Mengapa Kemiskinan di Indonesia Menjadi Masalah Berkelanjutan?

SEJAK awal kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana termuat dalam alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945. Program-program pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian, masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan. PADA umumnya, partai-partai peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 juga mencantumkan program pengentasan kemiskinan sebagai program utama dalam platform mereka. Pada masa Orde Baru, walaupun mengalami pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, yaitu rata-rata sebesar 7,5 persen selama tahun 1970-1996, penduduk miskin di Indonesia tetap tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 1996 masih sangat tinggi, yaitu sebesar 17,5 persen atau 34,5 juta orang. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan banyak ekonom yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pada akhirnya mengurangi penduduk miskin. Perhatian pemerintah terhadap pengentasan kemiskinan pada pemerintahan reformasi terlihat lebih besar lagi setelah terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. Meskipun demikian, berdasarkan penghitungan BPS, persentase penduduk miskin di Indonesia sampai tahun 2003 masih tetap tinggi, sebesar 17,4 persen, dengan jumlah penduduk yang lebih besar, yaitu 37,4 juta orang. Bahkan, berdasarkan angka Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2001, persentase keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) pada 2001 mencapai 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah keluarga di Indonesia. Angka- angka ini mengindikasikan bahwa program-program

seperti dibebaskannya biaya sekolah.biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan. data dan informasi yang digunakan untuk program-program penanggulangan kemiskinan selama ini adalah data makro hasil Survei Sosial dan . Pertama. program.Hal itu. antara lain. program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.penanggulangan kemiskinan selama ini belum berhasil mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia. Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). serta dibebaskannya biaya. Sebagaimana diketahui. berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Di lain pihak. Penyebab kegagalan Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan.program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin. bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal.

Bisa saja terjadi bahwa angka-angka kemiskinan tersebut tidak realistis untuk kepentingan lokal.Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS dan data mikro hasil pendaftaran keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN. Sebagai contoh adalah kasus yang terjadi di Kabupaten Sumba Timur. sementara angka kemiskinan (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) yang dihasilkan BKKBN pada tahun yang sama mencapai 84 persen. data dan informasi seperti ini tidak akan dapat mencerminkan tingkat keragaman dan kompleksitas yang ada di Indonesia sebagai negara besar yang mencakup banyak wilayah yang sangat berbeda. Secara konseptual. sementara alokasi bantuan didasarkan pada angka BPS. sifat budaya. data makro yang dihitung BPS selama ini dengan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) pada dasarnya (walaupun belum sempurna) dapat digunakan untuk memantau perkembangan serta perbandingan penduduk miskin antardaerah. Pada kenyataannya. dengan asumsi yang menekankan pada keseragaman dan fokus pada indikator dampak. Kedua data ini pada dasarnya ditujukan untuk kepentingan perencanaan nasional yang sentralistik. tetapi tidak dapat digunakan untuk target sasaran individu rumah tangga atau keluarga miskin. dan bahkan bisa membingungkan pemimpin lokal (pemerintah kabupaten/kota). data makro tersebut mempunyai keterbatasan karena hanya bersifat indikator dampak yang dapat digunakan untuk target sasaran geografis. Namun. Kedua angka ini cukup menyulitkan pemerintah dalam menyalurkan bantuan-bantuan karena data yang digunakan untuk target sasaran rumah tangga adalah data BKKBN. Untuk target sasaran rumah tangga miskin. maupun bentuk ekonomi yang berlaku secara lokal. organisasi sosial. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur merasa kesulitan dalam menyalurkan beras untuk orang miskin karena adanya dua angka kemiskinan yang sangat berbeda antara BPS dan BKKBN pada waktu itu. Di satu pihak angka kemiskinan Sumba Timur yang dihasilkan BPS pada tahun 1999 adalah 27 persen. diperlukan data mikro yang dapat . baik dari segi ekologi.

bukan secara agregat seperti melalui model-model ekonometrik. dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. juga masih bersifat sentralistik dan seragam-tidak dikembangkan dari kondisi akar rumput dan belum tentu mewakili keutuhan sistem sosial yang spesifik-lokal. beberapa lembaga pemerintah telah berusaha mengumpulkan data keluarga atau rumah tangga miskin secara lengkap.menjelaskan penyebab kemiskinan secara lokal. Strategi ke depan Berkaitan dengan penerapan otonomi daerah sejak tahun 2001. tingkat kabupaten/kota. baik di tingkat nasional. maupun di tingkat komunitas. data tersebut juga hanya dapat digunakan sebagai indikator dampak dan belum mencakup indikator-indikator yang dapat menjelaskan akar penyebab kemiskinan di suatu daerah atau komunitas. tetapi memerlukan diagnosa yang lengkap dan menyeluruh (sistemik) terhadap semua aspek yang menyebabkan kemiskinan secara lokal. . data dan informasi kemiskinan yang ada sekarang perlu dicermati lebih lanjut. Data dan informasi kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan serta pencapaian tujuan atau sasaran dari kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan.indikator yang dihasilkan masih terbatas pada identifikasi rumah tangga. indikator. Masalah utama yang muncul sehubungan dengan data mikro sekarang ini adalah. Untuk data mikro. Di samping itu. antara lain data keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN dan data rumah tangga miskin oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. indikator-indikator tersebut selain tidak bisa menjelaskan penyebab kemiskinan. terutama terhadap manfaatnya untuk perencanaan lokal. Meski demikian. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. selain data tersebut belum tentu relevan untuk kondisi daerah atau komunitas. Strategi untuk mengatasi krisis kemiskinan tidak dapat lagi dilihat dari satu dimensi saja (pendekatan ekonomi).

Oleh karena itu. unitunit sosial yang lebih besar. informasiinformasi yang dihasilkan dari pusat tersebut dapat menjadikan kebijakan salah arah karena data tersebut tidak dapat mengidentifikasikan kemiskinan sebenarnya yang terjadi di tingkat daerah yang lebih kecil. khususnya dalam era otonomi daerah sekarang. tetapi juga disiplin ilmu sosiologi. dan lainnya. seperti faktor penyebab proses terjadinya kemiskinan atau pemiskinan dan indikatorindikator dalam pemahaman gejala kemiskinan serta akibat-akibat dari kemiskinan itu sendiri. Indikator tersebut harus sensitif terhadap fenomena-fenomena kemiskinan atau kesejahteraan individu. Para peneliti tersebut tidak hanya dibatasi pada disiplin ilmu ekonomi. keluarga. ilmu antropologi. khususnya keterbandingan antarkabupaten dan provinsi dapat tetap terjaga. Kajian secara ilmiah terhadap berbagai fenomena yang berkaitan dengan kemiskinan. dan wilayah. Namun.Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan adanya indikator-indikator yang realistis yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan dan program yang perlu dilaksanakan untuk penanggulangan kemiskinan. pemerintah kabupaten/kota dengan dibantu para peneliti perlu mengembangkan sendiri sistem pemantauan kemiskinan di daerahnya. di samping data kemiskinan makro yang diperlukan dalam sistem statistik nasional. Dengan adanya dana daerah untuk pengelolaan data dan informasi kemiskinan. Dalam membangun suatu sistem pengelolaan informasi yang berguna untuk kebijakan pembangunan kesejahteraan daerah. Belum memadai Ukuran-ukuran kemiskinan yang dirancang di pusat belum sepenuhnya memadai dalam upaya pengentasan kemiskinan secara operasional di daerah. perlu adanya komitmen dari pemerintah daerah dalam penyediaan dana secara berkelanjutan. perlu dilakukan. Sebaliknya. sistem statistik yang dikumpulkan secara lokal tersebut perlu diintegrasikan dengan sistem statistik nasional sehingga keterbandingan antarwilayah. perlu juga diperoleh data kemiskinan (mikro) yang spesifik daerah. pemerintah daerah diharapkan dapat . Oleh karena itu.

Sebagai wujud dari pemanfaatan informasi untuk proses pengambilan keputusan dalam kaitannya dengan pembangunan di daerah. Keuntungan yang diperoleh dari ketersediaan data dan informasi statistik tersebut bahkan bisa jauh lebih besar dari biaya yang diperlukan untuk kegiatan-kegiatan pengumpulan data tersebut. perguruan tinggi. agar secara kontinu dapat dikembangkan sistem pengelolaan informasi yang spesifik daerah. Pembentukan tim teknis ini diharapkan mencakup pemerintah daerah dan instansi terkait. agar penyaluran dana dan bantuan yang diberikan ke masyarakat miskin tepat sasaran dan tidak tumpang tindih. . Perlu pembentukan tim teknis yang dapat menyarankan dan melihat pengembangan sistem pengelolaan informasi yang spesifik daerah. dan peneliti lokal maupun nasional. dan para LSM. perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam pemanfaatan informasi untuk kebijakan program.mengurangi pemborosan dana dalam pembangunan sebagai akibat dari kebijakan yang salah arah. diusulkan agar dilakukan pemberdayaan pemerintah daerah. Pemerintah daerah perlu membangun sistem pengelolaan informasi yang menghasilkan segala bentuk informasi untuk keperluan pembuatan kebijakan dan pelaksanaan program pembangunan yang sesuai. Selain itu. Ketersediaan informasi tidak selalu akan membantu dalam pengambilan keputusan apabila pengambil keputusan tersebut kurang memahami makna atau arti dari informasi itu. Kegiatan ini dimaksudkan agar para pengambil keputusan. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis dari pemimpin daerah dalam hal penggunaan informasi untuk manajemen. pihak perguruan tinggi. baik pemerintah daerah. dan sebaliknya membantu mempercepat proses pembangunan melalui kebijakan dan program yang lebih tepat dalam pembangunan. dapat menggali informasi yang tepat serta menggunakannya secara tepat untuk membuat kebijakan dan melaksanakan program pembangunan yang sesuai. perlu adanya koordinasi dan kerja sama antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). baik lokal maupun nasional atau internasional. dinas-dinas pemerintahan terkait. instansi terkait.

Cara mengatasi/mengurangi kemiskinan Pada Hari Kemiskinan Internasional lalu berbagai pihak menyatakan perang melawan kemiskinan.Berkaitan dengan hal tersebut. Ditargetkan pada tahun 2015 Indonesia bebas dari kemiskinan. meningkatkan pendidikan rakyat. Banyaknya sekolah yang rusak menunjukkan kurangnya pendidikan di Indonesia. Tentu bukan hanya fisik. perlu disadari bahwa walaupun kebutuhan sistem pengumpulan data yang didesain. Dulu pada tahun 1970-an. . harus didukung dengan niat yang ikhlas. perencanaan. diadministrasikan. Sebisa mungkin pendidikan harus terjangkau oleh seluruh rakyat Indonesia. Ada beberapa program yang perlu dilakukan agar kemiskinan di Indonesia bisa dikurangi. Pertama. berkelanjutan. serta kompromi ekologi yang meningkat. dapat dipercaya. dan didanai pusat masih penting dan perlu dipertahankan. Namun selain tekad. sudah saatnya dikembangkan pula mekanisme pengumpulan data untuk kebutuhan komunitas dan kabupaten. Mekanisme pengumpulan data ini harus berbiaya rendah. bisa jadi gurunya pun kekurangan gaji dan tidak mengajar lagi. Menghilangkan kemiskinan boleh dikata mimpi atau hanya janji surga. pelaksanaan dan juga pengawasan yang baik. Sebagai contoh di sekolah saya ada SDN Bidaracina 01 Pagi (Sekarang berubah jadi Cipinang Cempedak 01 Pagi) dan SDN Bidaracina 02 Petang. Tapi mengurangi kemiskinan sekecil mungkin bisa dilakukan. Tanpa itu semua hanya omong belaka. dan mampu secara cepat merefleksikan keberagaman pola pertumbuhan ekonomi dan pergerakan sosial budaya di antara komunitas pedesaan dan kota. Ini tekad yang bagus. dianalisis. sekolah dasar dibagi dua. Ada sekolah pagi dan ada sekolah siang sehingga 1 bangunan sekolah bisa dipakai untuk 2 sekolah dan melayani murid dengan jumlah 2 kali lipat.

berarti harus mengeluarkan uang Rp 1. Biaya pembangunan dan pemeliharaan gedung sekolah bisa dihemat hingga separuhnya. Sebaliknya jam pelajaran di sekolah terlalu lama justru membuat siswa jenuh dan tidak mandiri karena dicekoki oleh gurunya. bersama orang tua. Ini melatih kemandirian serta kerjasama antara anak dengan orang tua dan juga dengan teman mereka. IPB. Saat ini biaya SPP sekolah gratis hanya mencakup SD dan SMP (Meski sebetulnya tetap bayar yang lain dengan istilah Ekskul atau Les) sedang untuk Perguruan Tinggi Negeri biayanya justru jauh lebih tinggi dari Universitas Swasta yang memang bertujuan komersial.2 juta per tahun. Padahal tidak. Tak bisa diturunkan ke adik-adiknya. Mungkin ada yang berpendapat bahwa hal itu bisa mengurangi jumlah pelajaran karena jam belajar berkurang. Untuk soal bisa didikte atau ditulis di papan tulis. Hanya untuk uang buku orang tua harus mengeluarkan 130% lebih dari Upah Minimum Regional (UMR) para buruh yang hanya sekitar 900 ribuan.Sekolah pagi mulai dari jam 7. Untuk mengurangi beban orang tua dalam hal uang buku. Dulu perpustakaan sekolah meminjamkan bukubuku Pedoman (waktu itu terbitan Balai Pustaka) kepada seluruh siswa secara gratis. pemerintah bisa menyediakan Perpustakaan Sekolah.00 sedang yang siang dari jam 12:30 hingga 17:30. UGM. Padahal tahun 1998 orang cukup bayar sekitar Rp 300 ribu sehingga orang miskin dulu tidak takut untuk menyekolahkan anaknya di PTN seperti UI. Satu bangunan sekolah bisa menampung total 960 murid! Ini tentu lebih efektif dan efisien. Ini beda dengan sekarang di mana buku harus ditulis dengan pulpen sehingga begitu selesai dipakai harus dibuang. Meski ada surat edaran Rektor bahwa . Jika punya 3 anak. yaitu per semester atau caturwulan bisa mencapai Rp 200 ribu lebih. Setahun paling tidak Rp 400 ribu hanya untuk beli buku. dan sebagainya. Selain itu biaya untuk beli buku cukup tinggi. Untuk masuk UI misalnya orang tahun 2005 saja harus bayar uang masuk antara Rp 25 hingga 75 juta. atau teman-teman mereka. Guru bisa memberi mereka PR atau tugas yang dikerjakan baik sendiri.00 hingga 12. ITS.

Program itu sebenarnya cukup baik untuk diteruskan mengingat saat ini Indonesia kekurangan pangan seperti beras. Jika pun ada paling cuma segelintir saja yang mau bersusah payah mengurus surat keterangan tidak mampu dan merendahkan diri mereka di depan birokrat kampus sebagai Keluarga Miskin (Gakin) untuk minta keringanan biaya. Kedua. Menurut Bank Dunia. maka penghasilan petani hanya Rp 400 ribu/bulan saja.6 juta per tahun atau Rp 800 ribu/bulan. Tanpa pendidikan. sulit bagi rakyat Indonesia untuk mengurangi kemiskinan dan menjadi bangsa yang maju. Boleh dikata orang-orang miskin saat ini mimpi untuk bisa masuk ke PTN. Paling tidak separuh rakyat (sekitar 100 juta penduduk) Indonesia masih hidup di bidang pertanian.orang tua tidak perlu takut akan bayaran karena bisa minta keringanan. pendapatan kotor petani hanya Rp 9. pestisida. rumah. dan pupuk dengan asumsi 50% dari pendapatan mereka. Pada saat yang sama 69. Jika dikurangi dengan biaya benih. dsb sehingga harus impor puluhan trilyun rupiah setiap tahunnya. namun teori beda dengan praktek. pembagian tanah/lahan pertanian untuk petani. Kadang terjadi tawuran antar desa hingga jatuh korban jiwa hanya karena memperebutkan lahan beberapa hektar! Artinya jika 1 hektar bisa menghasilkan 6 ton gabah dan panen 2 kali dalam setahun serta harga gabah hanya Rp 2.4 juta hektar tanah dikuasai oleh 652 pengusaha. dan Papua. mayoritas petani Indonesia memiliki lahan kurang dari 0.4 hektar. kedelai.000/kg. Transportasi. Kalimantan. Ini menunjukkan belum adanya keadilan di bidang pertanahan. Dulu pada zaman Orba (Orde Baru) ada proyek Transmigrasi di mana para petani mendapat tanah 1-2 hektar di Sumatera. . Bahkan ada yang tidak punya tanah dan sekedar jadi buruh tani. Sulawesi. daging sapi. dan biaya hidup selama setahun ditanggung oleh pemerintah.

Dengan anggaran Rp 10 trilyun per tahun ada 250.000 keluarga yang dapat diberangkatkan per tahunnya. Seandainya tiap keluarga mendapat 2 hektar dan tiap hektar menghasilkan 12 ton beras per tahun. tutup bisnis pangan kebutuhan utama rakyat dari para pengusaha besar. Memang biaya transmigrasi cukup besar. lahan. Ini akan menghemat devisa. Ini sudah cukup untuk menutupi kekurangan beras di dalam negeri.500/kg. Jika produk utama seperti beras. Para petani/pekebun kecil sulit untuk mengekspor produk mereka. rakyat akan menderita akibat permainan harga. . Ini sudah terbukti dengan melonjaknya harga minyak kelapa hingga 2 kali lipat lebih dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan akibat kenaikan harga Internasional. Saat ini dari 2 juta ton kebutuhan kedelai di Indonesia (sebagian untuk tahu dan tempe). kedelai. para pembuat tahu dan tempe banyak yang bangkrut dan karyawannya banyak yang menganggur. Jika program transmigrasi dilakukan tiap tahun dan produk yang ditanam adalah produk di mana kita harus impor seperti kedelai.500/kg menjadi Rp 7. Karena harga kedelai luar negeri naik dari Rp 3. rumah. maka penghasilan mereka meningkat jadi Rp 48 juta per tahun atau bersih bisa Rp 2 juta/bulan per keluarga. Sebaliknya para pengusaha besar dengan mudah mengekspor produk mereka (para pengusaha bisa menekan/melobi pemerintah) sehingga rakyat justru bisa kekurangan makanan atau harus membayar tinggi sama dengan harga Internasional.Jika petani dapat tanah 2 hektar. niscaya kekurangan kedelai bisa diatasi dan Indonesia tidak tergantung dari impor kedelai yang nilainya lebih dari Rp 8 trilyun per tahunnya. dan transportasi paling tidak perlu Rp 40 juta per keluarga. Untuk kebutuhan hidup selama setahun. maka akan ada tambahan produksi sebesar 6 juta ton per tahun. Ketiga. terigu dikuasai oleh pengusaha. Pemerintah tidak bisa berbuat apaapa. 60% diimpor dari luar negeri.

Begitu pula jika pupuk kimia mahal dan berbahaya. Kemudian teliti produk mana yang bisa dikembangkan di dalam negeri sehingga kita tidak tergantung dengan impor sekaligus membuka lapangan kerja. Sebagai contoh jika mobil bisa kita produksi sendiri. para petani yang merupakan mayoritas dari rakyat Indonesia akan semakin tersingkir dan termiskinkan. Expat paling hanya untuk level managerial. Padahal 95% pekerja dan insinyur di perusahaan-perusahaan asing adalah orang Indonesia. maka itu akan sangat menghemat devisa dan membuka lapangan kerja. Ada 1 juta mobil dan 6. kenapa harus memakai traktor? Dengan sapi/kerbau para petani bisa menternaknya sehingga jadi banyak untuk kemudian dijual. maka akan terbuka lapangan kerja dan penghematan devisa milyaran dollar setiap tahunnya.2 juta sepeda motor terjual di Indonesia dengan nilai lebih dari Rp 200 trilyun/tahun. lakukan efisiensi di bidang pertanian. Keempat. Jika pestisida kimia mahal dan berbahaya bagi kesehatan.Selain itu dengan dikuasainya industri pertanian oleh pengusaha besar. Banyak kekayaan alam kita yang dikelola oleh asing dengan alasan kita tidak mampu dan sedang transfer teknologi. stop eksploitasi/pengurasan kekayaan alam oleh perusahaan asing. data produk-produk yang masih kita impor. Jika pemerintah menyisihkan 1% saja dari APBN yang Rp 1.000 trilyun/tahun untuk membuat/mendukung BUMN yang menciptakan kendaraan nasional. coba pupuk organik seperti pupuk hijau/kompos. Daging dan susunya juga bisa dimakan. Semakin murah biaya pestisida dan pupuk. pertimbangkan predator alami seperti burung hantu untuk memakan tikus. Kelola sendiri. Bahkan perusahaan migas Qatar . Kelima. Keenam. Sementara traktor bisa rusak dan butuh bensin/solar yang selain mahal juga mencemari lingkungan. para petani akan semakin terbantu karena ongkos tani semakin rendah. Jika membajak sawah bisa dilakukan dengan sapi/kerbau. Kenyataannya dari tahun 1900 hingga saat ini ketika minyak hampir habis kita masih ”transfer teknologi”. dsb. Perlu dikaji apakah pertanian kita efisien atau tidak.

000 trilyun/tahun dari hasil kekayaan alam Indonesia justru masuk ke kantong asing. Bahkan untuk royalti emas dan perak di Papua.500 ahli perminyakan Indonesia bekerja di Timur Tengah seperti Arab Saudi. Jika beberapa langkah sederhana bisa dilakukan. pada tahun 2008 saja sekitar Rp 2. Indonesia tidak dapat apa-apa. Padahal jitu bisa dipakai untuk melunasi hutang luar negeri dan mensejahterakan rakyat Indonesia.pun di Kompas sering pasang lowongan untuk merekrut ahli migas kita. dan Qatar. niscaya Indonesia akan menjadi lebih baik. Saat ini 1. maka Indonesia harus mengelola sendiri kekayaan alamnya. Menurut PENA. begitu satu media memberitakan. Kontraktor asing sendiri. Bahkan ongkos bermain golf dan biaya rumah sakit di luar negeri ex-patriat dimasukkan ke dalam cost recovery. Padahal kontraktor asing tersebut memotong terlebih dulu pendapatan yang ada dengan cost recovery yang besarnya mereka tentukan sendiri. Indonesia cuma dapat Rp 1 trilyun saja! Banyak perusahaan asing beroperasi menguras kekayaan alam Indonesia. Tetangga saya yang menambang emas bekerjasama dengan penduduk lokal dengan memakai alat pahat dan martil saja bisa mendapat Rp 240 juta per bulan. Bahkan ada Doktor Perminyakan yang bekerja di negara Eropa seperti Noewegia! Sekilas kita untung dengan pembagian 85% sedang kontraktor asing hanya 15%. Kuwait. seperti Exxon sendiri mengantongi keuntungan hingga Rp 360 trilyun setiap tahun dari pengelolaan minyak dan gas di berbagai negara termasuk Indonesia. bagaimana dengan Freeport yang memakai banyak excavator dan truk-truk raksasa yang meratakan gunung-gunung di Papua? Agar Indonesia bisa makmur. . Akibatnya di Natuna sebagai contoh. Freeport yang cuma “tukang cangkul” dapat 99% sementara bangsa Indonesia sebagai pemilik emas cuma dibagi 1%! Bagaimana bisa kaya? Jadi kalau didapat emas dan perak sebesar Rp 100 trilyun.

.

TUGAS KEMISKINAN DI SUSUN OLEH: SRI ASTRANITA 2009 132 00 0042 SEKOLAH TINGGI ADMINISTRASI LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA .