P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 375

Warta Bea Cukai Edisi 375

4.0

|Views: 843|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

TAHUN XXXVII EDISI 375

FEBRUARI 2006

EKONOMI INDONESIA 2006 MENANTI PERTUMBUHAN,
PROFIL

MENANTI PERTUMBUHAN, HADAPI TANTANGAN
ANTHON DEGEY
WAWANCARA

MENUNGGU IMPLEMENTASI
“HARAPAN SAYA, ADA PUTRA DAERAH YANG JADI PEJABAT DI PAPUA”

SRI MULYANI INDRAWATI
“UNTUK KEUANGAN SENDIRI, MASIH BANYAK YANG HARUS KITA BERESKAN...”

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2005 sekalipun berat masih lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2004. Untuk itu pada laporan utama kali ini, WBC mengangkat tema Perkonomian Indonesia pada 2005.

5

Wawancara
Ditunjuknya Sri Mulyani sebagai Menkeu mampu memberikan efek cerah pada perekonomian Indonesia. Terbukti ketika ia dan tim ekonomi dilantik oleh SBY, nilai tukar rupiah langsung menguat dan nilai indeks harga saham gabungan juga meningkat.

18

Selak

52
Kali ini WBC mengajak pembaca untuk jalan-jalan ke Kota Kansai, Jepang. Simak keunikan kota ini dalam rubrik Selak.

Kepabeanan
Tingginya tingkat inflasi dan kurang mendukungnya perekonomian di dalam negeri menjadi penyebab utama realisasi target penerimaan tidak terpenuhi.

56

Daerah ke Daerah
Pada rubrik ini WBC kembali menampilkan KPBC Tipe A Jayapura. Selain itu peringatan satu tahun bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam.

30

Profil

76
Profil kali ini menampilkan Anthon Degey, seorang pegawai bea cukai yang juga merupakan seorang kepala suku di bumi Papua. Ikuti perjalanan kisah hidup dan harapannya pada DJBC.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

1 3 4 24

26

29 38 42

43

44

46

49

52 55

59 60

64 66

80

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR INFO PEGAWAI - Pegawai Pensiun per 1 Februari 2006 - Siaran Pers Departemen Keuangan PENGAWASAN Penembangan Kemempuan Analisa Intelijen ACS-DJBC INFO PERATURAN SEPUTAR BEACUKAI MITRA Hasil Baru Dari Pertemuan Bulanan APKB Dengan DJBC KONSULTASI KEPABEANAN DAN CUKAI Mekanisme Pengeluaran barang SIAPA MENGAPA - C. Ken Indarto - Alan Marton - Fitra Harsanti Ega Putri INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI Lokal Area Network dan Mainte nance OPINI - Mutasi Anugerah dan Bencana - Promosi, Mutasi dan Koneksi SELAK Yokoso Kansai - Japan RENUNGAN ROHANI Makan Bersama Sebagai Simbol Persekutuan RUANG KESEHATAN Keracunan Makanan PERISTIWA - The 9 Th Asiana and Nuae International Open Parachuting Championship - Indonesia Menandatangani Enam MOU Dengan Jordania RUANG INTERAKSI Adiksi Cinta KEPABEANAN INTERNASIONAL - Konferensi Tingkat Menteri Ke6 WTO di Hongkong - Juara II Lomba Karya Tulis Bahasa Inggeris - Juara II Lomba Karya Tulis Bahasa Indonesia APA KATA MEREKA - Dena - VJ Daniel

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

RALAT
Dalam rubrik wawancara WBC dengan Direktur Kepabeanan Internasional, Drs. Kamil Sjoeib, MA, edisi 374 Januari 2006 hal 18, terdapat kesalahan pengutipan, tepatnya di pertanyaan pertama pada alinea kedua. Semua kalimat yang berbunyi Ratifikasi seharusnya menjadi Klasifikasi. Demikian kesalahan ini telah kami perbaiki. Redaksi

Anjing Pelacak dan Anti Suap
Kami mengharapkan agar dalam rangka memperingati Hari Pabean Internasional mendatang, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mampu mensponsori/mempelopori lomba yang bersifat tingkat nasional, yakni Lomba Ketangkasan Anjing atau Customs Dog On The Road, dan lomba ini terbuka bagi masyarakat umum maupun lintas instansi. Anjing boleh terdiri dari jenis Herder, Labrador, Root Willer, Doberman, Golden Ret maupun anjing biasa (kampung). Dalam hal ini selain DJBC sebagai pionir, juga berperan aktif dalam menyikapi keadaan, penegakan security serta mewujudkan salah satu daripada butir-butir pernyataan visi bersama (Vision Statement) pada Asean Customs Vision 2020, yaitu meningkatkan efektifitas pengawasan dalam rangka mengurangi penyelundupan serta pelanggaran di bidang kepabeanan lainnya. Kami percaya dengan momen seperti ini, mengadakan kontes terbuka, semua elemen masyarakat dan para pengusaha akan mendukung. Sehingga terciptanya keadaan yang aman dan kondusif. Indikasinya dapat dilihat dengan banyaknya investor yang masuk dan DJBC mendapatkan citra/image yang baik di mata publik, bahwa DJBC bukan hanya sebagai pengejar target APBN saja, tetapi menciptakan suasana yang sejuk dan sehat dengan kinerja lebih profesional serta mengutamakan penegakan security dalam rangka memerangi tindak terorisme. Karena anjing-anjing itu kalau dilatih khusus mendeteksi bom, amunisi atau jenis-jenis bahan peledak (explosive materials) sangat mumpuni, serta bisa (all round). Disamping itu anjing punya kelebihan, yaitu tidak mau disuap sebab binatang tersebut memang tidak doyan duit, doyannya daging mentah. Betul tidak ? Bravo BC. SARGIYATNO Solo

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR
JUARA II LOMBA KARIKATUR
HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54 TAHUN 2006
: REDY BAMBANG SG. SH, MA l KARYA : 060067184 l NIP l UNIT KERJA : KPBC TIPE B KOTABARU

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

Ekonomi Indonesia
S

TANTANGAN EKSTERNAL MASIH JADI PENGHAMBAT

2005
LAPORAN UTAMA

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2005 sekalipun berat masih lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2004.
bahwa pertumbuhan ekonomi Indoinvestasi dan ekspor menjadi pendoetelah terpilih menjadi presiden nesia tahun 2005 yang lalu mengalarong utama pertumbuhan menggandan wakil presiden pada 20 mi peningkatan dari tahun 2004 tikan sektor konsumsi yang dominan Oktober 2004, duet Susilo sebelumnya. Tingkat kepercayaan pada tahun sebelumnya. Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla investor kepada Indonesia terlihat Pemerintah juga menyatakan (SBY-JK) menyatakan siap untuk dengan meningkatnya Indeks meningkatkan perekonomian DOK. WBC Harga Saham Gabungan Indonesia. Untuk itu pemerin(IHSG) di pasar modal yang tahan SBY-JK membuat nilainya mencapai 1104. Nilai beberapa prioritas ini merupakan nilai tertinggi pembangunan ekonomi yang yang pernah tercatat dalam bertumpu pada tiga hal yaitu; sejarah pasar modal Indonerevitalisasi sektor pertanian, sia. pedesaan dan usaha kecil Dalam hal investasi menengah (UKM) dalam realisasi investasi domestik rangka penciptaan lapangan dan asing sampai periode pekerjaan dan pengentasan Januari hingga September kemiskinan, penguatan daya 2005 tumbuh sebesar 123 saing nasional, dan percepersen. Total investasi patan iklim investasi yang setersebut terdiri dari investasi hat, menjadi agenda penting Penanaman Modal Dalam duet pemimpin bangsa yang Negeri (PMDN) Rp 11,97 terpilih dalam pemilihan triliun atau naik 20,97 persen presiden dan wakil presiden dibandingkan periode yang yang demokratis. sama tahun sebelumnya, Pertumbuhan ekonomi di sementara untuk investasi Indonesia dalam Penanaman Modal Asing perjalanannya mengalami (PMA) sebesar Rp. 72,53 berbagai tantangan eksternal triliun atau naik 159,62 di luar kendali, diantaranya, persen jika dibandingkan bencana tsunami di Aceh dan periode yang sama tahun sebagian Sumatera Utara, sebelumnya. kenaikan suku bunga Amerika Serikat, kenaikan harga minyak dunia dan peristiwa HARGA MINYAK DUNIA pemboman di Bali. BERPENGARUH Walaupun mengalami Walaupun investasi tekanan cukup berat, pemedalam negeri dan asing rintah mengklaim ekonomi meningkat, pada Indonesia masih tumbuh kenyataanya pemerintah dengan cukup baik, dimana menghadapi dua tantangan BANK INDONESIA memperkirakan perekonomian tumbuh sekitar 5,3 - 5,6%.
EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA SUMBER PERTUMBUHAN EKONOMI DESEMBER 03 - JUNI 05
DIOLAH DARI DATA BPS

KONSUMSI

INVESTASI

EKSPOR

KONSUMSI PEMERINTAH PERTUMBUHAN EKONOMI MASIH CUKUP BAIK
Walaupun tantangan eksternal yang dihadapi berat, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 masih tetap tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Adanya tekanan eksternal ini juga diakui oleh Bank Indonesia (BI). Pada Evaluasi Perkembangan Ekonomi 2005, BI mengatakan kondisi perekonomian global kurang menguntungkan, terutama pada meningkatnya harga minyak dunia dan siklus pengetatan kebijakan moneter global yang menyebabkan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro mengalami gangguan yang cukup berarti. Ketergantungan kegiatan ekonomi domestik pada impor menyebabkan kondisi perekonomian secara struktural cukup rentan terhadap perubahan kondisi eksternal. Ekspansi ekonomi menjadi lebih lambat ketika kegiatan investasi terkendala oleh membumbungnya biaya produksi akibat kenaikan harga BBM dan belum tuntasnya berbagai peraturan-peraturan di bidang investasi dan pembangunan infrastruktur. Sementara itu, kegiatan konsumsi juga mengalami penurunan karena melemahnya daya beli masyarakat dan mulai meningkatnya suku bunga. Di sisi lain, kinerja ekspor juga belum

eksternal yaitu kenaikan harga minyak dunia dan tingkat suku bunga Fed (suku bunga Bank sentral Amerika, Federal Reserve) Harga minyak dunia yang sempat mencapai US$ 70 per barrel telah membuat beban subsidi BBM menjadi meningkat tajam dan juga menekan rupiah. Harga minyak dunia yang tinggi ini diakui pemerintah memberikan dampak yang cukup berat bagi
DOK. WBC

KWIK KIAN GIE. Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia 2005 hanya mencapai 5,5 persen, namun masih lebih tinggi jika dibandingkan pada 2004 yang hanya mencapai 5,1 persen.

keuangan negara. Pemerintah beralasan jika harga minyak dunia yang meroket dan sempat menyentuh US$60 bila tidak diikuti dengan kenaikan harga BBM dalam negeri, akan menyebabkan terjadinya pembengkakan anggaran untuk subsidi BBM yang bisa mencapai Rp.120 triliun lebih. Kenaikan harga minyak dunia yang masih tetap tinggi, tentunya akan berpengaruh terhadap APBN 2006, terutama pada pos subsidi BBM. Untuk mengurangi beban subsidi BBM tersebut, pemerintah pada 5 Oktober 2005 yang lalu telah menaikan harga BBM di dalam negeri khususnya BBM bersubsidi seperti minyak tanah, premium dan solar, yang rata-rata kenaikannya sebesar 107 persen dengan kenaikan tertinggi terjadi untuk minyak tanah yang mencapai 185 persen. Untuk mengurangi dampak negatif kenaikan harga BBM pada 5 Oktober 2005, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bernama paket insentif 1 Oktober 2005 yang ditujukan pada empat kelompok sasaran, yaitu penduduk miskin, petani,pekerja konsumen dan kelompok industri, perdagangan serta Usaha Kecil Menengah (UKM) Untuk kelopok miskin, menurut pemerintah, paket insentif yang diberikan dalam bentuk subsidi langsung tunai (SLT) kepada 15,5 juta rumah tangga dengan jumlah dana Rp.5 triliun pada tahun 2005.

6

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

FOTO : ISTIMEWA

HOTEL. Selain sektor pengangkutan, komunikasi, perdagangan, hotel dan restoran juga mengalami pertumbuhan paling tinggi.

begitu menggembirakan seiring dengan kondisi permintaan global yang menurun dan melemahnya daya saing. Untuk keseluruhan tahun 2005, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian tumbuh sekitar 5,3 - 5,6%. Pemerintah mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV dan triwulan I 2005 sebesar 6,7 persen dan 6,2 persen. Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan yang tertinggi sejak krisis ekonomi melanda Indonesia. Kekhawatiran pemerintah akan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya berasal dari sektor konsumsi tidak terbukti. Pola pertumbuhan ekonomi dari pola konsumsi bergeser ke arah investasi, hal ini dimulai sejak triwulan ke-3 tahun 2004. (lihat tabel). Lebih lanjut pemerintah mengatakan, sampai dengan semester I tahun 2005, ekonomi tumbuh sebesar 5,9 persen dimana pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tahun 2005 ekonomi tumbuh sebesar 5,5 persen. Dari sisi produksi pemerintah juga mencatat, hingga triwulan II tahun 2005 semua sektor mengalami pertumbuhan positif, kecuali sektor pertambangan dan penggalian. Pertumbuhan paling tinggi berada pada sektor pengangkutan dan komunikasi, yang diikuti oleh perdagangan, hotel dan restoran. Begitu juga dengan sektor industri pengolahan yang juga mengalami pertumbuhan sebesar 6,7 persen.

Pengamat Ekonomi yang juga mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Ketua Bappenas, Kwik Kian Gie memperkirakan, walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia 2005 hanya mencapai 5,5 persen, namun ini masih lebih tinggi jika dibandingkan pada tahun 2004 lalu yang hanya mencapai 5,1 persen.

Lebih lanjut Kwik mengatakan, kenaikan harga minyak dunia di satu sisi berdampak negatif terhadap perekonomian nasional karena Indonesia telah menjadi net oil importer, akan tetapi secara keseluruhan Indonesia masih berstatus sebagai net energy exporter jika didalamnya termasuk gas alam, sehingga kenaikan harga minyak berdampak positif terhadap perekonomian. Sementara itu pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 masih lebih tinggi dari tahun lalu, namun meningkatnya pertumbuhan ekonomi ini tidak berarti segala sesuatunya berjalan mulus. Faisal mengatakan, ketidakdisiplinan dalam mengelola ekonomi dan adanya konflik kepentingan dalam pengelolaan ekonomi menjadi penyebab perkembangan ekonomi Indonesia tidak meningkat. “Kalau kita disiplin, kalau baik mengelola ekonomi, tidak ada konflik kepentingan, sebetulnya ekonomi kita lebih tinggi growth-nya,”papar Faisal. Lebih lanjut ia mengatakan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia diikuti dengan memburuknya indikator perekonomian yang antara lain suku bunga, current account dan rate account yang balance, serta kurs yang tinggi terhadap rupiah. zap
DOK. WBC

SPBU. harga BBM di dalam negeri khususnya BBM bersubsidi seperti minyak tanah, premium dan solar, yang rata-rata kenaikannya sebesar 107 persen dengan kenaikan tertinggi terjadi untuk minyak tanah yang mencapai 185 persen. EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA

Bekerja Keras DI TAHUN 2006
Walaupun dibayang-bayangi oleh harga minyak dunia yang tetap tinggi, pemerintah optimis bisa menjalankan perekonomian Indonesia tahun 2006

PEMERINTAH HARUS

H

arga minyak Internasional yang cukup tinggi pada tahun 2006, masih membayang-bayangi perekonomian Indonesia. Bukan hanya Indonesia, dunia pun masih harus berada dibawah bayang-bayang harga minyak Internasional. Perkiraan ini menurut analis ekonomi Kwik Kian Gie disebabkan pada tekanan permintaan terutama permintaan yang berasal dari China dan India yang masih tetap besar. Perkembangan harga minyak internasional pada tahun 2006 dan tahun berikutnya, masih menurutnya, juga diakibatkan oleh faktor penawaran dan ketidakpastian mengenai biaya produksi minyak dunia dimasa yang akan datang. Implikasi kenaikan harga minyak yang tinggi pada saat ini masih menurut Kwik, dapat bersifat permanen atau paling tidak dapat bertahan dalam beberapa tahun ke depan. Sehingga dengan kondisi seperti ini perekonomian dunia pada tahun 2006 tidak berbeda jauh dengan perkiraan perekonomian pada tahun 2005. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2006 menurut Kwik diperkirakan sebesar 4,3 persen atau sama dengan perkiraan tahun 2005. Pertumbuhan ekonomi di negara maju secara keseluruhan diperkirakan sedikit membaik menjadi 2,7 persen, sebaliknya pertumbuhan ekonomi di negara-negara sedang berkembang di kawasan Asia diperkirakan menjadi 7,2 persen. Sedangkan volume
WARTA BEA CUKAI

perdagangan dunia pada tahun 2006 tumbuh sedikit lebih baik dibandingkan tahun 2005 dan diperkirakan dapat mencapai 7,4 persen. Mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2006, pemerintah memperkirakan akan terus membaik dan dapat mencapai 6,2 persen. Stabilitas ekonomi domestik yang diperkirakan relatif terjaga, berbagai upaya pembenahan di sektor riil serta
WBC/ATS

dukungan membaiknya perekonomian global diperkirakan menjadi faktorfaktor penting bagi penguatan kinerja ekonomi nasional tahun 2006. Konsumsi masyarakat menurut pemerintah, masih tumbuh relatif tinggi sekitar 5,3 persen. Hal ini disebabkan antara lain oleh relatif terkendalinya tingkat harga domestik dan perkiraan meningkatnya pendapatan masyarakat. Sementara itu suku bunga domestik yang masih terkendali pada tingkat yang relatif rendah diperkirakan dapat mendorong kredit konsumsi makanan. Kinerja investasi diperkirakan akan terus berlanjut dalam tahun 2006, dimana Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) diperkirakan dapat tumbuh sebesar 15,2 persen. Perkiraan penguatan ini terutama diharapkan berasal dari realisasi tindak lanjut infrastructure summit dan juga akibat perkiraan peningkatan kinerja industri manufaktur terutama sub sector industri perlatan dan perlengkapan transportasi. Sementara laju pertunbuhan ekspor dalam tahun 2006 diperkirakan sekitar 10,2 persen. Tantangan eksternal maupun internal masih mempengaruhi perkiraan pertumbuhan ekspor. Sementara seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat dan investasi, impor barang dan jasa diperkirakan dapat tumbuh sebesar 13,4 persen.

MENKO PEREKONOMIAN BOEDIONO. Indonesia bisa melewati masa rawan tersebut

PEMERINTAH HARUS SERIUS
Pengamat ekonomi dari Universitas

8

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WBC/ATS

Indonesia, Faisal H. Basri mengatakan, bahwa dirinya tidak membuat prediksi mengenai pertumbuhan ekonomi tahun 2006. Menurutnya, jika mengacu pada riset dan penelitian yang dilakukan oleh lembaga survey internasional dan juga lembaga survey di Indonesia, pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih rendah dari tahun ini, atau setidaknya sama dengan tahun 2005. “Growth-nya sama dengan tahun 2005 bahkan lebih rendah,” papar Faisal. “Jika pertumbuhannya hanya mencapai 5-5,3 persen pengangguran akan mencapai 12 juta, akibatnya jumlah orang miskin makin banyak, orang makin tidak bisa menjaga kesehatan dan timbul masalah-masalah sosial yang tidak bisa dikendalikan lagi. Maka itu kita harus bertekad dan saya tidak mau berproyeksi, ingat! Minimal kita mencapai 5,8%,” demikian ujarnya. Lebih lanjut Faisal mengatakan, jika melihat dari sisi tradable (sektor perdagangan) dan non tradable (bukan perdagangan) yang masing-masing pertumbuhannya 3,8 persen dan 8,5 persen, hal ini menurutnya sudah cukup baik dan tidak perlu diutak-atik lagi, selanjutnya road base dari kedua sisi tersebut dibenahi. Namun menurutnya, ini tidak cukup mengingat tenaga kerja yang diserap tidak cukup banyak. Untuk itu Faisal mengatakan yang harus dilakukan pemerintah adalah meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi agar dapat memberikan kontribusi atau sumbangan yang berarti bagi penyelesaian masalah-masalah sosial yang ada. Untuk manufaktur yang komoditinya antara lain pakaian, elektronik, mobil dan lain sebagainya, Faisal mengatakan, perlu ada identifikasi untuk menentukan potensi mana saja yang besar, yang dimulai dengan melakukan identifikasi potensi terlebih dulu. Sedangkan untuk pertanian, harus diberdayakan oleh pemerintah karena sebagian besar pengangguran berada di pedesaan, sehingga sektor pertanian menjadi target pemerintah. Untuk pemberdayaan masyarakat pedesaan, Faisal mempunyai perhitungan sendiri. Menurutnya pemerintah memiliki dana sebesar Rp. 20 triliun dari sisa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dinaikan dan Rp. 10 triliun lainnya berasal dari subsidi yang tidak jadi dikeluakan dan juga sisa dari anggaran yang lalu-lalu, sehingga totalnya mencapai Rp.30 triliun. Menurutnya jika anggaran tersebut dimasukkan ke sektor pertanian dan pedesaan untuk membangun proyek padat karya, ada sejuta orang bekerja dari nilai Rp30 triliun, termasuk untuk upah para pekerja. Faisal menjelaskan jika upah tersebut sebagian dikonsumsi orang-

FAISAL H. BASRI. Pilihlah atau berpihaklah pada yang lebih memihak rakyat dan yang lebih membutuhkan.

orang di pedesaan tadi, maka akan ada multi player. Artinya, jika uang ‘dibenamkan’ di desa dan pertanian sebesar Rp.30 triliun, maka kemungkinan naiknya bisa mencapai 10 kali lipat atau menjadi 300, sebab orang desa butuh makan. Selanjutnya

masih menurut Faisal, masyarakat pedesaan yang bergerak dibidang konsumsi makanan akan meningkatkan produksinya. “Jika produksi meningkat maka ada tenaga kerja. Orang di pedesaan dan pertanian akan membeli barang kebutuhan dasar mereka yang nilai eknomi dan teknologinya rendah dan ini bisa dihasilkan oleh Usaha Kecil Menengah (UKM),”papar Faisal. Lebih lanjut ia menyoroti mengenai kestabilan makro ekonomi Indonesia. Menurutnya kestabilan makro ekonomi jika berhasil tidak secara optimal menciptakan dampak bagi kesejahteraan bangsa secara keseluruhan. Untuk itu masih menurutnya harus ada keberpihakan, dan keberpihakan itu hanya tergantung pada politisi. “Maunya politisi itu apa? Jadi pilihlah atau berpihaklah pada yang lebih memihak rakyat dan yang lebih membutuhkan. Masalahnya sekarang yang penting rupiah stabil. Memang menyenangkan bagi yang punya uang. Karena jika punya uang, dia (pemilik modal.red) kabur ke tempat lain, jadi ini melayani siapa? Melayani satu golongan apa melayani rakyat secara keseluruhan,?” kata Faisal. Mengenai kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Faisal menyatakan dirinya sependapat
DOK. WBC

HARGA MINYAK INTERNASIONAL yang cukup tinggi pada tahun 2006, masih membayang-bayangi perekonomian Indonesia. EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

masyarakat juga permisif karena sangat mudah untuk memberikan uang pada aparat penegak hukum. Jadi kita mulai start dari urat nadi mana yang harus dibenahi,” papar Faisal.

KEMBALI PADA PRIORITAS UTAMA
Lebih lanjut Faisal menyayangkan program unggulan duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBYKalla) (lihat tulisan 1 ) yang tidak tersentuh dan hanya sebatas retorika belaka. Faisal mengatakan realisasi program unggulan tersebut meleset dari tujuan. Ia mencontohkan kontroversi impor beras yang tidak berpihak pada petani, kebijakan UMKM tak terdengar, orang miskin dan pengangguran meningkat. Sementara itu daya saing nasional terus merosot, sementara menurutnya yang terlebih dahulu menyodok adalah Infrastructure Summit. Bahkan dalam waktu dekat akan digelar yang kedua. Untuk itu Faisal mengatakan agar pemerintah fokus pada suatu EKSPOR INDONESIA. Dalam tahun 2006 diperkirakan sekitar 10,2 persen permasalahan yang dianggapnya sebagai urat nadi permasalahan, jika sampai seburuk itu kok,”papar Faisal. dengan hasil survey yang dilakukan urat nadi permasalahan tadi dapat Menurutnya DJBC dan Direktorat oleh beberapa lembaga survey di ditangani dengan baik dan fokus, maka Jenderal Pajak banyak dikeluhkan oleh Indonesia dan Internasional yang sudah pasti keadaan perekonomian banyak pihak karena kedua instansi mengatakan bahwa DJBC merupakan tersebut merupakan sumber salah satu lembaga yang bermasalah. akan membaik,”Bukan hanya penerimaan negara. “Negara kita Namun dirinya mengatakan bahwa ekonominya saja yang membaik tapi secara keseluruhan akan termasuk negara yang paling korup di permasalahan yang ada di DJBC membaik.”lanjut Faisal. Asia, bea cukai itu bukan terisolasi jangan dibuat menjadi semacam ‘hantu’ Menanggapi upaya promosi untuk pada satu sistem, tapi bagian dari satu yang harus ditakuti karena bea cukai itu menarik para investor yang salah sistem dimana pengusaha dan susah untuk dibereskan. “Enggak satunya dilakukan WBC/ATS Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dengan melakukan lawatan ke beberapa negara, Faisal mengatakan, sebenarnya lawatan ke luar negeri tidak perlu dilakukan, para investor sudah mengetahui Indonesia dan seluk beluknya. Menurutnya yang terpenting, saat ini adalah pembenahan di dalam negeri. Ibarat dapur, demikian Faisal mengumpamakan, benahi dulu dapurnya. Jika dapur sudah bersih, pasti orang mau datang. Karena informasi apa saja mengenai Indonesia, investor asing memilikinya. “Jadi investor akan tetap datang walau SBY tidak melakukan lawatan ke berbagai negara, artinya mereka mengetahui ELEKTRONIK. Untuk manufaktur yang komoditinya antara lain pakaian, elektronik, mobil dan lain sebagainya, perlu ada semua tentang identifikasi untuk menentukan potensi mana saja yang besar, yang dimulai dengan melakukan identifikasi potensi terlebih dulu. 10
WARTA BEA CUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

FOTO : ISTIMEWA

Indonesia dikarenakan informasi saat ini sudah sangat terbuka,”lanjut Faisal. Solusi untuk semua masalah negeri ini khususnya dalam hal kebijakan di bidang ekonomi, Faisal Basri menekankan perlu adanya reformasi birokrasi yang dirasakannya sudah mendesak dan dirasakan belum tersentuh oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan mulai dari pemimpin sebelumnya, baik itu era Megawati maupun Abdurrachman Wahid. Reformasi birokrasi yang dimaksud Faisal Basri di sini adalah adanya mekanisme check and balances dari dalam. Disamping itu, perlu ada eksternal auditor PERTANIAN sektor pertanian menjadi target pemerintah. yang menjaga jarak dan independen, termasuk juga gaji pegawai yang perlu menunda penyelesaian masalah sama dibenahi agar mereka dapat bekerja saja dengan membuat tumpukan secara tenang tidak diburu-buru oleh sampah kian menggunung, sehingga keperluan pribadi. makin sulit diatasi, sehingga Menko Perekonomian Boediono, mempersempit peluangnya jika maju seusai acara serah terima dari pejabat kembali pada pemilihan presiden pada lama Aburizal Bakrie di Jakarta pada 7 2009. Desember 2005, menyatakan, presiden Setelah Presiden Susilo Bambang fokus pada masalah iklim investasi. Yudhoyono mengumumkan resufle Sehingga perlu melakukan reformasi kabinet khususnya pada tim ekonomi keadaan atau aturan-aturan yang ada pada 7 Desember 2005, masyarakat sehingga gairah untuk melakukan pun optimis dan menyambut gembira investasi meningkat diberbagai bidang bahwa perekonomian akan maju, seperti perpajakan, hukum,perburuhan bahkan indicator perekonomian seperti dan aturan daerah. Hal seperti ini yang IHSG dan nilai tukar rupiah menguat. perlu ada reformasi untuk Hal yang sama juga disampaikan meningkatkan iklim investasi. Lebih Faisal, menurutnya penunjukan Menko lanjut Boediono mengatakan, reformasi Perekonomian Boediono dan Menteri dilakukan jika ada yang menghambat Keuangan Sri Mulyani Indrawati oleh investasi, menuju ke iklim yang presiden sudah tepat, keduanya mendorong investasi. memenuhi syarat yang tak dimiliki sosok-sosok yang digantikannya, sehingga kerangka makro ekonomi TETAP OPTIMIS akan lebih jelas dan terukur, sehingga Mengenai kondisi di tahun 2006, tak eksperimental. Faisal mengatakan bahwa dirinya tetap Mengenai langkah yang akan optimis menjalani tahun 2006 ini. diambilnya setelah dilantik menjadi Menurutnya kemerosotan berbagai indikator makro ekonomi belakangan ini Menko Perekonomian Boediono mengatakan, akan mencoba untuk terjadi bukan karena semakin menormalkan kembali ekonomi memburuknya fondasi ekonomi, Indonesia ketingkat yang stabil. melainkan lebih karena buruk laku, tak Menurutnya Stabil bukan berarti disiplin, terlalu percaya diri, dan adanya mandeg, tetapi artinya seimbang. conflict of interest sehingga gagal “Inilah yang presiden katakan, memanfaatkan momentum percepatan. pertumbuhan ekonomi kita genjot, tapi Dari sisi Pemerintahan SBY yang jangan melupakan stabilitas, jangan baru setahun Faisal menyampaikan, melupakan keseimbangan, terus seharusnya SBY menyadari bahwa

genjot, tapi jangan sampai jatuh karena tidak seimbang. Itulah tema di menko perekonomian untuk dijabarkan dalam langkah-langkah yang akan kita ambil,” ujar Boediono. Menyinggung soal upaya untuk menurunkan tingkat kemiskinan, Boediono mengakui hal itu tidak bisa dilakukan sendiri tanpa adanya pertumbuhan ekonomi. “Itu jelas disinggung juga oleh presiden dan harus disadari bahwa di Indonesia sedang mengalami inflasi tinggi dan proses kemiskinan,”ujar Boediono. Boediono selalu optimis. Ketika dirinya menjabat sebagai Menteri Keuangan, situasi keuangan pemerintah maupun di luar pemerintah masih sangat rawan, namun Indonesia bisa melewati masa rawan tersebut. Tantangan lain yaitu politik dan ekonomi ia rasa perlu dimasukkan dalam konteks pengambilan keputusan. Kondisi lain yang harus tetap dijaga menurut Boediono adalah koordinasi fiskal moneter yang harus serasi dengan Bank Indonesia pada suku bunga dan kredit, jika tetap ingin inflasi dapat diturunkan, karena dampaknya akan ke beberapa aspek lain, termasuk goods dan suku bunga pada dana pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi. “Inflasi ini adalah masalah makro, jadi ‘obat’ makro yang telah ditetapkan pada masa lampau akan tetap kita jalankan,”tegasnya. zap
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

11

LAPORAN UTAMA

Kebijakan Ekonomi Pemerintah
Di Mata Dunia Usaha
antangan berat yang dihadapi oleh pemerintah pada tahun 2005 lalu, memberi dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Harga minyak dunia yang meningkat tajam mau tidak mau harus diikuti dengan kenaikan harga BBM dalam negeri dan berimbas pula kepada berbagai faktor perekonomian yang lain. Kebijakan pemerintah menaikan harga BBM dalam negeri dinilai tidak populer oleh masyarakat, karena berimbas pada kenaikan harga-harga kebutuhan lain. Sedangkan bagi pengusaha, kenaikan ini akan membebani usaha dan menimbulkan biaya produksi yang tinggi. Namun pemerintah beralasan, ini merupakan obat pahit
DOK. KY

Sejak duet kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) terbentuk, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan di bidang ekonomi yang berupaya mengakomodir kepentingan banyak pihak. Namun buat para pungusaha khususnya, implementasi dilapangan masih dirasakan lemah.

T

SOFYAN WANANDHI. Pemerintah kehilangan prioritas karena menghadapi tantangan eksternal seperti; bencana alam tsunami, flu burung, bom Bali dan lain sebagainya.

yang harus ditelan jika ingin sembuh dari sakit. Sofyan Wanandi, pimpinan kelompok usaha Gemala Group mengatakan, dirinya masih bisa memaafkan keadaan perekonomian tahun 2005 karena adanya faktor eksternal dan faktor umur pemerintahan SBY-JK yang masih muda dan masih baru. Menurut Sofyan, ketika Kabinet Indonesia bersatu terbentuk, dirinya berharap pemerintah dapat melakukan ‘coba-coba’ untuk bisa membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi yang dinilainya tidak kunjung usai. Namun kenyataannya pemerintah kehilangan prioritas karena menghadapi tantangan eksternal seperti; bencana alam tsunami, flu burung, bom Bali dan lain sebagainya. Selanjutnya kabinet yang terdiri dari berbagai macam latar belakang seperti partai politik dan lain sebagainya, dinilainya turut memberikan dampak ketidakfokusan pemerintah menangani permasalahan yang ada sehingga tidak ada koordinasi dan cenderung menciptakan konflik yang ditakuti oleh kalangan dunia usaha. “Kalau ada tantangan eksternal yang dihadapi pemerintah, semestinya bisa membuat kabinet kompak dan fokus untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang ada, tapi kenyataannya tidak kelihatan dan tidak kompak,”ujar Sofyan kembali. Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), Toto Dirgantoro mengatakan, tahun 2005 merupakan tahun yang memprihatinkan bagi dunia usaha. Menurutnya industri menghadapi kendala dimana produk dari industri

tersebut tidak dapat bersaing karena negara kompetitor semakin banyak. Selain itu kendala dalam negeri juga memberikan dampak bagi industri. Toto menunjukkan beberapa kendala didalam negeri yang dihadapi oleh industrti seperti kendala infrastruktur, sarana dan prasarana yang memang harus mendapat perhatian khusus pemerintah seperti transportasi dan juga sarana kepelabuhan. Tahun 2005 lalu menurut Toto, banyak pengusaha yang berpikir realistis untuk menahan diri atau tidak berinvestasi dan menanamkan uangnya karena kondisi perekonomian yang berat. “Dari pada
DOK. WBC

TOTO DIRGANTORO. DJBC lebih menggiatkan lagi penekanan terhadap berbagai peraturan yang ada kepada para petugas di lapangan.

12

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

DOK. WBC

INDUSTRI OTOMOTIF. Pasar Domestik masih bagus.

para investor menanamkan modal untuk investasi dengan kondisi yang berat, yang pada nantinya mengakibatkan tidak bisa membayar pesangon pekerjanya atau terjadi PHK karena menutup pabrik, lebih baik mereka menahan uang. Tahun 2005 menurut saya cukup signifikan terjadi pemutusan hubungan kerja,”lanjut Toto Dari pengamatan Toto, dampak market dalam negeri tahun 2005 bisa dikatakan perekonomiannya tidak berjalan stabil dimana pasar menjadi lesu, daya saing juga berkurang dan banjirnya barang impor. Dampak yang dirasakan terjadi pada saat momen yang bisa dibilang panen bagi industri dalam negeri yaitu saat menjelang hari raya dan tahun baru terjadi kelesuan. “Untuk produk khususnya tekstil sulit melempar produknya ke pasar. Itu kondisi yang kita alami tahun 2005,”jelas Toto. Muhaimin Mufti Ketua Gabungan Pengusaha Rokok Putih Indonesia (Gapprindo) mengatakan, tahun 2005 memang cukup berat, namun secara

umum pabrik rokok masih bisa mengikuti keadaan pada saat itu. Pada saat harga BBM naik dan lain sebagainya naik, secara umum daya beli menurun. Namun tingkat menurunnya ini dikategorikannya ada yang menurun sekali ada yang menurun sedikit. Hal ini tergantung pada merek rokok tersebut dan segmen dari rokok tersebut. “Kalau suatu merek rokok konsumennya menurun sekali akibat kenaikan BBM, kita harus lihat menurunnya sampai sejauh mana, apakah menurunnya ini sampai pada pengurangan pegawai atau tidak,”ujar Mufti. Namun ia mengatakan pengurangan pegawai dan penutupan pabrik akibat kenaikan harga BBM tidak ditemui sejauh ini, namun ia mengatakan kemungkinan itu ada. Gapprindo mensinyalir akibat kenaikan BBM yang berimbas ke segala lini ini memungkinkan suburnya pertumbuhan rokok-rokok ilegal dan rokok selundupan dari luar negeri. Akibatnya menurut Mufti, banyak

pabrik rokok legal yang kembang kempis dan tutup, karena peminatnya lebih cenderung membeli rokok selundupan yang murah. “Ini setidaknya harus diantisipasi oleh DJBC melalui pengawasannya,”ujar Mufti. Teguh Trihono, Production Control Export and Import Division Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMIN) mengatakan, untuk tahun 2005 memang menghadapi tantangan cukup berat dari sisi perekonomian domestik, namun pihaknya kembali menyerahkan kebijakan menghadapi perekonomian 2005 lalu kepada pemerintah. Ia mengatakan TMIN masih bisa menjalani keadaan tahun 2005 lalu mengingat pasar domestik Indonesia cukup bagus untuk pemasaran Toyota Inova dan ekspor ke beberapa negara berlangsung sesuai dengan target yang dimilikinya, untuk jenis armada Toyota Avanza.

HARUS CARI TEROBOSAN
Belajar dari mini krisis yang dihadapi oleh pemerintah pada tahun
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

13

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

2005, Sofyan mengharapkan agar pemerintah mampu membuat suatu terobosan yang sangat signifikan untuk bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi yang tidak kunjung usai. Terobosan yang dimaksud Sofyan adalah terobosan dibidang anggaran, ia berpendapat anggaran pembangunan yang sudah ada itu harus cepat dikeluarkan. Menurutnya anggaran saat ini selalu keluar pada akhir-akhir tahun dan pengeluarannya benar-benar ketat “Anggaran ini harus cepat dikeluarkan, dan uangnya harus sudah ada, investment daripada proyek-proyek itu harus cepat dilaksanakan, itu yang menurut saya harus dikeluarkan supaya pembangunan jadi bisa cepat dilaksanakan,”papar Sofyan. Lebih lanjut Sofyan mengatakan, ketika diangkat menjadi presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah memiliki terobosan yang ada (lihat Laput 1), namun amat disayangkan terobosan itu hanya sekedar terobosan dan tidak dijalankan dengan tepat, malah yang terjadi kemunduran dari beberapa aturan yang dinilainya kontra produktif dengan terobosan yang dimaksud presiden. “Beberapa undang-undang tidak mendukung terobosan tersebut, lihat saja UU Pajak, UU Tenaga Kerja dan lain sebagainya, itu tidak memihak,”papar Sofyan. Sedangkan Toto melihat, kini pemerintah sudah mulai membuat suatu terobosan yang cukup signifikan yaitu penurunan tarif THC (Terminal Handling Charge) dari US$150 menjadi US$95. Menurutnya, terobosan ini memberikan dampak penghematan kepada para pengusaha nantinya.”Ini merupakan terobosan pemerintah yang berdampak sangat baik bagi pengusaha karena akan berdampak pada penghematan perusahaan,”ujar Toto. Masih menurut Toto, hal itu saja tidak cukup, pemerintah dalam hal ini presiden harus mempunyai target yang jelas, ”Gak usah banyakbanyak targetnya, cukup dua. Misalnya, SBY sebagai presiden RI mentargetkan untuk bisa menyerap tenaga kerja dan menciptakan lapangan kerja. Yang kedua, pemerintah mentargetkan agar produk kita bisa bersaing di pasar global,”papar Toto. Lebih lanjut Toto mengatakan, jika ini menjadi perhatian pemerintah, maka BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) harus memangkas habis-habisan prosedur birokrasi untuk perizinan yang memakan waktu sehingga mempermudah investasi masuk. 14
WARTA BEA CUKAI

untuk dijadikan tempat berinvestasi, ”tukas Toto.

PERLU REFOMASI BIROKRASI
Sofyan mengatakan bahwa reformasi di tubuh birokrasi memang perlu dilakukan agar iklim usaha bisa menjadi kondusif, namun secara keseluruhan Sofyan tidak melihat bentuk nyata dari reformasi di tubuh birokrasi dan ia mengatakan bahwa semua itu masih dirasanya masih sekedar lips service belaka dan belum melihat bentuk konkrit dari upaya pemerintah tersebut. Sementara Toto lebih menyorot pada Otonomi Daerah (Otda) yang dinilainya tumpang tindih dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pusat yang akibatnya membuat panjang jalur birokrasi. Menurutnya banyak kebijakan pusat yang ditolak oleh daerah, sehingga investor menahan diri untuk menanamkan modalnya di Indonesia karena pusat dan daerah memiliki kebijakan yang berbeda. Toto mengatakan, jika investor akan menanamkan modalnya di Indonesia, waktu yang diperlukan sangat banyak untuk melakukan pengurusan tersebut mulai dari tingkat pusat hingga daerah memakan waktu hingga ratusan hari. Namun jika dibandingkan dengan negara lain, waktu yang diperlukan untuk pengurusan investasi sangat singkat, tidak mencapai ratusan hari. Ketika ditanya mengenai upaya Departemen Keuangan dalam menghapus beberapa Perda yang dinilai tidak kondusif bagi investasi, Toto melihat hal itu belum dirasakan oleh pengusaha dan belum terlihat hasil nyatanya. Untuk itu reformasi di tubuh birokrasi mendesak dilakukan sehingga dapat memberi kepastian usaha bagi pengusaha dan masuknya investasi baik dari dalam maupun luar negeri. Dari segi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, Toto menilai, hal itu sudah mengakomodir kepentingan pengusaha, namun ia menyayangkan implemetasi di lapangan masih belum mengena kepada pengusaha akibat dari panjangnya jalur birokrasi tersebut.

MUHAIMIN MUFTI. akibat kenaikan BBM yang berimbas ke segala lini ini memungkinkan suburnya pertumbuhan rokok-rokok ilegal dan rokok selundupan dari luar negeri.

Disamping itu pemerintah harus berupaya meningkatkan jaminan keamanan. ”Jika presiden mencanangkan hal tersebut maka semua menterinya akan bekerja kearah tersebut sehingga investasi bisa masuk ke Indonesia, pengangguran dapat ditanggulangi dan ekonomi berjalan lancar,”papar Toto. “Seandainya presiden mempunyai agenda seperti ini, saya yakin investor akan banyak yang menanamkan modalnya Indonesia. Presiden gak usah repot-repot tandatangani MoU dengan negara lain, mereka akan datang sendiri, melihat bahwa Indonesia pantas
DOK. ZAP

KEBIJAKAN DJBC
Ketika ditanya mengenai kebijakan DJBC saat ini, Toto mengatakan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh DJBC sudah bagus dan mulai menuju ke arah perbaikan. Namun disini Toto menyampaikan bahwa kebijakan tersebut harus didukung dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil pula sehingga kebijakan tersebut bisa memberikan keuntungan bagi

TEGUH TRIHONO. Menyerahkan kebijakan kepada pemerintah.

EDISI 375 FEBRUARI 2006

DOK. WBC

TPT. Tekstil dan produk tekstil sulit melempar produknya ke pasar

pengusaha dan juga bagi pendapatan negara. Mengenai SDM, Toto menekankan agar DJBC lebih menggiatkan lagi penekanan terhadap berbagai peraturan yang ada kepada para petugas di lapangan. Hal ini agar tidak terjadi salah persepsi ketika pelaksanaan di lapangan. Selama ini menurutnya, jika ada suatu aturan baru, pengusaha selalu mendapat sosialisasi terlebih dahulu sedangkan petugas di lapangan mendapatkannya setelah itu, hal ini sering mengakibatkan terjadinya ketidaksiapan petugas dilapangan. Menurutnya, Undang-Undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, sudah cukup baik dan harus dijalankan dengan konsekuen, sehingga tidak akan ada keluhan dari beberapa pelaku usaha. Toto mencontohkan keluhan yang pernah ia temui seperti nilai pabean. Menurutnya, nilai pabean adalah nilai

transaksi, namun kadang-kadang PFPD (Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen) menentukan lain karena instruksi dari pusat plafonnya harus sejumlah nilai tertentu, sehingga pengusaha kena tambah bayar. Ini yang dikeluhkan pengusaha. “Kalau DJBC menjalankan ketentuan yang ada dalam undang-undang, tidak usah khawatir mengenai adanya under value, karena ada post audit, jadi tinggal audit saja,”papar Toto. Hal senada juga disampaikan Teguh ketika ditanya mengenai kebijakan yang dikeluarkan DJBC. Menurutnya kebijakan yang dikeluarkan oleh DJBC sudah mengakomodir pihaknya dan beberapa pengusaha lainnya, ia mencontohkan adanya jalur prioritas yang sangat membantu usahanya dalam menjalankan produksi. Mengenai hambatan di lapangan menurutnya memang ditemui, namun

pihak DJBC responsif sehingga hambatan dapat diselesaikan tanpa mengganggu produksi. Sementara Mufti mengatakan, DJBC sudah menjalankan tugas dan fungsinya dengan maksimal. Kerjasama antara asosiasi dengan DJBC pun terjalin sehingga hambatanhambatan yang ditemui di lapangan dapat diselesaikan bersama. Bahkan menurut Mufti, dalam amandemen Undang-Undang Cukai yang kini masih dalam pembahasan di DPR, pihaknya merasa cukup didengar dan diakomodir kepentingannya. “Namun memang, masih ada beberapa hal yang harus dibahas lebih lanjut mengenai UndangUndang Cukai yang kini tengah dibahas di DPR, dan secara keseluruhan Undang-Undang tersebut sudah baik,”papar Mufti yang juga terlibat sebagai tim review dalam pembahasan amandemen Undang-Undang Cukai. zap
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

15

LAPORAN UTAMA

“Setelah Semester I, Growth perekonomian Indonesia

Akan Kembali Membaik”

Menjaga ekspektasi masyarakat adalah sangat penting untuk bisa meningkatkan perekonomian Indonesia, karena pasar sangat sensitif terhadap statement yang dikeluarkan pejabat. Jika statement tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, diperkirakan ekonomi akan kembali porak poranda.

P

erekonomian Indonesia pada awal tahun 2006 masih dirasa agak memberatkan bagi masyarakat dan juga dunia usaha. Hal ini menurut Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) M. Chatib Basri, lebih dikarenakan masih dibayangi harga minyak dunia yang tinggi pada tahun 2005 yang berdampak pada masalah sosial di masyarakat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok yang dipicu dari kenaikan harga BBM dalam negeri. Namun Chatib Basri mengatakan, pemerintah dalam hal ini presiden sudah mampu melihat dan mengamati keinginan masyarakat termasuk juga pelaku pasar. Hal ini terbukti dengan meningkatnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya pula nilai Indeks Saham Gabungan di bursa saham ketika dilantiknya Boediono dan Sri Mulyani Indrawati menjadi Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan. Ia kembali menambahkan, pemerintah harus bisa menjaga sentimen positif yang ada di masyarakat tersebut, jangan sampai pemerintah kembali melakukan suatu langkah mundur di bidang perekonomian dengan mengeluarkan suatu statement yang bisa mengundang reaksi negatif pelaku pasar. Selanjutnya Chatib Basri mengatakan, beberapa survey mengenai perekonomian yang dilakukannya terhadap beberapa lembaga salah satunya DJBC, Chatib mengatakan hal itu harus bisa dijadikan sebagai masukan untuk bisa meningkatkan kinerja. Mengenai kondisi perekonomian Indonesia dan sarannya tentang langkah apa saja yang harus diambil pemerintah untuk bisa menjaga kepercayaan masyarakat, berikut petikan wawancara dengan Chatib Basri Bagaimana menurut anda ekonomi Indonesia tahun 2005 yang lalu? Kalau dari segi pertumbuhan masih lebih baik dari tahun 2004. Tahun 2004 lalu pertumbuhan ekonomi kita 5,1 persen, sedangkan kalau tahun 2005 perkiraan

CHATIB BASRI. Dengan adanya on-line sistem ini, maka kemungkinan untuk melakukan manuver tentu akan jauh lebih berkurang

saya bisa mencapai 5,5 persen sampai 5,6 persen. Tapi efek dari harga minyak dunia mengakibatkan kita harus mengambil kebijakan memotong subsidi. Dan implikasi dari hal tersebut adalah inflasi. Inflasi kita pada tahun 2005 meningkat tajam, kalau saya lihat ini adalah fenomena jangka pendek dan ini berlanjut hingga semester I 2006. Pada semeseter I juga perekonomian masih melambat, tapi setelah itu saya melihat growth-nya akan kembali membaik. Kadang-kadang dalam bahasa ekonomi dikatakan pertumbuhan ekonomi membaik, tapi dalam prakteknya, masyarakat melihat shock terbesar ada pada kenaikan harga BBM, bagaimana menurut Anda? Kalau dari segi shock terbesar dari dampak kenaikan BBM memang terasa, seperti konsumsi menurun. Dan bisa dilihat dari indikator impor mengalami penurunan, itu yang saya katakan tadi, efeknya akan masih dirasakan hingga semester I. dan pada semseter II tahun 2006 konsumsi akan kembali meningkat lagi.

