DRAFT AWAL RANCANGAN UNDANG UNDANG PERUBAHAN UNDANG UNDANG NO. 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN .

Disusun Sebagai Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi untuk Mendukung Tugas Dewan dalam Pelaksanaan Fungsi Legislasi

BAGIAN PERANCANGAN UNDANG-UNDANG BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DEPUTI PERUNDANG UNDANGAN SEKRETARIAT JENDERAL DPR RI 2009

1

menyangkut penerapan sanksi yang relatif masih rendah. dengan memanfaatkan sumber daya. TAHUN. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Sosial. dan huruf d perlu membentuk UndangUndang tentang Pangan.RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. sehingga dalam pelaksanaannya ditemui beberapa kendala dalam hal penegakan hukum. bermutu dan bergizi seimbang.. bahwa negara berkewajiban menjamin ketersediaan. daerah hingga rumah tangga secara merata diseluruh wilayah Negara Republik Indonesia sepanjang waktu. aman. bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia paling utama. huruf c.. Mengingat: Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. namun akhirakhir ini Indonesia lebih dikenal sebagai salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia. baik pada tingkat nasional.. e. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PANGAN 2 . pembangunan pangan di Indonesia yang dahulu dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar rakyatnya bermata pencaharian sebagai petani dan pernah menjadi negara swasembada beras. Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi.dan keamanan konsumsi pangan yang cukup. karena itu pemenuhanya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan tidak sesuai lagi dengan era otonomi daerah serta perkembangan di masyarakat yang juga harus disesuaikan dengan adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant On Economic. Menimbang: a. c. kelembagaan. d. keterjangkauan. b. sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas. dan budaya lokal.. dan Budaya) dimana pangan adalah bagian dari HAM (right to food). bahwa keberadaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1986 tentang Pangan masih bersifat sangat umum dan sangat menitikberatkan kepada sektor industri pangan. huruf b. bahwa dalam perkembangannya.

10. minuman. aman. 5. lingkungan hidup. baik diperdagangkan maupun tidak. Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan. mengolah. dan/atau pemasukan pangan dari luar negeri. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air. dan membahayakan kesehatan manusia sehingga aman untuk di konsumsi. mengemas kembali. dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan. termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan. Perdagangan pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penjualan dan/atau pembelian pangan. kimia. termasuk bahan tambahan pangan. Gizi pangan adalah zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang terdiri atas karbohidrat. 2. 6.perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Standar adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang dibakukan. baik jumlah maupun mutunya. dan standar perdagangan terhadap bahan makanan. 9. dan benda lain yang dapat mengganggu. yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia. 7. Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis. termasuk penawaran untuk menjual pangan. 8. dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan kesehatan manusia. 11.peralatan. mengawetkan. merata. 12. menyiapkan. dan/atau pembuatan makanan atau minuman. lemak. dan minuman. 13. Mutu pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. kesehatan. 3. bahan baku pangan. yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. pengolahan. dan terjangkau. baik yang diolah maupun tidak diolah. Ketersediaan pangan adalah tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri. Sanitasi pangan adalah upaya untuk pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan. keamanan. baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. Peredaran pangan adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan kepada masyarakat. makanan. membuat. vitamin dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. 4. Persyaratan sanitasi adalah standar kebersihan dan kesehatan yang harus dipenuhi sebagai upaya mematikan atau mencegah hidupnya jasad renik patogen dan mengurangi jumlah jasad renik lainnya agar pangan yang dihasilkan dan dikonsumsi tidak membahayakan kesehatan dan jiwa manusia. Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/atau membungkus pangan. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan rumah tangga. cadangan pangan nasional. kandungan gizi. mengemas. protein. dan/atau mengubah bentuk pangan. merugikan. 3 . serta pengalaman perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. dan kegiatan lain yang berkenaan dengan pemindahtanganan pangan dengan memperoleh imbalan.

Asas Berkelanjutan. cadangan pangan. Asas kemandirian. Asas manfaat dan lestari. b. mengembangkan sarana dan prasarana produksi pangan. pembinaan. dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengembangkan efisiensi sistem usaha pangan. dan pemasukan pangan dari luar negeri. dan f. dan/atau keadaan darurat. (3) Cadangan pangan dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan pangan. (2) Sumber penyediaan pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diutamakan berasal dari produksi pangan dalam negeri. terwujudnya tingkat kecukupan pangan dengan harga yang wajar dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat. c. mengembangkan sistem produksi pangan yang bertumpu pada sumber daya. c. dan d. mengembangkan teknologi produksi pangan. (4) Pemasukan pangan dari luar negeri hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri dan cadangan pangan tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. dan e. mutu. tersediannya pangan yang memenuhi persyaratan keamanan. Asas pemerataan. terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab. Pasal 4 Tujuan pengaturan. dan pengawasan pangan adalah: a. Pasal 6 (1) Sumber penyediaan pangan berasal dari produksi pangan dalam negeri. kelebihan pangan. gejolak harga. BAB III JAMINAN KETERSEDIAAN PANGAN Bagian Kesatu Umum Pasal 5 (1) Penyediaan pangan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan konsumsi rumah tangga secara berkelanjutan. b. d. c. d. Asas keadilan. 4 . kelembagaan. mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif. Asas keamanan. (5) Pelaksanaan pemasukan pangan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan gizi bagi konsumsi masyarakat. terciptanya kesejahteraan petani. b. Pasal 3 Pembangunan pangan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil dan merata berdasarkan kemandirian dan tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat. dan budaya lokal.BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penyelenggaraan pangan dilakukan dengan berdasarkan: a. (2) Penyediaan pangan dilakukan dengan: a. e.

5 .Bagian Kedua Produksi Pangan Dalam Negeri Paragraf 1 Pemberdayaan Petani Pasal 7 (1) Pemberdayaan petani dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah bersama pelaku usaha pertanian serta lembaga terkait lainnya. (3) Pembiayaan yang bersumber dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diutamakan untuk pertanian. dan Pemerintah Daerah. serta promosi pertanian. menghindari pengenaan biaya yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Paragraf 2 Pembiayaan Usaha Pertanian Pasal 10 (1) Pembiayaan usaha pertanian bersumber dari pelaku usaha pertanian. b. dan/atau g. memfasilitasi aksesibilitas ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi. Pasal 9 Setiap orang dilarang melakukan tindakan yang berakibat pada kerusakan lahan pertanian dan/atau aset lainnya. c. pelaku usaha pertanian menghimpun dana untuk pengembangan sumber daya manusia. (2) Pemerintah mendorong dan memfasilitasi terbentuknya lembaga keuangan pertanian yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik usaha pertanian. mengutamakan hasil pertanian dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri. Pemerintah Daerah. (2) Ketentuan mengenai penghimpunan dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. lembaga pendanaan dalam dan luar negeri. Pasal 11 (1) Pemerintah. (2) Pemberdayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi: a. mengatur pemasukan dan pengeluaran hasil pertanian. masyarakat. memfasilitasi pelaksanaan ekspor hasil pertanian. memfasilitasi sumber pembiayaan/permodalan. d. koperasi petani. f. serta asosiasi petani untuk pengembangan usaha pertanian. Pasal 8 Pemerintah dan Pemerintah Daerah mendorong dan memfasilitasi pemberdayaan petani. penggunaan tanah pertanian tanpa izin dan/atau tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya usaha pertanian. Pemerintah. memberikan kemudahan penunjang produksi pertanian. e. kelompok petani. penelitian dan pengembangan.

b. Pasal 16 (1) Untuk mewujudkan cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dilakukan dengan: a. dan dapat segera dikonsumsi dengan harga yang wajar dan terjangkau masyarakat. (2) Pemasukan cadangan pangan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan cadangan pangan nasional. Cadangan pangan Pemerintah Propinsi. 6 . Pasal 14 (1) Cadangan pangan nasional bersumber dari produksi pangan dalam negeri dan pemasukan pangan dari luar negeri. Pemerintah Kabupaten/Kota. Cadangan pangan Pemerintah Pusat. melakukan prakiraan kekurangan pangan dan/atau keadaan darurat. b. Pemerintah Propinsi sampai dengan Pemerintah Pusat. dan penyaluran cadangan pangan. Cadangan pangan Pemerintah Desa. (2) Ketentuan mengenai pendekatan kawasan pertanian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Undang-undang. (3) Pemasukan cadangan pangan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 15 (1) Cadangan pangan nasional terdiri dari cadangan pangan Pemerintah dan cadangan pangan masyarakat. ditetap sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat dan bahan baku industri sekurang-kurangnya dalam jangka waktu enam bulan. menginventarisasi cadangan pangan. (2) Jumlah pangan yang harus tersedia sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menyelenggarakan pengadaan. dan d. (2)Cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan secara berkala dan dilakukan secara terkoordinasi mulai dari penetapan cadangan pangan Pemerintah Desa. c.Paragraf 3 Kawasan Pertanian Pasal 12 (1) Usaha pertanian dilakukan secara terpadu dan terkait dalam industri pertanian dengan menggunakan pendekatan kawasan pertanian. Bagian Ketiga Cadangan Pangan Nasional Pasal 13 (1) Cadangan pangan nasional merupakan jumlah pangan yang harus tersedia setiap saat di Wilayah Negara Republik Indonesia. (2) Cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Cadangan pangan Pemerintah Kabupaten/Kota. (2) Ketentuan mengenai jumlah pangan yang harus tersedia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (3) Cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan pangan tertentu yang bersifat pokok. pengelolaan. dan/atau c.

(2) Penganekaragaman pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan: a. (2) Pemasukan pangan dari luar negeri hanya dapat dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri dan cadangan pangan nasional tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Bagian Keempat Pemasukan Pangan Dari Luar Negeri Pasal 20 Pemasukan pangan merupakan kegiatan memasukan pangan baik pangan segar maupun olahan dari luar negeri melalui darat. mutu. b.Pasal 17 (1)Penyaluran cadangan pangan dilakukan untuk menanggulangi masalah pangan. 7 . (2) Cadangan pangan masyarakat merupakan persediaan pangan yang dikelola atau dikuasai oleh masyarakat. mutu. (2)Penyaluran cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dilakukan dengan: a. dan gizi bagi konsumsi pangan masyarakat. meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi aneka ragam pangan dengan prinsip gizi seimbang. laut dan udara ke dalam wilayah Indonesia. dan b. Pasal 23 (1) Penganekaragaman pangan diselenggarakan untuk meningkatkan ketersedian pangan dengan memperhatikan sumberdaya. dan gizi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaturdengan Peraturan Pemerintah. dan c. Bagian Kelima Penganekaragaman Pangan Pasal 22 Penganekaragaman pangan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan mutu gizi makanan dengan pola konsumsi yang lebih beragam. (3) Ketentuan mengenai persyaratan keamanan. tidak merugikan masyarakat konsumen dan produsen. dan budaya lokal. Pasal 19 (1) Masyarakat mempunyai hak dan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan cadangan pangan masyarakat. mekanisme yang disesuaikan dengan kondisi wilayah dan rumah tangga. kelembagaan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penganekaragaman pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diaturdengan Peraturan Pemerintah. (3) Cadangan pangan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara mandiri serta sesuai dengan kemampuan masing-masing. meningkatkan keanekaragaman pangan. Pasal 21 (1) Setiap pemasukan pangan dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri harus memenuhi persyaratan keamanan. Pasal 18 Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat menugaskan badan pemerintah atau badan usaha yang bergerak dibidang pangan untuk mengadakan dan mengelola cadangan pangan tertentu yang bersifat pokok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. mengembangkan teknologi pengolahan dan produk pangan.

dan gizi pangan. BAB IV JAMINAN KETERJANGKAUAN PANGAN Bagian Kesatu Distribusi Pangan Pasal 26 Distribusi pangan merupakan kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran pangan untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu. mutu. menjamin keamanan distribusi pangan. mengelola sistem distribusi pangan yang dapat mempertahankan keamanan. mutu. Bagian Kedua Pengendalian Harga Pasal 29 Pengendalian harga merupakan penetapan batas harga barang pangan untuk menghindari kenaikan harga sehingga tetap terjangkau daya beli masyarakat dalam kondisi persediaan pangan sangat terbatas. (3) Pemerintah menciptakan iklim usaha yang sehat bagi petani. (2) Untuk mewujudkan distribusi pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan: a. 8 . (3) Ketentuan mengenai persyaratan keamanan. dengan harga yang terjangkau. dan/atau c. dan gizi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diaturdengan Peraturan Pemerintah. Pasal 27 (1) Pemerintah menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan pemasaran hasil pertanian di dalam maupun ke luar negeri. Pasal 25 Setiap orang yang mengeluarkan pangan dari wilayah Indonesia bertanggung jawab atas keamanan. b. (2) Setiap pangan yang dikeluarkan dari wilayah Indonesia harus memenuhi persyaratan keamanan.Bagian Keenam Pengeluaran Pangan dari Wilayah Indonesia Pasal 24 (1) Pengeluaran pangan dari wilayah Indonesia hanya dapat dilakukan setelah terpenuhi kebutuhan konsumsi pangan dalam negeri. dan gizi pangan. Pasal 28 (1) Dalam rangka pemerataan ketersediaan pangan dilakukan distribusi pangan keseluruh wilayah negara sampai dengan tingkat rumah tangga. mengembangkan sistem distribusi pangan yang menjangkau seluruh wilayah secara efisien. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai distribusi pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. mutu. dan gizi pangan. (2) Pemasaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan untuk membina peningkatan produksi dan konsumsi masyarakat dalam mewujudkan ketersediaan pangan bergizi seimbang dengan tetap meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha pertanian. mutu.

b. mencantumkan label pada produk pangan. pengangkutan. dan gizi pangan dengan mencegah dari kemungkinan cemaran biologis. dan/atau peredaran pangan. b. e. yang dapat merugikan dan membahayakan kesehatan manusia dengan tujuan agar pangan aman untuk dikonsumsi. penyimpanan. d. melakukan pengawasan terhadap bahan tambahan pangan. b. menjaga kestabilan harga. dan/atau g. (2) Pengendalian harga pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui: a. 9 . c. pengaturan kelancaran distribusi pangan. kimia. menghadapi keadaan darurat karena bencana atau paceklik yang berkepanjangan. dan f. dan benda lain yang dapat mengganggu. pengelolaan dan pemeliharaan cadangan pangan pemerintah. Bagian Kedua Sanitasi Pangan Pasal 33 (1) Agar pangan aman untuk dikonsumsi. menjamin mutu dan melakukan pemeriksaan laboratorium. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengendalian harga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. c. menghindari terjadinya gejolak harga pangan. f. tidak terpenuhi standar mutu dan komposisi. mencantumkan j'aminan produk halal. c. BABV KEAMANANPANGAN Bagian Kesatu Umum Pasal 31 Keamanan pangan diselenggarakan untuk menjaga keamanan. melakukan pengawasan terhadap rekayasa genetika dan iradiasi pangan. dilakukan sanitasi pangan terhadap pangan yang dapat merusak dan membahayakan kesehatan manusia. (2) Sanitasi pangan dilakukan dalam kegiatan atau proses produksi. Pasal 32 Penyelenggaraan keamanan pangan dilakukan dengan cara: a. penetapan kebijakan pajak dan/atau tarif. dan/atau d. memperhatikan daya beli konsumen.Pasal 30 (1) Pengendalian harga pangan tertentu yang bersifat pokok di tingkat masyarakat diselenggarakan dengan tujuan: a. mencapai swasembada pangan. daluarsa. menjamin kesejahteraan petani. (3) Sanitasi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan standar kebersihan dan kesehatan. mutu. pengaturan dan pengelolaan pasokan pangan. d. menentukan standar kemasan pangan. melakukan sanitasi pangan. e.

minuman. orang perseorangan. sarana dan/atau prasarana pangan. dan c. jaminan keamanan dan/atau keselamatan. menjamin keamanan dan/atau keselamatan manusia. pengangkutan. dan atau peredaran pangan. harus terlebih dahulu diperiksa keamanannya. (2) Pemeriksaan keamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk mendapatkan izin peredarannya. b. menyelenggarakan program pemantauan dan pengawasan secara berkala. penyelenggaraan kegiatan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan standar kebersihan dan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan c. 10 . Pasal 37 (1) Bahan yang akan digunakan sebagai bahan tambahan pangan yang belum diketahui dampaknya bagi kesehatan manusia dalam kegiatan atau proses produksi pangan untuk diedarkan. dan/atau peredaran pangan yang dapat mengakibatkan tumbuh dan berkembangbiaknya jasad renik pembusuk dan pathogen dalam makanan. dan bahan yang dapat merusak kesehatan manusia. peralatan serta bangunan sarana produksi pangan yang membahayakan manusia. (2) Ketentuan mengenai persyaratan sanitasi. dilarang menggunakan bahan tambahan pangan melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan.(4) Persyaratan standar kebersihan dan kesehatan sanitasi pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi: a. Pasal 38 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan. (2) Ketentuan mengenai ambang batas maksimal dan bahan yang dapat merusak kesehatan manusia diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Setiap orang yang menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi penyimpanan. Bagian Ketiga Bahan Tambahan Pangan Pasal 36 Bahan tambahan pangan merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempegaruhi sifat atau bentuk pangan. b. memenuhi persyaratan sanitasi. pengangkutan. penyimpanan. dalam rangka sanitasi pangan wajib : a. dan menyelenggarakan program pemantauan dan pengawasan secara berkala diatur dalam Peraturan Pemerintah Pasal 35 Setiap orang dilarang menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi.

baik dengan menggunakan zat radio aktif maupun akselerator. keselamatan kerja. dan/atau bahan bantu lain dalam kegiatan atau proses produksi pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa genetika. dosis. prinsip pengolahan. wajib menggunakan bahan kemasan pangan yang tidak merugikan dan/atau membahayakan kesehatan manusia. persyaratan prinsip penelitian dan pengujian. Paragraf 2 Iradiasi Pangan Pasal 40 Pengelohan pangan dapat dilakukan melalui iriadiasi dengan metode penyinaran terhadap pangan. dilarang menggunakan bahan apa pun sebagai kemasan pangan yang dapat melepaskan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia. menggunakan bahan tambahan pangan. dan membebaskan pangan darijasad renik patogen. Pasal 41 (1) Iradiasi hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin Pemerintah. dan kelestarian lingkungan. (3) Ketentuan mengenai persyaratan kesehatan. pengembangan. serta membebaskan pangan dari jasad renik patogen. teknik dan peralatan. 11 . untuk mencegah terjadinya pembusukan. dan kelestarian lingkungan diatur dalam Peraturan Pemerintah. dan pemanfaatan metode rekayasa genetika dalam kegiatan atau proses produksi pangan yang dihasilkankan dari proses rekayasa genetika diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Kemasan pangan berfungsi untuk mencegah terjadinya pembusukan. kerusakan. Bagian Kelima Kemasan Pangan Pasal 42 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan dalam kemasan. harus terlebih dahulu memeriksakan keamanan pangan sebelum diedarkan. dosis. (2) Izin Pemerintah sebagai mana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi persyaratan kesehatan. Pasal 43 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan. (2) Pemeriksaan keamanan pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah untuk mendapatkan izin peredarannya (3) Ketentuan mengenai pemeriksaan keamanan pangan. prinsip pengolahan. teknik dan peralatan. menggunakan bahan baku. kerusakan. keselamatan kerja. penanganan limbah dan penanggulangan bahaya bahan radioaktif untuk menjamin keamanan pangan. penanganan limbah dan penanggulangan bahaya bahan radioaktif untuk menjamin keamanan pangan.Bagian Keempat Rekayasa Genetika dan Iradiasi Pangan Paragraf 1 Rekayasa Genetika Pasal 39 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan.

(4) Ketentuan mengenai standar mutu dan persyaratan pengujian laboratorium diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 49 (1) Pemerintah menetapkan dan menyelenggarakan kebijakan di bidang gizi bagi perbaikan status gizi masyarakat. (2) Pemerintah dapat menetapkan persyaratan khusus mengenai komposisi pangan. (2) Setiap pengadaan dan peredaran pangan harus dilakukan pengawasan sesuai standar mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium. tata cara pengemasan pangan. dilakukan di Laboratorium yang ditunjuk oleh dan/atau telah memperoleh akreditasi dari Pemerintah. Bagian Ketujuh Gizi Pangan Pasal 48 Gizi pangan merupakan zat atau senyawa yang terdapat dalam pangan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. sebagaimana dimaksud ayat (2). dan bahan yang dilarang digunakan sebagai kemasan pangan diaturdalam Peraturan Pemerintah.(2) Pengemasan pangan yang diedarkan dilakukan melalui tata cara yang dapat menghindarkan terjadinya kerusakan dan atau pencemaran. 12 . (2) Pemerintah dapat menetapkan persyaratan agar pangan terlebih dahulu diuji di laboratorium sebelum diedarkan. Pasal 44 (1) Setiap orang dilarang membuka kemasan akhir pangan untuk dikemas kembali dan diperdagangkan. Pasal 46 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diperdagangkan wajib memenuhi standar mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium. untuk meningkatkan kandungan gizi pangan olahan tertentu yang diperdagangkan. Bagian Keenam Standar Mutu Pangan dan Pemeriksaan Laboratorium Pasal 45 (1) Pemerintah menetapkan standar mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium pada setiap produk pangan. Pasal 47 Setiap orang dilarang memperdagangkan pangan yang mutunya berbeda atau tidak sama dengan mutu pangan yang dijanjikan. (2) Ketentuan larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pangan yang pengadaannya dalam jumlah besar dan lazim dikemas kembali dalam jumlah kecil untuk diperdagangkan lebih lanjut. (3) Pengujian secara laboratoris. (3) Ketentuan mengenai kemasan pangan. (3) Pengadaan pangan yang dibuat atau dimasukkan untuk diedarkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus (4) memenuhi standar mutu sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

mutu. (2) Pengawasan dan pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menetapkan ambang batas maksimal cemaran yang diperbolehkan. Bagian Kedelapan Pangan Tercemar Pasal 52 Pangan tercemar merupakan pangan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kesehatan manusia akibat adanya bahan beracun dan sudah kadaluwarsa. mengandung bahan beracun. dan/atau e. Pasal 51 Ketentuan mengenai persyaratan khusus mengenai komposisi pangan. Pasal 50 (1) Setiap orang yang memproduksi pangan. sudah kadaluwarsa. (3) Ketentuan mengenai ambang batas maksimal cemaran yang diperbolehkan diatur dalam Peraturan Pemerintah. tengik. Pasal 53 (1) Setiap orang dilarang mengedarkan pangan tercemar. agar masyarakat yang membeli dan/atau mengkonsumsi pangan memperoleh informasi yang benar dan jelas tentang setiap produk pangan yang dikemas. baik menyangkut asal. berbahaya. wajib memenuhi persyaratan tentang gizi yang ditetapkan. maupun keterangan lain yang diperlukan sebelum memutuskan akan membeli dan/atau mengkonsumsi pangan. BAB VI LABEL DAN IKLAN PANGAN Pasal 55 Pemberian label pada pangan yang dikemas. Pemerintah dapat menetapkan persyaratan bagi perbaikan atau pengayaan gizi pangan tertentu yang diedarkan. atau yang dapat merugikan atau membahayakan kesehatan atau jiwa manusia. keamanan. kandungan gizi. (2) Pangan tercemar sebagaimana dimaksud ayat (1) berupa pangan yang: a. busuk. Pasal 54 (1) Pemerintah mengawasi dan mencegah tercemarnya pangan. b.dan tata cara pengolahan pangan diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Setiap orang yang memproduksi pangan olahan tertentu untuk diperdagangkan wajib melaksanakan tata cara pengolahan pangan yang dapat menghambat proses penurunan atau kehilangan kandungan gizi bahan baku pangan yang digunakan. c. persyaratan bagi perbaikan atau pengayaan gizi pangan.(3) Dalam hal terjadinya kekurangan dan atau penurunan status gizi masyarakat. mengandung bahan yang kotor. mengandung bahan yang dilarang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan. terurai. 13 . mengandung cemaran yang melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan. d. atau mengandung bahan nabati atau hewani yang berpenyakit atau berasal dari bangkai sehingga menjadikan pangan tidak layak dikonsumsi manusia.

dan tahun kadaluwarsa. 14 . wajib memuat keterangan tentang peruntukan. Pasal 60 (1) Setiap label dan atau iklan tentang pangan yang diperdagangkan harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benardan tidak menyesatkan. bertanggung jawab atas kebenaran pernyataan berdasarkan persyaratan agama atau kepercayaan tersebut. e. bulan. mengawasi. atau ditampilkan secara tegas dan j'elas sehingga dapat mudah dimengerti oleh masyarakat. memuat sekurang-kurangnya keterangan mengenai: a. dicetak. wajib mencantumkan label pada. Pasal 57 (1) Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia yang dikemas untuk diperdagangkan. keterangan tentang halal. cara penggunaan. dan tahun kadaluwarsa pangan yang diedarkan. dan/atau di kemasan pangan. Pemerintah dapat menetapkan keterangan lain yang wajib atau dilarang untuk dicantumkan pada label pangan. (3) Selain keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).Pasal 56 (1) Ketentuan mengenai label berlaku bagi pangan yang telah melalui proses pengemasan akhir dan siap untuk perdagangkan. daftar bahan yang digunakan . dan atau keterangan lain yang perlu diketahui mengenai dampak pangan terhadap kesehatan manusia. Pasal 59 Setiap orang dilarang mengganti. (2) Label tentang pangan olahan tertentu yang diperdagangkan. ditulis. atau menukar tanggal. dan melakukan tindakan yang diperlukan agar iklan tentang pangan yang diperdagangkan tidak memuat keterangan yang dapat menyesatkan. c. berat bersih atau isi bersih. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). selain dimaksud pada ayat (2). (2) Keterangan pada label. melabel kembali. tanggal. b. nama produk. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indoensia. angka Arab. (2) Label. (3) Pemerintah mengatur. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat dilakukan sepanjang tidak ada padanannya. Pasal 58 (1) Keterangan pada label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ditulis. dan/atau huruf Latin. (2) Ketentuan label tidak berlaku bagi perdagangan pangan yang dibungkus dihadapan pembeli. (2) Setiap orang dilarang memberikan label atau iklan apabila keterangan atau pernyataan tersebut tidak benar dan/atau meyesatkan. tidak dapat diciptakan padanannya. Pasal 61 (1) Setiap orang yang menyatakan dalam label atau iklan bahwa pangan yang diperdagangkan adalah sesuai dengan persyaratan agama atau kepercayaan tertentu. (3) Penggunaan istilah asing. bulan. atau ditampilkan dengan menggunakan bahasa Indonesia. d. atau digunakan untuk kepentingan perdagangan pangan ke luar negeri. dicetak. di dalam. dan f.

mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. pemberdayaan penyuluh pertanian dan menghilangkan berbagai pungutan yang mengurangi daya saing pertanian dan alokasi anggaran yang memadai. e. iklan pangan. standar. kriteria pangan olahan tertentu diatur dalam Peraturan Pemerintah.Pasal 62 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan pencantuman label. Pasal 65 (1) Pemerintah menjamin kemudahan pembiayaan kegiatan pra dan pasca produksi pangan. dan f. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai mengamankan harga pangan pokok. dengan memperhatikan pedoman. berupa penyediaan skim kredit bagi petani. dan distribusi pangan pokok kepada masyarakat untuk menjamin ketersediaan pangan. dan badan yang bertugas menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat diaturdengan Peraturan Pemerintah. propinsi. (2) Pemerintah membentuk suatu badan yang bertugas menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat baik pada tingkat nasional. dan kabupaten/kota. dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. menyelenggarakan penyuluhan pertanian yang diselenggarakan secara terarah dan berencana sebagai subsistem dari kesatuan system pembangunan pertanian. pengelolaan cadangan pangan pemerintah. (2) Sertifikasi mutu pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). norma. c. kampanye penganekaragaman bahan pangan. (3) Badan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berfungsi: a. BAB VII KELEMBAGAAN PANGAN Pasal 63 (1) Pemerintah mengamankan harga pangan pokok. b. merata serta tingkat harga yang terjangkau oleh masyarakat. distribusi pangan pokok. Pasal 66 Pemerintah dan Pemerintah Daerah membangun infrastruktur pertanian dan penyedian lahan bagi petani. Pasal 67 (1) Pemerintah Daerah dan/atau Pemerintah Desa melaksanakan kebijakan dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan jaminan ketersediaan pangan. mewujudkan kecukupan sekaligus juga menyelamatkan kecukupan pangan. Pasal 64 (1) Pemerintah memberikan sertifikasi mutu pangan yang diperdagangkan. diterapkan secara bertahap berdasarkan jenis pangan dengan memperhatikan kesiapan dan kebutuhan sistem pangan. pengamanan laju konsumsi masyarakat. d. 15 . menciptakan mekanisme dan distribusi yang adil. (2) Kemudahan pembiayaan sebagaiman dimaksud pada ayat (1). keterjangkauan pangan. pengelolaan cadangan pangan pemerintah. dan keamanan pangan diwilayahnya masing-masing.

Pasal 43 ayat (1). Pasal 35. Pasal 57 ayat (1). peringatan secara tertulis. memberikan informasi dan pendidikan b. (2) Sanksi admistratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif dan besaran pengenaan denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 53 ayat (1). 16 . b. dan keamanan pangan. Pasal 34 ayat (1). keterjangkauan pangan. Pasal 44 ayat (1). BAB IX SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 70 (1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagai mana dimaksud dalam Pasal 25. dan/atau cara pemecahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. keterjangkauan pangan. dan/atau cara pemecahan mengenai hal-hal di bidang pangan. c. Pasal 38 ayat (1). Pasal 50. melakukan pencegahan dan penanggulangan masalah pangan. (3) Ketentuan mengenai tata cara penyampaian permasalahan. d. Pasal 69 (1) Masyarakat dapat menyampaikan permasalahan. (2) Penyampaian permasalahan.(2) Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Desa mendorong keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan jaminan ketersediaan pangan. Pasal 42 ayat (1). Pasal 39 ayat (1). melaksanakan produksi. b. masukan. dan keamanan pangan . dan keamanan pangan. (3) Dalam mendorong keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan jaminan ketersediaan pangan. pengenaan denda. produksi. Pasal 59. (2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa : a. meningkatkan kemandirian rumah tangga. masukan. dan gizi pangan. penghentian sementara dari kegiatan. BAB VIII PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 68 (1) Masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan serta seluas-luasnya dalam mewujudkan jaminan ketersediaan pangan. meningkatkan motivasi masyarakat. untuk menyempurnakan dan meningkatkan keamanan. dan/atau peredaran. c. membantu kelancaran penyelenggaraan jaminan ketersediaan pangan. menyelenggarakan cadangan pangan masyarakat. keterjangkauan pangan. Pasal 47. dan keamanan pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dilakukan dengan: a. dan/atau c. mutu. masukan. dan/atau cara pemecahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. pencabutan izin. atau e. dan distribusi pangan. perdagangan. pencabutan nomor pendaftaran dan penarikan pangan dari peredaran. Pasal 46 ayat (1). Pasal 60 ayat (2) dikenai sanksi administratif. dan/atau d. keterjangkauan pangan.

00 (dua milyar rupiah). dan/atau peredaran pangan yang dapat mengakibatkan tumbuh dan berkembangbiaknya jasad renik pembusuk dan patogen dalam makanan.000.(4) Besarnya denda ditambah 1/3 (sepertiga) dari besaran denda yang telah ditetapkan jika pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang berwenang atau korporasi. Pasal 72 Setiap orang yang tidak menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi penyimpanan.00 (satu milyar rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp50.000. dalam rangka sanitasi pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 (1). pengangkutan.000. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1). BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 71 Setiap orang yang melakukan tindakan yang berakibat pada kerusakan lahan pertanian dan/atau aset lainnya. penggunaan tanah pertanian tanpa izin dan/atau tindakan lainnya yang mengakibatkan terganggunya usaha pertanian.000.000.00 (dua milyar rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rpl000.000.00 (dua milyar rupiah).000.000.000. yang menggunakan bahan apa pun sebagai kemasan pangan yang dapat melepaskan cemaran yang merugikan atau membahayakan kesehatan manusia. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.000.000.00 (lima puluh juta rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2. peralatan serta bangunan sarana produksi pangan yang membahayakan manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.000.000. yang menggunakan bahan kemasan pangan yang merugikan dan/atau membahayakan kesehatan manusia. 17 . Pasal 74 Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dengan menggunakan bahan tambahan pangan melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2. dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2. dan dapat merusak kesehatan manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1). dan atau peredaran pangan. minuman.000. Pasal 73 Setiap orang yang menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi.00 (satu milyar rupiah). penyimpanan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1). pengangkutan. Pasal 75 Setiap orang yang memproduksi pangan dalam kemasan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000. Pasal 76 Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan.000.

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2).00 (satu milyar rupiah).000. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47.000.00 (dua milyar rupiah). yang pengadaannya dilakukan dalam jumlah kecil dan tidak lazim dikemas kembali untuk diperdagangkan lebih lanjut. yang tidak memuat keterangan tentang peruntukan.000. pidananya diperberat dengan menambah 1/3 (satu pertiga) dari ancaman pidana pokok. yang tidak mencantumkan label pada. cara penggunaan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1. Pasal 83 Setiap orang yang memproduksi pangan olahan tertentu.000.000. Pasal 81 Setiap orang yang mengganti. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1). dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2. atau menukar tanggal.000. bulan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000. di dalam.000.000. 18 .00 (satu milyar rupiah). melabel kembali.000.000. dan atau keterangan lain yang perlu diketahui mengenai dampak pangan terhadap kesehatan manusia. Pasal 82 Setiap orang yang memberikan label atau iklan apabila keterangan atau pernyataan tersebut tidak benar dan/atau menyesatkan. Pasal 80 Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia yang dikemas untuk diperdagangkan.000. Pasal 79 Setiap orang yang memperdagangkan pangan dengan mutu berbeda atau tidak sama dengan mutu pangan yang dijanjikan.Pasal 77 Setiap orang yang membuka kemasan akhir pangan untuk dikemas kembali dan diperdagangkan.000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rpl000.000. Pasal 84 Setiap tindak pidana di bidang pangan yang melibatkan pejabat.000. dipidana dengan pidana penj'ara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1).000.00 (lima ratus juta rupiah).000. dan/atau di kemasan pangan. Pasal 78 Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diperdagangkan. dan tahun kadaluwarsa pangan yang diedarkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (2). yang tidak memenuhi standar mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.00 (lima ratus juta rupiah). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1).00 (satu milyar rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.00 (satu milyar rupiah).

. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. ttd.. Pasal 86 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 99.... NOMOR 19 . Disahkan di Jakarta pada tanggal PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini atau tidak diatur secara khusus dalam Undang-Undang ini.. Pasal 88 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. H.. Agar setiap orang mengetahuinya. ketentuan peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai pangan. DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA....BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 85 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. Pasal 87 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . ttd. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3656).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful