P. 1
SNI 01-7152-2006 Aditif Persyaratan Perisa Dan Penggunaan Dalam Produk Pangan

SNI 01-7152-2006 Aditif Persyaratan Perisa Dan Penggunaan Dalam Produk Pangan

|Views: 1,203|Likes:
Published by Fatma Nur Laela

More info:

Published by: Fatma Nur Laela on Jan 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

pdf

text

original

SNI 01-7152-2006

Standar Nasional Indonesia

Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan

ICS 67.220.20

Badan Standardisasi Nasional

SNI 01-7152-2006

Daftar isi

Daftar isi ........................................................................................................................... Prakata ............................................................................................................................ . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ruang lingkup ........................................................................................................... Acuan normatif .......................................................................................................... Istilah dan definisi ..................................................................................................... Jenis perisa ............................................................................................................... Pengelompokan perisa ............................................................................................. Penggunaan perisa ................................................................................................... Ajudan perisa (Flavoring adjunct) ............................................................................. Senyawa penanda .................................................................................................... Larangan ...................................................................................................................

i ii 1 1 1 2 3 3 11 17 18 18 19 25 116

10 Ketentuan label ......................................................................................................... Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan penggunaannya dalam produk pangan ..

Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa ........................................................... Bibliografi .........................................................................................................................

Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17

Batasan aloin dalam produk pangan ................................................................ Batasan asam agarat dalam produk pangan ................................................... Batasan asam sianida dalam produk pangan................................................... Batasan beta asaron dalam produk pangan .................................................... Batasan berberin dalam produk pangan .......................................................... Batasan estragol dalam produk pangan .......................................................... Batasan hiperisin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kafein dalam produk pangan ............................................................. Batasan kuasin dalam produk pangan ............................................................. Batasan komarin dalam produk pangan ......................................................... Batasan kuinin dalam produk pangan ............................................................ Batasan minyak rue dalam produk pangan .................................................... Batasan safrol dalam produk pangan ............................................................. Batasan iso-safrol dalam produk pangan ....................................................... Batasan alfa santonin dalam produk pangan ................................................ Batasan spartein dalam produk pangan ........................................................ Batasan tujon dalam produk pangan ..............................................................
i

4 4 5 5 6 6 7 7 7 8 8 8 9 9 10 10 11

..............................SNI 01-7152-2006 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan .......................... Pelarut pengekstrak dan bahan penolong ................................................................................................................. 11 11 16 ii . Pelarut dan pelarut pembawa .....................................................

dan terakhir dirumuskan dalam rapat konsensus nasional di Jakarta tanggal 7 Oktober 2005 yang dihadiri oleh wakil-wakil produsen. konsumen. asosiasi. perguruan tinggi.memberikan jaminan mutu produk pangan. serta instansi pemerintah terkait. sehingga dapat meningkatkan daya saing .memberikan pedoman penggunaan perisa bagi industri perisa dan industri pangan .Persyaratan Perisa dan Penggunaan dalam Produk Pangan disusun oleh Panitia Teknis 67-02 Bahan Tambahan Pangan dan Kontaminan.SNI 01-7152-2006 Prakata SNI Bahan Tambahan Pangan Perisa. prakonsensus. Standar ini telah dibahas dalam rapat-rapat teknis.mendukung perkembangan industri pangan. Penyususan standar ini bertujuan untuk: . iii .memberikan perlindungan kepada konsumen terhadap dampak merugikan akibat penyalahgunaan penggunaan perisa .

.

tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3. SNI 01 – 7111.3-2005. istilah dan definisi. SNI 01 – 7111. SNI 01 – 7111.1 bahan tambahan pangan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan 3. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap. 3 Istilah dan definisi 3. Pengganti air susu ibu. 2 Acuan normatif WHO Technical Report Series. pengelompokan perisa.2-2005. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. dengan pengecualian rasa asin. tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan tidak diperlakukan sebagai bahan pangan 3. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 1: Bubuk instan. penggunaan perisa. manis dan asam. dengan atau tanpa ajudan perisa (flavouring adjunct) yang digunakan untuk memberi flavor. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak.2 perisa bahan tambahan pangan berupa preparat konsentrat.3 senyawa perisa senyawa kimia tertentu yang mempunyai sifat flavor.1-2005.4-2005. SNI 01 – 3955. JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) meeting report on Evaluation of Certain Food Additives and Contaminants.4 batas maksimum jumlah maksimum yang diizinkan terdapat dalam produk pangan 1 dari 122 . larangan.SNI 01-7152-2006 Bahan tambahan pangan – Persyaratan perisa dan penggunaan dalam produk pangan 1 Ruang lingkup Standar ini meliputi acuan normatif. Standar ini berlaku untuk industri perisa dan industri pangan yang menggunakan perisa sebagai bahan tambahan pangan. dan ketentuan label. SNI 01 – 7111. senyawa penanda. jenis perisa. Formula lanjutan. SNI 01 – 4213. ajudan perisa.

pelarutan.9 nomor CAS (Chemical Abstract Service) sistem indeks atau registrasi senyawa kimia yang diadopsi secara internasional. bahan baku aromatik alami.1 Senyawa perisa alami adalah senyawa perisa yang diperoleh melalui proses fisik.7 ADI (Acceptable Daily Intake) atau asupan harian yang dapat diterima jumlah maksimum senyawa perisa dalam miligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan 3. dan selanjutnya dikondensasi serta difraksinasi untuk mendapatkan flavor yang diinginkan. pengenceran. senyawa perisa artifisial. 2 dari 122 .1. perisa asap.4 Perisa asap adalah preparat perisa yang diperoleh dari kayu keras termasuk serbuk gergaji. Bahan tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung.1. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan pangan tumbuhan maupun hewan yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. senyawa perisa identik alami. herba dan sumber tumbuhan lainnya yang tepat untuk aplikasi yang dimaksud.8 ajudan perisa (flavouring adjunct) bahan tambahan yang diperlukan dalam pembuatan. dan perisa hasil proses panas.2 Bahan baku aromatik alami adalah bahan baku yang berasal dari tumbuhan atau hewan yang cocok digunakan dalam penyiapan/pembuatan/pengolahan perisa alami. 4. penyimpanan.5 CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik) suatu pedoman yang diterapkan untuk memproduksi pangan yang memenuhi standar mutu atau persyaratan yang diterapkan secara konsisten 3. 4. yang diperoleh secara langsung atau setelah melalui proses pengolahan. Bahan baku tersebut termasuk bahan pangan. sehingga memungkinkan untuk mengidentifikasi setiap senyawa kimia secara spesifik 4 Jenis perisa 4. dan penggunaan perisa 3.3 Preparat perisa adalah bahan yang disiapkan atau diproses untuk memberikan flavor yang diperoleh melalui proses fisik.SNI 01-7152-2006 3.1. tempurung dan tanaman berkayu yang tidak mengalami perlakuan dan tidak terkontaminasi melalui proses pembakaran yang terkontrol atau distilasi kering atau perlakuan dengan uap yang sangat panas.6 senyawa bioaktif senyawa yang terdapat pada tanaman yang mempunyai efek fisiologis tetapi bukan zat gizi 3. 4. mikrobiologis atau enzimatis dari bahan tumbuhan atau hewan. preparat perisa.1. 4. Senyawa perisa tersebut sesuai untuk konsumsi manusia pada kadar penggunaannya tetapi tidak ditujukan untuk dikonsumsi langsung.1 Perisa terdiri dari tujuh jenis yaitu senyawa perisa alami. rempah-rempah.

dan perisa hasil proses panas.2 Perisa dapat digunakan dalam produk pangan secara tunggal atau campuran. 5 Pengelompokan perisa 5.1.6 Senyawa perisa artifisial adalah senyawa perisa yang disintesis secara kimia yang belum teridentifikasi dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia. 3 dari 122 .0. 5.1. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180 °C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8. baik setelah diproses atau tidak. 5.1 ditujukan untuk pelabelan produk pangan.2 Perisa identik alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa identik alami dan dapat mengandung senyawa perisa alami.1.1 Perisa dikelompokkan berdasarkan sumber dan proses pembuatannya menjadi empat kelompok menjadi perisa alami. bahan baku aromatik alami.1 Perisa alami adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa alami. perisa artifisial. pada kondisi yang setara dengan suhu dan waktu tidak lebih dari 180°C dan 15 menit serta pH tidak lebih dari 8.1.3 Perisa artifisial adalah perisa yang dapat terdiri dari satu atau lebih senyawa perisa artifisial.4 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan.1. 5. 4. 4.7 Perisa hasil proses panas adalah preparat perisa dari bahan atau campuran bahan yang diijinkan digunakan dalam pangan. 6 Penggunaan perisa 6. 5. bahan baku aromatik alami.1.0.5 Senyawa perisa identik alami adalah senyawa perisa yang diperoleh secara sintesis atau diisolasi melalui proses kimia dari bahan baku aromatik alami dan secara kimia identik dengan senyawa yang ada dalam produk alami dan ditujukan untuk konsumsi manusia. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa artifisial.2 Pengelompokkan sebagaimana dimaksud dalam butir 5.3 Penggunaan perisa yang diizinkan didasarkan atas CPPB.1. dibatasi dengan nilai ADI dan dibatasi dengan kandungan bioaktifnya. 6. preparat perisa dan perisa asap serta tidak boleh mengandung senyawa perisa identik alami dan senyawa perisa artifisial. perisa identik alami. baik setelah diproses atau tidak. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas. atau yang secara alami terdapat dalam pangan atau diijinkan digunakan dalam pembuatan perisa hasil proses panas. 6. 5.1 Perisa dapat digunakan bersama-sama dengan komponen atau senyawa kimia yang diizinkan.SNI 01-7152-2006 4.

2 sesuai dengan Tabel 2.3.3 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6.5.3. 5133-19-7 Aloin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.1 Senyawa perisa sebagaimana tercantum dalam Lampiran A Tabel A.5.3. 6.3.5.1 yang berdasarkan kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) mempunyai batasan penggunaan sesuai dengan ADI. Nomor CAS.2.1 diizinkan untuk digunakan.1 6.3. 6.2 Asam agarat hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. 6.1 yang tidak termasuk dalam butir 6.2.1 dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 6.5.3.2.2 diizinkan untuk digunakan dengan batas penggunaan sesuai dengan CPPB.3. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Minuman beralkohol 6.1.3.3 Batas maksimum aloin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.1 sebagaimana tercantum pada butir 6.5. 6.3.5 Perisa yang digunakan dalam produk pangan dapat mengandung senyawa bioaktif yang jumlahnya dalam produk pangan dibatasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 sampai dengan Tabel 17.3.4 Tabel A. 6.2.3.3. 6.3. 6.5.1 Aloin (aloin).5.SNI 01-7152-2006 6.2 sesuai dengan Tabel 1.2 Aloin boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 20 20 Produk pangan 4 dari 122 .3. 666-99-9 Asam agarat tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5. Nomor CAS.1.3.5.1. Tabel 2 No. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.1 50 No.1 0.3. 1 2 Makanan Minuman Batasan asam agarat dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).1 Asam agarat (agaric acid). 6.3. Tabel 1 Batasan aloin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0.1.2 Senyawa perisa sebagaimana dimaksud dalam butir 6. maka batasan penggunaannya mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh JECFA.3 Batas maksimum asam agarat dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3.5.2 6.

3 Produk pangan Pengecualian pada: .5.1 Beta asaron tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 6.4.3. 74-90-8 Asam sianida tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3 Batas maksimum asam sianida dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.5.2 sesuai dengan Tabel 3.Produk yang mengandung kacangkacangan dan umbi-umbian 6.4 Beta asaron (β-asarone). 6.3.5.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 100 100 6. dihitung terhadap produk siap konsumsi.Minuman beralkohol . Nomor CAS. 6.3.Makanan yang mengandung jamur Batas maksimum (mg/kg).3.1 Asam sianida (hydrocyanic acid).2 sesuai dengan Tabel 4.4.3.2 Beta asaron hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami. 6. 1 2 3 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada minuman beralkohol dan bumbu dalam makanan ringan 5 dari 122 .SNI 01-7152-2006 Tabel 2 (Lanjutan) No. Nomor CAS. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman 3 Pengecualian pada: . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.3.5.4.3 6.5.3. 5273-86-9 6.3. Tabel 3 Batasan asam sianida dalam produk pangan Batas maksimum 1 mg/kg 1 mg/kg 25 mg/kg 5 mg/kg 1 % per volume 50 mg/kg No.3.1 1 No.1 0. Tabel 4 Batasan beta asaron dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).2 Asam sianida hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.Sari buah berbiji tunggal .3.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5.Kembang gula .5.4.3.3.3.3.3 Batas maksimum beta asaron dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.Minuman beralkohol .

7.7. kacang-kacangan Ikan dan produk perikanan 6.3.akar.5. 1 2 3 Batasan estragol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 50 50 50 Produk pangan Produk turunan susu Buah olahan.5.3.2 Estragol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.6 6. 6. polong-polongan.3.6.5.5.7.5.6.3.3.2 sesuai dengan Tabel 5.3 Batas maksimum berberin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6. 6 dari 122 .3.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5. 6.1 0.1 10 Produk pangan Makanan Minuman Minuman beralkohol 6.5. Tabel 6 No.5.SNI 01-7152-2006 6. 1 2 3 Batasan berberin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg). Nomor CAS. Tabel 5 No.5.3. Nomor CAS.3 Batas maksimum estragol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.2 sesuai dengan Tabel 6.3.5 6. 6.5.2 sesuai dengan Tabel 7.5.5. 50-32-8 Berberin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.7.6. 6. Nomor CAS. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. 548-04-9 Hiperisin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.7 6.3.5.3 Batas maksimum hiperisin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.5.6.2 Berberin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.5. sayuran termasuk jamur. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.3.1 Hiperisin (hypericine).1 Estragol (estragole).3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3.1 Berberin (berberine). 140-67-0 Estragol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 6.3.2 Hiperisin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.5.5.3. 6.3.

1 6.8.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.5.Minuman beralkohol 6.10.5.Kembang gula.3. 91-64-5 Komarin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3.3.5. 1 2 3 Batasan kuasin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg). Nomor CAS. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 5 5 10 50 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . Nomor CAS.SNI 01-7152-2006 Tabel 7 No.3.1 Kuasin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.Kembang gula pastilles . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0.3.3.Minuman beralkohol 6.9.2 sesuai dengan Tabel 10. 1 2 3 Batasan hiperisin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).8 6.3. Batas maksimum kafein dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 8.3. 58-08-02 Kafein boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. Nomor CAS.3.1 0. 7 dari 122 .10. 6. 6.5.5.9 6.5.5. 6.2 Komarin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.1 Komarin (coumarin).10.5.3.5.8.3 Batas maksimum komarin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.10. Produk pangan 1 Makanan 2 Minuman Kuasin (quassine). . pastilles .3.2 Batas maksimum kuasin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 9.2 Kafein (caffein).1 1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .9.10 6. Tabel 8 Batasan kafein dalam produk pangan Batas maksimum 150 mg/hari dan 50 mg/sajian 150 mg/hari dan 50 mg/sajian No. Tabel 9 No. 76-78-8 6.5.

dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 2 2 10 10 10 10 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.Bumbu 6.3.Jus buah lemon Pengecualian pada: . Tabel 12 Batasan minyak rue dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 4 10 No.Kembang gula . 1 2 Batasan kuinin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 0.1 85 85 85 85 85 85 300 Produk pangan Makanan Minuman .12 6. Nomor CAS.3.2 Batas maksimum minyak rue dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 12. 130-95-0 6. 6. Produk pangan 1 Makanan 2 Pengecualian pada: .5. jus dan nektar .Karamel .11 Kuinin (quinine).Minuman non alkohol . 6.Minuman berperisa non alkohol . air mineral.5.3.Minuman beralkohol .Roti dan produk bakeri 8 dari 122 .11. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.12.5.11.3.SNI 01-7152-2006 Tabel 10 No 1 2 3 Batasan komarin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).5.Minuman ringan kecuali air dalam kemasan. Tabel 11 No.12.5.5.1 Kuinin boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.Tonic water and non wine based bitter .3.3.1 Minyak rue (rue oil).Minuman beralkohol 3 6. Nomor CAS. 8014-29-7 Minyak rue boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.Permen karet .2 Batas maksimum kuinin dalam produk pangan sesuai dengan Tabel 11.

dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.3 Batas maksimum iso-safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.13.5.2 sesuai dengan Tabel 13. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi. Tabel 13 No.3.Makanan pencuci mulut berbahan dasar susu .5.2 sesuai dengan Tabel 14.3. 94-59-7 Safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.14.13.minuman beralkohol dengan kadar < 20% . Nomor CAS. Produk pangan .2 Iso-safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.1 6.3. Nomor CAS. Tabel 14 No.3.14 6.13.5.5. 1 2 3 Batasan safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 5 15 10 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: . 120-58-1 Iso-safrol tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .14.13 6.Kembang gula lunak Safrol (safrole).3.13.5. 6.14.produk daging berbumbu 6.14. 1 2 Batasan iso-safrol dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 1 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .minuman beralkohol dengan kadar < 20% 9 dari 122 .5.5. 6.2 Safrol hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau akibat dari penambahan perisa alami.makanan mengandung bunga pala dan pala .3.5. 6.3. Batas maksimum (mg/kg) 10 10 6.1 Iso-safrol (iso-safrole).3.3 Batas maksimum safrol dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.SNI 01-7152-2006 Tabel 12 (Lanjutan) No.5.3.3.5.

5.3.5.2 Tujon hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.3.3.1 Alfa santonin (α-santonine). 6.16.1 1 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .3.3.5.17 6. Nomor CAS. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi 0. 1 2 3 Batasan alfa santonin dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg).produk daging berbumbu Batas maksimum (mg/kg) 5 10 6. Nomor CAS.16. Nomor CAS.15 6.5. Tabel 16 No. 481-06-1 Alfa santonin tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.5.3 Batas maksimum spartein dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.3. Tabel 15 No.1 Spartein tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan.3.16 Spartein (sparteine).5. 6.15.5. 6917-37-9 6. Produk pangan .3. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.16. 6.15.2 sesuai dengan Tabel 15. 10 dari 122 .2 Spartein hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.2 Alfa santonin hanya boleh terdapat dalam produk pangan secara alami atau sebagai akibat dari penambahan perisa alami.minuman beralkohol dengan kadar > 20% .15.17.16.3.5.3.5.2 sesuai dengan Tabel 16.3.15.1 0.3 Batas maksimum alfa santonin dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.17.3. 6.5.3.Minuman beralkohol dengan kadar > 20% 6.SNI 01-7152-2006 Tabel 14 (Lanjutan) No.1 0.1 Tujon tidak boleh ditambahkan langsung ke dalam produk pangan. 1 2 3 Batasan spartein dalam produk pangan Batas maksimum (mg/kg) 5 0.5.1 Produk pangan Minuman beralkohol Makanan Minuman Tujon (thujon). 546-80-5 6. 6.5.5. dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.

5. Tabel 18 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan No. Tabel 17 Batasan tujon dalam produk pangan No.3. Tabel 19 No. 1 2 Produk pangan Makanan Minuman Pengecualian pada: .minuman beralkohol dengan kadar > 20% . 1 2 3 4 Pelarut dan pelarut pembawa Senyawa Nama Indonesia Ganggang euchema hasil proses 1.bitters (makanan berasa pahit) .1 Ajudan perisa (Flavoring adjunct) Ajudan perisa yang diizinkan tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20.4 Bahan dan atau senyawa yang dilarang digunakan sebagai perisa dalam produk pangan tercantum dalam Tabel 18.2 sesuai dengan Tabel 17.bumbu sage Batas maksimum (mg/kg) 0.17.minuman beralkohol dengan kadar < 20% . dihitung terhadap produk siap dikonsumsi.2-propylene glycol acetates 2-ethyl-1-hexanol Agar agar 11 dari 122 .makanan mengandung sage atau berperisa sage atau campuran keduanya .5 5 10 35 25 250 6.17.SNI 01-7152-2006 6.3 Batas maksimum tujon dalam produk pangan sebagaimana dimaksud pada 6.2-propilen glikol asetat 2-etil-1-heksanol Agar-agar Nama Inggris Processed euchema seaweed 1.5 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Perisa Dulkamara Kokain Nitrobenzen Sinamil antranilat Dihidrosafrol Biji tonka Minyak kalamus Minyak tansi Minyak sasafras 7 7.5.

Acetic acid Lactic acid Fatty acids Mono. bleached starch. glycine. pati dimodifikasi secara fisik dan pati yang diperlakuan dengan enzim amilolitik Diamonium fosfat Dietilen glikol monopropil eter Dimetilpolisiloksan Dipropilen glikol Dipati fosfat d-Tagatos Eritritol Ester asam asetat asam lemak mono. pati dimodifikasi dengan perlakuan asam atau basa.and diglycerides of fatty acids Glycerol ester of wood resin Polyglycerol esters of fatty acids Sucrose esters of fatty acids Ethyl alcohol Ethyl acetate 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 12 dari 122 .dan digliserida Asetilasi dipati adipat Asetilasi dipati fosfat Asetilasi pati teroksidasi Bentonit Benzil alkohol Benzil benzoat beta-Siklodekstrin Bubuk wey Butan-1. roasted or dextrinated starch. pati pucat. glisin. physically modified starch and starch treated by amylolitic enzymes Diammonium phosphate Diethylene glycol monopropyl ether Dimethylpolysiloxane Dipropylene glycol Distarch phospahate d-Tagatose Erythritol Acetic acid esters of mono-and diglycerides of fatty acids Citric acid esters of mono. sistein dan sistin dan garam-garamnya yang tidak mempunyai fungsi tambahan Asam asetat Asam laktat Asam lemak Asam lemak mono. starch modified by acid or alkali treatment.3-diol Dextran Dextrin White or yellow dextrin.dan digliserida ester asam sitrat Ester gliserol damar kayu Ester poligliserol asam lemak Ester sukrosa asam lemak Etil alkohol Etil asetat Nama Inggris Water alpha-Cyclodextrin Aluminium silicate (Kaolin) Ammonium phosphatides Ammonium chloride Ammonium sulphate Alginic acid Amino acids and their salts other than glutamic acid.3-diol Dekstran Dekstrin Dekstrin kuning atau putih. 5 6 7 8 9 10 11 12 Senyawa Nama Indonesia Air alfa-Siklodekstrin Aluminium silikat Amonium fosfatida Amonium klorida Amonium sulfat Asam alginat Asam amino dan garamnya selain asam glutamat. pati panggang atau terdekstrinasi.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. cysteine and cystine and their salts and having no additive function.and diglycerides fatty acids Acetylated distarch adipate Acetylated distarch phosphate Acetylated oxidized starch Bentonite Benzyl alcohol Benzyl benzoate beta-Cyclodextrine Whey powder Butan-1.dan digliserida Asam lemak mono.

43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 Senyawa Nama Indonesia Etil laktat Etil metil selulosa Etil selulosa Etil tartrat Fosfatida dipati fosfat gamma-Siklodekstrin Garam Garam magnesium asam lemak Gom gelan Gelatin Gelatin makan. protein hydrolysates and their salts. hidrolisat protein dan garamnya. protein susu dan gluten Gliseril diasetat Gliseril diester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril monoasetat Gliseril monoester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril triasetat Gliseril triester asam lemak alifatik C6-C18 Gliseril tripropanoat Gliserol Gliserol mono asetat Glisin dan garam natrium Glukosa Gom arab Gom damar Gom gati Gom guar Gom kacang lokus Gom karaya Gom konjak Gom santan Gom tara Hidroksipropil dipati fosfat Hidroksipropil selulosa Hidroksipropilmetil selulosa natrium karboksimetil selulosaIkatan silang Natrium karbolksi metil selulosaIkatan silang Gom selulosa-Ikatan silang Inulin Isoamil asetat Isomalt Isopropil miristat Iso-propilalkohol Nama Inggris Ethyl lactate Ethyl methyl cellulose Ethyl cellulose Ethyl tartrate Phosphated distarch phosphate gamma-Cyclodextrin Salt Magnesium salts of fatty acids Gellanegum Gelatin Edible gelatin.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. milk protein and gluten Glyceryl diacetate Glyceryl diesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl monoacetate Glyceryl monoesters of aliphatic fatty acids C6-C18 Glyceryl triacetate Glyceryl triesters of aliphatic fatty acids C6C18 Glyceryl tripropanoate Glycerol Glycerol mono acetate Glycine and its sodium salt Glucose Gum Arabic Damar gum Ghatti gum Guar gum Locust bean gum Karaya gum Konjac gum Xanthan gum Taragum Hydroxypropyl distarch phosphate Hydroxypropyl cellulose Hydroxypropylmethyl cellulose Cross-linked sodium carboxymethylcellulose Cross linked sodium carboxy methyl cellulose Cross-linked cellulose gum Inulin Isoamyl acetate Isomalt Isopropyl myristate iso-Propylalcohol 13 dari 122 .

SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.dan tri-kalsium orto-fosfat Na. NH4 and Ca alginate Starch Modified starches Starch (sodium) octenyl succinate Starch acetate Acetylated starch Hydroxypropyl starch Mono starch phosphate Oxidized starch Pectins Polidextrose Polyethylene glycol Polyethyleneglycol 6000 Polyoxyethylene sorbitan monolaurate (polysorbate 20) 14 dari 122 . NH4 dan Ca alginat Pati Pati termodifikasi Pati (natrium) oktenil suksinat Pati asetat Pati asetilasi Pati hidroksipropil Mono pati fosfat Pati teroksidasi Pektin Polidekstrosa Polietilen glikol Polietilen glikol 6000 Polioksietilen sorbitan monolaurat (polisorbat 20) Nama Inggris Calcium acetate Calcium phosphates Calcium carbonate Calcium chloride Calcium silicate Calcium sulphate Carrageenan Enzymatically hydrolyzed carboxy methyl cellulose Carboxymethyl cellulose.dan digliserida asam lemak Mono-. Na salt Caseinates and casein Lactitol Lactose Edible fats Lechitins Candelilla wax Carnauba wax Beeswax Magnesium hydroxide carbonate Magnesium carbonate Magnesium chloride Maltitol Maltodextrine Mannitol Methyl cellulose Edible oils Castor oil Hydrogenated vegetable oils Mono.dan diasetil asam tartrat dari mono.and diacetyl tartaric acid esters of mono. 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 Senyawa Nama Indonesia Kalsium asetat Kalsium fosfat Kalsium karbonat Kalsium klorida Kalsium silikat Kalsium sulfat Karagenan Karboksi metil selulosa terhidrolisa secara enzimatis Natrium karboksimetil selulosa Kaseinat dan kasein Laktitol Laktosa Lemak makan Lesitin Lilin kandelila Lilin karnauba Lilin lebah Magnesium hidroksida karbonat Magnesium karbonat Magnesium klorida Maltitol Maltodekstrin Manitol Metil selulosa Minyak makan Minyak kastor Minyak sayur terhidrogenasi Ester mono. di.and diglycerides of fatty acids Mono-.and tri-Calcium orthophosphate Na.di. K. K.

by the action of dilute acid followed by partial neutralization with sodium or potassium salts (‘liquid pectin’) Propylene glycol Propylene glycol alginate Propyl alcohol Hydrolyzed vegetable protein Elemi resin Cellulose. potassium and calcium salts of fatty acids Sorbitan monolaurate Sorbitan monooleate Sorbitan monopalmitate Sorbitan monostearate Nama Indonesia 127 Polioksietilen sorbitan monooleat (polisorbat 80) 128 129 Polioksietilen sorbitan monopalmitat (polisorbat 40) 130 Polioksietilen sorbitan monostearat (polisorbat 60) 131 Polioksietilen sorbitan tristearat (polisorbat 65) 132 Polivinilpirolidon 133 Polivinilpolipirolidon 134 Kalium aluminium silikat 135 Kalium glukonat 136 Kalium karbonat 137 Kalium klorida 138 Kalium sitrat 139 Kalium sulfat 140 Produk mengandung pektin dan turunannya dari apel yang dikeringkan atau kulit buah sitrus atau dari campuran keduanya melalui asam encer dengan cara netralisasi sebagian dengan garam natrium atau kalium (‘pektin cair’) 141 Propilen glikol 142 Propilen glikol alginat 143 Propoil alkohol 144 Protein tumbuhan terhidrolisa 145 Resin elemi 146 Selulosa.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No. enzymatically hydrolysed Sodium citrates Sodium sulphate Sodium. seperti asam sitrat dan amonium hidroksida 148 Silikon dioksida 149 Silitol 150 Sirup sorbitol 151 Natrium aluminium difosfat 152 Natrium aluminium silikat 153 Natrium karboksimetil selulosa. microcristalline Substances having primarily an acid or acidity regulator function. mikrokristalin 147 Senyawa dengan fungsi utama sebagai asam atau pengatur keasaman. such as citric acid and ammonium hydroxide Silicon dioxide Xylitol Sorbitol syrup Sodium aluminium diphosphate Sodium aluminium silicate Sodium carboxymethyl cellulose. hidrolisa secara enzimatis 154 Natrium sitrat 155 Natirum sulfat 156 Natrium. kalium dan garam kalsium asam lemak 157 Sorbitan monolaurat 158 Sorbitan monooleat 159 Sorbitan monopalmitat 160 Sorbitan monostearat 15 dari 122 . or from a mixture of both. Senyawa Nama Inggris Polyoxyethylene sorbitan monooleate (polysorbate 80) Polyoxyethylene sorbitan monopalmitate (polysorbate 40) Polyoxyethylene sorbitan monostearate (polysorbate 60) Polyoxyethylene sorbitan tristearate (polysorbate 65) Polyvinylpyrrolidone Polyvinylpolypyrrolidone Potassium aluminium silicate Potassium gluconate Potassium carbonates Potassium chloride Potassium citrates Potassium sulphate Products containing pectin and derived from dried apple pomace or peel of citrus fruits.

and triacetate Glycerol tributyrate Glycerol tripropionate Hexane Heptane 16 dari 122 .2-Dikloroetana (Dikloroetana) 2-nitropropana Air Amil asetat Amonia dalam metanol/etanol Asam nitrat Aseton Benzil alkohol Benzil benzoat Butan-1-ol Butan-2-ol Butana Butana-1.1.di.3-diol Butil asetat Dibutil eter Dietil eter Dietil sitrat Dietil tartrat di-isopropilketon Diklorodiflorometan Dikloroflorometan Diklorometan Diklorotetrafloroetan Etanol Etil asetat Etil laktat Etilmetilketon (butanon) Gliserol Gliserol mono.1. 161 162 163 164 165 166 167 168 169 Senyawa Nama Indonesia Sorbitan tristearat Sorbitol Sukro gliserida Sukrosa Sukrosa asetat isobutirat Talk Tragakan Trietilsitrat Trigliserida (sintetik) Nama Inggris Sorbitan tristearate Sorbitol Sucro glycerides Sucrose Sucrose acetate isobutyrate Talc Tragacanth Triethylcitrate Triglycerides (synthetic) Tabel 20 No.dan triasetat Gliserol tributirat Gliserol tripropionat Heksana Heptana Nama Inggris 1.2-Trichloroethylene 1.3-diol Butyl acetate Dibutyl ether Diethyl ether Diethyl citrate Diethyl tartrate di-isopropylketone Dichlorodifluoromethane Dichlorofluoromethane Dichloromethane Dichlorotetrafluoroethane Ethanol Ethyl acetate Ethyl lactate Ethylmethylketone (butanone) Glycerol Glycerol mono-di.2-trikloroetilen 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Pelarut pengekstrak dan bahan penolong Senyawa Nama Indonesia 1.SNI 01-7152-2006 Tabel 19 (Lanjutan) No.2-Dichloroethane (Dichloroethane) 2-Nitropropane Water Amyl acetate Ammonia in methanol/ethanol Nitric acid Acetone (dimethyl ketone) Benzyl alcohol Benzyl benzoate Butan-1-ol Butan-2-ol Butane Butane-1.

diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan yang berlaku. b) Dalam produk pangan padat kadarnya tidak boleh lebih dari 50 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku. 8.-butylether Methylene chloride (dichloromethane) Castor oil Nitrous oxide n-Octyl alcohol Pentane Petroleum ether (light petroleum) Propane-1. 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 Senyawa Nama Indonesia Isobutana Isobutanol (2-metilpropan-1-ol) Isoparafinat petroleum hidrokarbon Isopropil alkohol Isopropil miristat Karbon dioksida Metanol Metil asetat Metil propanol-1 Metil ter-butileter Metilen klorida (diklorometana) Minyak kastor Dinitrogen oksida n-Oktil alkohol Pentana Petroleum eter (petroleum ringan) Propan-1. 8 Senyawa penanda 8.2-diol (3-MCPD) adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa hasil proses panas dengan batas maksimum kandungan: a) Dalam produk pangan cair kadarnya tidak boleh lebih dari 20 µg/kg apabila perisa yang dipakai menggunakan hydrolyzed vegetable protein (HVP) sebagai bahan baku.03 µg/kg.2 Ajudan perisa selain yang tercantum dalam Tabel 19 dan Tabel 20 diizinkan digunakan pada perisa apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut: a) Jika termasuk ke dalam golongan bahan tambahan pangan.1 Benzo[a]piren adalah senyawa penanda yang membatasi penggunaan perisa asap dengan batas maksimum kandungan dalam produk pangan tidak lebih dari 0.2-diol Propane-1-ol Propane Cyclohexane Tertiary butyl alcohol Toluene Tridodecylamine Trichlorofluoroethylene Trichlorofluoromethane 7.2 3-monochloropropane-1.2-diol Propan-1-ol Propana Sikloheksana Tersier butil alkohol Toluen Tridodesilamin Triklorofloroetilen Trikloroflorometan Nama Inggris Isobutane Isobutanol (2-methylpropan-1-ol) Isoparaffinic petroleum hydrocarbons Isopropyl alcohol Isopropyl myristate Carbon dioxide Methanol Methyl acetate Methyl propanol-1 Methyl tert. 17 dari 122 . b) Jika termasuk ke dalam golongan bahan pangan. diizinkan digunakan dengan mengikuti peraturan bahan tambahan pangan yang berlaku.SNI 01-7152-2006 Tabel 20 (Lanjutan) No.

3-2005. SNI 01-7111. Formula lanjutan.2-2005. 10. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – Bagian 2: Biskuit. 9. 18 dari 122 .1-2005. SNI 01-7111. 10 Ketentuan label 10.2 Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula lanjutan dan makanan pendamping ASI.4-2005. SNI 01-7111. kecuali yang telah ditetapkan dalam SNI 01-4213-1995. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 3: Siap masak.SNI 01-7152-2006 9 9. SNI 01-7111.2 Pencantuman label harus memenuhi ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 4: Siap santap.1 Larangan Dilarang menggunakan perisa pada produk susu formula bayi.1 Label produk pangan yang menggunakan perisa harus mencantumkan keterangan tentang perisa sekurang-kurangnya nama kelompok perisa dalam komposisi bahan atau daftar bahan yang digunakan. Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) – bagian 1: Bubuk instan.

274 09.078 09.054 09.147 09.741 09.244 09.727 02.097 09.210 02.093 09.233 09.701 09.059 09.493 09.001 09. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Nama Senyawa allyl propionate allyl butyrate allyl hexanoate allyl heptanoate allyl octanoate allyl nonanoate allyl isovalerate allyl sorbate allyl 10-undecenoate allyl tiglate allyl 2-ethylbutyrate allyl cyclohexaneacetate allyl cyclohexanepropionate allyl cyclohexanebutyrate allyl cyclohexanevalerate allyl cyclohexanehexanoate allyl phenylacetate allyl phenoxyacetate allyl cinnamate allyl anthranilate allyl 2-furoate benzaldehyde benzyl acetate benzyl benzoate benzyl alcohol ethyl formate ethyl acetate ethyl propionate ethyl butyrate ethyl pentanoate ethyl hexanoate ethyl heptanoate ethyl octanoate ethyl nonanoate ethyl decanoate ethyl undecanoate ethyl dodecanoate ethyl tetradecanoate ethyl hexadecanoate ethyl octadecanoate ethanol isoamyl formate (3-Methylbutyl formate) JECFA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 19 dari 122 EC 09.004 05.111 09.146 09.107 09.072 09.411 09.312 09.104 09.790 09.469 09.1 Senyawa Perisa yang diizinkan untuk digunakan No.010 09.162 FEMA 2040 2021 2032 2031 2037 2036 2045 2041 2044 2043 2029 2023 2026 2024 2027 2025 2039 2038 2022 2020 2030 2127 2135 2138 2137 2434 2414 2456 2693 2462 2439 2437 2449 2447 2432 3492 2441 2445 2451 3490 2419 2069 .121 09.489 09.482 09.498 09.180 09.492 09.013 09.014 09.SNI 01-7152-2006 Lampiran A (normatif) Perisa yang diizinkan untuk digunakan Tabel A.719 13.060 09.119 09.038 09.099 09.410 09.109 09.

076 09.048 09.079 09.024 09.070 09.1 (Lanjutan) No.421 09.033 09.471 09.055 09.110 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.431 09.212 09.011 09.6-octadien-1-yl 2ethylbutanoate Geranyl 2-ethylbutyrate formic acid JECFA 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 EC 09.419 09.129 09.463 09.003 09.078 09.136 09.927 09.465 09.049 09.120 09.453 09.001 FEMA 2055 2082 2060 2075 2080 2078 3507 2085 3505 2057 2314 2514 2776 2984 2311 2509 2773 2981 2316 2517 2777 2986 2312 2512 2512 2982 2317 2515 2313 2513 2775 2983 2518 2778 2987 3339 2487 20 dari 122 .048 09.169 09.530 02. 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Nama Senyawa isoamyl acetate (isopentyl acetate) isoamyl propionate 3-Methylbutyl propionate isoamyl butyrate 3-Methylbutyl butyrate isoamyl hexanoate 3-Methylbutyl hexanoate isoamyl octanoate 3-Methylbutyl octanoate isoamyl nonanoate isoamyl isobutyrate Isopentyl isobutyrate isoamyl isovalerate 3-Methylbutyl 3-methylbutyrate isoamyl 2-methylbutyrate Isopentyl 2-methylbutyrate isoamyl alcohol Isopentanol citronellyl formate geranyl formate neryl formate rhodinyl formate citronellyl acetate geranyl acetate neryl acetate rhodinyl acetate citronellyl propionate geranyl propionate neryl propionate rhodinyl propionate citronellyl butyrate geranyl butyrate neryl butyrate (EU name) rhodinyl butyrate citronellyl valerate geranyl hexanoate citronellyl isobutyrate geranyl isobutyrate neryl isobutyrate rhodinyl isobutyrate geranyl isovalerate neryl isovalerate rhodinyl isovalerate 3.213 09.128 09.7-dimethyl-2.515 08.012 09.141 09.151 09.067 09.424 09.

161 09.011 02.163 09.029 02.024 05.006 05.016 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.010 08.040 05.002 05.007 02.004 09.014 08.159 09.002 08.002 09.008 08.075 09.015 09.012 05.010 02.028 02.034 08.073 09.004 05.003 02.009 08.005 02.023 09.001 08.009 02.031 08.007 05.003 08.021 05.057 05.1 (Lanjutan) No.011 08.074 09.846 09.009 08. 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 Nama Senyawa acetaldehyde acetic acid propyl alcohol (Propan-1-ol) Propionaldehyde (Propanal) propionic acid butyl alcohol (butan-1-ol) Butyraldehyde (butanal) butyric acid amyl alcohol (pentan-1-ol) Valeraldehyde (Pentanal) valeric acid hexyl alcohol hexanal hexanoic acid heptyl alcohol heptanal heptanoic acid 1-octanol octanal octanoic acid nonyl alcohol nonanal nonanoic acid 1-decanol decanal decanoic acid undecyl alcohol undecanal undecanoic acid lauryl alcohol (dodecan-1-ol) lauric aldehyde (dodecanal) lauric acid (dodecanoic acid) Myristaldehyde (myristaldehyde) myristic acid (tetradecanoic acid) 1-hexadecanol palmitic acid (hexadecanoic acid) stearic acid (octadecanoic acid) propyl formate butyl formate n-amyl formate (pentyl formate) hexyl formate heptyl formate octyl formate cis-3-hexenyl formate isobutyl formate methyl acetate propyl acetate butyl acetate hexyl acetate JECFA 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 EC 05.002 02.005 05.025 08.164 09.032 08.006 FEMA 2003 2006 2928 2923 2924 2178 2219 2221 2056 3098 3101 2567 2557 2559 2548 2540 3348 2800 2797 2799 2789 2782 2784 2365 2362 2364 3097 3092 3245 2617 2615 2614 2763 2764 2554 2832 3035 2943 2196 2068 2570 2552 2809 3353 2197 2676 2925 2174 2565 21 dari 122 .008 05.042 02.005 08.

139 09.166 09.091 09.065 09.117 09.025 09.043 09.009 09.098 09.126 09.214 09.148 09.286 07.066 09.270 09.040 09.010 09.005 09.122 09.096 09. 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 Nama Senyawa heptyl acetate octyl acetate nonyl acetate decyl acetate lauryl acetate cis-3-hexenyl acetate trans-3-heptenyl acetate 10-undecen-1-yl acetate isobutyl acetate 2-methylbutyl acetate acetone 2-ethylbutyl acetate methyl propionate propyl propionate butyl propionate hexyl propionate octyl propionate decyl propionate cis-3.047 09.045 09.064 09.125 09.114 FEMA 2547 2806 2788 2367 2616 3171 3493 3096 2175 3644 3326 2425 2742 2958 2211 2576 2813 2369 3778 2212 2693 2934 2186 2059 2568 2549 2807 2368 3402 2187 2752 2217 2949 2201 2074 2572 3403 2202 2705 2948 2199 2073 2810 2200 2728 2079 2575 2553 2811 .118 09.038 09.022 09.063 09.and trans-2-hexenyl propionate isobutyl propionate methyl butyrate propyl butyrate butyl butyrate n-amyl butyrate hexyl butyrate heptyl butyrate octyl butyrate decyl butyrate cis-3-hexenyl butyrate isobutyl butyrate methyl valerate butyl valerate propyl hexanoate butyl hexanoate n-amyl hexanoate hexyl hexanoate cis-3-hexenyl hexanoate isobutyl hexanoate methyl heptanoate propyl heptanoate butyl heptanoate n-amyl heptanoate octyl heptanoate isobutyl heptanoate methyl octanoate n-amyl octanoate hexyl octanoate heptyl octanoate octyl octanoate JECFA 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 22 dari 122 EC 09.044 09.007 09.134 09.112 09.271 09.061 09.050 09.124 09.275 09.095 09.042 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.127 09.113 09.008 09.092 09.197 09.046 09.1 (Lanjutan) No.182 09.094 09.

528 09.519 09.413 09.006 10.526 09.529 09.420 09.101 09.547 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.023 10.432 04.549 09.100 09.473 09.1 (Lanjutan) No.516 09.414 09.451 09.417 09.483 09.012 10.507 09.448 09.010 FEMA 2790 2724 2715 2206 2077 2722 2214 2694 2428 2936 2188 3172 2550 3494 2808 3452 2189 2753 2463 2960 2218 3500 2814 2791 3498 3369 3506 2719 2443 3393 3499 3604 3699 3497 3359 3707 3488 3679 2721 2086 2306 3291 3103 3293 3153 2556 3167 23 dari 122 .505 09.010 10.013 10.472 09.108 09.021 10.523 09.531 09.854 09.462 09.246 09.449 09.452 09.447 09.115 09. 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 Nama Senyawa nonyl octanoate methyl nonanoate methyl laurate butyl laurate isoamyl laurate methyl myristate butyl stearate methyl isobutyrate ethyl isobutyrate propyl isobutyrate butyl isobutyrate hexyl isobutyrate heptyl isobutyrate trans-3-heptenyl 2methylpropanoate octyl isobutyrate dodecyl isobutyrate isobutyl isobutyrate methyl isovalerate ethyl isovalerate propyl isovalerate butyl isovalerate hexyl 3-methylbutanoate octyl isovalerate nonyl isovaolerate 3-hexenyl 3-methylbutanoate 2-methylpropyl 3-methylbutyrate 2-methylbutyl 3-methylbutanoate methyl 2-methylbutyrate ethyl 2-methylbutyrate n-butyl 2-methylbutyrate hexyl 2-methylbutanoate octyl 2-methylbutyrate isopropyl 2-methylbutyrate 3-hexenyl 2-methylbutanoate 2-methylbutyl 2-methylbutyrate methyl 2-methylpentanoate ethyl 2-methylpentanoate ethyl 3-methylpentanoate methyl 4-methylvalerate trans-anethole citric acid 4-hydroxybutyric acid lactone gamma-valerolactone 4-hydroxy-3-pentenoic acid lactone 5-ethyl-3-hydroxy-4-methyl2(5H)-furanone gamma-hexalactone delta-hexalactone JECFA 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 EC 09.537 09.416 09.412 09.409 09.106 09.103 09.541 09.478 09.

5dihydrofuran-2-one 3-heptyldihydro-5-methyl-2(3H)furanone 5-hydroxy-2.046 05.007 10.009 10.051 02.028 10.006 05.030 10.008 10.014 10.031 10.031 08.003 10.007 08.SNI 01-7152-2006 Tabel A. 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 Nama Senyawa gamma-heptalactone gamma-octalactone 4.008 05.1 (Lanjutan) No.045 05.020 10.002 10.018 10.016 10.029 10.033 10.027 10.001 10.017 10.7-dimethyloctanoic acid lactone delta-tetradecalactone omega-pentadecalactone omega-6-hexadecenlactone epsilon-decalactone epsilon-dodecalactone 4.015 10.006 08.4-dibutyl-gammabutyrolactone delta-octalactone gamma-nonalactone hydroxynonanoic acid deltalactone gamma-decalactone delta-decalactone gamma-undecalactone 5-hydroxyundecanoic acid deltalactone gamma-dodecalactone delta-dodecalactone 6-hydroxy-3.035 10.049 08.027 10.069 08.011 10.056 02.001 05.115 FEMA 2539 2796 2372 3214 2781 3356 2360 2361 3091 3294 2400 2401 3355 3590 2840 2555 3613 3610 3634 3350 3696 3744 3745 3758 3780 3786 2179 2220 2222 2691 2695 2426 2429 2692 3102 3413 2754 3437 3762 24 dari 122 .4-decadienoic acid delta-lactone 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-7-decenoic acid deltalactone 5-hydroxy-8-undecenoic acid delta-lactone cis-4-hydroxy-6-dodecenoic acid lactone gamma-methyldecalactone isobutyl alcohol isobutyraldehyde isobutyric acid 2-methylbutyraldehyde 2-methylbutyric acid 2-ethylbutyraldehyde 2-ethylbutyric acid 3-methylbutyraldehyde isovaleric acid 2-methylpentanal 2-methylvaleric acid 3-methylpentanoic acid 3-methyl-1-pentanol JECFA 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 EC 10.004 10.019 10.5-dimethyl-3-hydroxy-2.022 10.037 10.004 08.

5. 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 Nama Senyawa 4-methylpentanoic acid 2-methylhexanoic acid 5-methylhexanoic acid 2-ethyl-1-hexanol 3. 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone and 5tetradecenoic acid delta-lactone.122 02.082 02.019 02.062 02.5.058 07.020 02.123 09.061 02.081 09.165 09.017 07. mixture of isopropyl alcohol 2-butanone 2-pentanone 2-pentanol 3-hexanone 3-hexanol 2-heptanone 2-heptanol 3-heptanone 3-heptanol 4-heptanone 2-octanone 2-octanol 3-octanone 3-octanol 2-nonanone 2-nonanol 3-nonanone 3-decanol 2-undecanone 2-undecanol 2-tridecanone 2-pentadecanone 3-methyl-2-butanol 4-methyl-2-pentanone 2.098 07.137 02.003 02.116 05.041 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.086 07.096 02.089 07.6-dimethyloctanal 4-methylnonanoic acid 2-methylundecanal 5-hydroxy-2-decenoic acid deltalactone.103 07.044 07.1 (Lanjutan) No.415 FEMA 3463 3191 3572 3151 3324 3524 2727 3575 2391 2390 3574 2749 2929 2170 2842 3316 3290 3351 2544 3288 2545 3547 2546 2802 2801 2803 3581 2785 3315 3440 3605 3093 3246 3388 3724 3703 2731 3537 3140 2944 2926 2959 2935 2950 2937 25 dari 122 .055 05.057 08.053 07.088 07.087 07.026 05.079 07.022 07.077 02.113 02.111 07.103 07.045 07.023 08.002 02.6-dimethyl-4-heptanol isopropyl formate isopropyl acetate isopropyl propionate isopropyl butyrate isopropyl hexanoate isopropyl isobutyrate JECFA 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 EC 08.016 02.062 05.5-trimethyl-1-hexanol 3.024 08.063 02.6-dimethyl-4-heptanone 2.062 09.054 02.003 09.034 08.7-dimethyl-1-octanol 2.5-trimethylhexanal 2-methyloctanal 4-methyloctanoic acid 3.

546 09.110 05.7-dimethyl-6-octenoate 2-methyl-4-pentenoic acid JECFA 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 EC 09.1 (Lanjutan) No.048 02.093 05.7-octadienoate methyl 3-nonenoate ethyl trans-4-decenoate methyl 9-undecenoate ethyl 10-undecenoate butyl 10-undecenoate ethyl oleate methyl linoleate and methyl linolenate (mixture) 2-methyl-3-pentenoic acid 2.191 09. 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 Nama Senyawa isopropyl isovalerate isopropyl myristate isopropyl tiglate 3-octyl acetate 4-pentenoic acid cis-3-hexen-1-ol cis-3-hexenal 3-hexenoic acid 4-hexen-1-ol cis-4-hexenal cis-4-heptenal cis-3-octen-1-ol cis-5-octen-1-ol cis-5-octenal cis-6-nonen-1-ol cis-6-nonenal 4-decenal 5.4pentadienoate methyl 3.513 09.236 09.096 08.527 09.074 09.540 09.128 02.113 05.450 09.059 05.113 05.238 09.254 08.085 02.206 08.058 02.6-dimethyl-5-heptenal ethyl 2-methyl-3-pentenoate ethyl 2-methyl-4-pentenoate hexyl 2-methyl-3.094 02.298 09.036 05.035 08.517 08.291 09.013 09.290 09.065 05.and 4pentenoate (mixture) ethyl 2-methyl-3.039 08.056 05.050 02.074 05.237 09.041 08.267 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.and 6-decenoic acid (mixture) 9-decenoic acid 9-undecenal 10-undecenal 10-undecenoic acid linoleic and linolenic acid (mixture) oleic acid methyl 3-hexenoate ethyl 3-hexenoate cis-3-hexenyl cis-3-hexenoate methyl cis-4-octenoate ethyl cis-4-octenoate ethyl cis-4.268 09.105 09.075 08.265 09.068 08.524 09.059 FEMA 2961 3556 3229 3583 2843 2563 2561 3170 3430 3496 3289 3467 3722 3749 3465 3580 3264 3742 3660 3094 3095 3247 0332 2815 3364 3342 3689 3367 3344 3682 3710 3642 2750 2461 2216 2450 3411 3464 3663 2389 3456 3489 3693 3678 3361 3511 26 dari 122 .284 09.192 09.6-dimethyl-6-hepten-1-ol 2.

116 02.062 09.1 (Lanjutan) No.050 09.092 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.147 02.009 07.013 02.143 07.088 07.454 09.092 07.061 FEMA 2635 3060 2642 2636 2645 2639 2640 2646 2643 2644 3045 3052 3047 3053 3049 3050 3054 3563 3564 3176 3562 3565 2379 2380 2249 2249 2247 2250 2251 3243 3659 3622 3420 2594 2595 3175 3624 3625 3628 3626 3627 3447 3446 2711 2712 2713 2033 27 dari 122 .105 02.134 07.061 09.014 09.423 09.461 02.071 07.132 07.008 07.2 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 EC 02.130 09.052 09.1 380b.007 07. 380.068 09.083 07.081 09.107 07.091 02.130 07.131 02. 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 Nama Senyawa linalool tetrahydrolinalool linalyl formate linalyl acetate linalyl propionate linalyl butyrate linalyl isobutyrate linalyl isovalerate linalyl hexanoate linalyl octanoate alpha-terpineol terpinyl formate terpinyl acetate terpinyl propionate terpinyl butyrate terpinyl isobutyrate terpinyl isovalerate p-menth-3-en-1-ol p-menth-8-en-1-ol p-menthan-2-one p-menthan-2-ol dihydrocarvone dihydrocarveol dihydrocarvyl acetate (+)-carvone (-)-carvone carveol carvyl acetate carvyl propionate beta-damascone alpha-damascone delta-damascone damascenone alpha-ionone beta-ionone gamma-ionone alpha-ionol beta-ionol dihydro-alpha-ionone dihydro-beta-ionone dihydro-beta-ionol dehydrodihydroionone dehydrodihydroionol methyl-alpha-ionone methyl-beta-ionone methyl-delta-ionone allyl alpha-ionone JECFA 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380a.115 02.108 07. 380.013 09.146 07.080 09.142 09.015 09.425 09.215 09.097 07.128 02.028 09.010 07.216 07.096 02.106 07.

403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 Nama Senyawa 1.095 02.018 07.4-hexanedione 5-methyl-2.2-cyclopentanedione 3-ethyl-2-hydroxy-4methylcyclopent-2-en-1-one 5-ethyl-2-hydroxy-3methylcyclopent-2-en-1-one 2-hydroxy-2-cyclohexen-1-one 1-methyl-2.076 07.5-trimethyl-2cyclohexen-1-one menthol (+)-neo-menthol menthone DL-isomenthone menthyl acetate menthyl isovalerate (-)-menthyl lactate p-menth-1-en-3-ol piperitone 4-hydroxy-3-methyloctanoic acid gamma-lactone 5-hydroxy-2-dodecenoic acid delta-lactone 4-carvomenthenol 2-ethyl-1.059 07.075 07.060 07.263 07.175 10.056 07.4-dimethyl-1.117 07.4-dimethyl-4-acetyl-1cyclohexene alpha-irone alpha-iso-methylionone acetoin 2-acetoxy-3-butanone butan-3-one-2-yl butanoate diacetyl 3-hydroxy-2-pentanone 2.063 07.077 07.1 (Lanjutan) No.SNI 01-7152-2006 Tabel A.455 09.3-pentadione 4-methyl-2.3-undecadione methylcyclopentenolone ethylcyclopentenolone 3.036 07.3-trimethyl-2norbornanol 4-thujanol methyl 1-acetoxycyclohexyl ketone JECFA 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 437 438 439 440 441 442 EC 07.186 09.3-cyclohexadione 2-hydroxy-3.119 07.120 02.085 09.072 02.5.3-hexanedione 3.016 09.118 07.064 07.3.080 07.093 07.083 07.011 07.116 07.052 07.125 07.015 02.3-pentanedione 2.3-heptanedione 5-hydroxy-4-octanone 2.2-cyclopentanedione 3.051 09.044 02.021 07.551 02.5-dimethyl-1.065 07.293 FEMA 3449 2597 2714 2008 3526 3332 2370 3550 2841 2730 2558 3168 3190 2543 2587 3090 2700 3152 3268 3269 3453 3454 3458 3305 3459 2665 2666 2667 3460 2668 2669 3748 3179 2910 3802 2248 3491 3239 3701 28 dari 122 .3-hexanedione 2.078 09.057 07.264 07.

843 06.032 12.236 12.060 12.156 FEMA 3805 3806 3808 3810 3676 2489 2491 2746 3860 3825 2215 3831 3820 2042 3873 3597 3415 3600 3438 3578 3206 2747 3374 3414 3877 3601 3483 2720 3879 3412 3835 3343 3681 3883 3880 3836 3789 3876 3282 3310 3385 3708 3864 3676 3862 29 dari 122 .2-glycerol ketal mono-menthyl succinate 1-ethylhexyl tiglate furfural furfuryl alcohol methyl sulfide methyl ethyl sulfide diethyl sulfide butyl sulfide 1.120 09.086 12.018 13.237 12.062 12.157 09.088 12.162 12.089 12.616 09.539 13.061 12.079 12.066 12.4-dithiane (1-buten-1-yl) methyl sulfide allyl sulfide methyl phenyl sulfide benzyl methyl sulfide 3-(methylthio)propanol 4-(methylthio)butanol 3-(methylthio)-1-hexanol 2-methyl-4-propyl-1.007 12. 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 Nama Senyawa (-)-menthol ethylene glycol carbonate (-)-menthol 1.018 12.006 12.154 12.149 12.2-glycerol ketal DL-menthone 1.1 (Lanjutan) No.SNI 01-7152-2006 Tabel A.113 12.122 12.077 12.007 15.065 12.056 12.001 12.063 16.002 12.040 12.and 2-propylene glycol carbonate (-)-menthone 1.187 12.188 12.8-dithianon-4-ene-4carboxaldehyde methyl 3-methylthiopropionate methylthiomethyl butyrate methyl 4-(methylthio)butyrate ethyl 2-(methylthio)acetate ethyl 3-methylthiopropionate ethyl 4-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)propyl acetate methylthiomethyl hexanoate ethyl 3-(methylthio)butyrate 3-(methylthio)hexyl acetate S-methyl thioacetate ethyl thioacetate methyl thiobutyrate propyl thioacetate S-methyl 2-methylbutanethioate S-methyl 3-methylbutanethioate S-methyl 4methylpentanethioate S-methyl hexanethioate JECFA 443 444 445 446 447 448 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 EC 09.078 12.019 12.211 12.539 12.059 12.084 12.842 09.3-oxathiane 2-methylthioacetaldehyde 3-(methylthio)propionaldehyde 3-(methylthio)butanal 4-(methylthio)butanal 3-methylthiohexanal 2-(methylthio)methyl-2-butenal 2.062 12.

082 12.6-dimethyl(thiophenol) 2-naphthalenethiol 1. 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 Nama Senyawa allyl thiopropionate prenyl thioacetate methylthio 2(acetyloxy)propionate methylthio 2-(propionyloxy) propionate 3-(acetylmercapto)hexyl acetate 1-methylthio-2-propanone 1-(methylthio)-2-butanone 4-(methylthio)-2-butanone 4.227 12.171 12.and 10-mercaptopinane allyl mercaptan prenylthiol 1-p-menthene-8-thiol thiogeraniol benzenethiol benzyl mercaptan phenethyl mercaptan o-toluenethiol 2-ethylthiophenol 2.048 12.064 12.054 12.066 FEMA 3329 3895 3788 3790 3816 3882 3207 3375 3266 3512 3376 3881 3335 3210 3857 3717 3809 3875 2716 3521 3897 3478 3874 3858 3792 3303 3262 3304 3842 3833 3503 2035 3896 3700 3472 3616 2147 3894 3240 3345 3666 3314 3484 30 dari 122 .132 12.192 12.010 12.195 12.058 12.071 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.176 12.049 12.035 12.175 12.085 12.023 12.029 12.101 12.027 12.170 12.203 12.1 (Lanjutan) No. 3.194 12.041 12.150 12.057 15.and trans-menthone-8thioacetate methylsulfinylmethane methyl mercaptan propanethiol 2-propanethiol 1-butanethiol 2-methyl-1-propanethiol 3-methylbutanethiol 2-pentanethiol 2-methyl-1-butanethiol cyclopentanethiol 3-methyl-2-butanethiol 1-hexanethiol 2-ethylhexanethiol 2-.080 12.5-dihydro-3(2H)-thiophenone 2-methyltetrahydrothiophen-3one 4-(methylthio)-4-methyl-2pentanone sodium 4-(methylthio)-2oxobutanoate di(butan-3-one-1-yl) sulfide o-(methylthio)phenol S-methyl benzothioate 2-(methylthiomethyl)-3phenylpropenal cis.033 12.087 12.004 12.173 12.201 12.b 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 EC 12.197 12.003 12.128 12.2-ethanedithiol JECFA 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506a.012 15.052 12.244 12.042 12.005 12.

532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 Nama Senyawa bis(methylthio)methane 2-methyl-1.2.5-dimethyl-1.2-butanedithiol 1.076 12.073 12.145 12.075 12.5-dihydroxy-1.025 15.4dithiane sodium 3-mercaptooxopropionate dimethyl disulfide methyl propyl disulfide propyl disulfide diisopropyl disulfide allyl methyl disulfide methyl 1-propenyl disulfide propenyl propyl disulfide methyl 3-methyl-1-butenyl disulfide allyl disulfide 3.3-propanedithiol 1.218 12.022 12.5-dimethyl-2.3-butanedithiol 1.009 12.109 12.069 15.251 12.014 12.036 12.034 12.4-trithiolane 3-methyl-1.2-propanedithiol 1.026 12.234 12.235 12.024 12.044 12.070 12.038 15.1 (Lanjutan) No.9-nonanedithiol trithioacetone 3-mercapto-3-methyl-1-butanol 3-mercaptohexanol 2-mercapto-3-butanol alpha-methyl-beta-hydroxypropyl alpha-methyl-betamercaptopropyl sulfide 4-methoxy-2-methyl-2butanethiol 3-mercapto-3-methylbutyl formate 2.4-dithiane 2-mercaptopropionic acid ethyl 2-mercaptopropionate ethyl 3-mercaptopropionate 3-mercaptohexyl acetate 3-mercaptohexyl butyrate 3-mercaptohexyl hexanoate 1-mercapto-2-propanone 3-mercapto-2-butanone 2-keto-4-butanethiol 3-mercapto-2-pentanone p-mentha-8-thiol-3-one 2.6-hexanedithiol 1.3-butanedithiol 2.118 15.5-dihydroxy-1.055 12.2.143 12.037 12.019 12.047 12.SNI 01-7152-2006 Tabel A.8-octanedithiol 1.083 12.3-dithiolane 1.072 12.006 12.137 12.028 FEMA 3878 3705 3588 3520 3477 3529 3477 3495 3514 3513 3475 3854 3850 3502 3509 3785 3855 3826 3180 3279 3677 3851 3852 3853 3856 3298 3357 3300 3177 3450 3901 3536 3201 3228 3827 3127 3576 3227 3865 2028 3541 3718 3448 31 dari 122 .031 12.046 12.217 15.067 12.138 12.008 15.034 12.4-trithiane dicyclohexyl disulfide JECFA 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 EC 12.036 12.039 12.

068 12.550 05.548 09.066 09.4-nonanediol diacetate hydroxycitronellol hydroxycitronellal hydroxycitronellal dimethyl acetal hydroxycitronellal diethyl acetal diethyl malonate butyl ethyl malonate dimethyl succinate diethyl succinate fumaric acid (-)-malic acid diethyl malate JECFA 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 EC 12.017 09.023 09.435 09.025 08.1 (Lanjutan) No.047 05.514 07.402 09.3-nonanediol acetate (mixed esters) levulinic acid ethyl levulinate butyl levulinate 1.013 12.535 09.441 09.020 12.522 09.444 08.009 12.045 12.532 09.403 09.168 12.490 09.039 09.038 09.161 12.155 12.445 09.079 06.405 09.043 12.436 09.081 12.012 06.4-dioxohexanoate 3-(hydroxymethyl)-2-heptanone 1.011 06.542 09.404 09.280 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.401 09.010 09.074 08.023 12. 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 Nama Senyawa methyl phenyl disulfide methyl benzyl disulfide phenyl disulfide benzyl disulfide 2-methyl-2(methyldithio)propanal ethyl 2-(methyldithio)propionate dimethyl trisulfide methyl ethyl trisulfide methyl propyl trisulfide dipropyl trisulfide allyl methyl trisulfide diallyl trisulfide diallyl polysulfide 2-oxobutyric acid methyl 2-hydroxy-4methylpentanoate methyl 2-oxo-3methylpentanoate citronelloxyacetaldehyde 3-oxobutanal dimethyl acetal ethyl 3-hydroxybutyrate ethyl acetoacetate butyl acetoacetate isobutyl acetoacetate isoamyl acetoacetate geranyl acetoacetate methyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-hydroxyhexanoate ethyl 3-oxohexanoate ethyl 2.439 FEMA 3872 3504 3225 3617 3866 3834 3275 3861 3308 3276 3253 3265 3533 3723 3706 3713 2310 3381 3428 2415 2176 2177 3551 2510 3508 3545 3683 3278 2804 2783 2627 2442 2207 3579 2586 2583 2585 2584 2375 2195 2396 2377 2488 2655 2374 32 dari 122 .225 08.121 12.

746 09.085 09. sodium salt 2-oxopentanedioic acid 3-hydroxy-2-oxopropionic acid 3-phenyl-1-propanol 3-phenylpropyl formate 3-phenylpropyl acetate 3-phenylpropyl propionate 3-phenylpropyl isobutyrate 3-phenylpropyl isovalerate 3-phenylpropyl hexanoate methyl 3-phenylpropionate ethyl 3-phenylpropionate 3-phenylpropionaldehyde 3-phenylpropionic acid cinnamyl alcohol cinnamaldehyde ethylene glycol acetal cinnamyl formate cinnamyl acetate cinnamyl propionate cinnamyl butyrate cinnamyl isobutyrate cinnamyl isovalerate cinnamyl phenylacetate cinnamaldehyde JECFA 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 631.475 09.033 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.017 06.026 09.018 09. sodium salt 4-methyl-2-oxopentanoic acid 4-methyl-2-oxopentanoic acid.708 05.086 02. sodium salt 3-methyl-2-oxopentanoic acid 3-methyl-2-oxopentanoic acid.032 09.133 09.093 08. (±)diethyl tartrate adipic acid diethyl sebacate dibutyl sebacate ethylene brassylate aconitic acid ethyl aconitate (mixed esters) triethyl citrate tributyl acetylcitrate 3-methyl-2-oxobutanoic acid 3-methyl-2-oxobutanoic acid.071 09.018 09.037 08.747 05.428 09.1 (Lanjutan) No.510 09.1 632 632. (-)-.474 09.080 08.446 08.470 09.051 08.053 09.533 08.1 633 633.031 09.014 09.084 09.052 08. 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 Nama Senyawa meso-tartaric acid.032 02.467 09.014 FEMA 3044 2378 2011 2376 2373 3543 2010 2417 3083 3869 3869 3870 3871 3891 3843 2885 2895 2890 2897 2893 2899 2896 2741 2455 2887 2889 2294 2287 2299 2293 2301 2296 2297 2302 2300 2286 33 dari 122 .512 08.1 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 EC 08. mixture of (+)-.051 08.459 09.138 09.

041 04.734 09.022 04.026 09.518 09.731 09.028 04.736 09.090 09.737 09.050 04.046 04.732 09.730 09.122 05.026 04.022 09.1 (Lanjutan) No.044 09.048 05.739 02.036 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.745 09.738 09.050 05.040 05.228 09.742 09.468 05.429 09.051 09.013 05.744 09.094 06.782 09.103 05.118 05.030 02.051 04.041 05.039 05.480 09. 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 Nama Senyawa cinnamic acid methyl cinnamate ethyl cinnamate propyl cinnamate isopropyl cinnamate butyl cinnamate isobutyl cinnamate isoamyl cinnamate heptyl cinnamate cyclohexyl cinnamate linalyl cinnamate terpinyl cinnamate benzyl cinnamate phenethyl cinnamate 3-phenylpropyl cinnamate cinnamyl cinnamate alpha-amylcinnamyl alcohol 5-phenylpentanol alpha-amylcinnamyl formate alpha-amylcinnamyl acetate alpha-amylcinnamyl isovalerate 3-phenyl-4-pentenal 3-(pisopropylphenyl)propionaldehyd e alpha-amylcinnamaldehyde dimethyl acetal p-methylcinnamaldehyde alpha-methylcinnamaldehyde alpha-butylcinnamaldehyde alpha-amylcinnamaldehyde alpha-hexylcinnamaldehyde p-methoxycinnamaldehyde o-methoxycinnamaldehyde p-methoxy-alphamethylcinnamaldehyde phenol o-cresol m-cresol p-cresol p-ethylphenol o-propylphenol p-propylphenol 2-isopropylphenol o-tolyl acetate p-tolyl acetate o-tolyl isobutyrate p-tolyl isobutyrate p-tolyl 3-methylbutyrate p-tolyl octanoate JECFA 657 658 659 660 661 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 EC 08.743 09.740 09.301 FEMA 2288 2698 2430 2938 2939 2192 2193 2063 2551 2352 2641 3051 2142 2863 2894 2298 2065 3618 2066 2064 2067 3318 2957 2062 3640 2697 2191 2041 2569 3567 3181 3182 3223 3480 3530 2337 3156 3522 3649 3461 3072 3073 3753 3075 3387 3733 34 dari 122 .733 09.027 04.

008 04.052 04.025 13.102 09.128 13.051 07.6-dimethoxyphenol 2-hydroxyacetophenone 4-(p-hydroxyphenyl)-2-butanone dihydroxyacetophenone zingerone 4-(p-acetoxyphenyl)-2-butanone vanillylidene acetone 4-(1.006 04.064 09. 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 Nama Senyawa p-tolyl laurate p-tolyl phenylacetate 2.174 09.031 04.005 09.3.085 13.711 04.057 14.5-xylenol 2.124 07.073 13.001 13.062 13.002 13.057 04.046 04.056 04.007 04.6-dimethoxyphenol 2-methoxy-4-vinylphenol 4-allyl-2.019 13.049 09.688 09.135 07.031 13.4-xylenol thymol carvacrol p-vinylphenol resorcinol guaiacol o-(ethoxymethyl)phenol 2-methoxy-4-methylphenol 4-ethylguaiacol 2-methoxy-4-propylphenol guaiacyl acetate guaiacyl phenylacetate hydroquinone monoethyl ether 2.709 04.068 13.288 07.037 04.045 04.003 13.005 04.6-dimethoxyphenol 4-propyl-2.6-dimethoxyphenol 4-methyl-2.053 04.1 (Lanjutan) No.042 04.036 04.048 04.6-dimethoxyphenol 4-ethyl-2.067 13.009 04.019 04.038 FEMA 3076 3077 3595 3249 3596 3066 2245 3739 3589 2532 3485 2671 2436 3598 3687 2535 3695 3137 3704 3671 3729 2675 3655 3548 2588 3662 3124 3652 3738 3918 3958 3959 3960 3963 2490 3346 3397 3396 3283 3244 3244 2702 2703 2946 2072 2571 3518 3128 3468 2963 35 dari 122 .689 04.1-dimethylethyl)phenol phenyl acetate 2-phenylphenol phenyl salicylate 2.005 13.055 07.6-trimethylphenol furfuryl acetate furfuryl propionate furfuryl pentanoate furfuryl octanoate furfuryl 3-methylbutanoate 5-methylfurfural methyl 2-furoate propyl 2-furoate amyl 2-furoate hexyl 2-furoate octyl 2-furoate 2-benzofurancarboxaldehyde 2-phenyl-3-carbethoxyfuran pulegone isopulegone isopulegol JECFA 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 739 740 741 742 743 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 EC 09.019 14.6-xylenol 3.047 04.SNI 01-7152-2006 Tabel A.

142 14. 5.021 14.3.6-dimethylpyrazine 2-ethyl-3-methylpyrazine 2-ethyl-6-methylpyrazine 2-ethyl-5-methylpyrazine 2.024 14.4(8)-dien-3-one menthofuran furfuryl butyrate cinnamyl benzoate 2-methylpyrazine 2-ethylpyrazine 2-propylpyrazine 2-isopropylpyrazine 2.1 (Lanjutan) No.3.219 09.780 14.016 14.050 14.056 14.3-dimethyl-5Hcyclopentapyrazine (cyclohexylmethyl)pyrazine 2-acetylpyrazine 2-acetyl-3-ethylpyrazine 2-acetyl-3.031 14.127 09.005 14.6-tetramethylpyrazine 5-methyl-6.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5 or 6ethoxypyrazine 2-(mercaptomethyl)pyrazine 2-pyrazinylethanethiol pyrazinyl methyl sulfide JECFA 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 EC 07.096 14.7-dihydro-5Hcyclopentapyrazine 6.5 or 6)isopropylpyrazine 2-methoxy-3-(1methylpropyl)pyrazine 2-isobutyl-3-methoxypyrazine 2-methyl-3.069 14.5-dimethylpyrazine 2.044 14.or 6)methoxypyrazine 2-methoxy-(3.067 02.026 14.123 14.6-dimethylpyrazine 2.049 14.022 14.037 14.067 09.043 14.114 14.051 14.7-dihydro-2.(5 or 6)dimethylpyrazine 3-ethyl-2.006 14. 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 Nama Senyawa isopulegyl acetate p-menth-1.5-diethyl-3-methylpyrazine 3.057 14.3-dimethylpyrazine 2.020 14.067 14.018 14.055 14.025 14.3-diethyl-5-methylpyrazine 2.054 14.095 14.017 14.(5 or 6)dimethylpyrazine methoxypyrazine (2.5 or 6)-methoxy-3methylpyrazine 2-ethyl(or methyl)-(3-.034 FEMA 2964 2962 2965 3560 2965 FDA 3309 3281 3961 3940 3271 3272 3273 3155 3919 3154 3136 3554 3133 3149 3150 3336 3915 3916 3237 3306 3917 3631 3126 3250 3327 3302 3183 3280 3358 3433 3132 3569 3299 3230 3231 36 dari 122 .062 14.032 14.053 14.5-diethyl-2-methylpyrazine 2.098 14.3-diethylpyrazine 2-methyl-5-isopropylpyrazine 2-isobutyl-3-methylpyrazine 2.5.219 07.027 14.5-trimethylpyrazine 2-ethyl-3.

035 14.049 07.476 09.070 07.027 02.028 02.025 07.065 07.038 07.200 07.022 07.023 07.040 02.066 07.4-dimethylacetophenone acetanisole methyl beta-naphthyl ketone 4-acetal-6-tert-butyl-1.133 07.087 02.486 02.501 07.003 06.179 09.064 09.144 09.030 02.033 09.024 07.2-propanedione ethyl benzoylacetate ethyl 2-acetyl-3phenylpropionate benzoin benzaldehyde dimethyl acetal benzaldehyde glyceryl acetal JECFA 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 37 dari 122 EC 14. 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 Nama Senyawa (3.042 07.029 02.231 09.034 07.028 06.004 07.013 07.178 09.189 07.032 07.249 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.1 (Lanjutan) No.080 07.026 07.086 07.036 09.079 09.5 or 6)-(methylthio)-2methylpyrazine 5-methylquinoxaline alpha-methylbenzyl alcohol alpha-methylbenzyl formate alpha-methylbenzyl acetate alpha-methylbenzyl propionate alpha-methylbenzyl butyrate alpha-methylbenzyl isobutyrate p.alpha-dimethylbenzyl alcohol acetophenone 4-methylacetophenone p-isopropylacetophenone 2.3-diphenyl-2-propanone 1-phenyl-1.1dimethylindan 1-(p-methoxyphenyl)-2propanone alpha-methylphenethyl butyrate 4-phenyl-2-butanol 4-phenyl-2-butyl acetate 4-(p-tolyl)-2-butanone 4-(p-methoxyphenyl)-2-butanone 4-phenyl-3-buten-2-ol 4-phenyl-3-buten-2-one 3-methyl-4-phenyl-3-buten-2one 1-phenyl-1-propanol alpha-ethylbenzyl butyrate propiophenone alpha-propylphenethyl alcohol 1-(p-methoxyphenyl)-1-penten3-one alpha-isobutylphenethyl alcohol 4-methyl-1-phenyl-2-pentanone 1-(4-methoxyphenyl)-4-methyl-1penten-3-one 3-benzyl-4-heptanone benzophenone 1.002 FEMA 3208 3203 2685 2688 2684 2689 2686 2687 3139 2009 2677 2927 2387 2005 2723 3653 2674 3197 2879 2882 3074 2672 2880 2881 2734 2884 2424 3469 2953 2673 2208 2740 3760 2146 2134 2397 3226 2423 2416 2132 2128 2129 .

m.726 09.714 FEMA 2130 2148 2145 2150 2140 2141 2152 3330 2143 2136 2149 2131 2683 2422 2931 3691 2932 2185 2058 3688 2638 2511 3398 3419 3702 2933 3756 3068 3067 2341 2203 2099 2101 2098 2102 2100 3740 3109 2670 2413 2717 3943 3944 3945 2679 2420 38 dari 122 .406 09.755 09.p) p-isopropylbenzyl alcohol 4-ethylbenzaldehyde tolualdehydes (mixed o.508 09.4-dimethylbenzaldehyde butyl p-hydroxybenzoate anisyl alcohol anisyl formate anisyl acetate anisyl propionate anisyl butyrate anisyl phenylacetate veratraldehyde p-methoxybenzaldehyde p-ethoxybenzaldehyde methyl o-methoxybenzoate 2-methoxybenzoic acid 3-methoxybenzoic acid 4-methoxybenzoic acid methyl anisate ethyl p-anisate JECFA 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 EC 06.051 09.056 09.032 06.754 02.725 09. 1 (Lanjutan) No.058 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.039 05.092 08.771 09.458 09.128 09.077 09.767 09.705 08.426 09.132 09.776 09.173 09.021 09.026 06.145 09.071 09.706 05.022 09.019 09.p) tolualdehyde glyceryl acetal cuminaldehyde 2.012 05.015 05.812 09.796 08.3-dimethylcrotonate benzyl acetoacetate benzyl phenylacetate benzoic acid methyl benzoate ethyl benzoate propyl benzoate hexyl benzoate isopropyl benzoate isobutyl benzoate isoamyl benzoate cis-3-hexenyl benzoate linalyl benzoate geranyl benzoate glyceryl tribenzoate propylene glycol dibenzoate methylbenzyl acetate (mixed o.806 09.494 09.768 09.019 09.083 09.087 09.757 09. 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 Nama Senyawa benzaldehyde propylene glycol acetal benzyl 2-methoxyethyl acetal benzyl formate benzyl propionate benzyl butyrate benzyl isobutyrate benzyl isovalerate benzyl trans-2-methyl-2butenoate benzyl 2.770 09.294 02.017 05.068 05.m.

749 09.019 09.018 09.2.040 09.552 09.035 09.220 09. 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 Nama Senyawa vanillyl alcohol vanillyl ethyl ether vanillyl butyl ether vanillin vanillin acetate vanillin isobutyrate ethyl vanillin beta-dglucopyranoside ethyl vanillin piperonyl acetate piperonyl isobutyrate piperonal salicylaldehyde 2-hydroxy-4methylbenzaldehyde methyl salicylate ethyl salicylate butyl salicylate isobutyl salicylate isoamyl salicylate benzyl salicylate phenethyl salicylate o-tolyl salicylate 2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.4-trimethyl-1.3 acetals) 1.751 09.555 09.2-di[(1-ethoxy)ethoxy]propane 4-methyl-2-pentyl-1.554 09.557 09.213 04.750 09.076 09.094 06.748 09.556 06.093 05.1 (Lanjutan) No.2.430 05.016 05.4-dihydroxybenzoic acid glycerol 3-oxohexanoic acid glyceride 3-oxooctanoic acid glyceride heptanal glyceryl acetal (mixed 1.752 09.3-tris[(1'ethoxy)ethoxy]propane 3-oxodecanoic acid glyceride 3-oxododecanoic acid glyceride 3-oxotetradecanoic acid glyceride 3-oxohexadecanoic acid glyceride glycerol monostearate glyceryl monooleate triacetin glyceryl tripropionate tributyrin glycerol 5-hydroxydecanoate glycerol 5-hydroxydodecanoate propylene glycol propylene glycol stearate 1.811 16.211 09.3-dioxolane 2.263 09.544 06.3oxacyclopentane JECFA 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 EC 02.094 04.039 06.055 05.075 05.029 06.2 and 1.753 09.098 FEMA 3737 3815 3796 3107 3108 3754 3801 2464 2912 2913 2911 3004 3697 2745 2458 3650 2213 2084 2151 2868 3734 3798 2525 3770 3771 2542 3593 3767 3768 3772 3769 2527 2526 2007 3286 2223 3685 3686 2940 2942 3534 3630 3441 39 dari 122 .543 09.091 09.763 09.807 08.553 09.

039 09.119 05.037 14.008 06.114 FEMA 2611 2440 2205 3752 3690 2190 2970 2969 2457 2083 3426 2002 2798 3775 2305 2363 3378 2541 2304 3349 3964 4015 3321 3837 3838 3987 3984 3986 3985 3988 4023 3531 3568 3544 2348 2347 2431 3592 3645 3657 3741 .019 07.047 08.034 09.491 08.8-tetrahydroquinoxaline ethyl vanillin isobutyrate ethyl vanillin propylene glycol acetal 4-hydroxybenzyl alcohol 4-hydroxybenzaldehyde 4-hydroxybenzoic acid 2-hydroxybenzoic acid 4-hydroxy-3-methoxybenzoic acid vanillin erythro.SNI 01-7152-2006 Tabel A.6-nonadienal diethyl acetal heptanal dimethyl acetal citral diethyl acetal 4-heptenal diethyl acetal 2-acetyl-3-methylpyrazine pyrazine 5.443 06.536 09.015 06.040 08.001 09.3-trimethylcyclopent-3-en-1yl acetaldehyde cis-5-isopropenyl-cis-2methylcyclopentan-1carboxaldehyde campholene acetate alpha-campholenic alcohol JECFA 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 40 dari 122 EC 08.009 06.165 05.082 14.1 (Lanjutan) No.112 08. 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 Nama Senyawa lactic acid ethyl lactate butyl lactate potassium 2-(1'ethoxy)ethoxypropanoate cis-3-hexenyl lactate butyl butyryllactate pyruvic acid pyruvaldehyde ethyl pyruvate isoamyl pyruvate 1.442 09.144 14.434 16.1-dimethoxyethane acetal octanal dimethyl acetal acetaldehyde ethyl cis-3-hexenyl acetal citral dimethyl acetal decanal dimethyl acetal 2.289 02.028 06.488 05.433 09.004 06.025 06.001 06.099 08.005 06.534 09.028 08.7.123 09.060 09.004 09.2.3-diol acetal cyclohexanecarboxylic acid methyl cyclohexanecarboxylate ethyl cyclohexanecarboxylate cyclohexaneethyl acetate cyclohexaneacetic acid ethyl cyclohexanepropionate 2.015 02.and threo-butan2.545 09.043 06.6.081 06.

1 (Lanjutan) No.027 06.006 06.6-trimethyl-1&2-cyclohexen1-carboxaldehyde 2-formyl-6.019 09.6.496 09.5.1.083 09.060 09.427 09.036 05.707 06.112 05.466 09.091 09.6dimethylbicyclo[3.117 02.2.141 02.783 09.031 09.216 09.261 09.034 02.407 09.6.6-myrtenyl formate santalol (alpha and beta) santalyl acetate (alpha and beta) 10-hydroxymethylene-2-pinene phenethyl alcohol phenethyl formate phenethyl acetate phenethyl propionate phenethyl butyrate phenethyl isobutyrate phenethyl 2-methylbutyrate phenethyl isovalerate phenethyl hexanoate phenethyl octanoate phenethyl tiglate phenethyl senecioate phenethyl phenylacetate acetaldehyde phenethyl propyl acetal acetaldehyde butyl phenethyl acetal phenylacetaldehyde phenylacetaldehyde dimethyl acetal phenylacetaldehyde glyceryl acetal phenylacetaldehyde 2.024 08.030 06.784 FEMA 3178 3566 3557 2664 3731 3731 3389 3474 3639 3395 3439 3764 3405 3006 3007 3938 2858 2864 2857 2867 2861 2862 3632 2871 3221 3222 2870 2869 2866 2004 3125 2874 2876 2877 2875 3384 2878 2733 2452 41 dari 122 .016 06.168 09.038 09.007 06.615 05.098 09.6-trimethyl-1-cyclohexen-1acetaldehyde 2.8-dien-7-ol p-mentha-1.6-tetrahydrocuminic acid 2.1]hept-2-ene (myrtenal) myrtenol myrtenyl acetate 6.3butylene glycol acetal phenylacetaldehyde diisobutyl acetal phenylacetic acid methyl phenylacetate ethyl phenylacetate JECFA 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 EC 05.278 08. 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 Nama Senyawa p-menth-1-en-9-al 1-p-menthen-9-yl acetate p-mentha-1.8-dien-7-al p-mentha-1.3dienyl methanal 2.262 09.538 09.8-dien-7-yl acetate 1.272 02.6-trimethylcyclohexa-1.067 05.302 09.137 09.6.SNI 01-7152-2006 Tabel A.104 05.121 05.106 02.

703 09.787 09.027 15.005 15.018 15. 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 Nama Senyawa propyl phenylacetate isopropyl phenylacetate butyl phenylacetate isobutyl phenylacetate isoamyl phenylacetate hexyl phenylacetate 3-hexenyl phenylacetate octyl phenylacetate rhodinyl phenylacetate linalyl phenylacetate geranyl phenylacetate citronellyl phenylacetate santalyl phenylacetate (alpha and beta) p-tolylacetaldehyde p-isopropylphenylacetaldehyde methyl p-tert-butylphenylacetate phenoxyacetic acid ethyl (p-tolyloxy)acetate 2-phenoxyethyl isobutyrate sodium 2-(4methoxyphenoxy)propanoate thiamine hydrochloride 4-methyl-5-thiazoleethanol thiazole 2-(1-methylpropyl)thiazole 2-isobutylthiazole 4.704 09.5-dithiazine and 4-isobutyl2.3.6-dimethyldihydro-1.1 (Lanjutan) No.014 15.3.SNI 01-7152-2006 Tabel A.785 09.805 09.6-dimethyldihydro1.5-dithiazine 2.702 09.772 09.5-dimethylthiazole 2.5-dimethyl-2-isobutyl-3thiazoline 2-isobutyl-4.049 09.016 15.4.113 15.026 15.020 15.5dithiazine (mixture) 2-isopropyl-4.044 09.5dithiazine JECFA 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 EC 09.022 15.3.758 08.028 15.079 FEMA 2955 2956 2209 2210 2081 3457 3633 2812 2895 3501 2516 2315 3008 3071 2954 2690 2872 3157 2973 3773 3322 3204 3615 3372 3134 3274 3325 3555 3313 3145 3256 3328 3611 3716 3680 3621 3781 1045 1046 1047 1047 1048 1049 15.041 16.017 15.4.6-dimethyl and 4isopropyl-2.027 15.6-dihydro-4h1.487 16.5-trimethylthiazole 2-isopropyl-4-methylthiazole 4-methyl-5-vinylthiazole 2.4-dimethyl-5-vinylthiazole benzothiazole 2-acetylthiazole 2-propionylthiazole 4-methylthiazole 2-ethyl-4-methylthiazole 4.797 09.789 09.013 15.712 05.019 15.6-trimethyldihydro-4h-1.786 09.804 09.6-triisobutyl-5.3.788 09.033 15.5-dithiazine (mixture) 2.4.057 15.035 15.032 15.109 3782 4017 4018 42 dari 122 .6-dimethyldihydro1.791 09.042 05.3.

151 13.152 13. s-(2-methyl-3furanyl) ester 2.5-dimethyl-2-ethyl-3-thiazoline 2-(2-butyl)-4.077 13.002 15.4-dimethyl-5-acetylthiazole 2-ethoxythiazole 2-methyl-5-methoxythiazole 4.024 15.065 13.041 13.056 13.055 13.015 15.5-dimethyl-3-furyl) disulfide bis(2-methyl-3-furyl) tetrasulfide ethanoic acid.142 13.016 13.063 13.015 13.5-dimethyl-3-furan thioisovalerate 2.5-dimethyl-3thiazoline 2-methyl-3-furanthiol 2-methyl-3-(methylthio)furan 2-methyl-5-(methylthio)furan 2.153 13.001 15.040 13.053 13.026 13.021 15.196 13.2'-(thiodimethylene)difuran 2.017 13.071 13.6-dimethyl-3-[(2-methyl-3furyl)thio]-4-heptanone 4-[(2-methyl-3-furyl)thio]-5nonanone ethyl 3-(furfurylthio)propionate JECFA 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 43 dari 122 EC 15.050 13.033 13.011 15.030 15.032 13.075 13.082 13.38 3571 3674 .or 6(furfurylthio)pyrazine S-methyl thiofuroate 4-[(2-furanmethyl)thio]-2pentanone 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-4heptanone 2.5-dimethyl-3-thiofuroylfuran furfuryl mercaptan s-furfuryl thioformate s-furfuryl thioacetate s-furfuryl thiopropionate furfuryl methyl sulfide furfuryl isopropyl sulfide methyl furfuryl disulfide propyl furfuryl disulfide 2.008 15.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dimethylthiophene 2-thienylmercaptan 2-thienyl disulfide 4-methyl-5-thiazoleethanol acetate 2.029 13.1 (Lanjutan) No.179 13.078 13.064 13.004 15.093 FEMA 3209 3527 3062 3323 3205 3267 3340 3192 3620 3619 3188 3949 3366 3451 3573 3607 3259 3476 3260 3973 3482 3481 2493 3158 3162 3347 3160 3161 3362 3979 3238 3146 3189 3311 3840 3570 35.5-dimethyl-3-furanthiol methyl 2-methyl-3-furyl disulfide propyl 2-methyl-3-furyl disulfide bis(2-methyl-3-furyl) disulfide bis(2. 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 Nama Senyawa 5-methyl-2thiophenecarboxyaldehyde 3-acetyl-2.051 13.079 13. 5.2'-(dithiodimethylene)difuran 2-methyl-3-.

086 13.114 07.230 09.069 07.6.027 09.015 07.126 07.129 07.035 07.149 07.179 07.2.209 07.033 07.5-trimethyl cyclohexanol cyclohexanone cyclopentanone 2-methylcyclohexanone 3-methylcyclohexanone 4-methylcyclohexanone 1-methyl-1-cyclopenten-3-one 2-hexylidene cyclopentanone 3-methyl-2-cyclohexen-1-one 2.5-dimethyltetrahydrofuran-3thiol.4.104 07. 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 Nama Senyawa 2-methyl-3-thioacetoxy-4.194 09.9-undecadien-2one 2.100 07.5-dimethyltetrahydro-3-furyl thioacetate. cis and trans isomers 3.048 07.393 13.1 (Lanjutan) No.6-tetrahydropseudoionone 6.034 07.464 09.044 07.105 FEMA 3636 3787 3971 3972 2349 2351 2353 2355 2354 3848 3962 3909 3910 3946 3947 3948 3435 2573 3360 3473 3261 3939 3061 3553 3577 3196 3552 3889 3829 3966 3365 2707 3059 3542 3442 3417 3352 3399 3400 44 dari 122 . cis and trans isomers cyclohexyl acetate cyclohexyl butyrate cyclohexyl formate cyclohexyl isovalerate cyclohexyl propionate p-1(7)8-menthadien-2-yl acetate.160 13.3.140 02.172 07.123 07.098 07.7-dimethyl-2.10-trimethyl-2.148 07.5dihydrofuran 2-methyl-3-tetrahydrofuranthiol 2.SNI 01-7152-2006 Tabel A.160 09. cis and trans isomers 2.6-trimethylcyclohexanone 2-sec-butylcyclohexanone 4-isopropyl-2-cyclohexenone tetramethylethylcyclohexenone (mixture of isomers) isophorone 3-methyl-5-propyl-2-cyclohexen1-one 3-methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one isojasmone (E)-2-(2-octenyl)cyclopentanone 2-(3.219 07.095 07.6.10-dimethyl-5.6octadienyl)cyclopentanone 3-decanone 5-methyl-5-hexen-2-one 6-methyl-5-hepten-2-one 3.10pentadecatrien-14-one 3-penten-2-one 4-hexen-3-one 2-hepten-4-one 3-hepten-2-one JECFA 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 EC 13.112 07.045 07.180 07.151 07.5.

7octatrien-3-ol 6-undecanone 2-methylheptan-3-one 4-hydroxy-4-methyl-5-hexenoic acid gamma lactone (+/-)3-methyl-gammadecalactone 4-hydroxy-4-methyl-7-cisdecenoic acid gamma lactone tuberose lactone dihydromintlactone mintlactone dehydromenthofurolactone (+/-)-(2.121 07.193 09.52 45 dari 122 .102 07.7-dimethyl-1.161 10.8-dimethyl-3.E)-3.1 (Lanjutan) No.924 09.5.050 10.101 07.658 09.139 07.5-heptadien-2-one (E)-7-methyl-3-octen-2-one 3-nonen-2-one (E) & (Z)-4.023 02.5-octadien-2-one 3-octen-2-ol (E)-2-octen-4-ol 2-pentyl butyrate (+/-)heptan-3-yl acetate (+/-)heptan-2-yl butyrate (+/-)nonan-3-yl acetate 2-pentyl acetate 1-penten-3-one 1-octen-3-one 2-pentyl-1-buten-3-one 1-penten-3-ol 1-hexen-3-ol 1-octen-3-ol 1-decen-3-ol (E.036 10.082 07.249 07.099 02.7nonadien-2-one (E)-6-methyl-3-hepten-2-one (E.6.240 10.657 07. 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 Nama Senyawa 3-octen-2-one 2-octen-4-one 3-decen-2-one 4-methyl-3-penten-2-one 5-methyl-3-hexen-2-one 5-methyl-2-hepten-4-one 6-methyl-3.138 02.081 07.099 07.107 07.253 02.102 02.SNI 01-7152-2006 Tabel A.005 FEMA 3416 3603 3532 3368 3409 3761 3363 3868 3955 3969 4001 4008 3602 3888 3893 3980 3981 4007 4012 3382 3515 3752 3584 3608 2805 3824 3830 4022 4000 4051 3999 3937 4067 4032 3764 3755 4020 3794 3791 3863 29.055 13.-trimethyl-2hydroxycyclohexylidene)acetic acid gamma-lactone sclareolide octahydrocoumarin 2-(4-methyl-2hydroxyphenyl)propionic acid gamma-lactone 3-propylidenephthalide JECFA 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 EC 07.244 07.6.146 07.136 02.106 07.923 09.188 07.104 02.177 07.R)-3.061 10.034 13.925 09.070 10.109 16.

009 13.084 05.6-nonadien-1-ol acetate (E.4-decadien-1-ol 2-trans.024 13.E)-2.273 09.047 09.125 05.4-hexadienal (E.109 05.4.064 02.6-trans-octadienal 2.4-hexadienoic acid methyl sorbate ethyl sorbate (E.139 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.6-nonadien-1-ol 2.111 02.162 05.trans-2.001 08.058 05.639 09.105 05.044 08.4-heptadienal (E.trans-2.064 09.4-dimethyl-2-pentenoic acid 2-methylheptanoic acid isobutyl angelate 2-butyl-2-butenal 2-isopropyl-5-methyl-2-hexenal 2-ethyl-2-heptenal 2-methyl-2-octenal 4-ethyloctanoic acid JECFA 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 EC 10.101 02.079 FEMA 3334 3333 2381 2699 3217 3922 3429 3921 3714 2459 3164 3956 3721 3466 3951 2780 3212 3377 3766 3952 3911 3135 3869 3148 3832 3648 3422 3670 3637 3638 3998 3647 3407 3646 2054 3187 3599 3432 2678 3510 3194 3195 3143 2706 2180 3392 3406 2438 3711 3800 46 dari 122 .049 05.408 05.E)-2.120 05.095 05.4-hexadien-1-ol (E. 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 Nama Senyawa 3-n-butylphthalide 3-butylidenephthalide dihydrocoumarin 6-methylcoumarin 2.4-decadienoate 2.070 08.025 10.4-trans-decadienal methyl (E)-2-(Z)-4-decadienoate ethyl trans-2-cis-4-decadienoate ethyl 2.E)-2.4-octadien-1-ol trans.033 05.4-nonadien-1-ol 2.Z)-2.085 09.127 05.E)-2.071 05.840 05.4-undecadienal trans.172 02.090 08.300 09.188 02.057 08.7-decatrienoate propyl 2.1 (Lanjutan) No.6-trans-nonadienal (E.124 16.4-octadienal 2-trans.081 09.055 08.107 05.260 09.108 05.4-dodecadienal 2-trans-6-cis-dodecadienal 2-trans-4-cis-7-cis-tridecatrienal (+/-)-2-methyl-1-butanol 3-methyl-2-buten-1-ol 2-methyl-2-butenal 3-methyl-2-butenal ammonium isovalerate 3-methylcrotonic acid trans-2-methyl-2-butenoic acid isobutyl 2-butenoate 2-methylallyl butyrate 4-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenal 2-methyl-2-pentenoic acid 2.012 05.126 08.4-pentadienal 2.114 05.4-nonadienal nona-2-trans-6-cis-dienal 2-trans.076 02.371 09.E)-2.177 05.194 05.

004 04.040 03.012 02.11-dodecatrienal 3.015 04.043 04.001 13.089 FEMA 2309 2307 3142 2980 2507 2770 2303 3886 3141 4019 4005 3131 3777 3658 2465 3661 3735 3236 3774 3822 3471 2097 2680 2681 2930 3828 3436 2246 3799 2385 2386 3138 2144 2139 3198 3667 2371 FDA 2768 3719 2468 2474 47 dari 122 .7.063 04.016 04.038 04.9))tridecan e anisole o-methylanisole p-methylanisole p-propylanisole 2.010 03.1 (Lanjutan) No.11-trimethyl-2.027 02.007 03.088 13.2.021 08.058 05.0(4.3.165 13.6-trimethyl-6vinyltetrahydropyran tetrahydro-4-methyl-2-(2methylpropen-1-yl)pyran theaspirane cycloionone 1.9-tetramethyl-13oxatricyclo(8.5. 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 Nama Senyawa citronellol citronellal 3.170 13.6.SNI 01-7152-2006 Tabel A.0.4-dimethoxy-1-vinylbenzene benzyl ethyl ether benzyl butyl ether methyl phenethyl ether diphenyl ether dibenzyl ether beta-naphthyl methyl ether beta-naphthyl ethyl ether beta-naphthyl isobutyl ether isoeugenol isoeugenyl formate JECFA 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 EC 02.035 03.039 04.014 04.6-dimethyl-10-methylene2.020 05.5.7-dimethyl-6-octenoic acid rhodinol geraniol nerol citral 8-ocimenyl acetate 2.2-dimethoxybenzene m-dimethoxybenzene p-dimethoxybenzene 3.10dodecatrienal 12-methyltridecanal farnesol sec-butyl ethyl ether 1-ethoxy-3-methyl-2-butene 1.011 05.6.169 02.4-cineole eucalyptol nerol oxide 2.005 03.029 03.074 04.034 04.033 04.148 05.019 03.062 04.094 13.032 04.130 05.054 04.098 13.003 03.4-dimethylanisole 1-methyl-3-methoxy-4isopropylbenzene carvacryl ethyl ether 1.004 09.036 02.072 04.006 04.

921 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.139 08.3.571 09.257 15.239 12.564 09.Z)-3.6-nonadien-1-ol acetate 9-decenal 4-decenoic acid cis-4-decenyl acetate erythro.6-dimethoxyphenol isoeugenyl methyl ether isoeugenyl ethyl ether isoeugenyl benzyl ether isoprenyl acetate 4-pentenyl acetate 3-hexenal 3-hexenyl formate (cis and trans mixture) ethyl 5-hexenoate cis-hexenyl propionate cis-hexenyl isobutyrate (Z)-3-hexenyl (E)-2-butenoate cis-hexenyl tiglate cis-hexenyl valerate 3-hexenyl 2-hexenoate (Z)-4-hepten-1-ol ethyl cis-4-heptenoate (Z)-5-octenyl propionate (Z.4-dithia-1-methyl-8oxabicyclo(3. 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 Nama Senyawa isoeugenyl acetate isoeugenyl phenylacetate propenylguaethol propenyl-2.189 09.240 09.001 14.212 12.169 12.710 04.and threo-3-mercapto-2methylbutan-1-ol (±)-2-mercaptomethylpentan-1ol 3-mercapto-2-methylpentan-1-ol (racemic) 3-mercapto-2-methylpentanal 4-mercapto-4-methyl-2pentanone (±)-ethyl 3-mercaptobutyrate ethyl 4-(acetylthio)butyrate spiro[2.1 (Lanjutan) No.655 09.255 12.Z)-3.002 04.241 12.055 04.5-trithiahexane diisopropyl trisulfide Indole 6-Methylquinoline Isoquinoline Skatole JECFA 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 EC 09.075 09.6-nonadien-1-ol (E.Z)-3.238 12.007 14.198 14.017 04.013 04.030 09.559 09.568 09.6-nonadien-1-ol (E.563 09.3.042 14.674 05.922 02.918 12.004 FEMA 2470 2477 2922 3728 2476 2472 3698 3991 4011 3923 3353 3976 3778 3929 3982 3931 3936 3928 3841 3975 3890 3885 3884 3953 3912 3914 3967 3993 3995 3996 3994 3997 3977 3974 3270 4004 3978 4021 3968 2593 2744 2978 3019 48 dari 122 .179 12.0)octane-3.018 09.917 05.566 09.3'-(1'oxa-2'-methyl)-cyclopentane] 2-(methylthio)ethanol ethyl 5-(methylthio)valerate 2.151 09.007 12.

157 05.3.014 01.6-octatriene p-Mentha-1.1 (Lanjutan) No.030 14.045 14.003 01.3-cyclohexadiene beta-Bourbonene Cadinene (mixture of isomers) Guaiene Butyl 2-decenoate 2-Decenal 2-Dodecenal Ethyl acrylate Ethyl2-nonynoate 2-Hexenal 2-Hexen-1-ol JECFA 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 49 dari 122 EC 14.017 01.073 02.068 14.038 13.041 14.4-diene 1.3.SNI 01-7152-2006 Tabel A.021 01.005 01. 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 Nama Senyawa 1-Ethyl-2-acetylpyrrole 1-Methyl-2-acetylpyrrole Methyl 2-pyrrolyl ketone 2-Pyridinemethanethiol 2-Acetylpyridine N-Furfurylpyrrole 2-(2-Methylpropyl)pyridine 3-(2-Methylpropyl)pyridine 2-Pentylpyridine Pyrrole 3-Ethylpyridine 3-Acetylpyridine 2.016 01.046 14.047 14.009 01.060 14.515 2194 2366 2402 2418 2448 2560 2562 .026 09.7-Dimethyl-1.3-diene p-Mentha-1.235 05.515 FDA FDA 172.019 01.011 01.059 14.061 14.018 01.134 14.024 01.013 01.071 14.037 09.037 09.058 14.066 14.004 01.076 05.008 01.045 01.020 FEMA 3147 3184 3202 3232 3251 3284 3370 3371 3383 3386 3394 3424 3540 3546 3614 3709 3751 4065 2229 2252 2356 2633 2762 2856 2902 2903 3046 3129 3144 3186 3193 3331 3443 3539 3558 3559 3795 3821 3839 FDA FDA 172.164 01.6-Dimethylpyridine 5-Ethyl-2-methylpyridine 2-Propionylpyrrole Methyl nicotinate 2-(3-Phenylpropyl)pyridine 2-PropyIpyridine Camphene beta-Caryophyllene p-Cymene d-Limonene Myrcene alpha-Phellandrene alpha-Pinene beta-Pinene Terpinolene Biphenyl p.006 01.020 01.072 14.010 01.029 01.5-Undecatriene d-3-Carene Farnesene (alpha and beta) 1-Methyl-1.065 14.040 01.002 01.039 14.alpha-Dimethylstyrene 4-Methylbiphenyl 1-MethyI naphthalene Bisabolene Valencene 3.007 01.061 01.

395 06. 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 Nama Senyawa 2-(E)Hexen-1-yl acetate Methyl 2-nonynoate Methyl 2-octynoate Methyl 2-undecynoate 2-Tridecenal trans-2-Heptenal trans-2-Hexenoic acid 2-Nonenal 2-Octenal 2-Pentenal trans-2-Nonen-1-ol 2-Undecenal trans-2-0cten-1-yI acetate trans-2-0cten-1-yl butanoate cis-2-Nonen-1-ol (E)-2-0cten-1-ol (E)-2-Butenoic acid (E)-2-Decenoic acid (E)-2-Heptenoic acid (Z)-2-Hexen-1-ol trans-2-Hexenyl butyrate (E)-2-Hexenyl formate trans-2-Hexenyl isovalerate trans-2-Hexenyl propionate trans-2-Hexenyl pentanoate (E)-2-Nonenoic acid (E)-2-Hexenyl hexanoate (Z)-3.& (E)-2-Hexenyl propionate (E)-2-hexenal diethyl acetal 2-Undecen-1-ol Borneol Isoborneol Bornyl acetate Isobornyl acetate Bornyl formate Isobornyl formate Isobornyl propionate Bornyl valerate Bornyl isovalerate (endo-) Isobornyl isovalerate d-Camphor d-Fenchone Fenchyl alcohol Nootkatone 1.239 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.276 09.150 08.218 09.457 07.190 05.102 02.089 09.3.1 (Lanjutan) No.131 09.399 09.-Trimethyl-2-norbornanyl acetate Methyl jasmonate Cycloheptadeca-9-en-1-one 3-Methyl-1-cyclopentadecanone JECFA 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 EC 09.3.078 05.017 09.564 & 09.123 02.156 09.111 FEMA 2564 2726 2729 2751 3082 3165 3169 3213 3215 3218 3379 3423 3516 3517 3720 3887 3908 3913 3920 3924 3926 3927 3930 3932 3935 3954 3983 3933 & 3932 4047 4068 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2230 2479 2480 3166 3390 3410 3425 3434 50 dari 122 .054 05.192 08.090 05.072 08.397 09.082 09.153 09.398 09.112 02.176 09.016 02.456 09.159 02.210 02.196 09.073 08.158 09.109 09.521 07.031 02.101 09.072 05.059 09.038 07.156 09.396 09.395 08.006 07.269 09.277 02.110 07.

153 02.003 17.017 17.5-dimethyl-3(2H)furanone JECFA 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1434 1435 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 EC 02.010 FEMA 3587 3594 3715 3763 3776 3784 3844 3845 3849 3907 3992 4006 4054 4053 3252 3263 3285 3287 3295 3297 3301 3319 3444 3445 3585 3656 3684 3694 3726 3736 3813 3818 3819 3847 2566 2898 3055 3056 3057 3058 3174 51 dari 122 .136 07. 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 Nama Senyawa 2(10)-Pinen-3-ol Verbenol 7-Methyl-4.1 (Lanjutan) No.001 17.L-Menyhol(+/-)-propylene glycol carbonate L-Monomenthyl glutarate L-Menthyl methyl ether p-Menthane-3.101 07.305 09.007 13.019 17.100 02.010 17.014 17.012 17.920 17.SNI 01-7152-2006 Tabel A.049 13.2-diol Bornyl butyrate D.2-diol beta-Ionyl acetate alpha-Isomethylionyl acetate 3-(1-Methoxy)-2-methylpropane1.4a.8-diol beta-Alanine L-Cysteine L-Glutamic acid Glycine DL-Isoleucine L-Leucine DL-Methionine L-Proline DL-Valine DL-(3-Amino-3carboxypropyl)dimethylsufonium chloride L-Phenylalanine L-Aspartic acid L-Glutamine L-Histidine DL-Phenylalanine L-Tyrosine Taurine DL-Alanine L-Arginine L-Lysine 2-Hexyl-4acetoxytetrahydrofuran 2-(3Phenylpropyl)tetrahydrofuran Tetrahydrofurfuryl acetate Tetrahydrofurfuryl alcohol Tetrahydrofurfuryl butyrate Tetrahydrofurfuryl propionate 4-Hydroxy-2.002 17.018 17.022 16.166 13.033 17.020 13.005 17.224 09.048 13.140 07.008 17.6-tetrahydro2(3H)-naphthalenone 3-Methyl-2-(n-pentanyl)-2cyclopenten-1-one Dihydronootkatone 3-L-Methoxypropane-1.007 17.5.023 17.319 09.056 17.034 17.026 13.015 17.

m-.729 05.1 (Lanjutan) No.057 09.2-Dimethyl-5-(1-methylpropen1-yl)tetrahydrofuran 2.109 FEMA 3320 3373 3623 3635 3664 3665 3743 3746 3759 3797 4058 2453 2732 2735 2736 2737 2738 2739 2743 2748 2886 2888 2891 2892 3078 3199 3200 3224 3341 3519 3629 3892 52 dari 122 .728 02.052 05.5-dimethyl3(2H)furanone (+/.099 05.115 02.099 09.096 13.108 08.trans-2-Methyl.484 05.)-2-(5-Methyl-5-vinyltetrahydrofuran-2yl)propionaldehyde Ethyl 4-phenylbutyrate beta-Methylphenethyl alcohol 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl acetate 2-Methyl-4-phenyl-2-butyl isobutyrate 2-Methyl-4-phenylbutyraldehyde 3-Methyl-2-phenylbutyraldehyde Methyl 4-Phenylbutyrate 2-Methyl-3-(p-isopropylphenyl) propionaldehyde 2-Methyl-3-tolylpropionaldehyde (mixed o-.042 13.043 05.038 06.097 13.073 09.802 05.085 13.046 05.089 13.100 05.084 13.045 05.029 09.090 13.5-Diethyltetrahydrofuran cis.2-vinyl-5-(2hydroxy-2-propyl)tetrahydrofuran (Linalool oxide) 5-Isopropenyl-2-methyl-2vinyltetrahydrofuran (cis and trans mixture) 4-Acetoxy-2.097 09.5-Dimethyl-4-methoxy-3(2H)furanone 2. p-) 2-Phenylpropionaldehyde 2-Phenylpropionaldehyde dimethyl acetal 2-Phenylpropyl butyrate 2-Phenylpropyl isobutyrate 2-(p-Tolyl)propionaldehyde 5-Methyl-2-phenyl-2-hexenal 4-Methyl-2-phenyl-2-pentenal 2-Phenyl-2-butenal EthyI 2-ethyl-3phenylpropanoate 2-Phenyl-4-pentenal 2-Methyl-4-phenyl-2-butanol 2-0xo-3-phenylpropionic acid JECFA 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 EC 13.060 13.SNI 01-7152-2006 Tabel A.095 13.062 09.485 05. 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 Nama Senyawa Tetrahydrofurfuryl cinnamate 2-Methyltetrahydrofuran-3-one 2-Ethyl-4-hydroxy-5-methyl3(2H)-furanone 4-Hydroxy-5-methyl-3(2H)furanone 2.030 09.

069 13.137 13.107 13.5-Dimethyl-3-oxo-(2H)-fur-4-yl butyrate Furfuryl methyl ether Ethyl furfuryl ether Difurfuryl ether 2.106 13.014 07.or 6-keto-1.4-dioxane 2-Amyl-5 or 6-keto-1. 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 Nama Senyawa Sodium 2-oxo-3phenylpropionate Maltol Ethyl maltol Maltyl isobutyrate 2-Methyl-3-(1-oxopropoxy)-4Hpyran-4-one 2-Butyl-5.061 13.150 13.148 13.047 13.103 13.044 13.3-Dimethylbenzofuran 2.059 13.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dimethyl furan 2-Butyrylfuran (2-Furyl)-2-propanone 2-Pentanoylfuran 1-(2-Furyl)butan-3-one 4-(2-Furyl)-3-buten-2-one Pentyl 2-furyl ketone Ethyl 3-(2-furyl)propanoate Isobutyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 3-(2-furan)propionate Isoamyl 4-(2-furan)butyrate Phenetyl 2-furaoate Propyl 2-furanacrylate 2.006 13.4-dioxane 2-Hexyl.022 13.023 13.028 13.070 13.083 13.5-Dimethyl furan 2-Ethyl furan 2-Butylfuran 2-Pentylfuran 2-Heptyfuran 2-Decylfuran 3-Methyl-2-(3-methylbut-2-enyl)furan 2.525 13.021 13.043 13.or 6-keto-1.1 (Lanjutan) No.024 13.138 13.034 13.046 13.105 13.066 13.058 13.116 13.101 13.030 13.178 FEMA 2656 3487 3462 3941 2204 2076 2574 4179 4106 3673 4081 3317 3401 4090 4174 3535 4095 2494 2704 4175 3307 2492 3586 3163 3609 4071 3391 4083 2496 4192 4120 2495 3418 2435 2198 2071 2070 2865 2945 3970 3159 4114 3337 4034 4119 53 dari 122 .074 13.176 13.054 13.5-dimethyl furan 2-Acetyl-2.029 13.163 13.123 13.092 13.047 09.027 13.052 13.4-dioxane 2-Methylfuran 2.045 13.5-Dimethyl-3-furanthiol acetate Furfuryl 2-methyl-3-furyl disulfide JECFA 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 EC 07.4-Difurfurylfuran 3-(2-Furyl)acrolein 2-Methyl-3(2-furyl)acrolein 3-(5-Methyl-2-furyl)prop-2-enal 3-(5-Methyl-2-furyl)-butanal 2-Furfurylidenebutyraldehyde 2-Phenyl-3-(2-furyl)prop-2-enal 2-Furyl methyl ketone 2-Acetyl-5-methylfuran 2-Acetyl-3.

649 09.5-Dimethyl-4-ethyloxazole 2-Ethyl-4.020 09.648 13.1 (Lanjutan) No.088 09.169 13.4-Dimethyl-2-propyloxazole JECFA 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1568 1569 EC 13.766 09.030 14.561 09.191 04.070 14.112 FEMA 4056 4043 4075 2467 2473 2469 4118 2471 2682 2421 2181 2182 3925 4086 2637 2350 3048 2859 2767 2718 4116 4115 4149 4171 4170 4169 4078 3672 3525 2034 4082 4014 3312 3654 3338 3727 - 54 dari 122 .769 09.722 09.5-dimethyloxazole 2-Isobutyl-4. 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 Nama Senyawa 3-[(2-methyl-3-furyl)thio]-2butanone O-Ethyl S-(2furylmethyl)thiocarbonate 4-Allylphenol 2-Methoxy-6-(2-propenyl)phenol Eugenol Eugenyl formate Eugenyl acetate Eugenyl isovalerate Eugenyl benzoate Methyl anthranilate Ethyl anthranilate Butyl anthranilate Isobutyl anthranilate cis-3-Hexenyl anthranilate Citronelly anthranilate Linalyl anthranilate Cyclohexyl anthranilate beta-Terpinyl anthranilate Phenylethyl anthranilate beta-Naphthyl anthranilate Methyl N-methylanthranilate Ethyl N-methylanthranilate Ethyl N-ethylanthranilate Isobutyl N-methylanthranilate Methyl N-formylanthranilate Methyl N-acetylanthranilate Methyl N.039 12.716 09.154 13.4d)pyrimidine 1-Phenyl-3 or 5-propylpyrazole 4.025 12.118 13.193 12.718 09.SNI 01-7152-2006 Tabel A.878 09.7-Dihydro-2-methylthieno(3.091 13.723 09.107 12.801 09.764 09.003 09.029 13.781 09.724 09.721 09.014 14.195 13.765 09.5-dimethyloxazole 2-Methyl-4.102 12.115 13.N-dimethylanthranilate N-Benzoylantharanilic acid Trimethyloxazole 2.4.4-Dimethyl-3-oxazoline 2.715 09.650 09.717 09.096 04.5-benzo-oxazole 2.5-Trimethyl-delta-3oxazoline Allyl isothiocyanate Butyl isothiocyanate Benzyl isothiocyanate Phenethyl isothiocyanate 3-Methylthiopropyl isothiocyanate 4-Acetyl-2-methylpyrimidine 5.058 04.

6-Hexalactam 2-Isopropyl-N.3trimethylbutyramide N-Ethyl (E)-2.052 16.021 11.E)-2.015 11.018 16.346 08.1 (Lanjutan) No.N-Dimethyl menthyl succinamide 1-Pyrroline 2-Acetyl-1-pyrroline 2-Propionylpyrrole Isopentylidene isopenylamine Piperidine 2-Methylpiperidine Pyrrolidine Trimethylamine Triethylamine Tripropylamine JECFA 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 EC 16.4decadienamide Nonanoyl 4-hydroxy-3methoxybenzylamide Piperine N-Ethyl-2-isopropyl-5methylcyclohexanecarboxamide (+/-)-N.SNI 01-7152-2006 Tabel A.053 16.080 11.017 14.005 11.015 16.5-Epoxy-(E)-2-decenal beta-Ionone epoxide trans-Carvone-5.047 16.133 14.127 11.170 16.049 16.(Z)-6nonadienamide N-Cyclopropyl (E)-2.051 16.064 11.009 11.002 11. 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 Nama Senyawa 4.071 07.044 16.003 11.006 14.185 16.018 11.043 16.007 13.040 11.6-oxide Epoxyoxophorone Piperitenone oxide beta-Caryophyllene oxide Ethyl 3-phenylglycidate Ethyl methylphenyl glycidate Ethyl methyl-p-tolylglycidate Ethylamine Propylamine Isopropylamine Butylamine Isobutylamine sec-Butylamine Pentylamine 2-Methylbutylamine Isopentylamine Hexylamine Phenethylamine 2-(4-Hydroxyphenyl)ethylamine 1-Amino-2-propanol Acetamide Butyramide 1.023 11.020 09.013 14.010 14.005 11.(Z)-6nonadienamide N-Isobutyl (E.006 11.026 FEMA 4037 4144 4084 4109 4199 4085 2454 2444 3757 4236 4237 4238 3130 4239 4240 4242 4241 3220 4215 4251 4252 4235 3804 4113 4087 41482787 2909 3455 4230 3898 4249 4063 3990 2908 4244 3523 3241 4246 4247 55 dari 122 .003 16.2.042 16.

6.174 06.061 06.168 02.158 02.7-Decatrienal Pentanedial Hex-3(trans)-enal Pentene-4-al Citral propylene glycol acetal 1. 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 Nama Senyawa N.024 08.N-Dimethylphenethylamine Trimethylamine oxide Piperazine Dec-8-eno-1. 1-hydroxy.7-Dimethyl-2.6octatriene. (4E.4-dimethyl-1.6-Dimethyl-2.141 05.123 02.4.206 04.081 FEMA 4248 4245 4250 2203 - 56 dari 122 .SNI 01-7152-2006 Tabel A.187 02.025 14.or 2-oxopropanol 5-methylheptan-3-one pin-2-en-4-one Methyl ionone N trans-3-Methyl-2-(2-pentenyl)-2cyclopenten-1-one Succinic acid 3.1-diethoxybutane or Butanal diethylacetal Ethyl 2.169 07. Ethyl acetoacetate propylene glycol ketal Methyl cedryl ketone. Butyl alcohol Allyl alcohol Cedrenol 2-butanol 2-Methyl 3-Buten-2-ol Hex-3(trans)-en-1-ol Isophytol Nonenol Sclareol 3. acetylcedrene Decan-2-one Hexan-2-one 1-hydroxypropan-2-one or 2-propanone. 2.035 06.10-trimethyl2.022 01.129 05.001 01.4.087 07.020 04.5-dimethylphenol 2-Ethyl phenol o-Methoxybenzaldehyde alpha-Sinensal.068 02.196 07.035 01.6E)-Allo-ocimene Octene-1 2-methylbutan-2-ol tert.163 07.068 02.150 07.143 07.141 09.121 02.218 07.130 05.182 07.014 11.6.6-octadienoic acid JECFA 1613 1614 1615 EC 11.219 08.041 02.151 05.6E)-2.3dioxolane-2-acetate.11-dodecatrienal 2.754 01.9.149 05.052 02.070 05.1 (Lanjutan) No.119 02.5-lactone dl-Limonene alpha-Cedrene (4E.

205 12.6tetrahydropyridine 2-hydroxypyridine 2-Methyl-3-(methylthio)pyrazine Methylpyrrole-2carboxaldehyde/n 2-butyl-5-ethylthiophene 3.318 09.049 FEMA - 57 dari 122 .4.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-lactone or Delta tridecalactone Oxacycloheptadec-10-en-2-one Diethyl disulfide Dipropyl sulphide Ethyl Mercaptan Butyl thioisovalerate Dimethyl tetrasulphide 2-Methoxythiophenol Mercaptal acetaldehyde Isobutyhyl methylthiobutyrate 2.643 09.136 14.116 12.015 12.581 09.163 15.083 09.251 09.058 10.821 09. 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 Nama Senyawa Hept-2-enoic acid Ethyl hex-2-enoate 2-Hexen-1-yl acetate Ethyl linoleate Butyl Octanoate Methyl decanoate Oct-1-en-3-yl-acetate Benzyl octanoate Ethylene glycol butyl ether acetate Ethyl butyryl lactate Hexylsalicylate Isopentyl decanoate Isoamyl heptate Isopentyl lactate Isopropyl palmitate Methyl geranate cis-6-Nonenyl acetate Vetiver acetate Amyl benzoate Methyl-2-octenoate Methyl 3.119 13.928 10.106 12.606 09.118 14.190 09.673 09.6octadienoate Hexenyl acetate/trans-3 Tridecano-1.1 (Lanjutan) No.599 09.825 09.502 09.023 14.139 12.2.196 09.213 13.079 14.209 09.017 12.002 14.7-dimethyl-2.012 12.281 09.4-trithiolane JECFA EC 08.831 09.5.828 09.043 15.320 09.601 09.204 09.5-Dimethyl-3(2H)-furanone 2-Furoic acid 4-Methylquinoline 1-methylpyrrole 2-Acetyl-1.063 12.128 14.5-Diethyl-1.598 09.

4-Dimethylthiazole 2.031 09.081 16.234 02.070 15.077 15.033 FEMA 2053 2388 2392 2393 2394 2395 2421 2446 2460 2524 2528 2564 2633 2701 2708 2709 2725 2772 2860 2883 2951 2966 2967 2976 2977 2996 3038 3042 3173 3208 3233 3242 3255 3263 3277 58 dari 122 .086 09. disodium salt JECFA EC 15.6-Trimethyl-1.035 01.232 09.059 17.042 17.006 17.716 16.227 02.064 15.3-Benzodioxol-5-yl)butan-2one Methyl hexanoate Methyl 2-hexenoate Methyl 2-nonenoate Nerolidol Phenethyl benzoate 3-Methyl-1-phenyl-3-pentanol Propyl 4-hydroxybenzoate Pyridine Pyroligneous acid Quinine hydrochloride Quinine sulphate Rum ether Sucrose octaacetate Tannic acid 1-Hydroxy-2-butanone Methylthio(methylpyrazine) mixtures of isomers Vinylbenzene.1 (Lanjutan) No.090 14.110 16.774 02.018 09.5-dimethyl thiophene 2-ethyl-5-methylthiophene Hydroxydimethylthiophenone Penthyl Thiophane 2.495 09.069 09.196 01.062 15.008 16.037 09.1-Dimethyl-2-phenethyl acetate 2-Methyl-1-phenylpropan-2-ol 1.509 09.4.021 09.035 09.020 17.1-Dimethyl-2-phenethyl butyrate alpha-alpha-Dimethylphenethyl formate Ethyl anthranilate Ethyl nitrite Ethyl (E)-2-methyl-2-butenoate Glucose pentaacetate Glycyrrhizic acid.080 07.015 02.017 09.181 09.5-trithiane Ammonium hydrogen sulphide L-Cystine L-Serine L-Threonine Diammonium sulfide 1-Methyl-1-phenethyl isobutyrate 1. ammoniated Cis-2-hexenyl acetate l-Limonene 4-(1.915 14.096 15.3. 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 Nama Senyawa 2. Styrene 2-(4-Methylphenyl)-2-propanol L-Arabinose L-Cysteine Succinic acid.SNI 01-7152-2006 Tabel A.045 07.

064 09.285 13.003 06.565 08.253 09.850 09.and trans-Diethyl-1.010 17.114 15.092 09.316 12.146 09.248 13.282 09.283 09.299 16.520 07.1 (Lanjutan) No.292 09.104 11.087 13.SNI 01-7152-2006 Tabel A.4trithiolane (+/-)-Dihydrofarnesol JECFA EC 07.6.049 FEMA 3292 3296 3354 3404 3408 3421 3470 3486 3549 3591 3599 3606 3612 3641 3643 3651 3673 3675 3692 3712 3730 3779 3811 3817 3819 3900 3905 3906 3934 3957 3989 4002 4003 4009 4010 4016 4024 4025 4026 4027 4028 4029 4030 4031 59 dari 122 .114 09.076 08. monohydrochloride Sodium diacetate Vanillin propylene glycol acetal 2-Aminoacetophenone (Z)-3-Hexenyl pyruvate trans-2-Octenoic acid 3(2)-Hydroxy-5-methyl-2(3)hexanone Methyl 2-methyl-2-propenoate Methyl (methylthio) acetate (+/-)-Octan-3-yl formate Paraldehyde Sodium 4methoxybenzoylacetate Acetaldehyde diisoamyl acetal Amyl methyl disulfide Benzyl hexanoate Butyl ethyl disulfide beta-Cyclodextrin Diethyl trisulfide (+/-)-cis.097 14.109 14.063 09.053 06. 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 Nama Senyawa 3-Hydroxymethyl-2-octanone Isopropenylpyrazine n-Hexyl 2-butenoate N-(4-Hydroxy-3-methoxybenzyl)8-methyl-6-nonenamide Methyl dihydrojasmonate 2.266 09.007 15.008 09.647 12.6-Trimethylcyclohex-2-en1.055 12.926 05.2.052 09.4-dione Quinoline Ethyl trans-2-butenoate 6-Hydroxydihydrotheaspirane Theobromine trans-2-Methyl-2-butenoic acid d-Xylose 1-Octen-3-yl butyrate Ethyl trans-2-decenoate Ethyl trans-2-octenoate 6-Acetoxydihydrotheaspirane 2-Ethylfuran Ethyl trans-2-hexenoate Hexyl trans-2-hexenoate Methyl trans-2-octenoate L-Rhamnose Hydrogen sulfide Neohesperidine dihydrochalcone 2-Acetyl-2-thiazoline L-Arginine.254 12.

112 FEMA 4033 4035 4036 4038 4039 4040 4041 4042 4044 4046 4048 4049 4050 4052 4055 4057 4059 4060 4061 4062 4064 4066 4089 4129 4142 4145 4161 4162 4165 4196 4254 4256 4261 4267 4285 4289 4290 4291 60 dari 122 .5]decan-2one.9-dimethyl-6-(1methylethyl)1-heptanol.3-Octanedione (+/-)-1-Phenylethylmercaptan (Z)-4-Propenylphenol 2-Propionyl-2-thiazoline (Z)-8-Tetradecenal 2E.7Z-Decantrienal Hepten-1-ol-3 1-(3-hydroxy-5-methyl-2thienyl)ethanone Oxacycloheptadec-10-en-2-one 3-(Methylthio)propyl-butyrate (S)-1-Methoxy-3-heptanethiol 5-Octenoic acid.6-octadienyl cyclopropylcarboxamide 1.919 12.4-dioxaspiro[4.1acetate Ethyl (E)-2-methyl-2-pentenoate Methyl hexyl ether JECFA EC 15.042 07.155 02.383 06.3-dimethyl-2.4nonadienoic acid gamma lactone 3-Hydroxy-4-phenylbutan-2-one (+/-)-Methyl 5-acetoxyhexanoate 3-Methyl-2.203 05.SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dimethyl-1.208 05.3dioxolane 4-Hydroxy-3.141 02.5dimethoxybenzaldehyde 4-Hydroxy-2.089 05.184 05. methyl ester.153 12.126 12.063 09.242 09.632 07. 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 Nama Senyawa Dihydroxyacetone 2.1 (Lanjutan) No.7-dimethyl-2.4-nonanedione 9-Octadecenal 2.4E. (5Z)Phytol N-gluconyl ethanolamine N-lactoyl ethanolamine 3-methyl hexanal N-3.5-Dimethylthiazole (Z)-4-Dodecenal (+/-)-Ethyl 3-acetoxy-2methylbutyrate S-Ethyl 2acetylaminoethanethioate Ethyl methyl disulfide Ethyl propyl disulfide Ethyl propyl trisulfide Geranyl tiglate trans-4-Hexenal 2-Hexyl-4.3.3-mercapto-.256 09.153 10.

SNI 01-7152-2006 Tabel A.5-dithiahexane (E)-2-nonen-4-one (E)-4-nonenal Cis-& trans 1.1 (Lanjutan) No.4-thiazine Bis (1-mercaptopropyl)sulfide 2.2dihydroperilladehyde 2-isobutyl-4-methyl-5ethylthiazole 2-secbutyl-4-methyl-5-ethyl thiazole 5-pentyl-3H-furan-2-one 3-mercapto-3-methyl-1-butyl acetate 3-mercapto-1-butyl acetate 5-nonen-(E)-2-one 1-menthyl acetoacetate 4-octen-3-one JECFA EC FEMA 4296 4297 4298 4301 4302 4312 4318 4319 4323 4324 4325 4326 4327 4328 61 dari 122 .3-dihydro-1. 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 Nama Senyawa 5-acetyl-2.

2 B. merupakan suatu jamur yang tumbuh pada pohon larch. 666-99-9 Deskripsi B. terhirup atau terserap melalui kulit. Fr.1 mg/kg. Aloin tidak boleh diberikan pada penderita gangguan usus atau berpenyakit seperti Crohn 1 s disease..1 Aloin (aloin).1 Asam agarat dengan sinonim agarisin diperoleh dari Polyporus officinalis atau (N.O hymenomycetes). Polyporaceae).2 Fungsi lain Tidak ada B.2. B. Touchwoo.3 Kajian keamanan Aloin merupakan laksatif yang bersifat iritan yang berbahaya apabila tertelan.1. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Agaricus Albus.1 mg/kg. Funpurgatif. Agaric.1.1. Efek samping dari aloin adalah dapat menimbulkan kram pada lambung/usus. didefinisikan sebagai daging buah kering dari jamur Polyporus officinalis kering (Farm. tidak cocok dengan basa dan senyawa pengoksidasi yang kuat serta mudah terbakar. Tinder. Sementara Malaysia melarang penggunaan aloin dalam makanan. Aloin hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. Penggunaan Aloin dalam waktu lama bisa menyebabkan defisiensi kalium yang dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskuler.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Comission) dan EC (European Commission) melarang penggunaan Aloin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Nomor CAS. Toksisitas untuk Aloin adalah 20-30 mg/hari sebagai laksatif. 5133-19-7 Deskripsi Aloin dengan sinonim C-glycocyl dari aleo-emodin anthrone merupakan salah satu konstituen laksatif dari anthraquinone complex yang diperoleh dari getah tanaman Aloe ferox (Asphodeliaceae) dan Rhamnus purshiana DC. Batas maksimum penggunaan untuk makanan dan minuman adalah 0. memiliki titik leleh 1480C. dengan pengecualian pada minuman beralkohol sebesar 50 mg/kg.1. Larchenschwamm. G. B.SNI 01-7152-2006 Lampiran B (informatif) Kajian keamanan perisa B1 B. Nomor CAS. White Agaric. Asam agarat (agaric acid). Spunk. Larch Agaric. tumbuh pada satu atau lebih spesies dari Pinnus 62 dari 122 . Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan aloin sebagai natural toxicant dan dapat ditambahkan sebagai senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg dan produk makanan lainnya sebesar 0. Aloin memiliki rumus kimia C21H22O9 merupakan campuran dari dua diestereo-isomer yaitu Aloin A dan Aloin B berbentuk serbuk kristal berwarna kuning lemon. meski tosikologinya belum sepenuhnya diteliti.

setil alkohol. larut dalam air mendidih sampai cerah sempurna. Sediaannya yang mengandung asam agarat aktif dengan nama dagang agarisin telah dipasarkan dengan sedikit atau banyak cemaran.. C14H24O2 dan asam risinoleat. pangan olahan lainnya (20 mg/kg). Asam agarat sedikit larut dalam air. p. asam agarat dalam dosis tinggi dapat melumpuhkan urat syaraf dan kelenjar keringat. C26H44O. 1 ½ H2O dengan bobot molekul 443. umumnya tidak berbau dan tidak berasa. diikuti oleh paralisis. Chem.01-0. Menurut teori Mc Cartney bahwa aksi antihidrolik agarat disebabkan oleh kejang otot pada lapisan kulit.E.2 Fungsi lain Tidak ada B. dan Picea Link (Fam. D Eidel telah menghasilkan 2 fenetida dari asam agarat. Batas maksimum untuk makanan dan minuman 20 mg/kg pengecualian pada minuman beralkohol dan makanan yang mengandung jamur 100 mg/kg.P. Keberadaanya dalam makanan tertentu sesuai dengan batas yang diizinkan : minuman selain minuman beralkohol dan shandy (20 mg/kg). hidrokarbon padat. ii. 1889. Hal itu dapat menyebabkan peradangan dan sakit keras di tempat penyuntikan pada dosis ½ .. Asam agarat biasanya diberikan dalam bentuk pil dan sachet.3 Kajian keamanan Asam agarat melumpuhkan ujung syaraf pada kelenjar keringat dan kemudian dapat menghentikan night-sweate (keringat di malam hari). C16H33OH. agarat mengandung sedikit resin lembut (soft resin).03 Gm). asam lemak. xlvii. berwarna hampir putih.2. makanan yang mengandung jamur (100 mg/kg). mempunyai titik leleh 140 oC. Asam agarat mempunyai rumus kimia C19H36OH (COOH)3. Agarat berfungsi sebagai obat dalam bentuk asam agarat. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Pada dosis yang besar mempunyai aksi purgative. Schmieder. C9H18O. litium dan agarisinat bismut sudah dikenal sebagai obat. Larix Adanson. dosis awal harus kecil. C15H20O4 yang diesktrak dengan petroleum benzin dengan konsentrasi 4 . menyebabkan rasa mual dan seperti obat cuci perut. Berbagai jenis asam agarat diperdagangkan dalam daya regang yang kuat. Lehrbuch der Pharm. B.189). sebagai antipiretik dan antihidrotik (Ph. merupakan larutan dalam kaustik soda bebas busa. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. C23H46 dan C29H54. Selain itu dapat menyebabkan eksitasi primer pada medula. Dari segi obat-obatan solanaceous.2. Pinaceae). Rosenbaum telah menemukan ekstrak cair dari agarat.SNI 01-7152-2006 Linne. dalam alkohol (1 dalam 100). Menurut Hoffmeister (A.. xxv. natrium. Ztg.) J.). minuman beralkohol. alkohol aromatik cair. Pada prinsipnya dosis murni antara 1/6 sampai 1 ½ butir (0. Malaysia melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa. ini diserap lebih pelan dan oleh karena dosis ini perlu diambil beberapa jam sebelum kekuatannya berhenti. Asam agarat dalam bentuk yang tidak murni berwarna kekuningan.6 % pada lemak tubuh yang dibuat dari agarikol. 3te Auf. shandy.P. Asam agarat tidak diatur secara hypodermically. dan merupakan cairan berbusa.6 cg (5-60 mg). fitosterin. Agarat berasa agak manis dan sangat pahit... sering dikenal sebagai larisat dan asam agarisinat. 1528. agarat dipercaya sebagai obat. India membatasi keberadaan asam agarat secara alami dalam berbagai artikel pangan tidak 63 dari 122 . C10H16O disatukan pada suhu 223 oC (433oF).4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan asam agarat dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Pada awalnya dapat meningkatkan tekanan darah dan kecepatan respirasi yang diikuti oleh pengurangan aktivitas dari keduanya. C18H34O3. Menurut J.344 merupakan senyawa berbentuk serbuk mikrokristal. Schmidt.2. Penggunaan yang paling utama dari agarat adalah didalam perlakuan pada kondisi yang rusak terhadap keringat kolikuatif seperti ftisis. Pada dosis tinggi bersifat iritan pada perut dan usus. B.

3 B.3 Kajian keamanan Belum ada data yang cukup tentang asam pirolignous. minyak kayu. Jika kayu dipanaskan. Asam pirolignous dalam bentuk mentah (crude) kemudian dimurnikan dengan cara destilasi fraksional supaya aman (food grade) digunakan pada produk-produk makanan.4 B. produk akhirnya adalah charcoal. kayu ditempatkan dalam oven dan mulai dipanaskan. B.3.1 Asam pirolignous merupakan limbah dari hasil produksi charcoal dari batang.SNI 01-7152-2006 melebihi batas spesifik (100 mg/kg). B. Sianida terjadi secara alami pada bahan perisa tertentu. seperti sianida yang lain. 64 dari 122 . Nomor CAS. suhu kayu tinggal 100°C -110°C. Asam sianida (hydrocyanic acid).4. sebagian lagi diturunkan dari buah-buahan dan bagian lain dari spesies Prunus dan dinyatakan bahwa sianida adalah unsur organoleptik. pada saat kayu mengering. dan mulailah terpisah-pisah secara spontanitas. Kondensat mentah (crude) yang dihasilkan dari destilasi kayu ini disebut asam pirolignous.1 HCN adalah racun protoplasmatik.4 Pengaturan Malaysia melarang penggunaan asam pirolignous sebagai perisa. Reaksi ini terjadi selama pembakaran charcoal. tars dalam jumlah yang bervariasi. Ion sianida bergabung dengan enzim yang membawa oksigen dapat menghambat aktivitas sel dan merupakan ancaman terhadap fungsi-fungsi vital. liquor (minuman keras) perlahan-lahan menjadi keruh dan kandungan asamnya meningkat. aseton.3. Asam pirolignous juga dikenal dengan wood vinegar (vinegar kayu). Nomor CAS. Ada banyak pangan yang mengandung bahan sianogenik sianida yang diproduksi dalam metabolisme menjadi tiosianat. Jika tidak dalam keadaan hampa udara.3.3. Asam pirolignous (pyroligneous acid). Destilasi fraksional ini disebut juga ekstrak asam pirolignous. produk makanan yang mengandung jamur dengan batas maksimum 100 mg/kg. Proses karbonasi berlangsung pada suhu di atas 270°C. 74-90-8 Deskripsi B. tapi juga mengandung metanol (wood alcohol). Sedangkan Singapura melarang penggunaan asam agarat sebagai bahan perisa Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam agarat sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 100 mg/kg. Distilat utama (kondensasi dari gas) hampir berupa air dan tidak sampai 4 jam. gelap tersusun dari asam asetat. 8030-97-5 Deskripsi B. dan sampai proses ini lengkap. Asam pirolignous merupakan cairan berwarna kemerahan. Jika dalam keadaan hampa udara.2 Fungsi lain Tidak ada. Asam pirolignous adalah limbah dari hasil produksi charcoal dengan cara karbonasi dari kayu dalam keadaan hampa udara. maka kayu akan terbakar dimana suhunya mencapai 400°C -500°C dan produk akhirnya berupa abu kayu. Selama destilasi. B. suhunya meningkat menjadi 270°C.

CN.TLV.SNI 01-7152-2006 B. Toksisitas HCN dalam udara berdasarkan nilai parameter berikut ini: LC50 : 135 mg/kg .4. minuman beralkohol 1 mg/kg per % volume.4. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) 5 mg/kg.4. konfeksionari (kembang gula) selain marzipan (kacang-kacangan) 25 mg/kg. Komisi Eropa juga mempertimbangkan bahwa jumlah sianida yang ada dalam produk pangan dan produk minuman sebagai hasil dari penambahan perisa yang mengandung perisa harus dibatasi pada tingkat terendah untuk mencapai efek organoleptik yang diinginkan. paralysis saluran pernafasan dan kerusakan ginjal serta hati yang tidak bisa disembuhkan.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan asam sianida dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.2 Fungsi lain Tidak ada B. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. sari buah berbiji tunggal (stone fruit juice) 5 mg/kg. 65 dari 122 .+ H+ HCN Komisi Eropa memutuskan bahwa asam sianida dan garamnya tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan dan oleh sebab itu tidak ada spesifikasi yang disiapkan. Sementara Singapura melarang penggunaan asam sianida sebagai bahan perisa yang terkandung dalam minyak volatil almond pahit. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. marzipan (50 mg/kg).3 Kajian keamanan Penggunaan asam sianida mempunyai efek terhadap penahanan myocardial. marzipan 50 mg/kg. IDLH : 50 mg/kg . minuman beralkohol (1 mg/kg per 1% kandungan alkohol). dan pangan olahan lain 1 mg/kg.Celling : 10 mg/kg B. Malaysia mengatur keberadaan asam sianida dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy 1 mg/kg. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan asam sianida (total) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk pangan sebagai berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (25 mg/kg). sari buah berbiji tunggal (stone fruit juices) (5 mg/kg). marzipan (kacang-kacangan) 50 mg/kg. Penggunaan HCN di perusahaan electroplatina adalah secara langsung mencegah kontak kecelakaan antara garam sianida dan larutan asam yang menghasilkan bentuk gas HCN. Masalah praktis utama dengan pencernaan kronik dari makanan-makanan sianogenik adalah efek goitrogenik dari tiosionat dan ini adalah masalah serius ketika hal tersebut terjadi karena diet kurang iod. Sedangkan India mengatur keberadaan asam sianida secara alami pada berbagai artikel pangan tidak boleh melebihi batas tertentu (5 mg/kg). Batas maksimum pada makanan dan minuman 1 mg/kg pengecualian pada konfeksionari(kembang gula) 25 mg/kg.

Asarum europaeum L.p.5.1 B.pada mencit – i.1.2 Fungsi lain Secara tradisional (etno-farmakologi) akar dari A. memiliki nama kimia : Isomer cis dari 2. (Araceae).21%) .8. dan rumus molekul C12H16O3.331 mg/kg bobot badan. Piper angustifolium R. angustatus Bess (Acorus triqueter Turcz. Asarubacca camphor. .p. B. 5273-86-9 Deskripsi Beta-asaron dengan sinonim Asarin.5 B. arisfolium L. Dilaporkan juga asaron diketemukan dalam tumbuhan :Acorus gramineus Ait. 66 dari 122 .4 Pengujian mutagenisitas dengan metode ames Pada 2-200 μg/plate tidak mutagenik terhadap Salmonella typhimurium galur TA-98.80% beta-asaron) .3% dalam rhizoma kering.1 Kajian Keamanan Data toksisitas Akut (LD50) Beta-asaron: . (asaron).3 B. vulgaris L. Daucus carota L. Asarum arifolium Michx (α asaron).5. (Z) asaron. .3. A.5. 9-19% dalam rhizoma dan 0. Asarum camphor.1 Beta asaron (β – asaron).3% dalam rhizoma kering.SNI 01-7152-2006 B.var. 1.3.74% dan O= 23. Indeks bias n11p = 1. asam asetat glasial dan tidak larut dalam air. LD50 = 1.331 mg/kg bobot badan.5-trimetoksi-1-propenil-bensen atau 1 (2.3. B. (alfa asaron).05%) Indeks nama CA: Bensen. Sassafras albidum (Nutt.pada tikus – oral LD50 = 3. calamus (Acorus calamus L.var.p.H=7. .pada mencit – i.) Moench. Ekstrak n-heksan dari rhizoma dan akar sebanyak 38%.pada tikus – oral LD50 = 1. Aktivitas mutagenik teramati pada 5000 mg/kg (0. (Aristolochiaceae).4.139 mg/kg bobot badan. Melalui destilasi air dapat diperoleh pula dari akar Asarum europaeum L. LD50 = 4. larut dalam alkohol. (β asaron). cis-isoasaron.var. B. β-Azarone.& P.pada mencit – i. B.5.010 mg/kg bobot badan.1.4-trimetoksi-5(12)-1 profenil-(9 CI). TA-1535.pada tikus – i.4% . mengandung beta-asaron 85-95% dalam rhizoma dan 4.5. tonikum.1.Linn (Acaceae) antara 75%-80%.5. disentri.339 mg/kg bobot badan. beta-asaron adalah konstituen minyak kalamus yang diperoleh dari akar (rhizoma) kering Acorus calamus.0)mg/kg bobot badan. Helichrysum arenarium (L.2 Minyak kalamus (mengandung 75% .3.) Ness (asaron).25 (C=61.pada tikus – oral LD50 = 4. var. mengandung beta-asaron : 5065% dalam daun. asma. TA-1537 dan TA-1538 dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9).)..andamanica (asaron). Piper sumatranum DC. Piper lolot Dc. Titik didih 2960C.3 Minyak acorus : . Nomor CAS. .).5%) dengan penambahan aktivitas metabolik (S-9). beta-asaron memiliki titik leleh 620C -630C (kristal jarum dari light-petroleum). TA100.p. Acorus calamus L. cis-β-asaron.497 mg/kg bobot badan.LD50 = (184. serta memiliki bobot molekul 208.5.4.2±1.5. stimulan dan sebagai insektisida.3. calamus digunakan sebagai obat kejang lambung.2. Magnolia salicifolia Maxim (α asaron). eter. Acorus calamus L.571. LD50 = 1. (α asaron). B. antelmintik.(asaron).1. cis-asaron.5-trimetoksifenil) -1-propen.

perubahan hati dan ginjal serta adanya masa tumorus 1 jenis leiomyosarcoma dalam saluran cerna. ginjal dan hati juga terjadi pada hewan yang menerima perlakuan. dimana mengandung beta-asaron yaitu minyak atsiri alkil benzen dapat menjadi bentuk metabolit epoksid oleh aktivitas enzim mikrosom hati.3.04-0. anjing dan kera. atau minyak yang mengandung beat-asaron dan 0.p.7 Studi pemberian berulang jangka panjang Pemberian beta-asaron selama 2 tahun dalam bentuk diet makanan (0. selama 13-18 minggu pada tikus jantan dan betina menunjukkan penekanan pertumbuhan.00 mg/telur terjadi 100% embrio mati. menekan aktivitas dan tonus otot mencit dengan penekanan terhadap aktivitas spontan. Dosis 25 dan 50 mg/kg bobot badan memberikan efek muntah pada kucing.3.04 mg/telur menunjukkan embrio hidup 43% dan juga betaasaron 4.5. setara dengan pada manusia 20. Toksisitas akut atau pemberian dosis tunggal beta-asaron secara oral pada tikus menunjukkan nilai LD50 1. dan asam 1-dan d-amino amino aksidase pada hati dan ginjal tikus.5.p. Fibrosis kardiak/atropikardiak. dan Asarum Spp. memperpanjang waktu tidur (2x) Natrium pentobarbital pada mencit dan dengan dosis 75 mg/kg bobot badan memperpanjang waktu tidur (dua kalinya) etanol pada mencit. beta-asaron dengan dosis 0. hexobarbital dan etanol pada mencit atau ada efek hipotik-potensiasi. Minyak atsiri hasil destilasi dari akar dan rhizoma Acorus calamus var. beta-asaron 50 mg/kg bobot badan secara i. mencit. anjing dan kera. perubahan organ hati. hiperaemia pasif paru-paru.SNI 01-7152-2006 B.1.2 ml larutan yang mengandung 0. Disamping terjadinya tumor jenis leiomyosarkoma terjadi pula adenoma dan adenokarsinoma hepatoselular pada organ hati. Teramati pula atropi pada sel-sel otot jantung. Hal ini menunjukkan induksi akibat gangguan fungsi jantung. infiltrasi lemak pada myokardium dan fibrosis jantung.37 mg/kg bobot badan.6 mg/kg bobot badan.5. Pada kucing teranestesi dengan dosis 1-32 mg/kg bobot badan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan denyut jantung.044. perubahan cairan abdominal dan kantung pleural. infiltrasi lemak dalam jantung. Tumbuhan Acorus Spp.6 Pemberian berulang minyak kalamus dan ekstrak hidro-alkohol dari rhizoma Acorus calamus yang mengandung beta-asaron.5 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Telur diinokulasi dalam kantung vitelinum dengan 0. Menurunkan suhu tubuh mencit.2 mg/kg bobot badan. perubahan cairan serosa rongga perut dan kantung pleural.1. minyak acorus dapat menginhibisi aktivitas enzim monoaminoksidase. Tak teramati efek teratogenik dari kalamus dan alfa asaron.3.25% betaasaron) pada tikus jantan dan betina menunjukkan peningkatan angka kematian. Meningkatkan efek toksik dari metrazol pada tikus. Efek kerusakan mikrokopik patologik pada hati dan jantung yang teramati berkorelasi dengan dosisnya. dengan dosis 10-100 mg/kg menunjukkan efek sedatif-penenang pada tikus.0 mg beta atau alfa-asaron.1. yang bersifat hepatotoksik dan genotoksik. Studi in vitro. kucing. Sedangkan pemberian dosis tunggal secara intraperitoneal pada mencit menunjukkan nilai LD50 184. B. Indian dengan dosis 20-100 mg/kg bobot badan menunjukkan : a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Efek perpanjangan tidur oleh pentobarbital.p.010 mg/kg bobot badan atau setara dengan pada manusia 161. Pemberian secara i. Studi pemberian berulang jangka pendek B. Tidak ada efek terhadap toksisitas amfetamin. Dosis 10-150 mg/kg bobot badan secara i. Disamping terjadi hiperaemia dan kongesti 67 dari 122 . peningkatan mortalitas.15-15 mg minyak kalamus Eropa atau India.

alpha-hydroxytoluene.6 oC : 13.6. Kajian keamaan dilakukan oleh JECFA menggunakan Prosedur Evaluasi Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkahlangkah sebagai berikut: a) Langkah 1: Benzil alkohol tergolong ke dalam struktural kelas I (Cramer). phenylmethyl alcohol.6.3 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) pada hewan percobaan secara oral adalah 1040-3200 mg/kg bb dan secara peritoneal sebesar 1000 mg/kg dan 650 mg/kg dimana keracunan muncul setelah 7 hari.2 oC. eter dan CHCL3 tetapi agak sukar larut dalam air (4 g dalam 100 g air @ 25 oC).5. b) Langkah 2: Benzil alkohol diprediksi dapat dimetabolisme menjadi produk innocuous. Apabila termakan. Nilai ADI 0-5 mg/kg bb. phenylcarbinol.539-1.042 – 1. titik didih 205 0C. Sementara Australia dalam Australian Food Standard Code mengatur betaasaron sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg. B. bercampur dengan etanol. Titik asap >212° F. 100-51-6 Deskripsi B.541. tekanan uap 10 mm Hg @ 92. Benzil alkohol dilaporkan terdapat secara alami di alam. terhisap atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan iritasi pada kulit.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan beta-asaron dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.6. titik nyala (flash point) 100. pada manusia belum ada. berat molekul 108. kondisi ini ditemui pula pada organ lain. Studi tentang distribusi. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). gravitasi spesifik (suhu 25° C) 1. c) Langkah 3: Estimasi asupan Benzil alkohol di Eropa (16000 μg) dan di USA (17000 μg) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas I (1800 μg). metabolisme beta-asaron dalam tubuh masih terbatas pada tikus. Benzil alkohol diperoleh melalui peranan katalis pada benzil klorida.2. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 41050 mg/l pada suhu 25° C.539 – 1. Nomor CAS. Benzil alkohol mempunyai rumus kimia C6H5CH2OH. indeks bias 1. dengan batas maksimum dalam satuan (mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.541 pada suhu 20 oC. benzylic alcohol.5 oC (open cup).6oC (closed cup) dan 104. dan viksositas 5 cP (25 oC). phenylmethanol. alpha-toluenol digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan carrier solvent.2 Fungsi lain Tidak ada B.SNI 01-7152-2006 pada organ hati. mata dan mempengaruhi sistem syaraf pusat. Benzil alkohol (benzyl alcohol). B. pengecualian pada minuman beralkohol dan sebagai bumbu (1 mg/kg). Benzil alkohol merupakan cairan yang mudah terbakar. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0. Malaysia dan India melarang penggunaan beta-asaron dalam makanan. refractive Index (suhu 20° C) 1. dan makanan yang mengandung bumbu dalam jumlah kecil (batas maksimum beta-asaron 1 mg/kg). Memiliki cairan jenih.1 mg/kg). Benzil alkohol telah dikaji keamanannya oleh JECFA pada tahun 2001 dan diputuskan bahwa dalam penggunaanya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. barbau khas. 68 dari 122 .6 B. Benzil alkolol mudah larut dalam etanol 50%. titik lebur -15.047. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.1 Benzil alkohol dengan sinonim benzenemethanol.14. dan rasa yang menyengat.

351 g/ cm3. 0 C. dan atau intramuskular. teh hitam 1-15 mg/kg. dan 6 mg/kg bb menyebabkan tumor pada perut setelah 43 minggu dengan jumlah yang berbeda bergantung pada dosis. 3. titik didih >360 0C. benzil akohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). titik leleh 179-179. Benzo[a]piren (benzo[a]pyrene). pemberian subkutan. 1.7. Leukimia Dosis oral 6-12 mg/kg bb menimbulkan leukemia setelah 100 hari atau lebih. JECFA no 25. Apabila dicampurkan ke dalam pakan. a) Pada mencit. i.. - 69 dari 122 .p). menyebabkan adenoma paru-paru setelah sekitar 6 bulan.7. Sebagai konstituen alami dalam edible fruits 5 mg/kg.Benzopyrene.Benzopyrene memiliki rumus molekul C20H12 . Adenoma paru-paru dan leukemia terjadi setelah mencit diberi pakan yang dicampur dengan Benzo[a]piren 250 mg/kg selama 140 hari.1 Benzo[a]piren dengan sinonim 1.7 B. pemberian secara inhalasi dan atau intratrakeal. Benzo[a]piren merupakan karsinogen. 50-32-8 Deskripsi B.Benzopyrene. dan 6.p. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batasan 500 mg/kg pada produk pangan.7.3 Kajian keamanan Toksisitas LD50 pada mencit adalah 250 mg/kg bb (i.36. berat molekul 252.4 JECFA menyatakan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.30.. ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman sebesar 400 mg/kg (chewing gum 1254 mg/kg). Benzo[a]piren menyebabkan: Tumor pada perut. Tumor pada paru-paru. benzil alkohol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).4. Benzo[a]piren yang diberikan langsung ke dalam perut pada dosis 0.5.2. Kedua dosis tersebut menimbulkan tumor perut masing-masing pada 100% dan 25% mencit setelah pemberian pakan selama lebih dari 85 hari. terutama menyebabkan tumor lokal pada berbagai spesies setelah pemakaian pada kulit. Pemberian 100 mg/kg bb.7. teh hijau 1-30 mg/kg. Nomor CAS.6. USA menyatakan bahwa benzil alkohol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS no 2137. dosis 250 atau 1000 mg/kg menyebabkan papiloma dan karsinoma perut. implantasi intrabronkial. B.SNI 01-7152-2006 d) Langkah 4: Benzil alkohol dapat dimetabolisme langsung menjadi asam benzoat yang merupakan senyawa endogenous pada manusia. Pengaturan B. Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.dan kerapatan 1.2 Fungsi lain Tidak ada B. dan cara pemberian lain.

8.8 B.10-dimethoxybenzo-1. Australia dan New Zealand (FSANZ) menetapkan berberin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (0.8. 2086-83-1 Deskripsi Berberin dengan nama kimia 5. terjadi papiloma perut setelah pemberian 2-5 mg/hamster selama 1-5 bulan. Benzo[a]piren (100 mg/ tikus. Pada hamster. untuk itu penggunaan berberin harus dihindari bagi wanita hamil.4-Benzo[a]piren) pada produk akhir makanan.4 JECFA membatasi penggunaan Benzo[a]piren tidak melebihi 0. oral. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengatur bahwa perisa tidak boleh berkontribusi lebih dari 0. gejala seperti flu. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.6-Dihydro-9. Kebanyakan tanaman yang mengandung berberin dapat merangsang uterus. Kelarutan berberin basa di dalam air lambat. Benzo[a]piren bersifat embriotoksik dan teratogenik pada mencit. B.03 ppb (3.1 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol (10 mg/kg). B. Pengaturan c) d) e) B. dan tejadi papiloma dan karsinoma setelah pemberian 6-9 bulan. gangguan saluran pencernaan.4 Pengaturan CAC dan EC tidak memperbolehkan penambahan berberin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. dan kerusakan jantung. dalam 60 hari) menyebabkan tumor kelenjar susu. EC (European Commission) membatasi keberadaan Benzo[a]piren hasil penambahan flavoring pada makanan dan minuman (0. Dosis 120 mg/kg bb/hari yang diberikan pada mencit bunting menimbulkan toksisitas uterus dan kerusakan janin.8.03 mg/kg). 70 dari 122 . Pemberian 150 mg/kg bb pada mencit bunting menyebabkan imunosupresi yang dapat berkembang menjadi tumor. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.01 mg/kg dalam smoke flavoring (perisa asap).5 mg/tikus menimbulkan papiloma oesofagus dan perut pada tikus jantan dan betina.6a}quinolizinium mempunyai rumus molekul C20H18NO4 dengan bobot molekul 336.2 Fungsi lain Tidak ada B. sesak napas.3-benzodioxolo{5.8. Nomor CAS. Selama 8-12 bulan. Batas maksimum untuk makanan dan minuman (0. toksisitas akutnya (LD50) terhadap mencit adalah 25 mg/kg bb.SNI 01-7152-2006 b) Pada tikus jantan. B. Berberin sulfat larut dalam 100 bagian air.1 Berberin (berberin). Malaysia melarang penggunaan berberin dalam makanan.1 mg/kg).37 dan titik leleh 1450C.3 Kajian keamanan Dosis yang tinggi dapat menyebabkan tekanan darah menurun. Untuk berberin sulfat. 2.7.

Glycol ether.3.2'-Oxyethanol. Semen Tonco. B. Kandungan komarin dapat mencapai 10%. Cumaru. Tonkaboon. Dietilen glikol (diethylene glycol). Lõhnav dipteeriks.9. pada dasarnya tidak berbau. Biji tonka (Coumarouna odorata) berasal dari daerah Guayana. akan hamil dalam waktu dekat. custard dan soufflé.1 Kajian keamanan Efek penggunaan biji tonka Menghambat atau menghentikan pembekuan darah dan berfungsi sebagai antikoagulan. Tonkapapu.2'71 dari 122 . Dactivator E. 2. Tonquin bean.9. Penggunaan tonka bean akan mengakibatkan kelebihan berat badan bagi penggunanya. Fèves de tonka. walnut atau poppy. Tonka bean memiliki titik nyala 142 °F.10. dan Singapura melarang penggunaan biji tonka sebagai perisa dalam produk pangan. Biji tonka dimasukkan dalam daftar senyawa perisa yang dilarang. Biji tonka yang beraroma manis dan kuat digunakan sebagai senyawa campuran pada perdagangan vanili ataupun produk vanili. 2. Komarin mengganggu sintesa vitamin K pada bagian pencernaan manusia. B. 2. DEG. Komarin dapat dikeluarkan dari biji tonka dengan cara merendamnya dalam alkohol selama 24 jam. tidak larut dalam air.TL4N.9 B. Dihydroxydiethyl ether.9. 8024-04-2 Deskripsi Biji tonka dengan sinonim Coumarouna odorata. Glycol ethyl ether. beta. permen berbahan baku kelapa.9. sedang menyusui. Kajian toksisitas biji tonka secara ilmiah belum ada. Tonkabønne. pembekuan darah terganggu. Tonkas pupinas. Ethanol. Tonkaoa puu.1 Biji tonka (tonka bean). stabil. Bob tonka. Tonco bean.1 Dietilen glikol berwujud cair. Dissolvant APV. B.4 Pengaturan India.SNI 01-7152-2006 B. Nomor CAS. mobile. Bis (2-hydroxyethyl) ether. Tonkowiec wonny. 2.9. Nomor CAS. Nama lain dari dietilen glikol adalah Ethylene diglycol. Tonkabohne. tidak berwarna. Dicol. Tonka kini semakin jarang digunakan karena adanya komarin yang bersifat toksik dan karsinogenik. dan bayi dan anak-anak.3. larut dalam air. Biji tonka dilaporkan ditambahkan pada bebrapa makanan seperti adonan cake atau cookies. dan kini dibudidayakan pula di daerah Venezuela dan Nigeria. TOHKa. Orinoco (bagian utara Amerika Selatan).3 B. Diglycol.2 Fungsi lain Biji tonka digunakan sebagai pengganti vanila pada produk makanan seperti es krim. digunakan sebagai carrier solvent.2'-Diydroxyethyl ether. Biji tonka juga sering digunakan sebagai senyawa perisa pada rokok. Tonka bean mengandung komarin.beta'-Dihydroxydiethyl ether. terutama digunakan di negara-negara yang penggunaan rasa pahit almon dilarang. B.10 B. cairan kental seperti sirup. memiliki cairan jernih.2'-Oxybisethanol. Tonka bean digunakan sebagai pengganti rasa pahit dari almon.2 Peringatan Jangan menggunakan biji tonka apabila anda sedang hamil.2'oxydi-.9.5-diol. 2. 3-Oxapentane-1. Akibat kekurangan vitamin K. Fabae Tonco. 111-46-6 Deskripsi B. Semená stormov rodu mempunyai rasa manis dan sangat kuat.

sesak pada sistem pernafasan. Apabila terhirup dapat menyebabkan sakit pada hidung dan kepala. Percobaan terhadap ransum makanan tikus menunjukkan kerusakan ginjal pada tingkat sedang pada konsentrasi 1 %. hati.SNI 01-7152-2006 Oxydiethanol atau 3-Oxa-1.i.3.1 mm Hg @ 20oC (68oF).3 Kajian keamanan Berdasarkan data dari hewan percobaan dalam jangka panjang.2 Fungsi lain Tidak ada. Dietilen glikol memiliki rumus kimia C4H10O3. Toksisitas akut (LD50) pada kelinci: >2g/kg. B.10. ginjal. Pada mencit . menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak. perubahan pada limpa kecil. Pada konsentrasi 2 % dan 4 % dapat menyebabkan tumor pada empedu tikus dikarenakan adanya pengendapan kalsium oksalat yang menimbulkan iritasi secara mekanik namun bukan sebagai efek dari kanker.10. Dietilen glikol tidak secara langsung diserap oleh kulit. perubahan hati. menyebabkan berkurangnya aktifitas.10. B.118 @ 20/20oC. dan dalam kasus yang ekstrim dapat berakibat fatal. 584 gm/kg/2 tahun. sementara itu pada konsentrasi 2% dan 4 % menyebabkan kerusakan ginjal yang lebih parah. 890 gm/kg/53 minggu menyebabkan tumor pada empedu. Dietilen glikol tidak menyebabkan terjadinya mutasi gen dan tidak merintangi reproduksi pada hewan percobaan. Dietilen glikol ini akan dicoba untuk dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. berat molekul 106. grafitasi spesifik 1.3 Hasil evaluasi Di beberapa negara material ini dilarang digunakan sebagai perisa pada makanan. Selain itu jika diinjeksi dalam kuantitas besar dapat membahayakan.75 mg/kg. Pada anak (oral) = 2400 mg/kg. Sedikit beracun untuk binatang melalui penyerapan kulit.2 g/kg secara oral oleh manusia menyebabkan kematian dikarenakan kerusakan ginjal dan limpa. torak dan sistem pernafasan menjadi kronik. Dapat diusulkan dilarang sebagai perisa di Indonesia. menyebabkan Cyanosis pada paru-paru. titik beku – 8 oC (18oF). Pada anjing .5-pentanediol. tubules dan glomeruli ginjal.10. B.3. ginjal.2 Secara oral pada tikus dengan dosis 1752 gm/kg/2 tahun .oral = 9900 mg/kg. Pada dosis 1. menyebabkan perubahan degeneratif pada otak. Pada orang dewasa = 0. dan perubahan Metabolic acidosis. menyebabkan perubahan pada organ tubuh (otak.10.1 Data toksisitas akut (LD50) Pada tikus – inhalasi = 130 mg/m3/2 jam.oral = 2300-23700 mg/kg. diperkirakan dietilen glikol tidak memiliki resiko kanker pada manusia.1. 72 dari 122 . indeks bias 3. ureter dan empedu). B. ureter dan empedu.66 pada suhu 20oC.3. torak atau sistem pernafasan. tekanan uap < 0. Karsinogenisitas dan studi toksisitas dalam jangka panjang B. menyebabkan paru-paru. titik didih 245oC (473 oF) @ 760 mmHg. hati. Pada mencit . ureter dan empedu).p = 9719 mg/kg.

B.0 ml/kg bb. berturut-turut. intravena dan intraperitoneal.11. teratogenisitas. Untuk keperluan evaluasi ini diambil LD50 yang dihasilkan dari percobaan secara oral. Organ yang paling rentan adalah hati dan ginjal. titik didih 196-202 °C. asupan senyawa lebih besar dari 1.8-2.11. 73 dari 122 . 5.3.11. Penentuan kelas struktur kimia B.11.6 – 12. 1947 melaporkan penelitian metabolisme pada kelinci dan hasilnya menunjukkan adanya reaksi konjugasi dengan asam glukoronat sebanyak 0. yaitu mempunyai struktur intermediat dan belum ada data lengkap yang menunjukkan adanya pembentukan metabolit reaktif dalam proses metabolismenya dalam tubuh.4 Pengaturan Malaysia dan India melarang menggunakan material ini sebagai perisa pada makanan. tidak berwarna.10. carbitol enkanol. Etil eter dari dietilen glikol. ADI belum dapat ditentukan. LD50 pada mencit. Pada manusia. Nomor CAS.5 μg per hari. LD50 untuk senyawa diperoleh dari beberapa penelitan yang meliputi berbagai cara pemberian termasuk secara oral.2 Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya Data mengenai metabolisme senyawa ini belum banyak. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. B. jangka panjang/karsinobesisitas. tikus dan marmut berkisar antara: 6. Berfungsi sebagai pelarut pembawa perisa.4 ml/kg bb dan 3. dan titik nyala 96 °C. etildigol. Fellows et al.5 ml/kg bb. apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. etilen diglikol dan nama kimia 2-(2-etoxi)-etoxietanol merupakan cairan higroskopis. B. Berdasarkan struktur kimia kemungkinan senyawa ini masuk dalam kategori kelas struktur II.SNI 01-7152-2006 B.3. subkutanus.1 – 5.11 Dietelen glikol monoetil eter(diethylene glycol monoethyl ether). penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya. apakah pada kondisi penggunaan.1 Nama kimia menurut ”Chemical abstract”: 2-(2-etoxi)-etoxietanol. senyawa ini diekskresi dalam urin dalam bentuk (2-etoxietoxi) asam asetat (Kamerling et al 1977).11.1 Deskripsi Diethylene glycol monoethyl ether dengan sinonim ethyl diethylene glycol.2 Fungsi lain Pelarut pada parfum. Dietilen glikol monoetil eter memiliki rumus molekul C6H14O3 dengan bobot molekul 134. larut dalam air.3-10. Bagian Standardisasi.2. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia. Berbagai percobaan yang meliputi uji jangka pendek. alkohol dan sebagian minyak.3% dari dosis yang diberikan sedang sebagian besar mengalami reaksi oksidasi. gangguan pada sistem reproduksi. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. B. tekanan uap pada 25 °C adalah 19 mmHg.3 Kajian keamanan Evaluasi keamanan dietilen glikol monoetil eter dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM. 111-90-0 B.

4 Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus. dan iritasi telah dilakukan dengan menggunakan beberapa spesies hewan.3. B. asupan senyawa lebih besar dari 1.6 per hari Apakah pada kondisi penggunaan. Rangkuman data NOEL dapat dilihat pada tabel berikut ini. Sebagian besar hasil percobaan menunjukkan adanya gangguan kesehatan. sitotoksik. B.SNI 01-7152-2006 genotokisitas.3 Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak Penentuan ini belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia maupun di negara lain.5 μg Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1.5 ml/kg bb/hr.3. Akan tetapi keberadaan dietilen glikol sebagai akibat carry over penggunaan pelarut pembawa perisa dapat mencapai 1000 mg/kg makanan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa senyawa ini menghasilkan metabolit yang berbahaya.4% etilen glikol. sehingga prinsip evaluasi untuk senyawa yang terdapat dalam jumlah sedikit tidak berlaku untuk dietilen glikol.11.3.’75 Gaunt et al. 74 dari 122 .1 Rangkuman data NOEL dietilen glikol monoetil eter yang diperoleh dengan cara oral Hewan percobaan Mencit Tikus Tikus Tikus Ferret Babi Tikus Catatan Cara pengujian Uji jangka pendek idem idem idem idem idem Uji jangka panjang Nilai NOEL (mg/kg bb/hari) 850-1000 410 800 250 2* 167 200 Ref Gaunt et al. ’83 Smyth&Carpenter ’48 Hall et al. ’68 Butterworth et al.11. ’66 Gaunt et al.11.11.5 Apakah kondisi penggunaan senyawa masih berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip dalam margin aman Data NOEL untuk senyawa ini ada beberapa dan diperoleh dari berbagai cara pengujian biologis pada beberapa spesies hewan percobaan. B.3. ’68 Smyth et al.4 Pengaturan Malaysia melarang menggunakan senyawa perisa ini pada makanan. B. hematologi.5 μg per hari. 0. B. akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus. India juga melarang menggunakan material ini sebagai pelarut pada perisa. Tabel B. ‘64 *Berdasarkan perhitungan: 0.11.

3. Pengaturan B.4dihydro-2-chromanone. dan data asupan per hari belum ada. Langkah 4: data NOEL (150 mg/kg bb/hari ([NTP 1993]) dari dihidrokomarin adalah 1000 kali lebih besar dari estimasi intake dihidrokomarin sebagai perisa di Eropa (24 μg/kg bb/orang) dan di USA (19 μg/kg bb/hari). B. titik asap >200 °F. B. termasuk data NOEL. Diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.188 dan kelarutan dalam air (dalam perhitungan) pada suhu 25 °C adalah 11540 mg/l.12. Langkah B3: asupan dari dihidrokomarin di Eropa (1415 μg/orang/hari) dan di USA (1111 μg/orang/hari) melebihi ambang batas untuk kelas III yaitu 90 μg. ortho-hydroxydihidrocinnamic acid lactone.SNI 01-7152-2006 B. 119-84-6 Deskripsi Dihidrokomarin dengan sinonim 1. dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). India dan Thailan melarang penggunaannya sebagai substansi perisa. 3. Sebaliknya. USA menggolongkan dihidrokomarin termasuk senyawa GRAS dengan FEMA GRAS No. data untuk penentuan intake (asupan). dihidrokomarin tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). Diputuskan bahwa evaluasi keamanan dilakukan melalui sisi B dari prosedur. data batas aman (threshold). Dihidrokomarin terdapat secara alami di alam. B. Dihidrokomarin memiliki titik titih 272 °C. 2381.1 Kesimpulan Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan dietilen glikol sudah cukup.12 B.4 JECFA memutuskan dihidrokomarin sebagai perisa dengan tingkat estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). 1171. Langkah 2 : dihidrokomarin tergolong kedalam kelas kimia aromatic fused lactones dimana data metabolisme yang tersedia masih terbatas.12.2 Fungsi lain Tidak ada. melilotic acid lactone merupakan substansi perisa yang digunakan dalam industri perisa.11.3 Kajian keamanan Dihidrokomarin telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. JECFA No.12.4-dihydro-2H-1benzopyran-2-one. 75 dari 122 .2-benzodihydropyrone. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) c) d) Langkah 1: dihidrokomarin tergolong ke dalam struktural kelas III. Menimbang adanya gangguan kesehatan yang ditunjukkan oleh berbagai hasil penelitian pada beberapa spesies hewan percobaan dengan berbagai cara uji maka penggunaan dietilen glikol harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif dan dibatasi penggunaannya.4. titik leleh 22 °C. 2H-1-benzopyran-2-one.12.1 Dihidrokomarin (dihydrocoumarin). Dihidrokomarin diperoleh dengan cara reaksi reduksi komarin menggunakan katalis nikel. Nomor CAS. gravitasi spesifik 1.

3.5-propyl-1.3. 1.13. B.1 Dihidrosafrol (dihydrosafrole).13 B.5 Berdasarkan kajian tersebut. = 2830 mg/kg bb. 94-58-6 Deskripsi Nama lain dari dihidrosafrol adalah Benzene. hati dan alat respirasi). safrole. Terjadi gangguan iritasi pada kulit dan mata. 76 dari 122 .13.1 Uji standard draize Pemberian dosis 500 mg/24 jam dengan cara dioles pada kulit pada kelinci terjadi reaksi sedang.oral (TDLo-Lowest published toxic dose) = 101 g/kg/81W-C (tumor pada gastrointestinal dan liver).2-methylenedioxybenzene.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaan dihidrosafrol sebagai perisa.2 Data toksisitas akut (LD50) = 2260 mg/kg bb.toxic dose (other that lowest) = 163 g/kg/81W-C (tumor pada paru-paru.oral pada mencit . Nomor CAS. pada mencit-oral (TD. = > 5 mg/kg bb. B.4 Data tumorigenisitas pada mencit . B.3.13. dihydro-.Lowest published toxic dose) B. pada tikus-pengerat – oral pada mencit .3.3.2 Fungsi Lain Tidak ada.13.SNI 01-7152-2006 B. Dihydrosafrol mempunyai RCRA waste number U090.13. 4-propyl-1. B.13.13. pada mencit-oral (TD. Pada tikus – oral (LDLo.2-methylenedioxy-4-propyl-.13. senyawa dihidrosafrol dimasukkan dalam daftar dilarang digunakan sebagai perisa.3benzodioxole. thorax. Kesimpulan B. = 3700 mg/kg bb.3 Data Toksisitas akibat Pemberian Dosis Berganda = 78750 mg/kg/15W-I (kematian).oral pada kelinci – dermal B.13.toxic dose (other that lowest) = 101 g/kg/81W-C (tumor gastrointestinal dan liver).3 Kajian keamanan B.

dulcumaric acid.3.1 Dulkamara (dulcamara) solanum dulcamara Deskripsi Dulkamara dengan sinonim Bittersweet. Alkaloid ini terutama terkandung dalam buah (berries) yang belum matang. ekspektoran. Dulkamara banyak digunakan dalam sistem pengobatan alternatif homeopati. dan sakit pada kepala. fungi dan serangga. perut.14. rektum. Solanum dulcamara mengandung racun glikoalkaloid yaitu solanine dan amorphous glucoside dulkamarin.1) yang tercatat beracun. cabang atau herba dari tanaman Solanum dulcamara L. cabang atau herba yang digunakan sebagai obat tradisional (etnofarmakologi) untuk berbagai penyakit atau mengatasi berbagai banyak gejala seperti vertigo. B. ferox dan S. Kandungan dari semua bagian tumbuhan dulkamara ini dinyatakan beracun karena adanya solanin dan alkaloid-alkaloid lain turunannya. pada mata. Douce-Amere. antinyeri.14 B. Ekstrak herbanya mengandung saponinsteroidal yang menunjukkan efek Cortisone-like. Woody nightshade. Tumbuhan ini. dulcamaretic acid. Solanum dulcamara. mulut.) dalam beberapa penelitian menunjukkan aktivitas penekanan biosintesa prostaglandin dan eksositosis PAF.ferox dan S. bakteri. B. Scarletberry. senyawa yang berguna dalam mekanisme pertahanan tanaman terhadap serangan berbagai patogen seperti virus. telinga. (Solanaceae). Glycoalkaloid tersebut juga beracun terhadap manusia dan hewan. Tercatat di dalam ekstrak herbanya terkandung senyawa steroidal saponim yang menunjukkan efek seperti hormon kortison (Cortisone-like).2 Fungsi lain Dulkamara merupakan simplisia batang. tachycardia. nigrum dinyatakan sebagai tumbuhan beracun.1 a) b) c) Kajian keamanan Toksisitas d) e) f) Secara etnofarmakologi Solanum dulcamara beserta S.14.14. nigrum dimasukkan kedalam tumbuhan racun. Peranannya dalam makanan mungkin sebagai peningkat fungsi makanan dalam pengobatan atau kesehatan karena berbagai khasiatnya tersebut. vertigo dan cramps. Di dalam pengobatan tradisional (etnofarmakologi). Tetapi dapat menghasilkan efek samping antara lain tukak lambung. Simplisia ini mengandung Solaniceina ± 1%. Aktivitas ini berhubungan dengan khasiatnya sebagai antidemam. serta S. tercatat atau termasuk kedalam tumbuhan yang dapat merugikan (tidak aman). antireumatik. Berbagai jenis tanaman kentang mengandung glycoalkaloids. Simplisia ini di dalam sediaan obat tradisional dicampur dengan berbagai simplisia-simplisia lain. banyak meracuni hewan ternak dan domba. Dulkamara atau Solanum dulcamara tergolong ke dalam kelas Solanaceae dikenal pula dengan nama Bitter Nightshade. Efek herba tumbuhan ini (Solanum dulcamara L. Kegunaan dalam makanan sebagai perisa tidak jelas. Semua bagian tanaman ini (Solanaceae) mengandung senyawa solanin (C45H73NO15 /BM 868. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa buah yang matang berwarna merah mengandung jumlah racun yang sedikit dan amat jarang meracuni anak-anak. Solanin telah terbukti menyebabkan gastroenterosis. dyspnea. Bagian alkaloid dari glikoalkaloid secara umum dikenal sebagai aglikon. tetapi bisa menimbulkan efek imunodepresan.–Solanaceae. dsb. merupakan simplisia batang dan cabang kering Solanum dulcamara L.SNI 01-7152-2006 B. Glikoalkaloid sangat susah diserap dari saluran gastrointestinal namun dapat menyebabkan iritasi 77 dari 122 . muka. alat genital dan gangguan respirasi sebagai batuk. Dulkamara digunakan sebagai serbuk atau ekstrak dari simplisia batang. Dulcamerae Caulis.14.3 B. dulcamarin. ini digunakan dalam pengobatan eksem kronis.

Kandungan steroidal-saponim yang beraktivitas cortisone-like dapat menekan sistem imun tubuh. kemudian dilanjutkan dengan neurological disorders. US FDA sebelumnya pernah m ke dalam daftar FDA : Unsafe poisonous herbs. berat molekul 148. 1-methoxy-4-(2—propen-1-yl). Estragol memiliki rumus kimia C10H12O. larut dalam etanol dan klorofom.3.517-1.14.2 a) b) c) d) e) Kandungannya memberikan efek-efek berbahaya mirip dengan atropin (antikholinergik) yang dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh.1 Estragol dengan sinonim chavicyl methyl ether.960 – 1. Pada manusia keracunan alfa-solanin dan alfa-charconin dimulai dengan gangguan gastrointestinal. Data-data toksisitas khusus lainnya serta data dalam tubuh manusia belum ada (belum lengkap). aroma mirip dengan adas.3 Berdasarkan khasiatnya terhadap tubuh. halusinasi.55 mg/l pada suhu 25 oC. pusing. Memiliki cairan tidak berwarna.SNI 01-7152-2006 g) h) saluran gastrointestinal.14. rapid weak pulse.15 B.15.524.allylanisole. Kajian keamanan lainnya B. itchy neck dan drowsiness. FDA tidak lagi menganggap daftar ini sebagai kebijakan regulasi dan diabaikan. titik nyala (flash point) 81 oC . kegunaannya sebagai perisa tidak jelas. isoanethol. kelarutan pada air (hasil perhitungan) 84.4 Pengaturan Singapura dan Inggris melarang dulkamara sebagai perisa. Estragol terdapat secara alami di alam. rapid breathing. sakit perut. B. p. Nomor CAS. dulkamara dinyatakan sebagai tumbuhan beracun. berbeda dari anetol. dikelompokkan sebagai tumbuhan beracun. Estragol diperoleh dengan cara proses destilasi dari turpentin. methyl chavicol digunakan sebagai substansi perisa di industri. Diusulkan dulkamara dilarang sebagai perisa di Indonesia.522. Hasil evaluasi B. dan penelitian keamanan belum lengkap. Penekanan terhadap biosintesis prostaglandin dapat menginduksi terjadinya tukak lambung . dan titik didih 216 oC. indeks refraktif (20 oC/D) adalah 1. gravitasi spesifik (25 oC) 0. Aglikon dapat diserap dan dipercayai bertanggunjawab atas observed nervous system signs. Secara tradisional. demam.14. diare. Solanum alkaloid adalah cholinesterase inhibitor yang menyebabkan neural function impairment dalam bentuk hyperesthesia. Daftar ini pernah dimuat pada jurnal Health Foods Bussiness pada tahun 1978 namun sejak tahun 1986.2. dyspnea. Nama kimia dari estragol adalah 4-Methoxy-1-(2 propenyl) benzene. delirium dan akhirnya koma. 140-67-0 Deskripsi B.15. muntah-muntah.3. Estragol (estragol). pada keracunan dalam dosis tinggi menyebabkan penurunan tekanan darah. minimal dua negara melarang.2 Fungsi lain Tidak ada 78 dari 122 . Penggunaannya di dalam pengobatan tradisional secara homeopati dengan dosis sangat kecil. B.

es krim 11 mg/kg.1 Uji bakterial 1-hydroxyestragol tidak menunjukkan mutagenisitas pada hati (Drinkwater.25 g/kg.2 Uji patch tertutup Minyak estragol 4% dalam petrolatum tidak menyebabkan iritasi setelah 48 jam pada manusia (Kligman.4 Toksisitas subkronik Dosis 605 mg/kg secara oral pada tikus menyebabkan kerusakan minor pada hati. FDA 21 CFR 172. 1976).23 g/kg.3.515).23 g/kg pada tikus secara oral. B.15. Minyak estragon (undiluted) menyebabkan iritasi dan kerontokan pada bulu mencit (Urbach & Forbes. lemak dan minyak 250 mg/kg.p B.15.15. = 1. ADI 0-5 mg/kg bb.3. ADI belum dapat dialokasikan. teh hitam 1-15 mg/kg.mencit – oral .. 1972). Komite Eropa meminta tambahan studi jangka panjang untuk melakukan evaluasi potensi karsinogen dilakukan sebelum ADI dapat ditentukan. = 5 g/kg. Data-data toksikologi yang tersedia belum cukup untuk melakukan kajian menentukan ADI. teh hijau 1-30 mg/kg. al. Toksisitas akut (LD50) pada mencit 1. India melarang menggunakannya pada perisa.SNI 01-7152-2006 B. = 1.515 .160 dan 640 mg/kg secara i. 1976). = 1. 1973). B.15.25 g/kg dan 1.mencit – i. permen 36 mg/kg.tikus – i. USA : FEMA GRAS 2411. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172. US FDA mengizinkan (CFR 172. asupan rata-rata 7072 µg/hari. namum dikarenakan kekurangan data. JECFA telah mengkaji pada tahun 1980 dan 1981.p .10.tikus – oral . JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat.515). ikan kaleng 50 mg/kg.5. = 1. Dosis estragol dan metabolit 1-hydroxy sebesar 4.15.3 Kajian keamanan Dosis estragol 2.26 g/kg. produk bakar 41 mg/kg. Dosis tinggi 150-600 mg/kg dapat bersifat karsinogenik.kelinci – dermal . 1967). Estragol tidak memiliki aktivitas sitotoksik dalam melawan sel HeLa (Stoichev. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Estragol pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669).2 μmol yang diberikan pada mencit menyebabkan peningkatan karsinoma hepatoselular (Drinkwater. Substansi perisa ini terdapat secara alami di berbagai herbal dan rempah selain disintesa. Estragol kurang berpotensi dalam menghambat tumor jika dibandingkan dengan delta-9tetrahydrocannabinol (Nichols et. 79 dari 122 .p pada mencit menunjukkan efek perpanjangan tidur oleh hexabarbital narcosis dan zoxazolanin paralysis (Fuji et al. minuman tidak beralkohol 10 mg/kg.4 Pengaturan Estragol sebagai konstituen alami dalam edible fruit 5 mg/kg.tikus – dermal .4 dan 5. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. B.03 g/kg.3 Data toksisitas akut (LD50) = 1. 1970).82 g/kg. . B. 1977). Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2411.15. ditambahkan sebagai perisa dalam beberapa makanan dan jenis minuman beralkohol 100 mg/kg.3.3. EC (European Commission): penambahan dengan sengaja dilarang (Jerman dan Denmark).40. permen karet 50 mg/kg.

SNI 01-7152-2006

B.16 B.16.1

Etil-3-fenil glisidat (ethyl-3-phenyl glycidate), Nomor CAS. 121-39-1 Deskripsi

Etil-3-fenil-glisidat dengan sinonim asam glisidat; 3-fenil etil ester; ethyl phenylglycidate(EPG); ethylα,β-epoxy-β-phenylpropionate; ethyl 3-phenyl-2,3epoxypropionate; ethyl 3-phenylglycidate; ethyl β-phenylglycidate; 3-phenyl-ethyl esteroxiranecarboxylic acid merupakan perisa sintetik dan belum terdeteksi terdapat di alam. Nama kimia menurut International Flavor and Fragrance (IFF) adalah Etil-3-fenil glisidat. Etil-3-fenil glisidat memiliki rumus molekul C11H12O3 dengan berat molekul 192, berat jenis (relatif d20/4) 1,121-1,127, indeks refraktif (NaD 20 0C) 1,515-1,520. Titik asap >200 °F, grafitasi spesifik (pada suhu 25 °C) 1,120 – 1,125, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 320,1 mg/l pada suhu 25 oC. Etil fenil glisidat diperoleh dengan cara mereaksikan benzaldehida dengan etil ester dari asam monokloroasetat dengan menggunakan alkaline condensing agent. B.16.2 Fungsi lain

Tidak ada B.16.3 Kajian keamanan

Evaluasi senyawa ini telah dilakukan dengan menggunakan uji Ames, uji Basc pada Drosophila melanogaster dan uji mikronuklei (Wild et al 1983). Senyawa ini mempunyai rasa buah strawberi dan manis. Evaluasi keamanan etil-3-fenil glisidat dilakukan dengan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM, Direrktorat Standardisasi Produk Pangan. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: a) b) c) d) e) f) penentuan kelas struktur kimia; penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya; penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak; penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus; apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL atau senyawa yang mirip; apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Decision tree

B.16.3.1 a)

Penentuan ada tidaknya produk metabolisme yang berbahaya. Berdasarkan hasil penelitian Wild et al (1983), etil 3-fenil glisidat memberikan hasil positif dengan uji Ames, sedangkan kerabatnya, etil 3-metil 3-fenilglisidat memberikan hasil positif pada uji Ames dan uji Basc pada drosifila. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemungkinan senyawa ini bersifat karsinogenik ada. Data pada manusia belum ada. Penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) belum dapat dilakukan karena belum tersedia data asupan di Indonesia.

b)

Penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. Belum ada data yang menunjukkan apakah senyawa ini terdapat secara endogenus, akan tetapi mengingat senyawa ini bersifat sintetik maka kemungkinan bersifat endogenus kecil sekali atau tidak bersifat endogenus.

80 dari 122

SNI 01-7152-2006

c)

Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. Data NOEL dan asupan senyawa ini tidak tersedia sehingga margin amannya tidak bisa ditetapkan.

d)

Apakah pada kondisi penggunaan, asupan senyawa lebih besar dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 μg per hari. Data asupan senyawa ini belum tersedia sehingga tidak dapat ditentukan apakah asupan senyawa ini lebih besar atau lebih kecil dari 1,5 µg per hari.

B.16.3.2

Kajian toksikologi

JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji etil fenil glisidate pada tahun 1980 (TRS 648) dan tahun 1981 (TRS 669), namun karena data evaluasi toksikologi yang ada tidak memuaskan komite, ADI belum dapat dialokasikan. Material ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515). Material ini termasuk GRAS dengan FEMA GRAS no 2454. JECFA akan mencoba untuk mengkaji material ini menggunakan Prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.16.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. US FDA mengizinkan penggunaan etil-3-fenil glisidat (CFR 172.515). JECFA telah mengkaji senyawa ini pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh US FDA sebagai perisa (21 CFR 172.515) dengan FEMA GRAS No. 2454 yaitu batas penggunaan dalam minuman (4.6 mg/kg), es krim dan es (12 mg/kg), permen (18 mg/kg), baked good ( 20 mg/kg), gelatin dan puding (10 & 70 mg/kg). India melarang penggunaannya. B.17 B.17.1 Eugenil metil eter (eugenyl methyl ether), Nomor CAS. 93-15-2 Deskripsi

Eugenil metil eter atau 4-allyl-1,2-dimethoxybenzene atau allylveratrole atau 4-allylveratrole atau 1,2-dimethoxy-4-(2-propenyl)- benzene atau 2-dimethoxy-4-allylbenzene atau 3,4dimethoxyallylbenzene atau 1,2-dmethoxy-4-(2-propenyl)benzene atau eugenol methyl ether atau eugenyl methyl ether atau methyl eugenol atau methyl eugenol ether atau veratrole methyl ether digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. Eugenil metil eter terdapat secara alami di alam. Eugenil metil eter memiliki titik didih 254,7°C, berat jenis 1,0396 pada 20°C, titik nyala >200°F, titik leleh 4°C, indeks refraksi 1,532, grafitasi spesifik 1,034 – 1,037 pada 20°C. Eugenil Metil Eter diperoleh dengan cara metilasi dari eugenol. B.17.2 Fungsi lain

Tidak ada B.17.3 B.17.3.1 Kajian keamanan Toksisitas akut = >640 mg/kg bb; = 1560 mg/kg bb;
81 dari 122

pada mencit-i.p pada tikus-oral

SNI 01-7152-2006

-

pada kelinci-dermal

= >5000 mg/kg bb.

B.17.3.2 a)

Toksisitas subkronik

b) c) c)

Dosis 0, 10, 30, 100, 300 atau 1000 mg/kg bb eugenil metil eter dalam 0,5% methylselulosa pada tikus jantan dan betina menunjukkan bahwa tikus tesebut masih bisa bertahan meskipun terjadi penurunan berat badan secara signifikan. Pada dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hepatoselular. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina terjadi kolestasis sehingga mengubah fungsi hepatik, hipoproteinemia, dan hipoalbuminemia. Dosis 300 dan 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina, bobot hati menjadi 100, 300 dan 1000 mg/ kg pada tikus jantan dan 1000 mg/kg pada tikus betina serta testis jantan 1000 mg/kg. Dosis 300 atau 1000 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina juga menyebabkan gastritis athropik, sedangkan dosis 100 mg/kg bb atau lebih terjadi hipertropi kortikal kelenjar adrenal. NOEL ditetapkan pada dosis 30 mg/kg bb/hari. Toksisitas kronik/ Karsinogenisitas

B.17.3.3 a)

Total dosis 42,4 mg/kg bb secara i.p pada mencit jantan (58 mencit yang diberi perlakuan dan 58 kontrol) meningkatkan secara signifikan hepatomas mencit (96% tikus yang diberi perlakuan dan 41% kontrol). Hal ini menunjukkan bahwa eugenil metil eter memiliki aktivitas hampir sama dengan metabolit 1’hidroksi. (Miller et al., 1983). Tikus jantan yang diberi dosis 150 dan 300 mg/kg/hari mati sebelum uji ini selesai, sedangkan pada tikus betina yang diberi dosis 150 mg/kg/hari masih bisa bertahan. Berat badan tikus dan mencit jantan dan betina menurun dibandingkan dengan kontrol. Pada semua dosis pada tikus dan mencit terjadi neoplasma hati, hepatoadenoma, hepatokarsinoma, hepatokholangioma (hanya pada tikus), hepatokholangiokarsinoma, dan hepatoblastoma (hanya pada mencit). Terjadi pula kerusakan pada glandular tikus dan mencit serta tumor ganas neuroendokrin. Terbukti bahwa egenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada tikus jantan dan betina galur F344/N berdasarkan terjadinya peningkatan kerusakan neoplasma hati, tumor neuroendokrin pada perut glandular. Selain itu terjadi pula peningkatan kerusakan pada neoplasma ginjal, fibroma dan fibrosarkoma pada tikus jantan (NTP). NTP menyimpulkan pula bahwa eugenil metil eter mempunyai aktivitas karsinogen pada mencit jantan dan betina galur B6C3F1 berdasarkan adanya peningkatan kerusakan neoplasma hati. Dosis terendah (37 mg/kg bb/hari) memberikan efek karsinogen (meningkatkan secara signifikan karsinoma hepatoselular pada mencit jantan dan betina). Genotoksisitas

b)

c)

d)

e)

f)

B.17.3.4

B.17.3.4.1 Invitro Eugenil metil eter tidak mutagenik terhadap Salmonella typhymurium galur TA98, TA100, TA1535, TA1537 dengan atau tanpa penambahan aktivitas metabolik (S9) secara eksogenus (NTP TR 491). Selain itu eugenil metil eter juga tidak mutagenik terhadap S. typhimurium dan Escherichia coli WP2 galur uvrA dengan dan tanpa aktivitas metabolik (S9) (Sezikawa et al., 1982). Eugenil metil eter dapat pula menyebabkan rekombinasi intrakromosal pada Saccharomyces cerevisiae dengan dan tanpa aktivitas metabolik (Schiestl et al., 1989). Analog jenuh dan monofluoro dapat menurunkan aktivitas genotoksik pada S.
82 dari 122

SNI 01-7152-2006

cerevisiae (Brennan et al., 1996). Eugenil metil eter, 1’-hydroxymethyleugenol dan 2’3’epoxymethyleugenol menyebabkan Unscheduled DNA Synthesis (UDS) pada hepatosit tikus (Chan dan Caldwell, 1992). Metabolit 1’-hydroxy sebagai penyebab paling kuat UDS. B.17.3.4.2 In vivo

Teramati bahwa eugenil metil eter, mutasi gen beta-katenin menyebabkan karsinoma hepatoselular pada mencit 20/29 (Devereux et al., 1999). Aktivitas gen beta-katenin, dengan deregulasi subsekuen transduksi sinyal Wnt, ditetapkan sebagai kejadian awal secara kimiawi yang menyebabkan karsinogenesis hepatik pada mencit. Hal ini mengindikasikan bahwa eugenil metil eter sebagai genotoksik potensia. B.17.3.4.3 Kajian keamanan lainnya

Eugenil metil eter sebagai inhibitor kuat terhadap enzim mikrosomal hepatik. Eugenil metil eter dengan dosis 100 mg/kg dapat memperpanjang waktu tidur (72%). Eugenil metil eter merupakan senyawa multisite, multispesies karsinogen Eugenil metil eter pada tikus dan mencit menyebabkan jenis tumor yang berbeda atau disebut sebagai tumor neuroendokrin pada perut glandular. Teramati pada dosis lebih rendah (37 mg/kg bb/hari) pada tikus dan mencit menyebabkan tumor hati. Dosis tinggi eugenil metil eter (sekurang-kurangya 30 mg/kg bb selama 25 hari) auto-induksi 1’hydroxylation oleh sitokrom P450, dengan formasi karsinogen proksimat 1’hydroxymethyleugenol. Eugenil metil eter dengan 2 metabolitnya yaitu 1-hydroxymethyleugenol dan 2’,3’-epoxymethyleugenol menyebabkan UDA (Unscheduled DNA Synthesis) secara in vitro. Eugenil metil eter membentuk DNA adduct baik secara invitro maupun in vivo, hampir sama dengan safrol dan estragol. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) telah mencoba untuk mengkaji Eugenil metil eter pada tahun 1980 (TRS648) dan tahun 1981 (TRS669); walau demikian dikarenakan data yang belum lengkap, (hasil 90 hari studi atau tes jangka panjang), ADI untuk senyawa ini belum dapat dialokasikan. JECFA akan mencoba untuk mereview senyawa ini menggunakan prosedur Munro dalam jangka waktu dekat. B.17.4 Pengaturan

EC (European Commission) dan IOFI (International Organization on The Flavour Industry) tidak membatasi. JECFA (Joint Expert Committee of Food Additive) telah mengkaji eugenil metil eter pada tahun 1980 dan 1981, namun dikarenakan kekurangan data, ADI belum dapat dialokasikan. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.515), dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2475 yaitu penggunaan dalam makanan sebesar 10 mg/kg, es krim dan es (4,8 mg/kg), permen 11 mg/kg), baked good (13 mg/kg), dan jeli (52 mg/kg). India melarang eugenil metil eter sebagai perisa. Etil metil keton (ethyl methyl ketone), Nomor CAS. 78-93-3 Deskripsi

B.18 B.18.1

Etil metil keton dengan sinonim butan-2-one, 2 butanone, methyl ethyl ketone, MEK digunakan di dalam industri perisa sebagai substansi perisa dan extraction solvent. Etil metil keton terdapat secara alami di alam. Etil metil keton memiliki titik didih <40 °F, berat jenis 0, 802, kelarutan pada air (hasil perhitungan) 76100mg/l diukur pada suhu 25 °C. Etil metil keton diperoleh dengan cara oksidasi dari sek-butanol. B.18.2 Fungsi lain

Tidak ada
83 dari 122

perforatum juga mengandung glikosida flavonol khususnya derivat dari hiperosid.8 opqra) perylene-7. Pada langkah ini diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. 84 dari 122 . II8-biapigenin (amentoflavone).9.278.3. O = 25. permen dan baked good masing-masing 100 mg/kg.SNI 01-7152-2006 B. dan juga telah memiliki FEMA GRAS no 2170 yaitu batas penggunaan pada minuman (70 mg/kg). n-alkanes. secara organoleptik meliputi (i) rekristalisasi dari pyridin + metanolik HCl berupa kristal jarum biru-hitam dengan dec 3200 (ii) mudah larut dalam piridin dan pelarut basa organik lain menghasilkan larutan merah cherry dengan flurosensi merah. Senyawa ini telah disetujui oleh FDA untuk digunakan sebagai perisa (21 CFR 172.44/504..5 larutan berwarna merah diatas pH 11. 548-04-9 Deskripsi Hiperisin dengan sinonim hypericum red merupakan sintesa dari bromoemodin trimetileter. Nama kimia hiperisin adalah 1. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (no safety concern).515).14-dione. yang terdiri dari hypericin dengan pseudohypericin yaitu isohypericin. (v) spektrum absorpsi dan fluorosensinya ada. 4. sejumlah cukup procyanidin dan fenil propan. Sifat kimia.5’.5 berwarna hijau dengan fluoresensi merah. absorpsi sekitar 600 nm dalam DMSO 1μg/ml. cyclo pseudohypericin Disamping senyawa diatas.4’. Juga diketemukan (St. eksitasi pada 337 nm.19. (iii) tidak larut dalam berbagai pelarut organik umum.18.6. Secara umum kelas senyawa ini dapat diserap melalui saluran gastrointestinal. protohypericin.1 Hiperisin (hypericin) Nomor CAS.-Hypericaceae. H= 3. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Kajian Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah langkah sebagai berikut. a) b) c) Langkah I: Etil metil keton tergolong kedalam struktural kelas I. larut dalam larutan air alkalis dibawah pH 11.05-0. Pengaturan B. (1. Hiperisin merupakan isolasi dari Hypericum perforatum L.13-heksahidroksi-10.2’dimetil naftodian-tron. II8-biapigenin dan 13’. JECFA memutuskan bahwa penggunaan etil metil keton sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern) dengan JECFA No. etil metil keton tidak dikhawatirkan keamanannya (No safety concern). India melarang penggunaannya dalam substansi perisa. kuersitrin dan rutin : biflavon yaitu I3.43%.7.10. Langkah III: Asupan dari etil metil keton di Eropa (110 μg) dan USA (36 μg) tidak melampaui ambang batas (threshold) untuk kelas I yaitu 1800 μg. tumbuhan H. Langkah II: Etil metil keton diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa inncuous.45. dengan karakteristik merupakan derivat Napthodianthrone yang secara umum dikenal dengan nama hypericins. tannin 10%.37%.8. Hiperisin memiliki rumus molekul C30H16O8 dan berat molekul 504.3 Kajian keamanan Etil metil keton telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. dengan kandungan C=71. α-pinenes dan monoterpen lain).3% minyak esensial. B.7’-heksahidroksi-2. (iv) larut dalam DMSO.5. es krim dan es (270 mg/kg).11-dimetil fenantro.4 EC dan IOFI tidak membatasi. John’s Wort) golongan senyawa acy’phloroglucinols (derivat phloroglucin) yaitu yang utama adalah hyperforin (0.4.20%.18.19 B.

Toksisitas pada aktivitas biologi. Secara klinis efek ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitian. digunakan dalam terapi (tradisional) keadaan depresi dan cemas (ansietas). Kombinasi dengan MAO inhibitor terjadi interaksi.19. .1 mg/kg). Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.perforatum juga ditunjukkan beraktivitas antibakterial terhadap bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis. cytomegalovirus. Aktivitas ini muncul langsung sebagai efek virusidal dan terhadap virus setelah sensitisasi dengan cahaya UV.Beberapa ekstrak H. . Malaysia melarang penggunaan hoiperisin dalam produk pangan.2 Fungsi lain Hiperisin dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif pengobatan tumor prostat secara terapi fotodinamik. Australia dan New Zealand dalam artikel FSANZ menetapkan hiperisin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 2 mg/kg. Batas maksimum dalam komoditas pangan (0. Sedangkan India membatasi penggunaan hiperisin yang terkandung secara alamiah dan tidak boleh melebihi 1 mg/kg.perforatum pada kehamilan atau perkembangan postnatal. HSV-1 dll.3 Kajian keamanan Reaksi Daya toksisitas (LD50) < 500 mg/kg.4 CAC dan EC tidak membolehkan penambahan dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. kemungkinan karsinogenik/teratogenik.Mempunyai aktivitas antiviral terhadap HIV-1. perforatum memberikan alergi hipotensif melalui efek vasodilatasi perifer. Terjadinya reaksi foto sensitifitas sebelah mungkin terutama pada kulit dan dalam terapi dengan obat fotosensitifitas lain (klorpromazin. yang diduga dengan menghambat fosfodiesterase. .19.1 mg/kg). Penggunaan selama kehamilan tetap perlu hati-hati dan pertimbangan nilai risk dan benefit terapinya. kontraksi otot polos fibrosel arteri tereduksi. perlu perhatian..SNI 01-7152-2006 B. tetrasiklin). diantaranya: a) Terhadap keadaan depresi dan cemas.Sebagai antidiare karena aksi astringen dari tannin. belum tercatat adanya efek negatif dari penggunaan H. Tercatat pada subjek sensitif terjadi iritasi gastrik. Pengaturan B. dengan batas maksimum dalam mg/kg produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. b) Dalam Merck Index dinyatakan sebagai katagori terapi antidepresan. e) Sebagai medisin popular (etnofarmakologi/herbal medicine): . d) Terhadap sistem kardiovaskular.Sebagai antiflogistik (antiradang). pengecualian pada permen pastilles (permen penyegar pernafasan) (1 mg/kg) dan minuman beralkohol (2-10 mg/kg).19. 85 dari 122 . fotodinamik dari quinonnya perlu perhatian dan dapat menyebabkan gangguan kulit serta iritasi lambung. c) Sebagai simplisia Hypericum perforatum. minuman (0.Sebagai diuretik yang diduga karena aksi beberapa flavonoid. B. Tercatat H. f) Tolerabel Efek terhadap fertilitas dan fungsi reproduksi. .

47 g/kg bb pada tikus : 1.22% . serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%): UVmax = 305.3. 2 . terkandung 6% isosafrol. Dalam jumlah kecil dicampur dengan metil-salisilat dalam root beer dan perisa sarsaparila.8% .20 B. berbau ada dengan berat jenis 1.4 – (Metilendioksi)-propenilbenzen.7 – 6. Dalam parfumeri memodifikasi pewangi oriental. titik leleh 6. titik leleh mp = 8.3-benzodiaksol.2’-dihidro-1’.2Metilendioksi – 4. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1. Dalam minyak daun Juniper virginiana.5782.1206.8 0C. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan ditemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam. B. Isosafrol merupakan cairan tidak berwarna.34 g/kg bb. O=19. B.Propenilbenzen.2-metilendioksibenzen merupakan derivat propenilbenzen dengan rumus molekul C10H10O2 dan berat molekul 162. Pemberian oral 162 mg/kg bb bisosafrol pada tikus Wistar jantan diketemukan metabolitnya dalam urin sebesar 89% dalam 72 jam.20. serapan maksimum pada sinar UV (dalam alkohol 96%) : UV max = 326. disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol. B.Propenil-1. 3.3. H=6.2’epoksiisosafrol dan 1’-hidroksisafrol. kelarutan dalam alkohol 90% 1:8. B. 1. Penelitian menunjukkan isosafrol sebagai induktor beberapa enzim hati sitokrom P-450 dalam rogent. Nomor CAS.4-Metilendioksi-1-propenilbenzen. titik didih 2520C.2– (Metilendioksi)-4-(1’-propenil) benzen. bp20 = 135.1 Isosafrol (isosafrole).(1’-propenil) benzen. merupakan reaksi metabolisme utama: 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi. memiliki titik didih bp760 = 2530C . Bentuk trans (beta-isosafrol) berbentuk cair dengan bau adas.122 pada 200C (campuran rasemik).20C.20. Bentuk cis (alfa-isosafrol) berbentuk cair dengan titik didih bp35 77-790C. rotasi optik : n20D = 1. 267 dan 259. sehingga memungkinkan berdampak pada lingkungan.50C. 2 .5 nm. Isosafrol terbebaskan selama proses pembuatan minyak esensial tersebut. penguat pewangi sabun. tidak terhidolisa dan cenderung ada dalam air tanah. 4. Isosafrol yang terbebaskan ke tanah. 1.2 Fungsi lain Sebagai bahan perantara dalam produksi heliotropin.dihidroksi – 4 .20. dapat terkonsentrasi dalam organisme air. sebagai fragran kosmetik.73%. 3. Demetilasi isosafrol yang menghasilkan metabolit utama 1. Isosafrol berasal dari alam sebagai komponen utama dari minyak esensial adas (star anise) dan juga dalam jumlah kecil ada dalam minyak esensial bumbu (spices) lain.1 Data toksisitas akut (LD50) Dosis Letal 50% (LD50) oral pada mencit : 2.50C.5691. bp100 = 179.5 .20. merupakan reaksi metabolisme utama : 92% dari metabolit yang diketemukan dalam urin adalah produk demetilasi.(1’-propenil) benzen.2 a) Toksisitas subkronis dan pemberian berulang Pemberian 10 g isosafrol per kg bobot badan tikus dalam makanan menunjukkan penghambatan pertumbuhan pada tikus jantan maupun betina tak ada tikus yang hidup 86 dari 122 .dihidroksi – 4 . titik leleh : mp -21. bp34 = 85-860C.2’-dihidroksiisosafrol dan dalam jumlah sedikit senyawa 1’.3 Kajian keamanan Studi in vitro dengan sel epitel hati tikus diketemukan metabolit utama isosafrol adalah senyawa 1’. bobot jenis d204 = 1. 259 nm. rotasi optik : n20D = 1.20. produksi pestisida sinergis dan hidrosafrol.SNI 01-7152-2006 B.60C . disamping alur reaksi alilik-hidroksilasi dan epoksid-diol.18 dengan kandungan C=74. 120-58-1 Deskripsi Isosafrol dengan sinonim 5-(1-Propenil)-1.

estragole dan methyleugenol. hiperplasia tiroid ringan dan terjadi nefritis kronis. Pada dosis 2500 mg/kg terjadi hiperplasia ringan tiroid. sedangkan tikus kontrol tetap hidup. nekrosis dan fibrosis dan tingkatan kecil metamorfosis lemak hati dan proliferasi saluran empedu.3. b) Formasi DNA (DNA adduct formation) Dengan menggunakan petanda 32P dipelajari dalam hati mencit betina yang diisolasi 24 jam setelah pemberian ip 2 dan 10 mg isosafrol per ekor mencit. Pemberian diet 1000. selama 3 minggu. kemudian 517mg/kg bb dalam diet makanan sampai usia 82 minggu : teramati pada mencit galur pertama dan kedua terjadinya tumor sel hati pada populasi 5/18 mencit jantan dan 1/6 mencit betina dan 2/17 mencit jantan dan 0/16 mencit betina.20. Perlakuan ini hanya menunjukkan ikatan rendah pada DNA hati mencit dengan pembentukan 2 utama DNA adduct dalam N2.posisi dari guanin ikatan rendah dengan DNA dinyatakan oleh nilai 87 dari 122 . B.p dosis tunggal campuran cis-trans isosafrol (52%-48%) atau 90% trans/10% cis-isomer sebesar 122mg/kg bb mencit pada usia 12 hari dan dibunuh pada usia 10 bulan. tak terdapat tumor hati. dan 0/17 jantan dan 0/16 betina. Diketemukan pula 2/3 tikus mati selama percobaan. Pada dosis 5000 mg/kg bb terjadi penekanan pertumbuhan pada tikus jantan dan betina. hipertropi dan terbentuk nodul-nodul. serta ditemukan tumor di testes. Tidak teramati aktivitas hepatokarsinogenik pada mencit jantan B6C3F1 yang diberikan secara injeksi i. TA 1535. TA 100.2%) tak menginduksi mutasi gen Salmonella typhimurium TA 98.20. Berbeda dengan safrol.7%/78. limfoma pada populasi 1/18 jantan dan 0/16 betina. Ditunjukkan organ hati yang membesar. 3 mg isosafrol (dalam trioktanoin) per tikus. tumor paru-paru pada populasi 3/18 jantan dan 1/6 betina. dan 1/17 jantan dan 0/16 betina. Terjadinya tumor hati ini secara bermakna (P=0. c) Pemberian oral pada tikus Osborne-Mendel muda sebesar 500 mg isosafrol/kg bb sehari selama 41 hari menyebabkan kematian sebesar 80% dan dosis 250 mg/kg bb selama 34 hari sebesar 20%.. b) Pemberian oral 460 mg isosafrol/kg bb tikus selama 4 hari. menyebabkan lesi pada hati dengan tanda-tanda pemucatan warna. tidak menginduk UDS dalam kultur hepatosit tikus. tak nampak tumor lokal pada usia 18 bulan.05) dibandingkan kontrol pada mencit galur (C57BC/6 x C3H/Anf) F1 jantan dan betina. 2500 dan 5000 mg isosafrol/kg bb tikus Osborne –Mendel selama 2 tahun. TA 1537 atau Echerichia coli WP 2 uvr A dengan atau tanpa S9. Teramati terjadinya hipertropi hati.SNI 01-7152-2006 setelah pemberian 11 minggu.4 a) In Vitro Isosafrol (cis/trans isomer 19. hipertropi ringan sel hati.3 a) Toksisitas kronis Studi pada dua galur mencit F1 (C57BL/6 x C3H/Anf dan C57BL/6 x AKR) yang diberi dosis oral 215 mg isosafrol/kg bb pada usia 7-28 hari. Juga negatif terhadap “Bacillus subtilis DNA repair tes” tanpa S9. menunjukkan: Pada dosis kecil (1000 mg/kg bb) terjadi penekanan pertumbuhan tikus betina. Studi genotoksisitas (mutagenisitas) b) c) B.c. pembesaran hati dengan hipertropi sel hati dan pembentukan nodul. pembesaran dan kehilangan kekenyalan normal hati.3. Pemberian injeksi s.

titik asap 52 °F.1. titik didih 82. eter. suhu autoignition 3990C / 455.5-12. Malaysia. Explosive limit 2. dimety carbinol.sifat hepatokarsinogen walaupun kecil. Isopropil alkohol digunakan sebagai extraction solvent . Azeotrop dalam air / 87. IV-1995. psedopropyl alcohol. Isopropil alkohol terdapat secara alami di alam. dapat tercampur dengan air. carrier solvent dan substansi perisa.pemakaian makanan yang mengandung isosafrol yang tidak terkontrol jumlah dan lamanya memungkinkan terjadinya pemasukan isosafrol secara berulang dan terjadi kumulatif yang bisa menimbulkan efek toksik. Juga diabsorpsi secara baik melalui paru-paru dan mukosa rektal.09-60. Isopropil alkohol (isopropyl alcohol). – 2002).Pharm. dan Thailand melarang penggunaan isosafrol sebagai perisa.Eur. Berat molekul 60. sec-propyl alcohol. berat jenis 0. B. mudah terbakar. isopropanol. Isopropil alkohol mudah terbakar. berbau seperti campuran alkohol-aseton.20. daya keterbakarannya tingkat 3 (The National Fire Protection Ass.01%. .40C (760 mm Hg). USP 25).78 pada 200C. 67-63-0 B. Titik nyala 12 0C – 11.7 0C (Close Cup). gliserin dan etil alkohol. jarak destilasi 81-830C.3776. petrohol. Index Refraksi : n20D = 1. . petrohol. Pengaturan B.5 0C. IPA. alcohol isopropylicus (Ph. . etil eter.20.SNI 01-7152-2006 covalent binding index (CBI) sebesar 1 untuk isosafrol dibandingkan estragol dan metileugenol yang bernilai 30. India. Isopropil alkohol merupakan cairan jernih tidak berwarna.).43 cP pada 200C.47 /1. B. US FDA. Viskositas 2. titik leleh – 88.21.783 – 0.60C / 4250C. Keberadaannya dalam darah lebih lama daripada alkohol.4%). dimetylcarbinol.786 mg/ml atau 0. Sifat toksisitasnya: . Tekanan uap pada –25 °C adalah 44 mmHg. . BP. mudah menguap.4 IFA (International Fragrance Association) menyatakan bahwa total konsentrasi isosafrol dalam produk pangan siap kondumsi tak kurang dari 0.5 a) b) Kesimpulan Kemungkinan tercemar dalam air tanah dan termakan. Nomor CAS. Rumus molekul C3H8O. 2-propanol.1.1 Absorpsi Isopropil Alkohol Isopropil alkohol dapat diabsorpsi secara baik melalui salura cerna.34 g/kg bb.10.3.induksi enzim hati sitokrom P-450. Nama kimia adalah propan-2-ol (golongan hidrokarbon alifatik alkohol. Nama lainnya adalah isopropanol (J.3749. . Singapura. 13 0C (Open Cup). propyl alcohol secunder.LD50 oral pada mencit/tikus 2.gangguan fungsi hati atau hepatotoksik pada pemakaian berulang (subkronis).eksresi melalui ginjal sebagai metabolit. Isopropil alkohol dimetabolisme menjadi aseton dalam hati oleh enzim alkohol dehidrogenase 80% dari jumlah yang terabsorpsi tereksresi melalui ginjal dalam bentuk 88 dari 122 . destilasi uap 2.-2001).21. Isopropil alkohol dibuat dari profilen yang diperoleh dalam proses kraking petroleum atau reduksi katalitik aseton. 2-hydroxypropane.0 % v/v di udara.1 Deskripsi Nama bahan isopropil alkohol adalah isopropyl alcohol (Farmakope Ind.21 B. 1-metylethanol. EC (Europe Commission) mengatur penggunaan isosafrol dengan batas yang ditentukan yaitu pada makanan dan minuman 1 mg/kg dan minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% alkohol sebesar 2 mg/kg. n25D = 1. atau fermentasi beberapa karbohidrat. 16 0C (Lar.

21. Dalam pembuatan makanan sebagai pelarut. hasil kajian per tahapan dari isopropil alkohol adalah sebagai berikut.oral pada mencit . = 1.3. = 12.2 Fungsi lain Dalam dunia farmasi digunakan sebagai pelarut/pengekstraksi dan desinfektan tapi tidak untuk pemakaian obat. Kajian dilanjutkan ke langkah A4.21.1 Kajian keamanan Kajian toksikologi Isopropil alkohol telah dikaji oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 1998 dengan hasil No Safety Concern pada current intake level.3 B.5-5 g/kg). 89 dari 122 .4 Adanya efek akut maupun kronis dengan berbagai gejala yang mirip alkohol dengan toksisitas 2-3 kali lebih kuat.8 g/kg.80 g/kg. = 3.09 g/kg.21.000 mg/kg dalam 8 jam. a) b) c) d) Langkah 1: Isopropil alkohol digolongkan ke dalam struktural kelas I. = 1. juga diekskresi melalui saluran napas.ip) pada tikus . kelinci).74 g/kg.oral) pada kelinci . Tetapi tetap perlu perhatian.41 g/kg.21.kulit pada mencit . Dengan menggunakan diagram prosedur kajian keamanan substansi perisa yang disusun oleh Munro.oral) Berdasarkan data-data ini sebagai senyawa toksisitas sedang (LD50 = 0.05 g/kg.3. Langkah 2: Isopropil alkohol termasuk ke dalam endogenous compounds atau diprediksikan dapat dimetabolisme menjadi senyawa innocuous. Ekskresinya ini lambat.6 g/kg.5–5 g/kg). dan efeknya terhadap organ penting (sistem syaraf) serta tercatat berefek fetotoksik pada hewan uji.3 Data toksisitas akut pada berbagai hewan dengan berbagai cara pemberian antara 1. Batas konsentrasi inhalasi letal terendah pada tikus adalah 12.ip) pada mencit . Data toksisitas akut (LD50) = 4. termasuk efek toksik sedang (0.21. Pada langkah A4 diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. = 5.21.SNI 01-7152-2006 aseton dan 20% dalam bentuk tetap. B.iv) pada tikus . B. = 2. Langkah A4: Isopropil alkohol merupakan komponen endogenous hasil metabolisme asam lemak dan karbohidrat.iv) pada tikus .3. = 4.48 g/kg.41 g/kg (oral. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamannya (no safety concern). pengekstraksi dan antifreeze. B. B. format dan CO2. B.2 - pada anjing . Bentuk isopropil alkohol juga mengalami konyungasi glukoronida dan diekskresikan melalui urin. Langkah A3: Intake dari Isopropil alkohol yaitu 99 mg (Eropa) dan 10 mg (USA) lebih besar dari threshold for human intake untuk kelas I (1800 µg).09 –6. = 6.3. Aseton akan dioksidasi menjadi asetat.oral pada kelinci .51 g/kg.

21.21.8 Campuran dalam air. . mual. a) Efek Akut.9% hanya dapat mencegah hemolisis pada kandungan isopropi lalkohol kurang dari 8%. dapat menyebabkan hemolisis dan denaturasi sempurna eritrosit (sel darah merah). tetapi tak melalui efek euphoria. depresi SSP.3. B. Penambahan larutan NaCl 0.9 Gejala/sifat toksisitasnya mirip dengan etil-alkohol tetapi 2-3 kali lebih kuat.7 Kegunaannya sebagai perisa tidak esensial (ada bahan pengganti lain). lelah.21.11 Tikus yang diberi isopropil alkohol secara oral 6 mg/kg menunjukkan kenaikan trigliserida dalam hati. B. dimana terjadi penghambatan pertumbuhan awal.Terpajan banyak menyebabkan sakit kepala. kolaps dan kematian. sampai setelah beberapa bulan-tahun: . gangguan saraf organ internal. B.SNI 01-7152-2006 B.21.3..5 Pada pemakaian bidang farmasi (obat) saja hanya digunakan sangat terbatas tidak untuk obat dalam dan hanya sebagai pelarut dalam pembuatan sediaan obat.21. yang kemudian dihilangkan (diuapkan).3. hidung dan kerongkongan. B.Pengaruh efek lama/kronis lain terhadap kulit menjadi kering. khususnya dalam depresi sistem syaraf pusat (SSP).dan sampai koma dan kematian.Tak perlu dievaluasi lagi pengaruhnya terhadap kerusakan otak dan saraf. B.3. karena beberapa pelarut dan senyawa kimia petroleum telah menunjukkan efek kerusakan tersebut.21. tetapi bukan berarti tak ada efek. B. 90 dari 122 . .10 Penelitian hewan menunjukkan isopropil alkohol adalah iritan terhadap mata dan selaput mukosa.21. drawssines. pecah-pecah.3. gangguan kordinasi.3.21.12 Penelitian pada tikus menunjukkan efek fetotoksik bukan teratogenik.Pada kulit menyebabkan rash atau rasa terbakar.6 Absorpsi yang cepat melalui saluran cerna dan ekskresinya yang lambat.Kanker (isopropil alkohol adalah karsinogen). Efek tersebut meliputi penekanan konsentrasi dan memori.Bahaya terhadap reproduksi: Belum ada penelitian pengaruhnya terhadap sistim reproduksi.3.13 Catatan efek membahayakan Isopropil alkohol tercatat berpengaruh pada kesehatan manusia. . . menjadi faktor peningkat efek toksiknya. Pemakaian obat sangat terbatas dibandingkan dengan makanan yang lebih luas (banyak) pemakaiannnya. B. analogi dengan pada manusia.3. Efek yang terjadi setelah beberapa waktu terpanjang isopropil alkohol. muntah . gangguan kordinasi.21.Tertelan menyebabkan sakit saluran cerna. Efek isopropilalkohol yang muncul segera (tidak lama) setelah terpajan: .Iritasi pada mata. dan saraf lengan dan kaki. B. .3. Efek fetotoksik terbukti pada hewan. perubahan personalitas. . b) Efek Kronis. sukar tidur.

Ekstrak bitter wood .3.22. Nigakilactone D. Kuasin dari Quassia amara L.22 B.1 Kuasin (quassin).3. Secara komersial ada dua sumber kuasin yaitu Quassia amara L. Kulit tanaman Quassia amara L. Hasil evaluasi B. isopropil alkohol tidak dikhawatirkan keamananya (no safety concern). Sedangkan ekstrak kuasin atau ekstrak quassia memiliki naman lain Quassin. 76-78-8 Deskripsi Kuasin adalah diterpen lakton. B. Tahun 2002 CEFS mengevaluasi batas ini kembali tetapi pembatasan 91 dari 122 . Diberi nomor 277. neokuasin dan 18hidroksikuasin. Nama lain kuasin adalah (+)-Quassin.21. Senyawa ini digunakan dalam minuman. Diusulkan tidak digunakan sebagai perisa di Indonesia yang terkonsumsi langsung. B. Australia (Australian Food Standard Code) membatasi penggunaannya pada batas maksimum 1000 mg/kg pada produk pangan.21.21. dan Picrasma excelsa (Sw) Planch (famili: Simarubaceae).14 a) b) c) Batasan pajanan di tempat kerja OSHA: The legal airborne permissible exposure limit (PEL) = 400 mg/kg untuk maksimum 8 jam kerja.2 Fungsi lain Tidak ada.SNI 01-7152-2006 B.22. yang dikenal juga dengan nama pikrasmin.22. memutuskan penggunaan isopropil alkohol sebagai pelarut/pengekstraksi betakaroten dari Blakeslea trispora untuk makanan. ACGIH : 400 mg/kg untuk 8 jam kerja dan STEL : 500 mg/kg (Short term exposure limit). Nomor CAS. B. kegunaannya sebagai perisa bukan utama (dapat diganti dengan bahan lain yang lebih aman) dan dua negara yang tercatat melarang sebagai perisa. Sedangkan yang berasal dari Picrasma excelsa (Sw) Planch mengandung isokuasin. US FEMA GRAS 2929. 1991 a). atau Picrasma excelsa (Sw. B. 1981) dan hasil residu yang rendah setelah penggunaannya (SCF. atau kecuali digunakan dalam pengolahan saja dengan syarat harus dihilangkan/diuapkan kembali dan tidak terkonsumsi langsung. Kuasin adalah senyawa terpen lakton yang berasa sangat pahit dengan derajat kepahitan 50 kali kuinin.5 mg/kg bw (SCF.4 Pengaturan European Community (Health & Consumer Protection Directorate-Generale) – 21 Februari 2003. kecuali dalam minuman alkohol sampai 50 mg/kg dan dalam permen (lozenges) sampai 10 mg/kg.15 Berdasarkan berbagai efek isopropil alkohol terhadap tubuh khususnya terhadap sistem syaraf pusat. mengandung campuran kuasinoid yang pahit yang terdiri dari kuasin. dapat diterima dengan dasar : “temporary acceptabledaily intake” = 0 . permen dan kue-kue karena rasa pahitnya. dan 800 mg/kg tak lebih untuk 15 menit kerja. NIOSH: 400 mg/kg untuk maksimum 10 jam kerja.3 Kajian keamanan CEFS tahun 1981 membatasi penggunaan kuasin dalam makanan dan minuman sebesar 5 mg/kg.) Planch disebut juga kuasia sedang ekstrak “quassia“ disebut “quassin”atau kuasin.1. JECFA (Joint Expert Committee on Food Additive) menyatakan bahwa penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.

termasuk data untuk penentuan intake (asupan). . distribusi. Nilai NOEL belum ada. apakah pada kondisi penggunaan.4 mg/kg. Di USA. Penurunan terlihat juga pada jumlah sperma dan kadar testosteron. data batas aman (threshold). Batas maksimum pada komoditas pangan (5 mg/kg). asupan senyawa lebih besar dari 1. Tahapan yang dicakup dalam prosedur pengambilan keputusan ini meliputi: penentuan kelas struktur kimia. B. epididimis dan vesikel seminal yang diikuti dengan pengingkatan kelenjar pituitari anterior.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (Europe Commission) membolehkan penambahan kuasin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.4 mg/kg sedang dalam kue-kue sampai 50 mg/kg (Hall and Oser. (Garcia et al. metabolisme dan ekskresi senyawa ini.22. Evaluasi keamanan kuasin akan menggunakan “prosedur pengambilan keputusan” (decision tree) yang telah disetujui oleh BPOM. Disimpulkan bahwa senyawa yang paling berperan sebagai antifertilitas adalah kuasin. pada tikus jantan.1mg/kg berat badan (Raji and Bolarinwa.1995). Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. penentuan apakah senyawa atau metabolitnya bersifat endogenus. ekstrak metanol Quassia amara L menghambat sekresi testosteron (Njar et al. Bagian Standardisasi.SNI 01-7152-2006 penggunaan masih belum berubah. July 2002. Malaysia mengatur penggunaan kuasin boleh ditambahkan pada makanan tertentu dengan batas maksimum yang telah ditentukan: minuman selain minuman beralkohol dan shandy (5 mg/kg).1997). Setelah 8 minggu percobaan. shandy (50 mg/kg). akan tetapi tidak ada data kandungan kuasin. pangan olahan (5 mg/kg). Secara umum disimpulkan ekstrak quassia menyebabkan infertilitas pada tikus jantan dan selanjutnya pada betina dan ditentukan LOEL sebesar 0. Tidak terdapat tanda-tanda toksisitas akut pada dosis sampai 1000 mg/kg ekstrak air kuasia.. Pada sel Leydig secara in vitro. 92 dari 122 . pada minuman beralkohol sampai 3. 1963). Tidak ada data mengenai toksisitas kronis seperti karsinogenisitas dan genotoksitas. Apakah kondisi penggunaan senyawa masih dalam margin aman berdasarkan data NOEL senyawa atau senyawa yang mirip. pastilles (10 mg/kg). Oleh karena itu. 1965). Pemberian ekstrak kuasia sebanyak 100 mg/kg/hari pada induk tikus bunting menyebabkan jumlah kelahiran anak tikus yang lebih sedikit (Margaria. data toksisitas untuk evaluasi keamanan kuasin belum cukup. dinyatakan bahwa tidak ada data mengenai penyerapan. sampai saat ini penggunaan kuasin masuk harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. minuman beralkohol. Selanjutnya Raji and Bolarinwa (1997) melaporkan aktifitas antifertilitas ekstrak Quassia amara L yang mengandung quassin dan alkaloid 2methoxycanthin-6-one. namun data mengenai toksisitas alat reproduksi cukup banyak. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Toksisitas sub akut tidak terlihat sampai dosis 50 mg/kg/hari selama 8 minggu (Margaria. Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuasin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. hormon luitenising dan hormon stimulasi folikel serum. terlihat penurunan berat testis. Kemampuan menghamilkan pada tikus betina juga menjadi turun secara nyata. penentuan ada tidaknya pruduk metabolisme yang berbahaya. ekstrak Quassia diizinkan digunakan dalam minuman sampai 3.5 µg per hari. sifat metabolit. penentuan intake (asupan) yang melebihi batas aman (threshold) atau tidak. 1963). minuman (5mg/kg) pengecualian hanya pada pastiles ( lozenges) 10 mg/kg dan minuman beralkohol (50 mg/kg). data NOEL dan data asupan per hari. Dengan demikian. Data pada manusia belum ada.1997). Dari laporan CEFS on Food on Quassin.

α-(6Methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-2-quinuclidinemethanol. Kajian toksisitas kuinin memperlihatkan bahwa (i) Pemberian terendah 1425 mg/kg pada tikus secara oral berpengaruh terhadap reproduksi yaitu terjadi pertumbuhan secara statistik pada kelahiran baru dan berpengaruh juga terhadap kelahiran baru secara fisik. B.6-Methoxy-α-(5-vinyl-2-quinuclidinyl) -4quinolinemethanol. (xi) pemberian dosis lethal terendah 220 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan lain pada kardiak. NCI-C56246. terjadi perubahan pada penglihatan. Kuinin dan turunannya secara luas digunakan juga sebagai terapeutik pada percobaan infeksi protozoa. Cardioquin. (+)-Quindine.(9S)-. (ii) pemberian dosis terendah 4300 µg/kg pada manusia secara oral berpengaruh terhadap saraf periferal dan sensasi: paralisis lemah tanpa anesthesia. (viii) pemberian dosis terendah 6500 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan lemahnya otot. post-necrotic scaring). toraks atau respirasi. B. β-Quinine. edema sakit paru-paru akut pada paru-paru. Quindine. Conchinin. Selain itu berpengaruh juga pada ginjal. (vi) pemberian dosis tererendah 110 mg/kg pada wanita secara oral berpengaruh pada penglihatan. 93 dari 122 . seperti malaria dan noctural leg cramps.1 Kuinin (Quinine). (+)Quinidine. (x) pemberian dosis terendah 12 mg/kg/1 hari secara selang-seling berpengaruh terhadap hati: hepatitis. βquinine. Cin-quin. 6'-methoxy-. Conquinine. kuinin hidroklorida dan deoksikuinin.23 B.2 Fungsi lain Kuinin dalam bentuk garamnya atau ekstrak dari cinchona bark digunakan sebagai bittering agent (sekitar 80 mg kuinin hidroklorida per liter). nefritis interstisial pada ginjal. (iii) pemberian dosis terendah 129 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi midriasis pada mata (pembesaran biji mata). Cinchonan-9-ol. pusing dan mual pada gastrointestinal. Conquinine.9S)-6'-Methoxycinchonan-9-ol. pengaruhnya belum diketahui. 130-95-0 Deskripsi Nama lain kuinin adalah Quinidine. terjadi perubahan pada pendengaran dan tinnitus pada telinga. (xii) pemberian dosis terendah 80 mg/kg pada wanita secara oral. (v) pemberian dosis terendah 800 mg/kg pada mencit secara oral.23. Quinicardine. fibrous (cirrhosis. berpengaruh pada tingkah laku yaitu perubahan motorik. (iv) pemberian dosis terendah 27 mg/kg pada laki-laki secara oral terjadi perubahan pada penglihatan. (xiii) pemberian dosis terendah 126 mg/kg/3minggu secara selang-seling pada wanita secara oral terjadi kardiomiofati termasuk infraksi pada kardiak dan menyebabkan alergi pada kulit. Chinidin. α-(6-methoxy-4-quinolyl)-5-vinyl-.23. terjadi tinnitus pada telinga dan berpengaruh pada gastrointestinal yaitu pusing atau mual (perasaan ingin muntah). (ix) pemberian dosis terendah 130 mg/kg pada wanita secara oral terjadi perubahan akuitas pada telinga. 2-Quinuclidinemethanol.23. Pitayine. β-Quinidine.cinchonan-9-ol. sedangkan pada darah terjadi angraulositosis. 6'-Methoxycincho. perubahan akuitas pada telinga.SNI 01-7152-2006 B. Kinidin.nan-9-ol.9 mg/orang/hari. (8R. Pitayin. Coccinine. ureter dan saluran kencing. Quinidex. ureter dan saluran kencing: fungsi uji renal ditekan. (vii) pemberian dosis terendah 45455 µg/kg pada wanita secara oral menyebabkan perubahan pada penglihatan. midriasis pada mata (pembesaran biji mata). (9S)-6'Methoxy.42 dan rumus molekul C20H24N2O2. ADI 0-0. Kenampakan kuinin berwarna putih dan sensitif terhadap cahaya. Kuinin memiliki bobot molekul 324. Conchinine.3 Kajian keamanan Kajian keamanan berikut ini adalah kajian keamanan kuinin dalam bentuk garamnya (kuinin sulfat). Selain itu berpengaruh juga pada darah yaitu terjadi perubahan pada limpa. Nomor CAS. Quinaglute. Selain itu digunakan juga pada minuman beralkohol pahit dan dalam jumlah sedikit digunakan dalam tepung produk konfeksioneri/kembang gula.

2 jam). Uji sebelumnya yaitu uji preliminari mengindikasikan bahwa dosis 135 mg/kg bb/hari deoksiquinin menyebabkan kehilangan berat badan dan kematian pada kelinci. minuman beralkohol dan shandy 300 mg/kg. Tak teramati adanya toksisitas pada pengamatan oftalmoskopik dan fungsi pendengaran.9-1. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Efek terhadap kesehatan: dapat merusak liver. hasilnya positif terhadap mencit (NMRI C3H) dan dengan metode yang sama juga pada konsentrasi 55-110 mg/kg bb hasilnya positif terhadap mencit (C57BL). B. Pemakaian kuinin dalam makanan (minuman selain minuman beralkohol dan shandy 85 mg/kg.67. Dosis terapeutik 1 g/hari kuinin untuk beberapa hari menghasilkan konsentrasi quinin plasma sekitar 7 µg/ml dengan lama hidup plasma sekitar 12 jam.23. Selain itu dengan metode sister chromatid exchange: 110 mg/kg bb. Sejauh ini belum ada informasi gangguan iritasi pada bagian mata atau gangguan lain selain kebutaan.SNI 01-7152-2006 B. Austria.1 mg/kg). minuman (85 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol (300 mg/kg). B. Farmakokinetik quinin bervariasi (0. Apabila kuinin masuk ke dalam tubuh karena tertelan dapat mengakibatkan gangguan otot/muscle tremor. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.3 Kajian khusus teratologi deoksikuinin Pemberian deoksikuinin secara oral gavage dengan dosis 0. Pada uji teratologi. hasilnya positif terhadap S. 40 atau 80 mg/kg bb/hari pada kelinci selama 6-18. jerman: melarang penggunaan kuinin dalam makanan dan minuman pengecualian : bukan minuman 94 dari 122 . Sekitar 7% kuinin plasma berbentuk protein.3. atau 60 mg/kg bb/hari pada tikus bebas patogen menunjukkan bahwa tikus yang diberi dosis 6. perut mual dan muntah-muntah.23. 40. Kuinin secara ekstensif dimetabolisme di hati dan kurang dari 5% ekskresi tak berubah dalam urin. 20.1 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian kuinin hidroklorida dalam bentuk diet makanan sebesar 0. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari uji ini. Bagian organ yang menjadi target sasaran adalah sistem syaraf pusat.23.4-18. meningkatkan urea nitrogen dan deplesi periportal glikogen hati tikus pada kelompok tikus yang diberi 2 dosis tertinggi.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) membolehkan penambahan kuinin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.2 Kajian khusus gentoksisitas dengan metode ames Pada 5-20 µg/plate kuinin hidroklorida. 20. 1. 3 ekor yang diberi dosis 80 mg/kg bb/hari mati dan yang lainnya mengalami penurunan berat badan pada hari ke 10-23 gestasi jika dibandingkan dengan kontrol.3.23. Konsentrasi plasma puncak dicapai selama 1-3 jam secara dosis oral tunggal. pandangan mata buram dan sempit serta kebutaan. 6. Typhimurium galur TA98. dapat menyebabkan gangguan darah dan anemia. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0.3. 100 atau 200 mg/kg bb/hari pada 20 tikus jantan dan betina selama 13 minggu menunjukkan penurunan total protein serum dan globulin. Quinin secara cepat memotong plasenta.8 ml/kg/min dengan masa hidup 8. mengakibatkan iritasi dan gangguan pada darah. B. hepatitis akut. liver dan mata. Jika uap quinin masuk dalam tubuh dapat mengakibatkan iritasi pada saluran pernafasan dan mengakibatkan gangguan sama seperti yang disebutkan diatas. 10. menyebabkan kebutaan. in fruit curds (40 mg/kg). Kuinin diserap secara sempurna dan cepat dari intestin kecil yang diberikan secara oral.67 dan 60 mg/kg bb/hari terjadi penurunan ukuran fetus dengan ditandai hilangnya pre-implantasi. Quinin berpotensi sebagai iritan lokal dan tidak biasanya diurus (administered) oleh intramuskular lain atau injeksi subkutanus. proses pembuatan makanan 0. Pemberian deoxyquinin secara gavage dengan dosis 0.1mg/kg). mempengaruhi sistem pusat saraf. merusak fungsi motorik.

) oktan-2-asam karboksilat metal ester (C17H21NO4) memiliki bobot molekul : 303. Kokain HCl digunakan hanya untuk anestesi saluran pernapasan. Charlie. Kokain HCl tidak digunakan secara intra-okular karena menimbulkan ulserasi kornea.1. berbentuk kristal padat. She. kuinin klorida dan sulfat). Jam. Cholly. Nomor CAS. dalam alkohol 15. jus buah lemon 40 mg/kg sebagai quinine base. Bernies. Kokan. pangan lain (1 mg/kg) Spanyol membatasi penggunaan kuinin pada air tonik dan bukan minuman keras yang berasa pahit (100mg/l incl.24. Gold Dust. Jawa) & Erythroxylum novogranatense (di Amerika Selatan). 5aH-tropan-2ß-asam karboksilat 3 ß-hidroksi-metil ester benzoate. minuman spirit 300 mg/kg. Leaf. Belanda membatasi penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol (85 mg/kg).575) Malaysia memperbolehkan penambahan kuinin pada makanan tertentu sesuai dengan batasan maksimum yang izinkan minuman selain minuman beralkohol dan shandy (85 mg/kg). pH basa. Kokayeen.2R. Lady. Benzoyl methylecgonine.24. India. dalam alkohol 25 g/100 ml.1 mg/kg). Pimp’s drug. Happy dust. Coke. Kokain HCl merupakan senyawa tidak berwarna atau putih. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan kuinin sebagai Natural Toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum campuran minuman beralkohol yang belum terklasifikasikan (300 mg/kg) . Kokain atau dengan nama kimia Benzoilmetilekgonin. minuman beralkohol (300 mg/kg). Kokain HCl. White girl. Cecil. Dosis terapi untuk dewasa direkomendasikan 1-3 mg/kg. Toot.4 g/100 ml. Kelarutan dalam air 200 g/100 ml. karena risiko iskemia dan nekrosis jaringan.2 Fungsi lain Tidak ada. Green gold. bitter drinks dan quinine drinks (100 mg/kg). air mineral.3S. 95 dari 122 .5S)-2-metoksikar-boniltropan-3-il benzoate. Neurocaine. Amerika Pusat. & Speed ball (Heroine+cocaine). Methylbenzoylecgonine. 1% larutan pH netral. 1aH. Crack. Dama Blanca. Corine. Blow. Minuman berbasis anggur (wine) dan anggur dengan kadar alkohol yang telah dikurangi (300 mg/kg). Prancis menetapkan penggunaan kuinin pada minuman tidak beralkohol sebesar 70 mg/l.1 Kokain (cocaine). shandy (300 mg/kg). minuman beralkohol.SNI 01-7152-2006 beralkohol 85 mg/kg. 3-tropanilbenzoat-2-asam karboksilat metal ester. B. madu (85 mg/kg).4. Cadillac of drug. tidak larut dalam eter. Star dust. Luxemburg menetapkan penggunaan kuinin dalam buah dan atau ekstrak sayuran lemon (85 mg/l) sebagai quinine base.24 B. Liquid lady (Aalcohol+cocaine). Kokain atau dengan nama lain ß-cocaine. Larutan kokain tidak dipakai untuk kulit atau jaringan abraded atau luka bakar atau jaringan yang disampaikan dengan sambungan arteri. Pembatasan tidak melebihi 83 mg/kg. L-cocaine. Eritroxilina. B. berbentuk kristal padat.17 g/100 ml. Carrie. kristal higroskopis rasa pahit dan tidak berbau. 50-36-2. Her. 3-(benzoiloksi)-8-metil-8azabisiklo-(3. Snow. Nose candy. Kelarutan dalam air 0. Titik leleh 197oC. dalam eter 28. Ecgonine methyl ester benzoat. pangan olahan lain (0. Sedangkan kokain merupakan berwarna putih. Girl. Burese. Star-spangled powder. Yunani menetapkan penggunaan kuini pada minuman ringan 100 mg/l. Rock. cocaina.6 g/100 ml. jus. Titik leleh 98oC. Erytroxylin.(1R. Happy trails. titik didih 187-188oC. Nomor CAS. 2ß-karbometoksi-3ß-ben-zoksitropan. Minuman tonik.2. US melalui FDA menetapkan kuinin sebagai hidroklorida atau garam sulfat mungkin aman digunakan dalam minuman berkarbonat sebagai perisa. Kokain. 53-21-4 Deskripsi Kokain merupakan salah satu dari 14 alkaloid yang diekstraksi dari daun 2 spesies koka: Erythroxylum coca (ditemukan di Amerika Selatan. Bernice. sebagai kuinin (CFR 172. untuk anak-anak tidak ada data. Finlandia membatasi penggunaan kuini pada minuman ringan (excluding prepacked waters). Flake. Champagne of drugs. White lady.

gelisah luar biasa. yang menghasilkan benzoilekgonin dengan demetilasi. Pengaturan d) B.4 CAC menyatakan bahwa batasan pada bahan pangan adalah cocain free (tidak mengandung kokain).05 sampai 5 g / hari melalui jalur nasal. Melalui inhalasi.5 sampai 1. Penyalahgunaan kokain menyebabkan ketergantungan psikologis yang kuat. sampai 2 jam pemberian. Kajian toksisitas kokain memperlihatkan bahwa LD pada orang dewasa diperkirakan pada 0. Melalui intravena. dosis pengulangan. koma. Dalam media basa. Tidak ada data karsinogenik dan mutagenik. 0. kehilangan berat badan. efek klinis tampak 3 menit setelah pemberian. aritmia ventricular. agitasi. Kokain didistribusikan pada seluruh jaringan tubuh. Kecepatan metabolisme tergantung konsentrasi plasma. sakit perut.24. Australian Food Standard Code menyatakan bahwa kokain sebagai natural toxicant harus tidak terdeteksi pada produk pangan. pingsan dan mati. kokain terionisasi dan gagal masuk ke dalam sel. dan 50 mg/kg melalui jalur nasal. Dosis lebih besar menyebabkan hipertermia. Dalam jumlah besar. halusinasi. dan paling lama 30 sampai 60 menit. sakit dada. 60 sampai 80% kokain diserap. kematian dilaporkan pada konsentrasi 1 mg/l. Ketagihan kokain dapat ditoleransi sampai dosis 5 g/hari.5 mg/l.3 Kajian keamanan Target organ adalah sistem syaraf pusat (SSP) dan sistem kardiovaskular. dengan hilangnya gugus benzoil memberikan ester metil ekgonin. sedikit terionisasi dan penyerapan meningkat cepat. Dalam media asam. 96 dari 122 . Metabolisme kokain terjadi terutama di dalam hati. Malaysia melarang penggunaan kokain sebagai perisa. muntah. Kokain melalui plasenta dengan difusi sederhana. Kokain dan benzoilekgonin dapat dideteksi dalam ASI sampai 36 jam setelah pemberian. konsentrasi darah mencapai puncak dalam beberapa menit. kokain terlihat dalam darah setelah 30 menit. dan mengakumulasi dalam fetus setelah penggunaan berulang.24.SNI 01-7152-2006 B. LD50 iv pada tikus 17. 1%-9% Kokain dieliminasi tidak berubah dalam urin. mual. Aktivitas esterase bervariasi secara substansi dari satu subjek ke subjek yang lainnya. takikardi. Kokain tidak berubah diekskresi dalam stool dan dalam saliva. Melalui pemberian masal. dan penurunan mental. Efek toksik dapat ditunjukkan dengan konsentrasi plasma sama dengan atau lebih dari 0. gangguan jantung. dan dalam urin bayi baru lahir selama sebanyak 5 hari. dapat disertai depresi SSP dengan pernapasan yang tidak beraturan. psikomotor agitasi. Keracunan kronis menimbulkan euphoria. Jalur sekunder adalah hidrolisis spontan.3 g / hari melalui mulut. dengan proporsi lebih tinggi dalam urin asam. Setelah pemberian oral. konvulsi. halusinasi. anoreksia. hipertensi. mencapai konsentrasi maksimum dalam waktu 50 sampai 90 menit. 0. midriasis. dan melalui blood brain barrier. perubahan dihubungkan dengan vasokonstriksi sekunder. LD50 pada kelinci 15 mg/kg melalui jalur iv. Kokain diserap melalui seluruh jalur pemberian.5 mg/kg. kemungkinan non-enzimatik. penyerapan dapat berubah-ubah dari 20% sampai 60%. niat bunuh diri. Keracunan akut dosis rendah menyebabkan euphoria dan agitasi. sebagai hasil kelarutannya dalam lemak. kemungkinan terakumulasi dalam system saraf pusat (SSP) dan dalam jaringan adiposa.02 g kokain melalui jalur parenteral. Ada 3 jalur bio-transformasi: a) b) c) Jalur utama adalah hidrolisis kokain oleh esterase plasma dan hati. Melalui pemberian intra-nasal atau oral.

13 kPa dengan titik nyala (api) 150 0C serta koefisien partisi komarin adalah 1. dan adenoma hati. pemberian komarin dalam dosis besar menyebabkan penghambatan pembentukan tulang janin dan peningkatan kematian anak dalam uterus. India melarang penggunaan komarin dalam produk pangan.14. Sementara Australia dalam Australia Food Standard Code menetapkan komarin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 10 mg/kg dan produk makanan lainnya (2 mg/kg). oral) yang diberikan setiap hari selama 7 hari pada tikus betina menyebabkan penurunan kadar progesteron. Mempunyai titik didih 2970C -2990C dan titik leleh 680C -700C. pada produk tembakau dapat memperkuat rasa dan aroma alami tembakau. Thailand.25. Nama lain dari komarin. juga adenoma ginjal. komarin menyebabkan hepatotoksik. Coumarinic anhydride.1 Komarin (coumarin). 520 mg/kg bb (oral.25. Pada tikus. 91-64-5 Deskripsi Komarin mempunyai rumus molekul C9H6O2 dengan berat molekul 146.25 B. USA melalui CFR 189.2-Benzopyrone. 1000 mg/kg menyebabkan hipoglikemik pada tikus betina selama kurang lebih 24 jam. B. antara lain 1. Bersifat mutagenik pada dua dari 11 strain Salmonella typhimurium dengan aktivitas metabolik. Demikian pula halnya dengan Malaysia.39 oktanal/air. pengecualian pada karamel dan minuman beralkohol ( 10 mg/kg) serta permen karet (50 mg/kg).96 g/cm3 dan kelarutannya kurang di dalam air. Singapura.30 melarang produk pangan yang mengandung komarin. Australia New Zealand (FSANZ) mengizinkan penambahan komarin melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 50 mg/kg. Toksisitas akut (LD50) komarin pada tikus adalah 680 mg/kg bb (oral). cis-O-coumarinic acid lactone. Secara In vitro komarin toksik terhadap sel hati pada mencit.25. Tekanan uap pada suhu 106 0C adalah 0. pasta gigi. Pada mencit bunting 6-17 hari.4 Pengaturan CAC dan EC tidak membolehkan penambahan komarin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. terjadi adenoma dan karsinoma hati dan saluran empedu.SNI 01-7152-2006 B.25. B. minuman (2 mg/kg).3 Kajian keamanan Pada mencit dan tikus. obat rambut (hair preparations). Batas maksimum untuk komoditas pangan (2 mg/kg). Pemberian 1% komarin dalam diet selama 4 minggu pada tikus menyebabkan penghambatan pertumbuhan serta pembesaran dan kerusakan hati. sabun toilet. marmut. 290 mg/kg bb (oral. 97 dari 122 . terjadi peningkatan aktivitas SGOT. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. dengan larutan pembawa propilen glikol). dalam produk industri untuk menutupi bau yang tidak diinginkan. gamma-glutamyl transferase. dan sorbitol dehidrogenase. dan 2-Oxo-2H-1-benzopyran. penguat aroma pada parfum. dengan larutan pembawa minyak jagung) sedangkan untuk marmut adalah 202 mg/kg bb (oral).2 Fungsi lain Sebagai fiksatif. tikus. terjadi adenoma dan karsinoma paru-paru. 1 mmol/kg (146 mg/kg. Pada mencit. Nomor CAS. Kerapatan komarin adalah 0. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. B. dan kelinci.

pubescens.233 pon.522 – 1. adonan masses dan isiannya. 9. 1 gram beta-naftil keton larut di dalam 5 ml etanol 95%.2 Fungsi lain Tidak ada.5 µg/ orang perhari. Senyawa metil beta-naftil keton masuk dalam kategori kelompok III karena senyawa perisa ini memiliki struktur cincin yang lebih dari satu dan tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi lebih sederhana (mono).26.1 Metil beta-naftil keton (metyl β-naphthyl ketone). Daunnya mengandung asam betulorentic. sup. IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. white birch bouleau.21 dimana kadarnya tidak kurang dari 99%.35 @ 25oC.26. 93-08-3 Deskripsi Metil beta-naftil keton merupakan kristal padat berwarna putih dengan bau bunga jeruk. Kulit pohon betula mengandung pula betulin dan kapur betul. Metil beta-naftil keton praktis tidak larut dalam air. Mempunyai rumus kimia C12H10O dengan bobot molekul 170. isian untuk produk coklat. konfeksionari (kembang gula). Senyawa metil beta-naftil keton dalam tubuh manusia tidak dapat diprediksi apakah dapat menghasilkan produk yang berbahaya. berke. Minyak betula bukan merupakan minyak esensial. brausen. verrucosa. tidak larut dalam gliserol sedangkan larut di dalam campuran minyak. Ambang batas aman yang dapat digunakan untuk manusia sebesar 90 µg/ hari. dan permen karet.1 mg/kg). titik didih 175oC @ 760 mm. Jerman mengizinkan pada produk tertentu sebesar 5 mg/kg yaitu pada minuman dingin dan panas alami. edible ice. Minyak betula (birch tar oil). dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan rumus kimianya. cream desserts.1 Nama lain dari minyak betula adalah betula pendula roth tar oil. B. Oleh sebab itu senyawa ini perlu dievaluasi lebih lanjut. Kulit pohon betula hanya mengandung 3% asam tanat.26 B.26.3 Kajian keamanan Secara umum senyawa perisa diabsorbsi atau diserap melalui usus manusia.27. saus manis. Berdasarkan perkiraan asupan perhari di eropa sebesar 6 µg/ orang yang melebihi ambang batas yaitu sebesar 1. EC (European Commisssion) di Italia mengizinkan penggunaan metil-beta-naftil-keton hanya pada permen (0. Dari 38 senyawa perisa yang ada. monoecia triandria. Minyak betula dapat 98 dari 122 . 8001-88-5 Deskripsi B. bereza. jeli. Titik beku tidak kurang dari 520 dan kadar abu sulfat tidak kurang lebih dari 0. Senyawa aromatik jenis keton dikeluarkan melalui urin atau dioksidasi dan diekresi sebagai glycin.59 @ 20oC. puding. B. indeks refraktif 1. Nomor CAS. bubuk sherbets. Nomor CAS. B.403 – 11. Menurut NOEL pengamatan terhadap tikus yang diberi senyawa Metil β-naftil keton selama 90 hari sebanyak 33 mg/kg berat badan per hari menunjukkan hasil bahwa senyawa ini termasuk dalam kategori aman untuk dikonsumsi oleh manusia.13 – 1. Minyak betula memiliki gravitasi spesifik 1. B.4 Pengaturan Evaluasi mengenai senyawa ini telah dilaporkan terdapat efek toksisitas. US FDA mengizinkan.05%.27 B.SNI 01-7152-2006 B.26. India melarang penggunaan senyawa perisa pada berbagai artikel pangan. Senyawa perisa di dalam tubuh manusia dimetabolisme melalui reaksi hidrolisis dari aktivitas katalitik karboksilase. B. bakery wares.

SNI 01-7152-2006

dicampur dengan Cananga, Guaiyl Butyrate; Heptyl Eugenol; Isoamyl Phenyl Acetate. Minyak betula tumbuh baik di Eropa, dari Sisilia sampai pulau es dan di Asia bagian Utara. Minyak betula adalah minyak yang diperoleh dengan cara destilasi kering kulit dan kayu Betula Pendula Roth dan spesies sejenis Betula (Fam.Betulaceae), kemudian dimurnikan dengan destilasi uap. Minyak betula hasil destilasi mengandung persentase metil salisilat yang tinggi, kreosol dan guaiakol. Minyak yang sudah dimurnikan (Oleum Rusci Rectificatum) kadang-kadang diganti dengan minyak cade. Cairan jernih; warna coklat tua; bau tajam seperti bau kulit. Larut dalam hampir semua minyak lemak dan alkohol. Tidak larut dalam air, gliserol, minyak mineral dan propilen glikol. Minyak betula juga tidak larut secara sempurna dalam 95% asam asetat dan anilin, akan tetapi minyak turpentin memisahkannya secara sempurna Minyak betula hampir identik dengan minyak wintergreen. B.27.2 Fungsi lain

Sebagai aroma parfum: Burnt, Leather Cuir, Fantasy Blends, Fern Fougere; Leather, Peau D’spagne dan sebagai penyamak. B.27.3 Kajian Keamanan

Bagian pucuk dan daun mengeluarkan resin (damar) yang bersifat asam, jika digabungkan dengan alkalin akan menjadi tonic laxative. Daunnya yang khas bersifat aromatik, bau yang enak dan berasa pahit. Digunakan sebagai teh (teh betula) untuk encok, reumatik, dropsy, dan sebagai pelarut batu ginjal yang dapat diandalkan. Dengan kulit pohon, teh betula melarutkan dan melawan pembusukan (putrefaction). Jamu pohon betula baik untuk bathing skin eruption dan berguna untuk sakit dropsy. Minyak berasa kecut, digunakan untuk efek kuratifnya pada kulit, terutama eczema, tapi digunakan juga untuk obat penyakit dalam. Kulit pohon bagian dalam yang pahit dan kecut telah digunakan sebagai obat demam. Air bunga sebagai diuretik. Dosis yang diberikan yaitu ekstrak beralkohol dari daun, 25-30 butir tiap hari. B.27.4 Pengaturan

EC (European Commission) mengizinkan penggunaan minyak betula pada bahan pangan dan minuman (0,03 µg/kg). IOFI (International Organizaton of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaannya pada produk akhir makanan sebesar 0,03 µg/kg. US FDA mengizinkan penggunaan minyak betula (CFR 172.515). Singapura melarang penggunaan minyak betula. B.28 B.28.1 Minyak cade (cade oil), Nomor CAS. 8013-10-3 Deskripsi

Cade merupakan pohon belukar besar berdaun hijau sampai ketinggian 13 kaki, dengan jarum gelap panjang dan buah kecil hitam kecoklatan seperti ukuran hazelnuts. Minyak esensial ini yang dikenal dengan nama kimia Juniper tar oil diperoleh dengan cara distilasi destruktif dari cabang dan empulur. Berasal dari Perancis Selatan, sekarang umum ada di seluruh Eropa dan Afrika Utara. Banyak dihasilkan terutama di Spanyol dan Yugoslavia. Juniper tar oil digunakan pada pengobatan penyakit kulit seperti eksim kronis, parasit, penyakit scalp (kulit kepala), rambut rontok, dll; pada luka sebagai antiseptik dan untuk sakit gigi; untuk luka, ketombe, dermatitis, eksim, noda, dll. Penggunaan secara luas di bidang farmasetik sebagai pelarut obat-obatan kimia, dalam krim dan salep kulit seperti juga pada obat-obat hewan. Minyak yang sudah dimurnikan digunakan pada bidang fragrans, dalam sabun, losion, krim dan pewangi. Kombinasi penggunaan dengan thimi, origanum, cengkeh, cassia, tea tree, cemara, dan basis obat memiliki khasiat analgetik, antimikroba, antipruritik, antiseptik, disinfektan, parasitisida, vermifugal (obat cacing).
99 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.28.2

Fungsi lain

Digunakan untuk mengobati penyakit kutanus seperti eczema kronik, parasit, penyakit scalp, kerontokan rambut. B.28.3 Kajian keamanan

Tidak toksik, tidak iritasi, kemungkinan masalah sensitisasi. Penggunaan harus hati-hati, khususnya perlakuan pada radang atau kondisi kulit alergi. Turpentine (terebinth) digunakan sebagai alternatif, dengan kemungkinan reaksi alergi lebih sedikit. Toksisitas akut, kanker, pemecahan endokrin, toksisitas reproduksi tidak ada. B.28.4 Pengaturan

CAC (Codex Alimentarius Commission) tidak ada batasan pengaturan minyak cade. Sedang EC (European Commission) menetapkan batas maksimum dalam bahan pangan yang dikonsumsi sebagai perisa : makanan dan minuman 0,03 mg/kg. Sedangkan Malaysia dan Singapura melarang penggunaan minyak cade dalam makanan. Minyak kalamus (calamus oil) Deskripsi

B.29 B.29.1

Minyak kalamus (Acorus Calamus L) berasal dari tumbuhan. Minyak kalamus diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar tanaman atau akar kering. Minyak kalamus merupakan cairan kental berwarna kuning atau kekuningan, berbau aromatik dan berasa pahit. Memiliki titik didih 180 °Februari dan gravitasi spesifik 0,962. B.29.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.29.3 Kajian keamanan

Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen). β-asaron mengandung berbagai macam minyak kalamus yang bersumber dari tanaman. Indian Acorus calamus dari Jammu merupakan tetraploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 75% beta-asaron; Acorus calamus dari Kashmir merupakan hexaploid dan minyak yang dihasilkan mengandung sektiar 5% beta-asaron (Vashist & Handa, 1964). Acorus calamus dari Eropa merupakan diploid dan minyak yang dihasilkannya mengandung sekitar 5% beta-asaron (Larry, 1973). Umumnya, hanya minyak dari varietas diploid yang digunakan sebagai aromatik perisa pada minuman beralkohol (Usseglio-Tomasset, dalam Larry, 1973). Akar dan rhizoma Acorus calamus telah digunakan dalam system Ayurvedic sebagai obat-obatan untuk mengatasi berbagai penyakit seperti epilepsy hysteria (Madan et al., 1960). B.29.4 Pengaturan

US FDA, Malaysia, dan India melarang penggunaan minyak kalamus pada produk pangan. Minyak kalamus mengandung beta-asaron (cis-isomer dari 2,4,5-trimethoxy-1propenylbenzen).

100 dari 122

SNI 01-7152-2006

B.30 Minyak peniroyal (pennyroyal oil), Nomor CAS. 8013-998 B.30.1 Deskripsi

Pennyroyal oil merupakan minyak esensial berasal dari daun Mentha pulegium, mengandung 62-97% R(+)-pulegon (Grundschober, 1979) dan telah dikonsumsi manusia selama beberapa abad, terutama karena sifat-sifat abortifacient yang dimiliki (Gunby, 1979), Pennyroyal oil dengan sinonim Mentha pulegium L, mentha pulegium I. Oil; hedeoma oil berasal dari tanaman. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari bagian akar yang segar atau akar kering dari tanaman Mentha pulegium L. Kandungan utama dari pennyroyal oil erafrican adalah d-pulegon. Memiliki angular rotation +18° - +25°, refraktif indeks 1.483-1.488, gravitasi spesifik 0.93000, titik nyala 176 °F, larut alcohol, propilen glikol, mineral oil, tidak larut dalam gliserin, minyak berwarna kuning muda sampai kuning hijau, berasa pahit dan bau minth. B.30.2 Fungsi lain

Tidak ada. B.30.3 Kajian keamanan Peniroyal merupakan perisa alamiah yang mengandung pulegon sehingga evaluasi minyak alamiah ini setara dengan evaluasi untuk pulegon. Ketersediaan data untuk evaluasi keamanan peniroyal belum cukup, termasuk data metabolisme, penentuan intake (asupan), data batas aman (threshold), data NOEL dan data asupan per hari. Namun demikian, evaluasi peniroyal dapat juga mengacu pada evaluasi senyawa pulegon. Oleh karena itu, penggunaan peniroyal harus dimasukkan dalam kategori daftar negatif. B.30.4 Pengaturan

Singapura melarang penggunaan pennyroyal oil pada produk pangan. B.31 B.31.1 Minyak rue (rue oil), Nomor CAS. 8014-29-7 Deskripsi

Minyak rue merupakan essensial oil yang diperoleh dari tanaman Ruta graveolens L, merupakan tanaman khas daerah Mediterania. Komponen utama minyak rue adalah methylheptyl-ketone (90 %), 1-a-pineol, cineol, dan 1-limonen, serta methyl-n-nonylcarbinol. Ekstrak maupun bagian tanaman dari Ruta graveolens L sering digunakan sebagai bahan tambahan pada minuman beralkohol yang dikonsumsi sebelum makan besar, berasa sangat pahit; salad dan daging di beberapa negara Eropa. Selain digunakan sebagai bahan tambahan pangan, Rue oil maupun ekstrak Ruta graveolens L digunakan sebagai antispasmodic, emmena-gogous. Minyak rue bersifat iritan, direkomendasikan sebagai rempah obat bagi gangguan insomnia, sakit kepala, nerveousness, abdominal cramps, gangguan renal. Ruta graveolens L dikenal sebagai tanaman emmenagogue (stimulan menstruasi) kemungkinan sebagai sedative dan hypnotic herbal. Minyak rue biasanya digunakan untuk obat homoeopathic sebagai subefacient, untuk obat dematoses sebagai eczemas dan psoriasis; dan sebagai antivirus jika digunakan bersama dengan herbal lain. Rue oil jika dioleskan pada kulit bermanfaat sebagai rubefacient untuk gangguan rematik. Selain itu, pemakaian bagian tanaman Ruta graveolens L maupun ekstraknya berlebih dapat mengakibatkan keguguran janin. Sejauh ini belum tersedia data yang mendukung mekanisme absorpsi, distribusi, lama tinggal dalam tubuh, metabolisme dan lain-lain. Rue essential oil tidak boleh digunakan sebagai bahan dalam aromaterapi karena bersifat berbahaya, dapat terbakar dan menyebabkan iiritasi pada kulit, tidak disarankan digunakan
101 dari 122

Hasil pengujian pada hewan menunjukkan bahwa. B. alkaloid dicktamin. dan pengararuh pada mata serta ekspose parenteral belum ada datanya. Phototoxicity dari senyawa tersebut ditunjukkan pada bakteri. pteleine dan kokusaginine yang diduga menyebabkan peristiwa mutagenik. vomiting dan excessive saliva kemudian diikuti oleh CNS exitation terjadi pada pasien yang mengalami keracuan ekstrak Ruta graveolens L. Adapun pengaruh akibat menghirup senyawa aktif dari minyak rue atau ekstrak Ruta graveolens L.3.2 Kajian toksikologi/toksinologi/farmakologi Metyl-nonyl-ketone memacu uterine contractions dan pelvic contaction sehingga akan mengakibatkan uterine haemorrhage yang memungkinkan terjadinya keguguran janin. gammafagarine. Pada wanita hamil dapat menderita pendarahan peranakan dan keguguran janin. kecuali pada konsumsi secara tradisinonal dengan meminum ekstrak rebusan daun Ruta graveolens L disarankan tidak alebih 1 atau 2 gram per hari. B.2 Fungsi lain Tidak ada. Dosis asupan maksimal yang direkomendasikan adalah 1 gram daun Ruta graveolens L/hari. dan menghambat tingkat kehamilan hingga mencapai 50-60 % tikus. Ekstrak tanaman tersebut dinyatakan mengandung furoquinoline. Informasi yang lebih kuantitatif dilaporkan sebagai beikut: asupan sebanyak 120 gram daun segar Ruta graveolens L atau 10 ml Rue oil dapat mengakibatkan kerusakan pada ginjal. Beberapa kasus keracuan disebabkan karena kesalahan dalam dosis penyeduhan.3.31. Insufisiensi pada bagian renal dan liver terjadi beberapa hari kemudian. Gejala akut pada bagian kulit terjadi akibat terkena senyawa aktif Ruta graveolens L dalam jangka waktu lama yang mengakibatkan iiritasi. Beberapa gejala seperti epigastric pain. B.3 B. tetragenisitas belum ada. kasus klinis akibat minum seduah daun Ruta graveolens L adalah keguguran janin. Sedangkan hasil pengujian mutagenisitas menunjukkan bahwa ekstrak sejenis tanaman Ruta graveolens L.3.31. skimianine dilaporkan menghambat secara nyata pada spontaneous motor activity. pemisahan dari kelompoknya dalam waktu lama meningkatkan gejala saling memusuhi diantara sesamanya.SNI 01-7152-2006 selama ibu menyusui dan pada anak-anak. jamur sel indung telur. hyperpigmentation dan blistering pada kulit. liver dan bahkan kematian.3 Pengaruh klinis Keracunan akut diakibatkan oleh karena masuknya komponen aktif Rue oil atau ekstrak Ruta graveolens L dalam jumlah berlebihan.31. Ekstrak Ruta graveolens L dilaporkan juga berpengaruh pada anti-implantation pada tikus albino. yakni Tinctura Rutae berpengaruh sangat kuat pada Salmonella typhimurium. Pasien dapat mengalami hipotensi dan bradycardiac diikuti dengan shock. B. Psoralen atau furooumarin merupakan senyawa yang bersifat photoactive apabila dikenakan pada kulit dan terkena sinar matahari mengakibatkan kulit kemerahan. proses mitosis dihambat dengan adanya senyawa tersebut dan terjadi pula perubahan pada kromosomnya. Pengaruh anti-methaphetamine juga terjadi pada hewan percobaan. skimianine.31. exploratory behaviour.31.1 Kajian keamanan Bahaya yang sering dijumpai Pemakaian tradisional disiapkan dengan menyeduh satu sendok penuh daun Ruta graveolens L dalam 250 ml air mendidih dan diminum tidak lebih dari dua cangkir per hari. cataleptogenic activity. Informasi toksisitas Rue oil maupun bagian tanaman Ruta graveolens L pada orang dewasa belum ada. Jika terkena sinar matahari kulit 102 dari 122 . Adapun informasi mengenai karsinogenisitas.

1699). akan tertjadi coagulation disorder yang bertalian erat dengan hepatic insufficiency.31. Akibat keracunan. Minyak sasafras (sassafras oil).080. dengan gejala erythema dan blistering. dan convulsions. soft candy (10 mg/kg). metabolic imbalance yang diikuti dengan renal failure. Penyembuhan sangat lambat apabila pasien tetap mengalami gastrointestinal symptom. frozen dairy desserts dan mixes (10 mg/kg). Jika pasien dapat bertahan hidup. Informasi gejala kronis akibat kontak pada bagian meta. Gangguan pada kelenjar endokrin dan sistem reproduksi akibat keracunan akut dilaporkan akibat peningkatan uterine contractilicity dengan hypogastric pain. haemorrhage dan keguguran janin pada wanita hamil.1 Minyak sasafras dengan sinonim sassafras albidum (Nutt. pemulihan kembali kesehatan sangat mutlak perlu tanpa adanya efek samping lanjutan. Gangguan pada sistem gastrointestinal dijumpai akibat keracunan akut.SNI 01-7152-2006 akan mengalami etythema. pasien akan mengalami gangguan pada jantung dengan gejala hypotension. abortion.32 B.) Ness berasal dari tanaman. autonomic nervous system. Singapura melarang penggunaan minyak rue. coagulation disorder. Beberapa gastroentriteritis dapat memacu kehilangan cairan dan terjadinya gejala kardiovaskular. Renal failure biasanya terjadi akibat tubular necrosis akut yang perlu penanganan haemodialysis. bradycardia dan akhirnya akan mengalami haemodynamic shock. Pada pernafasan. Gangguan pada liver terjadi setelah 2-4 hari mengkonsumsi ekstrak Ruta graveolens L. jaundice dan oliguria. US FDA mengatur penggunaan Minyak rue sesuai dengan batas maksimum yang telah ditentukan yaitu pada baked goods dan baking mixes (10 mg/kg). menghirup. 68917-09-9 Deskripsi B. Minyaknya diperoleh dengan cara destilasi panas dari akar bagian kulitnya dari tanaman sassafras albidum (Nutt. vomiting. epigastric pain.3. dan skeletal dan smooth muscles belum ada. Gejala kronis akibat menelan ataupun minum bagian aktif Ruta graveolens L menjukkan gejala yang sama pada keracunan akut. Pengaruh pada bagian syaraf periphertal nervous system. Minyak sasafras memiliki titik nyala 197 °F dengan gravitasi spesifik 1. apabila terkana sinar matahari akan mangakibatkan photodermatitis.32. Tidak ada pengaruh pada kelenjar endokrin meskipun terjadi gejala penurunan produksi sperma. Keracunan pada kulit mengakibatkan iiratasi.) Ness. B. convulsions. dan ekspose parenteral belum ada. sedangkan pada CNS dapat mengalami convulsion. gangguan ini meliputi jaundice. Minyak sasafras adalah minyak atsiri yang mengandung 80% atau lebih 103 dari 122 . diarrhoea dan hypersalivation merupakan gejala umum yang dilaporkan terjadi. Kontak senyawa aktif Ruta graveolens L dengan lidah mengkibatkan tongue irritation dan oedema yang diikuti dengan fibrillary movement. Nomor CAS. Gejala lain seperti tongue oedema dan fibrillation juga dapat dijumpai pada pasien keracuan akut. Pasien juga akan mengalami uterine bleeding akibat pengaruh komponen Ruta graveolens L pada bagian uterus. Jika pasien dapat bertahan hidup.31. pasien dapat mengalami hepatic insufficiency yang selanjutnya dapat berkembang menjadi jaundice dan renal failure yang akhirnya akan mengalami kematian pula. nausea. pyperpigmentation dan bistering. haemodynamic disorder. koma akan berakibat pada kegagalan pernafasan seperti pneumonitis. B.4 Penyebab kematian Kematian dapat terjadi setelah 2 atau 3 hari setelah pasien mengalami keracunan setelah pasien mengalami gelaja akut gastro-intestinal symptomatology yang diikuti dengan gejala haemodynamic alteration. Pengaruhnya pada jaringan darah.4 Pengaturan EC (European Commission) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi. kategori pangan lain (4 mg/kg) (CFR 184.

2-methylenedioxy) adalah konstituen utama dari sassafras albidum (Nutt. B. dan dapat menyebabkan kanker hati pada konsentrasi tinggi yang diujikan pada hewan. Umumnya berwarna kuning. Dalam plasma dan jaringan level safrol dan hasil metabolitnya meningkat selama 24 jam. Safrol yang terdapat dalam minyak sasafras dapat merusak jaringan hati secara permanen. Aroma sasafras berasal dari safrol. B. Nomor CAS. pendarahan usus. tanaman kering 0.32. isosafrol.4 Pengaturan Malaysia. nafas sesak.33.3 Kajian keamanan Safrol (1.32. paralisis.655 mg pada manusia dan 0.1 Minyak tansi dibuat dengan cara destilasi tanaman yang sedang berbunga dengan air. kram.165 mg atau 1.2-dihudroxy4alliybenzen metabolit utaman dalam urin baik pada manusia maupun tikus. Larut dalam alkohol.2 Fungsi lain Tidak ada.15 g/kg.2 Fungsi lain Tidak ada. Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafaan tehambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon).955. halusinasi. Gravitasi spesifik minyak yang berasal tanaman segar 0. yang berasal dari Amerika dalam keadaan murni berbentuk cairan jernih dengan 70% alkohol.32. 1.33. hilang kesadaran. atau dihidrosafrol. Zat kimia yang terdapat dalam minyak sassafras bersifat karsinogenik.) Ness.SNI 01-7152-2006 safrol. Menguap cepat pada suhu ruang. LD50 (akut) secara oral pada tikus 1. Rumus kimianya C10H16O. B. tetapi ada yang berwarna hijau warna berubah menjadi coklat kena udara dan cahaya. Dapat pula mempercepat denyut jantung. hanya 25% yang diekskresikan dalam waktu 24 jam. Safrol diabsorbsi melalui gastrointestinal. radang lambung. dengan rasa agak asam.33 B. mempunyai karakteristik aroma. tetapi lebih kuat. Pada kelinci > 5 g/kg secara dermal. karakteristik aroma disebabkan konstituen utama tujon atau tanaseton. berbeda dengan yang terdapat Amerika dan Jerman dengan laevo-rotary (-27 °). Dan 3’hydroxy-isosafrole hanya terdeteksi pada tikus. B. India. merah kulit. Minyak yang ditanam di Inggris mempunyai aroma rosemary.925-0. Pada hewan menyebabkan penyakit yang sama dengan hydrophobia (rage tanacetique). dan sifat buruk lainnya yang dilaporkan terjadi pada manusia yang mengkonsumsi sassafras. 8016-87-3 Deskripsi B. serta panas.63 mg/kg pada tikus menurunkan kecepatan eliminasi. 104 dari 122 . Dosis 0.33. Dapat menyebabkan aborsi. Singapura melarang penggunaan minyak sasafras sebagai perisa. penyimpangan denyut jantung. Minyak tansi dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah. B. bumbu. Dosis dari minyak 2-5 tetes. Minyak tansi (tansy oil). dan hepatitis. Rasa sangat pahit.940. Aroma seperti tansi.

Nitrobenzen memiliki rumus molekul C6H5NO2 dengan berat molekul 123. pada umumnya sangat rendah sekitar 0. informasi bahaya karsinogenisitas pada manusia belum ada. titik leleh 6 oC. Nitrobenzen dapat mengalami degradasi karena pengaruh fotolisis maupun secara mikrobiologis. eksplosif limit. Di beberapa kota di Amerika Serikat pada awal 1980-an konsentrasi nitroibenzen di udara berkisar antara <0. pada penelitian nitrobenzen tidak mengalami penguapan akan tetapi tedegradasi secara menyeluruh pada tanah yang diberi limbah cair. Data penelitian dari penguapan nitrobenzen tampaknya bertentangan dengan model prediksi penguapan half life nitrobenzen dengan komputer yakni selama 12 hari (sungai) hingga 68 hari (eutropic lake). Pada tikus jantan terjadi peningkatan hepatocellular neoplsm. Flash point: 88 oC. yakni mencapai 67 g/liter.0 g/m3 [0. Konsentrasi tertinggi dijumpai di sungai Danube. Pada kondisi anaerob proses degradasi berlangsung lebih lambat. Nirobenzen merupakan senyawa antara utama pada produksi anilin. Pada penelitian lain yang dilakukan hanya pada tikus jantan.SNI 01-7152-2006 B. di daerah urban.4 Pengaturan Singapura melarang penggunaannya. Densitas uap relatif terhadap udara: 4.1–1 g/liter. Konsentrasi nitrobenzen di alam seperti air permukaan.05 dan 1 g/m3 (<0. waktu reaksi sangat lambat.2. Nitrobenzol. 98-95-3 Deskripsi Nama lain dari nitrobenzen adalah Essence of Mirbane. Diantara 49 sampel udara di Jepang terukur kandungan niotrobenzen sekitar 0. Oil of Myrbane. Percobaan dalam smog chamber dengan campuran propylene/butane/nitrogen dioxide perkiraan lifetime antara 4 and 5 hari. direct fotolisis berlangsung sangat cepat (half-lives antara 2. Dengan ozon. thyroid-cell adenomas dan adenocarcinomas dan renal tubular adenomas.1 Nitrobenzen (nitrobenzen). NCIC60082. nitrobenzen tidak dijumpai di sungai dekat dengan tempat penampungan limbah berbahaya di USA pada 105 dari 122 . UN 1662. Akibat sifat nitrobenzen kelarutannya dalam air moderat dan mempunyai tekanan relatif uap rendah. Waktu estimasi terpendek hasil kajian literatur adalah 1 hari (air sungai). Yugoslavia pada tahun 1990. Kerusakan akibat fotolisis di udara dan air sangat lambat.33.01 dan 1 µg).2. Kandungan nitrobenzen pada air permukaan bervariasi tergantung pada lokasi dan musim. pada mencit jantan mengakibatkan peningkatan alveolar-bronchiolar neuroplasm dan thryroid follicular cell ademonas. Paparan pada manusia dapat melalui pernafasan. Nitrobenzen dijumpai pada air pemukaan dan air tanah. Data yang dirilis oleh US Environmental Protection Agency padan tahun 1985 menujukkan bahwa kurang dari 25% sampel udara positif dengan nitrobenzen dengan kosentrasi 0.34. Nitrobenzeen. sementara itu pada peristiwa fotolisis tidak langsung (fotooksidasi dengan radikal hidroksil.05 g/m3 (0. Sedangkan pada tikus betina terjadi peningkatan pada hepatocellular neoplasm dan endometrial stromal polyps. atom hidrogen atau hydrated electrons. sedikit meningkat di dearah industri (2.2 Tekanan uap pada pada suhu 20 o C: 20. Di dalam air. akan tetapi perhitungan waktu paruhnya untuk reaksi dengan radikal hidroksil antara 19 and 223 hari. Nitrobenzen memiliki titik didih: 211oC. Essence of Myrbane. Nitrobenzene. dan penyerapan melalui kulit selama produksi maupun pemanfaatannya. B. Akan tetapi. Nitrobenzen. tergantung pada konsentrasi sensitizer). Akan tetapi.0022–0. Berdasarakan hasil percobaan fotolisis langsung di udara. Densitas relatif terhadap air : 1. air tanah dan udara pada umumnya rendah. menyebabkan nitrobenzen mudah terbawa/tercuci dari udara oleh air hujan. Degradasi nitrobenzen di instalasi penanganan limbah berlangsung secara aerobik.8-40.5 and 6 hari). sensitisasi dengan humic acids) perannya sangat kecil (calculated half-lives antara 125 hari dan 13 tahun untuk reaksi dengan radikal hidroksil.11.01 µg).40 µg]). vol % dalam udara: 1. Nitrobenzen diproduksi secara komersial sejak awal abad 19 dengan metoda nitrisasi senyawa benzen. Rcra waste number U169. kelarutan dalam air 0. Mirbane oil. Nomor CAS.34 B. Sejauh ini. terjadi peningkatan hepatocellular neoplasm.16 g/m3. Oil of Mirbane. lifetimes kurang dari 1 hari.

khususnya pada wanita. Berdasarakan informasi yang ada. Studi immunotoksisitas nitrobenzen pada mencit B6C3F1 mengakibatkan peningkatan cellularity spleen. Akan tetapi. Liver akan membesar. nitrobenzen sangat mudah diabsorpsi oleh kulit.2 Fungsi lain Tidak ada. B. Berdasarkan kajian ilmiah. dan ginjal. batasan kandungan nitrobenzen dalam udara tidak lebih dari 5 mg/m3 (1 mg/kg). pewarnaan tubular epithelial cells). Potensi kajian karsinogenik dan toksisitas nitrobenzen melalui pernafasan yang diberikan dalam jangka panjang. Tingkat kematian tidak berpengaruh pada konsentrasi hingga 260 mg/m3 [50 mg/kg] untuk mencit.34. Pasien yang menghirup nitrobenzen dan mengalami methaemoglobinaemia akan berkurang efeknya apabila dibebaskan dari nitrobenzen dan mendapat perawatan yang memadai secara perlahan akan pulih kesehatannya.75 mg/kg berat badan per hari) dan melalui permukaan kulit pada konsentrasi 100 mg/kg berat badan per hari. tampaknya air tanah lebih potensial untuk mengalami pencemaran nitrobenzen. sementara itu bagian paru-paru mengalami emphysema. Organ lainnya yang menjadi target nitrobenzen adalah ginjal (peningkatan berat. pembengkakan. Gejala apnoea dan kematian dapat terjadi apabila nitrobenzen temakan dalam jumlah tinggi. khususnya pada kelinci. Keadaan tersebut tidak dijumpai di USA pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1985. dan mengeras sehingga akan mengganggu produksi serum. pada wanita yang menghirup nitrobenzen ginjalnya akan mengeras dan membesar. nasal epitelium. kulit. pigmen deposisi dan degenerasi dari olfaktori epitelium).34. liver. beberapa kejadian keracunan dan kematian akibat menghirup nitrobenzen terjadi di beberapa negara. kerusakan pada jaringan saraf pusat pada bagian cerebellum dan batang otak merupakan ancaman kehidupannya. Methaemoglobinaemia terjadi akibat kontak dengan nitrobenzen melalui mulut. kelenjar tiroid. meskipun di Jepang dijumpai dalam jumlah sangat kecil 4 dari 147 sampel ikan yang diuji. Nitrobenzen tidak dijumpai pada makanan. Splenic capsular lesions dijumpai pada tikus melalui gavage (melalui selang ke dalam perut) pada dosis 18. mengakibatkan keracunan dan bersifat karsinogen pada kedua spesies serta mempengaruhi spektrum dari paru-paru.3. Gejala necrotic pada manusia terjadi akibat menghirup nitrobenzen termasuk didalamnya sakit kepala.34. B. B.3.2 Pengaruh nitrobenzen pada kesehatan manusia Pada manusia. dan pingsan.SNI 01-7152-2006 tahun 1998. tingkat immunosuppression turun (respon IgM terhadap sel darah merah hilang). Kandungan nitrobenzen pada air tanah dapat mencapai 210–250 hingga 1400 g/liter di USA pada akhir tahun 1980-an. vertigo. thymus (involution) dan pankreas (mononuclear cell infiltration). pencemaran tanah ataupun secara tidak langsung akibat nitrobenzen yang dikonsumsi oleh tanaman. Manusia yang tinggal di dekat tempat penanganan limbah berbahaya mungkin akan terekspos dengan nitrobenzen melalui air tanah. selama 550 hari dilakukan pada mencit jantan dan betina B6C3F1 dan betina tikus Fischer-344 dan jantan tikus Sprague-Dawley. mual.3 B. kelenjar susu. lapisan bawah kulit (subkutanus) dan melalui pernafasan pada mencit dan tikus.34. tiroid (follicular cell hyperplasia). Tampaknya ginjal menjadi organ target dari akibat paparan nitrobenzen. Pada kajian subkronik oral dan uji dermal pada mencit dan tikus. Oleh karena itu.1 Kajian keamanan Pengaruh pada hewan percobaan Nitrobenzen mengakibatkan keracunan pada bebarapa organ sel hewan percobaan. 106 dari 122 . atelectasis dan bronchiolization pada alveolar cell walls. 130 mg/m3 [25 mg/kg] untuk tikus.

Sejauh ini belum ada informasi yang cukup untuk keperluan perlindungan hewan air asin. dan metoda distribusi statistik.34. akan tetapi data kuantitatif yang ada belum ada.34. Benign tumours dapat dijumpai pada kelima organ. mammary adenocarcinomas dapat dideteksi pada mencit betina B6C3F1.4 Evaluasi bahaya Methaemoglobinaemia dan perubahan haematological and splenic terjadi pada manusia yang terekspos dengan nitrobenzen. dengan nilai EC50. konsentrasi terendah yang dapat melindungi 95% hewan air dengan tingkat kepercayaan 50% adalah sebesar 200 µg/liter. Borreri. testicular pada pengujian melalui pernafasan mempengaruhi sistem pernafasannya. diantaranya affine. N. 142 mg/liter untuk guppy (Poecilia reticulata). Berdasarakan informasi data toksisitas akut. India utara. Malaysia dan Singapura melarang penggunaan nitrobenzen.3 Pengaruh nitrobenzen pada mikroorganisme lingkungan Nitrobenzen bersifat racun bagi bakteri dan sangat merugikan bagi instalasi penanganan limbah apabila jumlah polutan nitrobenzen sangat tinggi.to 48-jam LC50 values) untuk kisaran 24 mg/liter untuk water flea (Daphnia magna) hingga 140 mg/liter untuk jenis keong (Lymnaea stagnalis). pumilum.7 mg/liter untuk (Mysidopsis bahia). Tidak ada pengaruhnya terhadap mortalitas atau tingkah laku pada medaka pada konsentrasi nitrobenzen 7. berdasarkan kemampuan reproduksi adalah sebesar 10 mg/liter. Untuk hewan air laut nilai akut terendah adalah 96-jam LC50 apabila konsentrasi mencapai 6.1–1 g/l aman bagi hewan air. Nilai 96-jam LC50 berlaku untuk kosentrai 24 mg/liter untuk medaka (Oryzias latipes). Respon karsinogenik dapat dideteksi pada tikus dan mencit setelah mendapat perlakuan dengan nitrobenzen. Aspidium Filix-mas (SCHWARZ). Afrika utara dan Afrika selatan. Pada hewan pengerat.. Untuk hewan air tawar dosis akut nitrobenzen mencapai (24. bersama dengan rasio toksisitas akut: kronis bagi jenis udang-udangan.SNI 01-7152-2006 B.9 mg/liter untuk protozoa Entosiphon sulcatum dan sekitar 8hari nilai lowest-observed-effect concentration (LOEC) dari konsentrasi 1. B. Konsentrasi toksin terendah nitrobenzen pada bakteri Nitrosomonas. B.34.92 mg/liter berdasarkan penghambatan konsumsi amonia.9 mg/liter untuk alga biru-hijau Microcystis aeruginosa.3. dengan EC50 sebesar 0. Methaemoglobinaemia. beberapa Negara Asia. Pada kosentrasi sebesar 0. akan tetapi pengkajian tentang genotoksisitas mendapatkan hasil negatif. bilateral epididymal hypospermia dan bilateral testicular atrophy terjadi apabila dosis yang dikenakan mecapai 5 mg/m3 (1 mg/kg) pada tikus. Tanaman ini sangat bervariasi. pengaruh methaemoglobinaemia. Fern tumbuh di seluruh bagian Eropa. Bentuk dari tanaman ini berbeda-beda berdasarkan sub spesiesnya. 107 dari 122 . B. Ikan air tawar menunjukkan sensitivitas yang sama rendahnya terhadap nitrobenzen.O. beberapa bagian Amerika Serikat. Pada mencit.1 Pakis jantan (male fern) Deskripsi Nama lain dari Male Fern adalah Male Shield Fern: Dryopteris Felix-mas (LINN). kejadian bronchiolization dari dinding alveolar and alveolar/bronchial hyperplasia mulai dapat dideteksi apabila dosis nitrobenzen mencapai 26 mg/m3 (5 mg/kg). Andes dan Amerika Selatan.3. dan liver carcinomas dan thyroid follicular cell adenocarcinomas dideteksi pada tikus jantan Fischer-344. Nilai kronis terendah adalah 20-hari NOEC of 1. Filices.6 mg/liter selama paparan lebih dari 18 hari. haematological.4 Pengaturan EC (European Commission)) dan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) tidak membatasi.35.35 B.9 mg/liter bagi Daphnia magna. Data lain menyatakan bahwa 72-jam no-observed-effect concentration (NOEC) dari 1. bahkan pada konsentrasi 67 g/liter belum menjadi ancaman bagi hewan air tawar.

B. zat pewarna dan gula (pemanis). Minyak pakis jantan bermanfaat sekali sebagai konstituen pada minuman (5%-10% Filmaron. digunakan dalam industri perisa sebagai substansi perisa. B.942. Pemberian dosis tunggal akan dapat mengobati dalam sekali. Serbuk atau ekstrak cairan dapat diterima tetapi ekstrak ethereal atau oleoresin yang diberikan dalam bentuk pil adalah lebih baik. dan koma serta dapat melukai penglihatan mata dan dapat menyebabkan kebutaan. Ekstraksi dengan eter merupakan antelmintik terbaik untuk membunuh cacing pita. Dosis yang diberikan biasanya sangat kecil karena jika terlalu besar akan terjadi keracunan iritasi. Ekstrak pakis jantan dalam bentuk oleoresin. Obat dalam bentuk serbuk dosisnya bervariasi dari 60-180 grains.36 mg/l pada suhu 25°C.35. kelarutan pada air (hasil perhitungan 63.SNI 01-7152-2006 abbreviatum dan elongatum. p-Propilanisol dilaporkan terdapat secara alami di alam.1 Deskripsi Nama lain dari p-propilanisol P-propylanisole atau benzene.36. B. Tangkainya coklat bersisik dan berbulu. ekstrak ethereal. Ekstraksi pakis jantan dengan eter menghasilkan ekstrak berwarna hijau gelap. B. mengandung 30% filicin.4 Pengaturan EC (European Commission ) dan IOFI (International Organization of The Flavour Inustry) tidak membatasi penggunaan pakis jantan. Dalam akar (rhizome) juga mengandung tannin.2 Fungsi lain Pada zaman dulu. Biasanya diberikan pada malam hari setelah beberapa jam berpuasa untuk melakukan pembersihan seperti halnya castrol oil.35. Singapura melarang penggunaan pakis jantan sebagai bahan perisa.36. antelmintik. dicampur dengan madu atau sirup atau setengan cangkir teh hangat.1 methoxy-4-propyl atau Dihydroanethole atau 1-Methoxy-4-propylbenzene atau Methylp-propylphenyl ether atau 4propylmethoxybenzene. gemuk dan merambat di sepanjang permukaan tanah atau di bawah tanah.2 Fungsi lain Tidak ada. mempunyai banyak rambut atau bulu di sekitar daun. gravitasi spesifik 0.36 p-Propilanisol (p-propylanisole) B. p-Propilanisol diperoleh dengan cara hidrogenasi dari gugus propenil dalam anethol.35. 45-90 drop.P. akar dari pakis jantan banyak digunakan sebagai obat cacing (fermivuge). lemah. filicin). Beberapa daun itu lebar. Tanaman ini mempunyai akar (rhizoma) yang pendek. 108 dari 122 . Mahkota akarnya berwarna coklat. ppropilanisol memiliki titik asap 185°F. ekstrak cairan 1-4 drachms. kaku seperti pisau. Ekstrak ethereal atau oleoresin yang dikemas dalam bentuk pil memberikan bau yang lebih enak daripada dalam bentuk bubuk (powder) dan ekstrak dalam bentuk liquid. resin.3 Kajian keamanan Sediaan dan pemakaian dosis serbuk dari akar adalah 1-4 drachms. 5%-8% asam filic. B. B.

109 dari 122 .37. Data NOEL dari p-propenilanisol (300 mg/kg berat badan per hari) adalah 100000 kali lebih besar dari estimasi intake p-propilanisol di Eropa (0. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). tidak terdapat dalam edisi ke 4 karena belum diketahui (COE No.®-. Langkah 2: p-propilanisol diprediksikan dapat dimetabolisme atau merupakan senyawa innocuous. SCCNFP: Pulegon dan mentofuran tersedia.61). Pulegon diakui oleh FDA sebagai perisa (21 CFR 172.36. Pulegon mempunyai titik didih 224 0C. Pulegon (No 753) mengandung rantai samping isopropiliden dan metabolit prinsipal dari pulegon adalah mentofuran (No 758). tekanan uap <0. JECFA : tidak adanya kajian keamanan yang diperkirakan terhadap asupan bahan makanan (901. Langkah A4 :p-propilanisol tidak tergolong senyawa endogenous.3 B. Pulegon dimasukkan ke dalam daftar bahan makanan oleh dewan Eropa.930.2 Fungsi lain Tidak ada.36.36. USA menyaakan bahwa p-propilanisol termasuk senyawa GRAS dengan FEMA no 2930. Senyawa pulegon (no 753) dimasukkkan kedalam kelas struktural II. JECFA no 1244. 1Isoprophylidene-4-methyl-2-cyclohexanon. Nomor CAS.37 B.4 JECFA memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini. B. FEMA : secara umun pulegon aman sebagai bahan perisa (GRAS 3 (2963). 5-methyl-2-1-(1-methylethylidene)-. pulegone. delta-4(8)-p-Methene-3-one. Pulegon memiliki nama kimia p-Menth-4(8)-en-3-one dan nama lainnya adalah delta-4(8)-p-. p-Menth-4(8)-en-3one. titik api 190 oC. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern). India melarang penggunaannya dalam substansi perisa.5-Methyl-2-(1-methylethylidine) cyclohexanone. Komite memutuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.3. 2050). 89-82-7 Deskripsi Nama lain dari pulegon antara lain Cyclohexanone.37. Kajian keamanan oleh JECFA menggunakan Diagram Prosedur Keamanan Substansi Perisa (Munro) melalui langkah-langkah sebagai berikut: a) b) b) c) d) Langkah 1: p-propilanisol tergolong kedalam sturtural kelas III.001 mmHg 2 0C dan kelarutan dalam air 173.515). gravitasi spesifik 0. Langkah A3: Asupan dari p-propylanisole di Eropa (23 mikrogram/orang/hari) dan di USA (114 mikrogram/orang/hari) melebihi ambang batas (threshold) untuk kelas III yaitu 90 mikrogram. p-propilanisol tidak dikhawatirkan keamanannya (No Safety Concern).7 mg/l pada 25 0 C. 1-Methyl-4-isopropylidene-3-cyclohexanone.4 mikrogram/berat badan perhari) dan di USA (2 mikrogram/berat badan per hari). Langkah A5 :Data NOEL dari substansi terkait p-propenilanisol (trans anethol) dapat digunakan untuk p-propilanisol karena melalui jalur metabolisme yang sama. B. Pengaturan B.1 Pulegon (pulegon).SNI 01-7152-2006 B.1 Kajian keamanan Kajian toksikologi p-propilanisol telah dikaji keamanannya oleh JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives) pada tahun 2003 dan diputuskan bahwa dalam penggunaannya sebagai perisa dengan estimasi tingkat asupan saat ini.

5-(2-propenyl)-3. Sedangkan Malaysia mengatur keberadaan pulegon dalam makanan tertentu ditentukan sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan.4-Methylene dioxyallylbenzene atau Safrol. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. makanan olahan (25 mg/kg). produk minuman lainnya (100 mg/kg).44 mg/kg bb/hari (26 mg/orang/hari) untuk pulegon.2-methylenedioxybenzene-4-propylbenzene) yang belum diketahui keberadaannya secara alami tetapi terbentuk pada pembuatan piperonyl butoxyde. Octea cymbarum dan Sassafras. papermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg). Nilai NOEL ini lebih besar dari 1000 kali asupan pulegon hanya sebagai senyawa perisa sebesar 0. Safrol merupakan konstituen utama dari minyak sasadfras (Sassafras officinale Ness & Eberm) dan merupakan konstituen minor pada beberapa essential oil lainnya.2-methylenedioxy-4-propenylbenzene) yang terdapat secara alami sebagai bagian minor dari essential oil dimana terdapat pula safrol. titk nyala >2000F.2-methylene dioxybenzene atau 1. konfeksionari mint (350 mg/kg).097. Australia dan New Zealand di dalam FSANZ menetapkan pulegon sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum : konfeksioneri/kembang gula (350 mg/kg).37. (level yang lebih tinggi ditemukan pada aroma mint yang lebih kuat).Nomor CAS.1 Safrol (safrole). Toksisitas pulegon yang lemah pada dosis rendah terlihat dari percobaan yang berlangsung selama 90 hari pada tikus yang diberi diet mengandung minyak pepemin yang mengandung 1. yaitu 0.3 Kajian keamanan Dianggap aman berdasarkan pohon pemutusan (decision tree).SNI 01-7152-2006 B. minuman dengan perisa peppermint atau mint (250 mg/kg) . papermint atau minuman beraroma mint (100 mg/kg).38 B. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.37.38. berat jenis 1. B.44 mg/kg bb per hari pada studi 90 hari > 10000 kali perkiraan asupan harian pulegon sebagai perisa. dan produk makanan lainnya (25 mg/kg). Batas maksimum pada komoditas pangan (25 mg/kg). Senyawa terkait lainnya adalah dihidrosafrol (1.3-Benzodioxole. Selain itu juga berdasarkan tahap B4 yang menunjukkan adanya nilai NOEL untuk senyawa dan kerabatnya. USA melalui FDA dalam CFR 172.033 µg/orang/hari.19 dan nama kimia 4Allyl-1. shandy. puncak UV Absorbance pada 290 . 110 dari 122 .515 mengizinkan penggunaan pulegon. 94-59-7 Deskripsi Safrol memiliki rumus molekul C10H10 O2 dengan bobot molekul 162. minuman (100 mg/kg) kecuali pada peppermint atau minuman beraroma mint (250 mg/kg) dan konfeksionari mint (350 mg/kg). B. titik leleh 110C. Minuman selain minuman beralkohol. 237 dan <225 nm dan kelarutannya di dalam air menurut hasil perhitungan adalah 75.1% pulegon. Senyawa yang terkait dengan safrol adalah isosafrol (1. NOEL yang sebesar 40 mg/kg bb/hari untuk nefropati diperoleh berdasarkan tetesan hialin dosis tinggi setara dengan NOEL 0.98 mg/l yang diukur pada suhu 250C. Hal ini berdasarkan pada tahap B3 bahwa asupan tidak melebihi ambang batas untuk manusia dimana Eropa dan USA masing-masing memiliki ambang batas 2 µg/hari. Sifat fisik yang dimiliki safrol diantaranya titik didih 2340C.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan pulegon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. Isolasi safrol dilakukan dengan proses destilasi dan/atau proses pembekuan dari minyak (essential oil) yang tinggi kandungan safrolnya seperti Cinnamomum micranthum.

minuman (1 mg/kg). (-)-Santonine. B.2-b)furan-2.[3S-(3α.9b-tetrahydronaphtho[1.4a.4. B.5a.5a. Nomor CAS. 6α-hydroxy-3oxo-. [3S-(3α.30 dengan rumus molekul C15H18O3.coli.9-trimethyl.5aβ. Batas maksimum pada komoditas pangan (1 mg/kg).5a. l-α-Santonin.5a. Eudesma-1. Ekspos tikus terhadap safrol dalam uterus menghasilkan renal epithelial tumours. (11S)-.3aα.2.8(3H.8(3H.4H)-dione.9bβ)]-3a.3 Kajian keamanan Safrol dan Isosafrol diberikan pada tikus besar yang dapat menyebabkan liver hypertrophy dan mikrosomal enzymes. USA melalui FDA melarang penggunaan safrol dalam produk pangan (CFR 189. α-Santonin memiliki berat molekul 246.1 alfa-Santonin (α-santonine). (-)-Santonin. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. Santonin.5a. pengecualian pada produk minuman beralkohol dengan kadar dibawah 25 %vol (2 mg/kg) dan minuman beralkohol dengan kadar diatas 25% vol (5 mg/kg) serta pada pangan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg).39 B. B.2-b]furan-2. (-)-α-Santonin.38. Safrol bersifat inaktif dalam studi mutagenitas yang menggunakan berbagai strain mikroba S. produk pangan lainnya (1 mg/kg).39. Pada tikus besar.4-dienic acid. Tidak ada kejadian tumor hati pada anjing yang diberi asupan safrol selama 6 tahun namun terjadi perubahan terhadap fungsi hati yang meliputi bile-duct proliferation. γ-lactone. S.4H)dione. 3a.9btetrahydro-3.9b-Tetrahydro-3.3aα. γ-lactone. 180).3. Santoninic anhydride.SNI 01-7152-2006 B.cirrhosis adenomatoid hyperplassia sampai benign and malignant tumours.4H)-dione. Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan safrol sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: makanan yang mengandung bunga pala dan pala (15 mg/kg).5aβ. Typhimurium dengan atau tanpa proses aktivasi. Safrol menunjukkan hasil positif pada mutagenik assay (in vitro) dengan menggunakan E. 3a.5.9b-tetra-hydro3.2b]furan-2. pemberian safrol secara kronis menghasilkan progressive dosedependent liver damage yang meliputi hepatic cell enlargment. produk yang berasal dari daging (10 mg/kg). 6αhydroxy-3-oxo-.5. Sedangkan India menetapkan safrol boleh terdapat secara alami pada berbagai artikel pangan dan tidak melampaui batas (10 mg/kg). 1. nodule formation.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentrarius Commission) tidak membolehkan penambahan safrol dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.5a.3.8(3H.l-Santonin. 4a.9-trimethylnaphtho[1. Naptho(1.8-trimethyl-7-oxo-2-naphthalene-acetic acid γ-lactone.7-Hexahydro-1-hydroxy-α.4H)-dione.5a. Pemberian safrol terhadap tikus baik secara oral maupun subkutanus yang menuju marked increase pada kejadian tumor hati. 111 dari 122 . Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.9-trimethyl-.38. minuman beralkohol (5 mg/kg). Demikian pula Malaysia dan Singapura juga melarang penggunaannya dalam makanan. Semenen.2 Fungsi lain Tidak ada. 11-Epiisoeusantona-1. .9-Trimethyl-3a.4-dien-12-oic acid.38.5. 481-06-1 Deskripsi Nama lain dari alfa-Santonin adalah Naphtho[1.8(3H.2b]furan-2.5. cerevisiae dan intraperitoneal host mediated assay (in vitro).9bβ)]-.5a.

dapat mengakibatkan ilusi warna.18 dan 0. B.39. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami.51) (Stoner et al. B.1 Sinamil antranilat merupakan perisa sintetik yang telah digunakan dalam produk pangan semenjak tahun 1985. 1973). B.2 Fungsi lain Tidak ada. Sampai saat ini belum diperoleh informasi tentang keberadaan senyawa ini secara alamiah.40.SNI 01-7152-2006 B. 3-phenyl-2-propenyl 2-aminobenzoat. Batas maksimum untuk komoditas pangan (0.4 g/kg bb sinamil antranilat dalam tricaprylin pada mencit. Nomor CAS.3 B.31) (Stoner et al. = 900 mg/kg. 87-29-6 Deskripsi B. warna jingga. 112 dari 122 . Sedangkan Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan santonin sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam minuman beralkohol dengan batas maksimum 1 mg/kg. 1973). = 180 mg/kg.40 B. 2aminobenzoat.40 g/kg bb secara intraperitonial pada mencit menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 17/30 (2. cinnamyl ester.1 mg/kg) kecuali pada minuman beralkohol diatas 25% volume (1 mg/kg). Malaysia melarang penggunaan santonin dalam makanan. = 15 mg/kg. dengan batas maksimum dalam produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak membolehkan penambahan santonin dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman.1 mg/kg).1 a) b) Kajian keamanan Pengujian karsinogenisitas Dosis 12 g/kg bb atau 2.39.39.helmintik (mencegah parasit).3.40.1 Kajian keamanan Toksisitas akut (LD50) = 130 mg/kg. Sinamil antranilat (cinnamyl anthranilate).2 Fungsi lain Tidak ada. 3phenyl-2-propenyl-anthranilat memiliki nama kimia: 3-phenyl-2-propen-1-ol. cinnamyl alcohol anthranilat. Santonin bersifat sebagai anti. minuman (0. Pada penelitian berikutnya.3 B. penggunaan dosis toatal 12 g/kg bb atau 2. pada mencit – ip pada mencit – iv pada mencit – oral pada manusia (dosis terendah) Dosis 1 mg/kg dalam minuman beralkohol dengan kurang dari 25% volume alkohol memiliki efek negatif pada kesehatan. B.40.40.39.41 dan 1.3. menyebabkan tumor paru-paru: 21/30 dan 13/30 (1. Cinnamyl anthranilate atau dengan nama lain antrhranilic acid.

0.2 B.5 dan 0. a) b) Sinamil antranilat yang diberikan pada mecit jantan dan betina secara intraperitonial menyebabkan tumor paru-paru. Terdapat hubungan mineralisasi pada ginjal denagn dosis yang diberikan pada tikus jantan (kontrol 0/48.1 2.1.2 Pengujian teratogenisitas dengan metode embrio ayam Sinamil antranilat yang terlarut dalam alkohol dimasukkan ke dalam embrio ayam melaui dua jalan yaitu melalui sel udara dan kuning telur. 1000. Pengujian mutagenisitas Metode ames d) e) B. 0. dengan jumlah diet yang sama menyebabkan tumor pada ginjal dan pankreas. 1980).02. Pra inkubasi (0 jam dengan tingkatan dosis: 10.05.40. 1. (NCI. dosis tinggi 41/50).3. 1 dan 3%) selama 6 minggu menunjukkan tidak terjadi kematian dan penekanan berat badan yang lebih besar dibandingkan pemberian dosis 10% kecuali pada mencit jantan dengan dosis diet makanan sinamil antranilat 3000 mg/kg (3%).SNI 01-7152-2006 c) Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg dietn(1/2 MTD) pada mencit jantan dan betina selama 103 minggu menunjukkan penurunan berat badan. 10000 dan 30000 mg/kg (0. 3000. 0. 113 dari 122 . pada tikus–oral pada kelinci-dermal B.3.0 mg/telur.40.5.40.3.2. 1980).40.4.3. 1975).3. 1976).3 Toksisitas akut (LD50) = 5000 mg/kg bb(Opdyke.2. Teramati abnormalitas pada keempat kondisi tersebut. Begitupula dengan tikus dengan perlakuan yang sama. 1975). 5. 0. dosis tinggi 30/49) dan hubungan hemosiderosis limpa dengan dosis yang diberikan pada tikus betina (kontrol 8/47. selain itu terjadi pula karsinoma hepatoselular dan adenoma. dosis rendah 28/50. 0. B. tak teramati adanya tumor. TA-1537. B.40. 0.0 mg/telur) dan inkubasi 96 jam dengan tingkatan dosis: 0. Begitupula pada tikus. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet makanan pada dua tingkatan dosis yaitu 30000 mg/kg diet dan 15000 mg/kg diet (1/2 MTD) pada tikus jantan dan betina menunjukkan penurunan berat badan. 0. dan 0.4 Studi pemberian berulang jangka pendek Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet pada mencit dengan dosis 0. dosisi rendah 17/50. = 5000 mg/kg bb (Opdyke. Neoplasma sel acinar pada pancreas terjadi pada tikus jantan sebesar 3/45 (7%) yang diberi dosis tinggi.2. dan TA-1538 dan Saccharomyces cerevesiae D4 dengan dan tanpa aktivasi (Litton Bioneticks Inc. tidak terjadi efek yang signifikan terhadap angka kematian..25. Terjadi adenokarsinoma atau adenoma sebesar 4/39 (8%) pada tikus betina dengan dosis tinggi.5% sinamil antranilat tidak mutagenik terhadap Salmonella galur TA-1535. Tak ada korelasi jumlah dosis dengan kerusakan pada necropsy (NCI. Pada dosis rendah.3.1. 2. Pemberian sinamil antranilat dalam bentuk diet (MTD dan ½ MTD) pada mencit menyebabkan hepatoselular karsinoma dan adenoma.

1 Tujon (thujone).4 Pengaturan IOFI (International Organization of The Flavour Industry) mengizinkan penggunaan spartein pada minuman beralkohol sebesar 5 mg/kg. B. eter dan kloroform. dan meningkatkan pergerakan darah ke arteri. dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk minuman beralkohol dengan batas maksimum 5 mg/kg dan produk pangan lainnya dengan maksimum level 0.41 B. tidak berbau. meningkatkan tekanan arteri. netral.40. sepersepuluh sampai setengah biji. Digunakan pada penyakit Graves.1 mg/kg. deliquescent. Spartein dapat mengakumulasi sangat banyak gas pada saluran pencernaan. Bukan obat tradisional yang dipercaya pada semua kasus. ADI belum ditetapkan Pengaturan B. B. Tujon berbentuk minyak dengan 114 dari 122 .41. Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan spartein sebagai natural toxicant.42. memperbesar kekuatan kontraksi otot jantung.113 dan India melarang penggunaan sinamil antranilat dalam produk pangan. atau dari mother liquor setelah precipitating scoparin. incoordination. 6917-37-9 Deskripsi Rumus kimia spartein adalah C15H26N2.2 Fungsi lain Tidak ada. Spartein sulfat adalah produk kristal dari reaksi asam sulfat dengan spartein. B.3 Kajian keamanan Senyawa ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada pusat syaraf sampai ke hati. Senyawa ini diperoleh dari destilasi infus konsentrat pucuk cytisus scoparius. catharsis dan akhirnya kelumpuhan otot-otot organ pernafasan dan pusat motorik.1 Spartein (Sparteine) Nomor CAS.41. Jantung dihentikan pada sistol. 546-80-5 Deskripsi Tujon mempunyai rumus kimia C10H16O berupa keton terpenoid dalam dua bentuk stereoisomer dan dikenal sebagai α-thujone dan β-thujone. B. dengan atau tanpa aktivasi. Berguna untuk jantung berdebar dari ketegangan dan lelah. Dosis. Merupakan kristal atau bubuk putih. larut dalam air dan alkohol. Senyawa ini terurai selama proses pengeluaran urin atau pada pudendum dimana aliran urin sebesar-besarnya. menghilangkan dropsical effusions yang dihasilkan dari feebleness dari sirkulasi. pahit. Senyawa ini dapat menstimulasi reaksi ginjal untuk menaikan kadar dan memproduksi mild diaphoresis.4 USA dalam CFR 189. dapat menghasilkan getaran otot. Dapat mempercepat denyut nadi. Senyawa ini bersifat diuretik. dan menyebabkan tekanan mental.SNI 01-7152-2006 c) Sinamil antranilat tidak mutagenik pada galur tertentu S.41. Spartein adalah obat yang biasa dipakai di rumah untuk lemah jantung dengan feeble-ness otot.41. Bentuknya cairan minyak yang konsisten dan tidak berwarna. Nomor CAS. Typhimurium.42 B. B. Dalam jumlah yang berlebih. larut dalam alkohol. muntah.

Toksisitas pada aktivitas obat-obatan. Bitters (35 mg/kg). denyut nadi melemah dan pembesaran luas pernafasan (augmentation of respiratory amplitude). Batas maksimum untuk komoditas pangan (0. minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% v/v alkohol (5 mg/kg). B. Minyak tansy dapat menyebabkan kejang tanda keracunan antara lain muntah. Untuk minyak dari wormwood (Artemisia absinthium) sebagian besar mengandung thujon. makanan yang mengandung sage (25 mg/kg).42.42. Pada dosis rendah. Malaysia menetapkan keberadaan tujon dalam makanan tertentu sesuai dengan batas maksimum yang diizinkan. B.3 Kajian keamanan Minyak dari tansy (Tanacetum vulgare) (± 50% tujon). dan hepatitis. Minuman beralkohol (10 mg/kg) dan produk pangan lainnya (0.50C/9 mm sedangkan β-tujon. Minuman selain minuman beralkohol dan shandy (0. α-tujon memiliki titik didih sebesar 74. merah kulit. tujon dapat menyebabkan epilepsi yang didahului secara umum oleh fase pembesaran dimana beresiko pada tekanan darah.15 g/kg (oral) sedangkan pada kelinci >5 g/kg (dermal). Kematian terjadi akibat sirkulasi pernafasan terhambat dan perubahan degeneratif organ terjadi pada manusia. minuman (0. Juniperus.5 mg/kg).p. sedangkan pada kelinci >5 g/kg (kulit).SNI 01-7152-2006 aroma yang menyerupai mentol dan terdapat dalam tanaman Artemisia spp.4 Pengaturan CAC (Codex Alimentarius Commission) dan EC (European Commission) tidak memperbolehkan penambahan tujon dalam bentuk murni secara langsung pada makanan dan minuman. dimana daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 960 mg/kg (oral). Sedangkan India melarang penggunaan tujon pada berbagai artikel pangan. Saliva spp. 115 dari 122 .p dan penyelidikan kelakuan pada dosis 24 mg/kg i. Sementara Australia dan New Zealand dalam FSANZ menetapkan tujon (alfa dan beta) sebagai natural toxicant dapat ditambahkan melalui senyawa perisa ke dalam produk makanan berikut dengan batas maksimum: sage stuffing (250 mg/kg).2 Fungsi lain Tidak ada. sesak nafas. hilang kesadaran. daya toksisitas akutnya (LD50) terhadap tikus adalah 1. kram pada lambung/usus. Hanya dapat digunakan pada makanan dan minuman sebagai bagian dari perisa alami. pangan olahan lain (0. tujon memperlihatkan sedikit pembesaran pergerakan dan depresi terhadap aktivitas pada dosis 3 mg/kg i.5 mg/kg). Makanan berperisa sage (25 mg/kg). aritmia jantung. sage stuffing (250 mg/kg).5 mg/kg) pengecualian pada minuman beralkohol dengan kadar kurang dari 25% volume ( 5 mg/kg). bitters (35 mg/kg). Untuk (+)-3-tujon diuji aktivitas psikotropik pada mencit dengan menggunakan serangkaian koordinasi dan studi kelakuan dan juga untuk anti nyeri (analgesik) dan hipnotis. dengan batas maksimum dalam (satuan mg/kg) produk akhir yang siap dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan. minuman beralkohol dengan kadar diatas 25 % volume (10 mg/kg). radang lambung. B.5 mg/kg). titik didih sebesar 760C/10 mm. Tanacetum (tansy) Thuja spp dan Cedris spp dengan proporsi yang bervariasi. pendarahan usus. minuman beralkohol dengan kadar lebih dari 25% v/v alkohol (10 mg/kg).5 mg/kg).42.

Diethylene glycol. 831-836. A. J. Voluntary Report-public distribution. 1999-2003. V. Singapore Food and Agriculture Import Regulations and Standards Country Report.epa.pubmedcentral.S. a constituent of Mahonia aquifolium. Council Directive 92/115/EEC of 17 December 1992.. CAC/GL-29-1987. Flavourings and Flavouring Enhancers.htm. Comparative induction of unscheduled DNA synthesisi in cultured rat hepatocytes by allylbenzenes and their 1’-hydroxy metabolites. and Grasso. R. Unpublished report bya British Industrial Biological Research Association. Produced by the Consleg System. K. Codex Alimentarius Commission. Mutat.S. availabel at:http://www.cedralvale.SNI 01-7152-2006 Bibliografi Ahuja P. Borris... R. 116 dari 122 . 22 January 2003.. National Oceanic and Atmospheric Administration.. Code of Federal Regulation 21. Part 1 – Birsdall.com/altmedrev/fulltext/berb. and Cladwell.W. Saturated and Monofluoro Analogs of the Oriental Fruit Fly Attractant Methylegenol Show Reduced Genotoxic Activities in Yeast. Food Chem. Liquido. P. Department of Agriculture. oil. (2002). 50th Session.. Herbal medicines and Dietary Suppplements Potentially Toxic Herbs. and Schiestl. Calamus Oil (Acorus Calamus). Khrimian.S Food and Drug Administration Parts 189. U. Gaunt. BMC Compllementary and Alternative Medicine. G.gov/ceppo. Vanderbilt University School of Medicine. F. Available at: Center in Molecular Toxicology. U. Committee of Experts on Flavoring Substances. 2003. Available at: http://www. B. GAIN Report #SN3005. U. Record. Butterworth. 2002.gov/articlerender. Office for Official Publication of the European Communities.thorne.S..Kandikonda S. Consolidated Text.net/essentialsoils/cade. De Milo. 2000. CAMEO®. Council of Europe. General Requirements for Natural Flavourings.S.C. (1975) A nine month toxicity study of diethylene glycol monoethyl ether in the ferret. L 409/31. 1992. H. Consleg 1995L0002 – 29/01/2004. Res. B. BMC compliment altern med. Chemical land. Amending for the First Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients.. T. 369.fcgi?artid=101396. 175181. Berberine: Therapeutic potential of an alkaloid found in several medicinal plants.nih. Potential antimutagenic activity of berberine. N. Brennan. Enviromental Protenction Agency. 1987.. J. Cedar Vale Natural Health. No. Australian Food Standards Code Flavourings. 30 (10). 2003. prohibited from use in human food. A.. J. I. Official Journal of the European Communities. R. 1996. Cade http://www. (1):2. P. Kelly.html. Available at: http://www. Chan. Toxicol.

Sassafras. 8 Januari 2002. Drugs and Vitamins. Official Journal of the European Communities No. Communication on the EEC Commission ENV/521/79 and IARC Monograph Vo. 10. 88/388/EEC. Opinion of the Scientific Committee on Food on Isosafrle. Council Directive. L157/28.552413. European Commission. Opinion of the Scientific Committee on Food on Pulegone and Menthofuran.drugdigest. Directive 94/52/EC of The European Parliament and of The Council of 7 December 1994. 9 April 2003. Opinion of the Scientific Committee on Food on the Presence of hypericin and extracts of Hypericum sp. 26 September 2001. 25 Juli 2002. European Commission. 26 September 2001. Official Journal of the European Communities No. The American materia medica. Directive 97/60/EC of The European Parliament and of The Council of 27 October 1997. Drug Digest. 29 September 1999. Amending for the Third Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/3 ADD2 Final.. L 331/7. SCF/CS/FLAF/61 Final. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/9 ADD1 Final.00. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/6 ADD2 Final. 231-244. EEC.11475.org/DD/Printable/herbMonograph/0. 17 September 2002. Sientific Committee on Food. Sientific Committee on Food. Opinion of the Scientific Committee on Food on the presence of β-Asarone om flavourings and other food ingredients with flavouring properties. 2 September 1980. European Commission. Opinion of the Scientific Committee on Food on Methyleugenol (4-allyl-1. Sientific Committee on Food. 22 June 1988. F. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/29 Final. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/30 Final. European Commission. (1919). Drug Library. 1976. Sparteine. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/5 ADD1 Final. 8 Januari 2002. European Commission. Official Journal of the European Communities No. SCF/CS/FLAF/78 Final. Sientific Committee on Food. Sientific Committee on Food. 25 Juli 2002. European Commission. European Commission. Avalable at: http://www. pharmacognosy.2-dimethoxybenzeme).. 117 dari 122 .html. Drug Digest. L 331/10. Ellingwood. Opinion of the Scientific Committee on Food on Estragole (1-allyl-4-methoxybenzene). Amending for the Second Time Directive 88/344/EEC on The Approximation of The Laws of The Member States on Extraction Solvents Used in The Production of Foodstuffs and Food Ingredients. SCF/CS/FLAF/FLAVOUR/4 ADD1 Final. Sientific Committee on Food. On The Approximation of the Laws of the Member States on Extraction Solvents Used in the Production of Foodstuffs and Food ingredients. Sientific Committee on Food. On the Approximation of the Laws of The Member States Relating to Flavourings for Use in Foodstuffs and to Source Materials for their Production. Opinion of the scientific committee on food on quassin. Opinion on Coumarin. In flavourings and other food ingredients with flavouring properties. safrole and on the similarity of the biological activity of these substances. Opinion of the Scientific Committee on Food on Benzyl Alcohol. therapeutics and European Commission. Sientific Committee on Food.SNI 01-7152-2006 Council Directive of 13 June 1988. Sientific Committee on Food. European Commission.

Food Cosmetics Toxicology.html.S. IOFI Guidlines for The Preparation of Smoke Flavourings. IOFI Guidlines for The Production and Labelling of Process Flavourings. IPCS. INCHEM.2-Diol (3-MCPD). Laws of Malaysia.vet. Flavour and Extract Manufacturers Association of the United States. a. IOFI Flavour Information 23 March 2004 Tabs 1-12.htm. S.E.mgmh/b/bircom43. IOFI. M. D.com/botanical/mgmh/t/tansy-05. On Flavourings and Food Ingredients with Flavouring Properties for Use in and on Foods. Sassafras Fragrances. INCHEM. Council of Europe Publishing. Colley. 47-50. Food Technology. IOFI. SCF/CS/CNTM/OTH/17 Final. Tansy.. Lansdown. and Gangolli.edu/depts/addl/toxic/plant12. DG Sanco Working Document. III. S. IPCS.. 77.html. Monograph Specifications.com/botanical. 1st Januari 1999.. 1965. Recent progress in the consideration of flavoring ingredients under the Food Additives Amendment. 6. (1968) Short-term Toxicity of Diethylene glycol monothyl ehter in the Rat. European Commission. Regulation of the European Parliament and of the Council.65. Pazos. Common. Code of Practice for The Flavour Industry. Cinnamyl Anthranilate.botanical. IARC Summary and Evaluation. vol. Summaries and evaluations Nitrobenzene. IOFI Guidlines for Safety Evaluation of Thermal Process Flavourings. 4.. 12 November 2001. 381. (1898).SNI 01-7152-2006 European Commission. INCHEM. L. 12 November 2001.W. IARC Summary and Evaluation. Lloyd. B. Oser. Pennyroyal Oil. F. Hall. and Fairweather. M. FCC IV. Ethyl 3-phenyl glycidate. Mouse and Pig. Horozon Aromatics. July 2002. C. [Pharmacologic activity of the aqueous wood extract from Quassia amara (Simurabaceae) on albino rats and mice] Rv. Modern herbal. Matters Dealing with Thermal Process Flavourings. S. 1995. R. Gaunt.. http://www.. P. vol. G.. J. Opinion of The Scientific Committee on Food on 3-monochloro-Propane-1. H. IPCS.com. Grasso.U. Gonzalez. http://www. (1996) “Short term feeding study with diethylene glycol monoethyl ether in rats” . J. Dispensatory.. 44-45. Available at: http://www. Austin. Program. Toxicol. F. 263-268. Garcia. L. (1983). B. Felter. JECFA evaluations 2-Butanone. Oleum Tanaceti Oil of Tansy. GRAS substances. List of Carrier Solvents and Supports for Flavourings.. Birch. p. 118 dari 122 Available at: . Grieve M. F. 1997.A. International Agency for Research on Cancer (IARC). Kings Americans The FEMA GRAS Food Act 1983 (Act 281) and Regulations.purdue.. 689-705.. I. Trop. Lee. International Flavours and Fragrances. L. Biol. 31. IPCS. (2000). G. Food Cosmet.botanical. Common Tansy Hall.. 151-197. Grieve. Cinnamyl Anthranilate. 19. Updating the SCF Opinion of 1994. D. Vol. P. Diethylene glycol. Botanical. INCHEM. (1996). Adopted on 30 May 2001. M. Henriette’s Herbal Hompage.

Estragole. WHO Food Additives Series 30. JECFA evaluations Benzo[a]pyrene. Diethelene Glycol Monoethyl Ether. WHO Food Additives Series 30. IPCS. WHO Food Additives Series http://www. INCHEM. INCHEM.SNI 01-7152-2006 IPCS. Available at: IPCS. http://www. INCHEM. 16. WHO Food Additives Series 46. JECFA. ICSC: 0065. INCHEM. Smoke Flavourings. IPCS.inchem. IARC Summary and evaluation. β-Asarone. IPCS. INCHEM. (1982).org/documents/pims/chemical/pim290. PIM 290. 12 November 2001. WHO Food Additives Series 16. 12 November 2001. WHO Food Additives Series 22. INCHEM. Ruta graveolens L. JECFA evaluations Thujone. INCHEM. JECFA reports Results of 2000. International Agency for Research on Cancer (IARC). vol. Coumarin. (1983). IPCS. 2001. INCHEM. Isopropyl Alcohol. INCHEM. INCHEM. Coumarin. IPCS.inchem. IPCS. INCHEM. INCHEM. INCHEM. INCHEM. JECFA evaluations Estragole. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. IARC Summary and evaluation. INCHEM. 1993. Quinine. Benzyl Alcohol. INCHEM. 10. 1981. Published in FNP 19. 1976. 12 November 2001. INCHEM. IPCS. JECFA evaluations p-Propylanisole. 35th session. IPCS. Benzo[a]pyrene. Nitrobenzene. INCHEM. IPCS.htm. ICSC: 0833. JECFA evaluations Benzyl Alcohol. Benzo[a]pyrene. IARC Summary and IPCS. 1997. 32.htm. WHO Food Additives Series 10. and 2002 Meeting.org/documents/jecfa/jecmono/v16je04. 12 November 2001. INCHEM. 1998. IPCS. IPCS.JECFA evaluations Eugenyl methyl ether. 12 November 2001. INCHEM. 10. Safrole. Diethylene Glycol Monoethyl Ether. IPCS. INCHEM. Evaluation. 1989. International Agency for Research on Cancer (IARC).available at: IPCS. Vol. http://www. vol.inchem. INCHEM. JECFA Reports Results of 1996. JECFA. INCHEM. PIM 139. IPCS. WHO Food Additives Series 28. INCHEM. IPCS. and 1999 Meeting. INCHEM. Cocaine.htm. 12 November 2001. IPCS. (1976). IPCS. Published FNP25 supersending the earlier spesifications published in FNP19 (1981). 12 November 2001. JECFA Reports Results of 2003 Meetings. IPCS. WHO Food Additives Series 16. 12 November 2001. 119 dari 122 . WHO Food Additives Series 16. IPCS. Availabel at: IPCS. Pulegone and related substances. IPCS. WHO Food Additives Series 16. IPCS. INCHEM. IPCS.org/documents/jecfa/jecmono/v16je10. Cinnamyl Anthranilate. JECFA. Dihyrocoumarin. JECFA Evaluations Hydrocyanic Acid. Isosafrole and Dihydrosafrole. Safrole. Isopropyl Alcohol. ICSC: 0554.

Maximum Limits for Certain Undesirable Substances Present in Foodstuffs as Consumed as a Result of the Use of Flavourings. G.N. A. Journal of pharmaceutical and biomedical analysis. 1-10. S. N. 04/M-DAG/PER/2/2006 tentang Distribusi dan Pengawasan Bahan Berbahaya Piccinini. National Cancer Institute. Antipyretic activity of α. European Communities (Flavourings for Use in Foodstuffs). and Bolarinwa. Martin.htm. Carron. M.and β-Santonin. M.fao. 2001. p-Propylanisole. 223-74-2104. 395-396. Bioassay of cinamyl anthranilate for possible carcinogenicity. J. Kamus Besar Bahasa Indonesia.I.. Morisset.. Available at: http://apps3. (1997)... (2000). 23. 23 Januari 2004. Metabolism of aloin the influence of nutrition. Milan. Special issue II. No. pp. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan. Peraturan Menteri Kesehatan R. Fragrance raw materials monograph. D. Journal of Ethmopharmacology. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. G. 61. FDA Contract No. RIFM – FEMA Database. Elsevier. p. Product information bulletin. Balai Pustaka. 2000. Opdyke. Report problems and Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK. Raji. Analisi dei gruppi lattinici di una quassina greggia.F. Antifertility activity of quassia amara in male rats in vivo study.. Moran. 15 June 1975. Institut de Physiologie de I’Université. A. 751-752.Toxicol. M. No. NTP No. Ruggiero.. 2001. 1975. Benzyl Alcohol. (2003)... No. Baldi. (1988). A. Departemen Pendidikan Nasional. Material Safety Data Sheet. Elsevier. A.] Wild. Noveon kala.).. J.dan Gizi Pangan Peraturan Menteri Perdagangan R. JECFA. No. inc.. and Robotto. 1963. vol. Katzer G. Depatemen Pendidikan Nasional. Risk of hydrocyanic acid release in the electroplating industry. Allergy to quinine and tonic water. 395-407. (1996). Litton Bionetics Inc.00617 tentang Pemberlakuan Kodeks Makanan Indonesia. Kanny.Cosmet. Edisi Ketiga. Noveon. Elsevier. No. 2-Butanone. Cinnamyl anthranilate (Litton Bionetics Inc. Cinnamyl anthranilate. Y. NCI. 1335-1338.. 13. 11. JECFA. Flabbẽe. 285-290. L. RIFM – FEMA Database. p. O’rourke. Availabel at: http://apps3.SNI 01-7152-2006 JECFA. Life science.5. D. G. Benzyl Alcohol. Mutu. R. 196. 120 dari 122 . p. Montero.00. Fd. 1067-1074. 1980. No. and Roman. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan.L. Carcinogenesis Technical Report Series No.. 1975. Mallinckrodt chemical. 14. Ethyl Phenylglycidate..J. M. Mutagenicity evaluation of compound FDA 73-59. 80-90.I No. Jounal of hazardous materials.. Moneret-Vautrin. Dihydrocoumarin Flavouring.org/jecfa/additive_specs/docs/0/additive-0355. p. 14. Koch. Ethyl 3-phenylglycidate. Tonka Bean (Dipteryx odorata [Aubl. Margaria.A.fao.05. J. R. p.htm. Communication et relation au Comité por I’Etude des Bossions Alcooliques Aromatisées de la Federvini.org/jecga/additive_specs/docs/0/additive-0181. Backer. European Journal of Internal Medicine. suggestions.T. 71.

P.. RIFM – FEMA Database. and Methyleugenol Induce Intrachromosomal Recombination in Yeast.. Safrole. Birch tar oil.A. (1983). S.R. (1944) “Two Year oral doses of Carbitol to rats”. A.al.v11. 3. Ilsi Research Branches Publications Meetings. Expressed 16 December 1994. Material information on pulegone. 1982. p. Safety Evaluation on Natural Flavour Complexes. P. 30693085. Lorenz. C.al. piperonal and pulegone in Indian bidi cigarette tobacco. Summary of Evaluations Performed by the JECFA.. Ethyl phenylglycidate.. Vol.. Mutat.htm. B. 7-31 by the Mellon Institute of Industrial Research. Bitter nightshade Solanaceae dulcamara. 303-317. C. S. Opinion on 3-monochloroprophane-1. (2004). P.SNI 01-7152-2006 RIFM . 21. RIFM monograph. E. 224. R.L. 1989. Eugenol.B. J. D. Brown. Hutt. C.. Summary of Evaluations Performed by th JECFA. J. Mutat. Seiler.M. SCF. 101. Fd. F. 40. L. 1037 Sangster. Ilsi Research Branches Publications Meetings..C.edu/dendro/dendrology/syllabus/syllabus/sdulcamara. p. 1973. Watson. Cancer Res. 1994. H. K.L. Stanfill.FEMA Database. Carpenter. Gietz. pp. Toxicology Letters 149 (2004) 197-27. G. and Shaffer. No. C. Schiestl.. Metha. R. (2003). Available at: http://www. No.R.. Smith. (2002). p.. 1973. Sezikawa..htm.net/lambo/dulcamara/dulcamara01. F.. Methyl beta-Naphthyl Ketone.R. J. Unpublished report No. S. L et. 286.M. RIFM – FEMA Database. Stoner. Concentrations of nine alkenylbenzenes. Material information on Methyl β-naphthyl ketone. 29 Januari 2003. Fd Chem Toxic. Chiang. R. vol. D. Material information on Estragole. Caldwell. et al.cnr. and Smith. Res. Pargamon. et. Smith. No.. Smithe. Tawara. Polzin.. Genotoxicity of safrole-related chemical in microbial test systems. R. and Lewis. Available at: http://www2.vt. W. D. RIFM – FEMA Database. J. No. Ilsi Research Branches Publications Meetings. RIFM – FEMA Database. Jensen. Zenewicz... 14331437. Chem toxic. The metabolism of pPropylanisole in the rat and mouse and its variation with dose. (2000).N..L. and Ashley. Stermitz. J. Reports of the Scientific Committee for Food (thirty-sixth series). 121 dari 122 . 427-436. R. FCT.A.. RIFM.aros. Synergy in a medicinal plant: Antimicrobial antion of berberine potentiated by 5’nethoxyhydnocarpin. p. Calafat. J.A. 851-870. coumarin.J. Isopropyl Alcohol. 263-271. Material information on p-propylanisole. Safety assessment of allylalkoxybenzene derivatives used as flavouring substances methyl eugenol and estragole.R.H.. Solanum dulcamara seeds. and Shibamoto. Food and Chemical Toxicology 41. 127-140... 4.M. Elsevier.H.. PNAS. and Hastings.2-diol (3-MCPD). 97.. a multidrug pump inhibitor. A. J.. D. Test for carcinogenicity of food additives and chemotherapeutic agents by the pulmorary tumor response in Strain A mice. Summary of Evaluations Performed by the JECFA. and Peterson. Res. T.. Cinnamyl Anthranilate. G. Chan. 33.

vol. Monograph. 718..S.SNI 01-7152-2006 Summary of Evaluations Performed by the JECFA.nih. Journal of chromatography A.T. vol. The Registry of Toxic Effect of Chemical Substances. Department of the Interior. R. No. TGSC. Gocke. and Victor. http://www. 93.A. Fd ChemToxic. Geological Survey. Flavourings. NIOSH. Branches Publications Meetings. F. Isopropyl Alcohol. High performance liquid chromatographic profiles of aloe constituents and determination of aloin in beverages. Diethylene Glycol. Acidum Agaricum. Oils. (1911). Asam pirolignous. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances.G.. J. The American jounal of cardiology. (1995). with reference to the EEC regulation for flavouring substances. (2004). P. Masotti. hedeoma pulegioides. Effects of cocaine on heart rate variability in healthy subjects. The British Pharmaceutical Codex.nlm. WeiheimNew York – Chishester – Brisbane – Singapore – Toronto. p/ 707-719. 99-106. Zonta. E. G. Study of artificial flavouring substances for mutagenicity in the salmonella/microsome basc and micronucleus tests. Ilsi Research Branches Publications Meetings.. D. The Registry of Toxic Effects of Chemical Substances.toxnet. Quinine... M. 1998. and Eckhardt. P. Material safety data sheet for Birch tar oil. King. 21. TOXNET. pennyroyal. Bogoni. p. 6. K.gov. 2003. Ziegler and Ziegler. Safrole and Isosafrole. Elsevier. U. and Micali. Ilsi Research Summary of Evaluations Performed by the JECFA. (1983). Wild. National Institutes of Health. Taylor. Wiley-VCH.. Toxic Substances Hydrology Program. Available at: Vongpatanasin. Sulfate. W. National Library of Medicine. Published by direction of the Council of the Pharmaceutical Society of Great Britain.. Flavourings Regulation. U.S. 122 dari 122 . No..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->