P. 1
Etika Regulasi Dan Penyiaran

Etika Regulasi Dan Penyiaran

|Views: 406|Likes:
Published by Novi N. Fadhilah

More info:

Published by: Novi N. Fadhilah on Dec 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2014

pdf

text

original

http://gado-gadosangjurnalis.blogspot.com/2011/09/kekuasaan-media.

html

kekuasaan MEDIA

Dalam teori konflik, Ralf Dahrendorf (1958) yang non-Marxian menjelaskan bahwa konflik sosial erat dengan peran kewenangan seoseorang dalam jabatan dan kepentingan (beda dengan pemikiran Marx tentang konflik kelas), sehingga membentuk polarisasi antara kelas penguasa dan kelas yang ditundukkan. Perbedaan nyata antara pemikiran Marx dan Dahrendorf dalam melihat situasi media Teori konflik Marx atau Dahrendorf didasarkan pada pemahaman Max Weber dalam melihat realitas sosial sebagai perilaku sosial yang memilki makna subjektif. Karena itu, perilaku memiliki tujuan dan motivasi. Perilaku sosial itu menjadi ”sosial”, kalau yang dimaksud subjektif atas perilaku sosial itu membuat individu mengarahkan dan memperhitungkan kelakuan orang lain dan mengarahkan kepada subjektif itu. Perilaku itu memiliki kepastian kalau menunjukkan keseragaman dengan perilaku pada umumnya dalam masyarakat. Menurut Karl Marx, kehidupan sosial-budaya ditentukan dari pertentangan antara dua kelas yang terlibat dalam proses produksi, yaitu kaum industriawan yang mengontrol alat-alat produksi dan kaum proletariat yang diandaikan hanya berhak melahirkan keturunan. Sedangkan pandangan Ralf Dahrendorf terhadap pendekatan fungsionalisme bahwa setiap masyarakat merupakan struktur yang terdiri dari unsur-unsur yang relatif kuat dan mantap. Tiap-tiap unsur itu berintegrasi satu sama lain dengan baik. Yasraf Amir Piliang memandang teori konflik Karl Marx itu sebagai konsep kekuasaan dalam kerangka hubungan yang mutlak antara kelas-kelas yang mendominasi dan yang didominasi dalam masyarakat— antara yang menekan (oppressor) dan yang tertekan (oppressed), antara yang menyisihkan (alienating) dan yang tersisihkan (alienated). Kekuasaan, menurut versi Marxisme adalah kekuasaan yang dibutuhkan oleh kelas sosial (kelas penguasa) untuk mereproduksi model produksinya yang dominan— kekuasaan untuk mengeksploitir kelas yang dikuasai. Batasan di atas memilah hubungan dua kelas di tengah masyarakat, yakni kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. Dalam teks lain, kekuasaan itu disebut juga sebagai ideologi: Karl Marx (1818-1883) dan dan Fredrich Engels ((18201895) melihat ideologi sebagai fabrikasi atau pemalsuan yang digunakan oleh sekelompok orang tertentu untuk membenarkan diri mereka sendiri. Karena itu, konsep ideologi tersebut jelas sangat subjektif dan keberadaannya hanya untuk melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. Teori kekuasaan ala Karl Marx itu identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah

masyarakat. Dalam batasan-batasan lain, hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. Selain itu, politik berada di balik kekuasaan ekonomi itu, seperti diuraikan Stephen Littlejohn dan Karen A. Foss di bawah ini: Marx meyakini bahwa masyarakat adalah sarana produksi yang menentukan struktur dari masyarakat itu. Disebut hubungan superstruktur dasar (basesuperstructure), gagasan ini adalah ide bahwa ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Marx paling prihatin dengan akibat kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi, memercayai bahwa keuntungan berasal dari produksi… Ekonomi berasal dari politik, yang oleh Marxisme klasik sering disebut kritik ekonomi politik (the critique of political economy). Dengan demikian teori konflik Karl Marx yang identik dengan kekuasaan atau ideologi memuat poinpoin: (1) kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. (2) ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. (3) hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. (4) politik berada di balik kekuasaan ekonomi itu. Sebaliknya dengan teori konflik Ralf Dahrendorf yang melihat masyarakat merupakan struktur yang terdiri dari unsur-unsur yang relatif kuat dan mantap. Tiap-tiap unsur itu berintegrasi satu sama lain dengan baik. Kata kunci atas gagasan Dahrendorf adalah liberalisme atau pertarungan sebebasbebasnya seluruh komponen masyarakat tanpa ada campur tangan pemerintah. Kekuasaan diserahkan kepada masyarakat sebagai subjek sekaligus objek. Teori dioperasionalisasikan, menurut Penulis, bisa dilihat pada dimensi kedua model peristiwa komunikatif, yakni discourse practice yang meleburkan ”pertarungan” produksi teks dan konsumsi teks. Pemerintah sebagai regulator bertindak sebagai wasit yang baik, tanpa ikut campur tangan dalam wilayah operasional. Contoh kasus ini adalah ”kekuasaan” Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang menjadi representasi masyarakat untuk menangani dan mengawasi penyelengaraan dunia penyiaran di Tanah Air. Dsan tugas penanganan dan pengawasan itu bukan lagi wewenang Kementerian Komunikasi dan Informasi—bandingkan dengan kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki Depertemen Penerangan pada era orde baru dulu. Lebih jauh tentang jabaran gagasan Dahrendorf bini dipaparkan pada poin di bawah ini. Teori konflik Dahrendorf menjelaskan pemanfaatan media oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politik dan bisnis Sejak bergulirnya era reformasi, tidak bisa dipungkiri lagi, media menikmai euphoria yang teramat sangat. Lebih dari 30 tahun dikerangkeng dalam penjara Pers Pancasila (baca: otoritarian ala Orde Baru) membuat media hiruk-pikuk merayakan alam bebas berpolitik, berpendapat, dan berdemokrasi, juga berekonomi. Pemberlakukan Undang-undang Pers membuat media merasa memiliki alasan untuk menikmati kebebasan itu dalam alam liberalism. Khalayak juga dihadapkan banyak pilihan terhadap hegemoni-hegemoni baru di era reformasi. Para pemilik modal di belakang media merupakan kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi, hingga membangun kultur dan ideologi dominan, sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Euforia itu juga ditandai perayaan-perayaan memainkan objek wacana. Wacana-wacana yang didesain dengan makna khusus (baca: memburu jumlah tiras di media cetak (rating dan share di media

etika pergaulan. sesungguhnya media telah “menyiapkan” wacana yang “bermakna”. gaya bertutur yang mencoba cerdas dengan sesekali menyelipkan kosa kata bahasa Inggris. Hudson. Media. apa pun jenisnya. nama-nama Klantink. juga riuh penonton sebagai penyaksi langsung penobatan ikon-ikon budaya popular baru itu. dan gempita perhatian orang lain. menguasai territorial. maka teks budaya popular itu makin memperlihatkan keberadaan hegemoni yang berkiblat pada ekonomi politik media. teman-teman se”kaum”. tata rias dan model rambut peserta yang mengubahnya menjadi “orang lain”. memperjuangan ideologi leluhur. gaya bertutur. ber”metamorfosis” tanpa bisa diduga dan dibendung. kedekatan dengan teknologi. panggung megah itu menyulapnya menjadi “selebritas” atau mitos-mitos baru panggung hiburan. gaya bertutur. Sehingga program televisi. Program berita menjadi tidak percaya diri dan ikut berlomba laksana program infotainment demi memburu rating dan share. Atau. Bahwa jauh sebelum teks budaya popular itu disuntikkan kepada khalayak. akan tetapi kekuasaan untuk mengekspresikan diferensi (perbedaan seks. awal orde reformasi merupakan perayaan hegemoni media paling akbar yang pernah terjadi di Tanah Air. program Bukan Empat Mata di Trans7 yang menempatkan pelawak jebolan Srimulat Tukul Arwana sebagai host dari kalangan modern: dengan wardrobe yang berganti-ganti dan bermerk. Rumingkang. Dalam tempo delapan bulan. nikmati juga perayaan penciptaan efek mitologisasi itu dalam panggung megah Indonesia Mencari Bakat (IMB) di layar TransTV. Teks budaya yang dihidangkan media merupakan teks yang jauh dari pemenuhan nilai estetis. Misalnya saja. tamu-tamu dialog dari kalangan selebritas yang juga tak kalah modis dan glamor. dan gempita perhatian orang lain. Belakangan hegemoni itu. busana dan kostum para peserta yang tidak main-main. keakraban dengan teknologi komputer. kesenangan. etika pergaulan seperti kalangan modern lengkap dengan “cipikacipiki”nya. dan sebagainya). gaya. Putri Ayu. etika pergaulan. teman-teman se”kaum”. dan tepuk-tangan penonton yang diminta mengamini pencitraan modernnya. dan sejumlah nama atau kelompok lain. dalam bingkai ekonomi politik media. Kedua program itu juga menjadi pembuktian keberhasilan penerapan komodifikasi yang oleh Vincent Mosco dilukiskan sebagai cara kapitalisme melancarkan tujuannya dengan mentransformasi nilai guna menjadi nilai tukar. Brandon. iringan grup musik yang luar biasa. akan mencitrakan kaum modernitas. tanpa menimbang latar belakang atau “tampilan” sejatinya. mesti . meski sesekali stasiun itu memutar video tape (VT) kondisi nyata mereka. Simbol-simbol itu sudah cukup menjelaskan premis program bahwa fashion. Khalayak tidak pernah mempertanyakan latar belakang atau kondisi nyata mereka. Pemunculan kasus video porno mirip artis di seluruh program berita di televisi menjadi pembuktian matinya nilai estetis dan objektivitas yang selama beratus-ratus menjadi nilai sakral para jurnalis. terutama media televisi. kedekatan dengan teknologi. jurijuri yang merupakan ikon-ikon budaya populer dengan pencitraan modernnya. Tiba-tiba. Singkatnya. Di bawah gemerlap lampu berkekuatan ribuan Watt. berkesempatan mengumbar kekuasaan-kekuasaan kelas minoritasnya yang diyakini bakal mengusai kelas mayoritas yang disinggung Jean Boudrillard sebagai mayoritas yang diam—massa yang tidak membutuhkan kekuasaan untuk mendominasi. properti yang disulap mengikuti tema-tema tertentu. Bahkan. produk.elektronik) seakan menjadi pembuktian kebenaran model komunikasi televisual ilmuwan dari Mazhab Birmingham Stuart Hall melalui publikasi dalam Encoding and Decoding the Televisual Discourse. Dan “wacana bermakna” itu adalah pencapaian tiras serta rating dan share. makin disemarakkan perayaan hedonism dan upaya memuaskan mayoritas yang diam tadi. Dan kalau melirik program hiburan. dengan “framing” standar: fashion.

fatalitas informasi (pembiakan informasi ke titik ektrem ke arah bencana). sampai pada sebuah batas. dan kekerasan simbolik. polisatisasi media. dan kebebasan). memperkuat jaringan civic education untuk menciptakan masyarakat warga sebagai mayoritas yang kritis (the critical majorities). Menarik mencermati ketiga gagasan itu. yaitu warga yang mempunyai daya kritis. Gagasan dehiperrealitas itu harus diawali dari niat baik pemerintah dan anggota legislatif untuk menghidupkan kembali gagasan reformasi dalam cetak biru penyelengaraan kegiatan media dan penyiaran dalam bentuk regulasi. kebenaran. khalayak pun dijadikan komoditas yang bukan sebatas dipaksa menimati pencitraan produk-produk yang diiklankan dalam dalam commercial break. Publik dan masyarakat pada umumnya. dan kekerasan simbolik. dan menciptakan countermedia. koran publik). yang di dalamnya informasi yang dapat diinterpretasikan dan dicerna oleh masyarakat secara logis dan bermakna. banalitas informasi (informasi tak bermanfaat). kesejahteraan. yang di dalamnya objektivitas. Dampak atas ketiga penjelamaan itu adalah disinformasi (informasi tak layak dipercaya). bukan massa sebagai mayoritas yang diam (the silet majorities). yaitu pengendalian ekstremitas komunikasi dan informasi melalui regulasi. Media yang seharusnya menjadi ruang publik (public sphere) berubah menjadi ranah pribadi. kepentingan-kepentingan itu menjelmakan hiper-realitas media—istilah yang digagas Jean Baudrillard. yang tidak mempunyai kekuasaan dalam membangun dan menentukan informasi di ranah publik (public sphere) milik mereka sendiri. keadilan. informasi yang disajikan. Sebagai langkah permulaan.dikomodifikasi sebagai komoditas yang benar-benar disukai khalayak (content comodification). tapi juga dipancing untuk mengirimkan short message service (SMS) dengan ongkos yang tak murah. Untuk mencehah berkembangnya hiper-realitas. Penulis pesimistis atas pelaksanaan ketiga gagasan secara bersamaan. Dengan KPI yang lebih bernyali diharapkan niat mengembalikan ranah pribadi yang selama ini . Analisis wacana atau analisis wacana kritis—dengan varian apa pun—akan membongkar rupa-rupa hegemoni di balik teks budaya popular yang diproduksi media di Tanah Air. politisasi media. itulah gambaran kekuasaan hegemoni di dunia pertelevisian saat ini. Pada akhirnya. Bahkan. dan kekerasan simbolik. skizoprenia (keterputusan antar pertandaan). politisasi media. Menurut Penulis. Penulis masih sangat menaruh harapan kepada pemerintah dan para anggota legislatif untuk lebih memahami dampakdampak hiperrealitas. Media cetak sudah lebih berpengalaman bermain-main dengan kekuasaan politik atau ekonomi. kesetaraan. dan makna yang dtawarkannya. radio publik. Harapan terbaik teori konflik dari Dahrendorf apabila melihat situasi media kita sekarang Gagasan utama atas teori konflik Dahrendorf dalam kondisi media di Tanah Air saat ini sejalan dengan gagasan Yasraf Amir Piliang: kepentingan ekonomi (economic interest) dan kepentingan kekuasaan (power interest) yang membentuk isi media (media content). Pemerintah dan anggota dewan harus mencabut peraturan-peraturan pemerintah yang mengkerdilkan ”kekuasaan” Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang mengkerdilan peran KPI. dan hiper-moralitas (lenyapnya batas-batas moral). dan pemainan bahasa (language game). dan daya resistensi yang kuat terhadap informasi. diawasi oleh publik. berada di antara dua kepentingan utama media. dalam konteks Indonesia. depolitisasi (pembentukan mayoritas diam). yang menjadikan mereka sebagai mayoritas yang diam. menurut Piliang: menciptakan kondisi dehiper-realitas (de-hyper-reality). meski hal itu sesungguhnya bukan kebutuhan khalayak. dan makna sebagai kepentingan publik dikalahkan oleh subjektivitas. yang tumbuh dari publik. daya tangkal. Namun. dan mampu memperjuangkan kepentingan-kepentingan publik yang sangat beraneka ragam keadilan. kesemuan. yaitu media-media publik (televisi publik.

Poin ini sejalan dengan gagasan Jurgen Habermas.digenggam pemilik modal (atas nama pasar) bisa diberikan kembali kepada masyarakat selaku pemilik ranah publik.html homogenitas PROGRAM TELEVISI Konten media televisi Indonesia masih berkutat pada tayang-tayang homogen yang memiliki kualitas buruk. pelanjut proyek Max Horkheimer. Untuk menjawab permasalahan di atas. rating. Penulis merupakan penonton kritis yang mencoba membongkar seluruh kekusutan itu beranjak dari teks . kalangan khalayak kritis sudah harus memulai “mengampanyekan” gagasan mayoritas yang kritis untuk menstimuli mayoritas yang diam. Bahkan. Gagasan tentang countermedia memang masih impian. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bagaimana menguraikan benang kusut itu? Strategi dan taktik apa yang harus dilakukan sebagai solusi? Buat juga uraian keterlibatan seluruh stakeholders. Sedangkan gagasan ketiga masih berbenturan dengan ketersediaan modal dan sumber daya manusia.[] gado-gado SANG J http://gado-gadosangjurnalis. dengan cara kritis kalangan khalayak kritis ini akan menjadi penjaga public sphere yang bisa diandalkan di tengah kondisi sosial budaya yang tak menentu. Dengan begitu. Tapi. untuk mengembangkan teori kritis masyarakat berdimensi praksis perubahan sosial. Bahkan. Di saat bersamaan. agenda setting pihak tertentu.com/2011/09/homogenitas-programtelevisi. seperti sinetron. tanpa ada lembaga kontrol publik penyiaran atau para pekerja.blogspot. bahkan hegemoni budaya. infotainment. Inilah langkah awal dehiperrealitas itu. Hal ini bisa disebabkan kepemilikan media. gagasan inilah yang akan menjadi pemicu “kebaikan dan kelengahan” pemerintah dan anggota dewan dalam pembuatan dan penerbitan regulasi. TVRI yang harusnya mulai membuka diri sebagai televisi publik (yang benar-benar untuk kepentingan publik dan bukan sekadar corong pemerintah). para pengelola media bisa lebih berhati-hati dan mulai mempertimbangkan wacana-wacana yang lebih bermakna (tanpa tanda kutip) khalayak. Ruang publik yang disediakan media untuk khalayak harus dimanfaatkan seluas-luasnya untuk memulai langkah pengkritikan dan pengawasan atas media. dan lain sebagainya. Penulis akan mengurainya dengan pendekatan cultural studies.

dari sana akan terjawab juga persoalan bentuk dan rupa artefak yang dihadirkan dan hegemoni di dalamnya. ringan. Bahwa pada akhirnya teks itu lebih berisikan selera rendah. Bahkan. dan independen? Janganjangan kondisi ekonomi dan politik media membentuk format berita menjadi makin tidak objektif? Bahkan. program berita yang mestinya mengedepankan aspek idealisme ikut menuhankan rating dan share. tidak malu-malu memuat kekerasan simbolis. Persisnya. Media memiliki aspek-aspek dan kepentingan untuk menjalankan roda usahanya. dan mengutamakan unsur hiburan.” kata Graeme Burton. sama banyaknya dengan sesuatu yang sekadar ditimpakan kepada pemirsa. pelibat wacana (tenor of discourse). Dalam bahasa lain. perlahan-lahan public-based power bermetamorfosis menjadi bauran state-based power dan marketbased powers. stasiun-stasiun televisi yang milik segelintir pengusaha.televisi sebagai artefak budaya popular. hingga memodifikasi berita-berita agar lebih entertaining. izin usaha. Artinya. pemerintah. Agus Sudibyo menggambarkan secara kritis fenomena state-based power dalam penyelenggaraan kegiatan penyiaran pada masa Orde Baru. hingga media televisi sebagai situs budaya popular (makro) yang berada di lingkungan ekonomi politik media. Dengan rating dan share sebagai acuan dalam penyusunan agenda. maka hal itu terkait positioning yang didesain media itu yang mencoba meraup segmen pemirsa sebanyak-banyaknya. yang dimulai dari teks televisi (mikro). ketika pemerintah memegang kendali penuh atas izin frekuensi. Ketika teks televisi diuraikan secara rinci menurut medan wacana (field of discourse). netral. dan pengusaha. Situasi ini menandakan media baru saja beranjak dari fase pengelolaan media yang secara ketat di bawah kekuasaan Negara (state-based power). dan pengawasan. penguasaan kegiatan penyiaran yang dikendalikan Negara dan keinginan pasar (baca: pengusaha media). Dalam kondisi itu. Uraian ini mengacu pada analisis wacana kritis ala Norman Fairclough. mungkinkah media masih memperlihatkan rona idealismenya? Dalam pengertian. atas dasar kompromi-kompromi para politisi. produksi teks televisi (meso) yang menghadirkan agenda setting dalam mengonstruksi wacana bermakna berupa teks televisi dengan pendekatan komodifikasi. Khalayak juga sangat berkepentingan untuk mengawal “aspek-aspek dan kepentingan” itu agar tetap mendapatkan informasi tentang lingkungannya —bahkan meski dalam keadaan bias. yakni kekerasan yang berlangsung dengan persetujuan dari korbannya sejauh mereka tidak sadar melakukan atau menderitanya—seperti . dan sarana wacana (mode of discourse)—analisis wacana kritis yang dikembangkan Halliday dan Hassan. masalah objektivitas dalam penyajian berita di televisi pun mulai dipertanyakan. tetap objektif. Dalam artian. ketika semangat mengembalikan kepemilikan ranah publik ke publik melalui Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 membara. di bawah kendali pengusaha media. Hubungan sinergis itulah yang menjadikan pesan media dibingkai dalam suasana market-based powers atau kekuasaan pasar. akan menjelaskan penanda-penanda yang ada di dalam pesan. sempat mencercahkan sedikit cahaya public-based power. Memasuki era reformasi. tambah Sudibyo. Ketika rating dan share mendapatkan kesempatan menjadi “dewa”. Belakangan. “Watak kolusif genre—produser dan khalayak punya kepentingan yang saling menguntungkan dalam menjaga formula bersama-sama— menyeret perhatian kita pada fakta bahwa konservatisme ideologis dalam berita adalah sesuatu yang dipersekongkolan khalayak untuk dipelihara.

peluang itu ramairamai dinikmati stasiun televisi swasta lain. Karena sesungguhnya angkasa milik publik. Modal besar dan upaya mengembalikan modal. Munculnya RCTI sebagai stasiun televisi swasta nasional pertama lebih menunjukkan keharmonisan hubungan Negara (state-based power) dan pengusaha dari Cendana (market-based powers). Parahnya. 51. 32/2002 yang di antaranya menyelenggarakan siaran berjaringan. Penuhanan terhadap rating dan share segera dihentikan. Dengan begitu peran perizinan frekuensi dan pengawasan mutlak berada di tangan masyarakat (diwakili KPI). c. DPR harus mendesak pemerintah untuk tidak lagi terlibat dalam praktik perizinan dan melepaskan kenangan nostalgianya kepada publik. khalayak harus mendesak anggota dewan dan pemerintah untuk menganulir peraturan pemerintah yang mengerdilkan UU No. Persaingan peraihan pemirsa yang bertumpu pada rating dan share pun tak terhindarkan. Konspirasi itu pun sepakat melahirkan sejumlah Peraturan Pemerintah (49. sekaligus mengerdilkan KPI dan mengherokan kembali peran pemerintah. dengan Komisi Penyiaran Indonesia sebagai representasi publik dan menghilangkan peran Kementrian Komunikasi dan Informasi. d. b. Sehingga ketentuan hokum itu bisa segera diberlakukan dan karut-marut pertelevisian ini menjadi lebih panjang. 32/2002. sangat disokong pemerintah. Datangnya era reformasi menjadi momen berharga bagi kalangan reformis untuk mengembalikan private-sphere yang dikuasai sekelompok pengusaha kepada public sphere. 50. bukan milik Negara apalagi pengusaha. sekaligus mematisurikan TVRI. seluruh stasiun televisi ikut bersama-sama merayakan kekonyolan-kekonyolan itu. bulan madu public-sphere itu pun berakhir dengan tampilnya kolaborasi paling dasyat state-based power (pemerintah) dan market-based powers (pengusaha).[] gado-gado SANG JURNALIS Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda http://gado-gadosangjurnalis. Kalangan pengusaha media harus bersiap-siap menyambut pemberlakukan UU No. Untuk mengembalikan kepemilikan sah angkasa kepada khalayak (public-based power). pemerintah yang ingin bernostalgia dengan masa keemasannya sebagai penguasa tunggal seluruh bisnis penyiaran. Dan saatnya memberikan kesempatan kepada khalayak untuk mendapatkan apa-apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Bulan madu public-sphere seperti digagas Jurgen Habermas ternyata perlahan-lahan menguap seiring dengan kegigihan pengusaha yang ingin usahanya langgeng. bagaimana mengurai benang kusut itu? Berikut ini paparan sederhananya: a.blogspot. dan kalangan legislatif yang tak kuat iman. bahkan meraih keuntungan selekas-lekasnya.dikemukakan Pierre Bourdie dalam Sur la Television. 32/2002. Undang-undang Nomor 32/2002 tentang Penyiaran pun dilahirkan. Bahkan. Maka. dengan membiarkan RCTI melepaskan decodernya. Paris: Raison d’Agir. dan 52) yang “semangat”nya mengebiri UU No. bukan justru menjadikan khalayak sebagai audience commodification. f. e.com/2011/09/freedomn-of-press.html . Lantas. Termasuk juga pemunculan stasiun televisi swasta nasional lainnya. g. serta tidak lagi memberi peluang bagi pengusaha dan pemerintah untuk melanjutkan “bulan madu”nya. Maka. Sejarah industri penyiaran Indonesia dilahirkan tidak dengan cetak biru sistem penyiaran yang jelas.

freedomn OF THE PRESS Media massa perlu dikontrol dan dikendalikan oleh sistem regulasi yang jelas. Pemerintah telah sadar bahwa untuk melindungi hak-hak publik atas informasi. Artinya. dijamin tidak akan diberlakukan lagi. Perusahaan pers dilarang memuat iklan: yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau meggangu kerukunan hidup antar umat beragama. pembredelan atau pelanggaran penyiaran (3) Untuk menjamin kemerdekaan pers. Bahkan. pemerintah memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi kalangan wartawan dan media untuk melakukan kegiatan jurnalistik tanpa dihantui ancaman telepon. kini saatnya media menikmati alam kebebasan seperti diterapkan dalam kehidupan pers di lingkungan sistem tanggung jawab sosial. Artinya. . surat teguran. Esensi kebebasan pers seperti yang terkandung dalam Pasal 4 UU No. Editor. Jaminan kemerdekaan itu benar-benar mesti dirayakan bila mencermati isi ayat 3. Artinya. Kontrol sosial dari UU tersebut mampu mengakomodir tekanan politik terhadap isi media Semangat reformasi yang menjadi inspirasi dalam penerbitan ketentuan hukum itu merupakan angin segar bagi kalangan pers yang selama 30 tahun diikat dalam sistem pers Pancasila yang cenderung otoritarian. pembatasan terhadap fungsi-fungsi media sebagai institusi sosial harus dihapuskan. penyensoran yang biasa menjadi momok serius pada orde itu. Pemerintah telah mampu bersikap konstruktif dan proporsional terhadap pers. yang seakan tidak ada lagi tembok penghalang atau firewall yang bakal menghalangi tugas jurnalistik. memeroleh dan menyampaikan gagasan dan informasi (4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum. dari peliputan dan penerbitan atau penyiaran. dan tabloid Detik usai memberitakan kasus pembelian kapal bekas dari Jerman pada tahun 1992-an. Dan ayat 4 makin memperjelas keberadaan ”tameng” pers dari ancaman pihak-pihak yang terganggu atas isi pemberitaan melalui pemberian hak tolak. Membaca keempat ayat itu sepintas akan memunculkan kebanggaan bahwa pemerintah telah berubah dalam menyikapi kehidupan pers dibandingkan masa Orde Baru. cobalah perhatikan Pasal 13 UU itu yang mencantumkan pelarangan. 40 Tahun 1999 tentang Pers Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers: (1) Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara (2) Terhadap pers nasional tidak dikenankan penyensoran. wartawan atau media bisa lolos dari kewajiban membocorkan identitas narasumber saat dihadirkan di pengadilan. Termasuk penghalangan kegiatan penyiaran. juga pembredelan atau pencabutan SIUPP. serta bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat. Meski demikian. pers nasional mempunyai hak mencari. wartawan mempunyai hak tolak. agar tercipta sistem media yang bertanggung jawab dalam kerangka freedom of the press dan demokratisasi. termasuk praktik penyensoran dan pembredelan seperti yang pernah dialami majalah mingguan berita Tempo. dan berbagai tekanan dari pemerintah atau lembaga-lembaga tertentu seperti dialami kalangan pers pada zaman Orde Baru. Kemerdekaan pers benar-benar diberikan kepada seluruh insan pers sebagai hak asasi warga negara. serta transparan. cerdas.

Karena. misalnya dengan melakukan class action atau tekanan-tekanan langsung yang melibatkan massa. asal memiliki cukup modal dan badan hukum yang sah.  Masyarakat perlu mencermati ”cacat” UU No. tetapi lebih didasarkan pada rasionalitas strategis untuk mengarahkan praktik bermedia yang kondusif bagi kepentingan dan legitimasi politik pemerintah. Artinya. Pemerintah sesungguhnya belum mengikhlaskan reformasi di bidang pers. pemerintah bakal berkesempatan menggunakan tangan besinya kepada media. antiketerbukaan. dan siapa yang berwenang untuk mengklaim pelanggaran itu? Kontradiktif pasal-pasal itu bisa menjadi pembuktian soal kecenderungan politik pemerintah terhadap pelembagaan kebebasan pers di Indonesia. Dengan demikian masyarakat ikut berperan dalam kontrol sosial terhadap ancaman kebebasan pers yang didasarkan UU tersebut. Siapa pun Anda. UU Intelejen. pasal tersebut memang menjadi sorotan kalangan pers. ormas. Ingat kasus penyerangan ”pasukan” Tommy Winata ke kantor majalah Tempo terkait pemberitaan Pasar Tanah Abang. Dengan penjabaran tersebut. Selain itu perlu juga diwaspadai politik legislasi pemerintah yang bertendensi mengancam institusionalisasi kebebasan pers melalui keberadaan UU KUHP. apa pertimbangannya. UU Kebahasaan. Termasuk. Dan sejak UU ini masih berupa RUU. antidemokratis. 40/1999 itu sebagai bahan kontrol sosial bila di masa mendatang pemerintah terbukti menggunakan tangan besinya dalam penyingkiran hakekat kebebasan pers. pasal itu dilengkapi kata ”berita” dan dicantumkan sebagai ayat 5 Pasal 4 atau melengkapi empat pasal kebebasan pers di atasnya. ranah ini tidak lagi murni berisikan kalangan jurnalis yang ingin menorehkan ”idealisme”nya melalui bisnis media. Politik kebijakan pemerintah di bidang pers tidak benarbenar didasarkan pada suatu imperatif untuk menciptakan ruang publik media yang demokratisdelibratif. maka berhak berbisnis media dan menjadi bagian dari kehidupan jurnalisme. Pasal 9: (1) Setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers (2) Setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia Pasal 9 memberikan peluang seluas-luasnya bagi siapa pun (baca: pengusaha dan negara) untuk beramai-ramai melakoni bisnis media. sekaligus bertendensi menyubordinasikan kebebasan pers kepada kepentingan establishment kekuasaan. sebelumnya. 40/1999 itu untuk dijadikan bahan usulan jucial review ke Mahkamah Konstitusi agar ”cacad” itu dihilangkan. 40 Tahun 1999 juga mengatur aspek ekonomi. . Dan tidak ada kejelasan soal bagaimana memutuskan masalah tersebut. 40/1999 mengakomodir pengaruh ekonomi (bisnis) terhadap isi media UU No. juga UU ITE. Penulis berpendapat:  Masyarakat perlu mencermati ”cacat” UU No. Penjelasan di atas juga bisa pembalikan atas kekhawatiran pada awal era reformasi bahwa kelompok massa.Artinya. 40 Tahun 1999 itu justru masih mencerminkan adanya tekanan politis pemerintah terhadap media. ketentuan hukum yang disodorkan pemerintah dan disetujui DPR dengan label UU No. atas nama iklan bermasalah. Bahkan.  Masyarakat juga perlu mencermati keberadaan seperangkat UU lain yang bertendensi mengancam institusionalisasi kebebasan pers sebagai bahan kontrol sosial bila di masa mendatang pemerintah terbukti menggunakan tangan besinya dalam penyingkiran hakekat kebebasan pers. seperti tercantum pada Bab IV. dan satgas adalah ancaman paling serius terhadap kebebasan pers pasca-1998. UU Rahasia Negara. UU Pornografi. UU No. misalnya dengan melakukan class action atau tekanan-tekanan langsung yang melibatkan massa. sensor atau pembredelan? Bisa jadi.

Persoalan tuntutan Front Pembela Islam atas majalah Playboy Indonesia adalah masalah lain. Gol akhir dari regulasi ekonomi itu adalah kekuasaan yang tertumpu pada persaingan secara terbuka dan sebebasbebasnya (market-based powers). Yang penting. Artinya.com/2011/09/ranah-publik. ketika untung-rugi diperhitungkan. yang dirintis untuk menyuntikkan informasi dan pendidikan seperti di atur secara rinci dalam UU Pers.blogspot. “Opini Publik” dalam Kerangka Habermas . Melalui ketentuan hukum itu.[] gado-gado SANG JURNALIS Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda http://gado-gadosangjurnalis.html ranah PUBLIK Dalam The Structural Transformation of the Public Sphere. 40/1999 itu sangat mengakomodir pengaruh ekonomi (bisnis) terhadap isi media. ketika idealisme sekadar bingkai artefak yang bakal difosilkan. Pada puncaknya. bijak. dan dalam menciptakan pertukaran wacana yang membangun. Media terkuat dan terkaya akan memainkan hegemoninya kepada khalayak seraya melindas media-media kecil yang lemah dan bermodal alakadarnya. media cetak hanyalah berisi sampah-sampah senilai dua ribu atau tiga ribu perak dan media televisi berisikan dosa-dosa yang bisa dinikmati dengan kesediaan mencumbui iklan-iklan.termasuk merasakan kesakralan freedom of the press—bahkan kebebasan pers yang diartikan sebagai peraihan keuntungan. Kenyataan ini membuat media-media yang tergolong yellow journalism pun berdiri dan bergerak bebas. Ketika modal besar bicara. Pasal 11: Penambahan modal asing pada perusahaan pers dilakukan melalui pasar modal. Menurut Penulis keberadaan dua pasal dalam UU No. era modernisasi (kapitalisme) semakin menganga dan mendapat kesempatan besar untuk menekan kehidupan media di negeri melalui sisi ekonomi. Jurgen Hambermas (1962-1989) menyebutkan bahwa ruang publik adalah perantara yang mempertemukan kepentingan negara (state) dan masyarakat (civil society) dalam menciptakan proses komunikasi yang adil. negara telah menyediakan peluang dan menjamin kelangsungannya. seperti dipaparkan Vincent Molco. bila media ”sekelas” majalah Playboy Indonesia atau surat kabar Lampu Hijau bisa leluasa menyeruak di antara media lain. Pasal ini membuka peluang bagi pengusaha-pengusaha asing. kalangan pers atau bukan. Karena. perancang UU itu benar-benar sangat mempersiapkan lahan kapitalisme di bidang media di negeri ini dengan begitu luasnya. maka media pun harus bersiap-siap merayakan suka cita komodifikasi ala ekonomi politik media. ketentuan hukumnya menyediakan ruang itu. tanpa ada kekhawatiran ”diganggu” persoalan nilai atau moral. Sanat masuk di akal. menurut Penulis. untuk ikut merayakan suka cita reformasi di bidang media di negara ini.

sesungguhnya Habermas melanjutkan proyek Max Horkheimer untuk mengembangkan teori kritis masyarakat berdimensi praksis perubahan sosial. Di sisi lain. Bahasa adalah interaksi. dan nilai masyarakat. maupun kritis) dengan kepentingan (teknis. media juga institusi ekonomi yang beroperasi berdasarkan rasionalitas bisnis. media massa. bermedia yang benar-benar mencerminkan keberagaman minat. tapa khawatir atau dihantui ancaman kekuatan negara yang dikondisikan senantiasa mengancam dan menekan masyarakat—ingat konsep penjagaan stabilitas nasional di era orde baru atau negara-negara komunis. Bagi Habermas. Media penyiaran mempunyai beban lebih besar dalam mewujudkan praktik. Maka debat tidak boleh dibatasi oleh urgensi untuk segera mengambil keputusan atau bertindak. Sebagai pemburu teori kritis Mazhab Franbkrut. bahasa menjadi medium pertukaran dalam solidaritas simbolik. alat hegemoni itu dapat digunakan untuk menyosialisasikan dan mempertahankan ide-ide atau ideologi hegemoni. gereja. Antonio Gramsci menyebut institusi dan strukturnya sebagai alat hegemoni (hegemonic apparatuses).Menurut Habermas—seperti juga pemikiran Jaques Derrida. bahkan arsitektur atau nama jalan. Pada hakekatnya keberadaan “opini publik” adalah tempat mediasi pertukaran ide di antara masyarakat melalui institusi-institusi yang berperan dalam mengembangkan dan menyebarluaskan hegemoni ideologi. “Publisitas” dalam Kerangka Habermas Media merupakan ruang yang menyediakan pertukaran ide-ide itu melalui bahasa dan simbol-simbol yang diproduksi dan disebarluaskan. Gagasan ini menunjukkan media sebagai ruang publisitas pertukaran ide-ide hegemoni tadi—sebagai public sphere. praktis. Dan di dalamnya sebuah ide hegemonik mendapatkan tandingan oleh pelbagai hegemoni tandingan lainnya (counter hegemony). untuk memperebutkan penerimaan publik atas gagasangagasan ideologis yang diperjuangkan. Konsep Ruang Publik dalam Teori Hegemoni Gramsci . Media adalah perjumpaan antara rasionalitas komunikasi dan rasionalitas strategis. atau yang bersifat emansipatoris). Partisipasi dalam debat harus melibatkan sebanyak mungkin peserta yang mempunyai kepentingan langsung. seperti sekolah. Dan syarat utama interaksi komunikatif ialah ruang publik harus dihormati. Dua sisi ini melahirkan konsekuensi bahwa hubungan antara publik dan media penyiaran tidak sekadar hubungan konsumen dan produsen informasi. terdapat hubungan strategis antara pengetahuan manusia (baik empiris-analitik. Media membentuk sebuah tempat berlangsungnya perang bahasa dan perang symbol (symbolic battle field). walau tidak dapat disangkal bahwa yang terjadi juga bisa sebaliknya bahwa pengetahuan adalah produk kepentingan. Aparatus negara menjadi penjaga masyarakat yang disiplin memberangus pemunculan gagasan-gagasan tentang kebebasan dan demokrasi. tetapi juga hubungan antara paemilik dan penyewa kekayaan publik. kebutuhan. intersubjektivitas simbolik yang sifatnya universal. Sesuai dengan namanya. Gagasan Habermas tentang “opini publik” ini menunjukkan kebebasan berpendapat dan bertukar gagasan apa pun di ruang-ruang yang disebutkan Gramsci tadi. Pada satu sisi. historis heurmeneutik. masjid. media adalah institusi sosial yang memfasilitasi masyarakat menjalankan diskursus sosial.

Pendapat di atas makin memperjelas keberadaan wacana dominan sebagai kata kunci dari ideologi kelompok dominan berupa kebudayaan. “Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan. hingga membangun kultur dan ideologi dominan. Ini berarti. dan politik. Hegemoni dapat terjadi dalam berbagai cara dan berbagai keadaan. juga media yang berperan dalam penyebaran wacana dominan itu. . wacana lain diangap salah.” Dua kutipan di atas menegaskan tujuan kekuatan hegemoni. Antonio Gramci melihat media sebagai ruang di mana berbagai ideologi dipresentasikan. sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Foss. Pada akhirnya. “Dalam produksi berita. Sebaliknya.” jelas Stephen W. Littlejohn dan Karen A. logis. yang dianggap benar. Bagi Gramci.Seperti juga teori-teori kritis pada era poststructuralism. proses itu terjadi melalui cara yang halus. Gramsci memetakan pertarungan ideologi-ideologi yang bertemu dan saling berkompetisi.” jelas Eriyanto. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan. begitu adanya. “Media secara tidak sengaja menjadi alat untuk menyebarkan nilai-nilai atau wacana dominan yang dianggap benar hingga meresap dalam benak khalayak dan dianggap kebenaran. intinya. Di tingkat makro. juga peran media sebagai channel yang menghubungkan wacana dominan itu kepada khalayak atau kelompok minoritas. sehingga apa yang terjadi dan diberitakan oleh media tampak sebagai suatu kebenaran. serta semua orang menganggap itu sebagai suatu yang tidak perlu dipertanyakan. Hal ini dapat menjadi proses cerdik dalam memaksakan untuk memilih minat dari sebuah kelompok bawah menjadi kelompok yang mendukung semua ideologi dominan. dibangun berdasarkan teori kekuasaan yang dikembangkan Karl Marx (1818-1883). teori hegemoni yang digagas Gramsci. Namun di sisi lain. media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies). sekaligus memperlihatkan rupa penggagasnya. di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa. alat legitimasi dan kontrol atas wacana publik. hal ini terjadi ketika peristiwa atau teks diartikan dengan sebuah cara yang mengangkat ketertarikan dari satu kelompok terhadap yang lainnya. masyarakat.” jelas Eriyanto. Batasan itu menguraikan keberadaan dua kelompok di tengah masyarakat. dengan kelompok minoritas yang berperan “menyuntikkan” ideologinya. dan bernalar (common sense). Inti batasan yang dikemukan Littlejohn dan Foss adalah dominasi kelompok dominan (baca: minoritas) atas kelompok lain (baca: mayoritas atau khalayak) agar mengikuti ideologi kelompok dominan tersebut. pertarungan wacana itu melahirkan kegagahan bagi media sebagai pencetus berbagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. yakni menciptakan cara berpikir yang berasal dari wacana dominan. sedangkan kelompok mayoritas atau khalayak menjadi pengikut atau sasaran penerimaan ideologi itu. media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. sedangkan wacana lain dianggap salah. di mana sebuah ide menumbangkan atau membawahi ide lainnya—sebuah proses di mana satu kelompok dalam masyarakat menggunakan kepemimpinan untuk menguasai yang lainnya. Lebih jauh lagi. “Hegemoni adalah proses dominasi. penerus Marxisme atau Neo-Marxisme. Alex Sobur melihat berbagai pihak di belakang media sebagai kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi.

Ketika teks televisi diuraikan secara rinci menurut medan wacana (field of discourse). dan mengutamakan unsur hiburan. maka hal itu terkait positioning yang didesain media itu yang mencoba meraup segmen pemirsa sebanyak-banyaknya. Hubungan sinergis itulah yang menjadikan pesan media dibingkai dalam suasana market-based powers atau kekuasaan pasar. Media memiliki aspek-aspek dan kepentingan untuk menjalankan roda usahanya. dengan mengatakan bahwa Gramsci terlalu mempermudah pemahaman tentang ruang kebebasan publik (pers) dan kekuatan politik koersif dari negara dan pemerintah terhadap pers. hingga media televisi sebagai situs budaya popular (makro) yang berada di lingkungan ekonomi politik media. produksi teks televisi (meso) yang menghadirkan agenda setting dalam mengonstruksi wacana bermakna berupa teks televisi dengan pendekatan komodifikasi. dari sana akan terjawab juga persoalan bentuk dan rupa artefak yang dihadirkan dan hegemoni di dalamnya. Kata kunci atas konsep ruang publik tersebut dalam teori hegemoni dari Gramsci di media massa saat ini adalah perampasan ruang publik atas nama kekuatan pasar atau regulasi yang berpihak kepada pemilik modal. dan sarana wacana (mode of discourse)—analisis wacana kritis yang dikembangkan Halliday dan Hassan. di bawah kendali pengusaha media. yakni berupa pendekatan fungsionalisme bahwa setiap masyarakat merupakan struktur yang terdiri dari unsur-unsur yang relatif kuat dan mantap.” kata Graeme Burton. Paparan ini berkaitan erat dengan teori konflik Ralf Dahrendorf. Dengan rating dan share sebagai acuan dalam penyusunan agenda. hingga memodifikasi berita-berita agar lebih entertaining. Penulis akan mengurainya dengan analisis wacana kritis ala Norman Fairclough. ringan. . Situasi ini menandakan media baru saja beranjak dari fase pengelolaan media yang secara ketat di bawah kekuasaan negara (state-based power). “Watak kolusif genre—produser dan khalayak punya kepentingan yang saling menguntungkan dalam menjaga formula bersama-sama— menyeret perhatian kita pada fakta bahwa konservatisme ideologis dalam berita adalah sesuatu yang dipersekongkolan khalayak untuk dipelihara. Bahkan. pelibat wacana (tenor of discourse). akan menjelaskan penanda-penanda yang ada di dalam pesan. Khalayak juga sangat berkepentingan untuk mengawal “aspek-aspek dan kepentingan” itu agar tetap mendapatkan informasi tentang lingkungannya —bahkan meski dalam keadaan bias. Bahwa pada akhirnya teks itu lebih berisikan selera rendah.[] gado-gado SANG JURNALIS http://gado-gadosangjurnalis. Dalam bahasa lain. Artinya.blogspot.Untuk menjawab permasalahan di atas.com/2011/09/teori-hegemoni. sama banyaknya dengan sesuatu yang sekadar ditimpakan kepada pemirsa. yang dimulai dari teks televisi (mikro). program berita yang mestinya mengedepankan aspek idealisme ikut menuhankan rating dan share.html teori HEGEMONI Perry Anderson melakukan kritik pedas tentang teori hegemoni kultural dan intelektual Gramsci.

. Bahwa hegemoni menekankan pada perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” melalui kepemimpinan intelektual. dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya. khususnya terkait pembongkaran teks dan produksi teks media menu menurut metodologi semiotika sosial atau analisis wacana kritis. di mana sebuah ide menumbangkan atau membawahi ide lainnya— sebuah proses di mana satu kelompok dalam masyarakat menggunakan kepemimpinan untuk menguasai yang lainnya. mekanisme yang dijalankan untuk mempertahankan. dan politik. Hal ini dapat menjadi proses cerdik dalam memaksakan untuk memilih minat dari sebuah kelompok bawah menjadi kelompok yang mendukung semua ideologi dominan. intinya. Littlejohn dan Karen A. tetapi juga kekuatan (force) dan hegemoni. Batasan itu menguraikan keberadaan dua kelompok di tengah masyarakat. Hegemoni menekankan pada bentuk ekspresi. “Hegemoni adalah proses dominasi. Jika yang pertama menggunakan daya paksa untuk membuat orang banyak mengikuti dan mematuhi syarat-syarat suatu cara produksi atau nilai-nilai tertentu. moral. yang disebut-sebut sebagai penerus Marxisme atau Neo-Marxisme. Inti batasan yang dikemukan Littlejohn dan Foss adalah dominasi kelompok dominan (baca: minoritas) atas kelompok lain (baca: mayoritas atau khalayak) agar mengikuti ideologi kelompok dominan tersebut. memengaruhi dan membentuk alam pikiran khalayak atau kelompok yang dipengaruhi. cara penerapan. Konsep hegemoni dipopulerkan ahli filsafat politik terkemuka Italia. uraian itu juga menjabarkan sekilas perbedaan dimensi ekonomi dan produksi (yang dikemukakan Karl Marx) dibandingkan hegemoni ala Gramsci. dengan kelompok minoritas yang berperan “menyuntikkan” ideologinya. Teori ini sangat berperan dalam pembacaan teks budaya popular secara kualitatif. teori hegemoni pun dibangun berdasarkan teori kekuasaan yang dikembangkan Karl Marx (1818-1883). yang menggunakan daya paksa untuk membuat orang banyak mengikutinya. Selain itu. Ideologi? Pemaparan Eriyanto soal hegemoni di bawah ini bisa memperjelas batasan yang telah disampaikan di atas.Apa gambaran luas tentang teori hegemoni Antonio Gramsci? Seperti juga teori-teori kritis pada era poststructuralism.” jelas Stephen W. Karl Marx menyebutnya sebagai kesadaran palsu atau representasi palsu. Cara penguasaan atau dominasi itu digambarkan Eriyanto melalui pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar hingga ditafsirkan sebagai kenyataan. dan politik. yang berpendapat bahwa kekuatan dan dominasi kapitalis tidak hanya melalui dimensi material dari sarana ekonomi dan relasi produksi. Antonio Gramsci. Hegemoni dapat terjadi dalam berbagai cara dan berbagai keadaan. Foss. sedangkan kelompok mayoritas atau khalayak menjadi pengikut atau sasaran penerimaan ideologi itu. serta berperan dalam menafsirkan pengalaman tentang kenyataan. sehingga upaya itu berhasil mempengaruhi dan membentuk alam pikiran mereka. maka yang terakhir meliputi perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” (secara suka rela) dari kelompok-kelompok yang didominasi oleh kelas penguasa lewat penggunaan kepemimpinan intelektual. Proses itu terjadi dan berlangsung melalui pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar dan dapat meresap. moral. Tujuannya. Antonio Gramsci. Teori ini dirintis dan dipopulerkan ahli filsafat politik terkemuka Italia. hal ini terjadi ketika peristiwa atau teks diartikan dengan sebuah cara yang mengangkat ketertarikan dari satu kelompok terhadap yang lainnya. Sebaliknya dengan dimensi material dari segi ekonomi dan relasi produksi.

wacana lain diangap salah. dan bernalar (common sense). serta semua orang menganggap itu sebagai suatu yang tidak perlu dipertanyakan. masyarakat. sekaligus memperlihatkan rupa penggagasnya.” Kini semakin jelas bahwa kebudayaan. Kesimpulannya. Bagi Gramci. juga peran media sebagai channel yang menghubungkan wacana dominan itu kepada khalayak atau kelompok minoritas. yang menampilkan kebudayaan. . poin-poin teori hegemoni meliputi: 1) dominasi kelompok dominan (minoritas) atas kelompok lain (mayoritas) agar mengikuti ideologi kelompok dominan tersebut. dan politik. masyarakat. dan politik sebagai medan-medan perebutan di antara berbagai kelompok dan blok kelas.Hingga di sini. masyarakat.” Dua kutipan di atas menegaskan tujuan kekuatan hegemoni. Gramsci memetakan pertarungan ideologi-ideologi yang bertemu dan saling berkompetisi. pertarungan wacana itu melahirkan kegagahan bagi media sebagai pencetus berbagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Di tingkat makro. sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Pendapat di atas makin memperjelas keberadaan wacana dominan sebagai kata kunci dari ideologi kelompok dominan berupa kebudayaan. alat legitimasi dan kontrol atas wacana publik. “… teori Antonio Gramsci mengenai hegemoni. dan politik. hal itu belum menjelaskan tujuan spesifik dan alat atau sarana untuk mendapatkan kepatuhan aktif dan secara suka rela itu. begitu adanya. yakni menciptakan cara berpikir yang berasal dari wacana dominan. yang menjadi medan perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” bagi kelompok minoritas itu.” jelas Eriyanto. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan. dan politik. “Media secara tidak sengaja menjadi alat untuk menyebarkan nilai-nilai atau wacana dominan yang dianggap benar hingga meresap dalam benak khalayak dan dianggap kebenaran. Ini berarti. media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. yang dianggap benar. logis. media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies). hingga membangun kultur dan ideologi dominan. Dua batasan itu masih berputar di wilayah hubungan kelompok berkuasa dan tidak berkuasa. yang menjadi medan perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” bagi kelompok minoritas ideologi kelompok dominan berupa kebudayaan. Namun. Antonio Gramci melihat media sebagai ruang di mana berbagai ideologi dipresentasikan. proses itu terjadi melalui cara yang halus. Menurut Douglas Kellner. juga media yang berperan dalam penyebaran wacana dominan itu.” jelas Eriyanto. di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa. sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. masyarakat. 3) kebudayaan. masyarakat. Alex Sobur melihat berbagai pihak di belakang media sebagai kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi. serta harapan-harapan yang ingin dicapai. Sebaliknya. sehingga apa yang terjadi dan diberitakan oleh media tampak sebagai suatu kebenaran. Pada akhirnya. sedangkan wacana lain dianggap salah. 2) melalui pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar hingga ditafsirkan sebagai kenyataan. Lebih jauh lagi. batasan-batasan itu belum menjelaskan rupa hegemoni. “Dalam produksi berita. “Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan. Namun di sisi lain. dan politik.

. melalui pembacaan medan wacana (field of discourse). rupa hegemoni itu akan makin jelas dengan pengamatan langsung pada produksi teks budaya. Pemberlakukan Undang-undang Pers membuat media merasa memiliki alasan untuk menikmati kebabasan itu seakan berada di alam liberalism. hingga membangun kultur dan ideologi dominan. khalayak makin dihadapkan banyak pilihan terhadap hegemoni-hegemoni baru di era reformasi. sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Bahwa jauh sebelum teks budaya popular itu disuntikkan kepada khalayak. Sejak bergulirnya era reformasi tidak bisa dipungkiri lagi topik-topik politik menjadi primadona atau pilihan medan wacana media. Wacana-wacana yang didesain dengan makna khusus (baca: memburu jumlah tiras di media cetak atau rating dan share di media elektronik) seakan menjadi pembuktian kebenaran model komunikasi televisual ilmuwan dari Mazhab Birmingham Stuart Hall melalui publikasi dalam Encoding and Decoding the Televisual Discourse. pembacaan hegemoni dalam teks media bisa dimulai dengan menganalisis artefak-artefak yang diperlihatkan situs-situs budaya popular (baca: media). apa pun jenisnya. berpendapat. persis seperti disinggung salah satu poin di atas: berbagai pihak di belakang media sebagai kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi. dan sarana wacana (mode of discourse). Penulis akan menguraikan sekilas kondisi media di Tanah Air. 6) pertarungan wacana itu melahirkan kegagahan bagi media sebagai pencetus berbagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. sesungguhnya media telah “menyiapkan” wacana yang “bermakna”.4) peran media sebagai channel yang menghubungkan wacana dominan itu kepada khalayak atau kelompok minoritas. Singkatnya. dan berdemokrasi. aroma modernitas dan hedonism yang dimunculkan media esek-esek atau bernuansa pornografi juga tak tertahan. khususnya terkait pembongkaran teks dan produksi teks media menu menurut metodologi semiotika sosial atau analisis wacana kritis. awal orde reformasi merupakan perayaan hegemoni media paling akbar yang pernah terjadi di Tanah Air. Euforia media cetak yang ditandai kemudahan mendapatkan SIUPP itu juga dihadang masalah baru soal makin berpesta-poranya juga media televisi dalam memainkan medan wacana. Intinya. sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. pelibat wacana (tenor of discourse). Bagaimana teori hegemoni tersebut dapat menjelaskan kondisi media kita akhir-akhir ini yang mengusung kebebasan pers? Seperti telah disinggung di atas bahwa teori hegemoni sangat berperan dalam pembacaan teks budaya popular secara kualitatif. Dan “wacana bermakna” itu adalah pencapaian tiras serta rating dan share. Lebih dari 30 tahun dikerangkeng dalam penjara Pers Pancasila (baca: otoritarian ala Orde Baru) membuat media hiruk-pikuk merayakan alam bebas berpolitik. berkesempatan mengumbar kekuasaan-kekuasaan kelas minoritasnya yang diyakini bakal mengusai kelas mayoritas yang disinggung Jean Boudrillard sebagai mayoritas yang diam—massa yang tidak membutuhkan kekuasaan untuk mendominasi. Berdasarkan pendekatan analisis wacana kritis (terutama yang dikembangkan Halliday dan Hassan). Seiring dengan itu. Setelah itu. 5) berbagai pihak di belakang media sebagai kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi. hingga membangun kultur dan ideologi dominan. Artinya. Media.

dengan “framing” standar: fashion. tanpa menimbang latar belakang atau “tampilan” sejatinya. dalam bingkai ekonomi politik media. gaya bertutur. analisis wacana kritis. keakraban dengan teknologi komputer. tapi juga dipancing untuk mengirimkan short message service (SMS) dengan ongkos yang tak murah. khalayak pun dijadikan komoditas yang bukan sebatas dipaksa menimati pencitraan produk-produk yang diiklankan dalam dalam commercial break. Analisis framing. Rumingkang. Putri Ayu. Bahkan. maka teks budaya itu makin memperlihatkan keberadaan hegemoni yang berkiblat pada ekonomi politik media. teman-teman se”kaum”. etika pergaulan seperti kalangan modern lengkap dengan “cipikacipiki”nya. Dan kalau melirik program hiburan. akan mencitrakan kaum modernitas. Brandon. kedekatan dengan teknologi. juga riuh penonton sebagai penyaksi langsung penobatan ikon-ikon budaya popular baru itu. gaya. Bahkan. itulah gambaran kekuasaan hegemoni di dunia pertelevisian saat ini. ber”metamorfosis” tanpa bisa diduga dan dibendung. panggung megah itu menyulapnya menjadi “selebritas” atau mitos-mitos baru panggung hiburan. atau pendekatan cultural studies. Khalayak tidak pernah mempertanyakan latar belakang atau kondisi nyata mereka. akan membongkar rupa-rupa hegemoni di balik teks-teks media yang diproduksi media di Tanah Air. etika pergaulan. properti yang disulap mengikuti tema-tema tertentu. dan gempita perhatian orang lain. menguasai territorial. tata rias dan model rambut peserta yang mengubahnya menjadi “orang lain”. Sedangkan media cetak masih terus berjuang dengan framing politik atau berupaya juga bermain di wilayah ekonomi. iringan grup musik yang luar biasa. . nikmati juga perayaan penciptaan efek mitologisasi itu dalam panggung megah Indonesia Mencari Bakat (IMB) di layar TransTV. Pemunculan kasus video porno mirip artis di seluruh program berita di televisi menjadi pembuktian matinya nilai estetis dan objektivitas yang selama beratus-ratus menjadi nilai sakral para jurnalis. teman-teman se”kaum”. Di bawah gemerlap lampu berkekuatan ribuan Watt. kesenangan. Belakangan hegemoni itu. Kedua program itu juga menjadi pembuktian keberhasilan penerapan komodifikasi yang oleh Vincent Mosco dilukiskan sebagai cara kapitalisme melancarkan tujuannya dengan mentransformasi nilai guna menjadi nilai tukar. dan gempita perhatian orang lain. nama-nama Klantink. Atau. busana dan kostum para peserta yang tidak main-main. Tiba-tiba. Sehingga program televisi. tamu-tamu dialog dari kalangan selebritas yang juga tak kalah modis dan glamor. Simbol-simbol itu sudah cukup menjelaskan premis program bahwa fashion. analisis semiotika. makin disemarakkan perayaan hedonisme dan upaya memuaskan mayoritas yang diam tadi. dan sebagainya). terutama media televisi. dan sejumlah nama atau kelompok lain. Misalnya saja. Teks budaya yang dihidangkan media merupakan artefak-artefak yang jauh pemenuhan nilai estetis. meski hal itu sesungguhnya bukan kebutuhan khalayak. Program berita menjadi tidak percaya diri dan ikut berlomba bak program infotainment demi memburu rating dan share. etika pergaulan. dan tepuk-tangan penonton yang diminta mengamini pencitraan modernnya. Dalam tempo delapan bulan. gaya bertutur. produk. program Bukan Empat Mata di Trans7 yang menempatkan pelawak jebolan Srimulat Tukul Arwana sebagai host dari kalangan modern: dengan wardrobe yang berganti-ganti dan bermerk. akan tetapi kekuasaan untuk mengekspresikan diferensi (perbedaan seks.memperjuangan ideologi leluhur. Menurut Penulis. kedekatan dengan teknologi. Hudson. mesti dikomodifikasi sebagai komoditas yang benar-benar disukai khalayak (content comodification). jurijuri yang merupakan ikon-ikon budaya populer dengan pencitraan modernnya. gaya bertutur yang mencoba cerdas dengan sesekali menyelipkan kosa kata bahasa Inggris. meski sesekali stasiun itu memutar video tape (VT) kondisi nyata mereka.

Dalam teks lain. Foss di bawah ini: Marx meyakini bahwa masyarakat adalah sarana produksi yang menentukan struktur dari masyarakat itu. Selain itu.html akuisisi EMTK terhadap indosiar. 3) hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. Batasan di atas memilah hubungan dua kelas di tengah masyarakat. Disebut hubungan superstruktur dasar (basesuperstructure).blogspot. Marx paling prihatin dengan akibat kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi. Dalam batasan-batasan lain. menurut versi Marxisme adalah kekuasaan yang dibutuhkan oleh kelas sosial (kelas penguasa) untuk mereproduksi model produksinya yang dominan— kekuasaan untuk mengeksploitir kelas yang dikuasai. yaitu PT Elang Mahkota . yakni kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan.Sebutkan kesamaan dan perbedaan antara teori hegemoni Gramsci dan teori kekuasaan Karl Marx? Teori hegemoni Gransci telah diuraikan secara panjang lebar di poin a. 4) politik berada di balik kekuasaan ekonomi itu. Berikut ini penjelasan teori kekuasaan Karl Marx. gado-gado SANG JURNALIS http://gado-gadosangjurnalis. konsep ideologi tersebut jelas sangat subjektif dan keberadaannya hanya untuk melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. seperti diuraikan Stephen Littlejohn dan Karen A. Karl Marx melihat konsep kekuasaan dalam kerangka hubungan yang mutlak antara kelas-kelas yang mendominasi dan yang didominasi dalam masyarakat— antara yang menekan (oppressor) dan yang tertekan (oppressed).com/2011/09/akuisisi-emtk-terhadap-indosiar-babak. Menurut Yasraf Amir Piliang. 2) ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. kekuasaan itu disebut juga sebagai ideologi: Karl Marx (1818-1883) dan dan Fredrich Engels ((18201895) melihat ideologi sebagai fabrikasi atau pemalsuan yang digunakan oleh sekelompok orang tertentu untuk membenarkan diri mereka sendiri. antara yang menyisihkan (alienating) dan yang tersisihkan (alienated). Kekuasaan. gagasan ini adalah ide bahwa ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Teori kekuasaan ala Karl Marx itu identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. BABAK LANJUTAN KONGLOMERASI MEDIA? Tiga perusahaan yang mengelola stasiun televisi. memercayai bahwa keuntungan berasal dari produksi… … Ekonomi berasal dari politik. politik berada di balik kekuasaan ekonomi itu. Dengan demikian teori kekuasaan Karl Marx memuat poin-poin: 1) kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. yang oleh Marxisme klasik sering disebut kritik ekonomi politik (the critique of political economy). PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) berniat melakukan penggabungan usaha atau merger dengan dua perusahaan sejenis. Karena itu.

190.71 miliar. Kewajiban terbesar dibukukan Elang Mahkota senilai Rp 1. meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Elang Mahkota mencatat pendapatan terbesar yaitu Rp 2. "Kami juga melihat adanya pergerakan harga yang tidak wajar.010 dari harga pembukaan Rp 950.800 dari posisi pembukaan. saham Surya Citra dengan kode perdagangan SCMA terangkat Rp 300 (8. yakni hanya mencapai Rp 606.57 persen) ke level Rp 3.340 dari posisi pembukaan Rp 1. "Pengembangan usaha itu dapat berbentuk akuisisi atau merger yang melibatkan Surya Citra dan Indosiar.42 triliun.48 triliun dan Surya Citra Rp 1. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) lain. diminta tidak memberikan izin bagi EMTK untuk mengambil alih IDKM atau penggabungan Emtek. Elang Mahkota Rp 6. Untuk total nilai kapitalisasi pasar. sedangkan Surya Citra Rp 1. SCMA. dan Elang Mahkota Rp 4. kepemilikan lembaga penyiaran swasta seperti televisi dikhawatirkan memunculkan pemusatan usaha. dan Indosiar." kata Direktur Utama Elang Mahkota Teknologi Susanto Suwarto dalam penjelasan tertulis perseroan yang dipublikasikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Namun. Untuk pendapatan bersih. total aset ketiga perusahaan bila digabungkan akan mencapai Rp 7.04 triliun. total kewajiban akan membengkak menjadi Rp 3.12 triliun. Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran (KIDP). Surya Citra mencatatkan laba terbesar.41 miliar. dan EMTK. sedangkan Indosiar Karya Media mengelola stasiun televisi Indosiar. SCMA. otoritas bursa akan memanggil ketiga emiten terkait rencana merger tersebut. Sementara itu.008 triliun. Menurut Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Andre PJ Toelle.31 persen) menjadi Rp 1.2 triliun.87 triliun.3 triliun.84 miliar. Selain itu penyebaran informasi yang akan dilakukan dua stasiun televisi yang dipegang satu orang saja ditakutkan terjadi semena-mena.Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).64 triliun. Komite Advokasi untuk Independen Penyiaran (KAIP) mempertanyakan rencana merger dua stasiun televisi nasional antara SCTV dan Indosiar dan kepemilikan Media Nusantara Citra (MNC) yang mengendalikan 99 persen saham RCTI. Selasa. suspensi atas ketiga saham tersebut terkait rencana penggabungan usaha (merger) ketiga perusahaan. dan Bapepam.03 triliun dan Indosiar Rp 680. serta Trans Corporation yang memiliki TransTV dan Trans7. dengan menghentikan sementara perdagangan saham atau suspensi atas saham IDKM. Berdasarkan data laporan keuangan tiga emiten itu per September 2010. Berita seputar penggabungan usaha itu ditanggapi pihak Bursa Efek Indonesia (BEI). Demikian juga dengan Viva Media yang memegang kendali ANTV dan TVOne. akuisisi itu melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito mengatakan.44 triliun. KPI. yaitu Rp 333. Indosiar juga paling kecil. Sementara itu. yakni Rp 1. EMTK merupakan induk usaha dari Surya Citra Media—pengelola stasiun televisi Surya Citra Televisi (SCTV)—sekaligus pemilik stasiun televisi lokal O Channel.41 triliun.55 persen menjadi Rp 1." katanya. disusul Surya Citra Rp 2.54 miliar dan Elang Mahkota Rp 276. Manajemen EMTK menyiapkan dua opsi terkait aksi korporasi yang melibatkan SCMA dengan IDKM. KAIP menilai. dan Indosiar Rp 2.73 miliar. Dari total nilai aset itu. 22 Februari 2011. Pasalnya. 22 Februari 2011. . Surya Citra merupakan yang terbesar dengan pencapaian Rp 7. Saham Elang Mahkota juga naik Rp 160 atau 13. Indosiar juga membukukan laba bersih terkecil atau sebesar Rp 26. Saham Indosiar menguat Rp 60 (6. aset Indosiar adalah yang terkecil. Sementara itu. 99 persen saham Global TV dan 75 persen saham MNC. Suspensi atas tiga saham itu dilakukan mulai sesi pertama perdagangan pada Selasa.

agar tidak memberikan izin bagi EMTK untuk mengambil alih IDKM atau penggabungan EMTK. ”Adanya modal asing lebih dari 20 persen yang tidak dengan peraturan perundang-undangan. akusisi itu berpotensi . Komposisinya dapat dilihat pada laporan konsolidasi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (PP-LPS) dan Pasal 34 ayat 4 UU Penyiaran." tambahnya. Merger adalah proses difusi dua perseroan dengan salah satu di antaranya tetap berdiri dengan nama perseroannya sementara yang lain lenyap dengan segala nama dan kekayaannya dimasukan dalam perseroan yang tetap berdiri tersebut." kata Koordinator Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran Eko Item Maryadi. Kedua. tidak boleh diatur pengambil alihan atau tidak boleh ada pemusatan kepemilikan di dalam komposisi saham. "Potensi pelanggaran itu kalau penjual beli saham atau aksi korporasi mencapai di atas 50 persen. SCMA. pertama. memungkinkan terjadi pelanggaran peraturan perundang-undangan bidang penyiaran yaitu Pasal 32 ayat 1 tahun 2002 huruf a Peraturan Pemerintah No. Salah satu LSM yang mengkritisi masalah itu juga tak kalah “bingungnya”. dia harus mengambil alih kepemilikan. Pasalnya. Direktur Utama EMTK Susanto Suwarto dalam penjelasan tertulis perseroan yang dipublikasikan PT BEI di Jakarta pada 22 Februari 2011 menyumirkan masalah itu sebagai merger atau akuisisi. Kementerian Kominfo. dan IDKM. KPI meminta Menteri Kominfo merespons dan melaksanakan kewenangannya berdasarkan UU dan PP tersebut. Aksi korporasi itu. Kecuali KIDP yang menyebutnya sebagai akuisisi. dan Bapepam. "Kewenangan Kementerian Kominfo ialah memberikan persetujuan terhadap rencana tersebut. Sedangkan akuisisi adalah pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor. ada dua istilah yang mengemuka: merger dan akuisisi. ialah aksi pembelian saham tersebut berarti termasuk dalam memonopoli."Merger itu tidak sesuai dengan peraturan undang-undang." ujar Riyanto. menurut KPI. berarti memonopoli. Bahkan. dengan menyebutnya sebagai merger. Artinya. Sesuai PP. Riyanto melanjutkan. "Peraturan ini mengatur tentang pembatasan pemusatan kepemilikan dan penugasan LPS (Lembaga Penjamin Sosial) oleh satu orang atau satu badan hukum. sekaligus meminta Kemenkominfo. KPI menilai rencana pengambilalihan saham IDKM oleh EMTK berpotensi menciptakan monopoli dan pelanggaran Undang-Undang Penyiaran." katanya. juga Indosiar. Padahal esensi dari “penggabungan” itu sesungguhnya EMTK membeli saham IDKM. Kesimpulannya. Bapepam-LK. penggabungan itu termasuk dalam akusisi.” Merger atau Akuisisi? Sejak berita “penggabungan” dihantarkan ke khalayak. Apabila terjadi aksi akuisisi. Kewenangan Bapepam-LK ialah memberikan penilaian terhadap posisi bisnis dan investasi. dan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) ini yang bisa membaca arah bisnis penyiaran itu sendiri." ujar Komisioner KPI Pusat Mochamad Riyanto. pelarangan pemindahtanganan izin penyelenggaraan penyiaran. akuisisi itu melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. hingga EMTK memiliki tiga stasiun televisi SCTV dan O Channel. Pasal 34 menyatakan. Potensi pelanggaran yang dimaksud. KPI. Belakangan KPI juga bereaksi lantang dengan menyebut masalah itu sebagai akuisisi. pihak Bursa Efek Indonesia menyebutnya sebagai merger.

DPR. 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (PP-LPS) dan Pasal 34 ayat 4 UU Penyiaran. Dengan kata lain. 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (PP-LPS) dan Pasal 34 ayat 4 UU Penyiaran. Dan jauh ke depan. Jadi. Meski keputusan akuisisi berada di tangan Kemenkominfo. Rekomendasi KPI yang meminta Kemenkominfo merespons dan melaksanakan kewenangannya berdasarkan UU dan PP tersebut menjadi pembuktiaan nyata. yang sedang mencerabut khalayak televisi dari komunikasi demokratis yang sesungguhnya. yang sesungguhnya menjadi impian saat reformasi digulirkan. namun kali ini KPI telah berbuat sesuatu untuk melindungi khalayak dari ancaman homogenitas program. tiga pemain kuat di ranah penyiaran—Hary Tanoesoedibdjo dengan bendera Bhakti Investama-nya.menjadi monopoli sekaligus melanggar Pasal 32 ayat 1 tahun 2002 huruf a Peraturan Pemerintah No. sesungguhnya didahului dengan “keterkejutannya” atas keperkasaan Media Nusantara Citra (MNC) yang mengendalikan 99 persen saham RCTI. Keberadaan sejumlah peraturan pemerintah (PP) yang menelikung UU Penyiaran menjadi alasan paling jitu untuk menunjuk kegagalan KPI sebagai penjaga ranah publik. komisi komunikasi dan jaringan televisi. Artinya. peran pemerintah. juga khalayak yang kritis. Ketiga. juga ikut dipertanyakan. Aburizal Bakrie dengan Bakrie Group-nya. Dan berdasarkan ketiga kesimpulan memunculkan pertanyaan menggoda. karena pemerintah dan DPR telah membangun “konspirasi” untuk menumpulkan taji itu. ketidakberdayaan KPI adalah ancaman yang bukan main-main terkait hubungan khalayak dan ketersediaan informasi. KPI meminta Kemenkominfo merespons dan melaksanakan kewenangannya berdasarkan UU dan PP tersebut. EMTK bukanlah perusahaan pertama yang melakukan pelanggaran dan membuktikan ketidakberdayaan KPI sebagai komisi pengawas dunia penyiaran di Tanah Air. serta Trans Corporation yang memiliki TransTV dan Trans7. juga Indosiar. dan keberlimpahan informasi yang sesungguhnya tak lebih merupakan ekstasi komunikasi (meminjam istilah yang dikemukakan filsuf Prancis Jean Baudrillard). sebelum SCTV-O Channel-Indosiar bersatu. komodifikasi program. Bersamaan dengan KPI. Keberadaan lembaga itu yang dipayungi semangat UU Penyiaran tidak otomatis menjadi perkasa untuk memperlihatkan tajinya. LSM itu juga menyitir kepemilikan Viva Media atas ANTV dan TVOne. Kellner dalam Television and the Crisis of Democracy (1990) mengingatkan kita soal keterpautan sistem pemerintah. dan Chairul Tanjung dengan Para Group-nya—telah bermain dan suka cita merayakan pelanggarannya terhadap Pasal 32 ayat 1 tahun 2002 huruf a Peraturan Pemerintah No. apakah realitas itu menjadi pembuktian adanya babak lanjutan atas korporasi di dunia penyiaran kita? Post-Akuisisi Media Bahwa kritik Komite Advokasi untuk Independen Penyiaran (KAIP) yang mempertanyakan rencana akusisi EMTK bakal menguasai SCTV dan O Channel. Ini disebabkan kurangnya tanggung jawab korporat. dan sempitnya perspektif politik yang ditampilkan. akses gelombang udara yang sangat tebatas. Di balik pengerdilan KPI. betapa KPI bukanlah lembaga kuat dan tangguh untuk memperlihatkan giginya. 99 persen saham Global TV dan 75 persen saham MNC. Satu sisi positif yang layak dipuji adalah itikad KPI dengan rekomendasi yang memberikan kesan sebagai upaya meminimalisir kesalahan terdahulu—dengan perayaan para pemodal besar menjalankan praktik konglomerasi media. ketika babak-babak korporasi media merayakan keberhasilannya menguasai ranah . hedonitas program. serta kelangsungan komunikasi demokratis.

Sebagai entitas bisnis. budaya media pun berpusat akan pada media itu sendiri. dan pemburu rating. para ilmuwan kritis telah mengingatkan akan “bahaya” yang mengintai di setiap sudut kamar khalayak melalui kotak tanpa jiwa bernama televisi itu. atau bahkan elit media itu sendiri. tapi kelompok minoritas dengan modal besar sebagai pengendali hegemoni. khalayak bakal dihantam keterbatasan informasi layaknya media di Negara yang menganut sistem politik otoritarian atau komunis. kali ini Negara bukan sebagai aktor. elit bisnis. dan kelompok penekan serta ideologi “anti-komunisme” dan “fundamentalisme Islam”. . Edward S. Ketiadaan kompetitor membuat media tidak berkembang dengan baik. Burton. siapa yang harus bertanggung jawab pada era post-akuisisi media itu?[] Sekadar Baudrillard. Perbedaan dibandingkan kedua situasi itu. Bahkan. seperti dikemukan Bernard Dagenais dalam eseinya Media in Crises: Observers. Herman dan Noam Chomsky dalam Manufacturing Concent: The Political Economy of the Mass Media (1988) memamaparkan. Poor Democracy: Communication Politics in Dubious Times (1990) berargumen bahwa konsentrasi kekuasaan di tengah oligopoli korporat yang terintegrasi secara vertikal telah mengancam arus bebas informasi dan opini yang berbeda yang justru amat vital bagi daya hidup masyarakat demokratis. menurut Usman Ks. “pedagang” mengendalikan pers dengan memanfaatkan kepemilikan modal atau saham untuk mengontrol isi media atau mengancam wartawan yang “nakal”. McChesney dalam Rich Media. suatu masyarakat dalam krisis juga menciptakan krisis media. Bandung: Jalasutra. Pertanyaan paling absurd: sudikah babak-babak korporasi media itu dihadirkan para pemodal di ranah publik ini? Lantas. Logika komersialisme pers dan komodifikasi berita telah menjadi primadona dalam cara berpikir pengelola pers dan jurnalistik. Pada akhirnya. Ketiadaan kompetitor membuat media yang memonopoli akan berbuat sesuka hati sehingga sering kali merugikan publik (2010). Robert W. dia tidak punya kompetitor. Lebih jauh. sumber-sumber media. Dalam logika budaya seperti ini jelas sulit kita menempatkan kepentingan publik di atas atau setara dengan kepentingan modal dan kuasa (Ibrahim. Bias yang tersembunyi dan disengaja (hidden and intended bias) akhirnya sulit dihindarkan karena media juga membawa “agenda tersembunyi” kelompok-kelompok kepentingan tertentu yang beroperasi di balik media. Klimaks dari kekalutan itu. 2007. “Filter” media itulah yang akhirnya menyelubungi bias media. Dalam hal ini adalah “hidden agenda” dari para elite politik. fenomena komersialisasi membuat kehidupan pers telah menjadikan pers sebagai industri atau “pers industri” yang dikendalikan para “pedagang”. Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar Kepada Studi Televisi. dan berlanjut hingga campur tangan para pengiklan. ketika media memonopoli pasar. Ekstasi Komunikasi. seperangkat “filter” telah mengontrol isi informasi media. dimulai dari ukuran media dan orientasi profit serta kepemilikan media. 2006. Idi Subandi: 2011). media cenderung akan makin menekankan pada bisnis semata. Pers diarahkan sebagai mesin pencetak uang. pemasok iklan. Idi Subandi Ibrahim (2011) juga mengingatkan soal ancaman kelangsungan idealisme yang digawangi para jurnalis di stasiun televisi. Menurutnya.publik. Maka. Dalam kondisi itu. Kalau “politisi” biasanya mengendalikan pers dengan merekayasa hukum dan intimidasi. Yogyakarta: Kreasi Referensi Wacana. Actor or Scapegoats (1992). Jean. Graeme.

Ekonomi Media: Pengantar Konsep dan Aplikasi. 2004. Yogyakarta: Edward LKiS. 2009. Yogyakarta: LKiS. Ekonomi Media Politik dan Media Pertarungan 23 28 22 Penyiaran. Usman. Tayangan Video Mirip Artis: Pertaruhan Objektivitas dan Kearifan Media. dan Politik Media. London: Arnold. 2011. Media dan Gaya Hidup dalam Proses Demokratisasi di Indonesia. 2011. Jakarta: Gramata Publishing. 1995. Post-Realitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Post-Metafisika. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. Agus. VIVAnews. Ideologi. Yasraf Amir. Media Discourse. Wacana. 2007. Norman. 2010.com. Analisis Framing: Konstruksi. Halim. 2009. Kellner. Ekonomi Media. ___________. Hamad. Sudibyo. dan Politik: Antara Modern dan Postmodern. 2008. 2010. Piliang. Gado-gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-ecek. __________. Senin. Jakarta: La Tofi Enterprise. Kritik Budaya Komunikasi. 2009. Tribunnews. Haryatmoko. Budaya. Maret Maret Februari Yogyakarta: Yogyakarta: LKiS. Noor. 2011. 2010. Komunikasi sebagai Wacana. Idi Subandi. Identitas. 2010. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Kompas. gado-gado SANG JURNALIS . LKiS. Ibnu. Hipersemiotika:Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Syaiful. Dominasi Penuh Muslihat: Akar Kekerasan dan Diskriminasi. 2010. Ks. Yogyakarta: Jalasutra. Henry Faizal. 2010. __________. Yogyakarta: Jalasutra. Selasa.Eriyanto.com. Douglas. Ibrahim. Wikipedia. 2011. 2010. Yogyakarta: Jalasutra.com. Fairclough. __________. Budaya Media: Cultural Studies. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: Jalasutra. Jakarta: Gramata Publishing. Politik Rabu.

com/?syaifulhalim">View shoutbox</a> .Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda <a href="http://www4.shoutmix.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->