SNI 01-7152-2006

Standar Nasional Indonesia

Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan

ICS 67.220.20

Badan Standardisasi Nasional

SNI 01-7152-2006

Daftar isi

Daftar isi ........................................................................................................................... Prakata ............................................................................................................................ . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ruang lingkup ........................................................................................................... Acuan normatif .......................................................................................................... Istilah dan definisi ..................................................................................................... Jenis perisa ............................................................................................................... Pengelompokan perisa ............................................................................................. Penggunaan perisa ................................................................................................... Ajudan perisa (Flavoring adjunct) ............................................................................. Senyawa penanda .................................................................................................... Larangan ...................................................................................................................

i ii 1 1 1 2 3 3 11 17 18 18 19 25 116

10 Ketentuan label ......................................................................................................... Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan penggunaannya dalam produk pangan ..

Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa ........................................................... Bibliografi .........................................................................................................................

Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17

Batasan aloin dalam produk pangan ................................................................ Batasan asam agarat dalam produk pangan ................................................... Batasan asam sianida dalam produk pangan................................................... Batasan beta asaron dalam produk pangan .................................................... Batasan berberin dalam produk pangan .......................................................... Batasan estragol dalam produk pangan .......................................................... Batasan hiperisin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kafein dalam produk pangan ............................................................. Batasan kuasin dalam produk pangan ............................................................. Batasan komarin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kuinin dalam produk pangan ............................................................ Batasan minyak rue dalam produk pangan .................................................... Batasan safrol dalam produk pangan ............................................................. Batasan iso-safrol dalam produk pangan ....................................................... Batasan alfa santonin dalam produk pangan ................................................ Batasan spartein dalam produk pangan ........................................................ Batasan tujon dalam produk pangan ..............................................................
i

4 4 5 5 6 6 7 7 7 8 8 8 9 9 10 10 11

.................................................................................SNI 01-7152-2006 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan ............................. Pelarut pengekstrak dan bahan penolong .... Pelarut dan pelarut pembawa ......... 11 11 16 ii ....................................................................................................

sehingga dapat meningkatkan daya saing . konsumen.memberikan pedoman penggunaan perisa bagi industri perisa dan industri pangan .SNI 01-7152-2006 Prakata SNI Bahan Tambahan Pangan Perisa. prakonsensus.mendukung perkembangan industri pangan.Persyaratan Perisa dan Penggunaan dalam Produk Pangan disusun oleh Panitia Teknis 67-02 Bahan Tambahan Pangan dan Kontaminan. dan terakhir dirumuskan dalam rapat konsensus nasional di Jakarta tanggal 7 Oktober 2005 yang dihadiri oleh wakil-wakil produsen. Penyususan standar ini bertujuan untuk: . perguruan tinggi. serta instansi pemerintah terkait.memberikan jaminan mutu produk pangan.memberikan perlindungan kepada konsumen terhadap dampak merugikan akibat penyalahgunaan penggunaan perisa . iii . Standar ini telah dibahas dalam rapat-rapat teknis. asosiasi.

.

larangan. penggunaan perisa.4-2005. ajudan perisa. JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) meeting report on Evaluation of Certain Food Additives and Contaminants. Formula lanjutan. dengan atau tanpa ajudan perisa (flavouring adjunct) yang digunakan untuk memberi flavor. tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3. 2 Acuan normatif WHO Technical Report Series. SNI 01 – 7111. manis dan asam. SNI 01 – 4213.2 perisa bahan tambahan pangan berupa preparat konsentrat. tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3.3 senyawa perisa senyawa kimia tertentu yang mempunyai sifat flavor. SNI 01 – 7111. Pengganti air susu ibu. dengan pengecualian rasa asin.3-2005. SNI 01 – 3955. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap.2-2005. SNI 01 – 7111.SNI 01-7152-2006 Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan 1 Ruang lingkup Standar ini meliputi acuan normatif. istilah dan definisi. 3 Istilah dan definisi 3. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 1: Bubuk instan. senyawa penanda. dan ketentuan label. SNI 01 – 7111.4 batas maksimum jumlah maksimum yang diizinkan terdapat dalam produk pangan 1 dari 122 . pengelompokan perisa.1 bahan tambahan pangan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan 3. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak. jenis perisa. Standar ini berlaku untuk industri perisa dan industri pangan yang menggunakan perisa sebagai bahan tambahan pangan.1-2005.

4 Perisa asap adalah preparat perisa yang diperoleh dari kayu keras termasuk serbuk gergaji. preparat perisa. 4. pelarutan. herba dan sumber tumbuhan lainnya yang tepat untuk aplikasi yang dimaksud. yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. Senyawa perisa tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung.1. sehingga memungkinkan untuk mengidentifikasi setiap senyawa kimia secara spesifik 4 Jenis perisa 4. perisa asap. 2 dari 122 . senyawa perisa artifisial. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan pangan tumbuhan maupun hewan yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. Bahan tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung.1. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan tumbuhan atau hewan. bahan baku aromatik alami. senyawa perisa identik alami.SNI 01-7152-2006 3.3 Preparat perisa adalah bahan yang disiapkan atau diproses untuk memberikan flavor yang diperoleh melalui proses fisik. Bahan baku tersebut termasuk bahan pangan.7 ADI (Acceptable Daily Intake) atau asupan harian yang dapat diterima jumlah maksimum senyawa perisa dalam miligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan 3.9 nomor CAS (Chemical Abstract Service) sistem indeks atau registrasi senyawa kimia yang diadopsi secara internasional.1.1 Perisa terdiri dari tujuh jenis yaitu senyawa perisa alami.6 senyawa bioaktif senyawa yang terdapat pada tanaman yang mempunyai efek fisiologis tetapi bukan zat gizi 3. pengenceran. 4.5 CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik) suatu pedoman yang diterapkan untuk memproduksi pangan yang memenuhi standar mutu atau persyaratan yang diterapkan secara konsisten 3.2 Bahan baku aromatik alami adalah bahan baku yang berasal dari tumbuhan atau hewan yang cocok digunakan dalam penyiapan/pembuatan/pengolahan perisa alami. dan penggunaan perisa 3.1. 4.1 Senyawa perisa alami adalah senyawa perisa yang diperoleh melalui proses fisik. dan selanjutnya dikondensasi serta difraksinasi untuk mendapatkan flavor yang diinginkan. 4. penyimpanan. rempah-rempah. dan perisa hasil proses panas. tempurung dan tanaman berkayu yang tidak mengalami perlakuan dan tidak terkontaminasi melalui proses pembakaran yang terkontrol atau distilasi kering atau perlakuan dengan uap yang sangat panas.8 ajudan perisa (flavouring adjunct) bahan tambahan yang diperlukan dalam pembuatan.

5.1.1.5 Senyawa perisa identik alami adalah senyawa perisa yang diperoleh secara sintesis atau diisolasi melalui proses kimia dari bahan baku aromatik alami dan secara kimia identik dengan senyawa yang ada dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia. dibatasi dengan nilai ADI dan dibatasi dengan kandungan bioaktifnya.2 Perisa identik alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa identik alami dan dapat mengandung senyawa perisa alami. bahan baku aromatik alami.4 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan. perisa artifisial.3 Perisa artifisial adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa artifisial.1.0. 4. perisa identik alami. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa identik alami dan senyawa perisa artifisial.1. baik setelah diproses atau tidak. 5. 6. 5 Pengelompokan perisa 5. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180 °C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8.0. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa artifisial.7 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan.1. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas. 4. dan perisa hasil proses panas.1 ditujukan untuk pelabelan produk pangan. 5. 5. 5. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180°C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8.2 Perisa dapat digunakan dalam produk pangan secara tunggal atau campuran. 3 dari 122 . bahan baku aromatik alami.1.1 Perisa alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa alami.1 Perisa dapat digunakan bersama-sama dengan komponen atau senyawa kimia yang diizinkan. 6 Penggunaan perisa 6. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas. 6.6 Senyawa perisa artifisial adalah senyawa perisa yang disintesis secara kimia yang belum teridentifikasi dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia. baik setelah diproses atau tidak.3 Penggunaan perisa yang diizinkan didasarkan atas CPPB.1.SNI 01-7152-2006 4.1 Perisa dikelompokkan berdasarkan sumber dan proses pembuatannya menjadi empat kelompok menjadi perisa alami.2 Pengelompokkan sebagaimana dimaksud dalam butir 5.

666-99-9 Asam agarat tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 6.5.3. 6.5.2 diizinkan untuk digunakan dengan batas penggunaan sesuai dengan CPPB.2 6. 6.3.2.2 sesuai dengan Tabel 2. 6.5.2.5. maka batasan penggunaannya mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh JECFA.3.3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 20 20 Produk pangan 4 dari 122 .1 Asam agarat (agaric acid).1.3.3.5.1 diizinkan untuk digunakan. Tabel 1 Batasan aloin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0.1.1 Senyawa perisa sebagaimana tercantum dalam Lampiran A Tabel A.4 Tabel A.1 yang berdasarkan kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) mempunyai batasan penggunaan sesuai dengan ADI.5.1 0. 1 2 Makanan Minuman Batasan asam agarat dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).1 Aloin (aloin).1.1 yang tidak termasuk dalam butir 6.3 Batas maksimum aloin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3.2 Aloin boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.2.3 Batas maksimum asam agarat dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. 6.2 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6. 6.3.5 Perisa yang digunakan dalam produk pangan dapat mengandung senyawa bioaktif yang jumlahnya dalam produk pangan dibatasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 sampai dengan Tabel 17. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.1 dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nomor CAS.3.1 50 No. 6.5.5.3.3.1 sebagaimana tercantum pada butir 6.3.3. 6.3.2 sesuai dengan Tabel 1.1. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Minuman beralkohol 6.3. Nomor CAS.5. 6.3.3.SNI 01-7152-2006 6.3. Tabel 2 No. 5133-19-7 Aloin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.2 Asam agarat hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.2.1 6.3.3 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6.

3.Produk yang mengandung kacangkacangan dan umbi-umbian 6. 3 Produk pangan Pengecualian pada: .3. Tabel 4 Batasan beta asaron dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).2 sesuai dengan Tabel 3.1 1 No.3.4. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Pengecualian pada: .5.3 6. Nomor CAS.3. 5273-86-9 6.Makanan yang mengandung jamur Batas maksimum (mg/kg).5.3. Tabel 3 Batasan asam sianida dalam produk pangan Batas maksimum 1 mg/kg 1 mg/kg 25 mg/kg 5 mg/kg 1 % per volume 50 mg/kg No.3. 6. 1 2 3 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada minuman beralkohol dan bumbu dalam makanan ringan 5 dari 122 . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.1 Asam sianida (hydrocyanic acid).4 Beta asaron (β-asarone).5. Nomor CAS.1 Beta asaron tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 100 100 6.3. 6.3 Batas maksimum beta asaron dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.Sari buah berbiji tunggal .3.3.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.2 sesuai dengan Tabel 4.4.3 Batas maksimum asam sianida dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.4.5.5.1 0.4.3.2 Beta asaron hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.Kembang gula .5.3.3. 74-90-8 Asam sianida tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.Minuman beralkohol .3. 6. dihitung terhadap produk siap konsumsi.SNI 01-7152-2006 Tabel 2 (Lanjutan) No.2 Asam sianida hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.3.Minuman beralkohol .5. 6.

3.SNI 01-7152-2006 6.2 sesuai dengan Tabel 7.3. Nomor CAS. 1 2 3 Batasan berberin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).6.2 sesuai dengan Tabel 6.5.2 Berberin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.7.6.5. 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.7.3.5.3 Batas maksimum berberin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3.3. Nomor CAS.5.3.3.5.3.1 Berberin (berberine).5.5 6.5. 548-04-9 Hiperisin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5. 6.5.7.2 sesuai dengan Tabel 5. Tabel 5 No. 6.6.5.7 6.1 Estragol (estragole).3.5.3 Batas maksimum hiperisin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.6.5.3.3.5.1 Hiperisin (hypericine).2 Hiperisin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5. 6.3 Batas maksimum estragol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.7. 6.5. 140-67-0 Estragol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3.1 0.5. 1 2 3 Batasan estragol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 50 50 50 Produk pangan Produk turunan susu Buah olahan.3. Tabel 6 No. polong-polongan. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.5.6 6.1 10 Produk pangan Makanan Minuman Minuman beralkohol 6.2 Estragol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3.5.3. 6. 6 dari 122 . sayuran termasuk jamur.akar. 50-32-8 Berberin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Nomor CAS. kacang-kacangan Ikan dan produk perikanan 6.

9. pastilles .9.8 6.3. Nomor CAS.3 Batas maksimum komarin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. Tabel 9 No.Minuman beralkohol 6.10.3.9 6. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman Kuasin (quassine).8. 6.2 Komarin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5. 6.2 Batas maksimum kuasin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 9.5.5.1 0. . 6.3.5.2 sesuai dengan Tabel 10.1 6.5. Batas maksimum kafein dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 8.3.1 Kuasin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 76-78-8 6. Nomor CAS.3.3.1 Komarin (coumarin). 91-64-5 Komarin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 7 dari 122 .10 6.10.5. Tabel 8 Batasan kafein dalam produk pangan Batas maksimum 150 mg/hari dan 50 mg/sajian 150 mg/hari dan 50 mg/sajian No.Kembang gula.Kembang gula pastilles .3. 58-08-02 Kafein boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3. 1 2 3 Batasan hiperisin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).5.10. 1 2 3 Batasan kuasin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 5 5 10 50 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .2 Kafein (caffein).Minuman beralkohol 6.1 1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .5.3.SNI 01-7152-2006 Tabel 7 No. Nomor CAS.3.10.8.5.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3.

Minuman beralkohol 3 6. Nomor CAS. Produk pangan 1 Makanan 2 Pengecualian pada: .5.Minuman berperisa non alkohol .11.2 Batas maksimum kuinin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 11. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.Permen karet .5. Tabel 12 Batasan minyak rue dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 4 10 No.3.Minuman non alkohol . 6.Karamel .5.1 Minyak rue (rue oil).3.Bumbu 6.Roti dan produk bakeri 8 dari 122 .5. Tabel 11 No.12.2 Batas maksimum minyak rue dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 12. Nomor CAS. air mineral.3.1 Kuinin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3.1 85 85 85 85 85 85 300 Produk pangan Makanan Minuman .SNI 01-7152-2006 Tabel 10 No 1 2 3 Batasan komarin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).3.Minuman ringan kecuali air dalam kemasan. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.Tonic water and non wine based bitter .11. 1 2 Batasan kuinin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 2 2 10 10 10 10 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .12.5.12 6.3.Kembang gula .5.Minuman beralkohol . 6. 8014-29-7 Minyak rue boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.11 Kuinin (quinine). 130-95-0 6.Jus buah lemon Pengecualian pada: . jus dan nektar .

minuman beralkohol dengan kadar < 20% 9 dari 122 .5. Produk pangan . Nomor CAS. 1 2 Batasan iso-safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3.14.13.2 sesuai dengan Tabel 13.minuman beralkohol dengan kadar < 20% .makanan mengandung bunga pala dan pala .1 6.14.5.5.14.3.3.3 Batas maksimum iso-safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.1 Iso-safrol (iso-safrole).produk daging berbumbu 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 6. Tabel 14 No.3. Batas maksimum (mg/kg) 10 10 6.2 sesuai dengan Tabel 14.SNI 01-7152-2006 Tabel 12 (Lanjutan) No.13.Kembang gula lunak Safrol (safrole).3.2 Iso-safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.13.5.5.Makanan pencuci mulut berbahan dasar susu .3.2 Safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau akibat dari penambahan perisa alami.3. 120-58-1 Iso-safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.14 6. 6.minuman beralkohol dengan kadar > 20% . 94-59-7 Safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.13.5. 6.5.5.5. Nomor CAS.3 Batas maksimum safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. Tabel 13 No. 1 2 3 Batasan safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 5 15 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3.14.13 6.3.5.3.

16.1 Spartein tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 6.1 Tujon tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Tabel 15 No.15.3.5.3.3.16.15. 6.2 Alfa santonin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. Nomor CAS.15.15.17.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .Minuman beralkohol dengan kadar > 20% 6.1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . 1 2 3 Batasan spartein dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 5 0.3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 1 2 3 Batasan alfa santonin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).17.3 Batas maksimum alfa santonin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.2 Spartein hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. 546-80-5 6.3 Batas maksimum spartein dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.5. 6.2 sesuai dengan Tabel 15.5.5.3. 481-06-1 Alfa santonin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 6.16. 6917-37-9 6.2 sesuai dengan Tabel 16.5.16 Spartein (sparteine).5.5. Nomor CAS.3. Tabel 16 No.5.3.3.5.3.5.1 0.3. 6. Nomor CAS.1 Alfa santonin (α-santonine). Produk pangan .15 6.2 Tujon hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3. 10 dari 122 .3.1 0.5.produk daging berbumbu Batas maksimum (mg/kg) 5 10 6.16.17 6.SNI 01-7152-2006 Tabel 14 (Lanjutan) No.1 Produk pangan Minuman beralkohol Makanan Minuman Tujon (thujon).3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.

3.4 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan tercantum dalam Tabel 18.minuman beralkohol dengan kadar < 20% .2-propilen glikol asetat 2-etil-1-heksanol Agar-agar Nama Inggris Processed euchema seaweed 1.2-propylene glycol acetates 2-ethyl-1-hexanol Agar agar 11 dari 122 . 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .minuman beralkohol dengan kadar > 20% . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Perisa Dulkamara Kokain Nitrobenzen Sinamil antranilat Dihidrosafrol Biji tonka Minyak kalamus Minyak tansi Minyak sasafras 7 7.SNI 01-7152-2006 6.2 sesuai dengan Tabel 17.makanan mengandung sage atau berperisa sage atau campuran keduanya .5 0. Tabel 18 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan No.5.bitters (makanan berasa pahit) .5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 1 2 3 4 Pelarut dan pelarut pembawa Senyawa Nama Indonesia Ganggang euchema hasil proses 1.5 5 10 35 25 250 6. Tabel 19 No.17.1 Ajudan perisa (Flavoring adjunct) Ajudan perisa yang diizinkan tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20.17.3 Batas maksimum tujon dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. Tabel 17 Batasan tujon dalam produk pangan No.bumbu sage Batas maksimum (mg/kg) 0.

glisin.3-diol Dextran Dextrin White or yellow dextrin. pati pucat. pati dimodifikasi dengan perlakuan asam atau basa. pati panggang atau terdekstrinasi. 5 6 7 8 9 10 11 12 Senyawa Nama Indonesia Air alfa-Siklodekstrin Aluminium silikat Amonium fosfatida Amonium klorida Amonium sulfat Asam alginat Asam amino dan garamnya selain asam glutamat. Acetic acid Lactic acid Fatty acids Mono. glycine. starch modified by acid or alkali treatment. sistein dan sistin dan garam-garamnya yang tidak mempunyai fungsi tambahan Asam asetat Asam laktat Asam lemak Asam lemak mono. physically modified starch and starch treated by amylolitic enzymes Diammonium phosphate Diethylene glycol monopropyl ether Dimethylpolysiloxane Dipropylene glycol Distarch phospahate d-Tagatose Erythritol Acetic acid esters of mono-and diglycerides of fatty acids Citric acid esters of mono. roasted or dextrinated starch.dan digliserida Asetilasi dipati adipat Asetilasi dipati fosfat Asetilasi pati teroksidasi Bentonit Benzil alkohol Benzil benzoat beta-Siklodekstrin Bubuk wey Butan-1. pati dimodifikasi secara fisik dan pati yang diperlakuan dengan enzim amilolitik Diamonium fosfat Dietilen glikol monopropil eter Dimetilpolisiloksan Dipropilen glikol Dipati fosfat d-Tagatos Eritritol Ester asam asetat asam lemak mono.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. cysteine and cystine and their salts and having no additive function.dan digliserida ester asam sitrat Ester gliserol damar kayu Ester poligliserol asam lemak Ester sukrosa asam lemak Etil alkohol Etil asetat Nama Inggris Water alpha-Cyclodextrin Aluminium silicate (Kaolin) Ammonium phosphatides Ammonium chloride Ammonium sulphate Alginic acid Amino acids and their salts other than glutamic acid.and diglycerides fatty acids Acetylated distarch adipate Acetylated distarch phosphate Acetylated oxidized starch Bentonite Benzyl alcohol Benzyl benzoate beta-Cyclodextrine Whey powder Butan-1.and diglycerides of fatty acids Glycerol ester of wood resin Polyglycerol esters of fatty acids Sucrose esters of fatty acids Ethyl alcohol Ethyl acetate 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 12 dari 122 .3-diol Dekstran Dekstrin Dekstrin kuning atau putih.dan digliserida Asam lemak mono. bleached starch.

43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Senyawa Nama Indonesia Etil laktat Etil metil selulosa Etil selulosa Etil tartrat Fosfatida dipati fosfat gamma-Siklodekstrin Garam Garam magnesium asam lemak Gom gelan Gelatin Gelatin makan. protein hydrolysates and their salts. protein susu dan gluten Gliseril diasetat Gliseril diester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril monoasetat Gliseril monoester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril triasetat Gliseril triester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril tripropanoat Gliserol Gliserol mono asetat Glisin dan garam natrium Glukosa Gom arab Gom damar Gom gati Gom guar Gom kacang lokus Gom karaya Gom konjak Gom santan Gom tara Hidroksipropil dipati fosfat Hidroksipropil selulosa Hidroksipropilmetil selulosa natrium karboksimetil selulosaIkatan silang Natrium karbolksi metil selulosaIkatan silang Gom selulosa-Ikatan silang Inulin Isoamil asetat Isomalt Isopropil miristat Iso-propilalkohol Nama Inggris Ethyl lactate Ethyl methyl cellulose Ethyl cellulose Ethyl tartrate Phosphated distarch phosphate gamma-Cyclodextrin Salt Magnesium salts of fatty acids Gellanegum Gelatin Edible gelatin. hidrolisat protein dan garamnya.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. milk protein and gluten Glyceryl diacetate Glyceryl diesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl monoacetate Glyceryl monoesters of aliphatic fatty acids C6-C18 Glyceryl triacetate Glyceryl triesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl tripropanoate Glycerol Glycerol mono acetate Glycine and its sodium salt Glucose Gum Arabic Damar gum Ghatti gum Guar gum Locust bean gum Karaya gum Konjac gum Xanthan gum Taragum Hydroxypropyl distarch phosphate Hydroxypropyl cellulose Hydroxypropylmethyl cellulose Cross-linked sodium carboxymethylcellulose Cross linked sodium carboxy methyl cellulose Cross-linked cellulose gum Inulin Isoamyl acetate Isomalt Isopropyl myristate iso-Propylalcohol 13 dari 122 .

and diacetyl tartaric acid esters of mono.di.dan digliserida asam lemak Mono-. NH4 dan Ca alginat Pati Pati termodifikasi Pati (natrium) oktenil suksinat Pati asetat Pati asetilasi Pati hidroksipropil Mono pati fosfat Pati teroksidasi Pektin Polidekstrosa Polietilen glikol Polietilen glikol 6000 Polioksietilen sorbitan monolaurat (polisorbat 20) Nama Inggris Calcium acetate Calcium phosphates Calcium carbonate Calcium chloride Calcium silicate Calcium sulphate Carrageenan Enzymatically hydrolyzed carboxy methyl cellulose Carboxymethyl cellulose. NH4 and Ca alginate Starch Modified starches Starch (sodium) octenyl succinate Starch acetate Acetylated starch Hydroxypropyl starch Mono starch phosphate Oxidized starch Pectins Polidextrose Polyethylene glycol Polyethyleneglycol 6000 Polyoxyethylene sorbitan monolaurate (polysorbate 20) 14 dari 122 . K.and diglycerides of fatty acids Mono-. 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 Senyawa Nama Indonesia Kalsium asetat Kalsium fosfat Kalsium karbonat Kalsium klorida Kalsium silikat Kalsium sulfat Karagenan Karboksi metil selulosa terhidrolisa secara enzimatis Natrium karboksimetil selulosa Kaseinat dan kasein Laktitol Laktosa Lemak makan Lesitin Lilin kandelila Lilin karnauba Lilin lebah Magnesium hidroksida karbonat Magnesium karbonat Magnesium klorida Maltitol Maltodekstrin Manitol Metil selulosa Minyak makan Minyak kastor Minyak sayur terhidrogenasi Ester mono. K.and tri-Calcium orthophosphate Na.dan tri-kalsium orto-fosfat Na.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.dan diasetil asam tartrat dari mono. Na salt Caseinates and casein Lactitol Lactose Edible fats Lechitins Candelilla wax Carnauba wax Beeswax Magnesium hydroxide carbonate Magnesium carbonate Magnesium chloride Maltitol Maltodextrine Mannitol Methyl cellulose Edible oils Castor oil Hydrogenated vegetable oils Mono. di.

seperti asam sitrat dan amonium hidroksida 148 Silikon dioksida 149 Silitol 150 Sirup sorbitol 151 Natrium aluminium difosfat 152 Natrium aluminium silikat 153 Natrium karboksimetil selulosa. microcristalline Substances having primarily an acid or acidity regulator function. mikrokristalin 147 Senyawa dengan fungsi utama sebagai asam atau pengatur keasaman.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. hidrolisa secara enzimatis 154 Natrium sitrat 155 Natirum sulfat 156 Natrium. Senyawa Nama Inggris Polyoxyethylene sorbitan monooleate (polysorbate 80) Polyoxyethylene sorbitan monopalmitate (polysorbate 40) Polyoxyethylene sorbitan monostearate (polysorbate 60) Polyoxyethylene sorbitan tristearate (polysorbate 65) Polyvinylpyrrolidone Polyvinylpolypyrrolidone Potassium aluminium silicate Potassium gluconate Potassium carbonates Potassium chloride Potassium citrates Potassium sulphate Products containing pectin and derived from dried apple pomace or peel of citrus fruits. such as citric acid and ammonium hydroxide Silicon dioxide Xylitol Sorbitol syrup Sodium aluminium diphosphate Sodium aluminium silicate Sodium carboxymethyl cellulose. kalium dan garam kalsium asam lemak 157 Sorbitan monolaurat 158 Sorbitan monooleat 159 Sorbitan monopalmitat 160 Sorbitan monostearat 15 dari 122 . or from a mixture of both. enzymatically hydrolysed Sodium citrates Sodium sulphate Sodium. potassium and calcium salts of fatty acids Sorbitan monolaurate Sorbitan monooleate Sorbitan monopalmitate Sorbitan monostearate Nama Indonesia 127 Polioksietilen sorbitan monooleat (polisorbat 80) 128 129 Polioksietilen sorbitan monopalmitat (polisorbat 40) 130 Polioksietilen sorbitan monostearat (polisorbat 60) 131 Polioksietilen sorbitan tristearat (polisorbat 65) 132 Polivinilpirolidon 133 Polivinilpolipirolidon 134 Kalium aluminium silikat 135 Kalium glukonat 136 Kalium karbonat 137 Kalium klorida 138 Kalium sitrat 139 Kalium sulfat 140 Produk mengandung pektin dan turunannya dari apel yang dikeringkan atau kulit buah sitrus atau dari campuran keduanya melalui asam encer dengan cara netralisasi sebagian dengan garam natrium atau kalium (‘pektin cair’) 141 Propilen glikol 142 Propilen glikol alginat 143 Propoil alkohol 144 Protein tumbuhan terhidrolisa 145 Resin elemi 146 Selulosa. by the action of dilute acid followed by partial neutralization with sodium or potassium salts (‘liquid pectin’) Propylene glycol Propylene glycol alginate Propyl alcohol Hydrolyzed vegetable protein Elemi resin Cellulose.

2-trikloroetilen 1.di. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Pelarut pengekstrak dan bahan penolong Senyawa Nama Indonesia 1.3-diol Butil asetat Dibutil eter Dietil eter Dietil sitrat Dietil tartrat di-isopropilketon Diklorodiflorometan Dikloroflorometan Diklorometan Diklorotetrafloroetan Etanol Etil asetat Etil laktat Etilmetilketon (butanon) Gliserol Gliserol mono.1.and triacetate Glycerol tributyrate Glycerol tripropionate Hexane Heptane 16 dari 122 .3-diol Butyl acetate Dibutyl ether Diethyl ether Diethyl citrate Diethyl tartrate di-isopropylketone Dichlorodifluoromethane Dichlorofluoromethane Dichloromethane Dichlorotetrafluoroethane Ethanol Ethyl acetate Ethyl lactate Ethylmethylketone (butanone) Glycerol Glycerol mono-di.2-Dikloroetana (Dikloroetana) 2-nitropropana Air Amil asetat Amonia dalam metanol/etanol Asam nitrat Aseton Benzil alkohol Benzil benzoat Butan-1-ol Butan-2-ol Butana Butana-1.dan triasetat Gliserol tributirat Gliserol tripropionat Heksana Heptana Nama Inggris 1.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.2-Dichloroethane (Dichloroethane) 2-Nitropropane Water Amyl acetate Ammonia in methanol/ethanol Nitric acid Acetone (dimethyl ketone) Benzyl alcohol Benzyl benzoate Butan-1-ol Butan-2-ol Butane Butane-1. 161 162 163 164 165 166 167 168 169 Senyawa Nama Indonesia Sorbitan tristearat Sorbitol Sukro gliserida Sukrosa Sukrosa asetat isobutirat Talk Tragakan Trietilsitrat Trigliserida (sintetik) Nama Inggris Sorbitan tristearate Sorbitol Sucro glycerides Sucrose Sucrose acetate isobutyrate Talc Tragacanth Triethylcitrate Triglycerides (synthetic) Tabel 20 No.2-Trichloroethylene 1.1.

SNI 01-7152-2006 Tabel 20 (Lanjutan) No. b) Dalam produk pangan padat kadarnya tidak boleh lebih dari 50 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku. diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan bahan tambahan pangan yang berlaku.2 3-monochloropropane-1.2 Ajudan perisa selain yang tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20 diizinkan digunakan pada perisa apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut: a) Jika termasuk ke dalam golongan bahan tambahan pangan.03 µg/kg.2-diol Propane-1-ol Propane Cyclohexane Tertiary butyl alcohol Toluene Tridodecylamine Trichlorofluoroethylene Trichlorofluoromethane 7. b) Jika termasuk ke dalam golongan bahan pangan. diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan yang berlaku.2-diol Propan-1-ol Propana Sikloheksana Tersier butil alkohol Toluen Tridodesilamin Triklorofloroetilen Trikloroflorometan Nama Inggris Isobutane Isobutanol (2-methylpropan-1-ol) Isoparaffinic petroleum hydrocarbons Isopropyl alcohol Isopropyl myristate Carbon dioxide Methanol Methyl acetate Methyl propanol-1 Methyl tert.2-diol (3-MCPD) adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa hasil proses panas dengan batas maksimum kandungan: a) Dalam produk pangan cair kadarnya tidak boleh lebih dari 20 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku. 8 Senyawa penanda 8. 17 dari 122 .1 Benzo[a]piren adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa asap dengan batas maksimum kandungan dalam produk pangan tidak lebih dari 0. 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Senyawa Nama Indonesia Isobutana Isobutanol (2-metilpropan-1-ol) Isoparafinat petroleum hidrokarbon Isopropil alkohol Isopropil miristat Karbon dioksida Metanol Metil asetat Metil propanol-1 Metil ter-butileter Metilen klorida (diklorometana) Minyak kastor Dinitrogen oksida n-Oktil alkohol Pentana Petroleum eter (petroleum ringan) Propan-1.-butylether Methylene chloride (dichloromethane) Castor oil Nitrous oxide n-Octyl alcohol Pentane Petroleum ether (light petroleum) Propane-1. 8.

SNI 01-7152-2006 9 9.2-2005. 18 dari 122 . 10 Ketentuan label 10. SNI 01-7111. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap. SNI 01-7111. 10. SNI 01-7111. 9. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak.4-2005.2 Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula lanjutan dan makanan pendamping ASI. Formula lanjutan.1-2005.2 Pencantuman label harus memenuhi ketentuan perundangan-undangan yang berlaku.1 Label produk pangan yang menggunakan perisa harus mencantumkan keterangan tentang perisa sekurang-kurangnya nama kelompok perisa dalam komposisi bahan atau daftar bahan yang digunakan. kecuali yang telah ditetapkan dalam SNI 01-4213-1995. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit.1 Larangan Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula bayi. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 1: Bubuk instan. SNI 01-7111.3-2005.

119 09.410 09.233 09.180 09.014 09.701 09.312 09.482 09.004 05.274 09.010 09.060 09.097 09.727 02.001 09.469 09.210 02.072 09.054 09.099 09.244 09.111 09.489 09.493 09.121 09.719 13.498 09.109 09.093 09.104 09.038 09.078 09.411 09.SNI 01-7152-2006 Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan untuk digunakan Tabel A.162 FEMA 2040 2021 2032 2031 2037 2036 2045 2041 2044 2043 2029 2023 2026 2024 2027 2025 2039 2038 2022 2020 2030 2127 2135 2138 2137 2434 2414 2456 2693 2462 2439 2437 2449 2447 2432 3492 2441 2445 2451 3490 2419 2069 .1 Senyawa Perisa yang diizinkan untuk digunakan No.492 09.059 09.107 09. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Nama Senyawa allyl propionate allyl butyrate allyl hexanoate allyl heptanoate allyl octanoate allyl nonanoate allyl isovalerate allyl sorbate allyl 10-undecenoate allyl tiglate allyl 2-ethylbutyrate allyl cyclohexaneacetate allyl cyclohexanepropionate allyl cyclohexanebutyrate allyl cyclohexanevalerate allyl cyclohexanehexanoate allyl phenylacetate allyl phenoxyacetate allyl cinnamate allyl anthranilate allyl 2-furoate benzaldehyde benzyl acetate benzyl benzoate benzyl alcohol ethyl formate ethyl acetate ethyl propionate ethyl butyrate ethyl pentanoate ethyl hexanoate ethyl heptanoate ethyl octanoate ethyl nonanoate ethyl decanoate ethyl undecanoate ethyl dodecanoate ethyl tetradecanoate ethyl hexadecanoate ethyl octadecanoate ethanol isoamyl formate (3-Methylbutyl formate) JECFA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 19 dari 122 EC 09.741 09.147 09.146 09.013 09.790 09.

049 09.078 09.453 09. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Nama Senyawa isoamyl acetate (isopentyl acetate) isoamyl propionate 3-Methylbutyl propionate isoamyl butyrate 3-Methylbutyl butyrate isoamyl hexanoate 3-Methylbutyl hexanoate isoamyl octanoate 3-Methylbutyl octanoate isoamyl nonanoate isoamyl isobutyrate Isopentyl isobutyrate isoamyl isovalerate 3-Methylbutyl 3-methylbutyrate isoamyl 2-methylbutyrate Isopentyl 2-methylbutyrate isoamyl alcohol Isopentanol citronellyl formate geranyl formate neryl formate rhodinyl formate citronellyl acetate geranyl acetate neryl acetate rhodinyl acetate citronellyl propionate geranyl propionate neryl propionate rhodinyl propionate citronellyl butyrate geranyl butyrate neryl butyrate (EU name) rhodinyl butyrate citronellyl valerate geranyl hexanoate citronellyl isobutyrate geranyl isobutyrate neryl isobutyrate rhodinyl isobutyrate geranyl isovalerate neryl isovalerate rhodinyl isovalerate 3.169 09.011 09.120 09.7-dimethyl-2.141 09.212 09.003 09.012 09.213 09.1 (Lanjutan) No.530 02.463 09.076 09.136 09.424 09.515 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.110 09.033 09.431 09.055 09.128 09.419 09.001 FEMA 2055 2082 2060 2075 2080 2078 3507 2085 3505 2057 2314 2514 2776 2984 2311 2509 2773 2981 2316 2517 2777 2986 2312 2512 2512 2982 2317 2515 2313 2513 2775 2983 2518 2778 2987 3339 2487 20 dari 122 .6-octadien-1-yl 2ethylbutanoate Geranyl 2-ethylbutyrate formic acid JECFA 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 EC 09.048 09.048 09.129 09.465 09.927 09.471 09.151 09.067 09.079 09.024 09.421 09.070 09.

025 08. 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 Nama Senyawa acetaldehyde acetic acid propyl alcohol (Propan-1-ol) Propionaldehyde (Propanal) propionic acid butyl alcohol (butan-1-ol) Butyraldehyde (butanal) butyric acid amyl alcohol (pentan-1-ol) Valeraldehyde (Pentanal) valeric acid hexyl alcohol hexanal hexanoic acid heptyl alcohol heptanal heptanoic acid 1-octanol octanal octanoic acid nonyl alcohol nonanal nonanoic acid 1-decanol decanal decanoic acid undecyl alcohol undecanal undecanoic acid lauryl alcohol (dodecan-1-ol) lauric aldehyde (dodecanal) lauric acid (dodecanoic acid) Myristaldehyde (myristaldehyde) myristic acid (tetradecanoic acid) 1-hexadecanol palmitic acid (hexadecanoic acid) stearic acid (octadecanoic acid) propyl formate butyl formate n-amyl formate (pentyl formate) hexyl formate heptyl formate octyl formate cis-3-hexenyl formate isobutyl formate methyl acetate propyl acetate butyl acetate hexyl acetate JECFA 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 EC 05.015 09.011 08.009 02.032 08.010 08.074 09.009 08.010 02.164 09.159 09.007 02.007 05.023 09.001 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.012 05.042 02.057 05.002 08.014 08.161 09.1 (Lanjutan) No.002 05.016 02.011 02.003 08.075 09.008 08.163 09.005 05.073 09.003 02.008 05.040 05.034 08.006 05.002 09.846 09.029 02.004 05.006 FEMA 2003 2006 2928 2923 2924 2178 2219 2221 2056 3098 3101 2567 2557 2559 2548 2540 3348 2800 2797 2799 2789 2782 2784 2365 2362 2364 3097 3092 3245 2617 2615 2614 2763 2764 2554 2832 3035 2943 2196 2068 2570 2552 2809 3353 2197 2676 2925 2174 2565 21 dari 122 .009 08.004 09.005 02.002 02.031 08.028 02.005 08.024 05.021 05.

044 09.092 09.043 09.148 09.and trans-2-hexenyl propionate isobutyl propionate methyl butyrate propyl butyrate butyl butyrate n-amyl butyrate hexyl butyrate heptyl butyrate octyl butyrate decyl butyrate cis-3-hexenyl butyrate isobutyl butyrate methyl valerate butyl valerate propyl hexanoate butyl hexanoate n-amyl hexanoate hexyl hexanoate cis-3-hexenyl hexanoate isobutyl hexanoate methyl heptanoate propyl heptanoate butyl heptanoate n-amyl heptanoate octyl heptanoate isobutyl heptanoate methyl octanoate n-amyl octanoate hexyl octanoate heptyl octanoate octyl octanoate JECFA 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 22 dari 122 EC 09.046 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.271 09.118 09.047 09.007 09.182 09.091 09.061 09.008 09.038 09.134 09. 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 Nama Senyawa heptyl acetate octyl acetate nonyl acetate decyl acetate lauryl acetate cis-3-hexenyl acetate trans-3-heptenyl acetate 10-undecen-1-yl acetate isobutyl acetate 2-methylbutyl acetate acetone 2-ethylbutyl acetate methyl propionate propyl propionate butyl propionate hexyl propionate octyl propionate decyl propionate cis-3.005 09.042 09.1 (Lanjutan) No.063 09.139 09.025 09.045 09.127 09.010 09.125 09.117 09.124 09.286 07.009 09.064 09.040 09.065 09.095 09.022 09.270 09.122 09.197 09.113 09.275 09.112 09.166 09.096 09.126 09.098 09.214 09.114 FEMA 2547 2806 2788 2367 2616 3171 3493 3096 2175 3644 3326 2425 2742 2958 2211 2576 2813 2369 3778 2212 2693 2934 2186 2059 2568 2549 2807 2368 3402 2187 2752 2217 2949 2201 2074 2572 3403 2202 2705 2948 2199 2073 2810 2200 2728 2079 2575 2553 2811 .066 09.094 09.050 09.

108 09.010 10.472 09.1 (Lanjutan) No.106 09.505 09.420 09.537 09.010 FEMA 2790 2724 2715 2206 2077 2722 2214 2694 2428 2936 2188 3172 2550 3494 2808 3452 2189 2753 2463 2960 2218 3500 2814 2791 3498 3369 3506 2719 2443 3393 3499 3604 3699 3497 3359 3707 3488 3679 2721 2086 2306 3291 3103 3293 3153 2556 3167 23 dari 122 .416 09.012 10.478 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.528 09.549 09.447 09.526 09.103 09.414 09.023 10.531 09.021 10. 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 Nama Senyawa nonyl octanoate methyl nonanoate methyl laurate butyl laurate isoamyl laurate methyl myristate butyl stearate methyl isobutyrate ethyl isobutyrate propyl isobutyrate butyl isobutyrate hexyl isobutyrate heptyl isobutyrate trans-3-heptenyl 2methylpropanoate octyl isobutyrate dodecyl isobutyrate isobutyl isobutyrate methyl isovalerate ethyl isovalerate propyl isovalerate butyl isovalerate hexyl 3-methylbutanoate octyl isovalerate nonyl isovaolerate 3-hexenyl 3-methylbutanoate 2-methylpropyl 3-methylbutyrate 2-methylbutyl 3-methylbutanoate methyl 2-methylbutyrate ethyl 2-methylbutyrate n-butyl 2-methylbutyrate hexyl 2-methylbutanoate octyl 2-methylbutyrate isopropyl 2-methylbutyrate 3-hexenyl 2-methylbutanoate 2-methylbutyl 2-methylbutyrate methyl 2-methylpentanoate ethyl 2-methylpentanoate ethyl 3-methylpentanoate methyl 4-methylvalerate trans-anethole citric acid 4-hydroxybutyric acid lactone gamma-valerolactone 4-hydroxy-3-pentenoic acid lactone 5-ethyl-3-hydroxy-4-methyl2(5H)-furanone gamma-hexalactone delta-hexalactone JECFA 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 EC 09.413 09.541 09.507 09.462 09.519 09.432 04.412 09.483 09.451 09.101 09.100 09.013 10.448 09.473 09.409 09.547 09.529 09.516 09.115 09.452 09.523 09.854 09.006 10.246 09.449 09.417 09.

004 10.001 10.056 02.017 10.015 10.4-decadienoic acid delta-lactone 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-7-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-8-undecenoic acid delta-lactone cis-4-hydroxy-6-dodecenoic acid lactone gamma-methyldecalactone isobutyl alcohol isobutyraldehyde isobutyric acid 2-methylbutyraldehyde 2-methylbutyric acid 2-ethylbutyraldehyde 2-ethylbutyric acid 3-methylbutyraldehyde isovaleric acid 2-methylpentanal 2-methylvaleric acid 3-methylpentanoic acid 3-methyl-1-pentanol JECFA 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 EC 10.5-dimethyl-3-hydroxy-2.009 10.018 10.008 10.051 02.029 10.4-dibutyl-gammabutyrolactone delta-octalactone gamma-nonalactone hydroxynonanoic acid deltalactone gamma-decalactone delta-decalactone gamma-undecalactone 5-hydroxyundecanoic acid deltalactone gamma-dodecalactone delta-dodecalactone 6-hydroxy-3. 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 Nama Senyawa gamma-heptalactone gamma-octalactone 4.016 10.006 08.027 10.045 05.019 10.069 08.046 05.1 (Lanjutan) No.027 10.031 08.011 10.007 08.037 10.028 10.007 10.SNI 01-7152-2006 Tabel A.022 10.008 05.030 10.002 10.031 10.014 10.020 10.115 FEMA 2539 2796 2372 3214 2781 3356 2360 2361 3091 3294 2400 2401 3355 3590 2840 2555 3613 3610 3634 3350 3696 3744 3745 3758 3780 3786 2179 2220 2222 2691 2695 2426 2429 2692 3102 3413 2754 3437 3762 24 dari 122 .035 10.5dihydrofuran-2-one 3-heptyldihydro-5-methyl-2(3H)furanone 5-hydroxy-2.003 10.033 10.004 08.7-dimethyloctanoic acid lactone delta-tetradecalactone omega-pentadecalactone omega-6-hexadecenlactone epsilon-decalactone epsilon-dodecalactone 4.049 08.001 05.006 05.

057 08.116 05.034 08.002 02.022 07.415 FEMA 3463 3191 3572 3151 3324 3524 2727 3575 2391 2390 3574 2749 2929 2170 2842 3316 3290 3351 2544 3288 2545 3547 2546 2802 2801 2803 3581 2785 3315 3440 3605 3093 3246 3388 3724 3703 2731 3537 3140 2944 2926 2959 2935 2950 2937 25 dari 122 .062 09.5-trimethylhexanal 2-methyloctanal 4-methyloctanoic acid 3.6-dimethyl-4-heptanone 2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.053 07.062 02.082 02.016 02.5.079 07.044 07.089 07.087 07.122 02.081 09. 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 Nama Senyawa 4-methylpentanoic acid 2-methylhexanoic acid 5-methylhexanoic acid 2-ethyl-1-hexanol 3.098 07.123 09.003 02.020 02.165 09.023 08.7-dimethyl-1-octanol 2.5-trimethyl-1-hexanol 3.6-dimethyl-4-heptanol isopropyl formate isopropyl acetate isopropyl propionate isopropyl butyrate isopropyl hexanoate isopropyl isobutyrate JECFA 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 EC 08.058 07.111 07.096 02. 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone and 5tetradecenoic acid delta-lactone.1 (Lanjutan) No.003 09.103 07.054 02.137 02.019 02.045 07.5.088 07.063 02.077 02.061 02. mixture of isopropyl alcohol 2-butanone 2-pentanone 2-pentanol 3-hexanone 3-hexanol 2-heptanone 2-heptanol 3-heptanone 3-heptanol 4-heptanone 2-octanone 2-octanol 3-octanone 3-octanol 2-nonanone 2-nonanol 3-nonanone 3-decanol 2-undecanone 2-undecanol 2-tridecanone 2-pentadecanone 3-methyl-2-butanol 4-methyl-2-pentanone 2.6-dimethyloctanal 4-methylnonanoic acid 2-methylundecanal 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone.113 02.086 07.103 07.024 08.055 05.041 09.017 07.026 05.062 05.

192 09.056 05.298 09.238 09.254 08.065 05.524 09.and 4pentenoate (mixture) ethyl 2-methyl-3.041 08.110 05.540 09.513 09.096 08.268 09.and 6-decenoic acid (mixture) 9-decenoic acid 9-undecenal 10-undecenal 10-undecenoic acid linoleic and linolenic acid (mixture) oleic acid methyl 3-hexenoate ethyl 3-hexenoate cis-3-hexenyl cis-3-hexenoate methyl cis-4-octenoate ethyl cis-4-octenoate ethyl cis-4.284 09.094 02.6-dimethyl-6-hepten-1-ol 2.128 02.058 02.4pentadienoate methyl 3.074 09.093 05.113 05.048 02.036 05.291 09.059 05.450 09.105 09.074 05.013 09.546 09.206 08. 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 Nama Senyawa isopropyl isovalerate isopropyl myristate isopropyl tiglate 3-octyl acetate 4-pentenoic acid cis-3-hexen-1-ol cis-3-hexenal 3-hexenoic acid 4-hexen-1-ol cis-4-hexenal cis-4-heptenal cis-3-octen-1-ol cis-5-octen-1-ol cis-5-octenal cis-6-nonen-1-ol cis-6-nonenal 4-decenal 5.527 09.236 09.265 09.050 02.290 09.059 FEMA 2961 3556 3229 3583 2843 2563 2561 3170 3430 3496 3289 3467 3722 3749 3465 3580 3264 3742 3660 3094 3095 3247 0332 2815 3364 3342 3689 3367 3344 3682 3710 3642 2750 2461 2216 2450 3411 3464 3663 2389 3456 3489 3693 3678 3361 3511 26 dari 122 .SNI 01-7152-2006 Tabel A.039 08.191 09.7-octadienoate methyl 3-nonenoate ethyl trans-4-decenoate methyl 9-undecenoate ethyl 10-undecenoate butyl 10-undecenoate ethyl oleate methyl linoleate and methyl linolenate (mixture) 2-methyl-3-pentenoic acid 2.035 08.267 09.113 05.085 02.1 (Lanjutan) No.517 08.075 08.068 08.6-dimethyl-5-heptenal ethyl 2-methyl-3-pentenoate ethyl 2-methyl-4-pentenoate hexyl 2-methyl-3.7-dimethyl-6-octenoate 2-methyl-4-pentenoic acid JECFA 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 EC 09.237 09.

2 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 EC 02.083 07.1 (Lanjutan) No.116 02.108 07.062 09.092 02.130 07.423 09.061 FEMA 2635 3060 2642 2636 2645 2639 2640 2646 2643 2644 3045 3052 3047 3053 3049 3050 3054 3563 3564 3176 3562 3565 2379 2380 2249 2249 2247 2250 2251 3243 3659 3622 3420 2594 2595 3175 3624 3625 3628 3626 3627 3447 3446 2711 2712 2713 2033 27 dari 122 .130 09.147 02.425 09.097 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.068 09.009 07.115 02.071 07. 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 Nama Senyawa linalool tetrahydrolinalool linalyl formate linalyl acetate linalyl propionate linalyl butyrate linalyl isobutyrate linalyl isovalerate linalyl hexanoate linalyl octanoate alpha-terpineol terpinyl formate terpinyl acetate terpinyl propionate terpinyl butyrate terpinyl isobutyrate terpinyl isovalerate p-menth-3-en-1-ol p-menth-8-en-1-ol p-menthan-2-one p-menthan-2-ol dihydrocarvone dihydrocarveol dihydrocarvyl acetate (+)-carvone (-)-carvone carveol carvyl acetate carvyl propionate beta-damascone alpha-damascone delta-damascone damascenone alpha-ionone beta-ionone gamma-ionone alpha-ionol beta-ionol dihydro-alpha-ionone dihydro-beta-ionone dihydro-beta-ionol dehydrodihydroionone dehydrodihydroionol methyl-alpha-ionone methyl-beta-ionone methyl-delta-ionone allyl alpha-ionone JECFA 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380a.014 09.143 07.010 07.050 09.146 07.131 02.142 09.107 07.080 09.454 09.096 02. 380.028 09.1 380b.081 09.013 02.013 09.015 09.092 07.128 02. 380.215 09.132 07.061 09.008 07.052 09.007 07.091 02.216 07.088 07.106 07.134 07.105 02.461 02.

3-hexanedione 2.093 07.078 09.5-trimethyl-2cyclohexen-1-one menthol (+)-neo-menthol menthone DL-isomenthone menthyl acetate menthyl isovalerate (-)-menthyl lactate p-menth-1-en-3-ol piperitone 4-hydroxy-3-methyloctanoic acid gamma-lactone 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone 4-carvomenthenol 2-ethyl-1.016 09.119 07.5-dimethyl-1.3-pentanedione 2.3-heptanedione 5-hydroxy-4-octanone 2.083 07.077 07.264 07.095 02.021 07.059 07.125 07.3-trimethyl-2norbornanol 4-thujanol methyl 1-acetoxycyclohexyl ketone JECFA 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 437 438 439 440 441 442 EC 07.2-cyclopentanedione 3.015 02.3-hexanedione 3.120 02.4-dimethyl-1.064 07.057 07.065 07.044 02.060 07.076 07.051 09.1 (Lanjutan) No.551 02.036 07.118 07.2-cyclopentanedione 3-ethyl-2-hydroxy-4methylcyclopent-2-en-1-one 5-ethyl-2-hydroxy-3methylcyclopent-2-en-1-one 2-hydroxy-2-cyclohexen-1-one 1-methyl-2.080 07.3-pentadione 4-methyl-2.186 09.117 07.4-dimethyl-4-acetyl-1cyclohexene alpha-irone alpha-iso-methylionone acetoin 2-acetoxy-3-butanone butan-3-one-2-yl butanoate diacetyl 3-hydroxy-2-pentanone 2.3.5.293 FEMA 3449 2597 2714 2008 3526 3332 2370 3550 2841 2730 2558 3168 3190 2543 2587 3090 2700 3152 3268 3269 3453 3454 3458 3305 3459 2665 2666 2667 3460 2668 2669 3748 3179 2910 3802 2248 3491 3239 3701 28 dari 122 .018 07.075 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.063 07.085 09.175 10.3-cyclohexadione 2-hydroxy-3.011 07.4-hexanedione 5-methyl-2.056 07.3-undecadione methylcyclopentenolone ethylcyclopentenolone 3.116 07.455 09.263 07.052 07.072 02. 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 Nama Senyawa 1.

089 12.040 12.084 12.and 2-propylene glycol carbonate (-)-menthone 1.4-dithiane (1-buten-1-yl) methyl sulfide allyl sulfide methyl phenyl sulfide benzyl methyl sulfide 3-(methylthio)propanol 4-(methylthio)butanol 3-(methylthio)-1-hexanol 2-methyl-4-propyl-1.060 12.8-dithianon-4-ene-4carboxaldehyde methyl 3-methylthiopropionate methylthiomethyl butyrate methyl 4-(methylthio)butyrate ethyl 2-(methylthio)acetate ethyl 3-methylthiopropionate ethyl 4-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)propyl acetate methylthiomethyl hexanoate ethyl 3-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)hexyl acetate S-methyl thioacetate ethyl thioacetate methyl thiobutyrate propyl thioacetate S-methyl 2-methylbutanethioate S-methyl 3-methylbutanethioate S-methyl 4methylpentanethioate S-methyl hexanethioate JECFA 443 444 445 446 447 448 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 EC 09.018 13.149 12.019 12.001 12.162 12.032 12.062 12.088 12.211 12.079 12.062 12.122 12.539 12.113 12.056 12.2-glycerol ketal DL-menthone 1.018 12.065 12.061 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.086 12.156 FEMA 3805 3806 3808 3810 3676 2489 2491 2746 3860 3825 2215 3831 3820 2042 3873 3597 3415 3600 3438 3578 3206 2747 3374 3414 3877 3601 3483 2720 3879 3412 3835 3343 3681 3883 3880 3836 3789 3876 3282 3310 3385 3708 3864 3676 3862 29 dari 122 .843 06.539 13.066 12.063 16.077 12.002 12.237 12.3-oxathiane 2-methylthioacetaldehyde 3-(methylthio)propionaldehyde 3-(methylthio)butanal 4-(methylthio)butanal 3-methylthiohexanal 2-(methylthio)methyl-2-butenal 2.007 12. 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 Nama Senyawa (-)-menthol ethylene glycol carbonate (-)-menthol 1.236 12.007 15.120 09.154 12.842 09.059 12.2-glycerol ketal mono-menthyl succinate 1-ethylhexyl tiglate furfural furfuryl alcohol methyl sulfide methyl ethyl sulfide diethyl sulfide butyl sulfide 1.006 12.616 09.187 12.1 (Lanjutan) No.188 12.078 12.157 09.

042 12.197 12.080 12.004 12.058 12.085 12.048 12.195 12.057 15.170 12.194 12.029 12.176 12.005 12.082 12.033 12.027 12.087 12.132 12.052 12.227 12.201 12.173 12.066 FEMA 3329 3895 3788 3790 3816 3882 3207 3375 3266 3512 3376 3881 3335 3210 3857 3717 3809 3875 2716 3521 3897 3478 3874 3858 3792 3303 3262 3304 3842 3833 3503 2035 3896 3700 3472 3616 2147 3894 3240 3345 3666 3314 3484 30 dari 122 .and 10-mercaptopinane allyl mercaptan prenylthiol 1-p-menthene-8-thiol thiogeraniol benzenethiol benzyl mercaptan phenethyl mercaptan o-toluenethiol 2-ethylthiophenol 2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.071 12. 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 Nama Senyawa allyl thiopropionate prenyl thioacetate methylthio 2(acetyloxy)propionate methylthio 2-(propionyloxy) propionate 3-(acetylmercapto)hexyl acetate 1-methylthio-2-propanone 1-(methylthio)-2-butanone 4-(methylthio)-2-butanone 4.041 12.6-dimethyl(thiophenol) 2-naphthalenethiol 1.003 12.2-ethanedithiol JECFA 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506a.023 12.054 12.012 15.101 12.035 12.010 12.175 12.203 12.244 12.5-dihydro-3(2H)-thiophenone 2-methyltetrahydrothiophen-3one 4-(methylthio)-4-methyl-2pentanone sodium 4-(methylthio)-2oxobutanoate di(butan-3-one-1-yl) sulfide o-(methylthio)phenol S-methyl benzothioate 2-(methylthiomethyl)-3phenylpropenal cis.064 12.128 12.1 (Lanjutan) No.and trans-menthone-8thioacetate methylsulfinylmethane methyl mercaptan propanethiol 2-propanethiol 1-butanethiol 2-methyl-1-propanethiol 3-methylbutanethiol 2-pentanethiol 2-methyl-1-butanethiol cyclopentanethiol 3-methyl-2-butanethiol 1-hexanethiol 2-ethylhexanethiol 2-.049 12.192 12. 3.150 12.b 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 EC 12.171 12.

4dithiane sodium 3-mercaptooxopropionate dimethyl disulfide methyl propyl disulfide propyl disulfide diisopropyl disulfide allyl methyl disulfide methyl 1-propenyl disulfide propenyl propyl disulfide methyl 3-methyl-1-butenyl disulfide allyl disulfide 3.235 12.5-dimethyl-1.109 12.019 12.046 12.8-octanedithiol 1.026 12.070 12.028 FEMA 3878 3705 3588 3520 3477 3529 3477 3495 3514 3513 3475 3854 3850 3502 3509 3785 3855 3826 3180 3279 3677 3851 3852 3853 3856 3298 3357 3300 3177 3450 3901 3536 3201 3228 3827 3127 3576 3227 3865 2028 3541 3718 3448 31 dari 122 .024 12.037 12.036 12.014 12.083 12.076 12.047 12.039 12.036 12.218 12.143 12.217 15.2.038 15.031 12.5-dihydroxy-1.044 12.5-dihydroxy-1.025 15.3-dithiolane 1.3-butanedithiol 2.075 12.006 12.073 12.9-nonanedithiol trithioacetone 3-mercapto-3-methyl-1-butanol 3-mercaptohexanol 2-mercapto-3-butanol alpha-methyl-beta-hydroxypropyl alpha-methyl-betamercaptopropyl sulfide 4-methoxy-2-methyl-2butanethiol 3-mercapto-3-methylbutyl formate 2.3-propanedithiol 1.2-butanedithiol 1.4-dithiane 2-mercaptopropionic acid ethyl 2-mercaptopropionate ethyl 3-mercaptopropionate 3-mercaptohexyl acetate 3-mercaptohexyl butyrate 3-mercaptohexyl hexanoate 1-mercapto-2-propanone 3-mercapto-2-butanone 2-keto-4-butanethiol 3-mercapto-2-pentanone p-mentha-8-thiol-3-one 2.034 12.3-butanedithiol 1.008 15.022 12.055 12.034 12.6-hexanedithiol 1.4-trithiane dicyclohexyl disulfide JECFA 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 EC 12.137 12.138 12.072 12.4-trithiolane 3-methyl-1.009 12. 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 Nama Senyawa bis(methylthio)methane 2-methyl-1.067 12.5-dimethyl-2.1 (Lanjutan) No.2-propanedithiol 1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.069 15.118 15.145 12.234 12.2.251 12.

575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 Nama Senyawa methyl phenyl disulfide methyl benzyl disulfide phenyl disulfide benzyl disulfide 2-methyl-2(methyldithio)propanal ethyl 2-(methyldithio)propionate dimethyl trisulfide methyl ethyl trisulfide methyl propyl trisulfide dipropyl trisulfide allyl methyl trisulfide diallyl trisulfide diallyl polysulfide 2-oxobutyric acid methyl 2-hydroxy-4methylpentanoate methyl 2-oxo-3methylpentanoate citronelloxyacetaldehyde 3-oxobutanal dimethyl acetal ethyl 3-hydroxybutyrate ethyl acetoacetate butyl acetoacetate isobutyl acetoacetate isoamyl acetoacetate geranyl acetoacetate methyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-oxohexanoate ethyl 2.161 12.011 06.039 09.550 05.441 09.402 09.017 09.532 09.155 12.043 12.4-dioxohexanoate 3-(hydroxymethyl)-2-heptanone 1.066 09.225 08.023 12.013 12.436 09.548 09.012 06.403 09.020 12.514 07.009 12.068 12.045 12.079 06.522 09.168 12.4-nonanediol diacetate hydroxycitronellol hydroxycitronellal hydroxycitronellal dimethyl acetal hydroxycitronellal diethyl acetal diethyl malonate butyl ethyl malonate dimethyl succinate diethyl succinate fumaric acid (-)-malic acid diethyl malate JECFA 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 EC 12.081 12.010 09.401 09.047 05.038 09.3-nonanediol acetate (mixed esters) levulinic acid ethyl levulinate butyl levulinate 1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.023 09.074 08.405 09.121 12.280 02.535 09.542 09.404 09.445 09.439 FEMA 3872 3504 3225 3617 3866 3834 3275 3861 3308 3276 3253 3265 3533 3723 3706 3713 2310 3381 3428 2415 2176 2177 3551 2510 3508 3545 3683 3278 2804 2783 2627 2442 2207 3579 2586 2583 2585 2584 2375 2195 2396 2377 2488 2655 2374 32 dari 122 .490 09.444 08.025 08.1 (Lanjutan) No.435 09.

031 09.428 09. 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 Nama Senyawa meso-tartaric acid.708 05.018 09.014 FEMA 3044 2378 2011 2376 2373 3543 2010 2417 3083 3869 3869 3870 3871 3891 3843 2885 2895 2890 2897 2893 2899 2896 2741 2455 2887 2889 2294 2287 2299 2293 2301 2296 2297 2302 2300 2286 33 dari 122 .510 09.085 09.475 09.093 08.133 09.459 09.032 02.1 632 632.474 09.026 09. sodium salt 4-methyl-2-oxopentanoic acid 4-methyl-2-oxopentanoic acid.533 08.080 08.467 09. (±)diethyl tartrate adipic acid diethyl sebacate dibutyl sebacate ethylene brassylate aconitic acid ethyl aconitate (mixed esters) triethyl citrate tributyl acetylcitrate 3-methyl-2-oxobutanoic acid 3-methyl-2-oxobutanoic acid.014 09.033 09. sodium salt 2-oxopentanedioic acid 3-hydroxy-2-oxopropionic acid 3-phenyl-1-propanol 3-phenylpropyl formate 3-phenylpropyl acetate 3-phenylpropyl propionate 3-phenylpropyl isobutyrate 3-phenylpropyl isovalerate 3-phenylpropyl hexanoate methyl 3-phenylpropionate ethyl 3-phenylpropionate 3-phenylpropionaldehyde 3-phenylpropionic acid cinnamyl alcohol cinnamaldehyde ethylene glycol acetal cinnamyl formate cinnamyl acetate cinnamyl propionate cinnamyl butyrate cinnamyl isobutyrate cinnamyl isovalerate cinnamyl phenylacetate cinnamaldehyde JECFA 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 631.037 08. (-)-.052 08.1 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 EC 08.446 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.747 05.017 06.018 09.746 09. sodium salt 3-methyl-2-oxopentanoic acid 3-methyl-2-oxopentanoic acid.1 633 633.051 08.032 09.053 09.470 09.086 02.1 (Lanjutan) No.051 08.084 09.071 09. mixture of (+)-.138 09.512 08.

736 09.050 04.094 06.730 09.745 09.026 09.739 02.051 04.044 09.744 09.742 09.480 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.022 09.1 (Lanjutan) No.030 02.782 09.737 09.731 09.733 09.026 04.122 05.740 09.468 05.051 09.027 04.050 05.022 04.046 04.048 05.039 05.734 09.228 09.118 05.040 05.013 05.036 09.743 09.041 04. 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 Nama Senyawa cinnamic acid methyl cinnamate ethyl cinnamate propyl cinnamate isopropyl cinnamate butyl cinnamate isobutyl cinnamate isoamyl cinnamate heptyl cinnamate cyclohexyl cinnamate linalyl cinnamate terpinyl cinnamate benzyl cinnamate phenethyl cinnamate 3-phenylpropyl cinnamate cinnamyl cinnamate alpha-amylcinnamyl alcohol 5-phenylpentanol alpha-amylcinnamyl formate alpha-amylcinnamyl acetate alpha-amylcinnamyl isovalerate 3-phenyl-4-pentenal 3-(pisopropylphenyl)propionaldehyd e alpha-amylcinnamaldehyde dimethyl acetal p-methylcinnamaldehyde alpha-methylcinnamaldehyde alpha-butylcinnamaldehyde alpha-amylcinnamaldehyde alpha-hexylcinnamaldehyde p-methoxycinnamaldehyde o-methoxycinnamaldehyde p-methoxy-alphamethylcinnamaldehyde phenol o-cresol m-cresol p-cresol p-ethylphenol o-propylphenol p-propylphenol 2-isopropylphenol o-tolyl acetate p-tolyl acetate o-tolyl isobutyrate p-tolyl isobutyrate p-tolyl 3-methylbutyrate p-tolyl octanoate JECFA 657 658 659 660 661 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 EC 08.738 09.301 FEMA 2288 2698 2430 2938 2939 2192 2193 2063 2551 2352 2641 3051 2142 2863 2894 2298 2065 3618 2066 2064 2067 3318 2957 2062 3640 2697 2191 2041 2569 3567 3181 3182 3223 3480 3530 2337 3156 3522 3649 3461 3072 3073 3753 3075 3387 3733 34 dari 122 .518 09.090 09.028 04.041 05.732 09.429 09.103 05.

031 04.006 04.1 (Lanjutan) No.1-dimethylethyl)phenol phenyl acetate 2-phenylphenol phenyl salicylate 2.051 07.056 04.SNI 01-7152-2006 Tabel A.019 04.019 14.025 13.4-xylenol thymol carvacrol p-vinylphenol resorcinol guaiacol o-(ethoxymethyl)phenol 2-methoxy-4-methylphenol 4-ethylguaiacol 2-methoxy-4-propylphenol guaiacyl acetate guaiacyl phenylacetate hydroquinone monoethyl ether 2.711 04.048 04.6-dimethoxyphenol 4-methyl-2.008 04.049 09.005 09.068 13.042 04.128 13.038 FEMA 3076 3077 3595 3249 3596 3066 2245 3739 3589 2532 3485 2671 2436 3598 3687 2535 3695 3137 3704 3671 3729 2675 3655 3548 2588 3662 3124 3652 3738 3918 3958 3959 3960 3963 2490 3346 3397 3396 3283 3244 3244 2702 2703 2946 2072 2571 3518 3128 3468 2963 35 dari 122 .073 13.288 07.689 04.052 04.007 04.6-dimethoxyphenol 4-ethyl-2.003 13.047 04.174 09.709 04.085 13.031 13.057 14.062 13.055 07.6-trimethylphenol furfuryl acetate furfuryl propionate furfuryl pentanoate furfuryl octanoate furfuryl 3-methylbutanoate 5-methylfurfural methyl 2-furoate propyl 2-furoate amyl 2-furoate hexyl 2-furoate octyl 2-furoate 2-benzofurancarboxaldehyde 2-phenyl-3-carbethoxyfuran pulegone isopulegone isopulegol JECFA 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 739 740 741 742 743 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 EC 09.037 04.009 04.045 04.124 07.067 13.6-dimethoxyphenol 2-hydroxyacetophenone 4-(p-hydroxyphenyl)-2-butanone dihydroxyacetophenone zingerone 4-(p-acetoxyphenyl)-2-butanone vanillylidene acetone 4-(1.135 07.688 09. 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 Nama Senyawa p-tolyl laurate p-tolyl phenylacetate 2.3.019 13.053 04.064 09.002 13.005 13.6-dimethoxyphenol 4-propyl-2.001 13.6-xylenol 3.036 04.5-xylenol 2.102 09.005 04.046 04.6-dimethoxyphenol 2-methoxy-4-vinylphenol 4-allyl-2.057 04.

or 6)methoxypyrazine 2-methoxy-(3.5-dimethylpyrazine 2.050 14.031 14.055 14. 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 Nama Senyawa isopulegyl acetate p-menth-1.024 14.051 14.032 14.067 02.114 14.022 14.780 14.067 09.7-dihydro-2.(5 or 6)dimethylpyrazine 3-ethyl-2.4(8)-dien-3-one menthofuran furfuryl butyrate cinnamyl benzoate 2-methylpyrazine 2-ethylpyrazine 2-propylpyrazine 2-isopropylpyrazine 2.020 14.053 14.6-dimethylpyrazine 2-ethyl-3-methylpyrazine 2-ethyl-6-methylpyrazine 2-ethyl-5-methylpyrazine 2.3.021 14.018 14.7-dihydro-5Hcyclopentapyrazine 6.056 14.098 14.219 07.5 or 6)isopropylpyrazine 2-methoxy-3-(1methylpropyl)pyrazine 2-isobutyl-3-methoxypyrazine 2-methyl-3.5-trimethylpyrazine 2-ethyl-3.025 14.6-tetramethylpyrazine 5-methyl-6.057 14.3-dimethyl-5Hcyclopentapyrazine (cyclohexylmethyl)pyrazine 2-acetylpyrazine 2-acetyl-3-ethylpyrazine 2-acetyl-3.5-diethyl-2-methylpyrazine 2. 5.096 14.095 14.123 14.062 14.026 14.3-dimethylpyrazine 2.142 14.043 14.1 (Lanjutan) No.(5 or 6)dimethylpyrazine methoxypyrazine (2.5 or 6ethoxypyrazine 2-(mercaptomethyl)pyrazine 2-pyrazinylethanethiol pyrazinyl methyl sulfide JECFA 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 EC 07.037 14.127 09.005 14.044 14.069 14.027 14.6-dimethylpyrazine 2.5 or 6)-methoxy-3methylpyrazine 2-ethyl(or methyl)-(3-.006 14.5.016 14.3.5-diethyl-3-methylpyrazine 3.054 14.017 14.SNI 01-7152-2006 Tabel A.067 14.3-diethylpyrazine 2-methyl-5-isopropylpyrazine 2-isobutyl-3-methylpyrazine 2.219 09.3-diethyl-5-methylpyrazine 2.049 14.034 FEMA 2964 2962 2965 3560 2965 FDA 3309 3281 3961 3940 3271 3272 3273 3155 3919 3154 3136 3554 3133 3149 3150 3336 3915 3916 3237 3306 3917 3631 3126 3250 3327 3302 3183 3280 3358 3433 3132 3569 3299 3230 3231 36 dari 122 .

080 07.179 09.003 06.SNI 01-7152-2006 Tabel A.alpha-dimethylbenzyl alcohol acetophenone 4-methylacetophenone p-isopropylacetophenone 2.026 07.029 02.040 02.133 07.028 06.024 07.4-dimethylacetophenone acetanisole methyl beta-naphthyl ketone 4-acetal-6-tert-butyl-1.033 09.070 07.086 07.025 07.1dimethylindan 1-(p-methoxyphenyl)-2propanone alpha-methylphenethyl butyrate 4-phenyl-2-butanol 4-phenyl-2-butyl acetate 4-(p-tolyl)-2-butanone 4-(p-methoxyphenyl)-2-butanone 4-phenyl-3-buten-2-ol 4-phenyl-3-buten-2-one 3-methyl-4-phenyl-3-buten-2one 1-phenyl-1-propanol alpha-ethylbenzyl butyrate propiophenone alpha-propylphenethyl alcohol 1-(p-methoxyphenyl)-1-penten3-one alpha-isobutylphenethyl alcohol 4-methyl-1-phenyl-2-pentanone 1-(4-methoxyphenyl)-4-methyl-1penten-3-one 3-benzyl-4-heptanone benzophenone 1.5 or 6)-(methylthio)-2methylpyrazine 5-methylquinoxaline alpha-methylbenzyl alcohol alpha-methylbenzyl formate alpha-methylbenzyl acetate alpha-methylbenzyl propionate alpha-methylbenzyl butyrate alpha-methylbenzyl isobutyrate p.032 07.144 09.034 07.038 07.501 07.231 09.476 09.023 07.079 09.002 FEMA 3208 3203 2685 2688 2684 2689 2686 2687 3139 2009 2677 2927 2387 2005 2723 3653 2674 3197 2879 2882 3074 2672 2880 2881 2734 2884 2424 3469 2953 2673 2208 2740 3760 2146 2134 2397 3226 2423 2416 2132 2128 2129 .027 02.004 07.1 (Lanjutan) No.189 07.022 07.064 09.030 02.035 14. 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 Nama Senyawa (3.036 09.486 02.2-propanedione ethyl benzoylacetate ethyl 2-acetyl-3phenylpropionate benzoin benzaldehyde dimethyl acetal benzaldehyde glyceryl acetal JECFA 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 37 dari 122 EC 14.028 02.013 07.087 02.178 09.065 07.200 07.066 07.3-diphenyl-2-propanone 1-phenyl-1.049 07.042 07.249 02.

058 09.022 09.726 09.026 06.714 FEMA 2130 2148 2145 2150 2140 2141 2152 3330 2143 2136 2149 2131 2683 2422 2931 3691 2932 2185 2058 3688 2638 2511 3398 3419 3702 2933 3756 3068 3067 2341 2203 2099 2101 2098 2102 2100 3740 3109 2670 2413 2717 3943 3944 3945 2679 2420 38 dari 122 .SNI 01-7152-2006 Tabel A.019 09.771 09.173 09.056 09.426 09.145 09.m.p) tolualdehyde glyceryl acetal cuminaldehyde 2.494 09.706 05.754 02.3-dimethylcrotonate benzyl acetoacetate benzyl phenylacetate benzoic acid methyl benzoate ethyl benzoate propyl benzoate hexyl benzoate isopropyl benzoate isobutyl benzoate isoamyl benzoate cis-3-hexenyl benzoate linalyl benzoate geranyl benzoate glyceryl tribenzoate propylene glycol dibenzoate methylbenzyl acetate (mixed o.812 09.406 09.071 09.705 08.128 09.015 05.087 09.796 08.077 09.770 09.806 09.757 09.051 09.012 05.039 05.294 02.021 09.768 09.017 05.019 09. 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 Nama Senyawa benzaldehyde propylene glycol acetal benzyl 2-methoxyethyl acetal benzyl formate benzyl propionate benzyl butyrate benzyl isobutyrate benzyl isovalerate benzyl trans-2-methyl-2butenoate benzyl 2.4-dimethylbenzaldehyde butyl p-hydroxybenzoate anisyl alcohol anisyl formate anisyl acetate anisyl propionate anisyl butyrate anisyl phenylacetate veratraldehyde p-methoxybenzaldehyde p-ethoxybenzaldehyde methyl o-methoxybenzoate 2-methoxybenzoic acid 3-methoxybenzoic acid 4-methoxybenzoic acid methyl anisate ethyl p-anisate JECFA 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 EC 06.725 09.776 09.083 09.p) p-isopropylbenzyl alcohol 4-ethylbenzaldehyde tolualdehydes (mixed o.767 09.068 05.755 09.032 06.092 08.132 09.458 09. 1 (Lanjutan) No.m.508 09.

2 and 1.029 06.076 09.019 09.750 09.811 16.553 09.2.4-trimethyl-1.3oxacyclopentane JECFA 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 EC 02.3 acetals) 1.4-dihydroxybenzoic acid glycerol 3-oxohexanoic acid glyceride 3-oxooctanoic acid glyceride heptanal glyceryl acetal (mixed 1. 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 Nama Senyawa vanillyl alcohol vanillyl ethyl ether vanillyl butyl ether vanillin vanillin acetate vanillin isobutyrate ethyl vanillin beta-dglucopyranoside ethyl vanillin piperonyl acetate piperonyl isobutyrate piperonal salicylaldehyde 2-hydroxy-4methylbenzaldehyde methyl salicylate ethyl salicylate butyl salicylate isobutyl salicylate isoamyl salicylate benzyl salicylate phenethyl salicylate o-tolyl salicylate 2.3-dioxolane 2.763 09.752 09.807 08.543 09.016 05.094 06.555 09.544 06.3-tris[(1'ethoxy)ethoxy]propane 3-oxodecanoic acid glyceride 3-oxododecanoic acid glyceride 3-oxotetradecanoic acid glyceride 3-oxohexadecanoic acid glyceride glycerol monostearate glyceryl monooleate triacetin glyceryl tripropionate tributyrin glycerol 5-hydroxydecanoate glycerol 5-hydroxydodecanoate propylene glycol propylene glycol stearate 1.211 09.1 (Lanjutan) No.055 05.093 05.263 09.039 06.749 09.040 09.751 09.430 05.213 04.753 09.557 09.748 09.2-di[(1-ethoxy)ethoxy]propane 4-methyl-2-pentyl-1.091 09.220 09.554 09.098 FEMA 3737 3815 3796 3107 3108 3754 3801 2464 2912 2913 2911 3004 3697 2745 2458 3650 2213 2084 2151 2868 3734 3798 2525 3770 3771 2542 3593 3767 3768 3772 3769 2527 2526 2007 3286 2223 3685 3686 2940 2942 3534 3630 3441 39 dari 122 .094 04.075 05.2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.018 09.552 09.556 06.035 09.

433 09.165 05.7.004 06.043 06.536 09.028 06.119 05.534 09.2.1-dimethoxyethane acetal octanal dimethyl acetal acetaldehyde ethyl cis-3-hexenyl acetal citral dimethyl acetal decanal dimethyl acetal 2.001 09. 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 Nama Senyawa lactic acid ethyl lactate butyl lactate potassium 2-(1'ethoxy)ethoxypropanoate cis-3-hexenyl lactate butyl butyryllactate pyruvic acid pyruvaldehyde ethyl pyruvate isoamyl pyruvate 1.009 06.112 08.488 05.034 09.8-tetrahydroquinoxaline ethyl vanillin isobutyrate ethyl vanillin propylene glycol acetal 4-hydroxybenzyl alcohol 4-hydroxybenzaldehyde 4-hydroxybenzoic acid 2-hydroxybenzoic acid 4-hydroxy-3-methoxybenzoic acid vanillin erythro.025 06.082 14.545 09.123 09.039 09.004 09.081 06.008 06.442 09.114 FEMA 2611 2440 2205 3752 3690 2190 2970 2969 2457 2083 3426 2002 2798 3775 2305 2363 3378 2541 2304 3349 3964 4015 3321 3837 3838 3987 3984 3986 3985 3988 4023 3531 3568 3544 2348 2347 2431 3592 3645 3657 3741 .1 (Lanjutan) No.047 08.060 09.015 06.005 06.6.491 08.015 02.6-nonadienal diethyl acetal heptanal dimethyl acetal citral diethyl acetal 4-heptenal diethyl acetal 2-acetyl-3-methylpyrazine pyrazine 5.028 08.and threo-butan2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.3-trimethylcyclopent-3-en-1yl acetaldehyde cis-5-isopropenyl-cis-2methylcyclopentan-1carboxaldehyde campholene acetate alpha-campholenic alcohol JECFA 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 40 dari 122 EC 08.289 02.040 08.099 08.001 06.019 07.434 16.144 14.443 06.3-diol acetal cyclohexanecarboxylic acid methyl cyclohexanecarboxylate ethyl cyclohexanecarboxylate cyclohexaneethyl acetate cyclohexaneacetic acid ethyl cyclohexanepropionate 2.037 14.

8-dien-7-yl acetate 1.016 06.098 09.407 09.168 09.6. 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 Nama Senyawa p-menth-1-en-9-al 1-p-menthen-9-yl acetate p-mentha-1.5.538 09.019 09.141 02.1]hept-2-ene (myrtenal) myrtenol myrtenyl acetate 6.1 (Lanjutan) No.027 06.272 02.024 08.6-trimethyl-1&2-cyclohexen1-carboxaldehyde 2-formyl-6.1.006 06.067 05.466 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.137 09.060 09.262 09.106 02.783 09.6.038 09.091 09.615 05.278 08.036 05.6dimethylbicyclo[3.6-tetrahydrocuminic acid 2.427 09.707 06.104 05.6-trimethylcyclohexa-1.8-dien-7-ol p-mentha-1.083 09.030 06.784 FEMA 3178 3566 3557 2664 3731 3731 3389 3474 3639 3395 3439 3764 3405 3006 3007 3938 2858 2864 2857 2867 2861 2862 3632 2871 3221 3222 2870 2869 2866 2004 3125 2874 2876 2877 2875 3384 2878 2733 2452 41 dari 122 .117 02.112 05.031 09.121 05.8-dien-7-al p-mentha-1.2.6.3dienyl methanal 2.034 02.6-trimethyl-1-cyclohexen-1acetaldehyde 2.261 09.007 06.6-myrtenyl formate santalol (alpha and beta) santalyl acetate (alpha and beta) 10-hydroxymethylene-2-pinene phenethyl alcohol phenethyl formate phenethyl acetate phenethyl propionate phenethyl butyrate phenethyl isobutyrate phenethyl 2-methylbutyrate phenethyl isovalerate phenethyl hexanoate phenethyl octanoate phenethyl tiglate phenethyl senecioate phenethyl phenylacetate acetaldehyde phenethyl propyl acetal acetaldehyde butyl phenethyl acetal phenylacetaldehyde phenylacetaldehyde dimethyl acetal phenylacetaldehyde glyceryl acetal phenylacetaldehyde 2.3butylene glycol acetal phenylacetaldehyde diisobutyl acetal phenylacetic acid methyl phenylacetate ethyl phenylacetate JECFA 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 EC 05.216 09.496 09.302 09.

5-dithiazine and 4-isobutyl2.712 05.014 15.4.022 15.3.019 15.027 15.1 (Lanjutan) No.6-dihydro-4h1.791 09.5dithiazine JECFA 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 EC 09.4-dimethyl-5-vinylthiazole benzothiazole 2-acetylthiazole 2-propionylthiazole 4-methylthiazole 2-ethyl-4-methylthiazole 4.109 3782 4017 4018 42 dari 122 .6-dimethyldihydro1.704 09.786 09.805 09.6-dimethyldihydro-1.4.026 15.487 16.703 09.772 09.027 15.042 05.5-dimethyl-2-isobutyl-3thiazoline 2-isobutyl-4.787 09.005 15.041 16.079 FEMA 2955 2956 2209 2210 2081 3457 3633 2812 2895 3501 2516 2315 3008 3071 2954 2690 2872 3157 2973 3773 3322 3204 3615 3372 3134 3274 3325 3555 3313 3145 3256 3328 3611 3716 3680 3621 3781 1045 1046 1047 1047 1048 1049 15.028 15.804 09.5-dithiazine 2.033 15.017 15.3.113 15.016 15.3.SNI 01-7152-2006 Tabel A.049 09.6-trimethyldihydro-4h-1.5-dithiazine (mixture) 2.6-dimethyldihydro1.797 09.044 09.032 15.5-trimethylthiazole 2-isopropyl-4-methylthiazole 4-methyl-5-vinylthiazole 2.6-triisobutyl-5.702 09.020 15.758 08.057 15.035 15.3.789 09.5dithiazine (mixture) 2-isopropyl-4.018 15.013 15.5-dimethylthiazole 2.785 09.3. 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 Nama Senyawa propyl phenylacetate isopropyl phenylacetate butyl phenylacetate isobutyl phenylacetate isoamyl phenylacetate hexyl phenylacetate 3-hexenyl phenylacetate octyl phenylacetate rhodinyl phenylacetate linalyl phenylacetate geranyl phenylacetate citronellyl phenylacetate santalyl phenylacetate (alpha and beta) p-tolylacetaldehyde p-isopropylphenylacetaldehyde methyl p-tert-butylphenylacetate phenoxyacetic acid ethyl (p-tolyloxy)acetate 2-phenoxyethyl isobutyrate sodium 2-(4methoxyphenoxy)propanoate thiamine hydrochloride 4-methyl-5-thiazoleethanol thiazole 2-(1-methylpropyl)thiazole 2-isobutylthiazole 4.4.6-dimethyl and 4isopropyl-2.788 09.

041 13.075 13.5-dimethyl-3-furyl) disulfide bis(2-methyl-3-furyl) tetrasulfide ethanoic acid.196 13. s-(2-methyl-3furanyl) ester 2.or 6(furfurylthio)pyrazine S-methyl thiofuroate 4-[(2-furanmethyl)thio]-2pentanone 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-4heptanone 2.016 13.071 13.008 15.38 3571 3674 .093 FEMA 3209 3527 3062 3323 3205 3267 3340 3192 3620 3619 3188 3949 3366 3451 3573 3607 3259 3476 3260 3973 3482 3481 2493 3158 3162 3347 3160 3161 3362 3979 3238 3146 3189 3311 3840 3570 35.056 13.053 13.001 15.030 15.021 15.SNI 01-7152-2006 Tabel A.151 13.017 13.2'-(thiodimethylene)difuran 2.055 13.5-dimethyl-3thiazoline 2-methyl-3-furanthiol 2-methyl-3-(methylthio)furan 2-methyl-5-(methylthio)furan 2.064 13.5-dimethyl-3-furan thioisovalerate 2.5-dimethyl-3-thiofuroylfuran furfuryl mercaptan s-furfuryl thioformate s-furfuryl thioacetate s-furfuryl thiopropionate furfuryl methyl sulfide furfuryl isopropyl sulfide methyl furfuryl disulfide propyl furfuryl disulfide 2.077 13.6-dimethyl-3-[(2-methyl-3furyl)thio]-4-heptanone 4-[(2-methyl-3-furyl)thio]-5nonanone ethyl 3-(furfurylthio)propionate JECFA 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 43 dari 122 EC 15. 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 Nama Senyawa 5-methyl-2thiophenecarboxyaldehyde 3-acetyl-2.033 13.032 13.063 13.004 15.5-dimethylthiophene 2-thienylmercaptan 2-thienyl disulfide 4-methyl-5-thiazoleethanol acetate 2.051 13.1 (Lanjutan) No.015 13.5-dimethyl-3-furanthiol methyl 2-methyl-3-furyl disulfide propyl 2-methyl-3-furyl disulfide bis(2-methyl-3-furyl) disulfide bis(2.011 15.082 13.153 13.029 13.5-dimethyl-2-ethyl-3-thiazoline 2-(2-butyl)-4.2'-(dithiodimethylene)difuran 2-methyl-3-.002 15.050 13.040 13.026 13.024 15.079 13.015 15.142 13.078 13.152 13.179 13. 5.4-dimethyl-5-acetylthiazole 2-ethoxythiazole 2-methyl-5-methoxythiazole 4.065 13.

5-trimethyl cyclohexanol cyclohexanone cyclopentanone 2-methylcyclohexanone 3-methylcyclohexanone 4-methylcyclohexanone 1-methyl-1-cyclopenten-3-one 2-hexylidene cyclopentanone 3-methyl-2-cyclohexen-1-one 2. cis and trans isomers cyclohexyl acetate cyclohexyl butyrate cyclohexyl formate cyclohexyl isovalerate cyclohexyl propionate p-1(7)8-menthadien-2-yl acetate.180 07.123 07.100 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.2.027 09.129 07.9-undecadien-2one 2.464 09.7-dimethyl-2.105 FEMA 3636 3787 3971 3972 2349 2351 2353 2355 2354 3848 3962 3909 3910 3946 3947 3948 3435 2573 3360 3473 3261 3939 3061 3553 3577 3196 3552 3889 3829 3966 3365 2707 3059 3542 3442 3417 3352 3399 3400 44 dari 122 .209 07.104 07.179 07.10-trimethyl-2.151 07. cis and trans isomers 3.044 07.3.5dihydrofuran 2-methyl-3-tetrahydrofuranthiol 2.6-tetrahydropseudoionone 6.140 02.1 (Lanjutan) No.148 07.10-dimethyl-5.172 07.069 07. 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 Nama Senyawa 2-methyl-3-thioacetoxy-4.033 07.5-dimethyltetrahydrofuran-3thiol.045 07.6octadienyl)cyclopentanone 3-decanone 5-methyl-5-hexen-2-one 6-methyl-5-hepten-2-one 3.4.095 07.086 13.112 07.015 07.034 07.5-dimethyltetrahydro-3-furyl thioacetate.160 09.393 13.048 07.098 07.219 07.5.114 07.6.10pentadecatrien-14-one 3-penten-2-one 4-hexen-3-one 2-hepten-4-one 3-hepten-2-one JECFA 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 EC 13.160 13.194 09.126 07.149 07. cis and trans isomers 2.6-trimethylcyclohexanone 2-sec-butylcyclohexanone 4-isopropyl-2-cyclohexenone tetramethylethylcyclohexenone (mixture of isomers) isophorone 3-methyl-5-propyl-2-cyclohexen1-one 3-methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one isojasmone (E)-2-(2-octenyl)cyclopentanone 2-(3.035 07.6.230 09.

188 07.1 (Lanjutan) No.7nonadien-2-one (E)-6-methyl-3-hepten-2-one (E.193 09.101 07.138 02.177 07.102 07.082 07.52 45 dari 122 .109 16.161 10.136 02. 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 Nama Senyawa 3-octen-2-one 2-octen-4-one 3-decen-2-one 4-methyl-3-penten-2-one 5-methyl-3-hexen-2-one 5-methyl-2-hepten-4-one 6-methyl-3.099 02.5-heptadien-2-one (E)-7-methyl-3-octen-2-one 3-nonen-2-one (E) & (Z)-4.E)-3.253 02.005 FEMA 3416 3603 3532 3368 3409 3761 3363 3868 3955 3969 4001 4008 3602 3888 3893 3980 3981 4007 4012 3382 3515 3752 3584 3608 2805 3824 3830 4022 4000 4051 3999 3937 4067 4032 3764 3755 4020 3794 3791 3863 29.055 13.923 09.146 07.139 07.6.034 13.657 07.070 10.658 09.6.099 07.121 07.924 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.249 07.081 07.7-dimethyl-1.244 07.5.240 10.-trimethyl-2hydroxycyclohexylidene)acetic acid gamma-lactone sclareolide octahydrocoumarin 2-(4-methyl-2hydroxyphenyl)propionic acid gamma-lactone 3-propylidenephthalide JECFA 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 EC 07.102 02.8-dimethyl-3.036 10.023 02.7octatrien-3-ol 6-undecanone 2-methylheptan-3-one 4-hydroxy-4-methyl-5-hexenoic acid gamma lactone (+/-)3-methyl-gammadecalactone 4-hydroxy-4-methyl-7-cisdecenoic acid gamma lactone tuberose lactone dihydromintlactone mintlactone dehydromenthofurolactone (+/-)-(2.061 10.106 07.5-octadien-2-one 3-octen-2-ol (E)-2-octen-4-ol 2-pentyl butyrate (+/-)heptan-3-yl acetate (+/-)heptan-2-yl butyrate (+/-)nonan-3-yl acetate 2-pentyl acetate 1-penten-3-one 1-octen-3-one 2-pentyl-1-buten-3-one 1-penten-3-ol 1-hexen-3-ol 1-octen-3-ol 1-decen-3-ol (E.104 02.R)-3.925 09.107 07.050 10.

012 05.E)-2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.081 09.260 09.Z)-2.101 02.4-heptadienal (E.124 16.162 05.009 13.4-nonadienal nona-2-trans-6-cis-dienal 2-trans. 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 Nama Senyawa 3-n-butylphthalide 3-butylidenephthalide dihydrocoumarin 6-methylcoumarin 2.6-nonadien-1-ol 2.4-nonadien-1-ol 2.4-hexadien-1-ol (E.109 05.4-decadienoate 2.111 02.084 05.120 05.trans-2.055 08.4-dodecadienal 2-trans-6-cis-dodecadienal 2-trans-4-cis-7-cis-tridecatrienal (+/-)-2-methyl-1-butanol 3-methyl-2-buten-1-ol 2-methyl-2-butenal 3-methyl-2-butenal ammonium isovalerate 3-methylcrotonic acid trans-2-methyl-2-butenoic acid isobutyl 2-butenoate 2-methylallyl butyrate 4-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenoic acid 2.125 05.070 08.049 05.047 09.194 05.033 05.090 08.840 05.095 05.4-hexadienal (E.114 05.7-decatrienoate propyl 2.300 09.024 13.076 02.E)-2.025 10.172 02.001 08.4-pentadienal 2.4-octadien-1-ol trans.057 08.4-undecadienal trans.408 05.079 FEMA 3334 3333 2381 2699 3217 3922 3429 3921 3714 2459 3164 3956 3721 3466 3951 2780 3212 3377 3766 3952 3911 3135 3869 3148 3832 3648 3422 3670 3637 3638 3998 3647 3407 3646 2054 3187 3599 3432 2678 3510 3194 3195 3143 2706 2180 3392 3406 2438 3711 3800 46 dari 122 .071 05.4-dimethyl-2-pentenoic acid 2-methylheptanoic acid isobutyl angelate 2-butyl-2-butenal 2-isopropyl-5-methyl-2-hexenal 2-ethyl-2-heptenal 2-methyl-2-octenal 4-ethyloctanoic acid JECFA 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 EC 10.177 05.188 02.107 05.trans-2.6-trans-nonadienal (E.4-trans-decadienal methyl (E)-2-(Z)-4-decadienoate ethyl trans-2-cis-4-decadienoate ethyl 2.058 05.E)-2.126 08.139 05.1 (Lanjutan) No.085 09.6-nonadien-1-ol acetate (E.064 09.4.E)-2.044 08.6-trans-octadienal 2.4-decadien-1-ol 2-trans.4-octadienal 2-trans.064 02.4-hexadienoic acid methyl sorbate ethyl sorbate (E.127 05.105 05.371 09.E)-2.108 05.639 09.273 09.

040 03.7-dimethyl-6-octenoic acid rhodinol geraniol nerol citral 8-ocimenyl acetate 2.058 05.11-dodecatrienal 3.6.005 03.019 03.098 13.027 02.5.0(4.0.021 08.3.004 09.7.9-tetramethyl-13oxatricyclo(8.2-dimethoxybenzene m-dimethoxybenzene p-dimethoxybenzene 3.020 05.165 13.169 02.6-trimethyl-6vinyltetrahydropyran tetrahydro-4-methyl-2-(2methylpropen-1-yl)pyran theaspirane cycloionone 1.4-cineole eucalyptol nerol oxide 2.039 04.043 04.4-dimethoxy-1-vinylbenzene benzyl ethyl ether benzyl butyl ether methyl phenethyl ether diphenyl ether dibenzyl ether beta-naphthyl methyl ether beta-naphthyl ethyl ether beta-naphthyl isobutyl ether isoeugenol isoeugenyl formate JECFA 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 EC 02.9))tridecan e anisole o-methylanisole p-methylanisole p-propylanisole 2.034 04.038 04.088 13.148 05.029 03.063 04.006 04.SNI 01-7152-2006 Tabel A.001 13. 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 Nama Senyawa citronellol citronellal 3.11-trimethyl-2.074 04.072 04.10dodecatrienal 12-methyltridecanal farnesol sec-butyl ethyl ether 1-ethoxy-3-methyl-2-butene 1.014 04.130 05.062 04.010 03.094 13.2.003 03.007 03.033 04.5.089 FEMA 2309 2307 3142 2980 2507 2770 2303 3886 3141 4019 4005 3131 3777 3658 2465 3661 3735 3236 3774 3822 3471 2097 2680 2681 2930 3828 3436 2246 3799 2385 2386 3138 2144 2139 3198 3667 2371 FDA 2768 3719 2468 2474 47 dari 122 .036 02.004 04.012 02.6-dimethyl-10-methylene2.170 13.016 04.6.4-dimethylanisole 1-methyl-3-methoxy-4isopropylbenzene carvacryl ethyl ether 1.015 04.035 03.1 (Lanjutan) No.032 04.011 05.054 04.

055 04.007 12.241 12.5-trithiahexane diisopropyl trisulfide Indole 6-Methylquinoline Isoquinoline Skatole JECFA 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 EC 09.3.139 08.075 09.042 14.571 09.918 12.212 12.013 04.0)octane-3.Z)-3.169 12.198 14.917 05.4-dithia-1-methyl-8oxabicyclo(3.004 FEMA 2470 2477 2922 3728 2476 2472 3698 3991 4011 3923 3353 3976 3778 3929 3982 3931 3936 3928 3841 3975 3890 3885 3884 3953 3912 3914 3967 3993 3995 3996 3994 3997 3977 3974 3270 4004 3978 4021 3968 2593 2744 2978 3019 48 dari 122 .6-nonadien-1-ol acetate 9-decenal 4-decenoic acid cis-4-decenyl acetate erythro.564 09.238 12.1 (Lanjutan) No.002 04.255 12.Z)-3.239 12.559 09.3.563 09.257 15.007 14.189 09.151 09.6-nonadien-1-ol (E.001 14.179 12.6-dimethoxyphenol isoeugenyl methyl ether isoeugenyl ethyl ether isoeugenyl benzyl ether isoprenyl acetate 4-pentenyl acetate 3-hexenal 3-hexenyl formate (cis and trans mixture) ethyl 5-hexenoate cis-hexenyl propionate cis-hexenyl isobutyrate (Z)-3-hexenyl (E)-2-butenoate cis-hexenyl tiglate cis-hexenyl valerate 3-hexenyl 2-hexenoate (Z)-4-hepten-1-ol ethyl cis-4-heptenoate (Z)-5-octenyl propionate (Z.and threo-3-mercapto-2methylbutan-1-ol (±)-2-mercaptomethylpentan-1ol 3-mercapto-2-methylpentan-1-ol (racemic) 3-mercapto-2-methylpentanal 4-mercapto-4-methyl-2pentanone (±)-ethyl 3-mercaptobutyrate ethyl 4-(acetylthio)butyrate spiro[2.921 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.674 05.018 09.240 09.6-nonadien-1-ol (E.Z)-3.568 09.922 02. 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 Nama Senyawa isoeugenyl acetate isoeugenyl phenylacetate propenylguaethol propenyl-2.566 09.710 04.030 09.017 04.3'-(1'oxa-2'-methyl)-cyclopentane] 2-(methylthio)ethanol ethyl 5-(methylthio)valerate 2.655 09.

1 (Lanjutan) No.017 01.072 14.030 14.alpha-Dimethylstyrene 4-Methylbiphenyl 1-MethyI naphthalene Bisabolene Valencene 3.047 14.3.164 01.3.006 01.004 01.134 14.016 01.157 05.041 14.020 01.037 09.068 14.071 14.7-Dimethyl-1.5-Undecatriene d-3-Carene Farnesene (alpha and beta) 1-Methyl-1.060 14.005 01.045 14.026 09.040 01.013 01. 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 Nama Senyawa 1-Ethyl-2-acetylpyrrole 1-Methyl-2-acetylpyrrole Methyl 2-pyrrolyl ketone 2-Pyridinemethanethiol 2-Acetylpyridine N-Furfurylpyrrole 2-(2-Methylpropyl)pyridine 3-(2-Methylpropyl)pyridine 2-Pentylpyridine Pyrrole 3-Ethylpyridine 3-Acetylpyridine 2.020 FEMA 3147 3184 3202 3232 3251 3284 3370 3371 3383 3386 3394 3424 3540 3546 3614 3709 3751 4065 2229 2252 2356 2633 2762 2856 2902 2903 3046 3129 3144 3186 3193 3331 3443 3539 3558 3559 3795 3821 3839 FDA FDA 172.038 13.058 14.6-octatriene p-Mentha-1.037 09.010 01.6-Dimethylpyridine 5-Ethyl-2-methylpyridine 2-Propionylpyrrole Methyl nicotinate 2-(3-Phenylpropyl)pyridine 2-PropyIpyridine Camphene beta-Caryophyllene p-Cymene d-Limonene Myrcene alpha-Phellandrene alpha-Pinene beta-Pinene Terpinolene Biphenyl p.3-diene p-Mentha-1.024 01.018 01.029 01.061 01.046 14.003 01.014 01.021 01.4-diene 1.515 FDA FDA 172.019 01.076 05.045 01.3-cyclohexadiene beta-Bourbonene Cadinene (mixture of isomers) Guaiene Butyl 2-decenoate 2-Decenal 2-Dodecenal Ethyl acrylate Ethyl2-nonynoate 2-Hexenal 2-Hexen-1-ol JECFA 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 49 dari 122 EC 14.011 01.039 14.235 05.059 14.515 2194 2366 2402 2418 2448 2560 2562 .009 01.066 14.002 01.061 14.065 14.008 01.007 01.073 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.

192 08.156 09.072 08.150 08.395 08.017 09.398 09.196 09.218 09.457 07.521 07.156 09.016 02.109 09.277 02.123 02.190 05.158 09.110 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.089 09.397 09. 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 Nama Senyawa 2-(E)Hexen-1-yl acetate Methyl 2-nonynoate Methyl 2-octynoate Methyl 2-undecynoate 2-Tridecenal trans-2-Heptenal trans-2-Hexenoic acid 2-Nonenal 2-Octenal 2-Pentenal trans-2-Nonen-1-ol 2-Undecenal trans-2-0cten-1-yI acetate trans-2-0cten-1-yl butanoate cis-2-Nonen-1-ol (E)-2-0cten-1-ol (E)-2-Butenoic acid (E)-2-Decenoic acid (E)-2-Heptenoic acid (Z)-2-Hexen-1-ol trans-2-Hexenyl butyrate (E)-2-Hexenyl formate trans-2-Hexenyl isovalerate trans-2-Hexenyl propionate trans-2-Hexenyl pentanoate (E)-2-Nonenoic acid (E)-2-Hexenyl hexanoate (Z)-3.& (E)-2-Hexenyl propionate (E)-2-hexenal diethyl acetal 2-Undecen-1-ol Borneol Isoborneol Bornyl acetate Isobornyl acetate Bornyl formate Isobornyl formate Isobornyl propionate Bornyl valerate Bornyl isovalerate (endo-) Isobornyl isovalerate d-Camphor d-Fenchone Fenchyl alcohol Nootkatone 1.3.396 09.239 05.073 08.399 09.101 09.456 09.176 09.112 02.078 05.054 05.082 09.111 FEMA 2564 2726 2729 2751 3082 3165 3169 3213 3215 3218 3379 3423 3516 3517 3720 3887 3908 3913 3920 3924 3926 3927 3930 3932 3935 3954 3983 3933 & 3932 4047 4068 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2230 2479 2480 3166 3390 3410 3425 3434 50 dari 122 .072 05.131 09.-Trimethyl-2-norbornanyl acetate Methyl jasmonate Cycloheptadeca-9-en-1-one 3-Methyl-1-cyclopentadecanone JECFA 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 EC 09.395 06.031 02.153 09.3.1 (Lanjutan) No.159 02.038 07.102 02.210 02.006 07.276 09.059 09.564 & 09.090 05.269 09.

023 17.5.2-diol beta-Ionyl acetate alpha-Isomethylionyl acetate 3-(1-Methoxy)-2-methylpropane1.007 17.010 FEMA 3587 3594 3715 3763 3776 3784 3844 3845 3849 3907 3992 4006 4054 4053 3252 3263 3285 3287 3295 3297 3301 3319 3444 3445 3585 3656 3684 3694 3726 3736 3813 3818 3819 3847 2566 2898 3055 3056 3057 3058 3174 51 dari 122 .L-Menyhol(+/-)-propylene glycol carbonate L-Monomenthyl glutarate L-Menthyl methyl ether p-Menthane-3.020 13.5-dimethyl-3(2H)furanone JECFA 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1434 1435 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 EC 02.048 13.4a. 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 Nama Senyawa 2(10)-Pinen-3-ol Verbenol 7-Methyl-4.2-diol Bornyl butyrate D.034 17.014 17.101 07.140 07.018 17.019 17.022 16.305 09.049 13.003 17.007 13.001 17.319 09.012 17.153 02.026 13.005 17.920 17.166 13.056 17.010 17.033 17.1 (Lanjutan) No.224 09.008 17.015 17.8-diol beta-Alanine L-Cysteine L-Glutamic acid Glycine DL-Isoleucine L-Leucine DL-Methionine L-Proline DL-Valine DL-(3-Amino-3carboxypropyl)dimethylsufonium chloride L-Phenylalanine L-Aspartic acid L-Glutamine L-Histidine DL-Phenylalanine L-Tyrosine Taurine DL-Alanine L-Arginine L-Lysine 2-Hexyl-4acetoxytetrahydrofuran 2-(3Phenylpropyl)tetrahydrofuran Tetrahydrofurfuryl acetate Tetrahydrofurfuryl alcohol Tetrahydrofurfuryl butyrate Tetrahydrofurfuryl propionate 4-Hydroxy-2.017 17.6-tetrahydro2(3H)-naphthalenone 3-Methyl-2-(n-pentanyl)-2cyclopenten-1-one Dihydronootkatone 3-L-Methoxypropane-1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.136 07.100 02.002 17.

046 05.089 13.115 02.)-2-(5-Methyl-5-vinyltetrahydrofuran-2yl)propionaldehyde Ethyl 4-phenylbutyrate beta-Methylphenethyl alcohol 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl acetate 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl isobutyrate 2-Methyl-4-phenylbutyraldehyde 3-Methyl-2-phenylbutyraldehyde Methyl 4-Phenylbutyrate 2-Methyl-3-(p-isopropylphenyl) propionaldehyde 2-Methyl-3-tolylpropionaldehyde (mixed o-.090 13.729 05.097 13.2-vinyl-5-(2hydroxy-2-propyl)tetrahydrofuran (Linalool oxide) 5-Isopropenyl-2-methyl-2vinyltetrahydrofuran (cis and trans mixture) 4-Acetoxy-2.084 13.038 06.109 FEMA 3320 3373 3623 3635 3664 3665 3743 3746 3759 3797 4058 2453 2732 2735 2736 2737 2738 2739 2743 2748 2886 2888 2891 2892 3078 3199 3200 3224 3341 3519 3629 3892 52 dari 122 .096 13.095 13.484 05.100 05. p-) 2-Phenylpropionaldehyde 2-Phenylpropionaldehyde dimethyl acetal 2-Phenylpropyl butyrate 2-Phenylpropyl isobutyrate 2-(p-Tolyl)propionaldehyde 5-Methyl-2-phenyl-2-hexenal 4-Methyl-2-phenyl-2-pentenal 2-Phenyl-2-butenal EthyI 2-ethyl-3phenylpropanoate 2-Phenyl-4-pentenal 2-Methyl-4-phenyl-2-butanol 2-0xo-3-phenylpropionic acid JECFA 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 EC 13.045 05.057 09.728 02.099 09. 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 Nama Senyawa Tetrahydrofurfuryl cinnamate 2-Methyltetrahydrofuran-3-one 2-Ethyl-4-hydroxy-5-methyl3(2H)-furanone 4-Hydroxy-5-methyl-3(2H)furanone 2.062 09.099 05.029 09.2-Dimethyl-5-(1-methylpropen1-yl)tetrahydrofuran 2.trans-2-Methyl.485 05.802 05.1 (Lanjutan) No.5-dimethyl3(2H)furanone (+/.5-Diethyltetrahydrofuran cis.042 13.097 09.052 05.073 09.085 13.060 13.5-Dimethyl-4-methoxy-3(2H)furanone 2.030 09. m-.SNI 01-7152-2006 Tabel A.108 08.043 05.

4-dioxane 2-Methylfuran 2.137 13.107 13.044 13.178 FEMA 2656 3487 3462 3941 2204 2076 2574 4179 4106 3673 4081 3317 3401 4090 4174 3535 4095 2494 2704 4175 3307 2492 3586 3163 3609 4071 3391 4083 2496 4192 4120 2495 3418 2435 2198 2071 2070 2865 2945 3970 3159 4114 3337 4034 4119 53 dari 122 .047 09.023 13.or 6-keto-1.106 13.3-Dimethylbenzofuran 2.525 13.074 13.045 13.059 13.5-Dimethyl-3-oxo-(2H)-fur-4-yl butyrate Furfuryl methyl ether Ethyl furfuryl ether Difurfuryl ether 2.101 13.066 13.061 13.021 13.123 13.103 13.148 13.069 13.138 13.176 13.105 13.116 13.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dimethyl furan 2-Butyrylfuran (2-Furyl)-2-propanone 2-Pentanoylfuran 1-(2-Furyl)butan-3-one 4-(2-Furyl)-3-buten-2-one Pentyl 2-furyl ketone Ethyl 3-(2-furyl)propanoate Isobutyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 4-(2-furan)butyrate Phenetyl 2-furaoate Propyl 2-furanacrylate 2.5-Dimethyl furan 2-Ethyl furan 2-Butylfuran 2-Pentylfuran 2-Heptyfuran 2-Decylfuran 3-Methyl-2-(3-methylbut-2-enyl)furan 2.4-Difurfurylfuran 3-(2-Furyl)acrolein 2-Methyl-3(2-furyl)acrolein 3-(5-Methyl-2-furyl)prop-2-enal 3-(5-Methyl-2-furyl)-butanal 2-Furfurylidenebutyraldehyde 2-Phenyl-3-(2-furyl)prop-2-enal 2-Furyl methyl ketone 2-Acetyl-5-methylfuran 2-Acetyl-3.022 13.014 07.5-Dimethyl-3-furanthiol acetate Furfuryl 2-methyl-3-furyl disulfide JECFA 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 EC 07.070 13.4-dioxane 2-Amyl-5 or 6-keto-1.058 13.047 13.083 13.150 13.043 13.or 6-keto-1.034 13.046 13.006 13. 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 Nama Senyawa Sodium 2-oxo-3phenylpropionate Maltol Ethyl maltol Maltyl isobutyrate 2-Methyl-3-(1-oxopropoxy)-4Hpyran-4-one 2-Butyl-5.054 13.163 13.092 13.1 (Lanjutan) No.4-dioxane 2-Hexyl.052 13.028 13.029 13.030 13.027 13.5-dimethyl furan 2-Acetyl-2.024 13.

191 04.1 (Lanjutan) No.014 14.4-Dimethyl-3-oxazoline 2.4.649 09.118 13.5-Trimethyl-delta-3oxazoline Allyl isothiocyanate Butyl isothiocyanate Benzyl isothiocyanate Phenethyl isothiocyanate 3-Methylthiopropyl isothiocyanate 4-Acetyl-2-methylpyrimidine 5.N-dimethylanthranilate N-Benzoylantharanilic acid Trimethyloxazole 2.721 09.5-benzo-oxazole 2.070 14.195 13.112 FEMA 4056 4043 4075 2467 2473 2469 4118 2471 2682 2421 2181 2182 3925 4086 2637 2350 3048 2859 2767 2718 4116 4115 4149 4171 4170 4169 4078 3672 3525 2034 4082 4014 3312 3654 3338 3727 - 54 dari 122 .5-Dimethyl-4-ethyloxazole 2-Ethyl-4.115 13.715 09.561 09.003 09.154 13.765 09.724 09.722 09.7-Dihydro-2-methylthieno(3.717 09.039 12.107 12.878 09.169 13.4d)pyrimidine 1-Phenyl-3 or 5-propylpyrazole 4.020 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dimethyloxazole 2-Isobutyl-4.4-Dimethyl-2-propyloxazole JECFA 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1568 1569 EC 13.025 12.5-dimethyloxazole 2-Methyl-4.648 13.102 12.781 09.766 09.096 04.650 09.718 09.723 09.030 14.716 09.091 13.193 12.029 13.088 09.769 09. 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 Nama Senyawa 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-2butanone O-Ethyl S-(2furylmethyl)thiocarbonate 4-Allylphenol 2-Methoxy-6-(2-propenyl)phenol Eugenol Eugenyl formate Eugenyl acetate Eugenyl isovalerate Eugenyl benzoate Methyl anthranilate Ethyl anthranilate Butyl anthranilate Isobutyl anthranilate cis-3-Hexenyl anthranilate Citronelly anthranilate Linalyl anthranilate Cyclohexyl anthranilate beta-Terpinyl anthranilate Phenylethyl anthranilate beta-Naphthyl anthranilate Methyl N-methylanthranilate Ethyl N-methylanthranilate Ethyl N-ethylanthranilate Isobutyl N-methylanthranilate Methyl N-formylanthranilate Methyl N-acetylanthranilate Methyl N.764 09.801 09.058 04.

5-Epoxy-(E)-2-decenal beta-Ionone epoxide trans-Carvone-5.2.044 16.1 (Lanjutan) No.003 16.042 16.026 FEMA 4037 4144 4084 4109 4199 4085 2454 2444 3757 4236 4237 4238 3130 4239 4240 4242 4241 3220 4215 4251 4252 4235 3804 4113 4087 41482787 2909 3455 4230 3898 4249 4063 3990 2908 4244 3523 3241 4246 4247 55 dari 122 .021 11.053 16.010 14.N-Dimethyl menthyl succinamide 1-Pyrroline 2-Acetyl-1-pyrroline 2-Propionylpyrrole Isopentylidene isopenylamine Piperidine 2-Methylpiperidine Pyrrolidine Trimethylamine Triethylamine Tripropylamine JECFA 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 EC 16.007 13.003 11.071 07.017 14.018 11.4decadienamide Nonanoyl 4-hydroxy-3methoxybenzylamide Piperine N-Ethyl-2-isopropyl-5methylcyclohexanecarboxamide (+/-)-N.043 16.047 16.015 11.006 11.020 09.(Z)-6nonadienamide N-Cyclopropyl (E)-2.346 08.080 11. 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 Nama Senyawa 4.(Z)-6nonadienamide N-Isobutyl (E.064 11.005 11.127 11.040 11.6-oxide Epoxyoxophorone Piperitenone oxide beta-Caryophyllene oxide Ethyl 3-phenylglycidate Ethyl methylphenyl glycidate Ethyl methyl-p-tolylglycidate Ethylamine Propylamine Isopropylamine Butylamine Isobutylamine sec-Butylamine Pentylamine 2-Methylbutylamine Isopentylamine Hexylamine Phenethylamine 2-(4-Hydroxyphenyl)ethylamine 1-Amino-2-propanol Acetamide Butyramide 1.023 11.133 14.185 16.013 14.052 16.E)-2.006 14.005 11.018 16.015 16.3trimethylbutyramide N-Ethyl (E)-2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.051 16.009 11.170 16.049 16.6-Hexalactam 2-Isopropyl-N.002 11.

10-trimethyl2.1 (Lanjutan) No.168 02.5-dimethylphenol 2-Ethyl phenol o-Methoxybenzaldehyde alpha-Sinensal.014 11.052 02.130 05.149 05.N-Dimethylphenethylamine Trimethylamine oxide Piperazine Dec-8-eno-1.7-Dimethyl-2.4.041 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A. acetylcedrene Decan-2-one Hexan-2-one 1-hydroxypropan-2-one or 2-propanone.081 FEMA 4248 4245 4250 2203 - 56 dari 122 .7-Decatrienal Pentanedial Hex-3(trans)-enal Pentene-4-al Citral propylene glycol acetal 1.141 05.151 05.6-Dimethyl-2.001 01.206 04.143 07.141 09.6E)-2.182 07.6.5-lactone dl-Limonene alpha-Cedrene (4E.187 02.123 02.219 08.129 05.068 02.4-dimethyl-1.6-octadienoic acid JECFA 1613 1614 1615 EC 11. 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 Nama Senyawa N.1-diethoxybutane or Butanal diethylacetal Ethyl 2.11-dodecatrienal 2.061 06. 1-hydroxy.025 14.158 02.020 04.9.174 06.196 07.3dioxolane-2-acetate.754 01.169 07.163 07.4.6E)-Allo-ocimene Octene-1 2-methylbutan-2-ol tert.150 07.119 02.087 07.022 01.6octatriene.024 08.121 02. 2.218 07.035 06.068 02.070 05. Ethyl acetoacetate propylene glycol ketal Methyl cedryl ketone. Butyl alcohol Allyl alcohol Cedrenol 2-butanol 2-Methyl 3-Buten-2-ol Hex-3(trans)-en-1-ol Isophytol Nonenol Sclareol 3.or 2-oxopropanol 5-methylheptan-3-one pin-2-en-4-one Methyl ionone N trans-3-Methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one Succinic acid 3.6. (4E.035 01.

139 12. 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 Nama Senyawa Hept-2-enoic acid Ethyl hex-2-enoate 2-Hexen-1-yl acetate Ethyl linoleate Butyl Octanoate Methyl decanoate Oct-1-en-3-yl-acetate Benzyl octanoate Ethylene glycol butyl ether acetate Ethyl butyryl lactate Hexylsalicylate Isopentyl decanoate Isoamyl heptate Isopentyl lactate Isopropyl palmitate Methyl geranate cis-6-Nonenyl acetate Vetiver acetate Amyl benzoate Methyl-2-octenoate Methyl 3.SNI 01-7152-2006 Tabel A.606 09.928 10.128 14.213 13.136 14.831 09.5-Diethyl-1.673 09.043 15.502 09.204 09.063 12.058 10.828 09.118 14.049 FEMA - 57 dari 122 .116 12.601 09.5-Dimethyl-3(2H)-furanone 2-Furoic acid 4-Methylquinoline 1-methylpyrrole 2-Acetyl-1.209 09.598 09.251 09.017 12.2.4-trithiolane JECFA EC 08.015 12.821 09.205 12.5.190 09.599 09.023 14.5-lactone or Delta tridecalactone Oxacycloheptadec-10-en-2-one Diethyl disulfide Dipropyl sulphide Ethyl Mercaptan Butyl thioisovalerate Dimethyl tetrasulphide 2-Methoxythiophenol Mercaptal acetaldehyde Isobutyhyl methylthiobutyrate 2.318 09.281 09.1 (Lanjutan) No.581 09.119 13.083 09.106 12.6tetrahydropyridine 2-hydroxypyridine 2-Methyl-3-(methylthio)pyrazine Methylpyrrole-2carboxaldehyde/n 2-butyl-5-ethylthiophene 3.7-dimethyl-2.196 09.002 14.825 09.163 15.320 09.079 14.4.6octadienoate Hexenyl acetate/trans-3 Tridecano-1.012 12.643 09.

Styrene 2-(4-Methylphenyl)-2-propanol L-Arabinose L-Cysteine Succinic acid.035 09.086 09.110 16.495 09.227 02.1 (Lanjutan) No.064 15.059 17.042 17.096 15.018 09.5-trithiane Ammonium hydrogen sulphide L-Cystine L-Serine L-Threonine Diammonium sulfide 1-Methyl-1-phenethyl isobutyrate 1.234 02. ammoniated Cis-2-hexenyl acetate l-Limonene 4-(1.035 01.SNI 01-7152-2006 Tabel A.1-Dimethyl-2-phenethyl acetate 2-Methyl-1-phenylpropan-2-ol 1.070 15.3.017 09.069 09.031 09.008 16.196 01.4. disodium salt JECFA EC 15.020 17.006 17.015 02.037 09.081 16.181 09. 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 Nama Senyawa 2.077 15.232 09.062 15.021 09.090 14.080 07.4-Dimethylthiazole 2.774 02.033 FEMA 2053 2388 2392 2393 2394 2395 2421 2446 2460 2524 2528 2564 2633 2701 2708 2709 2725 2772 2860 2883 2951 2966 2967 2976 2977 2996 3038 3042 3173 3208 3233 3242 3255 3263 3277 58 dari 122 .5-dimethyl thiophene 2-ethyl-5-methylthiophene Hydroxydimethylthiophenone Penthyl Thiophane 2.509 09.3-Benzodioxol-5-yl)butan-2one Methyl hexanoate Methyl 2-hexenoate Methyl 2-nonenoate Nerolidol Phenethyl benzoate 3-Methyl-1-phenyl-3-pentanol Propyl 4-hydroxybenzoate Pyridine Pyroligneous acid Quinine hydrochloride Quinine sulphate Rum ether Sucrose octaacetate Tannic acid 1-Hydroxy-2-butanone Methylthio(methylpyrazine) mixtures of isomers Vinylbenzene.1-Dimethyl-2-phenethyl butyrate alpha-alpha-Dimethylphenethyl formate Ethyl anthranilate Ethyl nitrite Ethyl (E)-2-methyl-2-butenoate Glucose pentaacetate Glycyrrhizic acid.716 16.915 14.045 07.6-Trimethyl-1.

6.299 16.003 06.087 13.520 07.565 08.092 09.248 13.114 09.104 11.283 09.266 09.010 17.292 09.076 08.008 09.064 09.055 12. monohydrochloride Sodium diacetate Vanillin propylene glycol acetal 2-Aminoacetophenone (Z)-3-Hexenyl pyruvate trans-2-Octenoic acid 3(2)-Hydroxy-5-methyl-2(3)hexanone Methyl 2-methyl-2-propenoate Methyl (methylthio) acetate (+/-)-Octan-3-yl formate Paraldehyde Sodium 4methoxybenzoylacetate Acetaldehyde diisoamyl acetal Amyl methyl disulfide Benzyl hexanoate Butyl ethyl disulfide beta-Cyclodextrin Diethyl trisulfide (+/-)-cis.282 09.053 06.063 09.2.316 12. 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 Nama Senyawa 3-Hydroxymethyl-2-octanone Isopropenylpyrazine n-Hexyl 2-butenoate N-(4-Hydroxy-3-methoxybenzyl)8-methyl-6-nonenamide Methyl dihydrojasmonate 2.114 15.146 09.097 14.285 13.049 FEMA 3292 3296 3354 3404 3408 3421 3470 3486 3549 3591 3599 3606 3612 3641 3643 3651 3673 3675 3692 3712 3730 3779 3811 3817 3819 3900 3905 3906 3934 3957 3989 4002 4003 4009 4010 4016 4024 4025 4026 4027 4028 4029 4030 4031 59 dari 122 .647 12.926 05.253 09.and trans-Diethyl-1.1 (Lanjutan) No.109 14.052 09.850 09.6-Trimethylcyclohex-2-en1.007 15.4trithiolane (+/-)-Dihydrofarnesol JECFA EC 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.254 12.4-dione Quinoline Ethyl trans-2-butenoate 6-Hydroxydihydrotheaspirane Theobromine trans-2-Methyl-2-butenoic acid d-Xylose 1-Octen-3-yl butyrate Ethyl trans-2-decenoate Ethyl trans-2-octenoate 6-Acetoxydihydrotheaspirane 2-Ethylfuran Ethyl trans-2-hexenoate Hexyl trans-2-hexenoate Methyl trans-2-octenoate L-Rhamnose Hydrogen sulfide Neohesperidine dihydrochalcone 2-Acetyl-2-thiazoline L-Arginine.

methyl ester.7-dimethyl-2.4nonadienoic acid gamma lactone 3-Hydroxy-4-phenylbutan-2-one (+/-)-Methyl 5-acetoxyhexanoate 3-Methyl-2.042 07.7Z-Decantrienal Hepten-1-ol-3 1-(3-hydroxy-5-methyl-2thienyl)ethanone Oxacycloheptadec-10-en-2-one 3-(Methylthio)propyl-butyrate (S)-1-Methoxy-3-heptanethiol 5-Octenoic acid.5]decan-2one.089 05.3-mercapto-.6-octadienyl cyclopropylcarboxamide 1.184 05. (5Z)Phytol N-gluconyl ethanolamine N-lactoyl ethanolamine 3-methyl hexanal N-3.4-dioxaspiro[4.1acetate Ethyl (E)-2-methyl-2-pentenoate Methyl hexyl ether JECFA EC 15.383 06.5-dimethyl-1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.256 09.063 09.3-dimethyl-2.5-Dimethylthiazole (Z)-4-Dodecenal (+/-)-Ethyl 3-acetoxy-2methylbutyrate S-Ethyl 2acetylaminoethanethioate Ethyl methyl disulfide Ethyl propyl disulfide Ethyl propyl trisulfide Geranyl tiglate trans-4-Hexenal 2-Hexyl-4.242 09.203 05.153 10.3.632 07.9-dimethyl-6-(1methylethyl)1-heptanol.919 12.1 (Lanjutan) No.112 FEMA 4033 4035 4036 4038 4039 4040 4041 4042 4044 4046 4048 4049 4050 4052 4055 4057 4059 4060 4061 4062 4064 4066 4089 4129 4142 4145 4161 4162 4165 4196 4254 4256 4261 4267 4285 4289 4290 4291 60 dari 122 .3-Octanedione (+/-)-1-Phenylethylmercaptan (Z)-4-Propenylphenol 2-Propionyl-2-thiazoline (Z)-8-Tetradecenal 2E.208 05.3dioxolane 4-Hydroxy-3.4E.4-nonanedione 9-Octadecenal 2.141 02. 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 Nama Senyawa Dihydroxyacetone 2.5dimethoxybenzaldehyde 4-Hydroxy-2.126 12.153 12.155 02.

3-dihydro-1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.2dihydroperilladehyde 2-isobutyl-4-methyl-5ethylthiazole 2-secbutyl-4-methyl-5-ethyl thiazole 5-pentyl-3H-furan-2-one 3-mercapto-3-methyl-1-butyl acetate 3-mercapto-1-butyl acetate 5-nonen-(E)-2-one 1-menthyl acetoacetate 4-octen-3-one JECFA EC FEMA 4296 4297 4298 4301 4302 4312 4318 4319 4323 4324 4325 4326 4327 4328 61 dari 122 .5-dithiahexane (E)-2-nonen-4-one (E)-4-nonenal Cis-& trans 1.1 (Lanjutan) No. 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 Nama Senyawa 5-acetyl-2.4-thiazine Bis (1-mercaptopropyl)sulfide 2.

tidak cocok dengan basa dan senyawa pengoksidasi yang kuat serta mudah terbakar. Asam agarat (agaric acid). B. Aloin hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.1 mg/kg. Funpurgatif.1..1. Agaricus Albus. Aloin tidak boleh diberikan pada penderita gangguan usus atau berpenyakit seperti Crohn 1 s disease.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Comission) dan EC (European Commission) melarang penggunaan Aloin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Penggunaan Aloin dalam waktu lama bisa menyebabkan defisiensi kalium yang dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskuler. meski tosikologinya belum sepenuhnya diteliti. 666-99-9 Deskripsi B. Touchwoo. Larch Agaric.1. merupakan suatu jamur yang tumbuh pada pohon larch. Tinder. Batas maksimum penggunaan untuk makanan dan minuman adalah 0. 2 B.1 mg/kg. 5133-19-7 Deskripsi Aloin dengan sinonim C-glycocyl dari aleo-emodin anthrone merupakan salah satu konstituen laksatif dari anthraquinone complex yang diperoleh dari getah tanaman Aloe ferox (Asphodeliaceae) dan Rhamnus purshiana DC. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan aloin sebagai natural toxicant dan dapat ditambahkan sebagai senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg dan produk makanan lainnya sebesar 0. White Agaric. G.1 Asam agarat dengan sinonim agarisin diperoleh dari Polyporus officinalis atau (N. Fr. tumbuh pada satu atau lebih spesies dari Pinnus 62 dari 122 . dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Nomor CAS. memiliki titik leleh 1480C.SNI 01-7152-2006 Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa B1 B. Agaric.O hymenomycetes). terhirup atau terserap melalui kulit. B.2. Efek samping dari aloin adalah dapat menimbulkan kram pada lambung/usus. Aloin memiliki rumus kimia C21H22O9 merupakan campuran dari dua diestereo-isomer yaitu Aloin A dan Aloin B berbentuk serbuk kristal berwarna kuning lemon.1 Aloin (aloin). Spunk. didefinisikan sebagai daging buah kering dari jamur Polyporus officinalis kering (Farm.1. Larchenschwamm.3 Kajian keamanan Aloin merupakan laksatif yang bersifat iritan yang berbahaya apabila tertelan. Nomor CAS. Toksisitas untuk Aloin adalah 20-30 mg/hari sebagai laksatif. dengan pengecualian pada minuman beralkohol sebesar 50 mg/kg.2 Fungsi lain Tidak ada B. Sementara Malaysia melarang penggunaan aloin dalam makanan. Polyporaceae).

C14H24O2 dan asam risinoleat.. xxv. Keberadaanya dalam makanan tertentu sesuai dengan batas yang diizinkan : minuman selain minuman beralkohol dan shandy (20 mg/kg). Menurut Hoffmeister (A. alkohol aromatik cair. Rosenbaum telah menemukan ekstrak cair dari agarat. sering dikenal sebagai larisat dan asam agarisinat. Schmidt.) J.. dan Picea Link (Fam. 1528. p. C15H20O4 yang diesktrak dengan petroleum benzin dengan konsentrasi 4 . dosis awal harus kecil.2. B. 3te Auf. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. litium dan agarisinat bismut sudah dikenal sebagai obat. Larix Adanson. C18H34O3. Pada dosis yang besar mempunyai aksi purgative. Malaysia melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa.6 cg (5-60 mg). Dari segi obat-obatan solanaceous. larut dalam air mendidih sampai cerah sempurna.03 Gm).01-0. Schmieder.. Pada awalnya dapat meningkatkan tekanan darah dan kecepatan respirasi yang diikuti oleh pengurangan aktivitas dari keduanya. shandy. C26H44O. Asam agarat biasanya diberikan dalam bentuk pil dan sachet. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. asam agarat dalam dosis tinggi dapat melumpuhkan urat syaraf dan kelenjar keringat.SNI 01-7152-2006 Linne. Pinaceae).E.344 merupakan senyawa berbentuk serbuk mikrokristal. C10H16O disatukan pada suhu 223 oC (433oF). ii. 1 ½ H2O dengan bobot molekul 443.. sebagai antipiretik dan antihidrotik (Ph. Sediaannya yang mengandung asam agarat aktif dengan nama dagang agarisin telah dipasarkan dengan sedikit atau banyak cemaran.2. C23H46 dan C29H54. fitosterin. 1889. Selain itu dapat menyebabkan eksitasi primer pada medula. B. berwarna hampir putih. Menurut teori Mc Cartney bahwa aksi antihidrolik agarat disebabkan oleh kejang otot pada lapisan kulit. diikuti oleh paralisis. xlvii. D Eidel telah menghasilkan 2 fenetida dari asam agarat. Asam agarat dalam bentuk yang tidak murni berwarna kekuningan. setil alkohol. pangan olahan lainnya (20 mg/kg). Ztg.. asam lemak.P. Penggunaan yang paling utama dari agarat adalah didalam perlakuan pada kondisi yang rusak terhadap keringat kolikuatif seperti ftisis. Asam agarat sedikit larut dalam air. C9H18O. Lehrbuch der Pharm. natrium. agarat mengandung sedikit resin lembut (soft resin). merupakan larutan dalam kaustik soda bebas busa. Pada prinsipnya dosis murni antara 1/6 sampai 1 ½ butir (0. Menurut J. Berbagai jenis asam agarat diperdagangkan dalam daya regang yang kuat. umumnya tidak berbau dan tidak berasa. dan merupakan cairan berbusa. Agarat berfungsi sebagai obat dalam bentuk asam agarat. Chem. India membatasi keberadaan asam agarat secara alami dalam berbagai artikel pangan tidak 63 dari 122 . Asam agarat mempunyai rumus kimia C19H36OH (COOH)3. mempunyai titik leleh 140 oC. hidrokarbon padat. dalam alkohol (1 dalam 100).4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan asam agarat dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.2 Fungsi lain Tidak ada B. ini diserap lebih pelan dan oleh karena dosis ini perlu diambil beberapa jam sebelum kekuatannya berhenti. Pada dosis tinggi bersifat iritan pada perut dan usus. Asam agarat tidak diatur secara hypodermically. makanan yang mengandung jamur (100 mg/kg).2. Agarat berasa agak manis dan sangat pahit.6 % pada lemak tubuh yang dibuat dari agarikol. agarat dipercaya sebagai obat. C16H33OH. Batas maksimum untuk makanan dan minuman 20 mg/kg pengecualian pada minuman beralkohol dan makanan yang mengandung jamur 100 mg/kg.189).3 Kajian keamanan Asam agarat melumpuhkan ujung syaraf pada kelenjar keringat dan kemudian dapat menghentikan night-sweate (keringat di malam hari).P. minuman beralkohol.). menyebabkan rasa mual dan seperti obat cuci perut. Hal itu dapat menyebabkan peradangan dan sakit keras di tempat penyuntikan pada dosis ½ .

produk makanan yang mengandung jamur dengan batas maksimum 100 mg/kg.3.3. Distilat utama (kondensasi dari gas) hampir berupa air dan tidak sampai 4 jam. seperti sianida yang lain. Nomor CAS. Asam pirolignous adalah limbah dari hasil produksi charcoal dengan cara karbonasi dari kayu dalam keadaan hampa udara.3. Asam pirolignous (pyroligneous acid).1 HCN adalah racun protoplasmatik. 74-90-8 Deskripsi B. dan mulailah terpisah-pisah secara spontanitas.4 B. Asam pirolignous dalam bentuk mentah (crude) kemudian dimurnikan dengan cara destilasi fraksional supaya aman (food grade) digunakan pada produk-produk makanan. Ada banyak pangan yang mengandung bahan sianogenik sianida yang diproduksi dalam metabolisme menjadi tiosianat. Sianida terjadi secara alami pada bahan perisa tertentu. sebagian lagi diturunkan dari buah-buahan dan bagian lain dari spesies Prunus dan dinyatakan bahwa sianida adalah unsur organoleptik. Sedangkan Singapura melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam agarat sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 100 mg/kg. tars dalam jumlah yang bervariasi. Jika kayu dipanaskan. gelap tersusun dari asam asetat. liquor (minuman keras) perlahan-lahan menjadi keruh dan kandungan asamnya meningkat. aseton.2 Fungsi lain Tidak ada. Selama destilasi.3. B. B. produk akhirnya adalah charcoal. suhunya meningkat menjadi 270°C. Jika dalam keadaan hampa udara. Reaksi ini terjadi selama pembakaran charcoal. Nomor CAS. Destilasi fraksional ini disebut juga ekstrak asam pirolignous. 8030-97-5 Deskripsi B. pada saat kayu mengering. Proses karbonasi berlangsung pada suhu di atas 270°C. Kondensat mentah (crude) yang dihasilkan dari destilasi kayu ini disebut asam pirolignous. Asam pirolignous merupakan cairan berwarna kemerahan.SNI 01-7152-2006 melebihi batas spesifik (100 mg/kg). Asam sianida (hydrocyanic acid). Asam pirolignous juga dikenal dengan wood vinegar (vinegar kayu). Jika tidak dalam keadaan hampa udara. 64 dari 122 . maka kayu akan terbakar dimana suhunya mencapai 400°C -500°C dan produk akhirnya berupa abu kayu. dan sampai proses ini lengkap.3 B. kayu ditempatkan dalam oven dan mulai dipanaskan.3 Kajian keamanan Belum ada data yang cukup tentang asam pirolignous. tapi juga mengandung metanol (wood alcohol). Ion sianida bergabung dengan enzim yang membawa oksigen dapat menghambat aktivitas sel dan merupakan ancaman terhadap fungsi-fungsi vital. minyak kayu. B.1 Asam pirolignous merupakan limbah dari hasil produksi charcoal dari batang.4 Pengaturan Malaysia melarang penggunaan asam pirolignous sebagai perisa. suhu kayu tinggal 100°C -110°C.4.

marzipan (50 mg/kg). Sedangkan India mengatur keberadaan asam sianida secara alami pada berbagai artikel pangan tidak boleh melebihi batas tertentu (5 mg/kg). sari buah berbiji tunggal (stone fruit juice) 5 mg/kg. marzipan (kacang-kacangan) 50 mg/kg. dan pangan olahan lain 1 mg/kg.TLV.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan asam sianida dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. IDLH : 50 mg/kg . Komisi Eropa juga mempertimbangkan bahwa jumlah sianida yang ada dalam produk pangan dan produk minuman sebagai hasil dari penambahan perisa yang mengandung perisa harus dibatasi pada tingkat terendah untuk mencapai efek organoleptik yang diinginkan. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) (5 mg/kg). Sementara Singapura melarang penggunaan asam sianida sebagai bahan perisa yang terkandung dalam minyak volatil almond pahit.3 Kajian keamanan Penggunaan asam sianida mempunyai efek terhadap penahanan myocardial.4. minuman beralkohol 1 mg/kg per % volume.+ H+ HCN Komisi Eropa memutuskan bahwa asam sianida dan garamnya tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan dan oleh sebab itu tidak ada spesifikasi yang disiapkan. 65 dari 122 .Celling : 10 mg/kg B. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam sianida (total) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk pangan sebagai berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (25 mg/kg).SNI 01-7152-2006 B. Malaysia mengatur keberadaan asam sianida dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy 1 mg/kg. CN.4.2 Fungsi lain Tidak ada B. Batas maksimum pada makanan dan minuman 1 mg/kg pengecualian pada konfeksionari(kembang gula) 25 mg/kg. marzipan 50 mg/kg. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) 5 mg/kg.4. Toksisitas HCN dalam udara berdasarkan nilai parameter berikut ini: LC50 : 135 mg/kg . minuman beralkohol (1 mg/kg per 1% kandungan alkohol). paralysis saluran pernafasan dan kerusakan ginjal serta hati yang tidak bisa disembuhkan. Masalah praktis utama dengan pencernaan kronik dari makanan-makanan sianogenik adalah efek goitrogenik dari tiosionat dan ini adalah masalah serius ketika hal tersebut terjadi karena diet kurang iod. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Penggunaan HCN di perusahaan electroplatina adalah secara langsung mencegah kontak kecelakaan antara garam sianida dan larutan asam yang menghasilkan bentuk gas HCN. konfeksionari (kembang gula) selain marzipan (kacang-kacangan) 25 mg/kg.

5273-86-9 Deskripsi Beta-asaron dengan sinonim Asarin.331 mg/kg bobot badan.1. tonikum.3. Daucus carota L. Helichrysum arenarium (L.2. Asarum camphor.1.5-trimetoksi-1-propenil-bensen atau 1 (2.pada tikus – i.3.2 Fungsi lain Secara tradisional (etno-farmakologi) akar dari A.3 B. Asarubacca camphor.5. eter. B.Linn (Acaceae) antara 75%-80%.p. Ekstrak n-heksan dari rhizoma dan akar sebanyak 38%. angustatus Bess (Acorus triqueter Turcz. (asaron).80% beta-asaron) .p.4% .LD50 = (184.) Moench.5-trimetoksifenil) -1-propen.3. asam asetat glasial dan tidak larut dalam air. B.5. stimulan dan sebagai insektisida.1. calamus (Acorus calamus L.pada mencit – i. LD50 = 1. .3.H=7.339 mg/kg bobot badan.1 Kajian Keamanan Data toksisitas Akut (LD50) Beta-asaron: . 9-19% dalam rhizoma dan 0. Piper angustifolium R. beta-asaron adalah konstituen minyak kalamus yang diperoleh dari akar (rhizoma) kering Acorus calamus. (alfa asaron).andamanica (asaron). mengandung beta-asaron : 5065% dalam daun. .5.74% dan O= 23.pada tikus – oral LD50 = 4.4 Pengujian mutagenisitas dengan metode ames Pada 2-200 μg/plate tidak mutagenik terhadap Salmonella typhimurium galur TA-98. Magnolia salicifolia Maxim (α asaron).1 Beta asaron (β – asaron). LD50 = 4.331 mg/kg bobot badan.4. (Aristolochiaceae). cis-isoasaron.& P.5%) dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9).1 B.3% dalam rhizoma kering.21%) . (α asaron).var. larut dalam alkohol.. β-Azarone.1.139 mg/kg bobot badan. var.) Ness (asaron).4-trimetoksi-5(12)-1 profenil-(9 CI). . cis-asaron. TA-1535.var. mengandung beta-asaron 85-95% dalam rhizoma dan 4. Piper sumatranum DC. Indeks bias n11p = 1.5.2 Minyak kalamus (mengandung 75% . B. dan rumus molekul C12H16O3.var. B. arisfolium L. (β asaron).p.5.5 B. B.571. A. cis-β-asaron. 66 dari 122 .SNI 01-7152-2006 B. antelmintik. 1.5.4. Sassafras albidum (Nutt. Piper lolot Dc.pada mencit – i. TA100. Acorus calamus L. LD50 = 1. Melalui destilasi air dapat diperoleh pula dari akar Asarum europaeum L.5. TA-1537 dan TA-1538 dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9). memiliki nama kimia : Isomer cis dari 2.05%) Indeks nama CA: Bensen.pada tikus – oral LD50 = 1. disentri.). Dilaporkan juga asaron diketemukan dalam tumbuhan :Acorus gramineus Ait. calamus digunakan sebagai obat kejang lambung.010 mg/kg bobot badan.).0)mg/kg bobot badan.3% dalam rhizoma kering.497 mg/kg bobot badan. Nomor CAS. (Araceae).3 Minyak acorus : .pada tikus – oral LD50 = 3. Acorus calamus L.(asaron). Asarum europaeum L. . Asarum arifolium Michx (α asaron).5.8. serta memiliki bobot molekul 208.pada mencit – i. beta-asaron memiliki titik leleh 620C -630C (kristal jarum dari light-petroleum).3.25 (C=61. (Z) asaron. Aktivitas mutagenik teramati pada 5000 mg/kg (0. Titik didih 2960C. vulgaris L.p.2±1. asma.

ginjal dan hati juga terjadi pada hewan yang menerima perlakuan.6 mg/kg bobot badan. Menurunkan suhu tubuh mencit.2 mg/kg bobot badan. dengan dosis 10-100 mg/kg menunjukkan efek sedatif-penenang pada tikus.p.1.SNI 01-7152-2006 B. Disamping terjadi hiperaemia dan kongesti 67 dari 122 . B. Pemberian secara i. beta-asaron dengan dosis 0. Tumbuhan Acorus Spp. Hal ini menunjukkan induksi akibat gangguan fungsi jantung. beta-asaron 50 mg/kg bobot badan secara i. perubahan cairan serosa rongga perut dan kantung pleural. dan Asarum Spp.1. infiltrasi lemak pada myokardium dan fibrosis jantung. Teramati pula atropi pada sel-sel otot jantung.7 Studi pemberian berulang jangka panjang Pemberian beta-asaron selama 2 tahun dalam bentuk diet makanan (0.15-15 mg minyak kalamus Eropa atau India. atau minyak yang mengandung beat-asaron dan 0.6 Pemberian berulang minyak kalamus dan ekstrak hidro-alkohol dari rhizoma Acorus calamus yang mengandung beta-asaron. kucing. Studi pemberian berulang jangka pendek B.5. Tidak ada efek terhadap toksisitas amfetamin. Toksisitas akut atau pemberian dosis tunggal beta-asaron secara oral pada tikus menunjukkan nilai LD50 1. Indian dengan dosis 20-100 mg/kg bobot badan menunjukkan : a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Efek perpanjangan tidur oleh pentobarbital. memperpanjang waktu tidur (2x) Natrium pentobarbital pada mencit dan dengan dosis 75 mg/kg bobot badan memperpanjang waktu tidur (dua kalinya) etanol pada mencit. perubahan hati dan ginjal serta adanya masa tumorus 1 jenis leiomyosarcoma dalam saluran cerna. Fibrosis kardiak/atropikardiak. peningkatan mortalitas.044. hiperaemia pasif paru-paru.p. infiltrasi lemak dalam jantung.04 mg/telur menunjukkan embrio hidup 43% dan juga betaasaron 4. Disamping terjadinya tumor jenis leiomyosarkoma terjadi pula adenoma dan adenokarsinoma hepatoselular pada organ hati. perubahan cairan abdominal dan kantung pleural.3. selama 13-18 minggu pada tikus jantan dan betina menunjukkan penekanan pertumbuhan.1. minyak acorus dapat menginhibisi aktivitas enzim monoaminoksidase. Efek kerusakan mikrokopik patologik pada hati dan jantung yang teramati berkorelasi dengan dosisnya.3. Minyak atsiri hasil destilasi dari akar dan rhizoma Acorus calamus var. anjing dan kera.5 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Telur diinokulasi dalam kantung vitelinum dengan 0.25% betaasaron) pada tikus jantan dan betina menunjukkan peningkatan angka kematian. Sedangkan pemberian dosis tunggal secara intraperitoneal pada mencit menunjukkan nilai LD50 184.5.3. yang bersifat hepatotoksik dan genotoksik.2 ml larutan yang mengandung 0. Pada kucing teranestesi dengan dosis 1-32 mg/kg bobot badan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan denyut jantung. hexobarbital dan etanol pada mencit atau ada efek hipotik-potensiasi. Tak teramati efek teratogenik dari kalamus dan alfa asaron.00 mg/telur terjadi 100% embrio mati.p. perubahan organ hati. Studi in vitro.5. menekan aktivitas dan tonus otot mencit dengan penekanan terhadap aktivitas spontan. Dosis 10-150 mg/kg bobot badan secara i. dimana mengandung beta-asaron yaitu minyak atsiri alkil benzen dapat menjadi bentuk metabolit epoksid oleh aktivitas enzim mikrosom hati. Meningkatkan efek toksik dari metrazol pada tikus.04-0. mencit. anjing dan kera.0 mg beta atau alfa-asaron. setara dengan pada manusia 20.010 mg/kg bobot badan atau setara dengan pada manusia 161. Dosis 25 dan 50 mg/kg bobot badan memberikan efek muntah pada kucing.37 mg/kg bobot badan. dan asam 1-dan d-amino amino aksidase pada hati dan ginjal tikus.

terhisap atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan iritasi pada kulit.1 mg/kg).SNI 01-7152-2006 pada organ hati.047.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan beta-asaron dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). B. pada manusia belum ada. Memiliki cairan jenih.1 Benzil alkohol dengan sinonim benzenemethanol. 100-51-6 Deskripsi B.539-1. Nomor CAS. Benzil alkohol diperoleh melalui peranan katalis pada benzil klorida. alpha-toluenol digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan carrier solvent.539 – 1. mata dan mempengaruhi sistem syaraf pusat. alpha-hydroxytoluene. Titik asap >212° F. Nilai ADI 0-5 mg/kg bb. eter dan CHCL3 tetapi agak sukar larut dalam air (4 g dalam 100 g air @ 25 oC).6 B.6. phenylmethyl alcohol. Benzil alkohol (benzyl alcohol). dan viksositas 5 cP (25 oC). pengecualian pada minuman beralkohol dan sebagai bumbu (1 mg/kg).541. Benzil alkohol merupakan cairan yang mudah terbakar.6oC (closed cup) dan 104. bercampur dengan etanol. titik lebur -15. Sementara Australia dalam Australian Food Standard Code mengatur betaasaron sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg. phenylmethanol.3 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) pada hewan percobaan secara oral adalah 1040-3200 mg/kg bb dan secara peritoneal sebesar 1000 mg/kg dan 650 mg/kg dimana keracunan muncul setelah 7 hari.6.2 Fungsi lain Tidak ada B. metabolisme beta-asaron dalam tubuh masih terbatas pada tikus.042 – 1. kondisi ini ditemui pula pada organ lain. Kajian keamaan dilakukan oleh JECFA menggunakan Prosedur Evaluasi Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkahlangkah sebagai berikut: a) Langkah 1: Benzil alkohol tergolong ke dalam struktural kelas I (Cramer). tekanan uap 10 mm Hg @ 92. gravitasi spesifik (suhu 25° C) 1. barbau khas. dengan batas maksimum dalam satuan (mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Benzil alkohol dilaporkan terdapat secara alami di alam. Studi tentang distribusi.2 oC. indeks bias 1. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0. Apabila termakan. benzylic alcohol. berat molekul 108. B. b) Langkah 2: Benzil alkohol diprediksi dapat dimetabolisme menjadi produk innocuous. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Benzil alkohol mempunyai rumus kimia C6H5CH2OH. Benzil alkohol telah dikaji keamanannya oleh JECFA pada tahun 2001 dan diputuskan bahwa dalam penggunaanya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. c) Langkah 3: Estimasi asupan Benzil alkohol di Eropa (16000 μg) dan di USA (17000 μg) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas I (1800 μg).2. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 41050 mg/l pada suhu 25° C. dan rasa yang menyengat.5. titik didih 205 0C. 68 dari 122 . refractive Index (suhu 20° C) 1.14. Benzil alkolol mudah larut dalam etanol 50%.6.541 pada suhu 20 oC. phenylcarbinol.6 oC : 13. dan makanan yang mengandung bumbu dalam jumlah kecil (batas maksimum beta-asaron 1 mg/kg). Malaysia dan India melarang penggunaan beta-asaron dalam makanan.5 oC (open cup). titik nyala (flash point) 100.

p. implantasi intrabronkial.7 B.p). titik didih >360 0C.351 g/ cm3.SNI 01-7152-2006 d) Langkah 4: Benzil alkohol dapat dimetabolisme langsung menjadi asam benzoat yang merupakan senyawa endogenous pada manusia.3 Kajian keamanan Toksisitas LD50 pada mencit adalah 250 mg/kg bb (i.Benzopyrene. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Benzo[a]piren (benzo[a]pyrene). 0 C. teh hijau 1-30 mg/kg.7. titik leleh 179-179. pemberian secara inhalasi dan atau intratrakeal.Benzopyrene. Adenoma paru-paru dan leukemia terjadi setelah mencit diberi pakan yang dicampur dengan Benzo[a]piren 250 mg/kg selama 140 hari. B. Leukimia Dosis oral 6-12 mg/kg bb menimbulkan leukemia setelah 100 hari atau lebih. dosis 250 atau 1000 mg/kg menyebabkan papiloma dan karsinoma perut. Nomor CAS. Pemberian 100 mg/kg bb.5. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batasan 500 mg/kg pada produk pangan. a) Pada mencit. Benzo[a]piren yang diberikan langsung ke dalam perut pada dosis 0. 1. 3. Benzo[a]piren merupakan karsinogen.2. Tumor pada paru-paru. menyebabkan adenoma paru-paru setelah sekitar 6 bulan. pemberian subkutan.dan kerapatan 1. Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. dan cara pemberian lain. Apabila dicampurkan ke dalam pakan.6. benzil akohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). terutama menyebabkan tumor lokal pada berbagai spesies setelah pemakaian pada kulit. berat molekul 252. Kedua dosis tersebut menimbulkan tumor perut masing-masing pada 100% dan 25% mencit setelah pemberian pakan selama lebih dari 85 hari.. teh hitam 1-15 mg/kg. Benzo[a]piren menyebabkan: Tumor pada perut.30. dan atau intramuskular.7. - 69 dari 122 . USA menyatakan bahwa benzil alkohol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS no 2137. Pengaturan B.7.2 Fungsi lain Tidak ada B.4 JECFA menyatakan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.4.36.7. dan 6 mg/kg bb menyebabkan tumor pada perut setelah 43 minggu dengan jumlah yang berbeda bergantung pada dosis. JECFA no 25. dan 6.. 50-32-8 Deskripsi B.Benzopyrene memiliki rumus molekul C20H12 .1 Benzo[a]piren dengan sinonim 1. ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman sebesar 400 mg/kg (chewing gum 1254 mg/kg). i. Sebagai konstituen alami dalam edible fruits 5 mg/kg.

4-Benzo[a]piren) pada produk akhir makanan.1 mg/kg). gejala seperti flu.6a}quinolizinium mempunyai rumus molekul C20H18NO4 dengan bobot molekul 336. toksisitas akutnya (LD50) terhadap mencit adalah 25 mg/kg bb. Berberin sulfat larut dalam 100 bagian air. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengatur bahwa perisa tidak boleh berkontribusi lebih dari 0. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan berberin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (0. Benzo[a]piren bersifat embriotoksik dan teratogenik pada mencit. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.8. Selama 8-12 bulan.03 mg/kg). 70 dari 122 . gangguan saluran pencernaan. EC (European Commission) membatasi keberadaan Benzo[a]piren hasil penambahan flavoring pada makanan dan minuman (0. Pemberian 150 mg/kg bb pada mencit bunting menyebabkan imunosupresi yang dapat berkembang menjadi tumor. sesak napas. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0. dan kerusakan jantung. Untuk berberin sulfat.3 Kajian keamanan Dosis yang tinggi dapat menyebabkan tekanan darah menurun.01 mg/kg dalam smoke flavoring (perisa asap).8 B. B.7. B.8. Pengaturan c) d) e) B.4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan berberin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. B. Benzo[a]piren (100 mg/ tikus. Kebanyakan tanaman yang mengandung berberin dapat merangsang uterus. terjadi papiloma perut setelah pemberian 2-5 mg/hamster selama 1-5 bulan. untuk itu penggunaan berberin harus dihindari bagi wanita hamil.5 mg/tikus menimbulkan papiloma oesofagus dan perut pada tikus jantan dan betina. dalam 60 hari) menyebabkan tumor kelenjar susu. oral. Nomor CAS. Malaysia melarang penggunaan berberin dalam makanan. Dosis 120 mg/kg bb/hari yang diberikan pada mencit bunting menimbulkan toksisitas uterus dan kerusakan janin.2 Fungsi lain Tidak ada B. dan tejadi papiloma dan karsinoma setelah pemberian 6-9 bulan.10-dimethoxybenzo-1.8.1 Berberin (berberin).3-benzodioxolo{5.SNI 01-7152-2006 b) Pada tikus jantan.37 dan titik leleh 1450C.8.03 ppb (3. 2. Kelarutan berberin basa di dalam air lambat. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.6-Dihydro-9. 2086-83-1 Deskripsi Berberin dengan nama kimia 5.4 JECFA membatasi penggunaan Benzo[a]piren tidak melebihi 0. Pada hamster.1 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol (10 mg/kg).

Nama lain dari dietilen glikol adalah Ethylene diglycol. pada dasarnya tidak berbau.2'-Oxyethanol. Penggunaan tonka bean akan mengakibatkan kelebihan berat badan bagi penggunanya.beta'-Dihydroxydiethyl ether. Komarin dapat dikeluarkan dari biji tonka dengan cara merendamnya dalam alkohol selama 24 jam. Tonka bean digunakan sebagai pengganti rasa pahit dari almon.TL4N. Cumaru. B. Semená stormov rodu mempunyai rasa manis dan sangat kuat.3.2'-Diydroxyethyl ether. akan hamil dalam waktu dekat. sedang menyusui. permen berbahan baku kelapa.2 Peringatan Jangan menggunakan biji tonka apabila anda sedang hamil. DEG. Tonco bean. beta. larut dalam air.9.2 Fungsi lain Biji tonka digunakan sebagai pengganti vanila pada produk makanan seperti es krim. B. Nomor CAS. Bob tonka.1 Biji tonka (tonka bean).2'oxydi-. Tonkabønne. 2. Tonka bean memiliki titik nyala 142 °F. Akibat kekurangan vitamin K. B. Glycol ether. Biji tonka yang beraroma manis dan kuat digunakan sebagai senyawa campuran pada perdagangan vanili ataupun produk vanili. terutama digunakan di negara-negara yang penggunaan rasa pahit almon dilarang. Dactivator E. custard dan soufflé. Tonkaoa puu. Tonkas pupinas. Tonkapapu.9.9.1 Dietilen glikol berwujud cair.3.3 B. dan Singapura melarang penggunaan biji tonka sebagai perisa dalam produk pangan. dan bayi dan anak-anak. Dissolvant APV. Biji tonka (Coumarouna odorata) berasal dari daerah Guayana.10. Tonka bean mengandung komarin. Kandungan komarin dapat mencapai 10%. memiliki cairan jernih.1 Kajian keamanan Efek penggunaan biji tonka Menghambat atau menghentikan pembekuan darah dan berfungsi sebagai antikoagulan.4 Pengaturan India.10 B.2'-Oxybisethanol. mobile. cairan kental seperti sirup. Fabae Tonco. Tonka kini semakin jarang digunakan karena adanya komarin yang bersifat toksik dan karsinogenik.9. tidak larut dalam air. Tonquin bean. Tonkaboon. Tonkowiec wonny. Ethanol. Lõhnav dipteeriks.5-diol. Dihydroxydiethyl ether. 2. Dicol. Bis (2-hydroxyethyl) ether. pembekuan darah terganggu. Komarin mengganggu sintesa vitamin K pada bagian pencernaan manusia. 111-46-6 Deskripsi B. 2. Biji tonka dilaporkan ditambahkan pada bebrapa makanan seperti adonan cake atau cookies. Biji tonka juga sering digunakan sebagai senyawa perisa pada rokok. Orinoco (bagian utara Amerika Selatan). Tonkabohne.9. 8024-04-2 Deskripsi Biji tonka dengan sinonim Coumarouna odorata. stabil. dan kini dibudidayakan pula di daerah Venezuela dan Nigeria. Nomor CAS. tidak berwarna. Diglycol.9. digunakan sebagai carrier solvent. walnut atau poppy. 2. 2. TOHKa. Glycol ethyl ether.2'71 dari 122 . 3-Oxapentane-1. Biji tonka dimasukkan dalam daftar senyawa perisa yang dilarang. Kajian toksisitas biji tonka secara ilmiah belum ada. Fèves de tonka. B.SNI 01-7152-2006 B.9 B. Dietilen glikol (diethylene glycol). Semen Tonco.

584 gm/kg/2 tahun.i. tekanan uap < 0.75 mg/kg. ureter dan empedu).SNI 01-7152-2006 Oxydiethanol atau 3-Oxa-1. B. 890 gm/kg/53 minggu menyebabkan tumor pada empedu. titik beku – 8 oC (18oF). menyebabkan berkurangnya aktifitas.1. Apabila terhirup dapat menyebabkan sakit pada hidung dan kepala.oral = 9900 mg/kg. Percobaan terhadap ransum makanan tikus menunjukkan kerusakan ginjal pada tingkat sedang pada konsentrasi 1 %. diperkirakan dietilen glikol tidak memiliki resiko kanker pada manusia. sesak pada sistem pernafasan. menyebabkan paru-paru. Pada orang dewasa = 0. Pada anak (oral) = 2400 mg/kg. Dietilen glikol ini akan dicoba untuk dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.2 Fungsi lain Tidak ada. Sedikit beracun untuk binatang melalui penyerapan kulit.66 pada suhu 20oC.10. torak dan sistem pernafasan menjadi kronik. ginjal.1 Data toksisitas akut (LD50) Pada tikus – inhalasi = 130 mg/m3/2 jam. titik didih 245oC (473 oF) @ 760 mmHg. perubahan hati. ureter dan empedu). dan perubahan Metabolic acidosis.118 @ 20/20oC. ginjal. 72 dari 122 .3.p = 9719 mg/kg. sementara itu pada konsentrasi 2% dan 4 % menyebabkan kerusakan ginjal yang lebih parah. indeks bias 3.2 Secara oral pada tikus dengan dosis 1752 gm/kg/2 tahun . B. menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak.10. tubules dan glomeruli ginjal. grafitasi spesifik 1. Pada mencit . Dapat diusulkan dilarang sebagai perisa di Indonesia. Pada konsentrasi 2 % dan 4 % dapat menyebabkan tumor pada empedu tikus dikarenakan adanya pengendapan kalsium oksalat yang menimbulkan iritasi secara mekanik namun bukan sebagai efek dari kanker. menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak. hati. Pada mencit . Pada anjing . dan dalam kasus yang ekstrim dapat berakibat fatal. torak atau sistem pernafasan. ureter dan empedu. Dietilen glikol memiliki rumus kimia C4H10O3.3 Kajian keamanan Berdasarkan data dari hewan percobaan dalam jangka panjang.oral = 2300-23700 mg/kg.10. Selain itu jika diinjeksi dalam kuantitas besar dapat membahayakan. hati. menyebabkan perubahan degeneratif pada otak. Karsinogenisitas dan studi toksisitas dalam jangka panjang B.2 g/kg secara oral oleh manusia menyebabkan kematian dikarenakan kerusakan ginjal dan limpa. menyebabkan Cyanosis pada paru-paru. Toksisitas akut (LD50) pada kelinci: >2g/kg.1 mm Hg @ 20oC (68oF).3 Hasil evaluasi Di beberapa negara material ini dilarang digunakan sebagai perisa pada makanan.10. Pada dosis 1. B.3. Dietilen glikol tidak secara langsung diserap oleh kulit. berat molekul 106. Dietilen glikol tidak menyebabkan terjadinya mutasi gen dan tidak merintangi reproduksi pada hewan percobaan.10. perubahan pada limpa kecil.3.5-pentanediol.

1 Deskripsi Diethylene glycol monoethyl ether dengan sinonim ethyl diethylene glycol.4 Pengaturan Malaysia dan India melarang menggunakan material ini sebagai perisa pada makanan. apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip.SNI 01-7152-2006 B.11 Dietelen glikol monoetil eter(diethylene glycol monoethyl ether).3 Kajian keamanan Evaluasi keamanan dietilen glikol monoetil eter dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM. senyawa ini diekskresi dalam urin dalam bentuk (2-etoxietoxi) asam asetat (Kamerling et al 1977).3.3-10. tikus dan marmut berkisar antara: 6.1 Nama kimia menurut ”Chemical abstract”: 2-(2-etoxi)-etoxietanol. Untuk keperluan evaluasi ini diambil LD50 yang dihasilkan dari percobaan secara oral.8-2. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. intravena dan intraperitoneal. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia.11. B. Organ yang paling rentan adalah hati dan ginjal. LD50 untuk senyawa diperoleh dari beberapa penelitan yang meliputi berbagai cara pemberian termasuk secara oral. subkutanus. Nomor CAS.11. B.5 μg per hari. Dietilen glikol monoetil eter memiliki rumus molekul C6H14O3 dengan bobot molekul 134.2. teratogenisitas. gangguan pada sistem reproduksi. Berbagai percobaan yang meliputi uji jangka pendek. jangka panjang/karsinobesisitas. 5. Pada manusia.1 – 5. etildigol.3. penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya.0 ml/kg bb. Fellows et al. apakah pada kondisi penggunaan.2 Fungsi lain Pelarut pada parfum.4 ml/kg bb dan 3. tekanan uap pada 25 °C adalah 19 mmHg. Penentuan kelas struktur kimia B. 111-90-0 B. larut dalam air. alkohol dan sebagian minyak.11. titik didih 196-202 °C. LD50 pada mencit.10. yaitu mempunyai struktur intermediat dan belum ada data lengkap yang menunjukkan adanya pembentukan metabolit reaktif dalam proses metabolismenya dalam tubuh. Bagian Standardisasi.2 Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya Data mengenai metabolisme senyawa ini belum banyak.3% dari dosis yang diberikan sedang sebagian besar mengalami reaksi oksidasi. tidak berwarna.11. carbitol enkanol. Etil eter dari dietilen glikol. 1947 melaporkan penelitian metabolisme pada kelinci dan hasilnya menunjukkan adanya reaksi konjugasi dengan asam glukoronat sebanyak 0. Berdasarkan struktur kimia kemungkinan senyawa ini masuk dalam kategori kelas struktur II. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak.5 ml/kg bb. asupan senyawa lebih besar dari 1. Berfungsi sebagai pelarut pembawa perisa. ADI belum dapat ditentukan. berturut-turut. 73 dari 122 . dan titik nyala 96 °C. etilen diglikol dan nama kimia 2-(2-etoxi)-etoxietanol merupakan cairan higroskopis. B.6 – 12.11. B.

B.4 Pengaturan Malaysia melarang menggunakan senyawa perisa ini pada makanan.11. ’68 Butterworth et al. B. Rangkuman data NOEL dapat dilihat pada tabel berikut ini.3.11. ’83 Smyth&Carpenter ’48 Hall et al.4% etilen glikol.4 Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus. India juga melarang menggunakan material ini sebagai pelarut pada perisa. B. akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa senyawa ini menghasilkan metabolit yang berbahaya. ’68 Smyth et al.1 Rangkuman data NOEL dietilen glikol monoetil eter yang diperoleh dengan cara oral Hewan percobaan Mencit Tikus Tikus Tikus Ferret Babi Tikus Catatan Cara pengujian Uji jangka pendek idem idem idem idem idem Uji jangka panjang Nilai NOEL (mg/kg bb/hari) 850-1000 410 800 250 2* 167 200 Ref Gaunt et al.11. B.5 μg Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1. ‘64 *Berdasarkan perhitungan: 0.11. asupan senyawa lebih besar dari 1. Sebagian besar hasil percobaan menunjukkan adanya gangguan kesehatan.6 per hari Apakah pada kondisi penggunaan.3 Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak Penentuan ini belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia maupun di negara lain.’75 Gaunt et al. sehingga prinsip evaluasi untuk senyawa yang terdapat dalam jumlah sedikit tidak berlaku untuk dietilen glikol.3. 0. dan iritasi telah dilakukan dengan menggunakan beberapa spesies hewan. hematologi.5 ml/kg bb/hr.3. ’66 Gaunt et al. Tabel B.5 μg per hari. Akan tetapi keberadaan dietilen glikol sebagai akibat carry over penggunaan pelarut pembawa perisa dapat mencapai 1000 mg/kg makanan. 74 dari 122 .5 Apakah kondisi penggunaan senyawa masih berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip dalam margin aman Data NOEL untuk senyawa ini ada beberapa dan diperoleh dari berbagai cara pengujian biologis pada beberapa spesies hewan percobaan. sitotoksik.11.SNI 01-7152-2006 genotokisitas.3. B.

2 Fungsi lain Tidak ada. termasuk data NOEL. Pengaturan B. 3. titik leleh 22 °C. melilotic acid lactone merupakan substansi perisa yang digunakan dalam industri perisa. data untuk penentuan intake (asupan).2-benzodihydropyrone. India dan Thailan melarang penggunaannya sebagai substansi perisa. titik asap >200 °F. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) d) Langkah 1: dihidrokomarin tergolong ke dalam struktural kelas III. B.3 Kajian keamanan Dihidrokomarin telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.188 dan kelarutan dalam air (dalam perhitungan) pada suhu 25 °C adalah 11540 mg/l.1 Dihidrokomarin (dihydrocoumarin).12 B.4-dihydro-2H-1benzopyran-2-one.12. B. Diputuskan bahwa evaluasi keamanan dilakukan melalui sisi B dari prosedur. ortho-hydroxydihidrocinnamic acid lactone. JECFA No. 75 dari 122 . dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). data batas aman (threshold).4 JECFA memutuskan dihidrokomarin sebagai perisa dengan tingkat estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). 3. gravitasi spesifik 1.4. 2H-1-benzopyran-2-one. Langkah 2 : dihidrokomarin tergolong kedalam kelas kimia aromatic fused lactones dimana data metabolisme yang tersedia masih terbatas. Langkah 4: data NOEL (150 mg/kg bb/hari ([NTP 1993]) dari dihidrokomarin adalah 1000 kali lebih besar dari estimasi intake dihidrokomarin sebagai perisa di Eropa (24 μg/kg bb/orang) dan di USA (19 μg/kg bb/hari). 1171.12. Dihidrokomarin diperoleh dengan cara reaksi reduksi komarin menggunakan katalis nikel. Dihidrokomarin terdapat secara alami di alam.12. 2381. dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Nomor CAS. Menimbang adanya gangguan kesehatan yang ditunjukkan oleh berbagai hasil penelitian pada beberapa spesies hewan percobaan dengan berbagai cara uji maka penggunaan dietilen glikol harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif dan dibatasi penggunaannya. USA menggolongkan dihidrokomarin termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS No. Dihidrokomarin memiliki titik titih 272 °C.11. Langkah B3: asupan dari dihidrokomarin di Eropa (1415 μg/orang/hari) dan di USA (1111 μg/orang/hari) melebihi ambang batas untuk kelas III yaitu 90 μg.SNI 01-7152-2006 B.4dihydro-2-chromanone. Diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. 119-84-6 Deskripsi Dihidrokomarin dengan sinonim 1. Sebaliknya.1 Kesimpulan Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan dietilen glikol sudah cukup. B.12. dan data asupan per hari belum ada.

B.3benzodioxole.oral pada mencit .3 Data Toksisitas akibat Pemberian Dosis Berganda = 78750 mg/kg/15W-I (kematian). = > 5 mg/kg bb.5 Berdasarkan kajian tersebut.3.3. thorax.13. 76 dari 122 .Lowest published toxic dose) B.13.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaan dihidrosafrol sebagai perisa. 1. 94-58-6 Deskripsi Nama lain dari dihidrosafrol adalah Benzene. Terjadi gangguan iritasi pada kulit dan mata. pada mencit-oral (TD. safrole.13.3. = 3700 mg/kg bb. 4-propyl-1.3.1 Dihidrosafrol (dihydrosafrole). B.13. senyawa dihidrosafrol dimasukkan dalam daftar dilarang digunakan sebagai perisa.SNI 01-7152-2006 B. B.toxic dose (other that lowest) = 163 g/kg/81W-C (tumor pada paru-paru.oral pada kelinci – dermal B. pada tikus-pengerat – oral pada mencit .3 Kajian keamanan B.oral (TDLo-Lowest published toxic dose) = 101 g/kg/81W-C (tumor pada gastrointestinal dan liver).2 Data toksisitas akut (LD50) = 2260 mg/kg bb. Kesimpulan B.4 Data tumorigenisitas pada mencit .13.13. hati dan alat respirasi).13.2 Fungsi Lain Tidak ada. B.13.5-propyl-1. = 2830 mg/kg bb.3.13.2-methylenedioxy-4-propyl-.toxic dose (other that lowest) = 101 g/kg/81W-C (tumor gastrointestinal dan liver).13 B. dihydro-. pada mencit-oral (TD.1 Uji standard draize Pemberian dosis 500 mg/24 jam dengan cara dioles pada kulit pada kelinci terjadi reaksi sedang. Dihydrosafrol mempunyai RCRA waste number U090. Nomor CAS. Pada tikus – oral (LDLo.2-methylenedioxybenzene.

Dulcamerae Caulis. Alkaloid ini terutama terkandung dalam buah (berries) yang belum matang. B. Dulkamara digunakan sebagai serbuk atau ekstrak dari simplisia batang.2 Fungsi lain Dulkamara merupakan simplisia batang. dsb. alat genital dan gangguan respirasi sebagai batuk. tachycardia. mulut.14 B. fungi dan serangga.1) yang tercatat beracun. Efek herba tumbuhan ini (Solanum dulcamara L. Ekstrak herbanya mengandung saponinsteroidal yang menunjukkan efek Cortisone-like.ferox dan S. Di dalam pengobatan tradisional (etnofarmakologi). Dulkamara atau Solanum dulcamara tergolong ke dalam kelas Solanaceae dikenal pula dengan nama Bitter Nightshade. Douce-Amere. Glikoalkaloid sangat susah diserap dari saluran gastrointestinal namun dapat menyebabkan iritasi 77 dari 122 . dulcumaric acid. Berbagai jenis tanaman kentang mengandung glycoalkaloids. senyawa yang berguna dalam mekanisme pertahanan tanaman terhadap serangan berbagai patogen seperti virus. serta S. Bagian alkaloid dari glikoalkaloid secara umum dikenal sebagai aglikon. cabang atau herba yang digunakan sebagai obat tradisional (etnofarmakologi) untuk berbagai penyakit atau mengatasi berbagai banyak gejala seperti vertigo.14. ini digunakan dalam pengobatan eksem kronis. antinyeri. Tumbuhan ini. dulcamarin. merupakan simplisia batang dan cabang kering Solanum dulcamara L. Semua bagian tanaman ini (Solanaceae) mengandung senyawa solanin (C45H73NO15 /BM 868. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa buah yang matang berwarna merah mengandung jumlah racun yang sedikit dan amat jarang meracuni anak-anak. Solanum dulcamara. Scarletberry.14.) dalam beberapa penelitian menunjukkan aktivitas penekanan biosintesa prostaglandin dan eksositosis PAF. Tercatat di dalam ekstrak herbanya terkandung senyawa steroidal saponim yang menunjukkan efek seperti hormon kortison (Cortisone-like). tercatat atau termasuk kedalam tumbuhan yang dapat merugikan (tidak aman). Kandungan dari semua bagian tumbuhan dulkamara ini dinyatakan beracun karena adanya solanin dan alkaloid-alkaloid lain turunannya. Solanum dulcamara mengandung racun glikoalkaloid yaitu solanine dan amorphous glucoside dulkamarin.1 Dulkamara (dulcamara) solanum dulcamara Deskripsi Dulkamara dengan sinonim Bittersweet. Glycoalkaloid tersebut juga beracun terhadap manusia dan hewan.14. B. antireumatik. nigrum dinyatakan sebagai tumbuhan beracun. dan sakit pada kepala.SNI 01-7152-2006 B.14. pada mata.1 a) b) c) Kajian keamanan Toksisitas d) e) f) Secara etnofarmakologi Solanum dulcamara beserta S. ferox dan S.–Solanaceae. muka. vertigo dan cramps. (Solanaceae). Peranannya dalam makanan mungkin sebagai peningkat fungsi makanan dalam pengobatan atau kesehatan karena berbagai khasiatnya tersebut. cabang atau herba dari tanaman Solanum dulcamara L. Woody nightshade. banyak meracuni hewan ternak dan domba. tetapi bisa menimbulkan efek imunodepresan. Simplisia ini mengandung Solaniceina ± 1%.3 B. rektum. Solanin telah terbukti menyebabkan gastroenterosis.3. Aktivitas ini berhubungan dengan khasiatnya sebagai antidemam. Kegunaan dalam makanan sebagai perisa tidak jelas. bakteri. Dulkamara banyak digunakan dalam sistem pengobatan alternatif homeopati. dulcamaretic acid. Simplisia ini di dalam sediaan obat tradisional dicampur dengan berbagai simplisia-simplisia lain. nigrum dimasukkan kedalam tumbuhan racun. dyspnea. Tetapi dapat menghasilkan efek samping antara lain tukak lambung. ekspektoran. telinga. perut.

Hasil evaluasi B.allylanisole.14. rapid weak pulse. titik nyala (flash point) 81 oC . B. itchy neck dan drowsiness. rapid breathing.15 B. Memiliki cairan tidak berwarna. Kajian keamanan lainnya B. delirium dan akhirnya koma. dan titik didih 216 oC. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 84. Estragol memiliki rumus kimia C10H12O. methyl chavicol digunakan sebagai substansi perisa di industri. halusinasi. Pada manusia keracunan alfa-solanin dan alfa-charconin dimulai dengan gangguan gastrointestinal. p. Penggunaannya di dalam pengobatan tradisional secara homeopati dengan dosis sangat kecil. Nomor CAS. B. larut dalam etanol dan klorofom. Kandungan steroidal-saponim yang beraktivitas cortisone-like dapat menekan sistem imun tubuh.SNI 01-7152-2006 g) h) saluran gastrointestinal. diare. muntah-muntah.3. Daftar ini pernah dimuat pada jurnal Health Foods Bussiness pada tahun 1978 namun sejak tahun 1986. FDA tidak lagi menganggap daftar ini sebagai kebijakan regulasi dan diabaikan.2 a) b) c) d) e) Kandungannya memberikan efek-efek berbahaya mirip dengan atropin (antikholinergik) yang dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh. minimal dua negara melarang. indeks refraktif (20 oC/D) adalah 1.15. gravitasi spesifik (25 oC) 0. Estragol diperoleh dengan cara proses destilasi dari turpentin.522. sakit perut. Solanum alkaloid adalah cholinesterase inhibitor yang menyebabkan neural function impairment dalam bentuk hyperesthesia.55 mg/l pada suhu 25 oC. aroma mirip dengan adas.4 Pengaturan Singapura dan Inggris melarang dulkamara sebagai perisa.524.3. 1-methoxy-4-(2—propen-1-yl).2.960 – 1.3 Berdasarkan khasiatnya terhadap tubuh.2 Fungsi lain Tidak ada 78 dari 122 .14. demam. dyspnea. pusing. kegunaannya sebagai perisa tidak jelas. 140-67-0 Deskripsi B.1 Estragol dengan sinonim chavicyl methyl ether.517-1. US FDA sebelumnya pernah m ke dalam daftar FDA : Unsafe poisonous herbs. Aglikon dapat diserap dan dipercayai bertanggunjawab atas observed nervous system signs. Estragol terdapat secara alami di alam. berat molekul 148. dikelompokkan sebagai tumbuhan beracun.14. dulkamara dinyatakan sebagai tumbuhan beracun. Secara tradisional. pada keracunan dalam dosis tinggi menyebabkan penurunan tekanan darah. berbeda dari anetol. Data-data toksisitas khusus lainnya serta data dalam tubuh manusia belum ada (belum lengkap). kemudian dilanjutkan dengan neurological disorders. Diusulkan dulkamara dilarang sebagai perisa di Indonesia.15. Estragol (estragol). Nama kimia dari estragol adalah 4-Methoxy-1-(2 propenyl) benzene. isoanethol. dan penelitian keamanan belum lengkap. Penekanan terhadap biosintesis prostaglandin dapat menginduksi terjadinya tukak lambung .

15. Dosis tinggi 150-600 mg/kg dapat bersifat karsinogenik.p pada mencit menunjukkan efek perpanjangan tidur oleh hexabarbital narcosis dan zoxazolanin paralysis (Fuji et al.15. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Estragol pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669). = 1. Dosis estragol dan metabolit 1-hydroxy sebesar 4. India melarang menggunakannya pada perisa. permen karet 50 mg/kg. 1967). ADI belum dapat dialokasikan. ikan kaleng 50 mg/kg.1 Uji bakterial 1-hydroxyestragol tidak menunjukkan mutagenisitas pada hati (Drinkwater. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.p B. permen 36 mg/kg.25 g/kg.p . teh hijau 1-30 mg/kg. 1976).3 Kajian keamanan Dosis estragol 2.10.03 g/kg.tikus – i.5. US FDA mengizinkan (CFR 172. teh hitam 1-15 mg/kg. Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2411.. ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman beralkohol 100 mg/kg. JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. = 1. .15. 1973).15. USA : FEMA GRAS 2411. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. 1977). Substansi perisa ini terdapat secara alami di berbagai herbal dan rempah selain disintesa.23 g/kg.2 Uji patch tertutup Minyak estragol 4% dalam petrolatum tidak menyebabkan iritasi setelah 48 jam pada manusia (Kligman.mencit – oral . = 1. FDA 21 CFR 172. minuman tidak beralkohol 10 mg/kg.tikus – oral . Minyak estragon (undiluted) menyebabkan iritasi dan kerontokan pada bulu mencit (Urbach & Forbes. JECFA telah mengkaji pada tahun 1980 dan 1981. namum dikarenakan kekurangan data.15.4 Pengaturan Estragol sebagai konstituen alami dalam edible fruit 5 mg/kg.3. 79 dari 122 .515).515 .15. lemak dan minyak 250 mg/kg. Toksisitas akut (LD50) pada mencit 1.40. es krim 11 mg/kg.mencit – i. 1976).23 g/kg pada tikus secara oral.3.4 Toksisitas subkronik Dosis 605 mg/kg secara oral pada tikus menyebabkan kerusakan minor pada hati.4 dan 5.25 g/kg dan 1. = 5 g/kg.3. ADI 0-5 mg/kg bb.3. Estragol kurang berpotensi dalam menghambat tumor jika dibandingkan dengan delta-9tetrahydrocannabinol (Nichols et. Estragol tidak memiliki aktivitas sitotoksik dalam melawan sel HeLa (Stoichev.26 g/kg.515). B.2 μmol yang diberikan pada mencit menyebabkan peningkatan karsinoma hepatoselular (Drinkwater. produk bakar 41 mg/kg. 1972). B.tikus – dermal . Data-data toksikologi yang tersedia belum cukup untuk melakukan kajian menentukan ADI.160 dan 640 mg/kg secara i.82 g/kg. Komite Eropa meminta tambahan studi jangka panjang untuk melakukan evaluasi potensi karsinogen dilakukan sebelum ADI dapat ditentukan. asupan rata-rata 7072 µg/hari. EC (European Commission): penambahan dengan sengaja dilarang (Jerman dan Denmark). = 1.kelinci – dermal .SNI 01-7152-2006 B. B. 1970). al.3 Data toksisitas akut (LD50) = 1. B.

SNI 01-7152-2006

B.16 B.16.1

Etil-3-fenil glisidat (ethyl-3-phenyl glycidate), Nomor CAS. 121-39-1 Deskripsi

Etil-3-fenil-glisidat dengan sinonim asam glisidat; 3-fenil etil ester; ethyl phenylglycidate(EPG); ethylα,β-epoxy-β-phenylpropionate; ethyl 3-phenyl-2,3epoxypropionate; ethyl 3-phenylglycidate; ethyl β-phenylglycidate; 3-phenyl-ethyl esteroxiranecarboxylic acid merupakan perisa sintetik dan belum terdeteksi terdapat di alam. Nama kimia menurut International Flavor and Fragrance (IFF) adalah Etil-3-fenil glisidat. Etil-3-fenil glisidat memiliki rumus molekul C11H12O3 dengan berat molekul 192, berat jenis (relatif d20/4) 1,121-1,127, indeks refraktif (NaD 20 0C) 1,515-1,520. Titik asap >200 °F, grafitasi spesifik (pada suhu 25 °C) 1,120 – 1,125, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 320,1 mg/l pada suhu 25 oC. Etil fenil glisidat diperoleh dengan cara mereaksikan benzaldehida dengan etil ester dari asam monokloroasetat dengan menggunakan alkaline condensing agent. B.16.2 Fungsi lain

Tidak ada B.16.3 Kajian keamanan

Evaluasi senyawa ini telah dilakukan dengan menggunakan uji Ames, uji Basc pada Drosophila melanogaster dan uji mikronuklei (Wild et al 1983). Senyawa ini mempunyai rasa buah strawberi dan manis. Evaluasi keamanan etil-3-fenil glisidat dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM, Direrktorat Standardisasi Produk Pangan. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia; penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya; penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak; penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus; apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL atau senyawa yang mirip; apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Decision tree

B.16.3.1 a)

Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya. Berdasarkan hasil penelitian Wild et al (1983), etil 3-fenil glisidat memberikan hasil positif dengan uji Ames, sedangkan kerabatnya, etil 3-metil 3-fenilglisidat memberikan hasil positif pada uji Ames dan uji Basc pada drosifila. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemungkinan senyawa ini bersifat karsinogenik ada. Data pada manusia belum ada. Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia.

b)

Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus, akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus.

80 dari 122

SNI 01-7152-2006

c)

Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. Data NOEL dan asupan senyawa ini tidak tersedia sehingga margin amannya tidak bisa ditetapkan.

d)

Apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 µg per hari.

B.16.3.2

Kajian toksikologi

JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji etil fenil glisidate pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669), namun karena data evaluasi toksikologi yang ada tidak memuaskan komite, ADI belum dapat dialokasikan. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515). Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2454. JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.16.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. US FDA mengizinkan penggunaan etil-3-fenil glisidat (CFR 172.515). JECFA telah mengkaji senyawa ini pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh US FDA sebagai perisa (21 CFR 172.515) dengan FEMA GRAS No. 2454 yaitu batas penggunaan dalam minuman (4.6 mg/kg), es krim dan es (12 mg/kg), permen (18 mg/kg), baked good ( 20 mg/kg), gelatin dan puding (10 & 70 mg/kg). India melarang penggunaannya. B.17 B.17.1 Eugenil metil eter (eugenyl methyl ether), Nomor CAS. 93-15-2 Deskripsi

Eugenil metil eter atau 4-allyl-1,2-dimethoxybenzene atau allylveratrole atau 4-allylveratrole atau 1,2-dimethoxy-4-(2-propenyl)- benzene atau 2-dimethoxy-4-allylbenzene atau 3,4dimethoxyallylbenzene atau 1,2-dmethoxy-4-(2-propenyl)benzene atau eugenol methyl ether atau eugenyl methyl ether atau methyl eugenol atau methyl eugenol ether atau veratrole methyl ether digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. Eugenil metil eter terdapat secara alami di alam. Eugenil metil eter memiliki titik didih 254,7°C, berat jenis 1,0396 pada 20°C, titik nyala >200°F, titik leleh 4°C, indeks refraksi 1,532, grafitasi spesifik 1,034 – 1,037 pada 20°C. Eugenil Metil Eter diperoleh dengan cara metilasi dari eugenol. B.17.2 Fungsi lain

Tidak ada B.17.3 B.17.3.1 Kajian keamanan Toksisitas akut = >640 mg/kg bb; = 1560 mg/kg bb;
81 dari 122

pada mencit-i.p pada tikus-oral

SNI 01-7152-2006

-

pada kelinci-dermal

= >5000 mg/kg bb.

B.17.3.2 a)

Toksisitas subkronik

b) c) c)

Dosis 0, 10, 30, 100, 300 atau 1000 mg/kg bb eugenil metil eter dalam 0,5% methylselulosa pada tikus jantan dan betina menunjukkan bahwa tikus tesebut masih bisa bertahan meskipun terjadi penurunan berat badan secara signifikan. Pada dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hepatoselular. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina terjadi kolestasis sehingga mengubah fungsi hepatik, hipoproteinemia, dan hipoalbuminemia. Dosis 300 dan 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina, bobot hati menjadi 100, 300 dan 1000 mg/ kg pada tikus jantan dan 1000 mg/kg pada tikus betina serta testis jantan 1000 mg/kg. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina juga menyebabkan gastritis athropik, sedangkan dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hipertropi kortikal kelenjar adrenal. NOEL ditetapkan pada dosis 30 mg/kg bb/hari. Toksisitas kronik/ Karsinogenisitas

B.17.3.3 a)

Total dosis 42,4 mg/kg bb secara i.p pada mencit jantan (58 mencit yang diberi perlakuan dan 58 kontrol) meningkatkan secara signifikan hepatomas mencit (96% tikus yang diberi perlakuan dan 41% kontrol). Hal ini menunjukkan bahwa eugenil metil eter memiliki aktivitas hampir sama dengan metabolit 1’hidroksi. (Miller et al., 1983). Tikus jantan yang diberi dosis 150 dan 300 mg/kg/hari mati sebelum uji ini selesai, sedangkan pada tikus betina yang diberi dosis 150 mg/kg/hari masih bisa bertahan. Berat badan tikus dan mencit jantan dan betina menurun dibandingkan dengan kontrol. Pada semua dosis pada tikus dan mencit terjadi neoplasma hati, hepatoadenoma, hepatokarsinoma, hepatokholangioma (hanya pada tikus), hepatokholangiokarsinoma, dan hepatoblastoma (hanya pada mencit). Terjadi pula kerusakan pada glandular tikus dan mencit serta tumor ganas neuroendokrin. Terbukti bahwa egenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada tikus jantan dan betina galur F344/N berdasarkan terjadinya peningkatan kerusakan neoplasma hati, tumor neuroendokrin pada perut glandular. Selain itu terjadi pula peningkatan kerusakan pada neoplasma ginjal, fibroma dan fibrosarkoma pada tikus jantan (NTP). NTP menyimpulkan pula bahwa eugenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada mencit jantan dan betina galur B6C3F1 berdasarkan adanya peningkatan kerusakan neoplasma hati. Dosis terendah (37 mg/kg bb/hari) memberikan efek karsinogen (meningkatkan secara signifikan karsinoma hepatoselular pada mencit jantan dan betina). Genotoksisitas

b)

c)

d)

e)

f)

B.17.3.4

B.17.3.4.1 Invitro Eugenil metil eter tidak mutagenik terhadap Salmonella typhymurium galur TA98, TA100, TA1535, TA1537 dengan atau tanpa penambahan aktivitas metabolik (S9) secara eksogenus (NTP TR 491). Selain itu eugenil metil eter juga tidak mutagenik terhadap S. typhimurium dan Escherichia coli WP2 galur uvrA dengan dan tanpa aktivitas metabolik (S9) (Sezikawa et al., 1982). Eugenil metil eter dapat pula menyebabkan rekombinasi intrakromosal pada Saccharomyces cerevisiae dengan dan tanpa aktivitas metabolik (Schiestl et al., 1989). Analog jenuh dan monofluoro dapat menurunkan aktivitas genotoksik pada S.
82 dari 122

SNI 01-7152-2006

cerevisiae (Brennan et al., 1996). Eugenil metil eter, 1’-hydroxymethyleugenol dan 2’3’epoxymethyleugenol menyebabkan Unscheduled DNA Synthesis (UDS) pada hepatosit tikus (Chan dan Caldwell, 1992). Metabolit 1’-hydroxy sebagai penyebab paling kuat UDS. B.17.3.4.2 In vivo

Teramati bahwa eugenil metil eter, mutasi gen beta-katenin menyebabkan karsinoma hepatoselular pada mencit 20/29 (Devereux et al., 1999). Aktivitas gen beta-katenin, dengan deregulasi subsekuen transduksi sinyal Wnt, ditetapkan sebagai kejadian awal secara kimiawi yang menyebabkan karsinogenesis hepatik pada mencit. Hal ini mengindikasikan bahwa eugenil metil eter sebagai genotoksik potensia. B.17.3.4.3 Kajian keamanan lainnya

Eugenil metil eter sebagai inhibitor kuat terhadap enzim mikrosomal hepatik. Eugenil metil eter dengan dosis 100 mg/kg dapat memperpanjang waktu tidur (72%). Eugenil metil eter merupakan senyawa multisite, multispesies karsinogen Eugenil metil eter pada tikus dan mencit menyebabkan jenis tumor yang berbeda atau disebut sebagai tumor neuroendokrin pada perut glandular. Teramati pada dosis lebih rendah (37 mg/kg bb/hari) pada tikus dan mencit menyebabkan tumor hati. Dosis tinggi eugenil metil eter (sekurang-kurangya 30 mg/kg bb selama 25 hari) auto-induksi 1’hydroxylation oleh sitokrom P450, dengan formasi karsinogen proksimat 1’hydroxymethyleugenol. Eugenil metil eter dengan 2 metabolitnya yaitu 1-hydroxymethyleugenol dan 2’,3’-epoxymethyleugenol menyebabkan UDA (Unscheduled DNA Synthesis) secara in vitro. Eugenil metil eter membentuk DNA adduct baik secara invitro maupun in vivo, hampir sama dengan safrol dan estragol. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Eugenil metil eter pada tahun 1980 (TRS648) dan tahun 1981 (TRS669); walau demikian dikarenakan data yang belum lengkap, (hasil 90 hari studi atau tes jangka panjang), ADI untuk senyawa ini belum dapat dialokasikan. JECFA akan mencoba untuk mereview senyawa ini menggunakan prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.17.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization on The Flavour Industry) tidak membatasi. JECFA (Joint Expert Committee of Food Additive) telah mengkaji eugenil metil eter pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515), dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2475 yaitu penggunaan dalam makanan sebesar 10 mg/kg, es krim dan es (4,8 mg/kg), permen 11 mg/kg), baked good (13 mg/kg), dan jeli (52 mg/kg). India melarang eugenil metil eter sebagai perisa. Etil metil keton (ethyl methyl ketone), Nomor CAS. 78-93-3 Deskripsi

B.18 B.18.1

Etil metil keton dengan sinonim butan-2-one, 2 butanone, methyl ethyl ketone, MEK digunakan di dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan extraction solvent. Etil metil keton terdapat secara alami di alam. Etil metil keton memiliki titik didih <40 °F, berat jenis 0, 802, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 76100mg/l diukur pada suhu 25 °C. Etil metil keton diperoleh dengan cara oksidasi dari sek-butanol. B.18.2 Fungsi lain

Tidak ada
83 dari 122

-Hypericaceae.45. dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2170 yaitu batas penggunaan pada minuman (70 mg/kg). Langkah II: Etil metil keton diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa inncuous. India melarang penggunaannya dalam substansi perisa. tannin 10%.18.4’. Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.19.3% minyak esensial. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Kajian Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah langkah sebagai berikut. kuersitrin dan rutin : biflavon yaitu I3. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (No safety concern).5.5 larutan berwarna merah diatas pH 11. II8-biapigenin (amentoflavone). (v) spektrum absorpsi dan fluorosensinya ada. (iv) larut dalam DMSO.perforatum juga mengandung glikosida flavonol khususnya derivat dari hiperosid. eksitasi pada 337 nm.SNI 01-7152-2006 B. H= 3. secara organoleptik meliputi (i) rekristalisasi dari pyridin + metanolik HCl berupa kristal jarum biru-hitam dengan dec 3200 (ii) mudah larut dalam piridin dan pelarut basa organik lain menghasilkan larutan merah cherry dengan flurosensi merah. protohypericin.5’.8 opqra) perylene-7. dengan kandungan C=71.7. Langkah III: Asupan dari etil metil keton di Eropa (110 μg) dan USA (36 μg) tidak melampaui ambang batas (threshold) untuk kelas I yaitu 1800 μg. permen dan baked good masing-masing 100 mg/kg. cyclo pseudohypericin Disamping senyawa diatas. n-alkanes. Pengaturan B.3.7’-heksahidroksi-2.4 EC dan IOFI tidak membatasi. sejumlah cukup procyanidin dan fenil propan. B. Sifat kimia. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (no safety concern). Hiperisin merupakan isolasi dari Hypericum perforatum L. Juga diketemukan (St. 548-04-9 Deskripsi Hiperisin dengan sinonim hypericum red merupakan sintesa dari bromoemodin trimetileter. (1. Secara umum kelas senyawa ini dapat diserap melalui saluran gastrointestinal.9.13-heksahidroksi-10. larut dalam larutan air alkalis dibawah pH 11.14-dione.05-0. (iii) tidak larut dalam berbagai pelarut organik umum.5 berwarna hijau dengan fluoresensi merah. 4. a) b) c) Langkah I: Etil metil keton tergolong kedalam struktural kelas I.10.515).1 Hiperisin (hypericin) Nomor CAS.6. JECFA memutuskan bahwa penggunaan etil metil keton sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern) dengan JECFA No.19 B.18.. dengan karakteristik merupakan derivat Napthodianthrone yang secara umum dikenal dengan nama hypericins.278.37%.11-dimetil fenantro. tumbuhan H. es krim dan es (270 mg/kg). absorpsi sekitar 600 nm dalam DMSO 1μg/ml.3 Kajian keamanan Etil metil keton telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.2’dimetil naftodian-tron.4. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172. O = 25. John’s Wort) golongan senyawa acy’phloroglucinols (derivat phloroglucin) yaitu yang utama adalah hyperforin (0. Hiperisin memiliki rumus molekul C30H16O8 dan berat molekul 504.20%.8. Nama kimia hiperisin adalah 1. yang terdiri dari hypericin dengan pseudohypericin yaitu isohypericin. α-pinenes dan monoterpen lain).43%.44/504. 84 dari 122 . II8-biapigenin dan 13’.

SNI 01-7152-2006 B. Batas maksimum dalam komoditas pangan (0. tetrasiklin).4 CAC dan EC tidak membolehkan penambahan dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. kemungkinan karsinogenik/teratogenik. perforatum memberikan alergi hipotensif melalui efek vasodilatasi perifer. dengan batas maksimum dalam mg/kg produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.19. pengecualian pada permen pastilles (permen penyegar pernafasan) (1 mg/kg) dan minuman beralkohol (2-10 mg/kg). belum tercatat adanya efek negatif dari penggunaan H. b) Dalam Merck Index dinyatakan sebagai katagori terapi antidepresan.perforatum pada kehamilan atau perkembangan postnatal. d) Terhadap sistem kardiovaskular.. e) Sebagai medisin popular (etnofarmakologi/herbal medicine): . Pengaturan B. .19. Sedangkan India membatasi penggunaan hiperisin yang terkandung secara alamiah dan tidak boleh melebihi 1 mg/kg. diantaranya: a) Terhadap keadaan depresi dan cemas. kontraksi otot polos fibrosel arteri tereduksi. .1 mg/kg). Australia dan New Zealand dalam artikel FSANZ menetapkan hiperisin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 2 mg/kg. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.Sebagai diuretik yang diduga karena aksi beberapa flavonoid. Penggunaan selama kehamilan tetap perlu hati-hati dan pertimbangan nilai risk dan benefit terapinya.Sebagai antidiare karena aksi astringen dari tannin.Beberapa ekstrak H. 85 dari 122 . . cytomegalovirus.3 Kajian keamanan Reaksi Daya toksisitas (LD50) < 500 mg/kg. Tercatat pada subjek sensitif terjadi iritasi gastrik. yang diduga dengan menghambat fosfodiesterase. HSV-1 dll. fotodinamik dari quinonnya perlu perhatian dan dapat menyebabkan gangguan kulit serta iritasi lambung. perlu perhatian. c) Sebagai simplisia Hypericum perforatum. Aktivitas ini muncul langsung sebagai efek virusidal dan terhadap virus setelah sensitisasi dengan cahaya UV.Sebagai antiflogistik (antiradang). Tercatat H. minuman (0. f) Tolerabel Efek terhadap fertilitas dan fungsi reproduksi. digunakan dalam terapi (tradisional) keadaan depresi dan cemas (ansietas). Kombinasi dengan MAO inhibitor terjadi interaksi.Mempunyai aktivitas antiviral terhadap HIV-1. Secara klinis efek ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitian. B. . Terjadinya reaksi foto sensitifitas sebelah mungkin terutama pada kulit dan dalam terapi dengan obat fotosensitifitas lain (klorpromazin. Toksisitas pada aktivitas biologi.19.1 mg/kg). Malaysia melarang penggunaan hoiperisin dalam produk pangan.2 Fungsi lain Hiperisin dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif pengobatan tumor prostat secara terapi fotodinamik.perforatum juga ditunjukkan beraktivitas antibakterial terhadap bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis.

5782. Nomor CAS.50C.73%. dapat terkonsentrasi dalam organisme air.122 pada 200C (campuran rasemik).Propenilbenzen.2’-dihidro-1’. serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%): UVmax = 305.8 0C.20.5 .dihidroksi – 4 . rotasi optik : n20D = 1.5 nm. bobot jenis d204 = 1. Isosafrol terbebaskan selama proses pembuatan minyak esensial tersebut.dihidroksi – 4 . penguat pewangi sabun. B. Bentuk trans (beta-isosafrol) berbentuk cair dengan bau adas.7 – 6. titik leleh : mp -21.3. Dalam minyak daun Juniper virginiana.1 Isosafrol (isosafrole).1206. memiliki titik didih bp760 = 2530C . 120-58-1 Deskripsi Isosafrol dengan sinonim 5-(1-Propenil)-1. 259 nm.47 g/kg bb pada tikus : 1.20C.1 Data toksisitas akut (LD50) Dosis Letal 50% (LD50) oral pada mencit : 2.2’epoksiisosafrol dan 1’-hidroksisafrol. bp20 = 135. tidak terhidolisa dan cenderung ada dalam air tanah. B. berbau ada dengan berat jenis 1. Dalam parfumeri memodifikasi pewangi oriental.(1’-propenil) benzen. titik leleh mp = 8.5691.3.Propenil-1.20. Bentuk cis (alfa-isosafrol) berbentuk cair dengan titik didih bp35 77-790C. 2 .34 g/kg bb.2 a) Toksisitas subkronis dan pemberian berulang Pemberian 10 g isosafrol per kg bobot badan tikus dalam makanan menunjukkan penghambatan pertumbuhan pada tikus jantan maupun betina tak ada tikus yang hidup 86 dari 122 . 1. serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%) : UV max = 326. titik didih 2520C.SNI 01-7152-2006 B. O=19. merupakan reaksi metabolisme utama : 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi. Dalam jumlah kecil dicampur dengan metil-salisilat dalam root beer dan perisa sarsaparila. Isosafrol berasal dari alam sebagai komponen utama dari minyak esensial adas (star anise) dan juga dalam jumlah kecil ada dalam minyak esensial bumbu (spices) lain.8% . disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol. produksi pestisida sinergis dan hidrosafrol.50C. kelarutan dalam alkohol 90% 1:8. bp100 = 179.3-benzodiaksol.(1’-propenil) benzen. Isosafrol yang terbebaskan ke tanah. 3.2’-dihidroksiisosafrol dan dalam jumlah sedikit senyawa 1’.18 dengan kandungan C=74. 2 . B. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1. rotasi optik : n20D = 1. 3. merupakan reaksi metabolisme utama: 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi. 4.3 Kajian keamanan Studi in vitro dengan sel epitel hati tikus diketemukan metabolit utama isosafrol adalah senyawa 1’.22% . terkandung 6% isosafrol.20. titik leleh 6.2Metilendioksi – 4. Penelitian menunjukkan isosafrol sebagai induktor beberapa enzim hati sitokrom P-450 dalam rogent. Isosafrol merupakan cairan tidak berwarna.20.4 – (Metilendioksi)-propenilbenzen. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1. disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol.20 B. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan diketemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan ditemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam.20. sehingga memungkinkan berdampak pada lingkungan. H=6. sebagai fragran kosmetik.2 Fungsi lain Sebagai bahan perantara dalam produksi heliotropin. 267 dan 259.4-Metilendioksi-1-propenilbenzen. 1.60C .2– (Metilendioksi)-4-(1’-propenil) benzen. bp34 = 85-860C. B.2-metilendioksibenzen merupakan derivat propenilbenzen dengan rumus molekul C10H10O2 dan berat molekul 162.

3. dan 1/17 jantan dan 0/16 betina.4 a) In Vitro Isosafrol (cis/trans isomer 19.3. menyebabkan lesi pada hati dengan tanda-tanda pemucatan warna. Tidak teramati aktivitas hepatokarsinogenik pada mencit jantan B6C3F1 yang diberikan secara injeksi i.SNI 01-7152-2006 setelah pemberian 11 minggu.20. kemudian 517mg/kg bb dalam diet makanan sampai usia 82 minggu : teramati pada mencit galur pertama dan kedua terjadinya tumor sel hati pada populasi 5/18 mencit jantan dan 1/6 mencit betina dan 2/17 mencit jantan dan 0/16 mencit betina. pembesaran hati dengan hipertropi sel hati dan pembentukan nodul. TA 1535. hipertropi dan terbentuk nodul-nodul. hiperplasia tiroid ringan dan terjadi nefritis kronis. Teramati terjadinya hipertropi hati.c. 3 mg isosafrol (dalam trioktanoin) per tikus.2%) tak menginduksi mutasi gen Salmonella typhimurium TA 98. Ditunjukkan organ hati yang membesar.05) dibandingkan kontrol pada mencit galur (C57BC/6 x C3H/Anf) F1 jantan dan betina. estragole dan methyleugenol.p dosis tunggal campuran cis-trans isosafrol (52%-48%) atau 90% trans/10% cis-isomer sebesar 122mg/kg bb mencit pada usia 12 hari dan dibunuh pada usia 10 bulan. b) Formasi DNA (DNA adduct formation) Dengan menggunakan petanda 32P dipelajari dalam hati mencit betina yang diisolasi 24 jam setelah pemberian ip 2 dan 10 mg isosafrol per ekor mencit.20. c) Pemberian oral pada tikus Osborne-Mendel muda sebesar 500 mg isosafrol/kg bb sehari selama 41 hari menyebabkan kematian sebesar 80% dan dosis 250 mg/kg bb selama 34 hari sebesar 20%. serta ditemukan tumor di testes. tak nampak tumor lokal pada usia 18 bulan.3 a) Toksisitas kronis Studi pada dua galur mencit F1 (C57BL/6 x C3H/Anf dan C57BL/6 x AKR) yang diberi dosis oral 215 mg isosafrol/kg bb pada usia 7-28 hari. limfoma pada populasi 1/18 jantan dan 0/16 betina. pembesaran dan kehilangan kekenyalan normal hati. 2500 dan 5000 mg isosafrol/kg bb tikus Osborne –Mendel selama 2 tahun. Berbeda dengan safrol. b) Pemberian oral 460 mg isosafrol/kg bb tikus selama 4 hari. selama 3 minggu. tumor paru-paru pada populasi 3/18 jantan dan 1/6 betina. tak terdapat tumor hati. menunjukkan: Pada dosis kecil (1000 mg/kg bb) terjadi penekanan pertumbuhan tikus betina.7%/78. Juga negatif terhadap “Bacillus subtilis DNA repair tes” tanpa S9. hipertropi ringan sel hati. dan 0/17 jantan dan 0/16 betina. Studi genotoksisitas (mutagenisitas) b) c) B. Terjadinya tumor hati ini secara bermakna (P=0. TA 1537 atau Echerichia coli WP 2 uvr A dengan atau tanpa S9. TA 100.. Pemberian injeksi s. sedangkan tikus kontrol tetap hidup. nekrosis dan fibrosis dan tingkatan kecil metamorfosis lemak hati dan proliferasi saluran empedu. B. Perlakuan ini hanya menunjukkan ikatan rendah pada DNA hati mencit dengan pembentukan 2 utama DNA adduct dalam N2. Pada dosis 5000 mg/kg bb terjadi penekanan pertumbuhan pada tikus jantan dan betina. tidak menginduk UDS dalam kultur hepatosit tikus. Pada dosis 2500 mg/kg terjadi hiperplasia ringan tiroid.posisi dari guanin ikatan rendah dengan DNA dinyatakan oleh nilai 87 dari 122 . Diketemukan pula 2/3 tikus mati selama percobaan. Pemberian diet 1000.

Isopropil alkohol dimetabolisme menjadi aseton dalam hati oleh enzim alkohol dehidrogenase 80% dari jumlah yang terabsorpsi tereksresi melalui ginjal dalam bentuk 88 dari 122 . atau fermentasi beberapa karbohidrat. n25D = 1. Tekanan uap pada –25 °C adalah 44 mmHg. Isopropil alkohol digunakan sebagai extraction solvent . berat jenis 0.7 0C (Close Cup). 16 0C (Lar. eter. 67-63-0 B.09-60. daya keterbakarannya tingkat 3 (The National Fire Protection Ass. .783 – 0.5 a) b) Kesimpulan Kemungkinan tercemar dalam air tanah dan termakan. Malaysia. carrier solvent dan substansi perisa. Singapura.4 IFA (International Fragrance Association) menyatakan bahwa total konsentrasi isosafrol dalam produk pangan siap kondumsi tak kurang dari 0.21 B. USP 25). US FDA. .gangguan fungsi hati atau hepatotoksik pada pemakaian berulang (subkronis).3776. titik asap 52 °F. IPA. 2-hydroxypropane. B.1.pemakaian makanan yang mengandung isosafrol yang tidak terkontrol jumlah dan lamanya memungkinkan terjadinya pemasukan isosafrol secara berulang dan terjadi kumulatif yang bisa menimbulkan efek toksik.0 % v/v di udara. BP. mudah menguap. – 2002). Sifat toksisitasnya: . Titik nyala 12 0C – 11. 13 0C (Open Cup). gliserin dan etil alkohol. 2-propanol.3749.3. propyl alcohol secunder. petrohol.induksi enzim hati sitokrom P-450. alcohol isopropylicus (Ph.-2001). India. dapat tercampur dengan air.). Nama kimia adalah propan-2-ol (golongan hidrokarbon alifatik alkohol. titik didih 82. Isopropil alkohol mudah terbakar. berbau seperti campuran alkohol-aseton. sec-propyl alcohol. destilasi uap 2. titik leleh – 88. EC (Europe Commission) mengatur penggunaan isosafrol dengan batas yang ditentukan yaitu pada makanan dan minuman 1 mg/kg dan minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% alkohol sebesar 2 mg/kg.SNI 01-7152-2006 covalent binding index (CBI) sebesar 1 untuk isosafrol dibandingkan estragol dan metileugenol yang bernilai 30.1 Absorpsi Isopropil Alkohol Isopropil alkohol dapat diabsorpsi secara baik melalui salura cerna. Isopropil alkohol dibuat dari profilen yang diperoleh dalam proses kraking petroleum atau reduksi katalitik aseton.Pharm. isopropanol.10. dimety carbinol.Eur. Nama lainnya adalah isopropanol (J.20.78 pada 200C. Explosive limit 2. dan Thailand melarang penggunaan isosafrol sebagai perisa. . . psedopropyl alcohol. B. dimetylcarbinol. IV-1995. jarak destilasi 81-830C.1 Deskripsi Nama bahan isopropil alkohol adalah isopropyl alcohol (Farmakope Ind. etil eter.01%. Keberadaannya dalam darah lebih lama daripada alkohol. Nomor CAS.5 0C.LD50 oral pada mencit/tikus 2.4%).60C / 4250C. Berat molekul 60.20.786 mg/ml atau 0.eksresi melalui ginjal sebagai metabolit. petrohol. 1-metylethanol.1.34 g/kg bb.43 cP pada 200C. Pengaturan B. Juga diabsorpsi secara baik melalui paru-paru dan mukosa rektal.21.sifat hepatokarsinogen walaupun kecil. Isopropil alkohol terdapat secara alami di alam.21. Rumus molekul C3H8O. Viskositas 2. mudah terbakar.40C (760 mm Hg). Index Refraksi : n20D = 1.5-12. . suhu autoignition 3990C / 455. Azeotrop dalam air / 87. Isopropil alkohol merupakan cairan jernih tidak berwarna. Isopropil alkohol (isopropyl alcohol).47 /1.

6 g/kg. B.oral pada kelinci . kelinci).74 g/kg.oral) pada kelinci .3. pengekstraksi dan antifreeze. = 6.8 g/kg. B.iv) pada tikus . dan efeknya terhadap organ penting (sistem syaraf) serta tercatat berefek fetotoksik pada hewan uji.SNI 01-7152-2006 aseton dan 20% dalam bentuk tetap.oral pada mencit .4 Adanya efek akut maupun kronis dengan berbagai gejala yang mirip alkohol dengan toksisitas 2-3 kali lebih kuat. Tetapi tetap perlu perhatian. a) b) c) d) Langkah 1: Isopropil alkohol digolongkan ke dalam struktural kelas I.09 g/kg.3 B.21.48 g/kg. Ekskresinya ini lambat.21.2 - pada anjing .80 g/kg.41 g/kg. = 1.2 Fungsi lain Dalam dunia farmasi digunakan sebagai pelarut/pengekstraksi dan desinfektan tapi tidak untuk pemakaian obat. Data toksisitas akut (LD50) = 4. Langkah A3: Intake dari Isopropil alkohol yaitu 99 mg (Eropa) dan 10 mg (USA) lebih besar dari threshold for human intake untuk kelas I (1800 µg). Batas konsentrasi inhalasi letal terendah pada tikus adalah 12. = 1.3. Dalam pembuatan makanan sebagai pelarut.5–5 g/kg). = 2.21. Pada langkah A4 diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.05 g/kg. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamannya (no safety concern). Aseton akan dioksidasi menjadi asetat. termasuk efek toksik sedang (0.21. hasil kajian per tahapan dari isopropil alkohol adalah sebagai berikut.ip) pada tikus .iv) pada tikus .1 Kajian keamanan Kajian toksikologi Isopropil alkohol telah dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dengan hasil No Safety Concern pada current intake level.ip) pada mencit . Langkah 2: Isopropil alkohol termasuk ke dalam endogenous compounds atau diprediksikan dapat dimetabolisme menjadi senyawa innocuous. = 5. = 12.41 g/kg (oral.kulit pada mencit . = 4.3.5-5 g/kg).21.21. B. = 3. juga diekskresi melalui saluran napas. Bentuk isopropil alkohol juga mengalami konyungasi glukoronida dan diekskresikan melalui urin. Langkah A4: Isopropil alkohol merupakan komponen endogenous hasil metabolisme asam lemak dan karbohidrat. format dan CO2. B.3.3 Data toksisitas akut pada berbagai hewan dengan berbagai cara pemberian antara 1. B. 89 dari 122 .000 mg/kg dalam 8 jam.oral) Berdasarkan data-data ini sebagai senyawa toksisitas sedang (LD50 = 0. Kajian dilanjutkan ke langkah A4. Dengan menggunakan diagram prosedur kajian keamanan substansi perisa yang disusun oleh Munro.51 g/kg.09 –6.

3.3. menjadi faktor peningkat efek toksiknya. Pemakaian obat sangat terbatas dibandingkan dengan makanan yang lebih luas (banyak) pemakaiannnya. B.21. .9% hanya dapat mencegah hemolisis pada kandungan isopropi lalkohol kurang dari 8%. muntah .5 Pada pemakaian bidang farmasi (obat) saja hanya digunakan sangat terbatas tidak untuk obat dalam dan hanya sebagai pelarut dalam pembuatan sediaan obat. pecah-pecah. . B.21.21. B.3. perubahan personalitas.3.3.dan sampai koma dan kematian. dapat menyebabkan hemolisis dan denaturasi sempurna eritrosit (sel darah merah).Iritasi pada mata. Efek isopropilalkohol yang muncul segera (tidak lama) setelah terpajan: . hidung dan kerongkongan. Efek yang terjadi setelah beberapa waktu terpanjang isopropil alkohol.. b) Efek Kronis.3. B. . sukar tidur.11 Tikus yang diberi isopropil alkohol secara oral 6 mg/kg menunjukkan kenaikan trigliserida dalam hati.3.9 Gejala/sifat toksisitasnya mirip dengan etil-alkohol tetapi 2-3 kali lebih kuat. khususnya dalam depresi sistem syaraf pusat (SSP). . tetapi tak melalui efek euphoria.21. drawssines. dan saraf lengan dan kaki. depresi SSP. dimana terjadi penghambatan pertumbuhan awal.13 Catatan efek membahayakan Isopropil alkohol tercatat berpengaruh pada kesehatan manusia.SNI 01-7152-2006 B. B. karena beberapa pelarut dan senyawa kimia petroleum telah menunjukkan efek kerusakan tersebut.21. Efek fetotoksik terbukti pada hewan. sampai setelah beberapa bulan-tahun: .Terpajan banyak menyebabkan sakit kepala. a) Efek Akut.Bahaya terhadap reproduksi: Belum ada penelitian pengaruhnya terhadap sistim reproduksi.6 Absorpsi yang cepat melalui saluran cerna dan ekskresinya yang lambat. B.3. B.Tertelan menyebabkan sakit saluran cerna.21.Pengaruh efek lama/kronis lain terhadap kulit menjadi kering.Pada kulit menyebabkan rash atau rasa terbakar. 90 dari 122 . gangguan kordinasi. analogi dengan pada manusia.12 Penelitian pada tikus menunjukkan efek fetotoksik bukan teratogenik. . gangguan saraf organ internal. yang kemudian dihilangkan (diuapkan). kolaps dan kematian.3.21.8 Campuran dalam air. lelah. Penambahan larutan NaCl 0.21. mual.7 Kegunaannya sebagai perisa tidak esensial (ada bahan pengganti lain).Tak perlu dievaluasi lagi pengaruhnya terhadap kerusakan otak dan saraf. B.10 Penelitian hewan menunjukkan isopropil alkohol adalah iritan terhadap mata dan selaput mukosa. gangguan kordinasi. tetapi bukan berarti tak ada efek.21.Kanker (isopropil alkohol adalah karsinogen). Efek tersebut meliputi penekanan konsentrasi dan memori. .

2 Fungsi lain Tidak ada. 76-78-8 Deskripsi Kuasin adalah diterpen lakton. Kulit tanaman Quassia amara L.14 a) b) c) Batasan pajanan di tempat kerja OSHA: The legal airborne permissible exposure limit (PEL) = 400 mg/kg untuk maksimum 8 jam kerja. memutuskan penggunaan isopropil alkohol sebagai pelarut/pengekstraksi betakaroten dari Blakeslea trispora untuk makanan. Kuasin dari Quassia amara L.3 Kajian keamanan CEFS tahun 1981 membatasi penggunaan kuasin dalam makanan dan minuman sebesar 5 mg/kg. yang dikenal juga dengan nama pikrasmin.22. Ekstrak bitter wood . atau Picrasma excelsa (Sw. ACGIH : 400 mg/kg untuk 8 jam kerja dan STEL : 500 mg/kg (Short term exposure limit). Secara komersial ada dua sumber kuasin yaitu Quassia amara L. Nomor CAS. Diberi nomor 277. dapat diterima dengan dasar : “temporary acceptabledaily intake” = 0 . B.22. dan 800 mg/kg tak lebih untuk 15 menit kerja. 1981) dan hasil residu yang rendah setelah penggunaannya (SCF.3. Hasil evaluasi B. Nigakilactone D. Nama lain kuasin adalah (+)-Quassin.3. permen dan kue-kue karena rasa pahitnya. kegunaannya sebagai perisa bukan utama (dapat diganti dengan bahan lain yang lebih aman) dan dua negara yang tercatat melarang sebagai perisa.5 mg/kg bw (SCF.21. Sedangkan yang berasal dari Picrasma excelsa (Sw) Planch mengandung isokuasin.22. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batas maksimum 1000 mg/kg pada produk pangan.) Planch disebut juga kuasia sedang ekstrak “quassia“ disebut “quassin”atau kuasin. Diusulkan tidak digunakan sebagai perisa di Indonesia yang terkonsumsi langsung. atau kecuali digunakan dalam pengolahan saja dengan syarat harus dihilangkan/diuapkan kembali dan tidak terkonsumsi langsung. 1991 a). B.21.SNI 01-7152-2006 B.1 Kuasin (quassin). Sedangkan ekstrak kuasin atau ekstrak quassia memiliki naman lain Quassin. dan Picrasma excelsa (Sw) Planch (famili: Simarubaceae). kecuali dalam minuman alkohol sampai 50 mg/kg dan dalam permen (lozenges) sampai 10 mg/kg. NIOSH: 400 mg/kg untuk maksimum 10 jam kerja.15 Berdasarkan berbagai efek isopropil alkohol terhadap tubuh khususnya terhadap sistem syaraf pusat. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additive) menyatakan bahwa penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.21. B. neokuasin dan 18hidroksikuasin. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamananya (no safety concern). Tahun 2002 CEFS mengevaluasi batas ini kembali tetapi pembatasan 91 dari 122 .1. mengandung campuran kuasinoid yang pahit yang terdiri dari kuasin. Senyawa ini digunakan dalam minuman.4 Pengaturan European Community (Health & Consumer Protection Directorate-Generale) – 21 Februari 2003. B.22 B. US FEMA GRAS 2929. Kuasin adalah senyawa terpen lakton yang berasa sangat pahit dengan derajat kepahitan 50 kali kuinin.

Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuasin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. Tidak terdapat tanda-tanda toksisitas akut pada dosis sampai 1000 mg/kg ekstrak air kuasia. penentuan ada tidaknya pruduk metabolisme yang berbahaya. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: penentuan kelas struktur kimia. Batas maksimum pada komoditas pangan (5 mg/kg). 1965). (Garcia et al. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. dinyatakan bahwa tidak ada data mengenai penyerapan.1mg/kg berat badan (Raji and Bolarinwa.1997). Dengan demikian. pastilles (10 mg/kg). data batas aman (threshold). distribusi. Toksisitas sub akut tidak terlihat sampai dosis 50 mg/kg/hari selama 8 minggu (Margaria. Disimpulkan bahwa senyawa yang paling berperan sebagai antifertilitas adalah kuasin. termasuk data untuk penentuan intake (asupan).. Data pada manusia belum ada. minuman (5mg/kg) pengecualian hanya pada pastiles ( lozenges) 10 mg/kg dan minuman beralkohol (50 mg/kg). Pemberian ekstrak kuasia sebanyak 100 mg/kg/hari pada induk tikus bunting menyebabkan jumlah kelahiran anak tikus yang lebih sedikit (Margaria. sampai saat ini penggunaan kuasin masuk harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. terlihat penurunan berat testis. pangan olahan (5 mg/kg). Nilai NOEL belum ada. Di USA. Malaysia mengatur penggunaan kuasin boleh ditambahkan pada makanan tertentu dengan batas maksimum yang telah ditentukan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy (5 mg/kg). pada tikus jantan.4 mg/kg. Secara umum disimpulkan ekstrak quassia menyebabkan infertilitas pada tikus jantan dan selanjutnya pada betina dan ditentukan LOEL sebesar 0. pada minuman beralkohol sampai 3. B. . Selanjutnya Raji and Bolarinwa (1997) melaporkan aktifitas antifertilitas ekstrak Quassia amara L yang mengandung quassin dan alkaloid 2methoxycanthin-6-one.4 mg/kg sedang dalam kue-kue sampai 50 mg/kg (Hall and Oser. akan tetapi tidak ada data kandungan kuasin. Oleh karena itu.5 µg per hari. 1963). Tidak ada data mengenai toksisitas kronis seperti karsinogenisitas dan genotoksitas.1997). July 2002. apakah pada kondisi penggunaan. epididimis dan vesikel seminal yang diikuti dengan pengingkatan kelenjar pituitari anterior. 1963). sifat metabolit.SNI 01-7152-2006 penggunaan masih belum berubah.22. hormon luitenising dan hormon stimulasi folikel serum. Penurunan terlihat juga pada jumlah sperma dan kadar testosteron. data toksisitas untuk evaluasi keamanan kuasin belum cukup. Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. shandy (50 mg/kg). metabolisme dan ekskresi senyawa ini. Pada sel Leydig secara in vitro. asupan senyawa lebih besar dari 1.1995). Bagian Standardisasi. namun data mengenai toksisitas alat reproduksi cukup banyak. ekstrak metanol Quassia amara L menghambat sekresi testosteron (Njar et al. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Kemampuan menghamilkan pada tikus betina juga menjadi turun secara nyata. minuman beralkohol. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. Dari laporan CEFS on Food on Quassin. Evaluasi keamanan kuasin akan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM. 92 dari 122 .4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (Europe Commission) membolehkan penambahan kuasin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Setelah 8 minggu percobaan. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. data NOEL dan data asupan per hari. ekstrak Quassia diizinkan digunakan dalam minuman sampai 3.

Selain itu berpengaruh juga pada ginjal.SNI 01-7152-2006 B. 130-95-0 Deskripsi Nama lain kuinin adalah Quinidine. (iv) pemberian dosis terendah 27 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi perubahan pada penglihatan. B. B.3 Kajian keamanan Kajian keamanan berikut ini adalah kajian keamanan kuinin dalam bentuk garamnya (kuinin sulfat). terjadi tinnitus pada telinga dan berpengaruh pada gastrointestinal yaitu pusing atau mual (perasaan ingin muntah). 6'-Methoxycincho. post-necrotic scaring). Conchinine.1 Kuinin (Quinine). (ii) pemberian dosis terendah 4300 µg/kg pada manusia secara oral berpengaruh terhadap saraf periferal dan sensasi: paralisis lemah tanpa anesthesia.(9S)-. Conquinine. Chinidin. midriasis pada mata (pembesaran biji mata).23. 93 dari 122 . (viii) pemberian dosis terendah 6500 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan lemahnya otot. Quinaglute. ADI 0-0. (+)-Quindine. α-(6-methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-. terjadi perubahan pada pendengaran dan tinnitus pada telinga.9 mg/orang/hari. Quindine. (vii) pemberian dosis terendah 45455 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan perubahan pada penglihatan. β-Quinine. (xii) pemberian dosis terendah 80 mg/kg pada wanita secara oral. (+)Quinidine. kuinin hidroklorida dan deoksikuinin. sedangkan pada darah terjadi angraulositosis. NCI-C56246.23. edema sakit paru-paru akut pada paru-paru. (iii) pemberian dosis terendah 129 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi midriasis pada mata (pembesaran biji mata). pengaruhnya belum diketahui.23 B. Pitayin. ureter dan saluran kencing. Coccinine. ureter dan saluran kencing: fungsi uji renal ditekan. (v) pemberian dosis terendah 800 mg/kg pada mencit secara oral. Selain itu berpengaruh juga pada darah yaitu terjadi perubahan pada limpa. seperti malaria dan noctural leg cramps. 2-Quinuclidinemethanol. β-Quinidine. (xiii) pemberian dosis terendah 126 mg/kg/3minggu secara selang-seling pada wanita secara oral terjadi kardiomiofati termasuk infraksi pada kardiak dan menyebabkan alergi pada kulit. Kuinin memiliki bobot molekul 324. 6'-methoxy-. Quinidex. Pitayine. Selain itu digunakan juga pada minuman beralkohol pahit dan dalam jumlah sedikit digunakan dalam tepung produk konfeksioneri/kembang gula. Nomor CAS.α-(6Methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-2-quinuclidinemethanol. Quinicardine. Kinidin.2 Fungsi lain Kuinin dalam bentuk garamnya atau ekstrak dari cinchona bark digunakan sebagai bittering agent (sekitar 80 mg kuinin hidroklorida per liter).23. nefritis interstisial pada ginjal. terjadi perubahan pada penglihatan. (xi) pemberian dosis lethal terendah 220 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan lain pada kardiak.nan-9-ol.cinchonan-9-ol. (x) pemberian dosis terendah 12 mg/kg/1 hari secara selang-seling berpengaruh terhadap hati: hepatitis.42 dan rumus molekul C20H24N2O2. (vi) pemberian dosis tererendah 110 mg/kg pada wanita secara oral berpengaruh pada penglihatan. (9S)-6'Methoxy. (8R. βquinine. fibrous (cirrhosis. Cardioquin. perubahan akuitas pada telinga. Conquinine. Cin-quin. Cinchonan-9-ol.6-Methoxy-α-(5-vinyl-2-quinuclidinyl) -4quinolinemethanol. toraks atau respirasi. Kuinin dan turunannya secara luas digunakan juga sebagai terapeutik pada percobaan infeksi protozoa. Kajian toksisitas kuinin memperlihatkan bahwa (i) Pemberian terendah 1425 mg/kg pada tikus secara oral berpengaruh terhadap reproduksi yaitu terjadi pertumbuhan secara statistik pada kelahiran baru dan berpengaruh juga terhadap kelahiran baru secara fisik.9S)-6'-Methoxycinchonan-9-ol. berpengaruh pada tingkah laku yaitu perubahan motorik. Conchinin. pusing dan mual pada gastrointestinal. (ix) pemberian dosis terendah 130 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan akuitas pada telinga. Kenampakan kuinin berwarna putih dan sensitif terhadap cahaya.

Apabila kuinin masuk ke dalam tubuh karena tertelan dapat mengakibatkan gangguan otot/muscle tremor.2 Kajian khusus gentoksisitas dengan metode ames Pada 5-20 µg/plate kuinin hidroklorida. B. Pemakaian kuinin dalam makanan (minuman selain minuman beralkohol dan shandy 85 mg/kg. mempengaruhi sistem pusat saraf. liver dan mata. B. dapat menyebabkan gangguan darah dan anemia. in fruit curds (40 mg/kg). Quinin secara cepat memotong plasenta. Dosis terapeutik 1 g/hari kuinin untuk beberapa hari menghasilkan konsentrasi quinin plasma sekitar 7 µg/ml dengan lama hidup plasma sekitar 12 jam.23.23. Quinin berpotensi sebagai iritan lokal dan tidak biasanya diurus (administered) oleh intramuskular lain atau injeksi subkutanus. Kuinin diserap secara sempurna dan cepat dari intestin kecil yang diberikan secara oral. perut mual dan muntah-muntah. hepatitis akut.3.2 jam).3. 3 ekor yang diberi dosis 80 mg/kg bb/hari mati dan yang lainnya mengalami penurunan berat badan pada hari ke 10-23 gestasi jika dibandingkan dengan kontrol. Sejauh ini belum ada informasi gangguan iritasi pada bagian mata atau gangguan lain selain kebutaan. 40 atau 80 mg/kg bb/hari pada kelinci selama 6-18.3. Bagian organ yang menjadi target sasaran adalah sistem syaraf pusat. Pemberian deoxyquinin secara gavage dengan dosis 0.67 dan 60 mg/kg bb/hari terjadi penurunan ukuran fetus dengan ditandai hilangnya pre-implantasi. hasilnya positif terhadap S. hasilnya positif terhadap mencit (NMRI C3H) dan dengan metode yang sama juga pada konsentrasi 55-110 mg/kg bb hasilnya positif terhadap mencit (C57BL). Konsentrasi plasma puncak dicapai selama 1-3 jam secara dosis oral tunggal. B. Uji sebelumnya yaitu uji preliminari mengindikasikan bahwa dosis 135 mg/kg bb/hari deoksiquinin menyebabkan kehilangan berat badan dan kematian pada kelinci.8 ml/kg/min dengan masa hidup 8. 10. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari uji ini. 1. merusak fungsi motorik. menyebabkan kebutaan. Kuinin secara ekstensif dimetabolisme di hati dan kurang dari 5% ekskresi tak berubah dalam urin. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.1 mg/kg). minuman (85 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol (300 mg/kg). proses pembuatan makanan 0. 6. Austria. 20.23. Selain itu dengan metode sister chromatid exchange: 110 mg/kg bb. 100 atau 200 mg/kg bb/hari pada 20 tikus jantan dan betina selama 13 minggu menunjukkan penurunan total protein serum dan globulin.23.67.3 Kajian khusus teratologi deoksikuinin Pemberian deoksikuinin secara oral gavage dengan dosis 0.1 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian kuinin hidroklorida dalam bentuk diet makanan sebesar 0.1mg/kg). Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. atau 60 mg/kg bb/hari pada tikus bebas patogen menunjukkan bahwa tikus yang diberi dosis 6. Pada uji teratologi. jerman: melarang penggunaan kuinin dalam makanan dan minuman pengecualian : bukan minuman 94 dari 122 .9-1. mengakibatkan iritasi dan gangguan pada darah.4-18. Farmakokinetik quinin bervariasi (0.SNI 01-7152-2006 B. Typhimurium galur TA98. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0. pandangan mata buram dan sempit serta kebutaan. 20. 40.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) membolehkan penambahan kuinin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Tak teramati adanya toksisitas pada pengamatan oftalmoskopik dan fungsi pendengaran. Jika uap quinin masuk dalam tubuh dapat mengakibatkan iritasi pada saluran pernafasan dan mengakibatkan gangguan sama seperti yang disebutkan diatas. minuman beralkohol dan shandy 300 mg/kg. meningkatkan urea nitrogen dan deplesi periportal glikogen hati tikus pada kelompok tikus yang diberi 2 dosis tertinggi. Sekitar 7% kuinin plasma berbentuk protein. Efek terhadap kesehatan: dapat merusak liver.

Ecgonine methyl ester benzoat. Kelarutan dalam air 0. Kelarutan dalam air 200 g/100 ml. 3-(benzoiloksi)-8-metil-8azabisiklo-(3. Sedangkan kokain merupakan berwarna putih. cocaina. Yunani menetapkan penggunaan kuini pada minuman ringan 100 mg/l. Star-spangled powder. shandy (300 mg/kg). berbentuk kristal padat. dalam eter 28. Dosis terapi untuk dewasa direkomendasikan 1-3 mg/kg.1 Kokain (cocaine). Prancis menetapkan penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol sebesar 70 mg/l. Carrie. White girl. Cadillac of drug. Coke.5S)-2-metoksikar-boniltropan-3-il benzoate. Titik leleh 98oC. Corine. Her. Star dust. Crack. tidak larut dalam eter. Jam.3S. pangan lain (1 mg/kg) Spanyol membatasi penggunaan kuinin pada air tonik dan bukan minuman keras yang berasa pahit (100mg/l incl. Snow. minuman spirit 300 mg/kg. 1aH. Dama Blanca. minuman beralkohol (300 mg/kg). Titik leleh 197oC. dalam alkohol 15. B.) oktan-2-asam karboksilat metal ester (C17H21NO4) memiliki bobot molekul : 303.24. 5aH-tropan-2ß-asam karboksilat 3 ß-hidroksi-metil ester benzoate. 95 dari 122 .1 mg/kg). Amerika Pusat. Kokain HCl digunakan hanya untuk anestesi saluran pernapasan. B. Erytroxylin. Minuman berbasis anggur (wine) dan anggur dengan kadar alkohol yang telah dikurangi (300 mg/kg). Flake. She.2R.4 g/100 ml. kristal higroskopis rasa pahit dan tidak berbau. Nomor CAS. Luxemburg menetapkan penggunaan kuinin dalam buah dan atau ekstrak sayuran lemon (85 mg/l) sebagai quinine base. air mineral. Eritroxilina. dalam alkohol 25 g/100 ml. Larutan kokain tidak dipakai untuk kulit atau jaringan abraded atau luka bakar atau jaringan yang disampaikan dengan sambungan arteri. Toot. untuk anak-anak tidak ada data. Gold Dust. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuinin sebagai Natural Toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum campuran minuman beralkohol yang belum terklasifikasikan (300 mg/kg) . karena risiko iskemia dan nekrosis jaringan. US melalui FDA menetapkan kuinin sebagai hidroklorida atau garam sulfat mungkin aman digunakan dalam minuman berkarbonat sebagai perisa. Lady. Pembatasan tidak melebihi 83 mg/kg. Kokain HCl merupakan senyawa tidak berwarna atau putih. 3-tropanilbenzoat-2-asam karboksilat metal ester. Happy dust.4. minuman beralkohol. berbentuk kristal padat.2 Fungsi lain Tidak ada. Charlie. jus buah lemon 40 mg/kg sebagai quinine base. Nose candy. 2ß-karbometoksi-3ß-ben-zoksitropan. Neurocaine. White lady. madu (85 mg/kg). Cecil.17 g/100 ml. Kokain. titik didih 187-188oC. Benzoyl methylecgonine. Cholly.24. Kokayeen. Kokain atau dengan nama lain ß-cocaine. kuinin klorida dan sulfat). Burese.2.SNI 01-7152-2006 beralkohol 85 mg/kg. Bernice.(1R. jus.575) Malaysia memperbolehkan penambahan kuinin pada makanan tertentu sesuai dengan batasan maksimum yang izinkan minuman selain minuman beralkohol dan shandy (85 mg/kg). Liquid lady (Aalcohol+cocaine). Nomor CAS. Jawa) & Erythroxylum novogranatense (di Amerika Selatan). Belanda membatasi penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol (85 mg/kg). Minuman tonik. L-cocaine.24 B. bitter drinks dan quinine drinks (100 mg/kg). Kokan. Champagne of drugs. 53-21-4 Deskripsi Kokain merupakan salah satu dari 14 alkaloid yang diekstraksi dari daun 2 spesies koka: Erythroxylum coca (ditemukan di Amerika Selatan. Leaf. Kokain atau dengan nama kimia Benzoilmetilekgonin. 50-36-2. Finlandia membatasi penggunaan kuini pada minuman ringan (excluding prepacked waters).1. Kokain HCl. sebagai kuinin (CFR 172. Girl. Happy trails. Green gold. Kokain HCl tidak digunakan secara intra-okular karena menimbulkan ulserasi kornea. Methylbenzoylecgonine.6 g/100 ml. Blow. India. pangan olahan lain (0. Bernies. Rock. pH basa. & Speed ball (Heroine+cocaine). Pimp’s drug. 1% larutan pH netral.

sakit dada.02 g kokain melalui jalur parenteral. dan paling lama 30 sampai 60 menit. 1%-9% Kokain dieliminasi tidak berubah dalam urin. kokain terlihat dalam darah setelah 30 menit. muntah. gangguan jantung. kemungkinan terakumulasi dalam system saraf pusat (SSP) dan dalam jaringan adiposa. Melalui pemberian masal. Dalam jumlah besar. Tidak ada data karsinogenik dan mutagenik.24. penyerapan dapat berubah-ubah dari 20% sampai 60%. 0. takikardi. efek klinis tampak 3 menit setelah pemberian.3 Kajian keamanan Target organ adalah sistem syaraf pusat (SSP) dan sistem kardiovaskular. dan mengakumulasi dalam fetus setelah penggunaan berulang. dan dalam urin bayi baru lahir selama sebanyak 5 hari. Setelah pemberian oral. sakit perut. Kokain melalui plasenta dengan difusi sederhana. Ketagihan kokain dapat ditoleransi sampai dosis 5 g/hari. perubahan dihubungkan dengan vasokonstriksi sekunder. Metabolisme kokain terjadi terutama di dalam hati. dan penurunan mental.24.SNI 01-7152-2006 B. Penyalahgunaan kokain menyebabkan ketergantungan psikologis yang kuat. aritmia ventricular. dan 50 mg/kg melalui jalur nasal. koma. Jalur sekunder adalah hidrolisis spontan. konvulsi. hipertensi. Kecepatan metabolisme tergantung konsentrasi plasma. kemungkinan non-enzimatik. halusinasi. Kokain diserap melalui seluruh jalur pemberian.5 mg/l. Malaysia melarang penggunaan kokain sebagai perisa. Melalui intravena. Melalui inhalasi. 60 sampai 80% kokain diserap. agitasi.5 mg/kg. LD50 pada kelinci 15 mg/kg melalui jalur iv. Dalam media asam. sebagai hasil kelarutannya dalam lemak. gelisah luar biasa.3 g / hari melalui mulut. kematian dilaporkan pada konsentrasi 1 mg/l. Keracunan akut dosis rendah menyebabkan euphoria dan agitasi. kehilangan berat badan. sampai 2 jam pemberian. konsentrasi darah mencapai puncak dalam beberapa menit. anoreksia. LD50 iv pada tikus 17. dan melalui blood brain barrier. niat bunuh diri. psikomotor agitasi. 96 dari 122 . Ada 3 jalur bio-transformasi: a) b) c) Jalur utama adalah hidrolisis kokain oleh esterase plasma dan hati. pingsan dan mati. Dalam media basa. 0. Kokain tidak berubah diekskresi dalam stool dan dalam saliva. mencapai konsentrasi maksimum dalam waktu 50 sampai 90 menit. Kajian toksisitas kokain memperlihatkan bahwa LD pada orang dewasa diperkirakan pada 0. midriasis. halusinasi. Efek toksik dapat ditunjukkan dengan konsentrasi plasma sama dengan atau lebih dari 0. dosis pengulangan. Melalui pemberian intra-nasal atau oral. dengan proporsi lebih tinggi dalam urin asam. Dosis lebih besar menyebabkan hipertermia. dengan hilangnya gugus benzoil memberikan ester metil ekgonin.5 sampai 1. Kokain dan benzoilekgonin dapat dideteksi dalam ASI sampai 36 jam setelah pemberian. kokain terionisasi dan gagal masuk ke dalam sel. yang menghasilkan benzoilekgonin dengan demetilasi. Australian Food Standard Code menyatakan bahwa kokain sebagai natural toxicant harus tidak terdeteksi pada produk pangan. Keracunan kronis menimbulkan euphoria.05 sampai 5 g / hari melalui jalur nasal. mual.4 CAC menyatakan bahwa batasan pada bahan pangan adalah cocain free (tidak mengandung kokain). Kokain didistribusikan pada seluruh jaringan tubuh. dapat disertai depresi SSP dengan pernapasan yang tidak beraturan. sedikit terionisasi dan penyerapan meningkat cepat. Pengaturan d) B. Aktivitas esterase bervariasi secara substansi dari satu subjek ke subjek yang lainnya.

dengan larutan pembawa propilen glikol).1 Komarin (coumarin). terjadi adenoma dan karsinoma hati dan saluran empedu. Coumarinic anhydride.96 g/cm3 dan kelarutannya kurang di dalam air. dan kelinci. B. Thailand.25. Nama lain dari komarin. Bersifat mutagenik pada dua dari 11 strain Salmonella typhimurium dengan aktivitas metabolik.25 B. pasta gigi. Batas maksimum untuk komoditas pangan (2 mg/kg). gamma-glutamyl transferase. 1000 mg/kg menyebabkan hipoglikemik pada tikus betina selama kurang lebih 24 jam. terjadi peningkatan aktivitas SGOT.SNI 01-7152-2006 B. marmut.3 Kajian keamanan Pada mencit dan tikus. pada produk tembakau dapat memperkuat rasa dan aroma alami tembakau. komarin menyebabkan hepatotoksik.25. Toksisitas akut (LD50) komarin pada tikus adalah 680 mg/kg bb (oral). pemberian komarin dalam dosis besar menyebabkan penghambatan pembentukan tulang janin dan peningkatan kematian anak dalam uterus. dan sorbitol dehidrogenase. Singapura.2-Benzopyrone. Kerapatan komarin adalah 0. 290 mg/kg bb (oral.14. 97 dari 122 .25. Mempunyai titik didih 2970C -2990C dan titik leleh 680C -700C. Tekanan uap pada suhu 106 0C adalah 0. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. dalam produk industri untuk menutupi bau yang tidak diinginkan. tikus. B. oral) yang diberikan setiap hari selama 7 hari pada tikus betina menyebabkan penurunan kadar progesteron. 1 mmol/kg (146 mg/kg. Australia New Zealand (FSANZ) mengizinkan penambahan komarin melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. dengan larutan pembawa minyak jagung) sedangkan untuk marmut adalah 202 mg/kg bb (oral). penguat aroma pada parfum.39 oktanal/air. India melarang penggunaan komarin dalam produk pangan.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan komarin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. terjadi adenoma dan karsinoma paru-paru. minuman (2 mg/kg). obat rambut (hair preparations). Pemberian 1% komarin dalam diet selama 4 minggu pada tikus menyebabkan penghambatan pertumbuhan serta pembesaran dan kerusakan hati. Pada tikus. dan adenoma hati. sabun toilet. Nomor CAS.13 kPa dengan titik nyala (api) 150 0C serta koefisien partisi komarin adalah 1. Pada mencit.25. 91-64-5 Deskripsi Komarin mempunyai rumus molekul C9H6O2 dengan berat molekul 146. juga adenoma ginjal.30 melarang produk pangan yang mengandung komarin. cis-O-coumarinic acid lactone. Sementara Australia dalam Australia Food Standard Code menetapkan komarin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (2 mg/kg). antara lain 1. Demikian pula halnya dengan Malaysia.2 Fungsi lain Sebagai fiksatif. 520 mg/kg bb (oral. USA melalui CFR 189. dan 2-Oxo-2H-1-benzopyran. Pada mencit bunting 6-17 hari. Secara In vitro komarin toksik terhadap sel hati pada mencit. B. pengecualian pada karamel dan minuman beralkohol ( 10 mg/kg) serta permen karet (50 mg/kg).

Ambang batas aman yang dapat digunakan untuk manusia sebesar 90 µg/ hari. Kulit pohon betula hanya mengandung 3% asam tanat.5 µg/ orang perhari. Mempunyai rumus kimia C12H10O dengan bobot molekul 170.1 Nama lain dari minyak betula adalah betula pendula roth tar oil. 1 gram beta-naftil keton larut di dalam 5 ml etanol 95%. cream desserts.26. dan permen karet.27. adonan masses dan isiannya. dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan rumus kimianya. Daunnya mengandung asam betulorentic. berke.05%. Senyawa metil beta-naftil keton masuk dalam kategori kelompok III karena senyawa perisa ini memiliki struktur cincin yang lebih dari satu dan tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi lebih sederhana (mono). Minyak betula (birch tar oil). konfeksionari (kembang gula). pubescens. monoecia triandria.233 pon. bakery wares. B.1 mg/kg). tidak larut dalam gliserol sedangkan larut di dalam campuran minyak.27 B. B. white birch bouleau. brausen. indeks refraktif 1. Metil beta-naftil keton praktis tidak larut dalam air. jeli. Jerman mengizinkan pada produk tertentu sebesar 5 mg/kg yaitu pada minuman dingin dan panas alami. saus manis.26. 9. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. Kulit pohon betula mengandung pula betulin dan kapur betul. Senyawa perisa di dalam tubuh manusia dimetabolisme melalui reaksi hidrolisis dari aktivitas katalitik karboksilase. Minyak betula memiliki gravitasi spesifik 1. Dari 38 senyawa perisa yang ada. Senyawa metil beta-naftil keton dalam tubuh manusia tidak dapat diprediksi apakah dapat menghasilkan produk yang berbahaya. B.1 Metil beta-naftil keton (metyl β-naphthyl ketone). Senyawa aromatik jenis keton dikeluarkan melalui urin atau dioksidasi dan diekresi sebagai glycin. puding.26 B. edible ice. B. sup. Titik beku tidak kurang dari 520 dan kadar abu sulfat tidak kurang lebih dari 0. India melarang penggunaan senyawa perisa pada berbagai artikel pangan. Oleh sebab itu senyawa ini perlu dievaluasi lebih lanjut. 8001-88-5 Deskripsi B. Minyak betula bukan merupakan minyak esensial. B. Nomor CAS.4 Pengaturan Evaluasi mengenai senyawa ini telah dilaporkan terdapat efek toksisitas. Nomor CAS.26.26.SNI 01-7152-2006 B.403 – 11. 93-08-3 Deskripsi Metil beta-naftil keton merupakan kristal padat berwarna putih dengan bau bunga jeruk. bereza.3 Kajian keamanan Secara umum senyawa perisa diabsorbsi atau diserap melalui usus manusia.2 Fungsi lain Tidak ada.21 dimana kadarnya tidak kurang dari 99%. Minyak betula dapat 98 dari 122 . EC (European Commisssion) di Italia mengizinkan penggunaan metil-beta-naftil-keton hanya pada permen (0. Menurut NOEL pengamatan terhadap tikus yang diberi senyawa Metil β-naftil keton selama 90 hari sebanyak 33 mg/kg berat badan per hari menunjukkan hasil bahwa senyawa ini termasuk dalam kategori aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Berdasarkan perkiraan asupan perhari di eropa sebesar 6 µg/ orang yang melebihi ambang batas yaitu sebesar 1. bubuk sherbets.13 – 1. US FDA mengizinkan.35 @ 25oC.522 – 1. isian untuk produk coklat.59 @ 20oC. verrucosa. titik didih 175oC @ 760 mm.

SNI 01-7152-2006

dicampur dengan Cananga, Guaiyl Butyrate; Heptyl Eugenol; Isoamyl Phenyl Acetate. Minyak betula tumbuh baik di Eropa, dari Sisilia sampai pulau es dan di Asia bagian Utara. Minyak betula adalah minyak yang diperoleh dengan cara destilasi kering kulit dan kayu Betula Pendula Roth dan spesies sejenis Betula (Fam.Betulaceae), kemudian dimurnikan dengan destilasi uap. Minyak betula hasil destilasi mengandung persentase metil salisilat yang tinggi, kreosol dan guaiakol. Minyak yang sudah dimurnikan (Oleum Rusci Rectificatum) kadang-kadang diganti dengan minyak cade. Cairan jernih; warna coklat tua; bau tajam seperti bau kulit. Larut dalam hampir semua minyak lemak dan alkohol. Tidak larut dalam air, gliserol, minyak mineral dan propilen glikol. Minyak betula juga tidak larut secara sempurna dalam 95% asam asetat dan anilin, akan tetapi minyak turpentin memisahkannya secara sempurna Minyak betula hampir identik dengan minyak wintergreen. B.27.2 Fungsi lain

Sebagai aroma parfum: Burnt, Leather Cuir, Fantasy Blends, Fern Fougere; Leather, Peau D’spagne dan sebagai penyamak. B.27.3 Kajian Keamanan

Bagian pucuk dan daun mengeluarkan resin (damar) yang bersifat asam, jika digabungkan dengan alkalin akan menjadi tonic laxative. Daunnya yang khas bersifat aromatik, bau yang enak dan berasa pahit. Digunakan sebagai teh (teh betula) untuk encok, reumatik, dropsy, dan sebagai pelarut batu ginjal yang dapat diandalkan. Dengan kulit pohon, teh betula melarutkan dan melawan pembusukan (putrefaction). Jamu pohon betula baik untuk bathing skin eruption dan berguna untuk sakit dropsy. Minyak berasa kecut, digunakan untuk efek kuratifnya pada kulit, terutama eczema, tapi digunakan juga untuk obat penyakit dalam. Kulit pohon bagian dalam yang pahit dan kecut telah digunakan sebagai obat demam. Air bunga sebagai diuretik. Dosis yang diberikan yaitu ekstrak beralkohol dari daun, 25-30 butir tiap hari. B.27.4 Pengaturan

EC (European Commission) mengizinkan penggunaan minyak betula pada bahan pangan dan minuman (0,03 µg/kg). IOFI (International Organizaton of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaannya pada produk akhir makanan sebesar 0,03 µg/kg. US FDA mengizinkan penggunaan minyak betula (CFR 172.515). Singapura melarang penggunaan minyak betula. B.28 B.28.1 Minyak cade (cade oil), Nomor CAS. 8013-10-3 Deskripsi

Cade merupakan pohon belukar besar berdaun hijau sampai ketinggian 13 kaki, dengan jarum gelap panjang dan buah kecil hitam kecoklatan seperti ukuran hazelnuts. Minyak esensial ini yang dikenal dengan nama kimia Juniper tar oil diperoleh dengan cara distilasi destruktif dari cabang dan empulur. Berasal dari Perancis Selatan, sekarang umum ada di seluruh Eropa dan Afrika Utara. Banyak dihasilkan terutama di Spanyol dan Yugoslavia. Juniper tar oil digunakan pada pengobatan penyakit kulit seperti eksim kronis, parasit, penyakit scalp (kulit kepala), rambut rontok, dll; pada luka sebagai antiseptik dan untuk sakit gigi; untuk luka, ketombe, dermatitis, eksim, noda, dll. Penggunaan secara luas di bidang farmasetik sebagai pelarut obat-obatan kimia, dalam krim dan salep kulit seperti juga pada obat-obat hewan. Minyak yang sudah dimurnikan digunakan pada bidang fragrans, dalam sabun, losion, krim dan pewangi. Kombinasi penggunaan dengan thimi, origanum, cengkeh, cassia, tea tree, cemara, dan basis obat memiliki khasiat analgetik, antimikroba, antipruritik, antiseptik, disinfektan, parasitisida, vermifugal (obat cacing).
99 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.28.2

Fungsi lain

Digunakan untuk mengobati penyakit kutanus seperti eczema kronik, parasit, penyakit scalp, kerontokan rambut. B.28.3 Kajian keamanan

Tidak toksik, tidak iritasi, kemungkinan masalah sensitisasi. Penggunaan harus hati-hati, khususnya perlakuan pada radang atau kondisi kulit alergi. Turpentine (terebinth) digunakan sebagai alternatif, dengan kemungkinan reaksi alergi lebih sedikit. Toksisitas akut, kanker, pemecahan endokrin, toksisitas reproduksi tidak ada. B.28.4 Pengaturan

CAC (Codex Alimentarius Commission) tidak ada batasan pengaturan minyak cade. Sedang EC (European Commission) menetapkan batas maksimum dalam bahan pangan yang dikonsumsi sebagai perisa : makanan dan minuman 0,03 mg/kg. Sedangkan Malaysia dan Singapura melarang penggunaan minyak cade dalam makanan. Minyak kalamus (calamus oil) Deskripsi

B.29 B.29.1

Minyak kalamus (Acorus Calamus L) berasal dari tumbuhan. Minyak kalamus diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar tanaman atau akar kering. Minyak kalamus merupakan cairan kental berwarna kuning atau kekuningan, berbau aromatik dan berasa pahit. Memiliki titik didih 180 °Februari dan gravitasi spesifik 0,962. B.29.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.29.3 Kajian keamanan

Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen). β-asaron mengandung berbagai macam minyak kalamus yang bersumber dari tanaman. Indian Acorus calamus dari Jammu merupakan tetraploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 75% beta-asaron; Acorus calamus dari Kashmir merupakan hexaploid dan minyak yang dihasilkan mengandung sektiar 5% beta-asaron (Vashist & Handa, 1964). Acorus calamus dari Eropa merupakan diploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 5% beta-asaron (Larry, 1973). Umumnya, hanya minyak dari varietas diploid yang digunakan sebagai aromatik perisa pada minuman beralkohol (Usseglio-Tomasset, dalam Larry, 1973). Akar dan rhizoma Acorus calamus telah digunakan dalam system Ayurvedic sebagai obat-obatan untuk mengatasi berbagai penyakit seperti epilepsy hysteria (Madan et al., 1960). B.29.4 Pengaturan

US FDA, Malaysia, dan India melarang penggunaan minyak kalamus pada produk pangan. Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen).

100 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.30 Minyak peniroyal (pennyroyal oil), Nomor CAS. 8013-998 B.30.1 Deskripsi

Pennyroyal oil merupakan minyak esensial berasal dari daun Mentha pulegium, mengandung 62-97% R(+)-pulegon (Grundschober, 1979) dan telah dikonsumsi manusia selama beberapa abad, terutama karena sifat-sifat abortifacient yang dimiliki (Gunby, 1979), Pennyroyal oil dengan sinonim Mentha pulegium L, mentha pulegium I. Oil; hedeoma oil berasal dari tanaman. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar yang segar atau akar kering dari tanaman Mentha pulegium L. Kandungan utama dari pennyroyal oil erafrican adalah d-pulegon. Memiliki angular rotation +18° - +25°, refraktif indeks 1.483-1.488, gravitasi spesifik 0.93000, titik nyala 176 °F, larut alcohol, propilen glikol, mineral oil, tidak larut dalam gliserin, minyak berwarna kuning muda sampai kuning hijau, berasa pahit dan bau minth. B.30.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.30.3 Kajian keamanan Peniroyal merupakan perisa alamiah yang mengandung pulegon sehingga evaluasi minyak alamiah ini setara dengan evaluasi untuk pulegon. Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan peniroyal belum cukup, termasuk data metabolisme, penentuan intake (asupan), data batas aman (threshold), data NOEL dan data asupan per hari. Namun demikian, evaluasi peniroyal dapat juga mengacu pada evaluasi senyawa pulegon. Oleh karena itu, penggunaan peniroyal harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. B.30.4 Pengaturan

Singapura melarang penggunaan pennyroyal oil pada produk pangan. B.31 B.31.1 Minyak rue (rue oil), Nomor CAS. 8014-29-7 Deskripsi

Minyak rue merupakan essensial oil yang diperoleh dari tanaman Ruta graveolens L, merupakan tanaman khas daerah Mediterania. Komponen utama minyak rue adalah methylheptyl-ketone (90 %), 1-a-pineol, cineol, dan 1-limonen, serta methyl-n-nonylcarbinol. Ekstrak maupun bagian tanaman dari Ruta graveolens L sering digunakan sebagai bahan tambahan pada minuman beralkohol yang dikonsumsi sebelum makan besar, berasa sangat pahit; salad dan daging di beberapa negara Eropa. Selain digunakan sebagai bahan tambahan pangan, Rue oil maupun ekstrak Ruta graveolens L digunakan sebagai antispasmodic, emmena-gogous. Minyak rue bersifat iritan, direkomendasikan sebagai rempah obat bagi gangguan insomnia, sakit kepala, nerveousness, abdominal cramps, gangguan renal. Ruta graveolens L dikenal sebagai tanaman emmenagogue (stimulan menstruasi) kemungkinan sebagai sedative dan hypnotic herbal. Minyak rue biasanya digunakan untuk obat homoeopathic sebagai subefacient, untuk obat dematoses sebagai eczemas dan psoriasis; dan sebagai antivirus jika digunakan bersama dengan herbal lain. Rue oil jika dioleskan pada kulit bermanfaat sebagai rubefacient untuk gangguan rematik. Selain itu, pemakaian bagian tanaman Ruta graveolens L maupun ekstraknya berlebih dapat mengakibatkan keguguran janin. Sejauh ini belum tersedia data yang mendukung mekanisme absorpsi, distribusi, lama tinggal dalam tubuh, metabolisme dan lain-lain. Rue essential oil tidak boleh digunakan sebagai bahan dalam aromaterapi karena bersifat berbahaya, dapat terbakar dan menyebabkan iiritasi pada kulit, tidak disarankan digunakan
101 dari 122

31. Pasien dapat mengalami hipotensi dan bradycardiac diikuti dengan shock. Hasil pengujian pada hewan menunjukkan bahwa. pteleine dan kokusaginine yang diduga menyebabkan peristiwa mutagenik.SNI 01-7152-2006 selama ibu menyusui dan pada anak-anak. gammafagarine.2 Fungsi lain Tidak ada. kecuali pada konsumsi secara tradisinonal dengan meminum ekstrak rebusan daun Ruta graveolens L disarankan tidak alebih 1 atau 2 gram per hari. skimianine dilaporkan menghambat secara nyata pada spontaneous motor activity.3.1 Kajian keamanan Bahaya yang sering dijumpai Pemakaian tradisional disiapkan dengan menyeduh satu sendok penuh daun Ruta graveolens L dalam 250 ml air mendidih dan diminum tidak lebih dari dua cangkir per hari. B. hyperpigmentation dan blistering pada kulit. Psoralen atau furooumarin merupakan senyawa yang bersifat photoactive apabila dikenakan pada kulit dan terkena sinar matahari mengakibatkan kulit kemerahan. pemisahan dari kelompoknya dalam waktu lama meningkatkan gejala saling memusuhi diantara sesamanya. yakni Tinctura Rutae berpengaruh sangat kuat pada Salmonella typhimurium. Beberapa kasus keracuan disebabkan karena kesalahan dalam dosis penyeduhan.3. Ekstrak Ruta graveolens L dilaporkan juga berpengaruh pada anti-implantation pada tikus albino. vomiting dan excessive saliva kemudian diikuti oleh CNS exitation terjadi pada pasien yang mengalami keracuan ekstrak Ruta graveolens L. Gejala akut pada bagian kulit terjadi akibat terkena senyawa aktif Ruta graveolens L dalam jangka waktu lama yang mengakibatkan iiritasi. Pada wanita hamil dapat menderita pendarahan peranakan dan keguguran janin. skimianine. kasus klinis akibat minum seduah daun Ruta graveolens L adalah keguguran janin. alkaloid dicktamin. cataleptogenic activity. Informasi toksisitas Rue oil maupun bagian tanaman Ruta graveolens L pada orang dewasa belum ada.2 Kajian toksikologi/toksinologi/farmakologi Metyl-nonyl-ketone memacu uterine contractions dan pelvic contaction sehingga akan mengakibatkan uterine haemorrhage yang memungkinkan terjadinya keguguran janin. Dosis asupan maksimal yang direkomendasikan adalah 1 gram daun Ruta graveolens L/hari. Sedangkan hasil pengujian mutagenisitas menunjukkan bahwa ekstrak sejenis tanaman Ruta graveolens L. dan menghambat tingkat kehamilan hingga mencapai 50-60 % tikus. Ekstrak tanaman tersebut dinyatakan mengandung furoquinoline.31.31. Adapun informasi mengenai karsinogenisitas. Adapun pengaruh akibat menghirup senyawa aktif dari minyak rue atau ekstrak Ruta graveolens L. B. Informasi yang lebih kuantitatif dilaporkan sebagai beikut: asupan sebanyak 120 gram daun segar Ruta graveolens L atau 10 ml Rue oil dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal. Phototoxicity dari senyawa tersebut ditunjukkan pada bakteri.31.3 Pengaruh klinis Keracunan akut diakibatkan oleh karena masuknya komponen aktif Rue oil atau ekstrak Ruta graveolens L dalam jumlah berlebihan. B. tetragenisitas belum ada. jamur sel indung telur. Insufisiensi pada bagian renal dan liver terjadi beberapa hari kemudian. Beberapa gejala seperti epigastric pain.3. Jika terkena sinar matahari kulit 102 dari 122 . proses mitosis dihambat dengan adanya senyawa tersebut dan terjadi pula perubahan pada kromosomnya. Pengaruh anti-methaphetamine juga terjadi pada hewan percobaan.3 B. B.31. dan pengararuh pada mata serta ekspose parenteral belum ada datanya. exploratory behaviour. liver dan bahkan kematian.

haemodynamic disorder. metabolic imbalance yang diikuti dengan renal failure. apabila terkana sinar matahari akan mangakibatkan photodermatitis. US FDA mengatur penggunaan Minyak rue sesuai dengan batas maksimum yang telah ditentukan yaitu pada baked goods dan baking mixes (10 mg/kg). Gejala lain seperti tongue oedema dan fibrillation juga dapat dijumpai pada pasien keracuan akut. dan ekspose parenteral belum ada. Minyak sasafras adalah minyak atsiri yang mengandung 80% atau lebih 103 dari 122 . Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari akar bagian kulitnya dari tanaman sassafras albidum (Nutt. pasien akan mengalami gangguan pada jantung dengan gejala hypotension. Akibat keracunan. pasien dapat mengalami hepatic insufficiency yang selanjutnya dapat berkembang menjadi jaundice dan renal failure yang akhirnya akan mengalami kematian pula. Renal failure biasanya terjadi akibat tubular necrosis akut yang perlu penanganan haemodialysis. epigastric pain.3. Gangguan pada sistem gastrointestinal dijumpai akibat keracunan akut. Gangguan pada kelenjar endokrin dan sistem reproduksi akibat keracunan akut dilaporkan akibat peningkatan uterine contractilicity dengan hypogastric pain. autonomic nervous system. abortion. Jika pasien dapat bertahan hidup.32 B. menghirup. coagulation disorder. Pengaruhnya pada jaringan darah. dengan gejala erythema dan blistering. haemorrhage dan keguguran janin pada wanita hamil. Beberapa gastroentriteritis dapat memacu kehilangan cairan dan terjadinya gejala kardiovaskular. vomiting. koma akan berakibat pada kegagalan pernafasan seperti pneumonitis. frozen dairy desserts dan mixes (10 mg/kg). Pengaruh pada bagian syaraf periphertal nervous system. bradycardia dan akhirnya akan mengalami haemodynamic shock. diarrhoea dan hypersalivation merupakan gejala umum yang dilaporkan terjadi. Jika pasien dapat bertahan hidup.1699).SNI 01-7152-2006 akan mengalami etythema. nausea. Penyembuhan sangat lambat apabila pasien tetap mengalami gastrointestinal symptom.080.32. Keracunan pada kulit mengakibatkan iiratasi. kategori pangan lain (4 mg/kg) (CFR 184. Minyak sasafras (sassafras oil). dan convulsions.1 Minyak sasafras dengan sinonim sassafras albidum (Nutt. Gejala kronis akibat menelan ataupun minum bagian aktif Ruta graveolens L menjukkan gejala yang sama pada keracunan akut. Minyak sasafras memiliki titik nyala 197 °F dengan gravitasi spesifik 1. Singapura melarang penggunaan minyak rue.) Ness. B.) Ness berasal dari tanaman. dan skeletal dan smooth muscles belum ada. B. 68917-09-9 Deskripsi B. Kontak senyawa aktif Ruta graveolens L dengan lidah mengkibatkan tongue irritation dan oedema yang diikuti dengan fibrillary movement. Nomor CAS.31. jaundice dan oliguria. Informasi gejala kronis akibat kontak pada bagian meta. gangguan ini meliputi jaundice. convulsions. akan tertjadi coagulation disorder yang bertalian erat dengan hepatic insufficiency. soft candy (10 mg/kg). pyperpigmentation dan bistering. sedangkan pada CNS dapat mengalami convulsion. Tidak ada pengaruh pada kelenjar endokrin meskipun terjadi gejala penurunan produksi sperma.4 Pengaturan EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. pemulihan kembali kesehatan sangat mutlak perlu tanpa adanya efek samping lanjutan. Pada pernafasan. Pasien juga akan mengalami uterine bleeding akibat pengaruh komponen Ruta graveolens L pada bagian uterus.4 Penyebab kematian Kematian dapat terjadi setelah 2 atau 3 hari setelah pasien mengalami keracunan setelah pasien mengalami gelaja akut gastro-intestinal symptomatology yang diikuti dengan gejala haemodynamic alteration. Gangguan pada liver terjadi setelah 2-4 hari mengkonsumsi ekstrak Ruta graveolens L.31.

Minyak tansi dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah. B. Aroma sasafras berasal dari safrol. pendarahan usus. dengan rasa agak asam.SNI 01-7152-2006 safrol. B. Dan 3’hydroxy-isosafrole hanya terdeteksi pada tikus. Safrol yang terdapat dalam minyak sasafras dapat merusak jaringan hati secara permanen. nafas sesak.925-0. kram. Menguap cepat pada suhu ruang.2 Fungsi lain Tidak ada. Dalam plasma dan jaringan level safrol dan hasil metabolitnya meningkat selama 24 jam. 104 dari 122 . Dapat menyebabkan aborsi.33.165 mg atau 1.33. atau dihidrosafrol. Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafaan tehambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia. Aroma seperti tansi. dan dapat menyebabkan kanker hati pada konsentrasi tinggi yang diujikan pada hewan.940.63 mg/kg pada tikus menurunkan kecepatan eliminasi. B.1 Minyak tansi dibuat dengan cara destilasi tanaman yang sedang berbunga dengan air. berbeda dengan yang terdapat Amerika dan Jerman dengan laevo-rotary (-27 °). Umumnya berwarna kuning. LD50 (akut) secara oral pada tikus 1. Minyak tansi (tansy oil).33 B. Rasa sangat pahit. Nomor CAS. dan sifat buruk lainnya yang dilaporkan terjadi pada manusia yang mengkonsumsi sassafras. yang berasal dari Amerika dalam keadaan murni berbentuk cairan jernih dengan 70% alkohol. tanaman kering 0. Pada hewan menyebabkan penyakit yang sama dengan hydrophobia (rage tanacetique). B. bumbu. Dapat pula mempercepat denyut jantung.655 mg pada manusia dan 0. hilang kesadaran. dan hepatitis. merah kulit. Larut dalam alkohol. Singapura melarang penggunaan minyak sasafras sebagai perisa.32. hanya 25% yang diekskresikan dalam waktu 24 jam.2 Fungsi lain Tidak ada. 1. India. tetapi ada yang berwarna hijau warna berubah menjadi coklat kena udara dan cahaya. Dosis 0. Dosis dari minyak 2-5 tetes. karakteristik aroma disebabkan konstituen utama tujon atau tanaseton. Rumus kimianya C10H16O.32.3 Kajian keamanan Safrol (1.2-methylenedioxy) adalah konstituen utama dari sassafras albidum (Nutt.15 g/kg.33. halusinasi. Safrol diabsorbsi melalui gastrointestinal. tetapi lebih kuat.4 Pengaturan Malaysia. mempunyai karakteristik aroma.955. B. 8016-87-3 Deskripsi B.) Ness. Pada kelinci > 5 g/kg secara dermal. paralisis.32. Minyak yang ditanam di Inggris mempunyai aroma rosemary. penyimpangan denyut jantung. radang lambung. Zat kimia yang terdapat dalam minyak sassafras bersifat karsinogenik. Gravitasi spesifik minyak yang berasal tanaman segar 0.2-dihudroxy4alliybenzen metabolit utaman dalam urin baik pada manusia maupun tikus. isosafrol.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon). serta panas.

Essence of Myrbane. NCIC60082. Waktu estimasi terpendek hasil kajian literatur adalah 1 hari (air sungai).2. air tanah dan udara pada umumnya rendah. Pada kondisi anaerob proses degradasi berlangsung lebih lambat. sementara itu pada peristiwa fotolisis tidak langsung (fotooksidasi dengan radikal hidroksil.1–1 g/liter. dan penyerapan melalui kulit selama produksi maupun pemanfaatannya. waktu reaksi sangat lambat.2 Tekanan uap pada pada suhu 20 o C: 20.16 g/m3. Nitrobenzen diproduksi secara komersial sejak awal abad 19 dengan metoda nitrisasi senyawa benzen. vol % dalam udara: 1. Oil of Myrbane. B. Konsentrasi nitrobenzen di alam seperti air permukaan. pada umumnya sangat rendah sekitar 0. Degradasi nitrobenzen di instalasi penanganan limbah berlangsung secara aerobik. lifetimes kurang dari 1 hari. yakni mencapai 67 g/liter.SNI 01-7152-2006 B.05 dan 1 g/m3 (<0.01 dan 1 µg).0022–0.33. informasi bahaya karsinogenisitas pada manusia belum ada. Akan tetapi. Mirbane oil. Pada tikus jantan terjadi peningkatan hepatocellular neoplsm. Nitrobenzene. direct fotolisis berlangsung sangat cepat (half-lives antara 2. menyebabkan nitrobenzen mudah terbawa/tercuci dari udara oleh air hujan.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaannya. UN 1662. titik leleh 6 oC. atom hidrogen atau hydrated electrons. Data yang dirilis oleh US Environmental Protection Agency padan tahun 1985 menujukkan bahwa kurang dari 25% sampel udara positif dengan nitrobenzen dengan kosentrasi 0. Dengan ozon.0 g/m3 [0. Nitrobenzen dapat mengalami degradasi karena pengaruh fotolisis maupun secara mikrobiologis. kelarutan dalam air 0. Densitas relatif terhadap air : 1. tergantung pada konsentrasi sensitizer). Densitas uap relatif terhadap udara: 4. sedikit meningkat di dearah industri (2.8-40.05 g/m3 (0.01 µg). Nitrobenzen dijumpai pada air pemukaan dan air tanah. pada penelitian nitrobenzen tidak mengalami penguapan akan tetapi tedegradasi secara menyeluruh pada tanah yang diberi limbah cair. Akibat sifat nitrobenzen kelarutannya dalam air moderat dan mempunyai tekanan relatif uap rendah. thyroid-cell adenomas dan adenocarcinomas dan renal tubular adenomas. pada mencit jantan mengakibatkan peningkatan alveolar-bronchiolar neuroplasm dan thryroid follicular cell ademonas. Nitrobenzol. terjadi peningkatan hepatocellular neoplasm. Oil of Mirbane. Kandungan nitrobenzen pada air permukaan bervariasi tergantung pada lokasi dan musim. Nitrobenzen memiliki titik didih: 211oC. Data penelitian dari penguapan nitrobenzen tampaknya bertentangan dengan model prediksi penguapan half life nitrobenzen dengan komputer yakni selama 12 hari (sungai) hingga 68 hari (eutropic lake).34 B. akan tetapi perhitungan waktu paruhnya untuk reaksi dengan radikal hidroksil antara 19 and 223 hari. Nitrobenzen memiliki rumus molekul C6H5NO2 dengan berat molekul 123. di daerah urban. Nitrobenzeen. Yugoslavia pada tahun 1990. Konsentrasi tertinggi dijumpai di sungai Danube.34. Di dalam air.2. Sedangkan pada tikus betina terjadi peningkatan pada hepatocellular neoplasm dan endometrial stromal polyps. 98-95-3 Deskripsi Nama lain dari nitrobenzen adalah Essence of Mirbane. Berdasarakan hasil percobaan fotolisis langsung di udara.40 µg]). Nomor CAS. eksplosif limit.11. Nirobenzen merupakan senyawa antara utama pada produksi anilin. Diantara 49 sampel udara di Jepang terukur kandungan niotrobenzen sekitar 0. Nitrobenzen. Flash point: 88 oC. nitrobenzen tidak dijumpai di sungai dekat dengan tempat penampungan limbah berbahaya di USA pada 105 dari 122 . Kerusakan akibat fotolisis di udara dan air sangat lambat. Percobaan dalam smog chamber dengan campuran propylene/butane/nitrogen dioxide perkiraan lifetime antara 4 and 5 hari.1 Nitrobenzen (nitrobenzen). Di beberapa kota di Amerika Serikat pada awal 1980-an konsentrasi nitroibenzen di udara berkisar antara <0. sensitisasi dengan humic acids) perannya sangat kecil (calculated half-lives antara 125 hari dan 13 tahun untuk reaksi dengan radikal hidroksil.5 and 6 hari). Akan tetapi. Rcra waste number U169. Paparan pada manusia dapat melalui pernafasan. Pada penelitian lain yang dilakukan hanya pada tikus jantan. Sejauh ini.

Pada kajian subkronik oral dan uji dermal pada mencit dan tikus. liver.3. vertigo. B.34. tampaknya air tanah lebih potensial untuk mengalami pencemaran nitrobenzen. tingkat immunosuppression turun (respon IgM terhadap sel darah merah hilang). Gejala apnoea dan kematian dapat terjadi apabila nitrobenzen temakan dalam jumlah tinggi. dan pingsan. atelectasis dan bronchiolization pada alveolar cell walls. beberapa kejadian keracunan dan kematian akibat menghirup nitrobenzen terjadi di beberapa negara.3. B. B. dan mengeras sehingga akan mengganggu produksi serum. Studi immunotoksisitas nitrobenzen pada mencit B6C3F1 mengakibatkan peningkatan cellularity spleen. pembengkakan. kulit. Potensi kajian karsinogenik dan toksisitas nitrobenzen melalui pernafasan yang diberikan dalam jangka panjang. Tingkat kematian tidak berpengaruh pada konsentrasi hingga 260 mg/m3 [50 mg/kg] untuk mencit. Organ lainnya yang menjadi target nitrobenzen adalah ginjal (peningkatan berat. dan ginjal.2 Pengaruh nitrobenzen pada kesehatan manusia Pada manusia. kerusakan pada jaringan saraf pusat pada bagian cerebellum dan batang otak merupakan ancaman kehidupannya. Oleh karena itu. Tampaknya ginjal menjadi organ target dari akibat paparan nitrobenzen.34. 106 dari 122 . khususnya pada wanita. pewarnaan tubular epithelial cells). Kandungan nitrobenzen pada air tanah dapat mencapai 210–250 hingga 1400 g/liter di USA pada akhir tahun 1980-an. meskipun di Jepang dijumpai dalam jumlah sangat kecil 4 dari 147 sampel ikan yang diuji. kelenjar susu. Liver akan membesar.SNI 01-7152-2006 tahun 1998. sementara itu bagian paru-paru mengalami emphysema. mual. Akan tetapi. mengakibatkan keracunan dan bersifat karsinogen pada kedua spesies serta mempengaruhi spektrum dari paru-paru. selama 550 hari dilakukan pada mencit jantan dan betina B6C3F1 dan betina tikus Fischer-344 dan jantan tikus Sprague-Dawley.2 Fungsi lain Tidak ada. pada wanita yang menghirup nitrobenzen ginjalnya akan mengeras dan membesar. Keadaan tersebut tidak dijumpai di USA pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1985. Pasien yang menghirup nitrobenzen dan mengalami methaemoglobinaemia akan berkurang efeknya apabila dibebaskan dari nitrobenzen dan mendapat perawatan yang memadai secara perlahan akan pulih kesehatannya. Berdasarakan informasi yang ada.34.3 B.1 Kajian keamanan Pengaruh pada hewan percobaan Nitrobenzen mengakibatkan keracunan pada bebarapa organ sel hewan percobaan. Splenic capsular lesions dijumpai pada tikus melalui gavage (melalui selang ke dalam perut) pada dosis 18. 130 mg/m3 [25 mg/kg] untuk tikus. nitrobenzen sangat mudah diabsorpsi oleh kulit. tiroid (follicular cell hyperplasia). Manusia yang tinggal di dekat tempat penanganan limbah berbahaya mungkin akan terekspos dengan nitrobenzen melalui air tanah. pigmen deposisi dan degenerasi dari olfaktori epitelium). thymus (involution) dan pankreas (mononuclear cell infiltration). nasal epitelium. lapisan bawah kulit (subkutanus) dan melalui pernafasan pada mencit dan tikus. Berdasarkan kajian ilmiah. kelenjar tiroid. Nitrobenzen tidak dijumpai pada makanan.34. batasan kandungan nitrobenzen dalam udara tidak lebih dari 5 mg/m3 (1 mg/kg).75 mg/kg berat badan per hari) dan melalui permukaan kulit pada konsentrasi 100 mg/kg berat badan per hari. Gejala necrotic pada manusia terjadi akibat menghirup nitrobenzen termasuk didalamnya sakit kepala. khususnya pada kelinci. pencemaran tanah ataupun secara tidak langsung akibat nitrobenzen yang dikonsumsi oleh tanaman. Methaemoglobinaemia terjadi akibat kontak dengan nitrobenzen melalui mulut.

4 Evaluasi bahaya Methaemoglobinaemia dan perubahan haematological and splenic terjadi pada manusia yang terekspos dengan nitrobenzen. B. India utara. Nilai kronis terendah adalah 20-hari NOEC of 1. Pada kosentrasi sebesar 0.1–1 g/l aman bagi hewan air. Borreri. akan tetapi data kuantitatif yang ada belum ada.34. bilateral epididymal hypospermia dan bilateral testicular atrophy terjadi apabila dosis yang dikenakan mecapai 5 mg/m3 (1 mg/kg) pada tikus. Nilai 96-jam LC50 berlaku untuk kosentrai 24 mg/liter untuk medaka (Oryzias latipes). B.34. Andes dan Amerika Selatan.35. pengaruh methaemoglobinaemia. Berdasarakan informasi data toksisitas akut. dengan EC50 sebesar 0. Konsentrasi toksin terendah nitrobenzen pada bakteri Nitrosomonas. konsentrasi terendah yang dapat melindungi 95% hewan air dengan tingkat kepercayaan 50% adalah sebesar 200 µg/liter.O. Pada hewan pengerat. Pada mencit. Filices. B. beberapa bagian Amerika Serikat. 142 mg/liter untuk guppy (Poecilia reticulata).1 Pakis jantan (male fern) Deskripsi Nama lain dari Male Fern adalah Male Shield Fern: Dryopteris Felix-mas (LINN).to 48-jam LC50 values) untuk kisaran 24 mg/liter untuk water flea (Daphnia magna) hingga 140 mg/liter untuk jenis keong (Lymnaea stagnalis). Afrika utara dan Afrika selatan. diantaranya affine. Fern tumbuh di seluruh bagian Eropa. dan liver carcinomas dan thyroid follicular cell adenocarcinomas dideteksi pada tikus jantan Fischer-344. Respon karsinogenik dapat dideteksi pada tikus dan mencit setelah mendapat perlakuan dengan nitrobenzen. Data lain menyatakan bahwa 72-jam no-observed-effect concentration (NOEC) dari 1. mammary adenocarcinomas dapat dideteksi pada mencit betina B6C3F1. Methaemoglobinaemia. Tidak ada pengaruhnya terhadap mortalitas atau tingkah laku pada medaka pada konsentrasi nitrobenzen 7. Untuk hewan air laut nilai akut terendah adalah 96-jam LC50 apabila konsentrasi mencapai 6. dan metoda distribusi statistik. kejadian bronchiolization dari dinding alveolar and alveolar/bronchial hyperplasia mulai dapat dideteksi apabila dosis nitrobenzen mencapai 26 mg/m3 (5 mg/kg).SNI 01-7152-2006 B. 107 dari 122 .34. berdasarkan kemampuan reproduksi adalah sebesar 10 mg/liter.6 mg/liter selama paparan lebih dari 18 hari. Tanaman ini sangat bervariasi.3.4 Pengaturan EC (European Commission)) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. Benign tumours dapat dijumpai pada kelima organ. haematological.. beberapa Negara Asia.35 B. Malaysia dan Singapura melarang penggunaan nitrobenzen. dengan nilai EC50.9 mg/liter untuk alga biru-hijau Microcystis aeruginosa. Untuk hewan air tawar dosis akut nitrobenzen mencapai (24.3 Pengaruh nitrobenzen pada mikroorganisme lingkungan Nitrobenzen bersifat racun bagi bakteri dan sangat merugikan bagi instalasi penanganan limbah apabila jumlah polutan nitrobenzen sangat tinggi. testicular pada pengujian melalui pernafasan mempengaruhi sistem pernafasannya. Sejauh ini belum ada informasi yang cukup untuk keperluan perlindungan hewan air asin. bersama dengan rasio toksisitas akut: kronis bagi jenis udang-udangan.9 mg/liter untuk protozoa Entosiphon sulcatum dan sekitar 8hari nilai lowest-observed-effect concentration (LOEC) dari konsentrasi 1. Aspidium Filix-mas (SCHWARZ). Ikan air tawar menunjukkan sensitivitas yang sama rendahnya terhadap nitrobenzen.9 mg/liter bagi Daphnia magna.92 mg/liter berdasarkan penghambatan konsumsi amonia. pumilum.7 mg/liter untuk (Mysidopsis bahia). bahkan pada konsentrasi 67 g/liter belum menjadi ancaman bagi hewan air tawar. N. Bentuk dari tanaman ini berbeda-beda berdasarkan sub spesiesnya. akan tetapi pengkajian tentang genotoksisitas mendapatkan hasil negatif.3.

B. kaku seperti pisau.35. Tangkainya coklat bersisik dan berbulu. B.36 mg/l pada suhu 25°C.36. mempunyai banyak rambut atau bulu di sekitar daun. Serbuk atau ekstrak cairan dapat diterima tetapi ekstrak ethereal atau oleoresin yang diberikan dalam bentuk pil adalah lebih baik. resin. gravitasi spesifik 0. Dalam akar (rhizome) juga mengandung tannin. p-Propilanisol dilaporkan terdapat secara alami di alam. ppropilanisol memiliki titik asap 185°F. ekstrak cairan 1-4 drachms. Biasanya diberikan pada malam hari setelah beberapa jam berpuasa untuk melakukan pembersihan seperti halnya castrol oil. filicin). Ekstraksi pakis jantan dengan eter menghasilkan ekstrak berwarna hijau gelap. antelmintik. p-Propilanisol diperoleh dengan cara hidrogenasi dari gugus propenil dalam anethol. akar dari pakis jantan banyak digunakan sebagai obat cacing (fermivuge). Dosis yang diberikan biasanya sangat kecil karena jika terlalu besar akan terjadi keracunan iritasi. B.P. Beberapa daun itu lebar. 108 dari 122 . Mahkota akarnya berwarna coklat.36. dicampur dengan madu atau sirup atau setengan cangkir teh hangat. B. B. Singapura melarang penggunaan pakis jantan sebagai bahan perisa. Obat dalam bentuk serbuk dosisnya bervariasi dari 60-180 grains. dan koma serta dapat melukai penglihatan mata dan dapat menyebabkan kebutaan. Ekstraksi dengan eter merupakan antelmintik terbaik untuk membunuh cacing pita.4 Pengaturan EC (European Commission ) dan IOFI (International Organization of The Flavour Inustry) tidak membatasi penggunaan pakis jantan. B. Ekstrak pakis jantan dalam bentuk oleoresin. zat pewarna dan gula (pemanis). mengandung 30% filicin. Pemberian dosis tunggal akan dapat mengobati dalam sekali.35. digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. ekstrak ethereal.1 methoxy-4-propyl atau Dihydroanethole atau 1-Methoxy-4-propylbenzene atau Methylp-propylphenyl ether atau 4propylmethoxybenzene.2 Fungsi lain Pada zaman dulu.3 Kajian keamanan Sediaan dan pemakaian dosis serbuk dari akar adalah 1-4 drachms.2 Fungsi lain Tidak ada. 45-90 drop. Minyak pakis jantan bermanfaat sekali sebagai konstituen pada minuman (5%-10% Filmaron. kelarutan pada air (hasil perhitungan 63. Tanaman ini mempunyai akar (rhizoma) yang pendek.36 p-Propilanisol (p-propylanisole) B. 5%-8% asam filic.942.1 Deskripsi Nama lain dari p-propilanisol P-propylanisole atau benzene. lemah. gemuk dan merambat di sepanjang permukaan tanah atau di bawah tanah. Ekstrak ethereal atau oleoresin yang dikemas dalam bentuk pil memberikan bau yang lebih enak daripada dalam bentuk bubuk (powder) dan ekstrak dalam bentuk liquid.35.SNI 01-7152-2006 abbreviatum dan elongatum.

Pulegon diakui oleh FDA sebagai perisa (21 CFR 172. 109 dari 122 .3 B. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).515). Pengaturan B. Pulegon memiliki nama kimia p-Menth-4(8)-en-3-one dan nama lainnya adalah delta-4(8)-p-. Langkah A4 :p-propilanisol tidak tergolong senyawa endogenous. JECFA : tidak adanya kajian keamanan yang diperkirakan terhadap asupan bahan makanan (901. Pulegon mempunyai titik didih 224 0C.2 Fungsi lain Tidak ada. 5-methyl-2-1-(1-methylethylidene)-. Langkah A5 :Data NOEL dari substansi terkait p-propenilanisol (trans anethol) dapat digunakan untuk p-propilanisol karena melalui jalur metabolisme yang sama. FEMA : secara umun pulegon aman sebagai bahan perisa (GRAS 3 (2963). Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) b) c) d) Langkah 1: p-propilanisol tergolong kedalam sturtural kelas III. Langkah A3: Asupan dari p-propylanisole di Eropa (23 mikrogram/orang/hari) dan di USA (114 mikrogram/orang/hari) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas III yaitu 90 mikrogram.®-. 89-82-7 Deskripsi Nama lain dari pulegon antara lain Cyclohexanone. p-Menth-4(8)-en-3one. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).37. Data NOEL dari p-propenilanisol (300 mg/kg berat badan per hari) adalah 100000 kali lebih besar dari estimasi intake p-propilanisol di Eropa (0. USA menyaakan bahwa p-propilanisol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA no 2930. 1-Methyl-4-isopropylidene-3-cyclohexanone. Komite memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. Pulegon dimasukkan ke dalam daftar bahan makanan oleh dewan Eropa.61).1 Pulegon (pulegon).001 mmHg 2 0C dan kelarutan dalam air 173. titik api 190 oC.3. tekanan uap <0. tidak terdapat dalam edisi ke 4 karena belum diketahui (COE No. delta-4(8)-p-Methene-3-one.5-Methyl-2-(1-methylethylidine) cyclohexanone. B. 1Isoprophylidene-4-methyl-2-cyclohexanon. Pulegon (No 753) mengandung rantai samping isopropiliden dan metabolit prinsipal dari pulegon adalah mentofuran (No 758). SCCNFP: Pulegon dan mentofuran tersedia. Langkah 2: p-propilanisol diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa innocuous. B.36.4 JECFA memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. pulegone.1 Kajian keamanan Kajian toksikologi p-propilanisol telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.36. Nomor CAS.930.4 mikrogram/berat badan perhari) dan di USA (2 mikrogram/berat badan per hari).7 mg/l pada 25 0 C.37. gravitasi spesifik 0.SNI 01-7152-2006 B. 2050). India melarang penggunaannya dalam substansi perisa. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Senyawa pulegon (no 753) dimasukkkan kedalam kelas struktural II. JECFA no 1244.36.37 B.

minuman dengan perisa peppermint atau mint (250 mg/kg) .37. berat jenis 1.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan pulegon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.515 mengizinkan penggunaan pulegon. USA melalui FDA dalam CFR 172.1 Safrol (safrole). 237 dan <225 nm dan kelarutannya di dalam air menurut hasil perhitungan adalah 75. Safrol merupakan konstituen utama dari minyak sasadfras (Sassafras officinale Ness & Eberm) dan merupakan konstituen minor pada beberapa essential oil lainnya. papermint atau minuman beraroma mint (100 mg/kg). Senyawa yang terkait dengan safrol adalah isosafrol (1. yaitu 0. produk minuman lainnya (100 mg/kg).38. 94-59-7 Deskripsi Safrol memiliki rumus molekul C10H10 O2 dengan bobot molekul 162.5-(2-propenyl)-3. Isolasi safrol dilakukan dengan proses destilasi dan/atau proses pembekuan dari minyak (essential oil) yang tinggi kandungan safrolnya seperti Cinnamomum micranthum. titik leleh 110C. Nilai NOEL ini lebih besar dari 1000 kali asupan pulegon hanya sebagai senyawa perisa sebesar 0.19 dan nama kimia 4Allyl-1.98 mg/l yang diukur pada suhu 250C. Sedangkan Malaysia mengatur keberadaan pulegon dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan.4-Methylene dioxyallylbenzene atau Safrol. Senyawa terkait lainnya adalah dihidrosafrol (1.1% pulegon. Octea cymbarum dan Sassafras. Batas maksimum pada komoditas pangan (25 mg/kg). (level yang lebih tinggi ditemukan pada aroma mint yang lebih kuat). Sifat fisik yang dimiliki safrol diantaranya titik didih 2340C. Minuman selain minuman beralkohol. papermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg).Nomor CAS. puncak UV Absorbance pada 290 . makanan olahan (25 mg/kg). NOEL yang sebesar 40 mg/kg bb/hari untuk nefropati diperoleh berdasarkan tetesan hialin dosis tinggi setara dengan NOEL 0. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.44 mg/kg bb per hari pada studi 90 hari > 10000 kali perkiraan asupan harian pulegon sebagai perisa.3-Benzodioxole.37. Hal ini berdasarkan pada tahap B3 bahwa asupan tidak melebihi ambang batas untuk manusia dimana Eropa dan USA masing-masing memiliki ambang batas 2 µg/hari.3 Kajian keamanan Dianggap aman berdasarkan pohon pemutusan (decision tree). Toksisitas pulegon yang lemah pada dosis rendah terlihat dari percobaan yang berlangsung selama 90 hari pada tikus yang diberi diet mengandung minyak pepemin yang mengandung 1. dan produk makanan lainnya (25 mg/kg). konfeksionari mint (350 mg/kg).097. titk nyala >2000F.44 mg/kg bb/hari (26 mg/orang/hari) untuk pulegon.033 µg/orang/hari.2-methylenedioxybenzene-4-propylbenzene) yang belum diketahui keberadaannya secara alami tetapi terbentuk pada pembuatan piperonyl butoxyde.2-methylene dioxybenzene atau 1. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. B. shandy. minuman (100 mg/kg) kecuali pada peppermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg) dan konfeksionari mint (350 mg/kg).SNI 01-7152-2006 B.2-methylenedioxy-4-propenylbenzene) yang terdapat secara alami sebagai bagian minor dari essential oil dimana terdapat pula safrol. B. Australia dan New Zealand di dalam FSANZ menetapkan pulegon sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (350 mg/kg). Selain itu juga berdasarkan tahap B4 yang menunjukkan adanya nilai NOEL untuk senyawa dan kerabatnya.38 B. 110 dari 122 .

481-06-1 Deskripsi Nama lain dari alfa-Santonin adalah Naphtho[1. Naptho(1.4-dien-12-oic acid.5. (-)-Santonine.2b]furan-2. Pada tikus besar. γ-lactone.8(3H. S.4H)dione.8-trimethyl-7-oxo-2-naphthalene-acetic acid γ-lactone.4a. 1.3aα. α-Santonin memiliki berat molekul 246.38.2 Fungsi lain Tidak ada. 3a. B. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.9-Trimethyl-3a. 111 dari 122 . Typhimurium dengan atau tanpa proses aktivasi.5a.l-Santonin.8(3H. 180).4. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.2.5a. produk yang berasal dari daging (10 mg/kg).5a. .coli.9-trimethyl. Safrol bersifat inaktif dalam studi mutagenitas yang menggunakan berbagai strain mikroba S.5a. B.9b-Tetrahydro-3. Batas maksimum pada komoditas pangan (1 mg/kg). cerevisiae dan intraperitoneal host mediated assay (in vitro). 11-Epiisoeusantona-1.9bβ)]-.7-Hexahydro-1-hydroxy-α.9btetrahydro-3.[3S-(3α. Ekspos tikus terhadap safrol dalam uterus menghasilkan renal epithelial tumours. pengecualian pada produk minuman beralkohol dengan kadar dibawah 25 %vol (2 mg/kg) dan minuman beralkohol dengan kadar diatas 25% vol (5 mg/kg) serta pada pangan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg). pemberian safrol secara kronis menghasilkan progressive dosedependent liver damage yang meliputi hepatic cell enlargment. Sedangkan India menetapkan safrol boleh terdapat secara alami pada berbagai artikel pangan dan tidak melampaui batas (10 mg/kg).9-trimethylnaphtho[1.5aβ. Santoninic anhydride. [3S-(3α. Semenen.5. Pemberian safrol terhadap tikus baik secara oral maupun subkutanus yang menuju marked increase pada kejadian tumor hati.5a.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentrarius Commission) tidak membolehkan penambahan safrol dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.8(3H. l-α-Santonin.5a.4H)-dione.38.3aα.4H)-dione.9bβ)]-3a.38. (-)-Santonin.5a. minuman (1 mg/kg).4-dienic acid. 6αhydroxy-3-oxo-.9-trimethyl-.2b]furan-2.5aβ.9b-tetrahydronaphtho[1. Demikian pula Malaysia dan Singapura juga melarang penggunaannya dalam makanan. Safrol menunjukkan hasil positif pada mutagenik assay (in vitro) dengan menggunakan E.2-b)furan-2. 4a.5a.1 alfa-Santonin (α-santonine).9b-tetra-hydro3. B.3.4H)-dione.2-b]furan-2.3. 3a. Tidak ada kejadian tumor hati pada anjing yang diberi asupan safrol selama 6 tahun namun terjadi perubahan terhadap fungsi hati yang meliputi bile-duct proliferation. USA melalui FDA melarang penggunaan safrol dalam produk pangan (CFR 189. nodule formation.8(3H.3 Kajian keamanan Safrol dan Isosafrol diberikan pada tikus besar yang dapat menyebabkan liver hypertrophy dan mikrosomal enzymes.30 dengan rumus molekul C15H18O3. minuman beralkohol (5 mg/kg). (11S)-.5.SNI 01-7152-2006 B. Nomor CAS.39 B.cirrhosis adenomatoid hyperplassia sampai benign and malignant tumours.5.39. Santonin. 6α-hydroxy-3oxo-. Eudesma-1. Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan safrol sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: makanan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg). γ-lactone. produk pangan lainnya (1 mg/kg). (-)-α-Santonin.

dapat mengakibatkan ilusi warna. Pada penelitian berikutnya. 1973). pada mencit – ip pada mencit – iv pada mencit – oral pada manusia (dosis terendah) Dosis 1 mg/kg dalam minuman beralkohol dengan kurang dari 25% volume alkohol memiliki efek negatif pada kesehatan.4 g/kg bb sinamil antranilat dalam tricaprylin pada mencit. 3-phenyl-2-propenyl 2-aminobenzoat.2 Fungsi lain Tidak ada. penggunaan dosis toatal 12 g/kg bb atau 2.3 B. B. warna jingga. Sinamil antranilat (cinnamyl anthranilate).39. cinnamyl ester.SNI 01-7152-2006 B.3.40.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan santonin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Cinnamyl anthranilate atau dengan nama lain antrhranilic acid.39. Nomor CAS.51) (Stoner et al. minuman (0.helmintik (mencegah parasit). B.40. 112 dari 122 .39.40 B.40. 1973). = 900 mg/kg. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. cinnamyl alcohol anthranilat. Malaysia melarang penggunaan santonin dalam makanan. = 180 mg/kg.31) (Stoner et al.40 g/kg bb secara intraperitonial pada mencit menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 17/30 (2.18 dan 0. B.1 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) = 130 mg/kg. Santonin bersifat sebagai anti.3 B.40.1 a) b) Kajian keamanan Pengujian karsinogenisitas Dosis 12 g/kg bb atau 2. 3phenyl-2-propenyl-anthranilat memiliki nama kimia: 3-phenyl-2-propen-1-ol.1 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol diatas 25% volume (1 mg/kg).39. B. = 15 mg/kg. 87-29-6 Deskripsi B.1 mg/kg). Batas maksimum untuk komoditas pangan (0.41 dan 1.2 Fungsi lain Tidak ada.1 Sinamil antranilat merupakan perisa sintetik yang telah digunakan dalam produk pangan semenjak tahun 1985. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Sampai saat ini belum diperoleh informasi tentang keberadaan senyawa ini secara alamiah. 2aminobenzoat. Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan santonin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg. menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 13/30 (1.3.

a) b) Sinamil antranilat yang diberikan pada mecit jantan dan betina secara intraperitonial menyebabkan tumor paru-paru. 1975). 3000. 10000 dan 30000 mg/kg (0.40.5% sinamil antranilat tidak mutagenik terhadap Salmonella galur TA-1535. Begitupula dengan tikus dengan perlakuan yang sama.3.3. 0.2. 0. (NCI.2 B. 113 dari 122 .05.. dosis tinggi 30/49) dan hubungan hemosiderosis limpa dengan dosis yang diberikan pada tikus betina (kontrol 8/47. TA-1537. 0. selain itu terjadi pula karsinoma hepatoselular dan adenoma. dosis tinggi 41/50). 0. B. 1980).1. 0.0 mg/telur. Pada dosis rendah. 1.02. dan TA-1538 dan Saccharomyces cerevesiae D4 dengan dan tanpa aktivasi (Litton Bioneticks Inc.25. Terdapat hubungan mineralisasi pada ginjal denagn dosis yang diberikan pada tikus jantan (kontrol 0/48.0 mg/telur) dan inkubasi 96 jam dengan tingkatan dosis: 0. tak teramati adanya tumor. Tak ada korelasi jumlah dosis dengan kerusakan pada necropsy (NCI.5.40.5 dan 0.1 2.2 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Sinamil antranilat yang terlarut dalam alkohol dimasukkan ke dalam embrio ayam melaui dua jalan yaitu melalui sel udara dan kuning telur. dan 0. Begitupula pada tikus. dosisi rendah 17/50. Teramati abnormalitas pada keempat kondisi tersebut.40. 0.40. B. tidak terjadi efek yang signifikan terhadap angka kematian. 1975). dengan jumlah diet yang sama menyebabkan tumor pada ginjal dan pankreas. Neoplasma sel acinar pada pancreas terjadi pada tikus jantan sebesar 3/45 (7%) yang diberi dosis tinggi.4.3. 1000.40.SNI 01-7152-2006 c) Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg dietn(1/2 MTD) pada mencit jantan dan betina selama 103 minggu menunjukkan penurunan berat badan.2. 1980).3 Toksisitas akut (LD50) = 5000 mg/kg bb(Opdyke. dosis rendah 28/50.4 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet pada mencit dengan dosis 0. pada tikus–oral pada kelinci-dermal B. Pengujian mutagenisitas Metode ames d) e) B.2. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg diet (1/2 MTD) pada tikus jantan dan betina menunjukkan penurunan berat badan. = 5000 mg/kg bb (Opdyke. 2. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet (MTD dan ½ MTD) pada mencit menyebabkan hepatoselular karsinoma dan adenoma. Pra inkubasi (0 jam dengan tingkatan dosis: 10.3.3. 5.3. 0.1. 1976). 1 dan 3%) selama 6 minggu menunjukkan tidak terjadi kematian dan penekanan berat badan yang lebih besar dibandingkan pemberian dosis 10% kecuali pada mencit jantan dengan dosis diet makanan sinamil antranilat 3000 mg/kg (3%). Terjadi adenokarsinoma atau adenoma sebesar 4/39 (8%) pada tikus betina dengan dosis tinggi.

1 Tujon (thujone). Senyawa ini dapat menstimulasi reaksi ginjal untuk menaikan kadar dan memproduksi mild diaphoresis. memperbesar kekuatan kontraksi otot jantung. dan menyebabkan tekanan mental. Bentuknya cairan minyak yang konsisten dan tidak berwarna. 6917-37-9 Deskripsi Rumus kimia spartein adalah C15H26N2. Spartein dapat mengakumulasi sangat banyak gas pada saluran pencernaan. dengan atau tanpa aktivasi.42. 546-80-5 Deskripsi Tujon mempunyai rumus kimia C10H16O berupa keton terpenoid dalam dua bentuk stereoisomer dan dikenal sebagai α-thujone dan β-thujone. netral. meningkatkan tekanan arteri. Tujon berbentuk minyak dengan 114 dari 122 .41. Typhimurium.4 Pengaturan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaan spartein pada minuman beralkohol sebesar 5 mg/kg. deliquescent. ADI belum ditetapkan Pengaturan B. Dosis.1 mg/kg.1 Spartein (Sparteine) Nomor CAS. Bukan obat tradisional yang dipercaya pada semua kasus. Spartein adalah obat yang biasa dipakai di rumah untuk lemah jantung dengan feeble-ness otot. pahit.4 USA dalam CFR 189. Merupakan kristal atau bubuk putih. Nomor CAS. Digunakan pada penyakit Graves. Berguna untuk jantung berdebar dari ketegangan dan lelah. larut dalam alkohol.2 Fungsi lain Tidak ada.41.41 B.113 dan India melarang penggunaan sinamil antranilat dalam produk pangan. sepersepuluh sampai setengah biji.42 B.40. Spartein sulfat adalah produk kristal dari reaksi asam sulfat dengan spartein. B. atau dari mother liquor setelah precipitating scoparin. menghilangkan dropsical effusions yang dihasilkan dari feebleness dari sirkulasi. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan spartein sebagai natural toxicant. dan meningkatkan pergerakan darah ke arteri.3 Kajian keamanan Senyawa ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada pusat syaraf sampai ke hati. Dapat mempercepat denyut nadi. dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 5 mg/kg dan produk pangan lainnya dengan maksimum level 0. larut dalam air dan alkohol. catharsis dan akhirnya kelumpuhan otot-otot organ pernafasan dan pusat motorik. dapat menghasilkan getaran otot. Senyawa ini terurai selama proses pengeluaran urin atau pada pudendum dimana aliran urin sebesar-besarnya. B.41. tidak berbau.SNI 01-7152-2006 c) Sinamil antranilat tidak mutagenik pada galur tertentu S. Jantung dihentikan pada sistol. muntah. incoordination. B. Dalam jumlah yang berlebih. Senyawa ini bersifat diuretik.41. eter dan kloroform. B. Senyawa ini diperoleh dari destilasi infus konsentrat pucuk cytisus scoparius. B.

Batas maksimum untuk komoditas pangan (0. radang lambung. denyut nadi melemah dan pembesaran luas pernafasan (augmentation of respiratory amplitude).5 mg/kg). daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 1. minuman beralkohol dengan kadar diatas 25 % volume (10 mg/kg). tujon dapat menyebabkan epilepsi yang didahului secara umum oleh fase pembesaran dimana beresiko pada tekanan darah. tujon memperlihatkan sedikit pembesaran pergerakan dan depresi terhadap aktivitas pada dosis 3 mg/kg i.p. dimana daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 960 mg/kg (oral).42. Minuman beralkohol (10 mg/kg) dan produk pangan lainnya (0.2 Fungsi lain Tidak ada. merah kulit.5 mg/kg). dan hepatitis.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak memperbolehkan penambahan tujon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Untuk (+)-3-tujon diuji aktivitas psikotropik pada mencit dengan menggunakan serangkaian koordinasi dan studi kelakuan dan juga untuk anti nyeri (analgesik) dan hipnotis. Makanan berperisa sage (25 mg/kg).50C/9 mm sedangkan β-tujon. pangan olahan lain (0. minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% v/v alkohol (5 mg/kg).5 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% volume ( 5 mg/kg). sedangkan pada kelinci >5 g/kg (kulit). Saliva spp. Minyak tansy dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah. Bitters (35 mg/kg).5 mg/kg). pendarahan usus. Untuk minyak dari wormwood (Artemisia absinthium) sebagian besar mengandung thujon. makanan yang mengandung sage (25 mg/kg). dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.42.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon). Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan tujon (alfa dan beta) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: sage stuffing (250 mg/kg). Minuman selain minuman beralkohol dan shandy (0. B. Malaysia menetapkan keberadaan tujon dalam makanan tertentu sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. sage stuffing (250 mg/kg).5 mg/kg). B. Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafasan terhambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia. B. α-tujon memiliki titik didih sebesar 74. hilang kesadaran. minuman (0. aritmia jantung.SNI 01-7152-2006 aroma yang menyerupai mentol dan terdapat dalam tanaman Artemisia spp.p dan penyelidikan kelakuan pada dosis 24 mg/kg i.15 g/kg (oral) sedangkan pada kelinci >5 g/kg (dermal). Pada dosis rendah. Toksisitas pada aktivitas obat-obatan. Tanacetum (tansy) Thuja spp dan Cedris spp dengan proporsi yang bervariasi. sesak nafas. bitters (35 mg/kg). Juniperus. Sedangkan India melarang penggunaan tujon pada berbagai artikel pangan. titik didih sebesar 760C/10 mm. kram pada lambung/usus. 115 dari 122 .42. minuman beralkohol dengan kadar lebih dari 25% v/v alkohol (10 mg/kg).

Diethylene glycol. 50th Session. availabel at:http://www. R. U. 2003.thorne.. Consleg 1995L0002 – 29/01/2004. and Cladwell. G.com/altmedrev/fulltext/berb. (1):2. L 409/31. Unpublished report bya British Industrial Biological Research Association. Borris. Produced by the Consleg System. and Grasso.htm. 175181. P. General Requirements for Natural Flavourings. Codex Alimentarius Commission.S. T. Singapore Food and Agriculture Import Regulations and Standards Country Report. Berberine: Therapeutic potential of an alkaloid found in several medicinal plants. Cedar Vale Natural Health. Code of Federal Regulation 21. Potential antimutagenic activity of berberine. Australian Food Standards Code Flavourings.html.. Enviromental Protenction Agency. 831-836.pubmedcentral.Kandikonda S. R. CAMEO®. Cade http://www.. No. Flavourings and Flavouring Enhancers. National Oceanic and Atmospheric Administration.gov/ceppo. Part 1 – Birsdall. Kelly. GAIN Report #SN3005. K. F.. Brennan. R. Gaunt.SNI 01-7152-2006 Bibliografi Ahuja P. Department of Agriculture. Committee of Experts on Flavoring Substances. A. (2002). P. prohibited from use in human food.net/essentialsoils/cade. a constituent of Mahonia aquifolium. De Milo. Mutat. and Schiestl. 2000. U. 30 (10). Official Journal of the European Communities.fcgi?artid=101396. BMC Compllementary and Alternative Medicine. 22 January 2003. J. Record. N. Toxicol.S Food and Drug Administration Parts 189.S. (1975) A nine month toxicity study of diethylene glycol monoethyl ether in the ferret. CAC/GL-29-1987. 2002. Comparative induction of unscheduled DNA synthesisi in cultured rat hepatocytes by allylbenzenes and their 1’-hydroxy metabolites.. Council Directive 92/115/EEC of 17 December 1992.. Chemical land. J. Herbal medicines and Dietary Suppplements Potentially Toxic Herbs. A. Chan. I. Vanderbilt University School of Medicine. Consolidated Text. 1996. B.W. Available at: Center in Molecular Toxicology. 369. Available at: http://www. H. Calamus Oil (Acorus Calamus).S. 116 dari 122 . V. Available at: http://www.. U. B.. 2003.gov/articlerender. Council of Europe. Food Chem.epa.S. Khrimian. Office for Official Publication of the European Communities.C. 1999-2003. Saturated and Monofluoro Analogs of the Oriental Fruit Fly Attractant Methylegenol Show Reduced Genotoxic Activities in Yeast.nih. oil.cedralvale. Amending for the First Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. Res. Voluntary Report-public distribution. Liquido. BMC compliment altern med.. 1987.. J. 1992. Butterworth.

European Commission. 9 April 2003.00. European Commission.. 8 Januari 2002. 29 September 1999. Sparteine. European Commission. Drug Digest. Drugs and Vitamins. Sientific Committee on Food. SCF/CS/FLAF/61 Final. 8 Januari 2002. 26 September 2001. Opinion of the Scientific Committee on Food on Methyleugenol (4-allyl-1. 2 September 1980. 117 dari 122 . SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/9 ADD1 Final. Sientific Committee on Food. Opinion of the Scientific Committee on Food on Benzyl Alcohol. Sassafras. European Commission.SNI 01-7152-2006 Council Directive of 13 June 1988. Ellingwood. Sientific Committee on Food. 1976. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/3 ADD2 Final. Drug Digest. Communication on the EEC Commission ENV/521/79 and IARC Monograph Vo. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/30 Final. Official Journal of the European Communities No.drugdigest. Opinion of the Scientific Committee on Food on Estragole (1-allyl-4-methoxybenzene).552413. Opinion of the Scientific Committee on Food on the presence of β-Asarone om flavourings and other food ingredients with flavouring properties.org/DD/Printable/herbMonograph/0. Opinion of the Scientific Committee on Food on Isosafrle.2-dimethoxybenzeme). 25 Juli 2002. Amending for the Third Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. Sientific Committee on Food. 17 September 2002. 25 Juli 2002. Official Journal of the European Communities No. European Commission. Opinion of the Scientific Committee on Food on Pulegone and Menthofuran. In flavourings and other food ingredients with flavouring properties. pharmacognosy. European Commission. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/4 ADD1 Final. SCF/CS/FLAF/78 Final. 22 June 1988. L 331/10. Directive 94/52/EC of The European Parliament and of The Council of 7 December 1994.. L157/28. Sientific Committee on Food.html. European Commission. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/29 Final. Opinion on Coumarin. 88/388/EEC. Opinion of the Scientific Committee on Food on the Presence of hypericin and extracts of Hypericum sp. On the Approximation of the Laws of The Member States Relating to Flavourings for Use in Foodstuffs and to Source Materials for their Production. (1919). 10. Sientific Committee on Food. Amending for the Second Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. 26 September 2001. safrole and on the similarity of the biological activity of these substances. On The Approximation of the Laws of the Member States on Extraction Solvents Used in the Production of Foodstuffs and Food ingredients. Avalable at: http://www. Sientific Committee on Food. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/6 ADD2 Final. F.11475. Opinion of the scientific committee on food on quassin. EEC. The American materia medica. 231-244. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/5 ADD1 Final. Council Directive. therapeutics and European Commission. Sientific Committee on Food. European Commission. L 331/7. Official Journal of the European Communities No. Sientific Committee on Food. Drug Library. Directive 97/60/EC of The European Parliament and of The Council of 27 October 1997.

Food Cosmetics Toxicology. a.U.com/botanical/mgmh/t/tansy-05. IOFI Guidlines for The Production and Labelling of Process Flavourings. Updating the SCF Opinion of 1994.. IARC Summary and Evaluation. INCHEM. Council of Europe Publishing.vet.. L. Food Technology. 118 dari 122 Available at: .botanical. 1st Januari 1999. Tansy. Ethyl 3-phenyl glycidate.. F. 263-268. Grieve. Dispensatory. Lansdown.W. III. 1997. Modern herbal. IPCS. 12 November 2001.65. D. Program. 47-50.. vol. List of Carrier Solvents and Supports for Flavourings.com. F.S. Kings Americans The FEMA GRAS Food Act 1983 (Act 281) and Regulations. 1995. Sassafras Fragrances. INCHEM. Hall.mgmh/b/bircom43. S.. Toxicol. Opinion of The Scientific Committee on Food on 3-monochloro-Propane-1.purdue. Cinnamyl Anthranilate. Horozon Aromatics. Biol. Matters Dealing with Thermal Process Flavourings. G. 689-705. Flavour and Extract Manufacturers Association of the United States. Oser.2-Diol (3-MCPD). Oleum Tanaceti Oil of Tansy. (1898).E. and Fairweather. H. Henriette’s Herbal Hompage. DG Sanco Working Document. (1968) Short-term Toxicity of Diethylene glycol monothyl ehter in the Rat. Summaries and evaluations Nitrobenzene. Birch. (2000). Code of Practice for The Flavour Industry. 1965. J. July 2002. On Flavourings and Food Ingredients with Flavouring Properties for Use in and on Foods. Food Cosmet. Laws of Malaysia. IOFI Guidlines for The Preparation of Smoke Flavourings. [Pharmacologic activity of the aqueous wood extract from Quassia amara (Simurabaceae) on albino rats and mice] Rv. 4. Grieve M. IOFI Guidlines for Safety Evaluation of Thermal Process Flavourings. Vol. Pennyroyal Oil. Common Tansy Hall. Trop. European Commission. M. FCC IV. IPCS. (1983).. Recent progress in the consideration of flavoring ingredients under the Food Additives Amendment. Adopted on 30 May 2001. INCHEM. GRAS substances.. (1996). B.. 151-197. F. Botanical.html.SNI 01-7152-2006 European Commission.com/botanical. 6.html.edu/depts/addl/toxic/plant12. IOFI. IPCS. IPCS. Colley. Gaunt. 77. P. vol. Regulation of the European Parliament and of the Council. SCF/CS/CNTM/OTH/17 Final. Grasso. I. http://www... Cinnamyl Anthranilate. Austin. Diethylene glycol. 19. Felter. 44-45. S. M. P. INCHEM. Monograph Specifications. (1996) “Short term feeding study with diethylene glycol monoethyl ether in rats” . JECFA evaluations 2-Butanone. Mouse and Pig. IOFI. p. IARC Summary and Evaluation. 12 November 2001.A. 31. Available at: http://www. Gonzalez. M. Lee. Lloyd. L.. Pazos. C. International Flavours and Fragrances. and Gangolli. G. International Agency for Research on Cancer (IARC). D. Garcia.botanical. Common. IOFI Flavour Information 23 March 2004 Tabs 1-12. S.. http://www. L. 381.htm. B. J. R.

IPCS. INCHEM. Benzyl Alcohol. WHO Food Additives Series 30. JECFA Reports Results of 1996. ICSC: 0554. INCHEM. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. INCHEM. JECFA Evaluations Hydrocyanic Acid. Isopropyl Alcohol. 12 November 2001. IARC Summary and IPCS. (1982). INCHEM. WHO Food Additives Series 16. INCHEM. INCHEM. WHO Food Additives Series 22. INCHEM. JECFA evaluations Thujone. Isopropyl Alcohol. 1989. 119 dari 122 . IPCS. 1981. JECFA evaluations Estragole. INCHEM. 2001. 12 November 2001.inchem. IPCS. Smoke Flavourings. INCHEM. Cocaine. Evaluation. and 1999 Meeting. Estragole. IARC Summary and evaluation. IPCS. INCHEM. 32. 12 November 2001. Coumarin. Availabel at: IPCS. IPCS. WHO Food Additives Series 16. WHO Food Additives Series 30. INCHEM. INCHEM. 10. and 2002 Meeting. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. 12 November 2001. 12 November 2001. WHO Food Additives Series 10. (1976). 12 November 2001. INCHEM. 35th session.SNI 01-7152-2006 IPCS. JECFA evaluations Benzyl Alcohol. β-Asarone. JECFA. http://www.org/documents/pims/chemical/pim290. Pulegone and related substances. 16. IPCS. IPCS.inchem. INCHEM. Safrole. IPCS.available at: IPCS. Cinnamyl Anthranilate. Published in FNP 19.htm. WHO Food Additives Series 16. INCHEM. WHO Food Additives Series 28. IPCS. IPCS. JECFA. INCHEM. Vol. IPCS. (1983). JECFA evaluations Benzo[a]pyrene. JECFA Reports Results of 2003 Meetings. WHO Food Additives Series 16.JECFA evaluations Eugenyl methyl ether. vol. PIM 290.htm. Diethelene Glycol Monoethyl Ether. 12 November 2001. Ruta graveolens L. 1976. WHO Food Additives Series http://www. Isosafrole and Dihydrosafrole. JECFA. INCHEM. Benzo[a]pyrene. Benzo[a]pyrene. 10. vol. INCHEM. IPCS. http://www. Safrole. Quinine. International Agency for Research on Cancer (IARC). 1998. Dihyrocoumarin. IPCS. 12 November 2001. IPCS. IARC Summary and evaluation. International Agency for Research on Cancer (IARC). INCHEM. INCHEM. ICSC: 0065. JECFA evaluations p-Propylanisole. IPCS. Nitrobenzene. Published FNP25 supersending the earlier spesifications published in FNP19 (1981). WHO Food Additives Series 46. IPCS. ICSC: 0833.htm.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v16je10. INCHEM. Available at: IPCS. IPCS. PIM 139. IPCS. INCHEM. Coumarin. 1993. INCHEM. JECFA reports Results of 2000. INCHEM. IPCS. IPCS. INCHEM.org/documents/jecfa/jecmono/v16je04. INCHEM. IPCS. 1997.

Journal of pharmaceutical and biomedical analysis. M.Cosmet.Toxicol. RIFM – FEMA Database. M. 23. pp. FDA Contract No. Special issue II. Bioassay of cinamyl anthranilate for possible carcinogenicity. R. Risk of hydrocyanic acid release in the electroplating industry. 2-Butanone. Antifertility activity of quassia amara in male rats in vivo study. Cinnamyl anthranilate (Litton Bionetics Inc. J. 751-752. Elsevier. N. National Cancer Institute.SNI 01-7152-2006 JECFA. A. RIFM – FEMA Database. 1067-1074. Koch. M. R. Mutagenicity evaluation of compound FDA 73-59. No.. L. (2003).. Fd. Institut de Physiologie de I’Université. Carron.org/jecga/additive_specs/docs/0/additive-0181. Benzyl Alcohol. Litton Bionetics Inc. Katzer G. Allergy to quinine and tonic water.I No.] Wild. No. inc. Moran. M. Availabel at: http://apps3. 395-396..05. 61. Journal of Ethmopharmacology. 120 dari 122 .N. Peraturan Menteri Kesehatan R. Cinnamyl anthranilate.. p.. 14. European Communities (Flavourings for Use in Foodstuffs). Tonka Bean (Dipteryx odorata [Aubl. p. 04/M-DAG/PER/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya Piccinini. A.A. 13. G. Ruggiero. Metabolism of aloin the influence of nutrition. (2000). and Roman.J. 1-10. A. Report problems and Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK. 2001. 1975. 1335-1338. (1997). 2000. NTP No.. p. J.F. D. D. 285-290. suggestions. 1975. 71. No. Raji. Balai Pustaka. 395-407. 1963.5.fao. Edisi Ketiga. 14.. Noveon.). Milan. Carcinogenesis Technical Report Series No. (1988). Mallinckrodt chemical.org/jecfa/additive_specs/docs/0/additive-0355. 23 Januari 2004. Y. and Bolarinwa. Dihydrocoumarin Flavouring. Ethyl Phenylglycidate. Moneret-Vautrin. Depatemen Pendidikan Nasional. vol. p. Morisset. O’rourke. NCI. 80-90.00617 tentang Pemberlakuan Kodeks Makanan Indonesia.. J. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Departemen Pendidikan Nasional. G. 1980. Fragrance raw materials monograph. Baldi.. Flabbẽe. No. Mutu. Kanny. Product information bulletin. G. Material Safety Data Sheet.. 11. Maximum Limits for Certain Undesirable Substances Present in Foodstuffs as Consumed as a Result of the Use of Flavourings.T. A.00. Backer. 196.. Communication et relation au Comité por I’Etude des Bossions Alcooliques Aromatisées de la Federvini. Opdyke. No. 15 June 1975.and β-Santonin. European Journal of Internal Medicine. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan. and Robotto.L. JECFA. 223-74-2104. Elsevier. Available at: http://apps3. p.. p-Propylanisole. Benzyl Alcohol.fao.I. Margaria. Noveon kala. Montero. Antipyretic activity of α. (1996). Elsevier. Life science. Ethyl 3-phenylglycidate. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan. Analisi dei gruppi lattinici di una quassina greggia. S. No.. JECFA. Kamus Besar Bahasa Indonesia.htm. Jounal of hazardous materials.. Martin.dan Gizi Pangan Peraturan Menteri Perdagangan R.htm. 2001.

R... 1973.. Available at: http://www.. 1037 Sangster. FCT. 286. RIFM – FEMA Database. 1973.. Safrole.C. D. Stanfill. et al. and Lewis. 7-31 by the Mellon Institute of Industrial Research.. (2000). p. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. Chiang. Summary of Evaluations Performed by th JECFA.. 3. Lorenz.N. T. W. RIFM – FEMA Database. G. 263-271. Smith. Calafat.A.M.vt.A. p. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. Ilsi Research Branches Publications Meetings. RIFM monograph. A.R. RIFM – FEMA Database. No. 14331437. and Ashley. P. 101.R. P.. vol.J. J. (1983). and Hastings.A. Res.htm. Mutat. 1994.. Expressed 16 December 1994.M. G. S. Reports of the Scientific Committee for Food (thirty-sixth series). Ilsi Research Branches Publications Meetings. F.. Opinion on 3-monochloroprophane-1. and Methyleugenol Induce Intrachromosomal Recombination in Yeast. Ilsi Research Branches Publications Meetings. Material information on pulegone.net/lambo/dulcamara/dulcamara01. Res. B. No. and Smith. Birch tar oil. Methyl beta-Naphthyl Ketone.2-diol (3-MCPD).. Stermitz. A.aros. Chem toxic.. and Peterson.al. C.FEMA Database. Fd Chem Toxic. H.L. Eugenol.edu/dendro/dendrology/syllabus/syllabus/sdulcamara. D. Fd. 1982. L. (2004).al.. F. RIFM. Isopropyl Alcohol.. Elsevier. (2003). 851-870. Metha.. No. C. Material information on Methyl β-naphthyl ketone. 224. RIFM – FEMA Database. E. P. Ethyl phenylglycidate.SNI 01-7152-2006 RIFM . Solanum dulcamara seeds. coumarin. pp. J. Brown. and Shibamoto. Schiestl. Available at: http://www2. Material information on p-propylanisole. Carpenter. Cinnamyl Anthranilate. SCF. Hutt. a multidrug pump inhibitor. (1944) “Two Year oral doses of Carbitol to rats”.L.. Cancer Res. Vol. 1989. and Shaffer.htm. Mutat. (2002). 4. Concentrations of nine alkenylbenzenes. K. Bitter nightshade Solanaceae dulcamara.R. 97.H. J.. Sezikawa. Food and Chemical Toxicology 41. Chan.. Gietz. Toxicology Letters 149 (2004) 197-27. R. Pargamon.. PNAS. 21. J. Test for carcinogenicity of food additives and chemotherapeutic agents by the pulmorary tumor response in Strain A mice. Genotoxicity of safrole-related chemical in microbial test systems. 303-317. Smithe. Material information on Estragole.v11. p. Watson. 427-436. C. Polzin. R. 29 Januari 2003. The metabolism of pPropylanisole in the rat and mouse and its variation with dose. J. 121 dari 122 .. Synergy in a medicinal plant: Antimicrobial antion of berberine potentiated by 5’nethoxyhydnocarpin. S. R. Unpublished report No. D. 30693085. Tawara. 33. No. D.cnr. piperonal and pulegone in Indian bidi cigarette tobacco. Smith. J. p. et.L.H. Safety assessment of allylalkoxybenzene derivatives used as flavouring substances methyl eugenol and estragole.M. J... L et. S. Stoner.R. 127-140. C..B. Zenewicz.. Caldwell. 40. Seiler. R.. Jensen. Safety Evaluation on Natural Flavour Complexes.

Published by direction of the Council of the Pharmaceutical Society of Great Britain. No.A. Asam pirolignous. Geological Survey. Masotti. U. W. Material safety data sheet for Birch tar oil. vol.S. p/ 707-719. Effects of cocaine on heart rate variability in healthy subjects. U. Diethylene Glycol. 93.gov. No. Flavourings. Monograph. P. WeiheimNew York – Chishester – Brisbane – Singapore – Toronto. 2003..G. 122 dari 122 . 21. Bogoni. p. Wild. K. and Eckhardt.. pennyroyal.nih... Oils. 718. G. Fd ChemToxic. (2004). M. 1998. TGSC. hedeoma pulegioides. Safrole and Isosafrole.. National Institutes of Health. Ziegler and Ziegler. vol. Available at: Vongpatanasin. J. Wiley-VCH.toxnet. E. Department of the Interior.. (1911). NIOSH.. Branches Publications Meetings. Quinine. Journal of chromatography A. and Micali.SNI 01-7152-2006 Summary of Evaluations Performed by the JECFA. National Library of Medicine. 6. King. The American jounal of cardiology. http://www.nlm. Toxic Substances Hydrology Program. Isopropyl Alcohol. 99-106. Zonta. High performance liquid chromatographic profiles of aloe constituents and determination of aloin in beverages. Acidum Agaricum. with reference to the EEC regulation for flavouring substances. D. Study of artificial flavouring substances for mutagenicity in the salmonella/microsome basc and micronucleus tests. Ilsi Research Branches Publications Meetings. P. Sulfate. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances. The Registry of Toxic Effect of Chemical Substances. R. (1983). The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances. TOXNET. Taylor. Ilsi Research Summary of Evaluations Performed by the JECFA. (1995).T.. F. The British Pharmaceutical Codex.S. Flavourings Regulation. Gocke. Elsevier. and Victor.