P. 1
Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Dan Pola Pemberian Makanan Pen Damping Asi Dengan Status Gizi Balita Usia 4

Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Dan Pola Pemberian Makanan Pen Damping Asi Dengan Status Gizi Balita Usia 4

|Views: 800|Likes:

More info:

Published by: Mhya Buawellabizt Yaddunsyahiyyun on Dec 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/04/2013

pdf

text

original

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN POLA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA

4-24 BULAN
BAB I PENDAHULUAN 1 Latar Belakang

ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan tunggal terbaik yang bisa memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi normal untuk tumbuh kembang di bulan-bulan pertama kehidupannya. Itu sebabnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF) menetapkan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan. Ini berarti, si kecil hanya mendapat ASI, tanpa makanan tambahan lain selama masa itu. Penelitian menunjukkan, banyak manfaat diperoleh bayi yang mendapat ASI. Tidak ada yang bisa menggantikan ASI yang memang di'desain' khusus untuk bayi. Dan jangan lupa, proses pemberian ASI akan menumbuhkan kelekatan emosi yang dalam dan kuat antara mama dan bayi.

Dalam tumbuh kembang anak, makanan merupakan kebutuhan yang terpenting. Kebutuhan anak berbeda dengan kebutuhan orang dewasa, karena makanan dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih, 1995:6). Pada masa balita, anak sedang mengalami proses pertumbuhan yang sangat pesat sehingga memerlukan zat- zat makanan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi. Hasil pertumbuhan menjadi dewasa, sangat tergantung dari kondisi gizi dan kesehatan sewaktu masa balita. Gizi kurang atau gizi buruk pada bayi dan anak- anak terutama pada umur kurang dari 5 tahun dapat berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kecerdasan otak (Ahmad Djaeni,2000:239). Di masa bayi ASI merupakan makanan terbaik dan utama karena mempunyai kandungan zat kekebalan yang sangat diperlukan untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit terutama penyakit infeksi. Namun seiring pertumbuhan bayi, maka bertambah pula kebutuhan gizinya, sebab itu sejak usia 4-6 bulan, bayi mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) (Jihat Santoso,2005). Makanan pendamping ASI diberikan mulai umur 4 bulan sampai 24 bulan. Semakin meningkat umur bayi/ anak, kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak, sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI, 2000:5). Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang mencakup susunan

hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang tidak mencukupi kebutuhan badan. 2002: 46). khususnya pada anak usia dibawah 2 tahun ( Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI.51 % balita di Jawa Tengah bergizi buruk. Oleh karena itu pengetahuan dan sikap ibu sangat berperanan.255 balita atau 13. Semakin baik pengetahuan gizi seseorang maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi (Ahmad Djaeni. terutama pada bayi dibawah 5 tahun dinilai masih tinggi. Pada umumnya anak-anak yang masih kecil (balita) mendapat makanannya secara dijatah oeh . Prevalensi kurang gizi di Jawa Tengah. tercatat sebanyak 4.378 balita atau 1.anak serta ibu yang sedang mengandung dan sedang menyusui merupakan golongan yang sangat rawan. anak. Sebanyak 40. 2000:12-13). 2003). Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak serta adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan. Pada tahun 2002. bayi tergantung sepenuhnya pada perawatan dan pemberian makanan oleh ibunya. Dalam periode pemberian Makanan Pendamping ASI. secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak. 2000: 1). Pada keluarga dengan pengetahuan tentang Makanan Pendamping ASI yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. 2000: 1). Dari hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat. Anak. Kekurangan Energi Protein (KEP) dapat terjadi baik pada bayi.anak maupun orang dewasa. Makanan sapihan pada umumnya mengandung karbohidrat dalam jumlah besar tetapi sangat sedikit kandungan proteinnya atau sangat rendah mutu proteinnya.88% balita bergizi kurang (Profil Kesehatan Jawa Tengah. Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi atau anak melalui perbaikan perilaku masyarakat dalam pemberian makanan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya perbaikan gizi secara menyeluruh (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI. Usia 2-3 tahun merupakan usia yang sangat rawan karena pada usia ini merupakan masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau ke makanan sapihan dan paparan terhadap infeksi mulai meningkat karena anak mulai aktif sehingga energi yang dibutuhkan relatif tinggi karena kecepatan pertumbuhannya. justru pada usia tersebut protein sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan anak (Winarno. sebab pengetahuan tentang Makanan Pendamping ASI dan sikap yang baik terhadap pemberian Makanan Pendamping ASI akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi oleh bayinya.

1999:123). 2. Berorientasi dari hal tersebut. 2006).2 % untuk tahun 2005 turun menjadi 1. Berdasarkan hasil laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2006. sedangkan status gizi kurang sebesar 12. 2000:12).3 %. Dari laporan tersebut. Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas. dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : . Persentase status gizi balita khususnya kabupaten Banyumas pada tahun 2003/2004 tercatat sebesar 4.5% (Profil Dinkes Banyumas.dan pola pemberian makanan pendamping ASI serta status gizi balita merupakan masalah yang penting untuk dikaji lebih dalam. desa Bulakamba termasuk desa yang rawan gizi.28 % balita berstatus gizi buruk.1 %. jumlah balita dengan status gizi buruk sebesar 2. seseorang perlu memiliki pengetahuan mengenai bahan makanan dan zat gizi. sehingga perlu diadakan perbaikan status gizi. menyebutkan bahwa di seluruh kabupaten Banyumas termasuk daerah yang rawan gizi.41% balita berstatus gizi baik serta 6. 2005).7 % sebanyak 8 anak dan gizi buruk sebesar 1. Umumnya menu disusun oleh ibu (Soegeng Santoso dan Anna Lies Ranti. 18. Untuk dapat menyusun menu yang adekuat. untuk itu perlu diadakan suatu penelitian yang mengkaji tentang masalah tersebut dengan judul “ Hubungan antara Pengetahuan Ibu dan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Balita Usia 4-24 Bulan di Desa Bulakamba Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas Tahun 2007”. kebutuhan gizi seseorang serta pengetahuan hidangan dan pengolahannya. Dengan status gizi kurang sebesar 4.7 % dan tahun 2005 sebesar 5.3 %. Di setiap kecamatan terdapat balita dengan status gizi kurang maupun gizi buruk. dan 71.2 % sebanyak 2 anak untuk tahun 2006. Kabupaten ini merupakan kabupaten dengan jumlah balita gizi buruk terbanyak dibandingkan dengan kabupaten lain (Pradipta. tingkat pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya status gizi kurang dan gizi buruk di desa Bulakamba mengalami penurunan yaitu pada tahun 2004 gizi kurang sebesar 6.09% balita berstatus gizi kurang. Desa Bulakamba merupakan salah satu desa yang termasuk dalam kecamatan Banyumas kabupaten Banyumas. Jumlah balita yang dinyatakan gizi buruk di kabupaten Banyumas pada bulan Juli tahun 2005 mencapai 801 bayi. salah satunya yaitu dengan memperhatikan pemberian makanan bayi atau balita dengan tepat dan sesuai kebutuhan mereka.ibunya dan tidak memilih serta mengambil sendiri mana yang disukainya (Ahmad Djaeni. Sedangkan gizi buruk pada tahun 2004 2.22 % balita dengan gizi lebih.

pola pemberian makanan pendamping ASI dan status gizi balita. Bagi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Penelitian ini bisa dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya tentang pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI. 2). Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a..a.. Tujuan umum Mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas kabupaten Banyumas. Umum Adakah hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas kabupaten Banyumas. Khusus 1). Bagi Puskesmas Memberikan informasi tentang mengenai hubungan pengetahuan ibu dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita. Manfaat Penelitian 1) Bagi Ibu Balita Untuk menambah pengetahuan ibu tentang pemberian makanan pendamping ASI secara tepat dan memenuhi kebutuhan balita mereka. Mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Tujuan khusus 1. 3). Mengetahui hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. b. Adakah hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas? 2). b. 2. 4. Adakah hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas? . 4) Bagi Peneliti . 3.

Hubungan antara Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Bayi umur 4-12 bulan didesa Gunan kecamatan Slogohimi kabupaten Wonogiri Carnoto SM 2000. desa Batuan Explanatory dengan pendekatan cross sectional Variabel bebas: pengetahuan ibu Variabel antara: praktik MP-ASI Variabel terikat :status gizi Ada hubungan antara pengetahuan ibu dan praktik MP-ASI dengan status gizi balita 2. yaitu: . pengetahuan adalah hasil dari kegiatan mengetahui.ASI dengan Status Gizi Anak Pada 4-24 Bulan di Desa Batuan Kecamatan Sukawati Kabupaten Bali Dwi Jata 2000.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Maman Rachman (2003:93). sedangkan mengetahui artinya mempunyai bayangan tentang sesuatu. desa Gunan Explanatory dengan metode survey dan pendekatan cross sectional Variabel bebas: pola pemberian MP-ASI pada bayi 4-12 bulan (bentuk makanan). tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi BAB II LANDASAN TEORI 2. tingkat konsumsi energi dan protein Variabel terikat : status gizi Ada hubungan yang signifikan antara pola pemberian MP-ASI. pola pemberian makanan pendamping ASI dan tingkat status gizi balita di desa Bulakamba kecamatan Banyumas kabupaten Banyumas 5) Keaslian Penelitian Keaslian dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 1 Keaslian Penelitian No Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1.1 Landasan Teori 2.Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian khususnya pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI.1. Sedangkan menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003:122-123).1. pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan.1 Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) 2.1. Hubungan antara Pengetahuan dan Praktek Ibu dalam Pemberian MP.

4) Analisis (analysis) Aplikasi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen. dan masih ada kaitannya satu sama lain. sesuai dengan kemampuan pencernaan bagi bayi/ anak. tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Semakin meningkat umur bayi/ anak.2 Pengertian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan pada bayi/ anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. 2000:5). dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Pemberian makanan pendamping ASI yang cukup kualitas dan kuantitasnya penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat pada periode ini (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. 24 .1.1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. 2. 6) Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi/ penilaian terhadap suatu materi/objek. Makanan pendamping ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Makanan pendamping ASI diberikan mulai umur 4 bulan sampai 24 bulan. tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Pengenalan dan pemberian makanan pendamping ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya. 3) Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. 5) Sintesis (synthetis) Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru di formulasi-formulasi yang ada. tetapi masih didalam satu struktur organisasi. 2000:5). Termasuk ke dalam pengetahuan.1. kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak. 2) Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai mengingat suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. Oleh sebab itu.

2. psikologis. budaya dan sosial (Suhardjo.1. dan sebagainya). pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Dari jumlah energi yang dikonsumsi bayi.1. Pengertian pola makan menurut Lie Goan Hong dalam Sri Karjati (1985) adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang di makan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti.2 Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI Pola makan adalah cara yang ditempuh seseorang/sekelompok orang untuk memilih makanan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis. 1995:5) . protein dan zat-zat gizi lainnya (vitamin dan mineral) untuk tumbuh dan berkembang. 25% lainnya untuk pertumbuhan badan yang berkisar antara 5 sampai 7 gr per hari. Penting untuk diperhatikan agar pemberian ASI dilanjutkan terus selama mungkin. karena ASI memberikan sejumlah energi dan protein yang bermutu tinggi. 1999: 89). Kebutuhan protein bagi bayi relatif lebih besar dari orang dewasa.untuk umur 6 bulan energi yang dibutuhkan turun menjadi 95 Kkal/kg berat badan. karena bayi mengalami pertumbuhan yang pesat (Departemen Kesehatan. sedangkan bayi yang aktif membutuhkan sampai 133 Kkal/kg BB. pertama-tama berikan satu atau dua sendok teh makanan tmbahan (weaning foods). Bayi yang pendiam membutuhkan energi sebesar 71 Kkal/kg BB. menggantikan sel-sel yang rusak. 2) Protein Protein dalam tubuh merupakan zat pembengun yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan tubuh. 50% digunakan untuk energi basal (energi yang dibutuhkan untuk bekerjanya organ-organ di dalam tubuh. 1) Energi Konsumsi energi sebanyak 115 Kkal per kgberat badan (sekitar 95-145 Kkal/kg) nampaknya mencukupi kebutuhan bayi untuk bulan pertama kehidupannya.Tujuan pemberian makanan tambahan adalah sebagai komplemen terhadap ASI agar anak memperoleh cukup energi. Sedangkan menurut Yayuk Farida (2004: 69). tetapi direkomendasikan untuk dikonsumsi yang dapat mendukung pertumbuhan seorang bayi yang sehat.1 Macam Zat Gizi Menurut Deddy Muchtadi (19994:11-18) zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi mengenai beberapa zat gizi.2. 2. peredaran darah. 25% untuk aktivitasnya. Untuk mengajarkan anak mengunyah dan terbiasa dengan makanan baru. 1986: 35). memelihara keseimbangan metabolisme tubuh.

defisiensi vitamin K dapat terjadi pada beberapa hari pertama. Untuk vitamin K.bayi membutuhkan 0. Bayi harus memperoleh 0. kebutuhan proteinnya turun menjadi 2 gr/kg BB perhari. Pada umur 5 bulan. 5) Mineral Karena terjadinya kalsifikasi yang cepat pada tulang untuk menunjang berat badan pada waktu bayi mulai belajar berjalan. Untuk vitamin C. bayi memperolehnya dari ASI. Pada umur 4 bulan. relatif tinggi.4 mg tiamin dan pada umur 6-12 bulan membutuhkan 0.konsumsi vitamin D pada bayi akan meningkat pada waktu terjadinya kalsifikasi tulang dan gigi yang cepat. dan menjadi 0. Konsumsi sebanyak 2.15 mg niasin dan 21 mg triptofan per 100 ml. jumlah ini cukup unuk pertumbuhan bayi yang normal.5 mg/liter setelah 1 tahun) dapat mengkompensasi kebutuhan bayi yang diberi ASI akan seng. berarti bahwa bayi yang berumur 3-6 bulan membutuhkan 0. Bayi yang dikandung cukup umur akan menerima sejumlah zat besi dari ibunya selama kandungan. ASI mengandung 280 mg kalsium per liter. Konsumsi sebanyak 5-6 NE (niacin equivalent) dapat dibutuhkan oleh ASI yang menyediakan 0. Pada minggu ketiga.6 mg tiamin perhari. Tingginya kadar seng dalam kolostrum (4 mg 27 per liter yang menurun jumlahnya menjadi 2 mg/liter pada air susu putih setelah 6 bulan. perhari. Konsumsi vitamin D dianjurkan sebanyak 400 IU/ hari. proporsinya adalah 45% dan 55%. kalsium sangat dibutuhkan. 4) Vitamin Larut Lemak Jumlah vitamin A yang dibutuhkan bayi sebanyak 375ug RE. Disarankan untuk memberikan vitamin E pada bayi sebanyak 2-4 mg TE (tocopherol equivalent) per hari.2 gr protein bernilai gizi tinggi per kg BB per hari menghasilkan retensi nitrogen sekitar 45%.5 mg ribovlavin per 1000 Kkal energi yang dikonsumsi untuk memelihara kejenuhan jaringan.005 mg folasin/kg BB. yang berarti dapat mensuplai sekitar 210 mg kalsium perhari. .Kebutuhan akan protein selama periode pertumbuhan tulang rangka dan otot yang cepat pada masa bayi. Kebutuhan bayi akan zat besi sangat ditentukan oleh umur kehamilan. sekitar 60%-75% dari jumlah protein yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan dan sisanya digunakan untuk pemeliharaan. 3) Vitamin Larut Air Kebutuhan bayi akan vitamin yang larut dalam air sangat dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu.

0 13.2. Adapun kebutuhan balita terhadap energi dan protein adalah sebagai berikut : Tabel 2 Kebutuhan Energi dan Protein Bagi Anak Usia (bulan) Berat badan (Kg) Kebutuhan Energi (Kal) Kebutuhan Protein (Gr) 0–3 4–6 7–9 10 – 12 13 – 24 25 .2 11.2. keadaan gizinya tidak lebih baik dari gizi anak yang tidak diberi ASI.3 Penilaian Konsumsi Makanan . Masalahnya bukan dikarenakan mutu gizi ASI.2.1 6.5 492 735 850 970 1135 1350 10 15 18 19 23 28 2.1.36 4. akan tetapi karena penggunaan ASI yang tidak tepat dan salah.2 Kebutuhan Gizi Balita Pengaturan makanan anak usia dibawah lima tahun mencakup dua aspek pokok.4 7. Penelitian Oomen terhadap 415 usia balita dibawah lima tahun di Jakarta tahun 1957 menunjukkan bahwa anak-anak yang disusui ibunya. yaitu pemanfaatan ASI secara tepat dan benar dan pemberian makanan pendamping ASI dan makanan sapihan serta makanan setelah usia setahun.1.7 9.

Metode ini cenderung bersifat kualitatif sehingga jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti. 5) Metode Frekuensi Makanan (food frequensi) Metode ini untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau . 1 tahun). Metode ini terdiri dari 3 komponen yaitu : wawancara. Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya tentang jumlah energi dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu. 29 Terdapatnya sisa makanan setelah makan juga perlu ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi. 4) Metode Riwayat Makanan Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola kunsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bias 1 minggu. rumah tangga dan perorangan. frekuensi jumlah bahan makanan. 1 bulan. 3) Metode Penimbangan Makanan (food Weighing) Responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi selama 1 hari. Daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara sangat menentukan keberhasilan metode recall 24 jam ini. 2) Metode estimated food records Metode ini digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi.Penilaian konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tinkat kelompok. Responden diminta mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan. termasuk cara persiapan dan pengelolaan makanan. serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut. dana penelitian. Dimulai sejak ia bangun pagi sampai istirahat malam hari. Menurut I Nyoman Supariasa (2001:88). dan tenaga yang tersedia. beberapa metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu anatara lain : 1) Metode food recall 24 jam Metode ini dilakukan dengan menanyakan jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi responden pada periode 24 jam yang lalu. Metode ini digunakan untuk mengatur rata-rata konsumsi pangan dan zat gizi pada kelompok besar. Menimbang dalam ukuran berat pada periode tertentu. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dati tujuan. pencatatan konsumsi.

makanan jadi selama periode tertentu. rumah tangga dan perorangan. Meliputi hari. minggu. bulan. Responden diminta mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan.4 Faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI 1) Pendapatan Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder (Soetjiningsih. termasuk cara persiapan dan pengelolaan makanan. Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya tentang jumlah energi dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu. Menurut I Nyoman Supariasa (2001:88). beberapa metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu anatara lain : 1) Metode food recall 24 jam Metode ini dilakukan dengan menanyakan jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi responden pada periode 24 jam yang lalu.3 Penilaian Konsumsi Makanan Penilaian konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tinkat kelompok. 1998:10).1. Metode ini digunakan untuk mengatur rata-rata konsumsi pangan dan zat gizi pada kelompok besar. Daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara sangat menentukan keberhasilan metode recall 24 jam ini. 2. Metode ini cenderung bersifat kualitatif sehingga jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti. karena jumlah pangan yang tersedia untuk suatu keluarga yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut.2. atau tahun. 2) Besar Keluarga Laju kelahiran yang tinggi berkaitan dengan kejadian kurang gizi.1. 2) Metode estimated food records Metode ini digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut. 2003:23). sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi makanan secara kualitatif. Dimulai sejak ia bangun pagi sampai istirahat malam hari. . Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Akan tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang besar tersebut (Suhardjo. 2. Menimbang dalam ukuran berat pada periode tertentu.2.

dan tenaga yang tersedia.1.3) Metode Penimbangan Makanan (food Weighing) Responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi selama 1 hari. 29 Terdapatnya sisa makanan setelah makan juga perlu ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi. 2) Besar Keluarga Laju kelahiran yang tinggi berkaitan dengan kejadian kurang gizi. Metode ini terdiri dari 3 komponen yaitu : wawancara. 4) Metode Riwayat Makanan Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola kunsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bias 1 minggu. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dati tujuan.2. dana penelitian. Akan tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang besar tersebut (Suhardjo.4 Faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI 1) Pendapatan Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder (Soetjiningsih. 1998:10). frekuensi jumlah bahan makanan. 1 tahun). dijumpai banyak pola pantangan. bulan. 2. 5) Metode Frekuensi Makanan (food frequensi) Metode ini untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu. takhayul. pencatatan konsumsi. Meliputi hari. Sehubungan dengan pangan yang biasa dipandang untuk dimakan. karena jumlah pangan yang tersedia untuk suatu keluarga yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut. 2003:23). 1 bulan. dan larangan pada beragam kebudayaan dan daerah yang berlainan di . atau tahun. sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi makanan secara kualitatif. minggu. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu.

pertolongan persalinan.dunia. Tingkat pendidikan formal merupakan faktor yang ikut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan menekuni pengetahuan yang diperoleh. secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak. 2000:85). 4) Pendidikan Tingkat pendidikan formal membentuk nilai-nilai progresif bagi seseorang terutama dalam menerima hal-hal baru. 39 pemeriksaan kehamilan.1. Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak serta adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan. kekurangan zat gizi cenderung tidak akan berkembang seperti jika pantangan itu hanya berlaku bagi sekelompok masyarakat tertentu selama satu tahap dalam siklus hidupnya (Suharjo. praktek bidan. khususnya pada umur dibawah 2 tahun (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI. 2004:13-14). dokter dan rumah sakit (Soekirman. Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi. 2004:13). 5) Pengetahuan gizi Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia. Penduduk dimanapun akan beruntung dengan bertambahnya pengetahuan mengenai gizi dan cara menerapkan informasi tersebut untuk orang yang berbeda tingkat usianya dan keadaan fisiologisnya (Agus Krisno. 6) Pelayanan Kesehatan Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan. Penduduk dimanapun akan berutung dengan bertambahnya pengetahuan mengenai gizi dan cara menerapkan informasi tersebut untuk orang yang berbeda tingkat usia dan keadaan fisiologis (Agus Krisno. 2000:1). dan saran lain seperti keberadaan posyandu.4 Hubungan antara Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI dan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Balita Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum di setiap negara di dunia. Pengetahuan ibu dapat diperoleh dari beberapa faktor baik formal seperti pendidikan yang . 1996:22). 2. Bila pola pantangan makanan berlaku bagi seluruh penduduk sepanjang hidupnya. puskesmas. penimbangan anak.

dalam hal pemberian dan penyediaan makanannya.didapat di sekolah-sekolah maupun non formal yang diantaranya dapat diperoleh bila ibu aktif dalam kegiatan posyandu. perkembangan dan kesehatan balita maka perlu asupan gizi yang cukup (Agus Krisno. Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh didalam susunan hidangan dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain. suatu hal yang menyakinkan tentang pentingnya gizi didasari pada 3 kenyataan yaitu : 1) status gizi seseorang yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan. 3) ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi. Kekurangan gizi dapat disebabkan karena pemilihan bahan makanan yang tidak benar. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. 1999: 70). dimana hal itu dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan Roger (1974) yang mengungkapkan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan (Soekidjo Notoatmojo. sehingga seorang anak tidak menderita 40 kekurangan gizi. Konsumsi energi dan protein yang kurang selama jangka waktu tertentu akan menyebabkan gizi kurang. Kuantitas menunjukan kuantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. 2) setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal. Ketidaktahuan dapat menyebabkan kesalahan pemilihan dan pengolahan makanan. 2003:25). Konsumsi pangan yang tidak cukup energi biasanya juga kurang dalam satu atau lebih zat gizi esensial lainnya. 1997: 128).2 Kerangka Teori Gambar 1 . 41 2. Menurut Suhardjo (1986:31). 2004:15). sehingga untuk menjamin pertumbuhan. pemeliharaan dan energi. PKK maupun kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat. meskipun bahan makanan tersedia (Suharjo. Pemilihan makanan ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu tentang bahan makanan. Pengetahuan seorang ibu dibutuhkan dalam perawatan anaknya.

Supariasa. 2004:20.Kerangka Teori (Sumber: Modifikasi Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti. Yayuk Farida. 1999:82. 2002:33) Pendidikan Pendapatan Daya beli Konsumsi makanan Penyakit Infeksi Pola pemberian MPASI Pengetahuan Status Gizi Balita Pelayanan kesehatan Sosial budaya Jumlah Keluarga .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->