P. 1
bayi tabung menurut pandangan islam dan sains

bayi tabung menurut pandangan islam dan sains

|Views: 881|Likes:
Published by rioandriwiranata

More info:

Published by: rioandriwiranata on Jan 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

MAKALAH Bayi Tabung Menurut Persepsi Islam Dan Sains Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Islam

kesehatan

DISUSUN OLEH : 1.Edi Kasturi 2.Galuh 3.Rio Andri W 4.Angga 5.Yogik 6.Siti Komaryah 7.Yudi Universitas Muhammadiyah Ponorogo D3 Keperawatan 2011 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah membe rikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah agama islam ini dengan judul “ Bayi Tabung Menurut Persepsi Islam Dan Sains“. Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata kuliah agama islam Program St udi D3 Keperawatan. Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari sempurna, unt uk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat b agi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Penulis,

DAFTAR ISI Kata Pengantar ……………… …………i. Daftar isi…………………… ………………ii BAB 1 PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang………… ………………………………………….1 1.2 Tujuan………………………… ………………………………………..2 1.3 Rumusan Masalah………………………………… …………….2 BAB 2 ISI……………………… ……………….3 2.1 Sejarah Bayi Tabung…………………… ……….3 2.2 Pengertian Bayi Tabung……………… ……...6 2.3 Faktor-Faktor yang mempengaruhi mengapa bayi tabung diadakan… .6

2.4 Hukum Bayi Tabung…………… ………….8 2.5 Manfaat Dan Akibat Dari Bayi Tabung………… 2.6 Macam Proses Bayi Tabung…… ...11 2.7 Bayi Tabung Menurut Sains………… ...14 BAB 3 PENUTUP……… ……………16 3.1 Kesimpulan…… ……………16 3.2 Saran ………17

….10

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sekarang ini sudah muncul berbagai kecanggihan yang dapat di gunakan untuk mengatasi kendala-kendala kehidupan..Salah satunya adalah kesulitan mempu nyai anak dengan berbagai faktor.Tetapi terkadang kecanggihan teknologi mempenga ruhi etika-etika terhadap islam. Kemungkinan kehamilan dipengaruhi oleh usia and a dan kadar FSH basal. Secara umum, makin muda usia makin baik hasilnya. Kemungk inan terjadinya kehamilan juga tergantung pada jumlah embrio yang dipindahkan. W alaupun makin banyak jumlah embrio yang dipindahkan akan meningkatkan kemungkina n terjadinya kehamilan, tapi kemungkinan terjadinya kehamilan multipel dengan ma salah yang berhubungan dengan kelahiran prematur juga lebih besar. Pengertian ma ndul bagi wanita ialah tidak mampu hamil karena indung telur mengalami kerusakan sehingga tidak mampu memproduksi sel telur. Sementara, arti mandul bagi pria ia lah tidak mampu menghasilkan kehamilan karena buah pelir tidak dapat memproduksi sel spermatozoa sama sekali. Baik pria maupun wanita yang mandul tetap mempunyai fungsi seksual yang normal. Tetapi sebagian orang yang mengetahui dirinya mandul kemudian mengalami gangguan fungsi seksual sebagai akibat hambatan psikis karena menyadari kekurangan yang dialaminya. Tetapi istilah mandul seringkali digunakan untuk menyebut pasangan suami istri y ang belum mempunyai anak walaupun telah lama menikah. Padahal pasangan suami ist ri yang belum mempunyai anak setelah lama menikah tidak selalu mengalami kemandu lan. Yang lebih banyak terjadi adalah pasangan yang infertil atau pasangan yang tidak subur.Tulisan tentang bayi tabung ini dimaksudkan agr masyarakat terutama dari kalangan agama memberikan tanggapan dan masukan tentang proyek/tim pengemba ngan Bayi tabung Indonesia yang mulai terbuka untuk peminat bayi tabung.Sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan modern dan teknologi kedokteran dan biolog i yang canggih,maka teknologi bayi tabung juga maju dengan pesat,sehingga kalau teknologi bayi tabung ini ditanagani oleh orang-orang yang kurang beriman dan be rtaqwa,dikhawatirkan dapat merusak peradaban umat manusia,bias merusak nilai-nil ai agama,moral,dan budaya bangsa. 1.2 TUJUAN • Untuk memenuhi tugas Pendidikan Agama Islam • Mempelajari hal-hal yang ada dalam medis yang dilarang oleh islam dan mengetahu an tentang hukum-hukum nya. • Mendapatkan informasi tentang perkembangan teknologi dan kesesuaian dengan agama 1.1 • agama? • • RUMUSAN MASALAH Apakah ada perbedaan pandangan tentang bayi tabung dari segi medis dan dari segi Apakah hukum bayi tabung menurut pandangan agama islam? Bagaimanakah proses dari bayi Tabung

BAB II ISI 2.1 Sejarah Bayi Tabung Bayi tabung pertama Louis Brown dari Inggris lahir 30 tahun lalu. Pe mbuahan buatan sudah merupakan prosedur standar kedokteran, untuk menolong pasan gan yang sulit punya anak secara alami. Jumlah pasangan suami-istri yang melaksa nakan program bayi tabung dari tahun ke tahun juga meningkat. Sebuah pemecahan p raktis yang juga harus disadari mengandung risiko. Prosedurnya saja sudah amat m enegangkan, melelahkan dan bahkan sering memicu rasa frustrasi. Belum lagi mengi ntai bahaya kecacatan pada bayi dan dampak lainnya. Seberapa besar risiko progra m bayi tabung itu, kini menjadi tema penelitian sejumlah dokter dan ilmuwan Jerm an. Metode umum yang digunakan sejak 30 tahun lalu, adalah pembuahan dalam tabung re aksi atau istilahnya pembuahan in-vitro. Secara sederhana caranya adalah dengan membuahi sel telur dengan sel sperma di luar rahim ibu. Setelah terjadi pembuaha n, barulah sel telur itu kembali dicangkokan ke dalam rahim ibu. Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Louise Brown, bayi tabung pertama, ketika berumur 1 tahun Pembuahan in-vitro benar-benar program bayi tabung, karena sel telur dan sperma dipertemukan dalam tabung reaksi. Selain itu juga dikembangkan metode terbaru, b erupa pembuahan buatan di dalam rahim menggunakan bantuan semacam pipet untuk me nyuntikan sperma. Metodenya disebut intra-cytoplasma dengan menyuntikan sperma. Di Jerman anak pertama yang dibuahi dengan metode intra-cytoplasma ini dilahirka n tahun 1994 lalu, dari pasangan yang suaminya tidak mampu membuahi sel telur is trinya secara alami. Belum diketahui apakah ketidakmampuan ayahnya untuk melakukan pembuahan secara a lami, juga akan diturunkan kepada anaknya. Namun diketahui, pembuahan intra-cyto plasma lebih berisiko dibanding pembuahan dalam tabung atau in-vitro. Risikonya adalah bayi dengan cacat bawaan. Seperti yang dijelaskan Prof. Hilke Bertelsmann , pakar ilmu kesehatan dan sekaligus juga pakar biologi Jerman. “Cacat bawaan adalah cacat yang kelihatan maupun yang tidak, seperti kelainan pada jantung, ginjal dan organ tubuh lainnya. Kekhawatiran lainnya adalah, sel sperm a dan sel telur mengalami kerusakan akibat panas atau manipulasi. Karena itu dit akutkan semakin banyak kasus cacat bawaan dari metode pembuahan menggunakan pipe t yang disuntikan ke sel telur, ketimbang pembuahan dalam tabung reaksi.“ Berlandaskan dugaan semacam itu, Prof. Bertelsmann mengimbau komisi kedokteran f ederal di Jerman, yang merupakan lembaga tertinggi administrasi kedokteran denga n anggota para dokter, rumah sakit dan asuransi kesehatan, untuk melakukan penel itian terpadu serta penelitian data secara sistematis. Tujuannya untuk meneliti risiko munculnya cacat bawaan pada berbagai metode pembuahan buatan. Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Seorang dokter sedang melakukan proses pembuahan buatan.Sejauh ini memang belum diketahui seca ra pasti apa Penyebab meningkatnya kasus cacat bawaan pada bayi tabung itu. Dala m 10 kasus yang diamati, menyangkut perbedaan metode in-vitro dan intra-cytoplas ma, sejauh ini tidak ditemukan hasil yang signifikan. Artinya, kemungkinan besar metode intra-cytoplasma juga tidak meningkatkan risiko munculnya cacat bawaan. Prof.Hilke Bertelsmann lebih lanjut mengatakan, “Walaupun begitu kami harus mengat akan, kami tidak tahu, apakah hal itu disebabkan metode kedokteran dari pembuaha n buatan, atau dari meningkatnya risiko pada orang tua. Karena pada dasarnya aki bat risiko itulah mengapa mereka tidak bisa mendapatkan anak dengan cara alami.“ Yang sudah pasti, kasus cacat bawaan lebih banyak terjadi pada anak-anak yang di lahirkan dengan cara pembuahan buatan, baik itu dengan metode in-vitro maupun in tra-cytoplasma, ketimbang pada anak-anak yang dilahirkan dari pembuahan secara a lami. Selain itu, kuota keberhasilan pembuahan buatan juga relatif rendah. Hanya 40 pe rsen pembuahan buatan yang sukses menimbulkan kehamilan. Sementara jumlah sukses kehamilan hingga melahirkan anak jauh lebih rendah lagi, yakni hanya 15 persen dari seluruh kehamilan melalui metode pembuahan buatan. Karena itulah, cukup ban yak pasangan suami istri yang memutuskan, melakukan pembuahan buatan beberapa se

