PENGARUH SOSIALISASI PERBANKAN SYARIAH TERHADAP MINAT MASYARAKAT DALAM MEMILIH BANK SYARIAH

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Masalah Masih banyak orang awam yang beranggapan bahwa menabung di bank syariah sama saja dengan dengan menabung di bank konvensional. Persepsi umum ini masih menghinggapi masyarakat, sehingga tidak heran mereka masih enggan untuk menjadi nasabah dan mendapatkan pembiayaan dari perbankan syariah. Hal ini bisa dilihat dari lambannya pertumbuhan perbankan syariah, kendati potensinya sangat besar mengingat sebagian penduduk Indonesia beragama islam. Data membuktikan, bahwa market share perbankan syariah saat ini per Juli 2010 ini mencapai 2, 78% diprediksi sampai akhir tahun bisa mencapai 3% dari total asset perbankan secara nasional. Angka ini menunjukkan masih kecilnya kontribusi perbankan syariah terhadap perekonomian Indonesia. Market share perbankan syariah yang masih rendah disebabkan karena program sosialisasi yang dilakukan belum optimal. Hal itu akibat masih sulitnya merubah pola pikir masyarakat untuk memilih bank syariah. Hingga kini masyarakat, masih terbiasa dengan bank konvensional, dibandingkan bank syariah. Artinya, sosialisasi perbankan syariah masih sangat kurang. Masyarakat luas di berbagai segmen masih belum banyak mengerti sistem, konsep, filosofi, produk, keuntungan dan keunggulan bank syariah. Setidaknya ada dua masalah penting dalam perbankan syariah dan dipersepsikan salah oleh masyarakat awam. Pertama, mengenai benchmark pembiayaan dan bagi hasil dengan tingkat suku bunga (interest rate) yang berlaku umum (di Indonesia misalnya BI rate atau LIBOR di level internasional). Masalah kedua adalah pembiayaan pada perbankan syariah yang dipersepsikan hanya menganut prinsip bagi hasil. Benchmark adalah hal yang umum di praktekkan dalam dunia bisnis termasuk perbankan. Benchmark adalah studi untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar kompentensi atau suatu standar untuk basis perbandingan. Berdasarkan definisi di atas,

1

misalnya larangan untuk mengambil atau membayarkan bunga (riba). namun dengan berjalannya waktu. Jadi yang harus dipahami adalah. maka pemakaiannya pun sudah dianggap biasa. basis ini dipakai mengukur tingkat suku bunga yang akan dikenakan dalam pinjaman dan diberikan oleh bank kepada peminjam dan deposan. seperti organisasi bisnis lainnya. memberikan pembiayaan untuk perusahaan yang memproduksi barang-barang haram dan berinvestasi pada surat berharga yang tidak memenuhi kriteria syariah (Sharia compliant). namun juga ada jual beli tangguh (Murabahah). Salam.untuk mengukur kinerja maka dibutuhkan suatu alat ukur yang valid dan diterima oleh banyak pihak. menurut Statistik Perbankan Syariah Juli 2010 yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. bahwa untuk proporsi pembiayaan. Produk dengan akad bagi hasil memang belum mendominasi porsi pembiayaan pada bank syariah. Namun yang membedakan pemakaian benchmark pada bank konvensional dan perbankan syariah adalah. Selanjutnya. Istisna dan Ijarah. Berarti telah terjadi kenaikan yang cukup signifikan pada pola 2 . pada bank konvensional benchmark digunakan sebagai basis untuk tingkat bunga kredit dan deposito. bahwa bank syariah bukanlah lembaga sosial yang bertugas membagi-bagikan sumbangan tanpa harus dikembalikan. sedangkan pada perbankan syariah benchmark hanya digunakan sebagai panduan dan informasi bagi bank dan nasabah mengenai tingkat bagi hasil yang kompetitif . Mengingat kedua tingkat suku bunga di atas sudah diterima secara umum di kalangan perbankan. BI rate atau LIBOR digunakan sebagai basis tingkat bunga dalam pinjaman antar bank dalam pasar uang. Namun dalam praktiknya. perbankan syariah memiliki asosiasi yang kuat dengan sistim bagi hasil. termasuk untuk perbankan syariah. juga terjadi peningkatan dalam periode tersebut. Di sini perlu dipahami bahwa bank syariah. memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan secara optimal. Ketika pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat. Dalam dunia perbankan. ada satu hal yang patut dicatat. Bank syariah adalah institusi bisnis yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. khususnya yang berbasis bagi hasil (misalnya Mudharabah dan Musyarakah). namun dengan memperhatikan kaedah dan etika bisnis menurut syariah Islam. perbankan syariah tidak hanya menawarkan produk pembiayaan dan tabungan dengan prinsip bagi hasil (Mudharabah dan Musyarakah).

kemudian risiko dari pelaksana (Mudharib) yang berpotensi melakukan kecurangan pelaporan sehingga menaikkan biaya dan berakibat pada rendahnya pendapatan atau keuntungan yang akan dibagi antara bank syariah dengan pelaksana.pembiayaan perbankan syariah. Sehingga tidak setiap pengusaha atau nasabah yang mengajukan pembiayaan kepada bank syariah akan mendapat pembiayaan bagi hasil. Melihat fenomena itu. MUI dan dunia pendidikan untuk bersinergi memberikan pendidikan mengenai konsep perbankan syariah kepada masyarakat. Sehingga kita harapkan tidak lagi terdengar kritikan negatif terhadap bank syariah yang bersumber dari ketidaktahuan seperti yang banyak ditemui dimasyarakat. pemerintah pusat dan daerah. dimana proporsi pembiayaan berbasis bagi hasil telah mencapai 35. maka bank syariah harus berhati-hati dalam memberikan pembiayaan jenis tersebut. Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa masyarakat kurang mengetahui tentang bank syariah terkait dengan produk maupun fasilitas yang ditawarkan karena kurangnya promosi maupun edukasi pasar. KARIM Business Consulting (tahun 2004) pernah melakukan penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap bank syariah. Permasalahan yang muncul antara lain adalah rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap perbankan syariah terutama yang disebabkan dominasi perbankan konvensional. Banyak tantangan dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perbankan syariah terutama di Indonesia. dan menerapkan strategi pengembangan bank syariah di bidang apapun. dimana bank ikut menanggung kerugian. risiko kegagalan proyek yang dibiayai. maka perlu dilakukan sosialisasi secara terus menerus untuk mencapai titik temu sehingga tercapai pemahaman mengenai perbankan syariah yang benar. perbankan syariah. Oleh karena itu dituntut kerja sama Bank Indonesia. namun memiliki risiko yang lebih besar daripada jenis pembiayaan lain seperti Murabahah. terutama untuk menjembatani perbedaaan persepsi antara masyarakat dengan perbankan syariah. meskipun merupakan jenis pembiayaan yang lebih adil. merencanakan. Pola pembiayaan berbasis bagi hasil. Risiko itu antara lain. Berikut ini dikemukakan beberapa 3 . Persepsi masyarakat terhadap bank syariah adalah hal urgent yang harus diperhatikan dalam rangka mengukur.57% dari total seluruh pembiayaan yang dikeluarkan oleh perbankan syariah pada periode Juli 2010. Dengan tingginya risiko pada pembiayaan bagi hasil.

Jaringan kantor bank syariah yang belum luas. Kebijakan pengembangan perbankan syariah antara lain adalah mendukung pengembangan jaringan perbankan syariah. 4 . Dalam rangka mendukung program pengembangan jaringan perbankan syariah diperlukan data dan informasi yang lengkap dan akurat yang menggambarkan potensi pengembangan bank syariah baik dari sisi penyimpan maupun sisi pembiayaan. 3.2 Rumusan Masalah Masih rendahnya minat masyarakat untuk memilih bank syariah dipengaruhi oleh beberapa hal. agar kegiatan sosialisasi dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat terhadap perbankan syariah efektif diperlukan informasi mengenai karakteristik dan perilaku nasabah/calon nasabah terhadap perbankan syariah. sistem dan seluk beluk perbankan syariah untuk mencapai titik temu pemahaman mengenai perbankan syariah yang benar. mekanisme. Pemahaman masyarakat yang belum tepat terhadap kegiatan operasional bank syariah. khususnya pada wilayah-wilayah yang dinilai potensial. 1. Sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam bank syariah masih sedikit. sistem dan seluk beluk perbankan syariah karena perkembangan jaringan perbankan syariah akan tergantung pada besarnya demand masyarakat terhadap sistem perbankan ini. salah satunya adalah persepsi mereka tentang bank syariah yang masih perlu diluruskan. mekanisme. Oleh karena itu dibutuhkan suatu strategi sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai produk. Oleh karena itu. Dalam rangka mengembangkan jaringan perbankan syariah diperlukan upayaupaya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai produk.kendala yang muncul sehubungan dengan pengembangan perbankan syariah (Subardjo dalam Antonio. Peraturan perbankan yang berlaku belum sepenuhnya mengakomodasi operasional bank syariah. yang pada gilirannya akan meningkatkan minat masyarakat untuk memilih bank syariah. 2.1999) : 1. 4. Potensi dimaksud dapat dipandang dari sumber daya dan aktivitas perekonomian suatu wilayah serta dari pola sikap/preferensi dari pelaku ekonomi terhadap produk dan jasa bank syariah.

1. Memaparkan pengaruh sosialisasi perbankan syariah terhadap minat masyarakat.7 Hipotesis a. Mengetahui faktor-faktor penyebab kurangnya minat masyarakat memilih Perbankan syari¶ah. Hipotesis Nol (Ho) Tidak ada pengaruh yang signifikan dari sosialisasi perbankan syariah terhadap minat masyarakat islam dalam memilih bank syariah. maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1. 2.4 Ruang Lingkup Penelitian 1. 2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat masyarakat untuk memilih perbankan syariah? 2.5 Manfaat Penelitian Proposal penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk : 1. Bagaimana pengaruh sosialisasi perbankan syariah terhadap minat masyarakat untuk memilih jasa perbankan syariah? 1. 1.3 Tujuan Penelitian Proposal penelitian ini bertujuan untuk : 1. Memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya masyarakat untuk memilih perbankan syariah.6 Kerangka Pemikiran 1. 5 . Memberikan informasi mengenai pengaruh sosialisasi perbankan syariah terhadap perubahan minat masyarakat terhadap perbankan syariah.Berdasarkan identifikasi masalah di atas.

Hipotesis Kerja/Alternatif (Ha) Ada pengaruh yang signifikan pengaruh sosialisasi perbankan syariah terhadap minat masyarakat islam memilih bank syariah 1.8 Sistematika Penulisan 6 .b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful