KODE ETIK KONSELOR INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN Dasar/Landasan Landasan Kode Etik Konselor adalah (a) Pancasila, mengingat bahwa profesi konseling merupakan usaha layanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga negara yang bertanggung jawab. (b) tuntutan profesi, mengacu kepada kebutuhan dan kebahagiaan klien sesuai dengan norma-norma yang berlaku. BAB II KUALIFIKASI DAN KEGIATAN PROFESIONAL KONSELOR

A. Kualifikasi
Konselor harus memiliki (1) nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan dalam bidang profesi konseling, dan (2) pengakuan atas kewenangannya sebagai konselor. 1. Kegiatan Profesional Konselor 1. Nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan a. Agar dapat memahami orang lain dengan sebaik-baiknya, konselor harus terus menerus berusaha menguasai dirinya. Ia harus mengerti kekurangan-kekurangan dan prasangka-prasangka pada dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dan mengakibatkan rendahnya mutu layanan profesional seerta merugikan klien. b. Dalam melakukan tugasnya membantu klien, konselor harus memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercayajujur, tertib, dan hormat. c. Konselor harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan-rekan seprofesi dalam hubungannya dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional sebagaimana diatur dalam Kode Etik ini. d. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus mengusahakan mutu kerja yang setinggi mungkin. Untuk itu ia harus tampil menggunakan teknik-teknik dan prosedur-prosedur khusus yang dikembangkan atas dasar kaidah-kaidah ilmiah. 2. Pengakuan kewenangan Untuk dapat bekerja sebagai konselor, diperlukan pengakuan, keahlian, kewenangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yang diberikan kepadanya oleh pemerintah. 3. Kegiatan Profesional a. Penyimpanan dan penggunaan informasi Catatan tentang diri klien yang meliputi data hasil wawancara, testing, surat-menyurat, perekaman, dan data lain, semua merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan klien. Penggunaan data/informasi untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor dimungkinkan sepanjang identitas dirahasiakan. Penyampaian informasi mengenai klien kepada keluarga atau kepada anggota profesi lain, membutuhkan perseetujuan klien atau yang lain dapat dibenarkan asalkan untuk kepentingan klien dan tidak merugikan klien. b. Keterangan mengenai mengenai bahan profesional hanya boleh diberikan kepada orang yang berwenang menafsirkan dan menggunakannya.

konselor tidak mengadakan pembedaan atas dasar suku. Konselor tidak akan memaksa untuk memberikan bantuan kepada seseorang dan tidak boleh mencampuri urusan pribadi orang lain tanpa izin dari orang yang bersangkutan. Demikianpun dia tidak boleh memberikan layanan bantuan di luar bidang pendidikan. f. 4. harus dihindari hal-hal yang dapat merugikan subyek yang bersangkutan. integritas dan keyakinan klien. Dalam melakukan hasil riset di mana tersangkut klien sebagai subyek. maka harus diperhatikan kepentingan pihak-pihak yang terlibat dan juga tuntutan profesinya sebagai konselor. Apabila timbul masalah antara kesetiaan kepada klien dan lembaga tempat konselor bekerja. kepercayaan atau status sosial ekonomi. Layanan Individual : Hubungan dengan Klien a. Pemberian suatu jenis tes harus mengikuti pedoman atau petunjuk yang berlaku bagi tes yang berlakukan. Data yang diperlukan dari hasil testing itu harus diintegrasikan dengan informasi lain yang telah diperoleh dari klien sendiri atau dari sumber lain. c. e. b. e. 6. Hubungan konselor mengandung kesetiaan ganda kepada klien. Data hasil testing harus diperlakukan setaraf data dan informasi lain tentang klien. dan kecenderungan dalam pribadi seseorang. Konselor boleh memilih siapa yang akan diberi bantuan. h. i. c. Riset a. Hasilnya harus disampaikan dengan klien dengan disertai penjelasan tentang arti dan kegunaannya. pengalaman. di mana tersangkut manusia dengan masalahnya sebagai subyek. Testing a. g. minat. bakat khusus. harus dijaga agar identitas subyek dirahasiakan. Kewajiban berakhir jika hubungan konseling berakhir.c. Kalau konselor sudah turun tangan membantu seseorang. Konselor harus memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alasan digunakannya tes dan apa hubungannya dengan masalahnya. b. Konselor harus menghormati harkat pribadi. walinya atau orang yang bertanggung jawab padanya. atasan. misalnya taraf intelegensia. lebih-lebih dalam keadaan darurat atau apabila banya orang yang menghendaki. Hasil testing hanya dapat diberitahukan kepada pihak lain sejauh pihak lain yang diberitahu itu ada hubungannya dengan usaha bantuan kepada klien dan tidak merugikan klien. d. klien mengakhiri hubungan kerja atau konselor tidak lagi bertugas sebagai konselor. d. Apabila timbul masalah dalam soal kesetiaan ini. b. Testing diperlukan bila dibutuhkan data tentang sifat atau ciri kepribadian yang menuntut adanya perbandingan dengan ssampel yang lebih luas. g. Konselor harus selalu memeriksa dirinya apakah ia mempunyai wewenang yang dimaksud. Konselor harus menempatkan kliennya di atas kepentingan pribadinya. Suatu jenis tes hanya diberikan oleh petugas yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya. dan kemampuan yang dimilikinya. f. dan rekan-rekan sejawat. akan tetapi dia harus memperhatikan setiap setiap permintaan bantuan. Dalam menjalankan tugasnya. maka konselor harus menyampaikan situasinya kepada klien dan atasannya. bangsa. Konselor harus menjelaskan kepada klien sifat hubungan yang sedang dibina dan batas-batas tanggung jawab masing-masing. masyarakat. Dalam hal ini klien harus diminta untuk mengambil keputusan apakah dia ingin meneruskan hubungan konseling dengannya. . Dalam melakukan riset. 5. warna kulit. Kewajiban konselor untuk menangani klien berlangsung selama ada kesempatan antara klien dengan konselor. khususnya sejauhmana dia memikul tanggung jawab terhadap klien. maka dia tidak akan melalaikan klien tersebut. Dalam hal ini terutama sekali harus diperhatikan ialah kepentingan klien.

akan tetapi klien menolak kepada ahli yang disarankan oleh konselor. b. d. Konsultasi dan Hubungan dengan Rekan atau Ahli Lainnya. maka konselor mempertimbangkan apa baik buruknya kalau hubungan maru diteruskan lagi. Dalam rangka pemberian layanan kepada klien. Sebaliknya konselor tidak akan melanjutkan hubungan dengan klien apabila klien tidak memperoleh manfaat dari hubungan itu. 7. teman-teman karibnya. untuk itu ia harus mendapat izin terlebih dahulu dari kliennya. orang atau badan yang mempunyai keahlian tersebut. Bila konselor berpendapat klien perlu dikirim ke ahli lain. Konselor harus mengakhiri hubungan konseling dengan seorang klien bila pada akhirnya dia menyadari tidak dapat memberikan pertolongan kepda klien tersebut. a. k. maka akan menjadi tanggung jawab konselor untuk menyarankan kepada klien. tetapi harus atas dasar persetujuan klien.j. c. kalau konselor merasa ragu-ragu tentang suatu hal. atau ia akan mengirimkan kepada orang atau badan ahli tersebut. Dalam hal ini konselor akan mengizinkan klien untuk berkonsultasi dengan petugas atau badan lain yang lebih ahli. Bila pengiriman disetujui klien. Konselor tidak akan memberikan bantuan profesional kepada sanak keluarga. meskipun proses konseling belum mencapai suatu hasil yang kongkrit. baik karena kurangnya kemampuan/keahlian maupun keterbatasn pribadinya. Akan tetapi. . maka ia harus berkonsultasi dengan rekan-rekan selingkungan profesi. Klien sepenuhnya berhak untuk mengakhiri hubungan dengan konselor. sehingga hubungan profesional dengan orang-orang tersebut mungkin dapat terancam oleh kaburnya peranan masing-masing.

maka dia harus mengundurkan diri dari lembaga tersebut. Setiap konselor yang menjadi staf sutau lembaga harus mengetahui tentang program-program yang berorientasi pada kegiatan-kegiatan dari lembaga itu dari pihak lain. ABKIN . Prinsip-prinsip yang berlaku dalam layanan individual. berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan kelembagaan. 2. terutama dalam rangka layanan konseling dengan menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan kepadanya. atau kalau ia diminta keterangan tentang klien oleh petugas suatu badan di luar profesinya. 8. khususnya tentang penyimpangan serta penyebaran informasi tentang klien dan hubungan konfidensial antara konselor dengan kien. Peraturan-peraturan kelembagaan yang diikuti oleh semua petugas dalam lembaga harus dianggap mencerminkan kebijaksanaan lembaga itu dan bukan pertimbangan pribadi. 10. Konselor harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada atasannya. 6. maka harus ada pengertian dan kesepakatan yang jelas antara dia dengan pihak lembaga dan dengan klien yang menghubungi konselor di tempat lembaga itu. Konselor yang tidak bekerja dalam hubungan kelembagaan diharapkan mentaati kode etik jalannya sebagai konselor dan berhak untuk mendapat dukungan serta perlindungan dari rekan-rekan seprofesi. Jikalau konselor bertindak sebagai konsultan pada suatu keluarga.BAB III HUBUNGAN KELEMBAGAAN DAN HAK SERTAKEWAJIBAN KONSELOR 1. dan ia harus juga memberikan informasi itu. Setiap konselor yang bekerja dalam hubungan kelembagaan turut bertanggung jawab terhadap pelaksanaan peraturan kerjasama dengan pihak atasan atau bawahannya. 9. Konselor harus selalu mengkaji tingkah laku dan perbuatannya apakah tidak melanggar kode etik ini. 7. Jika dalam rangka pekerjaan dalam suatu lembaga. atau menerima komisi atau balas jasa dalam bentuk yang kurang wajar. maka dalam memberikan informasi tersebut harus sebijaksana mungkin dengan berpedoman pada pegangan bahwa dengan berbuat begitu klien tetap dilindungi dan tidak dirugikan. Sebaliknya dia berhak pula mendapat perlindungan dari lembaga itu dalam menjalankan profesinya. Pekerjaan konselor harus dianggap sebagai sumbangan khas dalam mencapai tujuan lembaga tersebut. konselor tidak cocok dengan ketentuan-ketentuan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berlaku di lembaga tersebut. 3. konselor tetap mengikuti dasar-dasar pokok profesi dan tidak bekerja atas dasar komersial. 4. Konselor tidak dibenarkan menyalahgunakan jabatannya untuk maksud mencari keuntungan pribadi atau maksud-maksud lain yang dapat merugikan klien. Kalau konselor merasa perlu untuk melaporkan sesuatu hal tentang klien kepada pihak lain (misalnya pimpinan badan tempat ia bekerja). Sebagai seorang konsultan. 5.

Dengan modal profesional tersebut. Semuanya itu dapat diperoleh melalui pendidikan da/atau pelatihan khusus dalam programm bimbingan dan konseling. serta pengaruh lingkungan dan modernisasi terhadap peserta didik. 7. pemikiran. Mencakup kemantapan wawasan. Guru pembimbing memahami fungsi dan tujuan serta seluk beluk pelayanan bimbingan dan konseling. Tekun dan teliti Guru pembimbing stia mengikuti tingkah laku dan perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu. Memahami dan bersikap positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling. nilai dan sikap dalam bidang kajian bimbingan dan konseling. 10. 9. perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya. seorang guru pembimbing akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling menurut kaidah-kaidah keilmuannya. pendapat. 4. 6. dan dengan senang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara profesional sesuai dengan kepentingan dan perkembangan peserta didik. ketrampilan. hangat dan suka menolong. Tanggap dan mampu mengambil tindakan Guru pembimbing cepat memberikan perhatian terhadap yang terjadi dan/atau mungkin terjadi pada diri peserta didik. . Mempunyai modal profesional. Sabar dan bijaksana Tidak mudah marah dan/atau mengambil tindakan keras dan emosional yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka. Berwawasan luas Memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas terutama tentang perkembangan peserta didik pada usia sekolahnya. 3. Segala tindakan yang diambil oleh guru pembimbing didasarkan pada pertimbangan yang matang. Menjadi contoh Tingkah laku. dan ucapan-ucapan guru pembimbing tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk mengikutinya dengan senang hati dan suka rela. Lembut dan baik hati Tutur kata dan tindakan guru pembimbing selalu mengenakkan hati. teknologinya. Menyayangi anak Memiliki kasih sayang yang mendalam terhadap peserta didik. dengan memperhatikan berbagai aspek yang menyertai tingkah dan perkembangan tersebut. serta mengambil tindakan secara tepat untuk mengatasi dan/atau mengantisipasi yang akan terjadi dan/atau mungkin terjadi. rasa kasih sayan ini ditampilkan oleh guru pembimbing benar-benar dari hati sanubarinya (tidak berpura-pura atau dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang itu. pengetahuan.PERSONALITY GURU PEMBIMBING Modal dasar sebagai ciri personal yang harus dimiliki oleh guru pembimbing diantaranya adalah : 2. 5. 8. dan kode etik profesionalnya.

Pemahaman individu dalam membangun interaksi efektif 22. Memahami dengan baik landasasn-landasan keilmuan bimbingan dan konseling. Bertindak secara konsisten dengan sistem nilai etis pribadi dan kode etik profesional di dalam hubungan profesionalnya. . Menampilkan keterbukaan. 14. Memiliki keikhlasan dalam menyelenggarakan pelayanan. Memiliki wawasan pedagogis dalam melaksanakan layanan profesional konseling. Menampilkan struktur nilai dan sistem keyakinan pribadi. 23. 9. Merumuskan perannya sendiri sesuai dengan setting dan situasi kerja yang dihadapi. 16. Merespon dan berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesadaran pikiran serta perasaan sendiri. Menampilkan sikap open minded dan profesional dalam menghadapi permasalahan klien. Memantapkan prioritas (bidang layanan) profesionalnya. Menghayati kode etik dan proses pengambilan keputusan secara etis. Memilahkan/membedakan wilayah struktur nilai pribadi yang tidak sejalan dengan struktur nilai kelompok yant teridentifikasi. sikap mengasihi. Mengidentifikasi komponen primer nilai-nilai orang lain. keterbuakaan. 11. KOMPETENSI PERSONAL 1. 24. Mengetahui dengan baik standar dan prosedur legal yang relevan dengan setting kerjanya. Aktif melakukan kolaborasi profesional dan mempelajari literaturnya. Menampilkan rasa hormat terhadap keragaman individu. Konseling 26. kepekaan terhadap pikiran dan orang lain. 4. Menghayati kode etik dan proses pengambilan keputusan secara etis. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. KOMPETENSI KEILMUAN Wawasan Kependidikan dan Profesi 12. Memahami teori-teori perkembangan manusia.ABKIN KOMPETENSI GURU PEMBIMBING/KONSELOR SEKOLAH I. Menghayati dan menerapkan teori kkonseling yang telah mepribadi I. 19. Menampilkan arah diri dan otonomi kedirian yang mantap. 6. 7. Memiliki kepercayaan dan keyakinan diri untuk bisa memberikan layanan bantuan. 18. Menunjukkan komitmen dan dedikasi pengembangan profesional dalam berbagai setting dan kegiatan. 25. 17. 8. 15. 20. 21. 5. 13. Menunjukkan penampilan diri yang menarik. dan toleran di dalam melakukan interaksi profesional yang mengarah kepada pertumbuhan dan perkembangan diri sendiri dan orang lain. 3. fleksibilitas. Mempu menyesuaikan diri secara adekuat. Mengorganisasikan kegiatan sebagai wujud prioritas profesionalnya. 10.

Menyatakan kembali masalah klien dalam cara yang akurat dan dapat diterima klien. bahasa. 33.27. Secara kritis menguji kekuatan dan kelemahan teknik dan metode konseling yang dilakukannya. Menyadari berbagai variabel kepribadian dirinya yang mempengaruhi proses konseling. belajar dan asesmen psikologis. keengganan klien. 34. Mengidentifikasi dinamika psikologis (motivasi. Mengakses faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap perkembangan kesehatan mental. Memahami implikasi isu-isu sosial masa kini terhadap klien. 44. Terampil menghimpun. 48. 45. 38. agama). 29. Menampilkan sikap open minded dan profesional dalam menghadapi kepedulian dan konflik sosial. Mendiskripsikan proses konseling yang dapat dipahami klien. Mengintervensi sistem sosial dalam perannya sebagai agen perubahan. 49. 35. Mengokohkan hubunga antar pribadi secara profesional dalam berbagai konteks subkultural. Konteks multikultural dalam konseling 40. 41. kepribadian. 31. Merespon secara tepat ekspresi perasaan klien. Mengembangkan kerangka pikir manusia efektif sejalan dengan kerangka pikir profesionalnya. Menerapkan prinsip-prinsip belajar dalam mengembangkan situasi belajar untuk klien tertentu.  Merujuk kepada sumber-sumber nonkonseling. 47. 43. . 37. tradisi. 42. 28. dan menganalisi data/informasi individu. 46. 36. Memberi pengaruh terhadap kebijakan dan prosedur kelembagaan yang dapat menumbuhkna kesempatan bagi para anggotanya. 39. Mengkomunikasikan kepada klien tentang masalah perkembangan perilaku. 30. kecemasan. Menunjukkan kecakapan mengkaji hubungan antara teori konseling. 51. Memahami dan menyadari kekuatan konteks kultural dalam proses konseling. Asesmen lingkungan 50. Menunjukkan arah tindakan dalam menghadapi masalah resistensi.  Merujuk kepada konselor lain. permusuhan. dependensi.  Mengakhiri konseling. Menyadari kesulitan dalam menghasapi isu-isu sosial. Menerapkan gaya konseling yang menyenangkan dalam menghadapi klien tertentu. Menguasai berbgai metode dan rasionel untuk mengawali proses konseling yang sesuai dengan kepedulian klien. Memilih dan melakukan kemungkinan tindakan berikut dalam menghadapi klien :  Melanjutkan dan memilih strategi konseling tertentu. Menunjukkan kesadaran akan pengaruh faktor gender dalam pelayanan profesionalnya. Mempertahankan pendekatan konseling pilihannya atas dasar pengalaman dan pengetahuannya sendiri. 52. Mendeskripsikan dinamika sosiologis dalam berbagai konteks subkultural (keluarga. 32. orientasi nilai) dalam berbagai kontkeks subkultural.

aspirasi.  Meningkatkan pemahaman anggota akan keadaan perasaan saat ini. Memahami hakikat masalah ketrampilan belajar dan mengembangkan strategi yang tepat untuk penyembuhan dan pencegahan. 68. 60. Mendeskripsikan hal-hal perkembangan yang relevan dengan masalah konseling individu. Mengaitkan hasil tes dengan tujuan. Proses dan strategi kelompok 64. Mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan sistem sosial yang perlu diperbaiki. . Memilih dan mempertahankan strategi intervensi kelompok yang dipilihnya. Melakukan kegiatan konseling kelompok untuk menyampaikan informasi pribadi. Mengidentifikasi secara tepat kriteria dan sumber instrumen asesmen untuk pengukuran kelompok dan individual. Menampilkan ketepatan mengambil resiko sebagai pimpinan dan anggota kelompok dalam kelompok tertentu. 66. Memahami organisasi formal dan informal dalam berbagai pola sistem sosial. Menampilkan respon berikut terhadap :  Pemahaman empatik terhadap ekspresi maslah perasaan anggota. Mefasilitasi pertumbuhan pengambilan keputusan karir dalam berbagai kelompok usia dengan menyediakan informasi karir dan menerapkan teori perkembangan manusia. Mendeskripsikan perilaku situasi konsultasi yang tepat dan memadai. 56. 54. 65. 59. Menjelaskan metode atau prosedur untuk tindak lanjut perannya sebagai penyedia layanan konsultasi. Menampilakn kecakapan mengadministrasikan instrumen tes baku sesuai dengan standar pelaksanaan tes. Menganalisis. 75. Mengembangkan instrumen asesmen untuk kepentingan pemahaman individu dalam konteks layanan bimbingan dan konseling.  Meningkatkan kesadaran anggota akan perasaannya dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilakunya. 71.53. 61. Melaporkan situasi dengan tingkatan pihak-pihak yang berkonsultasi. 58. Menyatakan rambu-rambu hubungan konsultatif. Mengidentifikasi tes bakat. 55. prestasi. 74. 70. Menilai secara kritis akan kekuatan dan kelemahan kepemimpinannya sendiri atas kelompok yang dibimbingnya. Asesmen individual 57. mengorganisasikan. Mendeskripsikan dampak interaktif berbagai masalah perkembangan di dalam proses kelompok. pendidikan dan pekerjaa. 69. 63. Menganalisis aspek-aspek nonteknis proses kelompok dalam merespon keingintahuan anggota. Layanan konsultasi dan mediasi 72. 62. kecakapan dalingkungan klien. kepribadian yang cocok untuk kepentingan sekolah dan lembaga lain sesuai dengan individu atau populasi yang akan dilayani. Menghimpin dan mensintesiskan informasi klien dengan menggunakan teknik asesmen nontes. dan mensintesiskan hasil tes yang diperoleh dari tes baku baik secara verbal maupun tertulis. 67. 73.

94. 2. 88. keterbatasan dan kesimpulannya. 82. Terampil mengajar dan melatih staf lain dalam konteks layanan profesinya. melaksanakan dan menggunakan hasilnya.Riset dan konseling 76. Mengembangkan hubungan dan jaringan kerja (net work) dengan berbgai pihak terkait. Mengembangkan. 86. Mensupervisi dan mengevaluasi program pengajaran/pelatihan. Merancang program pembelajaran dan pelatihan staf. Melaporkan proses dan layanan bimbingan dan konseling. dan menindaklanjuti layanan bimbingan dan konseling. 81. 4. 80. Berkomunikasi efektif dalam interaksi dengan pihak terkait dengan layanan bimbingan dan konseling. Mensupervisi dan mengevaluasi program layanan bimbingan dan konseling. 89. Mengembangkan interaksi produktif. II. 84. Mengidentifikasi wilayah profesi konseling yang memerlukan riset untuk mendalaminya. 90. Memiliki kemampuan memahami orang lain. 93. 78. dan keberfungsian peran. . Memanifestasikan kepekaan dan toleransi terhadap perasaan manusia dalam berbagai setting interaksi. melaksanakan. Terampil menggunakan perangkat teknologi informasi untuk layanan bimbingan dan konseling. Mengkomunikasikan prosedur dan langkah kerja yang dipilihnya kepada klien atau populasi layanannya. 77. Memanfaatkan teknologi informasi sebagai sumber informasi bagi pengembangan diri dan kemampuan profesional. KOMPETENSI SOSIAL 1. 91. mengkaji hipotesis. profesi. 5. Mampu memenej pekerjaan dan prosedur kerja. mengokohkan dan memelihara hubungan kolaboratif dengan pihak terkait dengan layanan bimbingan dan konseling. Mengorganisasikan dan mengalokasikan sumber daya (resources) bagi perkembangan individu. mengevaluasi. Pemanfaatan teknologi informasi dalam konseling 83. Menganalisis hasil riset konseling. 85. Memanfaatkan teknologi informasi untuk layanan dan pengembangan profesionalnya dengan berpegang kepada standar etik. Manajemen dan sistem pendukung 87. Mengembangkan satu atau dua alternatif rancangan riset yang akan diterapkan dalam pemecahan masalah. Mengembangkan strategi riset-riset yang relevan untuk pengembangan diri. Menterjemahkan/memanfaatkan hasil riset kedalam implikasi “praktis”. Mengidentifikasi rujukan yang bersumber pada hasil riset. 92. 3. 6. 79. Merancang riset. Mampu merencanakan.

MGP BK SMA/MA KABUPATEN KULON PROGO .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful