P. 1
Draft RUU Pangan Setjen.rapih

Draft RUU Pangan Setjen.rapih

|Views: 622|Likes:
Published by Muhammad Kurnia

More info:

Published by: Muhammad Kurnia on Dec 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2012

pdf

text

original

DRAFT AWAL RANCANGAN UNDANG UNDANG PERUBAHAN UNDANG UNDANG NO. 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN .

Disusun Sebagai Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi untuk Mendukung Tugas Dewan dalam Pelaksanaan Fungsi Legislasi

BAGIAN PERANCANGAN UNDANG-UNDANG BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DEPUTI PERUNDANG UNDANGAN SEKRETARIAT JENDERAL DPR RI 2009

1

menyangkut penerapan sanksi yang relatif masih rendah. huruf b. dan Budaya) dimana pangan adalah bagian dari HAM (right to food). Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi. Sosial. karena itu pemenuhanya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia paling utama. bahwa negara berkewajiban menjamin ketersediaan. TAHUN. dan budaya lokal. huruf c. sehingga dalam pelaksanaannya ditemui beberapa kendala dalam hal penegakan hukum. kelembagaan.RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. dengan memanfaatkan sumber daya. bahwa keberadaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1986 tentang Pangan masih bersifat sangat umum dan sangat menitikberatkan kepada sektor industri pangan. Mengingat: Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan tidak sesuai lagi dengan era otonomi daerah serta perkembangan di masyarakat yang juga harus disesuaikan dengan adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant On Economic. sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas.. Menimbang: a. c. aman.. e. bahwa dalam perkembangannya. b. dan huruf d perlu membentuk UndangUndang tentang Pangan. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PANGAN 2 . namun akhirakhir ini Indonesia lebih dikenal sebagai salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia. pembangunan pangan di Indonesia yang dahulu dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar rakyatnya bermata pencaharian sebagai petani dan pernah menjadi negara swasembada beras. d. baik pada tingkat nasional.. bermutu dan bergizi seimbang. TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. daerah hingga rumah tangga secara merata diseluruh wilayah Negara Republik Indonesia sepanjang waktu.dan keamanan konsumsi pangan yang cukup. keterjangkauan..

Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/atau membungkus pangan. Ketersediaan pangan adalah tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri. merata. yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan. dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan. 4. Peredaran pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan kepada masyarakat. dan membahayakan kesehatan manusia sehingga aman untuk di konsumsi. 11. lemak. kandungan gizi. 3 . dan/atau pemasukan pangan dari luar negeri. Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan. protein. minuman. dan/atau mengubah bentuk pangan. dan standar perdagangan terhadap bahan makanan. lingkungan hidup.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. makanan.peralatan. Perdagangan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penjualan dan/atau pembelian pangan. pengolahan. dan kegiatan lain yang berkenaan dengan pemindahtanganan pangan dengan memperoleh imbalan. aman. dan minuman. 3. menyiapkan. mengemas kembali. Persyaratan sanitasi adalah standar kebersihan dan kesehatan yang harus dipenuhi sebagai upaya mematikan atau mencegah hidupnya jasad renik patogen dan mengurangi jumlah jasad renik lainnya agar pangan yang dihasilkan dan dikonsumsi tidak membahayakan kesehatan dan jiwa manusia. kesehatan. termasuk penawaran untuk menjual pangan. membuat. baik yang diolah maupun tidak diolah. 12. 7. 2. termasuk bahan tambahan pangan. bahan baku pangan. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air. Standar adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang dibakukan. merugikan. dan/atau pembuatan makanan atau minuman. baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. baik diperdagangkan maupun tidak. keamanan. Sanitasi pangan adalah upaya untuk pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan. mengawetkan. 9. mengolah. vitamin dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. dan terjangkau. yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat. kimia. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan rumah tangga. 6. 8. cadangan pangan nasional. 13. mengemas. dan benda lain yang dapat mengganggu. Mutu pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan. 10. dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan kesehatan manusia. serta pengalaman perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis. baik jumlah maupun mutunya. 5.

BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penyelenggaraan pangan dilakukan dengan berdasarkan: a. terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab. Asas kemandirian. cadangan pangan. pembinaan. dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (5) Pelaksanaan pemasukan pangan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (2) Penyediaan pangan dilakukan dengan: a. 4 . b. kelebihan pangan. b. Pasal 4 Tujuan pengaturan. dan pengawasan pangan adalah: a. BAB III JAMINAN KETERSEDIAAN PANGAN Bagian Kesatu Umum Pasal 5 (1) Penyediaan pangan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan konsumsi rumah tangga secara berkelanjutan. dan f. (2) Sumber penyediaan pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diutamakan berasal dari produksi pangan dalam negeri. tersediannya pangan yang memenuhi persyaratan keamanan. c. c. Asas manfaat dan lestari. mengembangkan teknologi produksi pangan. (4) Pemasukan pangan dari luar negeri hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri dan cadangan pangan tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Pasal 6 (1) Sumber penyediaan pangan berasal dari produksi pangan dalam negeri. dan gizi bagi konsumsi masyarakat. d. mengembangkan sarana dan prasarana produksi pangan. dan pemasukan pangan dari luar negeri. c. d. mengembangkan efisiensi sistem usaha pangan. dan budaya lokal. dan e. Asas Berkelanjutan. gejolak harga. Asas keadilan. mengembangkan sistem produksi pangan yang bertumpu pada sumber daya. b. (3) Cadangan pangan dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan pangan. terwujudnya tingkat kecukupan pangan dengan harga yang wajar dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat. dan d. terciptanya kesejahteraan petani. e. dan/atau keadaan darurat. Asas pemerataan. Asas keamanan. kelembagaan. mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif. Pasal 3 Pembangunan pangan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil dan merata berdasarkan kemandirian dan tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat. mutu.

memfasilitasi sumber pembiayaan/permodalan. lembaga pendanaan dalam dan luar negeri. Pasal 11 (1) Pemerintah. dan Pemerintah Daerah. serta promosi pertanian. mengatur pemasukan dan pengeluaran hasil pertanian. mengutamakan hasil pertanian dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri. koperasi petani. (2) Pemberdayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi: a. Pasal 9 Setiap orang dilarang melakukan tindakan yang berakibat pada kerusakan lahan pertanian dan/atau aset lainnya. c. b. pelaku usaha pertanian menghimpun dana untuk pengembangan sumber daya manusia. dan/atau g. menghindari pengenaan biaya yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. memberikan kemudahan penunjang produksi pertanian. Pasal 8 Pemerintah dan Pemerintah Daerah mendorong dan memfasilitasi pemberdayaan petani. penggunaan tanah pertanian tanpa izin dan/atau tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya usaha pertanian. 5 . serta asosiasi petani untuk pengembangan usaha pertanian. Pemerintah. kelompok petani. memfasilitasi pelaksanaan ekspor hasil pertanian. Pemerintah Daerah. f. Paragraf 2 Pembiayaan Usaha Pertanian Pasal 10 (1) Pembiayaan usaha pertanian bersumber dari pelaku usaha pertanian. memfasilitasi aksesibilitas ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi. (2) Ketentuan mengenai penghimpunan dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.Bagian Kedua Produksi Pangan Dalam Negeri Paragraf 1 Pemberdayaan Petani Pasal 7 (1) Pemberdayaan petani dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah bersama pelaku usaha pertanian serta lembaga terkait lainnya. masyarakat. d. (2) Pemerintah mendorong dan memfasilitasi terbentuknya lembaga keuangan pertanian yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik usaha pertanian. e. (3) Pembiayaan yang bersumber dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diutamakan untuk pertanian. penelitian dan pengembangan.

6 . (3) Cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan pangan tertentu yang bersifat pokok. c. Pasal 14 (1) Cadangan pangan nasional bersumber dari produksi pangan dalam negeri dan pemasukan pangan dari luar negeri. Cadangan pangan Pemerintah Kabupaten/Kota. (2) Jumlah pangan yang harus tersedia sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan penyaluran cadangan pangan.Paragraf 3 Kawasan Pertanian Pasal 12 (1) Usaha pertanian dilakukan secara terpadu dan terkait dalam industri pertanian dengan menggunakan pendekatan kawasan pertanian. (2) Cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Bagian Ketiga Cadangan Pangan Nasional Pasal 13 (1) Cadangan pangan nasional merupakan jumlah pangan yang harus tersedia setiap saat di Wilayah Negara Republik Indonesia. dan d. b. menyelenggarakan pengadaan. Cadangan pangan Pemerintah Pusat. (2)Cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan secara berkala dan dilakukan secara terkoordinasi mulai dari penetapan cadangan pangan Pemerintah Desa. Pasal 16 (1) Untuk mewujudkan cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dilakukan dengan: a. (3) Pemasukan cadangan pangan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ditetap sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat dan bahan baku industri sekurang-kurangnya dalam jangka waktu enam bulan. menginventarisasi cadangan pangan. dan/atau c. melakukan prakiraan kekurangan pangan dan/atau keadaan darurat. Pemerintah Propinsi sampai dengan Pemerintah Pusat. Pemerintah Kabupaten/Kota. Cadangan pangan Pemerintah Desa. dan dapat segera dikonsumsi dengan harga yang wajar dan terjangkau masyarakat. (2) Ketentuan mengenai pendekatan kawasan pertanian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Undang-undang. Cadangan pangan Pemerintah Propinsi. Pasal 15 (1) Cadangan pangan nasional terdiri dari cadangan pangan Pemerintah dan cadangan pangan masyarakat. (2) Ketentuan mengenai jumlah pangan yang harus tersedia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Pemasukan cadangan pangan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan cadangan pangan nasional. b. pengelolaan.

Pasal 19 (1) Masyarakat mempunyai hak dan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan cadangan pangan masyarakat. (3) Cadangan pangan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara mandiri serta sesuai dengan kemampuan masing-masing. dan gizi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaturdengan Peraturan Pemerintah. mutu. Pasal 23 (1) Penganekaragaman pangan diselenggarakan untuk meningkatkan ketersedian pangan dengan memperhatikan sumberdaya.Pasal 17 (1)Penyaluran cadangan pangan dilakukan untuk menanggulangi masalah pangan. (2) Penganekaragaman pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan: a. mekanisme yang disesuaikan dengan kondisi wilayah dan rumah tangga. 7 . Bagian Kelima Penganekaragaman Pangan Pasal 22 Penganekaragaman pangan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan mutu gizi makanan dengan pola konsumsi yang lebih beragam. (2) Cadangan pangan masyarakat merupakan persediaan pangan yang dikelola atau dikuasai oleh masyarakat. Pasal 21 (1) Setiap pemasukan pangan dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri harus memenuhi persyaratan keamanan. dan b. (2)Penyaluran cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dilakukan dengan: a. b. mutu. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penganekaragaman pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diaturdengan Peraturan Pemerintah. Pasal 18 Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat menugaskan badan pemerintah atau badan usaha yang bergerak dibidang pangan untuk mengadakan dan mengelola cadangan pangan tertentu yang bersifat pokok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengembangkan teknologi pengolahan dan produk pangan. Bagian Keempat Pemasukan Pangan Dari Luar Negeri Pasal 20 Pemasukan pangan merupakan kegiatan memasukan pangan baik pangan segar maupun olahan dari luar negeri melalui darat. (3) Ketentuan mengenai persyaratan keamanan. dan c. dan gizi bagi konsumsi pangan masyarakat. tidak merugikan masyarakat konsumen dan produsen. kelembagaan. meningkatkan keanekaragaman pangan. (2) Pemasukan pangan dari luar negeri hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri dan cadangan pangan nasional tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi aneka ragam pangan dengan prinsip gizi seimbang. dan budaya lokal. laut dan udara ke dalam wilayah Indonesia.

b. dan gizi pangan. mutu. (2) Pemasaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan untuk membina peningkatan produksi dan konsumsi masyarakat dalam mewujudkan ketersediaan pangan bergizi seimbang dengan tetap meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha pertanian. mutu. (2) Setiap pangan yang dikeluarkan dari wilayah Indonesia harus memenuhi persyaratan keamanan. Pasal 27 (1) Pemerintah menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan pemasaran hasil pertanian di dalam maupun ke luar negeri. dan gizi pangan. dengan harga yang terjangkau. mutu. mengelola sistem distribusi pangan yang dapat mempertahankan keamanan. BAB IV JAMINAN KETERJANGKAUAN PANGAN Bagian Kesatu Distribusi Pangan Pasal 26 Distribusi pangan merupakan kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu. mutu. dan/atau c. (2) Untuk mewujudkan distribusi pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan: a. dan gizi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diaturdengan Peraturan Pemerintah. Pasal 28 (1) Dalam rangka pemerataan ketersediaan pangan dilakukan distribusi pangan keseluruh wilayah negara sampai dengan tingkat rumah tangga. (3) Ketentuan mengenai persyaratan keamanan. menjamin keamanan distribusi pangan.Bagian Keenam Pengeluaran Pangan dari Wilayah Indonesia Pasal 24 (1) Pengeluaran pangan dari wilayah Indonesia hanya dapat dilakukan setelah terpenuhi kebutuhan konsumsi pangan dalam negeri. 8 . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai distribusi pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. mengembangkan sistem distribusi pangan yang menjangkau seluruh wilayah secara efisien. dan gizi pangan. (3) Pemerintah menciptakan iklim usaha yang sehat bagi petani. Bagian Kedua Pengendalian Harga Pasal 29 Pengendalian harga merupakan penetapan batas harga barang pangan untuk menghindari kenaikan harga sehingga tetap terjangkau daya beli masyarakat dalam kondisi persediaan pangan sangat terbatas. Pasal 25 Setiap orang yang mengeluarkan pangan dari wilayah Indonesia bertanggung jawab atas keamanan.

pengangkutan. BABV KEAMANANPANGAN Bagian Kesatu Umum Pasal 31 Keamanan pangan diselenggarakan untuk menjaga keamanan. memperhatikan daya beli konsumen. dan/atau g. b. d. Pasal 32 Penyelenggaraan keamanan pangan dilakukan dengan cara: a. yang dapat merugikan dan membahayakan kesehatan manusia dengan tujuan agar pangan aman untuk dikonsumsi. menjamin mutu dan melakukan pemeriksaan laboratorium. mencantumkan j'aminan produk halal. melakukan pengawasan terhadap rekayasa genetika dan iradiasi pangan. daluarsa. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengendalian harga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. c. menghadapi keadaan darurat karena bencana atau paceklik yang berkepanjangan. pengelolaan dan pemeliharaan cadangan pangan pemerintah. 9 . (2) Pengendalian harga pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui: a. e. b. c. pengaturan kelancaran distribusi pangan. c. dan f. b. e. dan/atau d. menghindari terjadinya gejolak harga pangan. tidak terpenuhi standar mutu dan komposisi.Pasal 30 (1) Pengendalian harga pangan tertentu yang bersifat pokok di tingkat masyarakat diselenggarakan dengan tujuan: a. (3) Sanitasi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan standar kebersihan dan kesehatan. penetapan kebijakan pajak dan/atau tarif. mutu. Bagian Kedua Sanitasi Pangan Pasal 33 (1) Agar pangan aman untuk dikonsumsi. mencantumkan label pada produk pangan. melakukan sanitasi pangan. (2) Sanitasi pangan dilakukan dalam kegiatan atau proses produksi. mencapai swasembada pangan. dilakukan sanitasi pangan terhadap pangan yang dapat merusak dan membahayakan kesehatan manusia. menjamin kesejahteraan petani. melakukan pengawasan terhadap bahan tambahan pangan. penyimpanan. d. menjaga kestabilan harga. kimia. dan/atau peredaran pangan. dan gizi pangan dengan mencegah dari kemungkinan cemaran biologis. f. dan benda lain yang dapat mengganggu. pengaturan dan pengelolaan pasokan pangan. menentukan standar kemasan pangan.

b. dan/atau peredaran pangan yang dapat mengakibatkan tumbuh dan berkembangbiaknya jasad renik pembusuk dan pathogen dalam makanan. Pasal 34 (1) Setiap orang yang menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi penyimpanan. orang perseorangan. (2) Ketentuan mengenai ambang batas maksimal dan bahan yang dapat merusak kesehatan manusia diatur dalam Peraturan Pemerintah. dalam rangka sanitasi pangan wajib : a. Pasal 37 (1) Bahan yang akan digunakan sebagai bahan tambahan pangan yang belum diketahui dampaknya bagi kesehatan manusia dalam kegiatan atau proses produksi pangan untuk diedarkan. dan bahan yang dapat merusak kesehatan manusia. dan menyelenggarakan program pemantauan dan pengawasan secara berkala diatur dalam Peraturan Pemerintah Pasal 35 Setiap orang dilarang menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi. (2) Ketentuan mengenai persyaratan sanitasi. jaminan keamanan dan/atau keselamatan. dan c. (2) Pemeriksaan keamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk mendapatkan izin peredarannya. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan standar kebersihan dan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Bagian Ketiga Bahan Tambahan Pangan Pasal 36 Bahan tambahan pangan merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempegaruhi sifat atau bentuk pangan. dan c. b. penyimpanan. Pasal 38 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan. pengangkutan. memenuhi persyaratan sanitasi. sarana dan/atau prasarana pangan. pengangkutan. penyelenggaraan kegiatan. menjamin keamanan dan/atau keselamatan manusia. harus terlebih dahulu diperiksa keamanannya. dilarang menggunakan bahan tambahan pangan melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan. menyelenggarakan program pemantauan dan pengawasan secara berkala.(4) Persyaratan standar kebersihan dan kesehatan sanitasi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi: a. dan atau peredaran pangan. peralatan serta bangunan sarana produksi pangan yang membahayakan manusia. 10 . minuman.

pengembangan. baik dengan menggunakan zat radio aktif maupun akselerator.Bagian Keempat Rekayasa Genetika dan Iradiasi Pangan Paragraf 1 Rekayasa Genetika Pasal 39 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan. kerusakan. teknik dan peralatan. penanganan limbah dan penanggulangan bahaya bahan radioaktif untuk menjamin keamanan pangan. keselamatan kerja. dosis. Pasal 41 (1) Iradiasi hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin Pemerintah. (2) Izin Pemerintah sebagai mana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi persyaratan kesehatan. dan pemanfaatan metode rekayasa genetika dalam kegiatan atau proses produksi pangan yang dihasilkankan dari proses rekayasa genetika diatur dalam Peraturan Pemerintah. keselamatan kerja. Bagian Kelima Kemasan Pangan Pasal 42 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan dalam kemasan. prinsip pengolahan. kerusakan. teknik dan peralatan. (2) Kemasan pangan berfungsi untuk mencegah terjadinya pembusukan. dosis. wajib menggunakan bahan kemasan pangan yang tidak merugikan dan/atau membahayakan kesehatan manusia. serta membebaskan pangan dari jasad renik patogen. prinsip pengolahan. (3) Ketentuan mengenai persyaratan kesehatan. dan kelestarian lingkungan. 11 . dan membebaskan pangan darijasad renik patogen. dan kelestarian lingkungan diatur dalam Peraturan Pemerintah. Paragraf 2 Iradiasi Pangan Pasal 40 Pengelohan pangan dapat dilakukan melalui iriadiasi dengan metode penyinaran terhadap pangan. Pasal 43 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan. menggunakan bahan tambahan pangan. harus terlebih dahulu memeriksakan keamanan pangan sebelum diedarkan. (2) Pemeriksaan keamanan pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk mendapatkan izin peredarannya (3) Ketentuan mengenai pemeriksaan keamanan pangan. menggunakan bahan baku. dilarang menggunakan bahan apa pun sebagai kemasan pangan yang dapat melepaskan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia. dan/atau bahan bantu lain dalam kegiatan atau proses produksi pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika. penanganan limbah dan penanggulangan bahaya bahan radioaktif untuk menjamin keamanan pangan. untuk mencegah terjadinya pembusukan. persyaratan prinsip penelitian dan pengujian.

(3) Pengujian secara laboratoris.(2) Pengemasan pangan yang diedarkan dilakukan melalui tata cara yang dapat menghindarkan terjadinya kerusakan dan atau pencemaran. Bagian Ketujuh Gizi Pangan Pasal 48 Gizi pangan merupakan zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. Pasal 46 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diperdagangkan wajib memenuhi standar mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium. 12 . untuk meningkatkan kandungan gizi pangan olahan tertentu yang diperdagangkan. Pasal 47 Setiap orang dilarang memperdagangkan pangan yang mutunya berbeda atau tidak sama dengan mutu pangan yang dijanjikan. sebagaimana dimaksud ayat (2). (3) Ketentuan mengenai kemasan pangan. (3) Pengadaan pangan yang dibuat atau dimasukkan untuk diedarkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus (4) memenuhi standar mutu sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Ketentuan larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pangan yang pengadaannya dalam jumlah besar dan lazim dikemas kembali dalam jumlah kecil untuk diperdagangkan lebih lanjut. (2) Pemerintah dapat menetapkan persyaratan khusus mengenai komposisi pangan. (2) Pemerintah dapat menetapkan persyaratan agar pangan terlebih dahulu diuji di laboratorium sebelum diedarkan. Pasal 44 (1) Setiap orang dilarang membuka kemasan akhir pangan untuk dikemas kembali dan diperdagangkan. Bagian Keenam Standar Mutu Pangan dan Pemeriksaan Laboratorium Pasal 45 (1) Pemerintah menetapkan standar mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium pada setiap produk pangan. tata cara pengemasan pangan. Pasal 49 (1) Pemerintah menetapkan dan menyelenggarakan kebijakan di bidang gizi bagi perbaikan status gizi masyarakat. (4) Ketentuan mengenai standar mutu dan persyaratan pengujian laboratorium diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan bahan yang dilarang digunakan sebagai kemasan pangan diaturdalam Peraturan Pemerintah. dilakukan di Laboratorium yang ditunjuk oleh dan/atau telah memperoleh akreditasi dari Pemerintah. (2) Setiap pengadaan dan peredaran pangan harus dilakukan pengawasan sesuai standar mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium.

(3) Ketentuan mengenai ambang batas maksimal cemaran yang diperbolehkan diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Pengawasan dan pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menetapkan ambang batas maksimal cemaran yang diperbolehkan. keamanan. terurai. agar masyarakat yang membeli dan/atau mengkonsumsi pangan memperoleh informasi yang benar dan jelas tentang setiap produk pangan yang dikemas. wajib memenuhi persyaratan tentang gizi yang ditetapkan. b. mengandung bahan yang dilarang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan. kandungan gizi. tengik. BAB VI LABEL DAN IKLAN PANGAN Pasal 55 Pemberian label pada pangan yang dikemas. mengandung cemaran yang melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan. (2) Pangan tercemar sebagaimana dimaksud ayat (1) berupa pangan yang: a. baik menyangkut asal. d. Pasal 53 (1) Setiap orang dilarang mengedarkan pangan tercemar. persyaratan bagi perbaikan atau pengayaan gizi pangan. atau yang dapat merugikan atau membahayakan kesehatan atau jiwa manusia. Pasal 54 (1) Pemerintah mengawasi dan mencegah tercemarnya pangan. Pasal 50 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan. c. atau mengandung bahan nabati atau hewani yang berpenyakit atau berasal dari bangkai sehingga menjadikan pangan tidak layak dikonsumsi manusia. Pemerintah dapat menetapkan persyaratan bagi perbaikan atau pengayaan gizi pangan tertentu yang diedarkan. (2) Setiap orang yang memproduksi pangan olahan tertentu untuk diperdagangkan wajib melaksanakan tata cara pengolahan pangan yang dapat menghambat proses penurunan atau kehilangan kandungan gizi bahan baku pangan yang digunakan. berbahaya. Bagian Kedelapan Pangan Tercemar Pasal 52 Pangan tercemar merupakan pangan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kesehatan manusia akibat adanya bahan beracun dan sudah kadaluwarsa. maupun keterangan lain yang diperlukan sebelum memutuskan akan membeli dan/atau mengkonsumsi pangan.dan tata cara pengolahan pangan diatur dengan Peraturan Pemerintah. sudah kadaluwarsa. dan/atau e.(3) Dalam hal terjadinya kekurangan dan atau penurunan status gizi masyarakat. 13 . mengandung bahan beracun. mutu. mengandung bahan yang kotor. Pasal 51 Ketentuan mengenai persyaratan khusus mengenai komposisi pangan. busuk.

dan tahun kadaluwarsa. tidak dapat diciptakan padanannya. dapat dilakukan sepanjang tidak ada padanannya. berat bersih atau isi bersih. wajib mencantumkan label pada. keterangan tentang halal. dicetak. atau menukar tanggal. Pasal 58 (1) Keterangan pada label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ditulis. b. (2) Setiap orang dilarang memberikan label atau iklan apabila keterangan atau pernyataan tersebut tidak benar dan/atau meyesatkan. melabel kembali. (2) Label. atau digunakan untuk kepentingan perdagangan pangan ke luar negeri. memuat sekurang-kurangnya keterangan mengenai: a. (3) Penggunaan istilah asing. (2) Label tentang pangan olahan tertentu yang diperdagangkan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan tahun kadaluwarsa pangan yang diedarkan. daftar bahan yang digunakan . tanggal. atau ditampilkan dengan menggunakan bahasa Indonesia. 14 . e. atau ditampilkan secara tegas dan j'elas sehingga dapat mudah dimengerti oleh masyarakat. selain dimaksud pada ayat (2). dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan. dan atau keterangan lain yang perlu diketahui mengenai dampak pangan terhadap kesehatan manusia. bertanggung jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan persyaratan agama atau kepercayaan tersebut. (2) Ketentuan label tidak berlaku bagi perdagangan pangan yang dibungkus dihadapan pembeli. Pasal 60 (1) Setiap label dan atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benardan tidak menyesatkan. ditulis. Pemerintah dapat menetapkan keterangan lain yang wajib atau dilarang untuk dicantumkan pada label pangan.Pasal 56 (1) Ketentuan mengenai label berlaku bagi pangan yang telah melalui proses pengemasan akhir dan siap untuk perdagangkan. bulan. Pasal 59 Setiap orang dilarang mengganti. cara penggunaan. dan f. (3) Pemerintah mengatur. Pasal 61 (1) Setiap orang yang menyatakan dalam label atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama atau kepercayaan tertentu. d. bulan. dan/atau di kemasan pangan. wajib memuat keterangan tentang peruntukan. Pasal 57 (1) Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia yang dikemas untuk diperdagangkan. c. dicetak. (2) Keterangan pada label. angka Arab. di dalam. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indoensia. nama produk. mengawasi. (3) Selain keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan/atau huruf Latin.

mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. keterjangkauan pangan. Pasal 65 (1) Pemerintah menjamin kemudahan pembiayaan kegiatan pra dan pasca produksi pangan. 15 . (2) Pemerintah membentuk suatu badan yang bertugas menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat baik pada tingkat nasional. (2) Sertifikasi mutu pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 66 Pemerintah dan Pemerintah Daerah membangun infrastruktur pertanian dan penyedian lahan bagi petani. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai mengamankan harga pangan pokok. standar. dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. menciptakan mekanisme dan distribusi yang adil. c. pengamanan laju konsumsi masyarakat. menyelenggarakan penyuluhan pertanian yang diselenggarakan secara terarah dan berencana sebagai subsistem dari kesatuan system pembangunan pertanian. (3) Badan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berfungsi: a. pengelolaan cadangan pangan pemerintah. dan f. dan badan yang bertugas menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat diaturdengan Peraturan Pemerintah. e. kampanye penganekaragaman bahan pangan. pengelolaan cadangan pangan pemerintah. dan kabupaten/kota.Pasal 62 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan pencantuman label. distribusi pangan pokok. dengan memperhatikan pedoman. b. Pasal 67 (1) Pemerintah Daerah dan/atau Pemerintah Desa melaksanakan kebijakan dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan jaminan ketersediaan pangan. berupa penyediaan skim kredit bagi petani. dan distribusi pangan pokok kepada masyarakat untuk menjamin ketersediaan pangan. mewujudkan kecukupan sekaligus juga menyelamatkan kecukupan pangan. iklan pangan. kriteria pangan olahan tertentu diatur dalam Peraturan Pemerintah. norma. pemberdayaan penyuluh pertanian dan menghilangkan berbagai pungutan yang mengurangi daya saing pertanian dan alokasi anggaran yang memadai. BAB VII KELEMBAGAAN PANGAN Pasal 63 (1) Pemerintah mengamankan harga pangan pokok. (2) Kemudahan pembiayaan sebagaiman dimaksud pada ayat (1). propinsi. merata serta tingkat harga yang terjangkau oleh masyarakat. dan keamanan pangan diwilayahnya masing-masing. diterapkan secara bertahap berdasarkan jenis pangan dengan memperhatikan kesiapan dan kebutuhan sistem pangan. Pasal 64 (1) Pemerintah memberikan sertifikasi mutu pangan yang diperdagangkan. d.

dan/atau d. Pasal 39 ayat (1). atau e. Pasal 50. dan/atau cara pemecahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (3) Dalam mendorong keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan jaminan ketersediaan pangan. Pasal 46 ayat (1). Pasal 59. Pasal 35. (2) Penyampaian permasalahan. b. Pasal 34 ayat (1). membantu kelancaran penyelenggaraan jaminan ketersediaan pangan. keterjangkauan pangan. Pasal 69 (1) Masyarakat dapat menyampaikan permasalahan. menyelenggarakan cadangan pangan masyarakat. produksi. mutu. (2) Sanksi admistratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. c. untuk menyempurnakan dan meningkatkan keamanan. dan gizi pangan. melaksanakan produksi. keterjangkauan pangan. Pasal 60 ayat (2) dikenai sanksi administratif. BAB VIII PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 68 (1) Masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan serta seluas-luasnya dalam mewujudkan jaminan ketersediaan pangan. dan distribusi pangan. meningkatkan kemandirian rumah tangga. pengenaan denda. keterjangkauan pangan. b. penghentian sementara dari kegiatan. BAB IX SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 70 (1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagai mana dimaksud dalam Pasal 25. dan keamanan pangan. Pasal 38 ayat (1). (3) Ketentuan mengenai tata cara penyampaian permasalahan. memberikan informasi dan pendidikan b. pencabutan nomor pendaftaran dan penarikan pangan dari peredaran. meningkatkan motivasi masyarakat. melakukan pencegahan dan penanggulangan masalah pangan. (2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa : a. masukan. Pasal 44 ayat (1). dan keamanan pangan. 16 . dan/atau cara pemecahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. pencabutan izin. perdagangan. masukan. d.(2) Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Desa mendorong keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan jaminan ketersediaan pangan. Pasal 47. dan keamanan pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dilakukan dengan: a. dan/atau peredaran. Pasal 57 ayat (1). dan/atau cara pemecahan mengenai hal-hal di bidang pangan. dan/atau c. Pasal 43 ayat (1). peringatan secara tertulis. keterjangkauan pangan. c. Pasal 42 ayat (1). dan keamanan pangan . Pasal 53 ayat (1). (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif dan besaran pengenaan denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. masukan.

000. dalam rangka sanitasi pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 (1). BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 71 Setiap orang yang melakukan tindakan yang berakibat pada kerusakan lahan pertanian dan/atau aset lainnya. Pasal 74 Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dengan menggunakan bahan tambahan pangan melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan.000.00 (dua milyar rupiah).00 (dua milyar rupiah).00 (satu milyar rupiah). Pasal 76 Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan.000. penyimpanan.000. dan atau peredaran pangan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rpl000. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.000. peralatan serta bangunan sarana produksi pangan yang membahayakan manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.000.000. Pasal 72 Setiap orang yang tidak menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi penyimpanan. 17 .(4) Besarnya denda ditambah 1/3 (sepertiga) dari besaran denda yang telah ditetapkan jika pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang berwenang atau korporasi. minuman. pengangkutan.000.00 (satu milyar rupiah).000. dan/atau peredaran pangan yang dapat mengakibatkan tumbuh dan berkembangbiaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp50. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2. Pasal 73 Setiap orang yang menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi.000. penggunaan tanah pertanian tanpa izin dan/atau tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya usaha pertanian.00 (lima puluh juta rupiah).000.00 (dua milyar rupiah).000.000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000. pengangkutan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1). dan dapat merusak kesehatan manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1). Pasal 75 Setiap orang yang memproduksi pangan dalam kemasan.000. yang menggunakan bahan kemasan pangan yang merugikan dan/atau membahayakan kesehatan manusia. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1). yang menggunakan bahan apa pun sebagai kemasan pangan yang dapat melepaskan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia.

000.000. di dalam. 18 .000. melabel kembali.000.000. dan tahun kadaluwarsa pangan yang diedarkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59.000.000. yang tidak memenuhi standar mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium.000. atau menukar tanggal. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (2). dipidana dengan pidana penj'ara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500. dan/atau di kemasan pangan. Pasal 84 Setiap tindak pidana di bidang pangan yang melibatkan pejabat. Pasal 79 Setiap orang yang memperdagangkan pangan dengan mutu berbeda atau tidak sama dengan mutu pangan yang dijanjikan.000. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2).000. Pasal 81 Setiap orang yang mengganti.00 (satu milyar rupiah).Pasal 77 Setiap orang yang membuka kemasan akhir pangan untuk dikemas kembali dan diperdagangkan. Pasal 80 Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia yang dikemas untuk diperdagangkan.000. cara penggunaan.000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.00 (lima ratus juta rupiah). pidananya diperberat dengan menambah 1/3 (satu pertiga) dari ancaman pidana pokok. yang pengadaannya dilakukan dalam jumlah kecil dan tidak lazim dikemas kembali untuk diperdagangkan lebih lanjut. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1). yang tidak mencantumkan label pada. yang tidak memuat keterangan tentang peruntukan. Pasal 83 Setiap orang yang memproduksi pangan olahan tertentu.00 (satu milyar rupiah). dan atau keterangan lain yang perlu diketahui mengenai dampak pangan terhadap kesehatan manusia. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1).00 (dua milyar rupiah).000.000. Pasal 78 Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diperdagangkan.000.00 (lima ratus juta rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rpl000. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47. bulan.00 (satu milyar rupiah). Pasal 82 Setiap orang yang memberikan label atau iklan apabila keterangan atau pernyataan tersebut tidak benar dan/atau menyesatkan.000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.00 (satu milyar rupiah).000.

Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 87 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku... Agar setiap orang mengetahuinya. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3656). ttd. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ... ttd. NOMOR 19 .....BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 85 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 86 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.. Pasal 88 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. DR. dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini atau tidak diatur secara khusus dalam Undang-Undang ini. ketentuan peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai pangan.. H. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 99..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->