BRONKIOLITIS A.

PENGERTIAN Bronkiolitis adalah suatu sindrom obstruksi bronkiolitis yang sering diderita bayi atau anak berumur kurang dari 2 tahun, paling sering pada usia 6 bulan. B. ETIOLOGI Sebagian besar disebabkan oleh respiratori syncytial virus (50%). Penyebab lain. Penyebab lainnya adalah influenza virus, eaton agent (mycoplasma pneumonia), adeno virus dan beberapa virus lain. C. PATOLOGI Pada bronkiolus ditemukan obstruksi parsial atau total karena edema dan akumulasi mucus serta eksudat yang liat. Didinding bronkus dan bronkiolus terdapat infiltrate sel radang. Radang juga dijumpai pada peribronkial dan jaringan interstitial. Obstruksi bronkiolus menimbulkan empisema dan obstruksi total menimbulkan atelektasis. D. PROGNOSIS Anak biasanya dapat mengatasi serangan tersebut dalam waktu sesudah 48-72 jam. Mortalitas kurang dari 1%. Anak dapat meninggal karena apnea yang lama, asidosis respiratorik yang tidak terkoreksi atau karena dehidrasi. E. GAMBARAN KLINIK Bronkiolitis biasanya didahului oleh : 1. Infeksi saluran nafas bagian atas, disertai dengan batuk pilek beberapa hari, biasanya tanpa disertai kenaikan suhu atau hanya subfebril. 2. Anak sesak nafas makin lama makin hebat, pernafasan dangkal dan cepat, disertai serangan batuk. 3. Terlihat juga pernafasan cuping hidung disertai retraksi intercostals dan suprasternal, anak menjadi gelisah dan sianotik. 4. Pada pemeriksaan ada suara perkusi hipersonor, eksperium memanjang disertai dengan wheezing. 5. Ronki nyaring halus kadang-kadang terdengar pada akir atau permulaan eksperium. 6. Pada keadaan yang berat sekali , suara pernafasan hamper tidak terdengar karena kemungkinan obstruksi hamper total. 7. Foto thorak menunjukkan paru-paru dalam keadaan hipererasi dan diameter anteroposterior membesar pada foto lateral.

8. Pada 1/3 pasien ditemukan bercak-bercak konsolidasi tersebar disebabkan atelektasis atau radang. 9. Pemeriksaan laboratorium: gambaran darah tepi normal, kimia darah menunjukkan asidosis respiratorik / metabolic, usapan nasofaring menunjukkan flora bakteri normal. F. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas seperti diatas. Bronkiolitis harus dibedakan dengan bronkopneumonia yang disertai pemfisema obstruksi dan gagal jantung. G. PENATALAKSANAAN MEDIK 1. Anak ditempatkan pada ruangan dengan kelembaban yang tinggi, sebaiknya dengan uap dingin, untuk mencairkan skret bronkus yang liat, atau pengobatan inhalasi. 2. Oksigen. 3. Ciran elektrolit secara intravena u/ mengoreksi asidosis dan dehidrasi. 4. Antibiotik dengan spectrum luas, bila ada infeksi bacterial. 5. Pemberian sedative tidak diperkenankan karena menimbulkan depresi pernafasan. 6. Bronkodilator tidak dianjurkan karena merupakan kontraindikasi dan dapat memperberat keadaan anak. H. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL : Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d banyaknya scret mucus Risiko aspirasi b/d tidak efektifnya refllek menelan. 3. Perfusi jaringan tidak efektif b/d kerusakan transport oksigen melalui alveolar dan atau membran kapiler 4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak mampuan pemasukan b.d faktor biologis. 5. Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh, prosedur invasive. 6. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurang paparan dan keterbatasan kognitif keluarga. 7. Cemas anak / keluarga b / d krisis situasional, hospitalisasi RS

PERENCANAAN BRONKHIOLITIS
N o 1 Diagnosa Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d banyaknya scret mucus Tujuan Setelah dilakukan askep … jam Status respirasi: terjadi kepatenan jalan nafas dg KH:Pasien tidak sesak nafas, auskultasi suara paru bersih, tanda vital dbn. Intervensi Airway manajemenn • Bebaskan jalan nafas dengan posisi leher ekstensi jika memungkinkan. • Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi • Identifikasi pasien secara actual atau potensial untuk membebaskan jalan nafas. • Pasang ET jika memeungkinkan • Lakukan terapi dada jika memungkinkan • Keluarkan lendir dengan suction • Asukultasi suara nafas • Lakukan suction melalui ET • Atur posisi untuk mengurangi dyspnea • Monitor respirasi dan status oksigen jika memungkinkan Airway Suction • Tentukan kebutuhan suction melalui oral atau tracheal • Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction • Informasikan pada keluarga tentang suction • Masukan slang jalan afas melalui hidung untuk memudahkan suction • Bila menggunakan oksigen tinggi (100% O2) gunakan ventilator atau rescution manual. • Gunakan peralatan steril, sekali pakai untuk melakukan prosedur tracheal suction. • Monitor status O2 pasien dan status hemodinamik sebelum, selama, san sesudah suction. • Suction oropharing setelah dilakukan suction trachea. • Bersihkan daerah atau area stoma trachea setelah dilakukan suction trachea. • Hentikan tracheal suction dan berikan O2 jika pasien bradicardia. • Catat type dan jumlah sekresi dengan segera Pencegahan aspirasi • Cek residu sebelum pemberian M/M / NGT • Monitor td aspirasi selama proses pemberian M/M ( batuk, tersedak, saliva) • Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk, reflek menelan dan kemampuan menelan • Monitor status paru • Berikan oxigenasi • Kolaborasi u/ terapi okupasi • Ajarkan pada keluarga cara memberikan M/M

2

Risiko aspirasi b/d tidak efektifnya refllek menelan.

Setelah dilakukan askep … jam tidak terjadi aspirasi dg KH; • Terjadi peningkatan reflek menelan • Bertoleransi thdp intake oral & sekresi tanpa aspirasi • Jalan nafas

perawatan sirkulasi : arterial insuficiency • Lakukan penilaian secara komprehensif fungsi sirkulasi periper. kapiler refil. dan anjurkan untuk minum sesuai aturan.  Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat pasien. 5 Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh. Setelah dilakukan askep … jam terjadi peningkatan Status sirkulasi Dg KH: Perfusi jaringan adekuat. kulit tdk pucat..  Bersihkan lingkungan pasien secara benar setiap setelah digunakan pasien.3 Perfusi jaringan tidak efektif bersih.d faktor biologis Setelah dilakukan askep .  Contoh: cek nadi priper. tidak ada edem palpebra. status imun adekuat dg KH: • Bebas dari tanda dangejala infeksi. akral hangat. urin output adekuat respirasi normal. jam terjadi peningkatan status nutrisi dg KH: • Mengkonsumsi nutrisi yang adekuat. 4 Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak mampua n pemasukan b. prosedur invasive Setelah dilakukan askep … jam infeksi terkontrol.  Ajari keluarga cara menghindari infeksi serta tentang tanda dan gejala infeksi dan segera untuk melaporkan keperawat kesehatan. • Identifikasi kebutuhan nutrisi. . Nutritional terapi  kaji kebutuhan untuk pemasangan NGT  berikan makanan melalui NGT k/p  berikan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mendukung makan  monitor penurunan dan peningkatan BB  monitor intake kalori dan gizi Kontrol infeksi. • Evaluasi nadi. • Bebas dari tanda malnutrisi.  Tingkatkan masukan cairan yang cukup. ekstremitas bawah lebih rendah untuk memperbaiki sirkulasi. • Rubah posisi pasien jika memungkinkan • Monitor status cairan intake dan output • Berikan makanan yang adekuat untuk menjaga viskositas darah Managemen nutrisi • Kaji pola makan klien • Kaji kebiasaan makan klien dan makanan kesukaannya • Anjurkan pada keluarga untuk meningkatkan intake nutrisi dan cairan • kelaborasi dengan ahli gizi tentang kebutuhan kalori dan tipe makanan yang dibutuhkan • tingkatkan intake protein. oedema • Inspeksi kulit dari luka • Palpasi anggota badan dengan lebih • Kaji nyeri • Atur posisi pasien. dan ajari cuci tangan yang benar.  Tingkatkan masukkan gizi yang cukup. temperatur ekstremitas.  Pastikan teknik perawatan luka yang sesuai jika ada.  Anjurkan istirahat. • Keluarga tahu tanda-tanda infeksi.  Pastikan penanganan aseptic semua daerah IV (intra vena).  Batasi pengunjung. • Berikan therapi antikoagulan. zat besi dan vit c • monitor intake nutrisi dan kalori • Monitor pemberian masukan cairan lewat parenteral. • Angka leukosit normal.oedema.  Berikan therapi antibiotik yang sesuai.

Kolaborasi kontrol Hb..Monitor tanda-tanda anemia .  Tingkatkan masukan gizi dan cairan yang cukup Mengajarkan proses penyakit • Kaji pengetahuan keluarga tentang proses penyakit • Jelaskan tentang patofisiologi penyakit dan tanda gejala penyakit • Beri gambaran tentaang tanda gejala penyakit kalau memungkinkan • Identifikasi penyebab penyakit • Berikan informasi pada keluarga tentang keadaan pasien. jam perawat akan dapat meminimalkan terjadinya komplikasi anemia : . HMT. perlunya pengobatan dan memahami perawatan • Keluarga kooperativedan mau kerjasama saat dilakukan tindakan Setelah dilakukan Cemas berhubunga askep … jam n dengan kecemasan terkontrol krisis dg KH: ekspresi wajah situasional.. • Bantu keluarga dalam mengambil keputusan.Observasi keadaan umum klien 6 PK:Anemia Setelah dilakukan askep . • Temani keluarga pasien untuk mengurangi ketakutan dan memberikan keamanan. Kurang pengetahua n keluarga berhubunga n dengan kurang paparan dan keterbatasan kognitif keluarga Proteksi infeksi. . status Fe .  Batasi jumlah pengunjung. • Jelaskan semua prosedur pada keluarga.  Monitor WBC. • Dengarkan keluhan keluarga.Kolaborasi untuk pemeberian terapi initravena dan tranfusi darah . . komplikasi penyakit. • Berikan informasi factual tentang diagnosa dan program tindakan. • Instruksikan keluarga untuk melakukan teknik relaksasi..  Monitor tanda dan gejala infeksi. Retic. • Berikan dukungan pada keluarga untuk memilih atau mendapatkan pengobatan lain yang lebih baik.Anjurkan untuk meningkatkan asupan nutrisi klien yg bergizi ..5 6 Setelah dilakukan askep … jam pengetahuan keluarga klien meningkat dg KH: • Keluarga menjelaskan tentang penyakit. • Kaji tingkat pengetahuan dan persepsi pasien dari stress situasional. • Jelaskan pada keluarga tentang persiapan / tindakan yang akan dilakukan Pengurangan kecemasan • Bina hubungan saling percaya. • Berikan sesuatu objek sebagai sesuatu simbol untuk mengurang kecemasan orangtua. • Anjurkan keluarga untuk mendampingi pasien. • Ciptakan lingkungan yang nyaman.  Ajari anggota keluarga cara-cara menghindari infeksi dan tanda-tanda dan gejala infeksi. • Kaji kecemasan keluarga dan identifikasi kecemasan pada keluarga.  Anjurkan istirahat. tenang . anak / hospitalisasi keluarga mau bekerjasama dalam tindakan askep.Hb >/= 10 gr/dl. • Diskusikan tentang pilihan therapy pada keluarga dan rasional therapy yang diberikan. • Alihkan perhatian keluarga untuk mnegurangi kecemasan keluarga.

Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) da sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na++) dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-).defisit neurologis. klonik. Kejang unilateral yg lama dpt diikuti oleh hemiplegi yg menetap. fokal atau kinetik. tonik. Bangkitan kejang dpt terjadi bersamaan dgn kanaikan suhu tubuh yg tinggi dan cepat karena infeksi di luar SSP.Konjungtiva tdk anemis . Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh : . Patofisiologi Sumber energi otak adalah glukosa yang melaluui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. sedang dluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. tonik klonik. tanpa ada infeksi intrakranial (IK)atau penyakit tertentu yg mendasari.Kulit tidak pucat . Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel. spt .Akral hangat KEJANG DEMAM Definisi  Kejang yg berkaitan dg demam. maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron.bronkhitis dll. yg terjadi pada anak usia 6 bln – 5 thn.  Kejang umum. Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na++ rendah. 3. OMA. terutama pada umur 6 bulan – 4 tahun. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak. Pada kejang unilateral kadang diikuti hemiplegi sementara(Todd’s hemiplegi). Dalam keadaan normal. Serangan berlangsung singkat. 2.  Kejang demam adalah bangkitan kjejang yan terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38 0 C) yang disebabkan oleh proses ekstra kranium. kelainan mental. Tonsilitis. beberapa jam/hari. sangat singkat. Dpt berlangsung lama dan atau parsial. hanya terjadi I kali periode 24 jam pd anak demam tanpa infeksi IK.. Manifestasi klinik : 1. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. kurang dari 15 mnt. 5. 4.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak akan menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbuledema otak yang menyebabkan kerusakan sel neuron otak. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada anak dengan ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu memperhatikan pada tingkat suhu berapa pasien m. Karena itu kejang demam yang berlangsung lama daat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi. Tetapi kejang yang ber. . Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi “matang” dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Oleh karena itu. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan orang dewasa yang hanya 15%. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantua bahan yang disebut “neurotransmitter” dan terjadi kejang. yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat . Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga terjadinya neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. hiperkapnea. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis.1. kejang telah terjadi pada suhu 38 C sedang anak dengan ambang kejang yang tinggi. kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singlkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan Pada keadaan demam kenaikan suhu 1 0 C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia. asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme an aerobik. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah. Gambaran Klinik Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat. kejang baru terjadi bila suhu mencapai 40 C atau lebih.langsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler 2. kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya 3.enderita kejang. Kejang demam yang berlangsung singkat pada ukumnya tidak berbahaya dan ridak meninggalkan gejala sisa. hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktivitas otot. dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otot meningkat.

misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain.serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik , tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak akan bangun dan tersadar kembali tanpa ada kelainan saraf. Klasifikasi kejang demam Livingston : 1. Kejang demam sederhana. 2.epilepsi yg diprofokasi oleh demam. Prichard & Mc Greal : 1.Kejang demam sederhana. 2.Kejang demam atipikal. Manifestasi kejang demam : • Saat kejang : Demam, kejang tonik klonik atau grand mal, pingsan 30 det –5 mnt,postor tonik,gerakan klonik,lidah/pipi terjepit,gigi & rahang terkatup rapat,inkontinensia,gangg. Pernapasan,apneu,sianosis. • Setelah kejang :Sadar kembali dalm waktu beberapa menit atau tidur selama1jam/lebih,amnesia & sakit kepala,mengantuk,linglung. Faktor resiko kejang demam • • • • • • • • • • Riwayat kejang demam dan atau epilepsi dlm keluarga. Usia dibawah 18 bulan. Suhu tubuh saat kejang. Awitan lamanya emam sebelum dan saat kejang. Penyebab pasti belum diketahui Berhubungan dgn demam yg tiba-tiba tinggi, kebanyakan terjadi pada hari pertama anak mengalai demam. Cenderung dalam satu keluarga, diduga melibatkan faktor genetik. Disebabkan oleh pykit lain;intoksikasi, meningitis,ensefalitis. Roseola, virus herpes manusia. Disentri shigella

Etiologi

Penatalaksanaan


Memberantas kejang sesegera mungkin Pengobatan penunjang Pengobatan rumat Mencari dan mengobati Penyebab

Diagnosis • • • • EEG CT Scan Pungsi Lumbal Pemeriksaan Neurologis

Pengobatan • Prinsip : Tenang, awasi kondisi anak, posisi miring/telungkup, jangan memasukan apapun ke mulut anak, jika kejang > 10 mnt bawa ke RS segera !,berikan obat simtomatik untuk demam, obati penyebab demam. Mengatasi kejang secepatnya,mencegah kejang lama • • Kejang tanpa demam : bebaskan jalan nafas,turunkan demam,atasi kejang secepatnya,nilai kesadaran,periksa kadar gula darah dan elektrolit,cari etiologi kejang demam. Kejang tanpa demam : bebaskan jalan nafas,periksa gula darah,pastikan apakah epilepsi atau bukan,atasi kejang secepatnya,nilai tingkat kesadaran. FEBRIS A. PENGERTIAN Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara abnormal. Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain : 1. Demam septik Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik. 2. Demam remiten Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik. 3. Demam intermiten Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana. 4. Demam kontinyu

Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia. 5. Demam siklik Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula. Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jela seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial. B. ETIOLOGI Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adala cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lian yang menyertai demam. Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya. C. PEMERIKSAAN PENUNJANG Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui biopsi pada tempattempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi. D. PENATALAKSANAAN THERAPEUTIK 1. 2. 3. Antipiretik Anti biotik sesuai program Hindari kompres alkohol atau es

E. PENGKAJIAN

4. diaforesis. 3. kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit perawatan dan penyakitnya b/d Cemas berhubungan dengan hipertermi. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi. 2. nafsu makan. Risiko infeksi b/d proses penyakit. apakah anak menggigil. F. efek proses penyakit terbatasnya kognitif. Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan laboratotium. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. prosedur invasive Risiko kurang cairan berhubungan dengan intake cairan inadekuat. imunitas menurun. Perfusi jaringan perifer tidak efektif b/d kejang. upaya yang harus dilakukan. 5. gelisah atau lhetargi.1. Melakukan pemeriksaan fisik. 3. foto rontgent ataupun USG. kurang paparan terhadap informasi . 6. 2. gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah. vital sign. 4. nyeri otot dan sendi dll). eliminasi. Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul demam. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum.

. oedema • Inspeksi kulit dan Palpasi anggota badan • Kaji nyeri • Atur posisi pasien.x 24 jam menujukan temperatur dalan batas normal dengan kriteria: .Akral hangat . (cek nadi priper. • Berikan therapi antikoagulan. ekstremitas bawah lebih rendah untuk memperbaiki sirkulasi. jam terjadi peningkatan keseimbangan cairan dg KH: • Urine 30 ml/jam • V/S dbn • Kulit lembab dan tidak ada tanda-tanda Intervensi Termoregulasi • Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforsis • Pantau suhu lingkungan. Pain.oedema.Membran mukosa merah muda .Bebas dari kedinginan .TTV dalam batas normal Setelah dilakukan askep . batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi • Berikan kompres hangat hindari penggunaan akohol • Berikan minum sesuai kebutuhan • Kolaborasi untuk pemberian antipiretik • Anjurkan menggunakan pakaian tipis menyerap keringat. abd. temperatur ekstremitas). • Hindari selimut tebal perawatan sirkulasi : arterial insuficiency • Lakukan penilaian secara komprehensif fungsi sirkulasi periper.d kejang 3 Risiko Deficit volume cairan b/d intake cairan inadekuat . • Evaluasi nadi. • Rubah posisi pasien jika memungkinkan • Monitor status cairan intake dan output Berikan makanan yang adekuat untuk menjaga viskositas darah Manajemen cairan • Monotor diare. DEMAM N o 1 Diagnosa Hypertermi b/d proses infeksi Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama…. kapiler refil. bingung) • Monitor balance cairan • Monitor pemberian cairan parenteral • Monitor BB jika terjadi penurunan BB drastis • Monitor td dehidrasi • Monitor v/s • Berikan cairan peroral sesuai kebutuhan • Anjurkan pada keluarga agar tetap memberikan ASI dan makanan yang lunak 2 Perfusi jaringan tdk efektive b.Suhu tubuh stabil 36-37 C Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … jam perfusi jaringan klien adekuat dengan criteria : . muntah • Awasi tanda-tanda hipovolemik (oliguri.RENPRA KEJANG DEMAM.Conjunctiva tidak anemis .

 Berikan therapi antibiotik yang sesuai.Klien tenang dan 6 Cemas berhubunga n dengan hipertermi.  Lakukan dresing infus tiap hari  Anjurkan pada keluarga untuk selalu menjaga kebersihan klien dan menjaga pantat selalu kering u/ hindari iritasi.  Ajari anggota keluarga cara-cara menghindari infeksi dan tanda-tanda dan gejala infeksi.  Ajari keluarga cara menghindari infeksi serta tentang tanda dan gejala infeksi dan segera untuk melaporkan keperawat kesehatan.  Pastikan penanganan aseptic semua daerah IV (intra vena).  Anjurkan istirahat. penyakitnya Setelah dilakukan askep … jam infeksi terkontrol. dan ajari cuci tangan yang benar.  Tingkatkan masukan gizi dan cairan yang cukup Mengajarkan proses penyakit • Kaji pengetahuan keluarga tentang proses penyakit • Jelaskan tentang patofisiologi penyakit dan tanda gejala penyakit • Beri gambaran tentaang tanda gejala penyakit kalau memungkinkan • Identifikasi penyebab penyakit • Berikan informasi pada keluarga tentang keadaan pasien. dan anjurkan untuk minum sesuai aturan. • 5 Kurang pengetahua n keluarga berhubunga n dengan kurang paparan dan keterbatasan kognitif keluarga Setelah dilakukan askep … jam pengetahuan keluarga klien meningkat dg KH: • Keluarga menjelaskan tentang penyakit. x 24 jam cemas hilang dengan kriteria: . status imun adekuat dg KH: • Bebas dari tanda dangejala infeksi. prosedur invasive.  Tingkatkan masukan cairan yang cukup. efek proses penyakit Kolaborasi u/ pemberian terapinya Kontrol infeksi.  Monitor tanda dan gejala infeksi.  Tingkatkan masukkan gizi yang cukup.  Batasi jumlah pengunjung. • Angka leukosit normal. • Keluarga tahu tanda-tanda infeksi. komplikasi penyakit. • Anjurkan klien untuk bedrest dan jelaskan pentingnya bedrest • Diskusikan tentang pilihan therapy pada keluarga dan rasional therapy yang diberikan.  Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat pasien. perlunya pengobatan dan memahami perawatan • Keluarga kooperativedan mau kerjasama saat dilakukan tindakan Setelah dilakukan tindakan perawatan selama …. Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang dimiliki klien mengenai hipertermi 4. • Berikan dukungan pada keluarga untuk memilih atau mendapatkan pengobatan lain yang lebih baik.  Anjurkan istirahat.dehidrasi 4 Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh. kaji kecemasan klien/keluarga 3. Berikan informasi yang akurat tentang penyebab . bina hubungan saling percaya 2. • Jelaskan pada keluarga tentang persiapan / tindakan yang akan dilakukan Pengurangan kecemasan 1. Proteksi infeksi.  Bersihkan lingkungan pasien secara benar setiap setelah digunakan pasien.  Batasi pengunjung.  Monitor WBC.

Coli dan steptococcus. striktur lumen (1%). Appendikitis merupakan peradangan pada appendiks (umbai cacing). dimana appendiks telah pecah sehingga isis appendiks keluar menuju rongga peinium yang dapat menyebabkan peritonitis atau abses.klien mau 5. Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit APENDICITIS A. melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Etiologi ♣ ♣ ♣ C. B. Patognesis Apa 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya appendiks: Penyebab belum pasti Faktor yang berpengaruh: Obstruksi: hiperplasi kelenjar getah bening (60%). Appendiktomi adalah pengangkatan terhadap appendiks terimplamasi dengan prosedur atau pendekatan endoskopi. fecalit (massa keras dari Infeksi: E. Pria lebih cenderung terkena appendiksitis dibanding wanita. Kira-kira 7% populasi akan mengalami appendikitis pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil. . Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum.dapat beristirahat hipertermi . appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi. Validasi perasaan klien dan yakinkan klien bahwa berpartisipasi dalam kecemasam merupakan respon yang normal setiap tidakan yang 6. Pengertian Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm 94 inci). Appendiksitis perforasi adalah merupakan komplikasi utama dari appendiks. Tumor feses) 35%. corpus alienum (4%). Appendiksitis lebih sering menyerang pada usia 10 sampai 30 tahun.

2. Akhirnya appendiks yang terimplamasi berisi pus. atau benda asing. Nyeri tekan local pada tititk McBurney bila dilakukan tekanan. Manifestasi Klinik 1. Patofisiologi Sumbatan:  Sekresi mucus  Tekanan intra lumen ↑  Gangguan drainase limphe  Oedema + kuman Tekanan intra lumen ↑↑:  Gangguan vena  Thrombus  Iskemia + kuman Appendiks akut fokal: Nyeri viseral ulu hati karena regangan mukosa Appendiks supuratif: Nyeri pada titik McBurney peritonitis lokal  Pus Tekanan intra lumen ↑↑↑:  Gangguan arteri  Nekrosis + kuman  gangren Appendiks gangrenosa ↓ Peritonitis ↓ Peritonitis umum Apendiks terimplamasi dan mengalami edema sebagai akibat atau tersumbat. 4. Perforasi 4. Kronik 3. 3.1. 2. Appendiksitis akut setelah 24 jam dapat menjadi: 1. Adanya isis lumen Derajat sumbatan yang terus menerus Sekresi mukus yang terus menerus Sifat inelastis/tak lentur dari mukosa appendiks Produksi mucin 1-2 ml/hari. mual. tumor. Jadi nyeri McBurney akan muncul setelah terjadi sumbatan ± 2 hari. Proses implamasi meningkatkan tekanan intraluminal menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progesif dalam beberapa jam. terlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disrtai dengan demam ringan. Kapasitas appendiks 3-5 cc/hari. D. . Sembuh 2. kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari feses). Infiltrat → abses E.

2. 11. 8. titik McBurney). 10. 6. c. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara Apabila appendiks sudah ruptur. terjadi akibat ileus paralitik. d. sehingga bergerak dan menggerakkan peritonium sekitar apendiks yang sedang meradang sehingga terasa nyeri. kemudian menjalar ke b. Nyeri tekan lepas dijumpai Terdapat konstipasi atau diare Nyeri lumbal. 5. Pemeriksaan Diagnosis 1. a. disertai abdomen Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Rectus abdominis Rovsing sign (+) → pada penekanan perut bagian kontra Anamnesa Nyeri (mula-mula di daerah epigastrum. McBurney (kiri) terasa nyeri di McBurney karena tekanan tersebut merangsang peristaltic usus dan juga udara dalam usus. Muntah (rangsang visceral) Panas (infeksi akut) Pemeriksaan fisik Status generalis Tampak kesakitan Demam (≥37. bila appendiks berada dekat rektal Nyeri kemih. b. F. paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan. jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter. 9. a. bila appendiks melingkar dibelakang sekum Nyeri defekasi. tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks. Pasien mungkin 4. c. .7 oC) Perbedaan suhu rektal > ½ oC Fleksi ringan art coxae dextra Status lokalis Defenmuskuler (+) → m. 7. nyeri menjadi menyebar.3.

d. pelvis. g. Appendiksitis pain Lekositosis (>10 ribu) Vomitus Anoreksia Erbound Tendenees Fenomen Degre of celsius (>37OC) Observation of hemogram (segmen> 72%) Abdominal migrate pain Total point 3. artinya appendiks di Peritonitis umum (perforasi)    h. a.000/mm3) o Hitung jenis: segmen lebih banyak .e. e. o pemeriksaan penunjang laboratorium Hb normal Leukosit normal atau meningkat (bila lanjut umumnya leukositosis. 10 1 point 1 point 1 point 1 point 2 point 2 point 1 point 1 point f. o >10. juga meradang. Psoas ditekan maka akan terasa sakit di titik McBurney (pada appendiks retrocaecal) karena merangsang peritonium sekitar app yang Obturator sign (+) → fleksi dan endorotasi articulatio costa pada posisi supine. g. Rectal touché: nyeri tekan pada jam 9-12 Digunakan untuk menegakkan diagnosis sebagai appendiksitis akut atau bukan. b. obturator internus. Psoas sign (+) → m. bila nyeri berarti kontak dengan m. h. meliputi 3 simtom. Alvarado score: Nyeri diseluruh abdomen Pekak hati hilang Bising usus hilang. c. 3 sign dan 2 laboratorium: a. f.

7. Diagnosa Banding 1. 4. Appendiktomi cito (app akut.7OC atau lebih tinggi. dengan laparoskopi. Analgetik dapat diberikan setelah diagnosa ditegagkan. Penatalaksanaan 1. Kompilkasi Komplikasi utama appendiksitis adalah perforasi appendiks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Gejala mencakup demam dengan suhu 37. J. LED meningkat (pada appendicitis infiltrate) Rongent: appendicogram Hasil positif berupa: o o o o Non-filling Partial filling Mouse tail Cut off Rongent abdomen tidak menolong kecuali telah terjadi peritonitis. abses dan perforasi) Appendiktomi elektif (app kronik) Konservatif kemudian operasi elektif (app infiltrate) Pembedahan diindikasikan bila diagnosa appendiksitis telah ditegagkan. Pankreatitis Cystitis infeksi panggul Torsi kista ovari H. Insidensi perforasi 10-32%. 8. Divertikel Mackeli Batu ureter Enteritis regional. gastroenteritis Batu empedu 5. Appendiktomi dilakukan segera mungkin untuk menurunkan risiko perforasi. Aspirin diberikan untuk mengurangi peningkatan suhu. 3. 2. Terapi antibiotik dapat Appendiktomi dapat dilakukan dengan spinal anastesi atau anestesi umum dengan insisi abdomen bawah atau . Persiapan preoperative Infuse intravena digunakan untuk meningkatkan fungsi ginjal adekuat dan menggantikan cairan yang hilang. 3.o b. penampilan toksik dan nyeri abdomen atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu. Perforasi terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. 2. G. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. 6. I.

L. selang nasogastrik dapat dipasang. K. muntah. Enema tidak diberikan karena dapat menimbulkan perforasi. Diagnosa keperawatan yang kemungkinan muncul: Preoperatif: ♣ ♣ Pasca operatif: ♣ ♣ ♣ ♣ Kurang pengetahuan tentang apendicitis dan pilihan pengobatan berhubungan Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (proses penyakit) dengan kurang paparan sumber informasi Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (insisi pembedahan pada apendiktomi) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasive. Instruksi untuk menemui ahli bedah untuk mengangkat jahitan pada hari ke 5-7. sebelum pembedahan diberikan cairan secara intravena. insisi post pembedahan Pk: perdarahan inadekut b/d faktor biologis ( mual. aktifitas normal dapat dilakukan dalam 2-4 minggu.diberikan untuk mencegah infeksi. Penanganan posoperatif Tempatkan pasien pada posisi semifouler karena dapat mengurangi tegangan pada insisi dan organ abdomen yang membantu mengurangi nyeri. Bila ada kemungkinan atau terbukti ileus paralitik. Analgetik diberikan untuk mengurangi nyeri. Pasien yang mengalami dehidrasi Cairan per-oral dapat diberikan bila dapat mentoleransi. puasa) .

N: 60.• Kurangi faktor presipitasi nyeri. meningkat. • Gunakan teknik komunikasi skala nyeri 3-4 terapeutik untuk mengetahui • ekspresi wajah pengalaman nyeri klien sebelumnya. • Lakukan pegkajian nyeri secara jam tingkat komprehensif termasuk lokasi. Administrasi analgetik :. kebisingan. • Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri. kenyamanan klien karakteristik. mmHg. distraksi dll) untuk mengetasi nyeri. • Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi. tenang dan klien • Kontrol faktor lingkungan yang mampu istirahat mempengaruhi nyeri seperti suhu • TD 120/80 ruangan. . frekuensi.. RR: • Pilih dan lakukan penanganan nyeri 16-20x/mnt (farmakologis/non farmakologis).. pencahayaan. nyeri berkurang. durasi.PERENCANAAN APP N o 1 Diagnosa Tujuan Intervensi Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen nyeri : askep selama …. 100 x/mnt. terkontrol dg KH: • Observasi reaksi nonverbal dari • klien melaporkan ketidaknyamanan. nyeri kualitas dan faktor presipitasi.

• Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik. tanda dan gejala serta penyebab yang mungkin • Sediakan informasi tentang kondisi klien • Siapkan keluarga atau orang-orang yang berarti dengan informasi tentang perkembangan klien • Sediakan informasi tentang diagnosa klien • Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau kontrol proses penyakit • Diskusikan tentang pilihan tentang terapi atau pengobatan • Jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan atau terapi • Dorong klien untuk menggali pilihan-pilihan atau memperoleh alternatif pilihan • Gambarkan komplikasi yang mungkin terjadi • Anjurkan klien untuk mencegah efek samping dari penyakit • Gali sumber-sumber atau dukungan yang ada • Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang muncul pada petugas kesehatan Manajemen Nutrisi 1. 5. dosis.. kaji pola makan klien 2. pengetahuan klien meningkat dg KH: • Keluarga menjelaskan tentang penyakit. Kolaborasi dg ahli gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien. Kaji makanan yang disukai oleh klien. Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi.. jenis. 3. rute pemberian dan dosis optimal. 6.2 Kurang pengetahuan tentang penyakit. Monitor BB setiap hari jika memungkinkan. perlunya pengobatan dan memahami perawatan • Keluarga kooperativedan mau kerjasama saat dilakukan tindakan 3 Ketidakseimb angan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Setelah dilakukan askep selama 3x24 jam klien menunjukan status nutrisi adekuat dibuktikan dengan BB stabil tidak terjadi mal nutrisi. tanda dan gejala efek samping. masukan nutrisi adekuat Cek program pemberian analogetik. dan frekuensi. • . perawatan dan pengobatanny a Setelah dilakukan askep selama . Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan.. 2. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien. tingkat energi adekuat. Kaji adanya alergi makanan. Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya. • Evaluasi efektifitas analgetik. • Tentukan analgetik pilihan. 7. 4.. Teaching : Dissease Process • Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit • Jelaskan tentang patofisiologi penyakit. jam. Monitor Nutrisi 1. • Cek riwayat alergi.. • Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul.

• Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai program. • Pertahankan teknik isolasi bila perlu. • Monitor V/S • Pantau laborat HG. • Monitor perubahan tingkat energi. drainase. Konrol infeksi : • Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain. drainage dan dresing infus. 4. • Pantau tanda dan gejala perdarahan post operasi. AT • kolaborasi untuk tranfusi bila terjadi perdarahan (hb < 10 gr%) • Kolaborasi dengan dokter untuk terapinya 3. • Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan. • Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi.. • Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan. • Batasi pengunjung bila perlu. • Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan. Proteksi terhadap infeksi • Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. Monitor adanya gangguan dalam proses mastikasi/input makanan misalnya perdarahan. • Al normal v/s dbn 5 PK: Perdarahan Setelah dilakukan askep … jam perawat akan menangani atau mengurangi komplikasi daripada perdarahan Monitor lingkungan selama makan.4 Risiko infeksi Setelah dilakukan askep selama … jam infeksi terkontrol dan terdeteksi dg KH: • Tidak ada td-td infeksi. • Lakukan perawatan luka. HMT. • Laporkan jika kultur positif. Monitor adanya mual muntah. bengkak dsb. • Ambil kultur jika perlu • Dorong masukan nutrisi dan cairan yang adekuat. kateter setiap hari. • Dorong istirahat yang cukup. • Laporkan kecurigaan infeksi. • Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat. • Monitor kerentanan terhadap infeksi. • Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan. • Tingkatkan intake nutrisi dan cairan • berikan antibiotik sesuai program. • Intruksikan kepada keluarga untuk mencuci tangan saat kontak dan sesudahnya. 6. . 5. Monitor intake nutrisi dan kalori. • Inspeksi kondisi luka. • Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung. panas. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan. insisi bedah. • Monitor hitung granulosit dan WBC. 7. • Dorong peningkatan mobilitas dan latihan.

5.dkk .(Mansjoer Arif .tulang dan jaringan otak atau kombinasinya (Standar Pelayanan Mendis . ETIOLOGI 1.• Pantau daerah yang dilakukan operasi CEDERA KEPALA A.RS DR Sardjito) Cendera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas . Trauma pada olah raga C. PENGERTIAN Cedera kepala adalah serangkainan kejadian patofisiologik yang terjadi setelah trauma kepala .yang dapat melibatkan kulit kepala . Kecelakaan lalu lintas 2 4. Kecelakaan kerja Kejatuhan benda Luka tembak 3. KLASIFIKASI .2000) B.

cedera kepala dibagi atas cedera kepala tumpul dan cedera kepala tembus. jatuh atau pukulan benda tumpul. Beratnya Cedera Glascow coma scale ( GCS) digunakan untuk menilai secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera kepala : a. Cedera Kepala Berat (CKB) GCS lebih kecil atau sama dengan 8. dapat terjadi kehilangan kesadaran ( pingsan ) kurang dari 30 menit atau mengalami amnesia retrograde. kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. Tidak ada fraktur tengkorak. kehilangan kesadaran atau amnesia retrograd lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam. 2. Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru atau tusukan. Cedera Kepala Ringan (CKR). Dapat mengalami kontusio cerebral.Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringannya gejala yang muncul setelah cedera kepala. GCS 13– 15. laserasi atau hematoma intracranial Skala Koma Glasgow RESPON • • • • Spontan Terhadap rangsangan suara Terhadap nyeri Tidak ada 4 3 2 1 5 4 3 2 1 6 5 4 NILAI Orientasi baik • Orientasi terganggu • Kata-kata tidak jelas • Suara tidak jelas • Tidak ada respon • Mampu bergerak • Melokalisasi nyeri • Fleksi menarik . c. tidak ada kontusio cerebral maupun hematoma b.secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan 1. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil-motor. Adanya penetrasi selaput durameter menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul. Cedera Kepala Sedang ( CKS) GCS 9 –12. Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagi aspek . Dapat mengalami fraktur tengkorak. Mekanisme Cedera kepala Berdasarkan mekanisme. Ada beberapa klasifikasi yang dipakai dalam menentukan derajat cedera kepaka.

maka cedera otak difus dikelompokkan menurut kontusio ringan. walaupun kedua jenis lesi sering terjadi bersamaan. biasanya memeerlukan tindakan pembedahan. Lesi Intrakranial Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi local dan lesi difus. Umumnya terjadi pada regon temporal atau temporopariental akibat pecahnya arteri meningea media ( Sudiharto 1998). Tanda-tanda tersebut antara lain : * Ekimosis periorbital ( Raccoon eye sign) * Ekimosis retro aurikuler (Battle`sign ) * Kebocoran CSS ( rhonorrea. Adanya tandatanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci.• Fleksi abnormal • Ekstensi • Tidak ada respon Total 3 2 1 3-15 3.Fraktur kranium Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak. Berdasarkan pada dalamnya koma dan lamanya koma. Fraktur dasar tengkorak biasanya merupakan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis frakturnya. kontusio klasik. Keadaan ini disusul oleh gangguan kesadaran progresif disertai kelainan neurologist unilateral. ottorhea) dan * Parese nervus facialis ( N VII ) Sebagai patokan umum bila terdapat fraktur tulang yang menekan ke dalam. • • • Perdarahan Epidural Perdarahan Subdural Kontusio (perdarahan intra cerebral) Cedera otak difus umumnya menunjukkan gambaran CT Scan yang normal. b. dan dapat terbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Kemudian . Termasuk lesi lesi local . Manifestasi klinik berupa gangguan kesadaran sebentar dan dengan bekas gejala (interval lucid) beberapa jam. 1) Perdarahan Epidural Hematoma epidural terletak diantara dura dan calvaria. namun keadaan klinis neurologis penderita sangat buruk bahkan dapat dalam keadaan koma. Morfologi Cedera Secara Morfologi cedera kepala dibagi atas : a. lebih tebal dari tulang kalvaria. dan Cedera Aksona Difus ( CAD).

nyeri kepala. namun dapat terjadi juga akibat laserasi pembuluh arteri pada . muntah ataksia serebral dan paresis nervi kranialis. jika terjadi dioksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran. Cirri perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung. hemiparese.gejala neurology timbul secara progresif berupa pupil anisokor. papil edema dan gejala herniasi transcentorial. Perdarahan epidural difossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus lateral. Patofisiologis Epidural Hematoma : CEDERA KEPALA Epidural (ruang antara tulang tengkorak bagian dalam dan lapisan meningen paling luar (dura) Robekan cabang kecil dalam meningen tengah/arteri meningeal fortal 85 % berhubungan dengan fraktur linear tulang tengkorak Hematoma pada daerah temporal Proses desak ruang lobus temporalis ke bawah dan dalam Media lobus ( unkus dan sebagian dari gins hi[pokampus) terjadi penonjolan (herniasi) di bawah tentorium Hipertermia pada area Dan terjadi peningkatan Peningkatan Volume darah Penurunan Kesadaran Vasodilatasi arterial Peningkatan volume intracranial Peningkatan TIK Isokor-anisokor Penurunan ststus neurologist Dekortikasi .deserabrasi Penekanan terhadap arteri pada formasio retikulosit di Medulla oblongata penurunan status neurologis Hipotensi Hipoksia Hiperkapnea 2) Perdarahan subdural Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural( kira-kira 30 % dari cedera kepala berat). Perdarahan ini sering terjadi akibat robeknya venavena jembatan yang terletak antara kortek cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara.

Patofisiologis Subdural hematom : Trauma Kepala Trauma pada meningeal durameter dan diatyas lapisan arakusid yang menutupi otak Robekan vena tau pengeluaran kumpulan darah vena Umunya pada lansi dan alkoholisme Geja muncul 24-28 jam post cedera Gejala klinis 2 hari – 2 minggu Sakit kepala.permukaan otak. letargis. dyspnea CRANIOSTOMI Kontusio dan perdarahan intracerebral Kontusio cerebral sangat sering terjadi di frontal dan lobus temporal. Kontusio cerebri dapat saja terjadi dalam waktu beberapa hari atau jam mengalami evolusi membentuk perdarahan intracerebral. Patofisiologis Intrakranial Hematom : Cedera kepala Fraktur depresi tulang tengkorak Cedera penestrasi peluru Gerakan akselerasi dan deselerasi tiba-tiba Pengumpulan darah 25 cc/lebih dalam parenkim otak Penangan masih controversial ( medis/pembedahan ) Apabila lesi meluas dan terjadi penyimpangan neurologist lebih lanjut Umumnya intervensi bedah 4)Cedera Difus 3) . kacau mental. kejang. walau terjadi juga pada setiap bagian otak. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk daripada perdarahan epidural. termasuk batang otak dan cerebellum.

Defisit neurologist itu misalnya : kesulitan mengingat. iskemia. hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedera batang otak primer. Gejala-gejala ini dikenal sebagai sindroma pasca komosio yang dapat cukup berat. PATOFISIOLOGI Akibat dari trauma/ cedera kepala akan mengakibatkan fragmentasi jaringan dan kontusio atau akan mengakibatkan cedera jaringan otak sehingga menyebabkan sawar darah otak (SDO) rusak yang dapat menyebabkan vasodilatasi dan eksudasi cairan sehingga timbul edema. Dalam definisi klasik penderita ini akan sadar kembali dalam waktu kurang dari 6 jam. hipoksia. Cedera Aksonal difus ( Diffuse Axonal Injuri. Cedera ini sering terjadi. yang pada gilirannya akan menurunkan aliran darah otak (ADO). amnesia integrad ( keadaan amnesia pada peristiwa sebelum dan sesudah cedera) Komusio cedera klasik adalah cedera yang mengakibatkan menurunya atau hilangnya kesadaran. Komosio Cerebro ringan akibat cedera dimana kesadaran tetap tidak terganggu. Penderita sering menunjukkan gejala disfungsi otonom seperti hipotensi. namun terjadi disfungsi neurologist yang bersifat sementara dalam berbagai derajat. Hilangnya kesadaran biasanya berlangsung beberapa waktu lamanya dan reversible.mual. dan ini merupakan bentuk yang lebih sering terjadi pada cedera kepala. Banyak penderita dengan komosio cerebri klasik pulih kembali tanpa cacat neurologist. asidosis ( penurunan PH dan peningkatan PCO2) dan kerusakan sawar darah otak lebih lanjut. Edema menyebabkan peningkatan TIK ( Tekanan Intra Kranial ).Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat akselerasi dan deselerasi. pusing . amnesia dan depresi serta gejala lainnya. penderita sering menunjukkan gejala dekortikasi atau deserebasi dan bila pulih sering tetap dalam keadaan cacat berat. itupun bila bertahan hidup.DAI) adalah dimana penderita mengalami coma pasca cedera yang berlangsung lama dan tidak diakibatkan oleh suatu lesi masa atau serangan iskemi. . Biasanya penderita dalam keadaan koma yang dalam dan tetap koma selama beberapa waktu. Siklus ini akan berlanjut hingga terjadi kematian sel dan edema. bentuk yang paling ringan dari kontusio ini adalah keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia retrograd. Bila digambarkan adalah sebagai berikut : Trauma Kepala D. namun karena ringan sering kali tidak diperhatikan. Keadaan ini selalu disertai dengan amnesia pasca trauma dan lamanya amnesia ini merupakan ukuran beratnya cedera. namun pada beberapa penderita dapat timbul deficit neurogis untuk beberapa waktu.

Perdarahan intra cranial Epidural Subdural Sub arachnoid Intraventrikuler Malformasi faskuler Fstula karotiko-kavernosa Fistula cairan cerebrospinal Epilepsi Parese saraf cranial Meningitis atau abses otak Sinrom pasca trauma Tindakan : infeksi . Perubahan kesadaran adalah merupakan indicator yang paling sensitive yang dapat dilihat dengan penggunaan GCS ( Glascow Coma Scale) dan adanya peningkatan tekanan TIK yang mempunyai trias Klasik seperti : nyeri kepala karena regangan dura dan pembuluh darah. . foto tengkorak 3 posisi CT scan Foto cervical bila ada tanda-tanda fraktur cervical Aeteriografi KOMPLIKASI a. muntah seringkali proyektil. b.Cedera jaringan Otak Vasodilatasi dan edema otak Rusaknya SDO Peningkatan TIK Penurunan ADO Iskemia jaringan otak hipoksia Sel mati E. papil edema yang disebabkan oleh tekanan dan pembengkakan diskus optikus. MANIFESTASI KLINIK Manifestasi klinik dari cedera kepala tergantung dari berat ringannya cedera kepala. G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium X-Ray.

9%. Penggunaan steroid H.Bila pola pernafasan terganggu dilakukan nafas buatan atau ventilasi dengan respirator.45 salin NGT I. 2. dengan memprioritaskan penilaian yaitu :  Airway : Jalan Nafas . f.- Perdarahan ulang Edema cerebri Pembengkakan otak PENATALAKSANAAN 1. e. muntahan. elektrolit dan keseimbangan nutrisi. Pemantauan TIK dengan ketat. Tahap I : a. Pencegahan kejang c. Dukung ventilasi b. merupakan proses yang terdiri dari serangkaian tahapan yang saling berkaitan satu sama lain dalam mengambil keputusan dalam melakukan tindakan pembedahan antara lain adalah sebagai berkut : 1.  Cirkulation : Peredaran darah . SARAF : Penatalaksanaan trauma kepala yang memerlukan tindakan bedah saraf. d. D5% . c. Oksigenasi adekuat d. Tindakan pendukung lain a. CPZ untuk menenangkan pasien f. Pemberian manitol Peninggatan tempat tidur pada bagian kepala Bedah neuro b.Bila perlu dipasang endotrakeal  Breathing : Pernafasan . PENATALAKSANAAN TRAUMA KEPALA YANG MEMERLUKAN TINDAKAN BEDAH . Penilaian awal pertolongan pertama.Mengalami hipovolemik syok Infus dengan cairan kristaloid Ringer lactat. Terapi antikonvulsan e. benda asing . Tindakan terhadap peningkatan TIK a.). Nacl 0. Pemeliharaan cairan.Membebaskan jalan dari sumbatan lendir.

Diagnosis dari pemeriksaan laborat dan foto penunjang telah dijelaskan didepan. denyut nadi dan respirasi irregular. muntah. b. Indikasi konsul bedah saraf :  Coma berlangsung > 6 jam. Indikasi pembedahan  Perlukaan pada kulit kepala. sudah ada sejak terjadi cedera kepala. 2. b. lien. ginjal).  Kejang lokal atau umum post trauma. Tujuan pembedahan       Mengeluarkan bekuan darah dan jaringan otak yang nekrose Mengangkat tulang yang menekan jaringan otak Mengurangi tekanan intracranial Mengontrol perdarahan Menutup / memperbaiki durameter yang rusak Menutup defek pada kulit kepala untuk mencegah infeksi atau kepentingan kosmetik. c. Trauma kepala dengan pupil sudah dilatasi maksimal dan reaksi cahaya negative. sebab cedera. Tahap III : a.  Fraktur tulang kepala  Hematoma intracranial. Tahap II : Observasi perjalanan klinis dan perawatan suportif.  Pemeriksaan fisik umum dan neurologist. Periksa adanya kemungkinan adanya perdarahan  Tentukan hal berikut : lamanya tak sadar.  Penurunan kesadaran ( gg neurologos progresif)  Adanya tanda-tanda neurologist fokal.  Perdarahan intra cranial. Kontra indikasi  Adanya tanda renjatan / shock. 3. fraktur berat pada ekstremitas.  Kontusio jaringan otak yang mempunyai diameter > 1 cm dan atau laserasi otak  Subdural higroma  Kebocoran cairan serebrospinal. Pesiapan pembedahan  . Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas d.  c. bukan karena trauma tapi karena sebab lain missal : rupture alat viscera ( rupture hepar.  Monitor EKG. lamanya amnesia post trauma. nyeri kepala.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL : 1. 3. .Intra ventrikuler hematoma 9 kraniotomi – aspirasi hematoma. mengabsorbsi zat-zat gizi karena faktor biologis.d trauma. immunosupresif. Tahap IV : a. dan anti konvulsan 4.EDH bila CT Scan menunjukkan lesi yang jelas.5 – 1 cm belum perlu operasi . kerusakan jaringan Resiko infeksi b.Pada fraktur kepala terbuka dan fraktur yang menekan tertutup b.Hematom intra serebral dan kontusio serebri dengan efek massa yang jelas. d ketidakmampuan pemasukan makanan atau mencerna makanan dan atau . . invasife. Pembedahan spesifik   Debridemen Kraniotomi yang cukup luas .Pada laserasi otak . tindakan Nyeri akut b. d agen injuri fisik Ketidak seimbangan nutrisi kurang kebutuhan tubuh b.      Pasang infuse Observasi tanda-tanda vital Pemeriksaan laboratorium Pemberian antibiotic profilaksi Pasang NGT.SDH akut diperlukan craniotomy luas. Evaluasi komplikasi yang perlu diperhatikan        Perdarahan ulang Kebocoran cairan otak Infekso pada luka atau sepsis Timbulnya edea cerebri Timbulnya edema pulmonum neurogenik. 2. DC Therapy untuk menurunkan TIK. akibat peningkatan TIK Nyeri kepala setelah penderita sadar Konvulsi J. bila < 1. bila timbul tandatanda hidrosepalus dilakukan vpshunt) .

kualitas dan faktor presipitasi. pencahayaan.4. durasi. perubahan persepsi sensori : perubahan neurologis Gangguan persepsi sensori b. • Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan. PK : Peningkatan TIK PERENCANAAN CEDERA KEPALA N o 1 Diagnosa Tujuan Intervensi Manajemen nyeri : • Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi. • Kurangi faktor presipitasi nyeri. frekuensi. kerusakan mobilitas fisik b/d perubahan persepsi sensori dan kognitif. 6. • Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya. penurunan kekuatan dan ketahanan. karakteristik. d 5. • Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan. jam tingkat kenyamanan klien meningkat dg KH: • Klien melaporkan nyeri berkurang dg scala 23 • Ekspresi . Nyeri akut Setelah dilakukan Asuhan keperawatan …. kebisingan.

dan frekuensi. Setelah dilakukan Konrol infeksi : asuhan keperawatan • Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain. faktor risiko infeksi • Intruksikan kepada pengunjung untuk mencuci dan dg KH: tangan saat berkunjung dan sesudahnya. . • Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil. • Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan. • Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri. • Monitor TV • Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul. • Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai program. dainage. • Cek riwayat alergi. • Dorong peningkatan mobilitas dan latihan. • Lakukan perawatan luka. • Tentukan analgetik pilihan. • Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri. • Tdk ada tanda. distraksi • v/s dbn dll) untuk mengetasi nyeri. istirahat dan tidur • Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi. • Cek program pemberian analogetik. • Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan. • Dorong istirahat yang cukup. • Monitor hitung granulosit dan WBC. dan laporkan bila hasil positip jika perlu • Dorong masukan nutrisi dan cairan yang adekuat. • Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat. … jam tidak terdapat • Batasi pengunjung bila perlu. drainase. Administrasi analgetik :. dresing infus dan dan kateter setiap hari. insisi bedah.2 Risiko infeksi wajah tenang • Pilih dan lakukan penanganan nyeri • klien dapat (farmakologis/non farmakologis). • Tingkatkan intake nutrisi dan cairan • berikan antibiotik sesuai program. • Evaluasi efektifitas analgetik. • Inspeksi kondisi luka.. dosis. • Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi. tanda dan gejala efek samping. rute pemberian dan dosis optimal. Proteksi terhadap infeksi • Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. jenis. panas.• Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan. • Ambil kultur.. • Monitor kerentanan terhadap infeksi. tanda infeksi • Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan • AL normal keperawatan.. • V/S dbn • Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung..

kelemahan dan kelelahan. fleksi / rotasi leher berlebihan. perubahan posisi yang cepat • Ajarkan klien untuk ekspirasi selama perubahan posisi. • tingkat energi adekuat. • Kolaborasi team gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien. • Monitor kadar energi. Peningkatan asuhan keperawatan respon pupil. • Kaji makanan yang disukai oleh klien. • Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan. gerakan tak bertujuan. • Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi. PK : Setelah dilakukan • Pantau tanda gejala peningkatan TIK ( kaji GCS. • masukan nutrisi adekuat • A. • Monitor adanya mual muntah. • Hindari massage.3 4 Laporkan kecurigaan infeksi. perubahan mental) mengatasi da • Atur posisi tidur klien dengan tempat tidur bagian mengurangi episode kepala lebuh tinggi (30-40 derajat) kecuali dari peningkatan TIK dikontraindikasikan. PENGERTIAN Demam tipoid merupakan penyakit infeksi akut usus. TV. • berika lingkungan yang tenang dan tingkatkan istirahat • pantau V/S • Pantau AGD • Kolaborasi dengan dokter untuk terapinya • pantau status hidrasi DEMAM TIPOID Ketidaksei mbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Setelah dilakukan asuhan keperawatan … jam klien menunjukan status nutrisi adekuat dengan KH: • BB stabil. letargi. • nilai laboratorium terkait normal. Monitor Nutrisi • Monitor BB jika memungkinkan • Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan. sakit kepala. Manajemen Nutrisi • Kaji adanya alergi makanan. muntah. . • Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi. Sinonim dari demam tipoid adalah tipoid fever. bengkak dsb. stimulasi anal dengan jari. mengejan. enteric fever dan typus abdominalis Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran. • Monitor intake nutrisi dan kalori. • Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori. TIK … jam perawat akan nafas keras.. • Monitor adanya gangguan dalam input makanan misalnya perdarahan. gelisah. • Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya.

Ini terjadi pada kelenjar fimfoid usus halus. Selain itu hepar. ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk ke peredaran darah (bakterimia primer). malahan bersifat menekan pembentukan sel polimorfonuklear dan eosinofil. minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks player. kelenjar-kelenjar mesentrial dan limfa membesar. PATOFISIOLOGI Kuman masuk melalui mulut. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan ileh kelainan pada usus halus. terjadi hyperplasia plaks player. bahkan sampai perforasi usus. Pada minggu pertama sakit. Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus.B. limfa dan organ-organ lainnya. dan mencapai sel-sel retikulo endoteleal. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan. terutrama limpa. ETIOLOGI Tifus abdominalis atau demam tipoid isebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang secara morfologi identik dengan Escherichia coli. C. hati. Kuman ini mempunyai beberapa antigen yang penting untuk mendiagnosis imunologik (tes widal). kuman kuman ini tidak bersifat piogenik. Salmonella typhosa. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan organ tubuh. Pada minggu ke empat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. usus dan kandung empedu. Proses ini terjadi selama masa tunas dan akan berakhir saat sel-sell retikoloendoteleal melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya. basil gram negatif yang bergerak dengan rambut getar dan tidak bersepora . Walaupun pathogen kuat. Salmonella Typhosa Saluran cerna Diserap oleh usus halus Bakteri masuk ke aliran darah sistemik Kelenjar limfoid usus halus Hati Limfa Endotoksin .

tepi. delirium. perforasi. KOMPLIKASI Usus : perdarahan usus.Tukak Perdarahan&Perforasi Hepatomegali Nyeri raba Splenomegali Demam Hipertermi D. muntah. MANIFESTASI KLINIK Masa tunas demam tipoid berlangsung 10-14 hari. nyeri kepala. mual. E. perforasi usus. ensefalopati. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan peningkatan suhu tubuh. nyeri otot. maka pasien dinyatakan betul-betul sembuh. Pada minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam. bradikardi relative. PROGNOSIS Prognosis tergantung dari pada dimulainya pengobatan. pusing. anemia. angka kematian berkisar 15-20%. • Pemeriksaan widal : didapatkan titer terhadap antigen O adalah 1/200 atau lebih. bronkopneumoni G. Kematian pada demam tifoid disebabkan oleh . atau psikosis. F. perdarahan atau pneumonia. yaitu demam. lidah yang khas (kotor di tengah. Jika pada pemeriksaan selama dua kali berturut-turut tidak didapatkan basil salmonella tyhposapada urin dan tinja. batuk dan epistaksis. H. ujung merah dan tremor). splenomegali. Minggu pertama penyakit keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pad umumnya. PENATALAKSANAAN Sampai saat ini ada trilogy penatalaksanaan tipoid yaitu : 5-10 % pada operasi dengan alasan perforasi. sedangkan titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna untuk menegakkan diagnosis kerena titer H dapat tetap tinggi setelah dilakukan immunisasi atau bila penderita telah lama sembuh. Hepatomegali. keadaan sosial ekonomi dan gizi penderita. Perasaan tidak enak diperut. kolesistitis. trombositopenia. meteroismus. stupor. limfositosis. anoreksia. gangguan mental berupa somnolen. peritonitis Organ lain : Meningitis. melena. koma. • Pemeriksaan sumsum tulang : menunjukkan gambaran hiperaktif sumsum tulang • Biakan empedu : terdapat basil salmonella typhposa pada urin dan tinja. Angka kematian pada RS tipe A berkisar antara keadaan toksik. obstipasi atau diare. PEMERIKSAAN LABORATORIUM • Pemeriksaan darah tepi : leukopenia.. aneosinofilia.

Nyeri akut b.Pemberian antibiotic untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran kuman.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. ampicillin/ amoxsisilin. antibiotic yang digunakan .1.d pengobatan.PK : Perdarahan RENPRA DEMAM TYPOID N o 1 Diagnosa Hypertermi b/d proses infeksi Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama….Bebas dari kedinginan .Diet dan terapi penunjang I. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1.x 24 jam menujukan temperatur dalan batas normal dengan kriteria: .d kelemahan.Kerusakan mobilitas fisik b. KOTRIMOKSASOL.Hipertermi b. intoleransi aktifitas/kelemahan. sefalosforin generasi II dan III 2.d agen injuri biologis 3. Mobilisasi bertahap sesuai kemampuan klien 3.d proses infeksi 2. batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi • Berikan kompres hangat hindari penggunaan akohol • Berikan minum sesuai kebutuhan • Kolaborasi untuk pemberian antipiretik • Anjurkan menggunakan pakaian tipis menyerap . 6.d intake makanan yang tidak adekuat 5.Defisit perawatan diri b.Suhu tubuh stabil 36-37 C Intervensi Termoregulasi • Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforsis • Pantau suhu lingkungan. istirahat total 4.Istirahat dan perawatan professional bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Klorampenikol. Pasien harus tirah baring absolute sampai minimal 7 hari bebas panas.

2 Nyeri akut Setelah dilakukan Asuhan keperawatan …. • Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis). jenis.. Administrasi analgetik :... • Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil. • Evaluasi efektifitas analgetik. dan frekuensi. karakteristik. kualitas dan faktor presipitasi.. • Hindari selimut tebal Manajemen nyeri : • Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi. • Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya. • Monitor TV • Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul. rute pemberian dan dosis optimal. Self Care Assistence • Bantu ADL klien selagi klien belum mampu mandiri • Pahami semua kebutuhan ADL klien • Pahami bahasa-bahasa atau pengungkapan non verbal klien akan kebutuhan ADL • Libatkan klien dalam pemenuhan ADLnya • Libatkan orang yang berarti dan layanan pendukung bila dibutuhkan • Gunakan sumber-sumber atau fasilitas yang ada untuk mendukung self care • Ajari klien untuk melakukan self care secara bertahap • Ajarkan penggunaan modalitas terapi dan bantuan mobilisasi secara aman (lakukan supervisi agar keamnanannya terjamin) • Evaluasi kemampuan klien untuk melakukan self care di RS • Beri reinforcement atas upaya dan keberhasilan dalam melakukan self care Konrol infeksi : • Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain. durasi... • Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.. jam tingkat kenyamanan klien meningkat dg KH: • Klien melaporkan nyeri berkurang dg scala 23 • Ekspresi wajah tenang • klien dapat istirahat dan tidur • v/s dbn 3 Sindrom defisit self care b. jam ADLs terpenuhi dg KH: • Klien bersih. • Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi. tanda dan gejala efek samping. • Kurangi faktor presipitasi nyeri. tidak bau • Kebutuhan seharihari terpenuhi 4 Risiko infeksi Setelah dilakukan asuhan keperawatan … jam tidak terdapat keringat. • Cek program pemberian analogetik. • Batasi pengunjung bila perlu. • Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri. • Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan. istirahat total Setelah dilakukan askep . . dosis.d kelemahan. pencahayaan. • Cek riwayat alergi. kebisingan. distraksi dll) untuk mengetasi nyeri. frekuensi. • Tentukan analgetik pilihan.. • Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan.

• Kaji makanan yang disukai oleh klien. Proteksi terhadap infeksi • Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.. • Monitor kerentanan terhadap infeksi. • Laporkan kecurigaan infeksi. • Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori. • Kolaborasi team gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien. • Inspeksi kondisi luka. • Monitor adanya mual muntah.faktor risiko infeksi dan dg KH: • Tdk ada tandatanda infeksi • AL normal • V/S dbn • 5 Ketidaksei mbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Setelah dilakukan asuhan keperawatan … jam klien menunjukan status nutrisi adekuat dengan KH: • BB stabil. bengkak dsb. dainage. • Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi. drainase. • Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung. • Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan. • Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai program. . • Lakukan perawatan luka. • Dorong istirahat yang cukup. • tingkat energi adekuat. Monitor Nutrisi • Monitor BB jika memungkinkan • Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan. insisi bedah. • Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan. • Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan. • Dorong peningkatan mobilitas dan latihan. • masukan nutrisi adekuat Intruksikan kepada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan sesudahnya. • Tingkatkan intake nutrisi dan cairan • berikan antibiotik sesuai program. • Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi. dan laporkan bila hasil positip jika perlu • Dorong masukan nutrisi dan cairan yang adekuat. panas. • Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan. • Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat. • Ambil kultur. • Monitor hitung granulosit dan WBC. dresing infus dan dan kateter setiap hari. • Monitor adanya gangguan dalam input makanan misalnya perdarahan. • Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya. Manajemen Nutrisi • Kaji adanya alergi makanan. • nilai laboratorium terkait normal. • Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan. • Monitor intake nutrisi dan kalori. • Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.

PENGERTIAN Bronkopneumonia adalah peradangan pada diding bronkus kecil disertai atelektasis daerah percabangannya.• Monitor kadar energi. B. kelemahan dan kelelahan. HMT. Monitor V/S Pantau laborat HG. 6 PK: Perdarahan Setelah dilakukan askep … jam perawat akan menangani atau mengurangi komplikasi daripada perdarahan • • • • Pantau tanda dan gejala perdarahan post operasi. ETIOLOGI . AT kolaborasi untuk tranfusi bila terjadi perdarahan (hb < 10 gr%) • Kolaborasi dengan dokter untuk terapinya • Pantau daerah yang dilakukan operasi BRONKOPNEUMONIA A.

Bila ada asidosis koreksi dengan Na Bicnat 1 mEq/kg BB. bila pasien sesak nafas lebih baik personde (NGT). • PEMERIKSAAN PENUNJANG Foto thorak u/ melihat adanya infeksi diparu • AGD u/ mengetahui status kardiopulmoner b/d oksigenasi ( pa co2 menurun). • Bronkoskopi • Biopsi paru.000.40. Gelisah. infeksi. Kadang disertai muntah dan diare Batuk produktif disertai dahak. F. dinding bronkus / bronkiolus yang rusak mengalami fibrosis dan pelebaran sehingga dapat menimbulkan bronkhiektasis. virus influenza. • • Virus : RSV. pernafasan cuping hidung. Diet TKTP . E. adenovirus. rongga alveolus sekitarnya penuh dengan neutropil dan sedikit eksudat fibrinosa. lumen terisi eksudat dan sel epitel rusak. hemofilus influenza. Kultur darah. • • D. LED meningkat.• Bakteri streptokokus pneumonia. mycobacterium tuberculosis. Cairan yg cukup (ntra vena).retraksi dinding dada. Penyembuhan biasanya tidak sempurna.000/m3. • Sesak nafas dan cyanosis sekunder hidung dan mulut. • HJL u/ menetapkan adanya anemia. biasanya leukosit meningkat 15. Secara mikroskopi reaksi radang tampak meliputi dinding bronkus/bronkiolus. • C. .Kelainan yang timbul berupa bercak konsulidasi yang tersebar pada dua paru. MANAJEMEN THERAPI • • • • • • Bronkopneumonia berat harus rawat inap Lakukan suction. cytomegalovirus. PATOFISIOLOGI Bronkopnemonia diawali dengan masuknya kuman kejaringan paru-paru melalui saluran pernafasan dari atas u/ mencapai bronkiolus kemudian kealveolus sekitarnya secara makroskopi. • Status spirometri u/ mengkaji udara yang diinspirasi. TANDA DAN GEJALA Suhu naik mendadak sampai 40 C kadang disertai kejang demam tinggi. Oksigenasi yang adekuat.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak mampuan pemasukan b. Intervensi Airway manajemenn • Bebaskan jalan nafas dengan posisi leher ekstensi jika memungkinkan. . Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d banyaknya scret mucus 2. hospitalisasi RS RENPRA BRONKOPNEMONIA N o 1 Diagnosa Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d banyaknya scret mucus Tujuan Setelah dilakukan askep … jam Status respirasi: terjadi kepatenan jalan nafas dg KH:Pasien tidak sesak nafas. Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh. Medikamentosa. 7. prosedur invasive. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL : 1. 3. Fisioterapi . Perfusi jaringan tidak efektif b/d kerusakan transport oksigen melalui alveolar dan atau membran kapiler 4. Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurang paparan dan keterbatasan kognitif keluarga. • Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi • Identifikasi pasien secara actual atau potensial untuk membebaskan jalan nafas. 5. auskultasi suara paru bersih. Cemas anak / keluarga b / d krisis situasional. 6.• • G.d faktor biologis. Risiko aspirasi b/d tidak efektifnya refllek menelan.

• Catat type dan jumlah sekresi dengan segera Pencegahan aspirasi • Cek residu sebelum pemberian M/M / NGT • Monitor td aspirasi selama proses pemberian M/M ( batuk. reflek batuk. Setelah dilakukan askep … jam terjadi peningkatan Status sirkulasi Dg KH: Perfusi jaringan adekuat. • Evaluasi nadi. Setelah dilakukan askep … jam tidak terjadi aspirasi dg KH. • Terjadi peningkatan reflek menelan • Bertoleransi thdp intake oral & sekresi tanpa aspirasi • Jalan nafas bersih. tersedak. kapiler refil. • Monitor status O2 pasien dan status hemodinamik sebelum. temperatur ekstremitas). oedema • Inspeksi kulit dari luka • Palpasi anggota badan dengan lebih • Kaji nyeri . • Hentikan tracheal suction dan berikan O2 jika pasien bradicardia. • Bersihkan daerah atau area stoma trachea setelah dilakukan suction trachea. sekali pakai untuk melakukan prosedur tracheal suction.oedema. reflek menelan dan kemampuan menelan • Monitor status paru dan V/S • Berikan oxigenasi • Kolaborasi u/ terapi okupasi • Ajarkan pada keluarga cara memberikan M/M 3 Perfusi jaringan tidak efektif berhubunga n perawatan sirkulasi : arterial insuficiency • Lakukan penilaian secara komprehensif fungsi sirkulasi periper. saliva) • Monitor tingkat kesadaran. (cek nadi priper. selama. tidak ada edem palpebra. Pasang ET jika memeungkinkan Lakukan terapi dada jika memungkinkan Keluarkan lendir dengan suction Asukultasi suara nafas Lakukan suction melalui ET Atur posisi untuk mengurangi dyspnea Monitor respirasi dan status oksigen jika memungkinkan Airway Suction • Tentukan kebutuhan suction melalui oral atau tracheal • Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction • Informasikan pada keluarga tentang suction • Masukan slang jalan afas melalui hidung untuk memudahkan suction • Bila menggunakan oksigen tinggi (100% O2) gunakan ventilator atau rescution manual. • Suction oropharing setelah dilakukan suction trachea. vital • • • • • • • 2 Risiko aspirasi b/d tidak efektifnya refllek menelan.tanda dbn. • Gunakan peralatan steril. san sesudah suction.

d faktor biologis 5 Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh. askep … jam  Batasi pengunjung. malnutrisi.  Tingkatkan masukan cairan yang cukup..  Monitor WBC. • Monitor pemberian masukan cairan lewat • Bebas dari tanda parenteral.  Monitor tanda dan gejala infeksi. urin output rendah untuk memperbaiki sirkulasi. normal. jam • Kaji pola makan klien terjadi • Kaji kebiasaan makan klien dan makanan peningkatan kesukaannya status nutrisi dg • Anjurkan pada keluarga untuk meningkatkan KH: intake nutrisi dan cairan • Mengkonsumsi • kelaborasi dengan ahli gizi tentang kebutuhan nutrisi yang kalori dan tipe makanan yang dibutuhkan adekuat. infeksi terkontrol. Nutritional terapi  kaji kebutuhan untuk pemasangan NGT  berikan makanan melalui NGT k/p  berikan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mendukung makan  monitor penurunan dan peningkatan BB  monitor intake kalori dan gizi Setelah dilakukan Kontrol infeksi.4 Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak mampua n pemasukan b. ada. normal. dan ajari cuci tangan yang dangejala infeksi. ekstremitas bawah lebih pucat. dan anjurkan untuk minum sesuai aturan. kulit tdk • Atur posisi pasien.  Berikan therapi antibiotik yang sesuai.  Ajari keluarga cara menghindari infeksi serta tentang tanda dan gejala infeksi dan segera untuk melaporkan keperawat kesehatan. prosedur invasive akral hangat. zat besi dan vit c • Identifikasi • monitor intake nutrisi dan kalori kebutuhan nutrisi. . adekuat dg KH:  Cuci tangan sebelum dan sesudah • Bebas dari tanda merawat pasien.  Bersihkan lingkungan pasien secara benar setiap status imun setelah digunakan pasien. • Rubah posisi pasien jika memungkinkan • Monitor status cairan intake dan output • Berikan makanan yang adekuat untuk menjaga viskositas darah Setelah dilakukan Managemen nutrisi askep .  Ajari anggota keluarga cara-cara menghindari infeksi dan tanda-tanda dan gejala infeksi. • Angka leukosit  Tingkatkan masukkan gizi yang cukup. adekuat respirasi • Berikan therapi antikoagulan.  Pastikan penanganan aseptic semua daerah IV (intra vena).  Anjurkan istirahat. • Keluarga tahu  Pastikan teknik perawatan luka yang sesuai jika tanda-tanda infeksi.  Anjurkan istirahat. • tingkatkan intake protein. Proteksi infeksi. benar.

6 Cemas berhubunga n dengan krisis situasional. • Berikan informasi factual tentang diagnosa dan program tindakan. • Berikan sesuatu objek sebagai sesuatu simbol untuk mengurang kecemasan orangtua. • Temani keluarga pasien untuk mengurangi ketakutan dan memberikan keamanan. • Kaji tingkat pengetahuan dan persepsi pasien dari stress situasional. perlunya pengobatan dan memahami perawatan • Keluarga kooperativedan mau kerjasama saat dilakukan tindakan Setelah dilakukan askep … jam kecemasan terkontrol dg KH: ekspresi wajah tenang .  Tingkatkan masukan gizi dan cairan yang cukup Mengajarkan proses penyakit • Kaji pengetahuan keluarga tentang proses penyakit • Jelaskan tentang patofisiologi penyakit dan tanda gejala penyakit • Beri gambaran tentaang tanda gejala penyakit kalau memungkinkan • Identifikasi penyebab penyakit • Berikan informasi pada keluarga tentang keadaan pasien. hospitalisasi  Batasi jumlah pengunjung. • Anjurkan keluarga untuk mendampingi pasien. • Ciptakan lingkungan yang nyaman. DIARE CAIR AKUT DENGAN SHOCK HIPOVOLEMIK 1. • Jelaskan pada keluarga tentang persiapan / tindakan yang akan dilakukan Pengurangan kecemasan • Bina hubungan saling percaya. • Instruksikan keluarga untuk melakukan teknik relaksasi. • Berikan dukungan pada keluarga untuk memilih atau mendapatkan pengobatan lain yang lebih baik. • Diskusikan tentang pilihan therapy pada keluarga dan rasional therapy yang diberikan. komplikasi penyakit. • Kaji kecemasan keluarga dan identifikasi kecemasan pada keluarga. anak / keluarga mau bekerjasama dalam tindakan askep.5 Kurang pengetahua n keluarga berhubunga n dengan kurang paparan dan keterbatasan kognitif keluarga Setelah dilakukan askep … jam pengetahuan keluarga klien meningkat dg KH: • Keluarga menjelaskan tentang penyakit. • Jelaskan semua prosedur pada keluarga. • Bantu keluarga dalam mengambil keputusan. • Dengarkan keluhan keluarga. • Alihkan perhatian keluarga untuk mnegurangi kecemasan keluarga. Pengertian Diare .

Penurunan status kesehatan Anak dengan kondisi yang lemah lebih tinggi kemungkinan terjadi diare dan lebih banyak diare berat. Diare Kronik Kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi BAB dan peningkatan konsistensi cair dengan durasi 14 hari atau lebih ( Wholey & Wong's. FAKTOR PREDISPOSISI 1. 1994). 2002). Imunodefisiensi / imunosupresi(kekebalan menurun) 4. Malabsorsi : Gangguan dalam pencernaan makananan c. Penyebab Diare . Vibrio. Diare akut Diare akut merupakan penyebab awal penyakit pada anak dengan umur < 5 tahun. Faktor lingkungan dan perilaku d. dehidrasi dapat terjadi dan dapat mengakibatkan kefatalan kira-kira pada 400 anak tiap tahun di Amerika Serikat ( Kleinman.colli. Alergi makanan dan keracunan makanan Keadaan ini biasanya berlangsung sementara setelah infeksi virus (campak) dan mungkin berlangsung lama seperti pada penderita AIDS e. Klasifikasi Diare sbb : a. bakteri dan patogen parasit. 1992 dalam Wholey & Wong's. Diare akut lebih banyak disebabkan oleh agent infectius yang mencakup virus. Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan / miniman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. b. serta perubahan isi/volume ( > 200 gr/hari) dan konsistensi feces cair (Brunner & Suddarth. Infeksi oleh karena Penyebaran kuman yang menyebabkan diare Terdiri atas : Virus (rotavirus). volume. Salmonella.com) 2. b. Diare akut adalah BAB dengan frekuensi meningkat > 3 kali /hari dengan konsistensi tinja cair. bersifat mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 1 minggu. 1994) 3. 2. . Usia Anak dengan umur lebih muda mempunyai kemungkinan terjadi diare lebih besar dan kemungkinan diare berat juga lebih besar. Bakteri ( E. Shigella. keenceran dan frekuensi buang air besar (medistore. Diare adalah peningkatan jumlah. Campylobacter jejuni.Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal ( > 3 kali/hari ). Penyakit diare dapat disebabkan oleh : a. dll) dan penyebab lain seperti parasit (Entamuba hystolitica). Diare lebih banyak pada usia infant.

GEJALA & MANIFESTASI KLINIS DIARE. Nausea. vomiting Abdominal pain Diare bisa lebih dari 1 minggu Fever. Lingkungan Diare lebih banyak terjadi dimana kondisi sanitasi kurang. Anak cengeng. nafsu makan berkurang sampai tidak ada sama sekali. Colli b. 5. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. PATOFISIOLOGI Mikroorganisme masuk GIT Berkembang biak setelah berhasil melewati swar asam lambung Membentuk toksin (endotoksin) Rangsangan untuk membuang mikroorganisme / makanan tersebut DIARE Peningkatan cairan intra luminal menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis karena meningkatnya volume. Tinja/ feces menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah. air dan zat-zat lain terganggu. diare disertai darah dan mukus. Bila sudah banyak kehilangan cairan dan elektrolit. sehingga motilitas usus meningkat.3. Bacterial agent a. 6. gelisah. Sehingga transport cairan dan elektrolit intestinal tidak normal. vomiting. abdominal distention. E. loss of apetit Abdominal pain Diare dan malaise. suhu tubuh meningkat. maka timbulah dehidrasi bahkan syok hipovolemik. fasilitas kesehatan kurang memadai. diare dqn fever. Sebaliknya bila waktu henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan waktu sentuh makanan dengan mukosa usus sehingga penyerapan elektrolit. . persiapan dan penyajian makanan. colic abdominal. Rotavirus b. Norwalk 2. pendidikan tentang perawatan kesehatan tidak adekuat. Salmonella group Diare cair disertai mukus dan darah Vomiting. Karakteristik Fever 38 atau lebih Nausea. Gejala Klinis : • • • • Manifestasi Klinis No Agen Penyebab 1 Viral agent a.

akan tetapi perlu dilakukan pengkajian tentang a. diare disertai mukus bisa bercampur darah. Riwayat diare sekarang Meliputi: lama kurang dari 1 mg. Thypi d. Fever 40 derajat and cramping. e. diare disertai darah. hiperaktif peristaltic and mild abdominal tenderness. tindakan yang telah dilakukan. weight loss develop. Clostridium perfringens c. abdominal pain. malaise. kehilangan zat gizi langsung katabolisme Aritmia jantung 8. Riwayat diare sebelumnya c. Campylob acter jejuni f. Headache and cerebral manifestation. Shigella group gram negatif Fever. letargi. Clostridium botulinum 7. Riwayat Imunisasi . severe abdominal cramps. headache. Riwayat penyakit penyerta saat ini d. muntah. Staphylococcu s b. Vibrio cholera group Nausea. Fever.gram positif c. • • • KOMPLIKASI Kehilangan air dan elektrolit: dehidrasi. vomiting. 3 Food Poisoning a. Nausea. asidosis metabolik. vomiting. abdominal pain. vomiting Diare cair dengan cramp. S. DIAGNOSIS Diagnosis didasarkan pada definisi di atas. b. inright lower quadrant. Moderate to severe crampy. fatigue. vomiting. iritasi anal. hipoklasemia dan syok Masalah gizi : maldigesti. malabsorbsi. konsistensi. dry mouth dan disfagia. demam. diare. headache. abdominal pain. Ireguler fever. feces disertai darah dan mukus. anoreksia. shok dapat terjadi pada kasus berat. BAK 6 jam terakhir. delirium. abdominal cramping periumbilical. frekuensi. konvulsi. mid epigastric pain. demam ringan.

TATALAKSANA PEMBERIAN MAKANAN Makanan sangat penting untuk penderita diare. persitaltik usus. Test urine : menentukan dehidrasi Peningkatan Hmt. susu buatan khusus ( rendah lactose ) hanya diberikan atas indikasi yang jelas. turgor kulit. Riwayat makanan sebelum diare f. abdomen . integritas kulit area perianal dll • Kemungkinan komplikasi lain 10. Pemeriksaan laboratorium Specimen feces : Plymorfonuklear leukosit sebagai gambaran infeksi ELISA : untuk mengkonfirmasi infeksi parasit pH < 6 dan penurunan substansi menunjukan malabsorbsi KH dan deficiency laktose sekunder.TATALAKSANA DIARE Dasar-dasar penatalaksanaan terdiri atas 5 D: • • • • Dehidrasi Diagnosis Diit Defisiensi disakarida . kelembaban mukosa. air mata. dada : jantung dan paru. Hb. creatinin dan BUN umumnya ditemukan pada DCA. konjungtiva.e. PEMERIKSAAN FISIK • • • • Tanda-tanda vital Berat badan dan panjang badan untuk menentukan status gizi Tanda-tanda dehidrasi Pemeriksaan chepalo caudal : ubun-ubun besar pada bayi. 9. Prinsip pemberian makanan untuk penderita diare antara lain: • • • • • ASI tidak dihentika seoptimal mungkin Kualitas dan kuantitas mencukupi Mudah diabsorbsi Tidak merangsang Diberikan dalam porsi kecil tapi sering 11. Makanan diberikan sesegera mungkin termasuk susu.

minum dengan lahap Cubitan kulit perut kembalinya lambat Tanpa dehidrasi : tidak ditemukan tanda-tanda seperti diatas Penanganan Dehidrasi Ringan : a. DEHIDRASI Akibat dari diare yang terus menerus adalah kekurangan cairan ( dehidrasi ). Untuk infant dan anak dengan DCA disertai dehidrasi.• Drugs Management terapeutik langsung untuk koreksi keseimbangancairan dan elektrolit dan mencegah terjadinya malnutrisi. Jumlah cairan yang hilang Penanganan Dehidrasi Sedang/Ringan: Penanganan Dehidrasi Berat : . Beri cairan tambahan (sebanyak anak mau) ASI tetap diberikan bagi anak yang masih menyusu Oralit Larutan gula garam Cairan makanan( air tajin.rewel/mudah marah Mata cekung Haus. Tanda-tanda Dehidrasi ringan/sedang : Gelisah.REHIDRASI Dasar-dasar rehidrasi: a. c. b. Pada kasus dehidrasi berat dan syok diberikan caiaran parenteral.Cubitan kulit perut kemblinya sangat lama. a.kuah sayur atau air matang) Lanjutkan pemberian makan Pergi ke pusat pelayanan kesehatan Pemberian cairan tambahan seperti penanganan dehidrasi ringan Pemberian Oralit secara intensif selama periode 3 jam Ulangi penilaian dan klasifikasikan derajat dehidrasinya. Tanda-tanda Dehidrasi Berat : .Letargis atau tidak sadar dan Mata cekung .Tidak bisa minum atau malas minum . 12. yang pertama harus dilakukan adalah ORT (Oral Rehidrasi Therapy). c. b. Rujuk segera ke pusat pelayanan kesehatan untuk pengobatan IV / lanjutan 13.

lactosa bebas lactosa . penurunan kehilangan volume cairan (Wong. formula MAINTENANCE THERAPY ASI.5 sampai 1 gelas ORS setiap kali BAB. Komposisi ORS tampak pada tabel-2.• • • Dehidrasi ringan : 0 – 5 % atau rata-rata 25 ml/kg BB Dehidrasi sedang : 5 – 10 % atau rata-rata 75 ml/kg BB Dehidrasi berat: 10. Setiap kali BAB diganti dengan 1:1 ORS. 1994). Setelah rehidrasi pada infant. selama 4 jam 10ml/kgBB(for older children) older ASI. perkiraan ORS adalah 10 ml/kgBB atau 0. ORS berguna untuk kasus dehidrasi dan muntah. lebih jelasnya tampak pada tabel –3. ORS dapat digunakan selama mempertahankan terapi cairan dan sebagai solution alternative dengan cairan rendah sodium seperti ASI dan susu formula bebas lactose.Johnson) WHO Na+ (mEq/L) 45 75 50 90 K+ (mEq /L) 20 20 25 20 Cl(mEq/L) 35 65 45 80 Base (mEq/L) 30 (citrate) 30 34 (citrat) 30 (bikarbonat) Tabel-3 DEGREE OF DEHYDRATION Mild (5-6%) SIGN SYMPTOM Peningkatan rasa haus REHYDRATION REPLACEMENT THERAPY ORS 50ml/kgBB Selama 4 jam OF STOOL LOSSES ORS 10ml/kgBB (for 250ml(for Moderate (7-9%) Penurunan turgor membrane children ORS 100ml/kgBB ORS kulit. Nutrient based solution ini dapat menurunkan vomiting.formula bebas Glukose (g/L) 25 25 30 20 infant)/150. Tabel-2 Formula Pedialyte (Ross) Rehydralyte Infalyte (M. Seorang anak dengan muntah harus diberikan tambahan cairan 1 sendok kecil atau 5 – 10 cc setiap 1-5 menit.15 % atau rata-rata 125 ml/ kg BB b. hipotonik dan hipertonik. Jika feces tidak diketahui. Tonisitas caiaran • • • Isotonis : Kadar Na + : 131 – 150 mEq/L Hipertonis : Kadar Na+ : > 150 mEq/L Hipotonik : < 131 mEq/L Oral Rehidrasi Solution (ORS) diberikan pada kasus lebih lanjut misalnya pada infant dengan dehidrasi isotonik.

Setelah diare berhenti. Mengobati masalah lain . PRINSIP PENATALAKSANAAN DIARE a. b. Severe (>9%) mata cekung Tanda sm dg Intravena moderat dehydrasi peningkatan nadi. e. f. RR. penderita harus segera dibawa ke petugas kesehatan atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat c. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit-sedikit tetapi sering. Mencegah terjadinya dehidrasi Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan minuman lebih banyak cairan rumah tangga yang dianjurkan.250ml(for BAB sianosis.pemberian ekstra makanan diteruskan selama 2 minggu untuk membantu memulihkan berat badan anak d. d. di+ hr smp setiap x BAB fluit ORS nadi infant)/ 150older ASI. PENCEGAHAN DIARE a. bila tidak mungkin berikan air matang b. 100ml/kgBB children) setiap x Meningkatkan pemberian ASI Memperbaiki pemberian makanan pendamping ASI Menggunakan air bersih yang cukup Mencuci tangan dengan sabun Menggunakan jamban yang benar Membuang tinja bayi dan anak-anak yang tepat Imunisasi campak 15. Memberi makanan Berikan makanan selama serangan diare untuk memberikan gizi pada penderita terutama anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering diberi ASI.mukosa kering. kmd 50.formula bebas lactosa (RL) 40ml/kgBB? 10ml/kgBB(for normal. lethargy.coma 14. c. g. Mengobati Dehidrasi Bila terjadi Dehidrasi (terutama pada anak). Anak yang minum susus formula diberikan lebih sering dari biasanya.

tekanan darah turun dan asidosis metabolik. Terjadinya kehilangan cairan dapat dibagi atas kehilangan caiaran eksternal dan internal.9% Na 154 130 Elektrolit K Ca 154 4 109 Ditandai PH 6. SHOCK HIPOVOLEMIK Shock hipovolemik yang paling sering terjadi adalah shock hemoragik. Harus diberikan secara perlahan tidak lebih dari 2. Kehilangan cairan eksternal paling sering terjadi akibat gastroenteritis walaupun dapat juga terjadi akibat sengatan matahari. Sebab terbanyak adalah infeksi kolera. Jenis cairan krisdtaloid dan komposisinya yang diberikan untuk mengatasi shock hipovolemik dan komplikasi yang mungkin terjadi serta kontra indikasi adalah seperti tertera pada tabel berikut: Jenis Cairan Cairan isotonik Ringer's laktat Volume (ml) 1000 1000 Konsen trasi 0. Natrium bikarbonat Kalium klorida Natrium laktat 50 20 1000 7. akan tetapi kehilangan cairan tubuh dalam jumlah banyak seperti pada muntaber.5 mEq/menit Tidak boleh diberikan pada gagal ginjal. Tanda terjadinya kehilangan ini adalah keletihan. pernafasan menjadi lebih cepat. Hanya digunakan pada keadaan metabolik alkalosis berat. maka diberikan pengobatan sesuai indikasi.5 % 14. juga dapat menyebabkan shock hipovolemik. Tidak ada obat yang aman dan efektif untuk menghentikan diare. Kecepatan pemberian tidak boleh > 2/3 mEq/menit Laktat sangat sulit dimetabolisasi pada shock dan penyakit hati sebab dapat menimbulkan mengumpulnya laktat. Kehilangan caiaran eksternal ini juga disertai dengan kehilangan elektrolit. Terapi Terapi yang harus diberikan adalah resusitasi / penggantian cairan. Sedangkan kehilangan cairan internal disebabkan oleh sejumlah caiaran yang terkumpul pada ruang peritoneal dan pleura. nadi kencang. Laktat tak dimetabolisasipada shock dan penyakit liver karena itu dapat bertumpuk dalam darah. dengan tetapmengutamakan rehidrasi. poliuria dan luka bakar.Apabila diketemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain. 2/3 mEq /menit dan bila fungsi hati dan ginjal baik. dapat menyebabkan peninmggian klorida dan asidosis Lebih disukai untuk menggantikan cairan ekstraseluler. ekstremitas dingin.9% 1/6 molar 1% 45 167 40 - 40 - Ammonium klorida 100 - - 18 .

Pencegahan infeksi • • • Mengisolasikan body substance Cuci tangan untuk menurunkan resiko penyebaran baik petugas maupun keluarga dan pengunjung Gunakan disposible diapers untuk mencegah dermatitis . turgor kulit. anoreksia) Risiko infeksi b/d imunitas tubuh menurun. kurang paparan terhadap informasi Cemas anak / keluarga b/d diare PK : Hipovolemia PK: Ketidakseimbangan elektrolit 17. f. muntah. rice. tinggi KH dan rendah elektrolit Observasi dan catat respon pasien terhadap makanan untuk mengetahui toleransi pasien terhadap makanan. Prinsip Implementasi a. e. Keseimbangan nutrisi • • • Memberikan ASI secara kontinyu setelah rehidrasi Memebrikan diit BRAT ( bananas. Diagnosis Keperawatan a. Deficient Fluid volume b/d diare cair Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi inadekuat b/d faktor biologis ( mual. membran mukosa dan status mental. Tindakan untuk mengontrol keseimbangan cairan • • • • Rehidrasi dengan ORS (oral rehidarsi solusion) Memberikan dan memonitor IVFD untuk diare berat disertai muntah Monitor intake dan out put (balance cairan) • Kaji vital sign . penyakitnya Kurang pengetahuan anak / keluarga tentang penyakit. c. d. Tindakan untuk mengontrol diare • • • • Istirahat Makan dan minum rendah serat Makanan bertahap dari diet saring hingga padat Menghindari makanan dan minuman yang dapat merangsang motilitas usus c. apple and tea) sebagai diit rendah protein dan energi. perawatan dan pengobatannya b/d terbatasnya kognitif. prosedir invasive.16. Monitor BB Motivasi untuk penggantian cairan oral ( jika masih memungkinkan ) • Penjelasan kepada orang tua tentang pemberian terapi dan monitoring balance cairan b. d. b. g.

Penatalaksanaan masalah kolaborasi . ex. Mempertahankan integritas kulit • • • f. • • • • • Menjaga kekeringan dan kebersihan diaper Menggunakan air dan sabun alkaline untuk membersihkan daerah yang terkontaminasi dengan feces Dapat digunakan salep zinc oxide untuk melindungi kulit dari iritasi Mengurangi kecemasan Memberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan Identifikasi faktor penyebab Diskusikan pemecahan masalah yang dapat dilakukan Monitor kadar elektrolit serum tiap hari Monitoring tanda-tanda vital dan Monitor tanda-tanda aritmia g.• Menjaga infant / anak untuk tidak menyentuh area yang terkontaminasi. anus e.

. 2 . • Identifikasi kebutuhan nutrisi. muntah • Awasi tanda-tanda hipovolemik (oliguri. Nutritional terapi  kaji kebutuhan untuk pemasangan NGT  berikan makanan melalui NGT k/p  berikan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mendukung makan  monitor penurunan dan peningkatan BB  monitor intake kalori dan gizi 3 Setelah dilakukan Kontrol infeksi.  Bersihkan lingkungan pasien secara benar setiap Deficit Setelah dilakukan volume askep . jam terjadi peningkatan status nutrisi dg KH: • Mengkonsumsi nutrisi yang adekuat.. abd. penurunan infeksi terkontrol. zat besi dan vit c • monitor intake nutrisi dan kalori • Monitor pemberian masukan cairan lewat parenteral. jam cairan b/d terjadi diare peningkatan keseimbangan cairan dg KH: • Urine 30 ml/jam • V/S dbn • Kulit lembab dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi inadekuat b. • Bebas dari tanda malnutrisi. Pain. Risiko infeksi b/d askep … jam  Batasi pengunjung. bingung) • Monitor balance cairan • Monitor pemberian cairan parenteral • Monitor BB jika terjadi penurunan BB drastis • Monitor td dehidrasi • Monitor v/s • Berikan cairan peroral sesuai kebutuhan • Anjurkan pada keluarga agar tetap memberikan ASI dan makanan yang lunak • Kolaborasi u/ pemberian terapinya Managemen nutrisi • Kaji pola makan klien • Kaji kebiasaan makan klien dan makanan kesukaannya • Anjurkan pada keluarga untuk meningkatkan intake nutrisi dan cairan • kelaborasi dengan ahli gizi tentang kebutuhan kalori dan tipe makanan yang dibutuhkan • tingkatkan intake protein.d faktor biologis Setelah dilakukan askep .RENPRA DCA DENGAN SYOK N o 1 Diagnosa Tujuan Intervensi Manajemen cairan • Monotor diare.

 Tingkatkan masukkan gizi yang cukup. • Keluarga tahu  Lakukan dresing infus tiap hari tanda-tanda infeksi.  Tingkatkan masukan cairan yang cukup. • Kaji kecemasan keluarga dan identifikasi kecemasan pada keluarga.  Ajari anggota keluarga cara-cara menghindari infeksi dan tanda-tanda dan gejala infeksi.  Pastikan penanganan aseptic semua daerah IV (intra vena).  Anjurkan istirahat. normal. adekuat dg KH:  Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat pasien. prosedur invasive.  Tingkatkan masukan gizi dan cairan yang cukup 4 Kurang pengetahua n keluarga berhubunga n dengan kurang paparan dan keterbatasan kognitif keluarga Setelah dilakukan askep … jam pengetahuan keluarga klien meningkat dg KH: • Keluarga menjelaskan tentang penyakit. Proteksi infeksi. • Berikan dukungan pada keluarga untuk memilih atau mendapatkan pengobatan lain yang lebih baik. • Jelaskan pada keluarga tentang persiapan / tindakan yang akan dilakukan Pengurangan kecemasan • Bina hubungan saling percaya. penyakitnya status imun setelah digunakan pasien.  Monitor tanda dan gejala infeksi. anak / keluarga mau bekerjasama dalam Mengajarkan proses penyakit • Kaji pengetahuan keluarga tentang proses penyakit • Jelaskan tentang patofisiologi penyakit dan tanda gejala penyakit • Beri gambaran tentaang tanda gejala penyakit kalau memungkinkan • Identifikasi penyebab penyakit • Berikan informasi pada keluarga tentang keadaan pasien. • Jelaskan semua prosedur pada keluarga. dan anjurkan untuk minum sesuai aturan.  Monitor WBC. • Kaji tingkat pengetahuan dan persepsi pasien dari 5 Cemas berhubunga n dengan krisis situasional.imunitas tubuh.  Batasi jumlah pengunjung.  Ajari keluarga cara menghindari infeksi serta tentang tanda dan gejala infeksi dan segera untuk melaporkan keperawat kesehatan.  Anjurkan pada keluarga untuk selalu menjaga kebersihan klien dan menjaga pantat selalu • Angka leukosit kering u/ hindari iritasi. komplikasi penyakit.  Berikan therapi antibiotik yang sesuai. • Diskusikan tentang pilihan therapy pada keluarga dan rasional therapy yang diberikan. dan ajari cuci tangan yang • Bebas dari tanda benar. dangejala infeksi. hospitalisasi . perlunya pengobatan dan memahami perawatan • Keluarga kooperativedan mau kerjasama saat dilakukan tindakan Setelah dilakukan askep … jam kecemasan terkontrol dg KH: ekspresi wajah tenang .  Anjurkan istirahat.

Setelah dilakukan • Pantau status cairan (oral. akral dingin. anoreksia. terjadinya penurunan kesadaran. urine <30 ml/jam. Alihkan perhatian keluarga untuk mnegurangi kecemasan keluarga. akan mengurangi muntah. Dengarkan keluhan keluarga. pucat. reflek tendon melemah) episode • Dorong klien u/ meningkatkan intake nutrisi yang ketidakseimbangan kaya kalium elektrolit • Kolaborasi u/ koreksi kalium secara parenteral • Pantau cairan IV 7 PK. Berikan sesuatu objek sebagai sesuatu simbol untuk mengurang kecemasan orangtua. ileus. Temani keluarga pasien untuk mengurangi ketakutan dan memberikan keamanan. hipotensi.tindakan askep. Berikan informasi factual tentang diagnosa dan program tindakan.kelemahan. Anjurkan keluarga untuk mendampingi pasien. peningkatan respirasi. Instruksikan keluarga untuk melakukan teknik relaksasi. lembab) • Kolaborasi pemberian terapinya • Batasi aktivitas klien Setelah dilakukan • Pantau td hipokalemia (poli uri. • • • • • • • • • 6 PK: hipovolemia stress situasional. askep … jam perawat penurunan tingkat kesadaran. Ciptakan lingkungan yang nyaman. Ketidaksei mbangan elektrolit . parenteral) askep … jam perawat • Pantau balance cairan akan mengurangi • Pantau td syok ( v/s. hipovolemia haus. penurunan nadi perifer. gelisah. mual. Bantu keluarga dalam mengambil keputusan.

dan destruksi eritrosit oleh system retikuloendotelial dalam limfa dan hati. 4. Ditandai oleh defisiensi produksi globin pada hemoglobin.bertambahnya volume plasma intravaskuler yang mengakibatkan hemodilusi. Penelitian biomolekular menunjukkan adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai alfa atau beta dari hemoglobin berkurang. Penyebab sekunder adalah karena defisiensi asam folat. Penyebab primer adalah berkurangnya sintesis Hb A dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran sel-sel eritrosit intrameduler. PATOFISIOLOGI Penyebab anemia pada talasemia bersifat primer dan sekunder.TALASEMIA I. Talasemia β (gangguan p[embentukan rantai β ) 3. III. . Talasemia β -δ (gangguan pembentukan rantai β dan δ yang letak gen nya diduga berdekatan). DEFINISI Talasemia adalah penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan secara resesif. II. Talasemia δ (gangguan pembentukan rantai δ ) Secara klinis talasemia dibagi dalam 2 golongan yaitu : • • • Talasemia Mayor (bentuk homozigot) Memberikan gejala klinis yang jelas Talasemia Minor biasanya tidak memberikan gejala klinis. Talasemia α (gangguan pembentukan rantai α ) 2. KLASIFIKASI Secara molekuler talasemia dibedakan atas : 1.

peningkatan absorpsi besi dalam usus karena eritropoesis yang tidak efektif. Pemberian transfusi hingga Hb mencapai 10 g/dl. MANIFESTASI KLINIS  Letargi  Pucat  Kelemahan  Anoreksia  Sesak nafas  Tebalnya tulang cranial  Pembesaran limfe  Menipsnya tulang kartilago  Disritmia VII. Intoleransi aktivitas b. 3. PENATALAKSANAAN TERAPI 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b. Perfusi jaringan tidak efektif b.d ketidakseimbangan kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.d intake nutrisi inadekuat .d berkurangnya komponen seluler yang penting untuk menghantarkan Oksigen/zat nutrisi ke sel. Splenectomy : dilakukan untuk mengurangi penekanan pada abdomen dan meningkatkan rentang hidup sel darah merah yang berasal dari suplemen(transfusi). Hemosiderosis dapat dicegah dengan pemberian Deferoxamine(desferal). ETIOLOGI Factor genetic V. DIAGNOSE KEPERAWATAN 1. anemia kronis serta proses hemolisis. Komplikasi dari pemberian transfusi darah yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya penumpukan zat besi yang disebut hemosiderosis.Tejadinya hemosiderosis merupakan hasil kombinasi antara transfusi berulang. IV. 2. 2. KOMPLIKASI  Fraktur patologis  Hepatosplenomegali  Gangguan Tumbuh Kembang  Disfungsi organ VIII.

Kurang pengetahuan keluarga terhadap penyakit.Akral hangat .4. Manajemen nutrisi • Monitor intake nutrisi untuk memastikan kecukupan sumber-sumber energi Emosional support • Berikan reinfortcemen positip bila ps mengalami kemajuan Managemen nutrisi • Kaji pola makan klien 2 3 Ketidak seimbangan Setelah dilakukan askep .TTV dalam batas normal Setelah dilakukan askep .Conjunctiva tidak anemis .d berkurangn ya komponen seluler yang penting untuk menghantar kan oksigen/zat nutrisi Intoleransi aktivitas b.oedema.. • Pantau V/S ps sebelum. • Bantu klien untuk istirahat setelah aktivitas. temperatur ekstremitas).. perawatan dan pengobatannya 6. • Berikan therapi antikoagulan. prosedur invasive 5.Membran mukosa merah muda .sesak. ekstremitas bawah lebih rendah untuk memperbaiki sirkulasi. • Evaluasi nadi. jam . jam klien toleran terhadap aktivitas dengan criteria : Kebutuhan ADL terpenuhi tanpa rasa pusing. PK: Anemia RENPRA TALASEMIA N o 1 Diagnosa Perfusi jaringan tdk efektive b. Risiko infeksi b/d imunitas tubuh primer menurun. Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … jam perfusi jaringan klien adekuat dengan criteria : . oedema • Inspeksi kulit dan Palpasi anggota badan • Kaji nyeri • Atur posisi pasien. • Rubah posisi pasien jika memungkinkan • Monitor status cairan intake dan output • Berikan makanan yang adekuat untuk menjaga viskositas darah Terapi aktivitas : • Kaji kemampuan ps melakukan aktivitas • Jelaskan pada ps manfaat aktivitas bertahap • Evaluasi dan motivasi keinginan ps u/ meningktkan aktivitas • Tetap sertakan oksigen saat aktivitas. • Rencanakan aktivitas saat ps mempunyai energi cukup u/ melakukannya. (cek nadi priper. kapiler refil.d ketidakseim bangan kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen. dan setelah aktivitas selama 3-5 menit. klien mampu aktivitas Intervensi perawatan sirkulasi : arterial insuficiency • Lakukan penilaian secara komprehensif fungsi sirkulasi periper. selama.

 Monitor tanda dan gejala infeksi.  Tingkatkan masukan cairan yang cukup.  Ajari anggota keluarga cara-cara menghindari infeksi dan tanda-tanda dan gejala infeksi. status imun adekuat dg KH: • Bebas dari tanda dangejala infeksi.  Anjurkan istirahat.  Bersihkan lingkungan pasien secara benar setiap setelah digunakan pasien. • Identifikasi kebutuhan nutrisi.d faktor biologis terjadi peningkatan status nutrisi dg KH: • Mengkonsumsi nutrisi yang adekuat.  Tingkatkan masukkan gizi yang cukup. Proteksi infeksi.  Anjurkan istirahat. • V/S dbn 5 Kurang pengetahua n keluarga berhubunga n dengan kurang paparan dan keterbatasan Setelah dilakukan askep … jam pengetahuan keluarga klien meningkat dg KH: • Keluarga menjelaskan kembali yang • Kaji kebiasaan makan klien dan makanan kesukaannya • Anjurkan pada keluarga untuk meningkatkan intake nutrisi dan cairan • kelaborasi dengan ahli gizi tentang kebutuhan kalori dan tipe makanan yang dibutuhkan • tingkatkan intake protein. 4 Risiko infeksi b/d penurunan imunitas tubuh. dan anjurkan untuk minum sesuai aturan. dan ajari cuci tangan yang benar. penyakitnya Setelah dilakukan askep … jam infeksi terkontrol. Nutritional terapi  kaji kebutuhan untuk pemasangan NGT  berikan makanan melalui NGT k/p  berikan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mendukung makan  monitor penurunan dan peningkatan BB  monitor intake kalori dan gizi Kontrol infeksi. • Angka leukosit normal.  Pastikan penanganan aseptic semua daerah IV (intra vena).  Ajari keluarga cara menghindari infeksi serta tentang tanda dan gejala infeksi dan segera untuk melaporkan keperawat kesehatan.  Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat pasien. prosedur invasive.  Monitor WBC.  Berikan therapi antibiotik yang sesuai.  Batasi pengunjung.nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi inadekuat b.  Tingkatkan masukan gizi dan cairan yang cukup Mengajarkan proses penyakit • Kaji pengetahuan keluarga tentang proses penyakit • Jelaskan tentang patofisiologi penyakit dan tanda gejala penyakit • Beri gambaran tentaang tanda gejala penyakit kalau memungkinkan • Identifikasi penyebab penyakit • Berikan informasi pada keluarga tentang keadaan . • Bebas dari tanda malnutrisi. zat besi dan vit c • monitor intake nutrisi dan kalori • Monitor pemberian masukan cairan lewat parenteral.  Lakukan dresing infus tiap hari  Anjurkan pada keluarga untuk selalu menjaga kebersihan klien dan menjaga pantat selalu kering u/ hindari iritasi.  Batasi jumlah pengunjung.

. status Fe • Hb >/= 10 gr/dl. • Jelaskan pada keluarga tentang persiapan / tindakan yang akan dilakukan Setelah dilakukan • Monitor tanda-tanda anemia askep .kognitif keluarga 6 PK:Anemia dijelaskan pasien. • Keluarga • Diskusikan tentang pilihan therapy pada keluarga dan kooperativedan rasional therapy yang diberikan. komplikasi penyakit.... Retic. mau kerjasama saat • Berikan dukungan pada keluarga untuk memilih atau dilakukan tindakan mendapatkan pengobatan lain yang lebih baik. • Observasi keadaan umum klien • Konjungtiva tdk anemis • Kulit tidak pucat • Akral hangat . HMT. jam perawat • Anjurkan untuk meningkatkan asupan nutrisi klien yg akan dapat bergizi meminimalkan • Kolaborasi untuk pemeberian terapi initravena dan terjadinya komplikasi tranfusi darah anemia : • Kolaborasi kontrol Hb.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful