BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengelola perkotaan di seluruh dunia adalah penanganan masalah persampahan. Sebanyak 384 kota di seluruh dunia telah menimbulkan sampah sebesar 80.235,87 ton setiap hari. Dari jumlah tersebut, penanganan sampah yang diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah sebesar 4,2 persen, yang dibakar sebesar 37,6 persen, yang dibuang ke sungai sebesar 4,9 persen dan tidak tertangani sebesar 53,3 persen. Sebagai perbandingan, rata-rata volume sampah yang ditimbulkan oleh setiap penduduk perkotaaan seperti kota Jakarta adalah sebanyak 0,9 kg/hari, Bangkok sebanyak 1,1 kg/hari, Singapura sebanyak 1,3 kg/hari, dan Seoul sebanyak 3,1 kg/hari (Bappenas, 2010). Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Sumber daya alam di Indonesia adalah segala potensi alam yang dapat dikembangkan untuk proses produksi, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi aktivitas manusia dalam memanfaatkan alam selalu meninggalkan sisa yang dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga diperlakukan sebagai barang buangan, yaitu sampah. Sampah merupakan masalah bagi semua orang, sehingga manusia menyingkirkan sampah sejauh mungkin dari aktivitas manusia. Di kota-kota besar untuk menjaga kebersihan sering kali menyingkirkan sampah ke tempat yang jauh dari pemukiman atau yang biasa disebut Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pertambahan jumlah penduduk yang semakin besar di kota-kota besar, sampah pun menjadi suatu masalah yang harus mendapatkan banyak perhatian. Sampah merupakan buangan padat (solid wastes) yang mempunyai komposisi sebagian besar organik dan sisanya terdiri dari plastik, kertas, kain, karet, tulang dan lain-lain. Masalah pembuangan sampah di perkotaan seringkali menjadi beban karena menyangkut pembiayaan untuk angkutan sampah, lokasi pembuangan,

1

801 jiwa dan menghasilkan sampah rata-rata sekitar 0.kesehatan dan kebersihan lingkungan. Sebagai kota yang sedang berkembang menjadi metropolitan. Beban pengelolaan sampah semakin meningkat dengan bertambahnya volume sampah akibat pertambahan jumlah penduduk dan perilaku masyarakat. berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 memiliki jumlah penduduk sebanyak 881.086. B. Jumlah volume sampah per hari di Kota Bandar Lampung tercatat sejumlah 2. 2010).23 m3. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah yaitu bagaimana manajemen pengelolaan sampah di Kota Bandar Lampung ? C. Banyaknya sampah yang terangkut melalui 160-an rotasi tersebut sebanyak 609. Kota Bandar Lampung sebagai ibukota Provinsi Lampung dan salah satu kota besar di Indonesia. Bandar Lampung mengalami masalah seperti yang telah dijelaskan diatas.71 m3 dan dilayani oleh pemerintah kota dengan menggunakan kendaraan operasional pengangkut sejumlah 84 kendaraan truck dan amrool dengan rotasi pengangkutan per harinya sebanyak 160-an rotasi. Hal ini berarti bahwa kurang dari 50 persen sampah di Kota Bandar Lampung yang telah dapat dikelola (Studi Sektor Persampahan Unila. 2 . Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana manajemen pengelolaan sampah di Kota Bandar Lampung.43 kg/hari/orang.

daun.1986). Klasifikasi Sampah Sampah dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai golongan. yang dapat terbakar dan yang tidak dapat terbakar. baik benda logam maupun benda bukan logam.). Sampah padat adalah semua barang sisa yang ditimbulkan dari aktivitas manusia dan binatang yang secara normal padat dan dibuang ketika tidak dikehendaki atau sia-sia (Tchobanoglous. dll. kotoran. sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan (Subekti.). atau karena pengolahan. bagian tubuh seperti tulang. dari bahan organik atau anorganik.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sampah organik : Sampah yang sebagian besar tersusun oleh senyawasenyawa organik. dan berasal dari sisa-sisa tumbuhan (sayur. Bentuk fisik benda-benda tersebut dapat berubah menurut cara pengangkutannya atau cara pengolahannya (Direktorat Jenderal Cipta Karya. Sedangkan yang dimaksud dengan sampah perkotaan adalah sampah yang timbul di kota (tidak termasuk sampah yang berbahaya dan beracun). 2009). hewan (bangkai. dan pengklasifikasian sampah dapat dilakukan berdasarkan beberapa tinjauan. Berdasarkan Jenis a. Sampah adalah limbah yang berbentuk padat dan juga setengah padat. baik karena telah sudah diambil bagian utamanya. yaitu : 1. kayu. 3 . Sampah Berdasarkan SK SNI tahun 1990. Sampah adalah sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuan-perlakuan. Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan limbah padat. atau karena sudah tidak ada manfaatnya yang ditinjau dari segi sosial ekonomis tidak ada harganya dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan terhadap lingkungan hidup (Hadiwiyoto. 1993). 1983). dll. buah.

Rumah tangga : Sampah rumah tangga dapat bersumber dari kamar mandi dan dapur perumahan. seperti. sehingga akan berubah bentuk dan dapat menyatu kembali dengan alam. 2. seperti sayuran. labratorium. rumah sakit. botol / kaca. hotel. kaleng. namun dapat dibakar). 3. kaca. 4 . berupa limbah yang merupakan cairan bekas mencuci dan membersihkan sesuatu bahan keperluan seharihari. dll. potongan daun / batang / akar. b. kertas dan kayu (susah lapuk. Lapuk (garbage) : Sampah yang merupakan bahan-bahan organik. Sampah an-organik umumnya bersifat sukar terurai / sukar lapuk dan tidak lapuk (non-degradable) sehingga akan selalu dalam bentuk aslinya di alam. kawat. b. 4. Sampah susah lapuk dan tidak lapuk (rubbish) : Sampah yang merupakan bahan organik maupun an-organik. c. buah. dll. Pelapukan jenis sampah ini dapat terjadi dalam waktu tertentu. Padat : Sampah padat dapat berupa makhluk hidup (tumbuhan. Berdasarkan Tingkat Kelapukan a. dll. dan benda-benda tak hidup (besi. kaleng. dan berasal dari sisa industri. Berdasarkan Sumber a. sisa-sisa produk pertanian (sisa sayuran. Sampah an-organik : Sampah yang sebagian besar tersusun oleh senyawasenyawa an-organik. hewan) yang merupakan sampah organik. logam. serta plastik (tidak lapuk tetapi dapat dibakar). Industri : Sampah industri dapat bersumber dari pabrik..Sampah ini bersifat dapat terurai (degradable) sehingga dalam waktu tertentu akan berubah bentuk dan dapat menyatu kembali dengan alam b. berupa limbah yang dibuang yang mengandung berbagai macam bahan bahan kimia. seperti plastik. rumah makan. buah) atau sisa-sisa bekas penanaman. makanan. Pertanian : Sampah pertanian bersumber kawasan pertanian berupa sisasisa insektisida dan pupuk. mika (tidak lapuk dan tidak dapat dibakar). pelapukan dapat terjadi tetapi dalam waktu yang lama. Berdasarkan Bentuk a.

gerobak dorong maupun tempat pembuangan sementara (TPS/Dipo). yakni: pengumpulan. plastik. Pada tahapan ini digunakan sarana bantuan berupa tong sampah. Pada tahapan ini juga melibatkan tenaga yang pada periode waktu tertentu mengangkut sampah dari tempat pembuangan sementara ke tempat pembuangan akhir (TPA). bak sampah. pengangkutan dan pembuangan akhir. Gas : Sampah dalam bentuk gas dapat bersumber dari pabrik / industri. dll. Sampah cair : Sampah cair dapat bersumber dari pabrik / industri. kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah. Manajemen Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. 2007 dalam Faizah. umumnya melibatkan sejumlah tenaga yang mengumpulkan sampah setiap periode waktu tertentu. kimia maupun biologis sedemikian hingga 5 . transfer dan transport. pembakaran. Untuk melakukan pengumpulan. dan efek lanjutan terurainya sampah padat dan cair. dan limbah rumah tangga. Tahapan pengangkutan dilakukan dengan menggunakan sarana bantuan berupa alat transportasi tertentu menuju ke tempat pembuangan akhir/pengolahan. sampah akan mengalami pemrosesan baik secara fisik. Komposisi sampah padat sebagian besar merupakan sampah organik yang berasal dari berbagai sumber. Secara umum pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan. Pada tahap pembuangan akhir/pengolahan. b.). Aboejoewono (1985) menggambarkan secara sederhana tahapan-tahapan dari proses kegiatan dalam pengelolaan sampah sebagai berikut: Pengumpulan diartikan sebagai pengelolaan sampah dari tempat asalnya sampai ke tempat pembuangan sementara sebelum menuju tahapan berikutnya. pertanian / perikanan / peternakan / manusia. sampah padat dapat melebihi 70 % berupa sampah organik.kaleng. 2008). B. c. pengumpulan sampah. Di Jakarta misalnya. Secara 30 garis besar. pengolahan dan pembuangan akhir (Kartikawan. alat transportasi. rumah tangga. peti kemas sampah.

dewasa ini dihadapkan kepada berbagai permasalahan yang cukup kompleks. Aspek Teknik Operasional merupakan salah satu upaya dalam mengontrol pertumbuhan sampah. kepedulian masyarakat (human behaviour) yang masih sangat rendah serta masalah pada kegiatan pembuangan akhir sampah (final disposal) yang selalu menimbulkan permasalahan tersendiri. aspek peran serta masyarakat. Dalam sistem manajemen pengelolaan sampah ada lima sub sistem yang saling saling mendukung dimana antara satu dengan yang lainnya saling berinteraksi untuk mencapai tujuan (Dept. Pada aspek peraturan. 6 . upah tenaga operasional dan pemeliharaan. Pada aspek pembiayaan. Selain itu juga ada yang menerapkan pengelolaan sampah secara 3R yaitu (reduce. teknik. Pekerjaan Umum. Permasalahan-permasalahan tersebut meliputi tingginya laju timbulan sampah yang tinggi. antara lain berisi tentang pengelolaan sampah 3R yaitu pemisahan sampah organik dan anorganik. serta memungkinkan pihak swasta ikut serta dalam mengelola sampah di TPA (Faizah. SNI 19-24542002). namun pelaksanaannya tetap harus disesuaika dengan pertimbangan kesehatan.tuntas penyelesaian seluruh proses. perlunya peraturan baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Perda untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif. ekonomi. aspek organisasi dan manajemen. terutama di kawasan perkotaan. konservasi. aspek bembiayaan. Pembiayaan dalam sistem pengelolaan persampahan diperlukan untuk pembiayaan pembangunan/perawatan/peningkatan sarana dan prasarana. 2008). Pengelolaan sampah.1997:363 dalam Faizah. Kelima aspek tersebut meliputi: aspek teknis operasional . dibutuhkan biaya operasional dan pemeliharaan untuk sistem pengelolaan persampahan agar dapat bergerak dengan lancar baik dengan bantuan dana dari luar maupun dengan pembiayaan sendiri. reuse dan recycle). 2008). estetika dan pertimbangan lingkungan (Tchobanoglous. aspek hukum dan peraturan. Pemindahan dan pengangkutan sampah dari TPS ke TPA dilakukan oleh pemerintah daerah.

1. Tujuannya adalah menghindari agar sampah tidak berserakan sehingga tidak menggangu lingkungan. Pengumpulan Sampah Pengumpulan sampah adalah cara proses pengambilan sampah mulai dari tempat penampungan sampah sampai ke tempat pembuangan sementara. Faktor yang paling mempengaruhi efektifitas tingkat pelayanan adalah kapasitas peralatan. Pola Individual Proses pengumpulan sampah dimulai dari sumber sampah kemudian diangkut ke tempat pembuangan sementara/ TPS sebelum dibuang ke TPA. dipindahkan. Pola Komunal Pengumpulan sampah dilakukan oleh penghasil sampah ke tempat penampungan sampah komunal yang telah disediakan / ke truk sampah 7 . . pola penampungan. Penampungan Sampah Proses awal dalam penanganan sampah terkait langsung dengan sumber sampah adalah penampungan. Penampungan sampah adalah suatu cara penampungan sampah sebelum dikumpulkan. diangkut dan dibuang ke TPA. SUMBER SAMPAH PENGUMPUL AN PENGANGKUT TPA Pola Pengumpulan Sampah Individual Tak Langsung Sumber: SNI 19-2454-2002 b. Pola pengumpulan sampah pada dasarnya dikempokkan dalam 2 (dua) yaitu pola individual dan pola komunal (SNI 19-2454-2002) sebagai berikut : a. 2. jenis dan sifat bahan dan lokasi penempatan (SNI 192454-2002).

Pengangkutan Sampah Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara atau dari tempat sumber sampah ke tempat pembuangan akhir. Pemindahan sampah yang telah terpilah dari sumbernya diusahakan jangan sampai sampah tersebut bercampur kembali (Widyatmoko dan Sintorini Moerdjoko. Tujuan pengangkutan sampah adalah menjauhkan sampah dari perkotaan ke tempat pembuangan akhir yang biasanya jauh dari kawasan perkotaan dan permukiman. Tempat yang digunakan untuk pemindahan sampah adalah depo pemindahan sampah yang dilengkapi dengan container pengangkut dan atau ram dan atau kantor. bengkel (SNI 19-2454-2002).yang menangani titik pengumpulan kemudian diangkut ke TPA tanpa proses pemindahan. Pengangkutan sampah yang ideal adalah dengan truck container tertentu yang dilengkapi alat pengepres. 2008). 2002:29 dalam Faizah. Pemindahan Sampah Proses pemindahan sampah adalah memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkutan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. 8 . 2002:29 dalam Faizah. 4. 2008). SUMBER WADAH PENGANGKUT TPA Pola Pengumpulan Sampah Komunal Sumber: SNI 19-2454-2002 3. Berhasil tidaknya penanganan sampah juga tergantung pada sistem pengangkutan yang diterapkan. sehingga sampah dapat dipadatkan 2-4 kali lipat (Widyatmoko dan Sintorini Moerdjoko.

Prinsip pembuang akhir sampah adalah memusnahkan sampah domestik di suatu lokasi pembuangan akhir. Metode Controlled Landfill (Penimbunan Terkendali) Controlled Landfill adalah sistem open dumping yang diperbaiki yang merupakan sistem pengalihan open dumping dan sanitary landfill yaitu dengan penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh yang dipadatkan atau setelah mencapai periode tertentu. C. Metode Open Dumping Merupakan sistem pengolahan sampah dengan hanya membuang/ menimbun sampah disuatu tempat tanpa ada perlakukan khusus/ pengolahan sehingga sistem ini sering menimbulkan gangguan pencemaran lingkungan. Model pertama merupakan cara yang paling sederhana.5. secara umum teknologi pengolahan sampah dibedakan menjadi 3 metode yaitu : a. kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup. Model ± Model Pengelolaan Sampah 1. Metode Sanitary landfill (Lahan Urug Saniter) Sistem pembuangan akhir sampah yang dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan. 9 . yaitu sampah dibuang di lembah atau cekungan tanpa memberikan perlakuan. Pekerjaan pelapisan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi. Pembuangan Akhir Sampah Pembuangan akhir merupakan tempat yang disediakan untuk membuang sampah dari semua hasil pengangkutan sampah untuk diolah lebih lanjut. c. yaitu urugan dan tumpukan. Menurut SNI 19-2454-2002 tentang Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan. Model Pengelolaan Sampah di Indonesia Model pengolahan sampah di Indonesia ada dua macam. Jadi tempat pembuangan akhir merupakan tempat pengolahan sampah. b.

Model yang lengkap ini telah memenuhi prasyarat kesehatan lingkungan. jarang yang membangun unit pengolah air buangan. Selandia Baru. Meskipun demikian. Adapun kantong sampah barang merah. Warna kantong dibedakan antara sampah organik dan anorganik. Model ini bila dilaksanakan secara lengkap sebenarnya sama dengan teknologi aerobik. sayangnya model tumpukan ini umumnya tidak lengkap. Model Pengelolaan Sampah Luar Negeri Di tahun terakhir. Hanya saja tumpukan perlu dilengkapi dengan unit saluran air buangan. ada suatu daerah yang mengelolanya dengan kreatif. tidak menimbulkan polusi udara. Australia. dan pembakaran ekses gas metan (flare). 2. yaitu dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. longsor. sudah dimulai di rumah tangga. pemerintah setempat juga menyediakan tempat sampah di lokasi strategis untuk tempat buangan sampah di lokasi umum. pengolahan air buangan (leachate). Model seperti ini banyak diterapkan di kota-kota besar. Umumnya pengelolaan sampah di luar negeri. pemerintah Jepang sedang bekerja ke arah suatu target pengurangan timbunan sampah sebanyak 75%. recyle. atau estetika. Konstruksi tempat 10 . Sebagian besar fokus dari program ini pada 3R (reduce.Urugan atau model buang dan pergi ini bisa saja dilakukan pada lokasi yang tepat. dan re-use). polusi pada air sungai. Model ini umumnya dilakukan untuk suatu kota yang volume sampahnya tidak begitu besar. yaitu tumpukan. telah ada suatu aturan tentang prakarsa manajemen sampah padat yang dilakukan oleh negara-negara Eropa. Austria. yaitu bila tidak ada pemukiman di bawahnya. tergantung dari kondisi keuangan dan kepedulian pejabat daerah setempat akan kesehatan lingkungan dan masyarakat. sedangkan kantong sampah anorganik berwarna cokelat. Selain di lokasi perumahan. Aplikasinya ada yang terbatas pada tumpukan saja atau tumpukan yang dilengkapi saluran air buangan. khususnya Eropa. dan Jepang. Kantong sampah organik biasanya berwarna hijau. Pengolahan sampah yang kedua lebih maju dari cara urugan. Kantong sampah terbuat dari bahan yang bisa didaur ulang. Sebagai contoh. Namun.

lalu diangkut oleh conveyor untuk dipisahkan dari material anorganik (besi). sampah dituangkan ke dalam tempat penampungan.sampah sedemikian rupa sehingga mudah diangkut oleh truk sekaligus bersama tempat sampahnya ke lokasi pengolahan. Pemisahannya menggunakan magnetic separator. Sampah organik diambil oleh truk yang memiliki drum berputar dilengkapi pisau pencacah dan mikroba perombak bahan organik. dan kain dengan menggunakan teknik sentrifugal/tromol berputar. 11 . Dengan cara ini pencampuran dapat dilakukan secara efisien dan merata karena volume sampah tidak begitu besar serta drum tersebut berputar dengan konstan. Kadang truk tersebut fungsinya hanya mengangkut. Setelah sampah di lokasi pengolahan. sedang pencacahan sampah dilakukan di tempat pengolahan. sampah diangkut ke ruang pengolahan (komposting). Selanjutnya. sedangkan yang tidak bisa didaur ulang dibakar menggunakan incinerator. plastik. Sementara pemisahan material ringan seperti kertas. Material anorganik yang masih bisa didaur ulang dipisahkan. Material yang berat selain besi seperti gelas atau potongan kayu dipisahkan dengan menggunakan hembusan udara (air classifier).

Ketibung dan Teluk Lampung Kabupaten Lampung Selatan Batas Timur Batas Barat : Kecamatan Tanjung Bintang. Masalah Persampahan Kota Bandar Lampung Masalah persampahan yang dialami Kota Bandar Lampung hampir dialami oleh sebagian besar kota-kota besar di Indonesia yaitu produksi sampah meningkat dan pemerintah kota mempunyai kemampuan yang sangat terbatas. Secara geografis wilayah Kota Bandar Lampung berada antara 50º20¶-50º30¶ LS dan 105º28¶-105º37¶ BT dengan luas wilayah 192. Wilayah Kota Bandar Lampung merupakan daerah perkotaan yang terus berkembang dari daerah tengah ke daerah pinggiran kota yang ditunjang fasilitas perhubungan dan penerangan. Pengembangan kota ditandai dengan tumbuhnya kawasan permukiman. Kabupaten Lampung Selatan :Kecamatan Padang Cermin. Kabupaten Lampung Selatan : Kecamatan Gedungtataan dan Padang Cermin Kabupaten Lampung Selatan B. Gambaran Umum Kota Bandar Lampung Kota Bandar Lampung pintu gerbang Pulau Sumatera. Kota yang terletak di sebelah barat daya Pulau Sumatera ini memiliki posisi geografis yang sangat menguntungkan. namun demikian daerah pinggiran belum terlihat jelas ciri perkotaannya.96 km2 dengan batas-batas sebagai berikut : Batas Utara Batas Selatan : Kecamatan Natar. Sebutan ini layak untuk ibu kota Propinsi Lampung. Letaknya di ujung Pulau Sumatera berdekatan dengan DKI Jakarta yang menjadi pusat perekonomian negara.BAB III PEMBAHASAN A. Pada tahun 2001 Kota Bandar Lampung dimekarkan dari 9 Kecamatan dan 84 kelurahan menjadi 13 kecamatan dan 98 kelurahan. Masalah yang dihadapi oleh Kota Bandar Lampung antara lain 12 .

Kemudian pertumbuhan ekonomi akan berpengaruh kepada pola konsumsi yang selanjutnya juga berkaitan dengan perubahan karakteristik sampah padat. itu. kertas. 1. kendaraan pengangkut sampah yang jumlah maupun kondisinya kurang memadai. Dua faktor penting yang mempengaruhi kecenderungan pertumbuhan sampah padat adalah populasi dan pertumbuhan ekonomi. masalah persampahan disebabkan beberapa hal 13 . 2. pertambahan penduduk dan arus urbanisasi yang pesat telah menyebabkan timbunan sampah pada perkotaan semakin tinggi. melalui peningkatan sampah plastik. 3. sistem pengelolaan TPA yang kurang tepat dan tidak ramah lingkungan.adalah rendahnya jangkauan pelayanan khususnya untuk sampah domestik. reuse. dan pengurangan sampah organik. Padahal. Isu manajemen sampah padat adalah sesuatu yang sangat penting dan membawa sejumlah keterkaitan potensial yang kuat bagi pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. recycle dan replace dan participation (4 R + P). Selain diantaranya. belum diterapkannya pendekatan reduce. tingginya kebutuhan akan land fill. manajemen sampah padat merepresentasikan strategi adaptasi jangka panjang yang secara kuat akan mengurangi kerentanan kota berkaitan dengan perubahan iklim di masa depan yang menunjukkan gejala semakin meningkat itu. serta tingginya subsidi pemerintah yang mengakibatkan masyarakat tidak perduli terhadap jumlah sampah yang dihasilkan Studi sektor yang dilaksanakan Universitas Lampung sebagai bagian dari program ACCCRN pada tahun 2010 menunjukkan bahwa manajemen sampah padat sangat berhubungan dengan resiko peningkatan dampak dari banjir ekstrem yang menunjukkan resiko meningkat setiap tahun di Bandar Lampung sebagai akibat dari dampak perubahan iklim. dan 4. Pertumbuhan populasi berkaitan secara langsung dengan kuantitas (jumlah) sampah padat.

Dinas Pengelolaan Pasar. dan terkendala dengan jumlah kendaraan yang masih terbatas serta kondisi peralatan yang telah tua. Hal ini terasa semakin sulit untuk diselesaikan dalam jangka pendek karena adanya keterbatasan lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kelurahan Bakung Kecamatan Teluk Betung Barat. Dampak langsung dari penanganan sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah timbulnya berbagai penyakit menular. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menegaskan bahwa pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat akan menimbulkan bertambahnya volume. Belum lagi pengelolaan TPA Bakung yang sampai saat ini belum sesuai dengan kaidah-kaidah pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan berbagai permasalahan baik langsung maupun tidak langsung bagi penduduk kota. dan perubahan karakteristik sampah. pengelolaan sampah belum sesuai dengan metode dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Saat ini. dan gangguan yang disebabkan terhambatnya arus air di drainase dan sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke drainase dan sungai sehingga mengakibatkan banjir (Wibowo dan Djajawinata. Undang-undang Republik Indonesia No. Keterbatasan kemampuan Dinas Kebersihan dan Pertamanan. peningkatan kesehatan masyarakat. penyakit kulit. Dinas Perhubungan. aman bagi 14 . Pesatnya pertambahan penduduk yang disertai derasnya arus urbanisasi di Kota Bandar Lampung telah meningkatkan jumlah sampah padat di perkotaan dari hari ke hari. Saat ini juga sampah telah menjadi permasalahan nasional sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar dapat memberikan manfaat secara ekonomi. 2003). jenis. Dinas Pekerjaan Umum serta pihak kecamatan di wilayah Kota Bandar Lampung dalam menangani permasalahan sampah menjadi tanda awal dari semakin menurunnya sistem penanganan dan pengelolaan permasalahan sampah tersebut.

efektif. kejelasan tanggung jawab dan kewenangan pemerintah pusat. Hal ini. Cara seperti ini kurang bisa mengatasi masalah sampah karena masih dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. tidak adanya lahan sebagai tempat pengolahan dimana akhirnya dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan dan meningkatkan keretanan terhadap bahaya banjir. Permasalahan sampah timbul karena tidak seimbangnya produksi sampah dengan pengolahannya dan semakin menurun daya dukung alam sebagai tempat pembuangan sampah. karena dalam semua aspek kehidupan selalu dihasilkan sampah. Pencemaran lingkungan berhubungan erat dengan sampah karena sampah merupakan sumber pencemaran dan dapat memicu peningkatan pemanasan global. serta peran masyarakat dan dunia usaha sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional. Lebih lanjut juga disebutkan bahwa dalam pengelolaan sampah diperlukan kepastian hukum. Di satu pihak. sedangkan di lain pihak kemampuan pengolahan dan pengelolaan sampah di Kota Bandar Lampung diakui masih belum memadai. jumlah sampah terus bertambah dengan laju yang cukup cepat. Berbicara fakta. pemerintah daerah. terminal dan tempat penimbunan sementara dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah akhir. saat ini menjadi problematika mendasar dalam manajemen terpadu sampah termasuk di Kota Bandar Lampung.lingkungan. dan efisien. karena timbulan sampah yang dihasilkan sangat besar seiring dengan kepadatan penduduk yang semakin tinggi. pasar. Penanganan sampah yang dilakukan hanya mengangkutnya dari tempat sampah di permukiman penduduk. Sistem pengelolaan sampah di perkotaan perlu perhatian khusus. 15 . serta dapat mengubah perilaku masyarakat. Persampahan merupakan masalah yang tidak dapat diabaikan. penanganan sampah yang dilakukan saat ini belum sampai pada tahap memikirkan proses daur ulang atau menggunakan ulang sampah tersebut menjadi bahan yang bermanfaat (produktif).

sebagai tempat open dumping. Penanganan sampah yang dilakukan saat ini belum sampai pada tahap memikirkan proses daur ulang atau menggunakan ulang sampah tersebut menjadi bahan yang bermanfaat (produktif). saat ini hanya mampu menampung 44. Manajemen Pengelolaan Sampah Kota Bandar Lampung Manajemen pengelolaan Sampah di Kota Bandar Lampung belum mampu mengatasi masalah persampahan di kota tersebut. Kota Bandar Lampung saat ini belum memiliki Master Plan Persampahan yang secara terpadu menjadi acuan dalam pengelolaan sampah perkotaan. peningkatan resiko banjir sebagai akibat pembuangan sampah di saluran drainase. pasar. keberadaan TPA Bakung. sumber Pengangkut TPA Bakung Kota Bandar Lampung masih menggunakan metode open dumping yaitu sistem pengolahan sampah dengan hanya membuang/ menimbun sampah disuatu tempat tanpa ada perlakukan khusus/ pengolahan sehingga sistem sering menimbulkan gangguan pencemaran lingkungan. Di sisi yang lain.5% dari seluruh sampah yang dihasilkan di kota ini. 16 . Penanganan sampah yang dilakukan hanya mengangkutnya dari tempat sampah di permukiman penduduk. Pada sisi yang lain. terminal dan tempat penimbunan sementara dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) dalam hal ini TPA Bakung.C. Manajemen terpadu sampah padat yang kurang maksimal di Kota Bandar Lampung telah diidentifikasi sebagai faktor kritis yang memperburuk dampak perubahan iklim dan berkontribusi kepada kerentanan di Kota Bandar Lampung melalui mekanisme sekunder.

dan air tanah di sekitar tempat timbunan sampah tersebut. 17 . Keadaan seperti ini sudah sering terjadi di beberapa kota di Indonesia termasuk Kota Bandar Lampung. Peningkatan jumlah sampah akan menimbulkan masalah dalam mencari tempat pembuangan sampah yang baru. Tempat ini juga akan menjadi sarang hewan liar atau lalat. 3. Sampah yang terlalu lama ditimbun akan menghasilkan bau yang tidak enak dan akan mengganggu kesehatan orang yang tinggal di sekitarnya. Tempat yang dijadikan lokasi penimbunan sampah akan menjadi tempat berkembangnya organisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Air yang dikeluarkan dari timbunan sampah juga dapat mencemari air sungai. Padahal. Dampak Pengelolaan Sampah yang Kurang Baik Beberapa masalah yang dapat ditimbulkan oleh sampah (termasuk di Kota Bandar Lampung) adalah sebagai berikut : 1.D. 2. hewan liar ini dapat mempercepat penyebaran bibit penyakit. air sumur. Sampah yang tercecer dan masuk ke dalam selokan/saluran drainase akan menyumbat saluran dan mengakibatkan banjir pada musim hujan.

B. pasar. Kesimpulan 1. Penanganan sampah yang dilakukan saat ini di Kota Bandar Lampung belum sampai pada tahap memikirkan proses daur ulang atau menggunakan ulang sampah. Penanganan sampah yang dilakukan hanya mengangkutnya dari sumber (tempat sampah di permukiman penduduk. terminal dan tempat penimbunan sementara) kemudian membuangnya ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) dalam hal ini TPA Bakung.BAB IV PENUTUP A. Saran Dengan diketahuinya manajemen pengelolaan sampah di kota Bandar Lampung dapat dijadikan perbandingan untuk mengetahui pengelolaan sampah yang baik. 2. Kota Bandar Lampung masih menggunakan metode open dumping yaitu sistem pengolahan sampah dengan hanya membuang/ menimbun sampah disuatu tempat tanpa ada perlakukan khusus/ pengolahan sehingga sistem sering menimbulkan gangguan pencemaran lingkungan. 18 .

id 19 . 2011.wikipedia.radartanggamus. 2000.rekompakjrf. Diakses pada tanggal 17 Desember 2011 di di http://www. Diakses pada tanggal 17 Desember 2011 di http://bandar lampung kota.co.pdf Anonim.pdf Anonim.go. Pedoman Perencanaan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Untuk Program REKOMPAK ± JRF.org/download/ Pedoman _Desain_Persampahan_26_Juli_2011. 2011.org/download/PengelolaanSampah_26_ Juli_ 2011. Profil Kota Bandar Lampung. Pemkot Sambut Baik Pengelolaan Sampah Terpadu . 2011.DAFTAR PUSTAKA Anonim.pdf Radar Tanggamus. Diakses pada tanggal 21 November 2011 di http://www. Pengelolaan Sampah.id/download/bandar lampung _dd_report_%20environmental_(bahasa). Diakses pada tanggal 18 Desember 2011 di www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful