P. 1
Analisis Prosa Fiksi_puisi Dan Cerpen

Analisis Prosa Fiksi_puisi Dan Cerpen

|Views: 387|Likes:
Published by Rina Burhanuddin

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Rina Burhanuddin on Dec 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

APRESIASI PROSA FIKSI ANALISIS PUISI DAN CERPEN

OLEH HAENUN E1C 108 080

PROGRAM STUDI BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH JURUSAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MATARAM 2010

ANALISIS PUISI DENGAN STRATA NORMA ROMAN INGARDEN

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Sapardi Djoko Damono

1. Bunyi Analisis bunyi vokal secara horizontal Bait pertama  Pada bari pertama //aku ingin mencintaimu dengan saderhana// terdapat asonansi a, i, dan e.  Pada baris kedua //dengan kata yang tak sempat diucapkan// terdapat asonansi a.  Pada baris ketiga //kayu kepada api yang menjadikannya abu// terdapat asonansi a.

Bait kedua  Pada baris pertama //aku ingin mencintaimu dengan sedarhana// terdapat asonansi a, i. dan e.  Pada baris kedua //dengan isyarat yang tak sempat disampaikan// terdapat asonansi a.  Pada baris ketiga //awan kepada hujan yang menjadikannya tiada// terdapat asonansi a. Analisis bunyi konsonan atau aliterasi

Bait pertama  Pada bari pertama //aku ingin mencintaimu dengan saderhana// terdapat konsonan n.  Pada baris kedua //dengan kata yang tak sempat diucapkan// terdapat konsonan n dan k.  Pada baris ketiga //kayu kepada api yang menjadikannya abu// terdapat konsonan n dan k.

Bait kedua  Pada baris pertama //aku ingin mencintaimu dengan sedarhana// terdapat konsonan n.  Pada baris kedua //dengan isyarat yang tak sempat disampaikan// terdapat konsonan n.  Pada baris ketiga //awan kepada hujan yang menjadikannya tiada// terdapat konsonan n.

2. Makna tersurat Makna tersurat yang terdapat dalam puisi di atas dapat kita lihat dari larik //Aku ingin mencintaimu dengan sederhana//. Sederhana yang berarti sedang, bersahaja, tidak banyak seluk beluknya dsb. Dalam baris //Aku ingin mencintaimu dengan sederhana//, mengahadirkan keinginan cinta dengan (sikap) yang sederhana. Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang lain, pasif atau progresif, nafsu atau hal yang mengawang, dan ataupun wujud yang lain. “Mencinta” di sini hadir dengan wajah yang sederhana, sedang dan tak berseluk-beluk.

3. Objek Objek yang terdapat dalam puisi //Aku Ingin// yaitu kayu, api, awan, dan hujan. Di dalam puisi tersebut SDD mengisyaratkan atau mengumpamakan seseorang menjadi kayu, api, awan dan hujan yang saling berhubungan satu sama lain. Kayu tidak akan menjadi abu tanpa api membakarnya begitupula awan tidak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.

4. Makna tersirat Makna tersirat yang terdapat dalam puisi //Aku Ingin// tercermin pada semua lariknya. Di dalam puisi tersebut SDD ingin menyampaikan bagaiman kesederhanaan cinta yang ia miliki. Dia ingin mengungkapkannya dengan begitu sederhana yaitu dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu dan dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Kayu tidak akan menjadi abu tanpa api membakarnya begitupula awan tidak akan lenyap bila hujan tak mengurainya. Proses peniadaan seperti ini seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, “penyampain” pada cerita dalam puisi tersebut seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.

5. Makna metafisis Di dalam puisi tersebut si aku ingin mencinatai si kamu dengan sederhana atau tidak berlebihan karena cinta sejati itu tidak perlu dinyatakan dalam kata-kata yang berbunga-bunga, atau disertai janji-janji muluk. Cinta sejati kadang bersifat misterius, yaitu dengan kata yang tak sempat diucapkan. cinta antara kedua makhluk itu begitu sederhana dan luluh bersatu seperti luluhnya kayu dalam api yang menjadikannya abu. Cinta sejati juga tidak perlu isyarat-isyarat. hati kedua insan yang saling bertautan dan membuat keduanya lebur dan musnah seperti awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. setelah awan dan hujan menyatu, mereka akan siap dalam ketiadaan.

ANALISIS CERPEN DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL INTRINSIK

AKU INGIN MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa‟ lupa. Ulang tahun pertama, Aa‟ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa‟ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik. Ulang tahun kedua, Aa‟ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…” Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang. Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa‟ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah. Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar

kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta. Aku tahu, kalau aku mencintai Aa‟, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa‟ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur. Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini. Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa‟. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini. ”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A‟ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar.

Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa‟ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah. ”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A‟ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa‟. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku. Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa‟ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita. Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku. Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas. ”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu. Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum

mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na‟udzubillah!” Kata Ibu. Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu. Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa‟? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa‟ bersikap terhadap rekanrekan wanitanya di kantor. Aa‟ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis. ”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang. Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai? Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya. Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa‟ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa‟ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu. Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa‟ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya. Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Hasil analisis cerpen dengan pendekatan sturuktural intrinsik 1. Tema Tema atau pokok persoalan dalam cerpen Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana adalah keinginan seorang istri kepada suaminya untuk besikap romantis kepadanya terutama pada hari ulang tahun pernikahan mereka. Hal ini terlihat pada kutipan berikut. “Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.” 2. Alur/plot

Alut/plot adalah jalinan peristiwa yang sambung menyambung membentuk kisah atau jalan cerita. Alur/plot dapat dibentuk dengan urutan peristiwa secara alimiah dengan membentuk alur maju, alur mundur, dan campuran antara alur maju dan mundur. Cerpen “Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana” diawali dengan tahap pemaparan atau pemberian informasi kepada pembaca tentang latar belakang tokoh si Aku.(Hen). Tokoh utama, si Aku melihat kalender dan hari itu merupakan hari ulang tahun perkawinannya yang ketiga. Namun, untuk ketiga kali suaminya lupa dengan hari ulang tahun pernikahannya yang jatuh pada tanggal 20 Maret. Hal ini dapat kit abaca pada kutipan berikut. “Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa.”

Tahap berikutnya disebut dengan munculnya permasalahan. Tokoh Ridwan (suami si Aku) lupa lagi dengan hari ulang tahun pernikahan mereka yang disebabkan karena Ridwan yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang Direktur keuangan. Si Aku sengaja tak mengingatkan suaminya karena dia ingin menguji, apakah suaminya masih ingat dengan hari ulang tahun pernikahan mereka. Hal ini dapat kita baca pada kutipan berikut. “Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.” Tahap selanjutnya, si Aku semakin kesal dengan suaminya. Akhirnya dia pergi ke rumah ibunya, namun terlebih dahulu dia meminta izin kepada suaminya lewat sms. Setelah satu jam berlalu, barulah si Aku menerima balasan atau jawaban dari suaminya. Dan ini menambah kesal si Aku. Hal ini dapat kit abaca pada kutipan berikut. “Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.” Tahap selanjutnya adalah tahap penyelesaian. Si Aku menyedari kesalahannya, jika dia ingin mengahabiskan waktu sehari dengan suaminya, kenapa tidak dia member tahu suaminya jauh-jauh hari. Akhirnya dia pamit pulang kepada ibunya dan ingin menyiapkan kejutan sebelum suaminya pulang. Berikut kutipannya,

“Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?” “Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.” Dalam cerpen “Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana” alur cerita dimulai dari tahap pemaparan atau pemberian informasi tentang latar tokoh utama. Tahap berikutnya pemunculan masalah ketika tokoh Ridwan (suami si Aku) lupa dengan hari ulang tahun pernikahan mereka. Ulang tahun pertama, Aa‟ Ridwan lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Masalah semakin berat atau memuncak dan mencapai klimak saat Ridwan lupa lagi untuk ketiga kalinya karena sibuk dengan pekerjaannya.pada ulang tahun pernikan Kemudian si Aku pergi ke rumah ibunya. Peristiwa selanjutnya adalah tahap penyelesain masalah. Dari urutan peristiwa yang terjadi, maka dapat dikatakan cerpen “Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana” menggunakan alur maju mundur.

3. Latar/Setting Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana (latar social) terjadinya suatu peristiwa dalam suatu karya sastra. Secara terperinci latar meliputi penggambaran lokasi geografis termasuk tifografi, pemandangan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan; pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh; waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya; lingkungan

agama, moral, intelektual, social, dan emosional para tokoh (Kenney, 1966:40). Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.  Latar Tempat Latar tempat ialah tempat atau daerah terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Sangat mungkin latar tempat sebuah teks prosa terdapat di dalam ruangan dan tidak menutup kemungkinan latar tempat terjadi di ruang lingkungan. Di dalam cerpen ini ada beberapa tempat yang disebutkan oleh pengarah seperti di rumah, di kantor, dan lain sebagainya. “Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.”  Latar Waktu Latar waktu ialah waktu terjadinya sebuah peristiwa dalam cerita. Latar waktu bisa berupa detik, menit, jam, jari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya. Tetapi juga sangat mungkin pengarang tida menentukan secara persis tahun, tanggal atau hari terjadinya peristiwa, namun hanya menyebutkan saat Hari Raya, Natal, tahun baru dan sebagainya yang pada akhirnya juga akan mengacu kepada waktu seperti tanggal dan bulan tergantung latar tempat dalam cerita. Misalnya tahun baru di Indonesia identik dengan 1 Januari, namun di Arab tahun baru lebih identik pada 1 Muharram. Berikut kutipan yang menunjukan latar waktu. “Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga.” “Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat.” 

Latar Sosial

Latar sosial ialah lingkungan hidup dan sistem kehidupan yang ada di tengahtengah para tokoh dalam sebuah cerita. Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, kebiasaannya, cara hidup, dan bahasa. Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut : “Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.”

4. Penokohan Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya. Berikut tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen ini.  Tokoh Aku Tokoh aku dalam cerita ini memiliki watak yang romantis, baik, pengertian, dan sabar. Berikut ini kutipan watak si aku. “Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.”  Ridwan Tokoh A‟a atau suami dari si aku ini memiliki watak pendiam, kalem, tidak ekspresif dan romantis, baik, rajin beribadah, setia, dan penyayang. Berikut kutipan watak si aku “…Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis….”

“…rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain” “…Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan,” 

Diah Tokoh diah atau saudara dari Ridwan memiliki watak yang baik dan periang. Berikut kutipan watak Diah. “…Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli.”

Ibu Tokoh ibu dalam cerpen ini berwatak baik, bijaksana, penyayang dan pengertian. Berikut kutipan wataknya. “Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku.”

5. Gaya bahasa Gaya merupakan sarana bercerita. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakaian bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Jadi, gaya merupakan kemahiran seorang pengarang dalam memilih dan menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat dan ungkapan.Di dalam cerpen ini, pengarang menggunakan majas dan simbol. Symbol yang digunakan adalah kayu, api, awan, air dan abu. Semua symbolsimbol tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan kita sehari dan lambang kehidupan kita. 6. Pusat pengisahan/ sudut pandang

Menurut Lubbock, sudut pandang (point of view) mengandung arti hubungan diantara tempat pencerita berdiri dan ceritanya: dia ada di luar cerita atau di dalam cerita? Hubungan ini ada dua macam, yaitu hu bungan pencerita „diaan‟ dengan ceritanya dan hubungan pencerita „akuan‟ dengan ceritanya. Sudut pandang kesustraan mencakup : 1 Pengarang dapat menggunakan sudut pandang tokoh (author participant). Ia menggunakan kata ganti orang pertama, mengisahkan apa yang terjadi dengan dirinya, dan mengungkapkan perasaannya sendiri dengan kata-kata dia sendiri pula. Pengaranga kadang kala menjadi pencerita di dalam cerita tersebut. Pengarang dalam hal ini menggunakan kata ganti „aku‟. 2 Pengarang dapat menggunakan sudut pandang tokoh bawahan (author observant). Ia mengamati dan mengisahkan pengamatannya itu. Ia lebih banyak mengamati dari luar dari pada terlibat di dalam cerita. Pengarang di dalam hal ini menggunakan kata ganti orang ketiga, yaitu „diaan‟. 3 Pengarang dapat menggunakan sudut pandang impersonal; ia sama sekali berdiri di luar cerita, ia serba melihat, serba tahu (author omniscient). Ia dapat melihat sampai ke dalam pikiran tokoh, dan mampu mengisahkan rahasia batin yang paling dalam dari tokoh. Dalam cerpen „Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana‟ pengarang mengunggunakan sudut pandang pertama yaitu pengarang pengarang

mengungkapkan perasannnya sendiri dengan kata-kata ia sendiri pula. Pengarang kadang kala menjadi pencerita di dalam cerita tersebut. Pengarang dalam hal ini menggunakan kata ganti „aku‟.

7. Pesan/Amanat Pesan atau amanat yang terdapat dalam cerpen ni adalah :  Kita harus bisa menerima pasangan kita apa adanya walaupun dia tidak bisa atau tidak ingin menjadi seperti apa yang kita inginkan karena manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan.  Dalam menjalani hidup rumah tangga kita harus saling memahami dan mengerti satu sama lain.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->