Filsafat dalam Pancasila Filsafat dapat dimengerti melalui dua sudut pandang.

Pertama sebagai metode berpikir atau menganalisis, kedua sebagai pandangan yang berisikan sistem pemikiran dan nilai nilai. Jadi filsafat sebagai metode berpikir dan menganalisis digunakan untuk mencari jawaban tentang sesuatu yang diselidiki, sedangkan filsafat berisi pemikiran dan nilai nilai yang digunakan sebagai ideologi bagi seseorang, sekeleompok orang, atau juga bagi bangsa. Filsafat sebagai ilmu memiliki persyaratan yang sama dengan ilmu ilmu lain, syarat-syarat tersebut adalah berobjek, bermetode, sistematis, universal. Metafisika, aksiologi, dan epistemologi berusahan menyingkap hakikat terdalam dari Pancasila, sehingga Pancasila dapat dimengerti sebagai sebuah sistem filsafat. Aristoteles sebagai seorang filsuf Yunani, dalam usahanya menggunakan filsafat sebagai metode berpikir menuju kebenaran sejati berpendapat bahwa yang pertama-tama dilakukan adalah meneliti asal mula konsep yang akan diteliti tersebut. Pancasila bila ditelaah dengan metode berpikir Aristoteles, asal mulanya adalah :
1. Causa Materialis (asal mula bahan), sebelum Pancasila dirumuskan sebagai asas

kehidupan kenegaraan, unsur-unsurnya telah terdapat dalam kehidupan seluruh sukusuku bangsa di nusantara dalam bentuk adat istiadat, kebudayaan, dan agama-agama. 2. Causa Formalis (asal mula bentuk), bentuk Pancasila yang dipikirkan oleh Ir. Soekarno, Muh. Yamin, dan Prof. Soepomo yang terdiri atas 5 kalimat yang dicetuskan pada sidang BPUPKI yang pertama. 3. Causa Effisien (asal mula karya), proses pemikiran dari mulai perumusan unsur-unsur Pancasila hingga pengesehannya sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945. 4. Causa Finalis (asal mula tujuan), tujuan dirumuskan dan disahkannya Pancasila sebagai sistem filsafat yang mendasari berdirinya sebuah organisasi baru bernama Indonesia. Berdasarkan penelaahan menurut Aristoteles yang telah diberikan, kita dapat memulai perjalanan kita meneliti Pancasila sebagai sebuah sistem filsafat. Filsafat berusahan mempertanyakan hakikat terdalam dari segala sesuatu (esensi). Pancasila sebagai konsep memang hanya terdiri atas sederetan kata yang mempunyai makna. Makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut itulah esensi Pancasila. Esensi sebagai hakikat terdalam mempunyai beberapa sifat yang menempel padanya (kualitas). Kualitas yang ada pada Pancasila adalah kualitas abstrak, umum, universal, khusus, konkret, kolektif. Penelaahan dimulai sila-sila Pancasila yang berusaha dianalisis, sehingga dapat menyingkap makna esensial yang terdapat didalamnya. Pengertian isi Pancasila bila dirumuskan secara ilmiah dapat digolongkan kedalam beberapa tingkat pengertian sebagai berikut:
1. Pancasila sebagai falsafah dasar negara, sebagai legitimasi ideologis berdirinya negara

yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 mempunyai pengertian yang umum dan abstrak atau umum dan universal. Pancasila tersebut bersifat tetap dan tidak berubah serta sama bagi siapa pun dalam keadaan bagaimanapun, ditempat manapun, dan waktu kapanpun.

Sistem itu dapat terdiri atas bagian bagian (yang disebut sebagai sila sila). Kata Tuhan mengambil pengertian Tuhan yang imanen sekaligus transenden. 3. Secara keseluruhan bagian bagian tersebut secara bersama sama menyusun satu hal baru yang utuh. lalu penilaian. baik terhadap negara maupun pada sesama warga negara. Pancasila dalam bentuknya sebagai pedoman penyelenggaraan negara. Pancasila merupakan satu kesatuan dan kesatuannya itu bersifat organis. yaitu demokrasi yang bijaksana melalui musyawarah atau demokrasi Pancasila. yaitu dalam bentuk hukum dasar tertulis (Batang Tubuh UUD 1945) sebagai implementasi lanjut dari Pembukaan UUD 1945 adalah pengertian yang sifatnya umum dan kolektif. Manusia yang dimaksud dalam sila ini adalah keberadaan manusia sebagai konsep. Esensi sila kedua ini adalah “Kemanusiaan” dari kata dasar manusia. Esensi sila ketiga ini adalah “Persatuan” yang mengandung arti adanya kesesuaian antara hakikat negara dengan hakikat satu. Susunan hierarki untuk . pada tanggal 18 Agustus 1945 negara Indonesia berdiri. Tuhan dalam agama agama yang selalu hadir mengiringi langkah kita. dan memohon. namun bagian bagian tersebut tidak boleh saling bertentangan. Sementara itu. Tuhan transenden adalah Tuhan yang jauh dari manusia yang hanya dapat dimengerti melalui gejala gejala atau fenomena yang Nampak. Esensi sila kelima ini adalah “Keadilan” yang mengandung arti ada kesesuaian sifat dan keadaan didalam negara dengan hakikat adil. Negara dan bangsa Indonesia didirikan melalui perjanjian para pendirinya. dan pertahanan keamanan. pemikiran dan tindakan seseorang yang mengacu pada Pancasila adalah pengertian Pancasila yang bersifat khusus dan konkret. yaitu suatu kesatuan yang menyeluruh. sosial budaya. Pancasila dalam bentuknya sebagai kebijakan public dan tindakan politik pemerintah dibidang politik. Sistem Pancasila membentuk suatu susunan bersifat hierarki piramida. tempat kita berdoa. Tiap tiap bagian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keutuhan sistem itu. Kemudian. mempunyai konsep antropologi metafisik tersendiri. Esensi sila pertama ini adalah “Ketuhanan” dari kata dasar Tuhan. misalnya pada keindahan alam dan keteraturannya.2. yaitu bangsa (nation). yaitu konsep manusia monopluralis. Esensi sila keempat ini adalah “Kerakyatan” yang mengandung arti adanya kesesuaian sifat dan keadaan didalam negara dengan hakikat rakyat. maka bagian itu akan kehilangan kedudukan dan fungsinya. Maka. Esensi sila pertama adalah kata satu. Tuhan imanen adalah Tuhan yang dekat . apalagi dalam sikap dan tindakan. Pancasila sebagai sebuah sistem filsafat. Filsafat negara harus merupakan satau sistem. tidak ada satu sila pun yang boleh dihilangkan atau dilupakan meski hanya dalam angan angan atau kehendak. Artinya negara harus memenuhi hak dan kewajibannya. ekonomi. Bila satu bagian saja dari sistem tersebut terlepas dari kesatuan sistem. esensi sila keempat adalah kata rakyat. kalimat dalam sila keempat ini dapat lebih mudah dimengerti dengan kata kata lainnya. Esensi sila kelima adalah kata adil. Masing masing manusia yang berdiam diatas pulau pulau dibumi nusantara sepakat untuk membentuk sebuah organisasi. Setelah mendirikan bangsa pada tanggal 17 Agustus 1945. keputusan parpol dan ormas.

dan berkeadilan sosial. hal ini digunakan untuk menggambarkan hubungan yang berjenjang pada sila sila Pancasila dalam urutan luas (kuantitas) dan urut urutan dalam hal isi sifatnya (kualitas). demikian seterusnya. dan kelima. akhirnya berujung pada kerucut. kedua. tetapi justru akan mengikutsertakannya dalam hubungan yang hierarki piramida itu. bepersatuan. Hal itu memungkinkan penyesuaian dengan keadaan. dan waktu agar dalam setiap pembicaraan mengenai satu sila. ketiga. tidak akan lepas dari sila lainnya. Dengan demikian setiap sila di dalamnya akan mengandung sila sila yang lain dan dikualifikasikan oleh sila sila lainnya. Sifat piramida adalah untuk memberi gambaran bentuk penampang piramid yang seperti segitiga dengan dasar yang luas di bawah dan makin ke atas makin sempit. sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar bagi sila sila kemanusiaan. Secara keseluruhan. Ada yang menduduki tempat pertama. Dalam susunan yang hierarki piramida ini. Susunan ini bersifat tetap. berkerakyatan. Nama : Mario NIM : 1111003069 .menggambarkan bahwa setiap sila Pancasila mempunyai kedudukan yang berjenjang. tempat. keempat. tidak dapat dipertukarkan satu dengan yang lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful