MAKALAH INTEGRAL GARIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kalkulus Lanjut 2 Dosen Pengampu : Dra. Emi Pujiastuti, M.Pd

oleh Kelompok IV : 1. 2. 3. 4. 5. Achmad Fauzan Arina Dwi Nur Afriyani Jefri Mahendra Kisworo Hanifah Mawaddah Taulia Damayanti Rombel 04 Hari Kamis pukul 07.00 (4101409004) (4101409016) (4101409018) (4101409046) (4101409050)

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011

1

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Deskripsi Makalah ini akan membahas tentang konsep dan cara menghitung massa, pusat massa, dan momen inersia dengan integral lipat dua. 1.2. Prasyarat Materi prasyarat yang diperlukan adalah sebagai berikut: 1. Geometri Dasar 2. Kalkulus 1, Kalkulus 2, dan Kalkulus Lanjut 1 3. Materi sebelumnya tentang integral lipat dua dalam koordinat kartesius dan koordinat kutub 1.3. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut: 1. Bagaimana konsep massa, pusat massa, dan momen inersia pada keping datar? 2. Bagaimana konsep massa, pusat massa, dan momen inersia pada koordinat kartesius, koordinat silinder, dan koordinat bola? 1.4. Kompetensi Dasar dan Indikator Kompetensi Dasar : Memahami dan menghitung massa, pusat massa, dan momen inersia dengan integral lipat dua. Indikator : 1. Mengetahui dan memahami konsep massa, pusat massa, dan momen inersia pada keping datar, koordinat kartesius, koordinat silinder, dan koordinat bola. 2. Dapat menghitung massa, pusat massa, dan momen inersia pada keping datar dengan menggunakan integral lipat dua. 1.5. Tujuan Pembelajaran Mahasiswa mampu memahami dan dapat mencari massa, pusat massa, dan momen inersia dengan integral lipat dua.

2

1 MASSA DAN PUSAT MASSA SUATU KEPING DATAR DALAM SISTEM KOORDINAT KARTESIUS Selain untuk menghitung isi benda padat. dimana πœ™ dan πœ“ kontinu pada [𝑐. 𝑦) pada keping 𝐷 adalah 𝛿(π‘₯. 𝐷 = π‘₯. πœ™ π‘₯ ≀ 𝑦 ≀ πœ“ π‘₯ . salah satu penggunaan lain dari integral lipat dua adalah untuk menentukan massa. Kerapatan massa keping datar yaitu besar massa per satuan luas. πœ™ 𝑦 ≀ π‘₯ ≀ πœ“ 𝑦 . dimana πœ™ dan πœ“ kontinu pada π‘Ž. 𝑦 π‘Ž ≀ π‘₯ ≀ 𝑏. pusat massa. dan momen inersia suatu keping datar dengan rapat masa yang tak homogen.2) Rapat massa di setiap titik pada keping (π‘₯. Dipunyai sebuah keping datar dengan rapat massa tak homogen yang berbentuk daerah 𝐷. dapat dinyatakan sebagai fungsi dalam π‘₯ dan 𝑦 biasanya disimbolkan dengan 𝛿(π‘₯. Rapat massa keping di setiap titiknya bergantung pada letak titik tersebut. 𝑑] ……(gambar. Kedua keping datar tersebut diperlihatkan pada gambar berikut: Y 𝑦 = πœ‘(π‘₯) d π‘₯ = βˆ…(𝑦) 𝐷 𝐷 𝑦 = βˆ…(π‘₯) o a b X c o π‘₯ = πœ‘(𝑦) Y X gambar 1 gambar 2 3 . 𝑦). 𝑏 ……(gambar. yaitu merupakan fungsi dua peubah.BAB II PEMBAHASAN 2.1) atau 𝐷 = π‘₯. 𝑦 𝑐 ≀ 𝑦 ≀ 𝑑. 𝑦) di mana 𝛿 merupakan fungsi kontinu pada D.

2. Momen Terhadap Sumbu Koordinat dan Pusat Massa Keping 𝑫.1 Kontruksi Rumus Massa. Buatlah jaring βˆ† untuk keping 𝐷 yang terdiri dari 𝑛 buah persegi panjang yang semuanya beririsan dengan daerah 𝐷 seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini π‘Œ βˆ†π‘₯𝑖 𝑦 = πœ“ (π‘₯) π‘žπ‘– βˆ†π‘¦π‘– D βˆ†π΄π‘– Gambar 1 𝑦 = πœ™(π‘₯) 0 π‘Ž 𝑝𝑖 𝑏 𝑋 π‘Œ π‘₯ = πœ™(𝑦) 𝑑 βˆ†π‘₯𝑖 Gambar 2 π‘žπ‘– 𝑐 0 βˆ†π‘¦π‘– D βˆ†π΄π‘– π‘₯ = πœ“(𝑦) 𝑋 𝑝𝑖 Komponen jaring yang ke-i adalah βˆ†π΄π‘– = βˆ†π‘₯𝑖 βˆ†π‘¦π‘– Ukuran jaring ke-i didefinisikan sebagai persegi panjang diagonal terbesar dari persegi panjang βˆ†π΄π‘– ditulis dengan lambang |𝐴|.1. 4 .

π‘žπ‘– . π‘žπ‘– βˆ†π΄π‘– 𝑖=1 𝑀 = 𝐷 𝛿(π‘₯. maka βˆ†π‘šπ‘– = 𝛿 𝑝𝑖 . 𝑛. yaitu 𝑛 𝑀 = lim | βˆ† |β†’0 𝛿 𝑝𝑖 . 𝑦) 𝑑𝐴 Momen Massa Keping D Terhadap Sumbu X Momen massa keping terhadap sumbu 𝑋 didefinisikan sebagai limit jumlah Riemann dari momen massa sistem n partikel terhadap sumbu 𝑋. Jika massa partikel ke-i adalah βˆ†π‘šπ‘– . π‘žπ‘– βˆ†π΄π‘– Bentuk ini merupakan jumlah Riemann yang mempunyai limit karena 𝛿 kontinu pada 𝐷. yaitu 𝑛 𝑀π‘₯ = lim | βˆ† |β†’0 π‘žπ‘– 𝛿 𝑝𝑖 .Pilihlah titik (𝑝𝑖 . Keping 𝐷 dapat dipandang sebagai sistem 𝑛 partikel yang terletak di titik 𝑝𝑖 . π‘žπ‘– βˆ†π΄π‘– 𝑖=1 𝑀π‘₯ = 𝐷 𝑦 𝛿(π‘₯. π‘žπ‘– ) pada komponen jaring ke-i.2 Definisi Massa dan Pusat Massa Suatu Keping Datar dalam Koordinat Kartesius Massa keping 𝐷 didefinisikan sebagai limit dari jumlah Riemann ini. 𝑦) 𝑑𝐴 5 . … . 2. π‘žπ‘– βˆ†π΄π‘– Massa sistem n partikel tersebut adalah 𝑛 𝑛 βˆ†π‘šπ‘– = 𝑖=1 𝑖=1 𝛿 𝑝𝑖 . 𝑦) 𝑑𝐴 = 𝐷 𝛿(π‘₯. 𝑦) 𝑑𝐴 = 𝐷 𝑦 𝛿(π‘₯. 𝑖 = 1.1. 2.

𝑦) 𝑑𝐴 Pusat Massa Keping D Pusat massa keping 𝐷 adalah titik (π‘₯. 𝑦) 𝑑𝐴 = 𝐷 π‘₯ 𝛿(π‘₯. 6 . Perhatikan kembali kedua gambar pada masalah di atas. yang didefinisikan sebagai hasil kali massa partikel dengan jaraknya terhadap titik atau garis tersebut. 𝑑]. π‘žπ‘– βˆ†π΄π‘– 𝑖=1 𝑀𝑦 = 𝐷 π‘₯ 𝛿(π‘₯.Momen Massa Keping D Terhadap Sumbu Y Momen massa keping terhadap sumbu π‘Œ didefinisikan sebagai limit jumlah Riemann dari momen massa sistem 𝑛 partikel terhadap sumbu π‘Œ. 𝑦 = CATATAN Perhatikan bahwa untuk menghitung integral lipat duanya kita mengambil proyeksi daerah 𝐷 terhadap sumbu 𝑋 atau terhadap sumbu π‘Œ. 𝑏] sedangkan yang kedua.2 MOMEN INERSIA PADA SUATU KEPING DATAR DALAM SISTEM KOORDINAT KARTESIUS Momen suatu partikel terhadap titik atau garis yang tetap disebut momen pertama. 𝑀 𝑀 π‘₯. Sekarang kita akan mendefinisikan momen kedua dengan cara serupa tetapi jaraknya diganti oleh kuadrat jaraknya. seringkali kita harus membuat transformasi ke koordinat kutub. yang pertama bila proyeksinya pada sumbu 𝑋 adalah selang [π‘Ž. bila proyeksinya terhadap sumbu π‘Œ adalah selang [𝑐. Untuk memudahkan perhitungannya. dimana π‘₯ = 𝑀𝑦 𝑀π‘₯ dan 𝑦 = 𝑀 𝑀 𝑀𝑦 𝑀π‘₯ . 𝑦). 2. yaitu 𝑛 𝑀𝑦 = lim | βˆ† |β†’0 𝑝𝑖 𝛿 𝑝𝑖 .

momen inersia dari keping 𝐷 terhadap kedua sumbu koordinat didefinisikan sebagai limit jumlah dari momen inersia sistem 𝑛-partikel terhadap kedua sumbu koordinat itu. π‘žπ‘– βˆ†π΄π‘– 𝑖=1 𝐼𝑋 = 𝐷 𝑦 2 𝛿 π‘₯. dikenal sebagai momen inersia. 𝑦). Dipunyai sebuah keping datar dengan rapat massa terdistribusi secara kontinu berbentuk daerah tertutup 𝐷 yang dapat ditulis sebagai 𝐷 = {(π‘₯. Definisi Momen Inersia. di mana 𝛿 merupakan fungsi kontinu pada 𝐷. didefinisikan sebagai 𝐼𝑔 = π‘šπ‘Ÿ 2 Seperti halnya dengan momen pertama untuk keping datar 𝐷 . Sistem 𝑛-partikel tersebut masing-masing terletak di titik (𝑝𝑖 . Momen inersia dari partikel dengam massa π‘š dan jaraknya π‘Ÿ satuan dari garis 𝑔 . didefinisikan sebagai hasil kali massa dengan kuadrat jarak partikel terhadap titik atau garis itu. π‘žπ‘– ) dengan rapat massa 𝛿 (𝑝𝑖 .Momen kedua suatu partikel terhadap titik atau garis yang tetap. 𝑦 𝑑𝐴 7 . 𝑦) pada keping 𝐷 adalah 𝛿(π‘₯. Berikut ini definisinya secara matematis. di mana βˆ… dan πœ“ kontinu pada [𝑐. π‘žπ‘– ) . 𝑑] Rapat massa di setiap titik (π‘₯. 𝑦 𝑑𝐴 = 𝐷 𝑦 2 𝛿 π‘₯. 𝑦)|𝑐 ≀ 𝑦 ≀ 𝑑. maka momen inersia keping 𝐷 terhadap sumbu koordinat dan titik asal 𝑂 didefinisikan sebagai berikut Momen Inersia Terhadap Sumbu 𝑿 𝑛 𝐼π‘₯ = lim βˆ† β†’0 π‘žπ‘–2 𝛿 𝑝𝑖 . πœ™ π‘₯ ≀ 𝑦 ≀ πœ“( π‘₯ }. di mana βˆ… dan πœ“ kontinu pada [π‘Ž. ditulis 𝐼𝑔 . 𝑦)|π‘Ž ≀ π‘₯ ≀ 𝑏. 𝑏] atau 𝐷 = {(π‘₯. πœ™ 𝑦 ≀ π‘₯ ≀ πœ“( 𝑦 }.

π‘žπ‘– βˆ†π΄π‘– 𝑖=1 𝐼𝑦 = 𝐷 π‘₯ 2 𝛿 π‘₯. PUSAT MASSA. DAN MOMEN INERSIA SUATU BENDA DALAM KOORDINAT KARTESIUS Salah satu aplikasi dari integral lipat tiga adalah untuk menentukan massa dan pusat massa dari benda pejal berdimensi tiga.Momen Inersia Terhadap Sumbu 𝒀 𝑛 πΌπ‘Œ = lim | βˆ† |β†’0 𝑝𝑖2 𝛿 𝑝𝑖 . 𝑦 𝑑𝐴 = 𝐷 π‘₯ 𝛿 π‘₯. 2. Konsep massa dan pusat massa dikembangkan dari konsep yang sama pada pelat datar yang sangat tipis yang disebut lamina. namun pemilihan sistem koordinat yang akan dipakai harus tepat agar dalam melakukan integral menjadi lebih mudah. Tiga macam sistem koordinat dapat digunakan dalam menghitung integral. 8 .3 MASSA. 𝑦 𝑑𝐴 2 Momen Inersia Terhadap Titik 𝐎 𝐼𝑂 = 𝐼𝑋 + πΌπ‘Œ Jari-jari kitaran Jari-jari kitaran (radius of gyration) suatu keping 𝐷 terhadap suatu sumbu didefinisikan sebagai bilangan positif π‘Ÿ yang memenuhi π‘Ÿ 2 = 𝐼 𝑀 di mana 𝐼 adalah adalah momen inersianya terhadap sumbu itu dan 𝑀 adalah massa kepingnya.

dalam benda pejal juga dikenal istilah total massa. proses yang mengarah pada rumus integral yang benar telah dikenal dengan baaik dan dapat diringkas dalam sebuah motto.Konsep massa dan pusat massa digeneralisasi secara mudah ke daerah-daerah benda pejal. Besar kerapatan massa dari benda pejal berdimensi tiga adalah menyatakan besarnya massa tiap satuan volum. 𝑦. kita peroleh beberapa rumus untuk benda pejal berikut Total Massa 𝑀 = 𝑠 𝛿 π‘₯. yaitu iris. integralkan. 𝑦. 𝑧) biasa dinotasikan dengan 𝛿(π‘₯. 𝑦. Saat ini. Sebagaimana dalam pembahasan pusat massa lamina. Khusus benda pejal yang homogen kerapatan massa pada titik (π‘₯. 𝐼𝑧 = 𝑆 π‘₯ 2 + 𝑦 2 𝛿 π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 9 . Dengan langkah penurunan yang serupa seperti pada lamina. 𝑦. dan pusat massa. 𝑧 𝑑𝑉 Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝐙 𝑀π‘₯𝑦 = 𝑆 𝑧 𝛿 π‘₯. total momen inersia. 𝑧) berupa konstanta. hampiri. 𝑦. 𝑧 𝑑𝑉 Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝐙 𝑧 = 𝑀π‘₯𝑦 𝑀 Momen Inersia Terhadap Bidang 𝑿𝑢𝒀.

𝑦. 𝑦. 𝐼𝑦 = 𝑆 π‘₯ 2 + 𝑧 2 𝛿 π‘₯. 𝐼π‘₯ = 𝑆 𝑦 2 + 𝑧 2 𝛿 π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝑿 π‘₯ = 𝑀𝑦𝑧 𝑀 Momen Inersia Terhadap Bidang 𝒀𝑢𝒁. .Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝒀 𝑀π‘₯𝑧 = 𝑆 𝑦 𝛿 π‘₯. 𝑦. 𝑧 𝑑𝑉 Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝑿 𝑀𝑦𝑧 = 𝑆 π‘₯ 𝛿 π‘₯. 𝑧 = 𝑀𝑦𝑧 𝑀π‘₯𝑧 𝑀π‘₯𝑦 . 𝑦. 𝑦. 𝑀 𝑀 𝑀 10 . 𝑧 𝑑𝑉 Pusat Massa Benda Pejal π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝐘 𝑦 = 𝑀π‘₯𝑧 𝑀 Momen Inersia Terhadap Bidang 𝑿𝑢𝒁.

π‘Ÿ sin πœƒ . 𝑦.2. π‘Ÿ sin πœƒ . 𝑦. 𝑧) ditransformasikan menjadi 𝑓 π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 = πœƒ1 π‘Ÿ1 (πœƒ) 𝑔1 (π‘Ÿ. 𝑦. fungsi 𝑓(π‘₯. 𝑧 = 𝑓 π‘Ÿ cos πœƒ. Koordinat silinder dan koordinat kartesius saling dihubungkan oleh persamaan – persamaan π‘₯ = π‘Ÿ cos πœƒ 𝑦 = π‘Ÿ sin πœƒ 𝑧 = 𝑧 π‘₯ 2 + 𝑦 2 = π‘Ÿ 2 Ketika dituliskan dalam koordinat silinder. 𝑦. DAN MOMEN INERSIA SUATU BENDA DALAM KOORDINAT SILINDER Ketika sebuah daerah benda padat 𝑆 dalam ruang bedimensi tiga mempunyai sebuah sumbu simetri. kita peroleh beberapa rumus untuk benda pejal pada koordinat silinder adalah berikut Total Massa πœƒ2 π‘Ÿ2 (πœƒ) 𝑔2 (π‘Ÿ. maka perhitungan integral lipat tiga atas 𝑆 seringkali dipermudah dengan menggunakan koordinat silinder. PUSAT MASSA. πœƒ. 𝑧 π‘Ÿ 𝑑𝑧 π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝐙 𝑀π‘₯𝑦 = 𝑆 𝑧 𝛿 π‘₯.πœƒ) 𝑀 = 𝑠 𝛿 π‘₯. 𝑧 = 𝑓 π‘Ÿ. Sebagai hasilnya. 𝑧 𝑑𝑉 = π‘Ÿ 𝑑𝑧 π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ Dengan langkah penurunan yang serupa seperti pada lamina.πœƒ) 𝑓 π‘Ÿ cos πœƒ. 𝑧 𝑑𝑉 Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝐙 𝑧 = 𝑀π‘₯𝑦 𝑀 11 .4 MASSA.

𝑧 𝑑𝑉 Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝒀 𝑀π‘₯𝑧 = 𝑆 𝑦 𝛿 π‘₯. 𝑦. 𝑧 𝑑𝑉 Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝑿 𝑀𝑦𝑧 = 𝑆 π‘₯ 𝛿 π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 𝑆 𝐼π‘₯ = 12 . 𝑦. 𝑦. 𝑦. 𝑧 𝑑𝑉 Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝑿 π‘₯ = 𝑀𝑦𝑧 𝑀 Momen Inersia Terhadap Bidang 𝒀𝑢𝒁. 𝑦.Momen Inersia Terhadap Bidang 𝑿𝑢𝒀. 𝐼𝑧 = 𝑆 (π‘₯ 2 + 𝑦 2 ) 𝛿 π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝐘 𝑦 = 𝑀π‘₯𝑧 𝑀 Momen Inersia Terhadap Bidang 𝑿𝑢𝒁. 𝐼𝑦 = 𝑆 π‘₯ 2 + 𝑧 2 𝛿 π‘₯. 𝑦 2 + 𝑧 2 𝛿 π‘₯.

𝑧 = 𝑓 𝜌 sin πœ™ cos πœƒ . 𝑦. 𝑦. 𝑦. 0 ≀ πœƒ ≀ 2πœ‹ dari sumbu 𝑋 positif ke sumbu 𝑋 negatif dan 0 ≀ πœ™ ≀ 2πœ‹ dari sumbu π‘Œ positif ke sumbu π‘Œ negatif Dengan langkah penurunan yang serupa seperti pada lamina. πœƒ. πœ™ 𝑑𝑉 = 𝜌2 sin πœ™ π‘‘πœŒ π‘‘πœƒ π‘‘πœ™ dimana. kita peroleh beberapa rumus untuk benda pejal pada koordinat bola adalah berikut Total Massa 𝛿 π‘₯. Sebagai hasilnya. 𝑧) ditransformasikan menjadi 𝑓 π‘₯. π‘š π‘š π‘š π‘₯. . 𝜌 cos πœ™ = 𝑓 𝜌. 𝑧 𝑑𝑉 = 13 . 𝑧 = 2. 𝜌 sin πœ™ sin πœƒ . PUSAT MASSA. fungsi 𝑓(π‘₯. 𝑦.5 MASSA. 𝑦.Pusat Massa Benda Pejal 𝑀𝑦𝑧 𝑀π‘₯𝑧 𝑀π‘₯𝑦 . 𝑧 𝜌2 sin πœ™ π‘‘πœŒ π‘‘πœƒ π‘‘πœ™ 𝑠 𝑀 = 𝑠 𝛿 π‘₯. DAN MOMEN INERSIA SUATU BENDA DALAM KOORDINAT BOLA Koordinat bola dan koordinat kartesius saling dihubungkan oleh persamaan – persamaan π‘₯ = 𝜌 sin πœ™ cos πœƒ 𝑦 = 𝜌 sin πœ™ sin πœƒ 𝑧 = 𝜌 cos πœ™ Ketika dituliskan dalam koordinat bola.

𝑧 𝑑𝑉 Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝐙 𝑧 = 𝑀π‘₯𝑦 𝑀 Momen Inersia Terhadap Bidang 𝑿𝑢𝒀. 𝑦. 𝑦. 𝐼𝑦 = 𝑆 (π‘₯ 2 + 𝑧 2 )𝛿 π‘₯. 𝑦. 𝑧 𝑑𝑉 Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝐘 𝑦 = 𝑀π‘₯𝑧 𝑀 Momen Inersia Terhadap Bidang 𝑿𝑢𝒁.Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝐙 𝑀π‘₯𝑦 = 𝑆 𝜌 π‘π‘œπ‘ πœ™ 𝛿 π‘₯. 𝑦. 𝑧 𝑑𝑉 Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝑿 𝜌 sin πœ™ cos πœƒ 𝛿 π‘₯. 𝐼𝑧 = 𝑆 (π‘₯2 + 𝑦2 )𝛿 π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 𝑆 𝑀𝑦𝑧 = 14 . 𝑦. 𝑧 𝑑𝑉 Total Momen Massa Terhadap Sumbu 𝒀 𝑀π‘₯𝑧 = 𝑆 𝜌 sin πœ™ sin πœƒ 𝛿 π‘₯.

2) jika fungsi kerapatannya adalah 𝛿 π‘₯.0) dan (0. 𝑦. Halaman: 360) Penyelesaian: Daerah 𝐷 yang terjadi adalah Y 2 𝑦 = 2 βˆ’ 2π‘₯ D 0 1 X 15 . 1999. Carilah massa. Kalkulus Edisi Keempat. 𝑧 = CONTOH SOAL 1.Pusat Benda Relatif Terhadap Sumbu 𝑿 π‘₯ = 𝑀𝑦𝑧 𝑀 Momen Inersia Terhadap Bidang 𝒀𝑢𝒁. (𝑦 2 + 𝑧 2 )𝛿(π‘₯. π‘š π‘š π‘š π‘₯. 𝑦 = 1 + 3π‘₯ + 𝑦. 𝑦. dan pusat massa dari lamina segitiga 𝐷 dengan titik sudut (0. momen massa terhadap kedua sumbu. (James Stewart.0). . (1. 𝑧) 𝑑𝑉 𝑆 𝐼π‘₯ = Pusat Massa Benda Pejal 𝑀𝑦𝑧 𝑀π‘₯𝑧 𝑀π‘₯𝑦 .

𝑦 0 ≀ π‘₯ ≀ 1. 0 ≀ 𝑦 ≀ 2 βˆ’ 2π‘₯ Massa lamina 𝑫 adalah 1 2βˆ’2π‘₯ 𝑀 = 𝐷 1 𝛿 π‘₯. massa lamina 𝐷 adalah 3 satuan massa.2) didapat persamaan perbatasan daerah 𝐷 yaitu: 𝑦 βˆ’ 0 π‘₯ βˆ’ 1 = 2βˆ’0 0βˆ’1 𝑦 π‘₯ βˆ’ 1 ⟺ = 2 βˆ’1 ⟺ (βˆ’π‘¦) = 2π‘₯ βˆ’ 2 ⟺ 𝑦 = 2 βˆ’ 2π‘₯ Apabila daerah 𝐷 dipartisi terhadap sumbu 𝑋.0 dan (0. 𝑦 𝑑𝐴 = 0 2 2 1 2βˆ’2π‘₯ π‘₯ ( 1 + 3π‘₯ + 𝑦) 𝑑𝑦 𝑑π‘₯ 1 = 0 1 2 π‘₯ + 3π‘₯ + π‘₯𝑦 𝑑𝑦 𝑑π‘₯ = 0 2 𝑦 2 π‘₯𝑦 + 3π‘₯ 𝑦 + π‘₯ 2 2 2 𝑦 =2βˆ’2π‘₯ 𝑑π‘₯ 𝑦=0 = 0 1 π‘₯ 2 βˆ’ 2π‘₯ π‘₯ 2 βˆ’ 2π‘₯ + 3π‘₯ 2 βˆ’ 2π‘₯ + 2 2π‘₯ βˆ’ 2π‘₯ 2 + 6π‘₯ 2 βˆ’ 6π‘₯ 3 + 𝑑π‘₯ = 0 π‘₯(4 βˆ’ 8π‘₯ + 4π‘₯ 2 ) 𝑑π‘₯ 2 16 . Momen massa keping 𝑫 terhadap sumbu 𝒀 1 2βˆ’2π‘₯ 𝑀𝑦 = 𝐷 π‘₯ 𝛿 π‘₯. diperoleh daerah integrasi 𝐷 yaitu: 𝐷 = π‘₯. 𝑦 𝑑𝐴 = 0 0 1 + 3π‘₯ + 𝑦 𝑑𝑦𝑑π‘₯ 𝑦 =2βˆ’2π‘₯ 1 = 0 𝑦 2 𝑦 + 3π‘₯ + 2 𝑑π‘₯ = 4 𝑦=0 8 0 π‘₯ 3 1 βˆ’ π‘₯ 𝑑π‘₯ = 4 π‘₯ βˆ’ 3 2 1 = 0 8 3 Jadi.Dari titik 1.

𝑦 𝑑𝐴 = 0 2 0 1 2βˆ’2π‘₯ 𝑦 1 + 3π‘₯ + 𝑦 𝑑𝑦𝑑π‘₯ 1 = 0 1 0 𝑦 + 3π‘₯𝑦 + 𝑦 𝑑𝑦𝑑π‘₯ = 0 1 2 3π‘₯ 2 𝑦 3 𝑦 + 𝑦 + 2 2 3 3 𝑦 =2βˆ’2π‘₯ 𝑑π‘₯ 𝑦 =0 = 0 1 3π‘₯ + 1 2 2 βˆ’ 2π‘₯ 2 2 βˆ’ 2π‘₯ + 3 𝑑π‘₯ = 0 1 1 3π‘₯ + 1 2 βˆ’ 2π‘₯ 2 4 βˆ’ 8π‘₯ + 4π‘₯ 2 2 1 + (2 βˆ’ 2π‘₯) 2 βˆ’ 2π‘₯ 3 2 𝑑π‘₯ = 0 1 3π‘₯ + 1 2 βˆ’ 2π‘₯ + 2 3 5π‘₯ + 7 6 𝑑π‘₯ = 0 1 4 βˆ’ 8π‘₯ + 4π‘₯ 2 𝑑π‘₯ = 0 1 20π‘₯ + 28 βˆ’ 40π‘₯ 2 βˆ’ 56π‘₯ + 20π‘₯ 3 + 28π‘₯ 2 𝑑π‘₯ 6 20π‘₯ 3 28 20 4 2 3 28 βˆ’ 2π‘₯ 2 βˆ’ 6π‘₯ + 𝑑π‘₯ = π‘₯ βˆ’ π‘₯ βˆ’ 3π‘₯ 2 + π‘₯ 6 6 12 3 6 1 0 = 0 = 5 2 28 5 βˆ’ 4 βˆ’ 18 + 28 11 βˆ’ βˆ’3+ = = . momen massa keping 𝐷 terhadap sumbu π‘Œ adalah 1. 6 3 6 6 6 11 6 Jadi. = 1 2 4 4 Jadi.1 1 = 0 2π‘₯ βˆ’ 2π‘₯ + 6π‘₯ βˆ’ 6π‘₯ + 2π‘₯ βˆ’ 4π‘₯ + 2π‘₯ 1 2 2 3 2 3 𝑑π‘₯ = 0 4π‘₯ βˆ’ 4π‘₯ 3 𝑑π‘₯ =4 0 π‘₯ 2 π‘₯ 4 π‘₯ βˆ’ π‘₯ 𝑑π‘₯ = 4 βˆ’ 2 4 3 1 =4 0 1 1 1 βˆ’ = 4. momen massa keping 𝐷 terhadap sumbu 𝑋 adalah . Momen massa keping 𝑫 terhadap sumbu 𝑿 1 2βˆ’2π‘₯ 𝑀π‘₯ = 𝐷 𝑦 𝛿 π‘₯. 17 .

grafik π‘₯ = 8 dan sumbu 𝑋. tentukan momen inersia dari keping 𝐷 terhadap sumbu 𝑋. 8 8 𝑀 3 11 𝑀π‘₯ 11 3 33 11 𝑦 = = 16 = . 2. 8 𝑀 16 8 48 16 3 π‘₯ = Pusat massa lamina 𝐷 berada dititik 3 11 8 16 . Jika rapat massa di setiap titik (π‘₯. Kemudian tentukan juga jari-jari kitaran keping 𝐷 terhadap sumbu π‘Œ. dan titik O. β†’ π‘₯ = 8. (Koko Martono. 𝑦 = 4. sumbu 𝑦. Daerah 𝐷 yang terjadi adalah Y 2 2 𝑦 = π‘₯ 3 4 2 2 DD X 0 2 4 6 8 18 . = = . 𝑦 = 1 + π‘₯𝑦. Diketahui suatu keping 𝐷 yang dibatasi oleh suatu grafik fungsi𝑦 = π‘₯ 3 .Pusat massa lamina 𝑫 𝑀𝑦 1 3 = = . 𝑦 = 0. 𝑦) pada 𝐷 adalah 𝛿 π‘₯. halaman 69). Penyelesaian: Grafik 𝑦 = π‘₯ 3 β†’ π‘₯ = 0. .

25 .84 .211 3.83 . 0 ≀ 𝑦 ≀ π‘₯ 3 2 οƒ˜ Momen inersia keping 𝑫 terhadap sumbu 𝑿 2 8 π‘₯ 3 𝐼π‘₯ = 𝐷 8 𝑦 2 𝛿 π‘₯. sehingga daerah integrasi 𝐷 = π‘₯. 𝑦 𝑑𝐴 = 0 0 2 π‘₯ 3 𝑦 2 1 + π‘₯𝑦 𝑑𝑦 𝑑π‘₯ 8 2 = 0 0 8 𝑦 2 + π‘₯𝑦 3 𝑑𝑦 𝑑π‘₯ = 0 2 3 2 4 1 3 1 4 𝑦 + π‘₯𝑦 3 4 8 11 𝑦 =π‘₯ 3 𝑑π‘₯ 𝑦 =0 14 8 π‘₯ 3 π‘₯ π‘₯ 3 + 14 = 0 3 4 𝑑π‘₯ = 0 2 π‘₯ 2 π‘₯ 3 π‘₯ 3 3π‘₯ 3 + 𝑑π‘₯ = + 3 4 9 56 0 83 3 8 3 512 3.Apabila daerah 𝐷 dipartisi terhadap sumbu 𝑋. 𝑦 0 ≀ π‘₯ ≀ 8.6 63 63 Momen inersia keping 𝐷 terhadap sumbu 𝑋 adalah 934. 𝑦 𝑑𝐴 = 0 0 2 π‘₯ 2 1 + π‘₯𝑦 𝑑𝑦 𝑑π‘₯ 8 2 8 π‘₯ 3 = 0 0 8 8 π‘₯ 3 π‘₯ 2 + π‘₯ 3 𝑦 𝑑𝑦 𝑑π‘₯ = 0 1 π‘₯ 2 𝑦 + π‘₯ 3 𝑦 2 2 8 0 π‘₯ 3 𝑑π‘₯ 0 11 16 = 0 1 13 3 11 3 16 + π‘₯ 3 𝑑π‘₯ = π‘₯ 3 + π‘₯ 3 2 11 32 3.8 3 = + 11 32 3. 83 512 3.6 οƒ˜ Momen inersia keping 𝑫 terhadap sumbu 𝒀 2 8 π‘₯ 3 𝐼𝑦 = 𝐷 π‘₯ 2 𝛿 π‘₯.8 3 3. 11 = 19 . 211 6144 6144 + 67584 + = + 6144 = 11 32 11 11 73728 = = 6702.5. 22 512 6144 = + = + = + = + 9 56 9 56 9 7 9 7 3584 + 55296 58880 = = = 934.

5 Jari-jari kitaran keping D terhadap sumbu π‘Œ adalah bilangan π‘Ÿ > 0 yang memenuhi π‘Ÿ 2 = 𝐼𝑦 6702.25 3.5.8 π‘Ÿ = 6. Halaman : 66) Penyelesaian: Persamaan lingkaran π‘₯ 2 + 𝑦 2 = 10𝑦 ⟺ π‘₯ 2 + 𝑦 2 βˆ’ 10𝑦 = 0.5 = 7637. οƒ˜ Momen Inersia terhadap titik O adalah πΌπ‘œ = 𝐼π‘₯ + 𝐼𝑦 = 934. (Koko Martono. Massa keping 2 8 π‘₯ 3 8 2 π‘š = 𝐷 8 𝛿 π‘₯.5 = = 38. 20 . kita harus menghitung dahulu massa keping.79 𝑀 172.6 + 6702.210 96 768 = + = + 5 20 5 5 = 864 = 172. Jika rapat massa disetiap titik pada keping 𝐷 adalah 𝛿 π‘₯.228 Diketahui keping 𝐷 berbentuk daerah tertutup yang dibatasi oleh setengah lingkaran π‘₯ 2 + 𝑦 2 = 10𝑦. 𝑦 𝑑𝐴 = 0 0 2 π‘₯ 3 1 + π‘₯𝑦 𝑑𝑦 𝑑π‘₯ = 0 8 0 1 𝑦 + π‘₯𝑦 2 2 𝑦 =π‘₯ 3 𝑑π‘₯ 𝑦=0 = 0 1 7 3 5 3 10 + π‘₯ 3 𝑑π‘₯ = π‘₯ 3 + π‘₯ 3 2 5 20 3.8. momen inersia keping 𝐷 terhadap sumbu π‘Œ adalah 6702.228 Jadi. Sehingga diperoleh: 3. momen massa terhadap kedua sumbu koordinat dan titik pusatnya.Jadi.1 οƒ˜ Untuk menentukan jari-jari kitaran keping D terhadap sumbu y. jari-jari kitaran keping D terhadap sumbu π‘Œ adalah 6. 𝑦 = 1 + π‘₯ 2 + 𝑦 2 tentukan massa keping. π‘₯ β‰₯ 0 dan sumbu π‘Œ.

diperoleh πœƒ = 10 πœ‹ 2 π‘₯ 2 + 𝑦 2 = 10𝑦. π‘₯ β‰₯ 10 10 5 D 0 X Daerah 𝐷 dibawa ke dalam koordinat kutub. π‘Ÿ 2 = 10𝑦 ⟺ π‘Ÿ 2 = 10 π‘Ÿ sin πœƒ ⟺ π‘Ÿ = 10 sin πœƒ Sehingga daerah integrasi 𝐷 = π‘Ÿ. 0. persamaan lingkaran π‘₯ 2 + 𝑦 2 = 10𝑦 ditulis sebagai π‘Ÿ 2 = 10𝑦. 0 ≀ π‘Ÿ ≀ 10 sin πœƒ πœ‹ 21 .5 . 4 Daerah 𝐷 yang terjadi adalah Y π‘₯ 2 + 𝑦 2 = 10𝑦. 0 + βˆ’10 4 4 2 = 0. πœƒ 0 ≀ πœƒ ≀ 2 . βˆ’0= 1 . π‘₯ β‰₯ 10 5 D πœƒ = 0 0 Dalam koordinat kutub. dan 𝑦 = π‘Ÿ sin πœƒ. βˆ’ 𝐡 = βˆ’ . Pusat lingkarannya adalah 1 1 1 1 𝑃 βˆ’ 𝐴. βˆ’ . βˆ’10 2 2 2 2  Jari-jarinya adalah π‘Ÿ = 1 2 1 2 𝐴 + 𝐡 βˆ’ 𝐢 = 4 4 1 1 . π‘₯ = π‘Ÿ cos πœƒ. 100 = 25 = 5.

𝑦 𝑑𝐴 = 𝐷 π‘Ÿ sin πœƒ 𝛿 π‘Ÿ. sin2 πœƒ + cos 2 πœƒ = 1 ⟺ sin2 πœƒ = 1 βˆ’ cos 2 πœƒ π‘’π‘π‘Žπ‘• sin πœƒ π‘‘πœƒ = βˆ’ 𝑑 cos πœƒ πœ‹ 2 πœ‹ 2 =βˆ’ 1000 3 1 βˆ’ π‘π‘œπ‘  2 πœƒ 𝑑 π‘π‘œπ‘  πœƒ + 50 0 πœ‹ 2 0 πœ‹ 2 0 πœ‹ 2 0 1 1 βˆ’ π‘π‘œπ‘  2πœƒ π‘‘πœƒ 2 2 πœ‹ 2 = 1000 1 π‘π‘œπ‘  3 πœƒ βˆ’ π‘π‘œπ‘  πœƒ 3 3 + 50 0 1 π‘‘πœƒ βˆ’ 50 2 0 πœ‹ 2 0 1 π‘π‘œπ‘  2πœƒ π‘‘πœƒ 2 1000 1 = 0βˆ’ βˆ’1 3 3 = 50 + πœƒ 2 50 sin 2πœƒ βˆ’ 2 4 1000 2 50πœ‹ 50 2000 25 + + 0 = + πœ‹ β‰ˆ 237. massa keping 𝐷 adalah 237.9 3 3 4 2 9 2 Jadi.Rapat massanya dalam koordinat kutub menjadi 𝛿 π‘Ÿ.9 Momen massa keping 𝑫 terhadap sumbu 𝑿 𝑀π‘₯ = 𝐷 𝑦 𝛿 π‘₯. Massa keping 𝑫 πœ‹ 2 10 sin πœƒ 𝑀 = 𝐷 𝛿 π‘₯. πœƒ 𝑑𝐴 = 0 πœ‹ 2 0 1 + π‘Ÿ π‘Ÿ π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ = 0 πœ‹ 2 0 π‘Ÿ + π‘Ÿ π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ = 0 2 1 3 1 2 π‘Ÿ + π‘Ÿ 3 2 10 sin πœƒ π‘‘πœƒ 0 = 0 1000 100 𝑠𝑖𝑛3 πœƒ + 𝑠𝑖𝑛2 πœƒ π‘‘πœƒ 3 2 πœ‹ 2 πœ‹ 2 = 1000 3 𝑠𝑖𝑛2 πœƒ 𝑠𝑖𝑛 πœƒ π‘‘πœƒ + 50 0 0 𝑠𝑖𝑛2 πœƒ π‘‘πœƒ π‘–π‘›π‘”π‘Žπ‘‘. πœƒ = 1 + π‘Ÿ dan elemen luasnya menjadi 𝑑𝐴 = π‘Ÿ π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ. πœƒ 𝑑𝐴 22 . 𝑦 𝑑𝐴 = 𝐷 πœ‹ 2 10 sin πœƒ 𝛿 π‘Ÿ.

πœ‹ 2 10 sin πœƒ = 0 0 πœ‹ 2 10 sin πœƒ π‘Ÿ sin πœƒ 1 + π‘Ÿ π‘Ÿ π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ = 0 πœ‹ 2 0 π‘Ÿ 3 sin πœƒ + π‘Ÿ 2 sin πœƒ π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ = 0 1 4 1 π‘Ÿ sin πœƒ + π‘Ÿ 3 sin πœƒ 4 3 πœ‹ 2 10 sin πœƒ π‘‘πœƒ 0 πœ‹ 2 = 2500 0 sin5 πœƒ π‘‘πœƒ + πœ‹ 2 1000 3 sin4 πœƒ π‘‘πœƒ 0 πœ‹ 2 = 2500 βˆ’ 0 πœ‹ 2 1 βˆ’ cos πœƒ 2 2 𝑑 cos πœƒ 1000 + 3 0 1 1 βˆ’ cos 2πœƒ 2 2 2 π‘‘πœƒ = 2500 βˆ’ 0 πœ‹ 2 1 βˆ’ 2cos2 πœƒ + cos 4 πœƒ 𝑑 cos πœƒ + 1000 3 0 πœ‹ 2 1 1 1 βˆ’ cos 2πœƒ + cos2 2πœƒ π‘‘πœƒ 4 2 4 πœ‹ 2 πœ‹ 2 = 2500 βˆ’ 0 1 𝑑 cos πœƒ + 0 πœ‹ 2 πœ‹ 2 2 cos 2 πœƒ 𝑑 cos πœƒ βˆ’ 0 πœ‹ 2 cos4 πœƒ 𝑑 cos πœƒ + 1000 1 3 4 0 1 1 π‘‘πœƒ βˆ’ 4 2 cos 2πœƒ π‘‘πœƒ + 0 1 4 cos2 2πœƒ π‘‘πœƒ . 0 π‘–π‘›π‘”π‘Žπ‘‘. cos 2πœƒ = 2 cos2 πœƒ + 1 πœ‹ 2 0 = 2500 βˆ’ cos πœƒ cos 3 πœƒ +2 3 πœ‹ 2 0 cos 5 πœƒ βˆ’ 5 πœ‹ 2 0 23 .

15 3 8 16 15 3 16 4000 125πœ‹ = + = 1529. 𝑦 𝑑𝐴 = 𝐷 π‘Ÿ cos πœƒ 𝛿 π‘Ÿ.7.7. πœƒ 𝑑𝐴 = 0 0 πœ‹ 2 10 sin πœƒ π‘Ÿ cos πœƒ 1 + π‘Ÿ π‘Ÿ π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ = 0 πœ‹ 2 0 π‘Ÿ 3 cos πœƒ + π‘Ÿ 2 cos πœƒ π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ = 0 1 4 1 π‘Ÿ cos πœƒ + π‘Ÿ 3 cos πœƒ 4 3 10 sin πœƒ π‘‘πœƒ 0 24 . Momen massa keping 𝑫 terhadap sumbu 𝒀 𝑀𝑦 = 𝐷 πœ‹ 2 10 sin πœƒ π‘₯ 𝛿 π‘₯.+ 1000 1 πœƒ 3 4 πœ‹ 2 0 βˆ’ 1 sin 2πœƒ 2 4 πœ‹ 2 0 + 1 4 πœ‹ 2 0 cos 4πœƒ + 1 π‘‘πœƒ 2 = 2500 βˆ’ 0 βˆ’ 1 + 2 0 βˆ’ 1000 πœ‹ 1 1 βˆ’ 0 + 3 8 2 4 πœ‹ 2 1 1 βˆ’ 0βˆ’ 3 5 cos 4πœƒ 1 π‘‘πœƒ + 2 4 πœ‹ 2 + 0 0 πœ‹ 2 0 1 π‘‘πœƒ 2 1 πœƒ 8 πœ‹ 2 0 2 1 1000 πœ‹ 1 1 = 2500 1 βˆ’ + + + sin 4πœƒ 3 5 3 8 8 4 = 2500 + 1 1 1000 πœ‹ 1 1 πœ‹ + + + 0 + 3 5 3 8 8 8 2 5+3 1000 πœ‹ πœ‹ 8 1000 3πœ‹ = 2500 + + = 2500. 3 2 Jadi. momen massa keping 𝐷 terhadap 𝑋 adalah 1529. + .

3. 3 3 Jadi. 𝑦 = 2.5 𝑀 237.3 = = 2.= 10000 4 πœ‹ 2 sin4 πœƒ cos πœƒ π‘‘πœƒ + 0 πœ‹ 2 0 1000 3 πœ‹ 2 sin3 πœƒ cos πœƒ π‘‘πœƒ 0 πœ‹ 2 0 1 = 2500 sin5 πœƒ 5 = 500 + 1000 1 4 + sin πœƒ 3 4 250 1750 = = 583. Pusat massa keping 𝑫 adalah π‘₯ = 𝑦 = 𝑀𝑦 583. 6.7 = = 6.4 𝑀 237.9 𝑀π‘₯ 1529.5. pusat massa keping 𝐷 adalah π‘₯. momen massa keping 𝐷 terhadap π‘Œ adalah 583.4 25 .9 Jadi.3.

𝑀𝑦 𝑀π‘₯ 𝑀 Pusat massa keping 𝐷 adalah titik π‘₯. dimana πœ™ dan πœ“ kontinu pada π‘Ž. Jika dipunyai sebuah keping datar dengan rapat massa tak homogen yang berbentuk daerah 𝐷. 𝑦) pada keping 𝐷 adalah 𝛿(π‘₯. Massa. 𝑦 2 𝛿 π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 𝑀π‘₯𝑦 𝑀 26 . 𝑦 𝑑𝐴. 𝑦 𝑐 ≀ 𝑦 ≀ 𝑑. 𝑦) 𝑑𝐴. pusat massa dan momen inersia pada koordinat kartesius adalah Total massanya adalah 𝑀 = 𝑠 𝛿 π‘₯. 𝑏 atau 𝐷 = [𝑐. 𝐷 = π‘₯. 𝑀 𝐷 𝐷 . 𝑦) 𝑑𝐴. 𝑑] Rapat massa di setiap titik pada keping (π‘₯.1. 𝑦 𝑑𝐴. Jari-jari kitarannya adalah π‘Ÿ 2 = 𝑀 2. πœ™ 𝑦 ≀ π‘₯ ≀ πœ“ 𝑦 . 𝑦 π‘Ž ≀ π‘₯ ≀ 𝑏. dimana πœ™ dan πœ“ kontinu pada 𝛿(π‘₯. πœ™ π‘₯ ≀ 𝑦 ≀ πœ“ π‘₯ . π‘₯ 2 𝛿 π‘₯. 𝑦. Maka diperoleh: Massa keping 𝐷 adalah 𝑀 = Momen 𝐷 𝐷 π‘₯. 𝑦 = . 𝑧 𝑑𝑉 𝑆 Total momen inersia terhadap sumbu 𝑍 ∢ 𝑀π‘₯𝑦 = Pusat benda relatif terhadap sumbu Z adalah 𝑧 = 𝑧 𝛿 π‘₯. 𝑦) 𝑑𝐴.BAB III PENUTUP 3. Simpulan 1. 𝑦. Momen inersia terhadap sumbu 𝑋 adalah 𝐼𝑋 = Momen inersia terhadap sumbu π‘Œ adalah πΌπ‘Œ = 𝐼 Momen inersia terhadap titik O adalah 𝐼𝑂 = 𝐼𝑋 + πΌπ‘Œ . sumbu 𝑋 adalah 𝑀π‘₯ = massa keping 𝐷 terhadap 𝑦 𝛿(π‘₯. massa keping 𝐷 terhadap sumbu π‘Œ adalah 𝑀𝑦 = Momen 𝐷 π‘₯ 𝛿(π‘₯. 𝑦) di mana 𝛿 merupakan fungsi kontinu pada D.

𝑧). 𝑦. 𝑦. 𝑧 𝑑𝑉 𝛿 π‘₯. 𝑧 𝑑𝑉 π‘Ÿ cos πœƒ. 𝑦. 𝑧). π‘₯.πœƒ) 𝑓 πœƒ1 π‘Ÿ1 (πœƒ) 𝑔1 (π‘Ÿ. 𝑧 π‘Ÿ 𝑑𝑧 π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ 𝑀π‘₯𝑦 𝑀 𝑆 Pusat benda relatif terhadap sumbu 𝑍 adalah 𝑧 = Momen inersia terhadap bidang π‘‹π‘‚π‘Œ adalah 𝐼𝑧 = 𝑦 2 ) 𝛿 π‘₯. 𝑦. 𝑀𝑦𝑧 . 𝑦. 𝑀𝑦𝑧 . 𝑧 𝑑π‘₯𝑑𝑦𝑑𝑧 Secara serupa . 𝑀𝑦𝑧 . Massa. π‘₯. 𝑦. Massa. 𝑧)𝜌2 sin πœ™ π‘‘πœŒ π‘‘πœƒ π‘‘πœ™ 𝑀π‘₯𝑦 𝑀 Pusat benda relatif terhadap sumbu 𝑍 adalah 𝑧 = Momen inersia terhadap bidang π‘‹π‘‚π‘Œ adalah 𝐼𝑧 = 𝑆 (π‘₯2 + 𝑦2 )𝛿(π‘₯. 𝑦. π‘₯. 𝑦. pusat massa dan momen inersia pada koordinat silinder adalah Total massanya adalah 𝑀 = = πœƒ2 π‘Ÿ2 (πœƒ) 𝑔2 (π‘Ÿ. 4. 𝐼𝑦 selanjutnya pusat massa benda pejal adalah (π‘₯. 𝐼𝑦 selanjutnya pusat massa benda pejal adalah (π‘₯. 𝑧 𝜌2 sin πœ™ π‘‘πœŒ π‘‘πœƒ π‘‘πœ™ Total momen inersia terhadap sumbu Z adalah 𝑀π‘₯𝑦 = 𝑆 𝜌 π‘π‘œπ‘ πœ™ 𝛿(π‘₯. dapat diperoleh 𝑀π‘₯𝑧 . 𝑦. 𝐼π‘₯ . π‘Ÿ sin πœƒ . pusat massa dan momen inersia pada koordinat bola adalah Total massanya adalah 𝑀 = = 𝑠 𝑠 𝛿 π‘₯. 27 . 𝑧). dapat diperoleh 𝑀π‘₯𝑧 . 𝑧 π‘Ÿ 𝑑𝑧 π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ Total momen inersia terhadap sumbu Z adalah 𝑀π‘₯𝑦 = 𝑆 𝑧 𝛿 π‘₯. 𝑧 π‘Ÿ 𝑑𝑧 π‘‘π‘Ÿ π‘‘πœƒ (π‘₯ 2 + Secara serupa . dapat diperoleh 𝑀π‘₯𝑧 . 𝐼𝑦 selanjutnya pusat massa benda pejal adalah (π‘₯. 𝐼π‘₯ .Momen inersia terhadap bidang π‘‹π‘‚π‘Œ adalah 𝐼𝑧 = 𝑆 π‘₯ 2 + 𝑦 2 𝛿 π‘₯. 3. 𝑦. 𝑦. 𝑦. 𝑧) 𝜌2 sin πœ™ π‘‘πœŒ π‘‘πœƒ π‘‘πœ™ Secara serupa .πœƒ) 𝑠 𝛿 π‘₯. 𝐼π‘₯ . 𝑦. 𝑦.

Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. 28 . Koko. Stewart. 1999. dkk. Kalkulus Integra Lipat Dua. Jakarta: Erlangga Sugiman. James. Purcell. Edwin. Kalkulus Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.DAFTAR PUSTAKA J. 2004. Bandung: Institut Teknologi Bandung. 2003. Martono. Kalkulus Lanjut. Kalkulus Jilid 2. 1990.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful