KODE ETIK KONSELOR INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN Dasar/Landasan Landasan Kode Etik Konselor adalah (a) Pancasila, mengingat bahwa profesi konseling merupakan usaha layanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga negara yang bertanggung jawab. (b) tuntutan profesi, mengacu kepada kebutuhan dan kebahagiaan klien sesuai dengan norma-norma yang berlaku. BAB II KUALIFIKASI DAN KEGIATAN PROFESIONAL KONSELOR

A. Kualifikasi
Konselor harus memiliki (1) nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan dalam bidang profesi konseling, dan (2) pengakuan atas kewenangannya sebagai konselor. 1. Kegiatan Profesional Konselor 1. Nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan a. Agar dapat memahami orang lain dengan sebaik-baiknya, konselor harus terus menerus berusaha menguasai dirinya. Ia harus mengerti kekurangan-kekurangan dan prasangka-prasangka pada dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dan mengakibatkan rendahnya mutu layanan profesional seerta merugikan klien. b. Dalam melakukan tugasnya membantu klien, konselor harus memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercayajujur, tertib, dan hormat. c. Konselor harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan-rekan seprofesi dalam hubungannya dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional sebagaimana diatur dalam Kode Etik ini. d. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus mengusahakan mutu kerja yang setinggi mungkin. Untuk itu ia harus tampil menggunakan teknik-teknik dan prosedur-prosedur khusus yang dikembangkan atas dasar kaidah-kaidah ilmiah. 2. Pengakuan kewenangan Untuk dapat bekerja sebagai konselor, diperlukan pengakuan, keahlian, kewenangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yang diberikan kepadanya oleh pemerintah. 3. Kegiatan Profesional a. Penyimpanan dan penggunaan informasi Catatan tentang diri klien yang meliputi data hasil wawancara, testing, surat-menyurat, perekaman, dan data lain, semua merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan klien. Penggunaan data/informasi untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor dimungkinkan sepanjang identitas dirahasiakan. Penyampaian informasi mengenai klien kepada keluarga atau kepada anggota profesi lain, membutuhkan perseetujuan klien atau yang lain dapat dibenarkan asalkan untuk kepentingan klien dan tidak merugikan klien. b. Keterangan mengenai mengenai bahan profesional hanya boleh diberikan kepada orang yang berwenang menafsirkan dan menggunakannya.

Layanan Individual : Hubungan dengan Klien a. Data hasil testing harus diperlakukan setaraf data dan informasi lain tentang klien. d. Testing a. b. dan kecenderungan dalam pribadi seseorang. bakat khusus. pengalaman. masyarakat. Konselor tidak akan memaksa untuk memberikan bantuan kepada seseorang dan tidak boleh mencampuri urusan pribadi orang lain tanpa izin dari orang yang bersangkutan. b. dan rekan-rekan sejawat. Apabila timbul masalah dalam soal kesetiaan ini. Kewajiban berakhir jika hubungan konseling berakhir. harus dihindari hal-hal yang dapat merugikan subyek yang bersangkutan. misalnya taraf intelegensia. harus dijaga agar identitas subyek dirahasiakan. Konselor harus menjelaskan kepada klien sifat hubungan yang sedang dibina dan batas-batas tanggung jawab masing-masing. Kalau konselor sudah turun tangan membantu seseorang. Hasilnya harus disampaikan dengan klien dengan disertai penjelasan tentang arti dan kegunaannya. h. Dalam menjalankan tugasnya. klien mengakhiri hubungan kerja atau konselor tidak lagi bertugas sebagai konselor. g. f. Dalam melakukan hasil riset di mana tersangkut klien sebagai subyek. Dalam melakukan riset. minat. Hasil testing hanya dapat diberitahukan kepada pihak lain sejauh pihak lain yang diberitahu itu ada hubungannya dengan usaha bantuan kepada klien dan tidak merugikan klien. akan tetapi dia harus memperhatikan setiap setiap permintaan bantuan. Suatu jenis tes hanya diberikan oleh petugas yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya. Apabila timbul masalah antara kesetiaan kepada klien dan lembaga tempat konselor bekerja. dan kemampuan yang dimilikinya. Konselor harus menempatkan kliennya di atas kepentingan pribadinya. warna kulit. di mana tersangkut manusia dengan masalahnya sebagai subyek. Kewajiban konselor untuk menangani klien berlangsung selama ada kesempatan antara klien dengan konselor. Pemberian suatu jenis tes harus mengikuti pedoman atau petunjuk yang berlaku bagi tes yang berlakukan. walinya atau orang yang bertanggung jawab padanya. g. integritas dan keyakinan klien. maka konselor harus menyampaikan situasinya kepada klien dan atasannya. Dalam hal ini terutama sekali harus diperhatikan ialah kepentingan klien. Konselor boleh memilih siapa yang akan diberi bantuan. Testing diperlukan bila dibutuhkan data tentang sifat atau ciri kepribadian yang menuntut adanya perbandingan dengan ssampel yang lebih luas. lebih-lebih dalam keadaan darurat atau apabila banya orang yang menghendaki. 4. 5. d.c. Dalam hal ini klien harus diminta untuk mengambil keputusan apakah dia ingin meneruskan hubungan konseling dengannya. konselor tidak mengadakan pembedaan atas dasar suku. c. Data yang diperlukan dari hasil testing itu harus diintegrasikan dengan informasi lain yang telah diperoleh dari klien sendiri atau dari sumber lain. f. b. e. maka harus diperhatikan kepentingan pihak-pihak yang terlibat dan juga tuntutan profesinya sebagai konselor. atasan. maka dia tidak akan melalaikan klien tersebut. Konselor harus menghormati harkat pribadi. Konselor harus memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alasan digunakannya tes dan apa hubungannya dengan masalahnya. Konselor harus selalu memeriksa dirinya apakah ia mempunyai wewenang yang dimaksud. khususnya sejauhmana dia memikul tanggung jawab terhadap klien. Demikianpun dia tidak boleh memberikan layanan bantuan di luar bidang pendidikan. 6. Riset a. bangsa. kepercayaan atau status sosial ekonomi. c. e. i. . Hubungan konselor mengandung kesetiaan ganda kepada klien.

akan tetapi klien menolak kepada ahli yang disarankan oleh konselor.j. orang atau badan yang mempunyai keahlian tersebut. c. Akan tetapi. 7. Klien sepenuhnya berhak untuk mengakhiri hubungan dengan konselor. Bila konselor berpendapat klien perlu dikirim ke ahli lain. Dalam rangka pemberian layanan kepada klien. Konselor harus mengakhiri hubungan konseling dengan seorang klien bila pada akhirnya dia menyadari tidak dapat memberikan pertolongan kepda klien tersebut. d. . untuk itu ia harus mendapat izin terlebih dahulu dari kliennya. atau ia akan mengirimkan kepada orang atau badan ahli tersebut. kalau konselor merasa ragu-ragu tentang suatu hal. teman-teman karibnya. Dalam hal ini konselor akan mengizinkan klien untuk berkonsultasi dengan petugas atau badan lain yang lebih ahli. maka konselor mempertimbangkan apa baik buruknya kalau hubungan maru diteruskan lagi. baik karena kurangnya kemampuan/keahlian maupun keterbatasn pribadinya. a. b. sehingga hubungan profesional dengan orang-orang tersebut mungkin dapat terancam oleh kaburnya peranan masing-masing. tetapi harus atas dasar persetujuan klien. meskipun proses konseling belum mencapai suatu hasil yang kongkrit. maka ia harus berkonsultasi dengan rekan-rekan selingkungan profesi. k. Konselor tidak akan memberikan bantuan profesional kepada sanak keluarga. maka akan menjadi tanggung jawab konselor untuk menyarankan kepada klien. Sebaliknya konselor tidak akan melanjutkan hubungan dengan klien apabila klien tidak memperoleh manfaat dari hubungan itu. Bila pengiriman disetujui klien. Konsultasi dan Hubungan dengan Rekan atau Ahli Lainnya.

berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan kelembagaan. konselor tidak cocok dengan ketentuan-ketentuan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berlaku di lembaga tersebut. Sebaliknya dia berhak pula mendapat perlindungan dari lembaga itu dalam menjalankan profesinya. Konselor yang tidak bekerja dalam hubungan kelembagaan diharapkan mentaati kode etik jalannya sebagai konselor dan berhak untuk mendapat dukungan serta perlindungan dari rekan-rekan seprofesi. Setiap konselor yang menjadi staf sutau lembaga harus mengetahui tentang program-program yang berorientasi pada kegiatan-kegiatan dari lembaga itu dari pihak lain. maka dalam memberikan informasi tersebut harus sebijaksana mungkin dengan berpedoman pada pegangan bahwa dengan berbuat begitu klien tetap dilindungi dan tidak dirugikan. Setiap konselor yang bekerja dalam hubungan kelembagaan turut bertanggung jawab terhadap pelaksanaan peraturan kerjasama dengan pihak atasan atau bawahannya. Pekerjaan konselor harus dianggap sebagai sumbangan khas dalam mencapai tujuan lembaga tersebut. 7. 5. maka dia harus mengundurkan diri dari lembaga tersebut. Kalau konselor merasa perlu untuk melaporkan sesuatu hal tentang klien kepada pihak lain (misalnya pimpinan badan tempat ia bekerja). Jikalau konselor bertindak sebagai konsultan pada suatu keluarga. khususnya tentang penyimpangan serta penyebaran informasi tentang klien dan hubungan konfidensial antara konselor dengan kien.BAB III HUBUNGAN KELEMBAGAAN DAN HAK SERTAKEWAJIBAN KONSELOR 1. 3. ABKIN . Jika dalam rangka pekerjaan dalam suatu lembaga. 6. maka harus ada pengertian dan kesepakatan yang jelas antara dia dengan pihak lembaga dan dengan klien yang menghubungi konselor di tempat lembaga itu. 2. konselor tetap mengikuti dasar-dasar pokok profesi dan tidak bekerja atas dasar komersial. 9. atau menerima komisi atau balas jasa dalam bentuk yang kurang wajar. Konselor harus selalu mengkaji tingkah laku dan perbuatannya apakah tidak melanggar kode etik ini. dan ia harus juga memberikan informasi itu. atau kalau ia diminta keterangan tentang klien oleh petugas suatu badan di luar profesinya. Peraturan-peraturan kelembagaan yang diikuti oleh semua petugas dalam lembaga harus dianggap mencerminkan kebijaksanaan lembaga itu dan bukan pertimbangan pribadi. Sebagai seorang konsultan. terutama dalam rangka layanan konseling dengan menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan kepadanya. 10. 4. Konselor tidak dibenarkan menyalahgunakan jabatannya untuk maksud mencari keuntungan pribadi atau maksud-maksud lain yang dapat merugikan klien. Konselor harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada atasannya. Prinsip-prinsip yang berlaku dalam layanan individual. 8.

4. Mempunyai modal profesional. Berwawasan luas Memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas terutama tentang perkembangan peserta didik pada usia sekolahnya. dengan memperhatikan berbagai aspek yang menyertai tingkah dan perkembangan tersebut. Sabar dan bijaksana Tidak mudah marah dan/atau mengambil tindakan keras dan emosional yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka. Guru pembimbing memahami fungsi dan tujuan serta seluk beluk pelayanan bimbingan dan konseling. rasa kasih sayan ini ditampilkan oleh guru pembimbing benar-benar dari hati sanubarinya (tidak berpura-pura atau dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang itu. ketrampilan. 5. 9. 10. hangat dan suka menolong. 7. 8. dan ucapan-ucapan guru pembimbing tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk mengikutinya dengan senang hati dan suka rela. dan kode etik profesionalnya. Tanggap dan mampu mengambil tindakan Guru pembimbing cepat memberikan perhatian terhadap yang terjadi dan/atau mungkin terjadi pada diri peserta didik. Segala tindakan yang diambil oleh guru pembimbing didasarkan pada pertimbangan yang matang. teknologinya. dan dengan senang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara profesional sesuai dengan kepentingan dan perkembangan peserta didik. perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya. nilai dan sikap dalam bidang kajian bimbingan dan konseling. pemikiran. pengetahuan.PERSONALITY GURU PEMBIMBING Modal dasar sebagai ciri personal yang harus dimiliki oleh guru pembimbing diantaranya adalah : 2. pendapat. Semuanya itu dapat diperoleh melalui pendidikan da/atau pelatihan khusus dalam programm bimbingan dan konseling. serta mengambil tindakan secara tepat untuk mengatasi dan/atau mengantisipasi yang akan terjadi dan/atau mungkin terjadi. 6. 3. Menjadi contoh Tingkah laku. Memahami dan bersikap positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling. . Dengan modal profesional tersebut. seorang guru pembimbing akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling menurut kaidah-kaidah keilmuannya. serta pengaruh lingkungan dan modernisasi terhadap peserta didik. Mencakup kemantapan wawasan. Menyayangi anak Memiliki kasih sayang yang mendalam terhadap peserta didik. Tekun dan teliti Guru pembimbing stia mengikuti tingkah laku dan perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu. Lembut dan baik hati Tutur kata dan tindakan guru pembimbing selalu mengenakkan hati.

Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. 23. sikap mengasihi. kepekaan terhadap pikiran dan orang lain. 14. Menampilkan keterbukaan. 13. fleksibilitas. Menampilkan rasa hormat terhadap keragaman individu. 21. Menampilkan sikap open minded dan profesional dalam menghadapi permasalahan klien. 7. 19. Menunjukkan penampilan diri yang menarik. Menghayati kode etik dan proses pengambilan keputusan secara etis. Mengorganisasikan kegiatan sebagai wujud prioritas profesionalnya. Konseling 26. Memilahkan/membedakan wilayah struktur nilai pribadi yang tidak sejalan dengan struktur nilai kelompok yant teridentifikasi. KOMPETENSI PERSONAL 1. Memiliki wawasan pedagogis dalam melaksanakan layanan profesional konseling. . Menampilkan struktur nilai dan sistem keyakinan pribadi. Menunjukkan komitmen dan dedikasi pengembangan profesional dalam berbagai setting dan kegiatan. Memahami dengan baik landasasn-landasan keilmuan bimbingan dan konseling. Memantapkan prioritas (bidang layanan) profesionalnya. 24. KOMPETENSI KEILMUAN Wawasan Kependidikan dan Profesi 12. Merumuskan perannya sendiri sesuai dengan setting dan situasi kerja yang dihadapi. dan toleran di dalam melakukan interaksi profesional yang mengarah kepada pertumbuhan dan perkembangan diri sendiri dan orang lain. Pemahaman individu dalam membangun interaksi efektif 22. 11. Menghayati kode etik dan proses pengambilan keputusan secara etis. 4. Memiliki kepercayaan dan keyakinan diri untuk bisa memberikan layanan bantuan. 3. 9. Merespon dan berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesadaran pikiran serta perasaan sendiri. 5. Menghayati dan menerapkan teori kkonseling yang telah mepribadi I. 10. 20. Mempu menyesuaikan diri secara adekuat. keterbuakaan. Memiliki keikhlasan dalam menyelenggarakan pelayanan. Aktif melakukan kolaborasi profesional dan mempelajari literaturnya. Bertindak secara konsisten dengan sistem nilai etis pribadi dan kode etik profesional di dalam hubungan profesionalnya. Mengetahui dengan baik standar dan prosedur legal yang relevan dengan setting kerjanya.ABKIN KOMPETENSI GURU PEMBIMBING/KONSELOR SEKOLAH I. 8. 6. 15. Memahami teori-teori perkembangan manusia. 18. 17. Menampilkan arah diri dan otonomi kedirian yang mantap. 16. Mengidentifikasi komponen primer nilai-nilai orang lain. 25.

Menyatakan kembali masalah klien dalam cara yang akurat dan dapat diterima klien. Memberi pengaruh terhadap kebijakan dan prosedur kelembagaan yang dapat menumbuhkna kesempatan bagi para anggotanya.  Merujuk kepada sumber-sumber nonkonseling. Mendeskripsikan dinamika sosiologis dalam berbagai konteks subkultural (keluarga. 38. Mengintervensi sistem sosial dalam perannya sebagai agen perubahan. Menyadari kesulitan dalam menghasapi isu-isu sosial. Menerapkan prinsip-prinsip belajar dalam mengembangkan situasi belajar untuk klien tertentu. . Asesmen lingkungan 50. 44. Memilih dan melakukan kemungkinan tindakan berikut dalam menghadapi klien :  Melanjutkan dan memilih strategi konseling tertentu. Mendiskripsikan proses konseling yang dapat dipahami klien. 30. Menerapkan gaya konseling yang menyenangkan dalam menghadapi klien tertentu. Mempertahankan pendekatan konseling pilihannya atas dasar pengalaman dan pengetahuannya sendiri. keengganan klien. Merespon secara tepat ekspresi perasaan klien. 35. 39. 43. Terampil menghimpun. kepribadian. 34. 31. 33. Mengidentifikasi dinamika psikologis (motivasi. 37. Menunjukkan arah tindakan dalam menghadapi masalah resistensi. permusuhan. agama). belajar dan asesmen psikologis. 48. 52. 42. Menunjukkan kesadaran akan pengaruh faktor gender dalam pelayanan profesionalnya. dependensi.  Merujuk kepada konselor lain. Menguasai berbgai metode dan rasionel untuk mengawali proses konseling yang sesuai dengan kepedulian klien. Mengembangkan kerangka pikir manusia efektif sejalan dengan kerangka pikir profesionalnya. 41. Konteks multikultural dalam konseling 40. Secara kritis menguji kekuatan dan kelemahan teknik dan metode konseling yang dilakukannya. Menunjukkan kecakapan mengkaji hubungan antara teori konseling. bahasa. Memahami dan menyadari kekuatan konteks kultural dalam proses konseling. 46.27. tradisi. Mengakses faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap perkembangan kesehatan mental. 36. 51. orientasi nilai) dalam berbagai kontkeks subkultural. 32. 28. 29. Mengkomunikasikan kepada klien tentang masalah perkembangan perilaku. dan menganalisi data/informasi individu. 49. kecemasan. 47. Menampilkan sikap open minded dan profesional dalam menghadapi kepedulian dan konflik sosial.  Mengakhiri konseling. Memahami implikasi isu-isu sosial masa kini terhadap klien. Mengokohkan hubunga antar pribadi secara profesional dalam berbagai konteks subkultural. Menyadari berbagai variabel kepribadian dirinya yang mempengaruhi proses konseling. 45.

Melakukan kegiatan konseling kelompok untuk menyampaikan informasi pribadi.  Meningkatkan pemahaman anggota akan keadaan perasaan saat ini. Mengidentifikasi tes bakat. Mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan sistem sosial yang perlu diperbaiki. Asesmen individual 57. Mengembangkan instrumen asesmen untuk kepentingan pemahaman individu dalam konteks layanan bimbingan dan konseling. 75. mengorganisasikan. Menganalisis aspek-aspek nonteknis proses kelompok dalam merespon keingintahuan anggota. Mengaitkan hasil tes dengan tujuan. Mengidentifikasi secara tepat kriteria dan sumber instrumen asesmen untuk pengukuran kelompok dan individual. 74. Mefasilitasi pertumbuhan pengambilan keputusan karir dalam berbagai kelompok usia dengan menyediakan informasi karir dan menerapkan teori perkembangan manusia. . 63. Menganalisis. kepribadian yang cocok untuk kepentingan sekolah dan lembaga lain sesuai dengan individu atau populasi yang akan dilayani. 55. aspirasi. Proses dan strategi kelompok 64. 66. Menampilkan ketepatan mengambil resiko sebagai pimpinan dan anggota kelompok dalam kelompok tertentu. Memahami hakikat masalah ketrampilan belajar dan mengembangkan strategi yang tepat untuk penyembuhan dan pencegahan. Mendeskripsikan dampak interaktif berbagai masalah perkembangan di dalam proses kelompok. Mendeskripsikan hal-hal perkembangan yang relevan dengan masalah konseling individu. Mendeskripsikan perilaku situasi konsultasi yang tepat dan memadai. Menjelaskan metode atau prosedur untuk tindak lanjut perannya sebagai penyedia layanan konsultasi. 73. dan mensintesiskan hasil tes yang diperoleh dari tes baku baik secara verbal maupun tertulis. Menampilakn kecakapan mengadministrasikan instrumen tes baku sesuai dengan standar pelaksanaan tes. Memilih dan mempertahankan strategi intervensi kelompok yang dipilihnya. 71. 62. 65.  Meningkatkan kesadaran anggota akan perasaannya dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilakunya. Melaporkan situasi dengan tingkatan pihak-pihak yang berkonsultasi. Layanan konsultasi dan mediasi 72. 61.53. 69. 60. 59. 56. Menyatakan rambu-rambu hubungan konsultatif. Menampilkan respon berikut terhadap :  Pemahaman empatik terhadap ekspresi maslah perasaan anggota. prestasi. 70. 67. 54. 58. Memahami organisasi formal dan informal dalam berbagai pola sistem sosial. pendidikan dan pekerjaa. 68. Menghimpin dan mensintesiskan informasi klien dengan menggunakan teknik asesmen nontes. kecakapan dalingkungan klien. Menilai secara kritis akan kekuatan dan kelemahan kepemimpinannya sendiri atas kelompok yang dibimbingnya.

dan keberfungsian peran. mengokohkan dan memelihara hubungan kolaboratif dengan pihak terkait dengan layanan bimbingan dan konseling. 79. 6. Memanfaatkan teknologi informasi untuk layanan dan pengembangan profesionalnya dengan berpegang kepada standar etik. Mengembangkan. Mensupervisi dan mengevaluasi program pengajaran/pelatihan. melaksanakan. dan menindaklanjuti layanan bimbingan dan konseling. Mengembangkan satu atau dua alternatif rancangan riset yang akan diterapkan dalam pemecahan masalah. profesi. Mensupervisi dan mengevaluasi program layanan bimbingan dan konseling. Merancang riset. Menganalisis hasil riset konseling. Memanfaatkan teknologi informasi sebagai sumber informasi bagi pengembangan diri dan kemampuan profesional. . 84. KOMPETENSI SOSIAL 1. 85. 91. 93. 94. Pemanfaatan teknologi informasi dalam konseling 83. Menterjemahkan/memanfaatkan hasil riset kedalam implikasi “praktis”. mengkaji hipotesis. 86. II. Mengidentifikasi rujukan yang bersumber pada hasil riset.Riset dan konseling 76. Mampu memenej pekerjaan dan prosedur kerja. melaksanakan dan menggunakan hasilnya. 5. Merancang program pembelajaran dan pelatihan staf. Terampil menggunakan perangkat teknologi informasi untuk layanan bimbingan dan konseling. Terampil mengajar dan melatih staf lain dalam konteks layanan profesinya. Mengidentifikasi wilayah profesi konseling yang memerlukan riset untuk mendalaminya. keterbatasan dan kesimpulannya. Mengembangkan hubungan dan jaringan kerja (net work) dengan berbgai pihak terkait. Memanifestasikan kepekaan dan toleransi terhadap perasaan manusia dalam berbagai setting interaksi. 89. 88. 2. 81. 82. 3. Mengembangkan interaksi produktif. 77. Berkomunikasi efektif dalam interaksi dengan pihak terkait dengan layanan bimbingan dan konseling. 78. 4. Memiliki kemampuan memahami orang lain. Mengembangkan strategi riset-riset yang relevan untuk pengembangan diri. 90. mengevaluasi. Manajemen dan sistem pendukung 87. 92. Mengorganisasikan dan mengalokasikan sumber daya (resources) bagi perkembangan individu. Mampu merencanakan. Mengkomunikasikan prosedur dan langkah kerja yang dipilihnya kepada klien atau populasi layanannya. 80. Melaporkan proses dan layanan bimbingan dan konseling.

MGP BK SMA/MA KABUPATEN KULON PROGO .