P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 377

Warta Bea Cukai Edisi 377

|Views: 1,856|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2012

pdf

text

original

TAHUN XXXVIII EDISI 377

APRIL 2006

INDUSTRI PELAYARAN NASIONAL
PROFIL

Menanti Kebangkitan
GANOT WIBOWO
THINK SMART AND DO THE BEST

MENUNGGU IMPLEMENTASI

WAWANCARA

JIMMY AB NIKIJULUW
KONDISI INDUSTRI PELAYARAN NASIONAL MASIH MEMPRIHATINKAN

DARI REDAKSI

anah Papua kembali membara. Kamis (16/3), bentrokan mahasiswa dan masyarakat setempat dengan aparat keamanan di kota Jayapura memakan korban jiwa. Belasungkawa dan rasa prihatin perlu kami ungkapkan, apalagi peristiwa yang berujung tragis tersebut bermuara dan berkaitan erat dengan PT Freeport Indonesia, yang tidak hanya telah menjadi perusahaan tambang terbesar di Indonesia, di tanah Papua, tapi juga telah menjadi mitra kerja DJBC selama bertahun-tahun, khususnya di wilayah KPBC Amamapare. Kepala KPBC Amamapare, Agus Hermawan, ketika dihubungi per telepon pada Rabu (22/3) mengatakan, kondisi kantor bea cukai di Amamapare berjalan normal dan kegiatan pelayanan bagi PT Freeport tidak terganggu. Sementara situasi di kota Timika relatif berangsur normal walaupun tetap perlu waspada, terutama apabila memasuki kota Timika. Semoga solusi terbaik bisa dihasilkan, solusi yang menguntungkan semua pihak terkait, terutama solusi yang mengedepankan kemakmuran dan keadilan bagi masyarakat lokal. Dan semoga damai kembali hadir di tanah Papua, sehingga tanah ini menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, berkembang dan berusaha bagi masyarakatnya. Dan bahkan menjadi tempat pilihan wisata, selain destinasi klasik seperti Jogja, Bali, Lombok, Danau Toba atau Bunaken. Perjalanan saya ke kota Timika hingga ke pegunungan jayawijaya pertengahan Desember tahun lalu telah menjadi suatu pengalaman yang sangat menakjubkan. Bila anda senang melakukan travelling dan punya uang sedikit lebih, coba sempatkan berkunjung ke propinsi Papua. Anda akan menyaksikan lansekap yang luar biasa indahnya, dan sangat berbeda dengan geografi wilayah barat Indonesia. Wamena misalnya, menjadi lokasi yang sekarang banyak dijual oleh biro-biro perjalanan. Mahal memang, but really worth for sure! Di bulan April ini, majalah WBC berulangtahun yang ke-38. Seperti bisa anda baca di halaman ini, pada kolom sebelah di bagian pojok kanan atas tertulis, terbit sejak 25 April 1968. Artinya sejak tanggal tersebut hingga saat ini, yaitu selama 38 tahun, Warta Bea Cukai telah hadir sebagai majalah internal resmi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, suatu medium informasi dan komunikasi bagi seluruh pegawai dan mitra kerja DJBC. Selama kurun waktu tersebut WBC telah mengalami metamorfosis hingga sampai kepada bentuk seperti yang anda lihat sekarang ini. Kami mengakui bahwa majalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang mungkin anda harapkan. Namun dengan segala keterbatasan, kami berusaha tampil maksimal di setiap edisi penerbitan. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan, partisipasi, dan kerjasama anda pembaca selama ini, dalam berbagai bentuk. Di ulang tahun yang ke-38 ini kami berharap anda berkenan menyampaikan saran dan kritik yang membangun buat redaksi, yang kiranya bisa kami gunakan sebagai acuan bagi kemajuan WBC di masa yang akan datang. Saran dan kritik bisa anda kirimkan melalui alamat surat kami atau melalui e-mail di majalah_wbc@yahoo.com. Selamat membaca, sampai jumpa di edisi mendatang. Lucky R. Tangkulung

T

38 TAHUN

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
MISI: Membimbing dan meningkatkan kecerdasan serta Jende kesadaran karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap tugas negara Mendekatkan Hubungan antara atasan dan Jende bawahan serta antara karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan masyarakat IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Eddy Abdurrachman PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Pencegahan & Penyidikan Drs. Endang Tata Direktur Verifikasi & Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. Kamil Sjoeib, M.A. Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Drs. Jody Koesmendro Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Sofyan Permana Inspektur Bea dan Cukai Drs. Bambang Heryanto, Ak KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Sjahrir Djamaluddin WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Soedirman A. Gani, S.E. DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Hanafi Usman, Drs. Patarai Pabottinggi, Drs. Bachtiar, M.Si., Dra. Cantyastuti Rahayu, Drs. Nasar Salim, M. Si., Drs. Nirwala Dwi Heryanto, Ir. Agung Kuswandono, M.A., Ir. Agus Sudarmadi, M. Sc., Drs. Ahmad Dimyati PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH Ignatius Agus Nugraha (Medan), Donny Eriyanto (Balikpapan), Bendito Menezes (Denpasar), Bambang Wicaksono (Surabaya) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Niko Budhi Darma, S. Sos, Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Banyaknya faktor kebijakan pemerintah yang dianggap kurang mendukung perkembangan industri pelayaran nasional, dituding sebagai salah satu penyebab terpuruknya industri pelayaran nasional selama dua decade terakhir ini. Lantas bagaimana mereka bertahan ditengah kondisi keterpurukan ini ?

5

Wawancara
Menurut Jimmy AB. Nikijuluw, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan, Pemerintah menunjukkan dukungannya kepada industri pelayaran nasional dengan mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor. 5 Tahun 2005 untuk memberdayakan industri pelayaran nasional.

18

Selak

67
Pengalaman menyelam bagi beberapa pegawai di lingkungan DJBC bukanlah hal yang baru lagi. Setelah beberapa pegawai menceritakan pengalaman menyelamnya, kali ini giliran Zulaikhah A, Pegawai pada Subdit Intelijen Dit. P2 menceritakan pengalaman menyelamnya di perairan Pulau Shangyang.

Daerah ke Daerah
Tegahan aparat P2 KPBC Tipe A Merak terhadap beberapa unit motor gede, MMEA, HP dan golf cart merupakan sajian rubrik daerah kami, disamping kegiatan sepeda santai antara Customs Diraja Malaysia dengan Kanwil II DJBC TBK, kunjungan Pansus DPR RUU Kepabeanan ke Kanwil Tanjung Priok dan beberapa berita daerah lainnya.

30

Pengawasan
Rokok putih merek Marlboro yang asalnya dari Amerika Serikat ini menjadi salah satu merek rokok putih yang paling sering dipalsukan. Setelah beberapa kali kasus rokok palsu merek ini ditegah aparat Bea dan Cukai, baru-baru ini Marlboro palsu asal negeri Cina kembali ditegah aparat bea cukai Tanjung Priok.

23

Profil

76
Buatlah segala sesuatunya menjadi enjoy, sesulit apapun pekerjaan yang kita hadapi, …make it happy, dengan itu semuanya akan berjalan terasa ringan. Begitulah siasatnya dalam menyikapi setiap bidang pekerjaan yang dihadapi Ganot Wibowo.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

1 3 4 22

26

42

44

46 48

51 54

58

60 62 64

70

71

74

80

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR KONSULTASI KEPABEANAN & CUKAI Certificate Analysis oleh PFPD ENGLISH SECTION Indonesia in Asean : Historical Review of AFTA and Regionalization NASIONAL Indonesia Sudah Tidak Dimonitor FATF Lagi SIAPA MENGAPA - Widodo Lestariono - Andrie Kriesniawan - M. Ferdinal Hardi RUANG INTERAKSI Burn-out INFO PEGAWAI - Laporan Penerimaan dan Pendistribusian Hewan qurban - Pegawai Pensiun Per 1 April 2006 - RAT Kopesat Ke XVI INFO PERATURAN OPINI - Bea Cukai Nasib, Nasib Bea Cukai - Darah baru Bea dan Cukai KOLOM Penegahan Narkoba : Mengurangi atau Justru Meningkatkan Kejahatan ? RENUNGAN ROHANI Korupsikah Aku ? SEPUTAR BEA CUKAI PERISTIWA - Inkado Korda Jabar Runner Up Piala Sunan Kalijaga - Aksi Mogok Organda di Pelabuhan RUANG KESEHATAN Menghentikan Kebiasaan Mengompol Pada Anak KEPABEANAN INTERNASIONAL - Wawancara Sekjen WCO Mr. Michele Danet INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI Proxy Server APA KATA MEREKA - Icha Jikustik - Ferry Maryadi

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

FENOMENA “SUDAH” DAN “BARU”
Ketika Skep mutasi untuk eselon IV dan PFPD keluar tanggal 12 Desember 2005, terjadi kehebohan yang luar biasa pada semua pegawai yang berkepentingan, baik yang saat ini sudah menjabat eselon IV dan PFPD maupun mereka yang korlak dan berpeluang untuk dipromosikan ke eselon IV. Semua sarana komunikasi baik dari mulut ke mulut maupun dari mulut ke HP dipergunakan untuk mengetahui “kelanjutan nasib” mereka. Yang berada di daerah telepon ke teman-temannya yang ada di Jakarta. Dan yang saat ini berada di Jakarta berusaha mendapatkan copy skep dari siapa saja yang sudah terlebih dulu mendapatkannya. Skep mutasi kemudian berubah menjadi kertas ajaib yang lebih berarti dari semua kertas-kertas yang lain baik ijasah maupun sertifikat yang mereka pernah miliki. Karena selembar kertas itulah yang konon akan merubah nasib mereka apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya lebih buruk dari sebelumnya. Sehingga tidak heran kalau bermacam-macam ekspresi yang mereka nampakan setelah membaca skep mutasi tersebut. Ada yang kecewa, sedih, marah bahkan sakit hati, namun tidak sedikit pula yang merasa senang dan bahagia, disamping tentunya ada juga yang biasa-biasa saja. “SUDAH” DAN “BARU” Mereka yang kecewa biasanya disebabkan karena kedudukan barunya dianggap tidak sebaik tempat yang sedang mereka duduki saat ini, padahal menurut mereka seharusnya mereka bisa lebih lama menduduki jabatan sebelumnya. “Masa gue baru dua tahun di PFPD udah dimutasi, biasanya kan empat tahun”. Sebaliknya mereka yang saat ini berada di tempat yang tidak enak dan ternyata tidak tercantum namanya dalam skep mutasi biasanya akan menunjukan kekecewaannya dengan berkata, ”Masa gue sudah dua tahun ditempat sekarang belum dimutasikan”. Mereka yang merasa kecewa sama-sama sudah menduduki jabatan sebelumnya selama 2 tahun. Namun anehnya yang satu mengatakan baru sementara yang lainnya mengatakan sudah. Padahal mereka sama-sama berada di bumi dan tidak sedang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya, sehingga tentunya 2 tahunnya pegawai yang mengatakan baru dan 2 tahunnya pegawai yang mengatakan sudah tentunya sama, yaitu sama-sama 24 bulan, sama-sama 730 hari, sama-sama 17.520 jam, sama-sama 1.051.200 menit dan juga sama-sama 63.072.000 detik. Namun kenapa yang satu mengatakan baru sementara yang lain mengatakan sudah? Sehingga seolah-olah waktu bersifat relatif ? Waktu sebenarnya memang bersifat eksak, namun lama atau sebentar adalah relatif, kenapa ? Karena lama atau sebentar lebih kepada perasaan seseorang. Bukankah kita sering mengatakan, “rasanya baru sebentar”, atau, “rasanya sudah lama sekali”, dan sebagainya. Kita semuanya pasti sepakat kalau 4 tahun itu lebih lama dari 2 tahun. Tapi dalam banyak hal ternyata banyak orang merasa waktu 4 tahun terasa begitu cepat sedangkan lainnya merasa waktu 2 tahun terasa begitu lama. Untuk membuktikannya mudah saja, kalau kita tanya “sudah berapa lama” kepada pegawai yang sedang berada di tempat yang “basah”, maka jawabannya akan didahului dengan kata “baru”. Bisa baru 2 tahun, baru 3 tahun, baru 5 tahun bahkan 10 tahun pun dikatakan baru 10 tahun. Sebaliknya bila pertanyaan yang sama kita ajukan kepada pegawai yang sedang bertugas ditempat yang “kering” apalagi terpencil maka jawabannya akan didahului kata “sudah”. Bisa sudah 10 tahun, sudah 7 tahun, sudah 4 tahun, sudah 2 tahun bahkan 6 bulan pun dikatakan sudah ½ tahun. Jadi 4 tahun belum tentu lebih lama dari 2 tahun. Karena yang 4 tahun mengatakan baru sehingga dia merasa sebentar, sementara yang lainnya meski 2 tahun terasa sudah begitu lama sehingga mengatakan sudah 2 tahun. Teori relativitas Einstein yang berhubungan dengan waktu ternyata tidak hanya berlaku untuk materi yang bergerak mendekati kecepatan cahaya saja tetapi juga untuk pegawai Bea dan Cukai, he… he… Pesan buat mereka yang ditempatkan ditempat yang terpencil, ingatlah selalu pesan “pendahulu” kita: “Dimana masih ada bendera merah putih berkibar disitu kita harus siap ditempatkan”. Selamat bertugas kawan, semoga kesuksesan selalu menyertai anda. ABI FIKRI, Pegawai Bea dan Cukai

EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

l

Bjacksonl

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

LAPORAN UTAMA

Lahan Subur
D
engan melihat latar belakang sejarah bangsa ini yang telah jaya di lautan sehingga dapat menguasai segalanya, Presiden Repubik Indonesia I, Soekarno pada tahun 1963 di acara peringatan hari maritim, mengatakan,”Bangsa Indonesia akan maju dan dapat bersaing dengan negaranegara lain, jika bangsa ini dapat menguasai lautan” Kata-kata Bung Karno tersebut tentunya bukanlah sebuah slogan belaka, sebagai negara kepulauan tentunya bangsa ini harus mampu menguasai lautan, karena tidak mungkin bangsa ini dapat bersatu jika penghubung antara pulau yang satu dengan yang lainnya tidak dilakukan dengan menguasai lautannya.

INDONESIA

BAGI PELAYARAN KAPAL ASING
Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan sumber alamnya, kekayaan yang cenderung dimanfaatkan oleh bangsa lain hingga sekarang ini, menjadikan negara kepulauan ini hanya sebagai pekerja bukan sebagai pemilik. Padahal sejak jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, Indonesia adalah negara penguasa dari segala-galanya, kejayaan ini tak lain karena pada jaman itu bangsa ini dapat menguasai lautan.
yang baru. Kebijakan ini pada awalnya memang membawa angin segar bagi pelayaran nasional dimana pemerintah menjanjikan akan membantu pengadaan kapal-kapal baru sebagai pengganti kapal yang telah dimusnahkan. Namun kenyataannya hingga kini pemerintah tidak dapat menepati janjinya. Dengan dibiarkannya perusahaan pelayaran nasional berjalan tanpa ada kepastian, membuat industri pelayaran nasional merasa sebagai tamu di negerinya sendiri. Sementara pihak perbankan hingga kini juga masih alergi untuk menyokong industri pelayaran yang menurutnya industri pelayaran adalah bisnis yang penuh dengan resiko. Berawal dari ketidakpastian inilah banyak di antara perusahaan pelayaran nasional yang lebih memilih menggunakan kapal asing ataupun jika mereka membuat kapal baru di dalam negeri namun lebih senang menggunakan bendera asing. Belum didukungnya industri pelayaran nasional tentunya juga terkait dengan kebijakan pemerintah yang
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

AWAL KETERPURUKAN INDUSTRI PELAYARAN NASIONAL
Tahun kejayaan pelayaran Indonesia memang sudah lama tenggelam diterjang gelombang kekuasaan yang menuntut bangsa ini menjadi bangsa agraris, padahal sebagai negara kepulauan bangsa ini juga dapat menjadi bangsa yang menguasai perdagangan dan industri. Keterpurukan ini semakin menjadi ketika ada kebijakan dari pemerintah pada tahun 1984 yang mengharuskan semua kapal yang telah berusia 20 tahun harus dimusnahkan dan diganti dengan

5

LAPORAN UTAMA
FOTO : ISTIMEWA

INDUSTRI MIGAS. Hingga kini masih mengandalkan kapal asing sebagai alat transportasinya.

masih dirasakan belum memihak, masih tingginya pajak yang harus dikenakan dan prosedur yang terlalu berbelit, menyebabkan semakin terpuruknya industri pelayaran nasional. Melihat kondisi yang semakin tidak menentu ini, pemerintah sebenarnya juga tidak tinggal diam, walaupun belum sepenuhnya berpihak. Perhatian pemerintah terwujud dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 21 tahun 1992 tentang pelayaran nasional, yang salah satu butirnya mengatakan pelayaran dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. Dengan pernyataan tersebut maka pelayaran Indonesia mengunakan asas cabotage atau pemberdayaan pelayaran nasional, dimana untuk pelayaran dalam wilayah pabean Indonesia haruslah menggunakan kapal milik nasional. Namun demikian lagi-lagi undang-undang ini tidak membuahkan perubahan yang signifikan kepada industri pelayaran nasional. Pada tahun 1994 Menteri Perindustrian dan Perdagangan, yang kala itu dijabat oleh Rini S Suwandi, mengatakan pelayaran nasional tidak mengalami perkembangan yang 6
WARTA BEA CUKAI

signifikan karena pelayaran asing menguasai sekitar 95 persen arus pergerakan barang dari Indonesia ke luar negeri. Data dari Ditjen Perhubungan Laut Departemen Perhubungan, pada tahun yang sama menunjukan perusahaan angkutan laut nasional memiliki armada kapal dengan jumlah total sebanyak 3.717 unit. Dari jumlah itu sebanyak 1.214 unit merupakan kapal jenis general cargo. Sedangkan kapal jenis kontainer, bulk carrier, dan tanker masing-masing berjumlah 94, 22, dan 214 kapal (Kompas, 10 September 2004).

INPRES NO.5 TAHUN 2005
Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan itu, pemerintah akhirnya pada tahun 2005 mengeluarkan kebijakan melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 tahun 2005 tentang pemberdayaan industri pelayaran nasional, yang inti dari Inpres tersebut adalah, menerapkan kembali asas cabotage secara konsekuen dan merumuskan kebijakan serta mengambil langkahlangkah yang diperlukan sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangan masingmasing guna memberdayakan industri

pelayaran nasional. Inpres ini seakan membalik semua tabir terdahulu dimana pemerintah yang sebelumnya acuh tak acuh terhadap industri pelayaran nasional. Kini dengan Inpres tersebut, industri pelayaran nasional diharapkan akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Namun ada satu hal yang cukup menggelitik pikiran, yaitu tentang asas cabotage yang dalam UU 21 telah diterapkan tapi kini diminta untuk diterapkan kembali. Hal ini tentunya menjadi tanda tanya, sebenarnya apakah UU 21 itu telah dijalankan dengan baik dan benar ? Sementara Menteri Perhubungan yang nota bene-nya mengatur tentang pelayaran nasional, terkait dengan Inpres tersebut juga langsung mengeluarkan kebijakan melalui peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 71 tahun 2005 tentang pengangkutan barang/muatan antar pelabuhan laut di dalam negeri. Dalam peraturan tersebut dinyatakan, dalam rangka pemberdayaan industri pelayaran nasional khususnya penerapan asas cabotage secara konsekuen, perlu menata penyelenggaraan angkutan barang/muatan antar pelabuhan laut di

EDISI 377 APRIL 2006

dalam negeri dalam waktu sesingkatsingkatnya, sehingga angkutan barang/ muatan antar pelabuhan laut di dalam negeri seluruhnya dilayani oleh kapalkapal berbendera Indonesia. Memang Inpres No.5 telah ditetapkan, dan peraturan Menteri Perhubungan pun telah ditetapkan untuk dijalankan, namun kembali semua itu belum dapat berjalan dengan maksimal. Masih adanya beberapa kendala seperti di pihak perbankan dan perpajakan yang dinilai cukup menyulitkan bagi industri pelayaran nasional, membuat Inpres tersebut hanya berjalan ditempat saja tanpa bisa mengimplementasikanya dengan baik. Perusahaan pelayaran nasional memang pantang menyerah dalam menjalankan bisnisnya. Agar mereka dapat tetap eksis di dalam negeri, meskipun pemerintah saat ini sudah berpihak kepada mereka namun masih dinilai belum cukup untuk mengembalikan kejayaan industri pelayaran nasional, salah satu kiat mereka agar dapat tetap eksis adalah dengan menggunakan kapal asing untuk kegiatan operasionalnya.

DIBUAT DI DALAM NEGERI LEBIH MAHAL
Lalu mengapa industri pelayaran nasional lebih memilih menggunakan kapal asing ketimbang membuat kapal baru untuk menjalankan bisnisnya. Hal ini juga tidak lain karena untuk pengadaan kapal baru, selain harus mengeluarkan banyak dana, juga jika dibangun di dalam negeri akan

dikenakan berbagai macam pajak yang akan lebih memberatkan mereka. Seperti halnya untuk membangun sebuah kapal cargo, pihak pelayaran bukan hanya dibebankan pada biaya yang tinggi dari pembuatan kapal tersebut, tetapi juga dikenakan pajak barang mewah yang jumlahnya menurut industri pelayaran setara dengan satu harga kapal baru. Selain itu, PT.PAL yang merupakan perusahaan BUMN milik negara, walaupun sudah mampu untuk membangun sebuah kapal tanker, namun untuk kapal tanker dengan spesifikasi khusus masih belum dapat dilakukan. Ini dikarenakan selain membutuhkan dana yang cukup besar, teknologi yang dimiliki juga masih terbatas, sehingga sampai saat ini para perusahaan migas masih menggunakan kapal tanker asing. Dengan melihat kondisi yang cukup memberatkan itu, maka para perusahaan pelayaran nasional lebih memilih membuat kapal jenis kargo di luar negeri, atau membuat kapal di dalam negeri tetapi didaftarkan (atas nama) luar negeri untuk menghindari PPN. Selain itu jika industri pelayaran nasional membangun kapal di luar negeri, kemudahan yang di dapat selain mendapatkan sokongan dana dengan bunga yang cukup terjangkau dari bank dimana kapal tersebut dibangun, juga dibebaskan dari berbagai macam pajak. Maka tak heran jika hingga saat ini banyak kapal asing yang sesungguhnya milik perusahaan

pelayaran nasional, namun masih menggunakan bendera negara dimana kapal tersebut dibuat. Dan hal ini juga dikarenakan kapal tersebut masih dalam tahap leasing (kredit-Red). Namun satu hal yang masih dianggap kurang adil oleh para perusahaan pelayaran nasional berkaitan dengan pembangunan kapal baru adalah, pemerintah akan membebaskan dari berbagai macam pajak, jika perusahaan pelayaran asing yang membangun kapal di PT.PAL. Dengan banyaknya pengadaan kapal asing oleh pelayaran nasional, sebenarnya justru membuat semakin terpuruknya industri pelayaran nasional yang secara otomatis kalah bersaing dengan kapal asing tersebut. Karena selama tahap leasing belum selesai, maka seluruh SDM yang ada di kapal tersebut masih diwajibkan menggunakan SDM dari negara pembuat kapal. Selain itu dari sisi teknologi juga kapal nasional sudah banyak yang berusia, sehingga sulit untuk mengikuti persaingan yang semakin ketat dewasa ini. Berbagai kelebihan yang dimiliki oleh kapal asing inilah seakan menunjukan kalau industri pelayaran masih menjadi tamu di rumahnya sendiri. Karena keistimewaan itulah maka banyak industri pelayaran nasional yang mendatangkan kapal asing dengan menggunakan dokumen impor sementara, yang tujuannya tak lain agar dapat terhindar dari berbagai pajak yang membelit mereka. Kini
DOK. WBC

DEPARTEMEN KEUANGAN. Kunci dari segala persoalan yang dialami oleh industri pelayaran nasional EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA
tinggal bagaimana DJBC melakukan pengawasan terhadap kapal-kapal tersebut, karena sebelum Inpres No.5 tahun 2005 keluar, DJBC telah lebih dahulu mendukung program kejayaan industri pelayaran nasional, melalui kebijakan pemerintah yang menurunkan tarif bea masuk untuk kapal menjadi nol persen dan sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 615/PMK.03/2004 tentang perubahan atas keputusan Menteri Keuangan nomor 231/KMK.03/2001 tentang perlakuan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah atas impor barang kena pajak yang dibebaskan dari pungutan bea masuk. Dalam keputusan tersebut juga dijelaskan barang kena pajak yang dibebaskan dari pungutan bea masuk salah satunya adalah barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia dan barang impor sementara sebagaimana ditetapkan dalam peraturan Menteri keuangan nomor 615/PMK.04/2004. Hal ini jelas sangat meringankan pelayaran nasional untuk mencoba bangkit kembali, namun kebijakan tersebut ternyata masih menyimpan rasa ketidakpercayaan pemerintah terhadap kemandirian industri pelayaran nasional. Hal ini dapat dibuktikan dengan kebijakan pemerintah yang meminta jaminan tertulis untuk impor sementara, namun untuk mendapatkan itu pelayaran terlebih dahulu harus memiliki SIUP PAL (Surat Ijin Usaha Perusahaan Pelayaran Angkutan Laut). SIUP PAL tersebut diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan, untuk ijin usaha perusahaan pelayaran. Kendati sudah memiliki SIUP PAL, perusahaan pelayaran untuk mendapatkan jaminan tertulis terlebih dahulu harus mendapatkan ijin dari Direktorat Jendaral Pajak, agar bisa mendapatkan pembebasan sesuai Kepmen No.615. Sedangkan jika menjaminkan dengan uang, maka biaya yang dikeluarkan akan sama halnya dengan pengadaan satu kapal baru. Dengan adanya kebijakan ini pelayaran nasional beranggapan, kalau mereka itu ibarat dilepaskan namun ekornya tetap diikat. Itu persoalan di bidang perpajakan, persoalan lain juga masih menunggu. nasional, kapal adalah sebagai alat angkut sehingga dia tidak memerlukan PIB saat digunakan dalam wilayah pabean Indonesia. Selain itu kapal tersebut dianggap sebagai perwakilan negara asing sehingga yang diperlukan hanyalah dispensasi bendera. Dispensasi bendera yang dimaksud adalah kapal dengan berbendera asing namun tujuan kegunaannya sebagai sarana transportasi di wilayah pabean Indonesia, maka kapal tersebut diberikan kelonggaran jalur pelayaran tanpa harus menganti identitasnya, namun kapal tetap tersebut harus tunduk kepada peraturan pelayaran Indonesia, tanpa harus menyerahkan dokumen PIB pada saat kedatanganya. Sementara pihak DJBC sendiri mengatakan kapal adalah sebagai barang, sehingga ketika kapal tersebut masuk ke wilayah pabean Indonesia maka diwajibkan menyelesaikan dokumen pabeannya, seperti dokumen PIB untuk kapal tersebut. DJBC sendiri mengacu pada buku tarif bea masuk Indonesia dan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, dimana pada pasal 7 dinyatakan kapal juga merupakan barang impor jika didatangkan dari luar negeri kalaupun pada akhirnya akan digunakan sebagai alat angkut. Sedangkan pihak pelayaran mengatakan kalau kapal adalah sebagai alat angkut bukan sebagai barang, jadi tidak diperlukan dokumen pabeannya atau PIB untuk masuk ke wilayah pabean Indonesia. Ini juga dirujuk dari UU No 21 tahun 1992 tentang pelayaran, yang menyatakan pelayaran adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan di perairan, pelabuhan, serta keamanan dan keselamatannya. Sedangkan kapal adalah kendaraan air dengan bentuk atau jenis apapun. Dari perbedaan ini terlihat kalau masing-masing saling berpegang teguh pada landasan hukum yang mereka pegang. DJBC menilai UU Kepabeanan selain mengatur keberadaan kapal tersebut, juga dijadikan sebagai sarana pengawasan terhadap kapal asing. Pihak pelayaran sendiri tetap berpegang teguh pada prinsipnya kalau kapal bukanlah sebuah barang sehingga tidak perlu memakai PIB saat kedatangannya. Perbedaan ini memang dalam waktu yang tidak lama lagi akan dibahas secara rinci oleh kedua belah pihak, dan diharapkan dapat menemukan titik temu dari semuanya ini. Karena walaupun Inpres No.5 tahun 2005 diberlakukan secara bertahap dan diharapkan pada tahun 2010 semua pelayaran dalam negeri dapat dilakukan oleh kapal milik nasional, namun jika belum ada titik temu terhadap definisi kapal tentunya semua itu juga tidak akan berjalan dengan baik. Kebijakan pemerintah memang sudah seharusnya berpihak secara penuh kepada industri pelayaran, seperti hal di atas kalau untuk mandiri masih diberikan kesulitan tentunya juga tidak akan berjalan juga. Satu hal yang juga hingga kini masih belum dapat terwujud adalah pada pengiriman barang untuk industri migas. Industri migas hingga kini masih tetap menggunakan kapal asing, memang dalam KepMenhub, dinyatakan kalau untuk industri ini diharuskan menggunakan kapal nasional selambat-lambatnya pada tahun 2010. Namun setelah satu tahun berjalan belum ada perusahaan pelayaran yang mau mengadakan kapal baru untuk industri migas ini. Selain memerlukan bentuk yang khusus, juga biaya pengadaannya cukup mahal. Memang jika belum tersedia hingga 2010 pemerintah juga masih memberikan toleransi, namun sampai kapan hal itu dapat terwujud jika masih banyak aral melintang dalam kebijakan pembuatan maupun impor kapal baru? Kalau industri pelayaran mengatakan kunci dari kesuksesan ada di Departemen Keuangan, mungkin itu ada benarnya, karena sistem perpajakan yang belum mau berpihak membuat kapal berbendera asing tetap akan menjamur di negeri ini. Kalau dulu Menteri Perdagangan dan Perindustrian, Rini s Suwandi mengatakan pemerintah akan memberlakukan penggunaan kapal dalam negeri sepenuhnya pada tahun 2008 dan pelayaran nasional harus melakukan persiapan untuk mengambil alih 65 persen pangsa pasar angkutan barang laut dalam negeri yang selama ini dipegang oleh pelayaran asing (Kompas, 10/09/ 2004), apakah itu akan dapat terwujud dengan baik kalau masih ada perbedaan persepsi, pihak perbankan yang kurang mendukung, dan perpajakan yang masih memberatkan ? Tentunya bangsa ini tidak ingin kembali dijajah oleh kekuasaan asing khususnya untuk alat angkut nasional, karena pernyataan Bung Karno tentang kejayaan dilautan bukan hanya omong kosong saja, semua itu akan terwujud jika masingmasing pihak dapat mendukung dan menjadikan industri pelayaran nasional sebagai tuan rumah di negerinya sendiri. adi

MASIH ADA PERBEDAAN PERSEPSI
Persoalan itu adalah, masih adanya perbedaan persepsi antara perusahaan pelayaran dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), mengenai definisi kapal itu sendiri. Menurut industri pelayaran 8
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

Impor
K
eterpurukan industri pelayaran nasional memang sudah sejak lama dirasakan oleh bangsa ini, bahkan kebijakan yang semula dianggap sebagai pembaharuan, justru membuahkan petaka yang hingga kini menjadikan industri pelayaran sebagai tamu di negaranya sendiri. Kebijakan diawali pada tahun 1984 di mana pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan istilah scrapping policy, yang mengharuskan industri pelayaran nasional menghapuskan semua kapal yang telah berusia 20 tahun, dan pemerintah menjanjikan akan membantu dalam pengadaan kapal baru. Kebijakan ini pada awalnya cukup membawa angin segar bagi industri pelayaran, maka tak heran kalau pada saat itu banyak industri pelayaran yang menjual kapalnya sebagai besi tua kepada negara lain. Namun demikian kebijakan ini tidak sesuai dengan janji yang telah dilontarkan. Setelah banyak kapal yang dilelang sebagai besi tua, bahkan ada satu perusahaan pelayaran nasional yang menjual seluruh kapalnya untuk menjalankan kebijakan ini, pemerintah justru berpaling dari janji yang telah disepakati, jangankan kemudahan mendapatkan kredit untuk membangun kapal baru, kebijakan pendukung seperti keringanan pajak pun tidak kunjung keluar.

MENGAPA INDUSTRI PELAYARAN HARUS

Sementara
Adanya kebijakan pemerintah yang membebaskan pajak pada impor kapal, diharapkan dapat memacu persaingan yang sehat di antara perusahaan pelayaran nasional.
tetap bangkit dari kehancuran yang diakibatkan oleh kurang berpihaknya kebijakan pemerintah. Salah satu kiat industri pelayaran agar tetap eksis adalah dengan melakukan impor sementara kapal, agar tetap dapat melayani kegiatan transportasi di dalam negeri. Kiat melakukan impor sementara ini, rupanya juga dijadikan trik oleh industri pelayaran agar dapat terhindar dari berbagai macam pajak. Dapat dibayangkan jika industri pelayaran nasional harus mengimpor kapal baru dengan bea masuk yang cukup tinggi dan ditambah beban bajak yang lainnya, maka menurut industri pelayaran sendiri itu sama dengan mereka membangun 2 kapal baru. Itu jika industri pelayaran nasional membangun kapal baru di luar negeri. Jika mereka membangun di dalam negeri, beban pajak yang harus ditanggung akan melebihi, jika mereka impor kapal dari luar negeri. Ini adalah suatu permasalahan yang pelik namun tetap terjadi pada era tahun 1990-an. Maka pada tahun 1990-an banyak sekali kapal berbedera asing yang melayani rute dalam negeri untuk pengiriman barang. Dengan kondisi ini, sudah tentu terjadi persa ingan yang sangat tidak sehat, yang besar dapat memonopoli pengiriman barang

IMPOR SEMENTARA SEBAGAI TRIK
Sebagai negara kepulauan Indonesia tetap membutuhkan industri pelayaran sebagai sarana transportasi yang vital, untuk itu para pengusaha dibidang pelayaran pun berusaha untuk

EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
baik kontainer maupun general cargo, sedangkan yang kecil hanya tergantung dari sisa perusahaan besar saja. Demikian halnya juga untuk tarif angkutan barang yang semakin menguntungkan perusahaan besar yang umumnya milik perusahaan pelayaran asing. Sulit dibayangkan di negara kepulauan justru pihak asing yang berjaya untuk sarana transportasi lautnya, 80 persen kapal yang berada diwilayah pabean Indonesia justru kapal asing, sedangkan kapal berbendera Indonesia hanya 20 persen dan itupun hanya beberapa saja yang mampu untuk menghadapi persaingan yang tidak sehat itu. PPN menjadi 10 persen. Namun demikian untuk PPN sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan nomor 370/KMK.03/2003, dinyatakan kalau PPN untuk impor kapal yang dilakukan oleh perusahaan pelayaran niaga nasional dapat dibebaskan melalui Surat Keterangan Bebas (SKB) dari Direktorat Jendaral Pajak. Kebijakan ini tentunya disambut dengan baik oleh industri pelayaran nasional yang mencoba untuk membangun kapal diluar negeri dan mengimpornya ke Indonesia. Namun kebijakan ini masih dirasakan belum maksimal untuk membangkitkan kembali industri pelayaran nasional, masih enggannya pihak perbankan untuk menyokong dana pembuatan kapal, membuat industri pelayaran nasional lebih memilih meminta dukungan dari perbankan asing. Untuk itu industri pelayaran nasional masih tetap memilih jalur impor sementara untuk memasukan kapalnya sehingga beban lainnya dapat diminimalisir. Kondisi ini bukan yang diharapkan oleh pemerintah, penerapan asas cabotage yang sesungguhnya masih tetap jauh dari harapan. Untuk itu pemerintah kembali mengeluarkan peraturan di bidang impor sementara yang tujuannya agar industri pelayaran dapat bangkit sesuai dengan harapan yang diinginkan oleh pemerintah dan pelayaran nasional. Kebijakan tersebut tertuang dalam peraturan Menteri Keuangan nomor 615/PMK.04/2004 tentang tatalaksana impor sementara. Dalam peraturan tersebut yang dijelaskan pada pasal 4 butir 2 disebutkan bahwa barang yang dapat diberikan pembebasan bea
DOK. WBC

KEBIJAKAN PEMERINTAH MULAI MENDUKUNG
Untuk itulah, di medio 90-an industri pelayaran nasional mencoba untuk mendorong pemerintah agar dapat memberikan kebijakan yang lebih mendukung kepada industri pelayaran. Dengan dorongan yang kuat inilah maka diawal tahun 2000-an, pemerintah mulai menunjukan keberpihakannya kepada industri pelayaran. Hal pertama yang ditunjukan oleh pemerintah adalah dengan mengeluarkan keputusan Menteri Keuangan nomor 236/KMK.03/2003 tentang perubahan kedua keputusan Menteri Keuangan nomor 254/KMK.03/ 2001 tentang penunjukan pemungut pajak penghasilan pasal 22, sifat dan besarnya pungutan serta tata cara penyetoran dan pelaporannya. Dengan dikeluarkanya keputusan ini, maka pemungutan pajak penghasilan pasal 22 dikecualikan kepada beberapa komoditi yang salah satunya adalah kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor oleh perusahaan pelayaran niaga nasional atau perusahaan penangkap ikan nasional. Selain itu pemerintah melalui Menteri keuangan juga menurunkan tarif bea masuk untuk kapal menjadi nol persen. Hal ini tertuang dalam keputusan Menteri Keuangan nomor 96/KMK.01/2003 tentang penetapan sistem klasifikasi barang dan besarnya tarif bea masuk atas barang impor yang telah mengadopsi amandemen Harmonized System (HS) 2002 dari World Customs Organization (WCO). Dalam buku tarif bea masuk dijelaskan pada bab 89, kalau untuk kendaraan air lainnya, untuk angkutan barang dan kendaraan air lainnya, untuk angkutan barang dan orang, bea masuk menjadi nol persen sedangkan 10
WARTA BEA CUKAI

masuk salah satunya adalah barang untuk keperluan angkutan laut dan udara dalam negeri. Dalam kebijakan ini juga dijelaskan, jangka waktu ijin impor sementara paling lama 12 (dua belas) bulan, terhitung sejak tanggal pendaftaran pemberitahun impor barang dan dapat diperpanjang paling banyak dua kali untuk masing-masing perpanjangan paling lama 12 bulan. Rupanya pemeritah bukan sekedar ingin membangkitkan kembali kejayaan industri pelayaran nasional, tapi juga membuat agar iklim persaingan menjadi lebih sempurna lagi. Setelah memberikan pembebasan bea masuk, pemerintah kembali menerbitkan kebijakannya masih melalui Menteri Keuangan dengan peraturan nomor 616/PMK.03/2004 tentang perubahan atas keputusan Menteri Keuangan nomor 231/KMK.03/2001 tentang perlakuan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah atas impor barang kena pajak yang dibebaskan dari pungutan bea masuk. Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa, atas impor barang kena pajak yang dibebaskan dari pungutan bea masuk tetap dipungut pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah berdasarkan ketentuan perundangundangan perpajakan yang berlaku. Selanjutnya menyimpang dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat di atas, atas impor sebagian barang kena pajak yang dibebaskan dari pungutan bea masuk, tidak dipungut pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah. Dari dua keputusan tersebut kapal termasuk ke dalam kategori yang dibebaskan bea masuk, pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah. Yang berarti pemerintah sudah sepenuhnya mendukung kebangkitan industri pelayaran nasional dan mengharapkan asas cabotage dapat berjalan sesuai dengan yang diamanatkan pada undang-undang nomor 21 tahun 1992. Kebijakan inilah yang selama ini ditunggu-tunggu oleh industri pelayaran karena masih banyak industri pelayaran yang belum mampu untuk membangun kapal baru maka jalan terbaik agar tetap eksis adalah dengan impor sementara. Kini tidak ada lagi alasan mereka untuk mengeluh soal pemasukan kapal yang harus menggunakan PIB dengan alasan kapal adalah alat angkut bukan sebagai barang, karena dalam kebijakan itu jelas disebutkan kapal tetap barang namun diberikan kebebasan dalam berbagai jenis pajak.

JAMINAN TERTULIS UNTUK IMPOR SEMENTARA KAPAL
BACHTIAR. Kapal yang masuk dengan cara impor sementara tidak akan dikenakan pajak apapun.

Kepuasan memang tiada habisnya, dengan masih adanya beberapa

EDISI 377 APRIL 2006

DOK. WBC

keluhan yang dilontarkan pihak pelayaran akan kebijakan impor sementara ini, pemerintah pun tanggap dan mencoba untuk berpihak kepada industri pelayaran. Tanggapan pemerintah ini diwujudkan dengan mengeluarkan peraturan Menteri Keuangan nomor 25/PMK.04/2005 tentang perubahan atas keputusan Menteri Keuangan nomor 441/KMK.05/ 1999 tentang penggunaan jaminan tertulis untuk menjamin pembayaran pungutan bea masuk, cukai, denda administrasi, dan pajak dalam rangka impor, dalam rangka impor sementara Dalam peraturan tersebut dijelaskan, importir yang diberikan ijin mempertaruhkan jaminan tertulis salah satunya adalah perusahaan pelayaran dan perusahaan penerbangan yang menerima fasilitas impor sementara. Kini lengkaplah semua yang diharapkan oleh industri pelayaran nasional kepada pemerintah. Segala peraturan yang mendukung kebangkitan industri pelayaran telah dikeluarkan dan tinggal bagaimana industri pelayaran itu sendiri menjalaninya. Akan tetapi menurut Sekretaris INSA (Indonesia National Shipowners Association) Maman Permana, jaminan tertulis yang sekiranya dapat membatu pengadaan kapal baru, ternyata juga masih menimbulkan masalah. Permasalahan tersebut adalah diharuskannya pihak pelayaran menaruh jaminan dua setengah persen dari harga kapal, padahal seluruh pajak yang ada telah dihapuskan. “Adanya jaminan tertulis yang dilandasi oleh SKB dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ini saja, sebenarnya sudah cukup, tapi kenapa kami harus menaruh kembali jaminan dua setengah persen itu. Dengan kondisi ini maka kami berpikir buat apa kami mengimpor kapal, karena walaupun kami melakukan impor biasa, tetap saja diberikan status impor sementara,” papar Maman Permana. Lebih lanjut Maman Permana mengatakan, pihak INSA juga telah mengajukan permohonan kepada DJBC agar kebijakan tersebut dapat ditinjau kembali. Namun dari beberapa pertemuan dengan pihak DJBC, maman Permana mengatakan, kalau jaminan dua setengah persen tersebut hanyalah sebagai alat untuk pendataan statistik saja. Menurut Kepala Subdirektorat Impor, Bachtiar, sejak awal pemerintah bersama instansi terkait lainnya termasuk Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), sudah sangat mendukung kebangkitan industri pelayaran nasional, hal ini dibuktikan dengan makin dipermudah dan dipercepatnya berbagai macam ijin dan kebijakan yang menyangkut impor sementara kapal.

INSA. Mengakui kalau masih banyak anggotanya yang memasukan kapal dengan cara impor sementara agar tetap dapat eksis.

“Mulai dari pembebasan bea masuk menjadi nol persen, hingga pengurusan jaminan tertulis, menjadi bukti kepedulian pemerintah terhadap industri pelayaran nasional, bahkan ketika keluar Inpres No.5 tahun 2005 tentang pemberdayaan industri pelayaran nasional, DJBC juga aktif dalam berbagai diskusi dan koordinasi untuk mensukseskan kebijakan tersebut,” ujar Bahtiar. Lebih lanjut Bachtiar mengatakan, untuk jaminan tertulis yang dimasudkan oleh Sekretaris INSA, sebenarnya hanya salah persepsi saja, menurutnya jika kapal tersebut dimasukan secara impor untuk dipakai, maka bea masuk sudah nol persen, PPN 10 persen, PPh dua setengah persen. Namun untuk PPN dan PPh dapat dibebaskan dengan mendapatakan surat keterangan bebas dari DJP. Sementara untuk impor sementara sekarang ini sudah tidak ada lagi hal yang memberatkan, seperti halnya untuk impor biasa, impor sementara juga dapat dibebaskan dengan jaminan tertulis dari perusahaannya. Dengan kedua kebijakan itu tentunya perusahaan pelayaran kini dapat lebih leluasa dalam menjalankan bisnisnya dan mampu bersaing secara profesional. Kalau hingga kini masih banyak perusahaan pelayaran yang

menggunakan impor sementara agar tetap dapat eksis di dalam negeri, karena kemampuan untuk memiliki kapal sendiri masih terbatas, sehingga masih harus menyewa atau mencarter dari luar negeri. Tentunya pemerintah harus mendukungnya, dan dukungan yang penuh kini telah diberikan oleh pemerintah kepada industri pelayaran nasional. Lalu bagaimana dengan industri penerbangan nasional yang juga mengalami hal yang sama. Kebijakan impor sementara yang dikeluarkan oleh pemerintah, tentunya juga telah berpihak kepada industri penerbangan nasional, kemudahan pengadaan kapal dan kelonggaran masa perpanjangan impor sementara kapal tersebut, membuktikan kalau pemerintah juga telah berpihak dan memikirkan kemajuan industri penerbangan nasional. Impor sementara memang salah satu cara dari industri pelayaran nasional agar tetap eksis di negerinya sendiri, namun semua itu masih belum menjawab mengapa hingga kini industri pelayaran masih sebagai tamu di negerinya sendiri. Rantai hambatan kini telah disempurnakan menjadi kemudahan, namun ada beberapa hal yang masih mengganjal seperti di sektor perpajakan dan perbankan yang dirasa belum kooperatif adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

11

Sektor Pajak
K
eterpurukan industri pelayaran nasional selama dua dekade terakhir ini, dituding disebabkan oleh banyaknya faktor kebijakan pemerintah yang secara nyata kurang mendukung berkembanganya industri pelayaran nasional. Faktor-faktor tersebut diantaranya, berbelitnya sistem perpajakan dan belum mendukungnya sektor perbankan menambah ketidakmampuan industri pelayaran nasional untuk menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri. Apa yang dirasakan oleh industri pelayaran nasional, memang patut diperhatikan dengan sungguh-sungguh, artinya baik pemerintah maupun masyarakat seharusnya menyadari benar arti penting dari kejayaan industri pelayaran nasional, yang secara nyata dapat membantu kemajuan perekonomian bangsa ini. Alasan ketidak mamupuan untuk bersaing dengan industri pelayaran asing, seharusnya bukan menjadi alasan klasik. Rendahnya daya saing perusahaan pelayaran nasional, juga dikarenakan kurang

LAPORAN UTAMA

PEDULI INDUSTRI PELAYARAN NASIONAL
Sejak tahun 1986 sektor perpajakan mengatakan sudah mulai peduli dengan industri pelayaran nasional.
terkoordinirnya dengan baik antara instansi-instansi terkait yang sebenarnya memiliki kewenangan untuk dapat memajukan pelayaran nasional.

KEPEDULIAN SEJAK TAHUN 1986
Benarkah pemerintah khususnya sektor perpajakan menjadi salah satu akar permasalahan dari keterpurukan industri pelayaran nasional, seperti yang selama ini selalu digembargemborkan oleh industri pelayaran nasional? Jawaban akan hal ini memang memiliki dua versi yang saling bertentangan antara perpajakan dan industri pelayaran nasional. Menurut Kepala Subdirektorat PPN Jasa, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Catur Rini Widosari, sebenarnya pihak perpajakan sejak tahun 1986 sudah memberikan perhatiannya kepada industri pelayaran nasional yang dituang-

GALANGAN KAPAL. Satu industri yang tidak terkait dalam Inpres nomor 5 tahun 2005.

12

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

kan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah, yang terus mengalami perubahan, hingga terakhirnya disempurnakan dengan UndangUndang Nomor 18 Tahun 2000, yang bertujuan untuk lebih menunjang keberhasilan sektor-sektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggi dalan skala nasional, mendorong perkembangan dunia usaha, dan meningkatkan daya saing, mendukung ketahanan nasional, serta memperlancar pembangunan nasional. “Dalam peraturan pemerintah nomor 146 tahun 2000, dinyatakan kalau barang kena pajak yang atas impornya dibebaskan dari pengenaan pajak pertambahan nilai, salah satunya adalah kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh perusahaan pelayaran niaga nasional atau perusahaan penangkap ikan nasional,” jelas Catur Rini. Dengan ketentuan tersebut, tentunya industri pelayaran nasional sudah sedikit terbantu untuk pengadaan kapal baru, baik yang dimasukan secara impor maupun yang dibangun di dalam negeri sendiri. Karena beban PPN yang selama ini dirasakan cukup memberatkan sudah dapat dibebaskan.

oleh badan hukum Indonesia atau badan usaha Indonesia yang menyelenggarakan usaha jasa angkutan laut dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia atau kapal asing atas dasar sewa untuk jangka waktu atau perjalanan tertentu ataupun berdasarkan perjanjian dan telah memiliki Surat Ijin Usaha Perusahaan Pelayaran (SIUPP) dari Departemen Perhubungan. “Dari kebijakan ini saja sudah jelas kalau sektor perpajakan tidak pernah

HANYA INDUSTRI PELAYARAN NIAGA NASIONAL YANG BEBAS PPN

Menanggapi hal tersebut, Catur Rini, mengatakan kalau hal tersebut sebenarnya telah beberapa kali dirapatkan yang sekaligus juga sebagai ajang sosialisasi mengenai kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh sektor perpajakan. “Misi kami juga ingin memajukan sektor transportasi yang ada di negeri ini, tanpa kecuali industri pelayaran niaga nasional, jadi sebenarnya itu hanya kurang pemahaman saja dari industri pelayaran niaga nasional akan pajak yang dikenakan kepada mereka. Karena selain keputusan yang telah dikeluarkan oleh Menteri Keuangan, keputusan Dirjen Pajak yang mengatur lebih jelas lagi tentang pembebasan itu telah kami sampaikan kepada mereka,” jelas catur Rini. Memang dalam keputusan tersebut masih dikatakan kalau barang yang dikenakan pajak tertentu salah satunya adalah kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau keselamatan manusia. Sementara yang dikenakan jasa kena pajak tertentu, salah satunya adalah, jasa yang diterima oleh perusahaan angkutan laut nasional, perusahaan penangkapan ikan nasional, perusahaan penyelenggara jasa kepelabuhan nasional, atau perusahaan penyelenggara jasa angkutan sungai, danau, dan penyebarangan nasional.
WBC/ATS

KETERANGAN BEBAS Keinginan sektor perpajakDIREKTORAT JENDERAL PAJAK. Dituding sebagai salah satu penyebab keterpurukan industri pelayaran niaga nasional. an untuk membantu industri Namun dalam keputusan pelayaran niaga nasional juga Menteri Keuangan nomor memberatkan industri pelayaran niaga tidak berhenti sampai disitu saja, satu 370/KMK.03/2003, juga dijelaskan dalam nasional, disini saya tekankan kembali tahun setelah ketetapan tersebut pasal 4 ayat 2, kalau badan atau orang untuk perusahaan pelayaran niaga dijalankan, pemerintah kembali mengelyang melakukan impor atau menerima nasional. Jadi kalau itu bukan industri uarkan kebijakan yang lebih memfokuspenyerahan barang kena pajak tertentu pelayaran niaga nasional ya mereka tidak kan kepada pembebasan pajak pertamsebagaimana yang dimaksudkan pada berhak mendapatkan itu,”ujar Catur Rini. bahan nilai, yang bukan hanya pada inayat 2 nya, maka wajib mempunyai surat Jika dilihat dari historis yang ada, dustri pelayaran niaga nasional tapi juga keterangan bebas pajak pertambahan memang sebelum lahirnya Undangkepada sektor transportasi lainnya. nilai yang diterbitkan oleh Direktur Undang Nomor 21 tahun 1992 tentang Kebijakan itu tertuang dalam Jenderal Pajak. pelayaran, dan Inpres Nomor 5 tahun keputusan Menteri Keuangan nomor 10/ Dengan demikian pengenaan PPN 2005 tentang pemberdayaan industri KMK.04/2001 yang menetapkan tentang sebesar sepuluh persen tetap dikenapelayaran niaga nasional, sektor pemberian dan penatausahaan pajak kan kepada objek pajak di atas, namun perpajakan telah lebih dulu memikirkan pertambahan nilai dibebaskan atas impor dapat dibebaskan dengan mengajukan untuk memajukan industri pelayaran niaga dan atau penyerahan barang kena pajak surat kepada DJP, yang akan nasional. Lalu mengapa hingga kini pihak tertentu dan atau penyerahan jasa kena mengeluarkan surat keterangan bebas. industri pelayaran sendiri yang merasa pajak tertentu. Kembali lagi surat keterangan bebas ini sektor perpajakan sebagai salah satu akar Salah satu yang mendapat kebebasan hanya diperuntukan bagi impor kapal penyebab dari kurang berdayanya industri adalah perusahaan pelayaran niaga nayang dilakukan oleh industri pelayaran pelayaran niaga dinegerinya sendiri? sional yang diselenggarakan sepenuhnya niaga nasional, diluar industri
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

BEBAS DENGAN SURAT

13

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

CATUR RINI WIDOSARI. Kalau dulu saja perpajakan sudah peduli, tentunya sekarang perpajakan lebih perduli lagi.

pelayaranan niaga nasional tidak akan diberikan surat keterangan bebas. “Selain industri pelayaran niaga nasional kita tidak akan mengeluarkan surat keterangan bebas, seperti misalnya pertamina yang memiliki anak perusahaan yang membawahi industri pelayaran yang diperuntukan khusus untuk angkutan minyaknya, itu tidak kami berikan karena itu bukan pelayaran niaga nasional. Hal ini selain sebagai alat kontrol kami, juga sebagai pemicu kebangkitan dari industri pelayaran niaga nasional,” kata Catur Rini. Diakui juga oleh Catur Rini, kalau dulu untuk mendapatkan surat keterangan bebas masih di pusatkan pada Kantor Pusat DJP, namun kebijakan itu diubah karena dinilai kurang efisien. Bayangkan jika pemilik kapal tersebut ada di Surabaya atau Medan, tentunya mereka harus mengeluarkan cost kembali hanya untuk mendapatkan surat keterangan bebas.

Agar terciptanya pelayanan yang lebih sempurna dan efisiensi diberbagai bidang, maka sejak tahun 2003 surat keterangan bebas sudah dapat dilayani di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) seluruh Indonesia. Dengan demikian sudah tidak ada lagi permasalahan yang disebabkan oleh perpajakan yang selama ini dirasakan memberatkan oleh industri pelayaran niaga nasional. Lalu mengapa masih saja ada keluhan soal pajak, khususnya bagi industri pelayaran niaga yang akan membangun kapal di dalam negeri, yang menurutnya bebannya lebih besar jika industri pelayaran niaga membangun di luar negeri ? Persepsi ini menurut Catur Rini tidak benar, karena jika industri pelayaran niaga akan membangun kapal di dalam negeri, hal itu justru disarankan karena tidak akan dikenakan beban apapun, semuanya bebas dari pajak. Sementara yang masih dikenakan pajak justru pada industri pelayaran yang bukan niaga nasional. “Kami menekankan kembali disini, industri pelayaran niaga nasional bebas dari segala pajak, jika mereka membangun kapal, katakanlah di PT.PAL Indonesia itu justru kami sarankan karena mereka akan bebas dari segala pajak, tapi jika bukan industri pelayaran niaga nasional itulah yang masih dikenakan beberapa pajak,” ungkap Catur Rini.

GALANGAN KAPAL TIDAK TERKAIT DALAM INPRES NO.5 TAHUN 2005
Lebih lanjut Catur Rini mengatakan, kalau dalam Inpres nomor 5 tahun 2005 tentang pemberdayaan industri pelayaran niaga nasional, satu hal yang tidak disentuh adalah industri galangan kapal, karena jika industri galangan kapal juga dibebaskan dari pajak khususnya PPN, maka industri lainnya yang berkaitan dengan galangan kapal juga akan memintanya. Hal ini sama saja dengan lingkaran yang tak habis-habisnya.
DOK. WBC

MASIH ALERGI. Kurangnya sokongan dana untuk pengadaan kapal baru dan kredit kapal, disebabkan masih alerginya pihak perbankan terhadap industri pelayaran.

Untuk itulah, galangan kapal tidak diberikan insentif pembebasan pajak PPN, namun untuk pembangunan kapal milik industri pelayaran niaga nasional, galangan kapal tidak akan mengenakannya karena itu sudah diatur dalam Inpres dan ketetapan pemerintah lainnya. Satu hal juga yang sampai kini masih belum dapat dijalankan oleh sektor perpajakan berkaitan dengan Inpres nomor 5 tahun 2005, khususnya di bidang keuangan, butir keduanya, yang menyebutkan agar menyempurnakan kebijakan perpajakan yang lebih mendukung tumbuh dan berkembanganya industri pelayaran nasional dan industri perkapalan, termasuk pemberian insentif kepada pemilik muatan ekspor yang diangkut dengan kapal berbendera Indonesia dan dioperasikan oleh perusahaan pelayaran nasional. Untuk penyempurnaan kebijakan perpajakan, memang itu sudah dilakukan sejak dulu, namun untuk pemberian insentif kepada eksportir jika mereka menggunakan kapal berbendera Indonesia yang diopersikan oleh industri pelayaran nasional, itu yang tidak mungkin bisa diterapkan. Menurut Catur Rini, jika insentif itu diberikan maka dasar pemberian insentif tersebut tidak jelas, apakah melihat dokumen yang ada atau jumlah barang? Semua ini akan sulit menggontrolnya, apakah benar eksportir itu melakukannya, semua itu dapat saja dimanipulasi. “Hal tersebut memang masih kita bahas, karena memang sulit untuk menerapkannya, sehingga sampai saat ini kita belum dapat menerapkan satu butir dalam Inpres tersebut, sedang yang lainnya kita tidak ada masalah,” jelas Catur Rini. DJP telah mengklaim kalau pihaknya bukan menjadi akar permasalahan dalam keterpurukan industri pelayaran niaga nasional. Artinya semua kebijakan yang dikeluarkan telah sepenuhnya mendukung kemajuan industri pelayaran niaga nasional. Lalu mengapa Industri pelayaran niaga masih mempermasalahnya persoalan perpajakan ? Menurut pihak perpajakan, hal itu disebabkan kepuasan memang tiada batas. Namun upaya maksimal untuk menjadikan semua itu menjadi lebih baik juga telah dilaksanakan. Kalau perpajakan sudah tidak ada masalah lagi, lalu mengapa masih banyak industri pelayaran niaga yang tidak memanfaatkannya? Hal lain yang juga sangat terkait adalah masalah perbankan yang dirasakan masih alergi kepada industri pelayaran, yang dinilai penuh dengan risiko. Sayang hingga tulisan ini dibuat WBC tidak dapat menemui pihak perbankan. Karena dari beberapa perbankan yang dihubungi umumnya mereka tidak tahu persoalan ini dan memang kabarnya belum pernah ada perbankan yang memberikan bantuan dana atau kredit kepada industri pelayaran. adi

14

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

Inpres No.5
S
ejak masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga ke pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, keinginan untuk memajukan industri pelayaran nasional terus dikumandangkan. Seruan tersebut mulai dikumandangkan pertama kali pada peringatan hari maritim nasional pada tahun 1963. Di dalam pidatonya, Presiden Soekarno mengatakan, “Negara dapat menjadi kuat, jika dapat menguasai lautan. Untuk menguasai lautan, kita harus menguasai armada yang seimbang”. Keinginan Soekarno pada saat itu memang belum dapat terlaksana dengan baik hingga masa kepemimpinanya selesai, namun upaya-upaya kearah kejayaan itu tetap dilaksanakan walau dalam kenyataannya hanya berjalan ditempat saja. Berganti kepemimpinan keinginan untuk membangun kejayaan industri nasional juga kembali dikumandangkan, tepatnya pada pemerintahan B.J. Habibie yang lebih dikenal dengan deklarasi Bunaken. Dalam deklarasi Bunaken, 26 Sepetember 1998, Presiden B.J. Habibie mengatakan, “Mulai saat ini visi pembangunan dan persatuan nasional Indonesia harus juga berorientasi kelaut. Dan semua jajaran pemerintah dan masyarakat hendaknya juga memberikan perhatian untuk pengembangan, pemanfaatan, dan pemeliharaan potensi kelautan Indonesia” Keinginan Presiden B.J. Habibie ini selain untuk meneruskan cita-cita Bung Karno, juga atas dorongan industri pelayaran nasional yang pada saat itu merasa benar-benar tersisihkan dengan kejayaan kapal asing di Indonesia. Bahkan pada saat itu industri pelayaran nasional

ARTI

Tahun 2005 BAGI INDUSTRI PELAYARAN NASIONAL
Keinginan untuk mengembalikan kejayaan industri pelayaran nasional telah dikumandangkan oleh pemerintah Indonesia melalui Inpres No.5 tahun 2005. Namun demikian ada kekhawatiran akan terjadi monopoli oleh industri pelayaran besar menjadi satu hal yang harus segera diantisipasi. hanya mampu menguasai 20 persen dari pangsa pasar angkutan barang dalam negeri. Kondisi demikian membuat upaya kearah kemajuan industri pelayaran nasional yang diharapkan pemerintah tidak dapat berjalan maksimal, padahal pada saat itu Undang-Undang Nomor 21 tahun 1992 tentang pelayaran, telah diberlakukan khususnya penerapan asas cabotage. Satu hal yang juga masih menjadi permasalahan pada saat itu, adalah belum terkoordinirnya dengan baik antara pihak-pihak terkait, yang membuat industri pelayaran semakin merasa di anak tirikan oleh bangsanya sendiri. Masa berganti masa sampai akhirnya Indonesia mengalami suatu keadaan yang sangat berat dimana hampir seluruh sektor perekonomian lumpuh akibat krisis di berbagai sektor. Dengan kondisi yang semakin berat dan berimbas kepada seluruh sektor perekonomian, membuat industri pelayaran juga semakin lumpuh bahkan tidak sedikit yang mengalami kehancuran. Sementara untuk membangun kembali perusahaannya mereka harus terbentur oleh dua hal yang cukup memberatkan, yaitu disektor perbankan yang belum bersedia memberikan jaminan kredit dan sektor perpajakan yang siap menagih untuk pembanguan kapal baru. Setelah Indonesia mulai bangkit secara perlahan-lahan dari krisis yang berkepanjangan, pemerintah yang pada saat itu dipimpin oleh Presiden Megawati Soekarno Putri, kembali menyerukan kepada seluruh jajaran pemerintahan dan rakyat Indonesia yang intinya menginginkan bangsa ini lebih berorientasi kelaut sehingga cita-cita Bung karno dahulu juga dapat terealisasikan. Seruan yang kini dikenal dengan Seruan Sunda Kelapa, 27

EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

15

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

CAPT. ABDUL GANI BADDIAN. Inpres nomor 5 tahun 2005, belum saatnya dikeluarkan sekarang.

Desember 2001, Presiden Megawati meminta kepada seluruh bangsa Indonesia untuk bersama-sama membangun kekuatan maritim dengan, membangun kembali wawasan bahari, menegakan kedaulatan secara nyata dilaut, mengembangkan industri dan jasa maritim secara optimal dan lestari bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, mengelola kawasan-kawasan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi secara serasi dan berkelanjutan, dan mengembangkan hukum nasional di bidang maritim.

TITIK AWAL KEBANGKITAN
Kembali lagi industri pelayaran nasional mendapatkan angin segar dari pemerintah saat itu, penantian yang ditunggu-tunggu kembali membuahkan
WBC/ADI

CAPT. DMF. MATAKUPAN. Kemampuan dunia pelayaran nasional untuk mengimplementasikan Inpres nomor 5 tahun 2005 tergantung dari pemerintah itu sendiri.

hasil walau industri pelayaran sendiri tidak berani untuk berangan-angan lebih jauh. Kenyataannya memang tidak jauh berbeda dari yang dibayangkan oleh Industri pelayaran, belum terkoordinirnya dengan baik di antara instansi-instansi terkait, membuat harapan industri pelayaran menjadi patah arang dan tidak mempercayai lagi harapan yang diberikan oleh pemerintah. Setelah merasa patah arang dan tidak memiliki harapan lagi, akhirnya pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, industri pelayaran nasional seakan bangkit dari mimpi buruk dan melihat masa depan yang lebih cerah dikemudian hari, dengan dikeluarkannya kebijakan yang selama ini tidak pernah terbayangkan oleh industri pelayaran nasional. Kebijakan tersebut tertuang dalam Inpres Nomor 5 tahun 2005 tentang pemberdayaan industri pelayaran nasional. Dalam Inpres tersebut diinstruksikan kepada tiga belas kementerian dan seluruh gubernur, bupati, walikota diseluruh Indonesia, untuk menerapkan asas cabotage secara konsekuen dan merumuskan kebijakan serta mengambil langkahlangkah yang diperlukan sesuai dengan tugas, fungsi dan wewenang masingmasing guna memberdayakan industri pelayaran nasional. Dibidang perdagangan, salah satunya diinstruksikan agar muatan pelayaran antar pelabuhan di dalam negeri dalam jangka waktu sesingkat-singkatnya setelah instruksi Presiden ini berlaku, wajib diangkut dengan kapal berbendera Indonesia dan dioperasikan oleh perusahaan pelayaran nasional. Dibidang keuangan, salah satunya diinstruksikan agar menyempurnakan kebijakan perpajakan yang lebih mendukung tumbuh dan berkembangnya industri pelayaran nasional dan industri perkapalan, termasuk pemberian insentif kepada pemilik muatan ekspor yang diangkut dengan kapal berbendera Indonesia dan dioperasikan oleh perusahaan pelayaran nasional. Dibidang lembaga keuangan, salah satunya diinstruksikan agar mengembangkan proses pendanaan yang lebih mendorong terciptanya pengembangan armada nasional. Dan untuk bidang pelayaran diinstruksikan, agar menata penyelenggaraan angkutan laut nasional dalam jangka waktu sesingkat-singkatnya setelah instruksi Presiden ini berlaku, sehingga angkutan laut dalam negeri seluruhnya dilayani oleh kapal-kapal berbendera Indonesia Keempat hal inilah yang paling pokok dari Inpres tersebut, meskipun ada beberapa hal penting lainnya yang juga diharapkan dapat mendukung kejayaan industri pelayaran nasional, namun tanpa keempat hal tersebut semua akan menjadi angan-angan belaka.

5 tahun 2005, berbagai pihak mengatakan kalau Inpres tersebut telah membuat industri pelayaran nasional menjadi anak emas di negerinya sendiri. Dengan berbagai kemudahan yang diberikan membuktikan kalau pemerintah memang telah bersungguh-sungguh ingin mengembalikan kejayaan industri pelayaran nasional seperti pada jaman kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dulu. Benarkah Inpres Nomor 5 tahun 2005 tentang pemberdayaan industri pelayaran nasional, berujung pada kejayaan industri pelayaran nasional? Beberapa pihak memang mengatakan kalau hal tersebut memang benar adanya, namun ada juga pihak yang mengatakan kalau hal tersebut juga masih berupa angan-angan pemerintah, agar industri pelayaran nasional merasa diperhatikan oleh pemerintah. Menurut Sekretaris INSA ( Indonesia National Shipowners’ Association), Maman Permana, kebijakan pemerintah saat ini merupakan kebijakan yang dinanti-nanti oleh industri pelayaran nasional, karena selama ini kebijakan pemerintah belum sepenuhnya berpihak sehingga upaya untuk bangkit kembali dari keterpurukan terasa sangat sulit sekali. “Kami sangat bersyukur kepada pemerintah yang telah memberikan perhatian penuh demi kebangkitan dan kejayaan industri pelayaran nasional, memang kami tidak bosan-bosannya berharap agar kebijakan ini dapat terealisasikan, kini dengan keluarnya Inpres ini kami merasa di anak emaskan oleh pemerintah Indonesia,” ujar Maman Permana. Kegembiraan tersebut memang patut dirayakan oleh industri pelayaran nasional, setelah mereka berjuang demi keberpihakan pemerintah, kini saatnya mereka menjalankan amanat tersebut dengan semaksimal mungkin, karena hal tersebut juga dijelaskan oleh Maman Permana, kalau koordinasi dari masingDOK. PRIBADI

HARAPAN DAN KELUHAN
Dengan dikeluarkannya Inpres Nomor

SUHANDI DJAJASAPUTRA. Pihak perbankan masih alergi dengan industri pelayaran nasional

16

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

WBC/ADI

masing pihak kini sudah dapat berjalan dengan baik, hal ini menunjukan masingmasing instansi kini sudah memiliki satu visi dan misi terhadap industri pelayaran nasional. Hal yang sama juga diutarakan oleh Capt. DMF.Matakupan, manager operasi dari PT. Sandidewa Samudera, menurutnya kebijakan Inpres Nomor 5 merupakan titik awal dari kebangkitan industri pelayaran nasional, karena dengan kebijakan ini diharapkan dapat mengimbangi industri pelayaran asing yang telah lama menikmati dan memonopoli jasa transportasi laut. “Sebagai perusahaan pelayaran nasional, tentunya kami sangat senang dengan keluarnya Inpres nomor 5 tahun 2005, namun demikian kami juga berharap agar Inpres ini tidak hanya berjalan di tempat saja seperti seruan-seruan terdahulu. Kalau memang niat pemerintah ingin menjadikan industri pelayaran nasional sebagai tuan rumah dinegaranya, ya mari kita sama-sama jalankan kebijakan itu secara konsekuen,” tutur Matakupan. Lebih lanjut Matakupan menjelaskan, walaupun perusahaannya tidak memiliki armada yang banyak dan armada itu sendiri hanya diperuntukan mengakut barang milik perusahaan yang sama, namun demikian cukup terbantu dengan keluarnya Inpres, khususnya jika perusahaan ingin mengajukan kredit kepada pihak perbankan. Asosiasi Pengusaha Kapal Wisata Indonesia juga berpendapat yang sama, menurut Suhandi Djajasaputra selaku ketua asosiasi ini, mengatakan kemampuan pelayaran nasional bergantung pada kebijakan pemerintah, dan sejauh mana pemerintah mendorong, memprioritaskan, merangsang/ menstimulasi pengembangan pelayaran nasional dengan memotivasi pengusaha pelayaran nasional. “Sifat usaha pelayaran sangat padat modal, untuk membeli kapal bekas dan merenovasi kapal saja tidak murah, apalagi membuat yang baru. Sementara pihak perbankan masih alergi terhadap bisnis pelayaran, bisa dikatakan tidak ada yang mau memodali pembangunan kapal. Dari sini kita dapat melihat kalau industri pelayaran memang sepenuhnya bergantung kepada kebijakan pemerintah,” papar Suhandi Djajasaputra.

MAMAN PERMANA. Kita sudah cukup lama terpuruk, kini saatnya kita bangkit dengan kebijakan pemerintah yang sepenuhnya mendukung industri pelayaran nasional

sia, yang menurutnya Inpres nomor 5 tidak akan berjalan dengan baik, karena sistem pendukung dari Inpres tersebut belum ada dan khusus untuk instansi pemerintah masih belum tercipta koordinasi yang baik karena masih mempertahankan ego sektoralnya. “Saya menilai Inpres nomor 5 tahun 2005 masih berupa angan-angan dari pemerintah saja, saat ini kita sudah semakin sulit untuk membangun kembali kejayaan industri pelayaran nasional, karena kebijakan yang baru keluar ini belum sepenuhnya berpihak kepada kami,” kata Abdul Gani. Lebih lanjut Abdul gani mengatakan, masih belum siapnya pihak perbankan nasional dan perpajakan, mencerminkan
WBC/ADI

DINILAI MASIH SETENGAH-SETENGAH
Keluarnya kebijakan pemerintah ini, ternyata tidak seluruhnya disambut gembira oleh industri pelayaran nasional, beberapa di antara mereka mengatakan Inpres tersebut belum saatnya keluar karena pemerintah masih perlu membenahi sistem pendungkungnya sehingga dalam pelaksanaannya tidak terkesan setengah-setengah. Seperti diutarakan oleh Capt. Abdul Gani Baddian selaku Direktur PT. Mitra Samudera Jaya Lines yang merupakan agen pelayaran dari PT. “K” Line Indone-

HENDRA BUHDI. Tidak ada sistem pilih kasih dalam penerapan tarif.

pemerintah tidak tanggap akan akar permasalahan yang sebenarnya dari keterpurukan industri pelayaran nasional. Hingga kini memang pihak perbankan nasional masih terkesan alergi dengan industri pelayaran, yang dinilainya penuh dengan risiko dan tidak menguntungkan. Padahal jika industri pelayaran mendapatkan sokongan dana yang kuat dari pihak perbankan tanpa keluarnya Inpres pun industri pelayaran nasional akan maju dengan sendirinya. Menanggapi hal tersebut, Maman Permana mengatakan, memang selain pihak perbankan dan perpajakan yang dirasakan masih kurang mendukung, pihak industri pelayaran nasional juga mengkhawatirkan akan terjadi monopoli oleh perusahaan pelayaran besar dengan keluarnya inpres tersebut. “Memang kami sudah menanyakan hal ini kepada pemerintah pada saat rapat koordinasi antar instasi terkait, apakah dengan keluarnya Inpres ini tidak akan terjadi monopoli, mereka dengan yakinnya mengatakan tidak akan terjadi monopili oleh pelayaran besar, karena semuanya akan dikontrol oleh pemerintah secara transparan dan konsekuen,” kata Maman Permana Hal ini juga diamini oleh Hendra Buhdi selaku public relations PT. (persero) Pelabuhan Indonesia II, menurutnya pemerintah sangat menjamin sekali kelangsungan dari Inpres nomor 5 tahun 2005, karena salah satu tujuan dari dikeluarkannya Inpres tersebut agar terjadi persaingan yang sehat baik di antara perusahaan pelayaran nasional, maupun pelayaran asing. “Dulu memang ada yang mengatakan pihak pelabuhan kurang adil dalam menerapkan tarif kepada kapal-kapal yang singgah, untuk kapal asing diperlakukan dengan baik sementara kapal nasional tidak. Hal ini sebenarnya tidak pernah terjadi karena kita memiliki sistem kontrol yang ketat, dengan cara transparan kita akan menjamin persaingan yang sehat sehingga kekhawatiran akan terjadi monopoli tidak akan terjadi,” papar Hendra Buhdi. Kekhawatiran dan kegembiraan memang dua hal yang patut dijalankan pada kebijakan pemerintah kali ini. Khawatir jika kebijakan ini hanya sebagai angin segar saja seperti pada masa pemerintahan dulu, dan gembira karena koordinasi masing-masing instansi sudah mulai kelihatan untuk mensukseskan Inpres ini. Seruan boleh dikumandangkan sejak dulu, namun pelaksanaan memang membutuhkan waktu yang tidak seketika itu juga. Dengan niat yang tulus dan keinginan untuk dapat mengembalikan kejayaan industri pelayaran nasional, merupakan cambuk bagi seluruh bangsa Indonesia untuk tidak selalu bergantung kepada pihak asing. Slogan Bung Karno memang bukan hanya isapn jempol belaka, jika negeri ini tidak menguasai lautan maka selamanya negeri ini akan bergantung kepada orang lain. adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

17

WAWANCARA

Jimmy AB Nikijuluw
DIREKTUR LALU LINTAS DAN ANGKUTAN LAUT

Menjadi Tuan Rumah Di Negerinya Sendiri”
Setelah mengunggu sekian lama, akhirnya industri pelayaran nasional mendapatkan jawaban atas penantiannya selama ini. Dengan dikeluarkannya Inpres Nomor 5 Tahun 2005 tentang pemberdayaan industri pelayaran nasional, impian untuk kembali ke masa kejayaan dunia pelayaran nasional sudah bukan angan-angan lagi. Kebijakan yang dianggap paling spektakuler oleh industri pelayaran nasional ini, tidak serta merta mendapat tanggapan yang positif oleh berbagai kalangan khususnya di industri pelayaran itu sendiri. Masih adanya keluhan yang dirasakan memberatkan pihak pelayaran, membuat industri pelayaran nasional tidak berani untuk berharap sepenuhnya. Bagaimana sebenarnya Inpres Nomor 5 tahun 2005 dikeluarkan oleh pemerintah, dan harapan apa yang diinginkan oleh pemerintah dengan Inpres ini? Untuk mengetahui jawaban tersebut, redaktur WBC Supriyadi.W dan Fotografer Andy Tria Saputra mewawancarai Saputra, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Departemen Perhubungan, Jimmy AB Nikijuluw Nikijuluw, yang secara teknis menangani langsung permasalahan terkait dengan Inpres Nomor 5 tahun 2005. Berikut petikan wawancaranya :
Apa yang melatarbelakangi pemerintah mengeluarkan Inpres Nomor 5 tahun 2005? ebagai negara kepulauan terbesar di dunia, transportasi laut di Indonesia merupakan infrastruktur dan tulang punggung (backbone) kehidupan berbangsa dan bernegara serta sebagai sarana pemersatu. Meskipun perannya yang sangat strategis, namun kondisi industri pelayaran nasional saat ini cukup memprihatinkan dengan daya saing yang rendah. Rendahnya daya saing perusahaan pelayaran dan armada niaga nasional, mengakibatkan tidak dapat diterapkannya asas cabotage secara konsekuen. Padahal jasa angkutan laut sebagai penyumbang utama dalam defisit jasa neraca transaksi berjalan Indonesia. Rendahnya daya saing perusahaan pelayaran dan armada niaga nasional juga disebabkan oleh berbagai masalah yang kompleks, yang mencakup aspek peraturan, kelembagaan, pendanaan, fiskal dan kredit, prasarana dan sarana yang
WARTA BEA CUKAI

“Pemerintah Ingin Industri Pelayaran Nasional

S

kewenangan penanganannya umumnya ada pada berbagai instansi. Untuk itu diperlukan dukungan politik dan komitmen nasional yang kuat untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan pemberdayaan industri pelayaran nasional secara terpadu dan berkesinambungan serta didukung oleh seluruh instansi dan sektor terkait. Apakah Itu juga termasuk permasalahan strategis yang dialami oleh Industri pelayaran nasional ? Itu adalah mengapa pemerintah sampai mengeluarkan Inpres Nomor 5 tahun 2005, latar belakang itu juga sebenarnya didasari oleh sepuluh hal pokok, yaitu belum samanya persepsi terhadap pemberdayaan pelayaran nasional di antara instansi pemerintah, belum diratifikasinya konvensi internasional tentang Maritime Liens And Mortgages tahun 1933, Arrest of the Ship dan RUU klaim maritim yang didahulukan dan hipotik atas kapal, terbatasnya fasilitas pelabuhan dan pelayanan-

nya umumnya relatif belum efisien, belum terwujudnya kemitraan antara pemilik barang dan pemilik kapal (Indonesia Sea Transport Incorporated), dukungan perbankan masih sangat rendah serta belum adanya lembaga keuangan non-bank khusus untuk pengembangan armada nasional, banyaknya jumlah pelabuhan yang terbuka bagi perdagangan luar negeri sehingga kurang mendukung upaya pelaksanaan asas cabotage, insentif fiskal (perpajakan) dan kredit untuk pelayaran nasional relatif belum memadai sebagaimana yang diberikan oleh negara lain (Malaysia, dll), belum tersedianya dengan cukup SDM kepelautan, manajemen perusahaan yang handal dan pendidikan maritim yang berkualitas, syarat perdagangan (Terms of Trade) kurang menguntungkan, dan yang terakhir adalah pembatasan suplay bunker BBM dari pertamina. Kalau begitu dengan kondisikondisi yang dinilai masih kurang mendukung tersebut, dan

18

EDISI 377 APRIL 2006

EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

19

WAWANCARA
perekonomian bangsa yang masih memprihatinkan, apakah sudah tepat Inpres ini diterapkan mulai sekarang ? Kami pikir sudah sesuai, mengingat negara kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia, di mana transportasi laut merupakan insfrastruktur dan tulang punggung (backbone) kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi dengan menerapakan Inpres nomor 5 tahun 2005 sekarang sama dengan membangun perekonomian negara menjadi lebih kuat dan besar lagi. Kalau begitu apa saja upaya pemerintah untuk mendukung Inpres ini? Pemerintah telah mengintruksikan kepada 13 Menteri dan para Gubernur/Bupati/Walikota di seluruh Indonesia, untuk menerapkan asas cabotage secara konsekuen dan merumuskan kebijakan serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing guna memberdayakan industri pelayaran nasional pada 6 sektor, yaitu sektor perdagangan, sektor keuangan, sektor perhubungan, sektor perindustrian, energi dan sumber daya mineral, dan sektor pendidikan dan latihan. Dengan dukungan tersebut, apakah industri pelayaran nasional mampu mengimplementasikan Inpres nomor 5 tahun 2005 ? Mampu, asalkan semua sektor mendukung dan saling bahu membahu (secara terpadu) dan berkesinambungan sesuai dengan roadmap yang disepakati antara seluruh instansi terkait dengan para stakeholder. Pada Undang-Undang Nomor 21 tahun 1992 tentang pelayaran, pemerintah juga sudah menetapkan asas cabotage pada industri pelayaran nasional, mengapa pada Inpres nomor 5 kembali asas cabotage dikemukakan lagi ? Dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 1992 tentang pelayaran, asas cabotage memang sudah dimasukkan didalamnya, namun pada Inpres nomor 5 tahun 2005 asas cabotage kembali diamanatkan agar penerapan asas cabotage dapat benar-benar dijalankan secara konsekuen dan merumuskan kebijakan serta mengambil langkahlangkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing. Jadi bukan berarti kita tidak menerapakn asas cabotage dengan benar di Undang-Undang nomor 21 tahun 1992, kita sudah menerapkan dengan semaksimal mungkin, namun perlu ditekankan lagi agar dapat berjalan lebih konsekuen lagi. Keluarnya Inpres Nomor 5 tahun 2005 disambut dengan baik oleh kalangan industri pelayaran nasional, namun ada beberapa pihak di industri pelayaran itu sendiri yang mengkhawatirkan akan terjadi monopoli jika Inpres ini benar-benar diterapkan ? Sebenarnya tidak ada kata monopoli dalam industri pelayaran nasional, dan pemerintah berani menjaminkan kalau hal itu tidak akan terjadi. Memang beberapa pihak ada yang mengatakan demikian, namun kita juga memiliki kontrol yang independen yang tugasnya mengawasi jalannya kebijakan ini agar sesuai dengan tujuan utamanya, sehingga tercipta penerapan asas cabotage yang konsekuen sehingga menjadikan persaingan yang sehat di antara industri pelayaran nasional. Saat ini masih terjadi perbedaan persepsi di antara instasi terkait mengenai definisi kapal itu sendiri, pihak pelayaran mengatakan kalau kapal adalah alat angkut, sementara pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengatakan kalau kapal pada saat pertama kali masuk wilayah peban Indonesia dinyatakan sebagai barang yang selanjutnya untuk kegunaannya dinyatakan sebagai alat angkut. Bagaimana Pemerintah menyikapi hal ini? Memang perbedaan persepsi masih ada, industri pelayaran nasional menyatakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 1999, kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan 20
WARTA BEA CUKAI EDISI 377 APRIL 2006

jenis apapun, yang digerakan dengan tenaga mekanik, tenaga mesin, atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah. Sementara pihak DJBC menyatakan sesuai dengan definisnya yang juga mengadopsi dari berbagai konvensi dan UU yang ada. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah, bahkan dalam waktu yang dekat ini kita akan duduk bersama untuk membahasnya. Saat ini bukanlah waktunya lagi kita mempertahankan ego sektoral, dengan sistem demokrasi yang kita jalankan semuanya dapat diselesaikan dengan baik sehingga menghasilkan suatu solusi yang saling menguntungkan. Tadi dikatakan Inpres ini memiliki tim khusus yang mempunya tugas mengevaluasi jalannya kebijakan tersebut. Bisa dijelaskan siapasiapa saja yang duduk dalam tim tersebut ? Inpres ini diketuai langsung oleh Presiden RI yang membawahi tim pelaksana. Ketua dari tim pelaksana itu adalah Menko Perekonomian, wakil ketua merangkap ketua harian adalah Menteri Perhubungan, anggotanya terdiri dari sebelas kementerian, yang memiliki tiga sekretaris masing-masing dari Sekretaris Kabinet, Menko Perekonomian, dan Bappenas. Tim pelaksana ini juga membawahi tim kerja teknis, yang diketuai langsung oleh Menteri Perhubungan, wakil ketua deputi II Menko Perekonomian, dua sekretaris masing-masing Dirjen Hubla dan Bappanes. Dan tim ini juga membawahi anggota yang terdiri dari enam belas eselon I pada Direktorat lalu Lintas dan Angkutan Laut Departemen Perhubungan. Dalam perkembangannya, hingga kini berapa banyak jumlah perusahaan angkutan laut nasional yang ada ? Dari data pada tahun 1989 berdasarkan SIUPAL (Surat Ijin Usaha Perusahaan Angkutan Laut) dan SIOPSUS (Surat Ijin Operasi Perusahaan Angkutan Laut Khusus), perusahaan pelayaran nasional yang ada adalah sebanyak 521 perusahaan angkutan laut dan 193 angkutan laut khusus. Jumlah ini terus berkembang sesuai dengan kondisi yang ada, maka sampai pada 31 Desember 2005 jumlah perusahaan pelayaran nasional menjadi 1.269 untuk angkutan laut dan 317 perusahaan untuk angkutan laut khusus. Itu untuk jumlah perusahaannya,

kalau jumlah armadanya bagaimana ? Untuk kekuatan armada niaga nasional berbendera Indonesia, sampai dengan 1 Maret 2006, total armada yang ada adalah sebanyak 6.792, yang terdiri dari 5.363 armada untuk pemegang SIUPAL, 1.428 armada untuk pemegang SIOPSUS. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2005 jumlah armada yang ada saat itu sebanyak 6.041 armada, dengan demikian terjadi peningkatan jumlah sebanyak 750 unit kapal atau sebesar 11,2 persen. Dengan jumlah tersebut di tahun 2005 untuk total muatan dan pangsa muatan perusahaan pelayaran nasional dalam negeri 55,47 persen dikuasai oleh kapal dalam negeri, sedangkan yang diangkut oleh kapal asing sebanyak 44,53 persen. Ini berbanding jauh sekali pada tahun yang sama untuk muatan luar negeri, dari 492,970 juta

internasional adalah Panama, Liberia, Bahamas, Malta, Cyprus, dan Bermuda. Jika demikian berapa lama pemerintah memberikan batas toleransi kepada industri pelayaran nasional agar seluruh jasa angkutan barang dalam negeri dapat terealisir dengan sesungguhnya ? Untuk jasa angkutan dalam negeri yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan berkaitan dengan Inpres nomor 5 tahun 2005 adalah sebanyak 14 item, dari 14 item tersebut untuk pengangkutan barang/ muatan yang menggunakan peti kemas, mulai dilaksanakan pada saat peraturan ini ditetapkan, pengangkutan kayu dan hasil olahan primer, dilaksanakan pada saat peraturan ini ditetapkan, pengangkutan barang umum (general cargo) yang tidak menggunakan peti kemas, dilaksanakan pada saat peraturan ini ditetapkan, pengangkutan semen, pupuk dan beras, dilakukan pada saat peraturan ini ditetapkan, pengangkutan minyak kelapa sawit, bahan galian tambang (mine and quarry), biji-bijian lainnya (other grains), sayur, buah-buahan dan ikan segar (fresh product) dilaksanakan selambat-lambatnya 1 Januari 2008, pengangkutan muatan cair dan bahan kimia lainnya dan bijian hasil pertanian, dilaksanakan selambat-lambatnya 1 januari 2009, pengangkutan minyak dan gas bumi, dilaksanakan selambat-lambatnya 1 januari 2010, pengangkutan batu bara, dilaksanakan pada saat berakhirnya masa kontrak dan selambat-lambatnya 1 Januari 2010, dan untuk pengangutan penunjang kegiatan usaha hulu dan hilir minyak dan gas bumi, dilaksanakan selambat-lambatnya 1 januari 2011. Dalam hal sebelum batas waktu sebagaimana dimaksud pada angkutan yang ditetapkan maksimal tahunnya, jika telah tersedia kapal berbendera Indonesia untuk pengangkutan barang/muatan antarpelabuhan laut di dalam negeri. Pelaksanaan pengangkutan dimaksud wajib menggunakan kapal berbendera Indonesia. Dengan ketentuan tersebut, pemerintah menilai akan mampukah industri pelayaran nasional mengimplementasikanya? Kami yakin industri pelayaran nasional akan mampu, karena sesuai dengan rodmap asas cabotage pada tahun 2010 semuanya bisa diterapkan secara penuh. Dan menjadikan industri pelayaran nasional sebagai tuan rumah dinegerinya sendiri, bukan sebagai tamu di negerinya sendiri.
WARTA BEA CUKAI

KONDISI INDUSTRI PELAYARAN NASIONAL SAAT INI CUKUP MEMPRIHATINKAN DENGAN DAYA SAING YANG RENDAH
ton pangsa muatan luar negeri yang ada, yang diangkut oleh perusahaan pelayaran nasional hanya 5,05 persen saja, sedangkan yang diangkut oleh perusahaan pelayaran asing mencapai 94,95 persen. Bagaimana dengan data kapal asing yang ada saat ini ? Untuk jumlahnya sampai saat ini masih dalam pemetaan sehingga belum dapat dikeluarkan secara resmi. Dari beberapa kapal asing yang ada, sudah menjadi rahasia umum kalau kapal-kapal tersebut ada juga yang menjadi milik Indonesia, khususnya pada kapal-kapal yang berbendera Panama. Hal ini bagaimana ? Memang benar, mengapa mereka justru menggunakan bendera Panama tidak berbendera nasional, hal tersebut tidak lain karena untuk beberapa negara tertentu memang dibebaskan atau mendapatkan keringanan dari pajak, untuk itu mereka menggunakannya yang diajukan dengan cara dispensasi bendera. Negara-negar yang mendapatkan kemudahan itu secara

EDISI 377 APRIL 2006

21

KONSUL Cukai TASI Kepabeanan &
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

Certificate Analysis oleh PFPD
P
erusahaan kami PT. Green Planet Indonesia, rutin melakukan importasi pupuk organik (pupuk alami). Kami juga pemegang IT Pupuk ketika SK Menperindag No. 70/MPP/Kep/2/2003 diberlakukan dan telah diubah dengan Skep No. 56/MPP/Kep/5/2004. Persentase importasi yang hampir 98 persen adalah pupuk organik dari negara asal Amerika Serikat. Sesuai ketentuan untuk barang sejenis ini pihak pabean akan meminta Certificate of Analysis (COA) sebagai dokumen pelengkap pabean. Mengingat volume impor kami untuk pupuk organik ini cukup besar maka kami melampirkan dokumen analysis untuk tahun berjalan. Pengalaman kami beberapa kali dalam penyelesaian kepabeanan oleh pihak PFPD dimintakan Certificate of Analysis yang terbaru, dalam arti mendekati tanggal pengapalan di negara asal. Akhir-akhir ini kami menerima dari eksportir bukan COA, melainkan Laporan Analisa Kimia Kuantitatif dari laboratorium yang terakreditasi di negara eksportir, yaitu hasil analisa kimia yang mengindentifikasi komposisi atas suatu bahan atau zat. Apakah analisa seperti ini dapat diterima oleh pihak pabean mengingat terkadang PFPD merasa perlu untuk mengirim sample ke Laboratorium Pengujian dan Indentifikasi Barang Bea dan Cukai ? (jika kami tidak jelaskan secara detail). Sebagai informasi bahwa kami mengurus sendiri pengajuan PIB sampai selesainya seluruh formalitas kepabeanan. Atas pertanyaan ini mohon jawabannya. Terima kasih sebelumnya. IRWAN SUSANTIO Tembaga dalam I No. L8B Letjen Suprapto Jakarta 10640 JAWABAN : Perihal pertanyaan seperti tersebut di atas, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut : 1. Keputusan Dirjen Bea dan Cukai Nomor Kep-37/BC/ 22
WARTA BEA CUKAI EDISI 377 APRIL 2006

2.

3.

4.

5.

2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengujian Laboratoris dan Identifikasi Barang di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang dalam diktum menimbang menjelaskan bahwa terhadap barang beresiko tinggi yaitu barang yang menimbulkan resiko perbedaan tarip bea masuk, cukai dan barang yang diduga sebagai barang larangan dan pembatasan perlu dilakukan pengujian laboratoris dan identifikasi barang di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang. Bahwa Certificate of Analysis maupun Laporan Analisa Kimia Kuantitatif atau dokumen keterangan sejenis lainnya merupakan dokumen pelengkap pabean, untuk membantu pihak Bea dan Cukai dalam mengidentifikasi komposisi atas suatu barang, bahan/zat. Identifikasi ini diperlukan dalam hal untuk menentukan klasifikasi barang (HS code) dan tarif pembebanannya serta untuk menentukan apakah barang impor tersebut termasuk dalam ketentuan larangan dan pembatasan. Jika dokumen pelengkap pabean yang diajukan importir tersebut diatas dirasa belum cukup memberikan informasi atas barang yang di impor, maka pejabat Bea dan Cukai dapat mengajukan sample ke Laboratorium Pengujian dan Identifikasi Barang (BPIB) Bea dan Cukai untuk dilakukan pengujian berdasarkan Keputusan Dirjen Bea dan Cukai Nomor Kep-37/BC/2004. Dapat kami sampaikan terkait dengan permasalahan di atas, bahwa impor pupuk anorganik jenis tertentu (15 jenis) pada saat ini diwajibkan memenuhi ketentuan wajib SNI (Standarisasi Nasional Indonesia) sesuai dengan ketentuan Menperindag nomor : 140/ MPP/Kep/3/2002 tanggal 5 Maret 2002.

○ ○ ○ ○ ○

Demikian disampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. DIREKTUR JENDERAL u.b. Pjs. Direktur Teknis Kepabeanan Nirwansyah Rachim NIP 060044385

PENGAWASAN
WBC/ATS

M

BARANG BUKTI. Kontainer berisi rokok palsu yang urung diperdagangkan kepasaran.

“KOBOI” PALSU
DI TANJUNG PRIOK
Rokok palsu yang ditegah juga dilekati dengan pita cukai yang diduga juga palsu dan berasal dari China.
WBC/ATS

MENJARING ROKOK

ROKOK PALSU. mirip dengan produk aslinya

arlboro yang identik dengan rokok para koboi di negeri asalnya Amerika Serikat dan memiliki ijin produksi rokok di Indonesia dengan nama, jenis dan rasa yang sama dengan aslinya di Amerika Serikat ternyata menjadi objek yang dibuat tanpa izin alias palsu, lengkap dengan pita cukai palsu yang melekat pada bungkusnya. Pemalsuan ini ternyata bukan dibuat di Indonesia melainkan di negeri Tirai Bambu, China. Selain pengungkapan Marlboro palsu, aparat Bea Cukai dilingkungan Kanwil IV DJBC juga berhasil menegah satu kontainer lain yang berisi rokok Mild Seven dan Marlboro yang palsu juga. Pengungkapan kasus ini berawal dari kecurigaan petugas KPBC Tanjung Priok II pada satu kontainer yang diberitahukan pada dokumen berisi spare parts motor. Kecurigaan petugas kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan control delivery sampai ke tempat pembongkaran milik importir PT BT, “Disini importir menyatakan tidak pernah melakukan impor barang yang tercantum dalam manifes,” ujar Rahmat Subagyo Kabid P2 Kanwil IV Tanjung Priok Jakarta pada saat acara press realese pada 6 Maret 2006 di Kanwil IV DJBC Tanjung Priok. Lebih lanjut ia mengatakan setelah mendapat informasi dari importir tadi bahwa perusahaannya tidak pernah mengimpor barang yang dimaksud, petugas kemudian menarik kembali kontainer tersebut dan melakukan pembongkaran untuk menguatkan dugaan terhadap isi kontainer tersebut. Pembongkaran kontainer yang diangkut menggunakan kapal MV. Victoria Straits Voy. S.014 dengan shipper “Suzhou Impor & Export, Suzhou, China” dilakukan oleh aparat bea dan cukai di wilayah Kanwil IV DJBC dan dalam kontainer tersebut kedapatan 677 karton yang masingmasing berisi 50 sloof rokok dengan jenis rokok sigaret putih filter merk “Marlboro” warna merah palsu yang telah dilekati pita cukai warna biru tahun 2005 40 persen yang diduga palsu juga, yang pada kemasannya tertera Made by PT. Philip Morris Indonesia, Jakarta. Tersangka pada kasus ini berhasil ditangkap petugas dengan inisial V yang kini ditahan di Rutan Salemba untuk kepentingan penyidikan. Tersangka V diduga melakukan tiga pelanggaran yaitu Undang-Undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pasal 103 huruf (a),Undang-Undang nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai pasal 55 dan pelanggaran terhadap UndangUndang HaKI nomor 12 tahun 1997 tentang Hak Atas Kekayaan Intelektual
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

23

PENGAWASAN
(HaKI) sementara kerugian negara yang ditimbulkan dari rokok “koboi”palsu tersebut diperkirakan mencapai Rp.7,5 miliar Lebih lanjut Subagyo mengatakan pihaknya juga berhasil melakukan penegahan terhadap masuknya rokok palsu merk Mild Seven asal Jepang sebanyak satu kontainer. Kecurigaan petugas atas muatan kontainer tersebut berawal pada tidak sesuainya berat barang dengan yang tercantum pada pemberitahuan yaitu dengan 809 Ctns General Cargo. Kecurigaan tersebut membuat petugas melakukan pembongkaran dan ternyata isi kontainer tersebut berlainan dengan apa yang diberitahukan pada dokumen. Kontainer tersebut masih menurut Subagyo ternyata berisi 947 karton rokok sigaret putih yang dipalsukan dengan merek Marlboro dan Mild Seven tanpa dilekati pita cukai, Sementara tersangka pada kasus yang kedua tidak didapat. Ketika ditanya apakah kasus kedua ini masih ada hubungannya dengan kasus pertama, Subagyo mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

HJE Rokok Naik
Mulai 1 April 2006, harga jual eceran (HJE) semua jenis tembakau naik sebesar 10 persen.

B

erdasarkan PMK No.16/PMK.04/ 2006 tentang kenaikan harga dasar hasil tembakau, yang ditandatangani Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 1 Maret 2006, Harga jual eceran (HJE) semua jenis tembakau naik sebesar 10 persen dan berlaku mulai 1 April 2006. Berkaitan dengan naiknya HJE tersebut, Kasi Analisis Tarif Harga dan Produksi Hasil Tembakau Direktorat Cukai KP DJBC, Sunaryo mengatakan, latar belakang munculnya kebijakan menaikan HJE dikarenakan kebutuhan negara atas tambahan penerimaan untuk menutupi pos pengeluaran negara yang meningkat. Pemerintah melihat bahwa sektor cukai masih memiliki potensi untuk

menaikan penerimaan. Maka pemerintah memutuskan untuk menaikan HJE yang selain untuk penerimaan, kenaikan HJE juga berguna untuk pembatasan konsumsi. Sunaryo menjelaskan, sebelum dikeluarkan kebijakan tersebut, idealnya dilakukan sosialisasi kepada para pengusaha rokok. Tetapi ada keuntungan dan kekurangan jika sebuah kebijakan diberitahukan atau disosialisasikan terlebih dahulu. Kelebihannya, pengusaha rokok yang terkena langsung dampak dari naiknya HJE ini akan segera mengantisipasi baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Kekurangannya, terlalu banyak resistensi yang dihadapi pemerintah
DOK. WBC

TIDAK DAPAT DIBEDAKAN
Sementara itu PT. Philip Morris Indonesia (PM) yang dihubungi mengatakan bahwa pihaknya merasa sangat beruntung karena produk palsu ini tidak sampai ke tangan para konsumen karena tentunya rokok”koboi” palsu ini akan merugikan negara dan juga konsumen. Lebih lanjut ia memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada jajaran Bea dan Cukai yang telah berhasi menegah masuknya Marlboro palsu dari China yang tentunya merugikan negara dan juga PM Indonesia. Ketika ditanya kerugian yang dialami oleh (PM) dengan adanya rokok palsu ini, ia belum bisa memberikan pernyataan karena ia bersama dengan para manajemen harus melakukan penghitungan yang sedemikian rupa untuk bisa menghitung berapa kerugian yang dialaminya. Lebih lanjut PM menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa membedakan antara produk asli dengan produksi palsu, namun uji laboraturium bisa mengidentifikasi mana yang palsu mana yang asli. Selanjutnya ia mengatakan bahwa pihaknya menghimbau kepada para pedagang untuk selalu memperoleh produk asli Marlboro dari distributor yang telah ditunjuk diseluruh Indonesia, dengan demikian maka konsumen tidak dirugikan dan juga pangsa pasar Marlboro di Indonesia tetap terjaga. zap 24
WARTA BEA CUKAI

ROKOK ILEGAL. Para pengusaha rokok menuntut agar peredaran rokok illegal dapat ditekan.

EDISI 377 APRIL 2006

WBC/ATS

SUNARYO. Kenaikan HJE telah diperhitungkan dan dipertimbangkan secara matang oleh pemerintah.

apalagi dengan kondisi perekonomian yang sulit saat ini yang salah satunya sebagai dampak kenaikan BBM. Untuk mengantisipasi hal itu, DJBC tidak secara terbuka menyampaikan rencana kebijakan kenaikan HJE tersebut. Pasalnya kalau disampaikan terlebih dahulu, ada kemungkinan pengusaha rokok akan memborong pita cukai sebanyak-banyaknya memanfaatkan HJE sebelum kenaikan, seperti yang terjadi pada tahun lalu. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikan HJE sebesar 15 persen pada 8 Juni 2005 yang berlaku pada 1 Juli 2005, maka pada Mei 2005 dan Juni 2005 pengusaha yang sudah mengetahui kebijakan tersebut memborong pita cukai. Hal itu tentu saja berpengaruh negatif terhadap penerimaan karena biasanya pemesanan pada bulan berikutnya berkurang signifikan. Sunaryo juga mencontohkan peristiwa yang terjadi pada sekitar tahun 2002. Setelah dikeluarkan kebijakan kenaikan HJE dan disosialisasikan, ada satu jenis hasil tembakau yang tidak memesan pita cukai alias pemesanan pita cukai untuk jenis tembakau tersebut nihil atau nol sesudah kenaikan HJE. “Makanya, untuk mengantisipasi hal itu DJBC tidak secara terbuka menyampaikan kebijakan kenaikan HJE ini,” imbuhnya.

oleh DJBC membutuhkan waktu dan proses. Sehingga, pengusaha masih bisa melekatkan pita cukai dengan HJE lama sambil menunggu pita cukai baru dicetak. Ketika ditanya apakah pengusaha rokok mengeluh pada DJBC atas kenaikan HJE ini? Sunaryo menjawab, dalam suatu forum ketika disampaikan kebijakan ini, para pengusaha tidak complain, mereka menerima karena menyadari bahwa mereka dibutuhkan oleh negara. Namun demikian, para pengusaha tersebut menuntut agar peredaran rokok illegal dapat ditekan. Para pengusaha rokok memiliki kekhawatiran bahwa rokok golongan IIIB illegal ini akan mengganggu pasaran rokok yang legal. Untuk memenuhi permintaan para pengusaha tersebut, pada dasarnya DJBC sudah melakukan antisipasi sesuai dengan kewenangannya. Sunaryo juga ingin meluruskan pernyataan di media massa yang menyebutkan bahwa akibat peredaran rokok illegal maka negara menderita kerugian sebesar 6 trilyun rupiah, dianggapnya kurang masuk akal. Pasalnya, yang paling banyak memasarkan rokok illegal (rokok polos dan rokok dengan pita cukai palsured) adalah rokok golongan IIIB (kecil sekali) yang hanya memberikan kontribusi pada negara sebesar 0,2 persen atau 50 milyar rupiah.

PABRIK TIDAK LANGSUNG MENAIKAN HARGA ROKOK
Sunaryo menambahkan, industri rokok merupakan industri yang berbeda dengan industri yang lain. Kalau HJE dinaikan, belum tentu semua pabrik

langsung menaikan harga rokoknya. Biasanya mereka menahan harga di pasaran untuk tidak naik dalam sekali tempo. Sebab, kalau menaikan harga sekaligus akan berdampak pada konsumen yang sangat responsif dengan harga. “Jadi, kalau yang satu naik sementara yang lainnya menahan harga, besar kemungkinan konsumennya yang sangat sensitif dengan harga langsung beralih ke produk lain,” katanya. Jadi, biasanya para pengusaha rokok akan berbarengan menaikan harga. Seperti yang terjadi pada 2005 (tepatnya awal Desember) secara penuh pengusaha baru menaikan harga, padahal kenaikan HJE sudah berlaku sejak 1 Juli 2005. Pengusaha rokok memang berhak melakukan hal itu dan tidak dikenakan sanksi. “Yang jelas, kenaikan HJE tersebut telah diperhitungkan dan dipertimbangkan secara matang oleh pemerintah, antara lain dengan melihat berbagai faktor secara makro seperti kemampuan pabrikan dan tenaga kerja yang dapat diukur dengan barometer produksi hasil tembakau,” kata Sunaryo. Demikian pula dengan faktor konsumen. Menurut Sunaryo, pembeli atau konsumen rokok dibagi dalam tiga kategori yakni sangat resposif dengan harga (biasanya konsumen rokok golongan III), kurang responsif (biasanya konsumen rokok golongan II dan I) dan menengah. Berdasarkan data pada tahun 2005, konsumen yang kurang responsif dengan perubahan harga proporsionalnya lebih tinggi. ifa
FOTO : ISTIMEWA

PEMESANAN PITA CUKAI
Saat ini (Maret-red) ketika DJBC sudah mengumumkan kebijakan yang mulai berlaku pada 1 April 2006, para pengusaha rokok telah memborong pita cukai. Tapi kali ini DJBC memberikan fasilitas pada semua pengusaha rokok. Fasilitas berupa hak untuk memesan pita cukai maksimal sebesar 150 persen dari pemesanan pita cukai tertinggi yang dilakukan pada Januari atau Pebruari 2006. Diberikannya fasilitas tersebut dikarenakan, pengadaan pita cukai yang baru

PENJUAL ROKOK. Pengusaha rokok yang terkena langsung dampak dari naiknya HJE ini akan segera mengantisipasi baik dari sisi produksi maupun pemasaran. EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

25

ENGLISH SECTION

INDONESIA IN ASEAN :
Part One

HISTORICAL REVIEW OF AFTA AND REGIONALIZATION
In the era of globalization, a strong regionalization between countries with common interests would help acting as a buffer for unwanted effects of globalization to each nation. Based on relatively similar backgrounds, regionalism would give the sense of togetherness leading to common regional interests and strengthened cooperation between member countries. The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) serves these purposes.

T

he late developments of ASEAN are now considerably heightened. The signing of Treaty of Amity and Cooperation (TAC) by China, India and Japan and also the intention of Republic of Korea to follow this path, constitute a big development for ASEAN. Moreover, the institution known as the ASEAN plus three (Japan, China, South Korea) shows more intention to tighten the cooperation that has been long fostered. These developments are believed to bring significant changes in the point of view of ASEAN countries towards regionalism, particularly compared to the period of cold war. On the other hand, globalization and capitalism have
WARTA BEA CUKAI EDISI 377 APRIL 2006

many impacts to developing countries. One of ideas of capitalism for the government to lessen its involvement in trade and market activities has brought the pressures to open their markets freely to the world. In relation to this, ASEAN has begun the initiative of free market as materialized in the ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) leading to the abolishment of both tariff and non-tariff barriers for the free flow of goods within the region. Stepping towards higher level in the ladder of regionalization, AFTA is expected to bring the region closer in the face of global market challenges. To that end, this article reviews the history of the establishment of

26

rich state. The regionalization also saw the benefit of deepened cooperation by allowing them to exploit their competitive advantages and carry out intra-regional trade. For Indonesia, regional-oriented foreign policy suited REGIONALIZATION IN SOUTHEAST ASIA the conditions of the emerging government since it lacked Globalization has been perceived as diminishing the necessary skill to play its foreign policy by itself and power of every nation to hamper external influence in because its preference to present a low-profile and many aspects of both governance and way of life. These moderate international image. Being aware of the need days there is no country can be totally independent where for deeper and broader regional cooperation, a rally of process of policy making in almost all matters has to take negotiations was conducted in pursue to establish the external circumstances into account. The spirit of capitalentity suitable with the need of all potential member ism that boosts the flow of globalization undoubtedly countries. enshrines the need for stronger relationship between Declining the invitation to join the ASA (Association of countries with similar interests. The strong relationship is Southeast Asia) that consisted of Malaysia, Thailand and expected to develop deeper cooperation in many aspects Philippine, and considerand is intended to miniing the reluctance to mize damages that might revive the Maphilindo, be imposed by greater Indonesia was tasked to powers under the shadow draft a proposal for a new of globalization. This regional organization. awareness brought ideas Having made the proto deepen and at the posal of Southeast Asian same time broaden the association for Regional cooperation within Cooperation (SEEARC), regional framework of Indonesian officers Southeast Asian countoured the neighboring tries. countries, including The initiative of Myanmar and Cambodia, regional cooperation in promoting the idea. Southeast Asian countries As an effort to secure dates back in 1960’s, after national stability from World War II and in the immediate threat, beginning of cold war. The SEAARC contained one establishment of important article which Maphilindo (Malaysia, was adopted from the Philippine, Indonesia) in Maphilindo stating that 1963 marked the beginregional security should ning of regionalization primarily remain the between Southeast Asian responsibility of member countries. Manila Accord, countries and therefore the agreement establishGLOBALIZATION AND CAPITALISM. Have many impacts to developing countries. they should not depend ing Maphilindo, was on external powers. With based on a loose cooplittle changes, including the name, a declaration estaberation to create regional stability. But it soon failed with lishing the regional organization of Southeast Asian the Malaysian agreement to have a military basis for countries was signed in Bangkok on 8 August 1967. The British troops and also by the campaign led by President organization then was named Association of Southeast Soekarno against Malaysia. Asian Nations (ASEAN). Indonesian foreign policy was considerably changed in the Soeharto era. Its preferences to get closer with the west and its eagerness to foster regional cooperation DEVELOPMENT OF ECONOMIC COOPERATION were based on the following reasons: AFTA is a result of an evolving effort of economic 1. To restore good relationship with neighboring councooperation within ASEAN. Even though economic tries by making sure that Indonesia had abandoned mandates were mentioned in the Agreement establishing the policy of confrontation as campaigned by ASEAN in 1967 as one of its main objectives, the endeavSoekarno ors toward this direction was not yet started until 1969. 2. To show its commitment for cooperation to internaThe slow pace to focus on economic matters becomes tional community, particularly the US understandable when considering the timing of the 3. To remove immediate external threats in order to establishment of ASEAN. At this particular time, some of provide conducive environment for national economic Southeast Asian Countries mostly focused their attention development and political stability in the matters of nation building after the era of post However, Indonesian previous history of being an colonialization where issues of security and sovereignty aggressive and confrontative towards western related had been tiring out their energies. entities, as Malaysia and Philippine may be attached, In 1969, discussion on economic cooperation was constituted obstruction for its regional counterparts to see started during the annual meeting. The discussion of the truthfulness of Indonesian enthusiasm for regional ASEAN foreign ministers resulted in agreement to cooperation. This obstacle left Indonesian government a commission a team of UN experts to carry out feasibility big task in ensuring its neighbors. study on economic cooperation for ASEAN. The UN team At that particular time, regionalism seemed to be a was led by Professor Kansu of Turkey with Professor EAG favorable trend of international movement where a Robinson of Cambridge University as senior adviser. number of regional organizations were established. The One of suggestions given by the report was for ASEAN tendency of regional grouping, especially amongst to enhance their productivity by focusing more on industrideveloping countries, was conceived as one way to raise alization rather than depending too much on their agriculthe bargaining power in relation to the more powerful and ture richness. The industrialization should be seen from AFTA under the perspective of the need for strengthened regionalization within ASEAN.
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

27

ENGLISH SECTION

AFTA is a result of an evolving effort of economic cooperation within ASEAN.

regional perspective on complementary basis where one country may focus on one industry to supply the need of other countries. This way of industrialization should be supported with trade liberalization within the region which would allow the end products of one country be distributed more freely to others. In the mean time, economic cooperation within region was first seen as a bigger united power, instead of standing as individual country, in negotiation with external economic entities. In June 1972 ASEAN began to have formal dialogue with its counterparts in EEC (European Economic Cooperation). The initiative was triggered with consideration that ASEAN products were discriminated by the EEC who was in favor to goods coming from Africa by granting preferential treatment under Lome Convention. External economic dialogue was also established with Japan in 1973 which initial concern was about ”indiscriminate expansion of the synthetic rubber industry by Japan”. ASEAN 28
WARTA BEA CUKAI

economies requested Japan to limit its synthetic rubber production to spare their industries which is agreed by Japan considering the importance of ASEAN as a big trade and economic partner. In 1977, ASEANJapan forum was established which positioned Japan as a formal dialogue partner for ASEAN. The following years saw ASEAN as a more recognized economic entity with the growing number of dialogue partnerships were successfully concluded. Australia, Canada, United States are the early countries to see the importance of ASEAN. With the strengthening position of ASEAN in international trade community, each member country began to realize the need of having a closer economic cooperation. This might be one of the reasons ASEAN’s decision to accommodate the UN report for trade liberalization and regional industrialization. The need for stronger and closer relationship might also be triggered with the fall of Saigon to the communist side and the departure of United

States from the region. The fear of re-emerging communist threat as implicitly embedded in the establishment of ASEAN in 1967 had influenced countries within region to reiterate their determination for regional unity. The UN report that was produced in 1972 was then agreed to be adopted as the framework for ASEAN economic cooperation at 1976 summit. The framework was expected to foster the economic development in national and regional scope so that to hinder the influence of communism infiltrating the region. Based on the UN report, ASEAN adopted four recommendations suggested by their economic ministers to carry out economic cooperation. The first agreement was to put basic commodities as their base for cooperation. Based on this agreement, each member must assist other member when they suffer from both shortage and surplus of food and energy. This agreement was of benefit for Indonesia since the new government was facing problems in

EDISI 377 APRIL 2006

assuring sufficient food supply and securing market for its oil. The industrial sector was the second issue to be developed under the agreement. The industrialization effort was driven on complementary basis as proposed by UN team with consideration on utilizing materials available in the region. Under this agreement, Indonesia and Malaysia established large scale urea plants. The third cooperation would deal with the initial idea of strengthening intra ASEAN trade which formed the preliminary basis for trade cooperation within the region. This cooperation began with the implementation of preferential trading agreements on particular products during specified period of time. The last agreement concerned about cooperation in the development of technology in order to improve their export products. On 24 February 1977, the ASEAN foreign ministers signed an agreement on Preferential Trading Agreements (PTA) with objective of expanding intra ASEAN trade through tariff reduction. This agreement was the basis of trade liberalization within the region. However, despite the high increase of commodities included in the PTA, trade among ASEAN countries did not show prominent progress. The similarities of products might be one of the reasons that hamper increasing trade among ASEAN countries. Another possible reason was the different perceptions on trade cooperation in the region. While Singapore and Philippines preferred to have a more liberalized market, Indonesia, Malaysia and Thailand tends to have more protection on their national market. Recognizing the slow pace of economic cooperation, in 1982 ASEAN formed a task force to conduct evaluation and provide suggestion on the issues. One year later, the task force submitted controversial reports. One controversy of the report was a recommendation for member countries to be more open minded for regional economic cooperation and put aside national measures, which is protectionism, that obstructing the room for closer cooperation. Despite these recommendations, most of ASEAN governments remained very cautious to the idea of a more integrated regional body. Considering different level of economic development and similarities of productions among member countries, it is understandable to see how the governments reacted to such proposals that might be considered to be radical in that particular time. However, the ideas of the task force proved the needs and visions of ASEAN

to have a closer economic cooperation within the framework that is acceptable to all members and at the right timing.

ASEAN FREE TRADE AGREEMENT
At the fourth ASEAN Summit held in January 1992 in Singapore, ASEAN leaders agreed to endorse the ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) that was aimed to the establishment of a wide and open regional market. AFTA is elaborated on three documents signed during this Summit. They are Singapore Declaration 1992, Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation and Agreement on Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Scheme. These documents contain reasons and objectives of the establishment of AFTA. To summarize, the documents show that all member states agreed to strengthen their economic cooperation through an outward-looking attitude so that their economic cooperation contributes to the promotion of global trade liberalization. The implementations of CEPT Scheme and reduction, or elimination, of non-tariff barriers are expected to sustain the economic growth and development which are essential to the stability and prosperity of the region. By these agreements, governments’ involvement in market orders is no longer expected. Under the scheme of AFTA, governments must limit, if not to eliminate, policies that hamper the free movement of goods incoming and outgoing their territories. The main mechanism is the implementation of CEPT which obliges the reduction of tariff rates between 0 per cent and 5 per cent within fifteen years, beginning from 1 January 1993. Other non-tariff barriers (NTBs) such as quota and subsidy were also prohibited. AFTA as a collective strategic response to pursue ASEAN’s goals of stimulating intra and extra regional trade, improving the investment climate and enhancing the competitiveness of industrial performance of its member countries. The fundamental changes in the global and regional economic environment that stimulated the formation of AFTA include: 1. The emergence and consolidation of economic blocs in Europe and North America; 2. The adoption of trade/economic liberalization policies since the mid 1980s and the growing emphasis on growth strategies based on attracting foreign direct investment within the Southeast Asian region; 3. The more favorable perceptions of regional governments and private

sectors in the need for forging deeper economic cooperation in the light of greater competitive pressures coming from outside the region; As also mentioned in the considerations of Singapore Declaration 1992 about the profound economic changes that have occurred, the first point was justified with the existence of North American Free Trade Agreement (NAFTA) and the development of European Economic Cooperation (EEC). Concerning point 2 and 3, while the symptoms of trade and economic liberalization in ASEAN had been promulgated since the adoption of Preferential Tariff Agreements, the necessity to have real economic integration was readily mentioned in recommendations submitted by the 1982 economic task force as discussed earlier. Theoretically, the idea of trade liberalization is inevitably approaching the region and must be dealt with by all member countries in ASEAN. Under the framework of AFTA, regional economic integration is given the chance to anticipate the proliferation of global economic competition. By the realization of 0% - 5% import tariff for ASEAN products, regional trade is stimulated to grow and investments are appealed to increase within the region. These expected developments would enhance the competitive power of the region. The more strengthened the region, the more ready ASEAN would be in the face of global capital liberalization. However, the nature of ASEAN regionalization is neither closed nor exclusive. It adopts the principles of open regionalization where external participation and regional expansion are envisaged. In the sense of economic integration under AFTA, external involvement in the form of Foreign Direct Investment is strongly encouraged. In fact, the CEPT constitutes incentive for multi national companies who target ASEAN as their market. The existence of these companies is also expected to bridge the region to wider industries, as well as market, outside ASEAN. Joseph LH Tan, ASEAN scholar, believes that AFTA is an experience before entering wider competition. He says, “If AFTA is to provide a training ground for intra-ASEAN trade liberalization first before liberalizing its global trade, some learning experience can be drawn from unfavorable results or pitfalls which may occur consequent upon a reduction in protection within the ASEAN group.” ( C o n t i n u e )

Dicky Hadi Pratama/ Kepala Seksi Cukai KPBC Tipe Pontianak
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

29

DAERAH KE DAERAH
TERMINAL KEDATANGAN tampak dari luar atapnya menganga setelah dilalap si jago merah.
FOTO : IAN

Kebakaran
M
enurut Bernard Bayu Cahya, Koorlak Patroli dan Operasi KPBC Tipe A Medan, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Namun empat unit mesin Hi-Co Scan Merk Hyman milik KPBC Medan rusak terbakar. “Dari empat unit Hi Scan, dua unit yang ditempatkan di dalam habis terbakar, yaitu tipe Hi Scan 6040 dan Hi Scan 9075-35t3. Sementara Hi Scan yang berada di posisi luar, sebagian terbakar dan tersiram air saat proses pemadaman, yaitu Hi Scan 907535t3. Seluruhnya sekarang tidak dapat difungsikan lagi”, tambah Bernard Bayu. Dalam insiden kebakaran itu, satu set perangkat Entry Scan bantuan dari BNN (Badan Narkotika Nasional) yang berharga kurang lebih 4 miliar dan baru sekitar tiga bulan dioperasikan turut habis terbakar. Aktivitas Bandara Polonia Medan kembali berjalan normal setelah dilakukan
WARTA BEA CUKAI

DI BANDARA INTERNASIONAL POLONIA MEDAN
Kamis dini hari, 9 Maret 2006 terjadi kebakaran yang meluluhlantakkan Terminal Kedatangan Internasional Bandara Polonia Medan. Api mulai berkobar sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, dan baru dapat dipadamkan sekitar pukul 05.00 WIB setelah 20 unit mobil pemadam kebakaran Bandara Polonia dan mobil pemadam kebakaran dari Pemerintah Kota Medan bekerja keras menjinakkan si jago merah.
beberapa langkah darurat. Langkah itu antara lain, terminal kedatangan - keberangkatan internasional digabung. Walau sempat mengalami penundaan pada sejumlah penerbangan akibat kebakaran di terminal kedatangan domestik dan internasional, aktivitas Bandara Polonia Medan kembali berjalan normal pada hari itu juga sekitar pukul 11.00 Wib. Penggabungan ini sendiri menurut Direktur Operasional dan Teknik PT Angkasa Pura II, I Gusti M Dodi akan dilakukan setelah proses perbaikan di terminal yang mengalami kebakaran selesai. Mengenai sebab, Dodi mengaku pihaknya menyerahkan kepada pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan. Namun sejauh ini, pihak berwenang belum memberikan keterangan pasti mengenai penyebab kebakaran. ”Untuk kenyamanan agar tidak berbaur penumpang internasional yang tiba dengan yang mau berangkat, kami sudah membuat dinding pemisah. Sampai sekarang pelayanan yang diberikan tidak ada kendala,” kata Kepala Cabang PT Angkasa Pura (AP) II Bandara Polonia Medan, Kasmin Kamil di Medan. Terminal keberangkatan internasional memiliki dua set x-ray yang terdiri dari dua unit x-ray bagasi dan dua unit x-ray kabin. “Untuk kelancaran dan kenyamanan, satu set x-ray tersebut dipindahkan ke terminal kedatangan internasional. Begitu juga peralatan-peralatan lainnya yang tadinya lebih dari satu set digunakan di terminal keberangkatan internasional, dipindahkan sebagian ke terminal kedatangan internasional,” katanya. Penumpang internasional yang tiba di terminal kedatangan internasional sudah menggunakan x-ray. Setiap tas dan telepon seluler penumpang Malaysia Airlines yang baru tiba di Bandara Polonia

30

EDISI 377 APRIL 2006

FOTO : IAN

275 meter).Hal ini terjadi Medan, sejak Jumat karena banyaknya benda siang, 10 Maret 2006 juga yang menghalang di sekitar harus melalui monitor tempat lepas landas dan pemeriksaan. mendarat. Pernyataan pihak AP Dari tahun ke tahun arus dimaksud juga diamini M. penumpang Polonia Mulyono, SE, Kasi cenderung mengalami Pencegahan dan peningkatan antara 15 Penyidikan KPBC Medan. hingga 20 persen. Pada “Selain melalui mesin x-ray tahun 2003, arus terminal keberangkatan penumpang mencapai dialihfungsikan sebagian sebesar 2.736.332 orang, untuk mengawasi naik dari 2.090.519 orang kedatangan penumpang, pada tahun sebelumnya. kami juga melakukan Jumlah pergerakan pengawasan melalui pesawat adalah 36.359 anjing pelacak dan pada tahun 2003, naik dari pemeriksaan manual 29.894 pada tahun 2002. terhadap barang bawaan penumpang. Sehingga Tercatat ada 13.713 tingkat pengawasan penerbangan dodiyakini tidak terlalu mestik dan 4.387 terpengaruh”, ungkapnya. penerbangan internasional BANDARA POLONIA yang berada dibawah pengawasan KPBC Tipe A Medan. Pihak Angkasa Pura dari Polonia pada 1998. (AP) II menargetkan perbaikan terminal Pada 2004 jumlahnya telah mencapai “Polonia” berasal dari nama Negara asal kedatangan dapat dirampungkan dalam 35.100 penerbangan domestik dan 8.266 para pembangunnya, Polandia. Sebelum waktu sebulan. “Perbaikan terminal penerbangan internasional. Dari segi menjadi Bandar Udara, kawasan ini kedatangan internasional yang terbakar, jumlah penerbangan, pada 1998 terdapat merupakan lahan perkebunan tembakau mudah-mudahan akan selesai dalam 56 penerbangan dalam sehari, namun milik orang Polandia bernama Baron waktu sebulan. Setelah ada penunjukkan pada tahun 2005 telah meningkat antara Michalsky. Tahun 1872 dia membuka pelaksana proyek, maka pembangunan 125 hingga melebihi 150 penerbangan Perkebunan Polonia, sebuah nama yang dapat dilaksanakan,” kata Kasmin. perhari, dengan penumpang lebih kurang diabadikannya berdasarkan tempat Kasmin mengatakan , kerugian PT AP 3,8 juta orang pertahun, baik domestik dan kelahirannya. Bandara Polonia sendiri II akibat kebakaran mencapai Rp. 3 miliar. internasional. dibangun oleh NV. Deli Maskapai yang “Itu hanya kerugian di PT AP II saja. Terdapat dua terminal di Polonia, satu mengambil alih perkebunan milik MichalKerugian secara menyeluruh belum terminal keberangkatan dan satu untuk sky untuk menyambut Van der Hoop, diketahui. Di dalam terminal itu ada kedatangan. Keduanya juga masingseorang tokoh penerbangan Belanda peralatan milik imigrasi, bea cukai dan masing dibagi untuk penerbangan yang menumpang pesawat Fokker. juga beberapa money changer,” katanya. domestik dan internasional. Terminal Bandara Polonia mempunyai luas domestik Polonia mempunyai luas 7.941 sekitar 144 hektar, dengan panjang landas meter² dan saat ini (laporan Januari 2006) pacu (runway) saat ini adalah sekitar PROFIL BANDARA POLONIA menampung 1.810 orang yang datang 2.900 meter. Dari panjang tersebut, yang Bandara Internasional Polonia (kode bersamaan, sehingga setiap penumpang dapat digunakan adalah sepanjang 2.625 IATA: MES, Kode ICAO: WIMM) terletak mempunyai luas 4m², kurang dari standar meter (terjadi displaced threshold sebesar sekitar 2 km dari pusat kota Medan. Nama sebesar 14m² yang ditetapkan FOTO : IAN Akibat letaknya yang sangat dekat dengan pusat kota, sekitar 2 km dari bandara ini menyebabkan bangunanbangunan di Medan dibatasi jumlah tingkatnya. Dampak dari peraturan ini adalah sedikitnya jumlah bangunan tinggi di Medan. Selain itu, bandara ini juga diperkirakan sudah atau hampir melebihi kapasitasnya. Sejak pemberian izin penerbangan diringankan di Indonesia pada tahun 2000-an, jumlah penerbangan yang melayani Polonia meningkat tajam. Menurut rencana, bandara ini dalam beberapa tahun ke depan akan dipindahkan ke Kuala Namu, di Kabupaten Deli Serdang. Hingga kini pemerintah provinsi Sumatra Utara dengan Pemerintah Pusat sedang mencari investor yang mau untuk bekerja sama membangun bandar udara tersebut. Bandara Polonia itu sendiri berada dibawah pengawasan KPBC Tipe A Medan yang dipimpin oleh Kepala Kantornya, Drs. Surendro Supriyadi MM dan berada dibawah naungan Kanwil I DJBC Medan yang dipimpin oleh Drs. AKIBAT MUSIBAH KEBAKARAN ITU, empat unit mesin Hi-Co Scan Merk Hyman milik KPBC Medan Djasman Sutedjo. ian rusak terbakar.
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

31

DAERAH KE DAERAH

Kunjungan Pansus DPR RUU Kepabeanan
KE KANWIL IV DJBC JAKARTA
Pada Rabu, 8 Maret 2006, Panitia Khusus (Pansus) DPR Rancangan Undang-Undang Kepabeanan melakukan kunjungan kerja ke Kanwil IV DJBC Jakarta. Rombongan Pansus tiba di Kanwil IV tepat pukul 11.00 WIB untuk melakukan beberapa kegiatan pada hari itu.
ujuan utama dibentuknya pansus adalah untuk menerima masukan dari masyarakat terhadap suatu rancangan undang-undang yang akan diberlakukan. Maka, itu kunjungan yang dilakukan pansus ke Kanwil IV Jakarta adalah untuk menerima masukan dari para stake holder yang mana masukan dari para masyarakat pengguna jasa kepabeanan ini akan digunakan untuk lebih menyempurnakan peraturan kepabeanan yang akan diamandemen, yang mana pada saat ini sudah dalam bentuk draft rancangan undang-undang dan pada bulan Mei mendatang rencananya akan masuk ke DPR untuk dilakukan pembahasan per pasalnya. Tentunya sebelum disahkan menjadi UU, para wakil rakyat ini ingin mengetahui lebih jelas mengenai pendapat para pengusaha dan terhadap pemberlakuan peraturan kepabeanan yaitu UU No. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan yang

T

sudah berjalan hampir 11 tahun ini. Dalam pertemuan yang diadakan di aula Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tanjung Priok, acara dimulai dengan penjelasan dari Kepala Kanwil IV DJBC Jakarta, Erlangga Mantik yang didampingi ketiga Kepala KPBC Tanjung Priok I, II dan III, Kepala Bidang P2 dan beberapa pejabat P2 di lingkungan kerja Kanwil IV DJBC Jakarta. Setelah Erlangga Mantik menyampaikan penjelasannya, selanjutnya, Pansus DPR yang diketuai Irmadi Lubis, juga menyampaikan penjelasannya, terutama seputar rancangan undang-undang kepabeanan dan cukai. Tampak yang hadir dari pihak stakeholder DJBC antara lain, pihak pelayaran yang diwakili INSA, gabungan pengusaha importir maupun eksportir yang dalam hal ini diwakili GINSI dan GPEI, Asosiasi Pertekstilan Indonesia
DOK. DEPKEU

(API), dari pihak pelabuhan dalam hal ini Pelindo dan beberapa perwakilan lainnya, seperti Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi). Disamping mendengarkan masukan dari pengusaha, Erlangga Mantik juga menyampaikan kepada Pansus untuk tidak membuat batasan yang terlalu ketat atas penyelundupan. Karena, aparat yang sudah bekerja keras di lapangan akan menjadi kebingungan untuk menentukan mana yang masuk dalam kategori selundupan, sehingga juga akan mengganggu kelancaran arus barang. Erlangga Mantik menyatakan, DJBC dalam menjalankan fungsinya sebagai reveneu collector (pengumpul penerimaan negara) banyak menghadapi masalah, terutama untuk personil pengawasan yang masih terbatas. Dan selama ini Bea dan Cukai dianggap sebagai ‘superman’ karena masih ada anggapan bahwa tugas pengawasan semuanya ditujukan hanya kepada Bea dan Cukai, padahal kenyataannya masih ada beberapa instansi yang terkait dengan bidang tugas pengawasan.

KELUHKAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI
Dalam sesi mendengarkan pendapat dan masukan dari pengusaha, sebagian besar asosiasi pengusaha yang selama ini menggunakan jasa pelabuhan mengeluhkan layanan yang diberikan aparat bea cukai, hal itu dianggap para pengusaha sebagai penghambat kelancaran arus barang yang menyebabkan masih adanya ekonomi biaya tinggi. Seperti yang dikeluhkan dari asosiasi pertekstilan (API) dihadapan sekitar 50 orang anggota Pansus DPR. API menuding DJBC masih kurang mampu membendung masuknya tekstil-tekstil gelap dan menyerbu pasar Indonesia yang menyebabkan hancurnya industri tekstil dalam negeri. “Belum lagi kenaikan BBM, lengkap sudah penderitaan pengusaha tekstil, satu-persatu mereka gulung tikar,” demikian salah seorang yang mewakili API. Sementara dari pelayaran, mengemukakan tentang masih adanya praktik pungutan liar yang ditemukan pada saat pengusaha akan mengurus kepabeanan yang dilakukan oleh oknum bea cukai. Pungutan tersebut besarnya berkisar antara Rp.300-500 ribu. Jika menolak membayar, maka proses pengurusan yang diajukan dikatakan akan dibuat lama bahkan tidak dilayani. Begitulah, masukan-masukan dan kritikan yang datang tentunya menjadi koreksi bagi DJBC untuk lebih maju dan lebih kuat lagi. Seperti yang dijanjikan Irmadi Lubis, “ Pansus berjanji akan mencari masukan dari semua pihak untuk membuat RUU Kepabeanan yang lebih kuat dan mampu mengikat petugas kepabeanan secara lebih tegas dan secara bersamaan membuat penyelundup jera,” ris

ACARA DENGAR PENDAPAT, masih dihujani keluhan dan kritikan dari para stakeholder pengguna jasa kepabeanan.

32

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

WBC/RIS

DIDAMPINGI Kasubdit Intelijen DJBC, Nasar Salim dan Kabid P2 Kanwil V DJBC Bandung, Maman Anurachman, Kepala KPBC Merak, Tambos M Naiborhu, menyampaikan hasil tegahan atas importasi barang larangan/ pembatasan seperti prekursor, minuman mengandung etil alkohol (MMEA), golf cart, moge dan tekstil.

Gelar Hasil Tegahan
KPBC TIPE A MERAK
B
erkaitan dengan keberhasilan itu, pada 28 Februari 2006 bertempat di ruang aula KPBC Tipe A Merak, Kepala Kantor, Tambos Naiborhu melakukan jumpa pers. Dengan didampingi Kasubdit Intelijen DJBC, Nasar Salim dan Kabid P2 Kanwil V DJBC Bandung, Maman Anurachman, Kepala Kantor menyampaikan hasil tegahan atas importasi barang larangan/ pembatasan seperti precursor dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA). Komoditi hasil tegahan yang juga disampaikan dalam jumpa pers tersebut

Aparat Bea Cukai KPBC Tipe A Merak berhasil mengungkap beberapa kasus pelanggaran, terutama di bidang kepabeanan selama bulan Februari 2006. Upaya yang dilakukan secara terpadu ini, melibatkan unsur pengawasan dari Kantor Pusat DJBC, Kantor Wilayah V DJBC Bandung dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Merak.
antara lain, golf cart (mobil untuk keperluan golf), kendaraan bermotor roda dua (Motor Gede) dan produk tekstil. Dikatakan Tambos, dalam upaya penanggulangan penyelundupan dan penegakan hukum di bidang kepabeanan dan cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) telah melakukan langkahlangkah pengawasan dan operasi pemberantasan penyelundupan secara terpadu di berbagai pelabuhan utama, salah satunya adalah pelabuhan di bawah pengawasan KPBC Tipe A Merak. Dan dari hasil pengawasan terpadu yang telah dilakukan pada beberapa bulan terakhir ini, khususnya Februari 2006 telah berhasil menegah masuknya barangbarang impor yang diatur, dibatasi atau dilarang (Barang Larangan/Pembatasan) berdasarkan ketentuan Tataniaga Impor yang berlaku, dengan perkiraan total kerugian negara sebesar Rp. 12.960.264 milyar dan kerugian yang tidak ternilai akibat masuknya prekusor sebagai bahan baku pembuatan psikotropika.

IMPORTASI PREKURSOR
Dalam kasus importasi prekursor,
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

33

DAERAH KE DAERAH
WBC/RIS

sebanyak 49 karton ditahan di KPBC Merak. Sedangkan kasusnya dalam proses penyidikan dan diserahkan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) KPBC Tipe A Merak kepada Polda Banten.

HANDPHONE, MMEA DAN GOLF CART
Sementara itu, terhadap penegahan party barang impor berupa Handphone, Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan golf cart, aparat bea cukai KPBC Merak berhasil menegah sebanyak 21.361 pcs handphone merek Nokia, Motorolla dan Sony-Erricson berbagai tipe dalam kondisi baru. Kemudian 662 karton atau 7.944 botol MMEA merek ST Remy, Jim Beam, Absolute Vodka, Tequilla Gold, Remy Martin dan beberapa merek lainnya. Sedangkan 24 unit golf cart merek Yamaha keseluruhannya dalam kondisi bekas pakai. Keseluruhan barang yang dimuat dalam 5 kontainer, diduga dilakukan oleh CV. BS sebagai importir. Dalam kasus ini, modus yang digunakan pelaku adalah memberitahukan secara tidak benar mengenai uraian barang dalam dokumen PIB. Untuk Handphone dan MMEA tidak diberitahukan pada data uraian barang di dokumen PIB. Sedangkan untuk Golf Cart diberitahukan secara tidak benar, baik jumlah barang maupun kondisi barangnya. Mengenai perbuatan ini, pelaku telah melanggar pasal 53 ayat (4) dan 103 huruf a UU No. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, pasal 50 UU No. 11 tahun 1995 tentang Cukai, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.10 Tahun 2005, Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 406/MPP/Kep/6/ 2004 dan Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 38/M-DAG/Per/12/ 2005, tanggal 29 Desember 2005 tentang impor kendaraan bermotor bukan baru. Dan perkiraan kerugian negara terhadap perbuatan tersebut sebesar Rp. 10.112.515 milyar. Untuk penanganan kasus ini, telah dilakukan penegahan terhadap barang impor tersebut dan telah dilakukan penyidikan terhadap importir yang bersangkutan oleh PPNS KPBC Merak. Dan berdasarkan Surat Perintah Tugas Penyidikan (SPTP) nomor SPTP-01/ WBC.05/KP.04/2006 tanggal 23 Februari 2006 telah ditindaklanjuti dengan proses penyidikan atas nama tersangka CA cs.

SEBANYAK 21.361 buah handphone merek Nokia, Motorolla dan Sony-Erricson berbagai tipe dalam kondisi baru ditegah aparat bea cukai.

penegahan terhadap jenis methyl etil keton petugas mengamankan 50 karton, masing-masing karton berisi 10 botol dan setiap botolnya berisi 500 ml sehingga jumlah keseluruhan adalah 500 botol atau total 250 liter, dimana prekursor tersebut seharusnya hanya dapat diimpor oleh importir Terdaftar Prekursor atas rekomendasi Kepala Bareskrim POLRI dan Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN). Modus operandi yang digunakan pelaku adalah dengan memberitahukan secara tidak benar mengenai uraian barang pada dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dengan nomor 000821 tanggal 17 Februari 2006. Perbuatan melanggar hukum ini diduga dilakukan oleh PT. BE sebagai importir dengan tujuan untuk menghindari ketentuan tataniaga impor. Pada PIB 34
WARTA BEA CUKAI

tersebut jenis barang yang diberitahukan adalah sebagai printing ink (sejenis tinta untuk mencetak). Atas perbuatan tersebut, pelaku telah melanggar ketentuan pasal 53 ayat (4) dan pasal 103 huruf a Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang kepabeanan, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 647/MPP/Kep/10/ 2004 tentang Ketentuan Impor Prekursor. Jika menghitung kerugian negara atas perbuatan tersangka, maka kerugian negara tidak ternilai karena menyangkut bahan baku untuk memproduksi psikotropika. Kini barang bukti berupa 1 karton atau 10 botol atau 500 ml methyl etil keton telah diserahkan kepada Polda Banten pada 23 Februari 2006 dan sisanya yaitu

IMPORTASI MOTOR GEDE (MOGE)
Penegahan terhadap barang impor berupa 21 unit kendaraan bermotor roda dua jenis moge, masing-masing 5 unit kendaraan bermotor roda dua, merek Harley Davidson, 1450 cc, asal negara USA dalam kondisi baru. 13 unit kendaraan bermotor roda dua, merek Honda, 200/150/400/750/1000 cc, asal Jepang dalam kondisi bukan baru. Kemudian 2 unit kendaraan bermotor roda dua, merek Suzuki 750 cc, asal Jepang dalam kondisi bukan baru dan 1 unit

EDISI 377 APRIL 2006

WBC/RIS

yang digunakan pelaku yang diduga dilakukan oleh PT. MP (PIB nomor 000556, 000557, 000558) dan PT. Am (PIB nomor 000646) yang keduanya statusnya sebagai importir adalah dengan memberitahukan secara tidak benar uraian barang pada dokumen, untuk menghindari ketentuan tataniaga impor tekstil dan produk tekstil. Saat ini terhadap komoditi tersebut telah dilakukan penegahan dan telah dilakukan penyidikan terhadap importir yang bersangkutan. Kasusnya kini masih dalam proses penyelidikan secara SEDANGKAN 24 unit golf cart merek Yamaha keseluruhannya dalam intensif dengan kondisi bekas pakai. mengumpulkan buktibukti yang diperlukan untuk menetapkan kendaraan bermotor roda dua (CBU) pihak-pihak yang dapat diduga melakukan merek Yamaha, 1000 cc, asal Jepang tindak pidana kepabeanan. Untuk kasus dalam kondisi bukan baru. importasi tekstil ini, perkiraan kerugian Modus yang digunakan pelaku yang negara ditaksir mencapai Rp. 247. 749 diduga dilakukan oleh CV. BS sebagai juta. importirnya, sama seperti sebelumnya, Sementara itu ditemui ketika acara yaitu memberitahukan secara tidak benar release ke gudang pelabuhan tempat uraian barang pada dokumen PIB-nya lokasi barang-barang tegahan itu yang diberitahukan sebagai used machine disimpan, Nasar Salim, menyatakan, speed weaver/ testing machine. untuk komoditi tersebut sebetulnya Moge yang disimpan di peti kemas diperbolehkan masuk jika memenuhi dalam keadaan mesin terurai ini dalam segala prosedur kepabeanan yang ada dokumen PIB disebutkan dalam peti dan ketentuan dari instansi lain terkait kemas adalah mesin tenun tetapi setelah seperti Menperdag, maupun Polri (khusus diperiksa berisi moge yang diurai. Perbuatan pelaku telah melanggar pasal 53 ayat (4) dan pasal 103 huruf a UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dan keputusan Menteri Perdagangan Nomor 38/M-DAG/Per/12/ 2005 tanggal 29 Desember 2005 tentang impor kendaraan bermotor bukan baru. Perkiraan kerugian negara atas tindakan ini sebesar Rp. 2,6 milyar. Saat ini penanganan kasusnya sudah sampai dalam taraf penegahan dan telah dilakukan penyidikan terhadap importir yang bersangkutan. Proses penyidikan pun masih dilakukan secara intensif dengan mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan untuk menetapkan pihak-pihak yang dapat diduga melakukan tindak pidana kepabeanan.

untuk precursor) , namun ternyata para importir tadi memberitahukannya sebagai barang lain, maka itu dikategorikan sebagai pelanggaran. Bea dan Cukai dalam hal ini, lanjut Nazar, semampu mungkin menegakkan hukum berkaitan dengan masalah kepabeanan, termasuk di wilayah lain. DJBC dituntut semaksimal mungkin menegakkan hukum, maka itu proses pencegahan dilanjutkan ke penyidikan merupakan perintah dari Direktur Jenderal melalui Direktur Pencegahan Penyidikan (P2). Karena itu dukungan dan kerjasama instansi terkait sangat diperlukan agar proses penyidikan dapat berjalan baik. Dikatakan Nasar, barang-barang selundupan itu dari Singapura dengan menggunakan jalur reguler dengan rute pelayaran Singapura-Merak-Jakarta. Pelabuhan Merak sebenarnya bukan termasuk jalur yang rawan penyelundupan, sebab yang masuk dalam jalur rawan adalah sekitar perairan dengan perbatasan Singapura, Malaysia dan Sumatera., tetapi menyusul temuan tersebut, maka di Pelabuhan Merak akan ditingkatkan kewaspadaannya. Sementara itu Tambos menambahkan bahwa semua kasus ini sedang dalam proses pengembangan. Selain importir, pihak terkait seperti pelayaran juga dilakukan pemeriksaan. “Dari hasil penyidikan jika ditemukan tindak pidana tentunya akan kita proses secara hukum. Khusus untuk prekusor, semua kami serahkan ke kepolisian karena sesuai UU No.5 2002 bahwa untuk psikotropika hanya dilakukan pihak kepolisian. Khusus untuk kasus di Pelabuhan Merak, sejauh ini belum ada keterlibatan pegawai bea cukai,” demikian ditegaskan Tambos. ris
WBC/RIS

TEKSTIL ASAL CINA
Selanjutnya, aparat telah menegah komoditi tekstil asal negara China sebanyak 479 karton, masing-masing 22 pcs garment pakaian pria dan wanita dan jaket pria, bahan cotton polyester, 300 bales garment berbagai jenis pakaian dewasa dan pakaian anak-anak, 80 karton masing-masing 38 dos pakaian dalam wanita dan 64 rolls bahan tekstil. Sama seperti sebelumnya, modus

MOTOR GEDE yang disimpan di peti kemas dalam keadaan mesin terurai diberitahukan sebagai mesin tenun. EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

35

DAERAH KE DAERAH

Sepeda Santai
K
edua kapal tersebut merupakan tamu undangan rombongan Yang Berbahagia Dato’ Pengarah Kastam Johor dan Timbalan. Rombongan tersebut tiba di Pangkalan Sarana Operasi Kantor Wilayah (Kanwil) II Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Tipe A Khusus Tanjung Balai Karimun (TBK) pada 24 Februari 2006 pukul 17.00 WIB untuk memenuhi undangan dari Kanwil II DJBC TBK dalam acara “Kembara Berbasikal Kastam Diraja Malaysia, Johor Bahru dengan Bea dan Cukai Tanjung Balai Karimun.” Atau jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah “Sepeda Santai Kastam Diraja Malaysia, Johor Bahru dengan Bea dan Cukai Tanjung Balai Karimun.” Rombongan diterima oleh Kepala Bidang Pencegahan Kanwil II DJBC TBK, Septia Atma beserta para pejabat eselon III dan IV Kanwil II di Dermaga Pangkalan Sarana Operasi Kanwil II TBK. Rombongan disambut dengan hidangan berupa makanan-makanan ringan, kopi, teh serta senyum hangat dan ramah tamah khas Indonesia. Selanjutnya rombongan dipersilahkan untuk beristirahat dan bersih-bersih diri di hotel untuk menghadiri acara selanjutnya yaitu jamuan makan malam bersama Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai , Sofyan Permana serta seluruh para pejabat eselon III dan IV serta para undangan Kantor Wilayah II DJBC Tipe Khusus Tanjung Balai Karimun. Selesai acara jamuan makan malam, selanjutnya anggota rombongan beristirahat di hotel, mempersiapkan fisik untuk acara yang ditunggu keesokan harinya . di Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun. Sebelum dimulai acara tersebut, terlebih dahulu diisi dengan acara sarapan bersama, kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai, Sofyan Permana yang mewakili Kepala Kanwil II DJBC Tipe Khusus Tanjung Balai Karimun, Bambang Prasodjo yang pada saat itu berhalangan. Sedangkan kata sambutan dari Yang Berbahagia Dato’ Sarmin bin Md. Hussin diikuti dengan doa bersama. Tiba saatnya bagi para peserta untuk bersiap-siap di garis start, terlihat Yang Berbahagia Dato’ Sarmin bin Md. Hussin memegang bendera start didampingi oleh Sofyan Permana yang akan melakukan aba-aba. 1.., 2....., 3........ para peserta berhamburan mengayuh sepeda mereka dengan semangatnya memulai Kembara Berbasikal. Para peserta mengayuh menempuh jalanan aspal yang seakan-akan ikut menyemangati para peserta. Terlihat peluh mengalir di badan peserta. Tibalah para peserta di pos pertama, mereka menikmatinya dan menenggak air mineral dengan penuh dahaga karena hausnya. Tak lama para peserta mulai melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini medan yang ditempuh cukup melelahkan karena memiliki banyak tanjakan dan menaiki bukit. Tetapi tetap terlihat tawa ceria dan gurauan dari para peserta sepanjang perjalanan yang seakan-akan menghapuskan seluruh peluh dan lelah di masing-masing wajah peserta. Semangat yang menggebu-gebu pun juga terukir di wajah Yang Berbahagia Dato’ Sarmin bin Md. Hussin dan Sofyan Permana yang turut serta dalam acara tersebut. Perjuangan pun makin terasa pada rute menuju pos ketiga. Pada medan kali ini banyak jalan-jalan yang belum diaspal dan rute yang dilewati masih merupakan medan perbukitan, terlihat para peserta mulai sangat kelelahan. Ada yang mendorong sepeda mereka untuk menaiki tanjakan, tetapi ada juga yang masih dengan semangatnya mengayuh sepeda mere-

KASTAM DIRAJA MALAYSIA, JOHOR BAHRU DENGAN BEA CUKAI TBK
Dari kejauhan menjurus arah Kukub, Malaysia, samar-samar terlihat dua buah kapal dengan corak yang satu loreng-loreng dan yang satunya lagi corak abu-abu polos melaju dengan kecepatan tinggi memasuki perairan Indonesia. Kedatangan kedua kapal tersebut disambut kapal patroli cepat VSV 1610 di Perairan Indonesia.
ka melewati medan yang sulit tersebut. Pada pos ketiga terlihat fisik dari para peserta mulai lelah dan peluh terus bercucuran, sementara para peserta menikmati buah-buahan yang disediakan oleh panitia dan menenggak air mineral yang disediakan. Kemudian, dilanjutkanlah perjalanan para rombongan menuju pos yang keempat, pada medan kali ini lebih banyak naik turun bukit yang landai di atas jalan yang beraspal. Terlihat para peserta kembali bersemangat, bahkan para peserta makin kencang mengayuh sepeda mereka. Tampak bagaimana para penduduk sekitar antusias memberikan semangat kepada para peserta saat melewati daerah pemukiman penduduk. Ada yang berteriak sambil melambaikan tangan. Saat tiba di pos empat yang terletak di sekitar stadion Tanjung Balai Karimun dimana terdapat pemandangan Gunung Jantan yang indah, masih terdengar canda tawa dan senda gurau para peserta yang seakan-akan tidak menampakkan wajah kelelahan. Selang beberapa menit kemudian perjalanan pun dilanjutkan menuju pos lima di daerah Kampung Harapan, ini adalah pos terakhir sebelum garis finish. Para peserta bersemangat sekali. Perjalanan dari pos lima menuju garis finish melewati daerah jalan utama dan pemukiman penduduk. Banyak para penduduk yang lari berhamburan keluar dari rumah hanya untuk melihat dan memberikan semangat kepada para peserta. Perlahan-lahan tapi pasti mulai terlihat gerbang Kantor Wilayah II DJBC Tipe Khusus Tanjung Balai Karimun. Satu persatu peserta mulai memasuki garis finish di gerbang Kantor Wilayah II DJBC Tipe Khusus Tanjung Balai Karimun. Para peserta kembali berkumpul di Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun. Disana sudah terdapat panggung, hidangan makan siang dan tenda-tenda. Setelah semua peserta berkumpul kembali di Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun maka dimulai acara berikutnya yaitu acara penutupan

SEPEDA SANTAI 42 KM
Tiba saatnya, 25 Februari 2006, pagi itu seluruh peserta “Kembara Berbasikal Kastam Diraja Malaysia, Johor Bahru dan Kanwil II TBK telah bersiap-siap dengan sepeda mereka masing-masing di Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai karimun dimana start dimulai. Rute yang akan dilalui peserta berjarak kurang lebih 42 Km mengelilingi Pulau Tanjung Balai Karimun dibagi menjadi 5 pos peristirahatan yang akan berakhir kembali 36
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

FOTO : MARTIN/TBK

TIBA SAATNYA bagi para peserta untuk bersiap-siap di garis start, terlihat Yang Berbahagia Dato’ Sarmin bin Md. Hussin memegang bendera start didampingi oleh Sofyan Permana yang akan melakukan aba-aba.

dan saling menyerahkan bingkisan antara Kastam Diraja Malaysia, Johor Bahru dan Kantor Wilayah II DJBC Tipe Khusus Tanjung Balai Karimun yang diwakili Sofyan Permana dan Yang Berbahagia Dato’ Sarmin bin Md. Hussin. Acara kemudian dilanjutkan dengan acara bebas yang dimeriahkan dengan lantunan lagu-lagu dari organ tunggal dimana semua berbaur menjadi satu, berjoget di halaman. Sambil diselingi

acara makan siang bersama yang sudah disiapkan, para peserta saling akrab bercengkerama dan bersenda gurau. Tengah hari rombongan Kapal Perantas Elang Laut yang membawa Yang Berbahagia Dato’ Sarmin bin Md. Hussin beserta rombongan harus kembali ke Johor Bahru, Malaysia. Sungguh suatu pemandangan yang jarang kita lihat dimana perwakilan dari kedua negara tetangga yang saling akrab seakan sudah
FOTO : MARTIN/TBK

saling kenal lama dan saling bersenda gurau. Dimana segelintir orang ini mewakili bagaimana cerminan sifat kerukunan antara kedua negara serumpun yang bertetangga bisa menjalin ikatan persahabatan dan persaudaraan yang erat. Semoga hubungan ini bisa berjalan langgeng dan mencontohkan kepada yang lain bahwa kita semua bisa saling bersahabat walau berbeda negara.

Martin Triyanto/RIS
FOTO : MARTIN/TBK

TAWA CERIA DAN GURAUAN dari para peserta sepanjang perjalanan seakanakan menghapuskan seluruh peluh dan lelah di masing-masing wajah peserta. Itu juga uga terukir di wajah Yang Berbahagia Dato’ Sarmin bin Md. Hussin dan Sofyan Permana yang turut serta di acara tersebut.

SETELAH SEMUA peserta berkumpul kembali di Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun maka dimulai acara berikutnya yaitu acara penutupan dan saling menyerahkan bingkisan kedua belah pihak. EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

37

DAERAH KE DAERAH

KPBC Manokwari

LADANG BESAR, FASILITAS KURANG
K
SEKILAS MANOKWARI
l

abupaten Manokwari merupakan salah satu kabupaten yang berada di propinsi Papua. Kabupaten Manokwari terletak diwilayah kepala burung Papua antara 0,150 LS- 3,150 LS dan 1340 BT-1320 BT. Kabupaten Manokwari memiliki luas wilayah 37.901 km dengan batas-batas sebagai berikut : l sebelah utara berbatasan dengan samudera pasifik l sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Fak-Fak l sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sorong

sebelah timur berbatasan dengan samudera pasifik dan Kabupaten Paniai.

Letak Kota Manokwari yang strategis ini, membutuhkan kinerja aparat bea cukai sebagai garis depan perbatasan serta tentunya sebagai aparat fiskal (revenue collector). Untuk melayani pengguna jasa atau stakeholder yang ada di Kota Manokwari, Bea Cukai Manokwari sudah ada kurang lebih 36 tahun yang lalu tepatnya di era tahun 1970. Kantor

WILAYAH KERJA KPBC MANOKWARI

Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Manokwari berkembang seiring perkembangan jaman. Pada tahuntahun sebelumnya KPBC Manokwari berstatus sebagai kantor cabang Tk. I dan sesuai Kep-444/KMK.01/2001 tanggal 23 Juli 2001 tentang organisasi dan tata laksana kerja DJBC, KPBC Manokwari adalah KPBC Tipe C yang berada di bawah Kanwil XII DJBC Ambon. Wilayah kerja KPBC Manokwari sendiri meliputi: Pos Manokwari (PL), Pos Rendani (PU), Pos Lalu Bea (Kantor Pos), Kantor Bantu Babo (PL), Pos Wimro (PL) dan Pos Bintuni (PL). Untuk rencana kerja KPBC Manokwari akan ditambah lagi tiga pos yakni, Kantor Bantu Wasior (PL), Pos Windesi (PL) dan Pos Oransbari (PL). (lengkapnya lihat peta kerja KPBC Manokwari).

PEGAWAI, TANTANGAN DAN HARAPAN SERTA KINERJA
KPBC Tipe C Manokwari, walaupun dilihat kecil dari tipenya namun memiliki potensi atau ladang yang besar untuk tahun-tahun kedepan. Dengan jumlah pegawai 12 orang, semuanya adalah pegawaipegawai muda golongan II. Kepala KPBC Manokwari sendiri, Sudako DJ, adalah satu-satunya pegawai golongan III. KPBC Manokwari juga tidak memiliki pegawai perempuan. Didukung satu kepala kantor dan tiga korlak, yakni korlak umum, korlak 38
WARTA BEA CUKAI EDISI 377 APRIL 2006

FOTO : LEKSI ANDRE

merupakan diklat kepemimpian dasar bagi pegawaipegawai muda yang menjabat Pjs. Kepala KPBC ini untuk dilatih menjadi pemimpin DJBC masa mendatang. Pegawai KPBC Manokwari memiliki visi yang jelas terhadap Bea Cukai sendiri. Perlu dicatat, KPBC Manokwari sekarang ini sudah mendapat tempat dihati masyarakat atau telah menumbuhkan citra terbaik Bea Cukai. Suatu bukti nyata terjadi, pada waktu itu, walaupun tanpa Kepala KPBC yang sedang berdinas luar, Pjs. Kepala KPBC golongan II KPBC MANOKWARI. Kecil gedungnya, besar penerimaannya, perlu fasilitas dan direnovasi total seiring market plan kota Manokwari. mengeluarkan Nota Dinas untuk mengadakan operasi pita cukai. Alhasil terukir manis dihati pejabat dan masyapabean dan korlak perbendaharaan kedapatan banyak MMEA impor yang rakat karena memiliki pegai-pegawai serta lainnya adalah pelaksana, KPBC belum dilunasi cukainya yang cukup muda yang sebagian besar adalah putManokwari tetap eksis menjalankan banyak di Manokwari yang datang ra daerah Papua yang tanpa malu dan kinerjanya. melalui daerah lain di Indonesia. takut berorasi di depan forum-forum Perlu dicatat, pegawai-pegawai Ribuan botol MMEA akhirnya disita penting. muda yang ada adalah tenga-tenaga dan dimusnahkan di depan KPBC Banyak acungan jempol yang terampil yang siap pakai. Sebagian Manokwari. Banyak pejabat instansi ditujukan untuk para pegawai KPBC besar dari pegawai yang ada yakni terkait hadir antara lain kejaksaan, Manokwari karena walaupun masih delapan orang pegawai sudah kepolisian, pemerintah daerah muda namun memiliki kualitas yang mengikuti DTSD I. Selebihnya empat setempat bahkan LSM-LSM yang pantas diandalkan. Melalui meja rapat pegawai yang tersisa belum mengikuti bergerak dibidang perlindungan instansi terkait inilah mungkin DTSD I karena masih merupakan perempuan, agama dan masyarakat, CPNS yang baru direkrut dari tenaga FOTO : LEKSI ANDRE datang memberikan dukungan sebesarhonorer. besarnya terhadap kinerja KPBC Menjadi harapan seluruh pegawai Manokwari seperti ini. KPBC Manokwari, baik yang sudah Tiga rekor sekaligus tercipta di DTSD I maupun yang belum, kiranya KPBC Manokwari. Pertama, tanpa bagi mereka yang sudah DTSD I dapat kepala KPBC, Pjs. golongan II serta mengikuti pendidikan teknis lainnya, para pelaksana menjalankan jangan hanya mentok di DTSD I saja. mission imposiblenya mengadakan Bagi mereka yang belum DTSD I operasi cukai. Kedua, pemusnahan kiranya ada perhatian dari DJBC usai MMEA ini berlangsung didepan status PNS-nya lulus dapat KPBC Manokwari dan merupakan diikutsertakan dalam program DTSD I hal pertama yang terjadi di wilayah khususnya. timur Indonesia. Rekor ketiga, Kelebihan lain dari pegawai KPBC Manokwari mendapat tempat pelaksana yang ada, kebanyakan dihati masyarakat yang mana berpangkat Pengatur Muda Tk.I dengan selanjutnya harus dijaga semerbakgolongan ruang II/b. Mereka ini acap nya. kali menjabat sebagai Pjs. Kepala KPBC apabila kepala kantor definitif sedang dinas luar atau cuti. Menurut TARGET PENERIMAAN TETAP pengakuan pelaksana yang menjabat TERCAPAI, TERMASUK TARGET 2006 sebagai Pjs. Kepala KPBC, mereka Walaupun didukung pegawai yang tidak pernah merasa ragu untuk jumlahnya pas-pasan, namun masalah memimpin KPBC sementara waktu. target tetap merupakan prioritas utama Kadang-kadang mereka harus kinerja KPBC Manokwari. Sebagai mengikuti rapat dengan instansi terkait perbandingan, dalam tahun 2004 target SUDAKO DJ. KPBC Manokwari siap bekerja, di Kota Manokwari. bea masuk yang diembankan sebesar diharapkan penambahan pegawai dan fasilitas Disinilah nama KPBC Manokwari Rp 50.310.000. Realisasinya hanya kantor perlu mendapat perhatian.
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

39

DAERAH KE DAERAH
FOTO : LEKSI ANDRE

PIB, target terpenuhi. Target yang didapat berasal dari impor barangbarang proyek khususnya proyek LNG Tangguh yang untuk sementara kantor serta area pertambangannya sedang dibangun. Perusahaan LNG ini adalah British Petroleum (BP) yang akan menggali gas alam yang ada di Manokwari.

FASILITAS KPBC MANOKWARI MASA MENDATANG
Dengan melihat pencapaian target KPBC Manokwari dalam 2 tahun ini, maka pantaslah bukan hanya pujian yang harus didapat tapi kalau boleh perhatian fisik DJBC terhadap KPBC Manokwari harus lebih serius lagi. Dengan melihat jumlah pegawai 12 orang, patutlah mereka ini tinggal/memiliki rumah dinas, tapi nyatanya rumah dinas yang ada tidak memadai. Dengan jumlah rumah dinas 7 buah, 3 buah diantaranya masih ditempati pensiunan bea cukai yang enggan untuk keluar dari rumah dinas tersebut. Ini bukan saja realita yang terjadi di Manokwari bahkan ditempat lain di Indonesia. Diharapkan DJBC harus serius melihat masalah yang terjadi ini. Akhirnya dari pegawai KPBC Manokwari yang tersisa terpaksa harus mengontrak rumah ataupun kost-kostan termasuk Kepala KPBC Manokwari sendiri yang terpaksa harus kost di kamar yang sempit. Pantaskah seorang pejabat hidup dan mengabdi di daerah terpencil tanpa perhatian? Sudako DJ berharap mungkin ada peluang untuk mendapatkan uang untuk mengontrak yang pernah ada beberapa tahun lalu dihidupkan kembali mengacu pada kondisi yang nyata terjadi. Tentang KPBC Manokwari sendiri walaupun target sudah didapat namun kantornya tidak juga berubah. Semestinya KPBC Manokwari harus direnovasi total. Dengan melihat gedung KPBC Manokwari yang kecil dan hanya berdinding beton dari luar sedangkan dari dalamnya hanya berdinding tripleks yang sejak beberapa tahun lalu belum diganti. Alasannya DIPA-nya tidak ada. Namun sesuai market plan Kota Manokwari, KPBC Manokwari harus tetap digusur/dimundurkan kebelakang dari posisinya sekarang karena terkena proyek pelebaran jalan yang memakan jarak 9 meter dari batas jalan yang ada sekarang. Direncanakan KPBC Manokwari akan dibangun 2 lantai. Walaupun DIPA dalam tahun ini tidak ada tapi diharapkan kontribusi DJBC untuk serius melihat masalah gedung kantor ini. Sebagai tambahan kantor ini

PEMUSNAHAN MMEA. Berlangsung di depan KPBC Manokwari, mendapat perhatian dari kalangan pejabat dan masyarakat sekaligus menumbuhkan citra terbaik DJBC.

sebesar Rp 15.102.464 atau hanya sebesar 30,01 persen. Jumlah dokumen pabean yang ditangani dalam tahun 2004 oleh KPBC Manokwari yakni 3 dokumen PIB dan 91 dokumen PEB. Ditahun 2005, target bea masuk untuk KPBC Manokwari sebesar Rp 66.000.000 ternyata realisasinya sebesar Rp 3.248.095.569, dengan prosentase penerimaan sebesar 4.921,36 persen. Suatu kenaikan target yang cukup signifikan. Dalam tahun tersebut, jumlah dokumen pabean yang diselesaikan yakni satu dokumen PIB dan 29 dokumen PEB.

Dalam tahun 2006 ini target bea masuk yang dicanangkan untuk KPBC Manokwari Rp 428.040.000. Walaupun baru 2 bulan bekerja di tahun 2006 ini, realisasi target sudah sangat terlampaui yakni sebesar Rp 1.996.248.014 dengan prosentase penerimaan sebesar 466.37 persen. Entah pujian apalagi untuk kinerja pencapaian target KPBC Manokwari. PIB yang dilayani dalam tahun 2006 ini baru 1 (satu) dokumen PIB dan 3 (tiga) dokumen PEB tetapi sudah melebihi target. Menurut Kepala KPBC Manokwari, Sudako DJ, antara tahun 2005 dan 2006 walaupun hanya satu
FOTO : LEKSI ANDRE

PEGAWAI KPBC MANOKWARI. Putra daerah asli Papua yang masih muda dengan rata-rata bergolongan II merupakan SDM yang mampu diandalkan.

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

hanya memiliki 2 unit komputer saja. Diharapkan ada penambahan beberapa unit komputer yang baru dengan program yang paten. Begitu juga dengan pegawainya harus ditambah dengan melihat situasi dimasa mendatang seiring berdirinya proyek LNG Tangguh yang sudah mulai beroperasi. Area pertambangan ini berada cukup jauh dari Manokwari (terletak di Babo, Kabupaten Bintuni) yang perjalanannya memakan waktu 18 jam dengan menggunakan mobil gorda (semacam hartop). Harapan lain pegawai yang ditugaskan ke area pertambangan yang jauh ini, diharapkan SPPD-nya menggunakan pesawat udara karena selama ini SPPD-nya menggunakan kapal laut. Sekiranya pegawai yang melakukan pengawasan menggunakan kapal laut, maka uang SPPDnya terpaksa habis didalam kapal tersebut yang hanya merupakan kapal perintis dan kondisinya sangat menyedihkan dikapal, karena didalamnya ada manusia dan hewan yang melebur menjadi satu. Apakah kegiatan pengawasan yang memberikan kontribusi penerimaan
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

terbesar buat negara ini pegawainya tidak diperhatikan?

LADANG POTENSIAL
Demikian masukan pegawai, termasuk Kepala KPBC Manokwari sendiri, Sudako DJ, yang berharap DJBC serius melihat KPBC Manokwari yang walaupun kecil tetap memberikan pemasukan yang besar untuk negara. Mengutip perkataan Kepala Kanwil XII DJBC Ambon, Dr. Herry Kristiono, dalam majalah WBC edisi Januari 2006 yang mengatakan, Kanwil XII optimis target tahun 2006 dapat tercapai. Hal itu disebabkan potensi di Amamapare yang cukup besar yang didukung oleh peningkatan volume impor dan ekspor dari PT. Freeport. Serta, akan segera dibukanya ladang gas di Manokwari yang tentunya memerlukan kegiatan ekspor dan impor dalam persiapannya, sehingga dapat meningkatkan penerimaan negara. Khususnya KPBC Manokwari, ladang minyaknya baru dalam tahap pembangunan sarana dan prasarana, sedangkan proses eksplorasi dalam tahap penelitian yang pasti juga
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

pengembangan. Intinya, di Manokwari kurang lebih 90 persen tanah daratannya masih tertutup oleh hutan lebat yang mengandung beraneka ragam jenis kayu dan hasil hutan, ditambah lagi hasil tambang berupa minyak bumi, gas alam, nikel, serta hasil laut yang merupakan ladang potensi ekonomi untuk berkembangnya kegiatan ekspor dan impor di kawasan timur Indonesia khususnya di Manokwari. Dengan mengatakan ladang potensial, berarti sangat banyak dan luas ladang yang harus dikerjakan. Ladang yang masih tidur ini harus dibangun. Jangan hanya mau mengejar target penerimaan tapi dilihat juga fasilitas penunjang khususnya sarana dan prasarana KPBC Manokwari yang katakanlah minim. Peran aktif DJBC sangat dibutuhkan terhadap KPBC Manokwari yang sungguh luar biasa potensinya dimasa mendatang, demikian kata Kepala KPBC Manokwari, Sudako DJ, yang baru bertugas satu bulan di KPBC ini.

Leksi Andre S. Pelaksana KPBC Tanjung Priok II yang sebelumnya merupakan Koresponden Wilayah XII
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

41

NASIONAL

DIMONITOR FATF LAGI
Indonesia akhirnya tidak dimonitor lagi. Keputusan itu dikeluarkan Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) yang bersidang di Cape Town, Afrika Selatan pada 15-17 Pebruari 2006.

INDONESIA SUDAH TIDAK

P

rofessor Kader Asmal, Presiden FATF yang sekaligus pemimpin rapat sidang pleno FATF menyebutkan bahwa dalam catatan FATF, setelah Indonesia keluar dari daftar negara-negara yang tidak kooperatif didalam menjalankan rezim anti pencucian uang (Non Cooperative Countries and Territories - NCCTs list) Indonesia telah melakukan usaha yang berkelanjutan. “Dengan demikian monitoring yang dilakukan oleh FATF dihentikan,” tulis Kader Asmal. Keputusan yang dikeluarkan oleh FATF tersebut disambut gembira oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). “Penilaian yang dilakukan oleh FATF cukup objektif, mengingat selama ini Indonesia telah melakukan langkah-langkah terbaik di dalam membangun rezim anti pencucian uang,” kata Kepala PPATK, Yunus Husein. Sebagaimana diketahui, sidang pleno FATF pada 9-11 Pebruari 2005 diputuskan bahwa Indonesia keluar dari daftar negara-negara yang tidak kooperatif dalam menangani rezim anti pencucian uang (NCCTs list). Sesuai dengan kebijakan FATF (delisting procedure) dilakukan pemantauan terhadap perkembangan penanganan rezim anti pencucian uang di Indonesia, yang pada tahap awal akan dilakukan selama satu tahun. Dalam setahun ini, hal-hal yang menjadi perhatian FATF tersebut sudah dapat dilaksanakan. Yunus Husein dalam kesempatan ini mengucapkan banyak terimakasih atas kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak, khususnya kepada Presiden Republik Indonesia yang telah memberikan perhatian yang cukup besar. Terimakasih juga disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), khususnya Komisi III DPR-RI, instansi terkait antara lain Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Kemananan, Menteri Koordinator Perekonomian, Bank Indonesia, Depertemen Keuangan, Departemen Hukum dan HAM, Departemen Luar Negeri, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Agung, Badan Intelijen
WARTA BEA CUKAI

Negara serta instansi pemerintah lainnya. Tak lupa terimakasih disampaikan pula kepada seluruh Penyedia Jasa Keuangan (PJK) yang selama ini telah aktif bersama-sama dalam membangun rezim anti pencucian uang yang efektif di Indonesia. Ucapan terimakasih disampaikan pula kepada media massa cetak, elektronik maupun on-line, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat secara umumnya. Dalam kesempatan yang sama Yunus Husein mengingatkan, sekalipun Indonesia sudah tidak dimonitor lagi, hal ini bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Justru, ini awal dari sebuah kerja keras untuk dapat melaksanakan
DOK. WBC

YUNUS HUSEIN. Selama ini Indonesia telah melakukan langkah-langkah terbaik di dalam membangun rezim anti pencucian uang.

pembangunan rezim anti pencucian uang Indonesia secara efektif. Bila rezim ini dapat berjalan secara baik, maka dengan sendirinya angka kejahatan di Indonesia akan menurun.

SEJARAH SINGKAT
Sejak Juni 2001 Indonesia bersama-sama sejumlah negara lainnya dimasukkan dalam daftar NonCooperative Countries and Territories

(NCCT) oleh Financial Actions Task Force on Money Laundering (FATF) yang beranggotakan 31 Negara dan 2 organisasi regional yaitu The European Commission dan The Gulf Cooperation Council. Pada mulanya, salah satu penyebab utama Indonesia dimasukkan dalam NCCT adalah karena Indonesia belum memiliki UU yang menyatakan money laundering sebagai tindak pidana. Sampai dengan 10 Pebruari 2005, Indonesia masih berada di dalam NCCTs list karena FATF menilai aplikasi dari UU Tindak Pidana Pencucian Uang belum sesuai dengan rekomondasi yang telah dikeluarkan oleh FATF. Dalam Rapat Paripurna yang dilakukan oleh FATF pada 1-3 Oktober 2003 di Stockholm, Swedia, FATF menilai Indonesia telah melakukan kemajuan antara lain: l Indonesia telah melakukan kemajuan penting. l Direkomendasikan bahwa Indonesia tidak terkena counter measures. l Sidang Paripurna FATF meminta kepada Indonesia untuk menyiapkan draft Rencana Implementasi sebagai panduan dalam melaksanakan pembangunan secara berkesinambungan Rezim Anti Money Laundering di Indonesia sesuai dengan standar internasional. Selanjutnya dalam sidang pleno FATF yang berlangsung pada 30 Juni 2 Juli 2004 di Paris, Perancis, yang dipimpin oleh Presiden FATF Claes Norgren, FATF masih memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang tidak kooperatif (NCCTs). Dasar pertimbangan yang memberatkan Indonesia ketika itu adalah, Indonesia dipandang masih belum bisa menerapkan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, terbukti belum ada satupun kasus tindak pidana pencucian uang yang diputus di pengadilan. Sekalipun demikian FATF juga mengakui berbagai perkembangan yang telah dilakukan di Indonesia. Agar dapat keluar dari NCCTs list, FATF memberikan tiga rekomendasi kepada Indonesia dalam melanjutkan

42

EDISI 377 APRIL 2006

DOK. WBC

K

PPATK & DJBC

KERJASAMA. Dalam membangun rezim anti pencucian uang yang efektif di Indonesia, PPATK bekerjasama dengan berbagai instansi, diantaranya DJBC.

pembangunan rezim anti pencucian uang secara efektif. Pertama, melaksanakan bantuan hukum timbal balik (mutual legal assistance) secara efektif. Kedua, melaksanakan program pemantauan kepatuhan Penyedia Jasa Keuangan (PJK) terhadap penerapan rezim anti pencucian uang, yang diantaranya meliputi program pemeriksaan (on-site examination) kepada PJK. Ketiga, menyelesaikan penuntutan kasus-kasus tindak pidana pencucian uang sebagaimana mestinya. Kemudian, sidang pleno FATF pada 9-11 Februari 2005 memutuskan bahwa Indonesia keluar dari daftar negara-negara yang tidak kooperatif dalam menangani rezim anti pencucian uang (NCCTs list). Sesuai dengan kebijakan FATF (de-listing procedure) dilakukan pemantauan terhadap perkembangan penanganan rezim anti pencucian uang di Indonesia, yang pada tahap awal akan dilakukan selama satu tahun. Dalam proses pemantauan yang dilakukan, ada enam hal yang harus mendapatkan perhatian dari pemerintah, yaitu : l Meningkatkan pelaporan transaksi keuangan mencurigakan, khususnya yang disampaikan oleh smaller banks;

Meningkatkan capacity building bagi aparat penegak hukum, yaitu penyidik dan penuntut, dengan memfokuskan pada Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU); l Melaksanakan penanganan perkara TPPU secara efektif dan tepat waktu; l Melaksanakan pemeriksaan (audit) terhadap Penyedia Jasa Keuangan dengan mekanisme yang tegas, yang harus diikuti dengan tindakan lanjutan apabila ditemukan adanya kelemahan atau ketidakpatuhan, termasuk kemungkinan dikenakannya sanksi; l Mengundangkan RUU Tentang Bantuan Hukum Timbal Balik (Mutual Legal Assistance), dan memastikan efektifitas penerapannya; serta l Memenuhi komitmen untuk menyediakan anggaran dan sumber daya manusia yang memadai untuk seluruh instansi terkait, termasuk di dalamnya kewenangan pengangkatan pegawai tetap PPATK. Dalam sidang yang dilakukan oleh FATF di Cape Town, Afrika Selatan, pada 13-17 Pebruari 2006, Indonesia dinilai telah melaksanakan 6 (enam) rekomendasi tersebut dan diputuskan bahwa Indonesia tidak perlu lagi dimonitor. Press Release dari PPATK
l

eberhasilan PPATK membangun rezim anti pencucian uang, tidaklah tertumpu semata pada peran PPATK, namun sangat bergantung pada peran serta dan koordinasi yang harmonis setiap elemen yang terlibat di dalam penegakan rezim anti pencucian uang. Salah satu elemen tersebut adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memegang otoritas kepabeanan menyangkut pembawaan uang keluar dan kedalam wilayah RI. Pada 31 Oktober 2003, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Abdurrachman dan Kepala PPATK Yunus Husein, melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam bentuk tukar-menukar informasi. DJBC memberikan bantuan pada PPATK dalam melakukan analisis laporan transaksi keuangan mencurigakan yang diterima oleh PPATK dari penyedia jasa keuangan. Sedangkan bantuan dari PPATK pada DJBC dalam melakukan penyidikan tindak pidana penyelundupan barang, antara lain berupa bantuan dalam melaksanakan ketentuan padal 16 UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), penugasan pegawai DJBC pada PPATK, penunjukan pejabat penghubung, sosialisasi UU TPPU dan peraturan perundang-undangan terkait dan pendidikan, pelatihan dan magang/pertukaran staf. ifa
43

EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

SIAPA MENGAPA
WIDODO LESTARIONO, SH. Sosok yang murah senyum dan ramah ini ditemui di ruang kerjanya usai acara pemusnahan rokok ilegal pada 14 Pebruari 2006 di KPBC Malang. Pegawai yang menjabat sebagai Koordinator Pelaksana Intelijen KPBC Malang berpangkat penata muda Tk I ini, telah mengabdi di DJBC selama 23 tahun (sejak 1983-red). Menjadi pegawai Bea dan Cukai memang merupakan citacitanya, karena ayahandanya juga seorang pegawai bea cukai. Penempatan pertama dilalui di KPBC Juanda selama sepuluh tahun, kemudian ia dipindahtugaskan ke KPBC Gresik pada 1994 hingga 1997 dan menjadi pemeriksa di KPBC Tanjung Perak hingga tahun 2001. Setelah itu ia dipromosi menjadi Korlak Pabean Cukai di KPBC Panarukan hingga 2002. Selama bekerja di lingkungan DJBC, ia memiliki kisah menarik ketika bertugas di KPBC Gresik. “Waktu itu saya mendapat tugas pengawasan di kilang minyak lepas pantai Camar Ayu. Dengan menggunakan kapal motor, saya harus menempuh perjalanan selama 9 jam dan menghadapi ombak yang besar. Kondisi tersebut menyebabkan saya mabuk laut. Saya juga sempat bermalam beberapa hari di sana. Pada saat itu hidup di tengah laut membuat saya merasa kecil sekali sebagai seorang manusia di hadapan Tuhan,” kenang Widodo yang pernah menjadi kapten tarik tambang ANDRIE KRIESNIAWAN
Tak selamanya postur tubuh kurus dan kecil identik dengan orang yang lemah. Contohnya saja pegawai yang satu ini, walaupun ia memiliki postur tubuh yang kurus dan kecil, jangan anggap enteng. Bila ada orang yang hendak berbuat jahat, tidak segan ia menghadapinya. Pasalnya, Andrie punya kebolehan dalam hal beladiri. Seperti yang dituturkan rekan sekerjanya, Andrie pernah dikeroyok orang dan mampu melumpuhkan para pengeroyoknya. ”Saya lihat sendiri kemampuan Andrie merobohkan lawan. Saat itu saya dan Andrie sedang berjalan, tiba-tiba kami dihadang sekumpulan preman yang meminta paksa barang bawaan kami. Walaupun dikeroyok, Andrie mampu menghadapi sendiri dan mematahkan perlawanan premen-preman tersebut,” tutur rekan sekerjanya. Ketika dikonfirmasi WBC, Andrie mengaku menyukai olahraga beladiri sejak kecil. Setelah beranjak remaja iapun makin menekuni olahraga beladiri. Ketika duduk dibangku SMP ia ikut beladiri tae kwon do. Pada saat SMA ia beralih memilih Silat Perisai Diri sebagai olahraga beladiri yang ditekuninya hingga saat ini. Berbagai ajang lomba dan prestasi pun diraihnya, antara lain menjadi juara umum II tingkat DKI Jakarta khusus Silat Perisai Diri dan sejak tahun 1997, pemegang sabuk merah strip merah ini dikukuhkan oleh Dewan Pendekar Perisai Diri sebagai pelatih. Terakhir, ia menjabat sebagai sekretaris umum Perisai Diri di Jakarta. Namun, karena kesibukannya bekerja saat ini, ia pun mundur dari kepengurusan Perisai Diri. Walaupun demikian, ia tetap sibuk berlatih di PLN Jakarta Pusat dan melatih murid-muridnya di SMU 68. “Saat ini tinggal dua tahap lagi untuk saya mencapai tingkat tertinggi dalam silat Perisai Diri. Untuk itu saya terus berlatih mandiri dan terus menambah

M. FERDINAL HARDI
Satu lagi putra kedua buah hati pasangan Efriadi dan Muharni yang bekerja di Bea dan Cukai Tanjung Priok III yang berhasil mengantongi segudang prestasi dalam dunia olahraga tenis meja. Ferdi yang sering disapa, bisa dibilang paling senior dan banyak pengalaman dalam menggeluti olahraga tenis meja dibandingkan dengan adiknya Fitrah Harsanty Ega Putri (Ega) yang juga berprestasi dalam dunia olahraga tenis meja. Prestasi Ferdi diantarannya PORSENI SD pada 2002 untuk tingkat Kota Madya Padang menyabet juara I sedangkan untuk tingkat propinsi Sumatera Barat juara III, PORSENI SMP tingkat propinsi di Padang Agustus 2005 juara I, Tingkat Nasional mewakili Sumatera Barat di Surabaya pada September 2005, pada Oktober 2002 mengikuti Open Turnamen Paguyuban Marga Tionghoa Indonesia Batam, juara II Kadet Putra Kejurda Sumatera Barat tahun 2002, ikut serta pada Kejurnas di Jakarta pada bulan April 2004, kemudian turut ambil bagian pada Kejurnas di Bandung pada bulan Mei 2005, masuk delapan besar Kadet Putra Kerawang Open tingkat Nasional pada maret 2005, masuk delapan besar Kadet Putra Kejuaraan Dwi Bengawan XX di Solo pada bulan Agustus 2005 dan juga masuk delapan besar kadet Putra Sukoharjo Open I di Solo pada Nopember 2005. “Keberhasilan ini tak lepas dari kedisiplinannya berlatih dengan serius”, ujar Ferdi yang lahir 9 Juli 1991. Ferdi merupakan anak binaan yang pertama (senior, red)dari klub Persatuan Tenis Meja (PTM) Bea dan Cukai Teluk Bayur. Pasalnya, ia telah tergabung dalam klub yang didirikan oleh Kepala Kantor Bea dan Cukai Teluk Bayur ( pada waktu itu dijabat oleh Nofrial-red) sejak kelas IV SD. Ferdi mengaku, menggeluti olah raga ini tanpa pernah mengikuti kursus tenis

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

pada kegiatan POR keuangan tahun 90-93 dan selalu mendapat medali emas ini. Selain kenyang dengan pengalaman tugas yang berpindah-pindah, bapak dua orang anak ini juga mengenyam berbagai pendidikan dan latihan di lingkungan kerja antara lain, DPT I (pada 1984), Diklat Komputer (1986), DPI (2000), DTSD II (2001). Meskipun memiliki kesibukan di kantor, tidak menyurutkan niatnya untuk belajar bidang Hukum di Universitas Bhayangkara Surabaya pada 1993 dan berhasil meraih gelar sarjana hukum. Pada Hari Kepabeanan yang ke-54 pada 26 Januari 2006 lalu, Widodo yang gemar olahraga renang, tenis lapangan dan sepak bola ini, mendapat penghargaan sebagai pegawai berprestasi luar biasa dari Dirjen Bea dan Cukai atas prestasi pengungkapan kasus pita cukai palsu 20 rim di wilayah Malang Raya. Widodo memiliki suatu harapan kepada institusi DJBC yang sangat ia cintai ini di masa yang akan datang. “Bea dan Cukai harus menjadi organisasi yang selalu berpijak pada aturan yang ada,” harap pria kelahiran Surabaya 21 Juli 1961.

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2005
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Koresponden, Bambang W.

Rp. 120.000

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

meja. Sejak menjadi juara beberapa kali dan pindah ke Kediri (Juli 2003) barulah mengikuti pendidikan khusus tenis meja dan diasramakan untuk mengikuti program Nusantara di PTM Surya Gudang Garam Kediri yang dipimpin oleh Diana W. Tedjasukmana, (mantan atlet dan pelatih nasional). Selain berlatih dengan giat, keberhasilan ini juga tak lepas dari dukungan teman-teman, orangtua sekaligus manager serta kontribusi pelatih di Teluk Bayur yaitu Musran Chai dan Remon serta pelatihnya di Kediri yaitu Agus, Masyur dan Ali Hasibuan. Khusus untuk Koordinator PTM Bea dan Cukai Drs. Nofrial MA, Drs. Erlangga Mantik MA dan Maimun SH, MBA, Ferdi mengucapkan banyak terima kasih atas bimbingan, arahan dan motivasi yang selama ini diberikan kepadanya. Keberhasilannya tersebut juga berkat dukungan dari para guru disekolah. Ia terkenang dengan pengalamannya ketika masih duduk dibangku SD Adabiah Padang.”Waktu pertandingan tenis tingkat propinsi PORSENI SD tahun 2002, teman-teman dengan dipimpin Ibu Wali Kelas berdoa untuk kemenangan Aku, ujar Ferdi haru. Pada 16 Pebruari 2006 yang lalu, Ferdi bersama adik serta teman-temannya yang lain, berjuang mempertahankan prestasi dengan ikut serta dalam ajang Internasional Open Table Tenis Of Indonesia Solo Open I. Hasilnya, Ferdi mengantongi kemenangan sebanyak tiga kali dan masuk dalam 16 besar kadet putra. ats

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 377 APRIL 2006

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

wawasan untuk mematangkan persiapan tekniknya,” ujar Andrie saat ditanya obsesi kedepannya pada olahraga ini. Pegawai lulusan Prodip STAN angkatan IX tahun 1996 ini memilih Silat Perisai Diri sebagai olahraganya karena gerakan yang simple, complete, rasional serta pengembangan pada logika yang logis. Ia memberikan tips sebuah tehnik Perisai Diri yang dikembangkan berdasarkan logika. Kalau orang yang dihadapi terlalu tinggi sehingga tidak mungkin menendang kepala maka gunakan saja pukulan tangan. Kalau orang tersebut besar dan kuat, cari titik lemahnya, bisa dengan mencolok matanya atau menendang kemaluannya. Ia menambahkan, Perisai Diri bukan hanya mengandalkan kekuatan semata tetapi juga harus memiliki pikiran yang cerdas dalam membuat strategi. Pegawai yang meraih sarjana ekonominya di Universitas Indonesia pada 2000 ini sendiri termotivasi untuk terus menekuni olahraga ini karena keinginan untuk hidup sehat dan melatih otak untuk berpikir cepat. Diakhir wawancara Andrie memberi saran kalau ingin menekuni olahraga beladiri. “Kita harus banyak berlatih tapi jangan fokus pada beladiri aja, kita juga harus memperkaya diri dengan belajar dan menyerap berbagai informasi. Untuk mencapai suatu tingkatan tertentu, bukan hanya tenaga saja yang dibutuhkan tapi harus memiliki pikiran yang baik dan kecerdasan, ” kata pegawai yang lahir pada 23 Maret 1975 ini, yang bertugas di Kanwil IV DJBC Jakarta. ats

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

WARTA BEA CUKAI

45

RUANG INTERAKSI
Oleh: Ratna Sugeng

B

urn-out merupakan gejala yang sering kita alami di dunia aktivitas kita, teman-teman muda mungkin akan mengatakan ‘bete’ atau ‘suntuk’. Di saat itu kita merasa malas, enggan, kehilangan gairah atau bahkan terlihat bermuka masam, mudah tersinggung, mudah marah. Burn-out membuat counter-productive dan menurunkan ‘harga jual’.

OUT
l l l l

BURNkomitmen atau tanggung jawab tambahan Berada dalam tekanan kerja yang intense untuk suatu jangka waktu Berstandar tinggi dalam penyelesaian pekerjaan sehingga sulit mendelegasikan atau sulit dibantu orang lain Terlalu banyak pekerjaan untuk jangka waktu yang terlalu lama Terlalu banyak memberi dukungan emosi dalam jangka waktu panjang Bagaimana ‘wajah’ burn-out ? Kerapkali burn-out menampak dirinya dalam bentuk turun sampai hilangnya motivasi, kualitas dan volume kinerja, tidak puas akan pekerjaan atau tak ada rasa senang untuk melakukan aktivitas. makin banyaknya aktivitas, makin sedikit waktu tersisa untuk menjaga diri tetap ber-energi. Mereka yang menyenangkan dalam hubungan sosial dan pekerjaan biasanya mudah untuk menerima komitmen lebih banyak. Ditambah dengan sikap kebanyakan orang akan senang menggunakan sumber daya mental orang lain tanpa kuatir akan konsekuensinya. Faktor ini memudahkan terjadinya burn-out. Karena itu, memahami keterbatasan kapasitas diri sangat membantu untuk dapat mengatakan ‘tidak’ atas aktivitas yang membebani dan memunculkan bahaya kehilangan minat dan kesenangan.

KASUS RITA
Rita seorang yang energik selama sepuluh tahun saya bersamanya dalam sebuah tim. Dimulai dari tim membina sebuah institusi untuk dapat memberikan jasa yang disukai pelanggan, sampai bagaimana pedoman dilahirkan untuk berbagai kepentingan pelayanan jasa. Kami selalu dapat berdiskuai dengan hangat dan kadang ‘ngotot’ sampai ketemu jalan keluar yang disepakati. Kini saat organisasi kami ‘dibubarkan’ dan ia masuk dalam sebuah organisasi pemberi layanan jasa masyarakat, tak lagi saya jumpai senyum energiknya yang mempesona. Nampaknya ia kehilangan minat dan motivasi. Kini ia menghubungi temanteman untuk dapat berkecimpung di bidang sosial non-profit agar ia merasa dirinya berguna. Kehilangan minat dan semangat seringkali menjalari para pekerja di tempat kerja yang tak lagi menantang atau membuat para pekerjanya jenuh. Istilah kami di pelayanan pasien pengguna narkotika adalah Burn-Out. Burn-Out terjadi ketika seseorang yang tinggi minat dan teguh tangguh bekerja, kehilangan minat dan motivasinya.

BILA BURN-OUT MENGINTAI DIRI...
Ketika diri merasa dalam bahaya menjadi burn-out, atau aktivitas tak lagi menyenangkan, maka segeralah perbaiki situasi : l Evaluasi kembali tujuan atau goal , urutkan dalam prioritas l Evaluasi tuntutan yang menempatkan diri dalam situasi ini, dan lihatlah kaitannya dengan goal diri l Kenali kemampuan diri akan batas kenyamanan untuk menjawab tuntutan l Ketika keterlibatan diri terlalu besar, kurangi komitmen yang berlebihan l Ketika orang membutuhkan energi mental saudara terlalu tinggi maka sadarilah bahwa orang lain pun dapat membantu dan mendukung peran saudara. Cegah diri sendiri masuk dalam suasana amat melelahkan mental emosional dan fisik l Pelajari keterampilan menghadapi dan mengelola stress l Amati situasi di seputar diri yang membangkitkan stress, seperti pekerjaan, keluarga. Cobalah untuk mencari solusi dan menurunkan stres l Mintalah dukungan teman-teman dan keluarga dalam menurunkan stress l Pastikan saudara bergaya hidup sehat: - Cukup tidur, istirahat guna

TANDA BURN-OUT
Burn-out berjalan lambat, dalam jangka waktu panjang. Gejalanya dapat muncul pada fisik ataupun mental . Gejalanya meliputi : l Perasaan tak dapat bertahan dalam komitmen l Merasa yakin bahwa diri tak dapat mencapai hasil baik l Berkembangnya perasaan negatif l Kehilangan perasaan dibutuhkan dan energi l Cenderung menarik diri dari kawankawan. Hal ini akan membuat diri semakin konflik dan stress, serta masalah makin meningkat.

MENGHINDARI BURN-OUT
Jika saudara pekerja keras, maka ingatkan diri sendiri untuk tetap bergairah kerja dan tidak burn-out. Mental burn-out dapat dihindari dengan membuat diri merasa apa yang dikerjakan senantiasa menyenangkan. Membuat diri tetap merasa senang memang ada keterbatasannya, suatu ketika kita tak mampu melaksanakannya. Seseorang yang bekerja rajin, berdaya guna dan disenangi orang, maka makin banyak orang menaruh harapan padanya, memberinya banyak aktivitas dan tanggung jawab. Dengan

SIAPA YANG CENDERUNG MENGALAMINYA ?
Biasanya dialami oleh para pekerja keras, bermotivasi sangat tinggi, yang kemudian mengalami ketidak seimbangan emosi, yang secara psikologik atau fisik menyangatkan kelelahan. Burn-out dapat terjadi pada semua orang yang : l Sulit mengatakan ‘tidak’ pada 46
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

l

l

menjaga tingkat kecukupan energi - Pastikan makan makanan sehat, makan seimbang, makanan yang tak sehat mengganggu kesehatan dan perasaan - Cukup olah gerak erobik teratur - Batasi kopi, rokok dan alkohol Buatlah aktivitas pengganti seperti hobi relaksasi guna mensejahterakan mental Kenali humanitas diri: ingat bahwa setiap diri berhak atas kenyamanan dan kesantaian

4. Apakah saudara kehilangan gairah, rasa humor atau optimisme? 5. Apakah anda bekerja dari satu goal ke lainnya tanpa sejenak berhenti menghargai apa yang telah anda raih? 6. Apakah anda tiba-tiba merasa ingin menangis atau dalam hati merasa kehilangan daya ? 7. Apakah anda mendeskripsikan diri atas da-

TAHAP LANJUT DARI BURN-OUT
Ketika saudara merasa sangat kehilangan semangat, motivasi, malas bekerja atau beraktivitas yang biasanya saudara senangi, hubungi petugas kesehatan mental seperti psikiater dan psikolog klinis.

sar apa yang anda kerjakan dan tidak pada siapa sebenarnya anda ? 8. Apakah anda merasa tidak atau kurang berhasil dan kehilangan semangat ketika merinci dengan teliti keadaan anda? 9. Apakah anda ’memeras’ jari-jari tangan anda, mengepalkan tinju, dan mengatupkan geraham kuat-kuat ketika menjumpai kesulitan ? 10. Apakah publik menyita kehidupan pribadi anda? Jika terdapat 7 atau lebih jawaban “Ya”, nampaknya anda burn-out. Ketika skor anda 4-6, segera bertindak dan belokkan tujuan.

KETIKA BURN-OUT...
Ketika saudara merasa sangat kehilangan motivasi dan malas menyelesaikan aktivitas, tinggalkan aktivitas tersebut sejenak . Usahakan mengganti aktivitas tersebut dengan aktivitas lain di tempat kerja yang sama. Setelah merasa nyaman, kembalilah pada komitmen semula di aktivitas tadi. Jika saudara merasa hilang semangat dan tak dapat menyelesaikan masalahnya, tinggalkan aktivitas tersebut. Bila saudara adalah tipe pekerja keras, bermotivasi tinggi, mempunyai semangat luar biasa, maka alihkan sejenak aktivitas saudara atau alihkan tujuannya. Dengan demikian saudara akan merasa bahwa hanya bagian tertentu dari aktivitas yang membuat saudara merasa burn-out. Makin saudara mengenal ciri burn-out saudara, maka makin mudah untuk menghindarinya dengan pengalihan aktivitas atau goal. Dengan mengenali, berarti diri dapat mengendalikan energi secara efektif. Berikut ini serangkaian pertanyaan dari T.D. Jake’s ”Maximize the Moment” untuk mengukur burn-out, sehingga kehilangan semangat baik personal maupun profesional. Jawablah dengan ya atau tidak; 1. Apakah anda seringkali cemberut dan tidak puas sepulang dari aktivitas? 2. Apakah kehidupan anda tak atau sedikit bervariasi, sehingga aktivitasnya hanya satu jenis atau terbatas jenisnya? 3. Ketika pagi bangun tidur pagi hari, apakah anda merasa lelah dan tak bersemangat ?
EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

47

INFO PEGAWAI

Laporan Penerimaan dan Pendistribusian Hewan Qurban
S
ehubungan dengan pelaksanaan kegiatan dalam rangka Idul Adha 1426 H / 2006 M yang salah satu kegiatannya yaitu Penerimaan dan Pendistribusian Hewan Qurban 1426 H / 2006 M, berikut ini Laporan Penerimaan dan Pendistribusian Hewan Qurban 1426 H / 2006 M sebagai bentuk tanggung jawab panitia atas kepercayaan para jamaah Masjid Baitut Taqwa Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan pegawai DJBC untuk menyerahkan hewan qurban berikut pendistribusiannya kepada Masjid Baitut Taqwa KP- DJBC.

DAFTAR NAMA PEMESAN DAN PEQURBAN SERTA DAERAH PENDISTRIBUSIANNYA HEWAN QURBAN SAPI

48

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

EDISI 377 APRIL 2006

WARTA BEA CUKAI

49

INFO PEGAWAI DAFTAR NAMA PEMESAN DAN PEQURBAN SERTA DAERAH PENDISTRIBUSIANNYA HEWAN QURBAN KAMBING

50

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

DAFTAR PEGAWAI PENSIUN
T. M. T 0 1 A P R I L 2 0 0 6 P E R I O D E T. A 2 0 0 6
NIP GOL IV/c IV/c IV/b IV/a IV/a IV/a IV/a IV/a III/c III/c III/c III/c III/c III/b III/a III/a III/a II/d II/d II/d II/b II/b
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.
○ ○ ○ ○

NAMA

JABATAN Kepala Bidang Audit Kepala Bagian Umum Kepala Bidang Perencanaan dan Program Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai IV Kepala Seksi Penimbunan VI Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai III Kepala Seksi Perbendaharaan Pelaksana Korlak Administrasi Umum Pelaksana Pelaksana Pelaksana Korlak Administrasi Impor Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

KEDUDUKAN Kantor Wilayah I DJBC Medan Kantor Wilayah VIII DJBC Denpasar Pusdiklat Bea dan Cukai KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok I KPBC Tipe A Purwakarta KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok III KPBC Tipe A Belawan Kantor Wilayah IV DJBC Jakarta KPBC Tipe C Mataram Kantor Wilayah III DJBC Palembang Direktorat PPKC KP DJBC KPBC Tipe A Bekasi KPBC Tipe A Bekasi KPBC Tipe A Bandung KPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta KPBC Tipe A Jakarta KPBC Tipe B Bogor KPBC Tipe A Tg. Perak KPBC Tipe A Belawan KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok I KPBC Tipe C Manado KPBC Tipe A Batam

Drs. Muzlie Muchlis, 060054078 MM I Wayan Pasek Utara, 060035500 SH Drs. Rochmadi, M.Si 060035290 M. Sabhani Ali Muhammad Natsir Dahlan Soegondho, SH Drs. Parlindungan Siregar Tjardawi Ni Ketut Sudewi Hagai Marpaung Mariana Rosmeriah Sadirin Sudiono Suryana Sahuri Sopian Rochmat Dadang Tariman Tumpak Hutabarat Durachman Djanatun Tampilang S. Abdul Hamid
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

060033674 060028422 060045481 060045982 060032010 060028729 060045475 060047934 060040217 060041286 060041294 060056610 060052261 060047932 060058142 060056599 060057660 060071327 060045281
○ ○ ○ ○ ○

INFO PERATURAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Maret 2006
No. KEPUTUSAN Nomor 1. 131/PMK.010/2005 Tanggal 23-12-05 Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 95/PMK.02/2005 Tentang Penetapan Tarif Pungutan Ekspor Atas Batubara P E R I H A L

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Maret 2006
SURAT EDARAN No. 1. 2. 3. 4. 5. Nomor SE-08/BC/2006 SE-09/BC/2006 SE-10/BC/2006 SE-11/BC/2006 SE-12/BC/2006 Tanggal 30-01-06 07-02-06 10-02-06 16-02-06 22-02-06 Pemeriksaan Fisik Pabrik Hasil Tembakau Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (Safe guard) Terhadap Impor Produk Keramik Tableware Penetapan Tarif Pungutan Ekspor Atas Batubara Penegasan Tatalaksana Pembayaran Dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Yang Berlaku Pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Penyampaian Data/Atau Dokumen Kepabeanan Dan Cukai Kepada Instansi/ Lembaga Pemerintah Lainnya
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

P

E

R

I

H

A

L

51

INFO PEGAWAI

RAT Kopesat Ke XVI
Pemilihan pengurus kopesat untuk masa bhakti 2006-2007

P

ada 16 Maret 2006, bertempat di ruang loka muda Gedung B KP DJBC, digelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Kantor Pusat DJBC dengan mengusung tema Peningkatan Peran Kopesat DJBC Dalam Menyejahterakan Anggota Melalui Optimalisasi Sumber Daya. Hadir pada kesempatan itu Barid Effendi selaku Ketua Kopesat, Soedirman A. Ghani, Kabag Umum yang mewakili Dirjen Bea dan Cukai sekaligus sebagai penasihat, Kasubdin Koperasi dan UKM Jakarta Timur yang diwakili oleh Sudarsono, para pengurus inti Kopesat, serta para peserta rapat yang terdiri dari perwakilan anggota koperasi pegawai KP DJBC. RAT kali ini juga mengagendakan pemilihan pengurus Kopesat untuk masa bhakti 2006-2007. Hasilnya, Ketua Kopesat yang baru dijabat oleh Oentarto Wibowo menggantikan Barid Effendi (lihat tabel-red). Diakhir RAT, dilakukan pembagian door prize pada peserta rapat yang antara lain berupa barang-barang elektronik. Dalam pidatonya Soedirman A. Ghani mengatakan, dalam kurun waktu 16 tahun Kopesat telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya jenis usaha yang dikelola oleh Kopesat. Selain bermanfaat bagi anggota, pengembangan usaha tersebut sangat bermanfaat bagi DJBC dalam hal menjaga aset-aset yang dimiliki DJBC. “Oleh karena itu, Kopesat harus mampu mencari terobosan-terobosan baru guna mengoptimalisasikan Kopesat serta pengembangan potensi pada aset-aset Bea dan Cukai lainnya,” imbuh Soedirman. Ia juga mengingatkan agar Kopesat tidak melupakan prinsip kehati-hatian dan mementingkan kesejahteraan anggotanya. Sementara itu, Sudarsono mengungkapkan kekagumannya pada Kopesat DJBC sebab dalam RAT XV, Suku Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kotamadya Jakarta Timur memberikan penilaian bahwa Kopesat DJBC tergolong sebagai koperasi pegawai dengan klasifikasi A (sangat baik). Hal ini merupakan bukti prestasi dan kemajuan usaha Kopesat DJBC.
WARTA BEA CUKAI

Ia menambahkan, pada dasarnya suatu koperasi bisa berkembang dan memberikan pelayanan pada anggota dikarenakan adanya partisipasi dari anggota dan dukungan dari pembina koperasi. Untuk itu, merupakan suatu kewajiban bagi anggota untuk mengadakan RAT minimal sekali dalam satu tahun. Gunanya adalah untuk menyampaikan laporan dan membahas masalah yang ada di koperasi.

SHU MENGALAMI KENAIKAN
Pada pidato pertanggungjawabannya Barid Effendi mengungkapkan, Sisa Hasil Usaha pada Tahun Buku 2005 mengalami kenaikan dari Rp 622.844.724 menjadi Rp 901.491.837 atau naik sebesar 14,89 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan deviden

saham PT. Gudang Garam yang mencapai sekitar 67 persen memberikan kontribusi yang besar terhadap meningkatnya jumlah SHU Tahun Buku 2005. Pada Oktober 2005 Kopesat telah menerima deviden bersih sebesar Rp 664.700.000 dari saham PT. Gudang Garam. Untuk Tahun Buku 2005, secara keseluruhan jumlah pinjaman tercatat sebesar Rp 5.990.863.000. Bila dibandingkan dengan Tahun Buku 2004, dimana jumlah pinjaman tercatat sebesar Rp 4.910.360.193, maka telah terjadi kenaikan sebesar Rp 1.080.502.807 atau sebesar 22 persen. Mayoritas pinjaman digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak pegawai (anggota Kopesat) yakni sebesar Rp 3.094.000.000. Selebihnya untuk

SUSUNAN PERSONALIA PENGURUS KOPERASI MASA BHAKTI 2006-2007
NO 1 JABATAN Penasehat NAMA PERSONALIA 1. 2. 3. 4. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Sekretaris Direktorat Jenderal Direktur Cukai Barid Effendi

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Bendahara I Bendahara II Bidang Simpan Pinjam Bidang Usaha Toko

Oentarto Wibowo Samsuar Said Patarai Pabotinggi M. Lukman I Wayan Karmana Indra Djaya Bahri Sri Ratnawati Halim Murdowo Widhi Hartono Mulyati Asrizal A.Z Indra Buana Mira Puspita Dewi Agung Kuswandono Evi Suhartantyo M. Mufrodi Wahyudi Adrijanto Tedi Himawan Djahran Nirwala Dwi Heryanto Irwan Djuhais Heru Prayitno

11

Bidang Pengembangan Usaha Lainnya

12

Badan Pengawas

52

EDISI 377 APRIL 2006

WBC/ATS

PENYERAHAN KENANG-KENANGAN. Penyerahan kenang-kenangan dari Mantan Ketua Kopesat Barid Effendi pada perwakilan dari Sudin Koperasi dan UKM Jakarta Timur serta pada Kabag Umum Soedirman A. Gani.

keperluan keluarga, mengontrak rumah, renovasi rumah, biaya berobat serta uang muka untuk kredit kepemilikan rumah. Sehubungan dengan pengembangan aset-aset DJBC yang dikelola Kopesat dimana memerlukan perhatian dan dana yang besar, maka wacana pemberian pinjaman guna usaha kepada anggota dan penyusunan skema pinjaman dengan sistem syariah belum bisa direalisasikan.

ASET DJBC YANG DIKELOLA
Guna mengoptimalkan pemanfaatan kolam renang, telah dilakukan perbaikan-perbaikan fisik terhadap bagian-bagian bangunan dan peralatan yang rusak. Demikian pula dari sisi administrasi juga telah dilakukan perbaikan-perbaikan dalam penjualan tiket, sistem penggajian karyawan dan prosedur kerja. Demikian pula pada

pengembangan lapangan tenis, telah dilakukan beberapa perbaikan seperti penggantian lampu-lampu yang putus serta pemasangan exhaust fan di lapangan indoor. Sedangkan untuk pengembangan pemanfaatan aula kolam renang, aula tersebut telah direnovasi menjadi gedung serba guna yang dapat digunakan untuk acara resepsi pernikahan, seminar, maupun acara lainnya. Gedung serba guna ini dapat digunakan oleh anggota Kopesat DJBC maupun masyarakat umum. Sedangkan untuk program kerja Tahun 2006, antara lain melanjutkan penyelesaian administrasi keanggotaan dengan sistem komputerisasi terpadu dengan bidang lain dan menerapkan sistem kartu bagi anggota Kopesat DJBC, melanjutkan pelaksanaan sistem akutansi terpadu dengan sistem komputer. Selain itu, meninjau kembali plafon pinjaman dan iuran simpanan

wajib yang ditetapkan melalui RAT XII. Dengan memperhatikan saldo kas dan piutang pinjaman yang ada maka rencana pinjaman yang akan dikeluarkan kepada anggota dalam setahun kedepan sebesar tujuh milyar rupiah. Untuk usaha bidang toko, diupayakan meningkatkan target penjualan untuk barang konsumsi minimal 7 persen dan barang non konsumsi minimal 8 persen dari omset penjualan tahun sebelumnya. Sedangkan untuk bidang usaha lainnya, tengah dilakukan studi kelayakan pemanfaatan lahan kosong disebelah utara kolam renang Bojana Tirta untuk pembangunan rumah sewa untuk pegawai. Demikian pula dengan lahan kosong disebelah selatan kolam renang Bojana Tirta yang akan dimanfaatkan untuk membangun lapak-lapak untuk para pedagang di lingkungan kolam renang. ifa
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

53

OPINI

Oleh: Akhmad Firdiansyah, SE

Bea Cukai Nasib, Nasib Bea Cukai
H
ari gini mikirin nasib menjadi pegawai Bea Cukai? Boleh kan. Ya, kebanyakan orang beranggapan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu susah masuknya doang, kalau sudah diterima mah aman, nyantai aja, ngapain capek-capek toh gajinya sama. Padahal meski sudah sampai pada level aman belum ada jaminan kondisi kita akan ‘settle’ di Bea Cukai. Ujian dan seleksi akan senantiasa menghadang kita dimanapun kita berada, kapan ujian itu akan berakhir? Manakala roh kita sudah berpisah dengan jasad kita. Sering kita dengar rejeki, jodoh dan maut ada di tangan Tuhan. Nah dalam kaitan mencari rejeki itulah kita merasa bahwa memang sudah garisan tangan kita untuk mencari penghasilan dengan menjadi PNS, menjadi Pegawai Bea Cukai. Adakalanya kita beranggapan bahwa menjadi Pegawai Bea Cukai sebagai suratan takdir/nasib yang kita terima begitu saja (take for granted) atau nrimo ing pandum dalam mitologi Jawa. Fenomena itulah yang menggelitik penulis untuk berbagi cerita dan pengalaman (sharing) guna menempatkan porsi pemahaman yang benar mensikapi suratan takdir nasib menjadi Pegawai Bea Cukai tersebut. Jujur saja penulis akui memang pada awalnya penulis tidak pernah bercita-cita atau memimpikan menjadi Pegawai Bea Cukai. Ketika sudah menjadi Pegawai Bea Cukai pun penulis tidak tahu bayangan
WARTA BEA CUKAI

penulis akan menjadi apa di Bea Cukai ini. Itulah fenomena yang mungkin dialami oleh kawan-kawan lain di Bea Cukai. Apalagi ketika penulis menerima petikan surat dengan kode UP.9 yang menugaskan kita pada posisi tertentu, yang tentu saja membuat kaget dan terbelalak, mimpi apa ini? Apa pantas aku disini? Apa tidak ada orang lain? Apa pertimbangan Kantor Pusat menempatkan aku disini? Dan tentu saja masih banyak pertanyaan yang lain yang tidak diungkapkan

SURVEY MEMBUKTIKAN, TIDAK BANYAK ORANG YANG SEJAK KECIL BERCITA-CITA MENJADI PEGAWAI BEA CUKAI
disini, oh nasib itulah namanya seni kehidupan. Memang benar, adakalanya yang diingini Tuhan itu adakalanya cocok dengan kemauan kita, namun adakalanya terkadang kita mendapatkan pekerjaan atau profesi yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tergantung dari sudut mana kita memandang takdir atau nasib sebagai Pegawai Bea Cukai, suatu

anugerah ataukah biasa-biasa saja (nothing tulus aja) atau bahkan bencana? Tak salah memang kalau masingmasing kita ingin kaya raya, terhormat, punya keahlian tinggi, kecil disayang, muda dimanja, dewasa dipuja, dan mati masuk sorga. Keinginan itu sah-sah saja, bahkan bagus. Hanya saja ketika kita bicara realisasi, persoalannya adalah kita harus mengetahui tindakan apa yang kita butuhkan untuk mewujudkan keinginan itu. Menjadi Pegawai Bea Cukai sebetulnya diimpikan dan diincar kebanyakan orang, karena dipandang bisa memberikan masa depan yang lebih baik, bukan tergolong madesu (masa depan suram). Gaji dan TKPKN jaminannya, tidak semua PNS mendapatkan kelebihan seperti ini. Tentu kita harus realistis dan pragmatis, mencari perbandingan jangan melihat ke atas, tapi ke bawah. Oleh karenanya konteksnya kita harus bersyukur kepada Tuhan yang telah menjadikan pekerjaan menjadi Pegawai Bea Cukai itu suatu nikmat dan anugerah yang besar. Bersyukur konteksnya bukan berarti lisan kita komat-kamit mengucapkan kata-kata syukur kepada Tuhan, akan tetapi lebih dari itu, kita dituntut untuk menunjukkannya dalam realitas yang nyata dihadapan Allah dan seluruh makhlukNya. Adapun cara untuk mempertunjukkan rasa syukur kita adalah menggunakan kekuatan

54

EDISI 377 APRIL 2006

potensi yang kita miliki secara total dan optimal, jangan setengahsetengah! Ketidaksanggupan kita untuk bersyukur lebih disebabkan oleh keterbatasan kita mengetahui potensi tambang emas yang terpendam dalam diri kita untuk diexplore sebanyak-banyaknya bagi user yang membutuhkannya. Kapasitas untuk meyakini bahwa kita seharusnya bisa berbuat sesuatu dengan kemampuan yang kita miliki bukan pada persoalan kita punya kemampuan atau tidak (karena kita semua sudah punya), akan tetapi terletak pada persoalan penilaian (assesment) diri kita. Survey membuktikan, tidak banyak orang yang sejak kecil bercitacita menjadi Pegawai Bea Cukai, namun setelah menjadi Pegawai Bea Cukai dibarengi dengan kemauan keras mampu menjadi yang terbaik. Kemauan keras inilah yang bisa menciptakan/melahirkan peluang dan menunjukkan bakat/talentanya.

MASA DEPAN
Adakah diantara kita yang mengetahui apa yang terjadi dengan nasib atau takdir kita setahun yang akan datang, sebulan, sehari atau bahkan semenit yang akan datang? Adakah diantara kita yang sanggup mencetak nasib, takdir atau masa depan? Masa depan? Tau ah gelap! Nasib atau masa depan sebagai hasil tentu saja tidak ada yang sanggup mencetaknya. Nasib, takdir dan masa depan itu otoritas mutlak Tuhan. Tidak ada yang tahu apa yang direncanakan Tuhan tentang masa depan atau nasib kita. Namun jangan salah memahami hal ini, karena Tuhan memiliki hukum yang bekerja yang disebut sebagai ketetapan sunnatullah yang menjelaskan tentang serangkaian proses yang

akan dijadikan “alasan” bagi Tuhan untuk menciptakan bentuk nasib, takdir atau masa depan tertentu buat kita. Logika itulah yang bisa kita jadikan pedoman mengapa kita perlu “mencetak” masa depan kita. Tentu kita tidak menciptakan nasib, takdir atau masa depan sebagai hasil. Kita menciptakan persiapan, usaha/ upaya, proses, atau apapun yang dibutuhkan untuk mendapatkan masa depan tertentu yang kita inginkan. Dari pengertian ini rasanya tidak salah kalau dikatakan bahwa masa depan itu diciptakan oleh imajinasi dan kemauan kita. Nasib, takdir atau masa depan itu adalah perjuangan ditambah dengan do’a. Prestasi apapun yang kita raih itu adalah akibat, maka tugas kita yang sebetulnya adalah menciptakan sebab. Apa yang kita dapatkan pada hari ini adalah akumulasi akibat dari sebab-sebab yang kita ciptakan di masa lalu. Apa yang akan kita dapat-

kan di hari depan adalah kumpulan dari sebab yang kita ciptakan hari, demikian diungkapkan oleh Hasan Albanna. Umumnya masa depan yang kita inginkan adalah yang lebih baik dari hari ini, sebab kalau kita mendapatkan yang sama saja (statis dan stagnan) kita tergolong orang yang merugi apalagi jika hasilnya lebih buruk, kita termasuk orang yang celaka. Bumi itu bulat dan berputar, artinya hidup itu bagaikan roda yang terus berputar dan berproses, kadang ada di atas kadang di bawah, itu adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dinafikan. Tidak ada kesenangan dan kemenangan yang datangnya permanen dan terus menerus, atau terpuruk terus dari masa ke masa, akan tetapi dipergilirkan Tuhan, tiap jaman ada masanya masing-masing. Jadi dalam perjalanan sejarah selalu ada perubahan, karena adanya perubahan yang dinamis itulah cirinya ada kehidupan. Barangsiapa yang cerdas mensikapi dan menyesuaikan diri dengan perubahan itu serta bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kegagalan dan kecerobohan masa lalu, dia tidak
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

55

OPINI
akan menjadi korban digilas oleh perubahan itu. Akan tetapi bagi yang tidak siap menghadapi perubahan, maka perubahan itu dijadikan kambing hitam untuk mencari faktor pembenar keterpurukan yang dialaminya. Inilah yang oleh Ary Ginanjar Agustian dalam ESQ-nya disebut sebagai execusting acute. Kita masih dihinggapi mentalitas senang menerima atau tangan di bawah daripada mentalitas memberi atau tangan di atas. Oleh karenanya saya teringat ungkapan Presiden JF Kennedy : “Janganlah kamu berpikir apa yang bisa kamu peroleh dari negaramu tetapi berpikirlah apa yang bisa kamu berikan/sumbangkan bagi negaramu”. Dalam Al Qur’an dijelaskan apabila kamu bersyukur, maka Aku tambah nikmat kepadamu, jadi semakin banyak memberi semakin bertambah nikmat kita, yang tentu membutuhkan perubahan mind set logika kita bahwa jika kita semakin besar memberikan kontribusi, kita semakin dibutuhkan dan itu artinya kita berada pada jalur kesuksesan (on the right track). sunnatullah-Nya. Jalan lurus adalah jalan yang tidak melawan prinsipprinsip kebenaran yang ada dimuka bumi ini. Disinilah kita dituntut untuk berlomba berbuat yang terbaik (fastabiqul khairat). Sebaik-baik kamu adalah yang paling berguna/ bermanfaat bagi orang lain atau pihak lain yang membutuhkan kita (user). Rahasia kebahagiaan bukanlah melakukan apa yang kamu cintai melainkan mencintai apa yang kamu lakukan. Jangan mengukur dirimu dengan apa yang telah kamu selesaikan, akan tetapi ukurlah dengan apa yang seharusnya kamu lakukan dengan kemampuanmu. Kemampuan kita dalam mengubah sesuatu menjadi hasil yang positif itulah letak nilai jual kita. Nah lu! Apabila sudah ada sinyal positif, maka itu artinya langkah awal menuju kepada cinta. Cintalah yang menghasilkan kemunduran, keputusan mandek akan menghasilkan kemandekan, dan keputusan maju akan menghasilkan kemajuan. Pikiran positif dan tindakan positif hampir tidak pernah memproduksi hasil yang negatif, demikian sebaliknya pikiran dan tindakan negatif juga tak pernah melahirkan hasil yang positif. Perubahan hidup akan terjadi dengan perubahan dan perbaikan yang positif. Ceritanya akan lain apabila kita mengarahkan diri kita mempunyai banyak kekurangan, berpikiran negatif, maka tentu kesimpulan yang tercetak adalah kesimpulan yang negatif tentang diri kita, termasuk pekerjaan kita dan profesi kita. Barangsiapa tidak memiliki apa-apa tidak akan mungkin dia bisa memberi. Tentu azab dan kecelakaan demi kecelakaan yang akan kita dapatkan, barangsiapa menabur angin dia akan menuai badai. Termasuk dalam kategori negatif adalah membiarkan potensi kita mandek (stagnan dan statis), pilih-pilih serta ogah mengeluarkannya meskipun sedang dibutuhkan. Kita lebih sering menunggu orang lain yang berbuat. Kita membiarkan tambang emas yang ada dalam diri kita, sementara kita iri (jealous) dengan kemampuan orang lain tanpa melihat usaha yang dilakukannya, sehingga kita melihat nikmat Allah yang tidak terbatas itu, tidak satupun ada atau lewat dalam diri kita, kita selalu merasa miskin dan kekurangan. Oleh karenanya tidak heran jika kufur nikmat itu akan mendatangkan siksa/stres. Siksa yang paling dekat yang akan mendatangi kita adalah ketika sesuatu yang kita anggap nikmat atau pemberian Tuhan itu tidak mendatangkan hasil yang secara kuantitas maupun kualitas tidak bertambah, meskipun kita sudah pindah kemana-mana kebahagiaan kita tidak bertambah. Oleh karena itu fokuskan perhatian anda pada satu konsep. Konsep itu adalah konsep island of integrity menyatakan bahwa ubahlah diri anda dahulu menjadi agen perubahan yang positif, baru ajaklah orang lain. Tentu hal ini jika dikumpulkan dan tergabung dalam ikatan Bea Cukai, akan menjelma menjadi suatu kekuatan bargaining position yang positif bagi kredibilitas dan performance Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Andalah yang menentukan gonjang-ganjingnya DJBC! Camkan berikut ini : “Anda tidak mencintai seseorang karena kecantikannya atau ketampanannya. Karena anda mencintailah, maka seseorang itu menjadi cantik atau tampan dimata anda”.

POSITIF
Bukan uang yang membuat orang sukses, kesuksesanlah yang bisa mendatangkan uang. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa syukur dikatakan sebagai surat undangan bagi datangnya nikmat. Rasa syukurlah yang membuat nikmat yang kita miliki menjadi semakin bertambah. Rasa syukur juga bisa mendatangkan keberkahan, berkahnya nikmat itu bukan terletak pada menikmatinya, melainkan terletak pada pemanfaatan nikmat itu guna mendapatkan nikmat-nikmat berikutnya. Kalau kita memilih menggunakan pikiran positif untuk hal-hal yang positif, maka hasil yang kita dapatkan adalah positif. Memilih yang positif untuk hal-hal yang positif inilah yang dikehendaki Tuhan dari kita. Allah adalah sumber dari segala kebaikan yang positif, sedangkan yang negatif tentu datangnya dari diri kita sendiri, karena itu bukan dikehendaki-Nya dari kita. Kebahagiaan yang hakiki itu adalah manakala kita melakukan semua perintah kebaikan dari Tuhan kita dan meninggalkan semua larangan-Nya. Untuk itu kita harus menempuh jalan lurus. Jalan lurus adalah jalan yang akan mengantarkan kita pada nikmat. Jalan lurus adalah jalan yang kita pilih berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan pemahaman kita atas hukum-hukum Allah yang berlaku di dunia ini mengikuti 56
WARTA BEA CUKAI

BUKAN UANG YANG MEMBUAT ORANG SUKSES, KESUKSESANLAH YANG BISA MENDATANGKAN UANG
mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Cinta itulah energi yang menyemangati kita dalam menghadapi tantangan. George Washington berujar “Jika kau mencintai pekerjaan yang kau lakukan, maka ia akan mewahyukan sesuatu yang baru kepadamu dan pekerjaan itu akan mengungkapkan rahasianya kepadamu”. Stephen Covey mengajarkan kepada kita bahwa bila kita masih mempertahankan cara yang sama, maka hendaknya kita tidak perlu mengharapkan hasil yang berbeda. Hukum Tuhan mengatakan bahwa pelajaran positif itu ada dimanamana sepanjang kita mau menggali dan menyerapnya. Hanya saja dalam prakteknya membuktikan bahwa pelajaran positif itu tidak bisa kita serap kalau batin kita sudah keruh oleh pikiran-pikiran negatif. Mendapatkan pelajaran positif memang tidak langsung mengangkat prestasi kita, tetapi kalau kita ingin mengubah diri kita untuk menjadi semakin positif, maka syarat mutlak yang harus dimiliki adalah menambah jumlah dan kualitas pelajaran positif yang kita serap. Ingatlah, keputusan mundur akan

Penulis adalah pegawai pada Kanwil XIII Banda Aceh

EDISI 377 APRIL 2006

Oleh: Darmawan Sigit Pranoto

Darah CUKAI Baru BEA dan
P
ada suatu kesempatan beberapa bulan yang lalu, penulis secara kebetulan bertemu dengan salah seorang calon pegawai baru penerimaan khusus ABK, analis laboratorium, dan bagian bengkel tahun 2004. Kami berasal dari satu daerah. Seperti lazimnya perkenalan antar pegawai Bea dan Cukai, obrolan kami berlanjut ke masalah penempatan. Ternyata yang bersangkutan ditempatkan di Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Priok. Bagi lulusan Prodip Keuangan asal Jawa seperti penulis, penempatan di Jakarta adalah sebuah ‘anugerah’, karena tidak begitu jauh dari kampung halaman. Oleh karena itu penulis ucapkan selamat kepadanya. Tapi reaksi sang calon pegawai tadi ternyata jauh dari yang penulis perkirakan. Dengan mimik kecewa ia berkata, ”..nggak enak Mas, di sana kering …”. Tanpa harus berburuk sangka, penulis tahu persis apa yang dimaksud kering olehnya. Walau kemudian obrolan berlanjut, dalam hati penulis terus berpikir, kalau baru masuk saja sudah terpola orientasi semacam ini, bagaimana kelanjutannya ? Penulis tidak ingin melakukan generalisasi bahwa semua pegawai baru telah terpola orientasi demikian. Namun sepotong fakta di atas setidaknya dapat menjadi bahan renungan bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang sedang menata citranya sebagai institusi yang dapat dipercaya publik. Penulis juga tidak menggeneralisir bahwa semua pegawai lama yang dimaksud dalam tulisan berikut, berpola pikir dan berperilaku kurang sesuai. Keduanya hanya merupakan oknum. Pegawai baru, dengan segenap potensinya, merupakan modal paling berharga yang dimiliki Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam menatap masa depan. Kehadirannya bagi tubuh institusi ini, bagaikan suntikan darah baru. Ketika Bea dan Cukai sedang terpuruk dalam kinerja dan citra di satu sisi, dan di sisi lain ingin mengejar ketertinggalannya itu, kehadiran pegawai baru menjadi strategis adanya. Keterpurukan Bea dan Cukai sekarang ini, bisa jadi dikarenakan oleh keberadaan Sumber Daya Manusia-nya. Institusi ini mungkin telah disesaki pola pikir dan perilaku yang serba pragmatis. Disinilah

DJBC JUGA HARUS MENGASUMSIKAN BAHWA PEGAWAI BARU ADALAH KERTAS PUTIH...
kehadiran pegawai baru menemukan maknanya. Pegawai baru sebagai sumber daya manusia baru Bea dan Cukai diharapkan mampu menutup lubang ataupun memperbaiki peran pegawai lama yang kurang sesuai. Namun kehadiran pegawai baru tidak serta merta diikuti tereliminasinya pegawai lama yang berperilaku kurang sesuai. Dan disinilah acap kali harapan terhadap pegawai baru, kandas.

DILEMA PEGAWAI BARU
Kenyataan bahwa korupsi -dalam segala pengertiannya- telah menjadi budaya dalam birokrasi kita, termasuk dalam tubuh Bea dan Cukai, menghadirkan dilema bagi pegawai yang baru bergabung.

PEGAWAI BARU = DARAH BARU

Secara umum, opini yang ada di keseharian kantor kita adalah Bea dan Cukai itu institusi yang ‘basah’. ‘Basah’ seakan menjadi kebenaran, dan bagi yang tidak mau ‘basah’ berarti mengingkari kebenaran (salah). Inilah yang menyulitkan para pegawai baru. Mereka memasuki suatu wilayah baru, dimana mereka ‘dipaksa’ untuk terlibat di dalamnya, untuk menjadi penghuni yang berpola pikir sama dengan penghuni lama. Dengan statusnya yang baru, bisa saja mereka sungkan menolak atau takut dikucilkan. Belum lagi ketika mereka dihadapkan pada ‘falsafah’ yang sering diberikan para pegawai lama terhadap pegawai baru, yakni “ngono yo ngono tapi ojo ngono” (gitu ya gitu tapi jangan keterlaluan). Jika hal ini dijadikan pegangan pegawai baru dalam memasuki iklim kerja yang ada di Bea Cukai, tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Ungkapan ini sangat klise, multi interpretatif, dan really debatable. Mungkin tadinya ungkapan ini dimaksudkan agar pegawai baru dapat beradaptasi dengan lingkungan kerjanya sehingga tidak kaku dalam berinteraksi sosial. Namun, ungkapan ini lebih bisa (baca: pantas) diartikan bahwa kita boleh berbuat begitu (korupsi dan lain-lain) tapi jangan banyak-banyak (keterlaluan). Kita tidak menafikan jika bekerja di lingkungan yang basah kita ibarat montir. Walau sedikit, pasti baju kita akan terkena oli, dengan atau tanpa sepengetahuan kita. Akan tetapi, bukan berarti belum apa-apa kita sudah mengotori baju kita dengan oli, walaupun sedikit juga. Jika hal ini diwariskan secara terus-menerus, akan menjadi suatu pola kaderisasi pegawai ‘basah’ yang sistematis. Tradisi semacam ini jelas mempersulit upaya pembentukan
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

57

KOLOM
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang bersih. Menjadi semakin tidak mengherankan ketika survei menempatkan kita sebagai institusi paling korup seIndonesia.

Oleh: Nasruddin Djoko Surjono

PRIORITAS PEMBENAHAN
Sumber daya manusia sebagai penggerak sebuah organisasi, ketika keberadaannya terancam, menjadi prioritas utama hal yang harus dibenahi. Kita dapat belajar dari kegagalan Polri dalam menetapkan target 100 hari pemerintahan SBY kemarin. Polri ‘ditertawai’ publik ketika tidak mendahulukan pembenahan internal aparatnya dalam program tersebut. Dan menjadi kenyataan karena perubahan yang dialami Polri tidaklah substansial. Bea dan Cukai di era global akan lebih menonjol dalam peran trade facilitating -selain keseimbangan di sisi pengawasan-, mengingat meningkat pesatnya volume perdagangan antar negara. Dunia perdagangan membutuhkan prosedur kepabeanan yang cepat. Hal ini menghadirkan tuntutan bagi Bea dan Cukai untuk menampilkan kinerja yang profesional, transparan, sekaligus clean. Kesemua itu hanya dapat terwujud dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten pula. Di era global ini, tentu sudah tidak lucu lagi ketika perilaku kurang sesuai masih saja ditampilkan. Agenda pertama bagi DJBC sekarang ini adalah memutus mata rantai kaderisasi pegawai ‘basah’ sebagaimana tersebut di atas. Sedang kedua, DJBC harus menjaga dan mengarahkan pegawai baru, yang dalam kondisi ekstrem, menjadi satu-satunya harapan ke depan. Kemudian DJBC juga harus mengasumsikan bahwa pegawai baru adalah kertas putih, yang belum ternoda satu titik pun tinta. Ini diperlukan dalam upaya pembinaan mental selanjutnya. Adapun ketika dari input tersebut sudah dari sononya terpola hal yang kurang sesuai, dapat dilakukan penertiban secara tegas. Finaly, sekali lagi, era perdagangan bebas sudah di depan mata. Sesuatu yang mutlak harus direspon secara cermat oleh Indonesian Customs. Meski sekarang masih dapat disebut dalam kondisi terpuruk, menatap masa depan tetaplah sebuah kepastian. Viva Bea dan Cukai Indonesia!

Penegahan Narkoba:
MENGURANGI ATAU JUSTRU MENINGKATKAN KEJAHATAN ?
Pemerintah dalam menangani perang terhadap Narkoba seringkali melakukannya melalui peningkatan jumlah institusi ataupun PPNS, dan evaluasi keberhasilannya seringkali dilihat dari jumlah tangkapan Narkoba sebagai indikator kesuksesan. Apa dampaknya terhadap pasar gelap Narkoba? Ada tiga hal untuk menjawab masalah ini. Pertama adalah, apakah kurva permintaan pecandu narkoba ataukah supply Narkoba yang bergeser. Yang kedua, ke arah mana kurva tersebut bergeser dan yang ketiga, kita lihat pengaruh dari keseimbangan harga pasaran Narkoba. Meskipun tujuan penegahan Narkoba adalah mengurangi penggunaan Narkoba sehingga berdampak langsung pada si pembeli atau pemakai, ketika pemerintah menyetop peredaran Narkoba masuk ke wilayah pabean dan menahan penyelundup, akibatnya akan menurunkan jumlah pasokan Narkoba. Sedangkan permintaan Narkoba masih sama, akibatnya kurva supply akan bergeser ke kiri karena penangkapan tersebut, sehingga jumlah Narkoba berkurang dari J 1 ke J2 (lihat Gambar). Dan karena kelangkaan supply Narkoba ini, maka harga Narkoba akan naik dari H 1 ke H2. Hal ini menunjukan turunnya jumlah Narkoba akibat udul di atas bagi kita sebagai petugas Bea dan Cukai pasti akan dijawab mengurangi kejahatan. Namun bagi para ekonom judul di atas sebenarnya memuat paradoks dalam kebijakan publik. Tulisan ini didasari dari tinjauan teoritis sisi ekonomi yang kiranya menambah wawasan kita dalam melihat persoalan penanganan Narkoba di tanah air. Modus penggunaan Narkoba seperti Heroin, Ganja, Kokain, Ekstasi atau Pil Koplo dan sebagainya, tentu saja banyak sekali efek kerugiannya. Karena adanya unsur kecanduan Narkoba yang akan berdampak pada tindakan perampokan dan kekerasan dimana kejahatan ini dilakukan untuk mendapatkan uang guna memenuhi rasa “sakau” yang diderita oleh si pengguna. Untuk mengurangi peredaran Narkoba ini pemerintah telah mengeluarkan biaya jutaan mungkin miliaran rupiah. Ada hal yang menarik dari tulisan N. Gregory Mankiw dalam bukunya Principles of Economic mengenai masalah ini. Dia meninjaunya dengan model keseimbangan sederhana dari sisi supply dan demand akan permintaan Narkoba. Supply artinya penyediaan narkoba, dimana agen atau penyalur mengedarkan Narkoba sedangkan demand artinya permintaan oleh pecandu Narkoba tersebut.

J

Penulis adalah Pelaksana pada KPBC Kendari
WARTA BEA CUKAI

58

EDISI 377 APRIL 2006

banyaknya tangkapan yang terjadi. Namun, bagaimana dengan jumlah kejahatan yang terkait dengan Narkoba ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, perhatikan jumlah yang dibayar total oleh si pecandu. Karena jumlah pasokan Narkoba sedikit di pasaran maka mereka berupaya merubah kebiasaannya, mengingat harga Narkoba yang mahal. Sedangkan sifat barang Narkoba ini secara ekonomi disebut inelastic, artinya bagaimanapun tinggi harganya, meski kenaikannya tinggi sekali, perubahan harga ini tidak terlalu banyak merubah permintaan. Sehingga apa akibatnya? Dengan kenaikan harga akan menaikan pula total pendapatan pada pasar Narkoba. Karena harga yang tinggi ini, si pecandu menginginkan uang secara cepat dalam jumlah besar untuk memenuhi rasa ketagihannya, yang biasa dilakukan dengan cara kekerasan. Maka penegahan dilihat dari alur logika sisi ekonomi ini, justru berpeluang akan meningkatkan kejahatan yang terkait dengan Narkoba. Lantas, bagaimana caranya untuk menangani merebaknya Narkoba di tanah air. Beberapa analis berargumen melalui pendekatan lain dibanding dengan menangkap barang Narkoba. Mereka lebih menekankan melalui upaya pendidikan.

Upaya ini dipandang akan berdampak mengurangi demand atau permintaan pecandu. Berbeda dengan penangkapan barang Narkoba, melalui pendidikan Narkoba justru akan mengurangi baik penggunaan maupun kejahatan yang terkait dengan Narkoba. Namun bukan berarti kita sebagai petugas Bea Cukai berhenti dalam melakukan tugas penangkapan,

BAGAIMANA CARANYA UNTUK MENANGANI MEREBAKNYA NARKOBA DI TANAH AIR
karena di dalam ilmu sosial ada istilah paradoks yang berarti ada alasan yang mendukung, ada pula alasan yang berlawanan. Kita tentunya bisa berargumen bahwa efek kebijakan ini berbeda dalam jangka panjang atau jangka pendek, karena elastisitas permintaan tergantung dari jangka waktu. Permintaan Narkoba mungkin inelastis dalam jangka pendek, karena harga yang mahal tidak secara substantif berpengaruh pada penggunaan Narkoba. Namun permintaan Narkoba bisa jadi elastis

untuk jangka panjang, karena harga yang mahal akan mengurangi upaya coba-coba yang akan dilakukan oleh pemakai pemula. Sehingga mereka akan mengurangi kecanduan ini. Dalam kasus ini peningkatan penangkapan Narkoba akan meningkatkan kejahatan dalam jangka pendek namun akan menurunkan kejahatan tersebut dalam jangka panjang. Selain itupula kita bisa memakai alasan bahwa dengan penegahan Narkoba dan hukuman berat yang diberikan kepada pengedar Narkoba, serta dipublikasikan ke masyarakat, maka efek pemberitaan hukuman inilah yang akan menjadi bagian dari pendidikan ke masyarakat, akibatnya permintaan Narkoba akan berkurang karena unsur pemberitaan ini. Oleh karenanya, unsur publikasi menjadi penting sekali sebagai upaya mendidik, yang berarti penangkapan harus disertai pemberitaan, khususnya hukuman berat yang memberikan efek jera. Maka secara teoritis pula, penangkapan Narkoba selain menggeser kurva penawaran juga menggeser kurva permintaan bersama-sama.
* Nasruddin Djoko Surjono, S.T, M.Si. Pegawai pada Sekretariat DJBC, Saat ini sedang mengikuti program MBA, International Business, Ajou University, South Korea
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

59

RENUNGAN ROHANI

Korupsikah

Aku?

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat. 25:40)”

H

rumah-rumah dan ujung-ujung lorong. Tetapi sebagian ari Rabu tanggal 1 Maret 2006 umat Kristiani seluruh lainnya merasa risih dan beranggapan bahwa tema dunia memasuki masa Pra Paskah yang ditandai tersebut tak perlu ramai dibicarakan. Cukup kita aja yang dengan hari Rabu Abu. Dalam tradisi Ibrani, tahu. seseorang yang berduka atau dalam penyesalan berat Korupsi ternyata tidak melulu seperti yang kita pikir akan kesalahan atau dosanya, akan berkubang dalam selama ini. Menilik surat gembala dari KAJ, ternyata abu, menaruh abu di atas kepala dan mengenakan setiap manusia, sadar atau tidak sadar, berpotensi untuk pakaian yang sangat jelek dari bahan karung. Tradisi ini menjadi koruptor. Terlepas dari berbagai defenisi dan masih sedikit diadaptasi oleh umat Katolik dengan interpretasi, korupsi berkaitan erat dengan ketidakjujuran, mengenakan salib dari abu, pada hari Rabu Abu yang dapat muncul dalam perlbagai aspek kehidupan. menandai masa pertobatan. Tradisi boleh saja dipelihara. Berbagai praktek dan ritual keagamaan tidak ada salahnya dilaksanakan. Tetapi MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK CINTA jauh-jauh hari, sekitar 2000-an tahun yang lalu, Yesus Dalam pelbagai teks kitab suci, Allah banyak mengingatkan betapa berbahayanya tradisi tanpa menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya tindakan nyata. Kecenderungan dunia sekarang seperti relasi penuh kasih suami dan isteri. Kristus memperlihatkan bahwa hal-hal yang lahiriah, yang sebagai Kepala Jemaat bagi mempelaiNya, yaitu tampak dari luar, lebih banyak diutamakan. Berbagai umatNya sendiri yang tidak mungkin diceraikanNya. Allah kostum, penampilan, dan tradisi keagamaan -yang setia kepada umatNya. Bahkan ketika mempelaiNya kelihatan- ditonjolkan demi menarik simpati dan perhati(baca: umatNya) tidak setia, Allah tetap setia dengan an. Kita terkadang serta merta memcintaNya. Dalam kaitan dengan kasih berikan cap baik buruknya seseorang, setiaNya, Allah mengajarkan hukum hanya dengan melihat pakaian, ciri cinta kasih kepada sesama dan KORUPSIKAH AKU fisik, atau ketekunannya beribadah. Tuhan sendiri. Ternyata bagi kerajaan Allah semua Sebagai umat beriman, TERHADAP itu bukanlah yang utama. selayaknya kita menghayati pesan Yang terpenting adalah hati cinta ini. Manusia seharusnya menjadi KEJUJURAN DAN manusia. Kepada orang Yahudi yang pembawa pesan cinta Allah bagi alam KESETIAANKU terkenal sok taat aturan tetapi dan sesama. Perjalanan hidup kita mengabaikan kasih kepada sesama, seharusnya menjadi ungkapan cinta KEPADA TUHAN? Yesus mengecam, “Celakalah kamu, dan karya Allah. Adakah kita setia hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang menghayati pesan cinta Allah? Farisi, hai kamu orang-orang munafik, Korupsikah aku terhadap kejujuran sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, dan kesetiaanku kepada Tuhan? yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan KORUPSI DALAM KEHIDUPAN pelbagai jenis kotoran (Mat. 23 : 27).” Tampilan luar boleh Surat gembala KAJ menyoroti korupsi yang mungkin menarik, tetapi apakah hati kita sudah menarik bagi tidak akan pernah muncul di meja persidangan, ataupun Allah? dalam layar berita. Gaya hidup tidak jujur, pura-pura, Menyambut masa Pra Paskah 2006, Uskup Agung menipu, kepalsuan, penyelewengan dan penyalahgunaan Jakarta mengeluarkan surat gembala kepada umat adalah model korupsi yang telah kita nikmati bahkan Kristiani, khususnya umat Katolik di wilayah Keuskupan sejak kecil. Menyontek dapat terjadi sejak di bangku SD Agung Jakarta (KAJ). Surat ini lebih menekankan pada dan tidak berhenti bahkan ke pendidikan super tinggi self-correction dan pengendalian diri. Tema sentral surat sekalipun. Skripsi, ijasah dan gelar dengan mudah dibeli. tersebut adalah: Korupsikah Aku? Anehnya, tanpa merasa bersalah orang-orang Tema yang aktual sekaligus agak menyengat untuk menempelkan atribut akademik tersebut dengan bangga diangkat di masa sekarang ini. Bagi sebagian orang, ini dalam hidup sehari-harinya. Bahkan mendapatkan masa yang tepat untuk membicarakan korupsi secara penghasilan darinya. lebih terbuka, mulai dari kantor-kantor mentereng sampai Dalam dunia peradilan, perkara dapat diselesaikan
WARTA BEA CUKAI EDISI 377 APRIL 2006

60

mungkin diberi bantuan oleh negara. Ketidakadilan tanpa dasar kebenaran dan kejujuran, tetapi besar terhadap orang yang tidak beruntung, merupakan tidaknya uang yang disediakan pihak yang berperkara. penghinaan kepada Allah. Apakah aku termasuk orang Pertanggungjawaban keuangan memunculkan istilah yang tidak adil terhadap sesamaku yang papa? laporan fiktif dan mark up anggaran. Ada pula istilah Korupsikah aku? aspal, abs dan tst. Untuk melancarkan urusan, tak sedikit yang menggunakan pelumas..eh..pelicin. Sampai di tingkat perwakilan rakyat, tak sedikit yang KEPEKAAN NURANI menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya pribadi Dampak perilaku korupsi terhadap mental dan sikap maupun partai/golongannya. Dalam situasi demikian, orang begitu dalam sehingga sulit untuk diberantas; tetapi tanyalah diri kita; korupsikah aku? malah mudah menular ke bidang-bidang lain. Kuasa dosa Terhadap Tuhan, korupsikah aku? Dalam hubungan telah merasuk dan mencengkeram tatanan sosial. dengan Tuhan; pujian, hormat dan Berbagai usaha telah diupayakan bakti selayaknya dihaturkan sepenuhpemerintah dan berbagai lembaga nya bagi kemuliaanNya. Benarkah yang peduli dengan keselamatan dan PERTOBATAN DIMULAI demikian? Ataukah kita malah “selingkesejahteraan bangsa. Sulit memang, kuh” dan menghianati kesetiaan tetapi bukan pekerjaan yang mustahil. DARI DIRI SENDIRI terhadap Tuhan? Kenyataannya, perUntuk memberantas korupsi hatian dan kasih tidak sepenuhnya diperlukan Kuasa Allah dan usaha kita berikan kepada Tuhan. Masihkah kita meluangkan keras kita bersama. Doa, puasa, matiraga serta amal waktu untuk berdoa kepada Tuhan? Ataukah itu kita selama masa Pra Paskah sebaiknya kita persembahkan korupsi pula. untuk ujud doa memberantas korupsi. Marilah laku tapa Kita merasa selalu bersandar dan mengandalkan itu kita jadikan latihan rohani yang berkesinambungan Tuhan dalam segala aspek kehidupan. Tetapi kenapa untuk membangun kembali habitus, keadaban publik baru masih ada yang menyontek untuk memperoleh nilai baik, di atas dasar nilai kejujuran. Selama permenungan membeli ijazah palsu, menyogok untuk mendapatkan bersama ini, sebaiknya kita berusaha meningkatkan kedudukan. Mengandalkan Tuhan berarti setia dalam kepekaan hati nurani yang jujur. Jujur menilai diri sendiri jalan yang ditetapkanNya. Bukan hanya setia sepanjang dengan dituntun nilai-nilai agama yang luhur serta nilai jalan itu enak dan manis. Mengapa kita memilih tidak budaya dan Pancasila dalam terang iman. setia bila jalanan berbatu dan terjal? Korupsikah aku Pertobatan dimulai dari diri sendiri. Berhentilah dalam imanku kepadaNya? menilai dan mengadili perilaku orang lain. Sebagai utusan Korupsikah aku dalam pelayanan gerejawi? Ada untuk menjadi terang dunia, setiap kita sebaiknya segera banyak orang yang semata mendapatkan penghidupan bermenung, bermati raga memohon sikap mental yang dari pelayanan kepada publik. Apakah itu di gereja atau di lebih baik. dunia sekuler. Masalah muncul bila pelayanan kepada Korupsi membuat nurani kita kehilangan kepekaan publik dijadikan obyekan untuk mencari keuntungan terhadap cinta Allah dan sesama. Korupsi membuat kita pribadi. Bukan tidak mungkin, dalam pelayanan gereja kehilangan kepedulian dan kasih kepada alam dan juga muncul hal serupa. Pelayanan kita galakkan dengan mereka yang menderita. Sebagai manusia, kita pun akan motivasi mendapatkan perhatian, popularitas, posisi, tiba disuatu akhir yang sama, yaitu pengadilan terakhir. kepuasan pribadi, bahkan kekayaan. Saat itu, Tuhan tidak akan berbicara tentang segala Kita menghimbau orang yang beribadah, dengan ibadah dan tradisi, tetapi tentang seberapa peka hati mengatasnamakan kasih, untuk menyumbang demi nurani kita selama di dunia. Semoga adegan berikut tidak kepentingan tertentu. Pekerjaan kita sebagai alat untuk akan kita hadapi ketika Ia datang sebagai Sang Hakim melayani Tuhan sering dijadikan alat untuk memperkaya yang Maha Adil. diri dengan menghianati cinta Tuhan. Melalui karunia dan “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di berkat Tuhan bagi kehidupan kita, sebenarnya Tuhan pun sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu menitipkan hak-hak untuk orang lain di dalamnya. Tuhan orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal mengharapkan perhatian kita untuk orang-orang yang yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. kurang beruntung dalam kehidupan kita. Apakah kita Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; justru menutup mata dan terus mengeruk keuntungan ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika dengan mengabaikan hati Tuhan? Korupsikah aku? Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; Korupsikah aku terhadap keluargaku, terhadap komuketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; nitasku? Sudahkah aku memberikan hati dan perhatian ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat yang memadai? Memberikan waktuku cukup banyak? Aku” (Mat. 25 : 41-43). Selingkuhkah aku meski dalam taraf tipis-tipis? Cinta Hasrat korupsi karena nafsu keduniawian telah terhadap keluarga tidak dapat dikompromi hanya karena menumpulkan kepekaan nurani dan menjauhkan kita dari ingin mendapatkan pengalaman atau kepuasan lain di Tuhan. Untungnya Tuhan itu setia. Kebangkitan Tuhan luar rumah. Perhatian dan cinta Yesus mengalahkan maut merupakan seutuhnya adalah hak setiap anggota kekuatan tak terhingga untuk keluarga. Jangan dikorupsi dengan menolong kita mengalahkan nafsu KORUPSIKAH AKU memberikan porsi hidup kita keduniawian dalam diri sendiri. sebagian kepada hal-hal yang tak Panitia Paskah DJBC 2006, meDALAM IMANKU perlu. Jangan-jangan kita telah nyadari pentingnya kembali meningmengorupsi hak-hak keluarga kita. katkan kepekaan nurani umat di masa KEPADA-NYA? Korupsikah aku? sekarang ini. Untuk itu, perayaan PasPenyelewengan dan kealpaan kah DJBC yang akan diadakan pada dalam melaksanakan tugas merupakan bentuk korupsi. hari Sabtu, 22 April 2006 mengambil tema, “Kita tingkatPenyalahgunaan kekuasaan dalam penyelenggaraan kan kepekaan nurani dalam kebangkitanNya.” Semoga pemerintahan yang berdampak pada kemiskinan rakyat kesolideran Tuhan untuk menderita sebagai manusia banyak, merupakan korupsi terhadap hak-hak rakyat menolong kita untuk bangkit dari ikatan dosa, terutama sebagai warga negara. Perbaikan kesejahteraan pegawai dosa karena korupsi. Selamat hari Paskah 2006. negeri harus diperhatikan, demikian pula para buruh, PWK KP-DJBC petani dan nelayan. Mereka yang menganggur sedapat Sumber utama : Surat Gembala KAJ untuk masa Pra Paskah 2006
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

61

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

WBC/ATS

SURABAYA. Pada 21 Pebruari

2006 diruang Perpustakaan KWBC VII Surabaya dilakukan pelantikan pejabat eselon IV oleh Kakanwil VII Surabaya Zeth Likumahwa. Adapun yang dilantik antara lain Nurhatjo Budidananto menjabat sebagai Kasi Pabean IV Tipe B Pasuruan, Vita Budhi Sulistyo menjabat sebagai Kasi Tempat Penimbunan KPBC Perak, Endro Yuwono sebagai Kepala KPBC Tulungagung, dan Jaka Julianto sebagai Kasi Pabean dan Cukai I KPBC Tanjung Perak. Koresponden, Bambang Wicaksono

JAKARTA. Koperasi Kantor Pusat DJBC pada 16 Maret 2006 menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Aula Loka Muda lantai 5 Gedung B. Usai pembukaan RAT yang diikuti kurang lebih 184 pegawai, acara dilanjutkan acara persidangan dipimpin oleh Yusmariza untuk mengesahkan beberapa hal diantaranya pengesahan perubahan anggaran Dasar, mengesahkan laporan pengurus dan badan pengawas, mengesahkan program kerja tahun 2006 dan pemilihan pengurus periode 2006 – 2007. Usai pemilihan pengurus baru, acara pembagian 10 door prize. Seperti tampak pada gambar, Barid Effendy (mantan Ketua Koperasi periode 2004 – 2006) menyerahkan door prize utama sebuah televisi 14 inci kepada pegawai yang nomornya terpilih.
62
WARTA BEA CUKAI EDISI 377 APRIL 2006

WBC/ATS

JAKARTA. PCA Trainers Training ke-5 yang diselenggarakan pada 13 Pebruari 2006 (selama dua belas hari) di Hotel Park Lane ditutup oleh Kasubdit Verifikasi Drs. Sindarto Diwerno Putro pada 24 Pebruari 2006. Dalam acara penutupan tersebut dilakukan penyerahan sertifikat yang diserahkan oleh Sindarto Diwerno Putro kepada para peserta dari tujuh negara (gambar kiri). Juga dilakukan penyerahan cindera mata kepada tiga Instruktur dari JICA yang diserahkan oleh Kasubdit Kerjasama Internasional I Drs. Julius Johny Da Costa (gambar kanan), seperti tampak pada gambar.
FOTO : KIRIMAN

DENPASAR. Pada, 23 Pebruari 2006, bertempat di Aula KPBC Tipe A Ngurah Rai, kepala KPBC Ngurah Rai Drs. Adam Rudi Kembuan, MA melantik dan mengambil sumpah Desak Ketut Juniari C. sebagai pejabat Kasubag Umum KPBC Ngurah Rai yang baru. Acara ini dihadiri oleh pejabat eselon IV dan korlak di lingkungan KPBC Ngurah Rai, Kepala KPBC Benoa dan Kepala Bagian Umum Kanwil VIII DJBC Denpasar. Tampak pada gambar kiri Kepala KPBC Ngurah Rai membacakan naskah sumpah jabatan dan gambar kanan, pejabat yang dilantik. Adito Dps
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

63

PERISTIWA
WBC/ADI

RUNNER UP. Walau banyak menurunkan atlet junior, namun gelar runner up dapat diraih dikejuaran bergensi Sunan Kalijaga cup.

Inkado Korda Jawa Barat
RUNNER UP PIALA SUNAN KALIJAGA
Menurunkan atlet karateka pemula bukan berarti harus menerima apa adanya dalam pertandingan. Dengan keluar sebagai runner up di Piala Sunan Kalijaga, membuktikan kalau Inkado Korda Jawa Barat tetap diperhitungkan dalam setiap event pertandingan.

WBC/ADI

K

ejuaran karate senior dan yunior Sunan Kalijaga Cup ke VII di Yogyakarta, pada 3 hingga 5 Maret 2006 lalu, merupakan ajang pertarungan atlet karateka yang cukup bergengsi dan banyak diikuti oleh perguruan karate di seluruh Indonesia. Kejuaran yang berlangsung di gelanggang olah raga Among Rogo Yogyakarta, dan diselenggarakan oleh mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga ini, selain memperebutkan piala Sunan Kalijaga Cup juga sebagai ajang uji coba atlet karateka yang pada bulan April 2006 mendatang akan menghadapi kejuaran terbuka nasional Kasad Cup di Medan. Kejuaran yang dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Pakualam IX, diikuti kurang lebih seribu karateka dari 45 perguruan karate di seluruh Indonesia. Pada
WARTA BEA CUKAI

kejuaran kali ini, selain dipertandingkan atlet junior yang turun pada beberapa kelas, juga turut dipertandingkan para atlet senior. Dan pada pertandingan di kelas senior ini, mendapat perhatian yang cukup serius dari para perguruan karate, karena dijadikan sebagai ajang pencarian bibit untuk kejuaran nasional mendatang.

AJANG TRY OUT DAN PENCARIAN BIBIT BARU
Inkado Korda Jawa Barat yang diketuai oleh Agustinus Djoko Pinandjojo yang juga merupakan Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Soekaro-Hatta, dan mendapat bimbingan sekaligus dukungan penuh dari Kakanwil V DJBC Bandung, Djoko Wiyono, dan Direktur P2, Endang Tata, pada event kali ini

AGUSTINUS DJOKO PINANDJOJO. Cukup Puas dengan hasil pertandingan kali ini.

64

EDISI 377 APRIL 2006

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

menurunkan sekitar 50 atlet karateka junior dan senior, yang terlebih telah dahulu dilakukan seleksi pada 19 Februari 2006 di Dojo Pondok Gede. Menurut Agustinus, kejuaran kali ini adalah sebagai ajang try out untuk kejuaran nasional Inkado dan Kasad Cup pada bulan April mendatang,”Di sini kita juga akan menurunkan atlet junior yang sebelumnya tidak pernah mengikuti pertandingan, hal ini dimaksudkan agar kita dapat mencari bibit baru yang unggul, sehingga untuk regenerasi mendatang kita sudah tahu siapa-siapa saja atlet berbakat tersebut,” papar Agustinus. Harapan ini memang cukup terbukti di even Sunan Kalijaga Cup, pada hari pertama hingga hari kedua Inkado Jawa barat langsung memimpin perolehan medali. Perolehan ini menunjukan, kalau pembinaan dan pelatihan yang selama ini diberikan cukup membuahkan hasil. Di hari ketiga Inkado Korda Jawa Barat memang banyak mendapat perlawanan yang cukup berat, namun itu semua dapat dilalui kendati harus kalah di babak final. Dipertandingan the best of the best Putri, Inkado Korda Jawa Barat juga harus mengakui kekuatan lawan, perebutan gelar bergengsi yang hanya diikuti oleh empat karateka terbaik ini, Inkado Korda Jawa Barat harus puas diurutan kedua yang dikalahkan lawannya di babak final. “Hasil ini sudah cukup memuaskan, karena pada awalnya kami hanya mengirimkan karateka pemula namun kenyataan kami bisa menandingi lawanlawan dari seluruh Indonesia,” jelas Agustinus. Kejuaran yang ditutup oleh Purek III IAIN Sunan Kalijaga, Rustam Siregar, akhirnya dimenangkan oleh tuan rumah Yogyakarta yang keluar sebagai juara umum dengan perolehan medali, 4 emas, 1 perak dan 1 perunggu, dan sebagai runner up diraih oleh Inkado Korda Jawa Barat dengan perolehan medali, 3 emas, 3 perak dan 12 perunggu. adi

AKSI MOGOK
Organda di Pelabuhan
Kendaraan umum yang tidak dikenai PPN selain angsuspel adalah kendaraan yang berplat kuning dengan tulisan hitam.

H

ari itu (20/3) jalan-jalan menuju maupun dari pelabuhan Tanjung Priok terlihat sepi dari hilir mudik truk-truk pengangkut kontainer. Hal serupa juga terlihat di dalam kawasan pelabuhan. Beberapa awak angkutan khusus pelabuhan (angsuspel) tampak terlihat bergerombol di depan pintu pelabuhan mengenakan kaus hitam bertuliskan sudah kena pungli, kena pajak lagi. Sebagian juga tampak membentangkan spanduk sambil meneriakan yel-yel mengecam kebijakan SK Menkeu No. 527/KMK.03/2003 yang mengenakan PPN 10 persen pada angkutan umum. Para awak angsuspel tersebut memang sepakat untuk melakukan aksi mogok operasi pada hari itu. Sekitar 4500-5000 angsuspel yang tiap harinya beroperasi di pelabuhan Tanjung Priok sengaja menghentikan kegiatannya. Tak hanya di Tanjung Priok, tiga pelabuhan utama di Indonesia juga melakukan aksi serupa yakni Belawan, Tanjung Emas dan Tanjung Perak. Sore itu pun (20/3) WBC mencoba mengkonfirmasi hal tersebut pada Hendra Budhi, Humas PT. Pelabuhan Indonesia II. Hendra mengatakan bahwa yang melakukan aksi mogok atau tidak melaksanakan operasi adalah angsuspel yaitu truk-truk dan trailer khusus pengangkut kontainer. Para awak angkutan tersebut menuntut agar SK Menkeu tentang penerapan PPN terhadap angkutan umum lainnya dicabut. Akibat aksi mogok tersebut, distribusi barang keluar masuk pelabuhan pun terhenti. Sehingga dikhawatirkan terjadi penumpukan kontainer di lapangan penumpukan. “Jadi kalau lapangan penumpukan penuh, kita tidak bisa melaksanakan bongkar muat kapal artinya, kapal tidak bisa masuk ke sini,

itulah yang kita khawatirkan,” imbuh Hendra. Namun demikian untuk mengantisipasi pemogokan hari itu, pihak pelabuhan sudah mengantisipasi dengan mengosongkan lapangan penumpukan dan gudang dari barangbarang long stay. Dimana barang-barang long stay itu merupakan barang-barang yang sedang diproses dokumennya di Bea dan Cukai yang memerlukan waktu proses beberapa hari. Sehingga, barang-barang long stay tersebut pada sabtu (18/3) telah dipindahkan ke TPS-TPS (tempat penimbunan sementara) yang masih dibawah pengawasan Bea dan Cukai, yang letaknya masih disekitar pelabuhan atau berada diluar pelabuhan. “Artinya, secara hukum barang tersebut belum
WBC/ATS

HENDRA BUDHI. Pihak pelabuhan mengantisipasi aksi mogok tersebut dengan menyediakan lapangan penumpukan. EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

65

PERISTIWA
keluar pelabuhan tapi secara fisik saja yang berada diluar pelabuhan sebab clearancenya belum ada,” kata Hendra. Tujuan pengosongan lapangan penumpukan tersebut, tembah Hendra, selain untuk mengantisipasi pemogokan, juga karena pelayanan bongkar muat kapal harus tetap berjalan. Namun demikian, lapangan penumpukan tersebut memiliki kapasitas yang terbatas, sebab pada prinsipnya lapangan penumpukan hanya untuk tempat transit, bukan untuk penyimpanan, sehingga barang harus segera keluar dari pelabuhan. Selain menyediakan lapangan penumpukan, Pelindo II mengusahakan beberapa truk yang tidak tergabung dalam aksi mogok operasi tersebut, untuk mengangkut barang-barang konvensional seperti semen curah, CPO (crude palm oil) dan barang-barang general cargo yang tidak menggunakan peti kemas. Namun, karena ada kekhawatiran para pemogok ini akan menghadang truk-truk tersebut di pintu pelabuhan maka pihak pelabuhan mengerahkan seluruh keamanan yang ada, mulai dari KPLB, KP3, dibantu dengan Polres Jakut untuk mengamankan truk-truk yang akan membawa barang-barang konvensional tersebut. Jumlah personil pengaman yang diturunkan sekitar 120 orang. Hendra menjelaskan, dampak Sebenarnya aksi mogok tersebut bermula dari Organda (organisasi angkutan darat) yang keberatan atas pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen terhadap angsuspel sebagaimana ditentukan dalam keputusan Menkeu tersebut. Organda menekan pemerintah untuk mencabut keputusan tersebut dengan mengancam melakukan mogok operasi di empat pelabuhan utama di Indonesia. Sabtu (18/3), pemerintah pun setuju untuk merevisi SK Menkeu tersebut, yaitu menghapus PPN terhadap angsuspel. Namun pihak Organda tidak puas. Mereka meningkatkan tuntutannya agar secara keseluruhan keputusan tersebut dicabut karena bertentangan dengan PP No. 144 Tahun 2000. Oleh karena itu, Organda tetap mengancam melakukan aksi mogok di empat pelabuhan di Indonesia yang terjadi pada senin (20/3). Namun pada malam harinya (20/ 3) aksi pemogokan tersebut berakhir sekitar pkl. 21.00 WIB sebab pemerintah sepakat untuk merevisi SK Menkeu No. 527/KMK.03/2003 tentang Jasa di Bidang Angkutan Umum di Darat dan di Air yang Tidak Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai. Kesepakatan tersebut tercapai setelah pemerintah yang diwakili Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, Menteri PerhuWBC/ATS bungan (Menhub) Hatta Rajasa, bertemu dengan Ketua DPP Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Murphy Hutagalung. Menhub mengungkapkan revisi SK Menkeu No. 527/2003 mengacu pada UU no. 18/2000 dan PP No. 144/ 2000 tentang perpajakan, serta UU No. 14/ 1992 dan PP No. 44/1993 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. Sehingga, kendaraan atau angkutan umum yang tidak dikenai PPN adalah kendaraan yang berplat kuning dengan tulisan AKSI MOGOK DI PINTU KELUAR PELABUHAN TANJUNG PRIOK. Sekelompok awak angsuspel melakukan aksi mogok, memprotes hitam. ifa kebijakan pemerintah terhadap pengenaan PPN sebesar 10 persen pada angkutan umum.
WARTA BEA CUKAI EDISI 377 APRIL 2006

aksi mogok tersebut akan terjadi kongesti, yang artinya bukan hanya pelabuhan yang mengalami kerugian, tetapi juga perekonomian nasional. Mulai dari eksportir, importir, shipping line, tidak bisa melakukan aktifitas dipelabuhan. Demikian pula dengan pemilik barang maupun industriindustri tidak bisa mendapatkan pasokan barang. Tak hanya itu, masyarakat pun dirugikan. Pasalnya, barang-barang yang dibutuhkan masyarakat pun akan berkurang karena tidak adanya pasokan barang-barang tersebut. Untuk itu ia mengharapkan agar aksi mogok operasi tersebut segera berakhir dan angkutan bisa beroperasi kembali secara normal. Pihaknya sendiri belum bisa menghitung kerugian yang diderita akibat aksi mogok tersebut. “Tetapi kalau pelabuhan sudah tidak mampu lagi menampung kapasitas bongkar muat kapal maka pihak pelabuhan akan kehilangan pendapatan berupa pemasukan dari jasa tandu, jasa tunda, jasa labuh, dermaga, bongkar muat, gudang, lapangan penumpukan dan jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan milyar rupiah per hari” kata Hendra yang menambahkan, sejak aksi mogok dimulai, belum ada eksportir maupun importir yang mengeluhkan aksi tersebut, walaupun mereka sudah mengetahuinya.

TUNTUTAN ORGANDA TERPENUHI

66

SELAK
PENULIS. Beraksi pada saat menyelam di perairan pulau Shangyang

SCUBA DIVING,
Tak Kenal Maka Tak Sayang
ita sering melihat gambar, foto ataupun film tentang kehidupan bawah air yang sangat indah. Pemandangannya, terumbu karang, ikan-ikan hias dan beraneka makhluk air yang hidup, berada dalam satu ruang dunia, yaitu “bawah air”. Terbayang tidak bahwa kita bisa menikmatinya secara langsung semua itu dengan menyelam atau Diving? Mendengar kata menyelam, rasanya tidak semua orang bakal tertarik atau lebih tepatnya punya keberanian untuk mencobanya, apalagi kaum hawa.
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

K

67

SELAK
DOK. PRIBADI

IKAN-IKAN KECIL YANG SANGAT INDAH. Penulis kurang membekali diri dengan pengetahuan tentang makhluk-makhluk di dalam laut sehingga penulis hanya bisa menikmati tanpa tahu nama dan jenisnya.

