P. 1
3.report_HS

3.report_HS

|Views: 2,171|Likes:
Published by Nita Andriyani

More info:

Published by: Nita Andriyani on Dec 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2013

pdf

text

original

Sections

BAGIAN I TINJAUAN PUSTAKA

1.1. MIKROSKOP Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk memperoleh pembesaran bayangan objek yang kecil dan memperlihatkan struktur secara detail sehingga mudah dibedakan. Mikroskop terbagi menjadi 2 yaitu: 1.1.1. Mikroskop cahaya

Mikroskop cahaya dapat dikelompokan menjadi mikroskop cahaya konvensional, kontras fase, interferens diferensial, polarisasi, konfokal, dan fluoresensi, yang semuanya bekerja berdasarkan interaksi cahaya dengan unsur jaringan.

Gambar : mikroskop cahaya binokuler (Biology Campbell; 1999)

Mikroskop terdiri dari bagian mekanik dan optik. Bagian optik terdiri atas 3 sistem lensa yakni kondensor, objektif serta okuler. Kondensor menampung dan memfokuskan cahaya, membentuk kerucut cahaya yang

menyinari objek yang diamati. Lensa objektif memperbesar dan meneruskan bayangan dari lensa objektif ke lensa okuler. Lensa okuler memperbesar bayangan ini dan memproyeksikannya ke retina pengamat. Faktor penentu untuk memperoleh bayangan yang tajam dan rinci dengan mikroskopadalah daya resolusinya, yaitu jarak terkecil diantara dua partikel, yang masih memperlihatkan kedua partikel ini sebagai objek yang terpisah. Daya resolusi maksimal mikroskop cahaya adalah sekitar 0,2 um, daya ini memberikan gambar yang baik denagn pembesaran 1000-1500 kali. Kualitas gambar, kejelasan dan rincian bergantung pada resolusi mikroskop tersebut. Daya resolusi sebuah mikroskop tergantung pada kualitas lensa objektifnya. Lensa okuler hanya memperbesar bayangan yang diperoleh dari lensa objektif, lensa okuler tidak mempertinggi resolusi. • Mikoskop cahaya konvensional Untuk menerangi objek mikroskop ini menggunakan sinar alam (cahaya matahari) langsung, bisa juga dengan menggunakan lampu listrik yang dipasang dibawah objek. Pembesarannya bisa mencapai 100-1000 kali. Mikroskop ini dipakai untuk melihat makhluk renik yang masih hidup atau yang sudah mati maupun untuk melihat bagian-bagian dari sel atau organel yang sebelumnya dibuat sediaan melalui proses fiksasi dan pewarnaan. • Mikroskop Fase Kontras Mikroskop fase kontras mempunyai sistem lensa yang menghasilkan bayangan yang terlihat dari objek transparan. Prinsip mikroskop fase kontras yaitu kecepatan cahaya akan berubah ketika menerobos struktur sel dan ekstrasel dengan indeks refraksi yang berbeda-beda. Dengan sistem fase kontras menyebabkan stuktur-struktur terlihat relatif lebih terang atau lebih gelap satu sama lain. • Mikroskop Interferens Diferensial Nomarski Mikroskop yang digunakan untuk mengamati detil refraktil yang sama seperti yang diamati mikroskop fase kontras tetapi menggunakan 2 sinar cahaya yang berbeda yang dipancarkan melalui spesimen dan saling bergabung pada bidang gambar. Menghasilkan bayangan 3 dimensi yang nyata dari sel dan jaringan yang hidup. • Mikroskop Polarisasi Mikroskop yang dilengkapi dengan alat polarisir dan analisir untuk mengukur perubahan cahaya yang terpolarisasi oleh spesimen. Mikroskop

polarisasi memungkinkan terlihatnya stuktur-struktur yang dibentuk oleh molekul yang sangat rumit.

Mikroskop Konfokal Hanya satu bidang spesimen yang sangat tipis yang dapat terfokus secara terpisah dari bidang lain, bidang spesimen yang terfokus dapat disatukan dan direkonstuksi menjadi sebuah gambar tiga dimensi.

Mikroskop Fluoresensi Bila zat tertentu disinari cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai, maka zat tersebut dapat memancarkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang. Fenomena ini disebut fluoresensi. Pada mikroskopi fluoresensi, sediaan jaringan disinari denagn sinar ultraviolet dan emisinya terdapat pada bagian spektrum cahaya tampak. Zat fluoresen tampak seperti partikel halus yang mengkilap dengan backround gelap. Dalam hal ini, diperlukan mikroskop dengan sumber cahaya ultraviolet yang kuat dan filter khusus yang menyeleksi cahaya dengan berbagai panjang gelombang yang dipancarkan oleh zat.

Resolusi Resolusi merupakan kemampuan untuk membedakan jarak terkecil antara dua objek. Resolusi pada mikroskop dilambangkan dengan D, jarak minimum antara dua objek berbeda. Nilai D yang lebih kecil berarti resolusi mikroskop akan semakin baik. Rumus D adalah sebagai berikut :

θ r λ

: setengah dari lebar angular dari kerucut kumpulan sinar di lensa objektif. : indeks refraktif dari medium : panjang gelombang cahaya yang digunakan (biasanya 0,53 µm)

Gambar : memperlihatkan sudut yang dikumpulkan oleh lensa objektif (2θ) 1.1.2. Mikroskop Elektron

Mikroskop electron ditemukan oleh Knoll dan Ruska tahun 1932. Mikroskop dengan pancaran elektron, sebagai pengganti cahaya yang memungkinkan pembesaran dan resolusi yang lebih besar. Mikroskop elektron mempunyai pembesaran sampai 100.000 kali. Mikroskop ini dibedakan menjadi 2 jenis berdasarkan interaksi elektron dengan komponen jaringan : • Mikroskop Elektron Transmisi (TEM) Mikroskop elektron transmisi adalah sebuah sistem pembentuk bayangan yang secara teoritis memungkinkan resolusi yang sangat tinggi (0,1nm). Namun pada praktiknya, resolusi pada kebanyakan mikroskop hanya sekitar 3 nm. Resolusi tinggi ini memungkinkan pembesaran sampai 400.000 kali untuk melihat secara rinci. Tapi pembesaran demikian hanya berlaku untuk molekul atau partikel yang terisolasi. Irisan jaringan yang sangat tipis dapat diamati secara rinci dengan pembesaran sampai 120.000 kali. Prinsip dari mikroskop elektron transmisi yaitu elektron dapat dibiaskan oleh medan elektromagnetik dengan cara yang serupa dengan pembiasan cahaya dalam lensa kaca.

(a)

(b) Gambar : (a) mikroskop elektron transmisi (TEM); keterangan gambar (1) High tension cable; (2) Electron emitter; (3) Stepper motors for centering the electron beam; (4) Condenser; (5) Aperture controls; (6) Specimen holder; (7) Objective lens; (8) Projector lens; (9) Optical binoculars; (10) Fluorescent screen; (11) Vacuum pump leads; (12) Goniometer; (13) Vacuum and magnification control; (14) Focusing control. (b) virus polio yang dilihat oleh mikroskop electron transmisi.
(en.wikipedia.org)

• Mikroskop Scanning Elektron (SEM) Dengan miokroskop ini memungkinkan pandangan pseudo-3 dimensi dari permukaan sel, jaringan dan organ. Mikroskop ini menghasilkan berkas elektron yang sangat halus dan digerakkan secara berurutan dari titik ke yiyik melalui spesimen. Berbeda dengan elektron pada mikroskop transmisi, elektron pada mikroskop scanning tidak menembus spesimen, hanya menampakkan gambar permukaan.

(b) Gambar : (a) bagian dari mikroskop scanning electron (SEM); (b) sel darah yang dilihat oleh SEM
(en.wikipedia.org)

(a)

1.2.SORTING SELL 1.2.1.

Sorting sel dan bagian-bagiannya Isolasi sel; tentukan sel apa yang akan diamati, isolasi sel dari bentuk jaringn yang memiliki campuran tipe sel. Pisahkan sel-sel yang terikat dalam 1 jaringan Disrupt extraseluler matrix dan intraseluler matrixs hingga yang tersisa hanya sel. Untuk melakukannya dipakailah enzim proteolisis ( tripsinogen colagen ) atau oleh agen EDTA yang mengikat atau chelate, Ca, dan which cell-cell adhesion dependents. Jaringan kemudian dapat dipisahkan. Menggunakan cara FACS ( Fluorosence Activated Cell Surface ) o Memancarkan cahaya o Memisahkan berdasarkan densitasnya o Dalam pemisahan sel terdapat anti bodi o Antibodi ini akan dilabelkan melalui FACS, lebel digunakan untuk sel isotop o Label digunakan untuk menangkap warna di FACS

• •


Gambar : sel terpisah berdasarkan label yang diberikan setelah penambahan FACS

1.2.2. • •

Cell culture Primary culture : culture dari jaringan-jaringan organisme ada atau tanpa step fraksinasi sel awal. Secondary culture : primary culture dapat dibentuk kembali dari culture dish dan digunakan dalam jumlah besar. Unsur terpenting dalam medium adalah glukosa Prokariotik dan eukariot mudah tumbuh dalam medium culture Garam merupakan komponen minimal dari medium Sel hewan jauh lebih sulit tumbuh dibandingkan sel tumbuhan. Metoda fraksinasi Mengambil bagian dari sel

• •

1.2.3.

Dengan cara osmotic shock atau ultrasonik vibration untuk meluluhkan membran plasma dan membran retitikulum endoplasmik Organel-organel terlihat kemudian centrifuge, sehingga terpisah berdasarkan berat organel Akan terpisah menjadi endapan dan supernatant


Metoda Ultrasentrifuge • • • • • • Dengan menggunakan ultracentrifuge akan terpisah berdasarkan berat dan density Bila di sentrifuge degan kecepatan yang tinggi akan terpisah lebih cepat Bila kecepatannya rendah maka di endapanya akan didapatkan pelet/mitokondria Velocity sendimentasi menghasilkan endapan = menggunakan kecepatan untuk

Setelah terpisah diberikan proteksiagar tidak tercampur kembali Ultracentrifuge kecepatannya 8000 rpm = 500000 kali gravitasi

Gambar : sentrifuge

Metoda Osmotik shock • Buat suatu cairan yang hipotonik sehingga terjadi lisis

Lakukan pemisahan organel dengan centrifuge

Kecepatan
1. 600 g 2. 15000 g 3. 100.000 g 4. 300.000 g 5. Sisa

lama
10 menit 5 menit 60 menit 2 jam Nuclei

Endapan
Mitokondria, kloroplas, lisosom, peroksisom Membran plasma, poliribosom, fraksi RE Subunit ribosom, small polyribosom sitosol

Keterangan g : gravitasi

1.3.SEL

Sel adalah unit struktural dan fungsional makhluk hidup, yang dapat melaksanakan kehidupan. Ada 2 jenis sel yang secara fundamental berbeda, namun terdapat begitu banyak kemiripan biokimiawi diantara kedua jenis sel tersebut sehingga banyak peneliti mengatakan bahwa sel yang satu berevolusi dari kelompok sel yang lain. 1. Sel Prokariotik Sel-sel ini berukurang kecil (panjang 1-5 μm), dengan dinding sel di luar plasmalema, dan tidak dilengkapi selaput inti yang memisahkan materi genetic (DNA) dari unsure sel lainya. Selain itu, prokariot tidak mempunyai histon (protein basa spesifik) yang terikat pada DNA, dan umumnya tidak memiliki organel bermembran. Hanya ditemukan pada bakteri (eubacteria dan arachaebacteeria) dan sianobacteri. 2. Sel Eukariotik Sel ini berukuran lebih besar, dengan inti yang jelas yang diliputi selaput inti. Histon berhubungan dengan materi genetic, dan terdapat banyak organel berlapis membrane di dalam sitoplasma. Terdapat pada protista, fungi, animal, dan plantae.

Kedua jenis sel tersebut memiliki beberapa perbedaan, antara lain sebagai berikut :
Sel Prokariotik Ukuran Membran Inti Sistem endomembran Organisme Metabolisme DNA RNA dan Protein 1-10μm Tidak ada Tidak ada Bakteri dan Cyanobakteri Anaerob / aerob Melingkar di Sitoplasma Sel Eukariotik 10-100μm Ada Ada Protista, hewan,tumbuhan Aerob jamur,

Dilindungi oleh membran inti Disintesis di tempat yang sama RNA disintesis di Nukleus Protein disintesis Sitoplasma Ganda 80s (50s+30s) di

Kromosom Ribosom

Tunggal 70s (50s+20s)

(a)

(b)

Gambar : model tipe sel; (a) sel eukariot pada hewan; (b) sel prokariot pada bakteri
(Microsoft ® Encarta ® 2007. © 1993-2006 Microsoft Corporation)

Fungsi sel diantaranya ialah : 1. Sel mempertahankan suatu barier yang selektif (membran plasma) diantara sitoplasma dan lingkungan ekstraselular. 2. Sel yang berisi materi hereditas membawa intruksi dalam bentuk kode untuk proses sintesis sebagian besar komponen selular. 3. Sel melakukan aktivitas metabolik. Adapun fungsi sel dalam beberapa sel khusus :

Fungsi Pergerakan Sintesis dan sekresi enzim Sintesis dan sekresi steroid Sel otot

Sel khusus Sel asinus pankreas Sel kelenjar adrenal, testis, ovarium

Sintesis dan sekresi substansi Sel kelenjar mukosa mukosa Sel-sel ginjal dan sal.kelenjar liur Transpor ion Makrofag dan beberapa sel darah Pencernaan intrasel Absorpsi metabolit putih Sel-sel usus

Sel tersusun dari 2 komponen utama, yaitu :

1.3.1. a. Struktur

Nukleus (Inti Sel)

Nukleus merupakan organel terbesar pada sel. Inti nucleus mengandung sketsa untuk semua struktur dan aktivitas sel, yang dikode di DNA kromosom. Inti sel juga mengandung perangkat molecular untuk mereplikasi DNAnya dan untuk menyintesis dan memperoses 3 jenis RNA-ribosom. Nukleus (inti sel) tersusun atas selubung inti, kromatin, dan nucleolus.

Gambar : model sel eaukariotik secara umum beserta organelnya.

• Selubung inti (membrane nuclear) Dengan mikroskop electron, terlihat bahwa inti sel dikelilingi oleh 2 unit membrane parallel, yang dipisahkan oleh celah sempit (40-70 nm) yang disebut sisterna perinuklear. Membrane bagian dalam lebih halus, sedangkan membrane luar biasanya mengandung ribosom dan menyatu dengan RE. Membran dalam dan luar bergabung dalam interval jarak yang tidak beraturan di sekitar nucleus untuk membentuk pori-pori nucleus. • Kromatin Terlihat seperti gumpalan yang tidak beraturan atau granula basofilik kuat atau benda berwarna biru yang menyebar ke seluruh nucleus.

Kromatin disusun oleh rantai pilihan untai DNA yang terikat pada protein basa (histon). Padas el yang membelah, kromatin menebal dan berpilin menjadi suatu unit khusus. • Nukleolus (anak inti) Nukleolus adalah struktur bulad berdiameter sampai 1 μm yang kaya akan RNA-ribosom dan protein. Ukuran dan jumlah nucleolus bervariasi pada setiap sel yang berbeda.
b.

Fungsi Nukleus sangat penting untuk keseluruhan aktivitas selular. Nukleus juga mengatur materi genetic sel (DNA) yang mengkode informasi untuk mengontrol sintesis protein dan reproduksi sel, dua fungsi sel yang sangat penting.

Gambar : model nukleus beserta nukleolus dan double membran nukleus yang berpori.

1.3.2.

Sitoplasma

Sitoplasma dipenuhi oleh partikel-partikel dan organel-organel berukurang besar dan kecil. Sitoplasma terdiri dalam 2 bentuk, yaitu : • • Cairan : Sitosol Padatan : Organel sel, sitoskeleton

Sitosol tersusun atas air, protein, asam amino, vitamin, nukleotida, asam lemak,gula dan ion-ion. Sitosol bersifat koloid complex (antara sol dan gel).

Sitosol berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan-bahan kimia yang penting bagi metabolisme sel, seperti enzim, karbohidrat, lemak, protein. Dalam sitoplasma itulah berlangsung kegiatan pembongkaran dan penyusunan zat-zat melalui reaksi kimia, seperti sintesis lemak, proses pembentukan energi.

1.4. STRUKTUR DAN FUNGSI MEMBRAN PLASMA Membran Plasma merupakan tahap yang sangat penting dalam terjadinya kehidupan. Tanpa membrane plasma sebuah sel tidak mungkin melangsungkan kehidupannya. Membrane plasma yang menyelubungi sebuah sel selain membatasi keberadaan sebuah sel, juga memelihara perbedaan-perbedaan pokok antara isi sel dengan lingkungannya. Membrane juga berkemampuan untuk memilih bahan-bahan yang melintasinya dengan tetap memelihara perbedaan kadar ion di luar dan di dalam sel. Membrane Plasma memiliki susunan umum yang terdiri dari molekulmolekul lipid dan protein yang terikat secara non-kovalen. Pada pengkajian dengan defraksi sinar X pada berbagai membrane organisme hidup menunjukkan bahwa molekul-molekul lipid tersusun dalam 2 lapisan yang didukukng oleh kenyataan bahwa membrane tersebut dapat dibelah secara mekanik melalui bidang tengahnya menjadi 2 lapisan tunggal, apabila membrane tersebut dibekukan dahulu. Hasil pembelahan ini dapat diperlihatkan dengan mikroskop electron. Molekul-molekul lipid dari membrane sel tersusun dari 3 jenis, yaitu : fosfolipid yang terbanyak, kolesterol, dan glikolipid. Yang dimana ketiga jenis lipid tersebut bersifat amfipotik yang berarti molekulnya memiliki ujung hidrofobik (non polar) dan ujung hidrofilik (polar). Molekul fosfolipid memiliki kepala yang polar dan dua ekor ujung yang non polar. Biasanya salah satu dari ekor tersebut berasal dari gugus asam lemak jenuh, sedang ekor yang lain berasal dari gugus asam lemak tak jenuh. Adanya ikatan rangkap 2 antara atom karbon menyebabkan membengkaknya rantai gugus asam lemak. Fosfolipid yang mengandung asam lemak tersebut dapat berubah bentuk dari bersifat cair menjadi bersifat kaku (rigid crystalline). Lipid bilayer berperan sebagai penghalang zat-zat yang larut dalam air. Dalam lapisan lipid inilah tertanam protein yang mempunyai berbagai

fungsi, antara lain sebagai pengemban (carier) untuk mengangkut molekulmolekul tertentu masuk dan keluar sel; sebagai enzim, terutama reaksireaksi enzimatis yang berkaitan dengan fungsi membrane. Kolesterol mengatur fluiditas membrane dan juga mencegah perlengketan antara asam lemak dan fofolipid yang satu dengan asam lemak dan fosfolipid yang lainnya. Fluiditas membrane sangat berguna untuk memungkinkan protein berputar ataupun bergerak didalam membrane. Walaupun komponen terbesar di dalam membrane adalah lipid, namun fungsi yang spesifik dilaksanakan oleh protein. Protein membran tersusun secara tidak beraturan yang menembus lapisan lemak. Jadi dapat dikatakan membran sel sebagai struktur yang dinamis dimana komponenkomponennya bebas bergerak dan dapat terikat bersama dalam berbagai bentuk interaksi semipermanen.

1.4.1.

Struktur

Gambar : struktur membrane plasma

Membran terdiri dari protein dan lipid yang tebalnya kurang lebih 5 nm dan saling berikatan dengan ikatan non-kovalen. Struktur membrane yang nonpolar (hidrofobik) berada di tengah dan polar (hidrofilik) di bagian tepi.

Beberapa protein dan lipid mempunyai residu karbohidrat yang melekat padanya, yaitu berupa glikoprotein dan glikolipid. Bentuk membrane yang merupakan lipid bilayer adalah komponen dasar yang berperan sebagai penghalang zat-zat yang larut dalam air. Dalam lapisan lipid inilah tertanam protein yang mempunyai berbagai fungsi, antara lain sebagai pengemban (carrier) untuk mengangkut molekul-molekul tertentu masuk dan keluar sel, sebagai enzim, terutama reaksi-reaksi enzimatis yang berkaitan dengan fungsi membrane.

Gambar : struktur fosfolipid, pembentuk dasar lipid bilayer. (Biologi Molekuler
Medik 1 ; M. Nurhalim Shahib 2005)

Fosfo lipid yang merupakan komponen dasar pembentuk membrane bilayer terdiri dari bagian ekor yang berupa dua rantai asam lemak yang berikatan dengan bagian kepala pada gliserol yang berikatan dengan fosfat dan bagian polar. Bagian kepala bersifat hidrofilik sedangkan bagian ekor hidrofobik. Bagian polar dapat berupa khorin, serin, ethanolamine dan lain sebagainya. LIPID Inositol-PI-) fosfolipid kolesterol glikolipid PROTEIN Integral ( Protein 3, Protein 4.5, dan Glikoforin ) Perifer ( Spektrin, Aktin, Protein 4.1, Protein 4.2, Protein 4.9, Protein 7, Protein 8, Ankirin dan GAPD). (Fosfatidil Kolin-PC-, Serin-PS-,Etanolamin-PE-,

Beberapa protein dalam membrane plasma : 1. Glikoforin Merupakan protein integral yang mengandung sialoglikoprotein. Protein ini pada bagian terminalnya mengandung asam sialat dan residu galaktosil. Protein ini memiliki aktifitas antigenic dan memberikan gugus yang bermuatan pada membrane sel karena mengandung asam sialat. 2. GAPD ( Gliseraldehidfosfat Dehidrogenase) Bentuk monomer dari GAPD pada gel elektroforesis sebagai pita 6 (band 6). Protein ini juga dapat melekat pada protein 3. 3. Spektrin Protein ini terdiri dari 2 subunit, yaitu spektrin α (protein 1) dan spektrin β (protein 2) yang membentang lateral dari anti parallel, berbentuk heterodimer dan kepala-kepalanya berbentuk. Secara morfologi merupakan molekul fleksible pada spektrin α terdapat tempat melekatnya spektrin β. 4. Aktin Protein ini muncul sebagai pita 5 pada gel elektroforesis. Protein ini juga termasuk sitoskeleton (mikrofilamen atau filament aktin). 5. Ankirin Ankirin (protein 2.1) dikenal sebagai sindein. Proein ini mengandung tempat pengikat dengan spektrin β dan protein 3. Ankirin juga dapat dipecah oleh enzim proteolitik. 6. Kolesterol Kolesterol mengatur fluiditas membrane dan juga mencegah perlengketan antara asam lemak dan fofolipid yang satu dengan asam lemak dan fosfolipid yang lainnya. KARBOHIDRAT Molekul CH ini sebenarnya tidak merupakan molekul terpisah seperti molekul lipid dan protein, tetapi dalam bentuk terikat dengan lipid dan protein. Sehingga dapat dibagi dalam bentuk glikolipid dan glikoprotein. Fungsinya antara lain : Menentukan tipe golongan darah ABO dan MN Mengenal sel asing (bakteri) karena perbedaan glikoprotein Kontak inhibisi.

1.4.2.

Fungsi utama

1. Membran merupakan suatu pembatas fisik sel atau pembatas bagianbagian sel yang dapat mempertahankan bentuk dan komparmental sel. Sebagai contoh adanya asam sialat yang bermuatan negative pada membrane eritrosit mencegah penempelan antar sel sehingga sel tersebut dapat tetap berfungsi dengan bentuk yang normal walaupun kerapatan sel yang luar biasa padat. 2. Strukturnya memungkinkan terjadinya transpor molekul-molekul tertentu baik dari luar ke dalam sel maupun dari dalam ke luar sel serta proses transpor dari suatu kompartemen ke kompartemen lainnya dalam sel.
3. Membran dapat menjadi tempat media penghantar sinyal kimia atau

energy dari satu bagian ke bagian lain. Dalam hal ini membrane berperan membentuk komunikasi antar sel. Sebagai contoh tempat interaksi antara hormone dengan reseptor, antara ion kalsium dengan protein kanal (ion chanel protein). Pada mitokondria dapat mempertahankan gradient proton yang berperan untuk sintesa ATP. Di samping itu molekul protein membrane memberikan sinyal ke dalam sel sehingga pertumbuhan sel terhenti. Pada proses keganasan, kemampuan kontak inhibisi tersebut hilang sehingga tumbuh tidak terkendali. 4. Membran mempersiapkan lingkungan yang optimal bagi berlangsungnya proses biokimia di dalam sel. Dalam hal ini membrane dapat membentuk bangunan intraseluler berfungsi spesifik. Seperti ini sel yang bisa melaksanakan proses pengaturan ekspresi gen, Lisosom dapat mempertahankan pH asam dibandingkan sitoplasma sehingga enzim hidrolase dapat bekerja, reaksi imunologis, dan lain-lain. 1.4.3. Sistem Transport Membran

Salah satu fungsi dari membran sel adalah sebagai lalu lintas molekul dan ion secara dua arah. Molekul yang dapat melewati membran sel antara lain ialah molekul hidrofobik(CO2, O2), dan molekul polar yang sangat kecil (air, etanol). Sementara itu, molekul lainnya seperti molekul polar dengan ukuran besar (glukosa), ion, dan substansi hidrofilik membutuhkan mekanisme khusus agar dapat masuk ke dalam sel. Banyaknya molekul yang masuk dan keluar membran menyebabkan terciptanya lalu lintas membran. Lalu lintas membran digolongkan menjadi dua cara, yaitu dengan transpor pasif untuk molekul-molekul yang mampu

melalui membran tanpa mekanisme khusus dan transpor aktif untuk molekul yang membutuhkan mekanisme khusus. Transport Pasif Transpor pasif merupakan suatu perpindahan molekul menuruni gradien konsentrasinya. Transpor pasif ini bersifat spontan difusi osmosis, dan difusi terfasilitasi merupakan contoh dari transpor pasif. Difusi terjadi akibat gerak termal yang meningkatkan entropi atau ketidakteraturan sehingga menyebabkan campuran yang lebih acak. Difusi akan berlanjut selama respirasi seluler yang mengkonsumsi O2 masuk. Osmosis merupakan difusi pelarut melintasi membran selektif yang arah perpindahannya ditentukan oleh beda konsentrasi zat terlarut total (dari hipotonis ke hipertonis). Difusi terfasilitasi juga masih dianggap ke dalam transpor pasif karena zat terlarut berpindah menurut gradien konsentrasinya. Contoh molekul yang berpindah dengan transpor pasif ialah air dan glukosa. Transpor pasif air dilakukan lipid bilayer dan transpor pasif glukosa terfasilitasi transporter. Ion polar berdifusi dengan bantuan protein transpor. Transport Aktif Transpor aktif merupakan kebalikan dari transpor pasif dan bersifat tidak spontan. Arah perpindahan dari transpor ini melawan gradien konsentrasi. Transpor aktif membutuhkan bantuan dari beberapa protein. Contoh protein yang terlibat dalam transpor aktif ialah channel protein dan carrier protein, serta ionophore. Yang termasuk transpor aktif ialah coupled carriers, ATP driven pumps, dan light driven pumps. Dalam transpor menggunakan coupled carriers dikenal dua istilah, yaitu simporter dan antiporter. Simporter ialah suatu protein yang mentransportasikan kedua substrat searah, sedangkan antiporter mentransfer kedua substrat dengan arah berlawanan. ATP driven pump merupakan suatu siklus transpor Na+/K+ ATPase. Light driven pump umumnya ditemukan pada sel bakteri. Mekanisme ini membutuhkan energi cahaya dan contohnya terjadi pada Bakteriorhodopsin.

1.5.STRUKTUR DAN FUNGSI ORGANEL 1.5.1. Ribosom

a. Struktur Ribosom tidak memiliki membran, berbentuk granula kecil berwarna hitam yang tersusun atas RNA ribosomal dan protein. Ribosom yang

saling bergabung melalui untaian mRNA membentuk poliribosom (polisom). Ribosom ada yang menempel pada membran Retikulum Endoplasma dan juga ada yang bebas di dalam sitosol. b. Fungsi Ribosom yang menempel pada membran RE : mensintesis protein untuk dibawa ke luar sel melalui RE dan kompleks Golgi. Ribosom yang bebas di dalam sitosol : mensintesis protein untuk keperluan di dalam sel, contohnya enzim-enzim yang mengkatalis proses metabolisme yag bertempat di dalam sitosol.

Gambar : Ribosom; pada permukaan reticulum endoplasma kasar ribosom terlihat dengan warna yang lebih gelap. Ribosom juga ditemukan bebas dalam sitoplasma, merupakan tempat sintesis protein. (Microsoft ® Encarta ® 2007. © 19932006 Microsoft Corporation)

1.5.2.

Retikulum Endoplasma (RE)

a. Struktur RE merupakan labirin membran yang demikian banyak. RE terdiri dari jaringan tubula dan gelembung membran, yang disebut sisterna, yang bersambung juga dengan membran nukleus. Ada 2 macam RE, yaitu RE halus (yang tidak ditempeli oleh ribosom), yang terletak dekat dengan membran plasma dan RE kasar (yang ditempeli oleh ribosom), yang terletak dekat (menempel) dengan nukleus.

RE kasar

RE halus

b. Fungsi RE halus seperti sintesis lipid, metabolisme

• Proses Metabolisme; Karbohidrat

• Menetralkan obat dan racun, khususnya di dalam sel hati • Penetralan racun biasanya melibatkan penambhan gugus OH ke dalam obat, yang menyebabkan obat tersebut lebih mudah larut dan mudah dikeluarkan dari tubuh. RE kasar • Menampung protein yang disintesis oleh ribosom untuk disalurkan ke kompleks golgi dan akhirnya dikeluarkan dari sel. Protein Sekretoris; RE ini banyak dijumpai di dalam sel sekresi protein, seperti sel pankreas, fibrolas (kolagen). Sebagian besar protein sekretoris berupa glikoprotein, yang terikat secara kovalen pada karbohidrat. Protein sekretoris keluar dari RE yang dibungkus oleh vesikula.

• 1.5.3.

Produksi membran

Kompleks Golgi

a. Struktur Terdiri dari kantung membran yang pipih yang tampak seperti tumpukan roti ( roti bulat dan datar). Bagian inner golgi kan bertemu dengan RE, sedangkan bagian outer golgi akan menghadap ke membran plasma. Golgi terletak dekat dengan membran plasma. Bagian dalam(inner) golgi dinamakan cis golgi, sedangkan outer dinamakan trans golgi. b. Fungsi • Organel sekretori glioksilat pada protein sehingga terbentuk

• Menambahkan glikoprotein

Membentuk lisosom

Cara kerja Golgi : Protein hasil sintesis yang berlangsung di ribosom di tampung di RE. Oleh RE, protein tersebut dimasukkan ke dalam vesikel (gelembung). Kemudian vesikel tersbut “berenang” di dalam sitosol menuju kompleks golgi. Vesikel tersebut akan masuk ke golgi melalui muka (bagian) cis golgi, dengan bergabung membran golgi. Di dalam golgi, protein tersebut akan dimodifikasi dan disimpan. Protein akan direaksikan dengan zat-zat lain, diantaranya direaksikan dengan glioksilat menjadi glikoprotein. Glikoprotein tersebut akan dimasukkan ke dalam kantong-kantong sekresi, yang akan siap disekresi ke luar golgi melalui muka (bagian) trans golgi. Akan tetapi sebelumnya, golgi menyortir kantong-kantong tersebut dan mengarahkannya ke berbagai bagian sel. Kantong-kantong tersebut akan disekresi dan akan “berenang” di dalam sitosol dan bergabung dengan membran plasma. Membran plasma membuka (memberi celah) untuk jalan, untuk mengeluarkan protein dari dalam sel ke luar sel.

Gambar : model kompleks golgi; cis golgi menghadap ke reticulum endoplasma, sedangkan trans golgi menghadap ke membrane plasma.

1.5.4.

Mitokondria

a. Struktur Mitokondria panjangnya sekitar 1-10 μm. Mitokondria dibungkus oleh selubung yang terdiri dari dua membran, masing-masing merupakan bilayer fosfolipid yang mempunyai kumpulan protein yang tertanam. Dua membran tersebut ialah membran luar halus dan membran dalam yang berlekuk-lekuk (krista). Membran dalam membagi mitokondria menjadi 2 bagian, yaitu ruang intermembran dan matriks mitokondria (yang berisi protein, DNA, RNA, ribosom).

b. Fungsi Respirasi selular yang menghasilkan atau memproduksi energi dalam bentuk ATP sehingga digunakan sebagai pembangkit tenaga sel. 1.5.5. Lisosom

a. Struktur

Merupakan kantung kecil yang terikat membran yang berisi enzim hidroitik yang berfungsi dalam pencernaan intraselular, yaitu mencerna zat-zat yang masuk ke dalam sel. Lisosom dibentuk dari : RE (secara langsung) atau tidak lansung (dari RE masuk ke kompleks golgi terlebih dahulu). b. Fungsi • Pencernaan intraselular

Sel menelan organisme dan partikel makanan lain, seperti bakteri, virus secara fagositosis, maka makanan (bakteri) itu dimasukkan ke dalam vakuola makanan. Vakuola akan bergabung dengan lisosom. Enzim dari lisosom akan masuk ke dalam vakuola, kemudianmencerna bakteri, dengan cara memecah ikatannya dengan penambahan air. • Pertumbuhan dan perbaikan selular; dengan cara memindahkan komponen yang sudah rusak atau berlebihan.

Gambar : Produksi lisosom; dibentuk oleh RE (secara langsung) atau tidak lansung (dari RE masuk ke kompleks golgi terlebih dahulu).

Konsep mutakhir tentang fungsi lisosom. Sintesis terjadi dalam reticulum endoplasma kasar (RER), dan enzim dikemas dalam kompleks golgi. Perhatikan heterofagosom, tempat bakteri dihancurkan, dan autofagosom, dengan RER dan mitokondria dalam proses pencernaan. Heterofagosom dan autofagosom merupakan lisosom sekunder. Hasil pencernaanya dapat diekresi, namun kadangkadang lisosom sekunder membentuk badan residu, yang mengandung sisa molekul yang tidak tercerna. Pada beberapa sel, seperti osteoklas, enzim lisosom disekresi ke dalam lingkungan ekstrasel.

1.5.6.

Peroksisom

a. Struktur Merupakan organel kecil yang mengandung enzim katalase. Peroksisom itu sendiri melakukan oksidasi substrat tertentu dengan melepaskan atom hidrogen yang dipindahkan ke oksigen (O2), yang mana menghasilkan peroksida (H2O2), yaitu zat yang sangat merusak sel. Akan tetapi, karena adanya enzim katalase, akan merombak H2O2 menjadi O2 dan H2O. b. Fungsi
• •

Melindungi sel dari pengaruh H2O2 (peroksida) Mengandung enzim yang terlibat dalam metabolisme lipid

1.5.7.

Vesikel Sekretoris / Granula Sekretoris

Terdapat di dalam sel-sel yang menimbun produknya hingga pelepasanya diisyaratkan oleh suatu produk metabolic, hormonal, neural (sekresi terencana) dan juga sebagai vesikel penyimpanan di dalam sitoplasma.

1.5.8.

Proteasom

Kompleks protease-multiple yang mencerna protein yang akan dihancurkan dengan melekatkan pada ubikuitin. Degradasi protein penting untuk menghilangkan kelebihan enzim dan protein lain yang tidak berguna lagi untuk sel setelah kedua zat tersebut melakukan fungsinya dan juga untuk menghilangkan protein yang secara keliru dibentuk.

1.5.9.

Sentriol

a. Struktur Sentriol adalah struktur silindris (berdiameter 0,15 µm dan panjang 0,3-0,5 µm) yang tersusun terutama atas mikrotubulus pendek yang sangat teratur. Setiap sentriol terdiri atas 9 pasang mikrotubulus yang tersusun berupa triplet, memiliki dinding yang sama. b. Fungsi Mengatur pembelahan sel, produksi mukrotubulus dan mikrofilamen, produksi silia dan flagella, mengontrol kadar garam.

Gambar : struktur sentriol.

1.5.10.

Silia dan Flagela

a. Struktur

Bentuk tunggal silium dan flagellum adalah tonjolan-tonjolan motil dan ditutupi membrane sel, dengan pusat mikrotubulus yang sangat teratur. Sel bersilia biasanya memiliki sejumlah besar silia, masingmasing dengan panjang sekitar 2-3 µm. Sel berflagel hanya memiliki satu flagela, dengan panjang mendekati 100 µm. Pada manusia, spermatozoa adalah satu-satunya jenis sel dengan sebuah flagellum. b. Fungsi Menyapu cairan dari permukaan lembaran sel, motilitas sel.

Gambar : struktur silia yang disusun oleh mikrotubla. (id.wikipedia.org)

1.6. SITOSKELETON Merupakan jalinan serabut yang membentang di seluruh permukaan sitoplasma dan memainkan peran utama dalam pengorganisasian struktur dan aktifitas sel. Fungsi yang paling jelas dari sitoskeleton ialah memberikan dukungan mekanis pada sel dan mempertahankan bentuknya. Sitoskeleton sangat penting untuk sel hewan yang tidak memiliki dinding sel. Kekuatan dan kelenturan dari sitoskeleton didasarkan pada arsitekturnya. Sitoskeleton lebih dinamis daripada rangka hewan, selain itu juga dapat dibongkar dalam satu bagian sel dan disusun kembali ditempat baru, yang mengubah bentuk sel tersebut.

Gambar : sitoskeleton; network dari protein fiber, silang menyilang dalam sitoplasma sel eukariot. (Microsoft ® Encarta ® 2007. © 1993-2006 Microsoft
Corporation)

Ketiga jenis serabut yang membentuk sitoskeleton adalah : 1.6.1. Mikrotubula

Mikrotubula ditemukan dalam sitoplasma semua sel eukariotik. Mikrotubula berupa batang lurus dan berongga yang berdiameter sekitar 25 nm dan mempunyai panjang sekitar 200 nm hingga 25µm. dinding tabung berongga disusun dari protein globular yang disebut tubulin, yang tersusun dari α tubulin dan β tubulin. Mikrotubula memberi bentuk dan mendukung sel, dan juga berfungsi sebagai jalur yang dapat digunakan organel yang dilengkapi dengan molekul motor untuk bergerak. Mikrotubula memiliki dua ujung: ujung negatif yang terhubung dengan pusat pengatur mikrotubula, dan ujung positif yang berada di dekat membran plasma.Dalam banyak sel, mikrotubula tumbuh dari sentrosom. Didalam sentrosom terdapat sepasang sentriol yang masing-masing tersusun atas 9 pasang triplet mikrotubula yang tersusun kedalam suatu cincin. Silia dan flagella memiliki suatu inti yang terdiri dari suatu mikrotubula yang diselimuti oleh suatu membrane yang memanjang. Sembilan doublet mikrotubula anggota dari setiap pasang yang menggunakan sebagian dindingnya bersama-sama, tersususun kedalam sebuah cincin.

Ditengah-tengah cincin terdapat dua mikrotubula tunggal. Susunan ini yang disebut sebagai pola “9+2” ditemukan hampir pada semua flagella dan silia eukariotik.

Gambar : Struktur mikrotubul

1.6.2.

Mikrofilamen ( Filamen Aktin )

Mikrofilamen merupakan batang padat yang berdiameter sekitar 7 nm. Mikrofilamen ini disebut juga filament aktin, karena tersusun dari molekul aktin yang merupakan salah satu protein globular. Mikrofilamen adalah rantai ganda subunit aktin yang terlilit. Mikrofilamen agaknya ada dalam seluruh sel eukariotik. Peran structural mikrofilamen dalam sitoskeleton ialah untuk menahan tegangan atau gaya tarik. Dengan bergabung dengan protein lain, mikrofilamen ini sering membentuk jaringan tiga-dimensi persis di dalam plasma membrane, yang membantu bentuk sel. Jalinan ini membuat korteks (lapisan sitoplasmik luar) sel tersebut mempunyai kekentalan semi-padat seperti gel, yang berlawanan dengan keadaan sitoplasma dalamnya yang lebih cair (sol).

(a) (b)

Gambar : filament aktin (a) monomer globular aktin; (b) polimer aktin yang disusun oleh banyak monomer aktin globular

Mikrofilamen dikenal baik karena peranannya dalam pergerakan sel, khususnya sebagai bagian alat kontraksi sel otot. Ribuan filament aktin disusun sejajar satu sama lain di sepanjang sel otot, yang diselingi dengan filament myosin (terbentuk dari protein). Kontraksi sel otot diakibatkan oleh filament aktin dan myosin yang saling meluncur melewati yang lain, yang akan memperpendek selnya. 1.6.3. Filamen Intermediet

Filament ini dinamai berdasarkan diameternya, yang besarnya 8-12 nm, lebih besar daripada diameter mikrofilamen tetapi lebih kecil dari mikrotubula. Filament ini terspesialisasi untuk menahan tarikan (seperti mikrotubula) dan merupakan kelas sitoskeleton yang beragam. Setiap jenis disusun dari sub unit molekuler berbeda dari keluarga protein yang beragam yang disebut keratin. Filament ini merupakan peralatan filament yang lebih permanent daripada mikrotubula dan mikrofilamen yang sering dinongkar-pasang dalam berbagai macam bagian sel.

1.7.

SEL DARAH MERAH (ERITROSIT) Struktur Sel Darah Merah

1.7.1.

Sel darah merah atau eritrosit terdiri dari membrane plasma yang mengelilingi larutan protein dan elektrolit. Lebih dari 95 % dari protein sitoplasma terdiri dari protein pentransport oksigen yang dikenal dengan Hemoblobin (± 280 juta molekul Hb dalam setiap eritrosit). Selebihnya merupakan enzim yang diperlukan untuk memproduksi energy dan memelihara fungsi dari hemoglobin. Sel darah merah tidak memiliki organel sitoplasma seperti nucleus, mitokondria, atau ribosom, oleh karena itu dia tidak dapat mensisntesis protein, melakukan reaksi aksidatif dengan mitokondria, atau membelah secara mitosis. Kehilangan nucleus juga menyebabkan bentuk dari eritrosit yang bikonkav, sehingga memperluas permukaan selnya. Hilangnya mitokondria pun dapat mengefektifkan fungsi dari eritrosit sebagai pengangkut oksigen dan mencegah penggunaan oksigen tersebut untuk metabolismenya, dengan kata lain eritrosit melaksanakan metabolism anaerob. Pada pria dewasa sel darah merah berjumlah 5,4 juta/µL, sedangkan pada wanita dewasa berjumlah 4,8 juta/µL.

Gambar : sel darah merah yang berbentuk bikonkav disk. (http://en.wikipedia.org)

Sel darah merah mempunyai ukuran 7 – 8 µm, dengan bagian tengah melekuk ke dalam yang disebut dengan bikonkav disk. Bentuk bikonkav ini memerlukan 40% membrane plasma untuk memperluas permukaannya dibandingkan bentuk bulatnya (sphere). Bentuk ini disesuaikan dengan fungsi eritrosit tersebut. Perbandingan antara luas permukaan dan volume mencapai nilai maksimum dengan bentuk bikonkav ini, dengan demikian

transfer gas akan semakin efektif. Lebih jauh lagi, bentuk bikonkav ini lebih deformable dibandingkan bentuk bulat (sphere) dan dapat mengalami perubahan bentuk yang dibutuhkan untuk pergerakan optimal dalam kapiler darah yang kecil (microvasculature, berdiameter 4 µm atau ½ diameter eritrosit).

Gambar : eritrosit dilihat dengan mikroskop cahaya; warna pucat di tengah merupakan lekukan ke dalam pada eritrosit yang menyebabkan bentuk bikonkav.

Bentuk bikonkav ini dipertahankan oleh eritrosit karena : (a) kekuatan elastic dalam membrane eritrosit, (b) kerenggangan permukaan, (c) kekuatan elektrik pada permukaan membrane, dan (d) tekanan osmotic dan hidrostatik.

Gambar : dimensi eritrosit pada larutan isotonic. (Wintrobe’s Clinical Hematology
11th edition)

1.7.2.

Hemoglobin

Hemoglobin yang terdapat pada sel darah merah merupakan seuatu molekul yang disusun oleh 4 subunit protein globular. Setiap subunit disusun oleh rantai protein yang berikatan erat dengan gugus non-protein yang disebut heme. Grup heme terdiri dari ion besi (Fe2+) yang diikat oleh cincin heterosiklik, yang diketahui sebagai porphirin. Ion besi yang merupakan empat pengikatan oksigen, berkoordinasi dengan 2 nitrogen pada pusat dari cincin tersebut. Ion besi juga terikat kuat pada protein globular melalui cincin imidazole dari residu histidin pada cincin porphirin. Pada manusia, biasanya hemoglobin merupakan tetramer (yang mengandung 4 subunit protein) disebut hemoglobin A, terdiri dari dua subunit α dan dua subunit β, masing-masing terdiri dari 141 dan 146 residu asam amino. Keempat rantai polipeptida ini berikatan dengan jembatan garam, ikatan hydrogen dan interaksi hidrophobik.

(a) (b) Gambar : struktur hemoglobin; (a) gugus heme; (b) hemoglobin yang terdiri dari 4 subunit : 2 protein α dan 2 protein β yang masing masing mengikat gugus heme.
(http://en.wikipedia.org)

1.7.3. Retikulosit

Produksi sel darah merah atau eritropoiesis berempat di sumsum tulang dengan sel precursor yang disebut protoeritoblas. Protoeritroblas membelah beberapa kali lalu memproduksisel yang memulai sintesis hemoglobin. Akhirnya, sel yang hampir selesai pematangannya dengan mengeluarkan nucleus disebut retikulosit. Hilangnya nucleus menyebabkan area tengah sel melekuk ke dalam, dan memulai bentuk sel darah merah dewasa yang

bikonkav. Retikulosit masih mengandung beberapa mitokondria, ribosom, kompleks golgi, dan reticulum endoplasma. Ribosom memperlihatkan struktur bergranula pada saat diwarnai dan diamati. Sifatnya yang lebih adhesive menyebabkan pergerakan retikulosit lambat. Volume retikulosit 20 % besar disbanding eritrosit. Sel ini dikeluarkan dari sumsum tulang ke aliran darah. Retikulosit berkembang menjadi sel darah merah dewasa selama 1 sampai 2 hari setelah dikeluarkan dari sumsum tulang dengan secara bertahap menghilanakan mitokondria sampai pada ribosom dengan kerja lisosom.

Gambar : retikulosit yang ditunjukan dengan panah, granul halus pada retikulosit merupakan granul halus sisa za-zat ribonukleat.

Jumlah normal retikulosit adalah 0,5 – 1,5 % dari seluruh sel darah merah. Jumlah retikulosit yang sedikit menunjukan kurangnya eritropoetin atau ketidakmampuan sumsum tulang merespon eritropoetin. Sedangkan jumlah eritrosit di atas batas normal menunjukan respon sumsum tulang yang baik terhadap hilangnya eritrosit atau terapi besi pada seseorang yang mengalami defisiensi besi.
1.7.4. Rangka Membran Eritrosit

Elastisitas dan kekuatan sel darah merah disebabkan oleh rangka membrane yang menempel pada permukaan internal membrane eritrosit. Komponen

protein utamanya disebut spektrin, yang terdiri dari dua rantai polipeptida, α dan β, yang membentuk helix heterodimer. Daerah “kepala” dari spektrin bergabung dengan helix spektrin lain membentuk tetradimer, sedangkan daerah “ekor”-nya bergabung dengan aktin oligomer. Setiap aktin oligomer dapat mengikat multi spektrin tetramer, lalu menghasilkan 2-dimensi spektin-aktin skeleton yang berperan penting untuk menstabilkan membrane lipid bilayer. Kompleks spektin-aktin skeleton ini berhubungan dengan internal plasma membran melalui 2 interkasi berbeda, yaitu : 1. Melibatkan protein ankyrin dan band 4.2, mengikatkan spektrin pada band 3 yang merupaka transmembran ion transporter. 2. Melibatkan protein 4.1, mengikatkan daerah “ekor” spektrin pada glikoforin A yang merupakan transmembran ion transporter juga.

Gambar : skeletal membrane eritrosit berperan penting dalam mempertahankan bentuk sel. (Kumar; Pathologic Basis of Disease 7th edition)

Defisiensi pada salah satu komponen di atas dapat menyebabkan perubahan bentuk atau hilangnya area permukaan dari sel darah merah. Defisiensi tersebut dapat berupa : 1. Defisiensi ankyrin,

2. Defisiensi band 3,
3. Defisiensi spektrin (α ataupun β),

4. Defisiensi band 4.2.

1.7.5.

Siklus Hidup

Gambar : siklus hidup sel darah merah (eritrosit) dalam tubuh. (Principles of
Anatomy and physiology 11th edition)

1. Macrophage di dalam limpa, liver atau sumsum tulang akan mem-

phagosit sel darah merah yang telah mati. Catatan : pada keadaan abnormal yang menyebabkan eritrosit mudah lisis dan terjadi di intravaskuler, Hb akan diikat oleh haptoglobin atau hemopexin yang mengikat gugus hem untuk kemudian ditransportasikan menuju ke sel hati. Adanya kompleks Hb-Haptoglobin atau Hem-Hemopexin mencegah terbuangnya substansi tersebut melalui urin.

2. Setelah sel darah merah tersebut akan dipecah menjadi dua bagian dari hemoglobin, yakni heme dan globin 3. globin akan dipecah kembali menjadi asam amino domana asam amino tersebut akan digunkan kembali untuk sintesis protein.
4. sedangkan heme yang mengandung besi di dalamnya dalam bentuk Fe 3+

, akan bergabung dengan plasma protein transferrin, yang berfungsi sebagai transport Fe 3+ di dalam darah
5. di dalam jaringan otot, sel hati dan macrophage dalam spleen dan liver,

Fe 3+ tersebut akan pisahkan dari transferring dan akan bergabung dengan tempat penyimpanan protein-iron yang disebut dengan ferritin
6. setelah dilepas dari tempat penyimpanan atau telah di absorpsi dari

gastrointestinal tract, Fe 3+ akan bergabung kembali dengan transferring.
7. kompleks Fe 3+ transferrin ini akan dibawa ke sumsum tulang, dimana

awal sel darah merah dibuat dan digunakan untuk sintesis protein. Iron dibutuhkan untuk membentuk heme dan asam amino dibutuhkan untuk membentuk globin. Vitamin B12 di gunakan untuk sintesis hemoglobin. 8. setelah itu terbentuklah sel darah merah yang kemudian akan masuk ke sirkulasi darah. 9. saat heme dirubah menjadi bagian heme yang non-iron akan diubah menjadi biliverdin atau pigmen hijau dan setelah itu akan diubah kembali menjadi bilirubin ataupigmen orange. 10. bilirubin ini akan masuk ke dalam darah dan akan ditransportasikan menuju liver berikatan dengan albumin. 11. di dalam liver, bilirubin akan dilepas oleh sel hati menuju empedu, dan bilirubin ini akan melewati usus kecil kemudian menuju usus besar. 12. di dalam usus besar ini terdapat bakteri yang akan mengubah bilirubin menjadi urobilinogen 13. beberapa urobilinogen akan diabsorpsi kembali ke dalam darah dan akan diubah menjadi pigmen kuning yang disebut urobilin, dan akan diekresikan di dalam urin 14. sebagian besar dari urobilinogen itu akan di eliminasi dalam feses dalam pigmen coklat atau sterobilin, yang akan memberi warna pada feses tersebut.

1.7.6.

Parameter Perhitungan Eritrosit

Kualitas eritrosit dicirikan masing-masing dengan MCV (Mean Cell Volume), MCH (Mean Cell Hemoglobin), dan MCHC (Mean Cell Hemoglobin Concentration). MCV diukur secara langsung dengan automated Hemoglobin analyzer, atau dengan perhitungan dengan rumus :

MCH dihitung dengan menggunakan rumus :

dan MCHC dihitung dengan rumus :

1.7.7.

Eritrosit Abnormal

Bentuk kelainan dan penyakit yang menyertainya terangkum dalam tabel berikut ini : Bentuk Nama Sel Normal
Penyakit liver, alcoholism, Oval dalam Megaloblastik anemia Defisiensi Iron, Penyakit liver, haemoglobinopaties, post-spelectomy Penyakit Liver, Alkoholism

Penyakit

Bentuk

Nama Sel Spherocy te

Penyakit
Hereditary Spherocytosis, Autoimune hemolitik anemia DIC, HUS, TTP, Mikroanglopathy, burns, cardiac valves Hereditary Eliptocytosis Myelofibrosis, extramedulary haemopoiesis

Makrosit

Fragmen

Sel Target Stomato sit

Eliptosit Tear Drop Poikilosit

Sel Pensil Ecchinoc yte Akantosi t Sickle Cell

Iron defisiensi

Sel Basket HowellJolly Body Basofilik Striping Malarial parasit

Defisiensi GGPD, Unstable Hemoglobin Hipospleenism, post-spelectomy Haemoglobinopath y, hemolytic anemia, myelodyspasia Malaria dan parasit lainnya

Penyakit liver, postspelectomy Penyakit liver, abetalipoproteinanemia, renal failure Sickle cell anemia

Mikrosit

Defisiensi iron, haemolobinopathy

Siderotik granul

Sideroblastik anemia, post spelectomy dan disorder metabolism iron lainnya.

BAGIAN II PEMBAHASAN KASUS

2.1. KASUS Ronald, remaja berusia 16 tahun mempunyai keluhan lelah (fatigue), diikuti dengan influenza. Pada pemeriksaan ditemukan padanya pucat dan jaundice di sclera dan moderate spleenomegaly. Pemeriksaan darah secara rutin telah dilakukan, dan menunjukan hasil :

Perhitungan Darah Keseluruhan Parameter
Jumlah Sel Darah Putih Jumlah Sel Darah Merah Hemoglobin Jumlah Trombosit Mean Cell Volume (MCV) Mean Cell Hemoglobin (MCH) Mean Cell Hemoglobin Concentration (MCHC) Jumlah Retikulosit

Hasil
8,1 x 109/L 3,16 x 1012/L 9,5 g/dL 134 x 10 /L 85 fl 30,10 pg/L 35,1 g/L 235 x 109/L
9

Range Normal
5,1 – 13,9 4,01 – 5,39 11,14 – 15,46 152,5 – 397,5 75,65 – 90,35 24,06 – 29,94 29,56 – 35,44 10 - 100

↓ ↓ ↓ ↑

Tes Fragilitas Osmotik Langsung/tidak langsung tes coomb Morfologi Sel Darah Merah Mikrositosis Polikromasia Poikilositosis Krenasi : ++ :+ :+ : +++

: meningkat : negative Invertigasi Lanjutan Haptoglobin Hemopexin Feritin : menurun : normal : di bawah normal

Dokter mencurigai remaja ini mengalami Hereditary Spherocytosis, dan memerlukan evaluasi membrane sel darah merah dan tes DNA untuk konfirmasi.

Hereditary Spherocytosis Gangguan skeletal membrane eritrosit Bentuk eritrosit abnormal (bulat; sphere) Mudah mengalami Hemolisis

Fagositosis Makrofag ↑ Kerja Limpa ↑ Spleenome gali

Hb ↓ O2 ↓ energi ↓ Fatigue Iron Transferi n Feritin eritopie sis Fese s Pucat

Hem

Globi n Asam Amin o Reuse Non Iron Biliverdi n Bilirubin Ke Hepar Urobilinog en

Eritopoiesis ↑

Retikulosit ↑

Jaundice

Urobilin

Urin

Gambar : patomekanisme kasus Hereditary Spherocytosis 2.2.

GANGGUAN SKELETAL MEMBRAN ERITROSIT

Penyakit Hereditary Spherocytosis disebabkan karena terganggunya skeletal membrane eritrosit (lihat hal.32), yang dapat berupa (1) defisiensi ankyrin; (2) defisiensi band 3; (3) defisiensi spektrin (α ataupun β); atau (4) defisinsi band 4.2. Defisinsi komponen skeletal membrane tersebut mengakibatkan kurang stabilnya bentuk eritrosit, sehingga bentuk eritrosit yang bikonkav disk dapat berubah menjadi bulat atau sphere. Hal ini terjadi kerena eritrosit kelihangan permukaan membrannya yang kemudian menjadikan perbandingan permukaan dan volume eritrosit meningkat. Bentuk abnormal tersebut menyebabkan kurang efektifnya fungsi eritrosit, sehingga merangsang makrofag pada limpa (tempat penghancuran eritrosit dan pembebasan Hb) untuk menghancurkan bentuk tersebut. Karena banyaknya bentuk abnormal eritrosit ini menyebabkan jumlah atau kerja limpa yang tinggi sehingga terjadi splenomegaly.

2.3. HEMOLISIS MENURUNKAN JUMLAH HEMOGLOBIN Kondisi eritrosit yang berbentuk sphere atau bulat (lihat hal.32) diakibatkan oleh tingginya fragilitas osmotic (menurunya permukaan sel berbanding volume yang tetap atau meningkat). Hal ini menyebabkan kemungkinan terjadi hemolisis yang tinggi. Dalam Hemolisis tersebut terjadi pecahnya eritrosit dan pembebasan hemoglobin yang otomatis menurunkan jumlah hemoglobin fungsional. Jumlah hemoglobin (berwarna merah) yang sedikit ini menampakan warna pucat pada pasien. Di sisi lain, pengangkutan O2 dalam tubuh akan terganggu, sehingga pasokan untuk melaksanakan metabolisme aerob pun terhambat dan produksi energi (ATP) akan menurun sehingga pasien mengalami kelelahan (fatigue).

2.4. PENGGUNAAN ULANG HEMOGLOBIN Hemoglobin akan dipecah menjadi gugus hem dan globin. Globin yang berupa protein akan dipecah menjadi asam amino yang digunakan kembali untuk aktivitas tubuh, sedangkan gugus hem akan digunakan kembali untuk eritopoiesis atau dikeluarkan dari tubuh. Hemoglobin bebas yang lisis dalam intravaskuler akan berikatan dengan Haptoglobin atau Hemopexin (mengikat gugus hem) dan diangkut menuju hepar. Kompleks Hb-Haptoglobin atau Hem-Hemopexin ini mencegah residu hemoglobin keluar dari tubuh (melalui urin). Disebabkan karena banyaknya eritrosit yang lisis, menyebabkan

haptoglobin banyak mengikat Hb bebas dan secara langsung menurunkan jumlah haptoglobin bebas dalam tubuh. Gugus hem (lihat hal.30) akan dipecah menjadi gugus iron dan noniron (lihat hal.33 ). Gugus iron akan ditransfer menuju ke hepar dari limpa, sumsum tulang dengan bantuan transferin dan disimpan di hepar dalam bentuk feritin. Feritin ini akan digunakan untuk eritopoiesis di sumsum tulang dan ditransfer kembali oleh transferin. Karena kebutuhan eritrosit yang banyak, maka eritropoiesis pun berjalan cepat dan kebutuhan gugus iron pun tinggi, sehingga cadangannya dalam bentuk feritin di hepar berkurang. Gugus non-iron dari heme diubah menjadi biliverdin (pigmen hijau) lalu menjadi bilirubin (pigmen oranye). Bilirubin lalu berikatan dengan albumin untuk diangkut ke hepar. Karena banyaknya bilirubin yang dihasilkan, mengakibatkan konsentrasi dalam darahnya meningkat sehingga pada pasien ditemukan jaundice. Bilirubin yang masuk ke hepar kemudian diproses sehingga keluar bersama feses dalam bentuk sterobilin (pigmen coklat) atau bersama urin dalam bentuk urobilin (pigmen kuning).

2.5. PENINGKATAN ERITOPOIESIS Banyaknya sel darah merah yang lisis atau dicerna oleh makrofag, mengakibatkan tubuh melakukan tindakan untuk memproduksi sel darah merah yang baru dengan cepat untuk menutupi kekurangan dalam tubuh. Hasilnya ditemukannya sel darah merah muda atau retikulosit (lihat hal.30-31) yang berlimpah di dalam tubuh. Pada normalnya retikulosit ditemukan dalam jumlah 0,5 – 1,5 % dari keseluruhan eritrosit, tapi pada pasien presentase retikulosit adalah 7,5 % mengindikasikan peningkatan eritopoiesis.

DAFTAR PUSTAKA
AB Mehta. Hematology At A Glance.2000 Color Atlas of Hematology - Practical and Clinical Diagnosis (Thieme 2004) G. Richard Lee, John P. Greer, John Foerster, John N. Lukens, Wintrobe’s Clinial Hematology. 11th edition. 2003. Lippincott Williams & Wilkins Publishers Goodman SR. Medical Cell Biology.2nd Edition. 1998. Lippincot-Raven Publishers. Heckner, Lehmann, Kao. Atlas Hematologi. Edisi 3. 1988. Penerbit Buku Kedokteran EGC J. Tortora, Dericson. Principles of Anatomy and Physiology. 11th edition Junqueira, L.C; Carneiro, Jose. Histologi Dasar, Teks dan Atlas. Edisi 10. 2007. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Kumala, Poppy, dr., dkk. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland, Edisi ke-25. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Kumar V, Abbas AK, Fautson, Robbin & Cotran, Pathologic Basis of Disease. 7th edition. 1999. Elsevier Saunders Shahib, M. Nurhalim. Biologi Molekuler Medik I. 2005 Wikipedia, Hemoglobin, the http://en.wikipedia.org/wiki/Hemoglobin free encyclopedia,

Wikipedia, Blood, the free encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Blood

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->