Fiqh adalah kata yang cukup akrab bagi setiap Muslim. Tapi apakah sebenarnya fiqh itu?

Samakah ia dengan syariat? Kalau tidak apa perbedaan keduanya? Fiqh menurut bahasa berarti faham. Sedang dalam terminologi Islam fiqh adalah hukum-hukum Islam tentang perilaku dan perbuatan manusia. Sedangkan syari’at adalah keseluruhan hukum yang diperuntukan oleh Allah SWT bagi manusia guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi, cakupan kata syari’at lebih luas daripada fiqh. Fiqh hanya membahas tentang perilaku, sedangkan syariat selain membahas perilaku dan perbuatan juga mengulas masalah-masalah aqidah, keimanan dan keyakinan.

Hukum mempelajari fiqh
Mempelajari fiqh mempunyai dua hukum. Fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu) mempelajari hal-hal yang dibebankan kepada setiap Muslim. Seperti mempelajari tata cara bersuci, shalat, puasa, dan lain-lain. Sedangkan mempelajari selain itu hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebuah komunitas Muslim, yang jika sebagian sudah melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban itu bagi yang lainnya. Tetapi jika tak ada satupun yang melaksanakannya maka keseluruhan anggota komunitas tersebut menanggung dosa), seperti mempelajari tata cara pengurusan jenazah, fiqh politik, dan lain-lain.

Sumber-sumber hukum fiqh Fiqh adalah produk ijtihad para ulama. Mereka menyarikan hukum-hukum fiqh tersebut dari sumber-sumbernya, yaitu: Al-Qur’an. Hadits, yaitu ucapan, perilaku, ketetapan dan sifat-sifat yang dinisbatkan kepada nabi Muhamad SAW. Namun tidak semua hadits dapat dijadikan dalil atau sumber pengambilan hukum. Sebab hanya hadits-hadits yang diyakini berasal dari Rasulullah SAW. atau mempunyai indikasi kuat berasal darinyalah yang dapat dijadikan pedoman. Ijma’, yaitu kesepakatan seluruh ulama-ulama mujtahid pada suatu masa tentang sebuah hukum. Qiyas, yaitu menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan hadits dengan hukum sesuatu yang di atur

Jinayat. yang mengulas tentang perilaku-perilaku menyimpang (mencuri. Ibadah. Karena hukum ini tidak berdasar pada sumbersumber hukum di atas dan hanya merupakan pertimbangan akal. kepemimpinan dan lain-lain. Siyasat. Muamalat. maka tidak bisa dibenarkan dan karenanya tidak boleh diamalkan.dalam Al-Qur’an dan hadits karena adanya persamaan kedua hal tersebut. yaitu hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas politik. yaitu hal ihwal bersuci. perceraian dan soal-soal hidup berumah tangga. yang berisi tentang tata cara beribadah seperti sholat. baik dari najis maupun dari hadats. Kalau laki-laki boleh mengimami wanita maka wanitapun juga boleh menjadi imam bagi laki-laki. Contoh Al-Qur’an menyebutkan bahwa minuman keras adalah haram. Ruang lingkup yang demikian luas ini biasanya dibagi dalam beberapa kelompok. peradilan. Ruang lingkup bahasan fiqh Sesuai dengan definisi fiqh diatas maka seluruh perbuatan dan perilaku manusia merupakan medan bahasan ilmu fiqh. Karena ekstasi bisa menimbulkan efek yang sama dengan minuman keras (memabukkan dan menghilangkan akal) maka hukumnya disamakan dengannya yaitu haram. zakat dan haji. yaitu:        Thaharah. zina dan lain-lain) dan sangsinya Faraidh. yang membahas tentang harta warisan dan tata cara pembagiannya kepada yang berhak. yaitu tenatang pernikahan. Munakahat. puasa. Alasannya adalah bahwa laki-laki itu setara dengan wanita. . merampok. yang membahas tentang bentuk-bentuk transaksi dan kegiatan-kegiatan ekonomi. Ekstasi adalah barang baru yang tidak disebut dalam Al-Qur’an maupun hadits. Jika tidak maka itu tidak boleh diamalkan. Contohnya adalah hukum yang memperbolehkan seorang wanita menjadi imam solat bagi makmum laki-laki. Setiap hukum harus mempunyai landasan dari sumber-sumber hukum tersebut.

sholat tahajjud dan lain-lain. yaitu sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan tanpa bernilai pahala dan dosa. puasa Senin Kamis. meminum minuman keras. baik yang masuk dalam ketujuh kelompok di atas maupun tidak semuanya mempunyai hukum. Contoh: memandikan mayit. Contoh: makan. Jika salah satu dari anggota komunitas itu sudah melaksanakannya maka gugurlah kewajiban itu ataas yang lain. zakat dan lain-lain. yaitu sesuatu yang jika ditinggalkan pelakunya mendapat pahala dan jika dikerjakan ia berdosa. Kata lain dari wajib adalah fardlu atau hatm. Wajib ini ada dua macam: o Wajib ‘ain (fardhu ‘ain). Jika dikerjakan maka pelakunya memperoleh pahala dan jika ditinggalkan maka ia menuai dosa. mensholatkan dan menguburkannya. 4.Singkat kata. yaitu sesuatu yang harus dikerjakan. puasa. Yaitu salah satu diantara lima hukum dibawah ini: 1. Contoh: minum dengan tangan kiri dan lain-lain. Makruh. Contoh: Sholat tarawih. o 2. Contoh: sholat. minum. Haram. Wajib kifayah (fardhu kifayah). yaitu sesuatu yang jika ditinggalkan pelakunya mendapat pahala namun jika ditinggalkan ia tidak berdosa. menggunjing dan lain-lain. Wajib. Tapi jika tak ada satupun yang melaksanakannya maka setiap anggota komunitas tersebut berdosa. Sunnah. tidur dan lain-lain. Contoh: zina. yaitu sesuatu yang jika dikerjakan maka pelakunya mendapat pahala namun jika ditinggalkan ia tidak berdosa. Mubah. yaitu kewajiban yang dibebankan kepada setiap individu Muslim. 3. Namun hal-hal yang masuk dalam kategori mubah ini bisa benilai pahala jika disertai dengan niat. yaitu kewajiban yang dibebankan kepada sebuah komunitas Muslim. Wallahu a’lam bishshowab . seluruh perbuaatan manusia.