LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIABETES MELLITUS Tugas Mandiri Stase Keperawatan Medikal Bedah Tahap Profesi

Program Studi Ilmu Keperawatan

Disusun Oleh:

A B d ti S H ri u ia ri
03 /1 7 6 7 1/E IK /0 0 3 5 8 2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UGM YOGYAKARTA 2005

Pengertian Diabetes mellitus Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata. ginjal. TINJAUAN TEORITIS 1. 2. Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya. Tipe II DMTTI yang tidak mengalami obesitas DMTTI dengan obesitas Gangguan Toleransi Glukosa (GTG) Diabetes Kehamilan (GDM) Klasifikasi risiko statistik Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa Berpotensi menderita kelainan toleransi glukosa Pada Diabetes Mellitus tipe 1 sel-sel β pancreas yang secara normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun. 1) 2) Klasifikasi Klinis Diabetes Mellitus Tipe tergantung insulin (DMTI). sebagai akibatnya penyuntikan . Sedangkan menurut Francis dan John (2000). Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Mellitus dari National Diabetus Data Group: Classification and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Other Categories of Glucosa Intolerance: a. 1) a) b) (1) (2) 2) 3) b.1999). Tipe I Tipe tak tergantung insulin (DMTTI).ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIABETES MELLITUS A. saraf dan pembuluh darah (Mansjoer dkk.

factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun. 3) Faktor lingkungan Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas. kemudian terjadi reaksi intraselluler . 3. b. 1) Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI) Faktor genetic Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. 2) Faktor imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun.insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. Etiologi a. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autuimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas. Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat.

Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin. diantaranya adalah: 1) Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun) 2) Obesitas 3) Riwayat keluarga 4) Kelompok etnik . Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II. tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak.1995). terutama dijumpai pada orang dewasa. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price.yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa.

Disamping itu tubuh juga memerlukan energi supaya sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak.3. Bahan makanan tersebut terdiri dari unsur karbohidrat. Pada keadaan normal kurang lebih 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air. 10% menjadi glikogen dan 20% sampai 40% diubah menjadi lemak. genetil. Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari bahan makanan yang kita makan setiap hari. Pada Diabetes Mellitus semua proses tersebut terganggu . Patofisiologi DM Tipe I Reaksi Autoimun DM Tipe II Idiopatik. dll sel β pancreas hancur Defisiensi insulin Jmh sel β pancreas menurun Hiperglikemia Katabolisme protein meningkat Lipolisis meningkat Penurunan BB polipagi Glukosuria Glukoneogenesis meningkat Kehilangan elektrolit urine Gliserol asam lemak bebas meningkat Ketogenesis Diuresis Osmotik Kehilangan cairan hipotonik Polidipsi Hiperosmolaritas ketoasidosis ketonuria coma Ibarat suatu mesin. usia. lemak dan protein (Suyono.1999).

4. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl . Sehubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Keluhan TRIAS: Banyak minum. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah sehingga terjadi hiperglikemia. lemak dan protein menjadi menipis. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl c.karena terdapat defisiensi insulin. Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh karena gagalnya hormon insulin. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. Banyak kencing dan Penurunan berat badan.1995). Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Karena digunakan untuk melakukan pembakaran dalam tubuh. b. Penyerapan glukosa kedalam sel macet dan metabolismenya terganggu. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak hingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan. Terlalu banyak lemak yang dibakar maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan keasaman darah meningkat atau asidosis. Gejala Klinis Menurut Askandar (1998) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu a. maka klien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat. akibatnya bau urine dan napas penderita berbau aseton atau bau buah-buahan. Keadaan asidosis ini apabila tidak segera diobati akan terjadi koma yang disebut koma diabetik (Price. hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intra selluler. karena ambang batas untuk gula darah adalah 180 mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah.

saraf otonom berpengaruh pada gastro intestinal. 1987. 4) 5) 6) Proteinuria Kelainan koroner Ulkus/gangren (Soeparman. Penyakit mikrovaskuler. Bisul/luka. Lemah. Neuropati saraf sensorik (berpengaruh pada ekstrimitas). penyakit pembuluh darah kapiler). Polifagia. Komplikasi menahun Diabetes Mellitus penyakit jantung koroner (cerebrovaskuler. 5. Polidipsia. kardiovaskuler (Suddarth and Brunner. 1990). Berat badan menurun. nefropati. mengenai pembuluh darah kecil. Kesemutan. Gatal. 1999) adalah a) b) Akut Hipoglikemia dan hiperglikemia 1) 2) 3) Penyakit makrovaskuler : mengenai pembuluh darah besar. Komplikasi Beberapa komplikasi dari Diabetes Mellitus (Mansjoer dkk. hal 377) : : : : : : tidak ada luka kerusakan hanya sampai pada permukaan kulit kerusakan kulit mencapai otot dan tulang terjadi abses Gangren pada kaki bagian distal Gangren pada seluruh kaki dan tungkai bawah distal Terdapat lima grade ulkus diabetikum antara lain: (a) Grade 0 (b) Grade I (c) Grade II (d) Grade III (e) Grade IV (f) Grade V 6.Sedangkan menurut Waspadji (1996) keluhan yang sering terjadi pada penderita Diabetes Mellitus adalah: Poliuria. Keputihan. Evaluasi Diagnostik Kriteria yang melandasi penegakan diagnosa DM adalah kadar glukosa darah yang meningkat secara abnormal. Visus menurun. retinopati. Kadar gula darah plasma pada waktu puasa yang .

1) Diit DM I 2) Diit DM II 3) Diit DM III 4) Diit DM IV 5) Diit DM V 6) Diit DM VI : : : : : : 1100 kalori 1300 kalori 1500 kalori 1700 kalori 1900 kalori 2100 kalori . Menarik dan mudah diberikan Prinsip diet DM. Diet Syarat diet DM hendaknya dapat: Memperbaiki kesehatan umum penderita Mengarahkan pada berat badan normal Menormalkan pertumbuhan DM anak dan DM dewasa muda Mempertahankan kadar KGD normal Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita. Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan series pada pola aktivitas pasien. Penatalaksanaan Diabetes mellitus Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. 7. Ada lima konponen dalam penatalaksanaan DM. yaitu: a.besarnya di atas 140 mg/dl atau kadar glukosa darah sewaktu diatas 200 mg/dl pada satu kali pemeriksaan atau lebih merupakan criteria diagnostik penyakit DM. adalah: 1) Jumlah sesuai kebutuhan 2) Jadwal diet ketat 3) Jenis: boleh dimakan/tidak Diit DM sesuai dengan paket-paket yang telah disesuaikan dengan kandungan kalorinya.

Obesitas berat . Diabetes remaja.7) Diit DM VII : 8) Diit DM VIII : 2300 kalori 2500 kalori Diit I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk Diit IV s/d V : diberikan kepada penderita dengan berat badan normal Diit VI s/d VIII : diberikan kepada penderita kurus.Obesitas sedang . Dalam melaksanakan diit diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J yaitu: JI J II J III : jumlah kalori yang diberikan harus habis.Morbid Kurus (underweight) Normal (ideal) : Gemuk (overweight) Obesitas. jangan dikurangi atau ditambah : jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya. atau diabetes komplikasi. penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of relative body weight (BBR= berat badan normal) dengan rumus: BB (Kg) BBR = TB (cm) – 100 1) 2) 3) 4) .Obesitas ringan . : jenis makanan yang manis harus dihindari Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status gizi penderita. apabila : : : : : BBR 120 – 130 % BBR 130 – 140 % BBR 140 – 200 % BBR > 200 % : : BBR < 90 % BBR > 110 % X 100 % BBR 90 – 110 % BBR > 120 % Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM yang bekerja biasa adalah: 1) 2) 3) kurus : BB X 40 – 60 kalori sehari BB X 30 kalori sehari BB X 20 kalori sehari Normal : Gemuk : .

berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan sensitivitas insulin dengan reseptornya. Obat 1) Tablet OAD (Oral Antidiabetes) a) Mekanisme kerja sulfanilurea kerja OAD tingkat prereseptor : pankreatik. d. Penyuluhan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita DM. TV. apabila dikerjakan setiap 1 ½ jam sesudah makan. tetapi mempunyai efek lain yang dapat meningkatkan efektivitas insulin. 2) pagi dan sore 3) oksigen 4) lipoprotein 5) 6) c. Latihan Obesitas : BB X 10-15 kalori sehari Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM. diskusi kelompok. adalah: 1) Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake). Meningkatkan kadar kolesterol-high density Memperbaiki aliran perifer dan menambah supply Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan . poster. kaset video. ekstra pancreas kerja OAD tingkat reseptor b) Mekanisme kerja Biguanida Biguanida tidak mempunyai efek pankreatik. yaitu: Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang. melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet. dan sebagainya.4) b. Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam maka latihan akan dirangsang pembentukan glikogen baru darah karena pembakaran asam lemak menjadi lebih baik.

kecepatan absorpsi di tempat suntikan tergantung pada beberapa factor antara lain: (a) lokasi suntikan ada 3 tempat suntikan yang sering dipakai yitu dinding perut. lengan. Dalam memindahkan suntikan (lokasi) .(1) ekstra pankreatik insulin (2) (3) Insulin a) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) DM tipe I Biguanida pada tingkat prereseptor ◊ Menghambat absorpsi karbohidrat Menghambat glukoneogenesis di hati Meningkatkan afinitas pada reseptor Biguanida pada tingkat reseptor : meningkatkan jumlah reseptor insulin Biguanida pada tingkat pascareseptor : mempunyai efek intraseluler Indikasi penggunaan insulin DM tipe II yang pada saat tertentu tidak dapat dirawat dengan OAD DM kehamilan DM dan gangguan faal hati yang berat DM dan infeksi akut (selulitis. sesudah suntikan subcutan. dan paha. gangren) DM dan TBC paru akut DM dan koma lain pada DM DM operasi DM patah tulang (10) DM dan underweight (11) DM dan penyakit Graves b) (1) Beberapa cara pemberian insulin Suntikan insulin subkutan Insulin reguler mencapai puncak kerjanya pada 1-4 jam.

janganlah dilakukan setiap hari tetapi lakukan rotasi tempat suntikan setiap 14 hari. Ini berarti suntikan intramuskuler akan lebih cepat efeknya daripada subcutan. (e) Dalamnya suntikan Makin dalam suntikan makin cepat puncak kerja insulin dicapai. (c) (d) Pemijatan (Masage) Suhu Pemijatan juga akan mempercepat absorpsi insulin. Sedangkan suntikan intravena dosis rendah digunakan untuk terapi koma diabetik. Suhu kulit tempat suntikan (termasuk mandi uap) akan mempercepat absorpsi insulin. Cangkok pankreas Pendekatan terbaru untuk cangkok pancreas adalah segmental dari donor hidup saudara kembar identik (Tjokroprawiro. Pengaruh latihan pada absorpsi . (f) Konsentrasi insulin Apabila konsentrasi insulin berkisar 40 – 100 U/ml. tidak terdapat perbedaan absorpsi. hendaklah dilaksanakan 30 menit setelah suntikan. Tetapi apabila terdapat penurunan dari u –100 ke u – 10 maka efek insulin dipercepat. (b) insulin Latihan akan mempercepat absorbsi apabila dilaksanakan dalam waktu 30 menit setelah suntikan insulin karena itu pergerakan otot yang berarti. agar tidak memberi perubahan kecepatan absorpsi setiap hari. e. (2) Suntikan intramuskular dan intravena Suntikan intramuskular dapat digunakan pada koma diabetik atau pada kasus-kasus dengan degradasi tempat suntikan subkutan. 1992).

Riwayat keluarga tentang penyakit. ASUHAN KEPERAWATAN 1. tindakan. . 2. kelelahan. Kaji perasaan pasien tentang kondisi penyakitnya. Riwayat atau adanya faktor resiko. Kolesterol dan kadar trigliserida serum dapat meningkat menandakan ketidakadekuatan kontrol glikemik dan peningkatan propensitas pada terjadinya aterosklerosis. Kaji terhadap manifestasi Diabetes Mellitus: poliuria. dan kram otot. diuretik tiasid. 2) 3) 4) 5) Gula darah puasa normal atau diatas normal. tes ini dianjurkan untuk pasien yang menunjukkan kadar glukosa meningkat dibawah kondisi stress. penurunan berat badan. 1) Pemeriksaan Diagnostik Tes toleransi Glukosa (TTG) memanjang (lebih besar dari 200mg/dl). 5. pembedahan. Temuan ini menunjukkan gangguan elektrolit dan terjadinya komplikasi aterosklerosis. Pengkajian secara rinci adalah sebagai berikut (Rumahorbo. pemeriksaan diagnostik dan tindakan perawatan diri untuk mencegah komplikasi. Urinalisis positif terhadap glukosa dan keton. Biasanya. riwayat glukosuria selama stress (kehamilan. Kaji pemahaman pasien tentang kondisi. polidipsia. polifagia. kontrasepsi oral). riwayat pankreatitis kronik. 4. Pengkajian Fokus utama pengkajian pada klien Diabetes Mellitus adalah melakukan pengkajian dengan ketat terhadap tingkat pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan perawatan diri. riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg. obesitas. gangguan penglihatan. Essei hemoglobin glikolisat diatas rentang normal. peka rangsang. 3.B. penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid. infeksi. pruritus vulvular. 1999) 1. trauma.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dengan ketidakmampuan infeksi tubuh mengabsorbsi zat-zat dengan tidak gizi berhubungan dengan faktor biologis. diagnosa keperawatan menurut NANDA adalah a. g. i. intoleransi aktifitas. Resiko berhubungan adekuat pertahanan sekunder atau karena penyakit kronik. Kerusakan integritas jaringan b/d faktor mekanik ::ubahan PK : Hiperglikemi PK : Neuropati PK : Retinopati PK : Nefropati PK : Hipertensi PK : Hipoalbuminemia penurunan kekuatan otot sirkulasi. h. . d. berhubungan b. f. Diagnosa Keperawatan Pada klien dengan Diabetes Mellitus. immobilitas dan penurunan sensibilitas (neuropati). c.2. e. Kerusakan mobilitas fisik b/d nyeri. j.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful