P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 381

Warta Bea Cukai Edisi 381

|Views: 1,861|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2014

pdf

text

original

DARI REDAKSI

KEMERDEKAAN DI TENGAH BENCANA

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
MISI: Membimbing dan meningkatkan kecerdasan serta Jende kesadaran karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap tugas negara Mendekatkan Hubungan antara atasan dan Jende bawahan serta antara karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan masyarakat IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Pencegahan & Penyidikan Drs. Endang Tata Direktur Verifikasi & Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. Kamil Sjoeib, M.A. Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Drs. Jody Koesmendro Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Sofyan Permana Inspektur Bea dan Cukai Drs. Bambang Heryanto, Ak KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Sjahrir Djamaluddin WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Soedirman A. Gani, S.E. DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Hanafi Usman, Drs. Patarai Pabottinggi, Drs. Bachtiar, M.Si., Dra. Cantyastuti Rahayu, Drs. Nasar Salim, M. Si., Drs. Nirwala Dwi Heryanto, Ir. Agung Kuswandono, M.A., Ir. Agus Sudarmadi, M. Sc., Drs. Ahmad Dimyati PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH Donny Eriyanto (Balikpapan), Bendito Menezes (Denpasar), Bambang Wicaksono (Surabaya) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Niko Budhi Darma, S. Sos, Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

W

arta Bea Cukai dan keluarga besar Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya kepada para korban gempa bumi dan tsunami yang melanda sebagian pantai selatan Jawa. Belum usai duka akibat bencana gempa dan banjir, bencana baru kembali datang. Siapapun berharap semoga bencana ini menjadi yang terakhir di bumi Indonesia. Namun tentu saja kita tidak akan pernah tahu bagaimana alam bekerja, bagaimana Tuhan berkehendak. Rabu, 19 Juli sekitar pukul 18.00 WIB, Jakarta diguncang gempa, termasuk ruangan tempat saya mengetik tulisan ini di lantai 2 gedung WBC yang mendadak bergoyang. Hanya sekitar 5 detik memang, namun getarannya lumayan terasa. Padahal, ketika gempa yang pertama mengguncang pada Senin sore 17 Juli, tidak terasa apapun di tempat kami. Akankah ada bencana lagi ? Saya ingin sedikit menyinggung peristiwa menarik yang terjadi di Kantor Pusat Bea Cukai pada akhir Juni dan awal Juli lalu ketika DJBC bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelenggarakan retraining integritas dan sosialisasi Gratifikasi dan LHKPN (hal. 54). Upaya DJBC secara organisasi untuk membangun tata kelola institusi yang baik harus benar-benar didukung, dibudayakan dan diperlihatkan secara nyata oleh para individu yang bekerja di dalamnya dari level pimpinan sampai pegawai tingkat bawahan. Salah satu aspek yang berkaitan erat dengan masing-masing individu tersebut dalam menjalankan pekerjaannya dalam bidang apapun adalah, kejujuran. Tahun lalu di sebuah harian nasional, muncul tulisan berjudul “Kiat Berbisnis Tanpa Suap”. Dalam artikel tersebut penulis mengungkapkan bahwa, kejujuran sangat bergantung pada integritas personal. Masalahnya, integritas personal tak mungkin diregulasikan. Aspek kejujuran ini juga yang berkaitan dengan masalah gratifikasi dan laporan kekayaan, seperti yang disosialisasikan oleh KPK. Sosialisasi tersebut diakui oleh para peserta sangat besar manfaatnya, seperti misalnya mengetahui apa yang harus dilakukan berkaitan dengan pemberian. Beberapa waktu lalu saya pernah berbincang dengan seorang pegawai mengenai pemberian hadiah, sebuah pengakuan yang jujur, yang justru saya salut karenanya. Sedikit melihat ke instansi lain, Ketua Mahkamah Agung belum lama ini di media massa dengan gamblang menyatakan memperbolehkan anggotanya untuk menerima hadiah, dalam bentuk yang tidak mempengaruhi keputusan, misalnya karangan bunga. Sebuah pernyataan yang justru mendapat banyak kritikan. Dalam tataran pemikiran logis, kaum awam katakanlah, mungkin banyak yang bisa memaklumi pernyataan Ketua MA, toh hanya karangan bunga yang hanya bisa dipajang, bahkan bila menggunakan bunga hidup, paling hanya bisa bertahan 2-3 hari. Lain soalnya bila disela-sela ranting bunga, terselip sebuah cek bertuliskan enam hingga bahkan sepuluh digit angka, apalagi dengan kurs USD atau EUR. Disinilah kejujuran yang disebut bagian dari integritas personal dipertaruhkan. Indonesia pada bulan Agustus ini merayakan hari kemerdekaan yang ke 61 tahun. Enam puluh satu tahun yang penuh tantangan dan cobaan. Dirgahayu Republik Indonesia, semoga Tuhan beserta kita. Lucky R. Tangkulung

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Pemerintah melalui DJBC pada Oktober mendatang akan memberlakukan sistem Pertukaran Data Elektronik Manifest. Sejauhmana kesiapan yang telah dilakukan, baik perangkat peraturan, sistem maupun kesiapan unsur yang terkait dengan penerapan sistem ini. Kami angkat menjadi laporan utama WBC edisi bulan ini.

5

Wawancara
Sistem SAP PDE Manifes, disamping berfungsi sebagai administrasi pelayanan juga akan menjadi tools yang sangat penting dalam sistem pengawasan Bea dan Cukai, maka itu kontrol atas lalu lintas barang impor dan ekspor akan lebih mudah dilakukan. Demikian disampaikan Direktur P2, DJBC, Drs. Endang Tata. Simak wawancara lengkapnya dalam rubrik wawancara.

19

Selak

72
Wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia, khususnya di daerah Entikong, kondisinya hampir dialami daerah-daerah lain. Jalan yang rusak dan sebagian belum tersentuh pembangunan memberi tantangan dan kisah menarik. Menempuh jalan tikus sampai jalan mulus ke perbatasan Malaysia menjadi cerita kami dalam rubrik selak.

Pengawasan
Memperingati Hari Anti Narkoba Internasional pada 24 Juni 2006 menjadi salah satu rangkaian materi dalam rubrik pengawasan, disamping juga hasil liputan mengenai Pelatihan Computer Based Training Kanwil IV DJBC Jakarta.

51

Daerah ke Daerah
Bekasi, Pontianak dan Entikong serta berbagai kabar mengenai aktivitas Kantor Pelayanan Bea dan Cukai di wilayah ini. Sementara dari Kanwil X Balikpapan telah dilakukan sosialisasi Jalur Prioritas dan Impor Barang Kiriman melalui PJT dan catatan perjalanan koresponden WBC di Surabaya.

22

Profil

76
Masukan dari para staf dalam membantu dan menjaga kelancaran tugas institusi yang dipimpinnya, merupakan hal yang penting bagi Efratha Simanjuntak. Baginya, staf adalah ujung tombak dalam menjalankan tugas. Tanpa dukungan mereka ia tidak dapat menjalankan tugasnya sendiri dengan hasil yang diharapkan.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

1 3 4 37

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR PUSDIKLAT Penutupan DTSS I angkatan I, Peserta Harus Siap Hadapi Tantangan Tugas.

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

38 44

SEPUTAR BEACUKAI SIAPA MENGAPA - Donatus Dananto - Hendra

RALAT DATA PEGAWAI
Sehubungan dengan pemuatan data pegawai pensiun dalam rubrik info pegawai di WBC edisi 379 Juni 2006 yang bahannya Redaksi terima dari bagian Kepegawaian, terdapat kesalahan penulisan pada nomor urut 9. Data yang sebenarnya adalah seperti tersebut di bawah ini : Nama NIP Gol Jabatan Kedudukan : : : : : Kansil Elwinto R., S.Sos 060059443 III/c Korlak Distribusi Dokumen KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok II

45 46

- Karyanto INFO PERATURAN CUKAI Sosialisasi Cukai Untuk Internal DJBC INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI Perkembangan Virus W32/ MYBRO Varian Dari Virus Rontokbro.

48

Demikian kami perbaiki, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Redaksi

50

INFO PEGAWAI Pegawai Pensiun per 1 Agustus 2006. SEKRETARIAT Menuju Good Governance DJBC KEPABEANAN - Studi Banding Single Window di Swedia - Nota Kesepahaman TPS Online Aptesindo dan DJBC

RALAT TEKS FOTO
Pada rubrik Profil WBC edisi 380 Juli 2006, pada penulisan teks foto di halaman 78, keterangan foto yang seharusnya tertulis adalah seperti tersebut di bawah ini :

54 57

60

KONSULTASI KEPABEANAN DAN CUKAI Seputar Penyelesaian Kepabeanan Impor.

61

RUANG KESEHATAN Cara Bijak menurunkan Berat Badan. RUANG INTERAKSI Sepakbola dan Perilaku. KOLOM - Sisi Unik Bola dan Bea Cukai - Intrep

62 64

69

OPINI - Biaya Pendidikan Tinggi, Semangat Tetap Tinggi. - Penghapusan Asset.

DI KPBC BOGOR. Posman Siahaan (tengah, baju safari) berfoto bersama dengan para staff, ketika menjabat sebagai Kepala KPBC Tipe B Bogor. (Foto : Dok. WBC) Demikian kami perbaiki agar dapat dimaklumi, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Redaksi

69

APA KATA MEREKA - Andry Wongso - Henry Yosodiningrat

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

PDEManifes
P
WBC/ATS

LAPORAN UTAMA

SEBAGAI ALAT KONTROL LALULINTAS BARANG EKSPOR IMPOR
Sistem aplikasi pelayanan dengan menggunakan sistem pertukaran data elektronik (PDE) dalam pelayanan manifes, merupakan sistem pelayanan di bidang kepabeanan terhadap penyerahan dan penatausahaan dokumen inward/outward manifes melalui media elektronik dan jaringan pertukaran data elektronik.
mengakibatkan semakin tingginya frekiranya dibutuhkan adanya suatu siserkembangan teknologi informakuensi lalulintas barang ekspor/impor tem dan mekanisme kontrol secara si (TI) yang begitu pesat dewasa dari dan ke suatu negara. nasional terhadap lalulintas barang ini, tentunya membawa manfaMelihat perkembangan ini, maka ekspor/impor, yang dibangun, dikelola, at yang begitu besar bagi kehidupan dan dijalankan oleh suatu manusia di dunia ini. Selain institusi pemerintah dan swasta dapat memudahkan hubungyang terkait dengan proses an antara negara, juga perdagangan internasional dan bermanfaat bagi penyampailalulintas barang ekspor/impor. an informasi yang saat ini Untuk dapat mewujudkan hal dituntut cepat dan akurat. tersebut, maka langkah awal Di dalam suatu organisasi yang sangat diperlukan adalah atau institusi pemerintah, membangun sistem manajepemanfaatan teknologi informen dan adminsitrasi manifes masi diharapkan akan dapat sebagai suatu dokumen yang meningkatkan kinerja, mempresentasikan data sehingga mampu mewujudkan lalulintas barang-barang niaga kinerja yang baik dan tata antar negara. kelola pemerintahan yang baik (good governance) pula. Namun demikian, berbagai PERAN BEA DAN CUKAI DALAM kondisi empirik menunjukan PERDAGANGAN INTERNASIONAL bahwa sebagian besar institusi Direktorat Jendaral Bea pemerintahan di Indonesia dan Cukai (DJBC) adalah belum mampu mendayagunainstitusi yang mutlak harus ada kan potensi TI dengan baik, dalam pergerakan dan sehingga perlu dilakukan lalulintas barang melewati terobosan untuk dapat secara batas suatu negara. DJBC efektif mempercepat pendayamempunyai pengaruh yang gunaan TI, terutama dalam sangat signifikan terhadap birokrasi pemerintahan, termaperdagangan internasional dan suk dalam pelayanan manifes industri nasional serta kedatangan(inward) dan memberikan kontribusi yang keberangkatan (outward) sarasangat besar terhadap na pengangkut. perekonomian di Indonesia Hal ini dirasakan sangat sendiri. penting, mengingat saat ini Sistem dan prosedur yang telah bergulirnya era globalisaefektif dan efisien sehingga si ekonomi dan liberalisasi mampu menjamin kelancaran perdagangan, sehingga semaarus barang, tentunya juga kin meningkatnya intensitas akan mampu menciptakan dan volume perdagangan inter- IJIN BONGKAR. Sebelum pihak pelayaran menyerahkan manifes secara daya saing dan peran serta nasional yang secara langsung PDE, maka ijin bongkar atau BC 1.1 tidak akan dikeluarkan oleh bea cukai. industri nasional dalam pasar
EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA

global, yang tentunya juga akan memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan daya saing nasional, memicu terciptanya investasi dan pengembangan industri, serta meningkatkan peran usaha kecil dan menengah dalam perdagangan internasional. Dengan pentingnya peran DJBC dalam perdagangan internasional, yang saat ini telah mengacu pada sistem perdagangan yang modern, tentunya juga mensyaratkan akan pentingnya sistem administrasi yang sederhana, efisien, dan predictable dalam proses Customs Clearance, sambil secara simultan tetap memperhatikan langkahlangkah pengamanan terhadap kepentingan nasional dan kebutuhan masyarakat internasional untuk menjamin kepatuhan terhadap perundang-undangan nasional, konvensi dan kesepakatan internasional serta menjamin masalah keamanan.

MANIFES SEBAGAI BAGIAN DARI PELAYANAN KEPABEANAN
Dalam lingkungan bisnis internasional saat ini, masalah prosedur kepabeanan yang sederhana, efisien, dan predictable, diharapkan akan 6
WARTA BEA CUKAI

mampu menjadi titik sentra dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui partisipasi sektor usaha nasional dalam perdagangan internasional. Untuk mewujukan ini semua, tentunya hanya dapat dilakukan dengan penyempurnaan sistem seperti yang saat ini telah dilakukan oleh DJBC, yaitu melalui PDE Manifes. Untuk mendukung rencana melakukan otomasi pelayanan manifes di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) ini, maka Menteri Keuangan telah mengeluarkan Keputusan Nomor 39/PMK.04/2006 tertanggal 19 Mei 2006, tentang tatalaksana penyerahan RKSP (Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut), Inward manifes dan Outward manifes, sebagai dasar hukum penerapan SAP (Sistem Aplikasi Pelayanan) PDE Manifes secara mandatory di Tanjung Priok. Kebijakan ini juga didukung sepenuhnya oleh Peraturan Dirjen Bea dan Cukai nomor P-10/BC/2006 tertanggal 16 Juni 2006 yang pada dasarnya mengatur mengenai dua hal, yaitu mengatur hal-hal yang sifatnya merupakan ketentuan teknis lebih lanjut yang menjelaskan secara rinci subtansi dari PerMenkeu, dan menetapkan batasan waktu pemberlakukan SAP

PDE Manifes yang diberlakukan secara bertahap di KPBC seluruh Indonesia. Menurut Kasubdit Manajemen Risiko, yang juga bertindak selaku wakil ketua tim kerja penerapan SAP PDE Manifes, Susiwiyono, penerapan SAP PDE Manifes secara mandatory diberlakukan di Tanjung Priok pada 1 Juli 2006, namun mengingat tanggal tersebut bertepatan dengan hari libur dan sesuai dengan hasil rapat tim kerja DJBC dengan stakeholder, maka disepakati SAP PDE Manifes mulai diberlakukan secara mandatory pada Senin 3 Juli 2006. “Ada beberapa hal yang terkait dengan rencana penerapan SAP PDE Manifes ini, diantaranya, penyerahan RKSP dan inward manifes atas kapal/ sarana pengangkut yang melakukan pembongkaran barang impor/ekspor di pelabuhan Tanjung Priok, mulai 3 Juli 2006 harus diserahkan secara elektronik melalui sistem PDE kepabeanan, pengangkut atau perusahaan pelayaran atau pihak yang bertanggung jawab atas pengoperasian sarana pengangkut, bertanggung jawab atas pengiriman data RKSP dan inward manifes secara elektronik ke KPBC, batas waktu penyampaian RKSP ke KPBC, sesuai dengan PerMenkeu dan

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WBC/ATS

PerDirjen, adalah paling lambat 24 jam sebelum kedatangan sarana pengangkut, dan atas perubahannya wajib disampaikan paling lambat pada saat kedatangan sarana pengangkut. Sedangkan untuk penyerahan inward manifes, paling lama sampai dengan pada saat sebelum dilakukan pembongkaran barang dari sarana pengangkut,” jelas Susiwiyono. Lebih lanjut Susiwiyono menambahkan, penyerahan data secara elektronik dilakukan oleh pengangkut (perusahaan pelayaran) dengan mengoperasikan modul pengangkut yang sudah di-instal pada sistem komputer mereka dan mengirimkan melalui jaringan komunikasi data secara elektronik ke KPBC. Sedangkan untuk penyerahan outward manifes masih dilayani secara manual (penyerahan hardcopy) dan akan mulai diberlakukan kewajiban penyerahan data elektronik secara mandatory mulai tangal 1 Oktober 2006. Agar keseluruhan itu dapat tercapai dengan baik, maka di dalam pembangunan otomasi sistem pelayanan PDE manifes, DJBC berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip good governance, dengan sejak awal penyusunan konsepnya telah melibatkan stakeholder yang terkait, yaitu perusahaan pelayaran, dan beberapa organisasi atau asosiasi yang terkait (DPP INSA Jaya dan beberapa anggota OSRA), GAFEKSI, GINSI, GPEI, PT.Pelindo II dan beberapa penyedia jasa pengiriman data elektronik.

SOSIALISASI. Dengan jangka waktu yang cukup singkat, DJBC berusaha untuk terus melakukan sosialisasi kepada para pengguna jasa terkait dengan penerapan PDE Manifes secara madatory di Pelabuhan Tanjung Priok

MANIFES SEBAGAI KONTROL DARI SELURUH KEGIATAN PELAYANAN KEPABEANAN.
Sebegitu pentingkah manifes ini
WBC/ATS

SUSIWIYONO. Dengan PDE Manifes, DJBC berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip good governance.

sebagai alat kontrol lalulintas barang ekspor/impor? Jika pemerintah telah menetapkan untuk memandatorykan PDE manifes, tentunya pemerintah telah memikirkan masak-masak akan apa keuntungan yang dihasilkan jika sistem ini diterapkan, baik dari segi penerimaan negara maupun dari segi pengawasannya. Jika demikian apakah definisi manifes ini juga akan tetap sama atau adakah perubahan definisi dari manifes ini? Manifes (kargo manifes) atau yang sering dikenal dengan kargo declaration menurut Convention on Facilitation of International Maritime Traffic 1965 (FAL Convention of 1965), merupakan dokumen yang berisikan semua informasi yang berkaitan dengan barang-barang niaga (kargo) yang diangkut sarana pengangkut (kapal) pada saat kedatangan, ataupun keberangkatan. Dengan demikian maka semua barang ekspor dan impor yang dibawa oleh saranan pengangkut akan terdata (recorded) semua ke dalam kargo manifes. Karena itulah setiap pergerakan barang dalam perdagangan, seharusnya dapat dikontrol melalui dokumen manifes tersebut yang secara umum (dalam konteks kepabeanan) dapat dikelompokan: Inward manifes, adalah dokumen

manifes yang wajib diserahkan pada saat kedatangan sarana pengangkut di suatu pelabuhan yang berisi daftar muatan kargo alat angkut tersebut pada saat datang di suatu pelabuhan. Sementara untuk kargo manifes, ini adalah dokumen manifes selama sarana pengangkut tersebut dalam perjalanan berangkat dan menuju suatu pelabuhan, yang berisi daftar muatan kargo alat angkut tersebut selama melakukan perjalanan dan membawa barang-barang tersebut. Lalu bagaimana dengan outward manifes, dokumen manifes ini adalah dokumen yang wajib diserahkan pada saat keberangkatan sarana pengangkut dari suatu pelabuhan yang berisi daftar muatan kargo alat angkut tersebut pada saat berangkat dari suatu pelabuhan untuk menuju pelabuhan lainnya. Sistem aplikasi pelayanan dengan menggunakan sistem pertukaran data elektronik dalam pelayanan manifes atau yang sering dikenal dengan istilah SAP PDE Manifes, merupakan suatu sistem pelayanan di bidang kepabeanan terhadap penyerahan dan penatausahaan dokumen inward/ outward manifes melalui media elektronik dan jaringan pertukaran data elektronik. Dengan SAP PDE Manifes ini, hal terpenting yang dapat dicatat adalah
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

7

LAPORAN UTAMA
adanya kemudahan dalam penyerahan data-data manifes yang sedemikian banyak dimana kalau sebelumnya harus menyerahkan data print-out (hardcopy) sekian banyak, maka dengan sistem ini hanya cukup menyampaikan data softcopy melalu jaringan elektronik, sehingga tidak perlu lagi mengcopy sekian banyak set untuk keperluan institusi-institusi yang berbeda. Dari pengertian tersebut, maka semua proses pelayanan kepabeanan yang dilakukan oleh KPBC akan mengacu ke dalam dokumen manifes ini. Mulai dari proses pengeluaran barang dengan penyelesaian kewajiban pabean (PIB), pengeluaran ke tempat penimbunan berikat (TPB, KB, GB, TBB), pengeluaran ke kawasan pabean/TPS lainya dan semua proses pelayanan kepabeanan lainnya harus menunjuk dan rekonsiliasi dengan pospos yang ada dalam inward manifes. Dengan demikian, pada saat kedatangan kapal ke suatu pelabuhan, maka perusahaan pelayaran (shipping lines) akan mengajukan inward manifes ke KPBC yang berisi pemberitahuan atas semua barang niaga (ekspor/impor) yang diangkutnya. Dari data yang ada pada inward manifes inilah kemudian akan timbul berbagai bentuk pelayanan kepabeanan (di bidang impor maupun ekspor) sehingga setiap satu transaksi (satu proses) pelayanan akan menunjuk kepada satu pos (satu record) pada inward manifes. Demikian halnya pada saat keberangkatan kapal dari suatu pelabuhan. Pengangkut wajib menyerahkan outward manifes ke KPBC yang berisi barang-barang niaga yang diangkutnya, yang nantinya akan direkonsiliasi dengan dokumen penyelesaiannya. Karena itulah untuk mendorong efisiensi pelayanan dan efektifitas pengawasan terhadap lalulintas barang ekspor/impor, sangat diperlukan manajemen pengelolaan data manifes yang baik sehingga akan memudahkan kontrol terhadap penanganan dan pemenuhan kewajiban yang dipersyaratkan atas lalulintas barang ekspor/impor. Menurut Susiwiyono, dalam melakukan kontrol dan pengawasan terhadap dokumen manifes tersebut, tidak hanya sebatas apakah barangbarang tersebut telah dilindungi dengan dokumen manifes, namun yang lebih penting adalah kontrol dan pengawasan dengan melakukan pengecekan. “Kita akan mengecek, apakah jenis barang yang diangkut oleh sarana pengangkut tersebut (fisik barang) sesuai dengan yang tercantum dalam manifes, lalu apakah jumlah barang yang diangkut oleh sarana pengangkut tersebut (fisik barang) sesuai dengan 8
WARTA BEA CUKAI

yang tercantum dalam manifes,” papar Susiwiyono. Dengan adanya mekanisme ini, maka untuk menghindari adanya manipulasi dan rekayasa terhadap jumlah dan jenis barang, untuk itu sejak awal pihak pengangkut yang bertanggungjawab mengoperasikan alat angkut tersebut harus menyampaikan pemberitahuan/ declaration ke KPBC secara elektronik dan setelah diproses dan dilayani oleh KPBC, maka akan di-upload ke internet untuk dapat dipantau dan dikontrol secara langsung oleh seluruh stakeholder terkait dan masyarakat luas.

INWARD MANIFES
Berkaitan dengan hal tersebut, Susiwiyono menambahkan, awal dari suatu kegiatan pelayanan kepabeanan dimulai dengan pelayanan atas dokumen RKSP atau dokumen BC 1.0 yang memberitahukan akan tibanya sarana pengangkut (kapal atau pesawat udara) ke suatu pelabuhan laut/udara di Indonesia. Atas barang-barang niaga yang dimuat sarana pengangkut tersebut, wajib dicantumkan dalam kargo manifes yang sudah harus diserahkan sebelum sarana pengangkut tersebut melakukan pembongkaran barang. Kargo manifes yang diserahkan pada saat kedatangan inilah yang disebut dengan inward manifes (dokumen BC 1.1) yang berisi daftar seluruh barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut. Setiap inward manifes terdiri dari pos-pos dimana setiap pos tersebut mewakili satu dokumen Bill of Lading (B/L) sehingga dapat dikatakan satu pos tersebut mewakili satu party barang tersendiri atau satu transaksi impor/ ekspor. Karena itulah setiap pos dalam inward manifes tersebut harus diselesaikan dengan satu jenis penyelesaian kewajiban pabean atau dengan kata lain satu pos dalam inward manifes akan ditutup dengan satu dokumen penyelesaian kewajiban pabean. Jenis dokumen penyelesaian kewajiban pabean yang digunakan untuk menutup pos-pos dalam inward manifes tersebut, tergantung kepada status barang niaga dan tujuan pemasukannya. Misalkan untuk barang impor yang akan langsung dikeluarkan ke peredaran bebas, maka harus menggunakan PIB atau BC 2.0, untuk barang impor yang akan dikeluarkan dengan tujuan kawasan berikat harus menggunakan dokumen BC 2.3, untuk barang impor yang ternyata tidak sesuai pesanan/salah kirim dan akan di re-ekspor harus menggunakan PEB atau BC 3.0 dan masih banyak dokumen-dokumen lainnya. Dari keterangan di atas maka dapat disimpulkan, bahwa seluruh proses

pelayanan kepabeanan, apapun bentuk proses pelayanannya akan mengacu ke pos-pos dalam inward manifes dan sebagai bentuk pertanggungjwaban administrasi kepabeanan, maka semua pos-pos tersebut harus ditutup dan direkonsiliasi dengan dokumen pemberitahuan pabean. “Karena itulah aspek yang terpenting dari dokumen inward manifes ini adalah sebagai alat kontrol terhadap semua bentuk penyelesaian kewajiban dan formalitas kepabeanan terhadap seluruh barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut dan dimasukan kedalam daerah pabean Indonesia,” ujar Susiwiyono. Hal lain yang tidak ketinggalan juga disampaikan oleh Susiwiyono, bahwa dengan penerapan PDE manifes ini maka akan mengurangi kontak poin antara pengguna jasa kepabeanan dengan para pegawai bea cukai yang memberikan pelayanan manifes sehingga diharapkan akan dapat mengeliminasi praktekpraktek penyalagunaan yang mungkin dapat terjadi. Untuk itu, dengan adanya PDE manifes ini selain akan sangat membantu dari sisi pelayanan kepabeanan, yang lebih penting lagi adalah PDE manifes ini akan dapat menjadi tools untuk saling kontrol terhadap lalulintas barang, terutama yang terkait dengan pengangkutan, pemasukan dan pengeluaran barangbarang impor/ekspor. Selain itu juga, data-data manifes juga dapat menjadi referensi untuk melakukan kontrol oleh institusi lainnya yang memerlukan data-data lalulintas barang ekspor/impor seperti pihak perbankan, Bank Indonesia, BPS, Ditjen Pajak, dan institusi-institusi penegak hukum yang memerlukan data yang valid dan akurat tentang lalulintas barang ekspor/impor. Dengan membangun SAP PDE Manifes yang berbasis jaringan publik/internet (web-based) maka akan memudahkan akses bagi seluruh instansi pemerintah untuk mendapatkan data yang terkait dengan lalulintas barang ekspor/ impor, sesuai dengan domain tugasnya masing-masing. Selain itu, dengan pilihan platfom web-based akan membantu instansi-instansi pemerintah yang belum mempunyai in-house sistem sendiri untuk dapat mengakses data base dimaksud. Keuntungan lain denga platfom teknologi web-based tersebut akan mendorong transparansi akses data laulintas barang ekspor/impor oleh seluruh pihak yang terkait, bahkan oleh masyarakat luas, sesuai dengan hirarki otoritas dan keperluannya masing-masing, sehingga akan sangat mendukung penerapan prinsip-prinsip good governance. adi

EDISI 381 AGUSTUS 2006

PDEManifes
MANDATORY DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK
Sesuai dengan ketentuan dari Peraturan Direktur Jenderal Nomor P-10/BC/2006, maka sejak 1 Juli 2006 untuk pelabuhan Tanjung Priok seluruh proses pengajuan RKSP/JKSP, inward manifes dan outward manifes harus dilakukan melalu sistem PDE Kepabeanan, dalam hal ini menggunakan SAP PDE Manifes.

B

erbicara soal pertukaran data elektronik (PDE) manifes, memang dirasakan tidak asing lagi bagi instansi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Rencana yang lama tertunda ini sebenarnya sudah sejak lama didengung-dengungkan oleh DJBC akan diterapkan, namun baru kali ini sistem tersebut dapat terwujud. Rencana penerapan PDE manifes sebenarnya sudah dimulai pada tahun 2000, yaitu sejak diterbitkannya surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai nomor 61/BC/2000 tentang tatacara penyerah-

an dan penatausahaan pemberitahuan rencana kedatangan sarana pengangkut, pemberitahuan kedatangan barang impor dan pemberitahuan kedatangan barang ekspor. Berdasarkan prosedur yang ada pada surat keputusan tersebut, sebenarnya telah dibuat sistem aplikasi yang pada dasarnya masih bersifat mengganti proses penatausahaan manifes yang masih manual menjadi penatausahaan manifes secara elektronik. Akan tetapi penerapan dan aplikasi tersebut tidak dapat berjalan sesuai yang diharapkan.
WBC/ATS

SETELAH TERTUNDA, 2004 PDE MANIFES MULAI DIRANCANG KEMBALI
Setelah tertunda beberapa waktu dengan berbagai kendala yang ditemui, akhirnya pada tahun 2004 Dirjen Bea dan Cukai kembali mengeluarkan keputusan nomor 33/BC/2004 yang isinya membentuk tim kerja dalam rangka penerapan otomasi sistem dan prosedur tatakalsana penyerahan dan penatausahaan rencana kedatangan sarana pengangkut (RKSP) dan manifes. Dengan keputusan tersebut, maka tim memiliki tugas antara lain, melakukan evaluasi dan pengkajian terhadap sistem dan prosedur serta aplikasi RKSP dan manifes yang telah ada, penyusun konsep keputusan Dirjen Bea dan Cukai tentang tatalaksana penyerahan dan penatatusahaan pemberitahuan RKSP manifes kedatangan sarana pengangkut dan manifes keberangkatan sarana pengangkut, selain itu juga mengkaji dan memberikan masukan terhadap proses penyusunan sistem aplikasi pelayanan RKSP dan manifes. Dari keputusan Dirjen tersebut, maka dalam kurun waktu bulan April sampai dengan November 2004, tim telah melakukan kegiatan dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut, diantaranya menyusun konsep keputusan Dirjen tentang tatalaksana penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan RKSP dan manifes kedatangan sarana pengangkut dan manifes keberangkatan sarana pengangkut, melakukan rapat dengan stakeholder, yaitu perusahaan pelayaran dalam rangka koordinasi dan pembahasan semua permasalahan yang mungkin timbul dalam rangka penerapan sistem tersebut, dan menyempurnakan program aplikasi yang telah ada bersama
WARTA BEA CUKAI

EVALUASI HARI PERTAMA. Dirjen yang didampingi tim PDE manifes, saat melihat pelaksanaan hari pertama PDE Manifes di pelabuhan Tanjung Priok.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

9

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

ANWAR SUPRIJADI. Rencana kedepan adalah mandatory di seluruh pelabuhan dan penerapan outward manifes.

PT. EDI Indonesi selaku pelaksana pembuatan sistem aplikasi pelayanan (SAP) PDE manifes.

TAHAP UJI COBA PENERAPAN SAP PDE MANIFES
Dari ketiga kegiatan yang dilakukan tersebut, maka pada tahap awal telah diselesaikan penyempurnaan sistem aplikasi pelayanan PDE manifes, dari penyelesaian tersebut maka langkah selanjutnya adalah menerapkan rencana SAP PDE manifes melalui tahapan uji coba. Uji coba yang dilakukan ini dimaksudkan untuk menguji dan memonitor proses penyiapan dan pengiriman data manifes secara elektronik oleh shipping line peserta uji coba, termasuk proses penyatuan data dari slot charter dan/atau shipping partner lain ke server inhouse
WBC/ATS

SAIPULLAH NASUTION. Dengan terintegrasinya semua sistem, maka sistem pengawasan akan berjalan lebh baik lagi.

bea cukai serta mengetahui kendala-kendala yang mungkin terjadi. Selain itu juga dilakukan tahap pararel Run, tahap ini berfungsi sebagai pararel system antara hard copy dan (data elektronik), termasuk untuk menguji fungsifungsi interaktif aplikasi inhouse (redress, pemecahan/penggabungan pos, penutupan pos, dan lain-lain). Tahapan terakhir sebelum PDE manifes diberlakukan secara mandatory, adalah dilakukan tahap pilot run yang merupakan tahapan pertukaran data elektronik yang sudah berfungsi penuh, namun belum mandatory. Dan setelah mandatory, tahapan yang dilakukan adalah penyampaian dokumen manifes ke KPBC yang telah menerapkan PDE manifes wajib dilakukan secara elektronik untuk semua shipping line. Pada tahapan uji coba ini juga, Dirjen telah mengeluarkan keputusan nomor 100/BC/2004 yang menetapkan, tempat pelaksanaan uji coba PDE manifes adalah KPBC Tipe A khusus Tanjung Priok I, II, dan III yang dimulai sejak 1 Dsember 2004, dengan melibatkan 19 perusahaan agen pelayaran,.shipping line, dan 1 perusahaan jasa pengiriman data menifes secara elektronik. Dengan ketetapan tersebut, maka tim kerja melakukan koordinasi dengan Kepala KPBC Tipe A khusus Tanjung Priok I, II, dan III yang didasari pada surat nomor S-39/BC.51/2004 tentang pelaksanaan uji coba sistem aplikasi pelayanan PDE manifes. Setelah berjalan selama satu tahun, maka ketua tim operasional tim kerja otomasi sisdur manifes pun mengirimkan hasil uji coba tersebut kepada Dirjen degan ND-22/BC.9/2005, yang berisikan antara lain: Telah selesai disiapkan ruangan pelayanan di UPTK I, yang diperuntukan bagi pelayanan manifes untuk KPBC Tanjung Priok I, II, dan III. Telah selesai dilakukan instalasi dan pemasangan perangkat komputer dan jaringan sebanyak 15 unit ditambah 2 unit printer. Telah dilakukan instalasi sistem aplikasi pelayanan manifes di server KPBC Tanjung Priok dan server Kantor Pusat DJBC. Pengiriman data manifes secara elektronik dari modul pengangkut perusahaan pelayaran/ shipping line peserta uji coba ke inhouse sistem KPBC telah dapat berjalan dengan baik. Dalam kaitannya dengan kewajiban pencantuman nomor dari pos BC 1.1 pada PIB, maka untuk kemudahan eksportir, importir maupun pengguna jasa kepabeanan yang lain dalam memperoleh informasi nomor dan pos BC 1.1, telah dibangun sarana yang setiap saat bisa diakses melalui internet dan juga melalui SMS. Namun demikin beberapa kendala pada tahap uji coba itu masih ditemui oleh tim, antara lain, bisnis proses dari agen pelayaran yang memungnkinkan adanya slot charter dan barang konsilidasi dari forwader, merupakan kendala utama dari sisi pengangkut/agen pelayaran. Sebagian agen pelayaran merupakan perusahaan asing, sehingga diperlukan

waktu untuk koordinasi antara “local office” dengan kantor pusat/principal-nya dalam pembuatan converter data manifes untuk menghasilkan format data yang sesuai dengan modul pengangkut. Adanya perubahan “perilaku” sistem penanganan manual dibandingkan elektronik memerlukan tinjauan ulang terhadap sisdur dan juklak petugas di lapangan. Untuk kepentingan integrasi, perlu adanya penyesuaian dan penyempurnaan pada sistem aplikasi pelayanan impor. Perlu adanya sosialisasi yang lebih intensif terhadap pengangkut, importir, eksportir dan pengguna jasa lainnya, terutama berkaitan dengan kewajiban pencatuman nomor dan pos BC 1.1 pada PIB.

UJI COBA DENGAN 19 PERUSAHAAN PELAYARAN
Melihat masih banyaknya hambatan yang dialami pada saat uji coba tersebut, maka untuk mempercepat proses penerapan PDE manifes ini, Dirjen mengeluarkan keputusan nomor 35/BC/ 2005 tentang pembentukan tim pelaksana dalam rangka penerapan SAP PDE manifes, yang tugasnya merumuskan dan melaksanakan semua kegiatan/pekerjaan dalam rangka tahapan pelaksanaan penerapan SAP PDE manifes, sejak uji coba sampai dengan tahapan mandatory, termasuk evaluasi dan monitoring. Tugas lainnya yang teremban dalam keputusan tersebut adalah, penyempurnaan dan pengembangan terhadap SAP PDE manifes serta hal-hal lain yang terkait dengan permasalahan integrasi dengan sistem SAP impor, ekspor dan SAP lainnya. Dengan dua tugas ini, maka Direktur Informasi Kepaberanan dan Cukai (IKC) berkoordinasi dengan Kepala Kantor Wilayah IV DJBC Jakarta, untuk melaksanakan rencana pelaksanaan pararel run dan pilot run dalam rangka SAP PDE manifes. Dengan ditetapkannya rencana tersebut, maka dengan melibatkan 19 perusahaan pelayaran/agen pelayaran,
WBC/ATS

RAHMAT SUBAGIO. Kedepan semua sistem harus terintegrasi antara satu sama lainnya.

10

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

pada 1 April 2005 dilaksanakanlah tahapan pararel run dan pilot run dengan tahapannya sebagai berikut, pelayanan manifes (BC 1.1) tetap dilakukan secara manual, akan tetapi untuk 19 perusahaan/ agen pelayaran yang telah ditunjuk sebagai peserta pararel run, pelayanan manifes hanya dapat dilakukan setelah mereka mengirimkan data manifes secara elektornik/soft copy mengunakan modul pengangkut yang bersangkutan melalui SAP PDE manifes. Untuk perusahaan pelayaran diluar yang 19 perusahaan (non peserta pararel run), mulai didorong untuk ikut serta mencoba melakukan pengiriman data manifes secara elektronik. Dari kedua tahapan ini ternyata hambatan masih tetap saja terjadi, baik dari segi teknis maupun dari segi peraturan/dasar hukum akan melaksanaan PDE manifes ini. Hambatan teknis yang dialami adalah, masih adanya kendala dalam pembentukan EDI flat-file di modul pengangkut pada beberapa shipping line. Masih adanya kendala dalam penggabungan data elektronik untuk menggabungkan slot-charter pada beberapa shipping line. Banyaknya kendala dalam pengiriman data secara elektronik ke inhouse system di KPBC, sehingga terjadi perbedaan data yang

mencolok antara data hard copy dengan soft copy. Perlunya dibuatkan feedback atau respon kepada pihak pengirim data manifes secara elektronik yang berisi informasi mengenai status data elektronik yang dikirim, apakah telah diterima dengan baik oleh inhouse di KPBC. Menurut Kepala Sub Direktorat Manajemen Risiko, yang juga merupakan Wakil Ketua Tim kerja SAP PDE Manifes, Susiwiyono, faktor utama dari timbulnya kendala-kendala tersebut, adalah terkait dengan bisnis proses dari sistem pengangkut barang/kontainer pada suatu sarana pengangkut/kapal pengangkut yang dalam hal ini diwakili oleh perusahaan pelayaran yang menjadi penanggungjawab pengoperasian suatu kapal yang pada dasarnya bukan merupakan pemilik tunggal terhadap barang yang diangkut dalam kapalnya. “Barang/kontainer tersebut dapat merupakan milik dari agen pelayaran lain yang menjadi slot-charter ataupun joint-partner dan sebagian lagi adalah milik forwaders, sehingga kendala utama yang dialami oleh agen pelayaran yang menjadi agen suatu kapal adalah dalam hal pengumpulan/ meng-collect data soft copy manifes dari perusahaan slot-charter maupun forwader yang merupakan bagian dari

kapal yang diageninya,” papar Susiwiyono. Lebih lanjut Susiwiyono menambahkan, hal tersebut sebenarnya oleh tim pelaksana telah dibuatkan solusi pemecahannya, yaitu telah dibuatkan modul pengangkut untuk perusahaan slotcharter atau joint partner maupun forwader yang fungsinya adalah untuk entry data hard copy menifes sehingga menjadi data soft copy. Dengan modul ini sebenarnya slot charter maupun forwader dapat menyerahkan data manifes dalam bentuk soft copy kepada perusahaan pelayaran yang mengageni kapal tersebut, setelah data manifes dalam satu kapal terkumpul barulah pengangkut/agen pelayaran yang menjadi penanggung jawab dari kapal tersebut mengirim data soft copy manifes ke KPBC melalui PDE Manifes. Dengan adanya solusi tersebut, maka tim melanjutkan tahapannya kepada tahapan pilot run yang pada dasarnya tahapan ini sudah sama dengan tahapan mandatory, namun yang berbeda hanyalah dilakukan oleh sebagian perusahaan pelayaran (peserta pilotting) dan belum dilakukan untuk seluruh perusahaan pelayaran. Selain itu tahapan ini lebih ditujukan untuk melakukan evaluasi atas semua kondisi dan permasalahan yang mungkin akan terjadi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

11

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

SISTEM PDE MANIFES. Satu bulan penerapan mandatory, kendala masih akan dapat terjadi.

apabila dilakukan penerapan secara penuh (mandatory), sehingga masih mungkin dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Pada tahapan ini juga, perusahaan pelayaran peserta pilotting dalam mengirimkan data manifes sudah harus sepenuhnya memulai sistem elektronik, dan data elektronik yang diterima di KPBC sudah resmi dan sudah sah secara formal menjadi dokumen pemberitahuan pabean (BC 1.1). Karena itulah untuk dapat menerapkan tahapan pilot-run ini sudah harus ada dasar hukum penerapan SAP PDE Manifes berupa peraturan Menkeu dan peraturan Dirjen. Setelah kedua dasar hukum terbit, maka dalam tahapan pilot run dilakukan penetapan atas 5 perusahaan/agen pelayaran yang ditunjuk sebagai peserta pilotting melalui keputusan Dirjen nomor 69/BC/2006 tentang penetapan perusahaan pelayaran yang ditunjuk sebagai peserta pilot run. Kelima perusahaan tersebut adalah, PT. Samudera Indonesia, PT. Tresna Muda Sejati, PT. Layar Sentosa Shipping, PT. Andal Lautan, dan PT. APL Indonesia.

1 JULI MANDATORY DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK
Dengan dikeluarkannya dasar hukum akan penerapan SAP PDE Manifes, maka seluruh pengiriman data manifes dari seluruh perusahaan pelayaran harus dilakukan secara elektronik dan semua bentuk pelayanan manifes di KPBC harus dilakukan melalui SAP PDE Manifes, atau dengan kata lain telah dilakukan penerapan secara penuh SAP PDE Manifes di KPBC Tanjung Priok I, II, dan III, sehingga kegiatan pelayanan yang diterima di KPBC adalah berupa data elektronik yang tersimpan di data base pada server KPBC. 12
WARTA BEA CUKAI

Dengan dimandatorykannya SAP PDE Manifes ini, hal penting yang juga harus dilakukan adalah keharusan untuk melakukan integrasi sistim antara SAP PDE Manifes dengan SAP PDE impor dan SAP PDE ekspor, sehingga setiap dokumen impor yang ada akan menunjuk ke dalam salah satu pos pada BC 1.1 dan proses menutupan pos BC 1.1 juga akan dapat dilakukan secara otomatis melalui program komputer. Demikian juga dengan masalah administrasi pengelolaan barang tidak dikuasai yang secara otomatis akan di generate dari SAP PDE Manifes. Satu hal yang cukup penting dengan dimandatorykannya SAP PDE Manifes di pelabuhan Tanjung Priok, maka untuk idealnya selain pengiriman data dari perusahaan pelayaran ke KPBC sudah dilakukan secara elektronik, juga harus ada sistem petukaran data elektronik antara KPBC dengan pihak pengelola pelabuhan (terminal operator/Pelindo), karena ada beberapa ketentuan yang enforcement-nya baru dapat secara efektif dilakukan kalau sudah ada koneksi jaringan data antara KPBC dengan pengelola pelabuhan. Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, dengan ditetapkannya PDE manifes ini secara mandatory, maka DJBC tidak akan kompromi lagi kembali kepada sistem manual dan jika penerapan di Tanjung Priok sudah dapat berjalan dengan sempurna tinggal di pelabuhan lainnya yang juga akan di mandatorykan. “Dari kendala-kendala yang kita hadapi syukur Alhamdulillah dapat kita selesaikan dengan baik, dan untuk perusahaan-perusahaan pelayaran yang memang belum memiliki sistem, kami harap itu dapat disesuaikan dengan secepatnya,” ujar Dirjen Lebih lanjut Dirjen menjelaskan,

dengan melihat semangat yang ada sekarang, DJBC optimis akan dapat menjalankan sistem ini dengan sempurna dan untuk masa transisi ini dimana tim baru satu bulan menyempurnakan sistemnya, untuk itu diharapkan kemaklumannya jika masih ada beberapa hal yang menjadi kendala yang dalam waktu dekat juga akan langsung diselesaikan dengan baik oleh tim. Sementara itu menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kantor Wilayah IV DJBC Jakarta yang juga bertindak selaku penanggunga jawab IV sub tim kerja PDE manifes, Rahmat Subagio, dengan ditetapkanya PDE manifes secara mandatory, maka para pengguna jasa akan memiliki keuntungan yang terkait dengan pelayanan yang efisien dimana para pengguna jasa tidak perlu lagi datang ke bea cukai dengan setumpuk hard copy manifes, namun cukup mengirim data dari kantor masing-masing ke sistem KPBC. “Hingga 10 hari pelaksanaan mandatory PDE manifes, tidak ada kendala dalam pengiriman data, jadi sistem telah berjalan dengan baik namun yang masih banyak terjadi saat ini adalah ketidaksiapan beberapa pengangkut/ forwader dalam melaksanakan proses PDE manifes,” ujar Rahmat Subagio. Hal ini juga diamini oleh Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan KPBC Tipe A Khusus Tanjung Priok II, Saipullah Nasution, menurutnya KPBC Tipe A Khusus Tanjung Priok II yang ditunjuk selalu pilot projec dari penerapan SAP PDE manifes, dari sisi sarana dan prasarana sudah siap, sedangkan untuk soft ware dimana PT. EDI yang menyiapkan juga sudah siap, sehingga sebagai user sumber daya yang ada di KPBC ini telah siap semua. “Karena ini program baru, jadi masih ada beberapa kendala yang kita hadapi misalnya dalam pengiriman data kita menerimanya tidak utuh dari satu kapal yang seharusnya 900 pos tapi yang kita terima hanya beberapa pos, hal ini merupakan kendala teknis dan sebagai user kita tidak bisa menanganinya,” papar Saipullah Nasution Lebih lanjut baik Rahmat Subagio maupun Saipullah Nasution menjelaskan, hingga saat ini secara sistem memang PDE manifes belum terintegrasi dengan PDE impor, mereka berharap kedepan nanti dengan penerapan PDE manifes yang telah berjalan dengan sempurna maka sudah dapat terintegrasi dengan PDE impor maupun ekspor. Begitu juga dalam hal penutupan pos BC 1.1, memang penutupan pos ini tidak banyak berbeda antara sistem manual dengan PDE manifes, namun dengan penerapan PDE manifes kecepatan dan keakuratan data akan lebih baik, sehingga bila semua telah terintegrasi maka penutupan terutama untuk PIB sudah secara otomatis juga. adi

EDISI 381 AGUSTUS 2006

SAP PDE Manifes
Pada dasarnya data-data yang ada pada manifes merupakan pangkal atau sumber data yang digunakan dalam dua fungsi utama kegiatan bea dan cukai yaitu administrasi pelayanan dan pengawasan.

MEKANISME DAN SISTEM PENGAWASAN

P

lalulintas dan pergerakan barang rosedur pelayanan kepabeanan mekanisme sistem dan dasar hukum eksapor/impor. Belum adanya yang efektif dan efisien, saat ini yang dapat mengikatnya, sehingga integrasi sistem dan belum dituntut agar benar-benar dapat pelayanan yang prima dapat terwujud terwujudnya proses checks dan terwujud, sehingga mampu menjamin dan pengawasan yang efektif juga balances yang mengakibatkan tidak kelancaran arus barang. Dengan akan terlaksana dengan baik. Untuk adanya proses rekonsiliasi data antar tuntutan ini, maka diharapkan juga itulah dengan penerapan sistem instansi pemerintah yang terkait, dengan pelayanan yang efektif dan aplikasi pelayanan (SAP) pertukaran sehingga menciptakan potensi risiko efisien, akan mendorong efisiensi data elektronik (PDE) manifes, bisa yang sangat besar terhadap praktek pelayanan dan efektifitas menjadi kunci utama atas persoalan penyalagunaan. pengawasan terhadap lalulintas mendasar yang memang barang ekspor/impor. Satu hal yang membutuhkan penanganan terkait dengan efisiensi dan secepatnya. PEMANFAATAN DATA SEBAGAI efektifitas yang ternyata sangat Dengan dimandatorykannya SAP SUMBER UTAMA PENGAWASAN. diperlukan, yaitu manejemen PDE manifes pada 1 Juli 2006 lalu di Untuk mewujudkan itu semua, pengelolaan data manifes yang baik pelabuhan Tanjung Priok, maka tentunya diperlukan suatu sehingga akan WBC/ATS memudahkan kontrol terhadap penanganan dan pemenuhan kewajiban yang dipersyaratkan atas lalulintas barang ekspor/impor. Adanya tuntutan pelayanan dan pengawasan saat ini, memang didasarkan atas berbagai isu nasional yang terkait dengan masalah kepabeanan yang dalam tataran makro berhubungan dengan aspek lalulintas barang ekspor/impor. Isu tersebut muncul karena permasalahan mendasar yang saat ini perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak agar dapat teratasi. Permasalahan mendasar tersebut, misalnya belum adanya sistem atau perangkat yang secara nasional dapat digunakan untuk melakukan kontrol SDM PERLU PENYESUAIAN. Dengan diterapkannya PDE Manifes, maka SDM di lapangan perlu penyesuaian, sehingga yang jelas terhadap analisa intelijen dan pengawasan barang akan lebih optimal.
EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

otomatis segala bentuk pelayanan yang diberikan dan dilayani oleh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Khusus Tanjung Priok I, II, dan III secara keseluruhan akan mengunakan sistem elektronik. Dengan penerapan ini juga diharapkan kedepan nanti mekanisme pengawasannya juga akan semakin jauh lebih baik dan efektif. Menurut Kasubdit Intelejen Direktorat Pencegahan dan Penyidikan (P2) yang juga merupakan penanggung jawab sub tim penerapan SAP PDE Manifes, Drs. Nasar Salim, Msi, jika dipandang dari sudut bidang pengawasan, data manifes merupakan salah satu sumber informasi yang penting dalam mekanisme pengawasan kepabeanan. Walaupun pemberitahuan dalam manifes masih bersifat umum, akan tetapi manifes merupakan dokumen pemberitahuan pabean yang pertama kali diberitahukan oleh pengangkut kepada bea cukai, tentunya setelah rencana kedatangan sarana pengangkut (RKSP). Dalam rangka pengawasan, banyak sekali analisaanalisa yang dapat dilakukan dari data-data yang ada dalam manifes. “Dengan diberlakukannya PDE manifes maka data manifes yang ada pada bea cukai sudah berbentuk elektronik (soft copy) sehingga pencarian dan pemanfaatan data akan jauh lebih mudah dilakukan. Dengan kondisi ini maka mekanisme pengawasan akan dapat dilakukan

Drs. NASAR SALIM, Msi. Dengan diberlakukannya PDE Manifes, mekanisme pengawasan dapat dilakukan lebih efektif, dengan lebih memanfaatkan data-data yang ada pada manifes.

lebih efektif lagi, yaitu dengan lebih memanfaatkan data-data yang ada pada manifes untuk kepentingan analisis intelijen dan untuk memonitoring lalulintas pergerakan barang impor maupun ekspor,” papar Nasar Salim.

DATA SEBAGAI DUA FUNGSI UTAMA KEGIATAN BEA CUKAI
Dari penjelasan tersebut dapat

ANALISIS INTELIJEN. Dapat dilakukan lebih awal, jika PDE Manifes telah berjalan dengan sempurna.

disimpulkan bahwa dengan adanya sistem PDE manifes tentunya akan lebih mendukung sistem pengawasan yang sudah ada, sehingga kedepan nanti sistem dan mekanisme pengawasan akan lebih disempurnakan dengan tujuan untuk menjamin hak-hak serta kepentingan masyarakat dan negara. Data memang menjadi dasar untuk melakukan suatu analisis dan dengan data pula mekanisme pengawasan dapat ditentukan keberhasilannya. Menanggapai hal terserbut, Nasar Salim mengatakan, pada dasarnya data-data yang ada pada manifes merupakan pangkal atau sumber. Dari data tersebut juga digunakan pada dua fungsi utama kegiatan bea cukai, yaitu administrasi pelayanan dan pengawasan. Untuk administrasi pelayanan, manifes merupakan alat kontrol terhadap semua dokumen pemberitahuan pabean dan semua bentuk kegiatan pelayanan kepabeanan, sehingga semua dokumen pelayanan kepabeanan, seperti BC 2.0, BC 2.3, BC 3.0 dan lain-lain, harus me-reffer atau merujuk/rekonsiliasi dengan pos-pos yang ada pada manifes. Sedangkan untuk kepentingan pengawasan, akan sangat membantu dalam proses analisis intelijen dan untuk memonitoring lalulintas pergerakan barang ekspor dan impor. Dengan demikian, diterapkannya PDE manifes tentunya pemanfaatan data-data tersebut akan sangat lebih optimal untuk kepentingan administrasi pelayanan dan WBC/ATS pengawasan. “Sebagai gambaran pemanfaatan data tersebut, yaitu dalam tahap selanjutnya penutupan pos manifes akan dilakukan secara elektronik terutama untuk pos yang diselesaikan dengan PIB dan pemberian atensi terhadap analisis data yang ada pada manifes, dapat dilakukan dan dikirimkan secara elektronik baik ke sistem aplikasi pelayanan impor maupun ke pejabat yang bekepentingan, sehingga informasi yang ada dapat segera ditindaklanjuti,” jelas Nasar Salim. Melihat begitu berperannya data

14

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WBC/ATS

yang ada di dalam manifes dan saat ini DJBC sudah dapat mengetahui jauh lebih awal dari sebelumnya akan data-data tersebut, maka dengan adanya PDE manifes tentunya diharapkan kebocoran-kebocoran penerimaan negara dapat ditekan sekecil mungkin, terutama kerugian negara yang dikarenakan lemahnya sistem administrasi pelayanan dan sistem pengawasan Memang dari hasil uji coba sebelumnya, bahkan sampai dengan tahap awal pemberlakukan mandatory pada 1 Juli 2006, tim penerapan PDE manifes dan KPBC Tanjung Priok masih berkonsentrasi pada kendala-kendala teknis terutama dari sisi aplikasi, sehingga evaluasi kearah kebocoran penerimaan negara saat ini MENEKAN KEBOCORAN NEGARA. Dengan lebih sempurnanya lagi sistem administrasi pelayanan dan sistem pengawasan, masih belum dila- diharapkan kebocoran negara akan dapat lebih ditekan. kukan.”Akan tetamanifes diharapkan kedepan nanti dalam mekanisme pengawasan PDE pi bila ditinjau dari sistem yang ada mekanisme pengawasan akan jauh manifes ini adalah, SDM yang terkait maka jika sistem PDE manifes ini lebih baik seperti yang telah langsung baik dengan data yang ada sudah dapat berjalan dengan baik diungkapkan oleh Nasar Salim. maupun dengan analisis dari datadan sesuai dengan konsep awal yang Namun demikian, tentunya kendala data tersebut. Untuk itu dengan telah dirumuskan, maka hak-hak baik dari segi sistem maupun dari diberlakukannya PDE manifes, SDM negara pasti akan lebih terjamin,” segi pelaksanaan di lapangan masih di lapangan tentu perlu penyesuaiankata Nasar Salim. akan membayangi penerapan penyesuaian dalam tugas. Pertama Lalu bagaimana dengan penetapan mekanisme pengawasan dari SAP tim PDE manifes bekerjasama jalur, apakah dengan PDE manifes ini juga PDE manifes ini. dengan Kantor Wilayah dan KPBC akan cukup berpengaruh? Menurut Nasar Untuk itu proses penyempurnaan akan terus mengadakan sosialisasi Salim, penetapan jalur dalam SAP impor PDE manifes masih memerlukan kepada petugas di lapangan. Kedua, didasarkan pada beberapa indikator effort dan waktu, karena mensimulasikan proses operasional resiko, yang telah dipakai saat ini yaitu kesempurnaan sistem ini sangat SAP PDE manifes. Ketiga, profil importir dan profil komoditi, sehingga tergantung dan membutuhkan menyiapkan hardware yang penetapan jalur saat ini akan sangat dukungan teknis, yaitu integrasi diperlukan untuk proses pelayanan. tergantung dari tingkat resiko importir dan sistem baik dari sistem intern yang “Pemanfaatan informasi sebagai tingkat resiko komoditi yang diimpor. Akan telah ada seperti SAP impor dan unsur pengawasan tentunya akan tetapi, kedepan nanti tentunya PDE ekspor maupun sistem yang ada lebih efektif, karena dengan sistem manifes akan mem-pengaruhi penetapan pada instansi lain terutama yang ada ini informasi dapat diterima dan jalur, karena dengan penetapan PDE di area pelabuhan. Sehingga dianalisis lebih cepat dari manifes ini akan memperlancar proses sistem dan mekanisme pengawasan sebelumnya, sehingga analisis pelayanan bea cukai. terkait dengan sistem PDE manifes intelijen dan pengawasan barang nanti, tentunya akan tergantung ekspor dan impor akan jauh lebih SDM SEBAGAI PENENTU pada kesempurnaan SAP PDE optimal,” ungkap Nasar Salim. KEBERHASILAN manifes. adi Dengan penerapan SAP PDE Satu hal yang terpenting juga
EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

15

PDEManifes
LAPORAN UTAMA

PELAYANAN DAN PENGAWASAN MAKIN SEIMBANG
engenai dimandatorikannya PDE manifes pada 1 Juli 2006 lalu, Capten Nugroho Subroto, Jakarta Terminal Manager, PT. APL Indonesia, menyatakan, penerapan PDE manifes oleh pemerintah (DJBC), adalah tepat dalam meningkatkan pelayanan, utamanya pelayaran yang mana di beberapa negara, penerapan sistem seperti ini sudah berlangsung lama. Pelayaranpelayaran besar terutama internasional, menurut Nugroho sudah siap untuk menjalankan PDE manifes. Menyinggung pemberlakuan mandatory untuk PDE, menurutnya waktu yang diberikan dirasa sangat sempit, dengan pilot run yang hanya satu minggu langsung mandatory. Rencana pemberlakuan PDE manifes sudah cukup lama yaitu sejak 2000. Hanya saja ketika itu masih menunggu payung hukum. Saat ini
WBC/ATS

Perusahaan pelayaran, pengusaha TPS, dan forwarder adalah unsur terkait yang terlibat dalam penerapan Pertukaran Data Elektronik (PDE) untuk manifes atau PDE Manifes. Dari beberapa pihak ini umumnya mereka nyatakan siap untuk menjalankannya.

M

CAPT. NUGROHO SUBROTO. Di beberapa negara telah lama menerapkan sistem PDE Manifes.

payung hukum itu sudah keluar pada 19 Mei 2006 melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan dan diperintahkan segera mandatori pada 1 Juli 2006. SK Menkeu ini, menurut Nugroho keluar 3 bulan sebelum pemberlakuan dan 3 bulan setelah pemberlakuan mungkin masih ada waktu bagi Bea Cukai, forwarder, pelayaran dan PT. EDI untuk menyempurnakan sistem. Menurutnya, memang tidak semua pelayaran estabilished dengan sistem di internal masing-masing, namun PT. APL sendiri siap dan telah menggunakan EDI (Electronik Data Interchange), sebab menyadari di beberapa negara lain pelabuhannya sudah menggunakan EDI , seperti Singapura, Hongkong dan Amerika. Lebih lanjut Nugroho menjelaskan, sistem PDE manifes tidak terlalu rumit. Jika tidak memiliki sistem bisa saja dilakukan di PDE Service Center (semacam warung EDI) dengan email, jadi dapat disimpulkan, untuk sistem tidak memberatkan, namun dari pelaku bisnis shipping ada sedikit kesulitan, misalnya APL memiliki kapal, isinya selain kontainer dari kapalnya, juga kontainer dari pelayaran lain, bukan satu perusahaan pelayaran melainkan lebih dari 5. Lantas bagaimana menggabungkan manifes yang ada menjadi satu. Hal seperti inilah jika tidak ditangani secara serius maka tujuan penerapan PDE tidak akan tercapai. Jika semua pihak terkait telah tahu dan memahami soal PDE, maka tinggal bagaimana mengkonversi sistem dari pelayaran menjadi data EDI. Dari bahasa yang dipakai masing-masing pelayaran dikonversi ke bahasa internasional untuk pertukaran data. Dalam hal ini PT.EDI membuat satu modul pengangkut yang dipakai seluruh pelayaran untuk mentransfer data dimana jaringan data base Bea Cukai dibangun PT . EDI.

Masalahnya sekarang, lanjut Nugroho, bagaimana memasukkan data yang ada di pelayaran untuk bisa di up load ke modul pengangkut ke data base-nya bea cukai, sebab itu menjadi tugas pemilik kapal. Setelah digabung dan direspon Bea Cukai, keluarlah BC.1.1 untuk melakukan pembongkaran kapal.

KENDALA PADA PENGGABUNGAN MANIFES
Sementara itu, menurut Tresna Pardosi, Operation & Claim Manager perusahaan pelayaran PT Pacific International Lines (PIL), menghadapi pemberlakuan PDE, pihaknya yang bergerak di bidang pelayaran telah siap bahkan sejak tahun 2000 begitu mendengar akan diberlakukannya PDE. Hanya saja, baru sekarang diwujudkan dan memang harus dipaksakan dibuat mandatory, sebagai
WBC/ADI

TRESNA PARDOSI. Sejak awal rencana penerapan PDE manifes pihak pelayaran telah siap.

16

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WBC/ATS

awal menuju Asean Single Window dan National Single Window (NSW). Sama dengan pendapat sebelumnya yang juga dialami pelayaran lain, untuk menggabungan data dengan partner yang menjadi langganan di perusahaan pelayarannya, sebelumnya manifes PT. PIL dapat digabung dengan sistem sendiri, namun pada saat dikirim ke Bea Cukai belum dapat direspon sehingga harus ditangani PT.EDI. “Kami rasa karena masih baru jadi pasti ada kendala. Pihak kami tidak ada masalah dan kita memang harus siap,” ujar Tresna yang mengaku pihaknya selalu dilibatkan dalam membahas draft Peraturan Dirjen Bea Cukai sebagai tindak lanjut dari Keputusan Menkeu tentang PDE manifes. Mengenai cepatnya menetapkan status PDE menjadi mandatori, menurutnya itu tidak menjadi masalah dan bukan suatu hal yang dipaksakan karena rencananya memang sudah cukup lama. Meski ada yang pro dan kontra, namun mau tidak mau harus setuju meski dikeluhkan tentang waktunya yang terlalu mendesak. Terhadap penerapan sanksi, Tresna memberi masukan, agar pengenaan sanksi jangan langsung diterapkan, karena saat ini masih dalam masa transisi maka sulit untuk berjalan sempurna. Dari segi teknis ia menilai, PT EDI harus aktif dalam menyempurnakan sistem karena banyak sekali yang belum tercakup dan masih banyak yang harus disempurnakan dari sistem tersebut.

YANTI AGUSTINOVA. Dengan respon yang cepat dari bea cukai, maka tidak akan ada kendala keterlambatan bongkar muat kapal.

PELAYANAN 24 JAM, 7 HARI KERJA
Mengenai kesiapan PT. JICT (Jakarta International Container Terminal) sebagai terminal operator, menurut Yanti Agustinova, Senior Manager Account & Customer Service, pihaknya selalu mengikuti setiap peraturan dari Bea Cukai, termasuk mengenai penerapan PDE manifes yang saat ini sudah mandatori. Apalagi dengan adanya PDE manifes maka lebih efisien lagi waktu dan biayanya. “Dengan adanya PDE manisfes, kita sangat support kalau ini bisa berjalan, dan kita terus memantau sampai proses trial berjalan sempurna,” ujar Yanti. Hanya saja, menurut Yanti, mungkin karena kebetulan di Pelabuhan Tanjung Priok bisa dikatakan hampir 60 persen kegiatan bongkar muatnya di JICT dan itu selalu dimonitor pelaksanaannya, maka jika ada masalah terutama di pelayaran maka refleks komplain akan dilayangkan ke JICT. Keterlambatan bagi JICT sangatlah esensial karena waktu up load merupakan waktu bagi pihaknya menunggu eksekusi kegiatan. “Kalau terhambat ya terminal yang kena efeknya, Yang paling enggak enaknya, misalnya ada masalah dengan pengiriman data, walaupun mereka kirim soft copy dan kapal sudah sandar tetapi tidak boleh bongkar. Nah proses pengiriman informasi ke terminal dari Bea Cukai kelihatannya belum diatur secara pasti, pakai apa ?

Misalnya pakai surat, telepon, email, pakai on line, itu mungkin baru akan dibahas dalam seminar nanti,” ujar Yanti. Menurutnya, mungkin bagi Bea Cukai, melihat ini sebagai kebijakan, jadi sebelum data manifes sampai, maka kapal tidak boleh dibongkar, tetapi terminal sangat mengkhawatirkan kondisi seperti itu, sebab jika kapal sudah sandar di terminal, lantas ada perintah tidak boleh dibongkar maka sudah merugi ribuan dolar. Jika 2 jam mungkin tidak masalah, namun kalau lebih maka komplain dilayangkan ke JICT. “Nah tidak efisiensi inilah sudah jadi trademark-nya terminal. Maka itu proses bongkar muat harus pasti, selain biaya juga ada faktor lainnya, seperti schedule, jadi efeknya panjang. Saya melihat Bea Cukai di sini cukup jeli jadi tidak terlalu kaku untuk proses trial ini. Saya lihat semua pihak pasti akan mencoba supaya jalannya lancar,” Ujar Yanti Untuk itu Yanti optimis, waktu tiga bulan bisa dipastikan sistem dapat berjalan dan Bea Cukai harus siap selama 24 jam. Hal itu ia tekankan, sebab selama
WBC/ATS

ini Bea Cukai hanya memberikan waktu sampai jam kerja kantor untuk sistem clearance-nya. Padahal di negara lain seperti Malaysia sistem clearance selama 24 jam, bahkan 7 hari seminggu dapat clearence termasuk pada hari minggu. Untuk hal ini, usulan JICT adalah menambah waktu clearance. Hal ini, lanjutnya sangat penting bagi Bea Cukai, sebab melihat pola perdagangan di Indonesia terutama Tanjung Priok, kapal paling banyak datangnya pada Jumat, Sabtu dan Minggu, ini justru kritis. Sebaliknya, Bea Cukai pada hari minggu tidak ada proses clearance kecuali posko yang menerima manifest. Akibatnya proses pengeluaran barang berhenti pada hari Minggu, kecuali bagi yang telah mendapat Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB). “Usulan kami proses pengiriman data juga bisa online dan Bea Cukai pada hari minggu juga kerja, jadi 24 jam 7 hari. Meski saat ini ada posko tapi saya baca hanya penerimaan manifes saja sedangkan pelayanan hanya pada hari kerja. Nah itu, sebenarnya yang ideal 7 hari 24 jam, sebab waktu setelah direspon baru akan bergerak, jika sudah dapat SPPB, tetapi sebaliknya tidak bisa bongkar karena sudah hari minggu, tidak bisa clearance, artinya bagi terminal, peti kemas akan menumpuk di lapangan, padahal eksportirnya sudah butuh.,” begitu usulannya.

SEGERA ATASI KENDALA
Sementara itu INSA, melalui Sekretaris Jenderal, Sungkono Ali, menyatakan telah siap dan mendukung penuh kebijakan DJBC menerapkan PDE manifes. Secara sistem sebenarnya INSA telah memiliki sistem yang telah lama dibangun untuk menjalin hubungan dengan DJBC. Untuk itu bagi para pengusaha pelayaran yang belum memiliki perangkat sistemnya, INSA akan membantu menyediakannya. Mengenai uji coba yang mulai dilakukan DJBC, Sungkono Ali berpendapat, bahwa dalam uji coba masih banyak kendala dihadapi, bahkan hingga ditetapkan mandatory. Namun pihaknya yakin dengan semangat yang dimiliki tim dari DJBC kendala itu akan cepat teratasi. “Masukan INSA, agar persoalan yang ditemui harus segera ditindaklanjuti, ini sangat penting karena dengan mensukseskan program PDE manifes, maka PR DJBC yang lebih besar lagi yaitu NSW dapat cepat terlaksana. Secara keseluruhan kendala yang dihadapi tidak ada, namun untuk penerapan PDE manifest kendala teknis pada DJBC dengan sistem aplikasinya, kalau kami hanya tinggal mengikuti saja,”demikian Sungkono. Mengenai sanksi, senada dengan yang lain Sungkono Ali menyatakan, sebaiknya penerapan sanksi jangan langsung diterapkan, karena akan sangat menyulitkan pihaknya. DJBC sendiri belum lancar dalam masalah teknis aplikasinya tentunya berimbas pada pihaknya. Untuk itu DJBC jangan kaku menerapkan
WARTA BEA CUKAI

SUNGKONO ALI. Sejak lama INSA memiliki jaringan elektronik dengan pihak DJBC.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

17

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

ISKANDAR ZULKARNAIN. Mandatory PDE Manifes masih terkesan terlalu terburu-buru.

sanksi. Sanksi dapat diterapkan apabila sudah tidak menemui hambatan-hambatan teknis seperti yang terjadi saat ini. Menurutnya, PDE Manifes adalah alat kontrol, semua pihak harus siap dengan sistem ini. Instansi di pelabuhan sudah siap, namun ia belum yakin sekali bahwa Administrator Pelabuhan telah siap. Tetapi itu bisa dibantu dengan Pelindo yang akan mensuport segala perangkatnya. Untuk hal ini kepada DJBC agar terus berkoordinasi dengan instansi terkait, supaya pelaksanaannya dapat terwujud baik dan segera teratasi dan tidak menjadi kendala yang lebih besar dan sulit lagi.

POOLING DATA LEBIH CEPAT DAN AKURAT
Penerapan PDE Manifes seharusnya tidak langsung mandatori, tetapi ada waktu jeda sosialisasi atau katakan melalui pola Pilot project sebagaimana telah diterapkan pada MLO (Mine Line Operator) sebelumnya. Demikian disampaikan Iskandar Zulkarnaen, Wakil Ketua Umum Gafeksi. Tujuannya, agar periode transisi dari hard paper ke elektronik ada ’sedikit waktu’ penyesuaian dari para operatornya. “Secara umum sebagai pelaku usaha, kami bisa terima, walaupun sebagian besar dari teman-teman forwarder menjadi selalu lembur dalam minggu-minggu ini, mungkin ini karena belum terbiasa, selain itu dari sisi program PDE-nya sendiri masih belum semuanya siap,”ungkap Iskandar. Ia mencontohkan, seperti yang terjadi melalui Pelayaran Wanhai, Yang Ming, dan Tresna yang sudah kirim data ke Bea Cukai melalui email tetapi pada server Bea Cukai belum diterima, berarti masih terjadi trouble, termasuk masih adanya perbaikan pada program, seperti kurangnya space digit pada uraian barang, juga di-marking, Jadi sekarang seperti masih uji coba saja, padahal statusnya sudah mandatori. Maka itu sarannya, karena sudah mandatori hal-hal teknis seperti contoh di 18
WARTA BEA CUKAI

atas harus cepat diperbaiki dengan crash program oleh PT.EDI . “Ini tidak bisa dengan kerja biasa, kalau tidak segera diperbaiki maka kami user yang kena akibatnya,harus kerja lembur terus pulang dinihari,” ungkap Iskandar. Sehubungan dengan hal itu, pihaknya telah menyampaikan masukan ke DJBC, terutama sejak terbitnya Kepmenkeu dan Kep. Dirjen. Namun usulan Gafeksi belum diakomodir. Ketika membahas rancangan Peraturan Menkeu tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan RKSP, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut, di Depkeu, pihaknya dijanjikan,usulan Gefeksi akan ditampung dalam Peraturan Dirjen Bea Cukai karena adanya keterbatasan waktu untuk mengubah Rancangan Permenkeu tersebut. Menurut Iskandar, ketika membahas Rancangan Peraturan Dirjen Bea Cukai, ditegaskan oleh pejabat Bea Cukai, usulan Gafeksi akan masuk menjadi salah satu pasal pada Peraturan Dirjen tersebut, namun kenyataanya Peraturan Dirjen No.P.10 tahun 2006 tidak memasukkan usulan Gafeksi, jadi ada dua janji dari pejabat Bea Cukai yang tidak dipenuhi, padahal usulan Gafeksi untuk kelancaran arus pengeluaran barang impor. Gafeksi meminta agar penjelasan lebih lanjut (juklak) atas pasal ini dimuat dalam SE Dirjen. Di samping itu, SE dimaksud juga memberi petunjuk bahwa perubahan consignee dari yang semula nama forwarder menjadi nama real consignee untuk barang FCL yang diangkut forwarder bukanlah perbaikan manifes karena kesalahan melainkan nature of business-nya mengharuskan perubahan seperti itu. Karena itu perubahan nama consignee seperti dimaksud seyogyanya tidak memerlukan persetujuan Kepala KPBC.

keberhasilan bagi pelabuhan, importir dan eksportir untuk mempercepat arus barang. Bea Cukai harus terus melaju, jangan berhenti di PDE manifes saja, kita masih punya lagi agenda pemerintah, yaitu single window yang pada akhirnya semua kegiatan di pelabuhan bisa dimonitor Bea Cukai melalui komputer dan online secara tersistem. Saya lihat progress-nya akan lebih baik,” begitu harapannya.

PENGAWASAN
Dengan PDE Manifest menurut Nugroho, dari sisi pengawasan adalah mengamankan hak negara sehingga berbagai bentuk penyimpangan akan lebih diminimalisir lagi. Yang jelas hal ini akan sangat berguna. Ia sudah dapat membayangkan dengan adanya PDE Manifest, Bea Cukai punya database muatan yang masuk dan keluar. ” Kalau ingin tahu kapalnya apa, muatannya apa dan BL, tinggal enter akan ditemukan mudah, termasuk tujuan barangnya apa saja, itu dari Bea Cukai, belum lagi dari instansi lain yang diberikan akses masuk ke database Bea Cukai, bisa mengetahui data impor, jadi tidak ada yang namanya fiktif, karena source datanya dari pelayaran dan pelayaran tidak mungkin memasukan data fiktif. “Sehingga tidak ada lagi informasi kapal fiktif, atau ekspor fiktif. Sehingga akan mempercepat dan mempermudah kerjanya Bea Cukai dan pelayaran jadi mudah, tinggal klik, apalagi setelah adanya modul pengangkut akan lebih mudah lagi.” Kata Nugroho. Dari Gafeksi sendiri mengemukakan bahwa sistem pengawasan adalah hal utama dari tugas Bea Cukai. Dalam hal ini Gafeksi siap dan ingin mensinergikan program dengan Bea Cukai ketika membicarakan SE nanti. Jika membicarakan pengawasan maka harus ada pihak yang diberi kewenangan untuk itu, maka sesuai dengan KM10/88 tentang kewenangan dari forwarder, hendaknya hanya forwarder anggota Gafeksi yang bisa melaksanakan clearance melalui PDE Manifest, karena ini menyangkut keamanan dan juga tanggung jawab atas barang, tentunya Gafeksi sebagai asosiasi akan memberikan prasyarat uang jaminan. Tanpa melibatkan asosiasi dan pengawasan bersama seperti ini, lanjut Iskandar maka akan sulit menghindari pelanggaran terutama penyelundupan oleh perusahaan-perusahaan forwarder ‘gelap’ yang sangat banyak sekarang yang notabene bukan anggota Asosiasi Gafeksi. “Kami siap dijadikan mitra Bea Cukai dalam pengawasan arus barang melalui penertiban anggota. Terkait dengan PDE Manifest supaya dibuatkan program sebagaimana di email ada semacam receipt verify sehingga jika data sudah dikirimkan maka diterima atau tidaknya email yang sudah dikirimkan dapat diketahui oleh sender dengan acknowledgement electronic receipt tersebut,” tandas Iskandar. adi

HARAPAN
Perbaikan suatu sistem tentunya akan lebih menuju iklim pelayanan yang lebih baik lagi. Dan itu tentunya menjadi harapan setiap stakeholder Bea dan Cukai. Seperti disampaikan Nugroho yang berharap agar Bea Cukai memberikan tenggang waktu sehingga masalah teknis dapat teratasi. Dan lebih memperhatikan lagi kendala teknis di lapangan, karena bisa jadi kendala bagi semua pihak, termasuk pelayaran. Sementara mewakili JICT, Yanti mengharapkan kerjasama yang sudah terjalin antara Bea Cukai , pelayaran dan JICT terus terjalin. Ia menilai saat ini Bea Cukai sangat proaktif. “Kalau bicara sosialisasi sangat proaktif, banyak sekali improvisasinya, ke terminal dan customer, jadi lebih memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan market forces dan itu jadi keinginan semua pihak di pelabuhan.” “Bea Cukai saat ini sedang menjadikan dirinya bukan hanya sebagai government tetapi juga sebagai rantai ekonomi. Bahwa keberhasilan bagi dirinya juga

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WAWANCARA
Dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.04/2006 yang ditandatangani pada 19 Mei 2006, dan berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 10/ BC/2006, tanggal 16 Juni 2006, Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) Pertukaran Data Elektronik (PDE) Manifes, mulai 1 Juli 2006 ditetapkan mandatory di pelabuhan Tanjung Priok. Setelah tertunda sekian tahun dengan berbagai hambatan yang ditemui, kini kebijakan yang memang sangat mendesak untuk diterapkan itu, mulai berjalan dengan baik. Hal-hal apa saja yang melatar belakangi hingga tertundanya kebijakan ini, dan apa saja kendalakendala yang dihadapi oleh tim kerja SAP PDE Manifes? Untuk mengetahui hal-hal tersebut, reporter WBC Supriyadi. W dan fotografer Andi Tria Saputra, mewawancarai Direktur Pencegahan dan Penyidikan, yang juga bertindak selaku Wakil Ketua Tim Pengarah SAP PDE Manifes, Endang Tata di ruang kerjanya. Berikut petikan wawancaranya :
WARTA BEA CUKAI

Endang Tata
DIREKTUR PENCEGAHAN DAN PENYIDIKAN

MENJADI KENDALA YANG UTAMA”

“Selama Ini, Masalah Pengumpulan Data

EDISI 381 AGUSTUS 2006

19

WAWANCARA
Bisa diceritakan bagaimana akhirnya PDE Manifes dimandatorykan pada tanggal 1 Juli 2006 setelah tertunda beberapa tahun ? Rencana penerapan PDE Manifes sebenarnya sudah dimulai pada tahun 2000, yaitu sejak diterbitkannya Keputusan Dirjen BC Nomor 61/BC/ 2000 tentang Tatacara Penyerahan dan Penatausahaan Pemberitahuan RKSP, Pemberitahuan Kedatangan Barang Impor dan Pemberitahuan Keberangkatan Barang Ekspor, akan tetapi penerapan dari sistem dan aplikasi tersebut masih banyak kendala dan tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Kemudian pada tahun 2004 mulai dirintis kembali, yaitu dengan beberapa kali dibentuknya Tim Kerja Dalam Rangka Penerapan Otomasi Sistem dan Prosedur Tatalaksana Penyerahan dan Penatausahaan RKSP dan Manifes oleh Dirjen BC. Tim kerja inilah yang melakukan tugas menyusun peraturan dan membangun konsep sistem aplikasinya secara simultan, tentunya dengan berkoordinasi dengan pihakpihak lain yang terkait, misalnya dari Pelayaran, Penerbangan, Asosiasi, dan lain-lain Pekerjaan ini sangat membutuhkan waktu dan tenaga terutama dari sisi pembangunan sistem aplikasi yang dapat menjembatani kepentingan dan business process dari pihak pelayaran, penerbangan, Forwarder dan pihak lain yang terkait, sehingga tidak menimbulkan resitensi dikemudian hari. Proses penyusunan peraturan dan pembangunan aplikasi PDE Manifes telah dapat diselesaikan yaitu dengan telah diterbitkannya Permenkeu No. 39/ PMK.04/2006 dan PerDirjen No. P-10/ BC/2006, yang mengatur pemberlakukan penerapan PDE Manifes mulai tanggal 1 Juli 2006 secara bertahap. Sebenarnya apa kendala utama dari penerapan PDE Manifes ini? Dan dari sisi siapa sebenarnya yang belum siap apakah DJBC atau dari sisi pelayaran ? Dari seluruh rangkaian kegiatan persiapan yang selama ini telah dilakukan oleh Tim, kendala utama yang dihadapi adalah masalah proses pengumpulan softcopy/data elektronik manifes. Dalam satu kapal yang datang dari luar negeri, tanggung jawab pengangkutan atas barang-barang tersebut dapat melibatkan puluhan hingga ratusan pihak/perusahaan baik perusahaan Main Carrier dalam hal ini sebagai operator kapal, perusahaan partnernya yaitu dapat merupakan slot charter atau joint slot, maupun perusahaan Forwarder. Sedangkan pengiriman inward manifes harus sudah lengkap dan merupakan tanggung jawab pengangkut dalam hal ini adalah main carrier. 20
WARTA BEA CUKAI

Dari banyaknya pihak tersebut dapat dibayangkan bagaimana rantai atau proses dari pengumpulan data barang yang ada dalam satu kapal untuk dijadikan pos-pos dalam inward manifest. Jika diantara pihak tersebut ada satu saja yang tidak siap atau sama sekali tidak care dengan sistem ini maka akan menghambat proses pengiriman manifes yang pada akhirnya menghambat proses pembongkaran barang. Harus kita ketahui bersama, bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam pengangkutan barang tersebut sangat bervariasi yaitu dari perusahaan besar sampai dengan perusahaan kecil yang bahkan komputer saja tidak punya. Dengan melihat fakta yang demikian maka Tim Kerja khususnya Sub Tim Sistem Aplikasi telah menjembatani dengan membangun sistem pengumpulan data baik dengan pembentukan converter maupun pembuatan modul pengangkut dan modul entry data manifes, yang dapat dipakai pihakpihak tersebut sebagai tools untuk entry dan pengumpulan data.

dan beragam. Tetapi kedepan DJBC optimis bahwa penerapan Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) PDE Manifes ini akan berjalan sebagaimana yang telah diharapkan yaitu akan mempercepat pelayanan, memperbaiki administrasi pelayanan dan mendukung sistem pengawasan. Dari beberapa pihak yang kami wawancarai berkaitan dengan penerapan PDE Manifes ini, umumnya menyatakan kalau dimandatorykannya PDE Manifes terkesan terburu-buru, karena hingga saat inipun masih ada kendala yang ditemui dalam penerapannya, bagaimana menurut Bapak akan hal ini ? Kalau dibilang terburu-buru sepertinya tidaklah, karena rangkaian kegiatan persiapan dan tahapan pemberlakukan sudah ditempuh sejak beberapa tahun lalu. Akan tetapi memang selama ini sepertinya yang juga menjadi kendala dari tahapan pemberlakukan yaitu tahapan uji coba dan Paralel Run adalah masalah dasar hukum, sehingga Bea dan Cukai belum dapat ‘memaksa’ pengangkut untuk mengirimkan data elektronik manifes secara lengkap, karena sifatnya hanya menghimbau atau kerja sama. Dengan diberlakukannya Permenkeu No. 39/ PMK.04/2006 dan PerDirjen No. P-10/ BC/2006, maka mau tidak mau pengangkut wajib mengikuti sistem PDE Manifes ini. Mungkin dengan kewajiban ini, bagi perusahaan yang kemarin-kemarin tidak serius bahkan tidak care dengan rencana pemberlakuan PDE Manifes, menganggap penerapan ini terburuburu. Dalam penerapan sistem baru pasti kendala-kendala akan timbul, tentunya Tim Kerja Penerapan PDE Manifes bekerja sama dengan Kanwil IV dan KPBC Tanjung priok telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif dan penyempurnaan SAP PDE Manifes. Disamping itu penerapan SAP PDE Manifes ini dibuat secara bertahap, hal ini juga merupakan salah satu langkah yang ditempuh dalam rangka antisipasi dan penyempurnaan Sistem. Tentunya DJBC sejak awal rencana penerapan PDE Manifes juga telah duduk bersama dengan instansi terkait untuk membahasnya. Apa masukan yang paling utama dari mereka terhadap PDE Manifes ini ? Segala bentuk koordinasi dalam rangka penerapan SAP PDE Manifes telah dilakukan oleh Tim Kerja Penerapan SAP PDE Manifes, baik berupa rapat pembahasan, konsinyering, sosialisasi, seminar maupun kunjungan. Rapat pembahasan intensif telah dilakukan Tim dengan pihak pelayaran,

HARUS KITA KETAHUI BERSAMA, BAHWA PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PENGANGKUTAN BARANG TERSEBUT SANGAT BERVARIASI.
Kalau kita lihat masalah kesiapan dalam penerapan PDE Manifes ini sebenarnya tidak dapat dilihat dari satu sisi saja. Kesiapan Bea dan Cukai adalah termasuk ketika Bea dan Cukai bisa membantu apa yang menjadi kendala dan permasalahan di sisi pelayaran seperti membantu membangun converter, karena keberhasilan penerapan sistem ini sangat ditentukan oleh pihak-pihak yang terkait terutama Bea dan Cukai dan pihak pelayaran sebagai satu kesatuan sistem yang saling mendukung. Bagaimana dengan kondisi saat ini, apakah DJBC benar-benar sudah siap baik dari segi sistem maupun segi pelayanan ? Saat ini baik DJBC maupun pelayaran sudah siap baik dari segi sistem maupun dari aspek pelayanan. Akan tetapi dalam proses penerapan suatu sistem aplikasi pasti masih akan mengalami perbaikan dan penyesuaian terutama untuk menampung permasalahan-permasalah yang timbul, apalagi permasalahan dalam kegiatan pelayanan manifes ini relatif kompleks

EDISI 381 AGUSTUS 2006

penerbangan dan Asosiasi (INSA, GAFEKSI/INFA, GINSI) dari sejak membuat Rancangan Peraturan yaitu PerMenkeu dan Perdirjen, serta dalam proses penyusunan konsep Sistem Aplikasi. Koordinasi juga telah dilakukan Tim dengan instansi yang terkait yaitu PELINDO, Operator Pelabuhan (JICT, MTI, TPK Koja, dan sebagianya), dan perusahaan bongkar muat. Masukan paling utama pada dasarnya adalah bahwa sistem PDE Manifes yang dibangun dapat menampung kepentingan dan proses bisnis dari pihak-pihak yang terkait seperti Pelayaran, Penerbangan, Forwarder, dan Importir. Dengan sistem ini harapan semua pihak adalah terciptanya simplifikasi dan mempermudah proses administrasi baik dari sisi Bea dan Cukai maupun dari sisi Pelayaran, Penerbangan, Forwarder, dan Importir. Dan tentunya SAP PDE Manifes juga diharapkan dapat mendukung integrasi sistem Kepelabuhanan. Apakah hingga saat ini masih ada pihak-pihak terkait yang belum siap dengan penerapan PDE Manifes ? Kalau dilihat dari segi kesiapan, saat ini semua pihak terutama Pelayaran dan Forwarder yang beroperasi di Tanjung priok, menurut saya sudah siap. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan pelaksanaan Mandatory yang sudah berjalan hampir dua minggu. Memang pada minggu pertama penerapan masih saja ada pihak yang masih belum tahu terutama untuk perusahaan forwarder, karena jumlah perusahaan forwarder ini kan sangat banyak, bisa mencapai ribuan perusahaan, jadi wajar kalau ada beberapa yang belum tahu. Akan tetapi seiring dengan berjalannya sistem ini, pasti dengan cepat mereka akan tahu dan segera menyesuaikan. Bagaimana hasil selama uji coba dan Pilot-Run kemarin ? Uji coba dimulai sejak tahun lalu dan diikuti 19 perusahaan pelayaran besar, sebenarnya proses pengiriman data elektronik manifes untuk perusahaan-perusahaan ini relatif sudah lancar. Yang menjadi keluhan mereka dan memang masih sulit dilakukan pada saat itu adalah masalah pengumpulan dan penggabungan data dari pihak Partner dan dari pihak Forwarder, karena belum ada dasar hukum, maka 19 perusahaan pelayaran tidak dapat ‘memaksa’ pihak Partner dan pihak forwarder untuk menyerahkan data softcopy dari manifes yang mereka punyai. Untuk tahapan Pilot Run relatif sudah berjalan dengan baik, karena penerapan tahapan ini setelah terbitnya Permenkeu No. 39/PMK.04/2006 dan

PerDirjen No. P-10/BC/2006 sehingga sudah pasti ada keseriusan dari pelayaran, karena dengan terbitnya peraturan tersebut sudah jelas kapan pemberlakukan Mandatorynya. Apa keuntungan dari pengguna jasa dengan diterapkannya PDE Manifes ini ? Sangat banyak keuntungan yang dapat diperoleh oleh pengguna jasa dengan diterapkannya PDE Manifes ini. Bagi perusahaan pelayaran pengiriman manifes dapat dilakukan secara elektronik dari sistem di kantor perusahaan tersebut sehingga tidak perlu datang ke KPBC dan pengiriman dapat dilakukan kapan saja dan langsung mendapat respon BC 1.1 sebagai ijin bongkar, sehingga tentunya akan lebih menghemat waktu dan biaya. Bagi importir/PPJK yaitu penutupan pospos manifes yaitu terkait dengan pindah lokasi/ Over Brengen, BC 2.3 akan dapat dilakukan dengan cepat sehingga tidak akan antri lebih lama. Kedepan nanti keuntungan yang

sebagai data awal yang diberitahukan oleh pengangkut, apalagi data-data tersebut dengan adanya SAP PDE Manifes akan lebih mudah dan lebih cepat diperoleh karena sudah berbentuk data elektronik. Kondisi data yang demikian tentunya akan sangat mendukung dalam proses analisis, sehingga akan lebih menjamin akurasi dan kecepatan dalam proses analisis data sebagai bahan masukan/informasi dalam sistem pengawasan barang impor dan ekspor. Bagaimana integrasi dengan sistem yang lainnya, seperti impor dan ekspor ? Setelah sistem berjalan dengan stabil dan lancar, maka integrasi dengan Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) akan segera dilakukan, karena ini adalah kebutuhan yang sudah mendesak. Tahap pertama yang akan diintegrasikan adalah dengan SAP Impor yaitu dengan dokumen PIB, karena SAP impor ini yang relatif sudah siap untuk diintegrasikan dengan SAP Manifes. Tahap selanjutnya adalah dengan SAP Ekspor dan dengan SAP lainnya seperti BC 2.3. Bagaimana dengan SDM yang mendukungnya, apakah semua sudah siap ? Dari sisi Sumber Daya Manusia, Bea dan Cukai telah siap, sebelum perberlakuan sistem ini pegawai di KPBC Tanjung priok I, II dan III yang terlibat langsung dalam operasional pelayanan manifes sudah diberikan pelatihan mengenai fungsi operasi dari Sistem Aplikasi ini. Dan sepertinya mereka dengan cepat dapat menyesuaikan dan mengaplikasikan sistem baru ini. Hal ini tentunya akan segera dilakukan terhadap pegawai di KPBC lainnya agar pada saat penerapan nanti pegawai yang terlibat langsung sudah dapat mengoperasikan sistem aplikasi dengan lancar. Untuk penerapan mandatory secara nasional nanti, apa kira-kira hambatan yang akan dialaminya ? Karena ini pemberlakukan sistem aplikasi baru dan jangkauannya adalah nasional, maka yang menjadi kendala utama adalah masalah waktu dan jumlah pegawai yang dapat melakukan asistensi ke KPBC-KPBC yang akan diberlakukan SAP Manifes ini. Karena waktu yang relatif terbatas maka harus diatur strategi yang matang dalam pemberlakuan mandatory secara nasional ini. Terkait dengan pegawai, karena ini permasalahan sistem aplikasi yang benar-benar baru maka untuk proses asistensi penerapan SAP PDE Manifes ini tentunya dibutuhkan pegawai yang tahu dan mengerti proses instalasi maupun operasional sistem aplikasi ini terutama dari DIKC.
WARTA BEA CUKAI

SAAT INI BAIK DJBC MAUPUN PELAYARAN SUDAH SIAP BAIK DARI SEGI SISTEM MAUPUN DARI ASPEK PELAYANAN.
optimal akan diperoleh dari SAP PDE Manifes ini yaitu ketika sudah diterapkannya integrasi sistem dengan aplikasi pelayanan yaitu SAP Impor dan SAP Ekspor, sehingga sistem pelayanan dan adminstrasinya akan dapat berjalan dengan baik. Bagaimana dengan sistem pengawasan dari PDE Manifes ini ? Sistem SAP PDE Manifes ini disamping berfungsi sebagai administrasi pelayanan juga akan menjadi salah satu tools yang sangat penting dalam sistem pengawasan Bea dan Cukai. Apabila sistem ini telah berjalan dengan baik dan telah berlaku nasional, maka kontrol atas lalu lintas barang impor dan ekspor akan lebih mudah untuk dilakukan. Dengan diterapkannya PDE Manifes tentunya akan lebih cepat dan mudah lagi DJBC menerima datadata impor maupun ekspor. Apakah yang akan dilakukan DJBC dengan data-data tersebut ? Dari sisi kami, sebagai unit yang menjalankan fungsi pengawasan, datadata dalam manifes sangat penting

EDISI 381 AGUSTUS 2006

21

DAERAH KE DAERAH

KPBC Tipe A Bekasi

Setelah Sentuhan Perempuan Selama 6 Bulan
Setelah dilantik Direktur Jenderal Bea dan Cukai, pada 25 Nopember 2005 lalu, Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Bekasi kini di pimpin seorang perempuan. Merupakan suatu keistimewaan bagi KPBC Tipe A Bekasi karena wilayah kerjanya bisa dibilang wilayah kerja yang padat dengan kegiatan industri dengan orientasi ekspor dan impor.

J

ika selama ini KPBC Bekasi selalu dipimpin oleh laki-laki dan saat ini dipimpin oleh seorang perempuan, tentunya ini bukan suatu kebetulan melainkan kompetensi dan pemikiran yang dimilikinya untuk memimpin dan memajukan KPBC Tipe A Bekasi yang menjadi alasan mengapa ia dipilih untuk menduduki jabatan Kepala Kantor Tipe A. Berbagai upaya pun telah dilakukan Dra Istyastuti Wuwuh Asri M.Si selama enam bulan setelah dilantik, ia dipercaya memimpin KPBC Bekasi. Upaya-upaya yang telah dilakukannya antara lain mulai dari peningkatan pelayanan kepada stakeholder sampai pada perubahan suasana yang tujuannya untuk memperindah penampilan fisik kantor tempat ia dan para stafnya bekerja. Bagi pembaca yang pernah berkunjung ke KPBC Bekasi pasti akan melihat suasana baru dengan konsep interior yang tertata rapi dan asri. Dan rasanya pendapat tentang keterlibatan perempuan dalam memberikan suasana lebih indah dan nyaman memang benar, sebab dalam soal estetika para pakar dan kritikus mengakui keterampilan perempuan melebihi lakilaki. Perempuan, rata-rata berhasil memadukan aspek nalar dan aspek perasaan dalam berbagai karya mereka. Jadi dapat penulis simpulkan antara menjalankan kewajiban sebagai Kepala KPBC, Isty, demikian panggilannya bisa memadukan unsur seni dan keindahan yang tentunya banyak memberi kesan positif bagi lingkungan di sekitarnya termasuk stakeholder. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan Isty, point pertama yang WBC tanyakan adalah mengenai prioritasnya untuk KPBC Bekasi setelah dilantik sebagai Kepala Kantor. Ia mengatakan akan menerapkan pengetahuannya tentang standar pelayanan prima yang ditetapkan oleh MENPAN Tahun 2002 Nomor 58/KEP/ M.PAN 19/2002 yaitu dengan prinsip: 1) Prosedur tetap/ standar operasional pelayanan, 2) Keterbukaan informasi 22
WARTA BEA CUKAI

WBC/ADI

l

l

l

untuk barang dari GB ke DPIL sejak 1 April 2006. menata fisik kantor sesuai ketentuan sarana dan fasilitas standar pelayanan prima membudayakan bahwa Bea dan Cukai adalah pelayan Pengguna Jasa Kepabeanan dan Cukai bukan otoritas namun tetap harus menegakkan hukum. mengumumkan pelayanan KPBC Bekasi 24 jam seminggu bagi yang ingin dilayani diluar jam kerja normal diharapkan memberitahukan 2 hari kerja sebelumnya, agar pegawai tidak harus piket (berkumpul dengan keluarga) jika tidak ada pelayanan

MENERAPKAN KETELADANAN dan taat aturan pada anak buahnya.

pelayanan, 3) Kepastian pelaksanaan pelayanan, 4) Mutu produk pelayanan, 5)Tingkat profesional petugas, 6) Tertib pengelolaan administrasi dan manajemen pelayanan, 7) Sarana dan fasilitas pelayanan, 8) Prestasi lain.

PENINGKATAN PELAYANAN DAN PENGAWASAN
Kebijakan-kebijakan teknis tentang pelayanan kepabeanan dan pengawasannya merupakan kewenangan Kantor Pusat DJBC, dalam hal ini KPBC hanya mengimplementasikan kebijakan tersebut. Namun begitu, KPBC Bekasi telah melaksanakan beberapa program yang tujuannya untuk meningkatkan pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai yang berada di wilayah kerjanya. Untuk meningkatkan pelayanan, beberapa langkah telah dilakukan antara lain; l menerapkan tata laksana impor sesuai KEP- 07/BC/2003 (sebelumnya tidak sesuai) l menerapkan pelayanan PIB disket

“Bea cukai jangan menonjolkan otoritasnya tetapi kita melayani, misalnya begini, ada orang melanggar peraturan, di berita acara kita sampaikan mohon maaf dengan sangat terpaksa kami akan menjatuhkan sanksi karena anda melanggar pasal ini yang sanksinya ini, bayangin orangnya yang bersalah tapi dia yang dimintakan maaf, jadi begitu loh. Orang di loket melayani dokumen minta dilayani kita, setelah selesai kita bilang terimakasih pak jika ada yang masih kurang silahkan kembali, kita yang melayani tetapi kita yang mengucapkan terimakasih. Jika bertemu stakeholder ucapkan selamat pagi apa yang bisa saya bantu,” papar Isty. Untuk meningkatkan pengawasan beberapa langkah juga telah dilakukan, antara lain; l menginventaris jumlah Pengguna Jasa Kepabean dan Cukai (Kawasan Berikat (KB), Gudang Berikat (GB), danTempat Penimpunan Sementara (TPS) dari hasil itu telah diusulkan untuk diaudit sampai dicabut izinnya l menertibkan penyimpanan gembok dan kunci Gudang Berikat sesuai ketentuan, terdiri dari 2 disimpan Bea dan Cukai dan dengan yang bersangkutan. l mengajak pegawai untuk lebih peka dan tanggap atas kemungkinan tindakan pelanggaran.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

DOK. KPBC BEKASI

Selain upaya-upaya peningkatan untuk pelayanan dan pengawasan, juga dilakukan pembenahan secara internal yang dianggap mendasar, baik yang telah maupun yang akan dilakukannya. Pembenahan internal yang telah dilakukan antara lain ; l Pemisahan wewenang Kepala Seksi Kepabeanan dan Kepala Seksi Tempat Penimbunan yang sebelumnya bercampur aduk l Pembagian wilayah kerja secara seimbang menjadi 6 bagian sesuai jumlah Kasi Tempat Penimbunan. l Mengusulkan gudang yang ada untuk ditetapkan sebagai Tempat Penimbunan Pabean untuk barang yang tidak bertuan atau dikuasai Negara l Pencatan surat masuk dan keluar secara online dengan para Kepala Seksi Sedangkan pembenahan internal yang masih akan dilakukan antara lain; l Menghimbau Pengusaha KB dan GB untuk mendaftarkan diri masuk Daftar Putih karena di KPBC Bekasi hanya 15 pengusaha saja dari 400-an yang ada. l Menghimbau Pengusaha KB dan GB untuk melakukan registrasi importir

KEPALA KANTOR saat memberikan presentasi ketika kunjungan Dirjen.

PENERIMAAN SEMESTER I
Tujuan pembentukan KPBC Bekasi yang utama adalah mendekati lokasi kawasan industri untuk memberikan fasilitas perdagangan. Menurut Isty, jika diuraikan tugas pokok customs secara universal di dunia ada 7, yaitu : 1) Memungut bea masuk, cukai dan pajak dalam rangka impor, 2) Pemberian fasilitas perdagangan, 3) Kepatuhan terhadap aturan-aturan perdagangan, 4) Perlindungan terhadap masyarakat. 5) Perlindungan terhadap lingkungan, 6) Perlindungan

terhadap warisan budaya, 7) Pengumpulan informasi statistik Dalam hal ini, maka KPBC Bekasi lebih kepada point 2 dan 3. Dari 112 KPBC diseluruh Indonesia, KPBC Bekasi yang paling banyak melayani Kawasan Berikat dan Gudang Berikat (KB 336 dan GB 123) selain KPBC Batam. Jadi konstribusi penerimaan negara terhadap DJBC sangat kecil jika hanya dilihat dari hitungan desimal tetapi kontribusi terhadap fasilitasi perdagangan sangat besar. “Target Bea Masuk nampaknya belum tentu tercapai, hingga 30 Juni 2006 baru terkumpul Rp. 76. 018.604.814 atau 37,18 persen. Tapi target cukai pasti akan dicapai dan bahkan mungkin melebihi target,
DOK. KPBC BEKASI

hingga 30 Juni 2006 sudah mencapai Rp. 8.855.450.000. atau 56,35 persen,” ujarnya Isty yang untuk TA 2006, KPBC Bekasi dibebankan target sebesar Rp. 224.463,231 miliar, terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp. 208. 749,862 miliar dan Cukai sebesar Rp. 15.714,379 miliar.

KETELADANAN DAN TAAT ATURAN
Ketika ditanya pedomannya dalam memimpin kantor, ia menuturkan bahwa pedomannya sederhana saja yaitu keteladanan dan mentaati ketentuan yang berlaku. Dan untuk merangkul anak buah sehingga mereka merasa menjadi bagian dari organisasi yang dipimpinnya, Isty pun mengemukakan tips-tipsnya.
DOK. KPBC BEKASI

BERSAMA DIRJEN meninjau tempat penyimpanan file PIB.

DIRJEN, melakukan tanya jawab kepada stakeholder yang sedang mengurus dokumen di KPBC Bekasi. EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

23

DAERAH KE DAERAH
WBC/ADI

KPBC BEKASI, melayani 336 Kawasan Berikat dan 123 Gudang Berikat.

“Saya menerapkan motto KPBC Bekasi : “Jadikan tempat kerja sebagai rumah kedua kita”, maksudnya atasan, teman kerja dan bawahan dianggap sebagai keluarga sendiri sehingga dapat berkomunkasi formal maupun informal dengan lancar dan tujuan organisasi dapat tercapai. Pada saat bicara urusan dinas ya formal, saat istirahat makan bersama atau senam bersama ya bicara informal, bercanda bahkan kadang-kadang ada kritikan konstruktif dari mereka kepada saya,” demikian tipsnya. Sebagai perempuan yang menjabat sebagai kepala kantor, sejauh ini dirinya merasa lancar-lancar saja dalam menjalankan tugas dan meyakinkan para stakeholder. Ia pun sama sekali tidak menemui kendala karena dirinya perempuan “Jangan stereotip, saya tidak menemukan masalah dalam kepemimpinan selama ini di sini dan stakeholder juga tidak mempermasalahkannya,” ujar Isty, satu-satunya perempuan sebagai Kepala KPBC Tipe A di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Begitu juga kepada anak buahnya, menurutnya tidak ada hal istimewa yang ia lakukan untuk meyakinkan mereka, sejauh ini diakuinya semua tugas ia kerjakan dengan lancar tanpa kendala. “Saya rasa staf akan menjalankan tugas atau perintah saya karena substansinya benar dan rasional bukan karena atasan laki-laki atau perempuan,” begitu pendapatnya.

Menurutnya, tampil serasi dan menarik adalah kepribadiannya. Ketika ia harus menata kantor pelayanan, maka unsur

tadi melengkapi ketentuan standar pelayanan prima. “Bersyukur saya merasa mendapat dukungan dari seluruh jajaran KPBC Bekasi kalau tidak mana mungkin semuanya saya kerjakan sendiri. Begitu juga dukungan dan semangat terus menerus dari Kepala Kanwil V Bandung atasan saya yang membuat spirit kerja kita tinggi” “Ya kalau boleh saya sebutkan hasil kuesioner penilaian kinerja yang kami sediakan dalam 2 bulan ini dominan mengatakan nyaman, tertib, bersih dan memuaskan walaupun masih ada saran-saran. Ada yang komentar ruang tunggunya kayak ruang tunggu hotel, tapi itu semua masih harus dipertahankan bahkan ditingkatkan terus. Karena yang dimaksud service exellent ini adalah lebih baik dari memuaskan, jadi kalau memuaskan nilainya 100 tapi excellent nilainya 120, maka masih harus ditingkatkan terus,” ujarnya mengenai pendapat para stakeholder terhadap perubahan yang terjadi di KPBC Bekasi. Aktivitas untuk menciptakan kebersihan dan kerapihan khususnya di lingkungan tempatnya bekerja
DOK. KPBC BEKASI

NYAMAN, TERTIB, BERSIH DAN MEMUASKAN
Memasuki KPBC Bekasi, kesan rapi dan asri begitu terasa. Penataan ruangan maupun taman diatur serasi dan menarik. Dan itu merupakan bagian dari kepribadian Isty. 24
WARTA BEA CUKAI

KEPALA KANTOR bersama para staf.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

merupakan hal yang biasa bagi dirinya. Maka tak heran terkadang Isty memandu petugas cleaning service, tentang bagaimana cara membersihkan yang baik, dan berapa kali waktu yang tepat. Ia pun ikut terlibat memilih dan menempatkan dekorasi yang cocok disatu lokasi yang tepat. Sementara untuk menyimpan dokumen ia menganjurkan agar dilakukan dengan cara membungkus dengan plastik setiap betch PIB agar aman dari debu dan air jika mungkin tempat penyimpanan dokumen suatu saat bocor. Hal itu dilakukan karena dokumen PIB harus disimpan selama 10 tahun sehingga terhindar dari kerusakan.

Arahan Dirjen Bea dan Cukai Saat Kunjungan ke KPBC Bekasi, 29 Juni 2006
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ajak semua untuk meningkatkan citra Bea dan Cukai Jika perlu kita pasang spanduk di kantor “BEBAS KKN” Jangan sampai ada lagi pegawai kita yang diperiksa Jaksa atau Polisi Yang dapat menolong kita ada dua yaitu : Tuhan dan Peraturan-peraturan, oleh sebab itu kalau saudara bekerja sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada saya sudah menang Lakukan cek lapangan, misalkan harus ada gembok ternyata tidak ada gembok seperti peristiwa di KPBC lain. Jika ada kesalahan kecil jangan dibiarkan agar segera diselesaikan supaya tidak menjadi besar Pelayanan kita berbeda dengan manufacturing, kalau dalam manufacturing ada 4 P yaitu Product, Promosi, Place, Personil sedangkan dalam pelayanan ditambah physicological impact, misalkan kita memberi contoh untuk selalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih Tugas DJBC ini banyak godaan oleh sebab itu jika ada perintah dari atasan yang salah jangan dilaksanakan. Dalam melaksanakan tugas harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dan berpegang pada kode etik dan perilaku pegawai yang sudah ada Tingkatkan Pelayanan terus dengan : l Trust - Kepercayaan dari atasan, bawahan, stake holder dan juga kepercayaan politik, contohnya jangan sampai terulang kembali tugas DJBC diserahkan kepada surveyor (SGS) l Kualitas - Dengan meningkatkan pengetahuan/ kemampuan dalam melaksanakan tugas, misalkan perilaku cara menangani barang automotive, elektronik dan tekstil berbeda. l Jejaring - Berjejaring dengan instansi-instansi lain misal Karantina, POM dll l Tahu visi kita ke depan yaitu sejajar dengan institusi Kepabeanan dan Cukai dunia dalam kinerja dan citra untuk menuju Good Governance dengan kode etik dan prilaku pegawai - Perhatikan juga anak-anak kita, masa depan mereka - Draft buku profile KPBC Bekasi sudah saya baca akan saya tanda tangani setelah ditandangani Kepala Kanwil V, harap ditambah standar waktu pelayanan kepada setiap jenis pelayanan.

PERLAKUAN SAMA, LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Meski dirinya kepala kantor yang nota bene perempuan, namun bukan berarti ia memberi perlakuan khusus bagi pegawai wanita ataupun sebaliknya. Isty menjelaskan, bahwa definisi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada undang-undang sama sekali tidak menyebutkan laki-laki atau perempuan, jadi dalam hal ini sama. “ Jadi wahai para perempuan jangan minta diistimewakan, pelayanan disini 24 jam seminggu, kalau harus lembur ya tetap dijalankan. Bahwa koordinator pelaksana khususnya lakilaki mengatur petugas perempuan bekerja hanya sampai pukul 20.00 saja misalnya, hal itu manusiawi dan saya sampaikan terimakasih atas pengertian ini,” tutur Isty. Khusus kepada pegawai perempuan, untuk memberdayakan mereka dilakukan beberapa cara, antara lain dengan mensosialisasikan tentang hakhak perempuan kepada seluruh pegawai baik laki-laki ataupun perempuan agar mereka mengerti hak perempuan telah diatur UUD Pasal 28 dan UU No.39/1999. “Saya kumpulkan pegawai perempuan secara khusus untuk menyampaikan pesan saya bahwa kita (perempuan) lebih teliti dan lebih punya rasa malu untuk grafitikasi dan itu merupakan modal utama kita. Tingkatkan kompetensi dan kualitas kerjamu hingga minimal sama dengan rata-rata laki-laki. Jangan minta diistimewakan dan bekerja samalah dengan laki-laki untuk hasil yang optimal,” demikian pesannya kepada para pegawai perempuan. Mengenai tingkat kemampuan bekerja antara laki-laki dengan perempuan, menurutnya hal itu mesti melalui penelitian yang mendalam. “Nanti dikira saya diskriminasi. Pegawai laki-laki yang biasa-biasa saja juga banyak kok, sebaliknya pegawai perempuan yang cerdas dan cepat tanggap juga ada.” Sebuah harapan ia sampaikan khususnya kepada seluruh pegawai perem8.

9.

puan. Harapannya. “Pada saat diberi kesempatan untuk tampil, tunjukkan bahwa anda mampu dan berusahalah untuk tidak mengecewakan. Bekerjasamalah dengan siapapun (lakilaki dan perempuan) sehingga dapat memperoleh hasil yang optimal.” Saat ini KPBC didukung oleh 242 Sumber Daya Manusia, dengan jumlah eselon III (satu orang), Eselon IV (17 orang), Korlak (51 orang), Pelaksana Pemeriksa (108 orang), Pelaksana Administrasi (65 orang).

KUNJUNGAN DIRJEN BEA DAN CUKAI
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 29 Juni 2006, secara mendadak Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi melakukan kunjungan ke KPBC Bekasi. Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk melihat secara langsung mengenai kinerja KPBC Bekasi, termasuk pelayanan yang diberikan KPBC ini kepada para stakeholder. Secara informal dalam suasana santai, Dirjen berbincang-bincang kepada para stakeholder yang kebetulan sedang berada di ruang

pelayanan dokumen pemberitahuan impor barang. Dirjen melakukan tanya jawab langsung kepada mereka, tentang pelayanan yang diberikan aparatnya di KPBC Bekasi. Dalam kesempatan itu juga, di ruang rapat KPBC Bekasi, Isty, melakukan presentasi kepada dirjen mengenai tugas dan fungsi yang dijalankan KPBC Bekasi selama ini. Setelah memaparkan presentasinya, dirjen kemudian memberikan arahan kepada para pegawai. Dalam arahan tersebut ada sembilan poin yang disampaikan dirjen kepada para pegawai, yang secara garis besar mengajak seluruh pegawai bea cukai umumnya, dan pegawai KPBC Bekasi khususnya untuk meningkatkan kinerja dan citra Bea dan Cukai (lihat boks). Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke tempat-tempat kerja para pegawai untuk melihat secara langsung kegiatan para pegawai di KPBC, tempat penyimpanan dokumen kepegawaian dan dokumen pelayanan, termasuk melihat-lihat kondisi fisik gedung dan kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki KPBC Bekasi. ris/adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

25

DAERAH KE DAERAH
FOTO : DONNY ERIYANTO

Kanwil X DJBC Balikpapan

SOSIALISASI JALUR PRIORITAS DAN IMPOR BARANG KIRIMAN MELALUI PJT
Efisiensi waktu, penghematan biaya dan kemudahan prosedur menjadi harapan perusahaan terhadap perbaikan kinerja dan citra institusi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

U

ntuk mencapai harapan perusahaan di atas diperlukan sebuah solusi yang tepat. Salah satu solusi yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) adalah pemberian fasilitas Jalur Prioritas. Dengan diberlakukannya Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-11/BC/2005 tentang Jalur Prioritas dan Peraturan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-06/BC/ 2006 tentang perubahan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-11/BC/2005 tentang Jalur Prioritas, diadakan sebuah sosialisasi mengenai peraturan baru tersebut. Sosialisasi yang diselenggarakan pada 19 Juni 2006 di ruang Aula Kanwil X DJBC Balikpapan, dibuka oleh Kabag Umum Kanwil X Balikpapan, Rudy Hernanto mewakili Kakanwil dengan menampilkan dua sesi. Sesi pertama untuk sosialisasi Jalur Prioritas, sedangkan
WARTA BEA CUKAI

pada sesi kedua untuk sosialisasi Impor Barang Kiriman melalui Perusahaan Jasa Titipan (PJT). Semua sesi dipresentasikan oleh Bachtiar, Kasubdit Impor dan Ekspor, Direktorat Teknis Kepabeanan, dibantu oleh tiga orang staff. Acara yang dimulai pukul 09.00 WITA selain dihadiri oleh para pegawai Kanwil X DJBC Balikpapan dan KPBC-KPBC di lingkungan Kanwil X Balikpapan, juga mengundang sebanyak kurang lebih 50 orang pengguna jasa. Kegiatan sosialisasi di Balikpapan ini merupakan rangkaian kegiatan sosialisasi yang telah diadakan sebelumnya di Jakarta dan Medan. Diawal presentasinya, Bachtiar terlebih dulu menyoroti tentang permasalahan perusahaan terhadap proses pengeluaran barang (clearance). Menurutnya, permasalahan perusahaan tersebut antara lain waktu (lamanya waktu pengeluaran barang sehingga memperlambat proses

produksi), biaya (terdapat banyak elemenelemen biaya yang harus ditanggung perusahaan dalam setiap importasi), keamanan barang dan pengurusan clearance. Lebih lanjut Bachtiar menguraikan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan meliputi biaya pindah lokasi, demorage, biaya handling, move on dan lift on/lift off. Bahkan berdasarkan Harian Bisnis Indonesia edisi 16 Januari 2003, biaya yang dikeluarkan oleh setiap perusahaan berkisar sampai dengan 2 juta lebih/ kontainer. Dengan sejumlah biaya-biaya yang harus dikeluarkan tersebut, tentunya perusahaan mempunyai suatu harapan pada DJBC dalam efisiensi waktu dengan peningkatan kecepatan pelayanan dan kepastian waktu pelayanan, penghematan biaya dengan pengurangan ekonomi biaya tinggi serta kemudahan prosedur dalam proses pelayanan yang cepat dan sederhana. “Kalau dulu ada paradigma, ‘kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah’, itu dulu, sekarang beda. Percaya tidak percaya, sekarang berubah, ‘kalau bisa dipermudah, kenapa dipersulit,” tegas Bachtiar. Berangkat dari harapan perusahaan di atas, solusi yang tepat bagi DJBC dalam memenuhi harapan tersebut adalah dengan pemberian jalur prioritas. Apa itu jalur prioritas ? Berdasarkan pasal 1 butir 1 Peraturan Dirjen BC No. P-11/BC/2006, definisi dari Jalur Prioritas adalah fasilitas yang diberikan kepada importir yang memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk mendapatkan pelayanan khusus, sehingga penyelesaian importasinya dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan cepat. Sejalan dengan Inpres Nomor 3 tahun 2006 tentang paket kebijakan perbaikan iklim investasi dan perbaikan peraturan yang berkaitan dengan penggunaan jalur prioritas serta didukung dengan peralatan dan teknologi yang tepat sehingga dalam pengembangan jalur prioritas sampai saat ini pemakai jalur tersebut bertambah dari 71 importir menjadi 100 importir (Juni 2006). Kedepannya dalam Desember 2006 diharapkan mencapai 130 importir. Secara kualitas, pengembangan jalur prioritas dilakukan dengan percepatan pelayanan terhadap permohonan jalur prioritas. Importir langsung mengajukan permohonan kepada Dirjen BC melalui Direktur Teknis Kepabeanan. Selain itu dengan perluasan fasilitas dengan penggunaan PPJK dalam kegiatan importir jalur prioritas. Sekarang apa saja keuntungan dari Jalur Prioritas? Sangat banyak. Secara gamblang, Bachtiar menjelaskan perusahan yang memakai jalur ini akan mendapatkan kepastian, sederhana dan kecepatan dalam penyelesaian impor. ”Artinya impor kini bisa diperkirakan, dihitung, diukur dan terukur waktunya. Perusahaan bisa membuat perencanaan terhadap importasinya,” tambahnya. Selain itu adanya penurunan biaya

26

EDISI 381 AGUSTUS 2006

dalam clearance dan inventory serta keuntungan financial berupa kredit sampai dengan maksimal 2 bulan untuk pembayaran berkala. Dengan demikian hal ini akan dapat menjadi bargaining ke business partners karena adanya efisiensi dan efektifitas perusahaan.

IMPOR PJT
Setelah istirahat sekitar 5 menit, acara kembali dilanjutkan lagi. Dalam sesi kedua untuk sosialisasi impor barang kiriman melalui perusahaan jasa titipan (PJT) ini tetap dipresentasikan oleh Bachtiar. Sosialisasi ini sejalan dengan diberlakukannya Peraturan Dirjen BC Nomor P-05/BC/ 2006 tanggal 25 April 2006. Menurut Bachtiar, hal yang melatarbelakangi terbitnya peraturan tersebut adalah dari hasil evaluasi terhadap pelayanan dan pengawasan impor barang kiriman melalui PJT. Hasilnya, perlu suatu pengaturan kembali untuk penegasan ketentuan, tertib administrasi dan terjaminnya penerimaan negara. Sehingga ada sebuah legalitas penerapan sistem otomasi dalam pelayanan impor barang kiriman. “Selama ini tidak ada penyampaian laporan-laporan mengenai dengan PIBT, sehingga data kita di BPS dan Bank Indonesia itu sangat berbeda dengan data yang dilaporkan oleh banyak pengamat internasional,” jelas Bachtiar. Istilah PJT sendiri menurut P-05/ BC/2006 adalah perusahaan yang menangani layanan kiriman secara ekspres atau peka waktu, memiliki ijin penyelenggaraan jasa titipan dari instansi terkait serta mendapatkan persetujuan untuk melaksanakan kegiatan kepabeanan dari Kepala Kantor Pelayanan. Hal terpenting yakni beratnya tidak melebihi 100 kg netto untuk setiap House AwB atau House B/L. Selain menyampaikan presentasi, acara juga diisi dengan kegiatan tanya jawab dari peserta sosialisasi. Peserta sendiri, baik dari pegawai maupun kalangan pengguna jasa, tampak antusias dengan kesempatan ini. Seperti pertanyaan dari Dede Hendra, Kasi Audit. Ia menanyakan mengenai penetapan oleh Pejabat Seksi Pabean bersifat final apakah masih bisa diaudit. Menjawab pertanyaan ini, Bachtiar mengatakan bahwa sepanjang barang kiriman itu bersifat personal (perorangan) tidak bisa diaudit lagi. Tapi kalau barang kiriman lainnya masih bisa diaudit. ”Kenapa? Karena ada yang tidak kita ketahui, yaitu (harga) transaksinya. Jadi meskipun penetapan bersifat final, namun terhadap barang kiriman melalui PJT masih dimungkinkan (diaudit),” tegasnya. dons, balikpapan

Pasca
M
emang tidak ada yang berubah dengan dengan pola kehidupan dan aktivitas masyarakat kota Yogyakarta pasca gempa yang terjadi pada 27 Mei 2006 lalu . Sepanjang pusat kota kerusakan bangunan tidak begitu parah, hanya terdapat beberapa retakan dinding, andaikata ada tembok yang roboh itupun hanya sebagian. Tetapi lain halnya di bagian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) lainnya, misalnya , di Kabupaten Bantul

MENENGOK DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GEMPA
“...Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat “... penuh selaksa makna ... ...Suasana Yogya... Ramai kaki lima, menjajakan sajian khas berselera orang duduk bersila. Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu…….” Itulah sepotong lirik lagu Yogyakarta yang pernah dilantunkan oleh Kla Project di tahun 90-an. Lagu ini pun sedang dilantunkan oleh pengamen jalanan, ketika kami rehat sejenak melepas penat di lesehan Malioboro, Yogyakarta selepas mendistribusikan bantuan bencana alam seharian.
dan Kabupaten Imogiri yang sempat kami kunjungi, kondisinya sangat memprihatinkan, rumah-rumah penduduk roboh rata dengan tanah. Sekedar diketahui Provinsi DIY terdiri dari lima kabupaten yaitu : Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, dan Yogya (kota) dengan total luas wilayah 3.142 km2 dan jumlah penduduk kurang lebih 5 juta jiwa. Penulis ( Bambang Wicaksono ) dan Cahyo Wibowo mendapat tugas dari Kepala Kantor Wilayah VII DJBC SurabaFOTO : BAMBANG WICAKSONO

SEORANG PENDUDUK sedang membersihkan rumahnya setelah gempa merobohkan rumah mereka. EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

27

DAERAH KE DAERAH
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

berisi beraneka ragam mainan, alat tulis, boneka, dan sebagainya. Paket itu merupakan sumbangan dari anak-anak di luar negeri yang juga berumur 4-12 tahun baik laki–laki maupun perempuan. Mereka, anak-anak pendonor di luar negeri, dididik oleh orang tuanya untuk menyisihkan uang saku untuk berbagi dengan sesama anak yang membutuhkan.

JUMAT, 30 JUNI 2006
Rombongan yang terdiri dari : DR. Hana A.V. Ananda, Hari Ananda, Kristin ( Yayasan Pondok Kasih ), Abdul Hamid ( Satkorlak ), Bambang Wicaksono, Cahyo Wibowo ( Bea dan Cukai ), dan Hengky Go ( Yayasan Thedora ) bersama-sama menuju Kepatihan kantor Wakil Gubernur (Wagub) Sri Sultan Paku Alam IX untuk bersama Wagub menuju lokasi gempa di Dusun Tombratan, Desa Wirokerten, Kecamatan Banguntapang, Kabupaten Bantul. Setiba di lokasi kami telah ditunggu oleh penduduk setempat yang berada di tenda-tenda. Kondisi perumahan rusak berat hanya tertinggal puing-puing sisa rumah mereka. Menurut Lurah Wirokerten, Hendro S, tercatat 1547 rusak total, 987 rusak berat, 10.064 rusak ringan, korban meninggal 64 orang, luka berat 89 orang dan 5 diantaranya masih dirawat di rumah sakit. Untuk sementara mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian. Bantuan yang diberikan berupa semabako, alat pertukangan, pakaian , paket ibu/balita dan Samaritan’purse. Seusai menyerahkan bantuan Wagub menyalami
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

WAGUB DIY YOGYAKARTA, Sri Sultan Paku Alam IX (no.4 dari kanan), sesaat sebelum ke lokasi pengungsi berfoto bersama rombongan Pondok Kasih dan Yayasan Thedora.

ya dengan Surat Tugas Nomor : ST- ST169/WBC.07/2006 Tanggal 29 Juni 2006 untuk mengikuti pendistribusian barang bantuan untuk korban gempa dan sekaligus memberikan laporan tentang kegiatan bersama Yayasan Pondok Kasih. Yayasan Pondok Kasih merupakan organisasi sosial yang beralamat di Jalan Kendangsari II/69 Surabaya. Yayasan ini merupakan salah satu importir yang mengimpor barang bantuan dari luar negeri untuk misi-misi sosial kemanusiaan. Pada kesempatan kali ini pihak yayasan mengajukan permohonan kepada Kanwil VII DJBC Surabaya untuk ikut serta melihat langsung pendistribusian barang bantuan tersebut kepada pihak-pihak penerima yang berhak secara langsung. Dalam tulisan ini, penulis mengabadikan tugas pendistribusian bantuan tersebut, baik dengan tulisan, foto, dan sekaligus gambar video. Sayang untuk yang terakhir penulis tidak dapat berbagi dengan pembaca. Bagi penulis ini merupakan tiga sisi tugas yang menjadi satu, yaitu : tugas kantor, tugas sosial, dan tugas jurnalistik. Berikut penulis akan menceritakan semua kegiatan dalam liputan day-perday :

Yogya Bangkit, Yayasan Pondok Kasih, dan Yayasan Theodora. Pihak terkait merasa perlu memberikan bantuan yang tidak hanya berupa materi tetapi juga dapat berupa hiburan yang mampu membantu menghilangkan stres dan trauma pasca gempa. Di akhir acara dibagikan bingkisan Samaritan’s purse untuk 70 orang anak berumur 4-12 tahun. Samaritan merupakan paket yang

KAMIS, 29 JUNI 2006
Tiba di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta pukul 20.00 langsung menuju lokasi gempa di Desa Kabregan, Kecamatan Piyangan, Kabupaten Bantul. Desa ini berpenduduk sekitar 800 orang. Rumah penduduk 90 persen rusak berat dan korban meninggal 6 orang. Pada malam itu diadakan hiburan lawak menampilkan “Den Bagus Ing Ngarso” Yogyakarta. Acara ini terselenggara atas kerjasama 28
WARTA BEA CUKAI

PENDISTRIBUSIAN sumbangan bagi korban bencana alam gempa bumi oleh Yayasan Pondok Kasih.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

para pengungsi dan berkeliling ke tendatenda tempat tinggal mereka sembari memberikan dukungan moral. “Yang tabah ya, yang kuat…sing gedhe atine,” sapa Wagub berkali-kali kepada pengungsi yang tidak bisa menahan air mata. “Sekarang kita sedang diuji dengan kesusahan. Marilah kita bersama-sama menghadapi dan bangkit membangun masa depan,”katanya. Waktu menunjukkan pukul 12.00 acara ditutup dan rombongan menuju gudang/posko Pondok Kasih di Gejayan Yogyakarta, sedangkan Wagub kembali ke Kepatihan untuk melanjutkan tugas. Gudang Pondok Kasih menampung berbagai barang-barang bantuan dari luar negeri yang terdiri dari kursi roda, pakaian, makanan, air mineral, dan sembako. Luas gudang kurang lebih 400 m2. Pukul 14.00 rombongan dengan membawa dua truk besar, tiga mobil, dan dua pick up membawa barang bantuan disalurkan secara langsung kepada pengungsi di lokasi-lokasi antara lain : a. Desa Jonggrangan, Kecamatan Pundo, Kabupaten Bantul, korban meninggal 8 orang b. Desa Wonolopo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, korban meninggal 8 orang c. Desa Kiringan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, korban meninggal 5 orang Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 rombongan beralih tujuan untuk menuju pengungsian di kaki Gunung Merapi Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kurang lebih terdapat 1000 orang pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat.

GEMPA BUMI berkekuatan 5,9 skala richter (SR) terjadi pada 27 Mei 2006 di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

b. Desa Kerto, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, jumlah 150 orang Musibah bencana alam berupa gempa bumi berkekuatan 5,9 skala richter (SR) yang terjadi pada 27 Mei 2006 di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta telah menelan korban jiwa kurang lebih 6000-an orang dan 305.502 rumah rusak. Sekitar 129.000 rumah roboh dan rusak berat serta 172.854 rumah rusak sedang. Diperkirakan biaya untuk rehabilitasi dan rekrontruksi tersebut sebesar Rp 1,2 triliun akan dikeluarkan oleh pemerintah. Bea dan Cukai sebagai salah satu institusi pemerintah, khususnya Kanwil VII DJBC Surabaya selain memiliki fungsi revenue collector, trade fasilitator, dan community protector telah berperan serta secara aktif membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah tersebut

SABTU, 1 JULI 2006
Pagi hari bertolak dari gudang/posko Yayasan Pondok Kasih, rombongan dengan membawa dua mobil, satu truk, dan satu pick up menuju Wisma Elfata, Kaliurang, Kabupaten Sleman yang berjarak 25 km dari kota Yogyakarta. Di sini merupakan dataran tinggi salah satu tempat pengungsian penduduk Merapi. Suasana sekitar nampak sedikit gelap tertutup kabut tebal sehingga puncak Gunung Merapi pun tidak nampak, padahal jarak dengan Gunung Merapi hanya sekitar 10 km. Abu putih menutupi genting rumah, jalan, dan pepohonan,. Lokasi Wisata Gua Cerme di Kaliurang pun ditutup total, suasana desa tersebut seperti desa mati yang tidak ada aktivitas sama sekali Pukul 12.00 kami kembali ke posko Yayasan Pondok Kasih untuk mengambil barang-barang untuk disalurkan lebih lanjut ke tempat bencana gempa di daerah Imogiri dan Bantul. Bekerja sama pula dengan Yayasan Kasih Peduli Masyarakat Indonesia ( YKPMI ) kami menyalurkan ke titik-titik korban Gempa antara lain : a. Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, jumlah 31 KK / 107 penduduk

dengan memberikan bantuan uang tunai, barang, dan tenaga. Hal ini juga terlihat, Pada 9 Juni 2006 Kanwil VII DJBC Surabaya melalui perwakilan KPBC Yogyakarta telah menyalurkan sumbangan berupa uang tunai, kompor, selimut, makanan, dan mie instant. Semoga segala peran serta Kanwil VII DJBC Surabaya menjadi nilai positif dan berguna bagi warga yang tertimpa musibah dan mendapat pahala di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Amin ! Minggu pagi 2 Juli 2006 pukul 07.00 kami meninggalkan kota Yogyakarta ,dengan harapan DIY dapat bangkit kembali dari bencana yang menimpa. Semoga masyarakat DIY juga tabah dalam menghadapi cobaan ini dan mengambil hikmahnya.

Bambang Wicaksono. Koresponden Surabaya
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

PEMBERIAN bingkisan Samaritan”s purse untuk tujuh puluh orang anak berumur 4-12 tahun. EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

29

DAERAH KE DAERAH

KPBC Tipe A Pontianak

KINERJA DAN CITRA
K
antor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Pontianak, terletak di ibukota Kalimantan Barat. Lokasi kantornya tidak jauh dari pelabuhan Dwikora Pontianak, berada di tepi Sungai Kapuas. Suasana kantor yang bersih dan terawat ini menjanjikan rasa nyaman bagi para pengguna jasa kepabeanan yang datang ke KPBC Pontianak. Lantai putih keramik yang mengkilap, tata ruang yang rapi dengan hiasan tanaman hidup di setiap sudut ruangan menambah suasana makin asri. Tak heran kalau KPBC ini pernah meraih gelar Kantor Pelayanan Terbaik pada tahun 2005 lalu. Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, KPBC Pontianak telah menetapkan visi yaitu : “Menjadikan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Pontianak Terbaik dalam Kinerja dan Citra” dengan misi “Pelayanan Prima Di Bidang Kepabeanan dan Cukai Dengan Pengawasan Yang Efektif”. Artinya, suatu pandangan jauh ke depan dan cita-cita menempatkan KPBC Tipe A Pontianak yang merupakan bagian dari DJBC menjadi yang terbaik diantara KPBC di seluruh Indonesia dalam melakukan pelayanan dan pengawasan lalu lintas barang impor dan ekspor serta pemungutan bea masuk, cukai dan pajak dalam rangka impor dan selalu mendapat penilain serta kesan yang baik dari para stakeholder. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pemungut penerimaan negara pada tahun 2005 kemarin, KPBC ini berhasil mengumpulkan penerimaan negara dari Bea Masuk (BM) sebesar lebih dari 35 miliar rupiah atau tepatnya Rp. 35.651.929.868. atau 88,54 persen dari target penerimaan BM revisi kedua yang ditetapkan sebesar Rp. 40. 265.740.008. Dan kalau dibandingkan dengan BM yang berhasil dipungut pada Tahun Anggaran (TA) 2004 sebesar Rp. 30.747.777.130. Maka terjadi peningkatan sebesar 15,95 persen. Untuk target penerimaan TA 2006 ini menurut Kepala KPBC Tipe A Pontianak, Posman Pohan Siahaan, besarnya target yang dibebankan kepada KPBC Pontianak sebesar Rp. 39.170,720,000 yang sudah terkumpul pada catur wulan
WARTA BEA CUKAI

INGIN JADI YANG TERBAIK DALAM
Dalam hal penerimaan, KPBC ini merupakan tulang punggung bagi Kantor Wilayah IX DJBC Pontianak, sebagai pengumpul penerimaan terbanyak di jajaran KPBC di lingkungan Kanwil Pontianak, disusul KPBC Sampit, KPBC Pangkalan Bun, KPBC Entikong dan KPBC Pulang Pisau.
pertama sebesar Rp. 7.722,395 000 atau 19,71 persen. Menurut Pohan, kendala yang dihadapi dalam pencapaian target penerimaan saat ini berupa adanya larangan, pembatasan dan pengaturan komoditi penyumbang penerimaan bea masuk terbesar, yaitu gula dan beras. Demikian juga berkurangnya komoditi andalan daerah, berupa kayu olahan dan hasil hutan, dan
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

LARANGAN, PEMBATASAN dan pengaturan pada tahun ini untuk komoditi penyumbang penerimaan bea masuk terbesar di KPBC Pontianak, yaitu gula dan beras, salah satu kendala pencapaian target penerimaan.

investasi di bidang kehutanan turut mempengaruhi dalam usaha pencapaian target penerimaan. Namun demikian KPBC ini tetap optimis target yang telah ditetapkan akan tercapai. Pohan pun mengatakan “Kami tidak ingin pesimis, karena jika demikian maka kami akan layu sebelum berkembang,” begitu katanya.

EKSPOR DAN IMPOR
Kegiatan ekspor di wilayah yang berada di bawah pengawasan KPBC Pontianak dilakukan melalui Pelabuhan Laut Dwikora Pontianak, Pelabuhan Udara Supadio dan melalui darat. Komoditi yang dieskpor umumnya, kayu olahan dan hasil

industri perkebunan seperti minyak sawit mentah (CPO) dan karet dengan tujuan Malaysia . Sedangkan ekspor melalui darat yang tujuannya Malaysia Timur dilakukan di KPBC Entikong. Selama periode TA 2005, pelayanan dan pengawasan ekspor oleh KPBC Pontianak sebanyak 4.460 PEB dengan volume ekspor sebesar 611,388.44 Metrik Ton dengan nilai ekspor sebesar Rp. 549, 207.890. Dibandingkan KPBC-KPBC lain di lingkungan Kanwil IX Pontianak, bila dilihat dari jumlah PEB, volume ekspor ataupun nilai ekspor terbesar dilakukan melalui KPBC Pontianak. Sama dengan kegiatan ekspor, kegiatan impor dilakukan melalui Pelabuhan Laut Pontianak, Pelabuhan Udara Supadio dan Kantor Pos Lalu Bea Pontianak. Komoditi yang diimpor melalui KPBC Pontianak pada umumnya berupa barang untuk keperluan operasional perusahaan industri kayu (plywood), barang untuk keperluan operasional perusahaan industri minyak sawit, barang kebutuhan pokok terutama beras dan gula. Namun untuk komoditi gula dan beras saat ini sedang diberlakukan larangan, pembatasan dan pengaturan komoditi tersebut. Selama periode TA 2005, pemasukan barang impor yang dilayani dan diawasi KPBC Pontianak sebanyak 1,976 Pemberitahuan Impor Barang/Pemberitahuan Impor Barang Tertentu dengan volume impor sebesar 107.641,92 ton. Lebih lanjut disampaikan Pohan, untuk meningkatkan kinerjanya, maka KPBC ini telah mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu, guna menghadapi tantangan yang dihadapi. Guna mendukung misi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) terutama dalam hal masalah pencapaian target penerimaan dan pelayanan, jajaran KPBC Pontianak sejak TA 2005 memutuskan untuk melakukan monitoring target penerimaan dan mengevaluasinya secara periodik, serta melakukan pengawasan dan pengendalian guna memastikan bahwa pelayanan kepada pengguna jasa sudah dilaksanakan sesuai peraturan.

CUKAI
Dijelaskan Pohan, bahwa di wilayah

30

EDISI 381 AGUSTUS 2006

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

kerja KPBC Pontianak tidak ada pengusaha barang kena cukai maupun pabrik Hasil Tembakau , maka KPBC ini tidak dibebankan target penerimaan dari cukai. “Penerimaan cukai di kami nihil, jadi kami hanya melakukan operasi pasar, caranya sedehana saja, kami beli dulu lalu kami teliti pita cukainya. Sempat ketika itu ada pita cukai yang kami duga palsu dan kebetulan memang seksi cukai yang kami miliki sangat aktif. Temuan itu selanjutnya dikirim ke Kantor Pusat untuk diteliti lebih lanjut ke Peruri, namun ternyata hasilnya adalah pita cukai asli,” ujar Pohan yang menyatakan bahwa KPBC Pontianak hingga saat ini belum memiliki alat untuk mendeteksi keaslian pita cukai. Upaya yang dilakukan KPBC Pontianak dibidang cukai saat ini adalah dengan melakukan operasi pasar untuk mencegah peredaran Barang Kena Cukai dengan pita cukai palsu atau dipalsukan dan Barang Kena Cukai yang dibuat oleh pabrikan-pabrikan tanpa ijin, sesuai dengan tugas yang diemban KPBC ini yaitu perlindungan kepada masyarakat dan pengamanan penerimaan negara serta pencegahan terhadap terjadinya perdagangan barang ilegal. “Sedangkan untuk minuman beralkohol tidak ditemukan adanya peredaran minuman ilegal atau tanpa pita cukai, begitu juga tidak ada impor MMEA,

KEGIATAN EKSPOR di wilayah yang berada di bawah pengawasan KPBC Pontianak salah satunya dilakukan melalui Pelabuhan Laut Dwikora Pontianak.

selain importirnya terdaftar juga jelas nama perusahaannya,” tambah Pohan.

SUMBER DAYA
Sebagai fasilitator perdagangan, penghimpun penerimaan negara, pengawas lalu lintas perdagangn serta penegak hukum di bidang kepabeanan dan cukai,

maka diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh, profesional dan berintegritas tinggi. Jumlah pegawai di KPBC Pontianak sebanyak 80 orang. Disadari sepenuhnya bahwa komposisi itu memang belum sepenuhnya ideal untuk mencapai pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang optiFOTO : BAMBANG WICAKSONO

DENGAN OPTIMISME, para pegawai di KPBC Pontianak berusaha untuk semaksimal mungkin memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pengguna jasa kepabeanan EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

31

DAERAH KE DAERAH
mal. Namun dari struktur dan komposisi SDM yang ada dapat dikembangkan untuk optimalisasi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi KPBC. Mengingat karakteristik tugas DJBC sebagai suatu institusi yang berfungsi sebagai fasilitator perdagangan dan yang seperti telah disebutkan di atas, maka pegawai dituntut bertindak secara tepat, efektif dan efisien. Oleh karena itu merupakan tugas dari Kepala Kantor dan staf pimpinan untuk senantiasa mendorong dan meningkatkan kualitas SDM KPBC Pontianak, sehingga dapat diharapkan para pegawai yang telah meningkat kualitasnya dapat dipakai sebagai motor penggerak roda organisasi, yang pada gilirannya dapat tercapai kondisi yang ideal. Untuk hal itu, Pohan punya kiat tersendiri. Ia selalu meminta kepada pegawai agar selalu menjadi team dan jaringan kerja, sehingga setiap hambatan yang ditemui dapat dipecahkan bersama. Dan kepada pengguna jasa jika menemui masalah agar dicarikan jalan keluar dengan baik, sehingga mencapai win-win solution. Dengan optimisme, para pegawai di KPBC Pontianak berusaha untuk semaksimal mungkin memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pengguna jasa kepabeanan dan ini terus ditanamkan Pohan kepada para pegawai. Pembinaan yang dilakukan Pohan kepada pegawai dilakukan melalui P2KP sebanyak dua kali dalam sebulan dilengkapi dengan ceramah agama untuk bimbingan rohani pegawai sekali dalam sebulan. Dan itu dirasakan sangat mendukung pelaksanaan tugas sehari-hari pegawai KPBC Pontianak Menyinggung masalah sarana dan prasarana yang ada di KPBC ini, banyak yang berumur lebih dari 20 tahun, bahkan barang-barang yang tidak bergerak berupa bangunan tempat kerja, banyak yang telah berusia lebih dari 30 tahun. Begitu juga dengan barang-barang bergerak lainnya yang berumur lebib dari 10 tahun. Namun demikian ditegaskan Pohan, KPBC ini dalam melakukan kegiatan sehari-hari berupaya mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada tersebut. Untuk mengantisipasi perkembangan di bidang teknologi informasi, transportasi dan telekomunikasi, maka sudah saatnya dilakukan modernisasi atas sarana dan prasarana yang ada sehingga dapat memenuhi syarat untuk mendukung pelaksanaan tugas dengan baik, yang pada akhirnya akan mempengaruhi dan meningkatkan kinerja KPBC Tipe A Pontianak. ris 32
WARTA BEA CUKAI

KPBC Tipe B Entikong

TAK KENAL ISTILAH LIBUR
Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe B Entikong merupakan kantor pelayanan di bawah Kantor Wilayah IX Pontianak. KPBC ini memiliki tugas yang sangat penting karena terletak di batas darat negara Indonesia dan Malaysia.

P

erjalanan menuju KPBC Entikong dari Pontianak dapat dilalui dengan jalan darat selama kurang lebih enam sampai tujuh jam dengan jarak tempuh sekitar 400 km. Jalan antar kota yang membentang tidaklah selebar dan seramai di pulau Jawa. Dalam perjalanan WBC ke KPBC ini awal Juni 2006 lalu, hanya sesekali kami berpapasan dengan kendaraan roda dua, mobil dan sesekali bis. Perkebunan kelapa sawit dan jeruk khas Pontianak menjadi pemandangan sepanjang jalan, disamping juga lahanlahan yang ditanami pohon nanas. Entikong merupakan daerah setingkat kecamatan yang dipimpin seorang camat di bawah Kabupaten

Sanggau. Suasana di Entikong bisa dikatakan masih belum banyak tersentuh pembangunan. Bagi pendatang yang berkunjung ke wilayah ini mungkin akan sulit mencari penginapan yang nyaman dan lebih layak. Di Entikong hanya ada satu penginapan kelas melati yang bisa dikatakan lumayan nyaman untuk menginap, sedangkan penginapan kelas melati lainnya belum bisa menjamin kenyamanan menginap. Bila semakin mendekati perbatasan dengan Malaysia, tepatnya di Pos Perbatasan Entikong, akan terlihat gedung kantor milik instansi pemerintah yang mulai tertata rapi. Meski sederhana namun terlihat rapi dan asri, tetapi jauh dari kesan megah. Mendekati pos

EDISI 381 AGUSTUS 2006

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

perbatasan maka akan terlihat, Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, Balai Karantina, Kantor Polisi, Imigrasi dan beberapa kantor pemerintah lainnya. Kami berangkat dari Singkawang menuju Entikong, pukul 09.00 WIB setelah sehari sebelumnya melakukan wawancara ke KPBC Sintete. Sepanjang perjalanan untuk melepas penat, kami sempatkan berhenti untuk beristirahat siang dan kami makan di salah satu rumah makan khas Jawa yang merupakan milik perantauan dari Blitar, Jawa Timur. Tiba di Entikong, sekitar pukul 17.00 WIB. Pertama-tama pandangan kami tertuju pada bangunan gedung KPBC dengan atap bercat biru dan dindingnya didominasi warna putih, tak lama kemudian kami disambut Kepala KPBC Entikong, Eisenhower. Kami pun langsung dipersilahkan masuk ke ruang kerjanya. Sempat sebelum masuk ke ruangan Kepala Kantor, kami lihat di ruang utama terdapat ruang tunggu untuk pengguna jasa saat menunggu penyelesaian dokumennya. Ruang tunggu tersebut meskipun tidak dilengkapi AC tapi cukup sirkulasi udara karena banyak jendela, dilengkapi pula tempat duduk bersandar, tempat air minum, information desk, dan tv berwarna. Para pengguna jasa benarbenar mendapat pelayanan yang baik sehingga merasa nyaman dan betah. Di samping kantor terdapat beberapa rumah dinas yang nampak asri berdiri di atas tanah pekarangan yang luas karena masih banyak tanah yang kosong, sebagian dipakai untuk sarana olah raga seperti sepak bola, bulu tangkis, dan volley. Bahkan untuk

PPLB ENTIKONG terletak 3 km dari Tebedu Malaysia, yang merupakan kota terdekat dengan Indonesia

jangka panjang akan dibuat driving range untuk berlatih golf, taman, dan kolam ikan. “Rencananya ini akan menjadi suatu konsep Kantor Wisata . Di sela-sela waktu senggang pegawai dapat menikmati fasilitas yang ada sehingga merasa betah dinas di perbatasan,”tutur Eisenhower memulai perbincangan dengan kami. Ketika lebih jauh kami tanyakan mengenai konsep kantor wisata, Eisenhower menjelaskan, bahwa itu bermula dari pemikirannya, bahwa sudah menjadi keinginan setiap pegawai termasuk dirinya saat muda dulu, tujuan pegawai jika dimutasikan
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

PEMERIKSAAN barang pelintas melalui X-ray.

selalu inginnya berada di wilayah Pulau Jawa, seperti Tanjung Perak atau Tanjung Priok dan Cengkareng. Lantas yang dimutasi ke daerah-daerah perbatasan atau daerah terpencil seolah-olah merasa dibuang jauh. “Nah untuk kita yang di Entikong harus menciptakan suasana kerja agar mereka tidak merasa dibuang. Taruhlah bahwa benar ada yang kerja di Priok, tetapi yang ditugaskan di sini jangan menjadi beban bahwa mereka sedang di hukum,” begitu Eisenhower menjelaskan latar belakang pemikirannya. Eisenhower merasa bahwa Tuhan telah memberi kemudahan baginya mengenai angan-angannya itu. Kebetulan ketika itu ia bertemu Kakanwil IX DJBC Pontianak yang waktu itu dijabat oleh Teguh Indrayana dan Eisenhower saat itu baru saja dilantik menjadi Kepala KPBC Entikong. Karena belum memiliki jadwal dinas yang padat, ia kemudian diajak Teguh Indrayana ke suatu pertemuan para pimpinan Pemda di Pontianak. Dalam pertemuan itu, oleh Teguh Indrayana ia diperkenalkan kepada para pimpinan yang hadir, seperti Gubernur, unsur Kepolisian dan beberapa pejabat lainnya. “Positifnya, saya ketemu pejabatpejabat kepolisian, polda, pemda di Pontianak dimana suatu saat pasti saya memerlukan mereka,” kenangnya. Kemudian disuatu waktu, Eisenhower bertemu kembali dengan Gubernur Kalimantan Barat di Bandara Supadio dikarenakan pesawat yang akan ditumpanginya mengalami penundaan (delay). Pada kesempatan menunggu itu, ia mengatakan kepada Gubernur bahwa sebenarnya daerah perbatasan dapat segera dibangun agar lebih maju dan itu memerlukan suatu percepatan.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

33

DAERAH KE DAERAH
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

Eisenhower. Ia menginginkan gerbang di border (perbatasan) Entikong tidak kumuh. Pemeriksaan antara barang, bus dari Kuching maupun penumpangnya bisa dipisahkan. Kemudian di sekitar lokasi KPBC Entikong yang lahannya masih luas olehnya ingin dibuat semacam kebun dan berternak. “Selain menampilkan nuansa alam yang tertata rapi dan bersih yang setiap hari dilihat warga Malaysia yang datang ke Indonesia, suasana seperti itu juga akan membuat semakin betah pegawai bea cukai,” ujar Eisenhower yang diakuinya untuk saat ini dirinya baru sebatas untuk memberikan wawasan. Tetapi apa yang menjadi pemikiran Eisenhower memang sesuai dengan visi tentang pengembangKEPALA KPBC, Eisenhower bersama camat dan aparatnya, serta Danton Lintas Batas saat meninjau dan melakukan pengukuran an wilayah perbatasuntuk pos pengawasan di wilayah Segumun. an. Salah satu visi tersebut adalah wilayah perbatasan segiatan seperti olahraga maupun mengEisenhower yang asli dari suku bagai pusat pertumbuhan yang berarti hilangkan kejenuhan dengan berpetuadayak ini mengatakan pada Gubernur, perbatasan dapat dikembangkan langan ke perbatasan lewat jalan tikus bahwa disekitar wilayah perbatasan sebagai kawasan ekonomi dan perdayang tentunya sangat menantang. antara Indonesia-Malaysia memiliki gangan bekerjasama dengan pihak Kepada Kakanwil IX DJBC potensi yang bagus jika dikembangkan, investor dalam maupun luar negeri sePontianak yang baru pun yaitu baik untuk resort (penginapan) maupun cara legal yang berkelanjutan. Proses Ismartono, Eisenhower juga wisata penelitian mengingat biota air pembangunan di kawasan perbatasan menyampaikan pemikirannya untuk maupun tanaman sangat kaya di Hutan pun harus memperhatikan aspek menjadikan KPBC menjadi tempat Kalimantan yang dapat mendatangkan pengelolaan sumberdaya alam, seperti wisata. Karena dengan begitu, Bea dan devisa. Misalnya di lokasi Danau hutan lindung dan laut secara Cukai bisa dekat dengan masyarakat. Sentarum maupun Danau Luar.Bahkan seimbang dan memperhatikan daya Jika perlu didatangkan hiburan musik ada sekelompok peneliti asing dukung alam yang tujuannya untuk dari Jakarta, sehingga dengan begitu beristirahat di sekitar lokasi Batang Air meningkatkan kesejahteraan masyarakat bisa mengetahui Bea dan untuk melakukan penelitian yang masyarakat lokal di perbatasan dan di Cukai. terisolasi dan sangat menikmati daerah sekitarnya. “Yang utama adalah bagaimana kesunyian. Selain untuk wisata pegawai disini bisa enjoy, mereka penelitian, lanjut Eisenhower, bisa saja tidak merasa jauh dari keluarga, di lokasi perbatasan dibuat wisata WILAYAH KERJA DAN TARGET malahan bila selesai ditempatkan di seperti di Genting Island maupun PENERIMAAN wilayah lain, jika sampai di Entikong Macao. Wilayah kerja KPBC Tipe B Entibisa membandingkan bahwa di “Jalan kita siapkan yang bagus dan kong berada digaris Perbatasan antara Entikong jauh lebih nyaman dan betah. bisa saja kerjasama dengan pengemKabupaten Sanggau dan Kabupaten Karena itu saya sebagai pimpinan bang di Kuching (Malaysia) untuk Kapuas Hulu dengan Wilayah Tebedu untuk permulaan harus memberikan membuat sarana akomodasi. Kuncinya, dan Seriaman Serawak Malaysia. yang terbaik. Saya ingin visi bagaimana menghidupkan perekonoKPBC Entikong membawahi satu menjadikan KPBC ini sebagai tujuan mian masyarakat di sana, sebab Kantor Bantu Pelayanan Bea dan Cukai wisata dapat terwujud,” begitu sesungguhnya potensi wilayah ini kaya yaitu Kantor Bantu Nanga Badau dan keinginannya. akan wisata alam, seperti air terjun, lima Pos Pengawasan, yaitu; Pos dan akhirnya pegawai yang ditempatPengawasan Merakai Panjang, Pos kan di sini pun akan betah,” ujar Pengawasan Nanga Bayan, Pos PEMERINTAH DAN SWASTA HARUS Eisenhower yang mensyukuri bahwa Pengawasan Segumun , Pos BERPERAN pegawai di Entikong tidak ada yang Pengawasan Simpang Tiga Lubuk Melihat perbedaan kondisi stres, dikarenakan selain rutin menjaSabuk , Pos Pengawasan Bantan. perbatasan dengan negara tetangga lankan tugas mereka juga diselingi keJarak KPBC Entikong dengan posmenjadikan semangat tersendiri bagi 34
WARTA BEA CUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

pos Bea dan Cukai tersebut ditempuh melalui jalur darat Indonesia, antara lain; Bantan kurang lebih 50 Km, Segumun kurang lebih 75 Km, Simpang Tiga Lubuk kurang lebih 60 Km, Nangabayan kurang lebih 410 Km, Merakai Panjang kurang lebih 300 Km dan Nanga Badau kurang lebih 335 Km. Dengan wilayah kerja yang luas tersebut diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal didukung sarana dan prasarana yang memadai untuk mencapai tingkat pelayanan yang prima dan efektif. Saat ini KPBC Entikong memiliki pegawai sejumlah 55 orang. Sebagai pelaksanaan fungsi revenue collector untuk mendapatkan penerimaan bagi negara dari sektor bea masuk dan cukai maka KPBC Entikong diberi beban target. Target penerimaan Bea Masuk TA 2006 sebesar Rp.768.400.000. Realisasi dari Januari sampai dengan 10 Mei 2006 adalah Rp. 260.354.521. atau 33,88 persen, dengan jumlah PIB sebanyak 23 berkas, 95 berkas Customs Declaration dan pelunasan SPKPBM sebanyak satu buah. Sementara tahun lalu, target penerimaan Bea Masuk pada periode TA 2005 sebesar Rp.1.740.258.000 dan yang terealisasi sampai dengan akhir tahun adalah Rp 1.032.706.824. atau 59,34 persen tercapai. Meski besarnya target penerimaan diturunkan pada TA 2006 ini dibandingkan TA 2005, namun realisasi penerimaan bea masuk sampai dengan 10 Mei 2006 sudah mencapai target ratarata perkuartal yang ditetapkan sehingga dapat diprediksikan penerimaan bea masuk untuk KPBC Tipe B Entikong dapat tercapai. Sedangkan penerimaan cukai di KPBC Entikong nihil, karena di wilayah ini tidak ada pengusaha Barang Kena Cukai .

Negara (KPPN) Sanggau. Permasalahan disebabkan penerimaan yang dilakukan secara tunai oleh KPBC Entikong tidak dapat disetorkan langsung pada hari yang sama ke Bank Persepsi dikarenakan tidak adanya Bank Persepsi yang on line di Entikong. Sampai saat ini BM, PDRI, dan PNBP disetorkan sebagai titipan sementara di unit pembantu Bank Persepsi terdekat di Balai Karangan untuk diteruskan ke Bank Persepsi di Sanggau pada hari kerja yang tidak dapat ditentukan. Diusulkan agar BRI unit Balai Karangan bisa menjadi Bank Persepsi dengan fasilitas on line. Kedua, kendaraan dinas operasional roda empat kurang. Saat ini kendaraan dinas operasional roda empat cuma ada dua unit. Dengan komposisi Pejabat KPBC Entikong 1 (satu) orang Kepala Kantor dan 8 (delapan) orang Kasi/Kasubag, dengan volume kerja cukup tinggi, dan terdapat 5 (lima) Pos Pengawasan Bea dan Cukai yang masih aktif, maka jumlah kendaraan roda empat yang ada saat ini dirasa masih kurang Ketiga, Kawasan Pabean PPLB Entikong. Di perbatasan darat sering timbul upaya coba-coba untuk memasukkan barang yang dibatasi atau diatur tata niaga impornya, berarti kawasan ini bisa dikatakan belum steril. Jika ketahuan petugas Bea Cukai maka resikonya mereka akan diminta untuk mere-ekspor atau mengirim kembali ke Malaysia. Belum sterilnya di wilayah perbatasan ini dapat diartikan, masih banyak orang-orang yang tidak berkepentingan bebas lalu-lalang di

dalam kawasan pabean, termasuk gudang pemeriksaan menjadi tempat berdagang dan peristirahatan tukang pikul, parkir kendaraan yang menuggu muatan dan tempat berkumpulnya para money changer. Empat, produk pertanian/ peternakan yang dibatasi/ dilarang untuk diimpor. Adanya pemaksaan kehendak dengan cara perlawanan darimasyarakat setempat untuk impor daging segar, telur, ayam, gula yang melebihi kebutuhan hidup sehari-hari (FOB MYR 600/orang/bulan). Keadaan masyarakat yang kurang mengerti akan peraturan-peraturan dari instansi terkait menjadi kendala dalam pelaksanaan tugas pengawasan , maka perlu adanya sosialisasi peraturan-peraturan kepada masyarakat di Kawasan Pabean PPLB Entikong Kelima, Importasi Gula. Tidak boleh diimpor kecuali oleh importir yang ditunjuk oleh Deperindag. Dalam hal ini Bea Cukai tidak mendapat dukungan dari instansi lain untuk menghentikan impor gula. Kemudian, penimbunan gula di wilayah Kecamatan Sekayam dan Entikong. Kebijakan kepada masyarakat Kecamatan Entikong dan Sekayam diijinkan 1 karung/bulan=50 kg setiap orang. Penentuan jumlah gula pasir yang diperbolehkan dalam Buku Pas Barang Lintas Batas (BPBLB/Buku Biru) tersebut berdasarkan hasil kesepakatan Muspida Sanggau, Deperindag dan Instansi terkait. Buku Pas Barang Lintas Batas (BPBLB/Buku Biru) saat ini telah diterbitkan sebanyak 3.111 buku untuk masyarakat Kecamatan Entikong dan Kecamatan
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

KENDALA DI LAPANGAN
KPBC Entikong yang memiliki peran sangat penting, yaitu menjaga perbatasan darat langsung dengan Malaysia di daerah yang terpencil setingkat kecamatan, tidak terlepas dari berbagai kendala di lapangan. Kendala tersebut dapat terjadi dari internal maupun eksternal. Di mana faktor sarana, prasarana, komunikasi, berbagai peraturan , dan dinamika masyarakat setempat perlu menjadi perhatian khusus agar tugas dan fungsi Bea dan Cukai tetap berjalan secara optimal. Beberapa kendala itu antara lain sebagai berikut ; Pertama, Penyetoran Penerimaan Harian. Terdapat kendala ketepatan waktu antara realisasi penerimaan yang dilaporkan oleh KPBC Entikong dengan penerimaan yang sampai ke kas negara yang dilaporkan oleh Kantor Perbendaharaan dan Penerimaan

POS PEMERIKSAAN LINTAS BATAS, aktivitasnya dimulai sejak pukul 5 pagi. EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

35

DAERAH KE DAERAH
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

ADANYA KANTOR WISATA, tujuan yang utama adalah membuat pegawai di KPBC Entikong bisa enjoy, sehingga tidak merasa jauh dari keluarga.

Sekayam Balai Karangan. Pemasukan gula pasir dengan Buku Pas Barang Lintas Batas (BPBLB/Buku Biru) tidak dikenakan pungutan impor Keenam, mobil wisata dari Malaysia / Brunei. Masih ada mobil wisata yang belum kembali karena pemilik/ pembawa mobil wisata tidak mempertaruhkan jaminan sehingga pada waktu kembali tidak ada dorongan untuk melaporkan kembali pada bea cukai. Untuk itu saat ini telah diberlakukan Single Document berdasarkan Kesepakatan Sosek Malindo 2006 yang Pemberlakuan Single Document telah disepakati mulai tanggal 20 Mei 2006. Disamping itu juga telah diadakan pertemuan bersama di Tebedu antara pihak Indonesia (KPBC Entikong, Unit Perhubungan Entikong, Pos Lantas Entikong) dan pihak Malaysia (Kastam Diraja Malaysia, Polis dan JPJ Tebedu). Dan telah disebarkan kepada para pemilik / pengemudi kendaraan wisatawan tentang adanya prosedur baru Pemberlakuan Single Document Ketujuh, registrasi importir . Masih banyak terdapat Pedagang / Importir yang belum teregister sehingga dalam dokumen Impor (PIB) masih memakai data identitas pengenal diri seperti KTP , PASPORT & PLB. Kendalanya adalah keterbatasan dalam melakukan tertib administrasi ( pembukuan ) yang merupakan syarat mutlak dalam mengajukan registrasi. Maka itu disarankan untuk menggunakan perusahaan yang telah teregistrasi Delapan, Pelayanan Ekspor. Pembatasan ekspor produk industri kehutanan, sehubungan dengan adanya adanya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 02/M-DAG/PER/ 2/2006 tanggal 02-02-2006 (berlaku 30 hari setelah ditetapkan), yang pada intinya mengatur bahwa setiap kegiatan 36
WARTA BEA CUKAI

ekpor produk industri kehutanan:harus dilakukan oleh ETPIK (Eksportir Terdaftar Produk Industri Kehutanan) dan wajib dilakukan verifikasi/ penelusuran teknis oleh surveyor dengan diterbitkannya Laporan Surveyor. Sedangkan saat ini ekspor produk industri kehutanan tersebut diberlakukan ketentuan perdagangan lintas batas berdasarkan Surat Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Propinsi Kalimantan Barat Nomor : 510/382/DAGLU/III/2006 tgl 29-03-2006 Kendala yang terakhir adalah kekosongan Jabatan Kasi OKDD. Belum terisinya jabatan Kepala Seksi OKDD sehingga tugas dan tanggung jawab dirangkap Kepala Seksi Perbendaharaan yang mengakibatkan tidak optimalnya pekerjaan

AKTIVITAS DI PERBATASAN
Waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi WIB suasana masih gelap belum nampak matahari bersinar dan udara dingin menusuk sampai ke tulang. Pintu pagar perbatasan Entikong dan Tebedu (Malaysia) mulai dibuka. Pos Pengawasan Lintas Batas (PPLB) Entikong terletak 3 km dari Tebedu Malaysia, yang merupakan kota terdekat dengan Indonesia. Selain PPLB Entikong juga terdapat lebih 64 pintu masuk-keluar tidak resmi yang sering digunakan pelintas batas untuk menyelundupkan komoditi yang dilarang masuk ke Indonesia. PPLB Entikong nampak ramai dipenuhi orang-orang dengan berbagai pekerjaan masing-masing dari pedagang asongan, penjaja money changer, penjemput sampai dengan Polisi, TNI, Imigrasi, termasuk Bea dan Cukai terlibat dalam komunitas kehidupan di pagi hari sampai sore pukul 17.00. Di bagian gate in satu per satu

pelintas batas yang berjalan kaki datang membawa barang bawaan, mobil angkutan penumpang/ travel, bus antri berjajar menjalani pemeriksaan baik oleh petugas imigrasi yang mengontrol paspor / kartu pelintas batas maupun Bea dan Cukai. Pemeriksaan barang bawaan dilakukan dengan cara menggunakan x-ray atau manual. Para money changer hilir mudik menawarkan penukaran uang ringgit dan rupiah. Biasanya Ringgit Malaysia dibeli seharga Rp 2.530. Sebaliknya Ringgit Malaysia dijual seharga sekitar Rp 2.500. Komoditi yang biasa dibawa pelintas batas masuk ke Indonesia (importasi) antara lain; makanan-makanan ringan dan minuman kaleng buatan Malaysia, gula pasir yang dibatasi satu karung/ bulan=50 kg setiap orang, susu, mentega, terigu, buah-buahan, ikan, telur dan daging. Untuk ikan, telur, buah segar, daging sapi, daging ayam , sosis, sayuran, kacang hijau, kedelai, kacang tanah dan bawang putih adalah komoditi wajib periksa karantina untuk mendapat sertifikat dari badan karantina di PPLB Entikong. Disamping komoditi yang dimasukkan ke wilayah Indonesia, komoditi yang dibawa masyarakat Indonesia ke Malaysia (eksportasi) antara lain; lada hitam/putih, karet basah, kacang tanah, jahe, kusen pintu, rotan, mie instan dan buah-buahan. Dari komoditi-komoditi tadi ada beberapa komoditi yang rawan untuk diselundupkan antara lain untuk penyelundupan impor pada komoditi gula, tepung terigu, telur, daging dan obat-obatan. Sedangkan penyelundupan ekspor pada komoditi kayu gergajian dan pupuk urea. Di sisi lain bagian gate out juga nampak deretan orang berbaris di loket imigrasi antri mengurus dokumen untuk melintasi batas negara menuju Malaysia. Petugas Bea dan Cukai pun juga melayani dan mengawasi barang dan orang dengan ramah. Dalam satu hari rata-rata ada 15 bus keluar dari Malaysia masuk ke Indonesia dan 15 bus yang ke luar dari Indonesia masuk ke Malaysia. Sementara itu, dalam sehari, warga negara Indonesia berangkat ke Malaysia sekitar 550 orang dan masuk kembali 450 orang per hari. Sedangkan warga negara asing masuk ke Indonesia sekitar 50 orang dan kembali ke Malaysia sekitar 40 orang. Perbatasan Entikong-Tebedu ditutup jam 17.00 WIB atau 18.00 (waktu Malaysia), otomatis segala kegiatan lintas batas berhenti dan akan dimulai lagi keesokan harinya mulai pukul 5 pagi. Meskipun perbatasan hanya dibuka 12 jam, tapi tidak kenal istilah libur untuk aktivitas di perbatasan baik itu hari Minggu maupun hari besar nasional. bambang wicaksono/ris

EDISI 381 AGUSTUS 2006

PUSDIKLAT

Penutupan DTSS I Angkatan I

PESERTA HARUS SIAP HADAPI TANTANGAN TUGAS
Peserta DTSS I ini diharapkan dapat menghadapi tantangan dan dinamika dalam menjalankan tugasnya sebagai pegawai DJBC.

U

ntuk meningkatkan kemampuan petugas dalam menjalankan tugasnya khususnya yang berkaitan dengan masalah Kepabeanan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat DJBC) mengadakan Diklat Teknis Substantif Spesialisasi I (DTSS I) angkatan pertama. DTSS tersebut diikuti oleh 90 peserta dari berbagai kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) dan Kanwil dari seluruh Indonesia. DTSS tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga bulan yang dimulai pada 11 April 2006 yang dibuka langsung oleh Kapusdiklat DJBC Sofyan Permana dan ditutup pada 5 Juli 2006 di Pusdiklat DJBC Jakarta oleh kabid Penyelengaraan Maruli Sitompul. Para peserta mendapatkan pelatihan dari para pengajar yang terdiri dari widyaiswara DJBC maupun juga pejabat DJBC dengan jumlah jam latihan yang harus diikuti peserta selama 552 jam latihan dengan materi mengenai kepabeanan. Materi tersebut diantaranya teknis Kepabeanan, teknis cukai, pengantar hukum kepabeanan dan cukai, teknis verifikasi dan audit, teknis perdagangan internasional dan lain sebagainya. Pelatihan tersebut pada akhirnya akan disimpulkan oleh para peserta melalui karya tulis. Maruli Sitompul dalam acara penutupan tersebut mengatakan, diklat yang diikuti oleh para peserta ini merupakan suatu upaya untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dilingkungan DJBC yang siap untuk menghadapi tugas tantangan kedepan yang dihadapi oleh DJBC. Selain itu juga ia menambahkan agar para peserta dapat mengimplementasikan materi pelatihan yang didapat dalam menjalankan tugas kesehariannya dan menyampaikannya kepada rekan-rekannya di tempat tugasnya. Selain itu Maruli juga menambahkan tuntutan dunia industri agar terciptanya pelayanan yang baik dan memuaskan para stake holder agar terus dijaga. Dengan adanya pelayanan yang baik tentunya citra DJBC akan semakin baik dimata masyarakat dan mampu untuk mensejajarkan diri dengan instansi Kepabeanan di dunia internasional. Rusdin peserta DTSS I yang mendapat peringkat pertama kepada WBC mengatakan bahwa dirinya baru pertama kali mengikuti DTSS ini. Ia yang bertugas di pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun sebagai staf seksi perkapalan mengatakan, dalam menjalankan diklat

WBC/ZAP

PENYEMATAN TANDA PANGKAT. Dilakukan oleh Kabid Peerencanaan Maruli Sitompul sebagai tanda berakhirnya masa Diklat selama tiga bulan.

dirinya selalu berusaha untuk menyerap materi yang diberikan, walaupun selama ini ia bertugas di pangkalan sarana operasi yang pekerjaannya tidak bersinggungan langsung dengan masalah Kepabeanan Pada awalnya Rusdin hanya bertekad
WBC/ZAP

RUSDIN. siap mengimplementasikan apa yang diperolehnya dalam pekerjaannya.

untuk bisa mengikuti DTSS I ini dengan baik, dan ternyata ia bisa mengikutinya dan mendapatkan peringkat pertama. Ia kembali mengatakan walaupun selama ini hanya mengurus masalah perkapalan, namun ia mampu menguasai masalah teknis Kepabeanan melalui ujian akhir dan karya tulis sebagai syarat kelulusan DTSS I. Mengenai materi yang disampaikan selama DTSS I ini ia mengatakan, bahwa para pengajarnya merupakan orang yang telah berpengalaman dibidangnya sehingga ia merasa mudah untuk menyerap materi yang disampaikan para pengajar baik itu widyaiswara maupun juga pejabat fungsional di DJBC. Ketika ditanya langkah selanjutnya setelah mengikuti DTSS, ia mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai ambisi untuk segera pindah ke bidang lain sesuai dengan apa yang diperolehnya dalam DTSS tersebut. Namun sebagai pegawai negeri sipil ia selalu siap untuk ditempatkan dimana saja, apakah itu sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya melalui DTSS I ataupun tidak. Diakhir pembicaraan ia mengatakan akan berusaha untuk mengimplementasikan apa yang diperolehnya pada DTSS dalam pekerjaannya. zap
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

37

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengadakan Retraining Integritas bagi pejabat eselon II, III dan IV dilingkungan Kantor Pusat dan sekitarnya di Aula Gedung B pada 30 Juni 2006. Acara dibuka oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi dengan menampilkan dua pembicara yakni Abdullah Hehamahua dari penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Andry Wongso, pakar Motivator. Tampak pada gambar, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi menyerahkan kenang-kenangan kepada Andry Wongso.
WBC/ATS

JAKARTA. Para Pejabat eselon II, III, IV DJBC dilingkungan KP-DJBC dan Juga KPBC Soekarno-Hatta dan Bekasi mengikuti pengenalan ESQ di Auditorium KP-DJBC pada 17 Juni 2006. Pengenalan ESQ yang dibawakan oleh ESQ Leadership Center pimpinan Ary Ginanjar Agustian, dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sjahrir Djamaluddin. Tampak hadir dalam acara tersebut yakni Direktur Fasilitas Kepabeanan Ibrahim A. Karim, Direktur Kepabeanan Internasional Kamil Sjoieb, Direktur Pencegahan dan Penyidikan, Endang Tata, Direktur Verifikasi dan Audit Thomas Sugijata, Kakanwil IV DJBC Jakarta, Erlangga Mantik dan Kakanwil V DJBC Bandung Djoko Wiyono serta Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Acara diakhiri dengan penyerahan cinderamata kepada salah satu pembicara ESQ, yang diserahkan oleh Sjahrir Djamaluddin.
FOTO : ADITO

DENPASAR. Pada 27 Juni 2006 dihadapan seluruh pegawai KPBC Ngurah Rai Kepala KPBC Ngurah Rai Adam R. Kembuan menyampaikan pengarahan yang berkaitan dengan masalah Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Acara tersebut diselenggarakan di aula KPBC Ngurah Rai dihadiri juga para pejabat dilingkungan KPBC Ngurah Rai. Adito, Denpasar

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

FOTO : ADITO

DENPASAR. Kantor Wilayah VIII DJBC Denpasar pada 16 Juni 2006 dikunjungi oleh Menteri Negara (Meneg) Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) Taufik Effendi bersama anggota DPR RI dari Komisi 11. Kedatangan Meneg PAN dan rombongan diterima langsung oleh Kakanwil VIII Heryanto Budi Santoso diruang kerjanya. Dalam kunjungan ini, selain meminta masukan mengenai revisi UU no. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, Meneg PAN juga memberikan arahan bagaimana menjadi institusi birokrat yang ideal (gambar kiri). Gambar kanan, Kakanwil (no. 3 dari kiri) foto bersama dengan rombongan yang dipimpin Meneg PAN (no.2 dari kanan). Adito, Denpasar
FOTO : ADITO

DENPASAR. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Ngurah Rai pada 23 Mei 2006 melaksanakan pemusnahan terhadap barang-barang yang tidak dikuasai. Pemusnahan dilakukan di tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung Kangin Denpasar (gambar kanan), yang sebelumnya dilakukan penandatangan naskah pemusnahan dengan dihadiri selain pejabat Bea dan Cukai juga dihadiri instansi terkait (gambar kiri). Adito, Denpasar
WBC/ATS

JAKARTA. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-61 Bapors (Badan Pelaksana Olaraga) Kantor Pusat DJBC menyelenggarakan beberapa pertandingan olahraga yakni sepak bola, voli dan bulutangkis. Untuk pertandingan sepak bola pelaksanaannya dimulai/dilaksanakan pada 15 Juni 2006, pertandingan voli pelaksanaannya dimulai pada 16 Juni 2006, dan Tampak dalam gambar kanan, pertandingan bulutangkis yang pelaksanaannya dimulai pada 20 Juni 2006 bertempat di aula gedung B dan pada pertandingan awal tim bulutangkis Sekretariat melawan Dit PPKC dengan skor akhir 3 – 0, dan gambar kiri kedua tim foto bersama dengan Ketua Bapors DJBC (berdiri no. 3) dan Revy Suhartantyo selaku ketua panitia pelaksana.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WARTA BEA CUKAI

39

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WARTA BEA CUKAI

41

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Dalam rangka kepedulian terhadap korban bencana gempa bumi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Koperasi Pegawai KP-DJBC yang dipimpin oleh R. Evy Suhartantyo (ketua pelaksana donor darah) bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) telah menyelenggarakan donor darah sebanyak dua kali di Auditorium Kantor Pusat DJBC. Donor pertama diselenggarakan pada 1 Juni 2006 dengan 100 orang pendonor dan kegiatan kedua diselenggarakan pada 26 Juni 2006 juga di Auditorium Gedung Utama KP-DJBC. Sebanyak 52 orang dari pejabat eselon II, III, IV serta pelksana dilingkungan KP- DJBC dan sekitarnya ikut berpartisipasi menyumbangkan sebagian darahnya seperti tampak pada gambar. Selain donor darah juga ada sumbangan berupa barang senilai Rp. 18.325.850 yang telah diserah terimakan melalui posko Bencana Gempa Bumi di Kantor Pusat DJBC pada 13 Juni 2006. Barang-barang sumbangan berupa 9 dos (pakaian anakanak, makanan anak-anak dan susu untuk bayi), 42 buah terpal plastik berukuran 4X6 meter dan 15 ikat tali tambang.
WBC/ADI

JAKARTA. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus SoekarnoHatta, pada 8 hingga 21 Juni 2006 lalu, mengadakan program pelatihan Computer Based Training (CBT) yang bekerjasama dengan Pusat Dukungan Penegak Hukum Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Pus Duk Gakkum Lakhar BNN). Pelatihan yang diikuti oleh 30 peserta dari delapan instansi ini, terlaksana berkat adanya bantuan dari United Nation Office On Drugs and Crime (UNODC), dimana KPBC SoekarnoHatta telah ditunjuk sebagai salah satu dari delapan CBT Center di seluruh Indonesia.

FOTO : REDY BAMBANG

KOTABARU. KPBC Tipe B Kotabaru pada 3 Juni 2006 Ikut berpartisipasi dalam rangka HUT Kotabaru ke 56 dengan mengikuti pameran dalam Ekspo 56 Tahun Saija’an di Siring Laut Kotabaru. Pameran Ekspo 56 Tahun ini diselenggarakan selama dua minggu, dibuka oleh Bupati Kotabaru H. Drs. Sjachrani Mantaja, MBA dan diikuti sebanyak kurang lebih 210 stand. Bupati Kotabaru dan Wakil Bupati menyempatkan diri mengujungi stand Bea dan Cukai dan dengan antusias menyimak penjelasan dari Kasi. Pabean Redy Bambang. Pameran dihadiri pula oleh Meneg. PAN Taufik Effendi. Bea dan Cukai khususnya KPBC Tipe B Kota Baru dalam pameran tersebut tentang tugas-tugasnya diantaranya pencegahan narkoba, memerangi illegal logging dan pencegahan penambangan batubara liar. Tampak pada gambar kiri, Korlak Pabean Yuliansyah (batik), pelaksana Subbagian Umum Lili Sardiansyah (kemeja putih) dan Pelaksana OKDD (baju safari) foto bersama didepan stan Bea dan Cukai, dan gambar kanan Korlak Pabean Yuliasyah tersenyum menyambut kedatangan pengunjung ingin melihat gambar dan barang-barang yang dipamerkan oleh Be dan Cukai. Kiriman KPBC Kotabaru,

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WBC/ADI

WBC/ATS

MANADO. Pada kejuaran terbuka karate POR Maesa yang kembali diselenggarakan di GOR KONI Sario Manado pada 28 Juni hingga 1 Juli 2006 lalu, perguruan karate Inkado korda Jawa Barat yang dipimpin oleh Agustinus Djoko Pinandojo yang juga merupakan Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Soekarno-Hatta, berhasil menduduki peringkat ke enam dari 40 perguruan karate seluruh Indonesia. Inkado korda Jawa Barat yang pada event kali ini hanya menurunkan lima atletnya di kelas kadet, berhasil meraih medali perak di kelas kata beregu kadet putri kadet, dan medali perunggu di kelas komite + 40 Kg. Putri.

JAKARTA. Pelatihan Computer Based Training kerjasama Bea dan Cukai (Kanwil IV DJBC Jakarta) dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang diselenggarakan selama 10 hari ditutup pada 30 Juni 2006. Acara penutupan diawali dengan kata sambutan dari Kakanwil IV DJBC Jakarta yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Seksi P2 Kanwil IV DJBC Jakarta GH Sutedjo dan sambutan Kepala Pusat Dukungan dan Penegakan Hukum (Kapusdukgakum) BNN Joko Satrio (Baju Safari) yang sekaligus menutup acara pelatihan. Dalam acara tersebut dilakukan pelepasan atribut peserta dan penyerahan sertifikat kepada 30 peserta yang berasal dari pegawai DJBC dilingkungan Kanwil IV Jakarta. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah dam makan siang bersama.
WBC/ADI

JAKARTA. Berkaitan dengan keluarnya Peraturan Dirjen Bea dan Cukai nomor P-05/ BC/2006 tentang petunjuk pelaksana penyelesaian impor barang kiriman melalui perusahaan jasa titipan (PJT), dan peraturan Dirjen nomor P-06/BC/2006 tentang jalur prioritas yang menggantikan keputusan Dirjen nomor Kep-11/BC/2005, tim kerja dari Direktorat Teknis Kepabeanan, yang terdiri dari Kasubdir Impor, Bahctiar dan Kepala Seksi Impor, Heru Pambudi, pada 15 Juni 2006 lalu, melakukan sosialisasi di Kantor Wilayah IV DJBC Jakarta. Acara yang dibuka oleh Kabid Kepabeanan dan Cukai, Muryadi, berlangsung di lantai 5 gedung induk KPBC Tanjung Priok, dan diikuti oleh pegawai di lingkungan Kanwil IV Jakarta. Pada kesempatan sosialisasi ini, tim menjelaskan mengenai mekanisme yang ada pada jalur prioritas termasuk hal-hal yang diubah pada peraturan sebelumnya. Sementara untuk peraturan mengenai PJT, tim juga menjelaskan hal-hal yang baru yang terkait dengan peraturan tersebut.
FOTO : TOUPIK KUROHMAN

PALEMBANG. Kanwil III DJBC Palembang pada hari Kamis, 13 Juli 2006 menyelenggarakan Sosialisasi Retraining Integritas Pegawai untuk para pejabat dilingkungan Kanwil III DJBC Palembang di Aula Kanwil III DJBC Palembang. Tampak dalam gambar Kakanwil III DJBC Palembang Heru Santoso sedang memberikan arahan, didampingi sebelah kiri Kabag Umum Syamsul Bahri dan sebelah kanan Kabid P2 Argandiono dan gambar kanan, para peserta Sosialisasi Retraining Integritas Pegawai yang terdiri dari perwakilan Kepala KPBC, Kepala Bidang, Kepala Seksi, Kasubag, dan Koordinator Pelaksana dilingkungan kerja Kanwil III DJBC Palembang tengah antusias mengikuti acara tersebut. Kiriman Kanwil III DJBC Palembang,

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WARTA BEA CUKAI

43

SIAPA MENGAPA
H E N D R A Begitu singkat nama pria kelahiran Palembang, 28 Juni 1977 ini. Alumni Prodip III angkatan 11 ini menjalani penempatan pertamanya sebagai pegawai Bea dan Cukai di Kanwil IX DJBC Pontianak. Pegawai golongan II/d ini, Sekarang bertugas sebagai auditor di Kanwil IX DJBC Pontianak. “Sebenarnya cita-cita saya dulu ingin jadi akuntan, tapi meski gak kesampaian, tugas auditor juga tidak jauh berbeda,” ucap pegawai yang menyelesaikan sarjana hukumnya di Universitas Tanjung Pura, Pontianak. Hendra, yang juga tercatat sebagai atlet nasional cabang olahraga kempo, merupakan salah satu atlet yang dimiliki Propinsi Kalimantan Barat. Berbagai juara dan penghargaan telah diraihnya dari cabang olah raga ini. Dunia beladiri kempo memberi warna sendiri dalam hidupnya disamping menjadi pegawai negeri. “Belum lama saya ikut kejuaraan pra PON, tetapi gagal sewaktu bertanding Bali,” ujar pemegang sabuk hitam yang pada 2003 berhasil menyabet 3 medali emas pada kejuaraan nasional di Pontianak dan 1 buah perak pada kejuaraan nasional di Jakarta. Kegemarannya pada beladiri kempo, diakuinya mulai dilakoni sejak duduk di bangku SMP, namun sempat terhenti. Baru kemudian setelah ia menjadi pegawai bea cukai keinginan untuk aktif lagi di kempo timbul. “Menurut saya beladiri bagi pegawai perlu, sebab tantangan kerja

K

A R Y A N T O Penempatan tugas bagi pegawai tidak bisa ditebak. Tiga belas tahun berkarir di DJBC Karyanto telah mengalami tiga perpindahan tugas yakni KPBC Soekarno-Hatta, KPBC Tanjung Priok II dan Direktorat Cukai KPDJBC. Saat ditanya WBC mengenai penempatan ini, dengan lugas Karyanto menjawab “Saya hanya mengikuti garis tangan saja,” ujarnya. Pengalaman yang berkesan dalam menjalankan tugas yakni ketika bertugas di KPBC Tanjung Priok. Ditempat itu situasi kerja mempunyai dinamika yang sangat tinggi dan cepat, volume kerja sangat besar, serta memiliki permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks. Dengan modal pendidikan yang dimiliki dan sarat dengan pengalaman dilapangan, ”Kontainerkontainer yang ada benar-benar saya periksa dengan teliti walaupun ada sebagian orang yang memandang saya agak sinis karenanya,” tuturnya. Menurutnya, setiap orang memiliki motivasi dalam bekerja. “Untuk itu, dimanapun ditugaskan, kita harus bekerja sebagus mungkin, dan kita harus menciptakan iklim kerja yang kondusif bagi pegawai. Untuk menciptakan iklim kerja yang kondusif tersebut, tanggungjawab dan prestasi kerja bukan mengarah pada individu tetapi kerjasama tim,” katanya lagi Karyanto sendiri mulai berkarir di Bea dan Cukai melalui penerimaan prodip III angkatan 6 tahun 1993. Setelah diterima, ia langsung mengikuti pendidikan kesamaptaan. Usai mengikuti pendidikan kesamaptaan, Karyanto langsung mengikuti pendidikan PPNS. Penempatan pertamanya di KPBC Soekarno Hatta selama satu tahun. Kemudian dipindahkan ke Kantor Pusat selama delapan tahun. Pada 2002 hingga saat ini, ia ditempatkan dibagian P2 KPBC Tanjung Priok II.

DONATUS DANANTO Berawal dari kakeknya yang banyak kenal dengan pegawai Bea dan Cukai membuat ia ingin menjadi pegawai Bea dan Cukai. Setelah tamat SMA maka ia pun mengikuti kursus komputer di Pontianak. Setelah lulus dia mencoba untuk menjadi honorer karena belum ada lowongan akhirnya ia kembali ke kampungnya di Sontas, Entikong untuk berkebun. Pada akhir 1999 ia mendapat panggilan dari KPBC Pontianak untuk menjadi tenaga honorer dengan tugas membantu administrasi dan pengetikan surat-surat. Pada kesemapatan tes pertama CPNS dia sempat gagal. Tetapi kegagalan tersebut tidak membuat dia patah semangat. Pada saat ada test CPNS di Bea dan Cukai untuk kedua kalinya akhirnya berhasil. Dengan demikian dia berhasil membuktikan motto hidupnya “Gagal dalam perujuangan belum berarti kemunduran. Karena setiap permasalahan ada pemecahannya”. Penempatan tugas pertamanya sejak menjadi PNS pada 2005 adalah di KPBC Entikong seksi P2. Sedangkan sekarang dia bergeser di bawah seksi Pabean dalam kantor yang sama. Ketika WBC mewawancarainya, Dananto, demikian panggilannya sedang bertugas di Pos Pengawasan Lintas Batas Entikong dimana aktivitas kesibukan di

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

INFO PERATURAN
yang kadang membutuhkan ketahanan mental dan fisik, disebabkan karakter orang yang kita hadapi bermacam-macam, itulah alasan mengapa saya aktif lagi. Alhamdulillah sekarang sudah terbentuk Do Jo Ccustoms IX di Kanwil Pontianak, tetapi belum resmi baru beberapa kali latihan, tapi sudah terbentuk dan rencananya akan diresmikan,” ujar pendiri perkumpulan kempo di Kanwil IX DJBC Pontianak yang juga hobi berat pada olah raga menyelam. Meskipun tantangan dalam bekerja cukup berat, lanjut Hendra, namun tugas tetap dijalankan berdasarkan koridor hukum. Untuk itu dalam menghindari hal-hal yang bersifat anarkis perlu diberikan bekal beladiri. Pegawai yang berpedoman hidup “bekerjalah sesuai aturan yang berlaku dan hiduplah sesuai dengan aturan agama yang ada, sehingga urusan dunia dan akhirat bisa berjalan” ini, ingin merasakan ditugaskan di tempat yang baru. “ Saya hanya berharap ada kejelasan sistem mutasi, urusan penempatan itu sudah menjadi kebijakan pimpinan. Yang jelas, saya siap ditempatkan dimana saja,” ujar auditor yang telah mengikuti diklat verifikator dan diklat PCA ini. ris

PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Juli 2006
No. 1. 2. KEPUTUSAN Nomor 26/PMK.02/2006 37/PMK.02/2006 Tanggal 23-03-06 16-05-06 P E R I H A L Tata Cara Pengembalian Cukai Dan/Atau Denda Administrasi Tata Cara Penyediaan, Pelaksanaan Dan Pertanggungjawaban Alokasi Dana Iuran Asuransi Kesehatan Dan Tunjangan Pemeliharaan Kesehatan Veteran Non Tunjangan Veteran Tahun Anggaran 2006. Pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) Terhadap Impor Tepung Gandum (HS. 1101.00.10.00) Dari Negara Uni Emirat Arab.

3.

42/PMK.010/2006

19-06-06

Ketika ditanya kenapa memilih bekerja di Bea dan Cukai, dijawabnya dengan jujur, ia mengaku sebenarnya tidak mengenal Bea dan Cukai sebelumnya. Ia hanya mengenal STAN Prodip yang didalamnya terdapat jurusan Bea dan Cukai, dimana salah satu persyaratanya adalah lulusan IPA. Karyanto yang tertarik pada pelajaran eksakta pun memilih jurusan Bea dan Cukai. Saat ini sibuk dalam tim PDE Manifest yang berlaku mulai 1 Juli 2006. Mengenai hal ini, “Satu-satunya cara melakukan kontrol yang efektif mengenai pergerakan barang dan kontainer di pelabuhan besar seperti Tanjung Priok, adalah dengan melakukan pertukaran data secara elektronik dengan para stake holder DJBC dan instansi terkait lainnya,” tuturnya tanpa bermaksud mengabaikan cara-cara pengawasan lainnya. Anak bontot dari tiga bersaudara kelahiran Ponorogo, 20 Mei 1970 ini, diakhir pembicaraannya berpesan, “Bea dan Cukai terus-menerus menjadi sorotan tajam oleh masyarakat, media, maupun unit pengawasan lainnya. Zaman sudah berubah, kita harus lebih terbuka dalam memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang telah kita lakukan untuk memperbaiki citra dan mengenai kelemahan-kelemahan yang masih kita miliki,” ujar pria yang menikah tahun 1998 dengan Yuninarita dan dikaruniai dua orang anak. ats

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Juli 2006
No. 1. PERATURAN Nomor P-09/BC/2006 Tanggal 09-06-06 P E R I H A L Perubahan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-05/ BC/2006 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian Impor Barang Kiriman Melalui Perusahaan Jasa Titipan. Tata Cara Penyerahan Dan Penatausahaan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut, Dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut.

2.

P-10/BC/2006

16-06-06

border ini berlangsung mulai pukul lima pagi dan Dananto mengaku karena sudah menjadi kebiasaannya bangun pagi jadi rasanya tidak ada masalah. Selama masa bertugas, ia punya kisah tak terlupakan setelah dirinya menjadi pegawai bea cukai, yaitu ketika KPBC Entikong mendapat serangan penduduk sekitar. “ Waktu itu kantor mendapat serangan dari warga yang tidak senang terhadap aturan yang diemban oleh Bea dan Cukai terakhir pada akhir puasa tahun lalu, saya ikut merasakan bagaimana diintimidasi warga setempat yang tidak puas. Tetapi itulah tantangan dalam pekerjaan,”kenang bapak satu ini. Dananto memiliki suatu harapan kepada pegawai DJBC “Saya mengharapkan citra Bea dan Cukai akan semakin baik tidak seperti anggapan masyarakat saat ini. ” harap pria kelahiran Sontas, Entikong 7 Oktober 1978 ini. Bambang Wicaksono (Surabaya)

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Juli 2006
No. 1 2 SURAT EDARAN Nomor SE-22/BC/2006 SE-23/BC/2006 Tanggal 21-06-06 04-07-06 P E R I H A L Pedoman Proses Penetapan Klasifikasi Barang Penegasan Pungutan Ekspor Atas Kayu Olahan Jointed Dalam Bentuk S4S, E2E, E3E, E4E Dan End Jointed
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

45

CUKAI

SOSIALISASI PENDETEKSIAN PITA CUKAI DAN PERMASALAHAN CUKAI LAINNYA. Selain dari Direktorat Cukai dan P2, pengarahan juga diberikan oleh tim dari PT. Pura Nusa Persada, PT. Kertas Padalarang dan Peruri.

Sosialisasi Cukai Untuk Internal DJBC
Peserta sosialisasi diberikan alat pendeteksi pita cukai.

P

ada 29 Juni 2006, bertempat di Aula Gedung B, Kantor Pusat DJBC, diselenggarakan sosialisasi pendeteksian pita cukai dan permasalahan cukai lainnya. Sosialisasi tersebut diselenggarakan atas kerjasama antara DJBC, PT. Pura Nusapersada, Peruri dan PT. Kertas Padalarang. Sosialisasi kali ini diperuntukan bagi kalangan internal atau pegawai DJBC. Sejumlah 109 orang peserta yang berasal dari seluruh Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai hadir pada hari itu. Selain oleh Direktorat Cukai dan P2, pemaparan pendeteksian pita cukai dan permasalahan cukai lainnya juga dilakukan oleh tiga tim yang berasal dari PT. Pura Nusapersada, Peruri dan PT. Kertas Padalarang. Dalam sosialisasi tersebut, para peserta diberikan pembekalan pengetahuan mengenai pita cukai seperti ciri-ciri pita cukai yang asli dan yang palsu dilihat dari kertas, cetakan maupun hologram dan sebagainya. Peserta juga diberikan alat pendeteksi pita cukai seperti sinar lampu ultra
WARTA BEA CUKAI

WBC/ATS

FRANS RUPANG. Sebelum melakukan operasi, para pegawai harus betul-betul dibekali dengan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan.

violet, loop (kaca pembesar), cairan atau larutan organik, serta pena. Dengan menggunakan alat-alat tersebut, pegawai DJBC bisa dengan mudah mendeteksi pita cukai apakah itu palsu atau asli. Saat diwawancara WBC, Direktur Cukai Frans Rupang menjelaskan, tujuan dari sosialisasi ini dikarenakan adanya kesan bahwa peredaran rokok illegal semakin banyak dan mengkhawatirkan. Untuk memperkecil peredaran rokok illegal tersebut, harus dilakukan operasi pasar yang diharapkan menimbulkan dua kemungkinan. Pertama, berhenti menjadi rokok illegal dan kedua, tetap berproduksi tetapi menjadi legal. “Namun, sebelum melakukan operasi, para pegawai harus betul-betul dibekali dengan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan. Sebab, bagaimana pegawai mau melakukan operasi kalau pemahamannya terhadap rokok yang palsu dan yang asli belum baik?” kata Frans. Ia menambahkan, akibat adanya pergantian tugas atau mutasi, ada

46

EDISI 381 AGUSTUS 2006

pegawai yang baru memahami cukai, seperti dirinya yang bertugas selama puluhan tahun di pelabuhan (dimana tidak pernah terkait dengan cukai-red). “Setelah masuk ke cukai saya jadi baru tahu bagaimana cukai itu,” imbuh Frans. Menurut Frans, ide untuk menyelenggarakan sosialisasi bagi kalangan internal ini berawal dari adanya pertemuan di Semarang (Mei 2006) yang menghasilkan MoU antara Kanwil IV DJBC Semarang dan Polda Jawa Tengah diantaranya mengenai koordinasi dalam menegah rokok illegal. Selain itu juga adanya keinginan DJBC untuk melakukan operasi cukai di luar Pulau Jawa dimana selama ini operasi selalu dilakukan di Pulau Jawa. Tak hanya itu, adanya informasi dari instansi terkait (seperti Departemen Perindustrian, kejaksaaan, polisi-red) maupun asosiasi rokok, mengenai banyaknya peredaran rokok illegal dan adanya anggapan masyarakat bahwa DJBC tidak gencar melakukan operasi cukai (padahal saat ini operasi cukai sudah mulai berjalan di seluruh Indonesia dibawah komando Direktur P2) juga merupakan salah satu penyebab diselenggarakannya sosialisasi tersebut. Oleh karena itu, lanjut Frans, seluruh Kanwil Bea dan Cukai yang ada di seluruh Indonesia diundang untuk menghadiri sosialisasi. Dalam pelaksanaan operasi cukai tersebut, selain detterent effect (efek jera), DJBC tidak menargetkan berapa yang harus ditegah melainkan lebih kepada memperkecil peredaran rokok illegal. Namun demikian, kalau dalam perjalanannya ada pihak-pihak yang tertangkap tangan melakukan peredaran rokok illegal dan selama ada
WBC/ATS

bukti-buktinya, maka akan diproses hingga ke pengadilan. Oleh sebab itu, Frans berharap agar para peserta sosialisasi akan melakukan penyuluhan dikantornya masingmasing sehingga, semua pegawai dapat memahami masalah rokok illegal, sekaligus melakukan operasi cukai. Apalagi para peserta telah dibekali alat-alat pendeteksi pita cukai.

SARANA YANG KURANG MEMADAI
Saat diwawancara WBC mengenai sosialisasi cukai tersebut, Yoko Rudy S, Kepala Seksi Pabean dan Cukai, KPBC Kendari, mengatakan bahwa sosialisasi tersebut sangat bermanfaat baginya, sebab ia jadi mengetahui peredaran rokok illegal serta bagaimana cara mengantisipasi, menindaklanjuti dan mendeteksi kalau terjadi suatu pelanggaran yang menyangkut cukai seperti pemalsuan pita cukai. Berdasarkan informasi dari P2 di Makassar, saat ini Kendari menjadi salah satu kota yang dituju para pengedar rokok illegal. “Sebab, saat ini Makassar sudah ditutup, jadi kabarnya banyak yang lari atau pindah ke Kendari, tapi kita belum mendeteksi apakah itu memang benar,” lanjut Yoko. Ia sendiri mengaku bahwa KPBC Kendari kerap mengalami kesulitan dalam melakukan operasi ataupun patroli. Pasalnya, dengan wilayah pengawasan yang begitu luas, KPBC Kendari hanya memiliki dua unit mobil dinas dan hanya satu unit mobil yang layak pakai. Ditambah lagi dengan satu unit kapal patroli yang juga tidak layak pakai. “Jadi, cost untuk menggunakan kapal patroli itu lebih tinggi daripada hasil yang didapat malah kadang tidak mendapatkan hasil sama sekali,” ujar Yoko yang menambahkan sepanjang pengetahuannya, di Kendari pernah ada kasus rokok yang salah tarif cukainya. Namun hal itu sudah selesai diputus oleh pengadilan. Untuk itu ia berharap agar sosialisasi cukai tersebut didukung pula dengan realisasi, apakah dalam bentuk suatu keputusan Menteri Keuangan atau skep Dirjen Bea dan Cukai. Sebab menurut Yoko, selama ini aturan yang ada masih bersifat ngambang atau tidak secara spesifik menjelaskan tindakan-tindakan apa yang harus diambil kalau terjadi pelanggaran. Sementara itu, saat diminta komentarnya, Bambang Purwaka, Korlak Pabean dan Cukai, KPBC Probolinggo, mengatakan bahwa sosialisasi ini sangat bermanfaat bagi pegawai. Pasalnya, selama ini operasi yang dilakukan KPBC Probolinggo tidak pernah optimal. Hal itu disebabkan kurangnya peralatan untuk mendeteksi pita cukai. “Selama ini kita hanya meraba saja, apakah ini palsu atau tidak. Tapi sekarang setelah diberikan alat

pendeteksi pita cukai, kita bisa dengan mudah dan cepat mendeteksi apakah itu palsu atau tidak. Sekarang kan yang palsu atau asli itu sulit dideteksi kalau tidak pakai alat,” imbuhnya. Di Probolinggo sendiri, rokok illegal yang paling banyak beredar adalah rokok yang tidak memakai pita cukai atau rokok polos yang diproduksi oleh home industry. Hampir 25 persen rokok yang beredar di Probolinggo merupakan rokok polos golongan III B. Namun demikian, sejak adanya kemudahan peraturan perijinan mendirikan pabrik rokok, hingga saat ini sudah 40 lebih pengusaha rokok yang mendaftar (dua bulan lalu baru 23 pengusaha yang mendaftar-red). Dengan begitu, peredaran rokok polos menjadi berkurang. Selain masalah rokok polos, di Probolinggo pernah terjadi kasus rokok produksi Pasuruan yang meniru kemasan sebuah rokok produksi Probolinggo. “Pitanya tidak tahu dari mana tapi kemasan rokoknya itu persis sama. Ketika dicek ternyata rokok palsu itu produksi Pasuruan. Pelaku hanya dikenakan denda saja, tidak sampai ke pengadilan,” lanjut Bambang. Untuk itu ia berharap agar, produksi rokok di Probolinggo makin tumbuh berkembang dengan mulai banyaknya antusias pengusaha yang mengajukan perijinan. Ia pun berharap agar sosialisasi seperti ini terus ditingkatkan lagi karena ia (yang hampir 13 tahun bekerja di pelabuhan-red) harus terus belajar mengerti dan memahami lebih lanjut mengenai cukai. Ia pun menyarankan agar sosialisasi tak hanya di selenggarakan di Kantor Pusat DJBC tapi juga di Kanwil karena lebih dekat dengan kantor pelayanan. ifa
WBC/ATS

BAMBANG PURWAKA. Di Probolinggo sendiri, rokok illegal yang paling banyak beredar adalah rokok yang tidak memakai pita cukai atau rokok polos.

YOKO RUDY S. Selama ini aturan yang ada masih bersifat ngambang atau tidak secara spesifik menjelaskan tindakan-tindakan apa yang harus diambil kalau terjadi pelanggaran. WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

47

INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI

PERKEMBANGAN

VIRUSVIRUS RONTOKBRO W32/MYBRO VARIAN DARI
Perkembangan virus saat ini semakin cepa. Tahun lalu sekitar bulan oktober 2005 muncul suatu virus lokal baru yang mulai beraksi yang kita kenal dengan virus Rontokbro, dan diantara virus-virus lokal yang ada menurut sumber di suatu situs menyatakan bahwa virus Rontokbro merupakan virus yang paling ganas.
ontokbro merupakan suatu virus lokal pertama yang menyebar melalui e-mail dengan melakukan update melalui internet sehingga virus ini memiliki varian-varian yang semakin banyak, hal ini sangat membingungkan user untuk dapat menghapus virus tersebut. Setiap varian dari virus ini memiliki perbedaan dalam penamaan file dan aksi yang dilakukan sehingga user agak bingung dalam menghapus virus tersebut tetapi pada dasarnya karakteristik dari virus ini untuk masing-masing varian hampir sama. Virus Rontokbro sampai saat ini belum surut bahkan saat ini virus tersebut mengeluarkan versi/varian terbaru yaitu W32/MyBro. Menurut keterangan dari perusahaan antivirus PT.Vaksincom dalam keterangannya yang tertulis dan diterima oleh detiknet, selasa(11/4/ 2006) mengatakan bahwa Mybro telah berkembang menjadi 24 varian. Penyebaran yang dilakukan oleh virus Mybro ini menyebar melalui e-mail dan menurut catatan perusahaan PT.Vaksincom, Rontokbro beserta variannya menimbulkan 31.038 insiden atau 55,25 % dari total insiden virus di Indonesia. MyBro memiliki kemampuan untuk memperbaharui diri via internet memungkinkan virus ini melakukan download script atau file tertentu dimana script yang di download tersebut berisi kode-kode tertentu. MyBro secara fisik tidak terlihat perbedaannya dengan Rontokbro versi sebelumnya dan secara fisik masih menggunakan icon folder, namun apabila virus tersebut di gali lebih dalam maka perbedaan tersebut akan tampak cukup besar. Perbedaan yang cukup mendalam terdapat pada pemrograman. Dahulu virus Rontokbro menggunakan pemrograman Visual Basic namun kini diperkirakan menggunakan bahasa C++, hal ini bisa dilihat dari badan virus yang menggunakan run time library. Virus Mybro akan melakukan beberapa perubahan pada pada lokasi file induk. Salah satu hal yang paling berbahaya yang dilakukan oleh virus W32/
WARTA BEA CUKAI

R

MyBro adalah merename MSVBM60. dll (Microsoft Visual Basic Virtual Machine) yaitu suatu virus yang menyerang aplikasi VB(Visual Basic) sehingga semua virus lokal maupun tools pembasmi virus lokal yang pada umumnya dibuat menggunakan Visual Basic(VB) akan terserang virus ini. Akibat dari tindakan yang dilakukan oleh virus ini adalah semua aplikasi yang dibuat dengan Visual Basic tidak berfungsi. Akibat dari tindakan virus ini merename MSVBM60.dll yaitu diantaranya: 1. Semua virus yang ditulis dalam VB akan lumpuh dan tidak berfungsi 2. Semua tools removal yang ditulis dalam VB akan lumpuh dan 3. Semua aplikasi non virus yang ditulis dalam VB juga akan lumpuh. sehingga hal ini merupakan suatu hal yang menakutkan bagi pengguna aplikasi VB. Virus W32/MyBro telah menyebar dengan sangat luas di masyarakat. Virus ini pun memiliki kemampuan untuk social engineering atau rekayasa sosial artinya virus ini menyebar dengan menyamarkan diri ini sebagai sebuah folder. Rekayasa social ini dilakukan dengan memanfaatkam sebuah icon folder sebagai sebuah icon program virus.

akan melalukan monitoring pada akses internet tersebut dan akan berusaha mengambil file dari situs tertentu,dan sebenarnya file yang diambil tersebut adalah virus.

BERMAIN DENGAN REGISTRY
Registry merupakan suatu tool pada windows, registry mengadung informasi windows selama beroperasi seperti informasi mengenai profile setiap user,aplikasi apa saja yang terinstall pada komputer dan tipe dari sebuah dokumen. Registry juga mengandung informasi tentang hardware yang sedang bekerja pada sistem dan merupakan informasi mengenai port yang sedang digunakan. Registry merupakan salah satu komponen penting dalam Windows sehingga virus lebih menyenangi tempat ini. Virus masuk ke dalam registry dan melakukan perubahan dengan mendisable-kan registry editor, hal ini dilakukan agar proses scanning tidak berjalan secara realtime. Pada MyBro folder option pada registry tidak di-disable , namun kita tidak bisa mengaksesnya karena virus ini akan segera menterminate process explorer.exe yang merupakan suatu shell dari Windows. Hal serupa akan terjadi saat mengakses Schedule Task virus ini melakukan perubahan di registry dengan tidak menampilkan ekstensi dari setiap file dan menyembunyikan file-file hidden dari system. Terdapat suatu perubahan yang berpengaruh yaitu dengan adanya penambahan value pada beberapa section di registry yang dijadikan autorun. Virus ini pun menginfeksi value pada run in safe mode pada HKLM\SYSTEM\CurrentControlSet\Control\SafeBoot\AlternateShell, dengan mengalihkan nilai dari value tersebut ke program utama virus. Artinya virus ini dapat aktif walaupun dalam safe-mode. Virus ini akan aktif pada saat start windows dan virus tersebut akan aktif di memory. Mybro akan melakukan blok akses ke Task Manager artinya apabila terdapat suatu proses dan proses tersebut akan /ingin di kill dari Task

PENYEBARAN W32/MYBRO
Selain penyebaran virus ini melalui internet dan e-mail virus ini menyebar melalui media-media lain seperti disket dan flash. Selain itu, penyebaran juga melalui penggunaan jaringan pengguna komputer yaitu apabila suatu komputer terhubung ke jaringan maka ia akan meng-copy-kan dirinya ke setiap folder yang di sharing. Virus ini akan mengumpulkan setiap alamat e-mail yang ditemukan dari beberapa file ekstensi seperti ppt, cfm, eml, txt, xls, doc, dan pdf file tersebut dikumpulkan pada directory tertentu, setelah itu pengiriman virus ini di kirim dengan menggunakan SMPT engine berupa sebuah Trojan downloader sehingga apabila penerima e-mail mengeksekusi maka program tersebut

48

EDISI 381 AGUSTUS 2006

otomatis komputer akan ter-Restart sendiri sehingga proses scanning tidak dapat dilakukan. Terdapat cara untuk membasmi virus W32/MyBro ini yaitu melalui YANG DILAKUKAN OLEH W32/MYBRO safemode namun prosesnya cukup Virus W32/Mybro tidak hanya rumit dan cukup memakan waktu bermain pada registry, virus ini juga karena banyak file yang harus dibuat melakukan perubahan pada file host CARA MEMBASMI dengan script/kode program khusus milik Windows. File host ini digunakan Langkah yang dapat dilakukan dan caranya pun cukup rumit selain oleh Windows untuk menterjemahkan untuk membasmi virus W32/MyBro itu diperlukan juga suatu tools sebuah hotname menjadi sebuah ini cukup sulit karena virus ini akan pengganti Task manager seperti alamat IP, virus ini mengalihkan setiap mematikan setiap antivirus yang [IKnowProcess] yang dapat IP dari hostname atau alamat situs berbasikan Vb seperti Norton, didownload di internet dengan alamat internet ke IP 127.0.0.22, angka 22 Norman dan lain-lain sehingga saat pada akhir alamat IP ini merupakan suatu komputer terinfeksi virus ini http://iknowprocess.com/ versi dari virus ini. dan antivirus mencoba untuk Untuk lebih mencoba dengan Virus ini selalu mencoba untuk memelakukan scanning maka secara menggunakan cara membasmi lewat nyingkirkan program-progsafemode dapat dilihat ram antivirus atau security dengan mengakses interyang terdapat pada net di alamat www.vaksin. komputer.Varian-varian dari com pada situs tersebut virus ini selalu melakukan di gambarkan secara update un tuk data seputar detail script yang harus data program apa saja yang dibuat dan file apa yang disingkirkan. harus dibuat dengan Pada sisi lain virus ini menggunakan script terpun dapat bertindak mengsebut. untungkan yaitu dengan Cara lain untuk menghapus virus-virus yang membasmi virus ini adalah lain contohnya Romantic dengan menggunakan Devil, NoBron dan beberapa satu komputer yang virus-virus lokal lainnya. belum terinfeksi virus ini Namun hal seperti ini tidak sebagai media atau saramungkin dilakukan karena na untuk melakukan untuk menghilangkan suatu scanning dengan mengguvirus dengan menggunakan nakan antivirus yang telah virus lagi. Hal ini tetap ter-update sehingga jika di merugikan karena walaupun scan virus ini dapat terdesebagian virus telah hilang teksi. namun virus baru muncul Misal: terdapat suatu lagi dikomputer kita. komputer yang terinfeksi Hal-hal yang dilakukan virus W32/mybro langkah oleh virus W32/MyBro yang yang diambil sebaiknya tidak dilakukan oleh keluarkan harddisk yang pendahulunya diantaraterinfeksi tersebut setelah nya : itu pasang hard disk tersebut di sebuah kompul Komputer tidak Restart ter yang belum terinfeksi ketika menjalankan virus ini dan memiliki fungsi/tools tertentu antivirus yang telah terseperti: ProceeXP, Task update. Setelah dipasang Manager atau Registry maka lakukan scanning Editor pada harddisk tersebut l W32/Mybro tidak setelah itu biarkan antivimembuat file duplikat rus menghapus virus pada Lokal Disk, tetapi tersebut. Sebaiknya untuk hanya membuat file pembersihan virus secara duplikat pada media optimal dan mencegah Disket/USB terinfesi ulang gunakan l W32/Mybro akan antivirus yang sudah memematikan setiap ngenali virus lokal dengan program yang dijalankan, baik dan cepat. Salah jika program tersebut satunya Norman virus masuk dalam daftar Control yang telah dapat hitamnya virus ini [Black mendeteksi lebih dari 20 list] varian Mybro. Lakukan lah l W32.Mybro akan berupdate terhadap antivirus usaha untuk mematianda agar dapat kan service dari antimencegah komputer virus seperti Norton, terinfeksi virus. Referensi : Norman, Mcaffe, AVG, Trendmicro, Panda, PC www.vaksin.com. LAKUKAN LAH UPDATE terhadap antivirus anda agar dapat mencegah Cilin dan Bit Difender Puni Puspita - DIKC/OSPKC komputer terinfeksi virus. Manager maka hal itu tidak dapat dilakukan karena virus ini melakukan blok akses ke Task Manager.
EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

Selain menghapus virus Nobron, Mybro juga akan menghentikan setiap langkah dari virus-virus lokal lainnya seperti Kangen, Pesin, Fawn, Riani_jangkaru, Romdil, Pluto serta Decoy (Decoil) .

49

INFO PEGAWAI T.M.T 01 AGUSTUS 2006 PERIODE T.A 2006
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 N A M A NIP 060034883 060040540 060040375 060034190 060035999 060035501 060026691 060045399 060032083 060052397 060044818 060044069 060052270 060052367 060052562 060045244 060052335 060057939 060045246 060058264 060058114 060058298 060058804 060058964 060071326 060057611 060052820 060057519 060063288 060045530 GOL IV/c IV/a IV/a IV/a IV/a III/d III/c III/c III/c III/b III/a III/a III/a III/a III/a III/a III/a III/a III/a III/a II/d II/d II/d II/d II/d II/d II/d II/c II/c II/a JABATAN Kepala Bagian Umum Ke pala Seksi Kepabeanan III Kasubbag Gaji & Kesra Kepala Seksi Tempat Penimbunan V Kepala Seksi Cukai II Kepala Seksi Tempat Penimbunan III Korlak Adm. Keuangan & RT Korlak Adm. Ekspor Korlak Adm. Impor Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana KEDUDUKAN Sekretariat DJBC KPBC Tipe A Juanda Sekretariat DJBC KPBC Tipe A Bandung KPBC Tipe A Bandung KPBC Tipe A Tg. Perak KPBC Tipe A Teluk Bayur KPBC Tipe A Tg. Balai Karimun KPBC Tipe A Bandung Kanwil IV DJBC Jakarta KPBC Tipe B Yogyakarta KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok III KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok III KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok I KPBC Tipe A Tg. Perak Kanwil II DJBC Tg. Balai Karimun KPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta KPBC Tipe A Bitung KPBC Tipe A Pekanbaru KPBC Tipe A Bandung KPBC Tipe A Tg. Emas KPBC Tipe A Tg. Perak KPBC Tipe A Tg. Perak KPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta KPBC Tipe A Jakarta KPBC Tipe C Manado KPBC Tipe A Batam KPBC Tipe A Makassar KPBC Tipe A Teluk Bayur KPBC Tipe B Bogor Soedirman A. Ghani, SE Tatang Sri Hartini Achmad Suhendi Djoko Wardoyo Hermawan Budiono Husin Sjamsudin M. Halim Bambang Rochadi Bambang Mursito Wasiman Slamet Yusuf Rembon Tony Arsad Andang Djaya Syafril Ketut Sumiarta Alexander Mastur Sjam Sutrisno Sutrisno Muchid Kuwat Satoto Humisar Lumban Toruan Ismiati Jade Oksin Bulahari Abu Hanifah Muh. Arsjad Ramli Suratno

PEGAWAI PENSIUN

50

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

PENGAWASAN
DOK. WBC

Masalah Narkoba
Dari hasil survey yang dilakukan pada tahun 2005 tersebut terungkap, bahwa penyalahgunaan narkoba rata-rata sudah dimulai pada usia 10 sampai 19 tahun dan tertinggi pada kelompok umur 20-29. Para penyalahguna narkoba ini masih menurut survey tersebut, sering dan banyak dilakukan di rumah kost dari pada di rumah tangga. Survey dilakukan di 23 lokasi yang terdiri dari 16 kota dan tujuh desa di 16 propinsi ini juga melibatkan 4355 rumah tangga dan 20.303 orang responden yang terdiri dari 47 persen lakilaki dan 53 persen perempuan. Demikian disampaikan Kalakhar BNN Irjen Pol I Made Mangku Pastika dalam acara renungan malam sejuta lilin di Bundaran HI Jakarta 24 Juni 2006 dalam rangka memperingati Hari Anti Narkoba Internasional dengan tema “Drugs are not Child’s play”. Lebih lanjut ia mengatakan, hasil penelitian lain dilakukan oleh BNN bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (Puslitkes UI) tahun
DOK. WBC

Pemerintah Serius Tangani
Saat ini jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 1,5 persen atau sebesar 3,256 juta dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 217.076.600 jiwa.
2004 mengenai biaya ekonomi dan sosial akbat penyalahgunaan narkoba di 10 kota besar di Indonesia. Menurutnya biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat dari konsumsi narkoba di Indonesia tahun 2004 mencapai Rp. 23, 6 triliun dengan perincian rata-rata biaya satuan per orang dikalangan pemakai baru sebesar Rp.68 ribu rupiah, yang teratur memakai sebesar Rp.1,5 juta dan pecandu sebesar Rp.7,8 juta dalam satu tahun. Masih menurut Made, jika angka tersebut dikalikan dengan jumlah seluruh penyalahpengguna narkoba, maka diperkirakan minimal uang yang beredar dari bisnis narkoba mencapai Rp.12 triliun rupiah per tahun, dengan biaya sosial penyalahgunaan narkoba akibat kriminalitas diperkirakan mencapai Rp.4,2 triliun. Saat ini jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 1,5 persen atau sebesar 3,256 juta dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 217.076.600 jiwa.

KALAKHAR BNN I MADE MANGKU PASTIKA. biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat dari konsumsi narkoba di Indonesia tahun 2004 mencapai Rp. 23, 6 triliun.

P

enyalahgunaan narkoba di Indonesia kini sudah pada taraf yang meresahkan. Hal ini terungkap dari hasil survei yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Pranata Universitas Indonesia mengenai Survey Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia”.

PEMERINTAH SERIUS
Pemerintah dalam hal ini Kepolisan , BNN dan instansi lainnya menanggapi serius dampak yang ditimbulkan dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba Indonesia. Hal ini terlihat dari keberhasilan pemerintah dalam mengungkap pabrik ecstasy dan shabu ketiga di dunia dan yang terbesar yang terletak di Cikande Serang, Banten. Pengembangan dari kasus tersebut menghasilkan temuan baru dimana beberapa daerah di Indonesia juga terdapat pabrik narkoba yaitu daerah Batu dan Banyuwangi. Begitu pula dalam proses penegakan hukum, para pelaku peredaran narkoba yang tertangkap mendapat ganjaran hukuman yang sangat berat yaitu hukuman mati. Made kepada para wartawan mengatakan, pihaknya merasa puas dengan sanksi yang dijatuhkan kepada para pelaku, dan berharap eksekusi mati terhadap para pelaku dapat dilakukan sesegara mungkin. Tidak kurang Jaksa Agung Adurrahman Saleh menyatakan hal serupa, ia mengatakan pihaknya tidak akan berkompromi dengan masalah narkoba, dan tidak segan-segan untuk menuntut mati para pelaku peredaran narkoba jika mereka terbukti mengedarkan narkoba. Begitu juga dengan peran Bea Cukai di BNN. Menurut Arman Singgih, mantan Kepala KPBC Semarang yang kini menjabat sebagai ketua koordinator satgas
WARTA BEA CUKAI

PABRIK ECSTASY. Pengungkapannya melibatkan berbagai instansi terkait.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

51

PENGAWASAN
WBC/ATS

Airport Interdiction di BNN mengatakan, Bea Cukai mempunyai peran penting dalam meredam masuknya narkoba dari luar negeri melalui bandara internasional. Masih menurutnya, keberhasilan pemerintah mengungkap pabrik ecstasy dan shabushabu di Cikande beberapa waktu lalu, tidak terlepas dari peran bea cukai, kepolisian dan instansi terkait lainnya. Lebih lanjut Arman mengatakan, pihaknya kini tengah mengupayakan untuk menempatkan parangkat teknologi informasi di wilayah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga untuk dapat meredam masuknya narkoba ke Indonesia. Untuk itu kini kajian dan penelitian tengah dilakukan untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar dapat digunakan dan efektif. Mengenai instansi mana yang akan mendapatkan tugas untuk mengoperasikan perangkat tersebut, Arman mengatakan, hal tersebut masih dalam penelitian. “Apakah nantinya Bea Cukai atau instansi lain yang mengoperasikannya, itu harus disesuaikan dengan tugas dan keperluannya,” papar Arman.

PEMBUKAAN PELATIHAN. Dibuka langsung oleh Kakanwil IV DJBC Jakarta. .

PERAN KELUARGA
Wakapolri Jenderal Adang Dorojatun dalam acara tersebut mengatakan pihaknya akan melakukan tindakan hukum terhadap tempat yang dijadikan produksi narkoba yang ancamannya sangat serius bagi generasi muda. Selain itu juga ia menyampaikan bahwa untuk memerangi narkoba bukan hanya peran pemerintah dengan instansi terkait melainkan juga peran keluarga dalam menjaga anak-anak dari bahaya ancaman narkoba. Lebih lanjut Adang mengatakan penanganan masalah narkoba yang dilakukan oleh BNN yaitu langsung menuju pada akar masalah, seperti tindakan preemptive, preventif dan represif. Untuk itu ia mendukung acara yang dilakukan oleh BNN melalui acara renungan malam maupun jalan santai yang menurutnya merupakan upaya preventif, dimana keluarga yang terlibat dalam acara yang diselenggarakan BNN diajak untuk menjaga anak-anak mereka dari penyalahgunaan narkoba, tanpa melupakan tindakan preemtif, dan represif yang dilakukan oleh pihak keamanan. Lebih lanjut Adang mengatakan bahwa jalur masuk narkoba ke Indonesia diantaranya berasal dari kawasan Golden triangle dan Golden Crescent, pihak kepolisian melakukan kerja sama dengan organisasi Interpol dikawasan tersebut sehingga upaya masuknya narkoba ke Indonesia dari kawasan tersebut dapat diminimalisir. zap 52
WARTA BEA CUKAI

Computer Based Training
di Lingkungan Kanwil IV DJBC Jakarta
antor Wilayah (Kanwil) IV DJBC Jakarta bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyelenggarakan Pelatihan Computer Based Training yang berlangsung selama 10 hari dari tanggal 19-30 Juni 2006. Pelatihan tersebut melibatkan pegawai
WBC/ATS

Pelatihan

Para peserta diharapkan dapat mengimplementasikan pelatihan yang telah didapat dalam lingkungan kerja.

K

M. ALI AZHAR. Pelatihan diberikan kepada instansi terkait.

Bea Cukai dilingkungan tugas Kanwil IV DJBC Jakarta dengan para pelatih yang berasal dari BNN dan juga dari Bea Cukai. Pembukaan pelatihan tersebut dibuka oleh Kakanwil IV DJBC Jakarta Erlangga Mantik dan (Kepala Pusat Dukungan dan Penegakan hukum (Kapusdukgakum) BNN Joko Satrio serta dihadiri para pejabat dilingkungan Kanwil IV DJBC Jakarta Dalam sambutan pembukaan pelatihan tersebut Kepala Kanwil IV DJBC Jakarta Erlangga Mantik mengatakan salah satu tugas Bea Cukai sebagai border protection dimana harus melindungi masyarakat dari dampak negatif dalam perdagangan Internasional yang semakin berkembang. Bukan hanya melakukan pengawasan terhadap penyelundupan yang bisa merusak perekonomian Indonesia, tetapi juga tugas lainnya adalah memerangi narkoba yang masuk ke Indonesia melalui pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan laut. Lebih lanjut Erlangga mengatakan, penanganan masalah narkoba ini bukan hanya menjadi tanggung jawab BNN, Polisi atau Bea Cukai,namun menjadi tanggung jawab bersama dan harus dilakukan secara terkoordinir. Begitu juga dengan peran masyarakat yang juga memiliki peran yang cukup besar dalam memerangi peredaran narkoba.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

Pelatihan Computer Based Training ujarnya lagi, merupakan salah satu bentuk kerjasama yang terjalin dengan baik antara BNN dengan DJBC, dimana melalui pelatihan ini petugas dilapangan mendapatkan pengetahuan yang cukup mengenai pendeteksian narkoba yang coba untuk dimasukan ke Indonesia melalui pelabuhan dan tempat lainnya dengan menggunakan teknologi komputer yang telah dimiliki oleh DJBC dan ditempatkan dibeberapa titik yang strategis,salah satunya berada di Pelabuhan Tanjung Priok. Selain itu Erlangga menambahkan bahwa pihaknya dalam hal ini DJBC akan selalu siap untuk membantu pihak Kepolisian dalam hal ini BNN dalam mengungkap jaringan narkoba jika dikemudian hari ditemukan.

SANGAT BERGUNA
Anhar salah satu peserta training dari Kanwil IV DJBC Jakarta mengatakan, materi yang didapatnya dinilai sangat berguna dan sangat membantu tugasnya dilapangan. Selain materi yang sudah pernah didapatnya dari berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh DJBC sendiri, ia mengatakan bisa lebih berimprovisasi lagi dalam menjalankan tugasnya dengan ilmu tambahan yang didapatnya dari BNN. Semua materi masih menurutnya mudah diikuti mengingat para pelatih merupakan orang-orang yang kompeten dalam bidangnya baik yang berasal dari BNN maupun juga dari DJBC sendiri. Anhar kembali melanjutkan walaupun tidak ada kegiatan praktek dalam pelatihan ini, ia bisa dan siap untuk mengimplementasikannya dilapangan. Menurutnya materi pelatihan yang

menarik menurutnya adalah pemeriksaan kontainer yang menurutnya prosesnya panjang dan modul yang diperlukan juga banyak sehingga diperlukan nalar yang cukup baik untuk bisa mempelajarinya. Materi tersebut lebih panjang dari apa yag pernah didapatnya dalam pelatihan lain yang pernah ia ikuti, mengingat narkoba sangat mudah untuk disamarkan dengan benda lain, sehingga prosesnya agak lebih panjang. Sementara M. Ali Azhar ketua penyelenggara pelatihan mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan profesionalisme petugas dalam bidang penegakan hokum terutama dalam mengungkap kejahatan narkoba. Program ini lanjutnya kembali merupakan bantuan dari PBB United Nations on Drugs and Crime (UNODC) kepada negara ASEAN khususnya Indonesia. Pelatihan ini masih menurut Azhar diberikan kepada berbagai instansi terkait yang berada di laut seperti di pelabuhan, di udara dalam hal ini bandara udara dan di darat dalam hal ini kepada pihak Kepolisian. Implementasi kedepannya adalah para petugas penyidik Polisi maupun Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dapat mengungkap kasus kejahatan narkoba. Menurut Azhar, materi-materi yang diajarkan diantaranya adalah mengenai identifikasi barang yang mempunyai unsur narkoba, teknik pencegahan, proses investigasi, pemeriksaan dokumen sampai pada proses wawancara dengan tersangka. Mengenai peran komputer dalam proses pengungkapan kejahatan narkoba

Azhar menyatakan bahwa komputer merupakan alat bantu yang mendukung praktek petugas dilapangan. Ia mencontohkan, petugas dapat melacak sebuah kapal beserta dengan isinya, berdasarkan informasi yang diperoleh dari komputer yang telah on-line dengan negara asal kapal tersebut. “Jika ada sesuatu yang mencurigakan berdasarkan informasi dari komputer, petugas dapat dengan segera melakukan tindakan preventif dan kegiatan investigasi lainnya terhadap barang maupun pelaku tadi,”ujar Azhar Selain itu BNN juga akan memberikan pelatihan serupa kepada kembaga terkait lainnya yang memiliki PPNS. Para pelatih lanjut Azhar adalah para pelatih yang telah mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh PBB,sehingga diharapkan para peserta dapat dengan mudah mengimplementasikannya dilapangan. Sementara para peserta masih menurutnya antusias mengikuti pelatihan ini. Hal senada juga diungkapkan Kapusdukgakum BNN Joko Satrio, ia mengatakan diharapkan upaya pencegahan akan lebih maksimal lagi dengan adanya pelatihan tersebut sehingga peredaran dan penyalahgunaan narkoba dapat diminimalisir. Pelatihan tersebut ditutup pada 3 Juli 2006 di aula Kanwil IV Jakarta oleh Kasi P2 GH Sutedjo mewakili Kakanwil IV DJBC Jakarta dan juga Kapusdukgakum BNN Joko Satrio dengan peserta yang berjumlah 30 orang berasal dari pegawai DJBC dilingkungan Kanwil IV Jakarta. zap
WBC/ATS

PESERTA PELATIHAN. Diharapkan dapat mengimplementasikan pelatihan tersbeut dalam praktek dilapangan. EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

53

SEKRETARIAT
WBC/ATS

Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, termasuk didalamnya ide untuk mengundang para pembicara mulai dari KPK sampai motivator terkenal Andry Wongso.”Acara ini merupakan bagian dari berbagai acara yang sifatnya serupa seperti (Emotional Spiritual Quotient (ESQ) dan lain sebagainya,”ujarYusuf. Acara seperti ini rencananya juga akan diselenggarakan di berbagai Kanwil di Indonesia dan tinggal menunggu realisasinya. Yusuf kembali mengatakan,tujuan diselenggarakan acara retraining tersebut adalah agar para pejabat dilingkungan DJBC mampu membangun rasa dan komitmen untuk menjadi pejabat dan pelayan yang melayani stake holder dengan baik. Abdullah Hehamahua yang mendapat kesempatan pertama pada program tersebut menyampaikan pendapatnya mengenai integritas dan good Governance. Menurutnya untuk bisa memastikan suatu kepemerintahan tergolong baik (Good Governance) ada tiga tolok ukur yang harus digunakan secara berbarengan yaitu sistem yang diterapkan, keperluan anggota dan warga masyarakat, dan kualitas anggota dan warga masyarakat.