Demikian halnya dengan penulis yang pada awalnya tidak terpikir akan berani mencoba olah raga selam. Terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar akan keindahan alam bawah laut dan kegemaran penulis berenang sejak kecil, akhirnya beberapa waktu yang lalu penulis memberanikan diri mengikuti Program Kursus dan Latihan Penyelam yang diadakan oleh Direktorat P2 khususnya Subdit Intelijen bekerja sama dengan Korps Marinir TNI AL. Latihan diikuti oleh lebih kurang 25 orang peserta pria dan penulis adalah satu-satunya pegawai wanita. Hampir seluruh peserta adalah pegawai di Direktorat P2 dibawah asuhan Heru Hariadi yang

sekarang menjabat sebagai Kepala Seksi Pangkalan Data, Sub Direktorat Intelijen yang juga merupakan penyelam senior. Program ini diikuti pula oleh penyelam dari kalangan artis yaitu Ira Maya Sopha, Putri Patricia, dan Rara Wiritanaya (Presenter acara ”Piknik” di satu TV swasta). Latihan dilaksanakan bulan Februari 2006 sampai dengan awal Maret 2006 meliputi PAP (Pengetahuan Akademis Penyelaman), LKK(Latihan Keterampilan Kolam), dan LPT (Latihan Perairan Terbuka). PAP (Pengetahuan Akademis Penyelaman) disampaikan di ruang rapat Subdit Intelijen. Dalam program PAP, diberikan pengetahuan tentang teori penyeDOK. PRIBADI

laman karena disamping menyelam merupakan aktifitas yang mengasyikkan dan menakjubkan, menyelam juga dapat menimbulkan resiko bila kita lakukan tanpa mengindahkan instruksi secara utuh dari instruktur. Oleh karena itu bagi calon penyelam harus memenuhi beberapa kemampuan dasar di air antara lain berenang sejauh 200 m nonstop, berenang sejauh 12 m di bawah air (apnea) serta 10 menit mengayuh di permukaan air (water trapen) tanpa bantuan alat. Dalam program PAP ini juga diberikan pengetahuan antara lain tentang resikoresiko yang mungkin timbul pada saat penyelaman. Resiko yang paling ringan adalah pengaruh perubahan tekanan saat turun dan naik terhadap rongga-rongga udara di tubuh yang dapat mengakibatkan squeeze dan pengembangan yang mengakibatkan luka pada jaringan tubuh apabila tidak terequalisasikan. Resiko yang lain adalah terbentuknya gelembung udara dalam sistem tubuh penyelam saat naik ke permukaan, dikenal sebagai penyakit dekompresi. Pada sesi teori ini dijelaskan bahwa kelengkapan alat menjadi ”sia-sia” apabila penyelaman tidak dilakukan sesuai prosedur. Seperti ada kecenderungan penyelam pemula yang panik apabila terjadi gangguan pada saat di kedalaman, dan ingin segera mencapai permukaan. Padahal hal ini berbahaya karena adanya resiko dekompresi. Pada sesi teori disampaikan bahwa kecepatan maksimal naik/turun pada saat penyelaman adalah 1 feet per detik. Namun resiko-resiko ini bisa diminimalkan jika dilakukan dengan menggunakan peralatan yang layak dan terawat dengan baik, berpegang pada ketentuan dan prosedur keamanan yang diberikan instruktur serta dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan yang relatif aman.

MENCOBA KOLAM RENANG
Dalam LKK (Latihan Keterampilan Kolam), terlebih dahulu dilakukan pengenalan alat-alat selam dan latihan menggunakannya. Kondisi lingkungan bawah air yang asing dan berbeda dibanding kondisi di darat membutuhkan peralatan khusus untuk mendukung gerak selama menjelajahi lingkungan perairan. Fin (sirip kaki), Masker, dan Snorkel digunakan untuk melakukan aktifitas selam di permukaan air yang dikenal dengan Skin Diving. Sedangkan jika ingin menyelam lebih lama di bawah air, peralatan kita tambah dengan menggunakan SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus) dan peralatan lainnya. Hal-hal inilah yang mewajibkan kita untuk melatih penyesuaian diri dan membiasakan diri dengan menggunakan peralatan khusus tersebut di bawah air. LKK dilakukan sebanyak 5 kali, 3 kali dilaksanakan di Kolam Renang Bojana Tirta dan 2 kali di Kolam Renang Senayan. Sebelumnya penulis mengira menggunakan masker dan snorkel adalah hal

DI ATAS KAPAL. Tampak Heru Hariadi (baju putih berkaca mata) berdiri, sementara di sebelah kanan berbaju hitam, Ira Maya Sopha, dan di atas Putri Patricia yang sedang merekam.

68

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

yang sepele dan gampang. Tapi setelah penulis mencoba menggunakannya ternyata tidak semudah yang kita lihat karena harus membiasakan mengambil dan membuang nafas melalui mulut. Air masuk melalui hidung beberapa kali terjadi, tetapi setelah mulai terbiasa, hal itu tidak terjadi lagi. Setelah itu kami diwajibkan untuk bisa membongkar dan merangkai kembali peralatan dasar Scuba Unit yang terdiri dari BCD (Bouyancy Compensator Device), Tabung Scuba dan Regulator. Setelah tahap itu kami kuasai, barulah kami berlatih menyelam dengan menggunakan peralatan Scuba. Karena sudah terlatih menggunakan snorkel, penyelaman dengan peralatan Scuba tidak terlalu membutuhkan penyesuaian yang agak lama. Masalah timbul pada saat kami harus belajar membersihkan masker (masker cleaning) di dalam air sambil menyelam. Masker Clearing diperlukan karena masker akan mendapatkan tekanan hidrostatis saat menyelam dan juga lama kelamaan kaca masker menjadi berembun sehingga akan mengganggu pandangan bila tidak dibersihkan. Oleh karenanya kami harus meng-equalisasi-kan. Caranya dengan membuka sedikit bagian atas masker sehingga terisi air untuk kemudian dihembuskan dengan hidung. Lagi-lagi karena belum terbiasa, air masuk melalui hidung. Perlu berlatih beberapa kali agar terbiasa melakukannya. Setelah tahap ini penulis mulai merasa enjoy melakukan penyelaman, tapi ini baru di kolam, belum di laut lho! Dalam latihan menyelam ini kami diajarkan juga bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dalam air dengan sesama rekan penyelam, antara lain bagaimana bila kita kehabisan udara meminta sharing udara dengan rekan kita (buddy breathing).

MASUK KE LAUT
Puncak dari seluruh rangkaian latihan menyelam ini adalah LPT (Latihan Perairan Terbuka) yang dilaksanakan

pada 4 Maret 2006 di pulau Shangyang, Anyer. Perjalanan menuju pelabuhan Shangyang ditempuh dengan menggunakan dua bus. Suasana senang dan ceria mewarnai perjalanan kami karena tak sedikit teman-teman yang sepanjang perjalanan bercanda dan bernyanyi. Apalagi rekan-rekan penyelam dari kalangan artis bergabung bersama dan ternyata mereka lucu dan kocak lho! Dari pelabuhan ke pulau Shangyang ditempuh dengan kapal kecil selama kurang lebih 45 menit. Perjalanan ini tidak terasa lama karena dilakukan sambil kami mempersiapkan peralatan menyelam yang akan digunakan. Suasana di kapal tak kalah serunya dibanding dengan perjalanan darat sebelumnya, penuh canda dan tawa. Sesampai di lokasi yang dimaksud, kapal kemudian berhenti dan sebelum menyelam kami semua diwajibkan berenang dengan menggunakan fin, masker dan snorkel di permukaan laut. Hal ini dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan kondisi air laut yang berbeda dengan air kolam. Pertama berenang di laut mata kami terasa pedih, tapi lama kelamaan terbiasa dan tidak pedih lagi. Akhirnya di bawah bimbingan Heru Hariadi dan instruktur dari marinir, kami satu persatu masuk ke laut lengkap dengan peralatan selam kami. Untuk penyelaman pertama ini, kami turun ke laut dengan dibantu tali sebagai petunjuk arah. Perasaan tegang sempat dirasakan oleh penulis, teori yang diajarkan serasa di luar kepala -dalam arti harfiah, alias lupa- tetapi setelah penulis bisa menyesuaikan dengan kondisi tekanan udara dalam laut dengan cara sesering mungkin melakukan equalisasi (menyamakan tekanan) yaitu dengan menutup hidung sambil menelan, perasaan tegang itu sedikit demi sedikit hilang dan berubah menjadi excited karena kami bisa melihat langsung pemandangan di dasar laut yang sangat indah. Kalau kita menyelam dalam kolam, kita masih bisa melihat dinding pembatas
DOK. PRIBADI

kolam dan hanya bisa melihat rekan sesama penyelam. Tidak demikian halnya bila kita menyelam di laut. Kita menyelam diiringi ribuan ikan kecil yang berwarnawarni, bisa melihat tumbuhan laut, terumbu karang dan binatang laut yang lain tanpa ada dinding pembatas. Sesekali kita menyelam naik untuk menghindari karang yang kemungkinan bisa melukai anggota badan kita. Bila dirasa aman kita turun kembali, begitu seterusnya, serasa terbang di sebuah akuarium raksasa tanpa batas. Sayang, penulis kurang membekali diri dengan pengetahuan tentang makhluk-makhluk di dalam laut sehingga penulis hanya bisa menikmati tanpa tahu nama dan jenisnya. Untuk penyelaman berikutnya penulis akan banyak mengumpulkan referensi tentang jenis-jenis tumbuhan dan binatang yang ada di laut agar bisa melihat, menikmati serta tahu nama dan jenisnya. Tidak terasa kami telah menyelam pada kedalaman 17,5 meter dan telah memakan waktu 30 menit. Karena instruktur telah mengacungkan satu ibu jari ke atas sebagai isyarat untuk naik ke permukaan, kami pun dengan perlahan satu persatu naik dan mengakhiri penyelaman sesi pertama untuk digantikan kelompok berikutnya. Kami kemudian beristirahat untuk makan dan persiapan penyelaman sesi kedua. Pada penyelaman sesi kedua juga dilaksanakan dengan lancar dan tak kalah menakjubkan dibanding penyelaman pertama. Ditambah lagi, lancarnya penyelaman perdana sebelumnya makin membuat kami pede, sampai bisa ada acara foto-foto di kedalaman laut. Akhirnya senja datang, kami pun berganti pakaian dan berkemas-kemas. Sore itu kami pulang dengan perasaan puas serta satu perasaan yang mungkin dirasakan oleh semua yang pernah menyelam yaitu keinginan untuk kembali menyelam di lain kesempatan alias ”ketagihan”. Menyelam lagi? Siapa takut ????!!!
DOK. PRIBADI

Zulaikhah A, pegawai pada Subdit Intelijen Dit. P2

Terumbu Karang

Giant Clamp EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

69

RUANG KESEHATAN

MENGOMPOL PADA ANAK
nak saya laki-laki (7 tahun) masih memiliki kebiasaan mengompol. Setiap bangun tidur entah itu tidur siang atau tidur malam bangunnya selalu mengompol. Yang ingin saya tanyakan apa langkah-langkah atau saran yang benar untuk mengatasi anak kencing saat tidur. Lantas apakah ada makanan pemicu hingga anak mengompol ? Apakah ini bisa disembuhkan ? LINDA – Bandung

MENGHENTIKAN KEBIASAAN

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

A

Rutin anak dibawa untuk buang air kecil sebelum waktu tidur. l Membangunkan anak tengah malam untuk kencing. Tapi hal ini sering kurang efektif karena anak tetap mengompol bila lupa dibangunkan. l Membatasi minum sebelum tidur. l Latih anak untuk menahan kencingnya. Latihan dilakukan waktu siang hari. Bila merasakan keinginan untuk kencing anak harus coba menahannya untuk beberapa menit. Waktu penahanan ini makin diperlama sehingga bisa mencapai 45 Jawab: menit. Banyak anak yang Ibu Linda, biasanya anak berhasil berhenti mengompol berhenti mengompol diusia antara 3 dengan cara ini. – 6 tahun. Mengompol di tempat tidur dikatakan l Pemberian tanda masalah bila sudah bintang bila anak tidak TIPS MELATIH ANAK BUANG AIR melampaui umur 6 tahun mengompol pada (TOILET TRAINING) atau mengompol lagi kertas catatan khusus setelah ± 6 bulan tidak yang dibuat untuk itu. nak balita dapat mengontrol Buang Air Kecil (BAK) mengompol. Pada usia 5 Ini akan mendorong dan Buang Air Besar (BAB) bila sudah ada tahun sekitar 1 dari 10 anak melihat sendiri kematangan psikis juga merupakan gambaran anak masih mengompol perkembangan dirinya proses kemandirian anak. Dalam hal ini, orang tua tidak dan lebih sering terjadi sekaligus merasa dapat mempercepat proses pematangan psikis ini, tapi pada anak laki-laki. diperhatikan dan dapat membantu memberi percaya diri dan dorongan Mengompol dapat dorongan oleh orang pada anak untuk melalui proses ini. disebabkan oleh : tuanya. Bila dalam pelatihan ini belum berhasil, biarkan l Lambatnya l Cara terbaru yang paling sampai si anak mau mencoba lagi. Jangan dipaksa atau pematangan syaraf efektif adalah memakai dimarahi, harus ada rasa nyaman (rileks) baik pada anak pengontrol kandung alas kasur khusus yang ataupun orangtua. Sering beri pujian pada anak untuk kemih pada anak. mengandung benda keberhasilannya, jangan mengingatkan pada Biasanya ada riwayat logam tertentu/detector kesalahannya, karena ketegangan akan memperlambat keluarga yang yang dihubungkan proses kemandiriannya. mempunyai keluhan dengan alarm. Bila alas l Perhatikan tanda bila Balita anda merasa tidak yang sama. tersebut basah maka nyaman pada saat BAK atau BAB di celananya. Pada alarm akan bunyi l Adanya penyakit lain saat itu anak sudah mulai sedikit menahan BAK/BAB sehingga anak yang melatar nya. Mulai latih anak untuk ke WC. Jangan terbangun kemudian belakangi seperti; memaksakan anak untuk menggunakan toilet (tempat kencing dan tidur lagi infeksi saluran pembuangan) bila anak belum siap. Secara bertahap setelah mengganti alas kencing, penyakit gula anak akan mampu mengkontrol BAK/BAB lebih lama kasur yang basah. dan lain-lain. pada saat itu anak sudah dapat dilatih mengenal dan l Ketegangan psikis l Yang terakhir adalah menggerakan toilet. yang dialami anak. dengan obat-obatan l Dorong anak untuk menggunakan toilet, jangan dipaksayang diberikan oleh kan. Juga jangan kecewa dan marah bila kadang terjadi Bila dari hasil dokter. insiden/kecelakaan anak tidak mau menggunakan toilet. pemeriksaan dokter tidak l Jangan ragu menggunakan celana sekali pakai bila anak ditemukan penyebab oleh Masalah mengompol ini masih belum bisa mengatur BAK/BAB nya. Bila belum penyakit lain maka perlu dapat disembuhkan bila berhasil, biarkan anak sampai mau mencoba lagi. dipikirkan penyebab penyebabnya sudah dapat psikologis seperti diatasi. Mudah-mudahan Celana yang kering pada pagi hari selama beberapa hari perpecahan keluarga dengan kesabaran dan menggambarkan bahwa anak sudah dapat mengkontrol. karena perceraian, kasih sayang ibu saranKurang bijaksana bila anak minum terlalu banyak sebelum kematian, perpisahan saran ini dapat membantu tidur dan banyak anak tertolong untuk tidak mengompol bila dengan Ibu untuk jangka mengatasi masalah yang orangtua membiasakan BAK sebelum tidur. waktu sekurangnya 1 dialami putra ibu.
l

bulan, kelahiran adik, kurang perhatian, perawatan di rumah sakit yang lama dan berulang, situasi baru (sekolah baru, teman baru) dan lainlain. Untuk makanan, saat ini belum ada bukti sebagai penyebab meningkatnya frekuensi mengompol. Faktor yang sangat penting untuk menghentikan kebiasaan anak mengompol adalah dengan kesabaran, dorongan dan pujian. Berkomunikasi dengan anak dapat membantu mencari kekhawatiran apa yang menjadi pencetus anak mengompol. Ada berbagai saran untuk mengatasi masalah mengompol tapi hasilnya sangat individual, antara lain :

A

70

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

KEPABEANAN INTERNASIONAL

Mr. Michele Danet
SEKRETARIS JENDERAL WCO

”SAFE

Akan Diwujudkan Dalam Kegiatan Capacity Building yang Berkelanjutan”

Framework,

Dalam rangka memperingati Hari Kepabeanan Internasional yang ke-56 pada 24 Januari 2006, redaktur WBC, Aris Suryantini, berkesempatan mewawancarai Sekretaris Jenderal (Sekjen) World Customs Organization (WCO) Mr. Michel Danet secara tertulis via e-mail. Wawancara ini baru dapat ditampilkan pada edisi kali ini karena jadwal kegiatannya yang sangat padat sehingga jawaban baru dapat Redaksi terima pada 28 Februari 2006. Dalam jawabannya, ia mengatakan, sektor keamanan merupakan sektor yang tidak dapat dipisahkan dengan tugas utama administrasi pabean yaitu melakukan pungutan untuk pendapatan negara, memerangi penyelundupan dan fasilitasi perdagangan, mengingat ketiga hal tersebut tidak akan tercapai jika keamanan tidak terjamin. Disampaikan juga, perkembangan dunia yang sangat cepat merupakan tantangan yang harus dihadapi administrasi pabean seluruh dunia untuk tetap dapat menjaga distribusi perdagangan Internasional. Berikut hasil wawancara yang telah diterjemahkan.
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

71

KEPABEANAN INTERNASIONAL
Apa yang menjadi tantangan WCO dimasa mendatang ? Saat ini ruang lingkup dalam permasalahan perdagangan internasional memberikan suatu tantangan tersendiri. Dalam hal ini bagi WCO yang paling penting adalah menciptakan keamanan pada rantai suplai perdagangan terhadap potensi ancaman tindakan terorisme, meningkatnya organisasi kriminal yang sifatnya transnasional, maraknya peniruan dan pembajakan produk yang diperdagangkan dan beberapa kegiatan ilegal lainnya yang memiliki dampak perkembangan sosial ekonomi berbagai negara di seluruh dunia. Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut serta tuntutan untuk keberhasilan tindakan yang terkoordinasi, dewan WCO mengadopsi standar kerangka kerja untuk pengamanan dan fasilitasi perdagangan global selama bulan Juni tahun 2005, yang sekarang dikenal dengan nama “WCO SAFE Framework” Tantangan lain bagi organisasi WCO adalah meyakinkan bahwa institusi kepabenan ada pada posisi untuk merespon secara efektif mengenai situasi perdagangan saat ini maupun situasi perdagangan di masa yang akan datang, seperti menjaga hal-hal yang diperlukan dalam rangka menyeimbangkan antara keamanan secara keseluruhan yang dirasa perlu dengan kebutuhan fasilitasi masuknya barang melalui gerbang kepabeanan. WCO memastikan hal ini akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan dengan memberikan bantuan kepada administrasi pabean di seluruh dunia untuk membangun kemampuan yang berkesinambungan. Bisa anda sampaikan mengenai program-program yang akan dilaksanakan oleh WCO pada tahun 2006 ini? Untuk masalah ini WCO akan menitikberatkan pada dua isu utama selama tahun 2006 yang kami sebut dengan implementasi kepada dunia mengenai pelaksanaan “SAFE Framework”, dan aksi global untuk melawan penjiplakan dan masalah pembajakan. “SAFE Framework” akan diwujudkan dalam kegiatan Capacity building yang berkelanjutan. Sementara itu inisiatif mengenai capacity building lebih dikenal dengan dengan nama Columbus Programme. WCO saat ini dalam proses untuk menentukan kebutuhan akan capacity building pada administrasi kepabeanan yang telah menyampaikan keinginan untuk melaksanakan standar kerangka kerja. Lebih lanjut kami juga melakukan koordinasi dengan pemberi donor dan masalah pembiayaannya. Diawali dengan rencana pelaksanaan 72
WARTA BEA CUKAI

implementasi dan melakukan pengamatan lebih lanjut mengenai isuisu teknis yang berhubungan dengan dengan konsep kewenangan operator ekonomi dan saling mengakui. Hal ini juga menjadi perhatian kami untuk meyakinkan dan membantu administrasi pabean yang masih belum sepakat untuk membuat kesepakatan dalam melaksanakan kerangka kerja Berdasarkan petunjuk deklarasi G-8 pada Juli 2005, penting untuk dilaksanakannya aksi internasional untuk memerangi masalah penjiplakan dan pembajakan. WCO telah membuat suatu satuan tugas Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) yang memusatkan perhatiannya pada pelanggaran yang dilihat dari sudut pandang global. Satuan tugas ini sepakat bahwa standar pelaksanaan dilakukan secara global untuk memerangi penjiplakan dan pembajakan yang harus dikembangkan dari pengalaman Internasional dalam menangani hal tersebut. Kemudian mengembangkan sarana komunikasi yang ada dan

sifatnya tidak bisa ditawar-tawar lagi. Masalah keamanan ini berhubungan dengan fungsi utama dari institusi Kepabeanan yang saya sebutkan tadi. Bagi anggota administrasi Kepabeanan yang mengadopsi dan menjalankan standar kerangka kerja WCO, dengan sendirinya berhubungan dengan peningkatan kesadaran pelaksanaan suatu rezim peraturan seperti biasanya, seperti, melakukan pungutan penerimaan negara, dan tugas utama lainnya seperti yang disebutkan tadi. Beberapa bagian dari hal yang disebutkan tadi akan menghasilkan suatu peningkatan kewaspadaan, seperti beberapa hal-hal yang dilakukan oleh importir yang mengharuskan peningkatan kewaspadaan pada institusi Kepabeanan, dan beberapa hal pada peningkatan sistem dan perlengkapan, yang dihasilkan dari dukungan WCO dan juga para donor untuk membangun peningkatan kapasitas institusi kepabenan untuk melaksanakan secara menyeluruh implementasi dari “SAFE Framework”tadi Masalah keamanan tadi tercermin pada “Frame work of standard to secure and facilitate global trade” Bisa anda jelaskan hal tersebut? Dan apa yang harus dilakukan oleh para anggota WCO untuk mendukung program tersebut? Menurut saya, kerangka kerja tersebut dibuat sebagai standar untuk diterapkan secara global, berhubungan dengan keamanan pergerakan kargo suatu kapal yang sejalan dengan rantai perdagangan. Untuk itu dibutuhkan berbagai perlengkapan vital elektronik untuk mengidentifikasi dan melacak informasi suatu kargo mengenai ketepatan kedatangan. Informasi ini harus tersedia antara institusi pabean dengan institusi pabean lainnya dan antara pihak pengusaha dengan pihak pabean. Dalam hal ini, tanggapan dari anggota WCO sangat postif dan mereka sangat semangat untuk segera menjalankan SAFE Framework tadi. Mereka sangat mendukung dan bersedia untuk menjalankan program SAFE tadi. Tapi masih ada kekurangan dalam kapasitas implementasi secara keseluruhan. Namun ini akan dapat ditanggulangi dengan adanya bantuan yang prosesnya dilakukan, baik secara langsung oleh WCO sendiri maupun juga oleh para donor yang bekerja sama dengan WCO. WCO tidak dapat membangun kapasitasnya secara langsung tapi dengan bantuan para anggota untuk mengidentifikasi perkembangan yang ada dan saran yang ditujukan untuk membahas masalah ini Saat ini ada suatu hal yang manarik yaitu mengenai Capacity Building di

“WCO mendefinisikan capacity building sebagai “suatu kegiatan yang ditopang dengan kemampuan pengetahuan yang tinggi, keterampilan dan sikap individu...”
berkaitan dengan HaKI pada institusi Kepabeanan, dan juga memperhatikan empat isu yang berkaitan dengan HaKI seperti kekuatan kontrol ekspor, kemajuan dalam bidang pengontrolan di zona bebas, penyelesaian penyitaan barang yang inovatif dan memerangi kejahatan internet. Satuan tugas ini akan terus menjalankan tugasnya. Pada Desember tahun 2005 yang lalu, komisi kebijakan sepakat bahwa untuk isi “SAFE framework” harus disiapkan untuk dapat menghadapi isu perang terhadap penjiplakan dan pembajakan. Masalah keamanan menjadi strategi perhatian WCO beberapa tahun ini, lalu bagaimana hubungannya dengan tugas administrasi kepabeanan yang sifatnya utama seperti sebagai alat penerimaan negara, memerangi masalah penyelundupan dan sebagai fasilitasi perdagangan? Peningkatan keamanan berhubungan dengan rantai perdagangan yang

EDISI 377 APRIL 2006

institusi Kepabeanan. Lantas sejauhmana pentingnya capacity building bagi anggota WCO? WCO mendefinisikan capacity building sebagai “suatu kegiatan yang ditopang dengan kemampuan pengetahuan yang tinggi, keterampilan dan sikap individu melaksanakan struktur institusi dan prosesnya. Dengan hal ini institusi Kepabeanan dapat secara efisien menemukan misi dan tujuannya secara berkesinambungan”. Termasuk didalamnya memperluas kapasitas administrasi pabean secara berkesinambungan. Berkesinambungan disini artinya, administrasi Kepabeanan membangun kapasitas baru dan menjaga perkembangannya untuk dapat dirasakan dimasa yang akan datang dengan berbagai keterbatasannya, baik dengan atau tanpa adanya bantuan dari luar. Capacity building merupakan suatu tantangan bagi anggota WCO terutama dari negara-negara berkembang dalam mencapai tujuan menjadi suatu administrasi Kepabeanan yang modern dan tentunya memperoleh keuntungan dari berbagai bidang seperti kemajuan perdagangan internasional dan investasi. Lalu bagaimana strategi WCO dalam rangka capacity building ini? Strategi WCO dalam hal ini sangat luas dan komprehensif dimana seluruh aspek dari administrasi kepabenan dipakai sebagai pertimbangan. Strategi ini berdasarkan berbagai hal seperti; kebutuhan diagnosa yang akurat mengenai kebutuhan akan capacity building bagi negara berkembang; kebutuhan akan komitmen dan political will yang tinggi untuk menjalankannya; kebutuhan untuk mencapai kerjasama, kebutuhan akan rasa memiliki yang tinggi dan partisipasi aparat kepabeanan, kebutuhan akan pelaksanannya bagi pemerintah dan harapan para donor, dan kebutuhan akan sumber daya manusia dan sumber pembiayaan untuk dapat menjalankan inisiatif dari capacity building Baru-baru ini adopsi standar WCO SAFE Framework menajamkan fokusnya dan meningkatkan perhatiannya pada capacity building. Inisatif Capacity building pada WCO adalah untuk menunjang SAFE Framework atau dinamakan dengan Program Columbus, yang bertujuan untuk menyampaikan kepada para anggota yang tersebar di seluruh dunia dan mengkoordinasikan peran yang berdampak pula pada penyebaran informasi. Berkaitan dengan capacity building, kami mendengar WCO membuat

suatu Direktorat baru yang khusus menangani masalah capacity building. Lantas apa saja yang akan dilakukan oleh Direktorat baru ini? Direktorat Capacity Building di WCO dipimpin oleh direktur yang sudah terpilih yaitu Mr. Lars Karlson, pejabat Kepabeanan dari Swedia, Direktorat ini akan mengatur dan mengkoordinasikan WCO khususnya yang menyangkut proyek capacity building diseluruh dunia. Pada intinya , direktorat ini akan bertanggung jawab untuk mengatur proyek program Columbus. Sedangkan inisiatif capacity building di WCO bertujuan untuk membantu implementasi dari standar SAFE Framework. Lalu apa yang harus dilakukan oleh anggota WCO untuk membantu program dari Direktorat Capacity Building ini? Bagi para anggota sangat terbuka untuk memberikan kontribusinya baik dalam segi sumber daya manusia maupun juga dalam hal pembiayaan untuk membantu direktorat ini jika mereka dalam posisi di direktorat tadi. Sedangkan bagi anggota yang berasal dari negara berkembang yang membutuhkan ini dapat melengkapi dan menyampaikan mengenai pentingnya kebutuhan capacity building bagi mereka Tentunya ada tantangan dalam menjalankan program ini. Bisa Anda diceritakan tantangan tersebut? Dari penilaian saya, WCO berada pada posisi yang tepat untuk memimpin secara detail tentang pelaksanaan program yang telah dilakukan oleh para individu anggota WCO. Disamping itu juga membantu para anggota untuk menghasilkan kerangka bisnis dalam proyek capacity building. Dan selanjutnya administrasi Kepabeanan suatu negara telah sepakat membantu secara substansi untuk mendukung program capacity building yang dicetuskan oleh WCO. Secara umum, koordinasi yang efektif merupakan tantangan bagi para stakeholder Kepabeanan. Tantangan yang dihadapi adalah meyakinkan para anggota WCO untuk turut bertanggung jawab dalam melaksanakan strategi manajemen bagi kepentingan mereka, baik yang dilakukan sendiri maupun dukungan dari luar. Tema yang diusung oleh WCO pada Hari Kepabeanan Internasional tahun ini adalah mengenai keamanan, bisa Anda ceritakan mengapa tema tersebut dipilih oleh WCO? Tema tersebut dipilih mengingat hal ini menjadi keputusan yang diambil dewan WCO dengan suara bulat pada saat mengadopsi SAFE Framework of standard to secure and facilitate global

trade pada Juni 2005 di Brussels. Dewan memutuskan bahwa hal tersebut merupakan suatu hal yang harus dihadapi oleh administrasi kepabeanan di seluruh dunia. Hari Kepabeanan Internasional merupakan kesempatan yang baik untuk memperkenalkan dan menjelaskan “SAFE Framework” dan program Columbus yang juga diusung oleh WCO, hal ini disampaikan bukan hanya untuk kepentingan administrasi pabean tapi juga para pemegang keputusan politik, sektor swasta dan juga tentunya media massa. Apa harapan anda kepada para anggota WCO dalam rangka Hari Kepabeanan Internasional? Saya yakin seluruh anggota WCO akan mengatur dan menjalankan keamanan perdagangan mereka dan sudah pasti akan sejalan dengan semangat isi standar Framework yang saya sebutkan tadi. Dalam hal ini, para anggota harus mendukung dan bekerjasama dengan para stakeholder seperti yang ada pada “SAFE Framework” yaitu kerjasama antara administrasi pabean maupun antara administrasi pabean dengan sektor swasta. Kegiatan bisnis yang aktif akan mendukung institusi kepabeanan untuk menjaga perdagangan internasional yang mengacu pada keuntungan fasilitas kepabeanan. Apa yang dilakukan oleh WCO dalam rangka merayakan hari Kepabeanan Internasional ? Sekretariat WCO mengundang seluruh duta besar yang mewakili negara anggota WCO dan beberapa tamu undangan lain untuk menghadiri pertemuan yang membahas mengenai implementasi Framework standard oleh para anggota WCO dari seluruh dunia. Pertemuan ini merupakan bagian dari kampanye WCO untuk secara aktif mempromosikan program kami tadi. Pertemuan ini akan ditindaklanjuti dengan memperkenalkan program Columbus yang diusung WCO. Bagaimana menurut anda Bea dan Cukai Indonesia dalam hal capacity building-nya? Dalam hal ini, WCO bersedia dan siap membantu Bea dan Cukai Indonesia mengenai kebutuhan capacity building-nya. Ada hal lain yang ingin anda sampaikan kepada para pembaca Warta Bea Cukai yang notabene kalangan pegawai Bea dan Cukai Indonesia ? Saya rasa bahwa setiap petugas Kepabeanan di seluruh dunia harus mendukung prinsip integritas dan good governance serta aktif untuk menjalankan kedua prinsip tadi dalam menjalankan tugas sehari-harinya.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

73

Proxy Server
Salah satu cara untuk meningkatkan kecepatan akses Internet adalah dengan memanfaatkan sistem proxy server. Yaitu, server yang beroperasi antara komputer client dan sebuah aplikasi online, misalnya web browser. Server tersebut akan mencegat seluruh request data menuju Internet yang datang dari komputer client, untuk melihat apakah ia dapat memenuhi kebutuhan data tersebut.

INFORMASI KEPABEANAN & CUKAI

J

ika Anda memiliki jaringan lokal (Local Area Network) yang terdiri dari beberapa komputer, Anda dapat memanfaatkan sebuah komputer server, khusus untuk menjalankan aplikasi proxy. Jadi, setiap komputer di jaringan Anda yang mencoba untuk mengakses Internet akan dipenuhi kebutuhannya oleh proxy server tersebut tanpa hubungan langsung antara komputer client dengan Internet. Teknik proxy adalah teknik yang standar untuk akses Internet secara bersama-sama oleh beberapa komputer sekaligus dalam sebuah Local Area Network (LAN) melalui sebuah modem atau sebuah saluran komunikasi. Istilah Proxy sendiri banyak dikenal dan digunakan di dunia diplomatik. Secara sederhana proxy adalah seseorang (lembaga) yang bertindak sebagai perantara atau atas nama dari orang lain (lembaga / negara lain). Dalam teknologi informasi, proxy cukup diartikan sebagai perantara saja. Teknik proxy dikenal dengan beberapa nama yang ada di pasaran, misalnya: l Internet Connection Sharing (ICS) – istilah ini digunakan oleh Microsoft pada Windows-nya. l Proxy Server – ini biasanya berupa software tambahan yang dipasang di komputer yang bertindak sebagai perantara. l Internet Sharing Server (ISS) – biasanya berupa hardware berdiri sendiri lengkap dengan modem, hub dan software proxy di dalamnya.

l

l

Network Address Translation (NAT) – istilah lain yang digunakan untuk software proxy server. IP Masquerade – teknik yang digunakan di software NAT / Proxy server untuk melakukan proses proxy.

JENIS PROXY SERVER
Proxy banyak digunakan untuk mengontrol atau memonitor lalu lintas jaringan. Beberapa aplikasi proxy menyimpan (cache) data yang diminta. Hal ini mengurangi besarnya kebutuhan

proxy menghubungkan pada sever yang kita inginkan dan memberikan data tersebut pada kita. Proxy server meng-handle semua komunikasi jaringan. HTTP (Web) Proxy memberikan URL yang kita lihat. FTP Proxy memberikan setiap file yang kita download. Bahkan, proxy dapat memilah kata- kata yang tidak cocok dari situs yang kita kunjungi ataupun men-scan virus. 2. Socks Proxy Server Socks hampir mirip seperti switch board dahulu. Server Socks secara sederhana terlihat seperti kabel yang menyebrangi hubungan antara sistem ke jaringan luar. Kebanyakan Server Socks hanya dapat bekerja dengan jaringan TCP. Seperti halnya firewall, Server Sock tidak menyediakan layanan autentifikasi user. Yang jelas, server ini dapat menyimpan data request site para user.

3

PROXY SERVER

2

client

1
Keterangan : 2&3 : hubungan yang sebenarnya terjadi 2 : hubungan yang dirasakan oleh server 1 : hubungan yang dirasakan oleh client

server

bandwidth serta mempercepat akses data yang sama untuk user selanjutnya. Ada dua tipe proxy server, yaitu : 1. Application Proxy Contoh mudah untuk jenis ini adalah seseorang yang melakukan telnet ke komputer lain, kemudian telnet ke dunia. Dengan menggunakan aplikasi proxy server, proses tersebut sudah ter-otomasi. Ketika melakukan telnet ke seluruh dunia, client akan mengirimkan kita pada proxy terlebih dahulu. Kemudian

MEKANISME PROXY
Mengapa teknik proxy menjadi penting untuk share akses Internet dari sebuah LAN secara bersama-sama? Sebagai gambaran umum, dalam sebuah jaringan komputer – termasuk Internet, semua komponen jaringan di identifikasi dengan sebuah nomor (di Internet dikenal sebagai alamat Internet Protokol, alamat IP, IP address). Mengapa digunakan nomor? Karena penggunaan nomor IP akan memudahkan proses route dan penyampaian data, dibandingkan

74

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

menggunakan nama yang tidak ada aturannya. Secara konsep hal ini mirip dengan pola yang dipakai di nomor telepon. Sayangnya, nomor IP ini jumlah-nya terbatas c dan seringkali kita tidak menginginkan orang untuk mengetahui dari komputer (jaringan) mana kita mengakses c internet agar tidak terbuka untuk serangan para cracker dari jaringan Internet yang sifatnya publik. Berdasarkan dua c alasan utama di atas, maka dikembangkan konsep private network, jaringan private atau kemudian dikenal dengan IntraNet (sebagai lawan dari Internet). Jaringan IntraNet ini yang kemudian menjadi basis bagi jaringan di kompleks perkantoran, pabrik, kampus, Warung Internet, dan lainnya. Secara teknologi tidak ada perbedaan antara IntraNet dan Internet, yang signifikan adalah alamat IP yang digunakan. Dalam kesepakatan Internet, sebuah Intranet (jaringan private) dapat menggunakan alamat IP dalam daerah 192.168.x.x atau 10.x.x.x. , IP seperti ini sama sekali tidak digunakan oleh Internet karena memang dialokasikan untuk keperluan IntraNet saja. Proses pengaitan ke dua jenis jaringan yang berbeda ini dilakukan secara sederhana melalui sebuah komputer atau alat yang menjalankan software proxy di atas. Jadi pada komputer yang berfungsi sebagai perantara ini, selalu akan mempunyai dua interface (antar muka), biasanya satu berupa modem untuk menyambung ke jaringan Internet, dan sebuah Ethernet card untuk menyambung ke jaringan IntraNet yang sifatnya private. Untuk menghubungkan ke dua jaringan yang berbeda ini, yaitu Internet dan IntraNet, perlu dilakukan translasi alamat (IP address). Teknik proxy sendiri sebetulnya sederhana dengan menggunakan tabel 8 kolom, yang berisi informasi: l Alamat IP workstation yang meminta hubungan. l Port aplikasi workstation yang meminta hubungan. l Alamat IP proxy server yang menerima permintaan proxy. l Port aplikasi proxy server yang menerima permintaan proxy. l Alamat IP proxy server yang meneruskan permintaan proxy l Port aplikasi proxy server yang meneruskan permintaan proxy.

internet

proxy server

yang diperlukan, dan respon waktu lebih cepat serta mengurangi biaya. Misalnya, user A dan B, keduanya mengakses Internet melalui sebuah proxy server. A mengakses sebuah situs terlebih dahulu, kemudian B mengakses situs yang sama. Proxy server akan membantu B memberikan data atau informasi situs yang direquest dan menyimpan informasi yang pernah diakses oleh A, dan memberikannya kepada B. Jadi alokasi waktu pun lebih singkat. Gambar 2 menunjukkan hubungan antara proxy server dengan internet.

l l

Alamat IP server tujuan. Port aplikasi server tujuan.

TOPOLOGI CACHING
Ada 2 macam topologi untuk konfigurasi caching, yaitu: l Distributed Caching Dalam topologi jenis ini, isi dari cache didistribusikan dalam jumlah yang lebih banyak dari proxy server yang kesemuanya terhubung dalam satu jaringan. Kumpulan dari server bekerja sama menciptakan suatu sistem caching yang stabil yang dapat di-load bersama-sama. Sistem ini dapat terus bekerja dengan baik, walaupun salah satu proxy fail.
l

Dalam jaringan yang menerapkan sistem proxy, hubungan komunikasi ke internet dilakukan melalui sistem pendelegasian. Komputer-komputer yang dapat dikenali oleh internet bertindak sebagai ‘wakil’ bagi mesin lain yang ingin berhubungan ke luar. Proxy server untuk (kumpulan) protokol tertentu dijalankan pada dual-homed host atau bastion-host, dimana seluruh pemakai jaringan dapat berkomunikasi dengannya, kemudian proxy server ini bertindak sebagai delegasi. Dengan kata lain setiap program client akan berhubungan dengan proxy server dan proxy server ini lah yang akan berhubungan dengan server sebenarnya di internet. Proxy server akan mengevaluasi setiap permintaan hubungan dari client dan memutuskan mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Bila permintaan hubungan ini disetujui, maka proxy server merelay permintaan tersebut pada server sebenarnya. (Gambar 1) Jika kita lihat secara sepintas, sebetulnya teknik proxy ini merupakan teknik paling sederhana dari sebuah firewall. Kenapa? Dengan teknik proxy, server tujuan tidak mengetahui bahwa alamat komputer yang meminta data tersebut sebetulnya berada di balik proxy server & menggunakan alamat IP private 192.168.x.x. Penggunaan proxy server ini untuk meningkatkan performa dengan mengurangi waiting time pada situs yang dituju, serta melakukan filter pada data yang di-request. Proxy server dapat meningkatkan performa dengan melakukan penyimpanan (caching) pada seluruh request data selama periode waktu tertentu, sehingga akan membantu mengurangi total bandwidth

Hierarchial Caching (Mesh) User- request pertama diproses oleh server lokal, lalu mencarinya dalam local cache area, bila tidak ada dikembalikan ke proxy server lain sesuai hierarki. Bila tidak ada juga barulah request tersebut dikirimkan ke original server.

Karena dapat menyimpan semua web-pages (user- request) dalam satu tempat, secara umum proxy server memberikan layanan web lebih cepat daripada server biasanya. l Proxy servers dapat digunakan untuk anonymous- surfing, yaitu menjelajahi web tanpa identitas. l Beberapa jenis proxy servers dapat menyaring web yang tidak diinginkan, seperti iklan atau halhal yang tidak sesuai lainnya. l Proxy servers dapat memberikan beberapa proteksi untuk mencegah serangan hacker. l Beberapa proxy servers dapat mentranslate pages kedalam bahasa yang kita inginkan. Dengan keuntungan di ataslah, teknik proxy banyak digunakan oleh penggunainternet.

Hotmauli Simamora/ OSPKC Dit. IKC
WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

75

PROFIL

Ganot Wibowo
KEPALA BAGIAN UMUM KANWIL IV DJBC JAKARTA

“Make It
dalah manusiawi jika dalam kehidupan, manusia selalu ingin memberikan yang terbaik bagi lingkungan dan bagi dirinya sendiri. Hal ini pula yang dilakukan oleh Ganot Wibowo yang kini menjabat sebagai Kepala Bagian Umum Kanwil IV DJBC Jakarta. Ganot mengakui bahwa selama menjadi pegawai di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) ia selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi DJBC, baik itu berupa pemikiran maupun tindakan yang berpedoman pada think smart and do the best. Bagi suami dari Luh Putu Adiwati, Bea dan Cukai merupakan suatu sarana untuk mengembangkan dirinya untuk berkreatifitas, dimanapun ia ditempatkan, apakah jauh ataupun dekat dengan keluarga ia jalankan dengan enjoy. Itu yang Ganot terapkan sejak pertama kali ia diterima sebagi pegawai DJBC pada tahun 1979, dengan Surabaya sebagai penempatan pertamanya dan menjabat sebagai Kasi Harga I pada Kanwil VII Kanwil DJBC Surabaya pada tahun 1983. Ucapannya tadi bukanlah suatu kiasan saja. Ganot konsekuen dengan apa yang sudah menjadi prinsipnya, “Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung.” Itu terkuak ketika dirinya menceritakan kembali awal perjalanan karirnya di bea cukai. Ia mengisahkan, walaupun saat awal karirnya ia menjabat sebagai Kasi Harga, tetapi juga menggeluti bidang komputerisasi sesuai penugasan oleh Kakanwil VIII pada saat itu G. Sutjipto. Sudah jelas, hal ini jauh sekali dari bidang pendidikan yang diperolehnya di bangku kuliah sebagai tamatan kimia ITB. Namun begitu prinsip Ganot, ia harus berusaha sebaikbaiknya menjalani tugas itu, dimanapun ia ditugaskan, terlebih ketika itu uji coba komputerisasi diujicobakan ditempatnya bekerja yaitu Kanwil VI DJBC Surabaya. ”Ketika mulai ujicoba komputerisasi untuk sistem pelayanan bea cukai, disitulah istilah komputer sebagai sarana pendukung operasional DJBC mulai terdengar,”ujar Ganot. Lebih lanjut mantan aktifis mahasiswa dimasanya itu mengatakan, Kanwil Surabaya merupakan salah satu daerah 76
WARTA BEA CUKAI EDISI 377 APRIL 2006

Happy !”
Bidang pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki, ternyata bukan menjadi kendala untuk dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan menikmati apa yang menjadi pekerjaan kita. Karena semua itu, menurut tokoh profil kali ini, kuncinya adalah, menjalaninya tulus dari hati dengan penuh kesenangan.

A

yang dipakai untuk uji coba sistem komputerisasi (sistem CFRS, Customs Fast Release System) dan ia yang bertanggung jawab untuk bidang pelayanan. Ganot mengisahkan program komputer yang dipakai untuk uji coba di tempatnya bertugas ketika itu berasal dari kantor pusat. Setelah satu bulan diujicobakan dibawah pengawasan dari kantor pusat, ia kemudian ikut bertanggung jawab menanganinya tentu juga dengan berbagai permasalahan yang timbul ketika itu, seperti munculnya problem baik software maupun hardware, bahkan problem sarana penunjang komputerisasi rusak dan lain sebagainya. Uji coba yang langsung ikut ditangani Ganot ternyata membuahkan hasil yang positif, dimana pada akhirnya dari uji coba tersebut meningkat menjadi program nasional. Kemampuannya menangani sistem komputerisasi tersebut kemudian membawa langkahnya ke Jakarta tepatnya tahun 1990 sebagai Kasi Pelayanan dan Informasi Puslatasi setelah sebelumnya menjabat sebagai kasi Harga dan tarif pada kanwil VII Surabaya 1983 dan Kasi Verifikasi Kantor Inspeksi tipe A1 Tanjung Perak 1988. Ganot mengisahkan, ketika ia diangkat sebagai Kepala Seksi Pelayanan dan Informasi pada Puslatasi yang kini menjadi Dit Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC), ia dituntut untuk menghasilkan aplikasi-aplikasi baru untuk kepentingan DJBC dalam melayani para stakeholder-nya selama delapan tahun. Di tempat ini Ganot mendapatkan promosi pertamanya sebagai eselon III dengan menjabat sebagai Kabid Penyiapan Data dan Pelayanan Informasi, Puslatasi tahun 1993.

MENJADI AKTIFIS MAHASISWA
Kemampuannya menjalankan pekerjaan dengan baik dan caranya memecahkan suatu permasalahan yang timbul diakui pria kelahiran Solo 1 Mei 1952, ia peroleh dari pengalamannya ketika kuliah di ITB, dimana ia aktif diberbagai kegiatan mahasiswa di kampusnya, baik bidang kemahasiswaan,

olahraga, kegiatan umum maupun kegiatan semi militer. “Maklumlah namanya juga jiwa muda yang masih meledakledak,”kenang Ganot, ayah dari lima orang putri dan satu orang putra yang semuanya sudah dewasa. Diakui Ganot, keikutsertaannya di berbagai kegiatan mahasiswa bukan hanya sekedar ikut-ikutan, namun lebih dikarenakan pada keadaan. Ia masuk ITB pada 1972 dan jauh dari orang tua, sehingga satu-satunya tempat untuk dapat membantunya dan menyalurkan aspirasi dan hobinya berolahraga adalah pada kegiatan mahasiswa. Maka tepat jika ia terlibat dalam organisasi kemahasiswaan dimana banyak rekanrekannya yang bernasib serupa dengannya, yaitu jauh dari orang tua, sehingga senang bertukar pikiran tentang berbagai hal dan tentunya juga saling membantu. Ganot sadar bahwa keterlibatannya dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, baik itu dalam himpunan atau berbagai kegiatan lainnya tidak akan berdampak signifikan pada bidang akademis. Sementara orang tua yang berada jauh darinya menaruh harapan besar kepadanya untuk segera menamatkan kuliah. Dengan dorongan semangat dari diri sendiri dan juga semangat dari sang kekasih yang kini menjadi istri dan ibu dari enam orang anaknya, akhirnya ia dapat menyelesaikan kuliahnya di kimia ITB, walau diakuinya agak terlambat menyelesaikan kuliah. Tidak lama setelah lulus, Ganot memutuskan untuk menikahi kekasihnya Luh Putu Adiwati adik kelasnya ketika SMA di Singaraja Bali. Sosok wanita yang dicintainya inilah yang telah memberikan semangat kepadanya untuk segera menyelesaikan kuliah.

berada di laboratorium lab Tanjung Priok, karena tenaga untuk laboratorium memang diperlukan dan saya dinilai memiliki persyaratan itu,”papar Ganot. Tidak lama kemudian ia mengikuti Puspla (Pusat Pelatihan) sekarang Pusdiklat untuk selanjutnya menjadi staf di Kantor Pusat DJBC, sampai akhirnya Ganot mendapatkan penempatan tugas pertamanya di luar kota yaitu Surabaya.

KEMBALI KE HABITAT
Setelah mendapatkan promosi sebagai Kabid Penyiapan Data dan Pelayanan Informasi, selanjutnya Ganot ditugaskan ke

MELESET DARI KEINGINAN
Cita-cita Ganot setelah lulus dari ITB adalah ingin bekerja dibidang yang sesuai dengan ilmu yang diperolehnya dibangku kuliah. Sempat terlintas di benaknya ingin menjadi ABRI (sekarang TNI) . Pernah pula ada keinginan bekerja di bidang industri seperti pupuk, pertambangan, perniagaan, bahkan ada keinginan pula untuk berkecimpung di bidang perbankan sebagai apprisal, misalnya. Berbagai keinginannya tersebut meleset dari kenyataan ketika ia mendapat informasi dari salah seorang seniornya bahwa bea cukai juga dapat menerima pegawai dari disiplin ilmu kimia sesuai dengan perkembangan bea cukai yang akan datang. Meski saat itu Kantor Pusat DJBC sedang tidak membuka penerimaan pegawai baru, setelah mendengar informasi dari seniornya, keesokan harinya Ganot langsung ke Kantor Pusat DJBC di Jalan By Pass, Ahmad Yani. “Bergaya ala mahasiswa yang baru lulus saya bawa map tebal dan meletakkan surat lamaran disana,”kenang Ganot kembali. Tidak lama kemudian hanya dalam hitungan bulan, pada tahun 1980, Ganot mendapat panggilan untuk ditempatkan di laboratorium bea cukai. “Saya masuk bea cukai tidak melalui test tertulis tetapi melalui test wawancara, kemudian langsung dibimbing oleh Pak Sumartono di lab Kantor Pusat DJBC, sedangkan Ibu Sri Muljani, pakar lain
EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
DOK. PRIBADI

BERSAMA ISTRI yang selalu mendukung dan memberikan dorongan dalam berkarir.

Balikpapan tahun 1998 sebagai Kabag Umum Kanwil X DJBC Balikpapan, selanjutnya menjadi kabid audit di tempat yang sama. Di kota minyak ini Ganot mendapatkan pengalaman yang bisa dikatakan baru, dimana ia peroleh pengalaman menjelajahi alam Kalimantan hingga masuk ke pelosok pedalaman. Pengalaman menjelajahi alam Kalimatan hingga masuk ke pelosok menurutnya ia lakukan dalam rangka menjalankan tugas. Ketika menjadi Kabid Audit, ia harus melakukan audit ke beberapa perusahaan yang ada di Kalimantan yang letaknya berjauhan dan tidak jarang berada di pedalaman. Namun semua itu diakui anak pertama dari 12 bersaudara ini ia lakukan dengan senang hati dan penuh suka cita. “Make it happy saja-lah dimana saja saya ditempatkan, begitu pula ketika saya 78
WARTA BEA CUKAI

di Balikpapan,”ungkap Ganot. Tahun 2001 Ganot dimutasi ke Balai Pengujian dan Identifikasi Barang (BPIB) Tipe A Jakarta. Tempat ini menurutnya adalah tempat yang memberikan suatu kesan tersendiri baginya. Diakui ketika ia ditugaskan disana untuk memimpin BPIB ia melihat balai, sebutan untuk BPIB, tidak mencerminkan suatu balai penelitian. Kondisinya ketika itu semuanya serba kurang tertata dengan baik. Terlebih lagi Ganot harus kembali “memanaskan” pengetahuannya dibidang kimia yang cukup lama ia tinggalkan, mengingat BPIB merupakan suatu laboratorium identifikasi barang impor maupun ekspor yang sudah tentu berkaitan dengan zat-zat kimia yang dipergunakan sebagai bahan pengujinya. “Memang awalnya saya agak canggung karena selama ini saya bekerja di bea cukai hampir tidak pernah

bersentuhan dengan laboratorium apalagi yang ada di balai, tapi saya terus mempelajari kembali dari rekan-rekan yang ada disana terlebih dahulu,”ujar Ganot ketika ditanya apakah ia merasa rikuh ketika ditempatkan di BPIB. Bukan hanya pengetahuannya saja yang harus ia pelajari kembali, namun ia juga mencoba untuk kembali memberdayakan laboratorium yang ada di BPIB dan menatanya kembali layaknya laboratorium Bea dan Cukai. Untuk itu Ganot mencoba menjalin kerjasama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Kimia Universitas Indonesia (UI) untuk mencoba membenahi, mengembangkan dan memberdayakan laboratorium yang terletak di kawasan Cempaka Putih Jakarta. Ide Ganot untuk menjalin kerjasama dengan UI ternyata disambut dengan baik oleh pihak UI, dan Ganot beserta dua pakar dari UI yaitu Dr. Agus Nurhadi dan Dr. Emil Budianto, melakukan riset untuk mengembangkan BPIB.”Beliau bilang, laboratorium milik bea cukai prospeknya sangat bagus untuk perkembangan Indonesia, karena saya orang bea cukai maka pikiran saya bagaimana lab (Laboratorium.red) BPIB bisa berdayaguna untuk bea cukai, tapi beliau memandang lab DJBC bisa untuk kemajuan laboratorium di Indonesia,”ujar Ganot. Dalam proses mengembangkan laboratorium ini, kedua pakar tadi mencoba memberi masukan kepada Ganot agar BPIB mendapatkan sertifikat ISO. Ajakan kedua pakar tadi sempat membuat Ganot berpikir apakah mungkin laboratorium bea cukai dapat memperoleh sertfikat ISO. Ajakan kedua pakar tadi sekaligus tantangan tersendiri buatnya, mereka meyakinkan Ganot untuk memulai dari awal dimana yang terpenting sistem yang sudah ada dibangun bersama dapat dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman. Setelah yakin akan kemampuannya Ganot menyampaikan ide pengembangan BPIB kepada Dirjen Bea dan Cukai ketika itu dijabat oleh Permana Agung yang langsung direspon positif dan juga oleh Sekertaris Jenderal Bea dan Cukai, Bambang Prasodjo, dan Joko Wiyono, Direktur Teknis Kepabeanan ketika itu. Dukungan yang kuat dari berbagai kalangan termasuk dari dalam bea cukai sendiri semakin membuatnya semangat memajukan BPIB untuk meraih sertifikat ISO. Kerja kerasnya beserta dengan dua pakar tentunya tidak terlepas pula dari dukungan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di BPIB. Menurut Ganot para pegawai disana juga sangat antusias untuk membantunya meraih sertifikat ISO tersebut. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Tahun 2002, BPIB meraih ISO 17025 setelah melalui penilaian dari Tim Komite Akreditasi Nasional.

EDISI 377 APRIL 2006

DOK. PRIBADI

MENDAPINGI MENTERI MUDA KEUANGAN, Ganot kedua dari kanan bersama Sofyan Permana ketiga dari kanan ketika memberikan penjelasan mengenai CFRS kepada Menteri Muda Keuangan Nasruddin Sumintapura di Kanwil VII DJBC Surabaya.

KUNJUNGAN DIREKTUR TEKNIS. Ganot Kiri, mendampingi Direktur Teknis Kepabeanan ketika itu Drs. Ibrahim Karim mengunjungi fasilitas lab di BPIB

Kini BPIB sudah memenuhi standar sebagai laboratorium yang sesuai dengan standar Internasional berkat dukungan kuat dari Dirjen DJBC saat ini, Eddy Abdurachman, mulai dari gedung, peralatan hingga sumber daya manusianya. Diakui Ganot ketika ia ditempatkan di BPIB prioritas utamanya hanya sebatas pada pembenahan kondisi laboratorium, ternyata setelah berjalan bukan hanya sebatas pada pembenahan tetapi juga sampai pada kepemilikan ISO. Dan di BPIB inilah menurut Ganot ia merasa kembali ke habitatnya menggeluti bidang kimia yang sesuai dengan disiplin ilmu yang diperolehnya dibangku kuliah.

PRESTASI BUAH HASIL KERJASAMA
Disetiap penempatannya Ganot merasakan bahwa keberhasilannya disana tidak terlepas dari dukungan dan juga partisipasi para stafnya. Ia tidak bisa menjalankan program dan juga

pekerjaannya jika tidak didukung oleh para rekan dan staf. Ganot mengisahkan ketika ia masih di BPIB terutama saat BPIB harus mengidentifikasi suatu barang baru, ia menceritakan sangat sulit mengidentifikasi narkoba yang telah menjadi campuran, untuk itu stafnya harus mengidentifikasi barang tersebut selama beberapa hari, terkadang pula anak buahnya bekerja sampai larut malam bahkan tidak jarang stafnya mengurungkan niat memejamkan mata sejenak untuk beristirahat karena tertantang untuk mengidentifikasi barang tersebut, disamping waktu yang diberikan sangat terbatas. Ketika stafnya berhasil mengidentifikasi barang yang rumit tersebut, kepuasan yang dirasakan anak buahnya juga ia rasakan, terkadang karena keberhasilannya sang anak buah memberi laporan kepadanya sambil teriak kegirangan.”Jadi keberhasilan staf juga saya rasakan, rasa bangga mereka jadi
DOK. PRIBADI

kebanggaan saya juga,”ujar Ganot. Kini Ganot ditempatkan di Kanwil IV DJBC Jakarta sebagai Kepala Bagian Umum. Tentu, prinsipnya sama dengan penugasannya di tempat yang lain yaitu menjalaninya se-enjoy mungkin.Di tempat ini ia akan memberikan yang terbaik seperti ditempat-tempat tugasnya yang lain. Ia mengatakan ditempat yang baru dijabatnya sejak 17 November 2005, akan menjalankan program yang secara jelas dan tegas digariskan oleh Kakanwil, Drs. Erlangga Mantik untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan di Kanwil IV DJBC dimana hampir 65 persen kegiatan ekspor impor berlangsung di wilayah kerja Kanwil IV Jakarta. Ganot juga mempunyai suatu keinginan yaitu menjadikan suasana kerja lebih terintegrasi. “Nantinya saya berkeinginan Kanwil IV menjadi suatu kantor yang layak untuk diketengahkan kepada masyarakat,”ujar ayah dari Ratih, Trisna, Sari, Wuri, dan Indradarma. zap
DOK. PRIBADI

SUASANA RAPAT KAJI ULANG. Bersama Direktur Teknis Kepabeanan dan para user ketika mengikuti rapat kaji ulang di BPIB

MELAKUKAN PATROLI. di perairan antara Tarakan dan Nunukan bersama Kasubsi P2 Kanwil Balikpapan ketika itu, Samsijar. EDISI 377 APRIL 2006 WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA

Icha Jikutstik

“MASIH ADA PERLAKUAN ISITIMEWA”
Bagi Icha “Jikustik”, yang kini mulai mencoba bersolo karir dari grup band-nya Jikustik, pengalamannya ketika bertemu dengan petugas bea cukai di bandara saat ia baru pulang dari bepergian dari luar negeri tidak pernah menemui masalah. Hanya saja saja satu hal yang masih mengusik rasa keingintahuannya, mengapa ada beberapa penumpang seperti pejabat negara jika datang dari luar negeri tidak diperiksa aparat bea cukai. Hal seperti itu diakui Icha, bassis grup band Jikustik, sudah beberapa kali dilihatnya. Termasuk juga dari pengalaman beberapa teman-temannya yang melihat ada penumpang yang lolos pemeriksaan dan ada juga yang tidak diperiksa sama sekali, terutama untuk seorang pejabat negara. Jadi dikatakannya, kondisi ini seperti semacam perlakuan istimewa untuk pihak-pihak tertentu. “Bisa saja, mungkin petugas melakukan pemeriksaan dengan menggunakan sistem random, tapi kok bisa ya kalo pejabat gak kena periksa,” begitu pikirnya. Meski dianggap sebagai public figure, namun dengan rendah hati, Icha mengaku kalau dirinya bukanlah orang yang terkenal sekali, sehingga tidak mendapat perlakuan istimewa dari aparat bea cukai dan selalu berusaha mematuhi ketentuan yang berlaku sehingga ia pun tidak pernah mengalami pemeriksaan yang macam-macam. zap

Ferry Maryadi

“Gak kapok meski sempet digeledah”

“Ramah dan gak dibikin repot,” begitu kata Ferry Maryadi ketika ditanya mengenai aparat Bea dan Cukai, terutama yang ia temuinya di Bandara Soekarno-Hatta setiap kali ia pulang dari luar negeri dan ketika harus melalui pemeriksaan aparat bea cukai. Dibandingkan dengan petugas bea cukai di negara lain, Ferry menilai, aparat di bea cukai di Indonesia tidak terlalu kaku. Sikap mereka pun umumnya ramah dan tidak menunjukkan wajah garang terutama ketika sedang melakukan pemeriksaan. Beda dengan pengalaman pribadi ketika dirinya bepergian ke negara lain. Dicontohkan Ferry, Singapura misalnya, petugasnya terlalu teliti sampai ke hal-hal yang kecil-kecil. Ferry yang menggeluti dunia presenter sebuah acara musik dan kuis di salah satu televisi swasta, juga disibukkan dengan syuting untuk acara ngelenong dan Tiga Roda Show ini mengaku pernah punya pengalaman agak menegangkan saat ia berada di Perancis. Ketika sedang diperiksa oleh petugas bea cukai Perancis, Ferry mengalami penggeledahan. Bahkan tubuhnya disandarkan menghadap ke dinding sambil ditodongkan pistol. Meski perasaan takut sempat merasukinya tapi ia ikuti saja semua prosedur pemeriksaan. Ternyata usut punya usut, dompet berasesoris rantai dicelananya terdeteksi metal detector sehingga menimbulkan bunyi pada alat deteksi itu, dan menimbulkan kecurigaan aparat bea cukai disana. “Kalo inget kejadian itu geli juga.....gimana gak kaget, tiba-tiba petugas sigap banget nanganin gue. Badan gue ditempelin menghadap ke tembok sambil disodorin pistol sambil terus diperiksa-periksa. Tapi kejadian itu gak bikin gue jadi kapok jalan-jalan ke luar negeri,” demikian ujar Ferry yang setiap bepergian ke luar negeri senang membawa oleh-oleh baju dan mainan. Meski menyandang gelar sebagai public figure, Ferry mengaku mendapat perlakuan yang sewajarnya, sama dengan penumpang lainnya yang baru datang dari luar negeri. “Petugas bea cukai biasanya menyapa ….halo Ferry bawa apa nih ? gue jawab gak bawa apa-apa kok, mau periksa silahkan…! karena memang prosedurnya orang yang datang dari luar negeri harus melalui prosedur pemeriksaan,” begitu kata Ferry dengan logat Sundanya yang khas. zap

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 377 APRIL 2006

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54 26 JANUARI 2006

CERAMAH UMUM

MENINGKATKAN

KINERJA
DENGAN MENGUBAH

PERILAKU

Oleh : Prof. Dr. Achmad Mubarok, M.A.*

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

1

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

PENDAHULUAN

N

egara didirikan untuk menjamin agar warga negaranya dapat hidup bermartabat. Negara dan bangsa yang kuat bisa membuat warga bangsa nya percaya diri dan berbangga sebagai anak

bangsa. Rakyat yang sejahtera juga dapat memberikan andil yang besar dalam membangun kejayaan suatu bangsa. Ada negara kaya dan kuat tetapi rakyatnya tertindas. Ada negara, aparatnya kaya tetapi justeru negara dan bangsanya yang lemah. Ada hubungan timbal balik antara kepemimpinan nasional, dedikasi aparat pemerintah dan peran serta rakyat dalam menentukan jatuh bangunnya suatu bangsa.

FITRAH MANUSIA Manusia diciptakan Tuhan dengan memiliki karakteristik (a) suka bekerjasama dan (b) suka bersaing. Sebagai makhluk social manusia saling membutuhkan antara satu dengan yang lain, oleh karena itu bekerjasama merupakan keniscayaan. Organisasi, termasuk organisasi Pemerintahan merupakan wujud kerjasama yang konsepsional dan terukur tujuan bersama yang ingin dicapai. Akan tetapi karena manusia juga memiliki instink bersaing, maka dalam wadah organisasi tak terhindar adanya persaingan, friksi-friksi dan bahkan saling sikut menyikut. Dibawah payung kerjasama tak jarang manusia justeru melakukan tindakan kerja sendiri untuk “ngerjain” orang lain. Oleh karena itu sesungguhnya kualitas manusia dalam kerja sama dan bersaing dapat dilihat dari perbandingan (a) seberapa besar ia memberi manfaat dan (b) seberapa besar ia mengambil manfaat. Ada orang yang secara structural sesungguhnya kedudukannya rendah,

2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

tetapi ia dapat memberi kontribusi sangat besar dalam pencapaian tujuan bersama. Sebaliknya ada orang yang secara structural menduduki jabatan yang tertinggi, yang semestinya dari jabatan itu ia dapat banyak berbuat bagi kepentingan orang banyak, tetapi setelah diukur ternyata ia lebih banyak mengambil dari pada memberi. Ia bukan saja tidak memberi kontribusi dalam pencapaian tujuan bersama, tetapi justeru banyak mengambil hak-hak anak buah. Ia bukan saja tidak berperan dalam membangun kejayaan bangsa, sebaliknya justeru menjadi penyebab ambruknya tatanan hidup sehingga bangsanya terpuruk dalam krisis.

POTENSI MANUSIA Sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia dengan desain kejiwaan yang sempurna, memiliki potensi untuk mengenali yang buruk dari yang baik. Manusia di satu sisi berpeluang untuk menjadi “suci”, bermartabat dan bermakna bagi dirinya, bagi keluarganya, bagi masyarakatnya dan bagi bangsanya bahkan bagi kehidupan kemanusiaan pada umumnya. Di sisi lain manusia juga berpeluang untuk menjadi rendah, hina, destruktip, bukan hanya menjadi sampah tetapi bahkan bisa menjadi racun atau parasit bagi kehidupan keluarganya, masyarakatnya, bangsanya dan kehidupan manusia pada umumnya. Secara teori, ada titik-titik subsistem yang berperan dalam menentukan kualitas diri manusia, yaitu akal, hati, nurani, syahwat dan hawa nafsu.

Akal. Akal merupakan kapasitas untuk memecahkan masalah (problem solving capacity) yang kerjanya berfikir. Sebagai kekuatan intelektual, manusia bisa memikirkan apa saja, hampir-hampir tak terbatas. Fikiran
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

3

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

bisa untuk menjawab pertanyaan, untuk mengambil keputusan dan untuk membuat kreasi baru. Akal bisa menemukan nilai-nilai kebenaran tetapi tidak menjadi penentu kebenaran, karena kebenaran akan berbeda-beda dan relatip, bergantung kepada kepentingan setiap orang. Banyak orang pandai secara intelektual tetapi hidupnya justeru lebih sering “ngakali” orang lain dibanding memberikan solusi. Akal juga sering kebingungan ketika melihat realita yang tidak masuk akal.

Hati. Hati merupakan alat untuk memahami realita. Hal-hal yang tidak masuk akal bisa dipahami oleh hati. Dalam sistem kejiwaan, hati merupakan perdana menteri yang mengorganisir kerja akal, nurani, syahwat dan hawa nafsu. Oleh karena itu orang yang hatinya baik biasanya baik pula kelakuannya. Sebaliknya orang hatinya busuk, busuk pula kelakuannya. Di dalam hati banyak muatan-muatannya, seperti cinta, kebencian, kebaikan, kejahatan, ketenangan, kegelisahan, keikhlasan, kecemburuan dan sebagainya. Ada orang yang hatinya sangat lembut dan mendalam sehingga suka memaklumi dan memaafkan, dan ada orang yang hatinya dangkal sehingga mudah tersinggung dan mudah membenci. Dalamnya laut dapat di duga, dalamnya hati tidak ada yang tahu. Hati memiliki tabiat tidak konsisten, oleh karena itu hati selalu berubah-ubah dari titik cinta ke titik benci, dari titik setia ke titik khianat, dari titik tenang ke titik guncang.

Nurani. Nurani atau hati nurani atau kata hati atau lubuk hati yang terdalam merupakan kotak hitam (black box) yang ada di dalam hati yang bersifat cahaya (nur). Oleh karena itu pandangan hati nurani dapat

4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

menembus sekat-sekat ruang dan waktu, berbeda dengan pandangan mata kepala. Berbeda dengan hati yang tidak konsisten, nurani justeru selalu konsisten terhadap kebenaran, karena cahaya nurani berasal dari Tuhan (nurun yaqdzifuhulloh fil qolbi). Orang yang nuraninya mati adalah disebabkan karena tertutup oleh keserakahan dan maksiat. Orang serakah dan pendosa biasanya tak bernurani.

Syahwat. Syahwat merupakan penggerak tingkah laku atau yang dalam Psychology disebut motive. Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan rasa indah (menyukai) terhadap lawan jenis, bangga pada anak-anak, menyukai perhiasan, benda berharga, kendaraan, ternak dan kebun. Syahwat bersifat netral, jika digapai dengan mengikuti aturan agama, maka ia menjadi ibadah, jika digapai tanpa mempedulikan nilai-nilai moral maka ia menjadi dosa.

Hawa Nafsu. Hawa nafsu merupakan dorongan kepada syahwat yang bersifat rendah, maunya segera ditunaikan dan tak mempedulikan nilai-nilai moral. Hawa nafsu merupakan akses syaitan untuk menguasai hati manusia.

Nah barang siapa lebih dikendalikan oleh akalnya maka hidupnya logis, barang siapa lebih dikendalikan oleh hatinya maka ia menjadi perasa dan pemaaf, barang siapa yang nuraninya hidup maka ia selalu jernih dan bertindak tepat, barang siapa lebih menuruti syahwat maka ia menjadi konsumtip dan barang siapa tunduk kepada hawa nafsu maka ia destruktip dan mudah terjerumus kejahatan. Yang paling baik adalah menjaga keseimbangan dari lima subsistem itu.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

5

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

MAKNA HIDUP Menurut teori Humanistik, manusia memiliki keunikan dan mengenal makna hidup (the meaning of life). Makna hidup ditentukan oleh persepsi, dan persepsi berkaitan dengan konsep diri. Secara fenomenal dapat dilihat pola hidup manusia dalam hal materi dan ilmu yang menentukan kualitas maknanya. Dalam hal bekerja mencari nafkah misalnya, ada empat model; 1. Ada orang yang hanya berfikir yang penting bekerja, bekerja apa saja dan hasilnya untuk apa saja nggak masalah, yang penting bekerja. 2. Ada orang yang perhatiannya pada menabung atau menumpuk harta. Bagi dia yang penting simpanannya banyak, dan tiap hari selalu bertambah. Ia bahkan kikir untuk diri sendiri, karena baginya besarnya simpanan itulah yang menyenangkan. 3. Ada orang yang pusat perhatiannya pada konsumsi diri sendiri. Jika untuk sendiri berapapun dibayar, dan apapun ia mau melakukannya. Ia sama sekali tak terlintas memikirkan orang lain. 4. Ada orang yang selalu bekerja keras karena melihat banyak orang lain yang membutuhkan bantuannya. Ia sangat puas jika sukses bisnis karena terbayang banyak orang lain akan ikut terbantu.

Nah empat model orang itu semuanya nampak sama dalam bekerja keras, semuanya keringatan, tapi makna hidupnya bergantung apa yang menjadi obsesinya. Demikian juga makna hidup dalam kaitannya dengan ilmu. Ada empat model juga dalam hal makna hidup keilmuan; 1. Ada orang yang hanya berfikir belajar, yang penting kuliah, kuliah apa saja, untuk apa ? nggak tahu, pokoknya kuliah.

6

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

2. Ada orang yang lebih memikirkan “hasil akhir” belajarnya, Orang kuliah kan untuk cari ijazah, ngapain lama-lama kuliah untuk dapat ijazah, kalau ada yang mudah dan cepat. Hanya bermodal beberapa belas atau puluh juta, ia sudah punya titel MM, DR atau bahkan Profesor. 3. Ada orang yang mencari ilmu hanya untuk kesenangan dirinya. Dengan ilmu dan buku-bukunya, ia setiap hari selalu membaca dan merenungkan berbagai hal. Ia asyik berenung ria di ruang perpustakaan pribadinya yang besar. 4. Ada orang yang belajar karena ingin memberikan pencerahan kepada orang lain. Punya ilmu sedikit ia tularkan kepada orang lain sedikit, punya banyak ia tularkan banyak. Sebagai orang berilmu ia seperti cahaya yang memberikan pencerahan kepada orang-orang yang membutuhkan.

PANGGILAN HIDUP BERBANGSA Menurut teori bapak sosiologi Ibnu Khaldun, jatuh bangunnya suatu bangsa ditandai oleh lahirnya tiga generasi. Pertama generasi Pendobrak, kedua generasi Pembangun dan ketiga generasi Penikmat. Jika pada bangsa itu sudah banyak kelompok generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik menikmati hasil pembangunan tanpa berfikir harus membangun, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu akan mengalami kemunduran. Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibnu Khaldun berlangsung dalam rentang kurun satu abad. Yang menyedihkan pada bangsa kita dewasa ini ialah bahwa baru setengah abad lebih usia NKRI, ketika generasi pendobrak masih ada satu dua yang hidup, ketika generasi pembangun
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

7

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

masih belum selesai bongkar pasang dalam membangun, sudah muncul sangat banyak generasi penikmat, dan mereka bukan hanya kelompok yang kurang terpelajar, tetapi justeru kebanyakan dari kelompok yang terdidik. Apakah ini alamat bahwa bangsa Indonesia tak pernah akan berjaya ? Sesungguhnya sesuatu itu berat atau ringan, sulit atau mudah sangat bergantung kepada cara pandang. Jika pada hari ini kita frustrasi melihat krisis bangsa, maka kita tidak akan dapat menemukan jalan keluar. Tetapi jika kita bisa meluaskan pandangan pada medan yang lebih luas, maka masalah yang kita hadapi sesungguhnya masalah biasa yang juga dialami oleh bangsa lain. Bahkan bangsa Indonesia pernah mengalami keadaan yang jauh lebih sulit dibanding kesulitan hari ini. Tengoklah zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, G.30.S PKI tahun 65, toh dapat juga kita lewati. Nah dari tahapan tiga generasinya Ibnu Khaldun, mari kita lihat, sesungguhnya kita belum masuk periode generasi ketiga. Kita masih pada era generasi pendobrak, oleh karena itu kelompok penikmat harus kita dobrak, budaya korupsi kita dobrak dan kemudian kita teruskan era membangun.

KRISIS ORANG BESAR Yang sangat menonjol dari krisis multi dimensi bangsa Indonesia dewasa ini adalah krisis kepemimpinan. Bangsa Indonesia itu bangsa yang paternalis, yang akan dengan mudah mengikuti dan mencontoh pemimpinnya. Tetapi sayang sekarang tidak ada pemimpin besar. Semua pemimpin yang ada bukan pemimpin besar tetapi pemimpin kelompok. Ciri orang besar adalah pusat perhatiannya menembus jauh keluar tempat ia berada dan zaman dimana ia hidup. Pemimpin-pemimpin kita sekarang

8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

berkutat pada kepentingan skala dekat dan masa yang pendek. Semuanya berhitung pada tahun 2009, padahal problem bangsa ini berakumulasi pada berat, besar dan rumit yang tak mungkin terselesaikan pada 2009. Bangsa ini membutuhkan waktu 50 tahun lagi untuk bangkit, oleh karena itu kita tidak akan pernah mengalami zaman keemasan. Perhatian kita harus pada limapuluh tahun ke dua, bukan pada lima tahunan. Biarlah kita menderita hari ini, tetapi cucu kita harus mengalami zaman keemasan. Mari kita menanam untuk mereka, bukan untuk kita.

FENOMENA PERUBAHAN Sesungguhnya ada arah perubahan signifikan pada era SBY sekarang, tetapi publik selalu mempertanyakan mana perubahan yang dijanjikan ? Perubahan kok malah BBM jadi mahal ? Sesungguhnya tingkat kesulitan bangsa dewasa ini sungguh sangat mendasar, karena merupakan akumulasi dari semua limbah masa lalu, limbah politik, ekonomi, budaya dan maksiat. Belum lagi ditambah hal-hal baru diluar agenda kabinet (tsunami, flu burung, membubungnya harga minyak dunia dsb) yang membuat pemerintah seperti menggunakan manajemen panik. Periode SBY sesungguhnya merupakan lembar ketiga besaran sejarah NKRI. Lembar pertama, Bung Karno, proklamator dan memang pemimpin besar, tetapi di akhir masa jabatannya terjebak kepada politik grandiose, misalnya dengan keluar dari PBB dan mendirikan NEFO (New Emerging Forces Organization) sebagai tandingan, sambil membelokkan jatidiri Bhinneka Tunggal Ika menjadi NASAKOM, demokrasi menjadi Demokrasi Terpimpin, periode lima tahunan diganti menjadi kepresidenan Seumur Hidup, Kepala Negara menjadi Pemimpin Besar Revolusi yang
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

9

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

kesemuanya berujung pada tragedi nasional G.30.S PKI 1965 dan tumbangnya rezim Soekarno yang kemudian disebut orde lama. Lembar kedua, Pak Harto yang datang tepat pada waktunya berhasil menyelamatkan keadaan dan menghela bangsa keluar dari krisis. Dengan semangat orde baru. Tetapi lagi-lagi Pak Harto mengulangi kesalahan Bung Karno. Bung Karno berhasil menduduki kursi kepresidenan selama 20 tahun lebih sedangkan Pak Harto malah 30 tahun lebih, keduanya memerintah secara otoriter. Habibie, Gus Dur dan Megawati merupakan pemimpin zaman peralihan yang muncul sekilas. Tetapi yang paling menyedihkan semua presiden kita ketika naik disongsong dengan gegap gempita harapan, tetapi kemudian digulingkan dengan gegap gempita cacian. Semua bekas Presiden RI tidak ada yang diperlakukan sebagai pemimpin yang terhormat oleh rakyatnya sendiri. Hanya Gus Dur lah satusatunya mantan Presiden RI yang tetap tampil PD. Nah SBY sesungguhnya merupakan babak baru sejarah NKRI. Ia dipilih langsung oleh rakyat, tetapi yang terpenting SBY menawarkan kesantunan dalam berpolitik, menawarkan soft power dan prilakunya sangat lemah lembut. Karakter lemah lembut pada awal kehadiran selalu lebih dipersepsi sebagai lemah, oleh karena itu tak aneh jika SBY dicap peragu, pengecut dan bahkan ada yang menganggap sebagai pemimpin pajangan sementara yang dianggap sebagai the real presiden adalah JK. SBY memang sangat lembut dalam memimpin, dan sangat santun kepada pendahulunya (Bu Mega) karena beliau ingin mengakhiri tradisi menghujat bekas Presiden. Beliau menginginkan membangun system, oleh karena itu konsekuensinya berjalan lambat. Kelemah lembutan dan kelambatan ini secara teori dilengkapi oleh sosok JK yang karena seorang interpreneur,

10

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

beliau sangat cepat mengambil keputusan. Jadi SBY-JK sebenarnya adalah sebuah sinergi. Tahun pertama dua karakter Presiden dan Wapres yang sangat berbeda pasti dipersepsi sebagai rivalitas 2009. Tetapi pada tahun kedua kelembutan SBY sedikit demi sedikit menjelma menjadi power, oleh karena itu pada reshufle kabinet kemarin, peran SBY sebagai presiden sangat menonjol, bijak dan efektip dalam mengendalikan dinamika politik. Kelemah lembutan (soft power) akan efektip menjadi power jika ia diberi peluang menapaki zaman. Insya Alloh di akhir masa kabinet, gaya lemah lembut SBY sudah bisa menjadi pola perpolitikan nasional. Lihat ibu kita yang sudah berusia 80 tahun, tua renta dan lemah, tetapi di mata anakanak dan cucu-cucunya ia sangat berwibawa karena anak-anaknya sudah merasakan kelembutannya dalam waktu yang lama. Jangan ragukan kekuatan kelembutan. Betapa dahsyatnya soft power dapat dibandingkan dengan tsunami. Tsunami itu air yang lembut, tetapi ia menjadi sangat kuat menerjang dan meluluh lantakkan semua yang keras-keras.

PILIHAN KITA Bahwa masih banyak rakyat yang kecewa, saya kira wajar karena janji perubahan memang belum bisa diwujudkan dalam waktu 1-2-3 tahun. Tetapi secara obyektip pilihan kita tidak banyak. Ada tiga opsi ditawarkan kepada kita. (1) Dukung, Bantu dan doakan SBY agar bisa menyelesaikan tugas hingga akhir masa jabatan 2009. (2) ah pusing, gak usah dipikirin, biarin aja terserah. Kita cuek aja (3) Gulingkan saja SBY karena janjijanjinya kosong. Jika nomor tiga kita ambil, kita tidak bisa membayangkan cost nya, karena konstitusi kita telah berubah. Gak terbayang sebuah solusi segera selain chaos dan terpecahnya NKRI. Jika kita pilih no. 2, maka
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

11

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

kita tidak memiliki harga diri sebagai warga bangsa. Maka suka tidak suka kita memilih opsi pertama, karena semua kita ingin mempertahankan negeri kita sebagai negara berdaulat dan bersatu.

APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN ? Banyak orang frustasi sehingga menganggap semua perjuangan menjadi sia-sia. Percuma jujur kalau yang lain curang. Sesungguhnya ada pelajaran yang sangat berharga di Cina. Filsafat Cina mengatakan bahwa tidak ada angka seribu kalau tidak ada yang memulai dengan angka satu. Nah yang kita lakukan sekarang adalah menulis angka satu; dalam kejujuran, dalam kedisiplinan, dalam dedikasi, dalam kerja keras, dalam kerjasama dan seterusnya. Jika kita sudah memulai dengan angka satu maka besok ada yang meneruskan dengan angka dua, tiga dan seterusnya hingga tiba giliran cucu kita nanti, mereka sudah menulis angka sejuta.

PENUTUP Mengakhiri ceramah umum ini saya ingin menyampaikan nasehat seorang tokoh pembaharu yang bernama Hasan al Banna. Kata beliau mungkin anda tidak termasuk cendekiawan, tidak pula termasuk ulama. Tetapi jika anda berpegang teguh kepada tiga prinsip hidup terhormat, niscaya kehadiran anda di rumah, di tempat kerja, di masyarakat dan bahkan di negeri ini lebih banyak memberi manfaat dan berdaya guna.

1. A’thi liyastafida ghoiruk. Hendaknya kalian selalu berfikir untuk memberi agar orang lain memperoleh faedah. Sebagai pemimpin

12

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

berfikirlah untuk bisa memberi kepada rakyat, sebagai bawahan, berfikirlah untuk dapat memberi support kepada pemimpin. Bayangkan seandainya di Kantor Pusat Ditjen Bea dan Cukai ini seluruh karyawan dan eselonnya setiap hari berfikir apa yang dapat saya ambil hari ini, pasti kantor ini segera bangkrut dan disusul bangkrutnya negara.

2. Wa izro’liyahshudannas. Berfikirlah untuk menanam agar orang lain dapat memetik. Jika kita menanam, janganlah berfikir harus kita yang memetik, sebab jika demikian tidak ada orang tua yang mau menanam kelapa atau jati. Semuanya hanya mau menanam bayam atau kecambah. Kenapa harus menanam ? karena sesungguhnya yang kita petik juga tanaman orang lain. Kita makan mangga, tanaman orang Indramayu, makan pisang tanaman orang Sukabumi. Camkan betapa malangnya negeri ini memiliki pelaku illegal logging yang hanya mau membabat hutan tanpa mau menanam.

3. Wat’ab liyastariha ghoiruk. Bekerja keras dan bersusah payahlah agar orang lain dapat istirahat. Kenapa ? karena kitapun hanya bisa istirahat hanya jika ada orang lain yang tetap bekerja keras. Kita dapat tidur nyenyak dalam perjalanan mobil Surabaya-Jakarta, kenapa ? karena ada supir yang tidak tidur.

Marilah, dalam situasi krisis yang masih berkepanjangan ini, mari kita memulai menulis angka satu, dan mari kita berusaha memberi, menanam dan bekerja keras. Insya Allah Tuhan akan menyertai kita. Para pendiri
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

13

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

negeri ini mengakui seperti yang tertulis dalam pembukaan UUD 45, bahwa hanya atas berkat rahmat Allah bangsa ini dapat mencapai kemerdekaan. Demikian pula hanya atas berkat rahmat Allah pula bangsa ini dapat keluar dari krisis yang menghimpit ini. Mari kita akhiri dengan berdoa :

Ya Allah ya Tuhan kami, Engkau Maha Mengetahui, kami berkumpul di tempat ini merupakan bagian dari orang-orang yang terpanggil untuk membangun bangsa ini.

Kami terpanggil untuk memperbaiki keadaan bangsa kami, untuk menebus kesalahan-kesalahan kami, dalam mengelola karunia Mu kepada bangsa Indonesia.

Tetapi ya Allah, kami sepenuhnya sadar, kami memiliki banyak keterbatasan, kami menghadapi banyak kesulitan.

Oleh karena itu, ya Allah Wahai Tuhan, yang berkuasa memudahkan semua kesulitan Wahai Tuhan, yang berkuasa mengumpulkan kembali semua yang bercerai berai Wahai Tuhan, yang berkuasa memberi kekuatan kepada setiap yang lemah Wahai Tuhan, yang berkuasa memberi kecukupan kepada setiap yang kekurangan

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

Wahai Tuhan, yang menjadi sahabat dari setiap yang dikucilkan Wahai Tuhan, yang berkuasa memberi rasa aman kepada setiap yang terancam Mudahkanlah semua kesulitan bangsa ini ya Allah, karena bagi Mu, memudahkan yang sulit, adalah mudah.

Kami menyadari sedalam-dalamnya, bahwa Hanya Atas berkat rahmat Mu lah bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan,

Oleh karena Ya Allah, Jangan Engkau biarkan sekejap matapun kami bangsa Indonesia, menyusuri lorong-lorong gelap yang menyesatkan.

Berilah kekuatan kepada bangsa ini ya Allah, untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini, dan selanjutnya berikan kekuatan untuk memasuki era baru yang Engkau ridhai.

Berikan kepada bangsa ini ya Allah, kemampuan melihat yang benar sebagai kebenaran, dan berilah kekuatan untuk berpegang teguh kepadanya.

Berikan pula kepada bangsa ini ya Allah, Kemampuan melihat yang salah sebagai kesalahan, dan berilah kekuatan kepada kami untuk senantiasa menjauhinya.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

15

CERAMAH UMUM DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PABEAN INTERNASIONAL KE-54

MENINGKATKAN KINERJA DENGAN MENGUBAH PERILAKU

Ya Allah ya Tuhan kami, berikanlah kesempatan kepada orang-orang baik dari kami untuk memimpin bangsa ini, keluar dari kesulitan, dan jangan Engkau beri kesempatan orang jahat memimpin bangsa ini. Ya Allah Ya Tuhan kami, ampuni kesalahan-kesalahan kami, sayangilah kami, jangan Engkau timpakan kepada kami beban berat yang kami tidak sanggup menanggungnya,

Sepenuhnya kami percaya bahwa tiada satupun yang terjadi di muka bumi ini tanpa seizin Mu ya Allah

La haula wala quwwata illa billahi al’aliyy al’adzim

Kami yakin se yakin-yakin Nya ya Allah, Demi kasih sayang Mu yang luas tak terbatas Engkau pasti akan mengampuni kami, Engkau pasti akan menolong bangsa ini,

Innama asyku batssy wa huzny ilallah Robbi hkum bil haqqi wa robbuna al musta’an’ala ma tashifun. Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirayti hasanah waqina ‘azab annar

wa al hamdu lillahi rabb al’alamin l

* Prof. Dr. Achmad Mubarok, M.A, adalah Dosen, Konsultan dan Konselor Keluarga

16

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 377 APRIL 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->