P. 1
Sejarah Akupuntur Di Jepang

Sejarah Akupuntur Di Jepang

|Views: 73|Likes:
Published by erick kenzie

More info:

Published by: erick kenzie on Dec 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2012

pdf

text

original

SEJARAH AKUPUNTUR DI JEPANG

Ilmu akupunktur di negara Jepang juga berkembang dengan baik dan luas. Diungkapkan sejak tahun 259 SM ilmu akupunktur telah berkembang di negara tersebut berkat seorang ahli pengobatan Jepang bernama Jofku yang berasal dari Cina. Pada masa kini sekolah dan perguruan tinggi akupuntur telah tersebar di berbagai kota besar seperti, Tokyo, Osaka, Kyoto, Yokohama. Bahkan di Tokyo terdapat sebuah sekolah akupunktur dimana tunanetra turut dididik dan mempraktekan ilmu akupunktur ini. Diperkirakan di Jepang terdapat 500.000 akupunkturis yang telah praktek.

SEJARAH AKUPUNTUR
Akupunktur berasal dari dua kata Acus dan punctura. Acus artinya jarum dan punctura artinya menusuk atau tusukan. Secara harfiah acupuncture dapat diartikana sebagai suatu teknik pengobatan dengan menusukan jarum pada titik-titik akupunktur tertentu sesuai dengan indikasi yang ada. Metode pengobatan akupunktur dalam bahasa aslinya bahasa Cina disebut Zhen Jiu. Zhen artinya jarum dan Jiu artinya pemanasan/api. Mengapa dalam tradisi pengobatan Cina akupuntur lebih dikenal dengan sebutan Zhenjiu?. Hal ini dikarenakan disamping menggunakan teknik perangsangan titik-titik akupunktur dengan menggunakan tusukan jarum pengobatan Zhenjiu juga menggunakan moksa. Sekarang apa itu moksa? Moksa atau moksisbusi adalah suatu teknik perangsangan titik akupunktur dengan menggunakan efek panas (moksibusi) dari sejenis tanaman obat yang dikenal dengan Artemisia vulgaris. Tanaman ini dekringkan lalu dibuat menjadi bentuk batang atau kerucut kecil atau dibiarkan dalam bentuk serbuk untuk kemudian dibakar dan akan menghasilkan panas. Efek panas yang ditmbulkan dari pembakaran Artemisia inilah yang digunakan untuk menstimulasi atau merangsang titik-titik akupuktur yang sudah ditentukan berdasarkan indikasi penyakit yang ada.

Buku Huang Ti Nei Ting merupakan sebuah buku ensiklopedi Ilmu Pengobatan Cina yang diterbitkan pada zaman Cun Ciu Can Kuo yaitu tahun-tahun antara 770–221 sebelum Masehi. Pada zaman tersebut Ilmu Akupunktur, Akupressure, Cop–Moksibusi berkembang seperti ilmu-ilmu lainnya di negara tersebut. Bahan jarum berubah dari batu ke bambu, dari bambu ke tulang dan dari tulang ke perunggu. Seorang ahli pengobatan pada zaman itu yang bernama Pien Cie telah berhasil menyembuhkan seorang pangeran bernama Hao dengan jarum perunggu dari ketidaksadaran selama setengah hari. Pien mengungkapkanya pengetahuannya dalam buku Nan Cing di mana ia menguraikan cara pengobatan dengan jarum perunggu serta menjelaskan persoalan-persoalan mengenai meridian dan titik Akupunktur. Dalam buku Huang Ti Nei Cing diungkapkan juga mengenai meridian, titik akupunktur, teknik pengobatan dan perjalanan penyakit serta pengobatanya. Menurut catatan sejarah negara itu, pada zaman Dinasti Tang (tahun 265–960), ilmu Akupunktur berkembang dengan subur dan mulai menyebar ke luar negara asalnya yaitu ke Korea, Jepang dan negara lainnya. Pada waktu itu sebuah buku Cia I Cing yang ditulis dan disusun oleh seorang ahli pengobatan terkemuka Huang Pu Mi secara terperinci menjelaskan inti sari literatur-literatur ahli pengobatan sebelumnya disertai pengolahan pengalaman pribadinya. Buku inilah yang menyebar ke luar negara asalnya dan sampai saat ini masih menjadi buku referensi penting bagi seorang akupunkturis .

Seorang akupunkturis terkemuka lainnya pada zaman itu adalah Sun Se Miao (tahun 581–682) menulis buku Cien Cin Yao Fang dan Cien Cin I Fang yang memberi penjelasan dan kesimpulan atas pengetahuan para ahli sebelumnya. Dan ahli akupunktur lainnya yang bernama Cen Cien (tahun 541–643) melukiskan peta berwarna untuk menerangkan meridian dan titik akupunktur serta menguraikan tentang pengobatan moksibusi untuk pencegahan penyakit. Pada Dinasti Ming (tahun 960–1644) di mana teknik cetak dan seni pahat berkembang luas, ilmu akupunktur tersebar pula bersama dengan ilmu-ilmu lainnya. Dan di masa itu, Wang Wei I seorang ahli pengobatan membuat patung perunggu yang melukiskan perjalanan meridian serta letak titik-titiknya, sebuah sumbangan bagi pendidikan akupunktur. Pada zaman itu lahir pula buku penting dalam bidang akupunktur yaitu Cen Ciu Ta Cen yang disusun oleh Yang Ci Ceu, dimana ia meletakan dasar baru bagi ilmu akupunktur setelah buku Huang Ti Nei Cing. Buku tersebut pada masa kini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, misalnya Jepang, Inggris, Jerman, Prancis. Diantara tahun 1644–1911, Dinasti Cing ilmu akupunktur tidak banyak mengalami perkembangan. Buku referensi akupunktur yang dihasilkan pada zaman itu tidak banyak, di antaranya I Cung Cin Cien yang cukup bernilai untuk dijadikan referensi pengetahuan akupunktur. Menjelang pertengahan abad XX ini, ilmu akupunktur dari masa tenangnya kembali berkembang dengan mengadakan penyesuaian terhadap tuntutan zaman serta perkembangan ilmiah zaman modern. Praktek akupunktur tidak lagi hanya dilakukan ahli pengobatan Cina saja tetapi juga dilakukan oleh para dokter lulusan fakultas kedokteran dari universitas di seluruh Cina. Pada tahun 1951 dibentuk sebuah Institut Pengobatan Akupunktur Cina dan sejak tahun 1955 ilmu akupunktur merupakan mata pelajaran dalam perguruan tinggi kedokteran di negara tersebut. Dan tahun 1956 didirikan 5 College pengobatan Cina termasuk ilmu akupunktur di kota Peking, Nanking, Shanghai, Kanton dan Cen Tu. Pada tahun 1958 mereka mulai mengintensifkan riset dalam bidang ilmu pengobatan akupunktur–moksibusi, dan mulailah banyak literatur-literatur tentang akupunktur diterbitkan dan disebar luaskan. Sejak tahun 1968 mulai diadakan riset penggunaan ilmu akupunktur dalam pembedahan sebagai anastesia. Kasuskasus meliputi 400.000 buah telah dilakukan dan tetap berlangsung penambahan sampai saat ini. Kasus meliputi antara lain : tonsilektomi, pencabutan gigi, apendektomi, oprasi caesar, ovarietomi, koangiografi, pengangkatan tumor otak dan sebagainya. Dan mereka masih tetap mengadakan riset terhadap peranan akupuntur sebagai anastesi dalam pembedahan .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->