P. 1
metodologi alquran

metodologi alquran

|Views: 53|Likes:
Published by to_no09756

More info:

Published by: to_no09756 on Dec 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2013

pdf

text

original

Multiply is a vibrant Social Shopping destination that feels like a visit with friends to the Shopping mall, but

faster and more convenient. The Multiply Marketplace™, one of the world's largest online shopping malls, connects merchants with shoppers interested in all kinds of products and services, from clothing and jewelry to electronics and appliances. Store owners use Multiply as an easy and free way to open a shop, with unlimited storage for posting photos, videos and blogs about their products. Multiply's social media tools allow shops to spread the word through their network of customers and fans, and enable shoppers to learn more about products and share their opinions and experiences with fellow shoppers.

Gabung Multiply

Buka Toko, Gratis

Masuk ke Site

Bantuan

English

CARI

quranuna

GO

QURANUNA CLUB
BerandaBlogFotoVideoMusikKalenderTautan May 31, '07 12:31 PM untuk semuanya

Metodologi Pengajaran Al-Qur'an Untuk Mengenang:

Rekaman Proses Seminar Metodologi Pengajaran Al Qur’an Dan Psikologi Anak “Kiat Sukses mengajar Al Qur’an Tijauan Metodologi dan Psikologi”
Masjid Ummul Quro Parakan Jaya Kemang Bogor, 19 Juni 2005

quranuna

ahmad syahid
 

Pesan Pribadi Laporkan Pelanggaran

Susunan Acara :

WAKTU 08.30 – 08.35 08.35 – 08.45 08.45 – 09.15

MATERI / ACARA Pembukaan Tasmi‟ Qur,an Sambutan Panitia dan Ketua Korcab Qiroati Bogor Panitia

PIC

Abdul Ghoni Al Hafidz Mustaqimah S. PdI Ade Supriatna, A.Md Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir Ibu Lara Fridani S.Psi M. Psych Team MMQ Panitia

09.15 – 10.25

Presentasi Materi I : Kiat Sukses menjadi Guru Al Qur‟an (tinjauan metodologis)

10.25 – 11.30

Presentasi Materi II : Kiat Sukses menjadi Guru Al Qur‟an (tinjauan psikologis)

11.30 – 11.50 11.50 – 11.55

Launching MMQ Ummul Quro Penutupan

Materi I Waktu Fasilitator Moderator Notulasi Media

: Kiat Sukses Manjadi Guru Al Qur,an “Membangun paradigma Baru Belajar dan Mengajar Alqur‟an” : 09.15 – 10.25 WIB : Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir : Ustadz Eko (Ummul Quro) : Rano Karno Muhammad Bilal : LCD dan Foto Kopi Makalah

Pertama di buka oleh moderator dan langsung membaca biodata pembicara pertama. Moderator kebetulan telah lebih dahulu mengenal Pembicara (Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir) karena merupakan satu almamater (Al Hikmah Jakarta). Yang menarik terutama terhadap pengalaman (pengembaraan) Ustadz Syahid dalam menggali dan mengembangkan pembelajaran Al Quran dari Desa. Kota hingga ke luar negeri. Setelah mengucapkan salam, Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir meminta waktu untuk memutar sebuah hasil karya dari siswanya (SMART-EI) yang berupa tampilan audio visual yang berisi tentang surat Al Fatihah. Sebuah gambaran tentang pemanfaatan teknologi untuk lebih menarik perhatian siswa Al Qur‟an sehingga belajar Al Qur‟an bukan kegiatan yang monoton di pojok-pojok masjid. Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir mengawali materi dengan mengajak peserta untuk menyimak sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori. “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur‟an dan Mengajarkannya. Sedangkan sebaik-baiknya Ta‟allum wa ta‟lim Minimal ada 4 hal yang perlu diperhatikan yakni pertama terkait dengan Materi Pembelajaran dan pengajaran; kedua berhubungan dengan kurikulum; ketiga tidak lepas dari metodologi dan yang Keempat adalah adanya sarana dan prasarana. Sebelum berbicara lebih jauh tentang beberapa hal yang disebutkan di atas, Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir memberikan sebuah bentuk game yang bisa menyegarkan dan memberikan sebuah inspirasi “alternatif” Pembelajaran Al Quran. Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir meminta lima peserta ikhwan untuk maju ke depan. Awalnya agak berat juga untuk bisa mengajak peserta aktif dalam kegiatan pelatihan ini sehingga akhirnya hanya tiga peserta ikhwan saja yang mau maju. Fenomena ini sedikit banyak bisa menjelaskan bahwa Guru-guru AL Qur‟an kita belum bisa menjadi sosok yang aktif dan kreatif sehingga hanya sekedar maju saja harus didorong dan cenderung “terpaksa” apalgi kondisi sebelumnya hampir semua peserta mengambil posisi tempat duduk yang menjauh di belakang dan ini menunjukkan kepercayaan diri dan semangat yang kurang “maksimal”. Ketiga peserta ke depan dan langsung diberi sebuah permainan yankni tiga batu yang disebutkan sebuah nama (surat-surat dalam AlQur‟an). Batu pertama dinamai An Nahl, diberikan kepada peserta pertama kemudian peserta pertama menerima dan memberikan kepada peserta kedua sembari menyebutkan nama An Nahl, begitu pula peserta kedua dan peserta ketiga. Batu kedua dinamakan An-Nur dan batu ketiga dinamai Al Furqon. Setelah itu peserta terakhir ditunjuk untuk mengucapkan dengan benar nama-nama setiap batu yang sudah diberikan. Ternyata peserta menyebutkan dengan salah begitu juga peserta yan pertama. Akhirnya diulang kembali dan peserta mulai mengerti apa

yang dimaksudkan dan kemudian diulangi lagi permainannya. Akhirnya dengan upaya berfikir yan sangat keras peserta ketiga “bisa” menyebutkan nama-nama batu tersebut. Sebuah pelajaran yang diberikan adalah bahwa selama ini kita selalu terpersepsikan terhadap segala sesuatu sehingga akan berakibat menghambat dalam proses belajar mengajar. Selama ini kita mengenal batu dan tidak bisa menerima “kenyataan” bahwa ia bisa bernama apa saja. Berbeda dengan anak kecil maka ia akan menyerap informasi apa adanya ketika ia diperkenalkan. Allah menggunakan metodologi ini sebagaimana digambarkan tentang proses “belajar” Nabi Adam. Allah sebutkan semua nama-nama hingga Nabi Adam mengerti dan mengenal terhadap apa yang telah Allah ajarkan. Maka dalam pembelajaran kita terhadap anak maka perkenalkan banyak hal terhadap mereka yang pada gilirannya di hari kemudian maka sang anak selalu mengatakan ..Oooh dan menunjukkan sebuah sikap tidak kesulitan dalam mempelajari sesuatu yang akhirnya sang anak akan dengan mudah mengingat dan menghafal dalam kegiatan belajar Al Qur‟an. Dan permainan batu juga merupakan sesuatu yang terinspirasikan dari Al Qur‟an. Maka pemahaman tentang batu tidak hanya sekedar akan berhenti bahwa ia adalah sebuah benda yang bernama batu, tetapi apabila ia kemudian dihubungkan dengan sebuah ayat : “Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia” (QS 56 ayat 6). Maka dengan melihat batu pula ia akan menangis dan akan memperhatikan dirinya hingga pesan ayat tersebut bisa ia pahami dan lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Masih ada “sesuatu” di balik sebuah batu bila dihubungkan dengan Al Qur‟an sebagai pedoman hidup kita. Kembali kepada materi bagaimanakah proses belajar mengajar Al Qur,an yang baik. Pertama yang terkait dengan Materi Pengajaran. Maka Yang perlu dipahami adalah Pertama : Bahwa materi pengajaran yang baku tidak terikat pada satu buku artinya bahwa semakain banyak buku pegangan yang dimiliki siswa berarti semakin memperluas wawasan dan mempertajam kemampuan siswa yang tentunya dengan bimbingan seorang ustadz. Buku pegagan diibaratkan oleh Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir sebagai sebuah alat penggarap di sebuah ladang yang mana siswa sebagai tanah garapannya. Kedua : Sumber materi pengajaran yang bervariasi berarti memperkaya seni berkreasi artinya bahwa seorang guru mau membuka diri dari berbagai model atau buku pelajaran Al Quran dan bagaimana cara mengajarkannya sehingga muncullah sebuah formula bagi sang guru untuk bisa menerapkan metode yang ada dengan kemampuan dan kenyataan yang ia temui ketika mengajar. Karena pada hakekatnya setiap siswa adalah unik dan memiliki penanganan yang berbeda dalam pembelajaran Al Quran. Sebelum masuk pembahasan yang kedua Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir memberikan sebuah permainan tentang menghafal nama-nama surat. Sekali lagi Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir ingin memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada di diri kita dan sekitarnya bisa dijadikan sebagai sarana belajar. Beliau menyampaikan ke peserta dan mengajak untuk mengikutinya dalam mengenal sebuah surat. Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir memasukkan jarinya ke mulut dan mengatakan AN Nisa‟ maka peserta juga mengikuti demikian, termasuk ketika ia memegang kepalanya dan mengatakan Al Fatihah, menunjuk matanya dan mengatakan Al Baqarah. Peserta mendapat sebuah

informasi bahwa setiap benda bisa menjadi sarana dalam proses belajar. Sampai-sampai Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir mengatakan jangan heran bila siswanya (SMART-EI) untuk mengingat sesuatu kadang melihat ke kanan dan ke kiri melihat pintu, jendela atau kadang memegang dari beberapa organ tubuhnya untuk mengingatkan sesuatu. Pembahasan kedua tentang bagaimanakah sebaik-baiknya kegiatan belajar dang mengajar adalah hal-hal yang terkait dengan Kurikulum (manhaj). Minimal ada dua hal yang perlu menjadi perhatian para Guru Al Quran, yang pertama ; Harus berbasis Al Quran dan As Sunnah meliputi standar tahsin tilawah, talaqqi, tahfidz dan Murajaah). Pada kenyataannya program-program yang dibikin hanya sekedar bisa membaca (standart tahsin tilawah) setelah itu tidak ada penanganannya sehingga program berhenti dan anak-anak juga juga akan berhenti mengaji. Maka akhirnya kegiatan mengaji (Belajar Al Qur‟an) hanyalah merupakan sebuah fase yang ada awal dan akhirnya. Belajar Al Qur‟an di lakukan ketika kita masih kecil (TK dan SD) setelah itu kita akan mengatakan akan sudah melalui masa itu dan sekarang aku sudah terbebas dari kewajiban tersebut, selamat tinggal. Hal yang kedua yang perlu dipahami adalah Proses belajar mengajar Al Qur‟an adalah sebuah kegiatan pendalaman bukan sekedar percepatan bisa yang kemudian orang akan menutup kembal Al Qurannya. Program cepat bisa tidak mampu memberikan ruh terhadap apa yang disebut sebagai kewajiban Muslim terhadap Al Qur‟an. Karena sesungguhnya pendalaman Al Qur‟an yang meliputi mu‟ayasyah terjemah, tadabur dan tafsir merupakan sebuah manhaj yang seharusnya dilakukan oleh guru Al Qur‟an. Pada gilirannya bahwa Al Qur‟an tidak akan berada pada posisi yang sebenarnya ketika ia hanya dimaknai sebagai sebuah “bacaan” semata. Salah satunya Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir memberikan semua contoh tentang keadaan seorang anak kecil yang sedang berwudlu dan menangis. Ketika ada seorang kakek yang menanyakannya maka ia membacakan surat At Tahrim ayat 6 dan mengatakan ia sangat takut dilemparkan ke dalam api neraka. Maka sang kakek berkata “bahwa anak kecil tidak akan dimasukkan ke dalam neraka sebab ia belum baligh. Kemudian sang anak menjawab bahwa orang yang menyalakan api akan memasukkan kayu bakar yang kecil terlebih dahulu sebelum ia memasukkan kayu yang besar”. Sebuah jawaban seorang anak kecil yang merupakan hasil didikan dari kegiatan belajar dan mengajar Al Quran. Permainan selanjutnya adalah mengenal sebuah materi pelajaran Al Quran dengan permainan arisan. Lagi-lagi keaktifan peserta harus dipacu. Karena Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir lagi-lagi harus memberikan sebuah tawaran yang cukup lama untuk peserta bisa ambil bagian dari permainan tersebut. Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir membuat lintingan kertas mirip dengan arisan yang di dalamnya ditulis sebuah kata-kata (kalimat) Al Qur‟an. Kemudian masing-orang yang yang telah mengambil kertas tersebut menyebutkan isinya. Ada 7 kata yang dibacakan, setelah itu dievaluasi dengan cara peserta lain yang sudah mendengarkan diminta untuk menyebutkan lima kata dari tujuh kata yang telah dibacakan. Ternyata belajar seperti ini cukup efektif yang dibuktikan dengan bisa terjawabnya soal yang diberikan Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir dan sungguh tidak menjemukan, karena kita terlibat dan permainan itu cukup menyenangkan (arisan).

Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir kemudian melanjutkan pembahasan yang terkait dengan Metodologi (Thoriqoh) pengajaran Al Qur‟an. Prinsipnya adalah menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil cara modern yang lebih baik ( Al Muhafadhah „Alal Qodiim As Shalih Wa Akhdzu bil Jadiid Al ashlah) Tradisi-tradisi lama yang perlu dipertahankan meliputi takhsin tilawah, talaqqi dan tahfidz sedangkan hal-hal yang baru adalah terkait dengan active learning, quantum learning dan brain-base learning. Sehingga akan ada suatu nilai kreatif, variatif dan inovatif yang pada akhirnya sang anak menyimpulkan bahwa belajar Al Quran adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir mengingatkan bahwa tidak setiap yang klasik itu naïf dan tidak setiap yang baru itu baik. Dan memang posisi seorang guru Qur‟an menjadi sangat penting dalam pengelolaannya. Ustadz Syahid mengharapkan agar kita terbuka terhadap berbagai metode yang ada. Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir sebelum melanjutkan pembahasan memberikan permainan dengan cara menyuruh peserta berdiri. Kemudian bila dibacakan sebuah surat maka melakukan gerakan yang dicontohkan. Misal diucapkan surat Maryam maka menurunkan badan (membungkukkan badan). Bila Surat Al Mukminun maka mata melihat ke atas dan jika surat Yunus maka duduk. Ternyata variasi berbagai gerakan itu mampu memberikan energi tambahan bagi peserta sehingga tidak terjebak dalam situasi yang disebut penat atau capek. Pembahasan yang terakhir adalah sarana dan prasarana (wasa-il). Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir mengingatkan bahwa fasilitas lengkap tidak identik dengan mahalnya biaya sembari mengingatkan sebuah ayat “Dan milik Allah SWT (fasilitas) yang ada di langit dan di bumi. Pemanfaatan sarana dari biasa sampai yang luar biasa terus dicari, salah satu yang perlu dipikirkan adalah bagaimana caranya mengolah sarana yang sederhana untuk menggapai sebuah prestasi WOW dan memanfaatkan sarana yang luar biasa demi menuju kesempurnaan. Yang lebih penting dari itu adalah memanfaatkan fasilitas M2TH (Mulut, mata, Telinga dan Hati. Hal lain adalah anggota tubuh sebagaimana yang telah dicontohkan dalam game, termasuk lainnya adalah lokasi, ruang dan semua yang bisa dilihat dan dirasakan sehingga dapat direkam dalam memori. Dalam Bagian akhirnya Ustadz Syahid Abdul Qodir Thohir memberikan sebuah semangat kepada peserta dengan Kata-kata “Semoga hari esok lebih baik dari hari ini dan Selamat serta sukses karena telah menjadi guru Al Qur‟an. Acara selanjutnya adalah Tanya Jawab. 1. Bapak Eman Sulaeman : Menanyakaan Bahwa setiap metode memiliki standarstandart yang berbeda bagaimana menyikapinya (perbedaan tersebut)? Jawaban Ustadz Syahid bahwa yang menjadi standar adalah kurikulumnya bukan bukunya, contoh ketika mengajarkan tentang bacaan fathah maka buku apa saja juga bisa digunakan selama memang tujuannya untuk memperkenalkan dan mempelajari bacaan fathah. 2. 3. Nur Khasanah : Bagaiman penjelasan tentang metode-metode yang ada ? jawaban Ustadz Syahid bahwa lebih baik ditanyakan kepada yang buat program. Solekha : Potensi apa yang dapat dicapai di setiap umur dan bagaimana caranya menghafal surat-surat dengan waktu yang terbatas? Jawaban Ustadz Syahid bahwa untuk anak-anak dimulai dengan pengkondisian dengan terus memperkenalkan dan memperdengarkan kepada anak-anak tentang bacaan Qur‟an semakin banyak

kata-kata yang diperkenalkan maka anak-anak akan semakin familiar. Berhubung waktu telah habis maka penyampaian materi pertama ditutup dan ustadz Syahid menutupnya dengan membaca ayat Al Qur‟an.

Kata kunci: seminar Sebelumnya: Al-Aqsha Selanjutnya : DIAM balas bagi Kutip pesan asli
Kirim Pratinjau dan Cek Ejaan

submitted

Pasar Filipina · Pasar Indonesia · Buka Toko, Gratis © 2011 Multiply · Indonesian · Perihal · Blog · Syarat · Privasi · Perusahaan · Iklankan · API · Bantuan Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->