Bagaimana menurut anda tim ekonomi baru dalam Kabinet Indonesia Bersatu dimana disitu duduk Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani? Saya tidak mau komentar mengenai mbak Ani (Sri Mulyani.red) karena beliau juga orang LPEM UI, nanti kalau saya komentar tentang beliau akan bias. Saya akan komentar mengenai Pak Boed. Saya lihat Pak Boediono merupakan orang yang memiliki reputasi baik dibidang makro ekonomi. Ketika beliau menjadi Menteri Keuangan kinerjanya juga cukup baik. Dan bisa lihat juga ekspektasi dari pasar yang indeksnya menguat, nilai tukar Rupiah menguat, responnya juga positif. Justru saya disini mengingatkan agar harus ada kehati-hatian. Orang sangat percaya pada Pak Boed, kalau orang percaya pada beliau maka ekspektasinya juga tinggi. Seperti yang tadi saya bilang, dalam enam bulan ke depan pertumbuhan ekonomi akan melambat. Jangan sampai ekspektasi orang berlebihan, nantinya orang menganggap Pak Boed menjadi menko bagus, kok dalam tiga bulan growth tidak naik, belum ada lapangan pekerjaan? Kalau ekspektasi dari masyarakat tidak terpenuhi maka nanti orang akan bilang tim ekonominya gagal. Padahal ini masalah ekspektasi yang terlalu tinggi. Seberapa jauh ekspektasi masyarakat berpengaruh pada ekonomi Indonesia? Menurut saya mengelola ekspektasi ini adalah sangat penting. Jangan bikin kebijakan yang “aneh-aneh” dalam arti kata yang membuat sentimen pasar menjadi terganggu. Seperti isu yang lagi ramai dibicarakan orang mengenai apakah betul pemerintah mau buy back Indosat? Itu hal yang sensitif buat pasar, kemudian juga mengenai kebijakan utang, kok tiba-tiba kita mau minta debt relief. Buat pasar itu sensitif ! Kalau debt relief itu diminta berarti ratting kita turun dimata investor. Mereka akan meninggalkan Indonesia. Mereka yang saya maksud adalah investor yang bermain di pasar uang atau modal, mere-

16

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

ka akan meningalkan Indonesia dengan gampang. Jadi menurut saya kebijakan yang baik itu adalah kebijakan yang hatihati. Begitu juga dengan membuat statement, harus hati-hati, karena pasar sangat sensitif dengan ini, kalau satu kali saja ada statement yang mengatakan ketidakpercayaan, atau menyatakan kesalahan…responnya bisa cepat. Yang tahu kondisi di sini (Indonesia) ya orang yang ada disini. Kalau pemainpemain itu kan dapat info begitu banyak dan tidak bisa dikontrol. Ketika ada statement yang aneh-aneh tadi misalnya, mereka dengan uang yang banyak harus bikin keputusan yang cepat. Kalau tadi anda katakan jagan buat kebijakan yang “aneh-aneh” rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) apakah akan membikin shock yang cukup kuat juga? Kalau menurut saya begini, saya gak tahu ya pemerintah maunya apa, lihat dulu perkembangan inflasinya, kalau sudah stabil baru boleh naikan TDL. Saya melihat inflasi ada kemungkinan akan naik karena harga beras. Kalau harga beras naik maka inflasi masih mungkin akan naik. Jadi kita musti hati-hati lihat perkembangan berapa bulan, kalau inflasi sudah stabil bisa dinaikan, toh kenaikannya tidak terlalu tinggi menurut perkiraan saya. Jadi Hal krusial apa saja yang harus dilakukan oleh pemerintah menghadapi semester I tahun 2006 ini dibidang ekonomi? Menurut Saya kebijakan fiskal. Karena dalam semester pertama investasi swastanya akan turun, konsumsi swastanya akan melemah, ekspornya juga akan melemah. Jadi satu-satunya yang bisa meng-counter hal tersebut adalah pengeluaran pemerintah, disitu peran menteri keuangan menjadi sangat penting. Mengenai masalah investasi, kita kayaknya masih susah bikin kebijakan yang mempermudah izinizin, bagaimana menurut Anda masalah birokrasi ini? Saya setuju dengan hal tersebut dan itu juga menjadi streamline yang mesti diperbaiki. Persoalannya adalah wewenangnya tidak disatu Departemen di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Misalnya yang berkaitan dengan masalah ketenagakerjaan, ada urusan dengan Perda, deal dengan pemerintah daerah ada urusan dengan macam-macam . Jadi ada masalah belum terintegrasi. Kalau saya lihat untuk menangani masalah ini dengan cepat adalah debirokratisasi, kalau aturannya dipermudah itu akan lebih gampang, investor akan masuk. Bagaimana menurut Anda kinerja Bea Cukai satu tahun terakhir ini, dan apa masukan anda buat Bea dan Cukai tahun 2006?
DJBC. Survey yang dilakukan oleh lembaga survey termasuk LPEM UI harus dilihat secara konstruktif.

Isu yang paling penting ke depan adalah hal mengenai production network, cirinya ini, satu barang diproduksi dan “dikeroyok” oleh banyak negara. Kalau production network inventori yang dimiliki perusahaan itu harus tepat waktu. Kalau tepat waktu maka institusi kepabeanan itu menjadi sangat penting. karena delayed disini akan menjadi persoalan. Di Indonesia menurut saya persoalannya bukan hanya di instiusi kepabeanannya karena ada port clearance-nya juga, jadi dalam hal ini perlu dilakukan perbaikan-perbaikan juga. Jadi saya sambut baik adanya on-line sistem karena itu akan memperbaiki atau mempermudah prosesnya. Belum lagi ada upaya ASEAN Single Window itu harus di dukung, karena dengan adanya ini maka segala macam proses yang menyangkut produksi akan sangat cepat. Dengan adanya on-line sistem ini, maka kemungkinan untuk melakukan manuver tentu akan jauh lebih berkurang seperti adanya contact person antara pengguna jasa dengan petugas di lapangan. Lalu saya melihat direction ke arah pengurangan manuver yang saya sebutkan tadi sudah mulai dijalankan, tapi kalau masalah pungli, itu masih tetap ada, dan studi yang pernah kita lakukan (LPEM UI) Salah satu isu menarik adalah mengenai Customs Broker, mungkin karena peraturan mengenai masalah kepabeanan itu sulit, sehingga pengusaha membutuhkan konsultan. Kalau peraturannya mudah dan dimengerti mungkin kebutuhan akan customs broker itu tidak akan tinggi, sehingga biayanya dapat dikurangi. Beberapa waktu lalu LPEM UI melakukan penelitian mengenai adanya biaya tidak resmi di DJBC, dan Transparancy International Indonesia juga mengkategorikan Indonesia sebagai negara yang korup dan institusi Bea Cukai juga disebut disana, Apakah ini hanya sekedar persepsi? Saya kira begini, Bea Cukai dan Pajak itu dua institusi yang berada di

Departemen Keuangan yang selalu berhubungan langsung dengan proyek bisnis. Jadi mau gak mau tudingan seperti itu ada. Kalau ada institusi Departemen Keuangan yang tidak ada hubungan dengan bisnis seperti yang dipimpin oleh Pak Anggito (Anggito Abimayu Ketua BAPEKI.red) gak akan ada orang yang ribut memperebutkan itu. Nah Bea Cukai dan Pajak itu isntrumen, sehingga kalau dari instrumen itu ada ketidakpuasan maka timbul survey ini. Ini harus dihadapi dengan tenang dalam arti, kalau ada masalah, maka dua institusi itu harus buat improvement apa yang harus dilakukan. Saya melihat sekarang sudah menuju ke arah sana. Seperti ASEAN Single window, kalau ini bisa dilaksanakan dan dijalankan dengan konsekuen, maka pungli akan turun sangat jauh. Jadi kalau survey bilang seperti itu, yang paling penting dilakukan introspeksi. Dan saya kira Bea Cukai punya langkah strategis dalam rencananya. Waktu saya menghadiri suatu seminar, Bea Cukai bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) memaparkan mengenai rencananya atau langkah strategisnya. Kalau ini sudah dijalankan maka saya yakin Bea Cukai akan sangat baik sekali. Jadi apa yang harus dilakukan oleh DJBC menghadapi survey tersebut? Menurut saya, survey tersebut harus dilihat ini secara konstruktif, misalnya begini ada survey yang bilang Bea Cukai begini…, maka kita harus cari langkah yang baik untuk memperbaikinya. Kalau begitu langkah apa yang harus dilakukan oleh Bea Cukai terlebih dahulu, memberitahukan kepada masyarakat mengenai langkah-langkah tersebut atau memperlihatkan kepada masyarakat langkah yang telah diambil? Saya rasa harus dua-duanya, kalau ada progres pasti orang akan bilang, jadi lakukan saja yang terbaik untuk menuju hal yang terbaik. zap/ky
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

17

WAWANCARA

18

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

DR. Sri Mulyani Indrawati
MENTERI KEUANGAN RI

“Integritas Kita

TIDAK BISA DIPERJUALBELIKAN, APALAGI DIKOMPROMIKAN...!”

Ditunjuknya Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan yang baru oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mampu memberikan efek cerah pada perekonomian Indonesia. Hal ini terbukti dengan menguatnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya nilai indeks harga saham gabungan tidak lama setelah ia (dan tim ekonomi lainnya) dilantik oleh presiden. Namun itu saja belum cukup untuk memajukan perekonomian Indonesia. Tugas besar dan segala permasalahan yang kompleks dibidang fiskal menunggu untuk diselesaikan oleh Menteri Keuangan yang baru. Untuk melihat ekonomi Indonesia tahun 2005 dan 2006, berikut wawancara Redaktur WBC Zulfril Adha Putra dengan Menteri Keuangan DR. Sri Mulyani Indrawati mengenai perekonomian Indonesia diruang kerjanya.
Apa yang menjadi prioritas ketika anda diangkat sebagai Menteri Keuangan ? Ya pertama tentu memperkuat struktur dari pengelolaan keuangan negara sehingga dia tidak menambah atau menciptakan tambahan resiko di dalam perekonomian dan itu dilihat dari sisi Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN), yang berarti memperbaiki prestasi dari penerimaan negara, baik itu dari pajak maupun non pajak, termasuk cukai dan mengurangi berbagai bentuk kebocoran yang selama ini dideteksi. Kemudian memperbaiki sisi pengeluaran, baik dari sisi prosedurnya, efisiensinya maupun efektifitasnya, dan dari sisi financingnya (pembiayaannya) mengoptimalkan sumber-sumber pembiayaan APBN, yang selama ini menjadi sumber pembiayaan yang secara historis sudah cukup lama dirintis, baik itu dalam bentuk hutang dalam negeri maupun luar negeri. Dari prioritas yang disampaikan tadi, bagaimana implementasinya di lapangan? Contoh implementasinya, pertama kita lihat manajemen APBN-nya, data-data tidak terkonsolidasi secara tepat waktu dan tepat kualitas, artinya seluruh eselon I Direktorat Jenderal dibawah Departemen Keuangan harus mampu untuk memproduce atau menghasilkan data-data mengenai area-area yang mereka harus manage secara tepat waktu dan dengan kualitas yang lebih baik, dan kemudian data itu dikelola atau diolah untuk bisa menghasilkan masukan terhadap kebijakan secara lebih struktural atau secara lebih baik. Kedua, memperbaiki sistem, sistem itu berhubungan dengan leadership, berhubungan dengan institusinya, kapasitasnya. Di keuangan tentu saja dari sisi kapasitas SDM-nya dengan tantangan baru yang makin meningkat dan makin dinamis, sebetulnya masalah kemampuan dari SDM-nya itu untuk bisa mengelola resiko dan mengelola keuangan negara secara lebih baik, sangat perlu ditingkatkan. Bagaimana hubungan dengan lembaga terkait yang merupakan mitra kerja Departemen Keuangan? Hubungan kerja dengan berbagai lembaga-lembaga yang selama ini menjadi mitra kerja kita juga perlu diperbaiki, apakah dalam hal ini BI, dan Menko Perekonomian, atau Bappenas sebagai pengelola kebijakan secara makro maupun dengan berbagai share holder yang lain, seperti investor yang membeli bond atau surat hutang negara maupun masyarakat secara umum. Dan tentu saja ini adalah mengubah etos dari Departemen Keuangan yang selama ini relatif tertutup dan kurang dianggap responsive terhadap kebutuhan kebijakan makro ataupun mikro ekonomi, sekarang harus menjadi Departemen
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

19

WAWANCARA
Keuangan yang menjadi lebih terbuka dan harus mampu memberi services kepada pihak lain secara tepat waktu, tepat kualitas dan mengurangi biaya semaksimal mungkin. Bagaimana anda melihat perekonomian Indonesia tahun 2005 yang lalu ? Tahun 2005 banyak persoalan yang dihadapi oleh kita, baik yang sifatnya shock eksternal maupun yang berasal dari dalam negeri. Shock eksternal kita sudah baca dibanyak media seperti bencana alam dan tsunami sampai kepada harga minyak yang meningkat secara tajam, dari harga asumsi APBN yang hanya US$24 perbarel naik hampir 3 kali lipatnya dan ini menyebabkan perubahan yang luar biasa di dalam struktur APBN kita. Di dalam negeri sendiri tentu shock ini menimbulkan tantangan yang makin rumit karena berhubungan dengan pos-pos pengeluaran pemerintah yang tidak bisa diubah secara mudah, karena harus merubah keputusan politik jadi harus melalui konsultasi. Dengan shock-shock ini pemerintah membuat pilihan-pilihan kebijakan yang mungkin tidak populer, tetapi mungkin hasilnya dari jangka menengah panjang dianggap bisa memberikan ruangan yang lebih baik. Kebijakan pengurangan subsidi atau dengan menaikkan harga minyak memang berdampak pada dua hal, yaitu dunia usaha dan sektor masyarakat, mereka harus dipulihkan kembali. Jadi disisi ini kelihatan sekali disaat pemerintah harus memperbaiki kesehatan keuangan negara, dampaknya tidak mudah bagi sektor usaha dan sektor masyarakat. Ketika pemerintah memiliki ‘ruangan’setelah menaikan harga BBM, maka pemerintah mulai lagi harus berangsur-angsur memperbaiki situasi dimasyarakat dan di dunia usaha supaya mereka bisa pulih kembali. Saya rasa itu yang merupakan esensi penting dari tahun 2005, dan apabila mekanisme ini berjalan secara konsisten dan kontinyu mungkin akan menimbulkan kembali harapan dan confidence yang lebih baik dari masyarakat dan dunia usaha untuk bisa lagi menjalankan kegiatan-kegiatan ekonomi mereka. Apakah Tahun 2006 ini,masih dibayang-bayangi dengan harga minyak dunia yang tinggi? Ya, berbagai prediksi mengenai harga minyak dunia tidak akan pernah bisa dipastikan secara 100 persen, tetapi berbagai prediksi menggambarkan bahwa harganya 20
WARTA BEA CUKAI

masih berkisar di atas US$50, dan harga itu sebetulnya relatif hampir sama dengan asumsi APBN 2006 yang kita miliki, sehingga memang kita tidak mengharapkan adanya shock yang terlalu besar dari harga minyak. Meskipun kalau meleset dari angka 57 dollar, dan melesetnya itu kebawah sangat besar pengaruhnya terhadap revenue kita, sehingga kita harus siap-siap paling tidak mengurangi pengeluaran supaya defisitnya tidak menggelembung terlalu besar. Tapi kalau harga minyak itu lebih tinggi tapi disisi lain penerimaan kita lebih banyak, tetap subsidinya juga akan meningkat secara lebih besar. Nah ini semuanya juga harus kita perhatikan dari sisi optimalisasi ruangan ataupun optimalisasi dari kemampuan APBN untuk 2006. Diharapkan bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi karena seperti saya katakan tadi background-nya tahun 2005 dengan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pengurangan subsidi sektor usaha dan sektor masyarakat

pertumbuhan ekonomi tidak semakin melemah. Yang kedua, melakukan optimalisasi dari berbagai instrumen yang dimiliki, baik itu instrumen fiskal, instrumen policy secara structural untuk mempermudah sektor-sektor usaha dan masyarakat untuk bisa kembali memiliki daya beli dan memiliki daya mampu untuk menghasilkan apa yang kita sebut sumber-sumber pertumbuhan ekonomi alternatif. Apakah masih ada Pekerjaan Rumah yang tidak terselesaikan pada tahun 2005 yang lalu? Banyak, karena di tahun 2005 seperti yang disebutkan tadi, suasananya adalah suasana emergency yang banyak sekali, karena adanya shock eksternal yang begitu banyak maupun yang karena tahun 2005 pemerintahan baru relatif masih banyak yang harus dieja dari sisi mekanisme kerja dan lain-lain. Lantas tahun 2006 meneruskan persoalan yang belum terselesaikan, katakanlah dulu kita punya proses anggaran terlambat, 2006 sudah bisa kita atasi dengan lebih awal. Tetapi tahun 2005 katakanlah persoalan bahwa investasi belum meningkat seperti yang kita harapkan karena adanya persepsi tentang resiko maupun iklim investasi yang belum cukup, itu semuanya harus masuk kepada prioritas 2006, apakah itu berhubungan dengan masalah iklim investasi yang berhubungan dengan keseimbangan ekonomi seperti stabilitas, tenaga kerja, masalah perpajakan, masalah arus barang dan jasa yang berhubungan dengan pelabuhan, bea cukai, dan lain-lain, kemudian masalah perijinan, masalah yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang ada di dalam persetujuan investasi. Untuk keuangan sendiri masih banyak hal yang harus kita bereskan, pertama manajemen APBN yang lebih pasti, atau lebih aman, lebih kecil resikonya, berarti ini membutuhkan informasi yang lebih berkualitas, perencanaan kebijakan yang lebih predictable dan juga komunikasi yang lebih baik. Yang kedua, kapasitas dan institusinya. Banyak masalah-masalah baik itu dari sisi pengelolaan utang, pengelolaan anggaran, pengelolaan penerimaan semuanya membutuhkan kemampuan untuk memperbaiki kinerjanya. Kemudian masalah hutang negara yang berhubungan dengan bond dalam negeri kita masih punya keterbatasan dari sisi pasar utang dalam negeri yang dianggap masih sangat dangkal. Ini semua adalah PR-PR yang belum terselesaikan

“SAYA RASA TANTANGAN PALING BESAR DARI BEA DAN CUKAI ADALAH REPUTASI”
menjadi relatif lemah kemampuan mereka untuk menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Jadi untuk satu semester, APBN kita masih harus menjadi salah satu sumber pendorong pertumbuhan ekonomi. Nah harga minyak ini tentu kita tidak harapkan menimbulkan persoalan yang banyak terhadap struktur APBN sehingga dia akan mempengaruhi policy secara drastis dari APBN kita. Secara keseluruhan bagaimana anda melihat ekonomi Indonesia tahun 2006? Seperti saya sebutkan tadi bahwa pemerintah untuk tahap awal ini, akan mencoba mengkompensir berbagai perlemahan ekonomi yang terjadi baik karena adanya trend secara cukup bersistem semenjak akhir tahun 2004, maupun dalam hal ini tidak adanya faktor-faktor eksternal yang menyebabkan sumber pertumbuhan ekonomi mengalami perlemahan. Jadi pemerintah secara umum, policy secara garis besarnya adalah, menjaga supaya

EDISI 375 FEBRUARI 2006

yang akan menjadi salah satu agenda besar dalam pelaksanaan 2006 ini. Bea Masuk agak turun dari tahun lalu, sementara penerimaan dari sektor cukai mengalami surplus, apakah saat ini kita masih bisa menambah obyek cukai baru? Kalau policy-policy mengenai apakah kita akan melakukan cukai baru atau tidak, tentu sangat tergantung sebetulnya dari policy industri kita, pembangunan industri maupun keberpihakan kita pada yang mana? Antara keberpihakan pada konsumen versus produsen atau berpihak pada produksi dalam negeri versus ekspor, itu semuanya memiliki berbagai macam pilihan-pilihan atau trade off. Saya katakan bahwa instrumen cukai maupun instrumen Bea Masuk tidak hanya merupakan instrumen revenue (penerimaan), tetapi dia juga merupakan instrumen untuk pembangunan yang berarti untuk memperbaiki daya saing, mempermudah arus barang dan lainlain. Karena adanya pilihan yang tujuannya tidak hanya satu, tidak hanya revenue, maka tidak hanya kita berfokus pada bagaimana kita meningkatkan revenue saja, dengan cost konsekuensinya akan banyak. Oleh karena itu saya rasa untuk berbagai kemungkinan apakah akan memperluas basis cukainya, ataukah akan makin menurunkan bea masuk sesuai dengan terutama perjanjianperjanjian regional maupun internasional yang kita tanda tangani atau kita akan kembalikan pada policy pemerintah secara umum nasional, yaitu dari sisi industri apakah kita akan menggunakan itu sebagai instrumen untuk memperbaiki daya saing dan membangun industri-industri dalam negeri. Dalam hal ini saya akan bekerjasama dengan Menko Perekonomian dan menteri-menteri teknis terkait seperti dengan Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian untuk melihat berbagai konsekuensi dari instrumeninstrumen cukai maupun bea masuk yang kita miliki. Bagaimana melihat institusi Bea dan Cukai saat ini ? Bea dan Cukai sebagai salah satu sumber penerimaan negara tetapi juga pada saat yang sama menjadi salah satu sumber policy untuk menciptakan perbaikan dan iklim investasi maupun memfasilitasi berbagai kemudahan arus barang dan jasa, menjadi salah satu institusi yang tantangannya sangat besar. Saya rasa tantangan paling besar

dari Bea dan Cukai adalah reputasi. Selama ini masyarakat menganggap Bea dan Cukai merupakan institusi yang banyak terdapat kebocoran di dalamnya, kemudian tidak memberikan fasilitasi mengenai arus barang dan jasa secara efisien dan baik, dan juga dari sisi optimalisasi revenue yang seharusnya diperoleh. Hal-hal ini yang harus menjadi salah satu prioritas dari pimpinan Bea dan Cukai untuk memperbaikinya. Tentu yang paling sulit adalah untuk membangun reputasinya atau kepercayaan karena itu tidak bisa dilakukan dalam waktu sehari atau semalam, baik itu dalam hal investasi di sistem, peningkatan pengawasan secara lebih efektif terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, perbaikan dari sisi kebijakan supaya tidak menimbulkan berbagai salah tanggapan maupun salah implementasi di tingkat aparatnya, itu semuanya menjadi bagian yang harus menjadi prioritas. Saya rasa masih jauh kita

“SAYA RASA MASIH JAUH KITA MENGATAKAN BAHWA KITA MERASA CUKUP PUAS DAN BANGGA DENGAN KINERJA BEA DAN CUKAI SELAMA INI…”
mengatakan bahwa kita merasa cukup puas dan bangga dengan kinerja Bea dan Cukai selama ini, jadi ini berarti masih menjadi PR kita bersama antara menteri, dirjen dan aparatnya. Bagaimana tanggapan anda tentang adanya kasus ekspor fiktif yang melibatkan beberapa oknum di jajaran Departemen Keuangan? Kasus yang sekarang ini terjadi, sebenarnya jika dalam pandangan masyarakat seperti mengkonfirmasi versi yang selama ini sudah ada atau ada di dalam masyarakat, yaitu di dalam Bea dan Cukai dan Pajak, ada atau cukup banyak permainan, baik itu dilakukan pengusaha yang reputasinya jelek bekerjasama dengan aparat kita yang reputasinya jelek juga, sehingga mereka bisa bersama-sama melakukan manipulasi maupun mengambil sumber-sumber penerimaan negara yang seharusnya dikuasai

pemerintah atau negara dalam hal ini. Tentu saja kasus ini merupakan suatu puncak gunung es dari persoalan mendasar di Bea dan Cukai maupun jajaran perpajakan kita. Kalau mereka melakukan ini karena insentif atau gaji yang kurang, kemudian gaji atau insentif mereka dinaikkan 4 kali, tetap ini tidak akan cukup karena jumlah sogokan yang mereka terima jauh lebih tinggi dari jumlah kenaikan gaji berapapun yang kita naikkan. Kemudian yang berhubungan dengan lemahnya pengawasan. Saya bisa mengatakan barangkali atasan yang seharusnya melakukan (pengawasan.red) atau lapisanlapisan pengawasan yang sudah ada dalam sistem kita, gagal melakukan pengawasan tersebut, mungkin karena pura-pura tidak tahu, dalam hal ini tidak mau menindak. Mereka jadi lemah dalam bertindak karena mereka tidak cukup punya keyakinan bahwa kalau mereka menindak dalam hal pengawasan itu dampaknya akan sangat efektif, dan mereka tidak menyadari bahwa mereka di-back up secara hukum, secara birokrasi maupun secara politis. Karena inilah, sehingga mereka tidak melakukan tindakan apa-apa Kalau mungkin persoalannya seperti itu maka presiden, menteri, kita semua jajaran direktorat, dirjennya, eselon satunya harus memberikan keyakinan bahwa mereka harus melaksanakan fungsinya dan kalau melaksanakan fungsinya efektif mereka akan mendapatkan reward yang baik, sehingga mereka tidak lagi merasa takut atau terhalangi oleh persepsi itu. Kalau persoalannya itu. Kalau bukan itu persoalannya? Yang saya khawatir kalau persoalannya masuk dalam jenis yang kedua, yang bahkan sampai pada seluruh layer-layer pengawasan melindungi penyelewengan itu, jadi bukan hanya pura-pura tidak tahu atau membiarkan, tetapi sudah masuk di dalam sistem yang buruk itu, sehingga mereka secara berlapis-lapis bukannya mengawasi tetapi berlapis-lapis melindungi. Memang yang melakukan barangkali aparat yang paling bawah yang langsung pelaksana, itu mereka mengatakan ”oh itu pelaksana satu..dua..dan seterusnya.” Pelaksana ini bisa melakukan penyelewengan setahun dua tahun bahkan sampai 10 tahun. Ini hanya akan terjadi kalau mereka tidak ditindak, lemah atau mereka dilindungi. Nah kalau yang dilindungi ini, berarti sudah terjadi sangat
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

21

WAWANCARA
sistematis. Nah inilah menurut saya yang harus betul-betul diwaspadai oleh kita. Lalu apa yang akan dilakukan? Kalau persoalannya ini, ya berarti seluruh sistemnya harus dilakukan perombakan secara total. Kalau yang disini berarti kita hanya memberikan assurance policy untuk memperkuat proses pelaksanaan itu. Saya sudah katakan kepada Dirjen Bea dan Cukai, kalau persoalannya adalah policy, saya bertanggungjawab untuk memberikan policy yang clear sehingga bagi pimpinan maupun aparat di bawah tidak merasakan adanya kebingungan atau paling tidak keluhan bahwa policy-nya jelek sehingga aparat saya bisa punya ruangan untuk memanipulasi. Pertanyaan pertama saya apakah policy-nya sudah benar? Apakah ada persoalan di dalam policy-nya atau sistemnya? Kalau persoalannya memang ada sistem atau policy yang jelek,..perbaiki itu! sehingga tidak ada alasan karena sistemnya jelek semua orang bisa melakukan pelanggaran. Tapi kalau persoalannya pada manusianya, pada orang-orangnya yang tidak melakukan fungsi pengawasan, tidak exercise (menjalankan tugas-red),maka persoalannya ini adalah konsekuensi, insentif atau punishment hanya pada masalah itu. Nah kita akan lihat tentu saja persoalan-persoalan ini terhadap kasus yang sekarang terjadi maupun keseluruhannya karena masih restitusi ekspor hanya di satu kantor saja, sementara orang yang melaksanakan restitusi ekspor hampir di seluruh kantor pajak dan berhubungan dengan banyak sekali kantor Bea dan Cukai yang meng-endorse dokumendokumen ekspor. Berarti itu evaluasi. Bagaimana anda melihat reformasi yang sedang dijalankan DJBC ? Ya reformasi dari sisi investasi database, kemudian investasi dari membangun sistem supaya ada single window, adanya electronic transaction sehingga mengurangi interface atau bersentuhan antara aparat kita dengan yang kita layani sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran, saya rasa itu cukup baik dan harus dioptimalkan tetapi sudah merupakan inisiatif di tempat yang benar, yaitu memperbaiki investasi dari sisi database dan sistem perangkatnya maupun dari sisi orangnya. Namun seperti yang saya katakan tadi, investasi ini atau reformasi dari sisi database, sistem dan mengurangi interaksi ternyata tidak mengurangi persoalan sistemik yang lain yang tidak disebutkan, kelemahannya ada di dalam sebuah sistem check and recheck atau check and balances yang 22
WARTA BEA CUKAI

selama ini masih dianggap tidak berjalan secara seharusnya. Nah tentu tidak semuanya ada di dalam kewenangan DJBC, mereka juga dititipi oleh misi-misi yang lain, katakanlah seperti departemen teknis yang harus melakukan fungsi-fungsinya karena Bea dan Cukai adalah gate terakhir dalam hal ini atau gate pertama kalau kita berhubungan dengan yang mau masuk, maka kita dihadapkan pada berbagai macam policy-policy yang berasal dari departemen lain yang meminta supaya gate ini diamankan. Apakah itu dalam bentuk supaya mencegah barang diselundupkan ke luar atau mencegah barang di selundupkan masuk. Nah reformasi di Bea dan Cukai ini sedang mengarah kepada bagaimana memperlakukan para eksportir maupun importir yang memang sudah punya kredibilitas bagus untuk mendapatkan fasilitas yang optimal, mengurangi berinteraksi, maupun berbagai macam dari sisi prosedur maupun waktu dan biaya. Tetapi persoalannya adalah, database atau track record dari eksportir atau importir kita masih banyak yang masuk dalam kategori yang tidak green atau prioritas ini yang masuk dalam kategori merah, artinya karena barangnya sensitif, entah perusahaannya tidak kredibel atau tidak memiliki track record yang baik sehingga memang mereka masih menjadi obyek berbagai macam pemeriksaan. Obyek pemeriksaan ini bisa memunculkan berbagai macam possibility pelanggaran, oleh karena itu masih banyak yang masuk dalam kategori merah atau yang hijau diperiksa, maka kita harus memperkuat pengawasannya. Jadi walaupun mereka melakukan tugas untuk melakukan pengecekan, bukan berarti mereka punya kesempatan untuk melakukan abusing of power. Nah ini yang salah satu menurut saya reformasi Bea dan Cukai maupun keseluruhan Departemen Keuangan masih sangat lemah di bidang pengawasan dan enforcement terhadap pengawasan itu. Secara keseluruhan, apakah anda sudah puas melihat kinerja Bea dan Cukai dengan program-programnya? Ya..tidak puas dong, kalau saya puas, saya tidak akan menekankan pada build resiko Saya baru sebulan menjabat dan itu adalah salah satu reputation problem yang terus terang tidak bisa diselesaikan dalam jangka waktu pendek. Kalau saya dari awal puas, saya tidak perlu memberikan semacam tolok ukur yang tinggi kepada aparat maupun dirjen bea cukai untuk memperbaiki dirinya dan memperbaiki sistem yang ada di dalamnya.

Masih jauh. Kalau semua orang sudah memberikan apresiasi yang baik pada DJBC maka saya pantas untuk puas. Kalau kita disebutkan diberbagai survei internasional maupun nasional bahwa dua institusi kita, Bea Cukai dan Pajak termasuk yang paling buruk reputasinya, tidak ada alasan saya puas pada hari-hari ini tentunya. Pesan-pesan dan harapan Anda kepada pegawai Departemen Keuangan khususnya DJBC ? Pesan saya mungkin tugas yang paling berat dari Departemen Keuangan adalah menjaga fungsi stabilitas sambil membangun reputasi atau integritas. Menjaga stabilitas berarti ada kontinuitas yang harus kita jaga dari sisi makro, kerangkanya maupun angkanya, tetapi di sisi lain adalah memperbaiki reputasi dan membangun integritas, itu membutuhkan berbagai macam tantangan yang sifatnya manusia, kebijakan maupun institusinya. Mungkin, keduanya sama beratnya, saya tidak ingin mengatakan bahwa kalau kita mau menjaga stabilitas, berarti yang kedua dihilangkan, tetapi saya rasa sudah pada saatnya bahwa jajaran Departemen Keuangan perlu, karena saya anggap Departemen Keuangan relatif dari sisi pendapatan, sistemnya jauh lebih baik dibandingkan departemen lain sehingga alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak memiliki pendapatan yang cukup mungkin tidak terlalu dibenarkan untuk posisi kita. Sehingga mungkin yang paling penting untuk Departemen Keuangan adalah membangun integritas. Menurut saya integritas tidak bisa dibangun sehari dan dia tergantung attitude kita. Saya rasa untuk Departemen Keuangan dan Bea Cukai mereka harus sudah punya sikap ini. Integritas kita tidak bisa diperjualbelikan, apalagi dikompromikan. Kalau integritas bisa diperjualbelikan atau dikompromikan ya sebetulnya kita sudah pada level yang paling buruk dari kinerja Departemen Keuangan. Nah sekarang saya akan tanyakan kepada Departemen Keuangan dan jajaran Bea Cukai dan lain-lain, apakah kita sudah pada tahap bahwa kita memiliki prinsip bahwa power integrity adalah pertahanan pertama kita? Kalau itu sudah dijualbelikan atau mudah untuk dikompromikan, seluruh pertahanan lain akan mudah sekali turun. Mau dikasih peraturan lebih besar, mau dikasih berbagai macam pengawasam lebih tinggi, kalau semua lapisan ini memiliki prinsip bahwa integritas mudah dikompromikan dan bisa dijualbelikan, maka seluruh upaya itu menjadi tidak akan sesuai kenyataan.

EDISI 375 FEBRUARI 2006

NASIONAL DARI KUNJUNGAN KERJA PRESIDEN RI KE DEPARTEMEN KEUANGAN :
WBC/RIS

Good Governance
Harus Ditegakkan di Depkeu
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pada 23 Januari 2006 melakukan kunjungan kerja ke Departemen Keuangan (Depkeu) di Lapangan Banteng Jakarta Pusat untuk memberi arahan pada para pejabat Eselon I dan II di lingkungan Departemen Keuangan.

D

idampingi Menteri Keuangan, Dr. Sri Mulyani Indrawati (Menkeu), Presiden SBY memberikan pengarahan secara tertutup di aula Departemen Keuangan, Graha Sawala, selama kurang lebih dua setengah jam, mulai pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 16.30 WIB. Hadir dalam pengarahan tersebut antara lain; Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia, Purnomo Yusgiantoro, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Ketua Bappenas, Paskah Suzetta, Kepala Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional (Bappeki) Depkeu, Anggito Abimanyu, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Eddy Abdurrachman beserta para staf inti, Direktur Jenderal Pajak, Hadi Purnomo beserta staf inti, Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi, serta Juru Bicara Kepresidenan, Andy Malarangeng. Selesai melakukan pengarahan, SBY mengadakan jumpa pers mengenai inti dari pertemuan tersebut. Dikatakan SBY, kunjungan kerja dirinya untuk mendengarkan laporan dan paparan dari Menkeu tentang tugas Depkeu, baik berkaitan dengan reformasi di bidang keuangan pengelolaan APBN dan penyiapan APBN tahun 2007 serta sejumlah langkah terkait kebijakan fiskal dan penyelamatan atau pendayagunaan aset negara. Dikatakan presiden, Depkeu memiliki peran penting membantu presiden dalam mengembangkan kebijakan fiskal dan fungsi lainnya, diantaranya; mendesain, menyiapkan dan mengelola APBN, baik pada tahun berjalan maupun menuju tahun berikutnya. Disamping meningkatkan pendapatan nasional dari sumber-sumber yang telah ditetapkan, Depkeu juga mengelola dan mendayagunakan pendapatan dengan sebaik-baiknya dan terus mengupayakan pemikiran setiap waktu sebagai upaya mengembangkan kebijakan agar lebih meningkatkan pendapatan atau penerimaan negara, termasuk mendayagunakan, mengalokasikan dan mendistribusikannya secara tepat guna demi kepentingan pemerintahan dan tujuan pembangunan nasional.

TIGA HAL PENTING
Setelah mendengarkan paparan yang gamblang dan komprehensif dari Menkeu, SBY menyampaikan tiga hal penting. Pertama, ingin supaya Menkeu dan Menteri Koordinator Perekonomian beserta para menteri ekonomi untuk ke depan melakukan langkah lebih inovatif memanfaatkan potensi yang ada di negeri ini, termasuk potensi SDM, bertujuan supaya negara tidak gagal mendayagunakan semua sumber daya yang dimiliki. Kedua ditegaskan presiden, Menkeu beserta jajarannya harus mulai mempersiapkan, mendesain dan menentukan agenda dan prioritas APBN 2007. Tentunya ini akan dikomunikasikan lebih dulu dengan DPR-RI. Tahun 2005 menurut SBY, khususnya bidang ekonomi memang tidak mudah, banyak faktor eksternal dan internal mengganggu pencapaian sasaran tadi yang kondisinya masih berlanjut hingga 2006. Sebagaimana ditetapkan di APBN 2006, DPR dan pemerintah masih harus mengelola dengan serius dampak perekonomian Indonesia 2005 secara fokus untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial dengan menambah lapangan kerja, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan pertanian dan lain-lain yang tentunya membutuhkan kerja keras semua pihak. Tahun 2007, lanjut SBY, kita punya ekspektasi dengan telah melakukan banyak hal pada tahun 2006. Untuk itu harus sudah mulai meletakkan dasardasar APBN yang lebih sehat, agar pertumbuhan distribusi dan pertumbuhan makro ekonomi yang lebih sehat bisa dicapai pada RAPBN 2007 nanti. Di poin ketiga, SBY meminta semua fungsi tugas kewajiban Depkeu dan jajarannya dilaksanakan dengan baik. Presiden ingin good governance ditegakkan di Depkeu untuk menjadi lembaga yang responsif, bersih, efektif, efisien dan akuntabel yang dapat berkomunikasi baik dengan lembagalembaga lain, agar tidak terjadi keterlambatan dan semua mengalir tepat waktu sesuai sasaran, sehingga APBN yang telah ditetapkan dapat digunakan

KUNJUNGAN KERJA PRESIDEN. Untuk memberi arahan, menanggapi laporan dan paparan dari Menteri Keuangan.

dengan baik dan mencapai sasaran. Pada arahan yang disampaikannya, SBY menyatakan dirinya menyambut baik usulan Menkeu untuk melakukan penataan organisasi agar tugas yang cukup banyak dapat dikelola dengan baik. Sehingga tidak ada kemandekan di Depkeu dalam rangka kelancaran tugas, baik pembuatan dan pengelolaan APBN yang sedang berjalan, sekaligus memikirkan isu mendasar tentang penyelesaian hutang melalui peningkatan kinerja sumber-sumber pendanaan negara dan lain-lain yang berada di jajaran Depkeu. Ditekankan SBY, penataan organisasi ditujukan untuk memberi peluang dan penyegaran bagi pejabat lain dalam meningkatkan kinerja lembaga tersebut. Ini menyangkut banyak hal, karena tidak boleh sebuah Direktorat Jenderal menangani masalah berlebihan, akibatnya kewalahan, tidak tertangani, menghambat dan akhirnya terjadi keterlambatan. Karena itu, dipastikan beban tugas harus sesuai kapasitas dan kemampuan untuk melaksanakannya.. “Kalau ada dirjen yang overload, maka menteri bisa mengusulkan pada presiden untuk memisah atau menambah fungsi. Dengan demikian semua pekerjaan bisa dilakukan dengan tepat waktu dan lancar,” tegas SBY. Diakhir arahannya SBY juga menyinggung sasaran untuk Bea Cukai dan Pajak. Ia menginginkan kedua instansi ini betulbetul mendapat penghasilan yang riil. Kalaupun itu tidak bisa tercapai, bisa karena faktor kemunduran ekonomi, penyimpangan dan lain-lain. “Kita pastikan, sesuai dengan arahan saya tadi. Semua sasaran dapat dicapai dan sasaran itu harus realistis mencerminkan potensi yang kita miliki. Sementara itu menyangkut personil, jika suatu saat terjadi penyegaran personil, bisa kita lihat, pertama, memang sudah saatnya terjadi pergantian pejabat atau barangkali ada pejabat yang lalai atau membuat kesalahan dan harus mendapat sanksi,” tegas SBY. ris
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

23

INFO PEGAWAI

T.M.T 01 PEBRUARI 2006 PERIODE T.A 2006
NO. 1. NAMA Drs. Suparman, MM NIP 060035515 GOL IV/b JABATAN Kepala Seksi Pemantauan Penerimaan 2. 3. Gusti Muhamad Jusuf Dra. Imronah 060035284 060032210 IV/a IV/a Kasubbag Keuangan Kepala Seksi Tempat Penimbunan 4. Abang Ichsan 060034180 IV/a Kepala Seksi Tempat Penimbunan I 5. Mochamad Jamin 060034196 IV/a Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai I 6. Abdullah M. Farid 060051852 III/d Kepala Seksi Pabean dan Cukai VII 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Sjarifuddin Siti Harmini Muhammad Nurhana Samingin Ester Sumbung Muhajar Jacob Umar Lamani 060034176 060045551 060045837 060040205 060040221 060032138 060044074 060048923 III/c III/c III/c III/b III/b III/b III/b III/a Korlak Administrasi TPB Pelaksana Korlak Administrasi Ekspor Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Korlak Administrasi Penyidikan+Barang Bukti 15. 16. 17. 18. 19. 20. Eduard Wetangky Zainal Abidin. M Soaduon Lubis Asmudin Amir Hasan Tukidjo Bin Paimin 060059106 060049183 060052580 060052250 060061733 060045419 III/a III/a III/a II/d II/c II/b Kepala Kantor Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pangkalan Sarana Operasi Tg. Priok KPBC Tipe A Merak KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok II KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok III KPBC Tipe A Balikpapan Pangkalan Sarana Operasi Tg. Balai Karimun 21. 22. 23. Syamsir Samin Frits Bastian Masoara 060056598 060056612 060058181 II/b II/b II/b Pelaksana Pelaksana Pelaksana KPBC Tipe A Medan KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok III KPBC Tipe C Manado KPBC Tipe A Tanjung Mas KPBC Tipe A Malang KPBC Tipe A Banjarmasin KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok II KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok II KPBC Tipe C Pantoloan Kantor Wilayah I DJBC Medan KPBC Tipe B Ternate KPBC Tipe A Khusus Tanjung Perak KPBC Tipe A Khusus Tanjung Perak KPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta Kantor Wilayah IV DJBC Jakarta KPBC Tipe A Khusus Tg. Perak KEDUDUKAN Direktorat PPKC KP DJBC

PEGAWAI PENSIUN

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, G. SUCIPTO, Mantan Direktur Cukai, pada hari Selasa, 27 Desember 2005. Jenazah telah dimakamkan pada hari Rabu, 28 Desember 2005, pukul 13.00 WIB di TMP Kalibata, Jakarta Selatan. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amin. 24
WARTA BEA CUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

INFO PEGAWAI

SIARAN PERS DEPARTEMEN KEUANGAN RI Dugaan Pemalsuan Dokumen Ekspor Terkait dengan Restitusi Pajak
Beberapa hari terakhir ini, pada beberapa media massa ramai dimuat masalah tentang dugaan pemalsuan dokumen ekspor yang berkaitan dengan restitusi pajak, yang masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan oleh Polda Metro Jaya. Atas hal tersebut, Departemen Keuangan memandang perlu menyampaikan sebagai berikut : 1. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kapolri dan jajarannya (Polda Metro Jaya & KPPP Tanjung Priok), karena dengan tindakan tersebut, kami memperoleh data adanya ekspor fiktif dan juga mengetahui modus operandi-nya. Di samping itu, Departemen Keuangan sangat mendukung segala tindakan dan gerakan pemberantasan KKN. 2. Berdasarkan sistem perpajakan yang dianut Indonesia saat ini, yaitu prinsip self assessment, Wajib Pajak diberi kepercayaan penuh untuk menghitung, memperhitungkan, menyetor dan melaporkan kewajiban perpajakannya. Sedangkan fungsi pemerintah (dalam hal ini aparat pajak) adalah memberikan pelayanan, penyuluhan, dan pengawasan kepada Wajib Pajak. 3. Dalam hal Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pada dasarnya PPN dikenakan atas konsumsi barang dan jasa di dalam negeri. Sedangkan untuk mendorong ekspor, Pemerintah telah memberikan banyak insentif, diantaranya kebijakan restitusi pajak, yaitu bahwa atas ekspor barang yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) dikenakan PPN (Pajak Keluaran) dengan tarif pajak sebesar 0% (nol persen). Dengan demikian PPN (Pajak Masukan) atas perolehan barang yang diekspor tersebut dapat direstitusi (diminta kembali dari DJP). 4. Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) mengatur jangka waktu penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) paling lambat 12 (dua belas) bulan. Namun dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah untuk mendorong ekspor dan memberikan pelayanan prima kepada Wajib Pajak, maka terhadap Wajib Pajak yang melakukan ekspor diberikan insentif berupa kemudahan dan percepatan penyelesaian restitusi PPN menjadi paling lambat 2 (dua) bulan sejak saat diterimanya permohonan, dengan syarat : a. Wajib Pajak mengajukan permohonan restitusi. b. Dokumen yang dilampirkan : 1) Faktur Pajak Masukan dan Faktur Pajak Keluaran yang berkaitan dengan kelebihan pembayaran PPN yang dimintakan pengembalian; 2) Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 3) Bill of Lading (B/L) atau Airway Bill; 4) Wesel ekspor atau bukti transfer. Setelah melalui Pemeriksaan Sederhana Kantor dan Wajib Pajak memenuhi persyaratan tersebut di atas, maka permohonan restitusi tersebut akan dikabulkan. 5. Kantor Pajak menerima dokumen PEB, B/L atau airway bill dan wesel ekspor atau bukti transfer tersebut dikemudian hari, karena transaksi/kegiatan ekspornya sudah terjadi, sehingga pemeriksaan yang dilakukan oleh Kantor Pajak hanya meliputi keabsahan dan kebenaran dokumen-dokumen tersebut (post audit). Jadi untuk melakukan penelitian/pemeriksaan terhadap permohonan restitusi ekspor yang diajukan oleh Wajib Pajak, aparat pajak hanya berdasar dokumen-dokumen PEB, dan B/L atau Airway Bill, serta wesel ekspor atau bukti transfer tersebut. Karena pemeriksaan yang dilakukan merupakan post audit, maka aparat pajak tidak dapat melakukan pemeriksaan fisik terhadap barang yang diekspor dan hal itu di luar kewenangan mereka untuk memeriksanya. 6. Apabila suatu permohonan restitusi telah diajukan sesuai dengan Standar Operasional Procedure (SOP) dan dengan dilampiri dokumen-dokumen yang disyaratkan, dan post audit dilakukan, maka permohonan restitusi tersebut dikabulkan. 7. Untuk mengefektifkan penerimaan negara, langkah-langkah yang sedang dan segera dilakukan oleh jajaran Departemen Keuangan, adalah : a. Direktorat Jenderal Pajak 1. Meneliti, mengevaluasi dan memperbaiki ketentuan, sistem dan prosedur pemberian restitusi dalam rangka ekspor; 2. Memeriksa ulang pemberian restitusi yang berasal dari ekspor; 3. Mempercepat penerapan sistem administrasi modern di seluruh Indonesia guna meningkatkan pelayanan dan pengawasan, termasuk sistem manajemen SDM, hingga konsep reward and punishment dapat berjalan dengan optimal. 4. Mengembangkan pertukaran data elektronik dengan perusahaan pelayaran dan semua pihak terkait. b. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 1. Menciptakan sistem dan prosedur ekspor yang dapat memberikan keyakinan atas kebenaran ekspor barang sehingga tidak memberi peluang terjadinya ekspor fiktif; 2. Melakukan rekonsiliasi dokumen PEB dengan dokumen-dokumen pelayaran (outward manifest); 3. Mengembangkan pertukaran data elektronik dengan perusahaan pelayaran dan semua pihak terkait. 8. Departemen Keuangan akan memberikan bantuan penuh untuk keberhasilan penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh Polri atas kasus-kasus ini dan telah menyusun langkah-langkah tegas untuk melakukan tindakan-tindakan hukum terhadap semua pejabat dan pegawai Departemen yang terlibat sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. Demikian penjelasan dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Departemen Keuangan dalam menangani kasus dugaan pemalsuan dokumen ekspor (ekspor fiktif) yang saat ini sedang dalam tahap penyelidikan dan penyidikan oleh pihak Kepolisian.

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WARTA BEA CUKAI

25

PENGAWASAN
Tulisan ini disusun pada saat KPDJBC menyelenggarakan Inteligence Analysis Training Course pada Desember 2005.

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN

Analisa Intelijen ACS-DJBC
(DALAM KERANGKA STSF PROJECT)
(Bagian I)
I. LATAR BELAKANG
asar pemikiran tentang perlunya program yang kemudian secara resmi disebut Special Travel Security Fund (STSF) under AusAID ini berawal dari survei yang dilaksanakan di Jakarta pada 2 - 20 Pebruari 2004 oleh Graham Kishohos, Manager Compliance Assurance of Melbourne Office Australian Customs Services (ACS), dan Basil Sawczuk, Manager International Cooperation ACS. Survei dimaksud bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan DJBC dalam upaya untuk meningkatkan kinerja institusi, khususnya dalam kerangka reformasi kepabeanan. STSF menekankan pokok-pokok permasalahan pada bidang maritime security, cargo identification dan intelligence, yang didasarkan pada pengalaman ACS dalam bidang-bidang tersebut. Hasil konsultasi dan evaluasi lebih lanjut mengidentifikasi empat bidang utama yang menjadi fokus yaitu: a. Pengembangan kemampuan analisa intelijen (skill development in intelligence analysis); b. Pengembangan kemampuan tata cara pemeriksaan kapal (skill development in ship search); c. Pengembangan teknik identifikasi narkotika dan bahan peledak (explosive in ship search); d. Memperkuat teknik pengamatan di pelabuhan laut (strengthening technical capacity ini surveillance at sea port). Sebagai bentuk keseriusan akan pentingnya STSF Project, permasalahan ini kemudian dibahas dalam diskusi formal Australia and Indonesia Seventh Customs to Customs Talk, pada 13-14 Mei 2004 di Sydney dan Customs to Customs Talk ke 8 di Bandung bulan Agustus 2005. Sesuai proporsal yang telah disetujui oleh AusAID, STSF Project dimaksud harus dapat diselesaikan paling lama pada akhir tahun 2006. Berikut ini adalah progress STSF Project dari keempat bidang yang menjadi fokus (Lihat Tabel). kerangka STSF merupakan tindak lanjut nyata dari Program Pengembangan Kemampuan Analisa Intelijen. Pelaksanaan Training Analisa Intelijen ini dibagi dalam dua tahap yaitu: Training on Trainers di Australia dan Training Analisa Intelijen bagi pegawai DJBC di Jakarta. Training on Trainers (ToT) di Australia mengambil topik Customs Intelligence Analysis Course telah dilaksanakan pada 12 – 26 November 2005. Sedangkan tahap kedua dari training ini direncanakan akan dilaksanakan dua kali di Jakarta yaitu pada Desember 2005 dan Januari 2006, dimana empat orang pegawai DJBC telah mengikuti ToT di Australia akan bertindak sebagai instruktur dan dibantu oleh dua orang instruktur dari ACS. ToT sendiri terdiri dari dua kegiatan yaitu Class Room Study dan On The Field Study sehingga diharapkan akan memberikan gambaran secara utuh kepada perserta training mengenai teori dan konsep proses intelijen yang dilakukan ACS serta penerapannya di lapangan.

D

II. TRAINING INTELIJEN
Training Analisa Intelijen dalam

PROGRESS STSF PROJECT
NO. 1. P R O G R A M TINDAK LANJUT a. Training on Trainers b. Pelatihan Petugas Patroli 2. Pengembangan Kemampuan Analisa Intelijen a. Training on Trainers b. Pelatihan Analis Intelijen 3. Pengembangan Teknik Identifikasi Narkotika dan Bahan Peledak (exsplosive and narcotics) a. Pengadaan Itemizer b. Training on Trainers c. Pelatihan Operator 4. Memperkuat Teknik Pengamatan di Pelabuhan Laut a. Instalasi CCTV b. Training on Trainers c. Pelatihan Operator CCTV 26
WARTA BEA CUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

STATUS Selesai Selesai Selesai Proses Finalisasi In Progress Proses Finalisasi In Progress Proses

Pengembangan Kemampuan Pemeriksaan Kapal

FOTO: HENDRY DARNADI

A. Class Room Study Kegiatan Class Room Study dilaksanakan pada minggu pertama training. Materi pada Class Room Study adalah teori dan konsep dari proses intelijen, yaitu bagaimana membuat sebuah produk intelijen yang baik dan akan berguna dalam memberikan pengetahuan yang mendalam, tentang sesuatu hal yang dibutuhkan oleh pemberi tugas (client) serta berguna dalam pengambilan keputusan. Client dapat merupakan unsur pimpinan yang membutuhkan analisa intelijen tentang potensi-potensi negatif sehingga dapat mengambil tindakan antisipatif yang tepat. Proses intelijen sesuai materi training sendiri merupakan sebuah siklus intelijen (intelligence cycle) yang berkesinambungan, yaitu meliputi: 1. Perencanaan (Planning) Mempelajari proses dimana suatu pekerjaan intelijen direncanakan dan dipersiapkan. Pada tahap ini, hal yang paling ditutamakan adalah komunikasi yang baik dari pemberi tugas dengan analis sebagai pelaksana tugas, karena dari komunikasi tersebut akan didapat pengetahuan dan uraian yang jelas tentang hal-hal yang diinginkan oleh pemberi tugas kepada analis (misalnya, tentang hasil apa yang ingin didapat, batas waktu pelaksanaan tugas, informasi awal yang diketahui, bentuk dari laporan dan lain sebagainya). Juga dari komunikasi antara pemberi tugas dengan analis akan diketahui juga tentang hal-hal yang akan menjadi kendala dan sumber daya yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas tesebut. Adanya proses perencanaa ini, diharapkan akan membuat pekerjaan analis menjadi efektif dan efisien serta meminimalkan kemungkinan timbulnya ketidakpuasan dari pemberi tugas atas hasil pekerjaan analis. 2. Pengumpulan informasi (Collection) Mempelajari teknik dan proses pengumpulan informasi dengan memperhatikan informasi apa saja yang dibutuhkan, sumber informasi, batasan waktu dan ketersediaan informasi tersebut. Secara garis besar kita dapat membagi sumber informasi menjadi 4 bagian yaitu: - Internal Customs. - Jaringan instansi penegak hukum. - Instansi pemerintah lainnya dan perusahaan swasta/asosiasi - Sumber informasi lainnya misalnya hotline telepon, internet, surat kabar. 3. Evaluasi Informasi (Evaluation) Mempelajari proses menilai informasi yang telah dikumuilkan dengan menggunakan Admiralty System (merupakan matrik kombinasi

PARA TRAINER dari DJBC Saat berada di class room/training room di Canbera, Australia.

untuk menilai Relliability dari sumber informasi dan Accuracy dari informasi). Informasi itu sendiri dapat dibagi menjadi 3 kategori, yakni: 1. Fact yaitu sesuatu yang diketahui terjadi dan dapat dibuktikan 2. Opinion yaitu penilaian atau pendapat yang belum pasti, tapi hal terasebut mungkin terjadi berdasarkan kenyataan yang ada. 3. Allegation yaitu pernyataan yang diyakini benar namun belum dibuktikan kebenarannya. 4. Penyusunan Informasi (Collation) Collation adalah bagaimana memanage dan menyusun sejumlah informasi yang telah dikumpulkan dan akan digunakan dalam melakukan analisis. Penyusunan informasi tersebut meluputi kegiatan sorting, indexing dan filing. Kegiatan ini akan membantu dalam mengidentifikasikan hal-hal penting yang ditemukan, langkah awal dalam menemukan keterkaitan antar informasi yang telah dikumpulkan. Adanya proses collation memungkinkan pengalihan tugas kepada orang lain (analis lain) untuk melanjutkan proses intelijen yang telah dilakukan (misalnya apabila si analis berhalangan/sakit maka terhadap tugas yang telah berjalan dapat dialihkan kapada analis lain). Proses collation akan memberikan kemudahan mengakses dalam melihat kembali atas semua informasi yang telah dikumpulkan sehingga apabila

ada pertanyaan yang berkaitan dengan kasus yang tengah ditangani dapat diberikan jawaban dengan cepat. 5. Analisa (analysis) Proses analisis adalah proses mengidentifikasi dan mengolah berbagai bagian informasi yang telah dikumpulkan dan membangunnya menjadi sebuah pengetahuan baru untuk memahami suatu kasus secara baik dan jelas. Langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan proses analisa adalah: 1. Meneliti, menguji dan memeriksa informasi yang telah dikumpulkan. 2. Membuat hipotesa. 3. Mengumpulkan, mengevaluasi dan menyusun informasi tambahan yang diminta dan diterima. 4. Mengidentifikasi alasan/premis yang mendukung hipotesa. 5. Membuat kesimpulan. 6. Membuat argumen/penalaran atas kesimpulan yang telah dibuat. Untuk membantu dalam melakukan analisa, perlu dibuat beberapa diagram sebagai alat bantu proses analisa, yaitu : 1. Diagram jaringan dan keterkaitan. 2. Diagram alur kejadian. 3. Diagram alur kegiatan. 4. Diagram alur komoditi. 6. Pelaporan (Reporting) Pelaporan (reporting) bertujuan untuk menyampaikan hasil analisa yang telah dilakukan pada proses
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

27

PENGAWASAN
intelijen termasuk didalamnya juga adalah memberikan rekomendasi yang relevan kepada pemberi tugas (client) atau pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk membantu mereka dalam membuat suatu keputusan. Bentuk pelaporan ada 2 macam, yaitu : 1. Laporan tertulis. 2. Laporan lisan. Pada laporan tertulis yang perlu diperhatikan adalah: 1. Akurat. 2. Penyampaian alasan yang tepat. 3. Kejelasan Penyampaian. 4. Ringkas. 5. Sopan. 6. Selektivitas dalam penyampaian data. Semua bentuk laporan tersebut (tertulis maupun lisan) harus diklasifikasikan menurut tingkat keamanan dan kepentingan dari informasi yang disampaikan. Pada laporan lisan yang perlu diperhatikan adalah: 1. Ketepatan waktu. 2. Akurat. 3. Ringkas. 4. Menyampaikan informasi yang relevan. 5. Menggunakan format penyampaian, intonasi suara dan bahasa yang tepat. 7. Penyebaran Informasi (Dissemination) Hal yang perlu diingat pada proses penyebaran produk intelijen adalah bahwa salah satu karakteristik produk intelijen yang baik adalah tepat waktu dan juga bahwa produk intelijen tersebut diperlukan dalam kerangka menunjang keberhasilan perencanaan dan pelaksanaan tugas. Dalam penyebaran informasi yang perlu dipertimbangkan adalah: 1. Perjanjian dengan instansi terkait. 2. Persyaratan legal. 3. Persyaratan keamanan. 4. Prinsip “Need to Know”. 8. Review Review atas proses intelijen dapat dilakukan pada saat proses intelijen masih berlangsung ataupun setelah terdapat laporan/hasil atas pelaksanaan proses intelijen. Review atas hasil dan proses intelijen dapat dilakukan oleh tiga tingkatan yang berbeda: 1. Review oleh analis lain. 2. Review oleh pemberi tugas. 3. Review oleh lingkup yang lebih tinggi dari pemberi tugas (client). B. On The Field Study Kegiatan On The Field Study dilakukan pada minggu kedua program training, yaitu dengan melihat penerapan dari proses intelijen yang dilakukan oleh ACS pada kantor setingkat Kantor Wilayah (Regional Branch Office) adan kantor setingkat
FOTO: HENDRY DARNADI

Kantor Pelayanan (Distric Office). Tempat yang dikunjungi dalam rangka On The Field Studi tersebut adalah satu Regional Branch Office yaitu di Queensland dan dua Distric Branch Office yaitu di Townsville dan Cairns. 1. Queensland Regional Branch Office. Unit intelijen pada Regional Branch Office terbagi menjadi beberapa sub unit yaitu: 1. Collecting Information. Sub unit ini bertugas untk mengumpulkan informasi dari semua sumber informasi seperti yang telah disebutkan diatas dan untuk kemudian meneruskannya pada analis intelijen. 2. Liaison Officers. Sub unit ini beranggotakan petugas dari instansi penegak hukum yang terkait (misal: polisi, imigrasi, Austrac) yang ditempatkan pada Regional Branch Office ACS. Mereka bertugas sebagai penghubung antara customs dengan instansi penegak hokum lainnya dalam rangka pencarian ataupun pertukaran informasi. 3. Vessel Risk Assessment. Sub unit ini melakukan tugas untuk melakukan analisa terhadap kapalkapal yang memasuki wilayah negara bagian Queensland, baik mengenai muatan maupun mengenai identitas awak kapal (crew) serta juga alur perjalanan kapal tersebut. 4. Profiling. Sub unit ini melakukan tugas untuk melakukan analisa terhadap kegiatan impor dan ekspor yang dikaitkan dengan profil yang terdapat dalam database ACS dan instansi penegak hukum terkait, dimana hasil dari profiling ini akan menentukan dalam penetapan jalur pemeriksaan terhadap importasi/ eksportasi dimaksud ataupun bisa dalam bentuk memberikan atensi (alert) terhadap sesuatu kegiatan impor/ekspor. Setiap importasi atau eksportasi yang mengena kepada profil yang sudah dibuat akan terkena alert untk kemudian diambil tindakan yang bersesuaian (pemeriksaan fisik, penegahan, dsb). Data statistik dari Brisbane Distric Office menunjukan prosentase importasi yang terkena alert system karena memenuhi profil yang ditargetkan rata-rata hanya 5 persen saja dari volume total impor. Sebagai perbandingan di Indonesia rata-rata prosentasi volume impor yang terkena pemeriksaan fisik rata-rata 30 persen.

TOWNSVILLE CUSTOMS MEETING

2. Townsville Distric Office
EDISI 375 FEBRUARI 2006

28

WARTA BEA CUKAI

Townsville Distric Office adalah kantor setingkat Kantor Pelayanan yang relatif kecil (jumlah pegawai 15 orang). Melayani satu Bandar udara internasional dan beberapa pelabuhan laut. Kegiatan utama kantor ini adalah memberikan pelayanan pada bidang industri yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Pada kantor ini terdapat satu orang pegawai yang bertugas sebagai analis intelijen. Mengingat jumlah pegawai yang terbatas dengan wilayah pengawasan yang cukup luas, ada beberapa hal yang dilakukan oleh ACS di wilayah ini dalam rangka optimalisasi pelaksanaan tugasnya yaitu: 1. Penggunaan CCTV pada setiap dermaga/pelabuhan yang berada dalam wilayah pengawasan.
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

2. Penggalangan dengan masyarakat setempat untuk membantu ACS dalam melakukan tugasnya. 3. Penggalangan dengan instansi terkait yang terdapat pada wilayah tersebut. Untuk pelayanan terhadap Bandar udara, ACS Townsville Distric Office tidak menempatkan petugas secara tetap di bandar udara tersebut, melainkan hanya mengirimkan petugas bila ada kedatangan pesawat udara. 3. Cairns Distric Office. Cairns Distric Office adalah kantor setingkat Kantor Pelayanan yang lebih besar dari Townsville Distric Office (dengan jumlah pegawai sekitar 100 orang). Melayani satu Bandar udara internasional dan beberapa pelabuhan.
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

kegiatan utama atau yang menjadi fokus adalah pelayanan terhadap industri pariwisata. Pada kantor ini memiliki unit intelijen sendiri yang terdiri dari beberapa orang pegawai yang mempunyai tugas secara spesifik untuk melakukan analisa terhadap beberapa hal, antara lain: a. Passanger Analysis di airport. b. Vessel and Smallcraft Analysis di pelabuhan. c. Cargo Analysis. Dalam pelaksanaan pengumpulan informasi kantor ini juga dibantu oleh sebuah unit yang disebut coastwatch (seperti unit patroli, udara dan laut). (BERSAMBUNG)
M. Nur Eko Yuwono, Kasi Pencegahan dan Penyidikan KPBC Yogyakarta, salah satu trainer Intelligence Analysis Training Course dari DJBC
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

INFO PERATURAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Januari 2006
NO. NOMOR 1. 87/PMK.010/2005 KEPUTUSAN TANGGAL 30-09-05 Pemberian Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Bahan Baku Dan Bagian Tertentu Untuk Pembuatan Bagian Alat-Alat Besar Serta Bagian Tertentu Untuk Perakitan Alat-Alat Besar Oleh Industri Alat-Alat Besar 2. 116/PMK.04/2005 25-11-05 Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 118/KMK.04/2003 Tentang Tata Laksana Pembayaran Dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Yang Berlaku Pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. P E R I H A L

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Januari 2006
NO. NOMOR 1. P-23/BC/2005 KEPUTUSAN TANGGAL 12-12-05 Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 87/PMK.010/2005 Tentang Pemberian Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Bahan Baku Dan Bagian Tertentu Untuk Pembuatan Bagian Alat-Alat Besar Serta Bagian Tertentu Untuk Perakitan Alat-Alat Besar Oleh Industri Alat-Alat Besar. 2. 3. P-24/BC/2005 P-25/BC/2005 16-12-05 16-12-05 Desain Dan Warna Pita Cukai Hasil Tembakau. Perubahan Kedua Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-205/BC/2003 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Dan Pengawasannya.
EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

P

E

R

I

H

A

L

29

DAERAH KE DAERAH
FOTO : LANSER

MINI JUMLAH PEGAWAI, MAKSI PELAYANAN
Matahari mulai bersinar di ufuk timur dan daerah di Indonesia yang pertama merasakan hangatnya sang surya di pagi hari adalah kota Jayapura. Banyak orang di kota ini yang berkata sembari bergurau, lagu dengan judul “ Dari Sabang sampai Merauke” yang menjelaskan dari barat sampai timur Indonesia, mungkin itu salah. Seharusnya dari Sabang sampai Jayapura.

KPBC TIPE A JAYAPURA

K

arena sebagian orang di Jayapura berasumsi Merauke itu berada pada daerah selatan dan Jayapura berada tepat di daerah timur (lihat peta). Tapi cukuplah sudah perdebatan ini bukan suatu yang harus memisahkan tapi tetap mengikat jiwa raga bangsa Indonesia yang didalamnya ada Bea Cukai Indonesia atau DJBC termasuk Bea Cukai Jayapura. KPBC Jayapura sudah pernah penulis jelaskan dalam tulisan beberapa tahun
WARTA BEA CUKAI

lalu.Hanya tulisan pada saat ini lebih difokuskan pada kinerja KPBC Jayapura dalam nuansa “ada dan tiada”. Mungkin pembaca merasa kaget dan bertanya dalam hati seperti kata lagu milik group band Peterpan “Ada Apa Denganmu, KPBC Jayapura”? sehingga posisimu sekarang antara ada dan tiada.

KOMPOSISI DAN KINERJA BEA CUKAI JAYAPURA
Dengan melihat pada tabel I,

komposisi pegawai KPBC Jayapura. perlahan namun pasti terjawab sedikit demi sedikit masalah yang ada di KPBC Jayapura. Mengacu pada Kep.No.444/KMK.01/2001 Tanggal 23 Juli 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kanwil DJBC, KPBC Jayapura merupakan KPBC yang berada dibawah Pengawasan Kanwil XII DJBC Ambon dengan klasifikasi digrade/tipe A. Bukan rahasia umum, semua orang

30

EDISI 375 FEBRUARI 2006

FOTO : LANSER

Bea Cukai setuju KPBC Jayapura pastilah sibuk dan memiliki jumlah pegawai yang cukup sebagai kantor bertipe A. Ternyata tidaklah demikian. Dilihat dari jumlah pegawai yang hanya 27 orang termasuk didalamnya Kepala Kantor dan para kepala seksi, bisa dikatakan aneh bin ajaib, kenapa? Sangat terasa di Jayapura pelaksana yang ada sebagian menempati 2 kantor Bantu dengan jumlah pegawai 5 orang. 1 pos lintas batas laut dan 1 pos laut dengan jumlah pegawai 3 orang. Serta 1 pos lalu bea dengan jumlah pegawai 1 orang. Jumlah seluruh pegawai yang bertugas pada kantor-kantor Bantu dan pos-pos pengawasan ini adalah 9 0rang. Sisanya 18 orang menempati KPBC Jayapura. Dengan situasi dan kondisi yang ada, dari 18 pegawai yang tersisa di KPBC Jayapura kadang-kadang terlihat 7 sampai dengan 10 pegawai karena Kepala Kantor atau para kepala seksi ada yang cuti ataupun dinas, katakanlah 2 orang. Pelaksana yang ada jarang masuk lagi dengan bermacam alasan cuti, sakit, ijin, tanpa keterangan plus bolos, katakanlah 6 orang. Berarti sisa pegawai yang ada 10 orang yang terdiri dari 3 (Ka.Kantor dan para kasi) serta 7 orang pelaksana di kantor yang mau bekerja. Bisa dibayangkan bagaimana sisa 10 pegawai yang ada bila tidak bekerja berarti tiadalah KPBC Jayapura yang gedungnya sangat besar bila dibandingkan dengan kantor-kantor lain di area pelabuhan Jayapura. Tapi dibandingkan jumlah pegawai KPBC Jayapura sangat minim untuk menempati gedung kantor yang besar ini yang mana pernah dilihat oleh Kepala Kantor Wilayah XII saat itu Drs. Ismartono (Sekarang Ka.Kanwil Pontianak-Red) yang berencana menjadikan lantai 2 KPBC Jayapura sebagai Kantor Wilayah XII DJBC Ambon apabila situasi di Ambon belum juga aman. Hal ini mungkin diilhami oleh karena sedikitnya pegawai KPBC Jayapura sedangkan gedungnya besar. Namun rencana inipun gagal karena kota Ambon kembali pulih keamanannya dan akhirnya KPBC Jayapura kembali sepi kantornya dengan minim pegawai. Padahal kabarnya di era tahun 1980 sampai dengan 2000 KPBC ini pernah memiliki pegawai berjumlah 80 orang. Dari sisi pegawai yang ada dapat penulis dengan lantang katakan punya etos kerja yang tinggi. Walaupun setiap bulan di rolling dan para pelaksana menempati tugas diseksi masingmasing namun kenyataannya dalam bekerja semua disesuaikan dengan sikon yang ada. Sebagai contoh, sering terjadi 1 atau 2 orang pegawai di rolling

baru kembali karena Kasi atau pelaksana sedang tidak ada. Diharapkan hal ini menjadi pedoman bagi KPBC-KPBC lain yang ada di Republik ini. Jangan berharap The Right man on the right place tapi tidak mau bekerjasama membantu seksi lain, alangkah baik bekerjasama membantu seksi lain on the right place in the right way.

TARGET PENERIMAAN FLUKTUATIF DAN PELAYANAN PRIMA
Dengan jumlah pegawai yang ada KPBC Jayapura tetap eksis dalam mengemban tugas sebagai aparat fiskal negara. Khusus untuk KPBC Jayapura dalam 2 tahun terakhir, target yang diembankan yakni tahun 2004 Bea Masuk sebesar Rp. 1.353.144 milyar realisasinya sebesar Rp. 1.318.510.952 miyar atau persentasenya 97,44%.(lihat tabel II) Dapat dikatakan cukup maksimal. Adapun penerimaan didapat dari importasi mobil eks Jepang , yang beberapa waktu lalu mengalami kebuntuan akibat salah prosedur terhadap pemahaman aturan Menteri Perdagangan. Namun setelah sekian lama terbengkalai akhirnya mobil eks Jepang ini atas dasar surat Menperindag dapat diselesaikan sesuai prosedur pabean dalam tahun 2004 itu juga. Importasi lain berasal dari impor vanili asal Papua New Guinea (PNG) yang cukup menambah kas penerimaan KPBC Jayapura. Hanya masalah importasi vanili di Jayapura walaupun dapat dikatakan rutin namun tidak dapat diandalkan karena merupakan produk pertanian yang harganya sudah pasti fluktuatif dari tahun ke tahun plus Bea Masuk cuma 5 persen. Dalam tahun 2004 jumlah dokumen PIB yang terbit 111, PIBT 7, dan PEB 37. Penerimaan dalam tahun 2005, dimana target Bea Masuk yang diemban KPBC Jayapura sebesar Rp.1.672.590.000 milyar realisasinya sebesar Rp. 717.500.295 juta atau persentasenya 42,89 persen. Berarti dapat disimpulkan mengalami penurunan cukup drastis bila dibandingkan dengan tahun 2004. Adapun masalah yang dihadapi dalam hal penerimaan di tahun 2005 ini karena importasi yang ada hanya importasi vanili asal PNG yang untuk tahun ini harganya turun sangat signifikan. Disisi lain walaupun tahun 2005 realisasi penerimaan turun namun dapat dikatakn berhasil secara pelayanan karena hanya 1 jenis barang impor, berbeda dengan tahun 2004 yang ada impor mobilnya. Pelayanan di tahun 2005 berhasil indikasinya karena dokumen yang terbit PIB sebanyak 121 lebih banyak dibandingkan tahun 2004. Jumlah PIBT 6, dan PEB 30. Intinya
WARTA BEA CUKAI

SUDARDJO, SH, Kepala KPBC Jayapura. Tetap meningkatkan kinerja Bea dan Cukai di Jayapura.

menempati posisi pada seksi perbendaharaan namun pada saat ada kegiatan importasi bisa saja pelaksana di seksi P2 atau pabean tidak masuk. 2 orang pegawai ini bisa bekerja membantu seksi yang kosong sehingga tidak ada gap antara seksi yang satu dengan yang lainnya. Yang ada hanya satu seksi yakni seksi bekerja sama. Hal inilah yang membuat KPBC Jayapura memiliki pegawai yang fleksibel karena pegawai-pegawainya dapat bekerjasama disemua seksi, tanpa harus ada gengsi. Dengan demikian sedikit banyaknya telah membuat Bea Cukai Jayapura itu dinilai oleh para pengguna jasa tetap ada pelayanannya, yang tidak pernah katakan tunggu/nanti esok
FOTO : LANSER

Drs. WELLINGTON SE,MM, Mantan Kepala KPBC Jayapura. Pelayanan prima dan perlindungan hokum harus terus diperhatikan.

EDISI 375 FEBRUARI 2006

31

DAERAH KE DAERAH
kegiatan importasi di Jayapura kadangkadang tidak ada. Sisi lain penerimaan PNBP yang baru digalakan DJBC dalam tahun 2004 dapat terlaksana dengan baik. Dalam tahun 2004 PNBP yang dikumpulkan sebesar Rp.12.401.400 juta dan dalam tahun 2005 PNBP yang berhasil dikumpulkan meningkat sebesar Rp.21.763.800 juta.

KOMPOSISI PEGAWAI KPBC JAYAPURA
No. Urut 1. 2. 3. 4. Eselon/ Non Eselon Eselon III Eseslon IV Korlak Pelaksana Jumlah 1 4 4 18 27

TABEL I

TINGKATKAN YANG TELAH ADA
Dalam tahun 2005 terjadi mutasi eselon III di DJBC. Dalam 2 tahun terakhir ini KPBC Jayapura dipimpin oleh Drs. Wellington, SE.MM yang sekarang menjabat sebagai Kepala KPBC Bitung. Dalam wawancara singkat menjelang keberangkatannya ke tempat tugas baru, Wellington memberikan tanggapan terhadap kinerja KPBC Jayapura dalam 2 tahun kepemimpinannya. Menurutnya target 2004 yang didapat 80 persen dari importasi mobil eks Jepang, selebihnya dari importasi vanili asal PNG. Dibandingkan tahun 2005, mengalami penurunan karena cuma ada impor vanili asal PNG. Namun menurut pria yang pernah bertugas sebagai Kepala KPBC

JUMLAH PEGAWAI

Ambon dan Teluk Nibung ini, semua penerimaan yang didapat khususnya importasi vanili asal PNG, adalah karena pelayanan yang prima terhadap pengguna jasa. Pelayanan prima menurutnya termasuk didalamnya mengarahkan importir ke arah yang lebih baik dan utamanya perlindungan hukum atau law enforcement terhadap importir harus terus ditingkatkan. Tambahnya, walaupun dokumen/ prosedur pabean sudah jelas khusus untuk impor vanili asal PNG masih

saja dalam perjalanannya melewati perbatasan darat atau laut tetap tersendat akibat ulah oknum keamanan yang mencoba memeriksa dokumen, barang, orang, termasuk petugas Bea Cukai yang bertugas mengawal barang tersebut dan oknum aparat ini mempunyai persepsi yang berbeda terhadap barang yang menurut Bea Cukai sudah sah tapi bagi mereka belum tentu. Seringkali Wellington menyarankan kepada importir sekiranya dokumen sudah sesuai prosedur pabean yang benar dan kalau ada oknum aparat yang mencoba menahannya, biarkan saja dan tempuhlah jalur hukum, pastilah dibantu. Dan hal ini sudah dibuktikannya. Sehingga walaupun jumlah pegawai KPBC Jayapura minim bahkan di mata oknum aparat mungkin dipandang sebelah mata namun dari beberapa kasus yang terjadi merupakan tamparan keras buat oknum-oknum aparat ini, imbasnya Bea Cukai Jayapura dipandang ada dengan kedua kelopak mata. Bagi Wellington, prinsipnya, jika benar harus dibantu dan jika salah harus
FOTO : LANSER

PEGAWAI JAYAPURA. Sedikit namun fleksibel saling membantu.

32

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

FOTO : LANSER

LEKSI ANDRE SERUMENA (kiri/ penulis) bergaya di depan KPBC Jayapura yang akan ditinggalkan.

ditindak. Reward and Punishment tetap dijalankannya. Sementara itu, Kepala KPBC Jayapura yang baru. Sudardjo, SH, yang terakhir menjabat sebagai Ka.KPBC Jogyakarta, menurutnya belum memiliki gambaran yang jelas tentang Bea Cukai Jayapura karena baru saja bertugas di Jayapura.

Namun baginya yang pasti tetap memperhatikan kinerja terbaik dari Kepala KPBC Jayapura yang lama dan kalau bisa ditingkatkan. Tambahnya lagi, mungkin perlu diadakannya sosialisasi ekspor dan impor di Jayapura yang mana dibutuhkan kerjasama yang baik antara impotir, Bea Cukai, dan semua intansi terkait. Gambarannya bahwa daerah timur Indonesia khususnya Jayapura merupakan arah pembangunan bangsa Indonesia kedepan dalam rangka pengembangan kawasan timur Indonesia (KTI), yang terkenal akan sumber daya alamnya. Saran Sudardjo, bahwa sekiranya ada ekspor dari Jayapura kenapa tidak ada impor ke Jayapura? Sebagai masukan, ekspor dari Jayapura tidak ada yang langsung ke negara-negara tujuan tapi harus melewati pelabuhan transit seperti Makasar, Surabaya, ataupun Jakarta. Begitu juga sebaliknya impor sebagian besar penyelesaiannya di pelabuhan-pelabuhan transit di atas, pada hal nyatanya barang impor tersebut dipakai di Papua khususnya Jayapura. Harapan Kepala KPBC Jayapura yang baru ini, kiranya ditahun-tahun mendatang seirama dengan percepatan pembangunan kawasan timur Indonesia akan ada kapal ekspor dari Jayapura dan kapal itu juga yang akan mengimpor barang dari luar ke Jayapura. Semua harapan hanyalah waktu yang menjawab. KPBC Jayapura tetap akan lebih serius meningkatkan kinerja dan koordinasinya dengan semua instansi yang terkait. Khusus dengan aparat Kepolisian diharapkan tahun-tahun ke depan koordinasi lebih ditingkatkan lagi. Tentang jumlah pegawai yang ada yang bila dibandingkan dengan tipe kantor berskala “A” tidaklah sepadan, ketika hal ini ditanyakan kepada Wellington dan Sudardjo, kedua TABEL II

Leksi Andre. Serumena, Koresponden Jayapura

pejabat ini kurang lebih memiliki pendapat yang sama. Menurut keduanya jumlah pegawai yang ada ini dirasakan cukup apabila dibandingkan dengan volume kerja KPBC Jayapura yang hanya monoton melayani impor vanili asal PNG. Namun kedua pejabat ini juga memberikan masukan bahwa tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti ada kegiatan kepabeanan di Jayapura yang terus meningkat. Mau tidak mau pegawai KPBC Jayapura harus ditambah. Akibat minim pegawai rumah dinas Bea Cukai di Jayapura banyak yang kosong, fatalnya banyak yang rusak akibat tidak ditempati. Ditakutkan aset rumah dinas ini hilang. Demikian harapan kedua pejabat ini sekaligus merupakan masukan bagi DJBC. Akhirnya, dari KPBC Jayapura, penulis ingin sampaikan di KPBC Jayapura penulis belajar menjadi seorang PNS Bea Cukai. Disini juga antara hidup dan mati pernah dipertaruhkan. Perlu diketahui setelah bertugas kira-kira 4 tahun, penulis dan beberapa teman harus menjalani proses mutasi dan akhirnya harus meninggalkan kota matahari terbit ini. Penulis (Leksi Andre. Serumena dan Amaludin dimutasikan ke KPBC Tg. Priok II, Dominggus.R.Olua dan Arfin Ke KPBC Tg.Priok I serta Presley dan Tomy ke KPBC Juanda. Sementara itu ada juga 5 (lima) pegawai yang berlatarbelakang D1 Bea Cukai dimutasikan ke Jayapura yang barangkali menggantikan kami ber-6. Sekali lagi. Selamat tinggal KPBC Jayapura. Selamat Tinggal Kantor Bantu Skow di perbatasan RI-PNG. Selamat tinggal hutan belantara yang masih perawan. Selamat tingal lautan yang belum dijelajah. Selamat tinggal masyarakat yang baik hati dan penuh kasih. Karena kasih kita bertemu dan karena kasih jugalah kita berpisah. Sampai ketemu lagi Jayapura.

PERKEMBANGAN DAN PERBANDINGAN PENERIMAAN T.A. 2004/2005
No. Urut 1. 2. 3. 4. 5. Jenis Penerimaan Bea Masuk Penerimaan PabeanLainnya PPN Impor PPn Bm Impor Pph Pasal 22 J U M L A ------H 755.081.173,1.024.488.420,240.031.535,3.338.112.080,--------1.402.410.768,--382.666.289,2.507.568.352,WARTA BEA CUKAI

Target 2004 1.353.144.000,---

Realisasi 2004 1.318.510.952,---

Target 2005 1.672.590.000,---

Realisasi 2005 717.500.295,5.000.000.-

EDISI 375 FEBRUARI 2006

33

DAERAH KE DAERAH

Tsunami
TSUNAMI
Pagi yang tenang… Tawa terdengar menyambut pagi Ulas senyum menghantar sejuta makna bahagia Teduh dan tenang laksana pagi lainnya Tiba-tiba ……Rrrrrhh……..krak Tanah bergerak dan bergetar Rumah berderak-derak seakan segera rubuh Tiap detik terasa semakin kuat dan semakin kuat Allahu Akbar……..Allahu Akbar Ya Allah, gempa ini kuat sekali Detik-detik berlalu dalam histeris Menit-menit dalam tangisan dan teriakan Sesaat bumi diam dalam jeda Lalu……………… Dingin yang mendirikan bulu roma Tiba-tiba datang menusuk tulang Gemuruh terdengar dekat Air laut naik!…… air laut naik! Ya Allah, berita buruk apa lagi ini. Belum hilang debaran jantung Keringat dingin belum terseka Kini menjadi hangat oleh air laut Ombak besar menjemput datang Tsunami...................... Nyawa seperti kapas….. putih Ringan beterbangan Pulang padaMu yaa Rabbi
Banda Aceh, 26 Desember 2004 Safuadi

REFLEKSI SATU TAHUN

ak terasa satu tahun sudah berlalu. Di pesisir pantai India, Thailand, Srilangka, Malaysia dan Indonesia, khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), terjadi bencana Tsunami yang mengguncangkan dan meluluhlantakkan propinsi NAD. Pada hari minggu, 26 Desember 2004 pukul 07.57 WIB gempa berkekuatan 9,0 skala richter mengguncang NAD. Tak berapa lama kemudian, pada pukul 08.16 WIB menyusul ombak yang menggunung setinggi 10 – 20 meter menyapu semua yang ada di depannya. Dalam waktu singkat (sekitar 30 menit) dimana-mana terlihat pemandangan memilukan. Dari total penduduk NAD sebanyak 4.372.000 orang, kurang lebih 137.000 orang meninggal, lebih dari 70.000 orang dilaporkan hilang, serta lebih dari 500 ribu orang lainnya kehilangan tempat tinggal. Infrastruktur di propinsi Aceh yang berada di sepanjang 800 km garis pantai pun rusak dan binasa. Tak hanya itu, jalan raya sepanjang 600 km, 199 jembatan utama, 122 fasilitas kesehatan, 64 ribu hektar lahan pertanian, dan 15 ribu hektar tambak perikanan, hancur tak tersisa. Hasil perhitungan kerusakan (Damage Assessment) yang dilakukan Bank Dunia mengungkapkan, total kerugian gempa dan tsunami Aceh sebesar US$ 5,1 miliar. Angka tersebut berarti melampaui Produk Domestik Bruto (PDB) Aceh tahun 2003 sebesar US$ 4,5 miliar (Rp. 38,6 trilyun). Keberadaan Kantor Wilayah XIII DJBC, KPBC Ulee-Lheue (pelabuhan laut) dan KPBC Iskandar Muda (pelabuhan udara) yang berada dalam satu bangunan beserta rumah dinas pegawai yang berada disekelilingnya pun tak luput dilanda guncangan gempa dan terjangan ombak yang dahsyat. Pasalnya, lokasi kantor hanya berjarak sekitar 15 – 35 meter dari garis pantai Laut Ulee-Lheue. Tak ayal lagi, kantor, mess dan rumah dinas pun menjadi rata dengan tanah. Bahkan sebagian bangunan mess dan rumah dinas tenggelam tanpa bekas karena telah menjadi laut. Maha Besar Allah, tempat berdiri imam pada mushola kantor yang berdindingkan gambar Ka’bah masih utuh. KPBC Meulaboh pun mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Kantor beserta

T

rumah dinas musnah diterjang tsunami. KPBC Sabang juga tidak luput dari bencana, sebagian kantor dan rumah dinas retak akibat gempa dan sebuah Kantor Pos Bantu yang berada di Pelabuhan Balohan hancur diterjang tongkang yang hanyut oleh gelombang tsunami. Hingga kini tongkang tersebut masih belum dipindahkan. Keadaan Saudara-saudara kita sekorps Bea dan Cukai pasca bencana juga cukup memilukan. Pegawai DJBC di Kanwil XIII Aceh dan KPBC di lingkungan Kanwil XIII yang meninggal dan tidak diketahui keberadaannya sebanyak 25 orang, ditambah dengan 26 pegawai honorer dari Kanwil maupun KPBC. Dengan demikian, total jumlah anggota keluarga besar Kanwil XIII yang meninggal dan hilang sebanyak 51 orang. Selain itu, jumlah keluarga pegawai bea dan cukai yang meninggal pun cukup banyak, terutama pegawai-pegawai yang berasal dari Nanggroe Aceh Darusalam. Dari 25 orang pegawai bea cukai dalam lingkungan Kanwil XIII yang meninggal maupun hilang, tercatat 13 anggota keluarga yang kini menjadi yatim maupun yatim piatu dan menjadi tanggungan keluarga yang ditinggalkan. Umumnya, ketiga belas anak yatim tersebut masih di bangku SD hingga SMA.

MASA TANGGAP DARURAT
Dunia pun terhentak oleh bencana paling besar dari bencana apapun dalam seabad ini. Perhatian internasional sontak tertuju ke Aceh. Solidaritas kemanusiaan tiba-tiba mengental begitu cepat. Aceh seolah menjadi “milik” dunia. Entah dari mana ia datang, warna kulitnya, perbedaan agama dan bahasa, tidak menjadi penghambat. Tiba-tiba, Bandara Sultan Iskandar Muda menjadi sangat sibuk dengan lalu lintas pesawat yang mencapai 190 penerbangan dalam sehari (diluar penerbangan helikopter). Yang pasti, semuanya berkumpul di sini, di Bumi Serambi Mekah. Mereka mencari, mengumpulkan dan menguburkan jenazah para korban, memberi obat-obatan disertai mengobati yang sakit dan terluka, memberi tenda untuk mereka yang kehilangan tempat tinggal, makanan, air, pakaian dan

34

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

FOTO : FEBRA

berbagai keperluan pokok lainnya. Setiap hari semua pihak berkejaran dengan waktu untuk menghindari kondisi lebih buruk pasca bencana, yakni mewabahnya penyakit kolera yang menakutkan. Semua orang yang terlibat dalam masa tanggap darurat bekerja tanpa mengenal waktu. Bahkan malam hari pun digunakan untuk bekerja, membuat laporan perkembangan pekerjaan di pendopo Gubernur. Solidaritas kemanusiaan pun menghinggapi keluarga besar Bea dan Cukai yang turut tergugah hatinya untuk membantu saudara-saudaranya di NAD. Bantuan tersebut berupa penggalangan dana di lingkungan DJBC dan pengiriman pegawai dari KP DJBC ke Aceh sebagai tim relawan. Setelah tiba di Banda Aceh, tim relawan membantu pegawai-pegawai di lingkungan Kanwil XIII yang bertahan di NAD untuk mencari pegawai yang meninggal maupun hilang. Tim relawan juga membantu meringankan beban pelaksanaan tugas yang pada saat itu sangat tinggi volume kerjanya, terutama pelayanan pemasukan barang bantuan baik melalui bandar udara maupun pelabuhan laut. Tak hanya itu, tim relawan turut menghidupkan kembali pekerjaan kantor terutama mengamankan arsip-arsip negara. Mengingat gedung kantor sudah tidak ada lagi, maka Kantor Wilayah XIII DJBC Aceh dipindahkan ke Gedung Keuangan Negara unit II Lantai 6 di Medan. Sedangkan KPBC Ulee-Lheue dan KPBC Iskandar Muda menyewa satu rumah untuk dijadikan kantor di Jl. T. Nyak Makam No. 7 Lampineung Banda Aceh. Begitu juga KPBC Meulaboh menyewa

TINGGAL PUING-PUING. Gedung Kanwil XIII DJBC, KPBC Iskandar Muda dan KPBC Ulee Lheue yang berada dalam satu atap, kini tinggal puing-puing yang berserakan.

sebuah rumah yang berfungsi sebagai kantor di Meulaboh Aceh Barat, dengan tujuan agar kegiatan kantor tetap berjalan dengan baik. Secara psikologis, pegawai lama masih dihinggapi oleh rasa trauma. Oleh
FOTO : FEBRA

karena itu, Sekretaris DJBC memutasikan 34 pegawai lama ke tempat yang baru di luar NAD dan mengangkat 28 pejabat dan 20 pegawai pelaksana baru dari luar NAD. Target penerimaan dari Kanwil XIII Aceh pun ditetapkan menjadi nol, tanpa mengabaikan segi pelayanan dan pengawasan pada masyarakat.

SATU TAHUN KEMUDIAN
Senin, 26 Desember 2005, bertempat di bekas pelabuhan UleeLheue yang hancur diterjang tsunami, diadakan peringatan satu tahun tsunami yang dipimpin langsung oleh Presiden RI. Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua MPR RI, 37 Duta Besar (Utusan) dari berbagai Negara, Menteri-Menteri Negara, Plt Gubernur NAD, Panglima TNI, Kapolda Aceh, Ketua BRR, LSM, Pegawai-pegawai Pemerintah, tak terkecuali dari DJBC yang diwakili oleh Iskandar (KaKPBC Ulee-Lheue), Safuadi (KaKPBC Sabang) dan Febra Faturrahman (Kasi Kepabeanan dan Cukai II KPBC Sabang). Tema yang diambil pada peringatan itu adalah Aceh dan Nias Remember Rebuild: National Communication of the Tsunami. Pukul 08.16 WIB, acara peringatan tersebut dimulai dengan mengheningkan cipta yang dipimpin langsung oleh Presiden RI. Kemudian dilanjutkan dengan nyanyian oleh anakanak yatim NAD yang menyentuh kalbu siapapun yang mendengarkan. Sebagian bait syair lagu “Aneuk Yatim” tersebut adalah :
WARTA BEA CUKAI

GAMBAR KA’BAH YANG TERSISA. Tempat berdiri imam pada mushola kantor Kanwil XIII DJBC yang berdindingkan gambar Ka’bah masih utuh, tidak tersapu tsunami.

EDISI 375 FEBRUARI 2006

35

DAERAH KE DAERAH
FOTO : FEBRA

Kisah barö that... barö that di Aceh Raya Lam karu Aceh, timu ngon barat e…barat Bak saboh tempat... tempat meuno caritra Na sidroe aneuk jimo siat at Lam jeut-jeut saat...saat dua ngon poma Ditanyëng bak ma, ayah jinoe pat Ulon rindu that... keuneuk eu rupa Nyoe manteng hudep meupat alamat Ulon jak seutët... ’oh watee raya Nyoe ka meuninggai meupat keuh jrat Ulon jak siat… lon baca do’a

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Jino lon kisah saboh riwayat

Sekarang saya kisahkan satu riwayat Kisah yang baru sekali.. baru sekali di Aceh Raya Dalam keributan Aceh timur dan barat Di suatu tempat, beginilah ceritanya Ada seorang anak terus menangis Pada setiap saat berdua ibu Ditanyakan pada ibu, ayah dimana sekarang Saya rindu sekali ingin melihat wajahnya Kalau masih hidup diketahuilah alamatnya Saya akan cari ketika dewasa Jika telah meninggal dimana makamnya Saya datangi untuk memanjatkan do’a

KAPAL TERDAMPAR DI TENGAH KOTA. Sekretaris DJBC dan Kakanwil XIII DJBC berpose di depan sebuah kapal listrik terapung milik PLN yang terdampar di tengah-tengah Kota Banda Aceh.

Berikutnya, Presiden RI memberikan sambutan yang intinya mengenang para korban tsunami dan mensyukuri kekuatan rakyat Nanggroe Aceh Darussalam untuk bangkit kembali. Presiden juga tak pernah menduga bahwa bencana tsunami di Aceh telah menumbuhkan semangat solidaritas yang menghasilkan bibit-bibit persaudaraan global. Hal itu dapat dilihat dari pengerahan angkatan bersenjata dari 44 negara yang merupakan operasi militer

non perang terbesar yang belum pernah terjadi sesudah perang dunia kedua, kemudian bantuan dari para donatur asing serta Non Government Organization (NGO) asing dan lokal. Presiden juga mengajak seluruh masyarakat semua untuk bersamasama berbuat yang terbaik terhadap mereka yang telah kehilangan orangorang yang disayangi dan dicintai, terutama kepada anak-anak yatim piatu. “Dengan kasih sayang, kita dapat membantu mereka melangkah ke depan untuk hari esok yang lebih cerah dan terus mendorong mereka untuk terus bersekolah, beribadah, berpengetahuan dan berketrampilan,
FOTO : FEBRA

agar memiliki hari esok yang lebih baik,” imbuh Presiden. Sekretaris DJBC Sjahril Djamaluddin dan Kakanwil XIII DJBC Aceh Muhammad Chariri beserta rombongan, pada Rabu, 28 Desember 2005, berkesempatan datang ke Banda Aceh untuk melakukan peninjauan rencana pembangunan kantor dan rumah dinas baru Kanwil XIII serta meninjau lokasi kantor dan rumah dinas Bea dan Cukai yang terkena bencana tsunami. Selain itu juga merencanakan penyewaan kantor dan rumah dinas selama satu tahun untuk para pegawai di lingkungan Kanwil XIII, KPBC Ulee Lheue dan KPBC Iskandar muda. Pada Jumat, 6 Januari 2006, keluarga pegawai bea cukai yang menjadi korban tsunami berinisiatif berkumpul di Ulee Lheue, Banda Aceh, untuk mengenang dan memanjatkan doa bagi mereka yang telah lebih dahulu berpulang ke rahmatullah. Dalam kunjungan tersebut muncul keinginan untuk saling membantu dan saling memperhatikan keluarga korban tsunami. Status mereka yang kini menjadi janda pegawai dengan 13 anak anggota keluarga pegawai yang telah menjadi yatim/yatim piatu, memerlukan bantuan untuk bertahan hidup terutama biaya sekolah. Pada kesempatan itu, mereka menyampaikan harapannya agar keluarga besar Bea dan Cukai memperhatikan nasib ke-13 anak-anak pegawai tersebut. Bencana tsunami memberikan pelajaran bagi kita bahwa bencana dapat terjadi tanpa diduga, menimpa siapa saja, dimana saja berada dan kapan saja. Membuktikan betapa lemahnya manusia, tidak ada kekuatan yang lebih besar kecuali Kuasa Tuhan. Allahu Akbar.

BEKAS KANTOR. KaKPBC Sabang, KaKPBC Ulee Lheue dan Kasi Kepabeanan dan Cukai II KPBC Sabang, berpose di atas reruntuhan kantor Kanwil XIII DJBC.

Febra Faturrahman, Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai II, KPBC Sabang

36

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

SEGENAP RELASI DAN MITRA KERJA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

Dirgahayu Hari Kepabeanan Internasional Ke-54
26 JANUARI 2006

MENGUCAPKAN

Ventura Building 7th. Fl, Jl. R.A. Kartini Kav. 26, Cilandak, Jakarta 12430, Phone : 62 21 750 4406, Fax : 62 21 750 4415-16 Website : http://www.schneider-electric.co.id

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WARTA BEA CUKAI

37

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

SURABAYA. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Abdurrahman (no. 4 dari kiri, duduk) didampingi Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana (no 5 dari kiri, duduk), Direktur IKC Jody Koesmendro (no. 2 dari kiri, duduk), Direktur P2 Endang Tata (no 6 dari kiri, duduk) dan Kepala Subdirektorat Manajemen Resiko Susiwiyono, melakukan kunjungan kerja ke Kanwil VII DJBC Surabaya pada kamis 22 Desember 2005. Kunjungan ini diterima oleh Kepala Kanwil VII DJBC Surabaya Zeth Likumahwa dan para pejabat Kepala Kantor BC dilingkungan Kanwil VII DJBC Surabaya seperti tampak pada gambar.
WBC/ATS

JAKARTA. Panitia Masjid Baitut Taqwa pada 10 Januari 2006 menyelenggarakan sholat Idul Adha di lapangan Kantor Pusat DJBC (gambar kiri). Sholat Ied dihadiri pegawai dan masyarakat sekitar lingkungan KP-DJBC dengan menghadirkan penceramah Syaparuddin Tanjung dari Bina Imtaq Korps Mubaligh Akbar Utan Kayu. Hadir dalam sholat tersebut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Abdurrachman, Direktur P2 Endang Tata, Kanwil V DJBC Bandung Djoko Wiyono, Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana dan beberapa pejabat eselon III, IV. Usai ceramah Idul Adha, Direktur Jenderal Bea dan Cukai dan pejabat lainnya menuju tempat pemotongan hewan kurban yang berada di belakang kantor. Tahun ini hewan yang kurban sebanyak 18 ekor sapi dan 58 ekor Kambing dengan membagikan kupon kepada warga yang kurang mampu sebanyak 1700 kupon. Gambar kanan, hewan kurban milik Direktur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Abdurrachman sedang dipotong.
WBC/ATS

JAKARTA. Bertempat di Aula gedung B diselenggarakan pisah sambut pejabat eselon III, IV di lingkungan Direktorat Verifikasi dan Audit pada 22 Desember 2005. Acara bertemakan “Ingat Hari Ini”, selain dihadiri oleh Direktur Verifikasi dan Audit Thomas Sugijata beserta ibu, juga hadir para pejabat, pegawai dan Dharma Wanita serta mitra kerja Bea dan Cukai. Pada gambar, Thomas Sugijata beserta ibu memberikan cindera mata sebagai kenangkenangan kepada para pejabat yang pindah tugas dan dilakukan foto bersama

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WBC/ATS

JAKARTA. Usai sambutan dari perwakilan pejabat eselon IV lama dan baru, Direktur Fasiliatas Kepabenan Ibrahim A. Karim juga memberikan wejangan kepada pejabat yang lama dan baru dalam acara pisah sambut pejabat eselon IV pada akhir desember 2005 di Aula Dit. Fasilitas. Acara dilanjutkan dengan pemberian cindera mata sebagai kenang-kenangan dari Ibrahim A. Karim dan Nyonya. Usai pemberian cindera mata acara dilanjutkan ramah tamah dengan makan siang bersama. Tampak pada gambar kiri, Ny Ibrahim A Karim menyerahkan cinderamata dan gambar kanan, Direktur Fasilitas Ibrahim A. Karim foto bersama dengan pejabat yang akan bertugas ditempat yang baru.
WBC/ATS

JAKARTA. Pada 5 Januari 2006 dilakukan acara pisah sambut pejabat eselon III, IV dan pelaksana di lingkungan Direktorat Cukai yang diselenggarakan di Auditorium KP-DJBC gedung B, dan dihadiri Ketua Gappri, Ketua Gaprindo dan pejabat Peruri. Pejabat eselon III yang pindah tugas sebanyak dua orang, eselon IV sebanyak 4 orang dan pelaksana sebanyak delapan orang. Usai beberapa sambutan acara dilanjutkan dengan penyerahan cindera mata dari Direktur Cukai Frans Rupang sebagai kenang-kenangan kepada pegawai yang akan menempati tugas baru.
WBC/ATS

JAKARTA. Senin 2 Januari 2006 berlangsung acara pisah sambut jabatan Kabag Umum Kantor Pusat DJBC dari yang lama Ariohadi kepada Kabag Umum yang baru Soedirman A. Ghani di Auditorium gedung B Kantor Pusat. Acara pisah sambutyang juga sekaligus acara serah terima jabatan wakil ketua dewan pengarah sekaligus penanggung jawab WBC ini, berlangsung dengan cukup sederhana. Dalam Kata sambutannya , Ariohadi mengatakan rasa terimakasihnya kepada seluruh jajaran secretariat khususnya uang berada di bagian umum, akan dukungannya selama ini, begitu juga kepada para mitra kerja yang selama ini menjadi bagian dari pekerjaannya sehari-hari. Kepada WBC, Ariohadi juga mentampaikan rasa terimakasihnya atas kepercayaan dan dukungannya selama menjabat sebagai wakil ketua dewan pengarah sekaligus penanggung jawab. Komunikasi yang selalu terbuka dan rasa kekeluargaan yang terjalin selama ini merupakan kenangan yang tidak mungkin dapat terlupakan. Sementara itu Kabag Umum yang baru Soedirman A. Ghani dalam kata sambutannya meminta kepada seluruh jajaran secretariat maupun WBC akan dukungan yang selama ini diberikan kepada Kabag Umum yang lama , juga tak kalah baiknya diberikan kepada nya, karena hanya dukungan itulah yang dapat membuat kinerja semuanya menjadi baik. “Gaya kepemimpinan mungkin boleh beda, tapi saya berusaha untuk sebaik-baiknya agar jajaran sekeretariat khusunya bagian umum tetap lebih baik dari hari ke hari,”. Acara yang dihadiri oleh seluruh jajaran yang berada di bawah bagian secretariat, dilanjutkan dengan pemberian cindera mata dari para staf yang berada di bawah bagian umum kepada kabag umum yang lama, dan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah.

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WARTA BEA CUKAI

39

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

PALEMBANG. Kantor Wilayah III DJBC Palembang menyelenggarakan pemotongan hewan kurban pada 11 Januari 2006 bertempat di Kantor Wilayah III DJBC Palembang. Dengan segala keterbatasan yang dihadapi, kegiatan pemotongan hewan kurban dapat berlangsung dengan lancar yang diawali oleh sambutan dan penyerahan secara simbolis hewan kurban oleh Kakanwil III DJBC Palembang yang diwakili oleh Ir. Purwidi, Kabid Verifikasi dan Audit (baju Safari coklat). Dalam sambutannya, Purwidi berharap kegiatan ini dapat menjadi wahana silaturahim sekaligus pemicu mulai tumbuhnya kembali syiar Islam di lingkungan Kanwil III Palembang melalui pemakmuran Mushola Al Barokah yang berada di lingkungan Kanwil III . Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban oleh para pegawai yang dilanjutkan dengan pendistribusian kepada yang berhak. Daging hewan tersebut disalurkan kepada para pegawai, tenaga honorer, dan tenaga cleaning service. Kiriman Kanwil III DJBC Palembang
FOTO : KIRIMAN FOTO : KIRIMAN

TULUNGAGUNG. Baru-baru ini pada 20 Desember 2005 dalam rangka mengisi Program Pembinaan Ketrampilan Pegawai (PPKP), KPBC Tulungagung mengundang Petugas Pemadam Kebakaran (PMK) untukmemberikan pelatihan kepada para pegawai KPBC Tulungagung dan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP) dalam menanggulangi bahaya kebakaran. Pelatihan ini dimaksud untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran di kantor yang mana penuh dengan dokumen dan pita cukai yang jumlahnya milyaran rupiah, serta buat ibu-ibu DWP yang sebagian besar menempati rumah dinas guna mengantisipasi dalam mengamankan aset negara. Tampak pada gambar,para pegawai dan ibu-ibu DWP dengan antusias melihat dan mendengarkan instruktur PMK memberi pelatihan secara teori dan praktek. Kiriman KPBC Tulungagung

MALILI. Pada 22 Desember 2005 diselenggarakan pisah sambut Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe C Malili dari pejabat lama Robi Toni kepada pejabat baru Mas Sundrijoprodjo. Acara diselenggarakan di Aula KPBC Tipe C Malili. Acara berlangsung dengan meriah walaupun dalam keadaan padam listrik. Usai acara tersebut dilanjutkan dengan foto bersama di halaman KPBC Malili yang diikuti juga oleh Karyawan dari PT. International Nickel Indonesia Tbk. Kiriman KPBC Malili
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Korps Mahasiswa Bea dan Cukai (STAN Prodip BC) pada 16 Januari 2006- 27 Januari 2006 menyelenggarakan Invitasi Futsal Antar Universitas Piala Direktur Bea Dan Cukai 2006 bertemakan ”Be The Real Champion”. Invitasi Futsal Antar Universitas yang berlangsung selama 12 hari ini diselenggarakan di Kampus STAN, Bintaro Jakarta Selatan, bertujuan Membina Rasa Sportivitas Dalam Bidang Keolahragaan, Membina Hubungan Persahabatan Antar Universitas, Meningkatkan Rasa Kekompakkan Dan Kebersamaan Antar Angkatan Prodip Bea Cukai dan Pelaksanaan Proram Kerja KMBC 2005-2006.Acara ini diikuti UNJ (Juara Bertahan), STEI Rawamangun (Juara Liga Futsal Indonesi Difamata 2005), STAN A & STAN B (Tim Tuan Rumah), Universitas Trisakti, Universitas Indonesia (UI), Akademi Meteorologi Geofisika (AMG), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) dan STIE BP, STMT Trisakti, Universitas Katolik Atmajaya, Universitas Kristen Indonesia (UKI), Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan Indonesia (STPI), Universitas Budi Luhur (UBL), USNI, dan Universitas Swadharma. Selain invitasi ini juga diselenggarakan dua pertandingan persahabatan yakni STAN Prodip BC vs Alumni Prodip (Sebelum Pertandingan Semi Final), All Stars Turnamen vs Timnas PSSI (Sebelum Pertandingan Grand Final). Tampak pada gambar kiri foto bersama panitia penyelenggara dan gambar kanan pertandingan futsal. Kiriman STAN Prodip BC

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WBC/ATS

JAKARTA. Pada 21 Januari 2006 Sekolah Yayasan Kesejahteraan Bhakti Tugas menyelenggarakan acara syukuran dalam rangka memperingati HUT SD Bhakti Tugas ke-39 (20 Januari 1967 – 20 januari 2006) dan HUT Sekolah TPA Bhakti Tugas ke-6 (20 Januari 1999 – 20 Januari 2006) dengan melakukan upacara di halaman sekolah Bakti Tugas Pasar Minggu. Acara diawali kata-kata sambutan dari Kepala Sekolah Yohanes dan Ny. Yayok, dihadiri oleh seluruh pengurus Yayasan Bhakti Tugas dan Ibu Dharma Wanita Persatuan yang dalam hal ini diwakili oleh Ny. Maimun. Acara dilanjutkan dengan pemotongan dua tumpeng (gambar kanan), seperti terlihat pada gambar. Acara dimeriahkan pula dengan penampilan siswa dan siswi dalam paduan suara yang diiringi oleh grup musik dan juga beberapa tarian. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah juara-juara lomba mewarnai dari sekolah TK yang berada disekitar sekolah (gambar kiri) dan diakhiri dengan acara ramah tamah.
FOTO : KIRIMAN WBC/ATS

JAYAPURA. Kepala KPBC Jayapura Sudardjo, SH Pada 20 Desember 2005, bertempat di Aula KPBC Jayapura melantik dan mengambil sumpah Endro Sudarmanto SH sebagai Kepala Seksi Kepabeanan I KPBC Jayapura. Acara pelantikan yang diselenggarakan secara sederhana ini berjalan lancer, dihadiri seluruh pejabat dilingkungan KPBC Jayapura dan pegawai. Acara diakhiri dengan ramah tamah. Koresponden Jayapura, Leksi AS

JAKARTA. Sejumlah kurang lebih 15 ribu botol minuman MMEA Impor hasil tegahan bulan April 2005 oleh petugas Bea dan Cukai Kanwil IV DJBC Jakarta dimusnahkan di halaman pool kendaraan Kantor Pusat pada 29 Desember 2005. Acara pemusnahan yang dilakukan dengan cara dihancurkan dengan mesin giling, disaksikan langsung oleh Kasubdit Penyidikan F. C. Sidjabat dan beberapa pejabat eselon IV lainnya.
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Sabtu, 21 Januari 2006, Panitia Bakti Sosial Hari Pabean Internasional ke-54 mengadakan Sumbangan Buku Layak Baca ke Perpustakaan Rumah Cahaya Depok. Buku yang disumbangkan adalah buku dan bacaan layak baca berupa Buku Pelajaran Sekolah, Buku Ilmu Pengetahuan Populer / Hobi, Buku Cerita, dan Majalah. Perpustakaan Rumah Cahaya didirikan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) yang mencoba menawarkan konsep berupa RUMAH MEMBACA DAN MENULIS. Rumah baca ini diberi nama Rumah CAHAYA, yang artinya Rumah (tempat) BaCA dan HAsilkan KarYA. Perpustakaan ini memberikan kesempatan bagi kalangan umum, khususnya kaum dhuafa untuk membaca lebih banyak buku, majalah dan sebagainya sehingga wawasan mereka akan lebih berkembang. Tampak dalam gambar Panitia Bakti Sosial Sumbangan Buku Hari Pabean Internasional, Fitra Krisdianto, menyerahkan Sumbangan yang terkumpul dari para pegawai di lingkungan Kantor Pusat DJBC kepada Penanggung Jawab Perpustakaan Rumah Cahaya Depok, Denny Prabowo (gambar kiri) serta foto kanan foto bersama Panitia Bakti Sosial bersama Penanggung jawab Perpustakaan Rumah Cahaya Depok. Kiriman Direktorat Kepabeanan Internasional (Dua Foto gandeng Dibesarkan)

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WARTA BEA CUKAI

41

MITRA
DOK. APKB

PERTEMUAN RUTIN. Tampak dalam gambar Direktur Tenis Kepabeanan, Direktur IKC, Kakanwil IV DJBC Jakarta dan Kakanwil V DJBC Bandung, saat menjadi pembicara yang di dampingi oleh ketua dan sekretaris APKB.

Hasil Baru Dari Pertemuan Bulanan

APKB Dengan DJBC

Setelah berjuang untuk mendapatkan beberapa fasilitas yang lebih mendukung dunia industri, Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB) akhirnya mendapatkan beberapa hasil yang memuaskan setelah mengadakan pertemuan bulanan dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

dahan dari instansi pemerintah lainnya. Seperti pada 21 Desember 2005 lalu, APKB juga mengadakan pertemuan rutin dengan jajaran DJBC diantaranya dengan Direktur Teknis kepabeanan, Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai, Kakanwil IV DJBC Jakarta, dan sebagai tuan rumah Kakanwil V DJBC Bandung. Pada pertemuan kali ini yang salah satu agendanya membahas masalah perubahan terakhir Kepmen no. 291/ KMK.05/1997 menjadi kep no 101/ PMK.04/2005 tentang kawasan berikat, cukup menarik bagi para anggota karena begitu banyak hal-hal baru yang mereka belum ketahui dan dapat menjawab keluhan yang selama ini mereka rasakan. Menurut Sekretaris APKB, Ade R. Sudrajat pada pertemuan kali itu cukup memuaskan, karena salah satu keluhan mereka dapat terjawab, bahkan harapan mereka akan kemudahan dari instansi pemerintah lain juga akan segera terjawab. “Kami sangat puas sekali pada pertemuan itu, karena seperti untuk masalah BBM yang selama ini sangat memberatkan kami sebagai pengusaha, pada pertemuan itu sudah ada titik terangnya dan DJBC menjanjikan akan meneruskannya ke instansi yang berwenang,” papar Ade Sudrajat.

SOSIALISASI DI KPBC BEKASI
Jika di Kanwil V DJBC Bandung diadakan acara pertemuan rutin antara APKB dan DJBC, di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Bekasi, pada 18 Januari 2006 lalu juga mengadakan acara sosialisasi dengan para pengusaha yang berada di wilayahnya. Acara sosialisasi yang dibarengi dengan acara perkenalan dengan jajaran di KPBC Bekasi, mendapat respon yang cukup baik dari kalangan pengusaha. Acara yang terbagi menjadi 2 sesi ini, selain difokuskan sebagai ajang perkenalan, juga sebagai ajang diskusi dan pendalaman terhadap segala peraturan yang ada di DJBC. Acara yang sederhana namun cukup antusia ini berlangsung dengan baik, ini terlihat dari para pengusaha yang menanyakan berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi dan menjadi kendala bagi mereka. Menurut Kepala KPBC Tipe A Bekasi, Istyastuti Wuwuh Asri, sosialisasi sudah menjadi kewajiban bagi setiap KPBC, untuk itu di momen yang cukup baik ini, KPBC Bekasi memanfaatkannya sebagai acara diskusi dan pendalaman segala peraturan yang ada di DJBC. “Mayoritas industri disini adalah kawasan berikat jadi untuk lebih meningkatkan pengetahuan mereka terhadap peraturan yang ada, kami mengadakan acara sosialisasi ini. Selain itu di acara ini kami juga menyebarkan kuesioner kepada mereka untuk mengetahui sejauhmana pelayanan yang diberikan selama ini dan apa tanggapan mereka terhadap pelayanan yang kami berikan,” ujar Istyastuti Wuwuh Asri. adi

S

ejak berdirinya APKB pada 21 Mei 2002 yang merupakan wadah bagi para pengusaha kawasan berikat, sudah banyak disampaikan beberapa masukan baik kepada DJBC maupun kepada instansi lain. Beberapa yang disampaikan juga berupa keluhan karena ketidakadilan terhadap pengusaha baik mengenai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun keluhan akan fasilitas yang mereka dapatkan selama ini. Untuk memperjuangkan itu, APKB selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan jajaran DJBC, hal ini dikarenakan

selain DJBC sebagai fasilitator dalam perdagangan juga fasilitas yang mereka dapatkan selama ini dapat dinikmati melalui DJBC. Beberapa keluhan yang disampaikan itu, kini dijadikan sebagai pertemuan rutin tiap dua atau tiga bulan sekali dengan DJBC dan menjadi agenda tetap mereka. Pertemuan yang juga dimanfaatkan sebagai ajang diskusi dan pendalaman terhadap kebijakan-kebijakan di bidang kawasan berikat, selalu membuahkan hasil-hasil baru baik terhadap fasilitas yang didapatkan, maupun harapan akan kemuWBC/ATS

SOSIALISASI. Kepala KPBC Tipe A Bekasi, Istyastuti Wuwuh Asri saat memberikan sambutan pada . acara sosialisasi yang didamping oleh beberapa pejabat lainnya.

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

KONSUL Cukai TASI Kepabeanan &
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

MEKANISME PENGELUARAN BARANG
Dengan ini saya ingin mengajukan pertanyaan sebagai berikut : Pada saat PKB atau PDKB akan mengeluarkan bahan baku dalam rangka sub kontrak ke Pengusaha di DPIL, PKB/PDKB perlu mengirimkan beberapa barang contoh (sample) yang merupakan produk jadi PKB/PDKB tersebut ke Pengusaha di DPIL sebagai contoh barang jadi hasil sub kontrak dan barang contoh (sample) tersebut selanjutnya akan dikembalikan ke PKB/PDKB sebelum atau setelah proses sub kontrak selesai. Pertanyaannya adalah, bagaimana mekanisme dan atau dokumen yang harus digunakan untuk pengeluaran barang contoh (sample) berupa produk jadi tersebut dari PKB/PDKB ke Pengusaha di DPIL dan pada saat barang tersebut masuk kembali ke PKB/PDKB ? Atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan terima kasih YUS YULIUS, S.E. PT Dewhirst Menswear Jl. Raya Rancaekek Km. 27 Sumedang 40394 Jawaban : Sehubungan dengan pertanyaan yang diajukan, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut : 1. PKB/PDKB PT Dewhirts Menswear berencana akan memberikan pekerjaan sub kontrak kepada perusahaan industri di DPIL. Sebelum sub kontrak dilaksanakan, PT. Dewhirst Menswear perlu mengirimkan beberapa barang contoh (sample) sebagai contoh barang jadi hasil sub kontrak. Barang contoh tersebut akan dikembalikan ke KB sebelum/ sesudah proses sub kontrak selesai. 2. Untuk itu PT. Dewhirst Menswear mengajukan pertanyaan mengenai tatacara pengeluaran barang contoh berupa barang jadi KB dari KB ke perusahaan di DPIL penerima pekerjaan sub kontrak dan tatacara pengembaliannya. 3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 291/KMK.05/ 1997 tanggal 26 Juni 1997 dan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-63/BC/1997 tanggal 25 Juli 1997 tidak mengatur secara tegas mengenai tatacara pengeluaran barang hasil produksi PDKB ke DPIL untuk kemudian dimasukkan kembali ke PDKB tanpa adanya pengolahan lebih lanjut di DPIL. 4. Namun pengeluaran barang contoh dalam rangka mendukung pekerjaan sub kontrak dari KB ke DPIL dapat diberikan dengan kebijakan Direktur Jenderal Bea dan Cukai dengan ketentuan : a. Pengeluaran barang contoh dari KB ke DPIL dilakukan dengan menggunakan dokumen BC 2.3; b. Setiap pengeluaran barang contoh tersebut wajib dipertaruhkan jaminan sebesar bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang terutang. c. Setiap pengeluaran barang contoh dimaksud dilakukan pemeriksaan fisik oleh Pejabat Bea dan Cukai di KB d. Pemasukan kembali barang contoh dimaksud dari DPIL ke KB dilakukan dengan dokumen BC 2.3 dengan dilampiri copy BC 2.3 pengeluaran terdahulu dan dilakukan pemeriksaan fisik oleh Pejabat Bea dan Cukai di KB. e. Jaminan dikembalikan setelah barang contoh dimaksud dikembalikan ke KB Demikian untuk dimaklumi. Direktur Jenderal u.b. Direktur Teknis Kepabeanan TEGUH INDRAYANA 060054090
EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

43

SIAPA MENGAPA
C. K E N I N D A R T O “Segala sesuatu itu pasti ada suka dan dukanya. Kalau kita lebih cenderung ke sukanya maka kita harus lebih banyak bersyukur dengan demikian kalau ada duka maka dukanya insyaallah akan tertutup dengan sendirinya,” itulah yang keluar dari mulut pegawai yang satu ini ketika ditanya suka dukanya bekerja di Bea dan Cukai. Pegawai yang biasa dipanggil Ken ini mulai bekerja di Bea dan Cukai sejak lulus dari STAN pada 1996. Awalnya ia ditugaskan di Kanwil IV DJBC bagian verifikasi. Kemudian pada 2002 ia dipindahkan ke bagian P2 Kanwil IV DJBC sebagai pelaksana hingga saat ini. Selama bekerja di Bea dan Cukai, Ken yang pada 2001 menyelesaikan S1nya di STEI (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia) Jakarta, jurusan akutansi, merasa pengalaman yang paling banyak ia peroleh adalah ketika bertugas di bagian P2. Pasalnya, ia harus tahu banyak hal seperti pemeriksaan terhadap barang, prosedur kepabeanan, patroli laut dan sebagainya. “Untuk tugas-tugas di luar kantor kita juga harus stand by 24 jam,” ujar Ken. Selama menjalankan tugas, ia mengaku tidak mengalami kendala selama ia mengikuti perintah atasan. Ia merasa, tugasnya di P2 membuatnya semangat untuk belajar lebih banyak tentang peraturan dan belajar bergaul dengan orang lain. Ken yang lahir di Malang, tepatnya 24 Mei 1974 ini merupakan salah satu pegawai di lingkungan Bea dan Cukai yang aktif dalam menekuni olahraga terjun payung. Bisa dikatakan, Ken mempunyai spesialisasi tertentu dalam olahraga terjun payung yakni sebagai wasit atau juri untuk kategori accuracy (ketepatan mendarat). Keterlibatannya sebagai wasit dimulai ketika pada September 2002 ia menggantikan posisi wasit yang kosong pada kejuaraan terjung payung di

L A N M A R T O N Sosok pegawai yang kalem dan pendiam ini sudah tak asing lagi di lingkungan Kantor Pusat Bea dan Cukai. Kemahirannya memainkan organ tunggal pada acaraacara resmi di Kantor Pusat seperti acara pisah sambut pejabat, sudah tidak diragukan lagi. Alan selalu mengiringi artis dalam bernyanyi dan melayani request lagu dari siapa saja, bahkan untuk mengiringi pegawai yang “ditodong” untuk bernyanyi. Bagi Alan, bermain organ tidak hanya di lingkungan Bea dan Cukai saja. Di rumah pun ia kerap menghilangkan stressnya dengan bermain organ. Bahkan pada waktu libur, ia kerap mengisi acara pada pesta khitanan dan pernikahan. Kebolehan Alan memainkan organ ini dirintis sejak masih di bangku SD. Awalnya, ia dibelikan sebuah organ kecil dari orangtuanya. Lantaran melihat bakatnya bermain organ itulah, orang tuanya pun memberikan organ yang lebih bagus. Sejak saat itu pula Alan yang pada awalnya belajar secara otodidak, mulai serius dan giat belajar bermain organ dengan mengikuti kursus. Akhirnya, ketika duduk di bangku SMP, ia sudah bisa mencari penghasilan sendiri berkat bermain organ tunggal pada acara pesta pernikahan maupun khitanan di kampungnya. Dan sejak bekerja di Bea dan Cukai, Alan pun terus mengembangkan kemampuannya bermain organ dengan mengikuti kursus di Purwacaraka. Diluar kedinasan, ia pernah mengikuti lomba band sejabotabek bersama dengan kelompok band Bea dan Cukai yang diselenggarakan oleh Seven Production. Kelombok band Bea dan Cukai yang bernama Borneo mendapat juara I dan dijanjikan rekaman album kompilasi. “Ternyata album tersebut hingga kini nggak keluar,” ujarnya mengenang. Mendengar namanya yang berbau Perancis, WBC sempat mengira ia diberikan nama tersebut berdasarkan nama orang Perancis. Padahal, menurut organis Bea dan Cukai ini, nama tersebut diberikan oleh orang tuanya berdasarkan kepanjangan dari Anak Lanange Martono yang artinya Anak Bapak Martono.

A

F I T R A H A R S A N T Y E G A P U T R I Buah hati pasangan Efriadi dan Muharni yang berkerja di Bea dan Cukai Soekarno-Hatta ini sering disapa Ega..Berkat kerja keras, semangat tinggi dan disiplin, Ega berhasil mengantongi beberapa prestasi dalam dunia olahraga tenis meja. Misalnya saja pada PORSENI SD 2003 ia berhasil menjadi juara I Kodya Padang, di Sumatera Barat. Kemudian pada 2004 kembali menyabet juara I Sumatera Barat. Lalu pada Agustus 2004 ia berhasil masuk 9 besar untuk tingkat Nasional di Jakarta. Pada 2005 ia berhasil meraih juara I Jawa Timur. Sedangkan untuk tingkat nasional di Jakarta yang diadakan Agustus 2005, ia meraih Juara III. Tak hanya itu, pada November 2005, ia berhasil meraih juara I tingkat SD untuk kejuaraan PORDA Jatim di Malang. Pada bulan yang sama ia pun memenangkan turnamen open di Solo, Jateng, tingkat SD. Ega mengaku, sederet keberhasilannya tersebut tak lepas dari dukungan para guru, teman-teman, orang tua (sekaligus manager) serta kontribusi pelatih di Teluk Bayur dan Kediri yaitu Musran Chai. Selain itu juga berkat dukungan dari Koordinator PTM (Persatuan Tenis Meja) Bea dan Cukai Drs. Nofrial MA, Drs. Erlangga Mantik MA dan Maimun SH, MBA. Untuk itu ia sangat bersyukur dengan keberadaan PTM Bea dan Cukai (didirikan pada 7 Januari 2001) yang tetap eksis hingga saat ini. Ia juga merasa bahwa keberhasilannya ini tak terlepas dari motivasi yang ditanamkan dalam dirinya. Ia yakin kalau orang lain bisa mengapa ia

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

Tenggarong, Kalimantan Timur. “Waktu itu saya belum satu tahun menjadi penerjun dan baru pertama kali pula menjadi wasit,” ucap Ken. Alhasil, ia pun banyak belajar dan bertanya pada para seniornya bagaimana menjadi wasit, walaupun pada waktu itu tugasnya sebagai wasit hanyalah mengantarkan hasil juri. “Saya memang ingin tahu lebih jauh mengenai terjun payung. Jadi saya terima saja ditugaskan sebagai wasit maupun atlit, saya siap,” ungkap Ken yang kini memiliki jam terjun sebanyak 100 kali lompatan. Ketika ditanya apakah ia pernah mengikuti pendidikan sebagai wasit terjun payung, Ken mengaku bahwa selama ini tim nasional belum pernah mengadakan pendidikan wasit. Ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Namun demikian, pada ajang international open parachuting championship yang diselenggarakan di Manado pada tahun lalu, Ken yang saat itu bertugas sebagai wasit, berkesempatan mengikuti kursus wasit yang diselenggarakan oleh FAI (Federation Aeronautique Internationale) untuk kategori accuracy. Dari 15 orang peserta kursus wasit, hanya lima orang yang lulus dan Ken salah satu diantaranya. Hingga kini, tercatat sudah enam kali ia pernah bertugas sebagai wasit. Dari enam kali menjadi wasit, ia sangat terkesan dengan kejuaraan di Manado. Pasalnya, selain mengikuti kursus sebagai wasit, ia benar-benar merasakan sepenuhnya tugas sebagai wasit. “Sebab, tadinya kan tugas saya sebagai wasit hanya mencatat nilai dan mengantar hasilnya saja,” imbuh Ken. ats

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2005
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 120.000

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

tidak. “Dan kalau kita mau kita pasti bisa,” ujar Ega yang juga memiliki hobi berenang dan membaca ini. Tak hanya motivasi, giat berlatih dan mengkonsumsi makanan yang sehat serta istirahat yang cukup juga dilakoninya. Ega, yang lahir pada 22 April 1994 ini mengaku bahwa sejak duduk di bangku kelas 2 SD, ia sudah menggeluti dunia olahraga tenis meja. Awalnya ia hanya melihat-lihat saja, lama kelamaan ia pun mulai ikut-ikutan kakaknya bermain tenis meja. Setelah mencoba, ia merasa ketagihan dan senang. Ia pun mulai menggeluti olahraga tenis meja tanpa pernah mengikuti kursus tennis meja. Namun, sejak menjadi juara beberapa kali dan pindah ke Kediri (Juli 2004), barulah ia mengikuti pendidikan khusus tenis meja. Ia pun diasramakan dengan mengikuti program Nusantara di PTM Surya Gudang Garam Kediri yang dipimpin oleh Diana W. Tedjasukmana, SH, MM (mantan atlet dan pelatih nasional). Saat ini, Ega sedang menambah jam latihan untuk ikut International Open Table Tenis Of Indonesia Solo Open I 2006 pada 16 - 19 Pebruari. “Kedepannya, aku ingin jadi juara Sea Games,” harap Ega yang bercitacita ingin menjadi dokter. ats

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 375 FEBRUARI 2006

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Ketika ditanya mengenai karirnya di Bea dan Cukai, ia menceritakan bahwa pada awalnya, ia dan orang tuanya ingin mencari sekolah yang lulusannya langsung bisa bekerja. Maka, ia pun mencoba ikut tes STAN program D1 Bea dan Cukai di Malang. Setelah ikut tes ia pun berhasil lulus dan pergi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Setelah mengikuti pendidikan dan lulus pada 1997, ia langsung bekerja di Direktorat Pabean Kantor Pusat DJBC sampai tahun 2005. Kemudian pada awal 2006, ia dipindahkan ke Direktorat P2 KP DJBC. Ia mengaku, selama bekerja di Kantor Pusat ia tidak memperoleh banyak pengalaman, berbeda dengan pegawai yang bekerja di lapangan. Namun demikian, bekerja di Kantor Pusat membuat ia harus banyak membaca peraturan. Pasalnya, kalau di kantor pelayanan ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, maka kantor pelayanan pasti akan berkonsultasi ke Kantor Pusat. “Itu berarti, Pusat menentukan porsi kebijakan. Sehingga, kita harus banyak membaca peraturan, baik itu peraturan dari Bea dan Cukai juga peraturan di luar Bea dan Cukai seperti Peraturan Perdagangan, Kehutanan dan lain sebagainya,” jelas pegawai yang bermotokan bekerja adalah ibadah, jadi berbuat dan berpikirlah yang terbaik untuk DJBC. Alan mengakui, dalam menyelesaikan masalah pada awalnya ia mengalami kendala lantaran belum pernah bertugas di lapangan. Namun demikian, kalau ada kasus di lapangan maka ia akan mencari solusinya dengan cara mempelajari laporan dari orang lapangan yang dipaparkan secara tertulis. “Dari situ kita berusaha mencari bagaimana cara penyelesaiannya,” kata Alan, kelahiran Bondowoso,1 Desember 1974, diakhir wawancara. ats

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

WARTA BEA CUKAI

45

INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI

Local Area Network

dan Maintenance
J

Sekian lama kita bekerja dengan dukungan teknologi computerize yang saling terhubung, tapi apakah kita sudah cukup mengetahui apakah itu komputer-komputer yang saling terhubung satu sama lain dalam satu ruangan, antar ruangan, kantor bahkan antar kantor atau gedung?
aringan computer lokal atau Local Gambar 1 TIME SHARING SYSTEM Area Network (LAN) relatif memiliki jangkauan yang kecil, kebanyakan LAN dirancang untuk suatu kantor (bangunan/gedung), meskipun suatu LAN dapat terhubung dengan LAN lain yang jaraknya berjauhan dapat terhubung oleh media komunikasi seperti lease line atapun wireless, jaringan antar LAN dengan LAN yang terhubung, kita sebut WAN (wide area network). Pembahasan LAN kali ini akan kita batasi sejauh mana keberadaan LAN yang ada di kantor kita (DJBC). Host Kebanyakan kantor yang terpasang Computer Terminal Terminal Terminal Terminal LAN memiliki konfigurasi (topologi) star. Topologi adalah suatu susunan device duan teknologi komputer dan teknologi atau perangkat yang tekoneksi. Jenis dibuatlah proses beruntun (Batch Protelekomunikasi yang pada awalnya topologi star yaitu topologi atau cessing), sehingga beberapa program berkembang sendiri-sendiri (Gambar 1). susunan network yang menyerupai bisa dijalankan dalam sebuah komputer Memasuki tahun 1970-an, setelah bintang. dengan dengan kaidah antrian. beban pekerjaan bertambah banyak dan Sebelum lebih jauh kita akan meneDitahun 1950-an ketika jenis komputer harga perangkat komputer besar mulai laah apa sebenarnya LAN itu. Koneksi mulai membesar sampai terciptanya super terasa sangat mahal, maka mulailah LAN antara server dan PC, dengan PC komputer, maka sebuah komputer mesti digunakan konsep proses distribusi yang memiliki CPU sendiri-sendiri, yang melayani beberapa terminal. Untuk itu (Distributed Processing). Seperti pada berguna untuk mengeksekusi program, ditemukan konsep distribusi proses Gambar 2., dalam proses ini beberapa akses data dari perangkat manapun berdasarkan waktu yang dikenal dengan host komputer mengerjakan sebuah yang terhubung dengan LAN, yang arnama TSS (Time Sharing System), maka pekerjaan besar secara paralel untuk tinya banyak PC atau user yang dapat untuk pertama kali bentuk jaringan melayani beberapa terminal yang berbagi apa saja termasuk printer, data (network) komputer diaplikasikan. Pada tersambung secara seri disetiap host atau informasi, chatting, berkirim email sistem TSS beberapa terminal terhubung komputer. Dala proses distribusi sudah dan banyak jenis komunikasi lainnya secara seri ke sebuah host komputer. mutlak diperlukan perpaduan yang kita akan menelusuri bagaimana seDalam proses TSS mulai nampak perpamendalam antara teknologi jarah suatu jaringan itu Gambar 2 komputer dan dapat begitu popular dan telekomunikasi, karena banyak dipakai. DISTRIBUTED PROCESSING selain proses yang harus didistribusikan, semua host SEJARAH LAN komputer wajib melayani Konsep jaringan komterminal-terminalnya dalam puter lahir pada tahun satu perintah dari komputer 1940-an di Amerika dari Terminal Terminal Terminal Terminal pusat (Gambar 2). sebuah proyek pengemSelanjutnya ketika bangan komputer MODEL I harga-harga komputer kecil di laboratorium Bell dan Host Computer sudah mulai menurun dan group riset Harvard konsep proses distribusi University yang dipimpin sudah matang, maka profesor H. Aiken. Pada Host penggunaan komputer dan mulanya proyek tersebut Computer jaringannya sudah mulai hanyalah ingin memanTerminal Terminal Terminal Terminal beragam dari mulai faatkan sebuah perangkat menangani proses bersama komputer yang harus maupun komunikasi antar dipakai bersama. Untuk komputer (Peer to Peer mengerjakan beberapa System) saja tanpa melalui proses tanpa banyak Terminal Terminal komputer pusat. Untuk itu membuang waktu kosong Host Computer Terminal Terminal 46
WARTA BEA CUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

mulailah berkembang teknologi jaringan lokal yang dikenal dengan sebutan LAN. Demikian pula ketika Internet mulai diperkenalkan, maka sebagian besar LAN yang berdiri sendiri mulai berhubungan dan terbentuklah jaringan raksasa WAN. Sebetulnya LAN itu dapat di bedakan dari beberapa perbedaan yang mendasar seperti : - Topology; yaitu susunan geometric dari perangkat kerasnya yang menyusun konfigurasinya, seperti topology star, bus atau ring. - Protokol; aturan dan pengkodean untuk mengirim data. Protokol dapat menentukan jenis layanan data dari arsitektur peer-to-peer atau client server. - Media komunikasi; perangkat keras dapat dihubungkan dengan jenis kabel twisted pair, coaxial atau fiber optik bahkan dengan gelombang radio. LAN mampu mentransmisikan data sangat cepat bahkan kecepatannya melebihi transmisi data menggunakan line telepon hanya saja LAN memiliki keterbatasan ruang dan keterbatasan jumlah user yang dapat terhubung dalam suatu ruang lingkup LAN itu sendiri.

FAKTOR-FAKTOR MENDESAIN LAN

Tabel 1.

FAKTOR-FAKTOR MENDESAIN LAN
Untuk mendesain suatu LAN, desain jaringan harus sesuai yang kita perlukan. Apakah jaringan yang akan kita bangun akan berbentuk garis lurus (bus), bintang (star), lingkaran (ring), ataukah jaring (mesh) yang paling rumit? Juga apakah kecepatan transmisi jaringan kita merupakan jaringan rendah sampai menengah (beberapa M s/d 20Mbps), jaringan berkecepatan tinggi (ratusan Mbps) atau berkecepatan ultra tinggi (lebih dari 1Gbps)? Demikian pula media apa yang akan kita gunakan, apakai berbentuk jaringan kabel (wireline) atau memanfaatkan gelombang radio (wireless)? Yang terakhir, apakah jaringan kita untuk jaringan utama (backbone LAN) ataukah jaringan biasa (floor LAN) yang tentu saja memerlukan prasarana yang berbeda (Lihat tabel 1).

yang tidak beraturan namun kelemahannya apabila salah satu media komunikasi putus (cable) maka node yang ada diseberangnya akan putus. Oleh karena itu untuk mengantisipasinya dilakukan pengabelan secara redundan (kabel ganda), jadi kabel yang terpasang ada dua. Dari pengembangan itu maka topology ini dapat berubah sesuai dengan kebutuhan akan kenyamanan network, menjadi topology mesh bahkan full mesh dimana semua node terhubung satu dengan yang lainnya.

MEDIA KOMUNIKASI
Media komunikasi yang banyak dan umum kita gunakan yaitu teknik pengabelan (cabling) yang terdiri dari kabel UTP dan fiber optic (sebagai backbone) dan wireless dengan menggunakan frekuensi radio.

MAINTENANCE
Untuk merawat network butuh sekali biaya yang banyak, namun bagaimana untuk menurunkan cost (biaya) dalam maintenance ini. Karena dalam perwatan suatu network banyak sekali dibutuhkan daya dan upaya mengingat jaringan beacukai tersebar di pelosok negeri. Coba anda bayangkan betapa lelah nya seorang admin bahkan sekelompok admin untuk memantau setiap kegiatan dalam jaringan yang besar, bahkan dengan teknologi yang tinggi belumlah cukup untuk mengontrol itu semua (infrastruktur network dan PC). Itu dibutuhkan bantuan dari para user sebagai pengguna. Ada beberapa hal pokok yang harus dilakukan dan dimiliki oleh para user dimana saja berada. 1. merasa memiliki; apabila kita telah merasa memiliki kita akan menjaga dari segala kerusakan yang dapat terjadi, misalkan saja apabila terdapat virus pada PC, kita akan menyegerakan untuk mencari anti virusnya. Kami telah memfasilitasi dengan menyediakan layanan download antar LAN yang melewati portal beacukai dengan alamat http:// helpdesk.customs.go.id
WARTA BEA CUKAI

PROTOKOL DAN REFERENSI OSI
Protokol yang digunakan untuk PC ke PC yaitu protokol TCP/IP (transport control protocol/internet protocol). Protokol ini berguna untuk menyamakan bahasa dalam beberapa device berbeda dalam suatu network. Jadi protokol itu seperti panyatuan bahasa, dengan sejumlah device yang berbeda. Dibawah ini adalah tabel untuk protokol-protokol dan refernsi OSI (Lihat tabel 2).

TOPOLOGY
Seperti yang telah di jelaskan diatas pada penyusunan Lan di di DJBC menggunakan beberapa teknik konfigurasi diantaranya yang paling mendasar adalah topology star. Topology star yaitu suatu penyusunan network yang mirip dengan bentuk bintang. Kelebihan dari topology ini dapat disusun dengan device dengan node

EDISI 375 FEBRUARI 2006

47

INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI
PROTOKOL DAN REFERENSI OSI
Tabel 2 cara mendownload antivirus pun telah kami sajikan beberapa edisi WBC yang lalu, namun untuk menyegarkan anda akan kami coba ingatkan kembali cara awal dari download anti virus norton 2005 tersebut. a. Unistall terlebih dahulu Norton anti virus yang ada di PC anda dengan cara sbb : click start ,setting, control panel pilih add or remove programs dan hapus semua anti virus yang ada di pc anda - restart PC anda.- Download file anti virus dari : http://helpdesk.customs.go.id , -> pilih Download – antivirus – avg (Gambar 2) untuk lebih jelasnya cara pengisntalan dapat dibaca file SOP di download – Symantec antivirus – SOP install client antivirus. Dapat anda save atau pun hanya buka (open). 2. peduli; ini adalah suatu sifat yang sangat penting sekali dimiliki setiap user. Bukan sekedar sebagai pemakai tapi juga harus dapat mengantisipasi segala keadaan yang mungkin terjadi, dengan memberikan perawatan harian pada PC seperti defrag atau clean files. Peduli ketika PC kotor, dapat membersihkannya secara fisik dan telaten. 3. bertanggungjawab; apabila dalam suatu jaringan yang terhubung ke internet, rasa tanggung jawab itu harus dimiliki, itu mutlak tidak bisa ditawartawar lagi. Karena dengan mengalir keluar suatu komunikasi maka terbukalah beberapa port, yang dapat menjadi pintu masuk juga bagi para netter atau hacker dari luar. Apalagi dengan seringnya anda ber-email, ini harus diwaspadai dengan perhatian yang lebih. Karena ketika anda membuka email saja, peluang terinsfeksi worm dari spam-spam yang terdapat dari email anda itu sangat riskan. Begitu anda buka emial anda maka otomatis anda akan membangunkan ”singa tidur”. Dan bekerjalah virus worm di PC anda. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Begitu banyak PC yang terserang worm BRONTOK.A atau dengan nama lain RONTOK.BRO, padahal worm seperti ini sangat mudah anda kuasai dengan menjalan kan antivirus norton 2005 ter-update. Nah sekarang tinggal bagaimana anda menjalaninya. Lebih aktif untuk merawat atau acuh kepada keadaan yang terjadi. Karena semua jalan hidup harus memilih begitupun pernagkat yang tersaji dengan teknologi tertinggi di meja anda. Akhir kata tanpa itu semua apalah artinya teknologi tinggi dan perangkat yang mahal, itu menjadi sia-sia, karena selain hardware dan software yang terintegrasi tinggi faktor brainware-lah yang menentukan teknologi itu tinggi atau tidak, bermanfaat atau tidak. dit. ikc 48
WARTA BEA CUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

OPINI

Oleh: Gunawan, S.E.

Mutasi
udul di atas selalu menjadi issue utama di institusi ini. Sesuatu yang sangat dinanti-nantikan oleh mereka yang berada di tempat jauh terpencil, mereka yang bertugas di tempat yang “kering”, mereka yang jauh dan sepi dari sanak keluarga, pendeknya mereka yang sedang “menderita”. Mereka yang mengalami salah satu “penderitaan” tersebut barangkali hariharinya hanya dipakai untuk menghitung hari. Kapan saya pindah ? Keadaan akan berbeda seratus delapan puluh derajat bila kita melihat kepada mereka yang sedang berada di kutub yang berbeda. Mereka yang berada di tempat yang “basah”, atau mereka yang berada dekat, berkumpul dengan keluarga dan sanak famili. Wajar apabila mutasi menjadi sesuatu yang mungkin harus dihindari. Mudahmudahan saya tidak pindah ! Masih dalam hitungan belasan tahun, belum puluhan tahun, penulis bekerja pada direktorat tercinta ini. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya sewaktu masih dalam masa pendidikan, kebetulan keterima di PRODIP Keuangan, dengan pola mutasi yang ada seperti sekarang ini. Ternyata setelah menjadi pegawai betulan harus menghadapi kenyataan bahwa sepanjang karier kita harus berurusan dengan yang namanya mutasi siap atau tidak, suka atau tidak. Sesuatu yang tidak sederhana menurut saya. Banyak hal yang justru menghasilkan masalah baru berkaitan dengan perpindahan tempat tugas tersebut. Betapa rumit masalah harus dihadapi. Saya kira dua kutub yang berbeda di atas akan menghadapi masalah yang sama. Secara pribadi, tugas baru, tempat tugas baru, rekan kerja baru, tempat tinggal baru, tetangga baru. Bagaimana dengan mereka yang telah berkeluarga? Ternyata masalah yang dihadapi jauh lebih kompleks. isteri atau suami dan anakanak menjadi faktor penyebabnya.

ANUGERAH DAN BENCANA
kontrak yang kita teken sewaktu diangkat menjadi pegawai negeri ? Menurut saya, kalau kita berpendapat demikian, sama dengan kita beranggapan bahwa semuanya sudah menjadi garis tangan, nasib, atau takdir kita. Dalam suatu pertandingan, kalau kebetulan kita kalah, apakah itu semata-mata memang sudah digariskan bahwa kita bakal kalah? Tidak bijaksana apabila kita tidak berpikir untuk mencari penyebabnya, kenapa kita kalah? Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Bukankah mereka yang berwenang dan peraturan-peraturan yang ada seharusnya mampu memberikan sesuatu yang lebih adil dan pasti. Sebagai ilustrasi sederhana tentang pentingnya sebuah kepastian. Ketika krisis ekonomi terjadi, nilai tukar sangat fluktuatif dan tidak menentu. Siapapun akan sulit untuk mengambil keputusan atau membuat sebuah perencanaan dalam situasi seperti itu. Sebaliknya, jika nilai tukar stabil (pasti) pada level tertentu maka keputusan dan perencanaan akan mudah dilakukan. Hal yang paling utama adalah kita membutuhkan suatu kepastian yang selama ini terabaikan. Sehingga paling tidak kita bisa merencanakan (menyusun) masa depan dengan lebih baik. Adanya perubahan pola mutasi yang dapat memberikan sebuah harapan tentang masa depan yang lebih pasti merupakan sebuah cita-cita. Memang tidak sesederhana itu. Tetapi kenapa tidak dilakukan kalau hal itu untuk sebuah perbaikan. Mungkin wacana ini kedengarannya klise, namun bagi mereka yang telah merasakan akan menjadi sebuah pilihan yang sangat sulit. Mustikah kita pasrah seperti syair dalam salah satu lagu Ebit G. Ade yang sepenggal lirirknya berbunyi “Anugerah dan Bencana... adalah kehendak-Nya. Kita mesti tabah menjalani….”. Mudah-mudahan tulisan singkat ini mampu menjadi penghibur buat mereka yang saat ini belum berkesempatan untuk pindah setelah sekian lama menanti dan selamat buat mereka yang “akhirnya” pindah.

J

BAGAIMANA BISA MERENCANAKAN MASA DEPAN ?
Seseorang yang mendapat sebuah tugas struktural yang lebih tinggi (pro-

mosi) pada kenyataannya belum tentu akan merasa nyaman dan bahagia dengan anugerah jabatan itu. Seorang kepala kantor di daerah terpencil bahkan berniat untuk mengajukan pensiun dini karena keinginannya untuk kembali ke pulau Jawa tidak kesampaian menjelang masa pensiun yang sebenarnya, setelah bertahun-tahun dia hanya muter-muter di wilayah yang dianggapnya membuat dia menderita. Sudah banyak kita mendengar seseorang yang bersedia untuk melepaskan jabatannya asalkan bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Biar menjadi pelaksana tapi dekat dengan keluarga, begitu kira-kira. Tidak berlebihan jika dikatakan sepanjang karier kita harus berurusan dengan masalah mutasi. Artinya, sepanjang masa kerja kita sampai waktu pensiun tiba, kita akan menghadapi suatu ketidakpastian dalam hidup kita. Satu hal, kita tidak bisa merencanakan dengan baik masa depan kita. Berlebihankah? Tidak! Bagaimana kita bisa merencanakan hidup kita dengan baik kalau sepanjang waktu kita harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Di mana saya harus membangun sebuah tempat tinggal, bagaimana seandainya isteri atau suami kita kebetulan juga bekerja, dan yang paling utama bagaimana merencanakan pendidikan anak-anak kita. Semuanya kompleks dan tidak mudah. Sementara, apa sebenarnya yang menjadi kriteria seorang pegawai untuk dimutasi? Faktor-faktor penentu untuk layak atau tidaknya pegawai dimutasi pun masih menjadi “misteri”. Bisa sebagai sarana untuk promosi, karena pegawai yang bersangkutan sudah sekian tahun ditempat yang sama, pegawai yang terkait dengan kasus tertentu, atau untuk kemerataan antara tempat “basah” dan “kering”, atau karena rekomendasi dari seorang pejabat? Wallahuallam. Bagi saya, pola mutasi yang ada selama ini cukup menimbulkan pertanyaan tentang kriteria dan dasar yang dipakai untuk melakukan mutasi seorang pegawai. Bukankah itu sebuah konsekuensi dari

Penulis adalah pelaksana pada Bagian Organisasi dan Tata Laksana Sekretariat KP DJBC
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

49

OPINI

Oleh: Dian Jusriyati, S.E.

KONEKSI
dalah suatu kebutuhan yang mendasar bagi seorang pegawai untuk bisa merasakan kehidupan yang tenang, damai dan bahagia bersama seluruh anggota keluarganya. Unsur dari adanya rasa tenang itu di antaranya adalah fungsi perencanaan hidup keluarga di masa depan serta kepastian akan apa yang telah dan akan diperbuat di kemudian hari, tingkat pencapaian yang diinginkan serta fungsi jaminan hidup bagi keluarganya. Dalam berbagai kesempatan, kebutuhan-kebutuhan mendasar tersebut dapat saja terkalahkan dengan apa yang sering disebut sebagai kewajiban, yang secara terstruktur beralur dapat dijadikan sebagai alat untuk menekan keseimbangan perolehan hak dan kewajiban. Dalam ruang lingkup ini, senatiasa akan selalu ada alasan di mana peraturan tentang kepegawaian serta kebijaksanaan yang ditempuh digunakan untuk memposisikan seseorang atau sekelompok orang pegawai pada keadaan take it or leave it, keadaan di mana memang secara sadar dibiaskan menjadi standar ganda dalam menangani sejumlah keinginan yang tidak tertampung dengan penyelesaian prioritas berdasar unsur like and dislike serta absurditas dari subyektivitas pemberi kebijakan. Dalam hal pemenuhan hak mendasar itulah sebenarnya dibutuhkan suatu acuan yang didasarkan pada kajian-kajian profesionalisme yang tinggi dengan integritas pengabdian terhadap kemanusian secara menyeluruh, mengakomodasikan sebanyak mungkin keinginan yang 50
WARTA BEA CUKAI

PROMOSI, MUTASI dan
bisa ditampung dengan memberikan batasan-batasan, kriteria-kriteria, acuan suatu pencapaian target tertentu dan konsekuensi logis dari pilihan-pilihan yang diberikan dengan berlandaskan pada pola-pola yang telah ditentukan. Kesadaran diri akan pentingnya keseimbangan antara hak dan kewajiban serta penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusian yang diberikan dalam pelaksanaan kebijakan kepegawaian akan berdampak pada peningkatan upaya profesionalisme kerja dan juga peningkatan dengan apa yang saat saling merugikan di antara mereka sendiri. Jadi, saat ini, dirasakan sangat mendesak untuk dilakukan perumusan secara tertulis (konseptual) pada bagian-bagian yang secara langsung bersinggungan dengan kebutuhan dasar pegawai agar fungsi perencanaannya dapat dijalankan.

A

PROMOSI
Sudah jamak terjadi bahwa promosi merupakan alur yang dituju kebanyakan pegawai, akan tetapi, sudah jamak pula bahwa kriteria apa yang menjadikan seorang pegawai mendapatkan promosi tidak akan selalu sama. Memang telah ada aturan mengenai kepangkatan dan jabatan, tapi itu semua biasanya hanya sekedar syarat formalitas, sedangkan syarat utamanya setelah itu adalah adanya “prestasi” yang telah diraih oleh yang bersangkutan. Pengertian prestasi di sini bisa diartikan dengan bermacam makna leksikal. Ambil contoh, seorang pegawai yang bekerja di bidang tertentu yang saat ini banyak digemari, kemudian dia berhasil mengamankan sejumlah barang yang diduga akan diselundupkan atau menyalahi prosedur kepabeanan, atas kinerjanya itu dia mendapatkan penghargaan. Padahal di bidang tersebut biasanya yang diamankan tidak lebih dari seperlima dari total barang yang dengan sengaja maupun agak sengaja dilepas begitu saja. Kemudian ada pegawai yang ditempatkan di bagian arsip bekerja keras setiap hari untuk mengamankan arsip dan membenahi penataannya sehingga terlihat rapi

...SEHARUSNYALAH DIBUAT TOLOK UKUR YANG BAKU PADA TIAP-TIAP BAGIAN PEKERJAAN...
ini sangat sering didengungdengungkan namun implementasinya masih menjadi tanda tanya besar – integritas – suatu kohesivitas yang diinginkan terlaksana pada seluruh lapisan pegawai. Menilik lebih lanjut pada perenungan kalimat-kalimat di atas, kompetensi dari suatu kebijaksanaan (terutama kebijakan yang cenderung subyektif dan tidak ada tolok ukur tertulisnya) dapat menimbulkan distorsi penilaian secara umum pada diri tiap-tiap pegawai untuk selanjutnya masing-masing mengambil langkah-langkah kompulsif yang bisa jadi justru pada gilirannya akan

EDISI 375 FEBRUARI 2006

dan teratur, adakah penghargaan untuknya? Prestasi di sini juga bisa saja diartikan sebagai sering nongol unjuk badan, unjuk kerja, unjuk gigi dan yang paling menyesakkan adalah adanya unjuk dana. Tidak bisa dipungkiri hal-hal tersebut akan mempermudah seseorang untuk mendapatkan promosi dibanding dengan yang tidak mempunyai kemampuan memberikan prestasi seperti dimaksud di atas. Saat ini apabila ditanyakan kepada sebagian pegawai mengenai gambarannya tentang bagaimana cara seseorang agar bisa mendapatkan promosi maka akan dijawab dengan gelengan kepala sebagai tanda ketidaktahuannya. Guna memberikan gambaran kepada seluruh pegawai bagaimana caranya agar bisa mendapatkan promosi, seharusnyalah dibuat tolok ukur yang baku pada tiap-tiap bagian pekerjaan sehingga semua hasil kerja pegawai dapat dinilai dengan seadil-adilnya untuk memenuhi kriteria kecakapannya mendapatkan promosi sebagai penghargaan atas prestasi kerja kerasnya. Sebelumnya bisa diberikan gambaran mengenai tahapantahapan yang harus ditempuh untuk mendapatkan promosi, peniliaianpenilaian yang akan diberikan, mekanisme pemberian penghargaan serta pemberian pengakuan atas prestasi yang telah dicapainya. Rumusan mengenai semua itu dapat disusun dengan melibatkan unsur kepegawaian yang berkompeten dan mempunyai cukup pengalaman dalam menetapkan kebijaksanaan mendasar bagi seluruh pegawai secara adil.

Lalu apa yang diharapkan dari mutasi? Transparansi tentunya. Harus ada suatu pedoman atau acuan yang dapat dijadikan pegangan pegawai untuk bertindak. Acuan maupun pedoman itu harus dibuat dengan mengakomodasikan keinginan-keinginan berbeda yang timbul pada diri masing-masing pegawai, toh tidak semua pegawai di daerah ingin pindah ke kota, tidak semua pegawai ingin ditempatkan di kantor pelayanan tertentu, bahkan ada juga sebagian pegawai yang ingin sampai pensiun tetap di kota kelahirannya. Sangat wajar apabila pilihanpilihan itu diakomodasikan maka akan menimbulkan konsekuensi logis yang harus ditanggung oleh pegawai yang bersangkutan. Demikian halnya dengan acuan untuk menentukan “hukuman” mutasi bagi sebagian pegawai yang dianggap lalai dalam melaksanakan tugasnya. Inipun harus ada pedoman yang jelas dan

oleh akibat langsung dari pengenaan hukuman kepegawaian, akan tetapi bagaimana standarisasi tingkat hukuman dan jauh dekatnya mutasi itu, tidak ada tolok ukur yang secara tertulis dapat dimengerti semua pihak. Perlu juga dipikirkan mengenai jangka waktu mutasi, keinginan untuk tidak dimutasikan, keinginan untuk dimutasikan, keterkaitan antara pentingnya mutasi dengan pembinaan kepegawaian serta kehidupan keluarganya.

KONEKSI
Dalam pengertian gramatikalnya bisa diartikan sebagai hubungan. Terkait dengan judul di atas, koneksi yang dimaksud berhubungan dengan promosi dan mutasi. Koneksi di dalam permasalahan ini tidak hanya terbatas pada hubungan masingmasing pribadi sebagai makhluk sosial, akan tetapi melebar pada pengertian pemberian pelayanan atau akomodasi tertentu, pemberian sejumlah barang atau uang untuk tujuan tertentu, kedekatan primodial maupun bentuk lainnya pada kelompok tertentu, serta bentukbentuk nepotisme kepegawaian yang memberi keutamaan tertentu. Muara dari keseluruhan permasalahan yang timbul dari adanya mutasi maupun promosi dapat dikaitkan dengan adanya koneksi, baik yang berpengertian positif maupun yang berkonotasi dengan hal-hal yang bersifat negatif. Apakah dengan demikian koneksi ini dapat dihapuskan sama sekali? Tentu saja tidak, bagaimanapun koneksi antar pegawai akan tetap terjadi, hanya saja apabila ada standarisasi secara tertulis tata cara untuk mendapatkan promosi serta mutasi maka dengan sendirinya segala macam bentuk koneksi dalam konotasi negatif dapat ditekan seminimal mungkin, apalagi bila memang ada political will dari pegawai-pegawai yang mempunyai kekuasaan untuk semaksimal mungkin memberikan pelayanan kepegawaian dengan mengedepankan norma-norma kemanusiaan, agama dan sosial yang tinggi sehingga keluhankeluhan yang bernada sinis atas kinerja bagian kepegawaian dapat dihilangkan. Bagaimanapun juga kita sepakat untuk menyadari bahwa hidup ini tidak hanya di dunia, maka selayaknyalah apabila kita harus selalu berusaha untuk berguna dan menyenangkan kehidupan sesama. Tetapi, mungkinkah tulisan ini bisa diterima berbagai pihak dengan lapang dada? Wallahualam.

…MUNGKINKAH TULISAN INI BISA DITERIMA BERBAGAI PIHAK DENGAN LAPANG DADA?
transparan untuk menghindari adanya pilih kasih terhadap pegawai atau sekelompok pegawai tertentu yang saat ini lebih sering disebut sebagai “orang kuat” sehingga hampir tidak tersentuh oleh siapapun. Mutasi pada hakekatnya harus dikembalikan pada makna sesungguhnya yaitu “tour of duty”, bukan pada makna lainnya yang pada gilirannya menyengsarakan kehidupan pribadi maupun keluarga sekelompok pegawai tertentu. Penyengsaraan kehidupan pegawai yang diakibatkan oleh mutasi pada hakekatnya adalah kejahatan terhadap kemanusiaan itu sendiri karena pada dasarnya seluruh pegawai mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam mengemban tugas negara yang menjadi tanggung jawabnya. Soal berapa besar atau kecilnya tugas itu, berapa besar tingkat kesalahan yang dilakukannya, berapa besar pengaruh dan kekuasaan yang dimilikinya, semua itu tidak menjadi pembenaran terhadap “hukuman” mutasi seperti yang selama ini berjalan. Pada kriteriakriteria tertentu memang dibenarkan adanya mutasi yang disebabkan

MUTASI
Siapa yang tahu esok hari kita mau dipindah tugaskan ke mana? Apa salah saya hingga saat ini tidak dipindah? Kenapa saya dipindah jauh sementara si A yang jelas-jelas bersalah hanya dimutasikan ke tempat tertentu yang bisa ditempuh tanpa uang SPPD? Mengapa saya hanya setahun di sini sementara yang lain sudah sepuluh tahun? Mengapa si B selalu mendapat tempat pindah yang enak sementara saya tidak? Masih banyak pertanyaan yang dapat dihubungkan dengan kepindahan pegawai, baik dari jajaran pelaksana biasa maupun yang telah menduduki suatu jabatan. Mutasi selalu saja menjadi momok bagi sebagian besar pegawai, tentunya ada juga sebagian kecil pegawai yang tidak takut dengan mutasi karena telah memiliki jurus tertentu untuk menaklukkan kedahsyatan mutasi tersebut.

Penulis adalah Pelaksana pada Kantor Pusat DJBC

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WARTA BEA CUKAI

51

WELCOME TO KANSAI - JAPAN M
Kerjasama bilateral antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang khususnya yang diwakili oleh JICA (Japan International Cooperation Agency), telah menghasilkan beberapa tenaga ahli yang cukup memiliki peranan dalam menjalankan tugasnya. Untuk kali ini negeri sakura kembali menerima beberapa calon tenaga ahli untuk mengikuti pendidikan yang oleh JICA program tersebut diberi nama Youth Invitation Programme, khusus untuk bidang Asean Country Finance.

Yokoso KANSAI - JAPAN
engingat Jepang selintas pikiran kita maka akan terbayang teknologi canggih, sakura yang mekar indah di musim semi atau group-group band beraliran J-Rock yang sekarang lagi naik daun di Indonesia. Memang Jepang begitu banyak memiliki asset yang memberi pengaruh bagi banyak negara di dunia. Lepas dari contoh yang telah disebutkan, ternyata Jepang masih menyimpan banyak potensi lain yang begitu mengagumkan. Parawisata misalnya, kita harus mengacungkan ibu jari bagi Jepang. Sebut saja Kansai sebagai daerah yang menyimpan begitu banyak potensi yang digarap dan ditata dengan sangat rapi dan profesional. Daerah yang meliputi beberapa distrik seperti Osaka, Kyoto, Kobe, dan Nara ini begitu mempesona dengan keunggulannya masing-masing. Pada setiap distrik kita dapat menemukan tempat-tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi, dari mulai tempat bersejarah hingga pusat perbelanjaan modern yang sangat disayangkan jika tidak kita singgahi.

SELAK

MENGIKUTI SELEKSI JICA
Perjalanan penulis ke negeri sakura diawali dengan adanya tawaran dari pihak JICA kepada beberapa instansi pemerintah, bank, maupun swasta untuk publik finance, atau

Oleh: Miskam

52

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

FOTO : ISTIMEWA

yang disebut dengan Youth Invitation Programme, khususnya pada bidang Asean Country Finance. Kesempatan ini merupakan kesempatan emas bagi penulis untuk dapat mengembangkan keterampilan dalam bidang finance, karena tugas yang dijalankan saat ini di DJBC berkaitan dengan bidang finance. Dari hasil seleksi yang dilakukan oleh JICA, akhirnya penulis dapat memenuhi segala persyaratan yang telah ditentukan, bahkan penulis ditunjuk sebagai sub leader dari delegasi Indonesia, yang juga beranggotakan, Kurniawan dari Deplu, Dewi Kartika dari Pemda DKI, dan Putra Hanhika dari Sekneg. Suatu pengalaman yang tiada nilainya karena pelatihan yang berlangsung mulai 16 Mei 2005 hingga 28 Juni 2005, tidak hanya diikuti oleh peserta dari Indonesia saja, melainkan juga oleh ASEAN Countries Member And Japan. Karena ini merupakan pengalaman penulis yang pertama di negeri sakura, maka kesan kagum akan keindahan dan kebersihan negeri sakura yang selama ini hanya terdengan melalui kabar saja, dapat penulis rasakan dengan penuh rasa haru dan penulis ingin menggambarkannya melalui tulisan ini.

KOTA TERBESAR KE-II DI JEPANG
Mengawali perjalanan dari Osaka sebagai kota megapolitan yang menggabungkan antara fasilitas modern dengan warisan budaya, merupakan daerah pertama yang paling strategis untuk selanjutnya mengunjungi distrikdistrik lainnya. Dengan menggunakan Kansai Airport Rapid Service selama 50 menit dan membayar tiket seharga ¥ 1,160 kita akan sampai ke pusat kota ini. Bayangan akan Jepang sebagai negara yang unggul dalam banyak hal meski sudah tergambar sejak menginjakan kaki di Bandara Internasional Kansai akhirnya tersaji juga di depan mata. Osaka sebagai pusat perdagangan terbesar ke-dua di Jepang setelah Tokyo terus berkembang, keunikan geografi yang terus ditata dengan sangat apik dan cermat menjadikan Osaka kota modern yang begitu indah. Dengan banyak kanal yang saling menyilang serta sungai yang mengelilingi, membuat kota ini dikenal dengan sebutan ”Water City” yang bukan berarti Kota Banjir. Kita harus banyak belajar dan bertekad menerapkan disiplin tinggi agar kota Jakarta tercinta bisa menjadi seperti Osaka. Osaka sebagai kota modern yang indah, semakin lengkap dengan banyaknya tourist spot yang tersebar dengan fasilitas penunjang yang sangat baik dan canggih, menjadikan kota ini sebagai kota yang harus masuk dalam agenda liburan. Dari mulai wisata budaya, kota ini memiliki kebudayaan yang tinggi dan terus dipegang teguh oleh para warganya. Di sini kita dapat mengunjungi Osaka Castle Museum of History yang memamerkan bermacam-macam hasil karya seni yang berhubungan dengan

KOTA OSAKA. Kota terbesar nomor dua di Jepang yang syarat dengan aneka ragam pariwisatanya.

kota Osaka, begitu juga dengan National Bunraku Theater yaitu gedung theater yang menampilkan bunraku (pertunjukan kesenian tradisional Jepang). Masih tentang sejarah dan budaya, kita juga dapat mengunjungi Osaka Castle Park (Osaka Castle). Tempat ini merupakan benteng yang dibangun pada abad ke16 oleh Toyotomi Hideyoshi yaitu salah seorang kesatria perang dan pemersatu bangsa Jepang,

PUSAT HIBURAN TERBESAR.
Jika Anda menyukai wisata tekhnologi dan hiburan, maka Osaka-lah tempatnya! Banyak sekali pilihan tempat yang menggoda untuk segera dikunjungi. Universal Studios Japan dan Universal City Walk mungkin menjadi must visit places bagi pecinta film dan tempat permainan. Dengan membeli tiket masuk seharga minimal ¥ 5,500 belum termasuk permainan, kita dapat bersenang-senang

di pusat hiburan yang menampilkan replika dan proses pembuatan dari seriseri film box office dunia yang dibuat di Hollywood. Meskipun harus mengeluarkan biaya tiket masuk yang tidak murah tetapi semua terbayarkan ketika kita memasuki pusat hiburan ini. Sungguh menghibur dan menyenangkan atraksi-atraksi yang disajikan, serta bersiap-siaplah untuk bertemu dengan tokoh-tokoh film idola Anda. Untuk sampai di tempat tujuan ini, kita dapat memilih dua jalur yang bisa kita sesuaikan dengan waktu yang kita miliki. Jika kita ingin lebih menikmati, kita bisa mengambil jalur melalui Osaka Aquarium Kaiyukan. Sebelum melanjutkan ke Universal Studios Japan dan Universal City Walk, terlebih dahulu kita mampir ke Osaka Aquarium Kaiyukan sebagai salah satu aquarium terbesar di dunia dengan mengangkat tema Asia-Pacific Volcanic Zone, dengan membeli tiket masuk ¥
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

53

SELAK
DOK. PRIBADI

GOLDEN TEMPLE. Kuil yang dilapisi emas dan dijadikan pusat kebudayaan dunia.

2,200 Anda bisa melihat pemandangan kehidupan satwa-satwa di bawah laut asia - pasifik. Jika ingin menikmati pemandangan Osaka dari ketinggian, Anda tidak perlu ragu untuk memilih Tempozan Giant Wheel sebagai sarananya, kincir yang sangat besar dan tinggi dapat menghantarkan kita menikmati keindahan Osaka dari atas puncak ketinggian giant wheel ini. Bila Anda pecinta belanja, jangan pernah khawatir karena tepat disebelah Giant Wheel ini terdapat ATC (Asia & Pacific Trade Center) sebagai pusat entertainment lengkap dengan pertokoan, restaurant dan pusat berbagai pertunjukan. Selanjutnya, kita dapat menuju Universal Studios Japan dan Universal City Walk dengan menggunakan kapal penyeberangan khusus yang berada di dermaga Osaka Bay. Kapal-kapal penyeberangan ini disiapkan khusus untuk melayani pengunjung yang ingin berangkat ke Universal Studio. Dengan membeli tiket seharga ¥ 5,000 Anda bisa mengendarai kapal yang sangat nyaman ini untuk sampai ke tempat tujuan.

WARISAN BUDAYA YANG TAK PERNAH PUDAR.
Setelah puas mengelilingi Osaka, maka kota lain yang juga harus kita kunjungi adalah Kyoto. Kyoto merupakan ibu kota dari Kyoto Prefecture yang memiliki luas wilayah 4.612,97 km² dan dihuni 2.563.773 54
WARTA BEA CUKAI

jiwa. Kyoto dulu merupakan Ibu kota Jepang sebelum dipindahkan ke Tokyo, maka Kyoto dikenal juga dengan sebutan The Oldest Capital of Japan. Kyoto merupakan pusat kebudayaan yang penting dan artistic lebih dari ribuan tahun. Selain dikenal sebagai kota budaya, Kyoto juga sekarang dikenal dengan kota pendidikan. Dimana terdapat banyak sekali perguruan-perguruan tinggi di kota ini dengan mutu yang sangat baik. Karena dikenal dengan warisan budaya lampaunya, maka tujuan wisata kota ini pun banyak dipusatkan pada tempat-tempat bersejarah dan kebudayaan. Seperti Golden Temple atau dalam bahasa Jepang-nya disebut Kinkaku-ji Temple, pasti sebuah nama yang sudah tidak asing lagi bagi pendengaran kita. Kuil yang terkenal karena dilapisi emas ini dijadikan sebagi pusat kebudayaan dunia yang terus dirawat dan dilindungi. Untuk sampai ke tempat tujuan termasyur di dunia ini, dari Osaka kita dapat menggunakan kereta JR Tokaido Line atau kereta Hankyu Kyoto Line. Dengan harga tiket yang tidak mahal, kita dapat mengendarai kereta yang nyaman ke stasiun kereta (JR Kyoto station) dan pusat kota Kyoto. Jangan dibayangkan sama dengan kereta di Jakarta karena memang sangat kontras untuk dibandingkan, mungkin secara teknologi dan jenis kereta sama, tetapi kereta ini lebih nyaman karena bersih, tidak coret-moret, bermuatan

penumpang sesuai kapasitas, disamping itu penumpangnya pun disiplin dan memanfaatkan waktunya di dalam kereta dengan membaca, mendengarkan musik atau beristirahat sehingga tidak menimbulkan suasana hiruk-pikuk. Setelah sampai di JR Kyoto Station kita menuju ke Kyoto City Bus dengan berjalan kaki karena jaraknya sangat dekat. Kemudian dilanjutkan dengan mengendarai bus sekitar 25 menit kita akan sampai ke Golden Temple atau Kinkaku-ji temple, dengan membayar tiket masuk ¥ 400 kita dapat melihat salah satu warisan budaya yang terkenal di dunia. Selain Golden Temple, Kyoto masih memiliki warisan budaya lainnya yang bernilai tinggi yaitu Kyoto Imperial Palace. Istana kediaman penguasa yang berdiri lebih dari 1100 tahun ini terlihat begitu elegant dan kokoh. Masih banyak tempat menarik lainnya yang dapat dikunjungi di wilayah Kansai, dan masing-masing mempunyai pesona tersendiri. Kobe, Nara, Shin-Osaka, Koyasan dan beberapa kota lainnya mempunyai obyek wisata yang dapat dihandalkan. Masalah profesionalitas dalam pengelolaannya? Anda tidak perlu meragukannya lagi, begitu pula dengan kenyaman dan keamanan selama di Jepang tidak perlu dikhawatirkan. Jika Anda mempunyai kesempatan, silahkan menikmati pesona Kansai dan berbagi ceritalah dengan sahabat di sekeliling kita untuk sama-sama belajar seperti Jepang untuk kemajuan bersama.YOKOSO KANSAI – JAPAN!!!...

Penulis adalah Pegawai Pada KPBC Tipe A Tanjung Priok III
DOK. PRIBADI

UNIVERSAL STUDIOS JAPAN. Penulis dengan latar belakang universal studios Japan, yang juga merupakan pusat hiburan yang menampilkan replika dan proses pembuatan dari film-film box office.

EDISI 375 FEBRUARI 2006

RENUNGAN ROHANI

SEBAGAI SIMBOL PERSEKUTUAN
(MATIUS 9:9-13)
Makan bersama yang dilakukan oleh Matius dengan Yesus memiliki arti persekutuan dalam penghapusan dosa, keterbukaan hati kita terhadap Kristus, dan transformasi.

Makan Bersama
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh Hidup kekal”. Kunci untuk mendapatkan berkat dan perjanjianNya adalah mau mengakui serta disucikan dari segala dosa yang kita perbuat. Selanjutnya, perkara-perkara besar dapat mengalir dalam setiap orang yang percaya kepada Bapa kita Yesus Kristus. Arti kedua dari makan bersama adalah Keterbukaan hati untuk menerima Tuhan dengan apa adanya. Matius membuka hati kepada Kristus ketika Ia dipanggil untuk menjadi muridNya. Ia tidak memperhatikan resiko apa yang akan terjadi pada dirinya melainkan matanya hanya tertuju kepada Yesus pada waktu itu. Sebagai akibat, ia menerima kasih

K

isah dalam ayat ini merupakan cerita tentang Yesus memanggil seorang pemungut cukai yang bernama Matius yang dikenal juga dengan nama Lewi (Lukas 5:27-32). Adapun tugas dari pemungut cukai adalah mengumpulkan bea yang dikenakan pada barang–barang yang diangkut melalui jalan raya. Pada jaman itu pemungut cukai adalah sebuah pekerjaan yang sangat dibenci oleh masyarakat Yahudi pada jaman itu. Hal itu dikarenakan mereka memunggut cukai lebih kejam dari apa yang pemerintah tetapkan. Oleh sebab itu jabatan pemungut cukai merupakan satu hal yang sangat hina dari pada penjahat. di masyarakat Yahudi pada waktu itu. Namun demikian, Tuhan Yesus dengan penuh belas kasihan memanggil Matius dan menerima dia apa adanya. Alhasil, Matius mau menjadi pengikut Kristus. Sebagai tanda untuk meresponi panggilan sebagai murid Yesus, Matius mengundang Tuhan Yesus dan muridmuridnya untuk singgah sebentar dan makan bersama dirumahnya bersama dengan beberapa rekan-rekan pemungut cukai dan orang–orang berdosa. Bila kita melihat kebudayaan Yahudi pada waktu itu, makan bersama memiliki arti persekutuan. Melihat Yesus bersekutu dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa menimbulkan reaksi keras dari orang-orang Farisi. Mereka merasa keberatan dengan tindakan Yesus dan menyampaikannya kepada murid-murid Yesus dengan mengatakan, “Mengapa gurumu makan bersama–sama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa?” (ayat 11). Ketika keberatan hati dari orang-orang Yahudi diungkapan maka Yesus menjawab dengan sangat arif dan bijaksana, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit (ayat 12). Yesus bersekutu dengan pemungut cukai dan beberapa orang yang berdosa memiliki arti yang sangat penting. Arti penting pertama adalah Yesus tidak menginginkan adanya dosa melekat pada pemungut cukai dan beberapa orang–orang yang berdosa. Ia datang dengan kasih Bapa untuk memberikan keselamatan dan hidup yang kekal bagi mereka yang percaya kepadaNya. Hal ini seirama dengan Yohanes 3 :16 yang mengatakan, ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak Nya yang

DIA AKAN MENJAWAB SETIAP DOA KITA MENURUT KEKAYAAN DAN KEMULIANNYA YANG SEMPURNA
anugerah Allah. Bahkan arti nama Matius disebut dengan Anugerah Allah (Mary H. Widiasih, Biodata tokoh-tokoh Alkitab Perjanjian Baru). Allah kita adalah Allah yang memiliki kasih karunia. Dia dapat masuk dalam hati kita jika kita mau membuka hati untuk menerimaNya dengan segenap hati. Hal ini dapat kita dilakukan dengan membuka hati kita dengan berkomunikasi kepada Dia baik dalam susah maupun sukacita. Komunikasi ini dapat diwujudkan dengan merenungkan firmanNya dan doa setiap hari. Sebab dengan merenungkan firmanNya maka kita mendapatkan rancangan Allah yang jelas dalam kehidupan kita. Hal ini persis seperti yang dikemukakan oleh Daud dalam Mazmur 119:105: FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Selanjutnya, hal lain yang penting berhubungan dengan komunikasi dengan Tuhan adalah doa. Doa merupakan alat komunikasi yang menjembatani kita sebagai anak-anakNya dengan Tuhan. Didalam doa, kita dapat mengutarakan segala pergumulan kita kepada Dia. Seperti Bapa sayang anakNya, Dia akan menjawab se-

tiap doa kita menurut kekayaan dan kemulianNya yang sempurna. Karena janji firmanNya tetap dalam Filipi 4:19 menyebutkan, Allahku akan memenuhi segala keperluanMu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus. Arti ketiga dari makan bersama adalah transformasi (perubahan). Kehidupan dari Matius sebelum bertobat adalah seorang pemungut cukai. Sikap dan sifat pemungut cukai seringkali mengecewakan masyarakat Yahudi pada waktu itu. Hal ini disebabkan mereka secara semena-mena dalam memunggut cukai dari masyarakat setempat, melebihi dari apa yang Pemerintah tetapkan. Namun perubahan besar terjadi pada saat Matius menerima ajakan Yesus. Ia mengalami perubahan dari hidup lama dan mendapatkan kehidupan yang baru sebagai hamba Allah. Sebagai cinta kasihnya kepada Yesus ditujukan dengan mengadakan perjamuan besar untuk Tuhan (lihat Matius 9:10, Lukas 5:29). Lebih jauh, bukan saja Matius yang menikmati perubahan dalam hidupnya namun ada beberapa pemungut cukai dan orang–orang berdosa mengikuti perjamuan yang diselenggarakan oleh Matius. Hal ini mengingatkan kita bahwasanya kita adalah umat ciptaan yang sangat spesial di hadapan Allah. Allah memiliki kerinduan yang sangat besar untuk merubah kehidupan lama untuk digantikan menjadi kehidupan yang dibaharui serta berkenan kepadaNya. Dia tidak pernah terlambat untuk memperbaharui kita secara total. Yesus adalah Allah pembaharu dalam setiap keadaan. Selanjutnya, pembaharuan itu tidak dirasakan untuk diri kita sendiri namun juga bagi lingkungan sekitar kita mulai dari keluarga, kampung, kota, dan yang terbesar adalah bangsa. Yesus adalah Allah yang sempurna dalam jalanNya. Makan bersama yang dilakukan oleh Matius dengan Yesus memiliki arti persekutuan dalam penghapusan dosa, keterbukaan hati kita terhadap Kristus, dan transformasi. Hanya dengan memiliki persekutuan tersebut maka ada jaminan yang tidak tergoyahkan dalam mengarungi dunia yang kelam ini. Sebagai hasil, kita akan menerima berkat dan janji yang luar biasa di bumi dan di surga. Amin
Petrus Titus R Spd, M.hum, Alumnus pengkajian Amerika, UGM Jogjakarta dan Jemaat Surabaya International Christian Fellowship
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

55

Kondisi
S
udah menjadi suatu keharusan pada instansi pemerintah, yang tugas nya sebagai pemungut sumber keuangan negara, dapat memenuhi semua target penerimaan yang telah ditetapkan.. Salah satu pemungut sekaligus pengawas dalam hal perdagangan dalam dan luar negeri, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam lima tahun terakhir ini, untuk target penerimaannya menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini tidak lain karena pemerintah telah memberikan kepercayaan penuh kepada DJBC yang tidak hanya sebagai memungut pajak bea masuk dan cukai tapi juga sebagai fasilitator perdagangan dalam dan luar negeri. Mengenai target penerimaan baik bea masuk maupun cukai yang dibebankan kepada DJBC di tahun 2005, pada awal tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp 12,017,900 triliun untuk bea masuk dan Rp 28,933,600 triliun untuk cukai, atau secara keseluruhan menjadi Rp. 40,951,500 triliun. Target ini dalam kurun waktu sembilan bulan mengalami dua kali perubahan yang disesuaikan dengan adanya perubahan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) oleh pemerintah. Perubahan pertama pada APBN-P I, target penerimaan DJBC berubah menjadi Rp 14,646,500 triliun untuk bea masuk

KEPABEANAN

Perekonomian
PENENTU PEMENUHAN TARGET PENERIMAAN
Tingginya tingkat inflasi dan kurang mendukungnya perekonomian di dalam negeri, menjadi penyebab utama realisasi target tidak terpenuhi. Sementara itu kebijakan internasional di bidang perdagangan, kian tahun kian menjadi kendala yang terus membayangi pemenuhan target penerimaan.
bulan berikutnya pemerintah mengubah APBN-P kembali dan menjadi APBN-P II. Di APBNP-II target yang ditetapkan bagi DJBC cukup besar. Dalam kurun waktu tiga bulan DJBC ditargetkan menghasilkan penerimaan baik bea masuk maupun cukai sebanyak Rp 48,835,300 triliun, atau Rp 16,590,500 triliun untuk bea masuk dan Rp 32,244,800 triliun untuk cukai, ini mengalami kenaikan sebesar 5,97 persen. (Lihat Tabel-I) Menurut Direktur Perencanaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC), Wahyu Purnomo, hingga 30 Desember 2005 target penerimaan baik bea masuk maupun cukai yang berhasil terpenuhi adalah Rp 48.318,129,95 triliun, dengan demikian secara keseluruhan, target bea masuk maupun cukai yang berhasil dicapai oleh DJBC pada tahun 2005 secara prosentase adalah 98,90 persen. “Banyak hal yang mempengaruhi mengapa target tersebut tidak tercapai, salah satunya adalah tingginya inflasi di dalam negeri dan kurang baiknya perekonomian kita pada tahun 2005 kemarin. Selain itu dengan adanya kebijakan internasional di bidang perdagangan seperti AFTA dimana beberapa komoditi tarif nya berubah antara 5 hingga 0 persen, juga ikut menentukan ketidak tercapaiannya target penerimaan DJBC,”papar Wahyu Purnomo. Sementara itu dari dalam negeri sendi-

WAHYU PURNOMO. Upaya optimal DJBC dilakukan dengan melakukan intensifikasi penerimaan dan menekan segala kebocoran-kebocoran yang ada.

dan Rp 31,439,600 triliun untuk cukai atau seluruhnya menjadi Rp. 46,086,100 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 12,54 persen. Angka ini rupanya tidak cukup sampai disitu. Dengan banyaknya faktor perekonomian yang memang sangat membutuhkan dana bagi penyelenggaraan negara, maka pada tiga TABEL-I

PERBANDINGAN TARGET PENERIMAAN TAHUN 2005 MULAI DITETAPKAN APBN HINGGA APBN-P II (JUTAAN RUPIAH)
T NO 1 1 2 URAIAN 2 BEA MASUK CUKAI TOTAL
Sumber Data : Dit.PPKC

A

R

G

E

T APBN-P II 5 16,590,500 32,244,800 48,835,300

KENAIKAN TARGET APBN-P I 6=(4-3)/3 21,87% 8.66% 12.54% APBN-P II 7=(5-4)/4 13,27% 2,56% 5,97% TOTAL 8=(5-3)/3 38,05% 11,44% 19,25%

APBN 3 12,017,900 28,933,600 40,951,500

APBN-P I 4 14,646,500 31,439,600 46,086,100

56

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

TARGET DAN REALISASI PENERIMAAN BEA MASUK TIAP KANWIL BEA DAN CUKAI TAHUN ANGGARAN 2005 POSISI PER 30 DESEMBER 2005 (Juta Rupiah)
KANTOR WILAYAH I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII MEDAN TB. KARIMUN PALEMBANG JAKARTA BANDUNG SEMARANG SURABAYA DENPASAR PONTIANAK BALIKPAPAN MAKASAR AMBON BANDA ACEH JUMLAH TARGET APBN-P II 352,277.47 332,050.98 463,070.59 9,751,117.55 2,477,965.76 443,016.13 2,078,160.12 71,844.98 48,512.95 348,269.50 147,386.95 55,292.24 21,534.52 16,590,500.00 TOTAL PENERIMAAN 305,609.06 222,793.21 190,826.51 9,119,111.31 2,539,400.10 429,256.77 1,668,762.76 46,763.79 41,039.26 367,157.19 93,444.21 71,060.84 16,859.02 15,112,084.03 % DARI TARGET 86.75% 67.10% 41.21% 93.52% 102.48% 96.89% 80.30% 65.09% 84.59% 105.42% 63.40% 128.52% 78.29% 91.09% +/- DARI TARGET TAHUNAN -46,668.68 -109.257.77 -272,244.08 -632,006.25 61,434.34 -13,759.36 -409,397.35 -25,081.18 -7,473.69 18,887.69 -53,942.74 15,768.60 -4,675.50 -1,478,415.972000.

TABEL-II

- Sumber Data : Instruksi Direktur Jenderal Nomor INS-09/BC/2000 tanggal 31 Maret 2000. - Belum dikurangi restitusi

TARGET DAN REALISASI PENERIMAAN CUKAI TIAP KANWIL BEA dan CUKAI TAHUN ANGGARAN 2005 POSISI PER 30 DESEMBER 2005 (Juta Rupiah)
KANTOR WILAYAH I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII MEDAN TG B. KARIMUN PALEMBANG JAKARTA BANDUNG SEMARANG SURABAYA DENPASAR PONTIANAK BALIKAPAPAN MAKASAR AMBON BANDA ACEH JUMLAH TARGET APBN-P II 263,976.21 1,282.88 481.06 116,164.21 969,051.15 8,461,646.24 22,431,364.25 589.41 0.00 20.27 242.44 1.89 0.00 32,244,800.00 TOTAL PENERIMAAN 224,897.82 2,247.50 1,037.45 114,775.99 876,197.42 9,068,077.62 22,886,877.79 738.94 0.00 16.46 1,169.12 27.79 0.00 33,206045.92 % DARI TARGET 85.19% 175.19% 215.66% 124.63% 90.42% 107.17% 102.03% 129.77% 0.00% 81.20% 482.23% 1470.48% 0.00% 102.98% +/- DARI TARGET TAHUNAN -39,096.39 964.62 556.39 28,611.78 -92,853.73 606,431.38 455,513.54 169.53 0.00 -3.81 926.68 25.90 0.00 961,245.91

Tabel-III

- Sumber Data : Instruksi Direktur Jenderal Nomor INS-09/BC/2000 tanggal 31 Maret 2000. - Belum dikurangi restitusi

ri beberapa faktor yang ikut menjadi penyebab ketidak tercapaiannya target penerimaan bea masuk adalah dari beberapa komoditi seperti minyak yang terhitung sejak 1 Januari 2005 lalu tarifnya berubah menjadi 0 persen, padahal minyak juga merupakan salah satu andalan dalam penerimaan bea masuk. Sedangkan untuk komoditi beras, gula dan terigu yang mempunyai andil dalam penerimaan bea masuk masih belum dapat diandalkan. “Untuk cukai target yang ditetapkan

malah melebihi ini cukup membuat kita bangga juga, karena disaat-saat akhir yang sekiranya kita pastikan kelebihan cukai hanya beberapa milyar, namun kenyataannya melebihi hingga satu triliun,”ujar Wahyu Purnomo. Di tahun 2006 target penerimaan DJBC kembali ditingkatkan, namun untuk target bea masuk sedikit mengalami penurunan namun tidak signifikan, sedangkan cukai mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Untuk bea masuk tahun 2006 ini DJBC ditetapkan sebesar

Rp 16,572,600 triliun, sementara itu cukai sebesar Rp 36,519,700 triliun Atau secara keseluruhan target DJBC di tahun 2006 adalah sebesar, Rp 53,092,300 triliun. Jika dibandingkan dengan target penerimaan di tahun 2005 secara keseluruhan memang mengalami kenaikan sebesar 8,72 persen (Lihat Tabel-IV), dan kenaikan hanya pada cukai saja sementara untuk bea masuk sedikit mengalami penurunan. Namun demikian dipertengahan tahun nanti pemerintah kemungkinan akan kembali merubah
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

57

KEPABEANAN
PERBANDINGAN TARGET PENERIMAAN BEA MASUK DAN CUKAI TIAP KANTOR WILAYAH PERIODE TA. 2005 DAN 2006 (dalam juta Rupiah) KANTOR WILAYAH
1 I II III IV V VI VII MEDAN TG. BALAI K. PALEMBANG JAKARTA BANDUNG SEMARANG SURABAYA T BEA MASUK 2005 2006 % PERUBAHAN 2 352,277.74 332,050.98 463,070.59 9,751,117.55 2,477,965.76 443,016.13 2,078,160.12 71,844.98 48,512.95 348,269.50 147,386.95 55,292.24 21,534.52 16,590,500.00 3 345,282.43 305,584.30 231,208.03 9,848,051.14 2,677,488.32 438,994.32 2,036,446.31 64,360.91 43,908.44 368,805.50 121,678.60 72,128.85 18,662.86 16,572,600.00 4((3-2)/2) -1.99% -7.97% -50.07% 0.99% 8.05% -0.91% -2.01% -10.42% -9.49% 5.90% -17.44% 30.45% -13.34% -0.11% 5 263,976.21 1,282.88 481.06 116,164.21 969,051.15 8,461,646.24 22,431,364.25 569.41 0.00 20.27 242.44 1.89 0.00 32,244,800.00 6 284,643.59 4,335.81 703.36 170,466.16 1,024,151.04 8,929,406.16 26,104,277.97 581.67 0.00 15.47 1,117.55 1.22 0.00 36,519,700.00 2005 A R G E T P E N E R I M A 2005 A N TOTAL % PERUBAHAN 7((6-5)/5) 7.83% 237.97% 46.21% 46.75% 5.69% 5.53% 16.37% 2.15% 0.00% -23.68% 360.96% -35.31% 0.00% 13.26% 8 616,253.95 333,333.86 463,551.65 9,867,281.76 3,447,016.91 8,904,662.37 24,509,524.37 72,414.39 48,512.95 348,289.77 147,629.39 55,294.13 21,534.52 48,835,300.00 9 629,926.02 309,920.10 231,911.39 10,018,517.30 3,701,639.36 9,368,400.48 28,140,724.27 64,924.58 43,908.44 368,820.97 122,796.15 72,130.07 18,662.86 53,092,300.00 2006 % PERUBAHAN 10 ((9-8)/8) 2.22% -7.02% -49.97% 1.53% 7.39% 5.21% 14.82% -10.32% -9.49% 5.89% -16.82% 30.45% -13.34% 8.72% CUKAI 2006

Tabel-IV

VIII DENPASAR IX X XI XII PONTIANAK BALIKPAPAN MAKASSAR AMBON

XIII BANDA ACEH JUMLAH

Sumber Data : Dit.PPKC

APBN dan target DJBC kembali dinaikan. “Melihat performan DJBC di tahun 2005 yang belum dapat memenuhi target yang telah ditetapkan, kemungkinan kenaikan itu ada saja, namun kemungkinan juga naik tapi tidak terlalu besar,” ujar Wahyu Purnomo. Satu hal yang cukup menggembirakan juga di tahun 2005, adalah walaupun target hanya 98 persen terpenuhi, namun

DJBC juga berhasil memungut beberapa sektor pajak dalam rangka impor (PDRI) hingga mencapai Rp 60 triliun (Lihat Tabel-IV). Ini menunjukan kinerja DJBC sebagai pemungut pajak bea masuk dan cukai, dapat terimbangi dengan pungutan pajak lainnya yang disertakan pada saat kegiatan ekspor-impor. Upaya DJBC untuk dapat memenuhi target penerimaan baik bea Tabel-V

masuk maupun cukai memang sudah seoptimal mungkin, dengan meningkatkan intensifikasi penerimaan dan berusaha untuk menutup segala kebocoran-kebocoran yang ada, termasuk meningkatkan peranan audit, diharapkan target dapat terpenuhi. Namun sekali lagi kondisi perekonomian dalam negeri ikut menjadi penentu semua itu. adi

REALISASI PENERIMAAN PDRI TAHUN ANGGARAN 2005 (Juta Rupiah)
JENIS PAJAK JANUARI FEBRUARI MARET 3,884,375.20 245,129.09 1,137,773.84 5,267,278.13 4,278.52 5,262,999.62 SEPTEMBER APRIL 3,607,854.78 211,872.17 1,072,480.56 4,892,207.51 9,503.75 4,882,703.76 OKTOBER MEI 3,884,473.90 208,300.75 1,196,092.05 5,288,866.70 10,414.20 5,278,452.50 JUNI 3,687,126.38 230,946.77 1,114,889.82 5,032,962.97 988,09 5,031,974.88 TOTAL a. PPN Impor 2,880,334.79 3,214,502.45 b. PPnBM Impor 192,716.72 201,142.29 c. PPh Impor 850,379.28 971,244.74 Total Bruto Restitusi Total Netto JENIS PAJAK 3,923,430.80 4,386,889.48 0.00 944,482.91
Sumber Data : Ditjen. Perbendaharaan per 30 Desember 2005

3,923,430.80 3,442,406.57 JULI AGUSTUS

NOVEMBER DESEMBER 3,663,311.04 188,549.98 995,587.30 4,847,4468.32 13,834.25 4,833,614.07

a. PPN Impor 3,679,830.65 4,126,793.09 b. PPnBM Impor 226,829.11 244,350.19 c. PPh Impor 1,116,175.32 1,219,753.14 Total Bruto Restitusi Total Netto 58 5,022,835.08 5,590,896.42 13,871.41 2,077.89

4,652,338.38 4,382,792.74 220,715.87 193,338.73 1,347,156.31 1,332,673.46 6,220,210.55 5,908,804.93 2,222.44 6,490.32

4,189,375.91 45,853,109 139,687.18 2,503,578 1,179,448.61 13,533,654 5,508,511.70 61,890,342 13,545.65 1,021,709

5,008,963.67 5,588,818.53

6,217,988.11 5,902,314.61

5,494,966.05 60,868,633

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

RUANG KESEHATAN

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

S

Makanan
untuk menghindari berkurangnya cairan tubuh melalui keringat Pada bayi, anak-anak dan orang tua sangat rentan untuk terjadi dehidrasi. Yang mempunyai penyakit kronis dan gangguan imunitas, keracunan makanan dapat menjadi fatal. Maka pada kelompok beresiko ini sebaiknya segera konsultasikan. Gejala-gejala lain yang perlu dikonsultasikan ke dokter antara lain bila terjadi : l Kesulitan makan, berbicara atau bernapas, gangguan penglihatan, air kecil berkurang, dan saat mencubit kulit di punggung tangan kulitnya tetap dalam bentuk saat dicubit atau kembali keposisi semulanya lambat. Untuk mencegah atau menghindari kita terkena keracunan makanan, caranya dengan menjaga kebersihan makanan minuman dari mulai persiapan, penyimpanan dan pengolahan makanan minuman tersebut. Bakteri dalam makanan akan berkembang lebih cepat bila makanan berada di ruangan dengan temperatur kamar. Akan lebih aman bila tersimpan dalam lemari es (suhu dingin) karena dapat menghambat pengembangbiakan bakteri. Yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko makanan terkontaminasi antara lain : l Cuci tangan dengan air hangat dan sabun paling sedikit 20 detik sebelum dan sesudah mengelola makanan. Terutama setelah memegang daging mentah dan telur. Bila ada infeksi atau luka ditangan gunakan sarung tangan plastik. l Penyimpanan daging, ikan, ayam mentah dilemari es ditutup dan terpisah dari bahan makanan lain. l Menyimpan bahan makanan sedapat mungkin dalam wadah kedap udara dan perhatikan tanggal kaduluarsa makanan. l Makanan beku bila akan dimasak dibiarkan dulu sampai tidak membeku lagi. Sesudah diolah jangan dibekukan lagi. l Makanan tersisa setelah dingin disimpan dalam keadaan tertutup dilemari es. l Perhatikan suhu lemari es agar sesuai seperti yang direkomendasi dan secara rutin dibersihkan. l Cuci papan pemotong daging dengan air hangat dan sabun. Setelah itu keringkan. l Bersihkan bagian permukaan dapur dengan air hangat dan disinfektan (cairan anti kuman). Mudah-mudahan saran-saran ini dapat membantu anda dalam menghadapi keracunan makanan.
WARTA BEA CUKAI

Keracunan

aya ingin menanyakan pada dokter bagaimana untuk melakukan pertolongan pertama pada orang yang mengalami keracunan makanan ? Lantas langkah-langkah apa saja untuk menghindari kita dari keracunan makanan ? Dan bagaimana untuk merawat si sakit yang keracunan ? LINDA – Jakarta

JAWAB :
Keracunan makanan adalah keluhan atau gejala mendadak timbul yang disebabkan karena mengkonsumsi makanan minuman terkontaminasi oleh racun atau bakteri. Makanan minuman tersebut dapat saja terasa biasa. Mendiagnosa keracunan makanan mudah, antara lain bila sekelompok orang setelah mengkonsumsi makanan yang sama mengalami gejala yang sama antara lain muntah dan diare. Gejalanya dapat timbul dalam hitungan beberapa jam atau hari. Biasanya gejala yang timbul berhubungan dengan saluran pencernaan. Tapi dalam beberapa kasus gejala yang timbul bisa dalam bentuk kelemahan otot, kelumpuhan, gejala seperti flu dan lain-lain. Biasanya gejala keracunan yang ringan akan hilang atau sembuh sendiri dalam waktu 1-2 hari. Bila sudah melebihi 34 hari konsultasikan pada dokter. Prinsip menolong orang yang keracunan adalah mencegah terjadinya kekurangan cairan tubuh (dehidrasi) lebih lanjut pada orang tersebut. Langkahlangkahnya antara lain : l Banyak minum boleh oralit, teh manis, air soda atau minum pengganti ion tubuh lainnya. l Makan diberi makanan lunak (bubur) dan yang mudah dicerna. l Usahakan konsumsi air sekitar 500 ml setiap 1-2 jam selama gejala diare masih ada. l Jangan berikan susu pada anakanak karena dapat meningkatkan frekwensi diarenya kecuali untuk ASI dapat diteruskan. l Hindari udara panas atau matahari

l l

l l l l

kelemahan otot/kelumpuhan Suhu tubuh meningkat panas Muntah-muntah yang berlebihan sehingga makanan atau minuman tidak dapat masuk Diare yang berlanjut lebih dari 1 atau 2 hari Nyeri perut yang terus menerus Diare terdapat darah Ada tanda-tanda dehidrasi yaitu rasa haus berlebihan, mulut kering, buang

EDISI 375 FEBRUARI 2006

59

PERISTIWA

THE 9 ASIANA AND NUAE INTERNATIONAL OPEN

th

Tim Persatuan Terjun Payung Bea dan Cukai (PTPBC) mengirim seorang wasitnya pada kejuaraan internasional tersebut.

Parachuting
Championship

P

ACCURACY. Peserta dari Indonesia mendarat di atas electric pad untuk kategori accuracy (ketepatan mendarat).

ada 1 – 10 Desember 2005 yang lalu, bertempat di kota Umm Al Quwain, United Arab Emirates (UAE), diselenggarakan dua kejuaraan internasional terjung payung, yakni The 9 th Asiana Parachuting Championship dan NUAE Internasional Open Parachuting Championship. Asiana Parachuting Championship merupakan agenda rutin kejuaraan terjun payung yang anggotanya adalah negara-negara di kawasan Asia. Sementara NUAE merupakan ajang internasional bagi para penerjun diseluruh dunia. Dengan demikian, para peserta yang ambil bagian dalam Asiana Parachuting Championship secara otomatis ikut serta dalam kejuaraan NUAE International Open. Kategori yang dilombakan dalam ajang tersebut antara lain accuracy (untuk men and women), formation skydiving (FS), canopy formation (CF) dan style. Untuk kategori CF dan FS masing-masing tim terdiri dari 4 penerjun plus satu orang kameramen. Sedangkan untuk accuracy (ketepatan mendarat), satu tim terdiri dari 5 penerjun yang berhak ikut bertanding dalam kategori style. Para peserta yang ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut antara lain berasal dari Thailand, Malaysia, Mesir, Rusia, Singapura, Kazakhstan, Morocco, UAE, China, DPR Korea (Korut), Austria, Indonesia, Syria, Kanada, Slovakia, Jordania, Great Britain, Hongkong, Italy, Jerman, Australia, Jepang dan Czecho. Selain mengirimkan penerjunnya, setiap tim diminta untuk mengirim satu orang wasit internasionalnya dalam ajang tersebut. Demikian pula tim dari Indonesia, FASI (Federation Aero Sport Indonesia) mengirim seorang wasitnya yang berasal dari PTPBC yakni C. Ken Indarto. Pada kejuaraan itu sendiri Indonesia diwakili oleh tim dari Polri yang terdiri dari 10 penerjun yang ikut bertanding dalam kategori accuracy (men and women) dan dua orang official (sebagai team leader dan head of delegation). C. Ken Indarto yang juga merupakan pelaksana P2 Kanwil IV DJBC mengakui, pengalamannya sebagai wasit di ajang international open parachuting championship di Manado beberapa waktu lalu, yang

60

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WBC/ATS

menjadi bekalnya selama menjadi wasit di UEA. Sebab pada saat di Manado, selain menjadi wasit ia sekaligus mengikuti kursus wasit internasional dan berhasil memperoleh sertifikat pengakuan sebagai wasit dari FAI (Federation Aeronautique Internationale). Hasil dari pertandingan tersebut adalah sebagai berikut, untuk kategori CF dijuarai oleh Thailand, Malaysia dan Mesir. Untuk FS dimenangkan oleh Russia, Singapura dan Kazakhstan. Sedangkan untuk accuracy individual women seluruhnya dimenangkan oleh China. Sementara untuk accuracy individual men disabet oleh Syria, China dan Korea. Untuk kategori accuracy team women diraih China, Kazakhstan dan Korea, dan untuk accuracy team men diraih oleh China, UAE dan Korea. Juara untuk kategori style women dimenangkan oleh China dan Kazakhstan (juara II dan III). Sedangkan style men diraih China (juara I dan II) dan Kazakhstan.

KEN INDARTO. penyeleggaraan kejuaraan parachuting di Manado, Indonesia, masih lebih baik dari UEA.

INDONESIA JAUH LEBIH BAIK

Menurut Ken, penyelenggaraan kejuaraan internasional parachuting di Manado, jauh lebih baik dari UEA. Pasalnya, walaupun kala itu Indonesia baru pertama kali menyelenggarakan kejuaraan internasional parachuting, namun secara organisasi, Indonesia jauh lebih baik dari UEA. “Contohnya saja, sejak kami tiba di bandara, saya harus menunggu 16 jam untuk keluar dari bandara dan selama itu pula kami tidak ditemani oleh satu orangpun pihak panitia disana,” ungkap Ken. Tak hanya itu, setibanya di hotel, para penerjun termasuk official dan wasit ditempatkan di satu kamar dengan kapasitas yang hanya cukup untuk empat orang saja. Kemudian pada saat pertandingan dimulai, tidak satupun panitia dari UEA yang muncul. Akhirnya, pihak Asiania mengambil alih dengan mengeluarkan berbagai macam kebijaksanaan. Demikian pula untuk urusan manifest, pihak panitia tidak ada yang menghandle, alhasil para wasit mengambil alih kegiatan itu. “Sehingga, saya hanya menjadi wasit pada dua pertandingan accuracy saja, sebab selebihnya saya bekerja di manifest, padahal manifest bukan urusan wasit,” jelas Ken. Namun WASIT. Ken (paling kiri bawah) berpose bersama para wasit dari berbagai negara

demikian diluar itu semua, seluruh pertandingan berjalan dengan lancar, tidak ada protes dari peserta dan zero accident. Yang patut dicatat, untuk menghindari kecurangan oleh para penerjun kategori lomba accuracy, pihak penyelenggara pertandingan menggunakan electric mat (yang lebarnya 1,4 x 1,4 m) yang diletakan dibawah electric pad, sehingga ketika penerjun menyentuh electric mat maka pada layar electric langsung terlihat angka yang diperoleh. Dalam pertandingan itu sendiri,

tim dari Indonesia tidak berhasil memperoleh juara. Namun hal itu diakui Ken karena kurangnya jam terjun para penerjun. Sebagai contoh, untuk penerjun senior di tim Polri, jam terjunnya hanya 2500 kali lompatan. Sedangkan tim China, sekedar untuk latihan saja terjun sebanyak 600 kali lompatan. Tim PTPBC sendiri tidak menurunkan para penerjunnya pada pertandingan itu. Pasalnya, PTPBC tengah mempersiapkan diri untuk event serupa di Malaysia. Tetapi ternyata Malaysia membatalkan event tersebut. Alhasil karena PTPBC sudah terlanjur menolak, akhirnya tim Polri yang kemudian mengisi event Asiana. Diakhir wawancara Ken mengatakan bahwa tim PTPBC sangat potensial untuk mengangkat nama instansi Bea dan Cukai sekaligus nama bangsa Indonesia. Menurutnya, fasilitas untuk berlatih terjun banyak tersedia dan tidak mahal. Sebab ketika latihan, penerjun bisa bekerjasama dengan tim lainnya sehingga biaya yang dikeluarkan bisa lebih minim dibandingkan dengan berlatih terjun sendiri. “Jadi, disini tinggal kemauan dari anggota PTPBC saja untuk memajukan dirinya dan juga dukungan dari atasan masing-masing. Saya sendiri mengucapkan terima kasih atas dukungan yang selama ini diberikan oleh ketua PTPBC, Dirjen Bea dan Cukai dan Ketua FASI,” imbuh Ken mengakhiri pembicaraan. ifa
FOTO : KEN

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WARTA BEA CUKAI

61

PERISTIWA
WBC/ATS

DITANDATANGANI. Enam dari enam belas perjanjian kersama Indonesia dengan Jordania berhasil ditandatangani oleh masing-masing Sekjen perdagangan.

INDONESIA MENANDATANGANI ENAM MOU DENGAN JORDANIA
Sejak pertemuan kedua di tahun 1996, Indonesia dan Jordania sepakat akan melakukan kerjasama di bidang ekonomi, namun tidak kunjung terwujud. Akhirnya setelah sepuluh tahun dari pertemuan itu, sebanyak enam dari 16 bidang kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan Jordania disepakati dan ditandatangani.

I

ndonesia mempunya nilai penting bagi Jordania dalam hal perekonomian, hal ini terbukti dengan terus meningkatnya nilai ekspor dan impor dari kedua negara yang hingga kini masih berstatus sebagai negara berkembang. Kerjasama Indonesia dengan negara timur tengah khususnya dengan Jordania, memang sudah terjalin sejak lama, bahkan kunjungan masing-masing kepala negara sudah berlangsung sejak sepuluh tahun lalu. Dari pertemuan delegasi Indonesia ke Jordania di tahun 1996 dimana negara ini menginginkan kerjasama yang lebih baik lagi, disambut dengan baik oleh Indonesia sebagai patner dalam berbisnis. Kendati dari kerjasama tersebut belum terwujud dalam bentuk Memodandum of Understanding (MoU), namun peningkatan nilai ekspor dan impor dari kedua negara terus meningkat.
WARTA BEA CUKAI

JORDANIA, PASAR YANG MENJANJIKAN
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hubungan perdagangan kedua negara selama lima tahun terakhir (2000-2004) menunjukan peningkatan dengan tren rata-rata 31,08 persen, dengan nilai ekspor mencapai US$ 333,1 juta dan impor mencapai US$ 22,5 juta, yang keseluruhannya adalah bidang non migas. Sementara dalam periode JanuariSeptember 2005, total perdagangan kedua negara mencapai US$ 137,7 juta, di mana nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 119,8 juta, sementara untuk impor US$ 17,8 juta. Dengan hasil ini neraca perdagangan kedua negara selama priode tersebut selalu menunjukan surplus bagi Indonesia. Untuk komoditi utama yang diekspor Indonesia ke Jordania adalah, minyak

sawit, plywood, whiteboard, partical board, kertas, alat tulis lainnya, tekstil, alat keperluan rumah tangga, gelas, keramik, ban mobil, suku cadang mobil, furniture, tuna dalam kaleng, teh, kopi dan rempahrempah, serta produk plastik lainnya. Sementara impor Indonesia dari Jordania sebagian besar adalah pupuk buatan pabrik dan pupuk alam kasar atau calcium phosphate. Dengan komoditi yang cukup banyak diekspor oleh Indonesia mencerminkan potensi pasar Jordania memang cukup menjanjikan, hal ini terlihat dari GDP Jordania di tahun 2004 mencapai US$ 11,51 milyar dan pendapatan perkapita JD (Jordan Dinar) 2,173 atau sekitar US$ 3.100, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai kurang lebih 7,5 persen. Melihat potensi yang besar tersebut, baik Indonesia maupun Jordania

62

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WBC/ATS

berusaha untuk menjadikan jalinan kerjasama itu menjadi lebih baik lagi. Masih banyaknya faktor teknis diantara kedua negara menyebabkan perjanjian tersebut tertunda hingga 10 tahun. Kini setelah melakukan beberapa kali pertemuan, akhirnya kedua negara sepakat untuk membuat kesepakatan bersama yang dinilai menguntungkan bagi kedua negara. Perundingan yang berlangsung selama dua hari 17-18 Januari 2006 dan bertempat di Hotel Borobudur Jakarta, akhirnya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Sebanyak enam dari 16 perjanjian kesepakatan ditandatangi oleh kedua negara. Untuk Indonesia penandatangan diwakili oleh Sekteraris Jenderal Departemen Perdagangan, Hartanto, sementara untuk Jordania diwakili oleh Sekretaris Jenderal Departemen Perdagangan, DR. Mutaser.

ENAM KESEPAKATAN YANG BERHASIL DITANDATANGANI
Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Internasional Departemen Perdagangan, Heru Susanto, perjanjian tersebut masih menyisakan 10 bidang lagi karena belum ada kesepahaman antara kedua negara.”Ke 10 bidang itu masih berkaitan dengan perdagangan dan salah satunya adalah bidang kepabeanan. Untuk bidang kepabeanan ini kita masih menunggu kesepakatan antara kedua Menteri Keuangan dari Indonesia dan Jordania, sedangkan yang lainnya masih dalam proses penelitian,” papar Heru Susanto. Hal tersebut juga di amini oleh Sekjen Departemen Perdagangan, Hartanto, yang menurutnya kerjasama di bidang kepabeanan memang sangat diperlukan, apalagi ke depan nanti Indonesia juga akan menganut sistem Asean Single Window (ASW), namun karena belum adanya kesepahaman akan sistem tersebut maka perjanjian di bidang kepabeanan belum dapat dilakukan.
WBC/ATS

KONPRENSI PERS. Kedua delegasi saat memberikan konprensi pers tentang apa yang baru saja ditandatangani oleh kedua negara

HERU SUSANTO. Untuk bidang kepabeanan masih menunggu kesepakatan Menteri Keuangan kedua negara.

Adapun ke enam pejanjian kesepakatan yang berhasil di tandatangai pada The 3’ Joint Commission Meeting on Trade and Economic Cooperation Between The Republic of Indonesia and The Hashemite Kingdom of Jordan, adalah : A) Mou Between Jordan Enterprise Development Cooperation (JEDCO) and National Agency for Export Development (NAFED). Tujuan perjanjian kerjasama ini adalah untuk meningkatkan pengembangan dan diversifikasi perdagangan yang bermanfaat bagi dunia usaha di kedua negara (misalnya promosi dan pertukaran informasi) B) MoU Between the Investment coordinating Board of the Republic Indonesia and the Jordan Investment Board of the Hashemite Kingdom of Jordan Concerning the Establishment of the joint Investment Committee and Fostering Business Partnership between the Indonesia and Jordan Private Firms. Tujuan perjanjian kerjasama ini adalah untuk memperkuat business partnership antara kalangan pengusaha Indonesia dan Jordania melalui pembentukan komite investasi bersama (Joint Investment Committee). C) MoU between Batam Industrial Development Agency (BIDA) and Jordan Free Zone Cooperation (JFZC). Tujuan perjanjian kerjasama ini adalah memperkuat dan memperluas dalam kerangka kerjasama free zone. D) MoU between the Ministry of Environment of the Republic of

Indonesia and the Ministry of Environment of the Hashemite Kingdom of Jordan in the field of Environment Protection and Resources Preservation. Tujuan perjanjian kerjasama ini adalah untuk mengembangkan dan memelihara perlindungan lingkungan hidup, preservasi lingkungan serta penurunan tingkat polusi. E) MoU between the Ministry of Health of the Republic of Indonesia and the Ministry of Health of the hashemite Kingdom of Jordan in the field of Health. Tujuan perjanjian kerjasama ini adalah untuk upaya pengembangan di bidang kesehatan (seperti pertukaran SDM, informasi dan lain-lain) F) MoU on Cooperation Between the National Standarization Agency of Indonesia (BSN) and Jordan Institution for Standars and Metrology (JISM) on Standarization and Metrology and Other Related Activities. Tujuan dari perjanjian kerjasama ini adalah untuk peningkatan kerjasama teknis dan ilmiah di bidang standarisasi, metrologi, sertifikasi, akreditasi dan pertukaran informasi. Dengan ditandatanganinya ke enam perjanjian kerjasama tersebut, maka Indonesia dan Jordania berharap perekonomian kedua negara dapat lebih baik lagi. Sementara untuk ke sepuluh perjanjian yang masih belum dapat terlaksana, kedua negara berharap dalam waktu yang tidak lama lagi semuanya dapat terwujud. adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

63

RUANG INTERAKSI

Oleh: Ratna Sugeng

Mungkinkah ?
Dalam beberapa Jurnal Psikologi dan Psikiatri didefinisikan sebagai pengalaman ketidak berdayaan atas dorongan yang tak terkendali untuk mendapatkan cinta.

ADIKSI CINTA
Mendekati baginya bukan hal sulit, karena ia memang pandai bercerita dengan topik menarik. Apa yang dicari dari setiap orang yang didekatinya adalah kehangatan perhatian, kekaguman, dan keintiman. Berkali ia mencari, berulangkali ia merasa mendapatkan, berulangkali ia menyesal, merasa bersalah atau kecewa. Rasa tak nyaman ini ia tutupi lagi dengan mencari cinta baru, demikian lingkaran yang tak pernah putus. Hubungan dengan suami tetap bertahan sampai saat ini. Suaminya tidak pernah bertahan lama, karena memang tak dapat mempertahankan kekaguman dalam jangka panjang. Ia selalu gagal memuaskan dirinya untuk memperoleh kehangatan hubungan relasi antar manusia, seperti memberikan atensi, berbagi perasaan dan pikiran, saling mendukung dalam suka dan duka. Ia hanya memperoleh kebutuhan fisik, yang mula-mula meningkatkan harga dirinya, menurunkan kecemasan atau stres dari pekerjaannya, kekaguman sesaat dari ’pemuja’nya. Setelah itu ia merasa kosong, hampa, tak berdaya secara psikologik. Sampai pada titik ini ia merasa menyesal, tak ingin lagi mengulang, menjauhkan diri beberapa saat dari ketertarikan cinta, namun hal ini tak pernah bertahan lama, terulang lagi kisah sebelumnya dengan perempuan lainnya.

B

eberapa bulan ini saya kembali bekerja di kalangan adiksi. Addiction dalam bahasa Indonesia oleh kalangan terapis kita diterjemahkan sebagai adiksi, yang berarti ketergantungan. Tentu saja pemerintah membuat Rumah Sakit Ketergantungan Obat karena banyaknya kasus ketergantungan obat, bukan membuat rumah sakit ketergantungan cinta. Cinta, seperti juga adiksi lainnya menimbulkan gangguan fisik dan psikologik serta membuat penderitaan bagi individu itu sendiri dan lingkungannya. Dalam perjalanan berhadapan serta berproses dengan klien dan keluarga, terapis di seluruh dunia, akan berhadapan dengan adiksi lainnya, termasuk adiksi cinta. Penulis tersentuh pikiran tentang hal ini ketika teman dari FEMINA mengajak berdiskusi tentang hiperseksualitas, yang identik dengan adiksi seks dan lebih lebar lagi, adiksi cinta. Kami menelusuri kasus yang masuk dalam benak kami, menemukan hal-hal menarik dari pecandu cinta, dari para love-addict. Untuk hal ini saya juga ingin berbagi dengan teman-teman WBC. Rita, bukan nama sebenarnya, 37 tahun, telah berulang kali datang pada saya untuk konseling tentang penderitaan dirinya kecanduan cinta. Ia menikah, mempunyai dua orang anak, suaminya warga negara asing. Rita tak pernah berhenti mencari cinta, kemanapun ia beraktivitas seperti ke pesta, salon, klinik, rumah sakit ia selalu mencari perhatian lakilaki dan harus dapat mendekatinya.
WARTA BEA CUKAI

BAGI TEMAN KERJA, HINDARI BERADA HANYA BERDUA DENGANNYA...
seorang wiraswasta berhasil yang waktunya habis untuk bisnis dan judi. Lain lagi cerita Herman, bukan nama sebenarnya, sekarang 52 tahun. Ia senantiasa haus akan cinta. Ia menikah dengan dua orang perempuan, mempunyai banyak anak. Ia pengusaha cukup berhasil. Ia datang pada saya karena masalah anak-anaknya yang kecanduan heroin, kemudian klien saya bertambah dengan dirinya yang kecanduan cinta. Ia senantiasa memikat perempuan di kesempatan apa saja sejak usianya masih belia. Ia selalu berhasil. Hubungan keterpikatan

ADIKSI CINTA
Dalam beberapa Jurnal Psikologi dan Psikiatri didefinisikan sebagai pengalaman ketidak berdayaan atas dorongan yang tak terkendali untuk mendapatkan cinta. Jika dorongan terlampiaskan, apa yang didambakan tak pernah terujud, menimbulkan rasa bersalah, dan berjanji pada diri untuk tak mengulang, memahami konsekuensi buruk atas dampak perilakunya, namun tak kuasa mengendalikan dorongan untuk mengulang lagi. Adiksi cinta bukan semata dorongan nafsu seks atau ditentukan oleh jenis aktivitas seksual dan frekuensi melakukan aktivitas tersebut, namun suatu dorongan tak

64

EDISI 375 FEBRUARI 2006

terkendali, berulangkali terjadi, disadari konsekuensinya, tindakan ini merespon kebutuhan emosional yang bersifat non seksual. Hubungan itu sendiri dapat berjalan dengan baik, namun tak mampu memenuhi ‘pencarian’ guna memenuhi kebutuhan dibalik itu. Ketertarikan cinta hanya pada saat memulai kontak, namun tak dapat memenuhi harapan mental emosionalnya.

mempertimbangkan hubungan persahabatan, kesehatan, pekerjaan dalam mengejar impuls yang tak terkendalikan.

HIDUP DENGAN PECANDU CINTA
Pecandu cinta juga memberi dampak perilakunya pada keluarga, pasangan dan rekan kerja. Para pecandu cinta seringkali mendorongkan desakan impuls tak terkendalinya untuk berakhir pada hubungan intim. Orang sekelilingnya sering menjadi target sasaran, sehingga kerapkali orang seputar merasa terancam dan tak tahu kapan waktunya menjadi sasaran. Bagi

GEJALA
Para ahli berpendapat bahwa cinta atau hubungan intim hanya digunakan sebagai alat untuk melarikan diri menghindari stress, kendala emosi, kecemasan, rasa malu, ketersingkiran dari lingkungan. Hubungan intim dirasakan sebagai peningkat rasa keberdayaan atau peningkatan penguasaan atas diri seseorang. Biasanya adiksi atau ketergantungan ini tak berdiri tunggal, ia disertai dengan ketergantungan lainnya seperti adiksi kerja atau bahan kimia. Para pecandu meningkatkan rasa percaya dirinya dari rasa inferioritas, disingkirkan atau diabaikan lingkungan dekatnya.

KONSEKUENSI
Lingkungan sekitar pecandu cinta menerima dampak dari perilaku adiksi ini, seperti pemaksaan dan pelecehan seksual pada teman sekerja, teman lain dan pasangannya. Ini akan membuat para pecandu cinta merasa ditolak, depresi dan mungkin terdorong untuk mengakhiri kehidupan. Sementara dalam berhubungan cinta para pecandu seringkali mengabaikan pengamanan diri dari berbagai konsekuensi kesehatan seperti penularan HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual lainnya, dengan demikian juga membahayakan pasangan seksual lainnya termasuk pasangan di rumahnya. Seperti para pecandu jenis lainnya, mereka amat jarang

PECANDU CINTA. Seringkali mendorongkan desakan impuls tak terkendalinya untuk berakhir pada hubungan intim.

rekan kerja pelecehan seksual lebih mudah diatasi dengan penghindaran, namun bagi pasangan hidup dan keluarga, situasinya sangat berbeda, karena itu terapi atas perilaku ini perlu mendapat perhatian orang sekitarnya. Bagi pasangannya, pastikan hubungan intim yang akan berlangsung aman dari penyakit, lindungi diri anda dari serangan berbagai penyakit akibat hubungan intim. Bagi teman kerja, hindari berada hanya berdua dengannya, usahakan melindungi diri dari hal-hal yang membuat ketertarikan secara seksual seperti sentuhan, pakaian, cara bicara termasuk humor, sikap duduk dan sebagainya. Untuk jatuh cinta tentu saja berbagai alasan emosi dan sosial dapat dikemukakan, juga para pecandu cinta. Kebanyakan pecandu, apa saja jenis kecanduannya, mempunyai akar masalah pada riwayat keluarga dengan kekerasan seksual dan ketergantungan (alkohol, narkotika, zat lainnya). Terapi dapat dimulai dari konseling, juga program terapi bagi ketergantungan zat lainnya sesuai situasi dan kondisi kesehatan mental mereka, dan psikoterapi. Pasangan dari mereka juga perlu mendapatkan dukungan psikologi dari para terapis. Terapi untuk pecandu cinta tidak semata dapat menghentikan perilaku mereka, tetapi lebih menempatkan relasi antar manusia yang lebih sehat, bermakna, dan bukan dorongan kompulsif tak terkendali.
WARTA BEA CUKAI
FOTO: ISTIMEWA

EDISI 375 FEBRUARI 2006

65

KEPABEANAN INTERNASIONAL

KONFERENSI TINGKAT MENTERI KE-6 DI HONGKONG, CHINA

WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO)
Konferensi Tingkat Menteri (KTM) dalam struktur WTO merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dan merupakan tempat pengambilan keputusan untuk berbagai hal berkaitan dengan perjanjian perdagangan multilateral.

S

ejak tahun 1995, WTO telah melaksanakan 5 (lima) kali KTM yaitu di Singapura pada tahun 1996, Jenewa tahun 1998, Seattle tahun 1999, DohaQatar tahun 2001, dan Cancun-Meksiko tahun 2003. KTM VI WTO diselenggarakan di Hong Kong – China pada tanggal 13 s.d. 18 Desember 2005. Secara umum KTM diselenggarakan sekurang-kurangnya satu kali setiap dua tahun dengan tujuan untuk memberikan arah bagi organisasi WTO. KTM VI WTO ini sangat penting terutama untuk penyelesaian putaran perundingan Agenda Pembangunan Doha (Doha Development Agenda – DDA) pada akhir tahun 2006. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan anggota Tim Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) sesuai dengan Keputusan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2005 tentang Pembentukan Tim Nasional Untuk Perundingan Perdagangan Internasional. Salah satu tujuan dari pembentukan Tim PPI adalah untuk mempersiapkan dan merumuskan posisi dan strategi suatu perundingan perdagangan internasional berdasarkan kepentingan nasional secara terpadu dan terkoordinasi sehingga secara maksimal mampu mengamankan rencana, program dan pelaksanaan pembangunan nasional, khususnya guna meningkatkan akses pasar internasional maupun pertumbuhan ekonomi nasional serta merundingkan dan memperjuangkan posisi dan strategi berdasarkan kepentingan nasional sebagaimana tersebut diatas dalam setiap perundingan perdagangan internasional. Anggota Delegasi RI (DELRI) berdasarkan surat persetujuan dari Sekretaris Kabinet RI Nomor : KL.0703/ UMPL/6311 tanggal 06 Desember 2005 berjumlah 75 orang. DELRI untuk KTM VI ini dipimpin oleh Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu. Para anggota DELRI terbagi atas Kelompok Perunding Bidang Jasa, Bidang Akses Pasar Produk Non-Pertanian (Non Agricultural Market Access – NAMA), Bidang Pertanian, Bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual (Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights – TRIPs), Bidang Fasilitasi Perdagangan, Bidang Trade and Environment, Development, and Special & Differential Treatment, dan Bidang Rules.
WARTA BEA CUKAI

Dibidang Fasilitasi Perdagangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menugaskan 3 (tiga) orang pejabatnya, antara yaitu; Asan Sitanggang (kepala Bidang Keuangan/ Bea dan Cukai pada Konsulat Jenderal RI Hongkong, Samsuar Said (mantan Kepala Bidang Keuangan/ Bea dan Cukai pada PRIME Brussel dan Fitra Krisdinato (mantan Kepala Seksi Kerjasama WTO pada Direktorat Kepabeanan Internasional DJBC).

JALANNYA KTM VI WTO
Dalam kesempatan tersebut, Indonesia memberikan statement yang antara lain berisikan pandangan Indonesia terhadap perkembangan perundingan Putaran Doha. Dalam pandangannya, Indonesia menyatakan bahwa perkembangan Putaran Doha menunjukan kemajuan yang cukup berarti setelah terjadinya kegagalan perundingan pada KTM V WTO di Cancun. Berkenaan dengan itu Indonesia mengingatkan untuk tidak melupakan kata “pembangunan” (D – Development) yang terdapat dalam DDA, mengingat pembangunan adalah jantung dari perundingan saat ini dan sekaligus merupakan tulang punggung dari Putaran Doha. Dalam kaitannya dengan pembangunan, Indonesia menyatakan antara lain bahwa perdagangan merupakan hal yang fundamental dalam proses pembangunan dan reformasi perdagangan, pembangunan merupakan dasar putaran perundingan, dan Special & Differential Treatment (S&DT) harus terus diperlakukan sebagai jantung dari setiap perundingan. Hasil KTM VI WTO, walaupun belum menelorkan suatu agreement, namun telah berhasil menyetujui suatu Deklarasi Tingkat Menteri yang dapat dijadikan sebagai suatu pendorong untuk tetap melanjutkan negosiasi putaran DDA kearah penyelesaian berbagai isu perundingan, antara lain bidang Pertanian, NAMA, Services, dan fasilitasi perdagangan. Isu pertanian, NAMA, dan jasa merupakan isu-isu yang sifatnya contentious yang berjalan alot dan banyak mengundang perdebatan, menyita banyak waktu serta perhatian. Sementara isu Fasilitasi Perdagangan merupakan satu-satunya isu yang telah diadopsi dan sekaligus merupakan isu yang deliverable yang modalitas berikut rencana implementasinya dapat dibahas lebih lanjut dalam pertemuan-pertemuan pasca Hong Kong. Negosiasi isu pertanian merupakan isu yang paling banyak mendapat perhatian dari seluruh negara anggota, mengingat masih banyaknya perbedaan pendapat antara negara berkembang dengan negara maju, khususnya yang terkait dengan isu akses pasar, subsidi domestic, dan subsidi ekspor. Mengenai akses pasar, negara berkembang yang dimotori oleh kelompok G-33 yang dipimpin Indonesia dan G-20 telah berhasil menggolkan

AGENDA DAN TUJUAN KTM VI WTO
KTM VI WTO diselenggarakan selama enam hari (13 s.d. 18 Desember 2005)

bertempat di Hong Kong Convention and Exhibition Center (HKCEC). Konferensi dipimpin oleh Mr. John Tsang, Sekretaris Menteri Perdagangan, Industri dan Teknologi Hong Kong, China dan dihadiri oleh delegasi-delegasi dari 149 anggota WTO, 76 Organisasi Internasional (termasuk WCO) serta 40 negara yang belum menjadi anggota WTO sebagai pengamat. Agenda dalam KTM VI WTO antara lain adalah pandangan umum mengenai kegiatan-kegiatan WTO, proposal yang diajukan oleh para anggota, aksesi terhadap perjanjian-perjanjian WTO, dan tindakan-tindakan yang akan dilakukan para Menteri. Tujuan dari penyelenggaraan KTM VI WTO ini adalah untuk mencapai kesepakatan Agenda Pembangunan Doha yang dijadwalkan berakhir pada bulan Desember 2006. Agenda Pembangunan Doha meliputi perundingan untuk berbagai isu, diantaranya pertanian, akses pasar produk non-pertanian (NAMA), perdagangan jasa, dan fasilitasi perdagangan.

66

EDISI 375 FEBRUARI 2006

kepada negara maju yang telah yang sifatnya multilateral dalam rangusulannya tentang Special Products Pertamemberikan bantuannya diminta ka memperjelas dan menyempurnanian (SP) dan Special Safeguard Meauntuk tetap meningkatkan kan GATT Articles V/VIII/X, meningkatsures (SSM). Dengan demikian kepada dukungannya secara komprihensif, kan kerjasama antara Customs dan negara berkembang diberikan fleksibilitas jangka panjang, dan Lembaga terkait lainnya guna menfadidalam menetapkan beberapa tariff lines berkesinambungan yang didukung silitasi perdagangan, dan meningkatSP-nya dan berhak menggunakan volume dengan ketersediaan pembiayaannya. kan derajat kepatuhan terhadap trigger serta price trigger guna 6. Berikutnya guna menghadirkan peraturan perundangan dibidang mengantisipasi membanjirnya impor yang ketentuan-ketentuan Special and kepabeanan. akan merugikan para petani. Disamping Differential Treatment (SDT) secara 3. Melaksanakan berbagai bidang itu pula kepada negara berkembang tepat, efektif, dan operasional yang kegiatan lainnya yang sifatnya “crossdikecualikan dari penurunan tarif maupun pelaksanaannya bersifat fleksibel cutting” dalam rangka meningkatkan kuota tarif. Sementara dibidang subsidi direkomendasikan untuk lebih mendaupaya menfasilitasi perdagangan. domestic, kepada negara berkembang lami dan mengintensifkan proses Untuk itu kepada negara anggota yang tidak memiliki subsidi Aggregate negosiasi ketentuan SDT dalam diminta untuk berupaya agar proses Measurement of Support (AMS) telah rangka pelaksanaan GATT Articles V/ negosiasi trade facilitation dapat diberikan kemudahan untuk dikecualikan VIII/X serta kegiatan-kegiatan lain diselesaikan secepatnya pasca Hong dari pemotongan subsidi de minimis dan yang sifatnya cross-cutting. Kong, sehingga text-based negotiadibidang subsidi ekspor disepakati untuk tions diberbagai bidang kegiatan menghapuskan seluruh berbagai bentuk tersebut dapat diselesaikan sebagaisubsidi pada tahun 2013, separuhnya PENGAMATAN mana mestinya. pada tahun 2009, dengan ketentuan Proses negosiasi dibidang trade faci4. Selanjutnya kegiatan-kegiatan tersebut adanya full parallelism dibidang food aid litation sejauh ini telah berjalan lancar dan diatas perlu diperjelas dan dikaji lebih dan praktek state trading enterprises efektif yang ditandai dengan diadopsinya yang mendistorsi pasar. Kondisi laporan NGTF kepada TNC sebagaimana tersebut diatas oleh para Menteri dalam KTM sangat diperlukan guna meVI WTO. Laporan tersebut pada ningkatkan upaya pengentasan dasarnya berisikan berbagai kemiskinan, ketahanan pangan, proposal negara anggota dan pengembangan pedesaan. didalam mengupayakan Dalam perundingan isu kemudahan perdagangan NAMA, negara anggota sebagaimana tersebut dalam menyepakati untuk menggunaAnnex E: Trade Facilitation. kan Swiss Formula dengan Apabila berbagai proposal multi-coefficient, penerapan tersebut yang jumlahnya enam prinsip penurunan tariff sektoral puluhan, dicermati secara yang sifatnya tidak mandatory, seksama, maka dapatlah disimmekanisme penangan hambapulkan bahwa pada prinsipnya tan non-tariff, dan perlakuan proposal-proposal tersebut terhadap unbound tariff. telah diakomodir didalam berTentang negosiasi isu jasa bagai instruments internasional telah terjadi perdebatan yang yang ada antara lain UN/ alot antara negara maju dan neEDIFACT, UNCTAD Columbus gara berkembang. Negara maju Declaration, World Bank Trade menuntut dibukanya akses and Transport Facilitation Toolpasar yang lebih luas dari tingkit, WTO Agreements, WCO kat komitment yang telah ada; Conventions, IMO Conventions, sementara negara berkembang ICAO Conventions, ICC KONFERENSI TINGKAT MENTERI ini diselenggarakan selama enam hari (termasuk Indonesia) mengInternational Customs Guide(13 s.d. 18 Desember 2005) bertempat di Hong Kong Convention and hendaki agar liberalisasi yang lines, dan ISO Standards. Exhibition Center (HKCEC). lebih luas hanya dapat dilakuDisamping itu perlu lanjut guna mengenali “needs and kan atas dasar fleksibilitas, tingkat perdiketahui bahwa core dari pada upaya priorities” upaya menfasilitasi tumbuhan ekonomi, dan prioritas kemudahan perdagangan tersebut pada perdagangan yang diperlukan oleh kebijakan pembangunan nasional. Pada dasarnya terfokus kepada kegiatanmasing-masing negara anggota akhirnya negara maju dapat menerima kegiatan yang sifatnya “trade-border berikut implikasi biaya rumusan liberalisasi yang lebih mengakomanagement” yang implementasinya pelaksanaannya. Untuk itu didalam modir keterbatasan negara berkembang. memerlukan upaya koordinasi tinggi. pelaksanaannya direkomendasikan Berkaitan dengan negosiasi isu FasiSelanjutnya untuk memudahkan rencana untuk melibatkan organisasi litasi Perdagangan, para Menteri WTO implementasinya kepada masing-masing internasional terkait yang dikenali telah telah mengadopsi rekomendasi laporan negara anggota diminta untuk segera memberikan kontribusi konkritnya. Negotiating Group on Trade Facilitation menyusun “needs and priorities-nya”. 5. Guna mendorong negara-negara (NGTF) kepada Trade Negotiating Dari perspektif Indonesia, khususnya berkembang/kurang berkembang Committee (TNC) sebagaimana tersebut Ditjen. Bea dan Cukai, needs and priorities dapat berperan serta aktif didalam dalam Annex E: Trade Facilitation, butir Indonesia pada tingkat ini adalah Advance setiap proses negosiasi trade 3,4,5,6 dan 7. Pada dasarnya Rulings, Appeal System, Single Window, facilitation, maka direkomendasikan rekomendasi dimaksud berisikan hal-hal Risk Management and Post Clearance agar pemberian bantuan teknis (TA) sebagai berikut: Audit, dan Authorized Traders. Dalam kadan pengembangan sendi-sendi 1. Ajakan agar negara anggota dapat itan ini, TA & CB seyogyanya dapat lebih kapasitas (CB) kepada negara-negara berbagi pengalamannya didalam difokuskan kepada elemen Single tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan proses reformasi nasional Window, Risk Management, dan Authocara-cara yang tepat, efektif dan dalam rangka meningkatkan upaya rized Traders. operasional sesuai masing-masing menfasilitasi perdagangan. Disela-sela KTM VI WTO tersebut, needs and priorities-nya. Untuk itu 2. Mengembangkan sejumlah komitmen DELRI yang terlibat dibidang Fasilitasi
EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

67

KEPABEANAN INTERNASIONAL
Perdagangan berkesempatan menghadiri Simposium bertajuk : Trade Facilitation and Development: What Will and Won’t the DDA Accomplish. Simposium tersebut yang merupakan kegiatan sampingan (side activities) dari rangkaian perundingan pada KTM VI diselenggarakan oleh Bank Dunia dengan mengambil tempat di Hong Kong Exhibition Center. Dalam kesempatan tersebut telah dihadirkan lima orang pembicara dari akademisi, Bank Dunia, Sektor Swasta, dan LSM (Non-Governmental Organization – NGOs) dengan topic pembahasan mengenai isu Fasilitasi Perdagangan dalam kaitannya dengan perundingan WTO saat sekarang dan yang akan datang. Mengenai yang akan datang, pembicara dari Bank Dunia antara lain menyatakan agar negara anggota dapat melakukan persiapan negosiasi yang lebih matang, mengingat hasil negosiasi mendatang bersifat binding secara hukum. Disamping itu DELRI juga berkesempatan menghadiri pertemuan informal yang diselenggarakan oleh World Customs Organization (WCO) untuk membahas isu fasilitasi perdagangan. Halhal yang dibahas antara lain mengenai dampak isu fasilitasi perdagangan terhadap administrasi pabean, redefinisi dari fasilitasi perdagangan, dan koordinasi antara WCO dan WTO. Sebagai organisasi internasional yang mempunyai misi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari administrasi pabean, WCO menyatakan dukungannya terhadap WTO dalam isu fasilitasi perdagangan. Mengingat banyaknya elemen yang terkandung dalam isu fasilitasi perdagangan serta adanya perbedaan level of development dari masing masing negara disepakati bahwa Bantuan Teknis dan Peningkatan Sendi-Sendi Kapasitas (Technical Assistance and Capacity Building – TA & CB) secara komprehensif dan berkesinambungan sangat diperlukan dalam rangka implementasinya, terutama bagi negara-negara berkembang dan negara-negara terbelakang (Least Deveoping Countries – LDCs). Sebagai salah satu organisasi internasional yang diminta kontribusinya pada perundingan WTO terutama dalam isu Fasilitasi Perdagangan, WCO telah memberikan suatu Information Note berkaitan dengan instrumen WCO dan Artikel V, VIII, dan X GATT 1994. Selain itu WCO juga memberikan kontribusi berupa Checklist for WTO Trade Facilitation Negotiation untuk mempermudah para negara anggota dalam melakukan selfassessment atas implementasi isu fasilitasi perdagangan. Jepang sebagai negara donor meminta kepada negara berkembang dan negara-negara terbelakang untuk dengan seksama melakukan analisa tentang bantuan teknik dan prioritas yang diperlukan. Sementara Canada telah menyatakan kesediaannya untuk memberikan bantuan dalam rangka TA & CB. Untuk itu kepada negara anggota yang memerlukan bantuan diminta untuk segera menyampaikan needs and priorities-nya guna memudahkan donor countries didalam pemberian bantuan tersebut. Sementara Indonesia mengusulkan agar kiranya WCO dapat membantu merumuskan suatu language yang sifatnya fleksibel yang terkait dengan hasil-hasil negosiasi yang nantinya sifatnya mengikat secara hukum, mengingat sejauh ini donor countries hanya memberikan sekedar komitment saja. Ditegaskan bahwa hasil-hasil negosiasi tidak akan dapat berjalan efektif, tanda adanya bantuan yang sifatnya konkrit dari donor countries. Disamping itu diusulkan juga agar didalam upaya menfasilitasi perdagangan, peran WTO dapat lebih difokuskan kepada upaya perumusan kebijakan perdagangan; sementara peran WCO seyogyanya dapat lebih difokuskan kepada upaya pelaksanaan kegiatan kebijakan perdagangan. Dengan demikian terdapat pembagian tugas yang jelas antara WTO dan WCO. Bea dan Cukai memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Perlu melakukan self-assessment untuk menentukan needs & priorities yang diperlukan untuk mendukung fungsinya sebagai fasilitator perdagangan. Untuk itu questionnaire tentang needs & priorities harus segera diselesaikan dan disampaikan kepada Departemen Perdagangan. b. Perlu memberikan masukan secara berkesinambungan kepada tim perunding bidang Fasilitasi Perdagangan dalam menyelesaikan perundingan Putaran Doha sehingga hasil kesepakatan Agenda Pembangunan Doha pada akhir tahun 2006 dapat memberikan kontribusi positif pada pembangunan nasional. c. Perlu melanjutkan upaya modernisasi dan reformasi kepabeanan yang telah berjalan selama ini dengan melakukan evaluasi dan penyempurnaan secara berkesinambungan, mengingat modernisasi dan reformasi kepabeanan pada hakekatnya merupakan inti dari upaya menfasilitasi perdagangan. d. Untuk mewujudkan keberhasilan pemberian fasilitas perdagangan sebagaimana mestinya dan mengingat pula bahwa core dari upaya menfasilitasi perdagangan pada dasarnya adalah trade-border management, maka mutlak diperlukan adanya upaya koordinasi yang komprehensif dan efektif dari suatu instansi yang ditunjuk sebagai coordinator. Dalam kaitan tersebut pada hemat kami akan lebih baik apabila Ditjen. Bea dan Cukai dapat ditunjuk sebagai koordinatornya, mengingat Ditjen. Bea dan Cukai memiliki kapasitas, kapabilitas dan pengalaman yang lebih luas dibidang pelaksanaan kebijakan perdagangan. Berkenaan dengan itu perlu diketahui bahwa Ditjen. Bea dan Cukai adalah salah satu instansi pokok yang menggerakkan kebijakan perdagangan di lapangan. Untuk itu kepada Ditjen. Bea dan Cukai telah dipercayakan melaksanakan lebih dari 120 peraturan titipan dari berbagai instansi terkait. Disamping itu upaya menfasilitasi perdagangan tersebut harus juga melibatkan semua instansi terkait antara lain Departemen Perdagangan, Departemen Keuangan (Bea dan Cukai), Departemen Perhubungan (Ditjen. Perhubungan Laut, Darat dan Udara), Departemen Pertanian ( Badan Karantina), Perbankan dan Kamar Dagang Indonesia. Atas dasar itu selanjutnya dapat disusun mekanisme upaya koordinasi, kegiatan dan jenis-jenis informasi yang akan dikoordinasikan.
- Samsuar Said ( Mantan Kepala Bidang Keuangan/ Bea dan Cukai pada PRIME Brussel) - Fitra Krisdianto (mantan Kasi kerjasama WTO pada Dit. Kepabeanan Internasional DJBC - Asan sitanggang (Kabid Keuangan/BC pada konsulat Jenderal RI Hongkong

KESEPAKATAN
KTM VI WTO telah berhasil menyepakati Program Kerja Doha (Doha Work Program) yang dituangkan dalam bentuk Deklarasi Menteri (Ministerial Declaration). Deklarasi Menteri tersebut secara umum telah menghasilkan kemajuan yang berarti bila dibandingkan dengan KTM V WTO di Cancun, namun negara-negara anggota termasuk Indonesia masih perlu bekerja lebih keras lagi untuk menyelesaikan perundingan lanjutan di semua isu untuk mencapai tujuantujuan dari Agenda Pembangunan Doha. Dalam bidang fasilitasi perdagangan, pokok-pokok hasil kesepakatan yang tercantum dalam Deklarasi Menteri adalah menyepakati untuk melakukan perundingan lanjutan untuk membahas elemenelemen/proposal dalam isu fasilitasi perdagangan, yaitu yang berkaitan dengan Annex E: Trade Facilitation, berikut rencana implementasinya. Mengingat isu fasilitas perdagangan dalam Deklarasi Menteri ini sebagian besar berkaitan erat dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, maka disarankan agar Direktorat Jenderal

DITJEN. BEA DAN CUKAI telah dipercayakan melaksanakan lebih dari 120 peraturan titipan dari berbagai instansi terkait.

68

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

JUARA II LOMBA KARYA TULIS BAHASA INGGRIS DALAM RANGKA HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

To Support Customs Officers’ Integrity
WITHIN THE INDONESIAN CUSTOMS
INTRODUCTION

SUSTAINING A STRONG CAPACITY BUILDING

Prepared by: Yulia Anna Surya, S.S, MA.

T

he rapid advances in the fields of transportation, communications and information technology make the world a lot smaller. It has also eased the flow of information, goods and people across borders, which in turn, have become increasing porous. This development has led to a progressive rise in the level of trade. All of these development converged to pose a unique challenge to customs administrations (Ray, Debraj, 1998). The increased level and rate of trade slows impose work burdens that would be close to impossible to address without the use of the modern techniques and technology. This has given rise to a strong impetus for many to modernize customs administrations, despite of having to face tight budget constraints. Customs modernization relates to the full range of Customs operations. Its main objective is to ensure that Customs administrations constantly keep pace with developments in international trade, whether of a technological, legal or economic nature. The modernization program for Customs administrations seeks to develop a competent and efficient administration, determine the optimum management of staff and available technical resources, and in still a culture of good governance and integrity to facilitate the crucial role played by Customs in the global trading systems. Without an efficient and effective Customs administration, government will not be able to meet their policy objectives in respect pf revenue collection, trade facilitation trade security, and the protection of society from a range of social and national security concerns. The Customs modernization program is accelerated by the parallel introduction of a customized capacity building plan to enable a Customs administration to implement the necessary changes to its management and operational environment. In the customs context, capacity building is commonly understood to mean developing or acquiring the skills, competencies, tools, process and resources needed to improve the capacity of the administrations to carry out its allotted functions and achieve its objectives (OCO, 2003). Indonesian Customs has formulated capacity building program by establishing a Working Team for Customs Reform in early 2002. The program consists of 4 group, namely Trade Facility Improvement Program, Smuggling and Under-invoicing Elimination Program, Improvement Coordina-

CAPACITY BUILDING IN INDONESIAN CUSTOMS

tion among Stakeholders Program, and Promoting Integrity Program. In the early 2004 a new Task Force Team was established to deal with tasks on Designing of Excises Policy, Improvement of Trade Facility, Settlement of Smuggling, and Improvement of Integrity. While there is no universally, accepted model for a modern Customs administrations the key principles of the Revised Kyoto Convention provide a recommended focus for improving Customs performance through capacity building activities (OCO, 2003). The Revised Kyoto Convention, which shall enter in to force on February 3, 2006, provides principles for capacity building such as integrity, transparency, accountability, predictability, facilitation and control, client service, standardization, simplification, minimum intervention, information and communication technology, co-operation and partnership, continuous improvement, and compliance improvement. The scheduling to accede to the Revised Kyoto Convention on April 2006 is indeed a big leap for Indonesian Customs to accelerate the customs modernization program as well as increase the quality of the existing capacity building program. What has to be realized is that by acceding to the Revised Kyoto Convention Indonesian Customs obliges to conform to the Standards, Transitional Standards and Recommended Practices in the Annexes of the Convention. It means Indonesian Customs is bounded to promote simplification and harmonization of customs procedures in accordance with the provisions of the Revised Kyoto Convention. The Indonesian Customs Law Number 10/1995 and national legislation concerning customs have been reviewed and compared to the Revised Kyoto Convention to study the possibility to accede the Convention. The result is very promising since the regulations in customs law and national legislations have provided principles of simplification and harmonization of customs procedures and practices, which is then essential to make a major contribution to facilitating of international trade. Acceding to Revised Kyoto Convention demonstrates a strong political will of Indonesian Customs to build a worldclass customs administration with a fully functional civil service. The response from clients and stakeholders for sure, would be very staggering for public trust.

WHAT HAPPEN TO THE INDONESIAN CUSTOMS INTEGRITY ?
It has been widely spread that the Indonesian Customs has a sensitive image in terms of public trust and integrity. People will
EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

69

KEPABEANAN INTERNASIONAL
are going to after one position and what criteria they have to fulfil tend to judge that most of Customs officers are corrupt. It is quite to hold a certain position. By doing so, we will drive the officers to annoying when people identify customs officers they come to a compete fairly. Anyone who get promoted or rotated to a certain picture of wealthy and prosperous government officers ever. position will be acknowledged due to his or her capacity, capabilThe Indonesian Customs employees more than 11.000 ity, skill, education background and other criteria. officers posted in a network of 13 Regional Officers and about 125 Customs Service Offices throughout the nation. This 3. Lack of training follow-up year, the Indonesian Customs has to achieve revenue According to the Arusha Declaration, customs officials should targeted by the government, in terms of customs duty and receive adequate professional training throughout their careers, excise, as much as US$ 5 billion approximately. The figure which should include coverage of ethics and integrity issues. This illustrates how demanding the ask every single officer has to has been done by the Indonesian Customs. The training that has carry on; assuming that one customs officer is entitled to bear been designed together by Customs Human Resources, Ministry the responsibility to collect national revenue approximately of Finance Training Centre and Customs Training Centre resulting US$ 500,000 per year. On the other hand, frankly speaking, better quality of training and higher skill and competence of the the Indonesian Customs officers receive insufficient salary. officers. Things need to be more re-evaluated are training The receive vary, depending upon their rank or status, that is selection process ( no more favouritism) and officers should be from US$1,800 to 12,000 per year. posted to the unit relevant with his skill and expertise. It is of use The fact of insufficient salary has triggered Customs officers to to avoid any appearance of tiresome feeling of being posted in receive bigger income to support their needs. They cannot rely on inappropriate position, not considering of no use functions skill the monthly salary and incidental premium received. On the other obtained from the training. More concern is how to follow up the hand, due to the high rate of import tariff duty the importer tends training itself, since, to be honest, there is only a few adequate to avoid paying as least tax as possible. These two interests have post-training evaluation program designed to measure the flourished the corruption and collusion as a mutual beneficial effectiveness of the training outcomes. practice to take place. Stakeholders always closely observe customs officers’ 4. Segmentation behaviour integrity, in terms of service and officer. This is sensible recogniIt is acknowledged that the Indonesian Customs officers are zing the vital rules of customs; revenue collection, trade facilitator, segmented into groups, which compete to each other to gain the industrial assistance, and community protector. The Indonesian key position within the organization. The Customs is an essential instrument for the emergence of this segmentation behaviour effective management of national has been initiated from the recruitment economy. The strategic issue facing the INDONESIAN CUSprocess. An officers tends to have a strong Indonesian Customs organisation is how to TOMS HAS FORMUbrotherhood or sense of belonging to other gain the public trust. officers who were recruited at the same The Indonesian Customs Human LATED CAPACITY period, or graduating the Customs Diploma Resource Management has been facing at the same year. Once an officer who ongoing integrity issue within the BUILDING PROGRAM belongs to a certain (informal) group has organisation. The issue is mostly caused been promoted to assume responsibility of by the following existing conditions: BY ESTABLISHING A a key manager position, her or she will tend l Unfair reward and punishment scheme WORKING TEAM FOR to favour or benefit his or her group l Non purely merit-based promotion members. system and uncertain rotation scheme CUSTOMS REFORM This problem is closely related to l Lack of training follow-up promotion and rotation scheme, as among l Segmentation (grouping) behaviour IN EARLY 2002. those groups is attempting to compete to l Insufficient salary each other in promotion and rotation of officers. The recommendation to design an open, clear and fair Regarding insufficient salary, the solution will be difficult to promotion and rotation scheme as mentioned earlier will eradicate address. Increasing officers’ salary or having adequate remunerathis segmentation problem. More importantly, a new ethical tion will not simply solve the problem. The problem is that behaviour and organizational culture has to be forced to shift the Indonesia implements a single remuneration system designed paradigm that we are one, a member of Indonesian Customs, not and decided by the National Budget Agency. Therefore, it is not a member of certain group within Customs. At the end, the easy overcome the salary problem and there is nothing much segmentation problem in Indonesian Customs will be gradually Indonesian Customs can do have adequate remuneration. vanished. 1. Unfair reward and punishment scheme The 2002 Code of Conduct of Indonesian Customs has to be INTRODUCING VIRTUE ETHICS IN INDONESIAN CUSTOMS AND ITS evaluated to provide a clear rule of things to do and not to do. The CONSISTENT IMPLEMENTATION. Code must also contain the consequences of breaking it. Since The strong will to modernize customs administrations in organization has put integrity as major issue concerned, it has to term of simplification and harmonization of system and implement serious punishment scheme and fair reward system. procedure would be meaningless if it is not equipped with On the other hand, every single officer has to start to shift their professional personnel with integrity. Again, no matter how paradigm on integrity issue. Last but not least, the consistency in good the policy, structure, regulation or system is it will implementing reward and punishment scheme is a must to gain depend on ‘the man behind the gun’. public and employee’s trust. The existence of an indispensable scheme is of importance to enable ‘the men behind the gun’ to conform to the laws with the 2. Non-purely merit-based promotion system and intention of driving them to create a new organization culture, uncertain rotation scheme which contain high level mental awareness and appropriate To be frank, there has not been any open, fair, planned, and behaviour. The given scheme is to introduce virtue ethics and its collectively agreed promotion and rotation scheme designed by consistent implementation within Indonesian Customs. the Human Resource Management. The idea of making it open Virtue ethics is a character-based account of ethics. Preston, and accessible by all officers may enlighten the Human Resource et.al. (2002) quote what Mac Intyre defines virtue as an acquired Management’s tasks. A scheme has to be developed to enable human quality the possession and exercise of which tends to officers to have a clear picture of where they are going to after one enable us to achieve those good, which are internal to practice, position and what criteria they have a clear picture of where they and the lack of which effectively prevents us from achieving any 70
WARTA BEA CUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

officer may feel, if he has been announced as the officer of the such goods. Virtue ethics is quite suitable to describe what kind of month, in a monthly ceremony. His name will be called during the public servant should be. Since public sector has a coercive ceremony to receive the reward from the Director General, power to regulate or influence citizen, therefore, the man behind shaking hands, stand by him, taken pictures to be displayed in the the gun, the public managers and public servant, should be in-house magazine distributed and read by all officers throughout someone who has good traits. This is to ensure that every policy, the country. This kind of reward is more powerful than money or regulation and law created will have an excellent output and similar form or rewards. On the other hand, the punishment outcome to the whole clients. should be treated in the similar way. Conversely, if they are corrupt, have less integrity, and have Thing that may become the obstacle in implementing the no good moral traits, then the service delivery and implementation virtue ethics within the Indonesian Customs is that if the programs of government policies and regulations may benefit their personal mentioned above were only implemented by the Indonesian interests, or do not reflect what clients need. Customs, while other Indonesian public bodies do not do the Almost all public agencies put character building as an same thing, it will be useless. There should be a nationwide important element in one of its core values and strategies. program initiated by the President, Parliament or at least the Preston, et. Al. (2002) argue that virtue theory commends itself for Coordinating Ministry for Public Sector Reform. This is because its relevance to public sector ethics. Their contention is because corruption and moral crisis in Indonesia is a national epidemic in virtue theory has potential for code development and subsequent both private and public sectors. ethics education, provides support for the communitarian perspective which may be aligned with institutional emphasis, is a useful tool for identifying core values in an organization or pluralist CONCLUSION community, and emphasizes character-building or the agent’s The Indonesian Customs is endeavouring to become more personal or institutional response to moral situations. effective against a background of ever-faster globalisation and an The Indonesian Customs has introduced many policies and increasing complex international trade environment. Capacity regulations to eradicate corruption within the organization. Its building, along with integrity, is prerequisite for the proper vision, mission, objective, and strategy have already contained functioning of a customs administration. Reforms will only have with the value of moral integrity. However, those initiatives are not lasting effects if they are accompanied by a solid foundation of more than just jargons and lip services as the corruption problem well-designed capacity building and effective integrity. The remains. The initiatives are just well framed-nice words hung on scheduling to accede to the Revised Kyoto Convention on April the wall. They are not embedded in officers’ 2006 is indeed a big leap for Indonesian heart and mind. Customs to accelerate the customs To implement the virtue ethics within modernization program as well as increase ACCORDING TO THE the organization, the Indonesian the quality of the existing capacity building Customs should initiate the following two program. Acceding to the Revised Kyoto ARUSHA DECLARAapproaches : Convention will gain public trust, especially from clients and stakeholders. TION, CUSTOMS OFFIa. Role modelling by top managers and Is it true that corruption needs CIALS SHOULD REpotential leaders national efforts to deal with, since it Since virtue ethics is to determine what happens not only in a single administraCEIVE ADEQUATE kind of person one should be, therefore tion and not just in public sectors. The managers and potential leaders within Indonesian Customs can start to deal PROFESSIONAL TRAIorganization play significant function to be with its own corruption and integrity NING THROUGHOUT a role model. Leaders and managers must issues by setting up some Human behave and conduct the virtuous values so Resources policies, which enable to THEIR CAREERS,...” as to attract staff to follow their actions. encounter factors affecting customs Participative leaderships and role modelling officers’ integrity at the maximum point. are sometimes more effective than laws Meanwhile, moral issue, which is in fact and regulations. This will require the managers to be consistent in the core problem, should be dealt in a more fundamental their policies and actions. It happens that sometimes managers action by implementing virtue ethics in order to create the ask the staff not to breach the law and not to take or receive illegal desired and environment. money, but secretly the managers do. How can the managers ask It is also important to correct the existing vision into a the staff to obey the law while they do not ? What mostly happen simple and realistic one; a vision with a picture of a desirable is that staff will tend to behave more intolerantly. future using a mechanism to control organization’s consisOne reason is that they might think that their boss will not tency in designing policies, which are accordance with the punish them for acting so, because the staffs know the secret of international customs principles of timeliness, transparency, the boss. Another reason is because they feel frustrated, nothing and fairness. When the given vision is embedded in officers’ much they can do to make things better and so they will behave hearts and minds, the maximum performance of task in conversely, worsening the condition. One of the Indonesia collecting revenue and facilitating trade will be reached. cultures is that young people should honour the older, and that REFERENCE older people should be able to be role model for the young. Arusha Declaration. Available at http://www.wcoomd.org. Therefore, role modelling by managers and potential leaders Beer, et al. (1984). Managing Human Assets. New York : The Free Press. within the Indonesian Customs is an important step to initiate the Wright, PM and McMahan, GC (1992). Theoretical Perspectives for Human Resouerce Management. Journal of Management Vol.18 (2) implementation of virtue ethics. b. New model reward and punishment approach The approach to compliment the role modelling approach is to have a new model reward and punishment approach within the organization. Reward should be given to those who perform virtuous values and behave conform to the law. It should not only be given to those who achieve measurable output such as seizure, inventing new system or procedures, etc. The reward does not have to be monetary rewards. It can be things like Employment of the Month program, certificate or plague signed by the Director General. Imagine how happy and prestigious an
Oceania Customs Organisation (2003). Capacity Building Guidelines. Pfeffer, J.(1998). Seven Practises of Successful Organisations : In The Human Equation-Building Profits by Putting People First. Massachusetts : Harvard Business School Press. Ray, Debraj. (1998).Development Economics. New Jersey: Princenton University Press. The Directorate General of Indonesian Customs and Excise’s Website (http://www.beacukai.go.id)

Biodata Penulis Nama : YULIA ANNA SURYA, S.S, MA. NIP : 060090133 Unit Kerja : KPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta
EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

71

KEPABEANAN INTERNASIONAL

“Customs Marketing ”
Oleh: Donny Eriyanto, SE, MM

JUARA II LOMBA KARYA TULIS BAHASA INDONESIA DALAM RANGKA HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

SEBAGAI SUATU BENTUK PENDEKATAN KONSEP PENCITRAAN ORGANISASI DAN PUBLIKASI FASILITAS KEPABEANAN

P

emasaran dewasa ini telah mencakup segala aspek. Tidak hanya terpaku pada masalah bagaimana menjual suatu produk atau jasa saja, tetapi telah meluas ke dalam aspek-aspek global yang diperlukan oleh suatu organisasi dalam memperkenalkan organisasinya. Hal ini yang sering ‘dilupakan’ atau tidak dianggap penting, apalagi oleh organisasi atau perusahaan yang monopolistik, seperti Bea dan Cukai. Jika marketing dapat diterapkan pada perusahaan yang bergerak pada produksi barang atau jasa, mungkinkah bisa diterapkan dalam Bea dan Cukai? Customs Marketing (Pemasaran Bea dan Cukai) adalah salah satu bentuk pemasaran yang digunakan oleh Bea dan Cukai dalam suatu proses sosial dan manajerial untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan pengguna jasa, memperkenalkan organisasi, mengomunikasikan dan mempublikasikan segala bentuk peraturan kepabeanan. Secara singkat dapat diartikan Customs Marketing ini sebagai alat public relations (hubungan masyarakat) bagi Bea dan Cukai. Customs Marketing merupakan suatu bentuk pemasaran jasa dalam pelayanan pada masyarakat (public services). Pengertian jasa menurut Philip Kotler adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Kunci utama organisasi yang memberikan jasa/pelayanan adalah memenuhi atau melebihi ekspektasi kualitas jasa yang diharapkan pengguna jasa. Tujuan dari Customs Marketing adalah mengenal dan memahami pengguna jasa
WARTA BEA CUKAI

sedemikian rupa serta mensosialisasikan setiap kegiatan dan peraturan kepabeanan sehingga tercipta sinergi yang dinamis antara Bea dan Cukai dengan pengguna jasa (market forces) terkait. Idealnya, Customs Marketing akan menciptakan emotional market bagi pengguna jasa terhadap organisasi Bea dan Cukai. Emotional market akan menciptakan kepuasan pengguna jasa terhadap kinerja Bea dan Cukai. Atau secara singkat adalah terpenuhinya kebutuhan market forces. Bea dan Cukai sebagai satu-satunya instansi kepabeanan di Indonesia tentunya tetap perlu suatu strategi pemasaran. Tetapi strategi pemasarannya berbeda dengan lainnya. Strategi pemasaran yang diambil Bea dan Cukai dalam Customs Marketing adalah

melakukan serangkaian tindakan terpadu menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Strategi pemasaran lebih mengedepankan upaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat umumnya dan pengguna jasa khususnya mengenai tugas pokok dan fungsi Bea dan Cukai. Faktor-faktor yang mempengaruhi Strategi pemasaran yang diambil Bea dan Cukai dalam Customs Marketing adalah : 1. Faktor mikro, yaitu importir, eksportir, PPJK, instansi pemerintah yang terkait dan masyarakat. 2. Faktor Makro, yaitu demografi, ekonomi, politik, hukum, teknologi/fisik dan sosial budaya. Strategi pemasaran dalam Customs Marketing dapat juga mengambil konsep bauran pemasaran (Marketing mix) yang dikenal dengan 4P dengan beberapa perubahan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi Bea dan Cukai. Konsep 4P adalah : 1. Place ( Tempat ) Berdasarkan Keputusan Menkeu No. 444/KMK.01/2001 Bea dan Cukai telah memiliki 13 Kanwil dan 112 KPBC ditambah dengan 88 Kantor Bantu pelayanan serta 629 Pos Pengawasan Bea dan Cukai dimana sebagian besar kantor pelayanan berada dekat di pelabuhan atau bandara sehingga mudah dijangkau dan memudahkan pengguna jasa untuk lebih cepat dalam pengurusan pengeluaran barang. Bahkan dalam UU No. 10/1995, apabila sarana pengangkut dalam keadaan darurat dapat melakukan pembongkaran di kantor pelayanan terdekat atau yang paling mudah dicapai.

“PETUGAS SERING HANYA BEKERJA BERDASARKAN ATAS ‘TRADISI’ SAJA, TANPA TAHU PERATURANNYA... IRONISNYA, PENGGUNA JASA JUSTRU CENDERUNG LEBIH MENGETAHUI PERATURAN YANG BERLAKU...”

72

EDISI 375 FEBRUARI 2006

Hal ini sesuai dengan kepentingan perdagangan dan perekonomian sehingga dapat dipenuhi dengan lebih mudah, aman dan murah. Selain itu, konsep place juga dapat berupa kondisi fisik kantor/pos pelayanan beserta infrastruktur didalamnya yang menunjang operasional. Hal ini sangat penting mengingat pengguna jasa akan merasa lebih nyaman berada dalam sarana fisik yang bersih, rapi, aman dan teratur sehingga menimbulkan kesan awal bahwa aparat Bea Cukai sebagai pemberi jasa pelayanan benar-benar telah siap memberikan pelayanan. 2. Product (Produk) Dalam konteks Bea dan Cukai, produk yang dihasilkan oleh Bea dan Cukai adalah jasa (service) dan produk-produk peraturan kepabeanan dan cukai, termasuk pemberian fasilitas kepabeanan. Bea dan Cukai sebagai trade facilitation dalam pelayanannya dituntut untuk selalu memberikan service yang time-sensitive, predictable, available (saat dibutuhkan) dan adjustable sesuai dengan prinsipprinsip atau aspek-aspek fairness, timeliness, transparency dan facilitation. Totalitas pelayanan ini pada kerangka dasarnya bersumber pada fenomena speed (kecepatan) dan flexibility (fleksibilitas). Bea dan Cukai harus mampu mewujudkan kombinasi dari dua besaran tersebut sehingga formula untuk pelayanan Bea dan Cukai (Customs services). 3. Price (Harga) Berkaitan dengan Customs Marketing, price yang dimaksud adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh market forces dalam pengurusan dokumen. Fashion (kebiasaan) dari implementasi peraturan perundang-undangan yang berlaku seringkali menyebabkan high cost economy (ekonomi biaya tinggi) serta pelayanan Bea dan Cukai yang inefficient. Bea dan Cukai diharapkan dapat do more with less atau do more with reduced cost. Sebagaimana kita ketahui kegiatan bisnis semakin tergantung pada performance Bea dan Cukai dimanapun. Kegagalan Bea dan Cukai dalam menekan ekonomi biaya tinggi tidak saja akan mengakibatkan kegagalan ekonomi dalam negeri guna menangkap opportunity, mengubah keuntungan komparatif menjadi keuntungan kompetitif, akan tetapi juga secara substansial dapat mengakibatkan munculnya Trade Divertion (larinya para investor dari suatu negara ke negara lain dalam melakukan investasinya) dengan segala implikasi ekonomi negatif lainnya. 4. Promotion (Promosi) Promosi disini dapat diartikan sebagai sosialisasi kepada para pengguna jasa terhadap semua peraturan kepabeanan termasuk didalamnya pemberian fasilitas kepabeanan serta pembentukan public

4P
Bea Cukai
l PLACE l PRODUCT l PRICE l PROMOTION

STRATEGI PEMASARAN DARI SUDUT PANDANG BEA CUKAI DAN PENGGUNA JASA

GAMBAR 1

4C

Pengguna Jasa

T O T A L CUSTOMER SATISFACTION

1. CUSTOMER NEEDS & WANTS 2. COST TO THE CUSTOMER 3. CONVENIENCE 4. COMMUNICATION

relations (hubungan masyarakat). Sosialisasi peraturan kepabeanan bagi kepentingan dunia usaha memegang peranan penting dalam rangka pelaksanaan prosedur dan praktek pabean yang transparan, konsisten dan dapat diprediksi (predictable) sehingga market forces dapat mengantisipasi, merencanakan dan mempersiapkan diri dalam kegiatan bisnis dan pemenuhan kewajiban pabean. Sosialisasi dapat dilakukan dengan melakukan seminar, workshop, pelatihan dan melalui teknologi internet via website Bea dan Cukai. Public relations (PR) dibentuk untuk menekankan pada pemberian informasi dan penciptaan pemahaman. PR yang dikemas dengan baik akan membantu menciptakan pencitraan yang positif dan kredibel. Stigma masyarakat terhadap Bea dan Cukai yang cenderung memojokkan akan tereduksi dengan sendirinya apabila masyarakat umumnya dan pengguna jasa khususnya diberi pemahaman yang baik dan benar tentang tupoksi DJBC dan peraturan kepabeanan. Pemberitaan yang positif dan kontinyu seperti pemberitaan di media massa mengenai penangkapan kasus penyelundupan misalnya, setidaknya akan meng-counter stigma buruk masyarakat. Sedangkan strategi pemasaran dari sudut pandang pengguna jasa adalah konsep 4 C, yaitu : 1. Customer needs and wants ( kebutuhan dan keinginan pengguna jasa) 2. Cost to the customer ( biaya pengguna jasa) 3. Convenience (kenyamanan) 4. Communication ( komunikasi) Tujuan akhir dari seluruh konsep, kiat dan strategi pemasaran diatas (4P dan 4C) semuanya bermuara pada kepuasan pengguna jasa sepenuhnya (Total Customer Satisfaction).(Lihat Gambar 1) Dalam konsep inti pemasaran terdapat lima konsep pemasaran yang mendasari cara korporat (Bea Cukai) melakukan kegiatan Customs Marketing; A. Konsep Pemasaran Berwawasan Produktifitas.

Konsep ini salah satu konsep tertua, yaitu pengguna jasa akan memilih pelayanan yang cepat dan murah biayanya. Dalam hal ini memusatkan perhatiannya untuk mencapai efisiensi jasa pelayanan yang tinggi serta fasilitas kepabeanan yang semakin besar. Konsep ini dapat dijalankan apabila permintaan jasa pelayanan Bea dan Cukai yang cepat dan murah melebihi jumlah SDM dan fasilitas Kepabeanan yang diberikan dimana biaya ekonomi sangat tinggi (high cost economy ). B. Konsep Pemasaran Berwawasan Jasa Pelayanan. Konsep ini berpendapat bahwa pengguna jasa akan memilih jasa pelayanan yang menawarkan mutu, kinerja terbaik dan inovatif dalam hal ini memuaskan perhatian untuk membuat jasa pelayanan yang lebih baik dan terus menyempurnakannya. Instansi yang berwawasan ini cenderung tidak memperhatikan keinginan dan kebutuhan dari pengguna jasa, sehingga akan mengalami kesulitan dalam mempromosikan citra dan kinerjanya. C. Konsep Pemasaran berwawasan ‘Menjual’. Konsep ini berpendapat bahwa kalau pengguna jasa dibiarkan saja, pengguna jasa tidak akan melakukan atau mengurangi kegiatan impor dan cenderung beralih membeli produk lokal serta tidak memanfaatkan fasilitas kepabeanan yang diberikannya. Dengan demikian harus dilakukan usaha sosialisasi dan promosi yang lebih agresif lagi. D. Konsep Pemasaran Berwawasan Pemasaran. Konsep ini berpendapat bahwa kunci untuk mencapai tujuan korporat terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan market forces serta memberikan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien. Konsep berwawasan pemasaran dapat dilakukan selain dengan memenuhi kebutuhan dan keinginan pengguna jasa, juga berusaha sekuat tenaga memberikan nilai, mutu dan kepuasan tertinggi bagi pengguna jasa.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

s

s

73

KEPABEANAN INTERNASIONAL
E. Konsep Pemasaran Berwawasan Bermasyarakat. Konsep ini beranggapan bahwa tugas korporat/instansi adalah menentukan kebutuhan, keinginan serta kepentingan market forces dan memenuhi dengan lebih efektif serta efisien dengan cara mempertahankan atau meningkatkan fasilitas kepabeanan yang dibutuhkan dan kebutuhan masyarakat. Bea dan Cukai sebagai trade facilitator mempunyai peran sangat penting dan strategis dalam konteks pengembangan dan pembangunan ekonomi. Dana yang ‘diinvestasikan’ secara bijaksana dalam Bea dan cukai dengan bentuk Bea Masuk dan pungutan impor lainnya akan menghasilkan manfaat-manfaat yang tidak saja dinikmati oleh pemerintah dalam bentuk penerimaan negara yang semakin meningkat, kontrol yang lebih baik, dapat menghindari future cost yang mungkin lebih berat, tetapi juga manfaat bagi trading community dalam bentuk fasilitas perdagangan. Tugas Bea dan cukai selain sebagai trade facilitator, juga mempunyai tugas sebagai community protection. Dalam arti kata, Bea dan Cukai melindungi masyarakat dari ancaman masuknya barang-barang terlarang yang diselundupkan ke dalam negeri. Dengan upaya pemberantasan penyelundupan secara terpadu diharapkan masyarakat memberikan stigma positif bagi Bea dan Cukai. pengawasan (fungsi kontrol) dimana kedua peran tersebut harus dijalankan secara seimbang. Hal ini yang kurang disadari pihak pengguna jasa. Sebagai contoh, Bea dan Cukai menganut sistem self assessment dimana pihak pengguna jasa diberikan kebebasan dalam memberitahukan dokumennya sebagai konsekuensi logis atas kebebasan yang diberikan, dilakukan audit. 2. Kesenjangan (Gap) antara persepsi Bea dan Cukai dengan spesifikasi kualitas jasa. Bea dan Cukai mungkin memahami secara tepat keinginan pengguna jasa tetapi tidak menetapkan suatu set standar kinerja spesifik. Standar kinerja pelayanan bisa dilihat dari kualitas petugas bea cukai dalam melakukan pelayanan, terutama dalam hal kecepatan. Faktor waktu sangat penting bagi dunia usaha. Pelayanan harus dilakukan secara real time, lewat cepat. Kurangnya standar mutu atau skill yang dimiliki oleh petugas bea cukai karena minimnya pengetahuan mereka akan peraturan kepabeanan. Dalam praktek, petugas sering hanya bekerja berdasarkan atas ‘tradisi’ saja, tanpa tahu peraturannya. Padahal peraturan terus berubah dan berkembang disesuaikan situasi dan kondisi perekonomian global. Ironisnya, pengguna jasa justru cenderung lebih mengetahui peraturan yang berlaku, mengingat mereka diharuskan mengikuti diklat PPJK. 4. Kesenjangan (Gap) antara penyampaian jasa dengan komunikasi eksternal. Harapan pengguna jasa dipengaruhi oleh pernyataan yang dibuat oleh para petinggi bea cukai dan slogan-slogan visi dan misi Bea dan Cukai. Misalnya, dalam sosialisasi pelayanan dinyatakan bahwa Bea dan Cukai siap memberikan pelayanan dengan menghilangkan segala pungutan yang menimbulkan high cost economy. Disetiap Kantor Bea dan Cukai sering dijumpai slogan-slogan yang dipajang, baik berisi visi dan misi Bea dan Cukai maupun slogan-slogan yang bersifat promosi, seperti kata-kata ‘Kami Siap Melayani Anda’, Dukung Bea dan Cukai dalam Memberantas Penyelundupan, dan slogan lainnya. 5. Kesenjangan (Gap) antara jasa yang dialami dan jasa yang diharapkan. Gap ini terjadi apabila muncul persepsi yang keliru mengenai kualitas jasa tersebut. Pengguna jasa akan puas bila pelayanan diterima sesuai atau bahkan melebihi ekspektasi yang mereka miliki. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi ekspektasi dari pengguna jasa, yaitu: apa yang didengar dari pengguna jasa lainnya, pengalaman masa lalu dalam menerima pelayanan, ketentuan perundang-undangan dan karakteristik maupun keinginan individu dari pengguna jasa kepabeanan.

MODEL KUALITAS JASA
Pengukuran kualitas jasa sangat sulit dilakukan mengingat sifatnya intangible dan tidak ada parameter yang jelas dalam mengontrolnya. Salah satu tolok ukur dalam mengetahui kualitas jasa yang diberikan oleh pegawai bea cukai adalah dengan mengadopsi Model Kualitas Jasa yang dikemukakan oleh Christopher H. Lovelock, dalam bukunya Services Marketing (New Jersey, Prentice hall, 1991).Model kualitas jasa dalam Customs Marketing adalah seperti gambar 2 yang telah disesuaikan dengan konteks Bea dan Cukai. Model kualitas jasa diatas mengidentifikasikan adanya lima kesenjangan (Gap) yang dapat menyebabkan timbulnya hambatan dalam penyampaian jasa sehingga bisa menurunkan kualitas jasa; 1. Kesenjangan (Gap) antara harapan pengguna jasa dengan persepsi Bea dan Cukai. Pihak Bea dan Cukai tidak selalu dapat memahami secara tepat apa yang diinginkan pengguna jasa. Di satu sisi, pengguna jasa menginginkan proses clearance yang cepat dan murah, dilain pihak Bea dan Cukai selain mempunyai tugas pelayanan juga punya peran 74
WARTA BEA CUKAI

“FASHION (KEBIASAAN) DARI IMPLEMENTASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU SERINGKALI MENYEBABKAN HIGH COST ECONOMY (EKONOMI BIAYA TINGGI) SERTA PELAYANAN BEA DAN CUKAI YANG INEFFICIENT.”
dari waktu yang diharapkan maka menimbulkan kerugian. Standar kinerja untuk petugas bea cukai sebetulnya telah diatur dalam Kep 07/BC/2003 pasal 52, yang memberikan kepastian jangka waktu pelayanan penyelesaian barang impor untuk dipakai dalam waktu paling lama 4 (empat) jam kerja. Hal tersebut diperkuat juga dengan adanya kartu kontrol waktu. Tetapi semuanya hanya ‘diatas kertas’, kondisi di lapangan jauh berbeda. Pasalnya, hal tersebut kurang spesifik dan mengikat. 3. Kesenjangan (Gap) antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa. Para petugas mungkin kurang terlatih, tidak mampu atau tidak mau memenuhi standar. Atau mereka dihadapkan pada standar yang berlawanan, seperti menyediakan waktu untuk mendengarkan komplain para pengguna jasa yang menuntut dalam melayani mereka dengan

UPAYA CUSTOMS MARKETING DALAM PENINGKATAN CITRA DAN FUNGSI PUBLIKASI
Beberapa analisa, strategi dan konsep pemasaran dalam Customs Marketing telah dijabarkan diatas dimana semuanya bertujuan untuk meningkatkan citra Bea dan Cukai dan fungsi publikasi dalam menyosialisasikan fasilitas kepabeanan. Hal tersebut akan lebih konkrit, apabila dibarengi dengan langkah konstruktif dalam Customs Marketing; a. Perancangan produk service yang berorientasi pada market forces. Dalam merancang dan membangun suatu produk service yang dapat meningkatkan citra, terkenal dengan dua pendekatan, yaitu perancangan berorientasi produk service (service driven) dan perancangan berorientasi

EDISI 375 FEBRUARI 2006

b. Pemanfaatan website Bea Cukai sekarang ini telah menggunakan teknologi website melalui situs www.beacukai.go.id. Website ini sangat efektif dalam mempublikasikan atau sosialisasi dari peraturan-peraturan maupun fasilitas-fasilitas kepabeanan yang diberikan kepada pengguna jasa. Dengan hanya membuka website Bea dan Cukai, kebutuhan informasi yang mereka inginkan sudah tersedia. Segala permasalahan yang dihadapi dapat terselesaikan hanya dengan mengunjungi satu website saja. Konsekuensi logis yang harus dihadapi pengelola website adalah harus menyediakan informasi yang up to date dan terus diperbarui. Tentunya terlebih dulu pengelola website harus mengidentifikasikan apa saja yang menjadi kebutuhan para pengguna jasa tersebut. Pengelola website harus berusaha agar website-nya dikunjungi orang sebanyak mungkin, karena salah satu ukuran keberhasilan suatu website adalah banyak-sedikitnya pengunjung. Hal demikian mengingat berapa banyak yang dapat diandalkan sebagai sumber informasi dan media pembelajaran masyarakat. Banyak instansi pemerintah yang ikut ‘latah’ membuat website, namun bingung setelah website itu selesai dibuat. c. Just in Time dalam sektor publik. Konsep just in time (JIT) yang biasanya digunakan oleh perusahaan, secara filosofi dapat diterapkan dalam Customs Marketing mengingat sistem JIT berusaha melakukan pekerjaan secara terus-menerus dengan menghilangkan segala pemborosan dan segala sesuatu yang tidak memberi nilai tambah dengan menyediakan sumber daya pada tempat dan waktu yang tepat. Filosofi utama JIT adalah melakukan proses produksi (dalam Customs Marketing diadopsi menjadi proses pengeluaran barang impor) secara tepat waktu dan sampai pada lini (bidang) berikutnya secara tepat waktu tanpa idle waktu dan sumber daya. Waktu dan

Bea dan Cukai

PENYAMPAIAN JASA s PENERJEMAHAN PERSEPSI MENJADI

GAP 4 KOMUNIKASI

EKSTERNAL KE PENGGUNA JASA

GAP 1

GAP 3

s SPESIFIKASI KUALITAS JASA

GAP 2

s PERSEPSI BEA CUKAI TENTANG HARAPAN PENGGUNA JASA
Sumber Bacaan 1. Mathilda M.F Christynar, Pemasaran Menghadapi Konsumen “Baru” dengan Inovasi, Sinar Harapan, 2002. 2. Trioso Purnawarman, Strategi Pemasaran dan Pengendalian Mutu Produk, Jakarta, 2001. 3. Suparjo, One Stop Shopping, Arsitektur Website Pemerintah yang Ideal, Jakarta, 2001. 4. Michael E. Sendow & Fredy Sidabutar, Pemasaran Kualitas Jasa, Jakarta, 2005. 5. Suparjo, Just In Time Mungkinkah Diterapkan pada sektor Publik (BAKUN?), Jakarta, 2005. 6. Suara Merdeka, Kreatifitas adalah roh Pemasaran, Semarang, 2005. 7. Republika Online, Pemasaran : Buat Rencana Pemasaran Efektif, Jakarta, 2004. 8. C.M. Lingga Purnama, MM, Strategic Marketing Plan, Gramedia, Jakarta, 2004. 9. Philip Kotler, Manajemen Pemasaran : Analisa, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Jilid I, edisi kedelapan, Jakarta, 1995. 10. John M. Echols & Hassan Shadily, Kamus InggrisIndonesia, Gramedia,Jakarta, 2000.

sumber daya yang menganggur adalah sumber utama pemborosan. JIT yg pertama kali ditemukan oleh Taiichi Ohno dapat diterapkan dalam sector publik, terutama jika Bea dan Cukai menerapkan sebagian atau seluruh prinsip JIT diharapkan pelayanan kepada pengguna jasa dapat lebih berkualitas dan terdapat jaminan akan waktu pelayanan yang lebih optimal. Hal demikian mengingat tujuan dari JIT adalah untuk memuaskan konsumen dengan kualitas yang prima dan ketepatan waktu pelayanan kepada pengguna jasa sehingga efektif didalam pencapaian tujuan organisasi. Mungkin tidak semua prinsip dan kaidah dalam sistem JIT diterapkan pada proses kerja di Bea dan Cukai, namun bisa beberapa prinsip diterapkan, sehingga membantu pencapaian visi dan misi Bea dan Cukai sebagai sebuah institusi kepabeanan.

t

Biodata Penulis Nama : Donny Eriyanto, SE, MM. NIP : 060086451 Unit Kerja : KPBC Balikpapan
WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

75

market forces (market forces driven), cenderung lebih memperhatikan output saja, sehingga apabila Bea dan Cukai hanya berorientasi pada produk service maka hanya akan memprioritaskan proses pengeluaran barang saja tanpa memperhatikan kualitas jasa yang diberikan pada market forces sebagaimana yang ada dalam perancangan berorientasi market forces. Kinerja pegawai bea cukai yang produktif dituntut untuk memperhatikan kualitas jasa pelayanan yang diberikan kepada pengguna jasa dalam pengurusan setiap pengeluaran dokumen. Misalnya, dengan pelayanan tepat waktu, cepat, penuh keramahan dan tanpa dipersulit. Kinerja demikian secara tidak langsung akan membantu Bea dan Cukai dalam upaya meningkatkan citra positif di mata masyarakat dan pengguna jasa.

MODEL KUALITAS JASA DALAM CUSTOMS MARKETING

GAMBAR 2

KOMUNIKASI DARI MULUT KE MULUT

KEBUTUHAN t JASA YANG DIALAMI s JASA YANG DIPERSEPSIKAN s
t

PENGALAMAN MASA LALU

t t

t

GAP 5

Pengguna Jasa

PROFIL

ANTHON DEGEY
KOORDINATOR PELAKSANA KPBC TIPE B AMAMAPARE

KEPALA SUKU
P
agi hari tanggal 12 Desember 2005 ketika rombongan belum lama tiba di KPBC Amamapare, di halaman depan kantor, beberapa pegawai sedang berkumpul menantikan acara serah terima jabatan dari Kepala KPBC Amamapare yang lama, Hartono Singgih kepada yang baru Agus Hermawan. Tiba-tiba, Hartono Singgih berkata kepada WBC, “Bagaimana kalau Pak Degey dijadikan profil di WBC, Pak Degey itu pegawai disini, dia juga seorang Kepala Suku”. Sedikit terkejut WBC mendengar hal itu terlebih karena jabatan Kepala Suku yang bagaimanapun juga bermakna khusus, apalagi dari wilayah Papua, sekalipun kami belum pernah mengenalnya. Beberapa pegawai yang juga mendengar percakapan kami langsung bersahutan memberi komentar tanda setuju. Maka Pak Degey pun dipanggil. Ketika bertemu, kami saling berjabat tangan dan Anthon Degey tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum. Pun ketika diberitahukan bahwa ia akan diwawancara WBC untuk rubrik profil, ia hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. Belakangan baru diketahui bahwa Anthon Degey memang sosok yang “irit” dalam percakapan. Ketika wawancara berlangsung, WBC harus berusaha keras memancing agar ia mau lebih banyak bercerita. Setiap pertanyaan yang diajukan selalu dijawab dengan singkat. Hal ini tentu berbeda bila dibandingkan wawancara dengan sosok-sosok profil sebelumnya dimana percakapan selalu mengalir dengan lancar. Tidak ada kendala bahasa tentu saja, jawaban yang disampaikan Anthon Degey selalu jelas namun terasa terlalu singkat. Transkrip wawancara dengannya membuktikan kalau ia tidak pernah menjawab lebih dari dua paragraf. Herannya, ketika wawancara selesai dan tape rekaman dimatikan, obrolan dengan Anthon Degey berlangsung dengan santai dan lebih panjang.
WARTA BEA CUKAI

HARAPAN SEORANG
Menulis kisah seorang pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bernama Anthon Degey yang berasal dari bumi Papua pada edisi ini, bisa dikatakan terjadi secara “kebetulan”. Peristiwa kebetulan ini terjadi ketika WBC ikut berkunjung ke KPBC Amamapare bersama rombongan Kakanwil XII DJBC Ambon pada medio Desember 2005 (WBC Edisi 374, Januari 2006).
Mungkin tegang, mungkin grogi, entahlah. Dan mungkin karena memang ia merasa sedikit dalam bercakap-cakap, maka ketika wawancara akan dimulai, Anthon memberikan secarik kertas berisi data mengenai dirinya dari nama, jabatan, tempat tanggal lahir, riwayat pekerjaan, perkawinan, hingga empat poin harapan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (lihat boks). Semuanya dalam satu lembar kertas. Tapi justru itulah salah satu hal menarik dari seorang Anthon Degey. Seorang pegawai di KPBC Amamapare mengakui kalau ia dikenal tidak banyak berbicara. “Pak Degey itu memang orang yang tidak banyak ngomong, tapi rajin. Kalau datang kantor itu pagi-pagi, langsung sibuk kerja”. Hal yang sama dikemukakan oleh Hartono Singgih. Selama menjabat sebagai Kepala KPBC Amamapare, menurutnya Anthon Degey termasuk orang yang rajin, tekun, disiplin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. “Pak Degey selalu melaksanakan tugasnya dengan baik dan tanpa mengeluh. Dalam hal ada kendala atau kesulitan, beliau tidak segan untuk berkonsultasi dengan Kepala Seksi-nya, atau kadang-kadang langsung dengan saya sebagai Kepala Kantor demi mengatasi masalah”. Agus Hermawan, yang baru menjabat Kepala KPBC Amamapare sekitar dua bulan juga punya penilaian yang sama. “Pak Degey nggak terlalu banyak omong, tapi kerjanya bagus. Dia tidak menunda pekerjaan yang jadi tanggung jawabnya”. sekian banyak yang mengikuti ujian dari seluruh Papua, hanya 96 orang yang berhasil masuk, dan dari 96 orang tersebut, 8 orang ditempatkan di Bea Cukai, dan Anthon termasuk salah satunya. Keberhasilannya tersebut membuat Anthon tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya pada saat itu. Ketika dittanya apa yang membuat ia tertarik melamar di Depkeu, Anthon menjawab, ”Saya tertarik karena saya (ketika itu) memiliki kekurangan dalam biaya pendidikan, jadi saya putuskan untuk bekerja saja, dan saya memang kepingin sekali bekerja di Depkeu”. Tahun 1978, Anthon untuk pertama kalinya bekerja di Bea Cukai dan ia ditempatkan di Jayapura di bagian Perbendaharaan. Gaji yang ia terima saat itu sebesar 8000 rupiah. Selama karirnya, Anthon beberapa kali berpindah tugas dari Jayapura ke Amamapare dan sebaliknya. Tahun 1981 ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil, dan sejak tahun 1986 ia ditetapkan bertugas di KPBC Amamapare hingga sekarang. Bisa dikatakan Anthon Degey telah bertugas cukup lama di Amamapare, yaitu dari tahun 1986 ketika kantor bea cukai tersebut masih berstatus Kantor Inspeksi Tipe D, lalu kemudian berubah menjadi Kantor Pelayanan Tipe C, hingga saat ini menjadi Kantor Pelayanan Tipe B. Setelah mulai menjadi Pelaksana sejak tahun 1986, peristiwa yang belum lama terjadi yang tentu menggembirakan dirinya adalah jabatan Anthon Degey yang kini menjadi Koordinator Pelaksana di KPBC Amamapare. Berdasarkan Keputusan Dirjen Bea dan Cukai Nomor 88 tanggal 30 Desember 2005 tentang Pengangkatan Koordinator Pelaksana di lingkungan DJBC Departemen Keuangan, Anthon Degey diangkat menjadi Koordinator Pelaksana Administrasi Penyidikan dan Barang Bukti KPBC Amamapare. Pengangkatan tersebut sangat pantas

BEA CUKAI
Anthon Degey telah mengabdi di DJBC selama 28 tahun. Sejarahnya bermula ketika ia duduk di kelas 2 SMA Jayapura, Anthon mengikuti tes masuk Departemen Keuangan yang waktu itu dikhususkan untuk putra daerah. Dari

76

EDISI 375 FEBRUARI 2006

EDISI 375 FEBRUARI 2006

WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
FOTO : PRIYONO

FOTO BERSAMA. Muka, dari kiri ke kanan: Yohanna Gobai, Anthon Degey, Anthon Gobay (cucu), Nwiance Degey, Wilhelmina Degey (cucu, dipangku), Stef Gobay (cucu). Belakang, dari kiri ke kanan: Jonmania Degey (anak angkat), Alsafina Degey, Natalia Degey, Alfince Degey.

menurut Agus Hermawan yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Subbagian Umum Kepegawaian Sekretariat DJBC. “Kami mengusulkan pengangkatan tersebut dilihat dari segi diklat teknis, pangkat yang telah mencukupi, dan kondite kerja yang cukup baik, “ ujar Agus. Rentang kerja yang cukup panjang tentu saja menghasilkan banyak pengalaman menarik. Salah satu hal menarik yang diingat Anthon Degey ketika

ia mulai bekerja adalah pengalaman belajar mengetik. Kehidupan Anthon sewaktu kecil di pedalaman, seperti umumnya masyarakat Papua, yang erat dengan pekerjaan berkebun dan berladang, membuat ia terbiasa memegang alat-alat pertanian. Hal tersebut yang membuat jari-jari tangannya mengalami kesulitan ketika pertama kali harus bekerja dengan mesin tik yang membutuhkan keluwesan saat mengetik. “Karena kita dibesarkan di pedalaman

jadi kita belum pernah mengetik. Pekerjaan sehari-hari saya berkebun untuk makan sehari-hari. Saya dulu ikut kursus mengetik, itu menarik karena menurut saya agak susah, dan selain itu juga untuk meringankan tangan sehingga di kantor saya dapat lancar mengetik,” cerita Anthon. Sekarang tentu saja Anthon sudah lancar mengetik, tidak hanya mesin tik tapi juga komputer. Secarik kertas yang diberikan kepada WBC membuktikan hal itu. Dalam kertas tersebut, 4 (empat) harapan yang ia tulis merupakan cermin kepeduliannya yang besar terhadap KPBC Amamapare dan juga terhadap generasi muda putra daerah papua yang bekerja di DJBC. Ia misalnya, berharap ada perumahan dinas bagi pegawai di Amamapare. Masalahnya, seperti dikemukakan Hartono Singgih, selama ini PT Freeport memberikan fasilitas hanya berupa mess untuk bujangan. Padahal hampir seluruh pegawai telah berkeluarga, sehingga mereka terpaksa mengontrak rumah, yang di Kota Timika biayanya cukup mahal. Anthon juga berharap suatu saat ada putra daerah Papua yang memenuhi syarat menjadi pejabat DJBC. “Harapan saya ke depan nanti ada putra daerah yang menjadi pejabat disini baik kepala seksi maupun kepala kantor, karena banyak sudah putra daerah Papua yang bekerja di DJBC tapi belum ada yang sampai menjadi pejabat.”

KEPALA SUKU
Anthon lahir dari pasangan Fitalis Degey (ayah) dan Donci Gobay (ibu). Ia memiliki dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Dalam curriculum vitae pegawai DJBC yang kami terima, tertulis, Anthon lahir tanggal 1 Januari 1954. Padahal menurut pengakuannya, tanggal dan bulan kelahirannya tidak jelas diketahui. “Waktu saya lahir kondisi orang tua masih memakai koteka, jadi masih belum jelas tepatnya kapan saya lahir dan bulannya. Yang jelas hanya tahunnya yaitu tahun 1954, sebelum pemerintahan Indonesia masuk”. Anthon Degey lahir di kampung Dey, Kabupaten Enarotali, Paniai. Di wilayah inilah asal suku Anthon yaitu Suku Mee. Wilayah Enarotali, Paniai terletak tidak jauh dari ‘kota’ Tembagapura. Suku Mee (Ekagi) hanyalah satu dari tujuh (7) suku yang tinggal tersebar di sekitar areal operasi PT Freeportt Indonesia di Papua. Ke-enam suku lainnya adalah Suku Amungme, Komoro, Dani, Moni, Nduga dan Damal. Di antara ketujuh suku tersebut, hanya suku Kamoro yang tinggal di sepanjang pesisir pantai serta di pedalaman yang tidak jauh dari pantai. Sementara suku-suku lainnya tinggal di dataran tinggi, di wilayah pegunungan. Suku Dani dan Mee adalah golongan

78

WARTA BEA CUKAI

EDISI 375 FEBRUARI 2006

etnis Papua yang terbesar, sedangkan suku-suku lain jauh lebih kecil. Menurut HARAPAN KEPADA DIREKTORAT Anthon, di Suku Mee ada sekitar 5000an jiwa. “Yang paling sedikit itu Suku JENDERAL BEA DAN CUKAI : Nduga, sekitar 2000-an jiwa”. 1. Diharapkan agar dapat dipersiapkan rumah dinas bagi pegawai Ia kembali menjelaskan, Suku Mee Amamapare, karena selama ini pegawai hanya menyewa rumah dengan hingga kini terus mendapatkan biaya yang cukup tinggi pembinaan di berbagai bidang oleh pemerintah sehingga sekarang sukunya 2. Diharapkan agar ada formasi khusus untuk putra daerah orang Papua tersebut menjadi pembina bagi suku-suku dalam penerimaan pegawai baik itu di tingkat SMA, D-I, D-III Bea Cukai, lainnya. “Dari Suku Mee banyak yang jadi maupun Sarjana dalam mewujudkan tercapainya UU Otsus bagi guru dan pegawai negeri, dalam arti Suku Propinsi Papua Me ini banyak yang terdidik ketimbang suku lainnya, “kata Anthon. Dan Anthon 3. Dimohon agar pegawai Bea Cukai khusus putra daerah yang telah adalah salah satu buktinya. memenuhi syarat agar dapat dipromosikan menjadi pejabat di Tahun 1996 Anthon dipilih menjadi lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kepala Suku Mee, dan belum 4. Dimohon agar pegawai yang ada di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ditentukan kapan jabatannya tersebut Amamapare dapat diikut sertakan dalam setiap kegiatan Diklat yang berakhir. “Bagaimana anda bisa diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal bea dan Cukai menjadi Kepala Suku Me,“ tanya WBC. “Itu pemilihan masyarakat yang dilihat dari perbuatan kita dan pergaulan kita,“ jawab Anthon singkat. Ketika ditanya kedatangan suku-suku lain walaupun segera berperang. Lucunya, ketika jam apakah berat menjadi seorang kepala sekedar berbincang-bincang. makan siang tiba, perang yang sedang suku, ia mengatakan, “Karena berlangsung otomatis akan berhenti. masyarakat mempercayakan kepada Perang akan berlanjut setelah istirahat KELUARGA saya, jadi tidak bisa menolak”. makan siang. Anthon sendiri menegasAnthon Degey dan keluarga saat ini Salah satu tugas seorang kepala suku kan bahwa Suku Mee tidak pernah tinggal di kota Timika. Ia mengenang kota seperti Anthon adalah menyelesaikan Timika dulu yang digambarkannya gelap berperang. “Kita hanya sebagai penasehat persoalan atau masalah-masalah yang karena masih berupa hutan. “Yang kita saja”. Anthon mengaku memang sering terjadi di lingkungan duduk sekarang ini hutan. WBC/KY masyarakatnya. Setiap (Wawancara dengan Anthon minggu, cerita Anthon, berlangsung di teras kamar terutama di hari Sabtu dan Hotel Sheraton Timika. Di Minggu, pasti ada saja depan teras kamar hotel persoalan di masyarakat hingga kini pun masih beruyang harus ia hadapi dan pa hutan lebat, karena hotel selesaikan, dari hal-hal ini memang dibangun di ringan sampai misalnya tengah hutan -red). Di kota kasus perkelahian hingga itu (Timika) juga hutan, mapembunuhan. Bahkan syarakat belum ada. Kalau Anthon juga harus ada hanya penampungan”. berhadapan dengan kasus Tahun 1981Anthon terberat yaitu perang suku. menikah dengan Yohanna Di daerah Papua meGobai yang juga berasal dari mang masih terjadi perang Suku Mee. Mereka dikarusuku. Perang dalam arti niai empat putri masingsesungguhnya yang melimasing Alfince Degey, batkan alat-alat seperti Nwiance Degey, Natalia tombak, parang, pisau dan Degey dan Alsafina Degey. panah ini tidak hanya terjadi Empat tahun yang akan di wilayah hutan pedalaman. datang tepatnya tahun Perang bahkan terjadi juga di 2010, Anthon akan kota seperti di Timika. memasuki masa pensiun. Menurut Anthon, pihaknya Seperti biasa, ia sudah terus melakukan tersenyum ketika ditanya pembinaan terhadap sukuapa yang akan suku yang ada, namun tetap dilakukannya setelah saja perang terjadi. “Perang pensiun nanti. Ia hanya itu baru akan usai jika menjawab singkat, masing-masing pihak ada “Rencana sudah ada tapi yang meninggal, jadi harus masih mempelajari”. seimbang.” Anthon mengaku Hal yang sama senang bekerja di bea cukai, diceritakan oleh beberapa dan kembali menegaskan pegawai KPBC Amamapare harapannya, “Saya mohon kepada WBC. Bahkan ketika promosi atau pendidikan, WBC berkeliling kota Timika, dan penerimaan pegawai sempat diperlihatkan lokasiDirektotar Jenderal Bea dan lokasi di kota tersebut tempat Cukai khususnya putra JABAT TANGAN. Anthon Degey memperagakan kepada Agus Hermawan, cara khas berkumpulnya massa dari daerah Papua yang baru berjabat tangan Suku Mee dan lima suku lainnya yang berasal dari pegunungan. kedua belah pihak yang akan Sementara Suku Komoro punya cara lain dalam berjabat tangan. berkembang ini”. ky
EDISI 375 FEBRUARI 2006 WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA

M

Dena
80
WARTA BEA CUKAI

“NGGAK KALAH DENGAN PETUGAS BEA CUKAI DI NEGARA LAIN”
EDISI 375 FEBRUARI 2006

edio Januari lalu, bertempat disebuah café di bilangan Jakarta Pusat, digelar launching film Indonesia yang akan memasuki masa syuting. Film tersebut berjudul D’Girlz Begins dan disponsori oleh sebuah perusahaan pembalut wanita. Film garapan sutradara Tengku Firmansyah ini bercerita tentang seorang polisi wanita (polwan) yang menyamar dan menyusup ke sebuah kampus untuk melacak gembong narkoba. Salah satu pemainnya, Dena mengatakan, saat ini ia sedang melakukan persiapan untuk film perdananya. Persiapan tersebut antara lain dengan berkonsentrasi, banyak berolahraga serta minum air putih dan jamu untuk menjaga stamina. Tujuannya agar pada saat syuting yang dimulai bulan Pebruari, fisiknya tidak mengalami drop. Dalam film ini, Dena berperan sebagai Amanda, seorang super smart DJ. Seorang cewek yang smart, pintar dan hobi bermusik. “Seru dan senang ya aku bisa main di film ini, aku diberikan kepercayaan untuk memerankan tokoh Amanda, sehingga aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini,” ujar cewek yang sebelum terjun di dunia film menekuni dunia modeling ini. Setelah menyelesaikan film perdananya, Dena berencana untuk menyelesaikan kuliahnya di London School yang saat ini memasuki semester terakhir jurusan public relation. Ketika ditanya WBC apakah ia pernah mengalami kesulitan dengan petugas bea cukai di bandara, cewek yang lahir pada 9 September 1984 ini mengaku tidak pernah mengalaminya. Ia merasa pekerjaan yang dilakukan petugas bea cukai seperti menggeledah barang bawaan penumpang merupakan suatu hal yang wajar. “So far, aku merasa petugas bea cukai yang ada di Bandara Soekarno Hatta sudah melakukan tugasnya dengan baik, tidak kalah dengan petugas-petugas bea cukai di negara lainnya,” imbuh cewek yang kerap pergi ke luar negeri dalam rangka liburan. Namun ia menyarankan agar petugas lebih ramah pada penumpang, sehingga ia sebagai penumpang merasa senang. “Apalagi turis-turis dari luar negeri yang datang ke Indonesia juga bisa merasa nyaman ketika sampai di airport kita,” tambahnya. Ia menghimbau agar petugas bea cukai bisa lebih giat lagi dalam bekerja untuk mencegah agar gembong-gembong narkoba tidak masuk ke Indonesia. Ia juga menilai equipment yang dimiliki petugas bea cukai masih kurang dibandingkan dengan luar negeri. Namun ia memaklumi bahwa hal itu dikarenakan keterbatasan dana. Untuk itu ia berharap agar suatu saat nanti Bea dan Cukai Indonesia bisa lebih maju lagi. ifa.

WBC/IFA

VJ Daniel

K

“Berharap Ada Anjing Pelacak yang Ditempatkan di Bandara”

etika ditemui WBC disela-sela launching film D’Girls Begins, VJ Daniel yang datang pada malam itu mengatakan tidak pernah mengalami kesulitan dengan petugas bea cukai di Bandara Soekarno Hatta. Menurutnya, petugas yang ada sangat ramah padanya. “Apa mungkin mereka kenal sama gue ya hehe…” ujarnya. Tetapi menurutnya, sebelum ia berprofesi sebagai VJ MTV, petugas bea cukai selalu ramah padanya. Barang-barang yang ia bawa dari luar negeri selalu diperiksa. Seperti tas jinjing yang selalu dibawanya, selalu di periksa di x-ray sementara tas besarnya diperiksa atau dibongkar, tapi itu bukan masalah bagi cowok yang dalam setahun bisa dua atau tiga kali pergi keluar negeri. Menurutnya, petugas bea cukai di bandara sudah berlaku sopan. Namun ia menyarankan agar petugas di bandara bersikap lebih ramah lagi pada penumpang. “Sebab, mungkin saja diantara penumpang tersebut adalah investor asing atau business man yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia,” ujar bintang iklan sebuah pasta gigi ini. Namun demikian, yang mungkin menjadi kekurangan adalah perlu adanya anjing pelacak drugs yang ditempatkan di bandara khususnya Soekarno Hatta. “Jujur aja, gue sangat berharap banget adanya anjing pelacak di bandara sebab itu bisa mengurangi masuknya narkoba ke Indonesia,” katanya lagi. Ia membandingkan kondisi Bandara Soekarno Hatta dengan bandara di Perth, Australia dimana dulu ia sering bolak-balik ke negeri kangguru tersebut untuk keperluan sekolah. Menurutnya, bandara di Australia dilengkapi dengan anjing pelacak. Sementara di Indonesia tidak seperti itu. Untuk itu, ia yang kini sering ke Australia dalam rangka liburan, berharap agar Bea dan Cukai juga menaruh anjing pelacaknya di bandara. Ia juga meminta agar kinerja petugas bea cukai yang ada selama ini terus dipertahankan dan lebih meningkatkan pengawasan khususnya terhadap barang-barang terlarang seperti narkoba dan bahan peledak. Sebab Daniel sangat berharap agar Indonesia tidak menjadi sarang teroris. Akur deh Dan… ifa

WBC/IF A

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 93/PMK.02/2005 T E N T A N G TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PUNGUTAN EKSPOR MENTERI KEUANGAN Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2005 tentang Pungutan Ekspor Atas Barang Ekspor Tertentu untuk memudahkan pelaksanaan pemungutan Pungutan Ekspor, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pungutan Ekspor. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612). 2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687). 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355). 5. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3694). 6. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2003 tentang Tarip Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Departemen Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4313). 7. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2005 tentang Pemeriksaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). 8. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2005 tentang Pungutan Ekspor atas barang Ekspor Tertentu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4531). 9. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004. 10. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. 11. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 5/KMK.01/1993 tentang penunjukan Bank sebagai Bank Persepsi dalam rangka pengelolaan setoran penerimaan negara. 12. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 557/KMK.04/2003 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PUNGUTAN EKSPOR. Pasal 1 Dalam peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan : 1. Pungutan Ekspor adalah pungutan yang dikenakan atas barang ekspor tertentu. 2. Barang ekspor adalah barang yang dikeluarkan dari Daerah Pabean. 3. Bank Devisa Persepsi adalah bank devisa persepsi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4. Nilai kurs adalah nilai kurs yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan secara berkala. Pasal 2 (1) Terhadap barang ekspor tertentu dapat dikenakan Pungutan Ekspor. (2) Barang ekspor tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan dan atau usul Menteri di bidang perdagangan dan atau Menteri Teknis terkait lainnya. Pasal 3 (1) Perhitungan Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 adalah sebagai berikut : a. Dalam hal tarif Pungutan Ekspor ditetapkan secara advalorum, penentuan jumlah Pungutan Ekspor dihitung berdasarkan rumus :

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Tarif Pungutan Ekspor x Jumlah Satuan Barang x Harga Patokan Ekspor (HPE) x Nilai Kurs Contoh : Ekspor komoditi ” X ” bulan Februari 2003 sejumlah 1.000 MT dengan tarif Pungutan Ekspor sebesar 3% , HPE sebesar US$ 160,00 /MT dan kurs 1 US$ = RP. 8.800,00 maka jumlah Pungutan Ekspor terutang adalah : 3% x 1.000 MT x US$ 160,00 x Rp. 8.800,00 = RP. 42.240.000,00 b. Dalam hal tarif Pungutan Ekspor ditetapkan secara spesifik, penentuan jumlah Pungutan Ekspor dihitung berdasarkan rumus : Tarif Pungutan Ekspor dalam satuan mata uang tertentu x Jumlah Satuan Barang x Nilai Kurs Contoh : Ekspor Komoditi ”Y” bulan Mei 2003 sejumlah 1.000 M3 dengan tarif Pungutan Ekspor sebesar US$ 5,00 /M3, dan Kurs 1 US$ = Rp. 8.600,00 maka jumlah Pungutan Ekspor terutang adalah : US$ 5,00 x 1.000 M3 x Rp. 8.600,00 = Rp. 43.000.000,00

(2) Tarif Pungutan Ekspor yang digunakan untuk perhitungan Ekspor adalah tarif Pungutan Ekspor yang berlaku pada saat PEB didaftarkan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC). (3) Harga Patokan Ekspor (HPE) yang digunakan untuk perhitungan Pungutan Ekspor adalah HPE yang berlaku pada saat PEB didaftarkan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC). (4) Nilai kurs yang digunakan untuk perhitungan Pungutan Ekspor adalah nilai kurs yang berlaku pada saat dilakukan pembayaran Pungutan Ekspor. (5) Dalam hal tidak ada Harga Patokan Ekspor (HPE) penentuan jumlah Pungutan Ekspor dihitung berdasarkan Harga Free On Board (FOB) yang tercantum dalam PEB dengan rumus sebagai berikut : Tarif Pungutan Ekspor x Jumlah Satuan Barang x Harga Free On Board (FOB) x Nilai Kurs Contoh : Ekspor komoditi ”Z” bulan Februari 2003 sejumlah 1.000 MT dengan tarif Pungutan Ekspor sebesar 3%, Harga FOB sebesar US$ 200,00 /MT dan kurs 1 US$ = Rp. 8.800,00 maka jumlah Pungutan Ekspor terutang adalah : 3% x 1.000 MT x US$ 200,00 x Rp. 8.800,00 = Rp. 52.800.000,00 Pasal 4 (1) Pungutan Ekspor terutang pada saat Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) didaftarkan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat pemenuhan kewajiban pabean sesuai Tarif, dan Harga Patokan Ekspor (HPE) yang berlaku. (2) Pembayaran Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara tunai selambatlambatnya pada saat PEB didaftarkan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat pemenuhan kewajiban pabean. (3) Dalam hal pembayaran Pungutan Ekspor melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), eksportir dikenakan denda administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh. Pasal 5 (1) Pembayaran Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) hanya dapat dilakukan di Bank Devisa Persepsi. (2) Dalam hal ekspor dilakukan pada hari libur dan atau di daerah Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tidak ada Bank Devisa Persepsi maka pembayaran Pungutan Ekspor dapat dilakukan melalui Bendahara Penerima pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat PEB didaftarkan. (3) Bank Devisa Persepsi yang menerima pembayaran Pungutan Ekspor, kekurangan Pungutan Ekspor dan atau denda administrasi dari eksportir wajib menerbitkan Surat Tanda Bukti Setor (STBS) sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) Bendahara Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang menerima pembayaran Pungutan Ekspor, kekurangan Pungutan Ekspor dan atau denda administrasi dari eksportir wajib menerbitkan Surat Tanda Bukti Setor (STBS) pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 6 (1) Bendahara Penerima Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang menerima pembayaran Pungutan Ekspor, kekurangan Pungutan Ekspor dan atau denda administrasi dari eksportir, wajib segera menyetorkan penerimaan dimaksud untuk untung rekening Bendahara Umum Negara (BUN) Nomor rekening 502.000.000 di Bank Indonesia selambat-lambatnya pada hari kerja berikutnya melalui Bank Devisa Persepsi. (2) Bank Devisa Persepsi yang menerima pembayaran Pungutan Ekspor, kekurangan Pungutan Ekspor dan atau Denda Administrasi dari eksportir dan atau Bendahara Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, wajib menyetorkan penerimaan dimaksud untuk untung rekening Bendahara Umum Negara

2 2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(BUN) Nomor rekening 502.000.000 di Bank Indonesia selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja terhitung sejak pembayaran dimaksud diterima. (3) Atas setiap penyetoran sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Bank Devisa Persepsi wajib membuat Daftar Penyetoran Pungutan Ekspor (DPPE) dengan menggunakan format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) Bank Devisa Persepsi wajib menyampaikan DPPE sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) kepada Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keungan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan, dengan melampirkan sekurang-kurangnya fotocopy PEB, copy STBS dan fotocopy surat bukti setor ke rekening BUN selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal penyetoran Pungutan Ekspor. (5) Jumlah Pungutan Ekspor, kekurangan Pungutan Ekspor dan atau denda administrasi yang disetorkan oleh Bank Devisa ke rekening BUN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dipotong biaya jasa perbankan. Pasal 7 (1) Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setiap akhir bulan wajib melaporkan rekapitulasi kegiatan ekspor komoditi yang terkena Pungutan Ekspor kepada Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dengan menggunakan format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Bank Devisa Persepsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) setiap akhir bulan wajib melaporkan rekapitulasi penyetoran Pungutan Ekspor, kekurangan Pungutan Ekspor dan atau denda administrasi kepada Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dengan menggunakan format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 8 (1) Dalam hal sebelum barang diekspor diketahui terjadi kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor yang disebabkan oleh kesalahan pengenaan tarif Pungutan Ekspor, jumlah satuan barang, HPE, kurs, perhitungan atau kesalahan administrasi, eksportir wajib untuk segera melunasinya melalui Bank Devisa Persepsi dan atau Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat PEB didaftarkan. (2) Dalam hal eksportir yang bersangkutan belum melunasi kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud ayat (1) maka Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat PEB didaftarkan wajib melakukan penagihan kepada eksportir yang bersangkutan dengan menerbitkan Surat Tagihan Pertama dengan tembusan kepada Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan. (3) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Surat Tagihan pertama sebagaimana dimaksud ayat (2) diterbitkan, dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, KPBC melimpahkan penagihan selanjutnya ke Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan. (4) Berdasarkan pelimpahan penagihan dimaksud pada ayat (3), Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Tagihan Kedua. (5) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Surat Tagihan Kedua sebagaimana dimaksud ayat (4) diterbitkan, dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Tagihan Ketiga. (6) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Surat Tagihan Ketiga sebagaimana dimaksud ayat (5) diterbitkan, dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, Direktorat Jenderal anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Penyerahan Tagihan kepada Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara untuk proses penyelesaian lebih lanjut. Pasal 9 (1) Dalam hal setelah barang diekspor ditemukan adanya kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor berdasarkan hasil pemeriksaan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) dan hasil audit Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, KPBC yang bersangkutan wajib melakukan penagihan kepada eksportir yang bersangkutan dengan menerbitkan Surat Tagihan Pertama dengan tembusan kepada Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan. (2) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Surat Tagihan pertama sebagaimana dimaksud ayat (1) diterbitkan, dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, KPBC melimpahkan penagihan selanjutnya ke Direktorat Jenderal Anggaran dan Pertimbangan Keuangan. (3) Berdasarkan pelimpahan penagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Tagihan Kedua. (4) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Surat Tagihan Kedua sebagaimana dimaksud ayat (3) diterbitkan, dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Tagihan ketiga. (5) Dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Tagihan Ketiga sebagaimana dimaksud ayat (4) diterbitkan dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Penyerahan Tagihan kepada Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara untuk proses penyelesaian lebih lanjut.

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

3 3

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 10 (1) Dalam hal ditemukan adanya kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor oleh Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan, Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan wajib melakukan penagihan kepada eksportir yang bersangkutan dengan menerbitkan Surat Tagihan Pertama. (2) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Surat Tagihan pertama sebagaimana dimaksud ayat (1) diterbitkan dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Tagihan Kedua. (3) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak Surat Tagihan Kedua sebagaimana dimaksud ayat (2) diterbitkan dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Tagihan Ketiga. (4) Apabila dalam jangka waktu 1(satu) bulan sejak Surat Tagihan Ketiga sebagaimana dimaksud ayat (3) diterbitkan dan eksportir belum/tidak melunasi kewajibannya, Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan Surat Penyerahan Tagihan kepada Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara untuk proses penyelesaian lebih lanjut. Pasal 11 Terhadap kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud Pasal 8 ayat (1), Pasal 9 ayat (1) dan Pasal 10 ayat (1) dikenakan denda administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh. Pasal 12 (1) Eksportir dapat mengajukan permohonan untuk mengangsur atau menunda pembayaran Pungutan Ekspor terutang kepada Menteri Keuangan dengan sekurang-kurangnya melampirkan dokumen Laporan Keuangan. (2) Atas permohonan eksportir sebagaimana dimaksud ayat (1), Menteri Keuangan dapat memberikan persetujuan tertulis kepada eksportir untuk mengangsur atau menunda pembayaran Pungutan Ekspor yang terutang setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan, dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan. (3) Dalam hal Menteri Keuangan memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran Pungutan Ekspor, proses penagihan kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor dilakukan sebagaimana ketentuan dalam Pasal 10. Pasal 13 (1) Dalam hal terjadi kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor sebagai akibat kesalahan pengenaan Tarif Pungutan Ekspor, jumlah satuan barang, HPE, kurs, penghitungan atau kesalahan administrasi, eksportir dapat mengajukan permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor tersebut kepada Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dengan sekurang-kurangnya melampirkan dokumen asli atau fotocopy yang telah dilegalisasi sebagai berikut : l Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB); l Surat Tanda Bukti Setor (STBS); l Daftar Penyetoran Pungutan Ekspor (DPPE) dari Bank Devisa; l Bukti Penyetoran dari Bank Devisa ke Rekening BUN (Completion Advise); l Nota Pembetulan dan PEB Perbaikan dari KPBC dan l Bill of Lading (B/L). (2) Atas permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud ayat (1) Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan menerbitkan keputusan tentang kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor. (3) Dalam hal permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disetujui, kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor diperhitungkan sebagai pembayaran di muka atas jumlah Pungutan Ekspor yang terutang dari eksportir yang bersangkutan pada periode berikutnya. (4) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha eksportir dan terdapat kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud ayat (2), maka jumlah kelebihan tersebut dapat dikembalikan secara tunai kepada eksportir. (5) Pengakhiran kegiatan usaha eksportir sebagaimana dimaksud ayat (4) meliputi : a. Eksportir tidak akan melakukan kegiatan ekspor barang yang terkena Pungutan Ekspor dalam waktu sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan berturut-turut dan dinyatakan dengan surat pernyataan di atas kertas bermeterai. b. Pailit yang dibuktikan dengan surat keterangan dari instansi yang berwenang. c. Pemerintah menetapkan tarif Pungutan Ekspor sebesar 0% (nol persen) dan eksportir tidak melakukan kegiatan ekspor barang yang terkena Pungutan Ekspor, atau d. Pemerintah menetapkan larangan ekspor atas komoditi yang bersangkutan dan eksportir tidak melakukan kegiatan ekspor barang yang terkena Pungutan Ekspor.

4 4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(6) Dalam hal kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor dikembalikan secara tunai, Menteri Keuangan menerbitkan Surat Keputusan tentang kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor. (7) Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud ayat (6), Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan Otorasi (SPPSKO) kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk proses pencairan dananya. (8) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha Wajib Bayar, maka jumlah kelebihan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikembalikan kepada Wajib Bayar selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya ketetapan kelebihan pembayaran sebagaimana dimaksud ayat (6). (9) Dalam hal pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud ayat (8), kelebihan pembayaran tersebut dikembalikan kepada eksportir dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Pasal 14 (1) Dalam hal ekspor dibatalkan, eksportir dapat mengajukan permohonan pengembalian Pungutan Ekspor secara tertulis kepada Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dengan sekurangkurangnya melampirkan dokumen asli atau fotocopy yang telah dilegalisasi sebagai berikut: l Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB); l Surat Tanda Bukti Setor (STBS); l Daftar Penyetoran Pungutan Ekspor (DPPE) dari Bank Devisa; l Bukti Penyetoran dari Bank Devisa ke Rekening BUN (Complation Advise) dan l Surat Persetujuan pembatalan dari KPBC tempat PEB didaftarkan. (2) Pengembalian Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan biaya administrasi sebesar 2% (dua persen) dari jumlah Pungutan Ekspor yang dibayarkan. (3) Eksportir dapat dibebaskan dari pengenaan biaya administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan apabila : a. eksportir dapat membuktikan secara tertulis adanya pembatalan sepihak oleh pihak pembeli; b. tidak ada kapal pengangkut yang dibuktikan dengan surat keterangan dari instansi yang berwenang; atau c. ada force majuer. (4) Atas permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud ayat (1) Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan menerbitkan keputusan tentang kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor. (5) Dalam hal permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disetujui, kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor diperhitungkan sebagai pembayaran di muka atas jumlah Pungutan Ekspor yang terutang dari eksportir yang bersangkutan pada periode berikutnya. (6) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha eksportir dan terdapat kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor, maka jumlah kelebihan tersebut dapat dikembalikan secara tunai kepada eksportir. (7) Prosedur pengembalian kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor secara tunai dilakukan sesuai ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 13. Pasal 15 (1) Menteri Keuangan c.q Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dapat meminta instansi yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan terhadap eksportir sesuai ketentuan yang berlaku, berdasarkan : a. Hasil pemantauan Departemen Keuangan terhadap eksportir yang bersangkutan. b. Laporan dari pihak ketiga c. Permintaan eksportir atas kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor yang terutang. (2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah tentang Pemeriksaan Penerimaan Negara Bukan Pajak. (3) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (1) terdapat kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor, Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan penetapan atas kekurangan tersebut selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak Laporan Hasil Pemeriksaan Diterima. (4) Atas kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud ayat (3), eksportir dikenakan denda administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk waktu paling lambat 24 (dua puluh empat) bulan terhitung sejak Pungutan Ekspor Terutang. (5) Eksportir wajib melunasi kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor dan denda administrasi sebagaimana dimaksud ayat (4) selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak surat penetapan diterima oleh eksportir. (6) Dalam hal eksportir tidak melunasi dan tidak mengajukan permohonan untuk mengangsur atau menunda pembayaran kekurangan Pungutan Ekspor dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (5), penagihan atas Pungutan Ekspor dimaksud dilimpahkan kepada Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN).

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

5

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(7) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (1) terdapat kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor, Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan penetapan atas kelebihan tersebut selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak Laporan Hasil Pemeriksaan (LPH) diterima. (8) Kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud ayat (7) diperhitungkan sebagai pembayaran di muka atas jumlah Pungutan Ekspor yang terutang dari eksportir yang bersangkutan pada periode berikutnya. (9) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha eksportir, jumlah kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud ayat (7), dikembalikan secara tunai kepada eksportir selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya penetapan. (10) Prosedur pengembalian kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor secara tunai dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 13. Pasal 16 (1) Dalam hal eksportir keberatan atas penetapan jumlah Pungutan Ekspor terutang, eksportir dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikeluarkannya penetapan kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor. (2) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar Pungutan Ekspor yang terutang. (3) Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menerbitkan penetapan atas keberatan selambat-lambatnya 12 (dua belas) bulan sejak Surat Keberatan diterima secara lengkap. (4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud ayat (3) telah lewat, dan Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan tidak memberi suatu penetapan, maka keberatan yang diajukan oleh Wajib Bayar tersebut dikabulkan. (5) Dalam hal keberatan ditolak dan ternyata masih terdapat kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor yang tercantum dalam penetapan sebagaimana dimaksud ayat (3), Eksportir wajib melunasi kekurangan pembayaran Pungutan Ekspor dimaksud ditambah sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% (dua persen) sebulan dari kekurangan tersebut untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. (6) Dalam hal keberatan dikabulkan dan ternyata terdapat kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor yang tercantum dalam penetapan sebagaimana dimaksud ayat (3), kelebihan pembayaran Pungutan Ekspor dimaksud diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah Pungutan Ekspor Terutang Eksportir yang bersangkutan pada periode berikutnya. (7) Dalam hal terjadi pengakhiran kegiatan usaha Wajib Bayar, maka jumlah kelebihan pembayaran sebagaimana dimaksud ayat (6) dapat dikembalikan kepada Wajib Bayar secara tunai selambatlambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkan ketetapan kelebihan pembayaran. (8) Dalam hal pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud ayat (7), kelebihan pembayaran tersebut dikembalikan kepada Wajib Bayar dengan ditambah imbalan bunga 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Pasal 17 Dengan berlakunya keputusan ini : a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 241/KMK.01/1998 tentang Penetapan Besarnya Tarip dan Tata Cara Pembayaran serta Penyetoran Pajak Ekspor Atas Beberapa Komoditi Tertentu. b. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 335/KMK.017/1998 tentang Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak Ekspor Kelapa Sawit, Minyak Sawit, Minyak Kelapa dan Produk turunannya. c. Keputusan Menteri Keuangan No. 567/KMK.017/1998 tentang Besarnya Tarip Ekspor Atas Beberapa Komoditi tertentu. dinyatakan tidak berlaku. Pasal 18 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 10 Oktober 2005 MENTERI KEUANGAN, ttd,JUSUF ANWAR

6 6

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN I Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2005 Tentang Tatacara Pembayaran dan Penyetoran Pungutan Ekspor BANK DEVISA PERSEPSI / KPBC …………………………………………………

NO. STBS …….....….………..

SURAT TANDA BUKTI SETOR (STBS)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Nama Eksportir Alamat Nomor PEB Jenis Komoditi Pos Tarip Tarip Pungutan Ekspor Jumlah Tonase (MT) Nilai Ekspor (US$) Harga Patokan Ekspor (HPE) Nilai Dasar Perhitungan (Kurs) Jumlah Setoran Pungutan Ekspor

: .......................... NPWP : ................................. : .......................................................................... : .......................................................................... : .......................................................................... : .......................................................................... : .......................................................................... : .......................................................................... : .......................................................................... : .......................................................................... : .......................................................................... : ..........................................................................

Jumlah Pungutan Ekspor tersebut diatas untuk disetor ke Rekening Bendahara Umum Negara (BUN) pada Bank Indonesia Nomor Rekening 502.000.000. .............................. Tanggal ........................................... (Pejabat yang berwenang) Lembar : 1. Eksportir 2. Ditjen APK 3. KPBC 4. Bank Devisa 5. Bank Indonesia

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

7

LAMPIRAN II Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2005 Tentang Tatacara Pembayaran dan Penyetoran Pungutan Ekspor

8 8
KOMODITI JUMLAH SATUAN BARANG 5 6 7 8 9 NOMOR TGL. NOMOR STBS BUKTI SETOR KE BI TGL. 10 KETERANGAN 11 JUMLAH PUNGUTAN EKSPOR JUMLAH ...................................TGL....................................... BANK DEVISA PERSEPSI / KPBC (.............................................)

Kepada Yth : Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan Jl. Dr. Wahidin No.1 JAKARTA

DAFTAR PENYETORAN PUNGUTAN EKSPOR (DPPE) KE REKENING BUN NO.502.000.000 DI BANK INDONESIA

PEB

EKSPORTIR

NOMOR

TGL

NAMA

K E P U T U S A N

1

2

3

4

&

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

K E T E T A P A N

Penyampaian Lembar 1 untuk Bank Indonesia setempat Lembar 2 untuk Ditjen Anggaran dan Perimbangan Keuangan Lembar 3 untuk BPS Jakarta Lembar 4 untuk Bank Devisa yang bersangkutan Lembar 5 untuk Bank Indonesia Bagian Pengelolaan Data Informasi Ekonomi dan Moneter Lembar 6 untuk Kantor Pusat Ditjen Bea dan Cukai Jakarta u.p. Direktur Perencanaan Penerimaan Lembar 7 untuk eksportir yang bersangkutan

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN III Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2005 Tentang Tatacara Pembayaran dan Penyetoran Pungutan Ekspor Kepada Yth : Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan Jl. Dr. Wahidin No.1 JAKARTA REKAPITULASI EKSPOR KOMODITI YANG DIKENAKAN PUNGUTAN EKSPOR BULAN : ................... NO JENIS KOMODITI JUMLAH EKSPOR BARANG YANG DIKENAKAN PUNGUTAN EKSPOR VOLUME (MT) 1 2 3 NILAI EKSPOR US$ 4 Rp 5 6 7 JUMLAH PUNGUTAN EKSPOR KETERANGAN

JUMLAH

................................. Tanggal .............................. BANK DEVISA PERSEPSI/KPBC

(...................................................)

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

9

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR KEP-105/BC/2005 T E N T A N G PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR KEP-67/BC/1999 TENTANG PEMBAGIAN DAN PEMAKAIAN PAKAIAN DINAS SERAGAM DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas dan efektivitas fungsi pemakaian pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dipandang perlu melakukan perubahan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999 tentang Pembagian dan Pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 3612); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 3613); 3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan; 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 466/KMK.05/1999 tentang Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 282/KMK.04/2001; 5. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999 tentang Pembagian dan Pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagaimana telah dua kali diubah, terakhir dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-187/BC/2003; MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR KEP-67/BC/1999 TENTANG PEMBAGIAN DAN PEMAKAIAN PAKAIAN DINAS SERAGAM DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI. Pasal I Ketentuan dalam BAB IV Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999 tentang Pembagian dan Pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diubah, sehingga secara keseluruhan berbunyi sebagai berikut : BAB IV PENGECUALIAN DARI KEWAJIBAN PEMAKAIAN DINAS SERAGAM DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI Pasal 12 (1) Diizinkan untuk dapat tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bagi : a. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon I dan II di Kantor Pusat dan Kantor Wilayah; b. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon III di Kantor Pusat dan Kantor Wilayah, kecuali pada hari Senin; c. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon III dan IV yang memangku jabatan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, Kepala Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai, atau Kepala Balai Pengujian dan Identifikasi Barang, kecuali pada hari Senin; d. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon IV ke atas di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, bila menghadiri acara diluar kantor; e. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon IV ke atas di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pada setiap hari Jum’at. (2) Pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, b, c dan d, apabila tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dalam menjalankan tugasnya sehari-hari wajib mengenakan “Kartu Tanda Pengenal” Pegawai dan memakai : a. Pakaian Sipil Lengkap (PSL) dengan atau tanpa jas; b. Pakaian Sipil Resmi (PSR); c. Pakaian Sipil Harian (PSH); atau d. Pakaian Harian Sipil (PHS) (3) Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf e yang tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam menjalankan tugasnya sehari-hari diwajibkan :

10 10

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

K E P U T U S A N
a.

&

K E T E T A P A N

Untuk pegawai pria, memakai kemeja batik lengan pendek atau panjang dan celana panjang warna gelap. b. Untuk pegawai wanita, memakai kemeja batik lengan panjang dan rok warna gelap model span paling tinggi 2 cm di bawah lutut dan paling rendah 5 cm di bawah lutut. c. Untuk pegawai wanita yang menggunakan busana muslimah, memakai kemeja batik lengan panjang dan rok warna gelap, model sesuai ketentuan busana muslimah. d. Mengenakan Kartu Tanda Pengenal Pegawai (4) Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) di atas, yaitu : a. Pada saat mengikuti apel sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-22/BC/2002; b. Pada saat mengikuti Upacara sebagaimana dimaksud dalam BAB III Pasal 7 huruf (c) Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999. Pasal 13 Diizinkan untuk dapat tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bagi : a. Pegawai yang sedang melaksanakan tugas penyamaran dalam rangka penyelidikan, pengawasan atau pengamatan guna pencegahan dan penyidikan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan cukai. Pegawai dimaksud selama menjalankan tugasnya memakai pakaian sesuai dengan kebutuhan/keperluannya, dengan ketentuan bahwa izin untuk tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dibuatkan dalam surat tugas pegawai yang bersangkutan. b. Pegawai yang sedang melaksanakan tugas pemeriksaan dalam rangka penyusunan Berita Acara Pemeriksaan terhadap pelaku pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan cukai. Pegawai dimaksud selama menjalankan tugasnya memakai Pakaian Sipil Lengkap tanpa jas dan mengenakan “Kartu Tanda Pengenal Pegawai”. c. Pegawai yang sedang melaksanakan tugas audit di bidang kepabeanan dan cukai; Pegawai dimaksud selama menjalankan tugasnya memakai Pakaian Sipil Lengkap tanpa jas dan mengenakan “Kartu Tanda Pengenal Pegawai”, dengan ketentuan bahwa izin untuk tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dibuatkan dalam surat tugas pegawai yang bersangkutan. d. Pegawai yang sedang melaksanakan tugas menghadiri sidang banding di Pengadilan Pajak. Pegawai dimaksud selama menjalankan tugasnya memakai Pakaian Sipil Lengkap tanpa jas dan mengenakan “Kartu Tanda Pengenal Pegawai”, dengan ketentuan bahwa izin untuk tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dibuatkan dalam surat tugas pegawai yang bersangkutan. e. Pegawai wanita yang sedang hamil. Pegawai dimaksud adalah yang usia kehamilannya 2 (dua) bulan sampai dengan mulai menjalankan cuti hamil, dengan ketentuan memakai pakaian hamil yang layak dan mengenakan “Kartu Tanda Pengenal Pegawai”. f. Pegawai yang pada hari Jum’at berangkat dari tempat tinggalnya menuju tempat pelaksanaan Senam Kesegaran Jasmani. Setelah selesai Senam Kesegaran Jasmani, pemakaian pakaian olah raga diizinkan dalam waktu selama-lamanya 1 (satu) jam setelah selesainya senam dimaksud. Pasal 14 Pegawai yang dalam tugas perbantuan pada instansi di luar lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dalam melaksanakan tugasnya memakai pakaian sesuai dengan ketentuan yang berlaku di instansi tempat pegawai yang bersangkutan diperbantukan. Pasal 15 Pengecualian lain berkaitan dengan pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dapat diberikan atas persetujuan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Pasal II Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Salinan Keputusan Direktur Jenderal ini disampaikan kepada : 1. Menteri Keuangan Republik Indonesia; 2. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan; 3. Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 4. Para Direktur dan Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai; 5. Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 6. Para Kepala Bidang Keuangan/Perwakilan Bea dan Cukai pada KBRI di Singapura, Tokyo, Brussels dan pada Konjen RI di Hongkong; 7. Para Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai; 8. Para Kepala Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai; 9. Para Kepala Balai Pengujian dan Identifikasi Barang; Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2005 DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, ttd,EDDY ABDURRACHMAN NIP 060044459

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

11

K E P U T U S A N
Yth. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

&

K E T E T A P A N

Sekretaris Direktorat Jenderal Para Direktur Para Kepala Kantor Wilayah Para Kepala Kantor Pelayanan Para Kepala Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Para Kepala Pangkalan Sarana Operasi Di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai SURAT EDARAN NOMOR SE-29/BC/2005

T E N T A N G PENEGASAN KEMBALI PEMAKAIAN PAKAIAN DINAS SERAGAM PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI Dalam rangka lebih meningkatkan ketertiban dan disiplin pemakaian pakaian dinas seragam di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dengan ini ditegaskan kembali ketentuan mengenai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai berikut : A. DASAR HUKUM 1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 466/KMK.05/1999 tentang Pakaian Dinas Seragam Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 282/KMK.04/2001 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 466/KMK.05/1999 tentang Pakaian Dinas Seragam Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 3. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999 tentang Pembagian dan Pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 4. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-31/BC/2001 tentang Perubahan Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999 tentang Pembagian dan Pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 5. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-187/BC/2003 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999 tentang Pembagian dan Pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 6. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-105/BC/2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999 tentang Pembagian dan Pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; B. KEWAJIBAN PEMAKAIAN PAKAIAN DINAS SERAGAM 1. Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam menjalankan tugas dan fungsinya diwajibkan memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai beserta kelengkapannya sesuai dengan ketentuan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 466/KMK.05/1999 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 282/KMK.04/2001. 2. Pengecualian dari kewajiban memakai pakaian dinas seragam sebagaimana dimaksud pada butir 1 dapat diberikan, sepanjang memenuhi ketentuan yang diatur oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Secara lebih rinci akan diuraikan dalam huruf F Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini. 3. Para Pimpinan Unit Organisasi di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai agar mensosialisasikan kembali dan menegakkan ketentuan mengenai pemakaian pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. C. JENIS PAKAIAN DINAS SERAGAM Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terdiri dari : 1. Pakaian Dinas Harian (PDH-BC), untuk dipakai oleh pegawai yang tugasnya di dalam bangunan Kantor Bea dan Cukai atau terminal penumpang di Pelabuhan Udara/Laut; 2. Pakaian Dinas Lapangan (PDL-BC), untuk dipakai oleh pegawai yang tugasnya tidak termasuk di tempat tugas sebagaimana dimaksud dalam butir a di atas; 3. Pakaian Dinas Upacara (PDU-BC), untuk dipakai oleh pegawai pada : a. Upacara Peringatan Hari Besar Nasional yang dilaksanakan di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; b. Upacara Pengambilan sumpah, pelantikan dan serah terima jabatan yang dilaksanakan di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; c. Upacara Pemakaman jenazah pegawai atau pensiunan di Taman Makam Pahlawan; d. Upacara Lain yang akan diinstruksikan secara khusus oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. D. PEMAKAIAN PAKAIAN DINAS SERAGAM 1. Warna pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ditentukan sebagai berikut : a. Tutup Badan meliputi : (1) kemeja berwarna coklat muda dan celana panjang atau rok berwarna coklat kehijau-hijauan, dengan tutup kepala dan tanda pangkat harian berwarna coklat kehijau-hijauan;

12 12

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

2.

3. 4. 5. 6. 7.

(2) kemeja dan celana panjang atau rok berwarna biru kehitam-hitaman; b. Ikat pinggang dan kaos kaki berwarna hitam. c. Sepatu berwarna hitam Waktu pemakaian pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diatur sebagai berikut : a. seragam dinas berwarna coklat muda (bagian atas) dan coklat kehijau-hijauan (bagian bawah), dipakai pada setiap hari Senin, Selasa, Rabu dan hari-hari lainnya selain hari Kamis dan Jum’at; b. seragam dinas berwarna biru kehitam-hitaman, dipakai pada setiap hari Kamis dan Jum’at; c. Pengecualian dari ketentuan huruf a dan b diatas, dapat diberikan atas persetujuan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Contoh : Pegawai Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Soekarno Hatta terutama yang sedang melaksanakan tugas dan fungsinya di Terminal Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng, setiap hari kerja diperkenankan memakai pakaian dinas seragam berwarna biru kehitam-hitaman berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor S-555/BC/2001 tanggal 25 September 2001. d. Pegawai yang melaksanakan tugas patroli, kru kapal/pesawat patroli Bea dan Cukai dan pawang anjing pelacak narkotika memakai pakaian dinas seragam berwarna biru kehitam-hitaman. Pegawai Pria memakai ikat pinggang, sepatu dan kaos kaki berwarna hitam. Pegawai Wanita memakai ikat pinggang dan sepatu berwarna hitam tanpa kaos kaki. Pegawai wanita yang memakai busana muslimah memakai sepatu dan kaos kaki berwarna hitam, tanpa ikat pinggang. Pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai meliputi tutup kepala, tutup badan dan tutup kaki. Bentuk dan model pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diatur sebagai berikut : a. PDH-BC 1) Tutup Kepala a) Untuk pegawai pria dan wanita menggunakan tutup kepala bivakmuts dalam bentuk dan ukuran sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Keputusan Menteri Keuangan No. 282/KMK.04/2001; b) Untuk pegawai wanita yang menggunakan busana muslimah menggunakan jilbab sesuai dengan warna pakaian dinas seragam yang dipakai, yaitu berwarna coklat kehijau-hijauan dan/atau biru kehitam-hitaman dengan ukuran 100 cm x 100 cm; 2) Tutup badan PDH-BC : a) Untuk pegawai pria, terdiri dari : (1) Kemeja lengan pendek krah tegak dengan epolet yang dipasang di atas bahu, kemeja di bagian depan ditutup dengan 6 (enam) buah kancing dan dengan 2 (dua) buah saku tertutup dalam bentuk lurus setinggi dada, dipakai dalam celana, dalam bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; (2) Celana panjang tanpa plui, tanpa lipatan di bawah, dengan 2 (dua) buah saku samping berbentuk miring, dalam bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; (3) Ikat pinggang berwarna hitam, lebar lebih kurang 3,50 cm. b). Untuk pegawai wanita, terdiri dari : (1) Kemeja lengan pendek krah tegak dengan epolet yang dipasang di atas bahu, kemeja di bagian depan ditutup dengan 5 (lima) buah kancing dan dengan 2 (dua) buah saku tertutup dalam bentuk lurus setinggi dada, dipakai di dalam rok, dalam bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; (2) Rok model span paling tinggi 2 cm di bawah lutut dan paling rendah 5 cm di bawah lutut dengan 2 (dua) buah saku samping berbentuk miring, dengan 2 (dua) buah lipatan berhadapan setinggi-tingginya 25 cm di belakang sebelah bawah, dalam bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999, atau celana panjang tanpa plui dan lipatan di bawah 2 (dua) buah saku samping berbentuk miring, dalam bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Keputusan Menteri Keuangan No. 466/ KMK.05/1999; (3) Ikat pinggang berwarna hitam, lebar lebih kurang 3,50 cm. c) Untuk pegawai wanita yang menggunakan busana muslimah, terdiri dari : (1) Kemeja lengan panjang krah tegak dengan epolet yang dipasang di atas bahu, kemeja di bagian depan ditutup dengan 5 (lima) buah kancing dan dengan 2 (dua) buah saku tertutup dalam bentuk lurus setinggi dada, dipakai di luar rok, dalam bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; (2) Rok model span sebatas mata kaki, dengan 2 (dua) buah lipatan berhadapan setinggi-tingginya 50 cm di belakang, dalam bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/ 1999; (3) Ikat pinggang berwarna hitam, lebar lebih kurang 3,50 cm.

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

13 13

K E P U T U S A N
3)

&

K E T E T A P A N

Tutup kaki, terdiri dari : a) Untuk pegawai pria, terdiri dari : Tutup kaki kulit berwarna hitam memakai tali dengan bagian belakang setinggitingginya lebih kurang 3 cm di atas mata kaki dan kaos kaki berwarna hitam; b) Untuk pegawai wanita, terdiri dari : Tutup kaki kulit berwarna hitam, dengan tumit setinggi-tingginya lebih kurang 7 cm di atas mata kaki dan tanpa kaos kaki; c) Untuk pegawai wanita yang menggunakan busana muslimah, terdiri dari : Tutup kaki kulit berwarna hitam, dengan tumit setinggi-tingginya lebih kurang 7 cm di atas mata kaki dan kaos kaki berwarna hitam;

b. PDL-BC 1) Tutup Kepala PDL-BC terdiri dari : a) Baret bagi kru kapal patroli Bea dan Cukai dan pawang anjing pelacak narkotika; b) Topi lapangan untuk pegawai lainnya; c) Untuk pegawai wanita yang menggunakan busana muslimah menggunakan jilbab sesuai dengan warna pakaian dinas seragam yang dipakai, yaitu berwarna coklat kehijau-hijauan dan/atau biru kehitam-hitaman dengan ukuran 100 cm x 100 cm; d) Bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Keputusan Menteri Keuangan No. 282/KMK.04/2001; (2) Tutup badan PDL-BC a) Untuk pegawai pria, terdiri dari : 1) Kemeja lengan panjang polos tanpa manset, dengan model yang sama dengan kemeja untuk PDH-BC, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VI Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; 2) Celana panjang, dengan model yang sama dengan celana panjang untuk PDH-BC, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VI Keputusan Menteri Keuangan No. 466/ KMK.05/1999; b) Untuk pegawai wanita, terdiri dari : 1) Kemeja lengan panjang polos tanpa manset, dengan model yang sama dengan kemeja untuk PDH-BC, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VII Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; 2) Rok Kulot paling tinggi 2 cm di bawah lutut dan paling rendah 5 cm di bawah lutut dengan 2 (dua) buah saku samping berbentuk miring, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VII Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; c) Untuk pegawai wanita yang menggunakan busana muslimah, terdiri dari : 1) Kemeja lengan panjang polos tanpa manset, dengan model yang sama dengan kemeja untuk PDH-BC, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VIII Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; 2) Rok Kulot sebatas mata kaki, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VIII Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; d) Khusus untuk kru kapal/pesawat udara patroli Bea dan Cukai dan pawang anjing pelacak narkotika, memakai tutup badan berupa pakaian kerja dengan warna biru kehitam/hitaman, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IX Keputusan Menteri Keuangan No. 466/ KMK.05/1999; 3) Tutup kaki PDL-BC Tutup kaki PDL-BC sama dengan tutup kaki PDH-BC. c. PDU-BC 1) Tutup Kepala PDU-BC terdiri dari : a) Tutup Kepala PDU-BC adalah pet, dalam bentuk dan model sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran X Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; b) Untuk pegawai wanita yang menggunakan busana muslimah menggunakan jilbab berwarna coklat kehijau-hijauan dengan ukuran 100 cm x 100 cm; 2) Tutup badan PDU-BC a) Untuk pegawai pria, terdiri dari : 1) Kemeja berbentuk jas lengan pendek dengan epolet yang dipasang di atas bahu kemeja dan dengan 4 (empat) buah kancing dan 2 (dua) buah saku atas dengan lipatan di tengah dan tutup saku berbentuk alokade, 2 (dua) buah saku bawah tanpa lipatan di tengah dengan tutup saku berbentuk lurus. Bagian depan ditutup dengan 4 (empat) buah kancing saku, bagian belakang diberi satu belahan lipatan di tengah-tengah bagian bawah. Ikat pinggang dibuat dari kain yang sama dengan bahan kemeja lebar 5 cm. Kancing dan kepala ikat pinggang berwarna kuning emas untuk golongan III dan IV serta berwarna putih perak untuk golongan I dan II, kancing-kancing memakai Tanda Korps Bea dan Cukai, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XI Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; 2) Celana panjang dengan model yang sama dengan celana untuk PDH-BC.

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

K E P U T U S A N
b)

&

K E T E T A P A N

8.

Untuk pegawai wanita, terdiri dari : 1) Kemeja berbentuk jas lengan panjang dengan epolet yang dipasang di atas bahu kemeja dan dengan 4 (empat) buah kancing dan 2 (dua) buah saku atas dengan lipatan di tengah dan tutup saku berbentuk alokade. Bagian depan ditutup dengan 4 (empat) buah kancing dan 2 (dua) buah kancing saku, dipakai di luar rok. Kancing berwarna kuning emas untuk golongan III dan IV serta berwarna putih perak untuk golongan I dan II, kancing-kancing memakai Tanda Korps Bea dan Cukai. Contoh gambar sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XI Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.05/1999; 2) Rok dengan model yang sama dengan rok PDH-BC; 3) Rok untuk wanita yang menggunakan busana muslimah sama dengan rok PDH-BC. 3) Tutup kaki PDU-BC Tutup kaki PDU-BC sama dengan tutup kaki PDH-BC Pakaian Dinas Seragam bagi pegawai yang sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan di Pusdiklat Bea dan Cukai diatur sebagai berikut : a. PDL-BC warna biru kehitam-hitaman dan topi lapangan warna biru kehitam-hitaman, untuk kegiatan Latihan Kesamaptaan dan kegiatan lain di luar kelas atau ruangan; b. PDH-BC untuk kegiatan pelajaran/pelatihan di kelas, pesiar, dan upacara; c. Tidak memakai tanda jabatan struktural; d. Memakai tanda pangkat siswa; e. Memakai kartu siswa yang dikeluarkan Pusdiklat Bea dan Cukai.

E. KELENGKAPAN PAKAIAN DINAS SERAGAM 1. Kelengkapan dan penggunaan kelengkapan pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai secara rinci diuraikan dalam Pasal 7 Keputusan Menteri Keuangan No. 282/KMK.04/2001; 2. Kelengkapan Pakaian Dinas Seragam bagi pegawai yang sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan di Pusdiklat Bea dan Cukai diatur sebagai berikut : a. PDL-BC warna biru kehitam-hitaman dan topi lapangan warna biru kehitam-hitaman, untuk kegiatan Latihan Kesamaptaan dan kegiatan lain di luar kelas atau ruangan; b. PDH-BC untuk kegiatan pelajaran/pelatihan di kelas, pesiar, dan upacara; c. Tidak memakai tanda jabatan struktural; d. Memakai tanda pangkat siswa; e. Memakai kartu siswa yang dikeluarkan Pusdiklat Bea dan Cukai. 3. Kelengkapan PDH-BC bagi pegawai yang bertugas di Terminal Penumpang Pelabuhan Laut/Udara diatur sebagai berikut : a. tidak memakai tanda pangkat; b. tidak memakai tanda jabatan (untuk pejabat struktural eselon III, IV dan V); c. memakai dasi; d. memakai jas (untuk pejabat struktural eselon III, IV dan V); e. memakai celana panjang bagi pegawai wanita. F. PENGECUALIAN DARI KEWAJIBAN PEMAKAIAN PAKAIAN DINAS SERAGAM DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI 1. Diizinkan untuk dapat tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, bagi : a. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon I dan II di Kantor Pusat dan Kantor Wilayah; b. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon III di Kantor Pusat dan Kantor Wilayah, kecuali pada hari Senin; c. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon III dan IV yang memangku jabatan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, Kepala Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai, atau Kepala Balai Pengujian dan Identifikasi Barang, kecuali pada hari Senin; d. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon IV ke atas di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, bila menghadiri acara diluar kantor; e. Pegawai yang memangku Jabatan Struktural Eselon IV ke atas di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pada setiap hari Jum’at. 2. Pejabat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf e di atas, apabila tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam menjalankan tugasnya sehari-hari diwajibkan memakai : a. Pakaian Sipil Lengkap (PSL) dengan atau tanpa jas; b. Pakaian Sipil Resmi (PSR); c. Pakaian Sipil Harian (PSH); atau d. Pakaian Harian Sipil (PHS); dan e. Kartu Tanda Pengenal Pegawai. 3. Pejabat sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf e di atas, apabila tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam menjalankan tugasnya sehari-hari diwajibkan :

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

15 15

K E P U T U S A N
a.

&

K E T E T A P A N

4.

5.

6. 7.

Untuk pegawai pria, memakai kemeja batik lengan pendek atau panjang dan celana panjang warna gelap. b. Untuk pegawai wanita, memakai kemeja batik lengan panjang dan rok warna gelap model span paling tinggi 2 cm di bawah lutut dan paling rendah 5 cm di bawah lutut. c. Untuk pegawai wanita yang menggunakan busana muslimah, memakai kemeja batik lengan panjang dan rok warna gelap, model sesuai ketentuan busana muslimah. d. Mengenakan Kartu Tanda Pengenal Pegawai. Dikecualikan dari ketentuan ayat (1) di atas, yaitu : a. Pada saat mengikuti apel sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-22/BC/2002; b. Pada saat mengikuti Upacara sebagaimana dimaksud dalam BAB III Pasal 7 huruf (c) Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-67/BC/1999. Diizinkan untuk dapat tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, bagi : a. Pegawai yang sedang melaksanakan tugas penyamaran dalam rangka penyelidikan, pengawasan atau pengamatan guna pencegahan dan penyidikan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan cukai. Pegawai dimaksud selama menjalankan tugasnya memakai pakaian sesuai dengan kebutuhan/ keperluannya, dengan ketentuan bahwa izin untuk tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dibuatkan dalam surat tugas pegawai yang bersangkutan. Catatan : Pada saat berada di kantor Bea dan Cukai diwajibkan memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, sesuai ketentuan yang berlaku. b. Pegawai yang sedang melaksanakan tugas pemeriksaan dalam rangka penyusunan Berita Acara Pemeriksaan terhadap pelaku pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan cukai. Pegawai dimaksud selama menjalankan tugasnya memakai Pakaian Sipil Lengkap tanpa jas dan mengenakan “Kartu Tanda Pengenal Pegawai”. c. Pegawai yang sedang melaksanakan tugas audit di bidang kepabeanan dan cukai; Pegawai dimaksud selama menjalankan tugasnya memakai Pakaian Sipil Lengkap tanpa jas dan mengenakan “Kartu Tanda Pengenal Pegawai”, dengan ketentuan bahwa izin untuk tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dibuatkan dalam surat tugas pegawai yang bersangkutan. Catatan : Pada saat berada di kantor Bea dan Cukai diwajibkan memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, sesuai ketentuan yang berlaku. d. Pegawai yang sedang melaksanakan tugas menghadiri sidang banding di Pengadilan Pajak. Pegawai dimaksud selama menjalankan tugasnya memakai Pakaian Sipil Lengkap tanpa jas dan mengenakan “Kartu Tanda Pengenal Pegawai”, dengan ketentuan bahwa izin untuk tidak memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dibuatkan dalam surat tugas pegawai yang bersangkutan. Catatan : Pada saat berada di kantor Bea dan Cukai diwajibkan memakai pakaian dinas seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, sesuai ketentuan yang berlaku. e. Pegawai wanita yang sedang hamil. Pegawai dimaksud adalah yang usia kehamilannya 2 (dua) bulan sampai dengan mulai menjalankan cuti hamil, dengan ketentuan memakai pakaian hamil yang layak dan mengenakan “Kartu Tanda Pengenal Pegawai”. f. Pegawai yang pada hari Jum’at berangkat dari tempat tinggalnya menuju tempat pelaksanaan Senam Kesegaran Jasmani. Setelah selesai Senam Kesegaran Jasmani, pemakaian pakaian olah raga diizinkan dalam waktu selama-lamanya 1 (satu) jam setelah selesainya senam dimaksud. Pegawai yang dalam tugas perbantuan pada instansi di luar lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dalam melaksanakan tugasnya memakai pakaian sesuai dengan ketentuan yang berlaku di instansi tempat pegawai yang bersangkutan diperbantukan. Pengecualian lain berkaitan dengan pemakaian Pakaian Dinas Seragam Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diberikan hanya atas persetujuan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

Demikian untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 01 Nopember 2005 Direktur Jenderal, Eddy Abdurrachman NIP 060044459 Tembusan : 1. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan RI; 2. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan RI; 3. Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai; 4. Para Kepala Perwakilan Bea dan Cukai di Luar Negeri.

16

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 375 FEBRUARI 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->