KODE ETIK KONSELOR INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN Dasar/Landasan Landasan Kode Etik Konselor adalah (a) Pancasila, mengingat bahwa profesi konseling merupakan usaha layanan terhadap sesama manusia dalam rangka ikut membina warga negara yang bertanggung jawab. (b) tuntutan profesi, mengacu kepada kebutuhan dan kebahagiaan klien sesuai dengan norma-norma yang berlaku. BAB II KUALIFIKASI DAN KEGIATAN PROFESIONAL KONSELOR

A. Kualifikasi
Konselor harus memiliki (1) nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan dalam bidang profesi konseling, dan (2) pengakuan atas kewenangannya sebagai konselor. 1. Kegiatan Profesional Konselor 1. Nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan a. Agar dapat memahami orang lain dengan sebaik-baiknya, konselor harus terus menerus berusaha menguasai dirinya. Ia harus mengerti kekurangan-kekurangan dan prasangka-prasangka pada dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dan mengakibatkan rendahnya mutu layanan profesional seerta merugikan klien. b. Dalam melakukan tugasnya membantu klien, konselor harus memperlihatkan sifat-sifat sederhana, rendah hati, sabar, menepati janji, dapat dipercayajujur, tertib, dan hormat. c. Konselor harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap saran ataupun peringatan yang diberikan kepadanya, khususnya dari rekan-rekan seprofesi dalam hubungannya dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional sebagaimana diatur dalam Kode Etik ini. d. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus mengusahakan mutu kerja yang setinggi mungkin. Untuk itu ia harus tampil menggunakan teknik-teknik dan prosedur-prosedur khusus yang dikembangkan atas dasar kaidah-kaidah ilmiah. 2. Pengakuan kewenangan Untuk dapat bekerja sebagai konselor, diperlukan pengakuan, keahlian, kewenangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yang diberikan kepadanya oleh pemerintah. 3. Kegiatan Profesional a. Penyimpanan dan penggunaan informasi Catatan tentang diri klien yang meliputi data hasil wawancara, testing, surat-menyurat, perekaman, dan data lain, semua merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan klien. Penggunaan data/informasi untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor dimungkinkan sepanjang identitas dirahasiakan. Penyampaian informasi mengenai klien kepada keluarga atau kepada anggota profesi lain, membutuhkan perseetujuan klien atau yang lain dapat dibenarkan asalkan untuk kepentingan klien dan tidak merugikan klien. b. Keterangan mengenai mengenai bahan profesional hanya boleh diberikan kepada orang yang berwenang menafsirkan dan menggunakannya.

klien mengakhiri hubungan kerja atau konselor tidak lagi bertugas sebagai konselor. Testing diperlukan bila dibutuhkan data tentang sifat atau ciri kepribadian yang menuntut adanya perbandingan dengan ssampel yang lebih luas. Konselor harus memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alasan digunakannya tes dan apa hubungannya dengan masalahnya. Konselor harus selalu memeriksa dirinya apakah ia mempunyai wewenang yang dimaksud. Dalam hal ini terutama sekali harus diperhatikan ialah kepentingan klien. maka konselor harus menyampaikan situasinya kepada klien dan atasannya. Data yang diperlukan dari hasil testing itu harus diintegrasikan dengan informasi lain yang telah diperoleh dari klien sendiri atau dari sumber lain. Konselor harus menjelaskan kepada klien sifat hubungan yang sedang dibina dan batas-batas tanggung jawab masing-masing. b. h. harus dihindari hal-hal yang dapat merugikan subyek yang bersangkutan. Apabila timbul masalah dalam soal kesetiaan ini. Dalam melakukan riset. akan tetapi dia harus memperhatikan setiap setiap permintaan bantuan. Data hasil testing harus diperlakukan setaraf data dan informasi lain tentang klien. Layanan Individual : Hubungan dengan Klien a. harus dijaga agar identitas subyek dirahasiakan. e. pengalaman. b.c. dan kecenderungan dalam pribadi seseorang. . Dalam hal ini klien harus diminta untuk mengambil keputusan apakah dia ingin meneruskan hubungan konseling dengannya. atasan. di mana tersangkut manusia dengan masalahnya sebagai subyek. Konselor harus menempatkan kliennya di atas kepentingan pribadinya. c. maka harus diperhatikan kepentingan pihak-pihak yang terlibat dan juga tuntutan profesinya sebagai konselor. Konselor harus menghormati harkat pribadi. Dalam menjalankan tugasnya. dan rekan-rekan sejawat. 6. c. Konselor boleh memilih siapa yang akan diberi bantuan. kepercayaan atau status sosial ekonomi. Hasil testing hanya dapat diberitahukan kepada pihak lain sejauh pihak lain yang diberitahu itu ada hubungannya dengan usaha bantuan kepada klien dan tidak merugikan klien. i. 5. e. Hasilnya harus disampaikan dengan klien dengan disertai penjelasan tentang arti dan kegunaannya. Pemberian suatu jenis tes harus mengikuti pedoman atau petunjuk yang berlaku bagi tes yang berlakukan. konselor tidak mengadakan pembedaan atas dasar suku. lebih-lebih dalam keadaan darurat atau apabila banya orang yang menghendaki. Suatu jenis tes hanya diberikan oleh petugas yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya. Kewajiban berakhir jika hubungan konseling berakhir. Kewajiban konselor untuk menangani klien berlangsung selama ada kesempatan antara klien dengan konselor. maka dia tidak akan melalaikan klien tersebut. Konselor tidak akan memaksa untuk memberikan bantuan kepada seseorang dan tidak boleh mencampuri urusan pribadi orang lain tanpa izin dari orang yang bersangkutan. khususnya sejauhmana dia memikul tanggung jawab terhadap klien. walinya atau orang yang bertanggung jawab padanya. Riset a. g. f. masyarakat. g. Apabila timbul masalah antara kesetiaan kepada klien dan lembaga tempat konselor bekerja. Hubungan konselor mengandung kesetiaan ganda kepada klien. bakat khusus. f. bangsa. integritas dan keyakinan klien. minat. Testing a. d. dan kemampuan yang dimilikinya. Dalam melakukan hasil riset di mana tersangkut klien sebagai subyek. misalnya taraf intelegensia. d. Demikianpun dia tidak boleh memberikan layanan bantuan di luar bidang pendidikan. Kalau konselor sudah turun tangan membantu seseorang. b. 4. warna kulit.

Konsultasi dan Hubungan dengan Rekan atau Ahli Lainnya. a. untuk itu ia harus mendapat izin terlebih dahulu dari kliennya. baik karena kurangnya kemampuan/keahlian maupun keterbatasn pribadinya. d. kalau konselor merasa ragu-ragu tentang suatu hal. orang atau badan yang mempunyai keahlian tersebut. sehingga hubungan profesional dengan orang-orang tersebut mungkin dapat terancam oleh kaburnya peranan masing-masing. atau ia akan mengirimkan kepada orang atau badan ahli tersebut. b. Klien sepenuhnya berhak untuk mengakhiri hubungan dengan konselor. 7. teman-teman karibnya. Konselor harus mengakhiri hubungan konseling dengan seorang klien bila pada akhirnya dia menyadari tidak dapat memberikan pertolongan kepda klien tersebut. maka akan menjadi tanggung jawab konselor untuk menyarankan kepada klien. akan tetapi klien menolak kepada ahli yang disarankan oleh konselor. Bila pengiriman disetujui klien. Dalam rangka pemberian layanan kepada klien. . c. Bila konselor berpendapat klien perlu dikirim ke ahli lain. meskipun proses konseling belum mencapai suatu hasil yang kongkrit. Sebaliknya konselor tidak akan melanjutkan hubungan dengan klien apabila klien tidak memperoleh manfaat dari hubungan itu. tetapi harus atas dasar persetujuan klien. Akan tetapi. Konselor tidak akan memberikan bantuan profesional kepada sanak keluarga. Dalam hal ini konselor akan mengizinkan klien untuk berkonsultasi dengan petugas atau badan lain yang lebih ahli. k.j. maka ia harus berkonsultasi dengan rekan-rekan selingkungan profesi. maka konselor mempertimbangkan apa baik buruknya kalau hubungan maru diteruskan lagi.

4. atau kalau ia diminta keterangan tentang klien oleh petugas suatu badan di luar profesinya. Pekerjaan konselor harus dianggap sebagai sumbangan khas dalam mencapai tujuan lembaga tersebut. Kalau konselor merasa perlu untuk melaporkan sesuatu hal tentang klien kepada pihak lain (misalnya pimpinan badan tempat ia bekerja). Jikalau konselor bertindak sebagai konsultan pada suatu keluarga. 9. 5. 10. konselor tetap mengikuti dasar-dasar pokok profesi dan tidak bekerja atas dasar komersial. Setiap konselor yang bekerja dalam hubungan kelembagaan turut bertanggung jawab terhadap pelaksanaan peraturan kerjasama dengan pihak atasan atau bawahannya. berlaku juga bila konselor bekerja dalam hubungan kelembagaan. Konselor yang tidak bekerja dalam hubungan kelembagaan diharapkan mentaati kode etik jalannya sebagai konselor dan berhak untuk mendapat dukungan serta perlindungan dari rekan-rekan seprofesi. 8. Peraturan-peraturan kelembagaan yang diikuti oleh semua petugas dalam lembaga harus dianggap mencerminkan kebijaksanaan lembaga itu dan bukan pertimbangan pribadi. Setiap konselor yang menjadi staf sutau lembaga harus mengetahui tentang program-program yang berorientasi pada kegiatan-kegiatan dari lembaga itu dari pihak lain. 2. khususnya tentang penyimpangan serta penyebaran informasi tentang klien dan hubungan konfidensial antara konselor dengan kien. Konselor harus selalu mengkaji tingkah laku dan perbuatannya apakah tidak melanggar kode etik ini. maka dia harus mengundurkan diri dari lembaga tersebut. dan ia harus juga memberikan informasi itu. Konselor tidak dibenarkan menyalahgunakan jabatannya untuk maksud mencari keuntungan pribadi atau maksud-maksud lain yang dapat merugikan klien. 7. Prinsip-prinsip yang berlaku dalam layanan individual. Sebagai seorang konsultan. 3. maka dalam memberikan informasi tersebut harus sebijaksana mungkin dengan berpedoman pada pegangan bahwa dengan berbuat begitu klien tetap dilindungi dan tidak dirugikan. maka harus ada pengertian dan kesepakatan yang jelas antara dia dengan pihak lembaga dan dengan klien yang menghubungi konselor di tempat lembaga itu. Jika dalam rangka pekerjaan dalam suatu lembaga. Konselor harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada atasannya. ABKIN .BAB III HUBUNGAN KELEMBAGAAN DAN HAK SERTAKEWAJIBAN KONSELOR 1. terutama dalam rangka layanan konseling dengan menjaga rahasia pribadi yang dipercayakan kepadanya. atau menerima komisi atau balas jasa dalam bentuk yang kurang wajar. Sebaliknya dia berhak pula mendapat perlindungan dari lembaga itu dalam menjalankan profesinya. 6. konselor tidak cocok dengan ketentuan-ketentuan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berlaku di lembaga tersebut.

seorang guru pembimbing akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling menurut kaidah-kaidah keilmuannya. . ketrampilan. dengan memperhatikan berbagai aspek yang menyertai tingkah dan perkembangan tersebut. dan ucapan-ucapan guru pembimbing tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk mengikutinya dengan senang hati dan suka rela. Semuanya itu dapat diperoleh melalui pendidikan da/atau pelatihan khusus dalam programm bimbingan dan konseling. 7. nilai dan sikap dalam bidang kajian bimbingan dan konseling. 5. dan dengan senang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara profesional sesuai dengan kepentingan dan perkembangan peserta didik. 10. Menjadi contoh Tingkah laku. Berwawasan luas Memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas terutama tentang perkembangan peserta didik pada usia sekolahnya. Guru pembimbing memahami fungsi dan tujuan serta seluk beluk pelayanan bimbingan dan konseling. 8. 3. Dengan modal profesional tersebut. 4. Sabar dan bijaksana Tidak mudah marah dan/atau mengambil tindakan keras dan emosional yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka. serta mengambil tindakan secara tepat untuk mengatasi dan/atau mengantisipasi yang akan terjadi dan/atau mungkin terjadi. 6. Tekun dan teliti Guru pembimbing stia mengikuti tingkah laku dan perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu. 9. Lembut dan baik hati Tutur kata dan tindakan guru pembimbing selalu mengenakkan hati. rasa kasih sayan ini ditampilkan oleh guru pembimbing benar-benar dari hati sanubarinya (tidak berpura-pura atau dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang itu. pendapat. Segala tindakan yang diambil oleh guru pembimbing didasarkan pada pertimbangan yang matang. dan kode etik profesionalnya. teknologinya. serta pengaruh lingkungan dan modernisasi terhadap peserta didik. pemikiran. Menyayangi anak Memiliki kasih sayang yang mendalam terhadap peserta didik. Mencakup kemantapan wawasan. pengetahuan. Mempunyai modal profesional.PERSONALITY GURU PEMBIMBING Modal dasar sebagai ciri personal yang harus dimiliki oleh guru pembimbing diantaranya adalah : 2. Memahami dan bersikap positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling. Tanggap dan mampu mengambil tindakan Guru pembimbing cepat memberikan perhatian terhadap yang terjadi dan/atau mungkin terjadi pada diri peserta didik. hangat dan suka menolong. perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya.

10. Menampilkan rasa hormat terhadap keragaman individu. Menampilkan sikap open minded dan profesional dalam menghadapi permasalahan klien. Memantapkan prioritas (bidang layanan) profesionalnya. 17. dan toleran di dalam melakukan interaksi profesional yang mengarah kepada pertumbuhan dan perkembangan diri sendiri dan orang lain. Memahami dengan baik landasasn-landasan keilmuan bimbingan dan konseling. Mempu menyesuaikan diri secara adekuat. 15. Mengorganisasikan kegiatan sebagai wujud prioritas profesionalnya. Bertindak secara konsisten dengan sistem nilai etis pribadi dan kode etik profesional di dalam hubungan profesionalnya. Menampilkan keterbukaan. Memiliki wawasan pedagogis dalam melaksanakan layanan profesional konseling. 4.ABKIN KOMPETENSI GURU PEMBIMBING/KONSELOR SEKOLAH I. Memiliki keikhlasan dalam menyelenggarakan pelayanan. kepekaan terhadap pikiran dan orang lain. 19. 14. 20. Menunjukkan penampilan diri yang menarik. Memilahkan/membedakan wilayah struktur nilai pribadi yang tidak sejalan dengan struktur nilai kelompok yant teridentifikasi. Memiliki kepercayaan dan keyakinan diri untuk bisa memberikan layanan bantuan. Menunjukkan komitmen dan dedikasi pengembangan profesional dalam berbagai setting dan kegiatan. Mengetahui dengan baik standar dan prosedur legal yang relevan dengan setting kerjanya. Merespon dan berinteraksi dengan orang lain atas dasar kesadaran pikiran serta perasaan sendiri. Menghayati dan menerapkan teori kkonseling yang telah mepribadi I. 3. KOMPETENSI PERSONAL 1. 11. 5. . Menampilkan struktur nilai dan sistem keyakinan pribadi. 8. Mengidentifikasi komponen primer nilai-nilai orang lain. sikap mengasihi. KOMPETENSI KEILMUAN Wawasan Kependidikan dan Profesi 12. Aktif melakukan kolaborasi profesional dan mempelajari literaturnya. Menghayati kode etik dan proses pengambilan keputusan secara etis. 18. Merumuskan perannya sendiri sesuai dengan setting dan situasi kerja yang dihadapi. 6. 16. 9. keterbuakaan. Menampilkan arah diri dan otonomi kedirian yang mantap. 23. 25. Konseling 26. Pemahaman individu dalam membangun interaksi efektif 22. 21. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. 7. Menghayati kode etik dan proses pengambilan keputusan secara etis. fleksibilitas. 24. Memahami teori-teori perkembangan manusia. 13.

Mengokohkan hubunga antar pribadi secara profesional dalam berbagai konteks subkultural. permusuhan. Menampilkan sikap open minded dan profesional dalam menghadapi kepedulian dan konflik sosial. 28. Menguasai berbgai metode dan rasionel untuk mengawali proses konseling yang sesuai dengan kepedulian klien. Mendeskripsikan dinamika sosiologis dalam berbagai konteks subkultural (keluarga. Mengkomunikasikan kepada klien tentang masalah perkembangan perilaku. 31. 51. keengganan klien. 34. kecemasan. Secara kritis menguji kekuatan dan kelemahan teknik dan metode konseling yang dilakukannya. orientasi nilai) dalam berbagai kontkeks subkultural. Menunjukkan arah tindakan dalam menghadapi masalah resistensi. . 48. Mempertahankan pendekatan konseling pilihannya atas dasar pengalaman dan pengetahuannya sendiri. kepribadian. 47. belajar dan asesmen psikologis. 45. 39. Merespon secara tepat ekspresi perasaan klien. tradisi. Memilih dan melakukan kemungkinan tindakan berikut dalam menghadapi klien :  Melanjutkan dan memilih strategi konseling tertentu. Mendiskripsikan proses konseling yang dapat dipahami klien. 32. Menerapkan gaya konseling yang menyenangkan dalam menghadapi klien tertentu. Menyatakan kembali masalah klien dalam cara yang akurat dan dapat diterima klien.27. 36. bahasa. Memahami dan menyadari kekuatan konteks kultural dalam proses konseling. dan menganalisi data/informasi individu. Mengintervensi sistem sosial dalam perannya sebagai agen perubahan. Asesmen lingkungan 50. 35. 42. Memberi pengaruh terhadap kebijakan dan prosedur kelembagaan yang dapat menumbuhkna kesempatan bagi para anggotanya. 43. 46. 44. 30. Mengakses faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap perkembangan kesehatan mental. 29. Terampil menghimpun. Menyadari kesulitan dalam menghasapi isu-isu sosial. 38. 37.  Merujuk kepada konselor lain. Menunjukkan kecakapan mengkaji hubungan antara teori konseling. 49. 41.  Merujuk kepada sumber-sumber nonkonseling. 52. Menerapkan prinsip-prinsip belajar dalam mengembangkan situasi belajar untuk klien tertentu. dependensi. Mengidentifikasi dinamika psikologis (motivasi. Mengembangkan kerangka pikir manusia efektif sejalan dengan kerangka pikir profesionalnya. Memahami implikasi isu-isu sosial masa kini terhadap klien. Konteks multikultural dalam konseling 40. Menunjukkan kesadaran akan pengaruh faktor gender dalam pelayanan profesionalnya. Menyadari berbagai variabel kepribadian dirinya yang mempengaruhi proses konseling.  Mengakhiri konseling. 33. agama).

66. 59. 71. Mengaitkan hasil tes dengan tujuan. 58. Menganalisis. 55. kecakapan dalingkungan klien. 73. Layanan konsultasi dan mediasi 72. 69. Melaporkan situasi dengan tingkatan pihak-pihak yang berkonsultasi.  Meningkatkan pemahaman anggota akan keadaan perasaan saat ini. 54. mengorganisasikan. Menilai secara kritis akan kekuatan dan kelemahan kepemimpinannya sendiri atas kelompok yang dibimbingnya. Menganalisis aspek-aspek nonteknis proses kelompok dalam merespon keingintahuan anggota. 62. Menampilkan ketepatan mengambil resiko sebagai pimpinan dan anggota kelompok dalam kelompok tertentu. Menjelaskan metode atau prosedur untuk tindak lanjut perannya sebagai penyedia layanan konsultasi. Mengembangkan instrumen asesmen untuk kepentingan pemahaman individu dalam konteks layanan bimbingan dan konseling. Mengidentifikasi tes bakat. Mengidentifikasi secara tepat kriteria dan sumber instrumen asesmen untuk pengukuran kelompok dan individual. Mendeskripsikan hal-hal perkembangan yang relevan dengan masalah konseling individu. Proses dan strategi kelompok 64. aspirasi. 75.53. Mefasilitasi pertumbuhan pengambilan keputusan karir dalam berbagai kelompok usia dengan menyediakan informasi karir dan menerapkan teori perkembangan manusia. Asesmen individual 57. Menampilakn kecakapan mengadministrasikan instrumen tes baku sesuai dengan standar pelaksanaan tes.  Meningkatkan kesadaran anggota akan perasaannya dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilakunya. 70. Mendeskripsikan perilaku situasi konsultasi yang tepat dan memadai. prestasi. 67. dan mensintesiskan hasil tes yang diperoleh dari tes baku baik secara verbal maupun tertulis. Melakukan kegiatan konseling kelompok untuk menyampaikan informasi pribadi. Menyatakan rambu-rambu hubungan konsultatif. Memahami hakikat masalah ketrampilan belajar dan mengembangkan strategi yang tepat untuk penyembuhan dan pencegahan. 61. kepribadian yang cocok untuk kepentingan sekolah dan lembaga lain sesuai dengan individu atau populasi yang akan dilayani. 68. 60. 65. Mendeskripsikan dampak interaktif berbagai masalah perkembangan di dalam proses kelompok. Menghimpin dan mensintesiskan informasi klien dengan menggunakan teknik asesmen nontes. 56. 63. 74. Memahami organisasi formal dan informal dalam berbagai pola sistem sosial. Memilih dan mempertahankan strategi intervensi kelompok yang dipilihnya. pendidikan dan pekerjaa. . Menampilkan respon berikut terhadap :  Pemahaman empatik terhadap ekspresi maslah perasaan anggota. Mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan sistem sosial yang perlu diperbaiki.

78. dan keberfungsian peran. II. Pemanfaatan teknologi informasi dalam konseling 83.Riset dan konseling 76. Mengidentifikasi wilayah profesi konseling yang memerlukan riset untuk mendalaminya. 91. 5. Melaporkan proses dan layanan bimbingan dan konseling. mengevaluasi. dan menindaklanjuti layanan bimbingan dan konseling. Mengembangkan. 82. 94. 88. Merancang riset. 4. Mampu merencanakan. 79. Mengkomunikasikan prosedur dan langkah kerja yang dipilihnya kepada klien atau populasi layanannya. Mensupervisi dan mengevaluasi program layanan bimbingan dan konseling. Memanifestasikan kepekaan dan toleransi terhadap perasaan manusia dalam berbagai setting interaksi. Terampil mengajar dan melatih staf lain dalam konteks layanan profesinya. Berkomunikasi efektif dalam interaksi dengan pihak terkait dengan layanan bimbingan dan konseling. 85. Mengorganisasikan dan mengalokasikan sumber daya (resources) bagi perkembangan individu. 86. Mensupervisi dan mengevaluasi program pengajaran/pelatihan. 77. Mengembangkan interaksi produktif. 80. 89. Menterjemahkan/memanfaatkan hasil riset kedalam implikasi “praktis”. 3. Manajemen dan sistem pendukung 87. 6. 92. melaksanakan dan menggunakan hasilnya. keterbatasan dan kesimpulannya. 84. Mengembangkan strategi riset-riset yang relevan untuk pengembangan diri. profesi. Mampu memenej pekerjaan dan prosedur kerja. Mengembangkan satu atau dua alternatif rancangan riset yang akan diterapkan dalam pemecahan masalah. Terampil menggunakan perangkat teknologi informasi untuk layanan bimbingan dan konseling. KOMPETENSI SOSIAL 1. mengkaji hipotesis. Memiliki kemampuan memahami orang lain. mengokohkan dan memelihara hubungan kolaboratif dengan pihak terkait dengan layanan bimbingan dan konseling. Menganalisis hasil riset konseling. Merancang program pembelajaran dan pelatihan staf. 93. Memanfaatkan teknologi informasi untuk layanan dan pengembangan profesionalnya dengan berpegang kepada standar etik. Mengidentifikasi rujukan yang bersumber pada hasil riset. 81. melaksanakan. . 2. Mengembangkan hubungan dan jaringan kerja (net work) dengan berbgai pihak terkait. Memanfaatkan teknologi informasi sebagai sumber informasi bagi pengembangan diri dan kemampuan profesional. 90.

MGP BK SMA/MA KABUPATEN KULON PROGO .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful