SNI 01-7152-2006

Standar Nasional Indonesia

Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan

ICS 67.220.20

Badan Standardisasi Nasional

SNI 01-7152-2006

Daftar isi

Daftar isi ........................................................................................................................... Prakata ............................................................................................................................ . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ruang lingkup ........................................................................................................... Acuan normatif .......................................................................................................... Istilah dan definisi ..................................................................................................... Jenis perisa ............................................................................................................... Pengelompokan perisa ............................................................................................. Penggunaan perisa ................................................................................................... Ajudan perisa (Flavoring adjunct) ............................................................................. Senyawa penanda .................................................................................................... Larangan ...................................................................................................................

i ii 1 1 1 2 3 3 11 17 18 18 19 25 116

10 Ketentuan label ......................................................................................................... Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan penggunaannya dalam produk pangan ..

Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa ........................................................... Bibliografi .........................................................................................................................

Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17

Batasan aloin dalam produk pangan ................................................................ Batasan asam agarat dalam produk pangan ................................................... Batasan asam sianida dalam produk pangan................................................... Batasan beta asaron dalam produk pangan .................................................... Batasan berberin dalam produk pangan .......................................................... Batasan estragol dalam produk pangan .......................................................... Batasan hiperisin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kafein dalam produk pangan ............................................................. Batasan kuasin dalam produk pangan ............................................................. Batasan komarin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kuinin dalam produk pangan ............................................................ Batasan minyak rue dalam produk pangan .................................................... Batasan safrol dalam produk pangan ............................................................. Batasan iso-safrol dalam produk pangan ....................................................... Batasan alfa santonin dalam produk pangan ................................................ Batasan spartein dalam produk pangan ........................................................ Batasan tujon dalam produk pangan ..............................................................
i

4 4 5 5 6 6 7 7 7 8 8 8 9 9 10 10 11

.... 11 11 16 ii .......................................................................... Pelarut dan pelarut pembawa ..................................................................................SNI 01-7152-2006 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan .................................. Pelarut pengekstrak dan bahan penolong .............................

mendukung perkembangan industri pangan. asosiasi. dan terakhir dirumuskan dalam rapat konsensus nasional di Jakarta tanggal 7 Oktober 2005 yang dihadiri oleh wakil-wakil produsen.memberikan perlindungan kepada konsumen terhadap dampak merugikan akibat penyalahgunaan penggunaan perisa .memberikan jaminan mutu produk pangan. konsumen.memberikan pedoman penggunaan perisa bagi industri perisa dan industri pangan . iii . perguruan tinggi. Standar ini telah dibahas dalam rapat-rapat teknis. prakonsensus. serta instansi pemerintah terkait. sehingga dapat meningkatkan daya saing .Persyaratan Perisa dan Penggunaan dalam Produk Pangan disusun oleh Panitia Teknis 67-02 Bahan Tambahan Pangan dan Kontaminan. Penyususan standar ini bertujuan untuk: .SNI 01-7152-2006 Prakata SNI Bahan Tambahan Pangan Perisa.

.

1-2005.2-2005. dengan atau tanpa ajudan perisa (flavouring adjunct) yang digunakan untuk memberi flavor. Pengganti air susu ibu. SNI 01 – 7111. dan ketentuan label. dengan pengecualian rasa asin. pengelompokan perisa. manis dan asam. JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) meeting report on Evaluation of Certain Food Additives and Contaminants.4 batas maksimum jumlah maksimum yang diizinkan terdapat dalam produk pangan 1 dari 122 . istilah dan definisi.3-2005.4-2005.3 senyawa perisa senyawa kimia tertentu yang mempunyai sifat flavor. larangan. SNI 01 – 7111.SNI 01-7152-2006 Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan 1 Ruang lingkup Standar ini meliputi acuan normatif. jenis perisa. Formula lanjutan. SNI 01 – 7111. SNI 01 – 7111. senyawa penanda. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 1: Bubuk instan. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. 3 Istilah dan definisi 3. penggunaan perisa. ajudan perisa. 2 Acuan normatif WHO Technical Report Series. SNI 01 – 4213. SNI 01 – 3955. Standar ini berlaku untuk industri perisa dan industri pangan yang menggunakan perisa sebagai bahan tambahan pangan.2 perisa bahan tambahan pangan berupa preparat konsentrat. tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3. tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3.1 bahan tambahan pangan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan 3. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak.

dan perisa hasil proses panas.1 Senyawa perisa alami adalah senyawa perisa yang diperoleh melalui proses fisik. 4. Senyawa perisa tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung.7 ADI (Acceptable Daily Intake) atau asupan harian yang dapat diterima jumlah maksimum senyawa perisa dalam miligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan 3.SNI 01-7152-2006 3.3 Preparat perisa adalah bahan yang disiapkan atau diproses untuk memberikan flavor yang diperoleh melalui proses fisik.5 CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik) suatu pedoman yang diterapkan untuk memproduksi pangan yang memenuhi standar mutu atau persyaratan yang diterapkan secara konsisten 3. perisa asap. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan pangan tumbuhan maupun hewan yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. senyawa perisa identik alami.6 senyawa bioaktif senyawa yang terdapat pada tanaman yang mempunyai efek fisiologis tetapi bukan zat gizi 3.9 nomor CAS (Chemical Abstract Service) sistem indeks atau registrasi senyawa kimia yang diadopsi secara internasional. rempah-rempah. pengenceran. 4.1 Perisa terdiri dari tujuh jenis yaitu senyawa perisa alami. senyawa perisa artifisial. herba dan sumber tumbuhan lainnya yang tepat untuk aplikasi yang dimaksud. bahan baku aromatik alami.1. penyimpanan.1.8 ajudan perisa (flavouring adjunct) bahan tambahan yang diperlukan dalam pembuatan. sehingga memungkinkan untuk mengidentifikasi setiap senyawa kimia secara spesifik 4 Jenis perisa 4.4 Perisa asap adalah preparat perisa yang diperoleh dari kayu keras termasuk serbuk gergaji. dan penggunaan perisa 3. 4.1. preparat perisa. pelarutan. Bahan tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan tumbuhan atau hewan. 4. Bahan baku tersebut termasuk bahan pangan. dan selanjutnya dikondensasi serta difraksinasi untuk mendapatkan flavor yang diinginkan.2 Bahan baku aromatik alami adalah bahan baku yang berasal dari tumbuhan atau hewan yang cocok digunakan dalam penyiapan/pembuatan/pengolahan perisa alami.1. 2 dari 122 . yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. tempurung dan tanaman berkayu yang tidak mengalami perlakuan dan tidak terkontaminasi melalui proses pembakaran yang terkontrol atau distilasi kering atau perlakuan dengan uap yang sangat panas.

pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180°C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8.1. dibatasi dengan nilai ADI dan dibatasi dengan kandungan bioaktifnya. perisa identik alami. baik setelah diproses atau tidak.3 Penggunaan perisa yang diizinkan didasarkan atas CPPB. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa identik alami dan senyawa perisa artifisial.1. 4. 5. 3 dari 122 . baik setelah diproses atau tidak. dan perisa hasil proses panas. bahan baku aromatik alami.5 Senyawa perisa identik alami adalah senyawa perisa yang diperoleh secara sintesis atau diisolasi melalui proses kimia dari bahan baku aromatik alami dan secara kimia identik dengan senyawa yang ada dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia. perisa artifisial. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa artifisial.1. 5.2 Pengelompokkan sebagaimana dimaksud dalam butir 5. 5. 5.3 Perisa artifisial adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa artifisial.0.6 Senyawa perisa artifisial adalah senyawa perisa yang disintesis secara kimia yang belum teridentifikasi dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180 °C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8. 5. 4.1 Perisa dapat digunakan bersama-sama dengan komponen atau senyawa kimia yang diizinkan. 6 Penggunaan perisa 6. bahan baku aromatik alami. 6.1 Perisa alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa alami.1.0. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas.SNI 01-7152-2006 4.1.2 Perisa identik alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa identik alami dan dapat mengandung senyawa perisa alami. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas.1 Perisa dikelompokkan berdasarkan sumber dan proses pembuatannya menjadi empat kelompok menjadi perisa alami.7 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan.1 ditujukan untuk pelabelan produk pangan.1. 6.2 Perisa dapat digunakan dalam produk pangan secara tunggal atau campuran. 5 Pengelompokan perisa 5.1.4 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan.

1 diizinkan untuk digunakan.2 Asam agarat hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Minuman beralkohol 6.3 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6.5.3.3.3.1 50 No.2.3.3.5.5.3. 6.3.1 Aloin (aloin). 6. 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2.5.2 sesuai dengan Tabel 2.3. 5133-19-7 Aloin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.2 Aloin boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.1.SNI 01-7152-2006 6.4 Tabel A.1 yang berdasarkan kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) mempunyai batasan penggunaan sesuai dengan ADI. Tabel 1 Batasan aloin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0.5.3.3.2 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6.2 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 20 20 Produk pangan 4 dari 122 .1 6.1 Asam agarat (agaric acid).1 Senyawa perisa sebagaimana tercantum dalam Lampiran A Tabel A. Nomor CAS.3.1 sebagaimana tercantum pada butir 6.2.3 Batas maksimum asam agarat dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3 Batas maksimum aloin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.3. 6.3.3.3. 6.1.3.5. 6.2.2 sesuai dengan Tabel 1.1 0. 666-99-9 Asam agarat tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Nomor CAS. 6.1 dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.5. maka batasan penggunaannya mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh JECFA.5 Perisa yang digunakan dalam produk pangan dapat mengandung senyawa bioaktif yang jumlahnya dalam produk pangan dibatasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 sampai dengan Tabel 17. 1 2 Makanan Minuman Batasan asam agarat dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg). dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5. 6.1.1 yang tidak termasuk dalam butir 6. 6.1. Tabel 2 No.3.3.2 diizinkan untuk digunakan dengan batas penggunaan sesuai dengan CPPB.

3.5.5.3 Batas maksimum beta asaron dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3.5.Minuman beralkohol .5.3 Batas maksimum asam sianida dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.4. 6.Sari buah berbiji tunggal . 74-90-8 Asam sianida tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.3.5.3.3. 6.2 sesuai dengan Tabel 4.3.3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 100 100 6.3.5. Nomor CAS.4.4 Beta asaron (β-asarone).1 Beta asaron tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Tabel 3 Batasan asam sianida dalam produk pangan Batas maksimum 1 mg/kg 1 mg/kg 25 mg/kg 5 mg/kg 1 % per volume 50 mg/kg No. 1 2 3 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada minuman beralkohol dan bumbu dalam makanan ringan 5 dari 122 .4.5.3. 5273-86-9 6.3. Nomor CAS.2 Asam sianida hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. 3 Produk pangan Pengecualian pada: . 6.1 1 No. 6.1 Asam sianida (hydrocyanic acid). Tabel 4 Batasan beta asaron dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).3 6.5.1 0.5.2 Beta asaron hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. dihitung terhadap produk siap konsumsi.4.SNI 01-7152-2006 Tabel 2 (Lanjutan) No.2 sesuai dengan Tabel 3.Produk yang mengandung kacangkacangan dan umbi-umbian 6.Kembang gula . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.3.Makanan yang mengandung jamur Batas maksimum (mg/kg).3.3.Minuman beralkohol . Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Pengecualian pada: .

3.6 6. 548-04-9 Hiperisin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. sayuran termasuk jamur.3 Batas maksimum estragol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.3.5.3. Tabel 5 No.5. Nomor CAS.SNI 01-7152-2006 6.5. 1 2 3 Batasan estragol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 50 50 50 Produk pangan Produk turunan susu Buah olahan.3. polong-polongan.3 Batas maksimum berberin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.akar. 6 dari 122 .1 Estragol (estragole). dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2 Berberin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.7.5. Nomor CAS.5.2 sesuai dengan Tabel 5.2 Hiperisin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. kacang-kacangan Ikan dan produk perikanan 6. 50-32-8 Berberin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.1 10 Produk pangan Makanan Minuman Minuman beralkohol 6.1 Hiperisin (hypericine).7 6.5. 1 2 3 Batasan berberin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).6.3.7.3.5.5.3.5 6.5.2 sesuai dengan Tabel 6.5.5.7.1 Berberin (berberine).1 0. 6.7.2 sesuai dengan Tabel 7.5.3. 140-67-0 Estragol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Tabel 6 No. 6.3. 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.3.3.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 6.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3. 6.5.3.6.6. Nomor CAS.3.3.3 Batas maksimum hiperisin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. 6.5.5.2 Estragol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.6.

5.3.Minuman beralkohol 6. 1 2 3 Batasan hiperisin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).3.1 Komarin (coumarin).5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2 Batas maksimum kuasin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 9. 6.10. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 5 5 10 50 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3. 7 dari 122 . pastilles .3. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman Kuasin (quassine).3.5. Tabel 9 No.3.10. Nomor CAS.5.3.10. Nomor CAS.9.1 Kuasin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 91-64-5 Komarin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 76-78-8 6. 1 2 3 Batasan kuasin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).3. Batas maksimum kafein dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 8.3 Batas maksimum komarin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.10 6. Tabel 8 Batasan kafein dalam produk pangan Batas maksimum 150 mg/hari dan 50 mg/sajian 150 mg/hari dan 50 mg/sajian No.9. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.5. 6.5.5.2 Kafein (caffein).9 6.1 0. . 58-08-02 Kafein boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.10.Kembang gula.5.SNI 01-7152-2006 Tabel 7 No.Minuman beralkohol 6.3.8 6.5.Kembang gula pastilles .8.3. 6.2 Komarin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.2 sesuai dengan Tabel 10. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.1 6. Nomor CAS.5.3.8.1 1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .

Karamel . 1 2 Batasan kuinin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0.5.12. 130-95-0 6.1 Kuinin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3. jus dan nektar .1 85 85 85 85 85 85 300 Produk pangan Makanan Minuman .3.Roti dan produk bakeri 8 dari 122 .11 Kuinin (quinine). Nomor CAS.Minuman berperisa non alkohol . Produk pangan 1 Makanan 2 Pengecualian pada: .Minuman beralkohol . 6.3.5.3.5.11.5.Tonic water and non wine based bitter . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 2 2 10 10 10 10 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5. Nomor CAS.Bumbu 6.Permen karet .12.3.2 Batas maksimum minyak rue dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 12.SNI 01-7152-2006 Tabel 10 No 1 2 3 Batasan komarin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg). Tabel 12 Batasan minyak rue dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 4 10 No.Minuman beralkohol 3 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 8014-29-7 Minyak rue boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. Tabel 11 No.3.Jus buah lemon Pengecualian pada: .1 Minyak rue (rue oil).Minuman non alkohol .2 Batas maksimum kuinin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 11. 6.5.11.12 6.Minuman ringan kecuali air dalam kemasan. air mineral.Kembang gula .

14. Nomor CAS. Tabel 13 No.2 sesuai dengan Tabel 14.minuman beralkohol dengan kadar < 20% . 6.3 Batas maksimum safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.14.minuman beralkohol dengan kadar > 20% . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5.5.3.5.5.3.14 6.5.minuman beralkohol dengan kadar < 20% 9 dari 122 .5.2 Iso-safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3.5. Tabel 14 No.SNI 01-7152-2006 Tabel 12 (Lanjutan) No.13.1 Iso-safrol (iso-safrole).5.13 6.1 6. Batas maksimum (mg/kg) 10 10 6. Produk pangan .2 Safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau akibat dari penambahan perisa alami. 6. 1 2 3 Batasan safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 5 15 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . 1 2 Batasan iso-safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3.3. 120-58-1 Iso-safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.makanan mengandung bunga pala dan pala .3.2 sesuai dengan Tabel 13.3.13.5.14.3 Batas maksimum iso-safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.13. 94-59-7 Safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.13.3. Nomor CAS.14.5. 6.Kembang gula lunak Safrol (safrole).3.produk daging berbumbu 6.3.Makanan pencuci mulut berbahan dasar susu .

546-80-5 6.16.1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3 Batas maksimum spartein dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .SNI 01-7152-2006 Tabel 14 (Lanjutan) No.1 Spartein tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3. Tabel 15 No.1 0.15. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.17. 481-06-1 Alfa santonin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 6.3.15.3.2 Alfa santonin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.15 6.5.5. 6.5.3.16.5.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2 Tujon hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.17. Tabel 16 No. Nomor CAS.3.5.3 Batas maksimum alfa santonin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.5.1 Produk pangan Minuman beralkohol Makanan Minuman Tujon (thujon).16.3. 1 2 3 Batasan alfa santonin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg). Produk pangan .3.3.3. Nomor CAS.1 Tujon tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.1 0.5.3.15. Nomor CAS.5.2 sesuai dengan Tabel 16.produk daging berbumbu Batas maksimum (mg/kg) 5 10 6. 1 2 3 Batasan spartein dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 5 0.16 Spartein (sparteine).15.3. 6917-37-9 6. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2 Spartein hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. 6.17 6. 6. 6.Minuman beralkohol dengan kadar > 20% 6.5.3.1 Alfa santonin (α-santonine).2 sesuai dengan Tabel 15. 10 dari 122 .5.16.

1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Perisa Dulkamara Kokain Nitrobenzen Sinamil antranilat Dihidrosafrol Biji tonka Minyak kalamus Minyak tansi Minyak sasafras 7 7. Tabel 17 Batasan tujon dalam produk pangan No.5 0. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .5.17. Tabel 19 No.2 sesuai dengan Tabel 17.bitters (makanan berasa pahit) .5 5 10 35 25 250 6.1 Ajudan perisa (Flavoring adjunct) Ajudan perisa yang diizinkan tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20.2-propilen glikol asetat 2-etil-1-heksanol Agar-agar Nama Inggris Processed euchema seaweed 1.2-propylene glycol acetates 2-ethyl-1-hexanol Agar agar 11 dari 122 . 1 2 3 4 Pelarut dan pelarut pembawa Senyawa Nama Indonesia Ganggang euchema hasil proses 1. Tabel 18 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan No.minuman beralkohol dengan kadar < 20% .makanan mengandung sage atau berperisa sage atau campuran keduanya .5.3.bumbu sage Batas maksimum (mg/kg) 0.4 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan tercantum dalam Tabel 18.17.SNI 01-7152-2006 6.3 Batas maksimum tujon dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.

physically modified starch and starch treated by amylolitic enzymes Diammonium phosphate Diethylene glycol monopropyl ether Dimethylpolysiloxane Dipropylene glycol Distarch phospahate d-Tagatose Erythritol Acetic acid esters of mono-and diglycerides of fatty acids Citric acid esters of mono.and diglycerides of fatty acids Glycerol ester of wood resin Polyglycerol esters of fatty acids Sucrose esters of fatty acids Ethyl alcohol Ethyl acetate 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 12 dari 122 . pati pucat.3-diol Dextran Dextrin White or yellow dextrin. pati panggang atau terdekstrinasi.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.and diglycerides fatty acids Acetylated distarch adipate Acetylated distarch phosphate Acetylated oxidized starch Bentonite Benzyl alcohol Benzyl benzoate beta-Cyclodextrine Whey powder Butan-1. sistein dan sistin dan garam-garamnya yang tidak mempunyai fungsi tambahan Asam asetat Asam laktat Asam lemak Asam lemak mono. 5 6 7 8 9 10 11 12 Senyawa Nama Indonesia Air alfa-Siklodekstrin Aluminium silikat Amonium fosfatida Amonium klorida Amonium sulfat Asam alginat Asam amino dan garamnya selain asam glutamat.dan digliserida Asam lemak mono. starch modified by acid or alkali treatment. bleached starch. cysteine and cystine and their salts and having no additive function.3-diol Dekstran Dekstrin Dekstrin kuning atau putih. glycine.dan digliserida Asetilasi dipati adipat Asetilasi dipati fosfat Asetilasi pati teroksidasi Bentonit Benzil alkohol Benzil benzoat beta-Siklodekstrin Bubuk wey Butan-1. pati dimodifikasi dengan perlakuan asam atau basa. pati dimodifikasi secara fisik dan pati yang diperlakuan dengan enzim amilolitik Diamonium fosfat Dietilen glikol monopropil eter Dimetilpolisiloksan Dipropilen glikol Dipati fosfat d-Tagatos Eritritol Ester asam asetat asam lemak mono. glisin.dan digliserida ester asam sitrat Ester gliserol damar kayu Ester poligliserol asam lemak Ester sukrosa asam lemak Etil alkohol Etil asetat Nama Inggris Water alpha-Cyclodextrin Aluminium silicate (Kaolin) Ammonium phosphatides Ammonium chloride Ammonium sulphate Alginic acid Amino acids and their salts other than glutamic acid. roasted or dextrinated starch. Acetic acid Lactic acid Fatty acids Mono.

milk protein and gluten Glyceryl diacetate Glyceryl diesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl monoacetate Glyceryl monoesters of aliphatic fatty acids C6-C18 Glyceryl triacetate Glyceryl triesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl tripropanoate Glycerol Glycerol mono acetate Glycine and its sodium salt Glucose Gum Arabic Damar gum Ghatti gum Guar gum Locust bean gum Karaya gum Konjac gum Xanthan gum Taragum Hydroxypropyl distarch phosphate Hydroxypropyl cellulose Hydroxypropylmethyl cellulose Cross-linked sodium carboxymethylcellulose Cross linked sodium carboxy methyl cellulose Cross-linked cellulose gum Inulin Isoamyl acetate Isomalt Isopropyl myristate iso-Propylalcohol 13 dari 122 . protein hydrolysates and their salts.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. hidrolisat protein dan garamnya. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Senyawa Nama Indonesia Etil laktat Etil metil selulosa Etil selulosa Etil tartrat Fosfatida dipati fosfat gamma-Siklodekstrin Garam Garam magnesium asam lemak Gom gelan Gelatin Gelatin makan. protein susu dan gluten Gliseril diasetat Gliseril diester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril monoasetat Gliseril monoester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril triasetat Gliseril triester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril tripropanoat Gliserol Gliserol mono asetat Glisin dan garam natrium Glukosa Gom arab Gom damar Gom gati Gom guar Gom kacang lokus Gom karaya Gom konjak Gom santan Gom tara Hidroksipropil dipati fosfat Hidroksipropil selulosa Hidroksipropilmetil selulosa natrium karboksimetil selulosaIkatan silang Natrium karbolksi metil selulosaIkatan silang Gom selulosa-Ikatan silang Inulin Isoamil asetat Isomalt Isopropil miristat Iso-propilalkohol Nama Inggris Ethyl lactate Ethyl methyl cellulose Ethyl cellulose Ethyl tartrate Phosphated distarch phosphate gamma-Cyclodextrin Salt Magnesium salts of fatty acids Gellanegum Gelatin Edible gelatin.

di. di. NH4 dan Ca alginat Pati Pati termodifikasi Pati (natrium) oktenil suksinat Pati asetat Pati asetilasi Pati hidroksipropil Mono pati fosfat Pati teroksidasi Pektin Polidekstrosa Polietilen glikol Polietilen glikol 6000 Polioksietilen sorbitan monolaurat (polisorbat 20) Nama Inggris Calcium acetate Calcium phosphates Calcium carbonate Calcium chloride Calcium silicate Calcium sulphate Carrageenan Enzymatically hydrolyzed carboxy methyl cellulose Carboxymethyl cellulose.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. K. 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 Senyawa Nama Indonesia Kalsium asetat Kalsium fosfat Kalsium karbonat Kalsium klorida Kalsium silikat Kalsium sulfat Karagenan Karboksi metil selulosa terhidrolisa secara enzimatis Natrium karboksimetil selulosa Kaseinat dan kasein Laktitol Laktosa Lemak makan Lesitin Lilin kandelila Lilin karnauba Lilin lebah Magnesium hidroksida karbonat Magnesium karbonat Magnesium klorida Maltitol Maltodekstrin Manitol Metil selulosa Minyak makan Minyak kastor Minyak sayur terhidrogenasi Ester mono.dan tri-kalsium orto-fosfat Na. NH4 and Ca alginate Starch Modified starches Starch (sodium) octenyl succinate Starch acetate Acetylated starch Hydroxypropyl starch Mono starch phosphate Oxidized starch Pectins Polidextrose Polyethylene glycol Polyethyleneglycol 6000 Polyoxyethylene sorbitan monolaurate (polysorbate 20) 14 dari 122 . K.dan diasetil asam tartrat dari mono.and diacetyl tartaric acid esters of mono. Na salt Caseinates and casein Lactitol Lactose Edible fats Lechitins Candelilla wax Carnauba wax Beeswax Magnesium hydroxide carbonate Magnesium carbonate Magnesium chloride Maltitol Maltodextrine Mannitol Methyl cellulose Edible oils Castor oil Hydrogenated vegetable oils Mono.and tri-Calcium orthophosphate Na.dan digliserida asam lemak Mono-.and diglycerides of fatty acids Mono-.

hidrolisa secara enzimatis 154 Natrium sitrat 155 Natirum sulfat 156 Natrium. seperti asam sitrat dan amonium hidroksida 148 Silikon dioksida 149 Silitol 150 Sirup sorbitol 151 Natrium aluminium difosfat 152 Natrium aluminium silikat 153 Natrium karboksimetil selulosa. kalium dan garam kalsium asam lemak 157 Sorbitan monolaurat 158 Sorbitan monooleat 159 Sorbitan monopalmitat 160 Sorbitan monostearat 15 dari 122 . or from a mixture of both. microcristalline Substances having primarily an acid or acidity regulator function. such as citric acid and ammonium hydroxide Silicon dioxide Xylitol Sorbitol syrup Sodium aluminium diphosphate Sodium aluminium silicate Sodium carboxymethyl cellulose. Senyawa Nama Inggris Polyoxyethylene sorbitan monooleate (polysorbate 80) Polyoxyethylene sorbitan monopalmitate (polysorbate 40) Polyoxyethylene sorbitan monostearate (polysorbate 60) Polyoxyethylene sorbitan tristearate (polysorbate 65) Polyvinylpyrrolidone Polyvinylpolypyrrolidone Potassium aluminium silicate Potassium gluconate Potassium carbonates Potassium chloride Potassium citrates Potassium sulphate Products containing pectin and derived from dried apple pomace or peel of citrus fruits. enzymatically hydrolysed Sodium citrates Sodium sulphate Sodium. by the action of dilute acid followed by partial neutralization with sodium or potassium salts (‘liquid pectin’) Propylene glycol Propylene glycol alginate Propyl alcohol Hydrolyzed vegetable protein Elemi resin Cellulose.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. potassium and calcium salts of fatty acids Sorbitan monolaurate Sorbitan monooleate Sorbitan monopalmitate Sorbitan monostearate Nama Indonesia 127 Polioksietilen sorbitan monooleat (polisorbat 80) 128 129 Polioksietilen sorbitan monopalmitat (polisorbat 40) 130 Polioksietilen sorbitan monostearat (polisorbat 60) 131 Polioksietilen sorbitan tristearat (polisorbat 65) 132 Polivinilpirolidon 133 Polivinilpolipirolidon 134 Kalium aluminium silikat 135 Kalium glukonat 136 Kalium karbonat 137 Kalium klorida 138 Kalium sitrat 139 Kalium sulfat 140 Produk mengandung pektin dan turunannya dari apel yang dikeringkan atau kulit buah sitrus atau dari campuran keduanya melalui asam encer dengan cara netralisasi sebagian dengan garam natrium atau kalium (‘pektin cair’) 141 Propilen glikol 142 Propilen glikol alginat 143 Propoil alkohol 144 Protein tumbuhan terhidrolisa 145 Resin elemi 146 Selulosa. mikrokristalin 147 Senyawa dengan fungsi utama sebagai asam atau pengatur keasaman.

and triacetate Glycerol tributyrate Glycerol tripropionate Hexane Heptane 16 dari 122 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Pelarut pengekstrak dan bahan penolong Senyawa Nama Indonesia 1.1.2-Dichloroethane (Dichloroethane) 2-Nitropropane Water Amyl acetate Ammonia in methanol/ethanol Nitric acid Acetone (dimethyl ketone) Benzyl alcohol Benzyl benzoate Butan-1-ol Butan-2-ol Butane Butane-1.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.2-Dikloroetana (Dikloroetana) 2-nitropropana Air Amil asetat Amonia dalam metanol/etanol Asam nitrat Aseton Benzil alkohol Benzil benzoat Butan-1-ol Butan-2-ol Butana Butana-1.3-diol Butyl acetate Dibutyl ether Diethyl ether Diethyl citrate Diethyl tartrate di-isopropylketone Dichlorodifluoromethane Dichlorofluoromethane Dichloromethane Dichlorotetrafluoroethane Ethanol Ethyl acetate Ethyl lactate Ethylmethylketone (butanone) Glycerol Glycerol mono-di. 161 162 163 164 165 166 167 168 169 Senyawa Nama Indonesia Sorbitan tristearat Sorbitol Sukro gliserida Sukrosa Sukrosa asetat isobutirat Talk Tragakan Trietilsitrat Trigliserida (sintetik) Nama Inggris Sorbitan tristearate Sorbitol Sucro glycerides Sucrose Sucrose acetate isobutyrate Talc Tragacanth Triethylcitrate Triglycerides (synthetic) Tabel 20 No.2-trikloroetilen 1.dan triasetat Gliserol tributirat Gliserol tripropionat Heksana Heptana Nama Inggris 1.di.2-Trichloroethylene 1.1.3-diol Butil asetat Dibutil eter Dietil eter Dietil sitrat Dietil tartrat di-isopropilketon Diklorodiflorometan Dikloroflorometan Diklorometan Diklorotetrafloroetan Etanol Etil asetat Etil laktat Etilmetilketon (butanon) Gliserol Gliserol mono.

03 µg/kg. b) Jika termasuk ke dalam golongan bahan pangan.2 Ajudan perisa selain yang tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20 diizinkan digunakan pada perisa apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut: a) Jika termasuk ke dalam golongan bahan tambahan pangan.2 3-monochloropropane-1.-butylether Methylene chloride (dichloromethane) Castor oil Nitrous oxide n-Octyl alcohol Pentane Petroleum ether (light petroleum) Propane-1. 17 dari 122 . diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan yang berlaku.1 Benzo[a]piren adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa asap dengan batas maksimum kandungan dalam produk pangan tidak lebih dari 0.2-diol (3-MCPD) adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa hasil proses panas dengan batas maksimum kandungan: a) Dalam produk pangan cair kadarnya tidak boleh lebih dari 20 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku. diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan bahan tambahan pangan yang berlaku.2-diol Propane-1-ol Propane Cyclohexane Tertiary butyl alcohol Toluene Tridodecylamine Trichlorofluoroethylene Trichlorofluoromethane 7.SNI 01-7152-2006 Tabel 20 (Lanjutan) No. 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Senyawa Nama Indonesia Isobutana Isobutanol (2-metilpropan-1-ol) Isoparafinat petroleum hidrokarbon Isopropil alkohol Isopropil miristat Karbon dioksida Metanol Metil asetat Metil propanol-1 Metil ter-butileter Metilen klorida (diklorometana) Minyak kastor Dinitrogen oksida n-Oktil alkohol Pentana Petroleum eter (petroleum ringan) Propan-1. 8 Senyawa penanda 8.2-diol Propan-1-ol Propana Sikloheksana Tersier butil alkohol Toluen Tridodesilamin Triklorofloroetilen Trikloroflorometan Nama Inggris Isobutane Isobutanol (2-methylpropan-1-ol) Isoparaffinic petroleum hydrocarbons Isopropyl alcohol Isopropyl myristate Carbon dioxide Methanol Methyl acetate Methyl propanol-1 Methyl tert. b) Dalam produk pangan padat kadarnya tidak boleh lebih dari 50 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku. 8.

10 Ketentuan label 10.3-2005. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 1: Bubuk instan.2-2005. 10. SNI 01-7111. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap. 9.1 Larangan Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula bayi.1 Label produk pangan yang menggunakan perisa harus mencantumkan keterangan tentang perisa sekurang-kurangnya nama kelompok perisa dalam komposisi bahan atau daftar bahan yang digunakan. SNI 01-7111. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak.SNI 01-7152-2006 9 9. SNI 01-7111.2 Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula lanjutan dan makanan pendamping ASI.4-2005. Formula lanjutan. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. SNI 01-7111. kecuali yang telah ditetapkan dalam SNI 01-4213-1995. 18 dari 122 .1-2005.2 Pencantuman label harus memenuhi ketentuan perundangan-undangan yang berlaku.

147 09.097 09.162 FEMA 2040 2021 2032 2031 2037 2036 2045 2041 2044 2043 2029 2023 2026 2024 2027 2025 2039 2038 2022 2020 2030 2127 2135 2138 2137 2434 2414 2456 2693 2462 2439 2437 2449 2447 2432 3492 2441 2445 2451 3490 2419 2069 .492 09.701 09.719 13.093 09.001 09.790 09.410 09.038 09.004 05.072 09.146 09.078 09.180 09.493 09.244 09.013 09.121 09.SNI 01-7152-2006 Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan untuk digunakan Tabel A.107 09.059 09.411 09.741 09.233 09.489 09.469 09.119 09.010 09.274 09.054 09.498 09.109 09.210 02.312 09.727 02.014 09.104 09.060 09.111 09. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Nama Senyawa allyl propionate allyl butyrate allyl hexanoate allyl heptanoate allyl octanoate allyl nonanoate allyl isovalerate allyl sorbate allyl 10-undecenoate allyl tiglate allyl 2-ethylbutyrate allyl cyclohexaneacetate allyl cyclohexanepropionate allyl cyclohexanebutyrate allyl cyclohexanevalerate allyl cyclohexanehexanoate allyl phenylacetate allyl phenoxyacetate allyl cinnamate allyl anthranilate allyl 2-furoate benzaldehyde benzyl acetate benzyl benzoate benzyl alcohol ethyl formate ethyl acetate ethyl propionate ethyl butyrate ethyl pentanoate ethyl hexanoate ethyl heptanoate ethyl octanoate ethyl nonanoate ethyl decanoate ethyl undecanoate ethyl dodecanoate ethyl tetradecanoate ethyl hexadecanoate ethyl octadecanoate ethanol isoamyl formate (3-Methylbutyl formate) JECFA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 19 dari 122 EC 09.099 09.1 Senyawa Perisa yang diizinkan untuk digunakan No.482 09.

048 09.169 09.033 09.6-octadien-1-yl 2ethylbutanoate Geranyl 2-ethylbutyrate formic acid JECFA 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 EC 09.003 09.465 09.067 09.136 09.1 (Lanjutan) No.515 08.463 09.110 09.048 09.471 09.431 09.078 09.120 09.070 09.012 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Nama Senyawa isoamyl acetate (isopentyl acetate) isoamyl propionate 3-Methylbutyl propionate isoamyl butyrate 3-Methylbutyl butyrate isoamyl hexanoate 3-Methylbutyl hexanoate isoamyl octanoate 3-Methylbutyl octanoate isoamyl nonanoate isoamyl isobutyrate Isopentyl isobutyrate isoamyl isovalerate 3-Methylbutyl 3-methylbutyrate isoamyl 2-methylbutyrate Isopentyl 2-methylbutyrate isoamyl alcohol Isopentanol citronellyl formate geranyl formate neryl formate rhodinyl formate citronellyl acetate geranyl acetate neryl acetate rhodinyl acetate citronellyl propionate geranyl propionate neryl propionate rhodinyl propionate citronellyl butyrate geranyl butyrate neryl butyrate (EU name) rhodinyl butyrate citronellyl valerate geranyl hexanoate citronellyl isobutyrate geranyl isobutyrate neryl isobutyrate rhodinyl isobutyrate geranyl isovalerate neryl isovalerate rhodinyl isovalerate 3.079 09.927 09.024 09.453 09.151 09.530 02.011 09.213 09.076 09.128 09.424 09.055 09.129 09.001 FEMA 2055 2082 2060 2075 2080 2078 3507 2085 3505 2057 2314 2514 2776 2984 2311 2509 2773 2981 2316 2517 2777 2986 2312 2512 2512 2982 2317 2515 2313 2513 2775 2983 2518 2778 2987 3339 2487 20 dari 122 .212 09.419 09.141 09.7-dimethyl-2.049 09.421 09.

846 09.002 08.073 09.005 02.001 08.003 02.032 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.040 05.006 FEMA 2003 2006 2928 2923 2924 2178 2219 2221 2056 3098 3101 2567 2557 2559 2548 2540 3348 2800 2797 2799 2789 2782 2784 2365 2362 2364 3097 3092 3245 2617 2615 2614 2763 2764 2554 2832 3035 2943 2196 2068 2570 2552 2809 3353 2197 2676 2925 2174 2565 21 dari 122 .1 (Lanjutan) No.009 02.074 09.006 05.007 05.008 08.015 09.002 09.075 09.005 05.008 05.010 02.163 09.164 09.016 02.029 02.023 09.010 08.014 08.004 05.003 08.025 08.031 08.002 02.009 08.011 08.161 09.034 08.057 05. 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 Nama Senyawa acetaldehyde acetic acid propyl alcohol (Propan-1-ol) Propionaldehyde (Propanal) propionic acid butyl alcohol (butan-1-ol) Butyraldehyde (butanal) butyric acid amyl alcohol (pentan-1-ol) Valeraldehyde (Pentanal) valeric acid hexyl alcohol hexanal hexanoic acid heptyl alcohol heptanal heptanoic acid 1-octanol octanal octanoic acid nonyl alcohol nonanal nonanoic acid 1-decanol decanal decanoic acid undecyl alcohol undecanal undecanoic acid lauryl alcohol (dodecan-1-ol) lauric aldehyde (dodecanal) lauric acid (dodecanoic acid) Myristaldehyde (myristaldehyde) myristic acid (tetradecanoic acid) 1-hexadecanol palmitic acid (hexadecanoic acid) stearic acid (octadecanoic acid) propyl formate butyl formate n-amyl formate (pentyl formate) hexyl formate heptyl formate octyl formate cis-3-hexenyl formate isobutyl formate methyl acetate propyl acetate butyl acetate hexyl acetate JECFA 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 EC 05.005 08.011 02.002 05.007 02.042 02.012 05.159 09.004 09.024 05.009 08.021 05.028 02.

047 09.182 09.166 09.094 09.113 09.091 09.126 09.010 09.286 07.and trans-2-hexenyl propionate isobutyl propionate methyl butyrate propyl butyrate butyl butyrate n-amyl butyrate hexyl butyrate heptyl butyrate octyl butyrate decyl butyrate cis-3-hexenyl butyrate isobutyl butyrate methyl valerate butyl valerate propyl hexanoate butyl hexanoate n-amyl hexanoate hexyl hexanoate cis-3-hexenyl hexanoate isobutyl hexanoate methyl heptanoate propyl heptanoate butyl heptanoate n-amyl heptanoate octyl heptanoate isobutyl heptanoate methyl octanoate n-amyl octanoate hexyl octanoate heptyl octanoate octyl octanoate JECFA 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 22 dari 122 EC 09.114 FEMA 2547 2806 2788 2367 2616 3171 3493 3096 2175 3644 3326 2425 2742 2958 2211 2576 2813 2369 3778 2212 2693 2934 2186 2059 2568 2549 2807 2368 3402 2187 2752 2217 2949 2201 2074 2572 3403 2202 2705 2948 2199 2073 2810 2200 2728 2079 2575 2553 2811 .022 09.046 09.127 09.092 09.005 09.118 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.009 09.214 09.042 09.066 09.063 09.134 09.112 09.271 09.044 09.148 09.096 09.040 09.125 09.124 09.095 09.061 09.045 09.043 09.122 09.065 09.007 09.139 09.050 09.064 09.117 09. 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 Nama Senyawa heptyl acetate octyl acetate nonyl acetate decyl acetate lauryl acetate cis-3-hexenyl acetate trans-3-heptenyl acetate 10-undecen-1-yl acetate isobutyl acetate 2-methylbutyl acetate acetone 2-ethylbutyl acetate methyl propionate propyl propionate butyl propionate hexyl propionate octyl propionate decyl propionate cis-3.025 09.197 09.275 09.098 09.008 09.270 09.1 (Lanjutan) No.038 09.

451 09.006 10.483 09.448 09.472 09.528 09.449 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.115 09.413 09. 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 Nama Senyawa nonyl octanoate methyl nonanoate methyl laurate butyl laurate isoamyl laurate methyl myristate butyl stearate methyl isobutyrate ethyl isobutyrate propyl isobutyrate butyl isobutyrate hexyl isobutyrate heptyl isobutyrate trans-3-heptenyl 2methylpropanoate octyl isobutyrate dodecyl isobutyrate isobutyl isobutyrate methyl isovalerate ethyl isovalerate propyl isovalerate butyl isovalerate hexyl 3-methylbutanoate octyl isovalerate nonyl isovaolerate 3-hexenyl 3-methylbutanoate 2-methylpropyl 3-methylbutyrate 2-methylbutyl 3-methylbutanoate methyl 2-methylbutyrate ethyl 2-methylbutyrate n-butyl 2-methylbutyrate hexyl 2-methylbutanoate octyl 2-methylbutyrate isopropyl 2-methylbutyrate 3-hexenyl 2-methylbutanoate 2-methylbutyl 2-methylbutyrate methyl 2-methylpentanoate ethyl 2-methylpentanoate ethyl 3-methylpentanoate methyl 4-methylvalerate trans-anethole citric acid 4-hydroxybutyric acid lactone gamma-valerolactone 4-hydroxy-3-pentenoic acid lactone 5-ethyl-3-hydroxy-4-methyl2(5H)-furanone gamma-hexalactone delta-hexalactone JECFA 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 EC 09.462 09.414 09.101 09.412 09.432 04.106 09.409 09.478 09.452 09.516 09.420 09.537 09.854 09.549 09.519 09.012 10.013 10.1 (Lanjutan) No.416 09.108 09.529 09.507 09.010 10.021 10.523 09.526 09.010 FEMA 2790 2724 2715 2206 2077 2722 2214 2694 2428 2936 2188 3172 2550 3494 2808 3452 2189 2753 2463 2960 2218 3500 2814 2791 3498 3369 3506 2719 2443 3393 3499 3604 3699 3497 3359 3707 3488 3679 2721 2086 2306 3291 3103 3293 3153 2556 3167 23 dari 122 .023 10.447 09.100 09.547 09.417 09.246 09.541 09.531 09.103 09.473 09.505 09.

029 10.022 10.008 10. 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 Nama Senyawa gamma-heptalactone gamma-octalactone 4.1 (Lanjutan) No.027 10.008 05.4-dibutyl-gammabutyrolactone delta-octalactone gamma-nonalactone hydroxynonanoic acid deltalactone gamma-decalactone delta-decalactone gamma-undecalactone 5-hydroxyundecanoic acid deltalactone gamma-dodecalactone delta-dodecalactone 6-hydroxy-3.SNI 01-7152-2006 Tabel A.015 10.115 FEMA 2539 2796 2372 3214 2781 3356 2360 2361 3091 3294 2400 2401 3355 3590 2840 2555 3613 3610 3634 3350 3696 3744 3745 3758 3780 3786 2179 2220 2222 2691 2695 2426 2429 2692 3102 3413 2754 3437 3762 24 dari 122 .009 10.028 10.049 08.020 10.056 02.007 10.006 08.002 10.001 05.4-decadienoic acid delta-lactone 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-7-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-8-undecenoic acid delta-lactone cis-4-hydroxy-6-dodecenoic acid lactone gamma-methyldecalactone isobutyl alcohol isobutyraldehyde isobutyric acid 2-methylbutyraldehyde 2-methylbutyric acid 2-ethylbutyraldehyde 2-ethylbutyric acid 3-methylbutyraldehyde isovaleric acid 2-methylpentanal 2-methylvaleric acid 3-methylpentanoic acid 3-methyl-1-pentanol JECFA 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 EC 10.045 05.019 10.014 10.7-dimethyloctanoic acid lactone delta-tetradecalactone omega-pentadecalactone omega-6-hexadecenlactone epsilon-decalactone epsilon-dodecalactone 4.033 10.051 02.007 08.004 08.030 10.017 10.046 05.037 10.035 10.006 05.018 10.003 10.5dihydrofuran-2-one 3-heptyldihydro-5-methyl-2(3H)furanone 5-hydroxy-2.031 10.031 08.5-dimethyl-3-hydroxy-2.069 08.004 10.027 10.011 10.016 10.001 10.

063 02.054 02.062 05.087 07.113 02.044 07.041 09.062 09.024 08.053 07.5-trimethylhexanal 2-methyloctanal 4-methyloctanoic acid 3.089 07.020 02. 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone and 5tetradecenoic acid delta-lactone.023 08.122 02.003 02.5. mixture of isopropyl alcohol 2-butanone 2-pentanone 2-pentanol 3-hexanone 3-hexanol 2-heptanone 2-heptanol 3-heptanone 3-heptanol 4-heptanone 2-octanone 2-octanol 3-octanone 3-octanol 2-nonanone 2-nonanol 3-nonanone 3-decanol 2-undecanone 2-undecanol 2-tridecanone 2-pentadecanone 3-methyl-2-butanol 4-methyl-2-pentanone 2.002 02.026 05.034 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.062 02.088 07.5.019 02.1 (Lanjutan) No.6-dimethyloctanal 4-methylnonanoic acid 2-methylundecanal 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone.165 09.086 07.5-trimethyl-1-hexanol 3.123 09.7-dimethyl-1-octanol 2.6-dimethyl-4-heptanol isopropyl formate isopropyl acetate isopropyl propionate isopropyl butyrate isopropyl hexanoate isopropyl isobutyrate JECFA 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 EC 08.081 09.082 02.077 02.016 02.103 07.098 07.058 07. 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 Nama Senyawa 4-methylpentanoic acid 2-methylhexanoic acid 5-methylhexanoic acid 2-ethyl-1-hexanol 3.057 08.079 07.045 07.111 07.022 07.103 07.055 05.6-dimethyl-4-heptanone 2.061 02.096 02.003 09.415 FEMA 3463 3191 3572 3151 3324 3524 2727 3575 2391 2390 3574 2749 2929 2170 2842 3316 3290 3351 2544 3288 2545 3547 2546 2802 2801 2803 3581 2785 3315 3440 3605 3093 3246 3388 3724 3703 2731 3537 3140 2944 2926 2959 2935 2950 2937 25 dari 122 .137 02.017 07.116 05.

065 05.513 09.113 05.540 09.265 09.and 6-decenoic acid (mixture) 9-decenoic acid 9-undecenal 10-undecenal 10-undecenoic acid linoleic and linolenic acid (mixture) oleic acid methyl 3-hexenoate ethyl 3-hexenoate cis-3-hexenyl cis-3-hexenoate methyl cis-4-octenoate ethyl cis-4-octenoate ethyl cis-4.290 09.and 4pentenoate (mixture) ethyl 2-methyl-3.085 02.298 09. 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 Nama Senyawa isopropyl isovalerate isopropyl myristate isopropyl tiglate 3-octyl acetate 4-pentenoic acid cis-3-hexen-1-ol cis-3-hexenal 3-hexenoic acid 4-hexen-1-ol cis-4-hexenal cis-4-heptenal cis-3-octen-1-ol cis-5-octen-1-ol cis-5-octenal cis-6-nonen-1-ol cis-6-nonenal 4-decenal 5.059 05.039 08.254 08.267 09.7-octadienoate methyl 3-nonenoate ethyl trans-4-decenoate methyl 9-undecenoate ethyl 10-undecenoate butyl 10-undecenoate ethyl oleate methyl linoleate and methyl linolenate (mixture) 2-methyl-3-pentenoic acid 2.6-dimethyl-5-heptenal ethyl 2-methyl-3-pentenoate ethyl 2-methyl-4-pentenoate hexyl 2-methyl-3.191 09.128 02.093 05.110 05.268 09.450 09.074 05.058 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.050 02.013 09.035 08.6-dimethyl-6-hepten-1-ol 2.4pentadienoate methyl 3.075 08.236 09.524 09.517 08.284 09.094 02.074 09.036 05.068 08.041 08.056 05.1 (Lanjutan) No.113 05.238 09.048 02.059 FEMA 2961 3556 3229 3583 2843 2563 2561 3170 3430 3496 3289 3467 3722 3749 3465 3580 3264 3742 3660 3094 3095 3247 0332 2815 3364 3342 3689 3367 3344 3682 3710 3642 2750 2461 2216 2450 3411 3464 3663 2389 3456 3489 3693 3678 3361 3511 26 dari 122 .105 09.291 09.206 08.546 09.237 09.527 09.7-dimethyl-6-octenoate 2-methyl-4-pentenoic acid JECFA 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 EC 09.192 09.096 08.

013 09.096 02.008 07.1 380b.013 02.068 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.425 09.092 02.007 07.010 07.080 09.061 FEMA 2635 3060 2642 2636 2645 2639 2640 2646 2643 2644 3045 3052 3047 3053 3049 3050 3054 3563 3564 3176 3562 3565 2379 2380 2249 2249 2247 2250 2251 3243 3659 3622 3420 2594 2595 3175 3624 3625 3628 3626 3627 3447 3446 2711 2712 2713 2033 27 dari 122 .147 02. 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 Nama Senyawa linalool tetrahydrolinalool linalyl formate linalyl acetate linalyl propionate linalyl butyrate linalyl isobutyrate linalyl isovalerate linalyl hexanoate linalyl octanoate alpha-terpineol terpinyl formate terpinyl acetate terpinyl propionate terpinyl butyrate terpinyl isobutyrate terpinyl isovalerate p-menth-3-en-1-ol p-menth-8-en-1-ol p-menthan-2-one p-menthan-2-ol dihydrocarvone dihydrocarveol dihydrocarvyl acetate (+)-carvone (-)-carvone carveol carvyl acetate carvyl propionate beta-damascone alpha-damascone delta-damascone damascenone alpha-ionone beta-ionone gamma-ionone alpha-ionol beta-ionol dihydro-alpha-ionone dihydro-beta-ionone dihydro-beta-ionol dehydrodihydroionone dehydrodihydroionol methyl-alpha-ionone methyl-beta-ionone methyl-delta-ionone allyl alpha-ionone JECFA 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380a.107 07.071 07.130 09.132 07.116 02.015 09.115 02.092 07.061 09.088 07. 380.143 07.052 09.097 07.081 09.014 09.146 07.215 09.461 02.108 07.128 02.216 07.106 07.131 02.454 09.134 07.2 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 EC 02. 380.028 09.009 07.083 07.091 02.050 09.130 07.142 09.062 09.1 (Lanjutan) No.423 09.105 02.

455 09.036 07.120 02.051 09.3-hexanedione 3.3-pentadione 4-methyl-2.016 09.095 02.186 09.3.059 07.3-heptanedione 5-hydroxy-4-octanone 2.119 07.072 02.1 (Lanjutan) No.064 07.3-trimethyl-2norbornanol 4-thujanol methyl 1-acetoxycyclohexyl ketone JECFA 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 437 438 439 440 441 442 EC 07.056 07.2-cyclopentanedione 3.4-dimethyl-1.085 09.5.117 07.3-pentanedione 2.118 07.3-undecadione methylcyclopentenolone ethylcyclopentenolone 3.116 07.3-hexanedione 2.075 07.083 07.077 07.125 07.080 07.2-cyclopentanedione 3-ethyl-2-hydroxy-4methylcyclopent-2-en-1-one 5-ethyl-2-hydroxy-3methylcyclopent-2-en-1-one 2-hydroxy-2-cyclohexen-1-one 1-methyl-2.057 07.018 07.021 07.065 07.063 07.044 02.011 07.5-dimethyl-1.264 07.078 09.060 07.551 02. 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 Nama Senyawa 1.052 07.5-trimethyl-2cyclohexen-1-one menthol (+)-neo-menthol menthone DL-isomenthone menthyl acetate menthyl isovalerate (-)-menthyl lactate p-menth-1-en-3-ol piperitone 4-hydroxy-3-methyloctanoic acid gamma-lactone 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone 4-carvomenthenol 2-ethyl-1.4-dimethyl-4-acetyl-1cyclohexene alpha-irone alpha-iso-methylionone acetoin 2-acetoxy-3-butanone butan-3-one-2-yl butanoate diacetyl 3-hydroxy-2-pentanone 2.093 07.015 02.293 FEMA 3449 2597 2714 2008 3526 3332 2370 3550 2841 2730 2558 3168 3190 2543 2587 3090 2700 3152 3268 3269 3453 3454 3458 3305 3459 2665 2666 2667 3460 2668 2669 3748 3179 2910 3802 2248 3491 3239 3701 28 dari 122 .263 07.4-hexanedione 5-methyl-2.175 10.SNI 01-7152-2006 Tabel A.3-cyclohexadione 2-hydroxy-3.076 07.

1 (Lanjutan) No.154 12.2-glycerol ketal mono-menthyl succinate 1-ethylhexyl tiglate furfural furfuryl alcohol methyl sulfide methyl ethyl sulfide diethyl sulfide butyl sulfide 1.019 12.113 12.539 13.059 12.120 09.3-oxathiane 2-methylthioacetaldehyde 3-(methylthio)propionaldehyde 3-(methylthio)butanal 4-(methylthio)butanal 3-methylthiohexanal 2-(methylthio)methyl-2-butenal 2.162 12.079 12.062 12.088 12.539 12.8-dithianon-4-ene-4carboxaldehyde methyl 3-methylthiopropionate methylthiomethyl butyrate methyl 4-(methylthio)butyrate ethyl 2-(methylthio)acetate ethyl 3-methylthiopropionate ethyl 4-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)propyl acetate methylthiomethyl hexanoate ethyl 3-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)hexyl acetate S-methyl thioacetate ethyl thioacetate methyl thiobutyrate propyl thioacetate S-methyl 2-methylbutanethioate S-methyl 3-methylbutanethioate S-methyl 4methylpentanethioate S-methyl hexanethioate JECFA 443 444 445 446 447 448 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 EC 09.187 12.086 12.616 09.077 12.122 12.056 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.237 12.006 12.843 06.078 12.065 12.018 12.4-dithiane (1-buten-1-yl) methyl sulfide allyl sulfide methyl phenyl sulfide benzyl methyl sulfide 3-(methylthio)propanol 4-(methylthio)butanol 3-(methylthio)-1-hexanol 2-methyl-4-propyl-1.156 FEMA 3805 3806 3808 3810 3676 2489 2491 2746 3860 3825 2215 3831 3820 2042 3873 3597 3415 3600 3438 3578 3206 2747 3374 3414 3877 3601 3483 2720 3879 3412 3835 3343 3681 3883 3880 3836 3789 3876 3282 3310 3385 3708 3864 3676 3862 29 dari 122 .842 09.062 12.007 15.236 12.089 12.084 12. 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 Nama Senyawa (-)-menthol ethylene glycol carbonate (-)-menthol 1.061 12.157 09.2-glycerol ketal DL-menthone 1.060 12.007 12.066 12.063 16.040 12.001 12.188 12.and 2-propylene glycol carbonate (-)-menthone 1.032 12.211 12.002 12.149 12.018 13.

132 12.244 12.2-ethanedithiol JECFA 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506a.b 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 EC 12.004 12.203 12.010 12.012 15.066 FEMA 3329 3895 3788 3790 3816 3882 3207 3375 3266 3512 3376 3881 3335 3210 3857 3717 3809 3875 2716 3521 3897 3478 3874 3858 3792 3303 3262 3304 3842 3833 3503 2035 3896 3700 3472 3616 2147 3894 3240 3345 3666 3314 3484 30 dari 122 .173 12.048 12.192 12.041 12.176 12.023 12.052 12. 3.005 12.195 12.171 12.071 12.003 12.and 10-mercaptopinane allyl mercaptan prenylthiol 1-p-menthene-8-thiol thiogeraniol benzenethiol benzyl mercaptan phenethyl mercaptan o-toluenethiol 2-ethylthiophenol 2.054 12.027 12.080 12.085 12.042 12.227 12.194 12.128 12.5-dihydro-3(2H)-thiophenone 2-methyltetrahydrothiophen-3one 4-(methylthio)-4-methyl-2pentanone sodium 4-(methylthio)-2oxobutanoate di(butan-3-one-1-yl) sulfide o-(methylthio)phenol S-methyl benzothioate 2-(methylthiomethyl)-3phenylpropenal cis.049 12.035 12.201 12.064 12.082 12.150 12.and trans-menthone-8thioacetate methylsulfinylmethane methyl mercaptan propanethiol 2-propanethiol 1-butanethiol 2-methyl-1-propanethiol 3-methylbutanethiol 2-pentanethiol 2-methyl-1-butanethiol cyclopentanethiol 3-methyl-2-butanethiol 1-hexanethiol 2-ethylhexanethiol 2-.1 (Lanjutan) No.197 12.175 12.058 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.101 12.029 12.057 15.170 12.6-dimethyl(thiophenol) 2-naphthalenethiol 1.033 12.087 12. 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 Nama Senyawa allyl thiopropionate prenyl thioacetate methylthio 2(acetyloxy)propionate methylthio 2-(propionyloxy) propionate 3-(acetylmercapto)hexyl acetate 1-methylthio-2-propanone 1-(methylthio)-2-butanone 4-(methylthio)-2-butanone 4.

145 12.014 12.044 12.3-dithiolane 1.024 12.5-dimethyl-2.2-propanedithiol 1.028 FEMA 3878 3705 3588 3520 3477 3529 3477 3495 3514 3513 3475 3854 3850 3502 3509 3785 3855 3826 3180 3279 3677 3851 3852 3853 3856 3298 3357 3300 3177 3450 3901 3536 3201 3228 3827 3127 3576 3227 3865 2028 3541 3718 3448 31 dari 122 .006 12.038 15. 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 Nama Senyawa bis(methylthio)methane 2-methyl-1.047 12.072 12.031 12.218 12.235 12.037 12.5-dihydroxy-1.046 12.075 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.3-propanedithiol 1.138 12.076 12.234 12.036 12.083 12.137 12.022 12.5-dimethyl-1.217 15.055 12.036 12.067 12.026 12.9-nonanedithiol trithioacetone 3-mercapto-3-methyl-1-butanol 3-mercaptohexanol 2-mercapto-3-butanol alpha-methyl-beta-hydroxypropyl alpha-methyl-betamercaptopropyl sulfide 4-methoxy-2-methyl-2butanethiol 3-mercapto-3-methylbutyl formate 2.008 15.5-dihydroxy-1.4-trithiolane 3-methyl-1.034 12.4-trithiane dicyclohexyl disulfide JECFA 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 EC 12.3-butanedithiol 2.4dithiane sodium 3-mercaptooxopropionate dimethyl disulfide methyl propyl disulfide propyl disulfide diisopropyl disulfide allyl methyl disulfide methyl 1-propenyl disulfide propenyl propyl disulfide methyl 3-methyl-1-butenyl disulfide allyl disulfide 3.073 12.025 15.069 15.2.039 12.019 12.2-butanedithiol 1.1 (Lanjutan) No.6-hexanedithiol 1.070 12.4-dithiane 2-mercaptopropionic acid ethyl 2-mercaptopropionate ethyl 3-mercaptopropionate 3-mercaptohexyl acetate 3-mercaptohexyl butyrate 3-mercaptohexyl hexanoate 1-mercapto-2-propanone 3-mercapto-2-butanone 2-keto-4-butanethiol 3-mercapto-2-pentanone p-mentha-8-thiol-3-one 2.118 15.8-octanedithiol 1.009 12.3-butanedithiol 1.034 12.251 12.143 12.109 12.2.

045 12.012 06.548 09.010 09. 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 Nama Senyawa methyl phenyl disulfide methyl benzyl disulfide phenyl disulfide benzyl disulfide 2-methyl-2(methyldithio)propanal ethyl 2-(methyldithio)propionate dimethyl trisulfide methyl ethyl trisulfide methyl propyl trisulfide dipropyl trisulfide allyl methyl trisulfide diallyl trisulfide diallyl polysulfide 2-oxobutyric acid methyl 2-hydroxy-4methylpentanoate methyl 2-oxo-3methylpentanoate citronelloxyacetaldehyde 3-oxobutanal dimethyl acetal ethyl 3-hydroxybutyrate ethyl acetoacetate butyl acetoacetate isobutyl acetoacetate isoamyl acetoacetate geranyl acetoacetate methyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-oxohexanoate ethyl 2.013 12.039 09.011 06.436 09.068 12.404 09.017 09.079 06.542 09.155 12.403 09.020 12.047 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.009 12.435 09.550 05.280 02.445 09.514 07.121 12.3-nonanediol acetate (mixed esters) levulinic acid ethyl levulinate butyl levulinate 1.043 12.4-dioxohexanoate 3-(hydroxymethyl)-2-heptanone 1.025 08.074 08.161 12.441 09.168 12.405 09.535 09.439 FEMA 3872 3504 3225 3617 3866 3834 3275 3861 3308 3276 3253 3265 3533 3723 3706 3713 2310 3381 3428 2415 2176 2177 3551 2510 3508 3545 3683 3278 2804 2783 2627 2442 2207 3579 2586 2583 2585 2584 2375 2195 2396 2377 2488 2655 2374 32 dari 122 .444 08.402 09.532 09.401 09.1 (Lanjutan) No.038 09.225 08.490 09.066 09.023 12.4-nonanediol diacetate hydroxycitronellol hydroxycitronellal hydroxycitronellal dimethyl acetal hydroxycitronellal diethyl acetal diethyl malonate butyl ethyl malonate dimethyl succinate diethyl succinate fumaric acid (-)-malic acid diethyl malate JECFA 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 EC 12.081 12.522 09.023 09.

620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 Nama Senyawa meso-tartaric acid. sodium salt 2-oxopentanedioic acid 3-hydroxy-2-oxopropionic acid 3-phenyl-1-propanol 3-phenylpropyl formate 3-phenylpropyl acetate 3-phenylpropyl propionate 3-phenylpropyl isobutyrate 3-phenylpropyl isovalerate 3-phenylpropyl hexanoate methyl 3-phenylpropionate ethyl 3-phenylpropionate 3-phenylpropionaldehyde 3-phenylpropionic acid cinnamyl alcohol cinnamaldehyde ethylene glycol acetal cinnamyl formate cinnamyl acetate cinnamyl propionate cinnamyl butyrate cinnamyl isobutyrate cinnamyl isovalerate cinnamyl phenylacetate cinnamaldehyde JECFA 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 631.033 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A. mixture of (+)-. sodium salt 4-methyl-2-oxopentanoic acid 4-methyl-2-oxopentanoic acid.474 09.071 09.467 09.533 08.459 09.031 09.053 09.051 08.093 08.084 09.026 09.470 09.051 08.032 09.014 09.1 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 EC 08.1 633 633. (-)-.1 (Lanjutan) No.512 08.747 05. (±)diethyl tartrate adipic acid diethyl sebacate dibutyl sebacate ethylene brassylate aconitic acid ethyl aconitate (mixed esters) triethyl citrate tributyl acetylcitrate 3-methyl-2-oxobutanoic acid 3-methyl-2-oxobutanoic acid.018 09.014 FEMA 3044 2378 2011 2376 2373 3543 2010 2417 3083 3869 3869 3870 3871 3891 3843 2885 2895 2890 2897 2893 2899 2896 2741 2455 2887 2889 2294 2287 2299 2293 2301 2296 2297 2302 2300 2286 33 dari 122 .1 632 632. sodium salt 3-methyl-2-oxopentanoic acid 3-methyl-2-oxopentanoic acid.037 08.017 06.133 09.510 09.746 09.475 09.086 02.032 02.138 09.080 08.428 09.708 05.018 09.052 08.085 09.446 08.

094 06.026 09.731 09.040 05.730 09.046 04.468 05.738 09.740 09.103 05.734 09.518 09.027 04.036 09.048 05.1 (Lanjutan) No.743 09.041 05.301 FEMA 2288 2698 2430 2938 2939 2192 2193 2063 2551 2352 2641 3051 2142 2863 2894 2298 2065 3618 2066 2064 2067 3318 2957 2062 3640 2697 2191 2041 2569 3567 3181 3182 3223 3480 3530 2337 3156 3522 3649 3461 3072 3073 3753 3075 3387 3733 34 dari 122 .030 02.050 04. 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 Nama Senyawa cinnamic acid methyl cinnamate ethyl cinnamate propyl cinnamate isopropyl cinnamate butyl cinnamate isobutyl cinnamate isoamyl cinnamate heptyl cinnamate cyclohexyl cinnamate linalyl cinnamate terpinyl cinnamate benzyl cinnamate phenethyl cinnamate 3-phenylpropyl cinnamate cinnamyl cinnamate alpha-amylcinnamyl alcohol 5-phenylpentanol alpha-amylcinnamyl formate alpha-amylcinnamyl acetate alpha-amylcinnamyl isovalerate 3-phenyl-4-pentenal 3-(pisopropylphenyl)propionaldehyd e alpha-amylcinnamaldehyde dimethyl acetal p-methylcinnamaldehyde alpha-methylcinnamaldehyde alpha-butylcinnamaldehyde alpha-amylcinnamaldehyde alpha-hexylcinnamaldehyde p-methoxycinnamaldehyde o-methoxycinnamaldehyde p-methoxy-alphamethylcinnamaldehyde phenol o-cresol m-cresol p-cresol p-ethylphenol o-propylphenol p-propylphenol 2-isopropylphenol o-tolyl acetate p-tolyl acetate o-tolyl isobutyrate p-tolyl isobutyrate p-tolyl 3-methylbutyrate p-tolyl octanoate JECFA 657 658 659 660 661 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 EC 08.429 09.733 09.736 09.732 09.745 09.480 09.090 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.742 09.026 04.050 05.039 05.744 09.022 04.737 09.122 05.028 04.051 04.022 09.051 09.739 02.041 04.013 05.228 09.044 09.118 05.782 09.

711 04.068 13.102 09.038 FEMA 3076 3077 3595 3249 3596 3066 2245 3739 3589 2532 3485 2671 2436 3598 3687 2535 3695 3137 3704 3671 3729 2675 3655 3548 2588 3662 3124 3652 3738 3918 3958 3959 3960 3963 2490 3346 3397 3396 3283 3244 3244 2702 2703 2946 2072 2571 3518 3128 3468 2963 35 dari 122 .062 13.6-dimethoxyphenol 4-ethyl-2.174 09. 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 Nama Senyawa p-tolyl laurate p-tolyl phenylacetate 2.055 07.005 09.709 04.006 04.045 04.1 (Lanjutan) No.025 13.1-dimethylethyl)phenol phenyl acetate 2-phenylphenol phenyl salicylate 2.6-dimethoxyphenol 4-propyl-2.005 13.688 09.057 14.019 04.6-xylenol 3.009 04.019 14.005 04.008 04.6-dimethoxyphenol 2-hydroxyacetophenone 4-(p-hydroxyphenyl)-2-butanone dihydroxyacetophenone zingerone 4-(p-acetoxyphenyl)-2-butanone vanillylidene acetone 4-(1.085 13.002 13.128 13.067 13.6-trimethylphenol furfuryl acetate furfuryl propionate furfuryl pentanoate furfuryl octanoate furfuryl 3-methylbutanoate 5-methylfurfural methyl 2-furoate propyl 2-furoate amyl 2-furoate hexyl 2-furoate octyl 2-furoate 2-benzofurancarboxaldehyde 2-phenyl-3-carbethoxyfuran pulegone isopulegone isopulegol JECFA 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 739 740 741 742 743 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 EC 09.689 04.3.SNI 01-7152-2006 Tabel A.053 04.037 04.031 04.048 04.049 09.124 07.003 13.036 04.019 13.056 04.4-xylenol thymol carvacrol p-vinylphenol resorcinol guaiacol o-(ethoxymethyl)phenol 2-methoxy-4-methylphenol 4-ethylguaiacol 2-methoxy-4-propylphenol guaiacyl acetate guaiacyl phenylacetate hydroquinone monoethyl ether 2.042 04.052 04.288 07.001 13.057 04.031 13.5-xylenol 2.135 07.051 07.046 04.047 04.064 09.6-dimethoxyphenol 4-methyl-2.073 13.007 04.6-dimethoxyphenol 2-methoxy-4-vinylphenol 4-allyl-2.

053 14.7-dihydro-5Hcyclopentapyrazine 6.5.(5 or 6)dimethylpyrazine methoxypyrazine (2.5 or 6)-methoxy-3methylpyrazine 2-ethyl(or methyl)-(3-.067 14.054 14.6-tetramethylpyrazine 5-methyl-6.017 14.096 14.3-dimethylpyrazine 2.219 09.024 14.5-trimethylpyrazine 2-ethyl-3.067 02.098 14.062 14.051 14.043 14.055 14.5 or 6ethoxypyrazine 2-(mercaptomethyl)pyrazine 2-pyrazinylethanethiol pyrazinyl methyl sulfide JECFA 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 EC 07.3.018 14.780 14.142 14.5-diethyl-2-methylpyrazine 2.3.067 09.022 14.032 14.6-dimethylpyrazine 2.037 14.114 14.057 14.016 14.1 (Lanjutan) No.020 14.or 6)methoxypyrazine 2-methoxy-(3.5 or 6)isopropylpyrazine 2-methoxy-3-(1methylpropyl)pyrazine 2-isobutyl-3-methoxypyrazine 2-methyl-3.095 14.034 FEMA 2964 2962 2965 3560 2965 FDA 3309 3281 3961 3940 3271 3272 3273 3155 3919 3154 3136 3554 3133 3149 3150 3336 3915 3916 3237 3306 3917 3631 3126 3250 3327 3302 3183 3280 3358 3433 3132 3569 3299 3230 3231 36 dari 122 .044 14.056 14.5-diethyl-3-methylpyrazine 3.4(8)-dien-3-one menthofuran furfuryl butyrate cinnamyl benzoate 2-methylpyrazine 2-ethylpyrazine 2-propylpyrazine 2-isopropylpyrazine 2.7-dihydro-2.027 14.5-dimethylpyrazine 2. 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 Nama Senyawa isopulegyl acetate p-menth-1.021 14.127 09.006 14.026 14.050 14.219 07.069 14.6-dimethylpyrazine 2-ethyl-3-methylpyrazine 2-ethyl-6-methylpyrazine 2-ethyl-5-methylpyrazine 2. 5.005 14.031 14.SNI 01-7152-2006 Tabel A.3-diethylpyrazine 2-methyl-5-isopropylpyrazine 2-isobutyl-3-methylpyrazine 2.3-dimethyl-5Hcyclopentapyrazine (cyclohexylmethyl)pyrazine 2-acetylpyrazine 2-acetyl-3-ethylpyrazine 2-acetyl-3.025 14.(5 or 6)dimethylpyrazine 3-ethyl-2.3-diethyl-5-methylpyrazine 2.123 14.049 14.

133 07.002 FEMA 3208 3203 2685 2688 2684 2689 2686 2687 3139 2009 2677 2927 2387 2005 2723 3653 2674 3197 2879 2882 3074 2672 2880 2881 2734 2884 2424 3469 2953 2673 2208 2740 3760 2146 2134 2397 3226 2423 2416 2132 2128 2129 .027 02.064 09.4-dimethylacetophenone acetanisole methyl beta-naphthyl ketone 4-acetal-6-tert-butyl-1.035 14.231 09.3-diphenyl-2-propanone 1-phenyl-1.087 02.066 07.022 07.024 07.038 07.179 09.033 09.049 07.189 07.028 06.028 02.013 07.501 07. 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 Nama Senyawa (3.080 07.1 (Lanjutan) No.003 06.042 07.023 07.036 09.040 02.alpha-dimethylbenzyl alcohol acetophenone 4-methylacetophenone p-isopropylacetophenone 2.034 07.5 or 6)-(methylthio)-2methylpyrazine 5-methylquinoxaline alpha-methylbenzyl alcohol alpha-methylbenzyl formate alpha-methylbenzyl acetate alpha-methylbenzyl propionate alpha-methylbenzyl butyrate alpha-methylbenzyl isobutyrate p.079 09.004 07.2-propanedione ethyl benzoylacetate ethyl 2-acetyl-3phenylpropionate benzoin benzaldehyde dimethyl acetal benzaldehyde glyceryl acetal JECFA 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 37 dari 122 EC 14.030 02.032 07.026 07.144 09.029 02.1dimethylindan 1-(p-methoxyphenyl)-2propanone alpha-methylphenethyl butyrate 4-phenyl-2-butanol 4-phenyl-2-butyl acetate 4-(p-tolyl)-2-butanone 4-(p-methoxyphenyl)-2-butanone 4-phenyl-3-buten-2-ol 4-phenyl-3-buten-2-one 3-methyl-4-phenyl-3-buten-2one 1-phenyl-1-propanol alpha-ethylbenzyl butyrate propiophenone alpha-propylphenethyl alcohol 1-(p-methoxyphenyl)-1-penten3-one alpha-isobutylphenethyl alcohol 4-methyl-1-phenyl-2-pentanone 1-(4-methoxyphenyl)-4-methyl-1penten-3-one 3-benzyl-4-heptanone benzophenone 1.178 09.025 07.SNI 01-7152-2006 Tabel A.249 02.070 07.476 09.486 02.065 07.200 07.086 07.

021 09. 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 Nama Senyawa benzaldehyde propylene glycol acetal benzyl 2-methoxyethyl acetal benzyl formate benzyl propionate benzyl butyrate benzyl isobutyrate benzyl isovalerate benzyl trans-2-methyl-2butenoate benzyl 2.p) p-isopropylbenzyl alcohol 4-ethylbenzaldehyde tolualdehydes (mixed o.083 09.012 05.767 09.294 02.754 02.071 09.173 09.755 09.056 09.017 05.726 09.019 09.706 05.039 05.087 09.771 09.058 09.051 09.092 08.019 09.026 06.3-dimethylcrotonate benzyl acetoacetate benzyl phenylacetate benzoic acid methyl benzoate ethyl benzoate propyl benzoate hexyl benzoate isopropyl benzoate isobutyl benzoate isoamyl benzoate cis-3-hexenyl benzoate linalyl benzoate geranyl benzoate glyceryl tribenzoate propylene glycol dibenzoate methylbenzyl acetate (mixed o.128 09.776 09.426 09.768 09.458 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A. 1 (Lanjutan) No.705 08.132 09.770 09.032 06.757 09.068 05.406 09.022 09.p) tolualdehyde glyceryl acetal cuminaldehyde 2.m.015 05.4-dimethylbenzaldehyde butyl p-hydroxybenzoate anisyl alcohol anisyl formate anisyl acetate anisyl propionate anisyl butyrate anisyl phenylacetate veratraldehyde p-methoxybenzaldehyde p-ethoxybenzaldehyde methyl o-methoxybenzoate 2-methoxybenzoic acid 3-methoxybenzoic acid 4-methoxybenzoic acid methyl anisate ethyl p-anisate JECFA 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 EC 06.796 08.714 FEMA 2130 2148 2145 2150 2140 2141 2152 3330 2143 2136 2149 2131 2683 2422 2931 3691 2932 2185 2058 3688 2638 2511 3398 3419 3702 2933 3756 3068 3067 2341 2203 2099 2101 2098 2102 2100 3740 3109 2670 2413 2717 3943 3944 3945 2679 2420 38 dari 122 .145 09.725 09.m.077 09.508 09.494 09.806 09.812 09.

555 09.039 06.040 09.035 09.075 05.029 06.753 09.807 08.750 09.076 09.811 16.544 06.557 09.213 04.4-dihydroxybenzoic acid glycerol 3-oxohexanoic acid glyceride 3-oxooctanoic acid glyceride heptanal glyceryl acetal (mixed 1.263 09.016 05.220 09.4-trimethyl-1.3oxacyclopentane JECFA 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 EC 02.3-dioxolane 2.749 09. 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 Nama Senyawa vanillyl alcohol vanillyl ethyl ether vanillyl butyl ether vanillin vanillin acetate vanillin isobutyrate ethyl vanillin beta-dglucopyranoside ethyl vanillin piperonyl acetate piperonyl isobutyrate piperonal salicylaldehyde 2-hydroxy-4methylbenzaldehyde methyl salicylate ethyl salicylate butyl salicylate isobutyl salicylate isoamyl salicylate benzyl salicylate phenethyl salicylate o-tolyl salicylate 2.211 09.094 04.554 09.1 (Lanjutan) No.2-di[(1-ethoxy)ethoxy]propane 4-methyl-2-pentyl-1.553 09.018 09.2 and 1.019 09.752 09.094 06.748 09.091 09.2.556 06.055 05.093 05.2.552 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.3 acetals) 1.751 09.763 09.3-tris[(1'ethoxy)ethoxy]propane 3-oxodecanoic acid glyceride 3-oxododecanoic acid glyceride 3-oxotetradecanoic acid glyceride 3-oxohexadecanoic acid glyceride glycerol monostearate glyceryl monooleate triacetin glyceryl tripropionate tributyrin glycerol 5-hydroxydecanoate glycerol 5-hydroxydodecanoate propylene glycol propylene glycol stearate 1.430 05.543 09.098 FEMA 3737 3815 3796 3107 3108 3754 3801 2464 2912 2913 2911 3004 3697 2745 2458 3650 2213 2084 2151 2868 3734 3798 2525 3770 3771 2542 3593 3767 3768 3772 3769 2527 2526 2007 3286 2223 3685 3686 2940 2942 3534 3630 3441 39 dari 122 .

1-dimethoxyethane acetal octanal dimethyl acetal acetaldehyde ethyl cis-3-hexenyl acetal citral dimethyl acetal decanal dimethyl acetal 2.025 06.114 FEMA 2611 2440 2205 3752 3690 2190 2970 2969 2457 2083 3426 2002 2798 3775 2305 2363 3378 2541 2304 3349 3964 4015 3321 3837 3838 3987 3984 3986 3985 3988 4023 3531 3568 3544 2348 2347 2431 3592 3645 3657 3741 .047 08.536 09.028 08.119 05.and threo-butan2.289 02.008 06.081 06.3-diol acetal cyclohexanecarboxylic acid methyl cyclohexanecarboxylate ethyl cyclohexanecarboxylate cyclohexaneethyl acetate cyclohexaneacetic acid ethyl cyclohexanepropionate 2.004 09.433 09.112 08.442 09.040 08.060 09.005 06.6.123 09.434 16.534 09.001 09.1 (Lanjutan) No.144 14.039 09. 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 Nama Senyawa lactic acid ethyl lactate butyl lactate potassium 2-(1'ethoxy)ethoxypropanoate cis-3-hexenyl lactate butyl butyryllactate pyruvic acid pyruvaldehyde ethyl pyruvate isoamyl pyruvate 1.443 06.6-nonadienal diethyl acetal heptanal dimethyl acetal citral diethyl acetal 4-heptenal diethyl acetal 2-acetyl-3-methylpyrazine pyrazine 5.028 06.043 06.034 09.001 06.545 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.099 08.019 07.491 08.004 06.082 14.3-trimethylcyclopent-3-en-1yl acetaldehyde cis-5-isopropenyl-cis-2methylcyclopentan-1carboxaldehyde campholene acetate alpha-campholenic alcohol JECFA 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 40 dari 122 EC 08.2.015 02.009 06.015 06.165 05.8-tetrahydroquinoxaline ethyl vanillin isobutyrate ethyl vanillin propylene glycol acetal 4-hydroxybenzyl alcohol 4-hydroxybenzaldehyde 4-hydroxybenzoic acid 2-hydroxybenzoic acid 4-hydroxy-3-methoxybenzoic acid vanillin erythro.488 05.7.037 14.

272 02.784 FEMA 3178 3566 3557 2664 3731 3731 3389 3474 3639 3395 3439 3764 3405 3006 3007 3938 2858 2864 2857 2867 2861 2862 3632 2871 3221 3222 2870 2869 2866 2004 3125 2874 2876 2877 2875 3384 2878 2733 2452 41 dari 122 .006 06.SNI 01-7152-2006 Tabel A.8-dien-7-yl acetate 1.538 09.106 02.6dimethylbicyclo[3.036 05.6-trimethylcyclohexa-1.707 06.2.8-dien-7-al p-mentha-1.278 08.1 (Lanjutan) No.104 05.137 09.038 09.117 02.783 09.261 09.427 09.3dienyl methanal 2.466 09.3butylene glycol acetal phenylacetaldehyde diisobutyl acetal phenylacetic acid methyl phenylacetate ethyl phenylacetate JECFA 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 EC 05.496 09. 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 Nama Senyawa p-menth-1-en-9-al 1-p-menthen-9-yl acetate p-mentha-1.6-myrtenyl formate santalol (alpha and beta) santalyl acetate (alpha and beta) 10-hydroxymethylene-2-pinene phenethyl alcohol phenethyl formate phenethyl acetate phenethyl propionate phenethyl butyrate phenethyl isobutyrate phenethyl 2-methylbutyrate phenethyl isovalerate phenethyl hexanoate phenethyl octanoate phenethyl tiglate phenethyl senecioate phenethyl phenylacetate acetaldehyde phenethyl propyl acetal acetaldehyde butyl phenethyl acetal phenylacetaldehyde phenylacetaldehyde dimethyl acetal phenylacetaldehyde glyceryl acetal phenylacetaldehyde 2.216 09.1.027 06.6-tetrahydrocuminic acid 2.6.141 02.019 09.060 09.6.8-dien-7-ol p-mentha-1.030 06.016 06.407 09.121 05.6-trimethyl-1-cyclohexen-1acetaldehyde 2.034 02.067 05.615 05.091 09.098 09.168 09.262 09.031 09.5.302 09.112 05.1]hept-2-ene (myrtenal) myrtenol myrtenyl acetate 6.6.083 09.007 06.6-trimethyl-1&2-cyclohexen1-carboxaldehyde 2-formyl-6.024 08.

4.702 09.5-dithiazine 2.6-dimethyldihydro1.703 09.772 09.057 15.786 09.789 09.027 15.6-dimethyldihydro-1.033 15.3.5-dimethylthiazole 2.042 05.018 15.016 15.787 09.1 (Lanjutan) No.5-trimethylthiazole 2-isopropyl-4-methylthiazole 4-methyl-5-vinylthiazole 2.5-dithiazine and 4-isobutyl2.017 15.6-trimethyldihydro-4h-1.044 09.013 15.785 09.788 09.032 15.019 15.005 15.4.041 16.791 09.3.487 16.704 09.109 3782 4017 4018 42 dari 122 .6-dimethyldihydro1.3.6-dihydro-4h1.5-dimethyl-2-isobutyl-3thiazoline 2-isobutyl-4. 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 Nama Senyawa propyl phenylacetate isopropyl phenylacetate butyl phenylacetate isobutyl phenylacetate isoamyl phenylacetate hexyl phenylacetate 3-hexenyl phenylacetate octyl phenylacetate rhodinyl phenylacetate linalyl phenylacetate geranyl phenylacetate citronellyl phenylacetate santalyl phenylacetate (alpha and beta) p-tolylacetaldehyde p-isopropylphenylacetaldehyde methyl p-tert-butylphenylacetate phenoxyacetic acid ethyl (p-tolyloxy)acetate 2-phenoxyethyl isobutyrate sodium 2-(4methoxyphenoxy)propanoate thiamine hydrochloride 4-methyl-5-thiazoleethanol thiazole 2-(1-methylpropyl)thiazole 2-isobutylthiazole 4.028 15.027 15.4.797 09.022 15.4-dimethyl-5-vinylthiazole benzothiazole 2-acetylthiazole 2-propionylthiazole 4-methylthiazole 2-ethyl-4-methylthiazole 4.805 09.014 15.3.035 15.804 09.113 15.049 09.6-dimethyl and 4isopropyl-2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.079 FEMA 2955 2956 2209 2210 2081 3457 3633 2812 2895 3501 2516 2315 3008 3071 2954 2690 2872 3157 2973 3773 3322 3204 3615 3372 3134 3274 3325 3555 3313 3145 3256 3328 3611 3716 3680 3621 3781 1045 1046 1047 1047 1048 1049 15.5-dithiazine (mixture) 2.3.712 05.5dithiazine (mixture) 2-isopropyl-4.026 15.5dithiazine JECFA 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 EC 09.6-triisobutyl-5.020 15.758 08.

or 6(furfurylthio)pyrazine S-methyl thiofuroate 4-[(2-furanmethyl)thio]-2pentanone 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-4heptanone 2.4-dimethyl-5-acetylthiazole 2-ethoxythiazole 2-methyl-5-methoxythiazole 4.030 15.033 13. 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 Nama Senyawa 5-methyl-2thiophenecarboxyaldehyde 3-acetyl-2.6-dimethyl-3-[(2-methyl-3furyl)thio]-4-heptanone 4-[(2-methyl-3-furyl)thio]-5nonanone ethyl 3-(furfurylthio)propionate JECFA 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 43 dari 122 EC 15.002 15.029 13.064 13.026 13.077 13.008 15.5-dimethyl-2-ethyl-3-thiazoline 2-(2-butyl)-4.5-dimethyl-3-thiofuroylfuran furfuryl mercaptan s-furfuryl thioformate s-furfuryl thioacetate s-furfuryl thiopropionate furfuryl methyl sulfide furfuryl isopropyl sulfide methyl furfuryl disulfide propyl furfuryl disulfide 2.056 13.041 13.078 13.38 3571 3674 .153 13.142 13.5-dimethyl-3thiazoline 2-methyl-3-furanthiol 2-methyl-3-(methylthio)furan 2-methyl-5-(methylthio)furan 2.001 15.5-dimethyl-3-furan thioisovalerate 2.2'-(thiodimethylene)difuran 2.040 13.015 13.152 13.075 13.021 15.1 (Lanjutan) No.5-dimethyl-3-furanthiol methyl 2-methyl-3-furyl disulfide propyl 2-methyl-3-furyl disulfide bis(2-methyl-3-furyl) disulfide bis(2.050 13.093 FEMA 3209 3527 3062 3323 3205 3267 3340 3192 3620 3619 3188 3949 3366 3451 3573 3607 3259 3476 3260 3973 3482 3481 2493 3158 3162 3347 3160 3161 3362 3979 3238 3146 3189 3311 3840 3570 35.082 13. s-(2-methyl-3furanyl) ester 2.151 13.065 13.004 15.063 13.2'-(dithiodimethylene)difuran 2-methyl-3-.071 13.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dimethyl-3-furyl) disulfide bis(2-methyl-3-furyl) tetrasulfide ethanoic acid.053 13.016 13.015 15.017 13. 5.179 13.196 13.079 13.032 13.024 15.055 13.011 15.5-dimethylthiophene 2-thienylmercaptan 2-thienyl disulfide 4-methyl-5-thiazoleethanol acetate 2.051 13.

5-dimethyltetrahydro-3-furyl thioacetate.095 07.6.SNI 01-7152-2006 Tabel A.7-dimethyl-2.086 13.5dihydrofuran 2-methyl-3-tetrahydrofuranthiol 2.160 09.105 FEMA 3636 3787 3971 3972 2349 2351 2353 2355 2354 3848 3962 3909 3910 3946 3947 3948 3435 2573 3360 3473 3261 3939 3061 3553 3577 3196 3552 3889 3829 3966 3365 2707 3059 3542 3442 3417 3352 3399 3400 44 dari 122 .6-trimethylcyclohexanone 2-sec-butylcyclohexanone 4-isopropyl-2-cyclohexenone tetramethylethylcyclohexenone (mixture of isomers) isophorone 3-methyl-5-propyl-2-cyclohexen1-one 3-methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one isojasmone (E)-2-(2-octenyl)cyclopentanone 2-(3.015 07.129 07.100 07.172 07.4. cis and trans isomers 3.194 09.10-dimethyl-5.6-tetrahydropseudoionone 6.149 07.5-dimethyltetrahydrofuran-3thiol.126 07.048 07.393 13. cis and trans isomers 2.140 02.180 07.6octadienyl)cyclopentanone 3-decanone 5-methyl-5-hexen-2-one 6-methyl-5-hepten-2-one 3.6.9-undecadien-2one 2.045 07. 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 Nama Senyawa 2-methyl-3-thioacetoxy-4.179 07.112 07.230 09.033 07.148 07.069 07.035 07.3.5-trimethyl cyclohexanol cyclohexanone cyclopentanone 2-methylcyclohexanone 3-methylcyclohexanone 4-methylcyclohexanone 1-methyl-1-cyclopenten-3-one 2-hexylidene cyclopentanone 3-methyl-2-cyclohexen-1-one 2.034 07.160 13.098 07. cis and trans isomers cyclohexyl acetate cyclohexyl butyrate cyclohexyl formate cyclohexyl isovalerate cyclohexyl propionate p-1(7)8-menthadien-2-yl acetate.464 09.1 (Lanjutan) No.104 07.209 07.027 09.2.5.123 07.151 07.10-trimethyl-2.114 07.10pentadecatrien-14-one 3-penten-2-one 4-hexen-3-one 2-hepten-4-one 3-hepten-2-one JECFA 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 EC 13.219 07.044 07.

102 02.082 07.6.070 10. 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 Nama Senyawa 3-octen-2-one 2-octen-4-one 3-decen-2-one 4-methyl-3-penten-2-one 5-methyl-3-hexen-2-one 5-methyl-2-hepten-4-one 6-methyl-3.099 07.177 07.244 07.106 07.081 07.102 07.1 (Lanjutan) No.101 07.249 07.240 10.136 02.7octatrien-3-ol 6-undecanone 2-methylheptan-3-one 4-hydroxy-4-methyl-5-hexenoic acid gamma lactone (+/-)3-methyl-gammadecalactone 4-hydroxy-4-methyl-7-cisdecenoic acid gamma lactone tuberose lactone dihydromintlactone mintlactone dehydromenthofurolactone (+/-)-(2.7-dimethyl-1.139 07.050 10.121 07.253 02.R)-3.924 09.036 10.8-dimethyl-3.109 16.-trimethyl-2hydroxycyclohexylidene)acetic acid gamma-lactone sclareolide octahydrocoumarin 2-(4-methyl-2hydroxyphenyl)propionic acid gamma-lactone 3-propylidenephthalide JECFA 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 EC 07.138 02.055 13.6.023 02.5.52 45 dari 122 .034 13.099 02.188 07.E)-3.146 07.005 FEMA 3416 3603 3532 3368 3409 3761 3363 3868 3955 3969 4001 4008 3602 3888 3893 3980 3981 4007 4012 3382 3515 3752 3584 3608 2805 3824 3830 4022 4000 4051 3999 3937 4067 4032 3764 3755 4020 3794 3791 3863 29.161 10.193 09.923 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-heptadien-2-one (E)-7-methyl-3-octen-2-one 3-nonen-2-one (E) & (Z)-4.658 09.925 09.5-octadien-2-one 3-octen-2-ol (E)-2-octen-4-ol 2-pentyl butyrate (+/-)heptan-3-yl acetate (+/-)heptan-2-yl butyrate (+/-)nonan-3-yl acetate 2-pentyl acetate 1-penten-3-one 1-octen-3-one 2-pentyl-1-buten-3-one 1-penten-3-ol 1-hexen-3-ol 1-octen-3-ol 1-decen-3-ol (E.7nonadien-2-one (E)-6-methyl-3-hepten-2-one (E.107 07.104 02.061 10.657 07.

4.6-trans-nonadienal (E.025 10.E)-2.079 FEMA 3334 3333 2381 2699 3217 3922 3429 3921 3714 2459 3164 3956 3721 3466 3951 2780 3212 3377 3766 3952 3911 3135 3869 3148 3832 3648 3422 3670 3637 3638 3998 3647 3407 3646 2054 3187 3599 3432 2678 3510 3194 3195 3143 2706 2180 3392 3406 2438 3711 3800 46 dari 122 .6-nonadien-1-ol 2.001 08.107 05.127 05.4-dodecadienal 2-trans-6-cis-dodecadienal 2-trans-4-cis-7-cis-tridecatrienal (+/-)-2-methyl-1-butanol 3-methyl-2-buten-1-ol 2-methyl-2-butenal 3-methyl-2-butenal ammonium isovalerate 3-methylcrotonic acid trans-2-methyl-2-butenoic acid isobutyl 2-butenoate 2-methylallyl butyrate 4-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenoic acid 2.Z)-2.124 16.071 05.4-decadien-1-ol 2-trans.070 08.024 13.177 05.081 09.1 (Lanjutan) No.4-heptadienal (E.057 08.6-trans-octadienal 2.4-undecadienal trans.090 08.188 02.408 05.084 05.033 05.108 05.139 05.E)-2.300 09.840 05.109 05.4-decadienoate 2.273 09.7-decatrienoate propyl 2.162 05.4-nonadien-1-ol 2.076 02. 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 Nama Senyawa 3-n-butylphthalide 3-butylidenephthalide dihydrocoumarin 6-methylcoumarin 2.4-octadienal 2-trans.009 13.4-nonadienal nona-2-trans-6-cis-dienal 2-trans.E)-2.064 09.4-hexadienoic acid methyl sorbate ethyl sorbate (E.4-octadien-1-ol trans.4-hexadien-1-ol (E.371 09.044 08.064 02.058 05.126 08.172 02.085 09.E)-2.4-dimethyl-2-pentenoic acid 2-methylheptanoic acid isobutyl angelate 2-butyl-2-butenal 2-isopropyl-5-methyl-2-hexenal 2-ethyl-2-heptenal 2-methyl-2-octenal 4-ethyloctanoic acid JECFA 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 EC 10.120 05.4-hexadienal (E.4-trans-decadienal methyl (E)-2-(Z)-4-decadienoate ethyl trans-2-cis-4-decadienoate ethyl 2.trans-2.114 05.049 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.055 08.101 02.E)-2.095 05.260 09.111 02.639 09.105 05.047 09.4-pentadienal 2.trans-2.194 05.6-nonadien-1-ol acetate (E.012 05.125 05.

4-cineole eucalyptol nerol oxide 2.005 03.7.089 FEMA 2309 2307 3142 2980 2507 2770 2303 3886 3141 4019 4005 3131 3777 3658 2465 3661 3735 3236 3774 3822 3471 2097 2680 2681 2930 3828 3436 2246 3799 2385 2386 3138 2144 2139 3198 3667 2371 FDA 2768 3719 2468 2474 47 dari 122 .027 02.094 13.062 04.001 13.019 03.10dodecatrienal 12-methyltridecanal farnesol sec-butyl ethyl ether 1-ethoxy-3-methyl-2-butene 1.9-tetramethyl-13oxatricyclo(8.029 03.054 04.010 03.130 05.004 09.036 02.058 05.098 13.6.2.006 04.074 04.015 04.2-dimethoxybenzene m-dimethoxybenzene p-dimethoxybenzene 3.040 03.169 02.148 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.4-dimethoxy-1-vinylbenzene benzyl ethyl ether benzyl butyl ether methyl phenethyl ether diphenyl ether dibenzyl ether beta-naphthyl methyl ether beta-naphthyl ethyl ether beta-naphthyl isobutyl ether isoeugenol isoeugenyl formate JECFA 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 EC 02.7-dimethyl-6-octenoic acid rhodinol geraniol nerol citral 8-ocimenyl acetate 2. 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 Nama Senyawa citronellol citronellal 3.170 13.033 04.6-trimethyl-6vinyltetrahydropyran tetrahydro-4-methyl-2-(2methylpropen-1-yl)pyran theaspirane cycloionone 1.6-dimethyl-10-methylene2.088 13.11-trimethyl-2.9))tridecan e anisole o-methylanisole p-methylanisole p-propylanisole 2.016 04.003 03.034 04.007 03.063 04.6.5.011 05.039 04.035 03.004 04.0.043 04.032 04.5.021 08.165 13.1 (Lanjutan) No.072 04.11-dodecatrienal 3.012 02.038 04.0(4.3.014 04.4-dimethylanisole 1-methyl-3-methoxy-4isopropylbenzene carvacryl ethyl ether 1.020 05.

6-nonadien-1-ol (E.030 09. 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 Nama Senyawa isoeugenyl acetate isoeugenyl phenylacetate propenylguaethol propenyl-2.563 09.179 12.239 12.257 15.0)octane-3.674 05.212 12.6-dimethoxyphenol isoeugenyl methyl ether isoeugenyl ethyl ether isoeugenyl benzyl ether isoprenyl acetate 4-pentenyl acetate 3-hexenal 3-hexenyl formate (cis and trans mixture) ethyl 5-hexenoate cis-hexenyl propionate cis-hexenyl isobutyrate (Z)-3-hexenyl (E)-2-butenoate cis-hexenyl tiglate cis-hexenyl valerate 3-hexenyl 2-hexenoate (Z)-4-hepten-1-ol ethyl cis-4-heptenoate (Z)-5-octenyl propionate (Z.198 14.139 08.5-trithiahexane diisopropyl trisulfide Indole 6-Methylquinoline Isoquinoline Skatole JECFA 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 EC 09.564 09.169 12.571 09.007 12.075 09.922 02.241 12.921 09.918 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.238 12.013 04.4-dithia-1-methyl-8oxabicyclo(3.007 14.6-nonadien-1-ol (E.255 12.240 09.017 04.151 09.3'-(1'oxa-2'-methyl)-cyclopentane] 2-(methylthio)ethanol ethyl 5-(methylthio)valerate 2.1 (Lanjutan) No.Z)-3.002 04.and threo-3-mercapto-2methylbutan-1-ol (±)-2-mercaptomethylpentan-1ol 3-mercapto-2-methylpentan-1-ol (racemic) 3-mercapto-2-methylpentanal 4-mercapto-4-methyl-2pentanone (±)-ethyl 3-mercaptobutyrate ethyl 4-(acetylthio)butyrate spiro[2.3.189 09.655 09.3.559 09.710 04.568 09.917 05.055 04.566 09.001 14.6-nonadien-1-ol acetate 9-decenal 4-decenoic acid cis-4-decenyl acetate erythro.004 FEMA 2470 2477 2922 3728 2476 2472 3698 3991 4011 3923 3353 3976 3778 3929 3982 3931 3936 3928 3841 3975 3890 3885 3884 3953 3912 3914 3967 3993 3995 3996 3994 3997 3977 3974 3270 4004 3978 4021 3968 2593 2744 2978 3019 48 dari 122 .018 09.Z)-3.Z)-3.042 14.

073 02.515 FDA FDA 172.045 14.164 01.5-Undecatriene d-3-Carene Farnesene (alpha and beta) 1-Methyl-1.060 14.017 01.030 14.059 14.SNI 01-7152-2006 Tabel A.068 14.3-cyclohexadiene beta-Bourbonene Cadinene (mixture of isomers) Guaiene Butyl 2-decenoate 2-Decenal 2-Dodecenal Ethyl acrylate Ethyl2-nonynoate 2-Hexenal 2-Hexen-1-ol JECFA 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 49 dari 122 EC 14.6-octatriene p-Mentha-1.3.072 14.071 14.008 01.024 01.046 14.047 14.021 01.003 01.016 01.037 09.066 14.1 (Lanjutan) No.037 09.006 01.026 09.041 14.013 01.058 14.020 01.007 01.020 FEMA 3147 3184 3202 3232 3251 3284 3370 3371 3383 3386 3394 3424 3540 3546 3614 3709 3751 4065 2229 2252 2356 2633 2762 2856 2902 2903 3046 3129 3144 3186 3193 3331 3443 3539 3558 3559 3795 3821 3839 FDA FDA 172.061 14.515 2194 2366 2402 2418 2448 2560 2562 . 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 Nama Senyawa 1-Ethyl-2-acetylpyrrole 1-Methyl-2-acetylpyrrole Methyl 2-pyrrolyl ketone 2-Pyridinemethanethiol 2-Acetylpyridine N-Furfurylpyrrole 2-(2-Methylpropyl)pyridine 3-(2-Methylpropyl)pyridine 2-Pentylpyridine Pyrrole 3-Ethylpyridine 3-Acetylpyridine 2.3-diene p-Mentha-1.039 14.134 14.076 05.002 01.018 01.014 01.4-diene 1.019 01.157 05.7-Dimethyl-1.045 01.011 01.005 01.235 05.009 01.061 01.alpha-Dimethylstyrene 4-Methylbiphenyl 1-MethyI naphthalene Bisabolene Valencene 3.038 13.040 01.029 01.010 01.065 14.3.004 01.6-Dimethylpyridine 5-Ethyl-2-methylpyridine 2-Propionylpyrrole Methyl nicotinate 2-(3-Phenylpropyl)pyridine 2-PropyIpyridine Camphene beta-Caryophyllene p-Cymene d-Limonene Myrcene alpha-Phellandrene alpha-Pinene beta-Pinene Terpinolene Biphenyl p.

054 05.564 & 09.131 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.101 09.153 09.396 09.276 09.395 06.-Trimethyl-2-norbornanyl acetate Methyl jasmonate Cycloheptadeca-9-en-1-one 3-Methyl-1-cyclopentadecanone JECFA 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 EC 09.397 09.176 09.110 07.456 09.078 05.521 07.218 09.& (E)-2-Hexenyl propionate (E)-2-hexenal diethyl acetal 2-Undecen-1-ol Borneol Isoborneol Bornyl acetate Isobornyl acetate Bornyl formate Isobornyl formate Isobornyl propionate Bornyl valerate Bornyl isovalerate (endo-) Isobornyl isovalerate d-Camphor d-Fenchone Fenchyl alcohol Nootkatone 1.210 02. 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 Nama Senyawa 2-(E)Hexen-1-yl acetate Methyl 2-nonynoate Methyl 2-octynoate Methyl 2-undecynoate 2-Tridecenal trans-2-Heptenal trans-2-Hexenoic acid 2-Nonenal 2-Octenal 2-Pentenal trans-2-Nonen-1-ol 2-Undecenal trans-2-0cten-1-yI acetate trans-2-0cten-1-yl butanoate cis-2-Nonen-1-ol (E)-2-0cten-1-ol (E)-2-Butenoic acid (E)-2-Decenoic acid (E)-2-Heptenoic acid (Z)-2-Hexen-1-ol trans-2-Hexenyl butyrate (E)-2-Hexenyl formate trans-2-Hexenyl isovalerate trans-2-Hexenyl propionate trans-2-Hexenyl pentanoate (E)-2-Nonenoic acid (E)-2-Hexenyl hexanoate (Z)-3.072 05.109 09.156 09.090 05.269 09.190 05.457 07.158 09.156 09.239 05.3.399 09.192 08.059 09.277 02.017 09.3.398 09.016 02.031 02.112 02.102 02.123 02.073 08.159 02.1 (Lanjutan) No.089 09.082 09.196 09.006 07.395 08.150 08.111 FEMA 2564 2726 2729 2751 3082 3165 3169 3213 3215 3218 3379 3423 3516 3517 3720 3887 3908 3913 3920 3924 3926 3927 3930 3932 3935 3954 3983 3933 & 3932 4047 4068 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2230 2479 2480 3166 3390 3410 3425 3434 50 dari 122 .072 08.038 07.

012 17.SNI 01-7152-2006 Tabel A.005 17.020 13.001 17.136 07.4a.5.033 17.010 FEMA 3587 3594 3715 3763 3776 3784 3844 3845 3849 3907 3992 4006 4054 4053 3252 3263 3285 3287 3295 3297 3301 3319 3444 3445 3585 3656 3684 3694 3726 3736 3813 3818 3819 3847 2566 2898 3055 3056 3057 3058 3174 51 dari 122 .007 13.101 07.026 13.015 17.166 13.018 17.023 17.5-dimethyl-3(2H)furanone JECFA 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1434 1435 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 EC 02.305 09.8-diol beta-Alanine L-Cysteine L-Glutamic acid Glycine DL-Isoleucine L-Leucine DL-Methionine L-Proline DL-Valine DL-(3-Amino-3carboxypropyl)dimethylsufonium chloride L-Phenylalanine L-Aspartic acid L-Glutamine L-Histidine DL-Phenylalanine L-Tyrosine Taurine DL-Alanine L-Arginine L-Lysine 2-Hexyl-4acetoxytetrahydrofuran 2-(3Phenylpropyl)tetrahydrofuran Tetrahydrofurfuryl acetate Tetrahydrofurfuryl alcohol Tetrahydrofurfuryl butyrate Tetrahydrofurfuryl propionate 4-Hydroxy-2.019 17.056 17.100 02.2-diol Bornyl butyrate D.6-tetrahydro2(3H)-naphthalenone 3-Methyl-2-(n-pentanyl)-2cyclopenten-1-one Dihydronootkatone 3-L-Methoxypropane-1.022 16.1 (Lanjutan) No.224 09.920 17.034 17.140 07.049 13.153 02.048 13.002 17.010 17.017 17.319 09. 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 Nama Senyawa 2(10)-Pinen-3-ol Verbenol 7-Methyl-4.014 17.003 17.L-Menyhol(+/-)-propylene glycol carbonate L-Monomenthyl glutarate L-Menthyl methyl ether p-Menthane-3.008 17.007 17.2-diol beta-Ionyl acetate alpha-Isomethylionyl acetate 3-(1-Methoxy)-2-methylpropane1.

5-Diethyltetrahydrofuran cis. 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 Nama Senyawa Tetrahydrofurfuryl cinnamate 2-Methyltetrahydrofuran-3-one 2-Ethyl-4-hydroxy-5-methyl3(2H)-furanone 4-Hydroxy-5-methyl-3(2H)furanone 2.062 09.090 13.029 09.043 05.084 13.042 13.052 05.2-vinyl-5-(2hydroxy-2-propyl)tetrahydrofuran (Linalool oxide) 5-Isopropenyl-2-methyl-2vinyltetrahydrofuran (cis and trans mixture) 4-Acetoxy-2.802 05.057 09.2-Dimethyl-5-(1-methylpropen1-yl)tetrahydrofuran 2.1 (Lanjutan) No.096 13.099 05.100 05.5-Dimethyl-4-methoxy-3(2H)furanone 2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.485 05. m-.046 05.484 05.109 FEMA 3320 3373 3623 3635 3664 3665 3743 3746 3759 3797 4058 2453 2732 2735 2736 2737 2738 2739 2743 2748 2886 2888 2891 2892 3078 3199 3200 3224 3341 3519 3629 3892 52 dari 122 .)-2-(5-Methyl-5-vinyltetrahydrofuran-2yl)propionaldehyde Ethyl 4-phenylbutyrate beta-Methylphenethyl alcohol 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl acetate 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl isobutyrate 2-Methyl-4-phenylbutyraldehyde 3-Methyl-2-phenylbutyraldehyde Methyl 4-Phenylbutyrate 2-Methyl-3-(p-isopropylphenyl) propionaldehyde 2-Methyl-3-tolylpropionaldehyde (mixed o-.045 05.099 09.097 13.073 09.085 13.108 08.089 13.030 09.097 09.060 13. p-) 2-Phenylpropionaldehyde 2-Phenylpropionaldehyde dimethyl acetal 2-Phenylpropyl butyrate 2-Phenylpropyl isobutyrate 2-(p-Tolyl)propionaldehyde 5-Methyl-2-phenyl-2-hexenal 4-Methyl-2-phenyl-2-pentenal 2-Phenyl-2-butenal EthyI 2-ethyl-3phenylpropanoate 2-Phenyl-4-pentenal 2-Methyl-4-phenyl-2-butanol 2-0xo-3-phenylpropionic acid JECFA 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 EC 13.5-dimethyl3(2H)furanone (+/.115 02.038 06.095 13.trans-2-Methyl.729 05.728 02.

163 13.5-dimethyl furan 2-Acetyl-2.074 13.107 13.or 6-keto-1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.148 13.006 13.or 6-keto-1.028 13.021 13.106 13.043 13.123 13.054 13.3-Dimethylbenzofuran 2.5-Dimethyl-3-furanthiol acetate Furfuryl 2-methyl-3-furyl disulfide JECFA 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 EC 07.044 13.4-dioxane 2-Methylfuran 2.066 13.014 07.4-dioxane 2-Hexyl.029 13.022 13.5-Dimethyl furan 2-Ethyl furan 2-Butylfuran 2-Pentylfuran 2-Heptyfuran 2-Decylfuran 3-Methyl-2-(3-methylbut-2-enyl)furan 2.061 13.178 FEMA 2656 3487 3462 3941 2204 2076 2574 4179 4106 3673 4081 3317 3401 4090 4174 3535 4095 2494 2704 4175 3307 2492 3586 3163 3609 4071 3391 4083 2496 4192 4120 2495 3418 2435 2198 2071 2070 2865 2945 3970 3159 4114 3337 4034 4119 53 dari 122 .5-Dimethyl-3-oxo-(2H)-fur-4-yl butyrate Furfuryl methyl ether Ethyl furfuryl ether Difurfuryl ether 2.103 13.4-Difurfurylfuran 3-(2-Furyl)acrolein 2-Methyl-3(2-furyl)acrolein 3-(5-Methyl-2-furyl)prop-2-enal 3-(5-Methyl-2-furyl)-butanal 2-Furfurylidenebutyraldehyde 2-Phenyl-3-(2-furyl)prop-2-enal 2-Furyl methyl ketone 2-Acetyl-5-methylfuran 2-Acetyl-3.023 13.034 13.070 13.027 13.116 13.525 13.5-dimethyl furan 2-Butyrylfuran (2-Furyl)-2-propanone 2-Pentanoylfuran 1-(2-Furyl)butan-3-one 4-(2-Furyl)-3-buten-2-one Pentyl 2-furyl ketone Ethyl 3-(2-furyl)propanoate Isobutyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 4-(2-furan)butyrate Phenetyl 2-furaoate Propyl 2-furanacrylate 2.083 13.047 09.024 13.101 13.1 (Lanjutan) No.045 13.138 13.058 13. 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 Nama Senyawa Sodium 2-oxo-3phenylpropionate Maltol Ethyl maltol Maltyl isobutyrate 2-Methyl-3-(1-oxopropoxy)-4Hpyran-4-one 2-Butyl-5.176 13.047 13.059 13.069 13.150 13.046 13.052 13.092 13.4-dioxane 2-Amyl-5 or 6-keto-1.137 13.105 13.030 13.

118 13.721 09.5-Trimethyl-delta-3oxazoline Allyl isothiocyanate Butyl isothiocyanate Benzyl isothiocyanate Phenethyl isothiocyanate 3-Methylthiopropyl isothiocyanate 4-Acetyl-2-methylpyrimidine 5.039 12.801 09.5-dimethyloxazole 2-Isobutyl-4.769 09.058 04.088 09.878 09.003 09.4d)pyrimidine 1-Phenyl-3 or 5-propylpyrazole 4.650 09.723 09.102 12.020 09.781 09.029 13.716 09.030 14.7-Dihydro-2-methylthieno(3.N-dimethylanthranilate N-Benzoylantharanilic acid Trimethyloxazole 2.112 FEMA 4056 4043 4075 2467 2473 2469 4118 2471 2682 2421 2181 2182 3925 4086 2637 2350 3048 2859 2767 2718 4116 4115 4149 4171 4170 4169 4078 3672 3525 2034 4082 4014 3312 3654 3338 3727 - 54 dari 122 .717 09.765 09.096 04. 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 Nama Senyawa 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-2butanone O-Ethyl S-(2furylmethyl)thiocarbonate 4-Allylphenol 2-Methoxy-6-(2-propenyl)phenol Eugenol Eugenyl formate Eugenyl acetate Eugenyl isovalerate Eugenyl benzoate Methyl anthranilate Ethyl anthranilate Butyl anthranilate Isobutyl anthranilate cis-3-Hexenyl anthranilate Citronelly anthranilate Linalyl anthranilate Cyclohexyl anthranilate beta-Terpinyl anthranilate Phenylethyl anthranilate beta-Naphthyl anthranilate Methyl N-methylanthranilate Ethyl N-methylanthranilate Ethyl N-ethylanthranilate Isobutyl N-methylanthranilate Methyl N-formylanthranilate Methyl N-acetylanthranilate Methyl N.070 14.169 13.115 13.722 09.766 09.718 09.5-benzo-oxazole 2.724 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.764 09.193 12.025 12.4.715 09.1 (Lanjutan) No.561 09.649 09.107 12.191 04.5-dimethyloxazole 2-Methyl-4.091 13.014 14.648 13.5-Dimethyl-4-ethyloxazole 2-Ethyl-4.4-Dimethyl-3-oxazoline 2.195 13.4-Dimethyl-2-propyloxazole JECFA 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1568 1569 EC 13.154 13.

133 14.017 14.049 16.020 09.6-oxide Epoxyoxophorone Piperitenone oxide beta-Caryophyllene oxide Ethyl 3-phenylglycidate Ethyl methylphenyl glycidate Ethyl methyl-p-tolylglycidate Ethylamine Propylamine Isopropylamine Butylamine Isobutylamine sec-Butylamine Pentylamine 2-Methylbutylamine Isopentylamine Hexylamine Phenethylamine 2-(4-Hydroxyphenyl)ethylamine 1-Amino-2-propanol Acetamide Butyramide 1.018 11.015 11.4decadienamide Nonanoyl 4-hydroxy-3methoxybenzylamide Piperine N-Ethyl-2-isopropyl-5methylcyclohexanecarboxamide (+/-)-N.127 11.5-Epoxy-(E)-2-decenal beta-Ionone epoxide trans-Carvone-5.052 16.003 11.170 16.007 13.071 07.080 11.053 16.051 16.009 11.346 08.3trimethylbutyramide N-Ethyl (E)-2.005 11.018 16.064 11.047 16.185 16.006 11.1 (Lanjutan) No.002 11.043 16.044 16.SNI 01-7152-2006 Tabel A.013 14. 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 Nama Senyawa 4.(Z)-6nonadienamide N-Cyclopropyl (E)-2.021 11.005 11.015 16.006 14.003 16.026 FEMA 4037 4144 4084 4109 4199 4085 2454 2444 3757 4236 4237 4238 3130 4239 4240 4242 4241 3220 4215 4251 4252 4235 3804 4113 4087 41482787 2909 3455 4230 3898 4249 4063 3990 2908 4244 3523 3241 4246 4247 55 dari 122 .2.6-Hexalactam 2-Isopropyl-N.023 11.N-Dimethyl menthyl succinamide 1-Pyrroline 2-Acetyl-1-pyrroline 2-Propionylpyrrole Isopentylidene isopenylamine Piperidine 2-Methylpiperidine Pyrrolidine Trimethylamine Triethylamine Tripropylamine JECFA 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 EC 16.040 11.010 14.E)-2.(Z)-6nonadienamide N-Isobutyl (E.042 16.

or 2-oxopropanol 5-methylheptan-3-one pin-2-en-4-one Methyl ionone N trans-3-Methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one Succinic acid 3. 2.001 01.129 05.6octatriene.151 05.150 07.169 07.149 05.141 05.7-Decatrienal Pentanedial Hex-3(trans)-enal Pentene-4-al Citral propylene glycol acetal 1.196 07.025 14.158 02.6E)-2.4.6.121 02.5-lactone dl-Limonene alpha-Cedrene (4E.6.068 02.6E)-Allo-ocimene Octene-1 2-methylbutan-2-ol tert.035 06.1-diethoxybutane or Butanal diethylacetal Ethyl 2.6-Dimethyl-2.5-dimethylphenol 2-Ethyl phenol o-Methoxybenzaldehyde alpha-Sinensal.052 02.068 02. Ethyl acetoacetate propylene glycol ketal Methyl cedryl ketone.041 02. 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 Nama Senyawa N.7-Dimethyl-2. (4E.N-Dimethylphenethylamine Trimethylamine oxide Piperazine Dec-8-eno-1.9.6-octadienoic acid JECFA 1613 1614 1615 EC 11.087 07. 1-hydroxy.130 05.4-dimethyl-1.182 07.014 11.143 07.141 09.123 02. acetylcedrene Decan-2-one Hexan-2-one 1-hydroxypropan-2-one or 2-propanone.168 02.081 FEMA 4248 4245 4250 2203 - 56 dari 122 .1 (Lanjutan) No.10-trimethyl2.219 08. Butyl alcohol Allyl alcohol Cedrenol 2-butanol 2-Methyl 3-Buten-2-ol Hex-3(trans)-en-1-ol Isophytol Nonenol Sclareol 3.4.218 07.174 06.024 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A.022 01.163 07.754 01.061 06.3dioxolane-2-acetate.11-dodecatrienal 2.070 05.035 01.020 04.119 02.187 02.206 04.

2.012 12.209 09.049 FEMA - 57 dari 122 .5-lactone or Delta tridecalactone Oxacycloheptadec-10-en-2-one Diethyl disulfide Dipropyl sulphide Ethyl Mercaptan Butyl thioisovalerate Dimethyl tetrasulphide 2-Methoxythiophenol Mercaptal acetaldehyde Isobutyhyl methylthiobutyrate 2.190 09.928 10.5-Dimethyl-3(2H)-furanone 2-Furoic acid 4-Methylquinoline 1-methylpyrrole 2-Acetyl-1.213 13.5.601 09.4.599 09.204 09.083 09.320 09.119 13.673 09.136 14.6octadienoate Hexenyl acetate/trans-3 Tridecano-1.251 09.017 12.128 14.023 14.043 15.318 09.079 14.821 09.643 09.058 10.015 12.118 14.196 09.5-Diethyl-1.106 12.163 15.828 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.831 09.4-trithiolane JECFA EC 08.205 12.7-dimethyl-2.502 09.825 09.598 09.063 12.581 09.116 12.6tetrahydropyridine 2-hydroxypyridine 2-Methyl-3-(methylthio)pyrazine Methylpyrrole-2carboxaldehyde/n 2-butyl-5-ethylthiophene 3. 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 Nama Senyawa Hept-2-enoic acid Ethyl hex-2-enoate 2-Hexen-1-yl acetate Ethyl linoleate Butyl Octanoate Methyl decanoate Oct-1-en-3-yl-acetate Benzyl octanoate Ethylene glycol butyl ether acetate Ethyl butyryl lactate Hexylsalicylate Isopentyl decanoate Isoamyl heptate Isopentyl lactate Isopropyl palmitate Methyl geranate cis-6-Nonenyl acetate Vetiver acetate Amyl benzoate Methyl-2-octenoate Methyl 3.002 14.606 09.1 (Lanjutan) No.281 09.139 12.

1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 Nama Senyawa 2.059 17.064 15.1-Dimethyl-2-phenethyl acetate 2-Methyl-1-phenylpropan-2-ol 1.774 02.3-Benzodioxol-5-yl)butan-2one Methyl hexanoate Methyl 2-hexenoate Methyl 2-nonenoate Nerolidol Phenethyl benzoate 3-Methyl-1-phenyl-3-pentanol Propyl 4-hydroxybenzoate Pyridine Pyroligneous acid Quinine hydrochloride Quinine sulphate Rum ether Sucrose octaacetate Tannic acid 1-Hydroxy-2-butanone Methylthio(methylpyrazine) mixtures of isomers Vinylbenzene.6-Trimethyl-1.080 07.090 14. Styrene 2-(4-Methylphenyl)-2-propanol L-Arabinose L-Cysteine Succinic acid.4.035 01.1 (Lanjutan) No.037 09.196 01.070 15.008 16.035 09.069 09.1-Dimethyl-2-phenethyl butyrate alpha-alpha-Dimethylphenethyl formate Ethyl anthranilate Ethyl nitrite Ethyl (E)-2-methyl-2-butenoate Glucose pentaacetate Glycyrrhizic acid.018 09.017 09.033 FEMA 2053 2388 2392 2393 2394 2395 2421 2446 2460 2524 2528 2564 2633 2701 2708 2709 2725 2772 2860 2883 2951 2966 2967 2976 2977 2996 3038 3042 3173 3208 3233 3242 3255 3263 3277 58 dari 122 .4-Dimethylthiazole 2.031 09.110 16.SNI 01-7152-2006 Tabel A.234 02.086 09.006 17.181 09.5-dimethyl thiophene 2-ethyl-5-methylthiophene Hydroxydimethylthiophenone Penthyl Thiophane 2. ammoniated Cis-2-hexenyl acetate l-Limonene 4-(1.227 02.062 15.045 07.021 09.495 09.232 09.015 02.077 15.915 14.3.716 16.096 15.5-trithiane Ammonium hydrogen sulphide L-Cystine L-Serine L-Threonine Diammonium sulfide 1-Methyl-1-phenethyl isobutyrate 1.020 17.081 16. disodium salt JECFA EC 15.509 09.042 17.

299 16.2.008 09.4trithiolane (+/-)-Dihydrofarnesol JECFA EC 07.049 FEMA 3292 3296 3354 3404 3408 3421 3470 3486 3549 3591 3599 3606 3612 3641 3643 3651 3673 3675 3692 3712 3730 3779 3811 3817 3819 3900 3905 3906 3934 3957 3989 4002 4003 4009 4010 4016 4024 4025 4026 4027 4028 4029 4030 4031 59 dari 122 .104 11.6.6-Trimethylcyclohex-2-en1.109 14.114 09.063 09. monohydrochloride Sodium diacetate Vanillin propylene glycol acetal 2-Aminoacetophenone (Z)-3-Hexenyl pyruvate trans-2-Octenoic acid 3(2)-Hydroxy-5-methyl-2(3)hexanone Methyl 2-methyl-2-propenoate Methyl (methylthio) acetate (+/-)-Octan-3-yl formate Paraldehyde Sodium 4methoxybenzoylacetate Acetaldehyde diisoamyl acetal Amyl methyl disulfide Benzyl hexanoate Butyl ethyl disulfide beta-Cyclodextrin Diethyl trisulfide (+/-)-cis.092 09.087 13.4-dione Quinoline Ethyl trans-2-butenoate 6-Hydroxydihydrotheaspirane Theobromine trans-2-Methyl-2-butenoic acid d-Xylose 1-Octen-3-yl butyrate Ethyl trans-2-decenoate Ethyl trans-2-octenoate 6-Acetoxydihydrotheaspirane 2-Ethylfuran Ethyl trans-2-hexenoate Hexyl trans-2-hexenoate Methyl trans-2-octenoate L-Rhamnose Hydrogen sulfide Neohesperidine dihydrochalcone 2-Acetyl-2-thiazoline L-Arginine.926 05.316 12.055 12.003 06.097 14.565 08.1 (Lanjutan) No.and trans-Diethyl-1.282 09.052 09.007 15.283 09.010 17. 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 Nama Senyawa 3-Hydroxymethyl-2-octanone Isopropenylpyrazine n-Hexyl 2-butenoate N-(4-Hydroxy-3-methoxybenzyl)8-methyl-6-nonenamide Methyl dihydrojasmonate 2.053 06.253 09.248 13.254 12.285 13.266 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.064 09.114 15.076 08.850 09.146 09.520 07.292 09.647 12.

919 12.6-octadienyl cyclopropylcarboxamide 1.3dioxolane 4-Hydroxy-3.9-dimethyl-6-(1methylethyl)1-heptanol.153 12.063 09.5-Dimethylthiazole (Z)-4-Dodecenal (+/-)-Ethyl 3-acetoxy-2methylbutyrate S-Ethyl 2acetylaminoethanethioate Ethyl methyl disulfide Ethyl propyl disulfide Ethyl propyl trisulfide Geranyl tiglate trans-4-Hexenal 2-Hexyl-4.SNI 01-7152-2006 Tabel A.089 05.4-nonanedione 9-Octadecenal 2. 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 Nama Senyawa Dihydroxyacetone 2.7-dimethyl-2.3.7Z-Decantrienal Hepten-1-ol-3 1-(3-hydroxy-5-methyl-2thienyl)ethanone Oxacycloheptadec-10-en-2-one 3-(Methylthio)propyl-butyrate (S)-1-Methoxy-3-heptanethiol 5-Octenoic acid.1 (Lanjutan) No.3-mercapto-.126 12.042 07.4E.203 05.208 05. (5Z)Phytol N-gluconyl ethanolamine N-lactoyl ethanolamine 3-methyl hexanal N-3.4nonadienoic acid gamma lactone 3-Hydroxy-4-phenylbutan-2-one (+/-)-Methyl 5-acetoxyhexanoate 3-Methyl-2.1acetate Ethyl (E)-2-methyl-2-pentenoate Methyl hexyl ether JECFA EC 15.4-dioxaspiro[4.184 05.153 10.383 06. methyl ester.5]decan-2one.632 07.3-Octanedione (+/-)-1-Phenylethylmercaptan (Z)-4-Propenylphenol 2-Propionyl-2-thiazoline (Z)-8-Tetradecenal 2E.5-dimethyl-1.256 09.155 02.5dimethoxybenzaldehyde 4-Hydroxy-2.112 FEMA 4033 4035 4036 4038 4039 4040 4041 4042 4044 4046 4048 4049 4050 4052 4055 4057 4059 4060 4061 4062 4064 4066 4089 4129 4142 4145 4161 4162 4165 4196 4254 4256 4261 4267 4285 4289 4290 4291 60 dari 122 .3-dimethyl-2.242 09.141 02.

4-thiazine Bis (1-mercaptopropyl)sulfide 2. 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 Nama Senyawa 5-acetyl-2.1 (Lanjutan) No.2dihydroperilladehyde 2-isobutyl-4-methyl-5ethylthiazole 2-secbutyl-4-methyl-5-ethyl thiazole 5-pentyl-3H-furan-2-one 3-mercapto-3-methyl-1-butyl acetate 3-mercapto-1-butyl acetate 5-nonen-(E)-2-one 1-menthyl acetoacetate 4-octen-3-one JECFA EC FEMA 4296 4297 4298 4301 4302 4312 4318 4319 4323 4324 4325 4326 4327 4328 61 dari 122 .3-dihydro-1.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dithiahexane (E)-2-nonen-4-one (E)-4-nonenal Cis-& trans 1.

5133-19-7 Deskripsi Aloin dengan sinonim C-glycocyl dari aleo-emodin anthrone merupakan salah satu konstituen laksatif dari anthraquinone complex yang diperoleh dari getah tanaman Aloe ferox (Asphodeliaceae) dan Rhamnus purshiana DC. Larch Agaric. Agaricus Albus.. meski tosikologinya belum sepenuhnya diteliti. 666-99-9 Deskripsi B. Aloin tidak boleh diberikan pada penderita gangguan usus atau berpenyakit seperti Crohn 1 s disease. White Agaric. Spunk.1 Asam agarat dengan sinonim agarisin diperoleh dari Polyporus officinalis atau (N. Asam agarat (agaric acid). tidak cocok dengan basa dan senyawa pengoksidasi yang kuat serta mudah terbakar. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Polyporaceae).1 Aloin (aloin). Aloin hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Penggunaan Aloin dalam waktu lama bisa menyebabkan defisiensi kalium yang dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskuler.1. 2 B.1. G. Agaric. Sementara Malaysia melarang penggunaan aloin dalam makanan. Batas maksimum penggunaan untuk makanan dan minuman adalah 0. Fr.1. Funpurgatif.O hymenomycetes). Nomor CAS. Efek samping dari aloin adalah dapat menimbulkan kram pada lambung/usus. B. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan aloin sebagai natural toxicant dan dapat ditambahkan sebagai senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg dan produk makanan lainnya sebesar 0. Aloin memiliki rumus kimia C21H22O9 merupakan campuran dari dua diestereo-isomer yaitu Aloin A dan Aloin B berbentuk serbuk kristal berwarna kuning lemon.1 mg/kg. memiliki titik leleh 1480C. merupakan suatu jamur yang tumbuh pada pohon larch. B. tumbuh pada satu atau lebih spesies dari Pinnus 62 dari 122 .SNI 01-7152-2006 Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa B1 B. Nomor CAS.2 Fungsi lain Tidak ada B. Larchenschwamm. Touchwoo.2.1. Tinder.3 Kajian keamanan Aloin merupakan laksatif yang bersifat iritan yang berbahaya apabila tertelan. dengan pengecualian pada minuman beralkohol sebesar 50 mg/kg.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Comission) dan EC (European Commission) melarang penggunaan Aloin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. didefinisikan sebagai daging buah kering dari jamur Polyporus officinalis kering (Farm. Toksisitas untuk Aloin adalah 20-30 mg/hari sebagai laksatif. terhirup atau terserap melalui kulit.1 mg/kg.

2. Penggunaan yang paling utama dari agarat adalah didalam perlakuan pada kondisi yang rusak terhadap keringat kolikuatif seperti ftisis. dosis awal harus kecil. Lehrbuch der Pharm.) J. C26H44O. 1889.. India membatasi keberadaan asam agarat secara alami dalam berbagai artikel pangan tidak 63 dari 122 . Ztg. Schmidt. 3te Auf. p. umumnya tidak berbau dan tidak berasa. Pada awalnya dapat meningkatkan tekanan darah dan kecepatan respirasi yang diikuti oleh pengurangan aktivitas dari keduanya. ii. Chem. 1528. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.E.6 cg (5-60 mg). minuman beralkohol. 1 ½ H2O dengan bobot molekul 443. asam lemak. Malaysia melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa. diikuti oleh paralisis. Asam agarat mempunyai rumus kimia C19H36OH (COOH)3. Larix Adanson. Berbagai jenis asam agarat diperdagangkan dalam daya regang yang kuat.). dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. sering dikenal sebagai larisat dan asam agarisinat. merupakan larutan dalam kaustik soda bebas busa. makanan yang mengandung jamur (100 mg/kg)..189). larut dalam air mendidih sampai cerah sempurna.P.4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan asam agarat dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.03 Gm). C16H33OH. C9H18O. Asam agarat sedikit larut dalam air. Asam agarat biasanya diberikan dalam bentuk pil dan sachet. Menurut Hoffmeister (A. hidrokarbon padat. C15H20O4 yang diesktrak dengan petroleum benzin dengan konsentrasi 4 . menyebabkan rasa mual dan seperti obat cuci perut. C14H24O2 dan asam risinoleat. setil alkohol. xxv.6 % pada lemak tubuh yang dibuat dari agarikol. alkohol aromatik cair. B.2. Pada prinsipnya dosis murni antara 1/6 sampai 1 ½ butir (0. C10H16O disatukan pada suhu 223 oC (433oF).2. Menurut J. D Eidel telah menghasilkan 2 fenetida dari asam agarat. litium dan agarisinat bismut sudah dikenal sebagai obat. agarat mengandung sedikit resin lembut (soft resin). Hal itu dapat menyebabkan peradangan dan sakit keras di tempat penyuntikan pada dosis ½ . dalam alkohol (1 dalam 100). Pada dosis tinggi bersifat iritan pada perut dan usus. Asam agarat dalam bentuk yang tidak murni berwarna kekuningan. dan merupakan cairan berbusa.344 merupakan senyawa berbentuk serbuk mikrokristal. C18H34O3. Selain itu dapat menyebabkan eksitasi primer pada medula.01-0.SNI 01-7152-2006 Linne.P.2 Fungsi lain Tidak ada B. agarat dipercaya sebagai obat. xlvii. B. Asam agarat tidak diatur secara hypodermically.3 Kajian keamanan Asam agarat melumpuhkan ujung syaraf pada kelenjar keringat dan kemudian dapat menghentikan night-sweate (keringat di malam hari). berwarna hampir putih. Agarat berfungsi sebagai obat dalam bentuk asam agarat. fitosterin. ini diserap lebih pelan dan oleh karena dosis ini perlu diambil beberapa jam sebelum kekuatannya berhenti. sebagai antipiretik dan antihidrotik (Ph.. Menurut teori Mc Cartney bahwa aksi antihidrolik agarat disebabkan oleh kejang otot pada lapisan kulit. Schmieder. Sediaannya yang mengandung asam agarat aktif dengan nama dagang agarisin telah dipasarkan dengan sedikit atau banyak cemaran.. Agarat berasa agak manis dan sangat pahit. Rosenbaum telah menemukan ekstrak cair dari agarat. pangan olahan lainnya (20 mg/kg). dan Picea Link (Fam. Dari segi obat-obatan solanaceous. shandy. natrium.. Batas maksimum untuk makanan dan minuman 20 mg/kg pengecualian pada minuman beralkohol dan makanan yang mengandung jamur 100 mg/kg. Pada dosis yang besar mempunyai aksi purgative. mempunyai titik leleh 140 oC. asam agarat dalam dosis tinggi dapat melumpuhkan urat syaraf dan kelenjar keringat. C23H46 dan C29H54. Keberadaanya dalam makanan tertentu sesuai dengan batas yang diizinkan : minuman selain minuman beralkohol dan shandy (20 mg/kg). Pinaceae).

3 B. Asam pirolignous merupakan cairan berwarna kemerahan.4.2 Fungsi lain Tidak ada. Nomor CAS. Ada banyak pangan yang mengandung bahan sianogenik sianida yang diproduksi dalam metabolisme menjadi tiosianat. Asam pirolignous (pyroligneous acid).1 Asam pirolignous merupakan limbah dari hasil produksi charcoal dari batang. Jika tidak dalam keadaan hampa udara.SNI 01-7152-2006 melebihi batas spesifik (100 mg/kg). produk makanan yang mengandung jamur dengan batas maksimum 100 mg/kg. tapi juga mengandung metanol (wood alcohol). 64 dari 122 . tars dalam jumlah yang bervariasi. suhu kayu tinggal 100°C -110°C. Asam sianida (hydrocyanic acid). liquor (minuman keras) perlahan-lahan menjadi keruh dan kandungan asamnya meningkat. gelap tersusun dari asam asetat. pada saat kayu mengering. Destilasi fraksional ini disebut juga ekstrak asam pirolignous. Distilat utama (kondensasi dari gas) hampir berupa air dan tidak sampai 4 jam. Asam pirolignous adalah limbah dari hasil produksi charcoal dengan cara karbonasi dari kayu dalam keadaan hampa udara.3.3. produk akhirnya adalah charcoal. maka kayu akan terbakar dimana suhunya mencapai 400°C -500°C dan produk akhirnya berupa abu kayu. Sedangkan Singapura melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam agarat sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 100 mg/kg.3. Asam pirolignous juga dikenal dengan wood vinegar (vinegar kayu).4 Pengaturan Malaysia melarang penggunaan asam pirolignous sebagai perisa. B. seperti sianida yang lain. dan sampai proses ini lengkap. Selama destilasi.4 B. kayu ditempatkan dalam oven dan mulai dipanaskan. Asam pirolignous dalam bentuk mentah (crude) kemudian dimurnikan dengan cara destilasi fraksional supaya aman (food grade) digunakan pada produk-produk makanan. Nomor CAS. minyak kayu. B. 8030-97-5 Deskripsi B. Reaksi ini terjadi selama pembakaran charcoal. sebagian lagi diturunkan dari buah-buahan dan bagian lain dari spesies Prunus dan dinyatakan bahwa sianida adalah unsur organoleptik.1 HCN adalah racun protoplasmatik. 74-90-8 Deskripsi B. Ion sianida bergabung dengan enzim yang membawa oksigen dapat menghambat aktivitas sel dan merupakan ancaman terhadap fungsi-fungsi vital. suhunya meningkat menjadi 270°C.3.3 Kajian keamanan Belum ada data yang cukup tentang asam pirolignous. Proses karbonasi berlangsung pada suhu di atas 270°C. Kondensat mentah (crude) yang dihasilkan dari destilasi kayu ini disebut asam pirolignous. dan mulailah terpisah-pisah secara spontanitas. aseton. Jika kayu dipanaskan. Jika dalam keadaan hampa udara. B. Sianida terjadi secara alami pada bahan perisa tertentu.

Toksisitas HCN dalam udara berdasarkan nilai parameter berikut ini: LC50 : 135 mg/kg . sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) 5 mg/kg. marzipan (kacang-kacangan) 50 mg/kg. minuman beralkohol (1 mg/kg per 1% kandungan alkohol). Penggunaan HCN di perusahaan electroplatina adalah secara langsung mencegah kontak kecelakaan antara garam sianida dan larutan asam yang menghasilkan bentuk gas HCN. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juice) 5 mg/kg.4.3 Kajian keamanan Penggunaan asam sianida mempunyai efek terhadap penahanan myocardial. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) (5 mg/kg).Celling : 10 mg/kg B.4. 65 dari 122 . Malaysia mengatur keberadaan asam sianida dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy 1 mg/kg. dan pangan olahan lain 1 mg/kg. marzipan 50 mg/kg. minuman beralkohol 1 mg/kg per % volume. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. marzipan (50 mg/kg).SNI 01-7152-2006 B. CN. Sedangkan India mengatur keberadaan asam sianida secara alami pada berbagai artikel pangan tidak boleh melebihi batas tertentu (5 mg/kg). paralysis saluran pernafasan dan kerusakan ginjal serta hati yang tidak bisa disembuhkan. Masalah praktis utama dengan pencernaan kronik dari makanan-makanan sianogenik adalah efek goitrogenik dari tiosionat dan ini adalah masalah serius ketika hal tersebut terjadi karena diet kurang iod.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan asam sianida dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam sianida (total) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk pangan sebagai berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (25 mg/kg).TLV.4. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.+ H+ HCN Komisi Eropa memutuskan bahwa asam sianida dan garamnya tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan dan oleh sebab itu tidak ada spesifikasi yang disiapkan. konfeksionari (kembang gula) selain marzipan (kacang-kacangan) 25 mg/kg. Sementara Singapura melarang penggunaan asam sianida sebagai bahan perisa yang terkandung dalam minyak volatil almond pahit. Batas maksimum pada makanan dan minuman 1 mg/kg pengecualian pada konfeksionari(kembang gula) 25 mg/kg. IDLH : 50 mg/kg . Komisi Eropa juga mempertimbangkan bahwa jumlah sianida yang ada dalam produk pangan dan produk minuman sebagai hasil dari penambahan perisa yang mengandung perisa harus dibatasi pada tingkat terendah untuk mencapai efek organoleptik yang diinginkan.2 Fungsi lain Tidak ada B.

Sassafras albidum (Nutt. 5273-86-9 Deskripsi Beta-asaron dengan sinonim Asarin. Dilaporkan juga asaron diketemukan dalam tumbuhan :Acorus gramineus Ait.pada mencit – i. 9-19% dalam rhizoma dan 0. asma. (Aristolochiaceae).331 mg/kg bobot badan. antelmintik.SNI 01-7152-2006 B. (β asaron).25 (C=61.1 B. B.). Piper sumatranum DC. cis-asaron.5%) dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9). Daucus carota L. B. mengandung beta-asaron : 5065% dalam daun.2±1.21%) . tonikum. arisfolium L. . calamus digunakan sebagai obat kejang lambung.. asam asetat glasial dan tidak larut dalam air.3% dalam rhizoma kering.2 Fungsi lain Secara tradisional (etno-farmakologi) akar dari A.4 Pengujian mutagenisitas dengan metode ames Pada 2-200 μg/plate tidak mutagenik terhadap Salmonella typhimurium galur TA-98. B. eter. Magnolia salicifolia Maxim (α asaron).4-trimetoksi-5(12)-1 profenil-(9 CI).2.2 Minyak kalamus (mengandung 75% . angustatus Bess (Acorus triqueter Turcz.andamanica (asaron).LD50 = (184.3.5. LD50 = 4. 66 dari 122 .1.& P.1.1 Kajian Keamanan Data toksisitas Akut (LD50) Beta-asaron: .5. Nomor CAS. var.5-trimetoksi-1-propenil-bensen atau 1 (2.5. memiliki nama kimia : Isomer cis dari 2. cis-isoasaron.4.var.74% dan O= 23.339 mg/kg bobot badan.pada tikus – i. (asaron). Asarum camphor.1. Piper lolot Dc.3. LD50 = 1. (Araceae). Asarum arifolium Michx (α asaron). mengandung beta-asaron 85-95% dalam rhizoma dan 4.5.pada mencit – i. . B.0)mg/kg bobot badan.05%) Indeks nama CA: Bensen.5-trimetoksifenil) -1-propen. vulgaris L.pada tikus – oral LD50 = 3. TA-1535. (α asaron).4% . Indeks bias n11p = 1.var. Acorus calamus L. Melalui destilasi air dapat diperoleh pula dari akar Asarum europaeum L.1.010 mg/kg bobot badan. beta-asaron adalah konstituen minyak kalamus yang diperoleh dari akar (rhizoma) kering Acorus calamus. .p.497 mg/kg bobot badan.p.H=7.5.(asaron). serta memiliki bobot molekul 208. dan rumus molekul C12H16O3. Piper angustifolium R. . TA100. Helichrysum arenarium (L.5 B.3 B.3 Minyak acorus : .3. larut dalam alkohol. Asarubacca camphor.pada mencit – i.3. Titik didih 2960C. 1.5. Aktivitas mutagenik teramati pada 5000 mg/kg (0.p.3% dalam rhizoma kering. cis-β-asaron.571.5.3.pada tikus – oral LD50 = 4.1 Beta asaron (β – asaron). β-Azarone. LD50 = 1. calamus (Acorus calamus L. (alfa asaron).5. disentri.) Moench.80% beta-asaron) . Acorus calamus L.Linn (Acaceae) antara 75%-80%.).331 mg/kg bobot badan. B.) Ness (asaron).p.pada tikus – oral LD50 = 1. TA-1537 dan TA-1538 dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9).8.4. A. stimulan dan sebagai insektisida.139 mg/kg bobot badan. beta-asaron memiliki titik leleh 620C -630C (kristal jarum dari light-petroleum). Asarum europaeum L.var. Ekstrak n-heksan dari rhizoma dan akar sebanyak 38%. (Z) asaron.

Sedangkan pemberian dosis tunggal secara intraperitoneal pada mencit menunjukkan nilai LD50 184. anjing dan kera. selama 13-18 minggu pada tikus jantan dan betina menunjukkan penekanan pertumbuhan. B. Efek kerusakan mikrokopik patologik pada hati dan jantung yang teramati berkorelasi dengan dosisnya. anjing dan kera. yang bersifat hepatotoksik dan genotoksik.7 Studi pemberian berulang jangka panjang Pemberian beta-asaron selama 2 tahun dalam bentuk diet makanan (0. dan asam 1-dan d-amino amino aksidase pada hati dan ginjal tikus. beta-asaron dengan dosis 0.044. Hal ini menunjukkan induksi akibat gangguan fungsi jantung.3.0 mg beta atau alfa-asaron.5.15-15 mg minyak kalamus Eropa atau India. Fibrosis kardiak/atropikardiak. kucing.5. dan Asarum Spp. Tak teramati efek teratogenik dari kalamus dan alfa asaron. Menurunkan suhu tubuh mencit. Tidak ada efek terhadap toksisitas amfetamin. perubahan organ hati. Studi in vitro. beta-asaron 50 mg/kg bobot badan secara i. dengan dosis 10-100 mg/kg menunjukkan efek sedatif-penenang pada tikus. mencit. memperpanjang waktu tidur (2x) Natrium pentobarbital pada mencit dan dengan dosis 75 mg/kg bobot badan memperpanjang waktu tidur (dua kalinya) etanol pada mencit. Teramati pula atropi pada sel-sel otot jantung.2 ml larutan yang mengandung 0. perubahan hati dan ginjal serta adanya masa tumorus 1 jenis leiomyosarcoma dalam saluran cerna.3. menekan aktivitas dan tonus otot mencit dengan penekanan terhadap aktivitas spontan.SNI 01-7152-2006 B.p. setara dengan pada manusia 20. Toksisitas akut atau pemberian dosis tunggal beta-asaron secara oral pada tikus menunjukkan nilai LD50 1.04-0.1. Studi pemberian berulang jangka pendek B.p.37 mg/kg bobot badan.5.6 Pemberian berulang minyak kalamus dan ekstrak hidro-alkohol dari rhizoma Acorus calamus yang mengandung beta-asaron.04 mg/telur menunjukkan embrio hidup 43% dan juga betaasaron 4. perubahan cairan serosa rongga perut dan kantung pleural. Disamping terjadi hiperaemia dan kongesti 67 dari 122 .1. Pada kucing teranestesi dengan dosis 1-32 mg/kg bobot badan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan denyut jantung. Pemberian secara i.00 mg/telur terjadi 100% embrio mati. perubahan cairan abdominal dan kantung pleural.p. infiltrasi lemak pada myokardium dan fibrosis jantung.6 mg/kg bobot badan. Dosis 10-150 mg/kg bobot badan secara i.2 mg/kg bobot badan. dimana mengandung beta-asaron yaitu minyak atsiri alkil benzen dapat menjadi bentuk metabolit epoksid oleh aktivitas enzim mikrosom hati.3. hiperaemia pasif paru-paru. infiltrasi lemak dalam jantung. peningkatan mortalitas. Dosis 25 dan 50 mg/kg bobot badan memberikan efek muntah pada kucing. Tumbuhan Acorus Spp.010 mg/kg bobot badan atau setara dengan pada manusia 161. hexobarbital dan etanol pada mencit atau ada efek hipotik-potensiasi. Meningkatkan efek toksik dari metrazol pada tikus.5 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Telur diinokulasi dalam kantung vitelinum dengan 0. Indian dengan dosis 20-100 mg/kg bobot badan menunjukkan : a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Efek perpanjangan tidur oleh pentobarbital. atau minyak yang mengandung beat-asaron dan 0.1.25% betaasaron) pada tikus jantan dan betina menunjukkan peningkatan angka kematian. ginjal dan hati juga terjadi pada hewan yang menerima perlakuan. Disamping terjadinya tumor jenis leiomyosarkoma terjadi pula adenoma dan adenokarsinoma hepatoselular pada organ hati. minyak acorus dapat menginhibisi aktivitas enzim monoaminoksidase. Minyak atsiri hasil destilasi dari akar dan rhizoma Acorus calamus var.

6oC (closed cup) dan 104.539-1. Nomor CAS. benzylic alcohol. eter dan CHCL3 tetapi agak sukar larut dalam air (4 g dalam 100 g air @ 25 oC). barbau khas. bercampur dengan etanol. pengecualian pada minuman beralkohol dan sebagai bumbu (1 mg/kg).5. 68 dari 122 . alpha-toluenol digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan carrier solvent. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 41050 mg/l pada suhu 25° C. titik lebur -15.2. phenylcarbinol. dan viksositas 5 cP (25 oC). metabolisme beta-asaron dalam tubuh masih terbatas pada tikus.541 pada suhu 20 oC. B.6 B.042 – 1. alpha-hydroxytoluene. Benzil alkohol dilaporkan terdapat secara alami di alam. Sementara Australia dalam Australian Food Standard Code mengatur betaasaron sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg.3 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) pada hewan percobaan secara oral adalah 1040-3200 mg/kg bb dan secara peritoneal sebesar 1000 mg/kg dan 650 mg/kg dimana keracunan muncul setelah 7 hari. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. phenylmethyl alcohol. dan rasa yang menyengat. Benzil alkolol mudah larut dalam etanol 50%. b) Langkah 2: Benzil alkohol diprediksi dapat dimetabolisme menjadi produk innocuous. B. Titik asap >212° F. Benzil alkohol (benzyl alcohol). mata dan mempengaruhi sistem syaraf pusat.047.6.2 Fungsi lain Tidak ada B. Studi tentang distribusi. titik didih 205 0C. Benzil alkohol mempunyai rumus kimia C6H5CH2OH.5 oC (open cup).14.1 Benzil alkohol dengan sinonim benzenemethanol. dengan batas maksimum dalam satuan (mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.SNI 01-7152-2006 pada organ hati. Benzil alkohol telah dikaji keamanannya oleh JECFA pada tahun 2001 dan diputuskan bahwa dalam penggunaanya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. titik nyala (flash point) 100. refractive Index (suhu 20° C) 1. berat molekul 108. tekanan uap 10 mm Hg @ 92. kondisi ini ditemui pula pada organ lain. Benzil alkohol merupakan cairan yang mudah terbakar. Nilai ADI 0-5 mg/kg bb. pada manusia belum ada. Memiliki cairan jenih.6 oC : 13. Kajian keamaan dilakukan oleh JECFA menggunakan Prosedur Evaluasi Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkahlangkah sebagai berikut: a) Langkah 1: Benzil alkohol tergolong ke dalam struktural kelas I (Cramer).2 oC.6. gravitasi spesifik (suhu 25° C) 1.541. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0. 100-51-6 Deskripsi B. terhisap atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan iritasi pada kulit.6. dan makanan yang mengandung bumbu dalam jumlah kecil (batas maksimum beta-asaron 1 mg/kg).539 – 1.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan beta-asaron dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. indeks bias 1. Benzil alkohol diperoleh melalui peranan katalis pada benzil klorida.1 mg/kg). c) Langkah 3: Estimasi asupan Benzil alkohol di Eropa (16000 μg) dan di USA (17000 μg) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas I (1800 μg). Malaysia dan India melarang penggunaan beta-asaron dalam makanan. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). phenylmethanol. Apabila termakan.

Sebagai konstituen alami dalam edible fruits 5 mg/kg. Pengaturan B. pemberian secara inhalasi dan atau intratrakeal. JECFA no 25. Kedua dosis tersebut menimbulkan tumor perut masing-masing pada 100% dan 25% mencit setelah pemberian pakan selama lebih dari 85 hari. 3. Leukimia Dosis oral 6-12 mg/kg bb menimbulkan leukemia setelah 100 hari atau lebih.351 g/ cm3. benzil akohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).4 JECFA menyatakan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. Benzo[a]piren yang diberikan langsung ke dalam perut pada dosis 0. dosis 250 atau 1000 mg/kg menyebabkan papiloma dan karsinoma perut. teh hijau 1-30 mg/kg. berat molekul 252. Pemberian 100 mg/kg bb.dan kerapatan 1. ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman sebesar 400 mg/kg (chewing gum 1254 mg/kg).SNI 01-7152-2006 d) Langkah 4: Benzil alkohol dapat dimetabolisme langsung menjadi asam benzoat yang merupakan senyawa endogenous pada manusia.7.1 Benzo[a]piren dengan sinonim 1.5. Tumor pada paru-paru. teh hitam 1-15 mg/kg.30. dan cara pemberian lain. USA menyatakan bahwa benzil alkohol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS no 2137.Benzopyrene. i. dan atau intramuskular.. implantasi intrabronkial. dan 6 mg/kg bb menyebabkan tumor pada perut setelah 43 minggu dengan jumlah yang berbeda bergantung pada dosis..7. Nomor CAS. Benzo[a]piren menyebabkan: Tumor pada perut. Benzo[a]piren (benzo[a]pyrene). titik leleh 179-179.7 B. pemberian subkutan.3 Kajian keamanan Toksisitas LD50 pada mencit adalah 250 mg/kg bb (i. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batasan 500 mg/kg pada produk pangan. - 69 dari 122 . 1.Benzopyrene memiliki rumus molekul C20H12 . Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. titik didih >360 0C.p).6. Benzo[a]piren merupakan karsinogen. Apabila dicampurkan ke dalam pakan.7. dan 6. menyebabkan adenoma paru-paru setelah sekitar 6 bulan. terutama menyebabkan tumor lokal pada berbagai spesies setelah pemakaian pada kulit.2 Fungsi lain Tidak ada B.p.Benzopyrene. Adenoma paru-paru dan leukemia terjadi setelah mencit diberi pakan yang dicampur dengan Benzo[a]piren 250 mg/kg selama 140 hari. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).7. B. a) Pada mencit.4.2. 50-32-8 Deskripsi B.36. 0 C.

Berberin sulfat larut dalam 100 bagian air.01 mg/kg dalam smoke flavoring (perisa asap). Kelarutan berberin basa di dalam air lambat. gejala seperti flu.SNI 01-7152-2006 b) Pada tikus jantan. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan berberin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (0. toksisitas akutnya (LD50) terhadap mencit adalah 25 mg/kg bb. Dosis 120 mg/kg bb/hari yang diberikan pada mencit bunting menimbulkan toksisitas uterus dan kerusakan janin. EC (European Commission) membatasi keberadaan Benzo[a]piren hasil penambahan flavoring pada makanan dan minuman (0.1 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol (10 mg/kg).8 B.3-benzodioxolo{5. oral. Pemberian 150 mg/kg bb pada mencit bunting menyebabkan imunosupresi yang dapat berkembang menjadi tumor. Malaysia melarang penggunaan berberin dalam makanan.4-Benzo[a]piren) pada produk akhir makanan.8.03 mg/kg).03 ppb (3.1 Berberin (berberin). untuk itu penggunaan berberin harus dihindari bagi wanita hamil.8. Kebanyakan tanaman yang mengandung berberin dapat merangsang uterus. dan kerusakan jantung. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengatur bahwa perisa tidak boleh berkontribusi lebih dari 0. sesak napas.6a}quinolizinium mempunyai rumus molekul C20H18NO4 dengan bobot molekul 336. Benzo[a]piren (100 mg/ tikus. dalam 60 hari) menyebabkan tumor kelenjar susu.2 Fungsi lain Tidak ada B.8.6-Dihydro-9. B.7. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. 2.8. Pada hamster. 2086-83-1 Deskripsi Berberin dengan nama kimia 5. Benzo[a]piren bersifat embriotoksik dan teratogenik pada mencit. gangguan saluran pencernaan. Selama 8-12 bulan. 70 dari 122 . B.1 mg/kg). Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0. Nomor CAS.10-dimethoxybenzo-1. Pengaturan c) d) e) B.4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan berberin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Untuk berberin sulfat. dan tejadi papiloma dan karsinoma setelah pemberian 6-9 bulan.37 dan titik leleh 1450C. B.3 Kajian keamanan Dosis yang tinggi dapat menyebabkan tekanan darah menurun. terjadi papiloma perut setelah pemberian 2-5 mg/hamster selama 1-5 bulan.5 mg/tikus menimbulkan papiloma oesofagus dan perut pada tikus jantan dan betina. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.4 JECFA membatasi penggunaan Benzo[a]piren tidak melebihi 0.

B. Dissolvant APV. terutama digunakan di negara-negara yang penggunaan rasa pahit almon dilarang. Bis (2-hydroxyethyl) ether. Tonka kini semakin jarang digunakan karena adanya komarin yang bersifat toksik dan karsinogenik. akan hamil dalam waktu dekat. Ethanol. Tonka bean memiliki titik nyala 142 °F. Penggunaan tonka bean akan mengakibatkan kelebihan berat badan bagi penggunanya. Semen Tonco.2'71 dari 122 . tidak berwarna. Biji tonka dilaporkan ditambahkan pada bebrapa makanan seperti adonan cake atau cookies. walnut atau poppy. 2. Semená stormov rodu mempunyai rasa manis dan sangat kuat. DEG. permen berbahan baku kelapa.9.2 Peringatan Jangan menggunakan biji tonka apabila anda sedang hamil. Dihydroxydiethyl ether. Kajian toksisitas biji tonka secara ilmiah belum ada. Orinoco (bagian utara Amerika Selatan). 8024-04-2 Deskripsi Biji tonka dengan sinonim Coumarouna odorata. Akibat kekurangan vitamin K. 3-Oxapentane-1. cairan kental seperti sirup.9.9 B. Fèves de tonka. Tonkabohne. Biji tonka (Coumarouna odorata) berasal dari daerah Guayana.4 Pengaturan India. Tonkaoa puu.TL4N. 2.10 B.2'-Oxyethanol. pada dasarnya tidak berbau. dan kini dibudidayakan pula di daerah Venezuela dan Nigeria. Tonco bean. 2. Tonka bean digunakan sebagai pengganti rasa pahit dari almon. digunakan sebagai carrier solvent.5-diol. Nomor CAS.10. B. Dicol. Bob tonka. pembekuan darah terganggu.beta'-Dihydroxydiethyl ether. Nomor CAS. Komarin mengganggu sintesa vitamin K pada bagian pencernaan manusia. stabil. Biji tonka juga sering digunakan sebagai senyawa perisa pada rokok.1 Biji tonka (tonka bean). Diglycol. larut dalam air. Komarin dapat dikeluarkan dari biji tonka dengan cara merendamnya dalam alkohol selama 24 jam.2 Fungsi lain Biji tonka digunakan sebagai pengganti vanila pada produk makanan seperti es krim. 111-46-6 Deskripsi B.3. Dietilen glikol (diethylene glycol). memiliki cairan jernih.2'-Oxybisethanol. mobile. Dactivator E. tidak larut dalam air. 2. Fabae Tonco. 2. beta. TOHKa.3.9. Tonkapapu. Tonka bean mengandung komarin.3 B.9. Glycol ethyl ether. dan bayi dan anak-anak. Tonkas pupinas.SNI 01-7152-2006 B.9.2'-Diydroxyethyl ether.1 Kajian keamanan Efek penggunaan biji tonka Menghambat atau menghentikan pembekuan darah dan berfungsi sebagai antikoagulan. Biji tonka dimasukkan dalam daftar senyawa perisa yang dilarang. B. sedang menyusui. Nama lain dari dietilen glikol adalah Ethylene diglycol.2'oxydi-.9.1 Dietilen glikol berwujud cair. Tonkabønne. Tonkaboon. Biji tonka yang beraroma manis dan kuat digunakan sebagai senyawa campuran pada perdagangan vanili ataupun produk vanili. Glycol ether. Kandungan komarin dapat mencapai 10%. custard dan soufflé. dan Singapura melarang penggunaan biji tonka sebagai perisa dalam produk pangan. Tonkowiec wonny. Lõhnav dipteeriks. Cumaru. Tonquin bean. B.

sementara itu pada konsentrasi 2% dan 4 % menyebabkan kerusakan ginjal yang lebih parah.3 Hasil evaluasi Di beberapa negara material ini dilarang digunakan sebagai perisa pada makanan.oral = 2300-23700 mg/kg. hati.118 @ 20/20oC. torak dan sistem pernafasan menjadi kronik. B.SNI 01-7152-2006 Oxydiethanol atau 3-Oxa-1. perubahan hati. B.1 Data toksisitas akut (LD50) Pada tikus – inhalasi = 130 mg/m3/2 jam.2 Fungsi lain Tidak ada. Pada anak (oral) = 2400 mg/kg. ureter dan empedu. Percobaan terhadap ransum makanan tikus menunjukkan kerusakan ginjal pada tingkat sedang pada konsentrasi 1 %. Pada mencit .1.3.2 g/kg secara oral oleh manusia menyebabkan kematian dikarenakan kerusakan ginjal dan limpa.oral = 9900 mg/kg. Dietilen glikol ini akan dicoba untuk dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B. titik beku – 8 oC (18oF). menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak.3. ureter dan empedu). berat molekul 106. dan dalam kasus yang ekstrim dapat berakibat fatal. Pada anjing . Pada mencit . Pada dosis 1. Pada orang dewasa = 0.i. Dietilen glikol tidak secara langsung diserap oleh kulit. Toksisitas akut (LD50) pada kelinci: >2g/kg.10.10.3 Kajian keamanan Berdasarkan data dari hewan percobaan dalam jangka panjang. Karsinogenisitas dan studi toksisitas dalam jangka panjang B. Selain itu jika diinjeksi dalam kuantitas besar dapat membahayakan. 72 dari 122 .1 mm Hg @ 20oC (68oF).66 pada suhu 20oC.p = 9719 mg/kg. ginjal. 890 gm/kg/53 minggu menyebabkan tumor pada empedu.3. perubahan pada limpa kecil.75 mg/kg. menyebabkan paru-paru. Dietilen glikol memiliki rumus kimia C4H10O3. tubules dan glomeruli ginjal. hati. menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak. 584 gm/kg/2 tahun.5-pentanediol. menyebabkan Cyanosis pada paru-paru. B. menyebabkan berkurangnya aktifitas. torak atau sistem pernafasan.2 Secara oral pada tikus dengan dosis 1752 gm/kg/2 tahun . ureter dan empedu). diperkirakan dietilen glikol tidak memiliki resiko kanker pada manusia. Sedikit beracun untuk binatang melalui penyerapan kulit. ginjal. indeks bias 3. Apabila terhirup dapat menyebabkan sakit pada hidung dan kepala. titik didih 245oC (473 oF) @ 760 mmHg. dan perubahan Metabolic acidosis. grafitasi spesifik 1. menyebabkan perubahan degeneratif pada otak. tekanan uap < 0. sesak pada sistem pernafasan.10.10. Dapat diusulkan dilarang sebagai perisa di Indonesia. Dietilen glikol tidak menyebabkan terjadinya mutasi gen dan tidak merintangi reproduksi pada hewan percobaan. Pada konsentrasi 2 % dan 4 % dapat menyebabkan tumor pada empedu tikus dikarenakan adanya pengendapan kalsium oksalat yang menimbulkan iritasi secara mekanik namun bukan sebagai efek dari kanker.10.

Organ yang paling rentan adalah hati dan ginjal. ADI belum dapat ditentukan.11. jangka panjang/karsinobesisitas. carbitol enkanol. subkutanus. apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip.5 μg per hari. tikus dan marmut berkisar antara: 6.0 ml/kg bb.3% dari dosis yang diberikan sedang sebagian besar mengalami reaksi oksidasi. 1947 melaporkan penelitian metabolisme pada kelinci dan hasilnya menunjukkan adanya reaksi konjugasi dengan asam glukoronat sebanyak 0.3-10. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia.3 Kajian keamanan Evaluasi keamanan dietilen glikol monoetil eter dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM.4 ml/kg bb dan 3. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. Etil eter dari dietilen glikol.1 Nama kimia menurut ”Chemical abstract”: 2-(2-etoxi)-etoxietanol. LD50 untuk senyawa diperoleh dari beberapa penelitan yang meliputi berbagai cara pemberian termasuk secara oral. B. tekanan uap pada 25 °C adalah 19 mmHg. Dietilen glikol monoetil eter memiliki rumus molekul C6H14O3 dengan bobot molekul 134.11 Dietelen glikol monoetil eter(diethylene glycol monoethyl ether). Untuk keperluan evaluasi ini diambil LD50 yang dihasilkan dari percobaan secara oral. B. teratogenisitas. gangguan pada sistem reproduksi.11. senyawa ini diekskresi dalam urin dalam bentuk (2-etoxietoxi) asam asetat (Kamerling et al 1977).2. Nomor CAS. LD50 pada mencit.4 Pengaturan Malaysia dan India melarang menggunakan material ini sebagai perisa pada makanan.3. Pada manusia.1 Deskripsi Diethylene glycol monoethyl ether dengan sinonim ethyl diethylene glycol.11. Penentuan kelas struktur kimia B. alkohol dan sebagian minyak.11. berturut-turut.SNI 01-7152-2006 B. Berfungsi sebagai pelarut pembawa perisa. tidak berwarna. 5. B. Bagian Standardisasi. 111-90-0 B. apakah pada kondisi penggunaan. Fellows et al.8-2. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. etilen diglikol dan nama kimia 2-(2-etoxi)-etoxietanol merupakan cairan higroskopis.2 Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya Data mengenai metabolisme senyawa ini belum banyak.6 – 12. asupan senyawa lebih besar dari 1.5 ml/kg bb.10. intravena dan intraperitoneal. larut dalam air. etildigol. penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya.3. B.2 Fungsi lain Pelarut pada parfum. Berbagai percobaan yang meliputi uji jangka pendek.1 – 5. 73 dari 122 . titik didih 196-202 °C. dan titik nyala 96 °C.11. Berdasarkan struktur kimia kemungkinan senyawa ini masuk dalam kategori kelas struktur II. yaitu mempunyai struktur intermediat dan belum ada data lengkap yang menunjukkan adanya pembentukan metabolit reaktif dalam proses metabolismenya dalam tubuh.

dan iritasi telah dilakukan dengan menggunakan beberapa spesies hewan. B.5 ml/kg bb/hr. ’68 Smyth et al. B. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa senyawa ini menghasilkan metabolit yang berbahaya. ’68 Butterworth et al.11. hematologi.4% etilen glikol. B. sehingga prinsip evaluasi untuk senyawa yang terdapat dalam jumlah sedikit tidak berlaku untuk dietilen glikol. 74 dari 122 . ’83 Smyth&Carpenter ’48 Hall et al.SNI 01-7152-2006 genotokisitas.11.5 Apakah kondisi penggunaan senyawa masih berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip dalam margin aman Data NOEL untuk senyawa ini ada beberapa dan diperoleh dari berbagai cara pengujian biologis pada beberapa spesies hewan percobaan.3.4 Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus. Tabel B.11.3.4 Pengaturan Malaysia melarang menggunakan senyawa perisa ini pada makanan.’75 Gaunt et al.11.3.3 Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak Penentuan ini belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia maupun di negara lain. Akan tetapi keberadaan dietilen glikol sebagai akibat carry over penggunaan pelarut pembawa perisa dapat mencapai 1000 mg/kg makanan. India juga melarang menggunakan material ini sebagai pelarut pada perisa. asupan senyawa lebih besar dari 1. Sebagian besar hasil percobaan menunjukkan adanya gangguan kesehatan. B. 0. Rangkuman data NOEL dapat dilihat pada tabel berikut ini.6 per hari Apakah pada kondisi penggunaan. B. ‘64 *Berdasarkan perhitungan: 0. akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus.5 μg per hari.11. ’66 Gaunt et al.1 Rangkuman data NOEL dietilen glikol monoetil eter yang diperoleh dengan cara oral Hewan percobaan Mencit Tikus Tikus Tikus Ferret Babi Tikus Catatan Cara pengujian Uji jangka pendek idem idem idem idem idem Uji jangka panjang Nilai NOEL (mg/kg bb/hari) 850-1000 410 800 250 2* 167 200 Ref Gaunt et al. sitotoksik.5 μg Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1.3.

12. Dihidrokomarin diperoleh dengan cara reaksi reduksi komarin menggunakan katalis nikel. B. 3. Diputuskan bahwa evaluasi keamanan dilakukan melalui sisi B dari prosedur. 119-84-6 Deskripsi Dihidrokomarin dengan sinonim 1. Nomor CAS. gravitasi spesifik 1. Menimbang adanya gangguan kesehatan yang ditunjukkan oleh berbagai hasil penelitian pada beberapa spesies hewan percobaan dengan berbagai cara uji maka penggunaan dietilen glikol harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif dan dibatasi penggunaannya. India dan Thailan melarang penggunaannya sebagai substansi perisa. Langkah B3: asupan dari dihidrokomarin di Eropa (1415 μg/orang/hari) dan di USA (1111 μg/orang/hari) melebihi ambang batas untuk kelas III yaitu 90 μg. titik leleh 22 °C.12.12. dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Dihidrokomarin terdapat secara alami di alam. data untuk penentuan intake (asupan).11. B.4-dihydro-2H-1benzopyran-2-one.4 JECFA memutuskan dihidrokomarin sebagai perisa dengan tingkat estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). 2381. Sebaliknya.2-benzodihydropyrone. termasuk data NOEL. USA menggolongkan dihidrokomarin termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS No.2 Fungsi lain Tidak ada. 3.4dihydro-2-chromanone. 1171.1 Dihidrokomarin (dihydrocoumarin).1 Kesimpulan Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan dietilen glikol sudah cukup. dan data asupan per hari belum ada.12 B. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) d) Langkah 1: dihidrokomarin tergolong ke dalam struktural kelas III. B. ortho-hydroxydihidrocinnamic acid lactone.188 dan kelarutan dalam air (dalam perhitungan) pada suhu 25 °C adalah 11540 mg/l. melilotic acid lactone merupakan substansi perisa yang digunakan dalam industri perisa. Langkah 4: data NOEL (150 mg/kg bb/hari ([NTP 1993]) dari dihidrokomarin adalah 1000 kali lebih besar dari estimasi intake dihidrokomarin sebagai perisa di Eropa (24 μg/kg bb/orang) dan di USA (19 μg/kg bb/hari). 2H-1-benzopyran-2-one. titik asap >200 °F. dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). data batas aman (threshold).SNI 01-7152-2006 B. 75 dari 122 . Pengaturan B. Langkah 2 : dihidrokomarin tergolong kedalam kelas kimia aromatic fused lactones dimana data metabolisme yang tersedia masih terbatas. Diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. Dihidrokomarin memiliki titik titih 272 °C.12.3 Kajian keamanan Dihidrokomarin telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. JECFA No.4.

2 Data toksisitas akut (LD50) = 2260 mg/kg bb.13.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaan dihidrosafrol sebagai perisa.3benzodioxole.toxic dose (other that lowest) = 101 g/kg/81W-C (tumor gastrointestinal dan liver).5 Berdasarkan kajian tersebut. Pada tikus – oral (LDLo.1 Uji standard draize Pemberian dosis 500 mg/24 jam dengan cara dioles pada kulit pada kelinci terjadi reaksi sedang. hati dan alat respirasi). 76 dari 122 . Dihydrosafrol mempunyai RCRA waste number U090. B.13.13. = > 5 mg/kg bb.13.3.4 Data tumorigenisitas pada mencit .13. B.3.13 B.5-propyl-1.2 Fungsi Lain Tidak ada. senyawa dihidrosafrol dimasukkan dalam daftar dilarang digunakan sebagai perisa.2-methylenedioxybenzene. 94-58-6 Deskripsi Nama lain dari dihidrosafrol adalah Benzene.3. = 2830 mg/kg bb. pada mencit-oral (TD. dihydro-. = 3700 mg/kg bb.SNI 01-7152-2006 B.oral (TDLo-Lowest published toxic dose) = 101 g/kg/81W-C (tumor pada gastrointestinal dan liver).3.3 Kajian keamanan B. B. safrole.oral pada kelinci – dermal B.Lowest published toxic dose) B.3 Data Toksisitas akibat Pemberian Dosis Berganda = 78750 mg/kg/15W-I (kematian). Terjadi gangguan iritasi pada kulit dan mata.13.13.13. 4-propyl-1. 1.1 Dihidrosafrol (dihydrosafrole). B. Kesimpulan B.3.toxic dose (other that lowest) = 163 g/kg/81W-C (tumor pada paru-paru. pada tikus-pengerat – oral pada mencit . pada mencit-oral (TD.oral pada mencit . thorax.2-methylenedioxy-4-propyl-. Nomor CAS.13.

antinyeri.14. Kandungan dari semua bagian tumbuhan dulkamara ini dinyatakan beracun karena adanya solanin dan alkaloid-alkaloid lain turunannya. dulcamarin. Kegunaan dalam makanan sebagai perisa tidak jelas.1) yang tercatat beracun. tetapi bisa menimbulkan efek imunodepresan.1 Dulkamara (dulcamara) solanum dulcamara Deskripsi Dulkamara dengan sinonim Bittersweet.SNI 01-7152-2006 B. cabang atau herba dari tanaman Solanum dulcamara L. Solanin telah terbukti menyebabkan gastroenterosis. Simplisia ini mengandung Solaniceina ± 1%. Aktivitas ini berhubungan dengan khasiatnya sebagai antidemam. Semua bagian tanaman ini (Solanaceae) mengandung senyawa solanin (C45H73NO15 /BM 868.3 B. Dulkamara banyak digunakan dalam sistem pengobatan alternatif homeopati. cabang atau herba yang digunakan sebagai obat tradisional (etnofarmakologi) untuk berbagai penyakit atau mengatasi berbagai banyak gejala seperti vertigo. Berbagai jenis tanaman kentang mengandung glycoalkaloids. muka. ekspektoran. serta S. Efek herba tumbuhan ini (Solanum dulcamara L. bakteri. pada mata. (Solanaceae).14 B.–Solanaceae. Glikoalkaloid sangat susah diserap dari saluran gastrointestinal namun dapat menyebabkan iritasi 77 dari 122 . dulcumaric acid. Glycoalkaloid tersebut juga beracun terhadap manusia dan hewan. Alkaloid ini terutama terkandung dalam buah (berries) yang belum matang. merupakan simplisia batang dan cabang kering Solanum dulcamara L. antireumatik. Tumbuhan ini.14. Tetapi dapat menghasilkan efek samping antara lain tukak lambung. Solanum dulcamara. alat genital dan gangguan respirasi sebagai batuk. Bagian alkaloid dari glikoalkaloid secara umum dikenal sebagai aglikon.2 Fungsi lain Dulkamara merupakan simplisia batang. Solanum dulcamara mengandung racun glikoalkaloid yaitu solanine dan amorphous glucoside dulkamarin. banyak meracuni hewan ternak dan domba.14. ferox dan S. Dulkamara digunakan sebagai serbuk atau ekstrak dari simplisia batang. tachycardia. senyawa yang berguna dalam mekanisme pertahanan tanaman terhadap serangan berbagai patogen seperti virus. nigrum dimasukkan kedalam tumbuhan racun. Simplisia ini di dalam sediaan obat tradisional dicampur dengan berbagai simplisia-simplisia lain.) dalam beberapa penelitian menunjukkan aktivitas penekanan biosintesa prostaglandin dan eksositosis PAF. nigrum dinyatakan sebagai tumbuhan beracun. Douce-Amere. mulut. dulcamaretic acid. rektum. Woody nightshade. Peranannya dalam makanan mungkin sebagai peningkat fungsi makanan dalam pengobatan atau kesehatan karena berbagai khasiatnya tersebut. B. dan sakit pada kepala. Di dalam pengobatan tradisional (etnofarmakologi). B.14. dyspnea.3. Ekstrak herbanya mengandung saponinsteroidal yang menunjukkan efek Cortisone-like. Scarletberry. vertigo dan cramps. telinga. tercatat atau termasuk kedalam tumbuhan yang dapat merugikan (tidak aman).1 a) b) c) Kajian keamanan Toksisitas d) e) f) Secara etnofarmakologi Solanum dulcamara beserta S. Dulkamara atau Solanum dulcamara tergolong ke dalam kelas Solanaceae dikenal pula dengan nama Bitter Nightshade. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa buah yang matang berwarna merah mengandung jumlah racun yang sedikit dan amat jarang meracuni anak-anak. perut. fungi dan serangga.ferox dan S. dsb. Tercatat di dalam ekstrak herbanya terkandung senyawa steroidal saponim yang menunjukkan efek seperti hormon kortison (Cortisone-like). ini digunakan dalam pengobatan eksem kronis. Dulcamerae Caulis.

muntah-muntah.SNI 01-7152-2006 g) h) saluran gastrointestinal. Penekanan terhadap biosintesis prostaglandin dapat menginduksi terjadinya tukak lambung . B. Secara tradisional.14. gravitasi spesifik (25 oC) 0. sakit perut. pusing. rapid weak pulse. 1-methoxy-4-(2—propen-1-yl). titik nyala (flash point) 81 oC . isoanethol.15.522. Aglikon dapat diserap dan dipercayai bertanggunjawab atas observed nervous system signs.3. larut dalam etanol dan klorofom. itchy neck dan drowsiness. dyspnea. dan titik didih 216 oC.14.960 – 1. aroma mirip dengan adas. diare. demam. kemudian dilanjutkan dengan neurological disorders.allylanisole. berat molekul 148. Penggunaannya di dalam pengobatan tradisional secara homeopati dengan dosis sangat kecil. Diusulkan dulkamara dilarang sebagai perisa di Indonesia. minimal dua negara melarang.3 Berdasarkan khasiatnya terhadap tubuh.55 mg/l pada suhu 25 oC. delirium dan akhirnya koma.14. Daftar ini pernah dimuat pada jurnal Health Foods Bussiness pada tahun 1978 namun sejak tahun 1986.2. US FDA sebelumnya pernah m ke dalam daftar FDA : Unsafe poisonous herbs. halusinasi. Nama kimia dari estragol adalah 4-Methoxy-1-(2 propenyl) benzene. dulkamara dinyatakan sebagai tumbuhan beracun. Kandungan steroidal-saponim yang beraktivitas cortisone-like dapat menekan sistem imun tubuh. Kajian keamanan lainnya B. kegunaannya sebagai perisa tidak jelas. rapid breathing. Memiliki cairan tidak berwarna.517-1. B.1 Estragol dengan sinonim chavicyl methyl ether. dikelompokkan sebagai tumbuhan beracun. Solanum alkaloid adalah cholinesterase inhibitor yang menyebabkan neural function impairment dalam bentuk hyperesthesia.15 B. Nomor CAS. Estragol terdapat secara alami di alam. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 84. Hasil evaluasi B.3. Pada manusia keracunan alfa-solanin dan alfa-charconin dimulai dengan gangguan gastrointestinal. Estragol (estragol). pada keracunan dalam dosis tinggi menyebabkan penurunan tekanan darah.2 a) b) c) d) e) Kandungannya memberikan efek-efek berbahaya mirip dengan atropin (antikholinergik) yang dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh. FDA tidak lagi menganggap daftar ini sebagai kebijakan regulasi dan diabaikan.15. methyl chavicol digunakan sebagai substansi perisa di industri. p.4 Pengaturan Singapura dan Inggris melarang dulkamara sebagai perisa.2 Fungsi lain Tidak ada 78 dari 122 . 140-67-0 Deskripsi B. indeks refraktif (20 oC/D) adalah 1. berbeda dari anetol. Estragol memiliki rumus kimia C10H12O.524. Data-data toksisitas khusus lainnya serta data dalam tubuh manusia belum ada (belum lengkap). Estragol diperoleh dengan cara proses destilasi dari turpentin. dan penelitian keamanan belum lengkap.

1 Uji bakterial 1-hydroxyestragol tidak menunjukkan mutagenisitas pada hati (Drinkwater.p pada mencit menunjukkan efek perpanjangan tidur oleh hexabarbital narcosis dan zoxazolanin paralysis (Fuji et al. = 1. Komite Eropa meminta tambahan studi jangka panjang untuk melakukan evaluasi potensi karsinogen dilakukan sebelum ADI dapat ditentukan.4 Pengaturan Estragol sebagai konstituen alami dalam edible fruit 5 mg/kg. es krim 11 mg/kg. Estragol kurang berpotensi dalam menghambat tumor jika dibandingkan dengan delta-9tetrahydrocannabinol (Nichols et.p B.3.15. permen 36 mg/kg.tikus – i.23 g/kg. US FDA mengizinkan (CFR 172. Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2411.25 g/kg dan 1. namum dikarenakan kekurangan data. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Estragol pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669). ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman beralkohol 100 mg/kg. 1970). al. = 1.15. 1972). . = 1. B. ADI 0-5 mg/kg bb. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi.82 g/kg.15.p .515 . Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.2 μmol yang diberikan pada mencit menyebabkan peningkatan karsinoma hepatoselular (Drinkwater.3. Substansi perisa ini terdapat secara alami di berbagai herbal dan rempah selain disintesa. teh hijau 1-30 mg/kg.kelinci – dermal . ikan kaleng 50 mg/kg.23 g/kg pada tikus secara oral.tikus – dermal . India melarang menggunakannya pada perisa.160 dan 640 mg/kg secara i.. produk bakar 41 mg/kg. Estragol tidak memiliki aktivitas sitotoksik dalam melawan sel HeLa (Stoichev. B. permen karet 50 mg/kg.03 g/kg. minuman tidak beralkohol 10 mg/kg. FDA 21 CFR 172. asupan rata-rata 7072 µg/hari.26 g/kg. EC (European Commission): penambahan dengan sengaja dilarang (Jerman dan Denmark). = 5 g/kg. = 1. lemak dan minyak 250 mg/kg.3 Data toksisitas akut (LD50) = 1. 1976). B.3.3.15. USA : FEMA GRAS 2411. 1967).tikus – oral . 1973). JECFA telah mengkaji pada tahun 1980 dan 1981. 79 dari 122 .4 dan 5.mencit – oral . JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat.15.25 g/kg.10. ADI belum dapat dialokasikan. B. Toksisitas akut (LD50) pada mencit 1.515).mencit – i.5.2 Uji patch tertutup Minyak estragol 4% dalam petrolatum tidak menyebabkan iritasi setelah 48 jam pada manusia (Kligman.4 Toksisitas subkronik Dosis 605 mg/kg secara oral pada tikus menyebabkan kerusakan minor pada hati. Data-data toksikologi yang tersedia belum cukup untuk melakukan kajian menentukan ADI. Minyak estragon (undiluted) menyebabkan iritasi dan kerontokan pada bulu mencit (Urbach & Forbes.3 Kajian keamanan Dosis estragol 2. Dosis estragol dan metabolit 1-hydroxy sebesar 4. 1976).15.40.515). Dosis tinggi 150-600 mg/kg dapat bersifat karsinogenik. 1977). teh hitam 1-15 mg/kg.SNI 01-7152-2006 B.

SNI 01-7152-2006

B.16 B.16.1

Etil-3-fenil glisidat (ethyl-3-phenyl glycidate), Nomor CAS. 121-39-1 Deskripsi

Etil-3-fenil-glisidat dengan sinonim asam glisidat; 3-fenil etil ester; ethyl phenylglycidate(EPG); ethylα,β-epoxy-β-phenylpropionate; ethyl 3-phenyl-2,3epoxypropionate; ethyl 3-phenylglycidate; ethyl β-phenylglycidate; 3-phenyl-ethyl esteroxiranecarboxylic acid merupakan perisa sintetik dan belum terdeteksi terdapat di alam. Nama kimia menurut International Flavor and Fragrance (IFF) adalah Etil-3-fenil glisidat. Etil-3-fenil glisidat memiliki rumus molekul C11H12O3 dengan berat molekul 192, berat jenis (relatif d20/4) 1,121-1,127, indeks refraktif (NaD 20 0C) 1,515-1,520. Titik asap >200 °F, grafitasi spesifik (pada suhu 25 °C) 1,120 – 1,125, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 320,1 mg/l pada suhu 25 oC. Etil fenil glisidat diperoleh dengan cara mereaksikan benzaldehida dengan etil ester dari asam monokloroasetat dengan menggunakan alkaline condensing agent. B.16.2 Fungsi lain

Tidak ada B.16.3 Kajian keamanan

Evaluasi senyawa ini telah dilakukan dengan menggunakan uji Ames, uji Basc pada Drosophila melanogaster dan uji mikronuklei (Wild et al 1983). Senyawa ini mempunyai rasa buah strawberi dan manis. Evaluasi keamanan etil-3-fenil glisidat dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM, Direrktorat Standardisasi Produk Pangan. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia; penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya; penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak; penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus; apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL atau senyawa yang mirip; apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Decision tree

B.16.3.1 a)

Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya. Berdasarkan hasil penelitian Wild et al (1983), etil 3-fenil glisidat memberikan hasil positif dengan uji Ames, sedangkan kerabatnya, etil 3-metil 3-fenilglisidat memberikan hasil positif pada uji Ames dan uji Basc pada drosifila. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemungkinan senyawa ini bersifat karsinogenik ada. Data pada manusia belum ada. Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia.

b)

Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus, akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus.

80 dari 122

SNI 01-7152-2006

c)

Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. Data NOEL dan asupan senyawa ini tidak tersedia sehingga margin amannya tidak bisa ditetapkan.

d)

Apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 µg per hari.

B.16.3.2

Kajian toksikologi

JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji etil fenil glisidate pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669), namun karena data evaluasi toksikologi yang ada tidak memuaskan komite, ADI belum dapat dialokasikan. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515). Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2454. JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.16.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. US FDA mengizinkan penggunaan etil-3-fenil glisidat (CFR 172.515). JECFA telah mengkaji senyawa ini pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh US FDA sebagai perisa (21 CFR 172.515) dengan FEMA GRAS No. 2454 yaitu batas penggunaan dalam minuman (4.6 mg/kg), es krim dan es (12 mg/kg), permen (18 mg/kg), baked good ( 20 mg/kg), gelatin dan puding (10 & 70 mg/kg). India melarang penggunaannya. B.17 B.17.1 Eugenil metil eter (eugenyl methyl ether), Nomor CAS. 93-15-2 Deskripsi

Eugenil metil eter atau 4-allyl-1,2-dimethoxybenzene atau allylveratrole atau 4-allylveratrole atau 1,2-dimethoxy-4-(2-propenyl)- benzene atau 2-dimethoxy-4-allylbenzene atau 3,4dimethoxyallylbenzene atau 1,2-dmethoxy-4-(2-propenyl)benzene atau eugenol methyl ether atau eugenyl methyl ether atau methyl eugenol atau methyl eugenol ether atau veratrole methyl ether digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. Eugenil metil eter terdapat secara alami di alam. Eugenil metil eter memiliki titik didih 254,7°C, berat jenis 1,0396 pada 20°C, titik nyala >200°F, titik leleh 4°C, indeks refraksi 1,532, grafitasi spesifik 1,034 – 1,037 pada 20°C. Eugenil Metil Eter diperoleh dengan cara metilasi dari eugenol. B.17.2 Fungsi lain

Tidak ada B.17.3 B.17.3.1 Kajian keamanan Toksisitas akut = >640 mg/kg bb; = 1560 mg/kg bb;
81 dari 122

pada mencit-i.p pada tikus-oral

SNI 01-7152-2006

-

pada kelinci-dermal

= >5000 mg/kg bb.

B.17.3.2 a)

Toksisitas subkronik

b) c) c)

Dosis 0, 10, 30, 100, 300 atau 1000 mg/kg bb eugenil metil eter dalam 0,5% methylselulosa pada tikus jantan dan betina menunjukkan bahwa tikus tesebut masih bisa bertahan meskipun terjadi penurunan berat badan secara signifikan. Pada dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hepatoselular. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina terjadi kolestasis sehingga mengubah fungsi hepatik, hipoproteinemia, dan hipoalbuminemia. Dosis 300 dan 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina, bobot hati menjadi 100, 300 dan 1000 mg/ kg pada tikus jantan dan 1000 mg/kg pada tikus betina serta testis jantan 1000 mg/kg. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina juga menyebabkan gastritis athropik, sedangkan dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hipertropi kortikal kelenjar adrenal. NOEL ditetapkan pada dosis 30 mg/kg bb/hari. Toksisitas kronik/ Karsinogenisitas

B.17.3.3 a)

Total dosis 42,4 mg/kg bb secara i.p pada mencit jantan (58 mencit yang diberi perlakuan dan 58 kontrol) meningkatkan secara signifikan hepatomas mencit (96% tikus yang diberi perlakuan dan 41% kontrol). Hal ini menunjukkan bahwa eugenil metil eter memiliki aktivitas hampir sama dengan metabolit 1’hidroksi. (Miller et al., 1983). Tikus jantan yang diberi dosis 150 dan 300 mg/kg/hari mati sebelum uji ini selesai, sedangkan pada tikus betina yang diberi dosis 150 mg/kg/hari masih bisa bertahan. Berat badan tikus dan mencit jantan dan betina menurun dibandingkan dengan kontrol. Pada semua dosis pada tikus dan mencit terjadi neoplasma hati, hepatoadenoma, hepatokarsinoma, hepatokholangioma (hanya pada tikus), hepatokholangiokarsinoma, dan hepatoblastoma (hanya pada mencit). Terjadi pula kerusakan pada glandular tikus dan mencit serta tumor ganas neuroendokrin. Terbukti bahwa egenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada tikus jantan dan betina galur F344/N berdasarkan terjadinya peningkatan kerusakan neoplasma hati, tumor neuroendokrin pada perut glandular. Selain itu terjadi pula peningkatan kerusakan pada neoplasma ginjal, fibroma dan fibrosarkoma pada tikus jantan (NTP). NTP menyimpulkan pula bahwa eugenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada mencit jantan dan betina galur B6C3F1 berdasarkan adanya peningkatan kerusakan neoplasma hati. Dosis terendah (37 mg/kg bb/hari) memberikan efek karsinogen (meningkatkan secara signifikan karsinoma hepatoselular pada mencit jantan dan betina). Genotoksisitas

b)

c)

d)

e)

f)

B.17.3.4

B.17.3.4.1 Invitro Eugenil metil eter tidak mutagenik terhadap Salmonella typhymurium galur TA98, TA100, TA1535, TA1537 dengan atau tanpa penambahan aktivitas metabolik (S9) secara eksogenus (NTP TR 491). Selain itu eugenil metil eter juga tidak mutagenik terhadap S. typhimurium dan Escherichia coli WP2 galur uvrA dengan dan tanpa aktivitas metabolik (S9) (Sezikawa et al., 1982). Eugenil metil eter dapat pula menyebabkan rekombinasi intrakromosal pada Saccharomyces cerevisiae dengan dan tanpa aktivitas metabolik (Schiestl et al., 1989). Analog jenuh dan monofluoro dapat menurunkan aktivitas genotoksik pada S.
82 dari 122

SNI 01-7152-2006

cerevisiae (Brennan et al., 1996). Eugenil metil eter, 1’-hydroxymethyleugenol dan 2’3’epoxymethyleugenol menyebabkan Unscheduled DNA Synthesis (UDS) pada hepatosit tikus (Chan dan Caldwell, 1992). Metabolit 1’-hydroxy sebagai penyebab paling kuat UDS. B.17.3.4.2 In vivo

Teramati bahwa eugenil metil eter, mutasi gen beta-katenin menyebabkan karsinoma hepatoselular pada mencit 20/29 (Devereux et al., 1999). Aktivitas gen beta-katenin, dengan deregulasi subsekuen transduksi sinyal Wnt, ditetapkan sebagai kejadian awal secara kimiawi yang menyebabkan karsinogenesis hepatik pada mencit. Hal ini mengindikasikan bahwa eugenil metil eter sebagai genotoksik potensia. B.17.3.4.3 Kajian keamanan lainnya

Eugenil metil eter sebagai inhibitor kuat terhadap enzim mikrosomal hepatik. Eugenil metil eter dengan dosis 100 mg/kg dapat memperpanjang waktu tidur (72%). Eugenil metil eter merupakan senyawa multisite, multispesies karsinogen Eugenil metil eter pada tikus dan mencit menyebabkan jenis tumor yang berbeda atau disebut sebagai tumor neuroendokrin pada perut glandular. Teramati pada dosis lebih rendah (37 mg/kg bb/hari) pada tikus dan mencit menyebabkan tumor hati. Dosis tinggi eugenil metil eter (sekurang-kurangya 30 mg/kg bb selama 25 hari) auto-induksi 1’hydroxylation oleh sitokrom P450, dengan formasi karsinogen proksimat 1’hydroxymethyleugenol. Eugenil metil eter dengan 2 metabolitnya yaitu 1-hydroxymethyleugenol dan 2’,3’-epoxymethyleugenol menyebabkan UDA (Unscheduled DNA Synthesis) secara in vitro. Eugenil metil eter membentuk DNA adduct baik secara invitro maupun in vivo, hampir sama dengan safrol dan estragol. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Eugenil metil eter pada tahun 1980 (TRS648) dan tahun 1981 (TRS669); walau demikian dikarenakan data yang belum lengkap, (hasil 90 hari studi atau tes jangka panjang), ADI untuk senyawa ini belum dapat dialokasikan. JECFA akan mencoba untuk mereview senyawa ini menggunakan prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.17.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization on The Flavour Industry) tidak membatasi. JECFA (Joint Expert Committee of Food Additive) telah mengkaji eugenil metil eter pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515), dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2475 yaitu penggunaan dalam makanan sebesar 10 mg/kg, es krim dan es (4,8 mg/kg), permen 11 mg/kg), baked good (13 mg/kg), dan jeli (52 mg/kg). India melarang eugenil metil eter sebagai perisa. Etil metil keton (ethyl methyl ketone), Nomor CAS. 78-93-3 Deskripsi

B.18 B.18.1

Etil metil keton dengan sinonim butan-2-one, 2 butanone, methyl ethyl ketone, MEK digunakan di dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan extraction solvent. Etil metil keton terdapat secara alami di alam. Etil metil keton memiliki titik didih <40 °F, berat jenis 0, 802, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 76100mg/l diukur pada suhu 25 °C. Etil metil keton diperoleh dengan cara oksidasi dari sek-butanol. B.18.2 Fungsi lain

Tidak ada
83 dari 122

perforatum juga mengandung glikosida flavonol khususnya derivat dari hiperosid. cyclo pseudohypericin Disamping senyawa diatas. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172. secara organoleptik meliputi (i) rekristalisasi dari pyridin + metanolik HCl berupa kristal jarum biru-hitam dengan dec 3200 (ii) mudah larut dalam piridin dan pelarut basa organik lain menghasilkan larutan merah cherry dengan flurosensi merah.5’. eksitasi pada 337 nm.3 Kajian keamanan Etil metil keton telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. 84 dari 122 .10.2’dimetil naftodian-tron. Langkah III: Asupan dari etil metil keton di Eropa (110 μg) dan USA (36 μg) tidak melampaui ambang batas (threshold) untuk kelas I yaitu 1800 μg. dengan kandungan C=71.19 B. a) b) c) Langkah I: Etil metil keton tergolong kedalam struktural kelas I. protohypericin. John’s Wort) golongan senyawa acy’phloroglucinols (derivat phloroglucin) yaitu yang utama adalah hyperforin (0. tumbuhan H. absorpsi sekitar 600 nm dalam DMSO 1μg/ml.6. 4. sejumlah cukup procyanidin dan fenil propan.8 opqra) perylene-7. Hiperisin merupakan isolasi dari Hypericum perforatum L.13-heksahidroksi-10.278.45.19. Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. JECFA memutuskan bahwa penggunaan etil metil keton sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern) dengan JECFA No. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Kajian Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah langkah sebagai berikut. O = 25..18. Juga diketemukan (St. α-pinenes dan monoterpen lain). (iii) tidak larut dalam berbagai pelarut organik umum. Secara umum kelas senyawa ini dapat diserap melalui saluran gastrointestinal. India melarang penggunaannya dalam substansi perisa.5 berwarna hijau dengan fluoresensi merah. tannin 10%.3% minyak esensial.11-dimetil fenantro. es krim dan es (270 mg/kg). Hiperisin memiliki rumus molekul C30H16O8 dan berat molekul 504. Sifat kimia.1 Hiperisin (hypericin) Nomor CAS. Nama kimia hiperisin adalah 1. (v) spektrum absorpsi dan fluorosensinya ada.05-0.43%. B.8.5 larutan berwarna merah diatas pH 11.515). dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2170 yaitu batas penggunaan pada minuman (70 mg/kg). 548-04-9 Deskripsi Hiperisin dengan sinonim hypericum red merupakan sintesa dari bromoemodin trimetileter.44/504.4. dengan karakteristik merupakan derivat Napthodianthrone yang secara umum dikenal dengan nama hypericins. yang terdiri dari hypericin dengan pseudohypericin yaitu isohypericin. n-alkanes. permen dan baked good masing-masing 100 mg/kg. Langkah II: Etil metil keton diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa inncuous.4’. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (No safety concern).3.7’-heksahidroksi-2. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (no safety concern). kuersitrin dan rutin : biflavon yaitu I3. II8-biapigenin dan 13’.9.5. (iv) larut dalam DMSO.37%. (1.18. H= 3.20%. II8-biapigenin (amentoflavone).4 EC dan IOFI tidak membatasi. larut dalam larutan air alkalis dibawah pH 11.7.-Hypericaceae.14-dione.SNI 01-7152-2006 B. Pengaturan B.

minuman (0. HSV-1 dll. B. digunakan dalam terapi (tradisional) keadaan depresi dan cemas (ansietas). Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.19. b) Dalam Merck Index dinyatakan sebagai katagori terapi antidepresan. . e) Sebagai medisin popular (etnofarmakologi/herbal medicine): . Sedangkan India membatasi penggunaan hiperisin yang terkandung secara alamiah dan tidak boleh melebihi 1 mg/kg.SNI 01-7152-2006 B. Malaysia melarang penggunaan hoiperisin dalam produk pangan. fotodinamik dari quinonnya perlu perhatian dan dapat menyebabkan gangguan kulit serta iritasi lambung. Secara klinis efek ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitian. perlu perhatian. cytomegalovirus.1 mg/kg). Kombinasi dengan MAO inhibitor terjadi interaksi. d) Terhadap sistem kardiovaskular. Pengaturan B. tetrasiklin). Tercatat H.Sebagai antiflogistik (antiradang). dengan batas maksimum dalam mg/kg produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.perforatum juga ditunjukkan beraktivitas antibakterial terhadap bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis. diantaranya: a) Terhadap keadaan depresi dan cemas.19.. c) Sebagai simplisia Hypericum perforatum. . Australia dan New Zealand dalam artikel FSANZ menetapkan hiperisin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 2 mg/kg.4 CAC dan EC tidak membolehkan penambahan dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.Beberapa ekstrak H. Penggunaan selama kehamilan tetap perlu hati-hati dan pertimbangan nilai risk dan benefit terapinya. yang diduga dengan menghambat fosfodiesterase. pengecualian pada permen pastilles (permen penyegar pernafasan) (1 mg/kg) dan minuman beralkohol (2-10 mg/kg). Tercatat pada subjek sensitif terjadi iritasi gastrik. kemungkinan karsinogenik/teratogenik. kontraksi otot polos fibrosel arteri tereduksi.19. .perforatum pada kehamilan atau perkembangan postnatal. 85 dari 122 . perforatum memberikan alergi hipotensif melalui efek vasodilatasi perifer.Sebagai antidiare karena aksi astringen dari tannin. Batas maksimum dalam komoditas pangan (0.Sebagai diuretik yang diduga karena aksi beberapa flavonoid.Mempunyai aktivitas antiviral terhadap HIV-1.2 Fungsi lain Hiperisin dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif pengobatan tumor prostat secara terapi fotodinamik. belum tercatat adanya efek negatif dari penggunaan H. . Aktivitas ini muncul langsung sebagai efek virusidal dan terhadap virus setelah sensitisasi dengan cahaya UV. Toksisitas pada aktivitas biologi. Terjadinya reaksi foto sensitifitas sebelah mungkin terutama pada kulit dan dalam terapi dengan obat fotosensitifitas lain (klorpromazin.3 Kajian keamanan Reaksi Daya toksisitas (LD50) < 500 mg/kg. f) Tolerabel Efek terhadap fertilitas dan fungsi reproduksi.1 mg/kg).

tidak terhidolisa dan cenderung ada dalam air tanah.3 Kajian keamanan Studi in vitro dengan sel epitel hati tikus diketemukan metabolit utama isosafrol adalah senyawa 1’. disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol.3-benzodiaksol.Propenil-1.1 Isosafrol (isosafrole). titik leleh 6. 259 nm. 2 .2 a) Toksisitas subkronis dan pemberian berulang Pemberian 10 g isosafrol per kg bobot badan tikus dalam makanan menunjukkan penghambatan pertumbuhan pada tikus jantan maupun betina tak ada tikus yang hidup 86 dari 122 . sehingga memungkinkan berdampak pada lingkungan. memiliki titik didih bp760 = 2530C . B.8% .Propenilbenzen.2– (Metilendioksi)-4-(1’-propenil) benzen.20.(1’-propenil) benzen.dihidroksi – 4 . Isosafrol terbebaskan selama proses pembuatan minyak esensial tersebut. Bentuk trans (beta-isosafrol) berbentuk cair dengan bau adas. Dalam parfumeri memodifikasi pewangi oriental.2Metilendioksi – 4. produksi pestisida sinergis dan hidrosafrol. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1. B. merupakan reaksi metabolisme utama : 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi. 2 . Isosafrol yang terbebaskan ke tanah.2’-dihidroksiisosafrol dan dalam jumlah sedikit senyawa 1’.(1’-propenil) benzen. B.34 g/kg bb. terkandung 6% isosafrol.22% . disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol.1206.73%.47 g/kg bb pada tikus : 1. bobot jenis d204 = 1. Isosafrol merupakan cairan tidak berwarna. rotasi optik : n20D = 1. bp34 = 85-860C.5 nm. bp20 = 135.3. 1.3. kelarutan dalam alkohol 90% 1:8.60C .18 dengan kandungan C=74.20 B.1 Data toksisitas akut (LD50) Dosis Letal 50% (LD50) oral pada mencit : 2.2’-dihidro-1’. serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%): UVmax = 305.4-Metilendioksi-1-propenilbenzen.5 . Penelitian menunjukkan isosafrol sebagai induktor beberapa enzim hati sitokrom P-450 dalam rogent. titik leleh : mp -21. berbau ada dengan berat jenis 1. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan diketemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam. H=6.50C.20C.4 – (Metilendioksi)-propenilbenzen.20.20. merupakan reaksi metabolisme utama: 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi. Bentuk cis (alfa-isosafrol) berbentuk cair dengan titik didih bp35 77-790C.20. O=19. titik leleh mp = 8. 3.2-metilendioksibenzen merupakan derivat propenilbenzen dengan rumus molekul C10H10O2 dan berat molekul 162. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan ditemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam. Dalam minyak daun Juniper virginiana.122 pada 200C (campuran rasemik). Dalam jumlah kecil dicampur dengan metil-salisilat dalam root beer dan perisa sarsaparila. penguat pewangi sabun.7 – 6. 120-58-1 Deskripsi Isosafrol dengan sinonim 5-(1-Propenil)-1.8 0C.2 Fungsi lain Sebagai bahan perantara dalam produksi heliotropin.5691. dapat terkonsentrasi dalam organisme air. Isosafrol berasal dari alam sebagai komponen utama dari minyak esensial adas (star anise) dan juga dalam jumlah kecil ada dalam minyak esensial bumbu (spices) lain.2’epoksiisosafrol dan 1’-hidroksisafrol. 4. bp100 = 179.SNI 01-7152-2006 B. sebagai fragran kosmetik. Nomor CAS. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1.20. B. 1. serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%) : UV max = 326.5782. 267 dan 259. rotasi optik : n20D = 1. 3.dihidroksi – 4 .50C. titik didih 2520C.

Pemberian injeksi s.20. b) Formasi DNA (DNA adduct formation) Dengan menggunakan petanda 32P dipelajari dalam hati mencit betina yang diisolasi 24 jam setelah pemberian ip 2 dan 10 mg isosafrol per ekor mencit. dan 0/17 jantan dan 0/16 betina. hipertropi ringan sel hati. nekrosis dan fibrosis dan tingkatan kecil metamorfosis lemak hati dan proliferasi saluran empedu. tidak menginduk UDS dalam kultur hepatosit tikus. Juga negatif terhadap “Bacillus subtilis DNA repair tes” tanpa S9. c) Pemberian oral pada tikus Osborne-Mendel muda sebesar 500 mg isosafrol/kg bb sehari selama 41 hari menyebabkan kematian sebesar 80% dan dosis 250 mg/kg bb selama 34 hari sebesar 20%. estragole dan methyleugenol.3.c. Tidak teramati aktivitas hepatokarsinogenik pada mencit jantan B6C3F1 yang diberikan secara injeksi i. hipertropi dan terbentuk nodul-nodul. Perlakuan ini hanya menunjukkan ikatan rendah pada DNA hati mencit dengan pembentukan 2 utama DNA adduct dalam N2. Pada dosis 5000 mg/kg bb terjadi penekanan pertumbuhan pada tikus jantan dan betina. 3 mg isosafrol (dalam trioktanoin) per tikus. Pada dosis 2500 mg/kg terjadi hiperplasia ringan tiroid. TA 100. TA 1537 atau Echerichia coli WP 2 uvr A dengan atau tanpa S9. tak nampak tumor lokal pada usia 18 bulan. selama 3 minggu. tak terdapat tumor hati. sedangkan tikus kontrol tetap hidup. Ditunjukkan organ hati yang membesar. tumor paru-paru pada populasi 3/18 jantan dan 1/6 betina.2%) tak menginduksi mutasi gen Salmonella typhimurium TA 98. serta ditemukan tumor di testes. Terjadinya tumor hati ini secara bermakna (P=0.3. menunjukkan: Pada dosis kecil (1000 mg/kg bb) terjadi penekanan pertumbuhan tikus betina. hiperplasia tiroid ringan dan terjadi nefritis kronis. kemudian 517mg/kg bb dalam diet makanan sampai usia 82 minggu : teramati pada mencit galur pertama dan kedua terjadinya tumor sel hati pada populasi 5/18 mencit jantan dan 1/6 mencit betina dan 2/17 mencit jantan dan 0/16 mencit betina.3 a) Toksisitas kronis Studi pada dua galur mencit F1 (C57BL/6 x C3H/Anf dan C57BL/6 x AKR) yang diberi dosis oral 215 mg isosafrol/kg bb pada usia 7-28 hari.posisi dari guanin ikatan rendah dengan DNA dinyatakan oleh nilai 87 dari 122 . pembesaran hati dengan hipertropi sel hati dan pembentukan nodul.4 a) In Vitro Isosafrol (cis/trans isomer 19.7%/78. TA 1535. Diketemukan pula 2/3 tikus mati selama percobaan. Berbeda dengan safrol. Pemberian diet 1000.05) dibandingkan kontrol pada mencit galur (C57BC/6 x C3H/Anf) F1 jantan dan betina.20. dan 1/17 jantan dan 0/16 betina. 2500 dan 5000 mg isosafrol/kg bb tikus Osborne –Mendel selama 2 tahun. limfoma pada populasi 1/18 jantan dan 0/16 betina.SNI 01-7152-2006 setelah pemberian 11 minggu. b) Pemberian oral 460 mg isosafrol/kg bb tikus selama 4 hari. pembesaran dan kehilangan kekenyalan normal hati. Studi genotoksisitas (mutagenisitas) b) c) B.p dosis tunggal campuran cis-trans isosafrol (52%-48%) atau 90% trans/10% cis-isomer sebesar 122mg/kg bb mencit pada usia 12 hari dan dibunuh pada usia 10 bulan. Teramati terjadinya hipertropi hati. B.. menyebabkan lesi pada hati dengan tanda-tanda pemucatan warna.

1-metylethanol. Isopropil alkohol terdapat secara alami di alam.3749. propyl alcohol secunder. isopropanol.34 g/kg bb. berbau seperti campuran alkohol-aseton. Nama kimia adalah propan-2-ol (golongan hidrokarbon alifatik alkohol.Eur.7 0C (Close Cup). – 2002).SNI 01-7152-2006 covalent binding index (CBI) sebesar 1 untuk isosafrol dibandingkan estragol dan metileugenol yang bernilai 30. petrohol. Singapura. 13 0C (Open Cup). psedopropyl alcohol. dimetylcarbinol.Pharm. petrohol. suhu autoignition 3990C / 455. USP 25).3. etil eter. Isopropil alkohol (isopropyl alcohol). . carrier solvent dan substansi perisa.induksi enzim hati sitokrom P-450.21.gangguan fungsi hati atau hepatotoksik pada pemakaian berulang (subkronis). Azeotrop dalam air / 87.10. Rumus molekul C3H8O. IPA. US FDA. Index Refraksi : n20D = 1. EC (Europe Commission) mengatur penggunaan isosafrol dengan batas yang ditentukan yaitu pada makanan dan minuman 1 mg/kg dan minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% alkohol sebesar 2 mg/kg. 16 0C (Lar. atau fermentasi beberapa karbohidrat.-2001).3776. Juga diabsorpsi secara baik melalui paru-paru dan mukosa rektal. titik asap 52 °F. eter. Isopropil alkohol merupakan cairan jernih tidak berwarna.5-12. Keberadaannya dalam darah lebih lama daripada alkohol.60C / 4250C. India. Isopropil alkohol mudah terbakar.1 Deskripsi Nama bahan isopropil alkohol adalah isopropyl alcohol (Farmakope Ind.01%.4%). gliserin dan etil alkohol. Isopropil alkohol dimetabolisme menjadi aseton dalam hati oleh enzim alkohol dehidrogenase 80% dari jumlah yang terabsorpsi tereksresi melalui ginjal dalam bentuk 88 dari 122 . 2-propanol.21 B. . . Nama lainnya adalah isopropanol (J.0 % v/v di udara.20. berat jenis 0. 67-63-0 B.pemakaian makanan yang mengandung isosafrol yang tidak terkontrol jumlah dan lamanya memungkinkan terjadinya pemasukan isosafrol secara berulang dan terjadi kumulatif yang bisa menimbulkan efek toksik. alcohol isopropylicus (Ph.20. Explosive limit 2.1. . Sifat toksisitasnya: . titik leleh – 88.4 IFA (International Fragrance Association) menyatakan bahwa total konsentrasi isosafrol dalam produk pangan siap kondumsi tak kurang dari 0. dan Thailand melarang penggunaan isosafrol sebagai perisa.1. mudah menguap. Nomor CAS. dapat tercampur dengan air. Berat molekul 60. mudah terbakar. 2-hydroxypropane.21. Viskositas 2. . daya keterbakarannya tingkat 3 (The National Fire Protection Ass.40C (760 mm Hg). titik didih 82. destilasi uap 2.sifat hepatokarsinogen walaupun kecil.786 mg/ml atau 0.5 a) b) Kesimpulan Kemungkinan tercemar dalam air tanah dan termakan.09-60. Isopropil alkohol digunakan sebagai extraction solvent . Titik nyala 12 0C – 11. Malaysia. sec-propyl alcohol. dimety carbinol. Pengaturan B.783 – 0.LD50 oral pada mencit/tikus 2.78 pada 200C.5 0C. Isopropil alkohol dibuat dari profilen yang diperoleh dalam proses kraking petroleum atau reduksi katalitik aseton. B. B. Tekanan uap pada –25 °C adalah 44 mmHg. IV-1995. BP. jarak destilasi 81-830C. n25D = 1.47 /1.eksresi melalui ginjal sebagai metabolit.43 cP pada 200C.1 Absorpsi Isopropil Alkohol Isopropil alkohol dapat diabsorpsi secara baik melalui salura cerna.).

80 g/kg. Langkah A4: Isopropil alkohol merupakan komponen endogenous hasil metabolisme asam lemak dan karbohidrat. hasil kajian per tahapan dari isopropil alkohol adalah sebagai berikut. juga diekskresi melalui saluran napas. = 6.3.SNI 01-7152-2006 aseton dan 20% dalam bentuk tetap. format dan CO2. B.ip) pada mencit .09 g/kg.48 g/kg. dan efeknya terhadap organ penting (sistem syaraf) serta tercatat berefek fetotoksik pada hewan uji. 89 dari 122 . Pada langkah A4 diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. a) b) c) d) Langkah 1: Isopropil alkohol digolongkan ke dalam struktural kelas I.oral pada mencit . Dengan menggunakan diagram prosedur kajian keamanan substansi perisa yang disusun oleh Munro. = 12.3 B.000 mg/kg dalam 8 jam.oral) pada kelinci .74 g/kg.3. Ekskresinya ini lambat.2 - pada anjing . Tetapi tetap perlu perhatian.kulit pada mencit .iv) pada tikus .21.oral) Berdasarkan data-data ini sebagai senyawa toksisitas sedang (LD50 = 0. = 1.09 –6.21. Batas konsentrasi inhalasi letal terendah pada tikus adalah 12. Data toksisitas akut (LD50) = 4.2 Fungsi lain Dalam dunia farmasi digunakan sebagai pelarut/pengekstraksi dan desinfektan tapi tidak untuk pemakaian obat. = 3.21. B.5-5 g/kg).3.3. pengekstraksi dan antifreeze.51 g/kg.6 g/kg. kelinci). Kajian dilanjutkan ke langkah A4. = 5. Langkah A3: Intake dari Isopropil alkohol yaitu 99 mg (Eropa) dan 10 mg (USA) lebih besar dari threshold for human intake untuk kelas I (1800 µg). Aseton akan dioksidasi menjadi asetat.3 Data toksisitas akut pada berbagai hewan dengan berbagai cara pemberian antara 1.21. = 4. Langkah 2: Isopropil alkohol termasuk ke dalam endogenous compounds atau diprediksikan dapat dimetabolisme menjadi senyawa innocuous. Bentuk isopropil alkohol juga mengalami konyungasi glukoronida dan diekskresikan melalui urin.oral pada kelinci . isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamannya (no safety concern).4 Adanya efek akut maupun kronis dengan berbagai gejala yang mirip alkohol dengan toksisitas 2-3 kali lebih kuat.ip) pada tikus .21.41 g/kg (oral.5–5 g/kg). = 1.21. B. Dalam pembuatan makanan sebagai pelarut.41 g/kg. B.1 Kajian keamanan Kajian toksikologi Isopropil alkohol telah dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dengan hasil No Safety Concern pada current intake level.05 g/kg. = 2. termasuk efek toksik sedang (0.8 g/kg. B.iv) pada tikus .

dan saraf lengan dan kaki. drawssines. dimana terjadi penghambatan pertumbuhan awal. Penambahan larutan NaCl 0.21. karena beberapa pelarut dan senyawa kimia petroleum telah menunjukkan efek kerusakan tersebut. B. a) Efek Akut. muntah . yang kemudian dihilangkan (diuapkan). gangguan kordinasi.Terpajan banyak menyebabkan sakit kepala.9% hanya dapat mencegah hemolisis pada kandungan isopropi lalkohol kurang dari 8%. B.21. mual.21.3.SNI 01-7152-2006 B. gangguan saraf organ internal.21.Pengaruh efek lama/kronis lain terhadap kulit menjadi kering. tetapi tak melalui efek euphoria. gangguan kordinasi. lelah. B. Pemakaian obat sangat terbatas dibandingkan dengan makanan yang lebih luas (banyak) pemakaiannnya. menjadi faktor peningkat efek toksiknya. B. .6 Absorpsi yang cepat melalui saluran cerna dan ekskresinya yang lambat. dapat menyebabkan hemolisis dan denaturasi sempurna eritrosit (sel darah merah).Tak perlu dievaluasi lagi pengaruhnya terhadap kerusakan otak dan saraf. B.8 Campuran dalam air.Pada kulit menyebabkan rash atau rasa terbakar. sampai setelah beberapa bulan-tahun: .3.3. . Efek yang terjadi setelah beberapa waktu terpanjang isopropil alkohol.21. tetapi bukan berarti tak ada efek. sukar tidur.Kanker (isopropil alkohol adalah karsinogen).21.3. B. khususnya dalam depresi sistem syaraf pusat (SSP).3.3. . 90 dari 122 .12 Penelitian pada tikus menunjukkan efek fetotoksik bukan teratogenik.7 Kegunaannya sebagai perisa tidak esensial (ada bahan pengganti lain). .3.3. B. perubahan personalitas.11 Tikus yang diberi isopropil alkohol secara oral 6 mg/kg menunjukkan kenaikan trigliserida dalam hati. depresi SSP. Efek isopropilalkohol yang muncul segera (tidak lama) setelah terpajan: .21. B.21.Bahaya terhadap reproduksi: Belum ada penelitian pengaruhnya terhadap sistim reproduksi.21.10 Penelitian hewan menunjukkan isopropil alkohol adalah iritan terhadap mata dan selaput mukosa. b) Efek Kronis.3. kolaps dan kematian. pecah-pecah.13 Catatan efek membahayakan Isopropil alkohol tercatat berpengaruh pada kesehatan manusia. .9 Gejala/sifat toksisitasnya mirip dengan etil-alkohol tetapi 2-3 kali lebih kuat. hidung dan kerongkongan.Tertelan menyebabkan sakit saluran cerna. Efek tersebut meliputi penekanan konsentrasi dan memori. .Iritasi pada mata.dan sampai koma dan kematian.5 Pada pemakaian bidang farmasi (obat) saja hanya digunakan sangat terbatas tidak untuk obat dalam dan hanya sebagai pelarut dalam pembuatan sediaan obat. analogi dengan pada manusia.. Efek fetotoksik terbukti pada hewan.

kegunaannya sebagai perisa bukan utama (dapat diganti dengan bahan lain yang lebih aman) dan dua negara yang tercatat melarang sebagai perisa. B. Sedangkan yang berasal dari Picrasma excelsa (Sw) Planch mengandung isokuasin. B. dapat diterima dengan dasar : “temporary acceptabledaily intake” = 0 .4 Pengaturan European Community (Health & Consumer Protection Directorate-Generale) – 21 Februari 2003. Kuasin adalah senyawa terpen lakton yang berasa sangat pahit dengan derajat kepahitan 50 kali kuinin.1 Kuasin (quassin). 76-78-8 Deskripsi Kuasin adalah diterpen lakton. yang dikenal juga dengan nama pikrasmin.) Planch disebut juga kuasia sedang ekstrak “quassia“ disebut “quassin”atau kuasin. permen dan kue-kue karena rasa pahitnya. Nomor CAS.3 Kajian keamanan CEFS tahun 1981 membatasi penggunaan kuasin dalam makanan dan minuman sebesar 5 mg/kg.SNI 01-7152-2006 B. US FEMA GRAS 2929.2 Fungsi lain Tidak ada. B.22. dan Picrasma excelsa (Sw) Planch (famili: Simarubaceae).14 a) b) c) Batasan pajanan di tempat kerja OSHA: The legal airborne permissible exposure limit (PEL) = 400 mg/kg untuk maksimum 8 jam kerja. Secara komersial ada dua sumber kuasin yaitu Quassia amara L. neokuasin dan 18hidroksikuasin.21. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additive) menyatakan bahwa penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. ACGIH : 400 mg/kg untuk 8 jam kerja dan STEL : 500 mg/kg (Short term exposure limit). Kuasin dari Quassia amara L. Senyawa ini digunakan dalam minuman. B. 1991 a). atau Picrasma excelsa (Sw. mengandung campuran kuasinoid yang pahit yang terdiri dari kuasin. memutuskan penggunaan isopropil alkohol sebagai pelarut/pengekstraksi betakaroten dari Blakeslea trispora untuk makanan.22. Nigakilactone D.22 B. 1981) dan hasil residu yang rendah setelah penggunaannya (SCF. Diusulkan tidak digunakan sebagai perisa di Indonesia yang terkonsumsi langsung. Hasil evaluasi B. dan 800 mg/kg tak lebih untuk 15 menit kerja. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batas maksimum 1000 mg/kg pada produk pangan.21. Ekstrak bitter wood . Nama lain kuasin adalah (+)-Quassin.22.3.5 mg/kg bw (SCF. kecuali dalam minuman alkohol sampai 50 mg/kg dan dalam permen (lozenges) sampai 10 mg/kg. atau kecuali digunakan dalam pengolahan saja dengan syarat harus dihilangkan/diuapkan kembali dan tidak terkonsumsi langsung.15 Berdasarkan berbagai efek isopropil alkohol terhadap tubuh khususnya terhadap sistem syaraf pusat. NIOSH: 400 mg/kg untuk maksimum 10 jam kerja. Tahun 2002 CEFS mengevaluasi batas ini kembali tetapi pembatasan 91 dari 122 . Diberi nomor 277.21. Sedangkan ekstrak kuasin atau ekstrak quassia memiliki naman lain Quassin.1. Kulit tanaman Quassia amara L. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamananya (no safety concern).3.

4 mg/kg. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. akan tetapi tidak ada data kandungan kuasin. ekstrak Quassia diizinkan digunakan dalam minuman sampai 3. Selanjutnya Raji and Bolarinwa (1997) melaporkan aktifitas antifertilitas ekstrak Quassia amara L yang mengandung quassin dan alkaloid 2methoxycanthin-6-one. Toksisitas sub akut tidak terlihat sampai dosis 50 mg/kg/hari selama 8 minggu (Margaria. Tidak ada data mengenai toksisitas kronis seperti karsinogenisitas dan genotoksitas. Bagian Standardisasi. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: penentuan kelas struktur kimia. Setelah 8 minggu percobaan. termasuk data untuk penentuan intake (asupan). data toksisitas untuk evaluasi keamanan kuasin belum cukup. terlihat penurunan berat testis.1995).4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (Europe Commission) membolehkan penambahan kuasin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Nilai NOEL belum ada. Penurunan terlihat juga pada jumlah sperma dan kadar testosteron. pada tikus jantan.. Secara umum disimpulkan ekstrak quassia menyebabkan infertilitas pada tikus jantan dan selanjutnya pada betina dan ditentukan LOEL sebesar 0. Dengan demikian. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. pada minuman beralkohol sampai 3. Di USA. pangan olahan (5 mg/kg). Oleh karena itu. hormon luitenising dan hormon stimulasi folikel serum. Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuasin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. distribusi. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. . dinyatakan bahwa tidak ada data mengenai penyerapan. minuman (5mg/kg) pengecualian hanya pada pastiles ( lozenges) 10 mg/kg dan minuman beralkohol (50 mg/kg). Batas maksimum pada komoditas pangan (5 mg/kg). July 2002. sampai saat ini penggunaan kuasin masuk harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. Tidak terdapat tanda-tanda toksisitas akut pada dosis sampai 1000 mg/kg ekstrak air kuasia. 1963). data NOEL dan data asupan per hari. metabolisme dan ekskresi senyawa ini. asupan senyawa lebih besar dari 1. sifat metabolit. 1965). 92 dari 122 .1997).1mg/kg berat badan (Raji and Bolarinwa. apakah pada kondisi penggunaan.5 µg per hari. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. Dari laporan CEFS on Food on Quassin. data batas aman (threshold). ekstrak metanol Quassia amara L menghambat sekresi testosteron (Njar et al. 1963). (Garcia et al.1997). namun data mengenai toksisitas alat reproduksi cukup banyak. Data pada manusia belum ada.SNI 01-7152-2006 penggunaan masih belum berubah. pastilles (10 mg/kg). Malaysia mengatur penggunaan kuasin boleh ditambahkan pada makanan tertentu dengan batas maksimum yang telah ditentukan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy (5 mg/kg). Pada sel Leydig secara in vitro. penentuan ada tidaknya pruduk metabolisme yang berbahaya. epididimis dan vesikel seminal yang diikuti dengan pengingkatan kelenjar pituitari anterior. Kemampuan menghamilkan pada tikus betina juga menjadi turun secara nyata. Disimpulkan bahwa senyawa yang paling berperan sebagai antifertilitas adalah kuasin. B. minuman beralkohol. Pemberian ekstrak kuasia sebanyak 100 mg/kg/hari pada induk tikus bunting menyebabkan jumlah kelahiran anak tikus yang lebih sedikit (Margaria. shandy (50 mg/kg).4 mg/kg sedang dalam kue-kue sampai 50 mg/kg (Hall and Oser.22. Evaluasi keamanan kuasin akan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM.

Pitayine. Coccinine. Cardioquin.1 Kuinin (Quinine).α-(6Methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-2-quinuclidinemethanol.nan-9-ol. β-Quinine.SNI 01-7152-2006 B. βquinine. ADI 0-0. α-(6-methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-. (+)-Quindine. (9S)-6'Methoxy. (x) pemberian dosis terendah 12 mg/kg/1 hari secara selang-seling berpengaruh terhadap hati: hepatitis. midriasis pada mata (pembesaran biji mata). Quinaglute.cinchonan-9-ol. (+)Quinidine. Cinchonan-9-ol. Cin-quin. (viii) pemberian dosis terendah 6500 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan lemahnya otot. B. terjadi perubahan pada penglihatan. Quinicardine. Conchinin. pengaruhnya belum diketahui. (ii) pemberian dosis terendah 4300 µg/kg pada manusia secara oral berpengaruh terhadap saraf periferal dan sensasi: paralisis lemah tanpa anesthesia.9S)-6'-Methoxycinchonan-9-ol. (v) pemberian dosis terendah 800 mg/kg pada mencit secara oral. (xii) pemberian dosis terendah 80 mg/kg pada wanita secara oral.9 mg/orang/hari. ureter dan saluran kencing. nefritis interstisial pada ginjal. Kuinin memiliki bobot molekul 324. (xi) pemberian dosis lethal terendah 220 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan lain pada kardiak. ureter dan saluran kencing: fungsi uji renal ditekan.6-Methoxy-α-(5-vinyl-2-quinuclidinyl) -4quinolinemethanol. Selain itu berpengaruh juga pada darah yaitu terjadi perubahan pada limpa.3 Kajian keamanan Kajian keamanan berikut ini adalah kajian keamanan kuinin dalam bentuk garamnya (kuinin sulfat).2 Fungsi lain Kuinin dalam bentuk garamnya atau ekstrak dari cinchona bark digunakan sebagai bittering agent (sekitar 80 mg kuinin hidroklorida per liter).23 B. Conchinine. pusing dan mual pada gastrointestinal. terjadi tinnitus pada telinga dan berpengaruh pada gastrointestinal yaitu pusing atau mual (perasaan ingin muntah). 6'-Methoxycincho. Conquinine. Kuinin dan turunannya secara luas digunakan juga sebagai terapeutik pada percobaan infeksi protozoa. (iii) pemberian dosis terendah 129 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi midriasis pada mata (pembesaran biji mata). edema sakit paru-paru akut pada paru-paru. Kenampakan kuinin berwarna putih dan sensitif terhadap cahaya. NCI-C56246. Chinidin. (vii) pemberian dosis terendah 45455 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan perubahan pada penglihatan. Conquinine. post-necrotic scaring). berpengaruh pada tingkah laku yaitu perubahan motorik. seperti malaria dan noctural leg cramps. 130-95-0 Deskripsi Nama lain kuinin adalah Quinidine. perubahan akuitas pada telinga. Pitayin. Selain itu berpengaruh juga pada ginjal. (iv) pemberian dosis terendah 27 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi perubahan pada penglihatan. terjadi perubahan pada pendengaran dan tinnitus pada telinga. β-Quinidine. Quindine.(9S)-.23. Kinidin.23.42 dan rumus molekul C20H24N2O2. 6'-methoxy-.23. (8R. (xiii) pemberian dosis terendah 126 mg/kg/3minggu secara selang-seling pada wanita secara oral terjadi kardiomiofati termasuk infraksi pada kardiak dan menyebabkan alergi pada kulit. 93 dari 122 . 2-Quinuclidinemethanol. Selain itu digunakan juga pada minuman beralkohol pahit dan dalam jumlah sedikit digunakan dalam tepung produk konfeksioneri/kembang gula. kuinin hidroklorida dan deoksikuinin. Kajian toksisitas kuinin memperlihatkan bahwa (i) Pemberian terendah 1425 mg/kg pada tikus secara oral berpengaruh terhadap reproduksi yaitu terjadi pertumbuhan secara statistik pada kelahiran baru dan berpengaruh juga terhadap kelahiran baru secara fisik. Quinidex. fibrous (cirrhosis. (vi) pemberian dosis tererendah 110 mg/kg pada wanita secara oral berpengaruh pada penglihatan. sedangkan pada darah terjadi angraulositosis. toraks atau respirasi. Nomor CAS. (ix) pemberian dosis terendah 130 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan akuitas pada telinga. B.

Batas maksimum untuk komoditas pangan (0.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) membolehkan penambahan kuinin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Pemakaian kuinin dalam makanan (minuman selain minuman beralkohol dan shandy 85 mg/kg. Austria. Kuinin diserap secara sempurna dan cepat dari intestin kecil yang diberikan secara oral.3. Selain itu dengan metode sister chromatid exchange: 110 mg/kg bb.2 Kajian khusus gentoksisitas dengan metode ames Pada 5-20 µg/plate kuinin hidroklorida. in fruit curds (40 mg/kg).2 jam). 20.3. meningkatkan urea nitrogen dan deplesi periportal glikogen hati tikus pada kelompok tikus yang diberi 2 dosis tertinggi.4-18. Jika uap quinin masuk dalam tubuh dapat mengakibatkan iritasi pada saluran pernafasan dan mengakibatkan gangguan sama seperti yang disebutkan diatas.1 mg/kg). Dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari uji ini. menyebabkan kebutaan.67. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. minuman beralkohol dan shandy 300 mg/kg. hepatitis akut. jerman: melarang penggunaan kuinin dalam makanan dan minuman pengecualian : bukan minuman 94 dari 122 . liver dan mata.3 Kajian khusus teratologi deoksikuinin Pemberian deoksikuinin secara oral gavage dengan dosis 0. 20. Konsentrasi plasma puncak dicapai selama 1-3 jam secara dosis oral tunggal.67 dan 60 mg/kg bb/hari terjadi penurunan ukuran fetus dengan ditandai hilangnya pre-implantasi. Uji sebelumnya yaitu uji preliminari mengindikasikan bahwa dosis 135 mg/kg bb/hari deoksiquinin menyebabkan kehilangan berat badan dan kematian pada kelinci. B. B. 1. Tak teramati adanya toksisitas pada pengamatan oftalmoskopik dan fungsi pendengaran. Bagian organ yang menjadi target sasaran adalah sistem syaraf pusat. perut mual dan muntah-muntah. 3 ekor yang diberi dosis 80 mg/kg bb/hari mati dan yang lainnya mengalami penurunan berat badan pada hari ke 10-23 gestasi jika dibandingkan dengan kontrol. mempengaruhi sistem pusat saraf. Farmakokinetik quinin bervariasi (0.9-1. proses pembuatan makanan 0.8 ml/kg/min dengan masa hidup 8. atau 60 mg/kg bb/hari pada tikus bebas patogen menunjukkan bahwa tikus yang diberi dosis 6. Sejauh ini belum ada informasi gangguan iritasi pada bagian mata atau gangguan lain selain kebutaan. Dosis terapeutik 1 g/hari kuinin untuk beberapa hari menghasilkan konsentrasi quinin plasma sekitar 7 µg/ml dengan lama hidup plasma sekitar 12 jam. merusak fungsi motorik. dapat menyebabkan gangguan darah dan anemia. hasilnya positif terhadap mencit (NMRI C3H) dan dengan metode yang sama juga pada konsentrasi 55-110 mg/kg bb hasilnya positif terhadap mencit (C57BL). Efek terhadap kesehatan: dapat merusak liver. hasilnya positif terhadap S. Pemberian deoxyquinin secara gavage dengan dosis 0. mengakibatkan iritasi dan gangguan pada darah.1mg/kg).1 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian kuinin hidroklorida dalam bentuk diet makanan sebesar 0. Quinin secara cepat memotong plasenta. B. minuman (85 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol (300 mg/kg).23. Apabila kuinin masuk ke dalam tubuh karena tertelan dapat mengakibatkan gangguan otot/muscle tremor. Kuinin secara ekstensif dimetabolisme di hati dan kurang dari 5% ekskresi tak berubah dalam urin.23.SNI 01-7152-2006 B. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.23. 40 atau 80 mg/kg bb/hari pada kelinci selama 6-18. pandangan mata buram dan sempit serta kebutaan. Pada uji teratologi. Sekitar 7% kuinin plasma berbentuk protein. 100 atau 200 mg/kg bb/hari pada 20 tikus jantan dan betina selama 13 minggu menunjukkan penurunan total protein serum dan globulin. Typhimurium galur TA98. 6.3. 40. 10.23. Quinin berpotensi sebagai iritan lokal dan tidak biasanya diurus (administered) oleh intramuskular lain atau injeksi subkutanus.

95 dari 122 . air mineral. White lady. jus buah lemon 40 mg/kg sebagai quinine base. Lady. Happy dust. kuinin klorida dan sulfat).575) Malaysia memperbolehkan penambahan kuinin pada makanan tertentu sesuai dengan batasan maksimum yang izinkan minuman selain minuman beralkohol dan shandy (85 mg/kg). 1aH. Kokain atau dengan nama lain ß-cocaine. 2ß-karbometoksi-3ß-ben-zoksitropan. minuman beralkohol (300 mg/kg). dalam alkohol 25 g/100 ml.2 Fungsi lain Tidak ada. Dosis terapi untuk dewasa direkomendasikan 1-3 mg/kg.5S)-2-metoksikar-boniltropan-3-il benzoate. Larutan kokain tidak dipakai untuk kulit atau jaringan abraded atau luka bakar atau jaringan yang disampaikan dengan sambungan arteri. 53-21-4 Deskripsi Kokain merupakan salah satu dari 14 alkaloid yang diekstraksi dari daun 2 spesies koka: Erythroxylum coca (ditemukan di Amerika Selatan. Happy trails. B. Nose candy. Kokain HCl. Green gold. Jawa) & Erythroxylum novogranatense (di Amerika Selatan). Champagne of drugs.2R.4. Coke. Kokan. Sedangkan kokain merupakan berwarna putih. Luxemburg menetapkan penggunaan kuinin dalam buah dan atau ekstrak sayuran lemon (85 mg/l) sebagai quinine base. madu (85 mg/kg). Kokain. Toot. White girl. Corine. tidak larut dalam eter.6 g/100 ml. Kokayeen. US melalui FDA menetapkan kuinin sebagai hidroklorida atau garam sulfat mungkin aman digunakan dalam minuman berkarbonat sebagai perisa. Star-spangled powder. Her.2. Kokain atau dengan nama kimia Benzoilmetilekgonin.1 mg/kg). sebagai kuinin (CFR 172. 50-36-2.1. L-cocaine. bitter drinks dan quinine drinks (100 mg/kg). Methylbenzoylecgonine. jus. Minuman berbasis anggur (wine) dan anggur dengan kadar alkohol yang telah dikurangi (300 mg/kg). Minuman tonik. Kelarutan dalam air 0.4 g/100 ml. Erytroxylin. Kokain HCl merupakan senyawa tidak berwarna atau putih. minuman spirit 300 mg/kg. Ecgonine methyl ester benzoat. untuk anak-anak tidak ada data. Nomor CAS.24 B.24. Bernice. pangan olahan lain (0. Titik leleh 98oC. Titik leleh 197oC. Bernies. Burese. Nomor CAS. Kokain HCl digunakan hanya untuk anestesi saluran pernapasan. 1% larutan pH netral. Girl. Leaf. Belanda membatasi penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol (85 mg/kg). Yunani menetapkan penggunaan kuini pada minuman ringan 100 mg/l. Pembatasan tidak melebihi 83 mg/kg. Liquid lady (Aalcohol+cocaine). Kokain HCl tidak digunakan secara intra-okular karena menimbulkan ulserasi kornea. She. Star dust. Blow.SNI 01-7152-2006 beralkohol 85 mg/kg.1 Kokain (cocaine). Jam. Snow. & Speed ball (Heroine+cocaine). Charlie. India. Cholly. 5aH-tropan-2ß-asam karboksilat 3 ß-hidroksi-metil ester benzoate. Cadillac of drug. Carrie.) oktan-2-asam karboksilat metal ester (C17H21NO4) memiliki bobot molekul : 303. Crack. kristal higroskopis rasa pahit dan tidak berbau. shandy (300 mg/kg). titik didih 187-188oC. minuman beralkohol.24. Cecil. Finlandia membatasi penggunaan kuini pada minuman ringan (excluding prepacked waters). Kelarutan dalam air 200 g/100 ml. Rock.3S. Prancis menetapkan penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol sebesar 70 mg/l. Amerika Pusat. dalam eter 28. pH basa. dalam alkohol 15.17 g/100 ml. Neurocaine. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuinin sebagai Natural Toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum campuran minuman beralkohol yang belum terklasifikasikan (300 mg/kg) . cocaina. B. berbentuk kristal padat. 3-(benzoiloksi)-8-metil-8azabisiklo-(3. Eritroxilina. Pimp’s drug. pangan lain (1 mg/kg) Spanyol membatasi penggunaan kuinin pada air tonik dan bukan minuman keras yang berasa pahit (100mg/l incl. karena risiko iskemia dan nekrosis jaringan.(1R. Gold Dust. Dama Blanca. Flake. Benzoyl methylecgonine. berbentuk kristal padat. 3-tropanilbenzoat-2-asam karboksilat metal ester.

Penyalahgunaan kokain menyebabkan ketergantungan psikologis yang kuat. penyerapan dapat berubah-ubah dari 20% sampai 60%. kematian dilaporkan pada konsentrasi 1 mg/l. Dosis lebih besar menyebabkan hipertermia. Efek toksik dapat ditunjukkan dengan konsentrasi plasma sama dengan atau lebih dari 0. Kokain diserap melalui seluruh jalur pemberian. dan penurunan mental. sebagai hasil kelarutannya dalam lemak. Kokain tidak berubah diekskresi dalam stool dan dalam saliva. psikomotor agitasi. halusinasi. gelisah luar biasa. sakit perut. anoreksia. sakit dada. Setelah pemberian oral. gangguan jantung. Melalui inhalasi.5 sampai 1. perubahan dihubungkan dengan vasokonstriksi sekunder. Tidak ada data karsinogenik dan mutagenik. Keracunan kronis menimbulkan euphoria. konsentrasi darah mencapai puncak dalam beberapa menit. pingsan dan mati. mencapai konsentrasi maksimum dalam waktu 50 sampai 90 menit.5 mg/kg. mual. midriasis. 1%-9% Kokain dieliminasi tidak berubah dalam urin. dan dalam urin bayi baru lahir selama sebanyak 5 hari. konvulsi. Kokain dan benzoilekgonin dapat dideteksi dalam ASI sampai 36 jam setelah pemberian. Kecepatan metabolisme tergantung konsentrasi plasma. aritmia ventricular.3 g / hari melalui mulut. Aktivitas esterase bervariasi secara substansi dari satu subjek ke subjek yang lainnya. dosis pengulangan. Dalam media basa. Melalui pemberian intra-nasal atau oral. takikardi. Kajian toksisitas kokain memperlihatkan bahwa LD pada orang dewasa diperkirakan pada 0. kehilangan berat badan. agitasi.3 Kajian keamanan Target organ adalah sistem syaraf pusat (SSP) dan sistem kardiovaskular. dan 50 mg/kg melalui jalur nasal. dan melalui blood brain barrier. kokain terionisasi dan gagal masuk ke dalam sel. kokain terlihat dalam darah setelah 30 menit. LD50 iv pada tikus 17. Australian Food Standard Code menyatakan bahwa kokain sebagai natural toxicant harus tidak terdeteksi pada produk pangan. Dalam jumlah besar. 0. Kokain melalui plasenta dengan difusi sederhana. kemungkinan non-enzimatik. halusinasi. Melalui pemberian masal. Ada 3 jalur bio-transformasi: a) b) c) Jalur utama adalah hidrolisis kokain oleh esterase plasma dan hati. niat bunuh diri. koma. muntah. hipertensi. Dalam media asam.02 g kokain melalui jalur parenteral. dan paling lama 30 sampai 60 menit. 60 sampai 80% kokain diserap. Kokain didistribusikan pada seluruh jaringan tubuh.SNI 01-7152-2006 B. Metabolisme kokain terjadi terutama di dalam hati. efek klinis tampak 3 menit setelah pemberian. dengan hilangnya gugus benzoil memberikan ester metil ekgonin. sedikit terionisasi dan penyerapan meningkat cepat.4 CAC menyatakan bahwa batasan pada bahan pangan adalah cocain free (tidak mengandung kokain).24.24. dengan proporsi lebih tinggi dalam urin asam. 0. 96 dari 122 . yang menghasilkan benzoilekgonin dengan demetilasi. Jalur sekunder adalah hidrolisis spontan. kemungkinan terakumulasi dalam system saraf pusat (SSP) dan dalam jaringan adiposa. sampai 2 jam pemberian. Pengaturan d) B. Melalui intravena.05 sampai 5 g / hari melalui jalur nasal. Ketagihan kokain dapat ditoleransi sampai dosis 5 g/hari. LD50 pada kelinci 15 mg/kg melalui jalur iv. Keracunan akut dosis rendah menyebabkan euphoria dan agitasi.5 mg/l. dapat disertai depresi SSP dengan pernapasan yang tidak beraturan. Malaysia melarang penggunaan kokain sebagai perisa. dan mengakumulasi dalam fetus setelah penggunaan berulang.

Pada mencit bunting 6-17 hari. 1 mmol/kg (146 mg/kg. Nomor CAS. juga adenoma ginjal. tikus.25. cis-O-coumarinic acid lactone. Pada tikus. B. 97 dari 122 . Bersifat mutagenik pada dua dari 11 strain Salmonella typhimurium dengan aktivitas metabolik. Demikian pula halnya dengan Malaysia. terjadi peningkatan aktivitas SGOT. marmut. Thailand.25.14. sabun toilet.39 oktanal/air.SNI 01-7152-2006 B. terjadi adenoma dan karsinoma paru-paru. Batas maksimum untuk komoditas pangan (2 mg/kg). pada produk tembakau dapat memperkuat rasa dan aroma alami tembakau. Nama lain dari komarin. Secara In vitro komarin toksik terhadap sel hati pada mencit. 91-64-5 Deskripsi Komarin mempunyai rumus molekul C9H6O2 dengan berat molekul 146.30 melarang produk pangan yang mengandung komarin. Coumarinic anhydride. dan 2-Oxo-2H-1-benzopyran. B. Australia New Zealand (FSANZ) mengizinkan penambahan komarin melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. pasta gigi. komarin menyebabkan hepatotoksik.25.1 Komarin (coumarin). Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. dan sorbitol dehidrogenase. dengan larutan pembawa minyak jagung) sedangkan untuk marmut adalah 202 mg/kg bb (oral).2-Benzopyrone. penguat aroma pada parfum. dan kelinci. USA melalui CFR 189. Mempunyai titik didih 2970C -2990C dan titik leleh 680C -700C. minuman (2 mg/kg).13 kPa dengan titik nyala (api) 150 0C serta koefisien partisi komarin adalah 1. Pemberian 1% komarin dalam diet selama 4 minggu pada tikus menyebabkan penghambatan pertumbuhan serta pembesaran dan kerusakan hati. oral) yang diberikan setiap hari selama 7 hari pada tikus betina menyebabkan penurunan kadar progesteron. Singapura. B. Tekanan uap pada suhu 106 0C adalah 0.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan komarin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Pada mencit. obat rambut (hair preparations). 520 mg/kg bb (oral.2 Fungsi lain Sebagai fiksatif. pemberian komarin dalam dosis besar menyebabkan penghambatan pembentukan tulang janin dan peningkatan kematian anak dalam uterus. 290 mg/kg bb (oral.25. dengan larutan pembawa propilen glikol). Kerapatan komarin adalah 0.25 B. dalam produk industri untuk menutupi bau yang tidak diinginkan. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. 1000 mg/kg menyebabkan hipoglikemik pada tikus betina selama kurang lebih 24 jam. pengecualian pada karamel dan minuman beralkohol ( 10 mg/kg) serta permen karet (50 mg/kg).3 Kajian keamanan Pada mencit dan tikus. gamma-glutamyl transferase. dan adenoma hati. antara lain 1.96 g/cm3 dan kelarutannya kurang di dalam air. Toksisitas akut (LD50) komarin pada tikus adalah 680 mg/kg bb (oral). India melarang penggunaan komarin dalam produk pangan. terjadi adenoma dan karsinoma hati dan saluran empedu. Sementara Australia dalam Australia Food Standard Code menetapkan komarin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (2 mg/kg).

Minyak betula memiliki gravitasi spesifik 1. monoecia triandria.2 Fungsi lain Tidak ada. Nomor CAS.13 – 1. Jerman mengizinkan pada produk tertentu sebesar 5 mg/kg yaitu pada minuman dingin dan panas alami. dan permen karet. saus manis. Oleh sebab itu senyawa ini perlu dievaluasi lebih lanjut. B. Senyawa aromatik jenis keton dikeluarkan melalui urin atau dioksidasi dan diekresi sebagai glycin. jeli. 1 gram beta-naftil keton larut di dalam 5 ml etanol 95%.4 Pengaturan Evaluasi mengenai senyawa ini telah dilaporkan terdapat efek toksisitas. tidak larut dalam gliserol sedangkan larut di dalam campuran minyak.26. Minyak betula dapat 98 dari 122 . indeks refraktif 1. konfeksionari (kembang gula).5 µg/ orang perhari. Menurut NOEL pengamatan terhadap tikus yang diberi senyawa Metil β-naftil keton selama 90 hari sebanyak 33 mg/kg berat badan per hari menunjukkan hasil bahwa senyawa ini termasuk dalam kategori aman untuk dikonsumsi oleh manusia. bakery wares.1 mg/kg).26 B. 9. Senyawa perisa di dalam tubuh manusia dimetabolisme melalui reaksi hidrolisis dari aktivitas katalitik karboksilase. Senyawa metil beta-naftil keton masuk dalam kategori kelompok III karena senyawa perisa ini memiliki struktur cincin yang lebih dari satu dan tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi lebih sederhana (mono). Berdasarkan perkiraan asupan perhari di eropa sebesar 6 µg/ orang yang melebihi ambang batas yaitu sebesar 1.26. Dari 38 senyawa perisa yang ada.05%. puding. adonan masses dan isiannya.35 @ 25oC. berke.SNI 01-7152-2006 B.1 Nama lain dari minyak betula adalah betula pendula roth tar oil. Nomor CAS. Metil beta-naftil keton praktis tidak larut dalam air. isian untuk produk coklat. sup.1 Metil beta-naftil keton (metyl β-naphthyl ketone).26. Kulit pohon betula hanya mengandung 3% asam tanat. Senyawa metil beta-naftil keton dalam tubuh manusia tidak dapat diprediksi apakah dapat menghasilkan produk yang berbahaya. brausen. edible ice. Daunnya mengandung asam betulorentic.27. cream desserts. US FDA mengizinkan. B. India melarang penggunaan senyawa perisa pada berbagai artikel pangan. Ambang batas aman yang dapat digunakan untuk manusia sebesar 90 µg/ hari. 93-08-3 Deskripsi Metil beta-naftil keton merupakan kristal padat berwarna putih dengan bau bunga jeruk.403 – 11. Mempunyai rumus kimia C12H10O dengan bobot molekul 170.522 – 1. bubuk sherbets. dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan rumus kimianya.21 dimana kadarnya tidak kurang dari 99%. EC (European Commisssion) di Italia mengizinkan penggunaan metil-beta-naftil-keton hanya pada permen (0. pubescens. titik didih 175oC @ 760 mm. Titik beku tidak kurang dari 520 dan kadar abu sulfat tidak kurang lebih dari 0. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. B. Minyak betula (birch tar oil). bereza. B. 8001-88-5 Deskripsi B. white birch bouleau.233 pon.27 B.26. Kulit pohon betula mengandung pula betulin dan kapur betul. Minyak betula bukan merupakan minyak esensial. B.59 @ 20oC. verrucosa.3 Kajian keamanan Secara umum senyawa perisa diabsorbsi atau diserap melalui usus manusia.

SNI 01-7152-2006

dicampur dengan Cananga, Guaiyl Butyrate; Heptyl Eugenol; Isoamyl Phenyl Acetate. Minyak betula tumbuh baik di Eropa, dari Sisilia sampai pulau es dan di Asia bagian Utara. Minyak betula adalah minyak yang diperoleh dengan cara destilasi kering kulit dan kayu Betula Pendula Roth dan spesies sejenis Betula (Fam.Betulaceae), kemudian dimurnikan dengan destilasi uap. Minyak betula hasil destilasi mengandung persentase metil salisilat yang tinggi, kreosol dan guaiakol. Minyak yang sudah dimurnikan (Oleum Rusci Rectificatum) kadang-kadang diganti dengan minyak cade. Cairan jernih; warna coklat tua; bau tajam seperti bau kulit. Larut dalam hampir semua minyak lemak dan alkohol. Tidak larut dalam air, gliserol, minyak mineral dan propilen glikol. Minyak betula juga tidak larut secara sempurna dalam 95% asam asetat dan anilin, akan tetapi minyak turpentin memisahkannya secara sempurna Minyak betula hampir identik dengan minyak wintergreen. B.27.2 Fungsi lain

Sebagai aroma parfum: Burnt, Leather Cuir, Fantasy Blends, Fern Fougere; Leather, Peau D’spagne dan sebagai penyamak. B.27.3 Kajian Keamanan

Bagian pucuk dan daun mengeluarkan resin (damar) yang bersifat asam, jika digabungkan dengan alkalin akan menjadi tonic laxative. Daunnya yang khas bersifat aromatik, bau yang enak dan berasa pahit. Digunakan sebagai teh (teh betula) untuk encok, reumatik, dropsy, dan sebagai pelarut batu ginjal yang dapat diandalkan. Dengan kulit pohon, teh betula melarutkan dan melawan pembusukan (putrefaction). Jamu pohon betula baik untuk bathing skin eruption dan berguna untuk sakit dropsy. Minyak berasa kecut, digunakan untuk efek kuratifnya pada kulit, terutama eczema, tapi digunakan juga untuk obat penyakit dalam. Kulit pohon bagian dalam yang pahit dan kecut telah digunakan sebagai obat demam. Air bunga sebagai diuretik. Dosis yang diberikan yaitu ekstrak beralkohol dari daun, 25-30 butir tiap hari. B.27.4 Pengaturan

EC (European Commission) mengizinkan penggunaan minyak betula pada bahan pangan dan minuman (0,03 µg/kg). IOFI (International Organizaton of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaannya pada produk akhir makanan sebesar 0,03 µg/kg. US FDA mengizinkan penggunaan minyak betula (CFR 172.515). Singapura melarang penggunaan minyak betula. B.28 B.28.1 Minyak cade (cade oil), Nomor CAS. 8013-10-3 Deskripsi

Cade merupakan pohon belukar besar berdaun hijau sampai ketinggian 13 kaki, dengan jarum gelap panjang dan buah kecil hitam kecoklatan seperti ukuran hazelnuts. Minyak esensial ini yang dikenal dengan nama kimia Juniper tar oil diperoleh dengan cara distilasi destruktif dari cabang dan empulur. Berasal dari Perancis Selatan, sekarang umum ada di seluruh Eropa dan Afrika Utara. Banyak dihasilkan terutama di Spanyol dan Yugoslavia. Juniper tar oil digunakan pada pengobatan penyakit kulit seperti eksim kronis, parasit, penyakit scalp (kulit kepala), rambut rontok, dll; pada luka sebagai antiseptik dan untuk sakit gigi; untuk luka, ketombe, dermatitis, eksim, noda, dll. Penggunaan secara luas di bidang farmasetik sebagai pelarut obat-obatan kimia, dalam krim dan salep kulit seperti juga pada obat-obat hewan. Minyak yang sudah dimurnikan digunakan pada bidang fragrans, dalam sabun, losion, krim dan pewangi. Kombinasi penggunaan dengan thimi, origanum, cengkeh, cassia, tea tree, cemara, dan basis obat memiliki khasiat analgetik, antimikroba, antipruritik, antiseptik, disinfektan, parasitisida, vermifugal (obat cacing).
99 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.28.2

Fungsi lain

Digunakan untuk mengobati penyakit kutanus seperti eczema kronik, parasit, penyakit scalp, kerontokan rambut. B.28.3 Kajian keamanan

Tidak toksik, tidak iritasi, kemungkinan masalah sensitisasi. Penggunaan harus hati-hati, khususnya perlakuan pada radang atau kondisi kulit alergi. Turpentine (terebinth) digunakan sebagai alternatif, dengan kemungkinan reaksi alergi lebih sedikit. Toksisitas akut, kanker, pemecahan endokrin, toksisitas reproduksi tidak ada. B.28.4 Pengaturan

CAC (Codex Alimentarius Commission) tidak ada batasan pengaturan minyak cade. Sedang EC (European Commission) menetapkan batas maksimum dalam bahan pangan yang dikonsumsi sebagai perisa : makanan dan minuman 0,03 mg/kg. Sedangkan Malaysia dan Singapura melarang penggunaan minyak cade dalam makanan. Minyak kalamus (calamus oil) Deskripsi

B.29 B.29.1

Minyak kalamus (Acorus Calamus L) berasal dari tumbuhan. Minyak kalamus diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar tanaman atau akar kering. Minyak kalamus merupakan cairan kental berwarna kuning atau kekuningan, berbau aromatik dan berasa pahit. Memiliki titik didih 180 °Februari dan gravitasi spesifik 0,962. B.29.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.29.3 Kajian keamanan

Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen). β-asaron mengandung berbagai macam minyak kalamus yang bersumber dari tanaman. Indian Acorus calamus dari Jammu merupakan tetraploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 75% beta-asaron; Acorus calamus dari Kashmir merupakan hexaploid dan minyak yang dihasilkan mengandung sektiar 5% beta-asaron (Vashist & Handa, 1964). Acorus calamus dari Eropa merupakan diploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 5% beta-asaron (Larry, 1973). Umumnya, hanya minyak dari varietas diploid yang digunakan sebagai aromatik perisa pada minuman beralkohol (Usseglio-Tomasset, dalam Larry, 1973). Akar dan rhizoma Acorus calamus telah digunakan dalam system Ayurvedic sebagai obat-obatan untuk mengatasi berbagai penyakit seperti epilepsy hysteria (Madan et al., 1960). B.29.4 Pengaturan

US FDA, Malaysia, dan India melarang penggunaan minyak kalamus pada produk pangan. Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen).

100 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.30 Minyak peniroyal (pennyroyal oil), Nomor CAS. 8013-998 B.30.1 Deskripsi

Pennyroyal oil merupakan minyak esensial berasal dari daun Mentha pulegium, mengandung 62-97% R(+)-pulegon (Grundschober, 1979) dan telah dikonsumsi manusia selama beberapa abad, terutama karena sifat-sifat abortifacient yang dimiliki (Gunby, 1979), Pennyroyal oil dengan sinonim Mentha pulegium L, mentha pulegium I. Oil; hedeoma oil berasal dari tanaman. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar yang segar atau akar kering dari tanaman Mentha pulegium L. Kandungan utama dari pennyroyal oil erafrican adalah d-pulegon. Memiliki angular rotation +18° - +25°, refraktif indeks 1.483-1.488, gravitasi spesifik 0.93000, titik nyala 176 °F, larut alcohol, propilen glikol, mineral oil, tidak larut dalam gliserin, minyak berwarna kuning muda sampai kuning hijau, berasa pahit dan bau minth. B.30.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.30.3 Kajian keamanan Peniroyal merupakan perisa alamiah yang mengandung pulegon sehingga evaluasi minyak alamiah ini setara dengan evaluasi untuk pulegon. Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan peniroyal belum cukup, termasuk data metabolisme, penentuan intake (asupan), data batas aman (threshold), data NOEL dan data asupan per hari. Namun demikian, evaluasi peniroyal dapat juga mengacu pada evaluasi senyawa pulegon. Oleh karena itu, penggunaan peniroyal harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. B.30.4 Pengaturan

Singapura melarang penggunaan pennyroyal oil pada produk pangan. B.31 B.31.1 Minyak rue (rue oil), Nomor CAS. 8014-29-7 Deskripsi

Minyak rue merupakan essensial oil yang diperoleh dari tanaman Ruta graveolens L, merupakan tanaman khas daerah Mediterania. Komponen utama minyak rue adalah methylheptyl-ketone (90 %), 1-a-pineol, cineol, dan 1-limonen, serta methyl-n-nonylcarbinol. Ekstrak maupun bagian tanaman dari Ruta graveolens L sering digunakan sebagai bahan tambahan pada minuman beralkohol yang dikonsumsi sebelum makan besar, berasa sangat pahit; salad dan daging di beberapa negara Eropa. Selain digunakan sebagai bahan tambahan pangan, Rue oil maupun ekstrak Ruta graveolens L digunakan sebagai antispasmodic, emmena-gogous. Minyak rue bersifat iritan, direkomendasikan sebagai rempah obat bagi gangguan insomnia, sakit kepala, nerveousness, abdominal cramps, gangguan renal. Ruta graveolens L dikenal sebagai tanaman emmenagogue (stimulan menstruasi) kemungkinan sebagai sedative dan hypnotic herbal. Minyak rue biasanya digunakan untuk obat homoeopathic sebagai subefacient, untuk obat dematoses sebagai eczemas dan psoriasis; dan sebagai antivirus jika digunakan bersama dengan herbal lain. Rue oil jika dioleskan pada kulit bermanfaat sebagai rubefacient untuk gangguan rematik. Selain itu, pemakaian bagian tanaman Ruta graveolens L maupun ekstraknya berlebih dapat mengakibatkan keguguran janin. Sejauh ini belum tersedia data yang mendukung mekanisme absorpsi, distribusi, lama tinggal dalam tubuh, metabolisme dan lain-lain. Rue essential oil tidak boleh digunakan sebagai bahan dalam aromaterapi karena bersifat berbahaya, dapat terbakar dan menyebabkan iiritasi pada kulit, tidak disarankan digunakan
101 dari 122

hyperpigmentation dan blistering pada kulit. B. alkaloid dicktamin. Adapun pengaruh akibat menghirup senyawa aktif dari minyak rue atau ekstrak Ruta graveolens L.3. Insufisiensi pada bagian renal dan liver terjadi beberapa hari kemudian.31. yakni Tinctura Rutae berpengaruh sangat kuat pada Salmonella typhimurium. dan menghambat tingkat kehamilan hingga mencapai 50-60 % tikus. skimianine dilaporkan menghambat secara nyata pada spontaneous motor activity. kecuali pada konsumsi secara tradisinonal dengan meminum ekstrak rebusan daun Ruta graveolens L disarankan tidak alebih 1 atau 2 gram per hari. Informasi toksisitas Rue oil maupun bagian tanaman Ruta graveolens L pada orang dewasa belum ada. pemisahan dari kelompoknya dalam waktu lama meningkatkan gejala saling memusuhi diantara sesamanya.3. Jika terkena sinar matahari kulit 102 dari 122 .31. tetragenisitas belum ada. kasus klinis akibat minum seduah daun Ruta graveolens L adalah keguguran janin. Pengaruh anti-methaphetamine juga terjadi pada hewan percobaan. exploratory behaviour. Beberapa gejala seperti epigastric pain. Ekstrak tanaman tersebut dinyatakan mengandung furoquinoline. Dosis asupan maksimal yang direkomendasikan adalah 1 gram daun Ruta graveolens L/hari. Adapun informasi mengenai karsinogenisitas. dan pengararuh pada mata serta ekspose parenteral belum ada datanya. pteleine dan kokusaginine yang diduga menyebabkan peristiwa mutagenik.3. B. Informasi yang lebih kuantitatif dilaporkan sebagai beikut: asupan sebanyak 120 gram daun segar Ruta graveolens L atau 10 ml Rue oil dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal. Pasien dapat mengalami hipotensi dan bradycardiac diikuti dengan shock. Hasil pengujian pada hewan menunjukkan bahwa. liver dan bahkan kematian. Beberapa kasus keracuan disebabkan karena kesalahan dalam dosis penyeduhan.31.31.2 Kajian toksikologi/toksinologi/farmakologi Metyl-nonyl-ketone memacu uterine contractions dan pelvic contaction sehingga akan mengakibatkan uterine haemorrhage yang memungkinkan terjadinya keguguran janin.2 Fungsi lain Tidak ada.SNI 01-7152-2006 selama ibu menyusui dan pada anak-anak. jamur sel indung telur. B. B. Phototoxicity dari senyawa tersebut ditunjukkan pada bakteri. Sedangkan hasil pengujian mutagenisitas menunjukkan bahwa ekstrak sejenis tanaman Ruta graveolens L. Pada wanita hamil dapat menderita pendarahan peranakan dan keguguran janin. cataleptogenic activity. Ekstrak Ruta graveolens L dilaporkan juga berpengaruh pada anti-implantation pada tikus albino. Gejala akut pada bagian kulit terjadi akibat terkena senyawa aktif Ruta graveolens L dalam jangka waktu lama yang mengakibatkan iiritasi.1 Kajian keamanan Bahaya yang sering dijumpai Pemakaian tradisional disiapkan dengan menyeduh satu sendok penuh daun Ruta graveolens L dalam 250 ml air mendidih dan diminum tidak lebih dari dua cangkir per hari. skimianine. gammafagarine.3 B. Psoralen atau furooumarin merupakan senyawa yang bersifat photoactive apabila dikenakan pada kulit dan terkena sinar matahari mengakibatkan kulit kemerahan. vomiting dan excessive saliva kemudian diikuti oleh CNS exitation terjadi pada pasien yang mengalami keracuan ekstrak Ruta graveolens L.31. proses mitosis dihambat dengan adanya senyawa tersebut dan terjadi pula perubahan pada kromosomnya.3 Pengaruh klinis Keracunan akut diakibatkan oleh karena masuknya komponen aktif Rue oil atau ekstrak Ruta graveolens L dalam jumlah berlebihan.

32 B. Keracunan pada kulit mengakibatkan iiratasi. abortion. Beberapa gastroentriteritis dapat memacu kehilangan cairan dan terjadinya gejala kardiovaskular. sedangkan pada CNS dapat mengalami convulsion. Minyak sasafras (sassafras oil).1699). Gangguan pada kelenjar endokrin dan sistem reproduksi akibat keracunan akut dilaporkan akibat peningkatan uterine contractilicity dengan hypogastric pain. jaundice dan oliguria. Akibat keracunan. diarrhoea dan hypersalivation merupakan gejala umum yang dilaporkan terjadi. Pada pernafasan.) Ness berasal dari tanaman. pasien dapat mengalami hepatic insufficiency yang selanjutnya dapat berkembang menjadi jaundice dan renal failure yang akhirnya akan mengalami kematian pula.31. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari akar bagian kulitnya dari tanaman sassafras albidum (Nutt. bradycardia dan akhirnya akan mengalami haemodynamic shock. Singapura melarang penggunaan minyak rue.31. Gangguan pada sistem gastrointestinal dijumpai akibat keracunan akut.1 Minyak sasafras dengan sinonim sassafras albidum (Nutt. soft candy (10 mg/kg). Gejala lain seperti tongue oedema dan fibrillation juga dapat dijumpai pada pasien keracuan akut. koma akan berakibat pada kegagalan pernafasan seperti pneumonitis. 68917-09-9 Deskripsi B. Minyak sasafras adalah minyak atsiri yang mengandung 80% atau lebih 103 dari 122 . B. Nomor CAS. Pengaruh pada bagian syaraf periphertal nervous system. metabolic imbalance yang diikuti dengan renal failure. Gangguan pada liver terjadi setelah 2-4 hari mengkonsumsi ekstrak Ruta graveolens L. Jika pasien dapat bertahan hidup. Jika pasien dapat bertahan hidup. Informasi gejala kronis akibat kontak pada bagian meta. vomiting. pemulihan kembali kesehatan sangat mutlak perlu tanpa adanya efek samping lanjutan. Gejala kronis akibat menelan ataupun minum bagian aktif Ruta graveolens L menjukkan gejala yang sama pada keracunan akut. Tidak ada pengaruh pada kelenjar endokrin meskipun terjadi gejala penurunan produksi sperma. haemodynamic disorder. dan convulsions. pasien akan mengalami gangguan pada jantung dengan gejala hypotension.3. Penyembuhan sangat lambat apabila pasien tetap mengalami gastrointestinal symptom.) Ness. gangguan ini meliputi jaundice.4 Penyebab kematian Kematian dapat terjadi setelah 2 atau 3 hari setelah pasien mengalami keracunan setelah pasien mengalami gelaja akut gastro-intestinal symptomatology yang diikuti dengan gejala haemodynamic alteration. pyperpigmentation dan bistering. US FDA mengatur penggunaan Minyak rue sesuai dengan batas maksimum yang telah ditentukan yaitu pada baked goods dan baking mixes (10 mg/kg). frozen dairy desserts dan mixes (10 mg/kg).080. Kontak senyawa aktif Ruta graveolens L dengan lidah mengkibatkan tongue irritation dan oedema yang diikuti dengan fibrillary movement. epigastric pain. Renal failure biasanya terjadi akibat tubular necrosis akut yang perlu penanganan haemodialysis.SNI 01-7152-2006 akan mengalami etythema. akan tertjadi coagulation disorder yang bertalian erat dengan hepatic insufficiency. dengan gejala erythema dan blistering. dan ekspose parenteral belum ada. convulsions. apabila terkana sinar matahari akan mangakibatkan photodermatitis.4 Pengaturan EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. B. autonomic nervous system. haemorrhage dan keguguran janin pada wanita hamil. nausea. coagulation disorder. menghirup. Pengaruhnya pada jaringan darah. Minyak sasafras memiliki titik nyala 197 °F dengan gravitasi spesifik 1. Pasien juga akan mengalami uterine bleeding akibat pengaruh komponen Ruta graveolens L pada bagian uterus. dan skeletal dan smooth muscles belum ada. kategori pangan lain (4 mg/kg) (CFR 184.32.

Dalam plasma dan jaringan level safrol dan hasil metabolitnya meningkat selama 24 jam. berbeda dengan yang terdapat Amerika dan Jerman dengan laevo-rotary (-27 °). pendarahan usus. Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafaan tehambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia. Minyak yang ditanam di Inggris mempunyai aroma rosemary. tetapi lebih kuat. Gravitasi spesifik minyak yang berasal tanaman segar 0. isosafrol.32.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon). Minyak tansi (tansy oil).925-0. 1. B. serta panas. dan dapat menyebabkan kanker hati pada konsentrasi tinggi yang diujikan pada hewan. hilang kesadaran. paralisis. Rasa sangat pahit. merah kulit. dengan rasa agak asam. penyimpangan denyut jantung. karakteristik aroma disebabkan konstituen utama tujon atau tanaseton.3 Kajian keamanan Safrol (1.1 Minyak tansi dibuat dengan cara destilasi tanaman yang sedang berbunga dengan air. mempunyai karakteristik aroma. dan hepatitis. Rumus kimianya C10H16O. tanaman kering 0.2 Fungsi lain Tidak ada. tetapi ada yang berwarna hijau warna berubah menjadi coklat kena udara dan cahaya. India.955. Safrol diabsorbsi melalui gastrointestinal.33. radang lambung. Dapat menyebabkan aborsi. bumbu. Singapura melarang penggunaan minyak sasafras sebagai perisa. B. Safrol yang terdapat dalam minyak sasafras dapat merusak jaringan hati secara permanen.940. Pada hewan menyebabkan penyakit yang sama dengan hydrophobia (rage tanacetique). Dosis 0. atau dihidrosafrol. Dan 3’hydroxy-isosafrole hanya terdeteksi pada tikus. 104 dari 122 . B. hanya 25% yang diekskresikan dalam waktu 24 jam.165 mg atau 1.33. Zat kimia yang terdapat dalam minyak sassafras bersifat karsinogenik. 8016-87-3 Deskripsi B.33. dan sifat buruk lainnya yang dilaporkan terjadi pada manusia yang mengkonsumsi sassafras. Umumnya berwarna kuning. Pada kelinci > 5 g/kg secara dermal.2 Fungsi lain Tidak ada.33 B. LD50 (akut) secara oral pada tikus 1. B. Dosis dari minyak 2-5 tetes. Minyak tansi dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah.15 g/kg. Aroma seperti tansi. yang berasal dari Amerika dalam keadaan murni berbentuk cairan jernih dengan 70% alkohol. Aroma sasafras berasal dari safrol.SNI 01-7152-2006 safrol. Nomor CAS. B.2-methylenedioxy) adalah konstituen utama dari sassafras albidum (Nutt. kram. nafas sesak.63 mg/kg pada tikus menurunkan kecepatan eliminasi.32.32. Menguap cepat pada suhu ruang.4 Pengaturan Malaysia.2-dihudroxy4alliybenzen metabolit utaman dalam urin baik pada manusia maupun tikus. Larut dalam alkohol.655 mg pada manusia dan 0.) Ness. halusinasi. Dapat pula mempercepat denyut jantung.

Paparan pada manusia dapat melalui pernafasan. Di dalam air. Nitrobenzen. Pada tikus jantan terjadi peningkatan hepatocellular neoplsm.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaannya. Data yang dirilis oleh US Environmental Protection Agency padan tahun 1985 menujukkan bahwa kurang dari 25% sampel udara positif dengan nitrobenzen dengan kosentrasi 0.0022–0. Akibat sifat nitrobenzen kelarutannya dalam air moderat dan mempunyai tekanan relatif uap rendah. akan tetapi perhitungan waktu paruhnya untuk reaksi dengan radikal hidroksil antara 19 and 223 hari. pada penelitian nitrobenzen tidak mengalami penguapan akan tetapi tedegradasi secara menyeluruh pada tanah yang diberi limbah cair. Essence of Myrbane.5 and 6 hari). sensitisasi dengan humic acids) perannya sangat kecil (calculated half-lives antara 125 hari dan 13 tahun untuk reaksi dengan radikal hidroksil. Nitrobenzen diproduksi secara komersial sejak awal abad 19 dengan metoda nitrisasi senyawa benzen. pada umumnya sangat rendah sekitar 0.33. air tanah dan udara pada umumnya rendah. vol % dalam udara: 1. sementara itu pada peristiwa fotolisis tidak langsung (fotooksidasi dengan radikal hidroksil. terjadi peningkatan hepatocellular neoplasm. 98-95-3 Deskripsi Nama lain dari nitrobenzen adalah Essence of Mirbane.34. Data penelitian dari penguapan nitrobenzen tampaknya bertentangan dengan model prediksi penguapan half life nitrobenzen dengan komputer yakni selama 12 hari (sungai) hingga 68 hari (eutropic lake). Waktu estimasi terpendek hasil kajian literatur adalah 1 hari (air sungai). Konsentrasi nitrobenzen di alam seperti air permukaan.8-40. pada mencit jantan mengakibatkan peningkatan alveolar-bronchiolar neuroplasm dan thryroid follicular cell ademonas. Pada kondisi anaerob proses degradasi berlangsung lebih lambat. Oil of Mirbane. atom hidrogen atau hydrated electrons.2 Tekanan uap pada pada suhu 20 o C: 20. Akan tetapi.11. Nitrobenzene. direct fotolisis berlangsung sangat cepat (half-lives antara 2.34 B. B. sedikit meningkat di dearah industri (2. Kandungan nitrobenzen pada air permukaan bervariasi tergantung pada lokasi dan musim. kelarutan dalam air 0. Densitas uap relatif terhadap udara: 4.2. titik leleh 6 oC. Nitrobenzol. Berdasarakan hasil percobaan fotolisis langsung di udara.1 Nitrobenzen (nitrobenzen). Nitrobenzeen. nitrobenzen tidak dijumpai di sungai dekat dengan tempat penampungan limbah berbahaya di USA pada 105 dari 122 . Percobaan dalam smog chamber dengan campuran propylene/butane/nitrogen dioxide perkiraan lifetime antara 4 and 5 hari. Nirobenzen merupakan senyawa antara utama pada produksi anilin.SNI 01-7152-2006 B. Nitrobenzen dapat mengalami degradasi karena pengaruh fotolisis maupun secara mikrobiologis. Akan tetapi.01 µg). lifetimes kurang dari 1 hari.2. tergantung pada konsentrasi sensitizer). Diantara 49 sampel udara di Jepang terukur kandungan niotrobenzen sekitar 0. Yugoslavia pada tahun 1990.40 µg]). eksplosif limit. dan penyerapan melalui kulit selama produksi maupun pemanfaatannya. thyroid-cell adenomas dan adenocarcinomas dan renal tubular adenomas. Flash point: 88 oC. Nomor CAS. Kerusakan akibat fotolisis di udara dan air sangat lambat. Konsentrasi tertinggi dijumpai di sungai Danube. waktu reaksi sangat lambat. Nitrobenzen memiliki rumus molekul C6H5NO2 dengan berat molekul 123. Degradasi nitrobenzen di instalasi penanganan limbah berlangsung secara aerobik. Rcra waste number U169.01 dan 1 µg). Sejauh ini. Nitrobenzen memiliki titik didih: 211oC.16 g/m3. NCIC60082. Densitas relatif terhadap air : 1. Sedangkan pada tikus betina terjadi peningkatan pada hepatocellular neoplasm dan endometrial stromal polyps.05 g/m3 (0. informasi bahaya karsinogenisitas pada manusia belum ada. Dengan ozon. menyebabkan nitrobenzen mudah terbawa/tercuci dari udara oleh air hujan.05 dan 1 g/m3 (<0. UN 1662. yakni mencapai 67 g/liter. Di beberapa kota di Amerika Serikat pada awal 1980-an konsentrasi nitroibenzen di udara berkisar antara <0.0 g/m3 [0. Mirbane oil. Pada penelitian lain yang dilakukan hanya pada tikus jantan. Oil of Myrbane. di daerah urban.1–1 g/liter. Nitrobenzen dijumpai pada air pemukaan dan air tanah.

pigmen deposisi dan degenerasi dari olfaktori epitelium).2 Fungsi lain Tidak ada.3. Kandungan nitrobenzen pada air tanah dapat mencapai 210–250 hingga 1400 g/liter di USA pada akhir tahun 1980-an.34. Studi immunotoksisitas nitrobenzen pada mencit B6C3F1 mengakibatkan peningkatan cellularity spleen. atelectasis dan bronchiolization pada alveolar cell walls. batasan kandungan nitrobenzen dalam udara tidak lebih dari 5 mg/m3 (1 mg/kg). 130 mg/m3 [25 mg/kg] untuk tikus.34.34. nitrobenzen sangat mudah diabsorpsi oleh kulit. kerusakan pada jaringan saraf pusat pada bagian cerebellum dan batang otak merupakan ancaman kehidupannya.SNI 01-7152-2006 tahun 1998. kelenjar tiroid. Methaemoglobinaemia terjadi akibat kontak dengan nitrobenzen melalui mulut. Tampaknya ginjal menjadi organ target dari akibat paparan nitrobenzen. thymus (involution) dan pankreas (mononuclear cell infiltration). khususnya pada kelinci. B. kulit. Gejala apnoea dan kematian dapat terjadi apabila nitrobenzen temakan dalam jumlah tinggi. dan pingsan. Oleh karena itu. pembengkakan.1 Kajian keamanan Pengaruh pada hewan percobaan Nitrobenzen mengakibatkan keracunan pada bebarapa organ sel hewan percobaan. tingkat immunosuppression turun (respon IgM terhadap sel darah merah hilang). vertigo. pada wanita yang menghirup nitrobenzen ginjalnya akan mengeras dan membesar. Splenic capsular lesions dijumpai pada tikus melalui gavage (melalui selang ke dalam perut) pada dosis 18.2 Pengaruh nitrobenzen pada kesehatan manusia Pada manusia. Pada kajian subkronik oral dan uji dermal pada mencit dan tikus. Berdasarakan informasi yang ada. B. khususnya pada wanita.3. dan mengeras sehingga akan mengganggu produksi serum. Akan tetapi.34. lapisan bawah kulit (subkutanus) dan melalui pernafasan pada mencit dan tikus. kelenjar susu. Potensi kajian karsinogenik dan toksisitas nitrobenzen melalui pernafasan yang diberikan dalam jangka panjang. Manusia yang tinggal di dekat tempat penanganan limbah berbahaya mungkin akan terekspos dengan nitrobenzen melalui air tanah. selama 550 hari dilakukan pada mencit jantan dan betina B6C3F1 dan betina tikus Fischer-344 dan jantan tikus Sprague-Dawley. meskipun di Jepang dijumpai dalam jumlah sangat kecil 4 dari 147 sampel ikan yang diuji. dan ginjal. Nitrobenzen tidak dijumpai pada makanan. pencemaran tanah ataupun secara tidak langsung akibat nitrobenzen yang dikonsumsi oleh tanaman. mengakibatkan keracunan dan bersifat karsinogen pada kedua spesies serta mempengaruhi spektrum dari paru-paru. Keadaan tersebut tidak dijumpai di USA pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1985. Pasien yang menghirup nitrobenzen dan mengalami methaemoglobinaemia akan berkurang efeknya apabila dibebaskan dari nitrobenzen dan mendapat perawatan yang memadai secara perlahan akan pulih kesehatannya. sementara itu bagian paru-paru mengalami emphysema. B. beberapa kejadian keracunan dan kematian akibat menghirup nitrobenzen terjadi di beberapa negara. 106 dari 122 . nasal epitelium. liver. tampaknya air tanah lebih potensial untuk mengalami pencemaran nitrobenzen. mual. tiroid (follicular cell hyperplasia). Berdasarkan kajian ilmiah. pewarnaan tubular epithelial cells). Gejala necrotic pada manusia terjadi akibat menghirup nitrobenzen termasuk didalamnya sakit kepala. Organ lainnya yang menjadi target nitrobenzen adalah ginjal (peningkatan berat.75 mg/kg berat badan per hari) dan melalui permukaan kulit pada konsentrasi 100 mg/kg berat badan per hari.3 B. Liver akan membesar. Tingkat kematian tidak berpengaruh pada konsentrasi hingga 260 mg/m3 [50 mg/kg] untuk mencit.

Benign tumours dapat dijumpai pada kelima organ. dengan nilai EC50.6 mg/liter selama paparan lebih dari 18 hari. berdasarkan kemampuan reproduksi adalah sebesar 10 mg/liter. Data lain menyatakan bahwa 72-jam no-observed-effect concentration (NOEC) dari 1. Borreri.SNI 01-7152-2006 B. Bentuk dari tanaman ini berbeda-beda berdasarkan sub spesiesnya.3.35. Filices. Pada kosentrasi sebesar 0. N. 142 mg/liter untuk guppy (Poecilia reticulata). akan tetapi pengkajian tentang genotoksisitas mendapatkan hasil negatif. Tidak ada pengaruhnya terhadap mortalitas atau tingkah laku pada medaka pada konsentrasi nitrobenzen 7. Berdasarakan informasi data toksisitas akut.35 B. diantaranya affine. Methaemoglobinaemia. testicular pada pengujian melalui pernafasan mempengaruhi sistem pernafasannya. konsentrasi terendah yang dapat melindungi 95% hewan air dengan tingkat kepercayaan 50% adalah sebesar 200 µg/liter..34.34.4 Evaluasi bahaya Methaemoglobinaemia dan perubahan haematological and splenic terjadi pada manusia yang terekspos dengan nitrobenzen.7 mg/liter untuk (Mysidopsis bahia). Malaysia dan Singapura melarang penggunaan nitrobenzen. pumilum. 107 dari 122 . Aspidium Filix-mas (SCHWARZ). dan metoda distribusi statistik. India utara. bilateral epididymal hypospermia dan bilateral testicular atrophy terjadi apabila dosis yang dikenakan mecapai 5 mg/m3 (1 mg/kg) pada tikus.1 Pakis jantan (male fern) Deskripsi Nama lain dari Male Fern adalah Male Shield Fern: Dryopteris Felix-mas (LINN). Tanaman ini sangat bervariasi. Fern tumbuh di seluruh bagian Eropa. Untuk hewan air laut nilai akut terendah adalah 96-jam LC50 apabila konsentrasi mencapai 6.9 mg/liter untuk alga biru-hijau Microcystis aeruginosa. Nilai kronis terendah adalah 20-hari NOEC of 1.3 Pengaruh nitrobenzen pada mikroorganisme lingkungan Nitrobenzen bersifat racun bagi bakteri dan sangat merugikan bagi instalasi penanganan limbah apabila jumlah polutan nitrobenzen sangat tinggi. Nilai 96-jam LC50 berlaku untuk kosentrai 24 mg/liter untuk medaka (Oryzias latipes). Afrika utara dan Afrika selatan.92 mg/liter berdasarkan penghambatan konsumsi amonia. B. Ikan air tawar menunjukkan sensitivitas yang sama rendahnya terhadap nitrobenzen. Sejauh ini belum ada informasi yang cukup untuk keperluan perlindungan hewan air asin. beberapa bagian Amerika Serikat. dengan EC50 sebesar 0.9 mg/liter untuk protozoa Entosiphon sulcatum dan sekitar 8hari nilai lowest-observed-effect concentration (LOEC) dari konsentrasi 1.to 48-jam LC50 values) untuk kisaran 24 mg/liter untuk water flea (Daphnia magna) hingga 140 mg/liter untuk jenis keong (Lymnaea stagnalis). haematological.3. Pada mencit. Untuk hewan air tawar dosis akut nitrobenzen mencapai (24. Andes dan Amerika Selatan. beberapa Negara Asia. Respon karsinogenik dapat dideteksi pada tikus dan mencit setelah mendapat perlakuan dengan nitrobenzen. kejadian bronchiolization dari dinding alveolar and alveolar/bronchial hyperplasia mulai dapat dideteksi apabila dosis nitrobenzen mencapai 26 mg/m3 (5 mg/kg).4 Pengaturan EC (European Commission)) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. Pada hewan pengerat. bahkan pada konsentrasi 67 g/liter belum menjadi ancaman bagi hewan air tawar. mammary adenocarcinomas dapat dideteksi pada mencit betina B6C3F1.9 mg/liter bagi Daphnia magna.1–1 g/l aman bagi hewan air. dan liver carcinomas dan thyroid follicular cell adenocarcinomas dideteksi pada tikus jantan Fischer-344. pengaruh methaemoglobinaemia. B. bersama dengan rasio toksisitas akut: kronis bagi jenis udang-udangan.O.34. Konsentrasi toksin terendah nitrobenzen pada bakteri Nitrosomonas. akan tetapi data kuantitatif yang ada belum ada. B.

4 Pengaturan EC (European Commission ) dan IOFI (International Organization of The Flavour Inustry) tidak membatasi penggunaan pakis jantan.35. 45-90 drop.1 Deskripsi Nama lain dari p-propilanisol P-propylanisole atau benzene. Biasanya diberikan pada malam hari setelah beberapa jam berpuasa untuk melakukan pembersihan seperti halnya castrol oil. gemuk dan merambat di sepanjang permukaan tanah atau di bawah tanah. Mahkota akarnya berwarna coklat. Ekstrak pakis jantan dalam bentuk oleoresin. Ekstrak ethereal atau oleoresin yang dikemas dalam bentuk pil memberikan bau yang lebih enak daripada dalam bentuk bubuk (powder) dan ekstrak dalam bentuk liquid.3 Kajian keamanan Sediaan dan pemakaian dosis serbuk dari akar adalah 1-4 drachms. dicampur dengan madu atau sirup atau setengan cangkir teh hangat. Beberapa daun itu lebar. B. Dalam akar (rhizome) juga mengandung tannin. Serbuk atau ekstrak cairan dapat diterima tetapi ekstrak ethereal atau oleoresin yang diberikan dalam bentuk pil adalah lebih baik. p-Propilanisol diperoleh dengan cara hidrogenasi dari gugus propenil dalam anethol. dan koma serta dapat melukai penglihatan mata dan dapat menyebabkan kebutaan. digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. mengandung 30% filicin. resin.36 p-Propilanisol (p-propylanisole) B. Minyak pakis jantan bermanfaat sekali sebagai konstituen pada minuman (5%-10% Filmaron. p-Propilanisol dilaporkan terdapat secara alami di alam. gravitasi spesifik 0. Dosis yang diberikan biasanya sangat kecil karena jika terlalu besar akan terjadi keracunan iritasi.35. Ekstraksi pakis jantan dengan eter menghasilkan ekstrak berwarna hijau gelap. Pemberian dosis tunggal akan dapat mengobati dalam sekali.SNI 01-7152-2006 abbreviatum dan elongatum. B. 108 dari 122 . ppropilanisol memiliki titik asap 185°F. B. Tanaman ini mempunyai akar (rhizoma) yang pendek. B. kaku seperti pisau. Ekstraksi dengan eter merupakan antelmintik terbaik untuk membunuh cacing pita. zat pewarna dan gula (pemanis). filicin). mempunyai banyak rambut atau bulu di sekitar daun. lemah. Singapura melarang penggunaan pakis jantan sebagai bahan perisa.36.35.2 Fungsi lain Tidak ada. B. ekstrak cairan 1-4 drachms.36 mg/l pada suhu 25°C. B.P.2 Fungsi lain Pada zaman dulu. Tangkainya coklat bersisik dan berbulu. akar dari pakis jantan banyak digunakan sebagai obat cacing (fermivuge).1 methoxy-4-propyl atau Dihydroanethole atau 1-Methoxy-4-propylbenzene atau Methylp-propylphenyl ether atau 4propylmethoxybenzene.942. ekstrak ethereal. kelarutan pada air (hasil perhitungan 63. Obat dalam bentuk serbuk dosisnya bervariasi dari 60-180 grains.36. antelmintik. 5%-8% asam filic.

titik api 190 oC. USA menyaakan bahwa p-propilanisol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA no 2930. B. delta-4(8)-p-Methene-3-one. p-Menth-4(8)-en-3one. 1Isoprophylidene-4-methyl-2-cyclohexanon. 1-Methyl-4-isopropylidene-3-cyclohexanone. 2050). 109 dari 122 .SNI 01-7152-2006 B.36.36. Nomor CAS. Data NOEL dari p-propenilanisol (300 mg/kg berat badan per hari) adalah 100000 kali lebih besar dari estimasi intake p-propilanisol di Eropa (0. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).515).4 mikrogram/berat badan perhari) dan di USA (2 mikrogram/berat badan per hari). Pulegon diakui oleh FDA sebagai perisa (21 CFR 172. Pulegon mempunyai titik didih 224 0C. B.1 Pulegon (pulegon). tidak terdapat dalam edisi ke 4 karena belum diketahui (COE No. Senyawa pulegon (no 753) dimasukkkan kedalam kelas struktural II.5-Methyl-2-(1-methylethylidine) cyclohexanone. Pulegon (No 753) mengandung rantai samping isopropiliden dan metabolit prinsipal dari pulegon adalah mentofuran (No 758).61).2 Fungsi lain Tidak ada. 5-methyl-2-1-(1-methylethylidene)-.4 JECFA memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. Langkah A4 :p-propilanisol tidak tergolong senyawa endogenous. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) b) c) d) Langkah 1: p-propilanisol tergolong kedalam sturtural kelas III.®-. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).3. JECFA : tidak adanya kajian keamanan yang diperkirakan terhadap asupan bahan makanan (901.37 B. pulegone. Pulegon dimasukkan ke dalam daftar bahan makanan oleh dewan Eropa. Langkah A5 :Data NOEL dari substansi terkait p-propenilanisol (trans anethol) dapat digunakan untuk p-propilanisol karena melalui jalur metabolisme yang sama. Langkah A3: Asupan dari p-propylanisole di Eropa (23 mikrogram/orang/hari) dan di USA (114 mikrogram/orang/hari) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas III yaitu 90 mikrogram. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Komite memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. gravitasi spesifik 0. India melarang penggunaannya dalam substansi perisa. Pulegon memiliki nama kimia p-Menth-4(8)-en-3-one dan nama lainnya adalah delta-4(8)-p-.37.36. tekanan uap <0. Langkah 2: p-propilanisol diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa innocuous. FEMA : secara umun pulegon aman sebagai bahan perisa (GRAS 3 (2963).7 mg/l pada 25 0 C.37.001 mmHg 2 0C dan kelarutan dalam air 173. 89-82-7 Deskripsi Nama lain dari pulegon antara lain Cyclohexanone.1 Kajian keamanan Kajian toksikologi p-propilanisol telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.3 B. SCCNFP: Pulegon dan mentofuran tersedia.930. Pengaturan B. JECFA no 1244.

033 µg/orang/hari. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.38 B. papermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg). Toksisitas pulegon yang lemah pada dosis rendah terlihat dari percobaan yang berlangsung selama 90 hari pada tikus yang diberi diet mengandung minyak pepemin yang mengandung 1.SNI 01-7152-2006 B.1% pulegon. minuman dengan perisa peppermint atau mint (250 mg/kg) . (level yang lebih tinggi ditemukan pada aroma mint yang lebih kuat). konfeksionari mint (350 mg/kg). Hal ini berdasarkan pada tahap B3 bahwa asupan tidak melebihi ambang batas untuk manusia dimana Eropa dan USA masing-masing memiliki ambang batas 2 µg/hari. titk nyala >2000F.2-methylene dioxybenzene atau 1. NOEL yang sebesar 40 mg/kg bb/hari untuk nefropati diperoleh berdasarkan tetesan hialin dosis tinggi setara dengan NOEL 0. produk minuman lainnya (100 mg/kg).2-methylenedioxy-4-propenylbenzene) yang terdapat secara alami sebagai bagian minor dari essential oil dimana terdapat pula safrol. yaitu 0. shandy.37. Nilai NOEL ini lebih besar dari 1000 kali asupan pulegon hanya sebagai senyawa perisa sebesar 0. B. Safrol merupakan konstituen utama dari minyak sasadfras (Sassafras officinale Ness & Eberm) dan merupakan konstituen minor pada beberapa essential oil lainnya.1 Safrol (safrole). Senyawa yang terkait dengan safrol adalah isosafrol (1. 110 dari 122 . Senyawa terkait lainnya adalah dihidrosafrol (1.98 mg/l yang diukur pada suhu 250C. Octea cymbarum dan Sassafras. dan produk makanan lainnya (25 mg/kg). Isolasi safrol dilakukan dengan proses destilasi dan/atau proses pembekuan dari minyak (essential oil) yang tinggi kandungan safrolnya seperti Cinnamomum micranthum. Minuman selain minuman beralkohol. 237 dan <225 nm dan kelarutannya di dalam air menurut hasil perhitungan adalah 75.3-Benzodioxole.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan pulegon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. minuman (100 mg/kg) kecuali pada peppermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg) dan konfeksionari mint (350 mg/kg). puncak UV Absorbance pada 290 . Selain itu juga berdasarkan tahap B4 yang menunjukkan adanya nilai NOEL untuk senyawa dan kerabatnya. berat jenis 1. B.19 dan nama kimia 4Allyl-1. 94-59-7 Deskripsi Safrol memiliki rumus molekul C10H10 O2 dengan bobot molekul 162.3 Kajian keamanan Dianggap aman berdasarkan pohon pemutusan (decision tree). Sifat fisik yang dimiliki safrol diantaranya titik didih 2340C. titik leleh 110C.5-(2-propenyl)-3. papermint atau minuman beraroma mint (100 mg/kg). makanan olahan (25 mg/kg). Australia dan New Zealand di dalam FSANZ menetapkan pulegon sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (350 mg/kg).38.44 mg/kg bb/hari (26 mg/orang/hari) untuk pulegon. Batas maksimum pada komoditas pangan (25 mg/kg). USA melalui FDA dalam CFR 172.2-methylenedioxybenzene-4-propylbenzene) yang belum diketahui keberadaannya secara alami tetapi terbentuk pada pembuatan piperonyl butoxyde.4-Methylene dioxyallylbenzene atau Safrol.44 mg/kg bb per hari pada studi 90 hari > 10000 kali perkiraan asupan harian pulegon sebagai perisa.515 mengizinkan penggunaan pulegon.37.097. Sedangkan Malaysia mengatur keberadaan pulegon dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan.Nomor CAS.

Ekspos tikus terhadap safrol dalam uterus menghasilkan renal epithelial tumours. α-Santonin memiliki berat molekul 246.9-trimethyl.30 dengan rumus molekul C15H18O3. nodule formation.5.SNI 01-7152-2006 B.l-Santonin. Eudesma-1.5a. Santonin.9-trimethylnaphtho[1.39. B. Demikian pula Malaysia dan Singapura juga melarang penggunaannya dalam makanan. B. Safrol bersifat inaktif dalam studi mutagenitas yang menggunakan berbagai strain mikroba S. produk yang berasal dari daging (10 mg/kg).5a.4H)-dione.3 Kajian keamanan Safrol dan Isosafrol diberikan pada tikus besar yang dapat menyebabkan liver hypertrophy dan mikrosomal enzymes. USA melalui FDA melarang penggunaan safrol dalam produk pangan (CFR 189. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.cirrhosis adenomatoid hyperplassia sampai benign and malignant tumours. γ-lactone.5aβ.coli. S. B.9b-tetra-hydro3.[3S-(3α.8(3H. Pada tikus besar.5a. [3S-(3α.7-Hexahydro-1-hydroxy-α.5. pemberian safrol secara kronis menghasilkan progressive dosedependent liver damage yang meliputi hepatic cell enlargment.9btetrahydro-3.5a. Semenen. 180).4-dienic acid. 3a.2. 11-Epiisoeusantona-1. cerevisiae dan intraperitoneal host mediated assay (in vitro). Sedangkan India menetapkan safrol boleh terdapat secara alami pada berbagai artikel pangan dan tidak melampaui batas (10 mg/kg).3.9bβ)]-. l-α-Santonin.5a.9b-tetrahydronaphtho[1. 3a.3.9b-Tetrahydro-3. (-)-α-Santonin.5aβ. Tidak ada kejadian tumor hati pada anjing yang diberi asupan safrol selama 6 tahun namun terjadi perubahan terhadap fungsi hati yang meliputi bile-duct proliferation.2b]furan-2. Safrol menunjukkan hasil positif pada mutagenik assay (in vitro) dengan menggunakan E. γ-lactone.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentrarius Commission) tidak membolehkan penambahan safrol dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.4a. 6αhydroxy-3-oxo-. (11S)-.2b]furan-2. 6α-hydroxy-3oxo-.4H)dione. Naptho(1.4H)-dione.9-Trimethyl-3a. 481-06-1 Deskripsi Nama lain dari alfa-Santonin adalah Naphtho[1.4.3aα. produk pangan lainnya (1 mg/kg).8-trimethyl-7-oxo-2-naphthalene-acetic acid γ-lactone. Typhimurium dengan atau tanpa proses aktivasi.5a.9bβ)]-3a. Santoninic anhydride. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. pengecualian pada produk minuman beralkohol dengan kadar dibawah 25 %vol (2 mg/kg) dan minuman beralkohol dengan kadar diatas 25% vol (5 mg/kg) serta pada pangan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg).38. (-)-Santonin. (-)-Santonine.8(3H. 1.4H)-dione. minuman beralkohol (5 mg/kg).9-trimethyl-.2-b]furan-2.38. Nomor CAS. Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan safrol sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: makanan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg).2-b)furan-2. Pemberian safrol terhadap tikus baik secara oral maupun subkutanus yang menuju marked increase pada kejadian tumor hati.5.5.5a.8(3H.3aα.2 Fungsi lain Tidak ada.38.4-dien-12-oic acid. 111 dari 122 .39 B. 4a.1 alfa-Santonin (α-santonine). Batas maksimum pada komoditas pangan (1 mg/kg).5a. minuman (1 mg/kg). .8(3H.

39. Pada penelitian berikutnya.2 Fungsi lain Tidak ada. cinnamyl alcohol anthranilat. Cinnamyl anthranilate atau dengan nama lain antrhranilic acid.51) (Stoner et al.1 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) = 130 mg/kg. 1973).40.39.1 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol diatas 25% volume (1 mg/kg). penggunaan dosis toatal 12 g/kg bb atau 2.4 g/kg bb sinamil antranilat dalam tricaprylin pada mencit.3. 112 dari 122 .40.helmintik (mencegah parasit). 87-29-6 Deskripsi B. Sampai saat ini belum diperoleh informasi tentang keberadaan senyawa ini secara alamiah.40. cinnamyl ester. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0.39. pada mencit – ip pada mencit – iv pada mencit – oral pada manusia (dosis terendah) Dosis 1 mg/kg dalam minuman beralkohol dengan kurang dari 25% volume alkohol memiliki efek negatif pada kesehatan.SNI 01-7152-2006 B. minuman (0. Santonin bersifat sebagai anti.41 dan 1.18 dan 0. = 900 mg/kg. 1973). Malaysia melarang penggunaan santonin dalam makanan. 2aminobenzoat. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.2 Fungsi lain Tidak ada. menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 13/30 (1.3. B. B.1 a) b) Kajian keamanan Pengujian karsinogenisitas Dosis 12 g/kg bb atau 2. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan santonin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg. Sinamil antranilat (cinnamyl anthranilate). Nomor CAS.39. 3phenyl-2-propenyl-anthranilat memiliki nama kimia: 3-phenyl-2-propen-1-ol.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan santonin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.40 B.40. dapat mengakibatkan ilusi warna.40 g/kg bb secara intraperitonial pada mencit menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 17/30 (2.3 B. = 180 mg/kg. = 15 mg/kg.1 Sinamil antranilat merupakan perisa sintetik yang telah digunakan dalam produk pangan semenjak tahun 1985. 3-phenyl-2-propenyl 2-aminobenzoat.3 B. B. B.1 mg/kg).31) (Stoner et al. warna jingga.

25.3. Begitupula pada tikus.4 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet pada mencit dengan dosis 0.3 Toksisitas akut (LD50) = 5000 mg/kg bb(Opdyke.0 mg/telur. dengan jumlah diet yang sama menyebabkan tumor pada ginjal dan pankreas. = 5000 mg/kg bb (Opdyke.4. B.40. Pra inkubasi (0 jam dengan tingkatan dosis: 10.3. 3000. Neoplasma sel acinar pada pancreas terjadi pada tikus jantan sebesar 3/45 (7%) yang diberi dosis tinggi. a) b) Sinamil antranilat yang diberikan pada mecit jantan dan betina secara intraperitonial menyebabkan tumor paru-paru. 0.3.40. dosis tinggi 30/49) dan hubungan hemosiderosis limpa dengan dosis yang diberikan pada tikus betina (kontrol 8/47. 0. selain itu terjadi pula karsinoma hepatoselular dan adenoma. 1000. dan TA-1538 dan Saccharomyces cerevesiae D4 dengan dan tanpa aktivasi (Litton Bioneticks Inc. Pada dosis rendah.2. Tak ada korelasi jumlah dosis dengan kerusakan pada necropsy (NCI. 1975).3. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet (MTD dan ½ MTD) pada mencit menyebabkan hepatoselular karsinoma dan adenoma. (NCI.1. B. pada tikus–oral pada kelinci-dermal B.0 mg/telur) dan inkubasi 96 jam dengan tingkatan dosis: 0. Terdapat hubungan mineralisasi pada ginjal denagn dosis yang diberikan pada tikus jantan (kontrol 0/48. 2. 1 dan 3%) selama 6 minggu menunjukkan tidak terjadi kematian dan penekanan berat badan yang lebih besar dibandingkan pemberian dosis 10% kecuali pada mencit jantan dengan dosis diet makanan sinamil antranilat 3000 mg/kg (3%). Begitupula dengan tikus dengan perlakuan yang sama. 1976). 1980). tidak terjadi efek yang signifikan terhadap angka kematian. Teramati abnormalitas pada keempat kondisi tersebut.05. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg diet (1/2 MTD) pada tikus jantan dan betina menunjukkan penurunan berat badan.5% sinamil antranilat tidak mutagenik terhadap Salmonella galur TA-1535. 1980).5. 113 dari 122 . dosis tinggi 41/50). 0. 1. Pengujian mutagenisitas Metode ames d) e) B.2. 0. dosis rendah 28/50. Terjadi adenokarsinoma atau adenoma sebesar 4/39 (8%) pada tikus betina dengan dosis tinggi.2 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Sinamil antranilat yang terlarut dalam alkohol dimasukkan ke dalam embrio ayam melaui dua jalan yaitu melalui sel udara dan kuning telur.3.02..1.3. 0. 0.1 2. dan 0. 1975). TA-1537.40.2 B. 10000 dan 30000 mg/kg (0. tak teramati adanya tumor.5 dan 0.40.SNI 01-7152-2006 c) Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg dietn(1/2 MTD) pada mencit jantan dan betina selama 103 minggu menunjukkan penurunan berat badan. 5.40. dosisi rendah 17/50. 0.2.

Typhimurium. muntah. Spartein adalah obat yang biasa dipakai di rumah untuk lemah jantung dengan feeble-ness otot. meningkatkan tekanan arteri. dan meningkatkan pergerakan darah ke arteri. larut dalam air dan alkohol. Senyawa ini bersifat diuretik. Jantung dihentikan pada sistol.41 B.1 Spartein (Sparteine) Nomor CAS.4 Pengaturan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaan spartein pada minuman beralkohol sebesar 5 mg/kg. dengan atau tanpa aktivasi.3 Kajian keamanan Senyawa ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada pusat syaraf sampai ke hati.42 B. B. ADI belum ditetapkan Pengaturan B. Dalam jumlah yang berlebih. Merupakan kristal atau bubuk putih. dan menyebabkan tekanan mental. Tujon berbentuk minyak dengan 114 dari 122 . Spartein sulfat adalah produk kristal dari reaksi asam sulfat dengan spartein. 546-80-5 Deskripsi Tujon mempunyai rumus kimia C10H16O berupa keton terpenoid dalam dua bentuk stereoisomer dan dikenal sebagai α-thujone dan β-thujone. B. Senyawa ini dapat menstimulasi reaksi ginjal untuk menaikan kadar dan memproduksi mild diaphoresis. Senyawa ini diperoleh dari destilasi infus konsentrat pucuk cytisus scoparius.41. memperbesar kekuatan kontraksi otot jantung. B.41. Bukan obat tradisional yang dipercaya pada semua kasus. incoordination.4 USA dalam CFR 189. sepersepuluh sampai setengah biji.113 dan India melarang penggunaan sinamil antranilat dalam produk pangan. Senyawa ini terurai selama proses pengeluaran urin atau pada pudendum dimana aliran urin sebesar-besarnya. deliquescent. menghilangkan dropsical effusions yang dihasilkan dari feebleness dari sirkulasi. Digunakan pada penyakit Graves.41. pahit. dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 5 mg/kg dan produk pangan lainnya dengan maksimum level 0. catharsis dan akhirnya kelumpuhan otot-otot organ pernafasan dan pusat motorik.SNI 01-7152-2006 c) Sinamil antranilat tidak mutagenik pada galur tertentu S.42. atau dari mother liquor setelah precipitating scoparin. Dapat mempercepat denyut nadi. tidak berbau. Nomor CAS.2 Fungsi lain Tidak ada. B. Berguna untuk jantung berdebar dari ketegangan dan lelah. larut dalam alkohol.1 mg/kg. Spartein dapat mengakumulasi sangat banyak gas pada saluran pencernaan. B. netral. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan spartein sebagai natural toxicant. eter dan kloroform. Bentuknya cairan minyak yang konsisten dan tidak berwarna. Dosis.40.1 Tujon (thujone).41. 6917-37-9 Deskripsi Rumus kimia spartein adalah C15H26N2. dapat menghasilkan getaran otot.

minuman (0. bitters (35 mg/kg). Pada dosis rendah. pangan olahan lain (0. B.2 Fungsi lain Tidak ada. Minyak tansy dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah.42. sesak nafas. Sedangkan India melarang penggunaan tujon pada berbagai artikel pangan.5 mg/kg).5 mg/kg). makanan yang mengandung sage (25 mg/kg). Tanacetum (tansy) Thuja spp dan Cedris spp dengan proporsi yang bervariasi. Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafasan terhambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia.42. tujon dapat menyebabkan epilepsi yang didahului secara umum oleh fase pembesaran dimana beresiko pada tekanan darah. B. aritmia jantung. Juniperus. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0.42. denyut nadi melemah dan pembesaran luas pernafasan (augmentation of respiratory amplitude). 115 dari 122 . kram pada lambung/usus. Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan tujon (alfa dan beta) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: sage stuffing (250 mg/kg).5 mg/kg). daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 1.5 mg/kg). sage stuffing (250 mg/kg). Saliva spp. Malaysia menetapkan keberadaan tujon dalam makanan tertentu sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan. Minuman selain minuman beralkohol dan shandy (0. titik didih sebesar 760C/10 mm. dimana daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 960 mg/kg (oral).SNI 01-7152-2006 aroma yang menyerupai mentol dan terdapat dalam tanaman Artemisia spp. Untuk minyak dari wormwood (Artemisia absinthium) sebagian besar mengandung thujon.5 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% volume ( 5 mg/kg). B. α-tujon memiliki titik didih sebesar 74. tujon memperlihatkan sedikit pembesaran pergerakan dan depresi terhadap aktivitas pada dosis 3 mg/kg i. minuman beralkohol dengan kadar lebih dari 25% v/v alkohol (10 mg/kg).p. sedangkan pada kelinci >5 g/kg (kulit).50C/9 mm sedangkan β-tujon.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon). dan hepatitis. Toksisitas pada aktivitas obat-obatan.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak memperbolehkan penambahan tujon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. merah kulit. hilang kesadaran. Minuman beralkohol (10 mg/kg) dan produk pangan lainnya (0. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Untuk (+)-3-tujon diuji aktivitas psikotropik pada mencit dengan menggunakan serangkaian koordinasi dan studi kelakuan dan juga untuk anti nyeri (analgesik) dan hipnotis. pendarahan usus.p dan penyelidikan kelakuan pada dosis 24 mg/kg i. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Bitters (35 mg/kg).15 g/kg (oral) sedangkan pada kelinci >5 g/kg (dermal). minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% v/v alkohol (5 mg/kg). Makanan berperisa sage (25 mg/kg). radang lambung. minuman beralkohol dengan kadar diatas 25 % volume (10 mg/kg).

. Comparative induction of unscheduled DNA synthesisi in cultured rat hepatocytes by allylbenzenes and their 1’-hydroxy metabolites. Available at: Center in Molecular Toxicology.S.nih. GAIN Report #SN3005. 2000. BMC compliment altern med.. Department of Agriculture.html.. 2003. General Requirements for Natural Flavourings. Available at: http://www. CAMEO®. 831-836. Berberine: Therapeutic potential of an alkaloid found in several medicinal plants. 175181.cedralvale.com/altmedrev/fulltext/berb. L 409/31. A.pubmedcentral. N. Mutat. I. Food Chem. R. P.S Food and Drug Administration Parts 189. U. K.SNI 01-7152-2006 Bibliografi Ahuja P. G.S. BMC Compllementary and Alternative Medicine.. J. No. Toxicol. Vanderbilt University School of Medicine. National Oceanic and Atmospheric Administration. V. Borris. Committee of Experts on Flavoring Substances. B. 22 January 2003.net/essentialsoils/cade. and Cladwell. 1987. Official Journal of the European Communities. Cedar Vale Natural Health. J. Butterworth. and Grasso. 116 dari 122 .. P. Singapore Food and Agriculture Import Regulations and Standards Country Report. 1999-2003. 2003. (1975) A nine month toxicity study of diethylene glycol monoethyl ether in the ferret.. Chemical land. U. Cade http://www. Chan.thorne. Office for Official Publication of the European Communities. H. availabel at:http://www.. Flavourings and Flavouring Enhancers. Amending for the First Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. a constituent of Mahonia aquifolium. B. Saturated and Monofluoro Analogs of the Oriental Fruit Fly Attractant Methylegenol Show Reduced Genotoxic Activities in Yeast. Calamus Oil (Acorus Calamus). 1992.C. Codex Alimentarius Commission.S. Khrimian. CAC/GL-29-1987.gov/ceppo. F. U. Australian Food Standards Code Flavourings. Liquido..S. Consleg 1995L0002 – 29/01/2004. T. (1):2. prohibited from use in human food.gov/articlerender.htm. A. Gaunt. Consolidated Text.epa. Council of Europe. R. 30 (10).W. Voluntary Report-public distribution.Kandikonda S.fcgi?artid=101396. 369... J. and Schiestl. 1996. Produced by the Consleg System. Res. Herbal medicines and Dietary Suppplements Potentially Toxic Herbs. Kelly. Potential antimutagenic activity of berberine. Part 1 – Birsdall. (2002). Brennan. Enviromental Protenction Agency. Available at: http://www. Council Directive 92/115/EEC of 17 December 1992. 2002. Diethylene glycol. Record. R. oil. De Milo. Code of Federal Regulation 21. 50th Session. Unpublished report bya British Industrial Biological Research Association.

European Commission. Directive 94/52/EC of The European Parliament and of The Council of 7 December 1994. Opinion of the Scientific Committee on Food on the presence of β-Asarone om flavourings and other food ingredients with flavouring properties. Sientific Committee on Food. SCF/CS/FLAF/78 Final. Sientific Committee on Food. Opinion of the Scientific Committee on Food on Isosafrle. pharmacognosy. therapeutics and European Commission. 22 June 1988. Directive 97/60/EC of The European Parliament and of The Council of 27 October 1997.. Drugs and Vitamins. Amending for the Third Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. 2 September 1980. Opinion of the Scientific Committee on Food on Methyleugenol (4-allyl-1.00. 26 September 2001. EEC. 1976. 25 Juli 2002. Sientific Committee on Food.html. Opinion of the Scientific Committee on Food on Estragole (1-allyl-4-methoxybenzene). Sientific Committee on Food. 9 April 2003.2-dimethoxybenzeme). SCF/CS/FLAF/61 Final. Opinion of the scientific committee on food on quassin. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/30 Final. Communication on the EEC Commission ENV/521/79 and IARC Monograph Vo. Official Journal of the European Communities No. Official Journal of the European Communities No. 117 dari 122 . 8 Januari 2002.drugdigest. Sientific Committee on Food. European Commission. On the Approximation of the Laws of The Member States Relating to Flavourings for Use in Foodstuffs and to Source Materials for their Production. European Commission. L 331/7. Avalable at: http://www. 231-244. L157/28.org/DD/Printable/herbMonograph/0. Council Directive. Sparteine. In flavourings and other food ingredients with flavouring properties. Sientific Committee on Food. Official Journal of the European Communities No. 26 September 2001. Sientific Committee on Food.. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/4 ADD1 Final. Drug Digest. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/9 ADD1 Final. safrole and on the similarity of the biological activity of these substances. 17 September 2002. European Commission. Drug Library. On The Approximation of the Laws of the Member States on Extraction Solvents Used in the Production of Foodstuffs and Food ingredients. (1919). Opinion on Coumarin. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/3 ADD2 Final.SNI 01-7152-2006 Council Directive of 13 June 1988. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/29 Final. F. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/5 ADD1 Final. European Commission. Drug Digest. Sassafras. 25 Juli 2002. European Commission. 10. European Commission. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/6 ADD2 Final. Amending for the Second Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. L 331/10. Opinion of the Scientific Committee on Food on the Presence of hypericin and extracts of Hypericum sp.11475. European Commission. Opinion of the Scientific Committee on Food on Benzyl Alcohol. The American materia medica. 8 Januari 2002. 29 September 1999. Opinion of the Scientific Committee on Food on Pulegone and Menthofuran. Ellingwood. Sientific Committee on Food.552413. 88/388/EEC. Sientific Committee on Food.

12 November 2001. Common Tansy Hall.edu/depts/addl/toxic/plant12. IOFI Flavour Information 23 March 2004 Tabs 1-12. Regulation of the European Parliament and of the Council. Lloyd. 1997.W. L.. Garcia. J. S. Gaunt. Pazos.mgmh/b/bircom43. European Commission. Hall.com/botanical/mgmh/t/tansy-05. July 2002. 263-268. p.SNI 01-7152-2006 European Commission. and Fairweather. a. S. GRAS substances. Biol. IARC Summary and Evaluation. INCHEM. 6.. (1996). vol. Food Technology. Cinnamyl Anthranilate.E. 19. Food Cosmet. http://www. IPCS. C.botanical.com.. F. L. 1965. Matters Dealing with Thermal Process Flavourings. G. D. Austin. 44-45. Flavour and Extract Manufacturers Association of the United States. Modern herbal.. Lansdown. R. Lee. FCC IV. B. Ethyl 3-phenyl glycidate. Gonzalez. http://www. Henriette’s Herbal Hompage. B. On Flavourings and Food Ingredients with Flavouring Properties for Use in and on Foods. Food Cosmetics Toxicology. IOFI.purdue. Diethylene glycol. 1995. IARC Summary and Evaluation. Grieve M. Horozon Aromatics. [Pharmacologic activity of the aqueous wood extract from Quassia amara (Simurabaceae) on albino rats and mice] Rv. (2000). and Gangolli.vet. 689-705. IOFI Guidlines for Safety Evaluation of Thermal Process Flavourings. Toxicol. IPCS.html. G. Trop.2-Diol (3-MCPD). Dispensatory. Sassafras Fragrances. INCHEM. Cinnamyl Anthranilate. (1996) “Short term feeding study with diethylene glycol monoethyl ether in rats” . M. Oser. M. vol. (1968) Short-term Toxicity of Diethylene glycol monothyl ehter in the Rat. Code of Practice for The Flavour Industry. Vol. 4. III. Monograph Specifications. Botanical. IOFI Guidlines for The Production and Labelling of Process Flavourings. DG Sanco Working Document.A.htm. 12 November 2001. Common. (1983). International Agency for Research on Cancer (IARC). D.. Felter. INCHEM. Available at: http://www. International Flavours and Fragrances. M.. P. Program.. 31. SCF/CS/CNTM/OTH/17 Final. Birch. Oleum Tanaceti Oil of Tansy.. Mouse and Pig. List of Carrier Solvents and Supports for Flavourings.65. F. 47-50. 381. Pennyroyal Oil. I. Tansy. L. Opinion of The Scientific Committee on Food on 3-monochloro-Propane-1. J. Laws of Malaysia. (1898). IPCS. 118 dari 122 Available at: . Grasso. Grieve. 151-197..com/botanical. Council of Europe Publishing. Recent progress in the consideration of flavoring ingredients under the Food Additives Amendment. F.. 1st Januari 1999.. IOFI Guidlines for The Preparation of Smoke Flavourings.botanical. Adopted on 30 May 2001. Updating the SCF Opinion of 1994. IPCS. IOFI.html. INCHEM. P. JECFA evaluations 2-Butanone. Colley. H. S.S. Kings Americans The FEMA GRAS Food Act 1983 (Act 281) and Regulations. Summaries and evaluations Nitrobenzene..U. 77.

IPCS. 1989. IPCS.htm. 1997. IPCS. IPCS. INCHEM. IPCS. WHO Food Additives Series 16. IPCS. Evaluation. ICSC: 0554. IPCS. INCHEM.inchem. JECFA evaluations p-Propylanisole. Pulegone and related substances. 12 November 2001. IPCS.org/documents/jecfa/jecmono/v16je04. Coumarin.available at: IPCS. JECFA reports Results of 2000. INCHEM. INCHEM. and 2002 Meeting.JECFA evaluations Eugenyl methyl ether. IPCS. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. IPCS. INCHEM. INCHEM. JECFA Evaluations Hydrocyanic Acid. JECFA. IPCS. 12 November 2001.SNI 01-7152-2006 IPCS. IPCS. WHO Food Additives Series 16. WHO Food Additives Series 28. 12 November 2001. http://www. JECFA Reports Results of 1996. Benzyl Alcohol. JECFA evaluations Benzo[a]pyrene. Published in FNP 19. Safrole. WHO Food Additives Series 16. JECFA evaluations Estragole. Published FNP25 supersending the earlier spesifications published in FNP19 (1981). INCHEM. (1983).org/documents/jecfa/jecmono/v16je10. INCHEM. Available at: IPCS. Availabel at: IPCS. International Agency for Research on Cancer (IARC). http://www. Coumarin. 10. INCHEM. vol. 2001. WHO Food Additives Series 10. Quinine.inchem. 119 dari 122 . Diethelene Glycol Monoethyl Ether. 1998. INCHEM. PIM 139. Ruta graveolens L. JECFA. JECFA Reports Results of 2003 Meetings. JECFA evaluations Thujone. Estragole. 1976. INCHEM. 16. INCHEM. INCHEM. INCHEM. 12 November 2001. INCHEM. 1981. vol. IPCS. INCHEM. ICSC: 0065. INCHEM.org/documents/pims/chemical/pim290. (1982). IPCS. IPCS. Isopropyl Alcohol. IPCS. Benzo[a]pyrene. 12 November 2001. and 1999 Meeting. Cocaine. IPCS. International Agency for Research on Cancer (IARC). WHO Food Additives Series 46. ICSC: 0833. Smoke Flavourings.htm. Vol. WHO Food Additives Series 22. INCHEM. (1976). Dihyrocoumarin. JECFA evaluations Benzyl Alcohol. Cinnamyl Anthranilate. β-Asarone. JECFA. 10. 1993. IARC Summary and IPCS. INCHEM. IPCS.htm. INCHEM. INCHEM. PIM 290. 35th session. Safrole. IARC Summary and evaluation. IARC Summary and evaluation. 32. IPCS. WHO Food Additives Series 16. WHO Food Additives Series 30. INCHEM. IPCS.inchem. Isosafrole and Dihydrosafrole. INCHEM. INCHEM. Isopropyl Alcohol. WHO Food Additives Series http://www. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. IPCS. 12 November 2001. 12 November 2001. Nitrobenzene. INCHEM. 12 November 2001. Benzo[a]pyrene. WHO Food Additives Series 30. INCHEM.

and Bolarinwa. No..J. JECFA. A. A. Noveon kala. M. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. NCI.I. (2000). European Communities (Flavourings for Use in Foodstuffs). NTP No. Carcinogenesis Technical Report Series No. Raji. L. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan. G. 120 dari 122 . Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan. Backer.dan Gizi Pangan Peraturan Menteri Perdagangan R. Cinnamyl anthranilate. Ethyl 3-phenylglycidate.A. p.. 2001. Departemen Pendidikan Nasional.. J. No.] Wild. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Flabbẽe. and Roman. Mutagenicity evaluation of compound FDA 73-59.05.Cosmet.. 14.fao. 71. J..org/jecga/additive_specs/docs/0/additive-0181. 285-290. Jounal of hazardous materials. No.F.Toxicol. (1996). Bioassay of cinamyl anthranilate for possible carcinogenicity. European Journal of Internal Medicine. Noveon. S. National Cancer Institute. Maximum Limits for Certain Undesirable Substances Present in Foodstuffs as Consumed as a Result of the Use of Flavourings.T. Kanny. Edisi Ketiga.5.L. M.and β-Santonin. Litton Bionetics Inc. 223-74-2104. 15 June 1975. No. (1997). 61. Institut de Physiologie de I’Université.. Benzyl Alcohol. 14. 751-752. D. p. RIFM – FEMA Database. Report problems and Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK. Moneret-Vautrin. Risk of hydrocyanic acid release in the electroplating industry. vol. 2-Butanone.. Koch.SNI 01-7152-2006 JECFA. 395-407. 1975. Metabolism of aloin the influence of nutrition. Journal of pharmaceutical and biomedical analysis. Antipyretic activity of α. Journal of Ethmopharmacology. M. Benzyl Alcohol. 1-10. FDA Contract No. No. Elsevier. Communication et relation au Comité por I’Etude des Bossions Alcooliques Aromatisées de la Federvini. Mutu. and Robotto. D. Morisset.00617 tentang Pemberlakuan Kodeks Makanan Indonesia. N.). Dihydrocoumarin Flavouring. pp.. Baldi. Life science. 23 Januari 2004.. A.. 23. Available at: http://apps3. Allergy to quinine and tonic water. Material Safety Data Sheet. Carron.I No. 395-396. RIFM – FEMA Database. JECFA. Fragrance raw materials monograph. 80-90.fao. Katzer G. Montero. Ruggiero. Mallinckrodt chemical. 13. 1975.htm. Ethyl Phenylglycidate. G. 2000. Moran. p-Propylanisole.org/jecfa/additive_specs/docs/0/additive-0355..00. Martin. R. Special issue II. Balai Pustaka.N. O’rourke. Elsevier. M. suggestions. 2001. Fd. 1335-1338.. J. R. p. Opdyke. p. 196. Milan. Tonka Bean (Dipteryx odorata [Aubl. 1067-1074. Product information bulletin. A. 04/M-DAG/PER/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya Piccinini. (1988). Margaria. 11. Antifertility activity of quassia amara in male rats in vivo study. Availabel at: http://apps3. 1963. G. p. Analisi dei gruppi lattinici di una quassina greggia. (2003).. No. Elsevier. inc. Depatemen Pendidikan Nasional.. Cinnamyl anthranilate (Litton Bionetics Inc. Peraturan Menteri Kesehatan R. 1980. Y.htm.

3. 224. Carpenter.. PNAS. R.M..B.A.J. Safrole. Smith.L.aros. a multidrug pump inhibitor. Ilsi Research Branches Publications Meetings. W. 1973. Pargamon. RIFM monograph.. Stoner.. J. RIFM – FEMA Database. Material information on p-propylanisole. Synergy in a medicinal plant: Antimicrobial antion of berberine potentiated by 5’nethoxyhydnocarpin. Summary of Evaluations Performed by th JECFA.htm. 286. C. 14331437. Watson. 29 Januari 2003. and Shaffer. Res.. Polzin. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. C. 263-271. Chiang.R. P. J. Smithe. E. Birch tar oil. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. and Ashley. P.. Calafat. (2004). J. R. RIFM – FEMA Database. Safety Evaluation on Natural Flavour Complexes. Cinnamyl Anthranilate. RIFM. Ilsi Research Branches Publications Meetings.SNI 01-7152-2006 RIFM . Fd Chem Toxic. Material information on Methyl β-naphthyl ketone. Solanum dulcamara seeds. Genotoxicity of safrole-related chemical in microbial test systems.edu/dendro/dendrology/syllabus/syllabus/sdulcamara. Cancer Res. 33. 303-317. Metha.. 4. 127-140. 30693085. (2002).M. Reports of the Scientific Committee for Food (thirty-sixth series). 21..htm. C. Food and Chemical Toxicology 41. No. p. Material information on pulegone.. pp. 1973. Jensen. S. et.. Schiestl. G.... Caldwell.L.. 427-436. S. Chem toxic. D.v11. L. L et.. Unpublished report No. and Hastings. piperonal and pulegone in Indian bidi cigarette tobacco. Toxicology Letters 149 (2004) 197-27.N. J. Hutt. vol.H. Fd.. Isopropyl Alcohol.al. T.FEMA Database. Ethyl phenylglycidate. 97. Opinion on 3-monochloroprophane-1. (1983).cnr. D. B. SCF. A. F.R. Expressed 16 December 1994. Gietz.A. Test for carcinogenicity of food additives and chemotherapeutic agents by the pulmorary tumor response in Strain A mice.C. Tawara. and Methyleugenol Induce Intrachromosomal Recombination in Yeast.. No. p. Zenewicz. 851-870. RIFM – FEMA Database.M. Safety assessment of allylalkoxybenzene derivatives used as flavouring substances methyl eugenol and estragole. Bitter nightshade Solanaceae dulcamara.2-diol (3-MCPD). 101. coumarin. P.. Lorenz. R. R. et al. H.net/lambo/dulcamara/dulcamara01. C. 7-31 by the Mellon Institute of Industrial Research. 1994. S. p. and Lewis. J. Res.vt. R.A. (1944) “Two Year oral doses of Carbitol to rats”.. J. (2000). (2003). Sezikawa. p.H. A. G. Stanfill.. Vol. Mutat...R. and Peterson.al. and Shibamoto. Concentrations of nine alkenylbenzenes.L.R. Brown. K. Ilsi Research Branches Publications Meetings. D. 1037 Sangster. Stermitz. 1982. 1989. and Smith. Seiler. Mutat. FCT. The metabolism of pPropylanisole in the rat and mouse and its variation with dose. Eugenol. Smith. Material information on Estragole. 40. J. Elsevier.. No.. Chan. Available at: http://www2. F.. D. Available at: http://www. No. Methyl beta-Naphthyl Ketone. RIFM – FEMA Database. 121 dari 122 .

No.. vol. Available at: Vongpatanasin. Effects of cocaine on heart rate variability in healthy subjects. TGSC. W. High performance liquid chromatographic profiles of aloe constituents and determination of aloin in beverages. Ilsi Research Summary of Evaluations Performed by the JECFA. Toxic Substances Hydrology Program. (1983). Flavourings. King. Masotti.T. 2003. p/ 707-719. National Library of Medicine. Branches Publications Meetings. Geological Survey.gov. The British Pharmaceutical Codex. G. P.nih.. Acidum Agaricum. hedeoma pulegioides. (1911). Wiley-VCH. U. Wild.toxnet. Asam pirolignous. p. pennyroyal. WeiheimNew York – Chishester – Brisbane – Singapore – Toronto. 122 dari 122 . 93. The American jounal of cardiology. 21. Zonta. Ziegler and Ziegler. Study of artificial flavouring substances for mutagenicity in the salmonella/microsome basc and micronucleus tests.S. Ilsi Research Branches Publications Meetings. No. Monograph. (1995). vol.. Safrole and Isosafrole. The Registry of Toxic Effect of Chemical Substances. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances. K. Material safety data sheet for Birch tar oil. Bogoni. (2004). 718. U. Quinine. Diethylene Glycol. P.. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances.G. Taylor. and Micali. D. Gocke.S.. National Institutes of Health. F. M. http://www. Elsevier. and Victor. R... E. Department of the Interior. Journal of chromatography A.A.SNI 01-7152-2006 Summary of Evaluations Performed by the JECFA. 6. Oils. 99-106. Fd ChemToxic. Flavourings Regulation. Published by direction of the Council of the Pharmaceutical Society of Great Britain. 1998. Isopropyl Alcohol. Sulfate. J. NIOSH. and Eckhardt.nlm. with reference to the EEC regulation for flavouring substances.. TOXNET.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful