SNI 01-7152-2006

Standar Nasional Indonesia

Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan

ICS 67.220.20

Badan Standardisasi Nasional

SNI 01-7152-2006

Daftar isi

Daftar isi ........................................................................................................................... Prakata ............................................................................................................................ . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ruang lingkup ........................................................................................................... Acuan normatif .......................................................................................................... Istilah dan definisi ..................................................................................................... Jenis perisa ............................................................................................................... Pengelompokan perisa ............................................................................................. Penggunaan perisa ................................................................................................... Ajudan perisa (Flavoring adjunct) ............................................................................. Senyawa penanda .................................................................................................... Larangan ...................................................................................................................

i ii 1 1 1 2 3 3 11 17 18 18 19 25 116

10 Ketentuan label ......................................................................................................... Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan penggunaannya dalam produk pangan ..

Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa ........................................................... Bibliografi .........................................................................................................................

Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17

Batasan aloin dalam produk pangan ................................................................ Batasan asam agarat dalam produk pangan ................................................... Batasan asam sianida dalam produk pangan................................................... Batasan beta asaron dalam produk pangan .................................................... Batasan berberin dalam produk pangan .......................................................... Batasan estragol dalam produk pangan .......................................................... Batasan hiperisin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kafein dalam produk pangan ............................................................. Batasan kuasin dalam produk pangan ............................................................. Batasan komarin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kuinin dalam produk pangan ............................................................ Batasan minyak rue dalam produk pangan .................................................... Batasan safrol dalam produk pangan ............................................................. Batasan iso-safrol dalam produk pangan ....................................................... Batasan alfa santonin dalam produk pangan ................................................ Batasan spartein dalam produk pangan ........................................................ Batasan tujon dalam produk pangan ..............................................................
i

4 4 5 5 6 6 7 7 7 8 8 8 9 9 10 10 11

.............................................................................. Pelarut pengekstrak dan bahan penolong ............................. 11 11 16 ii ................................ Pelarut dan pelarut pembawa .....................................SNI 01-7152-2006 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan ...............................................

memberikan jaminan mutu produk pangan.SNI 01-7152-2006 Prakata SNI Bahan Tambahan Pangan Perisa.memberikan pedoman penggunaan perisa bagi industri perisa dan industri pangan .memberikan perlindungan kepada konsumen terhadap dampak merugikan akibat penyalahgunaan penggunaan perisa . iii . prakonsensus. Penyususan standar ini bertujuan untuk: . Standar ini telah dibahas dalam rapat-rapat teknis. asosiasi. dan terakhir dirumuskan dalam rapat konsensus nasional di Jakarta tanggal 7 Oktober 2005 yang dihadiri oleh wakil-wakil produsen.mendukung perkembangan industri pangan. konsumen. sehingga dapat meningkatkan daya saing . perguruan tinggi. serta instansi pemerintah terkait.Persyaratan Perisa dan Penggunaan dalam Produk Pangan disusun oleh Panitia Teknis 67-02 Bahan Tambahan Pangan dan Kontaminan.

.

Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap. istilah dan definisi. Pengganti air susu ibu. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3.1-2005. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak. pengelompokan perisa. SNI 01 – 7111. Formula lanjutan. ajudan perisa. 2 Acuan normatif WHO Technical Report Series. SNI 01 – 4213. larangan. SNI 01 – 7111. penggunaan perisa. manis dan asam. dan ketentuan label.3 senyawa perisa senyawa kimia tertentu yang mempunyai sifat flavor. SNI 01 – 7111.4 batas maksimum jumlah maksimum yang diizinkan terdapat dalam produk pangan 1 dari 122 . SNI 01 – 3955. JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) meeting report on Evaluation of Certain Food Additives and Contaminants. senyawa penanda. Standar ini berlaku untuk industri perisa dan industri pangan yang menggunakan perisa sebagai bahan tambahan pangan. tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3. 3 Istilah dan definisi 3. SNI 01 – 7111.SNI 01-7152-2006 Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan 1 Ruang lingkup Standar ini meliputi acuan normatif.2-2005. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 1: Bubuk instan.1 bahan tambahan pangan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan 3. jenis perisa.4-2005. dengan atau tanpa ajudan perisa (flavouring adjunct) yang digunakan untuk memberi flavor. dengan pengecualian rasa asin.3-2005.2 perisa bahan tambahan pangan berupa preparat konsentrat.

preparat perisa. penyimpanan. Bahan baku tersebut termasuk bahan pangan.5 CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik) suatu pedoman yang diterapkan untuk memproduksi pangan yang memenuhi standar mutu atau persyaratan yang diterapkan secara konsisten 3.3 Preparat perisa adalah bahan yang disiapkan atau diproses untuk memberikan flavor yang diperoleh melalui proses fisik. 4. dan penggunaan perisa 3.SNI 01-7152-2006 3. herba dan sumber tumbuhan lainnya yang tepat untuk aplikasi yang dimaksud. pelarutan. dan selanjutnya dikondensasi serta difraksinasi untuk mendapatkan flavor yang diinginkan.6 senyawa bioaktif senyawa yang terdapat pada tanaman yang mempunyai efek fisiologis tetapi bukan zat gizi 3. sehingga memungkinkan untuk mengidentifikasi setiap senyawa kimia secara spesifik 4 Jenis perisa 4. senyawa perisa identik alami.2 Bahan baku aromatik alami adalah bahan baku yang berasal dari tumbuhan atau hewan yang cocok digunakan dalam penyiapan/pembuatan/pengolahan perisa alami.8 ajudan perisa (flavouring adjunct) bahan tambahan yang diperlukan dalam pembuatan.1.4 Perisa asap adalah preparat perisa yang diperoleh dari kayu keras termasuk serbuk gergaji.1. bahan baku aromatik alami. 4. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan tumbuhan atau hewan. senyawa perisa artifisial.7 ADI (Acceptable Daily Intake) atau asupan harian yang dapat diterima jumlah maksimum senyawa perisa dalam miligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan 3. rempah-rempah. 4. 2 dari 122 . Bahan tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung. 4.1.1 Perisa terdiri dari tujuh jenis yaitu senyawa perisa alami. perisa asap. pengenceran. yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan pangan tumbuhan maupun hewan yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. dan perisa hasil proses panas.1 Senyawa perisa alami adalah senyawa perisa yang diperoleh melalui proses fisik.1. tempurung dan tanaman berkayu yang tidak mengalami perlakuan dan tidak terkontaminasi melalui proses pembakaran yang terkontrol atau distilasi kering atau perlakuan dengan uap yang sangat panas. Senyawa perisa tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung.9 nomor CAS (Chemical Abstract Service) sistem indeks atau registrasi senyawa kimia yang diadopsi secara internasional.

5. bahan baku aromatik alami. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas. 4.1 ditujukan untuk pelabelan produk pangan.3 Penggunaan perisa yang diizinkan didasarkan atas CPPB. baik setelah diproses atau tidak. dan perisa hasil proses panas. 5 Pengelompokan perisa 5. 4.SNI 01-7152-2006 4.0.1. baik setelah diproses atau tidak.1. 6. bahan baku aromatik alami. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas.1.4 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan.5 Senyawa perisa identik alami adalah senyawa perisa yang diperoleh secara sintesis atau diisolasi melalui proses kimia dari bahan baku aromatik alami dan secara kimia identik dengan senyawa yang ada dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia.1 Perisa dapat digunakan bersama-sama dengan komponen atau senyawa kimia yang diizinkan. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180 °C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8. 5. perisa artifisial.3 Perisa artifisial adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa artifisial. perisa identik alami. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180°C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8.1 Perisa alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa alami. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa artifisial.1 Perisa dikelompokkan berdasarkan sumber dan proses pembuatannya menjadi empat kelompok menjadi perisa alami.1.2 Perisa identik alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa identik alami dan dapat mengandung senyawa perisa alami. 5.1. 6 Penggunaan perisa 6.0. 6.7 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan.1. dibatasi dengan nilai ADI dan dibatasi dengan kandungan bioaktifnya.1. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa identik alami dan senyawa perisa artifisial.2 Perisa dapat digunakan dalam produk pangan secara tunggal atau campuran.6 Senyawa perisa artifisial adalah senyawa perisa yang disintesis secara kimia yang belum teridentifikasi dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia. 3 dari 122 . 5.2 Pengelompokkan sebagaimana dimaksud dalam butir 5. 5.

Nomor CAS.1 yang tidak termasuk dalam butir 6.2 Aloin boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3.2. 6.2. 1 2 Makanan Minuman Batasan asam agarat dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).3.3.3. 6.3. 6.1 dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.2 Asam agarat hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. Nomor CAS.3 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6.5.1 Asam agarat (agaric acid).3 Batas maksimum aloin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. 6.3. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Minuman beralkohol 6. 6.2 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6.1 Senyawa perisa sebagaimana tercantum dalam Lampiran A Tabel A.3. maka batasan penggunaannya mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh JECFA.3.1.3. 666-99-9 Asam agarat tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.1 sebagaimana tercantum pada butir 6.2.SNI 01-7152-2006 6.2 diizinkan untuk digunakan dengan batas penggunaan sesuai dengan CPPB.3.1 0.1.2 sesuai dengan Tabel 1.3.1.1.1 yang berdasarkan kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) mempunyai batasan penggunaan sesuai dengan ADI. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 6.2 sesuai dengan Tabel 2. 6.5. Tabel 1 Batasan aloin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0. Tabel 2 No.2.3.5 Perisa yang digunakan dalam produk pangan dapat mengandung senyawa bioaktif yang jumlahnya dalam produk pangan dibatasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 sampai dengan Tabel 17.4 Tabel A. 6. 5133-19-7 Aloin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3.1 6.3.3.1 Aloin (aloin). dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 20 20 Produk pangan 4 dari 122 .5.5.3 Batas maksimum asam agarat dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.5.2 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.1 50 No.5.5. 6.5.3.3.3.3.1 diizinkan untuk digunakan.5.

5.1 0.2 Asam sianida hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3. Tabel 4 Batasan beta asaron dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg). 74-90-8 Asam sianida tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 6. Nomor CAS. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5.3.SNI 01-7152-2006 Tabel 2 (Lanjutan) No.5. dihitung terhadap produk siap konsumsi.3.5.5.5.3. 6. 1 2 3 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada minuman beralkohol dan bumbu dalam makanan ringan 5 dari 122 .3.3 Batas maksimum asam sianida dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.3.3 6.1 Asam sianida (hydrocyanic acid).3.4.Sari buah berbiji tunggal .Kembang gula .4.Produk yang mengandung kacangkacangan dan umbi-umbian 6. 3 Produk pangan Pengecualian pada: .3.1 Beta asaron tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3.5.5.4 Beta asaron (β-asarone). 5273-86-9 6.4.Minuman beralkohol .Makanan yang mengandung jamur Batas maksimum (mg/kg).Minuman beralkohol .3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 100 100 6.1 1 No.2 sesuai dengan Tabel 4. 6.3.2 Beta asaron hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. Tabel 3 Batasan asam sianida dalam produk pangan Batas maksimum 1 mg/kg 1 mg/kg 25 mg/kg 5 mg/kg 1 % per volume 50 mg/kg No.3.5. Nomor CAS.4.3 Batas maksimum beta asaron dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. 6.3.2 sesuai dengan Tabel 3.5. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Pengecualian pada: .3.

5.2 sesuai dengan Tabel 6.SNI 01-7152-2006 6.7.5.5.1 10 Produk pangan Makanan Minuman Minuman beralkohol 6.akar.7. Nomor CAS.3.3.3.5. 6.5.6. 6 dari 122 . 6. 140-67-0 Estragol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.7.3. 548-04-9 Hiperisin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.7 6. sayuran termasuk jamur. Nomor CAS. 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. polong-polongan.1 Berberin (berberine). dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5. 6.3.6.5.3.5. kacang-kacangan Ikan dan produk perikanan 6.5.3 Batas maksimum berberin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5. Tabel 6 No.5 6.5.1 0.3.5.2 Estragol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. 6.2 Hiperisin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. 1 2 3 Batasan berberin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).5.5.6 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0. Nomor CAS.6.3.3 Batas maksimum hiperisin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.1 Estragol (estragole).3.5. 1 2 3 Batasan estragol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 50 50 50 Produk pangan Produk turunan susu Buah olahan.3.2 sesuai dengan Tabel 5.7.3.2 Berberin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3 Batas maksimum estragol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.6.3. Tabel 5 No.2 sesuai dengan Tabel 7.3.5.5. 6.3. 50-32-8 Berberin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.1 Hiperisin (hypericine).3.5.

dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 5 5 10 50 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3.5.2 Batas maksimum kuasin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 9.3.Kembang gula pastilles . Nomor CAS.10.Kembang gula.8.9 6. 91-64-5 Komarin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Tabel 9 No.9.5.3 Batas maksimum komarin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. pastilles .3.3. 7 dari 122 .5.10.10. Nomor CAS. 6.Minuman beralkohol 6.3.5.3. .3.5.3.9.1 6.1 0.SNI 01-7152-2006 Tabel 7 No. 58-08-02 Kafein boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5.2 Komarin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5. Batas maksimum kafein dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 8. 1 2 3 Batasan hiperisin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).1 Kuasin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.1 Komarin (coumarin).5.5.3.1 1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . Tabel 8 Batasan kafein dalam produk pangan Batas maksimum 150 mg/hari dan 50 mg/sajian 150 mg/hari dan 50 mg/sajian No. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0. 1 2 3 Batasan kuasin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).3. 6. 6.10 6.5.8 6.2 Kafein (caffein).8. Nomor CAS.Minuman beralkohol 6. 76-78-8 6.2 sesuai dengan Tabel 10.3.10. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman Kuasin (quassine).

1 85 85 85 85 85 85 300 Produk pangan Makanan Minuman . 130-95-0 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3.2 Batas maksimum kuinin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 11.5.Karamel .11.3.11 Kuinin (quinine).12.5.Minuman beralkohol . 1 2 Batasan kuinin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0. Nomor CAS.1 Kuinin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 8014-29-7 Minyak rue boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.Minuman beralkohol 3 6.5.Bumbu 6.Minuman ringan kecuali air dalam kemasan.Minuman berperisa non alkohol . Tabel 12 Batasan minyak rue dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 4 10 No.Permen karet .2 Batas maksimum minyak rue dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 12.12.Minuman non alkohol .12 6.5. Nomor CAS.Kembang gula . 6. air mineral.3.3. Tabel 11 No. jus dan nektar . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 2 2 10 10 10 10 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . 6.3.1 Minyak rue (rue oil).Tonic water and non wine based bitter . Produk pangan 1 Makanan 2 Pengecualian pada: .Roti dan produk bakeri 8 dari 122 .11.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.Jus buah lemon Pengecualian pada: .3.5.SNI 01-7152-2006 Tabel 10 No 1 2 3 Batasan komarin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).

2 sesuai dengan Tabel 13.1 6.3.3.SNI 01-7152-2006 Tabel 12 (Lanjutan) No.13 6. 6.5.5. 1 2 3 Batasan safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 5 15 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . Batas maksimum (mg/kg) 10 10 6. Nomor CAS.13.14.14.3.5. 94-59-7 Safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.Makanan pencuci mulut berbahan dasar susu .5.14.13.3.minuman beralkohol dengan kadar > 20% . 6. Tabel 13 No.3.3.minuman beralkohol dengan kadar < 20% .5.5.1 Iso-safrol (iso-safrole).13. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3.makanan mengandung bunga pala dan pala . 1 2 Batasan iso-safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3.14 6.3 Batas maksimum safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5. Tabel 14 No.2 sesuai dengan Tabel 14.13.3. Nomor CAS.Kembang gula lunak Safrol (safrole). 6.produk daging berbumbu 6.3.3 Batas maksimum iso-safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2 Iso-safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. Produk pangan . 120-58-1 Iso-safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.minuman beralkohol dengan kadar < 20% 9 dari 122 .14.2 Safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau akibat dari penambahan perisa alami.

16. 1 2 3 Batasan spartein dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 5 0.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.5.5.3.3.15. 6.17 6.15. 546-80-5 6.1 Alfa santonin (α-santonine).15 6.1 Produk pangan Minuman beralkohol Makanan Minuman Tujon (thujon).5. Produk pangan .16.15.16.1 Tujon tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.15. 6917-37-9 6. 481-06-1 Alfa santonin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3. 6. Nomor CAS. 10 dari 122 .2 Alfa santonin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . Nomor CAS.16. 6.3.Minuman beralkohol dengan kadar > 20% 6.5.5. Tabel 15 No.2 sesuai dengan Tabel 15.5.3 Batas maksimum spartein dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.2 sesuai dengan Tabel 16.3.3.5.1 0.produk daging berbumbu Batas maksimum (mg/kg) 5 10 6.3.3 Batas maksimum alfa santonin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. Nomor CAS.16 Spartein (sparteine). dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5.3.3.3.3.SNI 01-7152-2006 Tabel 14 (Lanjutan) No.17.5.1 0.2 Spartein hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3.5.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .3.2 Tujon hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. 6.5. 1 2 3 Batasan alfa santonin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).1 Spartein tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.17. 6. Tabel 16 No.

1 2 3 4 Pelarut dan pelarut pembawa Senyawa Nama Indonesia Ganggang euchema hasil proses 1. Tabel 17 Batasan tujon dalam produk pangan No.SNI 01-7152-2006 6.bitters (makanan berasa pahit) .2-propylene glycol acetates 2-ethyl-1-hexanol Agar agar 11 dari 122 .5 5 10 35 25 250 6.1 Ajudan perisa (Flavoring adjunct) Ajudan perisa yang diizinkan tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20. 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .4 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan tercantum dalam Tabel 18.bumbu sage Batas maksimum (mg/kg) 0.3.minuman beralkohol dengan kadar < 20% .17. Tabel 18 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan No.5.3 Batas maksimum tujon dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. Tabel 19 No.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .makanan mengandung sage atau berperisa sage atau campuran keduanya .2-propilen glikol asetat 2-etil-1-heksanol Agar-agar Nama Inggris Processed euchema seaweed 1. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Perisa Dulkamara Kokain Nitrobenzen Sinamil antranilat Dihidrosafrol Biji tonka Minyak kalamus Minyak tansi Minyak sasafras 7 7.2 sesuai dengan Tabel 17.17.5 0.5.

3-diol Dekstran Dekstrin Dekstrin kuning atau putih. pati dimodifikasi dengan perlakuan asam atau basa. pati pucat.dan digliserida ester asam sitrat Ester gliserol damar kayu Ester poligliserol asam lemak Ester sukrosa asam lemak Etil alkohol Etil asetat Nama Inggris Water alpha-Cyclodextrin Aluminium silicate (Kaolin) Ammonium phosphatides Ammonium chloride Ammonium sulphate Alginic acid Amino acids and their salts other than glutamic acid. starch modified by acid or alkali treatment. glycine.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. sistein dan sistin dan garam-garamnya yang tidak mempunyai fungsi tambahan Asam asetat Asam laktat Asam lemak Asam lemak mono. roasted or dextrinated starch. bleached starch. Acetic acid Lactic acid Fatty acids Mono. glisin.and diglycerides of fatty acids Glycerol ester of wood resin Polyglycerol esters of fatty acids Sucrose esters of fatty acids Ethyl alcohol Ethyl acetate 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 12 dari 122 . physically modified starch and starch treated by amylolitic enzymes Diammonium phosphate Diethylene glycol monopropyl ether Dimethylpolysiloxane Dipropylene glycol Distarch phospahate d-Tagatose Erythritol Acetic acid esters of mono-and diglycerides of fatty acids Citric acid esters of mono. cysteine and cystine and their salts and having no additive function.3-diol Dextran Dextrin White or yellow dextrin.and diglycerides fatty acids Acetylated distarch adipate Acetylated distarch phosphate Acetylated oxidized starch Bentonite Benzyl alcohol Benzyl benzoate beta-Cyclodextrine Whey powder Butan-1. pati dimodifikasi secara fisik dan pati yang diperlakuan dengan enzim amilolitik Diamonium fosfat Dietilen glikol monopropil eter Dimetilpolisiloksan Dipropilen glikol Dipati fosfat d-Tagatos Eritritol Ester asam asetat asam lemak mono. pati panggang atau terdekstrinasi.dan digliserida Asam lemak mono.dan digliserida Asetilasi dipati adipat Asetilasi dipati fosfat Asetilasi pati teroksidasi Bentonit Benzil alkohol Benzil benzoat beta-Siklodekstrin Bubuk wey Butan-1. 5 6 7 8 9 10 11 12 Senyawa Nama Indonesia Air alfa-Siklodekstrin Aluminium silikat Amonium fosfatida Amonium klorida Amonium sulfat Asam alginat Asam amino dan garamnya selain asam glutamat.

protein hydrolysates and their salts. hidrolisat protein dan garamnya. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Senyawa Nama Indonesia Etil laktat Etil metil selulosa Etil selulosa Etil tartrat Fosfatida dipati fosfat gamma-Siklodekstrin Garam Garam magnesium asam lemak Gom gelan Gelatin Gelatin makan. milk protein and gluten Glyceryl diacetate Glyceryl diesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl monoacetate Glyceryl monoesters of aliphatic fatty acids C6-C18 Glyceryl triacetate Glyceryl triesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl tripropanoate Glycerol Glycerol mono acetate Glycine and its sodium salt Glucose Gum Arabic Damar gum Ghatti gum Guar gum Locust bean gum Karaya gum Konjac gum Xanthan gum Taragum Hydroxypropyl distarch phosphate Hydroxypropyl cellulose Hydroxypropylmethyl cellulose Cross-linked sodium carboxymethylcellulose Cross linked sodium carboxy methyl cellulose Cross-linked cellulose gum Inulin Isoamyl acetate Isomalt Isopropyl myristate iso-Propylalcohol 13 dari 122 .SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. protein susu dan gluten Gliseril diasetat Gliseril diester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril monoasetat Gliseril monoester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril triasetat Gliseril triester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril tripropanoat Gliserol Gliserol mono asetat Glisin dan garam natrium Glukosa Gom arab Gom damar Gom gati Gom guar Gom kacang lokus Gom karaya Gom konjak Gom santan Gom tara Hidroksipropil dipati fosfat Hidroksipropil selulosa Hidroksipropilmetil selulosa natrium karboksimetil selulosaIkatan silang Natrium karbolksi metil selulosaIkatan silang Gom selulosa-Ikatan silang Inulin Isoamil asetat Isomalt Isopropil miristat Iso-propilalkohol Nama Inggris Ethyl lactate Ethyl methyl cellulose Ethyl cellulose Ethyl tartrate Phosphated distarch phosphate gamma-Cyclodextrin Salt Magnesium salts of fatty acids Gellanegum Gelatin Edible gelatin.

Na salt Caseinates and casein Lactitol Lactose Edible fats Lechitins Candelilla wax Carnauba wax Beeswax Magnesium hydroxide carbonate Magnesium carbonate Magnesium chloride Maltitol Maltodextrine Mannitol Methyl cellulose Edible oils Castor oil Hydrogenated vegetable oils Mono. K.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. di. NH4 and Ca alginate Starch Modified starches Starch (sodium) octenyl succinate Starch acetate Acetylated starch Hydroxypropyl starch Mono starch phosphate Oxidized starch Pectins Polidextrose Polyethylene glycol Polyethyleneglycol 6000 Polyoxyethylene sorbitan monolaurate (polysorbate 20) 14 dari 122 .dan diasetil asam tartrat dari mono.and diglycerides of fatty acids Mono-.dan digliserida asam lemak Mono-. 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 Senyawa Nama Indonesia Kalsium asetat Kalsium fosfat Kalsium karbonat Kalsium klorida Kalsium silikat Kalsium sulfat Karagenan Karboksi metil selulosa terhidrolisa secara enzimatis Natrium karboksimetil selulosa Kaseinat dan kasein Laktitol Laktosa Lemak makan Lesitin Lilin kandelila Lilin karnauba Lilin lebah Magnesium hidroksida karbonat Magnesium karbonat Magnesium klorida Maltitol Maltodekstrin Manitol Metil selulosa Minyak makan Minyak kastor Minyak sayur terhidrogenasi Ester mono. NH4 dan Ca alginat Pati Pati termodifikasi Pati (natrium) oktenil suksinat Pati asetat Pati asetilasi Pati hidroksipropil Mono pati fosfat Pati teroksidasi Pektin Polidekstrosa Polietilen glikol Polietilen glikol 6000 Polioksietilen sorbitan monolaurat (polisorbat 20) Nama Inggris Calcium acetate Calcium phosphates Calcium carbonate Calcium chloride Calcium silicate Calcium sulphate Carrageenan Enzymatically hydrolyzed carboxy methyl cellulose Carboxymethyl cellulose. K.and diacetyl tartaric acid esters of mono.di.dan tri-kalsium orto-fosfat Na.and tri-Calcium orthophosphate Na.

or from a mixture of both. hidrolisa secara enzimatis 154 Natrium sitrat 155 Natirum sulfat 156 Natrium. seperti asam sitrat dan amonium hidroksida 148 Silikon dioksida 149 Silitol 150 Sirup sorbitol 151 Natrium aluminium difosfat 152 Natrium aluminium silikat 153 Natrium karboksimetil selulosa. Senyawa Nama Inggris Polyoxyethylene sorbitan monooleate (polysorbate 80) Polyoxyethylene sorbitan monopalmitate (polysorbate 40) Polyoxyethylene sorbitan monostearate (polysorbate 60) Polyoxyethylene sorbitan tristearate (polysorbate 65) Polyvinylpyrrolidone Polyvinylpolypyrrolidone Potassium aluminium silicate Potassium gluconate Potassium carbonates Potassium chloride Potassium citrates Potassium sulphate Products containing pectin and derived from dried apple pomace or peel of citrus fruits. potassium and calcium salts of fatty acids Sorbitan monolaurate Sorbitan monooleate Sorbitan monopalmitate Sorbitan monostearate Nama Indonesia 127 Polioksietilen sorbitan monooleat (polisorbat 80) 128 129 Polioksietilen sorbitan monopalmitat (polisorbat 40) 130 Polioksietilen sorbitan monostearat (polisorbat 60) 131 Polioksietilen sorbitan tristearat (polisorbat 65) 132 Polivinilpirolidon 133 Polivinilpolipirolidon 134 Kalium aluminium silikat 135 Kalium glukonat 136 Kalium karbonat 137 Kalium klorida 138 Kalium sitrat 139 Kalium sulfat 140 Produk mengandung pektin dan turunannya dari apel yang dikeringkan atau kulit buah sitrus atau dari campuran keduanya melalui asam encer dengan cara netralisasi sebagian dengan garam natrium atau kalium (‘pektin cair’) 141 Propilen glikol 142 Propilen glikol alginat 143 Propoil alkohol 144 Protein tumbuhan terhidrolisa 145 Resin elemi 146 Selulosa. mikrokristalin 147 Senyawa dengan fungsi utama sebagai asam atau pengatur keasaman.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. such as citric acid and ammonium hydroxide Silicon dioxide Xylitol Sorbitol syrup Sodium aluminium diphosphate Sodium aluminium silicate Sodium carboxymethyl cellulose. microcristalline Substances having primarily an acid or acidity regulator function. enzymatically hydrolysed Sodium citrates Sodium sulphate Sodium. kalium dan garam kalsium asam lemak 157 Sorbitan monolaurat 158 Sorbitan monooleat 159 Sorbitan monopalmitat 160 Sorbitan monostearat 15 dari 122 . by the action of dilute acid followed by partial neutralization with sodium or potassium salts (‘liquid pectin’) Propylene glycol Propylene glycol alginate Propyl alcohol Hydrolyzed vegetable protein Elemi resin Cellulose.

and triacetate Glycerol tributyrate Glycerol tripropionate Hexane Heptane 16 dari 122 .SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.2-Dichloroethane (Dichloroethane) 2-Nitropropane Water Amyl acetate Ammonia in methanol/ethanol Nitric acid Acetone (dimethyl ketone) Benzyl alcohol Benzyl benzoate Butan-1-ol Butan-2-ol Butane Butane-1.dan triasetat Gliserol tributirat Gliserol tripropionat Heksana Heptana Nama Inggris 1.3-diol Butyl acetate Dibutyl ether Diethyl ether Diethyl citrate Diethyl tartrate di-isopropylketone Dichlorodifluoromethane Dichlorofluoromethane Dichloromethane Dichlorotetrafluoroethane Ethanol Ethyl acetate Ethyl lactate Ethylmethylketone (butanone) Glycerol Glycerol mono-di.3-diol Butil asetat Dibutil eter Dietil eter Dietil sitrat Dietil tartrat di-isopropilketon Diklorodiflorometan Dikloroflorometan Diklorometan Diklorotetrafloroetan Etanol Etil asetat Etil laktat Etilmetilketon (butanon) Gliserol Gliserol mono.2-Dikloroetana (Dikloroetana) 2-nitropropana Air Amil asetat Amonia dalam metanol/etanol Asam nitrat Aseton Benzil alkohol Benzil benzoat Butan-1-ol Butan-2-ol Butana Butana-1.1.2-Trichloroethylene 1.2-trikloroetilen 1. 161 162 163 164 165 166 167 168 169 Senyawa Nama Indonesia Sorbitan tristearat Sorbitol Sukro gliserida Sukrosa Sukrosa asetat isobutirat Talk Tragakan Trietilsitrat Trigliserida (sintetik) Nama Inggris Sorbitan tristearate Sorbitol Sucro glycerides Sucrose Sucrose acetate isobutyrate Talc Tragacanth Triethylcitrate Triglycerides (synthetic) Tabel 20 No.1.di. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Pelarut pengekstrak dan bahan penolong Senyawa Nama Indonesia 1.

-butylether Methylene chloride (dichloromethane) Castor oil Nitrous oxide n-Octyl alcohol Pentane Petroleum ether (light petroleum) Propane-1. b) Jika termasuk ke dalam golongan bahan pangan. 17 dari 122 . diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan yang berlaku. b) Dalam produk pangan padat kadarnya tidak boleh lebih dari 50 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku. 8.SNI 01-7152-2006 Tabel 20 (Lanjutan) No.2 3-monochloropropane-1. 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Senyawa Nama Indonesia Isobutana Isobutanol (2-metilpropan-1-ol) Isoparafinat petroleum hidrokarbon Isopropil alkohol Isopropil miristat Karbon dioksida Metanol Metil asetat Metil propanol-1 Metil ter-butileter Metilen klorida (diklorometana) Minyak kastor Dinitrogen oksida n-Oktil alkohol Pentana Petroleum eter (petroleum ringan) Propan-1.03 µg/kg.2-diol Propane-1-ol Propane Cyclohexane Tertiary butyl alcohol Toluene Tridodecylamine Trichlorofluoroethylene Trichlorofluoromethane 7.2-diol (3-MCPD) adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa hasil proses panas dengan batas maksimum kandungan: a) Dalam produk pangan cair kadarnya tidak boleh lebih dari 20 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku.1 Benzo[a]piren adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa asap dengan batas maksimum kandungan dalam produk pangan tidak lebih dari 0. 8 Senyawa penanda 8.2 Ajudan perisa selain yang tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20 diizinkan digunakan pada perisa apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut: a) Jika termasuk ke dalam golongan bahan tambahan pangan. diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan bahan tambahan pangan yang berlaku.2-diol Propan-1-ol Propana Sikloheksana Tersier butil alkohol Toluen Tridodesilamin Triklorofloroetilen Trikloroflorometan Nama Inggris Isobutane Isobutanol (2-methylpropan-1-ol) Isoparaffinic petroleum hydrocarbons Isopropyl alcohol Isopropyl myristate Carbon dioxide Methanol Methyl acetate Methyl propanol-1 Methyl tert.

18 dari 122 .3-2005.4-2005. SNI 01-7111.1 Label produk pangan yang menggunakan perisa harus mencantumkan keterangan tentang perisa sekurang-kurangnya nama kelompok perisa dalam komposisi bahan atau daftar bahan yang digunakan. SNI 01-7111. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 1: Bubuk instan. 9. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. 10. SNI 01-7111. kecuali yang telah ditetapkan dalam SNI 01-4213-1995.1 Larangan Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula bayi. 10 Ketentuan label 10.2-2005. SNI 01-7111.SNI 01-7152-2006 9 9.2 Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula lanjutan dan makanan pendamping ASI.2 Pencantuman label harus memenuhi ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap.1-2005. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak. Formula lanjutan.

013 09.410 09.498 09.210 02.162 FEMA 2040 2021 2032 2031 2037 2036 2045 2041 2044 2043 2029 2023 2026 2024 2027 2025 2039 2038 2022 2020 2030 2127 2135 2138 2137 2434 2414 2456 2693 2462 2439 2437 2449 2447 2432 3492 2441 2445 2451 3490 2419 2069 .104 09.010 09.1 Senyawa Perisa yang diizinkan untuk digunakan No.493 09.790 09.121 09. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Nama Senyawa allyl propionate allyl butyrate allyl hexanoate allyl heptanoate allyl octanoate allyl nonanoate allyl isovalerate allyl sorbate allyl 10-undecenoate allyl tiglate allyl 2-ethylbutyrate allyl cyclohexaneacetate allyl cyclohexanepropionate allyl cyclohexanebutyrate allyl cyclohexanevalerate allyl cyclohexanehexanoate allyl phenylacetate allyl phenoxyacetate allyl cinnamate allyl anthranilate allyl 2-furoate benzaldehyde benzyl acetate benzyl benzoate benzyl alcohol ethyl formate ethyl acetate ethyl propionate ethyl butyrate ethyl pentanoate ethyl hexanoate ethyl heptanoate ethyl octanoate ethyl nonanoate ethyl decanoate ethyl undecanoate ethyl dodecanoate ethyl tetradecanoate ethyl hexadecanoate ethyl octadecanoate ethanol isoamyl formate (3-Methylbutyl formate) JECFA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 19 dari 122 EC 09.054 09.111 09.SNI 01-7152-2006 Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan untuk digunakan Tabel A.004 05.492 09.097 09.001 09.741 09.701 09.469 09.411 09.719 13.099 09.109 09.072 09.244 09.107 09.078 09.727 02.274 09.059 09.312 09.119 09.147 09.146 09.093 09.038 09.233 09.014 09.060 09.482 09.489 09.180 09.

120 09.070 09.049 09.048 09.421 09.515 08.128 09.048 09.136 09.927 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.067 09.6-octadien-1-yl 2ethylbutanoate Geranyl 2-ethylbutyrate formic acid JECFA 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 EC 09.078 09.463 09.001 FEMA 2055 2082 2060 2075 2080 2078 3507 2085 3505 2057 2314 2514 2776 2984 2311 2509 2773 2981 2316 2517 2777 2986 2312 2512 2512 2982 2317 2515 2313 2513 2775 2983 2518 2778 2987 3339 2487 20 dari 122 .129 09.151 09.471 09.212 09.169 09.110 09.055 09.1 (Lanjutan) No.012 09.419 09.431 09.011 09.003 09.141 09.465 09.530 02. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Nama Senyawa isoamyl acetate (isopentyl acetate) isoamyl propionate 3-Methylbutyl propionate isoamyl butyrate 3-Methylbutyl butyrate isoamyl hexanoate 3-Methylbutyl hexanoate isoamyl octanoate 3-Methylbutyl octanoate isoamyl nonanoate isoamyl isobutyrate Isopentyl isobutyrate isoamyl isovalerate 3-Methylbutyl 3-methylbutyrate isoamyl 2-methylbutyrate Isopentyl 2-methylbutyrate isoamyl alcohol Isopentanol citronellyl formate geranyl formate neryl formate rhodinyl formate citronellyl acetate geranyl acetate neryl acetate rhodinyl acetate citronellyl propionate geranyl propionate neryl propionate rhodinyl propionate citronellyl butyrate geranyl butyrate neryl butyrate (EU name) rhodinyl butyrate citronellyl valerate geranyl hexanoate citronellyl isobutyrate geranyl isobutyrate neryl isobutyrate rhodinyl isobutyrate geranyl isovalerate neryl isovalerate rhodinyl isovalerate 3.424 09.033 09.213 09.079 09.7-dimethyl-2.453 09.076 09.024 09.

015 09.008 05.001 08.006 05.164 09.002 09.010 08.031 08.028 02.005 02.029 02.025 08.021 05.011 02.075 09.074 09.002 08.159 09.032 08.016 02.008 08. 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 Nama Senyawa acetaldehyde acetic acid propyl alcohol (Propan-1-ol) Propionaldehyde (Propanal) propionic acid butyl alcohol (butan-1-ol) Butyraldehyde (butanal) butyric acid amyl alcohol (pentan-1-ol) Valeraldehyde (Pentanal) valeric acid hexyl alcohol hexanal hexanoic acid heptyl alcohol heptanal heptanoic acid 1-octanol octanal octanoic acid nonyl alcohol nonanal nonanoic acid 1-decanol decanal decanoic acid undecyl alcohol undecanal undecanoic acid lauryl alcohol (dodecan-1-ol) lauric aldehyde (dodecanal) lauric acid (dodecanoic acid) Myristaldehyde (myristaldehyde) myristic acid (tetradecanoic acid) 1-hexadecanol palmitic acid (hexadecanoic acid) stearic acid (octadecanoic acid) propyl formate butyl formate n-amyl formate (pentyl formate) hexyl formate heptyl formate octyl formate cis-3-hexenyl formate isobutyl formate methyl acetate propyl acetate butyl acetate hexyl acetate JECFA 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 EC 05.161 09.023 09.007 02.1 (Lanjutan) No.009 08.002 02.009 08.846 09.011 08.003 02.003 08.010 02.004 05.007 05.034 08.009 02.163 09.057 05.006 FEMA 2003 2006 2928 2923 2924 2178 2219 2221 2056 3098 3101 2567 2557 2559 2548 2540 3348 2800 2797 2799 2789 2782 2784 2365 2362 2364 3097 3092 3245 2617 2615 2614 2763 2764 2554 2832 3035 2943 2196 2068 2570 2552 2809 3353 2197 2676 2925 2174 2565 21 dari 122 .040 05.005 08.012 05.002 05.004 09.042 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.014 08.005 05.024 05.073 09.

042 09.286 07.043 09.010 09.061 09.125 09.007 09.1 (Lanjutan) No.127 09.118 09.124 09.098 09.038 09.008 09.050 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.134 09.270 09.065 09.197 09.066 09.009 09.139 09.063 09.045 09.126 09.022 09.112 09.044 09.275 09.and trans-2-hexenyl propionate isobutyl propionate methyl butyrate propyl butyrate butyl butyrate n-amyl butyrate hexyl butyrate heptyl butyrate octyl butyrate decyl butyrate cis-3-hexenyl butyrate isobutyl butyrate methyl valerate butyl valerate propyl hexanoate butyl hexanoate n-amyl hexanoate hexyl hexanoate cis-3-hexenyl hexanoate isobutyl hexanoate methyl heptanoate propyl heptanoate butyl heptanoate n-amyl heptanoate octyl heptanoate isobutyl heptanoate methyl octanoate n-amyl octanoate hexyl octanoate heptyl octanoate octyl octanoate JECFA 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 22 dari 122 EC 09.117 09.113 09.214 09.122 09.064 09.094 09.025 09.040 09.166 09.091 09.047 09.092 09. 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 Nama Senyawa heptyl acetate octyl acetate nonyl acetate decyl acetate lauryl acetate cis-3-hexenyl acetate trans-3-heptenyl acetate 10-undecen-1-yl acetate isobutyl acetate 2-methylbutyl acetate acetone 2-ethylbutyl acetate methyl propionate propyl propionate butyl propionate hexyl propionate octyl propionate decyl propionate cis-3.096 09.114 FEMA 2547 2806 2788 2367 2616 3171 3493 3096 2175 3644 3326 2425 2742 2958 2211 2576 2813 2369 3778 2212 2693 2934 2186 2059 2568 2549 2807 2368 3402 2187 2752 2217 2949 2201 2074 2572 3403 2202 2705 2948 2199 2073 2810 2200 2728 2079 2575 2553 2811 .046 09.271 09.005 09.182 09.095 09.148 09.

473 09.108 09.115 09.414 09.413 09.519 09.013 10.472 09.531 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.006 10.246 09.854 09.529 09.541 09.449 09.101 09.103 09.448 09.012 10.505 09.420 09.462 09.528 09.100 09.432 04.1 (Lanjutan) No.507 09.526 09. 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 Nama Senyawa nonyl octanoate methyl nonanoate methyl laurate butyl laurate isoamyl laurate methyl myristate butyl stearate methyl isobutyrate ethyl isobutyrate propyl isobutyrate butyl isobutyrate hexyl isobutyrate heptyl isobutyrate trans-3-heptenyl 2methylpropanoate octyl isobutyrate dodecyl isobutyrate isobutyl isobutyrate methyl isovalerate ethyl isovalerate propyl isovalerate butyl isovalerate hexyl 3-methylbutanoate octyl isovalerate nonyl isovaolerate 3-hexenyl 3-methylbutanoate 2-methylpropyl 3-methylbutyrate 2-methylbutyl 3-methylbutanoate methyl 2-methylbutyrate ethyl 2-methylbutyrate n-butyl 2-methylbutyrate hexyl 2-methylbutanoate octyl 2-methylbutyrate isopropyl 2-methylbutyrate 3-hexenyl 2-methylbutanoate 2-methylbutyl 2-methylbutyrate methyl 2-methylpentanoate ethyl 2-methylpentanoate ethyl 3-methylpentanoate methyl 4-methylvalerate trans-anethole citric acid 4-hydroxybutyric acid lactone gamma-valerolactone 4-hydroxy-3-pentenoic acid lactone 5-ethyl-3-hydroxy-4-methyl2(5H)-furanone gamma-hexalactone delta-hexalactone JECFA 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 EC 09.409 09.483 09.106 09.452 09.021 10.023 10.412 09.451 09.523 09.417 09.447 09.516 09.537 09.010 FEMA 2790 2724 2715 2206 2077 2722 2214 2694 2428 2936 2188 3172 2550 3494 2808 3452 2189 2753 2463 2960 2218 3500 2814 2791 3498 3369 3506 2719 2443 3393 3499 3604 3699 3497 3359 3707 3488 3679 2721 2086 2306 3291 3103 3293 3153 2556 3167 23 dari 122 .010 10.547 09.549 09.478 09.416 09.

027 10.008 10.001 05.7-dimethyloctanoic acid lactone delta-tetradecalactone omega-pentadecalactone omega-6-hexadecenlactone epsilon-decalactone epsilon-dodecalactone 4. 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 Nama Senyawa gamma-heptalactone gamma-octalactone 4.045 05.011 10.001 10.4-decadienoic acid delta-lactone 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-7-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-8-undecenoic acid delta-lactone cis-4-hydroxy-6-dodecenoic acid lactone gamma-methyldecalactone isobutyl alcohol isobutyraldehyde isobutyric acid 2-methylbutyraldehyde 2-methylbutyric acid 2-ethylbutyraldehyde 2-ethylbutyric acid 3-methylbutyraldehyde isovaleric acid 2-methylpentanal 2-methylvaleric acid 3-methylpentanoic acid 3-methyl-1-pentanol JECFA 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 EC 10.115 FEMA 2539 2796 2372 3214 2781 3356 2360 2361 3091 3294 2400 2401 3355 3590 2840 2555 3613 3610 3634 3350 3696 3744 3745 3758 3780 3786 2179 2220 2222 2691 2695 2426 2429 2692 3102 3413 2754 3437 3762 24 dari 122 .1 (Lanjutan) No.030 10.006 05.006 08.017 10.014 10.046 05.5-dimethyl-3-hydroxy-2.4-dibutyl-gammabutyrolactone delta-octalactone gamma-nonalactone hydroxynonanoic acid deltalactone gamma-decalactone delta-decalactone gamma-undecalactone 5-hydroxyundecanoic acid deltalactone gamma-dodecalactone delta-dodecalactone 6-hydroxy-3.003 10.020 10.035 10.022 10.031 10.009 10.031 08.069 08.016 10.008 05.015 10.004 08.5dihydrofuran-2-one 3-heptyldihydro-5-methyl-2(3H)furanone 5-hydroxy-2.027 10.028 10.002 10.007 10.049 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.033 10.018 10.051 02.029 10.019 10.037 10.056 02.004 10.007 08.

003 02. 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 Nama Senyawa 4-methylpentanoic acid 2-methylhexanoic acid 5-methylhexanoic acid 2-ethyl-1-hexanol 3.1 (Lanjutan) No.053 07.045 07.088 07.062 02.026 05.103 07. 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone and 5tetradecenoic acid delta-lactone.082 02.024 08.165 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.044 07.5.016 02.041 09.096 02.123 09.063 02.019 02.113 02.002 02.054 02.055 05.034 08.098 07.089 07.087 07.079 07.6-dimethyl-4-heptanol isopropyl formate isopropyl acetate isopropyl propionate isopropyl butyrate isopropyl hexanoate isopropyl isobutyrate JECFA 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 EC 08.6-dimethyloctanal 4-methylnonanoic acid 2-methylundecanal 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone.103 07.062 05.137 02.022 07. mixture of isopropyl alcohol 2-butanone 2-pentanone 2-pentanol 3-hexanone 3-hexanol 2-heptanone 2-heptanol 3-heptanone 3-heptanol 4-heptanone 2-octanone 2-octanol 3-octanone 3-octanol 2-nonanone 2-nonanol 3-nonanone 3-decanol 2-undecanone 2-undecanol 2-tridecanone 2-pentadecanone 3-methyl-2-butanol 4-methyl-2-pentanone 2.415 FEMA 3463 3191 3572 3151 3324 3524 2727 3575 2391 2390 3574 2749 2929 2170 2842 3316 3290 3351 2544 3288 2545 3547 2546 2802 2801 2803 3581 2785 3315 3440 3605 3093 3246 3388 3724 3703 2731 3537 3140 2944 2926 2959 2935 2950 2937 25 dari 122 .058 07.023 08.086 07.057 08.061 02.003 09.020 02.6-dimethyl-4-heptanone 2.062 09.077 02.5.7-dimethyl-1-octanol 2.081 09.122 02.5-trimethylhexanal 2-methyloctanal 4-methyloctanoic acid 3.116 05.111 07.5-trimethyl-1-hexanol 3.017 07.

254 08.096 08.and 6-decenoic acid (mixture) 9-decenoic acid 9-undecenal 10-undecenal 10-undecenoic acid linoleic and linolenic acid (mixture) oleic acid methyl 3-hexenoate ethyl 3-hexenoate cis-3-hexenyl cis-3-hexenoate methyl cis-4-octenoate ethyl cis-4-octenoate ethyl cis-4.074 05.237 09.513 09.527 09.113 05.6-dimethyl-6-hepten-1-ol 2.085 02.and 4pentenoate (mixture) ethyl 2-methyl-3.059 05.093 05.068 08.035 08.013 09.039 08.048 02.105 09.065 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.546 09.1 (Lanjutan) No.290 09.094 02.7-dimethyl-6-octenoate 2-methyl-4-pentenoic acid JECFA 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 EC 09.7-octadienoate methyl 3-nonenoate ethyl trans-4-decenoate methyl 9-undecenoate ethyl 10-undecenoate butyl 10-undecenoate ethyl oleate methyl linoleate and methyl linolenate (mixture) 2-methyl-3-pentenoic acid 2.4pentadienoate methyl 3.050 02.524 09.268 09.265 09.110 05.036 05.128 02.236 09.075 08.238 09.267 09.113 05.291 09.192 09.191 09.041 08.074 09.6-dimethyl-5-heptenal ethyl 2-methyl-3-pentenoate ethyl 2-methyl-4-pentenoate hexyl 2-methyl-3.450 09.298 09.056 05.058 02.059 FEMA 2961 3556 3229 3583 2843 2563 2561 3170 3430 3496 3289 3467 3722 3749 3465 3580 3264 3742 3660 3094 3095 3247 0332 2815 3364 3342 3689 3367 3344 3682 3710 3642 2750 2461 2216 2450 3411 3464 3663 2389 3456 3489 3693 3678 3361 3511 26 dari 122 .540 09.517 08.284 09. 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 Nama Senyawa isopropyl isovalerate isopropyl myristate isopropyl tiglate 3-octyl acetate 4-pentenoic acid cis-3-hexen-1-ol cis-3-hexenal 3-hexenoic acid 4-hexen-1-ol cis-4-hexenal cis-4-heptenal cis-3-octen-1-ol cis-5-octen-1-ol cis-5-octenal cis-6-nonen-1-ol cis-6-nonenal 4-decenal 5.206 08.

096 02.009 07.008 07.013 02.107 07.115 02.013 09.1 (Lanjutan) No.007 07.088 07.052 09. 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 Nama Senyawa linalool tetrahydrolinalool linalyl formate linalyl acetate linalyl propionate linalyl butyrate linalyl isobutyrate linalyl isovalerate linalyl hexanoate linalyl octanoate alpha-terpineol terpinyl formate terpinyl acetate terpinyl propionate terpinyl butyrate terpinyl isobutyrate terpinyl isovalerate p-menth-3-en-1-ol p-menth-8-en-1-ol p-menthan-2-one p-menthan-2-ol dihydrocarvone dihydrocarveol dihydrocarvyl acetate (+)-carvone (-)-carvone carveol carvyl acetate carvyl propionate beta-damascone alpha-damascone delta-damascone damascenone alpha-ionone beta-ionone gamma-ionone alpha-ionol beta-ionol dihydro-alpha-ionone dihydro-beta-ionone dihydro-beta-ionol dehydrodihydroionone dehydrodihydroionol methyl-alpha-ionone methyl-beta-ionone methyl-delta-ionone allyl alpha-ionone JECFA 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380a.423 09.130 07.108 07.081 09. 380.106 07.092 07.216 07.425 09.147 02.010 07.116 02.132 07.134 07.083 07.142 09.050 09.461 02.091 02.015 09.215 09.143 07.146 07.097 07.454 09.080 09.062 09.061 09. 380.1 380b.092 02.128 02.105 02.014 09.131 02.028 09.068 09.2 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 EC 02.061 FEMA 2635 3060 2642 2636 2645 2639 2640 2646 2643 2644 3045 3052 3047 3053 3049 3050 3054 3563 3564 3176 3562 3565 2379 2380 2249 2249 2247 2250 2251 3243 3659 3622 3420 2594 2595 3175 3624 3625 3628 3626 3627 3447 3446 2711 2712 2713 2033 27 dari 122 .130 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.071 07.

186 09.085 09.264 07.2-cyclopentanedione 3.125 07.095 02.080 07.3-hexanedione 2.4-dimethyl-4-acetyl-1cyclohexene alpha-irone alpha-iso-methylionone acetoin 2-acetoxy-3-butanone butan-3-one-2-yl butanoate diacetyl 3-hydroxy-2-pentanone 2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.072 02.016 09.018 07.093 07.060 07.044 02.263 07.4-hexanedione 5-methyl-2.119 07.078 09.175 10.064 07.455 09.3-hexanedione 3.5-trimethyl-2cyclohexen-1-one menthol (+)-neo-menthol menthone DL-isomenthone menthyl acetate menthyl isovalerate (-)-menthyl lactate p-menth-1-en-3-ol piperitone 4-hydroxy-3-methyloctanoic acid gamma-lactone 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone 4-carvomenthenol 2-ethyl-1.077 07.063 07.065 07.059 07.076 07.293 FEMA 3449 2597 2714 2008 3526 3332 2370 3550 2841 2730 2558 3168 3190 2543 2587 3090 2700 3152 3268 3269 3453 3454 3458 3305 3459 2665 2666 2667 3460 2668 2669 3748 3179 2910 3802 2248 3491 3239 3701 28 dari 122 .117 07.3.5-dimethyl-1.015 02.083 07.057 07.075 07.116 07.051 09. 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 Nama Senyawa 1.5.4-dimethyl-1.052 07.551 02.120 02.011 07.1 (Lanjutan) No.3-heptanedione 5-hydroxy-4-octanone 2.3-undecadione methylcyclopentenolone ethylcyclopentenolone 3.056 07.2-cyclopentanedione 3-ethyl-2-hydroxy-4methylcyclopent-2-en-1-one 5-ethyl-2-hydroxy-3methylcyclopent-2-en-1-one 2-hydroxy-2-cyclohexen-1-one 1-methyl-2.021 07.3-trimethyl-2norbornanol 4-thujanol methyl 1-acetoxycyclohexyl ketone JECFA 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 437 438 439 440 441 442 EC 07.3-cyclohexadione 2-hydroxy-3.3-pentadione 4-methyl-2.118 07.3-pentanedione 2.036 07.

088 12.066 12.032 12.079 12.019 12.018 13.018 12.188 12.156 FEMA 3805 3806 3808 3810 3676 2489 2491 2746 3860 3825 2215 3831 3820 2042 3873 3597 3415 3600 3438 3578 3206 2747 3374 3414 3877 3601 3483 2720 3879 3412 3835 3343 3681 3883 3880 3836 3789 3876 3282 3310 3385 3708 3864 3676 3862 29 dari 122 .616 09.8-dithianon-4-ene-4carboxaldehyde methyl 3-methylthiopropionate methylthiomethyl butyrate methyl 4-(methylthio)butyrate ethyl 2-(methylthio)acetate ethyl 3-methylthiopropionate ethyl 4-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)propyl acetate methylthiomethyl hexanoate ethyl 3-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)hexyl acetate S-methyl thioacetate ethyl thioacetate methyl thiobutyrate propyl thioacetate S-methyl 2-methylbutanethioate S-methyl 3-methylbutanethioate S-methyl 4methylpentanethioate S-methyl hexanethioate JECFA 443 444 445 446 447 448 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 EC 09.078 12.007 12.2-glycerol ketal mono-menthyl succinate 1-ethylhexyl tiglate furfural furfuryl alcohol methyl sulfide methyl ethyl sulfide diethyl sulfide butyl sulfide 1.843 06.063 16.539 13.077 12.086 12.062 12.and 2-propylene glycol carbonate (-)-menthone 1.157 09.842 09.056 12.4-dithiane (1-buten-1-yl) methyl sulfide allyl sulfide methyl phenyl sulfide benzyl methyl sulfide 3-(methylthio)propanol 4-(methylthio)butanol 3-(methylthio)-1-hexanol 2-methyl-4-propyl-1.059 12.236 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.061 12.001 12.084 12.539 12.162 12.006 12.002 12.040 12.187 12.149 12.007 15.065 12.1 (Lanjutan) No.062 12.2-glycerol ketal DL-menthone 1.060 12.122 12.237 12.211 12.3-oxathiane 2-methylthioacetaldehyde 3-(methylthio)propionaldehyde 3-(methylthio)butanal 4-(methylthio)butanal 3-methylthiohexanal 2-(methylthio)methyl-2-butenal 2.154 12. 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 Nama Senyawa (-)-menthol ethylene glycol carbonate (-)-menthol 1.113 12.120 09.089 12.

087 12.058 12.080 12.175 12.244 12.101 12.173 12.132 12.176 12.054 12.128 12.033 12.064 12.227 12.171 12.194 12.057 15.195 12.052 12.085 12.6-dimethyl(thiophenol) 2-naphthalenethiol 1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.1 (Lanjutan) No.b 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 EC 12.071 12.066 FEMA 3329 3895 3788 3790 3816 3882 3207 3375 3266 3512 3376 3881 3335 3210 3857 3717 3809 3875 2716 3521 3897 3478 3874 3858 3792 3303 3262 3304 3842 3833 3503 2035 3896 3700 3472 3616 2147 3894 3240 3345 3666 3314 3484 30 dari 122 .192 12.048 12. 3.003 12.203 12.029 12. 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 Nama Senyawa allyl thiopropionate prenyl thioacetate methylthio 2(acetyloxy)propionate methylthio 2-(propionyloxy) propionate 3-(acetylmercapto)hexyl acetate 1-methylthio-2-propanone 1-(methylthio)-2-butanone 4-(methylthio)-2-butanone 4.5-dihydro-3(2H)-thiophenone 2-methyltetrahydrothiophen-3one 4-(methylthio)-4-methyl-2pentanone sodium 4-(methylthio)-2oxobutanoate di(butan-3-one-1-yl) sulfide o-(methylthio)phenol S-methyl benzothioate 2-(methylthiomethyl)-3phenylpropenal cis.012 15.and trans-menthone-8thioacetate methylsulfinylmethane methyl mercaptan propanethiol 2-propanethiol 1-butanethiol 2-methyl-1-propanethiol 3-methylbutanethiol 2-pentanethiol 2-methyl-1-butanethiol cyclopentanethiol 3-methyl-2-butanethiol 1-hexanethiol 2-ethylhexanethiol 2-.201 12.049 12.082 12.150 12.042 12.010 12.004 12.041 12.035 12.005 12.027 12.197 12.and 10-mercaptopinane allyl mercaptan prenylthiol 1-p-menthene-8-thiol thiogeraniol benzenethiol benzyl mercaptan phenethyl mercaptan o-toluenethiol 2-ethylthiophenol 2.2-ethanedithiol JECFA 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506a.023 12.170 12.

3-butanedithiol 1.4dithiane sodium 3-mercaptooxopropionate dimethyl disulfide methyl propyl disulfide propyl disulfide diisopropyl disulfide allyl methyl disulfide methyl 1-propenyl disulfide propenyl propyl disulfide methyl 3-methyl-1-butenyl disulfide allyl disulfide 3.4-trithiolane 3-methyl-1.034 12.019 12.9-nonanedithiol trithioacetone 3-mercapto-3-methyl-1-butanol 3-mercaptohexanol 2-mercapto-3-butanol alpha-methyl-beta-hydroxypropyl alpha-methyl-betamercaptopropyl sulfide 4-methoxy-2-methyl-2butanethiol 3-mercapto-3-methylbutyl formate 2.3-propanedithiol 1.251 12.083 12.5-dimethyl-1.2.218 12.137 12.2-propanedithiol 1.3-butanedithiol 2.039 12.072 12.073 12.234 12.235 12.038 15.3-dithiolane 1.055 12.014 12.044 12.025 15.SNI 01-7152-2006 Tabel A.006 12.5-dihydroxy-1.024 12.075 12.109 12.034 12.118 15.2-butanedithiol 1.4-trithiane dicyclohexyl disulfide JECFA 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 EC 12.5-dimethyl-2.009 12.145 12.022 12.008 15.067 12.036 12.070 12.046 12.4-dithiane 2-mercaptopropionic acid ethyl 2-mercaptopropionate ethyl 3-mercaptopropionate 3-mercaptohexyl acetate 3-mercaptohexyl butyrate 3-mercaptohexyl hexanoate 1-mercapto-2-propanone 3-mercapto-2-butanone 2-keto-4-butanethiol 3-mercapto-2-pentanone p-mentha-8-thiol-3-one 2.069 15.217 15.138 12.047 12.076 12.026 12.6-hexanedithiol 1.1 (Lanjutan) No. 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 Nama Senyawa bis(methylthio)methane 2-methyl-1.5-dihydroxy-1.8-octanedithiol 1.2.036 12.143 12.037 12.031 12.028 FEMA 3878 3705 3588 3520 3477 3529 3477 3495 3514 3513 3475 3854 3850 3502 3509 3785 3855 3826 3180 3279 3677 3851 3852 3853 3856 3298 3357 3300 3177 3450 3901 3536 3201 3228 3827 3127 3576 3227 3865 2028 3541 3718 3448 31 dari 122 .

013 12.010 09.043 12.074 08.535 09.066 09.155 12.436 09.490 09.225 08.514 07.532 09.401 09.3-nonanediol acetate (mixed esters) levulinic acid ethyl levulinate butyl levulinate 1.161 12.445 09.121 12.1 (Lanjutan) No.009 12.402 09.435 09.548 09.550 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.405 09.025 08.444 08.079 06.038 09.081 12.404 09.4-dioxohexanoate 3-(hydroxymethyl)-2-heptanone 1.4-nonanediol diacetate hydroxycitronellol hydroxycitronellal hydroxycitronellal dimethyl acetal hydroxycitronellal diethyl acetal diethyl malonate butyl ethyl malonate dimethyl succinate diethyl succinate fumaric acid (-)-malic acid diethyl malate JECFA 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 EC 12.280 02.441 09.020 12.047 05.012 06.045 12.403 09. 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 Nama Senyawa methyl phenyl disulfide methyl benzyl disulfide phenyl disulfide benzyl disulfide 2-methyl-2(methyldithio)propanal ethyl 2-(methyldithio)propionate dimethyl trisulfide methyl ethyl trisulfide methyl propyl trisulfide dipropyl trisulfide allyl methyl trisulfide diallyl trisulfide diallyl polysulfide 2-oxobutyric acid methyl 2-hydroxy-4methylpentanoate methyl 2-oxo-3methylpentanoate citronelloxyacetaldehyde 3-oxobutanal dimethyl acetal ethyl 3-hydroxybutyrate ethyl acetoacetate butyl acetoacetate isobutyl acetoacetate isoamyl acetoacetate geranyl acetoacetate methyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-oxohexanoate ethyl 2.168 12.011 06.023 09.068 12.439 FEMA 3872 3504 3225 3617 3866 3834 3275 3861 3308 3276 3253 3265 3533 3723 3706 3713 2310 3381 3428 2415 2176 2177 3551 2510 3508 3545 3683 3278 2804 2783 2627 2442 2207 3579 2586 2583 2585 2584 2375 2195 2396 2377 2488 2655 2374 32 dari 122 .542 09.023 12.039 09.017 09.522 09.

746 09.033 09. sodium salt 3-methyl-2-oxopentanoic acid 3-methyl-2-oxopentanoic acid. sodium salt 2-oxopentanedioic acid 3-hydroxy-2-oxopropionic acid 3-phenyl-1-propanol 3-phenylpropyl formate 3-phenylpropyl acetate 3-phenylpropyl propionate 3-phenylpropyl isobutyrate 3-phenylpropyl isovalerate 3-phenylpropyl hexanoate methyl 3-phenylpropionate ethyl 3-phenylpropionate 3-phenylpropionaldehyde 3-phenylpropionic acid cinnamyl alcohol cinnamaldehyde ethylene glycol acetal cinnamyl formate cinnamyl acetate cinnamyl propionate cinnamyl butyrate cinnamyl isobutyrate cinnamyl isovalerate cinnamyl phenylacetate cinnamaldehyde JECFA 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 631.051 08.084 09.014 09.071 09.533 08.474 09.093 08.512 08. (±)diethyl tartrate adipic acid diethyl sebacate dibutyl sebacate ethylene brassylate aconitic acid ethyl aconitate (mixed esters) triethyl citrate tributyl acetylcitrate 3-methyl-2-oxobutanoic acid 3-methyl-2-oxobutanoic acid.080 08.032 09.708 05.026 09.051 08.086 02.052 08.017 06.037 08.446 08.085 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.031 09.018 09.1 633 633.133 09.510 09.475 09.459 09.032 02.1 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 EC 08.014 FEMA 3044 2378 2011 2376 2373 3543 2010 2417 3083 3869 3869 3870 3871 3891 3843 2885 2895 2890 2897 2893 2899 2896 2741 2455 2887 2889 2294 2287 2299 2293 2301 2296 2297 2302 2300 2286 33 dari 122 . sodium salt 4-methyl-2-oxopentanoic acid 4-methyl-2-oxopentanoic acid.470 09.428 09.053 09.018 09.747 05.1 (Lanjutan) No. (-)-.467 09. mixture of (+)-. 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 Nama Senyawa meso-tartaric acid.138 09.1 632 632.

301 FEMA 2288 2698 2430 2938 2939 2192 2193 2063 2551 2352 2641 3051 2142 2863 2894 2298 2065 3618 2066 2064 2067 3318 2957 2062 3640 2697 2191 2041 2569 3567 3181 3182 3223 3480 3530 2337 3156 3522 3649 3461 3072 3073 3753 3075 3387 3733 34 dari 122 .036 09.731 09.050 05.737 09.480 09.736 09.094 06.732 09.468 05.051 09.026 09.039 05.738 09.744 09.739 02. 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 Nama Senyawa cinnamic acid methyl cinnamate ethyl cinnamate propyl cinnamate isopropyl cinnamate butyl cinnamate isobutyl cinnamate isoamyl cinnamate heptyl cinnamate cyclohexyl cinnamate linalyl cinnamate terpinyl cinnamate benzyl cinnamate phenethyl cinnamate 3-phenylpropyl cinnamate cinnamyl cinnamate alpha-amylcinnamyl alcohol 5-phenylpentanol alpha-amylcinnamyl formate alpha-amylcinnamyl acetate alpha-amylcinnamyl isovalerate 3-phenyl-4-pentenal 3-(pisopropylphenyl)propionaldehyd e alpha-amylcinnamaldehyde dimethyl acetal p-methylcinnamaldehyde alpha-methylcinnamaldehyde alpha-butylcinnamaldehyde alpha-amylcinnamaldehyde alpha-hexylcinnamaldehyde p-methoxycinnamaldehyde o-methoxycinnamaldehyde p-methoxy-alphamethylcinnamaldehyde phenol o-cresol m-cresol p-cresol p-ethylphenol o-propylphenol p-propylphenol 2-isopropylphenol o-tolyl acetate p-tolyl acetate o-tolyl isobutyrate p-tolyl isobutyrate p-tolyl 3-methylbutyrate p-tolyl octanoate JECFA 657 658 659 660 661 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 EC 08.090 09.027 04.SNI 01-7152-2006 Tabel A.028 04.745 09.044 09.048 05.103 05.013 05.030 02.734 09.041 05.740 09.782 09.743 09.730 09.022 04.046 04.429 09.041 04.733 09.742 09.1 (Lanjutan) No.040 05.118 05.050 04.228 09.051 04.518 09.026 04.122 05.022 09.

6-dimethoxyphenol 4-methyl-2.6-dimethoxyphenol 2-hydroxyacetophenone 4-(p-hydroxyphenyl)-2-butanone dihydroxyacetophenone zingerone 4-(p-acetoxyphenyl)-2-butanone vanillylidene acetone 4-(1.031 13.001 13.689 04.064 09.007 04. 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 Nama Senyawa p-tolyl laurate p-tolyl phenylacetate 2.711 04.3.025 13.057 04.288 07.174 09.045 04.009 04.038 FEMA 3076 3077 3595 3249 3596 3066 2245 3739 3589 2532 3485 2671 2436 3598 3687 2535 3695 3137 3704 3671 3729 2675 3655 3548 2588 3662 3124 3652 3738 3918 3958 3959 3960 3963 2490 3346 3397 3396 3283 3244 3244 2702 2703 2946 2072 2571 3518 3128 3468 2963 35 dari 122 .003 13.128 13.005 04.688 09.042 04.006 04.124 07.062 13.002 13.036 04.6-dimethoxyphenol 4-ethyl-2.4-xylenol thymol carvacrol p-vinylphenol resorcinol guaiacol o-(ethoxymethyl)phenol 2-methoxy-4-methylphenol 4-ethylguaiacol 2-methoxy-4-propylphenol guaiacyl acetate guaiacyl phenylacetate hydroquinone monoethyl ether 2.008 04.037 04.046 04.057 14.135 07.056 04.047 04.019 14.102 09.005 09.068 13.005 13.6-dimethoxyphenol 4-propyl-2.031 04.6-dimethoxyphenol 2-methoxy-4-vinylphenol 4-allyl-2.709 04.049 09.067 13.048 04.019 04.SNI 01-7152-2006 Tabel A.6-xylenol 3.6-trimethylphenol furfuryl acetate furfuryl propionate furfuryl pentanoate furfuryl octanoate furfuryl 3-methylbutanoate 5-methylfurfural methyl 2-furoate propyl 2-furoate amyl 2-furoate hexyl 2-furoate octyl 2-furoate 2-benzofurancarboxaldehyde 2-phenyl-3-carbethoxyfuran pulegone isopulegone isopulegol JECFA 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 739 740 741 742 743 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 EC 09.051 07.052 04.055 07.5-xylenol 2.1 (Lanjutan) No.073 13.019 13.1-dimethylethyl)phenol phenyl acetate 2-phenylphenol phenyl salicylate 2.085 13.053 04.

067 02.1 (Lanjutan) No.025 14.6-dimethylpyrazine 2.127 09.017 14.022 14.034 FEMA 2964 2962 2965 3560 2965 FDA 3309 3281 3961 3940 3271 3272 3273 3155 3919 3154 3136 3554 3133 3149 3150 3336 3915 3916 3237 3306 3917 3631 3126 3250 3327 3302 3183 3280 3358 3433 3132 3569 3299 3230 3231 36 dari 122 .069 14.049 14. 5.016 14.3.026 14.037 14.005 14.055 14.050 14.5-dimethylpyrazine 2.067 14.043 14.219 07.062 14.3-dimethylpyrazine 2.3-dimethyl-5Hcyclopentapyrazine (cyclohexylmethyl)pyrazine 2-acetylpyrazine 2-acetyl-3-ethylpyrazine 2-acetyl-3.(5 or 6)dimethylpyrazine 3-ethyl-2.3-diethyl-5-methylpyrazine 2.219 09.067 09.5-diethyl-2-methylpyrazine 2.057 14.SNI 01-7152-2006 Tabel A.142 14.7-dihydro-2.6-dimethylpyrazine 2-ethyl-3-methylpyrazine 2-ethyl-6-methylpyrazine 2-ethyl-5-methylpyrazine 2.5 or 6)isopropylpyrazine 2-methoxy-3-(1methylpropyl)pyrazine 2-isobutyl-3-methoxypyrazine 2-methyl-3.027 14.3-diethylpyrazine 2-methyl-5-isopropylpyrazine 2-isobutyl-3-methylpyrazine 2.(5 or 6)dimethylpyrazine methoxypyrazine (2.021 14.018 14. 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 Nama Senyawa isopulegyl acetate p-menth-1.114 14.5.5 or 6ethoxypyrazine 2-(mercaptomethyl)pyrazine 2-pyrazinylethanethiol pyrazinyl methyl sulfide JECFA 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 EC 07.3.4(8)-dien-3-one menthofuran furfuryl butyrate cinnamyl benzoate 2-methylpyrazine 2-ethylpyrazine 2-propylpyrazine 2-isopropylpyrazine 2.044 14.6-tetramethylpyrazine 5-methyl-6.006 14.020 14.096 14.095 14.054 14.053 14.5-trimethylpyrazine 2-ethyl-3.123 14.780 14.098 14.5-diethyl-3-methylpyrazine 3.7-dihydro-5Hcyclopentapyrazine 6.024 14.032 14.or 6)methoxypyrazine 2-methoxy-(3.5 or 6)-methoxy-3methylpyrazine 2-ethyl(or methyl)-(3-.051 14.056 14.031 14.

028 06.alpha-dimethylbenzyl alcohol acetophenone 4-methylacetophenone p-isopropylacetophenone 2.030 02.035 14.029 02.004 07.200 07.064 09.027 02.4-dimethylacetophenone acetanisole methyl beta-naphthyl ketone 4-acetal-6-tert-butyl-1.189 07.133 07.086 07.049 07.5 or 6)-(methylthio)-2methylpyrazine 5-methylquinoxaline alpha-methylbenzyl alcohol alpha-methylbenzyl formate alpha-methylbenzyl acetate alpha-methylbenzyl propionate alpha-methylbenzyl butyrate alpha-methylbenzyl isobutyrate p.231 09.476 09.080 07.033 09.003 06.066 07.486 02.065 07.2-propanedione ethyl benzoylacetate ethyl 2-acetyl-3phenylpropionate benzoin benzaldehyde dimethyl acetal benzaldehyde glyceryl acetal JECFA 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 37 dari 122 EC 14.144 09.002 FEMA 3208 3203 2685 2688 2684 2689 2686 2687 3139 2009 2677 2927 2387 2005 2723 3653 2674 3197 2879 2882 3074 2672 2880 2881 2734 2884 2424 3469 2953 2673 2208 2740 3760 2146 2134 2397 3226 2423 2416 2132 2128 2129 .3-diphenyl-2-propanone 1-phenyl-1.079 09.026 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.034 07.042 07.024 07.036 09.249 02. 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 Nama Senyawa (3.022 07.178 09.013 07.1dimethylindan 1-(p-methoxyphenyl)-2propanone alpha-methylphenethyl butyrate 4-phenyl-2-butanol 4-phenyl-2-butyl acetate 4-(p-tolyl)-2-butanone 4-(p-methoxyphenyl)-2-butanone 4-phenyl-3-buten-2-ol 4-phenyl-3-buten-2-one 3-methyl-4-phenyl-3-buten-2one 1-phenyl-1-propanol alpha-ethylbenzyl butyrate propiophenone alpha-propylphenethyl alcohol 1-(p-methoxyphenyl)-1-penten3-one alpha-isobutylphenethyl alcohol 4-methyl-1-phenyl-2-pentanone 1-(4-methoxyphenyl)-4-methyl-1penten-3-one 3-benzyl-4-heptanone benzophenone 1.501 07.070 07.087 02.040 02.1 (Lanjutan) No.032 07.179 09.038 07.025 07.028 02.023 07.

4-dimethylbenzaldehyde butyl p-hydroxybenzoate anisyl alcohol anisyl formate anisyl acetate anisyl propionate anisyl butyrate anisyl phenylacetate veratraldehyde p-methoxybenzaldehyde p-ethoxybenzaldehyde methyl o-methoxybenzoate 2-methoxybenzoic acid 3-methoxybenzoic acid 4-methoxybenzoic acid methyl anisate ethyl p-anisate JECFA 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 EC 06.145 09.039 05.406 09.022 09.012 05.796 08.806 09.725 09.132 09.173 09.092 08.726 09.771 09.m.019 09.494 09.128 09.068 05.3-dimethylcrotonate benzyl acetoacetate benzyl phenylacetate benzoic acid methyl benzoate ethyl benzoate propyl benzoate hexyl benzoate isopropyl benzoate isobutyl benzoate isoamyl benzoate cis-3-hexenyl benzoate linalyl benzoate geranyl benzoate glyceryl tribenzoate propylene glycol dibenzoate methylbenzyl acetate (mixed o.056 09.p) tolualdehyde glyceryl acetal cuminaldehyde 2.458 09.508 09.017 05. 1 (Lanjutan) No. 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 Nama Senyawa benzaldehyde propylene glycol acetal benzyl 2-methoxyethyl acetal benzyl formate benzyl propionate benzyl butyrate benzyl isobutyrate benzyl isovalerate benzyl trans-2-methyl-2butenoate benzyl 2.071 09.770 09.706 05.754 02.755 09.032 06.026 06.051 09.m.021 09.077 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.083 09.767 09.087 09.705 08.714 FEMA 2130 2148 2145 2150 2140 2141 2152 3330 2143 2136 2149 2131 2683 2422 2931 3691 2932 2185 2058 3688 2638 2511 3398 3419 3702 2933 3756 3068 3067 2341 2203 2099 2101 2098 2102 2100 3740 3109 2670 2413 2717 3943 3944 3945 2679 2420 38 dari 122 .015 05.294 02.019 09.757 09.768 09.776 09.058 09.426 09.812 09.p) p-isopropylbenzyl alcohol 4-ethylbenzaldehyde tolualdehydes (mixed o.

076 09.811 16.029 06.555 09.035 09.557 09.4-dihydroxybenzoic acid glycerol 3-oxohexanoic acid glyceride 3-oxooctanoic acid glyceride heptanal glyceryl acetal (mixed 1.752 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.750 09.553 09.3-tris[(1'ethoxy)ethoxy]propane 3-oxodecanoic acid glyceride 3-oxododecanoic acid glyceride 3-oxotetradecanoic acid glyceride 3-oxohexadecanoic acid glyceride glycerol monostearate glyceryl monooleate triacetin glyceryl tripropionate tributyrin glycerol 5-hydroxydecanoate glycerol 5-hydroxydodecanoate propylene glycol propylene glycol stearate 1.055 05.544 06.1 (Lanjutan) No.040 09.751 09.3-dioxolane 2.098 FEMA 3737 3815 3796 3107 3108 3754 3801 2464 2912 2913 2911 3004 3697 2745 2458 3650 2213 2084 2151 2868 3734 3798 2525 3770 3771 2542 3593 3767 3768 3772 3769 2527 2526 2007 3286 2223 3685 3686 2940 2942 3534 3630 3441 39 dari 122 .039 06.093 05.2 and 1.753 09. 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 Nama Senyawa vanillyl alcohol vanillyl ethyl ether vanillyl butyl ether vanillin vanillin acetate vanillin isobutyrate ethyl vanillin beta-dglucopyranoside ethyl vanillin piperonyl acetate piperonyl isobutyrate piperonal salicylaldehyde 2-hydroxy-4methylbenzaldehyde methyl salicylate ethyl salicylate butyl salicylate isobutyl salicylate isoamyl salicylate benzyl salicylate phenethyl salicylate o-tolyl salicylate 2.016 05.3oxacyclopentane JECFA 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 EC 02.2.094 06.019 09.4-trimethyl-1.3 acetals) 1.552 09.094 04.430 05.748 09.213 04.075 05.211 09.554 09.2.091 09.2-di[(1-ethoxy)ethoxy]propane 4-methyl-2-pentyl-1.807 08.556 06.763 09.263 09.749 09.543 09.220 09.018 09.

144 14.001 06.039 09.040 08.047 08.165 05.8-tetrahydroquinoxaline ethyl vanillin isobutyrate ethyl vanillin propylene glycol acetal 4-hydroxybenzyl alcohol 4-hydroxybenzaldehyde 4-hydroxybenzoic acid 2-hydroxybenzoic acid 4-hydroxy-3-methoxybenzoic acid vanillin erythro.037 14.488 05.6.099 08.and threo-butan2.112 08.2.433 09.534 09.3-diol acetal cyclohexanecarboxylic acid methyl cyclohexanecarboxylate ethyl cyclohexanecarboxylate cyclohexaneethyl acetate cyclohexaneacetic acid ethyl cyclohexanepropionate 2.015 02.536 09.005 06.004 06.043 06.008 06.034 09.082 14.119 05.025 06.019 07.7.289 02.1 (Lanjutan) No.442 09.060 09.443 06.SNI 01-7152-2006 Tabel A.545 09.123 09.028 06.028 08.001 09.3-trimethylcyclopent-3-en-1yl acetaldehyde cis-5-isopropenyl-cis-2methylcyclopentan-1carboxaldehyde campholene acetate alpha-campholenic alcohol JECFA 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 40 dari 122 EC 08.009 06.015 06.081 06. 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 Nama Senyawa lactic acid ethyl lactate butyl lactate potassium 2-(1'ethoxy)ethoxypropanoate cis-3-hexenyl lactate butyl butyryllactate pyruvic acid pyruvaldehyde ethyl pyruvate isoamyl pyruvate 1.004 09.6-nonadienal diethyl acetal heptanal dimethyl acetal citral diethyl acetal 4-heptenal diethyl acetal 2-acetyl-3-methylpyrazine pyrazine 5.491 08.434 16.114 FEMA 2611 2440 2205 3752 3690 2190 2970 2969 2457 2083 3426 2002 2798 3775 2305 2363 3378 2541 2304 3349 3964 4015 3321 3837 3838 3987 3984 3986 3985 3988 4023 3531 3568 3544 2348 2347 2431 3592 3645 3657 3741 .1-dimethoxyethane acetal octanal dimethyl acetal acetaldehyde ethyl cis-3-hexenyl acetal citral dimethyl acetal decanal dimethyl acetal 2.

6.030 06.027 06.031 09.538 09.016 06.8-dien-7-al p-mentha-1.019 09.6-myrtenyl formate santalol (alpha and beta) santalyl acetate (alpha and beta) 10-hydroxymethylene-2-pinene phenethyl alcohol phenethyl formate phenethyl acetate phenethyl propionate phenethyl butyrate phenethyl isobutyrate phenethyl 2-methylbutyrate phenethyl isovalerate phenethyl hexanoate phenethyl octanoate phenethyl tiglate phenethyl senecioate phenethyl phenylacetate acetaldehyde phenethyl propyl acetal acetaldehyde butyl phenethyl acetal phenylacetaldehyde phenylacetaldehyde dimethyl acetal phenylacetaldehyde glyceryl acetal phenylacetaldehyde 2.083 09.1]hept-2-ene (myrtenal) myrtenol myrtenyl acetate 6.784 FEMA 3178 3566 3557 2664 3731 3731 3389 3474 3639 3395 3439 3764 3405 3006 3007 3938 2858 2864 2857 2867 2861 2862 3632 2871 3221 3222 2870 2869 2866 2004 3125 2874 2876 2877 2875 3384 2878 2733 2452 41 dari 122 .407 09.466 09.8-dien-7-ol p-mentha-1.262 09.007 06.117 02.278 08.141 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.496 09.261 09.8-dien-7-yl acetate 1. 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 Nama Senyawa p-menth-1-en-9-al 1-p-menthen-9-yl acetate p-mentha-1.168 09.060 09.6dimethylbicyclo[3.067 05.038 09.427 09.783 09.1 (Lanjutan) No.106 02.6-tetrahydrocuminic acid 2.104 05.6-trimethyl-1&2-cyclohexen1-carboxaldehyde 2-formyl-6.137 09.216 09.615 05.2.707 06.1.121 05.3dienyl methanal 2.302 09.6-trimethyl-1-cyclohexen-1acetaldehyde 2.6.6.6-trimethylcyclohexa-1.034 02.272 02.024 08.098 09.006 06.3butylene glycol acetal phenylacetaldehyde diisobutyl acetal phenylacetic acid methyl phenylacetate ethyl phenylacetate JECFA 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 EC 05.036 05.5.091 09.112 05.

027 15.022 15.785 09.704 09.041 16.789 09.6-dimethyldihydro1.3.791 09.5-dimethylthiazole 2.4-dimethyl-5-vinylthiazole benzothiazole 2-acetylthiazole 2-propionylthiazole 4-methylthiazole 2-ethyl-4-methylthiazole 4.5dithiazine JECFA 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 EC 09.3.035 15.6-dimethyldihydro1.027 15.017 15.032 15.113 15.SNI 01-7152-2006 Tabel A.758 08.049 09.1 (Lanjutan) No.5-dithiazine 2.702 09.044 09.013 15.5-dithiazine (mixture) 2.020 15.014 15.5-dimethyl-2-isobutyl-3thiazoline 2-isobutyl-4.3.6-triisobutyl-5.6-dimethyldihydro-1.018 15.4.805 09.788 09.5-dithiazine and 4-isobutyl2.028 15.6-trimethyldihydro-4h-1.4.786 09.079 FEMA 2955 2956 2209 2210 2081 3457 3633 2812 2895 3501 2516 2315 3008 3071 2954 2690 2872 3157 2973 3773 3322 3204 3615 3372 3134 3274 3325 3555 3313 3145 3256 3328 3611 3716 3680 3621 3781 1045 1046 1047 1047 1048 1049 15.712 05.6-dimethyl and 4isopropyl-2.487 16.787 09.703 09.797 09.042 05.3.772 09.5-trimethylthiazole 2-isopropyl-4-methylthiazole 4-methyl-5-vinylthiazole 2.804 09.033 15.3. 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 Nama Senyawa propyl phenylacetate isopropyl phenylacetate butyl phenylacetate isobutyl phenylacetate isoamyl phenylacetate hexyl phenylacetate 3-hexenyl phenylacetate octyl phenylacetate rhodinyl phenylacetate linalyl phenylacetate geranyl phenylacetate citronellyl phenylacetate santalyl phenylacetate (alpha and beta) p-tolylacetaldehyde p-isopropylphenylacetaldehyde methyl p-tert-butylphenylacetate phenoxyacetic acid ethyl (p-tolyloxy)acetate 2-phenoxyethyl isobutyrate sodium 2-(4methoxyphenoxy)propanoate thiamine hydrochloride 4-methyl-5-thiazoleethanol thiazole 2-(1-methylpropyl)thiazole 2-isobutylthiazole 4.4.109 3782 4017 4018 42 dari 122 .005 15.016 15.5dithiazine (mixture) 2-isopropyl-4.019 15.026 15.057 15.6-dihydro-4h1.

024 15.5-dimethyl-2-ethyl-3-thiazoline 2-(2-butyl)-4.142 13.6-dimethyl-3-[(2-methyl-3furyl)thio]-4-heptanone 4-[(2-methyl-3-furyl)thio]-5nonanone ethyl 3-(furfurylthio)propionate JECFA 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 43 dari 122 EC 15.065 13.030 15.011 15.071 13.050 13.077 13.38 3571 3674 .5-dimethyl-3thiazoline 2-methyl-3-furanthiol 2-methyl-3-(methylthio)furan 2-methyl-5-(methylthio)furan 2.015 15.152 13.051 13.153 13.032 13.196 13.002 15.151 13. 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 Nama Senyawa 5-methyl-2thiophenecarboxyaldehyde 3-acetyl-2. 5.093 FEMA 3209 3527 3062 3323 3205 3267 3340 3192 3620 3619 3188 3949 3366 3451 3573 3607 3259 3476 3260 3973 3482 3481 2493 3158 3162 3347 3160 3161 3362 3979 3238 3146 3189 3311 3840 3570 35.079 13.041 13.4-dimethyl-5-acetylthiazole 2-ethoxythiazole 2-methyl-5-methoxythiazole 4.2'-(dithiodimethylene)difuran 2-methyl-3-.021 15.004 15.5-dimethyl-3-furan thioisovalerate 2.078 13.082 13.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dimethyl-3-furanthiol methyl 2-methyl-3-furyl disulfide propyl 2-methyl-3-furyl disulfide bis(2-methyl-3-furyl) disulfide bis(2.026 13.5-dimethylthiophene 2-thienylmercaptan 2-thienyl disulfide 4-methyl-5-thiazoleethanol acetate 2.5-dimethyl-3-furyl) disulfide bis(2-methyl-3-furyl) tetrasulfide ethanoic acid.008 15. s-(2-methyl-3furanyl) ester 2.033 13.029 13.063 13.075 13.001 15.053 13.064 13.1 (Lanjutan) No.016 13.040 13.2'-(thiodimethylene)difuran 2.5-dimethyl-3-thiofuroylfuran furfuryl mercaptan s-furfuryl thioformate s-furfuryl thioacetate s-furfuryl thiopropionate furfuryl methyl sulfide furfuryl isopropyl sulfide methyl furfuryl disulfide propyl furfuryl disulfide 2.015 13.179 13.056 13.017 13.055 13.or 6(furfurylthio)pyrazine S-methyl thiofuroate 4-[(2-furanmethyl)thio]-2pentanone 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-4heptanone 2.

209 07.6.149 07.095 07.112 07.5-dimethyltetrahydrofuran-3thiol.3.5-dimethyltetrahydro-3-furyl thioacetate.098 07.044 07.9-undecadien-2one 2. cis and trans isomers 3.219 07.6.160 13. cis and trans isomers 2.140 02.123 07.160 09.1 (Lanjutan) No.114 07.180 07.027 09.045 07.129 07.6-tetrahydropseudoionone 6.7-dimethyl-2.10pentadecatrien-14-one 3-penten-2-one 4-hexen-3-one 2-hepten-4-one 3-hepten-2-one JECFA 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 EC 13.230 09.464 09.10-trimethyl-2.126 07.034 07.5dihydrofuran 2-methyl-3-tetrahydrofuranthiol 2.105 FEMA 3636 3787 3971 3972 2349 2351 2353 2355 2354 3848 3962 3909 3910 3946 3947 3948 3435 2573 3360 3473 3261 3939 3061 3553 3577 3196 3552 3889 3829 3966 3365 2707 3059 3542 3442 3417 3352 3399 3400 44 dari 122 .2.035 07.048 07.033 07.151 07.6-trimethylcyclohexanone 2-sec-butylcyclohexanone 4-isopropyl-2-cyclohexenone tetramethylethylcyclohexenone (mixture of isomers) isophorone 3-methyl-5-propyl-2-cyclohexen1-one 3-methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one isojasmone (E)-2-(2-octenyl)cyclopentanone 2-(3.SNI 01-7152-2006 Tabel A.172 07.5.148 07.100 07.194 09.5-trimethyl cyclohexanol cyclohexanone cyclopentanone 2-methylcyclohexanone 3-methylcyclohexanone 4-methylcyclohexanone 1-methyl-1-cyclopenten-3-one 2-hexylidene cyclopentanone 3-methyl-2-cyclohexen-1-one 2.10-dimethyl-5. 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 Nama Senyawa 2-methyl-3-thioacetoxy-4.069 07. cis and trans isomers cyclohexyl acetate cyclohexyl butyrate cyclohexyl formate cyclohexyl isovalerate cyclohexyl propionate p-1(7)8-menthadien-2-yl acetate.086 13.104 07.179 07.6octadienyl)cyclopentanone 3-decanone 5-methyl-5-hexen-2-one 6-methyl-5-hepten-2-one 3.393 13.4.015 07.

E)-3.244 07.139 07.188 07.023 02.102 02.925 09.061 10.7nonadien-2-one (E)-6-methyl-3-hepten-2-one (E.099 02.923 09. 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 Nama Senyawa 3-octen-2-one 2-octen-4-one 3-decen-2-one 4-methyl-3-penten-2-one 5-methyl-3-hexen-2-one 5-methyl-2-hepten-4-one 6-methyl-3.177 07.055 13.099 07.102 07.924 09.034 13.6.106 07.R)-3.005 FEMA 3416 3603 3532 3368 3409 3761 3363 3868 3955 3969 4001 4008 3602 3888 3893 3980 3981 4007 4012 3382 3515 3752 3584 3608 2805 3824 3830 4022 4000 4051 3999 3937 4067 4032 3764 3755 4020 3794 3791 3863 29.121 07.8-dimethyl-3.1 (Lanjutan) No.240 10.5-octadien-2-one 3-octen-2-ol (E)-2-octen-4-ol 2-pentyl butyrate (+/-)heptan-3-yl acetate (+/-)heptan-2-yl butyrate (+/-)nonan-3-yl acetate 2-pentyl acetate 1-penten-3-one 1-octen-3-one 2-pentyl-1-buten-3-one 1-penten-3-ol 1-hexen-3-ol 1-octen-3-ol 1-decen-3-ol (E.-trimethyl-2hydroxycyclohexylidene)acetic acid gamma-lactone sclareolide octahydrocoumarin 2-(4-methyl-2hydroxyphenyl)propionic acid gamma-lactone 3-propylidenephthalide JECFA 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 EC 07.136 02.082 07.5.101 07.104 02.146 07.138 02.109 16.253 02.7octatrien-3-ol 6-undecanone 2-methylheptan-3-one 4-hydroxy-4-methyl-5-hexenoic acid gamma lactone (+/-)3-methyl-gammadecalactone 4-hydroxy-4-methyl-7-cisdecenoic acid gamma lactone tuberose lactone dihydromintlactone mintlactone dehydromenthofurolactone (+/-)-(2.161 10.6.036 10.193 09.070 10.SNI 01-7152-2006 Tabel A.050 10.5-heptadien-2-one (E)-7-methyl-3-octen-2-one 3-nonen-2-one (E) & (Z)-4.249 07.7-dimethyl-1.107 07.52 45 dari 122 .658 09.081 07.657 07.

4-dodecadienal 2-trans-6-cis-dodecadienal 2-trans-4-cis-7-cis-tridecatrienal (+/-)-2-methyl-1-butanol 3-methyl-2-buten-1-ol 2-methyl-2-butenal 3-methyl-2-butenal ammonium isovalerate 3-methylcrotonic acid trans-2-methyl-2-butenoic acid isobutyl 2-butenoate 2-methylallyl butyrate 4-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenoic acid 2.058 05.4-decadienoate 2.057 08.081 09.085 09.107 05.4.012 05.109 05.120 05.049 05.E)-2.105 05.trans-2.125 05.4-nonadienal nona-2-trans-6-cis-dienal 2-trans.SNI 01-7152-2006 Tabel A.126 08.E)-2.trans-2.6-trans-nonadienal (E.047 09.6-trans-octadienal 2.009 13.4-dimethyl-2-pentenoic acid 2-methylheptanoic acid isobutyl angelate 2-butyl-2-butenal 2-isopropyl-5-methyl-2-hexenal 2-ethyl-2-heptenal 2-methyl-2-octenal 4-ethyloctanoic acid JECFA 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 EC 10.840 05.111 02.055 08.408 05.076 02.090 08.639 09.300 09.7-decatrienoate propyl 2.064 02.095 05.4-pentadienal 2.4-decadien-1-ol 2-trans.070 08.4-undecadienal trans.260 09.033 05.044 08.Z)-2.4-nonadien-1-ol 2.024 13.6-nonadien-1-ol 2.101 02.162 05.E)-2.1 (Lanjutan) No.177 05.084 05.4-hexadienoic acid methyl sorbate ethyl sorbate (E.114 05.273 09.172 02.079 FEMA 3334 3333 2381 2699 3217 3922 3429 3921 3714 2459 3164 3956 3721 3466 3951 2780 3212 3377 3766 3952 3911 3135 3869 3148 3832 3648 3422 3670 3637 3638 3998 3647 3407 3646 2054 3187 3599 3432 2678 3510 3194 3195 3143 2706 2180 3392 3406 2438 3711 3800 46 dari 122 .371 09.4-heptadienal (E.4-trans-decadienal methyl (E)-2-(Z)-4-decadienoate ethyl trans-2-cis-4-decadienoate ethyl 2.4-hexadienal (E. 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 Nama Senyawa 3-n-butylphthalide 3-butylidenephthalide dihydrocoumarin 6-methylcoumarin 2.4-octadien-1-ol trans.E)-2.124 16.6-nonadien-1-ol acetate (E.001 08.4-octadienal 2-trans.071 05.108 05.188 02.025 10.E)-2.4-hexadien-1-ol (E.127 05.064 09.194 05.139 05.

148 05.043 04.089 FEMA 2309 2307 3142 2980 2507 2770 2303 3886 3141 4019 4005 3131 3777 3658 2465 3661 3735 3236 3774 3822 3471 2097 2680 2681 2930 3828 3436 2246 3799 2385 2386 3138 2144 2139 3198 3667 2371 FDA 2768 3719 2468 2474 47 dari 122 .9-tetramethyl-13oxatricyclo(8.027 02.130 05.6-trimethyl-6vinyltetrahydropyran tetrahydro-4-methyl-2-(2methylpropen-1-yl)pyran theaspirane cycloionone 1.11-trimethyl-2.10dodecatrienal 12-methyltridecanal farnesol sec-butyl ethyl ether 1-ethoxy-3-methyl-2-butene 1.7.011 05.033 04.058 05.038 04.169 02.034 04.5.001 13.012 02.4-cineole eucalyptol nerol oxide 2.6-dimethyl-10-methylene2.003 03.039 04. 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 Nama Senyawa citronellol citronellal 3.4-dimethylanisole 1-methyl-3-methoxy-4isopropylbenzene carvacryl ethyl ether 1.005 03.6.004 09.6.035 03.054 04.062 04.036 02.010 03.1 (Lanjutan) No.016 04.020 05.074 04.006 04.014 04.7-dimethyl-6-octenoic acid rhodinol geraniol nerol citral 8-ocimenyl acetate 2.0.098 13.SNI 01-7152-2006 Tabel A.094 13.170 13.040 03.015 04.165 13.0(4.11-dodecatrienal 3.019 03.9))tridecan e anisole o-methylanisole p-methylanisole p-propylanisole 2.2.5.021 08.3.007 03.029 03.063 04.032 04.2-dimethoxybenzene m-dimethoxybenzene p-dimethoxybenzene 3.004 04.072 04.4-dimethoxy-1-vinylbenzene benzyl ethyl ether benzyl butyl ether methyl phenethyl ether diphenyl ether dibenzyl ether beta-naphthyl methyl ether beta-naphthyl ethyl ether beta-naphthyl isobutyl ether isoeugenol isoeugenyl formate JECFA 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 EC 02.088 13.

239 12.018 09.1 (Lanjutan) No.3'-(1'oxa-2'-methyl)-cyclopentane] 2-(methylthio)ethanol ethyl 5-(methylthio)valerate 2.5-trithiahexane diisopropyl trisulfide Indole 6-Methylquinoline Isoquinoline Skatole JECFA 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 EC 09.055 04.042 14.151 09.674 05.179 12.007 12.198 14.559 09.169 12.240 09.3.6-dimethoxyphenol isoeugenyl methyl ether isoeugenyl ethyl ether isoeugenyl benzyl ether isoprenyl acetate 4-pentenyl acetate 3-hexenal 3-hexenyl formate (cis and trans mixture) ethyl 5-hexenoate cis-hexenyl propionate cis-hexenyl isobutyrate (Z)-3-hexenyl (E)-2-butenoate cis-hexenyl tiglate cis-hexenyl valerate 3-hexenyl 2-hexenoate (Z)-4-hepten-1-ol ethyl cis-4-heptenoate (Z)-5-octenyl propionate (Z.4-dithia-1-methyl-8oxabicyclo(3.571 09.6-nonadien-1-ol (E.002 04.918 12.564 09.710 04.004 FEMA 2470 2477 2922 3728 2476 2472 3698 3991 4011 3923 3353 3976 3778 3929 3982 3931 3936 3928 3841 3975 3890 3885 3884 3953 3912 3914 3967 3993 3995 3996 3994 3997 3977 3974 3270 4004 3978 4021 3968 2593 2744 2978 3019 48 dari 122 .241 12.and threo-3-mercapto-2methylbutan-1-ol (±)-2-mercaptomethylpentan-1ol 3-mercapto-2-methylpentan-1-ol (racemic) 3-mercapto-2-methylpentanal 4-mercapto-4-methyl-2pentanone (±)-ethyl 3-mercaptobutyrate ethyl 4-(acetylthio)butyrate spiro[2.6-nonadien-1-ol (E. 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 Nama Senyawa isoeugenyl acetate isoeugenyl phenylacetate propenylguaethol propenyl-2.075 09.013 04.255 12.922 02.Z)-3.917 05.007 14.566 09.6-nonadien-1-ol acetate 9-decenal 4-decenoic acid cis-4-decenyl acetate erythro.Z)-3.212 12.3.568 09.001 14.0)octane-3.238 12.189 09.655 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.Z)-3.563 09.139 08.921 09.030 09.257 15.017 04.

3.134 14.059 14.047 14.157 05.065 14.010 01.235 05.061 01.515 2194 2366 2402 2418 2448 2560 2562 .6-octatriene p-Mentha-1.018 01.072 14. 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 Nama Senyawa 1-Ethyl-2-acetylpyrrole 1-Methyl-2-acetylpyrrole Methyl 2-pyrrolyl ketone 2-Pyridinemethanethiol 2-Acetylpyridine N-Furfurylpyrrole 2-(2-Methylpropyl)pyridine 3-(2-Methylpropyl)pyridine 2-Pentylpyridine Pyrrole 3-Ethylpyridine 3-Acetylpyridine 2.3.016 01.019 01.003 01.060 14.029 01.020 FEMA 3147 3184 3202 3232 3251 3284 3370 3371 3383 3386 3394 3424 3540 3546 3614 3709 3751 4065 2229 2252 2356 2633 2762 2856 2902 2903 3046 3129 3144 3186 3193 3331 3443 3539 3558 3559 3795 3821 3839 FDA FDA 172.020 01.7-Dimethyl-1.030 14.045 01.066 14.040 01.039 14.011 01.058 14.SNI 01-7152-2006 Tabel A.021 01.068 14.037 09.002 01.5-Undecatriene d-3-Carene Farnesene (alpha and beta) 1-Methyl-1.045 14.4-diene 1.004 01.3-cyclohexadiene beta-Bourbonene Cadinene (mixture of isomers) Guaiene Butyl 2-decenoate 2-Decenal 2-Dodecenal Ethyl acrylate Ethyl2-nonynoate 2-Hexenal 2-Hexen-1-ol JECFA 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 49 dari 122 EC 14.014 01.071 14.038 13.164 01.515 FDA FDA 172.076 05.alpha-Dimethylstyrene 4-Methylbiphenyl 1-MethyI naphthalene Bisabolene Valencene 3.017 01.073 02.007 01.3-diene p-Mentha-1.024 01.006 01.041 14.005 01.037 09.6-Dimethylpyridine 5-Ethyl-2-methylpyridine 2-Propionylpyrrole Methyl nicotinate 2-(3-Phenylpropyl)pyridine 2-PropyIpyridine Camphene beta-Caryophyllene p-Cymene d-Limonene Myrcene alpha-Phellandrene alpha-Pinene beta-Pinene Terpinolene Biphenyl p.008 01.061 14.009 01.026 09.1 (Lanjutan) No.013 01.046 14.

112 02.109 09.210 02.3.016 02.156 09.059 09.456 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.196 09.395 08.082 09.397 09.158 09.156 09. 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 Nama Senyawa 2-(E)Hexen-1-yl acetate Methyl 2-nonynoate Methyl 2-octynoate Methyl 2-undecynoate 2-Tridecenal trans-2-Heptenal trans-2-Hexenoic acid 2-Nonenal 2-Octenal 2-Pentenal trans-2-Nonen-1-ol 2-Undecenal trans-2-0cten-1-yI acetate trans-2-0cten-1-yl butanoate cis-2-Nonen-1-ol (E)-2-0cten-1-ol (E)-2-Butenoic acid (E)-2-Decenoic acid (E)-2-Heptenoic acid (Z)-2-Hexen-1-ol trans-2-Hexenyl butyrate (E)-2-Hexenyl formate trans-2-Hexenyl isovalerate trans-2-Hexenyl propionate trans-2-Hexenyl pentanoate (E)-2-Nonenoic acid (E)-2-Hexenyl hexanoate (Z)-3.176 09.159 02.276 09.102 02.399 09.110 07.564 & 09.398 09.089 09.396 09.078 05.153 09.190 05.054 05.150 08.006 07.239 05.218 09.072 05.072 08.131 09.3.111 FEMA 2564 2726 2729 2751 3082 3165 3169 3213 3215 3218 3379 3423 3516 3517 3720 3887 3908 3913 3920 3924 3926 3927 3930 3932 3935 3954 3983 3933 & 3932 4047 4068 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2230 2479 2480 3166 3390 3410 3425 3434 50 dari 122 .& (E)-2-Hexenyl propionate (E)-2-hexenal diethyl acetal 2-Undecen-1-ol Borneol Isoborneol Bornyl acetate Isobornyl acetate Bornyl formate Isobornyl formate Isobornyl propionate Bornyl valerate Bornyl isovalerate (endo-) Isobornyl isovalerate d-Camphor d-Fenchone Fenchyl alcohol Nootkatone 1.123 02.1 (Lanjutan) No.017 09.-Trimethyl-2-norbornanyl acetate Methyl jasmonate Cycloheptadeca-9-en-1-one 3-Methyl-1-cyclopentadecanone JECFA 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 EC 09.521 07.457 07.269 09.277 02.192 08.073 08.090 05.101 09.031 02.395 06.038 07.

140 07.007 13.001 17.166 13.019 17.305 09.101 07.008 17.L-Menyhol(+/-)-propylene glycol carbonate L-Monomenthyl glutarate L-Menthyl methyl ether p-Menthane-3.002 17.5-dimethyl-3(2H)furanone JECFA 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1434 1435 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 EC 02.4a.018 17.026 13.010 FEMA 3587 3594 3715 3763 3776 3784 3844 3845 3849 3907 3992 4006 4054 4053 3252 3263 3285 3287 3295 3297 3301 3319 3444 3445 3585 3656 3684 3694 3726 3736 3813 3818 3819 3847 2566 2898 3055 3056 3057 3058 3174 51 dari 122 .007 17.1 (Lanjutan) No.048 13.049 13.224 09.034 17.015 17.319 09.010 17.033 17.153 02.8-diol beta-Alanine L-Cysteine L-Glutamic acid Glycine DL-Isoleucine L-Leucine DL-Methionine L-Proline DL-Valine DL-(3-Amino-3carboxypropyl)dimethylsufonium chloride L-Phenylalanine L-Aspartic acid L-Glutamine L-Histidine DL-Phenylalanine L-Tyrosine Taurine DL-Alanine L-Arginine L-Lysine 2-Hexyl-4acetoxytetrahydrofuran 2-(3Phenylpropyl)tetrahydrofuran Tetrahydrofurfuryl acetate Tetrahydrofurfuryl alcohol Tetrahydrofurfuryl butyrate Tetrahydrofurfuryl propionate 4-Hydroxy-2. 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 Nama Senyawa 2(10)-Pinen-3-ol Verbenol 7-Methyl-4.017 17.020 13.2-diol Bornyl butyrate D.003 17.022 16.005 17.014 17.2-diol beta-Ionyl acetate alpha-Isomethylionyl acetate 3-(1-Methoxy)-2-methylpropane1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.056 17.023 17.136 07.100 02.920 17.6-tetrahydro2(3H)-naphthalenone 3-Methyl-2-(n-pentanyl)-2cyclopenten-1-one Dihydronootkatone 3-L-Methoxypropane-1.012 17.5.

2-vinyl-5-(2hydroxy-2-propyl)tetrahydrofuran (Linalool oxide) 5-Isopropenyl-2-methyl-2vinyltetrahydrofuran (cis and trans mixture) 4-Acetoxy-2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.097 13.1 (Lanjutan) No.109 FEMA 3320 3373 3623 3635 3664 3665 3743 3746 3759 3797 4058 2453 2732 2735 2736 2737 2738 2739 2743 2748 2886 2888 2891 2892 3078 3199 3200 3224 3341 3519 3629 3892 52 dari 122 .5-Diethyltetrahydrofuran cis.097 09.115 02.045 05.043 05.090 13.485 05.046 05.5-Dimethyl-4-methoxy-3(2H)furanone 2.)-2-(5-Methyl-5-vinyltetrahydrofuran-2yl)propionaldehyde Ethyl 4-phenylbutyrate beta-Methylphenethyl alcohol 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl acetate 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl isobutyrate 2-Methyl-4-phenylbutyraldehyde 3-Methyl-2-phenylbutyraldehyde Methyl 4-Phenylbutyrate 2-Methyl-3-(p-isopropylphenyl) propionaldehyde 2-Methyl-3-tolylpropionaldehyde (mixed o-.084 13.2-Dimethyl-5-(1-methylpropen1-yl)tetrahydrofuran 2.062 09.729 05.484 05.060 13.trans-2-Methyl. 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 Nama Senyawa Tetrahydrofurfuryl cinnamate 2-Methyltetrahydrofuran-3-one 2-Ethyl-4-hydroxy-5-methyl3(2H)-furanone 4-Hydroxy-5-methyl-3(2H)furanone 2.042 13.089 13.108 08.099 05.057 09.100 05. m-.052 05.728 02.5-dimethyl3(2H)furanone (+/.085 13.096 13.802 05.095 13. p-) 2-Phenylpropionaldehyde 2-Phenylpropionaldehyde dimethyl acetal 2-Phenylpropyl butyrate 2-Phenylpropyl isobutyrate 2-(p-Tolyl)propionaldehyde 5-Methyl-2-phenyl-2-hexenal 4-Methyl-2-phenyl-2-pentenal 2-Phenyl-2-butenal EthyI 2-ethyl-3phenylpropanoate 2-Phenyl-4-pentenal 2-Methyl-4-phenyl-2-butanol 2-0xo-3-phenylpropionic acid JECFA 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 EC 13.073 09.099 09.029 09.038 06.030 09.

029 13.074 13.106 13.4-dioxane 2-Methylfuran 2.1 (Lanjutan) No.SNI 01-7152-2006 Tabel A.044 13.148 13.022 13.043 13.105 13.116 13.150 13. 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 Nama Senyawa Sodium 2-oxo-3phenylpropionate Maltol Ethyl maltol Maltyl isobutyrate 2-Methyl-3-(1-oxopropoxy)-4Hpyran-4-one 2-Butyl-5.107 13.176 13.028 13.101 13.525 13.138 13.178 FEMA 2656 3487 3462 3941 2204 2076 2574 4179 4106 3673 4081 3317 3401 4090 4174 3535 4095 2494 2704 4175 3307 2492 3586 3163 3609 4071 3391 4083 2496 4192 4120 2495 3418 2435 2198 2071 2070 2865 2945 3970 3159 4114 3337 4034 4119 53 dari 122 .045 13.5-Dimethyl-3-oxo-(2H)-fur-4-yl butyrate Furfuryl methyl ether Ethyl furfuryl ether Difurfuryl ether 2.103 13.061 13.059 13.5-dimethyl furan 2-Acetyl-2.5-Dimethyl-3-furanthiol acetate Furfuryl 2-methyl-3-furyl disulfide JECFA 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 EC 07.021 13.5-dimethyl furan 2-Butyrylfuran (2-Furyl)-2-propanone 2-Pentanoylfuran 1-(2-Furyl)butan-3-one 4-(2-Furyl)-3-buten-2-one Pentyl 2-furyl ketone Ethyl 3-(2-furyl)propanoate Isobutyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 4-(2-furan)butyrate Phenetyl 2-furaoate Propyl 2-furanacrylate 2.4-Difurfurylfuran 3-(2-Furyl)acrolein 2-Methyl-3(2-furyl)acrolein 3-(5-Methyl-2-furyl)prop-2-enal 3-(5-Methyl-2-furyl)-butanal 2-Furfurylidenebutyraldehyde 2-Phenyl-3-(2-furyl)prop-2-enal 2-Furyl methyl ketone 2-Acetyl-5-methylfuran 2-Acetyl-3.4-dioxane 2-Amyl-5 or 6-keto-1.006 13.047 13.054 13.023 13.034 13.069 13.024 13.066 13.083 13.027 13.070 13.052 13.3-Dimethylbenzofuran 2.123 13.or 6-keto-1.047 09.014 07.163 13.092 13.046 13.or 6-keto-1.058 13.137 13.5-Dimethyl furan 2-Ethyl furan 2-Butylfuran 2-Pentylfuran 2-Heptyfuran 2-Decylfuran 3-Methyl-2-(3-methylbut-2-enyl)furan 2.030 13.4-dioxane 2-Hexyl.

102 12.029 13.5-benzo-oxazole 2.724 09.096 04.766 09.025 12.878 09.718 09.039 12.648 13.088 09.716 09.091 13.N-dimethylanthranilate N-Benzoylantharanilic acid Trimethyloxazole 2.765 09.721 09.650 09.169 13.769 09.115 13.723 09.764 09.154 13.5-Dimethyl-4-ethyloxazole 2-Ethyl-4.4-Dimethyl-2-propyloxazole JECFA 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1568 1569 EC 13.649 09.191 04.003 09.7-Dihydro-2-methylthieno(3.722 09.195 13.SNI 01-7152-2006 Tabel A.058 04.4-Dimethyl-3-oxazoline 2.193 12.030 14.014 14.118 13.717 09.781 09.715 09.020 09.070 14.5-dimethyloxazole 2-Isobutyl-4.5-Trimethyl-delta-3oxazoline Allyl isothiocyanate Butyl isothiocyanate Benzyl isothiocyanate Phenethyl isothiocyanate 3-Methylthiopropyl isothiocyanate 4-Acetyl-2-methylpyrimidine 5.1 (Lanjutan) No.4d)pyrimidine 1-Phenyl-3 or 5-propylpyrazole 4. 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 Nama Senyawa 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-2butanone O-Ethyl S-(2furylmethyl)thiocarbonate 4-Allylphenol 2-Methoxy-6-(2-propenyl)phenol Eugenol Eugenyl formate Eugenyl acetate Eugenyl isovalerate Eugenyl benzoate Methyl anthranilate Ethyl anthranilate Butyl anthranilate Isobutyl anthranilate cis-3-Hexenyl anthranilate Citronelly anthranilate Linalyl anthranilate Cyclohexyl anthranilate beta-Terpinyl anthranilate Phenylethyl anthranilate beta-Naphthyl anthranilate Methyl N-methylanthranilate Ethyl N-methylanthranilate Ethyl N-ethylanthranilate Isobutyl N-methylanthranilate Methyl N-formylanthranilate Methyl N-acetylanthranilate Methyl N.5-dimethyloxazole 2-Methyl-4.801 09.561 09.107 12.4.112 FEMA 4056 4043 4075 2467 2473 2469 4118 2471 2682 2421 2181 2182 3925 4086 2637 2350 3048 2859 2767 2718 4116 4115 4149 4171 4170 4169 4078 3672 3525 2034 4082 4014 3312 3654 3338 3727 - 54 dari 122 .

4decadienamide Nonanoyl 4-hydroxy-3methoxybenzylamide Piperine N-Ethyl-2-isopropyl-5methylcyclohexanecarboxamide (+/-)-N.6-Hexalactam 2-Isopropyl-N.SNI 01-7152-2006 Tabel A.170 16.3trimethylbutyramide N-Ethyl (E)-2.(Z)-6nonadienamide N-Cyclopropyl (E)-2.080 11. 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 Nama Senyawa 4.006 11.026 FEMA 4037 4144 4084 4109 4199 4085 2454 2444 3757 4236 4237 4238 3130 4239 4240 4242 4241 3220 4215 4251 4252 4235 3804 4113 4087 41482787 2909 3455 4230 3898 4249 4063 3990 2908 4244 3523 3241 4246 4247 55 dari 122 .015 16.023 11.003 11.009 11.010 14.047 16.044 16.1 (Lanjutan) No.(Z)-6nonadienamide N-Isobutyl (E.003 16.N-Dimethyl menthyl succinamide 1-Pyrroline 2-Acetyl-1-pyrroline 2-Propionylpyrrole Isopentylidene isopenylamine Piperidine 2-Methylpiperidine Pyrrolidine Trimethylamine Triethylamine Tripropylamine JECFA 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 EC 16.185 16.021 11.015 11.006 14.020 09.042 16.049 16.2.133 14.017 14.5-Epoxy-(E)-2-decenal beta-Ionone epoxide trans-Carvone-5.005 11.052 16.018 16.018 11.013 14.053 16.051 16.E)-2.005 11.064 11.007 13.127 11.346 08.071 07.043 16.6-oxide Epoxyoxophorone Piperitenone oxide beta-Caryophyllene oxide Ethyl 3-phenylglycidate Ethyl methylphenyl glycidate Ethyl methyl-p-tolylglycidate Ethylamine Propylamine Isopropylamine Butylamine Isobutylamine sec-Butylamine Pentylamine 2-Methylbutylamine Isopentylamine Hexylamine Phenethylamine 2-(4-Hydroxyphenyl)ethylamine 1-Amino-2-propanol Acetamide Butyramide 1.002 11.040 11.

7-Dimethyl-2. 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 Nama Senyawa N.070 05. 1-hydroxy.5-lactone dl-Limonene alpha-Cedrene (4E.10-trimethyl2.149 05. Ethyl acetoacetate propylene glycol ketal Methyl cedryl ketone.035 01.052 02.4.041 02.151 05.174 06.or 2-oxopropanol 5-methylheptan-3-one pin-2-en-4-one Methyl ionone N trans-3-Methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one Succinic acid 3.6octatriene.022 01.3dioxolane-2-acetate.187 02.1 (Lanjutan) No. Butyl alcohol Allyl alcohol Cedrenol 2-butanol 2-Methyl 3-Buten-2-ol Hex-3(trans)-en-1-ol Isophytol Nonenol Sclareol 3.061 06.182 07.141 05. acetylcedrene Decan-2-one Hexan-2-one 1-hydroxypropan-2-one or 2-propanone.206 04.020 04.6E)-2.163 07.11-dodecatrienal 2.6.196 07.754 01.087 07.168 02.1-diethoxybutane or Butanal diethylacetal Ethyl 2.6E)-Allo-ocimene Octene-1 2-methylbutan-2-ol tert.158 02. (4E.035 06.081 FEMA 4248 4245 4250 2203 - 56 dari 122 .6-octadienoic acid JECFA 1613 1614 1615 EC 11.025 14.150 07.4.9.068 02.6.121 02.143 07.141 09.218 07.130 05.219 08.068 02.014 11.N-Dimethylphenethylamine Trimethylamine oxide Piperazine Dec-8-eno-1.024 08.169 07.123 02.001 01.4-dimethyl-1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.119 02.6-Dimethyl-2.5-dimethylphenol 2-Ethyl phenol o-Methoxybenzaldehyde alpha-Sinensal.7-Decatrienal Pentanedial Hex-3(trans)-enal Pentene-4-al Citral propylene glycol acetal 1. 2.129 05.

163 15.058 10.002 14.118 14.213 13.581 09.825 09.821 09.017 12.139 12.599 09.6tetrahydropyridine 2-hydroxypyridine 2-Methyl-3-(methylthio)pyrazine Methylpyrrole-2carboxaldehyde/n 2-butyl-5-ethylthiophene 3.043 15.5-lactone or Delta tridecalactone Oxacycloheptadec-10-en-2-one Diethyl disulfide Dipropyl sulphide Ethyl Mercaptan Butyl thioisovalerate Dimethyl tetrasulphide 2-Methoxythiophenol Mercaptal acetaldehyde Isobutyhyl methylthiobutyrate 2.4.116 12.598 09.128 14.083 09.1 (Lanjutan) No.2.5-Diethyl-1.196 09.012 12.928 10.079 14.320 09.190 09.7-dimethyl-2.251 09.136 14.502 09.643 09.4-trithiolane JECFA EC 08.673 09.601 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.209 09.318 09.204 09. 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 Nama Senyawa Hept-2-enoic acid Ethyl hex-2-enoate 2-Hexen-1-yl acetate Ethyl linoleate Butyl Octanoate Methyl decanoate Oct-1-en-3-yl-acetate Benzyl octanoate Ethylene glycol butyl ether acetate Ethyl butyryl lactate Hexylsalicylate Isopentyl decanoate Isoamyl heptate Isopentyl lactate Isopropyl palmitate Methyl geranate cis-6-Nonenyl acetate Vetiver acetate Amyl benzoate Methyl-2-octenoate Methyl 3.119 13.5-Dimethyl-3(2H)-furanone 2-Furoic acid 4-Methylquinoline 1-methylpyrrole 2-Acetyl-1.281 09.063 12.606 09.831 09.049 FEMA - 57 dari 122 .828 09.5.106 12.205 12.6octadienoate Hexenyl acetate/trans-3 Tridecano-1.023 14.015 12.

069 09.3.3-Benzodioxol-5-yl)butan-2one Methyl hexanoate Methyl 2-hexenoate Methyl 2-nonenoate Nerolidol Phenethyl benzoate 3-Methyl-1-phenyl-3-pentanol Propyl 4-hydroxybenzoate Pyridine Pyroligneous acid Quinine hydrochloride Quinine sulphate Rum ether Sucrose octaacetate Tannic acid 1-Hydroxy-2-butanone Methylthio(methylpyrazine) mixtures of isomers Vinylbenzene.227 02.1-Dimethyl-2-phenethyl butyrate alpha-alpha-Dimethylphenethyl formate Ethyl anthranilate Ethyl nitrite Ethyl (E)-2-methyl-2-butenoate Glucose pentaacetate Glycyrrhizic acid. Styrene 2-(4-Methylphenyl)-2-propanol L-Arabinose L-Cysteine Succinic acid.018 09.081 16.042 17.5-dimethyl thiophene 2-ethyl-5-methylthiophene Hydroxydimethylthiophenone Penthyl Thiophane 2.915 14.509 09.4-Dimethylthiazole 2.035 01.062 15.096 15.008 16.234 02.110 16.035 09.037 09.033 FEMA 2053 2388 2392 2393 2394 2395 2421 2446 2460 2524 2528 2564 2633 2701 2708 2709 2725 2772 2860 2883 2951 2966 2967 2976 2977 2996 3038 3042 3173 3208 3233 3242 3255 3263 3277 58 dari 122 .232 09.015 02.086 09.031 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-trithiane Ammonium hydrogen sulphide L-Cystine L-Serine L-Threonine Diammonium sulfide 1-Methyl-1-phenethyl isobutyrate 1.716 16.077 15. ammoniated Cis-2-hexenyl acetate l-Limonene 4-(1.090 14.196 01.045 07. disodium salt JECFA EC 15.021 09.017 09.070 15.1 (Lanjutan) No.181 09.774 02.495 09.6-Trimethyl-1. 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 Nama Senyawa 2.006 17.1-Dimethyl-2-phenethyl acetate 2-Methyl-1-phenylpropan-2-ol 1.064 15.4.059 17.080 07.020 17.

053 06.926 05.104 11.285 13.and trans-Diethyl-1.4trithiolane (+/-)-Dihydrofarnesol JECFA EC 07.063 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.292 09.282 09.253 09.114 15. 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 Nama Senyawa 3-Hydroxymethyl-2-octanone Isopropenylpyrazine n-Hexyl 2-butenoate N-(4-Hydroxy-3-methoxybenzyl)8-methyl-6-nonenamide Methyl dihydrojasmonate 2.520 07.008 09.146 09.064 09.647 12.049 FEMA 3292 3296 3354 3404 3408 3421 3470 3486 3549 3591 3599 3606 3612 3641 3643 3651 3673 3675 3692 3712 3730 3779 3811 3817 3819 3900 3905 3906 3934 3957 3989 4002 4003 4009 4010 4016 4024 4025 4026 4027 4028 4029 4030 4031 59 dari 122 .007 15.1 (Lanjutan) No.4-dione Quinoline Ethyl trans-2-butenoate 6-Hydroxydihydrotheaspirane Theobromine trans-2-Methyl-2-butenoic acid d-Xylose 1-Octen-3-yl butyrate Ethyl trans-2-decenoate Ethyl trans-2-octenoate 6-Acetoxydihydrotheaspirane 2-Ethylfuran Ethyl trans-2-hexenoate Hexyl trans-2-hexenoate Methyl trans-2-octenoate L-Rhamnose Hydrogen sulfide Neohesperidine dihydrochalcone 2-Acetyl-2-thiazoline L-Arginine.076 08.266 09.283 09.299 16. monohydrochloride Sodium diacetate Vanillin propylene glycol acetal 2-Aminoacetophenone (Z)-3-Hexenyl pyruvate trans-2-Octenoic acid 3(2)-Hydroxy-5-methyl-2(3)hexanone Methyl 2-methyl-2-propenoate Methyl (methylthio) acetate (+/-)-Octan-3-yl formate Paraldehyde Sodium 4methoxybenzoylacetate Acetaldehyde diisoamyl acetal Amyl methyl disulfide Benzyl hexanoate Butyl ethyl disulfide beta-Cyclodextrin Diethyl trisulfide (+/-)-cis.6.003 06.052 09.254 12.092 09.565 08.097 14.6-Trimethylcyclohex-2-en1.114 09.316 12.010 17.087 13.055 12.248 13.850 09.2.109 14.

4nonadienoic acid gamma lactone 3-Hydroxy-4-phenylbutan-2-one (+/-)-Methyl 5-acetoxyhexanoate 3-Methyl-2.242 09.112 FEMA 4033 4035 4036 4038 4039 4040 4041 4042 4044 4046 4048 4049 4050 4052 4055 4057 4059 4060 4061 4062 4064 4066 4089 4129 4142 4145 4161 4162 4165 4196 4254 4256 4261 4267 4285 4289 4290 4291 60 dari 122 . methyl ester.4E.089 05.141 02.153 12.256 09.4-dioxaspiro[4.7Z-Decantrienal Hepten-1-ol-3 1-(3-hydroxy-5-methyl-2thienyl)ethanone Oxacycloheptadec-10-en-2-one 3-(Methylthio)propyl-butyrate (S)-1-Methoxy-3-heptanethiol 5-Octenoic acid.5dimethoxybenzaldehyde 4-Hydroxy-2.1 (Lanjutan) No.063 09.208 05. 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 Nama Senyawa Dihydroxyacetone 2.1acetate Ethyl (E)-2-methyl-2-pentenoate Methyl hexyl ether JECFA EC 15.3-Octanedione (+/-)-1-Phenylethylmercaptan (Z)-4-Propenylphenol 2-Propionyl-2-thiazoline (Z)-8-Tetradecenal 2E.919 12.126 12.632 07.5-Dimethylthiazole (Z)-4-Dodecenal (+/-)-Ethyl 3-acetoxy-2methylbutyrate S-Ethyl 2acetylaminoethanethioate Ethyl methyl disulfide Ethyl propyl disulfide Ethyl propyl trisulfide Geranyl tiglate trans-4-Hexenal 2-Hexyl-4.153 10.6-octadienyl cyclopropylcarboxamide 1.184 05.3-mercapto-.5-dimethyl-1. (5Z)Phytol N-gluconyl ethanolamine N-lactoyl ethanolamine 3-methyl hexanal N-3.383 06.3.3-dimethyl-2.042 07.5]decan-2one.203 05.7-dimethyl-2.155 02.3dioxolane 4-Hydroxy-3.4-nonanedione 9-Octadecenal 2.9-dimethyl-6-(1methylethyl)1-heptanol.SNI 01-7152-2006 Tabel A.

1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 Nama Senyawa 5-acetyl-2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dithiahexane (E)-2-nonen-4-one (E)-4-nonenal Cis-& trans 1.2dihydroperilladehyde 2-isobutyl-4-methyl-5ethylthiazole 2-secbutyl-4-methyl-5-ethyl thiazole 5-pentyl-3H-furan-2-one 3-mercapto-3-methyl-1-butyl acetate 3-mercapto-1-butyl acetate 5-nonen-(E)-2-one 1-menthyl acetoacetate 4-octen-3-one JECFA EC FEMA 4296 4297 4298 4301 4302 4312 4318 4319 4323 4324 4325 4326 4327 4328 61 dari 122 .3-dihydro-1.1 (Lanjutan) No.4-thiazine Bis (1-mercaptopropyl)sulfide 2.

Larchenschwamm.1 Asam agarat dengan sinonim agarisin diperoleh dari Polyporus officinalis atau (N. 2 B.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Comission) dan EC (European Commission) melarang penggunaan Aloin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. dengan pengecualian pada minuman beralkohol sebesar 50 mg/kg. Larch Agaric. Aloin hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Nomor CAS. Aloin memiliki rumus kimia C21H22O9 merupakan campuran dari dua diestereo-isomer yaitu Aloin A dan Aloin B berbentuk serbuk kristal berwarna kuning lemon.2 Fungsi lain Tidak ada B. 666-99-9 Deskripsi B. meski tosikologinya belum sepenuhnya diteliti. Sementara Malaysia melarang penggunaan aloin dalam makanan. merupakan suatu jamur yang tumbuh pada pohon larch. didefinisikan sebagai daging buah kering dari jamur Polyporus officinalis kering (Farm.1. memiliki titik leleh 1480C. Funpurgatif. terhirup atau terserap melalui kulit. Penggunaan Aloin dalam waktu lama bisa menyebabkan defisiensi kalium yang dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskuler.SNI 01-7152-2006 Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa B1 B. B. Asam agarat (agaric acid)..2. Agaric.3 Kajian keamanan Aloin merupakan laksatif yang bersifat iritan yang berbahaya apabila tertelan. 5133-19-7 Deskripsi Aloin dengan sinonim C-glycocyl dari aleo-emodin anthrone merupakan salah satu konstituen laksatif dari anthraquinone complex yang diperoleh dari getah tanaman Aloe ferox (Asphodeliaceae) dan Rhamnus purshiana DC.O hymenomycetes). Touchwoo. Agaricus Albus. White Agaric. tumbuh pada satu atau lebih spesies dari Pinnus 62 dari 122 .1 mg/kg. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Efek samping dari aloin adalah dapat menimbulkan kram pada lambung/usus. Polyporaceae). Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan aloin sebagai natural toxicant dan dapat ditambahkan sebagai senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg dan produk makanan lainnya sebesar 0. Nomor CAS.1. Fr.1.1 Aloin (aloin). Aloin tidak boleh diberikan pada penderita gangguan usus atau berpenyakit seperti Crohn 1 s disease. Spunk.1. tidak cocok dengan basa dan senyawa pengoksidasi yang kuat serta mudah terbakar. Toksisitas untuk Aloin adalah 20-30 mg/hari sebagai laksatif. Tinder. Batas maksimum penggunaan untuk makanan dan minuman adalah 0.1 mg/kg. G. B.

C9H18O. merupakan larutan dalam kaustik soda bebas busa. makanan yang mengandung jamur (100 mg/kg). ini diserap lebih pelan dan oleh karena dosis ini perlu diambil beberapa jam sebelum kekuatannya berhenti. C18H34O3.. Sediaannya yang mengandung asam agarat aktif dengan nama dagang agarisin telah dipasarkan dengan sedikit atau banyak cemaran. p. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. larut dalam air mendidih sampai cerah sempurna. Batas maksimum untuk makanan dan minuman 20 mg/kg pengecualian pada minuman beralkohol dan makanan yang mengandung jamur 100 mg/kg.2 Fungsi lain Tidak ada B. Berbagai jenis asam agarat diperdagangkan dalam daya regang yang kuat. C16H33OH.4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan asam agarat dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Rosenbaum telah menemukan ekstrak cair dari agarat.01-0. minuman beralkohol. Agarat berfungsi sebagai obat dalam bentuk asam agarat.344 merupakan senyawa berbentuk serbuk mikrokristal. sebagai antipiretik dan antihidrotik (Ph. 1528. C15H20O4 yang diesktrak dengan petroleum benzin dengan konsentrasi 4 . Asam agarat tidak diatur secara hypodermically. dan merupakan cairan berbusa.2.. alkohol aromatik cair. umumnya tidak berbau dan tidak berasa. Malaysia melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa. C23H46 dan C29H54.). Menurut Hoffmeister (A. xlvii. pangan olahan lainnya (20 mg/kg). fitosterin. Pada prinsipnya dosis murni antara 1/6 sampai 1 ½ butir (0. agarat mengandung sedikit resin lembut (soft resin). B. berwarna hampir putih. D Eidel telah menghasilkan 2 fenetida dari asam agarat. shandy.P. Asam agarat biasanya diberikan dalam bentuk pil dan sachet. 1889.P. agarat dipercaya sebagai obat. hidrokarbon padat. B. Pinaceae). Lehrbuch der Pharm. 3te Auf. C10H16O disatukan pada suhu 223 oC (433oF).3 Kajian keamanan Asam agarat melumpuhkan ujung syaraf pada kelenjar keringat dan kemudian dapat menghentikan night-sweate (keringat di malam hari)..2. setil alkohol. dalam alkohol (1 dalam 100). Pada dosis tinggi bersifat iritan pada perut dan usus. Agarat berasa agak manis dan sangat pahit. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.03 Gm). Selain itu dapat menyebabkan eksitasi primer pada medula. C14H24O2 dan asam risinoleat. Dari segi obat-obatan solanaceous. diikuti oleh paralisis. mempunyai titik leleh 140 oC. dosis awal harus kecil. Chem. Asam agarat dalam bentuk yang tidak murni berwarna kekuningan. natrium. Schmidt. Pada dosis yang besar mempunyai aksi purgative..E. Asam agarat mempunyai rumus kimia C19H36OH (COOH)3. sering dikenal sebagai larisat dan asam agarisinat. xxv. menyebabkan rasa mual dan seperti obat cuci perut. ii. Keberadaanya dalam makanan tertentu sesuai dengan batas yang diizinkan : minuman selain minuman beralkohol dan shandy (20 mg/kg). litium dan agarisinat bismut sudah dikenal sebagai obat. India membatasi keberadaan asam agarat secara alami dalam berbagai artikel pangan tidak 63 dari 122 . Asam agarat sedikit larut dalam air.6 cg (5-60 mg).) J. 1 ½ H2O dengan bobot molekul 443. Ztg. Hal itu dapat menyebabkan peradangan dan sakit keras di tempat penyuntikan pada dosis ½ . C26H44O. dan Picea Link (Fam. asam agarat dalam dosis tinggi dapat melumpuhkan urat syaraf dan kelenjar keringat. Menurut teori Mc Cartney bahwa aksi antihidrolik agarat disebabkan oleh kejang otot pada lapisan kulit. Menurut J. Pada awalnya dapat meningkatkan tekanan darah dan kecepatan respirasi yang diikuti oleh pengurangan aktivitas dari keduanya.6 % pada lemak tubuh yang dibuat dari agarikol.2. Penggunaan yang paling utama dari agarat adalah didalam perlakuan pada kondisi yang rusak terhadap keringat kolikuatif seperti ftisis. asam lemak..SNI 01-7152-2006 Linne. Larix Adanson.189). Schmieder.

Asam pirolignous (pyroligneous acid). Nomor CAS. 64 dari 122 . sebagian lagi diturunkan dari buah-buahan dan bagian lain dari spesies Prunus dan dinyatakan bahwa sianida adalah unsur organoleptik. maka kayu akan terbakar dimana suhunya mencapai 400°C -500°C dan produk akhirnya berupa abu kayu.4 B. tapi juga mengandung metanol (wood alcohol). B. Jika tidak dalam keadaan hampa udara. Reaksi ini terjadi selama pembakaran charcoal. pada saat kayu mengering.3. kayu ditempatkan dalam oven dan mulai dipanaskan. B.3 Kajian keamanan Belum ada data yang cukup tentang asam pirolignous. Asam pirolignous juga dikenal dengan wood vinegar (vinegar kayu). Distilat utama (kondensasi dari gas) hampir berupa air dan tidak sampai 4 jam. Destilasi fraksional ini disebut juga ekstrak asam pirolignous. 74-90-8 Deskripsi B. 8030-97-5 Deskripsi B. Asam pirolignous dalam bentuk mentah (crude) kemudian dimurnikan dengan cara destilasi fraksional supaya aman (food grade) digunakan pada produk-produk makanan. dan mulailah terpisah-pisah secara spontanitas. Jika dalam keadaan hampa udara. suhunya meningkat menjadi 270°C.4. Ion sianida bergabung dengan enzim yang membawa oksigen dapat menghambat aktivitas sel dan merupakan ancaman terhadap fungsi-fungsi vital. Sedangkan Singapura melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam agarat sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 100 mg/kg. produk akhirnya adalah charcoal. minyak kayu. Selama destilasi. Nomor CAS.3. Proses karbonasi berlangsung pada suhu di atas 270°C. produk makanan yang mengandung jamur dengan batas maksimum 100 mg/kg. Asam pirolignous adalah limbah dari hasil produksi charcoal dengan cara karbonasi dari kayu dalam keadaan hampa udara.1 HCN adalah racun protoplasmatik. Jika kayu dipanaskan. Ada banyak pangan yang mengandung bahan sianogenik sianida yang diproduksi dalam metabolisme menjadi tiosianat.2 Fungsi lain Tidak ada. B.SNI 01-7152-2006 melebihi batas spesifik (100 mg/kg). Kondensat mentah (crude) yang dihasilkan dari destilasi kayu ini disebut asam pirolignous. aseton. tars dalam jumlah yang bervariasi.1 Asam pirolignous merupakan limbah dari hasil produksi charcoal dari batang. gelap tersusun dari asam asetat. Asam sianida (hydrocyanic acid). Sianida terjadi secara alami pada bahan perisa tertentu.4 Pengaturan Malaysia melarang penggunaan asam pirolignous sebagai perisa.3.3 B. liquor (minuman keras) perlahan-lahan menjadi keruh dan kandungan asamnya meningkat. seperti sianida yang lain. Asam pirolignous merupakan cairan berwarna kemerahan.3. dan sampai proses ini lengkap. suhu kayu tinggal 100°C -110°C.

sari buah berbiji tunggal (stone fruit juice) 5 mg/kg. 65 dari 122 . Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam sianida (total) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk pangan sebagai berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (25 mg/kg). Batas maksimum pada makanan dan minuman 1 mg/kg pengecualian pada konfeksionari(kembang gula) 25 mg/kg.4.TLV.2 Fungsi lain Tidak ada B. konfeksionari (kembang gula) selain marzipan (kacang-kacangan) 25 mg/kg. Masalah praktis utama dengan pencernaan kronik dari makanan-makanan sianogenik adalah efek goitrogenik dari tiosionat dan ini adalah masalah serius ketika hal tersebut terjadi karena diet kurang iod. Malaysia mengatur keberadaan asam sianida dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy 1 mg/kg.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan asam sianida dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Penggunaan HCN di perusahaan electroplatina adalah secara langsung mencegah kontak kecelakaan antara garam sianida dan larutan asam yang menghasilkan bentuk gas HCN.3 Kajian keamanan Penggunaan asam sianida mempunyai efek terhadap penahanan myocardial. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) (5 mg/kg).4. paralysis saluran pernafasan dan kerusakan ginjal serta hati yang tidak bisa disembuhkan. Komisi Eropa juga mempertimbangkan bahwa jumlah sianida yang ada dalam produk pangan dan produk minuman sebagai hasil dari penambahan perisa yang mengandung perisa harus dibatasi pada tingkat terendah untuk mencapai efek organoleptik yang diinginkan. marzipan (kacang-kacangan) 50 mg/kg. Toksisitas HCN dalam udara berdasarkan nilai parameter berikut ini: LC50 : 135 mg/kg . marzipan (50 mg/kg). Sedangkan India mengatur keberadaan asam sianida secara alami pada berbagai artikel pangan tidak boleh melebihi batas tertentu (5 mg/kg). IDLH : 50 mg/kg . dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.+ H+ HCN Komisi Eropa memutuskan bahwa asam sianida dan garamnya tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan dan oleh sebab itu tidak ada spesifikasi yang disiapkan. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) 5 mg/kg. minuman beralkohol 1 mg/kg per % volume. marzipan 50 mg/kg. Sementara Singapura melarang penggunaan asam sianida sebagai bahan perisa yang terkandung dalam minyak volatil almond pahit.4.SNI 01-7152-2006 B. minuman beralkohol (1 mg/kg per 1% kandungan alkohol).Celling : 10 mg/kg B. CN. dan pangan olahan lain 1 mg/kg.

eter. memiliki nama kimia : Isomer cis dari 2.3. TA-1537 dan TA-1538 dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9). asma.5.5-trimetoksifenil) -1-propen. Asarubacca camphor.21%) .331 mg/kg bobot badan.05%) Indeks nama CA: Bensen. asam asetat glasial dan tidak larut dalam air. dan rumus molekul C12H16O3.Linn (Acaceae) antara 75%-80%. Asarum camphor. 1.pada tikus – oral LD50 = 1. Daucus carota L.andamanica (asaron). Piper angustifolium R. (Aristolochiaceae).) Ness (asaron).1 B.1.var.LD50 = (184.4 Pengujian mutagenisitas dengan metode ames Pada 2-200 μg/plate tidak mutagenik terhadap Salmonella typhimurium galur TA-98. cis-isoasaron. serta memiliki bobot molekul 208. (α asaron). B.H=7. . 9-19% dalam rhizoma dan 0.4-trimetoksi-5(12)-1 profenil-(9 CI).pada mencit – i. beta-asaron memiliki titik leleh 620C -630C (kristal jarum dari light-petroleum). arisfolium L. Piper lolot Dc. var.). TA-1535. . Titik didih 2960C.p.571. mengandung beta-asaron : 5065% dalam daun.pada mencit – i. Acorus calamus L.5 B.(asaron). B.pada mencit – i.25 (C=61. LD50 = 1.3. Nomor CAS. Helichrysum arenarium (L.5.p.5.3. (Araceae).3. 66 dari 122 . calamus (Acorus calamus L. A.5.5. β-Azarone.8. (asaron).5-trimetoksi-1-propenil-bensen atau 1 (2. Magnolia salicifolia Maxim (α asaron). beta-asaron adalah konstituen minyak kalamus yang diperoleh dari akar (rhizoma) kering Acorus calamus.3% dalam rhizoma kering.339 mg/kg bobot badan. Acorus calamus L.). cis-β-asaron.1. B. Melalui destilasi air dapat diperoleh pula dari akar Asarum europaeum L. Piper sumatranum DC.p. B.2 Fungsi lain Secara tradisional (etno-farmakologi) akar dari A.& P.4.2.80% beta-asaron) .3 Minyak acorus : . tonikum.var. Asarum europaeum L. calamus digunakan sebagai obat kejang lambung. (Z) asaron. LD50 = 1. disentri. antelmintik.SNI 01-7152-2006 B.010 mg/kg bobot badan.3% dalam rhizoma kering. 5273-86-9 Deskripsi Beta-asaron dengan sinonim Asarin. B. Sassafras albidum (Nutt.331 mg/kg bobot badan. Asarum arifolium Michx (α asaron).5. Dilaporkan juga asaron diketemukan dalam tumbuhan :Acorus gramineus Ait. .4. angustatus Bess (Acorus triqueter Turcz. Indeks bias n11p = 1. TA100.1. (β asaron). . LD50 = 4.5. Ekstrak n-heksan dari rhizoma dan akar sebanyak 38%.1 Kajian Keamanan Data toksisitas Akut (LD50) Beta-asaron: .2±1.p. larut dalam alkohol. vulgaris L.5.) Moench.pada tikus – oral LD50 = 4.1. cis-asaron.3 B. mengandung beta-asaron 85-95% dalam rhizoma dan 4..74% dan O= 23.3.4% .497 mg/kg bobot badan.5%) dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9).139 mg/kg bobot badan.1 Beta asaron (β – asaron). Aktivitas mutagenik teramati pada 5000 mg/kg (0.2 Minyak kalamus (mengandung 75% . (alfa asaron).pada tikus – i.0)mg/kg bobot badan.pada tikus – oral LD50 = 3.var. stimulan dan sebagai insektisida.

yang bersifat hepatotoksik dan genotoksik.6 mg/kg bobot badan. Dosis 10-150 mg/kg bobot badan secara i. perubahan cairan abdominal dan kantung pleural.p. infiltrasi lemak dalam jantung. Studi pemberian berulang jangka pendek B. Sedangkan pemberian dosis tunggal secara intraperitoneal pada mencit menunjukkan nilai LD50 184. Tumbuhan Acorus Spp. minyak acorus dapat menginhibisi aktivitas enzim monoaminoksidase. mencit.1. Dosis 25 dan 50 mg/kg bobot badan memberikan efek muntah pada kucing. menekan aktivitas dan tonus otot mencit dengan penekanan terhadap aktivitas spontan. Studi in vitro. Menurunkan suhu tubuh mencit.3.1.0 mg beta atau alfa-asaron.5. Indian dengan dosis 20-100 mg/kg bobot badan menunjukkan : a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Efek perpanjangan tidur oleh pentobarbital.p.15-15 mg minyak kalamus Eropa atau India. Hal ini menunjukkan induksi akibat gangguan fungsi jantung.2 mg/kg bobot badan. Efek kerusakan mikrokopik patologik pada hati dan jantung yang teramati berkorelasi dengan dosisnya.7 Studi pemberian berulang jangka panjang Pemberian beta-asaron selama 2 tahun dalam bentuk diet makanan (0. setara dengan pada manusia 20. dan Asarum Spp.2 ml larutan yang mengandung 0. B.37 mg/kg bobot badan. dengan dosis 10-100 mg/kg menunjukkan efek sedatif-penenang pada tikus.5. dan asam 1-dan d-amino amino aksidase pada hati dan ginjal tikus. beta-asaron 50 mg/kg bobot badan secara i.25% betaasaron) pada tikus jantan dan betina menunjukkan peningkatan angka kematian.5 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Telur diinokulasi dalam kantung vitelinum dengan 0. ginjal dan hati juga terjadi pada hewan yang menerima perlakuan.00 mg/telur terjadi 100% embrio mati. Toksisitas akut atau pemberian dosis tunggal beta-asaron secara oral pada tikus menunjukkan nilai LD50 1.010 mg/kg bobot badan atau setara dengan pada manusia 161. infiltrasi lemak pada myokardium dan fibrosis jantung. Disamping terjadinya tumor jenis leiomyosarkoma terjadi pula adenoma dan adenokarsinoma hepatoselular pada organ hati. kucing. Minyak atsiri hasil destilasi dari akar dan rhizoma Acorus calamus var.04 mg/telur menunjukkan embrio hidup 43% dan juga betaasaron 4. peningkatan mortalitas. perubahan hati dan ginjal serta adanya masa tumorus 1 jenis leiomyosarcoma dalam saluran cerna. anjing dan kera. memperpanjang waktu tidur (2x) Natrium pentobarbital pada mencit dan dengan dosis 75 mg/kg bobot badan memperpanjang waktu tidur (dua kalinya) etanol pada mencit. hiperaemia pasif paru-paru.3. perubahan cairan serosa rongga perut dan kantung pleural. dimana mengandung beta-asaron yaitu minyak atsiri alkil benzen dapat menjadi bentuk metabolit epoksid oleh aktivitas enzim mikrosom hati.044. anjing dan kera.p.6 Pemberian berulang minyak kalamus dan ekstrak hidro-alkohol dari rhizoma Acorus calamus yang mengandung beta-asaron.5. Tidak ada efek terhadap toksisitas amfetamin. selama 13-18 minggu pada tikus jantan dan betina menunjukkan penekanan pertumbuhan. Fibrosis kardiak/atropikardiak. hexobarbital dan etanol pada mencit atau ada efek hipotik-potensiasi. Tak teramati efek teratogenik dari kalamus dan alfa asaron. Meningkatkan efek toksik dari metrazol pada tikus. Pada kucing teranestesi dengan dosis 1-32 mg/kg bobot badan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan denyut jantung. Teramati pula atropi pada sel-sel otot jantung. Disamping terjadi hiperaemia dan kongesti 67 dari 122 .SNI 01-7152-2006 B.04-0.3.1. perubahan organ hati. Pemberian secara i. beta-asaron dengan dosis 0. atau minyak yang mengandung beat-asaron dan 0.

5. benzylic alcohol.3 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) pada hewan percobaan secara oral adalah 1040-3200 mg/kg bb dan secara peritoneal sebesar 1000 mg/kg dan 650 mg/kg dimana keracunan muncul setelah 7 hari.SNI 01-7152-2006 pada organ hati. pengecualian pada minuman beralkohol dan sebagai bumbu (1 mg/kg). 68 dari 122 .4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan beta-asaron dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. c) Langkah 3: Estimasi asupan Benzil alkohol di Eropa (16000 μg) dan di USA (17000 μg) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas I (1800 μg).6 B. b) Langkah 2: Benzil alkohol diprediksi dapat dimetabolisme menjadi produk innocuous. Malaysia dan India melarang penggunaan beta-asaron dalam makanan. kondisi ini ditemui pula pada organ lain. Benzil alkolol mudah larut dalam etanol 50%.042 – 1.2. dengan batas maksimum dalam satuan (mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. tekanan uap 10 mm Hg @ 92. titik nyala (flash point) 100.5 oC (open cup).539 – 1. alpha-hydroxytoluene.6.541 pada suhu 20 oC. alpha-toluenol digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan carrier solvent.2 Fungsi lain Tidak ada B. B. dan viksositas 5 cP (25 oC). phenylmethyl alcohol. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0.539-1. dan makanan yang mengandung bumbu dalam jumlah kecil (batas maksimum beta-asaron 1 mg/kg). Sementara Australia dalam Australian Food Standard Code mengatur betaasaron sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg. barbau khas. Nilai ADI 0-5 mg/kg bb. Apabila termakan. Nomor CAS. B. Benzil alkohol diperoleh melalui peranan katalis pada benzil klorida. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Benzil alkohol dilaporkan terdapat secara alami di alam.047. terhisap atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan iritasi pada kulit.541. titik lebur -15. metabolisme beta-asaron dalam tubuh masih terbatas pada tikus. Benzil alkohol mempunyai rumus kimia C6H5CH2OH. phenylmethanol. indeks bias 1. Memiliki cairan jenih. Benzil alkohol telah dikaji keamanannya oleh JECFA pada tahun 2001 dan diputuskan bahwa dalam penggunaanya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.6.6. pada manusia belum ada. refractive Index (suhu 20° C) 1. mata dan mempengaruhi sistem syaraf pusat. eter dan CHCL3 tetapi agak sukar larut dalam air (4 g dalam 100 g air @ 25 oC). phenylcarbinol. 100-51-6 Deskripsi B. bercampur dengan etanol.2 oC. gravitasi spesifik (suhu 25° C) 1.6 oC : 13. Titik asap >212° F. Studi tentang distribusi. Benzil alkohol merupakan cairan yang mudah terbakar.6oC (closed cup) dan 104. Kajian keamaan dilakukan oleh JECFA menggunakan Prosedur Evaluasi Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkahlangkah sebagai berikut: a) Langkah 1: Benzil alkohol tergolong ke dalam struktural kelas I (Cramer). titik didih 205 0C. Benzil alkohol (benzyl alcohol). kelarutan pada air (hasil perhitungan) 41050 mg/l pada suhu 25° C. dan rasa yang menyengat.1 Benzil alkohol dengan sinonim benzenemethanol.14.1 mg/kg). berat molekul 108. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.

pemberian secara inhalasi dan atau intratrakeal. - 69 dari 122 .36.30. Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.3 Kajian keamanan Toksisitas LD50 pada mencit adalah 250 mg/kg bb (i. Kedua dosis tersebut menimbulkan tumor perut masing-masing pada 100% dan 25% mencit setelah pemberian pakan selama lebih dari 85 hari.1 Benzo[a]piren dengan sinonim 1.5. Benzo[a]piren (benzo[a]pyrene). 50-32-8 Deskripsi B. titik leleh 179-179.7. i. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batasan 500 mg/kg pada produk pangan. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). USA menyatakan bahwa benzil alkohol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS no 2137.7. berat molekul 252. 1.dan kerapatan 1.Benzopyrene.Benzopyrene memiliki rumus molekul C20H12 . teh hijau 1-30 mg/kg. Pemberian 100 mg/kg bb.. ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman sebesar 400 mg/kg (chewing gum 1254 mg/kg). Benzo[a]piren menyebabkan: Tumor pada perut. B. Pengaturan B. dan 6. Benzo[a]piren merupakan karsinogen.2 Fungsi lain Tidak ada B.Benzopyrene. dan 6 mg/kg bb menyebabkan tumor pada perut setelah 43 minggu dengan jumlah yang berbeda bergantung pada dosis.2. implantasi intrabronkial. menyebabkan adenoma paru-paru setelah sekitar 6 bulan. Tumor pada paru-paru. teh hitam 1-15 mg/kg.4 JECFA menyatakan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.p. pemberian subkutan.SNI 01-7152-2006 d) Langkah 4: Benzil alkohol dapat dimetabolisme langsung menjadi asam benzoat yang merupakan senyawa endogenous pada manusia. terutama menyebabkan tumor lokal pada berbagai spesies setelah pemakaian pada kulit. dosis 250 atau 1000 mg/kg menyebabkan papiloma dan karsinoma perut. Adenoma paru-paru dan leukemia terjadi setelah mencit diberi pakan yang dicampur dengan Benzo[a]piren 250 mg/kg selama 140 hari.. Nomor CAS. Leukimia Dosis oral 6-12 mg/kg bb menimbulkan leukemia setelah 100 hari atau lebih. 3.7 B.6. Benzo[a]piren yang diberikan langsung ke dalam perut pada dosis 0. Apabila dicampurkan ke dalam pakan. a) Pada mencit. titik didih >360 0C.7.7. Sebagai konstituen alami dalam edible fruits 5 mg/kg.4.p). 0 C. JECFA no 25. dan cara pemberian lain. benzil akohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).351 g/ cm3. dan atau intramuskular.

Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan berberin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (0.3-benzodioxolo{5. toksisitas akutnya (LD50) terhadap mencit adalah 25 mg/kg bb. oral. dalam 60 hari) menyebabkan tumor kelenjar susu.4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan berberin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.8. gejala seperti flu. dan kerusakan jantung. Dosis 120 mg/kg bb/hari yang diberikan pada mencit bunting menimbulkan toksisitas uterus dan kerusakan janin. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0. gangguan saluran pencernaan.8.37 dan titik leleh 1450C. Untuk berberin sulfat. Kebanyakan tanaman yang mengandung berberin dapat merangsang uterus.2 Fungsi lain Tidak ada B. Benzo[a]piren (100 mg/ tikus.6a}quinolizinium mempunyai rumus molekul C20H18NO4 dengan bobot molekul 336.1 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol (10 mg/kg).10-dimethoxybenzo-1. B. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.1 mg/kg).5 mg/tikus menimbulkan papiloma oesofagus dan perut pada tikus jantan dan betina.8.3 Kajian keamanan Dosis yang tinggi dapat menyebabkan tekanan darah menurun. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.01 mg/kg dalam smoke flavoring (perisa asap). dan tejadi papiloma dan karsinoma setelah pemberian 6-9 bulan. Pemberian 150 mg/kg bb pada mencit bunting menyebabkan imunosupresi yang dapat berkembang menjadi tumor.1 Berberin (berberin).7. Selama 8-12 bulan. sesak napas. Pada hamster. Malaysia melarang penggunaan berberin dalam makanan. B.03 mg/kg).4-Benzo[a]piren) pada produk akhir makanan. terjadi papiloma perut setelah pemberian 2-5 mg/hamster selama 1-5 bulan. untuk itu penggunaan berberin harus dihindari bagi wanita hamil. Pengaturan c) d) e) B. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengatur bahwa perisa tidak boleh berkontribusi lebih dari 0. 70 dari 122 .8 B. Kelarutan berberin basa di dalam air lambat.6-Dihydro-9.SNI 01-7152-2006 b) Pada tikus jantan. Berberin sulfat larut dalam 100 bagian air. B. EC (European Commission) membatasi keberadaan Benzo[a]piren hasil penambahan flavoring pada makanan dan minuman (0.03 ppb (3. 2086-83-1 Deskripsi Berberin dengan nama kimia 5. Nomor CAS. 2. Benzo[a]piren bersifat embriotoksik dan teratogenik pada mencit.8.4 JECFA membatasi penggunaan Benzo[a]piren tidak melebihi 0.

Tonka bean mengandung komarin. Nama lain dari dietilen glikol adalah Ethylene diglycol. 3-Oxapentane-1. beta.TL4N. Dicol. B.9. Akibat kekurangan vitamin K. B.1 Kajian keamanan Efek penggunaan biji tonka Menghambat atau menghentikan pembekuan darah dan berfungsi sebagai antikoagulan. Tonkowiec wonny. Semená stormov rodu mempunyai rasa manis dan sangat kuat.2'-Oxybisethanol. custard dan soufflé. permen berbahan baku kelapa.4 Pengaturan India. Fèves de tonka. Kandungan komarin dapat mencapai 10%.9. memiliki cairan jernih. Tonquin bean. Glycol ether. walnut atau poppy. Tonkabønne. stabil. 2.9 B.3.beta'-Dihydroxydiethyl ether. Tonka bean memiliki titik nyala 142 °F. larut dalam air.9. Lõhnav dipteeriks.9. pembekuan darah terganggu.2'-Diydroxyethyl ether. Cumaru.3. Tonka bean digunakan sebagai pengganti rasa pahit dari almon. Dactivator E. Dihydroxydiethyl ether. Tonkas pupinas. Dissolvant APV. Tonkaboon. pada dasarnya tidak berbau. dan kini dibudidayakan pula di daerah Venezuela dan Nigeria. Biji tonka dimasukkan dalam daftar senyawa perisa yang dilarang. 2. DEG. Semen Tonco. Glycol ethyl ether. Nomor CAS. Tonkaoa puu. terutama digunakan di negara-negara yang penggunaan rasa pahit almon dilarang. TOHKa.9. 2. Komarin dapat dikeluarkan dari biji tonka dengan cara merendamnya dalam alkohol selama 24 jam.SNI 01-7152-2006 B. Nomor CAS.5-diol. B. Fabae Tonco. Penggunaan tonka bean akan mengakibatkan kelebihan berat badan bagi penggunanya. Orinoco (bagian utara Amerika Selatan).9. Tonkabohne. Kajian toksisitas biji tonka secara ilmiah belum ada. akan hamil dalam waktu dekat. Tonkapapu.2 Fungsi lain Biji tonka digunakan sebagai pengganti vanila pada produk makanan seperti es krim. cairan kental seperti sirup.2 Peringatan Jangan menggunakan biji tonka apabila anda sedang hamil. mobile. 8024-04-2 Deskripsi Biji tonka dengan sinonim Coumarouna odorata. Tonco bean. tidak berwarna. sedang menyusui.10.1 Dietilen glikol berwujud cair. Diglycol. Biji tonka yang beraroma manis dan kuat digunakan sebagai senyawa campuran pada perdagangan vanili ataupun produk vanili. 2. Dietilen glikol (diethylene glycol).10 B. Bob tonka. B. Komarin mengganggu sintesa vitamin K pada bagian pencernaan manusia. dan Singapura melarang penggunaan biji tonka sebagai perisa dalam produk pangan. Biji tonka dilaporkan ditambahkan pada bebrapa makanan seperti adonan cake atau cookies. Ethanol. Biji tonka juga sering digunakan sebagai senyawa perisa pada rokok. 2. Biji tonka (Coumarouna odorata) berasal dari daerah Guayana. tidak larut dalam air.2'oxydi-.2'-Oxyethanol. Tonka kini semakin jarang digunakan karena adanya komarin yang bersifat toksik dan karsinogenik.3 B. 111-46-6 Deskripsi B. digunakan sebagai carrier solvent.1 Biji tonka (tonka bean). dan bayi dan anak-anak. Bis (2-hydroxyethyl) ether.2'71 dari 122 .

Dietilen glikol tidak secara langsung diserap oleh kulit. Pada mencit . sesak pada sistem pernafasan. menyebabkan Cyanosis pada paru-paru. berat molekul 106.1. Dietilen glikol memiliki rumus kimia C4H10O3. dan dalam kasus yang ekstrim dapat berakibat fatal. dan perubahan Metabolic acidosis. Pada anjing . Selain itu jika diinjeksi dalam kuantitas besar dapat membahayakan.3 Hasil evaluasi Di beberapa negara material ini dilarang digunakan sebagai perisa pada makanan. tubules dan glomeruli ginjal.75 mg/kg. Pada dosis 1.2 g/kg secara oral oleh manusia menyebabkan kematian dikarenakan kerusakan ginjal dan limpa.oral = 9900 mg/kg. Dapat diusulkan dilarang sebagai perisa di Indonesia. Pada anak (oral) = 2400 mg/kg. B.2 Fungsi lain Tidak ada. 890 gm/kg/53 minggu menyebabkan tumor pada empedu. hati.66 pada suhu 20oC. 584 gm/kg/2 tahun. menyebabkan perubahan degeneratif pada otak. Sedikit beracun untuk binatang melalui penyerapan kulit. titik beku – 8 oC (18oF). menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak.SNI 01-7152-2006 Oxydiethanol atau 3-Oxa-1. tekanan uap < 0.1 Data toksisitas akut (LD50) Pada tikus – inhalasi = 130 mg/m3/2 jam. ureter dan empedu). titik didih 245oC (473 oF) @ 760 mmHg. Percobaan terhadap ransum makanan tikus menunjukkan kerusakan ginjal pada tingkat sedang pada konsentrasi 1 %. ureter dan empedu. Apabila terhirup dapat menyebabkan sakit pada hidung dan kepala.10. ginjal. Pada mencit . grafitasi spesifik 1. menyebabkan berkurangnya aktifitas. B. Pada orang dewasa = 0.10.2 Secara oral pada tikus dengan dosis 1752 gm/kg/2 tahun .3. sementara itu pada konsentrasi 2% dan 4 % menyebabkan kerusakan ginjal yang lebih parah. ginjal.oral = 2300-23700 mg/kg.10. Dietilen glikol ini akan dicoba untuk dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. ureter dan empedu). menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak. Pada konsentrasi 2 % dan 4 % dapat menyebabkan tumor pada empedu tikus dikarenakan adanya pengendapan kalsium oksalat yang menimbulkan iritasi secara mekanik namun bukan sebagai efek dari kanker. B. Toksisitas akut (LD50) pada kelinci: >2g/kg.i.3. perubahan pada limpa kecil. torak atau sistem pernafasan.118 @ 20/20oC. diperkirakan dietilen glikol tidak memiliki resiko kanker pada manusia. Dietilen glikol tidak menyebabkan terjadinya mutasi gen dan tidak merintangi reproduksi pada hewan percobaan.3 Kajian keamanan Berdasarkan data dari hewan percobaan dalam jangka panjang.p = 9719 mg/kg.5-pentanediol. 72 dari 122 . Karsinogenisitas dan studi toksisitas dalam jangka panjang B. perubahan hati. B. menyebabkan paru-paru.3.1 mm Hg @ 20oC (68oF).10. hati. torak dan sistem pernafasan menjadi kronik.10. indeks bias 3.

B. Untuk keperluan evaluasi ini diambil LD50 yang dihasilkan dari percobaan secara oral. apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip.11. Berbagai percobaan yang meliputi uji jangka pendek.5 μg per hari. Organ yang paling rentan adalah hati dan ginjal.5 ml/kg bb.3.4 Pengaturan Malaysia dan India melarang menggunakan material ini sebagai perisa pada makanan. tikus dan marmut berkisar antara: 6. Berdasarkan struktur kimia kemungkinan senyawa ini masuk dalam kategori kelas struktur II. 1947 melaporkan penelitian metabolisme pada kelinci dan hasilnya menunjukkan adanya reaksi konjugasi dengan asam glukoronat sebanyak 0.3% dari dosis yang diberikan sedang sebagian besar mengalami reaksi oksidasi. teratogenisitas.2. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus.11.11 Dietelen glikol monoetil eter(diethylene glycol monoethyl ether). tekanan uap pada 25 °C adalah 19 mmHg. titik didih 196-202 °C. Nomor CAS. B. Etil eter dari dietilen glikol. B. Dietilen glikol monoetil eter memiliki rumus molekul C6H14O3 dengan bobot molekul 134. 73 dari 122 . alkohol dan sebagian minyak. subkutanus.1 Nama kimia menurut ”Chemical abstract”: 2-(2-etoxi)-etoxietanol. Fellows et al. Bagian Standardisasi. berturut-turut.2 Fungsi lain Pelarut pada parfum. tidak berwarna.3. senyawa ini diekskresi dalam urin dalam bentuk (2-etoxietoxi) asam asetat (Kamerling et al 1977). ADI belum dapat ditentukan.4 ml/kg bb dan 3.11. etildigol. 5.11.1 Deskripsi Diethylene glycol monoethyl ether dengan sinonim ethyl diethylene glycol. B. larut dalam air.3-10. jangka panjang/karsinobesisitas. 111-90-0 B. Pada manusia.1 – 5. intravena dan intraperitoneal.11.6 – 12. asupan senyawa lebih besar dari 1. Berfungsi sebagai pelarut pembawa perisa. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia.3 Kajian keamanan Evaluasi keamanan dietilen glikol monoetil eter dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM. LD50 pada mencit.SNI 01-7152-2006 B.0 ml/kg bb. etilen diglikol dan nama kimia 2-(2-etoxi)-etoxietanol merupakan cairan higroskopis. yaitu mempunyai struktur intermediat dan belum ada data lengkap yang menunjukkan adanya pembentukan metabolit reaktif dalam proses metabolismenya dalam tubuh. carbitol enkanol.8-2. apakah pada kondisi penggunaan. gangguan pada sistem reproduksi. LD50 untuk senyawa diperoleh dari beberapa penelitan yang meliputi berbagai cara pemberian termasuk secara oral.10. Penentuan kelas struktur kimia B.2 Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya Data mengenai metabolisme senyawa ini belum banyak. dan titik nyala 96 °C. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya.

1 Rangkuman data NOEL dietilen glikol monoetil eter yang diperoleh dengan cara oral Hewan percobaan Mencit Tikus Tikus Tikus Ferret Babi Tikus Catatan Cara pengujian Uji jangka pendek idem idem idem idem idem Uji jangka panjang Nilai NOEL (mg/kg bb/hari) 850-1000 410 800 250 2* 167 200 Ref Gaunt et al. B.5 Apakah kondisi penggunaan senyawa masih berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip dalam margin aman Data NOEL untuk senyawa ini ada beberapa dan diperoleh dari berbagai cara pengujian biologis pada beberapa spesies hewan percobaan. ’68 Butterworth et al.3 Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak Penentuan ini belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia maupun di negara lain.11.11. sitotoksik.4 Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus.SNI 01-7152-2006 genotokisitas. India juga melarang menggunakan material ini sebagai pelarut pada perisa. akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus. Sebagian besar hasil percobaan menunjukkan adanya gangguan kesehatan. dan iritasi telah dilakukan dengan menggunakan beberapa spesies hewan. ’83 Smyth&Carpenter ’48 Hall et al.’75 Gaunt et al. B. Rangkuman data NOEL dapat dilihat pada tabel berikut ini. 0. 74 dari 122 .11. ‘64 *Berdasarkan perhitungan: 0.5 μg Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa senyawa ini menghasilkan metabolit yang berbahaya. Tabel B.3. sehingga prinsip evaluasi untuk senyawa yang terdapat dalam jumlah sedikit tidak berlaku untuk dietilen glikol.5 μg per hari.4 Pengaturan Malaysia melarang menggunakan senyawa perisa ini pada makanan. ’68 Smyth et al. asupan senyawa lebih besar dari 1. B.3. ’66 Gaunt et al.11.6 per hari Apakah pada kondisi penggunaan.3.5 ml/kg bb/hr. Akan tetapi keberadaan dietilen glikol sebagai akibat carry over penggunaan pelarut pembawa perisa dapat mencapai 1000 mg/kg makanan.4% etilen glikol.11. B. hematologi.3. B.

data untuk penentuan intake (asupan). gravitasi spesifik 1. Dihidrokomarin diperoleh dengan cara reaksi reduksi komarin menggunakan katalis nikel. Nomor CAS. dan data asupan per hari belum ada. termasuk data NOEL. dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).12.4 JECFA memutuskan dihidrokomarin sebagai perisa dengan tingkat estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). India dan Thailan melarang penggunaannya sebagai substansi perisa. Langkah 2 : dihidrokomarin tergolong kedalam kelas kimia aromatic fused lactones dimana data metabolisme yang tersedia masih terbatas.11.3 Kajian keamanan Dihidrokomarin telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. 2381.1 Kesimpulan Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan dietilen glikol sudah cukup.12. Diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. melilotic acid lactone merupakan substansi perisa yang digunakan dalam industri perisa. dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). 119-84-6 Deskripsi Dihidrokomarin dengan sinonim 1.2 Fungsi lain Tidak ada. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) d) Langkah 1: dihidrokomarin tergolong ke dalam struktural kelas III. 1171. B.2-benzodihydropyrone. B.12. titik leleh 22 °C. Pengaturan B. Diputuskan bahwa evaluasi keamanan dilakukan melalui sisi B dari prosedur. B. Dihidrokomarin memiliki titik titih 272 °C. ortho-hydroxydihidrocinnamic acid lactone.4dihydro-2-chromanone. Dihidrokomarin terdapat secara alami di alam.12. 3. data batas aman (threshold).188 dan kelarutan dalam air (dalam perhitungan) pada suhu 25 °C adalah 11540 mg/l. Langkah 4: data NOEL (150 mg/kg bb/hari ([NTP 1993]) dari dihidrokomarin adalah 1000 kali lebih besar dari estimasi intake dihidrokomarin sebagai perisa di Eropa (24 μg/kg bb/orang) dan di USA (19 μg/kg bb/hari). titik asap >200 °F. USA menggolongkan dihidrokomarin termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS No. Sebaliknya. 3.SNI 01-7152-2006 B.4-dihydro-2H-1benzopyran-2-one.1 Dihidrokomarin (dihydrocoumarin). 75 dari 122 . Menimbang adanya gangguan kesehatan yang ditunjukkan oleh berbagai hasil penelitian pada beberapa spesies hewan percobaan dengan berbagai cara uji maka penggunaan dietilen glikol harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif dan dibatasi penggunaannya. 2H-1-benzopyran-2-one. JECFA No.4. Langkah B3: asupan dari dihidrokomarin di Eropa (1415 μg/orang/hari) dan di USA (1111 μg/orang/hari) melebihi ambang batas untuk kelas III yaitu 90 μg.12 B.

B.13 B.13. 4-propyl-1. thorax. Nomor CAS. B. Pada tikus – oral (LDLo. Kesimpulan B.oral (TDLo-Lowest published toxic dose) = 101 g/kg/81W-C (tumor pada gastrointestinal dan liver). pada tikus-pengerat – oral pada mencit .13.3 Kajian keamanan B.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaan dihidrosafrol sebagai perisa. B.3.Lowest published toxic dose) B.5-propyl-1. hati dan alat respirasi). = 3700 mg/kg bb.toxic dose (other that lowest) = 101 g/kg/81W-C (tumor gastrointestinal dan liver). Dihydrosafrol mempunyai RCRA waste number U090.1 Dihidrosafrol (dihydrosafrole).13.13.13.2 Data toksisitas akut (LD50) = 2260 mg/kg bb.3.2-methylenedioxybenzene.2 Fungsi Lain Tidak ada.13. pada mencit-oral (TD.toxic dose (other that lowest) = 163 g/kg/81W-C (tumor pada paru-paru.4 Data tumorigenisitas pada mencit .3.13.3 Data Toksisitas akibat Pemberian Dosis Berganda = 78750 mg/kg/15W-I (kematian).3. = > 5 mg/kg bb. pada mencit-oral (TD.SNI 01-7152-2006 B. = 2830 mg/kg bb.oral pada mencit . safrole.oral pada kelinci – dermal B. B. senyawa dihidrosafrol dimasukkan dalam daftar dilarang digunakan sebagai perisa.3. 76 dari 122 .1 Uji standard draize Pemberian dosis 500 mg/24 jam dengan cara dioles pada kulit pada kelinci terjadi reaksi sedang.13. Terjadi gangguan iritasi pada kulit dan mata.5 Berdasarkan kajian tersebut.13. 94-58-6 Deskripsi Nama lain dari dihidrosafrol adalah Benzene.2-methylenedioxy-4-propyl-.3benzodioxole. 1. dihydro-.

perut. Dulkamara digunakan sebagai serbuk atau ekstrak dari simplisia batang. Tumbuhan ini. Peranannya dalam makanan mungkin sebagai peningkat fungsi makanan dalam pengobatan atau kesehatan karena berbagai khasiatnya tersebut. tercatat atau termasuk kedalam tumbuhan yang dapat merugikan (tidak aman). Scarletberry.1) yang tercatat beracun.–Solanaceae.) dalam beberapa penelitian menunjukkan aktivitas penekanan biosintesa prostaglandin dan eksositosis PAF. Woody nightshade. alat genital dan gangguan respirasi sebagai batuk.14.SNI 01-7152-2006 B. Tercatat di dalam ekstrak herbanya terkandung senyawa steroidal saponim yang menunjukkan efek seperti hormon kortison (Cortisone-like).3 B. cabang atau herba yang digunakan sebagai obat tradisional (etnofarmakologi) untuk berbagai penyakit atau mengatasi berbagai banyak gejala seperti vertigo. fungi dan serangga. mulut. dan sakit pada kepala. Simplisia ini mengandung Solaniceina ± 1%. Dulkamara banyak digunakan dalam sistem pengobatan alternatif homeopati. muka. B.14. tetapi bisa menimbulkan efek imunodepresan. Simplisia ini di dalam sediaan obat tradisional dicampur dengan berbagai simplisia-simplisia lain. dulcumaric acid. Kandungan dari semua bagian tumbuhan dulkamara ini dinyatakan beracun karena adanya solanin dan alkaloid-alkaloid lain turunannya. Glikoalkaloid sangat susah diserap dari saluran gastrointestinal namun dapat menyebabkan iritasi 77 dari 122 .14.2 Fungsi lain Dulkamara merupakan simplisia batang. Ekstrak herbanya mengandung saponinsteroidal yang menunjukkan efek Cortisone-like.ferox dan S. Kegunaan dalam makanan sebagai perisa tidak jelas. Solanin telah terbukti menyebabkan gastroenterosis. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa buah yang matang berwarna merah mengandung jumlah racun yang sedikit dan amat jarang meracuni anak-anak. Dulcamerae Caulis. ferox dan S. Di dalam pengobatan tradisional (etnofarmakologi). serta S. antinyeri. telinga. rektum. vertigo dan cramps. Efek herba tumbuhan ini (Solanum dulcamara L. Solanum dulcamara mengandung racun glikoalkaloid yaitu solanine dan amorphous glucoside dulkamarin.14 B. Tetapi dapat menghasilkan efek samping antara lain tukak lambung. Bagian alkaloid dari glikoalkaloid secara umum dikenal sebagai aglikon. ekspektoran. Solanum dulcamara. pada mata. Douce-Amere. nigrum dinyatakan sebagai tumbuhan beracun.3. dyspnea. cabang atau herba dari tanaman Solanum dulcamara L. merupakan simplisia batang dan cabang kering Solanum dulcamara L. dulcamaretic acid. (Solanaceae). Glycoalkaloid tersebut juga beracun terhadap manusia dan hewan. bakteri. antireumatik.14. B. banyak meracuni hewan ternak dan domba.1 Dulkamara (dulcamara) solanum dulcamara Deskripsi Dulkamara dengan sinonim Bittersweet. dulcamarin. Dulkamara atau Solanum dulcamara tergolong ke dalam kelas Solanaceae dikenal pula dengan nama Bitter Nightshade. Alkaloid ini terutama terkandung dalam buah (berries) yang belum matang. Semua bagian tanaman ini (Solanaceae) mengandung senyawa solanin (C45H73NO15 /BM 868. ini digunakan dalam pengobatan eksem kronis. nigrum dimasukkan kedalam tumbuhan racun. dsb. tachycardia. Berbagai jenis tanaman kentang mengandung glycoalkaloids. senyawa yang berguna dalam mekanisme pertahanan tanaman terhadap serangan berbagai patogen seperti virus.1 a) b) c) Kajian keamanan Toksisitas d) e) f) Secara etnofarmakologi Solanum dulcamara beserta S. Aktivitas ini berhubungan dengan khasiatnya sebagai antidemam.

halusinasi. dan titik didih 216 oC. Estragol (estragol). Estragol memiliki rumus kimia C10H12O. Data-data toksisitas khusus lainnya serta data dalam tubuh manusia belum ada (belum lengkap). pusing. gravitasi spesifik (25 oC) 0. diare.522. dyspnea.1 Estragol dengan sinonim chavicyl methyl ether. Aglikon dapat diserap dan dipercayai bertanggunjawab atas observed nervous system signs. Solanum alkaloid adalah cholinesterase inhibitor yang menyebabkan neural function impairment dalam bentuk hyperesthesia. minimal dua negara melarang. dulkamara dinyatakan sebagai tumbuhan beracun. Nama kimia dari estragol adalah 4-Methoxy-1-(2 propenyl) benzene.3. rapid breathing. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 84. 140-67-0 Deskripsi B.15. rapid weak pulse.4 Pengaturan Singapura dan Inggris melarang dulkamara sebagai perisa. dan penelitian keamanan belum lengkap. Penekanan terhadap biosintesis prostaglandin dapat menginduksi terjadinya tukak lambung . Pada manusia keracunan alfa-solanin dan alfa-charconin dimulai dengan gangguan gastrointestinal.SNI 01-7152-2006 g) h) saluran gastrointestinal.3 Berdasarkan khasiatnya terhadap tubuh. Kandungan steroidal-saponim yang beraktivitas cortisone-like dapat menekan sistem imun tubuh.2 Fungsi lain Tidak ada 78 dari 122 . demam. Kajian keamanan lainnya B.960 – 1.15 B. Estragol terdapat secara alami di alam. itchy neck dan drowsiness. p. indeks refraktif (20 oC/D) adalah 1. B. B.524.14.517-1. Estragol diperoleh dengan cara proses destilasi dari turpentin.2. dikelompokkan sebagai tumbuhan beracun. berbeda dari anetol. Secara tradisional.14.14. sakit perut. larut dalam etanol dan klorofom.15. FDA tidak lagi menganggap daftar ini sebagai kebijakan regulasi dan diabaikan.55 mg/l pada suhu 25 oC.2 a) b) c) d) e) Kandungannya memberikan efek-efek berbahaya mirip dengan atropin (antikholinergik) yang dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh. isoanethol. kegunaannya sebagai perisa tidak jelas. pada keracunan dalam dosis tinggi menyebabkan penurunan tekanan darah. Memiliki cairan tidak berwarna. kemudian dilanjutkan dengan neurological disorders.allylanisole. delirium dan akhirnya koma. Penggunaannya di dalam pengobatan tradisional secara homeopati dengan dosis sangat kecil. berat molekul 148. muntah-muntah. 1-methoxy-4-(2—propen-1-yl). methyl chavicol digunakan sebagai substansi perisa di industri. titik nyala (flash point) 81 oC .3. US FDA sebelumnya pernah m ke dalam daftar FDA : Unsafe poisonous herbs. aroma mirip dengan adas. Nomor CAS. Diusulkan dulkamara dilarang sebagai perisa di Indonesia. Daftar ini pernah dimuat pada jurnal Health Foods Bussiness pada tahun 1978 namun sejak tahun 1986. Hasil evaluasi B.

teh hitam 1-15 mg/kg. EC (European Commission): penambahan dengan sengaja dilarang (Jerman dan Denmark). IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. US FDA mengizinkan (CFR 172. ADI 0-5 mg/kg bb. es krim 11 mg/kg.tikus – i. JECFA telah mengkaji pada tahun 1980 dan 1981.mencit – i. Dosis tinggi 150-600 mg/kg dapat bersifat karsinogenik.15. FDA 21 CFR 172. permen 36 mg/kg. 79 dari 122 .3. = 1. .515). produk bakar 41 mg/kg.tikus – dermal . Data-data toksikologi yang tersedia belum cukup untuk melakukan kajian menentukan ADI. ikan kaleng 50 mg/kg. = 1.15. minuman tidak beralkohol 10 mg/kg.3 Kajian keamanan Dosis estragol 2. 1967). B.15. Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2411.1 Uji bakterial 1-hydroxyestragol tidak menunjukkan mutagenisitas pada hati (Drinkwater. 1977). = 1. Toksisitas akut (LD50) pada mencit 1.3. Substansi perisa ini terdapat secara alami di berbagai herbal dan rempah selain disintesa. 1970).25 g/kg dan 1.515).15.p pada mencit menunjukkan efek perpanjangan tidur oleh hexabarbital narcosis dan zoxazolanin paralysis (Fuji et al. USA : FEMA GRAS 2411.23 g/kg pada tikus secara oral. asupan rata-rata 7072 µg/hari.3.10. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172. Dosis estragol dan metabolit 1-hydroxy sebesar 4.515 .3 Data toksisitas akut (LD50) = 1.23 g/kg. ADI belum dapat dialokasikan.kelinci – dermal . permen karet 50 mg/kg.03 g/kg. Komite Eropa meminta tambahan studi jangka panjang untuk melakukan evaluasi potensi karsinogen dilakukan sebelum ADI dapat ditentukan. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Estragol pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669). = 1. Minyak estragon (undiluted) menyebabkan iritasi dan kerontokan pada bulu mencit (Urbach & Forbes. JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. Estragol kurang berpotensi dalam menghambat tumor jika dibandingkan dengan delta-9tetrahydrocannabinol (Nichols et. B.15. al.4 Pengaturan Estragol sebagai konstituen alami dalam edible fruit 5 mg/kg. lemak dan minyak 250 mg/kg. B. 1976).40. B. = 5 g/kg..3. ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman beralkohol 100 mg/kg. Estragol tidak memiliki aktivitas sitotoksik dalam melawan sel HeLa (Stoichev.2 μmol yang diberikan pada mencit menyebabkan peningkatan karsinoma hepatoselular (Drinkwater. 1976).mencit – oral .tikus – oral . India melarang menggunakannya pada perisa.4 Toksisitas subkronik Dosis 605 mg/kg secara oral pada tikus menyebabkan kerusakan minor pada hati.4 dan 5.5. 1973).82 g/kg.p B.25 g/kg.2 Uji patch tertutup Minyak estragol 4% dalam petrolatum tidak menyebabkan iritasi setelah 48 jam pada manusia (Kligman.p .160 dan 640 mg/kg secara i.15. teh hijau 1-30 mg/kg. namum dikarenakan kekurangan data.26 g/kg. 1972).SNI 01-7152-2006 B.

SNI 01-7152-2006

B.16 B.16.1

Etil-3-fenil glisidat (ethyl-3-phenyl glycidate), Nomor CAS. 121-39-1 Deskripsi

Etil-3-fenil-glisidat dengan sinonim asam glisidat; 3-fenil etil ester; ethyl phenylglycidate(EPG); ethylα,β-epoxy-β-phenylpropionate; ethyl 3-phenyl-2,3epoxypropionate; ethyl 3-phenylglycidate; ethyl β-phenylglycidate; 3-phenyl-ethyl esteroxiranecarboxylic acid merupakan perisa sintetik dan belum terdeteksi terdapat di alam. Nama kimia menurut International Flavor and Fragrance (IFF) adalah Etil-3-fenil glisidat. Etil-3-fenil glisidat memiliki rumus molekul C11H12O3 dengan berat molekul 192, berat jenis (relatif d20/4) 1,121-1,127, indeks refraktif (NaD 20 0C) 1,515-1,520. Titik asap >200 °F, grafitasi spesifik (pada suhu 25 °C) 1,120 – 1,125, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 320,1 mg/l pada suhu 25 oC. Etil fenil glisidat diperoleh dengan cara mereaksikan benzaldehida dengan etil ester dari asam monokloroasetat dengan menggunakan alkaline condensing agent. B.16.2 Fungsi lain

Tidak ada B.16.3 Kajian keamanan

Evaluasi senyawa ini telah dilakukan dengan menggunakan uji Ames, uji Basc pada Drosophila melanogaster dan uji mikronuklei (Wild et al 1983). Senyawa ini mempunyai rasa buah strawberi dan manis. Evaluasi keamanan etil-3-fenil glisidat dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM, Direrktorat Standardisasi Produk Pangan. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia; penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya; penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak; penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus; apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL atau senyawa yang mirip; apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Decision tree

B.16.3.1 a)

Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya. Berdasarkan hasil penelitian Wild et al (1983), etil 3-fenil glisidat memberikan hasil positif dengan uji Ames, sedangkan kerabatnya, etil 3-metil 3-fenilglisidat memberikan hasil positif pada uji Ames dan uji Basc pada drosifila. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemungkinan senyawa ini bersifat karsinogenik ada. Data pada manusia belum ada. Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia.

b)

Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus, akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus.

80 dari 122

SNI 01-7152-2006

c)

Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. Data NOEL dan asupan senyawa ini tidak tersedia sehingga margin amannya tidak bisa ditetapkan.

d)

Apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 µg per hari.

B.16.3.2

Kajian toksikologi

JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji etil fenil glisidate pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669), namun karena data evaluasi toksikologi yang ada tidak memuaskan komite, ADI belum dapat dialokasikan. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515). Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2454. JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.16.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. US FDA mengizinkan penggunaan etil-3-fenil glisidat (CFR 172.515). JECFA telah mengkaji senyawa ini pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh US FDA sebagai perisa (21 CFR 172.515) dengan FEMA GRAS No. 2454 yaitu batas penggunaan dalam minuman (4.6 mg/kg), es krim dan es (12 mg/kg), permen (18 mg/kg), baked good ( 20 mg/kg), gelatin dan puding (10 & 70 mg/kg). India melarang penggunaannya. B.17 B.17.1 Eugenil metil eter (eugenyl methyl ether), Nomor CAS. 93-15-2 Deskripsi

Eugenil metil eter atau 4-allyl-1,2-dimethoxybenzene atau allylveratrole atau 4-allylveratrole atau 1,2-dimethoxy-4-(2-propenyl)- benzene atau 2-dimethoxy-4-allylbenzene atau 3,4dimethoxyallylbenzene atau 1,2-dmethoxy-4-(2-propenyl)benzene atau eugenol methyl ether atau eugenyl methyl ether atau methyl eugenol atau methyl eugenol ether atau veratrole methyl ether digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. Eugenil metil eter terdapat secara alami di alam. Eugenil metil eter memiliki titik didih 254,7°C, berat jenis 1,0396 pada 20°C, titik nyala >200°F, titik leleh 4°C, indeks refraksi 1,532, grafitasi spesifik 1,034 – 1,037 pada 20°C. Eugenil Metil Eter diperoleh dengan cara metilasi dari eugenol. B.17.2 Fungsi lain

Tidak ada B.17.3 B.17.3.1 Kajian keamanan Toksisitas akut = >640 mg/kg bb; = 1560 mg/kg bb;
81 dari 122

pada mencit-i.p pada tikus-oral

SNI 01-7152-2006

-

pada kelinci-dermal

= >5000 mg/kg bb.

B.17.3.2 a)

Toksisitas subkronik

b) c) c)

Dosis 0, 10, 30, 100, 300 atau 1000 mg/kg bb eugenil metil eter dalam 0,5% methylselulosa pada tikus jantan dan betina menunjukkan bahwa tikus tesebut masih bisa bertahan meskipun terjadi penurunan berat badan secara signifikan. Pada dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hepatoselular. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina terjadi kolestasis sehingga mengubah fungsi hepatik, hipoproteinemia, dan hipoalbuminemia. Dosis 300 dan 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina, bobot hati menjadi 100, 300 dan 1000 mg/ kg pada tikus jantan dan 1000 mg/kg pada tikus betina serta testis jantan 1000 mg/kg. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina juga menyebabkan gastritis athropik, sedangkan dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hipertropi kortikal kelenjar adrenal. NOEL ditetapkan pada dosis 30 mg/kg bb/hari. Toksisitas kronik/ Karsinogenisitas

B.17.3.3 a)

Total dosis 42,4 mg/kg bb secara i.p pada mencit jantan (58 mencit yang diberi perlakuan dan 58 kontrol) meningkatkan secara signifikan hepatomas mencit (96% tikus yang diberi perlakuan dan 41% kontrol). Hal ini menunjukkan bahwa eugenil metil eter memiliki aktivitas hampir sama dengan metabolit 1’hidroksi. (Miller et al., 1983). Tikus jantan yang diberi dosis 150 dan 300 mg/kg/hari mati sebelum uji ini selesai, sedangkan pada tikus betina yang diberi dosis 150 mg/kg/hari masih bisa bertahan. Berat badan tikus dan mencit jantan dan betina menurun dibandingkan dengan kontrol. Pada semua dosis pada tikus dan mencit terjadi neoplasma hati, hepatoadenoma, hepatokarsinoma, hepatokholangioma (hanya pada tikus), hepatokholangiokarsinoma, dan hepatoblastoma (hanya pada mencit). Terjadi pula kerusakan pada glandular tikus dan mencit serta tumor ganas neuroendokrin. Terbukti bahwa egenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada tikus jantan dan betina galur F344/N berdasarkan terjadinya peningkatan kerusakan neoplasma hati, tumor neuroendokrin pada perut glandular. Selain itu terjadi pula peningkatan kerusakan pada neoplasma ginjal, fibroma dan fibrosarkoma pada tikus jantan (NTP). NTP menyimpulkan pula bahwa eugenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada mencit jantan dan betina galur B6C3F1 berdasarkan adanya peningkatan kerusakan neoplasma hati. Dosis terendah (37 mg/kg bb/hari) memberikan efek karsinogen (meningkatkan secara signifikan karsinoma hepatoselular pada mencit jantan dan betina). Genotoksisitas

b)

c)

d)

e)

f)

B.17.3.4

B.17.3.4.1 Invitro Eugenil metil eter tidak mutagenik terhadap Salmonella typhymurium galur TA98, TA100, TA1535, TA1537 dengan atau tanpa penambahan aktivitas metabolik (S9) secara eksogenus (NTP TR 491). Selain itu eugenil metil eter juga tidak mutagenik terhadap S. typhimurium dan Escherichia coli WP2 galur uvrA dengan dan tanpa aktivitas metabolik (S9) (Sezikawa et al., 1982). Eugenil metil eter dapat pula menyebabkan rekombinasi intrakromosal pada Saccharomyces cerevisiae dengan dan tanpa aktivitas metabolik (Schiestl et al., 1989). Analog jenuh dan monofluoro dapat menurunkan aktivitas genotoksik pada S.
82 dari 122

SNI 01-7152-2006

cerevisiae (Brennan et al., 1996). Eugenil metil eter, 1’-hydroxymethyleugenol dan 2’3’epoxymethyleugenol menyebabkan Unscheduled DNA Synthesis (UDS) pada hepatosit tikus (Chan dan Caldwell, 1992). Metabolit 1’-hydroxy sebagai penyebab paling kuat UDS. B.17.3.4.2 In vivo

Teramati bahwa eugenil metil eter, mutasi gen beta-katenin menyebabkan karsinoma hepatoselular pada mencit 20/29 (Devereux et al., 1999). Aktivitas gen beta-katenin, dengan deregulasi subsekuen transduksi sinyal Wnt, ditetapkan sebagai kejadian awal secara kimiawi yang menyebabkan karsinogenesis hepatik pada mencit. Hal ini mengindikasikan bahwa eugenil metil eter sebagai genotoksik potensia. B.17.3.4.3 Kajian keamanan lainnya

Eugenil metil eter sebagai inhibitor kuat terhadap enzim mikrosomal hepatik. Eugenil metil eter dengan dosis 100 mg/kg dapat memperpanjang waktu tidur (72%). Eugenil metil eter merupakan senyawa multisite, multispesies karsinogen Eugenil metil eter pada tikus dan mencit menyebabkan jenis tumor yang berbeda atau disebut sebagai tumor neuroendokrin pada perut glandular. Teramati pada dosis lebih rendah (37 mg/kg bb/hari) pada tikus dan mencit menyebabkan tumor hati. Dosis tinggi eugenil metil eter (sekurang-kurangya 30 mg/kg bb selama 25 hari) auto-induksi 1’hydroxylation oleh sitokrom P450, dengan formasi karsinogen proksimat 1’hydroxymethyleugenol. Eugenil metil eter dengan 2 metabolitnya yaitu 1-hydroxymethyleugenol dan 2’,3’-epoxymethyleugenol menyebabkan UDA (Unscheduled DNA Synthesis) secara in vitro. Eugenil metil eter membentuk DNA adduct baik secara invitro maupun in vivo, hampir sama dengan safrol dan estragol. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Eugenil metil eter pada tahun 1980 (TRS648) dan tahun 1981 (TRS669); walau demikian dikarenakan data yang belum lengkap, (hasil 90 hari studi atau tes jangka panjang), ADI untuk senyawa ini belum dapat dialokasikan. JECFA akan mencoba untuk mereview senyawa ini menggunakan prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.17.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization on The Flavour Industry) tidak membatasi. JECFA (Joint Expert Committee of Food Additive) telah mengkaji eugenil metil eter pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515), dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2475 yaitu penggunaan dalam makanan sebesar 10 mg/kg, es krim dan es (4,8 mg/kg), permen 11 mg/kg), baked good (13 mg/kg), dan jeli (52 mg/kg). India melarang eugenil metil eter sebagai perisa. Etil metil keton (ethyl methyl ketone), Nomor CAS. 78-93-3 Deskripsi

B.18 B.18.1

Etil metil keton dengan sinonim butan-2-one, 2 butanone, methyl ethyl ketone, MEK digunakan di dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan extraction solvent. Etil metil keton terdapat secara alami di alam. Etil metil keton memiliki titik didih <40 °F, berat jenis 0, 802, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 76100mg/l diukur pada suhu 25 °C. Etil metil keton diperoleh dengan cara oksidasi dari sek-butanol. B.18.2 Fungsi lain

Tidak ada
83 dari 122

278.1 Hiperisin (hypericin) Nomor CAS. 4. es krim dan es (270 mg/kg).14-dione. 84 dari 122 . (iii) tidak larut dalam berbagai pelarut organik umum. (v) spektrum absorpsi dan fluorosensinya ada. H= 3.3. (1. permen dan baked good masing-masing 100 mg/kg.18. Secara umum kelas senyawa ini dapat diserap melalui saluran gastrointestinal.2’dimetil naftodian-tron.7’-heksahidroksi-2. absorpsi sekitar 600 nm dalam DMSO 1μg/ml.4’. B.19.perforatum juga mengandung glikosida flavonol khususnya derivat dari hiperosid.9. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (No safety concern).43%. Langkah II: Etil metil keton diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa inncuous.5. Nama kimia hiperisin adalah 1.13-heksahidroksi-10.5’.05-0. Pengaturan B. Hiperisin memiliki rumus molekul C30H16O8 dan berat molekul 504. India melarang penggunaannya dalam substansi perisa. O = 25. Sifat kimia.4 EC dan IOFI tidak membatasi. sejumlah cukup procyanidin dan fenil propan. α-pinenes dan monoterpen lain). dengan karakteristik merupakan derivat Napthodianthrone yang secara umum dikenal dengan nama hypericins.19 B.5 larutan berwarna merah diatas pH 11. JECFA memutuskan bahwa penggunaan etil metil keton sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern) dengan JECFA No.515).44/504.37%.18. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172. Juga diketemukan (St. (iv) larut dalam DMSO. kuersitrin dan rutin : biflavon yaitu I3. n-alkanes. yang terdiri dari hypericin dengan pseudohypericin yaitu isohypericin. dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2170 yaitu batas penggunaan pada minuman (70 mg/kg). John’s Wort) golongan senyawa acy’phloroglucinols (derivat phloroglucin) yaitu yang utama adalah hyperforin (0.SNI 01-7152-2006 B.11-dimetil fenantro. II8-biapigenin dan 13’.8. Hiperisin merupakan isolasi dari Hypericum perforatum L. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (no safety concern).-Hypericaceae.45. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Kajian Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah langkah sebagai berikut. II8-biapigenin (amentoflavone). protohypericin.6. 548-04-9 Deskripsi Hiperisin dengan sinonim hypericum red merupakan sintesa dari bromoemodin trimetileter. Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. dengan kandungan C=71. eksitasi pada 337 nm.5 berwarna hijau dengan fluoresensi merah.20%.10.7. tumbuhan H. secara organoleptik meliputi (i) rekristalisasi dari pyridin + metanolik HCl berupa kristal jarum biru-hitam dengan dec 3200 (ii) mudah larut dalam piridin dan pelarut basa organik lain menghasilkan larutan merah cherry dengan flurosensi merah..4. a) b) c) Langkah I: Etil metil keton tergolong kedalam struktural kelas I. Langkah III: Asupan dari etil metil keton di Eropa (110 μg) dan USA (36 μg) tidak melampaui ambang batas (threshold) untuk kelas I yaitu 1800 μg.3% minyak esensial. larut dalam larutan air alkalis dibawah pH 11.8 opqra) perylene-7. cyclo pseudohypericin Disamping senyawa diatas. tannin 10%.3 Kajian keamanan Etil metil keton telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.

Terjadinya reaksi foto sensitifitas sebelah mungkin terutama pada kulit dan dalam terapi dengan obat fotosensitifitas lain (klorpromazin. . Secara klinis efek ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitian. Kombinasi dengan MAO inhibitor terjadi interaksi. pengecualian pada permen pastilles (permen penyegar pernafasan) (1 mg/kg) dan minuman beralkohol (2-10 mg/kg).Beberapa ekstrak H.SNI 01-7152-2006 B. Toksisitas pada aktivitas biologi. Tercatat H.1 mg/kg).perforatum pada kehamilan atau perkembangan postnatal. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.perforatum juga ditunjukkan beraktivitas antibakterial terhadap bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis. HSV-1 dll. 85 dari 122 . . digunakan dalam terapi (tradisional) keadaan depresi dan cemas (ansietas).4 CAC dan EC tidak membolehkan penambahan dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.19. . kontraksi otot polos fibrosel arteri tereduksi. d) Terhadap sistem kardiovaskular.19. perlu perhatian. b) Dalam Merck Index dinyatakan sebagai katagori terapi antidepresan. Malaysia melarang penggunaan hoiperisin dalam produk pangan. belum tercatat adanya efek negatif dari penggunaan H.19. minuman (0. c) Sebagai simplisia Hypericum perforatum.Sebagai antiflogistik (antiradang).1 mg/kg). Australia dan New Zealand dalam artikel FSANZ menetapkan hiperisin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 2 mg/kg. Sedangkan India membatasi penggunaan hiperisin yang terkandung secara alamiah dan tidak boleh melebihi 1 mg/kg. cytomegalovirus. .Sebagai diuretik yang diduga karena aksi beberapa flavonoid. Pengaturan B. yang diduga dengan menghambat fosfodiesterase. f) Tolerabel Efek terhadap fertilitas dan fungsi reproduksi. Tercatat pada subjek sensitif terjadi iritasi gastrik. kemungkinan karsinogenik/teratogenik. perforatum memberikan alergi hipotensif melalui efek vasodilatasi perifer. B. dengan batas maksimum dalam mg/kg produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. diantaranya: a) Terhadap keadaan depresi dan cemas.2 Fungsi lain Hiperisin dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif pengobatan tumor prostat secara terapi fotodinamik.. e) Sebagai medisin popular (etnofarmakologi/herbal medicine): .3 Kajian keamanan Reaksi Daya toksisitas (LD50) < 500 mg/kg.Mempunyai aktivitas antiviral terhadap HIV-1. Aktivitas ini muncul langsung sebagai efek virusidal dan terhadap virus setelah sensitisasi dengan cahaya UV.Sebagai antidiare karena aksi astringen dari tannin. fotodinamik dari quinonnya perlu perhatian dan dapat menyebabkan gangguan kulit serta iritasi lambung. tetrasiklin). Penggunaan selama kehamilan tetap perlu hati-hati dan pertimbangan nilai risk dan benefit terapinya. Batas maksimum dalam komoditas pangan (0.

122 pada 200C (campuran rasemik).20.22% . penguat pewangi sabun. 267 dan 259.20.1 Data toksisitas akut (LD50) Dosis Letal 50% (LD50) oral pada mencit : 2.(1’-propenil) benzen.dihidroksi – 4 . 4.2-metilendioksibenzen merupakan derivat propenilbenzen dengan rumus molekul C10H10O2 dan berat molekul 162. memiliki titik didih bp760 = 2530C .7 – 6. Isosafrol merupakan cairan tidak berwarna. sebagai fragran kosmetik. Isosafrol terbebaskan selama proses pembuatan minyak esensial tersebut. Bentuk cis (alfa-isosafrol) berbentuk cair dengan titik didih bp35 77-790C. B. 259 nm.20.8 0C. merupakan reaksi metabolisme utama : 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi.50C. tidak terhidolisa dan cenderung ada dalam air tanah. 120-58-1 Deskripsi Isosafrol dengan sinonim 5-(1-Propenil)-1.2– (Metilendioksi)-4-(1’-propenil) benzen.5691.Propenil-1. titik leleh : mp -21.3 Kajian keamanan Studi in vitro dengan sel epitel hati tikus diketemukan metabolit utama isosafrol adalah senyawa 1’. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1.5 . serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%): UVmax = 305. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan ditemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan diketemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam. serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%) : UV max = 326. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1. sehingga memungkinkan berdampak pada lingkungan. rotasi optik : n20D = 1.4-Metilendioksi-1-propenilbenzen. rotasi optik : n20D = 1. Nomor CAS. 1.5782. kelarutan dalam alkohol 90% 1:8. bp100 = 179. disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol.34 g/kg bb. titik leleh 6.4 – (Metilendioksi)-propenilbenzen.2’-dihidroksiisosafrol dan dalam jumlah sedikit senyawa 1’. B.2 Fungsi lain Sebagai bahan perantara dalam produksi heliotropin. produksi pestisida sinergis dan hidrosafrol.20. terkandung 6% isosafrol.3. 1. Isosafrol berasal dari alam sebagai komponen utama dari minyak esensial adas (star anise) dan juga dalam jumlah kecil ada dalam minyak esensial bumbu (spices) lain.2 a) Toksisitas subkronis dan pemberian berulang Pemberian 10 g isosafrol per kg bobot badan tikus dalam makanan menunjukkan penghambatan pertumbuhan pada tikus jantan maupun betina tak ada tikus yang hidup 86 dari 122 .2Metilendioksi – 4.50C.20. berbau ada dengan berat jenis 1. bp34 = 85-860C. 3. 2 .dihidroksi – 4 .73%. dapat terkonsentrasi dalam organisme air. titik didih 2520C. 3.20 B. Bentuk trans (beta-isosafrol) berbentuk cair dengan bau adas.1 Isosafrol (isosafrole). B. merupakan reaksi metabolisme utama: 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi.SNI 01-7152-2006 B.20C.47 g/kg bb pada tikus : 1.18 dengan kandungan C=74.2’-dihidro-1’. B.2’epoksiisosafrol dan 1’-hidroksisafrol. disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol. Dalam jumlah kecil dicampur dengan metil-salisilat dalam root beer dan perisa sarsaparila. Penelitian menunjukkan isosafrol sebagai induktor beberapa enzim hati sitokrom P-450 dalam rogent. titik leleh mp = 8. O=19.3-benzodiaksol.8% .3.Propenilbenzen. bobot jenis d204 = 1.(1’-propenil) benzen. Dalam parfumeri memodifikasi pewangi oriental. bp20 = 135. 2 . Dalam minyak daun Juniper virginiana.60C .5 nm. Isosafrol yang terbebaskan ke tanah.1206. H=6.

hipertropi dan terbentuk nodul-nodul. B. menunjukkan: Pada dosis kecil (1000 mg/kg bb) terjadi penekanan pertumbuhan tikus betina.c. tidak menginduk UDS dalam kultur hepatosit tikus. tak terdapat tumor hati.3.SNI 01-7152-2006 setelah pemberian 11 minggu. Diketemukan pula 2/3 tikus mati selama percobaan. TA 1537 atau Echerichia coli WP 2 uvr A dengan atau tanpa S9. limfoma pada populasi 1/18 jantan dan 0/16 betina. selama 3 minggu. 2500 dan 5000 mg isosafrol/kg bb tikus Osborne –Mendel selama 2 tahun.20.4 a) In Vitro Isosafrol (cis/trans isomer 19.p dosis tunggal campuran cis-trans isosafrol (52%-48%) atau 90% trans/10% cis-isomer sebesar 122mg/kg bb mencit pada usia 12 hari dan dibunuh pada usia 10 bulan. hiperplasia tiroid ringan dan terjadi nefritis kronis.3. b) Pemberian oral 460 mg isosafrol/kg bb tikus selama 4 hari. dan 0/17 jantan dan 0/16 betina. Juga negatif terhadap “Bacillus subtilis DNA repair tes” tanpa S9. menyebabkan lesi pada hati dengan tanda-tanda pemucatan warna. kemudian 517mg/kg bb dalam diet makanan sampai usia 82 minggu : teramati pada mencit galur pertama dan kedua terjadinya tumor sel hati pada populasi 5/18 mencit jantan dan 1/6 mencit betina dan 2/17 mencit jantan dan 0/16 mencit betina.posisi dari guanin ikatan rendah dengan DNA dinyatakan oleh nilai 87 dari 122 . dan 1/17 jantan dan 0/16 betina. pembesaran hati dengan hipertropi sel hati dan pembentukan nodul.3 a) Toksisitas kronis Studi pada dua galur mencit F1 (C57BL/6 x C3H/Anf dan C57BL/6 x AKR) yang diberi dosis oral 215 mg isosafrol/kg bb pada usia 7-28 hari. tak nampak tumor lokal pada usia 18 bulan.20.05) dibandingkan kontrol pada mencit galur (C57BC/6 x C3H/Anf) F1 jantan dan betina. c) Pemberian oral pada tikus Osborne-Mendel muda sebesar 500 mg isosafrol/kg bb sehari selama 41 hari menyebabkan kematian sebesar 80% dan dosis 250 mg/kg bb selama 34 hari sebesar 20%. b) Formasi DNA (DNA adduct formation) Dengan menggunakan petanda 32P dipelajari dalam hati mencit betina yang diisolasi 24 jam setelah pemberian ip 2 dan 10 mg isosafrol per ekor mencit.. Studi genotoksisitas (mutagenisitas) b) c) B. tumor paru-paru pada populasi 3/18 jantan dan 1/6 betina. Teramati terjadinya hipertropi hati. sedangkan tikus kontrol tetap hidup. TA 100. 3 mg isosafrol (dalam trioktanoin) per tikus. nekrosis dan fibrosis dan tingkatan kecil metamorfosis lemak hati dan proliferasi saluran empedu. estragole dan methyleugenol.2%) tak menginduksi mutasi gen Salmonella typhimurium TA 98. Ditunjukkan organ hati yang membesar. pembesaran dan kehilangan kekenyalan normal hati. hipertropi ringan sel hati. Pada dosis 2500 mg/kg terjadi hiperplasia ringan tiroid. Pemberian injeksi s.7%/78. Terjadinya tumor hati ini secara bermakna (P=0. TA 1535. Pada dosis 5000 mg/kg bb terjadi penekanan pertumbuhan pada tikus jantan dan betina. Perlakuan ini hanya menunjukkan ikatan rendah pada DNA hati mencit dengan pembentukan 2 utama DNA adduct dalam N2. serta ditemukan tumor di testes. Berbeda dengan safrol. Pemberian diet 1000. Tidak teramati aktivitas hepatokarsinogenik pada mencit jantan B6C3F1 yang diberikan secara injeksi i.

etil eter.3776. B.5 0C. dapat tercampur dengan air. carrier solvent dan substansi perisa. Keberadaannya dalam darah lebih lama daripada alkohol.7 0C (Close Cup).01%. suhu autoignition 3990C / 455. Berat molekul 60.SNI 01-7152-2006 covalent binding index (CBI) sebesar 1 untuk isosafrol dibandingkan estragol dan metileugenol yang bernilai 30.60C / 4250C. isopropanol. 13 0C (Open Cup).3. IPA. Isopropil alkohol terdapat secara alami di alam. dan Thailand melarang penggunaan isosafrol sebagai perisa. 1-metylethanol.4%). propyl alcohol secunder. daya keterbakarannya tingkat 3 (The National Fire Protection Ass.783 – 0. dimetylcarbinol.20. Isopropil alkohol dibuat dari profilen yang diperoleh dalam proses kraking petroleum atau reduksi katalitik aseton. 2-propanol. BP. Isopropil alkohol (isopropyl alcohol).0 % v/v di udara. USP 25). Pengaturan B. US FDA.eksresi melalui ginjal sebagai metabolit. titik didih 82. Isopropil alkohol dimetabolisme menjadi aseton dalam hati oleh enzim alkohol dehidrogenase 80% dari jumlah yang terabsorpsi tereksresi melalui ginjal dalam bentuk 88 dari 122 . atau fermentasi beberapa karbohidrat. Juga diabsorpsi secara baik melalui paru-paru dan mukosa rektal.-2001). Sifat toksisitasnya: .LD50 oral pada mencit/tikus 2.5 a) b) Kesimpulan Kemungkinan tercemar dalam air tanah dan termakan. . Rumus molekul C3H8O. IV-1995. berat jenis 0. Singapura.sifat hepatokarsinogen walaupun kecil.1 Deskripsi Nama bahan isopropil alkohol adalah isopropyl alcohol (Farmakope Ind.21. destilasi uap 2.20. mudah terbakar. jarak destilasi 81-830C.21 B.78 pada 200C. 16 0C (Lar. psedopropyl alcohol. eter.).43 cP pada 200C.4 IFA (International Fragrance Association) menyatakan bahwa total konsentrasi isosafrol dalam produk pangan siap kondumsi tak kurang dari 0. Viskositas 2. Isopropil alkohol digunakan sebagai extraction solvent . B. n25D = 1. . sec-propyl alcohol. Nomor CAS. .induksi enzim hati sitokrom P-450. dimety carbinol. Isopropil alkohol mudah terbakar. 2-hydroxypropane. Nama kimia adalah propan-2-ol (golongan hidrokarbon alifatik alkohol. EC (Europe Commission) mengatur penggunaan isosafrol dengan batas yang ditentukan yaitu pada makanan dan minuman 1 mg/kg dan minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% alkohol sebesar 2 mg/kg.1.gangguan fungsi hati atau hepatotoksik pada pemakaian berulang (subkronis). gliserin dan etil alkohol. Malaysia. mudah menguap. titik leleh – 88.3749. Index Refraksi : n20D = 1. . alcohol isopropylicus (Ph. titik asap 52 °F.40C (760 mm Hg). India.09-60.Pharm.Eur.34 g/kg bb. Isopropil alkohol merupakan cairan jernih tidak berwarna. petrohol. Nama lainnya adalah isopropanol (J.1 Absorpsi Isopropil Alkohol Isopropil alkohol dapat diabsorpsi secara baik melalui salura cerna. Azeotrop dalam air / 87.786 mg/ml atau 0.1. 67-63-0 B.pemakaian makanan yang mengandung isosafrol yang tidak terkontrol jumlah dan lamanya memungkinkan terjadinya pemasukan isosafrol secara berulang dan terjadi kumulatif yang bisa menimbulkan efek toksik.5-12. petrohol. . Tekanan uap pada –25 °C adalah 44 mmHg. berbau seperti campuran alkohol-aseton.21. – 2002). Explosive limit 2. Titik nyala 12 0C – 11.47 /1.10.

3.6 g/kg. Tetapi tetap perlu perhatian. B.iv) pada tikus . Kajian dilanjutkan ke langkah A4. juga diekskresi melalui saluran napas.ip) pada tikus . = 12. = 5. Dalam pembuatan makanan sebagai pelarut. Batas konsentrasi inhalasi letal terendah pada tikus adalah 12.kulit pada mencit .iv) pada tikus . Dengan menggunakan diagram prosedur kajian keamanan substansi perisa yang disusun oleh Munro.48 g/kg. Data toksisitas akut (LD50) = 4.80 g/kg.3. kelinci).3. = 1.21.3.21. dan efeknya terhadap organ penting (sistem syaraf) serta tercatat berefek fetotoksik pada hewan uji.21. = 1. Bentuk isopropil alkohol juga mengalami konyungasi glukoronida dan diekskresikan melalui urin.41 g/kg (oral.1 Kajian keamanan Kajian toksikologi Isopropil alkohol telah dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dengan hasil No Safety Concern pada current intake level. format dan CO2. termasuk efek toksik sedang (0.09 –6. hasil kajian per tahapan dari isopropil alkohol adalah sebagai berikut.oral) pada kelinci . a) b) c) d) Langkah 1: Isopropil alkohol digolongkan ke dalam struktural kelas I. B.21.oral) Berdasarkan data-data ini sebagai senyawa toksisitas sedang (LD50 = 0.8 g/kg. Langkah A4: Isopropil alkohol merupakan komponen endogenous hasil metabolisme asam lemak dan karbohidrat. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamannya (no safety concern).5–5 g/kg).oral pada kelinci . 89 dari 122 . = 6. Pada langkah A4 diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.3 B.oral pada mencit . = 2. Langkah A3: Intake dari Isopropil alkohol yaitu 99 mg (Eropa) dan 10 mg (USA) lebih besar dari threshold for human intake untuk kelas I (1800 µg).ip) pada mencit . B.4 Adanya efek akut maupun kronis dengan berbagai gejala yang mirip alkohol dengan toksisitas 2-3 kali lebih kuat. Ekskresinya ini lambat. B.SNI 01-7152-2006 aseton dan 20% dalam bentuk tetap.21.5-5 g/kg). pengekstraksi dan antifreeze. Aseton akan dioksidasi menjadi asetat. = 3.51 g/kg.05 g/kg.2 - pada anjing .41 g/kg.2 Fungsi lain Dalam dunia farmasi digunakan sebagai pelarut/pengekstraksi dan desinfektan tapi tidak untuk pemakaian obat. Langkah 2: Isopropil alkohol termasuk ke dalam endogenous compounds atau diprediksikan dapat dimetabolisme menjadi senyawa innocuous.09 g/kg.000 mg/kg dalam 8 jam. B.21.74 g/kg. = 4.3 Data toksisitas akut pada berbagai hewan dengan berbagai cara pemberian antara 1.

Bahaya terhadap reproduksi: Belum ada penelitian pengaruhnya terhadap sistim reproduksi.3. analogi dengan pada manusia.21. . Pemakaian obat sangat terbatas dibandingkan dengan makanan yang lebih luas (banyak) pemakaiannnya. b) Efek Kronis. Efek tersebut meliputi penekanan konsentrasi dan memori. B. B. karena beberapa pelarut dan senyawa kimia petroleum telah menunjukkan efek kerusakan tersebut. gangguan saraf organ internal.Kanker (isopropil alkohol adalah karsinogen).21.21. B. B.11 Tikus yang diberi isopropil alkohol secara oral 6 mg/kg menunjukkan kenaikan trigliserida dalam hati. Penambahan larutan NaCl 0.3. hidung dan kerongkongan. Efek fetotoksik terbukti pada hewan. . 90 dari 122 .8 Campuran dalam air.3.Pada kulit menyebabkan rash atau rasa terbakar.6 Absorpsi yang cepat melalui saluran cerna dan ekskresinya yang lambat.Iritasi pada mata. sukar tidur. pecah-pecah. lelah.10 Penelitian hewan menunjukkan isopropil alkohol adalah iritan terhadap mata dan selaput mukosa. yang kemudian dihilangkan (diuapkan). B.21. Efek yang terjadi setelah beberapa waktu terpanjang isopropil alkohol. perubahan personalitas.Terpajan banyak menyebabkan sakit kepala..21.3.9 Gejala/sifat toksisitasnya mirip dengan etil-alkohol tetapi 2-3 kali lebih kuat.21. B.7 Kegunaannya sebagai perisa tidak esensial (ada bahan pengganti lain). drawssines.5 Pada pemakaian bidang farmasi (obat) saja hanya digunakan sangat terbatas tidak untuk obat dalam dan hanya sebagai pelarut dalam pembuatan sediaan obat. dan saraf lengan dan kaki.21. .3. . . sampai setelah beberapa bulan-tahun: . gangguan kordinasi.21. Efek isopropilalkohol yang muncul segera (tidak lama) setelah terpajan: .9% hanya dapat mencegah hemolisis pada kandungan isopropi lalkohol kurang dari 8%.dan sampai koma dan kematian.3.3. kolaps dan kematian. menjadi faktor peningkat efek toksiknya. khususnya dalam depresi sistem syaraf pusat (SSP). tetapi bukan berarti tak ada efek. dimana terjadi penghambatan pertumbuhan awal. muntah . gangguan kordinasi. a) Efek Akut. B.SNI 01-7152-2006 B. depresi SSP. . B. mual.21.3.Pengaruh efek lama/kronis lain terhadap kulit menjadi kering.Tak perlu dievaluasi lagi pengaruhnya terhadap kerusakan otak dan saraf.3.13 Catatan efek membahayakan Isopropil alkohol tercatat berpengaruh pada kesehatan manusia. tetapi tak melalui efek euphoria.12 Penelitian pada tikus menunjukkan efek fetotoksik bukan teratogenik. dapat menyebabkan hemolisis dan denaturasi sempurna eritrosit (sel darah merah).Tertelan menyebabkan sakit saluran cerna.

Ekstrak bitter wood . ACGIH : 400 mg/kg untuk 8 jam kerja dan STEL : 500 mg/kg (Short term exposure limit).3. atau Picrasma excelsa (Sw.1 Kuasin (quassin). neokuasin dan 18hidroksikuasin. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additive) menyatakan bahwa penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. B.1. US FEMA GRAS 2929.22. permen dan kue-kue karena rasa pahitnya.22. dan Picrasma excelsa (Sw) Planch (famili: Simarubaceae). B. Nomor CAS. B. NIOSH: 400 mg/kg untuk maksimum 10 jam kerja.SNI 01-7152-2006 B. atau kecuali digunakan dalam pengolahan saja dengan syarat harus dihilangkan/diuapkan kembali dan tidak terkonsumsi langsung. kecuali dalam minuman alkohol sampai 50 mg/kg dan dalam permen (lozenges) sampai 10 mg/kg. 76-78-8 Deskripsi Kuasin adalah diterpen lakton. Diberi nomor 277.22. kegunaannya sebagai perisa bukan utama (dapat diganti dengan bahan lain yang lebih aman) dan dua negara yang tercatat melarang sebagai perisa. Kuasin dari Quassia amara L.4 Pengaturan European Community (Health & Consumer Protection Directorate-Generale) – 21 Februari 2003. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batas maksimum 1000 mg/kg pada produk pangan. Sedangkan ekstrak kuasin atau ekstrak quassia memiliki naman lain Quassin. mengandung campuran kuasinoid yang pahit yang terdiri dari kuasin. Nigakilactone D. Sedangkan yang berasal dari Picrasma excelsa (Sw) Planch mengandung isokuasin. B.3 Kajian keamanan CEFS tahun 1981 membatasi penggunaan kuasin dalam makanan dan minuman sebesar 5 mg/kg. Kuasin adalah senyawa terpen lakton yang berasa sangat pahit dengan derajat kepahitan 50 kali kuinin.15 Berdasarkan berbagai efek isopropil alkohol terhadap tubuh khususnya terhadap sistem syaraf pusat. Secara komersial ada dua sumber kuasin yaitu Quassia amara L.21. Tahun 2002 CEFS mengevaluasi batas ini kembali tetapi pembatasan 91 dari 122 . Senyawa ini digunakan dalam minuman. Diusulkan tidak digunakan sebagai perisa di Indonesia yang terkonsumsi langsung.5 mg/kg bw (SCF. yang dikenal juga dengan nama pikrasmin.14 a) b) c) Batasan pajanan di tempat kerja OSHA: The legal airborne permissible exposure limit (PEL) = 400 mg/kg untuk maksimum 8 jam kerja. dapat diterima dengan dasar : “temporary acceptabledaily intake” = 0 .21.2 Fungsi lain Tidak ada. dan 800 mg/kg tak lebih untuk 15 menit kerja. Nama lain kuasin adalah (+)-Quassin.) Planch disebut juga kuasia sedang ekstrak “quassia“ disebut “quassin”atau kuasin. 1981) dan hasil residu yang rendah setelah penggunaannya (SCF.22 B.21. 1991 a). Hasil evaluasi B.3. memutuskan penggunaan isopropil alkohol sebagai pelarut/pengekstraksi betakaroten dari Blakeslea trispora untuk makanan. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamananya (no safety concern). Kulit tanaman Quassia amara L.

1963). apakah pada kondisi penggunaan.1997).. (Garcia et al. akan tetapi tidak ada data kandungan kuasin. Oleh karena itu.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (Europe Commission) membolehkan penambahan kuasin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. pangan olahan (5 mg/kg). sifat metabolit. Evaluasi keamanan kuasin akan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM.4 mg/kg. pada tikus jantan. penentuan ada tidaknya pruduk metabolisme yang berbahaya. Malaysia mengatur penggunaan kuasin boleh ditambahkan pada makanan tertentu dengan batas maksimum yang telah ditentukan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy (5 mg/kg). Data pada manusia belum ada. Batas maksimum pada komoditas pangan (5 mg/kg). Di USA. 1963). 92 dari 122 . . data batas aman (threshold). Penurunan terlihat juga pada jumlah sperma dan kadar testosteron. metabolisme dan ekskresi senyawa ini. asupan senyawa lebih besar dari 1. Bagian Standardisasi. Setelah 8 minggu percobaan. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus.1997). namun data mengenai toksisitas alat reproduksi cukup banyak. hormon luitenising dan hormon stimulasi folikel serum.1mg/kg berat badan (Raji and Bolarinwa. ekstrak metanol Quassia amara L menghambat sekresi testosteron (Njar et al. sampai saat ini penggunaan kuasin masuk harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. minuman (5mg/kg) pengecualian hanya pada pastiles ( lozenges) 10 mg/kg dan minuman beralkohol (50 mg/kg). pada minuman beralkohol sampai 3. Dengan demikian. distribusi. Tidak ada data mengenai toksisitas kronis seperti karsinogenisitas dan genotoksitas.1995). Pada sel Leydig secara in vitro. Secara umum disimpulkan ekstrak quassia menyebabkan infertilitas pada tikus jantan dan selanjutnya pada betina dan ditentukan LOEL sebesar 0. Dari laporan CEFS on Food on Quassin. dinyatakan bahwa tidak ada data mengenai penyerapan. shandy (50 mg/kg). termasuk data untuk penentuan intake (asupan). Kemampuan menghamilkan pada tikus betina juga menjadi turun secara nyata. pastilles (10 mg/kg). Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. B. Selanjutnya Raji and Bolarinwa (1997) melaporkan aktifitas antifertilitas ekstrak Quassia amara L yang mengandung quassin dan alkaloid 2methoxycanthin-6-one. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. epididimis dan vesikel seminal yang diikuti dengan pengingkatan kelenjar pituitari anterior.5 µg per hari. Nilai NOEL belum ada. 1965). Toksisitas sub akut tidak terlihat sampai dosis 50 mg/kg/hari selama 8 minggu (Margaria. Tidak terdapat tanda-tanda toksisitas akut pada dosis sampai 1000 mg/kg ekstrak air kuasia. Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuasin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg.4 mg/kg sedang dalam kue-kue sampai 50 mg/kg (Hall and Oser. Pemberian ekstrak kuasia sebanyak 100 mg/kg/hari pada induk tikus bunting menyebabkan jumlah kelahiran anak tikus yang lebih sedikit (Margaria. July 2002.22. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. data toksisitas untuk evaluasi keamanan kuasin belum cukup. data NOEL dan data asupan per hari. Disimpulkan bahwa senyawa yang paling berperan sebagai antifertilitas adalah kuasin. minuman beralkohol. terlihat penurunan berat testis.SNI 01-7152-2006 penggunaan masih belum berubah. ekstrak Quassia diizinkan digunakan dalam minuman sampai 3. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: penentuan kelas struktur kimia. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.

23 B. Kenampakan kuinin berwarna putih dan sensitif terhadap cahaya. terjadi perubahan pada pendengaran dan tinnitus pada telinga. (viii) pemberian dosis terendah 6500 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan lemahnya otot. Cinchonan-9-ol. (xii) pemberian dosis terendah 80 mg/kg pada wanita secara oral. (ii) pemberian dosis terendah 4300 µg/kg pada manusia secara oral berpengaruh terhadap saraf periferal dan sensasi: paralisis lemah tanpa anesthesia. toraks atau respirasi. Conchinine. Chinidin. (+)Quinidine. Selain itu berpengaruh juga pada ginjal. post-necrotic scaring). Nomor CAS. ureter dan saluran kencing: fungsi uji renal ditekan. fibrous (cirrhosis.42 dan rumus molekul C20H24N2O2. βquinine. Kajian toksisitas kuinin memperlihatkan bahwa (i) Pemberian terendah 1425 mg/kg pada tikus secara oral berpengaruh terhadap reproduksi yaitu terjadi pertumbuhan secara statistik pada kelahiran baru dan berpengaruh juga terhadap kelahiran baru secara fisik. (iii) pemberian dosis terendah 129 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi midriasis pada mata (pembesaran biji mata). ureter dan saluran kencing. (8R.(9S)-. berpengaruh pada tingkah laku yaitu perubahan motorik. Quinicardine. (xiii) pemberian dosis terendah 126 mg/kg/3minggu secara selang-seling pada wanita secara oral terjadi kardiomiofati termasuk infraksi pada kardiak dan menyebabkan alergi pada kulit.α-(6Methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-2-quinuclidinemethanol. sedangkan pada darah terjadi angraulositosis. midriasis pada mata (pembesaran biji mata).nan-9-ol. (x) pemberian dosis terendah 12 mg/kg/1 hari secara selang-seling berpengaruh terhadap hati: hepatitis. α-(6-methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-. B.3 Kajian keamanan Kajian keamanan berikut ini adalah kajian keamanan kuinin dalam bentuk garamnya (kuinin sulfat).2 Fungsi lain Kuinin dalam bentuk garamnya atau ekstrak dari cinchona bark digunakan sebagai bittering agent (sekitar 80 mg kuinin hidroklorida per liter). Kuinin dan turunannya secara luas digunakan juga sebagai terapeutik pada percobaan infeksi protozoa.23. Conquinine. Kuinin memiliki bobot molekul 324. (ix) pemberian dosis terendah 130 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan akuitas pada telinga. (+)-Quindine. edema sakit paru-paru akut pada paru-paru. pusing dan mual pada gastrointestinal. Quinidex. pengaruhnya belum diketahui. 93 dari 122 . B. Quinaglute.SNI 01-7152-2006 B. (9S)-6'Methoxy. Selain itu digunakan juga pada minuman beralkohol pahit dan dalam jumlah sedikit digunakan dalam tepung produk konfeksioneri/kembang gula. NCI-C56246. Kinidin. (vii) pemberian dosis terendah 45455 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan perubahan pada penglihatan. seperti malaria dan noctural leg cramps. 6'-Methoxycincho. Coccinine. β-Quinine. Conchinin. kuinin hidroklorida dan deoksikuinin.6-Methoxy-α-(5-vinyl-2-quinuclidinyl) -4quinolinemethanol.9 mg/orang/hari. Pitayin. Quindine. (xi) pemberian dosis lethal terendah 220 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan lain pada kardiak. (vi) pemberian dosis tererendah 110 mg/kg pada wanita secara oral berpengaruh pada penglihatan. 130-95-0 Deskripsi Nama lain kuinin adalah Quinidine. (v) pemberian dosis terendah 800 mg/kg pada mencit secara oral. 6'-methoxy-. nefritis interstisial pada ginjal. (iv) pemberian dosis terendah 27 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi perubahan pada penglihatan. Conquinine. Selain itu berpengaruh juga pada darah yaitu terjadi perubahan pada limpa. Cin-quin. Cardioquin.23. Pitayine. ADI 0-0.9S)-6'-Methoxycinchonan-9-ol. perubahan akuitas pada telinga.1 Kuinin (Quinine). β-Quinidine.cinchonan-9-ol. terjadi perubahan pada penglihatan. 2-Quinuclidinemethanol.23. terjadi tinnitus pada telinga dan berpengaruh pada gastrointestinal yaitu pusing atau mual (perasaan ingin muntah).

SNI 01-7152-2006 B. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0. pandangan mata buram dan sempit serta kebutaan. Kuinin diserap secara sempurna dan cepat dari intestin kecil yang diberikan secara oral. 100 atau 200 mg/kg bb/hari pada 20 tikus jantan dan betina selama 13 minggu menunjukkan penurunan total protein serum dan globulin. Apabila kuinin masuk ke dalam tubuh karena tertelan dapat mengakibatkan gangguan otot/muscle tremor. Pemberian deoxyquinin secara gavage dengan dosis 0. B. menyebabkan kebutaan. 10. jerman: melarang penggunaan kuinin dalam makanan dan minuman pengecualian : bukan minuman 94 dari 122 . mengakibatkan iritasi dan gangguan pada darah. 3 ekor yang diberi dosis 80 mg/kg bb/hari mati dan yang lainnya mengalami penurunan berat badan pada hari ke 10-23 gestasi jika dibandingkan dengan kontrol.23. merusak fungsi motorik. Tak teramati adanya toksisitas pada pengamatan oftalmoskopik dan fungsi pendengaran. hepatitis akut. 40 atau 80 mg/kg bb/hari pada kelinci selama 6-18. atau 60 mg/kg bb/hari pada tikus bebas patogen menunjukkan bahwa tikus yang diberi dosis 6. Pemakaian kuinin dalam makanan (minuman selain minuman beralkohol dan shandy 85 mg/kg.3. Farmakokinetik quinin bervariasi (0. Efek terhadap kesehatan: dapat merusak liver. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari uji ini. Quinin berpotensi sebagai iritan lokal dan tidak biasanya diurus (administered) oleh intramuskular lain atau injeksi subkutanus. 20.23. Sejauh ini belum ada informasi gangguan iritasi pada bagian mata atau gangguan lain selain kebutaan. B. 20. Bagian organ yang menjadi target sasaran adalah sistem syaraf pusat. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.1 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian kuinin hidroklorida dalam bentuk diet makanan sebesar 0. Jika uap quinin masuk dalam tubuh dapat mengakibatkan iritasi pada saluran pernafasan dan mengakibatkan gangguan sama seperti yang disebutkan diatas. Sekitar 7% kuinin plasma berbentuk protein. meningkatkan urea nitrogen dan deplesi periportal glikogen hati tikus pada kelompok tikus yang diberi 2 dosis tertinggi. liver dan mata. 40.1 mg/kg). proses pembuatan makanan 0. Konsentrasi plasma puncak dicapai selama 1-3 jam secara dosis oral tunggal.23. perut mual dan muntah-muntah.1mg/kg). Pada uji teratologi.23. minuman (85 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol (300 mg/kg). Austria. Kuinin secara ekstensif dimetabolisme di hati dan kurang dari 5% ekskresi tak berubah dalam urin. in fruit curds (40 mg/kg).2 jam). Selain itu dengan metode sister chromatid exchange: 110 mg/kg bb. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Dosis terapeutik 1 g/hari kuinin untuk beberapa hari menghasilkan konsentrasi quinin plasma sekitar 7 µg/ml dengan lama hidup plasma sekitar 12 jam.3. Quinin secara cepat memotong plasenta. 1.2 Kajian khusus gentoksisitas dengan metode ames Pada 5-20 µg/plate kuinin hidroklorida. minuman beralkohol dan shandy 300 mg/kg. 6.4-18. Typhimurium galur TA98. mempengaruhi sistem pusat saraf.3 Kajian khusus teratologi deoksikuinin Pemberian deoksikuinin secara oral gavage dengan dosis 0. hasilnya positif terhadap mencit (NMRI C3H) dan dengan metode yang sama juga pada konsentrasi 55-110 mg/kg bb hasilnya positif terhadap mencit (C57BL).4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) membolehkan penambahan kuinin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.8 ml/kg/min dengan masa hidup 8.9-1. Uji sebelumnya yaitu uji preliminari mengindikasikan bahwa dosis 135 mg/kg bb/hari deoksiquinin menyebabkan kehilangan berat badan dan kematian pada kelinci.67 dan 60 mg/kg bb/hari terjadi penurunan ukuran fetus dengan ditandai hilangnya pre-implantasi. B. dapat menyebabkan gangguan darah dan anemia.67.3. hasilnya positif terhadap S.

24. Snow. Erytroxylin.) oktan-2-asam karboksilat metal ester (C17H21NO4) memiliki bobot molekul : 303.17 g/100 ml. Minuman tonik. Jawa) & Erythroxylum novogranatense (di Amerika Selatan). Toot. Corine. Neurocaine. air mineral.24. kristal higroskopis rasa pahit dan tidak berbau.2R. 1% larutan pH netral. Luxemburg menetapkan penggunaan kuinin dalam buah dan atau ekstrak sayuran lemon (85 mg/l) sebagai quinine base. Kokain atau dengan nama lain ß-cocaine. jus. Cecil. Finlandia membatasi penggunaan kuini pada minuman ringan (excluding prepacked waters). minuman beralkohol (300 mg/kg). Charlie. White girl. L-cocaine. Crack. Eritroxilina. Yunani menetapkan penggunaan kuini pada minuman ringan 100 mg/l. pH basa. 53-21-4 Deskripsi Kokain merupakan salah satu dari 14 alkaloid yang diekstraksi dari daun 2 spesies koka: Erythroxylum coca (ditemukan di Amerika Selatan. Methylbenzoylecgonine. Larutan kokain tidak dipakai untuk kulit atau jaringan abraded atau luka bakar atau jaringan yang disampaikan dengan sambungan arteri. minuman beralkohol. Titik leleh 197oC. Kokain HCl merupakan senyawa tidak berwarna atau putih. Girl. 2ß-karbometoksi-3ß-ben-zoksitropan. Jam. dalam eter 28. jus buah lemon 40 mg/kg sebagai quinine base. Lady. B. pangan olahan lain (0.1. untuk anak-anak tidak ada data. Kokayeen. & Speed ball (Heroine+cocaine). Bernice.6 g/100 ml. Cholly. sebagai kuinin (CFR 172.2 Fungsi lain Tidak ada.(1R. She. Burese. berbentuk kristal padat. Kokain HCl. Carrie. Pembatasan tidak melebihi 83 mg/kg. Sedangkan kokain merupakan berwarna putih. dalam alkohol 25 g/100 ml. Kokain HCl digunakan hanya untuk anestesi saluran pernapasan. US melalui FDA menetapkan kuinin sebagai hidroklorida atau garam sulfat mungkin aman digunakan dalam minuman berkarbonat sebagai perisa. Flake. Gold Dust. White lady. Kokain. Nose candy.3S. shandy (300 mg/kg). Star-spangled powder.575) Malaysia memperbolehkan penambahan kuinin pada makanan tertentu sesuai dengan batasan maksimum yang izinkan minuman selain minuman beralkohol dan shandy (85 mg/kg). Prancis menetapkan penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol sebesar 70 mg/l. Dama Blanca. pangan lain (1 mg/kg) Spanyol membatasi penggunaan kuinin pada air tonik dan bukan minuman keras yang berasa pahit (100mg/l incl. Nomor CAS.4. 5aH-tropan-2ß-asam karboksilat 3 ß-hidroksi-metil ester benzoate. 3-(benzoiloksi)-8-metil-8azabisiklo-(3. Kokain HCl tidak digunakan secara intra-okular karena menimbulkan ulserasi kornea.2. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuinin sebagai Natural Toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum campuran minuman beralkohol yang belum terklasifikasikan (300 mg/kg) . Nomor CAS. Cadillac of drug. karena risiko iskemia dan nekrosis jaringan. Rock.1 Kokain (cocaine). madu (85 mg/kg). Green gold. B. Happy trails. Amerika Pusat. cocaina. Leaf. Minuman berbasis anggur (wine) dan anggur dengan kadar alkohol yang telah dikurangi (300 mg/kg). Kokain atau dengan nama kimia Benzoilmetilekgonin. Belanda membatasi penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol (85 mg/kg).24 B.5S)-2-metoksikar-boniltropan-3-il benzoate. Star dust. minuman spirit 300 mg/kg.SNI 01-7152-2006 beralkohol 85 mg/kg. tidak larut dalam eter. Coke. Dosis terapi untuk dewasa direkomendasikan 1-3 mg/kg. Champagne of drugs. 1aH. 95 dari 122 . Kelarutan dalam air 0. berbentuk kristal padat. 50-36-2. Pimp’s drug.1 mg/kg). Kokan. Ecgonine methyl ester benzoat. Bernies. titik didih 187-188oC. Happy dust.4 g/100 ml. kuinin klorida dan sulfat). Titik leleh 98oC. Benzoyl methylecgonine. India. Blow. Liquid lady (Aalcohol+cocaine). dalam alkohol 15. Her. 3-tropanilbenzoat-2-asam karboksilat metal ester. bitter drinks dan quinine drinks (100 mg/kg). Kelarutan dalam air 200 g/100 ml.

anoreksia. kemungkinan terakumulasi dalam system saraf pusat (SSP) dan dalam jaringan adiposa. kokain terionisasi dan gagal masuk ke dalam sel. perubahan dihubungkan dengan vasokonstriksi sekunder. kokain terlihat dalam darah setelah 30 menit. dan penurunan mental. 0. pingsan dan mati. Kajian toksisitas kokain memperlihatkan bahwa LD pada orang dewasa diperkirakan pada 0. agitasi.02 g kokain melalui jalur parenteral. 1%-9% Kokain dieliminasi tidak berubah dalam urin.SNI 01-7152-2006 B. yang menghasilkan benzoilekgonin dengan demetilasi. 0. muntah. Malaysia melarang penggunaan kokain sebagai perisa. Melalui pemberian intra-nasal atau oral.24. penyerapan dapat berubah-ubah dari 20% sampai 60%. dan dalam urin bayi baru lahir selama sebanyak 5 hari.3 Kajian keamanan Target organ adalah sistem syaraf pusat (SSP) dan sistem kardiovaskular. halusinasi.4 CAC menyatakan bahwa batasan pada bahan pangan adalah cocain free (tidak mengandung kokain). kehilangan berat badan.05 sampai 5 g / hari melalui jalur nasal. LD50 iv pada tikus 17. mual. dosis pengulangan. efek klinis tampak 3 menit setelah pemberian. sedikit terionisasi dan penyerapan meningkat cepat. gangguan jantung. dengan hilangnya gugus benzoil memberikan ester metil ekgonin. Efek toksik dapat ditunjukkan dengan konsentrasi plasma sama dengan atau lebih dari 0. sampai 2 jam pemberian. Kecepatan metabolisme tergantung konsentrasi plasma. Melalui inhalasi. dan mengakumulasi dalam fetus setelah penggunaan berulang. Dosis lebih besar menyebabkan hipertermia. Keracunan akut dosis rendah menyebabkan euphoria dan agitasi.5 mg/kg. Melalui pemberian masal. dengan proporsi lebih tinggi dalam urin asam. niat bunuh diri. Penyalahgunaan kokain menyebabkan ketergantungan psikologis yang kuat. sakit perut. Dalam jumlah besar. Aktivitas esterase bervariasi secara substansi dari satu subjek ke subjek yang lainnya. Keracunan kronis menimbulkan euphoria. Melalui intravena. Kokain tidak berubah diekskresi dalam stool dan dalam saliva. LD50 pada kelinci 15 mg/kg melalui jalur iv. Kokain dan benzoilekgonin dapat dideteksi dalam ASI sampai 36 jam setelah pemberian. psikomotor agitasi. 60 sampai 80% kokain diserap. dan paling lama 30 sampai 60 menit. aritmia ventricular.3 g / hari melalui mulut. dapat disertai depresi SSP dengan pernapasan yang tidak beraturan.5 mg/l. Dalam media basa. koma. sakit dada. Dalam media asam. hipertensi. dan 50 mg/kg melalui jalur nasal. kemungkinan non-enzimatik.5 sampai 1. Pengaturan d) B. Ada 3 jalur bio-transformasi: a) b) c) Jalur utama adalah hidrolisis kokain oleh esterase plasma dan hati. Setelah pemberian oral. Ketagihan kokain dapat ditoleransi sampai dosis 5 g/hari. 96 dari 122 . Kokain diserap melalui seluruh jalur pemberian. Jalur sekunder adalah hidrolisis spontan. Kokain didistribusikan pada seluruh jaringan tubuh. takikardi. dan melalui blood brain barrier. Tidak ada data karsinogenik dan mutagenik. halusinasi. konvulsi. Kokain melalui plasenta dengan difusi sederhana. sebagai hasil kelarutannya dalam lemak. mencapai konsentrasi maksimum dalam waktu 50 sampai 90 menit. Australian Food Standard Code menyatakan bahwa kokain sebagai natural toxicant harus tidak terdeteksi pada produk pangan.24. gelisah luar biasa. Metabolisme kokain terjadi terutama di dalam hati. kematian dilaporkan pada konsentrasi 1 mg/l. konsentrasi darah mencapai puncak dalam beberapa menit. midriasis.

Demikian pula halnya dengan Malaysia. Nama lain dari komarin. komarin menyebabkan hepatotoksik.25. Australia New Zealand (FSANZ) mengizinkan penambahan komarin melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. antara lain 1. dan kelinci. USA melalui CFR 189. Batas maksimum untuk komoditas pangan (2 mg/kg). pasta gigi. Bersifat mutagenik pada dua dari 11 strain Salmonella typhimurium dengan aktivitas metabolik. marmut.25. sabun toilet. 290 mg/kg bb (oral. India melarang penggunaan komarin dalam produk pangan. minuman (2 mg/kg). oral) yang diberikan setiap hari selama 7 hari pada tikus betina menyebabkan penurunan kadar progesteron. penguat aroma pada parfum. Toksisitas akut (LD50) komarin pada tikus adalah 680 mg/kg bb (oral). Pada mencit.SNI 01-7152-2006 B. Thailand. Mempunyai titik didih 2970C -2990C dan titik leleh 680C -700C. B. 1 mmol/kg (146 mg/kg. Pemberian 1% komarin dalam diet selama 4 minggu pada tikus menyebabkan penghambatan pertumbuhan serta pembesaran dan kerusakan hati. pemberian komarin dalam dosis besar menyebabkan penghambatan pembentukan tulang janin dan peningkatan kematian anak dalam uterus. tikus.13 kPa dengan titik nyala (api) 150 0C serta koefisien partisi komarin adalah 1. Kerapatan komarin adalah 0. juga adenoma ginjal. dan sorbitol dehidrogenase. dan adenoma hati. dengan larutan pembawa minyak jagung) sedangkan untuk marmut adalah 202 mg/kg bb (oral).30 melarang produk pangan yang mengandung komarin. Pada mencit bunting 6-17 hari. terjadi adenoma dan karsinoma paru-paru. terjadi adenoma dan karsinoma hati dan saluran empedu.2 Fungsi lain Sebagai fiksatif. dengan larutan pembawa propilen glikol). pada produk tembakau dapat memperkuat rasa dan aroma alami tembakau. Singapura. dalam produk industri untuk menutupi bau yang tidak diinginkan. 91-64-5 Deskripsi Komarin mempunyai rumus molekul C9H6O2 dengan berat molekul 146. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.14. Nomor CAS. Pada tikus. 1000 mg/kg menyebabkan hipoglikemik pada tikus betina selama kurang lebih 24 jam.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan komarin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. obat rambut (hair preparations).25 B. dan 2-Oxo-2H-1-benzopyran. 97 dari 122 .2-Benzopyrone.25.96 g/cm3 dan kelarutannya kurang di dalam air.1 Komarin (coumarin). B. Secara In vitro komarin toksik terhadap sel hati pada mencit. 520 mg/kg bb (oral. terjadi peningkatan aktivitas SGOT.39 oktanal/air.25. cis-O-coumarinic acid lactone. gamma-glutamyl transferase. Sementara Australia dalam Australia Food Standard Code menetapkan komarin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (2 mg/kg). B. Coumarinic anhydride. Tekanan uap pada suhu 106 0C adalah 0.3 Kajian keamanan Pada mencit dan tikus. pengecualian pada karamel dan minuman beralkohol ( 10 mg/kg) serta permen karet (50 mg/kg).

bubuk sherbets. 93-08-3 Deskripsi Metil beta-naftil keton merupakan kristal padat berwarna putih dengan bau bunga jeruk. Jerman mengizinkan pada produk tertentu sebesar 5 mg/kg yaitu pada minuman dingin dan panas alami. Kulit pohon betula hanya mengandung 3% asam tanat.21 dimana kadarnya tidak kurang dari 99%. cream desserts. Berdasarkan perkiraan asupan perhari di eropa sebesar 6 µg/ orang yang melebihi ambang batas yaitu sebesar 1. Ambang batas aman yang dapat digunakan untuk manusia sebesar 90 µg/ hari. jeli. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi.5 µg/ orang perhari. saus manis.59 @ 20oC. B. India melarang penggunaan senyawa perisa pada berbagai artikel pangan. berke. Minyak betula dapat 98 dari 122 . B.26.1 Nama lain dari minyak betula adalah betula pendula roth tar oil. sup.26 B.35 @ 25oC. edible ice.3 Kajian keamanan Secara umum senyawa perisa diabsorbsi atau diserap melalui usus manusia. adonan masses dan isiannya. pubescens. EC (European Commisssion) di Italia mengizinkan penggunaan metil-beta-naftil-keton hanya pada permen (0. Minyak betula (birch tar oil). Kulit pohon betula mengandung pula betulin dan kapur betul. Senyawa metil beta-naftil keton dalam tubuh manusia tidak dapat diprediksi apakah dapat menghasilkan produk yang berbahaya.233 pon. Nomor CAS.27. US FDA mengizinkan. Minyak betula bukan merupakan minyak esensial. dan permen karet. B.27 B. Mempunyai rumus kimia C12H10O dengan bobot molekul 170. B. Senyawa perisa di dalam tubuh manusia dimetabolisme melalui reaksi hidrolisis dari aktivitas katalitik karboksilase. titik didih 175oC @ 760 mm. indeks refraktif 1. isian untuk produk coklat. puding. Daunnya mengandung asam betulorentic.2 Fungsi lain Tidak ada. monoecia triandria.26.26. Dari 38 senyawa perisa yang ada. Senyawa metil beta-naftil keton masuk dalam kategori kelompok III karena senyawa perisa ini memiliki struktur cincin yang lebih dari satu dan tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi lebih sederhana (mono). Titik beku tidak kurang dari 520 dan kadar abu sulfat tidak kurang lebih dari 0.1 mg/kg). Oleh sebab itu senyawa ini perlu dievaluasi lebih lanjut. 1 gram beta-naftil keton larut di dalam 5 ml etanol 95%. Senyawa aromatik jenis keton dikeluarkan melalui urin atau dioksidasi dan diekresi sebagai glycin. bakery wares. bereza. Nomor CAS. tidak larut dalam gliserol sedangkan larut di dalam campuran minyak. 9.13 – 1.26. Menurut NOEL pengamatan terhadap tikus yang diberi senyawa Metil β-naftil keton selama 90 hari sebanyak 33 mg/kg berat badan per hari menunjukkan hasil bahwa senyawa ini termasuk dalam kategori aman untuk dikonsumsi oleh manusia.05%. dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan rumus kimianya. Metil beta-naftil keton praktis tidak larut dalam air. konfeksionari (kembang gula). white birch bouleau. brausen.1 Metil beta-naftil keton (metyl β-naphthyl ketone).522 – 1.SNI 01-7152-2006 B.4 Pengaturan Evaluasi mengenai senyawa ini telah dilaporkan terdapat efek toksisitas. B. Minyak betula memiliki gravitasi spesifik 1.403 – 11. verrucosa. 8001-88-5 Deskripsi B.

SNI 01-7152-2006

dicampur dengan Cananga, Guaiyl Butyrate; Heptyl Eugenol; Isoamyl Phenyl Acetate. Minyak betula tumbuh baik di Eropa, dari Sisilia sampai pulau es dan di Asia bagian Utara. Minyak betula adalah minyak yang diperoleh dengan cara destilasi kering kulit dan kayu Betula Pendula Roth dan spesies sejenis Betula (Fam.Betulaceae), kemudian dimurnikan dengan destilasi uap. Minyak betula hasil destilasi mengandung persentase metil salisilat yang tinggi, kreosol dan guaiakol. Minyak yang sudah dimurnikan (Oleum Rusci Rectificatum) kadang-kadang diganti dengan minyak cade. Cairan jernih; warna coklat tua; bau tajam seperti bau kulit. Larut dalam hampir semua minyak lemak dan alkohol. Tidak larut dalam air, gliserol, minyak mineral dan propilen glikol. Minyak betula juga tidak larut secara sempurna dalam 95% asam asetat dan anilin, akan tetapi minyak turpentin memisahkannya secara sempurna Minyak betula hampir identik dengan minyak wintergreen. B.27.2 Fungsi lain

Sebagai aroma parfum: Burnt, Leather Cuir, Fantasy Blends, Fern Fougere; Leather, Peau D’spagne dan sebagai penyamak. B.27.3 Kajian Keamanan

Bagian pucuk dan daun mengeluarkan resin (damar) yang bersifat asam, jika digabungkan dengan alkalin akan menjadi tonic laxative. Daunnya yang khas bersifat aromatik, bau yang enak dan berasa pahit. Digunakan sebagai teh (teh betula) untuk encok, reumatik, dropsy, dan sebagai pelarut batu ginjal yang dapat diandalkan. Dengan kulit pohon, teh betula melarutkan dan melawan pembusukan (putrefaction). Jamu pohon betula baik untuk bathing skin eruption dan berguna untuk sakit dropsy. Minyak berasa kecut, digunakan untuk efek kuratifnya pada kulit, terutama eczema, tapi digunakan juga untuk obat penyakit dalam. Kulit pohon bagian dalam yang pahit dan kecut telah digunakan sebagai obat demam. Air bunga sebagai diuretik. Dosis yang diberikan yaitu ekstrak beralkohol dari daun, 25-30 butir tiap hari. B.27.4 Pengaturan

EC (European Commission) mengizinkan penggunaan minyak betula pada bahan pangan dan minuman (0,03 µg/kg). IOFI (International Organizaton of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaannya pada produk akhir makanan sebesar 0,03 µg/kg. US FDA mengizinkan penggunaan minyak betula (CFR 172.515). Singapura melarang penggunaan minyak betula. B.28 B.28.1 Minyak cade (cade oil), Nomor CAS. 8013-10-3 Deskripsi

Cade merupakan pohon belukar besar berdaun hijau sampai ketinggian 13 kaki, dengan jarum gelap panjang dan buah kecil hitam kecoklatan seperti ukuran hazelnuts. Minyak esensial ini yang dikenal dengan nama kimia Juniper tar oil diperoleh dengan cara distilasi destruktif dari cabang dan empulur. Berasal dari Perancis Selatan, sekarang umum ada di seluruh Eropa dan Afrika Utara. Banyak dihasilkan terutama di Spanyol dan Yugoslavia. Juniper tar oil digunakan pada pengobatan penyakit kulit seperti eksim kronis, parasit, penyakit scalp (kulit kepala), rambut rontok, dll; pada luka sebagai antiseptik dan untuk sakit gigi; untuk luka, ketombe, dermatitis, eksim, noda, dll. Penggunaan secara luas di bidang farmasetik sebagai pelarut obat-obatan kimia, dalam krim dan salep kulit seperti juga pada obat-obat hewan. Minyak yang sudah dimurnikan digunakan pada bidang fragrans, dalam sabun, losion, krim dan pewangi. Kombinasi penggunaan dengan thimi, origanum, cengkeh, cassia, tea tree, cemara, dan basis obat memiliki khasiat analgetik, antimikroba, antipruritik, antiseptik, disinfektan, parasitisida, vermifugal (obat cacing).
99 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.28.2

Fungsi lain

Digunakan untuk mengobati penyakit kutanus seperti eczema kronik, parasit, penyakit scalp, kerontokan rambut. B.28.3 Kajian keamanan

Tidak toksik, tidak iritasi, kemungkinan masalah sensitisasi. Penggunaan harus hati-hati, khususnya perlakuan pada radang atau kondisi kulit alergi. Turpentine (terebinth) digunakan sebagai alternatif, dengan kemungkinan reaksi alergi lebih sedikit. Toksisitas akut, kanker, pemecahan endokrin, toksisitas reproduksi tidak ada. B.28.4 Pengaturan

CAC (Codex Alimentarius Commission) tidak ada batasan pengaturan minyak cade. Sedang EC (European Commission) menetapkan batas maksimum dalam bahan pangan yang dikonsumsi sebagai perisa : makanan dan minuman 0,03 mg/kg. Sedangkan Malaysia dan Singapura melarang penggunaan minyak cade dalam makanan. Minyak kalamus (calamus oil) Deskripsi

B.29 B.29.1

Minyak kalamus (Acorus Calamus L) berasal dari tumbuhan. Minyak kalamus diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar tanaman atau akar kering. Minyak kalamus merupakan cairan kental berwarna kuning atau kekuningan, berbau aromatik dan berasa pahit. Memiliki titik didih 180 °Februari dan gravitasi spesifik 0,962. B.29.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.29.3 Kajian keamanan

Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen). β-asaron mengandung berbagai macam minyak kalamus yang bersumber dari tanaman. Indian Acorus calamus dari Jammu merupakan tetraploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 75% beta-asaron; Acorus calamus dari Kashmir merupakan hexaploid dan minyak yang dihasilkan mengandung sektiar 5% beta-asaron (Vashist & Handa, 1964). Acorus calamus dari Eropa merupakan diploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 5% beta-asaron (Larry, 1973). Umumnya, hanya minyak dari varietas diploid yang digunakan sebagai aromatik perisa pada minuman beralkohol (Usseglio-Tomasset, dalam Larry, 1973). Akar dan rhizoma Acorus calamus telah digunakan dalam system Ayurvedic sebagai obat-obatan untuk mengatasi berbagai penyakit seperti epilepsy hysteria (Madan et al., 1960). B.29.4 Pengaturan

US FDA, Malaysia, dan India melarang penggunaan minyak kalamus pada produk pangan. Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen).

100 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.30 Minyak peniroyal (pennyroyal oil), Nomor CAS. 8013-998 B.30.1 Deskripsi

Pennyroyal oil merupakan minyak esensial berasal dari daun Mentha pulegium, mengandung 62-97% R(+)-pulegon (Grundschober, 1979) dan telah dikonsumsi manusia selama beberapa abad, terutama karena sifat-sifat abortifacient yang dimiliki (Gunby, 1979), Pennyroyal oil dengan sinonim Mentha pulegium L, mentha pulegium I. Oil; hedeoma oil berasal dari tanaman. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar yang segar atau akar kering dari tanaman Mentha pulegium L. Kandungan utama dari pennyroyal oil erafrican adalah d-pulegon. Memiliki angular rotation +18° - +25°, refraktif indeks 1.483-1.488, gravitasi spesifik 0.93000, titik nyala 176 °F, larut alcohol, propilen glikol, mineral oil, tidak larut dalam gliserin, minyak berwarna kuning muda sampai kuning hijau, berasa pahit dan bau minth. B.30.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.30.3 Kajian keamanan Peniroyal merupakan perisa alamiah yang mengandung pulegon sehingga evaluasi minyak alamiah ini setara dengan evaluasi untuk pulegon. Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan peniroyal belum cukup, termasuk data metabolisme, penentuan intake (asupan), data batas aman (threshold), data NOEL dan data asupan per hari. Namun demikian, evaluasi peniroyal dapat juga mengacu pada evaluasi senyawa pulegon. Oleh karena itu, penggunaan peniroyal harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. B.30.4 Pengaturan

Singapura melarang penggunaan pennyroyal oil pada produk pangan. B.31 B.31.1 Minyak rue (rue oil), Nomor CAS. 8014-29-7 Deskripsi

Minyak rue merupakan essensial oil yang diperoleh dari tanaman Ruta graveolens L, merupakan tanaman khas daerah Mediterania. Komponen utama minyak rue adalah methylheptyl-ketone (90 %), 1-a-pineol, cineol, dan 1-limonen, serta methyl-n-nonylcarbinol. Ekstrak maupun bagian tanaman dari Ruta graveolens L sering digunakan sebagai bahan tambahan pada minuman beralkohol yang dikonsumsi sebelum makan besar, berasa sangat pahit; salad dan daging di beberapa negara Eropa. Selain digunakan sebagai bahan tambahan pangan, Rue oil maupun ekstrak Ruta graveolens L digunakan sebagai antispasmodic, emmena-gogous. Minyak rue bersifat iritan, direkomendasikan sebagai rempah obat bagi gangguan insomnia, sakit kepala, nerveousness, abdominal cramps, gangguan renal. Ruta graveolens L dikenal sebagai tanaman emmenagogue (stimulan menstruasi) kemungkinan sebagai sedative dan hypnotic herbal. Minyak rue biasanya digunakan untuk obat homoeopathic sebagai subefacient, untuk obat dematoses sebagai eczemas dan psoriasis; dan sebagai antivirus jika digunakan bersama dengan herbal lain. Rue oil jika dioleskan pada kulit bermanfaat sebagai rubefacient untuk gangguan rematik. Selain itu, pemakaian bagian tanaman Ruta graveolens L maupun ekstraknya berlebih dapat mengakibatkan keguguran janin. Sejauh ini belum tersedia data yang mendukung mekanisme absorpsi, distribusi, lama tinggal dalam tubuh, metabolisme dan lain-lain. Rue essential oil tidak boleh digunakan sebagai bahan dalam aromaterapi karena bersifat berbahaya, dapat terbakar dan menyebabkan iiritasi pada kulit, tidak disarankan digunakan
101 dari 122

3 B. proses mitosis dihambat dengan adanya senyawa tersebut dan terjadi pula perubahan pada kromosomnya.1 Kajian keamanan Bahaya yang sering dijumpai Pemakaian tradisional disiapkan dengan menyeduh satu sendok penuh daun Ruta graveolens L dalam 250 ml air mendidih dan diminum tidak lebih dari dua cangkir per hari.31.SNI 01-7152-2006 selama ibu menyusui dan pada anak-anak. skimianine. Sedangkan hasil pengujian mutagenisitas menunjukkan bahwa ekstrak sejenis tanaman Ruta graveolens L.3. liver dan bahkan kematian.31.31. Pengaruh anti-methaphetamine juga terjadi pada hewan percobaan. cataleptogenic activity. kecuali pada konsumsi secara tradisinonal dengan meminum ekstrak rebusan daun Ruta graveolens L disarankan tidak alebih 1 atau 2 gram per hari. B. Informasi yang lebih kuantitatif dilaporkan sebagai beikut: asupan sebanyak 120 gram daun segar Ruta graveolens L atau 10 ml Rue oil dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal.3 Pengaruh klinis Keracunan akut diakibatkan oleh karena masuknya komponen aktif Rue oil atau ekstrak Ruta graveolens L dalam jumlah berlebihan. Adapun pengaruh akibat menghirup senyawa aktif dari minyak rue atau ekstrak Ruta graveolens L. jamur sel indung telur.3. Informasi toksisitas Rue oil maupun bagian tanaman Ruta graveolens L pada orang dewasa belum ada. Pada wanita hamil dapat menderita pendarahan peranakan dan keguguran janin. Adapun informasi mengenai karsinogenisitas. kasus klinis akibat minum seduah daun Ruta graveolens L adalah keguguran janin. Beberapa gejala seperti epigastric pain. Jika terkena sinar matahari kulit 102 dari 122 . alkaloid dicktamin.3. dan menghambat tingkat kehamilan hingga mencapai 50-60 % tikus. B.2 Kajian toksikologi/toksinologi/farmakologi Metyl-nonyl-ketone memacu uterine contractions dan pelvic contaction sehingga akan mengakibatkan uterine haemorrhage yang memungkinkan terjadinya keguguran janin. skimianine dilaporkan menghambat secara nyata pada spontaneous motor activity. exploratory behaviour. tetragenisitas belum ada. B. Beberapa kasus keracuan disebabkan karena kesalahan dalam dosis penyeduhan. Gejala akut pada bagian kulit terjadi akibat terkena senyawa aktif Ruta graveolens L dalam jangka waktu lama yang mengakibatkan iiritasi. yakni Tinctura Rutae berpengaruh sangat kuat pada Salmonella typhimurium. hyperpigmentation dan blistering pada kulit. Pasien dapat mengalami hipotensi dan bradycardiac diikuti dengan shock. gammafagarine. B. Dosis asupan maksimal yang direkomendasikan adalah 1 gram daun Ruta graveolens L/hari.2 Fungsi lain Tidak ada.31.31. Hasil pengujian pada hewan menunjukkan bahwa. Insufisiensi pada bagian renal dan liver terjadi beberapa hari kemudian. vomiting dan excessive saliva kemudian diikuti oleh CNS exitation terjadi pada pasien yang mengalami keracuan ekstrak Ruta graveolens L. pemisahan dari kelompoknya dalam waktu lama meningkatkan gejala saling memusuhi diantara sesamanya. Ekstrak tanaman tersebut dinyatakan mengandung furoquinoline. pteleine dan kokusaginine yang diduga menyebabkan peristiwa mutagenik. Psoralen atau furooumarin merupakan senyawa yang bersifat photoactive apabila dikenakan pada kulit dan terkena sinar matahari mengakibatkan kulit kemerahan. Phototoxicity dari senyawa tersebut ditunjukkan pada bakteri. Ekstrak Ruta graveolens L dilaporkan juga berpengaruh pada anti-implantation pada tikus albino. dan pengararuh pada mata serta ekspose parenteral belum ada datanya.

haemodynamic disorder. Keracunan pada kulit mengakibatkan iiratasi.1 Minyak sasafras dengan sinonim sassafras albidum (Nutt. Gangguan pada liver terjadi setelah 2-4 hari mengkonsumsi ekstrak Ruta graveolens L. soft candy (10 mg/kg). koma akan berakibat pada kegagalan pernafasan seperti pneumonitis. frozen dairy desserts dan mixes (10 mg/kg). dan ekspose parenteral belum ada. sedangkan pada CNS dapat mengalami convulsion. Gangguan pada sistem gastrointestinal dijumpai akibat keracunan akut. Renal failure biasanya terjadi akibat tubular necrosis akut yang perlu penanganan haemodialysis. Pada pernafasan. menghirup. Beberapa gastroentriteritis dapat memacu kehilangan cairan dan terjadinya gejala kardiovaskular. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari akar bagian kulitnya dari tanaman sassafras albidum (Nutt. US FDA mengatur penggunaan Minyak rue sesuai dengan batas maksimum yang telah ditentukan yaitu pada baked goods dan baking mixes (10 mg/kg). Minyak sasafras (sassafras oil). Pengaruh pada bagian syaraf periphertal nervous system. pemulihan kembali kesehatan sangat mutlak perlu tanpa adanya efek samping lanjutan.32. Pengaruhnya pada jaringan darah. Tidak ada pengaruh pada kelenjar endokrin meskipun terjadi gejala penurunan produksi sperma. vomiting. B.31. gangguan ini meliputi jaundice. convulsions.1699). apabila terkana sinar matahari akan mangakibatkan photodermatitis. jaundice dan oliguria.SNI 01-7152-2006 akan mengalami etythema. epigastric pain. Informasi gejala kronis akibat kontak pada bagian meta. Gejala lain seperti tongue oedema dan fibrillation juga dapat dijumpai pada pasien keracuan akut. Gejala kronis akibat menelan ataupun minum bagian aktif Ruta graveolens L menjukkan gejala yang sama pada keracunan akut.32 B. diarrhoea dan hypersalivation merupakan gejala umum yang dilaporkan terjadi. Minyak sasafras memiliki titik nyala 197 °F dengan gravitasi spesifik 1. Nomor CAS. akan tertjadi coagulation disorder yang bertalian erat dengan hepatic insufficiency. metabolic imbalance yang diikuti dengan renal failure. bradycardia dan akhirnya akan mengalami haemodynamic shock. kategori pangan lain (4 mg/kg) (CFR 184. pyperpigmentation dan bistering. Minyak sasafras adalah minyak atsiri yang mengandung 80% atau lebih 103 dari 122 . 68917-09-9 Deskripsi B. Jika pasien dapat bertahan hidup.080.4 Pengaturan EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. Penyembuhan sangat lambat apabila pasien tetap mengalami gastrointestinal symptom. B. Pasien juga akan mengalami uterine bleeding akibat pengaruh komponen Ruta graveolens L pada bagian uterus. dan skeletal dan smooth muscles belum ada.) Ness berasal dari tanaman.) Ness.31. Gangguan pada kelenjar endokrin dan sistem reproduksi akibat keracunan akut dilaporkan akibat peningkatan uterine contractilicity dengan hypogastric pain. haemorrhage dan keguguran janin pada wanita hamil. dengan gejala erythema dan blistering. Jika pasien dapat bertahan hidup. pasien dapat mengalami hepatic insufficiency yang selanjutnya dapat berkembang menjadi jaundice dan renal failure yang akhirnya akan mengalami kematian pula.4 Penyebab kematian Kematian dapat terjadi setelah 2 atau 3 hari setelah pasien mengalami keracunan setelah pasien mengalami gelaja akut gastro-intestinal symptomatology yang diikuti dengan gejala haemodynamic alteration.3. autonomic nervous system. abortion. Akibat keracunan. coagulation disorder. Kontak senyawa aktif Ruta graveolens L dengan lidah mengkibatkan tongue irritation dan oedema yang diikuti dengan fibrillary movement. nausea. dan convulsions. Singapura melarang penggunaan minyak rue. pasien akan mengalami gangguan pada jantung dengan gejala hypotension.

2-dihudroxy4alliybenzen metabolit utaman dalam urin baik pada manusia maupun tikus. dan hepatitis. Safrol yang terdapat dalam minyak sasafras dapat merusak jaringan hati secara permanen. dengan rasa agak asam.32. atau dihidrosafrol. Dan 3’hydroxy-isosafrole hanya terdeteksi pada tikus. paralisis.925-0.63 mg/kg pada tikus menurunkan kecepatan eliminasi. kram. hilang kesadaran. Menguap cepat pada suhu ruang.165 mg atau 1.940.) Ness.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon). 104 dari 122 . mempunyai karakteristik aroma.1 Minyak tansi dibuat dengan cara destilasi tanaman yang sedang berbunga dengan air. Nomor CAS. merah kulit.32. Dosis dari minyak 2-5 tetes. Aroma sasafras berasal dari safrol. 8016-87-3 Deskripsi B.33. Umumnya berwarna kuning. 1. isosafrol.SNI 01-7152-2006 safrol. Dosis 0. Dalam plasma dan jaringan level safrol dan hasil metabolitnya meningkat selama 24 jam. B. Aroma seperti tansi. dan sifat buruk lainnya yang dilaporkan terjadi pada manusia yang mengkonsumsi sassafras. Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafaan tehambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia. radang lambung.2 Fungsi lain Tidak ada. Minyak tansi (tansy oil). karakteristik aroma disebabkan konstituen utama tujon atau tanaseton. India. Minyak tansi dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah. Safrol diabsorbsi melalui gastrointestinal.4 Pengaturan Malaysia. Minyak yang ditanam di Inggris mempunyai aroma rosemary.2-methylenedioxy) adalah konstituen utama dari sassafras albidum (Nutt.33 B. Zat kimia yang terdapat dalam minyak sassafras bersifat karsinogenik. B.33.955. B. yang berasal dari Amerika dalam keadaan murni berbentuk cairan jernih dengan 70% alkohol. tetapi lebih kuat.32. serta panas. LD50 (akut) secara oral pada tikus 1. bumbu. Rasa sangat pahit. hanya 25% yang diekskresikan dalam waktu 24 jam.33. Dapat pula mempercepat denyut jantung. pendarahan usus. Dapat menyebabkan aborsi.3 Kajian keamanan Safrol (1. tanaman kering 0. nafas sesak. Larut dalam alkohol. tetapi ada yang berwarna hijau warna berubah menjadi coklat kena udara dan cahaya.655 mg pada manusia dan 0.2 Fungsi lain Tidak ada.15 g/kg. B. Rumus kimianya C10H16O. Singapura melarang penggunaan minyak sasafras sebagai perisa. Pada kelinci > 5 g/kg secara dermal. dan dapat menyebabkan kanker hati pada konsentrasi tinggi yang diujikan pada hewan. penyimpangan denyut jantung. Gravitasi spesifik minyak yang berasal tanaman segar 0. halusinasi. Pada hewan menyebabkan penyakit yang sama dengan hydrophobia (rage tanacetique). B. berbeda dengan yang terdapat Amerika dan Jerman dengan laevo-rotary (-27 °).

pada umumnya sangat rendah sekitar 0. Akan tetapi.01 dan 1 µg). Densitas relatif terhadap air : 1. Kerusakan akibat fotolisis di udara dan air sangat lambat.11.5 and 6 hari). Diantara 49 sampel udara di Jepang terukur kandungan niotrobenzen sekitar 0. titik leleh 6 oC. Nitrobenzen dapat mengalami degradasi karena pengaruh fotolisis maupun secara mikrobiologis.16 g/m3. UN 1662. thyroid-cell adenomas dan adenocarcinomas dan renal tubular adenomas.8-40.2. sensitisasi dengan humic acids) perannya sangat kecil (calculated half-lives antara 125 hari dan 13 tahun untuk reaksi dengan radikal hidroksil.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaannya.0 g/m3 [0. yakni mencapai 67 g/liter. vol % dalam udara: 1. Nitrobenzen memiliki rumus molekul C6H5NO2 dengan berat molekul 123. nitrobenzen tidak dijumpai di sungai dekat dengan tempat penampungan limbah berbahaya di USA pada 105 dari 122 . Paparan pada manusia dapat melalui pernafasan.34 B. Data yang dirilis oleh US Environmental Protection Agency padan tahun 1985 menujukkan bahwa kurang dari 25% sampel udara positif dengan nitrobenzen dengan kosentrasi 0.01 µg). Nitrobenzen dijumpai pada air pemukaan dan air tanah. menyebabkan nitrobenzen mudah terbawa/tercuci dari udara oleh air hujan. Nomor CAS. informasi bahaya karsinogenisitas pada manusia belum ada. Oil of Mirbane. Nitrobenzen memiliki titik didih: 211oC. Yugoslavia pada tahun 1990. Akan tetapi. Sedangkan pada tikus betina terjadi peningkatan pada hepatocellular neoplasm dan endometrial stromal polyps. 98-95-3 Deskripsi Nama lain dari nitrobenzen adalah Essence of Mirbane. terjadi peningkatan hepatocellular neoplasm. Dengan ozon. Nitrobenzen. atom hidrogen atau hydrated electrons.0022–0. pada penelitian nitrobenzen tidak mengalami penguapan akan tetapi tedegradasi secara menyeluruh pada tanah yang diberi limbah cair. lifetimes kurang dari 1 hari. Konsentrasi nitrobenzen di alam seperti air permukaan.40 µg]). Oil of Myrbane. Di beberapa kota di Amerika Serikat pada awal 1980-an konsentrasi nitroibenzen di udara berkisar antara <0. Pada penelitian lain yang dilakukan hanya pada tikus jantan. NCIC60082. kelarutan dalam air 0.2. Akibat sifat nitrobenzen kelarutannya dalam air moderat dan mempunyai tekanan relatif uap rendah.SNI 01-7152-2006 B. Sejauh ini. Kandungan nitrobenzen pada air permukaan bervariasi tergantung pada lokasi dan musim.05 g/m3 (0. dan penyerapan melalui kulit selama produksi maupun pemanfaatannya. Degradasi nitrobenzen di instalasi penanganan limbah berlangsung secara aerobik. tergantung pada konsentrasi sensitizer). Nitrobenzeen. Data penelitian dari penguapan nitrobenzen tampaknya bertentangan dengan model prediksi penguapan half life nitrobenzen dengan komputer yakni selama 12 hari (sungai) hingga 68 hari (eutropic lake).34. B. di daerah urban. direct fotolisis berlangsung sangat cepat (half-lives antara 2. Waktu estimasi terpendek hasil kajian literatur adalah 1 hari (air sungai). Pada kondisi anaerob proses degradasi berlangsung lebih lambat. Flash point: 88 oC. Rcra waste number U169. Nitrobenzol. Mirbane oil. sedikit meningkat di dearah industri (2.05 dan 1 g/m3 (<0. pada mencit jantan mengakibatkan peningkatan alveolar-bronchiolar neuroplasm dan thryroid follicular cell ademonas. Densitas uap relatif terhadap udara: 4.1 Nitrobenzen (nitrobenzen). sementara itu pada peristiwa fotolisis tidak langsung (fotooksidasi dengan radikal hidroksil.2 Tekanan uap pada pada suhu 20 o C: 20. Essence of Myrbane. Percobaan dalam smog chamber dengan campuran propylene/butane/nitrogen dioxide perkiraan lifetime antara 4 and 5 hari.33. eksplosif limit. Pada tikus jantan terjadi peningkatan hepatocellular neoplsm. Nitrobenzen diproduksi secara komersial sejak awal abad 19 dengan metoda nitrisasi senyawa benzen. waktu reaksi sangat lambat. Di dalam air. Konsentrasi tertinggi dijumpai di sungai Danube. Nitrobenzene. akan tetapi perhitungan waktu paruhnya untuk reaksi dengan radikal hidroksil antara 19 and 223 hari. air tanah dan udara pada umumnya rendah. Nirobenzen merupakan senyawa antara utama pada produksi anilin.1–1 g/liter. Berdasarakan hasil percobaan fotolisis langsung di udara.

pigmen deposisi dan degenerasi dari olfaktori epitelium).1 Kajian keamanan Pengaruh pada hewan percobaan Nitrobenzen mengakibatkan keracunan pada bebarapa organ sel hewan percobaan. Pasien yang menghirup nitrobenzen dan mengalami methaemoglobinaemia akan berkurang efeknya apabila dibebaskan dari nitrobenzen dan mendapat perawatan yang memadai secara perlahan akan pulih kesehatannya. Akan tetapi. lapisan bawah kulit (subkutanus) dan melalui pernafasan pada mencit dan tikus. Gejala necrotic pada manusia terjadi akibat menghirup nitrobenzen termasuk didalamnya sakit kepala. Berdasarakan informasi yang ada. Tingkat kematian tidak berpengaruh pada konsentrasi hingga 260 mg/m3 [50 mg/kg] untuk mencit.2 Pengaruh nitrobenzen pada kesehatan manusia Pada manusia. kulit. sementara itu bagian paru-paru mengalami emphysema. pembengkakan.SNI 01-7152-2006 tahun 1998. Potensi kajian karsinogenik dan toksisitas nitrobenzen melalui pernafasan yang diberikan dalam jangka panjang. dan pingsan. Keadaan tersebut tidak dijumpai di USA pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1985. kerusakan pada jaringan saraf pusat pada bagian cerebellum dan batang otak merupakan ancaman kehidupannya. tampaknya air tanah lebih potensial untuk mengalami pencemaran nitrobenzen. dan mengeras sehingga akan mengganggu produksi serum. Tampaknya ginjal menjadi organ target dari akibat paparan nitrobenzen. Manusia yang tinggal di dekat tempat penanganan limbah berbahaya mungkin akan terekspos dengan nitrobenzen melalui air tanah. Berdasarkan kajian ilmiah. kelenjar susu. dan ginjal. tingkat immunosuppression turun (respon IgM terhadap sel darah merah hilang). Kandungan nitrobenzen pada air tanah dapat mencapai 210–250 hingga 1400 g/liter di USA pada akhir tahun 1980-an.75 mg/kg berat badan per hari) dan melalui permukaan kulit pada konsentrasi 100 mg/kg berat badan per hari.34. Splenic capsular lesions dijumpai pada tikus melalui gavage (melalui selang ke dalam perut) pada dosis 18.34. pada wanita yang menghirup nitrobenzen ginjalnya akan mengeras dan membesar. Pada kajian subkronik oral dan uji dermal pada mencit dan tikus. beberapa kejadian keracunan dan kematian akibat menghirup nitrobenzen terjadi di beberapa negara. 130 mg/m3 [25 mg/kg] untuk tikus. B.34. Oleh karena itu. nasal epitelium. thymus (involution) dan pankreas (mononuclear cell infiltration). pencemaran tanah ataupun secara tidak langsung akibat nitrobenzen yang dikonsumsi oleh tanaman. Liver akan membesar.3 B.34.3. 106 dari 122 . Studi immunotoksisitas nitrobenzen pada mencit B6C3F1 mengakibatkan peningkatan cellularity spleen. mengakibatkan keracunan dan bersifat karsinogen pada kedua spesies serta mempengaruhi spektrum dari paru-paru. tiroid (follicular cell hyperplasia). Organ lainnya yang menjadi target nitrobenzen adalah ginjal (peningkatan berat.3. kelenjar tiroid. pewarnaan tubular epithelial cells). vertigo. liver. atelectasis dan bronchiolization pada alveolar cell walls. selama 550 hari dilakukan pada mencit jantan dan betina B6C3F1 dan betina tikus Fischer-344 dan jantan tikus Sprague-Dawley.2 Fungsi lain Tidak ada. Methaemoglobinaemia terjadi akibat kontak dengan nitrobenzen melalui mulut. batasan kandungan nitrobenzen dalam udara tidak lebih dari 5 mg/m3 (1 mg/kg). khususnya pada wanita. B. Nitrobenzen tidak dijumpai pada makanan. mual. khususnya pada kelinci. nitrobenzen sangat mudah diabsorpsi oleh kulit. meskipun di Jepang dijumpai dalam jumlah sangat kecil 4 dari 147 sampel ikan yang diuji. Gejala apnoea dan kematian dapat terjadi apabila nitrobenzen temakan dalam jumlah tinggi. B.

berdasarkan kemampuan reproduksi adalah sebesar 10 mg/liter.9 mg/liter untuk protozoa Entosiphon sulcatum dan sekitar 8hari nilai lowest-observed-effect concentration (LOEC) dari konsentrasi 1. B. Untuk hewan air tawar dosis akut nitrobenzen mencapai (24. Pada kosentrasi sebesar 0. bersama dengan rasio toksisitas akut: kronis bagi jenis udang-udangan.6 mg/liter selama paparan lebih dari 18 hari. Methaemoglobinaemia. Konsentrasi toksin terendah nitrobenzen pada bakteri Nitrosomonas. bahkan pada konsentrasi 67 g/liter belum menjadi ancaman bagi hewan air tawar. bilateral epididymal hypospermia dan bilateral testicular atrophy terjadi apabila dosis yang dikenakan mecapai 5 mg/m3 (1 mg/kg) pada tikus. Benign tumours dapat dijumpai pada kelima organ. Afrika utara dan Afrika selatan. Tidak ada pengaruhnya terhadap mortalitas atau tingkah laku pada medaka pada konsentrasi nitrobenzen 7. Malaysia dan Singapura melarang penggunaan nitrobenzen.1–1 g/l aman bagi hewan air.3. dan liver carcinomas dan thyroid follicular cell adenocarcinomas dideteksi pada tikus jantan Fischer-344. testicular pada pengujian melalui pernafasan mempengaruhi sistem pernafasannya. 142 mg/liter untuk guppy (Poecilia reticulata). dengan nilai EC50.34.9 mg/liter bagi Daphnia magna. India utara.4 Evaluasi bahaya Methaemoglobinaemia dan perubahan haematological and splenic terjadi pada manusia yang terekspos dengan nitrobenzen. Pada hewan pengerat. Berdasarakan informasi data toksisitas akut. beberapa Negara Asia. Nilai 96-jam LC50 berlaku untuk kosentrai 24 mg/liter untuk medaka (Oryzias latipes).O. beberapa bagian Amerika Serikat.34. Andes dan Amerika Selatan.4 Pengaturan EC (European Commission)) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. kejadian bronchiolization dari dinding alveolar and alveolar/bronchial hyperplasia mulai dapat dideteksi apabila dosis nitrobenzen mencapai 26 mg/m3 (5 mg/kg). Ikan air tawar menunjukkan sensitivitas yang sama rendahnya terhadap nitrobenzen.to 48-jam LC50 values) untuk kisaran 24 mg/liter untuk water flea (Daphnia magna) hingga 140 mg/liter untuk jenis keong (Lymnaea stagnalis). haematological. pengaruh methaemoglobinaemia. Pada mencit.7 mg/liter untuk (Mysidopsis bahia). Filices. Untuk hewan air laut nilai akut terendah adalah 96-jam LC50 apabila konsentrasi mencapai 6. dan metoda distribusi statistik. B.3. Aspidium Filix-mas (SCHWARZ). akan tetapi data kuantitatif yang ada belum ada. Data lain menyatakan bahwa 72-jam no-observed-effect concentration (NOEC) dari 1. diantaranya affine.9 mg/liter untuk alga biru-hijau Microcystis aeruginosa. Nilai kronis terendah adalah 20-hari NOEC of 1. Respon karsinogenik dapat dideteksi pada tikus dan mencit setelah mendapat perlakuan dengan nitrobenzen.92 mg/liter berdasarkan penghambatan konsumsi amonia.35. mammary adenocarcinomas dapat dideteksi pada mencit betina B6C3F1.. 107 dari 122 .1 Pakis jantan (male fern) Deskripsi Nama lain dari Male Fern adalah Male Shield Fern: Dryopteris Felix-mas (LINN).34.35 B. Tanaman ini sangat bervariasi. N. akan tetapi pengkajian tentang genotoksisitas mendapatkan hasil negatif.3 Pengaruh nitrobenzen pada mikroorganisme lingkungan Nitrobenzen bersifat racun bagi bakteri dan sangat merugikan bagi instalasi penanganan limbah apabila jumlah polutan nitrobenzen sangat tinggi. Borreri. konsentrasi terendah yang dapat melindungi 95% hewan air dengan tingkat kepercayaan 50% adalah sebesar 200 µg/liter. Fern tumbuh di seluruh bagian Eropa. pumilum.SNI 01-7152-2006 B. Bentuk dari tanaman ini berbeda-beda berdasarkan sub spesiesnya. dengan EC50 sebesar 0. B. Sejauh ini belum ada informasi yang cukup untuk keperluan perlindungan hewan air asin.

SNI 01-7152-2006 abbreviatum dan elongatum.35. ekstrak cairan 1-4 drachms. dan koma serta dapat melukai penglihatan mata dan dapat menyebabkan kebutaan. Dosis yang diberikan biasanya sangat kecil karena jika terlalu besar akan terjadi keracunan iritasi. ppropilanisol memiliki titik asap 185°F. B.4 Pengaturan EC (European Commission ) dan IOFI (International Organization of The Flavour Inustry) tidak membatasi penggunaan pakis jantan. B.P. gemuk dan merambat di sepanjang permukaan tanah atau di bawah tanah. p-Propilanisol diperoleh dengan cara hidrogenasi dari gugus propenil dalam anethol. kelarutan pada air (hasil perhitungan 63. dicampur dengan madu atau sirup atau setengan cangkir teh hangat. resin. Beberapa daun itu lebar. Mahkota akarnya berwarna coklat. Ekstrak ethereal atau oleoresin yang dikemas dalam bentuk pil memberikan bau yang lebih enak daripada dalam bentuk bubuk (powder) dan ekstrak dalam bentuk liquid. kaku seperti pisau.1 methoxy-4-propyl atau Dihydroanethole atau 1-Methoxy-4-propylbenzene atau Methylp-propylphenyl ether atau 4propylmethoxybenzene. ekstrak ethereal. B. mempunyai banyak rambut atau bulu di sekitar daun.36 p-Propilanisol (p-propylanisole) B. Ekstraksi pakis jantan dengan eter menghasilkan ekstrak berwarna hijau gelap. zat pewarna dan gula (pemanis).2 Fungsi lain Tidak ada. Serbuk atau ekstrak cairan dapat diterima tetapi ekstrak ethereal atau oleoresin yang diberikan dalam bentuk pil adalah lebih baik. B. Minyak pakis jantan bermanfaat sekali sebagai konstituen pada minuman (5%-10% Filmaron.36. Biasanya diberikan pada malam hari setelah beberapa jam berpuasa untuk melakukan pembersihan seperti halnya castrol oil.36. filicin).942. gravitasi spesifik 0. p-Propilanisol dilaporkan terdapat secara alami di alam. B. Pemberian dosis tunggal akan dapat mengobati dalam sekali. Singapura melarang penggunaan pakis jantan sebagai bahan perisa. lemah. Tanaman ini mempunyai akar (rhizoma) yang pendek. B. 5%-8% asam filic.36 mg/l pada suhu 25°C.35. digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. mengandung 30% filicin. 45-90 drop.2 Fungsi lain Pada zaman dulu. Tangkainya coklat bersisik dan berbulu. Ekstraksi dengan eter merupakan antelmintik terbaik untuk membunuh cacing pita.35.3 Kajian keamanan Sediaan dan pemakaian dosis serbuk dari akar adalah 1-4 drachms. Dalam akar (rhizome) juga mengandung tannin. Obat dalam bentuk serbuk dosisnya bervariasi dari 60-180 grains. 108 dari 122 . antelmintik.1 Deskripsi Nama lain dari p-propilanisol P-propylanisole atau benzene. Ekstrak pakis jantan dalam bentuk oleoresin. akar dari pakis jantan banyak digunakan sebagai obat cacing (fermivuge).

SCCNFP: Pulegon dan mentofuran tersedia. delta-4(8)-p-Methene-3-one. 1-Methyl-4-isopropylidene-3-cyclohexanone.3.SNI 01-7152-2006 B. Senyawa pulegon (no 753) dimasukkkan kedalam kelas struktural II. Langkah A4 :p-propilanisol tidak tergolong senyawa endogenous.36. Data NOEL dari p-propenilanisol (300 mg/kg berat badan per hari) adalah 100000 kali lebih besar dari estimasi intake p-propilanisol di Eropa (0. Nomor CAS.36. JECFA no 1244. 109 dari 122 .1 Pulegon (pulegon). gravitasi spesifik 0.5-Methyl-2-(1-methylethylidine) cyclohexanone.37 B. titik api 190 oC. B.4 JECFA memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.1 Kajian keamanan Kajian toksikologi p-propilanisol telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. B. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Pengaturan B. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) b) c) d) Langkah 1: p-propilanisol tergolong kedalam sturtural kelas III.61).930. JECFA : tidak adanya kajian keamanan yang diperkirakan terhadap asupan bahan makanan (901. 2050). Langkah 2: p-propilanisol diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa innocuous. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). p-Menth-4(8)-en-3one. Pulegon memiliki nama kimia p-Menth-4(8)-en-3-one dan nama lainnya adalah delta-4(8)-p-.36.7 mg/l pada 25 0 C. USA menyaakan bahwa p-propilanisol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA no 2930. Langkah A5 :Data NOEL dari substansi terkait p-propenilanisol (trans anethol) dapat digunakan untuk p-propilanisol karena melalui jalur metabolisme yang sama. tekanan uap <0. Pulegon diakui oleh FDA sebagai perisa (21 CFR 172.®-.001 mmHg 2 0C dan kelarutan dalam air 173.37.4 mikrogram/berat badan perhari) dan di USA (2 mikrogram/berat badan per hari).3 B. pulegone. 5-methyl-2-1-(1-methylethylidene)-. Pulegon dimasukkan ke dalam daftar bahan makanan oleh dewan Eropa. Komite memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. FEMA : secara umun pulegon aman sebagai bahan perisa (GRAS 3 (2963). 1Isoprophylidene-4-methyl-2-cyclohexanon. India melarang penggunaannya dalam substansi perisa.37. Langkah A3: Asupan dari p-propylanisole di Eropa (23 mikrogram/orang/hari) dan di USA (114 mikrogram/orang/hari) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas III yaitu 90 mikrogram. tidak terdapat dalam edisi ke 4 karena belum diketahui (COE No.515). p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). 89-82-7 Deskripsi Nama lain dari pulegon antara lain Cyclohexanone.2 Fungsi lain Tidak ada. Pulegon (No 753) mengandung rantai samping isopropiliden dan metabolit prinsipal dari pulegon adalah mentofuran (No 758). Pulegon mempunyai titik didih 224 0C.

Minuman selain minuman beralkohol. Octea cymbarum dan Sassafras. titk nyala >2000F. USA melalui FDA dalam CFR 172.4-Methylene dioxyallylbenzene atau Safrol. (level yang lebih tinggi ditemukan pada aroma mint yang lebih kuat). papermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg). Toksisitas pulegon yang lemah pada dosis rendah terlihat dari percobaan yang berlangsung selama 90 hari pada tikus yang diberi diet mengandung minyak pepemin yang mengandung 1. 94-59-7 Deskripsi Safrol memiliki rumus molekul C10H10 O2 dengan bobot molekul 162. konfeksionari mint (350 mg/kg). yaitu 0.37. Sedangkan Malaysia mengatur keberadaan pulegon dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan.3 Kajian keamanan Dianggap aman berdasarkan pohon pemutusan (decision tree). shandy.44 mg/kg bb per hari pada studi 90 hari > 10000 kali perkiraan asupan harian pulegon sebagai perisa. makanan olahan (25 mg/kg).033 µg/orang/hari. Batas maksimum pada komoditas pangan (25 mg/kg). dan produk makanan lainnya (25 mg/kg). papermint atau minuman beraroma mint (100 mg/kg).2-methylene dioxybenzene atau 1.37. Sifat fisik yang dimiliki safrol diantaranya titik didih 2340C.19 dan nama kimia 4Allyl-1. minuman (100 mg/kg) kecuali pada peppermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg) dan konfeksionari mint (350 mg/kg).98 mg/l yang diukur pada suhu 250C.Nomor CAS. berat jenis 1. titik leleh 110C. Senyawa yang terkait dengan safrol adalah isosafrol (1. Isolasi safrol dilakukan dengan proses destilasi dan/atau proses pembekuan dari minyak (essential oil) yang tinggi kandungan safrolnya seperti Cinnamomum micranthum.515 mengizinkan penggunaan pulegon.1 Safrol (safrole). puncak UV Absorbance pada 290 . Hal ini berdasarkan pada tahap B3 bahwa asupan tidak melebihi ambang batas untuk manusia dimana Eropa dan USA masing-masing memiliki ambang batas 2 µg/hari. B.2-methylenedioxybenzene-4-propylbenzene) yang belum diketahui keberadaannya secara alami tetapi terbentuk pada pembuatan piperonyl butoxyde.1% pulegon.38 B.38.SNI 01-7152-2006 B.3-Benzodioxole. Selain itu juga berdasarkan tahap B4 yang menunjukkan adanya nilai NOEL untuk senyawa dan kerabatnya.097. Safrol merupakan konstituen utama dari minyak sasadfras (Sassafras officinale Ness & Eberm) dan merupakan konstituen minor pada beberapa essential oil lainnya. Australia dan New Zealand di dalam FSANZ menetapkan pulegon sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (350 mg/kg). produk minuman lainnya (100 mg/kg). 110 dari 122 . dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Senyawa terkait lainnya adalah dihidrosafrol (1. B. Nilai NOEL ini lebih besar dari 1000 kali asupan pulegon hanya sebagai senyawa perisa sebesar 0. 237 dan <225 nm dan kelarutannya di dalam air menurut hasil perhitungan adalah 75.2-methylenedioxy-4-propenylbenzene) yang terdapat secara alami sebagai bagian minor dari essential oil dimana terdapat pula safrol.44 mg/kg bb/hari (26 mg/orang/hari) untuk pulegon.5-(2-propenyl)-3.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan pulegon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. NOEL yang sebesar 40 mg/kg bb/hari untuk nefropati diperoleh berdasarkan tetesan hialin dosis tinggi setara dengan NOEL 0. minuman dengan perisa peppermint atau mint (250 mg/kg) .

l-Santonin.2b]furan-2. 481-06-1 Deskripsi Nama lain dari alfa-Santonin adalah Naphtho[1. .cirrhosis adenomatoid hyperplassia sampai benign and malignant tumours.4H)-dione. α-Santonin memiliki berat molekul 246.2-b]furan-2. 3a.5a.5a.39. Eudesma-1.9-trimethyl.2b]furan-2.4H)-dione. pemberian safrol secara kronis menghasilkan progressive dosedependent liver damage yang meliputi hepatic cell enlargment. pengecualian pada produk minuman beralkohol dengan kadar dibawah 25 %vol (2 mg/kg) dan minuman beralkohol dengan kadar diatas 25% vol (5 mg/kg) serta pada pangan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg).9bβ)]-. S. cerevisiae dan intraperitoneal host mediated assay (in vitro).9b-tetrahydronaphtho[1. Batas maksimum pada komoditas pangan (1 mg/kg).8(3H.5a. (-)-Santonin. 11-Epiisoeusantona-1.38.[3S-(3α.8(3H.5aβ.9-trimethyl-. [3S-(3α. Pada tikus besar.2.8(3H. Demikian pula Malaysia dan Singapura juga melarang penggunaannya dalam makanan. B. produk yang berasal dari daging (10 mg/kg).9-trimethylnaphtho[1.3. 3a.9-Trimethyl-3a. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. USA melalui FDA melarang penggunaan safrol dalam produk pangan (CFR 189.1 alfa-Santonin (α-santonine).coli. 111 dari 122 .5.5. 6α-hydroxy-3oxo-.7-Hexahydro-1-hydroxy-α.4H)-dione. (-)-Santonine.9b-Tetrahydro-3. l-α-Santonin.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentrarius Commission) tidak membolehkan penambahan safrol dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. minuman (1 mg/kg). γ-lactone. 1.5.5a.5aβ.3aα.5a.3.9btetrahydro-3.4.2 Fungsi lain Tidak ada. γ-lactone. Pemberian safrol terhadap tikus baik secara oral maupun subkutanus yang menuju marked increase pada kejadian tumor hati. nodule formation. 6αhydroxy-3-oxo-. Safrol bersifat inaktif dalam studi mutagenitas yang menggunakan berbagai strain mikroba S.4-dien-12-oic acid.5a.4a. (-)-α-Santonin. Ekspos tikus terhadap safrol dalam uterus menghasilkan renal epithelial tumours. Safrol menunjukkan hasil positif pada mutagenik assay (in vitro) dengan menggunakan E. Typhimurium dengan atau tanpa proses aktivasi.5a. Santoninic anhydride.8-trimethyl-7-oxo-2-naphthalene-acetic acid γ-lactone. B. Semenen.8(3H.2-b)furan-2. Tidak ada kejadian tumor hati pada anjing yang diberi asupan safrol selama 6 tahun namun terjadi perubahan terhadap fungsi hati yang meliputi bile-duct proliferation. Nomor CAS. 180).SNI 01-7152-2006 B.39 B.4H)dione. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. minuman beralkohol (5 mg/kg).9bβ)]-3a.5a.9b-tetra-hydro3.4-dienic acid.3aα. Naptho(1.38. produk pangan lainnya (1 mg/kg). 4a.5.3 Kajian keamanan Safrol dan Isosafrol diberikan pada tikus besar yang dapat menyebabkan liver hypertrophy dan mikrosomal enzymes.30 dengan rumus molekul C15H18O3.38. (11S)-. Santonin. B. Sedangkan India menetapkan safrol boleh terdapat secara alami pada berbagai artikel pangan dan tidak melampaui batas (10 mg/kg). Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan safrol sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: makanan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg).

4 g/kg bb sinamil antranilat dalam tricaprylin pada mencit.40 B. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Sampai saat ini belum diperoleh informasi tentang keberadaan senyawa ini secara alamiah.40. B. 112 dari 122 .1 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) = 130 mg/kg.3. = 900 mg/kg. Cinnamyl anthranilate atau dengan nama lain antrhranilic acid. B. Nomor CAS.40 g/kg bb secara intraperitonial pada mencit menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 17/30 (2. Malaysia melarang penggunaan santonin dalam makanan. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0. cinnamyl ester.helmintik (mencegah parasit).40.51) (Stoner et al. 87-29-6 Deskripsi B. penggunaan dosis toatal 12 g/kg bb atau 2. 1973).18 dan 0. pada mencit – ip pada mencit – iv pada mencit – oral pada manusia (dosis terendah) Dosis 1 mg/kg dalam minuman beralkohol dengan kurang dari 25% volume alkohol memiliki efek negatif pada kesehatan. Pada penelitian berikutnya. 3-phenyl-2-propenyl 2-aminobenzoat. Sinamil antranilat (cinnamyl anthranilate).1 Sinamil antranilat merupakan perisa sintetik yang telah digunakan dalam produk pangan semenjak tahun 1985. 1973). Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan santonin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg. = 15 mg/kg.39.39.SNI 01-7152-2006 B.41 dan 1.39.40. minuman (0. B. cinnamyl alcohol anthranilat. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. B. 3phenyl-2-propenyl-anthranilat memiliki nama kimia: 3-phenyl-2-propen-1-ol.3 B.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan santonin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.2 Fungsi lain Tidak ada.40. Santonin bersifat sebagai anti. menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 13/30 (1. 2aminobenzoat.1 a) b) Kajian keamanan Pengujian karsinogenisitas Dosis 12 g/kg bb atau 2.39. = 180 mg/kg.2 Fungsi lain Tidak ada.3. warna jingga.3 B.1 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol diatas 25% volume (1 mg/kg). dapat mengakibatkan ilusi warna.1 mg/kg).31) (Stoner et al.

2. Terjadi adenokarsinoma atau adenoma sebesar 4/39 (8%) pada tikus betina dengan dosis tinggi. 1980). 0.0 mg/telur.5 dan 0.5. 0. pada tikus–oral pada kelinci-dermal B.3. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet (MTD dan ½ MTD) pada mencit menyebabkan hepatoselular karsinoma dan adenoma. 10000 dan 30000 mg/kg (0. = 5000 mg/kg bb (Opdyke. Pengujian mutagenisitas Metode ames d) e) B. 5.2 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Sinamil antranilat yang terlarut dalam alkohol dimasukkan ke dalam embrio ayam melaui dua jalan yaitu melalui sel udara dan kuning telur. 1975). 113 dari 122 . Begitupula dengan tikus dengan perlakuan yang sama. dosis tinggi 30/49) dan hubungan hemosiderosis limpa dengan dosis yang diberikan pada tikus betina (kontrol 8/47. dengan jumlah diet yang sama menyebabkan tumor pada ginjal dan pankreas. TA-1537. 0. 1975).40.4 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet pada mencit dengan dosis 0.3.1. 1000.2.02.. selain itu terjadi pula karsinoma hepatoselular dan adenoma. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg diet (1/2 MTD) pada tikus jantan dan betina menunjukkan penurunan berat badan.40.4.0 mg/telur) dan inkubasi 96 jam dengan tingkatan dosis: 0.3.05. dosisi rendah 17/50.3.SNI 01-7152-2006 c) Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg dietn(1/2 MTD) pada mencit jantan dan betina selama 103 minggu menunjukkan penurunan berat badan. a) b) Sinamil antranilat yang diberikan pada mecit jantan dan betina secara intraperitonial menyebabkan tumor paru-paru. tak teramati adanya tumor. 1976). 3000.3.5% sinamil antranilat tidak mutagenik terhadap Salmonella galur TA-1535.1. 0. 1 dan 3%) selama 6 minggu menunjukkan tidak terjadi kematian dan penekanan berat badan yang lebih besar dibandingkan pemberian dosis 10% kecuali pada mencit jantan dengan dosis diet makanan sinamil antranilat 3000 mg/kg (3%). dosis tinggi 41/50). Tak ada korelasi jumlah dosis dengan kerusakan pada necropsy (NCI.25. B. Pada dosis rendah.2. dosis rendah 28/50.2.3 Toksisitas akut (LD50) = 5000 mg/kg bb(Opdyke.40. (NCI. 0. dan 0. 0.40. 0. Begitupula pada tikus. Teramati abnormalitas pada keempat kondisi tersebut. tidak terjadi efek yang signifikan terhadap angka kematian. 1.1 2. B. Pra inkubasi (0 jam dengan tingkatan dosis: 10. Terdapat hubungan mineralisasi pada ginjal denagn dosis yang diberikan pada tikus jantan (kontrol 0/48.2 B. 1980).40. Neoplasma sel acinar pada pancreas terjadi pada tikus jantan sebesar 3/45 (7%) yang diberi dosis tinggi. dan TA-1538 dan Saccharomyces cerevesiae D4 dengan dan tanpa aktivasi (Litton Bioneticks Inc.3.

Senyawa ini dapat menstimulasi reaksi ginjal untuk menaikan kadar dan memproduksi mild diaphoresis. memperbesar kekuatan kontraksi otot jantung. meningkatkan tekanan arteri.3 Kajian keamanan Senyawa ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada pusat syaraf sampai ke hati. 6917-37-9 Deskripsi Rumus kimia spartein adalah C15H26N2.SNI 01-7152-2006 c) Sinamil antranilat tidak mutagenik pada galur tertentu S. menghilangkan dropsical effusions yang dihasilkan dari feebleness dari sirkulasi.2 Fungsi lain Tidak ada. B. Typhimurium.41. Merupakan kristal atau bubuk putih. catharsis dan akhirnya kelumpuhan otot-otot organ pernafasan dan pusat motorik. tidak berbau. B. Spartein dapat mengakumulasi sangat banyak gas pada saluran pencernaan. 546-80-5 Deskripsi Tujon mempunyai rumus kimia C10H16O berupa keton terpenoid dalam dua bentuk stereoisomer dan dikenal sebagai α-thujone dan β-thujone. ADI belum ditetapkan Pengaturan B. Jantung dihentikan pada sistol. dapat menghasilkan getaran otot. Spartein sulfat adalah produk kristal dari reaksi asam sulfat dengan spartein.1 mg/kg. larut dalam air dan alkohol.41. sepersepuluh sampai setengah biji. dengan atau tanpa aktivasi. B. Dapat mempercepat denyut nadi. dan menyebabkan tekanan mental. Senyawa ini bersifat diuretik. Tujon berbentuk minyak dengan 114 dari 122 .41 B.113 dan India melarang penggunaan sinamil antranilat dalam produk pangan. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan spartein sebagai natural toxicant. Spartein adalah obat yang biasa dipakai di rumah untuk lemah jantung dengan feeble-ness otot. Dalam jumlah yang berlebih. Senyawa ini diperoleh dari destilasi infus konsentrat pucuk cytisus scoparius.41.42. larut dalam alkohol.1 Spartein (Sparteine) Nomor CAS.4 USA dalam CFR 189.40. B. Nomor CAS. dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 5 mg/kg dan produk pangan lainnya dengan maksimum level 0. incoordination.41. Berguna untuk jantung berdebar dari ketegangan dan lelah. Dosis. dan meningkatkan pergerakan darah ke arteri. muntah. pahit. Bukan obat tradisional yang dipercaya pada semua kasus. atau dari mother liquor setelah precipitating scoparin.42 B. B. Digunakan pada penyakit Graves. Senyawa ini terurai selama proses pengeluaran urin atau pada pudendum dimana aliran urin sebesar-besarnya. Bentuknya cairan minyak yang konsisten dan tidak berwarna.4 Pengaturan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaan spartein pada minuman beralkohol sebesar 5 mg/kg.1 Tujon (thujone). deliquescent. eter dan kloroform. netral.

dan hepatitis. pangan olahan lain (0. Pada dosis rendah. kram pada lambung/usus. denyut nadi melemah dan pembesaran luas pernafasan (augmentation of respiratory amplitude). tujon dapat menyebabkan epilepsi yang didahului secara umum oleh fase pembesaran dimana beresiko pada tekanan darah. 115 dari 122 . Saliva spp.SNI 01-7152-2006 aroma yang menyerupai mentol dan terdapat dalam tanaman Artemisia spp. Toksisitas pada aktivitas obat-obatan. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. B. radang lambung. minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% v/v alkohol (5 mg/kg).42. hilang kesadaran. minuman beralkohol dengan kadar lebih dari 25% v/v alkohol (10 mg/kg). Tanacetum (tansy) Thuja spp dan Cedris spp dengan proporsi yang bervariasi. α-tujon memiliki titik didih sebesar 74.5 mg/kg). Untuk minyak dari wormwood (Artemisia absinthium) sebagian besar mengandung thujon. Makanan berperisa sage (25 mg/kg). Malaysia menetapkan keberadaan tujon dalam makanan tertentu sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan. Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan tujon (alfa dan beta) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: sage stuffing (250 mg/kg). B.p dan penyelidikan kelakuan pada dosis 24 mg/kg i. Minuman selain minuman beralkohol dan shandy (0.42. minuman beralkohol dengan kadar diatas 25 % volume (10 mg/kg). titik didih sebesar 760C/10 mm.5 mg/kg).50C/9 mm sedangkan β-tujon. dimana daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 960 mg/kg (oral). Minyak tansy dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah. Bitters (35 mg/kg). B. minuman (0. aritmia jantung. sedangkan pada kelinci >5 g/kg (kulit).4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak memperbolehkan penambahan tujon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. makanan yang mengandung sage (25 mg/kg).15 g/kg (oral) sedangkan pada kelinci >5 g/kg (dermal).5 mg/kg). merah kulit.42. daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 1. bitters (35 mg/kg). Untuk (+)-3-tujon diuji aktivitas psikotropik pada mencit dengan menggunakan serangkaian koordinasi dan studi kelakuan dan juga untuk anti nyeri (analgesik) dan hipnotis.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon). sesak nafas. Minuman beralkohol (10 mg/kg) dan produk pangan lainnya (0. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0. sage stuffing (250 mg/kg).5 mg/kg).2 Fungsi lain Tidak ada.5 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% volume ( 5 mg/kg). Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafasan terhambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia. Juniperus. Sedangkan India melarang penggunaan tujon pada berbagai artikel pangan. pendarahan usus. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. tujon memperlihatkan sedikit pembesaran pergerakan dan depresi terhadap aktivitas pada dosis 3 mg/kg i.p.

Gaunt.S.Kandikonda S. 1987...S. Available at: Center in Molecular Toxicology.pubmedcentral.. P. Produced by the Consleg System.thorne.C. J. 22 January 2003. Enviromental Protenction Agency.htm.SNI 01-7152-2006 Bibliografi Ahuja P. U.epa. Council of Europe. 2002.. prohibited from use in human food. (1):2. a constituent of Mahonia aquifolium. (1975) A nine month toxicity study of diethylene glycol monoethyl ether in the ferret. 831-836. B. Cade http://www. 1999-2003. CAC/GL-29-1987. Borris. Calamus Oil (Acorus Calamus). Kelly. De Milo.cedralvale. A. Potential antimutagenic activity of berberine. (2002). U. BMC Compllementary and Alternative Medicine. Voluntary Report-public distribution.S. Available at: http://www. Cedar Vale Natural Health. Consleg 1995L0002 – 29/01/2004.fcgi?artid=101396. No. General Requirements for Natural Flavourings. and Schiestl. F. oil.. Council Directive 92/115/EEC of 17 December 1992. J. Res.. K. Liquido. and Cladwell.S. Brennan. National Oceanic and Atmospheric Administration. J.net/essentialsoils/cade. and Grasso. Food Chem. Herbal medicines and Dietary Suppplements Potentially Toxic Herbs. Unpublished report bya British Industrial Biological Research Association. H.. 369. 1992.W.html. Chan. Vanderbilt University School of Medicine. GAIN Report #SN3005. Butterworth. Code of Federal Regulation 21. N. Saturated and Monofluoro Analogs of the Oriental Fruit Fly Attractant Methylegenol Show Reduced Genotoxic Activities in Yeast. Australian Food Standards Code Flavourings. 116 dari 122 . I. availabel at:http://www. 2000. 2003. A.. Berberine: Therapeutic potential of an alkaloid found in several medicinal plants. Diethylene glycol.gov/articlerender. CAMEO®.. T. Record. Mutat. P.nih. Department of Agriculture. Official Journal of the European Communities.gov/ceppo. Amending for the First Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients.. R. BMC compliment altern med. Comparative induction of unscheduled DNA synthesisi in cultured rat hepatocytes by allylbenzenes and their 1’-hydroxy metabolites. Committee of Experts on Flavoring Substances. Toxicol. 175181. 30 (10). R.com/altmedrev/fulltext/berb. G. Office for Official Publication of the European Communities.S Food and Drug Administration Parts 189. Singapore Food and Agriculture Import Regulations and Standards Country Report. L 409/31. Consolidated Text. Available at: http://www. 2003. Chemical land. R. Codex Alimentarius Commission. Khrimian. Part 1 – Birsdall. 1996. V. B. Flavourings and Flavouring Enhancers. 50th Session. U.

Opinion of the Scientific Committee on Food on the Presence of hypericin and extracts of Hypericum sp. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/6 ADD2 Final. Official Journal of the European Communities No. Sientific Committee on Food. Sparteine. Council Directive. SCF/CS/FLAF/61 Final. Amending for the Second Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. European Commission. 8 Januari 2002. Sassafras. Sientific Committee on Food. safrole and on the similarity of the biological activity of these substances. Avalable at: http://www. On the Approximation of the Laws of The Member States Relating to Flavourings for Use in Foodstuffs and to Source Materials for their Production. 25 Juli 2002. On The Approximation of the Laws of the Member States on Extraction Solvents Used in the Production of Foodstuffs and Food ingredients. In flavourings and other food ingredients with flavouring properties. 17 September 2002. European Commission. Ellingwood. 26 September 2001. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/29 Final. Sientific Committee on Food. 231-244. (1919). Official Journal of the European Communities No.org/DD/Printable/herbMonograph/0. 10. pharmacognosy. European Commission.00. 2 September 1980. Directive 94/52/EC of The European Parliament and of The Council of 7 December 1994. The American materia medica. Sientific Committee on Food. European Commission.drugdigest. Drug Digest. Drug Library. Opinion of the Scientific Committee on Food on Estragole (1-allyl-4-methoxybenzene). 9 April 2003. L 331/7. F. Opinion of the Scientific Committee on Food on the presence of β-Asarone om flavourings and other food ingredients with flavouring properties. 26 September 2001. L 331/10. Opinion of the Scientific Committee on Food on Benzyl Alcohol.html. therapeutics and European Commission. European Commission. Directive 97/60/EC of The European Parliament and of The Council of 27 October 1997.11475. Official Journal of the European Communities No. Drug Digest. EEC. Opinion of the scientific committee on food on quassin. Amending for the Third Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. 25 Juli 2002. Opinion of the Scientific Committee on Food on Pulegone and Menthofuran. Opinion of the Scientific Committee on Food on Methyleugenol (4-allyl-1. Opinion on Coumarin. L157/28. Drugs and Vitamins.SNI 01-7152-2006 Council Directive of 13 June 1988. 117 dari 122 . European Commission. 88/388/EEC. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/3 ADD2 Final. SCF/CS/FLAF/78 Final. Communication on the EEC Commission ENV/521/79 and IARC Monograph Vo. 8 Januari 2002. Sientific Committee on Food. Opinion of the Scientific Committee on Food on Isosafrle.2-dimethoxybenzeme).552413.. 1976. European Commission. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/30 Final. Sientific Committee on Food. Sientific Committee on Food. European Commission. Sientific Committee on Food. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/5 ADD1 Final.. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/9 ADD1 Final. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/4 ADD1 Final. 29 September 1999. Sientific Committee on Food. 22 June 1988.

Adopted on 30 May 2001. G. H. http://www. Lansdown.A.. P. B.E. JECFA evaluations 2-Butanone. Grieve M.. R. 12 November 2001. Council of Europe Publishing. Vol. Gonzalez. S.mgmh/b/bircom43. Diethylene glycol. 381. Mouse and Pig. Felter. Henriette’s Herbal Hompage.com. I.vet. and Gangolli. p.S.. 151-197. III. Grasso. Lee. IOFI. D. List of Carrier Solvents and Supports for Flavourings. On Flavourings and Food Ingredients with Flavouring Properties for Use in and on Foods.2-Diol (3-MCPD). Updating the SCF Opinion of 1994.htm. C. [Pharmacologic activity of the aqueous wood extract from Quassia amara (Simurabaceae) on albino rats and mice] Rv. IARC Summary and Evaluation.. 6. M.purdue. 77.edu/depts/addl/toxic/plant12. Common Tansy Hall. Oser. INCHEM. Food Cosmet. Laws of Malaysia. IOFI. IPCS. IARC Summary and Evaluation. Pennyroyal Oil. 12 November 2001. Code of Practice for The Flavour Industry. B. Biol..com/botanical/mgmh/t/tansy-05. 4. L. Regulation of the European Parliament and of the Council. Cinnamyl Anthranilate. Available at: http://www. 263-268. L. F. 1997. Monograph Specifications. Grieve. IPCS. July 2002. INCHEM. Colley.W..U. Flavour and Extract Manufacturers Association of the United States. 118 dari 122 Available at: . Food Cosmetics Toxicology. Lloyd. Food Technology. Matters Dealing with Thermal Process Flavourings. INCHEM.com/botanical.. Toxicol.html. Kings Americans The FEMA GRAS Food Act 1983 (Act 281) and Regulations. and Fairweather.html.. vol. (1968) Short-term Toxicity of Diethylene glycol monothyl ehter in the Rat. GRAS substances. (1898). 19. Tansy. 1995. Sassafras Fragrances. (2000).. 1st Januari 1999. M. 31. G. J. J. FCC IV. http://www.65. Opinion of The Scientific Committee on Food on 3-monochloro-Propane-1. Birch. M. F.botanical. European Commission. Oleum Tanaceti Oil of Tansy. IOFI Flavour Information 23 March 2004 Tabs 1-12. Ethyl 3-phenyl glycidate. D. Cinnamyl Anthranilate. Austin. IPCS. a. Botanical. S. Gaunt. IPCS. 47-50. Hall. (1996) “Short term feeding study with diethylene glycol monoethyl ether in rats” . Summaries and evaluations Nitrobenzene. Pazos...SNI 01-7152-2006 European Commission. Program. Common. 44-45. (1983).botanical. Horozon Aromatics. SCF/CS/CNTM/OTH/17 Final. IOFI Guidlines for The Production and Labelling of Process Flavourings. 1965. IOFI Guidlines for The Preparation of Smoke Flavourings. International Flavours and Fragrances. F. Modern herbal. INCHEM. S.. Dispensatory. P. L. 689-705. IOFI Guidlines for Safety Evaluation of Thermal Process Flavourings. vol. (1996). DG Sanco Working Document. Trop. Recent progress in the consideration of flavoring ingredients under the Food Additives Amendment. International Agency for Research on Cancer (IARC). Garcia.

Smoke Flavourings. IPCS. Published in FNP 19. Coumarin. INCHEM. INCHEM. ICSC: 0065. JECFA evaluations Estragole. IPCS. INCHEM. vol.org/documents/pims/chemical/pim290. Benzo[a]pyrene. INCHEM. Ruta graveolens L. Isopropyl Alcohol. Pulegone and related substances. WHO Food Additives Series 46. Estragole. Quinine. 12 November 2001. Isopropyl Alcohol. IPCS. INCHEM. INCHEM. INCHEM.htm. JECFA Evaluations Hydrocyanic Acid. 2001. ICSC: 0833. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. Benzo[a]pyrene. IPCS. Cinnamyl Anthranilate. IPCS. 12 November 2001. vol. INCHEM. and 1999 Meeting. IPCS. INCHEM. INCHEM. WHO Food Additives Series 28. JECFA. 1998. INCHEM. WHO Food Additives Series 16. INCHEM. IPCS. http://www.available at: IPCS. IPCS. Isosafrole and Dihydrosafrole.inchem. 16. INCHEM. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. 35th session. WHO Food Additives Series 30. INCHEM. Nitrobenzene. WHO Food Additives Series 16. Evaluation. (1976). WHO Food Additives Series 10. Benzyl Alcohol. 1989. Safrole. JECFA evaluations Benzo[a]pyrene. INCHEM. 12 November 2001. IPCS. 119 dari 122 .htm. (1983). PIM 139. INCHEM. WHO Food Additives Series 16. IPCS. 32. INCHEM. International Agency for Research on Cancer (IARC). http://www.htm. 1981. PIM 290. Coumarin.inchem. JECFA Reports Results of 1996. INCHEM. INCHEM. IPCS. IPCS. JECFA evaluations Benzyl Alcohol. (1982). IPCS. Dihyrocoumarin. 12 November 2001. INCHEM.inchem. IPCS. JECFA evaluations Thujone. IPCS. 10. JECFA reports Results of 2000. IARC Summary and evaluation. IPCS.JECFA evaluations Eugenyl methyl ether. IARC Summary and IPCS. WHO Food Additives Series 22. IPCS. and 2002 Meeting. Published FNP25 supersending the earlier spesifications published in FNP19 (1981).org/documents/jecfa/jecmono/v16je10. Availabel at: IPCS. WHO Food Additives Series 30. JECFA. 12 November 2001. INCHEM. 1993. β-Asarone. IPCS. WHO Food Additives Series 16. 12 November 2001. INCHEM. Safrole. JECFA evaluations p-Propylanisole. IARC Summary and evaluation. INCHEM. INCHEM. Diethelene Glycol Monoethyl Ether. International Agency for Research on Cancer (IARC). IPCS.org/documents/jecfa/jecmono/v16je04. Available at: IPCS. JECFA Reports Results of 2003 Meetings. IPCS. INCHEM. ICSC: 0554. Cocaine. IPCS. 12 November 2001. 1997. INCHEM. 1976. JECFA.SNI 01-7152-2006 IPCS. 12 November 2001. WHO Food Additives Series http://www. Vol. 10.

Moran. 61. Noveon. Antifertility activity of quassia amara in male rats in vivo study. 11. 120 dari 122 . G. M. 1963. Montero.). pp. Mutagenicity evaluation of compound FDA 73-59. p. RIFM – FEMA Database. and Roman. Antipyretic activity of α. Koch.htm. 223-74-2104. 04/M-DAG/PER/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya Piccinini.org/jecfa/additive_specs/docs/0/additive-0355.. Opdyke.htm. (1988).. 2-Butanone. Metabolism of aloin the influence of nutrition. 14.SNI 01-7152-2006 JECFA. Maximum Limits for Certain Undesirable Substances Present in Foodstuffs as Consumed as a Result of the Use of Flavourings.Cosmet.I No. (2003).and β-Santonin. No. J. Journal of Ethmopharmacology. M. Bioassay of cinamyl anthranilate for possible carcinogenicity. Allergy to quinine and tonic water. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan. and Robotto.. Katzer G.fao. N.00. A. 71.. and Bolarinwa. Material Safety Data Sheet. S.5. A. 23 Januari 2004.L. p.05. Balai Pustaka. No.00617 tentang Pemberlakuan Kodeks Makanan Indonesia. No. inc. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 395-396. No. NCI... European Journal of Internal Medicine. Mutu. Cinnamyl anthranilate. (1996). G.. Tonka Bean (Dipteryx odorata [Aubl. A. Life science. (2000). 285-290.. Elsevier. Elsevier. Carcinogenesis Technical Report Series No. D. Risk of hydrocyanic acid release in the electroplating industry.T. Cinnamyl anthranilate (Litton Bionetics Inc. Morisset. Ruggiero. 2001. R. J. Litton Bionetics Inc. Analisi dei gruppi lattinici di una quassina greggia. 196. Dihydrocoumarin Flavouring. 2000. Elsevier. Carron. p. (1997).N. Edisi Ketiga. Flabbẽe. A. p-Propylanisole. Martin.. M. Milan. Benzyl Alcohol.dan Gizi Pangan Peraturan Menteri Perdagangan R.. Mallinckrodt chemical.J. Departemen Pendidikan Nasional. D.. 395-407. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan. FDA Contract No. National Cancer Institute. O’rourke. R.fao. Report problems and Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK. Fd. 2001. J. Special issue II. NTP No. Ethyl 3-phenylglycidate.Toxicol. Kanny. Y. 1067-1074. Available at: http://apps3.] Wild. Fragrance raw materials monograph.F. Peraturan Menteri Kesehatan R. 751-752. vol. 1975. 13. European Communities (Flavourings for Use in Foodstuffs). Journal of pharmaceutical and biomedical analysis.org/jecga/additive_specs/docs/0/additive-0181. Moneret-Vautrin. Backer. G. Depatemen Pendidikan Nasional. Availabel at: http://apps3. 80-90. p. Jounal of hazardous materials. Baldi. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Ethyl Phenylglycidate. 1335-1338. L. 1-10. suggestions. 23.. 1980.A. No. Communication et relation au Comité por I’Etude des Bossions Alcooliques Aromatisées de la Federvini. p. Product information bulletin. JECFA. 14. RIFM – FEMA Database. Raji.. M. 1975. Noveon kala. Margaria.I. JECFA. Institut de Physiologie de I’Université. Benzyl Alcohol. No.. 15 June 1975.

C..R. Unpublished report No.FEMA Database.H. S. Schiestl.. Zenewicz. No. Fd.A. RIFM – FEMA Database. Birch tar oil. Material information on Estragole.al. G.htm. S. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. Stoner. D.SNI 01-7152-2006 RIFM . J. A.. (2002).v11.aros. Synergy in a medicinal plant: Antimicrobial antion of berberine potentiated by 5’nethoxyhydnocarpin. No. Elsevier. Seiler. RIFM monograph. 224. Smith. Material information on Methyl β-naphthyl ketone. Safety assessment of allylalkoxybenzene derivatives used as flavouring substances methyl eugenol and estragole. p. Gietz. Res.vt. RIFM – FEMA Database.M. (1944) “Two Year oral doses of Carbitol to rats”. and Shaffer. Fd Chem Toxic. W. Smithe. Food and Chemical Toxicology 41.. PNAS.L.. Res. J.edu/dendro/dendrology/syllabus/syllabus/sdulcamara... 427-436. Chem toxic. and Lewis. and Smith. Safrole.R. J. Carpenter.. RIFM. F. Metha. L et.R. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. vol. 1037 Sangster. C.B. p. Material information on pulegone. and Methyleugenol Induce Intrachromosomal Recombination in Yeast.R. Methyl beta-Naphthyl Ketone. Opinion on 3-monochloroprophane-1. Calafat. 4. Smith. Ilsi Research Branches Publications Meetings.. Isopropyl Alcohol.L. J.A. Tawara. S. 30693085. Stermitz. SCF. R. Chiang. Hutt.net/lambo/dulcamara/dulcamara01.C. 1989. Lorenz. F. P. Toxicology Letters 149 (2004) 197-27. pp.H..al. Available at: http://www2. 40. 121 dari 122 . Ilsi Research Branches Publications Meetings. C. a multidrug pump inhibitor.. Solanum dulcamara seeds. Cancer Res.N. 97. 1973. Bitter nightshade Solanaceae dulcamara.. R. RIFM – FEMA Database. Caldwell..2-diol (3-MCPD). Brown. Expressed 16 December 1994. Pargamon. D. Material information on p-propylanisole. Ilsi Research Branches Publications Meetings. P. (2004).htm. 33. B. Safety Evaluation on Natural Flavour Complexes. J. Eugenol. 286.. 1982. T. Reports of the Scientific Committee for Food (thirty-sixth series). et. Test for carcinogenicity of food additives and chemotherapeutic agents by the pulmorary tumor response in Strain A mice. Polzin. Stanfill.L. R.. Mutat. D.. Jensen. 127-140. 21. 3. D. Concentrations of nine alkenylbenzenes.. et al. and Ashley. piperonal and pulegone in Indian bidi cigarette tobacco.. 1973. Cinnamyl Anthranilate. Mutat. 14331437. No. E. J. Ethyl phenylglycidate. Available at: http://www. 7-31 by the Mellon Institute of Industrial Research.. K.. 101.. Summary of Evaluations Performed by th JECFA. RIFM – FEMA Database. FCT. 303-317. The metabolism of pPropylanisole in the rat and mouse and its variation with dose. Watson. C. Vol. Sezikawa. L. (2003). 29 Januari 2003. 1994.M.J.A. coumarin.cnr. R.M.. 263-271... p. P. Chan. H. Genotoxicity of safrole-related chemical in microbial test systems.. (1983). and Hastings. A. (2000). G. and Shibamoto. R. p. 851-870. J. No. and Peterson.

P. Effects of cocaine on heart rate variability in healthy subjects. (1983). Asam pirolignous.G.nih. (1995). The American jounal of cardiology.S.. TOXNET. Geological Survey. vol. Gocke. and Victor. Flavourings.A. 1998. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances. Department of the Interior. Ilsi Research Branches Publications Meetings. vol. Sulfate.. M. W. Quinine. 21. Oils.. TGSC. No. 718. Branches Publications Meetings. Taylor. 93. King. National Institutes of Health. Zonta. and Micali..SNI 01-7152-2006 Summary of Evaluations Performed by the JECFA.T. WeiheimNew York – Chishester – Brisbane – Singapore – Toronto. Acidum Agaricum. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances. and Eckhardt. 99-106. Ilsi Research Summary of Evaluations Performed by the JECFA. Wild. pennyroyal. Toxic Substances Hydrology Program.. U. G. P. Safrole and Isosafrole. Isopropyl Alcohol. hedeoma pulegioides. Diethylene Glycol. (1911). Fd ChemToxic. U. The Registry of Toxic Effect of Chemical Substances.S. http://www. Masotti. Wiley-VCH. K. Elsevier. p. E. D.. Flavourings Regulation.. p/ 707-719. National Library of Medicine.. Material safety data sheet for Birch tar oil. Ziegler and Ziegler. Journal of chromatography A. Monograph. Published by direction of the Council of the Pharmaceutical Society of Great Britain. No. NIOSH. Bogoni. R. Available at: Vongpatanasin. (2004). F. High performance liquid chromatographic profiles of aloe constituents and determination of aloin in beverages. J.toxnet. 122 dari 122 . The British Pharmaceutical Codex. 6.gov.nlm. Study of artificial flavouring substances for mutagenicity in the salmonella/microsome basc and micronucleus tests. with reference to the EEC regulation for flavouring substances. 2003.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful