Tindakan pemerintah : 1. Abatisasi masal, sasarannya melalui sertifikasi desa endemis dan non endemis.

Untuk desa endemis dilakukan abatisasi selektif (abatisasi terhadap tempat-tempat penampungan air yang ditemukan jentik2 nyamuk aedes agepty) 2. Foging masal 3. Pemberantasan sarang nyamuk (3M) Berdasarkan kemenkes no581/1992 tentang pemberantasan penyakit demam berdarah dengue, maka upaya pemberantasan penyakit dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat yang dilakukanmelalui kerjasamalintas program/ sektoral. Pengorganisasianmasayarakat di desa/kelurahan dilaksanakan melalui pokja demam berdarah dengue-lkmd yang dibinasecara berjenjang oleh pokjanal tim pembina lkmd samkpai dengan pusat (Siregar, 2004) Dr. Faziah A. Siregar. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-fazidah3.pdf

KEBIJAKAN PEMERINTAH Dalam rangka mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh penyakit demam berdarah, pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa kebijakan, di antaranya adalah:   Memerintahkan semua rumah sakit baik swasta maupun negeri untuk tidak menolak pasien yang menderita DBD. Meminta direktur/direktur utama rumah sakit untuk memberikan pertolongan secepatnya kepada penderita DBD sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku serta membebaskan seluruh biaya pengobatan dan perawatan penderita yang tidak mampu sesuai program PKPS-BBM/ program kartu sehat . (SK Menkes No. 143/Menkes/II/2004 tanggal 20 Februari 2004).   Melakukan fogging secara massal di daerah yang banyak terkena DBD. Membagikan bubuk Abate secara gratis pada daerah-daerah yang banyak terkena DBD. Melakukan penggerakan masyarakat untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M dan merekrut juru pemantau jentik (jumantik).   Penyebaran pamflet lewat udara tentang pentingnya melakukan gerakan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur). Menurunkan tim bantuan teknis untuk membantu RS di daerah , yang terdiri dari unsurunsur Ikatan Dokter Anak Indonesia, Persatuan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia, dan Asosiasi Rumah Sakit Daerah   Membantu propinsi yang mengalami KLB dengan dana masing-masing Rp. 500 juta, di luar bantuan gratis ke rumah sakit. Mengundang konsultan WHO untuk memberikan pandangan, saran dan bantuan teknis.

penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti DBD berhubungan dengan kondisi yang cuaca hangat.aegypti (Irpis 1972). Vektor nyamuk bersifat sensitif terhadap kelembapan. terutama fektor serangga. dan laju perkembangan telur menjadi larva. larva dan pupa nyamuk menjadi imago. ban bekas. lamanya penyinaran oleh matahari juga mempengaruhi peningkatan kasus DBD. Suhu juga berpegaruh terhadap aktifitas makan (Wu & Chang 1993). (2006) faktor abiotik seperti curah hujan. 1990). Kelembapan dapat mempengaruhi transmisi vektor born disease. FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI KEHIDUPAN VEKTOR Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan vektor adalah faktor abiotik dan biotik. Sasaran pembuangan atau penaruhan barangbarang bekas tersebut biasanya di tempat terbuka seperti lahan-lahan kosong atau lahan tidur yang ada di daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan. Menurut Barrera et al. dan serangga air yang ada dalam kontainer itu juga berpengaruh terhadap siklus hidup Ae. parasit. Demikian juga faktor biotik seperti predator. dan sejenisnya yang dibuang atau ditaruh tidak teratur di sebarang tempat. Pada musim kemarau banyak barang bekas seperti kaleng. Ketika cuaca berubah dari musim kemarau ke musim hujan sebagian besar permukaan dan barang bekas itu menjadi sarana penampung air hujan. Setiap benda berlekuk atau lekukan pohon atau bekas potongan pangkal pohon bambu juga potensial sebagai penampung air jernih yang dapat dijadikan tempat peletakkan telur bagi serangga vector terutama Ae. temperatur. Pada musim hujan imago bertina memperoleh habitat air jernih yang sangat luas untuk meletakkan telurnya. Terlebih lagi cuaca dalam keadaan mendung dapat merangsang naluri bertelurnya nyamuk. komunitas mikroba. Fenomena lahan tidur dan lahan kosong sering menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga termasuk barang kaleng yang potensial sebagai tempat pembiakan nyamuk.Faktor yang meningkatkan kasus dbd: 1. larva menjadi pupa dan pupa menjadi imago (Rueda et al. Bila di antara tempat atau barang bekas itu berisi telur hibernasi maka dalam waktu singkat akan menetas menjadi larva Aedes yang dalam waktu (9-12 hari) menjadi imago. gelas plastic. dan evaporasi dapat mempengaruhi kegagalan telur. Di Indonesia. keler plastic. Keberhasilan itu juga ditentukan oleh kandungan air kontainer seperti bahan organik.. faktor curah hujan itu mempunyai hubungan erat dengan laju peningkatan populasi di lapang. aegypti. ukuran dan letak kontener (ada atau tidaknya penaung dari kanopi pohon atau terbuka kena sinar mata hari langsung) juga mempengaruhi kualitas hidup nyamuk. 2006). Faktor suhu dan curah hujan berhubungan dengan evaporasi dan suhu mikro di dalam kontainer (Barrera et al. Iklim  menurut WHO. Factor curah hujan mempunyai pengaruh nyata terhadap flukstuasi populasi Ae. albopictus yang biasa hidup di luar rumah. Selain itu bentuk. Dengan . kompetitor dan makanan yang berinteraksi dalam kontener sebagai habitat akuatiknya pradewasa juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilannya menjadi imago.

00 – 12.00 . tempayan.Tempat istirahat yang disukai : Tempat-tempat yang lembab dan kurang terang. tirai Di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah. sumur gali Wadah yang berisi air bersih atau air hujan : tempat minum burung. dan lebih suka pada jam 08. C. nyamuk betina sering menggigigt lebih dari satu orang .Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2 – 3 hari sekali .00 dan jam 15. pot bunga. seperti kamar mandi. B. kelambu. WC Di dalam rumah seperti baju yang digantung. istirahat dan berkembang biak. potongan bambu yang dapat menampung air. PERILAKU ISTIRAHAT . PERILAKU BERKEMBANG BIAK .demikian populasi nyamuk meningkat drastis pada awal musim hujan yang diikuti oleh meningkatnya kasus DBD di daerah tersebut PERILAKU NYAMUK AEDES AEGYPTI Untuk dapat memberantas nyamuk Aedes Aegypti secara efektif diperlukan pengetahuan tentang pola perilaku nyamuk tersebut yaitu perilaku mencari darah. vas bunga. . sehingga diharapkan akan dicapai Pemberantasan Sarang Nyamuk dan jentik Nyamuk Aedes Aegypti yang tepat. botol. nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur . drum air. tempat .00 – 17. A. dapur.Setelah kenyang menghisap darah.Menghisap darah pada pagi hari sampai sore hari. ban bekas. PERILAKU MENCARI DARAH . kaleng.Setelah kawin.Untuk mendapatkan darah yang cukup.Nyamuk Aedes Aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti : Tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari : bak mandi. WC. nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2 – 3 hari untuk mematangkan telur.Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan. bak menara (Tower air) yang tidak tertutup.Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter .

. dan lain-lain. nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur dengan ukuran sekitar 0. yaitu :  Lingkungan Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). pengelolaan sampah padat.  Kimiawi Cara pengendalian ini antara lain dengan: Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion). aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya. . yang disebut dengan 3M Plus.  Biologis Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik.Setiap kali bertelur.Telur diletakkan menempel pada dinding penampungan air. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.Telur ini di tempat kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan . Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti.Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar 2 hari terendam air. . gentong air. Menutup dengan rapat tempat penampungan air. modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia. vas bunga. Sebagai contoh:     Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu. berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.H-14).pembuangan air di kulkas dan barang bekas lainnya yang dapat menampung air meskipun dalam volume kecil. . dan perbaikan desain rumah. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas. dan bakteri (Bt. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat. Mengubur kaleng-kaleng bekas. .7 mm per butir. PENCEGAHAN Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya. kolam. yaitu menutup. yaitu nyamuk Aedes aegypti. sedikit di atas permukaan air.

Penderita diberi minum sebanyak 1. menyemprot dengan insektisida. memeriksa jentik berkala. kalau perlu 1 sendok makan setiap 3-5 menit.5 liter . dll sesuai dengan kondisi setempat. Gastroenteritis oral solution/kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit).com/doc/60780132/5/PERILAKU-NYAMUK- AEDES-AEGYPTI .2 liter dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).scribd. menimbun.menguras. PENGOBATAN Pengobatan penderita Demam Berdarah adalah dengan cara:   Penggantian cairan tubuh. menggunakan repellent. memasang kasa. memasang obat nyamuk. menabur larvasida. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik. menggunakan kelambu pada waktu tidur.  rujuk segera http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful