P. 1
Praktikum Titrasi Asam-Basa

Praktikum Titrasi Asam-Basa

|Views: 1,210|Likes:
Published by Yudi Antono

More info:

Published by: Yudi Antono on Jan 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/10/2015

pdf

text

original

TITRASI ASAM BASA

21 November 2011

K E L O M P O K 9

Disusun oleh :
1. Siska Fauzi NIM : 1111016200033

2. Mochammad Donny Anggoro NIM : 1111016200034
3. Riska Fitriyani NIM : 1111016200035 4. Amrina Alhumaira NIM : 1111016200036

Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan powerpoint ini dengan judul “ Titrasi Asam Basa “. Powerpoint ini di susun dalam rangka memenuhi tugas kelompok praktikum kimia dasar I Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam menyusun powerpoint ini, kami mendapatkan materi berdasarkan beberapa pedoman kami, baik berupa buku modul ‘Chemistry Experiment’s’ maupun dari web internet. Semua itu kami dapatkan atas kerjasama yang baik dari kelompok kami, kelompok 9. Kami menyadari bahwa dalam menyusun powerpoint ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya powerpoint ini. Kami berharap semoga powerpoint ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Jakarta, 21 November 2011

Kelompok 9

Tujuan Praktikum :
1. Membuat larutan baku/standar asam oksalat untuk standarisasi larutan Natrium Hidroksida

2. Menentukan massa molar larutan asam yang dititrasi

Larutan dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu bersifat asam, basa, dan netral. Asam dan basa sudah dikenal sejak zaman dulu dan banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Basa terdapat pada deterjen, obat-obatan dan pasta gigi. Dan asam terdapat pada makanan, minuman kaleng dan buah-buahan. Istilah asam (acid) berasal dari bahasa latin acetum yang berarti cuka. Istilah basa(alkali) berasal dari bahasa Arab yang berasrti abu. Dan juga sudah lama diketahui bahwa asam dan basa saling menetralkan. Kini telah tersedia cara praktis untuk menunjukkan keasaman atau kebasaan,yaitu dengan menggunakan indikator asam-basa. Indikator asam-basa adalah zat-zat warna yang mampu menunjukkan warna berbeda dalam larutan asam dan basa. Salah satu indikator adalah kertas lakmus dan indikator universal.

Pendahuluan
 Larutan Baku Primer dan Sekunder Larutan baku adalah larutan suatu zat terlarut yang telah diketahui konsentrasinya. Terdapat 2 macam larutan baku, yaitu: 1. Larutan baku primer; adalah suatu larutan yang telah diketahui secara tepat konsentrasinya melalui metode gravimetri. Nilai konsentrasi dihitung melalui perumusan sederhana, setelah dilakukan penimbangan teliti zat pereaksi tersebut dan dilarutkan dalam volume tertentu. Contoh: K2Cr2O7, AS2O3, NaCl, asam oksalat, asam benzoat. Syarat-syarat larutan baku primer: – mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin pada suhu 110-120 derajat celcius) dan disimpan dalam keadaan murni. – tidak bersifat higroskopis dan tidak berubah berat dalam penimbangan di udara. – zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji kualitatif dan kepekaan tertentu. – sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa ekivalen yang besar, sehingga kesalahan karena penimbangan dapat diabaikan. – zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih. – reaksi yang berlangsung dengan pereaksi tersebut harus bersifat stoikiometrik dan langsung. kesalahan titrasi harus dapat diabaikan atau dapat ditentukan secara tepat dan mudah.

2. Larutan baku sekunder; adalah suatu larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembakuan menggunakan larutan baku primer, biasanya melalui metode titrimetri. Contoh: AgNO3, KMnO4, Fe(SO4)2 Syaratsyarat larutan baku sekunder: – derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer – mempunyai BE yang tinggi untuk memperkecil kesalahan penimbangan – larutannya relatif stabil dalam penyimpanan.
 Definisi Titrasi  Titrasi adalah pengukuran suatu larutan dari suatu reaktan yang dibutuhkan untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan tertentu lainnya. • Titrasi asam basa adalah reaksi penetralan. • Jika larutan bakunya asam disebut asidimetri dan jika larutan bakunya basa disebut alkalimetri. • Larutan penguji disebut “TITRAN” sedangkan • Larutan yang ingin diuji kadarnya disebut “TITRAT / TITER”

 Prinsip Titrasi Asam Basa Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titrat ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titran dan titrat tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”. Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titrat yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titrat maka kita bisa menghitung kadar titran.

 Cara Mengetahui Titik Ekuivalen Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa. 1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurvatitrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”. 2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan. Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang per bahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indikator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indikator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.

Alat dan Bahan
Alat :  Labu erlenmeyer 250 ml  Gelas kimia 200 ml  Buret 50 ml  Corong  Pipet tetes  Batang pengaduk  Botol semprot  Statif dan jari empat  Spatula

Bahan :  Asam oksalat 0,05 M  NaOH  Cuka makan  Jeruk limo  Akuades  Phenolftalein (PP)

LANGKAH PERCOBAAN 1

Larutan NaOH dan Asam Oksalat

1.

Masukkan larutan NaOH sampel ke dalam Buret Sebanyak 50 ml dengan menggunakan Corong. Turunkan buret pada statif terlebih dahulu di lantai agar mudah dijangkau

2. Masukkan Larutan Asam Oksalat 0.05 M ke dalam Labu Erlenmeyer sebanyak 25 ml

3. Masukkan 3 tetes indikator Penolftalein ke dalam labu erlenmeyer

4. Setelah siap, Dilakukan titrasi hingga warna larutan dalam labu erlenmeyer berubah menjadi warna merah muda

5. Warna larutan setelah dititrasi

6. Catat volume NaOH yang dipakai untuk titrasi

Menghitung Kadar atau Konsentrasi NaOH, dengan menggunakan Rumus :

naMaVa = nbMbVb
Keterangan : na Ma Va nb Mb Vb jumlah ion H+ Molaritas asam Volume asam jumlah ion OHMolaritas basa Volume basa

LANGKAH PERCOBAAN 2

Larutan NaOH dan Asam Cuka

1.

Masukkan larutan NaOH sampel ke dalam Buret Sebanyak 50 ml dengan menggunakan Corong. Turunkan buret pada statif terlebih dahulu di lantai agar mudah dijangkau

2. Sebanyak 1 ml Asam Cuka di Encerkan dengan 24 ml Aquades

3. Setelah diencerkan Masukkan kedalam Labu Erlenmeyer

4. Diberi Phenolftalein sebanyak 3 tetes

5. Setelah siap, Dilakukan titrasi sampai warna yang di dalam labu erlenmeyer berubah menjadi warna pink

6.

Melihat Berapa banyak Larutan NaOH yang di gunakan sampai larutan berubah menjadi warna pink?

Menghitung Kadar atau Konsentrasi Asam Cuka (CH3COOH) dengan menggunakan konsentrasi NaOH yang telah di ketahui Konsentrasinya ,, dengan menggunakan Rumus

naMaVa = nbMbVb
Keterangan : na Mb Vb jumlah ion H+ nb Molaritas basa Ma Volume basa Va jumlah ion OHMolaritas asam Volume asam

LANGKAH PERCOBAAN 3

Larutan NaOH dan Jeruk Limo (Asam Sitrat)

1. Masukkan larutan NaOH sampel ke dalam Buret Sebanyak 50 Ml dengan menggunakan Corong

2. Sebanyak 1 Ml Jeruk Limo yang sudah diperas Airnya di Encerkan dengan 24 Ml Aquades

3. Setelah di encerkan Masukkan kedalam Labu Erlenmeyer

4. Diberi Phenolftalein sebanyak 3 tetes

5. Setelah siap, Dilakukan titrasi sampai warna yang di dalam labu erlenmeyer berubah menjadi warna pink

6. Melihat Berapa banyak Larutan NaOH yang di gunakan sampai larutan berubah menjadi warna pink?

Menghitung Kadar atau Konsentrasi Jeruk Limo (Asam Sitrat) dengan menggunakan konsentrasi NaOH yang telah di ketahui Konsentrasinya,, dengan menggunakan Rumus :

naMaVa = nbMbVb
Keterangan : na Mb Vb jumlah ion H+ nb Molaritas basa Ma Volume basa Va jumlah ion OHMolaritas asam Volume asam

Hasil pengamatan
Trial 1 (asam oksalat) Perceboaan Percobaan 1 2 Mula-mula buret (ml) Akhir buret (ml) Volume NaOH yg di butuhkan Volume rata-rata NaOH (ml) 0 15 85 0 19 31 Trial 2 (asam asetat) Percobaan 1 0 45,7 4,3 Percobaan 2 0 45 5 Trial 3 (asam sitrat) Percobaan 1 0 47,9 2,1 Percobaan 2 0 48 2

98 ̸ 2 = 58

9,3 ̸ 2 = 4,65

4,1 ̸ 2 = 2,05

Pengolahan Data
Menghitung konsentrasi NaOH 1. M₁ H₂C₂O₄ = 0,05 M V₁ H₂C₂O₄ = 25 mL V₂ NaOH = 85 mL Jumlah ion H⁺ = 2 Jumlah ion OH⁻ = 1 M₂ NaOH = ? Jawab : N₁.V₁ = N₂.V₂ 0,05 . 2 . 25 mL = M₂ . 85 mL. 1 2,5 M = 85 M₂ M₂ = 0,029 M

2.

M₁ H₂C₂O₄ = 0,05 M V₁ H₂C₂O₄ = 25 mL V₂ NaOH = 31 mL Jumlah ion H⁺ = 2 Jumlah ion OH⁻ = 1 M₂ NaOH = ? Jawab: N₁.V₁ = N₂.V₂ 0,05 . 2 . 25 mL = M₂ . 31 mL.1 2,5 M = 31 . M₂ M₂ = 0,081 M Jadi rata-rata M₂ = 0,029 + 0,081 ̸ 2 = 0,052 M

• Menghitung konsentrasi asam asetat ( CH₃C00H) 1. M₁ CH₃COOH = ? V₁ CH₃COOH = 25mL M₂ NaOH = 0,05 M V₂ NaOH = 4,3 Ml Jumlah ion H⁺ = 1 Jumlah ion OH⁻ = 1 Jawab : N₁ . V₁ = N₂ . V₂ M₁. 25mL . 1 = 0,05 . 4,3mL . 1 25 M₁ = 0,21 M M₁ = 0,0084

2. M₁ CH₃COOH = ? V₁ CH₃COOH = 25mL M₂ NaOH = 0,05 M V₂ NaOH = 5 mL Jumlah ion H⁺ = 1 Jumlah ion OH⁻ = 1 Jawab : N₁ . V₁ = N₂ . V₂ M₁ . 1 . 25mL = 0,05 . 1 . 5mL 25 . M₁ = 0,25 M M₁ = 0,01 Jadi rata-rata M₁ = 0,0084 + 0,01 ̸ 2 = 0,0092 M

• Menghitung konsentrasi asam sitrat ( C₆H₈O₇ ) 1. M₁ C₆H₇O₈ = ? V₁ C₆H₇O₈ = 25mL M₂ NaOH = 0,05 M V₂ NaOH = 2,1 mL Jumlah ion H⁺ = 3 Jumlah ion OH⁻ = 1 Jawab : N₁ . V₁ = N₂ . V₂ M₁ . 3 . 25mL = 0,05 . 1 . 2,1mL 75 . M₁ = 0,105 M M₁ = 0,0014 M

2.

M₁ C₆H₇O₈ = ? V₁ C₆H₇O₈ = 25mL M₂ NaOH = 0,05 M V₂ NaOH = 2 mL Jumlah ion H⁺ = 3 Jumlah ion OH⁻ = 1 Jawab : N₁ . V₁ = N₂ . V₂ M₁ . 3 . 25mL = 0,05 . 1 . 2mL 75 M₁ = 0,1 M M₁ = 0,0013 M Jadi, rata-rata M₁ = 0,0014 + 0,0013 ̸ 2 = 0,00135 M

 Pembahasan Pada percobaan kali ini dilakukan percobaan titrasi dengan menggunakan larutan asam lemah dan basa kuat, yaitu asam oksalat, asam asetat, dan asam sitrat dengan basa natrium hidroksida. Dimana asam sebagai titrat sedangkan basa sebagai titrannya. Untuk mendeteksi perubahan warna yang dihasilkan maka di gunakan indikator, salah satu indikator asam basa adalah fenolftalein (PP), Indikator PP tidak berwarna jika dalam bentuk HIn (asam) dan berwarna merah jambu dalam bentuk In– (basa). Pada trial 1 dilakukan percobaan antara asam oksalat dengan natrium hidroksida dimana volume NaOH yang di perlukan sebanyak 85ml pada percobaan 1 dan 31ml pada percobaan 2 untuk merubah warna larutan hingga menjadi warna merah muda.

Pada trial 2 asam asetat 25ml membutuhkan NaOH sebanyak 4,3ml pada percobaan 1 dan 5ml pada percobaan 2 hingga warna asam berubah menjadi warna merah muda. Pada trial 3 NaOH yang dibutuhkan untuk merubah warna asam sitrat sebanyak 25ml menjadi warna merah muda yaitu sebanyak 2,1ml pada percobaan 1 dan 2ml pada percobaan 2. Asam hanya dapat berubah setelah massa NaOH mencapai volume tertentu karena pada saat titik ekuivalen tercapai, maka indikator fenolftalin (PP) tadi akan berubah warnanya sesuai dengan tingkat ke-asaman larutan tersebut. Karena dalam keadaan titran basa maka warna larutan yang di hasilkan adalah merah muda.

Maksud dari titik ekuivalen diatas adalah dimana sejumlah ion OH⁻ tepat habis bereaksi dengan sejumlah ion H⁺ sehingga indikator berubah warnanya. Untuk mengetahui titik ekuivalen dihitung dengan cara Normalitas. Pada trial 1 mol rata-rata NaOH yang diperoleh adalah 0,052 M, pada trial 2 mol asam asetat yang diperoleh adalah 0,0092 M dan pada trial 3 mol asam sitrat yang diperoleh adalah 0,00135 M. Ada kemungkinan jika Ketika campuran berubah warna, itu menunjukkan ion H+ dalam larutan Asam telah dinetralkan seluruhnya oleh ion OH– dari NaOH. Jika larutan NaOH ditambahkan terus, dalam campuran akan kelebihan ion OH– (ditunjukkan oleh warna larutan merah jambu).

KESIMPULAN
Kadar atau konsentrasi titran dapat ditentukan melalui proses titrasi, yaitu dengan mereaksikan titrat yang telah ditambahkan 3 tetes indikator PP dengan titran. Titrasi harus dihentikan bila larutan titran yang dicampurkan dengan 3 tetes indikator berubah warna dari tidak berwarna hingga menjadi merah muda. Volume titrat yang digunakan akan mempengaruhi hasil konsentrasi dari titran tersebut, sehingga harus sangat berhati-hati melakukan praktikum ini. Setelah volume titrat diketahui, barulah konsentrasi titran bisa dihitung.

● ●
● ● ● ●

Brady, James E.1999.Kimia Universitas Asas dan Struktur.Jakarta:Binarupa Aksara Harjadi W.1986.Ilmu Kimia Analitik Dasar.Jakarta:Gramedia Keenan, C. W,dkk.1998.Kimia Untuk Universitas.Jakarta:Erlangga Petrucci, Ralph H and Willias S. Harwood.1997.General Chemistry.New Jersey:Prentice Hall Rivai, H.1995.Asas Pemeriksaan Kimia.Jakarta:UI-Press Syukri.1999.Kimia Dasar 2.Bandung:ITB Snyder, Milton K.1996.Chemistry Structure and Reaction.New York:Rinehart and winston

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->