P. 1
Bahasa Dan Pikiran

Bahasa Dan Pikiran

|Views: 394|Likes:
Published by naim777

More info:

Published by: naim777 on Jan 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2014

pdf

text

original

Paper Logika

Kamis, 11 Nopember 2010

Nama : Ahmad Ulin Na’im NIM : 09.11.00083 Prodi : PBA III A
Hlm. | 1

Bahasa dan Pikiran

Hubungan Timbal Balik Antara Keduanya Hubungan antara pikiran (idea) dan bahasa (lingua). Dalam kehidupan praktis sehari-hari, kita melakukan komunikasi. Kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, dengan bahasa kita mampu mengkomunikasikan ide-ide kita. Apakah bahasa merupakan satu-satunya instrumen untuk berkomunikasi? Tidak terasa kita memang menganut paham tersebut, yang setuju bahwa “bahasa adalah alat yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi”. Dan memang itu benar adanya. Gadamer pernah mengatakan bahwa “Ada (sein) yang dapat dipahami adalah bahasa”. Hanya sejauh “terbahasakan” sesuatu dapat ditangkap. Ini berarti Gadamer berpendapat bahwa manusia hanya dapat memahami realitas sepanjang realitas itu terbahasakan. Dengan kata lain, yang disebut dengan realitas adalah hal-hal yang dapat dibahasakan. Sayangnya, sampai saat ini, sangat sulit kita temukan pemikiran-pemikiran yang secara khusus membahas korelasi antara bahasa dan pikiran. Tesis Gadamer di atas tentu saja terbatas pada bahasa dan realitas, sedangkan bahasa (yang merealisir realitas) itu merupakan realisasi ide-ide. Ide terletak dalam pikiran. Bahkan tidak ada garis pembeda yang tegas, yang „meng-antara-kan‟ ide dan pikiran. Kita bisa melihat jelas seseorang yang pikirannya kacau mengakibatkan bahasanya kacau juga. Kadang juga jika seseorang sedang memikirkan sesuatu yang berat, yang bersangkutan tidak berselera untuk bicara. Ada juga yang berpendapat bahwa bahasa merupakan cermin pikiran, apa yang dibicarakan adalah apa yang dipikirkan. Bahasa terbentuk dari pikiran, atau bentuk bahasa (secara individual dan spontan) meniru atau mengikuti bentuk pikiran atau ide. Akan tetapi jika kita mau lebih jeli melihat, sesungguhnya bahasa itu hanyalah “wujud” dari ide atau pikiran saja. Sehingga analisa bahasa dengan melepaskannya dari analisa ide adalah kesesatan. Artinya, tidak mungkin ada bahasa tanpa ada ide, begitu pula sebaliknya (Zainnurrahman: 2010). Pertanyaan yang selalu muncul bila kita berbicara tentang bahasa dan pikiran adalah bagaimana kaitannya antara pikiran dan bahasa. Bermacam pertanyaan timbul: Apakah kita memakai pikiran saat berbahasa? Dapatkah kita berbahasa tanpa pikiran; atau sebalaiknya, dapatkah kita berpikir tanpa bahasa?

Pendidikan Bahasa Arab

STAI Mathali’ul Falah

Jarak yang makin jauh antara inner speech dengan bunyi fonetik yang dipakai untuk mewakilinya mempercepat proses berpikir (Soenjono. tentunya ia memperhitungkan “kalau bola itu saya pukul dari sebelah kiri. Sebaliknya. 11 Nopember 2010 Pada saat orang main biliar. Manusia tak mungkin berpikir tanpa bahasa. dan lama-lama hilang. Makin besar sosialisasi itu. ini tidak berarti bahwa inner speech adalah wujud dari external speech. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa pada saat anak itu tumbuh. 2005: 282284). Psikolog kemudian melakukan eksperimen untuk mengetahui lebih lanjut masalah ini. misalnya. psikolog rusia Vygotsky (1962) berpandangan bahwa ujaran egosentris tidak hilang tetapi mengalami transformasi genetik dan berubah menjadi apa yang ia namakan inner speech. Hubungan antar inner speech dengan external speech mau tak mau harus memanfaatkan bunyi karena ujaran hanya terwujud sebagai ujaran bunyi fonetik. atau permainan lain yang mana pun.Paper Logika Kamis. Namun. sementara sebagian yang lain berpandangan sebaliknya. Piaget percaya hal itu ada dan dia menamakan bentuk tengah ini sebagai pikiran egosentris dan bentuk bahasanya sebagai bahasa egosentris. Filosof seperti Mueller (1887) berpandangan bahwa bahasa dan pikiran tidak dapat dipisahkan. Bedanya adalah bahwa pada external speech pikiran itu terwujudkan dalam kata sedangkan pada inner speech katakata itu lenyap pada saat pikiran itu terbentuk. Namun di antara mereka sendiri. Apakah mereka memakai bahasa dalam memperhitungkan langkah-langkahnya? Pada masa lalu orang yang banyak membicarakan ihwal ini adalah para filosof. Sosialisasi dengan anak lain dan alam sekitar menurunkan derajat egosentrisme. apakah kita memakai bahasa? Begitu pula saat kita bermain remi atau catur. Sir Francis Galton menyanggah pandangan ini. Kita malah tidak dapat berpikir atau menangkap kesan dan membentuk sebuah ide.” Pada saat perhitungan seperti ini. Menurut dia ada dua macam modus pikiran: pikiran terarah (directed) atau pikiran intelegen (intelligent) dan pikiran tak terarah atau pikiran (autistic). meneliti anak-anak untuk melihat bagaimana bahasa terkait dengan pikiran. Pendidikan Bahasa Arab STAI Mathali’ul Falah Hlm. makin mengecillah ujaran egosentrisnya. berpikir yang terujarkan menjadi makin kecil dan setelah dewasa berpikir tidak lagi dilakukan dengan memakai kata yang terujarkan. | 2 . Inner speech masih dalam suatu ujaran. Sebagian berpandangan bahwa orang dapat berpikir tanpa memakai bahasa. kemungkinannya bola itu akan bisa masuk lubang. Kenyataan bahwa anak berbicara pada orang lain maupun pada dirinya sendiri menimbulkan pertanyaan apakah ada derajat komunikabilitas pada anak. Piaget (1924/55). yakni pikiran yang berkaitan dengan kata. Sementara itu. tidak ada kesepakatan.

11 Nopember 2010 tanpa bahasa. beride dan merumuskan konsep. Tetapi mereka memiliki rasa seperti sakit. Instrumentalisme memandang bahasa sebagai alat atau sarana atau media untuk mengungkapka persepsi. dingin. Sedangkan Determinisme memandang bahwa manusia hanya dapat berpersepsi. pedang dengan sifat melukainya. maka bahasa menjadi utuh. kita tidak akan dapat memahami apa yang dibicarakan orang. tanpa bahasa yang dipahami.Paper Logika Kamis. melainkan bersemayam di dalam bahasa. Bahasa dan ide seperti halnya es dengan sifat dinginnya. Bahasa tidak hanya instrumen untuk merepresentasikan ide mengenai kenyataan. Bahasa bagi saya merupakan jasad bagi ide. Seperti Pendidikan Bahasa Arab STAI Mathali’ul Falah Hlm. karena terbit dari emosi. Saya tidak berpendapat bahwa seorang bayi tidak memiliki bahasa. atau bahasa bangkai. kenyataan atau realitas tidak berada di luar bahasa. tetapi bahasa adalah apa yang diistilahkan oleh Heidegger sebagai “Sangkar Ada”. Kesadaran bahwa ada entitas lain disekitar kita adalah kesadaran komunikatif. bahasa merupakan sangkar bagi realitas. panas dan sebagainya. akan tetapi mereka sudah memiliki bahasa. sekaligus menyingkap ide mengenai kenyataan yang ada. Bahasa bukan apresiasi lidah. api dengan sifat panasnya. Di satu sisi juga. Ungkapan bayi adalah ungkapan universal yang sama dimana saja. Sehingga jika kesadaran itu tidak ada. maka tidak terjadi komunikasi melainkan mengembangkan bahasanya yang mengikuti perkembangan pikirannya dan perkembangan kesadarannya. yang mana dengan bahasa realitas dapat dikongkretisasikan. terdapat dua faham besar tentang bahasa ini. tetapi apresiasi pikiran saat berhadapan atau bergelut dengan kenyataan. Jika kedua pandangan ini dipadukan. apa yang kita lihat dapa yang kita amati. Dapat dikatakan bahwa orang yang mengigau itu adalah orang yang berbahasa mati. Bahkan dapat dikatakan bahwa bahasa orang dewasa yang terbit dari emosi dimana saja bersifat universal. Bahasa merupakan indra manusia yang sangat vital. Oleh karena itu kenyataan hanya dapat terungkap ketika kenyataan tersebut terbahasakan. ide merupakan ruh bagi bahasa. Gerak bahasa merupakan gerak ide sebagaimana gerak jasad merupakan manifestasi gerak ruh (Zainurrahman: 2010). yakni Instrumentalisme dan Determinisme. Secara mendasar. lapar. Ketidakmampuannya untuk menggunakan intelektual mereka membuat mereka tidak memiliki kesadaran keberadaan mereka dan keberadaan bayi-bayi lain disekitar mereka. meskipun telinga kita sehat. peluru dengan sifat menghancurkannya. | 3 . Bahasa memuat ide. berpikir dan beremosi karena mereka memiliki bahasa. suara anak dan bagaimana mereka berekspresi adalah sama meski mereka tak bisa saling berkomunikasi antara satu dengan yang lain karena mereka belum mengalami aktivitas berpikir. Tanpa bahasa. pikiran dan emosi. kita tidak akan memahami apa yang kita baca. Tidak dapat disamakan dengan anak Indonesia belajar bahasa Inggris. Misalnya kita sedang ada di rumah sakit anak.

Sesungguhnya hanya bahasa yang memiliki makna. Suatu kenyataan hanya akan bermakna secara semantis hanya jika kenyataan itu terbahasakan. meskipun ada yang memikirkannya secara terpisah. bahakan tawa dan sebagainya. Sehingga bahasa dan ide senantiasa bersama-sama secara mesra tanpa ada yang dapat memisahkannya. secara tidak sadar ide mereka bekerja berdasarkan arahan bahasa. | 4 menghubungkannya dengan bahasa seperti yang dilakukan oleh para neurologis atau semacamnya.Paper Logika Kamis. orang juga dapat memikirkan ide tanpa Hlm. tetap saja mereka sedang menggunakannnya secara bersamaan dalam proses memikirkannya secara terpisah itu (Zinurrahman: 2010). Dalam proses pemisahan antara keduanya (ide dan bahasa) itu. Tetapi dalam aktivitas memikirkan keduanya itu. Pendidikan Bahasa Arab STAI Mathali’ul Falah . Orang dapat memikirkan bahasa tanpa mengaitkannya dengan ide. seperti yang dilakukan para strukuturalis. Mengapa demikian itu sebagai bahasa? Karena itu semua memiliki makna. 11 Nopember 2010 rintihan tangisan. mereka sesungguhnya menggunakan bahasa yang bergerak berdasarkan gerak ide mereka juga. Memang bahasa dan ide dapat dipisahkan demi kepentingan observasi dengan tujuan yang berbeda-beda.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->