l telur sekaligus dan mencangkokan sel embryo tersebut dalam rahim. Dengan begitu diharapkan salah satu embryo akan berhasil berkembang menjadi jani n di dalam rahim. Akan tetapi, juga muncul masalah lainnya. Kadang-kadang bebera pa sel telur yang sudah dibuahi secara buatan, berkembang bersamaan di dalam rah im. Terjadi kehamilan kembar lebih dari dua bayi. Dampaknya adalah berkurangnya peluang janin untuk terus berkembang dalam rahim. Masalah lainnya yang dihadapi di Jerman adalah kendala hukum. Aturan yang berlak u untuk pembuahan buatan, tidak mengizinkan orang tua menggugurkan salah satu ba yi kembar lebih dari dua, hasil dari pembuahan buatan. Atau secara bahasa kedokt erannya, memberikan peluang kepada janin yang memiliki kemungkinan paling baik u ntuk terus berkembang dalam rahim, dengan menyingkirkan saingannya yang kemungki nan cacat. Terlepas dari aturan yang berlaku, teknologi pembuahan buatan atau program bayi tabung, walaupun sudah berumur 30 tahun, tetap mengandung banyak misteri dan per tanyaan yang belum terjawab tuntas secara ilmu kedokteran, menyangkut kemungkina n risiko cacat bawaan. 2.2 Pengertian Bayi Tabung Bayi tabung adalah suatu istilah teknis. Istilah ini tidak berarti b ayi yang terbentuk di dalam tabung, melainkan dimaksudkan sebagai metode untuk m embantu pasangan subur yang mengalami kesulitan di bidang” pembuahan “ sel telur wan ita oleh sel sperma pria. Secara teknis, dokter mengambil sel telur dari indung telur wanita dengan alat yang disebut “laparoscop” ( temuan dr. Patrick C. Steptoe d ari Inggris ). Sel telur itu kemudian diletakkan dalam suatu mangkuk kecil dari kaca dan dipertemukan dengan sperma dari suami wanita tadi. Setelah terjadi pemb uahan di dalam mangkuk kaca itu tersebut, kemudian hasil pembuahan itu dimasukka n lagi ke dalam rahim sang ibu untuk kemudian mengalami masa kehamilan dan melah irkan anak seperti biasa. Bayi tabung pertama lahir ke dunia ialah Louise Brown. Ia lahir di Manchester, I nggris, 25 Juli 1978 atas pertolongan Dr. Robert G. Edwards dan Patrick C. Stept oe. Sejak itu, klinik untuk bayi tabung berkembang pesat. Teknik bayi tabung ini telah menjadi metode yang membantu pasangan subur yang tidak mempunyai anak aki bat kelainan pada organ reproduksi anak pada wanita. 2.3 Faktor-Faktor yang mempengaruhi mengapa bayi tabung diadakan Banyak faktor yang menjadi penyebab infertilitas sehingga pasangan sua mi istri tidak mempunyai anak, antara lain: • Faktor hubungan seksual, yaitu frekuensi yang tidak teratur (mungkin terlalu ser ing atau terlalu jarang), gangguan fungsi seksual pria yaitu disfungsi ereksi, e jakulasi dini yang berat, ejakulasi terhambat, ejakulasi retrograde (ejakulasi k e arah kandung kencing), dan gangguan fungsi seksual wanita yaitu dispareunia (s akit saat hubungan seksual) dan vaginismus. • Faktor infeksi, berupa infeksi pada sistem seksual dan reproduksi pria maupun wa nita, misalnva infeksi pada buah pelir dan infeksi pada rahim. • Faktor hormon, berupa gangguan fungsi hormon pada pria maupun wanita sehingga pe mbentukan sel spermatozoa dan sel telur terganggu. • Faktor fisik, berupa benturan atau temperatur atau tekanan pada buah pelir sehin gga proses produksi spermatozoa terganggu. • Fakror psikis, misalnya stress yang berat sehingga mengganggu pembentukan set sp ermatozoa dan sel telur. • Untuk menghindari terjadinya gangguan kesuburan pada pria maupun wanita, maka fa ktor-faktor penyebab tersebut tersebut harus dihindari. Tetapi kalau gangguan ke suburan telah terjadi, diperlukan pemeriksaan yang baik sebelum dapat ditentukan langkah pengobatannya. Apakah infertilitas dapat diatasi? Masalah infertilitas sebenarnya adalah masalah gangguan kesuburan pas angan. Gangguan kesuburan mungkin dapat diatasi, mungkin juga tidak dapat diata si. Hal itu sangat tergantung kepada penyebabnya dan sejauh mana kesuburan telah terganggu. Berbagai cara dan pengobatan telah tersedia untuk mengatasi gangguan kesuburan, tetapi tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan. Sebagai contoh , infertilitas yang disebabkan karena penyumbatan saluran telur. Cara yang ada u

ntuk membuka kembali saluran telur yang tersumbat ternyata tidak memberikan hasi l yang baik. Contoh lain, pengobatan gangguan sperma, mungkin memberikan hasil y ang baik, mungkin juga tidak. Pengobatan gangguan sperma yang disebabkan karena infeksi pada buah pelir, pada umumnya tidak memuaskan. Itu berarti tidak semua pasangan infertil dapat mengatasi masalahnya dan dapat m empunyai anak. Karena itu, pada keadaan di mana gangguan kesuburan tidak dapat d iatasi, dilakukan cara lain yang merupakan cara pintas. Cara pintas ini tidak la gi bertujuan memperbaiki gangguan kesuburan, melainkan langsung ke tujuan akhir, yaitu menghasilkan kehamilan. Cara pintas yang tersedia ialah inseminasi buatan dengan menggunakan sperma suam i dan tehnik “bayi tabung”. Inseminasi buatan dengan sperma suami dilakukan bila ter jadi gangguan kualitas dan kuantitas sperma, gangguan dalam melakukan hubungan s eksual sehingga sperma tidak dapat masuk ke vagina, dan gangguan mulut rahim seh ingga sel spermatozoa gagal masuk ke dalam rahim. Di masyarakat muncul anggapan salah, seolah-olah tehnik “bayi tabung” adalah segalan ya. Seolah-olah dengan cara ini pasangan infertil pasti dapat menjadi hamil dan mempunyai anak. Padahal ternyata tidak demikian. Keberhasilan tehnik “bayi tabung” d engan cara yang paling mutakhir dan di negara maju sekalipun, masih tergolong re ndah sementara biaya yang diperlukan sangat tinggi. 2.4 Hukum Bayi Tabung Apabila mengkaji tentang bayi tabung dari hukum islam,maka harus dik aji dengan memakai metode ijtihad yang lazim dipakai oleh para ahli ijtihad agar hukum ijtihadnya sesuai dengan prinsip-prinsip dan jiwa al-Quran dan sunnah men jadi pasanagan umat islam.Bayi Tabung dilakukan apabila dilakukan dengan sel spe rma dan ovum suami istri sendiri dan tidak ditransfer embrionya kedalam rahim wa nita lain termasuk istrinya sendiri yang lain(bagi suami yang berpoligami),maka islam membenarkan,baik dengan cara mengambil sperma suami,kemudian disuntikkan k edalam vagina atau uterus istri,maupun dengan cara pembuahan dilakukan diluar ra him,kemudian buahnya ditanam kedalam rahim istri,asal keadaan kondisi suami istr i yang bersangkutan benar-benar memerlukan cara inseminasi buatan untuk memperol eh anak,karena dengan cara pembuahan alami,suami istri tidak berhasil memperoleh anak. Menurut Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 70 Artinya:Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam,Kami angkut mereka d idaratan dan lautan,Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihka n mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. Inseminasi buatan endahngan donor itu pada hakikatnya merendahkan ha rkat manusia sejajar dengan hewan yang di inseminasi. Hadist Nabi: Tidak halal bagi seseorang yang beriman pada Allah dan hari Akhir menyiramkan ai rnya (sperma) pada tanaman orang lain(vagina istri orang lain).Hadist Riwayat A bu Daud,Al-Tirmizi dan hadist ini dipandang sahih oleh Ibnu Hibban. Dengan hadist ini para ulama sepakat mengharamkan seseorang mengawini/melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari orang lain yang mempunyai ikatan perka winan yang sah. Pada zaman dulu masalah bayi tabung/inseminasi buatan belum timbul,sehingga kita tidak memperoleh fatwa hukumnya dari mereka.Kita dapat menyadari bahwa insemina si buatan / bayi tabung dengan donor sperma atau ovum lebih mendatangkan madarat nya daripada maslahahnya. 2.5 Manfaat Dan Akibat Dari Bayi Tabung Maslahahnya dari bayi tabung adalah bias membantu pasangan suami ist ri yang keduanya atau salah satu nya mandul atau ada hambatan alami pada suami a tau istri menghalangi bertemunya sel sperma dan sel telur.Misalnya karena tuba f alopii terlalu sempit atau ejakulasinya terlalu lemah.Namun akibat(mafsadah) dar i bayi tabung adalah: • Percampuran Nasab,padahal Islam sangat menjaga kesucian / kehormatan kelamin dan kemurnian nasab,karena ada kaitannya dengan kemahraman (siapa yang halal dan ha ram dikawini) dan kewarisan. • Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.

• Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi/ zina karena terjadi percampur an sperma dengan ovum tanpa perkawinan yang sah. • Kehadiran anak hasil inseminasi buatan bisa menjadi sumber konflik didalam ruma h tangga terutama bayi tabung dengan bantuan donor merupakan anak yang sangat un ik yang bisa berbeda sekali bentuk dan sifat-sifat fisik dan karakter/mental si anak dengan bapak ibunya. • Anak hasil inseminasi buatan/bayi tabung yang percampuran nasabnya terselubung d an sangat dirahasiakan donornya adalah lebih jelek daripada anak adopsi yang pad a umumnya diketahui asal dan nasabnya. • Bayi tabung lahir tanpa proses kasih sayang yang alami terutama pada bayi tabung lewat ibu titipan yang harus menyerahkan bayinya pada pasangan suami istri yang punya benihnya,sesuai dengan kontrak,tidak terjalin hubungan keibuan anatara an ak dengan ibunya secara alami Surat Al-Lugman ayat 14 Mengenai status anak hasil inseminasi dengan donor sperma atau ovum menurut huku m islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil prostitusi.UU Perk awinan pasal 42 No.1/1974:”Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau se bagai akibat perkawinan yang sah”maka memberikan pengertian bahwa bayi tabung deng an bantuan donor dapat dipandang sah karena ia terlahir dari perkawinan yang sah .Tetapi inseminasi buatan dengan sperma atau ovum donor tidak di izinkan karena tidak sesuai dengan Pancasila,UUD 1945 pasal 29 ayat 1. Asumsi Menteri Kesehatan bahwa masyarakat Indonesia termasuk kalangan agam a nantinya bias menerima bayi tabung seperti halnya KB.Namun harus diingat bahwa kalangan agama bias menerima KB karena pemerintah tidak memaksakan alat/cara KB yang bertentangan dengan agama.Contohnya : Sterilisasi,Abortus.Oleh karena itu pemerintah diharapkan mengizinkan praktek bayi tabung yang tidak bertentangan de ngan agama. 2.6 Macam Proses Bayi Tabung Pembuahan Dipisahkan dari Hubungan Suami-Isteri. Teknik bayi tabung memisahkan persetubuhan suami – istri dari pembuahan bakal anak . Dengan teknik tersebut, pembuahan dapat dilakukan tanpa persetubuhan. Keterara han perkawinan kepada kelahiran baru sebagaimana diajarkan oleh Gereja tidak ber laku lagi. Dengan demikian teknik kedokteran telah mengatur dan menguasai hukum alam yang terdapat dalam tubuh manusia pria dan wanita. Dengan pemisahan antara persetubuhan dan pembuahan ini, maka bisa muncul banyak kemungkinan lain yang me njadi akibat dari kemajuan ilmu kedokteran di bidang pro-kreasi manusia. Wanita Sewaan untuk Mengandung Anak. Ada kemungkinan bahwa benih dari suami – istri tidak bisa dipindahkan ke dalam rah im sang istri, oleh karena ada gangguan kesehatan atau alasan – alasan lain. Dalam kasus ini, maka diperlukan seorang wanita lain yang disewa untuk mengandung ana k bagi pasangan tadi. Dalam perjanjian sewa rahim ini ditentukan banyak persyara tan untuk melindungi kepentingan semua pihak yang terkait. Wanita yang rahimnya disewa biasanya meminta imbalan uang yang sangat besar. Suami – istri bisa memilih wanita sewaan yang masih muda, sehat dan punya kebiasaan hidup yang sehat dan b aik. praktik seperti ini biasanya belum ada ketentuan hukumnya, sehingga kalau m uncul kasus bahwa wanita sewaan ingin mempertahankan bayi itu dan menolak uang p embayaran, maka pastilah sulit dipecahkan. Sel Telur atau Sperma dari Seorang Donor. Masalah ini dihadapi kalau salah satu dari suami atau istri mandul; dalam arti b ahwa sel telur istri atau sperma suami tidak mengandung benih untuk pembuahan. I tu berarti bahwa benih yang mandul itu harus dicarikan penggantinya melalui seor ang donor. Masalah ini akan menjadi lebih sulit karena sudah masuk unsur baru, yaitu benih dari orang lain. Pertama, apakah pembuahan yang dilakukan antara sel telur istri dan sel sperma dari orang lain sebagai pendonor itu perlu diketahui atau disemb unyikan identitasnya. Kalau wanita tahu orangnya, mungkin ada bahaya untuk menca ri hubungan pribadi dengan orang itu. Ketiga, apakah pria pendonor itu perlu tah u kepada siapa benihnya telah didonorkan. Masih banyak masalah lain lagi yang bi sa muncul.

Munculnya Bank Sperma Praktik bayi tabung membuka peluang pula bagi didirikannya bank – bank sperma. Pas angan yang mandul bisa mencari benih yang subur dari bank – bank tersebut. Bahkan orang bisa menjual – belikan benih – benih itu dengan harga yang sangat mahal misaln ya karena benih dari seorang pemenang Nobel di bidang kedokteran, matematika, da n lain-lain. Praktek bank sperma adalah akibat lebih jauh dari teknik bayi tabun g. Kini bank sperma malah menyimpannya dan memperdagangkannya seolah – olah benih manusia itu suatu benda ekonomis. Tahun 1980 di Amerika sudah ada 9 bank sperma non – komersial. Sementara itu bank – bank sperma yang komersil bertumbuh dengan cepat. Wanita yang menginginkan pembu ahan artifisial bisa memilih sperma itu dari banyak kemungkinan yang tersedia le ngkap dengan data mutu intelektual dari pemiliknya. Identitas donor dirahasiakan dengan rapi dan tidak diberitahukan kepada wanita yang mengambilnya, kepada pen guasa atau siapapun. Masalah Orang Tua Anak Hasil Bayi Tabung atau Legaltas Bayi Tabung Bayi yang benihnya berasal dari pasangan suami – istri namun dikandung dan dilahir kan oleh wanita sewaan dapat menimbulkan persoalan siapakah orang tua dari bayi itu. Bisa dikatakan bahwa bayi orang tua itu adalah pasangan yang memiliki benih tadi. Tetapi wanita sewaan juga telah menyumbangkan darah dan dagingnya selama mengandung bayi tersebut. Sudah pernah terjadi bahwa seorang wanita sewaan tidak mau mengembalikan bayi yang telah dikandung dan dilahirkannya. Orang tua bayi t ersebut menuntut di pengadilan, namun hukum yang dipakai untuk menyelesaikan mas alah tersebut belum dibuat. Kalau benih diambil dari seorang donor, maka timbul persoalan juga tentang siapa kah orang tua bayi itu. Secara biologis orang tua bayi itu adalah donor yang tel ah memberikan benihnya, tetapi secara legal, orang tua anak itu adalah orang tua yang menerima dan membesarkannya dalam keluarga. Mana yang disebut orang tua? O rangtua biologis atau orang tua legal. Sebelum ada teknik bayi tabung, maka oran g tua biologis adalah orang tua legal. 2.7 Bayi Tabung Menurut Sains Assisted Reproductive Technology atau yang populer dengan teknologi bayi tabung merupakan aplikasi teknologi dalam bidang reproduksi manusia. Teknologi bayi tab ungmemungkinkan terjadinya proses pembuahan yang dilakukan dengan buatan dan ter jadi secara invitro (di luar tubuh manusia). Pengembangan teknologi bayi tabung pada dasarnya ditujukan untuk membantu pasutr i yang mengalami gangguan kesuburan (infertilitas) sehingga kesulitan mendapatka n keturunan. Infertilitas sebenarnya merupakan permasalahan global. Menurut data WHO, 167 (tidak termasuk China) pasangan di dunia yang menikah dalam rentan umu r 15-49 tahun mengalami masalah infertilitas (2001). Dengan demikian, keberadaan teknologi bayi tabung diharapkan bisa menjadi alternatif solusi untuk menyelesa ikan permasalahan tersebut. Seiring dengan waktu, teknologi bayi tabung semakin mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Selama ini ada tiga macam teknik bayi tabung yang sangat popu ler dilakukan. Pertama, teknik In Vitro Fertilization (IVF). Pada teknik ini, 50 ribu-100ribu sperma dipertemukan dengan satu buah sel telur di dalam cawan petri yang berisi medium kultur sehingga terjadi pembuahan. Teknik IVF diperkenalkan oleh Robert Edward, seorang ilmuwan Inggris, pada tahun 1950-an. Ia melakukan ri set bersama Patrick Steptoe, seorang ahli bedah kandungan. Bayi pertama hasil pe mbuahan dengan teknik ini adalah Louise Brown, seorang bayi perempuan, yang lahi r pada tanggal 25 Juli 1978 di Inggris. Bayi tersebut bisa tumbuh normal bahkan sekarang telah melahirkan anak laki-laki dengan proses persalinan yang normal. H ingga saat ini, sudah ada sekitar empat juta orang di dunia yang terlahir dengan teknik IVF. Kelebihan dari teknik IVF antara lain sangat mudah dilakukan, biaya nya relatif murah, dan tidak ada manipulasi pada sel telur (lebih bersifat alami ). Namun demikian kelemahannya jika sperma bermasalah maka sperma tidak akan mam pu menembus sel telur sehingga pembuahan tidak bisa terjadi. Kedua, teknik Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSA). Teknik ini lakukan denga n menginjeksi satu sperma ke dalam satu sel telur sehingga terjadi pembuahan. Ke lebihan teknik ini sangat membantu seorang suami yang mengalami kasus azoospermi a (tidak adanya sperma yang keluar bersama air mani) atau juga jumlah spermanya

sangat sedikit dengan kualitas yang jelek. Teknik ICSA harus didukung oleh sisti m pengambilan sperma secara langsung dari testis atau teknologi simpan beku sper ma. Hanya saja teknik ini sangat sulit dilakukan karena membutuhkan alat khusus yang disebut micromanipulator sehingga membutuhkan biaya yang relatif lebih maha l. Ketiga, teknik In Vitro Maturation (IVM). Teknik bayi tabung ini merupakan tekni k terbaru. Teknik tersebut dilakukan dengan mematangkan dahulu sel telur di labo ratorium baru kemudian dibuahi. Tingkat keberhasilan teknik ini dinilai sangat m emuaskan. Selain itu prosedurnya juga sangat sederhana. Yakni dilakukan hanya pa da satu siklus haid saja sehingga bisa meminimalisasi penggunaan obat hormonal. Biayanya juga relatif lebih murah jika dibandingkan dengan teknik IVF. Tidak men gherankan jika teknik ini sangat diminati oleh negara-negara di dunia. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari pengetahuan yang didapat diatas dapat disimpulkan bahwa: Inseminasi buatan dengan sel sperma dan ovum dari suami istri sendiri dan tidak ditransfer embrionya kedalam rahim wanita lain(ibu titipan) DIPERBOLEHKAN oleh i slam,jika keadaan kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar memerlukan.D an status anak hasil inseminasi macam ini sah menurut Islam. Inseminasi buatan dengan sperma dan ovum donor DIHARAMKAN oleh Islam.Hukumnya sa ma dengan Zina dan anak yang lahir dari hasil inseminasi macam ini statusnya sam a dengan anak yang lahir diluar perkawinan yang sah. Pemerintah hendaknya melarang berdirinya Bank Nutfah(Sperma) dan Bank Ovum untuk perbuatan bayi tabung,karena selain bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Juga bertentangan dengan norma agama dan moral,serta merendahkan harkat manusia sejajar dengan hewan. Pemerintah hendaknya hanya mengizinkan dan melayani permintaan bayi tabung denga n sel sperma dan ovum suami istri yang bersangkutan tanpa ditransfer kedalam rah im wanita lain dan seharusnya pemerintah hendaknya juga melarang keras dengan sa nksi-sanksi hukumannya kepada dokter dan siapa saja yang melakukan inseminasi bu atan pada manusia dengan sperma atau ovum donor. 3.2 Saran Makalah ini semoga berguna bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa namun manusia tidaklah ada yang sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diperlukan guna memperbaiki makalah ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->