTSYSpc version 2. No.28 . Pertumbuhan tinggi semai. Koefisien kesamaan fenotipik menunjukkan bahwa pada skala kesamaan 0. benzoine memiliki variabilitas fenotipik yang luas terutama pada karakter diameter batang. namun sebagian individu dari kedua jenis kemenyan tersebut mengelompok menjadi satu. 1. -. tipe tajuk. benzoine mampu disatukan dalam satu kelompok.

Penyakit. pemupukan. dll. penanaman.347 site dengan pola penanaman terintegrasi. produksi bibit elit (berkualitas) tidak selalu atau harus dihasilkan melalui teknologi kultur jaringan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . penangkar/produsen bibit mendapat harga jual yang pantas terhadap kualitas benih yang diproduksi serta pemulia pohon mendapatkan perlindungan intelektual. pemerintah juga mendapat mitra dalam pengadaan bibit. Saat ini masih banyak ketimpangan persepsi berkaitan potensi bibit kultur jaringan yang satu sisi dianggap selalu berkualitas dan memiliki keseragaman pertumbuhan dan disisi lain adanya keraguan mutu sumber materi genetik yang digunakan. Balsa (Ochroma sp). Halaman 41-43 . Kata kunci: Hama. KTI) sudah dilakukan sejak tahun 1997 sampai sekarang dengan luas kurang lebih 3000 ha dn jumlah tanaman 4. Bibit jati asal kultur jaringan memberi kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan bibit jati di atas. Halaman 95-101 . menegaskan bahwa bibit jati yang dipasarkan harus dilacak asal usulnya agar tidak memberi dampak negatif baik aspek lingkungan. Solusi yang dapat ditempuh adalah dengan (a) integrasi marker molekuler untuk pelacakan asal usul materi bibit. KTI melakukan manajemen penanaman sendiri dan pihak perusahaan PT. Banyak faktor yang berperan dalam menghasilkan bibit unggul.meskipun standarisasi dan sertifikasi bibit asal kultur jaringan tersebut belum optimal. penjarangan I dan II dan pemanenan. diantaranya materi perbanyakan harus lolos pemuliaan genetik. 67/Menhut/-II/2004. pruning/rempesan cabang. Implementasi sertifikasi bibit asal kultur jaringan harus diawali pelacakan terhadap sumber materi genetik bibit. Tectona grandis. Adi KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DAN UPAYA PENGENDALIANNYA: PENGALAMAN PENGELOLAAN HUTAN PENELITIAN / Adi Kunarso dan Edwin Martin. uji laboratorium. dan sosial. sebagai berikut: Pihak perusahaan PT. Sertivikasi Judhiharto. PT Kutai Timber Indonesia Kunarso. uji vigoritas) dikombinasikan dengan pelacakan marker molekuler. Jabon (Gmelina arborea). antara lain persemaian. 2006 Hutan penelitian Kemampo adalah hutan yang dibangun dengan tujuan sebagai tempat berlangsungnya penelitian di bidang hutan tanaman untuk menghasilkan paket-paket teknologi tepat guna bagi perkembangan hutan 112 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Hutan tanaman rakyat. Kultur jaringan. Heru SERANGAN HAMA PENYAKIT DAN CARA ANTISIPASINYA PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI DAN HUTAN TANAMAN RAKYAT PT KUTAI TIMBER INDONESIA / Heru Judhiharto dan Agus Setiawan. KTI melakukan pola kerjasama dengan masyarakat/institusi dengan sharing modal dan hasilnya. Bibit. pemeliharaan. Didalam aktivitas perawatan tidak terlepas dari pada permasalah an-permasalahan tentang adanya serangan hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman tersebut dan didalam pelaksanaan dari silvikultur hutan tanaman. Jakarta 23 Nopember 2006 . Kata kunci: Jati. -.5 juta pohon serta lokasi 2. Keputusan Menhut melalui SK No. Waru rangkang (Hibiscus similis). Beban sertifikasi tidak harus ditanggung pemerintah semata. mutu benih dan mutu bibit tanaman hutan. ekonomi. Kutai Timber Indonesia (PT. 2006 Penanaman HTI (hutan Tanaman Industri) dan HTR (Hutan Tanaman Rakyat) dengan jenis tanaman fast growing species untuk bahan baku plywood industry. Hutan tanaman industri. Penanaman yang dilakukan oleh PT. Implikasi dari implementasi sertifikasi diyakini memiliki multi dampak karena selain petani/konsumen mendapatkan harga ideal dan kepastian hasil. mengingat sertifikasi juga bersifat sukarela (voluntary) yang sangat terbuka untuk semua pihak berperan aktif memulai dan mengimplementasikan sertifikasi sumber benih.Lahan (GERHAN). antara lain adalah Sengon laut (Paraserienthes falcataria). (b) menggunakan metoda gabungan antara sertifikasi konvensional (pemeriksaan lapangan. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. persiapan lahan.

-.5 tahun di KHDTK Benakat. untuk memproduksi satu keping atap nipah dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp. -. sedikitnya petugas dilokasi. Hal ini disebabkan oleh ekosistem mikro yang kurang stabil/seimbang. Kalimantan Selatan yang hanya terserang 5. Beberapa permasalahan yang dihadapi di hutan adalah: kurangnya sarana dan prasarana pencegahan dan pengendalian kebakaran. Industri rumah tangga. serta belum adanya tindakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Sumatera Selatan Kurniawan. 300. Hutan Penelitian Kemampo.hingga Rp. Salah satu ancaman bagi pengembangan dan pengelolaan hutan Kemampo adalah kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun. 600. Usaha kecil atap daun nipah.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 161-166 . Kata kunci: Nipah. Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu vegetasi penyusun ekosistem rawa pasang surut yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi. Pengendalian kebakaran. Pada masing-masing asal sumber benih. Kerusakan ini menimbulkan kerugian dan banyak menyebabkan kematian tanaman. Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Asal sumber benih.khususnya hutan tanaman. selain itu tegakan monokultur bagi hama berarti akumulasi bahan makanan untuk kehidupannya. Kecamatan Ilir Barat II. Salah satu bagian tanaman yang sudah dimanfaatkan serta diusahakan dalam skala industri rumah tangga di Sumatera Selatan yaitu daun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerusakan akibat mati pucuk pada tanaman Acacia mangium umur 3. Halaman 87-90 . Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha ini adalah belum adanya kelembagaan yang mengakomodasi kepentingan pengrajin serta minimnya modal yang dimiliki.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. sementara uluran bantuan modal baik dari pemerintah maupun lembaga keuangan swasta tidak pernah menjangkau pengrajin atap daun nipah. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Agus EVALUASI INTENSITAS KERUSAKAN MATI PUCUK ASAL SUMBER BENIH ACACIA MANGIUM DI KHDTK BENAKAT / Agus Kurniawan dan C. 2006 Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi lahan rawa pasang surut yang cukup luas. Palembang. pengawasan untuk mendeteksi secara lebih dini kemungkinan terjadinya kebakaran serta penanggulangan secara fisik saat kejadian kebakaran. 16. Keuntungan bersih yang diperoleh pengrajin atap nipah bisa mencapai Rp. Tanaman ini banyak dijumpai dirawa-rawa air payau dan di depan muara-muara sungai. Pengelolan hutan Kunarso. Dari hasil observasi di kelurahan Karyajaya. Sementara itu upaya yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (BP2HT) sebagai pengelola hutan Kemampo antara lain: dengan pendekatan secara silvikultur yaitu dengan membuat sekat bakar (jalur hijau) dan ilaran api. Andriyani. Sedangkan kerusakan terendah ditujukan oleh tanaman A.. mangium asal kebun benih Wonogiri. sebagai bahan baku pembuatan atap.. Kata kunci: Kebakaran hutan. merupakan usaha padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Atap daun nipah. Kata kunci: Acacia mangium.dengan harga jual Rp. Patah pucuk merupakan jenis kerusakan yang umum dijumpai pada tanaman Acacia. mangium asal tegakan benih Riam Kiwa. Nypa fruticans. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui intensitas kerusakan mati pucuk pada delapan asal sumber benih Acacia mangium umur 3.86 persen. Nilai ekonomi.1 persen. Adi POTENSI DAN POTRET PENGUSAHAAN NIPAH (Nypa fruticans) DALAM MENUNJANG EKONOMI RUMAH TANGGA DI SUMATERA SELATAN / Adi Kunarso. Mati pucuk. kerusakan mencapai 21..5 tahun di KHDTK Benakat rata-rata sebesar 12. 450. 700.-. KHDTK Benakat 113 ..hingga Rp. Kerugian akibat kebakaran yang terjadi adalah rusak dan hilangnya plotplot penelitian yang berarti juga kehilangan data penelitian. Usaha ini akan terus langgeng karena peminat atap sederhana ini tidak akan surut. kerusakan tertinggi dialami oleh A.000.per hari.74 persen dari seluruh tanaman. Pengamatan dilakukan pada bulan September 2005. 2006 Pembangunan hutan monokultur menyebabkan resiko kerusakan tanaman oleh hama menjadi meningkat.

3 juta ha dan menunjang perekonomian rakyat karena sebagian besar merupakan perkebunan karet rakyat. Halaman 21-24 . Lahan rawa merupakan salah satu tipe dari lahan basah. pengembangan hutan tanaman tembesu di Sumatera 114 . Hal ini disebabkan karena kesuburan dan besarnya potensi sumber daya alam yang berada disekitarnya. luas lahan basah makin menyusut hingga tinggal 40 juta hektar. Kata kunci: Karet.061 ha. Sedangkan rawa gambut dan lahan gambut sendiri juga saat ini mulai mengkhawatirkan keberadaannya. Secara ekologis. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 151-159 . Hutan rawa air tawar dan rawa berumput adalah jenis lahan rawa yang sudah banyak rusak dan semakin kurang keberadaanya. Dengan melihat potensi lahan gambut yang ada di Indonesia dan dalam rangka pengembangan karet serta pemanfaatan lahan gambut yang ada maka klonklon ini dapat diujicobakan pada lahan gambut dengan beberapa perbaikan teknologi untuk mengatasi kendala yang mungkin timbul. Abdul Hakim ASPEK TEKNIK SILVIKULTUR DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN TEMBESU / Abdul Hakim Lukman. indikasi tersebut tampak dari semakin sulitnya beberapa industri (penggergajian. akibat kelangkaan pasokan bahan baku yang turun drastis dari 4. Akan tetapi akibat banyaknya tekanan dan konversi. Melihat kenyataan tersebut. Saat ini telah tersedia berbagai klon anjuran hasil pengujian yang dilakukan pada tanaman mineral. saat ini (menurun sekitar 25 persen). Irwansyah Reza PEMANFATAN HUTAN DAN LAHAN RAWA GAMBUT DI PANDANG DARI APEK KONSERVASI: PENGALAMAN KEGIATAN CCFPI DI SUMATERA SELATAN / Irwansyah Reza Lubis. Untuk teknologi okulasi di tempat ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut. mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 2534 . lahan basah rawa di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 tipe: (1) Hutan rawa air tawar (2) Rawa berumput/lebak (3) Rawa dan lahan gambut. Klon karet Lubis. Kata kunci: Rawa gambut. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Dilaporkan. Dari data pengujian klon pada lahan gambut tampaknya pertumbuhan awal. Hevea brasiliensis Muell Arg. CCFPI. membuat potensi hutan alam kita baik dalam skala nasional maupun lokal di Sumatera semakin menurun. dengan areal mencapai 3. saat ini sebanyak 167 sawmill legal di Sumsel terpaksa ditutup. tanaman ini masih mampu tumbuh dan mencapai usia matang sadap sama dengan pertumbuhan karet pada tanah mineral. Mudji PERKEMBANGAN BAHAN TANAM KARET DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA PADA LAHAN GAMBUT / Mudji Lasminingsih. Menurut ekosistemnya.000 meter kubik. sedangkan pada tanah gambut belum banyak walaupun pada beberapa tempat dijumpai pertanaman karet pada jenis tanah ini. Selain itu kebanyakan HTI yang dibangun diperuntukkan memenuhi kebutuhan industri pulp. Salah satu kendalanya adalah dari ketahanannya terhadap ketumbangan/kemiringan pohon pada umur tanaman yang lebih lanjut.Lasminingsih. maupun kerajinan khas Palembang) dan masyarakat memperoleh beberapa jenis kayu komersial yang berkualitas seperti ulin. raminn. Sumatera Selatan Lukman. Sementara pasokan kayu (pertukangan) dari Hutan Tanaman Industri (HTI) hingga saat ini belum mampu memenuhi kekurangannya. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan saluran-saluran drainase dan juga melakukan okulasi di tempat sehingga perakaran tunggangnya tidak terganggu. 2006 Akibat eksploitasi hutan yang tidak seimbang dengan upaya rehabilitasi yang dilakukan selama ini.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. pembangunan hutan tanaman yang diperuntukkan sebagai pemasok bahan baku kayu pertukangan dengan jenis-jenis lokal yang komersil sudah selayaknya direalisasikan.Khusus di Sumatera Selatan. 2006 Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan basah cukup luas di dunia yang mencapai 54. pasar maupun penguasaan teknik silvikulturnya. Lahan gambut yang tadinya dianggap lahan marginal dan tidak banyak dimanfaatkan mulai dibuka dan dikonversi karena dari semakin menyempitnya ketersediaan lahan. -. jelutung dan tembesu. Lahan gambut. Tembesu (Fagraea fragrans) yang merupakan salah satu jenis pohon andalan setempat di Sumatera Selatan.968.2 juta meter kubik menjadi 700. -. 2006 Tanaman karet di Indonesia merupakan salah satu sumber devisa negara yang memberikan kontribusi cukup tinggi. Areal karet tersebut saat ini sebagian besar tersebar pada tanah-tanah mineral. Lahan gambut.

Hidayat Moko dan Aswan Ajarul. Penelitian dilakukan di petak 22a. LMG2 dan LMG3 (scion dari Lamongan) dengan 5 kali ulangan dan setiap ulangan 115 . Halaman 247256.3. semak belukar dan hutan sekunder bervegetasi jarang.1 . Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan.1 . Tembesu dapat ditanam pada areal lahan yang didominasi alang-alang.4.63 m untuk diameter. BKPH Playen Gunung Kidul pada bulan Nopember sampai Januari 2005. Zat pengatur tumbuh dan media tanam merupakan aspek penting dalam perbanyakan tanaman dengan cara tersebut. bobot basah dan bobot kering stek dan volume akar stek. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Lengkap Berblok dengan 5 perlakuan sumber scion yaitu: KG!. 2006 Salah satu aspek penting dalam pengembangan hutan jati rakyat adalah penyediaan bibit dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat.22 m . Hasil penelitian menunjukkan bahwa merbau dapat diperbanyak secara stek pucuk dan perlakuan zat pengatur tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot segar dan bobot kering stek dengan media tanaman yang mengandung bahan organik tinggi. Kata kunci: Tembesu. Pemeliharaan tanaman pada awal pertumbuhan mutlak dilakukan yang berupa pembersihan tumbuhan bawah dan aplikasi pupuk. -. 12 klon jati sebagai perlakuan dan 5 treeplot berbentuk bans untuk tiap perlakuan dengan jarak tanam 3 m x 3 m dan 2 m x 6 m. Halaman 25 .29 m . Isnaini. Mahfudz VARIASI PERTUMBUHAN BEBERAPA KLON JATI HASIL STEK PUCUK PADA DUA JARAK TANAM DI GUNUNG KIDUL (The Growth Variation of Some Teak Clones from Cuttings on Two Planting Distances at Gunung Kidul) / Mahfudz. Jarak tanam 2 m x 6 m memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam 3 m x 3 m. zat pengatur tumbuh. Suplement No. pasir + kompos (1:1) dan tanah + pasir + kompos (1:1:1) dengan ulangan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 10 stek. Hutan tanaman. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 43-47 . -. Hidayat Moko. Grafting merupakan salah satu cara dalam perbanyakan tanaman untuk penyediaan bibit yang diperlukan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sumber scion terhadap pertumbuhan bibit jati asal grafting telah dilakukan di persemaian Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Kata kunci: Biomasa.3. 2006 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja pertumbuhan klon jati hasil stek pucuk dan jarak tanam yang tepat di lapangan. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh dan media tanam telah dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman sejak Juni sampai Desember 2004. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. GK2 (scion dari Gunung Kidul). Jenis andalan setempat. No. media tanam. Teknik silvikultur Mahfudz PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK MERBAU (Effect of Growth Regulators and Plant Mediums on the Growth of Instia spp Shoot Cuttings) / Mahfudz. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 2 faktor perlakuan.Selatan dimungkinkan dapat berhasil dengan baik. LMG1.4.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.5 m x 1 atau 3 m x 1 m. 2006 Merbau (Instia spp) merupakan jenis tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam pembangunan hutan tanaman memerlukan pengadaan bibit dalam jumlah banyak. Salah satu upaya dalam pengadaan bibit adalah dengan perbanyakan tanaman secara stek pucuk. sedangkan faktor kedua adalah media tanam yaitu campuran tanah + pasir (l:l). yaitu faktor pertama zat pengatur tumbuh IBA dan IAA dengan konsentrasi 0 dan 20 ppm.49 m untuk tinggi dan 2. pertumbuhan tanaman Mahfudz PENGARUH SUMBER SCION TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JATI ASAL GRAFTING / Mahfudz. Kegiatan pemangkasan cabang (pruning) dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan kualitas kayu berupa berkurangnya jumlah mata kayu. dengan penyiapan lahan secara manual tebas total dan jarak tanam rapat 2. klon. Tyastuti Purwani dan Wahyu Yudianto. stek pucuk. RPH Banaran. sejak juni sampai Desember 2004. Kata kunci: Jati. Hasil analisis tanaman jati umur 22 bulan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman secara umum baik dengan kisaran 2. Penelitian menggunakan rancangan tersarang dengan 5 blok sebagai ulangan.34 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. merbau.

128 . Rootstock. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang apakah program social forestry dapat dijadikan sebagai sebuah pilihan sistem usaha dalam pembangunan hutan tanaman industri. Halaman 31-44 . Tectona grandis. Ditengah kegalauan dalam mengelola kehutanan Indonesia. 2006 Konsep perhutanan sosial (social forestry) seringkali dipahami hanya sebagai obat penawar untuk menangani konflik sosial usaha hutan tanaman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) sejauh ini belum berhasil mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. social forestry 116 . Tidak semua teknik PRA digunakan untuk mengkaji keadaan masyarakat Desa Tanjung Sari II karena sesuai dengan prinsip PRA hasil yang optimal. No.17. semakin terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. tidak lagi berdasarkan asumsi-asumsi atau pandangan dan pendapat subjektif belaka. bukan sebagai salah satu sistem usaha produktif ekonomis. PRA. pertanyaan " Bagaimana melaksanakan program hutan rakyat di suatu daerah?" menjadi terjawab. panjang tunas dan diameter tunas. Edwin MANFAAT PERENCANAAN PARTISIPATIF DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH SOSIAL FORESTRY: DENGAN CONTOH KASUS APLIKASI PRA UNTUK PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DIDESA TANJUNG SARI II KECAMATAN LEMPUING OKI / Edwin Martin. lemahnya koordinasi antar lembaga yang terkait. Fidelia Balle Galle. jumlah daun. Penyebab kurang berhasilnya sosial forestry di masa lalu antara lain adalah kebijakan yang tidak mendukung. manfaat sosial. Kata kunci: Jati.55%. semakin berkurangnya intensitas konflik sosial dengan masyarakat.3. Social forestry Feasibility and Social Benefit of Social Forestry Program at Industrial Plantation Forest)/ Edwin Martin. Melalui perencanaan partisipatif ini.2 . Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan scion yang berasal dari sumber yang berbeda tidak berbeda nyata terhadap semua parameter yang diamati. Lembaga pengembang program dapat melakukan aktifitasnya (sesuai tupoksinya) dengan arahan yang jelas. Program social forestry MHBM dan MHR PT. Pelaksanaan kegiatan menggunakan teknik-teknik PRA.89%. Pengamatan dilakukan terhadap persentase hidup. Edwin KELAYAKAN EKONOMI DAN MANFAAT SOSIAL PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI (Economic Martin. Sumber scion Martin. Kompatibel. social forestry dianggap proyek. bahkan beberapa teknik justru didalami dan dipertajam hasilnya sesuai dengan Prinsip Triangulasi. 2006 Program pembangunan dimasa lalu seperti hutan kemasyarakatan (HKm). pada era tahun 2002-2003 Departemen Kehutanan menggaungkan "Social Forestry" sebagai payung semua program yang akan dilaksanakan. Halaman 117 . Helly Fitriyanti. Pelaksanaan program social forestry hutan tanaman industri dengan pola MHBM seperti diterapkan oleh PT.Scion yang berasal dari Lamongan menunjukkan pertumbuhan tanaman hasil grafting yang lebih baik dibandingkan dari Gunung Kidul. penghijauan. Salah satu teknik yang cukup dikenal dalam mengembangkan partisipasi masyarakat adalah PRA (Participatory rural appraisal). hutan rakyat. Alat analisis utama yang digunakan yaitu studi kelayakan usaha dan tinjauan manfaat sosial terhadap program tersebut. Manfaat sosial diterapkannya program social forestry yaitu menurunnya kejadian kebakaran di lahan konsesi HTI. "Social Forestry" masih belum mampu memenuhi harapan banyak pihak dan perlu dibenahi. sedangkan untuk program MHR bernilai ekonomis jika suku bunganya berada pada kisaran 14% . MHP di Sumatera Selatan dijadikan sebagai objek studi kasus. kelayakan usaha. Tulisan ini hendak menyajikan hasil penelitian aksi perencanaan pengembangan hutan rakyat di Desa Tanjung Sari II Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir. Grafting. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Outcame PRA seperti yang diaplikasikan di Desa Tanjung Sari II sangat berguna bagi Dinas Kehutanan untuk mengambil langkah-langkah taktis dalam melaksanakan tindakan kegiatan pengembangan hutan rakyat. serta tidak dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan dan perumusan program. MHP bernilai ekonomis jika suku bunganya berada kisaran 14% -15. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Kata kunci: Perencanaan partisipatif. -.terdiri dari 5 tanaman hasil grafting.

Pinus oocarpa. Tanda-tanda tersebut digunakan untuk menilai secara cepat kejadian dan tingkat serangan busuk hati pada log hasil penebangan di lapangan. sureni yang menjadi liat. No.15 cm dan 15 cm . Busuk akar dibedakan menurut warna jaringan yang terserang jamur dan terkait dengan beragam 117 . Karen M Barry dan Ragil S. Nina PENGARUH PENANAMAN BEBERAPA JENIS POHON HUTAN TERHADAP KONDISI KESUBURAN TANAH ANDOSOL ( The effect of Some Forest Species Plantation to Condition of Andosol Soil Fertility)/ Nina Mindawati. Program pembangunan HTI tengkawang tidak akan berhasil dengan baik jika tanpa dilakukan pemeliharaan pada tanaman muda di lapangan. Tekstur tanah setelah penanaman lempung liat berdebu.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Alnus nepalensis. Jasinga.43 m dan 3. shorea. 2006 : Halaman 20-30 . satu di Riau dan lainnya di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa provenansi dapat mempengaruhi serangan busuk hati tetapi tidak ada hubungannya dengan kandungan ekstraktif kayu. 2006 Shorea atau meranti dikenal di perdagangan dunia sebagai kayu tropik yang cukup berperan penting. kecuali T.64 cm. 2006 Metode ini menguraikan tentang metode yang cepat. Hasilnya dibandingkan dengan survei yang berdasarkan pada log hasil longitudinal pada log. Halaman 63 . Penilaian terhadap 2 percobaan. Tanah andosol Mohammed. sedangkan pengaruhnya terhadap porositas. penanaman dengan pemeliharaan yang intensif selama 3 tahun memerlukan sekitar 66 HOK/ha.Mindawati. karena tanah yang subur memungkinkan pohon tumbuh dan menghasilkan kayu serta produk lainnya dengan baik. Busuk hati pada A. 2006 Pembangunan hutan tanaman Industri perlu memperhatikan faktor kesuburan tanah. -. Kondisi tanah dan tumbuhan di areal dengan pemeliharaan yang intensif menunjukkan hasil yang lebih baik ditinjau dari pH tanah. Kata kunci: Kesuburan tanah. penanaman dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme. stenoptera sebesar 3. unsur hara makro dan kapasitas tukar kation pada umumnya sama.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.164 . Caroline L BUSUK HATI DAN BUSUK AKAR PADA ACACIA MANGIUM : IDENTIFIKASI GEJALA DAN PENILAIAN TERHADAP TINGKAT SERANGAN / Caroline L Mohammed. Pengmbilan sampel tanah dilakukan dibawah tegakan yang telah berumur enam tahun pada 3 titik dan dicampur untuk dianalisa sifat kimia dan biologi tanahnya. platyclados sangat masam.3. Casuarina junghuhniana. Selain itu. P tersedia dan KTK serta nilai INP tumbuhan bawah jika dibanding pemeliharaan intensif. Rancangan yang digunakan adalah Acak Lengkap dengan dua tipe pemeliharaan yang dilakukan sampai tanaman berumur 3 tahun. Pohon hutan.B Irianto. Yetti Heryati. Toona sureni.3 . Syaffari Kosasih. yaitu berupa pemeliharaan intensif dan kurang intensif. Jawa Barat. No. tekstur dan penampilan dari kayu yang diserang. Kata kunci: Frekuensi pemeliharaan. mangium disebabkan oleh hymenomycetes yang menyerang selulosa dan lignin. Shorea platyclados.Perkembangannya diikuti dengan perubahan warna.76 cm. seperti Agathis lorantifolia.19 m dan 3. -. berat jenis dan air tersedia berpengaruh positif. sedangkan jika pemeliharaan kurang intensif sebesar 56 HOK/ha. Halaman 155 . jumlah fungsi dan respirasi di dalam tanah yang berdampak positif terhadap kesuburan tanah. pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemeliharaan intensif berpengaruh nyata terhadap-rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter jenis S.30 cm dengan menggunakan ring sampel. Kandungan bahan organik. Yetti Heryati. Nina PENGARUH FREKWENSI PEMELIHARAAN TANAMAN MUDA TERHADAP PERTUMBUHAN MERANTI DI LAPANGAN (The effect of Tending Frequency on Growth of Shorea Sapling at Field)/ Nina Mindawati. tengkawang Mindawati. kecuali untuk jenis S. sehingga penanaman jenis dapat menstabilkan kondisi tanah. N total. Penelitian mengenai pengaruh penanaman jenis pohon hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah di bawah tegakan umumnya masam sama dengan kondisi awal. sedangkan sifat fisik sampel diambil pada dua kedalaman 0cm . sedangkan jenis S. A.71 . dan dapat diandalkan untuk mengenali serangan busuk hati dan busuk akar. Penelitian mengenai macam dan frekwensi pemeliharaan terhadap tanaman muda di lapangan telah dilakukan di HP Haurbentes.2 . mecistopteryx 3. Prestasi kerja pembangunan hutan tanaman meranti mulai dari penyiapan lahan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.3. Penanaman. Jawa Barat. tepat. -. Khaya anthotheca dan Acacia cassicarpa telah dilakukan pada tanah andosol di dataran tinggi Cikole.

Penyakit busuk akar menyebabkan kematian tajuk. Tingkat serangan Munandar. Pemahaman lebih lanjut terhadap isu-isu tersebut di atas. memeriksa luasnya infeksi pada akar. dan karat daun adalah ancaman utama (Old et al. umur 3 tahun terserang penyakit bercak daun. persentase kejadian penyakit). Mewujudkan Sumsel sebagai lumbung Pangan. pengangguran dan rendahnya pendapatan perkapita yang perlu diantisipasi dan segera dicarikan jalan keluarnya. bekas cabang. Jamur penyebab busuk hati adalah parasit basidiomycetes yang masuk ke dalam pohon melalui luka. Kecepatan perkembangan penyakit nampaknya berhubungan dengan awal serangan busuk akar. Hutan tanaman. metode tersebut perlu sederhana. Kalimantan Timur. Sumatera Selatan memiliki potensi posisi strategis dalam perekonomian nasional. urophylla. Busuk hati pada A. 118 . Busuk akar. Penilaian terhadap busuk hati dan busuk akar memerlukan pendekatan yang berbeda. Untuk keperluan operasional di lapangan.3. 2006 Di areal hutan tanaman PT. Survei terhadap penyakit pada hutan tanaman acacia menyimpulkan bahwa busuk hati. juga masih menyisakan masalah-masalah pembangunan antara lain isu kemiskinan. Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat serta Mewujudkan sumsel Bersatu Teguh yang selanjutnya akan dijabarkan lebih jauh dalam program-program pembangunan yang bersifat implementatif. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis pathogen dan gejala yang ditimbulkannya serta persentase kejadian penyakit pada E.3 . kedudukan geografis dan kondisi geopolitan yang sangat terkendali. pertumbuhan terhambat dan akhirnya kematian pohon. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 1-6 . Lahan rawa.basidiomycetes. Puslitbang Hutan Tanaman Bogor untuk identifikasi patogen bercak daun. Surya Hutani Jaya Sebulu. Survei yang akurat harus mencatat gejala di atas permukaan tanah. kemudian dilanjutkan di laboratorium Kelti Perlindungan dan Pengaman Hutan. Busuk akar adalah pelapukan akar oleh beberapa patogen basidiomycetes yang menyerang jaringan hidup dan dapat mengakibatkan kematian pohon. Kebijakan. pohon yang terserang cenderung terjadi secara acak namun kemudian mengelompok menandakan bahwa serangan jamur telah meluas. Halaman 183 .. Akibat penyakit tersebut daun-daun rontok dan tanaman kering meranggas. Aris KEBIJAKAN PENGELOLAAN LAHAN RAWA SECARA TERPADU DI SUMATERA SELATAN / Aris Munandar dan Syafrul Yunardi. Teknik monokuler telah berhasil mengidentifikasi jamur Ganoderma philippi sebagai jamur penyebab busuk akar merah. Penggunaan teknik penginderaan jauh untuk survei penyakit juga diulas.191 . Kata kunci: Acacia mangium. tanaman Eucalyptus urophylla Blake. -. cepat dan mudah dilakukan oleh petugas lapangan dengan pelatihan secukupnya. Busuk akar menyebar melalui hubungan antara akar yang sehat dengan akar yang terjangkit jamur busuk akar atau kayu yang membusuk akibat jamur akar. busuk akar. kekuatan sumberdaya manusia yang masih besar dan multidisiplin. Kegiatan identifikasi merupakan suatu proses mencocokkan secara umum dan membandingkan ciriciri yang didapat secara makroskopis maupun mikroskopis dengan ciri-ciri yang ada dalam referensi. Dengan potensi sumberdaya alamnya yang besar. Pelaksanaan pembangunan tersebut selain telah menghasilkan keberhasilan yang telah dicapai. No. dan tidak secara khusus menyerang jaringan hidup. maka wilayah pembangunan di propinsi ini sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu daerah tumpuan strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Sumatera Selatan Ngatiman PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN EKALIPTUS (Attack of leaf spot disease on Eucalyptus)/ Ngatiman. termasuk potensi lahan rawa. mangium adalah pelapukan kayu oleh jamur saprotrophic yang menyebabkan penurunan mutu kayu meskipun tidak mematikan pohon. 2000). Kabupaten Kutai Kartanegara. Penelitian dilakukan di lapangan (untuk mengamati gejala.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Illa Anggraeni. Sebagai daerah yang kaya akan sumberdaya alam. Kata kunci. 2006 Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propivinsi Sumatera Selatan sampai saat ini merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung secara berkesinambungan dari kegiatan sebelumnya. dan mengamati pola penularan penyakit. Busuk hati. Hasil identifikasi ternyata penyakit bercak daun pada E. Ketika busuk akar pertama kali ditemukan. memacu Provinsi Sumatera Selatan untuk melasanakan pembangunan dengan memprioritaskan peningkatan kesejahteraan melalui berbagai langkah strategis dan kebijakan pokok yang dituangkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan jangka menengah daerah dan difokuskan pada agenda mewujudkan Sumsel sebagai Lumbung Energi Nasional.

38 cm. corong dan kilung. Syarifah PERANAN EKOSISTEM HUTAN RAWA DI DANAU CALA KABUPATEN MUSI BANYUASIN SEBAGAI HABIBAT IKAN PERAIRAN UMUM / Syarifah Nurdawati.79 cm dan sebesar 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis. Bungur (Lagertrounia spiasa. Bambu (Bambusa sp). Duri (Mimosa infisa). Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya.61 persen. 2006 Danau Cala merupakan sungai mati (oxbow lake). -. Sebanyak 58 jenis ikan perairan umum memanfaatkan hutan rawa untuk mencari makan (feeding ground). Jenis-jenis tersebut adalah Ikan toman (Channa micropeltes).46 persen dengan intensitas serangan 7. Teknik penyiapan lahan dilakukan sebelum penanaman adalah dengan menggunakan herbisida yang bertujuan untuk memusnahkan alang-alang.15 persen dengan intensitas serangan 4. Rumput gayu (Spinifex litorus).08 persen.Mulyana PERTUMBUHAN KAYU KAMPER DAN HOPEA PADA LAHAN ALANGALANG DENGAN TEKNIK PENYIAPAN LAHAN TANAM (Growth of Pengaruh teknik persiapan lahan tanam telah dilakukan terhadap pertumbuhan Dryobalanops lanceolata dan Hopea sangal pada lahan lang-alang di hutan lindung Sungai Wain. No. Kepor (Pristolepis fasciata) dan Tapah (Wallago attu). ikan Lemak (leptobarbus hoevenii). Sukun (Artocarpus comunis). Untuk perlakuan jenis terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter yang paling besar adalah D. R.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 143-149 . Musi.37 cm dan 0. Bujuk (Channa lucius). Marsepang (Midraraetil tharipoides). Balikpapan. 31 jenis diantaranya melakukan pemijahan (spanig ground) di perairan hutan rawa dan memanfaatkan pakan alami di hutan rawa untuk pembesaran larva dan benih dan 14 jenis larva ikan perairan umum masuk ke perairan hutan rawa dan memanfaatkan perairan hutan rawa sebagai tempat perawatan larva (nursery ground). sedangkan persentase kejadian penyakit pada umur 5 tahun sebesar 40. Di danau Cala pada umumnya penangkapan dilakukan pada musim penghujan untuk menangkap ikan hias antara lain ikan botia (Botia macracantus) dan penangkapan ikan balashark atau ikan kutung hanyut (Balantiocheilos melanopterus).urophylla umur 3 dan 5 tahun disebabkan oleh fungi Macrophoma sp. Halaman 11 . Hutan rawa. urophylla umur 3 tahun sebesar 57. Ikan Juar (Luciosoma setigerum) dan Ikan Seluang Batang (Epalzeorhnchos kalopterus). Cungcungre (Denox caniformis). Kebarau (Hampala macrolepidota). Perairan umum Vol. bentuknya setengah cincin dan letaknya berdekatan dengan sungai utamanya yaitu Sungai Musi dan perairan ini terletak di Kabupaten Musi Banyuasin. Kata kunci: Eucalyptus urophylla Blake. -. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi teknik rehabilitasi lahan alang-alang dengan jenis yang sesuai dari famili Dipterocarpaceae. Teki (Cyperus rotandus). Setiap perlakuan dibuat petak coba dengan ukuran 50 m x 50 m (0. penyiapan lahan tanam dan interaksi antar jenis dan penyiapan lahan tanam tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup tanaman. Pandan (Pandanus tectorius). Sungai-sungai ini mengering pada musim kemarau dan menyatu dengan danau pada musim penghujan. yaitu rata-rata sebesar 39.25 ha) dengan jarak tanam 5 m x 5 m. Sebagian besar perairan Danau Cala dikelilingi hutan rawa dan banyak terdapat sungai-sungai kecil yang bermuara ke danau. Ikan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Omon. Alat tangkap yang besar yang biasa dioperasikan di danau cala adalah empang. Danau cala. Penangkapan ikan konsumsi dimulai setelah air mulai surut dengan cara menutup sungai-sungai kecil yang banyak terdapat di danau Cala. Tembakang (Helostoma temminckii).23 . Resan (Barcinia dulcis). Rancangan percobaan yang digunakan faktorial 2x3 dengan pola acak lengkap yang diulang sebanyak 3 kali. 2006 Kamper Wood and Hopea on Alang-alang Areas With Prepare Planting Technique) / R. Dengan demikian penanaman jenis dari suku 119 . Habibat. Jenis-jenis vegetasi yang hidup di perairan hutan rawa danau Cala antara lain Nanggai (Talauma candolei). Persentase kejadian penyakit pada E. Kata kunci: Ekosistem. Kalimantan Timur.1 . Kalui (Osphronemus goramy). Mulyana Omon. Tinggiran binti (Rhizophora micronata). Baung (Mystus nemurus). Kukulang (Melostoma paliantum). yaitu rata-rata sebesar 39. yaitu dengan rata-rata pertumbuhan tinggi dan diameter masing-masing sebesar 35. Penyakit bercak daun Nurdawati.79 cm dan sebesar 0. Banyuasin. lanceolata. Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Bengkal (Bruguera conjugate) dan Mangga Hutan (Magifera sp). Serandang (Channa pleuropthalmus).3.38 cm.38 cm.

28 gr) dan persentase kolonisasi akar stek bermikoriza S. waktu penyimpanan 120 . lanceolata dan H. C Andriyani PERANAN TANAMAN PIONER DALAM REHABILITASI HUTAN / C. berat kering (0. Tejo B KAJIAN PELUANG PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN JENIS LOKAL POTENSIAL DI SUMATERA / B. Tanaman jenis eksotik ini mempunyai kelemahan. Shorea parvofolia. Halaman 131-135 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Rehabilitasi hutan Premono. Tujuan dari percobaan adalah untuk mendapatkan informasi suhu dan lama penyimpanan optimal untuk produksi penyediaan tanaman stek yang berkualitas di persemaian. jumlah daun (5 helai).3. Stek. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Keberadaan jenis pioner masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rehabilitasi hutan yang mengalami kerusakan. Penggunaan tanaman jenis eksotik telah banyak dilakukan selama ini. Kata kunci: Tanaman pioner. Tanaman pioner mempunyai peranan penting dalam usaha perbaikan kondisi tapak maupun ekologi tanah. dengan perlakuan penyiapan lahan disemprot total dengan herbisida.138 . Mulyana Oman. Kata kunci: Alang-alang. Tejo Premono dan C.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 2006 Pembangunan hutan tanaman yang tujuan utama untuk menutupi defisit kebutuhan kayu yang semakin besar hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas tegakan yang dihasilkan. Dengan demikian untuk S. -. Hasil menunjukkan bahwa lama penyimpanan tablet selama 3 bulan di kedua suhu yang berbeda (4°C dan 20°C) telah memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen hidup (90%). Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . 2006 Pengaruh suhu dan lama penyimpanan tablet mikoriza telah dilaksanakan di Laboratorium dan rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata. R.2 . Dryobalanops lanceolata. Mulyana PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MERANTI MERAH (The effect of Prasetyawati. No. pertumbuhan tinggi.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. sangal telah memberi harapan yang baik untuk dikembangkan sebagai jenis komersial untuk ditanam di lahan yang terbuka (alang-alang). Kerusakan hutan yang memprihatinkan perlu mendapat perhatian. Pada awalnya gejala ini tidak akan nampak namun akan mningkatkan riap tegakan yang dihasilkan. parvifolia yang berkualitas di rencana dan strategi penyediaan stek persemaian direkomendasikan tablet mikoriza dapat disimpan optimal selama 3 bulan pada suhu 4°C atau 20°C masih dapat diinokulasikan pada stek S. Dilain pihak banyak tanaman jenis lokal potensial untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena jenis lokal Temperature and Storage Duration of Mycorrizae Tablet to Growth of Red Meranti Cuttings)/ R. parvifolia (88%) dibandingkan dengan lama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan pengamatan.Dipterocarpacea khusus dari jenis D. Tablet mikoriza. Banyaknya perusahaan hutan tanaman yang menggunakan jenis eksotik ini menyebabkan jenis lokal yang unggul mulai terpinggirkan. Beberapa tanaman pioner dapat dikembangkan menjadi tanaman komersial yang mempunyai nilai jual tinggi. -. adanya penundaan perkembangan penyakit yang telah dibawa dari daerah asal. Halaman 77-84 . herbisida. parvifolia. Andriyani Prasetyawati dan Kristanta Tri Saputra. pertumbuhan tinggi (5 cm). Hopea sangal Omon. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial dalam pola acak lengkap dengan ulangan sebanyak 3 kali. Samboja Kalimantan Timur. Halaman 129 . Suhu dan interaksi antara suhu dan lama penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. jumlah daun. -. Kerusakan hutan. parvifolia Kata kunci: Meranti merah. Jenis pioner dapat menjadi tanaman terpilih sesuai kondisi alam dan persyaratan tumbuhnya. Usaha merehabilitasi banyak mengalami kendala di lapangan dan belum menggembirakan. Pemanfaatan jenis pioner sebagai salah satu usaha biologis disamping usaha mekanis yang selama ini diterapkan. berat kering dan persen kolonisasi akar stek S. Andriyani Prasetyawati. lanceolata dan H. Suhu. Perlakuan dalam percobaan ini 2 suhu dan 6 lama penyimpanan. 2006 Tanaman pioner berperan penting dalam suksesi alam.

Yang menjadi utama perlu adanya pemuliaan tanaman jenis lokal untuk meningkatkan riap pertumbuhan sebagai syarat dalam pembangunan hutan tanaman. 2006 Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) sebagai hasil sampingan dari hutan (side product) yang dapat berasal dari bagian pohon baik berupa getah. Program pencarian bahan tanaman 121 .148 . -. Pemuliaan Premono. daun maupun hasil hutan lainnya seperti rotan dan bambu. cepat tumbuh dan mampu beradaptasi dengan lingkungan merupakan faktor penting dalam membangun hutan tanaman. mangium dapat dibangun menggunakan individu-individu terpilih agar penyerbukan terbuka (open pollination) yang terjadi dapat menghasilkan individu unggul. -.2 . penanda mikrosatelit. Reaksi PCR dilakukan menggunakan 15 penanda mikrosatelit (SSR). Aryono.43 . Tejo Premono. Kata kunci: Pembangunan hutan tanaman. Kata kunci: Acacia mangium. Anto Rimbawanto. mangium. W. Taryono. No.3. kulit. Tejo HASIL HUTAN NON KAYU (HHNK) HUTAN RAKYAT. Dalam pengembangan hutan model Agroforesty di Krui Lampung Timur dengan tanaman damar mata kucing (Shorea javanica).1 . Dengan melihat kondisi tersebut maka perlu adanya perlindungan terhadap produsen (petani) dan konsumen (pembeli) yang berupa sertivikasi Hasil Hutan Non Kayu. Kebun benih persilangan A. analisis induk. Kata kunci: Hasil Hutan Non Kayu. No. Halaman 139 . Riap yang tinggi. Namun produksinya cenderung menurun yang disebabkan antara lain harga yang rendah. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan. teknologi yang belum tertata. Analisis induk dilakukan menggunakan DNA genomik total dari 251 individu sebagai kandidat induk dan 296 individu hasil keturunannya. Sertivikasi ini bertujuan untuk melindungi petani dari banyaknya barang subtitusi (sintetis) yang menyebabkan permintaan terhadap barang yang terus menurun dan pada akhirnya harga HHNK akan turun. Sertifikasi juga bertujuan untuk melindungi kepada konsumen bahwa barang yang dihasilkan suatu produk adalah baik untuk kesehatan (green market). B. Moh. -.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Sertifikasi. Suryanto PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. 2006 Penanda molekuler diketahui memiliki potensi menggantikan upaya penyerbukan buatan secara manual dalam program pemuliaan. Dan juga adanya barang subtansi berupa barang sintetik yang menyebabkan daya saing HHNK ini semakin berkurang. 2006 Pengelolaan hutan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Halaman 35 . Sambas Sabarnurdin. Genotipa dari semua individu tersebut digunakan untuk menentukan pasangan induk dari setiap keturunan yang diuji. Dari segi pemanenan HHNK lebih menjamin adanya pengelolaan hutan yang lestari (sustainable Foret Management) karena sistem pemanenannya yang hanya mengambil bagian dari pohon melalui penyadapan sehingga tidak mempunyai dampak yang berarti terhadap kondisi ekologi dan lingkungan. Tissue Culture and Shoot Cutting)/ Priyono Suryanto. Jenis lokal potensial. SSR Priyono. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown Development of Teak from Seedling. PERLUKAH DIBERI SERTIFIKAT: ANTARA KELESTARIAN HUTAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT / B. Istiana PENGGUNAAN PENANDA MIKROSATELIT UNTUK ANALISIS INDUK Acacia mangium Willd (Application of Microsatellitte Marker for Parentage Analysis of Acacia mangium Willd)/ Istiana Prihatini. Penelitian yang dilakukan dapat mendeteksi pasangan induk dari 202 individu (68.3. Kelestarian hutan Prihatini. Halaman 103-110 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. HHNK ini menjadi penghasil tambahan (side incomes) yang menjanjikan.2%).telah banyak dikenal oleh masyarakat. Jenis eksotik. mempunyai data adaptasi yang lebih baik dengan kondisi alami tempat tumbuhnya selain menghasilkan kayu jenis lokal juga menghasilkan produk non kayu seperti getah.B. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari penggunaan penanda mikrosatelit bagi pengujian induk A.

dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. 2006 Santalum album atau yang dikenal dengan nama cendana merupakan jenis kayu bernilai tinggi dan telah mengalami degradasi sumber genetik yang serius.f Rahmat. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. dengan menggunakan penanda RAPD. Dalam makalah ini digambarkan beberapa strategi pengentasan kemiskinan. Sampel daun dikumpulkan dari 4 populasi dan dianalisa menggunakan 15 primer RAPD yang menghasilkan 77 lokus polimorfik. Penelitian ini bertujuan mempelajari kaeragaman genetik populasi merbau guna membantu penyusunan strategi konservasi genetik. Pembagian kelompok antara Manokwari dan Naabire lebih memperjelas pembagian Papua menjadi 6 wilayah geogenetik. Jenis ini merupakan tanaman asli Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kemiskinan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.3 . kultur jaringan dan stek. AYPBC Widyatmoko dan Purnamila Sulistyowati. Kata kunci: Kemiskinan. untuk menjaga kelestarian hutan. Keragaman genetik. Kata kunci: Intsia bijuga. Bila persediaan biji bermutu cukup. diantaranya adalah melalui pemberian insentif. Anto KERAGAMAN GENETIK EMPAT POPULASI Intsia bijuga BERDASARKAN PENANDA RAPD DAN IMPLIKASINYA BAGI PROGRAM KONSERVASI BAGI PROGRAM KONSERVASI GENETIK (Genetic diversity of Four Populations of Intsia bijuga Revealed by RAPD Markers and Its Anto Implications for Genetic Conservation Programme)/ Rimbawanto.5 tahun bila biji. telah memicu berbagai kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dan hubungan kekerabatan populasi Santalum album untuk mendukung program konservasi dan pemuliaan jenis tersebut. Dengan demikian. -. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. No. Tectona grandis L. DALAM KAITANNYA DENGAN KELESTARIAN HUTAN / Mamat Rahmat. 2006 Intsia bijuga atau merbau merupakan jenis kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif. Rata-rata lokus polimorfik per primer adalah 5.3 . asal bahan tanam. Pengentasan kemiskinan. alasan ekonomi. Halaman 175 . Hutan rawa gambut Rimbawanto. yang didasarkan pada karakteristik masyarakat miskin di dalam dan sekitar hutan.1. pengentasan kemiskinan adalah upaya vital.3. -.jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji. Sampel daun dikumpulkan dari 17 populasi dan dianalisa 122 . Diusulkan tiga strategi pengentasan kemiskinan pada masyarakat di sekitar hutan rawa gambut di Sumatera Selatan. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berurut-urut 12 tahun. AYPBC Widyatmoko.2 juta orang masyarakat miskin tinggal di dalam hutan dan sekitar 6 juta orang masyarakat desa sekitar hutan memperoleh sumber penghidupannya dari hutan.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 103-110 .2 tahun dan 8.154 . pembangunan infrastruktur dan pengembangan usaha ekonomi produktif. Nilai keragaman genetik rerata dalam populasi sebesasar 0. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan denga intensifikasi lahan.296 sedangkan keragaman antara populasi 0. No. -Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. 15. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6 m x 2 m. Penanda RAPD Rimbawanto. Kata kunci: Perkembangan tajuk. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama sedangkan apabila persediaan benih terbatas.181 . kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. sedangkan kelompok kedua terdiri dari populasi Ternate dan Nabire.3. Analisis klaster membagi keempat populasi menjadi dua kelompok populasi yaitu Carita dan Manokwari pada kelompok pertama. sekitar 10. Halaman 149 . kelestarian. 2006 Kemiskinan merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan kehutnan di Indonesia.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.141. Mamat STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN PADA MASYARAKAT SEKITAR HUTAN RAWA GAMBUT. Anto DISTRIBUSI KERAGAMAN GENETIK POPULASI Santalum album BERDASARKAN PENANDA RAPD (Genetic Diversity and Its Distribution of Santalum album Populations Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawantao.

Anto KERAGAMAN GENETIK DAN KETAHANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN / Anto Rimbawanto.5 juta ha hutan tanaman rakyat. Dalam beberapa tahun terakhir ini serangan hama pada penyakit pada hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat telah mencapai tingkatan yang merugikan secara ekonomi. Meratus. Disisi lain hama dan penyakit juga mempunyai sistem penyerangan yang sesungguhnya merupakan cara mempertahankan diri untuk hidup dan berkembang.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Konservasi.3 . hingga tahun 2004 telah dibangun hutan tanaman untuk pulp seluas 2. -.966 ha dan untuk kayu pertukangan 865. 2005).0415.391 sedangkan keragaman antara populasi 0. 2005).208 . Anto KERAGAMAN POPULASI Eusideroxylon zwageri KALIMANTAN TIMUR Diversity of BERDASARKAN PENANDA RAPD (Population Eusideroxylon zwageri in East Kalimantan Revealed by RAPD Markers) / Anto Rimbawanto. Penyakit 123 . Nilai rata-rata keragaman genetik dalam populasi sebesar 0. Sampel daun dikumpulkan dari 5 populasi dan dianalisa menggunakan 19 primer RAPD yang menghasilkan 48 lokus polimorfik. Dari jumlah itu sebagian besar didominasi oleh tanaman Acacia mangium yang sesuai untuk tanah-tanah mineral. Memahami mekanisme sistem pertahanan diri tanaman. 2006 Persoalan ancaman hama dan penyakit pada hutan tanaman telah menjadi isu nyata yang dihadapi oleh banyak negara yang mengembangkan hutan tanaman dalam skala luas. Secara umum pembagian kelompok tidak memperlihatkan hubungannya dengan jarak geografis. Jakarta 23 Nopember 2006 . Analisi AMOVA menunjukkan bahwa 96 persen dari keragaman genetik terdapat di dalam populasi. Rimbawanto. Hamparan hutan tanaman satu jenis yang luas tersebut tentu saja merupakan sumber pohon inang yang sesuai bagi berkembangnya hama dan penyakit tanaman. Ratarata lokus polimorfik per primer adalah 2. dan karat puru (gall rust) pada sengon. tetapi populasi-populasi yang berdekatan mempunyai kecenderungan untuk membentuk satu sub-kelompok. No. sedangkan untuk tanah gambut ditanam A.500. Halaman 15-20 . sedang populasi Lempake satu kelompok tersendiri. Sebagai contoh penyakit busuk akar (root rot) yang menyerang A. sebagian besar didominasi oleh jenis jati dan sengon (Ditjen RLPS. AYPBC Widyatmoko.menggunakan 17 primer RAPD yang menghasilkan 34 lokus polimorfik. Analisis klaster menghasilkan dua kelompok populasi yaitu TN Kutai. Nilai keragaman genetik rerrata dalam populasi sebesar 0.3564 sedangkan keragaman antara populasi 0. 2006 Euderoxylon zwageri atau ulin adalah kayu bernilai ekonomi tinggi dan telah mengalami eksploitasi yang intensif sehingga keberadaan tegakan ulin di hutan alam semakin langka. Santalum album Rimbawanto.crassicarpa.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. hutan tanaman rakyat juga berkembang dengan pesat. Disamping hutan tanaman industri di atas yang sebagian besar tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Halaman 201 . Di Indonesia.3. Dalam sepuluh tahun terakhir luas hutan tanaman di Asia meningkat dari 46 juta ha pada tahun 1990 menjadi lebih dari 65 juta ha di tahun 2005 (FAO 2005). yang dikendalikan oleh faktor genetik dan interaksinya dengan sistem biologi hama dan penyakit merupakan kunci keberhasilan pengendalian dan pengelolaan ancaman tersebut. Secara alamiah tanaman telah mempunyai cara mempertahankan diri dari serangan hama dan penyakit. Harkingto. -.038. dengan menggunakan penanda RAPD. Kata kunci: Genetik. Analisis klaster membagi 17 populasi menjadi dua kelompok besar. mangium. RAPD. sedang sisanya ada di antara populasi. Kata kunci: Keragaman genetik. Wain dan Semboja. Dari sekitar 1.256 ha (Ditjen BPK. S. Penelitian ini bertujuan mempelajari keragaman genetik populasi ulin di Kalimantan Timur guna membantu program konservasi genetik. Hama.

Hal ini sejalan dengan keberhasilan program pemuliaan pohon jenis-jenis cepat tumbuh meningkatkan riap volume tegakan yang menggunakan benih unggul hasil pemuliaan. Jika masalah penyakit busuk hati ini tidak ditanggulangi secara tepat maka keunggulan genetik sebagai hasil pemuliaan tidak akan dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi. maupun upaya rehabilitasi lahan kritis. Benih unggul adalah investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar.5 juta ha pada akhir tahun 2030. South East Asia and India"" (Old et al. Pembangunan hutan tanaman di berbagai negara termasuk pembangunan HTI di Indonesia membuktikan bahwa benih genetik unggul (genetically superior seeds) hasil pemuliaan dapat melipatgandakan pertumbuhan dan mutu tegakan. -. ACIAR 124 . Permintaan akan kayu baik untuk keperluan pasar dalam negeri maupun international terus meningkat dan pemerintah telah menetapkan program pembangunan hutan tanaman untuk menjamin kelangsungan pasokan kayu. namun lebih dikarenakan oleh pertimbangan ekonomis semata. Data dari beberapa perusahaan HTI menunjukan bahwa pengadaan benih unggul Acacia mangium hanya mengambil 4 persen dari total biaya pembangunan tanaman. Kata kunci: Acacia mangium. -. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 17-19 . 2000). Salah satu hasil penting dari lokakarya itu adalah diterbitkannya buku ""A Manual of Diseases of Tropical Acacias in Australia. baik untuk tujuan hutan industri. Salah satu proyek yang paling berhasil adalah survei tentang penyakit pada akasia tropis yang dilakukan pada tahun 1995-1996 termasuk lokakarya di Subanjeriji. Jenis utama hutan tanaman di Indonesia adalah Acacia mangium yang juga rentan terhadap serangan busuk hati. Program pembangunan hutan tanaman mentargetkan pembangunan hutan seluas 2. Salah satu penyakit penting yang dibahas dalam pertemuan itu adalah busuk hati pada Acacia mangium. Sertivikasi benih. kebutuhan akan benih berbagai jenis tanaman juga meningkat. Busuk hati. bebas cabang yang tinggi serta riap yang tinggi merupakan bukti keberhasilan pemuliaan pohon dalam meningkatkan mutu genetik tanaman. Hutan tanaman. Kata kunci: Jati. Namun dampak ekonomi dari investasi kecil itu dapat berupa peningkatan riap volume antara 20 persen . Anto SERTIFIKASI BENIH: UPAYA MENJAMIN MUTU BENIH DAN MUTU TEGAKAN YANG DIHASILKANNYA / Anto Rimbawanto. Penggunaan benih bermutu genetik tinggi tidak dapat dipisahkan dengan mutu tegakan yang dihasilkan.Rimbawanto. 2006 Seiring dengan meningkatnya pembangunan hutan tanaman. Ahli-ahli patologi dan pemuliaan pohon dari CSIRO telah menjalin kerjasama dengan para peneliti dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia dan lima negara lainnya di Asia Tenggara dengan dukungan ACIAR dan CIFOR. Anto BUSUK HATI DI HUTAN TANAMAN: LATAR BELAKANG DAN PROYEK ACIAR / Anto Rimbawanto. Sejak pertengahan tahun 1980an terjadi peningkatan luas hutan tanaman. Oleh karena itu untuk memberikan jaminan akan kebenaran mutu genetik sumber benih maka diperlukan sertifikat yang memberikan perlindungan hukum terhadap produsen dan konsumen benih. hutan rakyat. Mutu tegakan. Hutan tanaman jenis cepat tumbuh sangatlah penting bagi ekonomi negara-negara di Asia Pasifik termasuk Indonesia dan Australia. Program pembangunan hutan tanaman pada saat ini diarahkan untuk menghasilkan bahan baku kayu untuk industri pulp dan kertas dan MDF. khususnya rotasi pendek yang sangat signifikan.30 persen pada akhir daur. Perkembangan pembangunan hutan tanaman industri yang pesat telah menumbuhkan kesadaran pengguna benih akan pentingnya mutu genetik benih. Kebutuhan akan sertifikasi benih akhir-akhir ini terasa meningkat sebagai konsekuensi dari diberlakukannya penerapan harga bibit oleh pemerintah berdasarkan asal sumber benihnya untuk program pengadaan bibit Gerhan.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. 2006 Dalam dasa warsa terakhir peneliti dari Australia dan negara-negara Asia Tenggara telah menyelesaikan serangkaian penelitian bersama dalam bidang patologi hutan. Mutu benih. Peningkatan ini tidak dapar serta merta dihubungkan dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap benih bersertifikat. 2006 : Halaman 14-19 .Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Ketersediaan benih unggul ditenggarai sebagai salah satu faktor utama bagi keberhasilan pembangunan hutan tanaman ini. Pohon dengan batang yang lurus.3 juta ha pada akhir tahun 2000 dan 10. Kepentingan petani kecil dalam system tumpangsari juga perlu diperhitungkan agar mereka juga dapat memperoleh keuntungan ekonomi. benih jati Rimbawanto.

sumber benih tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap persen perkecambahan. Jumlah pohon induk yang diokulasi sebanyak 60 dan setiap pohon induk dibuat 75 ulangan. Variasi ukuran buah jati muna digolongkan 10 persen ukuran kecil. Budi VARIASI PERTUMBUHAN JATI MUNA HASIL OKULASI (Growth Variation of Bud Grafting of Muna Teak)/ Budi Santoso. sedangkan periode pemanenan berpengaruh terhadap persen perkecambahan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. kualitas semai dari stek kebun pangkas jati Muna dan pertumbuhan bibit asal kebun pangkas. Persen hidup di lapangan semai dari keturunan pohon induk jati cukup tinggi mencapai kisaran 95 persen .52 sedang dari stek 0. Tectona grandis L.45 mm) berasal dari generatif. Budi KUALITAS SEMAI DAN PERTUMBUHAN BIBIT JATI MUNA DARI KEBUN PANGKAS / Budi Santoso. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 49-56 . Lokasi terletak pada ketinggian 100 m dpl. Rerata pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jati Muna umur 4 bulan di lapangan yang tertinggi (34. Budi PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS BENIH JATI MUNA / Budi Santoso. Kata kunci: Jati Muna. Tectona grandis.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V.73 cm. lempungan. Bintarto Wahyu Wardani. Sulawesi Tenggara dan persemaiannya dilaksanakan di green house Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sulawesi. Jati muna.33 mm dan jumlah daun 6 helai.85 mm.588 kg/pohon. sedang pertumbuhan diameter tingkat semai dari keturunan pohon induk terbesar 7. Benih. Pertumbuhan tinggi dan diameter pada tingkat semai dari propagul keturunan pohon induk jati terjadi variasi antar pohon induk. Sulawesi Selatan. Sumber benih Santoso. isohipertermik.22. Rerata pertumbuhan semai yang berasal dari biji umur tiga bulan tingginya mencapai mencapai 27. Okulasi. Kualitas semai baik bibit jati Muna asal biji dan stek dari kebun pangkas baik untuk ditanam. mengetahui variasi kualitas benih dan menentukan persen perkecambahan benih jati Muna dari berbagai sumber benih dan periode pemanenan buah.53 persen. jenis tanah termasuk famili Rhodic Hapludoxs.86 mm dan jumlah daun 6 helai. sedangkan yang berasal dari stek. Pertumbuhan tinggi terjadi variasi antar semai keturunan pohon induk dan pertumbuhan tertinggi mencapai 40.140 mm. Penelitian ini dilaksanakan di hutan jati Muna.173 . Kegiatan penelitian okulasi jati dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Lokasi penelitian di persemaian PT.) bertujuan untuk mengetahui persentase keberhasilan okulasi. Maroangin Kabupaten Enrekang.3.Santoso.40 mm dan terendah 3. Data pengamatan meliputi persen tumbuh dan pertumbuhan awal pertanaman. Kata kunci: Jati. -.3 . dengan pohon induk jati sebagai perlakuan. 2006 Penelitian keberhasilan okulasi pohon induk jati Muna (Tectona grandis L. Jati muna. pertumbuhan tinggi dan diameter semai hasil okulasi pohon induk jati Muna.13 cm) besar (8. Pemanenan. -Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Santoso. Pemanenan buah pada tegakan jati yang dilaksanakan pada bulan September menghasilkan persen perkecambahan rata-rata 45. 2006 Tujuan penelitian ini untuk mengetahui produktivitas buah jati Muna per pohon. tinggi semai dapat mencapai 37. Tectona grandis.97 cm. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian dan Uji Coba Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata produksi stek di kebun pangkas tanaman jati Muna di Malili yang dapat dihasilkan perpohon mencapai 17.5 stek. No. Pohon induk. Fajar Agribisnis. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 57-61 . ferririk. Indeks kualitas semai bibit yang berasal dari biji 0. Persen perkecambahan terbaik diperoleh dari benih yang dikumpulkan pada bulan September. -.100 persen. Curah hujan rata-rata tahunan 2. Kata kunci: Jati. diameter 7.35 cm dan terendah 10.50 cm. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa produktivitas buah jati Muna mencapai 1. Kebun pangkas 125 . Persen jadi okulasi hanya mencapai 35. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas stek tiap klon dari pangkas jati Muna di Malili. diameter 5.07 persen. Penelitian variasi kualitas benih menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan faktor pertama adalah sumber benih dan faktor kedua adalah periode pemanenan. Halaman 165 . 65 persen ukuran sedang dan 25 persen ukuran besar.

maka upaya untuk melestarikan ekosistem kawasan tersebut merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. HI = 1250 ppm. IBA. faktor pertama adalah tinggi pangkasan bibit (P) yaitu: PI = 20 cm. Halaman 223-231 . kiranya tanpa kesaradan dan peran aktif masyarakat desa-desa setempat akan sulit dilakukan apabila hanya mengandalkn kepada regu-regu pemadam kebakaran hutan dan lahan yang terkonsentrasi di kota. Sumber populasi Setijono. 2006 Tanaman Sukun (Artocarpus artilis Forsbeg) merupakan tanaman serbaguna yang biasa ditanam di ladang/pekarangan. Penelitian ini dirancang dalam pola rancangan acak lengkap. Oleh sebab itu.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Dedi PRODUKTIVITAS TRUBUSAN STEK AKAR SUKUN DARI BEBERAPA POPULASI DI JAWA DAN MADURA (Sprouting Productivity of Bread Fruit Root Cuttings from Several Populations in Java and Madura) / Dedi Setiadi. Sukun. baik pria maupun wanita dibantu oleh segenap stakeholders yang 126 . Setiadi. jumlah daun.36 . Pengamatan dilakukan pada umur bibit 5 bulan setelah penyapihan. -. dan kekokohan bibit sedangkan untuk parat\meter panjang trubusan dan diameter trubusan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. P3 = 40 cm dan P4 = 50 cm. -. jumlah daun. sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi IBA (H). konsentrasi. Parameter yang diamati meliputi jumlah trubusan. Dedi PENGARUH TINGGI PANGKASAN PADA BIBIT DAN KONSENTRASI IBA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK SUKUN (Effect of Hedging Sukun (A. setiap sumber populasi terdiri 5 ulangan masing-masing 10 bibit untuk parameter yang diamati.3. khusunya pada daerah lahan rawa gambut. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 51-55 . Hamdan Adma Adinugraha. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan bibit sukun dari empat populasi yang berasal dari Jawa Timur yaitu : Kediri dan Madura serta dari Jawa Barat yaitu: Lebak/Banten dan Sukabumi.1 . diameter trubusan dan kekokohan bibit. altilis) merupakan salah satu jenis tanaman hutan rakyat yang menghasilkan buah dengan kandungan karbohidrat tinggi. dengan peningkatan kesadaran dan peran serta seluruh masyarakat. Adinugraha dan Hidayat Moko. sukun. Suplement No. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan menguji 2 faktor.7. 1992) dinyatakan bahwa kawasan rawa gambut di daerah tersebut mempunyai potensi alami yang tinggi. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan yang nyata antar sumber populasi untuk parameter jumlah trubusan. Kata kunci: Bibit. Djoko PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT PADA DESA-DESA LAHAN RAWA GAMBUT SEBAGAI BAGIAN PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN YANG BERBASIS MASYARAKAT / Djoko Setijono. No. Hamdan A. tinggi tunas. 2006 Setiadi. baik potensi fisik. Prastyono. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi pangkasan dan IBA berpengaruh terhadap keberhasilan stek pucuk sukun. P2 = 30 cm. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada kawasan lahan rawa gambutdengan segala keterbatasan yang ada. di mana perbanyakan tanaman ini biasa dilakukan secara vegetatif dengan stek akar. SSFFMP berpendapat pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang baik adalah dengan upaya pencegahan dan pemadaman dini. panjang trubusan.1 . dengan 3 kali ulangan dengan setiap unit percobaan terdiri atas 5 stek pucuk. tidak mengherankan bila daerah ini menjadi sasaran pembangunan. Bibit hasil koleksi dari populasi Kediri (Jawa Timur) menunjukkan kualitas yang paling baik dibandingkan dengan yang lainnya Kata kunci: Produktivitas trubusan. persentase stek berakar dan jumlah. tinggi tunas. sejak April sampai September 2005. Halaman 29 . tinggi pangkasan bibit 30 cm dan konsentrasi IBA 1250 ppm memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap persentase hidup. 2006 Pada bencana kebakaran besar akibat fenomena El nino tahun 1997 yang lalu. Berdasar profil lingkungan hidup kawasan pantai timur Sumatera Selatan (Tim PPLH UNSRI. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi pangkasan bibit sukun dan konsentrasi IBA dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman. Provinsi Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah. persentase stek bertunas. yaitu : HO = tanpa IBA (kontrol). Mengingat fungsinya yang penting tersebut. pangkasan. kimia maupun biotik.Wana Benih : Vol. persentase bertunas.Height on Seedling Stock and IBA Concentrations on the Growth of Breadfruit Shoot Cuttings) / Dedi Setiadi. persentase berakar dan jumlah akar. H2 = 2500 ppm dan H3 = 3750 ppm. Parameter yang diamati meliputi persentase stek hidup.

Meranti.terkait. sedangkan jenis daur panjang diuji cobakan membuat hutan tanaman meranti jenis meranti putih (S. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . penyakit. Kata kunci: Tembesu. Laut Kalimantan Selatan.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Shorea polyandra. Mamat Rahmat dan Kusdi. PT Inhutani II. Laut Utara Kalimantan Selatan. bagi desa-desa di sekitar kawasan hutan dan lahan. Berangkat dari pola pemikiran tersebut di atas. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . PT INHUTANI II. Winarto dan Rosilawati. Tulisan ini menyajikan teknik pembibitan tembesu yang merupakan salah satu jenis lokal di Sumatera Selatan. Halaman 15-19 . hal ini tergambar dari begitu banyaknya permintaan jenis ini dalam program kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Jika akan dilakukan pembongkaran maka akn memulai dari awal lagi. Agus TEKNIK PEMBIBITAN TEMBESU / Agus Sofyan.) PADA BEBERAPA DAERAH DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. SSFFMP mengembangkan konsep pengelolaan kebakaran hutan dan lahan yang berbasis masyarakat pada tingkat desa di Sumatera Selatan Kata kunci: Pendapatan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah minimnya informasi tentang teknik budidaya mulai dari tahap pembibitan hingga penanaman serta pemeliharaan di lapangan. Lahan rawa gambut. Halaman 55-60 . Kata kunci: Hama. Acacia mangium. termasuk di Sumatera Selatan. P. Agus PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandis Linn. polyandra) skala kecil yang dibuat pada tahun 1976 di area P. 2006 Jati merupakan salah satu jenis tanaman yang cukup banyak diminati masyarakat. sehingga setiap bentuk gangguan memerlukan pertimbangan tindakan bijaksana. Kebakaran hutan Siswoyo. -. Dilain pihak waktu yang diperlukan cukup lama dan biaya yang dikeluarkan sudah cukup besar. Hutan tanaman Semaras. sedangkan pembibitan vegetatif menggunakan bahan yang berasal dari bibit (seedling) maupun trubusan alam. Kalimantan Selatan Sofyan. Lain halnya dengan sektor pertanian yang berumur pendek apabila terjadi gangguan. Semestinya dalam dunia kehutanan konsistensi perhatian harus lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian ditunjau dari panjang daur. Setiap gangguan akan memberikan dampak negatif terhadap kualitas dan kuantitas hutan yang dibangun. Sedang pada usaha kehutanan gannguan terebut akan terbawa sampai akhir daur. Pembibitan tembesu dapat dilakukan secara generatif maupun secara vegetatif. Halaman 55-58 . 127 . Setiap bentuk kelengahan dalam pembangunan tanaman hutan yang dapat menyebabkan tanaman rusak oleh hama dan penyakit maka pengaruhnya akan dibawa sampai hasil akhir. Masyarakat akan dengan senang hati melaksanakan pencegahan kebakaran apabila hal tersebut menguntungkan/meningkatkn pendapatannya dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya. 2006 Usaha dibidang kehutanan memerlukan waktu yang lama. Pembibitan Sofyan. Hadi PENGALAMAN PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA Acacia mangium DI HUTAN TANAMAN SEMARAS DAN Shorea polyandra DI PETAK UJI COBA PENANAMAN MERANTI DI PULAU LAUT UTARA. Selama masa pembangunan banyak sekali peluang terjadinya gangguan. 2006 Jenis lokal telah menjadi prioritas dalam rangka memilih jenis pohon untuk merehabilitasi lahan kritis. Pembibitan generatif yaitu pembiitan dengan menggunakan benih/biji.al] . Jakarta 23 Nopember 2006 . -.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Masyarakat. KALIMANTAN SELATAN / Hadi Siswoyo. antara lain serangan hama dan penyakit tanaman. Seiring dengan penurunan potensi hutan alam Indonesia membuat para pengusaha kehutanan mulai untuk mencoba pembuatan hutan tanaman. karena hal ini menyangkut perhitungan untung rugi dalam jangka panjang. mangium dimulai tahun 1985 di Semaras. antara lain PT Inhutani II mencoba membangun hutan tanaman jenis fast growing jenis A. -Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Pulau Laut Utara. tindakan yang dilakukan dapat lebih tegas: dibongkar atau diteruskan.

al] . karena kegiatan ini menyangkut investasi serta harapan hasil yang sangat besar.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Tectona grandis. Kesesuaian lahan Sofyan. 2006 Keberhasilan pembangunan dan kelestarian hutan tanaman antara lain memerlukan dukungan IPTEK yang tepat pada semua tahapan. Metode penelitian yang dilakukan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 blok. Berkembangnya pembangunan hutan tanaman. untuk mengetahui daerah-daerah yang relatif cocok untuk penanaman jati. -. Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu. Kabupaten Banyuasin. Kemampo. Bambang SOSIALISASI CORE RESEARCH BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN PALEMBANG / Bambang Sugiarto dan Triwilaida. -. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 23-28 . Sumatera Selatan. Halaman 1-14 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sebagain besar lokasi yang diteliti terdapat kendala utama yang menghambat pertumbuhan jati secara permanen. Evaluasi kesesuaian tempat tumbuh penting dilakukan di Sumatera Selatan. Faktor lingkungan (edafis dan klimatis) sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman jati. Kata kunci: Jati. Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi lahan pada lokasilokasi penelitian kurang sesuai untuk pengembangan tanaman jati. Sumatera Selatan.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPPHT Palembang. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan penyiangan total chemis menunjukan pertumbuhan diameter dan tinggi yang lebih besar pada saat tanaman berumur 3 tahun. sehingga jati tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Tectona grandis Linn. permasalahan sosial masyarakat hutan. tingginya laju degradasi hutan dan lahan. Sumatera Selatan 128 . Untuk mengetahui tentang prospek pengembangan jati di wilayah Sumatera Selatan. Faktor pembatas Sugiarto. yaitu tingkat kemasaman tanah yang rendah serta kedalaman solum yang dangkal. Agus PENGARUH TEKNIK PENYIANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI KEMAMPO. Agus FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS PERTUMBUHAN TANAMAN JATI DI SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan dan Mamat Rahmat. tanaman jati tidak sesuai.Prosiding Pertemuan Forum Komunikasi Jati V. telah dilakukan penelitian mengenai kelas kesesuain lahan yang menyangkut berbagai persyaratan tumbuh jati pada tiga belas lokasi di tiga (3) Kabupaten yaitu Banyu Asin. Tidak jarang ditemui tanaman mengalami mati pucuk pada tahun kedua dan ketiga. mulai dari perencanaan hingga pemanenan serta kondisi masyarakat sekitar hutan yang mendukung. maka kajian atau penelitian mengenai kelayakan pengembangan dan penanaman jati di wilayah ini sangat penting. rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Yogyakarta 12 April 2006 : Halaman 29-33 . SUMATERA SELATAN / Agus Sofyan [et. 2006 Tulisan ini berisi tentang hasil penelitian teknik penyiangan tanaman jati (Tectona grandis Linn. Kata kunci: Jati. Sumatera Selatan. kebijakan pemerintah daerah bidang kehutanan yang mendukung serta kondisi internal seperti ketersediaan sumberdaya manusia dan sarana prasarana litbang. seringkali tidak memperhatikan kesesuaian lahan. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .Mengingat bahwa jati bukan tanaman asli Sumatera (jenis eksot). tanaman jati ternyata dapat tumbuh dan berkembang dengan cukup baik di wilayah ini. Kesesuaian lahan. Penelitian dilakukan sejak tanaman berumur 1 tahun hingga umur 3 tahun. Penyiangan. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo. 2006 Penanaman jati oleh masyarakat khususnya di Sumatera Selatan. Balai Litbang Hutan Tanaman IBB memfokuskan penelitian di bidang pembangunan dan pengelolaan hutan tanman. 4 perlakuan dan 20 tree plot per unit perlakuan. Sofyan. drainase dan kedalaman solum merupakan faktor pembatas pertumbuhan tanaman jati yang ditemukan pada lokasi penelitian. Namun demikian pada lokasi tertentu di mana tingkat kemasan tanah serta kedalaman efektif terpenuhi. Kata kunci: Jati. -. dapat diketahui bahwa pada beberapa daerah di Sumsel. Pertumbuhan.) dalam rangka mencari teknik penyiangan tanaman jati yang paling optimal. Tectona grandis. Tingkat kemasaman tanah (pH).

000102 D2 + 0. sedangkan anak petak terdiri atas 4 taraf dosis pupuk. tinggi pohon. model.30%). Jati muna. SR (1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jati muna dan jati super memiliki penampilan pertumbuhan lebih baik dibanding bibit asal biji. Halaman 47-53 . Kata kunci: Diameter.80%) (3. Pujo PENGALAMAN DALAM PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT DAN PRAKTEK MANAJEMEN TANAMAN DI PERHUTANI / Pujo Sumantoro dan Sarkoro Doso B.3. telah diprogramkan penanaman jenis fast growing species.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. telah diprogramkan penanaman jenis taman yang paling luas ditanam di Jawa. mahoni (Swietenia macrophylla). sono keling (Dalbergia latifolia) dan jenis lainnya dalam skala kecil.00100 DH dengan mlai R2 (96.69%). 2006 Model penduga volume pohon jenis pulai darat (Alstonia angustiloba) yang dikembangkan PT. menurunkan nilai Se (0. 2006 Penanaman jati pada tanah-tanah yang kurang subur perlu didukung silvikultur intensif seperti teknik pemeliharaan antara lain dengan pemberian pupuk. Fatahul Azwar.49%) nilai SA (0. volume. Palembang Suhartati PENGARUH DOSIS PUPUK DAN ASAL BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN JATI (The Effect Fertilizer's Dosage and Seedling Process on the Growth of Teak)/ Suhartati. ekaliptus (Eucalyptus pellita).11%). kayu putih (Melaleuca cajuputi).91%) dan nilai SA (0. Dari berbagai jenis tanaman hutan tersebut.43 %).33%).31%). No. sedangkan dosis 100 gr adalah dosis pupuk yang optimal untuk pertumbuhan tanaman jati pada umur 20 bulan di lapangan. Penelitian ini dirancang dengan pola Split Plot. 100gr. kesambi (Schleichera aleosa).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. -. Model penduga volume pohon dengan dua peubah bebas memiliki ketelitian 1 tinggi dengan meningkatkan nilai R2 sebesar 1. Hutan tanaman. dan kontrol (tanpa pupuk).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol.0.200 .02%).5 juta hektar yang terdiri dari jenis penunjang industri kayu dan industri non kayu. -. menurunkan SR (0. 150 gr.000751 D2 dengan nilai R2 (94.81 . 2006 Perum perhutani mengelola hutan tanaman di Jawa seluas sekitar 2. Jakarta 23 Nopember 2006 .0127 D + 0. sengon laut (Paraserienthes falcataria). Pemili model terbaik berdasarkan pemberian peringkat terhadap nilai koefisien determinasi (determinai coeficient = R2). -. simpangan rata- rata (mean deviation = SR) simpangan agregatif (agregatif'deviation = SA). SR (1. Jati super. Agus PEMODELAN PENDUGA VOLUME POHON PULAI DARAT (Estimation Modelling of Pulai Darat Tree Volume) / Agus Sumadi. No. serta tingkat dosis pupuk yang efektif untuk petumbuhan yang optimal di lapangan. pada bulan Oktober 2004.2 . tetapi menaikkan nilai SA (0. permasalahan hama penyakit mulai dirasakan sebagai factor yang cukup serius mempengaruhi keberhasilan dan produktivitas hutan tanaman pada beberapa tahun terakhir. Jati dan pinus merupakan dua jenis tanaman yang paling luas ditanam di Jawa. Petak utama terdiri atas tiga asal bibit jati Muna.42%). Lahan kritis.Kata kunci: Core research. Sulawesi Selatan. Halaman 73 . pulai darat (Alsionia angustiloba).0.Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong. dan jati super. Model penduga pohon terbaik berdasarkan satu peubah bebas diameter adalah persamaan V = 0.0795 .0769 + 0. antara lain mindi (melia azedarach). Halaman 193 .3. Model penduga volume pohon terbaik berdasarkan peubah bebas diameter dan tinggi pohon adalah persamaan V = . Jenis-jenis tanaman tersebut antara lain jati (Tectona grandis). Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan pada umur 20 bulan.00885 0.0093 H + 0. mangium (Acacia mangium).5%. pinus (Pinus merkusii).3 . galat baku (standard error = Se).000045 D^ 0. X Indah Pratama yang berlokasi di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan disusun berdasar satu peubah bebas diameter serta dengan dua peubah bebas diameter dan tinggi pohon. Nursyamsi. Jenis-jenis hama penyakit yang menyerang 129 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal bibit yang pertumbuhannya paling baik. Se (2. Sumantoro. Silvikultur intensif Sumadi. Kata kunci: Jati. Sejalan dengan program Perhutani Hijau 2010 untuk menghijaukan lahan hutan yang kosong. Joni Muara. mimba (Azadiracha indica). yaitu 50 gr. dengan petak utama adalah asal bibit dan anak petak adalah dosis pupuk NPK. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Malili.

penggunaan pestisida di USA sendiri untuk sektor kehutanan hanya berkisar antara 1 persen .f Taufikurahman MENIMBANG PENGGUNAAN PESTISIDA DALAM PENANGGULANGAN HAMA PENYAKIT TANAMAN HUTAN: TINJAUAN ASPEK MANFAAT DAN RESIKO LINGKUNGAN / Taufikurahman. molluscisida.1 . anti pencemaran. dan rumah tangga. Dalam pengelolaan kehutanan. fungisida dan rodentisida. pestisida digunakan untuk 130 . Kata kunci: Hama. Priyono PERKEMBANGAN TAJUK POHON JATI BERASAL DARI BIJI. yellow fever dan sebagainya. h) rumah tangga. dua alternatif lainnya dapat digunakan dengan pertimbangan penguasaan teknik dan lebih dari itu. Jadi pestisida dalam kehutanan mungkin masih masuk dalam kategori "bidang lain". beberapa penggunaan senyawa aktif dari bahan alam. f) pengendalian faktor penyakit manusia. dan larvasida. Terkait dengan menurunnya energi penduduk untuk melakukan kerja yang terkait dengan pertanian. Penyakit. gedung. 7 th 1973 bahkan hormon pertumbuhan dimasukkan dalam kategori pestisida. alasan ekonomi Kata kunci: Perkembangan tajuk. Manajemen tanaman. -. Peruntukan pestisida di Indonesia masih terbatas pada penggunaan di lahan pertanian. typhus. KULTUR JARINGAN DAN STEK PUCUK (Crown development of teak from seedling. Ketiga bahan tanaman ini mempunyai karakteristik yang perlu dikaji terutama perkembangan tajuk yang berhubungan dengan intensifikasi lahan. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD) dengan tiga bahan tanaman (menggunakan variasi 5 pohon plus) dan tiga blok. sedangkan apabila persediaan benih terbatas. jati. j) industri lainnya seperti pada cat. Dalam PP No. c) perikanan. g) pengendalian rayap. Namun demikian sejalan dengan perkembangan jaman. Intensifikasi lahan menekankan alternatif manajemen ruang dalam bentuk agroforestri. gudang. 15. Penggunaan pestisida untuk non-agricultural use juga masih terbatas pada upaya pengontrolan vektor penyakit pada manusia yang berkaitan dengan produksi pertanian. Tektona grndis L. 2006 Pengelolaan hutan.3. No. baik di luar negeri maupun di Indonesia terutama ditujukan dalam upaya untuk meningkatkan produksi pertanian. -.5 persen dari total penggunaan pestisida. biji sebagai bahan tanaman adalah pilihan pertama. Bila persediaan biji bermutu cukup. kultur jaringan dan stek. Selain itu juga meliputi akarisida. pengguna pohon utama jati mengalami problematika penyediaan benih dan intensifikasi lahan.B Aryono dan Sambas Sabarnurdin. Estimasi penutupan tajuk dicapai pada waktu tegakan berumur berturut-turut 12 tahun. Plot perlakuan berbentuk bujur sangkar. setiap plot berisi sembilan pohon dengan jarak tanam 6m x 2m. dan k) bidang lain. d) penyimpanan hasil pertanian. Perhutani Suryanto.pertanaman di lapangan tersebut ada yang sudah lama dikenal dan jenis hama/penyakit baru dikenal pada jenis-jenis tanaman hutan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. penggunaan pestisida masih terbatas dalam kaitannya terutama dengan pengawetan kayu sebagai produk hutan. Pestisida yang lazim dipakai dalam pengelolaan tanaman hutan produksi meliputi herbisida. Sebagai perbandingan. Hassal (1990) menyimpulkan bahwa pengontrolan terhadap vektor penyakit malaria. penggunaan pestisida untuk keperluan lain khususnya untuk pemakaian di rumah tangga. hama penyakit mulai muncul dan berpotensi menimbulkan kerugian yang cukup signifikan. Senyawa-senyawa pestisida tersebut pada umumnya merupakan senyawa kimia sintetik. sakit tidur. Stek pucuk. b) peternakan. W.5 tahun bila biji. dan dalam kehutanan mulai mengambil porsi yang semakin signifikan. 2006 Selama ini penggunaan pestisida. Jika berkaitan dengan kehutanan. Jakarta 23 Nopember 2006 . tissue culture and shoot cutting) / Priyono Suryanto. Kultur jaringan. insektisida.43 . Halaman 29-31 . Asal bahan tanaman. tampaknya pelu dimasukkan kegiatan pestisida untuk kehutanan dengan pengaturannya sendiri. i) fumigasi. kultur jaringan dan stek pucuk dipakai sebagai bahan tanaman. perkebunan.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. e) pengawetan hasil hutan. Seiring dengan keluasan area tanaman dan lama daur pengelolaan suatu jenis hutan tanaman. Bila kebutuhan pengguna pestisida untuk hutan produksi mulai meningkat. KEPMENTAN TAHUN 2001 yang mengkategorikan bidang penggunaan pestisida meliputi: a) Pengelolaan tumbuhan. Program pencarian bahan tanaman jati menghasilkan alternatif pilihan yang berasal dari biji.2 tahun dan 8. Halaman 35 .

etunicatum dan perbedaan media sapih.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Vol. Budi MEMINIMALKAN SERANGAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN PADA Acacia crassicarpa DAN Acacia mangium / Budi Tjahjono. inokulasi G. Pestisida. PT.) relatif tidak menunjukkan perbedaan parameter tinggi dan diameter di antara perlakuan. Jakarta 23 Nopember 2006 . No. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) merekomendasikan cara hayati. Penyakit. Sumatera Selatan. Program Penelitian atau Bagian Hama dan Penyakit telah dibangun dalam R&D Riau Fiber. G.). Tanaman hutan Tjahjono. Untuk menekankan pentingnya kesehatan tanaman dan untuk memfasilitasi penelitian dan implementasi konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).106 . Penyaki Ulfa. Kekurangan produksi bibit di persemaian mempengaruhi secara langsung target penanaman dan dapat berakibat meningkatnya biaya pemeliharaan. RAPP telah berkomitmen untuk menangani masalah ini dengan cara berwawasan lingkungan. menggunakan Rancangan Acak Blok dengan tiga ulangan. yang ditunjukkan dengan hampir 100% hidup pulai darat (Alstonia sp. Hutan tanaman industri.) telah dilakukan di lahan reklamasi bekas tambang batubara pada Dumping Area Pit Tiga. Acacia mangium. 2006 : Halaman 83-86 . Bangko Timur. masalah hama penyakit menjadi salah satu kendala yang semakin dirasakan penting artinya. Efendi Agus Waluyo. Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi.3. RAPP melalui R&D nya berusaha untuk mengembangkan musuh alami seperti serangga Sycanus dan cendawan Trichoderma untuk pengendalian hayati hama dan penyakit. PT Rian andalan Pulp and Paper Tjahjono. Kata kunci: Hama. 2006 Masalah hama dan penyakit selalu dihadapi oleh usaha pertanian dan perkebunan dimanapun juga di muka bumi ini. eucaliptus ataupun tanaman lain dalam Hutan Tanaman Industri (HTI). penyakit. Manajemen APRIL PT. setelah 9 bulan ditanam. PT RAPP. Riset menggunakan 2 perlakuan. PT. bermutu tinggi.mengontrol tumbuhan gulma. inokulasi G. Riau andalan Pulp and Paper telah mengantisipasi masalah hama penyakit ini dengan serius. Penyakit. pertumbuhan pulai darat (Alstonia sp. Bukit Asam. -. Budi PENGELOLAAN HAMA PENYAKIT DI HTI PT RAPP / Budi Tjahjono. rodensia. sebagai bagian dari pengelolaan hama terpadu yang berwawasan lingkungan di HTI. Untuk itu diperlukan bibit yang uniform. seperti ketersediaan nitrogen dan akumulasi bahan organik 131 . 2006 Penanaman kembali hutan tanaman bekas tebangan harus dilakukan segera setelah penebangan. Halaman 45-46 . Tanjung Enim. misal penggunaan antagonis. etunicatum tidak cukup berpengaruh pada pertumbuhan pulai di lahan. Maliyana PENGARUH INOKULASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA TANAMAN PULAI DI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA (The Effects of Arbuscular Mycorrizae Fungi Inoculation to Pulai at Ex Coal Mining) / Maliyana Ulfa. Demikian pula dalam pengusahaan akasia. 2006 pertumbuhan tanaman pulai darat (Alstonia sp. Sebagai perusahaan yang telah mendapat sertifikasi LEI. ekonomi dan menjamin produktivitas dan keberlanjutan HTI. Dalam kaitannya dengan tumbuhan. sehat. serangga. PT.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia.2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah ditanam di lahan. Kata kunci: Serangan penyakit. Hal tersebut diduga disebabkan oleh proses biokimia tanaman. Edwin Martin. pestisida digunakan untuk memperlakukan nonnative dan invasif spesies tumbuhan. diameter dan persen hidup. dan kehilangan akibat serangan penyakit harus minimalkan. Halaman 101 . untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan dan produktivitas hutan. Kata kunci: Hama. Oleh sebab itu diperlukan perencanaan yang matang agar suplai bibit dari persemaian dapat tepat waktu dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Tetapi di sisi lain. -. Acacia crassicarpa. etunicatum berpengaruh pada persentase hidup tanaman untuk hidup di lahan bekas tambang. -Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman.

bungur. Halaman 123-126 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. -. sedangkan pada seru telah diuji diinfeksi dengan Glomus etunicatum. Bentuk teknologi ini lebih efektif dan efisien. -. mikoriza dapat memudahkan penyerapan nutrisi dan air. Pada lahan kritis. Aplikasi mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. Alstonia sp. kimia dan biologi tanah serta karakteristik dan tipologi lahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza dapat meningkatkan kualitas bibit tanaman kehutanan tersebut. -. Aplikasi ini dapat diterapkan dengan memperhatikan kondisi yang mendukung perkembangan mikoriza pada lahan rawa gambut pasca kebakaran. Maliyana POTENSI APLIKASI MIKORIZA UNTUK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN DI LAHAN RAWA GAMBUT / Maliyana Ulfa dan Efendi Agus Waluyo. seru (Scima wallicii) dan mahoni (Swietenia macrophylla) yang dilakukan di Balai Hutan Tanaman Palembang. Glomus clorum dan Gigaspora sp. karena untuk seterusnya akan berkembang dengan sendirinya dan terus menginfeksi. Selain itu tanamanpun akan lebih tahan terhadap kekeringan dan serangan patogen akar. Usaha rehabilitasi yang bisa diupayakan adalah dengan aplikasi mikoriza. Maliyana PEMANFAATAN MIKORIZA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BIBIT JENIS PRIORITAS SUMATERA SELATAN / Maliyana Ulfa. Selain itu karena yang diinokulasikan adalah jasad hidup. sehingga mudah terserap oleh tanaman. mangium (Acacia mangium). sungkai dan mngium adalah Glomus etunicatum. Bibit yang berkualitas dapat diperoleh secara manipulasi genetik maupun lingkungan. Lahan rawa gambut. Efendi Agus Waluyo dan Bastoni. Kata kunci: Mikoriza.). Pembangunan hutan tanaman menjadi bentuk rehabilitasi yang wajib dilakukan. 2006 Kerusakan hutan rawa gambut semakin meningkat setiap tahunnya. Jenis mikoriza yang diinokulasikan pada pulai. yang mengakibatkan kerusakan tidak hanya pada tegakan hutan tetapi juga pada tanah (gambut). deposit bahan organik penyusun gambut habis terbakar sehingga menurunkan produktivitas lahan dan menurunkan daya dukung lahan. bungur (Lagerstromia speciosa). Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Salah satu penunjang keberhasilan hutan tanaman adalah penyediaan bibit berkualitas. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan . Rehabilitasi Ulfa. Halaman 69-76 .Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. pulai. mengingat dapat menyediakan bibit berkualitas dalam waktu yang singkat dalam jumlah yang banyak. antara lain pulai (Alstonia sp. Maliyana PROSPEK APLIKASI MIKORIZA UNTUK REHABILITASI HUTAN RAWA GAMBUT BEKAS KEBAKARAN / Maliyana Ulfa. 2006 Sebagian besar lahan gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan. Manfaat ini telah dibuktikan dengan menginokulasi mikoriza pada beberapa tanaman kehutanan.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. Hal tersebut menyebabkan sporulasi dan kolonisasi CMA tidak berjalan dengan baik. meliputi kondisi fisik. 2006 Aplikasi mikoriza merupakan alternatif teknologi dalam upaya mempersiapkan bibit berkualitas. Mikoriza Ulfa. Jenis prioritas. Halaman 127-130 . sungkai (peremona canescens). lahan. 132 . Sehingga perlu adanya usaha rehabilitasi yang sesuai. Edwin Martin dan Efendi Agus Waluyo.yang tidak terdekomposisi dengan baik. maka pemberiannya cukup dilakukan sekali di awal pembibitan dan menghemat biaya operasional. Kata kunci: Glomus etunicatum. Dampak kerusakan yang terparah disebabkan kebakaran hutan. serta mampu mengefisienkan pemberian pupuk buatan. Kata kunci: Kualitas bibit. yang disebabkan oleh (1) eksploitasi hutan (2) konservasi lahan untuk pertanian dan (3) kebakaran hutan. Ulfa. Kebakaran.

Temparang (Macrothirictys microphirus). Jenis ikan yang hampir punah antara lain Tengkeleso (Shclerophages formosus). tempat mata pencaharian bagi nelayan. Kapas-kapas (Rochteichtys micropeltis). ruas sungai yang terdapat lubuk dan danau rawa. Perikanan Wasrin. Jakarta 23 Nopember 2006 . Suaka perikanan mempunyai peran besar bagi penyediaan benih ikan secara alami di perairan umum. Hutan tanaman. Beberapa penyebab kerusakan habibat yaitu penebangan hutan rawa. Persoalan utama didalam membangun hutan tanaman adalah kemungkinan terjadinya ledakan populasi serangan dan epidemi penyakit yang berakibat pada serangan hama dan penyakit secara besar-besaran pada hutan tanaman. Nur Arifatul PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN UNTUK REHABILITASI KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT / Nur Arifatul Ulya. Beberapa tipe habibat yang dapat dijadikan suaka perikanan yaitu Lebung. Mikoriza. Salah satu teknik pengelolaan sumberdaya perikanan yaitu dengan cara menyediakan habibat yang dilindungi untuk dijadikan suaka perikanan. Pengalaman dari beberapa perusahaan kehutanan dalam membangun hutan tanaman industri masih banyak menemui kendala antara lain resiko-resiko jangka panjang akibat dari pemilihan jenis tanaman yang tidak atau kurang sesuai dengan tapak. serta informasi jangka panjang kegunaan dan nilai ekonomi dari tegakan yang ditanam. Rawa gambut Utomo. Timah-timah (Cryptopterpus apagon). 2006 Departemen Kehutanan melalui program Revitalisasi Sektor Kehutanan telah mentargetkan untuk membangun sekitar 9 juta hektar hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat di dalam kawasan hutan yang terdegadrasi serta hutan rakyat pada lahan-lahan milik masyarakat. pendapatan asli daerah dan keseimbangan lingkungan. Sengarat (Belodonticthys dinema). Hal ini juga menyebabkan rusaknya gambut yang berada di areal yang tidak berhutan tersebut. dan topografi relatif cukup tersedia. Di sisi lain pembangunan HTI hanya mampu menghasilkan 1/3 dari kebutuhan industri sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan percepatan pembangunan HTI.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 73-83 . 133 . Ekosistem.6 Kata kunci: Hutan tanaman. pemulihan populasi dan peningkatan produksi perikanan. sebagai indikasi tidak adanya keseimbangan ekologi dari jenis yang ditanam dengan keadaan lingkungan. Suaka perikanan dapat dipakai sebagai perangkat pelestarian plasma nutfah. demikian pula dengan "trend" penggunaan kayu. Propinsi Sumatera Selatan mempunyai lahan gambut seluas kurang lebih 1. Kehilangan habibat yang penting di perairan umum akan berdampak langsung pada kehidupan organisme air.484 juta hektar atau sekitar 20. Ekologi perairan umum sangat komplek dan sangat dipengaruhi oleh musim. 2006 Indonesia merupakan salah satu negara dengan lahan rawa gambut terluas di dunia. Seringnya terjadi kebakaran hutan dan tingginya konversi lahan menyebabkan semakin menciutnya areal berhutan dalam kawasan hutan rawa gambut. iklim. -. relatif lebih mudah diperoleh. -. Pemahaman ekosistem lahan basah sangat diperlukan untuk mengevaluasi kegunaan dan keuntungannya. Halaman 21-27 . Evaluasi kegunaan lahan basah diperlukan dalam rangka memberikan masukan bagi pengelola. -. kebutuhan industri pasar serta nilai ekonomi dari produk perkayuan. Konversi lahan basah harus dipertimbangkan dengan masak agar nilai sumberdaya alam tidak hilang. Upik Rosalina ASPEK EKOLOGI DALAM "VEGETATION MANAGEMENT” PADA HUTAN TANAMAN / Upik Rosalina Wasrin. 2006 Peran penting perairan umum yaitu sebagai tempat hidup berbagai jenis organisme air tawar. Hutan tanaman Ulya. Informasi biofisik yang meliputi tanah.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Agus Djoko KETERKAITAN KELESTARIAN SUMBERDAYA PERIKANAN DENGAN EKOSISTEM PERAIRAN RAWA BESERTA UPAYA PELESTARIANNYA / Agus Djoko Utomo. Ikan Elang (Datniodes quadrifsciatus).Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 97-102 . sumber protein hewani. serangan hama dan penyakit. Suaka perikanan yang baik dapat meningkatkan produksi perikanan di perairan sekitarnya. Kata kunci: Rawa. reklamasi lahan.Kata kunci: Rawa gambut. Rehabilitasi. Mok-mok (Hemisilurus scheronema).

Apabila informasi tentang kesehatan hutan dipadukan dengan program penataan administrasi yang baik serta dukungan pakar yang berkomitmen tinggi terhadap masalah-masalah lingkungan. Penyakit akar putih. informasi tentang kesehatan hutan dapat dimanfatkan untuk memperkirakan tingkat (kualitas) hutan yang pada gilirannya sangat penting untuk merespon keinginan pihakpihak yang berkepentingan. FHM dapat dipakai sebagai dasar yang penting dalam pembuatan rencana strategis khususnya terkait dengan data perubahan kesehatan hutan.2006 : Halaman 71-81 . Akar merah. Ganoderma spp.Kata kunci: Ekologi. ekspresi dinding sel ekstraseluler dalam mendegradasi enzim diasumsikan merupakan bagian dari proses tersebut. habibat untuk wildlife. termasuk enzim kitinolitik dan glukanolitik. SM FOREST HEALTH MONITORING DI HUTAN TANAMAN / SM Widyastuti. Penyakit. kayu bangunan.1. san Sclerotium rolfsii. Filamen fungi trichoderma spp. Kata kunci: Acacia mangium. Fungsi hutan yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya adalah menyediakan air.14) merupakan salah satu enzim yang paling efektif sebagai antifungi dan aktivitas litik dibanding dengan enzim kitinolitik yang lain. 2006 Makalah ini mendeskripsikan kemampuan Trichoderma sp. Banyak pihak yang dapat memanfaatkan informasi tentang kesehatan hutan. Seperti dilaporkan dalam sistem kitinolitik lain. endokitinase (EC 3. maka akan dapat dihasilkan rencana strategis pengembangan hutan yang lestari dan lingkungan yang berkesinambungan. Hutan tanaman Widyastuti. bahan pulp serta dapat digunakan untuk tempat rekreasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma spp. Pengendalian hayati pada patogen tanaman merupakan pendekatan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pertanian modern dan fungisida kimia yang dapat menyebabkan polusi lingkungan dan berkembangnya galur resisten. -. FHM penting dilakukan untuk mengetahui seberapa baik hutan dapat mendukung kehidupan manusia. 2006 Dalam dasawarsa terakhir ini Forest Healts Monitoring (FHM) sering dibicarakan. Hutan Tanaman Widyastuti. Baru-baru ini. SM POTENSI ANTAGONISTIK FUNGI TRICHODERMA SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI TERHADAP FUNGI PATOGEN TULAR TANAH / SM Widyastuti.reesei. baik pada saat ini maupun masa yang akan datang.. sebagai pengendali hayati patogen busuk akar Ganoderma spp. Akar putih. Bagi para pengelola hutan. Rhizoctonia spp. Hutan tanaman. dapat secara efektif mampu menekan perkembangan fungi patogen secara in vitro dan eksperimen rumah kaca. Bagi pembuat kebijakan.. Bagi masyarakat informasi tentang kesehatan hutan yang diperoleh secara benar akan meningkatkan kesadaran dan peran serta mereka dalam ikut memanfaatkan hutan secara benar. Jakarta 23 Nopember 2006 . merupakan patogen busuk akar potensial yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada berbagai tipe hutan tanaman di Indonesia. Walaupun mekanisme mikroparasit belum diketahui sepenuhnya. bersifat mikroparasit terhadap patogen tanaman dan merupakan salah satu agen potensial yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati pada penyakit tanaman.Prosiding Ekspose/Diskusi Sehari Jaringan Kerja Litbang Hutan Tanaman : Pengendalian Hama dan Penyakit pada Hutan Tanaman. Halaman 33-39 . Uji coba mengenai kemampuan antagonistik isolat Trichoderma dalam menghambat fungi patogen pada beberapa tanaman.2. Kata kunci: Forest Health Monitoring.Prosiding Lokakarya Busuk Hati dan Busuk Akar pada Hutan Tanaman Akasia. DNA 134 . -. Fusarium sp. Hutan yang sehat juga berfungsi sebagai sumber bahan pangan dan sebagai paru-paru dunia. 32-kDa enzim kitinase telah dimurnikan dan dikarakterisasi dari T. Ridigoporus microporus. seperti Ganoderma spp. Vegetation management. kayu perkakas.

25-7 ha. Hutan rawa air tawar mempunyai nilai ekologis yang penting karena pada saat musim hujan daerah tersebut merupakan tempat memijah (spawning ground) bagi banyak ikan termasuk beberapa jenis ikan berniali ekonomis seperti ikan Belida (Chitala lopis). (2) Pasar kayu jati belum terbentuk dengan jelas. Halaman 61-67 . minat masyarakat Kaur terhadap budidaya jati mulai berkurang. -. Beberapa hal yang mendorong perkembangan budidaya jati di Bengkulu cenderung menurun adalah sebagai berikut: (1) Pertumbuhan dan perkembangan jati tergantung perawatan dan tempat tumbuh. 2000: 9.25 hektar berulangan untuk beberapa seri tahun tanam jati disajikan secara berturut-turut tahun tanam. 135 . 2006 Jati merupakan tanaman eksotis yang dibudidayakan oleh masyarakat Kaur.25 cm. 2006 Salah satu tipe ekosistem perairan umum yang khas adalah ekosistem hutan rawa air tawar. (3) Memanfaatkan lahan terlantar yang tidak produktif. 1998: 11. tanaman air dan tanaman semak lainnya.Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Hutan Tanaman. (3) Budidaya jati secara monokultur tidak menyediakan ruang untuk budidaya jenis tanaman lain. Air tawar. Danu EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR SEBAGAI TEMPAT PEMIJAHAN (Spawning ground) BAGI IKAN-IKAN PERAIRAN UMUM / Danu Wijaya dan Safran Makmur. Jati mulai menarik perhatian masyarakat Kaur pada pertengahan dekade 90-an seiring dengan maraknya budidaya jati di berbagai lokasi. (2) Teknik budidaya jati mudah dikuasai dan sederhana. Penampakan kayu jati tersebut pada umumnya cukup baik tanpa gerowong dan cacat lain namun kayu tersebut belum berkembang dengan baik dan terlihat masih muda dengan kayu teras yang terlihat belum matang. Tapa (Wallago leeri). Luas kepemilikan tanaman jati masyarakat sangat bervariasi antara 0.74 cm. Spawning ground.71 cm dan 7.13 m. dan (4) untuk memenuhi kebutuhan kayu di masa depan. Bondan PENGEMBANGAN JATI SEBAGAI TANAMAN EKSOTIS: PELAJARAN DARI MASYARAKAT KAUR.25 cm dan 8. Pada tahun 2002. Betutu (Oxyeleotris marmorata). Baung (Mytus nemurus) dan Putak (Notopterus notopterus). Beberapa cara untuk pelestarian tersebut adalah dengan tidak melakukan penebangan liar. Hutan rawa air tawar menjadi tempat pemijahan ikan terutama pada waktu musim hujan. Sebagian besar tanaman jati di Kaur belum memasuki masa panen namun ada sebagian tanaman yang berumur 12-15 tahun telah dipanen dengan diameter batang 20 cm . (4) mulai berkembangnya tanaman perkebunan yang dapat memberikan hasil lebih cepat dan kontiyu. Kondisi hutan rawa air tawar yang relatif lebih tenang dan banyak substrat atau tanaman mati yang merupakan media untuk menempelkan telur menjadikan hutan rawa air tawar sebagai daerah yang ideal untuk ikan-ikan yang bermigrasi untuk memijah. Barikut adalah beberapa faktor yang memotivasi masyarakat untuk melakukan budidaya jati di Kaur: (1) Gambaran keuntungan ekonomi yang akan diperoleh. menjadikan daerah hutan rawa air tawar sebagai daerah reservat dan adanya peraturan penangkapan pada bulan-bulan tertentu terutama pada musim kawin atau musim pemijahan. Pemijahan. 1999: 13.81 m. BENGKULU / Bondan Winarno dan Edwin Martin. rerata diameter dan tinggi bebas cabang: 2002 : 7. 2001: 8.89 cm dan 6. Kata kunci: Ekosistem.51 cm dan 5.63 cm dan 6. Pelestarian hutan rawa air tawar perlu dilakukan guna menjaga kelestarian dan produksi ikan terutama ikan-ikan bernilai ekonomis dan ekologis.Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 135-141 . Hasil pengukuran potensi jati menggunakan plot ukur 0. -. Hutan rawa air tawar didominasi oleh vegetasi pohon. Perairan umum.90 m.14 m. Ekosistem hutan rawa air tawar biasanya terdapat pada Daerah Aliran Sungai bagian tengah.Wijaya. Sebagian besar jati yang ada merupakan tanaman antara 1997-2001. Hutan rawa. perdu. Masyarakat secara swadaya menanami lahannya yang terlantar (tidak produktif) dengan tanaman jati. Peran dan fasilitas instansi pemerintah terkait terutama dinas kehutanan diperlukan dalam merespon perkembangan budidaya jati dan mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi di Kaur dari sisi teknis budidaya dan akses pasar. Ikan Winarno. Hutan rawa. Baturaja 7 Desember 2005 : Optimalisasi Peran IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan .

yaitu C-organik (2. dalam penyelenggaraannya dilaksanakan oleh KPH dalam bentuk swakelola dan pemerintah dapat mendelegasikan pengelolaan hutan kepada Badan Usaha Milik Negara di bidang kehutanan. 2006 Ekosistem lahan basah dan rawa gambut mencakup sepertiga bagian dari total wilayah Provinsi sumatera Selatan. keragaman hayati dan dinamika populasi hutan rawa gambut. Bengkulu Yassir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah di lokasi penelitian secara umum tidak subur. No.Jurnal Penelitian Penelitian tentang hubungan antara Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada lahan kritis telah dilakukan di areal rehabilitasi Samboja Lestari Km 35. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metoda tunggal berdasarkan letak topografi dan komposisi tumbuhan. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan hutan yang meliputi tata hutan.15%).115 . yang ditunjukkan dengan pH tanah yang masam (4. K tersedia (0. yang ditunjukkan oleh jumlah spora CMA yang menurun selaras dengan meningkatnya kandungan P tersedia di dalam tanah. Rekayasa proses suksesi ekologi hutan rawa gambut yang dipercepat dengan mengakomodasi kepentingan sosial ekonomi sangat diperlukan. dan dua pertiga bagian di antaranya merupakan kawasan hutan dengan kondisi penutupan vegetasi sebagian kecil masih berupa hutan alam dan sebagian besar telah terombak menjadi padang rumput. Jumlah petak yang diamati seluruhnya sebanyak 3 x 5 x 3 = 45 buah petak. Tanaman eksotis. Pengelolaan hutan rawa gambut merupakan usaha untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari.99 me/100g). dan terjadi korelasi negatif antara jumlah spora dengan kandungan P tersedia. dari genus Glomus. Tectona grandis Linn. Kalimantan Timur. Kaur. Lahan milik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat fisik dan kimia terhadap potensi CMA pada lahan kritis. pemahaman yang memadai terhadap ekosistem hutan lahan basah dan rawa gambut.44 me/g) dan KTK (8. dengan jumlah 1288-2321 spora/50 g pada bulan kering dan pada bulan basah 1274-2163 spora/50 g tanah. R. lereng dan lembah) dibuat petak yang berukuran 10 m x 10 m masing-masing sebanyak 5 buah petak. -Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu : Halaman 7-13 . kandungan N total (0. provinsi dan kabupaten/kota. dan pembentukan KPH tersebut selanjutnya menjadi bagian dari penguatan sistem pengurusan hutan nasional. di mana pada setiap KPH dikelola oleh suatu Unit Organisasi KPH. sistem silvikultur serta faktor-faktor sosial ekonomi yang terkandung di dalamnya. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari tersebut maka kawasan hutan dibagi kedalam kesatuan pengelolaan hutan (KPH).2 . 2006 Zulfikhar KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT DENGAN POLA KPH DI PROVINSI SUMATERA SELATAN / Zulfikhar. tercakup di dalamnya sistem lahan dan hidrologi.3. Untuk itu diperlukan strategi metamorfosis yang terbimbing untuk menuju keseimbangan ekosistem hutan rawa gambut yang baru. Untuk hubungan antara potensi CMA dengan sifat-sifat tanahnya sangat ditentukan oleh kandungan P tersedia.32). penyusunan rencana pengelolaan hutan. 136 . Mulyana Omon. Ishak HUBUNGAN POTENSI ANTARA CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA DAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAHAN KRITIS (The Relationship Hutan Tanaman : Vol. pemanfaatan hutan. pemberdayaan masyarakat.Kata kunci: Jati. karena proses suksesi hutan merupakan proses yang panjang sedangkan permasalahan sosial ekonomi memerlukan solusi yang segera. Pada setiap kondisi topografi (puncak. semak dan belukar. Pemahaman terhadap landasan kebijakan yang ditetapkan pemerintah daerah dalam pengelolaan hutan rawa gambut dan pola KPH merupakan titik masuk bagi para pihak untuk dapat mengkritisi dan memberikan saran solusi terhadap upaya mewujudkan pengelolaan hutan lestari serta antisipatif terhadap kemungkinan munculnya permasalahan yang lebih komplek sebagai dampak negatif atas kebijakan pengelolaan hutan rawa Between Arbuscular Mycorrhizal. Untuk itu pemerintah Provinsi Sumatera Selatan harus menentukan solusi kebijakan strategis pengelolaan hutan rawa gambut dengan mendasarkan pada data/informasi yang terkini. Di dalam petak berukuran 10 m x 10 m dibuat petak berukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan secara acak dan diulang sebanyak 3 kali. Acaulospora dan Gigaspora. bahan organik yang rendah sampai dengan sedang. Kepadatan spora CMA cukup baik. Halaman 107 .13%) P tersedia (498 ppm). -.Fungi Potency and Soil Properties in Marginal Land)/ Ishak Yassir. rehabilitasi hutan dan reklamasi serta perlindungan hutan dan konservasi alam.

KPH. Hutan rawa gambut.gambut dan dapat bermanfaat bagi para pihak sebagi acuan untuk mewujudkan pengelolaan hutan rawa gambut yang lebih baik di Propinsi Sumatera Selatan. Kebijakan. Sumatera Selatan 137 . Kata kunci: Rawa gambut.

kadar karbon terikat 74. Budiman ARANG BAMBU DARI LIMBAH INDUSTRI KERAJINAN: POTENSI EKONOMI YANG BELUM DIGALI DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. Kata kunci: Arang Bambu.957 batang menempati luasan 7. 6 Desember 2005 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. dan Soleh Mulyanan. Kata kunci: Bambu. dan harga serta jalinan kepercayaan antara produsen dan pembeli. 6 Desember 2005 . Penelitian ini dilaksanakan pada hutan tanaman Acacia mangium di Pasir Pangrayan. dan Devy Priambodo Kuswantoro. Potensi Ekonomi. dan eksportir. Bambu tali sebagai bambu yang paling banyak digunakan untuk bahan baku sumpit ternyata menghasilkan kualitas arang bambu yang secara umum paling baik dibanding empat jenis bambu lainnya dengan besar nilai kalor 6.13 persen dan kadar zat terbang 18. Kabupaten Tasikmalaya. dan gombong dan diuji kualitas arang yang dihasilkan menurut standar SNI.98 persen. 6 Desember 2005 . Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan jenis bambu menghasilkan nilai kualitas arang bambu yang sangat berbeda nyata. Bambu tumbuh hampir merata di wilayah Kabupaten Tasikmalaya tetapi kurang didukung dengan meratanya ketrampilan sumberdaya manusia (SDM) sehingga terjadilah ketidakseimbangan antara potensi SDA (sumber daya alam) dengan potensi SDM yang merupakan indikator bahwa potensi usaha bambu belum digali secara optimal. betung.1 ha/plot diukur diameter dan 138 . Tegakan umut 1 sampai 4. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mutu tapak dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan hasil dan menyediakan beberapa alternatif solusi untuk meminimalkan inefisiensi dalam pengelolaan hutan tanaman. Halaman 96-111 . Limbah Kerajinan. Halaman 175-184 . -.89 ha yang mampu membangkitkan kreatifitas usaha sebagian masyarakat Tasikmalaya. Jenis yang paling banyak dijumpai adalah bambu tali.464. -.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.9 th dalam 50 plot dengan luasan 0. Input teknologi dan pemasaran menjadi faktor penentu disamping dukungan pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai kemungkinan upaya peningkatan potensi pemanfaatan bambu melalui perluasan variasi produk dan penyertaan teknologi untuk meningkatkan mutu dan nilai tambah produk. 2006 Potensi bambu di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi yakni sekitar 2. pengrajin. Penelitian ini mencoba salah satu upaya pemanfaatan limbah dengan pembuatan arang bambu secara tradisional secara tumpuk timbun dengan menggunakan lima jenis bambu bahan baku industri sumpit yaitu bambu ampel.Achmad. Tasikmalaya Achmad. Kunci untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat terletak pada seberapa jauh upaya peningkatan mutu.945 kal/g. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya untuk meningkatkan potensi usaha bambu rakyat bisa dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu penerapan sistem silvikultur yang tepat. Devy Priambodo Kuswantoro. 2005 Industri pembuatan sumpit sebagai salah satu upaya teknologi pemanfaatan bambu menghasilkan limbah yang cukup besar yaitu lebih kurang 65 persen yang perlu diupayakan pemanfaatannya agar menjadi produk yang bernilai tambah. Pengambilan data dilakukan dengan sengaja berdasarkan ketinggian tempat tumbuh yaitu dataran rendah dan dataran tinggi dan dilakukan survey potensi bambu dan produknya serta wawancara dengan petani. Data diolah secara deskriptif dan dilakukan analisis keuntungan antara produk konvensional (standar) dengan produk pengembangan. Potensi usaha Achmad. kekuatan desain. Soleh Mulyana. Budiman PENGELOLAAN TAPAK HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERDASARKAN DAUR EKONOMIS / Budiman Achmad. bambu surat. Budiman KAJIAN POTENSI USAHA BAMBU RAKYAT DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Budiman Achmad. Propinsi Riau. ater. dan bambu temen. 2005 Pengelolaan hutan tanaman secara lestari bisa dicapai jika jatah tebang tahunan (AAC) tidak melebihi riap. -. tali. Halaman 164-174 .985.pengkelasan mutu dan pemanfaatan setiap bagian batang sesuai dengan potensi dan sifat dasarnya serta pemanfaatan limbah sebagai bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan dari proses produksi lain (interface). bambu hitam.

kelas III. dan rampasan. demikian sebaliknya. dan Devy Priambodo Kuswantoro. Garut Alviya.sebagaimana terlihat pada semakin sempitnya coverage relatif hutan di Kabupaten Garut yang tidak lebih dari 10 persen saja. Perairan Riau. Berdasarkan empat mutu tapak yang diperoleh yakni kelas II. 13 September 2005 . pada tanggal 13 Januari 2005 pemerintah telah mengesahkan tiga draft rancangan Peraturan Menteri Kehutanan tentang petunjuk pelaksanaan lelang kayu.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 2006 Hutan Rakyat merupakan alternatif yang semakin strategis untuk mengisi demand kayu yang semakin meningkat saat ini.Semakin rendah mutu lahan. Iis ILLEGAL LOGGING: KAJIAN PERKEMBANGAN ISU KEHUTANAN / Iis Alviya. Inovasi nilai harga kayu maupun peraturan belum tertangani sebagaimana diindikasi oleh kecilnya margin yang diterima petani bersamaan dengan image biroaktif pengurusan perizinan yang berlaku.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Sektor kehutanan dengan segala potensinya pernah tercatat sebagai sumber pendapatan negara terbesar nomor dua setelah minyak. sitaan. Selain itu juga untuk mendapatkan alternatif penatausahaan kayu yang bisa menciptakan iklim usaha (market change) efektif dengan mempertimbangkan faktor kepraktisan dan kekhasan daerah tanpa mengorbankan efisiensi. Hasil kajian mengindikasikan bahwa arus informasi pasar ke petani cukup terbuka diduga karena profesi ganda sebagai petani sayur dan kayu berimbas pada semakin luasnya jaringan bisnis sehingga petani telah mampu meluaskan pasarnya. semakin tinggi kerapatan pohon yang ditanam.5 th.IV dan Klas V. Kata kunci: Kayu Rakyat.III. Ada beberapa titik konsentrasi praktek penebangan liar serta penyelundupan kayu. yaitu perbatasan RIMalaysia di Kalimantan Barat. 2005 Penebangan Liar (illegal logging) dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) merupakan salah satu dari lima kebijakan prioritas utama Departemen Kehutanan saat ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa siklus tebang paling optimal adalah 6. Untuk mendapatkan hasil optimal jumlah pohon yang ditanam harus mempertimbangkan mutu lahan.tingginya. Kab. -. Soleh Mulyana. Diharapkan dengan kebijakan tersebut kerugian negara akibat illegal logging dapat ditekan dan praktek illegal logging yang umumnya menggunakan proses lelang kayu sebagai modus pemutihan kayu hasil tebangan liar tersebut dapat dihilangkan. Namun saat ini dengan maraknya kasus illegal logging negara harus menerima kerugian mencapai Rp. Halaman 153-161 . -. Sistem insentif yang efektif perlu dikembangkan dengan dukungan peraturan yang perencanaannya bersifat kolektif dan inovative sehingga mampu menimbulkan komitmen sukarela. Tataniaga. Kasus illegal logging ini terus meningkat akibat lemahnya kemampuan aparat penegak hukum sehingga tidak mampu membongkar sampai ke akar permasalahannya. Selama ini telah berjalan proses lelang terhadap kayu hasil temuan.2006 . 30 triliun/ha. 5. melakukan in-depth interview dengan responden ahli/kunci. Hutan Tanaman. Kata kunci: Acacia mangium. perbatasan Papua. nilai strategis baik yang tangible maupun intangible belum ditempatkan sesuai fungsinya dan belum dihargai secara proporsional. 500 miliar/tahun. Kajian dilakukan dengan pengumpulan peraturan-peraturan mengenai tata usaha kayu yang ada. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui pola pemasaran dan kemungkinan pengembangannya sehingga persoalan yang terkait dengan in-efisiensi tataniaga bisa diminimalkan. Halaman 85-96 . Namun sistem pelaksanaan lelang tersebut belum berjalan secara efektif dan optimal sehingga menimbulkan kerugian bagi negara mencapai Rp. Tatausaha. Kata kunci: Illegal Logging. Kendala lain yang lebih bersifat disinsentif bersumber dari peraturan tatausaha yang tidak bersifat khas dengan daerah dan kurang mengakomodir kepentingan seluruh stakeholder secara berimbang. dan IV dan kelas V kemudian disusunlah grafik CAI dan MAI. Berdasarkan hal tersebut.5 th dan 5 th untuk berturut-turut klas II. Isu kehutanan 139 . dan Kalimantan Timur. 6 th. Akan tetapi. Budiman KAJIAN IMPLEMENTASI TATAUSAHA DAN TATANIAGA KAYU RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN GARUT / Budiman Achmad. dan wawancara dengan petani kayu dan pelaku usaha kayu untuk mengetahui interpretasinya terhadap tata usaha kayu rakyat. Mutu Lahan Achmad.

tetapi juga di hutan lindung dan hutan konservasi. 13 September 2005 . 2005 Lemahnya penegakan hukum menyebabkan kegiatan illegal logging meluas bukan hanya terjadi di hutan produksi. Central Java)/ S.. 2) aspek ekonomi. Model binary choice dengan fungsi logit 140 . 3) Kebijakan yang kurang kondusif. merupakan suatu tantangan yang perlu dicermati. Hutan Lindung. -. Runggandini. Kebumen. Sifat hukum adat yang terbuka dan dapat berubah. S. Hukum Adat. [et. Andy FAKTOR PENENTU KEMISKINAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI DESA SOMAGEDE. JAWA TENGAH (The Determinant factor of Pine Tapping Farmer Poverty in Somagede. Kebijakan ekspor Astana. Halaman 4971 . harga kayu bulat yang rendah bukan hanya menyebabkan nilai pengembalian investasi dalam pembangunan hutan tanaman khususnya Acacia mangium lebih rendah dari harga kapital yang digunakan tetapi juga mencegah masuknya investasi baru. Andy Cahyono . kemiskinan pada masyarakat sekitar hutan harus dientaskan dan pemahaman terhadap faktor penentu atau penyebab kemiskinan menjadi penting. menyebabkan terjadinya asimilasi dan/atau akulturasi budaya. agar efektif. Halaman 109-116 . namun hasilnya belum optimal.2 . Salah satunya adalah rendahnya harga kayu bulat dalam negeri akibat kebijakan larangan ekspor. Terdapat kekhawatiran yang luas terhadap harga kayu bulat yang terus rendah. Konservasi Cahyono.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. antara lain: 1) intrusi budaya luar. dalam pemanfaatan hutan yang lestari. C. Pemberantasan illegal logging melalui pendekatan keamanan telah dilakukan. Dalam kaitan ini. Woro M. aspek ekonomi. 6 Desember 2006 . Kelembagaan masyarakat hukum adat di sekitar hutan lindung dan konservasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen sosial budaya yang efektif dalam upaya mencegah illegal logging. Untuk itu.Astana. hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan kriteria KaldorHicks dampak kebijakan eksport kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium tanpa atau dengan pengenaan pajak eksport non-prohibitive adalah lebih baik dibanding kebijakan larangan ekspor. -. 2006 Masyarakat sekitar hutan umumnya berada dalam kemiskinan dan keterbelakangan. yang ditujukan khususnya bagi masyarakat hukum adat yang daerahnya menghadapi tekanan illegal logging yang tinggi. dan Indartik.. dampak kebijakan eksport kayu bulat perlu dikaji. Kenyataannya. dan kebijakan dapat menghasilkan asimilasi dan/atau akulturasi budaya yang dapat berdampak negatif atau positif terhadap kelestarian sumberdaya hutan. Upaya mencegah dampak buruk yang lebih jauh dapat dilakukan melalui intervensi kebijakan mengijinkan produksi kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacia mangium diekspor. Ini pada gilirannya akan menyebabkan pembangunan hutan tanaman mengalami stagnasi. Jumlah responden 30 keluarga/rumahtangga. KEBUMEN.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. merupakan suatu peluang hukum adat berperanan dalam upaya mencegah illegal logging. Halaman 119 . Upaya mencegah illegal logging melalui instrumen hukum adat.]. Satria PERANAN HUKUM ADAT DALAM UPAYA MENCEGAH ILLEGAL LOGGING DI HUTAN LINDUNG DAN KONSERVASI: PELUANG DAN TANTANGAN/ Satria Astana. Metode survey dipergunakan untuk mengumpulkan data. Diukur dengan surplus produsen dan konsumen. perlu dibarengi oleh kebijakan penguatan kelembagaan dan meningkatkan ekonomi secara konsisten. Kata kunci: Illegal Logging. Namun unsur-unsur hukum adat secara terus-menerus mengalami tekanan dari banyak aspek. Pola jaringan illegal logging kapan saja dapat bangkit kembali dalam kehidupan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rentan dan lingkungan bisnis hutan yang tidak kondusif. -. Satria ANALISIS KEBIJAKAN EKSPOR KAYU BULAT DARI HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM / Satria Astana. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor penentu suatu rumah tangga petani penyadap getah pinus tergolong miskin. Kata kunci: Acacia mangium. Interaksi dengan budaya luar. Ketersediaan unsur adat dan penegakan sanksi yang efektif bagi pelanggar.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 2006 Lambannya pembangunan hutan tanaman disebabkan oleh banyak faktor. Peningkatan kemiskinan akan berdampak pada perusakan sumberdaya hutan.al. Kayu Bulat.

Untuk itu. umur tegakan. Andy Cahyono. kesehatan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. determinan kemiskinan. Kata kunci: Kemiskinan. akses pada sumberdaya pada daerah penyedia jasa multifungsi akan lebih bermanfaat. Andy KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PENYADAP GETAH PINUS DI DESA (Socio-Economic SOMAGEDE. Kemiskinan rumahtangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi secara signifikan oleh beberapa faktor. pendapatan dari luar getah pinus. -. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap pinus. pinus Cahyono. dan umur penyadap. and Central Java) / S. Sementara peluang keluar dari kondisi miskin akan semakin besar dengan meningkatnya pendapatan dari getah pinus.2 . S. kapasitas stakeholder dan kesepakatan serta kesepahaman para stakeholder untuk merealisasikannya. dan pendapatan di luar getah pinus. KEBUMEN.dipergunakan untuk mengetahui faktor penentu atau penyebab kemiskinan pada rumah tangga petani penyadap getah pinus. S. pendidikan. JAWA TENGAH umur pinus. pendapatan di luar penyadapan Cahyono.33% lainnya termasuk dalam kategori keluarga tidak miskin. Kata kunci: kegiatan. Nur Ainun Jariyah. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik sosial ekonomi mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus. Kebumen. Imbal jasa multifungsi DAS dapat dipergunakan sebagai mekanisme kompensasi dari pemanfaatan jasa multifungsi kepada penyedia jasa multifungsi untuk menjaga ketersediaan jasa yang dihasilkan. 2006 Pendekatan pengelolaan DAS yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumberdaya alam di DAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46. serta diversifikasi sumber pendapatan diluar getah pinus. Penelitian ini merekomendasikan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga penyadap dilakukan dengan diversifikasi pendapatan di luar pinus dan peningkatan produktivitas getah. produktivitas pinus. Paper ini mengurai imbal jasa multifungsi DAS untuk mendukung pengelolaan DAS dan jasa implementasinya. Pendapatan rumah tangga dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pendapatan di luar sadap pinus dan peningkatan produktivitas pinus. Analisis data menggunakan persamaan regresi linier berganda pada peubah karakteristik sosial ekonomi yang diduga mempengaruhi pendapatan rumah tangga. Yonky Indrajaya. Pendekatan pengelolaan DAS yang menekankan pada jasa monofungsi DAS yang disederhanakan pada penanggulangan erosi sedimentasi perlu diubah dengan jasa multifungsi DAS baik tangible maupun intangible. 2006 : Halaman 63-81 . Implikasi kebijakannya adalah peningkatan produktivitas getah pinus dan harga getah. petani penyadap getah pinus. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati.67% rumahtangga penyadap pinus termasuk dalam kategori miskin. 2006 Peningkatan pendapatan rumah tangga menentukan tingkat kesejahteraan keluarga dan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga mempengaruhi pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus. yaitu pendapatan dari getah pinus. Imbal Jasa Characteristics Affecting Household Income of Pine Gum Taper: Case Study in Somagede. sedangkan 53. imbal jasa multifungsi DAS tergantung pada negosiasi. Namun imbal jasa non finansial seperti ketersediaan infrastruktur. Kata kunci: DAS. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. dan produksi getah pinus. Andy Cahyono dan Purwanto. Andy IMBAL JASA MULTIFUNGSI DAS UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI / S. Metode survey dipergunakan pada penelitian ini dengan penarikan sampel menggunakan metode simple random sampling pada 30 orang petani responden. 141 . Dalam implementasinya. kualitas hidup lebih baik. Pendapatan rumah tangga petani penyadap getah pinus dipengaruhi nyata secara statistik oleh pendapatan dari luar getah pinus. Imbal jasa dapat berupa finansial maupun non finansial. Halaman 147-159 .

Selanjutnya sikap tersebut tidak dipengaruhi karakteristiknya. Halaman 132-150 . Net B/C. 6 Desember 2005 . dengan tingkat suku bunga yang dipakai adalah 15 persen untuk suku bunga private (finansial) dan 20 persen untuk suku bunga sosial (ekonomi).al) .8 persen per hektar atau meningkat sebesar 5 persen. 6 Desember 2006 . yaitu sikap yang positif terhadap kelompok tani. IRR adalah suatu tingkat bunga dimana seluruh arus kas bersih sesudah didiskonto sama jumlahnya dengan biaya investasi.2 persen menjadi 28. Analisis Ekonomi.(et. biaya proyek.(et. Halaman 79-95 .. Petani. TASIKMALAYA. Sekaligus perlu diketahui bagaimana apabila peranan penambahan nilai karbon ditambahkan dalam analisis kelayakan tersebut. Terlihat bahwa penambahan nilai karbon sebesar Rp. Hutan Tanaman. lembaga swadaya masyarakat (LSM). 6 Desember 2005 . CIAMIS. Analisis biaya pembuatan dan nilai hutan tanaman dilakukan dengan metode Benefit Cost Ratio dengan menggunakan program EXCEL. -.. 4. Untuk itu perlu diketahui kelayakan finansial dan ekonomi pembangunan hutan tanaman untuk keperluan investasi pembangunan hutan. Kata kunci: Acacia mangium. 2006 Bentuk pengembangan hutan rakyat di setiap wilayah akan berlainan dan memiliki kekhasan masing-masing.482. Dian KONDISI DAN POTENSI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CILACAP.al). Karena itu pembuatan hutan tanaman secara manual lebih menguntungkan daripada mekanik. atau biaya mula-mula. lembaga usaha dan lembaga pemerintahan. Selain itu pembuatan hutan tanaman secara manual juga lebih direkomendasikan karena melibatkan penggunaan tenaga kerja yang lebih besar.2 persen secara mekanik dan manual.000 menjadi Rp.500 per ton akan meningkatkan IRR dari 26. Begitu juga dengan NPV meningkat dari Rp. lembaga usaha dan pemerintah. Sumatera Selatan Diniyati. WONOSOBO DAN KUNINGAN/ Dian Diniyati. Nilai ini menunjukan bahwa keuntungan penambahan nilai karbon cukup signifikan dan menambah kelayakan pembuatan hutan tanaman. Untuk itulah perlunya dilakukan kajian mengenai sikap petani terhadap lembaga pembangunan hutan rakyat yang dilakukan di Desa Cisitu. NPV adalah selisih antara manfaat (B) dengan biaya (C) yang telah didiskonto.-.Kontribusi peranan setiap lembaga tersebut ditunjukan oleh sikap petani. Halaman 103-120 .. Analisis manfaat biaya dilakukan dengan menggunakan kriteria investasi NPV. 27. Deden ANALISIS EKONOMI PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM DI SUMATERA SELATAN / Deden Djaenudin. 2006 Jenis tanaman yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman antara lain adalah Acacia mangium.Hasil penelitian menunjukan bahwa pembangunan hutan tanaman mangium di Sumatera Selatan layak secara finansial maupun ekonomi. Dian KAJIAN SIKAP PETANI TERHADAP LEMBAGA PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT / Dian Diniyati dan Tri Sulistyati W. Sehingga diharapkan pembangunan hutan tanaman mangium bisa dilestarikan. Sikap petani.942.Djaenudin. Dengan perkataan lain. 2. IRR adalah suatu tingkat bunga yang menunjukan bahwa jumlah manfaat sekarang yang dihasilkan sama dengan total biaya sekarang yang dikeluarkan. dan IRR. meskipun sikap tersebut adakalanya tidak sesuai dengan harapan dari lembaga-lembaga yang mendukung pembangunan hutan rakyat. atau meningkat sebesar 25 persen per hektar. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. dan dapat dirumuskan sebagai berikut. 2005 Pembangunan hutan rakyat selama ini didukung berbagai lembaga seperti kelompok tani.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. hal tersebut disebabkan kurangnya responden mengetahui dan merasakan manfaat langsung dari LSM. Kriteria ini mengatakan bahwa proyek akan dipilih apabila NPV proyek sama dengan nol. Kata kunci: Hutan Rakyat.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. dengan IRR sebesar 25. karena menghasilkan IRR dan NPV yang lebih tinggi sebagai akibat dari biaya pembuatan yang lebih murah. Kabupaten Garut dan Desa Werasari mempunyai kecenderungan sama. sedangkan sikap terhadap LSM untuk Desa Cisitu netral dan Desa Werasari negatif. namun masih memiliki persamaan 142 .. sehingga bisa mengurangi permasalahan pengangguran dan penambahan sumber pendapatan masyarakat.0 persen dan 26. Garut Diniyati.000 per hektar.

serta pemasaran. peningkatan kesejahteraan petani. Tasikmalaya. Dari hasil kajian di lapangan diketahui bahwa pembangunan huatn rakyat terbagi atas tiga tipe yaitu: (1) secara kemitraan antara masyarakat dengan BUMN. (2) swadaya yang dibagi menjadi dua tipe. Ciamis. dengan kriteria adanya kegiatan kemitraan pada sektor hutan rakyat. (3) serta kerjasama (kemitraan dengan pemerintah. Diharapkan dengan mengetahui persamaan dan permasalahan pengembangan hutan rakyat maka memudahkan dalam membuat kebijaksanaan untuk pengembangannya. serta bentuk pemanenan dan pemasaran. hal ini berkaitan dengan faktor pembatas. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan analisis petani pemilik dan penggarap hutan rakyat yang terlibat dalam kegiatan kemitraan.diantaranya: kehomogenan petani pemilik hutan rakyat. budidaya hutan rakyat. untuk meningkatkan partisipatif dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga meningkat kemandiriannya dan pada akhirnya kesejahteraan akan tercapai. Garut. Dian POLA KEMITRAAN UNTU MENDUKUNG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. MALANGBONG. Halaman 151-163 . dan ini berguna untuk menilai keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. Bentuk-bentuk pengembangan hutan rakyat ini sangat mempengaruhi terhadap pemberdayaan masyarakat. swadaya . Agar keberhasilan pembangunan hutan rakyat dapat tetap terjamin. Kata kunci: Hutan Rakyat. teknologi tepat guna.Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. letak topografi desa. 2005 Faktor pendukung terciptanya hutan rakyat pada satu lokasi sangat tergantung pada banyak hal dan berlainan sehingga akan tercipta hutan rakyat yang spesifik untuk setiap daerah.. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Garut dan Desa Werasari Majalengka pada bulan Agustus 2005. Motivasi dilaksanakan kemitraan ini yaitu melindungi sumberdaya alam.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Hasil dari kajian ini diketahui bahwa: kondisi hutan rakyatdi dua desa penelitian memiliki beberapa persamaan yaitu kondisi sosial petani.Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk menyediakan paket informasi mengenai beberapa pola pengembangan dan pembangunan hutan rakyat. melindungi aset negara dari perambahan. pemasaran dan kualitas sumberdaya manusia. MAJALENGKA / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. Majalengka Diniyati. akan tetapi setiap kebijaksanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan lokasi. Halaman 227-239 . Ciamis dan Banjar pada bulan Nopember-Desember 2004. fasilitas yang kurang memadai. Cilacap. -. Penyuluh Kehutanan. Dengan pengelompokan persamaan pengembangan hutan rakyat setiap wilayah. Kata kunci: Hutan Rakyat. selanjutnya pada masing-masing kabupaten dipilih secara sengaja desa sebagai lokasi penelitian. dan kemitraan. menyediakan tambahan lapangan pekerjaan untuk masyarakat 143 . maka perlu dukungan dari semua pihak melalui kemitraan. Dian HUTAN RAKYAT DAN PENYULUHAN KEHUTANAN: KASUS DI DESA CISITU. selanjutnya data yang terkumpul dianalisa secara diskriptif. walaupun dalam pemecahannya harus memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat. Kuningan Diniyati. Wonosobo. yaitu tpe pemilik berada dekat lokasi hutan rakyat. namun demikian tetap mempunyai persamaannya karena kegiatan hutan rakyat ini banyak dilakukan secara proyek. GARUT DAN DESA WERASARI. 6 Desember 2005 . diharapkan pembangunan hutan rakyat akan semakin tinggi sehingga pasokan kayu akan selalu terjamin keberadaannya. akan memudahkan untuk mengetahui permasalahannya. teknologi yang digunakan masih sederhana. 2005 Beberapa faktor yang menjadi kendala yang dihadapi oleh petani dalam pengembangan dan pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah faktor modal.BANTARUJEG. Dengan demikian peranan penyuluh kehutanan sangat tinggi pada pembangunan hutan rakyat ini. dan tipe pemilik tidak berada di lkasi hutan rakyat.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. 13 September 2005 . Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan satistik deskriptif dan kemudian dianalisa sesuai dengan data yang diperoleh. untuk itulah maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan faktor pendukung terciptanya hutan rakyat serta peranan penyuluh terhada keberhasilan pembangunan hutan rakyat. -.Penyuluh sebagai mitra petani pada pembangunan hutan rakyat masih perlu ditingkatkan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tasikmalaya. meningkatkan perfomance perusahaan. seperti: jumlah tenaga yang kurang dan berubahnya fungsi penyuluh.

Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. sedangkan yang menjadi kelemahan utama tingkat pendidikan yang masih rendah. Seperti pada aspek finansial banyak faktor yang tidak diperhitungkan yang menyebabkan keuntungan semu bagi petani. mencegah terjadinya okupasi lahan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. diharapkan hasilnya dapat memberikan informasi sehingga dapat menarik minat petani untuk terus mengembangkan hutan rakyat. Pemberdayaan masyarakat Diniyati. adanya kepastian kawasan sehingga perencanaan dapat dilakukan dengan baik. peluang dan ancaman dari kelompok tani sehingga dapat diramu strategi yang sesuai agar kelompok tani dapat mandiri dan berdayaguna bagi anggotannya. Untuk mengembangkan kelompok tani perlu dicari strategi yang tepat. Dari segi finansial seharusnya pengelolaan Sub DAS 144 . untuk itulah maka diperlukan kajian ini yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan. sehingga tidak jarang hasil/keuntungan yang diterima petani masih jauh dari standar yang diharapkan. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut dan Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg. -. dan terakhir yaitu ancaman utama kepemilikan lahan yang sempit. Dian STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYATI / Dian Diniyati dan Eva Fauziah. sedangkan peluang yang utama adanya dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung) dan ancaman yang utama yaitu kurangnya tenaga penyuluh di lapangan. dengan demikian keuntungan yang diperoleh petani yang paling tinggi pada pola GNRHL. 2006 Manajemen yang digunakan pada pengembangan hutan rakyat pada umumnya adalah manajemen pemiliknya baik itu untuk aspek budidaya maupun aspek finansial. sedangkan kelemahan utamanya yaitu teknologi masih sangat tradisional. -.2006 . Alat analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT. Pendapatan. yang menjadi kekuatan utama yaitu memiliki lahan garapan.128 . Kajian biaya. 2006 Sub DAS Cicatih merupakan DAS lokal yang mempunyai karakteristik sosial ekonomi yang unik. Sedangkan pendapatan yang paling tinggi yaitu pola GNRHL. Kata kunci: Sosial Forestry. Untuk itulah maka kajian ini diperlukan untuk mengetahui besarnya biaya dari pendapatan pada semua pola pengembangan hutan rakyat. Responden adalah para pakar yang memahami tentang kelompok tani. 2006 : Halaman 147-153 . Hasil pengolahan data diketahui kekuatan utama kelompok tani di Desa Cisitu adalah memiliki lahan garapan. kelemahan. Kata kunci: Hutan Rakyat. Dini KAJIAN BIAYA DAN PENDAPATAN HUTAN RAKYAT YANG DIKELOLA PETANI PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN / Dian Diniyati dan Eva Fauziah.2006 . Metode kajian yang dilakukan adalah metode survey dan wawancara terhadap responden terpilih.disekitar hutan. Halaman 119 . -. Selanjutnya untuk lebih meningkatkan kegiatan kemitraan ini maka sebaiknya ada lembaga pendamping. Hasil kajian untuk Desa Werasari adalah sebagai berikut. hal ini sangat dipengaruhi faktor dari luar dan lingkungan kelompok itu sendiri.Kegiatan ini dilakukan di 4 desa yang dipilih secara acak pada bulan Agustus-Desember 2005.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. sebagai mediator antara peserta mitra dengan instansi pelaksana mitra. yaitu banyaknya industri yang memanfaatkan air yang berasal dari DAS tersebut. dalam perjalanannya banyak memiliki kelebihan dan kekurangan. dimana lembaga pendamping harus independen. Kelompok Tani Diniyati. Hasil kajian diperoleh bahwa komponen biaya yang dikeluarkan petani terdiri dari: persiapan lahan. Halaman 51-64 . Pola Kemitraan. Sulistya KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS LOKAL: SEBAGAI WACANA DALAM PENGELOLAAN SUB DAS CICATIH / Sulistya Ekawati. Selanjutnya analisa data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Kabupaten Majalengka. Kata kunci: Hutan Rakyat. Petani Ekawati. 2006 Kelompok tani hutan rakyat merupakan perkumpulan para petani yang mengusahakan hutan rakyat. dan biaya yang paling besar dikeluarkan petani adalah untuk tenaga kerja pada seluruh pola pengembangan. keamanan hutan dapat terjamin karena masyarakat turut melindungi. peluang utama yang dimiliki adalah adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan. tenaga kerja dan pemanenan. penanaman. pemeliharaan.

Masing-masing stakeholders mempunyai kepentingan yang berbeda dan belum terjalin koordinasi diantara mereka. tetapi aplikasi di lapangan hal tersebut sulit dilakukan.664 ha) dan kawasan hutan produksi (337. Keanggotaan PPTPA juga harus terwakili oleh semua pihak.1 . Kata kunci: Kelembagaan. perencanaan jangka panjang DAS regional oleh Bappeda propinsi. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. semi kritis. regulator/owner. one plan and multi management. Puslittanak. DAS Cicatih Ekawati.690 ha). Halaman 23-30 . Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) atau pengkajian desa secara cepat. Kerjasama timbul apabila masing-masing pihak mempunyai tujuan yang sama dan pada saat yang sama mempunyai kesadaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 13 September 2005 . Di masa otonomi daerah ada kecenderungan egoisme daerah dan egoisme sektoral. Penelitian ini dilakukan di DAS Solo dan DAS Progo. Bupati/Walikota) sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan yang terkait dalam kegiatan pengelolaan DAS. -. Hasil kerja PPTPA diserahkan kepada pihak regulator (Presiden. dirumuskan dan disepakati bersama karena merupakan motivator untuk membentuk suatu kelompok sosial. 2006 Issue lahan kritis dan lahan tidur di Jawa Barat telah muncul ke permukaan dan menjadi masalah ketika terjadi bencana alam berupa banjir dan kekeringan di tengah-tengah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk. Koordinasi antar daerah dan antar sektor belum berjalan dengan baik.652 ha. 2005 Prinsip dasar pengelolaan DAS terpadu adalah one river. Bappeda kabupaten dan LSM. kritis dan sangat kritis dimana jumlah luas lahan kritis di Jawa Barat pada kawasan hutan mencapai 474. Sulistya PEMBAGIAN PERAN (ROLE SHARING) DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI: STUDI KASUS DI DAS SOLO DAN DAS PROGO / Sulistya Ekawati. Jenis lahan kritis dibedakan ke dalam 4 (empat) tingkat ke kritisan lahan yaitu potensial kritis. Rachman KONSEPSI REHABILITASI LAHAN KRITIS DI JAWA BARAT / Rachman Effendi.006 ha yang terdiri dari kawasan hutan lindung (101. Agar sub DAS Cicatih terjaga kelestariannya diperlukan suatu kelembagaan. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek teknis dan sosial ekonomi rehabilitasi lahan kritis secara tidak terkendali. kawasan hutan konservasi (34. Bentuk kelembagaan yang disarankan adalah PPTPA (Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air). dalam rangka pelaksanaan program rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat. Leading sector perencanaan jangka pendek oleh Bappeda kabupaten. -. khususnya untuk DAS-DAS lintas kabupaten dan lintas propinsi. DAS Progo Effendi.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Penetapan kebijakan tetap dilakukan pihak regulator. Leading sector monev pengelolaan DAS regional oleh Bappeda propinsi.Cicatih belum mempunyai kelembagaan yang mapan. Bappeda propinsi dan LSM. user). Lokasi pengkajian didasarkan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki tingkat erosi terbesar antara lain DAS Cisadane dan DAS Ciujung yang ada di Jawa Barat. Hubungan PPTPA dengan stakeholders lain pada dasarnya bersifat konsultatif dan koordinatif. sehingga pengelolaan DAS dilakukan secara terfragmentasi. Leading sector monev pengelolaan DAS nasional oleh Bappenas. Kedudukan PPTPA tersebut sebagai fasilitator diantara para pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS (operator/provider. Paimin.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. Perencanaan disusun dengan melibatkan semua stakeholders sesuai dengan kewenangannya. Sylviani. Pembagian peran (role sharing) dalam pengelolaan DAS adalah sebagai berikut: leading sector perencanaan jangka panjang DAS nasional dilakukan oleh Bappenas. Konsepsi dasar rehabilitasi lahan kritis di Jawa Barat yang tepat di laksanakan dengan mengacu 145 . Pengelolaan DAS. propinsi dan kabupaten melakukan monev untuk sektornya masingmasing. oleh karena itu perlu dirumuskan pembagian peran (role sharing) pada semua stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan DAS. Role Sharing. DAS. DAS Solo. Untuk itu kajian ini diharapkan dapat membantu dalam menemukan metode yang tepat melalui pemberdayaan masyarakat penerima manfaat (beneficiary) yang didasarkan pada budaya dan kearifan lokal. Keduanya merupakan DAS nasional (lintas propinsi). Tugas pokok dari PPTPA adalah menyusun kebijakan rencana. Halaman 37-48 .Gubernur. untuk mengatur perilaku seluruh stakeholders agar sejalan dengan tujuan sosial yang telah disepakati bersama. Semua stakeholders di tingkat pusat. Pelaksana pengelolaan DAS adalah semua stakeholders. dan Purwanto.koordinasi pelaksanaan dan memonitor serta mengevaluasi kegiatan pengelolaan DAS. 1997).

dan Sumedang. Pemilihan teknik budidaya dan jenis tanaman diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat sesuai dengan lokasi dan jenis yang benilai ekonomi tinggi. Selaras dengan persoalan tersebut. Halaman 197-204 . 2006 Degradasi hutan di propinsi Jawa Barat cukup tinggi akibat penebangan pohon legal maupun illegal secara berlebihan serta konversi menjadi lahan non-hutan. 13 September 2005 . Kawasan Lindung. hutan rakyat dan pertanian lahan basah. memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal. Kuningan. Diperkirakan tinggal 10% dari luas wilayah Jawa Barat yang masih berupa hutan tutupan. banjir dan tanah longsor terutama di Kabupaten Garut. disamping itu bagi masyarakat dan kemungkinan peranannya terhadap sumber pendanaan bagi pengelolan SDH dan nilai tersebut dapat dijadikan dasar penetapan besaran pajak lingkungan yang dapat dikenakan. Dari kabupaten tersebut ditentukan desa-desa yang berbatasan ataupun berada dalam kawasan hutan yang ada pola pemberdayaan dan tidak ada pola pemberdayaan. ekowisata. namun apakah efektif untuk mencegah illegal logging belum banyak diungkapkan. Rachman KAJIAN NILAI EKONOMI MANFAAT LOKAL HUTAN LINDUNG DI JAWA BARAT (LANDASAN TEORI) / Rachman effendi . sedangkan aspek sosek dilakukan melalui kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat dan pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dilakukan melalui pengembangan wanafarma.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 Suplemen No. Kata kunci : Rehabilitasi Lahan Kritis.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Hal ini telah dirasakan dampak negatifnya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Sosial Ekonomi. Kajian lebih difokuskan pada landasan teori nilai ekonomi manfaat lokal dari kawasan. agroforestry di kawasan hutan. sosial ekonomi masyarakat. terutama air yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat. Pemerintah pusat atau daerah dapat memberlakukan pajak lingkungan (green tax) sebagai salah satu sumber pendanaan untuk kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan konservasi. Tulisan ini mengkaji nilai ekonomi manfaat lokal hutan lindung dan kawasan konservasi di Jawa Barat. dimana di kabupaten tersebut kegiatan illegal logging marak dilakukan di hutan produksi alam terutama pada areal pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). Adapun Effendi. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan. nilai ekonomi. -. Kerifan Lokal. -. Sylviani. dunia usaha dan masyarakat. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ketapang Propinsi Kalimantan Barat.3 . Rapid Rural Appraisal (RRA). Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui seberapa besar jasa lingkungan yang dikorbankan dan tidak pernah diketahui besarnya. sedangkan selebihnya berupa tanah kosong yang tidak berfungsi lagi sebagai hutan. Rachman KAJIAN EFEKTIVITAS POLA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN PRODUKSI DALAM MENCEGAH ILLEGAL LOGGING / Rachman Effendi dan Indah Bangsawan. Besaran nilai ekonomi manfaat lokal sumber daya hutan (SDH) menunjukkan sejauh mana manfaat SDH. Kawasan Budidaya. baik masyarakat di sekitar hutan maupun di hilirnya antara lain kekeringan. penelitian bertujuan untuk mengkaji pola pemberdayaan masyarakat melalui Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) dan kemitraan serta efektifitasnya dalam mencegah illegal logging di kawasan hutan alam produksi. Kawasan budidaya terdiri dari hutan produksi. Hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya peningkatan harga hasil hutan sehingga mengurangi dampak negatif terhadap eksploitasi besarbesaran terhadap hutan Kata kunci : Degradasi hutan.pada prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan model pendekatan kemitraan antara pemerintah. Halaman 21-36 . 2005 Pola Pemberdayaan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan sudah banyak dilakukan. Untuk itu perlu adanya upaya perlindungan hutan dan lahan untuk memberikan peran optimal bagi lingkungan dan sosial 146 . perlindungan hutan. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis pada hutan rakyat dapat dilakukan dengan pola insentif untuk memberikan rangsangan terhadap kegiatan pengelolaan kawasan budidaya dan pola disinsentif membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan pengelolaan kawasan budidaya. ekonomi masyarakat. hutan lindung Effendi. dimana rehabilitasi pada hutan produksi yang dibebani hak merupakan tanggungjawab pemegang hak atas tanah dan pada hutan produksi yang tidak dibebani hak merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Teknik rehabilitasi lahan di kawasan lindung yang terdiri dari kawasan hutan dan kawasan non hutan dilakukan melalui penghijauan untuk memperbaiki.

512. (2) Distribusi pendapatan. Analisis ini menggunakan software Minitab versi 13. -. penebang kayu maupun pedagang/pengumpul kayu illegal. dan Sub DAS Cirasea. Pola Swadaya. Petani menjadikan hutan rakyat sebagai sumber mata pencaharian utama tetapi bibit yang ditanam berasal dari anakan alamiah yang tidak selalu tersedia sepanjang tahun sehingga penanaman tidak bisa dilakukan secara serentak.832/tahun dan Rp. 2006 Pola pengembangan hutan rakyat hingga saat ini terdiri dari pola subsidi (inpres. Lokasi ini dipilih karena merupakan DAS yang paling banyak memiliki permasalahan. dan di Sub DAS Cirasea. konflik air. Potensi Kayu Ginoga. Eva KONDISI DAN POTENSI TEGAKAN PADA BEBERAPA POLA PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT: KASUS DI KABUPATEN CIAMIS / Eva Fauziayah .. padat karya). 37. Sebaran kelas diameter dan sebaran kelas tinggi tegakan pada pola hutan rakyat adalah sengon. Halaman 59-74 . -.740. terutama polusi air permukaan. Dian diniyati. Halaman 41-60 . hanya permasalahan selanjutnya bentuk pola kemitraan yang bagaimana dapat efektif untuk untuk mencegah illegal logging. Dari beberapa pola pengembangan yang ada. karena pada pola ini sudah diterapkan sistem silvikultur yang baik. yang mengalirkan air ke waduk Selorejo. Pola Pemberdayaan Masyarakat Fauziyah. hulu DAS Citarum. masing-masing sebesar Rp. Sedangkan pada pola kemitraan potensi kayu sengon belum dapat dihitung mengingat umur tanaman masih muda Kata kunci: Hutan rakyat. Sengon. Penyerapan tenaga kerja pola kemitraan lebih besar dari pada pola PMDH. Pola kemitraan. pola swadaya dan pola kemitraan. Karena itu. (3) Penyerapan tenaga kerja. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuisioner terhadap responden sebanyak 20% petani hutan rakyat yang ikut dalam kegiatan kemitraan dan dipilih secara sengaja.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. tetapi distribusi pendapatan pada pola kemitraan lebih merata dibanding dengan pola PMDH. sehingga apresiasi terhadap hutan lindung masih rendah dan tekanan terhadap hutan lindung masih terus berlangsung.data yang dikumpulkan berupa (1) Pendapatan masyarakat. pola kemitraan dengan pemerintah maupun perhutani jenis tanamannya cenderung monokuler tetapi kondisi tegakannya bagus. demikian juga halnya pendapatan masyarakat dari illegal logging di desa yang berpola kemitraan lebih kecil dari pada di desa yang berpola PMDH baik bagi industri sawmill. Kata kunci: Illegal Logging.0.873. 2006 Nilai ekonomi manfaat hidrologis yang dihasilkan hutan lindung belum diketahui secara luas.al. Penelitian dilakukan di bagian hulu-tengah DAS Brantas. memperhatikan waktu penanaman dan dilakukan pemeliharaan. Sedangkan pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi hutan rakyat. [et.989/tahun. yaitu di Sub DAS Konto.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. namun jenis dan jumlah pohonnya sangat bervariasi. Untuk itu pemberdayaan masyarakat dengan pola kemitraan dapat terus dilaksanakan dalam upaya pemcegahan illegal logging. Tujuan dari kegiatan penelitian untuk mengetahui kondisi dan potensi hutan rakyat. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-ekonomi manfaat hidrologis air dari hutan lindung. dan (4) substitusi usaha illegal logging. yang mencerminkan nilai minimal manfaat ekonomi air yang dirasakan rumah tangga di hulu DAS yang langsung memanfaatkan air dari sumber mata air hutan lindung. dan penurunan muka air tanah. 76. serta merupakan sumber air utama untuk Perum Jasa Tirta (PJT) I dan PJT II yang merupakan BUMN pensuplai air terbesar di pulau Jawa. Kirsfianti Linda NILAI EKONOMI AIR DI SUB DAS KONTO DAN SUB DAS CIRASEA (The Economic Value of Water in Sub DAS Konto and Sub DAS Cirasea) / Kirsfianti Linda Ginoga . Kondisi tegakan hutan rakyat pada pola pengembangan swadaya tipe pemilik dekat dengan lokasi hutan rakyat kurang bagus.1 . Metode yang digunakan adalah pendekatan biaya pengadaan. potensi sengon terbesar pada pola pengembangan hutan rakyat swadaya tipe pemilik jauh dari lokasi. Hasil penelitian menunjukkan nilai ekonomi air untuk manfaat hidrologis Sub DAS Konto. Analisis efektifitas dilakukan untuk masing-masing pola pemberdayaan (PMDH dan Kemitraan) dalam mencegah illegal logging dengan mengukur peubah-peubah yang berpengaruh terhadap pola pemberdayaan.].769.1 .Penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola kemitraan lebih kecil dari pada penyerapan tenaga kerja illegal logging dengan pola PMDH. Pola pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dengan pola kemitraan lebih efektif dalam upaya pencegahan illegal logging dibanding dengan pola PMDH.. nilai ini adalah nilai yang diberikan oleh 147 . Hutan Produksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan masyarakat tidak memberikan perbedaan yang berarti antara pemberdayaan masyarakat pola PMDH dengan Kemitraan.

tidak adanya dualisme antara kebijakan.al) . Daerah Aliran Sungai (DAS). yang harus ditindaklanjuti oleh departemen sektoral. pendekatan biaya pengadaan.(et. dan diperlukannya peraturan (PP atau Keppres) yang memuat perintah kebijakan pengembangan hutan lindung..Kesepakatan dalam kelembagaan DAS akan tercapai apabila biaya transaksi yang ditimbulkan dari aransemen kelembagaan lebih rendah dari manfaat yang dirasakan bagi setiap stakeholder dalam pengelolaan DAS. Pengelolaan 148 . kesamaan persepsi tentang istilah yang berkaitan dengan kawasan hutan lindung. Hasil perhitungan nilai ekonomi air dari manfaat hidrologis yang dihasilkan sebagai fungsi dari keberadaan kawasan hutan lindung di Sub DAS Brantas dan Sub DAS Cirasea ini. Hutan Lindung. kinerja PPTPA dapat ditingkatkan apabila tidak mengandalkan pengelolaan air saja.keberadaan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea yang menghasilkan manfaat hidrologis terhadap rumah tangga.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. mengetahui kondisi hutan lindung saat ini. Kirsfianti KONTROVERSI KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG / Kirsfianti Ginoga. sekaligus mengurangi kemungkinan tingginya biaya transaksi. dengan pengembangan koordinasi antar departemen. Halaman 77-96 . kajian bertujuan untuk mengkaji konsistensi dan sikronisasi kebijakan tersebut. Kajian ini ingin menjawab bagaimana kebijakan dan peraturan perundangan menjawab permasalahan pengelolaan hutan lindung? Secara lebih khusus. hanya sebagian kecil dari nilai ekonomi air total yang dikandung oleh kawasan hutan lindung di Sub DAS Konto dan Sub DAS Cirasea karena masih banyak pengguna-pengguna air lain yang lebih besar seiring dengan mengalirnya air. Secara khusus diperlukan peraturan perundangan yang mengatur aspek kelembagaan hutan lindung.. Hambatan kelembagaan sumberdaya air dapat diatasi apabila komitmen terhadap kesepakatan dapat ditingkatkan melalui penyebaran biaya dan manfaat yang lebih merata. termasuk kelembagaan pusat dan daerah. 2006 : Halaman 43-53 . Sulistya Ekawati dan Deden Djaenudin. Pembangunan hutan rakyat dalam bentuk agroforestry diyakini mampu lebih luas menjangkau kantung-kantung konservasi dan preservasi sumberdaya air. dimana peraturan tersebut mampu menunjukan adanya Sense of Crisis dalam pengelolaan hutan lindung. Hidrologis.Kirsfianti BIAYA TRANSAKSI PENGELOLAAN DAS PERSPEKTIF UNTUK SUB DAS CICATIH / Kirsfianti Ginoga. Paling tidak terdapat 84 peraturan yang berkaitan dengan hutan lindung. laju penurunan luas dan alih fungsi hutan lindung terus meningkat. Biaya Pengelolaan. penekanan kewenangan pengelolaan hutan lindung tetap pada pemda/BUMN/D. dan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Kata kunci: Hutan Lindung. -. Penguatan kelembagaan seperti PPTPA diperlukan untuk mengurangi biaya transaksi dan mencapai kesepakatan multi stakeholders. tetapi kebijakan hutan lindung belum memberikan kepastian arah yang berati. Karena itu kajian ini menyarankan perlunya kebijakan yang jelas dan terarah antara yang dilarang dan dibolehkan. 2006 Penguatan kelembagaan air dalam konteks DAS mensyaratkan apa yang disebut sebagai biaya transaksi (transaction cost) . 2005 Permasalahan hutan lindung Indonesia sudah sangat kritis. DAS Cicatih Ginoga. dan merekomendasikan kebijakan pengelolaan hutan lindung yang diperlukan untuk mencapai pembangunan hutan lindung yang berkelanjutan. akan tetapi arah kebijakan pengelolaan hutan lindung masih belum jelas. Kata kunci : Nilai ekonomi. Keberadaan hutan lindung menurut peraturan peraturan perundangan masih dilematis. dan tidak adanya ego sektoral antara pembuat kebijakan sehingga fungsi kawasan hutan lindung dan manfaatnya dapat dirasakan oleh pihak yang terkait baik di pusat dan daerah secara berkeadilan dan berkelanjutan. Ginoga. termasuk yang mengancam kelestarian kawasannya. disatu sisi perlu dikonservasi tetapi di sisi lain masih dapat dibudidayakan. Secara konseptual. Kata kunci: DAS. 13 September 2005 . pusat-daerah. tidak adanya overlapping antara kebijakan. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri.

TATA AIR. monolog. Kelemahan yang juga sering terjadi adalah pengertian hutan yang tidak sama bagi masyarakat. proyek. aspek manajemen dan aspek sosial budaya (kelembagaan) masyarakat setempat yang bersifat lokal spesifik dan dinamis dari sudut ruang dan waktu. Ismatul KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN HUTAN DENGAN PENDEKATAN SOCIAL FORESTRY: STUDI KASUS POLA PHBM DI KHDTK CARITA DAN POLA MHBM DAN MHR DI AREAL HTI PT. Beberapa pendekatan yang melibatkan para pihak seperti Rapid Rural Appraisal (RRA). kita dapat membangun kelembagaan yang kuat di masyarakat dimana masyarakat menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat dalam membangun hutan lestari yang masih ada dan merehabilitasi hutan dan lahan yang sudah rusak. berorientasi target. Tata Air. Bagaimana peran hutan dalam mengatur tata air dan bagaimana kelestarian DAS Cicatih dapat dicapai akan dibahas dalam tulisan ini. HTI. Musi Hutan Persada (MHP) masih bernuansa pendekatan struktural-kuantitatif dari atas ke bawah. Pola pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat (PHBM) oleh Perum Perhutani di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita dan pola mengelola hutan bersama masyarakat (MHBM) dan pola mengelola hutan rakyat (MHR) di kawasan produksi HTI Muara Enim oleh PT. Kata kunci: DAS. Participatory Rural Appraisal (PRA) dan workshops yang melibatkan semua pihak terkait dapat memberikan masukan kebijakan dan langkah yang tepat dalam membangun model-model Social Foestry dan menerapkannya di lapangan. KHDTK Carita. DAS Cicatih Hakim. Akan tetapi kedua pola ini sudah menunjukan kemajuan besar dalam pembangunan dan pengelolaan hutan dimana pihak pengelola utamanya sudah banyak melibatkan banyak pihak terkait (stakeholders) dan memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan masyarakat dan pedesaan. Bukti-bukti bahwa di areal yang hutannya lebat juga pernah terjadi banjir dapat dimengerti tapi frekuensi banjir di daerah yang tidak berhutan akan lebih banyak dibanding dengan daerah yang berhutan. Model pengelolaan kawasan hutan ke depan harus merupakan model adaptif dalam bentuk pendekatan yang konprehensif. -. A. target.Gintings. Kata kunci: Social Forestry.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. kaku dan statis telah menjadi penyebab kegagalan kita dalam mencapai cita-cita Hutan Lestari Rakyat Sejahtera. PHBM. PHBM. Demikian juga peran tanaman sejenis dalam mengatur kesuburan tanah dan tata air akan lebih kecil dibanding dengan kawasan yang hutannya merupakan tanaman campuran dengan tajuk berlapis. Halaman 115-138 . Ngaloken Gintings. MHP MUARA ENIM / Ismatul Hakim. meskipun masyarakat sudah lebih banyak berperan dan memperoleh manfaat. pendekatan yang bersifat kultural-kuantitatif merupakan sebuah konsekwensi logis yang harus dterapkan di masa mendatang. Pendekatan adaptif seperti ini yang diharapkan mampu mencapai cita-cita ideal dari konsep Social Forestry dalam pengelolaan hutan. proyek. 2005 Pendekatan pembangunan kehutanan selama ini yang bersifat strukturalkuantitatif. Sejak awal kita harus berani memulai menerapkan berbagai alternatif model Social Forestry yang merupakan hasil optimal kombinasi berbagai pertimbangan aspek teknologi. Oleh karena itu. kaku.statis. orientasi. PT. DAN KELESTARIAN DAS CICATIH / A. Tanaman hutan yang berada di daerah yang miring dan dibawahnya ditanami ubi kayu akan mendatangkan erosi yang cukup besar di musim penghujan. -. Kita tidak memerlukan pendekatan arogansi birokrasi dan kekuasaan yang tersembunyi di balik istilah negara. Konsultasi Multipihak.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. 2006 Peran hutan dalam menjaga kesuburan tanah dan mengatur tata air dalam suatu DAS sudah banyak dibuktikan. Hanya dengan menerapkan berbagai model Social Forestry dalam pengelolaan lahan dan hutan dengan variasi aspek teknologi. Ngaloken HUTAN. 13 September 2005 .Musi Hutan Persada 149 . dan orientasi jangka pendek. 2006 : Halaman 55-61 . dengan memisahkan negara dari rakyatnya sendiri karena justru rakyat lebih banyak berhasil mengelola lahan miliknya menjadi Hutan Rakyat. MHR. aspek manajemen dan aspek sosial budaya kelembagaan pada tingkat mikro. monolog. Pada akhir-akhir ini peran hutan tersebut sering menjadi perdebatan yang kontraversial karena dilakukan pada luasan yang relatif kecil.

Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. (4) pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan. Surat Keputusan Kepala Dinas lainnya. Peran dan fungsi hutan dalam bentuk kawasan tetap dan tutupan vegetasi hutan di kabupaten Pandeglang propinsi Banten seharusnya dapat dipahami secara tepat dan benar oleh semua pihak baik pemerintah (PEMDA. BUMD.DPRD. khususnya industri kehutanan. pengaturan kelembagaan usaha di tingkat petani dalam bentuk Kelompk Tani. Istilah Hutan Rakyat masih erupakan rekayasa dari atas yang tidak dikenal masyarakat. maka para pihak di daerah harus dapat memahami berbagai peraturan perundangan terkait seperti Undang-undang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya No: 5 tahun 1990 dan Undang-undang Pokok Kehutanan No. kesempatan usaha. Social Capital Hakim.Adanya pertumbuhan budaya menanam yang demikian tinggi seperti Hutan Rakyat di masyarakat ini harus terus ditumbuhkembangkan oleh pemerintah dengan memberikan dorongan insentif dan kemudahan bagi pengembangan Hutan Rakyat di masa mendatang. 41 tahun 1999. meningkatkan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat dan bahkan telah memberikan kontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam konteks desentralisasi sektor kehutanan di daerah.2006 . Kelompok Usaha Bersama Ekonomi (KUBE dan Koperasi Tani) yang benar-benar tumbuh dan diciptakan dari masyarakat sendiri secara alami agar bisa lebih berdaya.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. (2) revitalisasi sektor kehutanan. Pandangan dan pemahaman yang sama dari pihak Pemerintah Daerah atau Pemerintah Propinsi dengan 150 . Peraturan Bupati. dunia usaha (BUMN. 2006 Peranan hutan sebagai kawasan maupun sebagai tutupan vegetasi masyarakat pepohonan pada sebuah hamparan lahan sangat penting dalam mendukung kelestarian ekositem suatu daerah baik dari segi penataan air (hidro-orologis). -. Peraturan Pemerintah. Swasta). segi pegaturan sosial ekonomi dan segi pertahanan sosial budaya masyarakat setempat. Surat Keputusan Bupati. Kata kunci: Hutan Rakyat. Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat dan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah telah mampu mendorong pertumbuhan kesempatan kerja. Untuk memperkuat pola dan kelembagaan pengelolaan Hutan Rakyat secara lestari. -.Hakim. Hutan Rakyat di beberapa daerah di Pulau Jawa seperti di Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten.2006 . Disamping itu. dan pihak terkait lainnya). (3) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan. Lembaga atau Organisasi Kemasyarakatan maupun kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam hutan dan lahan dalam membuat peraturan perundangan dan kebijakan seperti PERDA. segi pengaturan tata iklim dan cuaca (udara) atau Clean Development Mechanisms (CDM). dan (5) pemantapan kawasan hutan. Halaman 109-118 . sehingga merupakan social capital penting bagi penguatan kelembagaan sektor kehutanan ke depan. 2006 Hutan rakyat yang tumbuh di Indonesia khususnya di Pulau Jawa merupakan hasil perpaduan antara budaya lokal/tradisional masyarakat/petani dalam menanam pohon dengan budaya baru yang mengandung muatan teknologi dan manajemen pohon yang lebih berorientasi pasar dan industri. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan berbagai peraturan operasional di bawahnya. Ismatul PENGUATAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT: SEBUAH SOCIAL CAPITAL BAGI MASA DEPAN KEHUTANAN INDONESIA / Ismatul Hakim. Halaman 22-42 . Perguruan Tinggi. yang jelas masyarakat/petani sudah dapat meghasilkan kayu yang berasal dari lahan miliknya sendiri dan dikelola dengan modal sendiri. PROPINSI BANTEN / Ismatul Hakim. Pengaturan yang berbelit belit terhadap peredaran dan pemasaran hasil kayu dari masyarakat akan menjadi disincentive bahkan distorsi dalam menumbuhkan budaya menanam pohon di masyarakat. Ismatul KAJIAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM KONTEKS DESENTRALISASI : STUDI KASUS DI KABUPATEN PANDEGLANG. Isi dan kandungan daripada PERDA bidang kehutanan harus menampung dan menyerap berbagai permasalahan dan potensi aktual yang terjadi di tingkat kebijakan dan tingkat operasional lapangan baik horizontal maupun vertikal. perlu adanya dukungan kebijakan. RAPERDA/PERDA yang diajukan harus sejalan dengan isi dan substansi yang ada dalam peraturan perundangan tersebut termasuk 5 (lima) prioritas program yang sudah dicanangkan oleh Departemen Kehutanan yaitu prioritas program pembangunan kehutanan terdiri dari : (1) pemberatasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal.

Namun pendekatan pengelolaan DAS dalam perencanaan pembangunan wilayah masih belum populer/jarang digunakan dibanding pendekatan lainnya. 2005). longsor dan sedimentasi serta distribusi aliran yang tidak seimbang/merata (timbulnya banjir dan kekeringan). -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. dan setiap sub sistem saling berinteraksi (Kartodihardjo. 2006 : Halaman 123-143 . Hidrologi. 1987). Kecamatan Pitu Riawa Provinsi Sulawesi Selatan. 2006 Ketertarikan komponen biofisik DAS dan kepentingan ekonomi wilayah. 2006 Penelitian ini dilakukan terhadap anggota Kelompok Tani Hutan ”Bulu Dua” yang mengelola hutan rakyat di Desa Lasiwala. jambu mete dan kelapa. Dalam tulisan ini juga diberikan contoh aplikasi simulasi (model) hidrologi dikaitkan dengan penutupan/penggunaan lahan sehingga dapat diketahui pengaruh perubahan penutupan/penggunaan lahan terhadap perubahan hasil air DAS. Perencanaan pengelolaan DAS Hayati. sehingga dapat dicapai pengelolaan yang rasional untuk mencapai keuntungan optimal yaitu dalam waktu tak terbatas dan resiko kerusakan minimal. dan Sinergi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Pandeglang. Pengelolaan DAS adalah pengelolaan berbagai sumberdaya alam yang terdapat di dalam satuan DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi budaya yang berkembang di dalam DAS. dianalisis dan dibahas dengan metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif.1 . Pendayagunaan salah satu atau beberapa unsur/komponen akan mempengaruhi komponen lainnya di dalam DAS dan dapat menimbulkan perubahan dari keadaan alaminya sehingga terjadi gangguan keseimbangan atau gangguan ekologis yang menunjukan terjadinya degradasi DAS. kab. Dengan pemahaman yang sama dan dukungan yang kuat antara semua pihak terkait dalam proses penyusunan sebuah perangkat peraturan dan perundangan seperti PERDA bidang/sektor kehutanan akan melahirkan komitmen dan tanggung jawab yang kuat semua dalam pencapaian misi dan visi serta penerapan substansi penguatan sektor kehutanan di daerah. vegetasi. umumnya menjadi obyek atau sasaran fisik alamiah. Wuri PENDEKATAN SIMULASI HIDROLOGI DALAM PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS / Wuri Handayani dan Gunardjo Tjakrawarsa. Pemanfaatan sumberdaya alam sebagai input pembangunan wilayah pada masa kini masih lebih banyak menekankan pada batas-batas yang bersifat politis atau administratif. integrasi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner. Hidrolologi adalah indikator yang sangat signifikan untuk mengetahui adanya degradasi DAS seperti terjadinya erosi. Nur POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Nur Hayati. menjadikan pengelolaan DAS merupakan pendekatan yang penting dalam perencanaan pembangunan wilayah. sinkronisasi. Dengan demikian pengelolaan DAS dapat ditinjau dari sudut pandang fisik maupun institusi sehingga kegiatan dan kebijakan pengelolaan DAS yang perlu ditempuh tidak hanya mendasarkan pada indikator fisik.pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan akan mampu mendorong kemantapan sektor kehutanan di daerah secara sinergis antara para pihak di daerah. sistem biologis dan sistem manusia. Untuk menambah sumber pendapatan selain dari sektor kehutanan. dan air. Banten Handayani. Tulisan ini akan memberikan gambaran penggunaan simulasi hidrologi dalam perencanaan pengelolaan DAS. tetapi keberhasilannya sangat didukung oleh adanya kelembagaan untu mewujudkan koordinasi. Kata kunci: Kebijakan Kehutanan. sedangkan manusia menjadi subyek atau pelaku pendayagunaan unsur-unsur tersebut (Murtilaksono. -. rata-rata petani memiliki lahan pertanian atau empang ikan yang dikelola secara terpisah di luar kawasan hutan rakyat atau bekerja di luar sektor kehutanan dan Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) / 151 . Kata kunci: DAS. Daerah Aliran Sungai merupakan megasistem kompleks yang terbangun atas sistem fisik. Anggota kelompok tani pada umumnya mempunyai kebun di luar kawasan hutan Gmelina yang dikelola secara terpisah berupa kebun coklat. Unsur penyusun sistem di dalam DAS tersebut antara lain berupa sumberdaya alam seperti tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pengelolaan lahan kritis bersama masyarakat pada areal hutan rakyat. Halaman 13-21 . beberapa tujuan penggunaannya dan manfaat yang diperoleh. padahal dampak yang ditimbulkan mengikuti batas alam/ekosistemnya yang tidak mengenal batas administrasi. Desentralisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengelolaan hutan rakyat dilakukan dalam bentuk monokultur tanpa tanaman pendamping. Data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasi.

maka turunnya dana sebaiknya pada awal tahun anggaran. untuk melakukan koordinasi dengan para petani khususnya dalam melakukan pembinaan. waktu yang sesuai. Namun demikian ada beberapa kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang masih belum sinkron dan terintegrasi dengan kebijakan GERHAN. Selain itu secara keseluruhan. perencanaan dan prioritas lokasi perlu diperhatikan. Kata kunci: Hutan Tanaman Industri. tetapi menguasai 70 persen Produk Domestik Bruto. hutan rakyat. serta standar biaya antara satu daerah dengan daerah lainnyapun menentukan baik tidaknya kegiatan rehabilitasi. untuk tahun-tahun ke depan selain penanaman dilakukan oleh daerah. Kemitraan Pengelolaan Hendarto. lahan kritis Hendarto. Halaman 161169 . Kemitraan dilakukan antara pengusaha besar dan kecil.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Kepastian jumlah dan waktu penyerahan bibit dari BPDAS agar pasti sehingga dapat memudahkan merencanakan kegiatan. Kata kunci: Rehabilitasi hutan. Sedangkan untuk daerah yang telah membuat Peraturan Turunan dari peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. Oleh karena itu kajian kebijakan pemerintah tentang rehabilitasi hutan dan lahan sangat diperlukan. tulisan ini mencoba untuk menggambarkan tentang bagaimana pola kemitraan yang telah dilakukan dan apa saja kebijakan yang dapat ditelurkan agar proses kemitraan ini dapat terus berlanjut. 13 September 2005 . yaitu Pemerintah swasta. Salah satu upaya yang dianggap tepat dalam memecahkan masalah ini adalah dengan melalui kemitraan. agar rantai birokrasinya lebih pendek. Struktur organisasi kelompok tani termasuk dalam kategori organisasi modern. Kresno Agus MENINGKATKAN KEMITRAAN PENGELOLAAN DALAM HUTAN TANAMAN INDUSTRI: BEBERAPA KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN/ Kresno Agus Hendarto dan Krisdianto. antara yang kuat dan yang lemah. Hasil penelitian di Propinsi Kalimantan Tengah menunjukan bahwa untuk daerah-daerah (Kabupaten dan Kota) yang tidak membuat Peraturan Turunan dari Peraturan yang dibuat Pemerintah Pusat. Adanya wadah kelompok tani ini semakin mempermudah pemerintah daerah. Dampak lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya program hutan rakyat adalah lingkungan (iklim mikro) yang lebih baik. -. dan usaha kecil/koperasi. hal ini dapat diteruskan karena masing-masing daerah mempunyai ciri karakteristik yang berbeda. dalam hal ini Dinas Kehutanan Kabupaten Sidrap. Pendanaan untuk inventarisasi dan identifikasi sosekbud masyarakat dan perencanaan teknis dapat disalurkan minimal pada tahun T-1. Kata kunci : pengelolaan. Rehabilitasi lahan. Meminimalisasi pihak-pihak yang terlibat dalam GERHAN.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Kresno Agus KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kresno Agus. Hasil sensus ekonomi tahap III menunjukan bahwa pengusaha besar jumlahnya di bawah 1 persen. erosi dan tanah longsor. Mengambil contoh pengelolaan Hutan Tanaman Industri. 6 Desember 2006 . tidak ada tanah gersang dan lahan kering yang berupa alang-alang. BP DAS Jeneberang Walanae dan LSM Yagrobitama. Kebijakan 152 . 2005 Kebijakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) bertujuan untuk menanggulangi dan mengurangi laju penambahan lahan kritis. Halaman 63-77 . Seandainya memungkinkan. -. bibit juga diusahakan oleh daerah.pertanian. kejelasan setelah kegiatan proyek selesai. 2006 Ada tiga pilar pelaku ekonomi yang diamanatkan di UUD 1945.

Berdasarkan jalur pengangkutan kayu dibedakan dalam 2 jalur. dan (3) Sistem jual beli.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No.. Sedangkan yang dimaksud kelompok utara adalah kelompok masyarakat dalam bentuk badan usaha (koperasi) yang memiliki ijin HPHH 100 ha. Halaman 189-196 .Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. dan dengan analisis studi kasus deskriptif.000. 2) Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya illegal logging?.000. 13 September 2005 . Rute darat terbagi menjadi jalur utara (Malaysia) dan jalur selatan (Pontianak). dan (3) Upaya-upaya apa yang telah dilakukan untuk mencegah praktek illegal logging?. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kegiatan illegal logging memberikan dampak perubahan terhadap peran lembaga sosial yang ada di lokasi illegal logging.000 – Rp. Mengambil lokasi di propinsi Riau..000. yaitu kelompok selatan dan utara.per bulan. Kelompok selatan adalah illegal logging yang dilakukan oleh masyarakat di luar masyarakat adat secara individual atau berkelompok. Henti Hendalastuti R. Kegiatan illegal logging saat ini marak terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu dan mulai mengancam kawasan konservasi Taman Nasional Betung Kerihun.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.per bulan. 2. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pola praktek illegal logging di TNBK. 4. Kelembagaan Hidayat. Halaman 75-85 . 2005 Dengan kata yang ringkas. Asep ANALISIS PEMUNGUTAN ROTAN PADA DUA KELOMPOK MASYARAKAT PEMUNGUT (analysis of rattan Collection on Two Group Collector)/ Asep Hidayat. Aneka Prawesti Suka. Pada masyarakat biasa pemungutan rotan dilakukan secara individual.200. dan mampu menghasilkan pendapatan Rp. Dodi Frianto. Berdasarkan pelaku illegal logging dibagi 2 kelompok. kelompok pemungut Indartik ILLEGAL LOGGING DI TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK) DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI/ Indartik. 2006 Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola dan aspek-aspek pemungutan rotan pada dua kelompok pemungut yaitu masyarakat biasa dan masyarakat adat/Kubu yang dikenal dengan sebutan Suku Kubu. kegiatan pemungutan memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pemungut dan pemungutan yang dilakukan sangat memperhatikan kelestarian terutama yang dilakukan oleh masyarakat adat (Suku Kubu) Kata kunci : rotan. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara langsung dengan petani/kelompok tani pemungut/pengumpul. -. menggunakan metode sample bertujuan. Perkembangan lanjut dari praktek illegal logging ini dalam praktek jual beli dikenal 2 sistem. -. 3. khususnya Provinsi Kalimantan Barat. merupakan pekerjaan utama bersama-sama dengan pengumpulan hasil hutan non kayu lainnya. Pengujian faktor dominan dilakukan dengan metode ”one pair comparasion” Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya perbedaan beberapa aspek penelitian pada dua kelompok pemungut. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya illegal logging adalah akibat kombinasi faktor sosial ekonomi (kemiskinan mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya hutan). Illegal logging adalah logging atau penebangan kayu di Taman Nasional atau kawasan konservasi lain..2 .Hendarto. yaitu darat dan air. Halaman 91-107 . pemungutan.000 Ha) memiliki nilai penting dan fungsi yang sangat strategis dalam mendukung sistem penyangga kehidupan serta mendukung pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. tulisan ini memcoba memberi gambaran singkat/memotret dampak dari kegiatan illegal logging terhadap perubahan peran kelembagaan yang ada. Kayu hasil illegal logging biasanya dilempar keluar untuk menghindari pencekkan dan kontrol. umumnya berstatus sebagai pekerjaan sampingan dan mampu menghasilkan pendapatan Rp 33. (2) Pelaku illegal logging. Kata kunci: Illegal Logging. faktor hukum dan 153 . Hasil pembahasan memperlihatkan pola illegal logging di TNBK dibedakan berdasarkan : (1) Jalur pengangkutan kayu.000 – Rp. tanpa ijin dari pemerintah (yang oleh negara diserahi tanggung jawab untuk mengurus). Kresno Agus POTRET ILLEGAL LOGGING DI PROPINSI RIAU: STUDI KASUS PERUBAHAN PERAN LEMBAGA SOSIAL DAN LEMBAGA EKONOMI DESA / Kresno Agus Hendarto dan Aneka Prawesti Suka. Sedangkan pada Suku Kubu pemungutan dilakukan secara berkelompok. Nunung Parlinah.2 . 2006 Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sebagai salah satu taman nasional dengan areal yang cukup luas (800. -. yaitu sistem penjualan langsung (cash and carry) dan sistem ijon (rentenir).200. Propinsi Riau. Dari hasil penelitian tersebut.

Kantor Pengelola Kawasan Bantimurung. 2. Keberadaan gua-gua di kawasan tersebut merupakan potensi untuk pengembangan obyek wisata alam. namun dipandang kurang sejalan dengan kebijakan penunjukan kawasan kars tersebut sebagai kawasan konservasi. Industri Marmer. Biro Perjalanan Wisata 3. Bila pengelolaan TN Bantimurung-Bulusaraung dilakukan secara kolaboratif /kemitraan. patroli PolHut dan sarasehan multi pihak dalam mencari solusi penanggulangan illegal logging.7 Ha s/d 50 Ha) di Kabupaten Maros. Pabrik semen Bosowa (konsesi 1. saling percaya. Stakeholder primer yang perlu diperhatikan kepentingan dan partisipasinya dalam menyusun rencana pengelolaan TN BantimurungBulusaraung adalah: 1. Pengembangan wisata alam di Sulawesi Selatan dapat menjadi pengungkit bagi berkembangnya pemanfaatan jasa lingkungan terutama wisata alam yang ada di desa-desa sekitar TN BantimurungBulusaraung. dan penduduk desa setempat. Pola Illegal Logging Irawanti. Pemerintah Pusat melalui Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Balai Perpetaan Kawasan Hutan Sulawesi Selatan. Dinas Pariwisata Provinsi telah menjalin kerja sama dengan sejumlah biro perjalanan wisata dan menyediakan paket-paket wisata.000 Ha) dan 11 industri marmer (konsesi 2. 2006 Tujuan kajian sosial ekonomi dan kelembagaan ini adalah memperoleh data dan informasi mengenai kondisi. Pemerintah Kabupaten Maros dan jajarannya.1 . Pemerintah Kabupaten Pangkep dan jajarannya. Halaman 39-57 . Pemerintah Daerah (PEMDA) Sulawesi Selatan membuka peluang untuk berinvestasi pada usaha pariwisata alam. Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam menanggulangi illegal logging diantaranya : Operasi Wanalaga.kebijakan (reformasi dan otonomi daerah).Di Kabupaten Maros 6 diantara 10 obyek wisatanya. Kata Kunci : TNBK. Efektivitas penanggulangan illegal logging melalui pendekatan keamanan tersebut sampai saat ini dirasakan masih belum efektif. Pabrik Semen Bosowa. konservasi. sehingga menjadi peluang kerja dan berusaha untuk memberdayakan masyarakat serta sebagai sumber Penerimaan Daerah. bahari serta budaya.7 Ha). partisipatif. stakeholder yang akan berkolaborasi memiliki kepentingan yang beragam sehingga perlu dibangun kesepahaman. pelaku usaha tambang lainnya. -. potensi dan permasalahan sosial ekonomi dan kelembagaan yang ada di lokasi Taman Nasional (TN) BantimurungBulusaraung sebagai masukan dalam proses penyusunan rencana pengelolaannya. Dinas Pariwisata Kabupaten. Pabrik Semen Tonasa. berada di desa-desa yang berbatasan dengan TN. serta dalam proses penataan hutan khususnya zonasi kawasan. pemanfaatan jasa wisata alam dapat menjadi alternatif pengganti pemanfaatan tambang yang kurang mendukung upaya konservasi. serta di Kabupaten Pangkep 2 diantara 7 obyek wisatanya. dan penduduk desa setempat. Dengan menyediakan sarana prasarana fisik dan kelembagaan. dapat memberi kontribusi pada Penerimaan Daerah. kelembagaan 154 .7 Ha s/d 50 Ha). Mengelola jasa wisata alam dengan baik dapat menjadikannya sebagai sumber Penerimaan Daerah yang dapat diandalkan. Pemerintah Kabupaten Maros dapat menghimpun Penerimaan Daerah dari Taman Wisata Alam Bantimurung yang makin meningkat dari tahun ke tahun.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Illegal logging. serta pabrik Semen Tonasa (konsesi 1. 18 industri marmer (konsesi 2. Di kawasan TN masih ditemui pemukiman penduduk dari desadesa sekitarnya sehingga perlu dipertimbangkan dalam proses pengukuhan khususnya penataan batas. dan penambangan pasir/pasir silika/batu /batu gunung/semen/emas di Kabupaten Pangkep. Industri Marmer. Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. 4. ada peluang bagi masyarakat dan perlu pendampingan Kata kunci: Bantimurung-Bulusaraung. Dinas Pariwisata. saling menguntungkan. Penambang pasir/pasir silika/batu gunung /emas. adil. faktor sosial budaya (pergeseran tata nilai di masyarakat yang cenderung materialistis) dan permintaan kayu (Permintaan kayu tinggi). Selain sejalan dengan penunjukkan kawasan kars Bantimurung-Bulusaraung sebagai TN. Setiasih KAJIAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG DI SULAWESI SELATAN/ Setiasih Irawanti. Hal ini diindikasikan dengan masih maraknya illegal logging.354.

dengan hasil sebagai berikut. 2005 Kawasan Pelestarian Alam yang boleh dimanfaatkan untuk pariwisata alam sebanyak 41 lokasi di kawasan Taman Nasional. Pemda Sukabumi dan ASPARDIN. Perhutani Karyono DAMPAK PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SUKABUMI / Karyono dan Kirsfianti Ginoga. Kata kunci: Sumberdaya Air. Data keberadaan dan luas hutan mangrove di Kabupaten Ciamis sangat bervariasi namun dilaporkan sebagian besar berada di Desa Pamotan.152. Pemanfaatan sumberdaya air melalui industri air minum dalam kemasan (AMDK) membuka kesempatan berusaha terhadap 28 perusahaan dan membuka kesempatan kerja sebanyak 2.214.370 orang dengan kemampuan investasi AMDK antara Rp. Untuk kabupaten Sukabumi. Kata kunci : Mangrove. serta metoda analisis tabulasi. Besarnya PAD dari pajak air ini masih belum sepenuhnya kembali kepada pengelolaan konservasi air. Kuncoro Ariawan. terutama pengelola hutan lindung dan kawasan konservasi. strategis dan kaya sumberdaya alam.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.000. banyak kebijakan daerah yang diluncurkan dalam upaya menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD). 2006 : Halaman 209-217 .000. sehingga keberadaannya sangat berarti bagi lingkungan dalam arti luas. pengumpulan data menggunakan metoda pencatatan. Seluruh hutan mangrove di KPH Ciamis kini tengah menghadapi bencana kepunahannya.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Masih 40% hutan mangrove di KPH Ciamis berupa rawa atau semak belukar. aksesibilitas sangat baik. -. Karena itu bagaimana agar dampak pemanfaatan air ini kembali kepada konservasi air perlu mendapat perhatian lembaga yang berwenang. 17 lokasi di kawasan Taman Hutan Raya dan 102 lokasi di kawasan Taman Wisata Alam (Dephut. ekonomi.000 dan pajak air permukaan mencapai Rp.241.000. Usaha mengembangkan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) untuk hutan mangrove oleh KPH Ciamis baru dalam tahap wacana. selama empat tahun terakhir. namun selama hampir 30 tahun belum dilakukan pengelolaan atau pengusahaan sebagaimana mestinya sebuah kawasan hutan sehingga terkesan sebagai lahan tidur. 13 September 2005 .000 s/d Rp. 2006 Setelah diberlakukannya otonomi daerah tahun 1999.Irawanti. 34. Pola investasi yang diterapkan pada pengembangan pariwisata alam 155 . 27. Prasmadji Sulistyanto . namun di dalamnya telah dipenuhi patok-patok klaim hak atas lahan dari masyarakat setempat. 220. Karyono. Karakteristik laut dan pesisir sangat terbuka. dengan cara melakukan rehabilitasi dan konservasi wilayah hulu DAS Citanduy. 1. salah satunya adalah pajak air bawah tanah (PABT) dan pajak air permukaan (PAP). Setiasih HUTAN MANGROVE CIAMIS YANG TERABAIKAN / Setiasih Irawanti . OK PELUANG PENGUSAHA BERINVESTASI DI SEKTOR PARIWISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI / O. evaluatif. Konversi hutan mangrove tersebut oleh penduduk setempat menjadi lahan persawahan padi dan pemukiman dilakukan karena hasil tangkapan ikan nelayan Pamotan kian hari kian menurun akibat pendangkalan dan penyempitan Segara Anakan. Penelitian dilakukan pada awal tahun 2006 di Kabupaten Ciamis. dan politis. -. Halaman 197-203 . Perlu pula dirintis kerjasama antara Perum Perhutani khususnya KPH Ciamis. Ciamis. -. dan deskriptif. sosial. Proyek Rehabilitasi dan Konservasi Segara Anakan. Pendapatan Asli Daerah. karenanya ekosistem mangrove menghadapi ancaman sangat berat dari berbagai sektor atau stakeholder. penerimaan pajak air bawah tanah mencapai Rp.450. sehingga mereka beralih profesi menjadi petani padi.K.000. Halaman 205-217 . KPH Ciamis memberi perhatian atas hutan mangrovenya setelah sebagian dikonversi oleh masyarakat setempat menjadi persawahan dan pemukiman penduduk.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. dalam kawasan hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. berbagai fungsi ekologi.3 . 2006 Ekosistem mangrove dengan berbagai jenis vegetasi penyusunnya memiliki karakteristik khas. Hutan mangrove di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis termasuk hutan produksi (HP) kelas hutan alam kayu lain tak baik untuk jati (HAKLTB). tahun 2002 sampai 2005. Beragamnya data dan informasi tentang keberadaan hutan mangrove di Ciamis menarik perhatian untuk dikaji. serta Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mengkonservasi Segara Anakan dan hutan mangrove desa Pamotan di wilayah hilir DAS Citanduy. 2003). Kabupaten Sukabumi Karyono.-. konsultasi dan pengamatan lapangan.

Pendapatan Asli Daerah. Kata kunci: Hutan Rakyat. masih terbuka peluang bagi investor/pengusaha untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata alam. embung. sementara tingkat kesejahteraan dan pendidikan masih rendah. 1. Oleh 156 . Kawasan konservasi sebab itu dalam tulisan ini dikaji sejauhmana kontribusi hutan rakyat terhadap pendapatan asli daerah. 6 Desember 2005 .d.2006 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.memberikan kesempatan berusaha di bidang pariwisata alam yang bersifat komersial terutama BUMN. pembangunan Hutan Rakyat/Kebun Rakyat. Ciamis yang tersebar di 37 kecamatan dan didominasi oleh jenis kayu Albazia. Dewasa ini.3 milyar.356. -. Kata kunci: Pariwisata Alam. yang biasa dikenal dengan upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). 28 buah pada kawasan Taman Wisata Alam (TWA).BUMD.534 dokumen.49 persen) dari luas Kab. Pemanfaatannya harus dilaksanakan secara hati-hati dan bijaksana. dan Koperasi serta kepada pihak-pihak tertentu (PMDN dan PMA) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Terhadap kondisi tersebut di atas. Jumlah pengusaha/investor yang menanamkan modalnya di sektor Pariwisata Alam s. Perda No. Halaman 134-141 .Dari jumlah ini. dan lain-lain adalah upaya memulihkan atau memperbaiki kembali lahan kritis di luar kawasan hutan agar dapat berfungsi sebagai media produksi dan pengatur tata air yang baik serta mempertahankan dan meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan peruntukkannya.pengkayaan tanaman. Jawa Barat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tasikmalaya. Unit Percontohan Upaya Pelestarian Sumberdaya Alam (UP UPSA). Ciamis. 2006 Hutan dan lahan sebagai sumberdaya alam merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Pengasih. Halaman 1-7 . Dari produksi dan peredaran kayu di kabupaten Ciamis pada tahun 2005 memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) melalui pungutan-pungutan atau retribusi (Leges. Dalam peredaran kayu di kabupaten Ciamis selama 3 tahun terakhir dokumen angkutan kayu rakyat (SKSHH) mencapai 52. 19/2004) sebesar 0.57 m kubik dengan rata-rata per tahun 126. pengembangan hutan rakyat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal maupun regional melalui kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dari hulu sampai hilir. diperlukan upayaupaya untuk memulihkan dan mempertahankan fungsinya kembali. 15 buah pada kawasan Taman Nasional. Ditambah lagi dengan adanya krisis multidimensi yang berkepanjangan yang menyebabkan berbagai konflik kepentingan dalam pemanfaatan hutan dan lahan serta masih rendahnya peran aktif masyarakat umum terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan. Dilihat dari jumlah kawasan konservasi yang bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam dengan jumlah taman nasional yang sudah ada pengusahanya. Tekanan-tekanan ini masih sering dijumpai dalam pengelolaan sumberdaya alam terutama hutan dan lahan akibat belum mempertimbangkan kelas kemampuan lahan dan penerapan teknik konservasi yang baik dan benar. Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK).Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kegiatan RHL baik melalui kegiatan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL).089. maka petani dapat merasa diringankan beban ekonominya dari hasil penjualan kayunya dan pemerintah daerah dibantu untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya melalui retribusi dan pungutan sah lainnya. Mahoni.35 persen.44 ha (9. dan Jati. Juni 2004 adalah 43 perusahaan.301. Produksi dan peredaran kayu rakyat selama 5 tahun terakhir (2002 s/d 2005) mencapai 504. Taman Wisata Alam.Jumlah modal yang diinvestasikan oleh pemegang Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) dalam kegiatan pariwisata alam tercatat Rp.14 m kubik.. sumur resapan. kegiatan yang dibiayai oleh APBD II dan swadaya masyarakat dilaksanakan melalui kegiatan pembibitan/pembuatan persemaian. Karyono KONTRIBUSI HUTAN RAKYAT DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD): STUDI KASUS KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT / Karyono dan Dian Diniyati. -. Di era otonomi daerah. Melalui pengembangan hutan rakyat. terjadi degradasi kawasan hutan dan lahan sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Taman Nasional. sehingga dapat terus lestari dan mendukung terwujudnya masyarakat sejahtera. 2006 Luas hutan rakyat di Kabupaten Ciamis lebih kurang 24.

Hutan rakyat (hutan hak/milik) dapat memberikan kontribusi terhadap penyediaan bahan baku kayu dan non kayu bagi rumah tangga dan industri yang semakin terbatas dihasilkan dari hutan negara.). Salah satu jenis yang telah dikembangkan dalam areal HTI adalah kayu mangium (Acacia mangium Willd. Kemasyarakatan. Kata kunci: Pembangunan hutan. Tasikmalaya Hutan Rakyat. Namun demikian model pembangunan kehutanan saat ini juga telah memberikan dampak yang banyak merugikan yang kita rasakan dewasa ini. Kemasyarakatan.Kata kunci: Pembangunan Hutan. Hutan mengganggu fungsi hutan untuk meningkatkan kesejahteraan. dan sosial secara berimbang.Tasikmalaya Hutan Rakyat. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Tujuan pembangunan HTI adalah memenuhi kebutuhan kayu sebagai pulp dan kertas juga telah digunakan sebagai bahan baku mebel dan kayu pertukangan. Laju kerusakan hutan dan lahan sebagai akibat pemanfaatan hasil hutan kayu secara berlebihan meningkat dengan cepat. 6 Desember 2005 . Permasalahan ini semakin lama semakin komplek yang saat ini pada umumnya belum dapat diselesaikan secara tuntas. sedangkan hutan kemasyarakatan yang merupakan hutan negara yang sistem pengelolaan bersama-sama masyarakat memberikan peluang usaha bagi masyarakat di dalam kawasan hutan tanpa Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI PROPINSI JAWA BARAT / Kepala Dinas Kehutanan di Propinsi Jawa Barat. yang berakibat merosotnya kualitas lingkungan (banjir. kekeringan). bersifat desentralistik dan berkeadilan. 6 Desember 2005 . Pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan menjadi sangat penting dan strategis dalam mewujudkan pembangunan kehutanan sebagaimana tersebut di atas.Selain dapat menekan illegan loging hutan rakyat yang sudah berkembang sejak lama di kalangan masyarakat Jawa barat juga dapat memenuhi kebutuhan produksi kayu yang belum terpenuhi dari hasil hutan. berorientasi lingkungan. Disisi lain tingkat kesejahteraan masyarakat disekitar hutan sangat rendah yang semakin menambah laju kerusakan hutan akibat pencurian kayu. kebijakan. serta mempunyai peran dalam merehabilitasi lahan-lahan kritis di luar kawasan hutan. erosi. Kab. Sebagai salah satu sektor pembangunan yang sangat strategis selama dekade terakhir sektor kehutanan telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi nasional. Kab. Halaman 8-13 . Propinsi Jawa Barat Rakyat.) SEBAGAI BAHAN BAKU MEBEL/ Krisdianto dan Kresno Agus Hendarto. Halaman 14-21 . 6 Desember 2006 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Pada intinya dicapai dalam pembangunan kehutanan adalah suatu sistem pengelolaan hutan yang mempertimbangkan aspek-aspek ekonomi. Hutan Kemasyarakatan. 2006 Kondisi Industri Kehutanan saat ini dan di masa yang akan datang sangat bergantung dari pembangunan HTI (Hutan Tanaman Industri). Kata kunci: Pembangunan hutan. Tulisan ini disajikan untuk memberikan gambaran tentang kebijakan pembangunan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan di kabupaten Ciamis. 2006 Paradigma pembangunan kehutanan nasional dewasa ini telah mengalami perubahan yang cukup mendasar dari yang semula dititikberatkan pada pengelolaan kayu dan komoditi. Halaman 151-159 . 2006 Pembangunan Hutan Rakyat yang sejalan dengan landasan utama penyelenggaraan kehutanan dapat berfungsi sebagai penanggulangan lahan kritis. penjarahan dan perambahan hutan. Kebijakan. -. berbasis masyarakat. serta bersifat sentralistik menjadi pengelolaan yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya hutan. Hutan Krisdianto PEMANFAATAN KAYU MANGIUM (Acacia mangium Willd.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Hal ini tampak dari penggunaan kayu mangium dalam industri pengolahan mebel dan pertukangan di sentra industri mebel Jawa 157 . ekologi. Hutan Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis KEBIJAKAN PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN CIAMIS / Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. -. kebijakan.

-Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Saat ini kayu mangium telah digunakan sebagai substitusi kayu jati. fire maniac. fire maniac. Berat jenis kayu ini bervariasi dari 0. I Made Widnyana.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 25 Agustus 2005).66. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu. keserasian. Kata kunci : Budaya. Penggunaan kayu mangium sebagai pengganti kayu jati dilakukan secara parsial maupun secara total. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan. perladangan berpindah. dan budaya berburu. dan budaya berburu. dan Nusa Tenggara Timur. I Made Widnyana. -.. kebakaran hutan Kusumedi. perladangan berpindah. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia.3 . Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang model kelembagaan berbasiskan masyarakat dalam rangka mewujudkan pengelolaan hutan lestari. disamping adanya keakraban. Priyo KELEMBAGAAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KHDTK BORISALLO. 2006 Kebakaran hutan merupakan masalah tahunan di Indonesia (Media Indonesia.53 . -. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung. Kata kunci: Kayu mangium. Halaman 235-241 . Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. Departemen kehutanan sebagai institusi yang berkompeten dalam masalah tersebut tidak dapat mengendalikan kebakaran hutan. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. SULAWESI SELATAN / Priyo Kusumedi. kebakaran hutan Kurniadi. budaya maupun sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Penelitian menunjukan bahwa budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Desa Boentuka berpotensi menyebabkan kebakaran hutan. Penggunaan kayu mangium saat ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mebel dan pertukangan dalam skala lokal. bahan baku Mebel Kurniadi. 25 Agustus 2005).2 . Kayu mangium merupakan kayu dengan kelas kuat IIIII dan kelas awet III.3 . Halaman 115-130 . Sumatera. Metode penelitian yang dipakai adalah PDC (Pemahaman Pedesaan Cepat) dan PDP (Pemahaman Pedesaan 158 . Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA MIO DAN DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR)/ Rahman Kurniadi . Rahman BUDAYA MASYARAKAT DAN KEBAKARAN HUTAN (STUDI KASUS DI DESA BOENTUKA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR) / Rahman Kurniadi . Halaman 209-315 . Kata kunci : Budaya. Salah satu kelebihan kayu mangium adalah warnanya mirip dengan kayu jati. dan Nusa Tenggara Timur.0. serta memiliki kehendak yang sama untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya alam. Sako adalah sekat bakar yang dibuat pada saat aktivitas tebas bakar berlangsung.Tengah dan Jawa Barat. Acacia mangium Willd. Budaya tersebut adalah budaya tebas bakar. Sumatera. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi budaya masyarakat yang tinggal di Desa Mio dan Boentuka yang berpotensi sebagai penyebab kebakaran hutan dan sebagai pengendali kebakaran hutan. 2006 Kelembagaan dalam pengembangan hutan kemasyarakatan pada umumnya merupakan suatu perkumpulan petani yang anggotanya mempunyai kesamaan kepentingan dan kondisi lingkungan baik sosial. Budaya masyarakat yang berpotensi untuk mengendalikan kebakaran hutan adalah membuat “sako” dan “naik bano”. ekonomi. Kebakaran hutan terjadi di Kalimantan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Sedangkan ”naik bano” adalah kesepakatan adat untuk tidak menggunakan api untuk pembersihan lahan pada periode tertentu.

Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. makalah ini mencoba untuk menyampaikan kajian awal terhadap perlakuan-perlakuan jarak tanam dalam hubungannya dengan peningkatan produksi. HTI. tetapi juga akan menghadapi peningkatan biaya dan problem teknis pembuatan pola tanamnya. khususnya di Kalimantan Selatan. biaya dan daur serta struktur tegakannya. hutan kemasyarakatan. tumpang tindih dengan penggunaan lahan lain seperti pertambangan dan perkebunan. Jarak Tanam. Pembangunan HTI A. sehingga secara langsung lebih meningkatkan nilai ekonomi jenis ini dibandingkan ketika awal pengembangannya. dan tidak sedikit tegakan dengan riap jauh di bawah target tersebut. Peningkatan kerapatan tegakan memang akan meningkatkan produksi dan menurunkan diameter rata-ratanya. mulai dikembangkan di Kalimantan Selatan pada tahun 1985. hal ini diduga sebagai akibat dari variasi faktor edafis (Simpson. -Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor.mangium tersebut salah satunya adalah peningkatan kerapatan tegakan dan penurunan daur. Kondisi pertumbuhan di lapangan sangat beragam walau berada dalam hamparan yang relatif berdekatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan model kelembagaan berbasiskan masyarakat membutuhkan proses yang cukup panjang dengan membangun tata nilai bersama agar bisa diakui dan didukung oleh semua pihak. Sebagai akibat meningkatnya nilai ekonomi kayu A. Saat ini sebagian besar tanaman ditujukan untuk kayu pertukangan (furniture). Di Kalimantan Selatan saat ini hanya HTI Hutan Rindang Banua (dulu PT Menara Hutan Buana) yang masih tetap sebagai HTI pulp. pihak pengelola HTI dihadapkan pula pada problem tataguna lahan seperti klaim area tanam oleh masyarakat sekitar. Berdasarkan paradigma Social Forestry tersebut maka keberhasilan pembangunan kehutanan sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dalam berkontribusi terhadap upaya pengelolaan 159 . permasalahan pemagaran lahan dengan kawat berduri dan pengembalaan liar oleh sebagian anggota sehingga membangun tata nilai bersama menjadi suatu kesepakatan dibentuknya lembaga (4 kelompok tani hutan) dan beberapa aturan interen/kesepakatan bersama. Dian OPTIMALISASI HASIL MELALUI PENGATURAN JARAK TANAM HTI ACACIA MANGIUM UNTUK PRODUKSI KAYU PULP / Dian Lazuardi. Kata kunci : kelembagaan. target produksi umumnya didasarkan pada riap 25m kubik/ha/th pada daur 8 tahun. Oleh karena itu. Halaman 39-47 . Upaya peningkatan produktivitas tegakan A. upayaupaya tersebut sangat memerlukan suatu kajian serius melalui hasil penelitian dan ujicoba-ujicoba lapangan sebelum mengaplikasikannya. Permasalahan ini dapat diatasi melalui upaya perbaikan tegakan (stand improvement) yang menyangkut peningkatan produktivitas dan secara bersamaan menghasilkan struktur tegakan sedemikian rupa yang mengurangi proporsi kelas diameter +20 cm. Kejadian ini sudah tentu akan mengakibatkan tidak tercapainya target produksi yang telah ditetapkan.q Departemen Kehutanan pada bulan Juli 2003 dicanangkanlah program Social Forestry sebagai upaya perbaikan kondisi hutan di Indonesia sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan.mangium untuk tujuan kayu pulp. Gessel and Harrison. dan secara luas pada tahun 1992 dalam bentuk HTI. -. Kristian STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN / Kristian Mairi. Menindaklanjuti hal itu oleh pemerintah c.mangium. maka gangguan pencurian pohon berukuran 20 cm ke atas menjadi problem tambahan. Adanya kedekatan lahan garapan. 1992. 2006 Bertitik tolak dari UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dimana masyarakat diberi kesempatan untuk ikut mengelola kawasan hutan sebagai alternatif bentuk pengelolaan hutan oleh masyarakat adalah merupakan inti dari konsep Social Forestry yang sekarang ini menjadi paradigma baru dalam pembangunan sektor kehutanan. kelompok tani hutan Lazuardi.Partisipatif). Realitasnya. 6 Desember 2006 . riap ini merupakan riap dari tegakan berkualitas baik.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Inti dari program Social Forestry adalah masyarakat terlibatkan aktif secara langsung dalam pengelolaan hutan dengan tujuan masyarakat bisa sejahtera dan kondisi hutan bisa lebih baik. Kata kunci: Acacia mangium. 1992). 2006 : Halaman 189-208 . Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas. Pada awalnya tujuan produksi adalah kayu pulp. Selain dihadapkan pada rendahnya produktivitas tegakan. Kayu Pulp Mairi. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu jenis tumbuh cepat (fast growing species) dari famili Leguminosae.

Perlakuan yang diberikan meliputi komponen-komponen teknologi yang mendukung pengembangan model. dan penanganan pasca panen. Diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat mengawal proses sebuah kemajuan teknologi pengembangan hutan tanaman berbasis social forestry ini. Padahal aspek kelembagaan mempunyai peranan sangat besar bagi kesuksesan pembangunan hingga dapat dikatakan bahwa kegagalan pembangunan umumnya dikarenakan lemahnya kelembagaan yang ada termasuk sektor kehutanan. Musi Hutan Persada menunjukan bahwa usaha hutan tanaman Acacia mangium berbasis social forestry menguntungkan dari sisi finansial dan menghasilkan manfaat sosial ekonomi ganda. kesulitan memperoleh modal dan akses pemasaran yang belum memadai. Percobaan ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan produktifitas lahan dan pendapatan petani melalui model wanafarma sengon+Jahe. 6 Desember 2006 .hutan dan kualitas sumberdaya manusia yang mendukungnya. 160 . Dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan dimasa yang akan datang sebagaimana semangat dalam program Social Forestry maka hal yang sangat urgen dilakukan adalah membangun. pemeliharaan. Penelitian ini dilaksanakan untuk jangka 5 tahun yang dimulai pada tahun 2004. -. Proses pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya bagaimana masyarakat itu dapat mengenal dan merefleksikan permasalahannya sendiri. Siarudin.antara lain: Seleksi benih. Studi kasus yang dilakukan di PT. Yamin UJI COBA TEKNIK PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DENGAN MODEL AGROFORESTRY POLA WANAFARMA SENGON+JAHE / M. pengendalian hama dan penyakit. Edwin PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN ACACIA MANGIUM BERBASIS SOCIAL FORESTRY / Edwin Martin.penyiapan lahan. dan pemanenan. pemupukan. Pelajaran dari perkembangan hutan tanaman Acacia mangium telah mengisyaratkan bahwa integrasi antara industri. 2006 Setelah hampir seperempat abad tumbuh di Sumatera Selatan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. persemaian. Pemberdayaan masyarakat Martin. Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. 2006 Serangkaian penelitian dan pengembangan mengenai model wanafarma telah dilaksanakan di lokasi penelitian Loka Litbang Hutan Monsoon di Kecamatan Cilacap Jawa Tengah. Social Forestry Mile. Pada kenyataannya di lapangan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kehutanan masih lemah karena belum didukung oleh kelembagaan masyarakat yang kuat antara lain pengetahuan dan ketrampilan yang rendah. Salah satu pola tanam yang diujicobakan adalah kombinasi antara tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) (L) Nielsen) dan Jahe (Zingiber afficinale). Yamin Mile dan M. memperkuat dan mengembangkan kelembagaan masyarakat yang terkait dengan pembangunan kehutanan. dengan berbagai kemajuan teknologi silvikultur dan pemuliaan pohon akhirnya Acacia mangium membuktikan bahwa meskipun eksotik ia mampu menjadi komoditas utama hutan tanaman. Saat ini.Dalam upaya pengembangan kualitas masyarakat khususnya yang bermukim di dalam dan sekitar hutan agar maju dan mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan. Hasil sementara penelitian ini menunjukan bahwa beberapa input teknologi yang diterapkan berperan penting pada penyempurnaan model dalam bentuk pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman pohon dan peningkatan hasil tanaman pertanian. Halaman 46-61 . penanaman. M.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. yang perlu dibuktikan oleh Acacia mangium adalah kemampuannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak lagi sekedar sebagai jenis utama dalam rehabilitasi tetapi harus mampu menjadi tanaman industri masyarakat. Hutan tanaman. Kata kunci: Acacia mangium. Ujicoba model diterapkan melalui plot-plot percobaan yang didesain di lokasi penelitian. Rehabilitasi lahan. -. hutan tanaman dan masyarakat saat ini bersifat layak dan perlu dilaksanakan. 6 Desember 2005 . Penanaman jenis pohon pada lahan milik untuk kepentingan industri dapat disebut sebagai social forestry. maka strategi pemberdayaan masyarakat dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan mutlak dilaksanakan. Halaman 2338 . Program penanaman Acacia mangium pada lahan milik memiliki banyak keunggulan dibanding program hutan tanaman konvensional/pada areal konsesi. sistem pengorganisasian yang belum sempurna. potensi diri dan lingkungannya serta memotivasi dalam mengembangkan potensi tersebut secara proporsional dengan cara/metode partisipatip.

Untuk itu perlu adanya konsepsi yang jelas mengenai pengelolaan lahan serta langkah-langkah strategis dalam upaya meningkatkan produktifitas hutan rakyat. kurangnya permodalan. Wanatani. Yamin KONSEPSI PENGELOLAAN LAHAN DAN LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS HUTAN RAKYAT / M. serta sempitnya lahan usaha yang dimiliki. Beragam pola hutan rakyat ditemukan di masyarakat sesuai dengan keinginan masing-masing petani. 13 September 2005 . -. Dalam rangka implementasi kegiatan Social forestry tersebut Pemerintah Kabupaten mengintrodusir suatu pola baru yang belum banyak dikenal sebelumnya oleh masyarakat yakni Tumpangsari antara tanaman pokok Kehutanan dengan tanaman rami yang dikenal dengan istilah Agroforestry Haramai. Perkembangan hutan rakyat khususnya tanaman sengon menjadi dominan karena tersedianya pasar yang menampung hasil hutan rakyat tersebut. Apabila hutan rakyat ini diarahkan pada pengembangan suatu unit agribisnis. sebagian besar dikelola seadanya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan permodalan yang dimiliki petani. Hal ini disebabkan antara lain karena tingkat penguasaan technologi petani yang masih sederhana. Kata kunci: Pengelolaan lahan. Dari hampir semua pola yang dijumpai di lapangan. b) tidak terdistribusinya manfaat sumberdaya hutan secara adil kepada masyarakat sekitar hutan. dan penanganan pasca panen). Dengan kondisi seperti di atas pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari mengalami ketidakpastian sampai saat ini. dan Lingkungan. Wanafarma. Pengelolaan hutan rakyat secara intensif belum banyak dilakukan oleh petani. sementara laju deforestation mencapai 1. pemeliharaan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Hutan Rakyat. Rami. pendekatan kelola usaha yang menyeluruh dan konprehensif hanya perlu dilakukan dengan jalan penerapan teknologi tepat guna dan managemen pengelolaan yang sesuai. Konsekwensi dari orientasi industri berskala besar tersebut berdampak pada beberapa aspek antara lain: a) belum diperhitungkannya variable sosial ekonomi dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan. Pada musim hujan bencana tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di berbagai tempat yang mendatangkan kerugian yang tidak sedikit.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. pemanenan. -. baik pasar domestik maupun pasar internasional. Tanaman rami (Haramai) adalah sejenis tanaman serat berbentuk perdu yang sesuai baik di dataran rendah maupun di daerah ketinggian seperti Garut. 2005 Hutan rakyat saat ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu titik tumpuan ekonomi penduduk yang tinggal di Pulau Jawa (FKKM. 6 Desember 2005 . Halaman 139-151 . Jahe. dalam tulisan ini dikemukakan kajian pengembangannya ditinjau dari aspek teknis.Berbagai study mengenai peranan hutan rakyat terhadap tingkat pendapatan masyarakat telah banyak dilakukan. Sosial ekonomi. Halaman 123-131 . Kondisi ini menyebabkan lahan hutan semakin kritis sehingga tidak berfungsi lagi sebagai pengatur tata air. Langkah strategis Mile. Di Kabupaten Garut ketidakpastian pengelolaan hutan secara lestari sangat dirasakan. Dengan terbukanya peluang pasar akan hasil hutan rakyat berupa kayu dan non kayu. Hutan Rakyat Mile. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi sebagai bahan baku industri tekstil serta memberikan pendapatan yang relatif cepat bagi masyarakat. 2003). Hut. Kata kunci: Social Forestry. M. Mengingat model ini belum banyak dikenal oleh masyarakat.6 juta ha/tahun (Direktorat Bina Hutan Kemasyarakatan Dep. M. 1999). Kawasan hutan dirambah untuk dijadikan usaha tani tanaman sayur-sayuran tanpa tindakan konservasi tanah sehingga terjadi aliran permukaan dan erosi yang besar. Kabupaten Garut 161 . penanaman. Yamin PENGEMBANGAN SOSIAL FORESTRY DENGAN POLA WANATANI RAMI DI KABUPATEN GARUT: MENDUKUNG KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN / Ismatul Hakim.Kata kunci: Agroforestry. Adanya jaminan pasar ini menyebabkan petani tidak ragu untuk menanam jenis pohon komersial di lahan milik mereka yang sempit karena dirasakan menguntungkan apalagi dilakukan dengan jalan tumpangsari (Agroforestry). Yamin Mile. Sengon. c) meningkatnya konflik pengelolaan sumberdaya hutan. 2005 Selama lebih dari tiga dasawarsa sumber daya hutan telah memberikan kontribusi yang nyata sebagai penggerak roda perekonomian nasional melalui pengelolaan hutan berbasis kayu yang menekankan exploitasi hutan oleh industri berskala besar. maka produktifitas hutan rakyat perlu ditingkatkan menjadi unit usaha yang dikelola secara intensif mulai dari pemilihan jenis sampai pada sistim produksi (penyiapan lahan.

Menurut Asdak (1995) vegetasi hutan sangat berperan dalam daur hidrologi sebagai penahan air sebelum mencapai permukaan tanah untuk kemudian diserap dalam proses infliltrasi. Sosial Forestry.Belum adanya kelembagaan seperti koperasi dalam melakukan penjualan. Yamin Mile dan M. Siarudin. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi hutan di bagian hulu DAS tersebut. PENATAAN RUANG DAN SOSIAL FORESTRY DAN PANTAI SELATAN CIAMIS PASCA TSUNAMI / M.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Beberapa hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang lurus dan nyata antara keberadaan hutan dengan berkurangnya jumlah titik mata air (Zaini. 2005). Pada umumnya penjualan kayu sengon terbatas hanya olahan sederhana yang berupa kayu palet atau kayu persegian. Fitri PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI BAGIAN HULU DAS BRANTAS HULU: SEBAGAI PENGATUR TATA AIR / Fitri Nurfatriani.Untuk mewujudkan tujuan tersebut. Model jalur hijau untuk daerah pemukiman. 3). Sedangkan blok pemanfaat dirancang untuk pengembangan social forestry di wilayah pantai.2006 . akibatnya harga yang diterima petani jauh lebih murah. Penentuan volume produksi dilakukan oleh pembeli. Dengan demikian keberadaan hutan sangat krusial dalam satu siklus hidrologi yang tergambar dalam kondisi tata air di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Rehabilitasi. sehingga mampu mengurangi resiko dari masalah menunggu hasil investasi tersebut.biaya ekonomi finansial. 2006 : Halaman 227-244 . Kata kunci: Jalur Hijau. Tasikmalaya Nurfatriani. Yamin PENGEMBANGAN MODEL DAN DESAIN JALUR HIJAU DALAM RANGKA REHABILITASI. mengakibatkan posisi tawar petani cukup rendah karena volume produk yang dijual sangat terbatas. Analisis ekonomi partisipasi. Model jalur hijau untuk kawasan wisata. Para pelaku perlu mencari suatu pola investasi yang cepat menghasilkan yang dirancang khusus untuk merespon kebutuhan sumber pendapatan. yakni: 1). Kata kunci: Kayu Sengon. terutama bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. M. 2006 Berbagai teori telah dikemukakan oleh para ahli yang menyatakan berbagai fungsi hutan sebagai salah satu unsur dalam system penyangga kehidupan. pemerintah merencanakan untuk mengadakan upaya rehabilitasi kawasan pantai melalui pembangunan jalur hijau di sempadan pantai.2006 . paling tidak ada tiga pendekatan yang harus dirancang secara tepat sehingga mampu menjawab tantangan tersebut. Halaman 97108 . Agribisnis. Hal ini perlu mendapat perhatian serius. kab. masing-masing model terdiri dari blok inti dan blok pemanfaat. Dedi PROSPEK PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DI KABUPATEN TASIKMALAYA / Dedi Natawijaya. Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting 162 . 4). -. 2). Halaman 7284 . Masalah banjir dan kekeringan diyakini sebagai dampak dari system tata air di wilayah DAS yang buruk. -. -. Ciamis Natawijaya.Analisis ekonomi lingkungan dan (3). terutama dari pihak swasta (melalui kemitraan bisnis) dan pemerintah (dengan kebijakan subsidi dan bantuan modal usaha). khususnya di Pantai Selatan Kabupaten Ciamis. Petani lebih suka menjual kayu dalam bentuk gelondongan dengan system borong kebun. Untuk maksud tersebut dalam tulisan ini dikemukakan empat rancangan model jalur hijau yang dapat dikembangkan. (2). Blok inti dirancang dengan fungsi utama sebagai jalur perlindungan (sheler belt). 2006 Salah satu permasalahan utama dalam pola investasi hutan rakyat adalah masa menunggu hasil dari proses investasi yang dilakukan. Untuk menanggulangi kerusakan tersebut dari aspek kehutanan.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Model jalur hijau untuk kawasan mangrove.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Hutan mempunyai fungsi menyerap air melalui proses fotosintesa dan menyimpannya dalam perakaran dalam tanah.Mile. Bahkan masih ditemukan adanya system penjualan dengan system ijon yang sesungguhnya sangat merugikan pihak petani. Model jalur hijau untuk kawasan konservasi. Belum ada variasi produk olahan kayu yang lain yang dapat memberikan tambahan nilai jual bagi petani. 2006 Bencana tsunami yang terjadi pada bulan Juli 2006 di Pantai Selatan Pulau Jawa telah menimbulkan kerusakan yang serius. ketiga pendekatan itu adalah (1) analisis manfaat. Kab.

1995). Makalah ini mencoba menyajikan secara ringkas hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penelitian untuk DAS Cicatih yang bertujuan untuk menggali informasi mengenai kondisi biofisik DAS yang meliputi fungsi dan jasa lingkungan DAS. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami konsep nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif. dan sampai saat ini masih dapat berlangsung bersamaan dengan pemanfaatan air untuk PDAM dan oleh penduduk setempat yang telah lebih dulu memanfaatkan sumber-sumber air yang ada.58%) dari total luas hutan Sumatra Selatan adalah hutan produksi. Terdapat kecenderungan produksi kayu semakin menurun karena berkurangnya potensi hutan alam dan maraknya illegal logging. sebagian besar (66. Dari hasil studi. Kata Kunci: Produksi kayu. Indartik. serta mempelajari aspek sosio-ekonomi dan persepsi masyarakat terkait dengan kompensasi konservasinya atas dasar rasa keadilan yang saling menguntungkan. 2006 Informasi tentang produksi dan peredaran kayu penting untuk diketahui dalam rangka memahami mekanisme pasar dalam memenuhi permintaan kayu.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No.1 .2 . -. ekonomi. 2) Produksi kayu. Berbagai teknik dan metode penilaian ekonomi sumberdaya alam (SDA) telah dikembangkan untuk menghitung nilai ekonomi SDA yang memiliki harga pasar ataupun tidak. sehingga aktivitas perubahan tata guna lahan yang dilaksanakan di daerah hulu DAS tidak hanya akan berpengaruh dimana kegiatan tersebut berlangsung (hulu DAS) tetapi juga akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan lainnya (Asdak. Akibatnya untuk memenuhi bahan baku maka industri mandatangkan bahan baku dari luar Sumatra Selatan. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk menjelaskan konsep nilai ekonomi total dan berbagai metode yang digunakan untuk menilai manfaat SDH dan lingkungan.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Nunung PRODUKSI DAN PEREDARAN KAYU (STUDI KASUS DI SUMATERA SELATAN)/ Nunung Parlinah .Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. nilai.karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS yaitu dari segi fungsi tata air. untuk mendapatkan total kesejahteraan masyarakat yang maksimal. khususnya untuk manfaat intangible yang tidak memiliki harga pasar. DAS cicatih dengan luas 53 ribu haktar memiliki 163 . tetapi juga untuk propinsi lain. sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi manfaat-manfaat yang telah dikenal dari SDH secara berlebihan. Lokasi yang dipilih sebagai studi kasus adalah Sumatra Selatan. Dengan diketahuinya manfaat dari SDH ini maka hal tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam (SDA) yang semakin langka dan melakukan distribusi manfaat SDA yang adil. [et. atau belum diketahui. 2006 Perkembangan beberapa dekade terakhir di Kecamatan Cidahu dicirikan oleh tumbuhnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang memanfaatkan sumber mata air dan sumur air bumi. 3) Pasar Kayu.Hidayat INDIKATOR BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI JASA LINGKUNGAN DAS: STUDI KASUS DAS CICATIH-CIMANDIRI/ S. pasar kayu. DAS Brantas Hulu Nurfatriani. Halaman 1-16 . industri. manfaat Parlinah. Untuk itu tulisan ini dibuat sebagai gambaran mengenai kondisi hutan di bagian hulu DAS Brantas Hulu khususnya dalam kaitannya sebagai daerah resapan air. dan 4) Peredaran kayu.]. sedangkan pasar kayu Sumatra Selatan relatif tinggi. 2006 : Halaman 1-16 . Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai rendah.al. Sementara itu produksi kayu dari Sumatra Selatan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal. -. Kata kunci : Hutan. -. Empat poin yang perlu dianalisis : 1)Luas hutan. Halaman 151-159 . Hulu DAS. 2006 Sumberdaya hutan (SDH) menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible.. Hidayat Pawitan . peredaran kayu Pawitan. Fitri KONSEP NILAI EKONOMI TOTAL DAN METODE PENILAIAN SUMBERDAYA HUTAN (Total Economic Value concept and Forest Resource Valuation Method) / Fitri Nurfatriani. Kata kunci: Kawasan Hutan. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini.. diindikasikan dengan tingginya kapasitas industri terpasang.

Air.647. Debit terukur pada stasiun Ubrug selama 1999-2005 terendah tercatat sebesar 5. Hutan lindung sesuai fungsinya ditujukan untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Nilai Ekonomi. Hutan Lindung Baturaden Purwanto ANALISIS KARAKTERISTIK PARAMETER SOSIAL EKONOMI UNTUK PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JANGKA PANJANG: STUDI KASUS DAS SERAYU / Purwanto. Data curah hujan dan debit air sungai dihitung berdasarkan rata-rata bulanan dan data nilai ekonomi air dihitung berdasarkan fungsi produksi untuk air irigasi dan rente ekonomi untuk air yang digunakan PDAM Kabupaten Banyumas. Sosial Ekonomi Purwanto KAJIAN NILAI EKONOMI HASIL AIR DARI HUTAN LINDUNG BATURADEN / Purwanto. Akibatnya penghargaan atau pengelolaan hutan lindung kurang optimal. Terdapat indikasi kuat bahwa penduduk lokal cenderung menghemat sumber daya air DAS Cicatih dan bersedia menanggung biaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan jasa lingkungan DAS hulu.Hutan lindung Baturaden Rp. dan memelihara kesuburan tanah. adil dan memberdayakan daerah. mengendalikan erosi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi nilai provisi pemanfaatan sumberdaya air. Nilai ekonomi air baku untuk PDAM dari : 1).(et.04 juta ha atau 27. 2). Kualitas air dari seluruh lokasi penelitian dapat digunakan untuk air baku minum. Hutan Lindung. dan Dewi Retna Indrawati. Demikian juga sistem kakarkteristik DAS sebagai dasar dalam perencanaan pengelolaan DAS yang sekarang ada 164 .Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. Hal yang sama perlu dilakukan oleh perusahaan AMDK di Cidahu untuk turut berperan dalam program konservasi DAS hulu.963. 2006 Hutan lindung di Indonesia seluas 29. -. -.-/ha/tahun Kata kunci: DAS. indept interview dan diskusi dengan para pengguna.50 m kubik/tahun. 2006 : Halaman 85-97 . 2005 Setiap DAS memiliki sifat atau karakteristik berbeda-beda dalam memberikan tanggapan atau respon masukan air hujan menjadi hasil air.2) Data nilai ekonomi air dikumpulkan melalui survey. Jasa Lingkungan.al). 13 September 2005 . hutan (21 persen) dan sebagian besar sisanya berupa lahan pertanian. Biofisik.063. mencegah intrusi air laut.69 persen dari total luas hutan.25 m kubik/s (24/08/2002) dan terbesar 209.05 m kubik/s (8/02/2001).. baik sifat alami maupun sifat yang terbangun sebagai hasil intervensi manusia. 310.Nilai ekonomi air dari hutan lindung di hulu Sub DAS Pelus (Baturadden) Rp. sebaliknya karakteristik komunitas manusia juga dipengaruhi oleh karakteristik alam sekelilingnya. Salah satu produk hutan lindung adalah air yang pada saat ini sebagian besar masih merupakan barang publik walaupun di beberapa tempat telah menjadi barang ekonomi seperti yang dimanfaatkan untuk air mineral. (2) Diketahuinya nilai ekonomi air hutan lindung Baturaden. Manusia sendiri dalam sistem komunitasnya sebagai pengelola sumberdaya alam DAS juga memiliki karakteristik yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap karakteristik bio-fisik DAS.. mencegah banjir. seperti pada mata air Cibuntu (695 liter/s) dan Cipanas (2584 liter/s atau < 1000 liter/s). Paimin. 23.00. Dengan demikian karakteristik DAS terbangun sebagai hasil menyeluruh dari interaksi atau hubungan timbal balik antar unsur-unsur sumberdaya alam sendiri dan antara unsur alam dengan manusia. Kata kunci: DAS. Dengan diberlakukannya otonomi daerah maka kewenangan pengelolaan DAS pada setiap jenjang hierarki perlu diselaraskan dengan kewenangan pemerintah otonomi. Sasaran kajian (1) Diketahuinya hasil air dari hutan lindung Baturaden.curah hujan tahunan sebesar 2970 mm dengan geologinya yang spesifik telah menghasilkan banyak sumber mata air dengan kapasitas yang cukup besar. Pengelolaan sumberdaya air perlu lebih mendapat perhatian dengan pertimbangan adanya pola musiman dan meningkatnya kebutuhan air untuk penggunaan air non-tradisional. khususnya dari mata air dan airbumi. dalam kerangka kebijakan otonomi daerah dan sistem perpajakan yang lebih transparan. Penutupan lahan didominasi oleh perkebunan (45 persen).-/m kubik. Halaman 163-175 .500. Rata-rata hasil air dari hutan lindung dalam tiga tahun (2003 s/d 2005): hulu Sub DAS Pelus 191. Hasil sementara menunjukan nilai koefisien limpasan tahunan yang relatif tinggi. Nilai ekonomi hutan lindung yang bersifat intangible belum banyak dilakukan perhitungan sehingga nilai jasa hutan lindung sering dihargai kecil. Sasaran penelitian adalah diketahuinya nilai ekonomi hasil air dari hutan lindung. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Data curah hujan dan debit air diperoleh dengan pemasangan plot dan pengukuran curah hujan dan debit air.

Mangium yang telah dilaksanakan oleh Puslitbang Hutan Tanaman. dan pemanenan.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. seyogyanya sistem karakterisasi DAS lebih mengedepankan pendekatan yang praktis dan ekonomis dari pada pendekatan teoritis dan akademis seperti disarankan Sheng (1986. keperluan data yang segera dan akurat akan segera terlayani apabila sistem data dan informasi DAS telah terbangun dalam suatu sistem pengelolaan yang mapan dan selalu dilakukan pemutakhiran.Data dan Informasi pengelolaan DAS yang sampai saat ini terkumpul belum dikelola secara mapan dalam sistem informasi pengelolaan. 2006 Acacia mangium merupakan salah satu fast growing yang banyak dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman di Indonesia. maupun monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS secara efektif dan efisien disamping memberikan pengingatan dini kemungkinan terjadinya bencana alam pada setiap tingkatan pengelolaannya. Diharapkan hasil penelitian yang diperoleh juga bisa membantu penyelenggaraan otonomi daerah di bidang pengelolaan DAS sesuai dengan jenjang kewenangannya.000 hektar hutan tanaman A. penelitian penyakit serta penelitian biologi molekuler. Sampai dengan tahun 1999. Mengingat terbatasnya waktu.perlu ditelaah ulang agar memiliki kompatibilitas dengan institusi terkait pada setiap jenjang kewenangannya. Padahal kondisi lapangan berkembang secara dinamis yang harus selalu diikuti agar data dan informasi tersaji selalu sesuai dengan kondisi terkini. Dengan disempurnakannya sistem karakterisasi DAS yang disertai dengan sistem informasi akan membantu pengelola dalam melakukan perencanaan. industri kehutanan menghadapi tantangan yang mensyaratkan terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri dengan kualitas tinggi dan dalam jumlah yang memadai yang dihasilkan dari tegakan-tegakan yang dikelola secara lestari. Seperti dalam program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang dicanangkan mulai tahun 2003. Dalam era kompetisi global yang semakin intensif saat ini. serta masih lemahnya sistem informasi pengelolaan DAS. manajemen tegakan. terutama konsistensi sistem karakteristik yang sesuai dengan hierarki sistem perencanaan/pengelolaan DAS. Halaman 1-6 . pembangunan gain trial. 6 Desember 2006 . Memasuki pembangunan hutan tanaman A. Teknologi Pemuliaan 165 . dan sumberdaya manusia. DAS. Mangium ini diperkirakan akan semakin luas sejalan dengan kebijakan Departemen Kehutanan yang menetapkan sasaran fasilitas pembangunan hutan tanaman seluas 5 juta hektar. sehingga setiap kali diperlukan secara cepat masih sulit diperoleh secara memadai. meliputi kegiatan: teknologi pembangunan kebun benih generasi pertama dan kedua. manajemen penyiapan lahan. manajemen tapak dan nutrisi. manajemen hama dan penyakit. khususnya dalam menjaga peningkatan kualitas dan produktivitas tegakan dalam jangka panjang. -. Pembangunan hutan tanaman A. sumber dana. Kata kunci: Acacia mangium. Mangium pada rotasi kedua. tingkat biaya yang rendah serta ramah lingkungan. Dalam resume makalah ini maka disampaikan beberapa kegiatan penelitian beberapa input teknologi penunjangnya dalam penelitian pemuliaan A. Hal tersebut menunjukan masih lemahnya sistem karakteristik DAS yang selaras dengan kewenangan otonomi daerah. Beberapa upaya yang perlu ditempuh dalam menghadapi tantangan tersebut antara lain konsistensi pemakaian benih unggul hasil dari serangkaian kegiatan pemuliaan. Kata kunci: Daerah Aliran Sungai. Untuk membangun formula sistem tersebut diperlukan serangkaian data dan informasi yang diperoleh melalui penyelenggaraan penelitian dan pengembangan. lebih dari 800. Mangium di Indonesia sebagai pemasok kebutuhan bahan baku industri kehutanan diharapkan akan mampu bersaing dalam kompetisi tersebut. maka pengembangan sistem karakterisasi tingkat sub DAS harus dilakukan secepat mungkin. beberapa tantangan baru mulai muncul. Tulisan ini merupakan eksplorasi peran parameter sosial ekonomi dalam karakterisasi daerah aliran sungai sebagai landasan dasar penyusunan sistem perencanaan jangka panjang pengelolaan DAS (perencanaan 15 tahunan). Mangium rotasi kedua. baik untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri maupun rehabilitasi lahan. Sosial Ekonomi Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman TEKNOLOGI PEMULIAAN ACACIA MANGIUM / Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Namun melihat laju perkembangan lahan kritis dalam wilayah DAS yang cukup besar. Mangium telah dibangun dengan tujuan utama sebagai pemasok kebutuhan bahan baku bagi industri pulp dan kertas. pelaksanaan.1990) Cara pendekatan ini bisa diistilahkan dengan 'sidik cepat degradasi DAS'. penelitian hibridisasi dan penyerbukan buatan. Pembangunan hutan tanaman A. Saat ini beberapa perusahaan telah mengelola hutan tanaman A.

8 ton. 185 cm. Paraserianthes falcataria. Nilam.1 ton daun basah/ha diperoleh daun kering kurang lebih 2. Produksi daun basah nilam dari ujicoba ini diperoleh 5. Kecamatan Sariwangi.200 mm/tahun dan suhu rata-rata 25 derajat C. Hutan Rakyat Rachman.67 cm dan 0.72 cm. sedangkan untuk penanaman nilam dilakukan serentak pada seluruh petak dalam bentuk jalur diantara tanaman sengon. Penelitian dilakukan di persemaian Loka Litbang Hutan Monsoon dengan menggunakan benih sengon dari 7 asal benih (provenans).6 cm dan persentase hidup 52 persen. Hama. Penelitian ini dilaksanakan pada areal hutan rakyat milik petani di Desa Sukamulih. Pada umur 6 bulan masingmasing ulangan tersebut meningkat menjadi 187 cm. masing-masing anak petak dengan tiga ulangan menghasilkan rata-rata diameter masing-masing 0. Kata kunci: Agroforestry. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tingkat semai sengon dari tujuh asal benih dan jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman sengon tersebut di persemaian.1 cm dan persen hidup 90.73 cm. Jenis Penyakit yang ditemukan di persemaian adalah Oidium sp (Embun tepung) Kata kunci: Sengon. Hasil penimbangan dari 100 kg daun basah diperoleh sebanyak 55 daun kering. dan 2. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 700 m dpl dengan curah hujan sebanyak 1.67 cm. pertumbuhan tinggi terbaik berasal dari Candiroto dengan pertambahan tinggi rata-rata 35. Persemaian 166 . 2005 Salah satu masalah penting yang perlu diatasi dalam pengembangan dan pengelolaan hutan rakyat adalah pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit. Halaman 114-122 .Rachman.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya.68 cm. kupu-kuning (Eurema spp) dan Belalang (Valanga sp). dan 193 cm. Jenis hama yang menyerang semai sengon adalah Ulat kantong (pteroma plagiophelps). Biak. Plot ujicoba dirancang dengan pola rotasi pembentukan struktur tegakan normal tanaman sengon dan nilam . 86.1 ton/ha.66 cm.16 cm. dan Pteroma plagiophelps dibandingkan semai provenan Kediri. Wonogiri. Endah Suhendah. Hasil pengamatan diketahui bahwa pada umur semai 4 bulan dengan tiga kali pengukuran. baik pada umur tanaman yang masih muda (semai) maupun pada tegakan di areal hutan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umur 3 bulan tanaman sengon pada petak penanaman tahun pertama.2. Kabupaten Tasikmalaya. Sehingga dari 5. Encep PERTUMBUHAN TUJUH PROVENAN SENGON (Paraserianthes Falcataria) DAN IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT DI PERSEMAIAN / Encep Rachman. 6 Desember 2005 . Intensitas serangan Eurema spp. Subang dan Ciamis. Semai provenan Wamena rentan terhadap serangan hama Eurema spp. Sedangkan pada umur 6 bulan setiap anak petak menghasilkan diameter rata-rata masing-masing 2. Candiroto.80 cm. -.5 persen dan yang terendah adalah benih sengon yang berasal dari Wonogiri dengan pertambahan tinggi rata-rata 16. Penyakit. 2005 Tujuan penelitian adalah merakit paket teknologi agroforestry Nilam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi maksimun dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Yamin Mile. -Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. 6 Desember 2005 .76 cm dan 83. 0.Sedangkan sasaran penelitian yang ingin dicapai adalah terjadinya peningkatan produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan pada areal hutan rakyat/lahan petani yang sempit. Penanaman sengon dibagi dalam 6 rotasi tahunan. Data tinggi tanaman sengon berumur 3 bulan dari 3 anak petak dengan 3 ulangan masing-masing menghasilkan 87. cukup tinggi yaitu sebesar 30 persen dan lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas serangan Pteroma plagiophelps dan Valanga spp. Halaman 62-78 . Encep PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT DENGAN POLA AGROFORESTRY NILAM / Encep Rachman dan M. dan Rusdi.

167 . sering menimbulkan konflik kepentingan antara daerah hulu dan hilir. Masyarakat yang memperoleh manfaat atas pengelolaan DAS wajib menanggung biaya pengelolaan berdasar prinsip kecukupan dana (cost recovery). 2) perumusan mekanisme kerjasama. Hal ini berarti bahwa harus ada komitmen yang kuat upaya dari setiap daerah untuk melakukan kegiatan pengelolaan DAS.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Pengukuran diameter. Halaman 121-124 . bagi industri perkayuan sangatlah penting. dan 5) diberlakukan reward dan punishment untuk memacu tanggung jawab tiap wilayah untuk melaksanakan pengelolaan DAS. Satu daur rotasi adalah daur/rotasi volume maksimum. -. Di samping itu. struktur volume. 2006 Pegelolaan tegakan hutan adalah bagaimana mengelola hutan dalam rangka mendapatkan hasil yang tinggi dalam pemanenan. pakar sektor bisnis serta pemerintah dari pusat sampai daerah. jumlah batang. 3) perlibatan berbagai aktor seperti LSM. -. Kata kunci: Pengelolaan DAS. 2006 Air yang merupakan sumberdaya yang mengalir (flowing resource) dari hulu ke hilir dan wilayah DAS yang tidak mempunyai batas yang bertepatan dengan batas wilayah administrasi. 2005 Keberadaan hutan rakyat atau hutan milik sebagai salah satu alternatif penyedia kayu. Waktu periode dari daur/rotasi tebang tergantung pada karakteristik pertumbuhan jenis. Disayangkan hutan rakyat tersebut memiliki produktivitas yang rendah. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan konservasi tanah dan air di bagian hulu DAS dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan adanya biaya dari stakehorders yang mendapat manfaat sebagai akibat adanya kegiatan tersebut. Lokasi survey adalah di Desa Jonggolsari. sedang masyarakat hilir dengan membuat bangunan resapan. bersamaan dengan makin menurunnya produktivitas hutan alam dari tahun ke tahun. 13 September 2005 . Untu meningkatkan produktivitasnya melalui optimalisasi pengelolaan adalah dengan mengetahui dimensi strukturnya. dan jumlah serta jenis tanaman lainnya adalah kegiatan utama dalam penelitian ini. Kabupaten Wonosobo. artinya pihak yang lebih diuntungkan diharapkan dapat memberikan kontribusinya dalam upaya pengelolaan DAS. Panjang dari daur dengan volume tertinggi adalah titik pertemuan umur tanaman ketika rata-rata riap tahunan (MAI) mencapai maksimum. Pengaturan Tegakan Riyanto. dimana masyarakat hulu menjaga kuantitas air dengan jalan konservasi tanah di daerah tangkapan air. 4) peningkatan partisipasi masyarakat lokal pada berbagai tingkat melalui penyuluhan. Dewi KERJASAMA HULU HILIR DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)/ Dewi Retna I. Tata Air Riyanto. hasil yang tinggi tergantung pada daur/rotasi tebang. dalam pengelolaan DAS perlu keterpaduan dan kerjasama antara wilayah hulu dan hilir. Paper ini adalah untuk menentukan umur daur/rotasi tebang berdasar daur rotasi volume maksimum di lokasi Benakat. Halaman 205-215 . Sedayu dan Pecekelan. misi dan kebijakan pengelolaan DAS antar pemerintah kabupaten/propinsi. Data dianalisa secara desktiftif serta disajikan secara gambar grafik untuk struktur tegakan. 2006 : Halaman 177-187 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. perlu ada azas keadilan dalam kerjasama ini. Penelitian ini adalah penelitian observasi melalui survey pada areal pengembangan hutan rakyat. tujuan-tujuan pengelolaan dan pertimbangan-pertimbangan ekonomi. Oleh karena itu. CAI.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. 6 Desember 2006 . Kata kunci: Acacia mangium. Heru Dwi PROFIL HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN WONOSOBO: DITINJAU DARI STRUKTUR TEGAKAN DAN VEGETASI PENYUSUNANNYA / Heru Dwi Riyanto dan Wardojo -. dan hal ini merupakan permasalahan utama yang harus dipecahkan.Retna I. tinggi pohon. Upaya keterpaduan dan kerjasama hulu dan hilir ini dapat dilakukan antara lain dengan masingmasing wilayah menjalankan fungsi dan tugas pengelolaan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada di wilayahnya. Dalam konsep kerjasama hulu hilir pengelolaan DAS ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:1) harmonisasi dan sinkronisasi visi. Umur ini juga berarti antara grafik MAI dengan grafik CAI. Ini mengandung arti ada penanggungan biaya bersama (cost sharing) dalam pengelolaan DAS. MAI. Heru Dwi MAI DAN CAI ACACIA MANGIUM GUNA PENGATURAN TEGAKAN / Haru Dwi Riyanto. dimana pertumbuhan tegakan memberikan hasil tahunan tertinggi.

Oleh karena itu. Hasil menunjukkan bahwa diameter kecil (sampling/pancang) memiliki jumlah yang lebih besar (74 persen) dibanding diameter yang lebih besar (pole/tiang) (23 persen) dan trees/pohon (3 persen). Tateng Sasmita . Hasil kajian oleh Centre For International Forestry Research (CIFOR) tahun 2003 menunjukkan bahwa desentralisasi sektor kehutanan di wilayah potensial seperti Propinsi Riau dan Kalimantan Timur seperti : Kutai Barat.755 ton. tapi mekanismenya kurang berjalan karena dualisme pengertian dan tumpang tindihnya peraturan. -. penelitian mengenai hutan ulayat dalam pandangan sosial budaya diperlukan untuk menjawab kendala pengembangan di atas. Selain itu. 2006 Hambatan utama pengembangan hutan ulayat terletak pada dimensi hukum dan ekonomi.000 US $ pada tahun 2003. fungsi ulayat. Halaman 1-12 . hutan ulayat sangat potensial secara sosial budaya sebagai asset bangsa dalam menyediakan alternatif model pengelolaan sumber daya hutan. Lukas DAMPAK DESENTRALISASI DI SEKTOR KEHUTANAN / Lukas Rumboko W. manfaat ekonomi hasil hutan bukan kayu belum dirasakan secara optimal oleh masyarakat.serta menggunakan indeks nilai penting untuk komposisi vegetasi. Kata kunci: Hutan Rakyat. sanksi dan kelembagaan. Kesejahteraan Rakyat Rochmayanto.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Kapuas dan Barito telah semakin meningkatkan kegiatan illegal logging (pencurian kayu). 2006 Desentralisasi pada dasarnya merupakan konsekwensi dari semakin tingginya tuntutan perubahan (reformasi) di birokrasi dan keadilan yang merata di masyarakat. Meski secara hukum keberadaannya diakui. Illegal logging. Kata Kunci : Desentralisasi. munculnya aktor-aktor baru yang saling membekingi satu sama lain dan meningkatnya nafsu Pemda untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 4 . Kerapatan tanaman di Desa Jonggolsari lebih kurang 24188 tanaman/ha. Kondisi ini tidak akan memberikan kontribusi yang baik bagi volume tegakan berdiri. Kotawaringin Timur.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Dalam hal ini dalam menerapkan desentralisasi secara benar perlu kembali ke khittah (landasan berpijak)-nya yaitu mewujudkan hutan lestari dan rakyat sejahtera. Malinau. Dalam perkembangannya. Desa Sedayu lebih kurang 10885 tanaman/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 4251 tanaman/ha. Keadilan. Kayu manis adalah komoditi yang tercatat di BPS Propinsi Sumatera Barat yang memiliki kapasitas ekspor cukup tinggi dengan volume ekspor 12. Desa Sedayu lebih kurang 70 meter kubik/ha dan Desa Pacekelan lebih kurang 70 m kubik/ha. perlu dilakukan reorientasi terhadap penerapan sistem desentralisasi sektor kehutanan baik pusat maupun daerah. hasil hutan bukan kayu. Volume tegakan berdiri di Desa Jonggolsari lebih kurang 90 m kubik/ha. manajemen produksi.1 . desentralisasi menjadi ajang rebutan hak dan wewenang terhadap hasil hutan kayu dari hutan alam. sosial budaya. yang meliputi : stasus tanah. Hasil penelitian di Nagari Duo Koto Kabupaten Agam. Struktur Tegakan. Hutan Lestari. Ismatul Hakim. dan merupakan hasil kriteria sejarah dan ekonomi. 168 . sehingga dapat menjadi unggulan bagi pengembangan HHBK di hutan ulayat. Syasri Jannetta. mekanisme pengelolaan. Halaman 281-296 . belum terlihat dalam bentuk rebutan tanggung jawab menjaga kelestarian hutan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah. Kata kunci : Hutan ulayat. . Yanto PERSPEKTIF HUTAN ULAYAT DALAM BUDAYA MINANGKABAU (STUDI KASUS DI JORONG KOTO MALINTANG. KABUPATEN AGAM) / Yanto Rochmayanto .408. Namun demikian. menunjukkan bahwa hutan ulayat dalam pandangan Minangkabau telah diatur secara lengkap. Melihat kecenderungan diatas. riap ini berarti produktivitas pertumbuhan pohon/tegakannya. Kabupaten Wonosobo Rumboko W. sifat hak. -. dan nilai ekspor 6. Bahkan di Kota Waringin terjadi penetapan pungutan atas pengangkutan kayu illegal. desentralisasi sudah menjadi salah kaprah bagi masing-masing pihak yang menonjolkan arogansi kekuasaan. dengan istilah lain disebut pelegalan kayu-kayu illegal. Komposisi dan struktur hutan ulayat tidak homogen. Demokratisasi. Sehingga riap tahunan periodik rata-rata dari ketiga desa tersebut adalah lebih kurang 19m kubik/ha/tahun. karena yang ditekankan selama ini adalah manfaat lindung dan koservasi. Di sektor kehutanan.

berskala internasional dan berbasis masyarakat. 6 Desember 2006 . selain itu kulit kayu mangium mengandung tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan perekat kayu. kayu pertukangan maupun energi )bahan bakar & arang). salah satunya adalah mangium (Acacia mangium Willd) yang sampai saat ini telah mengalami spektrum lebih luas. bintangur dan pinus. baik untuk kayu serat. 6 Desember 2006 . hasil hutan bukan kayu. jelutung. khususnya yang menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. meranti. mampu memberikan produk yang cukup diperhitungkan di pasaran. Adi TEKNOLOGI PEMANFAATAN KAYU ACACIA MANGIUM / Adi Santoso. Sasaran utamanya adalah melalui kerja sama internasional industri rumah tangga hasil hutan bukan kayu dapat menjadi sektor ekonomi di bidang kehutanan yang kuat. Sejumlah jenis mikroba telah diidentifikasi. dan dipelihara pada media tumbuh mikroba. ekaliptus. 2006 Keterpurukan industri pengolahan kayu di indonesia dewasa ini sudah mencapai titik kulminasi yang memerlukan penanganan menyeruluh dari berbagai aspek.. 169 . Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan melalui pemanfaatan kayu dari hutan tanaman.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Industri rumah tangga ini telah terbukti dengan limbah dan kerusakan sumber daya minimal. -. persemaian dan lapangan. sistem pemasaran dan perluasan pasar. jati. Erdy PROSPEK APLIKASI TEKNOLOGI MIKROBA SIMBIOTIK DALAM MEMPERCEPAT REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TERDEGRADASI / Erdy Santoso. Dalam tulisan ini diuraikan hasil penelitian dasar dan aplikatif mulai dari eksplorasi mikroba. Kata kunci : Industri rumah tangga. Halaman 73-85 .al) . Kata kunci: Rehabilitasi Hutan. Halaman 87-102 . -. Industri rumah tangga lebih banyak bergerak dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). 2006 Makalah ini mendiskusikan hasil-hasil penelitian tentang prospek aplikasi teknologi mikroba simbiotik dalam mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi. berwawasan lingkungan. screening dan ujicoba dalam skala laboratorium. Halaman 297-308 . pulai. diantaranya jenis-jenis akasia. Hal ini telah seiring dengan pergeseran paradigma Timber Management ke Social Forestry yang tidak menekankan kayu sebagai satu-satunya produk yang bernilai ekonomis dari hutan.. Teknologi Santoso. 2006 Perpaduan industri rumah tangga dan kearifan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya hutan memiliki prospek yang baik jika mendapat sentuhan manajemen dan investasi. Ragil SB Irianto. diperbanyak. Otonomi daerah dapat diarahkan untuk memberikan jaminan birokrasi yang lebih pendek. kearifan tradisional. Beberapa jenis komoditi tanaman hutan yang penting telah memberikan pertumbuhan yang lebih baik setelah diinokulasi oleh beberapa jenis mikroba.Rochmayanto.(et.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Kata kunci: Acacia mangium. Dari hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan aplikasi teknologi mikroba dapat membantu peningkatan produksi bibit tanaman hutan dalam skala massal dan komersial. gaharu. Pemanfaatan Kayu. Maman Turjaman. Salah satunya adaah menyeimbangkan dengan segera pasokan bahan baku kayu guna memenuhi kapasitas industri pengolahan kayu. Yanto PENGEMBANGAN POLA KEARIFAN LOKAL MENJADI INDUSTRI RUMAH TANGGA HASIL HUTAN BUKAN KAYU / Yanto Rochmayanto. Kemungkinan kerja sama dengan luar negeri bisa langsung menyentuh ke masyarakat di daerah dengan bantuan teknis pemerintah pusat. kerja sama internasional. -. Kerja sama internasional dapat menumbuh kembangkan industri rumah tangga HHBK menjadi arena usaha yang memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pendekatan permodalan. Mikroba Simbiotik Santoso. Teknologi produksi massal telah dikembangkan untuk setiap jenis mikroba dan aplikasinya dapat digunakan untuk skala massal. Tulisan ini mengemukakan rangkuman hasil-hasil penelitian mengenai teknologi pemanfaatan kayu mangium sebagai bahan industri olahan dan ekstrak kulitnya sebagai bahan perekat kayu. 4 .

Konsep megapolitan ini banyak menimbulkan pro dan kontra dari para pihak sehingga kajian yang menyeluruh dan netral tentang hal ini sangat diperlukan sehingga konsep ini dapat diterapkan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Halaman 7-22 . (2) mengevaluasi pelaksanaan RHL. Laju kerusakan hutan khususnya di wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) disebabkan oleh kebakaran hutan. pemerintah NTT telah mengesahkan "Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2004-2008" melalui SK Gubernur NTT No: Tahun 2004. dan (4) merumuskan penyempurnaan kebijakan RHL di NTT. 2004). 2005 Pembangunan kehutanan di Indonesia pada saat ini dan masa yang akan datang menghadapi tantangan dan hambatan yang semakin kompleks.Subarudi MEGAPOLITAN. Disamping itu. Kemungkinan setelah sukses dengan konsep "internal" Jabotabeknya. Kata kunci: Kebijakan. yaitu DKI. Rehabilitasi hutan. 2006 Acacia mangium merupakan jenis pioner yang mampu tumbuh pada lahan yang marjinal. Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas tegakan dan target penanaman yang harus dicapai. Halaman 177-188 . KONSEP KONPENSASI HULU HILIR/ Subarudi. Rehabiitasi lahan. -. Tulisan ini akan membahas dan menguak secara detail tentang konsep megapolitan yang meliputi: (i) gambaran umum tentang megapolitan. Jenis ini merupakan salah satu prioritas dalam pengembangan hutan tanaman. 13 September 2005 . kebijakan nasional khususnya kebijakan yang menyangkut otonomi daerah dirasakan masih belum sepenuhnya dapat mendukung kemantapan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. pemerintah DKI berusaha dan berupaya agar konsep seperti itu dapat menggapai lebih luas bagi wilayah perencanaannya dengan mengikutsertakan 2 provinsi tetangganya yang dikenal dengan konsep megapolitan. -. penggembalaan liar. TEKNOLOGI PERBENIHAN DAN PERBIBITAN ACACIA MANGIUM/ Dede R. Sebenarnya konsep Megapolitan bukanlah konsep baru dalam upaya menggabungkan perencanaan di wilayah yang termasuk dalam 3 provinsi. Berkaitan dengan hal tersebut diatas. tanggal 20 pebruari 2004. perambahan kawasan hutan dan illegal logging (NTT. (iii) kelemahan dan kelebihan konsep megapolitan. 2006 Konsep Megapolitan yang diusung oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) mendapat tanggapan yang luas dari beberapa pakar hukum. bisnis. dengan menerapkan teknologi perbenihan dan pembibitan. Dede J.5 juta ha/tahun. -Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. 2004). jawa Barat. Oleh karena itu upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis (RHL) merupakan salah satu prioritas pembangunan sektor kehutanan. dan birokrat di wilayah lingkungan yang terkait dengan konsep tersebut. Otonomi daerah Subarudi KAJIAN KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN: STUDI KASUS DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)/ Subarudi dan Iis Alviya. 2006 : Halaman 219-225 . dan (iv) strategi penerapan megapolitan di masa depan. Selain itu. Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya laju kerusakan hutan yang mencapai 2. dan Banten. (3) menganalisis pembiayaan RHL. Bogor. tingginya laju erosi dan besarnya peluang terjadinya banjir dan kekeringan yang berdampak kepada menurunnya kualitas kehidupan. Nusa Tenggara Timur Sudrajat. Kata kunci: Megapolitan. Kegagalan penyediaan bibit siap tanam di lapangan seringkali disebabkan oleh minimnya penguasaan teknologi perbenihan dan pembibitan. (ii) resistensi di era otonomi daerah. Tanggerang dan Bekasi). lingkungan. Konsep ini sebenarnya sudah lama diterapkan oleh Pemerintah DKI dalam perencanaan internalnya yang sudah umum dikenal sebagai kawasan Jabotabek (Jakarta.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengetahui tentang kebijakan RHL di NTT. tingkat efisiensi di persemaianpun dapat ditingkatkan 170 . 6 Desember 2006 .Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. Sudrajat dan Nurhasybi. Luasnya kerusakan sumberdaya hutan telah menyebabkan mundurnya kualitas lingkungan hidup yang diindikasikan dengan rendahnya produktivitas lahan. masih terjadi kesimpangsiuran dalam menjabarkan kebijakan dimaksud sehingga dalam masa transisi ini masih diperlukan adanya upaya-upaya untuk menyelaraskan persepsi dan visi dalam merumuskan kebijakan strategis di bidang pembangunan kehutanan baik nasional dan regional maupun tingkat lokal (NTT.

dan Sudarmanto.Studi ini merupakan tinjauan empirik terhadap beberapa kegiatan tersebut di atas. seperti Proyek MA-LU. Kebutuhan kayu secara Nasional diperkirakan mencapai 60 juta M kubik/tahun.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. sementara itu pasokan kayu dari hutan alam dan hutan tanaman hanya mampu mencapai sekitar 25 juta M kubik/tahun (RLPS. LSM dan masyarakat akan pentingnya kelestarian hutan.1.000 M kubik/tahun seperti diutarakan di atas. Berbagai komponen masyarakat dalam pengelolaan hasil hutan. Halaman 65-71 .2006 . Kegiatan penghijauan dapat menggerakkan aparatur pemerintah.5 juta M kubik/tahun (Suryohadi Kusumo dalam Suyarno dan Dian Diniyati. Ciamis 171 . 2002).2006 .000 M kubik/tahun yang tercatat melalui pelayanan SKAUK dan SKSHH (Dishut Ciamis. Perbenihan. -. 2003). Informasi pengembangan teknologi perbenihan dan pembibitan yang dihasilkan dari beberapa penelitian seyogyanya dapat menjadi acuan bagi praktisi di lapangan guna meningkatkan keberhasilan penanaman jenis ini. Kondisi tersebut di atas menunjukan bahwa betapa besarnya kesenjangan antara pasokan (suply) dan kebutuhan (demand) kayu yang berasal dari hutan negara. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan jenis ini.571 M kubik/tahun (Subarudi. Kata kunci: Hutan Rakyat. Kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang terus meningkat seperti diutarakan di atas.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Kelompok Tani. 2006 Hutan pegang peranan penting. Di pulau jawa yang mempunyai penduduk paling besar. 2003). Berbagai kegiatan telah diikhtiarkan oleh pemerintah melalui beberapa kegiatan. -. yang mana penulis pernah terlibat didalamnya. sedangkan produksi kayu Perhutani hanya mencapai 1. Pengelolaan hutan memerlukan adanya peran serta aktif dari berbagai komponen masyarakat mulai dari satuan rumah tangga. Ditingkat lokal untuk memenuhi seluruh industri penggergajian kayu sekitar 400 unit diperlukan pasokan bahan baku antara 688. Sementara itu produksi kayu rakyat mencapai sekitar 326. dan meningkatnya pembangunan ekonomi. Supply-Demand. 2006 Sejalan dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk. Dedi TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EKONOMI DAN MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT / Dedi Sufyadi. Fakta menunjukan bahwa 70-90 persen kebutuhan kayu di Pulau Jawa (kayu pertukangan.285 . perlu dukungan teknologi perbenihan dan pembibitan yang tepat.375. 2006). kegiatan penghijauan. dan diperkirakan hanya kurang dari 5 persen yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat. kebutuhan kayu mencapai 9 juta M kubik/tahun.000 M kubik/tahun. Halaman 129-133 . kayu bakar) dipenuhi dari kayu rakyat yang berasal dari hutan rakyat (Djaja Percunda. terutama bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Kata kunci: Acacia mangium. Ekonomi. 2005). kebutuhan terhadap bahan baku kayu juga akan terus meningkat. Pembibitan. Teknologi perbenihan Sufyadi. pemerintah hingga perusahaan baik usaha besar maupun usaha koperasi dan UKM. Pertumbuhan Industri yang mengolah bahan baku kayu di tingkat lokal maupun regional (Jawa Barat dan Jawa Tengah) saat ini telah meningkatkan kebutuhan bahan baku kayu rakyat secara signifikan. Subarudi. Manajemen Sukrianto. Kegiatan agribisnis perhutanan dapat menggerakkan. Kata kunci: Kayu Rakyat. Di kabupaten Ciamis produksi kayu dari Perum Perhutani hanya mencapai rata-rata sekitar 35. Dalam beberapa tahun kedepan kesenjangan ini akan semakin besar karena pemerintah telah menerapkan pembatasan penerbangan dari hutan alam dan juga dari hutan tanaman. dan kegiatan agribisnis perhutanan. kab. Sementara itu pasokan kayu rakyat dari kabupaten Ciamis hanya mampu mencapai 326. Tiwa PENGELOLAAN SUPPLY-DEMAND KAYU RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS / Tiwa Sukrianto. Disarankan bahwa seluruh komponen masyarakat apapun statusnya perlu memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama bahwa hutan lestari dapat menyelamatkan kehidupan kita.(meningkatnya keberhasilan penyediaan bibit akan menyebabkan biaya per satuan bibit siap tanam menurun) yang akhirnya akan berpengaruh terhadap mutu tegakan yang dihasilkan. Disimpulkan bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara usaha ekonomi dan usaha ekologi dalam pengelolaan hutan. Proyek MA-LU dapat menggerakkan pusat kekuasaan di desa sekitar hutan dalam menyelamatkan hutan.

mangium). mangium semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. Halaman 125135 . melalui pengamatan papameter tata air pada DAS. Musi Hutan Persada 172 . R. juga berperan sebagai pengatur kondisi hidrologis DAS. Pengaruh umur tanaman A. maupun daun. Total nilai kalor tumbuhan bawah pada tegakan A. kabupaten Blora. Untuk mendukung hal tersebut. 2006 Keberadaan Hutan dalam DAS diketahui selain befungsi produksi (kayu). dan Ragil Bambang WMP. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomasa. CDM) serta international Emmision Trading (Carbon Trading). dan Sub DAS Soko (di luar kawasan) di kecamatan Bogorejo. Model DAS berpasangan antara DAS di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan. Total potensi energi tiap-tiap umur tanaman A. 6 Desember 2006 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hutan jati dalam menjaga tata air. mangium sangat nyata terhadap parameter nilai kalor dan potensi energi. Kata kunci: DAS. BKPH Pasarsore. Cadangan air tanah yang dikeluarkan pada musim kering sebagai aliran dasar lebih banyak (stabil) terjadi pada erosi dan laju sedimentasi. Penelitian dilaksanakan di Sub DAS Modang di areal hutan Jati di wilayah RPH Ngawenan.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai CicatihCimandiri.67 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 7 tahun.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. KPH Cepu Supangat.ditunjukan nilai rata-rata koefisien limpasan yang lebih kecil dengan fluktuasi yang stabil. baik kawasan hutan maupun non hutan tentang pentingnya mempertahankan kawasan hutan dalam suatu wilayah DAS. maka peningkatan panas bumi akibat kenaikan GRK yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dapat ditekan. 2006 : Halaman 161-174 . baik terhadap tanaman A. Agung B. Agung B. pada sub DAS kawasan hutan lebih baik dalam mengendalikan kedua parameter tersebut. Sudrajat. ranting. Hasil penelitian di atas dapat menjadi masukan bagi pengelola kawasan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama periode 1998-2004. INFORMASI NILAI KALOR BIOMASA HUTAN PADA LAHAN TEGAKAN AKASIA MANGIUM (A. Potensi energi biomasa hutan A.mangium. KPH Cepu. SUMATERA SELATAN / Agung B. Oleh karenanya disarankan dalam perencanaan pengelolaan suatu wilayah DAS untuk menambah dan mempertahankan kawasan hutan terutama pada kawasan yang diperuntukan sebagai kawasan konservasi dan rawan bencana. PERAN HUTAN TANAMAN JATI SEBAGAI PENGATUR TATA AIR: STUDI KASUS DI SUB DAS KAWASAN HUTAN JATI DI KPH CEPU / Agung B. nilai kalor dan total energi dari masing-masing biomasa hutan pada lahan tegakan Akasia (A. -. Nilai Kalor.52 Giga Joule/Ha. mangium. Supangat. MUSI HUTAN PERSADA.97 Giga Joule/Ha pada tanaman umur 1 tahun. Tata Air. mangium dipengaruhi total nilai kalor dan potensi biomasa per hektar. dengan studi kasus di PT. HTI. Supangat dan Paimin. Kata kunci: Acacia mangium.mangium tidak memperlihatkan kecenderungan meningkat. tumbuhan bawah. 2006 Salah satu fungsi hutan adalah penyimpan kalor dalam bentuk karbon (Kayu) yang berpotensi untuk mengurangi terjadinya emisi karbon yang dapat menyebabkan kenaikan gas rumah kaca (GRK). -. Segala tindakan pengelolaan hutan maupun gangguan yang terjadi akan menpengaruhi kondisi tata air DAS. baik pada batang. Musi Hutan Persada Sumatera Selatan. dengan nilai terkecil 0. Total potensi energi tanaman A. diperlukan informasi karakteristik nilai kalor dan potensi energi yang tersimpan pada biomasa tegakan hutan. Hasil penelitian penunjukan bahwa nilai kalor tanaman A. dan terbesar 8. MANGIUM): STUDI KASUS DI HTI PT. Biomasa Hutan.mangium mempunyai nilai rata-rata sebesar 4. serta antara daun dan serasah tanaman A.Supangat. dapat disimpulkan bahwa secara umum berdasarkan nilai parameter hidrologi tahunan sub DAS kawasan hutan jati lebih baik dalam mengendalikan hujan untuk menjadi aliran permukaan. dimanfaatkan untuk menilai kondisi hidrologi yang dihasilkan.mangium cenderung semakin besar dengan semakin tuanya umur tanaman. Hutan Tanaman Jati. Melalui upaya mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism.

dari jumlah tersebut. serta keenam kurang berkembangnya pengembangan usaha-usaha produktif dari hasil non kayu maupun produk dari hasil olahan kayu. Dengan luasan areal hutan sebesar 1. 2005 Kebijakan sosial forestry merupakan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam sistem pengelolaan hutan. keempat. lemahnya posisi tawar petani dalam proses tawar menawar.000. ketiga lemahnya posisi tawar dalam penentuan harga kayu. Sulawesi Selatan 173 . terbatasnya pengetahuan petani dalam hal pasar dan pemasaran produk kayu jati. Keterbatasan dari aspek silvikultur pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya perawatan seperti perempelan. Akibatnya pertambahan dan kecepatan nilai ekonomi dari hasil kayu tidak bisa memberi sumbangan secara cepat kepada petani. SupriadiProsiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. -Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. Dalam praktiknya. masih lemahnya organisasi petani dalam satuan unit manajemen. berbicara pengembangan hutan rakyat masih dijumpai beberapa permasalahan. diperlukan instrumen manajemen untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasinya tersebut. Sosial Forestry. sehingga mempersempit sisa hutan dunia yang tinggal 40 persen. 2006 Tingginya laju penebangan hutan di Indonesia semenjak tahun 1998.3 juta ha di seluruh Indonesia. 2003). Dengan demikian sekurangnya dapat dilakukan dua hal. Keseluruhan tahapan kegiatan tersebut dilakukan secara partisipatif oleh seluruh pihak terkait. hutan rakyat yang biasa oleh masyarakat disebut dengan wono atau alas makin tahun menunjukan jumlah luasan secara berarti.tahapan kegiatannya terdiri dari (1) identifikasi dan karakterisasi lokasi baik secara sosial ekonomi. tiadanya jaringan informasi harga kayu dan jaringan pemasaran yang memihak mereka.kedua. diakui bahwa terdapat sejumlah permasalahan mendasar dalam hal pengelolaan hutan rakyat secara umum. masih kurangnya pemahaman pada aspek-aspek silvikultur. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa proses manajemen multipihak akan terdiri dari proses kajian dan analisa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. SPUC Borisallo. Permasalahan tersebut diantaranya rendahnya harga kayu yang diterima oleh petani hutan. 23. Kelima. Semakin luasnya hutan rakyat tersebut merupakan peralihan fungsi dari lahan tegal atau pekarangan. baik dalam pasar domestik maupun global. (2) identifikasi masalah dan kebutuhan lokal spesifik. Di kabupaten Wonogiri.000. Pertama. Laju tersebut diperkirakan mencapai 28 ha/menit. potensi produksi kayu dari hutan rakyat mencapai 43. Dalam rentang 5 tahun terakhir.Suprapto. telah menjadi persoalan serius. Wonogiri Supriadi PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN SOSIAL FORESTRY DI STASION PENELITIAN DAN UJI COBA BORISALLO. Sementara itu. pengembangan perdagangannya (pemasarannya). Sulawesi Selatan menggunakan metodologi penelitian aksi partisipatif atau partisipatory Action Research (PAR) untuk mengakomodasi proses adaptasi dan partisipasi masyarakat dalam proses manajemen. 13 September 2005 . Halaman 217-225 . Besarnya angka-angka di atas menunjukan betapa pentingnya nilai strategis hutan rakyat sebagai penopang ekonomi dan sekaligus penyangga secara ekologis. Meskipun demikian. penambahan luasan hutan rakyat rerata 250 ha setiap tahunnya. Kata kunci: Kelembagaan.000 m kubik. Halaman 43-50 . dapat dilakukan pendekatan dalam pengembangan hutan rakyat yang mengarah pada perbaikan nilai secara ekonomi maupun ekologi. penjarangan dan pemupukan yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan kualitas hasil kayu. (3) fasilitas proses manajemen. Tulisan ini merupakan hasil sintesa mengenai proses manajemen multipihak yang cocok diterapkan dalam pengembangan sosial forestry di SPUC Borisallo. Untuk itu perhimpunan untuk Studi dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (PERSEPSI) bekerja sama dengan yayasan WWF Indonesia dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) melakukan kerjasama dalam pelaksanaan program "Menuju Sertifikasi Hutan Rakyat dan Pengembangan Akses Pasar Global". formulasi aturan main manajemen/implementasi dan monitoring-evaluasi. Ekolabel. sosial kelembagaan maupun biofisik. SULAWESI SELATAN / R. dan (4) monitoring-evaluasi dampak manajemen.000 m kubik jati diproduksi oleh hutan rakyat di Jawa (Dephut. Kata kunci: Hutan Rakyat. pertama penguatan institusi petani dan peningkatan kapasitas petani dalam hal pengelolaan produksinya dalam 2 unit manajemen. Sekalipun begitu. dan kedua. rendahnya harga kayu yang diterima. Teguh PENGALAMAN DALAM PENGAWALAN MENUJU SERTIFIKASI ECOLABEL HUTAN RAKYAT: CERITA DARI WONOGIRI / Teguh Suprapto.2006 .

Jumlah kunjungan ke Taman Nasional Gede Pangrango dapat dipengaruhi oleh faktor 174 .prasarana dan sarana penunjang masih sangat minim dan lain sebagainya. sehingga susah dijual. Permasalahan-permasalahan tersebut juga sangat mungkin kita temui dalam rangka pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Pelaksanaan. Berkaitan dengan hal itulah penulis mencoba menyajikan suatu panduan sederhana untuk memilih komoditas atau aktivitas yang diharapkan hasilnya mendekati target yang diharapkan. kalaupun mendapatkan pasar. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sejak tahun 2000 telah dicanangkan melalui program pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Perum Pehutani dan pihak swasta mulai dari perencanaan. sangat mungkin social benefit income atau keuntungan normatif dari suatu program. Halaman 22-33 . sehingga insentif untuk menggairahkan petani pekerja bersungguh-sungguh dan mencurahkan seluruh kapasitasnya tidak tercapai. diantaranya adalah: Produk hasil usaha petani sulit menjangkau akses pasar. volume hasil produksi usahatani terlalu kecil untuk dijual. produk yang dipasarkan masih dalam bentuk primer.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Taman Nasional Gede Pangrango memiliki berbagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). 2005 Permasalahan klasik yang sering kita temui dalam pengembangan usaha di bidang pertanian khususnya pada tatanan sub sistem usahatani (on farm) yang melibatkan masyarakat banyak. keterampilan petani belum mencapai standar yang dibutuhkan untuk mengelola aktivitas program yang dikembangkan.Suyarno KONTRIBUSI SWASTA DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM PHBM DI KPH TASIKMALAYA / Suyarno. KPH Tasikmalaya Suprianto PANDUAN ANALISIS KELAYAKAN USAHA KOMODITAS YANG DIKEMBANGKAN PADA HUTAN RAKYAT DAN HUTAN KEMASYARAKATAN / Suprianto.Pada gilirannya pencapaian target program kurang maksimal. memerlukan pemikiran dan perhitungan yang akurat. Hutan Kemasyarakatan. PHBM. Epi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN WISATAWAN DI TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (The Factors with are Kehutanan : Volume 3 No. Halaman 185-193 . Program PHBM ini melibatkan masyarakat sekitar hutan.Adapun distribusi yang diberikan oleh semua pihak yang terlibat dalam pembangunan PHBM merupakan hasil kesepakatan bersama yang didasarkan atas konsep sharing baik dalam penyertaan modal maupun pembagian hasil usaha. -. sehingga nilai tambah buat petani masih sangat kecil. 6 Desember 2005 . dan pembagian hasil usaha serta pembangunan kelembagaan kelompok. Kata kunci: Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. 6 Desember 2005 . dimana program ini membuka ruang yang luas bagi berbagai pihak untuk berperan serta dalam pengelolaan hutan. -. namun juga terlalu besar volumenya apabila hanya untuk dikonsumsi oleh keluarga petani. seperti keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora. Berkaca pada fenomena tersebut pemilihan komoditas atau aktivitas program yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan. harga yang diterima petani tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. 2006 Influences to a Tourism Visitor in Gede Pangrango National Park (GPNP)) / Epi Syahadat. lebih besar dibandingkan dengan profit income untuk petani peserta program. Terlibatnya berbagai stakeholder dalam pengelolaan hutan salah satunya diwujudkan dalam pengelolaan hutan yang berbasis PHBM di KPH Tasikmalaya. Namun demikian memilih komoditas atau aktivitas yang tepat bukan perkara yang terlalu mudah. -. yang pada dasarnya sudah dimulai sejak dulu. Halaman 17-40 . Pada akhirnya. 2005 Seiring dengan masih meningkatnya laju kerusakan dan perambahan hutan maka program pemberdayaan masyarakat sekitar hutan terus dikembangkan.1 .Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan : Tasikmalaya. Kelayakan usaha Syahadat. sumberdaya manusia yang tersedia belum memenuhi standar yang dibutuhhkan program. maupun ekosistemnya termasuk keindahan panorama alamnya. Kata kunci: Hutan Rakyat. Akar permasalahan biasanya erat kaitannya dengan aspek-aspek usahatani yaitu ukuran (size) usahatani yang dikelola tidak mencapai skala ekonomi (economic scale). fauna.Manfaat ekologis dan sosial suatu program mungkin lebih besar dibandingkan dengan manfaat ekonomis. program kurang berbasis pada sumberdaya lokal.

Kata kunci : Taman Nasional Gede Pangrango. -. faktor obyek dan daya tarik wisata alam. Kajian penatausahaan hasil hutan pada hutan rakyat dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan yang menyebabkan tidak efektif mengendalikan peredaran kayu. -. maupun duplikasi data sekunder. (Study on Forest Product Administration Orientation in Community Forest as a Basic Reference in Community Forest Usage) / Epi Pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) merupakan bagian integral dari pembangunan kepariwisataan nasional. sosial ekonomi dan budaya. pengolahan data dilakukan menggunakan program “SPSS for windows versi 12”. Halaman 75-90 . peredaran. sampai kepada pengangkutan hasil hutan perlu disederhanakan tanpa mengurangi fungsi penatausahaan hasil hutan yang efektif dalam melestarikan hutan dan mejamin hak-hak negara atas hasil hutan. Adapun strategi pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam meliputi pengembangan : 175 .1 . dan faktor keamanan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2005 dengan penentuan sampel secara accidental sampling yang dilakukan secara acak sederhana. kelancaran. pelayanan. Syahadat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara orientasi lapangan. obyek dan daya tarik wisata alam. Karena itu untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut secara bersama-sama (simultan) terhadap jumlah pengunjung. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata alam.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 Suplemen No. Keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan nasional di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dapat dicapai atau di raih berkat keterpaduan dan kesinergian antara kekuatan masyarakat. media masa. dan faktor keamanan secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh terhadap jumlah pengunjung akan tetapi tidak secara nyata (tidak signifikan) di Taman Nasional Gede Pangrango. 2006 Syahadat. yaitu : pariwisata nasional. pemerintah. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan yang ada. penatausahaan hasil hutan. Epi ANALISA STRATEGI PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL GEDE PANGRANGO (TNGP) UNTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA ALAM DI KAWASAN HUTAN (An Analysis of Gede Pangrango National Park Syahadat. selain daripada itu pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional. wawancara. 2006 Penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat belum tertata dengan baik dan pelaksanaannya oleh petugas atau oleh instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. faktor obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA).Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. pemanfaatan. Sehubungan dengan hal tersebut maka pelaksanaan pengembangan pengelolaan kepariwisataan di Taman Nasional Gede Pangrango harus mampu menjadi sarana untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. keamanan. Epi KAJIAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN RAKYAT SEBAGAI DASAR ACUAN PEMANFAATAN HUTAN RAKYAT Hasil kajian menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu disempurnakan dalam aturan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat agar ketertiban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pelayanan. Kata kunci : Hutan rakyat. Halaman 117-132 . dan pengusaha pariwisata. faktor sarana prasarana. Akan tetapi secara parsial. dan tanggung jawab dalam pengelolaan hutan rakyat dapat tercipta dengan baik. dari keempat faktor tersebut faktor keamanan yang mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) dan dominan terhadap jumlah pengunjung di Taman Nasional Gede Pangrango.2 .pelayanan. Penyempurnaan mulai dari pembuatan Surat Izin Penebangan (SIP) serta perlu adanya berita acara pemeriksaan penebangan sebelum pengesahan LHP. sarana prasarana. maka dilakukan penelitian ini. dengan jumlah responden sebanyak 142 orang. (GPNP) Management Strategy For Tourism Development In Forest Area) / Epi Syahadat. pengangkutan. khususnya kebijakan penatausahaan hasil hutan di hutan rakyat. faktor sarana prasarana. penataan ruang serta peraturan perundangan. Analisa SWOT dilaksanakan untuk menyusun strategi peluang usaha di Taman Nasional Gede Pangrango. pengelolaan lingkungan. perencanaan kawasan.

yaitu Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) sebagai dokumen resmi angkutan kayu rakyat yang diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat yang setara. 13 September 2005 . kayu karet dan kayu kelapa.Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. kawasan hutan . Oleh karena itu kajian kelembagaan pengelolan TN sangat diperlukan untuk mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan yang muncul dibidang peraturan dan kebijakan. organisasi. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Oleh karena itu pengelolaan dan pengembangan taman 176 . mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan serta mengkaji kemampuan petugas dalam memantau produksi dan peredaran hasil hutan. rata-rata pembiayaan tahunan untuk operasional TN yang disurvey berkisar antara Rp. Kualitas SDM yang bekerja di TN yang disurvey didominasi oleh lulusan SLTA dan SLTP dan hanya sedikit pegawai yang berpendidikan sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2) sehingga hal ini akan menjadi hambatan besar dalam rencana perubahan (agent of changes) pengelolaan TN yang lebih profesional. aspek sarana dan prasarana. kondisi SDM. aspek peran serta masyarakat dan penelitian dan pengembangan. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran kayu masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara atas hasil hutan secara optimal. sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003. Apul Sianturi. Halaman 317-331 . bertanggung jawab.4 . Pengelolaan taman nasional (TN) saat ini dirasakan masih jauh dari kesan profesionalisme dan menguntungkan (profitable) karena selama ini pengelolaan TN diidentikan dengan pusat pengeluaran biaya (cost centre). hasil kajian menunjukan bahwa kebijakan pengelolaan TN yang menggunakan pendekatan keamanan (security approach) harus sudah ditinggalkan dan menggantinya dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dan berbasis masyarakat.aspek perencanaan pembangunan. Dokumen angkutan kayu rakyat yang berlaku pada saat ini adalah SKSHH yang di cap Kayu Rakyat (KR). aspek kelembagaan. Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001. Epi KAJIAN PENYEMPUNAAN PEDOMAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN DI HUTAN HAK RAKYAT (KASUS DI PROVINSI JAWA BARAT) / Epi Syahadat . sedangkan jenis kayu lainnya akan diatur kemudian oleh Menteri Kehutanan atas dasar usulan dari masing-masing Dinas Provinsi. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. aspek pengelolaan. Kata kunci : taman nasional gede pangrango. aspek pengusahaan.18/2005.26/2005. -. Syahadat. kesejahteraan masyarakat. yaitu kayu sengon. wisata alam. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan.51/Menhut-II/2006. kayu rakyat. perijinan. Nomor P. 2005 Saat ini luas kawasan konservasi di Indonesia mencapai 26. aspek pemasaran. peredaran. dan struktur pembiayaan dalam pengelolaannya.25 juta hektar yang meliputi 486 unit kawasan (447 unit atau 82 persen konservasi daratan dan 39 unit konservasi laut) dengan lokasi yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. 1-4 milyar dan sumber dananya berasal dari angaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebanyak 20 persen dan sisanya (80 persen) berasal dari dana Reboisasi (DR) dan dana provisi sumber daya hutan (PSDH). kelestarian alam. pengembangan pariwisata. penebangan. Halaman 97113 .51/2006. Subarudi KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL: STUDI KASUS PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL DI PULAU JAWA / Subarudi. pengangkutan. sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No 126/2003.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Kata kunci: Penatausahaan. sesuai dengan Peraturam Menteri Kehutanan Nomor P. Dimasa yang akan datang dalam pengangkutan kayu rakyat akan diberlakukan dokumen angkutan lain selain SKSHH yang di cap KR. -. dan Nomor P. dan menguntungkan. Penyeragaman struktur organisasi TN hendaknya dihindari karena karakteristik pengelolaan dan permasalahan yang dihadapi berbeda-beda untuk setiap TN. Kajian penyempurnaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat (kasus di Provinsi Jawa Barat) dilakukan untuk mengetahui kelemahan kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat yang menyebabkan tidak efektif dalam mengendalikan peredaran hasil hutan. akan tetapi SKAU ini hanya terbatas kepada 3 (tiga) jenis kayu.

Kata kunci: Taman Nasional.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari.749. tingkat sosial dan ekonomi masyarakat maupun terhadap sektor pembangunan di Jawa Barat. Kata Kunci : Rencana Makro.Pelestarian hutan dan lahan adalah merupakan langkah strategis dan agenda utama pembangunan bidang kehutanan Jawa Barat.1 . Keadaan ini disebabkan masih rendahnya perekonomian masyarakat sekitar hutan. pulp/kertas. 2006 Tekanan terhadap hutan semakin meningkat baik terhadap lahan kawasan hutan maupun hasil hutan dengan semakin merebaknya tingkat gangguan keamanan hutan berupa pencurian hasil hutan dan perambahan hutan. mebelair. Strategi penyusunan konsep makro hendaknya tidak diberikan kepada pihak ketiga tetapi dikerjakan secara bersama dengan menggunakan pendekatan manajemen fungsi bagi setiap unit eselon I lingkup Dephut. Karena kondisi kawasan hutan dan lahan di Jawa Barat saat ini dalam keadaan kritis dan memprihatinkan. Namun demikian pengertian SF tersebut masih belum dipahami oleh berbagai pihak terkait sehingga keberhasilan dari program tersebut sangat diragukan. yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar hutan. yakni dengan metoda vegetatif maupun secara sivil teknis. Pulau Jawa Subarudi KONSEP RENCANA MAKRO SOCIAL FORESTRY: KUNCI SUKSES MENUJU SISTEM PENGELOLAAN HUTAN LESTARI (SPHL)/ Subarudi. khususnya diwilayah yang berfungsi lindung.2006 . serta dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Peranan dan fungsi PS diyakini saat ini sebagai indikator penentu keberhasilan pengurusan hutan dan jaminan bagi keberadaan Dephut di masa depan. dan lain-lain. yakni diindikasikan dengan luas lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 455. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan sehingga ketergantungan terhadap hutan dan hasil hutan semakin berkurang. -Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. 2006 Departemen Kehutanan (Dephut) saat ini sedang menyusun konsep makro social forestry (SF) sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan prioritas ketiga.56 ha yang telah berdampak terhadap keadaan lingkungan. dan di luar kawasan hutan seluas 514. Yakni kegiatan tanam menanam pohon kayu-kayuan dengan atau tanpa jenis tanaman Multiple Plan Trees Species (MPTS) yang ditunjang dengan atau tanpa tanaman semusim yang tergantung terhadap kondisi fisik wilayah dan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat.303. selain merehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak. -. semakin terbatasnya areal pertanian serta belum tergalinya potensi ekonomi masyarakat sekitar hutan secara optimal. Hasil kajian menunjukkan bahwa Perhutanan Sosial (PS) menjadi istilah yang tepat pengganti kata SF. maka langkah yang efektif dan efisien adalah melalui metoda vegetatif dengan pembangunan hutan rakyat. Konsep makro PS harus seiring dan seirama dengan program kehutanan nasional dan sesuai dengan sistem pengelolan hutan lestari. Guna menunjang program Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis. (ii) konsep makro SF dan faktor-faktor penentunya. Oleh karena tulisan itu mencoba mengkaji konsep makro SF yang terdiri dari: (i) pencarian istilah SF dalam bahasa Indonesia. Halaman 14-21 . Halaman 31-38 . maka perlu ditunjang pula dengan merehabilitasi lahan-lahan diluar kawasan hutan.Dalam rangka pelestarian hutan dan lahan tersebut. Dan hal lain juga berdampak terhadap penyediaan bahan baku kayu industri pertukangan.nasional ke depan hendaknya para pengelola TN diberikan kewenangan yang besar (desentralisasi pengelolaan TN) untuk berimprovisasi dalam pengelolaannya sehingga pengelolaan taman nasionalnya dapat lebih professional dan menguntungkan. juga mendukung penyediaan bahan baku kayu Jawa barat. Dengan pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat menunjang perbaikan kondisi lingkungan Jawa Barat yang saat ini mengkhawatirkan. 12 ha. Social Forestry. 177 . dan (iii) strategi penyusunan konsep makro SF. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui pengembangan perekonomian desa merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka penggalian potensi sumberdaya perekonomian masyarakat sekitar hutan dengan untuk memberi peluang berusaha kepada masyarakat. Pengelolaan. dan Pengelolaan Hutan Lestari Suherman KEBIJAKAN PROPINSI JAWA BARAT DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT / Suherman dan Yeyep Sudrajat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di Propinsi Kalimantan Timur. Epi KAJIAN MEKANISME PERMOHONAN PENERTIBAN SURAT KETERANGAN SAHNYA HASIL HUTAN (SKSHH). laporan hasil produksi (LHP).2 . Berdasarkan data BPSDAWS saat ini tercatat ada 34 pengguna ( baik sebagai pengguna langsung maupun sebagai pengelola ) yang terdiri dari berbagai industri besar dan kecil. dan pemeriksaan administrasi. laporan hasil cruising (LHC). usaha peternakan.18/Menhut-II/2005. bahwa kayu atau hasil hutan yang diangkut tersebut legal atau tidak. Kata kunci : Sumber air. unit kerja yang berwenang dalam menerbiktan SKSHH untuk melindungi hak-hak negara seperti PSDH & DR. Wilayah DAS Brantas merupakan sumber air bagi kebutuhan Propinsi Jawa Timur baik untuk air minum. daftar hasil hutan (DHH).18/2005. dan meminimalkan perdagangan kayu atau peredaran SKSHH yang ilegal.Disamping itu juga meningkatkan partisipasi aktif pengembangan budidaya usahatani hutan rakyat dan meningkatkan tingkat kesadaran pengelolaan lahan yang berwawasan pelestarian alam. Pasal 20. SKSHH diterbitkan oleh P2SKSHH. Apakah mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH tersebut. Pengesahan SKSHH oleh pejabat eselon III ini dinilai kurang efektif. rumah tangga maupun untuk kebutuhan sektor lainnya. Sebagai pengelola sumberdaya air Perum Jasa Tirta I ( PJT I ) dengan beberapa bangunan waduknya tersebar hingga ke Kali Bengawan Solo. SKSHH bukan merupakan ukuran. PDAM dan PLTA yang meliputi beberapa kabupaten antara lain Kabupaten Malang. Kata kunci: Hutan Rakyat. Dinas Kehutanan Kabupaten. 2006 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauhmana mekanisme atau alur pelaksanaan permohonan penerbitan SKSHH di tingkat Propinsi. karena hanya akan memperpanjang rantai birokrasi dalam pengurusan penerbitan SKSHH. -. Pasal 20. Blitar. (KASUS DI PROPINSI KALIMANTAN TIMUR)/ Epi Syahadat. mengingat pejabat P2SKSHH berada jauh dari ibukota Kabupaten/Kota. akan tetapi hal tersebut harus dilakukan. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menjadikan permasalahan yang serius. atas SKSHH yang telah diterbitkan.2 . 2006 Pemanfaatan sumber air dikawasan DAS Brantas mulai dari hulu sampai hilir (termasuk di kawasan hutan lindung dan sekitarnya) cukup tinggi. Tulung Agung dan Trenggalek. karena pada dasarnya.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. perkebunan. Propinsi Jawa Barat Sylviani PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DIKAWASAN DAS BRANTAS (STUDI KASUS KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR)/ Sylviani. dan permohonan penerbitan menurut versi pemegang IUPHHK di Propinsi Kalimantan Timur. Balai Pengelola Sumber Daya Air Wilayah Sungai ( BPSDAWS ) dan Perum Jasa Tirta I. karena banyak faktor yang mengindikasikan bahwa kayu yang diangkut dari satu daerah ke daerah lain itu kayu legal. diantaranya adalah tanda bukti pembayaran PSDH dan DR. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Di dalam Kawasan Hutan lindung sumber-sumber mata air dimanfaatkan langsung oleh penduduk dengan menyalurkan melalui pipa yang dibangun secara swadaya dan dimanfaatkan oleh pengusaha peternakan dan perkebunan. seperti siapa yang dituju dalam surat permohonan penerbitan SKSHH. kawasan hutan lindung Syahadat. Halaman 87-95 . Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No P. telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. kemudian diketahui dan disahkan oleh pejabat struktural (eselon III) pada Dinas Kabupaten/Kota yang menangani masalah kehutanan setempat. pada dasarnya sudah berjalan sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Ijin pemanfaatan dan pengambilan air permukaan dikeluarkan oleh Dinas PU dan Pengairan Propinsi setelah mendapat rekomendasi teknis dari BPSDAWS untuk sumber air yang berada dalam kewenangan Propinsi dan rekomtek PJT bila sumber air berada dalam wilayah kerja PJT I. laporan mutasi kayu bulat (LMKB) dan masih banyak lagi persyaratan untuk menentukan bahwa kayu itu legal 178 . Halaman 131-149 . Walaupun masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya. karena ini merupakan suatu alat kontrol yang dilakukan pemerintah pusat/daerah terhadap pejabat P2SKSHH. yang dikhawatirkan adanya penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab pejabat P2SKSHH. -. Stakeholder yang berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya air Kali Brantas antara lain Dinas PU dan Pengairan Propinsi.18/2005. stakeholder.

industri gula dan rumah tangga dibagian hilir melalui PDAM. 2006 Peranan air bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta lingkungan sangatlah penting dan merupakan kebutuhan pokok. Elvida Yosefi S. Hasil kajian menunjukan bahwa SK Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Nomor 51/Kpts/Dishut-PH/2001 sudah seharusnya di revisi karena tidak sesuai lagi dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 126/2003 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. peredaran. Kajian penata-usahaan hasil hutan pada hutan hak/rakyat dilakukan untuk mengetahui efektifitas kebijakan dan pelaksanaan penatausahaan hasil hutan di hutan hak/rakyat. Potensi sumberdaya air di Kab Gowa ada yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari sumbermata air di dalam kawasan HL dan dari sungai Jeberang melalui penampungan waduk/Dam Bili-bili yang dimanfaatkan untuk saluran irigasi. mengidentifikasi kelembagaan pengelolaan SDA di tingkat propinsi/kabupaten (Peraturan.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Pengelolaan sumberdaya air melibatkan beberapa stakeholder antara lain Dinas PU dan Pengairan Kabupaten. Kajian kelembagaan pengelolaan SDA bertujuan untuk menganalisa peran para pihak/instansi yang terkait dalam pemanfaatan jasa air. yang terpenting dan perlu diketahui dalam pengangkutan kayu.3 . karenanya dalam pengelolaan sumberdaya air perlu adanya penanganan yang teratur. 2006 Penatausahaan hasil hutan dan pelaksanaannya oleh petugas/instansi di daerah masih belum mampu menjamin kelestarian hutan dan meningkatkan penerimaan negara secara optimal. Halaman 243-262 . Kata kunci : Kelembagaan. 19 Tahun 2004. Epi KAJIAN PEREDARAN DAN TATA USAHA KAYU RAKYAT DI CIAMIS JAWA BARAT / Epi Syahadat. Kata kunci: penatausahaan. Halaman 219-234 . Terdapat kelembagaan pada masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan sebagai sumber air melalui tata tanam tahunan yang dilakukan oleh kelompok tani sebelum mengajukan permohonan perijinan penggunaan air terutama untuk irigasi Kata kunci : Kelembagaan. Kelembagaan pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) dapat berjalan dengan baik apabila adanya koordinasi diantara para pengelola SDA dan akan berdampak terhadap terjaganya kelestarian lingkungan. distribusi.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Kajian dilakukan dengan melakukan review kebijakan penatausahaan hasil hutan. BPDAS. sistimatik dan berkesinambungan. Berdasarkan UU No 7/2004 tentang SDA dijelaskan bahwa wewenang dan tanggung jawab dalam menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota adalah pemerintah propinsi c/q Dinas Pengelolan Sumber Daya Air setempat. serta tugas dan fungsi masing-masing instansi. SDM) dan peran aktif dari masyarakat sekitar dalam pemanfaatan jasa air di kawasan hutan lindung. UPTD BPSDA dan PDAM dengan tugas dan fungsinya masing-masing. 2006 Pembangunan bidang kehutanan Kabupaten Gowa dititikberatkan pada program optimalisasi fungsi hutan melalui kegiatan rehabilitasi hutan baik segi ekonomi ekologi maupun sosial budaya masyarakat. organisasi. kayu rakyat. mekanisme. adalah mengenai kronologis kayu. -.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No.3 . Kata kunci : Penatausahaan hasil hutan. PROPINSI SULAWESI SELATAN) / Sylviani . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelembagaan. seharusnya memberi iklim yang baik kepada petani untuk berpartisipasi dalam pembangunan hutan rakyat. 179 . kronologis kayu Sylviani POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG DAN KAWASAN HUTAN LINDUNG (STUDI KASUS DI KABUPATEN GOWA. -.. mengkaji tugas dan wewenang pejabat/instansi di daerah asal dan tujuan peredaran hasil hutan.26/2005.3 . -. pengelolaan SDA. pemanfaatan air Syahadat. mekanisme/prosedur pemanfaatan air. mengkaji kemampuan petugas serta memantau produksi dan peredaran hasil hutan. produksi.atau tidak. Demikian juga dengan Perda Kabupaten Ciamis No. Potensi dan Pemanfaatan Sumberdaya Air Sylviani KAJIAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR / Sylviani. pengesahan.18/2005 dan Nomor P. potensi dan pemanfaatan sumberdaya air. Halaman 263-279 .

penggandaan pendapatan. keterkaitan. sumbangan 180 .1979 milyar. -. investasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk setiap hektar kejadian kebakaran hutan di Indonesia. Kata kunci: Kebakaran hutan. dan penyerapan tenaga kerja didalam proses produksi antar sektor. 1. ditemukan fakta bahwa ada jalur keterkaitan yang erat antara sektor kehutanan dengan sektor-sektor yang berbasiskan pertanian di pedesaan. berdampak menurunkan tingkat pendapatan masyarakat sebesar Rp. yang merupakan suatu kerangka analisis ekonomi yang terpadu. Melalui pendekatan model transaksi input-output. Halaman 133-146 . pengeluaran pemerintah dan ekspor) sektor kehutanan sebesar Rp. Syafrul Yunardy.60 persen. peranan sektor kehutanan dalam perekonomian Indonesia dapat diketahui. model Input-output. 2006 Pembangunan kehutanan selama ini telah ikut berperan dalam perekonomian Indonesia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui besarnya dampak kebakaran hutan di Indonesia terhadap masyarakat. Berdasarkan hasil analisis pengganda neraca (accounting multiplier) diketahui bahwa untuk setiap kenaikan permintaan akhir (konsumsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi (share) sektor kehutanan terhadap output keseluruhan sebesar 0. Metode analisis yang digunakan untuk mengukur besarnya nilai penurunan tingkat pendapatan (economic loss) adalah Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM). Sedangkan untuk menjelaskan jalur keterkaitan antar sektor digunakan Analisis Jalur Struktural (Structural Path Analysis).2 . Secara struktural. sektor kehutanan.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. Namun informasi dan data yang ada selama ini baru bersifat sektoral dan belum memberikan gambaran yang jelas tentang peran sektor kehutanan dalam keterkaitannya dengan sektor-sektor ekonomi lain. dan penyerapan tenaga kerja total sebesar 41 orang. -. Kejadian ini jelas akan berpengaruh terhadap pendapatan baik bagi masyarakat. Halaman 61-74 .5 juta hektar hutan alam di Kalimantan Timur. Nur Arifatul ANALISIS PERANAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA: SEBUAH PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT (Analysis of Forestry sector Role in Indonesia Economy: An Input-Output Model Approach) / Nur Arifatul Ulya.44 juta. Rumah tangga mengalami penurunan tingkat pendapatan yang paling besar dibandingkan dengan pemerintah maupun perusahaan. Sedangkan nilai tambah yang diberikan oleh sektor kehutanan sebesar 82.2666 milyar.pendapatan masyarakat Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE). Penelitian ini ditujukan untuk melihat tingkat keterkaitan sektor kehutanan dengan sektorsektor ekonomi lainnya dan peranan sektor kehutanan dalam penciptaan output. Syafrul Yunardy. Structural Path Analysis (SPA) Ulya. Kata kunci : Pengganda neraca. kebakaran hutan di Indonesia kian menyebar dan selalu berulang setiap tahun. maupun pemerintah. 1 milyar akan menyebabkan penciptaan output total sebesar Rp.1 . Selain itu juga untuk mengidentifikasi jalur-jalur keterkaitan antar sector kegiatan perekonomian. kenaikan pendapatan total sebesar Rp.74 persen.Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 3 No. 2006 Sejak kebakaran hutan besar tahun 1982/1983 yang membakar 3. 77. perusahaan. 0.Ulya. Nur Arifatul ANALISIS DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT (Analysis of the Impact of Forest Fire in Indonesia on Community Income Distribution) / Nur Arifatul Ulya.

perlu dipertimbangakan juga tentang aspek non fisik (ekonomi). Posisi masyarakat penting. Halaman 333-345 . otonomi. Catur Budi IMPLIKASI OTONOMI DAERAH TERHADAP PRAKTEK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT LOKAL DI KALIMANTAN TIMUR (SUATU STUDI KASUS DI KAMPUNAG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. khususnya oleh adanya kebijakan Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) yang dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Wiati. (b) Tanaman perkebunan.Wardojo APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK KESESUAIAN LAHAN PADA TANAMAN KEHUTANAN / Wardojo dan Ragil Bambang WMP. -. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski perkebunan berskala besar (karet. sangat mudah ditemui adanya ketidakcocokan dan ketidaksinkronan antara kebijakan pusat dan kebijakan daerah yang berdampak negatif pada pengelolaan hutan khususnya yang dilakukan oleh masyarakat. 2006 Sejalan dengan adanya program pengembangan pengelolaan hutan bersama masyarakat. Kalimantan Timur. 2006 Dengan sistem informasi geografis data dapat dikelola. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. desentralisasi Wiati. Kesesuaian lahan. Mahoni. Dalam memilih jenis tanaman yang akan dikembangkan selain dipertimbangkan aspek fisiknya (kesesuaiannya). 6 Desember 2006 . 181 . Hasil penelitian ini menununjukkan bahwa pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat dayak di Kabupaten Kutai Barat telah dipengaruhi oleh kebijakan pusat dan daerah. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis. jati super dll) dan perusahaan kayu pemegang Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) telah beroperasi. terutama pada era otonomi daerah dan desentralisasi. Program Arc View ini memberikan kemudahan untuk menampilkan banyak tampilan data dengan peta secara cepat dan mudah sesuai dengan keinginan. Penelitian ini berlokasi di Kampung Dempar dan Kampung Sakak Lotoq. pemerintah lokal telah mengeksploitasi sumberdaya alam dengan tanpa mempertimbangkan aspek ekologinya. Halaman 137-149 . 2006 Di era desentralisasi. (c) Tanaman tradisional (kebun tradisional) dan (d) Hasil hutan kayu dan non kayu. kelapa sawit. Kabupaten Kutai Barat. -.2 . SIG. Jati dan Sono). -. peta dasar dan peta tematik yang ada. untuk keperluan yang sama dapat dianalisa untuk jenis-jenis tanaman yang lain dengan menggunakan data dasar yang sudah tersedia. Kalimantan Timur. Tanaman kehutanan dimana masyarakat tetap dipertimbangkan memegang peranan penting dalam mengelola sumberdaya hutan. Dalam makalah ini hanya dianalisa empat jenis tanaman (akasia. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. Catur Budi KAJIAN POLA PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN SECARA TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DAYAK BENUAQ DAN TANJUNG DI KALIMANTAN TIMUR (STUDI KASUS DI KAMPUNG DEMPAR DAN SAKAK LOTOQ KABUPATEN KUTAI BARAT) / Catur Budi Wiati. Halaman 97-113 .4 . masyarakat dayak. analisa dan ditampilkan sesuai dengan tujuan analisa. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan Arc View bisa digunakan untuk mengolah data-data atribut yang diperoleh dari kegiatan ISDL maupun data lain dari penafsiran potret udara.Info Sosial Ekonomi : Volume 6 No. data dan informasi tentang model dan tipe pengelolaan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat menjadi sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kembali implikasi otonomi daerah terhadap pola dan keberadadaan sumberdaya potensial yang dilakukan oleh masyarakat tradisional di Kalimantan Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung setelah era otonomi daerah dan desentralisasi.Prosiding Seminar Hasil Penelitian Acacia mangium : Bogor. masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat tampak tidak terganggu dan tetap mempertahankan pola pengelolaan sumberdaya hutan secara tradisional yang terbagi atas budidaya: (a) Tanaman pangan. Kata kunci : Sumberdaya hutan. Dalam analisa kesesuaian jenis tanaman kehutanan untuk pengembangannya data-data yang diperoleh dapat dimanipulasi sesuai dengan tujuan analisanya. tidak selalu dapat berhasil untuk dikembangkan menjadi hutan yang bagus. karena adanya banyak kendala. Suatu lokasi yang sesuai untuk suatu jenis tanaman (layak dari aspek fisik ). ditata. Kabupaten Kutai Barat.

sedangkan perempuan lebih banyak berperan disektor domestik (pekerjaan rumah tangga). dan adhesive US$ 0. Hal ini menunjukan bahwa industri kehutanan masih prospektif (Antara News. plywood US$33. sedangkan kemampuan produksi kayu bulat rata-rata per tahun sebesar 22. 2006 Pembangunan kehutanan di Indonesia masih mempunyai daya tarik bagi para investor. Kata kunci: Hutan Rakyat. Akan terdapat perbedaan etos kerja antara petani laki-laki dan perempuan dalam mengelola HR.19 milyar.2006 . Sebagai gambaran. Focus Group Discussion (FGD). kerajinan (handicraft) US$ 0.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. kayu olahan (wood working) US$ 1. masyarakat dayak. keterlibatannya dalam mengelola HR.618 unit dengan kebutuhan bahan baku 22. Saat ini kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan secara lestari. Majenang Wijayanto. hutan tanaman. yaitu sebanyak 1. dan percepatan realisasi pembangunan hutan tanaman industri dan hutan rakyat (Antara News. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan hutan rakyat juga dipengaruhi oleh budaya patriarkhi yang 182 . Dian Diniyati. Konflik ini melibatkan masyarakat lokal dengan masyarakat lokal atau masyarakat lokal dengan para pihak (konflik vertikal dan horizontal ) dan (b) Munculnya sistem kapital baru dalam masyarakat kampung terkait kemudahan dalam mengakses sumberdaya hutan.91 juta m kubik per tahun.09 juta m kubik per tahun. 2005). furniture US$ 0. bahwa laki-laki lebih berperan dalam sektor publik (pekerjaan di luar rumah) dan menjadi penentu kebijakan. investasi industri pulp dan kertas sebesar US$ 16 milyar. Etos kerja. bibit. kebutuhan bahan baku 17.80 milyar. Tri Sulistyati ETOS KERJA PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP / Tri Sulistyati Widyaningsih. -. jumlah industri pengolahan berdasarkan ijin yang ada sejumlah 1. Hak Ijin Pemungutan Hasil Hutan (HIPHH) masih melekat terutama dalam masyarakat Jawa.Prosiding Pekan Hutan Rakyat Nasional I : Aktualisasi Peran Litbang Mendukung Hutan Rakyat Lestari. yang bersumber dari hutan alam.61 juta m kubik per tahun. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan kebutuhan bahan baku sebesar 40.2006 .03 milyar. karena laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang bersifat produktif termasuk dalam mengelola hutan rakyat (rata-rata 45 jam seminggu) dibandingkan kaum perempuan (rata-rata 27 jam seminggu). Hasil kajian menunjukkan bahwa kaum laki-laki memiliki etos kerja yang lebih tinggi dalam mengelola hutan rakyat dibandingkan kaum perempuan. Petani. kebutuhan bahan baku 18. Halaman 1-13 . 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. sebagian besar berupa sawmill. Sedangkan plymill 107 unit. dan sumber lain.87 juta m kubik per tahun. Halaman 142-152 . desentralisasi. dan lain-lain sebanyak 150 unit dengan kebutuhan bahan baku 4. yang terjadi karena adanya konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural.60 juta m kubik per tahun (Antara News. penyuluhan.3 milyar. 2006 Keberhasilan pengelolaan hutan rakyat (HR) selain ditunjang oleh sarana prasarana dan modal berupa lahan. -. Kata kunci : otonomi. Dalam pasal 1 Ayat 2 UU No.2 milyar. pulpmill 6 unit. juga ditentukan oleh etos kerja petani selaku pelaku utamanya. logging US$ 3. yang mana etos kerja tersebut akan dipengaruhi oleh persepsi atau sudut pandang petani tentang hutan rakyat. Cilacap.881 unit. hutan rakyat. hutan dinyatakan sebagai Widyaningsih. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara.8 juta m kubik. dan dokumentasi yang kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif. hal ini terlihat dengan masuknya investasi bidang kehutanan yang mencapai US$27.48 juta m kubik. Dampak dari kebijakan tersebut adalah: (a) Adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya hutan.8 milyar dengan rincian. Berdasarkan ijin usaha yang telah diterbitkan tersebut kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan per tahun mencapai 63. Nurheni STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT LESTARI / Nurheni Wijayanto.Barat. 2005). 2005). Hal tersebut terlihat dari hasil kajian yang dilakukan di desa Bener dan desa Sepatnungal kecamatan Majenang kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah pada bulan Juni-Agustus 2006 terhadap 34 orang petani hutan rakyat yang diambil secara sengaja (metode purposive sampling). Kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku kayu oleh industri (zero waste).17 milyar. dan interaksinya dengan sumber daya alam yang ada disekitarnya.

tenaga kerja. mengelola dan memelihara sumberdaya hutan yang ada agar mampu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. mengoptimalkan lahan garapan. termasuk di dalamnya penggunaan sumberdaya hutan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. pemeliharaan lingkungan hidup serta bagi pemerintah daerah. pengembangan hutan rakyat diarahkan kepada usaha-usaha rehabilitasi dan konservasi lahan di luar kawasan hutan negara. lahan pertanian hancur. Das Saddang. kegiatan ini dapat juga dilaksanakan di atas lahan negara diperuntukkan untuk kegiatan penanaman pohon. hal ini antara lain disebabkan oleh semakin besar permintaan pasar akibat tumbuhnya berbagai jenis dan skala industri pengolahan kayu di setiap kabupaten dan propinsi. TANA TORAJA / Hunggul Yudono SHN dan Iwanuddin. Kata kunci: Kelembagaan. dan memaksimumkan pendapatan usaha. Hutan hak tersebut sering disebut dengan hutan rakyat. Usaha hutan rakyat telah dilakukan sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Usaha hutan rakyat merupakan suatu penerapan model usahatani yang tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas fisik per satuan luas lahan. Kata kunci: Hutan Rakyat. MULAI DARI DIRI SENDIRI DAN MULAI SAAT INI: PENGALAMAN DARI SUB DAS MARARIN. sedangkan hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Tana Toraja 183 . sarana-prasarana rusak. diterima masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat.suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. DAS SADDANG. usaha tersebut belum mampu meningkatkan kinerja usaha. 41 Tahun 1999. dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. memperbaiki kualitas lingkungan dan sumberdaya hutan. Berdasarkan statusnya hutan terdiri dari hutan hak dan hutan negara. 2006 Sumberdaya alam yang secara spasial terbagi habis ke dalam DAS/Sub DAS. Das. -. serta sebagai kawasan penyangga bagi kawasan hutan negara. Kegiatan usaha hutan rakyat diharapkan memberikan dampak positif bagi rumah tangga pedesaan. sehingga usaha hutan rakyat tersebut perlu ditingkatkan kinerjanya agar lestari. penyediaan kayu sebagai bahan baku bangunan. dan sampai saat ini usaha tersebut semakin berkembang. Pengelolaan hutan Yudono SHN. penyediaan kayu bakar. Akhirakhir ini ketika bencana banjir.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. sektor angkutan. Pada tulisan ini. lembaga keuangan. Hutan rakyat ini ada yang bersifat subsistem dan ada yang dengan tujuan komersial. usaha perbaikan tata air dan lingkungan. bahan baku industri. Demikian kalimat sakral yang tertuang dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Buruknya pengelolaan DAS menjadi satusatunya tertuduh. Walaupun demikian . melalui strategi dan program pengembangan yang tepat. Namun demikian. Makna yang tersurat dan tersirat adalah adanya kewajiban kepada kita semua untuk mengatur. peningkatan pendapatan masyarakat. penganekaragaman hasil pertanian yang diperlukan oleh masyarakat. dan longsor dimana-mana seiring dengan datangnya curah hujan.Hunggul KELEMBAGAAN DAN NILAI AIR DAS MULAI DARI YANG KECIL. kondisi DAS kembali mendapat perhatian. disampaikan pengalaman mengelola DAS dalam skala mikro dengan menciptakan hubungan timbal balik potitif antara hutan dan masyarakat yang didukung oleh kelembagaan mikro sesuai yang diminta oleh masyarakat. Nilai air. Ketika korban manusia berjatuhan. 2006 : Halaman 101-121 . yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. dan manfaatnya untuk masyarakat. Das Mararin. dimana hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Awang (2003) menyatakan ciri dari hutan rakyat adalah bahwa kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan di atas lahan milik rakyat. Berdasarkan UU Kehutanan No. DAS menjadi istilah yang paling sering muncul baik dalam diskusi-diskusi ilmiah maupun dalam berita-berita di koran. industri.

serta 4) sistem pertanian di Indonesia yang boros air sehingga air kurang termanfaatkan dengan baik. SULAWESI SELATAN / C. -.Prosiding Seminar Peran Serta Para Pihak Dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan daerah Aliran Sungai Cicatih-Cimandiri. With this research can be know institution that take part in watershed management. Govermental administration problems have to be managed according to administration boundary and on the other side watershed need to be managed with the boundary of watershed itself. Sorotan juga diarahkan kepada masyarakat yang berada di wilayah hulu. this research used survey method. akibat peningkatan jumlah penduduk dan kondisi DAS yang kritis.Yudono. This is because the human resources. To gain data of the aim above. DAS SaddangBilawalanae. through direct interview and filling questionair to the respondent. Pengelolaan DAS. Serta dilengkapi juga dengan pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat pengguna listrik dan pendampingannya. Hulu DAS mengalami okupasi oleh masyarakat yang strategi bertahan hidupnya justru membuat mereka terpuruk dalam kemiskinan dan sekaligus juga membahayakan kelestarian fungsi DAS dan wilayah di bawahnya. organization and legislation supporting enough. locally and regionally. 2) Ada kecenderungan mulai terjadi defisit sumber daya air di Jawa. organization and law. not in the form of independent institution but under an appropriation to Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten this time. kekeringan. Halaman 4961 . dan Sulawesi. karena alasan kemiskinan dan merupakan sumber permasalahan. -Prosiding Seminar Penelitian Sosial Ekonomi Mendukung Kebijakan Pembangunan Kehutanan : Bogor. Air Yudilastiantoro. 2006 : Halaman 245-264 . melakukan perambahan hutan dan menggunakan lahan di kawasan lindung bertopografi berat untuk lahan budidaya tanpa memperhatikan daya dukung lahan. 13 September 2005 . This research located in South Sulawesi Province. C KONSEP LEMBAGA PENGELOLAAN DAS TINGKAT LOKAL DAN REGIONAL DI DAS SADDANG-BILAWALANAE. Disamping untuk kepentingan pembangunan kehutanan. Primary and secondary data analyzed with Stakeholders Analysis Method and SWOT Analysis Method. dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil ini juga dilakukan pengumpulan data dan survey agar dapat dihasilkan informasi yang akurat hubungan sebab akibat antara kondisi hutan. longsor. 2005 Kondisi di Indonesia dari data yang ada menunjukan adanya: 1) peningkatan jumlah DAS kritis satu dari tahun ke tahun. Pembangkit Listrik. Lembaga Pengelola. Sumatera. Can be recommended that institute of local watershed management formed in every regency. some regency wish the form of selfsupporting Otorita that still under conducting Governor as province leader. Kata kunci: DAS. The research was done in DAS Jeneberang and Bilawalanae from August untul December 2005.hasil air . energi listrik alternatif ini juga dapat digunakan untuk mengatasi krisis listrik yang saat ini banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. with studying fundamental duty and institution function which related in watershed management. The aim of this research is to studying about watershed management in local and regional level. Yudilastiantoro dan Tony Widianto. Sulawesi Selatan 184 . Hunggul MIKRO HYDRO ELECTRIK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR SKALA KECIL: MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT DAN MENJAGA HUTAN DENGAN HASIL AIR / Hunggul Yudono SHN dan Gunardjo TJ.Secara langsung maupun tidak langsung ditengarai salah satu penyebabnya adalah eksploitasi kawasan hutan lindung di daerah hulu yang mempunyai fungsi sebagai pengatur tata air.energi listrik kesejahteraan masyarakat. Untuk dapat lebih mengoptimalkan hasil.Salah satu kegiatan yang dapat menjawab permasalahan hubungan antara hutan dan masyarakat adalah dengan pemanfaatan air sungai yang berasal dari hutan untuk menghasilkan sumber tenaga listrik alternatif bagi masyarakat yang ada di sekitar hutan. especially at saddang and Bilawalanae Watershed. 2006 Decentralize era result the change of local government competency in the form of institutional reinforcement of watershed management. seen from human resources. 3) terjadinya peningkatan frekuensi banjir besar dan kekeringan di berbagai tempat. Kata kunci: Mikro Hydro Electrik. berbagai DAS menjadi sensitif terhadap bencana banjir. For regional watershed management.

Budiman. Satria. 1 Abdurrohim. Herman. Ari. 144. 139 Ade. 74 Darwati. 103 Dharyati. Sulistya. Hardjono. Tigor. 11 Daryono. Sasa. 102 Bau. 1 Adinugraha. 4. 143. Rachman. Yanuarius Koli. Sofwan. 101 Basri. 141 C D D. 9 Bustomi. Bambang S. 76. 99 Adinugroho. 105 Diniyati. 9. Emmy. 74 Bastoni. 12 Darmawan. Mohd. Martono. Luciasih. Deden. Wida. 145 Endom. 142 Dulsalam. Harun. Burhanuddin. 99 Antoko. Andy. 4 Anwar. 5 Arisman. 2 Alrasyid. 104 Darwo. 139 Andianto. 103 Bustomi. Dian. 146 Ekawati. 9. 4 Alviya. 147 Fiani. 1 Adman. 9 Cahyono. Eva. 11 Darwiati. S. 140 B Bakri. 105 Fatima. Chris. 1 Agustini. 6. 105 185 . 140. Hamdan Adma. Wesman. 138. 142. 100 Asmaliyah. 13 Fauziyah. Wida. Saptadi. Chairil. Faiqotul. 1 Alrasjid. 144 Djaenudin. 3. 8 Beadle. 101 Astana. 73 Anggraeni. Sofyan. 74 Danu. 100. 7. A. Efrida. 10. 98. 103 Butar-Butar. Illa. 77 F Falah.INDEKS PENULIS A Abdurachman. Imaculata. Iis. Wahyu Catur. 145. 2. 73 Achmad. 8. Harun. Indra Jaya. 12 E Effendi. 100 Asaad. 12 Farid A. 75 Durahim.

157 Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. Djeni. 150 Halidah.I.Sri. 25 Kuswandi. 20 Karyono. 13 Ginoga. 109 Husna. 109 I Indartik. 81 Lempang. Priyo. 17 Hendalastuti. 154. 112 Junaidi. 114 Lazuardi. 26 L Lasminingsih. Ngaloken. 19 Iskandar. L Michael Riwu. 108 Harisetijono. Henti. Ismatul. 158 Kuswanda. 24 Kusumedi. A. 13 H Hairudin. 23. Henti. 156 Kayat. R. 21 Komala. Teguh.. Kirsfianti Linda. 151 Hendalastuti R. 17.D. Morag.G Gaffar. Wuri. M. 82 Lestari. 113 Kuntadi. Dian. Rusli M. Neo Endra. 21 Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis.S. 106 Golani. 111 Judhiharto. 155 Iriansyah. 113 Kurniawan. 19 K Kaho.79 J Jasni. OK. 18. 15 Handayani. Rahman. Setiasih. 25 Kwatrina. 158 Kurniawan. A. 151 Harahap. 14 Harun. G. 79. Hendi. 16 Hardi TW. 159 Lelana.. 155. 149. 152. 77 Hakim. 78. 148 Gintings. 22 Kosasih. 82 Lestari.Syafari. 107 Hardiyanto. 24. 22 Kurniadi. 80. 16. 157 Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya. N. 110. 27 186 . Ermi E. Wanda. 16 Hendarto. 156 Koeslulat. Asep. 107 Hajib. 19 Hermanto. Rozza Tri. Setyani B. 14 Hayati. Eko B. 22 Krisdianto. 108 Heriyanto. R. 153 Hendra. 153 Irawanti. 20. A. Kresno Agus. 81. Mody. Agus. 153 Hood. Mudji. Relawan. Ian A. 79 Jayusman. Adi. Heru. 147. 157 Kunarso. 106 Garsetiasih. 109 Hidayat. 149 Glen.M. Maming. Nanang. Marinus Kristiadi. 107 Gunaja. Karim. 78 Herdiana. Edy. Nur. Hery. 112. Nurwati. I Made.

166 Rachman. 113 Omon. 31. 36 Nurhayati. 116. 43 Retna I. 39 Prayudyaningsih. Eulis. 32 Natawijaya.P. 87 Pasaribu. C Andriyani. 83 Marbawa. Tejo. Ida. 26. 162. 159 Malik. Aris.U. 29. Ridwan A.. Syofia. Yamin. 167 Rochmayanto.I. 117 Muchtar. Abdullah Syarief. 27 Mahfudz. 119. 121 Premono. Bismark. 167 Retnowati. Suryanto. 32..Lubis. 34 Novrianto. 40 Premono. 35 Nurdawati. Y. 37. 120 Pratiwi. Anto. 162 Ngatiman. 82. Gunawan. 117 Misdarti. 41. I Ketut Catur. 160. 35 Nurhaedah M. 88 Rachmawati. 84 Nugroho. Dedi. Joko. 120 M M Hidayatullah. 41 Rahmat. 118 Njurumana. Abdul Hakim. 37. 122. 38 Purwanto. M Yamin. 83 Mandang. 121 Pudja M. 163 Nurhaedah M. Kristian. Nunung. Gustan. 115 Mairi. 28 Martin. 169 187 . 87 Pramono. 33.L. Yanto. Retno. Mamat. Agung Wahyu. Ruben. Irwansyah Reza. 86. 34 Noorhidayah. 28 M. Encep. Indra A. 42. 87 Parlinah. 120 Prihatini. 165 Putri. 27. 162 Mindawati. Eka. 44 Rimbawanto. 36. 42 Rayan. Amir. Syarifah. Tejo B. 30 Munandar. B. Budi Hadi. 83 Mohammed. 41 R Rachman. Dewi. 160 Ma'ruf. 38 Pasaribu. Nina. 43 Renden. 30 Mile. Heru Dwi. 84 O P Panjaitan. I. 84 N Narendra. 30. Sudin. 168. 163 Parthama. Tjutju.S. Osly. Caroline L. Jamaludin. 118 Muslich. Gerson ND. Edwin. 28. 122 Riyanto.B Putera. 113 Lukman. 122 Rahmayanti. 29 Mile. Fitri. 161. 121 Priyono. Mohammad. Istiana. 119 Nurfatriani. 123. 38 Pari. 164 Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Mulyana. 39 Prasetyawati. R. 32.. M. 85.

51 Siahaan. 88. Reny. 128 Subarudi.. 132 Ulya. 56. 176.. 133 W Waluyo. 64 Suryanto. 48. Achmad. Mustaid. 91 Suhartati. 90. 65 Suwandi. 133. 53 Siswoyo. 130 Tira. 89 Ruby. 174 Syahadat. Ogi. Mariana. Lukas. 131. 179 T Takandjandji. Sona. 51 Setijono.. 169 Santoso. 50. Harris Herman.. Retno. Priyono. Hadi. 129 Sumardi. 92 Sumantoro. 61. Agus Djoko. 60 Sumarhani. 44. Nur Arifatul. R. 58 Suhartana. 64. Agis Nursyam. Bambang. 65 Susila. 58. Maliyana. 93. Agus. 45. 174 Surata. Andi Gustiani. 90 Sudrajat. 52 Siringoringo. 55 Suhaendi. 47 Santoso. 56 Supangat. Epi. Adi. 60 Sukrianto. Sri. 131 U Ulfa. 178. 57 Suherman. Sulistyo A. I Komang.Roliadi. 54. 57. 65 Suyarno. Hendi. 170 Sufyadi. 89 Sawitri. 168 S Salim. 94 Suprianto. La Ode Asir. 125 Santoso. 59. 173 Supriadi. Dede J. 178. Pujo. 175. 126 Setiawan. 51 Siran. Erdy. 127. 62. 63 Suryanto. Dedi. 54 Sudradjat. Tiwa. Hengki. 169 Satyawardana. E. 91 Sukresno. 92 Sumadi. Agung B. 177 Subiakto. 47. 66 Taufikurahman. 177 Sujatmoko.M. 63. 44 Rumboko W. 128 Suhaendi Hendi. 130 Susanty. Atok. 95 188 . 174. 93 Suprapto. Han. Budi. 126 Setyowati. 66 Tjahjono. I Wayan Widhana. Agus. 46. 171 Sugiana. 67. Djoko. 55. Teguh. 172 Suprapti. Dedi. 129 Suharti. Sujarwo. Totok K. 55 Sugiarto. 176. 180 Utomo. 89. 129 Sumadiwangsa. 179 Sylviani. I. Budi. Ismayadi. 170. Farida Herry. 45 Samsoedin.. Suwardi. 127 Sofyan. 173 Supriadi. 58 Sukadaryati. Kamindar. 171 Sulastiningsih. Sihati. 52 Siregar. 49 Setiadi.

67 Wardi. 71 Yassir. 184 Yudono SHN. 135 Wijayanto. Nurheni. 94.Waluyo. 133 Wiati. 96 Winarno. Danu. 184 Yuliansyah. 69.Hunggul. Ishak. 96 Widiarti. 183 Yudono. 134 Wijaya. Marfu'ah. 95 Wasrin. Totok K. 70. 95 Wardani. Hunggul. Arian. Catur Budi. 68. 136 189 . Upik Rosalina. Santiyo. 71 Y Yafid. 181 Wibowo. 72 Yuniawati. 67 Wardojo. 181 Wargadalam. C. Tri Sulistyati. 136 Yeny. 97 Z Zulfikhar. 72 Yudilastiantoro. 69 Wibowo. SM. Ari.. 182 Winarni. Asmanah. Bondan. 182 Widyastuti. Eritrina. Ina. Bugris. Irma. 70 Widyaningsih. I Nyoman. 135 Windyarini.

83 Bambu Lapis. 72 Bali. 14. 74 Biaya Dan Pendapatan. 92.INDEK KATA KUNCI A Acacia Mangium. 85. 64 Analisis Sosial Ekonomi. 102 Alang-Alang. 13 Burung Merandai. 36. 12. 66. 13. 55 Briket Arang. 119 Alat Expo-2000. 7 Biomasa. See Pulai Darat Alstonia Scholaris (L) R. 87 Arang Bambu. 71. 117. 172 Bitti. 117 Anggrek. 62. 28. 21. 61 Budidaya Rotan. 57 Burung. 160. 163 Bioinsektisida. See Kayu Palaso Agribisnis. 142. 14 Anatomi. 86 Aglaia Sp. 117. 63. 41 Burung Bayan Sumba. 162 Agroforestry. 2 Areal Bekas Penambangan Batu Apung. 45. 27 Biofisik. 138. 69. 11 Aplikasi Mikoriza. See Jabon Aplikasi Endomikoriza. 55. 109. 124 C Cabutan Anakan. 33. 105. 134 Anthocephalus Chinensis (Lamk. 138 Basidiomycetes. 170 Aceh. 40. 82 Anatomi Kayu. 117 Busuk Hati. See Pulai Ampupu. 49 Busuk Akar. 109 Basis Data. 85. 52. 140. 61. 31 Areal Tegakan Sisa Hutan Alam. 41.. 59. 165.. 80. 29. 92 Bambu Rakyat. 23. 86. 92 Bambu Laminasi. 48. 57 Adsorben. 74. 77 Alstonia Angustiloba. 37. 27 B Bahan Bakar Alternatif. 79.Br. 17 Bentonit. 106. 181 Aquilaria Microcarpa. 138 Araucaria Cunninghamii Sw. 78. 26. 138 Bambu Lamina. 5. 160. 4 Avifauna. 159. 26. 83 Benih Tanaman Hutan. 169. 51. 29. 73. 71 Anakan Jabon. 90 Budaya Masyarakat. 28. 100. 166 Agrosilvofishery. 113. 132 Aplikasi Sistem Informasi Geografis. 30. 108 Budidaya Klicung. 67 Bambang Lanang. See Gaharu Arang Aktif. 158 Budidaya Kepuh. 144 Biodiversitas. 24 Budidaya Vanili. 106. 42 Analisis Model Pendugaan Volume Jenis. 108. 43 1 . 17 Antagonistik. 38. 167. 73 Andosol. 108 Bambu.

51. 111 Getah Pinus. 52 Etnobotani. 100 Ex-Situ. See Eceng Gondok Ekaliptus. 128 Cuka Kayu. 130. 87 Frekwensi Pemeliharaan. 95 Genetik. 12. 101. 19. 134 G Gaharu. 34 Hutan Lindung. 148. See Ulin . 21. See Jelutung E Eboni. 9 Core Research.Cendana. See Ampupu Eusideroxylon Zwageri. 16. 12. 140 Hutan Bekas Tebangan. 157. 32. 68. 140. 27. 146. 45 Hutan Hujan Tropik. 35. 27 F Fenologi. 39. 20. 123 Gerhan. 43. 123. 151 Hormon Iaa. 100 Eksploitasi Hutan. 92. 174 Hutan Kota. 112. 133. 50. 141 Getah Pinus Merkusii Strain. 57 Gmelina Arborea Roxb. 60 Gossampinus Malabarica Alst. 71. 122. 98. 11. 169 Hasil Hutan Non Kayu. 23. 57 Ekosistem. 40. 50. 140. 42. See Kayu Randu Alas H Hama. See Klicung Dipterocarpaceae. 13 Ekspor. 88 Endemik. 104. 131 Hasil Hutan Bukan Kayu. 46 Hutan Kemasyarakatan. 84 Dyera Lowii. 27. 179 191 Eichhorniae Crassipes Solms. 41. 16 Ekonomi Rakyat. See Hasil Hutan Bukan Kayu Hidrologi. 182 Eucalyptus Urophylla S. 4 Forest Health Monitoring. 127. 118 Ekologi. 164. 20.. 150. 168 Diospyros Celebica Bakh. 135 Ekowisata. 57. 134 Fungi Trichoderma. 12 Eceng Gondok. 59 Desentralisasi. 25. 134 Formaldehida. 121 Herbisida. 179 Daerah Penyangga. 1. 36 Hhbk. 7. 14. 37. 166 Hama Penyakit. 68. 10. 111. 62 Cervus Unicolor. 123 Eusideroxylon Zwageri Teijsm. 7 Etos Kerja. See Rusa Sambar Citra Satelit. 156. 44 Efikasi. 44.T Blake. 107. 133 Ekologi Hutan. 99. Binn. 69. See Burung Bayan Sumba Elignification. 34. 117 Fungi Patogen. 110 Hukum Adat. 84 D Daerah Aliran Sungai. 119. See Eboni Diospyros Malabarica Der Kostel. 140 Electus Roratus Cornelia Bonaparte. 52. 100. 98 Hormon Pertumbuhan. 4 Flora. 129. 57. 59. 38 Erosi. 158. 65.

133. 168 I Identifikasi Jamur. 28 Jamur. 119 Kayu Keras. 109. 97. 119 Hutan Rawa Air Tawar. 181 Karbon. 127. 16. 160. 74 Jamur Patogen Serangga. 115. 77. 93 Jarak Pagar. 125. 47. 68 Kearifan Lokal. 28 Jenis Flora. 135 Hutan Rawa Gambut. 93. 99 Kayu Randu Alas. 81 Jamur Perusak Kayu. 172 Jatropha Curcas Linn. 173.Hutan Mangrove. 54. 65. 159 Jati. 135. 112 Hutan Produksi. 5. 156. 106 Jamur Biru. 62 Hutan Penelitian. 67 Illegal Logging. 83 Kayu Tusam. 179 Jawa Timur. 10 Industri Cinderamata. 74. 127 Kalimantan Timur. 73 Kayu Kurang Dikenal. 140. 48 Irigasi. 10 K Kalimantan Barat. 3. 177. 78 Kearifan Lokal. 153 Imbal Jasa. 108 Kayu Putih. 30. 90 Jarak Tanam. 182 Hutan Rawa. 178 Jelutung. 81 J Jambi. 19. 121. 81 Industri Kehutanan. 112 Hutan Ulayat. 84 Keawetan Kayu. 33. 157. 178. 36. 62 Hutan Tanaman Industri. 144. 68. 8 Hutan Tanaman Rakyat. 82. 89 Kawasan Konservasi. 73 192 . 45. 167. 79 Kayu Lapis. 80. 80. 147. 34. 122. 58 Karbon Tanah. 65 Jenis Pohon Tepat Guna. 52. 59. 131 Invitro. 27. 166. 65. 121. 84. 87 Kayu Palaso. 141 Imperata Cylindrica L. 129. 132. 60. 4 Kayu Bulat. 46. 94 Inokulasi Cendawan. 143. 171. 156. 1. 90. 136 Hutan Rawa Sungai. 169 Keawetan 25 Jenis Kayu. 95 Industri Perkayuan. 47. 89. 6. 146 Hutan Rakyat. 114 Karton. 14. See Jarak Pagar Jawa Barat. 72. 46. 41. 130. 24. Beauv. 29.. See Alang-Alang Inang Gaharu. 116. 86. 32. 175. 155 Kawasan Penyangga. 115. 106 Identifikasi Jenis. 53 Karet. 79. 123. 161. 4 Jenis Introduksi. 146. 140 Kayu Kamper. 103 Isolat. 112. 150. 103. 128. 33 Isi Pohon. 12 Kawasan Wisata Alam. 174. 82 Kayu Pertukangan. 8 Jenis Andalan Setempat. 81. 68. 51 Jenis Burung. 139. 116. 176. 152 Hutan Tanaman Jelutung. 53. 142. 157. 4 Kalimantan Selatan. 177. 104. 145. 59. 106 Hutan Tanaman Cendana. 146. 18. 25. 55.

150. 48 Kesuburan Tanah. 140. 150. 55 Media Sapih. 56. 45. 58 L Lahan Basah. 6. 132 Lahan Rawa Gambut. 96 Kulit Mangium. 74 Mesin Serpih. 120. 136. 154. 32. 26 Kualitas Aliran. 69 Kebakaran Hutan. 15. 161. 101. 64. 143. 5. 111 Kemiri. 30. 173. 11 Lahan Rawa. 35. 184 Mikroba Simbiotik. 25. 122. 110. 170. 17 Kerajinan. 113 Media Kecambah. 176. 50 Kualitas Semai. 98 Kembang Susut. 105. 79. 102. 102 Mangrove. 96 Kemiskinan. 131. 126. 111 Mikologi. 138 Kesesuaian Jenis. 111. 15. 155 Manokwari. 87. 136 Mikro Hydro Electrik. 157. 183 Kelompok Tani. 169 193 Maduca Aspera. 62. 2. 158. 21. 85 Limbah. 36 Komponen Kimia. 8. 118. 152 Kepuh. 27 Kelapa Sawit. 72 Masyarakat Sekitar Hutan. 132 Lahan Tegakan. 112. 107 Kelayakan Usaha. 108 Megapolitan. See Kayu Putih Meranti Merah. 170 Melaleuca Cajuputi Subsp Cajuputi. 151 Lahan Kurang Produktif. 108 Keragaman Jenis Anggrek. 67.Kebakaran. 114 Lahan Kritis. 93 Metode Ekstraksi. 125 Kualitas Serat. 20. 177 Kebun Konservasi. 74. 49 Lahan Bekas Tambang Batu Kapur. 126. 32. 109 Mikoriza. 144. 109. 60. 61 Klon. 65. 22 Lebah Madu. 45 Kelembagaan. 79 Kulit Kayu. 2. 74 Kemenyan. 146 Mati Pucuk. 38. 148. 107. 121. 184 Lignin. 109. 126. 42 Media Kultur. 48. 55. 46. 114. 117 Klicung. 174 Kelembagaan. 102 Media Tabur. 152. 140 Kemitraan. 43 Lahan Pasca Penambangan Batu Gamping. 78. 27. 95 Kokon. 86 Kontrak. 87. 138 M Mahoni. 4. 122. 130 Kutu Lak. 114. 143. 18 Kriteria Dan Indikator. 94. 9. 144 Kemampuan Bertunas. 24. 149. See Bambang Lanang . 65. 2. 15. 85 Kulit Kayu Medang Landit. 67. 136. 180 Kebijakan. 36. 89 Kultur Jaringan. 89. 110. 156. 22 Lembaga Pengelolaan. 158. 10. 14. 118. 23. 132. 66 Lahan Gambut. 120 Mesin Pengering. 115 Kohobasi. 172 Lebah Hutan. 67. 179. 69 Konyal. 10. 67.

87 Pemangkasan. 37 Pemetaan. 81 Nilai Ekonomi. 97 Murbei. 170 Nypa Fruticans. 88 Pengolahan Rotan. 25. 145. 22. 58. 13. 76 Pemanfaatan Huta. 64 P Pakan. 19. 114. 60. 167 Pengelolaan Hutan. 156 Pendapatan Masyarakat. 80. 12. 5. 180 Penduga Volume Pohon. 47 Penangkaran. 164 Nipah. 79 Pendapatan Asli Daerah. 99 194 . 57. 13. 91 Pemanenan Hutan. 158. 57. 171. 107. 1 Model Input-Output. 69. 142 Pembangunan Kehutanan. 10. 25 Pemanfaatan Limbah. 61. 161. 20. 73 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 147. 61. 107. 12 Model Pendugaan Biomassa. 77 Pembalakan Liar. 141. 9. 76.. 182 Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. 161 Pengolahan Kayu. 38. 19. 126. 15 Morus Spp. 157 Pembangunan Hutan Tanaman. 151 Pengelolaan Kawasan Hutan. See Nipah O Okulasi. 34. 178 Pengawet Nabati. 107 Murbey Eksot. 22 Pakan Burung. 29. 48. 96 Pengawetan. 39. 121 Mimba. 100.. 125 Otonomi Bidang Kehutanan. 9. 75. 112. 13. 94 Peluang Dan Tantangan. 67. 155. 104. 33. 80 Pengupasan Kulit. 151. 67 Pembentukan Gaharu. 2 Morfologi. 3. 92 Papua. 113 Nira Aren. 180 Model Pemanfaatan Partisipatif. 39. 35. 67 Morphoedafik. 120. 33. 174 Pengelolaan Hutan Rakyat. 19 Pemungutan Rotan. 140 Pemanenan. 28. 44 Pembangunan Hutan. 13 Papan Partikel. 164. 23. 44 Paraserianthes Falcataria. 155. 149. 162 Pengelolaan Lahan. 107. See Konyal Pelapukan. 66 Penatausahaan Hasil Hutan. 2 Pembiakan Vegetatif. 175. See Murbei Muat Bongkar. 81. 44. 133. 39 N Nata Pinnata. 40 Mutu Benih. 149. 153 Pemupukan. 98 Nusa Tenggara Timur. 6. 28 Passiflora Edulis Sims. 157 Pemanfaatan Lahan. 161. 124 Mutu Bibit. 178 Pengelolaan Lahan. 129 Penertiban Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan. 107. 15 Pelengkungan. 23 Pemanfaatan Kayu. 132.Mikrosatelit. 4. 146. 96 Nusa Tenggara Barat. 163. 177. 103 Pembalakan. 41. 41 Pakan Buatan. See Sengon Partisipasi Masyarakat. 82. 176 Pencegah Serangan Rayap. 79. 136. 25. 39. 47. 118.

92 Perencanaan Pengelolaan. 122. 7. 170 Rehabilitasi Lahan. 42 Pupuk Kandang. 103 Penotipa. 163 Perekat. 38. 99. 162. 111. 89. 115 Sengon. 169. 129 Pupuk Daun. 166 Serangga Hama. 3 Social Capital. 70. 84. 40. 1. 100. See Meranti Merah Sifat Fisiko-Kimia. 159. 23. 159. 99 Rekayasa Sosial. 32. 160. 20 Perlindungan Hutan. 38. 136. 7. 6 Penyakit Embun Tepung. 127. 47. 131 Pulai Darat. 71 Potensi Tegakan Hutan Alam. 97 Penyelundupan Kayu. 100. 153 Rumah Kaca. 17. 94 Sifat Fisis Dan Mekanis. 91 Sistem Kaliwu. 16 Pupuk Nitrogen. 4. 93. 9 Pranata Sosial. 105 Puspa. 36 Rusa Sambar. 130. 3 Produktivitas Dan Biaya. 80. 51. 13. 16. 145. 44 Penyu. 7. 51. 58 Pulai. 15. 78. 169. 29 S Santalum Album. 97 Provenansi. 61 Penyakit. 101. 145 Rejuvenasi. 44. 86 Sertifikasi. 150 195 Salinitas. 123 Scion. 69. 110 Rayap Kayu Kering. 118 Penyakit Embun Jelaga. 104 Peta Potensi. 131. 7. 133. 173 Shorea Leprosula Miq. 166 Penyakit Bercak Daun. 133 Perlindungan Hutan. 52 Pohon Tahan Api. 81 Rehabilitasi. 100. 153 Rotan. 69 Peredaran Kayu. 6 Penyaradan Kayu. 177 Riau. 75. 130 Pestisida Nabati. 31 Sistem Tebang Pilih. 9. 104. 80 Serbuk Gergaji. 4. 39. 129. 35 Serat Batang Kelapa. 120. 132. 31. 69. 22 Penotipe. 48 Produksi Kelompok Hutan Alam. 170 Rehabilitasi Hutan. 20 Pestisida. 116 Perikanan. 77 Sifat Tanah. 151 Perhutanan Sosial. 31 Rehabilitasi Lahan. 32 Sistem Kerek. 65. 124. 21 Sistem Pertanaman Lorong. 82 Penjarangan. 1. 33. 172 Peran Jender. 15 . 89 Petani Penyadap. 112. 75. 39. 31. 66 Peran Hutan. 76. 36. 6. 8 Rencana Makro. 71. 70. 140 Pohon Lokal. 136 Sistem Kabel Layang. 106. 79 Rayap Pekerja. 33. 146 Perlindungan Hutan. 162. 52. 103 R Ramin. 62. 32. 39. 120. 38 Produksi Daun. 152. 38. 152. 105.Peningkatan Kualitas Kayu. 123. 7 Serasah. 24. 132. 129.

154. 43. 19 Tumbuhan Obat. 19 Tanaman Mimba. 97 Tumbuhan Berkayu. 179 Tataniaga. 184 Sulawesi Tenggara. 60. 22. 167. 63. 26 Taman Nasional Gede Pangrango. 37. See Kepuh Strata Tajuk. 68. 130 Taman Nasional Bali Barat. 41 Taman Nasional Komodo. 51. 132. 18. 109 Sumatera Selatan. 130 Stek Akar. 87 Ulat Sutera. 82 Teknologi Pemanfaatan Kayu. 69. 181 Supply-Demand. 56 Teknik Pembibitan. 66. 28. 59. 98. 179 Sumberdaya Hutan. 33 Sukabumi. 116. See Mahoni T Tajuk Pohon. 54. 16. 173 Standarisasi Benih. 12 Stek. 154 Taman Nasional Betung Kerihun. 175 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 149. 17 Teknik Penyiangan. 36 196 .. 89 Tanin. 28. 177 Sosial Ekonomi. 35. 70. 171 Surian. 89 Tapak. 172 Tata Usaha Kayu. 179. 179 Sumberdaya Air. 18 Taman Nasional Gunung Rinjani. 30 Taman Nasional Laiwangi .Social Forestry. 1 Tanaman Penutup. 87. 18. 58 Teknik Budidaya Padi Gogo. 46 Strategi Pengelolaan. 170 Tingkat Kerontokan. 17 Taman Nasional Bukit Tigapuluh. 126 Sulawesi Selatan. 155. 83. 175 Subak. 160 Teknik Pengepakan. 107 Ukiran Kayu. 113 Sumber Daya Air. 44. 79. 173. 55 Teknik Penangkaran Penyu. 127 Teknik Pemeliharaan Tegakan. 161. 11. 136. 25. 115. 169 Teknologi Pemadatan. 153 Taman Nasional Bromo Tengger. 24. 174. 21. 160. 149. 102. 128. 5. 5. 51. 142. 55 Taman Nasional Kerinci Seblat. 105. 56 U Uji Efikasi. 27. 34 Tumpangsari. 36. 165 Teknologi Perbenihan. 126 Sterculia Foetida Linn. 105. 72 Tumbuhan Obat. See Jati Teknik Budidaya Kutu Lak. 63. 98. 54. 28. 113. 163. 103 Sukun. 25. 66 Teknik Pengelolaan. 19. 128 Teknik Silvikultur. 94.. 39. 162. 96 Sumber Benih. 172 Sumatera Utara. 4. 41. 32 Tandan Kosong. 120.Wanggameti. 58 Taman Nasional Meru Betiri. 138 Tapak Hutan. 55. 127. 121. 19. 163. 141. 111 Swietenia Macrophylla King. 61. 23. 121. 154. 158. 75. 114. 70 Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. 13. 139 Tectona Grandis L. 178. 57. 114 Teknologi Mikroba Simbiotik. 30. 20 Taman Nasional Kelimutu. 163.F. 48 Tipe Vegetasi. 118. 30. 169 Teknologi Pemuliaan. 102 Traktor Caterpillar. 19 Tata Air. 164 Sosial Forestry. 126. 91.

84 Venir Silang. 102 Venir. 51 Urea. 42. See Vanili Vegetasi. 57.Ulin. 34. 78. 83 X Z Zat Pengatur Tumbuh. 27 Wawasan Lingkungan. 47 V Vanili. 174 W Vanilla Planifolia Andrews.. 76. 115 197 . 91 Wisatawan. See Bitti Volume Teras Kayu. 1. 78 Vitex Cofasus Reinw. 98. 80 Xylarium. 57 Wallaceae.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful