P. 1
problematika hukum perceraian kristen & katolik

problematika hukum perceraian kristen & katolik

|Views: 1,001|Likes:

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Sitharesmi Dien Mangoendiharjo on Jan 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2013

pdf

text

original

Perceraian menurut Agama Kristen

Perceraian adalah putusnya hubungan pernikahan antara sorang lakilaki dengan seorang perempuan yang tlah hidup bersama sebagai suami istri. Istilah perceraian ada dua; Pertama, adalah perceraian dengan istilah a mensa et thoro (dari meja dan tempat tidur), lebih tepatnya lagi didefinisikan sebagai pemisahan. Dalam hal ini, pasangan suami istri tersbeut hidup terpisah dan berhenti untuk tinggal bersama sebagai suami istri, tetapi masih terikat dengan perkawinan dan tidak ada kebebasan untuk menikah lagu dengan orang lain ketika pasangannya maish hidup. Keadaan seperti ini diakui oleh hukum dan diijinkan oleh tradisi Kristen dalam pernikahan. Pengertian perceraian yang kedua adalah dengan istilaah a Vinculo yang berarti putusnya hubungan dari ikatan perkawinan secara hukum/ resmi. Mereka sudah tidak terikat satu dengan lainnya dan keduanya bebas menikah lagi dengan orang lain. Perceraian dalam pengertian seperti ini yang banyak ditentang oleh gereja. Sementara itu, menurut agama katolik perpisahan itu ada dua macam: 1. perpisahan dengan tetap adanya ikatan perkawinan, suami istri mempunyai kewajiban dan hak untuk memeilhara hidup bersama perkawinan, kecuali jika ada alasan sah yang membebaskan mereka. 2. Perpisahan dengan diputusnya ikatan perkawinannya. Ikatan perkawinan terputus mana kala salah satu pihak tlah meninggal dunia. Ajaran katolik menitik beratkan bahwa perkawinan tidak dapat diputuskan oleh kuasa manusiawi manapun juga dan atas alasan apapun selain oleh kematian. Alasan-alasan perceraian Sesuai dengan asa perkawinan Katolik yaitu monogamy dan tidak terceraikan, maka dalam agama katolik menolak dan tidak mengenal perceraian. Namun istilah perceraian ini dikenal dengan pemutusan ikatan nikah atau pemutusan ikatan perkawinan demi iman / privilege paulinum. Kanon 1143 menjelaskan sebagai berikut:

1. perkawinan yang dilangsungkan oleh orang tdak dibaptis, diputuskan berdasarkan privilege demi iman pihak yang menerima baptis 2. Pihak tidak dibaptis daianggap pergi, jika ia tidak mau hidup bersama dengan pihak yang terbaptis / tidak mau hidup bersama dengan damai tanpa menghina Pencipta 3. Zina bukan sebagai alasan untuk perceraian, tetapi dapat dipakai sebagai alasan untuk perpisahan seperti yang diatur dalam kanon 1152. Syarat sahnya prnggunaan privilege paulinum : • Perkawinan sah antar infidels • Salah satu dipermandikan, sedangkan pihak yang lain tidak dipermandikan • Pihak yang tidak dipermandikan tidak mau hidup rukun • Hal ini dapat dibuktikan dengan interpelasi Prosedur Perceraian 1. Prosedur permohonan dispensasi pemutusan perkawinan yang ratum non consummatum diajukan kepada pastor 2. Lalu permohonan tsb, akan diteuskan kepada Uskup 3. Uskup akan menyerahkan kepada hakim instuktur yang ditunjuk untuk memeriksa dan menjatuhkan putusan 4. Sebelum memutuskan, hakim instruktur memeriksa apakah dia natara suami istri pernah melakukan hubungan badan/ belum, setelah mereka menikah. Serta ada tidaknya alasan-alasan pemutusan perkawinan 5. Lalu, uskup akan meneruskan hasil pemeriksaan bersamaan dengan permohonan tadi kepada Sri Paus di Roma untuk mendapatkan kemurahannya. 6. Hanya Tahta Suci yang berwenang menyatakan bahwa pernikahan belum dilaksanakan dan mengakui adanya alasanalasan yang benar untuk memberi dispensasi (Kanon 1689 pasal1) Sementara itu, untuk pengajuan prosedur perceraian di pengadilan ahama kristen katolik sebagai berikut: 1. Surat dakwaan terhadap perkawinan ditulis oleh teman perkawinan/ promotor iustitiae (Kanon 1674) 2. Surat dakwaan harus dikirim kepada pengadilan tempat dimana perkkawinan terjadi/ dimana si terdakwa tinggal/ tribunal dimana terdaat kehanyakan bukti (Kanon 1673) 3. Hakim harus memeriksa, entah bisa menerima surat dakwaan atau menolaknya (Kanon 1676,1677) 4. Kalau surat ditolak, pendakwa bisa naik banding

5. Kalu pendakwa diterima baik. Hakim mengundang pendakwa dan si terdakwa supaya mereka menyusun pertanyaan untuk perkara ini, yaitu entah jelas bahwa perkawinan itu tidak sah karena : a. Halangan tertentu, b. Kesalahan bentuk, c. Kekurangtahuan, d. Kekurang kehendak, e. Ketakutan/paksaan, f. Kekeliruan. 6. ketua tribunal harus memimpin perkara itu dan mempertahankan jalannya perkara 7. Defensor Vinculi harus hadir kalau pendakwa, siterdakwa, saksi dan ahli didengar 8. Actuarius, nator/ sekertaris harus menilis semua akta dengan tepat dan meminta ttd hakim atas tulisan tsb. 9. hakim harus memutus menurut kepastian moralis 10. hakim memutus berdasakan pertanyaan perkara 11. kalau pengadilan memutuskan bahwa jelas satu perkawinan tidak sah, pengadilan menirim semua akta kepada pengadilan tingkat kedua. Akibat perceraian • Akibat terjadap suami dan istri Jika perceraian kaarena suami berpoligami, maka istri berhak mendapatkan tunjagan ssosial dari suami untuk kelangsungan hidupnya. • Akibat terhadap anak-anak Suami dan istri tetap memiliki tanggung jawab untuk membesarkan dan menjamin kehidupan anak-anak mereka. • Akibat terhadap harta benda Hukum agama katolik tidak mengatur secara kusus mengenai harta benda jika terjadi perceraian maupun perpisahan antara suami istri, sedangkan agam kristen protestan akan mengikuti hukum negara yang berlaku atau mengikuti putusan pengadilan negeri .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->