P. 1
Rentang Gerak

Rentang Gerak

|Views: 1,331|Likes:
Published by Sul

More info:

Published by: Sul on Dec 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2013

pdf

text

original

Rentang Gerak

Diposkan oleh Udayati Made BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Body Mechanic (mekanika tubuh) adalah suatu usaha mengoordinasikan sistem muskuloskeletal dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak dan melakukan aktivitas. Penggunaan mekanika tubuh yang tepat dapat mengurangi risiko cedera sistem muskuloskeletal. Mekanika tepat juga memfasilitasi pergerakan tubuh yang memungkinkan mobilisasi fisik tanpa terjadi ketegangan otot dan penggunaan energi otot yang berlebihan. Untuk dapat mengetahui beberapa atau untuk mengaplikasikan mekanika tubuh, dijelaskan bahwa rentang gerak, gaya berjalan, latihan dan toleransi aktivitas, kesejajaran tubuh, dan posisi tubuh yang aman saat bekerja sangat mempengaruhi body mechanic.

1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu : 1. Apakah yang dimaksud dengan rentang gerak, gaya berjalan, latihan dan toleransi aktivitas? 2. Bagaimanakah kesejajaran tubuh itu ? 3. Bagaimanakah posisi tubuh yang aman saat bekerja ?

1.3 TUJUAN Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang di dapat dalam membuat paper ini yaitu untuk dapat mengetahui tentang rentang gerak, gaya berjalan, latihan dan toleransi aktivitas, kesejajaran tubuh, dan posisi tubuh yang aman saat bekerja sangat mempengaruhi body mechanic

1.4 MANFAAT Setelah membahas atau membuat paper ini maka kita dapat mengetahui tentang rentang gerak, gaya berjalan, latihan dan toleransi aktivitas, kesejajaran tubuh, dan posisi tubuh yang aman saat bekerja sangat mempengaruhi body mechanic

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Rentang gerak Rentang gerak adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagital, frontal, dan transversal.   Latihan rentang gerak aktif disebut rentang gerak aktif jika pesien melakukan latihan sendiri dengan intruksi dan kemungkian dari perawat dan anggota keluarga. Rentang gerak pasif yang dilakukan perawat kepada pasien, dalam kasus ini perawat melatih sendi untuk pasien. Beberapa pasien mulai dengan latihan rentang gerak pasif dan meningkat pada latihan rentang gerak aktif.

Tujuan Melakukan rentang gerak bertujuan untuk melatih aktivitas seluruh sendi tubuh sehingga sendi-sendi tersebut tidak kaku, dan tidak terjadi kecelakan saat tubuh di gerakan. Menjamin keadekuatan mobilisasi sendi.

Manfaat 1. Sistem kardiovaskuler             Meningkatkan curah jantung. Memperbaiki kontraksi miokardial, menguatkan otot jantung. Menurunkan tekanan darah istirahat Memperbaiki aliran balik vena

2. Sistem respiratori Meningkatkan frekuensi dan kedalam pernafasan. Meningkatkan ventilasi alveolar. Menurunkan kerja pernapasan. Meningkatkan pengembangan diafragma

3. Sistem metabolik Meningkatkan laju metabolisme basal Meningkatkan penggunaan glukosa dan asam lemak. Meningkatkan pemecahan trigliserida. Meningkatkan motilitas lambung.

       

Meningkatkan produksi panas tubuh

4. Sistem musculoskeletal Memperbaiki tonus otot. Meningkatkan mobilisasi sendi. Memperbaiki toleransi otot untuk latihan

5. Toleransi aktivitas Meningkatkan toleransi. Mengurangi kelemahan

6. Faktor psikososial Meningkatkan toleransi terhadap stress. Melaporkan “perasaan lebih baik”

2.2 Mekanika tubuh a. Pengertian Body Mechanic Body Mechanic (mekanika tubuh) adalah suatu usaha mengoordinasikan sistem muskuloskeletal dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak dan melakukan aktivitas. Penggunaan mekanika tubuh yang tepat dapat mengurangi risiko cedera sistem muskuloskeletal. Mekanika tepat juga memfasilitasi pergerakan tubuh yang memungkinkan mobilisasi fisik tanpa terjadi ketegangan otot dan penggunaan energi otot yang berlebihan. Hal – hal tersebut mencakup: 1. Kesejajaran tubuh (Body Alignment) Kesejajaran tubuh dan pustur merupakan istilah yang sama dan mengacu pada posisi sendi, tendon, ligamen dan otot selama berdiri, duduk dan berbaring. Kesejajaran tubuh yang benar mengurangi ketegangan pada struktur muskuloskeletal, mempertahankan tonus (ketegangan) otot secara kuat dan menunjang keseimbangan. 2. Keseimbangan tubuh Kesejajaran tubuh menunjang keseimbangan tubuh. Tanpa keseimbangan ini, gravitasi akan berubah, meningkatkan gaya gravitasi, sehingga menyebabkan risiko jatuh dan cedera. Keseimbangan tubuh diperoleh jika dasar penopang luas, pusat gravitasi berada pada dasar penopang, dan garis vertikal dapat ditarik dari pusat gravitasi ke dasar penopang. Keseimbangan tubuh dapat juga ditingkatkan dengan postur dan merendahkan pusat

gravitasi, yang dicapai dengan posisi jongkok. Semakin sejajar postur tubuh, semakin besar keseimbangannya (Perry dan Potter, 1994). Keseimbangan dibutuhkan untuk

mempertahankan posisi, memperoleh kestabilan selama bergerak dari satu posisi ke posisi lain, melakukan aktivitas sehari-hari, dan bergerak bebas di komunitas. Kemampuan untuk mencapai keseimbangan dipengaruhi oleh penyakit, gaya berjalan yang tidak stabil pada toddler, kehamilan, medikasi dan proses menua. Gangguan pada kemampuan ini merupakan ancaman untuk keselamatan fisik dan dapat menyebabkan ketakutan terhadap keselamatan seseorang dengan membatasi diri dalam beraktivitas (Bergetal, 1992) 3. Koordinasi Gerakan Berat adalah gaya tubuh yang digunakan terhadap gravitasi. Ketika suatu obyek diangkat, pengangkat harus menguasai berat obyek dan mengetahui pusat gravitasinya. Karena manusia tidak mempunyai bentuk geometris yang sempurna, maka pusat gravitasinya biasanya berada pada 55% sampai 57% tinggi badannya ketika berdiri dan berada ditengah. Friksi adalah gaya yang muncul dengan arah gerakan yang berlawanan dengan arah gerakan benda. Misalnya menggerakkan klien diatas tempat tidur maka akan terjadi friksi. Perawat dapat mengurangi friksi dengan mengikuti beberapa prinsip dasar. Semakin besar area permukaan suatu obyek yang bergerak, semakin besar friksi. Klein pasif atau immobilisasi akan menghasilkan friksi yang lebih besar untuk bergerak. Friksi dapat juga dikurangi dengan mengangkat, bukan mendorong klien. Mengangkat merupakan komponen gerakan keatas dan mengurangi tekanan antara klien dan tempat tidur atau kursi. b. Prinsip Body Mechanic Mekanika tubuh penting bagi perawat dan klien. Hal ini mempengaruhi tingkat kesehatan mereka. Mekanika tubuh yang benar diperlukan untuk mendukung tingkat kesehatan dan mencegah kecacatan serta untuk menjaga keselamatan klien. Disamping itu, mekanika tubuh juga bertujuan untuk, menghibur pasien yaitu dengan meningkatkan kenyamanan dan kerjasama. Dalam hal ini, perawat menggunakan berbagai kelompok otot untuk setiap aktivitas keperawatan, seperti berjalan selama ronde keperawatan, memberikan obat, mengangkat dan memindahkan klien dan menggerakkan objek. Gaya fisik dari berat dan friksi dapat mempengaruhi pergerakan tubuh. Jika digunakan dengan benar, kekuatan ini dapat meningkatkan efisiensi perawat. Penggunaan yang tidak benar dapat mengganggu kemampuan perawat untuk mengangkat, memindahkan, dan mengubah posisi klien (Owen

dan Garg, 1991) Perawat juga menggabungkan pengetahuan tentang pengaruh fisiologis dan patologis pada mobilisasi dan kesejajaran tubuh.

Ambulasi / Transport pasien Ambulasi merupakan upaya seseorang untuk melakukan latihan jalan atau berpindah tempat. Mobilitas merupakan suatu kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna

mempertahankan kesehatannya.

Jenis Mobilitas: a) Mobilitas penuh merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat mcaakukan interaksi sosial dan menjalankan peran schari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunter dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang. b) Mobilitas sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan yang jelas, dan tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pasien paraplegi dapat mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontrol motorik dan sensorik. Mobilitas sebagian ini dibagi mcnjadi dua jenis, yaitu: a. Mobilitas sebagian temporer merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel pada sistem muskuloskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang. b. Mobilitas sebagain permanen merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan

batasan yang sifatnya menctap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang revc;rsibel. Contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang, dan untuk kasus poliomielitis terjadi karena terganggunya sistem saraf motorik dan sensorik.

Faktor yang Memengaruhi Mobilitas Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:
1.

Gaya hidup. Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi kemampuan mobilitas seseorang,

karena gaya hidup berdampak pada perilaku atau kebiasaaan sehari-hari.

2.

Proses Penyakit/injuri. Proses penyakit dapat memengaruhi kemampuan mobilitas

karena dapat mcmengaruhi fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh orang yang menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan pcrgerakan dalam ekstremitas bagian bawah. 3. Kebudayaan. Kemampuan melakukan mobilitas dapat juga dipengaruhi oleh

kebudayaan. Sebagai contoh, orang yang memiliki budaya sering bc;rjalan jauh memiliki kemampuan mobilitas yang kuat, sebaliknya ada orang yang mengalami gangguan mobilitas (sakit) karena adat dan budaya tertentu dilarang untuk beraktivitas. 4. Tingkat Energi Seseorang. hnergi adalah sumber melakukan mobilitas. Agar

seseorang dapat melakukan mobilitas dengan baik, dibutuhkan energi yang cukup. 5. Usia dan Status Perkembangan. terdapat perbedaan kemampuan mobilitas pada

tiungkat usia yang berbeda. Hal ini dikarenakan kemampuan atau kematangan fungsi alat gerak sejalan dengan perkembangan usia.

Tindakan yang Berhubungan dengan Ambulasi dan Mobilitas 1. Latihan Ambulasi
a.

Duduk ditempat diatas tidur

Cara:   
b.

Anjurkan pasien untuk melctakkan tangan di samping badannya, dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Berdirilah di samping tempat tidur kemudian letakkan tangan pada bahu pasien. Bantu pasien untuk duduk dan beri penopang/bantal Turun dan berdiri

Cara:       
c.

Atur kursi roda dalam posisi terkunci. Berdirilah menghadap pasien dengan ke dua kaki merenggang. Fleksikan lutut dan pinggang anda. Anjurkan pasien untuk meletakkan ke dua tangannya di bahu Anda dan letakkan kedua tangan Anda di samping kanan kiri pinggang pasien. Ketika pasien melangkah ke lantai tahan lutut anda pada lutut pasien. Bantu berdiri tegak dan jalan sampai ke kursi. Bantu pasien duduk di kursi dan atur posisi secara nyaman Membantu berjalan Cara:

  

Anjurkan pasien untuk melctakkan tangan di samping badan atau memegang tclapak tangan anda. Berdiri disamping pasien dan pegang telapak dan lengan tangan pada bahu pasien. Bantu pasien untuk jalan

2. Membantu Ambulasi dengan Memindahkan Pasien Merupakan tindakan keperawatan dengan cara memindahkan pasien yang tidak dapat atau tidak boleh berjalan dari tempat tidur ke branchard. Cara : a. Atur branchard dalam posisi terkunci. b. Bantu pasien dengan 2-3 orang. c. Berdiri menghadap pasien. d. Silangkan tangan di depan dada. e. Tekuk lutut Anda, kemudian masukkan tangan ke bawah tubuh pasien. f. Orang pertama meletakkan tangan di bawah ieher/ bahu dan bawah pinggang, orang kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul pasicn dan orang ketiga meletakkan tangan di bawah pinggul dan kaki. g. Angkat bersama-sama dan pindahkan ke branchard. h. Atur posisi pasien di brachard.

Melakuan latihan rentang gerak (rom) FASE KERJA Pengertian : Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah,teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk kemandirian. Tujuan : 1. Mempertahankan fungsi tubuh. 2. Memperlancar peredaran darah sehingga mempercepat penyembuhan luka. 3. Membantu pernafasan menjadi lebih baik. 4. Mempertahankan tonus otot. 5. Memperlancar eliminasi Alvi dan Urin 6. Mengembalikan aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali normal dan atau dapat memenuhi kebutuhan gerak harian.

7. Memberi kesempatan perawat dan pasien untuk berinteraksi atau berkomunikasi Kontra indikasi : 1. Hypermobilitas Pada hipermobilitas tidak dapat diberikan tehnik mobilisasi karena masalah yang ada pada hypermobilitas bukanlah gangguan mobilitas sendi melainkan stabilatas. 2. Efusi sendi Pada sendi yang mengalami efusi tidak boleh dilakukan mobilisasi karena keterbatasan yang terjadi adalah karena penumpukan cairan dan karena adanya respon otot terhadap nyeri, bukan karena pemendekan otot ataupun kapsul ligamen 3. Inflamasi Pemberian mobilisasi pada fase inflamasi dapat menimbulkan nyeri dan memperberat kerusakan jaringan. Cara Kerja : Persiapan Lingkungan 1. Ruangan terutup. 2. Pastikan semua jendela atau pintu dakam keadaan tertutup agar privasi terjaga. 3. Pasang sekat atau sampiran. 4. Gunakan selimut untuk melindungi daerah privasi pasien

Persiapan Pasien: 1. Mengucapkan salam terapeutik. 2. Memperkenalkan diri. 3. Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan. 4. Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya. 5. Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak

mengancam. 6. Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi. 7. Privasi klien selama komunikasi dihargai. 8. Memperlihatkan kesabaran, penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan. 9. Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

Persiapan Alat: 1. Satu bantal penopang lengan. 2. Satu bantal penopang tungkai. 3. Bantal penopang tubuh bagian belakang

Cara kerja: 1. Angkat / singkirkan rail pembatas tempat tidur pada sisi di mana perawat akan melakukan mobilisasi. 2. Pastikan posisi pasien pada bagian tengah tempat tidur, posisi supinasi lebih mudah bila di lakukan mobilisasi lateral. 3. Perawat mengambil posisi sebagai berikut : a) Perawat mengambil posisi sedekat mungkin menghadap klien di samping tempat tidur lurus pada bagian abdomen klien sesuai arah posisi lateral (misalnya; mau memiringkan kekana, maka perawat ada di samping kanan klien. b) Kepala tegak dagu di tarik ke belakang untuk mempertahankan punggung pada posisi tegak. c) Posisi pinggang tegak untuk melindungi sendi dan ligamen. d) Lebarkan jarak kedua kaki untuk menjaga kestabilan saat menarik tubuh klien. e) Lutut dan pinggul tertekuk / fleksi. 4. Kemudian letakan tangan kanan lurus di samping tubuh klien untuk mencegah klien terguling saat di tarik ke posisi lateral (sebagai penyangga). 5. Kemudian letakan tangan kiri klien menyilang pada dadanya dan tungkai kiri menyilang diatas tungkai kanan dengan tujuan agar memberikan kekuatan sat di dorong. 6. Kemudian kencangkan otot gluteus dan abdomen serta kaki fleksi bersiap untuk melakukan tarikan terhadap tubuh klien yakinkan menggunakan otot terpanjang dan terkuat pada tungkai dengan tujuan mencegah trauma dan menjaga kestabilan. 7. Letakan tangan kanan perawat pada pangkal paha klien dan tangan kiri di letakan pada bahu klien. 8. Kemudian tarik tubuh klien ke arah perawat dengan cara : a) Kuatkan otot tulang belakang dan geser berat badan perawat ke bagian pantat dan kaki. b) Tambahkan fleksi kaki dan pelfis perawat lebih di rendahkan lagi untuk menjaga keseimbangan dan ke takstabil.

c) Yakinkan posisi klien tetap nyaman dan tetap dapat bernafas lega. 9. Kemudian atur posisi klien dengan memberikan ganjaran bantal pada bagian yang penting sebagai berikut : a) Tubuh klien berada di sampingdan kedua lengan berada di bagian depan tubuh dengan posisi fleksi, berat badan klien tertumpu pada bagian skakula dan illeum. Berikan bantal pada bagian kepala agar tidak terjadi abduksi dan adduksi ada sendi leher. b) Kemudian berikan bantal sebagai ganjalan antara kedua lengan dan dada untuk mencegah keletihan otot dada dan terjadinya lateral fleksi serta untuk mencegah / membatasi fungsi internal rotasi dan abduksi pada bahu dan lengan atas. 10. Berikan ganjalan bantal pada bagian belakang tubuh klien bila di perlukan untuk memberikan posisi yang tepat. 11. Rapikan pakayan dan linen klien serta bereskan alat yang tidak di gunakan. 12. Dokumentasikan tindakan yang telah di kerjakan.

Prosedur Khusus: 1. Leher, spina, serfika Fleksi Ekstens Hiperektensi Fleksi lateral : Menggerakan dagu menempel ke dada, rentang 45 : Mengembalikan kepala ke posisi tegak, rentang 45° : Menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin, rentang 40-45 : Memiringkan kepala sejauh mungkin sejauh mungkin kearah setiap bahu, rentang 40-45° Rotasi : Memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler, rentang 180° Ulangi gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali. 2. Bahu Fleksi : Menaikan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke posisi di atas kepala, rentang 180° Ekstensi Hiperektensi : Mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh, rentang 180° : Mengerkan lengan kebelakang tubuh, siku tetap lurus, rentang 4560° Abduksi : Menaikan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan telapak tangan jauh dari kepala, rentang 180° Adduksi : Menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh sejauh mungkin, rentang 320°

Rotasi dalam

: Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan menggerakan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang, rentang 90°

Rotasi luar

: Dengan siku fleksi, menggerakan lengan sampai ibu jari ke atas dan samping kepala, rentang 90°

Sirkumduksi

: Menggerakan lengan dengan lingkaran penuh, rentang 360° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.

3. Siku Fleks : Menggerakkan siku sehingga lengan bahu bergerak ke depan sendi bahu dan tangan sejajar bahu, rentang 150° Ektensi : Meluruskan siku dengan menurunkan tangan, rentang 150°

4. Lengan bawah Supinasi : Memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak tangan menghadap ke atas, rentang 70-90° Pronasi : Memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke bawah, rentang 70-90° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali. 5. Pergelangan tangan Fleksi 80-90° Ekstensi : Mengerakan jari-jari tangan sehingga jari-jari, tangan, lengan bawah : Menggerakan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan bawah, rentang

berada dalam arah yang sama, rentang 80-90° Hiperekstensi : Membawa permukaan tangan dorsal ke belakang sejauh mungkin, rentang 89-90° Abduksi : Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari, rentang 30° Adduksi : Menekuk pergelangan tangan miring ke arah lima jari, rentang 30-50° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali. 6. jari tangan Fleksi : Membuat genggaman, rentang 90° Ekstensi : Meluruskan jari-jari tangan, rentang 90° Hiperekstensi : Menggerakan jari-jari tangan ke belakang sejauh mungkin, rentang 30-60° Abduksi : Mereggangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain, rentang 30° Adduksi : Merapatkan kembali jari-jari tangan, rentang 30° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.

7. Ibu jari Fleksi : Mengerakan ibu jari menyilang permukaan telapak tangan, rentang 90° Ekstensi : menggerakan ibu jari lurus menjauh dari tangan, rentang 90° Abduksi : Menjauhkan ibu jari ke samping, rentang 30° Adduksi : Mengerakan ibu jari ke depan tangan, rentang 30° Oposisi : Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan yang sama Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali. 8. Pinggul Fleksi : Mengerakan tungkai ke depan dan atas, rentang 90-120° Ekstensi : Menggerakan kembali ke samping tungkai yang lain, rentang 90-120° Hiperekstensi : Mengerakan tungkai ke belakang tubuh, rentang 30-50° Abduksi : Menggerakan tungkai ke samping menjauhi tubuh, rentang 30-50° Adduksi : Mengerakan tungkai kembali ke posisi media dan melebihi jika mungkin, rentang 30-50° Rotasi dalam : Memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai lain, rentang 90° Rotasi luar : Memutar kaki dan tungkai menjauhi tungkai lain, rentang 90° Sirkumduksi : Menggerakan tungkai melingkar Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali. 9. Lutut Fleksi : Mengerakan tumit ke arah belakang paha, rentang 120-130° Ekstensi : Mengembalikan tungkai kelantai, rentang 120-130° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali. 10. Mata kaki Dorsifleksi : Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke atas, rentang 2030° Flantarfleksi : Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke bawah, rentang 45-50° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
11.

Kaki Inversi : Memutar telapak kaki ke samping dalam, rentang 10° Eversi : Memutar telapak kaki ke samping luar, rentang 10°

Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali. 12. Jari-Jari Kaki Fleksi : Menekukkan jari-jari kaki ke bawah, rentang 30-60°

Ekstensi : Meluruskan jari-jari kaki, rentang 30-60° Abduksi : Menggerakan jari-jari kaki satu dengan yang lain, rentang 15° Adduksi : Merapatkan kembali bersama-sama, rentang 15° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.

2.3 Posisi tubuh yang aman saat bekerja

Buruknya postur tubuh, kegemukan (obesitas) dan gerakan yang kurang tepat selama bertahun-tahun, akan mengakibatkan kelainan pada otot dan diskus, bahkan dapat berakibat nyeri punggung. Postur tubuh yang baik akan melindungi dari cedera sewaktu melakukan gerakan karena beban disebarkan merata ke seluruh bagian tulang belakang. Postur tubuh yang baik akan dicapai jika telinga, bahu, dan pinggul berada dalam satu garis lurus ke bawah.

Duduk dalam posisi tegak 90 derajat, kerap menyebabkan timbulnya pergerakan sendi belakang sehingga posisi tubuh tidak seimbang. Maka itu, posisi duduk santai dengan postur miring 135 derajat adalah posisi terbaik. Dalam posisi ini, tulang belakang akan berada dalam posisi ideal, di mana tulang belakang bagian bawah akan berbentuk seperti huruf S. Posisi duduk dengan sudut kemiringan 135 derajat akan memperbaiki sirkulasi darah di bagian bawah tubuh, sehingga dapat terhindar dari gangguan varises, selulit, dan penggumpalan darah di kaki serta mengurangi kelelahan di kaki. Duduk dengan posisi kemiringan 135 derajat juga akan menghasilkan mobilitas yang lebih baik, mudah bergerak di atas kursi, dan lebih mudah untuk naik turun kursi.

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN Rentang gerak adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagital, frontal, dan transversal. Latihan rentang gerak itu sendiri terbagi atas dua, yaitu latihan rentang gerak aktif dan latihan rentang gerak pasif. Melakukan rentang gerak bertujuan untuk melatih aktivitas seluruh sendi tubuh sehingga sendi-sendi tersebut tidak kaku, dan tidak terjadi kecelakan saat tubuh di gerakan. Menjamin keadekuatan mobilisasi sendi

3.2 SARAN Dalam keterbatasan pengetahuan yang kami miliki, tentu dalam penulisan paper ini masih banyak kekurangan dan kejanggalan dalam penulisan paper ini, maka untuk itu kami sangat mengharapkan motivasi dan bimbingan dari Bapak/Ibu Dosen pengajar serta temanteman, sehingga dapat kami gunakan sebagai acuan dalam penulisan paper berikutnya. Bagi yang telah membaca paper ini diharapkan mencari literature yang lebih banyak lagi. Semakin banyak literature yang kit abaca maka semakin banyak ilmu yang kita dapatkan.

DAFTAR PUSTAKA Ganong, William. F. 2008. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 20. EGC : Jakarta Perry, Potter. 2005. Fundamental Keperawatan volume 2. Jakarta: EGC Perry, Potter Peterson. 2005. Keterampilan dan Prosedur dasar. Jakarta: EGC Tucker, Susan Martin, dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien volume 1. Jakarta: EGC Wartonah, Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC Who. 1998. Pedoman perawatan pasien. Terj. Monica ester. Jakarta: EGC www. Scribd.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->