TITRASI PERMANGANOMETRI Permanganometri adalah penetapan kadar zat berdasarkan hasil oksidasi dengan KMnO4.

Metode permanganometri didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana asam, netral dan alkalis. MnO4- + 8H+ + 5e → Mn 2+ + 4H2O Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indicator, jadi titrasi permanganometri ini tidak memerlukan indikator, dan umumnya titrasi dilakukan dalam suasana asam karena karena akan lebih mudah mengamati titik akhir titrasinya. Namun ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam suasana netral atau alkalis contohnya hidrasin, sulfit, sulfida, sulfida dan tiosulfat . Reaksi dalam suasana netral yaitu MnO4 + 4H+ + 3e → MnO4 +2H2O Kenaikan konsentrasi ion hidrogen akan menggeser reaksi kekanan Reaksi dalam suasana alkalis : MnO4- + 3e → MnO42MnO42- + 2H2 O + 2e → MnO2 + 4OHMnO4- + 2H2 O + 3e → MnO2 +4OHReaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumah-jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu/dua jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser. Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan pereaksi ini, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta bahwa banyak reaksi permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan lagi yang akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini sebagai contoh, permanganat adalah agen unsur pengoksida, yang cukup kuat untuk mengoksida Mn(II) menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan 3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O → 5MnO2 + 4H+ Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 . Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganat. Mangan dioksidasi mengkatalisis dekomposisi larutan permanganate. Jejak-jejak dari MnO2 yang semula ada dalam permanganat. Atau terbentuk akibat reaksi antara permanganat dengan jejak-jejak dari agen-agen produksi didalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan ini biasanya berupa larutan kristal-kristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan MnO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan.

Penentuan besi dalam biji-biji besi adalah salah satu aplikasi terpenting dalam titrasi-titrasi permanganat. Asam terbaik untuk melarutkan biji besi adalah asam klorida dan timah (II) klorida sering ditambahkan untuk membantu proses kelarutan. Sebelum dititrasi dengan permanganat setiap besi (III) harus di reduksi menjadi besi (II). Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktor jones atau dengan timah (II) klorida. Reduktor jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah sulfat mengingat tidak ada ion klorida yang masuk . Jika larutannya mengandung asam klorida seperti yang sering terjadi reduksi dengan timah (II) klorida akan lebih memudahkan. Klorida ditambahkan kedalam larutan panas dari sampelnya dan perkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna kuning dari ion besi. Standarisasi Larutan KmnO4 Larutan KMnO4 dapat distandarisasi dengan larutan standar denhgan larutan standar H2C2O4 atau Na2C2O4 dengan mereaksikan 10 mL H2C2O4 0,05M dengan 0 mL larutan H2SO4 1M ke dalam erlenmeyer. Selanjutnya dipanaskan dengan kompor listrik dalam ruang asam hingga suhu 700C warna dari H2SO4dan H2C2O4 mula-mula tidak berwarna kemudian dititrasi dengan KMnO4 tetes demi tetes. Pemanasan dilakukan karena reaksi dengan permanganatt lambat pada suhu kamar. Oleh karena itu dipanaskan hingga suhu 700C. Setelah itu suhu dipertinggi rekasi memulai lambat tetapi kecepatan meningkat setelah Mn2+ terbentuk. Mn2+ bertindak sebagai katalis dihasilkan oleh reaksinya sendiri. Setelah dilakukan pemanasan larutan tersebut dititrasi dengan KMnO4 hingga diperoleh warna merah muda permanen. Setelah itu menghitung jumlah KMnO4 yang digunakan dan mengulangi percobaan 2x. Dan pada percobaan I diperoleh volume sebesar 10 mL dan berwarna coklat kemerahan. Disini bisa timbul warna coklat kemerahan karena sebelum dititasi dengan KMnO4 larutan H2C2O4 + H2SO4 harus didinginkan setelah dipanaskan.Berbeda dengan percobaan I, percobaan II diperoleh volume sebesar 8,3mL dan warna yang ditimbulkan adalah merah muda yang konstan (karena sudah didiamkan terlebih dahulu). Larutan standarisasiyang digunakan asam oksalat CH2C2O4 0,05M yang oleh KMnO4 akan dioksidasi menjadi CO2 menurut reaksi sebagai berikut: 2MnO4-(aq) + 6H+(aq)+5H2C2O4(aq) 2Mn2+(aq)+8H2O(l)+10CO2(g) Dalam percobaan ini, sebagai pengasam digunakan larutan H2SO4 encer dan bukan larutan yang lain, misalnya HCl encer yang tidak boleh digunakan sebab fdapat dioksisdasi oleh KmnO4 menjadi Cl2 sebagai berikut: MnO4-(aq) + 16H+(aq)+10Cl-(aq) Mn2+(aq) + 5Cl2(g) + H2O(l) Dalam titasi permanganometri, tidak dibutuhkan indikator karena perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda menunjukan titik akhir suatu titrasi warna yang diperoleh pun harus sudah dalam keadaan tetap, artinya saat melakukan pengadukan, warna merah muda yang muncul tidak hilang, hal ini menunjukan titik kestabilan. Dalam hal ini terjadi reaksi oksidasi dan reduksi: Oksidasi : H2C2O4 CO2 + 2H+ +2eReduksi : MnO4- + 8 H+ Mn2+ + 4 H2O Dan dalam percobaan standarisasi larutan KMnO4 diperoleh molaritasnya sebesar 0,021M. D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TITRASI PERMANGANOMETRI

Diperoleh molaritas KMnO4 adalah 0. KESIMPULAN 1. B.dengan Mn2+. setelah diredukdsi menjadi ion Mn-tidak berwarna. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4. dimana secara permanganometri dapat diketahui kadar suatu zat sesuai dengan sifat oksidasi reduksi yang dimilikinya. metode ini dapat dimanfaatkan dalam pengolahan air. Standarisasi larutan KMnO4 : larutan KMnO4 distandarisasi dengan larutan H2C2O4. Dalam bidang industri. dan disebut juga sebagai autoindikator. Titrasi permanganometri merupakan titasi yang menggunkan KMnO4 sebagai titan. MANFAAT TITRASI PERMANGANOMETRI Untuk mengetahui kadar dari zat-zat yang bilangan oksidasinya masih dapat dioksidasi. E.+ 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air. antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4¬ pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama. hal ini dikarenakan larutan KMnO4 sudah berfungsi sebagai indicator.A.berwarna ungu. yaitu ion MnO4. . H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2CO2↑ H2O2 ↔ H2O + O2↑ Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan.021M 5. KEKURANGAN TITRASI PERMANGANOMETRI Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri. karena reaksi ini tidak memerlukan indicator. Pada titrasi permanganometri tidak diperlukan indikator karena perubahan warna KMnO4 telah menandakan titik akhir. A. Titrasi permanganometri harus dilakukan dalam lingkungan asam sehingga terjadi rekasi sebahgai berikut: MnO4-(aq) + 6H+(aq)+5H2C2O4(aq) 2Mn2+(aq)+8H2O(l)+10CO2(g) 3. larutan H2C2O4 dioksidasi oleh KMnO4 menjadi CO2 menurut reaksi: 2MnO4-(aq) + 6H+(aq)+5H2C2O4(aq) 2Mn2+(aq)+8H2O(l)+10CO2(g) 4. KELEBIHAN TITRASI PERMANGANOMETRI Titrasi permanganometri ini lebih mudah digunakan dan efektif. larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. MnO4. 2. sehingga dapat dipisahkan apabila tidak diperlukan atau berbahaya.

netral dan alkalis. Analisa permanganometri ini merupakan salah satu dari banyak metode analisis kuantitatif lainnya. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang . sehingga penggunaan analisa ini cukup erat hubungannya dengan disiplin ilmu keteknikkimiaan. Percobaan ini merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip umum mengenai permenganometri yang didapat dikuliah. sulfit. Selain itu harus teliti dalam melihat dan mengukur volume KMnO4 yang digunakan pada buret dan selalu menjaga suhu larutan konstan pada saat melakukan standarisasi. Titik akhir titrasi permanganometri ditandai dengan perubahan warna yaitu pada percobaan 1 dan 2 dari tidak berwarna menjadi merah muda. Latar Belakang Permanganometri merupakan metode titrasi menggunakan kalium permanganat. sehingga praktek yang sebenarnya sangat membantu pemahaman mahasiswa.+ 2H2 O + 3e → MnO2 +4OHReaksi ini lambat dalam larutan asam. Namun ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam suasana netral atau alkalis contohnya hidrasin. sulfida dan tiosulfat .+ 2H2 O + 2e → MnO2 + 4OHMnO4. PENDAHULUAN 1. apabila melakukan percobaan mengenai titrasi permanganometri ini harus lebih teliti dan hati-hati.+ 3e → MnO42MnO42. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana asam. Reaksi dalam suasana netral yaitu MnO4 + 4H+ + 3e → MnO4 +2H2O Kenaikan konsentrasi ion hidrogen akan menggeser reaksi kekanan Reaksi dalam suasana alkalis : MnO4. Sedangkan pada percobaan ke 3 dari kuning pucat menjadi orange pekat.6. SARAN Dalam hal ini penulis berharap. Titrasi ini didasarkan atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks. B. MnO4.1.+ 8H+ + 5e → Mn 2+ + 4H2O Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indikator. Metode permanganometri didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. dan umumnya titrasi dilakukan dalam suasan asam karena karena akan lebih mudah mengamati titik akhir titrasinya. sulfida. tetapi sangat cepat dalam larutan netral. yang merupakan oksidator kuat sebagi titran.

Sebelum dititrasi dengan permanganat setiap besi (III) harus di reduksi menjadi besi (II).dibuat dengan melarutkan jumah-jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam air. namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Penentuan besi dalam biji-biji besi adalah salah satu aplikasi terpenting dalam titrasi-titrasi permanganat.+ 2H2O → 5MnO2 + 4H+ Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 . Klorida ditambahkan kedalam larutan panas dari sampelnya dan perkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna . Kalau bukan karena fakta bahwa banyak reaksi permanganat berjalan lambat. Asam terbaik untuk melarutkan biji besi adalah asam klorida dan timah (II) klorida sering ditambahkan untuk membantu proses kelarutan. mengarah pada dekomposisi. yang cukup kuat untuk mengoksida Mn(II) menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan 3Mn2+ + 2MnO4. Mangan dioksidasi mengkatalisis dekomposisi larutan permanganate. Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganat. lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu /dua jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser. Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan pereaksi ini. Jejak-jejak dari MNO2 yang semula ada dalam permanganat. permanganat adalah agen unsur pengoksida. akan lebih banyak kesulitan lagi yang akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini sebagai contoh. Jika larutannya mengandung asam klorida seperti yang sering terjadi reduksi dengan timah (II) klorida akan lebih memudahkan. Reduktor jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah sulfat mengingat tidak ada ion klorida yang masuk . Atau terbentuk akibat reaksi antara permanganat dengan jejak-jejak dari agen-agen produksi didalam air. Tindakan ini biasanya berupa larutan kristalkristalnya. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan. pemanasan untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan MNO2. Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktor jones atau dengan timah (II) klorida.

1.03 Pemerian = Hablur mengkilap. seperti minyak. Kelarutan = Larut dalam air dan etanol Kegunaan = Sebagai zat tambahan Penyimpanan = Dalam wadah tertutup rapat 5. Asam sulfat (FI III. Kelarutan = Larut dalam 16 bagian air. tidak berasa. rasa manis /sepat. b.02 Pemerian = Cairan jernih.96 ) Nama resmi = AQUADESTILLATA Nama lain = Air suling RM = H2O BM = 18.58) Nama resmi = ACIDUM SULFURICUM Nama lain = Asam sulfat RM = H2 SO4 BM = 98. ungu tua /hampir hitam. URAIAN BAHAN 1. Aquadest ( FI III.KMnO4 ( FI III . korosif tidak berwarna.330 ) Nama resmi = KALII PERMANGANAS Nama lain = Kalium permanganate RM = KMnO4 BM = 158. tidak berbau.2.tidak berwarna . Kegunaan = Sebagai larutan titer. jika ditambahkan kedalam air menimbulkan panas. Penyimpanan = Dalam wadah tertutup rapat. Kegunaan = Sebagai sampel Penyimpanan = Dalam wadah tertutup rapat 2.651) Nama lain = Asam oksalat RM = (CO2H)2. Tujuan Percobaan a. Mengetahui Normalitas suatu zat dengan cara permanganometri. tidak berwarna.kuning dari ion besi.2H2O Pemerian = Hablur .07 Pemerian = Cairan kental. Menetahui pengenceran larutan baku sekunder (KMnO4) . Mengetahui proses pembuatan larutan baku primer oxalat. mudah larut dalam air mendidih . tidak berbau. Kelarutan = Larut dalam etanol dan gliserol Kegunaan = Sebagai pelarut Penyimpanan = Dalam wadah tertutup rapat 3. Asam oksalat (FI III. c.

antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4 pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama. dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat.dengan Mn2+¬. ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. yaitu titrasi yang didasari oleh reaksi oksidasi dan reduksi. Setelah disaring.d. Pb.1. dicuci. Menentukan Nitrit 1. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Sr.+ 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air. (2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Ba. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4. MnO4. f. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+. TINJAUAN PUSTAKA Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4. 2. Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri.3. dan dilarutkan dengan asam. Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Zn. Pengertian Oksidasi-Reduksi . Mengetahui perhitungan konsentrasi suatu sampel. dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Setelah endapan disaring dan dicuci. Mencari normalitas KMnO4 yang sebenarnya e. larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan. Prinsip Percobaan Prinsip praktikum ini yaitu berdasarkan titrasi redoks (reduksi-oksidasi). Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti: (1) ion-ion Ca. asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2CO2↑ H2O2 ↔ H2O + O2↑ Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan.

2. bagaimana diketahui apakah akan terjadi reaksi redoks atau bukan redoks? Untuk menjawab pertanjaan ini harus diperhatiakan: . Sebaliknya bilangan oksidasi dapat positif maupun negative. Sebaliknya ialah reduksi. MnO2 ialah oksidator dan HCl. Tetapi. 2.Bilangan oksidasi (atau tingkat oksidasi) ialah berapa electron (muatan) dianggap ada/dipunyai oleh atom tersebut. yang dioksidasi ialah unsure Cl karena tampak berubah (naik muatan positifnya) dari Cl di dalam HCl. yang dioksidasi ataupun direduksi ialah suatu unsure dalam persenyawaan-persenyawaan yang bersangkutan. yaitu reaksi yang menurunkan BO atau muatan positif (menaikkan muatan negatif) dan umumnya menurunkan valensi unsure dalam zat yang direduksi . dapat juga dilihat sebagai kenaikan muatan positif (penurunan muatan negatif) dan umumnya juga kenaikan valensi. dapat juga pecahan. BO sangat membantu untuk mengerti reksi oksidasi-reduksi (redoks) dan perhitungan yang bersangkutan dengan redoks. misalnya dalam penentuan koefesien reaksi. sebagai ganti atom H. Valensi dalam perkembangan histories Ilmu Kimia diartikan sebagai “daya ikat” atau berapa banyak atom H diikat oleh satu atom unsure yang bersangkutan (atau. seakan-akan dalam ikatan kimia. berapa atom univalent lain atau 2x jumlah atom O). Valensi dan bilangan oksidasi (BO) merupakan pengertian tidak sama. sehingga molekul secara keseluruhan tak bermuatan. Perbedaan nilai ini dengan valensi terjadi antara lain kalau dalam molekul terdapat ikatan antara atom-atom unsure sejenis (misalnya dalam ikatan organik). electron sepenuhnya pindah dari atom satu ke atom yang lain. menjadi Cl dalam molekul Cl2. Dalam hal ini. Maka valensi dalam arti sempitnya itu merupakan bilangan bulat dan harus positif dan punya akar dalam kenyataan. Valensi penting dalam pengertian rumus bagun. Oksidasi ialah reksi yang menaikkan BO suatu unsure dalam zat yang mengalami oksidasi. Jadi sekalipun kita mereduksi atau mengoksidasi suatu persenyawaan. Yang diredusi ialah unsure Mn karena berubah (turun) BO-nya dari +4 dalam MnO2 menjadi +2 dalam MnCl2. malahan tidak selalu bulat. Perbedaan ini terjadi karena BO merupakan hasil perhitungan dan sebenarnya tidak punya dasar riil. sebenarnya yang dioksidasi atau reduksi itu ialah unsure tertentu yang terdapat di dalam pesenyawaan tersebut. seperti disebut di atas. walaupun tidak mencerminkan teori. umumnya nilainya sama dengan nilai valensi tetapi ada kalanya berbeda. tetapi sedemikian rupa. Kemungkinan Terjadinya Suatu Reaksi Redoks Bila zat A direkasikan dengan zat B. Miasalnya: MnO2 + 4 HCl MnCl2 + Cl2 + 2 H2O Dalam reaksi ini. sedang HCL mereduksi atau dioksidasi oleh MnO2.

2.N. dimana E sel (dibandingkan terhadap elektroda pembanding) dibaca selama titrasi. Kurva Titrasi Redoks Bahwa pada setiap titrasi selalu terbentuk kesetimbangan antara titrant yang sudah ditambahkan dan titrat. titik ekivalen ditentukan dari kurva . dan Fe sudah mempunyai BO tertinggi sehingga kedua zat tidak dapat dioksidasi. biasanya diplot grafik E sel (terdapat SCE) dengan volume dari titrant. dan di pihak lain I (0) masih dapat turun menjadi I (-1).3. Contoh lain yang mungki menghasilkan reaksi redoks ialah : MNO2 + NaBr + H2SO4 ? Karena Mn (+4) dapat menjadi (+2). Maka mungkin terjadi reaksi redoks dengan FeSO4 sebagai reduktor dan I2 sebagai oksidator. Lain halnya dengan reaksi : FeSO4 + I2 ? Yang mungkin berlangsung sebagai reaksi redoks. Seperti diketahui sebagaian besar indicator redoks redoks memang sensitive tetapi indicator ini sendiri merupakan oksidator atau reduktor.1. bila ada. 2. ataupun sebaliknya. ordinat ialah potensial larutan. Dalam membentuk kurva titrasi dengan titrasi redoks. Oleh karena itu pada titrasi potensiometri. karena Fe (+2) dapat naik BO menjadi Fe (+3). Ini merupakan dasar utama perhitungan titik-titik kurva titrant. tingkat oksidasi/valensi unsure-unsur dalam A maupun B. Misalnya reaksi antara asam nitrat dan ferrioksida HNO3 + Fe2O3 ? Bukan reaksi redoks karena H. Dalam hal ini. A harus berisi unsure yang dapat dioksidasi dan B berisi unsure yang dapat direduksi atau sebaliknya. hal-hal lain. Br (-1) dapat menjadi (0) atau lebih. 3. sebab inilah yang mencirikan keadaan larutan pada setiap saat titrant dan berubah bersama dengan penambahan titrant. sehingga perubahan potensial sistem indicator juga perlu dipertimbangkan selama titrasi. apakah ada yang dapat naik dan ada yang turun BO-nya. satu harus dapat dioksidasi dan satu harus dapat direduksi). apakah A oksidator cukup kuat dan B reduktor cukup kuat. Juga reaksi antara asam nintrat dan kalium hidroksida HNO3 + KOH Tidak mungkin redoks. hanya dapat direduksi (untuk reaksi redoks.

Persamaan Nernst menyatakan: E=E - log Untuk reaksi: Fe + Ce = Fe + Ce Pada kesetimbangan potensial elektroda untuk dua setengah reaksi adalah sama. melainkan menjadi SO3 seluruhmya atau sebagaian menjadi SO4 Titrasi dapat dilakukan tanpa indicator dari luar karena warna I2 yang dititrasi itu akan lenyap bila titik akhir tercapai.titrasinya.536 volt (…4) Selain itu. Perubahan potensial akibat penambahan Nernst asalkan potensial elektroda standar diketahui. karena dalam metode ini analat selalu direduksi dulu dengan KI sehingga terjadi I2. Untuk = EFe = Esistem.4. I2 inilah dititrasi dengan Na2S2O3: OKsanalat + I 2 S2O3 + I2 Red analat I2 (…1) (…2) S4O6 + 2 I Daya reduksi ion yodida cukup besar dan titrasi ini banyak diterapkan. dan seterusnya. Jenis-jenis Titrasi Oksidasi-Reduksi Titrasi redoks dapat dibedakan menjadi beberapa cara berdasar pemakaiannya: 1.08 volt (…3) I2 + 2 e = 0. reaksi berjalan cepat dan bersifat unik karena oksidator lain tidak mengubah S2O3 menjadi S4O6 . Ini adalh potensialnya dari sistem. Reaksi S2O3 dengan I2 berlangsung baik dari segi kesempurnaannya. lalu kuning.Ece = EFe = Esistem. kuning-muda. warna itu mula-mula coklat agak tua. Misalnya pada suatu jenis kurva titrasi dengan mempertimbangkan potensial reduktor oksidasi pada titik kesetimbangan (Eeg). dikenal sebagai yodometri tak langsung Analat harus berbentuk suatu oksidator yang cukup kuat. Na2S2O3 sebagai titrant. indicator redoks berlaku pula: Ece 2. menjadi lebih muda. Bila diamati dengan cermat perubahan warna tersebut. . berdasarkan potensial redoks masing-masing: S4O6 +2e 2I 2 S2O3 E E = 0. samapai akhirnya lenyap.

05 M. Bila yod masih banyak sekali bahkan dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian ini mengganggu perubahan warna pada titik akhir. pH 7 sudah sangat memadai. mungkin karena aktivitas bakteri yang minimal. Untuk mencegah aktivitas bakteri. Kestabilan larutan mudah dipengaruhi oleh Ph rendah. Larutan Na2S2O3 Larutan ini biasanya dibuat dari garam. natrium benzoate. Untuk kebutuhan biasa.17) maka dari segi ketelitian penimbangan. Hal ini akan berakibat warna biru sulit sekali lenyap sehingga titik akhir tidak kelihatan tajam lagi. larutan Na2S2O3 harus sering distandardisasi ulang. Walupun demikian. Na2S2O3. selain itu dapat ditambahakan pengawet seperti misalnya klorofom. Larutan ini perlu distandardisasi. Konsentrasi 5 x 10 M yod masih tepat dapat dilihat dengan mata dan memungkinkan penghentian titrasi dengan kelebihan hanya senilai 1 tetes yod 0. 5 H2O.maka titik akhir dapat ditentukan dengn cukup jelas. Pada titik akhir. Sumber kesalahan Titrasi ● Kesalahan Oksigen: Oksigen di udara dapat menyebabkan hasil titrasi terlalu tinggi karena dapat mengoksidasi ion yodida menjadi I2 juga sebagai berikut : O2 + 4 +4H 2 I2 + 2 H2O . Penambahan amilum ini harus menunggu sampai mendekati titik akhir titrasi (bila yod sudah tinggal sedikit yang tanpa dari warnanya yang kuning-muda). Namun lebih amudah dan lebioh tegas bila ditambahakan amilum kedalam larutan sebagai indicator. a. hal ini menguntungkan. Kestabilan larutan Na2S2O3= dalam penyimpangan ternyata paling baik bila mempunyai pH antara 9 dan 10. sinar matahari. kesalahan tidak perlu dikuartirkan walaupun larutan yang dititrasi cukup asam asal titrasi dilakukan dengan penambahan titrant yang tidak terlalu cepat. yod yang terikat itu pun hilang bereaksi dengan titrant sehingga warna biru lenyap mendadak dan perubahan warnanya tampak sangat jelas. pada pembuatan larutan hendaknya dipakai air yang sudah dididihkan. b. Amilum dengan I2 membentuk suatu kompleks berwarna biru tua yang masih sangat jelas sekalipun I2 sedikit sekali. Karena BE = BM-nya (248. Maksudnya ialah agar amilum tidak membungkus yod dan menyebabkan sukar lepas kembali. Pada PH rendah (<5)> S2O3 H HSO3 +S + Tetapi karena reaksi ini berjalan lambat. S ini tanpa sebagian endapan koloida yang membuat larutan menjadi keruh. Bakteri dapat menyebabkan perubahan S2O3 menjadi SO3 . dan terutama adanya bakteri yang memanfaatkan S. atau HgI2. SO4 dan S . ini pertanda larutan harus diganti.

C. tetapi juga agak rendah BE-nya (49.9). maka bahan ini harus ditimbang dalam botol tertutup ● KIO3 kemurnianya baik. Yod mudah menguap. Yod meruapakan oksidator yang tidak terlalu kuat .67) ● K2 Cr2O7 juga mudah sekali diperoleh dalam keadaan murni. Karena itu sering kali harus ditunggu sebelum titrasi. a. sebaliknya menunggu terlalu lama tidak baik karena kemungkinan yod menguap. ● Banyak reaksi analat dengan KI yang berjalan agak lambat. BE cukup tinggi (126. BE = c. 2.● Pada Ph tinggi muncul bahan lain. Bahan Baku Primer ● I2 murni atau dimurnikan dengan jalan disublimasikan. dikenal sebagai titrasi yodometri langsung dan kadang-kadang dinamakan yodimetri Dalam metode ini. Reaksinya dengan KI harus ditunggu beberapa lama senelumnya dititrasi. tetapi Be agak terlalu rendah (35. Larutan Baku Yod . analat dioksidasi oleh I2 sehingga I2 tereduksi menjadi ion yodida: Ared + I2 Aoks + I . Berat ekivalen Dalam titrasi ini. yaitu bereaksinya I2 yang berbentuk dengan air (hidrodisa) dan hasil reaksinya lanjut: I 2 + H 2O HOI + I + H 2O +H (a) +4I +6H (b) 4 HOI + S2O3 2 SO4 ● Di atas sudah disebutkan bahaya kesalahan karena pemberian amilum terlalu awal. I2 sebagai titrant.03). sehingga hanya zat-zat yang merupakan dari tak berwarna menjadi warna biru. BE suatu zat dihitung dari banyaknya zat mol) yang menghasilkan atau membutuhkan satu mol atom yod (bukan ion yodida).

Pereduksi-pereduksi kuat yang dapat dipakai sebagai titrant antara lain ialah titrant (III) dan khrom (II) yang cepet sekali bereaksi dengan udara sehingga harus digunakan dengan gas inert N2 atau CO2. misalnya dengan mengalirkan N2 atau CO2 ke dalam atau ke atas titrat. c. Suatu oksidator kuat sebagai titrant. Ce (IV) 4. Larutan demikian perlu distandarisasi setiap kali hendak dipakai.0013 mol per liter pada 25 KI karena membentuk ion I3 I2 + I I3 (ion triyodida) C.Yod (I2) sebagai zat padat sukatr larut dalam air . Disamping itu dilakuakan titrasi blangko atas pereduksi tersebut untuk menentukan konsentrasinya yang tepat. Cara lain ialah menambahkan pereduksi berlebih. tetapi sangat mudah larut dalam larutan sebagai berikut: Maka larutan dibuat dengan KI sebagai pelarut.5 M. Natrium tiosulfat sebagai titrant untuk yodometri tak langsung sudah dibicarakan. a. Juga penyimpangan larutan memerlukan lingkaran inert.6 H2O atau garam Oesper. Larutan Fe dengan mudah dapat dibuat dari garam Mohr. Karena itu sering dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangan kea rah hasil reaksi antara lain dengan mengatur Ph atau menambahkan bahan pengkomleksan seperti yang dilakukan pada titrasi Fe pemberian EDTA atau P2O7. tetapi hal itu dapat dicegah bila larutan diasami dan larutan paling stabil dibuat dengan H2SO4 sekitar 0. yaitu hanya sekitar 0. dengan 3. Fe(NH4)2 (SO4)2. lalu menitrasikannya kembali dengan oksidator untuk menentukan kelebihannya. K2Cr2O7 c. Diantaranya yang paling sering dipakai ialah: a. b. FeC2H4 (NH4)2. yod tidak dapat bereaksi terlalu sempurna. Larutan yod ini tidak stabil. oksidator yang dipakai dapat misalnya kalium bikhromat baku. sehingga standardisasi perlu dilakukan berulang kali. Kesempurnaan Reaksi Sebagai oksidator lemah. KMnO4 b. Dalam larutan netral. Akibatnya. Suatu reduktor kuat sebagai titrant Larutan bahan pereduksi sering penggunaanya karena sangat mudah teroksidasi oleh udara. b.4 H2O (ferro etilendiammonium sulfat). Fe (II) cepat teroksidasi oleh udara. kadang-kadang titrasi harus dilakukan dalam atmosfer insert. .

10-fenantrolin. Biasanya indicator eksternal digunakan dalam uji bercak.21 adalah reaksi pada permulaan reaksi. 5-khloroferroin. Indikator terdiri dari jenis ini harus menghasilkan perubahan potensial oksidasi di sekitar titik ekivalen reaksi redoks.6-dimetil. eriogren semuanya berubah warnanya dari kuning ke jingga pada peristiwa oksidasi. UO2(NO3)2 untuk Zn. Penentuan Titik Akhir pada Titrasi Redoks Biasanya dua jenis indicator digunakan untuk menentukan titik akhir. Iodium dapat dimurnikan dengan sublimasi.921 V dalam 0. erigren B (0.6. Indikator eksternal dapat digantikan oleh indicator redoks internal. Ia larut dalam larutan KI dan harus disimpan dalam tempat yang dingin dan gelap.98 V).535 V tidak I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodide secara relative merupakan reduktor lemah. 3.5 M H2SO4. Jika E tergantung pada pH (pH <> I2 +2e 2I . Misalnya saja eroglaucine A (0.11 V masing dikenal sebagai nitroferrolin (E = 1. Dapat distandarisasi adalah As2O3.06 V – 1.E = 6. 5 fenil. Yang terbaik adalah indicator 1.99 v). turunan ini digunakan dalam suasan larutan alkalis dan netral.7 trimetil.E = 0. Berkurangnya iodium akibat penguapan dan oksidasi udara . Pertukaran electron berlangsung melalui cincin aromatic. Turunan-turunan lain yang sering digunakan adalah 5.Pemakaian Iodium Sebagai Regen Redoks Karena harga E iodium berada pada daerah pertengahan maka sistem iodium dapat digunakan untuk oksidator maupun reduktor.7-tetrametil.5. indicator ini mempunyai potensi oksidasi pada harga antara potensial larutan yang titrasi dan penitrannya sehingga memberikan titik akhir yang jelas. Kelarutannya cukup baik dalam air dengan pembentukan triodida [KI3].4.6. Indikator tersebut adalah indicator eksternal maupun indicator internal.7. Pada keadaan tersebut titrasi kembali tidak mungkin dilakukan karena perubahan warnanya tidak reversible. 2.25 V) dan metal-ferroin (E 1. 3.2.02 V). Kompleks Fe dengan 5-nitro-1. Kemudian indicator trimetil metana. Oleh karena itu I2 +2e 2I . Kompleks Fe dengan 4-7 dimetil fenantrolin mempunyai harga E = 0. (fen)3Fe Biru Merah Garam kompleks yang diperoleh dari pencampuran secara ekivalen 1. Difenil amin dalam H2SO4 juga merupakan indicator yang sering digunakan.Contohnya : K3Fe(CN)6 untuk Fe.10-fenantrolin dan FeSO4 membentuk kompleks khelat yang disebut “ferroin”. 10-fenantrolin dan 5-metil-1-10-fenantrolin masing= +e (fen)3 Fe E = 1.

oksigen terlarut (DO) dapat ditentukan. b. reaksi iodium-tiosulfat : Jika larutan iodium di dalam KI pada suasana netral maupun asam dititrasi maka : I3 + 2S2O3 3I + 2S4O6 sealam reaksi zat antara S2O3 I yang tidak berwarna adalah terbentuk sebagai S2O3 2S2O3 I + 3 I S2O3 I + 2 I S4O6 + 3 warna yang terus menjadi warna indicator muncul kembali pada +I I S2O3 I + S2O3 S4O6 + I Reaksi berlangsung baik dibawah pH = 5.86 V Hasil yang terbaik diperoleh dalam 4% KI. Larutan thiosulfat distandarisasi lebih dahulu terhadap K2CrO7. Dengan formamida penyerangan kanji oleh mikroorganisma paling sedikit. Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan yang kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi. pH optimum adalah 4.Cu (II) pada medium alkali akan lebih sulit dioksidasi. Na2S2O3 di tambahkan secara perlahan-lahan karena iodium yang teradsorbsi dilepaskan sedikit demi sedikit. Reaksinya : Cr2O7 + 14 H +6I 3 I2 + 2Cr + 7H2O Biasanya indicator yang digunakan adalah kanji/amilum. Reaksi dengan tembaga : Kelebihan KI bereaksi dengan CU (II) untuk membentuk CuI dan melepaskan sejumlah ekivalen I2."> M dapat dengan mudah ditelan oleh amilum. Reaksi dengan Cu Cu +e Cu E = 0. top: 2pt.menyebabkan banyak kesalahan analisis. Kita akan membahas beberapa pilihan reaksi iodometrik. Adanya ion klorida dapat mengganggu karena iodide tidak dapat mereduksi Cu (II) secara kuantitatif. Cara lain standarisasi dengan Na2S2O3. Pada penambahan asam Mn (OH)2 berubah menjadi Mn-iodida. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. .15 V. Dasarnya adalah reaksi antara O2 dan Mn (II) hidroksida yang tersuspensi pada media alkali. Oksigen terlarut : Dengan menggunakan metode Winkler. sedangkan pada larutan alkali. Iodida pada konsentrasi < style="position: relative.54 V dan Cu + I +e CuI E = 0. larutan asam hpoiodus (HOI) terbentuk. 2Cu + 3 I sebagai reduktor. 2Cu + 4 I 2CuI + I2 . c. I2 + 2 e 2CuI + I3 Iodida berperan = 21 E =0. a. 5H2O.0.0.

Air dengan metode Kerl Fischer : Ini meliputi titrasi sampel dalam methanol. Biasanya digunakan pada medium asam 0. Laju reaksi dipengaruhi oleh pelarut dan pembentukan kompleks.42 V dalam larutan H2SO4.d. yang dapat dideteksi secara manual maupun dengan cara-cara elektrokimia. Reaksi adalah : C5H5N.1N. Potensial formal pasangan Ce (IV)-Ce (III) adalah 1. Demikian juga kelarutannya. MnO4 + 8 H + 5 e 4 H 2O E = 1. Kalium permanganate : adalah oksidator kuat.70 V dalam HCIO4. K2Cr2O4 bersifat stabil dan inert terhadap HCI.8. Terutama digunakan untuk analisis besi (III) menurut reaksi : 6 Fe + Cr2O7 + 14 H 6 Fe + 2 Cr + 7 H2O .51 V. Ce (IV) selama reaksi dalam medium H2SO4.SO3 + CH3OH C5H5N.I2 + C5H5N. 2. SO2OCH3 (Piridium metal sulfat) C5H5NHO. Titik akhir titrasi sesuai dengan munculnya kelebihan I2. Reaksi oksidasi terhadap H2C2O4 berjalan lambat pada temperature ruang. SO2 C5H5NO. Kelemahanya adalah dalam medium HCI CI dapat teroksidasi. Metode dua reagen lebih baik bila sampel dan piridin methanol serta SO2 dititrasi dengan iodium dalam metanol.SO3 + H2O Reaksi totalnya : I2 + SO2 + H2O + CH3OH + 3 pyH I 2 pyH I + pyHOSO2OCH3 2C5H5N HI + C5H5N. Tidak memerlukan indicator. yaitu kekuatan oksidasinya lebih lemah dan reaksinya lambat. Pada reaksi Ce Ce + e electron orbital 4f-lah yang dibebaskan. Kalium dikromat : reaksi ini berproses seperti Cr2O7 + 14 H + 6 e Cr + 7 H2O E = 1. Biasanya indicator yang digunakan adalah asam difenilamin-sulfonat.60 V dalam HNO3 dan 1. Beberapa Sistem Redoks a. c. Mudah diperoleh dalam kemurniaan tinggi dan merupakan standar primer. Ce (IV) sulfat adalah oksidator yang sangat baik dengan indicator ofenantrolin. HNO3 dan HCLO4 berada dalam bentuk kompeks. mempunyai kestabilan yang terbatas. SO2OH (Piridium hydrogen sulfat) Metode ini sangat untuk menentukan kelembapan dan kandungan H2O dari beberapa materi. 1.33 V Zat ini mempunyai keterbatasan dibandingkan KMnO4 atau Ce (IV). b.SO2 + C5H5N + H2O (Piridin N – asam sulfonat) C5H5N.

karena mampu bertindak sebagai indikator. Untuk mendapatkan warna titik akhir yang tepat perlu dilakukan pengocokan. biasanya dilakukan pada analit yang dapat langsung dioksida. Sangat sukar untuk mendapatkan perekasi ini dalam keadaan murni. Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indikator. Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri. Demikian juga adanya ion mangan (II) dalam larutan akan mempercepat reduksi permanganat menjadi mangan oksida. Reaksinya: BrO +6H Br + 3H2O E = 1. kalium permanganat merupakan zat padat coklat tua yang menghasilkan larutan ungu bila dilarutkan dalam air.20 V. Kalium permanganat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat. e. larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4 pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama. Kalium iodat : banyak dipakai dalam kimia analitik IO3 + 5 I I2 + 3 H2O dan reaksi dalam titrasi Adrew’s: IO3 + Cl +6H +6H +4 e 3 ICI + 3 H2O E = 1. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4. Oleh karena itu pada larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung dititrasi dengan larutan KMnO4. Pembakuan larutan KMnO4 ini dapat dilakukan dengan titrasi permanganometri secara langsung. Methyl orange atau red digunakan sebagai indicator tetapi tidak sebaik nafthaflavon.+ 3Mn2+ + 2H2O ↔ . missal titrasi dengan oksin. Sebagian besar titrasi meliputi titrasi kembali dengan asam arsenic. Pembahasan Pereaksi kalium permanganat ukan pereaksi aku primer. yang merupakan ciri khas untuk ion permanganat. Kalium bromate : ini adalah oksidator kuat. 4.dengan Mn2+¬.d. Oleh karena itu larutan kalium permanganat harus dibakukan dahulu dengan menggunakan asam oksalat (H2C2O4) dan H2SO4. Timbulnya mangan dioksida ini justru akan mempercepat reduksi pemanganat.44 V. Kalium Bromat banyak digunakan dalam kimia organic. MnO4.quinoline yellow.2. titrasi Andrew dilakukan pada suasana asam HCI 6 M dalam CCI4. Reaksi tersebut berlangsung sangat cepat dalam suasana netral. Titik akhir ditetapkan pada saat earna unggu menghilang . Kalium permanganat merupakan zat pengoksid kuat yang berlainan menurut pH medium. bebas dari mangan dioksida. BrO3 adalah standar primer dan sifatnya stabil.

84 X 10-3 Jadi N asam oksalat adalah 6. Permanganat berekasi secara cepat dengan banyak agen pereduksi.00684 N = 6. N1 = V2 .+ 5H2C2O4 + 6H+ à 2Mn2 +10 CO2 + 8 H2O Berdasarkan reaksi diatas diperoleh sesuai dengan konsep awal bahwa normalitas KMnO4 yang digunakan adalah 0. Diperoleh volume yang menggunakan KMnO4 sebesar 1 mL.171 25 = 0. dengan perubahan larutan menjadi warna ros.7 mL 25 mL = 0. Warna ini dipergunakan untuk mengidikasi kelebihan reagen tersebut. mengingat reaksinya berjalan lambat. Bagaimanapun juga.7 mL 5. Hal ini dikarenakan kalium permanganat dapat ertindak sebagai indikator atau autoindikator.5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air. Tabel Hasil Titrasi Asam Oksalat dengan H2SO4 oleh KMnO4 Percobaan 1 2 Rata-rata TE Titik Ekivalen (mL) 5.03 . MnO2 tidak diendapkan secara normal pada titik akhir titras-titrasi . namun beberapa substansi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Raeksi antara permanganat dengan asam oksalat berjalan agak lambat pada suhu kamar. V KMnO4 N1 = N2 . 5. Reaksi yang terjadi adalah : 2MnO4. Vasam Oksalat = N KMnO4 . V2 V1 = 0.7 mL 5. N2 N asam oksalat .7 mL Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2.84 X 10-3 N Permanganat akan memberikan warna merah ros yang jelas pada volume larutan biasa dipergunakan dalam larutan yang biasa dipergunakan dalam sebuah titrasi.03 N maka untuk dihasilkan perhitungan sebagai berikut : V1 . Tetapi kecepatan meningkat setelah ion mangan (II) terbentuk mangan (II) bertindak sebagai suatu katalis dan reaksinya diberi istilah otokatalitik karena katalis menghasilkan reaksinya sendiri. Kalium permanganat merupakan pengoksidasi yang kuat sehingga dapat memakainya tanpa penambahan indikator.

pemanasan untuk menghancurkan substansi-substansi yang dapat direduksi. Tindakan-tindakan ini biasanya berupa larutan kristal-kristalnya.84 X 10-3 N c. Larutan KMnO4 dibakukan dengan H2C2O4. Oksidator + KI → I2 + 2e I2 + Na2 S2O3 → NaI + Na2S4O6 Sedangkan iodimetri adalah merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan penambahan larutan baku berlebihan.OKSIDASI Reaksi-reaksi kimia yang melibatkan oksidasi reduksi dipergunakan secara luas oleh analisis titrimetrik. Sedangkan bromometri merupakan metode oksidasi reduksi dengan dasar reaksi aksidasi dari ion bromat . Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganat. Ion-ion dari berbagai unsur dapat hadir dalam kondisi oksidasi yang berbeda-beda. tembaga II. Adapun indikator yang digunakan dalam metode ini adalah indikator kanji. KESIMPULAN Setelah melakukan percobaan maka praktikan dapat menarik beberap kesimpulan yang penting. Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat oksidator seperti besi III. Konsentrasi H2C2O4. Kelebihan iodine dititrasi kembali dengan larutan tiosulfat. . Iodin yang terbentuk akan ditentukn dengan menggunakan larutan baku tiosulfat . 2H2O dan diperoleh konsentrasi KMnO4 standarisasi sebesar 0. Titrasi ini berjalan agak lambat pada temperatur ruangan e. Reaksi titrasi kalium permanganat tidak memerlukan indikator d. Dilakukan pemanasan untuk mempercepat titrasi REAKSI REDUKSI . Banyak dari reaksi-reaksi ini memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam analisi titrimetrik dan penerapan-penerapannya cukup banyak. dimana zat ini akan mengoksidasi iodida yang ditambahkan membentuk iodin. menghasilkan kemungkinan banyak reaksi redoks.permanganat. Permanganometri adalah metode titrasi menggunakan larutan KMnO4 sebagai titran b. atau terbentuk akiat dari reaksi antara permanganat dengan jejak-jejak dari agen-agen pereduksi didalam air.03 N. 2H2O adalah 6. yaitu : a. Reduktor + I2 → 2INa2S2 O3 + I2 → NaI +Na2S4 O6 Untuk senyawa yang mempunyai potensial reduksi yang rendah dapat direksikan secara sempurna dalam suasana asam. KESIMPULAN DAN SARAN A. Jejak-jejak dari MnO2 yang semula ada dalam permanganat. mengarah pada dekomposisi.

Namun bila lambat maka dapat dilakukan titrasi tidak langsung yaitu larutan bromine ditambah berlebih dan kelebihan bromine ditentukan secar iodometri. jika reaksi antara zat dan bromine dalam lingkungan asam berjalan cepat maka titrasi dapat secara langsung dilakukan.44 V. sulfida dan ferosianida. Titrasi dengan arsenik membutuhakn larutan yang sedikit alkalin. . garam dikromat yang mengoksid tiosulfat menjadi sulfat. Dalam menggunakan metode iodometrik kita menggunakan indikator kanji dimana warna dari sebuah larutan iodin 0. namun reaksinya tidak kuantitatif. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intens untuk zat-zat pelarut seperti karbon tetra korida dan kloroform. arseni dan entimon.BrO3. Banyak agen pengoksid kuat. oksidasi menjadi sulfat tidak muncul terutama jika iodin dipergunakan sebagai titran. Namun demikan larutan dari kanji lebih umum dipergunakan. kalium bromat merupakan agen pengoksid yang kuat dengan potensial standar dari reaksinya BrO3 + 6H+ + 6e → Br. Bromin dapat diperoleh dari penambahan asam kedalam larutan yang mengandung kalium bromat dan kalium bromide.1 N cukup intens sehingga iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri.+ 3H2O Adalah +1. dan reaksi dengan iodin baru dapat dianalisis secara kuantitatif hanya bila kita melakukan penyesuaian ph yang sulit. Karena banyak agen pengoksid yang membutuhkan larutan asam untuk bereaksi dengan iodin.+ 6H+ + 6e → Br. Substansi-substansi penting yang cukup kuat sebagai unsur-unsur reduksi untuk dititrasi langsung dengan iodin adalah tiosulfat. Pada penentuan iodometrik ada banyak aplikasi proses iodometrik seperti tembaga banyak digunakan baik untuk biji maupun paduannya metode ini memberikan hasil yang lebih sempurna dan cepat daripada penentuan elektrolit tembaga. Pada metode bromometri. Kekuatan reduksi yang dimiliki oleh dari beberapa substansi ini adalah tergantung dari pada konsentrasi ion hydrogen.+ H+ → Br2 +H2O Bromine yang dibebaskan akan merubah warna larutan menjadi kuning pucat (warna merah ). karena warna biru gelap dari kompleks iodin–kanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitiv untuk iodin. Dalam beberapa proses tak langsung banyak agen pengoksid yang kuat dapat dianalisis dengan menambahkan kalium iodida berlebih dan mentitrasi iodin yang dibebaskan.+ 3H2O Adanya kelebihan KBrO3 dalam larutan akan menyebabkan ion bromida bereaksi dengan ion bromat BrO3 + Br. Dalam larutan yang sedikit alkalin atau netral. seperti garam permanganat. Natrium tiosulfat biasanya digunakan sebagai titrannya. Reagen dapat digunakan dalam dua cara yaitu sebagai sebuah oksdasi langsung untuk agen-agen pereduksi tertentu dan untuk membangkitkan sejumlah bromin yang kuantitasnya diketahui.

Reaksi bromin dengan senyawa organiknya dapat berupa subtitusi atau bisa juga reaksi adisi. titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Reaksi brominasi senyawa-senyawa organik larutan standar seperti kalium bromat dapat dipergunakan untuk menghasilkan sejumlah bromin dengan kuantitas yang diketahui. ion MnO4. Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan kalium permanganat menggunakan natrium oksalat adalah: 5C2O4. ANALISA PERMANGANOMETRI Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks. besi (II) dan sulfida serta disulfida organik tertentu dapat dititrasi secara langsung dengan sebuah larutan kalium bromat . Bromide berlebih hadir dalam kasus-kasus semacam ini. . Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi. Biasanya bromin yang dihasilkan apabila terdapat kelebihan pada kuantitas yang dibutuhkan untuk membrominasi senyawa organik tersebut untuk membantu memaksa reaksi ini agar selesai sepenuhnya. Intinya tujuan analisis secara kualitatif adalah memisahkan serta mengidentifikasi sejumlah unsur (Day & Underwood. beberapa indikator organik yang bereaksi dengan bromin untuk memberikan perubahan warna.+ 2MnO4. Dalam reaksi ini. Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan kadar oksalat atau besi dalam suatu sample. Perubahan warna ini biasanya tidak reversibel dan kita harus hati-hati agar kita mendapatkan hasil yang lebih baik . 1981).akan berubah menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam. Bromin tersebut kemudian dapat digunakan untuk membrominasi secara kuantitatif berbagai senyawa organik.Sejumlah agen pereduksi pada titrasi langsung metode bromometri sepertyi arsenik. Pada permanganometri. Ion MnO4. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. sehingga jumlah bromin yang dihasilkan dapat dihitung dari jumlah KBrO3 yang diambil.+ 16H+ → 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O Akhir titrasi ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan kelebihan permanganat. Kehadiran bromin terkadang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi. Kalium Permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen (III) oksida standar-standar primer. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Dalam menganalisa suatu senyawa dalam hal ini adalah obat dapat digunakan analisis secara kuantitatif (penetapan banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel) dan analisis secara kualitatif (identifikasi zat-zat dalam suatu sampel).bertindak sebagai oksidator.

Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. 1994). 1995). 1980). karena asam sulfat tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer. Lagipula. Setelah didapat volume titrasi.1 N. . Endapan tersebut dibakukan dengan menggunakan zat baku utama. sedangakan potensial elektroda sangat tergantung pada pH (Rivai. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Dalam larutan yang bersifat basa kuat.. Kalium permangatat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam lemah. 1994). Pada permanganometri. kemudian dititrasi dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu pucat. titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Kalium Permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen (III) oksida standar-standar primer (Basset. Larutan KMnO4 yang diperoleh dibakukan dengan cara mentitrasinya dengan natrium oksalat yang dibuat dengan pengenceran kristalnya pada suasana asam. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi (Day. maka dapat dicari normalitas KMnO4. yaitu natrium oksalat. air suling yang biasa mungkin mengandung zat-zat pereduksi yang akan bereaksi dengan kalium permanganat dengan membentuk mangan dioksida serta bukanlah suatu larutan standar primer (Basset. Pada pembakuan larutan KMnO4 0. Kalium permangatat sukar diperoleh secara sempurna murni dan bebas sama sekali dari mangan oksida. natrium oksalat dilarutkan kemudian ditambahkan dengan asam sulfat pekat. dan mendidihkannya selama beberapa jam dan kemudian endapan MnO2 disaring. Hal ini dilakukan untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam dengan penambahan asam sulfat encer.Pembakuan KMnO4 dibuat dengan melarutkan KMnO4 dalam sejumlah air. ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang berwarna hijau (Rivai. netral atau basa lemah. Titrasi harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi tersebut tidak terjadi bolak balik.Penetapan kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks dengan KMnO4 atau dengan cara permanganometri. 1995).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful