Kajian Bulanan

EDISI 09 - Januari 2008

LINGKARAN SURVEI INDONESIA

Faktor Etnis dalam Pilkada

D
Faktor Etnis dalam Pilkada Pilkada memberi kesempatan kepada kita untuk melihat lebih dalam kaitan ant ara et nis dengan perilaku pemilih. Hlm. 1 Politik Etnisitas dan Politik Identitas dalam Politik Seberapa penting etnisitas dan identitas yang bersumber dari kategori kelompok etnis mewarnai kontestasi demokrasi? Hlm. 23

I INDONESIA, masih terjadi perdebatan di kalangan akademisi dan pengamat apakah lat ar belakang et nis kandidat mempengaruhi pilihan seseorang pada partai atau kandidat. Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk memper banyak k ajian mengenai kaitan antara etnis dan perilaku pemilih. Objek yang dikaji adalah pemilihan kepala daerah (Pilkada). Arena Pilkada memberi kesempatan kepada kita untuk melihat lebih dalam kaitan antara etnis dengan per ilaku pemilih. Dar i banyak Pilkada yang telah dilangsungkan, tulisan ini memfokuskan pada Pilkada di tiga wilayah: Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Sulawesi Selatan. Tiga wilayah tersebut diambil dengan pertimbangan wilayah tersebut mempunyai perimbangan etnis—ada dua atau tiga suku (etnis) yang dominan. Di wilayah tersebut, muncul calon yang berasal dari etnis berlainan. Dengan kondisi seperti itu akan dilihat apakah pemilih cenderung untuk memilih kandidat yang mempunyai etnis sama dengan dirinya. Apakah kandidat yang kebetulan berasal dar i etnis mayor it as mendapat k eunt ungan dan ber usaha “mengeksploitasi” kelebihan itu dalam menarik sebanyak-banyaknya pemilih.Aspek etnis tampaknya tidak boleh dilupakan perannya dalam Pilkada. Latar belakang etnis kandidat sedikit banyak mempengaruhi pilihan pemilih. Tulisan ini menggambarkan posisi etnis agak berbeda antara yang terjadi di Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung. Dalam Pilkada Kalimantan Barat, faktor etnis tampak memainkan peranan penting. Pemilih cenderung memilih kandidat yang berasal dari etnis yang sama. Peran ini berkurang dalam pelaksanaan Pilkada di Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung. Di dua provinsi ini, sentimen etnis pemilih relatif kecil. Pemilih bisa menerima kehadiran kepala daerah yang berbeda dengan etnis di luar dirinya. Bahkan di provinsi Bangka Belitung, terlihat cukup besarnya pemilih dari etnis Melayu memilih kandidat yang berasal dari latar belakang non Melayu.

www.lsi.co.id

2

LINGKARAN SUR VEI INDONESIA

APAKAH etnis kandidat mempengaruhi pilihan pemilih? Apakah pemilih lebih cenderung memilih kandidat atau partai yang sama dengan etnis mereka? Pertanyaan ini menjadi salah satu bahan kajian dalam studi perilaku pemilih. Teori-teori dalam lapangan sosiologis menyebutkan faktor etnis adalah salah satu variabel penting yang bisa menjelaskan pilihan seseorang pada kandidat atau partai tertentu. Kesamaan ras dan etnik antara pemilih dan partai atau calon pejabat publik cenderung mempengaruhi perilaku memilih seseorang1 Di Indonesia, masih terjadi perdebatan apakah latar belakang etnis kandidat me mpeng aruhi pilihan seseorang. Yang menarik, ada dua studi yang dilakukan dengan skala nasional, dan menghasilkan temuan yang berbeda perihal sejauh mana etnis berpengaruh terhadap perilaku pemilih. Studi pertama dilakukan oleh Ananta (et.al ). 2 Studi ini menunjukkan etnis adalah salah satu penjelas dalam perilaku pemilih di Indonesia. Ada partai yang diidentikkan sebagai Jawa dan partai luar Jawa. Besar kecilnya kontribusi variabel etnis dalam menjelaskan pilihan pemilih tergantung pada partai masingmasing. Temuan Ananta (et.al) menunjukkan hubungan positif yang kuat pada etnis Jawa terdapat pada PKB dan PDIP. Ini mengukuhkan pandangan bahwa kedua partai ini memang partai Jawa. Wilayah yang banyak suku Jawanya punya kecenderungan untuk memilih kedua partai. Sebaliknya, PPP dan Golkar punya hubungan negatif dengan suku non Jawa. Ini juga mengukuhkan kedua partai ini sebagai partai yang selama ini dikenal sebagai partai non Jawa. Ananta (et.al) menyimpulkan Indonesia secara relatif terdapat kesetiaan etnis (ethnic loyalty) yang relatif tinggi, dan partai politik di Indonesia dipengaruhi oleh etnisitas. Studi kedua dilakukan oleh Liddle dan Mujani.3 Penelitian Liddle dan Mujani menghasilkan temuan sebaliknya. Aspek etnis bukanlah variabel penting dalam menjelaskan pilihan seseorang pada partai atau kandidat. Tidak ada perbedaan yang tegas pilihan seseorang pada partai

atau kandidat berdasarkan pada etnis mereka seperti pada temuan Ananta (et.al ). Pemilih yang berasal dari etnis Jawa atau non Jawa tidak terlihat punya perbedaan pilihan partai atau kandidat presiden. Mengapa ada perbedaan temuan? Penulis berpendapat perbedaan metode dan data yang dipakai oleh kedua studi turut menentukan perbedaan temuan. Studi Ananta (et.al) menggunakan data agregat—dalam hal ini data etnis di masing-masing kabupaten / kota dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan data perolehan suara di masingmasing kabupaten / kota dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).4 Metode dan data yang dipakai Ananta (et.al ) ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Liddle dan Mujani. Liddle dan Mujani menggunakan survei dengan sampel responden yang diambil secara representatif dan menggambarkan suara pemilih di Indonesia. Responden ditanya etnis (suku) mereka dan ditanya preferensi partai dan kandidat. Dari sini, Liddle dan Mujani sampai pada kesimpulan tidak ada perbedaan yang tajam antara preferensi pemilih berdasarkan etnis. Kedua metode ini punya kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan sedikit banyak menentukan perbedaan temuan.5 Temuan Ananta (et.al ) ataupun Liddle dan Mujani itu perlu diperkaya dengan lebih banyak penelitian lain yang mengkaji kaitan antara etnisitas dan perilaku pemilih. Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk memperbanyak kajian mengenai kaitan antara etnis dan perilaku pemilih. Objek yang d ikaji ad alah pem ilihan kepala daerah (Pilkada). Arena Pilkada memberi kesempatan kepada kita untuk melihat lebih dalam kaitan antara etnis dengan perilaku pemilih. Berbeda dengan pemilihan legislatif atau presiden (nasional), kandidat yang maju dalam Pilkada kemungkinan lebih banyak menggunakan isu dan sentimen etnis. Di sejumah Pilkada misalnya, kita kerap melihat munculnya isu seperti “putra daerah”, “calon pendatang”, “calon penduduk asli”, dan sebagainya. Ada sejumlah alasan mengapa isu etnis lebih mungkin muncul dalam Pilkada dibandingkan dengan pemilihan nasional

1

2

3

4

5

Lihat Carol K Sigelman, Lee Sigelman, Barbara J. Walkosz dan Michael Nitz,” Black Candidates, White Voters: Understanding Racial Bias in Political Perception,” Am erican Journal of Political Science, Vol. 39. No.1. 1995. Aris Ananta, Evi Nurvidya Arifin dan Leo Suryadinata, Indonesian Electoral Behavior: A Statistical Perspective, Indonesia’s Population Series No. 7, Singapore, Institute of Southeast Asian Studies, 2004. Lihat William Liddle dan Saiful Mujani, The Power of Leadership: Explaining Voting Behavior in the New Indonesian Dem ocracy, Laporan penelitian, 2003. Temuan ini diperkuat dengan studi selanjutnya yang diilakukan oleh William Liddle dan Saiful Mujani. Lihat William Liddle dan Saiful Mujani, Party and Religion: Explaining Voting Behavior in Indonesia, Laporan penelitian, 2007. Ananta (et.al) menghitung dan mengidentifikasi etnis dominan di suatu wilayah dan membandingkannya dengan perolehan partai di suatu wilayah. Dengan cara ini, mereka sampai pada kesimpulan partai-partai yang punya afiliasi kuat dengan etnis Jawa (seperti PKB, PDIP) mendapat dukungan yang kuat juga di wilayah di mana etnis Jawa dominan. Sebaliknya partai yang punya afiliasi kuat dengan etnis non Jawa (seperti PPP, PAN, PBB) mendapat dukungan di wilayah dengan etnis non Jawa. Lebih lanjut lihat dalam Eriyanto, “Partai Politik dan Peta Studi Perilaku Pemilih”, Kajian Bulanan Lingkaran Survei Indonesia, Edisi No. 6, Oktober 2007.

KAJ IAN BULANAN

3

seperti Pemilu Legislatif dan presiden. Pertama, pertarungan kandidat dalam Pilkada umumnya bersifat lokal. Banyak kandidat yang maju mewakili kelompok tertentu. Ini menyebabkan kandidat yang kebetulan berasal atau didukung oleh kelompok mayoritas menggunakan isu dan se ntime n etnis untuk m endap atkan d ukung an dari pemilih. Ini berbeda dengan Pemilu di tingkat nasional di mana kandidat yang maju justru ingin dikesankan diterima oleh semua kelompok atau golongan. Kedua, isu yang diangkat dalam Pilkada umumnya bersifat lokal, sementara isu dalam Pemilu nasional umumnya adalah isu umum—seperti soal pendidikan, hubungan luar negeri, dan sebagainya. Kandidat yang maju dalam Pemilu nasional (seperti pemilihan presiden) tidak berbicara mengenai kondisi spesifik di suatu wilayah, tetapi lebih kepada program dan upaya yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah nasional.

Dari banyak Pilkada yang telah dilangsungkan, penulis mengambil studi kasus Pilkada di tiga wilayah: Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Sulawesi Selatan. Tiga wilayah tersebut diambil dengan dua pertimbangan. Pertama, wilayah tersebut mempunyai perimbangan etnis. Ada dua atau tiga suku (etnis) yang dominan. Di Kalimantan Barat misalnya, paling tidak ada tiga etnis yang dominan yakni Melayu, Dayak dan Tionghoa. Di Provinsi Bangka Belitung, ada dua etnis penting, yakni Melayu dan Tiongho a. Sementara di Pro vinsi Sulawesi Selatan, terdapat etnis Makasar dan Bugis. Kedua, di wilayah tersebut, muncul calon yang berasal dari etnis berlainan. Dengan kondisi seperti itu akan dilihat apakah pemilih cenderung untuk memilih kandidat yang mempunyai etnis sama dengan dirinya. Apakah kandidat yang kebetulan berasal dari etnis mayoritas mendapat keuntungan dan berusaha “mengeksploitasi” kelebihan itu dalam menarik sebanyak-banyaknya pemilih.

Tabel 1: Komposisi Etnis Penduduk Provinsi Kalimantan Barat
Et nis J um la h Persen ( % )

Lainnya Sambas Tionghoa Jawa Kendayan, Kenayan Melayu Darat Madura Pesaguan Bugis Sunda Banjar Minangkabau Betawi Banten Total

1.161.601 444.929 352.937 341.173 292.390 280.107 275.914 203.612 178.933 120.846 45.064 24.117 7.493 1.849 1.454 3.732.419

31.12 11.92 9.46 9.14 7.83 7.50 7.39 5.46 4.79 3.24 1.21 0.65 0.20 0.05 0.04 100.00

Sumber: Leo Suryadinata, Evi Nurvidya Arifin, Aris Ananta, Indonesia’s Population : Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape, Sinagpore, ISEAS, 2003. Catatan penulis: Dalam publikasi resmi yang dibuat oleh BPS, tidak tercantum etnis Dayak di Kalimantan Barat, seperti terlihat dalam tabel di atas. Yang muncul justru etnis “lainnya”. Fakta ini telah menjadi perdebatan hangat di Kalimantan Barat dan memancing sejumlah protes dan demonstrasi. BPS mengidentifikasi etnis termasuk sub etnis dari semua provinsi di Indonesia. Akan tetapi dalam publikasi resmi, BPS hanya mencantumkan delapan etnis besar saja. Etnis-etnis lain di luar etnis besar itu dikategorikan sebagai “etnis lainnya”. Karena itu, dalam tabel di atas kategori etnis Dayak tidak tercantum. Karena alasan itu pula, publikasi resmi BPS tidak secara jelas menunjukkan jumlah etnis Melayu dan Dayak

Se me ntara d i wilayah-wilayah d eng an pe nd ud uk mayoritas Islam. 48.62% dan Kristen sebanyak 34. Menurut Sensus Penduduk tahun 2000. dan keduanya bukan berasal dari suku Melayu. Lihat misalnya dalam tulisan “Politik Agama Penyebab “Incumbent” Tumbang di Pilgub Kalbar”. Landak.41% dan lainnya 1. Tetapi justru pasangan ini yang akhirnya memenangkan Pilkada Provinsi Kalimantan Barat. yakni Melayu. Pasangan Akil Mukhtar (anggta DPR RI) dan AR Mercer (Ketua Perkumpulan Pancur Kasih) adalah gabungan antara calon dari Melayu dan Dayak.21%. Pasangan ini juga perpaduan antara calon dari Melayu dan Dayak. Indonesia’s Population : Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape.6 Meski Islam merupakan agama mayoritas. Se mentara pasangan CornelisChristiandy Sanjaya melenggang sendirian di wilayah yang menjadi basis pemilih Kristen.4 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA Pilkada Kalimantan Barat Provinsi Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi multi etnis di Indonesia. . Aris Ananta. Hal yang sama juga dilakukan oleh pasangan Usman Djafar (incumbent gubernur) dengan LH Kadir (PNS dengan pangkat terakhir Asisten I Setda Provinsi Kalimantan Barat). 8 Analisis ini didasarkan pada fakta kemenangan mutlak Cornelis. Hindu 0. dan dimenangkan oleh pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya dengan perolehan suara 43. Perpaduan yang mirip juga terdapat pada pasangan Oesman Sapta (pengusaha) dan Ignasius Lyong (mantan Asisten I Setda Provinsi Kalimantan Barat). P aling tidak ada tiga etnis dominan di Kalimantan Barat. Usman Djafar. Keduanya beragama Kristen. penduduk Kalimantan Barat juga relatif beragam dalam hal agama yang dianut. Pilkada diikuti oleh 4 pasangan calon. Tabel 2: Komposisi Etnis Kandidat Pasangan Gubernur dan Wakil Gubenur Provinsi Kalimantan Barat No Pasangan Kandidat Et nis Ag am a 1 Akil Mochtar Anselmus Robertus Mercer Melayu Dayak Melayu Dayak Bugis-Padang Dayak Dayak Tionghoa Islam Kristen Islam Kristen Islam Kristen Kristen Kristen 2 Usman Djafar LH Kadir 3 Oesman Sapta Ignasius Lyong 4 Cornelis Christiandy Sanjaya 6 7 8 Dikutip dari Leo Suryadinata. ISEAS. Yang menarik adalah pasangan Cornelis (sebelumnya Bupati Landak) dan Christiandy Sanjaya (Kepala SMK Immanuel Pontianak). hal.67%. op.7 Pilkada Kalimantan Barat sendiri dilangsungan pada 15 November 2007. dan Oesman SaptaIgnasius Lyong) terpecah. Evi Nurvidya Arifin dan Leo Suryadinata. Pilkada di Kalimantan Barat menarik karena calon yang maju mencerminkan keragaman latar belakang etnis (Lihat Tabel 2). Di sejumlah kabupaten (seperti Bengkayang.LH Kadir. Aris Ananta. S elain ke ragaman etnis.01%. Pasangan ini jika dilihat merupakan perpaduan yang “tidak lazim”. Perpaduan ini tampaknya juga ingin mengakomodasi keragaman agama di Kalimantan Barat. penduduk di Kalimantan Barat yang beragama Islam sejumlah 57. jumlah penduduk beragama Kristen juga cukup besar di Kalimantan Barat. Sinagpore. Sanggau dan Sintang) agama Islam justru minoritas. Ketiga pasangan di atas. Tiga pasangan lain bertarung di wilayah-wilayah yang menjadi basis dari pemilih Is lam dan Melayu. 27 November 2007. hal. Sinar Harapan. Banyak analisis yang menyebutkan.Christiandy Sanjaya di kabupaten dengan mayoritas penduduk Kris ten—sepe rti Landak. Persamaan lain dari ketiga pasangan di atas adalah perpaduan antara calon dengan latar belakang Islam dan Kristen—dimana calon gubernur beragama Islam dan calon wakil gubernur Kristen. 2003. Evi Nurvidya Arifin. Budha 6. 180. perpaduan Cornelis-Christiandy Sanjaya yang berasal d ari Dayak-Tionghoa dan sama-sama Kristen justru menguntungkan. Dayak dan Tio ngho a (L ihat Tab el 1 ). suara untuk tiga pasangan (Akil MochtarAR Mercer. Sangau dan Bengkayang.74%. Karena itu paket gubernur dan wakil gubernur yang diusung umumnya terdiri dari kandidat dengan latar belakang suku yang berbeda. merupakan perpaduan antara Melayu dengan Dayak.cit. Calon-calon yang maju dalam Pilkada tampakya memperhitungkan keragaman etnis dari pemilih di Kalimantan Barat.

tiga kandidat lain dengan latar belakang Islam harus bersaing. Di luar kesalahan dalam penarikan sampel. posisi Cornelis sebagai satu-satunya kandidat gubernur beragama Kristen justru me ng ung tungkan d irinya d alam me ndulang suara.46 3.KAJ IAN BULANAN 5 Tabel 3: Perbandingan Sampel Survei dan Komposisi Etnis Penduduk Provinsi Kalimantan Barat Et nis Sampel (N= 440) Sur vei Bulan April 2007 (% ) Sur vei Bulan Mei 2007 (% ) Populasi / BPS (% ) Melayu Dayak Tionghoa Jawa Madura Bugis Lainnya 41. di kalangan pemilih Dayak Cornelis mendapat dukungan mayoritas. Grafik 2-4 menyajikan data apakah responden bersedia atau tidak jika dipimpin oleh gubernur dari agama atau etnis tertentu. Separoh pemilih yang menjadi responden me nyatakan tidak bisa mene rima jikalau kepala daerah berasal dari etnis Dayak dan lebih dari separoh menolak kepala daerah dari etnis Tonghoa.9 10. Pemilih Melayu juga cenderung untuk memilih kandidat dari etnis Melayu. Sementara dari grafik 4 terlihat. . Survei ini dilakukan dengan teknik penarikan sampel yang mencerminkan po pulasi dan haterog enitas etnis di Kalimantan Barat (Lihat Tabel 3). Responden juga ditanyakan apakah bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh kandidat yang berasal dari suku berbeda dengan dirinya. survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia ini menunjukkan. Catatan: Publikasi resmi BPS tidak secara jelas menunjukkan jumlah etnis Melayu dan Dayak (lihat Tabel 1). dan dalam jumlah cukup besar menolak kandidat dari etnis Dayak dan Tionghoa.1 9.2 5. Sebanyak 56. hampir semuanya memilih Cornelis.4% responden menyatakan akan memperhatikan latar bekakang agama kandidat dan 44.1 4. dan apakah bersedia juga jika dipimpin oleh kandidat dengan latar belakang agama yang berbeda dengan dirinya. meski tidak mendapat dukungan dari pemilih etnis non Dayak dan Islam.3% menjadikan etnis kandidat sebagai pertimbangan dalam memilih calon.24 22. sebenarnya posisi pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya agak terjepit. Grafik 5 menunjukkan. Jika Cornelis melenggang sendirian di kalangan pemilih Kristen.8% pada tingkat kepercayaan 95%). pemilih beragama Islam dalam jumlah cukup besar (separoh) tidak bisa menerima jika kepala daerah beragama Kristen. Grafik 6 memperlihatkan preferensi pemilih menurut agama. Data pada Grafik 2-4 menunjukkan masih cukup kuatnya sentimen etnis di kalangan pemilih di Kalimantan Barat. Grafik 1 menunjukkan baik agama ataupun etnis kandidat menjadi pertimbangan penting.16 Keterangan : Data diolah dari tracking survey yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di Pilkada Kalimantan Barat. Yang menarik. Penulis menduga kemenangan Cornelis banyak disumbang oleh pemilih Kristen ini yang di Kalimantan Barat jumlahnya cukup besar—34. pas angan ini mend apat dukungan sang at kuat d ari pemilih dari suku Dayak dan Kristen.7 3. Wawancara dilakukan secara langsung (face to face interview).01%.3 34.8 1. Jumlah sampel untuk semua survei (April dan Mei 2007) sebanyak 440 responden (dengan sampling error plus minus 4. Dari titik ini. pemilih dari etnis Malayu. Populasi survei adalah semua pemilih di Bangka Belitung Kalimantan Barat. penulis menggunaan data survei preferensi pemilih di Kalimantan Barat yang pernah dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia. masih kuatnya sentimen etnis dalam pemilihan pejabat publik di Kalimantan Barat.46 9. Pe milih I slam ce nde rung akan me milih kand id at beragama Islam dan menolak kandidat yang beragama Kristen.6 1. Sementara di kalangan pemilih Melayu. Pemilih Islam sangat kecil yang memilih Cornelis. Tetapi mengapa pasangan ini akhirnya bisa menang? Hal ini karena. Untuk menguji argumentasi tersebut. dukungan terpecah di antara calon dengan latar belakang etnis Melayu—Usman Djafar dan Akil Mukhtar. Dari grafik ini terlihat. yakni Multistage Random Sampling. dimungkinkan adanya kesalahan non sampling.9 6. Semua survei dilakukan dengan menggunakan metode penarikan sampel yang sama. Sentimen etnis ini diukur dengan menanyakan kepada responden apakah menurut mereka agama dan etnis kandidat merupakan faktor yang diperhatikan ketika memilih.9 2.4 3. Dari grafik 3 terlihat.3 3 43.6 37. Tetapi dari pemilih Kristen. dalam jumlah cukup besar kurang bisa menerima apabila kepala daerah berasal dari etnis di luar Melayu.14 5.

0% 33. Untuk kurun waktu yang lama. kandidat yang menang adalah kandidat beragama Islam (Zulkarnaen Damanik)—didukung oleh koalisi PNBK. Semua calon kepala daerah (terkecuali Zulkarnaen Damanik) berlatar belakang Kristen—John Hugo Silalahi.3% 45. berada pada kisaran suara 21-25%. Zulkarnaen Damanik berhasil memenangkan Pilkada. Q1: Apakah latar belakang agama calon kepala daerah. Dalam kampanyenya. Cornelis tidak segan menggandeng kalangan gereja dan ketua adat. mempermudah izin mendiri- kan gereja.7% Apakah agama kandidat menjadi dasar pertimbangan ketika memilih? Apakah etnis kandidat menjadi dasar pertimbangan ketika memilih? Tidak Tidak tahu/Tidak jawab Ya Grafik 1: Penilaian apakah Agama dan Etnis Kandidat Menjadi Pertimbangan Pemilih (Kalimantan Barat) Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (April 2007). PKPB. jabatan kepala daerah di kabupaten ini dikuasai oleh pejabat yang beragama Kristen. . Hal ini menyebabkan suara dari pemilih Kristen terpecah ke 3 calon lain.6 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA 56. Ia misalnya menjanjikan perlindungan maksimal kepada masyarakat marginal. terpinggirkan. PPP.5% 10.9 Isu ini ternyata cukup ampuh dalam menarik pemilih beragama Kristen. kemenangan Zulkarnaen Damanik banyak “dibantu” oleh banyaknya kehadiran calon dari kalangan Kristen. Fenomena Pilkada di Kalimantan Barat ini mungkin bisa dipersamakan dengan apa yang terjadi pada Pilkada Simalungun (Sumatera Utara). Tetapi dalam Pilkada 12 September 2005. Ini dibuktikan dengan perolehan suara kandidat yang terpecah. PAN. memberikan perhatian maksimal kepada masyarakat di pedalaman. 27 November 2007. Di wilayah-wilayah tersebut.1 0 9 10 Lihat Sinar Harapan. Materi kampanye Cornelis juga banyak menjanjikan perlindungan kepada warga etnis Dayak dan pemeluk Kristen. Pilkada Simalungun itu sendiri diikuti oleh 4 pasangan calon.77%. Sementara suara untuk Zulkarnaen Damanik berasal dari kantong kecamatan yang mayoritas penduduknya beragama Islam.2% 10. Ibu/Bapak pakai sebagai dasar pertimbangan dalam memilih calon kepala daerah? Kondisi ini tampaknya disadari oleh Cornelis. PKS. Radjisten Sitorus. membuat perimbangan jabatan struktural antara kelompok Islam dan kristiani di Kantor Gubernur Kalimantan Barat.4% 44. Banyak analisis yang menyebutkan. Ini dibuktikan dari kemenangan telak Cornelis-Christiandy di tiga kabupaten pemilih mayoritas kristiani. menghapus dominasi kelompok mayoritas. Sejak awal Cornelis memang berharap pada suara dari pemilih etnis Dayak dan pemilih Kristen. Zulkarnaen Damanik nyaris tanpa saingan. Dengan mengantongi suara 38. minoritas. N= 440. Ibu/Bapak pakai sebagai dasar pertimbangan dalam memilih calon kepala daerah? Q2: Apakah latar belakang suku (etnis) calon kepala daerah. dan Yan Santoso Purba. pemerataan pembangunan.

2% 71.8% Bersedia dipimpin oleh gubernur dari agama Islam Bersedia dipimpin oleh gubernur dari agama Kristen Bersedia Bersedia dipimpin oleh gubernur dari suku Melayu Tidak bersedia Bersedia dipimpin oleh gubernur dari suku Dayak Bersedia dipimpin oleh gubernur dari suku Tionghoa Grafik 2: Apakah Bersedia Atau Tidak Dimpimpin Oleh Kepala Dae rah Dari Etnis /Agama Tertentu (Kalimantan Barat) Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (April 2007).1% 28. N= 440.KAJ IAN BULANAN 7 92.9% 49.5% 64.7% 7.5% 50.2% 5. Q1: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang beragama Islam ? Q2: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh GUBERNUR yang beragama Kristen ? Q3: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Melayu ? Q4: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Dayak ? Q5: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin gubernur yang berasal dari suku Tionghoa? .8% 7.3% 92.

Q1: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Melayu ? Q2: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Dayak ? Q3: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Tionghoa? .8% 16.8% 0% Prosentase (%) yang tidak bersedia dipimpin gubernur dari etnis Tionghoa Prosentase (%) yang tidak bersedia dipimpin gubernur dari etnis Dayak Prosentase (%) yang tidak bersedia dipimpin gubernur dari etnis Melayu Melayu Dayak Tionghoa Lainnya Grafik 3: Prosentase Menolak / Tidak Bersedia Dipimpin Oleh Kepala Daerah Dari Suku tertentu Menurut Etnis Responden ( Kalimantan Barat) Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (April 2007).2% 46.0% 3.1% 3.7% 3.8% 1.0% 9. N= 440.5% 35.8% 52.3% 39.8 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA 69.

0% Prosentase (%) yang tidak bersedia dipimpin gubernur yang beragama Islam Islam Kristen yang tidak bersedia dipimpin gubernur yang beragama Kristen Lainnya (Hindu. Q1: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang beragama Islam ? Q2: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh Gubernur yang beragama Kristen ? .0% 18.8% Prosentase (%) 0. Budha.KAJ IAN BULANAN 9 59.6% 4. Tionghoa.1% 0. N= 440. selainnya) Grafik 4: Prosentase Me nolak / Tidak Bersedia Dipimpin Ole h Kepala Daerah Dari Agama tertentu Menurut Agama Responden ( Kalimantan Barat) Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (April 2007).0% 0.

3% 24.5% 11.2% 7.1% 27. mana yang ibu/bapak pilih? .9% Melayu Dayak 17.9% 17.6% Tionghoa Lainnya Akil Mukhtar Cornelis Oesman Sapta Odang Usman Djafar Tidak tahu/Rahasia/Belum memutuskan Grafik 5: Preferensi Pem ilih Menurut Etnis (Suku) Dalam Pilkada Kalimantan Barat Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Mei 2007).3% 0.5% 23.8% 5.10 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA 19.2% 28.9% 56.7% 17. Ada 4 orang calon yang akan maju sebagai calon Gubernur.6% 29.8% 47. Dari 4 nama berikut.6% 14.8% 3. Q: Seandainya Pemilihan Kepala Daerah Kalimantan Barat dilakukan hari ini.6% 1.9% 10.7% 33.

8% 2.3% 62. Q: Seandainya Pemilihan Kepala Daerah Kalimantan Barat dilakukan hari ini.2% 1. Konghucu) Islam Kristen (Protestan/Katolik) Tidak tahu/Rahasia/Belum memutuskan Usman Djafar Oesman Sapta Odang Cornelis Akil Mukhtar Grafik 6: Preferensi Pemilih Menurut Agama Dalam Pilkada Kalimantan Barat Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Mei 2007).5% 16.9% 12. Dari 4 nama berikut. mana yang ibu/bapak pilih? .5% Lainnya (Hindu.9% 24. Budha.3% 28.2% 12.5% 0% 12.5% 31.2% 55.KAJ IAN BULANAN 11 21.2% 9.0% 9. Ada 4 orang calon yang akan maju sebagai calon Gubernur.

43 9.688 93.10 0.183 8. Dari beragam etnis yang ada di Sulawesi Selatan. Sinjai. Barru.1978).53%. Barru.982.72 1. Jeneponto. dan Maros yang campuran. Meski isu etnis tidak sekuat seperti dalam Pilkada Kalimantan Barat. Aris Ananta. Aziz Qahhar Mudzakkar-Mubyl Handaling.440 1. Hingga tulisan ini dimuat. para Gubernur Sulsel selama ini semuanya berasal dari suku Bugis. Dalam peta geografis. Ajatappareng. Indonesia’s Population : Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape.923 41. yakni Ahmad Lamo (1966. Kabupaten Gowa. Parepare.369 475.05 0. yakni Amin SyamMansyur Ramly.10 4. Andi Oddang (1978-1983). ZB Palaguna (1993-2003).294 4.505 318. Calon gubernur Syahrul Yasin Limbo (etnis Makasar) menggandeng calon wakil gubernur Arifin Nu’mang yang berasal dari Sidrap.05 0. Soppeng.02 7. .12 Lima gubernur sebelumnya dipilih melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi. terdapat dua etnis besar. Evi Nurvidya Arifin. dan Bone. Wajo.00 Sumber: Leo Suryadinata.273 121.20 0.90 25.657 7.9%) dan etnis Makasar (25.07 0. dan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang. Bulukumba. Melihat asal-usulnya. 5 November 2007. Belum satu pun yang berasal dari suku / etnis Makassar. yaitu dari Enrekang. Ia menggandeng Mansyur Ramly sebagai calon wakil gubernur yang berasal dari etnis Makasar.187 702.56 1. Etnis lain yang cukup menonjol adalah Toraja ( Lihat Tabel 4). Takalar.11 Pilkada Sulawesi Selatan dilakukan pada 5 November 2005 dan diikuti tiga pasang kandidat. Pangkep. W ajo. calon yang maju dalam Pilkada Sulawesi Selatan juga tampak mengakomodasi keragaman etnis di Sulawesi Selatan. masih belum ada keputusan tetap mengenai pemenang Pilkada.00 100. serta Enrekang.951 596. Kompas. basis tradisional dari etnis Makasar adalah Kabupaten / Kota Makasar.657 3. Tabel 4: Komposisi Etnis Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Et nis J um la h Persen ( % ) Bugis Makasar Toraja Lainnya Mandar Luwu Jawa Duri Selayar Sunda Madura Minangkabau Betawi Banjar Banten Total 3.43%).08 2.06 0. Soppeng. dan Amin Syam (2003-2008). 11 12 “Etnik. ISEAS. 2003. Tetapi Mahkamah Agung meminta dilakukannya Pilkada ulang di 4 kabupaten.12 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA Pilkada Sulawesi Selatan Provinsi Sulawesi Selatan juga merupakan provinsi multi etnis.266. Adapun wilayah orang Bugis di bagian utara meliputi Kabupaten Bone. Semula KPUD Sulawesi Selatan menetapkan pasangan pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang sebagai pemenang Pilkada dengan perolehan 39.065 3. Sinagpore.794.65 6. Amien Syam berasal dari etnis Bugis. Genetik dan Program di Sulsel”.788 4.134 212. Pinrang. serta Selayar. A Amiruddin (1983-1993). salah satu basis komunitas Bugis.145 5. yakni etnis Bugis (41.

6 10. Luwu Utara. Pemilih di Sulawesi Selatan bisa menerima ( tidak menjadi masalah).54%.72 10. DI wilayah dimana selama ini dikenal sebagai basis etnis Bugis/ Makasar. Sementara pasangan Amien Syam-Mansyur Ramli juga unggul telak di kabupaten / kota yang menjadi wilayah komunitas etnis Bugis. Selayar. Sementara di kabupaten / kota basis etnis Bugis . Selengkapnya lihat Grafik 10. Luwu Timur. Tabel 5 memperlihatkan. Maros. Sinjai.75 Keterangan : Data diolah dari tracking survey yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di Pilkada Sulawesi Selatan.7 4. dimungkinkan adanya kesalahan non sampling.46 persen.2 10. suara untuk Syahrul Yasin Limpo sangat dominan. Dari grafik ini terlihat. Di Talakar.6%.90 25. Pangkep. Di Gowa. Ini terlihat dari peta dukungan dari kandidat Amien Syam (Bugis) dan Syahrul Yasin Limpo ( Makasar).3 0. Sentimen etnis di Provinsi Sulawesi Selatan. Takalar. . Di luar kesalahan dalam penarikan sampel. LSI mengadakan tracking survey sebanyak 6 kali menjelang Pilkada. Pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang menang di 10 daerah yakni Bulukumba. Bone. kalaupun kepala daerah berasal dari etnis yang berbeda dengan mereka. penulis menggunakan data survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Populasi survei adalah semua pemilih di Sulawesi Selatan.3%. Dari hasil rekapitulasi perhitungan suara juga terlihat.KAJ IAN BULANAN 13 Tabel 5: Perbandingan Sampel Survei dan Komposisi Etnis Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Et nis Survei Juli 2007 (% ) Sampel (N= 440) Sur vei Oktober 2007 (% ) Populasi / BPS (% ) Bugis Makasar Toraja Mandar Luwu Jawa Lainnya 44.9 24.8% pada tingkat kepercayaan 95%). pemilih di Sulawesi Selatan dalam taraf terte ntu mas ih m ene mpatkan etnisitas sebagai aspek penting.6 10. suara Amien Syam juga mayoritas—meski angka kemenanganya tidak mutlak. pasangan Amien Syam-Mansyur Ramli unggul dengan 45. di kabupaten / kota basis etnis Makasar. Grafik 7-9 memperlihatkan sentimen etnis di kalangan pemilih Sulawesi Selatan. tidaklah sebesar di Kalimantan Barat. Soppeng. Untuk menguji ada tidaknya sentimen etnis dalam Pilkada Sulawesi Selatan dan sejauh mana etnisitas menentukan pilihan pemilih. Di kalangan pemilih etnis Makasar. sampel survei (baik bulan Juli atau Oktober 2 007) repre sentatif dan meng gambarkan keragaman suku yang ada di Sulawesi Selatan.02 6. umumnya ditandai dengan kemenangan Amien Syam. Data yang dimanfaatkan dalam tulisan ini adalah survei yang dilakukan bulan Juli dan Oktober 2007.5 0.1 3. Toraja. umumnya ditandai dengan kemenangan Syahrul Yasin Limpo.10 4. dan Bantaeng. Pinrang.2 28. Semua survei dilakukan dengan menggunakan metode penarikan sampel yang sama. pasangan ini menang telak dengan perolehan suara 51. Di Makasar. Palopo dan Luwu. Sebaliknya. Jeneponto. Wawancara dilakukan secara langsung (face to face interview).2 1.43 9. Gowa. di kalangan pemilih etnis Bugis. dimana separoh (50%) pemilih tidak bisa menerima kepala daerah yang berasal dari etnis yang berbeda. Enrekang. Sama dengan di Kalimantan Barat.8 3. dtandai dengan kemenangan telak Amien Syam atau Syahrul Yasin Limpo. sentimen etnis sangat kecil. Sedangkan pasangan Aziz-Mubyl mampu menjadi pemenang di dua daerah.5 49. sentimen etnis ini diukur dengan menanyakan kepada responden seberapa penting etnis kandidat me ne ntukan p ilihan mereka. Meski menyatakan bisa menerima kepala daerah yang berasal dari etnis berbeda. Barru.9 7. Makassar. Bandingkan dengan di Provinsi Kalimantan Barat. Ap akah pem ilih bisa menerima atau tidak jika dipimpin oleh kepala daerah yang berasal dari etnis yang berbeda dengan mereka. pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang bahkan menang telak dengan suara 78. Seperti di Enrekang. pasangan ini juga menang telak dengan suara 69%. pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang menang dengan suara atau 43.08 2. dan Wajo. Sidrap. Jumlah sampel untuk semua survei (Juli dan Oktober 2007) sebanyak 440 responden (dengan sampling error plus minus 4. yakni Multistage Random Sampling. Pemilih yang tidak menerima kepala daerah dari etnis yang berbeda jumlahnya di bawah 10%. Di Pinrang.13 13 Dari hasil rekapitulasi suara PPK dan KPU kabupaten/kota.5 41. pasangan Amien Syam-Mansyur Ramli unggul di 11 daerah yakni Parepare.

Ibu/Bapak pakai sebagai dasar pertimbangan dalam memilih calon kepala daerah? .2% 39.14 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA 63.1% 18. Ibu/Bapak pakai sebagai dasar pertimbangan dalam memilih calon kepala daerah? Q2: Apakah latar belakang suku (etnis) calon kepala daerah.2% 22.7% 18. N= 440.0% Apakah etnis kandidat menjadi dasar pertimbangan ketika memilih? Ya Tidak Apakah agama kandidat menjadi dasar pertimbangan ketika memilih? Tidak tahu/tidak jawab Grafik 7: Penilaian apakah Agama dan Etnis Kandidat Menjadi Pe rtimbangan Pemilih (Sulawesi Selatan) Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Juli 2007).6% 38. Q1: Apakah latar belakang agama calon kepala daerah.

KAJ IAN BULANAN 15 85.2% 4.2% 3.1% Bersedia dipimpin gubernur dari etnis Bugis Bersedia Tidak bersedia Bersedia dipimpin gubernur dari etnis Makasar Tidak tahu/tidak jawab Grafik 8: Apakah Bersedia Atau Tidak Dimpimpin Oleh Kepala Daerah Dari Etnis Terte ntu (Sulawesi Seletan) Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Juli 2007).6% 81.1% 11. Q1: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Bugis ? Q2: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Makasar? . N= 440.8% 14.

16 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA 8. N= 440.1% 0.8% 0.4% 4.3% 7.3% 5.5% 0% Prosentase (%) yang tidak bersedia dipimpin gubernur dari etnis Bugis Bugis Makasar Toraja 0% Prosentase (%) yang tidak bersedia dipimpin gubernur dari etnis Makasar Lainnya Grafik 9: Prosentase Menolak / Tidak Bersedia Dipimpin Oleh Kepala Daerah Dari Suku tertentu Menurut Etnis Responden ( Sulawesi Selatan) Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Juli 2007). Q1: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Bugis? Q2: Apakah Ibu/Bapak bersedia atau tidak bersedia dipimpin oleh gubernur yang berasal dari suku Makasar? .

9% 49.7% 12.2% 37.0% 32.7% 38. siapa yang akan ibu/bapak PILIH? Q2: Kalau “tidak tahu/ tidak jawab”. Q1: Pemilihan Kepala Daerah Sulawesi Selatan akan dilangsungkan 5 November Tahun 2007 ini.KAJ IAN BULANAN 17 21.5% 26. N= 440.4% 27. di antara 3 pasangan tersebut mana yang PALING PANTAS DIDUKUNG menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan? Q3: Kalau “tidak tahu/ tidak jawab”. di antara 3 pasangan tersebut mana yang PALING DISUKAI menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan? .1% Makasar Bugis Toraja Lainnya Rahasia/Belum memutuskan/Tidak tahu/Tidak jawab Syahrul Yasin Limpo & Agus Nu’mang Aziz Qahar Muzakar & Mubyl Handaling Amin Syam & Mansyur Ramli Grafik 10: Prefe rensi Pemilih Menurut Etnis (Suku) Dalam Pilkada Sulawesi Se latan Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Oktober 2007).0% 43.1% 2.6% 17. “belum memutuskan” atau “rahasia”.5% 25.8% 7.1% 15. Dari 3 pasangan CALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR berikut.5% 4.0% 39. “belum memutuskan” atau “rahasia”.

314 49.654%).043 279 185 898. Suku lain yang juga cukup besar adalah Jawa (Lihat Tabel 6).54 5.18 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA Pilkada Bangka Belitung Provinsi Bangka Belitung juga termasuk ke dalam provinsi yang mempunyai keragaman etnis. ISEAS. 2003.889 71. menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000.Anton Gozelie (anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung) dan pasangan Fajar Fairi Rusni (anggota DPR RI) . 35 . Indonesia’s Population : Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape.89%) dan Tionghoa (11.02 100.11 0.Hamzah Suhaimi (Wakil Ketua DPRD Kota Pangkalpinang).047 1. Purnama sebelumnya adalah Bupati Belitung Timur.cit. pasangan Basuki T.34 0. Basuki T. Basuki T.Eko Cahyono (mantan Ketua Bappeda Provinsi).00 Sumber: Leo Suryadinata.316 3. Tabel 6: Komposisi Etnis Penduduk Provinsi Bangka Belitung Et nis J um la h Persen ( % ) Melayu Tionghoa Jawa Lainnya Bugis Madura Sunda Minangkabau Betawi Banten Banjar Total 646.98% penduduknya beragama Islam.69 1. hal. pasangan Sofyan Rebuin (mantan Walikota Pangkalpinang) . Evi Nurvidya Arifin dan Leo Suryadinata.736 52. Ia menjadi bupati dari etnis Tionghoa pertama di Indonesia yang dipilih secarta langsung. sebanyak 86.Ishak Zainuddin (mantan Bupati Belitung). Di provinsi ini. calon gubernur yang berlatar belakang Tiongha. penulis menggunakan data survei Lingkaran Survei Indonesia. Untuk melihat ada tidaknya sentimen etnis dalam Pilkada Bangka Belitung. Pilkada Bangka Belitung ( dilangsungkan pada 2 Februari 2007) diikuti oleh 5 pasangan calon gubernur / wakil gubernur.194 103. 14 Aris Ananta. Sampel survei yang dipakai oleh LSI ini representatif dan bisa menggambarkan keragaman etnis di Bangka Belitung (Lihat Tabel 7). Pilkada dimenangkan oleh pasangan Eko Maulana Ali-Syamsudin Basari. Ada dua etnis besar di Bangka Belitung. baik ketika mencalonkan diri se bagai bupati di Belitung Timur ataupun ketika maju sebagai calon gubernur di Bangka Belitung. op. Purnama (mantan bupati Belitung Timur) .52 2. Purnama juga beragama Kristen—agama minoritas di Provinsi Bangka Belitung. pasangan Hudarni Rani (gubernur incum bent) . yakni Melayu (71. Sinagpore.628 24.89 11. Evi Nurvidya Arifin. yakni pasangan Eko Maulana Ali (mantan bupati Bangka). Aris Ananta.03 0.12 0.93 0. Purnama.82 5. Basuki T.162 9. Purnama kerap menjadi sasaran kampanye hitam.985 8. Semua calon yang bertarung dalam Pilkada berlatar be lakang etnis Me layu— etnis terb es ar di Bang ka Belitung—kecuali Basuki T.Syam sudin B asari (Ketua DP RD Bang ka Belitung). 14 Karena latarbelakang ini.

Lihat misalnya dalam Grafik 11. Latar belakang etnis kandidat sedikit banyak mempengaruhi pilihan pemilih. Purnama baru siap-siap maju sebagai calon beberapa bulan menjelang Pilkada.5 71. sentimen etnis kecil.11 6. Yang perlu dicatat. faktor etnis hanyalah salah satu faktor saja dari se kian fakto r yang m enentukan kemenangan kandidat. terlihat cukup besarnya pemilih dari etnis Melayu memilih kandidat yang berasal dari latar belakang non Melayu. yakni Multistage Random Sampling.4 0. Ini terutama terjadi di wilayah-wilayah yang mempunyai perimbangan etnis— ada dua atau lebih suku dominan di wilayah tersebut.3 0. tulisan ini mempunyai sejumlah keterbatasan. Purnama dan kandidat lain dari survei bulan Januari dan Februari 2007. Bahkan di provinsi Bangka Belitung. Perolehan suara Basuki T.0 7. pola perilaku pemilih Pilkada di Bangka Belitung agak berbeda dengan yang terjadi di Kalimantan Barat atau Sulawesi Selatan. Basuki T. Tulisan ini masih perlu diuji dengan penelitian-penelitian lain di wilayah lain. Purnama kalah. Di dua provinsi ini. Meski ini tidak berhasil menghantarkannya sebagai pemenang Pilkada. Dalam Pilkada Kalimantan Barat. Jika diamati.5 19. Purnama bahkan lebih besar dari suara yang diperoleh incumbent gubernur (Hudarmi Rani).95 Keterangan : Data diolah dari tracking survey yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di Pilkada Bangka Belitung. Purnama di urutan dua.KAJ IAN BULANAN 19 Tabel 7: Perbandingan Sampel Survei dan Komposisi Etnis Penduduk Provinsi Bangka Belitung Et nis Sampel (N= 440) Sur vei Bulan Januari 2007 (% ) Sur vei Bulan Febr uari 2007 (% ) Populasi / BPS (% ) Melayu Tionghoa Jawa Bugis Madura Lainnya 70.1 5. sentimen etnis pemilih relatif kecil. Grafik 12 dan 13 menggambarkan trend dukungan untuk Basuki T. Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung. Basuki T. Wawancara dilakukan secara langsung ( face to face interview). Populasi survei adalah semua pemilih di Bangka Belitung. Dari grafik ini terlihat.8% pada tingkat kepercayaan 95%). Semua survei dilakukan dengan menggunakan metode penarikan sampel yang sama. kandidat ini juga mendapat dukungan cukup besar dari etnis Melayu. Jika akhirnya Basuki T. Yang menarik. untuk membuktikan lebih dalam ada tidaknya pengaruh etnis dalam Pilkada. Di luar kesalahan dalam penarikan sampel.69 1. Kandidat Basuki T. kompetensi kandidat. Di Bangka Belitung. Pemilih cenderung memilih kandidat yang berasal dari etnis yang sama. Kemungkinan pemilih memilih kandidat dari etnis yang berbeda cukup tinggi.89 11. kepribadian dsb) bisa jadi memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan sekedar persamaan etnis . ini lebih karena persiapan kandidat ini yang kurang dibandingkan dengan kandidat lain. Jika kandidat lain sudah mempersiapkan diri satu tahun menjelang Pilkada. Faktor lain yang tidak dibahas dalam tulisan ini ( seperti program. faktor etnis tampak memainkan peranan penting. tulisan ini secara sengaja membatasi diri pada masalah etnis.54 5. Peran ini berkurang dalam pelaksanaan Pilkada di Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung. Kesimpulan Aspek etnis tampaknya tidak boleh dilupakan perannya dalam Pilkada. Pemilih bisa menerima kehadiran kepala daerah yang berbeda dengan etnis di luar dirinya. Keberhasilan dan kegagalan dari kandidat untuk keperluan studi secara sengaja “diisolasi” semata pada masalah etnis.82 2.7 1. Pertama. bagaimana pemilih di Bangka Belitung yang mayoritas suku Melayu bisa menerima kehadiran calon dari etnis Tionghoa. Purnama (etnis Tionghoa) mend apat dukungan kuat d ari pem ilih d engan latar belakang etnis Tionghoa. Di kalangan pemilih Melayu.1 77. dimungkinkan adanya kesalahan non sampling.5 4.5 0.3 8. Padahal. Tidak mengherankan jikalau hasil akhir Pilkada menempatkan Basuki T. ada pergerakan dan trend kenaikan dukungan untuk Basuki T. Purnama hanya kalah dari Eko Maulana Ali. Tulisan ini menggambarkan posisi etnis agak berbeda antara yang terjadi di Kalimantan Barat. Fakta menarik untuk dicatat.2 5. Purnama . Jumlah sampel untuk semua survei (Januari dan Februari 2007) sebanyak 440 responden (dengan sampling error plus minus 4.

35% 31. siapa yang akan ibu/bapak PILIH? Q2: Kalau “tidak tahu/ tidak jawab”. Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Februari 2007).25% 28.14% 28. Dari 5 pasangan CALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR yang maju dalam Pilkada mendatang.13% 22.13% 35.43% 9.13% 32.13% 20.88% Melayu 0% Tionghoa 8. di antara 5 pasangan tersebut mana yang PALING PANTAS DIDUKUNG menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Bangka Belitung? Q3: Kalau “tidak tahu/ tidak jawab”. “belum memutuskan” atau “rahasia”. di antara 5 pasangan tersebut mana yang PALING DISUKAI menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Bangka Belitung? . “belum memutuskan” atau “rahasia”.38% 32.7% 0% Jawa 6.11% 2.74% 56.62% 28.20 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA 20. Q1: Pemilihan Kepala Daerah Bangka Belitung akan dilangsungkan 22 Februari mendatang.12% 9.25% 21.38% 3.25% 0% Lainnya Fajar Fairi Husni & Hamzah Suhaemi Sofyan Rebuin & Anton Gozalie Basuki T Purnama & Eko Cahyono Eko Maulana Ali & Syamsudin Basari Hudarni Rani & Ishak Zainuddin Rahasia/tidak tahu/belum memutuskan Grafik 11: Preferensi Pe milih Menurut Etnis (Suku) Dalam Pilkada Bangka Belitung Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Februari 2007).95% 0.94% 2.

7% 8.3% 0% Januari 2007 Februari 2007 Fajar Fairi Husni & Hamzah Suhaemi Sofyan Rebuin & Anton Gozalie Basuki T Purnama & Eko Cahyono Eko Maulana Ali & Syamsudin Basari Hudarni Rani & Ishak Zainuddin 0% Grafik 12: Trend Dukungan Pada Kandidat Pasangan Gubernur / Wakil Gubernur di Kalangan Pemilih Etnis Tionghoa.KAJ IAN BULANAN 21 37.7% 56.1% 16.4% 3.3% 16. Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia ( Januari dan Februari 2007).5% 9. .

Karena itu. Kedua. Laporan penelitian. Evans.” Black Candidates. 7. Yogyakarta. Aris. Hans dan Sven Cederroth (ed). Leo . dengan mayoritas pemilih. Evi Nurvidya Arifin. R. The History of Political Parties and General Election in Indonesia.3% Januari 2007 20. Aries Consultancies. The Power of Leadership: Explaining Voting Behavior in the New Indonesian Democracy. Gadjah mada University Press. Indonesian Electoral Behavior: A Statistical Perspective. Javanese Voters: A Case Study of Election Under a Hegemonic Party System . 2003. Laporan penelitian.7% 37. Barbara J.7% 22. Aris Ananta. Afan. 2003. Kevin R. 2004.. Suryadinata. Routledge Curzon. Sinagpore. Election in Indonesia: The New Order and Beyond. Gaffar.1% 32.22 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA 23. William dan Saiful Mujani. Carol K.. Singapore. Walkosz dan Michael Nitz. Indonesia’s Population Series No. Sumber: survei Lingkaran Survei Indonesia (Januari dan Februari 2007). White Voters: Understanding Racial Bias in Political Perception. tulisan ini mengambil sec ara s engaja (p urpos if) wilayah-wilayah di m ana terd apat pe rimbangan etnis—wilayah yang ditandai dengan adanya beberapa etnis yang dominan. tulisan ini tidak menggambarkan pola umum yang berlaku di semua wilayah (Eriyanto).9% 0. Institute of Southeast Asian Studies. Jakarta. . Sigelman. 1992 Liddle.3% 9. 39. 1995.2% 0. 2003. Indonesia’s Population : Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape.” American Journal of Political Science. New York. ———————————. ISEAS. No. Vol. Lee Sigelman. Daftar Pustaka Antlov.1.7% 6.Party and Religion: Explaining Voting Behavior in Indonesia. Ananta. Evi Nurvidya Arifin dan Leo Suryadinata.9% Februari 2007 Fajar Fairi Husni & Hamzah Suhaemi Sofyan Rebuin & Anton Gozalie Basuki T Purnama & Eko Cahyono Eko Maulana Ali & Syamsudin Basari Hudarni Rani & Ishak Zainuddin Grafik 13: Trend Dukungan Pada Kandidat Pasangan Gubernur / Wakil Gubernur di Kalangan Pemilih Etnis Melayu. 2007. 2004.9% 2.

PADA Minggu akhir bulan November. Politisi dari Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) memperpanjang NEP 15 tahun lagi hingga 2020.KAJ IAN BULANAN 23 Politik Etnisitas dan Politik Identitas dalam Politik S ENTIMEN etnis seringkali dinilai sebagai salah satu kekuatan sekaligus problematika dalam arena demokrasi. Etnis India juga meminta kebijakan Dasar Ekonomi Baru (New Economic Policy/NEP) diakhiri. M Kulasegaran. mengecam tindakan aparat. etnisitas dalam kadar tertentu terus bermain dalam politik identitas dalam panggung kekuasaan secara laten. sekitar 10. Dari kalangan politisi keturunan etnis Cina. Sementara itu. 25 November 2007 lalu. NEP bahkan dijadikan sebagai Agenda Nasional Baru. Kendati demikian. Bahkan etnisitas seringkali menjadi dasar legitimasi sejarah sosial politik/ struktur politik pada level lokal/daerah. Aksi etnis India itu (yang mayoritas dari Tamil) bertujuan mendukung gugatan yang diajukan ke sebuah pengadilan di London pada Agustus 2007 oleh organisasi bernama Kekuatan Aksi Hak-hak Hindu (Hindu Rights Action Fo rce) . etnisitas justru nampak terus mengalami penguatan. hendak mereview beberapa pertanyaan di atas. 26 November. dalam tatanan rezim politik yang bersifat terbuka. Tujuannya. Mereka ingin menuntut hak yang dinikmati etnis lain. 1 Kompas. tingkat propinsi dan kabupaten? Sejauh mana. Tak terkecuali pada kontestasi Pemilu dan Pilkada di Indonesia.000 pengunjuk rasa etnis India melakukan protes di Kuala Lumpur. Lim Kit Siang. 2007. yang digambarkan sebagai refleksi dari pemerintahan yang tidak demokratis. Etnisitas sebagai salah satu kategori dalam sosiologi politik berkembang seiring dengan perubahan pola politik identitas. NEP pernah diakhiri tahun 2005. etnisitas secara sengaja dicoba untuk dieliminasi dari panggung arena politik. riset dan kajian tentang etnisitas dan politik identitas selama ini dilakukan dalam memahami perkembangan demokrasi di Indonesia pasca reformasi? Tulisan di bawah secara umum. Aksi pro tes jug a meng ecam diskriminasi yang dilakukan Pemerintah Malaysia. mendapatkan ruang ekspresi yang semakin luas—kendatipun saling bertarung di arena yang bersifat terbuka dan tertutup—dan kadangkala menjadi dasar legitimasi mayoritas dalam arena pemilihan. Beberapa deskripsi dan analisis akan dihadirkan dalam menjelaskan dinamika politik etnisitas dan politik identitas dalam erana pemilihan langsung di Indonesia. Seberapa pentingkah etnisitas dan politik identitas yang bersumber dari kategori kelompok etnis mewarnai kontestasi demokrasi? Dan bagaimanakan pola-pola ekspresi dan kontestasi politik etnis dan politik identitas etnis dalam arena kontestasi demokrasi langsung di Indonesia pada arena demokrasi lokal. dengan alasan penguasaan aset ekonomi yang kalah dari etnis China1 . memberdayakan Melayu. . anggota oposisi di parlemen Malaysia berpendapat bahwa sekitar 50 tahun etnis India sudah terpinggirkan. oposisi dari parlemen dan Ketua Partai Aksi Demokrasi. Dalam tatanan rezim politik yang bersifat tertutup.

Kalimantan Tengah dan di Sambas. etnisitas dianggap cenderung sulit terpisahkan dari identitas kebudayaan. New York University. Berbeda dengan di Malaysia. kalangan politisi. Etnisitas dan politik identitas nampak mendapatkan perhatian penting dari berbagai kalangan. Keempat. di kalangan publik. sosiologi dan psikologi sering beranggapan bahwa identitas sosial dapat menjadi faktor penting dan menentukan bagi perilaku pemilih. Dalam banyak hal. Review Terhadap Perkembangan Kajian tentang Etnisitas. dan membangun jaringan lobi politik. Bagi kalangan politisi seringkali identitas sosial menjadi referensi dalam menentukan berbagai pendekatan—berdasarkan kelompok dan identitas sosial—agar memilihnya. keberadaan politik etnisitas dan politik identitas nampak masih dipandang penting sebagai salah satu medium dalam arena mobilisasi politik (political tools) . di kalangan partai politik dan elit politik. Pertama. membangun koalisi-koalisi politik. di kalangan birokrasi dan jajaran eksekutif. termasuk mereka yang telah menganut sistem demokrasi. bahkan nampak masih sulit dihindari bagi kalangan partai politik dan elit politik untuk dapat membangun sistem kepartaian modern yang mampu lepas dari politik etnisitas dan politik identitas. Hanya saja. 2004. membangun jaringan politik (political networking). 19 Maret. lingkungan politik d an juga lingkungan e konomi-politik. yang membedakan. Riset-riset dalam ilmu politik. K onflik yang melibatkan suku Dayak. termasuk di dalamnya isu putra daerah dan etnis asli/ pribumi dan pendatang. etnis terbesar dan etnis minoritas. Pada konteks ini. Erich Dickson dan Kenneth Scheve. Social Identity. Kalimantan Barat 2 . politik etnisitas dan politik identitas juga nampak terus mewarnai wajah birokrasi nasional dan lokal. Persoanal etnisitas dan politik identitas hingga saat ini nampak te rus menimbulkan b erbagai persoalan di beberapa negara. Politik etnisitas dan politik identitas dalam hal ini terus berkembang— baik secara laten dan manifest—dan seringkali sangat menentukan dalam berbagai arena pengambil kebijakan hingga implementasi kebijakan. protes kalangan etnis di Malaysia di atas ditujukan kepada Negara (konflik vertikal) ketika etnis dominan dianggap kian dominatif. yang berlangsung bukan sem ata-mata aks i protes. di kalangan budayawan. Berbagai kekhawatiran nampak terus disuarakan oleh beberapa kalangan akademisi/peneliti. politik etnisitas dan politik identitas nampak terus hadir di lingkungan sosial. Erich Dickson dan Kenneth Scheve (2004) misalnya melakukan kajian bagaimana model penyampaian pesan politik dari para politisi (political speach) tentang identitas sosial dan kebijakan publik terhadap para konstituen dilakukan dalam arena pemilihan3.24 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA Fenomena yang terjadi di Malaysia tersebut. Beberapa kasus yang dap at disimak m is alnya. Hingga saat ini. bahkan konflik sosial tersebut semakin sulit diuraikan dari berbagai arus kepentingan ekonomi-politik dan seringkali terus hadir menyertai peristiwa politik lokal dan nasional. politik etnisitas dan politik identitas bahkan nampak lekat dan bahkan menjadi domain utama dalam arena kebudayaan. beberapa fenomena di Indonesia. Kedua. dari kalangan akademisi dan peneliti. Arena politik etnisitas dan politik identitas nampak terus berkembang pasca reformasi. Kejadian konflik horisontal lainnya terjadi di beberapa daerah konflik lainnya dipengaruhi oleh faktor agama. namun berupa konflik yang bersifat horisontal. . Di sini penulis akan mencoba menyajikan beberapa kajian tentang etnisitas terkait dengan perilaku politik. Political Speech and Electoral Com petition. Working Paper. Kelima. Dari sinilah kemudian membahas tentang kajian etnisitas menjadi daya tarik dari berbagai disiplin ilmu sosial. 2001. Identitas dan Perilaku Politik Fenomena etnis cukup kompleks dan terus menjadi daya tarik bagi berbagai kalangan untuk meresponsnya dengan cara beragam. pada level lokal bahkan beberapa kali pernah terjadi di Indonesia. elit politik dan para tokoh politik akan berbagai resiko kegagalan pengelolaan seiring dengan menguatnya politik etnisitas dan politik identitas. Ketiga. Kesadaran publik pasca kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah nampak sempat muncul isu kedaerahan. Melayu dan Madura di Sampit dan Palangkaraya. Kota Kabupaten Kapuas. persoalan identitas dan politik identitas masih cenderung dianggap se bagai s alah satu perso alan me ndasar d alam perkembangan demokrasi di Indonesia. Bahkan politik etnisitas dan politik identitas sempat memicu menguatnya berbagai konflik sosial di Indonesia. Namun dalam konteks ini yang lebih ditonjolkan adalah aspek identitas kebudayaan dibandingkan aspek etnisitas/suku. suku dan etnisitas serta faktor-faktor ekonomi dan politik. Dickson dan Kenneth 2 3 Lihat Kompas.

1997. m isalnya Hispanic— keturunan Spanyol. Frontier International Electoral Consulting. bahasa. Hill dan Dario V. Hill dan Dario V. Oyugi. Lisa Handley (2001) menemukan bahwa mayoritas minoritas yang ada di Negara bagian Arizona—yaitu Hispanic. agama dan juga asal daerah. Studi yang melihat bagaimana politik etnis. kebudayaan. Institution and Ethnic Politics in Africa. Kalangan elit politik di Kenya dalam Pemilu 1992 tersebut menurut Walter O. Hill dan Dario V. Lisa Handley (2001) yang bekerja di sebuah lembaga konsultan politik di Amerika.Posner.Posner (2005) misalnya menjelaskan perkembangan di Afrika bagaimana faktor identitas kesukuan (tribal) berpengaruh terhadap perilaku elit dan massa dan menjadi wacana politik/tema kampanye politik yang efektif.Posner (2005) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa masing-masing individu memiliki beberapa identitas/ dimensi etnis. Daniel N. Does Ethnicity Determ ines Support for the Governing Party : The Structural and Attitudinal Basis of Partisan Identification in 12 African Nations. 2005. 2003. Kennedy School of Government. Moreno (1999) 4 5 6 7 Lebih lanjut lihat Daniel N. Frontier International Electoral Consulting. 1998 dan 2000. Kevin A. Oyugi (1997). Penelitian tentang etnisitas dan proses pemilu di Kenya antara lain dilakukan oleh Walter O. Identitas-identitas ini bahkan seringkali menjadi faktor yang dianggap penting—baik oleh publik maupun elit— ke tika peris tiwa politik berlangsung. New York. African Association of Political Science. 2001. Handley (2001) juga menemukan bahwa kendatipun tidak selalu. positioning. Voting Patterns By Race/Ethnicity in Arizona Congressional and Legislative Elections.KAJ IAN BULANAN 25 Scheve (2004) menyimpulkan bahwa kemampuan para kandidat dan politisi dalam memahami identitas sosial dan kebijakan publik yang dibutuhkan oleh konstituen dapat menjadi dasar yang menentukan dalam kampanye politik. Penelitian ini secara umum memaparkan bagaiman interaksi antara katakter masyarakat Kenya yang berbasis kesukuan (tribalism ) dan partisipasi politik mereka dalam sistem pemilihan umum6 . Dalam penelitian tersebut.Posner (2005) dalam studinya juga mengembangkan matrik identitas etnis (ethnic identity matrix) dimana di dalamnya antara lain menjelaskan dua dimensi etnisitas yang menjadi daya tarik bagi pemilih dan kunci kemenangan partai dan kandidat di Afrika4. Melalui pemahaman yang baik terhadap identitas sosial tersebut. Daniel N. namun secara umum terjadi apa yang disebutnya dengan “Racial Block Voting” di Negara bagian Arizona7. Penelitian pada level federal lainnya dilakukan oleh Kevin A. melakukan riset tentang bagaimana pola pemilihan dari beragam ras/etnis dalam pemilu kongres dan legislatif di Negara bagian Arizona dalam pemilu 1996. Walter O. seperti hubungan keturunan/keluarga dalam kelompok. John F. Kevin A. Dalam penelitian tersebut. masing-masing politisi dapat menentukan strategi. “Ethnicity In The Election Process: The 1992 General Election in Kenya”. Posner (2005). Keduanya menggunakan data survey yang dilakukan oleh Afro-Barometer yang diselenggarakan sejak tahun 1999-2001 di 12 Negara Afrika dari Boswana hingga Zimbabwe5 . keduanya melakukan analisis pengaruh dari karakteristik ethno-linguistic dan ethno-racial dan sikap identifikasi mereka terhadap partai pemerintah(pemenang) di 12 negara Afrika. Cambridge University Press. Dalam riset tersebut. Daniel N. Pippa Norris dan Robert Mattes. Cambridge. dan keberpihakan terhadap isuisu publik (political advocacy) melalui sejumlah model penyampaian pesan politik dari para politisi (political speach) tertentu. Daniel N. Pippa Norris dan Robert Mattes(2003) juga pernah melakukan penelitian terkait dengan identitas sosial dan etnisitas dan pengaruhnya terhadap perilaku pemilih di 12 negara Afrika. 1996-2000. interaksinya dalam institusi-institusi politik dan juga kedekatannya dengan masing-masing partai politik dalam arena pemilu di Afrika antara lain dilakukan oleh Daniel N. Walter O. Lisa Handley. budaya. Selain itu. Oyugi (1997) nampak menggunakan isu-isu etnisitas untuk menarik dukungan dan mengakomodasi kepentingan politik (political interest) para pemilih. . Moreno (1999) menemukan bahwa para politisi di Negara bagian tersebut seringkali menggunakan pendekatan voting block berdasarkan isu-isu tertentu pada komunitas mino ritas di F lorid a S elatan. Oyugi (1997) menjelaskan bahwa dalam pemilu multi partai di Kenya tahun 1992 etnisitas menjadi kekuatan dominan yang berpengaruh terhadap perilaku politisi dan para pemilih dalam proses pemilihan. Kajian tentang etnisitas di Negara bagian di Amerika antara lain pernah dilakukan oleh Lisa Handley (2001). Moreno (1999) pada Negara bagian Florida Selatan (South Florida).Posner (2005) berpendapat bahwa dimensi etnis merupakan faktor penting untuk memahami proses demokrasi di Afrika. Harvard University. Native America dan Black—mayoritas memilih Partai Demokrat dibandingkan Partai Republik. Pippa Norris dan Robert Mattes (2003)—melalui pendekatan dengan teoriteori struktural—menyimpulkan bahwa identitas sosial dan etnisitas berpengaruh terhadap perilaku pemilih dan partai politik pada masyarakat agraris tradisional dengan latarbelakang pendidikan dan tingkat akses terhadap pemberitaan yang rendah.

hal. Tanpa ada provokasi p un. kedua kelompok ini dipertemukan dalam situasi kompetisi se pe rti p ertandingan. sebelum kompetisi mulai diadakan. Institute for Social Science Research. Dianne M. padahal mereka belum pernah bertemu sebelum eksperimen ini.11 Seseorang menjadikan dirinya berbeda dari kelompokke lo mpo k lainnya (o ut group ) . d an Me xi ca n Americans9. Identifikasi diri masing-masing individu memunculkan pertentangan antara in-group dan out-g rup . dalam psweb. hal.26 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA menyimpulkan bahwa peng uasaan bahasa kalangan minoritas yang ada di Florida Selatan bagi kalangan politisi dan kandidat presiden merupakan variabel penting bagi daya tarik mereka dalam pemilihan. Di sini Dianne M. ke dua kelompok itu sud ah memiliki pandangan yang tidak bagus kepada kelompok lain. Sherif membuat dua kelompok besar di satu “summer camp. misalnya kemampuan para kandidat di d alam mengg unakan bahas a Spanyo l dijad ikan indikator pe nilaian dari kalang an Hispanic d alam membentuk sikapnya terhadap kandidat presiden8 .ohio-state. Hill dan Dario V. yakni me mb erikan uang yang leb ih ke pad a ang go ta kelompoknya daripada kepada kelompok lain. Hasil pe ne litiannya sangat mence ngang kan. Pinderhuges (1988) dalam hal ini mengkaji keterbatasan model status sosioekonomis dalam partisipasi pemilihan. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa antagonisme kelompok jauh berkurang di minggu ketiga akibat berkembangnya rasa kepercayaan antara kedua kelompok10 . Florida International University. Los Angeles. 8 9 10 11 12 Kevin A. Di minggu ketiga. yaitu kalangan kulit hitam (b lac ks). Pinderhuges (1988) mengembangkan model partisipasi politik (the political participation model) sebagai alternatif dalam menjelaskan faktor-faktor yang kemungkinan berpengaruh terhadap ekspresi kelompok-kelompok ras dan etnis dalam arena politik. diskriminasi kepada kelompok lain dilakukan hanya dengan basis bahwa orang-orang lain bukan kelompoknya. Tajfel melanjutkan experimen Sherif di tahun 1971 untuk melihat apakah id entitas ke lo mpo k seb etulnya me nyebabkan antagonisme itu. Pinderhuges (1988) mengkaji beberapa etnis yang ada di Amerika. Pada minggu kedua. Ibid . Ibid . Pendekatan Teoritis Dalam Pem aham an Konflik Etnis. keputusan-keputusan yang diambilnya pun akan sangat dipengaruhi rasa identitasnya kepada kelompoknya. Ia membagi para partisipan ke dalam dua kelompok. 1998. 1. Lebih mencengangkan lagi. hanya de ngan me ngetahui bahwa orang yang dibe rikan me rup akan ke lom po knya. Dalam peristiwa pemilihan presiden. Identitas ras/etnis nampak masih berpengaruh dalam kontestasi pemilihan di Amerika. dimana terjadi prinsip “I scratch your back and you scratch mine”12. seseorang akan merasa tekanan kepada kelompoknya adalah tekanan kepada dirinya sendiri. politik dan psikologi seringkali mewujud dalam kategori in-group dan out-group. Alasan dari sikap te rs ebut adalah o rang itu yakin bahwa o rang di kelompoknya akan melakukan tindakan yang sama. Di eksperimen lain yang dilakukan Sherif. Identitas sebagai unit analisis dalam studi sosiologi. Ethnicty and Political Opinion Polling in South Florida.4.sbs. Language as a Variable : English Spanish. Paper Conference on Comparative Ethnicity University of California. Dikutip dari Y . . Keputusannya akan sangat menguntungkan kelompok pribadinya dan ia menjadi sangat curiga kepada kelompok lain. ternyata terlihat bahwa kedua kelo mpok itu sudah m emiliki rasa tak suka ke pada kelompok lain pada saat mereka baru saja bertemu. Moreno. A sia. Hasilnya ad alah id entitas pengelompokan menjadi bertambah kuat dan terjadi sikap bermusuhan antara kedua kelompok itu. Dengan ini. Working Paper.Sulaiman. Salah satu penelitian yang membahas hal ini antara lain dilakukan oleh Dianne M. orang itu memberikan jauh lebih besar daripada kepada orang yang dari kelompok lain. hal. di mana ia berusaha keras bahwa tak ada perbedaan yang menyolok antara kedua kelompok. Pinderhuges (1988). Sherif membuat kedua kelompok tersebut untuk me lakukan ke rja s am a d alam tugas-tug as yang diberikan. “Racial and Ethnic Politics in America”. 1999. Pinderhuges. padahal tak ada persamaan apapun dalam anggota kelompoknya. Dalam penelitian Sherif. tak ada pertemuan antara dua kelompok itu. pada umum nya semakin menguat karena ad anya “arena kom pe tis i” yang m emp erebutkan “sesuatu”.doc. Salah satu penelitian ini dilakukan oleh Sherif di tahun 1950-an. Lihat Dianne M.3. Se cara o to matis. di mana satu anggota kelompok perlu memberikan uang kepada orang lain. Department of Political Science.edu/grads/ysulaimn/ My_articles/20010830. Terlihat bahwa seorang individual sangat bergantung kepada kelompoknya sebagai sarana untuk mendapatkan sebuah kestabilan. Dianne M. dan keuntungan kelompoknya adalah keuntungannya sendiri.” Dalam minggu pertama.

Pertama. 8. kebijakan Putin untuk membangun hubungan pusat dan daerah secara berimbang di wilayah Federasi Rusia juga mendapatkan simpati dari banyak kalangan menjelang pemilihan13 . Persoalan Etnisitas dan Politik identitas bagi Demokrasi dan Regim Politik. Dalam beberapa kasus. Identitas sosial. termasuk di dalamnya dalam pengelolaan problem etnisitas dalam sistem politik dan demokrasi. Ethnicity and Nationalism: Theory and Comparison. politis hingga me mberikan dam pak negatif bagi masa depan demokrasi di negara masingmasing. Warhola (2001) menyimpulkan bahwa sikap Putin yang menunjukkan rasa persahabatan dan mengakomodasi semua etnis minoritas di wilayah Federasi Rusia menjadi faktor daya tarik dalam pemilihan. . etno-teritorial dan geografi politik publik Rusia dan tingkat dukungannya terhadap Presiden Putin dalam Pemilu Presiden Rusia tahun 2000. Kedua. No. dan geografi politik dari tingkat dukungannya terhadap Putin di masing-masing unit konstituen. Paradoks etnisitas dan politik identitas di sini juga dipengaruhi oleh jenis rezim politik yang dianut oleh masing-masing negara. IGD Occational Paper No. kesamaan daerah.hal. sistem demokrasi dimaksudkan untuk mengakomodasi relasi kekuasaan yang mampu mengakomodasi dan memberikan jaminan tercapainya tujuan bersama.33. Paradoks muncul karena sebagai rule of the game . Arend Lijphart. 3. identitas dan perilaku pemilihan hingga saat ini masih menjadi topik penelitian yang me narik di berb agai Neg ara deng an latar belakang etnis yang beragam.”The Wave of Power-Sharing Democracy” dalam Andrew Reynolds (ed). persoalan etnisitas dan id entitas dap at terkelola d eng an baik o le h s istem demokrasi dan budaya politik masyarakatnya. dibandingkan negara-negara yang belum sepenuhnya memiliki sistem demokrasi16 . Ethnicity. namun dalam beberapa kasus lainnya. Pe rs oalan etnisitas dan p olitik ide ntitas menjadi persoalan penting ketika demokrasi berlangsung dalam struktur s ocial masyarakat yang terbe lah (d iv id ed societies). hal. Warhola. mulai dari persoalan etis. Dua dimensi yang dilihat yaitu dimensi ethnoregional. aktor dan struktur politik yang berperan dalam sistem demokrasi tersebut tidak dapat terlepas faktor etnisitas dan identitas.4. Sage. dalam Juma Okuku Anthony (ed). The Architecture of Democracy. Etnisitas. Perdebatan kontemporer tentang etnisitas pada umumnya mengarah pada dua faktor. Etnisitas dan politik identitas dalam peristiwa tersebut seringkali menjadi persoalan penting dalam proses kelangsungan demokrasi di beberapa Negara. Chistopher Marsh dan Jam es W. dibandingkan dengan demokrasi yang berlangsung pada masyarakat homogen (hom ogenous societies). Etnisitas sering kali d idefinisikan sebagai perasaan (senses) terhadap identitas etnis yang dimiliki oleh masing-masing individu dalam kelompok secara subjektif dan simbolik untuk menghasilkan kohesi internal dan dif erensias i de ngan kelompo k-ke lomp ok lainnya1 4 . 1991. Etnisitas dalam hal ini terbentuk karna adanya konstruksi sosial (social construction) dari kondisi sejarah masing-masing. Vol. 2002.R. Chistopher Marsh dan James W. Warhola (2001) pernah melakukan riset untuk melihat bagaimana etnisitas. State Power and The Democratisation Process in Uganda. Dalam prakteknya. Proses terbentuknya etnisitas dalam hal ini terkait dengan imajinasi kebersamaa (imaginary association). Selain itu. 37. Chistopher Marsh dan James W. P. Warhola (200 1) me lakukan analisis terhadap dua dimensi etnisitas pada daerah pemilihan Presiden di wilayah Federasi Rusia yang terdiri dari 89 unit konstituen. “Nationalism and Ethnicity : A Theoretical Perspective”. hal. dalam Post-Soviet Geography and Economic. Brass. etnisitas dan identitas nampak terus melahirkan deretan persoalan. 42. kegunaan atau keuntungan dari etnisitas dalam berbagai latarbelakang. 2002. 2001. Etnisitas seringkali menjadi paradoks dari pelaksanaan sistem demokrasi di berbagai negara. New Delhi. Ethno-territoriality and the Political Geography of Putin’s Electoral Support”. proses terbentuknya etnisitas. etnisitas dan pelilaku politik cenderung menjadi referensi penting dalam melihat arah kontestasi 13 14 15 16 Chistopher Marsh dan James W. dan kesamaan keyakinan dan nilai-nilai yang membedakan suatu kelompok tertentu dengan lainnya15. Oxford: Oxford University Press. Di atas hanya beberapa contoh riset yang pernah dilakukan dalam melihat faktor etnisitas dalam kaitannya dengan perilaku pemilih dalam pemilu legislatif maupun presiden.KAJ IAN BULANAN 27 Etnisitas juga merupakan faktor yang dianggap penting dalam melihat respon publik terhadap kepemimpinan politik di Rusia. “Ethnicity. Bramfortein. South Africa : Institute for Global Dialogue. Arend Lijphart (2002) juga berpendapat bahwa keragaman etnis dan pembelahan masyarakat tersebut lebih mampu terkelola dengan baik pada negaranegara yang memiliki kematangan sistem demokrasi. Arend Lijphart (2002) berpendapat bahwa adanya keragaman etnis dan struktur sosial masyarakat yang terbelah (divided societies) merupakan tantangan besar bagi demokrasi. John Markakis.

California. Kedua . 1974. Adanya koalisi-koalisi tersebut dalam arena pemilihan dapat memungkinkan masing-masing etnis tidak akan selamanya menjadi pihak yang selalu terus menerus menang (permanent winners) dan pihak yang selalu terus menerus kalah (permanen lossers). struktur politik yang dikendalikan oleh patronase etnis ini lebih cenderung mendistribusikan kemampuan penguasaan sumber daya publik (public property) kepada kelompoknya masingmasing dan tid ak p ernah me mikirkan kelom po kkelompok etnis lainnya. Ketiga. identitas sosial yang sama dapat ditemukan pada keanggotaan sebuah kelompok sosial dimana dalam arena pemilihan hal ini direpresentasikan melalui keberpihakannya terhadap kebijakan-kebijakan publik tertentu17. Hal ini terutama kompetisi yang dimaksudkan untuk m emo bilis as i ang ka pencoblosan pemilu (voter turnout) dan juga persaingan internal dalam masing-masing kelompok etnis. Lingkup arena kontestasi demokrasi juga menjadi hal yang berpengaruh bagi proses demokrasi dalam masyarakat multi etnik. Dalam arena kontestasi pemilihan. Persoalan kian rumit ketika partai dan kandidat yang menang tersebut terus menimbulkan sejumlah provokasi dan sentimen yang mengundang reaksi balasan dari pihak yang kalah. dalam sistem pemilu langsung memungkinkan salah satu atau beberapa dari etnis akan selalu menjadi pihak yang selalu terus menerus menang (permanent winners) dan pihak yang selalu terus menerus kalah (permanen lossers) . Masing-masing individu di sini bahkan mengembangkan kelekatan psikologis ( psychological attachm ent) kepada kelompok sosial masingmasing 18 . Kedua. Persoalan akan kian memburuk ketika dalam lingkungan masyarakat tersebut hanya memiliki dua etnis saja yang bersaing. problem etnisitas akan semakin menguat ketika sistem demokrasi dijalankan oleh struktur partai politik dan elit politik memasuki kompetisi yang sengit dalam peristiwa utama pemilu. Dalam praktiknya. Jeremy Horowitz dan James D. Jeremy Horowitz dan James D. Pendapat yang membahas adanya keterkaitan antara identitas sosial dengan perilaku politik dan pemilihan setidaknya ada dua hal. Keempat. Berkeley. Pertama. University of California. Pertama.Long (2006) berpendapat bahwa demokrasi dalam masyarakat multi etnik memiliki beberapa tantangan utama19 . University of California Press.Long (2006) fenomena ini terutama yang dihadapi negara-negara miskin dengan struktur politik dijalankan oleh jaringan elit yang berbasis patronase etnis. atau bahkan tidak dapat terdistribusikan untuk kesejahteraan publik (the problem of indivisibility). Ethnic Groups in Conflict. Department of Political Science. pendapat yang menyatakan bahwa identitas sosial merupakan fakto r yang m elekat p ada m asing-masing ind ividu sehingga berpengaruh pada motivasi individu dalam sebuah arena pemilihan. “Ethnic Competition and Modernization in Contemporary Africa”. January.28 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA politik. kontestasi berlangsung pada level lokal(kabupaten/kota). problem etnisitas akan semakin menguat ketika sistem demokrasi dijalankan oleh struktur partai politik dan elit politik—yang berbasis patronase etnis—yang menjadi pemenang tidak mampu be rsikap mo derat dalam kebijakan publik yang dijalankannya kepada pihak yang kalah dalam kontestasi pemilihan.Posner dkk (2007) berpendapat bahwa ada dua kecenderungan kalangan elit politik dan kandidat dalam menggunakan isu-isu etnis (playing ethnic card). . privinsi dan nasional. Menurut Jeremy Horowitz dan James D. 1985. Working Paper. Comparative Political Studies. Dem ocratic Survival in Multi-Ethnic Countries.Long. Fenomena ini terutama dapat dijumpai pada negara-negara demokrasi dimana partai-partai politik terbentuk dari jaringan etnis— kadangkala aliran keagamamaan dan dinasti politik. para po litisi dan kandid at b ias anya me ng gunakan berbagai pola pendekatan terhadap etnisitas menjelang 17 18 19 Lihat Robert Bates. 2006. Dalam hal ini apakah. Lebih lanjut lihat Donald Horowitz. Pertama. struktur p olitik clie nte lism ini juga s eringkali dijadikan perangkat politik (political tool) untuk melakukan mobilisasi dan dukungan terhadap kandidat dan partai. Horowitz dan Long (2006) juga melihat bahwa persoalan etnisitas dalam arena kontestasi ini dapat direduksi jika para kandidat dan politisi yang terpilih dalam arena pemilihan mampu memberikan sejumlah kebijakan publik yang memperhatikan dan mengakomodasi kalangan etnis minoritas yang kalah dalam kontestasi. Daniel N. Fenomena kekerasan seringkali muncul karena hal ini. problem etnisitas akan semakin menguat ketika sistem demokrasi dijalankan oleh struktur patronase politik—terutama bersumber dari warisan kolonialisasi dan sistem otoriter—sehingga sumber daya publik (public property) tidak dapat terdistiribusikan secara merata. Namun persoalan pada umumnya akan lebih berkurang jika dalam lingkungan masyarakat tersebut terdiri dari beragang suku yang kecil dan mampu melakukan koalisi. Persoalan kian rumit ketika masing-masing partai politik dan kandidat terus menerus melakukan mobilisasi pemilih dengan pe ndekatan se ntim en e tnis dan is u-is u antar etnis dengan berbagai cara yang tidak etis untuk mendapatkan kemenangan.

Kendatipun efektifitas dan signifikansi polisasi etnis masih menjadi perdebatan. Para ko ntestan kadang meng klaim dirinya sebagai representasi dari etnis tersebut sehingga dalam paket pilkada p rovinsi untuk p as ang an se lalu me re ka mengambil dari asal etnis sang kontestan23 . Sejumlah kekhawatiran akan adanya politisasi etnis dalam Pilkada di Sumatra Selatan antara lain dikemukakakn oleh Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Palembang Soleh Idrus. September 200724. Namun. Kepolisian Dae rah (Polda) Kalimantan B arat bahkan memprakarsai adanya komitmen bersama dari se mua p as ang an kand id at untuk tidak me lakukan eksploitasi isu etnisitas dan agama dalam mendukung pilihan dalam Pilkada K alimantan Barat. Isu etnisitas sempat muncul dalam Pilkada Jakarta. Lebih lanjut. Soleh Idrus melihat adanya pengaruh politik yang masuk ke organisasi etnis dari beberapa tokoh yang akan maju dalam pilkada. kesepakatan tersebut juga berisi agar tidak menggunakan yel-yel atau slogan yang memicu munculnya fanatisme sempit karena dapat menimbulkan konflik antaretnis dan agama. isu etnisitas nampak sempat muncul ke permukaan. K ep. Tribun Tim ur. Pada awal tahun 2005 sebelum Pilkada dilaksanakan diberbagai daerah di Indonesia. Apa yang disampaikan oleh Posner dkk(2007) tersebut nampaknya cukup penting dalam melihat kecenderungan dinamika etnisitas dalam berbagai peristiwa Pilkada di beberapa daerah di indonesia. Pertama. Namun dalam beberapa event Pilkada. 30 September. Tidak hanya itu. Komitmen tersebut tertuang dalam kesepakatan bersama antara calon gubernur dan wakil gubernur serta tim kampanye dan pimpinan partai politik. 28. isu etnisitas nampak tidak muncul ke permukaan. polarisasi etnis nampak mewarnai keseluruhan pros es pelaksanan Pilkada. lihat “Organisasi Etnis Diminta Netral”. dan Toraja) walaupun dari wilayahwilayah tersebut akan mencair lagi dalam sub-sub etnis. Politisasi etnis nampak juga pernah menjadi kekhawatiran kalangan elit menjelang Pilkada Kalimantan Barat. Fenomena inilah yang seringkali menjadi alasan bagi sebagian kalangan elit yang menilai bahwa Pilkada hanya akan membuka berbagai arena konflik etnis secara terbuka diberbagai daerah di Indonesia21. banyak statement dari kalangan elit— terutama dari kalangan konservatif—yang menilai bahwa Pilkada membawa berbagai ancaman akan terbukanya konflik komunal. etnisitas juga berhimpit dengan beberapa faktor lainnya seperti agama dan suku dimana keseluruhan faktor tersebut berpengaruh terhadap geopolitik. 1-2. kalangan yang meyakini bahwa isu etnisitas adalah tidak 20 21 22 23 24 Daniel N Posner. Dari beberapa Pilkada pada akhir tahun 2007 misalnya pertimbangan etnis nampak menjadi hal penting yang dilakukan oleh oleh pasangan kandidat. terutama nampak dari sejumlah iklan kampanye para kandidat yang berkompetisi. . dalam kadar tertentu hal itu tidak masalah. Namun kekhawatiran yang berlebihan tersebut selama tiga tahun terakhir Pilkada di Indonesia nampak tidak sebesar yang dibayangkan. dia menilai. Target yang ingin didapat adalah adanya kelekatan dengan etnis yang menjadi obyeknya (ethnic attachment). Sumatra S elatan22 .KAJ IAN BULANAN 29 arena pemilihan. namun Isu etnisitas menjadi kekhawatiran utama kalangan elit politik di Kalimantan Barat. para politisi dan kandidat memainkan kartu etnis (playing ethnic card) untuk mengamankan batas keunggulan yang dimilikinya dalam sebuah arena ko mpetisi baik ketika pe milu be rlangsung maup un setelah pemilu20 . Dinamika Etnisitas dalam Pilkada di Indonesia. di Pontianak pada hari Jumat. dalam wilayah Sulawesi Selatan terdapat beberapa suku yang berkontestasi (Bugis. Identitas Betawi ini kemudian diperkukuh dengan pakaian yang digunakan pasangan Fauzi-Prijanto yang menampilkan khas Betawi. Pasangan Adang -Dani jug a mengeks plorasi B etawi dengan mengerahkan personil Bajai Bajuri minus Rieke Dyah Pitaloka sebagai model kampanyenya di televisi. Persoalan etnis dalam banyak hal menjadi pertimbangan para elit dalam menentukan pasangannya ketika maju dalam Pilkada tingkat propinsi dan kabupaten. Dari ratusan event Pilkada yang pernah berlangsung di Indonesia. loc. 2007. Kedua. ethno-politik dan demografik para konstituen dalam Pilkada. sebagai cara dalam melakukan mobilitasi politik. Dalam memahami isu e tnisitas dalam P ilkada K alimantan Barat tersebut terjadi perbedaan pandangan tentang signifikansi faktor etnis dalam Pilkada. Luwu. “Kontestan Pilkada dan Sloganisasi”. Tasrifin Tahara. Media Indonesia. Dalam arena Pemilu Presiden 2004. Hal ini misalnya dapat dilihat d alam P ilkada Sulawe si Selatan. konflik etnis dan agama di berbagai daerah di Indonesia. Makassar. Beberapa konflik muncul lebih pada proses pelaksanaan Pilkada dan sikap ketidakpuasan terhadap kegagalan kandidat.Riau. 2007. Pasangan Fauzi-Prijanto mengeksplorasi personil Si Doel Anak Sekolah sebagai model dalam kampanyenya di televisi. Selain itu.cit. Di Sulawesi Selatan misalnya dari perspekstif geopolitik. hal. 23 April 2007 Lihat “Calon Kepala Daerah Kalimantan Barat Antisentimen Etnis”. Massenrepulu. Kalimantan Barat d an Bang ka Belitung. Seputar Indonesia. 28 Oktober.

Medan Bisnis.40% atau 3. 2007). Poso. daerah. Te ma-tema e tnis itas juga nampak terus berkembang menjelang Pilkada. Papua dan Kalimantan Barat. Syarif Ibrahim Alqadrie mengutip sejumlah hasil penelitian kontemporer tentang konflik komunal di Indonesia yang menunjukkan bahwa akar masalah (root factor) konflik kekerasan lebih disebabkan oleh ketidakadilan dan kesenjangan dalam bidang ekonomi dan politik yang dibungkus rapih ke dalam faktor pemicu (triger factors) yaitu faktor sosial budaya antara lain etnisitas dan religiusitas. Pengelolaan Secara Etis Belajar dari berbagai pengalaman selama pelaksanaan Pilkada dan Pemilu yang pernah berlangsung di Indonesia. Berdasarkan sensus tahun 2006. 10 Mei. seperti di Aceh. Mobilisasi politik atas nama etnik dan agama. 19 Juni. etnis Seme ndo 1. kalangan yang meyakini bahwa isu etnisitas masih sangat relevan dan me nentukan d alam Pilkada Kalim antan Barat26. Simalungun. Indikasinya. serta daerah-daerah di mana proporsi penduduk se cara etnik d an/atau ag ama relatif b erimb ang. Langkat. Pola pengelolaan secara etis dalam jangka panjang akan melahirkan budaya politik dan sistem politik lokal dan nasional yang lebih baik. “Pilgub : Kesadaran Etnis dan Professionalisme”. dengan mencoba membangun ikatan emosional secara etnis d an keagamaan2 7 . masih menjadi faktor pemicu yang tidak saja menimbulkan pertikaian tetapi juga mengancam integrasi sosial dan nasional. persoalan yang terpenting dalam menyikapi faktor etnis di sini adalah bagaimana melakukan pengelolaan secara etis.9 persen. Sumatra Se latan dan Maluku. potensial muncul di wilayah-wilayah di mana ketegangan etnis cenderung tinggi seperti di Kalimantan. Rasa kehilangan identitas yang dirasakan sebagai konsekuensi dari proses keterpinggirkan para anggota suatu kelompok etnis tertentu dalam bidang ekonomi dan politik cenderung menciptakan kesadaran etnis (ethnic consciousness)Lebih lanjut lihat Syarief Ibrahim Alqadrie. Ke khawatiran m unculnya sejum lah konflik yang bersumber dari isu etnisitas dan agama juga muncul menjelang Pilkada Sumatera Utara. Isu etnisitas juga nampak terus berkembang menjelang Pilkada Lampung. Bangka Be litung . dan daerah-daerah di mana relasi politik atas dasar kelas sosial masih cukup dominan29 . konflik yang bersumber dari mobilisasi politik atas nama “golongan darah” (bangsawan atau bukan). Kekhawatitan munculnya konflik yang bersumber dari mobilisasi politik atas nama etnik. “Politisasi Etnik Dalam Jabatan Politik” . partai politik 25 26 27 28 29 Pendapat seperti ini misalnya dikemukakan oleh Ireng Maulana. Kompas. agama. sudah atraktif dalam menarik simpati massa. menyebutkan. sejumlah nama yang disebut-sebut akan ikut maju. sudah mulai menjual isu etnis dan agama untuk menarik simpati rakyat. Sulawesi. Pontianak Post. 2007 Syamsuddin Harris.9 persen masyarakat Lampung merupakan masyarakat pendatang dari etnis Jawa. Syarif Ibrahim Alqadrie berpendapat bahwa identitas etnis (etnic identity). . 28 Februari. Kepulauan Riau. Pertam a. Dari s inilah kem udian etnis itas dan p olitik ide ntitas memb utuhkan pola pengelolaan dengan baik. budaya politik elit. 2005. etnis Jawa-Pujakesuma merupakan etnis mayoritas di Sumut. etnis Sunda 8. beberapa modal yang dimiliki etnis Jawa dalam memanfaatkan momen tersebut. Pontianak Post. Medan. Munculnya pasangan kandidat yang menggunakan sentimen etnis secara tidak etis nampak terus menjadi pemikiran kalangan elit di daerah ini. sekaligus meningkatkan hubungan silaturahmi dengan etnis lainnya28 . etnis Banten 2. Lihat “Sebagai Etnis Mayoritas. Mereka tersebar merata terutama di Deliserdang/ Serdang Bedagai. faktor etnis masih menentukan. konflik yang bersumber dari mobilisasi politik atas nama daerah asal (asli-pendatang) mungkin po te ns ial m unc ul d i ham pir s em ua daerah yang menyelenggarakan pilkada. 26 Agustus 2006. 2006 Lihat “Pilkada Gubsu Rawan Konflik”. Penggunaan sentimen etnis ini dalam arena Pilkada bahkan dianggap salah satu konflik potensial menjelang dan pasca Pilkada. baik secara bersama maupun terpisah. Lihat Ireng Maulana. Sejumlah kandidat baik yang dari parpol maupun birokrat dari pusat dan daerah dan tokoh-tokoh masyarakat. 27 Februari. sementara etnis asli Lampung 11. Sementara itu.602 jiwa adalah etnis Jawa. Irham Buana Nasution menilai potensi konflik di Pilkada Sumatra Utara cukup tinggi. Pengelolaan secara etis di sini terkait dengan perkembangan budaya politik di masing-masing daerah dan perilaku para elit politik yang terlibat dalam kontestasi demokrasi.5 persen. Choking Susilo Sakeh. dan darah. Ketua KPUD Sumatra Utara. Ambon. Idealnya Pujakesuma Tentukan Arah Pembangunan di Sumut”. Sum ut Pos.506.. 33. dan etnis lainnya 11 pe rsen (Kom pas. Labuhanbatu dan beberapa kabupaten/kota lainnya.8 persen. Misalnya sejumlah kelompok yang tergabung dalam asosiasi Pujakus um a yang m em and ang perlunya d ibang un kesadaran kolektif etnis Jawa.843. Kedua. 4 September.30 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA signifikan dalam Pilkada Kalimantan Barat 25 .6 persen. 2007 Misalnya Sekjen DPP Pujakesuma. Pengelolaan secara etis ini melibatkan aspek yang sangat kompleks mulai dari pola pendidikan politik terhadap para pemilih. Konidisi faktual menunjukkan di mana sekitar 61. Pendapat seperti ini misalnya yang dikemukakan oleh Syarief Ibrahim Alqadrie yang melihat.808 jiwa penduduk Sumut. dari 11. potensial muncul di daerah-daerah bekas kerajaan atau kesultanan di masa lalu. “Mengelola Potensi Konflik Pilkada”. Sementara itu. Asahan. etnis Palembang 2 persen.

John . Selain itu. Institute for Social Science Research. Harvard University. 1991. Horowitz. dalam Juma Okuku Anthony (ed).R. Kondisi ini tentu saja akan terus menjadi tantangan jangka panjang bagi perkembangan demokrasi pada level lokal (local politics) dan nasional di Indonesia. “Racial and Ethnic Politics in America”. Jeremy dan James D. Y. “Nationalism and Ethnicity : A Theoretical Perspective”. “Ethnic Competition and Modernization in Contemporary Afri ca”. Pengelolaan secara etis terhadap persoalan etnisitas dan politik identitas di sini dipengaruhi oleh bagaimana sistem demokrasi yang dianut oleh masing-masing negara dan bagaimana reg im politik yang terbentuk di mas ingmasing negara. Hill. 1974. Chistopher and James W. Vol.. . Berkeley. Paper Conference on Comparative Ethnicity University of California. Robert. geo-politik dan demografik masyarakat dan juga berbagai kebijakan publik yang berlangsung pada masing-masing wilayah. Cambridge.ohio-state. New York. Arend. Does Ethnicity Determines Support for the Governing Party : The Structural and Attitudinal Basis of Partisan Identification in 12 African Nations. Social Identity. Warhola.4. Language as a Variable : English Spanish. 2002. 2006. dan Dario V. 2001. Ethnic Groups in Conflict. Ethnicty and Political Opinion Polling in South Florida. California. Oxford: Oxford University Press. New York University. LCC. Erich and Kenneth Scheve.KAJ IAN BULANAN 31 dan kandidat. Walter O. Daniel N. Marsh. University of California. “The Wave of Power-Sharing Democracy” dalam Andrew Reynolds (ed). Pinderhuges. Voting Patterns By Race/Ethnicity in Arizona Congressional and Legislative Elections. 42. Working Paper. Brass. 2001. pada aspek penggunaan sentimen etnis. State Power and The Democratisation Process in Uganda. para kandidat. Bramfortein. sebab dari beberapa riset yang berkembang menunjukkan bahwa ada kecenderungan dimana kalangan elit politik menggunakan sentimen etnis dalam meningkatkan dukungan politiknya. Institution and Ethnic Politics in Africa.sbs. Moreno. Pertama. Kedua. Los Angeles. Kevin A. elit politik. Daft ar Pustaka Bates. Working Paper. Oyugi. Department of Political Science. Ethnoterritoriality and the Political Geography of Putin’s Electoral Support”.33. University of California Press. African Association of Political Science. 2005. No. Political Speech and Electoral Competition. Pippa Norris dan Robert Mattes. IGD Occational Paper No.. “Ethnicity. . 2004. Horowitz. Pendekatan Teoritis Dalam Pemahaman Konflik Etnis. Working Paper.Long. South Africa : Institute for Global Dialogue. Kennedy School of Government. January. Lisa. partai politik dan elit politik seringkali hanya sekadar menggunakan patronase etnis semata-mata untuk melakukan mobilisasi dalam arena pemilihan. P. The Architecture of Democracy . Posner. dalam Post-Soviet Geography and Economic. 2003. Dianne M. “Ethnicity In The Election Process: The 1992 General Election in Kenya”. Democratic Survival in Multi-Ethnic Countries.doc. pola pengelolaan secara etis di sini juga tergantung pada sejauh mana perkembangan budaya politik dari kalangan partai politik..edu/grads/ysulaimn/ My_articles/20010830. Penggunaan sentimen etnis secara umum membahayakan bagi perkembangan budaya politik dan demokrasi. Lijphart. Markakis. Handley. John F. Comparative Politic al Studies . para kandidat. dalam psweb. Sulaiman. karakter sos io-grafik. 1997. 1985. 1998. Te rm asuk di sini juga me mo ri so sial dan sejarah masyarakat berbagai etnis di masing-masing wilayah. New Delhi. Pengelolaan secara etis diperlukan. Ada perbed aan antara pe nggunaan sentimen e tnis dengan pengelolaan isu-isu etnis secara etis dalam menarik dukungan pemilih. partai politik dan elit politik merespons aspirasi masing-masing e tnis deng an program dan kebijakan publik yang menarik dan relevan bagi mereka. Sage. Donald . Cambridge University Press. Ethnicity. Namun pengelolaan isu-isu etnis secara etis dalam arena demokrasi dapat saja dilakukan dalam berbagai peristiwa demokrasi di Indonesia. 2002. kandidat dan para pemilih di berbagai daerah di Indonesia. Dickson. Florida International University. Ethnicity and Nationalism: Theory and Comparison. dalam pengelolaan isu-isu etnis. 1999. Department of Political Science. 1996-2000. . Frontier International Electoral Consulting.

id Kajian bu lanan ini dit er bit kan t iap awal bula n. 4514704. dengan menyebut sumber tulisan. Selain r iset .com) . Jakarta Utara Telp (021) 4514701. bisa menghubungi Ika Pr at iwi ( email: pr at iwiika@ ya hoo. LSI juga konsultan politik bagi kepala daer ah.32 LINGKARAN SUR VEI INDONESIA PEMIMPIN UMUM Denny JA REDAKSI Eriyanto (Ketua) Widdi Aswindi Eka Kusmayadi Sukanta Arman Salam Setia Dharma Redaktur Tamu: Bagus Sartono & Ahmad Nyarwi LINGKARAN SURVEI INDONESIA ( LSI) Jl. Fax (021) 45858035. 4587336 www. Kompleks Bukit Gading Mediterania Kelapa Gading.lsi . Raya Venesia EB 1. Diperbolehkan memper banyak at au mengutip bagian dari kajian bulanan ini. ber isi t ent ang analisis fenomena sosial polit ik di Indonesia berdasar kan dat abase dan survei yang dilakukan oleh Lingkar an Survei Indonesia. lokal) maupun sur vei untuk kalangan bisnis. Lingkar an Sur vei Indonesia ( LSI) adalah per usahaan pr ofesional yang mengkhususkan dir i pada kegiat an riset opini publik—baik survei polit ik ( nasional. .co. par tai polit ik ataupun politisi. Untuk permint aan berlangganan ( gr at is) kajian bulanan ini.