P. 1
3.laporan_furuncle

3.laporan_furuncle

|Views: 721|Likes:
Published by Nita Andriyani

More info:

Published by: Nita Andriyani on Dec 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

39

Inflamasi

respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera
atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan,
mengurung (sekuester) agen pencedera maupun jaringan yang
mengalami cedera.
Aktivasi respon inflamasi terjadi pada jaringan yang cedera disebabkan oleh
infeksi, ischemia (defisiensi darah pada suatu bagian, akibat konstriksi
fungsional atau obstruksi aktual pembuluh darah), kehilangan nutrisi, defect
dari imun tubuh, bahan kimia, temperatur yang sangat tinggi, radiasi
ionisasi.
Inflamasi terbagi menjadi 2 pola dasar yaitu :

1)Inflamasi akut respon dini dari tubuh terhadap cedera atau kematian

sel.
Gambaran mikroskopis yang terjadi pada saat inflamasi :
Vasodilatasi arteriol
Peningkatan permeabilitas vaskular
Pembatasan area yang terkena luka dari jaringan yang tidak
mengalami radang (walling off). Proses pembatasan akan menunda
penyebaran penyakit dan produk toksik
Ekstravasasi leukosit
Adapun tanda-tanda pokok dari inflamasi akut :
a.Rubor (kemerahan)
Rubor biasanya merupakan hal pertama yang terlihat di daerah
inflamasi. Ketika reaksi inflamasi mulai timbul, terjadi vasodilatasi
arteriol yang mengakibatkan peningkatan aliran darah dan
penyumbatan lokal (hiperemia) pada aliran darah kapiler selanjutnya.
Peleburan pembuluh darah ini merupakan penyebab timbulnya
kemerahan (eritema).
b.Kalor (panas)

Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi inflamasi akut.
Panas merupakan sifat reaksi inflamasi yang hanya pada permukaan
tubuh. Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari
sekelilingnya.
c.Dolor (rasa sakit)

39

Dolor dari reaksi peradangan dapat dihasilkan dengan berbagai cara.
Perubahan pH lokal, konsentrasi lokal ion-ion tertentu dan pengeluaran
zat kimia tertentu (seperti histamin) dapat merangsang ujung-ujung
saraf. Selain itu pembengkakan jaringan yang meradang
mengakibatkan peningkatan tekanan lokal yang menimbulkan rasa
sakit.
d.Tumor (pembengkakan)
Tumor diakibatkan oleh peningkatan permeabilitas vaskular yang
mengakibatkan masuknya cairan kaya protein ke dalam jaringan
ekstravaskular sehingga menurunkan tekanan osmotik intravaskular
yang membuat air dan ion ke dalam jaringan ekstravaskular dan
berakumulasi di sana.
e.Fungtio laesa (perubahan fungsi)
2)Inflamasi kronik

Inflamasi kronik dapat dianggap sebagai inflamasi memanjang. Inflamasi
kronik dapat berkembang dari inflamasi akut. Perubahan ini terjadi ketika
respon akut tidak teratasi karena agen pencedera yang menetap atau
karena gangguan proses penyembuhan normal.
Inflamasi kronik terjadi pada keadaan :
Infeksi virus
Infeksi mikroba peristen
Respon yang lama terhadap agen yang berpotensi toksik
Penyakit autoimun

terjadinya reaksi imun terhadap antigen
dan jaringan tubuhnya sendiri yang berlangsung
terus-menerus.
Setelah proses inflamasi, jaringan melakukan penggantian sel yang cedera
secara ireversible terhadap normalitas histologis dan fungsional. Proses ini
meliputi netralisasi atau pembuangan berbagai mediator kimiawi,
normalisasi permeabilitas vaskular, penghentian emigrasi leukosit diikuti
kematian (apoptosis) neutrofil yang mengalami ekstravasasi, dan usaha
gabungan antara drainase limfatik dan penelanan makrofag pada debris
nekrotik yang menyebabkan pembersihan cairan edema, sel radang dan sisa
sel yang rusak, kemudian diikuti pembentukan jaringan parut (scarring) atau
fibrosis. Hal ini dilakukan jaringan agar terjadi regenerasi dan remodeling
jaringan yang ruska serta untuk menormalkan fungsi jaringan.

39

Infeksi

Infeksi invasi dan pembiakan mikroorganisme di jaringan tubuh, secara
klinis mungkin tidak tampak atau tidak timbul cedera seluler lokal
akibat kompetisi metabolisme, toksin, replikasi intrasel dan respon
antigen-antibodi.

Infeksi dapat terlokalisasi, subklinis dan bersifat sementara jika mekanisme
pertahanan tubuh efektif. Infeksi lokal dapat menetap dan menyebar
menjadi infeksi klinis atau kondisi penyakit yang bersifat akut, subakut atau
kronik. Infeksi lokal dapat menjadi sistemik bila mikroorganisme mencapai
sistem limfotik atau vaskular.

Abses & Furuncle

Abses kumpulan nanah setempat yang terkubur dalam jaringan atau
rongga yang tertutup.

Furuncle

peradangan atau infeksi pada kulit akibat infeksi bakteri
yang akhirnya akan membentuk supurasi/pernanahan.
Penyebab furuncle biasanya adalah bakteri (golongan stafilokokus) yang
pembentukannya dipengaruhi oleh iritasi lokal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->