SNI 01-7152-2006

Standar Nasional Indonesia

Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan

ICS 67.220.20

Badan Standardisasi Nasional

SNI 01-7152-2006

Daftar isi

Daftar isi ........................................................................................................................... Prakata ............................................................................................................................ . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ruang lingkup ........................................................................................................... Acuan normatif .......................................................................................................... Istilah dan definisi ..................................................................................................... Jenis perisa ............................................................................................................... Pengelompokan perisa ............................................................................................. Penggunaan perisa ................................................................................................... Ajudan perisa (Flavoring adjunct) ............................................................................. Senyawa penanda .................................................................................................... Larangan ...................................................................................................................

i ii 1 1 1 2 3 3 11 17 18 18 19 25 116

10 Ketentuan label ......................................................................................................... Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan penggunaannya dalam produk pangan ..

Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa ........................................................... Bibliografi .........................................................................................................................

Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17

Batasan aloin dalam produk pangan ................................................................ Batasan asam agarat dalam produk pangan ................................................... Batasan asam sianida dalam produk pangan................................................... Batasan beta asaron dalam produk pangan .................................................... Batasan berberin dalam produk pangan .......................................................... Batasan estragol dalam produk pangan .......................................................... Batasan hiperisin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kafein dalam produk pangan ............................................................. Batasan kuasin dalam produk pangan ............................................................. Batasan komarin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kuinin dalam produk pangan ............................................................ Batasan minyak rue dalam produk pangan .................................................... Batasan safrol dalam produk pangan ............................................................. Batasan iso-safrol dalam produk pangan ....................................................... Batasan alfa santonin dalam produk pangan ................................................ Batasan spartein dalam produk pangan ........................................................ Batasan tujon dalam produk pangan ..............................................................
i

4 4 5 5 6 6 7 7 7 8 8 8 9 9 10 10 11

.......................................................... Pelarut pengekstrak dan bahan penolong ....... 11 11 16 ii ............................... Pelarut dan pelarut pembawa .............SNI 01-7152-2006 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan ..................................................................................................................

perguruan tinggi. dan terakhir dirumuskan dalam rapat konsensus nasional di Jakarta tanggal 7 Oktober 2005 yang dihadiri oleh wakil-wakil produsen. Standar ini telah dibahas dalam rapat-rapat teknis. prakonsensus. serta instansi pemerintah terkait.Persyaratan Perisa dan Penggunaan dalam Produk Pangan disusun oleh Panitia Teknis 67-02 Bahan Tambahan Pangan dan Kontaminan.memberikan jaminan mutu produk pangan. asosiasi.memberikan perlindungan kepada konsumen terhadap dampak merugikan akibat penyalahgunaan penggunaan perisa . sehingga dapat meningkatkan daya saing .memberikan pedoman penggunaan perisa bagi industri perisa dan industri pangan .mendukung perkembangan industri pangan.SNI 01-7152-2006 Prakata SNI Bahan Tambahan Pangan Perisa. iii . konsumen. Penyususan standar ini bertujuan untuk: .

.

SNI 01 – 4213. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. SNI 01 – 7111. Pengganti air susu ibu. 3 Istilah dan definisi 3. larangan. Formula lanjutan. dan ketentuan label. SNI 01 – 7111. ajudan perisa. tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3. senyawa penanda. Standar ini berlaku untuk industri perisa dan industri pangan yang menggunakan perisa sebagai bahan tambahan pangan. SNI 01 – 3955.2-2005. JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) meeting report on Evaluation of Certain Food Additives and Contaminants. pengelompokan perisa. dengan pengecualian rasa asin. tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3. istilah dan definisi. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap. jenis perisa.1 bahan tambahan pangan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan 3. penggunaan perisa. SNI 01 – 7111. manis dan asam.SNI 01-7152-2006 Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan 1 Ruang lingkup Standar ini meliputi acuan normatif.1-2005. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak. 2 Acuan normatif WHO Technical Report Series.4 batas maksimum jumlah maksimum yang diizinkan terdapat dalam produk pangan 1 dari 122 . SNI 01 – 7111.3-2005.2 perisa bahan tambahan pangan berupa preparat konsentrat.3 senyawa perisa senyawa kimia tertentu yang mempunyai sifat flavor. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 1: Bubuk instan. dengan atau tanpa ajudan perisa (flavouring adjunct) yang digunakan untuk memberi flavor.4-2005.

4.1 Perisa terdiri dari tujuh jenis yaitu senyawa perisa alami. tempurung dan tanaman berkayu yang tidak mengalami perlakuan dan tidak terkontaminasi melalui proses pembakaran yang terkontrol atau distilasi kering atau perlakuan dengan uap yang sangat panas.1.SNI 01-7152-2006 3.1. Senyawa perisa tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung. preparat perisa.6 senyawa bioaktif senyawa yang terdapat pada tanaman yang mempunyai efek fisiologis tetapi bukan zat gizi 3. dan selanjutnya dikondensasi serta difraksinasi untuk mendapatkan flavor yang diinginkan. dan penggunaan perisa 3.1 Senyawa perisa alami adalah senyawa perisa yang diperoleh melalui proses fisik. 2 dari 122 .4 Perisa asap adalah preparat perisa yang diperoleh dari kayu keras termasuk serbuk gergaji. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan pangan tumbuhan maupun hewan yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. dan perisa hasil proses panas. senyawa perisa artifisial. pengenceran. Bahan baku tersebut termasuk bahan pangan.8 ajudan perisa (flavouring adjunct) bahan tambahan yang diperlukan dalam pembuatan. sehingga memungkinkan untuk mengidentifikasi setiap senyawa kimia secara spesifik 4 Jenis perisa 4. bahan baku aromatik alami.7 ADI (Acceptable Daily Intake) atau asupan harian yang dapat diterima jumlah maksimum senyawa perisa dalam miligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan 3. 4. 4. 4.3 Preparat perisa adalah bahan yang disiapkan atau diproses untuk memberikan flavor yang diperoleh melalui proses fisik. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan tumbuhan atau hewan.1. pelarutan. herba dan sumber tumbuhan lainnya yang tepat untuk aplikasi yang dimaksud.1. perisa asap. penyimpanan.2 Bahan baku aromatik alami adalah bahan baku yang berasal dari tumbuhan atau hewan yang cocok digunakan dalam penyiapan/pembuatan/pengolahan perisa alami.5 CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik) suatu pedoman yang diterapkan untuk memproduksi pangan yang memenuhi standar mutu atau persyaratan yang diterapkan secara konsisten 3. Bahan tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung. yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. rempah-rempah.9 nomor CAS (Chemical Abstract Service) sistem indeks atau registrasi senyawa kimia yang diadopsi secara internasional. senyawa perisa identik alami.

1 Perisa alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa alami.SNI 01-7152-2006 4. 4.1 Perisa dikelompokkan berdasarkan sumber dan proses pembuatannya menjadi empat kelompok menjadi perisa alami. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas.2 Pengelompokkan sebagaimana dimaksud dalam butir 5. 6. dan perisa hasil proses panas.1.1.0. 5. 5. dibatasi dengan nilai ADI dan dibatasi dengan kandungan bioaktifnya.1. 6. 5.1 ditujukan untuk pelabelan produk pangan.1. bahan baku aromatik alami. baik setelah diproses atau tidak.1. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa identik alami dan senyawa perisa artifisial. 3 dari 122 .1. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180°C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8.3 Penggunaan perisa yang diizinkan didasarkan atas CPPB. 6 Penggunaan perisa 6.1.5 Senyawa perisa identik alami adalah senyawa perisa yang diperoleh secara sintesis atau diisolasi melalui proses kimia dari bahan baku aromatik alami dan secara kimia identik dengan senyawa yang ada dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia. 4. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa artifisial. perisa artifisial. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180 °C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas. baik setelah diproses atau tidak. 5 Pengelompokan perisa 5. 5. 5.2 Perisa identik alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa identik alami dan dapat mengandung senyawa perisa alami.2 Perisa dapat digunakan dalam produk pangan secara tunggal atau campuran.0.4 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan.7 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan. bahan baku aromatik alami.3 Perisa artifisial adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa artifisial.6 Senyawa perisa artifisial adalah senyawa perisa yang disintesis secara kimia yang belum teridentifikasi dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia.1 Perisa dapat digunakan bersama-sama dengan komponen atau senyawa kimia yang diizinkan. perisa identik alami.

6.5.3.2 diizinkan untuk digunakan dengan batas penggunaan sesuai dengan CPPB.5. Nomor CAS.2 sesuai dengan Tabel 1.1 yang tidak termasuk dalam butir 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 6.2.1 0.2 6. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Minuman beralkohol 6. 6.1 sebagaimana tercantum pada butir 6.5.5.3.3. 6.3. 6.3.3.5.2.2 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 20 20 Produk pangan 4 dari 122 .2.1 Aloin (aloin).5.1.2 Asam agarat hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.1 50 No. 6.3 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6.3.1. 1 2 Makanan Minuman Batasan asam agarat dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).5.4 Tabel A. Tabel 2 No. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2.3.3 Batas maksimum aloin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.1 yang berdasarkan kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) mempunyai batasan penggunaan sesuai dengan ADI.3.3. 6.1 Senyawa perisa sebagaimana tercantum dalam Lampiran A Tabel A.3.2 Aloin boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3. Tabel 1 Batasan aloin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0. 6.3 Batas maksimum asam agarat dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.3.SNI 01-7152-2006 6.5.1 6.3. 666-99-9 Asam agarat tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5 Perisa yang digunakan dalam produk pangan dapat mengandung senyawa bioaktif yang jumlahnya dalam produk pangan dibatasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 sampai dengan Tabel 17.3.3.2 sesuai dengan Tabel 2.1.3. 5133-19-7 Aloin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5. 6.1 diizinkan untuk digunakan.1.1 dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.1 Asam agarat (agaric acid). Nomor CAS.3.3. maka batasan penggunaannya mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh JECFA.

4 Beta asaron (β-asarone).1 0.1 1 No.5.Produk yang mengandung kacangkacangan dan umbi-umbian 6.Makanan yang mengandung jamur Batas maksimum (mg/kg).Kembang gula .3 Batas maksimum asam sianida dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3.5.SNI 01-7152-2006 Tabel 2 (Lanjutan) No.2 Beta asaron hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3. 3 Produk pangan Pengecualian pada: .4.3.2 sesuai dengan Tabel 3. 6.2 sesuai dengan Tabel 4. 1 2 3 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada minuman beralkohol dan bumbu dalam makanan ringan 5 dari 122 .3.3. 6.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 100 100 6. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Pengecualian pada: .4. Nomor CAS.Sari buah berbiji tunggal . dihitung terhadap produk siap konsumsi.3.3 Batas maksimum beta asaron dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.4.Minuman beralkohol .Minuman beralkohol .3 6. 74-90-8 Asam sianida tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3. 5273-86-9 6.3.5.5. Nomor CAS.3.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.1 Beta asaron tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.3.1 Asam sianida (hydrocyanic acid).4. 6.2 Asam sianida hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.5. Tabel 4 Batasan beta asaron dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg). Tabel 3 Batasan asam sianida dalam produk pangan Batas maksimum 1 mg/kg 1 mg/kg 25 mg/kg 5 mg/kg 1 % per volume 50 mg/kg No.3.3.3.5.3.

6.5. 1 2 3 Batasan berberin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).1 Estragol (estragole).3 Batas maksimum estragol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.7.1 Berberin (berberine).1 Hiperisin (hypericine).5. 6. Tabel 5 No.5.7. 6.2 sesuai dengan Tabel 5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.6 6.6.5.5.3. Nomor CAS.1 10 Produk pangan Makanan Minuman Minuman beralkohol 6.5.3 Batas maksimum hiperisin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. kacang-kacangan Ikan dan produk perikanan 6.5.3.3.5.3. 6.2 sesuai dengan Tabel 6. 6. sayuran termasuk jamur.6. Nomor CAS.1 0.6.3.7.5 6.3. polong-polongan.7 6.5. 6. 6 dari 122 . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.3.SNI 01-7152-2006 6.2 Estragol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5. 140-67-0 Estragol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3 Batas maksimum berberin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3.3.3.3.3. 1 2 3 Batasan estragol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 50 50 50 Produk pangan Produk turunan susu Buah olahan.3.6.5.5. Nomor CAS. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2 Berberin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.2 sesuai dengan Tabel 7.7.5. Tabel 6 No.akar.5. 50-32-8 Berberin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.2 Hiperisin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.3.5.5.5. 548-04-9 Hiperisin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3.

8. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 5 5 10 50 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .1 Komarin (coumarin). Nomor CAS. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.1 0.Minuman beralkohol 6.10.5.10.2 sesuai dengan Tabel 10.8.5.3.5.5.3. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman Kuasin (quassine).2 Kafein (caffein).5.3.5.1 Kuasin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 1 2 3 Batasan kuasin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).Kembang gula pastilles .SNI 01-7152-2006 Tabel 7 No.5.2 Batas maksimum kuasin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 9. Tabel 9 No.Kembang gula. . pastilles . Tabel 8 Batasan kafein dalam produk pangan Batas maksimum 150 mg/hari dan 50 mg/sajian 150 mg/hari dan 50 mg/sajian No. 76-78-8 6.5.10. 6.1 1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . Batas maksimum kafein dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 8. Nomor CAS. 58-08-02 Kafein boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3.5. 6.9.3.5.3 Batas maksimum komarin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. 1 2 3 Batasan hiperisin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).3. 7 dari 122 . 6.1 6.3.9.3.9 6.8 6.5.3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3. Nomor CAS.Minuman beralkohol 6.2 Komarin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0. 91-64-5 Komarin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.10 6.10.3.

dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3. jus dan nektar .SNI 01-7152-2006 Tabel 10 No 1 2 3 Batasan komarin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg). dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3.Tonic water and non wine based bitter .5.1 Kuinin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.11.12.5.11 Kuinin (quinine). Nomor CAS.3.Permen karet . 6.Karamel . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 2 2 10 10 10 10 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3.2 Batas maksimum kuinin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 11. 130-95-0 6. air mineral. 1 2 Batasan kuinin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0.5.Kembang gula .Minuman non alkohol . 6.11. Tabel 11 No.Jus buah lemon Pengecualian pada: . 8014-29-7 Minyak rue boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.Bumbu 6.5.Minuman ringan kecuali air dalam kemasan.1 Minyak rue (rue oil).2 Batas maksimum minyak rue dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 12.Minuman berperisa non alkohol . Produk pangan 1 Makanan 2 Pengecualian pada: .Minuman beralkohol 3 6.3.12.12 6.5. Tabel 12 Batasan minyak rue dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 4 10 No.1 85 85 85 85 85 85 300 Produk pangan Makanan Minuman .5.3.Roti dan produk bakeri 8 dari 122 . Nomor CAS.Minuman beralkohol .

5.3. 94-59-7 Safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.produk daging berbumbu 6.3.3. 6. Tabel 13 No.5.5.5.Makanan pencuci mulut berbahan dasar susu .14.5.3.2 sesuai dengan Tabel 13.3.13.2 Iso-safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3 Batas maksimum iso-safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. Nomor CAS. Produk pangan . Tabel 14 No.13 6.3.5.minuman beralkohol dengan kadar < 20% .14 6.13. 120-58-1 Iso-safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 1 2 Batasan iso-safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .5.minuman beralkohol dengan kadar < 20% 9 dari 122 .13. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.1 Iso-safrol (iso-safrole).5.3.3. 1 2 3 Batasan safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 5 15 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . 6. 6.Kembang gula lunak Safrol (safrole).5.13.2 sesuai dengan Tabel 14.3 Batas maksimum safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.SNI 01-7152-2006 Tabel 12 (Lanjutan) No.2 Safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau akibat dari penambahan perisa alami. Nomor CAS.makanan mengandung bunga pala dan pala .3.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .14.1 6.14.5.3.14. Batas maksimum (mg/kg) 10 10 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.

1 2 3 Batasan alfa santonin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).3 Batas maksimum alfa santonin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.1 Tujon tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.2 Alfa santonin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.5. Produk pangan .5. 6. Nomor CAS.1 0. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.16 Spartein (sparteine).5. Tabel 15 No.15. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.15.16.produk daging berbumbu Batas maksimum (mg/kg) 5 10 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5.3.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .17.1 Produk pangan Minuman beralkohol Makanan Minuman Tujon (thujon).17 6.15 6.5. 481-06-1 Alfa santonin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Nomor CAS.1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .5. 546-80-5 6.5.3.3.5.3.3.3. Nomor CAS.1 Alfa santonin (α-santonine). 1 2 3 Batasan spartein dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 5 0.2 Tujon hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.SNI 01-7152-2006 Tabel 14 (Lanjutan) No. 6917-37-9 6.5.3 Batas maksimum spartein dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3.17.5.2 Spartein hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.15.3.16. 6.3.2 sesuai dengan Tabel 16.15.5.16.1 Spartein tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Tabel 16 No.Minuman beralkohol dengan kadar > 20% 6.2 sesuai dengan Tabel 15.5.3.1 0.3. 6.3. 6.16. 6.3. 10 dari 122 .

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Perisa Dulkamara Kokain Nitrobenzen Sinamil antranilat Dihidrosafrol Biji tonka Minyak kalamus Minyak tansi Minyak sasafras 7 7.2 sesuai dengan Tabel 17.SNI 01-7152-2006 6.makanan mengandung sage atau berperisa sage atau campuran keduanya . Tabel 18 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan No.5. 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .5 0. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. Tabel 17 Batasan tujon dalam produk pangan No.2-propylene glycol acetates 2-ethyl-1-hexanol Agar agar 11 dari 122 .bitters (makanan berasa pahit) .1 Ajudan perisa (Flavoring adjunct) Ajudan perisa yang diizinkan tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20.5 5 10 35 25 250 6.bumbu sage Batas maksimum (mg/kg) 0.2-propilen glikol asetat 2-etil-1-heksanol Agar-agar Nama Inggris Processed euchema seaweed 1.3 Batas maksimum tujon dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.4 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan tercantum dalam Tabel 18.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .3. 1 2 3 4 Pelarut dan pelarut pembawa Senyawa Nama Indonesia Ganggang euchema hasil proses 1.17.17.minuman beralkohol dengan kadar < 20% . Tabel 19 No.

5 6 7 8 9 10 11 12 Senyawa Nama Indonesia Air alfa-Siklodekstrin Aluminium silikat Amonium fosfatida Amonium klorida Amonium sulfat Asam alginat Asam amino dan garamnya selain asam glutamat. sistein dan sistin dan garam-garamnya yang tidak mempunyai fungsi tambahan Asam asetat Asam laktat Asam lemak Asam lemak mono.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.3-diol Dextran Dextrin White or yellow dextrin.3-diol Dekstran Dekstrin Dekstrin kuning atau putih. Acetic acid Lactic acid Fatty acids Mono. pati dimodifikasi dengan perlakuan asam atau basa. pati pucat. pati dimodifikasi secara fisik dan pati yang diperlakuan dengan enzim amilolitik Diamonium fosfat Dietilen glikol monopropil eter Dimetilpolisiloksan Dipropilen glikol Dipati fosfat d-Tagatos Eritritol Ester asam asetat asam lemak mono.dan digliserida Asetilasi dipati adipat Asetilasi dipati fosfat Asetilasi pati teroksidasi Bentonit Benzil alkohol Benzil benzoat beta-Siklodekstrin Bubuk wey Butan-1. bleached starch. starch modified by acid or alkali treatment. cysteine and cystine and their salts and having no additive function. glisin. glycine.and diglycerides fatty acids Acetylated distarch adipate Acetylated distarch phosphate Acetylated oxidized starch Bentonite Benzyl alcohol Benzyl benzoate beta-Cyclodextrine Whey powder Butan-1. roasted or dextrinated starch.dan digliserida ester asam sitrat Ester gliserol damar kayu Ester poligliserol asam lemak Ester sukrosa asam lemak Etil alkohol Etil asetat Nama Inggris Water alpha-Cyclodextrin Aluminium silicate (Kaolin) Ammonium phosphatides Ammonium chloride Ammonium sulphate Alginic acid Amino acids and their salts other than glutamic acid.dan digliserida Asam lemak mono. pati panggang atau terdekstrinasi. physically modified starch and starch treated by amylolitic enzymes Diammonium phosphate Diethylene glycol monopropyl ether Dimethylpolysiloxane Dipropylene glycol Distarch phospahate d-Tagatose Erythritol Acetic acid esters of mono-and diglycerides of fatty acids Citric acid esters of mono.and diglycerides of fatty acids Glycerol ester of wood resin Polyglycerol esters of fatty acids Sucrose esters of fatty acids Ethyl alcohol Ethyl acetate 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 12 dari 122 .

protein hydrolysates and their salts. milk protein and gluten Glyceryl diacetate Glyceryl diesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl monoacetate Glyceryl monoesters of aliphatic fatty acids C6-C18 Glyceryl triacetate Glyceryl triesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl tripropanoate Glycerol Glycerol mono acetate Glycine and its sodium salt Glucose Gum Arabic Damar gum Ghatti gum Guar gum Locust bean gum Karaya gum Konjac gum Xanthan gum Taragum Hydroxypropyl distarch phosphate Hydroxypropyl cellulose Hydroxypropylmethyl cellulose Cross-linked sodium carboxymethylcellulose Cross linked sodium carboxy methyl cellulose Cross-linked cellulose gum Inulin Isoamyl acetate Isomalt Isopropyl myristate iso-Propylalcohol 13 dari 122 . protein susu dan gluten Gliseril diasetat Gliseril diester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril monoasetat Gliseril monoester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril triasetat Gliseril triester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril tripropanoat Gliserol Gliserol mono asetat Glisin dan garam natrium Glukosa Gom arab Gom damar Gom gati Gom guar Gom kacang lokus Gom karaya Gom konjak Gom santan Gom tara Hidroksipropil dipati fosfat Hidroksipropil selulosa Hidroksipropilmetil selulosa natrium karboksimetil selulosaIkatan silang Natrium karbolksi metil selulosaIkatan silang Gom selulosa-Ikatan silang Inulin Isoamil asetat Isomalt Isopropil miristat Iso-propilalkohol Nama Inggris Ethyl lactate Ethyl methyl cellulose Ethyl cellulose Ethyl tartrate Phosphated distarch phosphate gamma-Cyclodextrin Salt Magnesium salts of fatty acids Gellanegum Gelatin Edible gelatin. hidrolisat protein dan garamnya.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Senyawa Nama Indonesia Etil laktat Etil metil selulosa Etil selulosa Etil tartrat Fosfatida dipati fosfat gamma-Siklodekstrin Garam Garam magnesium asam lemak Gom gelan Gelatin Gelatin makan.

di. K.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.and diacetyl tartaric acid esters of mono. 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 Senyawa Nama Indonesia Kalsium asetat Kalsium fosfat Kalsium karbonat Kalsium klorida Kalsium silikat Kalsium sulfat Karagenan Karboksi metil selulosa terhidrolisa secara enzimatis Natrium karboksimetil selulosa Kaseinat dan kasein Laktitol Laktosa Lemak makan Lesitin Lilin kandelila Lilin karnauba Lilin lebah Magnesium hidroksida karbonat Magnesium karbonat Magnesium klorida Maltitol Maltodekstrin Manitol Metil selulosa Minyak makan Minyak kastor Minyak sayur terhidrogenasi Ester mono.and diglycerides of fatty acids Mono-. di.dan digliserida asam lemak Mono-.dan diasetil asam tartrat dari mono. K.dan tri-kalsium orto-fosfat Na.and tri-Calcium orthophosphate Na. Na salt Caseinates and casein Lactitol Lactose Edible fats Lechitins Candelilla wax Carnauba wax Beeswax Magnesium hydroxide carbonate Magnesium carbonate Magnesium chloride Maltitol Maltodextrine Mannitol Methyl cellulose Edible oils Castor oil Hydrogenated vegetable oils Mono. NH4 and Ca alginate Starch Modified starches Starch (sodium) octenyl succinate Starch acetate Acetylated starch Hydroxypropyl starch Mono starch phosphate Oxidized starch Pectins Polidextrose Polyethylene glycol Polyethyleneglycol 6000 Polyoxyethylene sorbitan monolaurate (polysorbate 20) 14 dari 122 . NH4 dan Ca alginat Pati Pati termodifikasi Pati (natrium) oktenil suksinat Pati asetat Pati asetilasi Pati hidroksipropil Mono pati fosfat Pati teroksidasi Pektin Polidekstrosa Polietilen glikol Polietilen glikol 6000 Polioksietilen sorbitan monolaurat (polisorbat 20) Nama Inggris Calcium acetate Calcium phosphates Calcium carbonate Calcium chloride Calcium silicate Calcium sulphate Carrageenan Enzymatically hydrolyzed carboxy methyl cellulose Carboxymethyl cellulose.

by the action of dilute acid followed by partial neutralization with sodium or potassium salts (‘liquid pectin’) Propylene glycol Propylene glycol alginate Propyl alcohol Hydrolyzed vegetable protein Elemi resin Cellulose. or from a mixture of both. such as citric acid and ammonium hydroxide Silicon dioxide Xylitol Sorbitol syrup Sodium aluminium diphosphate Sodium aluminium silicate Sodium carboxymethyl cellulose. Senyawa Nama Inggris Polyoxyethylene sorbitan monooleate (polysorbate 80) Polyoxyethylene sorbitan monopalmitate (polysorbate 40) Polyoxyethylene sorbitan monostearate (polysorbate 60) Polyoxyethylene sorbitan tristearate (polysorbate 65) Polyvinylpyrrolidone Polyvinylpolypyrrolidone Potassium aluminium silicate Potassium gluconate Potassium carbonates Potassium chloride Potassium citrates Potassium sulphate Products containing pectin and derived from dried apple pomace or peel of citrus fruits. potassium and calcium salts of fatty acids Sorbitan monolaurate Sorbitan monooleate Sorbitan monopalmitate Sorbitan monostearate Nama Indonesia 127 Polioksietilen sorbitan monooleat (polisorbat 80) 128 129 Polioksietilen sorbitan monopalmitat (polisorbat 40) 130 Polioksietilen sorbitan monostearat (polisorbat 60) 131 Polioksietilen sorbitan tristearat (polisorbat 65) 132 Polivinilpirolidon 133 Polivinilpolipirolidon 134 Kalium aluminium silikat 135 Kalium glukonat 136 Kalium karbonat 137 Kalium klorida 138 Kalium sitrat 139 Kalium sulfat 140 Produk mengandung pektin dan turunannya dari apel yang dikeringkan atau kulit buah sitrus atau dari campuran keduanya melalui asam encer dengan cara netralisasi sebagian dengan garam natrium atau kalium (‘pektin cair’) 141 Propilen glikol 142 Propilen glikol alginat 143 Propoil alkohol 144 Protein tumbuhan terhidrolisa 145 Resin elemi 146 Selulosa.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. microcristalline Substances having primarily an acid or acidity regulator function. mikrokristalin 147 Senyawa dengan fungsi utama sebagai asam atau pengatur keasaman. enzymatically hydrolysed Sodium citrates Sodium sulphate Sodium. hidrolisa secara enzimatis 154 Natrium sitrat 155 Natirum sulfat 156 Natrium. kalium dan garam kalsium asam lemak 157 Sorbitan monolaurat 158 Sorbitan monooleat 159 Sorbitan monopalmitat 160 Sorbitan monostearat 15 dari 122 . seperti asam sitrat dan amonium hidroksida 148 Silikon dioksida 149 Silitol 150 Sirup sorbitol 151 Natrium aluminium difosfat 152 Natrium aluminium silikat 153 Natrium karboksimetil selulosa.

di.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.and triacetate Glycerol tributyrate Glycerol tripropionate Hexane Heptane 16 dari 122 .2-Trichloroethylene 1.dan triasetat Gliserol tributirat Gliserol tripropionat Heksana Heptana Nama Inggris 1.1.2-trikloroetilen 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Pelarut pengekstrak dan bahan penolong Senyawa Nama Indonesia 1.1.3-diol Butil asetat Dibutil eter Dietil eter Dietil sitrat Dietil tartrat di-isopropilketon Diklorodiflorometan Dikloroflorometan Diklorometan Diklorotetrafloroetan Etanol Etil asetat Etil laktat Etilmetilketon (butanon) Gliserol Gliserol mono.3-diol Butyl acetate Dibutyl ether Diethyl ether Diethyl citrate Diethyl tartrate di-isopropylketone Dichlorodifluoromethane Dichlorofluoromethane Dichloromethane Dichlorotetrafluoroethane Ethanol Ethyl acetate Ethyl lactate Ethylmethylketone (butanone) Glycerol Glycerol mono-di. 161 162 163 164 165 166 167 168 169 Senyawa Nama Indonesia Sorbitan tristearat Sorbitol Sukro gliserida Sukrosa Sukrosa asetat isobutirat Talk Tragakan Trietilsitrat Trigliserida (sintetik) Nama Inggris Sorbitan tristearate Sorbitol Sucro glycerides Sucrose Sucrose acetate isobutyrate Talc Tragacanth Triethylcitrate Triglycerides (synthetic) Tabel 20 No.2-Dikloroetana (Dikloroetana) 2-nitropropana Air Amil asetat Amonia dalam metanol/etanol Asam nitrat Aseton Benzil alkohol Benzil benzoat Butan-1-ol Butan-2-ol Butana Butana-1.2-Dichloroethane (Dichloroethane) 2-Nitropropane Water Amyl acetate Ammonia in methanol/ethanol Nitric acid Acetone (dimethyl ketone) Benzyl alcohol Benzyl benzoate Butan-1-ol Butan-2-ol Butane Butane-1.

2 3-monochloropropane-1.2-diol (3-MCPD) adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa hasil proses panas dengan batas maksimum kandungan: a) Dalam produk pangan cair kadarnya tidak boleh lebih dari 20 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku.2-diol Propan-1-ol Propana Sikloheksana Tersier butil alkohol Toluen Tridodesilamin Triklorofloroetilen Trikloroflorometan Nama Inggris Isobutane Isobutanol (2-methylpropan-1-ol) Isoparaffinic petroleum hydrocarbons Isopropyl alcohol Isopropyl myristate Carbon dioxide Methanol Methyl acetate Methyl propanol-1 Methyl tert. 8.2 Ajudan perisa selain yang tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20 diizinkan digunakan pada perisa apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut: a) Jika termasuk ke dalam golongan bahan tambahan pangan. b) Jika termasuk ke dalam golongan bahan pangan.03 µg/kg. b) Dalam produk pangan padat kadarnya tidak boleh lebih dari 50 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku.SNI 01-7152-2006 Tabel 20 (Lanjutan) No. diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan yang berlaku.2-diol Propane-1-ol Propane Cyclohexane Tertiary butyl alcohol Toluene Tridodecylamine Trichlorofluoroethylene Trichlorofluoromethane 7. diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan bahan tambahan pangan yang berlaku.-butylether Methylene chloride (dichloromethane) Castor oil Nitrous oxide n-Octyl alcohol Pentane Petroleum ether (light petroleum) Propane-1. 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Senyawa Nama Indonesia Isobutana Isobutanol (2-metilpropan-1-ol) Isoparafinat petroleum hidrokarbon Isopropil alkohol Isopropil miristat Karbon dioksida Metanol Metil asetat Metil propanol-1 Metil ter-butileter Metilen klorida (diklorometana) Minyak kastor Dinitrogen oksida n-Oktil alkohol Pentana Petroleum eter (petroleum ringan) Propan-1.1 Benzo[a]piren adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa asap dengan batas maksimum kandungan dalam produk pangan tidak lebih dari 0. 17 dari 122 . 8 Senyawa penanda 8.

1-2005. SNI 01-7111. 9. kecuali yang telah ditetapkan dalam SNI 01-4213-1995.2-2005.3-2005.1 Label produk pangan yang menggunakan perisa harus mencantumkan keterangan tentang perisa sekurang-kurangnya nama kelompok perisa dalam komposisi bahan atau daftar bahan yang digunakan. 10 Ketentuan label 10. 18 dari 122 .4-2005. 10.2 Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula lanjutan dan makanan pendamping ASI.1 Larangan Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula bayi. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 1: Bubuk instan. SNI 01-7111. SNI 01-7111. SNI 01-7111. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap. Formula lanjutan.SNI 01-7152-2006 9 9. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak.2 Pencantuman label harus memenuhi ketentuan perundangan-undangan yang berlaku.

054 09.701 09.469 09.104 09.274 09.1 Senyawa Perisa yang diizinkan untuk digunakan No.162 FEMA 2040 2021 2032 2031 2037 2036 2045 2041 2044 2043 2029 2023 2026 2024 2027 2025 2039 2038 2022 2020 2030 2127 2135 2138 2137 2434 2414 2456 2693 2462 2439 2437 2449 2447 2432 3492 2441 2445 2451 3490 2419 2069 .099 09.411 09.482 09.493 09.111 09.010 09.097 09.790 09.244 09.147 09.059 09.001 09.719 13.121 09.SNI 01-7152-2006 Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan untuk digunakan Tabel A.312 09.060 09.492 09.210 02. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Nama Senyawa allyl propionate allyl butyrate allyl hexanoate allyl heptanoate allyl octanoate allyl nonanoate allyl isovalerate allyl sorbate allyl 10-undecenoate allyl tiglate allyl 2-ethylbutyrate allyl cyclohexaneacetate allyl cyclohexanepropionate allyl cyclohexanebutyrate allyl cyclohexanevalerate allyl cyclohexanehexanoate allyl phenylacetate allyl phenoxyacetate allyl cinnamate allyl anthranilate allyl 2-furoate benzaldehyde benzyl acetate benzyl benzoate benzyl alcohol ethyl formate ethyl acetate ethyl propionate ethyl butyrate ethyl pentanoate ethyl hexanoate ethyl heptanoate ethyl octanoate ethyl nonanoate ethyl decanoate ethyl undecanoate ethyl dodecanoate ethyl tetradecanoate ethyl hexadecanoate ethyl octadecanoate ethanol isoamyl formate (3-Methylbutyl formate) JECFA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 19 dari 122 EC 09.038 09.004 05.741 09.146 09.489 09.072 09.727 02.078 09.013 09.410 09.107 09.233 09.109 09.180 09.119 09.014 09.093 09.498 09.

431 09.471 09.049 09.079 09.011 09.424 09.212 09.003 09.110 09.927 09.129 09.7-dimethyl-2.076 09.024 09.001 FEMA 2055 2082 2060 2075 2080 2078 3507 2085 3505 2057 2314 2514 2776 2984 2311 2509 2773 2981 2316 2517 2777 2986 2312 2512 2512 2982 2317 2515 2313 2513 2775 2983 2518 2778 2987 3339 2487 20 dari 122 .012 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.067 09.048 09.1 (Lanjutan) No.070 09.151 09.120 09.078 09.033 09.169 09.419 09.421 09.055 09.530 02.141 09.128 09.213 09.515 08.136 09.6-octadien-1-yl 2ethylbutanoate Geranyl 2-ethylbutyrate formic acid JECFA 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 EC 09.463 09.465 09. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Nama Senyawa isoamyl acetate (isopentyl acetate) isoamyl propionate 3-Methylbutyl propionate isoamyl butyrate 3-Methylbutyl butyrate isoamyl hexanoate 3-Methylbutyl hexanoate isoamyl octanoate 3-Methylbutyl octanoate isoamyl nonanoate isoamyl isobutyrate Isopentyl isobutyrate isoamyl isovalerate 3-Methylbutyl 3-methylbutyrate isoamyl 2-methylbutyrate Isopentyl 2-methylbutyrate isoamyl alcohol Isopentanol citronellyl formate geranyl formate neryl formate rhodinyl formate citronellyl acetate geranyl acetate neryl acetate rhodinyl acetate citronellyl propionate geranyl propionate neryl propionate rhodinyl propionate citronellyl butyrate geranyl butyrate neryl butyrate (EU name) rhodinyl butyrate citronellyl valerate geranyl hexanoate citronellyl isobutyrate geranyl isobutyrate neryl isobutyrate rhodinyl isobutyrate geranyl isovalerate neryl isovalerate rhodinyl isovalerate 3.453 09.048 09.

015 09.028 02.005 08.021 05.004 05.009 08.001 08.002 08.008 05.075 09.010 02.009 08.005 05.006 FEMA 2003 2006 2928 2923 2924 2178 2219 2221 2056 3098 3101 2567 2557 2559 2548 2540 3348 2800 2797 2799 2789 2782 2784 2365 2362 2364 3097 3092 3245 2617 2615 2614 2763 2764 2554 2832 3035 2943 2196 2068 2570 2552 2809 3353 2197 2676 2925 2174 2565 21 dari 122 .042 02.161 09.007 05.074 09.006 05.014 08.034 08.011 02.016 02.040 05.002 05.057 05.003 08.846 09.007 02.005 02.164 09.073 09.032 08.009 02.1 (Lanjutan) No.163 09.004 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A. 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 Nama Senyawa acetaldehyde acetic acid propyl alcohol (Propan-1-ol) Propionaldehyde (Propanal) propionic acid butyl alcohol (butan-1-ol) Butyraldehyde (butanal) butyric acid amyl alcohol (pentan-1-ol) Valeraldehyde (Pentanal) valeric acid hexyl alcohol hexanal hexanoic acid heptyl alcohol heptanal heptanoic acid 1-octanol octanal octanoic acid nonyl alcohol nonanal nonanoic acid 1-decanol decanal decanoic acid undecyl alcohol undecanal undecanoic acid lauryl alcohol (dodecan-1-ol) lauric aldehyde (dodecanal) lauric acid (dodecanoic acid) Myristaldehyde (myristaldehyde) myristic acid (tetradecanoic acid) 1-hexadecanol palmitic acid (hexadecanoic acid) stearic acid (octadecanoic acid) propyl formate butyl formate n-amyl formate (pentyl formate) hexyl formate heptyl formate octyl formate cis-3-hexenyl formate isobutyl formate methyl acetate propyl acetate butyl acetate hexyl acetate JECFA 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 EC 05.023 09.011 08.003 02.159 09.029 02.002 09.031 08.010 08.012 05.024 05.025 08.008 08.002 02.

275 09.064 09.047 09.112 09.114 FEMA 2547 2806 2788 2367 2616 3171 3493 3096 2175 3644 3326 2425 2742 2958 2211 2576 2813 2369 3778 2212 2693 2934 2186 2059 2568 2549 2807 2368 3402 2187 2752 2217 2949 2201 2074 2572 3403 2202 2705 2948 2199 2073 2810 2200 2728 2079 2575 2553 2811 .139 09.126 09.182 09.094 09.040 09.134 09.166 09.and trans-2-hexenyl propionate isobutyl propionate methyl butyrate propyl butyrate butyl butyrate n-amyl butyrate hexyl butyrate heptyl butyrate octyl butyrate decyl butyrate cis-3-hexenyl butyrate isobutyl butyrate methyl valerate butyl valerate propyl hexanoate butyl hexanoate n-amyl hexanoate hexyl hexanoate cis-3-hexenyl hexanoate isobutyl hexanoate methyl heptanoate propyl heptanoate butyl heptanoate n-amyl heptanoate octyl heptanoate isobutyl heptanoate methyl octanoate n-amyl octanoate hexyl octanoate heptyl octanoate octyl octanoate JECFA 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 22 dari 122 EC 09.050 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.1 (Lanjutan) No.022 09.063 09.066 09.007 09.046 09.091 09.005 09.118 09.148 09.117 09.042 09.125 09.197 09.124 09.122 09.098 09.286 07.092 09.065 09.044 09. 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 Nama Senyawa heptyl acetate octyl acetate nonyl acetate decyl acetate lauryl acetate cis-3-hexenyl acetate trans-3-heptenyl acetate 10-undecen-1-yl acetate isobutyl acetate 2-methylbutyl acetate acetone 2-ethylbutyl acetate methyl propionate propyl propionate butyl propionate hexyl propionate octyl propionate decyl propionate cis-3.009 09.096 09.127 09.043 09.061 09.214 09.025 09.113 09.271 09.270 09.008 09.038 09.010 09.095 09.045 09.

451 09.006 10.541 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.523 09.462 09.021 10.1 (Lanjutan) No.101 09.854 09. 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 Nama Senyawa nonyl octanoate methyl nonanoate methyl laurate butyl laurate isoamyl laurate methyl myristate butyl stearate methyl isobutyrate ethyl isobutyrate propyl isobutyrate butyl isobutyrate hexyl isobutyrate heptyl isobutyrate trans-3-heptenyl 2methylpropanoate octyl isobutyrate dodecyl isobutyrate isobutyl isobutyrate methyl isovalerate ethyl isovalerate propyl isovalerate butyl isovalerate hexyl 3-methylbutanoate octyl isovalerate nonyl isovaolerate 3-hexenyl 3-methylbutanoate 2-methylpropyl 3-methylbutyrate 2-methylbutyl 3-methylbutanoate methyl 2-methylbutyrate ethyl 2-methylbutyrate n-butyl 2-methylbutyrate hexyl 2-methylbutanoate octyl 2-methylbutyrate isopropyl 2-methylbutyrate 3-hexenyl 2-methylbutanoate 2-methylbutyl 2-methylbutyrate methyl 2-methylpentanoate ethyl 2-methylpentanoate ethyl 3-methylpentanoate methyl 4-methylvalerate trans-anethole citric acid 4-hydroxybutyric acid lactone gamma-valerolactone 4-hydroxy-3-pentenoic acid lactone 5-ethyl-3-hydroxy-4-methyl2(5H)-furanone gamma-hexalactone delta-hexalactone JECFA 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 EC 09.505 09.010 FEMA 2790 2724 2715 2206 2077 2722 2214 2694 2428 2936 2188 3172 2550 3494 2808 3452 2189 2753 2463 2960 2218 3500 2814 2791 3498 3369 3506 2719 2443 3393 3499 3604 3699 3497 3359 3707 3488 3679 2721 2086 2306 3291 3103 3293 3153 2556 3167 23 dari 122 .448 09.526 09.449 09.519 09.108 09.012 10.417 09.452 09.023 10.528 09.473 09.537 09.409 09.115 09.516 09.549 09.507 09.412 09.483 09.103 09.013 10.447 09.420 09.100 09.246 09.547 09.531 09.106 09.529 09.413 09.416 09.472 09.010 10.478 09.432 04.414 09.

015 10.031 10.037 10.4-decadienoic acid delta-lactone 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-7-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-8-undecenoic acid delta-lactone cis-4-hydroxy-6-dodecenoic acid lactone gamma-methyldecalactone isobutyl alcohol isobutyraldehyde isobutyric acid 2-methylbutyraldehyde 2-methylbutyric acid 2-ethylbutyraldehyde 2-ethylbutyric acid 3-methylbutyraldehyde isovaleric acid 2-methylpentanal 2-methylvaleric acid 3-methylpentanoic acid 3-methyl-1-pentanol JECFA 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 EC 10.006 05.001 05.046 05.049 08.056 02.7-dimethyloctanoic acid lactone delta-tetradecalactone omega-pentadecalactone omega-6-hexadecenlactone epsilon-decalactone epsilon-dodecalactone 4. 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 Nama Senyawa gamma-heptalactone gamma-octalactone 4.019 10.045 05.007 10.001 10.006 08.1 (Lanjutan) No.008 10.004 08.030 10.SNI 01-7152-2006 Tabel A.028 10.022 10.018 10.027 10.027 10.051 02.029 10.002 10.5-dimethyl-3-hydroxy-2.016 10.011 10.031 08.009 10.017 10.035 10.069 08.4-dibutyl-gammabutyrolactone delta-octalactone gamma-nonalactone hydroxynonanoic acid deltalactone gamma-decalactone delta-decalactone gamma-undecalactone 5-hydroxyundecanoic acid deltalactone gamma-dodecalactone delta-dodecalactone 6-hydroxy-3.008 05.5dihydrofuran-2-one 3-heptyldihydro-5-methyl-2(3H)furanone 5-hydroxy-2.003 10.014 10.033 10.115 FEMA 2539 2796 2372 3214 2781 3356 2360 2361 3091 3294 2400 2401 3355 3590 2840 2555 3613 3610 3634 3350 3696 3744 3745 3758 3780 3786 2179 2220 2222 2691 2695 2426 2429 2692 3102 3413 2754 3437 3762 24 dari 122 .020 10.007 08.004 10.

5. 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone and 5tetradecenoic acid delta-lactone.053 07.003 09.137 02.1 (Lanjutan) No.6-dimethyl-4-heptanol isopropyl formate isopropyl acetate isopropyl propionate isopropyl butyrate isopropyl hexanoate isopropyl isobutyrate JECFA 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 EC 08.103 07.077 02.062 02.123 09.062 05.089 07.081 09.024 08. mixture of isopropyl alcohol 2-butanone 2-pentanone 2-pentanol 3-hexanone 3-hexanol 2-heptanone 2-heptanol 3-heptanone 3-heptanol 4-heptanone 2-octanone 2-octanol 3-octanone 3-octanol 2-nonanone 2-nonanol 3-nonanone 3-decanol 2-undecanone 2-undecanol 2-tridecanone 2-pentadecanone 3-methyl-2-butanol 4-methyl-2-pentanone 2.113 02.019 02.086 07.7-dimethyl-1-octanol 2.023 08.116 05.165 09.111 07.054 02.061 02.017 07.022 07.045 07.063 02.058 07.5-trimethylhexanal 2-methyloctanal 4-methyloctanoic acid 3.088 07.6-dimethyl-4-heptanone 2.044 07.003 02. 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 Nama Senyawa 4-methylpentanoic acid 2-methylhexanoic acid 5-methylhexanoic acid 2-ethyl-1-hexanol 3.122 02.057 08.041 09.5-trimethyl-1-hexanol 3.020 02.002 02.082 02.034 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.6-dimethyloctanal 4-methylnonanoic acid 2-methylundecanal 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone.103 07.087 07.098 07.5.026 05.079 07.415 FEMA 3463 3191 3572 3151 3324 3524 2727 3575 2391 2390 3574 2749 2929 2170 2842 3316 3290 3351 2544 3288 2545 3547 2546 2802 2801 2803 3581 2785 3315 3440 3605 3093 3246 3388 3724 3703 2731 3537 3140 2944 2926 2959 2935 2950 2937 25 dari 122 .096 02.062 09.055 05.016 02.

291 09.036 05.093 05.110 05. 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 Nama Senyawa isopropyl isovalerate isopropyl myristate isopropyl tiglate 3-octyl acetate 4-pentenoic acid cis-3-hexen-1-ol cis-3-hexenal 3-hexenoic acid 4-hexen-1-ol cis-4-hexenal cis-4-heptenal cis-3-octen-1-ol cis-5-octen-1-ol cis-5-octenal cis-6-nonen-1-ol cis-6-nonenal 4-decenal 5.191 09.450 09.6-dimethyl-6-hepten-1-ol 2.513 09.074 09.268 09.056 05.074 05.113 05.238 09.and 4pentenoate (mixture) ethyl 2-methyl-3.298 09.096 08.048 02.013 09.254 08.265 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.050 02.041 08.035 08.540 09.527 09.068 08.237 09.7-dimethyl-6-octenoate 2-methyl-4-pentenoic acid JECFA 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 EC 09.059 05.192 09.524 09.105 09.094 02.4pentadienoate methyl 3.and 6-decenoic acid (mixture) 9-decenoic acid 9-undecenal 10-undecenal 10-undecenoic acid linoleic and linolenic acid (mixture) oleic acid methyl 3-hexenoate ethyl 3-hexenoate cis-3-hexenyl cis-3-hexenoate methyl cis-4-octenoate ethyl cis-4-octenoate ethyl cis-4.6-dimethyl-5-heptenal ethyl 2-methyl-3-pentenoate ethyl 2-methyl-4-pentenoate hexyl 2-methyl-3.128 02.085 02.206 08.546 09.065 05.236 09.290 09.059 FEMA 2961 3556 3229 3583 2843 2563 2561 3170 3430 3496 3289 3467 3722 3749 3465 3580 3264 3742 3660 3094 3095 3247 0332 2815 3364 3342 3689 3367 3344 3682 3710 3642 2750 2461 2216 2450 3411 3464 3663 2389 3456 3489 3693 3678 3361 3511 26 dari 122 .039 08.075 08.7-octadienoate methyl 3-nonenoate ethyl trans-4-decenoate methyl 9-undecenoate ethyl 10-undecenoate butyl 10-undecenoate ethyl oleate methyl linoleate and methyl linolenate (mixture) 2-methyl-3-pentenoic acid 2.517 08.058 02.284 09.113 05.267 09.1 (Lanjutan) No.

015 09.088 07.062 09.014 09.143 07.130 09.092 07.108 07.013 09.1 (Lanjutan) No.096 02.107 07.454 09.081 09.1 380b.013 02.028 09.142 09.080 09.092 02.061 FEMA 2635 3060 2642 2636 2645 2639 2640 2646 2643 2644 3045 3052 3047 3053 3049 3050 3054 3563 3564 3176 3562 3565 2379 2380 2249 2249 2247 2250 2251 3243 3659 3622 3420 2594 2595 3175 3624 3625 3628 3626 3627 3447 3446 2711 2712 2713 2033 27 dari 122 .009 07.128 02.115 02.008 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.216 07.425 09.130 07.050 09.091 02.134 07. 380.423 09.215 09.106 07.105 02. 380.131 02. 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 Nama Senyawa linalool tetrahydrolinalool linalyl formate linalyl acetate linalyl propionate linalyl butyrate linalyl isobutyrate linalyl isovalerate linalyl hexanoate linalyl octanoate alpha-terpineol terpinyl formate terpinyl acetate terpinyl propionate terpinyl butyrate terpinyl isobutyrate terpinyl isovalerate p-menth-3-en-1-ol p-menth-8-en-1-ol p-menthan-2-one p-menthan-2-ol dihydrocarvone dihydrocarveol dihydrocarvyl acetate (+)-carvone (-)-carvone carveol carvyl acetate carvyl propionate beta-damascone alpha-damascone delta-damascone damascenone alpha-ionone beta-ionone gamma-ionone alpha-ionol beta-ionol dihydro-alpha-ionone dihydro-beta-ionone dihydro-beta-ionol dehydrodihydroionone dehydrodihydroionol methyl-alpha-ionone methyl-beta-ionone methyl-delta-ionone allyl alpha-ionone JECFA 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380a.068 09.116 02.147 02.061 09.132 07.146 07.052 09.071 07.010 07.2 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 EC 02.461 02.083 07.007 07.097 07.

011 07.080 07.063 07.125 07.551 02.4-dimethyl-4-acetyl-1cyclohexene alpha-irone alpha-iso-methylionone acetoin 2-acetoxy-3-butanone butan-3-one-2-yl butanoate diacetyl 3-hydroxy-2-pentanone 2.095 02.2-cyclopentanedione 3-ethyl-2-hydroxy-4methylcyclopent-2-en-1-one 5-ethyl-2-hydroxy-3methylcyclopent-2-en-1-one 2-hydroxy-2-cyclohexen-1-one 1-methyl-2.059 07.060 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.263 07.1 (Lanjutan) No.093 07.036 07.056 07.264 07.5-dimethyl-1.4-hexanedione 5-methyl-2.078 09.293 FEMA 3449 2597 2714 2008 3526 3332 2370 3550 2841 2730 2558 3168 3190 2543 2587 3090 2700 3152 3268 3269 3453 3454 3458 3305 3459 2665 2666 2667 3460 2668 2669 3748 3179 2910 3802 2248 3491 3239 3701 28 dari 122 .076 07.044 02.3-cyclohexadione 2-hydroxy-3.016 09.455 09.116 07.065 07.077 07.3-pentadione 4-methyl-2.3-heptanedione 5-hydroxy-4-octanone 2.083 07.052 07.186 09.021 07.119 07.2-cyclopentanedione 3. 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 Nama Senyawa 1.051 09.175 10.5-trimethyl-2cyclohexen-1-one menthol (+)-neo-menthol menthone DL-isomenthone menthyl acetate menthyl isovalerate (-)-menthyl lactate p-menth-1-en-3-ol piperitone 4-hydroxy-3-methyloctanoic acid gamma-lactone 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone 4-carvomenthenol 2-ethyl-1.3.085 09.015 02.3-hexanedione 3.3-trimethyl-2norbornanol 4-thujanol methyl 1-acetoxycyclohexyl ketone JECFA 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 437 438 439 440 441 442 EC 07.3-undecadione methylcyclopentenolone ethylcyclopentenolone 3.064 07.057 07.117 07.018 07.5.4-dimethyl-1.075 07.072 02.120 02.118 07.3-pentanedione 2.3-hexanedione 2.

154 12.062 12.and 2-propylene glycol carbonate (-)-menthone 1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.113 12.156 FEMA 3805 3806 3808 3810 3676 2489 2491 2746 3860 3825 2215 3831 3820 2042 3873 3597 3415 3600 3438 3578 3206 2747 3374 3414 3877 3601 3483 2720 3879 3412 3835 3343 3681 3883 3880 3836 3789 3876 3282 3310 3385 3708 3864 3676 3862 29 dari 122 .060 12.007 15.187 12.3-oxathiane 2-methylthioacetaldehyde 3-(methylthio)propionaldehyde 3-(methylthio)butanal 4-(methylthio)butanal 3-methylthiohexanal 2-(methylthio)methyl-2-butenal 2.539 12.059 12.237 12.066 12.8-dithianon-4-ene-4carboxaldehyde methyl 3-methylthiopropionate methylthiomethyl butyrate methyl 4-(methylthio)butyrate ethyl 2-(methylthio)acetate ethyl 3-methylthiopropionate ethyl 4-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)propyl acetate methylthiomethyl hexanoate ethyl 3-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)hexyl acetate S-methyl thioacetate ethyl thioacetate methyl thiobutyrate propyl thioacetate S-methyl 2-methylbutanethioate S-methyl 3-methylbutanethioate S-methyl 4methylpentanethioate S-methyl hexanethioate JECFA 443 444 445 446 447 448 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 EC 09.088 12.089 12.002 12.078 12.2-glycerol ketal DL-menthone 1.006 12.086 12.120 09.032 12.188 12.018 13.079 12.539 13.4-dithiane (1-buten-1-yl) methyl sulfide allyl sulfide methyl phenyl sulfide benzyl methyl sulfide 3-(methylthio)propanol 4-(methylthio)butanol 3-(methylthio)-1-hexanol 2-methyl-4-propyl-1.040 12.2-glycerol ketal mono-menthyl succinate 1-ethylhexyl tiglate furfural furfuryl alcohol methyl sulfide methyl ethyl sulfide diethyl sulfide butyl sulfide 1.062 12.063 16.065 12.842 09.018 12. 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 Nama Senyawa (-)-menthol ethylene glycol carbonate (-)-menthol 1.056 12.157 09.084 12.001 12.211 12.236 12.1 (Lanjutan) No.616 09.061 12.149 12.019 12.007 12.122 12.843 06.077 12.162 12.

175 12.2-ethanedithiol JECFA 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506a.085 12.5-dihydro-3(2H)-thiophenone 2-methyltetrahydrothiophen-3one 4-(methylthio)-4-methyl-2pentanone sodium 4-(methylthio)-2oxobutanoate di(butan-3-one-1-yl) sulfide o-(methylthio)phenol S-methyl benzothioate 2-(methylthiomethyl)-3phenylpropenal cis. 3.004 12.197 12.012 15.150 12.023 12.201 12.176 12.027 12.195 12.066 FEMA 3329 3895 3788 3790 3816 3882 3207 3375 3266 3512 3376 3881 3335 3210 3857 3717 3809 3875 2716 3521 3897 3478 3874 3858 3792 3303 3262 3304 3842 3833 3503 2035 3896 3700 3472 3616 2147 3894 3240 3345 3666 3314 3484 30 dari 122 .132 12.058 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.005 12.054 12.227 12.080 12.170 12.192 12.057 15.101 12.128 12.041 12.052 12.010 12.and trans-menthone-8thioacetate methylsulfinylmethane methyl mercaptan propanethiol 2-propanethiol 1-butanethiol 2-methyl-1-propanethiol 3-methylbutanethiol 2-pentanethiol 2-methyl-1-butanethiol cyclopentanethiol 3-methyl-2-butanethiol 1-hexanethiol 2-ethylhexanethiol 2-.194 12.048 12.087 12.035 12.042 12.064 12.b 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 EC 12.203 12.244 12. 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 Nama Senyawa allyl thiopropionate prenyl thioacetate methylthio 2(acetyloxy)propionate methylthio 2-(propionyloxy) propionate 3-(acetylmercapto)hexyl acetate 1-methylthio-2-propanone 1-(methylthio)-2-butanone 4-(methylthio)-2-butanone 4.071 12.003 12.082 12.029 12.and 10-mercaptopinane allyl mercaptan prenylthiol 1-p-menthene-8-thiol thiogeraniol benzenethiol benzyl mercaptan phenethyl mercaptan o-toluenethiol 2-ethylthiophenol 2.049 12.6-dimethyl(thiophenol) 2-naphthalenethiol 1.171 12.173 12.1 (Lanjutan) No.033 12.

9-nonanedithiol trithioacetone 3-mercapto-3-methyl-1-butanol 3-mercaptohexanol 2-mercapto-3-butanol alpha-methyl-beta-hydroxypropyl alpha-methyl-betamercaptopropyl sulfide 4-methoxy-2-methyl-2butanethiol 3-mercapto-3-methylbutyl formate 2.2-butanedithiol 1.4dithiane sodium 3-mercaptooxopropionate dimethyl disulfide methyl propyl disulfide propyl disulfide diisopropyl disulfide allyl methyl disulfide methyl 1-propenyl disulfide propenyl propyl disulfide methyl 3-methyl-1-butenyl disulfide allyl disulfide 3. 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 Nama Senyawa bis(methylthio)methane 2-methyl-1.217 15.034 12.234 12.055 12.5-dimethyl-2.2.034 12.235 12.072 12.251 12.036 12.008 15.145 12.036 12.009 12.044 12.022 12.047 12.3-propanedithiol 1.019 12.069 15.8-octanedithiol 1.4-dithiane 2-mercaptopropionic acid ethyl 2-mercaptopropionate ethyl 3-mercaptopropionate 3-mercaptohexyl acetate 3-mercaptohexyl butyrate 3-mercaptohexyl hexanoate 1-mercapto-2-propanone 3-mercapto-2-butanone 2-keto-4-butanethiol 3-mercapto-2-pentanone p-mentha-8-thiol-3-one 2.067 12.2-propanedithiol 1.006 12.046 12.076 12.3-dithiolane 1.038 15.039 12.5-dihydroxy-1.026 12.143 12.083 12.037 12.109 12.4-trithiolane 3-methyl-1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.073 12.5-dimethyl-1.3-butanedithiol 1.4-trithiane dicyclohexyl disulfide JECFA 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 EC 12.2.028 FEMA 3878 3705 3588 3520 3477 3529 3477 3495 3514 3513 3475 3854 3850 3502 3509 3785 3855 3826 3180 3279 3677 3851 3852 3853 3856 3298 3357 3300 3177 3450 3901 3536 3201 3228 3827 3127 3576 3227 3865 2028 3541 3718 3448 31 dari 122 .031 12.118 15.1 (Lanjutan) No.024 12.137 12.3-butanedithiol 2.075 12.025 15.070 12.5-dihydroxy-1.218 12.014 12.138 12.6-hexanedithiol 1.

575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 Nama Senyawa methyl phenyl disulfide methyl benzyl disulfide phenyl disulfide benzyl disulfide 2-methyl-2(methyldithio)propanal ethyl 2-(methyldithio)propionate dimethyl trisulfide methyl ethyl trisulfide methyl propyl trisulfide dipropyl trisulfide allyl methyl trisulfide diallyl trisulfide diallyl polysulfide 2-oxobutyric acid methyl 2-hydroxy-4methylpentanoate methyl 2-oxo-3methylpentanoate citronelloxyacetaldehyde 3-oxobutanal dimethyl acetal ethyl 3-hydroxybutyrate ethyl acetoacetate butyl acetoacetate isobutyl acetoacetate isoamyl acetoacetate geranyl acetoacetate methyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-oxohexanoate ethyl 2.444 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.020 12.542 09.155 12.017 09.435 09.039 09.043 12.023 12.405 09.4-dioxohexanoate 3-(hydroxymethyl)-2-heptanone 1.068 12.548 09.4-nonanediol diacetate hydroxycitronellol hydroxycitronellal hydroxycitronellal dimethyl acetal hydroxycitronellal diethyl acetal diethyl malonate butyl ethyl malonate dimethyl succinate diethyl succinate fumaric acid (-)-malic acid diethyl malate JECFA 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 EC 12.047 05.168 12.402 09.038 09.3-nonanediol acetate (mixed esters) levulinic acid ethyl levulinate butyl levulinate 1.436 09.010 09.403 09.013 12.1 (Lanjutan) No.023 09.522 09.009 12.490 09.280 02.081 12.401 09.535 09.025 08.404 09.074 08.011 06.121 12.550 05.441 09.161 12.045 12.225 08.079 06.066 09.532 09.012 06.439 FEMA 3872 3504 3225 3617 3866 3834 3275 3861 3308 3276 3253 3265 3533 3723 3706 3713 2310 3381 3428 2415 2176 2177 3551 2510 3508 3545 3683 3278 2804 2783 2627 2442 2207 3579 2586 2583 2585 2584 2375 2195 2396 2377 2488 2655 2374 32 dari 122 .445 09.514 07.

051 08.133 09.1 633 633.017 06.510 09.474 09.459 09. sodium salt 3-methyl-2-oxopentanoic acid 3-methyl-2-oxopentanoic acid.051 08. sodium salt 2-oxopentanedioic acid 3-hydroxy-2-oxopropionic acid 3-phenyl-1-propanol 3-phenylpropyl formate 3-phenylpropyl acetate 3-phenylpropyl propionate 3-phenylpropyl isobutyrate 3-phenylpropyl isovalerate 3-phenylpropyl hexanoate methyl 3-phenylpropionate ethyl 3-phenylpropionate 3-phenylpropionaldehyde 3-phenylpropionic acid cinnamyl alcohol cinnamaldehyde ethylene glycol acetal cinnamyl formate cinnamyl acetate cinnamyl propionate cinnamyl butyrate cinnamyl isobutyrate cinnamyl isovalerate cinnamyl phenylacetate cinnamaldehyde JECFA 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 631. sodium salt 4-methyl-2-oxopentanoic acid 4-methyl-2-oxopentanoic acid.014 FEMA 3044 2378 2011 2376 2373 3543 2010 2417 3083 3869 3869 3870 3871 3891 3843 2885 2895 2890 2897 2893 2899 2896 2741 2455 2887 2889 2294 2287 2299 2293 2301 2296 2297 2302 2300 2286 33 dari 122 .475 09.084 09.085 09.428 09.093 08.533 08.026 09.467 09.053 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.031 09.086 02.746 09.037 08.018 09. mixture of (+)-.018 09.032 09.032 02.033 09. (-)-.470 09.080 08.014 09.138 09.1 (Lanjutan) No.708 05.071 09.1 632 632.512 08. 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 Nama Senyawa meso-tartaric acid.446 08. (±)diethyl tartrate adipic acid diethyl sebacate dibutyl sebacate ethylene brassylate aconitic acid ethyl aconitate (mixed esters) triethyl citrate tributyl acetylcitrate 3-methyl-2-oxobutanoic acid 3-methyl-2-oxobutanoic acid.747 05.052 08.1 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 EC 08.

744 09.041 04.738 09.013 05.022 09.468 05.745 09.122 05.734 09.036 09.733 09.040 05.1 (Lanjutan) No.041 05.732 09.737 09.039 05.050 04.044 09.736 09.030 02.046 04.740 09.118 05.051 09.027 04. 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 Nama Senyawa cinnamic acid methyl cinnamate ethyl cinnamate propyl cinnamate isopropyl cinnamate butyl cinnamate isobutyl cinnamate isoamyl cinnamate heptyl cinnamate cyclohexyl cinnamate linalyl cinnamate terpinyl cinnamate benzyl cinnamate phenethyl cinnamate 3-phenylpropyl cinnamate cinnamyl cinnamate alpha-amylcinnamyl alcohol 5-phenylpentanol alpha-amylcinnamyl formate alpha-amylcinnamyl acetate alpha-amylcinnamyl isovalerate 3-phenyl-4-pentenal 3-(pisopropylphenyl)propionaldehyd e alpha-amylcinnamaldehyde dimethyl acetal p-methylcinnamaldehyde alpha-methylcinnamaldehyde alpha-butylcinnamaldehyde alpha-amylcinnamaldehyde alpha-hexylcinnamaldehyde p-methoxycinnamaldehyde o-methoxycinnamaldehyde p-methoxy-alphamethylcinnamaldehyde phenol o-cresol m-cresol p-cresol p-ethylphenol o-propylphenol p-propylphenol 2-isopropylphenol o-tolyl acetate p-tolyl acetate o-tolyl isobutyrate p-tolyl isobutyrate p-tolyl 3-methylbutyrate p-tolyl octanoate JECFA 657 658 659 660 661 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 EC 08.090 09.022 04.028 04.518 09.480 09.743 09.094 06.301 FEMA 2288 2698 2430 2938 2939 2192 2193 2063 2551 2352 2641 3051 2142 2863 2894 2298 2065 3618 2066 2064 2067 3318 2957 2062 3640 2697 2191 2041 2569 3567 3181 3182 3223 3480 3530 2337 3156 3522 3649 3461 3072 3073 3753 3075 3387 3733 34 dari 122 .103 05.050 05.051 04.228 09.730 09.782 09.731 09.742 09.026 04.739 02.026 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.048 05.429 09.

6-dimethoxyphenol 2-methoxy-4-vinylphenol 4-allyl-2.006 04.046 04.057 14.6-dimethoxyphenol 4-ethyl-2.6-dimethoxyphenol 4-methyl-2.037 04.052 04.002 13.3.4-xylenol thymol carvacrol p-vinylphenol resorcinol guaiacol o-(ethoxymethyl)phenol 2-methoxy-4-methylphenol 4-ethylguaiacol 2-methoxy-4-propylphenol guaiacyl acetate guaiacyl phenylacetate hydroquinone monoethyl ether 2.049 09.019 04.1-dimethylethyl)phenol phenyl acetate 2-phenylphenol phenyl salicylate 2.001 13.709 04.051 07.008 04.6-xylenol 3. 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 Nama Senyawa p-tolyl laurate p-tolyl phenylacetate 2.6-dimethoxyphenol 2-hydroxyacetophenone 4-(p-hydroxyphenyl)-2-butanone dihydroxyacetophenone zingerone 4-(p-acetoxyphenyl)-2-butanone vanillylidene acetone 4-(1.005 04.5-xylenol 2.057 04.048 04.064 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.1 (Lanjutan) No.031 13.102 09.128 13.042 04.053 04.025 13.031 04.068 13.124 07.711 04.073 13.003 13.174 09.005 13.6-trimethylphenol furfuryl acetate furfuryl propionate furfuryl pentanoate furfuryl octanoate furfuryl 3-methylbutanoate 5-methylfurfural methyl 2-furoate propyl 2-furoate amyl 2-furoate hexyl 2-furoate octyl 2-furoate 2-benzofurancarboxaldehyde 2-phenyl-3-carbethoxyfuran pulegone isopulegone isopulegol JECFA 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 739 740 741 742 743 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 EC 09.056 04.009 04.6-dimethoxyphenol 4-propyl-2.062 13.019 14.007 04.067 13.036 04.045 04.135 07.055 07.038 FEMA 3076 3077 3595 3249 3596 3066 2245 3739 3589 2532 3485 2671 2436 3598 3687 2535 3695 3137 3704 3671 3729 2675 3655 3548 2588 3662 3124 3652 3738 3918 3958 3959 3960 3963 2490 3346 3397 3396 3283 3244 3244 2702 2703 2946 2072 2571 3518 3128 3468 2963 35 dari 122 .688 09.689 04.047 04.085 13.019 13.005 09.288 07.

3.or 6)methoxypyrazine 2-methoxy-(3.1 (Lanjutan) No.037 14.5-trimethylpyrazine 2-ethyl-3.025 14.026 14.049 14.067 14.018 14.3-diethylpyrazine 2-methyl-5-isopropylpyrazine 2-isobutyl-3-methylpyrazine 2.6-dimethylpyrazine 2-ethyl-3-methylpyrazine 2-ethyl-6-methylpyrazine 2-ethyl-5-methylpyrazine 2.3-dimethyl-5Hcyclopentapyrazine (cyclohexylmethyl)pyrazine 2-acetylpyrazine 2-acetyl-3-ethylpyrazine 2-acetyl-3.095 14.057 14.032 14.780 14.127 09.069 14.050 14.055 14.7-dihydro-5Hcyclopentapyrazine 6. 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 Nama Senyawa isopulegyl acetate p-menth-1.219 09.123 14.3.5 or 6)isopropylpyrazine 2-methoxy-3-(1methylpropyl)pyrazine 2-isobutyl-3-methoxypyrazine 2-methyl-3.6-dimethylpyrazine 2.(5 or 6)dimethylpyrazine 3-ethyl-2.020 14.056 14.006 14.067 02.219 07.016 14.5 or 6)-methoxy-3methylpyrazine 2-ethyl(or methyl)-(3-.043 14.027 14.034 FEMA 2964 2962 2965 3560 2965 FDA 3309 3281 3961 3940 3271 3272 3273 3155 3919 3154 3136 3554 3133 3149 3150 3336 3915 3916 3237 3306 3917 3631 3126 3250 3327 3302 3183 3280 3358 3433 3132 3569 3299 3230 3231 36 dari 122 .021 14.SNI 01-7152-2006 Tabel A.3-diethyl-5-methylpyrazine 2.5-diethyl-2-methylpyrazine 2.5-dimethylpyrazine 2.022 14.031 14.(5 or 6)dimethylpyrazine methoxypyrazine (2.5 or 6ethoxypyrazine 2-(mercaptomethyl)pyrazine 2-pyrazinylethanethiol pyrazinyl methyl sulfide JECFA 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 EC 07.062 14.096 14.3-dimethylpyrazine 2.051 14.044 14.5.7-dihydro-2.4(8)-dien-3-one menthofuran furfuryl butyrate cinnamyl benzoate 2-methylpyrazine 2-ethylpyrazine 2-propylpyrazine 2-isopropylpyrazine 2.005 14.017 14.5-diethyl-3-methylpyrazine 3.114 14.098 14.054 14.142 14.067 09. 5.6-tetramethylpyrazine 5-methyl-6.053 14.024 14.

200 07.013 07.035 14.1dimethylindan 1-(p-methoxyphenyl)-2propanone alpha-methylphenethyl butyrate 4-phenyl-2-butanol 4-phenyl-2-butyl acetate 4-(p-tolyl)-2-butanone 4-(p-methoxyphenyl)-2-butanone 4-phenyl-3-buten-2-ol 4-phenyl-3-buten-2-one 3-methyl-4-phenyl-3-buten-2one 1-phenyl-1-propanol alpha-ethylbenzyl butyrate propiophenone alpha-propylphenethyl alcohol 1-(p-methoxyphenyl)-1-penten3-one alpha-isobutylphenethyl alcohol 4-methyl-1-phenyl-2-pentanone 1-(4-methoxyphenyl)-4-methyl-1penten-3-one 3-benzyl-4-heptanone benzophenone 1.023 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.178 09.087 02.024 07.2-propanedione ethyl benzoylacetate ethyl 2-acetyl-3phenylpropionate benzoin benzaldehyde dimethyl acetal benzaldehyde glyceryl acetal JECFA 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 37 dari 122 EC 14.028 06.002 FEMA 3208 3203 2685 2688 2684 2689 2686 2687 3139 2009 2677 2927 2387 2005 2723 3653 2674 3197 2879 2882 3074 2672 2880 2881 2734 2884 2424 3469 2953 2673 2208 2740 3760 2146 2134 2397 3226 2423 2416 2132 2128 2129 .5 or 6)-(methylthio)-2methylpyrazine 5-methylquinoxaline alpha-methylbenzyl alcohol alpha-methylbenzyl formate alpha-methylbenzyl acetate alpha-methylbenzyl propionate alpha-methylbenzyl butyrate alpha-methylbenzyl isobutyrate p.144 09.004 07.079 09.179 09.042 07.038 07.033 09.231 09.4-dimethylacetophenone acetanisole methyl beta-naphthyl ketone 4-acetal-6-tert-butyl-1.030 02.086 07.036 09.066 07.022 07.1 (Lanjutan) No.3-diphenyl-2-propanone 1-phenyl-1.028 02.032 07.501 07.070 07.025 07.064 09.040 02.133 07.049 07.189 07.027 02.486 02.alpha-dimethylbenzyl alcohol acetophenone 4-methylacetophenone p-isopropylacetophenone 2.065 07.249 02.003 06.476 09.026 07. 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 Nama Senyawa (3.034 07.029 02.080 07.

757 09.022 09.083 09.812 09.071 09.426 09.458 09.058 09.077 09.051 09.771 09.173 09.806 09.706 05.508 09.128 09.012 05.m.019 09.754 02.776 09.039 05.768 09.705 08.015 05.m.145 09.p) p-isopropylbenzyl alcohol 4-ethylbenzaldehyde tolualdehydes (mixed o.068 05.032 06.494 09.767 09.4-dimethylbenzaldehyde butyl p-hydroxybenzoate anisyl alcohol anisyl formate anisyl acetate anisyl propionate anisyl butyrate anisyl phenylacetate veratraldehyde p-methoxybenzaldehyde p-ethoxybenzaldehyde methyl o-methoxybenzoate 2-methoxybenzoic acid 3-methoxybenzoic acid 4-methoxybenzoic acid methyl anisate ethyl p-anisate JECFA 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 EC 06. 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 Nama Senyawa benzaldehyde propylene glycol acetal benzyl 2-methoxyethyl acetal benzyl formate benzyl propionate benzyl butyrate benzyl isobutyrate benzyl isovalerate benzyl trans-2-methyl-2butenoate benzyl 2.087 09.132 09.714 FEMA 2130 2148 2145 2150 2140 2141 2152 3330 2143 2136 2149 2131 2683 2422 2931 3691 2932 2185 2058 3688 2638 2511 3398 3419 3702 2933 3756 3068 3067 2341 2203 2099 2101 2098 2102 2100 3740 3109 2670 2413 2717 3943 3944 3945 2679 2420 38 dari 122 .056 09.026 06.092 08. 1 (Lanjutan) No.021 09.019 09.017 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.726 09.3-dimethylcrotonate benzyl acetoacetate benzyl phenylacetate benzoic acid methyl benzoate ethyl benzoate propyl benzoate hexyl benzoate isopropyl benzoate isobutyl benzoate isoamyl benzoate cis-3-hexenyl benzoate linalyl benzoate geranyl benzoate glyceryl tribenzoate propylene glycol dibenzoate methylbenzyl acetate (mixed o.796 08.770 09.406 09.294 02.p) tolualdehyde glyceryl acetal cuminaldehyde 2.755 09.725 09.

749 09.751 09.2 and 1.091 09.075 05.039 06.211 09.3oxacyclopentane JECFA 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 EC 02.4-trimethyl-1.2-di[(1-ethoxy)ethoxy]propane 4-methyl-2-pentyl-1.040 09.1 (Lanjutan) No.3-dioxolane 2.263 09.555 09.556 06. 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 Nama Senyawa vanillyl alcohol vanillyl ethyl ether vanillyl butyl ether vanillin vanillin acetate vanillin isobutyrate ethyl vanillin beta-dglucopyranoside ethyl vanillin piperonyl acetate piperonyl isobutyrate piperonal salicylaldehyde 2-hydroxy-4methylbenzaldehyde methyl salicylate ethyl salicylate butyl salicylate isobutyl salicylate isoamyl salicylate benzyl salicylate phenethyl salicylate o-tolyl salicylate 2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.3 acetals) 1.3-tris[(1'ethoxy)ethoxy]propane 3-oxodecanoic acid glyceride 3-oxododecanoic acid glyceride 3-oxotetradecanoic acid glyceride 3-oxohexadecanoic acid glyceride glycerol monostearate glyceryl monooleate triacetin glyceryl tripropionate tributyrin glycerol 5-hydroxydecanoate glycerol 5-hydroxydodecanoate propylene glycol propylene glycol stearate 1.094 04.750 09.763 09.553 09.811 16.213 04.019 09.543 09.035 09.018 09.2.2.094 06.552 09.076 09.055 05.807 08.029 06.093 05.544 06.430 05.554 09.4-dihydroxybenzoic acid glycerol 3-oxohexanoic acid glyceride 3-oxooctanoic acid glyceride heptanal glyceryl acetal (mixed 1.098 FEMA 3737 3815 3796 3107 3108 3754 3801 2464 2912 2913 2911 3004 3697 2745 2458 3650 2213 2084 2151 2868 3734 3798 2525 3770 3771 2542 3593 3767 3768 3772 3769 2527 2526 2007 3286 2223 3685 3686 2940 2942 3534 3630 3441 39 dari 122 .752 09.753 09.557 09.016 05.748 09.220 09.

442 09.1 (Lanjutan) No.004 09.443 06.008 06.001 06.009 06.060 09.112 08.536 09.534 09.047 08.and threo-butan2.015 06.545 09.123 09.3-trimethylcyclopent-3-en-1yl acetaldehyde cis-5-isopropenyl-cis-2methylcyclopentan-1carboxaldehyde campholene acetate alpha-campholenic alcohol JECFA 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 40 dari 122 EC 08.7.081 06.144 14.028 06.8-tetrahydroquinoxaline ethyl vanillin isobutyrate ethyl vanillin propylene glycol acetal 4-hydroxybenzyl alcohol 4-hydroxybenzaldehyde 4-hydroxybenzoic acid 2-hydroxybenzoic acid 4-hydroxy-3-methoxybenzoic acid vanillin erythro.043 06.SNI 01-7152-2006 Tabel A.040 08.114 FEMA 2611 2440 2205 3752 3690 2190 2970 2969 2457 2083 3426 2002 2798 3775 2305 2363 3378 2541 2304 3349 3964 4015 3321 3837 3838 3987 3984 3986 3985 3988 4023 3531 3568 3544 2348 2347 2431 3592 3645 3657 3741 .488 05.004 06.034 09.289 02.025 06.082 14.165 05.433 09.037 14. 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 Nama Senyawa lactic acid ethyl lactate butyl lactate potassium 2-(1'ethoxy)ethoxypropanoate cis-3-hexenyl lactate butyl butyryllactate pyruvic acid pyruvaldehyde ethyl pyruvate isoamyl pyruvate 1.2.6.015 02.005 06.099 08.039 09.019 07.434 16.1-dimethoxyethane acetal octanal dimethyl acetal acetaldehyde ethyl cis-3-hexenyl acetal citral dimethyl acetal decanal dimethyl acetal 2.001 09.028 08.491 08.3-diol acetal cyclohexanecarboxylic acid methyl cyclohexanecarboxylate ethyl cyclohexanecarboxylate cyclohexaneethyl acetate cyclohexaneacetic acid ethyl cyclohexanepropionate 2.6-nonadienal diethyl acetal heptanal dimethyl acetal citral diethyl acetal 4-heptenal diethyl acetal 2-acetyl-3-methylpyrazine pyrazine 5.119 05.

407 09.6-trimethyl-1&2-cyclohexen1-carboxaldehyde 2-formyl-6.019 09.261 09.083 09.031 09.6-trimethylcyclohexa-1.016 06.030 06.272 02.707 06.091 09.8-dien-7-ol p-mentha-1.6.496 09.1]hept-2-ene (myrtenal) myrtenol myrtenyl acetate 6.1 (Lanjutan) No.538 09.112 05.6-myrtenyl formate santalol (alpha and beta) santalyl acetate (alpha and beta) 10-hydroxymethylene-2-pinene phenethyl alcohol phenethyl formate phenethyl acetate phenethyl propionate phenethyl butyrate phenethyl isobutyrate phenethyl 2-methylbutyrate phenethyl isovalerate phenethyl hexanoate phenethyl octanoate phenethyl tiglate phenethyl senecioate phenethyl phenylacetate acetaldehyde phenethyl propyl acetal acetaldehyde butyl phenethyl acetal phenylacetaldehyde phenylacetaldehyde dimethyl acetal phenylacetaldehyde glyceryl acetal phenylacetaldehyde 2.168 09.783 09.8-dien-7-al p-mentha-1.302 09.615 05.2.038 09.216 09.141 02.137 09.8-dien-7-yl acetate 1.067 05.784 FEMA 3178 3566 3557 2664 3731 3731 3389 3474 3639 3395 3439 3764 3405 3006 3007 3938 2858 2864 2857 2867 2861 2862 3632 2871 3221 3222 2870 2869 2866 2004 3125 2874 2876 2877 2875 3384 2878 2733 2452 41 dari 122 .027 06.3butylene glycol acetal phenylacetaldehyde diisobutyl acetal phenylacetic acid methyl phenylacetate ethyl phenylacetate JECFA 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 EC 05.1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.006 06.060 09.427 09.6.007 06.466 09.121 05.278 08.6-trimethyl-1-cyclohexen-1acetaldehyde 2.104 05.6dimethylbicyclo[3.117 02.024 08.106 02.034 02.6.6-tetrahydrocuminic acid 2.3dienyl methanal 2. 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 Nama Senyawa p-menth-1-en-9-al 1-p-menthen-9-yl acetate p-mentha-1.098 09.036 05.262 09.5.

712 05.788 09.027 15.805 09.4.6-dimethyldihydro-1.787 09.026 15.020 15.1 (Lanjutan) No.5-trimethylthiazole 2-isopropyl-4-methylthiazole 4-methyl-5-vinylthiazole 2.5-dimethylthiazole 2.041 16.014 15.6-dimethyl and 4isopropyl-2.3.702 09.3.3.013 15.785 09.5dithiazine (mixture) 2-isopropyl-4.049 09.027 15.016 15.113 15.5-dithiazine 2.042 05.5-dithiazine and 4-isobutyl2.3.5-dimethyl-2-isobutyl-3thiazoline 2-isobutyl-4.6-dimethyldihydro1.022 15.789 09.4.5dithiazine JECFA 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 EC 09.028 15.704 09.6-dimethyldihydro1.703 09.005 15.797 09.791 09.032 15.017 15.772 09.019 15.4-dimethyl-5-vinylthiazole benzothiazole 2-acetylthiazole 2-propionylthiazole 4-methylthiazole 2-ethyl-4-methylthiazole 4.057 15.SNI 01-7152-2006 Tabel A.758 08.3.044 09.6-triisobutyl-5. 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 Nama Senyawa propyl phenylacetate isopropyl phenylacetate butyl phenylacetate isobutyl phenylacetate isoamyl phenylacetate hexyl phenylacetate 3-hexenyl phenylacetate octyl phenylacetate rhodinyl phenylacetate linalyl phenylacetate geranyl phenylacetate citronellyl phenylacetate santalyl phenylacetate (alpha and beta) p-tolylacetaldehyde p-isopropylphenylacetaldehyde methyl p-tert-butylphenylacetate phenoxyacetic acid ethyl (p-tolyloxy)acetate 2-phenoxyethyl isobutyrate sodium 2-(4methoxyphenoxy)propanoate thiamine hydrochloride 4-methyl-5-thiazoleethanol thiazole 2-(1-methylpropyl)thiazole 2-isobutylthiazole 4.018 15.033 15.6-dihydro-4h1.079 FEMA 2955 2956 2209 2210 2081 3457 3633 2812 2895 3501 2516 2315 3008 3071 2954 2690 2872 3157 2973 3773 3322 3204 3615 3372 3134 3274 3325 3555 3313 3145 3256 3328 3611 3716 3680 3621 3781 1045 1046 1047 1047 1048 1049 15.6-trimethyldihydro-4h-1.109 3782 4017 4018 42 dari 122 .4.487 16.786 09.804 09.5-dithiazine (mixture) 2.035 15.

026 13.033 13.179 13. 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 Nama Senyawa 5-methyl-2thiophenecarboxyaldehyde 3-acetyl-2.5-dimethyl-3-furanthiol methyl 2-methyl-3-furyl disulfide propyl 2-methyl-3-furyl disulfide bis(2-methyl-3-furyl) disulfide bis(2.2'-(dithiodimethylene)difuran 2-methyl-3-.1 (Lanjutan) No.151 13.5-dimethyl-3-thiofuroylfuran furfuryl mercaptan s-furfuryl thioformate s-furfuryl thioacetate s-furfuryl thiopropionate furfuryl methyl sulfide furfuryl isopropyl sulfide methyl furfuryl disulfide propyl furfuryl disulfide 2.075 13.153 13.004 15.152 13.196 13. s-(2-methyl-3furanyl) ester 2.030 15.002 15.051 13.050 13.017 13.078 13.2'-(thiodimethylene)difuran 2.071 13.029 13.064 13.016 13.082 13.011 15.5-dimethyl-3thiazoline 2-methyl-3-furanthiol 2-methyl-3-(methylthio)furan 2-methyl-5-(methylthio)furan 2.5-dimethylthiophene 2-thienylmercaptan 2-thienyl disulfide 4-methyl-5-thiazoleethanol acetate 2.5-dimethyl-2-ethyl-3-thiazoline 2-(2-butyl)-4.056 13.6-dimethyl-3-[(2-methyl-3furyl)thio]-4-heptanone 4-[(2-methyl-3-furyl)thio]-5nonanone ethyl 3-(furfurylthio)propionate JECFA 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 43 dari 122 EC 15.001 15.5-dimethyl-3-furan thioisovalerate 2.142 13.or 6(furfurylthio)pyrazine S-methyl thiofuroate 4-[(2-furanmethyl)thio]-2pentanone 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-4heptanone 2. 5.093 FEMA 3209 3527 3062 3323 3205 3267 3340 3192 3620 3619 3188 3949 3366 3451 3573 3607 3259 3476 3260 3973 3482 3481 2493 3158 3162 3347 3160 3161 3362 3979 3238 3146 3189 3311 3840 3570 35.SNI 01-7152-2006 Tabel A.040 13.063 13.024 15.041 13.015 15.015 13.021 15.5-dimethyl-3-furyl) disulfide bis(2-methyl-3-furyl) tetrasulfide ethanoic acid.055 13.4-dimethyl-5-acetylthiazole 2-ethoxythiazole 2-methyl-5-methoxythiazole 4.065 13.077 13.38 3571 3674 .032 13.053 13.079 13.008 15.

2.123 07.194 09.6.SNI 01-7152-2006 Tabel A.160 13.10-dimethyl-5.035 07.3.230 09.048 07.7-dimethyl-2.129 07.10-trimethyl-2.6.5-trimethyl cyclohexanol cyclohexanone cyclopentanone 2-methylcyclohexanone 3-methylcyclohexanone 4-methylcyclohexanone 1-methyl-1-cyclopenten-3-one 2-hexylidene cyclopentanone 3-methyl-2-cyclohexen-1-one 2.126 07.180 07.5-dimethyltetrahydrofuran-3thiol. cis and trans isomers 3.069 07.112 07.033 07.151 07.209 07.1 (Lanjutan) No.172 07. 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 Nama Senyawa 2-methyl-3-thioacetoxy-4. cis and trans isomers 2.044 07.393 13.219 07.5.9-undecadien-2one 2.6-trimethylcyclohexanone 2-sec-butylcyclohexanone 4-isopropyl-2-cyclohexenone tetramethylethylcyclohexenone (mixture of isomers) isophorone 3-methyl-5-propyl-2-cyclohexen1-one 3-methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one isojasmone (E)-2-(2-octenyl)cyclopentanone 2-(3.095 07.149 07.5dihydrofuran 2-methyl-3-tetrahydrofuranthiol 2.464 09.098 07.015 07.114 07.10pentadecatrien-14-one 3-penten-2-one 4-hexen-3-one 2-hepten-4-one 3-hepten-2-one JECFA 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 EC 13.6-tetrahydropseudoionone 6.148 07.5-dimethyltetrahydro-3-furyl thioacetate.034 07.027 09.4.045 07.179 07.140 02.6octadienyl)cyclopentanone 3-decanone 5-methyl-5-hexen-2-one 6-methyl-5-hepten-2-one 3.104 07.100 07.160 09.086 13.105 FEMA 3636 3787 3971 3972 2349 2351 2353 2355 2354 3848 3962 3909 3910 3946 3947 3948 3435 2573 3360 3473 3261 3939 3061 3553 3577 3196 3552 3889 3829 3966 3365 2707 3059 3542 3442 3417 3352 3399 3400 44 dari 122 . cis and trans isomers cyclohexyl acetate cyclohexyl butyrate cyclohexyl formate cyclohexyl isovalerate cyclohexyl propionate p-1(7)8-menthadien-2-yl acetate.

7octatrien-3-ol 6-undecanone 2-methylheptan-3-one 4-hydroxy-4-methyl-5-hexenoic acid gamma lactone (+/-)3-methyl-gammadecalactone 4-hydroxy-4-methyl-7-cisdecenoic acid gamma lactone tuberose lactone dihydromintlactone mintlactone dehydromenthofurolactone (+/-)-(2.082 07.161 10.050 10.249 07.52 45 dari 122 .7-dimethyl-1.177 07.240 10.061 10.139 07.101 07.023 02.146 07.188 07.244 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.099 02.E)-3.658 09.1 (Lanjutan) No.925 09.138 02. 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 Nama Senyawa 3-octen-2-one 2-octen-4-one 3-decen-2-one 4-methyl-3-penten-2-one 5-methyl-3-hexen-2-one 5-methyl-2-hepten-4-one 6-methyl-3.104 02.923 09.R)-3.036 10.107 07.034 13.5-heptadien-2-one (E)-7-methyl-3-octen-2-one 3-nonen-2-one (E) & (Z)-4.109 16.6.6.253 02.106 07.055 13.5-octadien-2-one 3-octen-2-ol (E)-2-octen-4-ol 2-pentyl butyrate (+/-)heptan-3-yl acetate (+/-)heptan-2-yl butyrate (+/-)nonan-3-yl acetate 2-pentyl acetate 1-penten-3-one 1-octen-3-one 2-pentyl-1-buten-3-one 1-penten-3-ol 1-hexen-3-ol 1-octen-3-ol 1-decen-3-ol (E.136 02.5.070 10.005 FEMA 3416 3603 3532 3368 3409 3761 3363 3868 3955 3969 4001 4008 3602 3888 3893 3980 3981 4007 4012 3382 3515 3752 3584 3608 2805 3824 3830 4022 4000 4051 3999 3937 4067 4032 3764 3755 4020 3794 3791 3863 29.8-dimethyl-3.-trimethyl-2hydroxycyclohexylidene)acetic acid gamma-lactone sclareolide octahydrocoumarin 2-(4-methyl-2hydroxyphenyl)propionic acid gamma-lactone 3-propylidenephthalide JECFA 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 EC 07.193 09.121 07.7nonadien-2-one (E)-6-methyl-3-hepten-2-one (E.099 07.102 07.924 09.081 07.102 02.657 07.

127 05.4-dimethyl-2-pentenoic acid 2-methylheptanoic acid isobutyl angelate 2-butyl-2-butenal 2-isopropyl-5-methyl-2-hexenal 2-ethyl-2-heptenal 2-methyl-2-octenal 4-ethyloctanoic acid JECFA 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 EC 10.049 05.139 05.105 05.085 09.4-nonadienal nona-2-trans-6-cis-dienal 2-trans.SNI 01-7152-2006 Tabel A.840 05.194 05.273 09.120 05.109 05.Z)-2.4-heptadienal (E.E)-2.trans-2.107 05.260 09.126 08.090 08.108 05.084 05.4-undecadienal trans.177 05.070 08.162 05.E)-2.300 09.172 02.6-trans-octadienal 2. 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 Nama Senyawa 3-n-butylphthalide 3-butylidenephthalide dihydrocoumarin 6-methylcoumarin 2.124 16.4-hexadien-1-ol (E.095 05.076 02.4-octadienal 2-trans.E)-2.trans-2.057 08.639 09.111 02.4-decadienoate 2.058 05.012 05.009 13.6-trans-nonadienal (E.7-decatrienoate propyl 2.071 05.4.079 FEMA 3334 3333 2381 2699 3217 3922 3429 3921 3714 2459 3164 3956 3721 3466 3951 2780 3212 3377 3766 3952 3911 3135 3869 3148 3832 3648 3422 3670 3637 3638 3998 3647 3407 3646 2054 3187 3599 3432 2678 3510 3194 3195 3143 2706 2180 3392 3406 2438 3711 3800 46 dari 122 .4-octadien-1-ol trans.4-hexadienoic acid methyl sorbate ethyl sorbate (E.4-decadien-1-ol 2-trans.4-trans-decadienal methyl (E)-2-(Z)-4-decadienoate ethyl trans-2-cis-4-decadienoate ethyl 2.064 02.024 13.064 09.101 02.6-nonadien-1-ol acetate (E.E)-2.4-hexadienal (E.4-nonadien-1-ol 2.033 05.055 08.E)-2.6-nonadien-1-ol 2.408 05.025 10.047 09.001 08.188 02.4-dodecadienal 2-trans-6-cis-dodecadienal 2-trans-4-cis-7-cis-tridecatrienal (+/-)-2-methyl-1-butanol 3-methyl-2-buten-1-ol 2-methyl-2-butenal 3-methyl-2-butenal ammonium isovalerate 3-methylcrotonic acid trans-2-methyl-2-butenoic acid isobutyl 2-butenoate 2-methylallyl butyrate 4-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenoic acid 2.044 08.371 09.4-pentadienal 2.114 05.125 05.081 09.1 (Lanjutan) No.

6.029 03.2.004 04.033 04.032 04.7.016 04.012 02.015 04.011 05.021 08.4-dimethylanisole 1-methyl-3-methoxy-4isopropylbenzene carvacryl ethyl ether 1.098 13.034 04.7-dimethyl-6-octenoic acid rhodinol geraniol nerol citral 8-ocimenyl acetate 2.005 03.9))tridecan e anisole o-methylanisole p-methylanisole p-propylanisole 2.170 13.148 05.027 02.038 04.003 03.058 05.001 13.072 04.063 04.4-dimethoxy-1-vinylbenzene benzyl ethyl ether benzyl butyl ether methyl phenethyl ether diphenyl ether dibenzyl ether beta-naphthyl methyl ether beta-naphthyl ethyl ether beta-naphthyl isobutyl ether isoeugenol isoeugenyl formate JECFA 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 EC 02.062 04.014 04.130 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.10dodecatrienal 12-methyltridecanal farnesol sec-butyl ethyl ether 1-ethoxy-3-methyl-2-butene 1.040 03.004 09.165 13.089 FEMA 2309 2307 3142 2980 2507 2770 2303 3886 3141 4019 4005 3131 3777 3658 2465 3661 3735 3236 3774 3822 3471 2097 2680 2681 2930 3828 3436 2246 3799 2385 2386 3138 2144 2139 3198 3667 2371 FDA 2768 3719 2468 2474 47 dari 122 .088 13.035 03.11-trimethyl-2.6.6-dimethyl-10-methylene2.1 (Lanjutan) No.054 04.020 05.169 02.5.010 03.074 04.006 04.5.036 02.094 13.019 03.043 04.007 03. 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 Nama Senyawa citronellol citronellal 3.4-cineole eucalyptol nerol oxide 2.0.2-dimethoxybenzene m-dimethoxybenzene p-dimethoxybenzene 3.039 04.9-tetramethyl-13oxatricyclo(8.0(4.11-dodecatrienal 3.6-trimethyl-6vinyltetrahydropyran tetrahydro-4-methyl-2-(2methylpropen-1-yl)pyran theaspirane cycloionone 1.3.

189 09.0)octane-3.212 12.151 09.6-nonadien-1-ol (E.257 15.710 04.3.655 09.564 09.Z)-3.6-dimethoxyphenol isoeugenyl methyl ether isoeugenyl ethyl ether isoeugenyl benzyl ether isoprenyl acetate 4-pentenyl acetate 3-hexenal 3-hexenyl formate (cis and trans mixture) ethyl 5-hexenoate cis-hexenyl propionate cis-hexenyl isobutyrate (Z)-3-hexenyl (E)-2-butenoate cis-hexenyl tiglate cis-hexenyl valerate 3-hexenyl 2-hexenoate (Z)-4-hepten-1-ol ethyl cis-4-heptenoate (Z)-5-octenyl propionate (Z.559 09.002 04.241 12.139 08.Z)-3.239 12.5-trithiahexane diisopropyl trisulfide Indole 6-Methylquinoline Isoquinoline Skatole JECFA 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 EC 09.055 04.030 09.917 05.921 09.922 02.007 14.004 FEMA 2470 2477 2922 3728 2476 2472 3698 3991 4011 3923 3353 3976 3778 3929 3982 3931 3936 3928 3841 3975 3890 3885 3884 3953 3912 3914 3967 3993 3995 3996 3994 3997 3977 3974 3270 4004 3978 4021 3968 2593 2744 2978 3019 48 dari 122 .568 09.Z)-3.563 09.198 14.179 12.571 09.017 04.918 12.007 12.6-nonadien-1-ol (E.075 09.4-dithia-1-methyl-8oxabicyclo(3.3'-(1'oxa-2'-methyl)-cyclopentane] 2-(methylthio)ethanol ethyl 5-(methylthio)valerate 2.001 14.and threo-3-mercapto-2methylbutan-1-ol (±)-2-mercaptomethylpentan-1ol 3-mercapto-2-methylpentan-1-ol (racemic) 3-mercapto-2-methylpentanal 4-mercapto-4-methyl-2pentanone (±)-ethyl 3-mercaptobutyrate ethyl 4-(acetylthio)butyrate spiro[2.013 04.SNI 01-7152-2006 Tabel A.3.042 14.169 12.240 09. 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 Nama Senyawa isoeugenyl acetate isoeugenyl phenylacetate propenylguaethol propenyl-2.255 12.6-nonadien-1-ol acetate 9-decenal 4-decenoic acid cis-4-decenyl acetate erythro.1 (Lanjutan) No.674 05.238 12.566 09.018 09.

021 01.076 05.066 14.073 02.061 01.3.011 01.1 (Lanjutan) No.235 05.030 14.026 09.515 FDA FDA 172.010 01.071 14.068 14.7-Dimethyl-1.3.038 13.5-Undecatriene d-3-Carene Farnesene (alpha and beta) 1-Methyl-1.019 01.065 14.037 09.4-diene 1.134 14.007 01.004 01.060 14.157 05.045 14.3-diene p-Mentha-1.6-Dimethylpyridine 5-Ethyl-2-methylpyridine 2-Propionylpyrrole Methyl nicotinate 2-(3-Phenylpropyl)pyridine 2-PropyIpyridine Camphene beta-Caryophyllene p-Cymene d-Limonene Myrcene alpha-Phellandrene alpha-Pinene beta-Pinene Terpinolene Biphenyl p.047 14.037 09.018 01.6-octatriene p-Mentha-1.016 01.059 14. 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 Nama Senyawa 1-Ethyl-2-acetylpyrrole 1-Methyl-2-acetylpyrrole Methyl 2-pyrrolyl ketone 2-Pyridinemethanethiol 2-Acetylpyridine N-Furfurylpyrrole 2-(2-Methylpropyl)pyridine 3-(2-Methylpropyl)pyridine 2-Pentylpyridine Pyrrole 3-Ethylpyridine 3-Acetylpyridine 2.alpha-Dimethylstyrene 4-Methylbiphenyl 1-MethyI naphthalene Bisabolene Valencene 3.020 FEMA 3147 3184 3202 3232 3251 3284 3370 3371 3383 3386 3394 3424 3540 3546 3614 3709 3751 4065 2229 2252 2356 2633 2762 2856 2902 2903 3046 3129 3144 3186 3193 3331 3443 3539 3558 3559 3795 3821 3839 FDA FDA 172.058 14.003 01.515 2194 2366 2402 2418 2448 2560 2562 .SNI 01-7152-2006 Tabel A.002 01.005 01.029 01.006 01.024 01.013 01.046 14.014 01.017 01.008 01.3-cyclohexadiene beta-Bourbonene Cadinene (mixture of isomers) Guaiene Butyl 2-decenoate 2-Decenal 2-Dodecenal Ethyl acrylate Ethyl2-nonynoate 2-Hexenal 2-Hexen-1-ol JECFA 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 49 dari 122 EC 14.041 14.040 01.009 01.061 14.164 01.039 14.045 01.072 14.020 01.

218 09.156 09.210 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.159 02.156 09.& (E)-2-Hexenyl propionate (E)-2-hexenal diethyl acetal 2-Undecen-1-ol Borneol Isoborneol Bornyl acetate Isobornyl acetate Bornyl formate Isobornyl formate Isobornyl propionate Bornyl valerate Bornyl isovalerate (endo-) Isobornyl isovalerate d-Camphor d-Fenchone Fenchyl alcohol Nootkatone 1.3.123 02.101 09.031 02.192 08.016 02.269 09.150 08.110 07.-Trimethyl-2-norbornanyl acetate Methyl jasmonate Cycloheptadeca-9-en-1-one 3-Methyl-1-cyclopentadecanone JECFA 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 EC 09.399 09.277 02.112 02.395 06.158 09.190 05.395 08.038 07.082 09.398 09.457 07.396 09.153 09.054 05.239 05.072 08.1 (Lanjutan) No.102 02.3.564 & 09.397 09.090 05.006 07.078 05.109 09.017 09.072 05.521 07.176 09.456 09.111 FEMA 2564 2726 2729 2751 3082 3165 3169 3213 3215 3218 3379 3423 3516 3517 3720 3887 3908 3913 3920 3924 3926 3927 3930 3932 3935 3954 3983 3933 & 3932 4047 4068 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2230 2479 2480 3166 3390 3410 3425 3434 50 dari 122 .089 09.196 09.131 09.276 09.073 08.059 09. 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 Nama Senyawa 2-(E)Hexen-1-yl acetate Methyl 2-nonynoate Methyl 2-octynoate Methyl 2-undecynoate 2-Tridecenal trans-2-Heptenal trans-2-Hexenoic acid 2-Nonenal 2-Octenal 2-Pentenal trans-2-Nonen-1-ol 2-Undecenal trans-2-0cten-1-yI acetate trans-2-0cten-1-yl butanoate cis-2-Nonen-1-ol (E)-2-0cten-1-ol (E)-2-Butenoic acid (E)-2-Decenoic acid (E)-2-Heptenoic acid (Z)-2-Hexen-1-ol trans-2-Hexenyl butyrate (E)-2-Hexenyl formate trans-2-Hexenyl isovalerate trans-2-Hexenyl propionate trans-2-Hexenyl pentanoate (E)-2-Nonenoic acid (E)-2-Hexenyl hexanoate (Z)-3.

010 17.166 13.4a.5.010 FEMA 3587 3594 3715 3763 3776 3784 3844 3845 3849 3907 3992 4006 4054 4053 3252 3263 3285 3287 3295 3297 3301 3319 3444 3445 3585 3656 3684 3694 3726 3736 3813 3818 3819 3847 2566 2898 3055 3056 3057 3058 3174 51 dari 122 .005 17.014 17.007 13.100 02.012 17.224 09.101 07.015 17.056 17.140 07.018 17.034 17.153 02.920 17.007 17.022 16.019 17.305 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.008 17.8-diol beta-Alanine L-Cysteine L-Glutamic acid Glycine DL-Isoleucine L-Leucine DL-Methionine L-Proline DL-Valine DL-(3-Amino-3carboxypropyl)dimethylsufonium chloride L-Phenylalanine L-Aspartic acid L-Glutamine L-Histidine DL-Phenylalanine L-Tyrosine Taurine DL-Alanine L-Arginine L-Lysine 2-Hexyl-4acetoxytetrahydrofuran 2-(3Phenylpropyl)tetrahydrofuran Tetrahydrofurfuryl acetate Tetrahydrofurfuryl alcohol Tetrahydrofurfuryl butyrate Tetrahydrofurfuryl propionate 4-Hydroxy-2.1 (Lanjutan) No.319 09.5-dimethyl-3(2H)furanone JECFA 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1434 1435 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 EC 02.049 13.020 13.2-diol Bornyl butyrate D.002 17.003 17.L-Menyhol(+/-)-propylene glycol carbonate L-Monomenthyl glutarate L-Menthyl methyl ether p-Menthane-3.023 17.048 13.033 17.136 07.001 17.2-diol beta-Ionyl acetate alpha-Isomethylionyl acetate 3-(1-Methoxy)-2-methylpropane1.6-tetrahydro2(3H)-naphthalenone 3-Methyl-2-(n-pentanyl)-2cyclopenten-1-one Dihydronootkatone 3-L-Methoxypropane-1. 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 Nama Senyawa 2(10)-Pinen-3-ol Verbenol 7-Methyl-4.026 13.017 17.

)-2-(5-Methyl-5-vinyltetrahydrofuran-2yl)propionaldehyde Ethyl 4-phenylbutyrate beta-Methylphenethyl alcohol 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl acetate 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl isobutyrate 2-Methyl-4-phenylbutyraldehyde 3-Methyl-2-phenylbutyraldehyde Methyl 4-Phenylbutyrate 2-Methyl-3-(p-isopropylphenyl) propionaldehyde 2-Methyl-3-tolylpropionaldehyde (mixed o-.SNI 01-7152-2006 Tabel A.089 13.5-Diethyltetrahydrofuran cis.096 13.729 05.046 05.099 05.042 13.728 02.060 13.090 13.045 05.484 05.1 (Lanjutan) No.100 05.2-Dimethyl-5-(1-methylpropen1-yl)tetrahydrofuran 2.062 09. m-.109 FEMA 3320 3373 3623 3635 3664 3665 3743 3746 3759 3797 4058 2453 2732 2735 2736 2737 2738 2739 2743 2748 2886 2888 2891 2892 3078 3199 3200 3224 3341 3519 3629 3892 52 dari 122 .029 09.trans-2-Methyl.2-vinyl-5-(2hydroxy-2-propyl)tetrahydrofuran (Linalool oxide) 5-Isopropenyl-2-methyl-2vinyltetrahydrofuran (cis and trans mixture) 4-Acetoxy-2.5-dimethyl3(2H)furanone (+/.052 05.802 05.097 09.043 05.099 09.108 08.057 09.5-Dimethyl-4-methoxy-3(2H)furanone 2. 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 Nama Senyawa Tetrahydrofurfuryl cinnamate 2-Methyltetrahydrofuran-3-one 2-Ethyl-4-hydroxy-5-methyl3(2H)-furanone 4-Hydroxy-5-methyl-3(2H)furanone 2. p-) 2-Phenylpropionaldehyde 2-Phenylpropionaldehyde dimethyl acetal 2-Phenylpropyl butyrate 2-Phenylpropyl isobutyrate 2-(p-Tolyl)propionaldehyde 5-Methyl-2-phenyl-2-hexenal 4-Methyl-2-phenyl-2-pentenal 2-Phenyl-2-butenal EthyI 2-ethyl-3phenylpropanoate 2-Phenyl-4-pentenal 2-Methyl-4-phenyl-2-butanol 2-0xo-3-phenylpropionic acid JECFA 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 EC 13.038 06.073 09.095 13.084 13.030 09.097 13.485 05.085 13.115 02.

5-dimethyl furan 2-Butyrylfuran (2-Furyl)-2-propanone 2-Pentanoylfuran 1-(2-Furyl)butan-3-one 4-(2-Furyl)-3-buten-2-one Pentyl 2-furyl ketone Ethyl 3-(2-furyl)propanoate Isobutyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 4-(2-furan)butyrate Phenetyl 2-furaoate Propyl 2-furanacrylate 2.5-Dimethyl-3-oxo-(2H)-fur-4-yl butyrate Furfuryl methyl ether Ethyl furfuryl ether Difurfuryl ether 2.106 13.034 13.047 13.3-Dimethylbenzofuran 2.059 13.4-dioxane 2-Methylfuran 2.105 13.023 13.148 13.047 09.163 13.092 13.024 13.052 13.014 07.4-Difurfurylfuran 3-(2-Furyl)acrolein 2-Methyl-3(2-furyl)acrolein 3-(5-Methyl-2-furyl)prop-2-enal 3-(5-Methyl-2-furyl)-butanal 2-Furfurylidenebutyraldehyde 2-Phenyl-3-(2-furyl)prop-2-enal 2-Furyl methyl ketone 2-Acetyl-5-methylfuran 2-Acetyl-3.028 13.021 13.054 13.046 13.4-dioxane 2-Hexyl. 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 Nama Senyawa Sodium 2-oxo-3phenylpropionate Maltol Ethyl maltol Maltyl isobutyrate 2-Methyl-3-(1-oxopropoxy)-4Hpyran-4-one 2-Butyl-5.022 13.5-Dimethyl-3-furanthiol acetate Furfuryl 2-methyl-3-furyl disulfide JECFA 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 EC 07.4-dioxane 2-Amyl-5 or 6-keto-1.5-Dimethyl furan 2-Ethyl furan 2-Butylfuran 2-Pentylfuran 2-Heptyfuran 2-Decylfuran 3-Methyl-2-(3-methylbut-2-enyl)furan 2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.070 13.069 13.or 6-keto-1.074 13.138 13.006 13.044 13.061 13.150 13.525 13.137 13.027 13.123 13.107 13.103 13.030 13.or 6-keto-1.116 13.058 13.043 13.1 (Lanjutan) No.066 13.083 13.5-dimethyl furan 2-Acetyl-2.101 13.029 13.045 13.178 FEMA 2656 3487 3462 3941 2204 2076 2574 4179 4106 3673 4081 3317 3401 4090 4174 3535 4095 2494 2704 4175 3307 2492 3586 3163 3609 4071 3391 4083 2496 4192 4120 2495 3418 2435 2198 2071 2070 2865 2945 3970 3159 4114 3337 4034 4119 53 dari 122 .176 13.

5-dimethyloxazole 2-Methyl-4.107 12.4-Dimethyl-3-oxazoline 2.723 09.112 FEMA 4056 4043 4075 2467 2473 2469 4118 2471 2682 2421 2181 2182 3925 4086 2637 2350 3048 2859 2767 2718 4116 4115 4149 4171 4170 4169 4078 3672 3525 2034 4082 4014 3312 3654 3338 3727 - 54 dari 122 .721 09.193 12.058 04.561 09.154 13.115 13.716 09.5-Trimethyl-delta-3oxazoline Allyl isothiocyanate Butyl isothiocyanate Benzyl isothiocyanate Phenethyl isothiocyanate 3-Methylthiopropyl isothiocyanate 4-Acetyl-2-methylpyrimidine 5.029 13. 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 Nama Senyawa 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-2butanone O-Ethyl S-(2furylmethyl)thiocarbonate 4-Allylphenol 2-Methoxy-6-(2-propenyl)phenol Eugenol Eugenyl formate Eugenyl acetate Eugenyl isovalerate Eugenyl benzoate Methyl anthranilate Ethyl anthranilate Butyl anthranilate Isobutyl anthranilate cis-3-Hexenyl anthranilate Citronelly anthranilate Linalyl anthranilate Cyclohexyl anthranilate beta-Terpinyl anthranilate Phenylethyl anthranilate beta-Naphthyl anthranilate Methyl N-methylanthranilate Ethyl N-methylanthranilate Ethyl N-ethylanthranilate Isobutyl N-methylanthranilate Methyl N-formylanthranilate Methyl N-acetylanthranilate Methyl N.014 14.N-dimethylanthranilate N-Benzoylantharanilic acid Trimethyloxazole 2.169 13.030 14.195 13.025 12.102 12.4d)pyrimidine 1-Phenyl-3 or 5-propylpyrazole 4.7-Dihydro-2-methylthieno(3.769 09.070 14.648 13.096 04.191 04.724 09.091 13.118 13.649 09.5-dimethyloxazole 2-Isobutyl-4.717 09.003 09.878 09.715 09.765 09.5-benzo-oxazole 2.4-Dimethyl-2-propyloxazole JECFA 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1568 1569 EC 13.039 12.801 09.650 09.764 09.781 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.722 09.088 09.718 09.5-Dimethyl-4-ethyloxazole 2-Ethyl-4.4.766 09.020 09.1 (Lanjutan) No.

6-Hexalactam 2-Isopropyl-N.E)-2.3trimethylbutyramide N-Ethyl (E)-2.N-Dimethyl menthyl succinamide 1-Pyrroline 2-Acetyl-1-pyrroline 2-Propionylpyrrole Isopentylidene isopenylamine Piperidine 2-Methylpiperidine Pyrrolidine Trimethylamine Triethylamine Tripropylamine JECFA 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 EC 16.018 11.080 11.017 14.052 16.1 (Lanjutan) No.018 16.026 FEMA 4037 4144 4084 4109 4199 4085 2454 2444 3757 4236 4237 4238 3130 4239 4240 4242 4241 3220 4215 4251 4252 4235 3804 4113 4087 41482787 2909 3455 4230 3898 4249 4063 3990 2908 4244 3523 3241 4246 4247 55 dari 122 .006 14.043 16.047 16.044 16.009 11.049 16. 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 Nama Senyawa 4.042 16.064 11.003 11.010 14.015 11.185 16.005 11.SNI 01-7152-2006 Tabel A.013 14.053 16.2.007 13.346 08.015 16.005 11.020 09.006 11.002 11.170 16.133 14.040 11.051 16.127 11.5-Epoxy-(E)-2-decenal beta-Ionone epoxide trans-Carvone-5.4decadienamide Nonanoyl 4-hydroxy-3methoxybenzylamide Piperine N-Ethyl-2-isopropyl-5methylcyclohexanecarboxamide (+/-)-N.021 11.071 07.023 11.(Z)-6nonadienamide N-Cyclopropyl (E)-2.(Z)-6nonadienamide N-Isobutyl (E.003 16.6-oxide Epoxyoxophorone Piperitenone oxide beta-Caryophyllene oxide Ethyl 3-phenylglycidate Ethyl methylphenyl glycidate Ethyl methyl-p-tolylglycidate Ethylamine Propylamine Isopropylamine Butylamine Isobutylamine sec-Butylamine Pentylamine 2-Methylbutylamine Isopentylamine Hexylamine Phenethylamine 2-(4-Hydroxyphenyl)ethylamine 1-Amino-2-propanol Acetamide Butyramide 1.

9.1-diethoxybutane or Butanal diethylacetal Ethyl 2.052 02.5-lactone dl-Limonene alpha-Cedrene (4E.SNI 01-7152-2006 Tabel A.129 05.6E)-Allo-ocimene Octene-1 2-methylbutan-2-ol tert.169 07.130 05.7-Dimethyl-2.141 05.035 01.187 02.070 05.6-octadienoic acid JECFA 1613 1614 1615 EC 11.168 02.143 07.5-dimethylphenol 2-Ethyl phenol o-Methoxybenzaldehyde alpha-Sinensal.182 07.218 07. (4E.7-Decatrienal Pentanedial Hex-3(trans)-enal Pentene-4-al Citral propylene glycol acetal 1.3dioxolane-2-acetate.206 04.087 07.6-Dimethyl-2.041 02.10-trimethyl2.4-dimethyl-1.068 02.4. Butyl alcohol Allyl alcohol Cedrenol 2-butanol 2-Methyl 3-Buten-2-ol Hex-3(trans)-en-1-ol Isophytol Nonenol Sclareol 3.141 09.6octatriene.025 14.035 06.158 02. 1-hydroxy.001 01.1 (Lanjutan) No.or 2-oxopropanol 5-methylheptan-3-one pin-2-en-4-one Methyl ionone N trans-3-Methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one Succinic acid 3.163 07.068 02.061 06. Ethyl acetoacetate propylene glycol ketal Methyl cedryl ketone.151 05.6E)-2.N-Dimethylphenethylamine Trimethylamine oxide Piperazine Dec-8-eno-1.081 FEMA 4248 4245 4250 2203 - 56 dari 122 . 2.6.6. 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 Nama Senyawa N.754 01. acetylcedrene Decan-2-one Hexan-2-one 1-hydroxypropan-2-one or 2-propanone.119 02.219 08.121 02.024 08.022 01.149 05.014 11.123 02.4.020 04.174 06.196 07.150 07.11-dodecatrienal 2.

190 09.598 09.128 14.116 12.4.106 12.606 09.5-Diethyl-1.828 09.119 13.058 10.643 09.4-trithiolane JECFA EC 08.5-Dimethyl-3(2H)-furanone 2-Furoic acid 4-Methylquinoline 1-methylpyrrole 2-Acetyl-1.318 09.139 12.251 09.673 09.5.163 15.5-lactone or Delta tridecalactone Oxacycloheptadec-10-en-2-one Diethyl disulfide Dipropyl sulphide Ethyl Mercaptan Butyl thioisovalerate Dimethyl tetrasulphide 2-Methoxythiophenol Mercaptal acetaldehyde Isobutyhyl methylthiobutyrate 2.6octadienoate Hexenyl acetate/trans-3 Tridecano-1.213 13.204 09.581 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.015 12.079 14.017 12.502 09.209 09.002 14.196 09.118 14.320 09.2. 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 Nama Senyawa Hept-2-enoic acid Ethyl hex-2-enoate 2-Hexen-1-yl acetate Ethyl linoleate Butyl Octanoate Methyl decanoate Oct-1-en-3-yl-acetate Benzyl octanoate Ethylene glycol butyl ether acetate Ethyl butyryl lactate Hexylsalicylate Isopentyl decanoate Isoamyl heptate Isopentyl lactate Isopropyl palmitate Methyl geranate cis-6-Nonenyl acetate Vetiver acetate Amyl benzoate Methyl-2-octenoate Methyl 3.043 15.063 12.6tetrahydropyridine 2-hydroxypyridine 2-Methyl-3-(methylthio)pyrazine Methylpyrrole-2carboxaldehyde/n 2-butyl-5-ethylthiophene 3.083 09.831 09.7-dimethyl-2.049 FEMA - 57 dari 122 .012 12.023 14.136 14.205 12.928 10.825 09.821 09.281 09.599 09.1 (Lanjutan) No.601 09.

033 FEMA 2053 2388 2392 2393 2394 2395 2421 2446 2460 2524 2528 2564 2633 2701 2708 2709 2725 2772 2860 2883 2951 2966 2967 2976 2977 2996 3038 3042 3173 3208 3233 3242 3255 3263 3277 58 dari 122 .008 16.037 09.196 01.035 01.059 17.495 09.716 16.081 16.096 15.020 17.4-Dimethylthiazole 2. Styrene 2-(4-Methylphenyl)-2-propanol L-Arabinose L-Cysteine Succinic acid.021 09.5-trithiane Ammonium hydrogen sulphide L-Cystine L-Serine L-Threonine Diammonium sulfide 1-Methyl-1-phenethyl isobutyrate 1.042 17.110 16. 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 Nama Senyawa 2.774 02.070 15.5-dimethyl thiophene 2-ethyl-5-methylthiophene Hydroxydimethylthiophenone Penthyl Thiophane 2.3.227 02.031 09.181 09.064 15.086 09. ammoniated Cis-2-hexenyl acetate l-Limonene 4-(1.035 09.045 07.6-Trimethyl-1.4.509 09.015 02.069 09.1 (Lanjutan) No.017 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.006 17.915 14.077 15.234 02.232 09.062 15.090 14.3-Benzodioxol-5-yl)butan-2one Methyl hexanoate Methyl 2-hexenoate Methyl 2-nonenoate Nerolidol Phenethyl benzoate 3-Methyl-1-phenyl-3-pentanol Propyl 4-hydroxybenzoate Pyridine Pyroligneous acid Quinine hydrochloride Quinine sulphate Rum ether Sucrose octaacetate Tannic acid 1-Hydroxy-2-butanone Methylthio(methylpyrazine) mixtures of isomers Vinylbenzene.080 07.018 09.1-Dimethyl-2-phenethyl butyrate alpha-alpha-Dimethylphenethyl formate Ethyl anthranilate Ethyl nitrite Ethyl (E)-2-methyl-2-butenoate Glucose pentaacetate Glycyrrhizic acid. disodium salt JECFA EC 15.1-Dimethyl-2-phenethyl acetate 2-Methyl-1-phenylpropan-2-ol 1.

SNI 01-7152-2006 Tabel A.282 09.565 08. 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 Nama Senyawa 3-Hydroxymethyl-2-octanone Isopropenylpyrazine n-Hexyl 2-butenoate N-(4-Hydroxy-3-methoxybenzyl)8-methyl-6-nonenamide Methyl dihydrojasmonate 2.248 13.266 09.063 09.114 09.049 FEMA 3292 3296 3354 3404 3408 3421 3470 3486 3549 3591 3599 3606 3612 3641 3643 3651 3673 3675 3692 3712 3730 3779 3811 3817 3819 3900 3905 3906 3934 3957 3989 4002 4003 4009 4010 4016 4024 4025 4026 4027 4028 4029 4030 4031 59 dari 122 .4-dione Quinoline Ethyl trans-2-butenoate 6-Hydroxydihydrotheaspirane Theobromine trans-2-Methyl-2-butenoic acid d-Xylose 1-Octen-3-yl butyrate Ethyl trans-2-decenoate Ethyl trans-2-octenoate 6-Acetoxydihydrotheaspirane 2-Ethylfuran Ethyl trans-2-hexenoate Hexyl trans-2-hexenoate Methyl trans-2-octenoate L-Rhamnose Hydrogen sulfide Neohesperidine dihydrochalcone 2-Acetyl-2-thiazoline L-Arginine.253 09.850 09.926 05.2.316 12.254 12.064 09.292 09.520 07.104 11.052 09.285 13.4trithiolane (+/-)-Dihydrofarnesol JECFA EC 07.003 06.283 09.053 06.109 14.008 09.097 14. monohydrochloride Sodium diacetate Vanillin propylene glycol acetal 2-Aminoacetophenone (Z)-3-Hexenyl pyruvate trans-2-Octenoic acid 3(2)-Hydroxy-5-methyl-2(3)hexanone Methyl 2-methyl-2-propenoate Methyl (methylthio) acetate (+/-)-Octan-3-yl formate Paraldehyde Sodium 4methoxybenzoylacetate Acetaldehyde diisoamyl acetal Amyl methyl disulfide Benzyl hexanoate Butyl ethyl disulfide beta-Cyclodextrin Diethyl trisulfide (+/-)-cis.076 08.010 17.146 09.and trans-Diethyl-1.114 15.299 16.055 12.6-Trimethylcyclohex-2-en1.087 13.092 09.6.1 (Lanjutan) No.007 15.647 12.

3-mercapto-.1 (Lanjutan) No.4-nonanedione 9-Octadecenal 2.5]decan-2one.112 FEMA 4033 4035 4036 4038 4039 4040 4041 4042 4044 4046 4048 4049 4050 4052 4055 4057 4059 4060 4061 4062 4064 4066 4089 4129 4142 4145 4161 4162 4165 4196 4254 4256 4261 4267 4285 4289 4290 4291 60 dari 122 .1acetate Ethyl (E)-2-methyl-2-pentenoate Methyl hexyl ether JECFA EC 15.3-dimethyl-2.4-dioxaspiro[4.SNI 01-7152-2006 Tabel A.089 05.141 02.5-dimethyl-1.4E.203 05. (5Z)Phytol N-gluconyl ethanolamine N-lactoyl ethanolamine 3-methyl hexanal N-3.3dioxolane 4-Hydroxy-3.3-Octanedione (+/-)-1-Phenylethylmercaptan (Z)-4-Propenylphenol 2-Propionyl-2-thiazoline (Z)-8-Tetradecenal 2E.126 12.6-octadienyl cyclopropylcarboxamide 1.7-dimethyl-2.256 09.7Z-Decantrienal Hepten-1-ol-3 1-(3-hydroxy-5-methyl-2thienyl)ethanone Oxacycloheptadec-10-en-2-one 3-(Methylthio)propyl-butyrate (S)-1-Methoxy-3-heptanethiol 5-Octenoic acid.9-dimethyl-6-(1methylethyl)1-heptanol.155 02.208 05.5-Dimethylthiazole (Z)-4-Dodecenal (+/-)-Ethyl 3-acetoxy-2methylbutyrate S-Ethyl 2acetylaminoethanethioate Ethyl methyl disulfide Ethyl propyl disulfide Ethyl propyl trisulfide Geranyl tiglate trans-4-Hexenal 2-Hexyl-4.632 07.383 06. methyl ester.063 09.153 12.153 10.184 05.242 09.3.5dimethoxybenzaldehyde 4-Hydroxy-2.4nonadienoic acid gamma lactone 3-Hydroxy-4-phenylbutan-2-one (+/-)-Methyl 5-acetoxyhexanoate 3-Methyl-2. 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 Nama Senyawa Dihydroxyacetone 2.919 12.042 07.

1 (Lanjutan) No. 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 Nama Senyawa 5-acetyl-2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.4-thiazine Bis (1-mercaptopropyl)sulfide 2.5-dithiahexane (E)-2-nonen-4-one (E)-4-nonenal Cis-& trans 1.3-dihydro-1.2dihydroperilladehyde 2-isobutyl-4-methyl-5ethylthiazole 2-secbutyl-4-methyl-5-ethyl thiazole 5-pentyl-3H-furan-2-one 3-mercapto-3-methyl-1-butyl acetate 3-mercapto-1-butyl acetate 5-nonen-(E)-2-one 1-menthyl acetoacetate 4-octen-3-one JECFA EC FEMA 4296 4297 4298 4301 4302 4312 4318 4319 4323 4324 4325 4326 4327 4328 61 dari 122 .

O hymenomycetes).SNI 01-7152-2006 Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa B1 B. Agaricus Albus. merupakan suatu jamur yang tumbuh pada pohon larch. 5133-19-7 Deskripsi Aloin dengan sinonim C-glycocyl dari aleo-emodin anthrone merupakan salah satu konstituen laksatif dari anthraquinone complex yang diperoleh dari getah tanaman Aloe ferox (Asphodeliaceae) dan Rhamnus purshiana DC. Batas maksimum penggunaan untuk makanan dan minuman adalah 0. B. didefinisikan sebagai daging buah kering dari jamur Polyporus officinalis kering (Farm. 666-99-9 Deskripsi B. Polyporaceae).1 mg/kg.1 mg/kg. tumbuh pada satu atau lebih spesies dari Pinnus 62 dari 122 . Nomor CAS. Larch Agaric. White Agaric. Aloin tidak boleh diberikan pada penderita gangguan usus atau berpenyakit seperti Crohn 1 s disease. meski tosikologinya belum sepenuhnya diteliti. tidak cocok dengan basa dan senyawa pengoksidasi yang kuat serta mudah terbakar. memiliki titik leleh 1480C. Spunk.1. Penggunaan Aloin dalam waktu lama bisa menyebabkan defisiensi kalium yang dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskuler. Sementara Malaysia melarang penggunaan aloin dalam makanan.1.2 Fungsi lain Tidak ada B.1 Aloin (aloin).2.1. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan aloin sebagai natural toxicant dan dapat ditambahkan sebagai senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg dan produk makanan lainnya sebesar 0. Toksisitas untuk Aloin adalah 20-30 mg/hari sebagai laksatif. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. B. Larchenschwamm.. Agaric.3 Kajian keamanan Aloin merupakan laksatif yang bersifat iritan yang berbahaya apabila tertelan. Asam agarat (agaric acid). Fr. G.1. Nomor CAS. 2 B. Touchwoo.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Comission) dan EC (European Commission) melarang penggunaan Aloin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.1 Asam agarat dengan sinonim agarisin diperoleh dari Polyporus officinalis atau (N. dengan pengecualian pada minuman beralkohol sebesar 50 mg/kg. Funpurgatif. Aloin memiliki rumus kimia C21H22O9 merupakan campuran dari dua diestereo-isomer yaitu Aloin A dan Aloin B berbentuk serbuk kristal berwarna kuning lemon. terhirup atau terserap melalui kulit. Aloin hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Efek samping dari aloin adalah dapat menimbulkan kram pada lambung/usus. Tinder.

2 Fungsi lain Tidak ada B. Agarat berasa agak manis dan sangat pahit.03 Gm). sebagai antipiretik dan antihidrotik (Ph. merupakan larutan dalam kaustik soda bebas busa. xlvii. C9H18O.. C26H44O. C14H24O2 dan asam risinoleat. larut dalam air mendidih sampai cerah sempurna. Berbagai jenis asam agarat diperdagangkan dalam daya regang yang kuat. fitosterin. Ztg.2.. Asam agarat tidak diatur secara hypodermically.6 cg (5-60 mg). Selain itu dapat menyebabkan eksitasi primer pada medula. sering dikenal sebagai larisat dan asam agarisinat. hidrokarbon padat.. Pinaceae). Keberadaanya dalam makanan tertentu sesuai dengan batas yang diizinkan : minuman selain minuman beralkohol dan shandy (20 mg/kg). 1889. umumnya tidak berbau dan tidak berasa. Sediaannya yang mengandung asam agarat aktif dengan nama dagang agarisin telah dipasarkan dengan sedikit atau banyak cemaran.01-0. dan Picea Link (Fam. Pada awalnya dapat meningkatkan tekanan darah dan kecepatan respirasi yang diikuti oleh pengurangan aktivitas dari keduanya. Lehrbuch der Pharm. C23H46 dan C29H54.2.). C16H33OH. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. setil alkohol. dalam alkohol (1 dalam 100). shandy.. agarat mengandung sedikit resin lembut (soft resin). Malaysia melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa. 1528. dan merupakan cairan berbusa.6 % pada lemak tubuh yang dibuat dari agarikol. berwarna hampir putih. Larix Adanson. diikuti oleh paralisis. p. Menurut Hoffmeister (A. C15H20O4 yang diesktrak dengan petroleum benzin dengan konsentrasi 4 . ini diserap lebih pelan dan oleh karena dosis ini perlu diambil beberapa jam sebelum kekuatannya berhenti. Dari segi obat-obatan solanaceous. makanan yang mengandung jamur (100 mg/kg).189). B. agarat dipercaya sebagai obat. pangan olahan lainnya (20 mg/kg). alkohol aromatik cair.. ii. Pada dosis tinggi bersifat iritan pada perut dan usus. mempunyai titik leleh 140 oC. xxv. D Eidel telah menghasilkan 2 fenetida dari asam agarat. dosis awal harus kecil. C10H16O disatukan pada suhu 223 oC (433oF).SNI 01-7152-2006 Linne. Asam agarat mempunyai rumus kimia C19H36OH (COOH)3.344 merupakan senyawa berbentuk serbuk mikrokristal.2. Pada dosis yang besar mempunyai aksi purgative. 1 ½ H2O dengan bobot molekul 443. Rosenbaum telah menemukan ekstrak cair dari agarat.3 Kajian keamanan Asam agarat melumpuhkan ujung syaraf pada kelenjar keringat dan kemudian dapat menghentikan night-sweate (keringat di malam hari).E. Schmidt. B. Asam agarat sedikit larut dalam air. Menurut teori Mc Cartney bahwa aksi antihidrolik agarat disebabkan oleh kejang otot pada lapisan kulit. Agarat berfungsi sebagai obat dalam bentuk asam agarat.4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan asam agarat dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. asam lemak. Penggunaan yang paling utama dari agarat adalah didalam perlakuan pada kondisi yang rusak terhadap keringat kolikuatif seperti ftisis. 3te Auf.) J. minuman beralkohol. C18H34O3. litium dan agarisinat bismut sudah dikenal sebagai obat. Chem. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Asam agarat biasanya diberikan dalam bentuk pil dan sachet.P. Batas maksimum untuk makanan dan minuman 20 mg/kg pengecualian pada minuman beralkohol dan makanan yang mengandung jamur 100 mg/kg. menyebabkan rasa mual dan seperti obat cuci perut. Schmieder. natrium. Pada prinsipnya dosis murni antara 1/6 sampai 1 ½ butir (0. India membatasi keberadaan asam agarat secara alami dalam berbagai artikel pangan tidak 63 dari 122 . Menurut J. Hal itu dapat menyebabkan peradangan dan sakit keras di tempat penyuntikan pada dosis ½ . asam agarat dalam dosis tinggi dapat melumpuhkan urat syaraf dan kelenjar keringat.P. Asam agarat dalam bentuk yang tidak murni berwarna kekuningan.

Nomor CAS. B. Distilat utama (kondensasi dari gas) hampir berupa air dan tidak sampai 4 jam. Selama destilasi. Kondensat mentah (crude) yang dihasilkan dari destilasi kayu ini disebut asam pirolignous. pada saat kayu mengering.3. Destilasi fraksional ini disebut juga ekstrak asam pirolignous. B. dan mulailah terpisah-pisah secara spontanitas. kayu ditempatkan dalam oven dan mulai dipanaskan. Jika dalam keadaan hampa udara.3. 8030-97-5 Deskripsi B.4.3 Kajian keamanan Belum ada data yang cukup tentang asam pirolignous. B. Asam pirolignous adalah limbah dari hasil produksi charcoal dengan cara karbonasi dari kayu dalam keadaan hampa udara. 64 dari 122 .4 Pengaturan Malaysia melarang penggunaan asam pirolignous sebagai perisa. Asam sianida (hydrocyanic acid).2 Fungsi lain Tidak ada. Asam pirolignous merupakan cairan berwarna kemerahan. Sedangkan Singapura melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam agarat sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 100 mg/kg. minyak kayu.1 HCN adalah racun protoplasmatik. gelap tersusun dari asam asetat.3. Proses karbonasi berlangsung pada suhu di atas 270°C. Nomor CAS.4 B. Jika tidak dalam keadaan hampa udara. tapi juga mengandung metanol (wood alcohol). seperti sianida yang lain. Asam pirolignous (pyroligneous acid). Asam pirolignous dalam bentuk mentah (crude) kemudian dimurnikan dengan cara destilasi fraksional supaya aman (food grade) digunakan pada produk-produk makanan. Reaksi ini terjadi selama pembakaran charcoal. liquor (minuman keras) perlahan-lahan menjadi keruh dan kandungan asamnya meningkat. Ada banyak pangan yang mengandung bahan sianogenik sianida yang diproduksi dalam metabolisme menjadi tiosianat. Asam pirolignous juga dikenal dengan wood vinegar (vinegar kayu). aseton. suhu kayu tinggal 100°C -110°C. dan sampai proses ini lengkap. 74-90-8 Deskripsi B.SNI 01-7152-2006 melebihi batas spesifik (100 mg/kg).3 B.3. Jika kayu dipanaskan. sebagian lagi diturunkan dari buah-buahan dan bagian lain dari spesies Prunus dan dinyatakan bahwa sianida adalah unsur organoleptik. tars dalam jumlah yang bervariasi. Sianida terjadi secara alami pada bahan perisa tertentu. Ion sianida bergabung dengan enzim yang membawa oksigen dapat menghambat aktivitas sel dan merupakan ancaman terhadap fungsi-fungsi vital. suhunya meningkat menjadi 270°C. maka kayu akan terbakar dimana suhunya mencapai 400°C -500°C dan produk akhirnya berupa abu kayu. produk makanan yang mengandung jamur dengan batas maksimum 100 mg/kg. produk akhirnya adalah charcoal.1 Asam pirolignous merupakan limbah dari hasil produksi charcoal dari batang.

paralysis saluran pernafasan dan kerusakan ginjal serta hati yang tidak bisa disembuhkan. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) (5 mg/kg).2 Fungsi lain Tidak ada B. CN. Penggunaan HCN di perusahaan electroplatina adalah secara langsung mencegah kontak kecelakaan antara garam sianida dan larutan asam yang menghasilkan bentuk gas HCN. minuman beralkohol 1 mg/kg per % volume. marzipan (50 mg/kg).4. konfeksionari (kembang gula) selain marzipan (kacang-kacangan) 25 mg/kg. Komisi Eropa juga mempertimbangkan bahwa jumlah sianida yang ada dalam produk pangan dan produk minuman sebagai hasil dari penambahan perisa yang mengandung perisa harus dibatasi pada tingkat terendah untuk mencapai efek organoleptik yang diinginkan. Masalah praktis utama dengan pencernaan kronik dari makanan-makanan sianogenik adalah efek goitrogenik dari tiosionat dan ini adalah masalah serius ketika hal tersebut terjadi karena diet kurang iod. 65 dari 122 . Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam sianida (total) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk pangan sebagai berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (25 mg/kg).+ H+ HCN Komisi Eropa memutuskan bahwa asam sianida dan garamnya tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan dan oleh sebab itu tidak ada spesifikasi yang disiapkan. IDLH : 50 mg/kg . sari buah berbiji tunggal (stone fruit juice) 5 mg/kg. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Malaysia mengatur keberadaan asam sianida dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy 1 mg/kg.SNI 01-7152-2006 B.3 Kajian keamanan Penggunaan asam sianida mempunyai efek terhadap penahanan myocardial. Toksisitas HCN dalam udara berdasarkan nilai parameter berikut ini: LC50 : 135 mg/kg . Sedangkan India mengatur keberadaan asam sianida secara alami pada berbagai artikel pangan tidak boleh melebihi batas tertentu (5 mg/kg). marzipan (kacang-kacangan) 50 mg/kg. Sementara Singapura melarang penggunaan asam sianida sebagai bahan perisa yang terkandung dalam minyak volatil almond pahit.Celling : 10 mg/kg B. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. marzipan 50 mg/kg. Batas maksimum pada makanan dan minuman 1 mg/kg pengecualian pada konfeksionari(kembang gula) 25 mg/kg.4. dan pangan olahan lain 1 mg/kg.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan asam sianida dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. minuman beralkohol (1 mg/kg per 1% kandungan alkohol). sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) 5 mg/kg.4.TLV.

5-trimetoksi-1-propenil-bensen atau 1 (2. . .497 mg/kg bobot badan. A. B. tonikum. Piper angustifolium R. antelmintik. β-Azarone.5 B. (Z) asaron. TA-1537 dan TA-1538 dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9).5.010 mg/kg bobot badan.331 mg/kg bobot badan. Titik didih 2960C.SNI 01-7152-2006 B. Asarum europaeum L. var. asma. Sassafras albidum (Nutt.8. mengandung beta-asaron : 5065% dalam daun.) Moench. (Araceae). Daucus carota L.var.2 Fungsi lain Secara tradisional (etno-farmakologi) akar dari A.2 Minyak kalamus (mengandung 75% . Magnolia salicifolia Maxim (α asaron). 66 dari 122 ..5.3.p. (alfa asaron). B. Melalui destilasi air dapat diperoleh pula dari akar Asarum europaeum L.p.1 B. stimulan dan sebagai insektisida.3 Minyak acorus : . memiliki nama kimia : Isomer cis dari 2.pada mencit – i.5. vulgaris L. angustatus Bess (Acorus triqueter Turcz.andamanica (asaron).139 mg/kg bobot badan. B.339 mg/kg bobot badan.3 B.5. beta-asaron memiliki titik leleh 620C -630C (kristal jarum dari light-petroleum). .3.1. Piper sumatranum DC. (Aristolochiaceae).3. (asaron). cis-isoasaron.4% . asam asetat glasial dan tidak larut dalam air.1.2. 1.p.331 mg/kg bobot badan.pada mencit – i.571. eter.H=7. Ekstrak n-heksan dari rhizoma dan akar sebanyak 38%.5-trimetoksifenil) -1-propen.05%) Indeks nama CA: Bensen.pada tikus – oral LD50 = 4.1.5.3% dalam rhizoma kering.21%) . LD50 = 4. Helichrysum arenarium (L.pada tikus – oral LD50 = 1. LD50 = 1. mengandung beta-asaron 85-95% dalam rhizoma dan 4.5%) dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9).Linn (Acaceae) antara 75%-80%.1 Beta asaron (β – asaron). (β asaron). LD50 = 1. Indeks bias n11p = 1. (α asaron). Asarum arifolium Michx (α asaron).p.2±1.1.var. calamus digunakan sebagai obat kejang lambung.LD50 = (184.pada mencit – i. Piper lolot Dc.1 Kajian Keamanan Data toksisitas Akut (LD50) Beta-asaron: .).4. arisfolium L. beta-asaron adalah konstituen minyak kalamus yang diperoleh dari akar (rhizoma) kering Acorus calamus. B.4-trimetoksi-5(12)-1 profenil-(9 CI). Asarubacca camphor.5. B. larut dalam alkohol.var. TA-1535.4.). cis-β-asaron.4 Pengujian mutagenisitas dengan metode ames Pada 2-200 μg/plate tidak mutagenik terhadap Salmonella typhimurium galur TA-98.pada tikus – oral LD50 = 3.(asaron).& P.5. Acorus calamus L.5. Nomor CAS. calamus (Acorus calamus L. Acorus calamus L. TA100. Asarum camphor.3% dalam rhizoma kering. Dilaporkan juga asaron diketemukan dalam tumbuhan :Acorus gramineus Ait. 9-19% dalam rhizoma dan 0.pada tikus – i. Aktivitas mutagenik teramati pada 5000 mg/kg (0. disentri. 5273-86-9 Deskripsi Beta-asaron dengan sinonim Asarin.74% dan O= 23. .3. cis-asaron.3.80% beta-asaron) .) Ness (asaron). dan rumus molekul C12H16O3.0)mg/kg bobot badan. serta memiliki bobot molekul 208.25 (C=61.

0 mg beta atau alfa-asaron. Tak teramati efek teratogenik dari kalamus dan alfa asaron. Tidak ada efek terhadap toksisitas amfetamin. Disamping terjadinya tumor jenis leiomyosarkoma terjadi pula adenoma dan adenokarsinoma hepatoselular pada organ hati. dan Asarum Spp.5. Teramati pula atropi pada sel-sel otot jantung. Tumbuhan Acorus Spp. Disamping terjadi hiperaemia dan kongesti 67 dari 122 .3.00 mg/telur terjadi 100% embrio mati. selama 13-18 minggu pada tikus jantan dan betina menunjukkan penekanan pertumbuhan. hexobarbital dan etanol pada mencit atau ada efek hipotik-potensiasi. Toksisitas akut atau pemberian dosis tunggal beta-asaron secara oral pada tikus menunjukkan nilai LD50 1.2 mg/kg bobot badan.SNI 01-7152-2006 B. perubahan cairan serosa rongga perut dan kantung pleural. Efek kerusakan mikrokopik patologik pada hati dan jantung yang teramati berkorelasi dengan dosisnya. dengan dosis 10-100 mg/kg menunjukkan efek sedatif-penenang pada tikus.04 mg/telur menunjukkan embrio hidup 43% dan juga betaasaron 4. menekan aktivitas dan tonus otot mencit dengan penekanan terhadap aktivitas spontan. infiltrasi lemak dalam jantung.p.044. ginjal dan hati juga terjadi pada hewan yang menerima perlakuan. Minyak atsiri hasil destilasi dari akar dan rhizoma Acorus calamus var. mencit. Meningkatkan efek toksik dari metrazol pada tikus. perubahan hati dan ginjal serta adanya masa tumorus 1 jenis leiomyosarcoma dalam saluran cerna.p.1.6 mg/kg bobot badan. beta-asaron 50 mg/kg bobot badan secara i.5 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Telur diinokulasi dalam kantung vitelinum dengan 0. anjing dan kera. Dosis 10-150 mg/kg bobot badan secara i.04-0. yang bersifat hepatotoksik dan genotoksik.7 Studi pemberian berulang jangka panjang Pemberian beta-asaron selama 2 tahun dalam bentuk diet makanan (0.1.5. anjing dan kera. Indian dengan dosis 20-100 mg/kg bobot badan menunjukkan : a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Efek perpanjangan tidur oleh pentobarbital. infiltrasi lemak pada myokardium dan fibrosis jantung.p. Pada kucing teranestesi dengan dosis 1-32 mg/kg bobot badan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan denyut jantung. Pemberian secara i. B.15-15 mg minyak kalamus Eropa atau India. memperpanjang waktu tidur (2x) Natrium pentobarbital pada mencit dan dengan dosis 75 mg/kg bobot badan memperpanjang waktu tidur (dua kalinya) etanol pada mencit. Fibrosis kardiak/atropikardiak. minyak acorus dapat menginhibisi aktivitas enzim monoaminoksidase. Menurunkan suhu tubuh mencit.2 ml larutan yang mengandung 0.3. perubahan organ hati.6 Pemberian berulang minyak kalamus dan ekstrak hidro-alkohol dari rhizoma Acorus calamus yang mengandung beta-asaron. Hal ini menunjukkan induksi akibat gangguan fungsi jantung. Studi pemberian berulang jangka pendek B.37 mg/kg bobot badan. Sedangkan pemberian dosis tunggal secara intraperitoneal pada mencit menunjukkan nilai LD50 184. peningkatan mortalitas. Studi in vitro. atau minyak yang mengandung beat-asaron dan 0. kucing.25% betaasaron) pada tikus jantan dan betina menunjukkan peningkatan angka kematian. dan asam 1-dan d-amino amino aksidase pada hati dan ginjal tikus. perubahan cairan abdominal dan kantung pleural. hiperaemia pasif paru-paru.5.010 mg/kg bobot badan atau setara dengan pada manusia 161.1.3. setara dengan pada manusia 20. dimana mengandung beta-asaron yaitu minyak atsiri alkil benzen dapat menjadi bentuk metabolit epoksid oleh aktivitas enzim mikrosom hati. Dosis 25 dan 50 mg/kg bobot badan memberikan efek muntah pada kucing. beta-asaron dengan dosis 0.

2.2 oC. Apabila termakan. B. Memiliki cairan jenih. Benzil alkohol merupakan cairan yang mudah terbakar. Benzil alkolol mudah larut dalam etanol 50%.SNI 01-7152-2006 pada organ hati. Benzil alkohol mempunyai rumus kimia C6H5CH2OH.6 B. Benzil alkohol (benzyl alcohol). alpha-hydroxytoluene. barbau khas. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). kondisi ini ditemui pula pada organ lain.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan beta-asaron dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. gravitasi spesifik (suhu 25° C) 1.042 – 1. dengan batas maksimum dalam satuan (mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. berat molekul 108. Benzil alkohol telah dikaji keamanannya oleh JECFA pada tahun 2001 dan diputuskan bahwa dalam penggunaanya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.1 Benzil alkohol dengan sinonim benzenemethanol. refractive Index (suhu 20° C) 1.539-1. titik nyala (flash point) 100.539 – 1. Benzil alkohol dilaporkan terdapat secara alami di alam. metabolisme beta-asaron dalam tubuh masih terbatas pada tikus.6. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 41050 mg/l pada suhu 25° C.1 mg/kg). phenylmethyl alcohol. benzylic alcohol. indeks bias 1. eter dan CHCL3 tetapi agak sukar larut dalam air (4 g dalam 100 g air @ 25 oC). 68 dari 122 . B. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0.6. titik lebur -15. Studi tentang distribusi. Malaysia dan India melarang penggunaan beta-asaron dalam makanan. c) Langkah 3: Estimasi asupan Benzil alkohol di Eropa (16000 μg) dan di USA (17000 μg) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas I (1800 μg). pada manusia belum ada.3 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) pada hewan percobaan secara oral adalah 1040-3200 mg/kg bb dan secara peritoneal sebesar 1000 mg/kg dan 650 mg/kg dimana keracunan muncul setelah 7 hari. Nomor CAS. phenylmethanol. phenylcarbinol. dan makanan yang mengandung bumbu dalam jumlah kecil (batas maksimum beta-asaron 1 mg/kg).14. dan viksositas 5 cP (25 oC). terhisap atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan iritasi pada kulit.541. dan rasa yang menyengat. Nilai ADI 0-5 mg/kg bb.541 pada suhu 20 oC. Benzil alkohol diperoleh melalui peranan katalis pada benzil klorida.5 oC (open cup).5. pengecualian pada minuman beralkohol dan sebagai bumbu (1 mg/kg).047.6 oC : 13. titik didih 205 0C. alpha-toluenol digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan carrier solvent. b) Langkah 2: Benzil alkohol diprediksi dapat dimetabolisme menjadi produk innocuous. bercampur dengan etanol. Titik asap >212° F. mata dan mempengaruhi sistem syaraf pusat.6.2 Fungsi lain Tidak ada B. Kajian keamaan dilakukan oleh JECFA menggunakan Prosedur Evaluasi Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkahlangkah sebagai berikut: a) Langkah 1: Benzil alkohol tergolong ke dalam struktural kelas I (Cramer). 100-51-6 Deskripsi B. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. tekanan uap 10 mm Hg @ 92. Sementara Australia dalam Australian Food Standard Code mengatur betaasaron sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg.6oC (closed cup) dan 104.

ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman sebesar 400 mg/kg (chewing gum 1254 mg/kg). Adenoma paru-paru dan leukemia terjadi setelah mencit diberi pakan yang dicampur dengan Benzo[a]piren 250 mg/kg selama 140 hari. Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. 3.7. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Sebagai konstituen alami dalam edible fruits 5 mg/kg. dan cara pemberian lain. Benzo[a]piren menyebabkan: Tumor pada perut. Leukimia Dosis oral 6-12 mg/kg bb menimbulkan leukemia setelah 100 hari atau lebih. 50-32-8 Deskripsi B.4 JECFA menyatakan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.30. titik leleh 179-179. dosis 250 atau 1000 mg/kg menyebabkan papiloma dan karsinoma perut.4. pemberian secara inhalasi dan atau intratrakeal.2. pemberian subkutan.5. benzil akohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).7. Benzo[a]piren (benzo[a]pyrene).36.p.p). Benzo[a]piren merupakan karsinogen. dan 6. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batasan 500 mg/kg pada produk pangan. teh hijau 1-30 mg/kg.3 Kajian keamanan Toksisitas LD50 pada mencit adalah 250 mg/kg bb (i. dan 6 mg/kg bb menyebabkan tumor pada perut setelah 43 minggu dengan jumlah yang berbeda bergantung pada dosis. - 69 dari 122 . titik didih >360 0C. teh hitam 1-15 mg/kg. B. Pengaturan B.351 g/ cm3.Benzopyrene..7 B.dan kerapatan 1.2 Fungsi lain Tidak ada B. 1. Pemberian 100 mg/kg bb.. i.1 Benzo[a]piren dengan sinonim 1. 0 C.6. Benzo[a]piren yang diberikan langsung ke dalam perut pada dosis 0.Benzopyrene memiliki rumus molekul C20H12 . Nomor CAS.SNI 01-7152-2006 d) Langkah 4: Benzil alkohol dapat dimetabolisme langsung menjadi asam benzoat yang merupakan senyawa endogenous pada manusia. USA menyatakan bahwa benzil alkohol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS no 2137.7. Kedua dosis tersebut menimbulkan tumor perut masing-masing pada 100% dan 25% mencit setelah pemberian pakan selama lebih dari 85 hari. Apabila dicampurkan ke dalam pakan. terutama menyebabkan tumor lokal pada berbagai spesies setelah pemakaian pada kulit. menyebabkan adenoma paru-paru setelah sekitar 6 bulan. a) Pada mencit. Tumor pada paru-paru. JECFA no 25. berat molekul 252.7.Benzopyrene. dan atau intramuskular. implantasi intrabronkial.

dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. toksisitas akutnya (LD50) terhadap mencit adalah 25 mg/kg bb. 2. 2086-83-1 Deskripsi Berberin dengan nama kimia 5. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan berberin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (0.4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan berberin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. terjadi papiloma perut setelah pemberian 2-5 mg/hamster selama 1-5 bulan. Berberin sulfat larut dalam 100 bagian air. B. sesak napas.6a}quinolizinium mempunyai rumus molekul C20H18NO4 dengan bobot molekul 336.6-Dihydro-9.1 mg/kg). Dosis 120 mg/kg bb/hari yang diberikan pada mencit bunting menimbulkan toksisitas uterus dan kerusakan janin.10-dimethoxybenzo-1. gangguan saluran pencernaan.2 Fungsi lain Tidak ada B.37 dan titik leleh 1450C.8 B. untuk itu penggunaan berberin harus dihindari bagi wanita hamil. dan kerusakan jantung. Kelarutan berberin basa di dalam air lambat.3-benzodioxolo{5. Benzo[a]piren (100 mg/ tikus.5 mg/tikus menimbulkan papiloma oesofagus dan perut pada tikus jantan dan betina.4-Benzo[a]piren) pada produk akhir makanan. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengatur bahwa perisa tidak boleh berkontribusi lebih dari 0. Nomor CAS. EC (European Commission) membatasi keberadaan Benzo[a]piren hasil penambahan flavoring pada makanan dan minuman (0. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0. dalam 60 hari) menyebabkan tumor kelenjar susu.8.8.1 Berberin (berberin).8.3 Kajian keamanan Dosis yang tinggi dapat menyebabkan tekanan darah menurun. 70 dari 122 . Kebanyakan tanaman yang mengandung berberin dapat merangsang uterus. B. Pada hamster.4 JECFA membatasi penggunaan Benzo[a]piren tidak melebihi 0.03 ppb (3. dan tejadi papiloma dan karsinoma setelah pemberian 6-9 bulan.1 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol (10 mg/kg). Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.03 mg/kg). Selama 8-12 bulan.8. oral. Pengaturan c) d) e) B. Untuk berberin sulfat.SNI 01-7152-2006 b) Pada tikus jantan. Benzo[a]piren bersifat embriotoksik dan teratogenik pada mencit. Pemberian 150 mg/kg bb pada mencit bunting menyebabkan imunosupresi yang dapat berkembang menjadi tumor.7. gejala seperti flu. Malaysia melarang penggunaan berberin dalam makanan.01 mg/kg dalam smoke flavoring (perisa asap). B.

Tonka bean mengandung komarin. Nomor CAS. Tonkabohne. Komarin mengganggu sintesa vitamin K pada bagian pencernaan manusia. Tonka bean digunakan sebagai pengganti rasa pahit dari almon. akan hamil dalam waktu dekat.2'-Oxybisethanol.2'-Diydroxyethyl ether. 2. Tonkowiec wonny.1 Kajian keamanan Efek penggunaan biji tonka Menghambat atau menghentikan pembekuan darah dan berfungsi sebagai antikoagulan.9. Ethanol. larut dalam air. custard dan soufflé. Biji tonka juga sering digunakan sebagai senyawa perisa pada rokok.10 B. pada dasarnya tidak berbau. Tonquin bean. tidak larut dalam air. Dactivator E. DEG. Glycol ethyl ether.beta'-Dihydroxydiethyl ether.4 Pengaturan India. Tonkaboon. Tonkabønne.10. Tonka kini semakin jarang digunakan karena adanya komarin yang bersifat toksik dan karsinogenik. Orinoco (bagian utara Amerika Selatan). terutama digunakan di negara-negara yang penggunaan rasa pahit almon dilarang. beta. Komarin dapat dikeluarkan dari biji tonka dengan cara merendamnya dalam alkohol selama 24 jam. B. Fabae Tonco. Tonkapapu. Nomor CAS. Biji tonka yang beraroma manis dan kuat digunakan sebagai senyawa campuran pada perdagangan vanili ataupun produk vanili.3. Glycol ether. B. 2.5-diol. 3-Oxapentane-1.TL4N. Kandungan komarin dapat mencapai 10%. Bob tonka.2'-Oxyethanol. Dihydroxydiethyl ether. Biji tonka dilaporkan ditambahkan pada bebrapa makanan seperti adonan cake atau cookies. 2. B. 2.9. Dicol. Nama lain dari dietilen glikol adalah Ethylene diglycol.2'oxydi-. digunakan sebagai carrier solvent. Biji tonka dimasukkan dalam daftar senyawa perisa yang dilarang. Tonka bean memiliki titik nyala 142 °F. Penggunaan tonka bean akan mengakibatkan kelebihan berat badan bagi penggunanya.2 Peringatan Jangan menggunakan biji tonka apabila anda sedang hamil. 2. Dietilen glikol (diethylene glycol). TOHKa. Tonkas pupinas. Fèves de tonka. pembekuan darah terganggu.9. sedang menyusui.3 B.9. dan kini dibudidayakan pula di daerah Venezuela dan Nigeria. Tonco bean. walnut atau poppy.9 B.9. Biji tonka (Coumarouna odorata) berasal dari daerah Guayana. Diglycol. tidak berwarna. mobile.1 Dietilen glikol berwujud cair. stabil.SNI 01-7152-2006 B. Cumaru. Akibat kekurangan vitamin K. dan Singapura melarang penggunaan biji tonka sebagai perisa dalam produk pangan. Bis (2-hydroxyethyl) ether. Semená stormov rodu mempunyai rasa manis dan sangat kuat.2'71 dari 122 . Tonkaoa puu. Kajian toksisitas biji tonka secara ilmiah belum ada. 8024-04-2 Deskripsi Biji tonka dengan sinonim Coumarouna odorata. Lõhnav dipteeriks.3. permen berbahan baku kelapa. memiliki cairan jernih.2 Fungsi lain Biji tonka digunakan sebagai pengganti vanila pada produk makanan seperti es krim. Dissolvant APV. Semen Tonco. cairan kental seperti sirup. 111-46-6 Deskripsi B. B. dan bayi dan anak-anak.1 Biji tonka (tonka bean).9.

10. menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak. ureter dan empedu). menyebabkan Cyanosis pada paru-paru. grafitasi spesifik 1. Selain itu jika diinjeksi dalam kuantitas besar dapat membahayakan. menyebabkan berkurangnya aktifitas.118 @ 20/20oC. tekanan uap < 0. menyebabkan paru-paru. Dietilen glikol memiliki rumus kimia C4H10O3. indeks bias 3.1 Data toksisitas akut (LD50) Pada tikus – inhalasi = 130 mg/m3/2 jam.10. torak dan sistem pernafasan menjadi kronik.3. Dietilen glikol tidak secara langsung diserap oleh kulit.p = 9719 mg/kg. Pada anjing . Apabila terhirup dapat menyebabkan sakit pada hidung dan kepala. hati.5-pentanediol. berat molekul 106. ginjal. perubahan hati. ureter dan empedu.2 Fungsi lain Tidak ada. hati. B. Dapat diusulkan dilarang sebagai perisa di Indonesia. dan dalam kasus yang ekstrim dapat berakibat fatal. dan perubahan Metabolic acidosis. B. Pada orang dewasa = 0.2 Secara oral pada tikus dengan dosis 1752 gm/kg/2 tahun .1 mm Hg @ 20oC (68oF). diperkirakan dietilen glikol tidak memiliki resiko kanker pada manusia. titik beku – 8 oC (18oF). Karsinogenisitas dan studi toksisitas dalam jangka panjang B. tubules dan glomeruli ginjal. B. Toksisitas akut (LD50) pada kelinci: >2g/kg.oral = 2300-23700 mg/kg. 72 dari 122 .66 pada suhu 20oC. Pada anak (oral) = 2400 mg/kg. ureter dan empedu).i. 584 gm/kg/2 tahun. sementara itu pada konsentrasi 2% dan 4 % menyebabkan kerusakan ginjal yang lebih parah. Sedikit beracun untuk binatang melalui penyerapan kulit.1.SNI 01-7152-2006 Oxydiethanol atau 3-Oxa-1.3. Pada mencit . ginjal.75 mg/kg.3. Pada mencit .3 Kajian keamanan Berdasarkan data dari hewan percobaan dalam jangka panjang. sesak pada sistem pernafasan. Percobaan terhadap ransum makanan tikus menunjukkan kerusakan ginjal pada tingkat sedang pada konsentrasi 1 %. B. menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak. Dietilen glikol tidak menyebabkan terjadinya mutasi gen dan tidak merintangi reproduksi pada hewan percobaan.10. menyebabkan perubahan degeneratif pada otak.10. torak atau sistem pernafasan. Pada konsentrasi 2 % dan 4 % dapat menyebabkan tumor pada empedu tikus dikarenakan adanya pengendapan kalsium oksalat yang menimbulkan iritasi secara mekanik namun bukan sebagai efek dari kanker.3 Hasil evaluasi Di beberapa negara material ini dilarang digunakan sebagai perisa pada makanan. Dietilen glikol ini akan dicoba untuk dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. titik didih 245oC (473 oF) @ 760 mmHg. perubahan pada limpa kecil.10. 890 gm/kg/53 minggu menyebabkan tumor pada empedu.2 g/kg secara oral oleh manusia menyebabkan kematian dikarenakan kerusakan ginjal dan limpa. Pada dosis 1.oral = 9900 mg/kg.

apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip.11.0 ml/kg bb.2 Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya Data mengenai metabolisme senyawa ini belum banyak. gangguan pada sistem reproduksi. titik didih 196-202 °C.1 – 5. intravena dan intraperitoneal. Untuk keperluan evaluasi ini diambil LD50 yang dihasilkan dari percobaan secara oral. Pada manusia.SNI 01-7152-2006 B. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia. teratogenisitas.4 ml/kg bb dan 3.4 Pengaturan Malaysia dan India melarang menggunakan material ini sebagai perisa pada makanan. Berbagai percobaan yang meliputi uji jangka pendek.11. tekanan uap pada 25 °C adalah 19 mmHg.3. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus.11.3-10. apakah pada kondisi penggunaan. tidak berwarna.10. subkutanus. etilen diglikol dan nama kimia 2-(2-etoxi)-etoxietanol merupakan cairan higroskopis. B. Penentuan kelas struktur kimia B.3.5 μg per hari.2. B.3 Kajian keamanan Evaluasi keamanan dietilen glikol monoetil eter dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM. Nomor CAS. Organ yang paling rentan adalah hati dan ginjal.1 Nama kimia menurut ”Chemical abstract”: 2-(2-etoxi)-etoxietanol. carbitol enkanol. jangka panjang/karsinobesisitas.11 Dietelen glikol monoetil eter(diethylene glycol monoethyl ether). asupan senyawa lebih besar dari 1. Bagian Standardisasi. tikus dan marmut berkisar antara: 6. ADI belum dapat ditentukan. senyawa ini diekskresi dalam urin dalam bentuk (2-etoxietoxi) asam asetat (Kamerling et al 1977).6 – 12. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. etildigol. Fellows et al. penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya. alkohol dan sebagian minyak.11. B. Dietilen glikol monoetil eter memiliki rumus molekul C6H14O3 dengan bobot molekul 134.5 ml/kg bb. LD50 pada mencit. 1947 melaporkan penelitian metabolisme pada kelinci dan hasilnya menunjukkan adanya reaksi konjugasi dengan asam glukoronat sebanyak 0. dan titik nyala 96 °C. yaitu mempunyai struktur intermediat dan belum ada data lengkap yang menunjukkan adanya pembentukan metabolit reaktif dalam proses metabolismenya dalam tubuh. berturut-turut. B. Berdasarkan struktur kimia kemungkinan senyawa ini masuk dalam kategori kelas struktur II. Berfungsi sebagai pelarut pembawa perisa.1 Deskripsi Diethylene glycol monoethyl ether dengan sinonim ethyl diethylene glycol. larut dalam air. 5. 73 dari 122 .2 Fungsi lain Pelarut pada parfum.8-2. LD50 untuk senyawa diperoleh dari beberapa penelitan yang meliputi berbagai cara pemberian termasuk secara oral.11.3% dari dosis yang diberikan sedang sebagian besar mengalami reaksi oksidasi. Etil eter dari dietilen glikol. 111-90-0 B.

asupan senyawa lebih besar dari 1. ‘64 *Berdasarkan perhitungan: 0.1 Rangkuman data NOEL dietilen glikol monoetil eter yang diperoleh dengan cara oral Hewan percobaan Mencit Tikus Tikus Tikus Ferret Babi Tikus Catatan Cara pengujian Uji jangka pendek idem idem idem idem idem Uji jangka panjang Nilai NOEL (mg/kg bb/hari) 850-1000 410 800 250 2* 167 200 Ref Gaunt et al.5 μg per hari.4 Pengaturan Malaysia melarang menggunakan senyawa perisa ini pada makanan. Tabel B. Rangkuman data NOEL dapat dilihat pada tabel berikut ini.SNI 01-7152-2006 genotokisitas.4% etilen glikol. akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus. B. Akan tetapi keberadaan dietilen glikol sebagai akibat carry over penggunaan pelarut pembawa perisa dapat mencapai 1000 mg/kg makanan. hematologi.3. sehingga prinsip evaluasi untuk senyawa yang terdapat dalam jumlah sedikit tidak berlaku untuk dietilen glikol. India juga melarang menggunakan material ini sebagai pelarut pada perisa. B.4 Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus. B.11.11. ’68 Butterworth et al.3. 74 dari 122 . sitotoksik. ’68 Smyth et al. B.11.6 per hari Apakah pada kondisi penggunaan. 0.3.11.11.5 Apakah kondisi penggunaan senyawa masih berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip dalam margin aman Data NOEL untuk senyawa ini ada beberapa dan diperoleh dari berbagai cara pengujian biologis pada beberapa spesies hewan percobaan.5 ml/kg bb/hr. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa senyawa ini menghasilkan metabolit yang berbahaya.’75 Gaunt et al. dan iritasi telah dilakukan dengan menggunakan beberapa spesies hewan. B.3. Sebagian besar hasil percobaan menunjukkan adanya gangguan kesehatan.3 Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak Penentuan ini belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia maupun di negara lain. ’66 Gaunt et al. ’83 Smyth&Carpenter ’48 Hall et al.5 μg Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1.

Menimbang adanya gangguan kesehatan yang ditunjukkan oleh berbagai hasil penelitian pada beberapa spesies hewan percobaan dengan berbagai cara uji maka penggunaan dietilen glikol harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif dan dibatasi penggunaannya. Langkah 4: data NOEL (150 mg/kg bb/hari ([NTP 1993]) dari dihidrokomarin adalah 1000 kali lebih besar dari estimasi intake dihidrokomarin sebagai perisa di Eropa (24 μg/kg bb/orang) dan di USA (19 μg/kg bb/hari).12. B. melilotic acid lactone merupakan substansi perisa yang digunakan dalam industri perisa. 119-84-6 Deskripsi Dihidrokomarin dengan sinonim 1.SNI 01-7152-2006 B.11.2-benzodihydropyrone.4-dihydro-2H-1benzopyran-2-one.3 Kajian keamanan Dihidrokomarin telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. USA menggolongkan dihidrokomarin termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS No.4dihydro-2-chromanone.188 dan kelarutan dalam air (dalam perhitungan) pada suhu 25 °C adalah 11540 mg/l. Diputuskan bahwa evaluasi keamanan dilakukan melalui sisi B dari prosedur. Langkah B3: asupan dari dihidrokomarin di Eropa (1415 μg/orang/hari) dan di USA (1111 μg/orang/hari) melebihi ambang batas untuk kelas III yaitu 90 μg. Dihidrokomarin terdapat secara alami di alam.12 B.1 Dihidrokomarin (dihydrocoumarin).2 Fungsi lain Tidak ada.1 Kesimpulan Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan dietilen glikol sudah cukup.12. gravitasi spesifik 1. 3. Pengaturan B. data untuk penentuan intake (asupan). Diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.4 JECFA memutuskan dihidrokomarin sebagai perisa dengan tingkat estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).4. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) d) Langkah 1: dihidrokomarin tergolong ke dalam struktural kelas III. India dan Thailan melarang penggunaannya sebagai substansi perisa. data batas aman (threshold). 2H-1-benzopyran-2-one. Sebaliknya. dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). 3. dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).12. Langkah 2 : dihidrokomarin tergolong kedalam kelas kimia aromatic fused lactones dimana data metabolisme yang tersedia masih terbatas. B. 75 dari 122 . JECFA No.12. Dihidrokomarin memiliki titik titih 272 °C. ortho-hydroxydihidrocinnamic acid lactone. termasuk data NOEL. titik leleh 22 °C. 2381. Dihidrokomarin diperoleh dengan cara reaksi reduksi komarin menggunakan katalis nikel. dan data asupan per hari belum ada. 1171. B. titik asap >200 °F. Nomor CAS.

B.13.2-methylenedioxy-4-propyl-.SNI 01-7152-2006 B.1 Uji standard draize Pemberian dosis 500 mg/24 jam dengan cara dioles pada kulit pada kelinci terjadi reaksi sedang.2-methylenedioxybenzene.13.13.3 Data Toksisitas akibat Pemberian Dosis Berganda = 78750 mg/kg/15W-I (kematian). dihydro-.2 Fungsi Lain Tidak ada. Nomor CAS.oral pada mencit . Dihydrosafrol mempunyai RCRA waste number U090. B.13.4 Data tumorigenisitas pada mencit .toxic dose (other that lowest) = 163 g/kg/81W-C (tumor pada paru-paru.3benzodioxole.3. pada tikus-pengerat – oral pada mencit .3 Kajian keamanan B. thorax. Pada tikus – oral (LDLo.5 Berdasarkan kajian tersebut. Kesimpulan B. B.Lowest published toxic dose) B. senyawa dihidrosafrol dimasukkan dalam daftar dilarang digunakan sebagai perisa.5-propyl-1.3. B.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaan dihidrosafrol sebagai perisa. 94-58-6 Deskripsi Nama lain dari dihidrosafrol adalah Benzene.3.2 Data toksisitas akut (LD50) = 2260 mg/kg bb.oral pada kelinci – dermal B. 4-propyl-1.3.13. 76 dari 122 . = 3700 mg/kg bb.13.13.13. pada mencit-oral (TD.1 Dihidrosafrol (dihydrosafrole). hati dan alat respirasi). 1.toxic dose (other that lowest) = 101 g/kg/81W-C (tumor gastrointestinal dan liver). = 2830 mg/kg bb. = > 5 mg/kg bb. pada mencit-oral (TD.oral (TDLo-Lowest published toxic dose) = 101 g/kg/81W-C (tumor pada gastrointestinal dan liver).3.13. safrole.13 B. Terjadi gangguan iritasi pada kulit dan mata.

) dalam beberapa penelitian menunjukkan aktivitas penekanan biosintesa prostaglandin dan eksositosis PAF. Tetapi dapat menghasilkan efek samping antara lain tukak lambung. ekspektoran. dsb.SNI 01-7152-2006 B. rektum.14.3. Solanum dulcamara. tetapi bisa menimbulkan efek imunodepresan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa buah yang matang berwarna merah mengandung jumlah racun yang sedikit dan amat jarang meracuni anak-anak.1) yang tercatat beracun. mulut. antinyeri. Ekstrak herbanya mengandung saponinsteroidal yang menunjukkan efek Cortisone-like.2 Fungsi lain Dulkamara merupakan simplisia batang. dulcamarin. Tumbuhan ini. Solanin telah terbukti menyebabkan gastroenterosis. merupakan simplisia batang dan cabang kering Solanum dulcamara L. banyak meracuni hewan ternak dan domba. Solanum dulcamara mengandung racun glikoalkaloid yaitu solanine dan amorphous glucoside dulkamarin. dan sakit pada kepala.–Solanaceae.14. Dulkamara digunakan sebagai serbuk atau ekstrak dari simplisia batang. Simplisia ini di dalam sediaan obat tradisional dicampur dengan berbagai simplisia-simplisia lain. Peranannya dalam makanan mungkin sebagai peningkat fungsi makanan dalam pengobatan atau kesehatan karena berbagai khasiatnya tersebut. perut. nigrum dimasukkan kedalam tumbuhan racun. Kandungan dari semua bagian tumbuhan dulkamara ini dinyatakan beracun karena adanya solanin dan alkaloid-alkaloid lain turunannya. dulcamaretic acid. Glikoalkaloid sangat susah diserap dari saluran gastrointestinal namun dapat menyebabkan iritasi 77 dari 122 . Di dalam pengobatan tradisional (etnofarmakologi). dyspnea. Bagian alkaloid dari glikoalkaloid secara umum dikenal sebagai aglikon. alat genital dan gangguan respirasi sebagai batuk.1 Dulkamara (dulcamara) solanum dulcamara Deskripsi Dulkamara dengan sinonim Bittersweet. Douce-Amere. tercatat atau termasuk kedalam tumbuhan yang dapat merugikan (tidak aman). antireumatik. Dulkamara atau Solanum dulcamara tergolong ke dalam kelas Solanaceae dikenal pula dengan nama Bitter Nightshade. senyawa yang berguna dalam mekanisme pertahanan tanaman terhadap serangan berbagai patogen seperti virus. B. Alkaloid ini terutama terkandung dalam buah (berries) yang belum matang. Glycoalkaloid tersebut juga beracun terhadap manusia dan hewan. Kegunaan dalam makanan sebagai perisa tidak jelas.14. Berbagai jenis tanaman kentang mengandung glycoalkaloids. (Solanaceae). Simplisia ini mengandung Solaniceina ± 1%.ferox dan S. ferox dan S. Dulkamara banyak digunakan dalam sistem pengobatan alternatif homeopati. Tercatat di dalam ekstrak herbanya terkandung senyawa steroidal saponim yang menunjukkan efek seperti hormon kortison (Cortisone-like). Dulcamerae Caulis.14. telinga. tachycardia. B. bakteri. pada mata. Woody nightshade. Aktivitas ini berhubungan dengan khasiatnya sebagai antidemam. ini digunakan dalam pengobatan eksem kronis. Semua bagian tanaman ini (Solanaceae) mengandung senyawa solanin (C45H73NO15 /BM 868.14 B.3 B. dulcumaric acid. cabang atau herba yang digunakan sebagai obat tradisional (etnofarmakologi) untuk berbagai penyakit atau mengatasi berbagai banyak gejala seperti vertigo. cabang atau herba dari tanaman Solanum dulcamara L. serta S. Efek herba tumbuhan ini (Solanum dulcamara L. nigrum dinyatakan sebagai tumbuhan beracun. vertigo dan cramps.1 a) b) c) Kajian keamanan Toksisitas d) e) f) Secara etnofarmakologi Solanum dulcamara beserta S. fungi dan serangga. muka. Scarletberry.

diare. Memiliki cairan tidak berwarna. isoanethol. B. titik nyala (flash point) 81 oC . berbeda dari anetol. Nomor CAS.SNI 01-7152-2006 g) h) saluran gastrointestinal. dyspnea. sakit perut.2.522.517-1. Daftar ini pernah dimuat pada jurnal Health Foods Bussiness pada tahun 1978 namun sejak tahun 1986. Estragol (estragol). pusing.3. Hasil evaluasi B. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 84. rapid weak pulse. rapid breathing. itchy neck dan drowsiness. Estragol diperoleh dengan cara proses destilasi dari turpentin.14. dan titik didih 216 oC. Penekanan terhadap biosintesis prostaglandin dapat menginduksi terjadinya tukak lambung .2 Fungsi lain Tidak ada 78 dari 122 .1 Estragol dengan sinonim chavicyl methyl ether.960 – 1. gravitasi spesifik (25 oC) 0. kegunaannya sebagai perisa tidak jelas. Estragol terdapat secara alami di alam.14.3 Berdasarkan khasiatnya terhadap tubuh. p.524. Aglikon dapat diserap dan dipercayai bertanggunjawab atas observed nervous system signs. dan penelitian keamanan belum lengkap.15 B. Solanum alkaloid adalah cholinesterase inhibitor yang menyebabkan neural function impairment dalam bentuk hyperesthesia.14.allylanisole. muntah-muntah. Nama kimia dari estragol adalah 4-Methoxy-1-(2 propenyl) benzene. Estragol memiliki rumus kimia C10H12O. Secara tradisional. dulkamara dinyatakan sebagai tumbuhan beracun. delirium dan akhirnya koma. aroma mirip dengan adas.15. Kajian keamanan lainnya B. berat molekul 148. dikelompokkan sebagai tumbuhan beracun. Penggunaannya di dalam pengobatan tradisional secara homeopati dengan dosis sangat kecil. halusinasi. minimal dua negara melarang.2 a) b) c) d) e) Kandungannya memberikan efek-efek berbahaya mirip dengan atropin (antikholinergik) yang dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh. 140-67-0 Deskripsi B. Pada manusia keracunan alfa-solanin dan alfa-charconin dimulai dengan gangguan gastrointestinal. kemudian dilanjutkan dengan neurological disorders.3.55 mg/l pada suhu 25 oC. 1-methoxy-4-(2—propen-1-yl). Diusulkan dulkamara dilarang sebagai perisa di Indonesia. Data-data toksisitas khusus lainnya serta data dalam tubuh manusia belum ada (belum lengkap). FDA tidak lagi menganggap daftar ini sebagai kebijakan regulasi dan diabaikan. larut dalam etanol dan klorofom. pada keracunan dalam dosis tinggi menyebabkan penurunan tekanan darah. Kandungan steroidal-saponim yang beraktivitas cortisone-like dapat menekan sistem imun tubuh. US FDA sebelumnya pernah m ke dalam daftar FDA : Unsafe poisonous herbs. demam.4 Pengaturan Singapura dan Inggris melarang dulkamara sebagai perisa. indeks refraktif (20 oC/D) adalah 1. B. methyl chavicol digunakan sebagai substansi perisa di industri.15.

Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2411. US FDA mengizinkan (CFR 172.3. namum dikarenakan kekurangan data.4 Pengaturan Estragol sebagai konstituen alami dalam edible fruit 5 mg/kg.1 Uji bakterial 1-hydroxyestragol tidak menunjukkan mutagenisitas pada hati (Drinkwater. Data-data toksikologi yang tersedia belum cukup untuk melakukan kajian menentukan ADI.15.23 g/kg. India melarang menggunakannya pada perisa. minuman tidak beralkohol 10 mg/kg. al.23 g/kg pada tikus secara oral. teh hijau 1-30 mg/kg.tikus – i.26 g/kg. B. permen 36 mg/kg. = 5 g/kg. Estragol tidak memiliki aktivitas sitotoksik dalam melawan sel HeLa (Stoichev.515). Minyak estragon (undiluted) menyebabkan iritasi dan kerontokan pada bulu mencit (Urbach & Forbes. = 1.3. .15. asupan rata-rata 7072 µg/hari.25 g/kg dan 1. 1977).10.mencit – i.. JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat.82 g/kg. Estragol kurang berpotensi dalam menghambat tumor jika dibandingkan dengan delta-9tetrahydrocannabinol (Nichols et.p B. 1976). 1972). = 1.SNI 01-7152-2006 B.5. = 1.2 μmol yang diberikan pada mencit menyebabkan peningkatan karsinoma hepatoselular (Drinkwater.03 g/kg. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Estragol pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669).3. Komite Eropa meminta tambahan studi jangka panjang untuk melakukan evaluasi potensi karsinogen dilakukan sebelum ADI dapat ditentukan. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi.15.3 Data toksisitas akut (LD50) = 1. ikan kaleng 50 mg/kg. USA : FEMA GRAS 2411. 1973). 79 dari 122 . = 1. ADI belum dapat dialokasikan. FDA 21 CFR 172.mencit – oral . JECFA telah mengkaji pada tahun 1980 dan 1981.515 . B. Toksisitas akut (LD50) pada mencit 1. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.2 Uji patch tertutup Minyak estragol 4% dalam petrolatum tidak menyebabkan iritasi setelah 48 jam pada manusia (Kligman. teh hitam 1-15 mg/kg.3 Kajian keamanan Dosis estragol 2.tikus – oral .15. 1967). produk bakar 41 mg/kg.p .p pada mencit menunjukkan efek perpanjangan tidur oleh hexabarbital narcosis dan zoxazolanin paralysis (Fuji et al. Dosis tinggi 150-600 mg/kg dapat bersifat karsinogenik. ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman beralkohol 100 mg/kg. Substansi perisa ini terdapat secara alami di berbagai herbal dan rempah selain disintesa.4 Toksisitas subkronik Dosis 605 mg/kg secara oral pada tikus menyebabkan kerusakan minor pada hati. ADI 0-5 mg/kg bb.25 g/kg.40. 1970). 1976). B.4 dan 5. EC (European Commission): penambahan dengan sengaja dilarang (Jerman dan Denmark).kelinci – dermal .15. lemak dan minyak 250 mg/kg. Dosis estragol dan metabolit 1-hydroxy sebesar 4.3. B.tikus – dermal .160 dan 640 mg/kg secara i. es krim 11 mg/kg. permen karet 50 mg/kg.515).15.

SNI 01-7152-2006

B.16 B.16.1

Etil-3-fenil glisidat (ethyl-3-phenyl glycidate), Nomor CAS. 121-39-1 Deskripsi

Etil-3-fenil-glisidat dengan sinonim asam glisidat; 3-fenil etil ester; ethyl phenylglycidate(EPG); ethylα,β-epoxy-β-phenylpropionate; ethyl 3-phenyl-2,3epoxypropionate; ethyl 3-phenylglycidate; ethyl β-phenylglycidate; 3-phenyl-ethyl esteroxiranecarboxylic acid merupakan perisa sintetik dan belum terdeteksi terdapat di alam. Nama kimia menurut International Flavor and Fragrance (IFF) adalah Etil-3-fenil glisidat. Etil-3-fenil glisidat memiliki rumus molekul C11H12O3 dengan berat molekul 192, berat jenis (relatif d20/4) 1,121-1,127, indeks refraktif (NaD 20 0C) 1,515-1,520. Titik asap >200 °F, grafitasi spesifik (pada suhu 25 °C) 1,120 – 1,125, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 320,1 mg/l pada suhu 25 oC. Etil fenil glisidat diperoleh dengan cara mereaksikan benzaldehida dengan etil ester dari asam monokloroasetat dengan menggunakan alkaline condensing agent. B.16.2 Fungsi lain

Tidak ada B.16.3 Kajian keamanan

Evaluasi senyawa ini telah dilakukan dengan menggunakan uji Ames, uji Basc pada Drosophila melanogaster dan uji mikronuklei (Wild et al 1983). Senyawa ini mempunyai rasa buah strawberi dan manis. Evaluasi keamanan etil-3-fenil glisidat dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM, Direrktorat Standardisasi Produk Pangan. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia; penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya; penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak; penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus; apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL atau senyawa yang mirip; apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Decision tree

B.16.3.1 a)

Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya. Berdasarkan hasil penelitian Wild et al (1983), etil 3-fenil glisidat memberikan hasil positif dengan uji Ames, sedangkan kerabatnya, etil 3-metil 3-fenilglisidat memberikan hasil positif pada uji Ames dan uji Basc pada drosifila. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemungkinan senyawa ini bersifat karsinogenik ada. Data pada manusia belum ada. Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia.

b)

Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus, akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus.

80 dari 122

SNI 01-7152-2006

c)

Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. Data NOEL dan asupan senyawa ini tidak tersedia sehingga margin amannya tidak bisa ditetapkan.

d)

Apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 µg per hari.

B.16.3.2

Kajian toksikologi

JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji etil fenil glisidate pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669), namun karena data evaluasi toksikologi yang ada tidak memuaskan komite, ADI belum dapat dialokasikan. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515). Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2454. JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.16.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. US FDA mengizinkan penggunaan etil-3-fenil glisidat (CFR 172.515). JECFA telah mengkaji senyawa ini pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh US FDA sebagai perisa (21 CFR 172.515) dengan FEMA GRAS No. 2454 yaitu batas penggunaan dalam minuman (4.6 mg/kg), es krim dan es (12 mg/kg), permen (18 mg/kg), baked good ( 20 mg/kg), gelatin dan puding (10 & 70 mg/kg). India melarang penggunaannya. B.17 B.17.1 Eugenil metil eter (eugenyl methyl ether), Nomor CAS. 93-15-2 Deskripsi

Eugenil metil eter atau 4-allyl-1,2-dimethoxybenzene atau allylveratrole atau 4-allylveratrole atau 1,2-dimethoxy-4-(2-propenyl)- benzene atau 2-dimethoxy-4-allylbenzene atau 3,4dimethoxyallylbenzene atau 1,2-dmethoxy-4-(2-propenyl)benzene atau eugenol methyl ether atau eugenyl methyl ether atau methyl eugenol atau methyl eugenol ether atau veratrole methyl ether digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. Eugenil metil eter terdapat secara alami di alam. Eugenil metil eter memiliki titik didih 254,7°C, berat jenis 1,0396 pada 20°C, titik nyala >200°F, titik leleh 4°C, indeks refraksi 1,532, grafitasi spesifik 1,034 – 1,037 pada 20°C. Eugenil Metil Eter diperoleh dengan cara metilasi dari eugenol. B.17.2 Fungsi lain

Tidak ada B.17.3 B.17.3.1 Kajian keamanan Toksisitas akut = >640 mg/kg bb; = 1560 mg/kg bb;
81 dari 122

pada mencit-i.p pada tikus-oral

SNI 01-7152-2006

-

pada kelinci-dermal

= >5000 mg/kg bb.

B.17.3.2 a)

Toksisitas subkronik

b) c) c)

Dosis 0, 10, 30, 100, 300 atau 1000 mg/kg bb eugenil metil eter dalam 0,5% methylselulosa pada tikus jantan dan betina menunjukkan bahwa tikus tesebut masih bisa bertahan meskipun terjadi penurunan berat badan secara signifikan. Pada dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hepatoselular. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina terjadi kolestasis sehingga mengubah fungsi hepatik, hipoproteinemia, dan hipoalbuminemia. Dosis 300 dan 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina, bobot hati menjadi 100, 300 dan 1000 mg/ kg pada tikus jantan dan 1000 mg/kg pada tikus betina serta testis jantan 1000 mg/kg. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina juga menyebabkan gastritis athropik, sedangkan dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hipertropi kortikal kelenjar adrenal. NOEL ditetapkan pada dosis 30 mg/kg bb/hari. Toksisitas kronik/ Karsinogenisitas

B.17.3.3 a)

Total dosis 42,4 mg/kg bb secara i.p pada mencit jantan (58 mencit yang diberi perlakuan dan 58 kontrol) meningkatkan secara signifikan hepatomas mencit (96% tikus yang diberi perlakuan dan 41% kontrol). Hal ini menunjukkan bahwa eugenil metil eter memiliki aktivitas hampir sama dengan metabolit 1’hidroksi. (Miller et al., 1983). Tikus jantan yang diberi dosis 150 dan 300 mg/kg/hari mati sebelum uji ini selesai, sedangkan pada tikus betina yang diberi dosis 150 mg/kg/hari masih bisa bertahan. Berat badan tikus dan mencit jantan dan betina menurun dibandingkan dengan kontrol. Pada semua dosis pada tikus dan mencit terjadi neoplasma hati, hepatoadenoma, hepatokarsinoma, hepatokholangioma (hanya pada tikus), hepatokholangiokarsinoma, dan hepatoblastoma (hanya pada mencit). Terjadi pula kerusakan pada glandular tikus dan mencit serta tumor ganas neuroendokrin. Terbukti bahwa egenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada tikus jantan dan betina galur F344/N berdasarkan terjadinya peningkatan kerusakan neoplasma hati, tumor neuroendokrin pada perut glandular. Selain itu terjadi pula peningkatan kerusakan pada neoplasma ginjal, fibroma dan fibrosarkoma pada tikus jantan (NTP). NTP menyimpulkan pula bahwa eugenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada mencit jantan dan betina galur B6C3F1 berdasarkan adanya peningkatan kerusakan neoplasma hati. Dosis terendah (37 mg/kg bb/hari) memberikan efek karsinogen (meningkatkan secara signifikan karsinoma hepatoselular pada mencit jantan dan betina). Genotoksisitas

b)

c)

d)

e)

f)

B.17.3.4

B.17.3.4.1 Invitro Eugenil metil eter tidak mutagenik terhadap Salmonella typhymurium galur TA98, TA100, TA1535, TA1537 dengan atau tanpa penambahan aktivitas metabolik (S9) secara eksogenus (NTP TR 491). Selain itu eugenil metil eter juga tidak mutagenik terhadap S. typhimurium dan Escherichia coli WP2 galur uvrA dengan dan tanpa aktivitas metabolik (S9) (Sezikawa et al., 1982). Eugenil metil eter dapat pula menyebabkan rekombinasi intrakromosal pada Saccharomyces cerevisiae dengan dan tanpa aktivitas metabolik (Schiestl et al., 1989). Analog jenuh dan monofluoro dapat menurunkan aktivitas genotoksik pada S.
82 dari 122

SNI 01-7152-2006

cerevisiae (Brennan et al., 1996). Eugenil metil eter, 1’-hydroxymethyleugenol dan 2’3’epoxymethyleugenol menyebabkan Unscheduled DNA Synthesis (UDS) pada hepatosit tikus (Chan dan Caldwell, 1992). Metabolit 1’-hydroxy sebagai penyebab paling kuat UDS. B.17.3.4.2 In vivo

Teramati bahwa eugenil metil eter, mutasi gen beta-katenin menyebabkan karsinoma hepatoselular pada mencit 20/29 (Devereux et al., 1999). Aktivitas gen beta-katenin, dengan deregulasi subsekuen transduksi sinyal Wnt, ditetapkan sebagai kejadian awal secara kimiawi yang menyebabkan karsinogenesis hepatik pada mencit. Hal ini mengindikasikan bahwa eugenil metil eter sebagai genotoksik potensia. B.17.3.4.3 Kajian keamanan lainnya

Eugenil metil eter sebagai inhibitor kuat terhadap enzim mikrosomal hepatik. Eugenil metil eter dengan dosis 100 mg/kg dapat memperpanjang waktu tidur (72%). Eugenil metil eter merupakan senyawa multisite, multispesies karsinogen Eugenil metil eter pada tikus dan mencit menyebabkan jenis tumor yang berbeda atau disebut sebagai tumor neuroendokrin pada perut glandular. Teramati pada dosis lebih rendah (37 mg/kg bb/hari) pada tikus dan mencit menyebabkan tumor hati. Dosis tinggi eugenil metil eter (sekurang-kurangya 30 mg/kg bb selama 25 hari) auto-induksi 1’hydroxylation oleh sitokrom P450, dengan formasi karsinogen proksimat 1’hydroxymethyleugenol. Eugenil metil eter dengan 2 metabolitnya yaitu 1-hydroxymethyleugenol dan 2’,3’-epoxymethyleugenol menyebabkan UDA (Unscheduled DNA Synthesis) secara in vitro. Eugenil metil eter membentuk DNA adduct baik secara invitro maupun in vivo, hampir sama dengan safrol dan estragol. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Eugenil metil eter pada tahun 1980 (TRS648) dan tahun 1981 (TRS669); walau demikian dikarenakan data yang belum lengkap, (hasil 90 hari studi atau tes jangka panjang), ADI untuk senyawa ini belum dapat dialokasikan. JECFA akan mencoba untuk mereview senyawa ini menggunakan prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.17.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization on The Flavour Industry) tidak membatasi. JECFA (Joint Expert Committee of Food Additive) telah mengkaji eugenil metil eter pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515), dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2475 yaitu penggunaan dalam makanan sebesar 10 mg/kg, es krim dan es (4,8 mg/kg), permen 11 mg/kg), baked good (13 mg/kg), dan jeli (52 mg/kg). India melarang eugenil metil eter sebagai perisa. Etil metil keton (ethyl methyl ketone), Nomor CAS. 78-93-3 Deskripsi

B.18 B.18.1

Etil metil keton dengan sinonim butan-2-one, 2 butanone, methyl ethyl ketone, MEK digunakan di dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan extraction solvent. Etil metil keton terdapat secara alami di alam. Etil metil keton memiliki titik didih <40 °F, berat jenis 0, 802, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 76100mg/l diukur pada suhu 25 °C. Etil metil keton diperoleh dengan cara oksidasi dari sek-butanol. B.18.2 Fungsi lain

Tidak ada
83 dari 122

548-04-9 Deskripsi Hiperisin dengan sinonim hypericum red merupakan sintesa dari bromoemodin trimetileter.20%. (v) spektrum absorpsi dan fluorosensinya ada.6. Langkah III: Asupan dari etil metil keton di Eropa (110 μg) dan USA (36 μg) tidak melampaui ambang batas (threshold) untuk kelas I yaitu 1800 μg.44/504. (1. O = 25.7’-heksahidroksi-2. II8-biapigenin (amentoflavone).5’. absorpsi sekitar 600 nm dalam DMSO 1μg/ml.3% minyak esensial.18. α-pinenes dan monoterpen lain).4’.11-dimetil fenantro.05-0. kuersitrin dan rutin : biflavon yaitu I3. India melarang penggunaannya dalam substansi perisa.8 opqra) perylene-7. Pengaturan B.278. dengan karakteristik merupakan derivat Napthodianthrone yang secara umum dikenal dengan nama hypericins. dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2170 yaitu batas penggunaan pada minuman (70 mg/kg). etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (No safety concern). protohypericin.9.19.19 B. B.4 EC dan IOFI tidak membatasi.3 Kajian keamanan Etil metil keton telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. Nama kimia hiperisin adalah 1.5 larutan berwarna merah diatas pH 11. John’s Wort) golongan senyawa acy’phloroglucinols (derivat phloroglucin) yaitu yang utama adalah hyperforin (0.8.45. es krim dan es (270 mg/kg).perforatum juga mengandung glikosida flavonol khususnya derivat dari hiperosid.13-heksahidroksi-10.37%.10. a) b) c) Langkah I: Etil metil keton tergolong kedalam struktural kelas I. n-alkanes. H= 3. eksitasi pada 337 nm. JECFA memutuskan bahwa penggunaan etil metil keton sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern) dengan JECFA No.5. tannin 10%. Secara umum kelas senyawa ini dapat diserap melalui saluran gastrointestinal.1 Hiperisin (hypericin) Nomor CAS. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (no safety concern). Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. (iii) tidak larut dalam berbagai pelarut organik umum. larut dalam larutan air alkalis dibawah pH 11. sejumlah cukup procyanidin dan fenil propan.515). II8-biapigenin dan 13’.3. cyclo pseudohypericin Disamping senyawa diatas.SNI 01-7152-2006 B.. tumbuhan H. 4.-Hypericaceae.4. (iv) larut dalam DMSO.18. Hiperisin memiliki rumus molekul C30H16O8 dan berat molekul 504.43%. Langkah II: Etil metil keton diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa inncuous. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Kajian Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah langkah sebagai berikut.7. Juga diketemukan (St.14-dione. Hiperisin merupakan isolasi dari Hypericum perforatum L. 84 dari 122 . secara organoleptik meliputi (i) rekristalisasi dari pyridin + metanolik HCl berupa kristal jarum biru-hitam dengan dec 3200 (ii) mudah larut dalam piridin dan pelarut basa organik lain menghasilkan larutan merah cherry dengan flurosensi merah. permen dan baked good masing-masing 100 mg/kg. Sifat kimia. dengan kandungan C=71. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.2’dimetil naftodian-tron. yang terdiri dari hypericin dengan pseudohypericin yaitu isohypericin.5 berwarna hijau dengan fluoresensi merah.

pengecualian pada permen pastilles (permen penyegar pernafasan) (1 mg/kg) dan minuman beralkohol (2-10 mg/kg). d) Terhadap sistem kardiovaskular.1 mg/kg).19. Terjadinya reaksi foto sensitifitas sebelah mungkin terutama pada kulit dan dalam terapi dengan obat fotosensitifitas lain (klorpromazin.3 Kajian keamanan Reaksi Daya toksisitas (LD50) < 500 mg/kg.Mempunyai aktivitas antiviral terhadap HIV-1. digunakan dalam terapi (tradisional) keadaan depresi dan cemas (ansietas).Sebagai antiflogistik (antiradang).2 Fungsi lain Hiperisin dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif pengobatan tumor prostat secara terapi fotodinamik.19.1 mg/kg). e) Sebagai medisin popular (etnofarmakologi/herbal medicine): . . yang diduga dengan menghambat fosfodiesterase. cytomegalovirus. diantaranya: a) Terhadap keadaan depresi dan cemas. perlu perhatian.19. HSV-1 dll. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.Beberapa ekstrak H. . Secara klinis efek ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitian. f) Tolerabel Efek terhadap fertilitas dan fungsi reproduksi. Australia dan New Zealand dalam artikel FSANZ menetapkan hiperisin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 2 mg/kg. minuman (0.. b) Dalam Merck Index dinyatakan sebagai katagori terapi antidepresan.Sebagai diuretik yang diduga karena aksi beberapa flavonoid. perforatum memberikan alergi hipotensif melalui efek vasodilatasi perifer. tetrasiklin).perforatum pada kehamilan atau perkembangan postnatal.4 CAC dan EC tidak membolehkan penambahan dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. kontraksi otot polos fibrosel arteri tereduksi. Malaysia melarang penggunaan hoiperisin dalam produk pangan. Penggunaan selama kehamilan tetap perlu hati-hati dan pertimbangan nilai risk dan benefit terapinya. Batas maksimum dalam komoditas pangan (0. Sedangkan India membatasi penggunaan hiperisin yang terkandung secara alamiah dan tidak boleh melebihi 1 mg/kg. Kombinasi dengan MAO inhibitor terjadi interaksi. . B. fotodinamik dari quinonnya perlu perhatian dan dapat menyebabkan gangguan kulit serta iritasi lambung. Toksisitas pada aktivitas biologi. Tercatat H. . dengan batas maksimum dalam mg/kg produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.Sebagai antidiare karena aksi astringen dari tannin. Aktivitas ini muncul langsung sebagai efek virusidal dan terhadap virus setelah sensitisasi dengan cahaya UV. 85 dari 122 .SNI 01-7152-2006 B.perforatum juga ditunjukkan beraktivitas antibakterial terhadap bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis. c) Sebagai simplisia Hypericum perforatum. Tercatat pada subjek sensitif terjadi iritasi gastrik. belum tercatat adanya efek negatif dari penggunaan H. kemungkinan karsinogenik/teratogenik. Pengaturan B.

kelarutan dalam alkohol 90% 1:8.2– (Metilendioksi)-4-(1’-propenil) benzen.3-benzodiaksol.20.47 g/kg bb pada tikus : 1. Dalam minyak daun Juniper virginiana.60C .20.7 – 6. produksi pestisida sinergis dan hidrosafrol.1206. berbau ada dengan berat jenis 1. bp100 = 179. Bentuk trans (beta-isosafrol) berbentuk cair dengan bau adas.4-Metilendioksi-1-propenilbenzen. merupakan reaksi metabolisme utama: 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi.2 Fungsi lain Sebagai bahan perantara dalam produksi heliotropin.2 a) Toksisitas subkronis dan pemberian berulang Pemberian 10 g isosafrol per kg bobot badan tikus dalam makanan menunjukkan penghambatan pertumbuhan pada tikus jantan maupun betina tak ada tikus yang hidup 86 dari 122 . serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%) : UV max = 326.22% .4 – (Metilendioksi)-propenilbenzen.2’epoksiisosafrol dan 1’-hidroksisafrol. O=19. Nomor CAS.8 0C. bp34 = 85-860C. Isosafrol merupakan cairan tidak berwarna.(1’-propenil) benzen. titik leleh mp = 8. 4.8% . terkandung 6% isosafrol.20.dihidroksi – 4 .Propenilbenzen.73%.SNI 01-7152-2006 B. sebagai fragran kosmetik. bobot jenis d204 = 1. rotasi optik : n20D = 1.5691. tidak terhidolisa dan cenderung ada dalam air tanah.2Metilendioksi – 4. dapat terkonsentrasi dalam organisme air. sehingga memungkinkan berdampak pada lingkungan.1 Data toksisitas akut (LD50) Dosis Letal 50% (LD50) oral pada mencit : 2.20. H=6.5 . 2 .5782. B. 2 . 1.dihidroksi – 4 . B. 3. Penelitian menunjukkan isosafrol sebagai induktor beberapa enzim hati sitokrom P-450 dalam rogent.20.3 Kajian keamanan Studi in vitro dengan sel epitel hati tikus diketemukan metabolit utama isosafrol adalah senyawa 1’. serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%): UVmax = 305. disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1. Isosafrol berasal dari alam sebagai komponen utama dari minyak esensial adas (star anise) dan juga dalam jumlah kecil ada dalam minyak esensial bumbu (spices) lain.(1’-propenil) benzen. Dalam jumlah kecil dicampur dengan metil-salisilat dalam root beer dan perisa sarsaparila. titik leleh 6. Isosafrol terbebaskan selama proses pembuatan minyak esensial tersebut. titik didih 2520C.2’-dihidroksiisosafrol dan dalam jumlah sedikit senyawa 1’. B. bp20 = 135. Isosafrol yang terbebaskan ke tanah.1 Isosafrol (isosafrole). 267 dan 259. penguat pewangi sabun. 120-58-1 Deskripsi Isosafrol dengan sinonim 5-(1-Propenil)-1. 3.122 pada 200C (campuran rasemik). Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan diketemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam. merupakan reaksi metabolisme utama : 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi. 1.50C. rotasi optik : n20D = 1.20 B.18 dengan kandungan C=74.50C. memiliki titik didih bp760 = 2530C . Bentuk cis (alfa-isosafrol) berbentuk cair dengan titik didih bp35 77-790C.3.2-metilendioksibenzen merupakan derivat propenilbenzen dengan rumus molekul C10H10O2 dan berat molekul 162.20C. B.Propenil-1.34 g/kg bb. Dalam parfumeri memodifikasi pewangi oriental.5 nm. titik leleh : mp -21. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan ditemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam. 259 nm. disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol.2’-dihidro-1’.3.

4 a) In Vitro Isosafrol (cis/trans isomer 19. kemudian 517mg/kg bb dalam diet makanan sampai usia 82 minggu : teramati pada mencit galur pertama dan kedua terjadinya tumor sel hati pada populasi 5/18 mencit jantan dan 1/6 mencit betina dan 2/17 mencit jantan dan 0/16 mencit betina.SNI 01-7152-2006 setelah pemberian 11 minggu. limfoma pada populasi 1/18 jantan dan 0/16 betina. hipertropi ringan sel hati. B. dan 1/17 jantan dan 0/16 betina. selama 3 minggu. menunjukkan: Pada dosis kecil (1000 mg/kg bb) terjadi penekanan pertumbuhan tikus betina. pembesaran dan kehilangan kekenyalan normal hati. Pemberian injeksi s. tak nampak tumor lokal pada usia 18 bulan. TA 1535. tidak menginduk UDS dalam kultur hepatosit tikus. Tidak teramati aktivitas hepatokarsinogenik pada mencit jantan B6C3F1 yang diberikan secara injeksi i. estragole dan methyleugenol.. Ditunjukkan organ hati yang membesar.2%) tak menginduksi mutasi gen Salmonella typhimurium TA 98.p dosis tunggal campuran cis-trans isosafrol (52%-48%) atau 90% trans/10% cis-isomer sebesar 122mg/kg bb mencit pada usia 12 hari dan dibunuh pada usia 10 bulan. Diketemukan pula 2/3 tikus mati selama percobaan. nekrosis dan fibrosis dan tingkatan kecil metamorfosis lemak hati dan proliferasi saluran empedu. Pada dosis 5000 mg/kg bb terjadi penekanan pertumbuhan pada tikus jantan dan betina. hiperplasia tiroid ringan dan terjadi nefritis kronis. Pemberian diet 1000. pembesaran hati dengan hipertropi sel hati dan pembentukan nodul.3 a) Toksisitas kronis Studi pada dua galur mencit F1 (C57BL/6 x C3H/Anf dan C57BL/6 x AKR) yang diberi dosis oral 215 mg isosafrol/kg bb pada usia 7-28 hari. 2500 dan 5000 mg isosafrol/kg bb tikus Osborne –Mendel selama 2 tahun.20. hipertropi dan terbentuk nodul-nodul. menyebabkan lesi pada hati dengan tanda-tanda pemucatan warna. TA 100. b) Formasi DNA (DNA adduct formation) Dengan menggunakan petanda 32P dipelajari dalam hati mencit betina yang diisolasi 24 jam setelah pemberian ip 2 dan 10 mg isosafrol per ekor mencit. serta ditemukan tumor di testes. sedangkan tikus kontrol tetap hidup.3. Pada dosis 2500 mg/kg terjadi hiperplasia ringan tiroid.3.05) dibandingkan kontrol pada mencit galur (C57BC/6 x C3H/Anf) F1 jantan dan betina.7%/78. 3 mg isosafrol (dalam trioktanoin) per tikus. c) Pemberian oral pada tikus Osborne-Mendel muda sebesar 500 mg isosafrol/kg bb sehari selama 41 hari menyebabkan kematian sebesar 80% dan dosis 250 mg/kg bb selama 34 hari sebesar 20%. tumor paru-paru pada populasi 3/18 jantan dan 1/6 betina. tak terdapat tumor hati. b) Pemberian oral 460 mg isosafrol/kg bb tikus selama 4 hari. Teramati terjadinya hipertropi hati.c. Juga negatif terhadap “Bacillus subtilis DNA repair tes” tanpa S9. Terjadinya tumor hati ini secara bermakna (P=0. Studi genotoksisitas (mutagenisitas) b) c) B. dan 0/17 jantan dan 0/16 betina.20. Perlakuan ini hanya menunjukkan ikatan rendah pada DNA hati mencit dengan pembentukan 2 utama DNA adduct dalam N2. Berbeda dengan safrol. TA 1537 atau Echerichia coli WP 2 uvr A dengan atau tanpa S9.posisi dari guanin ikatan rendah dengan DNA dinyatakan oleh nilai 87 dari 122 .

10. B.1. Nomor CAS. EC (Europe Commission) mengatur penggunaan isosafrol dengan batas yang ditentukan yaitu pada makanan dan minuman 1 mg/kg dan minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% alkohol sebesar 2 mg/kg. petrohol. Isopropil alkohol merupakan cairan jernih tidak berwarna.4 IFA (International Fragrance Association) menyatakan bahwa total konsentrasi isosafrol dalam produk pangan siap kondumsi tak kurang dari 0.3749. atau fermentasi beberapa karbohidrat. Sifat toksisitasnya: .Pharm.induksi enzim hati sitokrom P-450. alcohol isopropylicus (Ph.20. India.3. dimety carbinol. US FDA.01%.60C / 4250C. Pengaturan B.1 Absorpsi Isopropil Alkohol Isopropil alkohol dapat diabsorpsi secara baik melalui salura cerna.09-60. eter. etil eter.3776. 67-63-0 B. berbau seperti campuran alkohol-aseton. Isopropil alkohol mudah terbakar. Singapura. dapat tercampur dengan air. titik asap 52 °F.5-12.pemakaian makanan yang mengandung isosafrol yang tidak terkontrol jumlah dan lamanya memungkinkan terjadinya pemasukan isosafrol secara berulang dan terjadi kumulatif yang bisa menimbulkan efek toksik.7 0C (Close Cup). USP 25). dimetylcarbinol.20. 13 0C (Open Cup). isopropanol. suhu autoignition 3990C / 455.Eur. 2-propanol.0 % v/v di udara. jarak destilasi 81-830C.5 0C.5 a) b) Kesimpulan Kemungkinan tercemar dalam air tanah dan termakan. 1-metylethanol.gangguan fungsi hati atau hepatotoksik pada pemakaian berulang (subkronis).34 g/kg bb. Malaysia. Keberadaannya dalam darah lebih lama daripada alkohol. Isopropil alkohol terdapat secara alami di alam. Isopropil alkohol (isopropyl alcohol).LD50 oral pada mencit/tikus 2.47 /1. 2-hydroxypropane.SNI 01-7152-2006 covalent binding index (CBI) sebesar 1 untuk isosafrol dibandingkan estragol dan metileugenol yang bernilai 30. n25D = 1. Berat molekul 60. 16 0C (Lar. B. IV-1995. titik didih 82.4%).21. carrier solvent dan substansi perisa. Isopropil alkohol digunakan sebagai extraction solvent . . Tekanan uap pada –25 °C adalah 44 mmHg.). gliserin dan etil alkohol. sec-propyl alcohol.21 B. dan Thailand melarang penggunaan isosafrol sebagai perisa. mudah terbakar. Viskositas 2.78 pada 200C.786 mg/ml atau 0. .783 – 0. titik leleh – 88. destilasi uap 2. Nama kimia adalah propan-2-ol (golongan hidrokarbon alifatik alkohol. Explosive limit 2. Isopropil alkohol dibuat dari profilen yang diperoleh dalam proses kraking petroleum atau reduksi katalitik aseton.sifat hepatokarsinogen walaupun kecil. . psedopropyl alcohol. Azeotrop dalam air / 87.1 Deskripsi Nama bahan isopropil alkohol adalah isopropyl alcohol (Farmakope Ind. Index Refraksi : n20D = 1. daya keterbakarannya tingkat 3 (The National Fire Protection Ass.eksresi melalui ginjal sebagai metabolit. Juga diabsorpsi secara baik melalui paru-paru dan mukosa rektal. Nama lainnya adalah isopropanol (J. . BP. Rumus molekul C3H8O.43 cP pada 200C.-2001). .21.40C (760 mm Hg). mudah menguap. berat jenis 0. – 2002). petrohol.1. IPA. Titik nyala 12 0C – 11. propyl alcohol secunder. Isopropil alkohol dimetabolisme menjadi aseton dalam hati oleh enzim alkohol dehidrogenase 80% dari jumlah yang terabsorpsi tereksresi melalui ginjal dalam bentuk 88 dari 122 .

Tetapi tetap perlu perhatian.80 g/kg.oral) Berdasarkan data-data ini sebagai senyawa toksisitas sedang (LD50 = 0. = 6.21.21.48 g/kg.5-5 g/kg).09 g/kg. Batas konsentrasi inhalasi letal terendah pada tikus adalah 12. Langkah 2: Isopropil alkohol termasuk ke dalam endogenous compounds atau diprediksikan dapat dimetabolisme menjadi senyawa innocuous.3.74 g/kg.4 Adanya efek akut maupun kronis dengan berbagai gejala yang mirip alkohol dengan toksisitas 2-3 kali lebih kuat. juga diekskresi melalui saluran napas. = 5.5–5 g/kg). termasuk efek toksik sedang (0.oral) pada kelinci . B.05 g/kg.3 B. B. = 12. Pada langkah A4 diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.3.iv) pada tikus .oral pada kelinci .ip) pada tikus . B. Langkah A3: Intake dari Isopropil alkohol yaitu 99 mg (Eropa) dan 10 mg (USA) lebih besar dari threshold for human intake untuk kelas I (1800 µg). = 1.3 Data toksisitas akut pada berbagai hewan dengan berbagai cara pemberian antara 1. Data toksisitas akut (LD50) = 4. = 2. Dalam pembuatan makanan sebagai pelarut.21. hasil kajian per tahapan dari isopropil alkohol adalah sebagai berikut. a) b) c) d) Langkah 1: Isopropil alkohol digolongkan ke dalam struktural kelas I.2 Fungsi lain Dalam dunia farmasi digunakan sebagai pelarut/pengekstraksi dan desinfektan tapi tidak untuk pemakaian obat. dan efeknya terhadap organ penting (sistem syaraf) serta tercatat berefek fetotoksik pada hewan uji. pengekstraksi dan antifreeze. Dengan menggunakan diagram prosedur kajian keamanan substansi perisa yang disusun oleh Munro. Ekskresinya ini lambat. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamannya (no safety concern). = 1. kelinci). Kajian dilanjutkan ke langkah A4. = 3. Aseton akan dioksidasi menjadi asetat.3.iv) pada tikus . Bentuk isopropil alkohol juga mengalami konyungasi glukoronida dan diekskresikan melalui urin. Langkah A4: Isopropil alkohol merupakan komponen endogenous hasil metabolisme asam lemak dan karbohidrat. = 4. B.000 mg/kg dalam 8 jam.21.2 - pada anjing .51 g/kg.21.kulit pada mencit .1 Kajian keamanan Kajian toksikologi Isopropil alkohol telah dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dengan hasil No Safety Concern pada current intake level.oral pada mencit .SNI 01-7152-2006 aseton dan 20% dalam bentuk tetap.41 g/kg (oral.8 g/kg.ip) pada mencit . format dan CO2. B.6 g/kg.41 g/kg.3.21.09 –6. 89 dari 122 .

SNI 01-7152-2006 B. menjadi faktor peningkat efek toksiknya.Tertelan menyebabkan sakit saluran cerna.8 Campuran dalam air. khususnya dalam depresi sistem syaraf pusat (SSP). . Pemakaian obat sangat terbatas dibandingkan dengan makanan yang lebih luas (banyak) pemakaiannnya.Bahaya terhadap reproduksi: Belum ada penelitian pengaruhnya terhadap sistim reproduksi.21. pecah-pecah.6 Absorpsi yang cepat melalui saluran cerna dan ekskresinya yang lambat. Efek tersebut meliputi penekanan konsentrasi dan memori.21.Kanker (isopropil alkohol adalah karsinogen). perubahan personalitas. sukar tidur.3. drawssines.12 Penelitian pada tikus menunjukkan efek fetotoksik bukan teratogenik.21. dapat menyebabkan hemolisis dan denaturasi sempurna eritrosit (sel darah merah).3.21. tetapi tak melalui efek euphoria. B. lelah.Iritasi pada mata. dimana terjadi penghambatan pertumbuhan awal. Penambahan larutan NaCl 0. 90 dari 122 .13 Catatan efek membahayakan Isopropil alkohol tercatat berpengaruh pada kesehatan manusia. . depresi SSP.Pengaruh efek lama/kronis lain terhadap kulit menjadi kering.3. Efek fetotoksik terbukti pada hewan.10 Penelitian hewan menunjukkan isopropil alkohol adalah iritan terhadap mata dan selaput mukosa.Tak perlu dievaluasi lagi pengaruhnya terhadap kerusakan otak dan saraf. Efek yang terjadi setelah beberapa waktu terpanjang isopropil alkohol. kolaps dan kematian.3. analogi dengan pada manusia. B. . B.dan sampai koma dan kematian. B. B. B.21. .9 Gejala/sifat toksisitasnya mirip dengan etil-alkohol tetapi 2-3 kali lebih kuat.3. gangguan kordinasi. gangguan kordinasi. mual. B.21.. .3. a) Efek Akut. gangguan saraf organ internal.9% hanya dapat mencegah hemolisis pada kandungan isopropi lalkohol kurang dari 8%.Pada kulit menyebabkan rash atau rasa terbakar. Efek isopropilalkohol yang muncul segera (tidak lama) setelah terpajan: .11 Tikus yang diberi isopropil alkohol secara oral 6 mg/kg menunjukkan kenaikan trigliserida dalam hati.3.21. dan saraf lengan dan kaki.3.Terpajan banyak menyebabkan sakit kepala.7 Kegunaannya sebagai perisa tidak esensial (ada bahan pengganti lain).5 Pada pemakaian bidang farmasi (obat) saja hanya digunakan sangat terbatas tidak untuk obat dalam dan hanya sebagai pelarut dalam pembuatan sediaan obat. yang kemudian dihilangkan (diuapkan). b) Efek Kronis. muntah . B. .3.21. tetapi bukan berarti tak ada efek.21. sampai setelah beberapa bulan-tahun: . hidung dan kerongkongan. karena beberapa pelarut dan senyawa kimia petroleum telah menunjukkan efek kerusakan tersebut.

3. 76-78-8 Deskripsi Kuasin adalah diterpen lakton.1 Kuasin (quassin). Sedangkan yang berasal dari Picrasma excelsa (Sw) Planch mengandung isokuasin. B. B. Kulit tanaman Quassia amara L.22. 1981) dan hasil residu yang rendah setelah penggunaannya (SCF. atau kecuali digunakan dalam pengolahan saja dengan syarat harus dihilangkan/diuapkan kembali dan tidak terkonsumsi langsung. Kuasin dari Quassia amara L.1. ACGIH : 400 mg/kg untuk 8 jam kerja dan STEL : 500 mg/kg (Short term exposure limit).21. dan Picrasma excelsa (Sw) Planch (famili: Simarubaceae).21. kecuali dalam minuman alkohol sampai 50 mg/kg dan dalam permen (lozenges) sampai 10 mg/kg. Tahun 2002 CEFS mengevaluasi batas ini kembali tetapi pembatasan 91 dari 122 . mengandung campuran kuasinoid yang pahit yang terdiri dari kuasin. kegunaannya sebagai perisa bukan utama (dapat diganti dengan bahan lain yang lebih aman) dan dua negara yang tercatat melarang sebagai perisa. dan 800 mg/kg tak lebih untuk 15 menit kerja.) Planch disebut juga kuasia sedang ekstrak “quassia“ disebut “quassin”atau kuasin. NIOSH: 400 mg/kg untuk maksimum 10 jam kerja.22. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamananya (no safety concern). Nama lain kuasin adalah (+)-Quassin.21.22 B.22. Hasil evaluasi B. Nomor CAS. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additive) menyatakan bahwa penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.4 Pengaturan European Community (Health & Consumer Protection Directorate-Generale) – 21 Februari 2003. US FEMA GRAS 2929. dapat diterima dengan dasar : “temporary acceptabledaily intake” = 0 . Ekstrak bitter wood . Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batas maksimum 1000 mg/kg pada produk pangan. neokuasin dan 18hidroksikuasin.SNI 01-7152-2006 B.2 Fungsi lain Tidak ada.5 mg/kg bw (SCF. yang dikenal juga dengan nama pikrasmin. Secara komersial ada dua sumber kuasin yaitu Quassia amara L. Senyawa ini digunakan dalam minuman.3 Kajian keamanan CEFS tahun 1981 membatasi penggunaan kuasin dalam makanan dan minuman sebesar 5 mg/kg. memutuskan penggunaan isopropil alkohol sebagai pelarut/pengekstraksi betakaroten dari Blakeslea trispora untuk makanan. B.15 Berdasarkan berbagai efek isopropil alkohol terhadap tubuh khususnya terhadap sistem syaraf pusat. Diusulkan tidak digunakan sebagai perisa di Indonesia yang terkonsumsi langsung.3. 1991 a).14 a) b) c) Batasan pajanan di tempat kerja OSHA: The legal airborne permissible exposure limit (PEL) = 400 mg/kg untuk maksimum 8 jam kerja. Kuasin adalah senyawa terpen lakton yang berasa sangat pahit dengan derajat kepahitan 50 kali kuinin. permen dan kue-kue karena rasa pahitnya. Sedangkan ekstrak kuasin atau ekstrak quassia memiliki naman lain Quassin. atau Picrasma excelsa (Sw. B. Nigakilactone D. Diberi nomor 277.

Oleh karena itu. 92 dari 122 . ekstrak Quassia diizinkan digunakan dalam minuman sampai 3. Pada sel Leydig secara in vitro. termasuk data untuk penentuan intake (asupan). apakah pada kondisi penggunaan.1mg/kg berat badan (Raji and Bolarinwa. Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuasin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. data batas aman (threshold). asupan senyawa lebih besar dari 1. namun data mengenai toksisitas alat reproduksi cukup banyak. dinyatakan bahwa tidak ada data mengenai penyerapan.1997). shandy (50 mg/kg).4 mg/kg sedang dalam kue-kue sampai 50 mg/kg (Hall and Oser.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (Europe Commission) membolehkan penambahan kuasin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Evaluasi keamanan kuasin akan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM. Bagian Standardisasi. Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. Tidak ada data mengenai toksisitas kronis seperti karsinogenisitas dan genotoksitas. Malaysia mengatur penggunaan kuasin boleh ditambahkan pada makanan tertentu dengan batas maksimum yang telah ditentukan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy (5 mg/kg). 1965). Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: penentuan kelas struktur kimia. hormon luitenising dan hormon stimulasi folikel serum. minuman beralkohol. pastilles (10 mg/kg). Disimpulkan bahwa senyawa yang paling berperan sebagai antifertilitas adalah kuasin. Data pada manusia belum ada. 1963). sifat metabolit. pangan olahan (5 mg/kg). pada minuman beralkohol sampai 3. 1963).SNI 01-7152-2006 penggunaan masih belum berubah. pada tikus jantan. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. data toksisitas untuk evaluasi keamanan kuasin belum cukup. metabolisme dan ekskresi senyawa ini. . Dari laporan CEFS on Food on Quassin. distribusi. sampai saat ini penggunaan kuasin masuk harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif.4 mg/kg. Tidak terdapat tanda-tanda toksisitas akut pada dosis sampai 1000 mg/kg ekstrak air kuasia. Selanjutnya Raji and Bolarinwa (1997) melaporkan aktifitas antifertilitas ekstrak Quassia amara L yang mengandung quassin dan alkaloid 2methoxycanthin-6-one.. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.1995). Pemberian ekstrak kuasia sebanyak 100 mg/kg/hari pada induk tikus bunting menyebabkan jumlah kelahiran anak tikus yang lebih sedikit (Margaria. Penurunan terlihat juga pada jumlah sperma dan kadar testosteron. akan tetapi tidak ada data kandungan kuasin. Kemampuan menghamilkan pada tikus betina juga menjadi turun secara nyata. Dengan demikian. minuman (5mg/kg) pengecualian hanya pada pastiles ( lozenges) 10 mg/kg dan minuman beralkohol (50 mg/kg).5 µg per hari. epididimis dan vesikel seminal yang diikuti dengan pengingkatan kelenjar pituitari anterior. data NOEL dan data asupan per hari. Secara umum disimpulkan ekstrak quassia menyebabkan infertilitas pada tikus jantan dan selanjutnya pada betina dan ditentukan LOEL sebesar 0. terlihat penurunan berat testis. ekstrak metanol Quassia amara L menghambat sekresi testosteron (Njar et al. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. July 2002. Setelah 8 minggu percobaan. B. Di USA.22. Toksisitas sub akut tidak terlihat sampai dosis 50 mg/kg/hari selama 8 minggu (Margaria. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. (Garcia et al.1997). Batas maksimum pada komoditas pangan (5 mg/kg). Nilai NOEL belum ada. penentuan ada tidaknya pruduk metabolisme yang berbahaya.

130-95-0 Deskripsi Nama lain kuinin adalah Quinidine. Kajian toksisitas kuinin memperlihatkan bahwa (i) Pemberian terendah 1425 mg/kg pada tikus secara oral berpengaruh terhadap reproduksi yaitu terjadi pertumbuhan secara statistik pada kelahiran baru dan berpengaruh juga terhadap kelahiran baru secara fisik. Quindine. nefritis interstisial pada ginjal. βquinine. Kuinin memiliki bobot molekul 324.SNI 01-7152-2006 B. Nomor CAS. Pitayin. Coccinine. Quinaglute. (v) pemberian dosis terendah 800 mg/kg pada mencit secara oral. Chinidin.nan-9-ol. (vi) pemberian dosis tererendah 110 mg/kg pada wanita secara oral berpengaruh pada penglihatan.cinchonan-9-ol. 6'-methoxy-. sedangkan pada darah terjadi angraulositosis. Conchinin. Conquinine.23 B. β-Quinidine. B. pengaruhnya belum diketahui. α-(6-methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-. pusing dan mual pada gastrointestinal. Conquinine. berpengaruh pada tingkah laku yaitu perubahan motorik.42 dan rumus molekul C20H24N2O2. Cin-quin. (vii) pemberian dosis terendah 45455 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan perubahan pada penglihatan. Pitayine. (9S)-6'Methoxy. (xiii) pemberian dosis terendah 126 mg/kg/3minggu secara selang-seling pada wanita secara oral terjadi kardiomiofati termasuk infraksi pada kardiak dan menyebabkan alergi pada kulit. Cinchonan-9-ol. Kinidin. Kenampakan kuinin berwarna putih dan sensitif terhadap cahaya. midriasis pada mata (pembesaran biji mata). B. Conchinine.α-(6Methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-2-quinuclidinemethanol. kuinin hidroklorida dan deoksikuinin. Kuinin dan turunannya secara luas digunakan juga sebagai terapeutik pada percobaan infeksi protozoa. Quinicardine. ureter dan saluran kencing: fungsi uji renal ditekan. ureter dan saluran kencing. (viii) pemberian dosis terendah 6500 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan lemahnya otot. 6'-Methoxycincho. edema sakit paru-paru akut pada paru-paru.6-Methoxy-α-(5-vinyl-2-quinuclidinyl) -4quinolinemethanol. Selain itu digunakan juga pada minuman beralkohol pahit dan dalam jumlah sedikit digunakan dalam tepung produk konfeksioneri/kembang gula.1 Kuinin (Quinine). (x) pemberian dosis terendah 12 mg/kg/1 hari secara selang-seling berpengaruh terhadap hati: hepatitis. fibrous (cirrhosis. (xi) pemberian dosis lethal terendah 220 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan lain pada kardiak.(9S)-. Selain itu berpengaruh juga pada ginjal. terjadi tinnitus pada telinga dan berpengaruh pada gastrointestinal yaitu pusing atau mual (perasaan ingin muntah). (xii) pemberian dosis terendah 80 mg/kg pada wanita secara oral.23. Cardioquin. perubahan akuitas pada telinga. Quinidex. (iii) pemberian dosis terendah 129 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi midriasis pada mata (pembesaran biji mata). β-Quinine.23. terjadi perubahan pada penglihatan. 2-Quinuclidinemethanol. (ix) pemberian dosis terendah 130 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan akuitas pada telinga.23. seperti malaria dan noctural leg cramps.9 mg/orang/hari. NCI-C56246. (8R. (ii) pemberian dosis terendah 4300 µg/kg pada manusia secara oral berpengaruh terhadap saraf periferal dan sensasi: paralisis lemah tanpa anesthesia. (+)-Quindine.2 Fungsi lain Kuinin dalam bentuk garamnya atau ekstrak dari cinchona bark digunakan sebagai bittering agent (sekitar 80 mg kuinin hidroklorida per liter). (+)Quinidine. Selain itu berpengaruh juga pada darah yaitu terjadi perubahan pada limpa. (iv) pemberian dosis terendah 27 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi perubahan pada penglihatan.9S)-6'-Methoxycinchonan-9-ol.3 Kajian keamanan Kajian keamanan berikut ini adalah kajian keamanan kuinin dalam bentuk garamnya (kuinin sulfat). toraks atau respirasi. 93 dari 122 . ADI 0-0. post-necrotic scaring). terjadi perubahan pada pendengaran dan tinnitus pada telinga.

hasilnya positif terhadap S. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0. pandangan mata buram dan sempit serta kebutaan.1mg/kg). 40. Pada uji teratologi. Pemakaian kuinin dalam makanan (minuman selain minuman beralkohol dan shandy 85 mg/kg. B.SNI 01-7152-2006 B.4-18.67. Jika uap quinin masuk dalam tubuh dapat mengakibatkan iritasi pada saluran pernafasan dan mengakibatkan gangguan sama seperti yang disebutkan diatas. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Farmakokinetik quinin bervariasi (0.67 dan 60 mg/kg bb/hari terjadi penurunan ukuran fetus dengan ditandai hilangnya pre-implantasi. liver dan mata. Austria.1 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian kuinin hidroklorida dalam bentuk diet makanan sebesar 0. dapat menyebabkan gangguan darah dan anemia.9-1. Sekitar 7% kuinin plasma berbentuk protein.3 Kajian khusus teratologi deoksikuinin Pemberian deoksikuinin secara oral gavage dengan dosis 0. Kuinin secara ekstensif dimetabolisme di hati dan kurang dari 5% ekskresi tak berubah dalam urin.23.2 Kajian khusus gentoksisitas dengan metode ames Pada 5-20 µg/plate kuinin hidroklorida. Bagian organ yang menjadi target sasaran adalah sistem syaraf pusat. 20. merusak fungsi motorik. Konsentrasi plasma puncak dicapai selama 1-3 jam secara dosis oral tunggal. Efek terhadap kesehatan: dapat merusak liver. 3 ekor yang diberi dosis 80 mg/kg bb/hari mati dan yang lainnya mengalami penurunan berat badan pada hari ke 10-23 gestasi jika dibandingkan dengan kontrol. 40 atau 80 mg/kg bb/hari pada kelinci selama 6-18. atau 60 mg/kg bb/hari pada tikus bebas patogen menunjukkan bahwa tikus yang diberi dosis 6. minuman (85 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol (300 mg/kg). Quinin berpotensi sebagai iritan lokal dan tidak biasanya diurus (administered) oleh intramuskular lain atau injeksi subkutanus. mengakibatkan iritasi dan gangguan pada darah. menyebabkan kebutaan. Pemberian deoxyquinin secara gavage dengan dosis 0.1 mg/kg). 6.8 ml/kg/min dengan masa hidup 8. Selain itu dengan metode sister chromatid exchange: 110 mg/kg bb. 10. B. 100 atau 200 mg/kg bb/hari pada 20 tikus jantan dan betina selama 13 minggu menunjukkan penurunan total protein serum dan globulin. B. Dosis terapeutik 1 g/hari kuinin untuk beberapa hari menghasilkan konsentrasi quinin plasma sekitar 7 µg/ml dengan lama hidup plasma sekitar 12 jam. meningkatkan urea nitrogen dan deplesi periportal glikogen hati tikus pada kelompok tikus yang diberi 2 dosis tertinggi. mempengaruhi sistem pusat saraf.23.23. hasilnya positif terhadap mencit (NMRI C3H) dan dengan metode yang sama juga pada konsentrasi 55-110 mg/kg bb hasilnya positif terhadap mencit (C57BL). Sejauh ini belum ada informasi gangguan iritasi pada bagian mata atau gangguan lain selain kebutaan.23. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari uji ini. in fruit curds (40 mg/kg). 1.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) membolehkan penambahan kuinin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. hepatitis akut. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Tak teramati adanya toksisitas pada pengamatan oftalmoskopik dan fungsi pendengaran. jerman: melarang penggunaan kuinin dalam makanan dan minuman pengecualian : bukan minuman 94 dari 122 .2 jam). Uji sebelumnya yaitu uji preliminari mengindikasikan bahwa dosis 135 mg/kg bb/hari deoksiquinin menyebabkan kehilangan berat badan dan kematian pada kelinci.3. proses pembuatan makanan 0. Kuinin diserap secara sempurna dan cepat dari intestin kecil yang diberikan secara oral. 20.3. Quinin secara cepat memotong plasenta. Typhimurium galur TA98. perut mual dan muntah-muntah.3. minuman beralkohol dan shandy 300 mg/kg. Apabila kuinin masuk ke dalam tubuh karena tertelan dapat mengakibatkan gangguan otot/muscle tremor.

Sedangkan kokain merupakan berwarna putih. Pembatasan tidak melebihi 83 mg/kg. Yunani menetapkan penggunaan kuini pada minuman ringan 100 mg/l. Corine. B. tidak larut dalam eter.3S. Kokain. Toot. Ecgonine methyl ester benzoat. Methylbenzoylecgonine. karena risiko iskemia dan nekrosis jaringan. kristal higroskopis rasa pahit dan tidak berbau. Lady. sebagai kuinin (CFR 172. 53-21-4 Deskripsi Kokain merupakan salah satu dari 14 alkaloid yang diekstraksi dari daun 2 spesies koka: Erythroxylum coca (ditemukan di Amerika Selatan. dalam eter 28. titik didih 187-188oC. US melalui FDA menetapkan kuinin sebagai hidroklorida atau garam sulfat mungkin aman digunakan dalam minuman berkarbonat sebagai perisa. Nomor CAS. Kokain atau dengan nama lain ß-cocaine. air mineral. Kelarutan dalam air 200 g/100 ml. Kokain HCl merupakan senyawa tidak berwarna atau putih. Belanda membatasi penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol (85 mg/kg). Gold Dust.17 g/100 ml. Minuman tonik.24. Happy trails.24.24 B. & Speed ball (Heroine+cocaine). 5aH-tropan-2ß-asam karboksilat 3 ß-hidroksi-metil ester benzoate. Star dust. White girl.6 g/100 ml.2 Fungsi lain Tidak ada. Bernies. untuk anak-anak tidak ada data. Nose candy.1 Kokain (cocaine). Jam. pangan olahan lain (0. Luxemburg menetapkan penggunaan kuinin dalam buah dan atau ekstrak sayuran lemon (85 mg/l) sebagai quinine base. Liquid lady (Aalcohol+cocaine). minuman beralkohol. Crack. 3-(benzoiloksi)-8-metil-8azabisiklo-(3. Burese. Erytroxylin. Girl.4 g/100 ml.SNI 01-7152-2006 beralkohol 85 mg/kg. Benzoyl methylecgonine. Larutan kokain tidak dipakai untuk kulit atau jaringan abraded atau luka bakar atau jaringan yang disampaikan dengan sambungan arteri. Kokayeen. Kokain HCl tidak digunakan secara intra-okular karena menimbulkan ulserasi kornea. Carrie. Jawa) & Erythroxylum novogranatense (di Amerika Selatan). Kokain atau dengan nama kimia Benzoilmetilekgonin. Bernice. White lady. jus buah lemon 40 mg/kg sebagai quinine base. Green gold. 50-36-2. Pimp’s drug. minuman spirit 300 mg/kg. Titik leleh 98oC. Kokain HCl.) oktan-2-asam karboksilat metal ester (C17H21NO4) memiliki bobot molekul : 303. Coke. India. Kokan. Leaf. berbentuk kristal padat. Happy dust. Dosis terapi untuk dewasa direkomendasikan 1-3 mg/kg. madu (85 mg/kg). Cholly. 3-tropanilbenzoat-2-asam karboksilat metal ester. Kokain HCl digunakan hanya untuk anestesi saluran pernapasan. 2ß-karbometoksi-3ß-ben-zoksitropan. kuinin klorida dan sulfat). Rock. Cecil. Snow. 1% larutan pH netral. dalam alkohol 15.2R. jus. Dama Blanca.2. shandy (300 mg/kg). Amerika Pusat. She. Titik leleh 197oC. bitter drinks dan quinine drinks (100 mg/kg). Minuman berbasis anggur (wine) dan anggur dengan kadar alkohol yang telah dikurangi (300 mg/kg).575) Malaysia memperbolehkan penambahan kuinin pada makanan tertentu sesuai dengan batasan maksimum yang izinkan minuman selain minuman beralkohol dan shandy (85 mg/kg). Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuinin sebagai Natural Toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum campuran minuman beralkohol yang belum terklasifikasikan (300 mg/kg) . B. berbentuk kristal padat. Neurocaine. pH basa.1 mg/kg).(1R. Star-spangled powder. Flake. 95 dari 122 . dalam alkohol 25 g/100 ml. Blow. L-cocaine. Kelarutan dalam air 0. Nomor CAS. 1aH. Her. Charlie. Champagne of drugs. minuman beralkohol (300 mg/kg). Prancis menetapkan penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol sebesar 70 mg/l.1. Eritroxilina.5S)-2-metoksikar-boniltropan-3-il benzoate.4. Cadillac of drug. pangan lain (1 mg/kg) Spanyol membatasi penggunaan kuinin pada air tonik dan bukan minuman keras yang berasa pahit (100mg/l incl. cocaina. Finlandia membatasi penggunaan kuini pada minuman ringan (excluding prepacked waters).

dan melalui blood brain barrier. Dalam media asam. aritmia ventricular. Kokain didistribusikan pada seluruh jaringan tubuh. Kokain tidak berubah diekskresi dalam stool dan dalam saliva. LD50 pada kelinci 15 mg/kg melalui jalur iv.4 CAC menyatakan bahwa batasan pada bahan pangan adalah cocain free (tidak mengandung kokain). pingsan dan mati. Kajian toksisitas kokain memperlihatkan bahwa LD pada orang dewasa diperkirakan pada 0. Melalui pemberian intra-nasal atau oral. 0. penyerapan dapat berubah-ubah dari 20% sampai 60%. kematian dilaporkan pada konsentrasi 1 mg/l.3 g / hari melalui mulut. Melalui inhalasi. kemungkinan non-enzimatik.5 mg/kg. Australian Food Standard Code menyatakan bahwa kokain sebagai natural toxicant harus tidak terdeteksi pada produk pangan. Kecepatan metabolisme tergantung konsentrasi plasma. konsentrasi darah mencapai puncak dalam beberapa menit.5 sampai 1. kokain terlihat dalam darah setelah 30 menit.24. Kokain diserap melalui seluruh jalur pemberian. sakit perut. hipertensi. Ada 3 jalur bio-transformasi: a) b) c) Jalur utama adalah hidrolisis kokain oleh esterase plasma dan hati. muntah. sakit dada. Melalui pemberian masal. Aktivitas esterase bervariasi secara substansi dari satu subjek ke subjek yang lainnya. 60 sampai 80% kokain diserap. agitasi. dengan proporsi lebih tinggi dalam urin asam. midriasis. Kokain dan benzoilekgonin dapat dideteksi dalam ASI sampai 36 jam setelah pemberian. dan dalam urin bayi baru lahir selama sebanyak 5 hari. Penyalahgunaan kokain menyebabkan ketergantungan psikologis yang kuat. Dalam jumlah besar. 1%-9% Kokain dieliminasi tidak berubah dalam urin.24. anoreksia. dengan hilangnya gugus benzoil memberikan ester metil ekgonin. Tidak ada data karsinogenik dan mutagenik. dan paling lama 30 sampai 60 menit. Setelah pemberian oral. sampai 2 jam pemberian. LD50 iv pada tikus 17. mencapai konsentrasi maksimum dalam waktu 50 sampai 90 menit. gangguan jantung. Pengaturan d) B. halusinasi. dan mengakumulasi dalam fetus setelah penggunaan berulang. dan 50 mg/kg melalui jalur nasal. Malaysia melarang penggunaan kokain sebagai perisa. Keracunan akut dosis rendah menyebabkan euphoria dan agitasi. Metabolisme kokain terjadi terutama di dalam hati. dapat disertai depresi SSP dengan pernapasan yang tidak beraturan. halusinasi. yang menghasilkan benzoilekgonin dengan demetilasi. psikomotor agitasi. dan penurunan mental. 0. sedikit terionisasi dan penyerapan meningkat cepat. efek klinis tampak 3 menit setelah pemberian. mual. kokain terionisasi dan gagal masuk ke dalam sel.05 sampai 5 g / hari melalui jalur nasal. Dalam media basa. Dosis lebih besar menyebabkan hipertermia. kehilangan berat badan. konvulsi. koma. Kokain melalui plasenta dengan difusi sederhana. 96 dari 122 . Keracunan kronis menimbulkan euphoria. gelisah luar biasa. Jalur sekunder adalah hidrolisis spontan. Efek toksik dapat ditunjukkan dengan konsentrasi plasma sama dengan atau lebih dari 0. takikardi. Melalui intravena. Ketagihan kokain dapat ditoleransi sampai dosis 5 g/hari.SNI 01-7152-2006 B.02 g kokain melalui jalur parenteral. niat bunuh diri. sebagai hasil kelarutannya dalam lemak.3 Kajian keamanan Target organ adalah sistem syaraf pusat (SSP) dan sistem kardiovaskular. perubahan dihubungkan dengan vasokonstriksi sekunder. kemungkinan terakumulasi dalam system saraf pusat (SSP) dan dalam jaringan adiposa. dosis pengulangan.5 mg/l.

terjadi adenoma dan karsinoma paru-paru. pemberian komarin dalam dosis besar menyebabkan penghambatan pembentukan tulang janin dan peningkatan kematian anak dalam uterus. Thailand.25 B. Tekanan uap pada suhu 106 0C adalah 0. dan kelinci.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan komarin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. sabun toilet.3 Kajian keamanan Pada mencit dan tikus. Coumarinic anhydride. Nomor CAS. 520 mg/kg bb (oral. tikus. marmut. Singapura.25.25. Batas maksimum untuk komoditas pangan (2 mg/kg). India melarang penggunaan komarin dalam produk pangan. pengecualian pada karamel dan minuman beralkohol ( 10 mg/kg) serta permen karet (50 mg/kg). dengan larutan pembawa minyak jagung) sedangkan untuk marmut adalah 202 mg/kg bb (oral). oral) yang diberikan setiap hari selama 7 hari pada tikus betina menyebabkan penurunan kadar progesteron. B. minuman (2 mg/kg). 1000 mg/kg menyebabkan hipoglikemik pada tikus betina selama kurang lebih 24 jam. dan adenoma hati. dan sorbitol dehidrogenase. Toksisitas akut (LD50) komarin pada tikus adalah 680 mg/kg bb (oral). Australia New Zealand (FSANZ) mengizinkan penambahan komarin melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. pasta gigi. gamma-glutamyl transferase. juga adenoma ginjal. terjadi peningkatan aktivitas SGOT. USA melalui CFR 189. Pada mencit. Mempunyai titik didih 2970C -2990C dan titik leleh 680C -700C.2-Benzopyrone. obat rambut (hair preparations). Pemberian 1% komarin dalam diet selama 4 minggu pada tikus menyebabkan penghambatan pertumbuhan serta pembesaran dan kerusakan hati. 1 mmol/kg (146 mg/kg. 97 dari 122 . B.25. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Nama lain dari komarin.39 oktanal/air. antara lain 1. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. pada produk tembakau dapat memperkuat rasa dan aroma alami tembakau.30 melarang produk pangan yang mengandung komarin.SNI 01-7152-2006 B. penguat aroma pada parfum.2 Fungsi lain Sebagai fiksatif. cis-O-coumarinic acid lactone.14. Sementara Australia dalam Australia Food Standard Code menetapkan komarin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (2 mg/kg). dengan larutan pembawa propilen glikol). komarin menyebabkan hepatotoksik.13 kPa dengan titik nyala (api) 150 0C serta koefisien partisi komarin adalah 1.1 Komarin (coumarin). 290 mg/kg bb (oral. Kerapatan komarin adalah 0. Pada tikus. Bersifat mutagenik pada dua dari 11 strain Salmonella typhimurium dengan aktivitas metabolik.96 g/cm3 dan kelarutannya kurang di dalam air. Pada mencit bunting 6-17 hari. Secara In vitro komarin toksik terhadap sel hati pada mencit. B.25. dan 2-Oxo-2H-1-benzopyran. Demikian pula halnya dengan Malaysia. dalam produk industri untuk menutupi bau yang tidak diinginkan. terjadi adenoma dan karsinoma hati dan saluran empedu. 91-64-5 Deskripsi Komarin mempunyai rumus molekul C9H6O2 dengan berat molekul 146.

Kulit pohon betula hanya mengandung 3% asam tanat. 93-08-3 Deskripsi Metil beta-naftil keton merupakan kristal padat berwarna putih dengan bau bunga jeruk. Senyawa perisa di dalam tubuh manusia dimetabolisme melalui reaksi hidrolisis dari aktivitas katalitik karboksilase. dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan rumus kimianya.26. US FDA mengizinkan. monoecia triandria.26.403 – 11. cream desserts. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. Senyawa metil beta-naftil keton masuk dalam kategori kelompok III karena senyawa perisa ini memiliki struktur cincin yang lebih dari satu dan tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi lebih sederhana (mono). Oleh sebab itu senyawa ini perlu dievaluasi lebih lanjut.233 pon.27. B. Minyak betula memiliki gravitasi spesifik 1. B.26.1 mg/kg). B.05%. brausen. bubuk sherbets. titik didih 175oC @ 760 mm. Minyak betula dapat 98 dari 122 . saus manis.26 B. Nomor CAS. edible ice. Senyawa metil beta-naftil keton dalam tubuh manusia tidak dapat diprediksi apakah dapat menghasilkan produk yang berbahaya. dan permen karet. adonan masses dan isiannya. Senyawa aromatik jenis keton dikeluarkan melalui urin atau dioksidasi dan diekresi sebagai glycin. 8001-88-5 Deskripsi B. 1 gram beta-naftil keton larut di dalam 5 ml etanol 95%. tidak larut dalam gliserol sedangkan larut di dalam campuran minyak. Ambang batas aman yang dapat digunakan untuk manusia sebesar 90 µg/ hari. verrucosa. Minyak betula bukan merupakan minyak esensial. berke.26. isian untuk produk coklat. indeks refraktif 1. bereza.13 – 1. B.35 @ 25oC.1 Nama lain dari minyak betula adalah betula pendula roth tar oil. konfeksionari (kembang gula).21 dimana kadarnya tidak kurang dari 99%.59 @ 20oC. puding. Nomor CAS.27 B. jeli.522 – 1. 9.4 Pengaturan Evaluasi mengenai senyawa ini telah dilaporkan terdapat efek toksisitas. white birch bouleau.3 Kajian keamanan Secara umum senyawa perisa diabsorbsi atau diserap melalui usus manusia. Minyak betula (birch tar oil).1 Metil beta-naftil keton (metyl β-naphthyl ketone). Kulit pohon betula mengandung pula betulin dan kapur betul. Titik beku tidak kurang dari 520 dan kadar abu sulfat tidak kurang lebih dari 0.5 µg/ orang perhari. Dari 38 senyawa perisa yang ada.2 Fungsi lain Tidak ada. B. India melarang penggunaan senyawa perisa pada berbagai artikel pangan. EC (European Commisssion) di Italia mengizinkan penggunaan metil-beta-naftil-keton hanya pada permen (0. Berdasarkan perkiraan asupan perhari di eropa sebesar 6 µg/ orang yang melebihi ambang batas yaitu sebesar 1. Menurut NOEL pengamatan terhadap tikus yang diberi senyawa Metil β-naftil keton selama 90 hari sebanyak 33 mg/kg berat badan per hari menunjukkan hasil bahwa senyawa ini termasuk dalam kategori aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Daunnya mengandung asam betulorentic. Metil beta-naftil keton praktis tidak larut dalam air. pubescens. Jerman mengizinkan pada produk tertentu sebesar 5 mg/kg yaitu pada minuman dingin dan panas alami. bakery wares.SNI 01-7152-2006 B. sup. Mempunyai rumus kimia C12H10O dengan bobot molekul 170.

SNI 01-7152-2006

dicampur dengan Cananga, Guaiyl Butyrate; Heptyl Eugenol; Isoamyl Phenyl Acetate. Minyak betula tumbuh baik di Eropa, dari Sisilia sampai pulau es dan di Asia bagian Utara. Minyak betula adalah minyak yang diperoleh dengan cara destilasi kering kulit dan kayu Betula Pendula Roth dan spesies sejenis Betula (Fam.Betulaceae), kemudian dimurnikan dengan destilasi uap. Minyak betula hasil destilasi mengandung persentase metil salisilat yang tinggi, kreosol dan guaiakol. Minyak yang sudah dimurnikan (Oleum Rusci Rectificatum) kadang-kadang diganti dengan minyak cade. Cairan jernih; warna coklat tua; bau tajam seperti bau kulit. Larut dalam hampir semua minyak lemak dan alkohol. Tidak larut dalam air, gliserol, minyak mineral dan propilen glikol. Minyak betula juga tidak larut secara sempurna dalam 95% asam asetat dan anilin, akan tetapi minyak turpentin memisahkannya secara sempurna Minyak betula hampir identik dengan minyak wintergreen. B.27.2 Fungsi lain

Sebagai aroma parfum: Burnt, Leather Cuir, Fantasy Blends, Fern Fougere; Leather, Peau D’spagne dan sebagai penyamak. B.27.3 Kajian Keamanan

Bagian pucuk dan daun mengeluarkan resin (damar) yang bersifat asam, jika digabungkan dengan alkalin akan menjadi tonic laxative. Daunnya yang khas bersifat aromatik, bau yang enak dan berasa pahit. Digunakan sebagai teh (teh betula) untuk encok, reumatik, dropsy, dan sebagai pelarut batu ginjal yang dapat diandalkan. Dengan kulit pohon, teh betula melarutkan dan melawan pembusukan (putrefaction). Jamu pohon betula baik untuk bathing skin eruption dan berguna untuk sakit dropsy. Minyak berasa kecut, digunakan untuk efek kuratifnya pada kulit, terutama eczema, tapi digunakan juga untuk obat penyakit dalam. Kulit pohon bagian dalam yang pahit dan kecut telah digunakan sebagai obat demam. Air bunga sebagai diuretik. Dosis yang diberikan yaitu ekstrak beralkohol dari daun, 25-30 butir tiap hari. B.27.4 Pengaturan

EC (European Commission) mengizinkan penggunaan minyak betula pada bahan pangan dan minuman (0,03 µg/kg). IOFI (International Organizaton of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaannya pada produk akhir makanan sebesar 0,03 µg/kg. US FDA mengizinkan penggunaan minyak betula (CFR 172.515). Singapura melarang penggunaan minyak betula. B.28 B.28.1 Minyak cade (cade oil), Nomor CAS. 8013-10-3 Deskripsi

Cade merupakan pohon belukar besar berdaun hijau sampai ketinggian 13 kaki, dengan jarum gelap panjang dan buah kecil hitam kecoklatan seperti ukuran hazelnuts. Minyak esensial ini yang dikenal dengan nama kimia Juniper tar oil diperoleh dengan cara distilasi destruktif dari cabang dan empulur. Berasal dari Perancis Selatan, sekarang umum ada di seluruh Eropa dan Afrika Utara. Banyak dihasilkan terutama di Spanyol dan Yugoslavia. Juniper tar oil digunakan pada pengobatan penyakit kulit seperti eksim kronis, parasit, penyakit scalp (kulit kepala), rambut rontok, dll; pada luka sebagai antiseptik dan untuk sakit gigi; untuk luka, ketombe, dermatitis, eksim, noda, dll. Penggunaan secara luas di bidang farmasetik sebagai pelarut obat-obatan kimia, dalam krim dan salep kulit seperti juga pada obat-obat hewan. Minyak yang sudah dimurnikan digunakan pada bidang fragrans, dalam sabun, losion, krim dan pewangi. Kombinasi penggunaan dengan thimi, origanum, cengkeh, cassia, tea tree, cemara, dan basis obat memiliki khasiat analgetik, antimikroba, antipruritik, antiseptik, disinfektan, parasitisida, vermifugal (obat cacing).
99 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.28.2

Fungsi lain

Digunakan untuk mengobati penyakit kutanus seperti eczema kronik, parasit, penyakit scalp, kerontokan rambut. B.28.3 Kajian keamanan

Tidak toksik, tidak iritasi, kemungkinan masalah sensitisasi. Penggunaan harus hati-hati, khususnya perlakuan pada radang atau kondisi kulit alergi. Turpentine (terebinth) digunakan sebagai alternatif, dengan kemungkinan reaksi alergi lebih sedikit. Toksisitas akut, kanker, pemecahan endokrin, toksisitas reproduksi tidak ada. B.28.4 Pengaturan

CAC (Codex Alimentarius Commission) tidak ada batasan pengaturan minyak cade. Sedang EC (European Commission) menetapkan batas maksimum dalam bahan pangan yang dikonsumsi sebagai perisa : makanan dan minuman 0,03 mg/kg. Sedangkan Malaysia dan Singapura melarang penggunaan minyak cade dalam makanan. Minyak kalamus (calamus oil) Deskripsi

B.29 B.29.1

Minyak kalamus (Acorus Calamus L) berasal dari tumbuhan. Minyak kalamus diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar tanaman atau akar kering. Minyak kalamus merupakan cairan kental berwarna kuning atau kekuningan, berbau aromatik dan berasa pahit. Memiliki titik didih 180 °Februari dan gravitasi spesifik 0,962. B.29.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.29.3 Kajian keamanan

Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen). β-asaron mengandung berbagai macam minyak kalamus yang bersumber dari tanaman. Indian Acorus calamus dari Jammu merupakan tetraploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 75% beta-asaron; Acorus calamus dari Kashmir merupakan hexaploid dan minyak yang dihasilkan mengandung sektiar 5% beta-asaron (Vashist & Handa, 1964). Acorus calamus dari Eropa merupakan diploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 5% beta-asaron (Larry, 1973). Umumnya, hanya minyak dari varietas diploid yang digunakan sebagai aromatik perisa pada minuman beralkohol (Usseglio-Tomasset, dalam Larry, 1973). Akar dan rhizoma Acorus calamus telah digunakan dalam system Ayurvedic sebagai obat-obatan untuk mengatasi berbagai penyakit seperti epilepsy hysteria (Madan et al., 1960). B.29.4 Pengaturan

US FDA, Malaysia, dan India melarang penggunaan minyak kalamus pada produk pangan. Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen).

100 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.30 Minyak peniroyal (pennyroyal oil), Nomor CAS. 8013-998 B.30.1 Deskripsi

Pennyroyal oil merupakan minyak esensial berasal dari daun Mentha pulegium, mengandung 62-97% R(+)-pulegon (Grundschober, 1979) dan telah dikonsumsi manusia selama beberapa abad, terutama karena sifat-sifat abortifacient yang dimiliki (Gunby, 1979), Pennyroyal oil dengan sinonim Mentha pulegium L, mentha pulegium I. Oil; hedeoma oil berasal dari tanaman. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar yang segar atau akar kering dari tanaman Mentha pulegium L. Kandungan utama dari pennyroyal oil erafrican adalah d-pulegon. Memiliki angular rotation +18° - +25°, refraktif indeks 1.483-1.488, gravitasi spesifik 0.93000, titik nyala 176 °F, larut alcohol, propilen glikol, mineral oil, tidak larut dalam gliserin, minyak berwarna kuning muda sampai kuning hijau, berasa pahit dan bau minth. B.30.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.30.3 Kajian keamanan Peniroyal merupakan perisa alamiah yang mengandung pulegon sehingga evaluasi minyak alamiah ini setara dengan evaluasi untuk pulegon. Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan peniroyal belum cukup, termasuk data metabolisme, penentuan intake (asupan), data batas aman (threshold), data NOEL dan data asupan per hari. Namun demikian, evaluasi peniroyal dapat juga mengacu pada evaluasi senyawa pulegon. Oleh karena itu, penggunaan peniroyal harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. B.30.4 Pengaturan

Singapura melarang penggunaan pennyroyal oil pada produk pangan. B.31 B.31.1 Minyak rue (rue oil), Nomor CAS. 8014-29-7 Deskripsi

Minyak rue merupakan essensial oil yang diperoleh dari tanaman Ruta graveolens L, merupakan tanaman khas daerah Mediterania. Komponen utama minyak rue adalah methylheptyl-ketone (90 %), 1-a-pineol, cineol, dan 1-limonen, serta methyl-n-nonylcarbinol. Ekstrak maupun bagian tanaman dari Ruta graveolens L sering digunakan sebagai bahan tambahan pada minuman beralkohol yang dikonsumsi sebelum makan besar, berasa sangat pahit; salad dan daging di beberapa negara Eropa. Selain digunakan sebagai bahan tambahan pangan, Rue oil maupun ekstrak Ruta graveolens L digunakan sebagai antispasmodic, emmena-gogous. Minyak rue bersifat iritan, direkomendasikan sebagai rempah obat bagi gangguan insomnia, sakit kepala, nerveousness, abdominal cramps, gangguan renal. Ruta graveolens L dikenal sebagai tanaman emmenagogue (stimulan menstruasi) kemungkinan sebagai sedative dan hypnotic herbal. Minyak rue biasanya digunakan untuk obat homoeopathic sebagai subefacient, untuk obat dematoses sebagai eczemas dan psoriasis; dan sebagai antivirus jika digunakan bersama dengan herbal lain. Rue oil jika dioleskan pada kulit bermanfaat sebagai rubefacient untuk gangguan rematik. Selain itu, pemakaian bagian tanaman Ruta graveolens L maupun ekstraknya berlebih dapat mengakibatkan keguguran janin. Sejauh ini belum tersedia data yang mendukung mekanisme absorpsi, distribusi, lama tinggal dalam tubuh, metabolisme dan lain-lain. Rue essential oil tidak boleh digunakan sebagai bahan dalam aromaterapi karena bersifat berbahaya, dapat terbakar dan menyebabkan iiritasi pada kulit, tidak disarankan digunakan
101 dari 122

B.31. Adapun pengaruh akibat menghirup senyawa aktif dari minyak rue atau ekstrak Ruta graveolens L. Gejala akut pada bagian kulit terjadi akibat terkena senyawa aktif Ruta graveolens L dalam jangka waktu lama yang mengakibatkan iiritasi. Dosis asupan maksimal yang direkomendasikan adalah 1 gram daun Ruta graveolens L/hari. Informasi toksisitas Rue oil maupun bagian tanaman Ruta graveolens L pada orang dewasa belum ada.3.SNI 01-7152-2006 selama ibu menyusui dan pada anak-anak. skimianine dilaporkan menghambat secara nyata pada spontaneous motor activity. dan menghambat tingkat kehamilan hingga mencapai 50-60 % tikus. Beberapa kasus keracuan disebabkan karena kesalahan dalam dosis penyeduhan.3 Pengaruh klinis Keracunan akut diakibatkan oleh karena masuknya komponen aktif Rue oil atau ekstrak Ruta graveolens L dalam jumlah berlebihan. Insufisiensi pada bagian renal dan liver terjadi beberapa hari kemudian.3. kecuali pada konsumsi secara tradisinonal dengan meminum ekstrak rebusan daun Ruta graveolens L disarankan tidak alebih 1 atau 2 gram per hari. Phototoxicity dari senyawa tersebut ditunjukkan pada bakteri. Pada wanita hamil dapat menderita pendarahan peranakan dan keguguran janin. dan pengararuh pada mata serta ekspose parenteral belum ada datanya. Adapun informasi mengenai karsinogenisitas. exploratory behaviour.31.3. Ekstrak tanaman tersebut dinyatakan mengandung furoquinoline. proses mitosis dihambat dengan adanya senyawa tersebut dan terjadi pula perubahan pada kromosomnya. kasus klinis akibat minum seduah daun Ruta graveolens L adalah keguguran janin.31.2 Kajian toksikologi/toksinologi/farmakologi Metyl-nonyl-ketone memacu uterine contractions dan pelvic contaction sehingga akan mengakibatkan uterine haemorrhage yang memungkinkan terjadinya keguguran janin. Jika terkena sinar matahari kulit 102 dari 122 . Informasi yang lebih kuantitatif dilaporkan sebagai beikut: asupan sebanyak 120 gram daun segar Ruta graveolens L atau 10 ml Rue oil dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal. Pasien dapat mengalami hipotensi dan bradycardiac diikuti dengan shock.3 B. liver dan bahkan kematian. vomiting dan excessive saliva kemudian diikuti oleh CNS exitation terjadi pada pasien yang mengalami keracuan ekstrak Ruta graveolens L.2 Fungsi lain Tidak ada. skimianine.31. B. Ekstrak Ruta graveolens L dilaporkan juga berpengaruh pada anti-implantation pada tikus albino. alkaloid dicktamin. Psoralen atau furooumarin merupakan senyawa yang bersifat photoactive apabila dikenakan pada kulit dan terkena sinar matahari mengakibatkan kulit kemerahan. hyperpigmentation dan blistering pada kulit.1 Kajian keamanan Bahaya yang sering dijumpai Pemakaian tradisional disiapkan dengan menyeduh satu sendok penuh daun Ruta graveolens L dalam 250 ml air mendidih dan diminum tidak lebih dari dua cangkir per hari. gammafagarine.31. Pengaruh anti-methaphetamine juga terjadi pada hewan percobaan. pemisahan dari kelompoknya dalam waktu lama meningkatkan gejala saling memusuhi diantara sesamanya. yakni Tinctura Rutae berpengaruh sangat kuat pada Salmonella typhimurium. jamur sel indung telur. Hasil pengujian pada hewan menunjukkan bahwa. B. cataleptogenic activity. Sedangkan hasil pengujian mutagenisitas menunjukkan bahwa ekstrak sejenis tanaman Ruta graveolens L. tetragenisitas belum ada. Beberapa gejala seperti epigastric pain. pteleine dan kokusaginine yang diduga menyebabkan peristiwa mutagenik. B.

SNI 01-7152-2006 akan mengalami etythema. Nomor CAS. Gejala lain seperti tongue oedema dan fibrillation juga dapat dijumpai pada pasien keracuan akut.32 B.31. pasien akan mengalami gangguan pada jantung dengan gejala hypotension. Tidak ada pengaruh pada kelenjar endokrin meskipun terjadi gejala penurunan produksi sperma. Pengaruh pada bagian syaraf periphertal nervous system. pemulihan kembali kesehatan sangat mutlak perlu tanpa adanya efek samping lanjutan. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari akar bagian kulitnya dari tanaman sassafras albidum (Nutt. haemorrhage dan keguguran janin pada wanita hamil. US FDA mengatur penggunaan Minyak rue sesuai dengan batas maksimum yang telah ditentukan yaitu pada baked goods dan baking mixes (10 mg/kg).4 Penyebab kematian Kematian dapat terjadi setelah 2 atau 3 hari setelah pasien mengalami keracunan setelah pasien mengalami gelaja akut gastro-intestinal symptomatology yang diikuti dengan gejala haemodynamic alteration. B. convulsions. dan ekspose parenteral belum ada. autonomic nervous system.3. Informasi gejala kronis akibat kontak pada bagian meta.1699).) Ness berasal dari tanaman. koma akan berakibat pada kegagalan pernafasan seperti pneumonitis. bradycardia dan akhirnya akan mengalami haemodynamic shock. Pada pernafasan. frozen dairy desserts dan mixes (10 mg/kg).080. metabolic imbalance yang diikuti dengan renal failure. vomiting. Minyak sasafras memiliki titik nyala 197 °F dengan gravitasi spesifik 1. 68917-09-9 Deskripsi B. Pengaruhnya pada jaringan darah. Gangguan pada liver terjadi setelah 2-4 hari mengkonsumsi ekstrak Ruta graveolens L. pyperpigmentation dan bistering. B.31. pasien dapat mengalami hepatic insufficiency yang selanjutnya dapat berkembang menjadi jaundice dan renal failure yang akhirnya akan mengalami kematian pula. Gejala kronis akibat menelan ataupun minum bagian aktif Ruta graveolens L menjukkan gejala yang sama pada keracunan akut. sedangkan pada CNS dapat mengalami convulsion. abortion.32.4 Pengaturan EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. Gangguan pada sistem gastrointestinal dijumpai akibat keracunan akut. menghirup. Minyak sasafras (sassafras oil). Minyak sasafras adalah minyak atsiri yang mengandung 80% atau lebih 103 dari 122 . Keracunan pada kulit mengakibatkan iiratasi. Jika pasien dapat bertahan hidup. Penyembuhan sangat lambat apabila pasien tetap mengalami gastrointestinal symptom. gangguan ini meliputi jaundice. apabila terkana sinar matahari akan mangakibatkan photodermatitis. Jika pasien dapat bertahan hidup. haemodynamic disorder. coagulation disorder. Renal failure biasanya terjadi akibat tubular necrosis akut yang perlu penanganan haemodialysis. Gangguan pada kelenjar endokrin dan sistem reproduksi akibat keracunan akut dilaporkan akibat peningkatan uterine contractilicity dengan hypogastric pain. jaundice dan oliguria. Beberapa gastroentriteritis dapat memacu kehilangan cairan dan terjadinya gejala kardiovaskular. dan skeletal dan smooth muscles belum ada. diarrhoea dan hypersalivation merupakan gejala umum yang dilaporkan terjadi. soft candy (10 mg/kg). Akibat keracunan. Pasien juga akan mengalami uterine bleeding akibat pengaruh komponen Ruta graveolens L pada bagian uterus. epigastric pain. Singapura melarang penggunaan minyak rue.) Ness. kategori pangan lain (4 mg/kg) (CFR 184.1 Minyak sasafras dengan sinonim sassafras albidum (Nutt. akan tertjadi coagulation disorder yang bertalian erat dengan hepatic insufficiency. nausea. dengan gejala erythema dan blistering. Kontak senyawa aktif Ruta graveolens L dengan lidah mengkibatkan tongue irritation dan oedema yang diikuti dengan fibrillary movement. dan convulsions.

dengan rasa agak asam. yang berasal dari Amerika dalam keadaan murni berbentuk cairan jernih dengan 70% alkohol. mempunyai karakteristik aroma. Minyak yang ditanam di Inggris mempunyai aroma rosemary. berbeda dengan yang terdapat Amerika dan Jerman dengan laevo-rotary (-27 °). 104 dari 122 .33. Dosis dari minyak 2-5 tetes. B.165 mg atau 1. nafas sesak.33. Dan 3’hydroxy-isosafrole hanya terdeteksi pada tikus. hanya 25% yang diekskresikan dalam waktu 24 jam. dan hepatitis. Dalam plasma dan jaringan level safrol dan hasil metabolitnya meningkat selama 24 jam. Larut dalam alkohol. Safrol diabsorbsi melalui gastrointestinal. Dapat menyebabkan aborsi. atau dihidrosafrol. Aroma seperti tansi. radang lambung. paralisis. LD50 (akut) secara oral pada tikus 1. Zat kimia yang terdapat dalam minyak sassafras bersifat karsinogenik.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon).955. B.940. Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafaan tehambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia. 1.4 Pengaturan Malaysia. Pada hewan menyebabkan penyakit yang sama dengan hydrophobia (rage tanacetique). 8016-87-3 Deskripsi B. Umumnya berwarna kuning.32. Singapura melarang penggunaan minyak sasafras sebagai perisa.33. penyimpangan denyut jantung.63 mg/kg pada tikus menurunkan kecepatan eliminasi. Menguap cepat pada suhu ruang.1 Minyak tansi dibuat dengan cara destilasi tanaman yang sedang berbunga dengan air. pendarahan usus. B. serta panas. tetapi lebih kuat. Safrol yang terdapat dalam minyak sasafras dapat merusak jaringan hati secara permanen.15 g/kg.32. bumbu. Minyak tansi dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah.2 Fungsi lain Tidak ada. Rumus kimianya C10H16O.) Ness. kram. isosafrol. merah kulit.2-methylenedioxy) adalah konstituen utama dari sassafras albidum (Nutt.925-0. Minyak tansi (tansy oil).32. Pada kelinci > 5 g/kg secara dermal. Gravitasi spesifik minyak yang berasal tanaman segar 0. Dapat pula mempercepat denyut jantung.2-dihudroxy4alliybenzen metabolit utaman dalam urin baik pada manusia maupun tikus.655 mg pada manusia dan 0. B.SNI 01-7152-2006 safrol. halusinasi. tetapi ada yang berwarna hijau warna berubah menjadi coklat kena udara dan cahaya. Rasa sangat pahit. dan sifat buruk lainnya yang dilaporkan terjadi pada manusia yang mengkonsumsi sassafras. karakteristik aroma disebabkan konstituen utama tujon atau tanaseton. India. tanaman kering 0. dan dapat menyebabkan kanker hati pada konsentrasi tinggi yang diujikan pada hewan. Dosis 0. Aroma sasafras berasal dari safrol.3 Kajian keamanan Safrol (1.33 B.2 Fungsi lain Tidak ada. Nomor CAS. B. hilang kesadaran.

Densitas relatif terhadap air : 1.0022–0. Kandungan nitrobenzen pada air permukaan bervariasi tergantung pada lokasi dan musim.05 g/m3 (0. Nitrobenzen dapat mengalami degradasi karena pengaruh fotolisis maupun secara mikrobiologis. informasi bahaya karsinogenisitas pada manusia belum ada. dan penyerapan melalui kulit selama produksi maupun pemanfaatannya.0 g/m3 [0. eksplosif limit.SNI 01-7152-2006 B.16 g/m3. thyroid-cell adenomas dan adenocarcinomas dan renal tubular adenomas. Nitrobenzen diproduksi secara komersial sejak awal abad 19 dengan metoda nitrisasi senyawa benzen.8-40. titik leleh 6 oC. menyebabkan nitrobenzen mudah terbawa/tercuci dari udara oleh air hujan. Akan tetapi. Oil of Mirbane. air tanah dan udara pada umumnya rendah. Nitrobenzen memiliki titik didih: 211oC. B.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaannya. Nitrobenzene. Nomor CAS. kelarutan dalam air 0.01 dan 1 µg). Densitas uap relatif terhadap udara: 4. waktu reaksi sangat lambat. Dengan ozon. Flash point: 88 oC. tergantung pada konsentrasi sensitizer). Berdasarakan hasil percobaan fotolisis langsung di udara.5 and 6 hari). NCIC60082. Nitrobenzen dijumpai pada air pemukaan dan air tanah.01 µg). Oil of Myrbane. Mirbane oil.34. Konsentrasi tertinggi dijumpai di sungai Danube. yakni mencapai 67 g/liter. pada umumnya sangat rendah sekitar 0. terjadi peningkatan hepatocellular neoplasm. atom hidrogen atau hydrated electrons. Paparan pada manusia dapat melalui pernafasan. Nitrobenzol.1–1 g/liter. Degradasi nitrobenzen di instalasi penanganan limbah berlangsung secara aerobik.11. Sedangkan pada tikus betina terjadi peningkatan pada hepatocellular neoplasm dan endometrial stromal polyps. lifetimes kurang dari 1 hari.2. Nitrobenzen.1 Nitrobenzen (nitrobenzen). Percobaan dalam smog chamber dengan campuran propylene/butane/nitrogen dioxide perkiraan lifetime antara 4 and 5 hari. di daerah urban. Nirobenzen merupakan senyawa antara utama pada produksi anilin. pada penelitian nitrobenzen tidak mengalami penguapan akan tetapi tedegradasi secara menyeluruh pada tanah yang diberi limbah cair. Waktu estimasi terpendek hasil kajian literatur adalah 1 hari (air sungai).2 Tekanan uap pada pada suhu 20 o C: 20. Yugoslavia pada tahun 1990. Di dalam air. Data yang dirilis oleh US Environmental Protection Agency padan tahun 1985 menujukkan bahwa kurang dari 25% sampel udara positif dengan nitrobenzen dengan kosentrasi 0. sementara itu pada peristiwa fotolisis tidak langsung (fotooksidasi dengan radikal hidroksil. Akan tetapi. Akibat sifat nitrobenzen kelarutannya dalam air moderat dan mempunyai tekanan relatif uap rendah.34 B. direct fotolisis berlangsung sangat cepat (half-lives antara 2. Nitrobenzen memiliki rumus molekul C6H5NO2 dengan berat molekul 123. Data penelitian dari penguapan nitrobenzen tampaknya bertentangan dengan model prediksi penguapan half life nitrobenzen dengan komputer yakni selama 12 hari (sungai) hingga 68 hari (eutropic lake).2. Di beberapa kota di Amerika Serikat pada awal 1980-an konsentrasi nitroibenzen di udara berkisar antara <0. UN 1662. Konsentrasi nitrobenzen di alam seperti air permukaan.33. Pada penelitian lain yang dilakukan hanya pada tikus jantan. nitrobenzen tidak dijumpai di sungai dekat dengan tempat penampungan limbah berbahaya di USA pada 105 dari 122 .40 µg]).05 dan 1 g/m3 (<0. Diantara 49 sampel udara di Jepang terukur kandungan niotrobenzen sekitar 0. akan tetapi perhitungan waktu paruhnya untuk reaksi dengan radikal hidroksil antara 19 and 223 hari. Nitrobenzeen. Pada tikus jantan terjadi peningkatan hepatocellular neoplsm. Sejauh ini. Pada kondisi anaerob proses degradasi berlangsung lebih lambat. sedikit meningkat di dearah industri (2. Rcra waste number U169. Kerusakan akibat fotolisis di udara dan air sangat lambat. sensitisasi dengan humic acids) perannya sangat kecil (calculated half-lives antara 125 hari dan 13 tahun untuk reaksi dengan radikal hidroksil. 98-95-3 Deskripsi Nama lain dari nitrobenzen adalah Essence of Mirbane. Essence of Myrbane. vol % dalam udara: 1. pada mencit jantan mengakibatkan peningkatan alveolar-bronchiolar neuroplasm dan thryroid follicular cell ademonas.

B. Splenic capsular lesions dijumpai pada tikus melalui gavage (melalui selang ke dalam perut) pada dosis 18.SNI 01-7152-2006 tahun 1998.34. dan ginjal. Manusia yang tinggal di dekat tempat penanganan limbah berbahaya mungkin akan terekspos dengan nitrobenzen melalui air tanah. Liver akan membesar. pada wanita yang menghirup nitrobenzen ginjalnya akan mengeras dan membesar. Kandungan nitrobenzen pada air tanah dapat mencapai 210–250 hingga 1400 g/liter di USA pada akhir tahun 1980-an. selama 550 hari dilakukan pada mencit jantan dan betina B6C3F1 dan betina tikus Fischer-344 dan jantan tikus Sprague-Dawley.2 Pengaruh nitrobenzen pada kesehatan manusia Pada manusia. dan mengeras sehingga akan mengganggu produksi serum. liver. B. mengakibatkan keracunan dan bersifat karsinogen pada kedua spesies serta mempengaruhi spektrum dari paru-paru.2 Fungsi lain Tidak ada. Pada kajian subkronik oral dan uji dermal pada mencit dan tikus. batasan kandungan nitrobenzen dalam udara tidak lebih dari 5 mg/m3 (1 mg/kg). thymus (involution) dan pankreas (mononuclear cell infiltration).3.1 Kajian keamanan Pengaruh pada hewan percobaan Nitrobenzen mengakibatkan keracunan pada bebarapa organ sel hewan percobaan. Keadaan tersebut tidak dijumpai di USA pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1985. vertigo. Gejala necrotic pada manusia terjadi akibat menghirup nitrobenzen termasuk didalamnya sakit kepala. Berdasarakan informasi yang ada. meskipun di Jepang dijumpai dalam jumlah sangat kecil 4 dari 147 sampel ikan yang diuji. tampaknya air tanah lebih potensial untuk mengalami pencemaran nitrobenzen. nasal epitelium. Studi immunotoksisitas nitrobenzen pada mencit B6C3F1 mengakibatkan peningkatan cellularity spleen. kulit. Gejala apnoea dan kematian dapat terjadi apabila nitrobenzen temakan dalam jumlah tinggi. pigmen deposisi dan degenerasi dari olfaktori epitelium). pencemaran tanah ataupun secara tidak langsung akibat nitrobenzen yang dikonsumsi oleh tanaman. Organ lainnya yang menjadi target nitrobenzen adalah ginjal (peningkatan berat. Tampaknya ginjal menjadi organ target dari akibat paparan nitrobenzen. beberapa kejadian keracunan dan kematian akibat menghirup nitrobenzen terjadi di beberapa negara. Potensi kajian karsinogenik dan toksisitas nitrobenzen melalui pernafasan yang diberikan dalam jangka panjang. tiroid (follicular cell hyperplasia).3. Methaemoglobinaemia terjadi akibat kontak dengan nitrobenzen melalui mulut. Oleh karena itu.34. Nitrobenzen tidak dijumpai pada makanan.34. 130 mg/m3 [25 mg/kg] untuk tikus. mual. kerusakan pada jaringan saraf pusat pada bagian cerebellum dan batang otak merupakan ancaman kehidupannya.3 B. Akan tetapi. B. khususnya pada wanita. Pasien yang menghirup nitrobenzen dan mengalami methaemoglobinaemia akan berkurang efeknya apabila dibebaskan dari nitrobenzen dan mendapat perawatan yang memadai secara perlahan akan pulih kesehatannya. lapisan bawah kulit (subkutanus) dan melalui pernafasan pada mencit dan tikus. kelenjar tiroid. kelenjar susu. 106 dari 122 .75 mg/kg berat badan per hari) dan melalui permukaan kulit pada konsentrasi 100 mg/kg berat badan per hari. dan pingsan. atelectasis dan bronchiolization pada alveolar cell walls. Berdasarkan kajian ilmiah. pewarnaan tubular epithelial cells). nitrobenzen sangat mudah diabsorpsi oleh kulit. sementara itu bagian paru-paru mengalami emphysema. Tingkat kematian tidak berpengaruh pada konsentrasi hingga 260 mg/m3 [50 mg/kg] untuk mencit. tingkat immunosuppression turun (respon IgM terhadap sel darah merah hilang).34. pembengkakan. khususnya pada kelinci.

dan liver carcinomas dan thyroid follicular cell adenocarcinomas dideteksi pada tikus jantan Fischer-344. Andes dan Amerika Selatan. Untuk hewan air laut nilai akut terendah adalah 96-jam LC50 apabila konsentrasi mencapai 6.4 Pengaturan EC (European Commission)) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi.9 mg/liter untuk alga biru-hijau Microcystis aeruginosa. Respon karsinogenik dapat dideteksi pada tikus dan mencit setelah mendapat perlakuan dengan nitrobenzen. berdasarkan kemampuan reproduksi adalah sebesar 10 mg/liter. Borreri. Benign tumours dapat dijumpai pada kelima organ. haematological. akan tetapi data kuantitatif yang ada belum ada.34. Tidak ada pengaruhnya terhadap mortalitas atau tingkah laku pada medaka pada konsentrasi nitrobenzen 7.7 mg/liter untuk (Mysidopsis bahia).1 Pakis jantan (male fern) Deskripsi Nama lain dari Male Fern adalah Male Shield Fern: Dryopteris Felix-mas (LINN). Ikan air tawar menunjukkan sensitivitas yang sama rendahnya terhadap nitrobenzen.4 Evaluasi bahaya Methaemoglobinaemia dan perubahan haematological and splenic terjadi pada manusia yang terekspos dengan nitrobenzen. Methaemoglobinaemia. mammary adenocarcinomas dapat dideteksi pada mencit betina B6C3F1. Tanaman ini sangat bervariasi. bilateral epididymal hypospermia dan bilateral testicular atrophy terjadi apabila dosis yang dikenakan mecapai 5 mg/m3 (1 mg/kg) pada tikus.3. Sejauh ini belum ada informasi yang cukup untuk keperluan perlindungan hewan air asin. diantaranya affine. Malaysia dan Singapura melarang penggunaan nitrobenzen. akan tetapi pengkajian tentang genotoksisitas mendapatkan hasil negatif. dengan nilai EC50.35 B. bahkan pada konsentrasi 67 g/liter belum menjadi ancaman bagi hewan air tawar. dengan EC50 sebesar 0. beberapa bagian Amerika Serikat. Data lain menyatakan bahwa 72-jam no-observed-effect concentration (NOEC) dari 1.3. B. 107 dari 122 . Untuk hewan air tawar dosis akut nitrobenzen mencapai (24. N. Pada hewan pengerat. India utara. beberapa Negara Asia. Afrika utara dan Afrika selatan.6 mg/liter selama paparan lebih dari 18 hari.1–1 g/l aman bagi hewan air. Pada kosentrasi sebesar 0. Nilai kronis terendah adalah 20-hari NOEC of 1. 142 mg/liter untuk guppy (Poecilia reticulata). Aspidium Filix-mas (SCHWARZ). Fern tumbuh di seluruh bagian Eropa. Bentuk dari tanaman ini berbeda-beda berdasarkan sub spesiesnya.34. dan metoda distribusi statistik.34. Nilai 96-jam LC50 berlaku untuk kosentrai 24 mg/liter untuk medaka (Oryzias latipes). testicular pada pengujian melalui pernafasan mempengaruhi sistem pernafasannya.. Konsentrasi toksin terendah nitrobenzen pada bakteri Nitrosomonas. kejadian bronchiolization dari dinding alveolar and alveolar/bronchial hyperplasia mulai dapat dideteksi apabila dosis nitrobenzen mencapai 26 mg/m3 (5 mg/kg).3 Pengaruh nitrobenzen pada mikroorganisme lingkungan Nitrobenzen bersifat racun bagi bakteri dan sangat merugikan bagi instalasi penanganan limbah apabila jumlah polutan nitrobenzen sangat tinggi.O.SNI 01-7152-2006 B. pengaruh methaemoglobinaemia.35. Filices.to 48-jam LC50 values) untuk kisaran 24 mg/liter untuk water flea (Daphnia magna) hingga 140 mg/liter untuk jenis keong (Lymnaea stagnalis). B. B. Pada mencit. konsentrasi terendah yang dapat melindungi 95% hewan air dengan tingkat kepercayaan 50% adalah sebesar 200 µg/liter.9 mg/liter bagi Daphnia magna. pumilum. Berdasarakan informasi data toksisitas akut.92 mg/liter berdasarkan penghambatan konsumsi amonia.9 mg/liter untuk protozoa Entosiphon sulcatum dan sekitar 8hari nilai lowest-observed-effect concentration (LOEC) dari konsentrasi 1. bersama dengan rasio toksisitas akut: kronis bagi jenis udang-udangan.

B. Ekstrak pakis jantan dalam bentuk oleoresin. Beberapa daun itu lebar. p-Propilanisol dilaporkan terdapat secara alami di alam.35. Dalam akar (rhizome) juga mengandung tannin.SNI 01-7152-2006 abbreviatum dan elongatum.2 Fungsi lain Pada zaman dulu.P. Ekstraksi dengan eter merupakan antelmintik terbaik untuk membunuh cacing pita. mengandung 30% filicin.4 Pengaturan EC (European Commission ) dan IOFI (International Organization of The Flavour Inustry) tidak membatasi penggunaan pakis jantan. B.3 Kajian keamanan Sediaan dan pemakaian dosis serbuk dari akar adalah 1-4 drachms. 45-90 drop.35. zat pewarna dan gula (pemanis). Obat dalam bentuk serbuk dosisnya bervariasi dari 60-180 grains. Ekstraksi pakis jantan dengan eter menghasilkan ekstrak berwarna hijau gelap. 5%-8% asam filic. Biasanya diberikan pada malam hari setelah beberapa jam berpuasa untuk melakukan pembersihan seperti halnya castrol oil. Serbuk atau ekstrak cairan dapat diterima tetapi ekstrak ethereal atau oleoresin yang diberikan dalam bentuk pil adalah lebih baik. ekstrak cairan 1-4 drachms. Mahkota akarnya berwarna coklat. 108 dari 122 . antelmintik. gemuk dan merambat di sepanjang permukaan tanah atau di bawah tanah. ppropilanisol memiliki titik asap 185°F. digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa.36. Tangkainya coklat bersisik dan berbulu. Pemberian dosis tunggal akan dapat mengobati dalam sekali. kaku seperti pisau. B. dan koma serta dapat melukai penglihatan mata dan dapat menyebabkan kebutaan. resin.942. B. gravitasi spesifik 0. mempunyai banyak rambut atau bulu di sekitar daun. filicin).1 methoxy-4-propyl atau Dihydroanethole atau 1-Methoxy-4-propylbenzene atau Methylp-propylphenyl ether atau 4propylmethoxybenzene.2 Fungsi lain Tidak ada. dicampur dengan madu atau sirup atau setengan cangkir teh hangat. Tanaman ini mempunyai akar (rhizoma) yang pendek.1 Deskripsi Nama lain dari p-propilanisol P-propylanisole atau benzene. kelarutan pada air (hasil perhitungan 63. Dosis yang diberikan biasanya sangat kecil karena jika terlalu besar akan terjadi keracunan iritasi. Minyak pakis jantan bermanfaat sekali sebagai konstituen pada minuman (5%-10% Filmaron.36. akar dari pakis jantan banyak digunakan sebagai obat cacing (fermivuge). p-Propilanisol diperoleh dengan cara hidrogenasi dari gugus propenil dalam anethol. B. Singapura melarang penggunaan pakis jantan sebagai bahan perisa.36 p-Propilanisol (p-propylanisole) B. ekstrak ethereal.35.36 mg/l pada suhu 25°C. B. Ekstrak ethereal atau oleoresin yang dikemas dalam bentuk pil memberikan bau yang lebih enak daripada dalam bentuk bubuk (powder) dan ekstrak dalam bentuk liquid. lemah.

pulegone. 5-methyl-2-1-(1-methylethylidene)-. Pengaturan B. Langkah A4 :p-propilanisol tidak tergolong senyawa endogenous. Senyawa pulegon (no 753) dimasukkkan kedalam kelas struktural II. Pulegon (No 753) mengandung rantai samping isopropiliden dan metabolit prinsipal dari pulegon adalah mentofuran (No 758). India melarang penggunaannya dalam substansi perisa. USA menyaakan bahwa p-propilanisol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA no 2930.3 B.1 Kajian keamanan Kajian toksikologi p-propilanisol telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. SCCNFP: Pulegon dan mentofuran tersedia. Pulegon diakui oleh FDA sebagai perisa (21 CFR 172. Nomor CAS. Komite memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. Langkah A3: Asupan dari p-propylanisole di Eropa (23 mikrogram/orang/hari) dan di USA (114 mikrogram/orang/hari) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas III yaitu 90 mikrogram. JECFA : tidak adanya kajian keamanan yang diperkirakan terhadap asupan bahan makanan (901.SNI 01-7152-2006 B.001 mmHg 2 0C dan kelarutan dalam air 173.37.37 B.5-Methyl-2-(1-methylethylidine) cyclohexanone. 89-82-7 Deskripsi Nama lain dari pulegon antara lain Cyclohexanone. 2050). 109 dari 122 .2 Fungsi lain Tidak ada. B. Langkah A5 :Data NOEL dari substansi terkait p-propenilanisol (trans anethol) dapat digunakan untuk p-propilanisol karena melalui jalur metabolisme yang sama. Pulegon mempunyai titik didih 224 0C.7 mg/l pada 25 0 C. p-Menth-4(8)-en-3one. Data NOEL dari p-propenilanisol (300 mg/kg berat badan per hari) adalah 100000 kali lebih besar dari estimasi intake p-propilanisol di Eropa (0.3.®-. Pulegon dimasukkan ke dalam daftar bahan makanan oleh dewan Eropa. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) b) c) d) Langkah 1: p-propilanisol tergolong kedalam sturtural kelas III. FEMA : secara umun pulegon aman sebagai bahan perisa (GRAS 3 (2963).36. tekanan uap <0.36.930. B. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). JECFA no 1244.37. tidak terdapat dalam edisi ke 4 karena belum diketahui (COE No.515). gravitasi spesifik 0.61). titik api 190 oC. Langkah 2: p-propilanisol diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa innocuous. 1-Methyl-4-isopropylidene-3-cyclohexanone.4 mikrogram/berat badan perhari) dan di USA (2 mikrogram/berat badan per hari).1 Pulegon (pulegon).36. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Pulegon memiliki nama kimia p-Menth-4(8)-en-3-one dan nama lainnya adalah delta-4(8)-p-. delta-4(8)-p-Methene-3-one.4 JECFA memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. 1Isoprophylidene-4-methyl-2-cyclohexanon. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).

5-(2-propenyl)-3. Australia dan New Zealand di dalam FSANZ menetapkan pulegon sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (350 mg/kg). 237 dan <225 nm dan kelarutannya di dalam air menurut hasil perhitungan adalah 75. papermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg). berat jenis 1. Nilai NOEL ini lebih besar dari 1000 kali asupan pulegon hanya sebagai senyawa perisa sebesar 0. Isolasi safrol dilakukan dengan proses destilasi dan/atau proses pembekuan dari minyak (essential oil) yang tinggi kandungan safrolnya seperti Cinnamomum micranthum. minuman dengan perisa peppermint atau mint (250 mg/kg) .2-methylene dioxybenzene atau 1. titik leleh 110C. puncak UV Absorbance pada 290 .3-Benzodioxole. Octea cymbarum dan Sassafras.097. B. Sifat fisik yang dimiliki safrol diantaranya titik didih 2340C.1 Safrol (safrole).2-methylenedioxy-4-propenylbenzene) yang terdapat secara alami sebagai bagian minor dari essential oil dimana terdapat pula safrol. Selain itu juga berdasarkan tahap B4 yang menunjukkan adanya nilai NOEL untuk senyawa dan kerabatnya.033 µg/orang/hari. Toksisitas pulegon yang lemah pada dosis rendah terlihat dari percobaan yang berlangsung selama 90 hari pada tikus yang diberi diet mengandung minyak pepemin yang mengandung 1.3 Kajian keamanan Dianggap aman berdasarkan pohon pemutusan (decision tree). 94-59-7 Deskripsi Safrol memiliki rumus molekul C10H10 O2 dengan bobot molekul 162.37.515 mengizinkan penggunaan pulegon.44 mg/kg bb per hari pada studi 90 hari > 10000 kali perkiraan asupan harian pulegon sebagai perisa. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.4-Methylene dioxyallylbenzene atau Safrol. shandy. titk nyala >2000F. papermint atau minuman beraroma mint (100 mg/kg). (level yang lebih tinggi ditemukan pada aroma mint yang lebih kuat). makanan olahan (25 mg/kg).Nomor CAS. Batas maksimum pada komoditas pangan (25 mg/kg). 110 dari 122 .2-methylenedioxybenzene-4-propylbenzene) yang belum diketahui keberadaannya secara alami tetapi terbentuk pada pembuatan piperonyl butoxyde. Sedangkan Malaysia mengatur keberadaan pulegon dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan.38 B. B.19 dan nama kimia 4Allyl-1. Minuman selain minuman beralkohol. konfeksionari mint (350 mg/kg). minuman (100 mg/kg) kecuali pada peppermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg) dan konfeksionari mint (350 mg/kg).38.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan pulegon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.1% pulegon. dan produk makanan lainnya (25 mg/kg). Safrol merupakan konstituen utama dari minyak sasadfras (Sassafras officinale Ness & Eberm) dan merupakan konstituen minor pada beberapa essential oil lainnya. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Hal ini berdasarkan pada tahap B3 bahwa asupan tidak melebihi ambang batas untuk manusia dimana Eropa dan USA masing-masing memiliki ambang batas 2 µg/hari.44 mg/kg bb/hari (26 mg/orang/hari) untuk pulegon.98 mg/l yang diukur pada suhu 250C. Senyawa terkait lainnya adalah dihidrosafrol (1.SNI 01-7152-2006 B. USA melalui FDA dalam CFR 172. NOEL yang sebesar 40 mg/kg bb/hari untuk nefropati diperoleh berdasarkan tetesan hialin dosis tinggi setara dengan NOEL 0.37. yaitu 0. produk minuman lainnya (100 mg/kg). Senyawa yang terkait dengan safrol adalah isosafrol (1.

9-trimethyl. minuman beralkohol (5 mg/kg).4H)-dione. nodule formation. B. produk yang berasal dari daging (10 mg/kg).9-trimethyl-.SNI 01-7152-2006 B. 481-06-1 Deskripsi Nama lain dari alfa-Santonin adalah Naphtho[1.4H)dione.2 Fungsi lain Tidak ada.5. minuman (1 mg/kg). Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan safrol sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: makanan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg).5a.39. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Typhimurium dengan atau tanpa proses aktivasi. (-)-Santonin.9b-tetrahydronaphtho[1. Sedangkan India menetapkan safrol boleh terdapat secara alami pada berbagai artikel pangan dan tidak melampaui batas (10 mg/kg). produk pangan lainnya (1 mg/kg). Eudesma-1.38.[3S-(3α. cerevisiae dan intraperitoneal host mediated assay (in vitro).9-trimethylnaphtho[1.5a. B. (-)-α-Santonin.7-Hexahydro-1-hydroxy-α. Batas maksimum pada komoditas pangan (1 mg/kg). Tidak ada kejadian tumor hati pada anjing yang diberi asupan safrol selama 6 tahun namun terjadi perubahan terhadap fungsi hati yang meliputi bile-duct proliferation.5a. Pada tikus besar.2-b]furan-2.5a.2.9bβ)]-3a. .9bβ)]-.4H)-dione.5a. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Safrol menunjukkan hasil positif pada mutagenik assay (in vitro) dengan menggunakan E. pemberian safrol secara kronis menghasilkan progressive dosedependent liver damage yang meliputi hepatic cell enlargment.4-dienic acid.cirrhosis adenomatoid hyperplassia sampai benign and malignant tumours.30 dengan rumus molekul C15H18O3. pengecualian pada produk minuman beralkohol dengan kadar dibawah 25 %vol (2 mg/kg) dan minuman beralkohol dengan kadar diatas 25% vol (5 mg/kg) serta pada pangan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg).coli.9b-Tetrahydro-3.9-Trimethyl-3a.5.8(3H. 6αhydroxy-3-oxo-. Nomor CAS. Santoninic anhydride.5a. 111 dari 122 .3.4-dien-12-oic acid.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentrarius Commission) tidak membolehkan penambahan safrol dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. [3S-(3α. (-)-Santonine. Ekspos tikus terhadap safrol dalam uterus menghasilkan renal epithelial tumours.5aβ.5a.5a. 180).8(3H. Safrol bersifat inaktif dalam studi mutagenitas yang menggunakan berbagai strain mikroba S. (11S)-.3aα.2b]furan-2.3.2-b)furan-2.38.8-trimethyl-7-oxo-2-naphthalene-acetic acid γ-lactone.l-Santonin.1 alfa-Santonin (α-santonine). USA melalui FDA melarang penggunaan safrol dalam produk pangan (CFR 189.9b-tetra-hydro3. l-α-Santonin. α-Santonin memiliki berat molekul 246.4a. 6α-hydroxy-3oxo-. Demikian pula Malaysia dan Singapura juga melarang penggunaannya dalam makanan.5.9btetrahydro-3.8(3H. 3a.2b]furan-2.5.38.4.3 Kajian keamanan Safrol dan Isosafrol diberikan pada tikus besar yang dapat menyebabkan liver hypertrophy dan mikrosomal enzymes. γ-lactone.3aα. γ-lactone. S.4H)-dione. 11-Epiisoeusantona-1.5aβ. Semenen. B. Pemberian safrol terhadap tikus baik secara oral maupun subkutanus yang menuju marked increase pada kejadian tumor hati. 3a.8(3H. Naptho(1. 1.39 B. Santonin. 4a.

87-29-6 Deskripsi B.SNI 01-7152-2006 B. 1973).3 B. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan santonin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg.31) (Stoner et al.51) (Stoner et al. 3phenyl-2-propenyl-anthranilat memiliki nama kimia: 3-phenyl-2-propen-1-ol. 3-phenyl-2-propenyl 2-aminobenzoat. menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 13/30 (1.41 dan 1.39. 112 dari 122 .39.2 Fungsi lain Tidak ada.3. Sampai saat ini belum diperoleh informasi tentang keberadaan senyawa ini secara alamiah. Nomor CAS. Cinnamyl anthranilate atau dengan nama lain antrhranilic acid. penggunaan dosis toatal 12 g/kg bb atau 2. = 180 mg/kg.helmintik (mencegah parasit).1 Sinamil antranilat merupakan perisa sintetik yang telah digunakan dalam produk pangan semenjak tahun 1985. Pada penelitian berikutnya. 2aminobenzoat. B. B.18 dan 0.39.40. dapat mengakibatkan ilusi warna. B. pada mencit – ip pada mencit – iv pada mencit – oral pada manusia (dosis terendah) Dosis 1 mg/kg dalam minuman beralkohol dengan kurang dari 25% volume alkohol memiliki efek negatif pada kesehatan. cinnamyl ester. minuman (0. Santonin bersifat sebagai anti.2 Fungsi lain Tidak ada. = 15 mg/kg. 1973). Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Sinamil antranilat (cinnamyl anthranilate).1 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) = 130 mg/kg.40.3. cinnamyl alcohol anthranilat.40 B.1 mg/kg). warna jingga.3 B. B. Malaysia melarang penggunaan santonin dalam makanan.40 g/kg bb secara intraperitonial pada mencit menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 17/30 (2.1 a) b) Kajian keamanan Pengujian karsinogenisitas Dosis 12 g/kg bb atau 2.40. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan santonin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.1 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol diatas 25% volume (1 mg/kg).39. = 900 mg/kg.40.4 g/kg bb sinamil antranilat dalam tricaprylin pada mencit.

Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg diet (1/2 MTD) pada tikus jantan dan betina menunjukkan penurunan berat badan.5% sinamil antranilat tidak mutagenik terhadap Salmonella galur TA-1535. 0.2.1.0 mg/telur) dan inkubasi 96 jam dengan tingkatan dosis: 0. 1980). 0. Pra inkubasi (0 jam dengan tingkatan dosis: 10. tidak terjadi efek yang signifikan terhadap angka kematian. 0. 1000.3 Toksisitas akut (LD50) = 5000 mg/kg bb(Opdyke. Teramati abnormalitas pada keempat kondisi tersebut. 0. 10000 dan 30000 mg/kg (0. 0. 0. dengan jumlah diet yang sama menyebabkan tumor pada ginjal dan pankreas.1 2. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet (MTD dan ½ MTD) pada mencit menyebabkan hepatoselular karsinoma dan adenoma. = 5000 mg/kg bb (Opdyke. Terjadi adenokarsinoma atau adenoma sebesar 4/39 (8%) pada tikus betina dengan dosis tinggi. dosis tinggi 41/50).5.40. selain itu terjadi pula karsinoma hepatoselular dan adenoma. dosis tinggi 30/49) dan hubungan hemosiderosis limpa dengan dosis yang diberikan pada tikus betina (kontrol 8/47. a) b) Sinamil antranilat yang diberikan pada mecit jantan dan betina secara intraperitonial menyebabkan tumor paru-paru. 3000. tak teramati adanya tumor. Begitupula pada tikus. Tak ada korelasi jumlah dosis dengan kerusakan pada necropsy (NCI. B.3. dan TA-1538 dan Saccharomyces cerevesiae D4 dengan dan tanpa aktivasi (Litton Bioneticks Inc. 1.25.2.4 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet pada mencit dengan dosis 0.40.2.2 B. Pada dosis rendah.3.0 mg/telur.SNI 01-7152-2006 c) Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg dietn(1/2 MTD) pada mencit jantan dan betina selama 103 minggu menunjukkan penurunan berat badan.3. 1975). (NCI.40. pada tikus–oral pada kelinci-dermal B.1. B.5 dan 0. Neoplasma sel acinar pada pancreas terjadi pada tikus jantan sebesar 3/45 (7%) yang diberi dosis tinggi. 0. dosisi rendah 17/50.02.3.3. Begitupula dengan tikus dengan perlakuan yang sama. TA-1537. 1975). 1976). Terdapat hubungan mineralisasi pada ginjal denagn dosis yang diberikan pada tikus jantan (kontrol 0/48. 1 dan 3%) selama 6 minggu menunjukkan tidak terjadi kematian dan penekanan berat badan yang lebih besar dibandingkan pemberian dosis 10% kecuali pada mencit jantan dengan dosis diet makanan sinamil antranilat 3000 mg/kg (3%).2 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Sinamil antranilat yang terlarut dalam alkohol dimasukkan ke dalam embrio ayam melaui dua jalan yaitu melalui sel udara dan kuning telur. 113 dari 122 .4. dan 0. Pengujian mutagenisitas Metode ames d) e) B. 1980).40.05.40.. 5.3. dosis rendah 28/50. 2.

41 B. menghilangkan dropsical effusions yang dihasilkan dari feebleness dari sirkulasi. Spartein sulfat adalah produk kristal dari reaksi asam sulfat dengan spartein.42 B.1 Tujon (thujone).41. netral. larut dalam air dan alkohol. dan meningkatkan pergerakan darah ke arteri. dapat menghasilkan getaran otot.SNI 01-7152-2006 c) Sinamil antranilat tidak mutagenik pada galur tertentu S.113 dan India melarang penggunaan sinamil antranilat dalam produk pangan. 546-80-5 Deskripsi Tujon mempunyai rumus kimia C10H16O berupa keton terpenoid dalam dua bentuk stereoisomer dan dikenal sebagai α-thujone dan β-thujone. Spartein adalah obat yang biasa dipakai di rumah untuk lemah jantung dengan feeble-ness otot. Senyawa ini diperoleh dari destilasi infus konsentrat pucuk cytisus scoparius. Senyawa ini dapat menstimulasi reaksi ginjal untuk menaikan kadar dan memproduksi mild diaphoresis.3 Kajian keamanan Senyawa ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada pusat syaraf sampai ke hati. larut dalam alkohol.1 mg/kg. meningkatkan tekanan arteri. B. dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 5 mg/kg dan produk pangan lainnya dengan maksimum level 0. Dapat mempercepat denyut nadi. tidak berbau. eter dan kloroform. Spartein dapat mengakumulasi sangat banyak gas pada saluran pencernaan.42. Tujon berbentuk minyak dengan 114 dari 122 .41. Bentuknya cairan minyak yang konsisten dan tidak berwarna. B. Dalam jumlah yang berlebih. sepersepuluh sampai setengah biji. Digunakan pada penyakit Graves. B.1 Spartein (Sparteine) Nomor CAS.4 Pengaturan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaan spartein pada minuman beralkohol sebesar 5 mg/kg. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan spartein sebagai natural toxicant.4 USA dalam CFR 189. B. muntah. Bukan obat tradisional yang dipercaya pada semua kasus. incoordination. Merupakan kristal atau bubuk putih. Berguna untuk jantung berdebar dari ketegangan dan lelah. Senyawa ini terurai selama proses pengeluaran urin atau pada pudendum dimana aliran urin sebesar-besarnya.2 Fungsi lain Tidak ada.41. pahit. Typhimurium.41. 6917-37-9 Deskripsi Rumus kimia spartein adalah C15H26N2. dan menyebabkan tekanan mental. Senyawa ini bersifat diuretik. deliquescent.40. B. dengan atau tanpa aktivasi. Nomor CAS. Jantung dihentikan pada sistol. catharsis dan akhirnya kelumpuhan otot-otot organ pernafasan dan pusat motorik. atau dari mother liquor setelah precipitating scoparin. Dosis. memperbesar kekuatan kontraksi otot jantung. ADI belum ditetapkan Pengaturan B.

pendarahan usus.42. Makanan berperisa sage (25 mg/kg). Untuk (+)-3-tujon diuji aktivitas psikotropik pada mencit dengan menggunakan serangkaian koordinasi dan studi kelakuan dan juga untuk anti nyeri (analgesik) dan hipnotis. pangan olahan lain (0. Untuk minyak dari wormwood (Artemisia absinthium) sebagian besar mengandung thujon. B. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.SNI 01-7152-2006 aroma yang menyerupai mentol dan terdapat dalam tanaman Artemisia spp. minuman beralkohol dengan kadar lebih dari 25% v/v alkohol (10 mg/kg). radang lambung.5 mg/kg).p.50C/9 mm sedangkan β-tujon.42. B. sesak nafas. minuman beralkohol dengan kadar diatas 25 % volume (10 mg/kg).5 mg/kg).5 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% volume ( 5 mg/kg). daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 1.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon). minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% v/v alkohol (5 mg/kg). titik didih sebesar 760C/10 mm. denyut nadi melemah dan pembesaran luas pernafasan (augmentation of respiratory amplitude).2 Fungsi lain Tidak ada. dan hepatitis. kram pada lambung/usus.42. Sedangkan India melarang penggunaan tujon pada berbagai artikel pangan.p dan penyelidikan kelakuan pada dosis 24 mg/kg i.5 mg/kg). aritmia jantung.5 mg/kg). Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan tujon (alfa dan beta) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: sage stuffing (250 mg/kg). merah kulit. tujon memperlihatkan sedikit pembesaran pergerakan dan depresi terhadap aktivitas pada dosis 3 mg/kg i. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. dimana daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 960 mg/kg (oral). hilang kesadaran. Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafasan terhambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia. makanan yang mengandung sage (25 mg/kg). Minuman selain minuman beralkohol dan shandy (0. sage stuffing (250 mg/kg). bitters (35 mg/kg). Minyak tansy dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0.15 g/kg (oral) sedangkan pada kelinci >5 g/kg (dermal). Juniperus. tujon dapat menyebabkan epilepsi yang didahului secara umum oleh fase pembesaran dimana beresiko pada tekanan darah. B. sedangkan pada kelinci >5 g/kg (kulit). Minuman beralkohol (10 mg/kg) dan produk pangan lainnya (0. Pada dosis rendah.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak memperbolehkan penambahan tujon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Saliva spp. Toksisitas pada aktivitas obat-obatan. minuman (0. α-tujon memiliki titik didih sebesar 74. Tanacetum (tansy) Thuja spp dan Cedris spp dengan proporsi yang bervariasi. Bitters (35 mg/kg). 115 dari 122 . Malaysia menetapkan keberadaan tujon dalam makanan tertentu sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan.

I. V... Available at: http://www.nih.pubmedcentral. Cedar Vale Natural Health. Committee of Experts on Flavoring Substances. Flavourings and Flavouring Enhancers..S. G. Potential antimutagenic activity of berberine. A. U. CAC/GL-29-1987. Toxicol. (1):2. 831-836. (2002). Liquido. R. K.S Food and Drug Administration Parts 189.. Consolidated Text. GAIN Report #SN3005. Food Chem.epa. Record..gov/ceppo. CAMEO®. T. J. Chan. Borris. BMC Compllementary and Alternative Medicine. Vanderbilt University School of Medicine. Cade http://www. Office for Official Publication of the European Communities. P. 22 January 2003. Official Journal of the European Communities. Chemical land. and Grasso. and Schiestl. Res. oil.html. Council Directive 92/115/EEC of 17 December 1992. (1975) A nine month toxicity study of diethylene glycol monoethyl ether in the ferret.... J. 369. 1987. availabel at:http://www.Kandikonda S.net/essentialsoils/cade. Singapore Food and Agriculture Import Regulations and Standards Country Report. Unpublished report bya British Industrial Biological Research Association. BMC compliment altern med. Diethylene glycol. F. Part 1 – Birsdall. 30 (10). Kelly. A.W. Gaunt. Council of Europe. Khrimian. Calamus Oil (Acorus Calamus). Enviromental Protenction Agency. Brennan. No. 2000. 1999-2003. Mutat.com/altmedrev/fulltext/berb. Code of Federal Regulation 21.gov/articlerender. Available at: http://www.S. 2003. Australian Food Standards Code Flavourings.fcgi?artid=101396. B. Amending for the First Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. P. U. Berberine: Therapeutic potential of an alkaloid found in several medicinal plants. and Cladwell. Department of Agriculture. Voluntary Report-public distribution. 116 dari 122 . Butterworth.cedralvale. prohibited from use in human food. L 409/31. General Requirements for Natural Flavourings. a constituent of Mahonia aquifolium. Comparative induction of unscheduled DNA synthesisi in cultured rat hepatocytes by allylbenzenes and their 1’-hydroxy metabolites. 175181. Herbal medicines and Dietary Suppplements Potentially Toxic Herbs.. 2003. B. 1996. 50th Session. J. R. N.. Codex Alimentarius Commission. H.S. De Milo. National Oceanic and Atmospheric Administration.C. Available at: Center in Molecular Toxicology. R. 1992.thorne. 2002.htm.S. Saturated and Monofluoro Analogs of the Oriental Fruit Fly Attractant Methylegenol Show Reduced Genotoxic Activities in Yeast.SNI 01-7152-2006 Bibliografi Ahuja P. Consleg 1995L0002 – 29/01/2004. Produced by the Consleg System. U.

SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/29 Final. The American materia medica. Sientific Committee on Food. Sientific Committee on Food. Sientific Committee on Food. Council Directive. F. European Commission.2-dimethoxybenzeme). SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/5 ADD1 Final. Sparteine. European Commission. L 331/7. Sientific Committee on Food. pharmacognosy.html. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/3 ADD2 Final. safrole and on the similarity of the biological activity of these substances. 22 June 1988. Official Journal of the European Communities No. 29 September 1999. Opinion of the Scientific Committee on Food on the presence of β-Asarone om flavourings and other food ingredients with flavouring properties. Opinion of the Scientific Committee on Food on Estragole (1-allyl-4-methoxybenzene). European Commission. Opinion of the Scientific Committee on Food on Pulegone and Menthofuran. Opinion of the Scientific Committee on Food on Isosafrle. Avalable at: http://www. L 331/10. 9 April 2003. Ellingwood. Sientific Committee on Food.. On the Approximation of the Laws of The Member States Relating to Flavourings for Use in Foodstuffs and to Source Materials for their Production. In flavourings and other food ingredients with flavouring properties. European Commission. Drugs and Vitamins. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/9 ADD1 Final. 25 Juli 2002. On The Approximation of the Laws of the Member States on Extraction Solvents Used in the Production of Foodstuffs and Food ingredients. 1976. therapeutics and European Commission. Drug Digest. SCF/CS/FLAF/61 Final. Directive 94/52/EC of The European Parliament and of The Council of 7 December 1994. 88/388/EEC. Official Journal of the European Communities No. SCF/CS/FLAF/78 Final.11475. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/30 Final. (1919)..org/DD/Printable/herbMonograph/0. 25 Juli 2002.SNI 01-7152-2006 Council Directive of 13 June 1988. 10. Drug Library. 26 September 2001.00. European Commission. Sientific Committee on Food. Drug Digest. 231-244. Sientific Committee on Food. Sientific Committee on Food. Directive 97/60/EC of The European Parliament and of The Council of 27 October 1997. L157/28. 117 dari 122 . EEC. Official Journal of the European Communities No. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/6 ADD2 Final. Amending for the Third Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients.drugdigest. 26 September 2001. Amending for the Second Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. 2 September 1980. European Commission. Opinion of the Scientific Committee on Food on Benzyl Alcohol. Sassafras. European Commission. Opinion of the Scientific Committee on Food on the Presence of hypericin and extracts of Hypericum sp. Opinion on Coumarin. Sientific Committee on Food. Opinion of the scientific committee on food on quassin. Opinion of the Scientific Committee on Food on Methyleugenol (4-allyl-1. Communication on the EEC Commission ENV/521/79 and IARC Monograph Vo.552413. 17 September 2002. European Commission. 8 Januari 2002. 8 Januari 2002. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/4 ADD1 Final.

Council of Europe Publishing.E. (2000). Kings Americans The FEMA GRAS Food Act 1983 (Act 281) and Regulations. R. L. INCHEM. IOFI Flavour Information 23 March 2004 Tabs 1-12. http://www. M. Gonzalez. a. IPCS. IOFI. Botanical. 1st Januari 1999. F.purdue.W. Horozon Aromatics. H. Code of Practice for The Flavour Industry. and Gangolli. S.. International Flavours and Fragrances. Regulation of the European Parliament and of the Council. IPCS. J. Henriette’s Herbal Hompage. 1995.html.html. Opinion of The Scientific Committee on Food on 3-monochloro-Propane-1. Hall. 12 November 2001. Summaries and evaluations Nitrobenzene. M. (1996) “Short term feeding study with diethylene glycol monoethyl ether in rats” .com/botanical. Pazos. 689-705. Austin.. Laws of Malaysia. Program. F. Matters Dealing with Thermal Process Flavourings. J. F. Updating the SCF Opinion of 1994. Pennyroyal Oil. Felter.U. Tansy. I.. Grieve M. IOFI. [Pharmacologic activity of the aqueous wood extract from Quassia amara (Simurabaceae) on albino rats and mice] Rv. Colley. IOFI Guidlines for The Preparation of Smoke Flavourings. vol. (1996). 77. International Agency for Research on Cancer (IARC). Common Tansy Hall.. D.. Grieve.com. GRAS substances. Food Cosmet. Diethylene glycol. Sassafras Fragrances. S. M.botanical. Oser. G.mgmh/b/bircom43. IOFI Guidlines for The Production and Labelling of Process Flavourings. Oleum Tanaceti Oil of Tansy. 381. Vol. 118 dari 122 Available at: . On Flavourings and Food Ingredients with Flavouring Properties for Use in and on Foods. SCF/CS/CNTM/OTH/17 Final. Adopted on 30 May 2001. Common. 19.botanical. List of Carrier Solvents and Supports for Flavourings.htm.SNI 01-7152-2006 European Commission. 12 November 2001. (1898). FCC IV. Cinnamyl Anthranilate. Lee. Garcia. D.. Birch. B. IPCS. July 2002.com/botanical/mgmh/t/tansy-05. vol. Lansdown. 47-50. IPCS. INCHEM. Modern herbal. B. European Commission. 31.65. Available at: http://www.. INCHEM.. Lloyd. Grasso. 44-45. Ethyl 3-phenyl glycidate. Recent progress in the consideration of flavoring ingredients under the Food Additives Amendment. 1965.edu/depts/addl/toxic/plant12. Food Cosmetics Toxicology. IOFI Guidlines for Safety Evaluation of Thermal Process Flavourings. (1968) Short-term Toxicity of Diethylene glycol monothyl ehter in the Rat. p. Dispensatory.2-Diol (3-MCPD).A. III. IARC Summary and Evaluation. Gaunt. Food Technology.. P. Toxicol. Cinnamyl Anthranilate. 6.S. P. L. Biol. Trop. and Fairweather. (1983). S. INCHEM. Mouse and Pig. C. Flavour and Extract Manufacturers Association of the United States. 263-268. 4. 1997. IARC Summary and Evaluation. L. http://www.vet. JECFA evaluations 2-Butanone. 151-197.. G.. DG Sanco Working Document.. Monograph Specifications.

http://www. 35th session. 12 November 2001. IPCS. 32. 119 dari 122 . Isopropyl Alcohol. Evaluation. 1981. IPCS. INCHEM.available at: IPCS. INCHEM. IPCS. Ruta graveolens L. 1998. INCHEM. Benzo[a]pyrene. INCHEM. Cocaine. International Agency for Research on Cancer (IARC). 12 November 2001.org/documents/jecfa/jecmono/v16je04. JECFA. INCHEM. and 1999 Meeting. Coumarin. IPCS. WHO Food Additives Series 30. INCHEM. INCHEM. WHO Food Additives Series 22. INCHEM. 1993. INCHEM. INCHEM. Safrole. ICSC: 0554. WHO Food Additives Series 16. JECFA reports Results of 2000. Benzyl Alcohol. JECFA Evaluations Hydrocyanic Acid. INCHEM. IARC Summary and IPCS. Cinnamyl Anthranilate. ICSC: 0833. WHO Food Additives Series 16. IPCS. WHO Food Additives Series 28. Published FNP25 supersending the earlier spesifications published in FNP19 (1981). INCHEM. Coumarin. IPCS. Available at: IPCS. IARC Summary and evaluation. 10.JECFA evaluations Eugenyl methyl ether. ICSC: 0065. JECFA evaluations Benzyl Alcohol. and 2002 Meeting. JECFA evaluations Benzo[a]pyrene. IARC Summary and evaluation. JECFA. Benzo[a]pyrene. WHO Food Additives Series 16. PIM 139.org/documents/jecfa/jecmono/v16je10. INCHEM. Estragole. IPCS. 12 November 2001. PIM 290. WHO Food Additives Series http://www. 1997. 10. Nitrobenzene. (1982).org/documents/pims/chemical/pim290. IPCS. Safrole. IPCS.htm. Isopropyl Alcohol. Dihyrocoumarin.htm. INCHEM. IPCS. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. JECFA evaluations p-Propylanisole. IPCS. IPCS. 1976. IPCS. Diethelene Glycol Monoethyl Ether. Isosafrole and Dihydrosafrole. INCHEM. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. 16.inchem. β-Asarone. vol. WHO Food Additives Series 16. 2001. INCHEM. WHO Food Additives Series 30. INCHEM. JECFA evaluations Estragole. http://www. WHO Food Additives Series 46. (1983).htm. 12 November 2001.inchem. INCHEM. IPCS. Smoke Flavourings. INCHEM. IPCS. INCHEM. IPCS. IPCS. Availabel at: IPCS. JECFA evaluations Thujone. INCHEM. INCHEM. Vol. Quinine. IPCS. IPCS. 12 November 2001. 12 November 2001. (1976). 1989. INCHEM. JECFA. WHO Food Additives Series 10. Pulegone and related substances. vol.inchem. Published in FNP 19.SNI 01-7152-2006 IPCS. IPCS. INCHEM. International Agency for Research on Cancer (IARC). INCHEM. 12 November 2001. INCHEM. IPCS. 12 November 2001. JECFA Reports Results of 2003 Meetings. JECFA Reports Results of 1996.

5. Opdyke. Allergy to quinine and tonic water. Metabolism of aloin the influence of nutrition. 61.. 04/M-DAG/PER/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya Piccinini.. 1067-1074.fao. Life science. O’rourke. 23 Januari 2004.fao. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan. Product information bulletin. Noveon kala.Toxicol. Risk of hydrocyanic acid release in the electroplating industry. S. Mallinckrodt chemical. Dihydrocoumarin Flavouring. A. (2003). and Roman. 14. 2001. p.. Kamus Besar Bahasa Indonesia... Carron.N. p. RIFM – FEMA Database. R. 80-90.F.I No. Departemen Pendidikan Nasional. M.] Wild. Antipyretic activity of α. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan.. National Cancer Institute. Cinnamyl anthranilate. inc. 223-74-2104.05. Katzer G.. M. N. Backer. 1975. Mutagenicity evaluation of compound FDA 73-59.htm. RIFM – FEMA Database. 23. Martin. 285-290. NTP No. Baldi.T.org/jecga/additive_specs/docs/0/additive-0181.. Mutu. suggestions.. 196.. Moran. No. Journal of pharmaceutical and biomedical analysis. and Robotto. 1963.00617 tentang Pemberlakuan Kodeks Makanan Indonesia. No. Carcinogenesis Technical Report Series No. pp. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. J. Litton Bionetics Inc. Elsevier. FDA Contract No. Ruggiero. Special issue II.00. Kanny. A. Flabbẽe. A. Benzyl Alcohol.dan Gizi Pangan Peraturan Menteri Perdagangan R. R.. JECFA. 1-10.SNI 01-7152-2006 JECFA. Noveon. No. Morisset. Koch. Fragrance raw materials monograph. J. A. 1975. Availabel at: http://apps3. Institut de Physiologie de I’Université. Report problems and Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.. Available at: http://apps3. 751-752. D. 13. 15 June 1975. Milan. 1980. G. p-Propylanisole.. No. (1996). JECFA. Antifertility activity of quassia amara in male rats in vivo study. p. M.Cosmet. 1335-1338. G. M.and β-Santonin. J. 395-396. No. L. 120 dari 122 . 395-407. Elsevier. Jounal of hazardous materials. Benzyl Alcohol. Tonka Bean (Dipteryx odorata [Aubl. 2-Butanone.). 2000. Maximum Limits for Certain Undesirable Substances Present in Foodstuffs as Consumed as a Result of the Use of Flavourings.J. Communication et relation au Comité por I’Etude des Bossions Alcooliques Aromatisées de la Federvini. D. 11. Depatemen Pendidikan Nasional. Peraturan Menteri Kesehatan R. Y. Analisi dei gruppi lattinici di una quassina greggia.I. European Journal of Internal Medicine. and Bolarinwa.htm. Bioassay of cinamyl anthranilate for possible carcinogenicity. Balai Pustaka. p. Ethyl Phenylglycidate. Edisi Ketiga. Elsevier. 2001. Moneret-Vautrin.org/jecfa/additive_specs/docs/0/additive-0355. Ethyl 3-phenylglycidate. 71. 14. Cinnamyl anthranilate (Litton Bionetics Inc.A. Material Safety Data Sheet. (1997). Raji. Margaria. European Communities (Flavourings for Use in Foodstuffs). Fd. NCI. (1988). p.L. Journal of Ethmopharmacology. G. vol. No. (2000). Montero..

. G. K. J. 1994. Hutt. R.R. Bitter nightshade Solanaceae dulcamara. et al. Ilsi Research Branches Publications Meetings. FCT. Carpenter.net/lambo/dulcamara/dulcamara01. Smith. 1973. Brown.L.R. 286. Genotoxicity of safrole-related chemical in microbial test systems.htm. 121 dari 122 . Tawara. RIFM – FEMA Database. 263-271. A. Fd. F.al. and Smith.. Synergy in a medicinal plant: Antimicrobial antion of berberine potentiated by 5’nethoxyhydnocarpin.. and Ashley.A. E. 33. Vol. P.. Material information on pulegone. R. (2003).. No.2-diol (3-MCPD). Chiang. Safety assessment of allylalkoxybenzene derivatives used as flavouring substances methyl eugenol and estragole.. Seiler. R. Ethyl phenylglycidate.. RIFM – FEMA Database. C. Cancer Res. Chan. Stanfill. and Methyleugenol Induce Intrachromosomal Recombination in Yeast. J. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. Opinion on 3-monochloroprophane-1. A. Smithe.H. 7-31 by the Mellon Institute of Industrial Research. D. D. 30693085. 1037 Sangster. and Shibamoto.M. Birch tar oil. J. C. F. J. Jensen. Smith. Stoner.. Zenewicz. S. Calafat. 303-317. a multidrug pump inhibitor. 97. Reports of the Scientific Committee for Food (thirty-sixth series). J. Unpublished report No.B.SNI 01-7152-2006 RIFM . RIFM – FEMA Database. Stermitz. p. Watson.htm.. The metabolism of pPropylanisole in the rat and mouse and its variation with dose.R.. Isopropyl Alcohol. Solanum dulcamara seeds. G.N. T. 40.vt.. Polzin. piperonal and pulegone in Indian bidi cigarette tobacco. 4.edu/dendro/dendrology/syllabus/syllabus/sdulcamara. (1983). RIFM monograph. Caldwell. No. (2004). p. C.M. Test for carcinogenicity of food additives and chemotherapeutic agents by the pulmorary tumor response in Strain A mice. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. L et. pp. Pargamon.v11. p. S. Concentrations of nine alkenylbenzenes. No..A. PNAS. RIFM – FEMA Database. P. 101. Res. 224. H. Cinnamyl Anthranilate. Safety Evaluation on Natural Flavour Complexes. Available at: http://www. Chem toxic. Elsevier.. S. Mutat. 29 Januari 2003. Lorenz. L. 1989. Mutat. Safrole. Schiestl. No. Material information on p-propylanisole. 851-870. 127-140. Material information on Methyl β-naphthyl ketone. 3. D. B. RIFM. (2000)..A. P. Res. Summary of Evaluations Performed by th JECFA. p. 1973. 1982. Food and Chemical Toxicology 41.. Methyl beta-Naphthyl Ketone. coumarin. D.L.C.al. R. 14331437. Expressed 16 December 1994. Toxicology Letters 149 (2004) 197-27. C. Eugenol.. et. and Lewis. Ilsi Research Branches Publications Meetings.. (1944) “Two Year oral doses of Carbitol to rats”.. Metha. Ilsi Research Branches Publications Meetings..aros.FEMA Database. (2002).. Sezikawa.cnr. R. Fd Chem Toxic.. Gietz. W. and Shaffer. J.. and Peterson... SCF.R. 427-436.J. Material information on Estragole..H. 21. and Hastings.L. J. Available at: http://www2. vol.M.

Isopropyl Alcohol.. Wiley-VCH. 1998. 718. P.. P. R. 93. No. Geological Survey.A. and Micali. Acidum Agaricum. Zonta. National Institutes of Health. NIOSH. p/ 707-719. Safrole and Isosafrole. TOXNET. pennyroyal. 2003. Bogoni. Monograph. Published by direction of the Council of the Pharmaceutical Society of Great Britain. 99-106. Branches Publications Meetings. Asam pirolignous. Ziegler and Ziegler. Diethylene Glycol. National Library of Medicine. (1911).T. Journal of chromatography A.. Masotti. TGSC. F.. Sulfate. 21.SNI 01-7152-2006 Summary of Evaluations Performed by the JECFA..toxnet. (2004). with reference to the EEC regulation for flavouring substances. Quinine. J.G. vol. Fd ChemToxic. Taylor.. G. High performance liquid chromatographic profiles of aloe constituents and determination of aloin in beverages. No. Department of the Interior. Material safety data sheet for Birch tar oil. U.S. Wild. p. (1983). Available at: Vongpatanasin. The Registry of Toxic Effect of Chemical Substances.gov.. U. Effects of cocaine on heart rate variability in healthy subjects. Oils.S. Gocke. WeiheimNew York – Chishester – Brisbane – Singapore – Toronto. (1995).nlm. M. hedeoma pulegioides. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances. and Victor. The British Pharmaceutical Codex. Study of artificial flavouring substances for mutagenicity in the salmonella/microsome basc and micronucleus tests. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances. Ilsi Research Summary of Evaluations Performed by the JECFA. Flavourings Regulation. K. Ilsi Research Branches Publications Meetings. E. Elsevier. 122 dari 122 . W. Flavourings. King. http://www. The American jounal of cardiology.. 6.nih. D. and Eckhardt. Toxic Substances Hydrology Program. vol.