P. 1
Analisis Yuridis Kewenangan Mahkamah Konstitusi Memutus Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara

Analisis Yuridis Kewenangan Mahkamah Konstitusi Memutus Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara

|Views: 133|Likes:
Published by Herry Hermanto

More info:

Published by: Herry Hermanto on Dec 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2011

pdf

text

original

Analisis Yuridis Kewenangan Mahkamah Konstitusi Memutus Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan

zaman

yang

diharapkan

akan

menjadi

lebih

modern

sangat

mempengaruhi hampir semua negara, yang akhirnya banyak Negara-negara yang mampu mengikuti perkembangan tersebut, namun dampak negatifnya adalah tidak sedikit juga yang malah jauh tertinggal. Dampak positif yang muncul dalam dunia modern tersebut adalah akan mendorong menjunjung tinggi bangunan demokrasi. Menurut Plato seorang filosof besar dunia berbicara tentang demokrasi, mengatakan bahwa Negara yang berjalan di atas bentuk demokrasi akan menuai bentuk kenegaraan yang ideal yang disebut welfare state, karena demokrasi menginginkan peran Negara dalam upaya melakukan reformasi struktur dan kultur Negara berdasarkan konstitusi dan peradilan yang independent, yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat.1

Memasuki orde reformasi, tuntutan akan hukum yang berpihak kepada masyarakat menjadi hal utama dari beberapa hal yang lain. Secara konseptual dan strategis, ada empat pilar Reformasi yang semestinya menjadi acuan dalam pembaharuan politik, ekonomi, sosial dan lain-lain, termasuk pembaharuan di bidang hukum. Pertama, mewujudkan kembali pelaksanaan demokrasi dalam segala peri kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam demokrasi, rakyat adalah 1 Sri Soemantri, “Tentang Lembaga-Lembaga Negara Menurut UUD 1945”, PT.

jalan mulai melakukan amandemen UUD 1945. memerlukan sebuah kendali kearifan semua pihak. Hal ini menunjukkan bahwa teori hukum Indonesia sedang mengalami perkembangan. yang salah satu tujuannya adalah law enforcement. jika masih ingin dikatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang menjunjung nilai-nilai demokrasi. bernegara. Mulai dari substansi. sampai empat kali berturut-turut dan yang terakhir pada tahun 2002. struktur maupun kultur bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan. kesejahteraan umum dan sebesar-besarnya kemakmuran atas dasar keadilan sosial bagi seluruh rakyat. mewujudkan sehingga terwujud kehidupan masyarakat yang mampu menjalankan tanggungjawab bermasyarakat. sumber dan sekaligus yang bertanggungjawab mengatur dan mengurus diri mereka sendiri. berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan kebenaran dan keadilan bagi setiap orang. dalam buku Slamet effendy yusuf dan Umar Basalim. Pustaka Indonesia Satu. sosial. Reformasi konstitusi Indonesia perubahan Pertama UUD 1945. mulai dari pergeseran kekuasaaan. Jakarta. “Kata Pengantar”. MPR tidak lagi mensakralkan UUD 1945 dengan 2 Di kutip dari Bagir Manan. Reformasi yang merupakan salah satu bentuk dari tuntutan demokrasi menjadi landasan akan perlunya perubahan dalam beberapa tatanan hukum di Indonesia. Hukum adalah penentu awal dan akhir segala kegiatan bermasyarakat. Keempat. dan ekonomi. Gerakan reformasi yang bergulir pada tahun 1998. khususnya pada teori hukum tata negaranya. Kedua. hal xviii. jika tidak maka akan berbalik arah menjadi tantangan baru dalam bentuk eforia reformasi yang berlebihan. pemberdayaan dalam rakyat dibidang berbangsa politik. Setiap kekuasaan harus bersumber dan tunduk pada kehendak dan kemauan rakyat. . Ketiga. Seiring dengan banyaknya tuntutan dalam agenda reformasi tersebut mau tidak mau harus dilakukan. Salah satu sisi positif yang bisa diambil adalah pada pemilu 1999. 1993. mewujudkan kembali pelaksanaan prinsip negara yang berdasarkan atas hukum. Bandung.2 Banyak peristiwa-peristiwa yang menarik untuk diperhatikan dalam mengawal reformasi tersebut. Hal 3-4. mekanisme pemilihan umum secara langsung dan peristiwa yang mendorong untuk terwujudnya sebuah tatanan demokrasi yang utuh.danlain-lain.Citra Aditya Bakti. 2000.

Berdasarkan Pasal 7 B. Di dalam Negara demokrasi peradilan tidak bisa dilepaskan dari sistem politiknya. 2003. Kelahiran Mahkamah Konstitusi menimbulkan berbagai opini pakar Hukum Tata Negara mencoba menaruh harapan kepada lembaga ini. Pasal 24 ayat (2) dan Pasal 24 C (1) Undang-undang Dasar. Hal 119. membubarkan partai politik. demokrasi terpimpin (1959-1967). bahkan sampai masyarakat awam.Malang. Intrans. yakni judicial review UU terhadap UUD 1945. Saat ini yang menarik untuk dikaji adalah kekuasaan yudikatif. yang dalam kelembagaan Negara di Indonesia muncul lembaga-lembaga baru dengan harapan akan terciptanya bangunan demokrasi yang benar-benar demokratis. yakni eksekutif. wajib memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD. ternyata harus melalui masa transisi yang meninggalkan jejak putih dan hitam yang sering tidak kita sadari. untuk Indonesia sistem politik sejak proklamasi kemerdekaan 1945 telah mengalami beberapa perubahan dimulai dari demokrasi liberalparlementer (1945-1959). Mahkamah Konstitusi mempunyai beberapa kewenangan. memutus sengketa lembaga Negara. tiga fase yang menampilkan wajah buram sistem peradilan dan kehidupan ketatanegaraan. memutus perselisihan tentang hasil pemilu. “Reformasi Konstitusi Dalam Masa Transisisi Paradigmatik”. demokrasi Pancasila (1967-1998). karena muncul lembaga-lembaga baru yang menimbulkan perdebatan panjang para pejabat Negara. Reformasi di segala bidang adalah salah satu dampak dari penegakan demokrasi. yakni Mahkamah Konstitusi yang salah satunya berangkat dari keinginan terwujudnya checks and balance system. sekaligus cerdas dalam menetukan . legislatif dan yudikatif yang saling mempengaruhi.Dalam perjalanan demokrasi tidaklah semudah yang kita bayangkan. akademisi. kemudian pada amandemen ketiga UUD 1945 muncul lembaga baru sekaligus menambahkan kewenangan yudikatif.pembagian kekuasaan yang dibagi dalam tiga kekuasaan untuk menjalankan kekuasaan Negara.3 Fase-fase tersebut sangat dipengaruhi oleh teori 3 A Mukti Fadjar. Sebelum amandemen UUD 1945 kekuasaan yudikatif berada di tangan Mahkamah Agung. agar mampu independen. Mahkamah Konstitusi adalah bagian dari kekuasaan kehakiman di luar Mahkamah Agung.

65 Tulisan Jimly Asshiddiqie. dalam buku A Mukthie Fadjar.4 Kehadiran Mahkamah Konstitusi memberikan harapan besar terwujudnya Negara Hukum seutuhnya. Sekalipun ungkapan itu tidak dimaksudkan untuk membandingkan kekuasaan Tuhan . yakni Negara Hukum. karena tanpa peristiwa tersebut mungkin tidak akan ada kesadaran tentang pentingnya MahkamahKonstitusi. yaitu sebagai lembaga pengawal konstitusi. kata pepatah politik kuno. Cit. Keberadaan Mahkamah Konstitusi sangat terkait erat dengan ikhtiar menjaga konstitusi. 2006.Kompas. Keempat fungsi tersebut dilaksanakan melalui pelaksanaan empat kewenangan dan satu kewajiban Mahkamah Konstitusi sebagaimana tercantum dalam pasal 24C ayat (1.5 Akan tetapi. dilanggar. Hal viii.Op. Dari beberapa kewenangan yang dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi banyak yang mengomentari.Com penyelewengan yang terjadi dengan menafikkan konsepsi Negara Indonesia. Pada sisi lain sebagai penganut paham demokrasi mau tidak mau suara rakyat harus benar-benar diperhatikan. oleh siapapun juga. dan penjaga hak asasi manusia. yakni impeachment. Vox Populi Vox Dei (Suara rakyat adalah suara Tuhan). bukan yang karena pengujian UU ataupun yang lain. “Hukum Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi”.2) UUD 1945. Dengan adanya lembaga ini. bahkan Jimly Asshiddiqie mengatakan bahwa ada unsur kecelakaan sejarah. maka konstitusi harus dijalankan dan tidak dapat lagi diabaikan. pepatah yang menunjukkan betapa tingginya rakyat dalam konteks negara terutama negara yang menganut paham demokrasi. termasuk lembaga penyelenggara.putusannya. maka lembaga baru ini di dalam sistem ketatanegaraan Indonesia akan dapat meyakinkan terwujudnya demokrasi yang selama ini menjadi tuntutan berbagai kalangan. sehingga mempunyai implikasi terhadap penyelenggaraan lembaga tinggi Negara. dan anehnya hal ini yang adalah pematik awal diterimanya ide Mahkamah Konstitusi. hal ini juga memiliki unsur positif. artinya dalam penyelenggaraan negara harus berdasarkan kehendak rakyat. Mahkamah Konstitusi menjalankan empat fungsi. Hal 116 Di kutip dari Jimly Asshiddiqie. penegak demokrasi. karena selama ini banyak penyelewengan4 WWW. atau menjadi pajangan dan simbol belaka. Jakarta. Konstitusi Press. penafsir konstitusi. “Kata Pengantar”.

Pertama. Kepemimpinan yang mampu Ketiga memberikan hal yang arah ke mana transisi setelah ini transisi akan politik dibawa. tanpa keterlibatannya. sejauh undang-undang tidak secara tegas mengatakan dilarang. Penataan itu semua membutuhkan sebuah kepemimpinan yang kuat di segala lini.8 . 7 Kompas 27 juni 2003. Pada masa transisi tersebut yang memunculkan banyak perdebatan seharusnya tetap harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat umum. Namun. Semuanya ditafsirkan boleh. Dan. sebenarnya tak jelas lagi apa yang dimaksud dengan lembaga negara. dan itu akan menjadi salah satu tugas dari lembaga baru yakni Mahkamah Konstitusi sebagai juri untuk memutuskannya. ketiga mengubah sikap mental. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). tiada nilai yang disepakati bersama. Ciri transisi adalah anomi. “Sengketa Lembaga Negara Itu Didepan Mata” Penataan kelembagaan juga belum sepenuhnya dijalankan. seperti Mahkamah Konstitusi justru dikebelakangkan oleh politikus-politikus. DPR. Presiden. RUU MK yang akan dibahas dalam tempo sembilan hari itu secara limitatif menafsirkan sendiri lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945 adalah MPR. Dalam proses pembentukan DRAF RUU MK yang disiapkan Badan Legislatif DPR mengandung sejumlah kelemahan yang mendasar. menata kembali sistem hukum dan sistem politik. Hanya lima lembaga negara yang diakui oleh draf RUU MK yang dibuat DPR. begitu juga yang sedang terjadi di Indonesia. Menurut Jimly dalam era transisi perlu dilakukan tiga hal. namun belum diteruskan dengan reformasi bidang hukum. menata kembali institusi-institusi negara. Pasca Perubahan UUD 1945. Lembaga-lembaga kunci yang diberi peran strategis. suatu negara demokratis tidak akan pernah ada. Reformasi politik sudah dijalankan. yang muncul adalah komisi-komisi yang memainkan peran state auxiliary agency yang kedudukannya sebenarnya juga tidak jelas dalam sistem ketatanegaraan yang baru.yang sakral dengan kekuasaan politik yang sekuler. Kedua. namun itu bermakna bahwa bagaimanapun tanpa kehadiran rakyat.7 belum seharusnya dilakukan sepenuhnya dijalankan secara sempurna oleh bangsa Indonesia. DPD. Dalam kondisi transisi seperti itulah. diprediksi sengketa-sengketa lembaga negara akan terus terjadi.

“Memahami Keberadaan Mahkamah Konstitusi di Indonesia”. ada satu teori yang terkenal dari Montesquieu. salah satunya adalah pergeseran paradigma kelembagaan negara. penyebabnya adalah tidak ada kejelasan konsepsi tentang pemisahan kekuasaan yang dimaksud. .Kehadiran Mahkamah Konstitusi sebagai pengawal konstitusi diharapkan yang mampu memecahkan berbagai problem ketatanegaraan Indonesia. oleh 9 Fatkhurohman.. konstitusi tidak memberikan kejelasan konsepsi tentang lembaga negara. “Sengketa Lembaga Negara Itu Didepan Mata” kewenangannnya diberikan UUD dalam kerangka mekanisme checks and balance dalam menjalankan kekuasaan negara. Sebagai lembaga negara yang mempunyai kewenangan memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang 8 Kompas 27 juni 2003. kekuasaan legislatif. Hal ini disebabkan pasca amandemen.10 Teori Trias Politika tersebut juga banyak mendapat kritikan. memang mengandung interpretasi yang beragam. Pergeseran ini dapat dilihat pada direduksinya status MPR yang kini tidak lagi sebagai pelaku penuh kedaulatan rakyat. Mengenai hal ini. yaitu Trias Politika yang memisahkan secara tegas kekuasaan negara ke dalam 3 (tiga) kekuasaan. Hal 40.9 Tidak jelasnya konsepsi tentang lembaga negara menjadi kompetensi Mahkamah Konstitusi dapat menimbulkan penafsiran yang beragam. Bandung 2004. kekuasaan yudikatif. di sinilah peran Mahkamah Konstitusi sangat diperlukan. PT Citra Aditya Bakti. Hal 36. Dan dalam berbagai sengketa kewenangan lembaga negara yang diprediksi akan sering terjadi. yakni kekuasaan eksekutif. yang ada hanyalah lembaga negara. banyak terjadi pergeseran sistem ketatanegaraan Indonesia. 10 Ibid. Konsepsi lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undangundang Dasar. Pasca dilakukannya amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945. yang akhirnya tidak dikenal lagi istilah lembaga tertinggi negara dan lembaga tinggi negara.

seperti yang terjadi pada kasus . mengadili dan memutuskan perkara SKLN tersebut. Selaku ketua Mahkamah Konstitusi Jimly mengatakan masalah pemanggilan dan pemeriksaan hakim yang sepertinya belum berjalan mulus antara KY dan MA. terhadap penyelenggaraan negara dan kekuasaan kehakiman. sehingga Mahkamah Konstitusi berinisiatif untuk mempertemukan Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial pada Januari 2006.12 konflik antara Mahkamah Agung dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Menteri Dalam Negeri (Termohon II) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Termohon III). yakni Sengketa Kewenangan Lembaga Negara (SKLN) antara Bupati dan Wakil Bupati Bekasi (Pemohon) dengan Presiden Republik Indonesia (Termohon I). memunculkan alasan yang mendasari jawaban atas pertanyaan. Beberapa masalah tentang sengketa kewenangan antar lembaga negara yang telah muncul.karena itu teori tersebut dalam ilmu hukum dijabarkan dalam teori fungsi dan teori organ. yang digelar Mahkamah Konstitusi (MK). namun jika Mahkamah Konstitusi bersengketa dengan lembaga negara lainnya itu juga merupakan problem yang sangat berdampak besar. dan hal tersebut juga akan menimbulkan masalah yang tidak kalah peliknya dengan masalah lain yang kewenangan penyelesaiannya dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi. apakah MK berwenang memeriksa. merupakan wujud sengketa lembaga negara di era transisi.11 Problem yang kemungkinan muncul tidak akan berhenti pada penafsiranpenafsiran tentang lembaga negara saja. Selain itu peluang terjadi sengketa antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah sangat mungkin terjadi.13 Antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial juga terjadi sengketa terkait dengan kewenangan kedua lembaga itu dalam memeriksa para hakim. yang berkaitan dengan pengisian jabatan Wakil Ketua MA.

dan MK diberi wewenang untuk menangani sengketa tersebut seperti tercantum dalam UUD 1945.'' jelasnya. ''Jika dalam melaksanakan tugasnya suatu lembaga negara ternyata menyebabkan masalah konstitusional bagi lembaga negara yang lain. bila BPK yang memeriksa maka saham perusahaan plat merah itu akan turun nilainya. seperti halnya MA dan KY. Perkara yang dilatarbelakangi perseteruan antara calon Walikota dan Wakil Walikota Depok Nurmahmudi Ismail dan Yuyun Wirasaputra yang dinyatakan memenangkan Pilkada Depok 26 Juni 2005 oleh KPUD Depok dengan Badrul Kamal dan Syihabuddin . Padahal berdasarkan UUD 45 pasca amandemen. Ia menambahkan. Bagir Manan. maka itu dapat dikategorikan sebagai sengketa wewenang lembaga negara. ia mengingatkan jika masalah tersebut diselesaikan melalui jalur politis maka secara hukum masalah tersebut belum selesai. selain terhambat oleh beberapa UU.14 Sengketa juga terjadi antara BUMN dan BPK. Jimly mengatakan Komisi Yudisial memang bisa saja menyelesaikan masalah pemanggilan yang tidak dipenuhi oleh Bagir Manan melalui DPR ataupun Presiden. dari pihak BUMN sendiri juga ada keengganan untuk diperiksa BPK. Jimly tidak menyangkal bahwa pemeriksaan hakim yang dilakukan oleh KY sesuai yang diamanatkan dalam undang-undang. BPK Diminta Ajukan Sengketa Kewenangan ke MK. kewenangan BPK diperluas dalam mengaudit lembaga-lembaga milik pemerintah.pemanggilan terhadap Ketua MA. seperti yang terjadi pada pemilihan kepala daerah (pilkada) Depok. Mereka bearalasan. sebenarnya memang dapat dikategorikan sebagai sengketa kewenangan antarlembaga yang dapat diselesaikan di MK. memang dapat menimbulkan sengketa dengan MA yang juga memiliki wewenang serupa dalam pelaksanaan pengawasan internalnya. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta mengajukan sengketa kewenangan ke Mahkamah Konstitusi (MK) berkaitan dengan kewenangan BPK yang terhalang oleh sejumlah UU. Namun. yakni tentang Kewenangan Audit BUMN.15 Contoh perkara lain yang menyangkut sengketa kewenangan lembaga Negara adalah.

yang berkaitan dengan pengisian jabatan Wakil Ketua MA. sengketa lembaga Negara yang sebenarnya menjadi tugas MK untuk memutuskannya-sudah berada di depan mata. yang menyebutkan Ketua dan Wakil Ketua MA dipilih dari dan oleh hakim agung. sempat menjadi isu nasional.16 Bahkan. Dasar hukumnya sangat kuat. yakni Perubahan Ketiga UUD 1945. dilakukan sendiri oleh MA. jauhjauh hari Wakil Sekjen agar PDI Kasus Perjuangan Sukhoi Pramono Anung Wibowo sudah mengingatkan pemerintahan. Seperti pada terbentuknya Panitia Kerja (Panja) Kasus Pembelian Sukhoi bisa dipolitisasi menjadi konflik antara Presiden dan DPR.Ahmad. Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tampaknya belum rela kewenangannya diambil begitu saja. calon walikota dan wakil walikota lainnya yang menuding terjadi kecurangan dan kesalahan itu. DPR memang mempunyai tugas untuk mengawasi jalannya pemerintahan.18 tidak diarahkan untuk menjatuhkan . Ketika Mahkamah Konstitusi masih diperdebatkan di Gedung DPR maupun di ruang-ruang publik. yang pensiun sejak Februari 2003. Namun. Konflik antara Mahkamah Agung dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Panitia pemilihan yang bertugas untuk menyiapkan tata cara pemilihan dan proses seleksi telah dibentuk dan segera bekerja. Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan ngotot pemilihan Wakil Ketua MA untuk menggantikan Taufiq. Melalui anggota Komisi II DPR Akil Mochtar dari Fraksi Partai Golkar dan Dwi Ria Latifa dari Fraksi PDI Perjuangan menolak rencana Bagir Manan memilih sendiri Wakil KetuaMA Dilema-dilema konstitusional dan sengketa antara lembaga negara diprediksi akan terjadi dan terus terjadi. merupakan wujud sengketa lembaga negara di era transisi.

Bagaimana penyelesaiannya manakala Mahkamah Konstitusi bersengketa dengan lembaga negara lainnya. maka untuk menulis tugas akhir penulis mengambil Memutus 18 Ibid.Berdasarkan latar belakang di atas. permasalahan yang akan dikaji lebih lanjut adalah dalam Sengketa Kewenangan Antar Lembaga : Negara? 1. 27 juni 2003. judul “Analisis Yurudis Kewenangan Antar Mahakamah Lembaga Konstitusi Negara” Sengketa Kewenangan 17 Kompas. “sengketa kewenangan lembaga negara itu di depan mata” Permasalahan Dari uraian latar belakang di atas. Apa saja lembaga negara yang menjadi kompetensi Mahkamah Konstitusi 2. dan siapa yang berwenang menyelesaikan sengketa tersebut? .

Untuk 2. dan siapa yang berwenang menyelesaikan sengketa tersebut. yakni yang menekankan pada hukum dan peraturan-peraturan lain yang berlaku dalam bentuk peraturan perundang-undangan.Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah yuridis normatif.Metode penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi objek kajian adalah Mahkamah Konstitusi dan beberapa lembaga negara lainnya yang menjadi kewenangan Mahkamah Kostitusi. Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk menelaah. Untuk Bagaimana penyelsaiannya Konstitusi bersengketa dengan lembaga negara lainnya. serta diharapkan dapat memberikan solusi. mengkritisi. yang mana lembaga negara tersebut menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi Metode 1.BAB II C. D. khususnya jika yang terjadi digunakan sengketa penulis antar dalam lembaga penelitian negara tersebut tersebut adalah : .TujuanPenelitan 1. mengetahui Apa mengetahui saja lembaga negara yang menjadi manakala kompetensi Mahkamah Mahkamah Konstitusi dalam sengketa kewenangan antar lembaga negara.

majalah dan data yang diperoleh di internet atau bahan hukum yang terkait dengan 3. sebagai dan kehakiman.1BahanHukumPrimer Data primer terdiri dari dan UUD UU 1945. misalnya yang tertuang dalam UU No. internet.2DokumentasiHukum Hal ini dilakukan dengan cara mencari peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang segala hal yang berkaitan dengan materi pembahan.1StudiPustaka Hal ini dilakukan dengan cara mencari literature. Undang-undang no. Koran. makalah.AnalisaData materi pembahasan. majalah. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. 3. 24 tahun materi 2004 tentang Mahkamah Konstitusi. penelitian. dengan 2. 4 tahun 2004 tentang kekuasaan pembahasan 2. hukum karya diambil jurnal-jurnal.2BahanHukumSekunder Bahan-bahan hasil-hasil sekunder terdiri hasil yang dari buku-buku.TeknikPengumpulanBahanHukum Dalam penelitian tersebut teknik pengumpulan bahan-bahan hukum yang digunakan. artikel.JenisBahanHukum Dalam penelitian tersebut jenis-jenis data dan bahan-bahan hukum yang digunakan. 4.adalah: 2. peneliti surat kabar. dapat politik.yang terkait dengan kewenangan Mahkamah Konstitusi memutus sengketa lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD. 2. ilmiah. lainnya Undang-undang yang berkaitan No. dan beberapa UU lainnya yang relefan dengan objek yang diteliti.3BahanHukumersier Bahan-bahan kamus bahan yang memberikan penjelasan data-data primer dan sekunder. adalah : . yang terdiri dari hukum 3.

kemudian dilakukan analisa dengan menjabarkan. artinya dilakukan dengan menguraikan. menginterpretasikan dengan penafsiran sistematis. Analisis Yuridis Kewenangan Mahkamah Konstitusi Memutus Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara Disusun Oleh : RIFIAL REZKI No. Mahasiswa: 06410328 Mata Kuliah : Metode Penemuan Hukum . mengidentifikasi.Dari jenis data yang terkumpul dilakukan analisa bahan hukum secara kualitatif. sosiologis. dan menyusunnya secara logis dan sistematis. historis. menyusun dan mengolah dan menguraikan secara sistematis. komprehensif dan lengkap. Dari hasil yang diperoleh kemudian disimpulkan terhadap permasalahan dengan menggunakan metode deduktif dan disajikan.

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2009 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->