INTEGRITAS PEJABAT DAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
Dari ketiga tolok ukur yang disampaikan tersebut menurut Abdullah, tolok ukur mengenai kualitas anggota dan warga masyarakat harus mendapat perhatian pada program retraining tersebut, yang berarti pula membicarakan kualitas pejabat dan pegawai DJBC. Lebih lanjut ia mengatakan Menteri Keuangan, khususnya Dirjen Bea dan Cukai harus memperhatikan proses rekrutmen pegawai dimana berbagai faktor harus mendapat perhatian seperti kualitas ilmu, keterampilan, pengalaman dan perilaku calon pegawai. Penempatan pegawai harus sesuai dengan kompetensi sesuai dengan prinsip right man on the right place. Hal lain yang menurutnya harus mendapat perhatian adalah kejujuran pejabat dan pegawai, kualitas pengabdian pejabat dan pegawai, dan kedisiplinan pejabat dan pegawai yang menurutnya merupakan salah satu modal dasar dalam memajukan setiap program, khususnya dalam membangun good governance. Diakhir ceramahnya Abdullah memberikan suatu kiat untuk meningkatkan integritas pegawai dimana ia mengatakan, agar selalu mencintai setiap pekerjaan yang digeluti, tidak meninggalkan pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini untuk dikerjakan keesokan harinya. Mengenai hak yang diperoleh dan kompensasi, ia mengatakan agar selalu melihat kebawah, dan untuk berprestasi agar selalu melihat ke atas. Kiat lain yang disampaikannya adalah tidak mengambil sesuatu dari kantor yang bukan haknya meskipun itu sangat kecil dan agar melindungi anak dan istri de-

RETRAINING INTEGRITAS. Dibuka langsung oleh Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengundang penasehat KPK Abdullah Hehamahua sebagai pembicara dan Andry Wongso.

Menuju Good Governance DJBC
DJBC bekerja sama dengan KPK menyelenggarakan program retraining integritas dan good governance serta sosialisasi gratifikasi dan LHKPN selama dua hari pada 30Juni dan 3 Juli 2006

P

rogram “Retraining Integritas Pejabat/Pegawai dan Good Governance” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 30 Juni 2006 di Aula Gedung B KP-DJBC dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi dan diikuti oleh pejabat eselon II,III dan IV dilingkungan KP-DJBC dan beberapa Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC). Selain retraining integritas dan good
WARTA BEA CUKAI

governance pada 30 Juni 2006, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) juga menyelenggarakan sosialisasi mengenai gratifikasi dan cara pengisian Laporan Hasil Kekakayaan Pejabat Negara (LHKPN) dengan mengundang pembicara Eririana Harja Pamengkas, Wakil Ketua KPK. Yusuf Indarto, Kepala Kepagawaian yang juga salah satu panitia acara dan juga peserta retraining mengatakan, ide mengadakan acara retraining tersebut merupakan ide yang disampaikan oleh Dirjen

54

EDISI 381 AGUSTUS 2006

ngan makanan, minuman, pakaian, rumah dan kendaraan yang berasal dari sumber yang halal. Pada sesi ini juga diselingi dengan tanya jawab yang dilakukan oleh para peserta dengan pembicara mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan masalah integritas dan good governance.

“LUAR BIASA”
Pada sesi selanjutnya retraining diisi oleh Andry Wongso, seorang motivator yang telah berhasil memberikan motivasi kepada masyarakat melalui buku-buku karangannya. Dalam acara tersebut, Andry mengatakan bahwa sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Andry pada sesi tersebut menceritakan pengalamannya dan kisah sukses orang-orang yang memulai kesuksesan dari titik nol. Dari pemaparannya tersebut yang ingin disampaikan disampaikan bahwa kerja keras serta kemauan yang besar dapat mengalahkan segala-galanya yang pada awalnya dirasakan tidak mungkin terjadi, termasuk didalamnya kemampuan untuk berubah. Lebih lanjut ia mengatakan untuk menjalankan segala sesuatu pekerjaan harus senantiasan dilakukan dengan semangat dan harus memandang jauh kedepan, karena yang berlalu sudah menjadi sejarah. Dalam retraining tersebut para perserta selalu diajak untuk mengatakan dengan lantang ucapan “Luar Biasa!” setiap Andry menanyakan “Bea Cukai…Apa Kabar?” Menurut Andry yang ditemui WBC disela-sela retraining tersebut, ucapan lantang tersebut mampu menyemangati dan menimbulkan keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada DJBC.

SOSIALISASI GRATIFIKASI DAN LHKPN
Pada dasarnya orang yang melakukan
WBC/ATS

ABDULLAH HEHAMAHUA. agar selalu mencintai setiap pekerjaan yang digeluti, tidak meninggalkan pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini

korupsi itu ada penyebabnya. Orang tersebut memang ingin melakukan korupsi, atau karena dipaksa oleh lingkungan untuk melakukan korupsi, atau karena dipaksa oleh sistem yang ada untuk melakukan korupsi. Demikian penjelasan Eririana Rianaharja Pamengkas, Wakil Ketua KPK pada acara sosialisasi Gratifikasi dan LHKPN, yang diselenggarakan di Aula Gedung B, Kantor Pusat DJBC pada 3 Juli 2006. Sosialisasi atas kerjasama antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut dihadiri oleh seluruh pejabat eselon II, III dan IV di lingkungan Kantor Pusat DJBC, Kepala Kanwil IV DJBC Jakarta, Kepala KPBC Tanjung Priok I, II dan III, Kepala BPIB Jakarta, Kepala Pangsarop Tanjung Priok, Kepala KPBC Bogor, Kepala KPBC Soekarno Hatta, Kepala KPBC Bekasi, Kepala KPBC Purwakarta, serta para auditor di lingkungan Kantor Pusat DJBC. Pada hari itu, untuk pertama kalinya tim KPK yang terdiri dari Eririana Harja Pamengkas (Wakil Ketua KPK), Lambok H. Hutauruk (Direktur Gratifikasi KPK) dan M. Sigit (KPK), memang sengaja menyambangi DJBC untuk memberikan sosialisasi mengenai gratifikasi dan hal-hal yang terkait didalamnya, serta memberikan penjelasan mengenai Laporan Harta Kekayaan Pegawai/pejabat Negara (LHKPN) dan bagaimana cara mengisi formulir pelaporan gratifikasi. Dalam sambutannya, Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi mengatakan, sejalan dengan program reformasi di bidang kepabeanan, DJBC memiliki pilar yang terus ditingkatkan, seperti code of conduct, mengurangi contact person, meningkatkan law enforcement dan integritas pegawai bea cukai. Untuk peningkatan integritas pegawai ini, menurutnya tidak mungkin dilakukan tanpa perbaikan sistem remunerasi PNS. Untuk itu, lanjut Anwar, sosialisasi tersebut sangat penting bagi para pegawai, terutama dalam hal pemahaman gratifikasi, dimana ada hal-hal tertentu yang ternyata harus dilaporkan ke KPK. Untuk itu ia berharap dengan adanya sosialisasi ini kepercayaan masyarakat pada institusi pemerintah, terutama DJBC, akan meningkat. Ia juga meminta pada KPK agar sosialisasi ini tidak hanya disampaikan pada saat ini saja tapi juga dilakukan di daerah-daerah lainnya, sebab jumlah pegawai bea cukai saat ini mencapai sekitar 10.500 orang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. “Didalam mengisi laporan harta kekayaan mungkin ada yang serba salah ya, kalau tidak diisi atau tidak ditulis semuanya nanti dikira ngumpetin, tapi kalau diisi semua nanti dikira macammacam. Untuk itu saya ingin menyampaikan pada teman-teman pegawai bea cukai agar mengisinya dengan baik sesuai dengan arahan yang diberikan oleh KPK,” himbau Anwar.

Ketika diminta komentarnya seputar sosialisasi ini, Kepala KPBC Bekasi, Istyastuti Wuwuh Asri mengatakan, manfaat yang diperoleh dari sosialisasi ini sangat besar. Ia jadi mengetahui apa yang dimaksud dengan gratifikasi. “Dengan mengetahui gratifikasi kita akan berpikir dua kali bahwa sebenarnya memberikan hadiah atau menerima hadiah tertentu dapat menjerumuskan kita. Seperti misalnya kalau kita memberikan atau menerima hadiah pada saat perkawinan anak, ternyata hadiah itu termasuk gratifikasi dan harus dilaporkan,” ujarnya. Ketika masih menjabat sebagai Kasubdit Kerjasama Internasional di Direktorat Kepabeanan Internasional, Isty mengaku belum diwajibkan untuk mengisi laporan kekayaan. Tetapi setelah ia menjabat sebagai Kepala KPBC Bekasi, dirinya wajib untuk mengisi formulir pelaporan gratifikasi. Untuk itu, usai sosialisasi ia ingin mengisi dengan baik dan benar formulir tersebut agar dirinya tidak diduga menerima gratifikasi dan sebagainya. Dengan demikian ia berharap agar sosialisasi ini bisa merubah prilaku dirinya dan seluruh pegawai bea cukai lainnya. Ia juga berharap agar gratifikasi ini bisa menjadi warning bagi para pegawai bea cukai agar bisa bersikap baik. Namun demikian, ia meminta agar pemerintah juga harus memperhatikan kebutuhankebutuhan primer dan sekunder para PNS yang selama ini belum terpenuhi. Oleh sebab itu ia menyarankan agar remunerasi dapat dipertimbangkan menjadi lebih besar. Pasalnya, dalam kesehariannya pegawai bea cukai bekerja berhadapan dengan importir yang cenderung ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. “Jadi, importir tersebut berpikir dari pada membayar besar kepada negara lebih
DOK. WBC

YUSUF INDARTO. Acara serupa rencananya juga akan diselenggarakan di beberapa Kanwil di Indonesia WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

55

SEKRETARIAT
WBC/IFA

SOSIALISASI GRATIFIKASI DAN LHKPN. Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini kepercayaan masyarakat pada institusi pemerintah, terutama DJBC, akan meningkat.

baik ia bayar separuh saja. Kemudian sisanya untuk ia sendiri dan bea cukai. Jadi godaan itu sangat besar,” katanya. Ia mencontohkan, sekitar tahun 1969, pegawai yang bekerja di Departemen Keuangan memperoleh gaji 9 kali lipat dibandingkan departemen lain. Sementara saat ini yang tinggal hanyalah tunjangan khusus saja. Padahal, pegawai bea cukai yang tergabung dalam WCO memiliki gaji yang sangat besar. Sebagai contoh, gaji pegawai bea cukai Indonesia sekitar seperduapuluh gaji pegawai bea cukai Filipina. Dengan demikian Isty berharap, Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, dapat menjadi teladan dan contoh bagi bawahan. “Biasanya akan lebih efektif kalau atasan kita menjadi teladan,” imbuhnya. Senada dengan Isty, Kepala Seksi Audit Impor Dit. Verifikasi dan Audit, Irwan Djuhais mengatakan, manfaat yang diperolehnya dari sosialisi ini adalah bisa lebih mengetahui arti gratifikasi dan apa saja yang dapat dikategorikan sebagai gratifikasi. “Untuk itu, usai sosialisasi kita akan mencoba untuk mengikuti apa yang telah disampaikan dan melaporkan sesuai dengan aturan yang ada,” katanya. Menurutnya, seseorang melakukan tindak korupsi diantaranya dikarenakan kebutuhan. Untuk itu ia menyarankan agar tingkat penghasilan PNS dapat menutupi kebutuhan hidup. “Banyak yang bilang gaji kita itu hanya cukup untuk 2 minggu saja. Ini kan bisa digambarkan kalau pegawai 56
WARTA BEA CUKAI

itu inginnya gaji itu cukup untuk sebulan bahkan kalau bisa ada saving,” ujarnya. Ketika ditanya keikutsertaan para auditor dalam sosialisasi ini, Irwan menjawab, kalau dilihat dari peserta sosialisasi seharusnya tidak hanya eselon I hingga eselon IV dan para auditor saja yang mengikuti sosialisasi tersebut. Sebab, berdasarkan UU yang mengatur tentang gratifikasi, gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas kepada pegawai negeri atau pejabat penyelenggara negara, maka seharusnya seluruh pegawai bea cukai menjadi objek pelaporan. “Nah kalau sekarang yang diundang ini hanya auditor saja dan eselon saja, saya tidak tahu dasarnya apa, tapi kalau menurut arti dari gratifikasi seharusnya semuanya diundang dan mengisi formulir pelaporan gratifikasi,” tandas Irwan.

PENGERTIAN GRATIFIKASI
Berdasarkan UU No.20 tahun 2001 tentang Gratifikasi dan kewajiban pelaporannya, Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas kepada pegawai negeri atau pejabat penyelenggara negara. Pemberian dalam arti luas tersebut meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cumacuma dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut berlaku untuk yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan

sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya dengan ketentuan sebagai berikut: l Yang nilainya Rp. 10 juta atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap, dilakukan oleh penerima gratifikasi (pembuktian terbalik). l Yang nilainya kurang dari Rp. 10 juta, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan suap, dilakukan oleh penuntut umum. Namun demikian, ketentuan tersebut diatas tidak berlaku jika penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada KPK, paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal gratifikasi tersebut diterimanya. Sanksi atas pelanggaran gratifikasi adalah pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 12b ayat 1, UU No. 20 tahun 2001 adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000; (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000; (satu miliar rupiah). Contoh-contoh pemberian yang dapat dikategorikan sebagai gratifikasi: l Pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terima kasih karena telah dibantu. l Hadiah atau sumbangan pada saat perkawinan anak dari pejabat oleh rekanan kantor pejabat tersebut. l Pemberian tiket perjalanan kepada pejabat atau keluarganya untuk keperluan pribadi secara cuma-cuma. l Pemberian biaya atau ongkos naik haji dari rekanan kepada pejabat. l Pemberian hadiah ulang tahun atau pada acara-acara pribadi lainnya dari rekanan. l Pemberian hadiah atau souvenir kepada pejabat pada saat kunjungan kerja. l Pemberian hadiah atau parsel kepada pejabat pada saat hari raya keagamaan, oleh rekanan atau bawahannya. l Seluruh pemberian tersebut diatas dapat dikategorikan sebagai gratifikasi, apabila ada hubungan kerja atau kedinasan antara pemberi dengan pejabat yang menerima, dan/atau semata-mata kerna keterkaitan dengan jabatan atau kedudukan pejabat tersebut. Seluruh pemberian tersebut diatas, dapat dikategorikan sebagai gratifikasi, apabila ada hubungan kerja atau kedinasan antara pemberi dengan pejabat yang menerima, dan/atau semata-mata karena keterkaitan dengan jabatan atau kedudukan pejabat tersebut. zap/ifa

EDISI 381 AGUSTUS 2006

KEPABEANAN

NOTA KESEPAHAMAN

TPS On line Aptesindo dan DJBC
WBC/ATS

Penerapan Sistem TPS on line merupakan salah satu bentuk langkah nyata untuk meningkatkan daya saing Indonesia menuju perdagangan Internasional.

Barang (SPPB) atau juga Persetujuan ekspor, pengiriman laporan status barang timbun dan laporan keluar masuk kontainer yang kesemuanya dapat diakses melalui TPS on line. Dengan pemberlakuan TPS on line ini maka proses pengeluaran barang akan berlangsung dengan cepat dan menekan biaya pengeluaran barang.“Kalau prosedur secara manual memakan waktu, maka dengan TPS on line ini kami tinggal mengamati dari monitor dalam hitungan jam,”papar Suryantono. Hal lainnya yang tercakup dalam TPS on line ini masih menurut Suryantono adalah pergerakan barang dan pengamanannya yang dapat termonitor dengan baik.

DIDUKUNG OLEH FINNET INDONESIA
Untuk kelancaran sistem TPS on line ini, PT. Finnet Indonesia memfasilitasinya melalui penyediaan sistem jaringan komputer yang dibutuhkan oleh Aptesindo dan Bea Cukai. Menurut Budi Siswanto Muljadi Presiden Direktur PT Finnet Indonesia, nantinya setiap TPS dapat memonitor kondisi kontainer setiap saat, dimana sebelumnya pengusaha TPS harus melakukan rekap terlebih dahulu. Dalam acara penandatanganan ini pihak PT. Finnet Indonesia sebagai penyedia sistem jaringan pada TPS on line melakukan presentasi mengenai keunggulan TPS on line dihadapan rombongan Dirjen Bea Cukai, para pengusaha TPS dan para undangan Lebih lanjut Suryantono mengatakan aplikasi TPS On line mempunyai beberapa fitur unggulan seperti pencatatan transaksi dan pelaporan perpindahan kontainer antar TPS, Transaksi yang terjadi berlangsung secara real time dengan basis internet, yang kesemuanya berlangsung secara online sehingga bisa diakses dari mana saja dengan koneksi internet. TPS on-line ini rencananya akan diberlakukan pada bulan September dan untuk sementara akan dijalankan di Tanjung Priok, menyusul nantinya kedepan beberapa pelabuhan besar lainnya di Indonesia. zap
WBC/ATS

PENANDATANGANAN NOTA KESEPAHAMAN. Dilakukan oleh pengusaha yang tergabung dalam Aptesindo dengan DJBC yang dilakukan oleh Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai Jody Koesmendro yang disaksikan oleh Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi dan Kakanwil IV DJBCD Jakarta Erlangga Mantik.

P

erusahaan Tempat Penimbunan Sementara (TPS) yang juga merupakan anggota Asosiasi Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara Indonesia (APTESINDO) diantaranya yaitu PT. Berdikari, PT AIRIN, PT Transportindo Lima Perkasa dan PT Mustika Alam Lestari menyatakan kesiapannya menjalankan sistem pertukaran data elektronik dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang difasilitasi oleh Finnet Indonesia yang tertuang dalam penandatanganan nota kesepahaman antara DJBC dengan Aptesindo tentang pemberlakuan Tempat Penimbunan Sementara (TPS) On line. Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan oleh Direktur Informasi Kepabenanan dan Cukai Jody Koesmendro dengan masing-masing pimpinan perusahaan pengelola TPS yang disaksikan oleh Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, Kakanwil IV Jakarta Erlangga Mantik, pejabat Kantor Pusat DJBC dan pejabat dilingkungan Kanwil IV DJBC Jakarta, pada 12 Juli 2006 di Kanwil IV DJBC Jakarta. Dalam sambutannya Kakanwil IV Jakarta Erlangga Mantik mengatakan pihaknya sangat mendukung upaya Aptesindo memberlakukan TPS on-line ini, mengingat sistem ini sangat berguna untuk memperlancar arus barang yang masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan

Tanjung Priok, sehingga permasalahan yang timbul dapat diminimalisir. Ketua Aptesindo Suryantono mengatakan perkembangan teknologi di Indonesia khususnya teknologi informasi mendapat perhatian dari DJBC, salah satu penerapannya adalah TPS online yang menurutnya inisitif awal berasal dari Bea Cukai. TPS online ini lanjutnya, merupakan aplikasi pertukaran data secara on line antara TPS dengan DJBC terkait dengan dokumen Surat Perintah Pengeluaran

PRESENTASI . PT. Finnet mempresentasikan TPS online kepada para undangan. EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

57

KEPABEANAN

Studi Banding Single Window di Swedia
Setelah bulan lalu menurunkan laporan utama mengenai perkembangan National Single Window (NSW) di Indonesia, kali ini WBC hendak mengulas studi banding single window di Swedia yang beberapa waktu lalu diikuti DJBC.
DOK. PRIBADI

Medio Juli lalu, tepatnya 19-21 Juli 2006, ASEAN Sekretariat dibawah program The ASEAN-EU Programme for Regional Integration Support (APRIS) project, mengorganisir kegiatan studi komparatif tentang penerapan single window di otoritas kepabeanan Swedia. Kegiatan tersebut diikuti oleh 7 negara anggota ASEAN, ASEAN Sekretariat dan Technical Expert on single window dari APRIS. Agus Sudarmadi, Kasubdit Otomasi Sistem dan Prosedur Kepabeanan dan Cukai, Direktorat IKC, yang turut serta dalam studi banding tersebut mengatakan, dalam upaya mendukung pelaksanaan ASEAN single window, APRIS juga membiayai dan mengadakan workshop yang terkait dengan single window bagi negara-negara ASEAN. Workshop yang pertama dilakukan di Manila, lalu di Bangkok, kemudian di Manila kembali, dan studi banding ke Swedish Customs atau Swedia Customs. Studi banding single window tersebut dilakukan oleh customs. “Jadi, yang berangkat melakukan studi banding hanya dari customs saja karena dibanyak negara, customs merupakan lead dari single window,” terang Agus. Agus menjelaskan, tujuan dari studi banding tersebut adalah dalam rangka menggali dan memahami : 1) Pengalaman Otoritas Kepabeanan Swedia didalam membangun dan menerapkan Single Window. 2) Design dan arsitektur dari Single Window di Swedia. 3) Kerjasama dengan instansi lintas sektoral yang terkait dalam hal penanganan cargo clearance di Swedia. Pada studi banding tersebut, disamping saling bertukar pikiran, juga disampaikan informasi pada customs Swedia mengenai bentuk single window yang disepakati oleh ASEAN yakni automated

RUANG MEETING SWEDIA CUSTOMS. Agus Sudarmadi (kedua dari kiri-red) di ruang meeting Swedia Customs.

information transaction system, dimana NSW dibangun dengan menggunakan sebuah mediator yang dinamakan Aplication Service Provider (ASP) dengan tidak menghilangkan sistem ICT (Informasi, Komunikasi dan Teknologi) masing-masing instansi yang sudah ada. Single window yang digunakan di Swedia sendiri menggunakan bentuk single authority, dimana satu instansi (dalam hal ini Swedia customs -red) diberi kewenangan penuh untuk mengatasnamakan instansi terkait lainnya didalam melakukan kegiatan pengambilan keputusan terhadap kegiatan perdagangan internasional. Dengan demikian, seluruh kegiatan single window menggunakan infrastruktur teknologi komunikasi dan informasi yang dibangun Swedia customs. Untuk itu studi banding tersebut juga bertujuan untuk melihat, mempelajari manajemen dan pelaksanaan single window yang dilakukan oleh customs Swedia. Didalam pelaksanaannya, instansi terkait hanya memerlukan akses ke sistem yang dimiliki oleh otoritas kepabeanan dalam
DOK. SWEDISH CUSTOMS

hal melakukan proses pengambilan keputusan, distribusi data dan informasi perijinan, perpajakan, keamanan dan sebagainya. Implementasi single window di Swedia tidak hanya mencakup kegiatan pengeluaran barang saja, tetapi juga mencakup fasilitasi pergerakan moda transportasi dan orang melalui perbatasan, dimana hampir 96 persen kegiatan telah menggunakan sistem elektronik dan rata-rata time release cargo clearance hanya memakan waktu 90 menit. “Sembilan puluh menit itu waktu paling lama yang dibutuhkan untuk cargo clearance. Waktu 90 menit tersebut juga sudah termasuk inspeksi dan sebagainya,” imbuh Agus.

PROGRAM STAIRWAY
Sejak tahun 2002 customs Swedia mengembangkan program Stairway (yang kalau di Indonesia mirip jalur prioritas-red) yang digabungkan dengan program The Stairsec (program keamanan). Pengembangan konsep Stairway tersebut dilandasi oleh adanya kebutuhan fasilitasi perdagangan internasional di Swedia. Keunikan dari konsep Stairway ini terletak pada kedua fokusnya yakni keamanan dalam hal pergerakan logistik dan kemudahan dalam hal customs prosedur. Konsep Starway ini adalah penyediaan system cargo clearance yang mengakomodasi Customs to Customs Pillar yang terdiri atas sebelas standar, yakni Integrated Supply Chain Management, Cargo Inspection Authority, Modern Technology in Inspection Equipment, Risk Management system, High Risk cargo or container, Advance Electronic Information, Targetting and Communication, Performance

THE LAW ENFORCEMENT PROCESS

58

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

DOK. PRIBADI

Measures, Security assessment, Employee integrity dan Outbound Security Inspection. Yang kemudian di integrasikan dengan Customs to Bussiness Pillar yang terdiri atas 6 standar, yakni partnership, security, authorization, technology, communication dan facilitation. Secara umum, The Stairway system adalah sistem kepabeanan yang didasarkan atas prinsip quality assurance yang dikombinasikan dengan security. Untuk menjamin tingkat kualitas pelayanan, otoritas kepabenan membangun front end dan back end process yang terintegrasi dengan program Stair-Sec. Didalam program stairway, perusahaan yang memenuhi persyaratan yang di set didalam sistem akan diberi akreditasi oleh Otoritas Kepabeanan Swedia, untuk selanjutnya bagi yang terkareditasi akan menerima berbagai kemudahan dan fleksibilitas didalam pelayanan kepabeanannya. Didalam program stairway, seluruh kegiatan kepabenan dilakukan secara elektronik yang berbasiskan single window dan sudah 100 persen paper less. Seluruh perusahaan dapat mengajukan diri untuk diakreditasi tanpa membedakan besar kecilnya perusahaan atau kontribusi terhadap penerimaan negara, sepanjang memenuhi syarat dapat menjadi perusahaan terakreditasi. Tentunya, level akreditasi setiap perusahaan tidak sama, tergantung pada hasil analisis manajemen resiko yang dilakukan oleh pihak pabean Swedia. Pada gilirannya otoritas kepabeanan akan membimbing perusahaan untuk setapak demi setapak meningkatkan level compliancenya dimana pada level tertinggi (level 5, skala 0-5), perusahaan yang terakreditasi akan mendapat kepercayaan penuh. Pihak otoritas pabean hanya akan melakukan post clearance audit saja, atau sedikit pemeriksaan (dokumen maupun fisik) bilamana hal itu diperlukan.

DIVISI IT YANG KUAT
Dalam pengembangan teknologi komunikasi dan informasi (ICT), otoritas kepabeanan Swedia melakukan pengembangan dan pembuatan sendiri (inhouse development). Hal ini dikarenakan secara

struktur organisasi, customs Swedia memiliki divisi pengembangan dan pembangunan ICT tersendiri di kota Lulea. Divisi tersebut juga memiliki keleluasaan pengelolaan anggaran tersendiri. “Swedia ini memang agak unik, customsnya beda dengan kita. Mereka punya divisi IT sendiri yang sangat kuat dimana divisi IT tersebut bisa menjadi software house dan sebagaiAGUS SUDARMADI. Studi banding tersebut juga bertujuan untuk melihat, nya, pendanaanmempelajari manajemen dan pelaksanaan single window yang dilakukan nya juga tersendioleh customs Swedia. ri. Jadi mereka merekrut tenaga ahli IT lalu dididik masaMenurut Agus, dari studi banding lah kepabeanan dan mereka dipekerjakan tersebut, ada beberapa ide menarik yang sebagai IT atau engineer, tidak bekerja di bisa dikembangkan di Indonesia. lapangan, jadi jalur karirnya khusus,” jelas Diantaranya penggunaan mobile devices, Agus. dimana customs declaration dapat dikirim Agus menambahkan, divisi IT tersebut dan direspon dengan menggunakan sms memiliki sistem analisis yang kuat dan melalui handphone. “Teknologi mobile para programmer. Namun demikian, jika devices tersebut ternyata available di kita. programmer yang mereka miliki tidak Benefitnya juga banyak dan murah dari cukup memadai, customs Swedia akan segi pembangunan infrastruktur, hanya melakukan outsourcing dengan tetap menggunakan jaringan provider dan menggunakan sistem analisis dari lainnya,” kata Agus. customs Swedia. Divisi IT tersebut yang Ide lain yang akan dikembangkan membuat sistem single window yang kini adalah menggunakan sistem Stairway di dipakai oleh customs Swedia. kantor pelayanan bea cukai utama, dalam Seluruh kegiatan kepabeanan di hal ini KPBC Tanjung Priok. KPBC Swedia sudah menerapkan konsep single Tanjung Priok akan dijadikan liaison document didalam pemberitahuan ultimate office. pabeannya. Lebih jauh lagi proses informasi dan pengelolaan data untuk SEKILAS SWEDISH CUSTOMS kepentingan customs clearance telah Swedish Customs telah berdiri sejak terintegrasi dalam konsep single window. 1636. Total jumlah pegawai yang bekerja Konsep single window di Swedia sangat di Swedish Customs hingga akhir tahun sukses dalam memfasilitasi perdagangan 2005 adalah 2.186 pegawai, terdiri dari internasional di Swedia dan terbukti 1.012 pegawai perempuan dan 1.174 mampu meningkatkan kinerja penerimaan pegawai laki-laki. negara, dimana pada saat yang Sebanyak 96 persen pendanaan bersamaan juga mampu meningkatkan Swedish Customs berasal dari negara, kepatuhan pengguna jasa. sisanya sebanyak 4 persen dari customs
DOK. SWEDISH CUSTOMS

MANAGING THE TRADE PROCESS EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

59

KEPABEANAN
duties dan pungutan lainnya. Untuk tahun 2005, pendanaan yang diberikan pemerintah untuk Swedish Customs mencapai sekitar SEK 1,3 miliar. Swedish Customs mampu mengumpulkan penerimaan sebesar SEK 48 miliar (tahun 2005) yang berasal dari duties, taxes dan other fees. Sementara hasil dari penegahan terhadap drugs mencapai SEK 1,7 miliar. Area kerja Swedish Customs mulai dari Ystad yang terletak disebelah selatan hingga Karesuando di sebelah utara. Swedish Customs bertugas untuk memberikan kontribusi terhadap keamanan dan keselamatan masyarakat. Hal tersebut dilakukan dengan mencegah produk-produk seperti drugs, weapons, hazardous chemical, radioactive material, alcohol, tobacco dan binatang illegal masuk maupun meninggalkan Swedia. Swedish Customs juga bertugas mengumpulkan customs duties, taxes selain customs duty and charge pada saat perusahaan maupun pengusaha swasta melakukan kegiatan ekspor impor dengan negara-negara diluar EU. Kegiatan operasi yang dilakukan Swedish Customs terdiri dari dua hal yang utama, yakni law enforcement dan managing the trade. Law enforcement terdiri dari anti-smuggling dan customs investigation. Salah satu tugas utama law enforcement adalah memerangi penyelundupan drugs. The anti-smuggling dan investigation staff bertanggung jawab atas seluruh rantai mulai dari mengontrol hingga menyelesaikan investigasi. Dalam melakukan tugas mengontrol dan investigasi crime, mereka juga melibatkan analisis, inteijen dan surveillance operation. Untuk mendukung pengawasan, Swedish Customs dilengkapi dengan mobil dan peralatan fixed X-ray, detector dan fibre optics. Salah satu alat yang terbaik yang dimiliki Swedish Customs adalah anjing pelacak narkotika (drug detector dogs), yang bersama-sama dengan handlernya mendeteksi hampir setengah dari jumlah seluruh drugs yang berhasil ditemukan. Swedish Customs memiliki sekitar 50 ekor anjing, diantaranya berjenis Alsatians, springer spaniels dan Labradors. The law enforcement process bekerjasama dengan polisi, Swedish tax agency, penjaga pantai dan lainnya. Untuk meningkatkan keamanan masyarakat, kerjasama juga dilakukan dengan emergency management agency. Sedangkan dalam hal managing the trade, Swedish Customs mengumpulkan taxes, duties dan pungutan lainnya. Untuk menyederhanakan tugas tersebut, Swedish Customs membangun sistem The Stairway. ifa 60
WARTA BEA CUKAI

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

SEPUTAR PENYELESAIAN KEPABEANAN IMPOR
Perusahaan kami PT. Green Planet rutin melakukan importasi pupuk organic (mineral). Hal-hal yang kerap ditemukan pada waktu penyelesaian formalitas kepabeanan impor yang kami lakukan sendiri di KPBC adalah : 1. Surat Tugas Bermeterai, (Surat Tugas dari tempat saya bekerja. Hal ini menyebabkan saya harus selalu mempersiapkan 2 jenis yang bermeterai dan tidak. Sekali waktu tak bermeterai seperti yang diminta petugas Pendok, saya berargumen. Hasilnya petugas ngambek dan tidak menerima berkas PIB kami. Menurut ketentuan umum Surat Tugas tidak perlu bermeterai) 2. Certificate of Origin, yang dimintakan petugas Pendok (Petugas kerap meminta SKA sebagai dokumen pelengkap pabean tanpa mengerti Rules of Origin, bahwa impor kami tidak ada preferential tarif, bukan objek PP tentang BMAD BMI, dll) 3. Pemeriksaan Fisik Untuk saksi, diharuskan juga mendaftar ke P2 KWBC. Pada waktu pemeriksaan pelaksana tersebut tidak dapat hadir, akibatnya menghambat proses pemeriksaan barang. Apakah pelaksana P2 KPBC tidak cukup sebagai saksi pada unit level pengawasan ? Memang dimungkinkan pengawasan oleh tiga level, jika ada operasi rutin, namun saksi P2 KWBC kerap harus dihadirkan. Catatan : LHP kami selama periode 5 tahun terakhir sejak berdirinya perusahaan adalah sesuai. Demikian pertanyaan pertanyaan ini saya ajukan dengan maksud mendapatkan jawaban secara tertulis, dengan bermaksud juga agar dapat di klipping di Konsultasi Kepabeanan yang saya lakukan sejak 1996. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, Irwan Susantio

JAWABAN :
Sehubungan dengan surat dari Irwan Susantio yang disampaikan melalui Redaksi WBC perihal pertanyaan penyelesaian formalitas kepabeanan di bidang impor yang dilakukan oleh PT. Green Planet dengan komoditi pupuk organic, dengan ini disampaikan jawaban sebagai berikut : 1. Terkait dengan pertanyaan yang bersangkutan tentang Surat Tugas bermeterai, dapat ditegaskan bahwa pengurusan dokumen impor yang dilakukan oleh pegawai yang mendapat Surat Tugas dari Perusahaan tertentu, Surat Tugas tersebut tidak perlu bermeterai. Namun demikian perlu dituangkan dalam format surat resmi dengan kop perusahaan tersebut. 2. Untuk pertanyaan nomor 2 tentang Certificate of Origin dapat ditegaskan bahwa Certificate of Origin tidak diperlukan untuk importasi yang dilakukan oleh Perusahaan Saudara, karena komoditas impornya bukan merupakan objek dari peraturan perundang-undangan yang mengharuskan adanya Certificate of Origin (contoh : CEPT, BMAD, BMI dll). 3. Untuk pertanyaan nomor 3 mengenai Pemeriksaan Fisik dapat dijelaskan bahwa berdasarkan Kep-07/BC/2003 tanggal 31 Januari 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor dan SE-05/BC/2003 tanggal 31 Januari 2003 tentang Petunjuk Teknis Pemeriksaan Fisik Barang Impor, tidak mengharuskan Importir untuk menghadirkan Saksi dari P2. Demikian jawaban dari kami, atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana NIP. 060054090

EDISI 381 AGUSTUS 2006

RUANG KESEHATAN

Berat Badan
S
aya seorang ibu (30) yang setahun lalu melahirkan anak. Setelah melahirkan berat badan saya terus bertambah, tidak terkontrol. Sekarang berat badan saya 75 kg padahal tinggi saya 164 cm. Saya sudah berusaha berhati-hati untuk menahan napsu makan saya, tetapi hanya berlangsung sesaat, karena yang ada diwaktu kemudian saya akan makan lebih banyak lagi karena merasa tersiksa menahan-nahan keingin untuk makan. Yang ingin saya tanyakan, bagaimanan cara menurunkan berat badan dengan bijaksana tanpa menyiksa diri dan selain penampilan menjadi lebih baik ? Apa manfaat kehilangan atau menurunkan berat badan saya ? RISKA-Malang bertujuan untuk mengatur menu makanan rendah lemak yang kaya serat, vitamin, mineral dan zat gizi dapat membantu ibu. Dasar piramida adalah jenis makanan yang boleh dimakan lebih banyak dan makin ke atas adalah jenis makanan yang harus dibatasi. l Kelompok I : (dasar piramid); roti, sereal, nasi, pasta l Kelompok II : Sayur-sayuran atau buah-buahan l Kelompok III : kelompok daging, ayam, ikan, kacang-kacangan, telur, yoghurt, susu, keju. l Kelompok IV : (puncak piramida) kelompok lemak, minyak dan manismanis. Ini adalah kelompok yang digunakan dalam jumlah sedikit.

Cara Bijak Menurunkan

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

maka tetap bertahan dengan pola makanan yang baru. Ada beberapa pilihan olahraga yang bisa dijadikan pertimbangan untuk menentukan jenis olahraga berdasarkan keuntungannya. Lihat pada tabel. Manfaat menurunkan berat badan yang pasti akan membuat rasa lebih nyaman terhadap diri sendiri baik penampilan dan kebugaran. Sedangkan dalam segi kesehatan memberi keuntungan antara lain dapat mengurangi resiko tekanan darah tinggi, jantung, penyakit gula, gangguan persendian, nyeri punggung, batu empedu, gangguan pernapasan dan lain-lain. Beberapa tips yang bisa digunakan sebelum menjalankan diet : l Jangan mulai program pengendalian Tubuh akan melakukan pembaharuan berat badan bila sedang depresi JAWAB : pada cadangan lemak tubuh bila kalori Ibu Riska, dalam kehamilan, l Tentukan sasaran penurunan berat makanan yang masuk tidak memenuhi melahirkan dan menyusui boleh dikatakan badan yang masuk akal (jangka kebutuhan energinya, sehingga secara hampir semua ibu mengalami kenaikan pendek dan jangka panjang) berat badan yang berl Cermati asupan makanan makna. Puncak kenaikan berat l Belajar menikmati makanan KEUNTUNGAN badan pada saat hamil tua karena sehat (gunakan piramida kegiatan daya kelenturan kekuatan bertambah dengan berat bayi di makanan) kandungan. Setelah melahirkan l Kurangi lemak pada makanan tahan akan terjadi penurunan lagi, hingga kurang dari 30 persen kemudian dapat bertambah atau l Jangan lewatkan waktu aerobik **** *** ** menetap pada saat ibu menyusui. makan. Makan pada waktunya sepeda **** ** *** Yang penting diperhatikan adalah membuat napsu makan dan gizi yang cukup pada ibu selama pilihan makanan lebih naik tangga * * * * * *** menyusui anak. terkendali. golf * ** * Bila asupan gizi sudah berlel Buat catatan dan juga catatan jogging **** ** ** bihan maka akan disimpan tubuh olahraga dalam bentuk lemak yang kemul Catat faktor yang mempengaberenang **** **** **** dian menyebabkan kegemukan. ruhi usaha pengendalian berat tenis ** *** ** Berdasarkan Indeks Massa Tubuh badan, apakah tergantung (IMT) yang dimodifikasikan oleh mood, waktu, jenis makanan jalan ** * * Lembaga Nasional untuk atau kegiatan tertentu. yoga * **** * Pedoman Klinis Kesehatan tahun l Perhatikan apa yang diminum, 1998 maka IMT ibu yang baik alkohol mengandung banyak Keterangan : Jumlah * menunjukkan tinggi berkisar 52,5 kg-66 kg. kalori yang meningkatkan keefektifitasannya Pada dasarnya kenaikan benafsu makan dan menurunkan rat badan tejadi akibat asupan niat . makan berlebih dan kurangnya olahraga. bertahap berat badan akan turun dengan l Batasi gula dan yang manis-manis Cara terbaik untuk menurunkan berat berkurangnya cadangan lemak tubuh. l Makan perlahan-lahan, dengan debadan adalah mengubah gaya hidup. Karena itu kurangi asupan kalori makanan mikian porsi yang dimakan akan lebih Perlu punya niat yang kuat untuk 500-1000 kalori/ hari dengan mengurangi sedikit, sebab sudah merasa kenyang mengurangi berat badan. Kurangi berat makanan berlemak tinggi (keju, kue, l Jangan makan sambil melakukan badan secara perlahan-lahan (2-4 kg/ gorengan) dan konsumsi makanan kalori sesuatu, misalnya membaca atau bulan) dan berusahalah mengubah rendah seperti sayur dan buah-buahan. menonton TV kebiasaan makan berkalori tinggi dan Perhatikan jumlah l Gunakan piring kecil berolah raga secara teratur. makanan.Mengkonsumsi makanan kalori l Kendalikan diri bila ada makanan Bila ibu cenderung atau tergoda rendah tapi dalam jumlahnyang besar kesukaan. Keinginan itu akan memilih jenis makanan yang salah, maka hasilnya tidak berbeda. Olahraga segera hilang mulailah membuat daftar makanan dan pada dasarnya tidak usah terlalu berat, membeli makanan sehat saja. Untuk yang penting adalah teratur (minimal 3-4 Mudah-mudahan tips ini dapat mempermudah memilih jenis makanan kali seminggu). Hati-hati karena olahraga membantu Ibu menurunkan berat badan. maka “Piramida Pedoman Makanan” yang juga dapat meningkatkan nafsu makan, Semoga berhasil.
EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

61

RUANG INTERAKSI

Oleh: Ratna Sugeng

DAN PERILAKU
“Image is a powerful force in football and, once cemented in people’s minds, can linger far longer than reality, even when that reality is at complete odds with the mythology” (Rohan Connolly)

Sepak Bola
keberhasilan tim sepakbola dijiwakan sebagai keberhasilan penggemarnya, demikian juga kegagalannya. Orang yang sedang merasa gagal sekalipun, akan merasa terangkat kenyamanan dirinya ketika tim sepak bola yang dijagoinya menang. Suatu terapi mengangkat mood yang boleh dijadikan booster juga. Ini diperkuat oleh pernyataan pemimpin klub sepakbola Collingwood Australia, Eddie McGuire, ”The great thing about this football club is we celebrate Persaingan antar klub seringkali melebar ke persaingan antar pendukung. Persaingan dapat tampil dalam kemeriahan dandanan, memoles wajah, menata rambut, bahkan umbulumbul dan daya tarik lainnya. Kita sering menyaksikan bagaimana JakMania berdandan baju oranye sambil membawa umbul-umbul dan penarik perhatian lainnya duduk di atap metro mini sambil meneriakkan katakata kebanggaan mengunggulkan klub Persija. Sementara itu ketika pendukung klub Arema muncul beriringan dengan mereka dapat terlihat persaingan kemeriahan sorak sorai dan riuh rendah berbagai bunyibunyian serta teriakan dari memuji diri sampai mengejek lawan.

D

emam sepak bola di seluruh dunia terasa dimana-mana, kegiatan apapun seakan dinomor duakan untuk kepentingan dunia yang satu ini. Penduduk seluruh dunia seakan terbius, terfokus, mengikuti pemilu siapa yang bakal memimpin dunia. Senang, sedih, kecewa, perasaan yang ikut mengimbas dunia kerja selama pertandingan ditayangkan di layar kaca. Bahkan di Indonesia layar kaca pun dikuasai oleh sponsor tunggal di Indonesia. Tak ada stasiun lain yang dapat menyiarkannya langsung. Kuatnya imbas sepakbola ini memberi insipirasi untuk menulis artikel ini tentu saja dari sudut pandang seorang pengamat hubungan manusia. Menjadi penggemar dengan menjagoi satu klub, seakan membuat seseorang percaya diri bahwa ia orang yang diperhitungkan dalam masyarakat karena pengelompokkan sosialnya. Siapa yang tak bangga kalau ia betul memahami bagaimana sepak terjang pemain, galaknya wasit, tekanan pelatih, hebatnya presenter mengolah, memprediksi dan menyajikan permainan? Inilah topik yang menguasai seluruh nafas kehidupan. Bahkan para pacar atau pendamping pemain pun menjadi buah bibir. Makanan enak buat para pengelola dunia hiburan dan pemasaran, barang berlogo, beraksen ataupun hanya sedikit sentuhan bola menjadi laris terjual. Dengan demikian bola, membentuk perilaku khusus bagi penggemarnya.

PERSAINGAN ANTAR KLUB SERINGKALI MELEBAR KE PERSAINGAN ANTAR PENDUKUNG
together, we cry together, we love together and we hate together but as our theme song says ‘side by side we stick together».

PERMUSUHAN DALAM PERMAINAN BOLA, PERMUSUHAN PENDUKUNG
Musuh bebuyutan di lapangan hijau, dapat mengimbas permusuhan para pendukung di luar lapangan hijau. Lihat kelompok pendukung yang langsung turun ke lapangan di luar lapangan hijau karena keteguhan membela tim kesayangannya membuahkan sakit hati pada kelompok pendukung tim lawan. Bila terjadi perdebatan tentang bintang pujaan, yang tersinggung adalah status kelompok, maka mungkin terjadi perdebatan bahkan perkelahian seru membela mati-matian bintang pujaannya. Semangat yang terbakar kemudian menjadi sulit dikendalikan dan bahkan sering berbuah huru-hara yang amat merugikan. Pengamat bola di Australia mengatakan bahwa permusuhan antar klub sangat besar bilamana citra klub mereka serupa. Misalnya tentang klub Collingwood’s yang berival besar

PERSAINGAN ANTAR KLUB ATAU PERSAINGAN ANTAR PENDUKUNG ?
Prasangka antar klub dituliskan oleh Tajfel, H. and Turner, JC (1986) - ”The social identity theory of intergroup behaviour”. Salah satu teori mengatakan bahwa seorang individu yang menjadi bintang akan mewarnai ciri khas kelompok seperti Beckham mewarnai klubnya, sekaligus meningkatkan status kelompok. Serta juga meningkatkan rating penonton di layar kaca bagi seluruh penggemar dan meluas ke keluarga penggemar.

KEBERHASILAN TIM ADALAH KEBERHASILAN PENGGEMAR
Pengamatan atas kelompok penggemar membuktikan bahwa 62
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

dengan Carlton and Richmond, karena keduanya berakar dari tempat yang sama, dan dari kelas masyarakat yang sama. Rivalitasnya akan kecil bilamana akarnya berbeda termasuk strata masyarakatnya, seperti kata pelatih Collingwood, Mick Malthose. Akar yang sama membuat para pemuja atau pendukung sulit mempunyai batas tegas citra antar klub. Dengan melontarkan makian atau hinaan, mereka membangun jarak guna memudahkan pembedaan antar mereka dan klub pesaingnya. Simak saja apa yang dikatakan dalam puisi Robert Frost, “Good fences make good neighbours”. Konflik muncul jika batas tidak jelas, seperti penggemar Collingwood menyatakan kebencian pada klub Richmond, ”Kami sangat membencinya, sebab mereka seperti kita - bernafsu untuk menang, bersungguhsungguh dan saling mendukung”.

meningkatkan nilai kontrak dari berbagai sumber yang dapat diiklankan melalui diri bintang persepak bolaan atau timnya. Masih ada sisi lain yang juga menggelindingkan rejeki karena menjadi trendsetter berbagai gaya dandanan dari kepala sampai sepatu. Sebagai contoh ketika David Beckham mengunjungi Jepang, ia disambut oleh ribuan penggemarnya seperti layaknya superstar. Para remaja dan bahkan orang lebih tua menggunakan gaya rambutnya, dan banyak penggemar mengenakan

kaus baju bertuliskan Manchester United di punggungnya. Surat kabar Jepang bahkan mengemukakan bahwa para perempuan Jepang menggunakan dandanan rambut Beckham Mohican untuk rambut pubisnya. Majalah mingguan Shukan Jitsuwa, memberitakan bahwa gaya Beckham popular dikalangan pekerja kantoran perempuan.

PEMAIN MENGIDOLAKAN PEMAIN
Ronaldinho, pemain Brazilia diberitakan mengagumi kapten sepak bola Perancic Zinedine Zidane, seperti yang diberitakan oleh zaman. com pada 1 Juli 2006. Ronaldhino bahkan mengatakan bahwa ia sangat memujanya dan anggota tim sepak bola Brazilia juga menaruh hormat pada Zidane. Ia berjuang keras untuk dapat menyamai permainan yang baik dari idolanya. Suatu dorongan keberhasilan.

BOLA MENGGELINDINGKAN REJEKI
Para ahli pemasaran sangat memahami bahwa bola punya nilai jual tinggi. Jasa ide pembuat iklan diminta untuk mencuri perhatian penonton akan produk yang dipasarkan, seperti kita lihat disepanjang tepi lapangan terpampang iklan berbagai produk. Juga produk yang menginspirasi pemain bola agar diluaskan pasarnya untuk dibeli masyarakat. Menggunakan produk dimaksud mengangkat harkat pendukung bahwa ia setara dengan bintang bola pujaannya. Bagi tim sepak bola, ide digunakan untuk meraih kemenangan dan meningkatkan luasnya penggemar, yang berimbas meningkatnya harga diri, kepuasan. Sementara itu dari sisi komersial juga
TREN. Dandanan rambut ala David Beckham sempat menjadi tren di kalangan anak muda di Jepang.

MEMILIH KLUB PUJAAN SEBUAH PERHITUNGAN ATAS FAKTA ?
Fakta yang terambil dari pendukung klub Fremantle Dockers, menunjukkan bahwa mereka adalah kaum pekerja dengan penghasilan tinggi. Sementara para pendukung sebah klub bola yang juga sering bertanding di Jakarta, lebih banyak berasal dari kelompok berbulat tekad tanpa cukup membawa bekal. Mereka tak segan hidup seadanya di Jakarta, asal dapat mendukung klubnya. Astrid, psikolog konselor untuk anak muda di Surabaya, menceritakan kepada saya bahwa cara memilih klub pujaan bagi perempuan lebih didasarkan atas tampilan fisik pemain yang mempesona, sementara laki-laki lebih memilih atas dasar strategi permainan.
EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

63

KOLOM

Oleh: Suko Wibowo

Bola
U
npredictable, bola itu bundar, wow …. adalah beberapa ungkapan yang terucap apabila salah memprediksi atau mengobati hati bila ada sesuatu yang tidak tercapai atau malah-malah itu sudah rahasia Illahi. Piala dunia 2006 sudah berlalu, tim Italia akhirnya merebut juara setelah mengalahkan tim ayam jantan Perancis lewat drama adu penalti. Jagoan penulis yang mengusung strategi total football sudah kalah oleh Portugal di babak perdelapan final. Kembali ke pokok permasalahan, kenapa penulis mengemukakan dan berbicara panjang lebar mengenai sepak bola. Mengapa sepak bola? Ngomong kok bola melulu? La wong satu bola kok diperebutkan 22 orang ? Kenapa mereka tak dikasih satu orang satu bola? Apa hubungannnya dengan Bea Cukai? Why don’t we discuss our job? Talk about our work? Hal inilah membuat penulis yang mengumpulkan dari berbagai sumber merasa tertarik untuk mengungkapkan beberapa sisi hubungan sepak bola dengan manajemen dan fungsi tugas Bea Cukai. Sepakbola adalah permainan yang sederhana. Tetapi dalam kalimat sederhana itu mengandung banyak aspek atau bagian yang masing-masing diperlukan perhatian khusus. Ingatkah anda akan
WARTA BEA CUKAI

Sisi Unik

DAN BEA CUKAI
permainan puzzle? Sepak bola terdiri dari banyak kepingan puzzle. Bagian dari puzzle tersebut perlu disatukan untuk membuat satu kesatuan yang utuh dan kuat Yang akan dipaparkan dalam tulisan kali ini dan Insya Allah akan berlanjut ke tulisan berikutnya adalah :

1. PEMANFAATAN WAKTU
Dalam Al Quran surat Al Asr begitu jelas Allah SWT menekankan

PEMIMPIN JUGA SALAH SATU FAKTOR SESEORANG BETAH ATAU GELISAH DI LAPANGAN KERJA
betapa pentingnya waktu dan bagaimana memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Pertandingan bola juga hanya satu kali saja. Kalaupun bertemu lagi dengan tim yang menjadi lawannya dulu, tentu situasinya berbeda. Waktu juga demikian, ia tak akan sama. Pertandingan bola mempunyai waktu tertentu dengan klasifikasi sesuai usia pemain. Untuk yang dewasa 2 X 45 menit. Mana ada main bola yang tidak dibatasi waktu?

Mungkin main bola sewaktu kita kecil dulu. Main di lapangan desa berhenti ketika pak Imam masjid mengumumkan lewat pengeras suara sebentar lagi waktu magrib. He..he.. he... indahnya kenangan masa lalu. Dalam waktu yang ditentukan tersebut pemain bola harus tahu benar bagaimana memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kalau dalam keadaan unggul, tim harus menggunakan cara mengulur waktu dengan tepat, tentu dengan menghindari hukuman dari wasit. Apalagi kalau ketinggalan gol, tim sudah pasti harus mengejar ketinggalan tersebut. Piala Champions Eropa tahun 2005 salah satu contohnya. AC Milan vs Liverpool, ketika itu Liverpool tertinggal 0–3. Tetapi dengan semangat dan kerja sama yang satu tujuan akhirnya Liverpool bisa menyamakan kedudukan bahkan menang lewat adu penalti. Nah sekarang kita lihat dari sisi Bea Cukai. Akhir-akhir ini, salah satu yang menjadi perbincangan hangat adalah mutasi. Pengumuman mutasi dan promosi lewat situs internet adalah sebuah terobosan bagaimana memanfaatkan teknologi yang ada. Sampai- sampai kalau ada mutasi, situs www.beacukai.go.id terasa lambat koneksinya, saking banyaknya yang mengakses, he..he..he. Itulah salah satu usaha untuk membi-

64

EDISI 381 AGUSTUS 2006

asakan atau mengenalkan internet Bea Cukai. Walau hanya sekedar info mutasi, paling tidak para pegawai tahu menu utama situs www.beacukai.go.id. Ada yang senang, sedih, tetapi bagaimana? Itulah romantika dan dinamika kerja. Apakah pola mutasi sudah berjalan dengan baik? Sesuai dengan kebutuhan SDM? Apa diperlukan kuesioner pilihan pertama, kedua, dan ketiga kantor untuk masing-masing pegawai? Tentunya pihak yang berwenang telah berusaha sebaik-baiknya mengatur dan berbuat yang terbaik untuk kemajuan Bea Cukai. Kita sendiri bagaimana? Bila kita bisa memanfaatkan waktu yang ada, tidaklah rugi dimanapun berada. Istilah dalam bahasa Jawa “Eman – eman“ , witing tresno jalaran soko kulino.

LEBIH BAIK MENJADI BINTANG DI TIM KECIL DARIPADA CADANGAN DI KLUB BESAR
bersaing dengan mereka. Ditambah lagi, ia sering rindu ke keluarga di kampung halaman,“ home sick “, “no home like my home village” (istilah kalau penulis ingat indahnya kampung halaman), sehingga kehadirannya kurang berpengaruh untuk kemajuan sebuah tim. Akhirnya Owen balik ke Inggris tepatnya di Newcastle United. Di tim ini, Owen bertemu dengan Alan Shearer mantan striker timnas Inggris yang begitu setia dengan klub Newcastle United. Lingkungan yang cocok, merasa nyaman dan tentram adalah jawabannya, walaupun Alan Shearer sendiri juga belum memberikan sesuatu yang terbaik untuk klubnya. Sebuah contoh lain akan dedikasi pemain terhadap klubnya adalah Paolo Maldini di AC Milan merasa nyaman dan betah di klub Milan. Ilustrasi lain adalah ketika pelatih Fabio Capello pindah ke Juventus, beberapa pemain AS Roma ikut pindah. Ketika Jose Maurinho masuk Chelsea beberapa pemain Portugal mengikuti kepindahannya. Contoh lain di Indonesia, ketika Beny Dollo pindah ke tim kebanggaan publik Malang, Firman Utina pun mengikutinya. Dan yang paling anyar

2. MANAJEMEN SDM
Salah satu komponen yang terpenting dalam sebuah organisasi adalah SDM. Manajemen SDM adalah proses memperoleh, melatih, menilai, dan memberikan kompensasi kepada karyawan, memperhatikan hubungan kerja mereka, kesehatan dan keamanan, serta masalah keadilan (Gary Dessler). Di dalam sepakbola terkandung konsep-konsep dan teknik yang menentukan aspek “personil”/ manusia dalam pekerjaan manajemen, diantaranya :
l

l l l l l l

l

Melakukan analisa pekerjaan (menentukan tugas setiap pemain) Merencanakan kebutuhan tim dan merekrut pemain Memilih calon pemain Mengarahkan dan melatih pemain baru Pengaturan upah dan gaji ( kompensasi kepada pemain) Menilai prestasi ( reward and punishment ) Kesempatan yang sama dalam pelatihan dan pengembangan pemain Membangun komitmen dan kebersamaan

BILA KITA BISA MEMANFAATKAN WAKTU YANG ADA, TIDAKLAH RUGI DIMANAPUN BERADA
yaitu pelatih Rahmad Darmawan ke Persija dengan membawa beberapa pemain Persipura. Pelatih merupakan salah satu faktor penyebab besar kepindahan anak asuhnya. Pemain juga akan merasa nyaman bila bekerja sama dengan orang yang sudah diketahui visi dan misinya. Ngapain melanjutkan bekerja dengan seseorang yang visi dan misinya beda. Pelatih mempunyai kewenangan untuk mengganti pemain-pemain, membeli

Berikut ini adalah sebuah ilustrasi dalam hal The Right Man on the Right Place, Comfortable in working. Siapa tidak kenal dengan Michael Owen, pemain muda asal Inggris. Owen ditransfer ke Real Madrid dari Liverpool dengan nilai transfer yang tinggi dan gaji pun besar, namun di Real Madrid sendiri sudah berjejer 3 nama striker. Jadi Owen harus

pemain baru, juga menjual pemain. Tentunya pelatih yang sangat dirindukan pemain adalah yang bisa memotivasi pemain secara bersahabat dan manusiawi, mengayomi serta menyayangi mereka. Dari ilustrasi di atas, apa yang bisa diambil, alasan yang membuat seseorang betah di lapangan kerja yang mungkin saja, kurang memuaskan (bonafid) atau bergaji kecil. Mungkin banyak tempat yang menawarkan pendapatan yang besar, fasilitas yang memadai, tapi tetap saja tak bisa ke lain hati. Pemimpin juga salah satu faktor seseorang betah atau gelisah di lapangan kerja. Bukankah pimpinan yang mengayomi dan melindungi akan membuat suasana kerja menyenangkan? Semoga pimpinan atau level manajemen Bea Cukai bisa membawa kesuksesan dan perubahan yang berarti. Lebih baik menjadi bintang di tim kecil daripada cadangan di klub besar. Toh selama pekerjaan itu halal, sesuai reward dan punishment, mengapa tidak? Rencana Kantor Pelayanan Utama dengan sistem reward punishment yang jelas sungguh sebuah harapan tersendiri. Seorang pegawai senior bilang kepada penulis “kamu itu alah bisa karena biasa “ ( mulanya bisa karena terbiasa ), itu menjadi modal utama dan berharga. Kalimat tersebut merupakan salah satu kalimat semangat yang membuat seseorang terlecut, tentunya perlu dibedakan “sikap mental sedang sedang saja“, “rata–rata mau yang biasa saja”, “ nrimo ing pandum“ tidak mau berkembang dan belajar. Succes is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love what you are doing or learning to do. Sukses bukanlah sebuah kebetulan, tapi sebuah kerja keras, ketabahan, pengertian, pembelajaran, pengorbanan, dan lebih dari itu, kecintaan pada apa yang kamu lakukan atau kamu pelajari. (Pele, legenda sepak bola Brasil). Akhirnya, hormati yang tua, sayangi yang muda, komitmen bersama untuk maju, tak ada one man show (tidak ada seseorang yang bisa bekerja sendiri), semua sama saja demi kemajuan Bea Cukai. Berdoa dan berusahalah. Bea Cukai bisa. Enjoy dan nikmati yang ada, maju terus… mohon maaf.
Penulis adalah pelaksana DIKC, wasit C2 Pengda PSSI DKI Jaya
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

65

KOLOM

Oleh: Abdul Rachman

INTREP
M
enjadi kurikulum tidak resmi dalam diklat Bea Cukai pada setiap pertemuan hari pertama selalu ada perkenalan antara peserta dan instruktur/ pengajar. Khusus diklat intelijen perkenalannya tidak hanya data pribadi tetapi peserta diberikan basic test untuk mengetahui bakat dan kemampuan peserta sebagai calon customs intelligence officer (CIO). Tes tersebut sangat sederhana, sebagai illustrasi, peserta diminta membuat daftar kegiatan apa saja yang dilakukan sejak bangun pagi sampai berangkat ke kantor kecuali pekerjaan mempersiapkan sarapan pagi dan membersihkan rumah, menyapu, pel lantai dan menyiram taman. Diklat pengawasan/intelijen dimulai tahun 1994 sebagai angkatan pertama sampai tahun 2005 (5 angkatan). Jawaban para peserta pada umumnya sama hanya berbeda dalam uruturutannya. Rata-rata peserta menjawab; bangun pagi jam 04.30, shalat subuh bagi yang muslim, ke toilet untuk urusan belakang, sikat gigi, mandi, mengenakan pakaian, sarapan pagi, memanaskan mesin kendaraan, pakai sepatu dan berangkat ke kentor. Walaupun instruktur meminta agar para peserta mencatat semua kegiatan bagaimanapun kecilnya tetapi esensial (sebenarnya walaupun tidak esensial tetap diperlukan untuk analisis dan sebagai informasi tetap akan difilter) dan ini dimaksudkan bahwa seorang CIO harus mengetahui hal-hal yang sekecil apapun di bidang tugasnya, tetapi dalam lima angkatan diklat pengawasan/ intelijen tidak seorang pun peserta yang mencantumkan kegiatan tentang mematikan lampu teras atau lampu taman rumahnya. Justru ada yang hebat karena masih sempat mencuci mobil sebelum berangkat ke kantor. Kealpaan mematikan lampu tadi bukan berarti peserta tersebut tidak berbakat/mampu, justru merupakan informasi bagi instruktur untuk menekankan hal-hal yang perlu pembahasan lebih mendalam dalam diklat itu. Selama penulis menjadi instruktur ada hal yang perlu dikoreksi tentang apa
WARTA BEA CUKAI

yang disampaikan selama ini mengenai kegiatan intelijen Nabi Musa a.s. sampai menduduki Canaan di Palestina dan dalam tulisan ini juga akan disampaikan beberapa hal yang dalam dilklat belum dibahas secara luas, pembahasannya secara garis besar saja. Pembahasan secara garis besar tersebut terpaksa ditempuh karena terbatasnya jamlat yang disediakan dalam diklat (kurang dari 60 jamlat - tidak termasuk praktek lapangan dan presentasi). Dalam diklat tersebut selalu dijelaskan bahwa Nabi Musa a.s. yang terkenal dengan Mosesinto System-nya melakukan kegiatan intelijen untuk dapat memasuki Canaan di Palestina setelah meninggalkan Mesir sebagai tempat pemukiman baru bagi umatnya. Ternyata berdasarkan sumber informasi yang baru

beberapa ayat dalam Al- Quran antara lain, surat Asy-Syura ayat 56-66, surat Taahaa ayat 42-47, surat Almaidah ayat 20-26 dan Al Baqarah ayat 248-252.

DINAS INTELIJEN
Pemberantasan Penyelundupan (Tasdup) cukup seram untuk dilaksanakan karena berkaitan dengan tantangan yang memerlukan pengorbanan, mungkin melebihi pengorbanan untuk merebut Irian Barat (Papua dan Irian Jaya Barat) dari tangan Belanda. Merebut Irian Barat hanya memerlukan beberapa tahun sejak penyerahan kedaulatan. Irian Barat sudah menjadi bagian NKRI, memberantas penyelundupan nampaknya memerlukan waktu yang lebih panjang. Tasdup ini merupakan tugas utama DJBC, untuk itu dalam struktur organisasi DJBC, dilengkapi unit tasdup (Direktorat di tingkat Pusat, Bidang di tingkat Wilayah dan Seksi di tingkat Kantor Pelayanan). Nomenklatur Pemberantasan Penyelundupan (P2) menurut cerita yang beredar, diciptakan oleh para senior Bea Cukai yang dikenal dengan sebutan angkatan TP/TRIP (Bapak Padang Sudirdjo Alm. Cs). Pada tahun 80-an nomenklatur P2 ini kemudian berubah menjadi P3 (Pencegahan dan Penyidikan Penyelundupan) dimana pada saat itu pimpinan DJBC didominasi oleh angkatan Sekolah Pengamat Pabean (Bapak Soehardjo cs). Setelah berlakunya UU No. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dan UU No. 11 tahun 1995 tentang Cukai, P3 berubah lagi menjadi Pencegahan dan Penyidikan (P2), tetapi berbeda P2 sebelumnya secara nomenklatur. Perubahahan dari P2 80-an ke P3 konon ceritanya bahwa nomenklatur Pemberantasan Penyelundupan terlalu berat untuk dilaksanakan sehingga diubah menjadi Pencegahan dan pada saat yang bersamaan DJBC dapat melakukan penyidikan dengan berlakunya KUHAP, sedangkan perubahan dari P3 ke P2 era UU No. 10 tahun 1995 konon katanya untuk mengembalikan citra P2 seperti P2 80-an walaupun singkatan itu berbeda. Perubahan nomenklatur itu tidak terlalu berarti, pertanyaannya adalah sanggup-

...MUSUH BEA CUKAI TIDAK TERDUGA
kami dapatkan -dari Presiden Direktur salah satu bank BUMN di Jakarta- bahwa menurut beberapa buku yang beliau baca, Nabi Musa a.s. setelah diusir oleh Firaun tertahan di gurun Sinai selama 40 tahun dan meninggal disana, jadi dengan demikian Nabi Musa a.s. tidak sempat memasuki Canaan. Sepeninggal Nabi Musa a.s. umatnya dipimpin oleh Nabi Harun a.s. yang masih saudara Nabi Musa a.s. sendiri. Nabi Harun pun tidak berhasil menduduki Canaan. Yang berhasil menaklukkan Canaan adalah Nabi Daud a.s. putra dari Nabi Harun a.s. yang meneruskan kegiatan Nabi Musa a.s. dan atas bantuan tentara Thalut dibawah pemerintahan raja Thalut yang berperang melawan raja Jalut yang berkuasa pada saat itu. Dan dalam peperangan itu Nabi Daud a.s. sendiri yang membunuh raja Jalut penguasa Palestina. Kemudian Nabi Daud a.s. dan umatnya menduduki Canaan. Kemungkinan umat Daud inilah nenek moyang dari agen-agen rahasia Mosad sekarang ini. Untuk lebih akurasinya informasi ini beliau mencocokkan dengan

66

EDISI 381 AGUSTUS 2006

kah DJBC melakukan tasdup walaupun istilahnya pencegahan. Pencegahan dapat dikonotasikan hanya sebagai upaya untuk mencegah agar tidak terjadi sesuatu, namun bagaimana kalau sudah terjadi, tentu masih diperlukan tindakan untuk memberantasnya, pemberantasan lebih luas sesuai nomenklaturnya berarti diberantas habis sampai keakar-akarnya. Apapun nomenklatur yang dipakai yang penting adalah DJBC harus dapat melakukan pengawasan yang efektif dan efisien. Seperti selalu dikemukakan bahwa ada 4 faktor yang menentukan keberhasilan pengawasan yaitu; peraturan perundang-undangan, sistem dan prosedur (sisdur), SDM (sumber daya manusia) dan fasilitas (sarana dan dana). Disamping keempat faktor itu pengawasan juga harus didukung oleh kegiatan intelijen yang efektif dan efisien. Efisien disini tidak sepenuhnya berkaitan dengan efisiensi anggaran. Kenapa diperlukan kegiatan intelijen? Jawabnya adalah karena hanya dengan memiliki dan melaksanakan peraturan perundang-undangan, sisdur, SDM dan fasilitas tidak dapat menjamin tercapainya tujuan organisasi dalam hal ini salah satunya pemberantasan penyelundupan. Sebagai illustrasi, Bea Cukai Inggris pada tahun 1995 yang sudah memiliki dan melaksanakan dengan baik keempat faktor tersebut diatas namun masih kecolongan. Atas hasil kegiatan intelijen yang dilakukan akhirnya dapat mengungkap penyelundupan yang dilakukan oleh suatu importir dengan tehnik yang kemudian dikenal dengan nama “hiding data”. Importir tersebut dalam melaksanakan pendataan (pembukuan yang diwajibkan bagi perusahaan) impornya menggunakan program aplikasi komputer ganda sehingga pada saat pegawainya menginput data impor ke dalam data basenya maka secara otomatis data tersebut tercatat dalam dua tempat, satu sesuai data sebenarnya dan satu lagi data yang lebih rendah dari data sebenarnya (jumlah dan harga barang serta pajak yang harus dibayar secara otomatis menjadi lebih sedikit). Apabila petugas Bea Cukai atau Pajak Inggris memeriksanya maka data yang muncul adalah data yang lebih kecil. Tidak diketahui kapan tepatnya struktur organisasi DJBC dilengkapi dengan unit Intelijen. Pertama kali unit intelijen DJBC dengan nomenklatur Dinas Intelijen dan Kepala Dinasnya yang pertama adalah Bapak Drs. Soeharnomo yang pensiun pada saat menjabat Sekretaris DJBC. Menurut beliau, pada saat itu tidak ada yang berminat untuk menduduki jabatan itu, namun ia memandang bahwa jabatan itu penting untuk melakukan pemberantasan penyelundupan sehingga ia menerima perintah itu untuk menduduki jabatan tersebut walaupun belum tahu persis bagaimana melaksanakan tugas intelijen. Dinas Intelijen itulah cikal bakal dari Sub Direktorat Intelijen saat ini.

LAPORAN INTELIJEN MENGGAMBARKAN APA YANG TELAH, SEDANG DAN AKAN TERJADI...
Bagaimana intelijen yang efektif dan efisien? Berdasarkan teori harus mengikuti “siklus intelijen” yang meliputi perencanaan, pengumpulan, evaluasi, penilaian, analisis, penyebaran dan evaluasi. Pelaksanaan siklus intelijen dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu: l Kemampuan mengelola sumber informasi. l Struktur organisasi (garis komando, span of control, kedudukan handler, status informan, wewenang setiap unit dan lain-lain). l Kuantitas dan kualitas CIO. l Pengelolaan data base (pangkalan data).

LAPORAN INTELIJEN
Rencana untuk menerapkan Asean Single Window (ASW) dan National Single Window (NSW) merupakan tambahan sumber informasi bagi unit intelijen Bea Cukai yang selanjutnya dapat menghasilkan produk intelijen untuk tasdup. Baik ASW maupun NSW pada dasarnya bertujuan untuk kelancaran pelayanan dan efisiensi. Sebagai sumber informasi bagi unit intelijen akan sangat membantu jika isi kedua sistem itu berupa “Customs Declaration” dari Administrasi Pabean negara pengekspor. Jika elemen data dari kedua sistem itu berupa “General Declaration“ dari pengangkut yang secara luas dikenal dengan istilah manifest, maka bagi unit intelijen hanya merupakan raw data. Dalam era serba canggih sekarang ini para ahli menyarankan agar unit intelijen melakukan kerjasama dengan stakeholder untuk melakukan tasdup bahkan kalau perlu memberikan wewenang kepadanya untuk melakukan pengawasan. Sebagai illustrasi, hingga saat ini pengawasan

MENURUT DATA TAHUN 2000 BEA CUKAI PERANCIS DENGAN JUMLAH PEGAWAI SEKITAR 17.000, LEBIH DARI SEPARUHNYA BERTUGAS DI BIDANG PENGAWASAN/ INTELIJEN

yang dianggap efektif terhadap hasil tembakau/ rokok adalah dengan melekati produk rokok itu dengan pita cukai. Melekati pita cukai berarti memerlukan biaya bahkan menambah tugas pengawasan yaitu jangan sampai pita cukai itu dipalsukan, sehinga menurut teori intelijen hal ini tidak efisien. Pengawasan efektif dan efisien terhadap hasil tembakau/ rokok khususnya produk dari pabrik rokok yang tergolong pabrik besar dan sebagai pembayar pajak yang patuh dan besar jumlahnya seperti PT Gudang Garam Tbk, PT HM Sampoerna, PT Phillip Morris, PT BAT, Djarum dan lain-lain ialah dengan melibatkan mereka dalam mengawasi hasil produksi masing-masing jangan sampai ada yang dipalsukan dengan cara tidak perlu dilekati pita cukai tetapi dilekati banderol yang didesain, dicetak dan dilekatkan sendiri oleh pabrik rokok yang bersangkutan. Keuntungan dari sistem ini adalah tidak perlu mencetak pita cukai dan tidak perlu khawatir dipalsukan, pabrik rokok yang bersangkutan mengenal betul jika produknya dipalsukan termasuk banderol yang dilekatkannya sebagai alat kontrol. Pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya pencetakan pita cukai yang kalau pun itu dibebankan kepada pabrik maka biaya cetak banderol lebih murah dari biaya cetak pita cukai. Mungkin ada yang bertanya bagaimana mengontrol pembayaran cukainya, jawabnya sangat mudah yaitu Bea Cukai cukup memasang alat penghitung pada mesin packing pabrik rokok atau “counter”. Bahkan saat ini mesin-mesin pabrik rokok dapat didesain sehingga secara elektronik menampilkan jumlah produksinya dalam ukuran, pak, slop atau karton tergantung mana yang dikehendaki. Dengan demikian Bea Cukai cukup menyegel alat penghitung atau pencatat tadi agar jumlah produksi sebagai dasar perhitungan jumlah cukai yang harus dibayar tidak dimanipulasi. Demikian pula halnya dengan pabrik bir, dengan alat pencatat tadi petugas dapat mengetahui berapa botol/liter yang telah diproduksi. Teori intelijen ini adalah teori yang masih sangat sederhana katakanlah masih setingkat dengan teori siskamling atau pamskawarsa di kawasan perumahan atau pabrik. Tentu tidak semua pabrik rokok atau pabrik bir diperlakukan atau dilayani seperti itu, hanya kepada yang termasuk dalam white list tadi. Bahkan beberapa pabrik yang masih harus diawasi dengan sistim DOANE (Bea Cukai era tahun 60-an), yaitu menempatkan pegawai pencacahan hasil produksi di pabrik rokok atau pabrik bir.

BIDANG IMPOR
Dibidang impor dengan adanya pelayanan jalur prioritas dan jalur hijau ada baiknya pengawasannya melibatkan importir yang bersangkutan agar tidak disalahgunakan pihak-pihak yang tidak
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

67

KOLOM
bertanggung jawab. Caranya antara lain setiap kali melakukan importasi harus memberitahukan kepada unit pengawas/ intelijen bahwa barangnya telah sampai di tempat tujuan/ di gudangnya. Pemberitahuan itu dapat dalam bentuk SMS atau melalui fax misalnya. Demikian pula importir yang mendapat fasilitas KITE, importir di Kawasan Berikat dan Gudang Berikat. Risiko bagi Bea Cukai yang lebih tinggi sebenarnya terjadi di bidang ekspor karena hampir semua eksportasi dilayani dengan jalur hijau. Musuh intelijen Bea Cukai tidak seperti musuh militer yang bisa diperkirakan kekuatannya (jumlah personil, senjata, kendaraan, pesawat, kapal, logistik dan sebagainya) dan kemampuan tempur (kualitas persenjataan dan SDMnya), tetapi musuh Bea Cukai tidak terduga. Kenapa tidak terduga, bayangkan saja seseorang yang memiliki uang banyak tiba-tiba berangkat ke Singapura dan tergiur membeli permata berlian sebanyak setengah kilogram. Karena dia tau bahwa permata itu bea masuknya tinggi/mahal maka dia sembunyikan di badannya agar tidak terdeteksi oleh petugas Pabean. Pada awalnya orang tersebut tidak berniat untuk belanja apalagi berniat untuk menyelundup atau pekerjaannya memang bukan penyelundup tetapi hal itu dilakukannya. Dari seribu penumpang misalnya diantara mereka tidak satu pun musuh Bea Cukai atau hanya ada satu yang membawa narkotika, itulah musuh Bea Cukai, jadi tidak dapat diperkirakan. Berdasarkan contoh ini karena jumlah musuh tidak dapat diperhitungkan maka jumlah CIO yang diperlukan susah ditetapkan tetapi yang pasti adalah kualitas CIO harus melebihi intelijen bidang lainnya. Berbeda dengan organisasi intelijen yang bertujuan menanggulangi gangguan keamanan atau kriminal ringan, setelah mengetahui jumlah penduduk yang menganggur dan penyebaran serta karakteristiknya maka langsung dapat ditetapkan jumlah personil intelijen yang diperlukan bahkan pemecahaannya sekaligus yaitu siskamling tadi. Bayangkan hebatnya Amerika, tetapi tetap pusing mengawasi jalur narkotika antara San Diego (di USA) dan Tijuana (di Mexico). Sebagai gambaran, itu sebabnya menurut data tahun 2000 Bea Cukai Perancis dengan jumlah pegawai sekitar 17.000, lebih dari separuhnya bertugas di bidang pengawasan/intelijen. Jika dibandingkan dengan jumlah pegawai Bea Cukai Indonesia kurang dari 12.000, berapa yang bertugas di bidang pengawasan / intelijen? Biasanya separuh dari kekuatan intelijen bergerak di bidang pengumpulan informasi dan pembuatan laporan intelijen dalam berbagai tingkatan penugasan (strategis, operasional dan taktis) dan hanya sedikit yang bertugas di bidang analisis karena bidang analisis ini membutuhkan keahlian setingkat lebih tinggi dari petugas intelijen lainnya. 68
WARTA BEA CUKAI

Pada setiap tahap dalam siklus intelijen, hasil post seizure analysis, penyidikan, keputusan peradilan, bahkan selama pelaku dipenjara dan setelah selesai dipenjara, hasil audit, hasil verifikasi, hasil patroli, pengawasan penumpang dan sebaginya harus dibuat laporan intelijen. Disamping faktor RAT (relevan, akurat dan tepat), laporan intelijen juga harus memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan: l Periode laporan dan saat pelaporan (per-jam, hari, minggu, bulan, triwulan, semester, tahun atau perperistiwa/ kejadian atau obyek) l Klien yang berhak menerima (primer, sekunder) l Bentuk laporan (lisan/briefing/ debriefing, tertulis) l Media yang digunakan (buku laporan, HP, telepon, fax, disket, internet) l Cara penyampaian laporan (langsung, tidak langsung, normal, segera, sangat segera) l Keamanan laporan (berkaitan dengan penyadapan)

BAGAIMANA INTELIJEN YANG EFEKTIF DAN EFISIEN ?
l l

l

Klasifikasi laporan (biasa, rahasia, top rahasia) Pemusnahan dokumen laporan (dimusnahkan, disimpan berapa lama, diarsipkan) Tempat menyampaikan laporan (kantor, tempat tertentu, tempat transit/ drop area)

KLIEN PRIMER NO.1
Direktur Jenderal Bea dan Cukai sebagai klien primer no.1 menerima laporan intelijen melalui pejabat khusus yang ditunjuk untuk itu, biasanya disebut Kepala Intelijen Bea Cukai (KIBC). Jadi melalui satu pintu dan hanya menerima produk intelijen, bukan laporan intelijen seperti yang disebutkan di atas. KIBC tersebut ada pada tingkat Pusat, Wilayah dan Kantor Pelayanan. Laporan intelijen menggambarkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi bahkan kadang-kadang laporan tersebut sekaligus memuat risiko yang dihadapi pegawai pada setiap bagian yang berkaitan dengan obyek yang dilaporkan (misalnya penyalahgunaan fasilitas KITE). Laporan intelijen pabean tidak melulu dibidang penyelundupan tetapi intelijen juga melakukan analisis terhadap sisdur bahkan sebelumnya yaitu sisdur masih dalam bentuk draf surat keputusan, intelijen sudah harus bekerja dan mempelajari kelemahan draf tersebut dan melaporkannya kepada klien primer nomor 1. Jarang terdengar mengenai laporan intelijen yang menyangkut hasil analisis

intelijen terhadap sisdur barang impor yang mendapat fasilitas seperti fasilitas KITE, KB atau GB. Barang impor yang tujuannya tempat penimbunan milik yang mendapat fasilitas KITE, KB atau GB yang diselesaikan baru persyaratan pabean (dokumen yang dipersyaratkan) belum diselesaikan kewajiban pabeannya (BM +PDRI). Kalau kita menggunakan analisis intelijen dengan logika induktif maka perlu dibuat suatu laporan intelijen yang menyatakan bahwa seharusnya barang impor tersebut masih menjadi tanggung jawab pengangkut karena tujuannya belum merupakan wilayah peredaran bebas. Artinya pengangkut harus membawa barang tersebut ke tujuan akhir atau final destination sebagaimana selalu tercantum dalam B/L atau AWB. Jika laporan intelijen seperti ini disajikan kepada klien primer no.1 atau klien sekunder no.1 (Menteri Keuangan) dengan sendirinya klien tersebut mungkin akan menetapkan kebijakan/ sisdur bahwa importasi tujuan tempat-tempat tersebut diatas menjadi tanggung jawab pengangkut. Disamping itu laporan intelijen semacam ini tidak muncul karena tidak pernah ada laporan intelijen kepada kedua klien tersebut diatas mengenai apa yang telah terjadi dan kelemahan sisdur. Hasil analisis intelijen kadang-kadang, bahkan sering, menyimpulkan bahwa suatu peristiwa penyelundupan telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi lagi yang dilakukan oleh kelompok yang berbeda, lebih celaka lagi hasil analisis itu menyatakan dilakukan oleh kelompok yang sama dan berulang terus menerus namun tidak dibuatkan laporan intelijen tertulis kepada klien. Hal ini sebenarnya telah diatur ketentuannya dalam bentuk Nota Dinas, Instruksi dan Surat Keputusan Direktur Jenderal, tetapi nampaknya ketentuan tersebut yang ditujukan kepada para COI dan Kepala Intelijen Bea Cukai (Direktur, Kasubdit, Kabid dan Kasi ) tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Laporan CIO juga belum mencakup kinerja pejabat pelayanan di KPBC apalagi kinerja stakeholder yang berkaitan dengan kepabeanan dan cukai. Apakah seorang CIO mengerti dengan jelas mengenai proses pembuatan dan pengelolaan pita cukai? Laporan semacam ini juga tidak pernah kita dengar bagaimana pita cukai dikelola oleh pihak lain? Laporan yang ada berkisar tentang pemalsuan pita cukai yang mungkin tidak disertai analisis yang mendalam termasuk menjawab 5W+1H. Pemalsuan pita cukai merupakan kejadian yang selalu berulang. Laporan intelijen harus disampaikan secara periodik. Kalau saja CIO menyampaikan laporan intelijen secara periodik bahwa pabrik rokok yang disebutkan sebagai contoh diatas, mereka termasuk dalam white list dan sudah 25 tahun berpredikat seperti itu mungkin saja pengambil kebijakan mengambil

EDISI 381 AGUSTUS 2006

OPINI
keputusan bahwa hasil produksinya tidak perlu dilekati pita cukai tetapi cukup dibanderol oleh mereka sendiri sebagaimana diuraikan diatas. Kenapa laporan intelijen tidak berjalan? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dianalisa kembali yang berkaitan dengan: l Struktur organisasi l Uraian Tugas l Sisdur di bidang pengawasan (SOP) l Jumlah dan kualitas SDM (CIO)

Oleh: Hotmauli Simamora

BASIC TEST
Pembaca yang budiman (kecuali yang pernah mengikuti diklat intelijen) apabila mempunyai minat untuk mengembangkan bakat intelijen dipersilahkan menjawab basic test berikut: Anda bersama isteri Claudy (30 tahun) dan anak-anak anda, Jhon (5 tahun), Andrew (3 tahun), Grace (1 tahun) serta mertua laki-laki anda Philips (56 tahun) dan mertua perempuan anda Jenny (54 tahun). Anda dan keluarga anda tersebut bertamasya ke Danau Toba. Dalam tamasya anda tersebut semua sepakat untuk naik perahu dan berencana untuk mengelilingi Pulau Samosir. Di danau Toba biasanya tidak ada atau jarang sekali ada ombak, kalaupun ada, ombaknya tidak setinggi ombak di laut yang dapat menenggelamkan perahu sehingga perahu anda tidak dilengkapi dengan alat pelampung dan keluarga anda pun tidak mempersiapkannya karena pengalaman selama ini di Danau Toba tidak pernah terjadi sampai perahu terbalik karena ombak. Pada saat anda dan kelurga sedang asyik berlayar tiba-tiba datang angin kencang bertiup dan menimbulkan gelombang yang sangat tinggi. Sedikit beruntung karena jarak perahu dengan daratan belum terlalu jauh, tetapi apa mau dikata perahu yang anda tumpangi langsung terbalik dan kondisi yang menambah ketidakberuntungan anda karena hanya anda saja yang dapat berenang. Pertanyaan, dari enam keluarga anda tersebut, siapakah yang anda tolong pertama kali, kedua, ketiga dan seterusnya, berikan alasan masing-masing sesuai urut-urutan yang ditolong. Apabila anda dapat menjawab dengan tepat berarti anda termasuk orang yang mempunyai cara berpikir, mengambil keputusan dan bertindak secara logis dan sistimatis serta dapat menetapkan skala prioritas sebagai syarat utama untuk menjadi CIO. Dan kepada klien CIO, anggaplah tulisan ini sebagai laporan intelijen yang lebih dikenal dengan instilah INTREP (Intelligence Report). Selamat bekerja.

BIAYA PENDIDIKAN TINGGI,
Semangat Tetap Tinggi
P
beralasan, kita harus hidup sederhaemerintah usahakan anggaran na, jangan membuat teman-teman pendidikan 20% pada 2007. yang lain iri hati. Aku tersenyum membaca judul Apakah masa kecilku kurang berita di sebuah situs internet. bahagia? Wah masa kecilku sangat Pikiranku melayang ke masa belasan bahagia, tidak ada bukit atau sungai tahun silam, saat ayahku menekandi kotaku yang belum aku kunjungi. kan betapa pentingnya pendidikan Berenang di kali, memanjat pohon itu. Aku ingat kala itu, temanjambu sudah sering aku lakoni. temanku mengeluhkan tidak diberi Mainanku selalu disediakan oleh uang oleh orang tuanya untuk alam ini. Dan membeli buku sekarang aku pelajaran karena NEGARA-NEGARA merasa bersyutidak punya uang. kur sekali. Selain Aku sempat MAJU MENGRATISKAN Baby-G, Roller heran, karena di PENDIDIKAN UNTUK Blade, atau saat yang sama Tamagotchi, mereka memakai WARGANYA kebutuhan pendijam tangan Casio dikanku semuaBaby-G yang nya terpenuhi. Buku pelajaran yang lumayan mahal pada masa itu atau lengkap, pembayaran uang sekolah memiliki roller blade ataupun mainan atau uang kursus yang tidak pernah tamagotchi yang menjamur saat itu. terlambat. Sekali lagi aku tersenyum. Aku juga teringat kepada beberaBohong bila pada saat itu aku tidak pa teman kuliahku yang selalu sibuk menginginkan benda-benda seperti mencari pinjaman di saat pembaitu. Aku sangat menginginkannya, yaran uang semester yang kala itu apalagi aku tahu sekali orang tuaku Rp 600.000 per semesternya. memiliki kemampuan yang jauh lebih Namun, sekali lagi aku teringat pada dari itu. Tapi orang tuaku tidak gaya penampilan mereka yang selalu pernah mau memberikanku bendamengikuti tren mode saat itu, nonton benda seperti itu. Saat itu mereka
EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

Penulis adalah pensiunan pegawai Bea Cukai

69

OPINI MENGHARAPKAN PENDIDIKAN YANG MURAH BAHKAN GRATIS BUKANLAH HAL YANG SALAH...
bioskop (di kota besar, nonton bioskop itu cukup mahal), jalanjalan ke mall, makan di restoran cepat saji yang kalau aku hitunghitung minimal bisa mencapai Rp 100.000 tiap bulannya. Sungguh sebuah ironi. Aku sangat setuju dengan niat baik pemerintah untuk menaikkan anggaran pendidikan. Karena negara-negara maju mengratiskan pendidikan untuk warganya Namun demikian, bukankah setiap orang tua seharusnya sangat menginginkan anak-anaknya memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Apakah dengan mahalnya biaya pendidikan merupakan alasan pemakluman jika anakanak kita tidak bersekolah? Bila iya, sepertinya kita sudah mulai tergantung pada orang lain. Di suatu ketika, hatiku miris sekali melihat jajanan anak di beberapa Sekolah Dasar sekarang seperti nugget, sosis, dan sebagainya. Selain dikarenakan alasan kesehatan, bukankah bila ingin menghemat, mereka membekali anak-anaknya dengan makanan yang mereka buat sendiri. Sekali lagi, sungguh sebuah ironi. Pemerintah kita berusaha untuk terus menganggarkan lebih untuk sektor pendidikan. Mereka berharap terciptanya kecerdasan bangsa di bumi Indonesia tercinta ini. Sungguh niat yang mulia, apalagi jika didukung oleh masyarakat yang memiliki semangat juang yang tinggi. Mengharapkan pendidikan yang murah bahkan gratis bukanlah hal yang salah, namun apakah kita juga harus kehilangan semangat berjuang kita untuk mengenyam pendidikan yang tinggi? Terkadang tanpa kita sadari, di saat kita memprotes melangitnya biaya pendidikan, kita tidak mengajarkan pola hidup sederhana pada anak-anak kita. Ya, semoga saja kita tidak seperti itu.

Oleh: Julius Agung Prijono, SE

PENGHAPUSAN

ASSET

B

Penulis adalah pegawai pada SubDit OSPKC, Dit.IKC

Cukai yang ada di wilayah Kalimantan agi pegawai bea dan cukai yang Timur (KPBC Balikpapan, KPBC Sampernah bertugas di bagian arinda dan KPBC Bontang). umum / rumah tangga tentu perPelayanan impor dan ekspor terhanah mengalami bagaimana sibuknya dap Pertamina/ BP Migas di wilayah untuk mempersiapkan proses pengKalimantan Timur biasanya melalui hapusan asset (pelelangan asset) perusahaan-perusahaan pemegang terhadap barang-barang (asset) Kontrak Production Sharing seperti “inventaris” kantor yang sudah tidak Chevron (Unocal), Total, dan Vico layak pakai secara de jure meskipun Indonesia, meskipun ada juga sebagian secara de facto barang-barang transaksi yang langsung diurus oleh tersebut masih bisa berfungsi dan Pertamina/ BP Migas. bernilai ekonomis terutama bagi Pada prinsipnya importasi yang pihak lain di luar instansi Direktorat dilakukan oleh setiap perusahaan Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). pemegang Kontrak Production ShaDengan analogi proses penghapusring di bawah “otoritas Pertamina/ an asset pada direktorat kita, penulis BP Migas“ dibebaskan dari pungutan akan mencoba berbagi pengetahuan impor, selama dan pengalaman memenuhi tentang penghapersyaratan yang pusan asset pada KEJANGGALAN telah ditentukan. perusahaan peTerhadap ngelola asset neINILAH YANG barang-barang gara di bawah dimaksud, “otoritas” PertaMENJADI TEMUAN selanjutnya wajib mina (BP Migas) TIM AUDIT KAMI dipergunakan yang pernah pesemata-mata nulis alami ketika untuk kepentingan bertugas di Kanwil pertambangan minyak dan gas sesuai X DJBC Balikpapan selama melakukan kontrak antara mereka dengan audit pada salah satu perusahaan pemerintah (Pertamina/ BP Migas). pemegang Kontrak Production Sharing Selama barang-barang tersebut masih (KPS) perminyakan dan gas dengan dapat berfungsi sebagaimana mestinya Pertamina/ BP Migas (pemerintah) di dan “belum diserahkan kembali kepada wilayah Muara Badak - Kalimantan pemerintah (Pertamina/ BP Migas)”, Timur. mereka berkewajiban mutlak untuk Bagi Kantor Pelayanan Bea dan menyimpan, merawat serta mengadmiCukai (KPBC) yang menjadi tempat nistrasikan secara tepat. “Nyata sekali pelaksanaan impor maupun ekspor bahwa terhadap barang-barang Pertamina/ BP Migas, sudah pasti tersebut masih mengandung pungutan paham dengan fasilitas-fasilitas impor yang belum terpungut”. Oleh (kemudahan-kemudahan) prosedur dan sebab itu perlu dilaksanakan pengaproses impor dan ekspor yang dimiliki wasan terhadap kepatuhan prosedur Pertamina/ BP Migas. Demikian halnya tersebut melalui post clearance audit. dengan Kantor Pelayanan Bea dan

70

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

PROSEDUR
Secara sederhana proses penghapusan asset “negara” yang dikelola oleh Pertamina/ BP Migas dapat digambarkan sebagai berikut; Setiap perusahaan pemegang Kontrak Production Sharing (KPS) tunduk pada kebijakan yang ditetapkan secara standar/baku oleh Pertamina/ BP Migas tentang pengelolaan asset. Setiap perusahaan memiliki suatu divisi yang bertugas secara internal untuk mengelola asset yang “dikuasakan” Pertamina/ BP Migas kepada mereka, divisi tersebut diberi label Supply Chain Management (SCM). Salah satu tugas mereka adalah memantau pergerakan (mutasi) barangbarang yang dipakai dalam operasi pertambangan. Untuk setiap jenis barang yang tidak aktif selama kurun waktu lebih dari tiga tahun diajukan dalam daftar rencana penghapusan asset. Adapun penyebab tidak aktifnya barang-barang tersebut antara lain karena pada saat ini barang tersebut sudah tidak cocok lagi/ menjadi kurang efisien dibanding barang substitusinya. Untuk diketahui, tidak selalu barangbarang tersebut merupakan barang bekas, ada kemungkinan barang yang sama sekali baru belum pernah dipakai. Sebagai solusi untuk mengurangi pemborosan biaya merawat barang yang tidak bisa dipakai lagi, (sebagai gambaran, secara materil nilai dari barang-barang tersebut relatif besar, mencapai ratusan milyar bahkan mungkin bisa mencapai trilyun rupiah untuk satu perusahaan pemegang Kontrak Production Sharing) terhadap barang-barang seperti dimaksud, secara periodik oleh SCM diajukan proposal penghapusan asset kepada direksi. Secara prosedural, proposal penghapusan asset ini harus diketahui dan mendapat ijin dari Departemen Pertambangan dan Energi (sekarang Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral) dan Departemen Keuangan (Depkeu). Oleh sebab itu divisi SCM selalu mengirim data-data rencana penghapusan asset ini selain kepada Direksi yang bersangkutan juga mengirimkannya kepada Deptamben. melalui Pertamina (BP Migas) dan kepada Departemen Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara. Setelah semua ijin ini diperoleh, direksi memutuskan untuk “menghapus asset” dimaksud. Dengan terbitnya keputusan penghapusan asset, secara tertulis perusahaan pemegang Kontrak Production Sharing tidak lagi memiliki hak maupun wewenang atas asset tersebut. Selanjutnya wewenang, hak maupun kewajiban atas barang tersebut menjadi tanggung jawab Pertamina/ BP Migas sepenuhnya.

PENGAWASAN
Sebenarnya tugas pengawasan instansi kita pada point ini terasa menjadi lebih mendesak, karena terhadap barang-barang yang telah dihapuskan, kemungkinan untuk dipakai selain untuk tujuan sebagaimana dipersyaratkan dalam Master List Impor, menjadi sangat terbuka. Barang-barang tersebut tidak lagi dicadangkan untuk keperluan “proses produksi“ pertambangan minyak dan gas. Kondisi yang terjadi di lapangan selanjutnya adalah penanggung jawab divisi SCM membuat berita acara penyerahan barang yang ditandatangani bersama-sama, antara pihak yang menyerahkan dan pihak yang menerima barang, dan Pertamina/ BP Migas sebagai pihak yang mengawasi serta mengetahui. Dimana pihak yang menyerahkan barang

SECARA DE JURE ASSET YANG TELAH DIHAPUSKAN TIDAK LAYAK PAKAI LAGI, NAMUN SECARA DE FACTO BANYAK SEKALI PIHAK LAIN YANG TERTARIK UNTUK MEMILIKINYA KARENA SANGAT BERNILAI EKONOMIS
berstatus sebagai penjual ( adalah KPS ) dan pihak penerima barang adalah pihak ketiga yang berstatus sebagai pembeli atau penerima hibah, sama sekali bukan mewakili pemerintah. Kejanggalan inilah yang menjadi temuan tim audit kami terlebih atas transaksi jual beli ini tidak dilaporkan kepada KPBC setempat untuk diperhitungkan pungutan impornya yang masih “belum terpungut”. “Secara de jure asset yang telah dihapuskan tidak layak pakai lagi, namun secara de facto banyak sekali pihak lain yang tertarik untuk memilikinya karena sangat bernilai ekonomis”. Ijin yang diberikan oleh Departemen Keuangan (induk dari DJBC) merupakan ijin untuk menghapuskan asset bukan ijin untuk memberikan pembebasan pungutan impor atas penjualan asset. Salah satu klausul dalam ijin yang diberikan Depkeu (Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara) menyebutkan bahwa proses penjualan asset tersebut harus sesuai dengan prosedur Kepabeanan. Sesuai pasal 27 dari Keputusan

Bersama Menteri Pertambangan Dan Energi, Menteri Keuangan dan Menteri Perindustrian Dan Perdagangan No 1122.K/92/M.PE/1997; 321/KMK.01/ 1997 dan 251/MPP/Kep/7/1997 tanggal 18 Juli 1997 tentang Tatacara Dan Penyelesaian Impor Barang Yang Dipergunakan Untuk Operasi Pertambangan Minyak Dan Gas Bumi Dan Pengusahaan Sumberdaya Panas Bumi menyatakan bahwa “Hibah atau penjualan oleh Pertamina kepada pihak lain atas Barang Operasi Golongan I, dikenakan Bea Masuk dan Pajak dalam rangka impor sesuai ketentuan yang berlaku”. Untuk periode 1 Januari 2000 - 31 Mei 2004 nilai tambah bayar yang harus dilunasi oleh Vico Indonesia Co. (Pertamina/ BP Migas) sebagai akibat adanya penjualan asset yang telah dihapuskan mencapai lebih dari 116 milyar rupiah. Di seluruh wilayah Indonesia ini BP Migas membawahi puluhan perusahaan pemegang Kontrak Production Sharing (KPS). Secara baku proses penghapusan asset ditetapkan seragam seperti uraian di atas. Vico Indonesia Co. merupakan perusahaan pertama yang terungkap penjualan assetnya, bagaimana dengan KPS yang lainnya dengan nilai asset yang relatif lebih besar nilainya dibanding dengan Vico Indonesia Co. ? Berpijak dari pemikiran ini, menurut hemat penulis ada “wilayah kerja baru” yang memang menjadi wewenang kita dan selama ini belum pernah kita kerjakan karena data dan informasinya sama sekali tidak sampai ke direktorat kita. Kerjaan baru itu adalah : 1. Pelayanan penjualan asset BP Migas, dimana transaksi ini rutin terjadi secara periodik. Pelayanan ini diperlukan untuk menghitung dan menetapkan pungutan impor (persepsi Bea dan Cukai) yang harus dibayar. Barangkali data dan laporannya bisa disampaikan secara terpusat melalui Sub.Dit Pertambangan Kantor Pusat DJBC oleh BP Migas untuk mendapatkan petunjuk teknis perhitungan pungutan impornya berkaitan dengan adanya kemungkinan penyusutan nilai barang, sedangkan penerimaan pungutan impornya tetap melalui KPBC setempat. 2. Pengawasan penjualan asset BP Migas, baik melalui bidang P2 maupun bidang Audit, mengingat besarnya nilai asset yang dijual diperlukan pengawasan yang lebih intensif, untuk itu perlu kiranya pengawasan ini dimasukkan dalam SOP secara baku.

Penulis adalah Pegawai pada KPBC Tipe A Gresik
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

71

SELAK CATATAN KECIL DARI WEST BORNEO

Kota Khatulistiwa
Secara estafet kami singgah dari satu kota ke kota lain dari Indonesia sampai ke Malaysia, mulai dari jalan tikus sampai jalan mulus menuju negara tetangga Malaysia. Meski istirahat kurang, tetapi semangat kami mengalahkan rasa lelah karena kurang tidur. Barulah setibanya di Jakarta, rasa lelah yang amat sangat benar-benar kami rasakan.

P

TUGU KHATULISTIWA. Monumen ini pertama kali dibangun pada 1928 oleh tim ekspedisi Astronomi dari negeri Belanda.

ontianak merupakan ibu kota propinsi Kalimantan Barat, dari kota ini pula kisah perjalanan kami dimulai. Kami, Bambang Wicaksono (Koresponden WBC) dan Aris Suryantini (Redaktur WBC), mendarat di Bandara Supadio pagi hari ketika waktu masih menunjukkan pukul 07.20 WIB setelah satu jam penerbangan dari Jakarta, Senin 29 Mei 2006. Dari bandara kami harus menempuh jarak sekitar 20 km untuk tiba di pusat kota. Tidak sehijau seperti yang terlihat dari atas pesawat, jalan menuju pusat Pontianak bahkan terlihat gersang dengan hamparan ilalang di beberapa sisi jalan. Kota yang terkenal dengan sebutan kota Khatulistiwa memiliki populasi sekitar 600 ribu penduduk dengan komposisi 30 persen etnis Tionghoa, 30 persen Dayak, 30 persen Melayu dan 10 persen etnis lainnya seperti Jawa, Madura, Bugis, dan lain sebagainya. Untuk mengakomodasi kultur yang beragam banyak, arsitektur bangunan pemerintahan di kota ini memadukan rumah panjang yang merupakan rumah tradisional Dayak dengan pilar-pilar rumah panggung Melayu. Contohnya bisa dilihat pada kantor gubernuran. Sepanjang mengunjungi tempat-tempat tujuan untuk melakukan tugas wawancara, kami selalu ditemani Pak Memed, pegawai Kanwil IX DJBC Pontianak, mulai ke Sintete, Entikong sampai hari terakhir kami di Pontianak. Dan disetiap sisi kota yang menarik untuk disinggahi Pak Memed selalu menunjukkan dan mengajak kami singgah sejenak sambil mengabadikan momen lewat foto. Dalam perjalanan tersebut, kami berkesempatan mengunjungi Monumen Tugu Khatulistiwa. Tugu ini merupakan tanda bahwa Pontianak tepat berada pada garis 0 derajat yang membelah bumi

72

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

bagian utara dan selatan. Monumen ini pertama kali dibangun pada 1928 oleh tim ekspedisi Astronomi dari negeri Belanda. Pada 1938 monumen ini dibangun kembali menggunakan kayu ulin setinggi 4,2 meter oleh arsitek Opzichter Silaban. Selanjutnya untuk melindungi monumen tersebut, pada 1990 dibangun monumen baru yang terbuat dari semen di luar bangunan setinggi 17 meter. Monumen terdiri dari empat tiang dengan lingkaran bumi dan panah yang menunjukkan arah mata angin di puncaknya. Menurut tradisi, festival bumi khatulistiwa selalu diadakan di lokasi ini setiap 2123 Maret atau 21-23 September. Perayaan ini merupakan agenda tahunan pemerintah Pontianak bertepatan dengan terjadinya fenomena alam di mana pada tanggal tersebut semua bayangan menghilang beberapa saat tepat pukul 12.00WIB. ketika matahari tepat di atas kepala. Sayangnya di sekitar tempat tugu tersebut kurang terawat padahal merupakan salah satu asset tujuan wisata, dimana beberapa meter di depan juga nampak indahnya aliran Sungai Kapuas yang dilalui kapal dan perahu nelayan. Malam hari di kota Pontianak nampak ramai. Kedua sisi jalan Gajah Mada, jalan utama kota ini, bisa jadi pilihan. Sejak sore hari jalan ini ramai dipenuhi oleh kedai penjual makanan mulai dari makanan China, penjual buah, seafood, minuman segar, roti bakery, serta jajanan lain. Kedai-kedai tersebut baru tutup pada pukul 23.00 atau bahkan lebih malam, tergantung pengunjungnya.

BERSAMA CAMAT SEKAYAM di batas Sungai yang memisahkan batas negara Indonesia-Malaysia. .

SINGGAH DI KOTA ‘SERIBU KUIL’
Kali ini tujuan kami adalah KPBC Sintete. KPBC Sintete merupakan kantor pelayanan di bawah Kanwil IX Pontianak. Perjalanan dimulai pukul 07.30 pagi pada Selasa, 30 Mei 2006 dari Hotel Kapuas Palace tempat kami menginap. Ditemani oleh pegawai KPBC Pontianak, Memed kami melintas di atas Sungai Kapuas, Sungai terpanjang di Indonesia, dengan airnya yang coklat. Perkebunan kelapa sawit dan jeruk khas Pontianak menjadi pemandangan yang menemani perjalan kami. Jalan antar kota yang membentang tidaklah selebar dan seramai di pulau Jawa. Hanya sesekali kami berpapasan dengan kendaraan roda dua atau empat. Perjalanan Pontianak–Sintete dapat ditempuh dalam waktu empat jam dengan kendaraan pribadi atau lima jam dengan bus umum melalui Singkawang. Sebelum memasuki kota Singkawang terbentang Pantai Pasir Panjang dengan pasir putihnya dan nampak pulau-pulau kecil di lepas lautnya yang merupakan perairan Laut Cina Selatan. Selesai melakukan tugas ke KPBC Sintete, malamnya kami menginap di Hotel Khatulistiwa di Kota Singkawang yang berjarak kurang lebih 40 km dari Sintete. Kota Singkawang terkenal dengan julukan Kota Seribu Kuil, kota kecil dengan 60 persen penduduknya beretnis

Tionghoa. Nama Singkawang diambil dari bahasa Cina ‘Shan Keu Jong’ yang berarti lembah subur yang dialiri sungai dan diapit laut serta gunung sesuai dengan kondisi geografisnya. Untuk memudahkan pengucapan akhirnya nama itu menjadi Singkawang. Julukan kota ini adalah kota seribu kuil, tidak mengherankan karena dengan luas hanya 54.000 ha, Singkawang memiliki lebih dari 600 kuil yang tersebar di seluruh kota. Menyandang slogan Anchiang yang dalam bahasa Cina berarti cantik, kota ini terlihat begitu bersih dengan nuansa Cina kental yang terasa dari bangunan rukoruko tua di sepanjang jalan. Kuil tertua , Tri Darma Bumi Raya, terletak tepat di pusat kota. Kuil ini menjadi pusat perayaan harihari besar masyarakat Tionghoa seperti imlek dan cap go meh. Pesta terbesar kota singkawang terjadi

saat perayaan Cap Go Meh yang dilakukan lima belas hari setelah tahun baru Imlek. Perayaan Cap Go Meh Singkawang sangat khas dan tidak bisa ditemukan di tempat lain. Tak heran jika banyak orang Tionghoa perantauan dari daerah lain bahkan negara lain datang khusus untuk perayaan ini. Kalau di Jakarta atau kota besar di Indonesia lainnya kita lebih sering melihat orang Tionghoa berkulit putih dan bergaya trendi dengan telepon selular terbaru hilir mudik di mall, jangan kaget di Singkawang anda menemukan orang Tionghoa dengan kulit coklat pekat terlihat mencangkul di ladang. Awal kedatangan mereka di Singkawang menurut sejarah dimulai sejak abad XVI karena daerah ini dikenal sebagai penghasil emas. Kemudian mereka mendulang emas di sini dan menguasai perekonomian kota.
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

SAAT BERADA DI SINGKAWANG, salah satu kuil terbesar di kota seribu kuil bernama Kuil Sebakau. EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

73

SELAK
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

DI POS PLETON LINTAS BATAS, sesaat akan melanjutkan perjalanan ke lokasi pengukuran.

Namun akibat perdagangan candu, terjadi penurunan moral yang mengakibatkan pengaruh kepada perekonomian mereka. Untuk melanjutkan kehidupan, banyak dari mereka yang kemudian beralih profesi menjadi petani, peternak, pedagang serta membuat keramik. Seperti di daerah Sekok setengah kilometer arah selatan Singkawang, anda akan menjumpai pengrajin keramik tradisional yang masih menggunakan tungku api pembakarannya dengan lukisan dan desain bergaya cina. Namun begitu keramik berhuruf arab atau kaligrafi juga diproduksi oleh para pengrajin. Pasir Pantai Panjang yang telah kami lewati sebelumnya sesuai namanya Pantai Pasir Panjang memiliki garis Pantai yang mencapai 20 km dengan pasir putihnya. Pantainya yang landai membuatnya menjadi tempat yang cocok untuk berenang. Sayangnya abrasi yang belakangan terjadi membuat pantai nampak tidak terawat. Untuk yang menyukai olah raga menyelam, pulau Randaian yang terletak tak jauh dari pantai bisa dijadikan tujuan. Atau sekedar menikmati matahari terbenam, gazebo yang menjorok ke pantai juga bisa menjadi pilihan.

makan malam bersama, selanjutnya kami beristirahat di penginapan. Kami ingin memulihkan tenaga dan fisik setelah seharian melakukan perjalanan supaya keesokan harinya kondisi kami fit kembali karena, sebab dalam perbincangan kami dengan Kepala KPBC Entikong, Eisenhower, bahwa besok pagi kami akan diajak melihat perbatasan yang rencananya juga akan dilakukan pengukuran tanah untuk lokasi pembangunan pos lintas batas di Segumun. Pagi hari, Kamis, 1 Juni pukul 08.30 WIB kami beserta rombongan yang dipimpin Kepala KPBC Entikong,

Eisenhower melakukan perjalanan ke Segumon menempuh waktu kurang lebih 2 jam. Dalam perjalanan ini rombongan pertama, menggunakan mobil jenis ranger gardan ganda yang dalam istilah orang Malaysia disebut mobil ‘setengah jadi’ dan tiga buah motor trail. Dalam kendaraan pertama ditumpangi empat orang, masingmasing, Eisenhower, Sumadi Haryoko (Camat Segumon), Aris Suryantini dan pengemudi, Sedangkan rombongan kedua menggunakan kendaraan jenis troper terdiri dari Bambang Wicaksono, Ahmad Taufik ( Kasi Pabean ), Susila Barata (Kasi Pabean ), Pontas Aritonang ( Kasubbag. umum ), Abeng ( Kasi P2 ), dan petugas dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) serta beberapa pegawai yang menggunakan motor trail. Di tengah jalan, kami bertemu rombongan mobil kedua yang ternyata mengalami kerusakan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Mau tidak mau akhirnya mobil harus diganti. Mobil pertama tiba di Pos Lintas Batas (Poslinbas). Di pos kami bertemu dengan Komandan Pleton Lintas Batas (Dantonlinbas), Lettu Sugino dengan 20 anak buahnya yang mendapat gilir tugas di poslinbas setiap tiga bulan sekali. Kami menunggu kedatangan mobil kedua, tetapi tidak kunjung tiba. Setelah kurang lebih 1 jam menunggu akhirnya mobil kedua tiba, kali ini mobil diganti dengan jenis Toyota jep Hardtop yang dikendarai ‘Pak Cik’ begitu rekan-rekan pegawai memanggilnya. Setelah semua rombongan tiba, kami selanjutnya makan siang bersama. Kami memakan dengan lahapnya nasi kotak yang telah dipersiapkan sebelumnya. Suasana penuh keakraban berbaur menjadi satu antara aparat bea cukai dengan anggota TNI Tonlinbas. Selesai makan siang, kami bersama dengan Dantonlinbas berangkat ke lokasi
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

MENEMBUS BATAS NEGARA MELALUI ‘JALAN TIKUS’
Setelah bermalam di Singkawang, esok harinya Rabu 31 Mei pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuan kami adalah Entikong yaitu wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih enam jam melalui darat dengan jarak tempuh sekitar 400 km, akhirnya kami sampai, tepatnya pukul 17.15 WIB . Setelah melakukan wawancara dan 74
WARTA BEA CUKAI

SELESAI PENGUKURAN TANAH, kami semua berpose mengabadikan momen bersejarah ini karena akan dibangun pos pengawasan untuk para pelintas batas.

EDISI 381 AGUSTUS 2006

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

pengukuran tanah tempat lokasi akan didirikan Pos Pengawas Segumun yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer dari Poslinbas. Sedangkan Jarak antara KPBC Entikong dangan lahan Pos Segumon kurang lebih 75 km dengan waktu tempuh satu setengah jam. Tapi jalan yang dilalui tidak dapat dilewati oleh sembarang kendaraan karena medan yang sangat berat karena banyak lubang dan tanah berlumpur. Jadi hanya kendaraan jenis double gardan dan motor trail yang mampu menembusnya. Kawasan Segumun, sebagian besar adalah hutan-hutan, bayangkan jika Pos Pengawasan Bea dan Cukai nantinya sudah berdiri dan ditempatkan pegawai antara 3-4 orang di sana, kesunyian dan suara jangkrik saja yang menemani mereka, sesekali para pelintas batas melewati jalan itu. Namun memang sudah menjadi konsekuensinya, siap tidak siap mau tidak mau pegawai bersedia ditempatkan dimana saja, termasuk di tengah hutan belantara. Segumun merupakan desa yang terpencil di bawah Kecamatan Sekayam. Penduduknya rata-rata bekerja sebagai petani dan pedagang kecil. Rumah-rumah penduduk kebanyakan dari kayu dan beratap seng, listrik hanya dibantu dengan genset karena PLN belum masuk. Segumun merupakan daerah perbatasan langsung dengan Mongkos,SerawakMalaysia. Perbatasan kedua negara hanya dipisahkan aliran sungai kecil yang lebarnya hanya satu meter. Hubungan warga Segumun dengan warga Mongkos (Malaysia) sangat erat, selain ada hubungan kekerabatan juga hubungan perekonomian perdagagangan. Hubungan kekerabatan di antara mereka diwujudkan dengan tradisi perayaan Gawai yang merupakan ungkapan rasa syukur setelah keberhasilan masa panen. Pada perayaan Gawai masyarakat kedua batas negara saling mengunjungi. Hubungan mereka dilakukan dengan menembus perbatasan, baik dengan motor atau jalan kaki melalui jalan tikus. Jalan tikus ini berjarak kurang lebih 5 km dengan dikelilingi pepohonan yang lebat dan jalan tanah yang berlumpur, licin dan banyak celukan-celukan yang bisa membenamkan ban motor. Karena rasa ingin tahu dan penasaran kami dan beberapa rekan antara lain Susila Brata, Ahmad Taufik, P. aritonang, Tri Novian,Riyanto,Kusmayana,Nanda, Ageng dan Tri Nugroho, akhirnya mencoba menaklukkan jalan tikus tersebut dengan motor trail melewati medan yang berat, tidak jarang kami harus turun dan terperosok dari kendaraan. Bahkan teriakan-teriakan rekan Aris Suryantini spontan keluar dari mulutnya karena nyaris terpeleset melewati jalan tanah yang licin. Dengan penuh perjuangan dan kelelahan, kami akhirnya tiba di Kampung Mongkos, Serawak Malaysia. Di Mongkos, kami sempatkan rehat sejenak dengan minum di kedai terdekat.

MENUNTUN MOTOR DAN TERPELESET kerap kami alami untuk ke Mongkos Malaysia.

Di kedai itu kami diminta untuk menuliskan nama kami dalam buku terima tamu satu persatu. Ternyata itu ada tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kedai ini telah dikunjungi warga dari negara seberang dan untuk penilaian dinas pariwisata di Mongkos bahwa kedai ini ramai dikunjungi dan menjadi salah satu tujuan wisatawan. Di kedai, kami minum dan sesekali bergurau, bahkan gurauan-gurauan Pontas Aritonang dan Susila Brata menyemangati kami supaya pulang kembali ke Segumun kami semua masih dalam kondisi bersemangat. Tidak terasa hari telah menunjukkan pukul 16.00 WIB atau 17.00 Waktu Malaysia (perbedaan satu jam) dan telah ditunggu oleh tim pengukuran pos Segumun. Akhirnya kami kembali dengan oleholeh pakaian dan sepatu penuh noda Lumpur. Pulang ke Segumun pun bukannya tanpa perjuangan, karena kami harus melewati jalan semula. Dengan Noda Kotor yang melekat kami banyak dapat pembelajaran berpetualang. So….Noda Kotor…siapa takut ?! Meski pakaian kotor dan semua anggota rombongan tampak lelah, tetapi semuanya gembira. Untuk menghemat waktu, karena

hari mulai malam, Eisenhower memerintahkan rombongan langsung ke rumah makan. Lucu juga, ibarat pasukan pulang dari perang, kami makan dengan lahapnya sambil mengeluarkan celetukan-celetukan lucu menceritakan kembali petualangan kami tadi, meski sepatu dan pakaian kotor. Bahkan sempat ada pengunjung rumah makan terheran-heran melihat penampilan sepatu-sepatu kami yang dihiasi lumpur yang telah mulai mengering. Waktu menunjukkan pukul 20.15 ketika WBC tiba di penginapan diantar semua rekan-rekan. Tak terasa, kami berdua telah memulai aktifitas padat dan menantang mulai pagi hingga malam. Maka tak heran, sampai di penginapan, rasa lelah dan mengantuk mulai menghinggapi. Dan tidak buangbuang waktu, setelah membersihkan badan dari lumpur dan menunaikan sholat, saya langsung tidur sampai pulas untuk mengumpulkan tenaga supaya besok harinya tenaga sudah pulih untuk melanjutkan perjalanan ke Kuching Malaysia.

Bambang Wicaksono/Koresponden Surabaya
WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

75

PROFIL

Efratha Simanjutak
KEPALA KPBC TIPE A SURAKARTA

“ ...Hadapi Kritikan
Dengan Perilaku yang Baik... ”
idak pernah terlintas dipikirannya ketika itu, jangankan jadi pegawai Bea Cukai, cita-cita pun ia akui tidak terpikirkan bahkan sampai tamat SMA. Efratha Simanjuntak, tokoh profil kita kali ini, ketika itu hanya berpikir bagaimana bisa membantu ibunya untuk membiayai kehidupan ia dan adik-adiknya setelah ayahnya meninggal pada akhir tahun 1971, tepat setelah ia menamatkan SMA di Tasikmalaya. “Ayah saya seorang tentara dengan pangkat rendah, sementara anak-anak beliau jumlahnya tujuh orang, jadi setelah saya tamat SMA saya tidak terpikir untuk melanjutkan sekolah atau bekerja, pokoknya yang ada dipikiran saya adalah membantu ibu saya membesarkan anakanaknya, karena ayah saya meninggal ketika saya lulus SMA” ujar anak kedua dari tujuh bersaudara. Dalam perjalanan hidupnya, Efratha demikian panggilannya, mengaku cukup prihatin, sampai akhirnya sebuah iklan harian yang juga terbit di kota Tasikmalaya tempat dimana ia menghabiskan masa kecilnya hingga remaja mengubah jalan hidupnya. Tanggal terbit koran itu masih diingatnya, yaitu 23 Desember 1971. Di koran tersebut memuat pengumuman yang mengusik hatinya. Pengumuman tersebut ternyata beisi pembukaan penerimaan mahasiswa baru di Institut Ilmu Keuangan (IIK) di Jakarta. Hal itulah yang membuka pikirannya dan memacunya untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai IIK dari berbagai sumber. “Saya baru tahu dari koran bahwa IIK ada ikatan dinasnya, saya langsung tertarik dan mempersiapkan segala sesuatu untuk mendaftar di IIK. Terus terang saja itu yang membuat saya tertarik masuk IIK,”ujar Efratha yang kini menjabat sebagai Kepala KPBC Tipe A Surakarta.

Ditengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai pegawai negeri sipil, tidak membuatnya lupa memantau perkembangan pendidikan anak-anaknya, karena menurutnya pendidikan adalah investasi tak ternilai.

T

MENJADI KOPAT DI TBK
Masih jelas diingatan awal dirinya 76
WARTA BEA CUKAI

menuju Jakarta untuk mendaftar di IIK. Setelah merayakan Natal bersama keluarga, pada malam harinya ia pergi menuju Jakarta untuk mendaftar kuliah di IIK. “Karena saya takut telat mendaftar, jadi saya putuskan untuk pergi ke Jakarta pada malam hari 25 Desember setelah merayakan natal bersama keluarga,”ujar Efratha kembali. Orang tua ketika itu hanya bisa merestui saja keberangkatannya ke Jakarta tepat pada hari Natal, dengan harapan agar ia bisa lulus tes dan diterima di IIK. Setelah menempuh perjalanan selama 12 jam dari Tasikmalaya ke Jakarta ketika itu, sampailah ia di Jakarta dan tinggal bersama salah seorang kerabat tempat ia menumpang di Jakarta. Mereka turut gembira dan mendukung keinginan Efratha untuk masuk IIK. Berbagai masukan ia dapatkan termasuk saat memilih jurusan di IIK. Ketika itu ia berminat masuk jurusan akuntansi karena jurusan itu yang paling banyak peminatnya selain jurusan, Bea Cukai, Pajak dan Perbendaharaan. Namun keinginannya untuk masuk jurusan akuntansi berubah setelah pamannya memberikan masukan bahwa Bea Cukai adalah jurusan yang bagus selain jurusan yang ada. Pamannya yang anggota TNI AL sering bergaul dan banyak mempunyai kenalan pegawai Bea Cukai. Setelah mendapat masukan dari sang paman, Efratha pun mencoba mendaftar pada jurusan Bea Cukai. Serangkaian tes harus dilalui, mulai dari tes ilmu pengetahuan, psikologi sampai pada test fisik yang kesemuanya itu dapat ia lalui dan mengantarkannya ke bangku kuliah di IIK. Ketika ia dinyatakan lulus dan diterima pada jurusan Bea Cukai, sempat terlintas di pikirannya apakah ia mampu mengikuti kuliah mengenai Bea Cukai mengingat ia tidak mengetahui secara mendalam mengenai Bea Cukai. Yang ia tahu ketika itu Bea Cukai adalah Duane yang betugas di pelabuhan. Berkat tekad dan keinginan

untuk bisa menguasai mata kuliah dibarengi dengan ketekunan dan keseriusan belajat, akhirnya ia bisa mengalahkan semua keraguan, hingga akhirnya bisa lancar mengikuti perkuliahan dan menamatkan sarjana muda IIK. Setelah lulus Sarjana Muda tahun 1975, penempatan pertamanya ketika itu adalah di Tanjung Balai Karimun (TBK) sebagai Komandan Patroli (Kopat) yang bertugas melakukan patroli di wilayah laut antara perbatasan Indonesia dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura. Tugas sebagai Kopat ia jalani walaupun ketika itu ia berusia 23 tahun sementara para Anak Buah Kapal (ABK) terbilang berusia diatasnya. Walaupun ia memiliki para ABK yang sudah lama melaut, namun Efratha dapat bergabung dan menyesuaikan diri dan bekerjasama dengan mereka dalam menjalankan tugas patroli, walau pada awalnya masih ada ABK yang bisa dibilang tidak peduli. “Walaupun awalnya ada ABK yang cuek, tapi pada akhirnya kami bisa bersama dan menjalankan tugas patroli,” kenang Efratha. Menjadi Kopat adalah pengalaman pertamanya bertugas di lingkungan Bea Cukai, Efratha mengisahkan, karena jabatannya sebagai kopat, ia berhak menggunakan senjata api tipe FN, “Waktu saya bertugas pertama kali, saya mendapat pistol. Tapi rasanya gak pantas, karena badan saya kurus, jadi kalau ada pistol di pinggang rasanya badan saya miring ke kiri, mungkin karena pistolnya lebih berat dari berat badan saya,”seloroh Efratha. Setelah 1,5 tahun bertugas di TBK, Efratha kemudian mendapat tugas belajar lagi di IIK untuk program sarjana yang berhasil ia tamatkan pada tahun 1980.

JATUH BANGUN DI BANJARMASIN
Setelah menamatkan kuliah program sarjana di IIK, Efratha langsung membuat komitmen untuk hidup bersama dengan

EDISI 381 AGUSTUS 2006

EDISI 381 AGUSTUS 2006

WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
DOK. PRIBADI

BERSAMA KELUARGA. Berdiri dari ki-ka, Jesse, Efratha, Albert. Bawah ki-ka. Embun, Marlene

Marlene, wanita pilihannya dalam ikatan perkawinan yang dilakukan di Jakarta pada 1980. Ia mengisahkan hubungannya dengan Marlene sudah berlangsung cukup lama, yaitu semenjak ia masuk IIK. Hubungan jarak jauh sempat mereka jalani selama satu tahun lebih, tepatnya ketika Efratha mendapat tugas sebagai kopat di TBK, sementara Marlene di Jakarta. “Dulu kami sempat tidak pernah ketemuan selama satu tahun karena jarak kami yang berjauhan, mau telepon ketika itu belum ada sambungan langsung jarak jauh seperti sekarang, jadinya kami suratsuratan aja,” kenang Efratha mengisahkan hubungannya dengan Marlene ketika itu. Tidak lama setelah mereka menikah, Efratha mendapat promosi sebagai Kepala Seksi di Kanwil Banjarmasin (dulu Kantor Inspeksi Bea dan Cukai). Mau tidak mau ia langsung memboyong istrinya

ke Banjarmasin untuk turut serta bersamanya. Di Banjarmasin lah anak pertama mereka Albert lahir pada 25 September 1982, sehingga lengkaplah kebahagian mereka sebagai pasangan muda. Dinamika menjalankan bahtera rumah tangga dan pekerjaan juga ia rasakan disana. Ia mengatakan sebagai pasangan muda, tidak jarang suatu permasalahan harus mereka hadapi bersama dan dicari jalan keluarnya, mulai dari permasalahan besar sampai masalah kecil, semua ia hadapi bersama dengan sang istri tercinta dan jarang melibatkan sanak saudara untuk diajak membantu memecahkan masalah selain mereka berdua. Dari sana ia yakin bahwa Tuhan itu memang adil dan sayang kepada mereka, karena mereka harus menjalani kehidupan yang telah digariskan Tuhan dan menghadapinya dengan penuh keikhlasDOK. WBC

an. Selang dua tahun kemudian satu kebahagian lagi mereka dapatkan yaitu lahirnya putra kedua yang mereka namakan Jesse. Lahirnya kedua anak mereka di sana bisa dibilang suatu kebahagiaan baginya ditengah dinamika kehidupan yang mereka hadapi. “Terus terang Banjarmasin mempunyai kesan tersendiri buat saya, disamping saya mendapat anugrah dari Tuhan atas lahirnya kedua putra kami, di Banjarmasin itu pula-lah saya bersama dengan istri dan anak-anak jatuh bangun menjalani kehidupan,”papar Efratha. Selain pernah bertugas di Banjarmasin perjalanan karir Efratha sebelum ditempatkan di Surakarta iapun pernah bertugas di Balikpapan, Kediri, Jakarta dan Medan. Banyak pelajaran yang dipetiknya dalam kehidupan yang ia jalani bersama keluarga. Berbagai dinamika yang ia hadapi tersebut menuntutnya menjadi seorang yang sabar dan belajar lagi untuk menjadi orang berhasil baik dalam kehidupan maupun juga dalam berkarir. Efratha mengatakan dalam menjalani kehidupannya tidak usah terlalu ambisi untuk mengejar sesuatu yang sifatnya duniawi. “Toh kalau kita sabar dan menjalani kehidupan dengan wajar yang namanya rejeki duniawi akan kita dapatkan, tinggal bagaimana kita mencarinya. Terlalu ambisi juga tidak baik karena itu menyebabkan stres yang berujung pada menurunnya kesehatan fisik dan psikis,”ujar penggemar olahraga joging dan renang. Sedikit berfilosofi, ia mengatakan, “Tuhan telah mengatur rejeki masing-masing umat Nya, bahkan burung pipit yang terbang di udara, yang tidak menanam dan tidak menuai bahkan juga tidak mempunyai lumbung, masih diberi kehidupan oleh Tuhan, konon pula manusia,” Prinsip itulah yang kemudian ia jadikan “referensi” dalam menjalani kehidupan.

BAHU MEMBAHU
Dalam menjalankan tugasnya, Efratha selalu menghargai masukan dari para staf untuk membantunya menjaga kelancaran tugas institusi di kantor yang dipimpinnya. Menurutnya staf adalah ujung tombak dalam menjalankan tugas, dan tidak bisa semua pekerjaan kepabeanan dan cukai ia jalankan sendiri tanpa adanya dukungan dari para staf. “Kepala kantor atau pejabat lainnya tidak akan mungkin menguasai seluruh aturan mengenai Kepabeanan dan Cukai yang jumlahnya begitu banyak. Terkadang salah satu staf menguasai suatu permasalahan dan mampu memecahkannya, sehingga masukan dari para staf sangat berarti dan saya sangat menghargai pekerjaan dari para staf saya, walaupun keputusan akhir tetap berada ditangan saya,”ujar Efratha. Ia juga menceritakan mengenai penanganan bantuan dari luar negeri ke Yogyakarta saat terjadinya gempa pada 27 Mei 2006 lalu. Ketika terjadi gempa,

MENERIMA KUNJUNGAN. Efratha (depan ke-empat dari kiri) bersama dengan staff KPBC Tipe B Cilacap saat menerima kunjungan Direktur Fasilitas Kepabeanan ketika itu Kamil Sjoeib beserta pejabat dilingkungan kanwil VI DJBC Semarang tahun 2005

78

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

DOK. WBC

keadaan di Yogyakarta menurutnya dalam keadaan yang serba tidak pasti, dan kegiatan disana bisa dibilang lumpuh. Tidak lama setelah berita mengenai gempa sampai ke negara sahabat, bantuan dari sanapun mulai mengalir, dan Bandara Adisumarmo Solo menjadi tempat untuk pendaratan pesawat militer dari negara sahabat yang membawa bantuan. Sementara bandara Adisucipto Yogyakarta pada 27 Mei ditutup untuk penerbangan umum dan baru dibuka pada 1 Juni 2006. Pada tanggal tersebut otomatis semua bantuan mendarat di Adisumarmo. Efratha kembali mengisahkan, sambil menunggu surat keputusan mengenai prosedur kepabeanan untuk penanganan bantuan dari luar negeri turun dari pusat, ia segera mengambil suatu langkah pendataan singkat, dengan cara mengambil general declaration dari pesawat militer yang membawa barang bantuan. Dan memerintahkan para staf untuk terus standby di bandara melakukan pendataan, mengingat jadwal kedatangan pesawat dari luar negeri yang membawa bantuan tidak tetap dan bisa datang kapan saja. “Saya mendapat masukan dari Pak Edy (Edy Setyo. Kabid P2 Kanwil VI DJBC Semarang.red) mengenai mekanisme proses kepabeanan terhadap bantuan luar negeri untuk Aceh yang mendarat di Polonia, karena beliau pernah tugas disana. Dan masukan mengenai mekanisme itu saya perhatikan untuk dapat saya jalankan bersama dengan para staf,” terang Efratha kembali. Ia juga mencontohkan peran stafnya ketika ia menjadi Kepala KPBC Cilacap. Ketika itu masyarakat di wilayah Cilacap dan sekitarnya yang relatif banyak pengusaha tembakau sangat kecil, menganggap bahwa aturan mengenai cukai yang dijalankan oleh KPBC Cilacap menyulitkan usaha mereka. Mendapat tanggapan tersebut Efratha bersama dengan para staf berusaha memberikan pengertian bahwa usaha mereka tersebut harus sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai. “Saya bersama para staf berusaha memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa mereka harus mengurus NPPBKC (Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai) sendiri, agar pengurusannya cepat dan mereka dapat menjalankan usahanya dengan sah. Disini peran staf sangat berarti dan tidak mungkin semuanya saya kerjakan sendiri”papar Efratha mengenai peran staf dalam membantunya menjalankan tugas. Pada akhirnya mampu meyakinkan masyarakat mengenai pentingnya NPPBKC untuk menjalankan usaha. Tugasnya di jajajaran DJBC tidak jarang pula mendapat kritikan dari masyarakat. Untuk menghadapi hal tersebut, Efratha mempunyai sikap untuk tidak menanggapi kritikan tersebut dengan suatu perdebatan yang menurutnya tidak akan berujung pada penyelesaian. ”Kalau kita berdebat dengan mereka, tidak akan kete-

MENGIKUTI PENATARAN. Foto bersama dengan para peserta penataran keterampilan manajemen yang diikuti oleh seluruh pejabat eselon III se Indonesia di Pusdiklat DJBC tahun 2004

mu solusinya, bahkan mereka akan memojokkan kita terus. Hadapi kritikan dengan perilaku yang baik”ujarnya kembali. Efratha mengatakan, ia lebih memilih menjawab kritikan masyarakat melalui perilaku dan prestasi kerja. “Karena dengan cara itu, masyarakat akan mengerti bahwa penilaian mereka itu salah, berikan semacam sosialisasi kepada keluarga maupun lingkungan mengenai pekerjaan kita dan berperilakulah terpuji di masyarakat,”ujarnya kembali.

PERHATIKAN PENDIDIKAN ANAK
Walaupun sibuk dengan rutinitas pekerjaannya, Efratha mengatakan ia sangat memperhatikan pendidikan anakanaknya. Sejak anak-anaknya mulai masuk bangku sekolah ia tidak segansegan memantau perkembangan mereka, bahkan memilih guru les untuk anakanaknya ia lakukan sendiri, sementara sang istri hanya mengurus kepentingan anak-anak mereka. “Saya ingin anak-anak kami menjadi orang yang berhasil, karena pendidikan merupakan investasi yang tidak ternilai harganya, kalau anak saya kurang di satu mata pelajaran tertentu, saya cari tahu penyebabnya dan saya langsung carikan guru privat,” ujar ayah dari Albert Raymond Samuel Simanjuntak

(24), Jesse Rajabosi Simanjuntak (22) dan Embun Marintan Simanjuntak (15) Ketekunan dan keseriusan memantau perkembangan pendidikan anak-anaknya bisa dibilang berhasil, kedua anaknya diterima kuliah di Universitas Indonesia, anak pertamanya kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik dan kini sudah lulus, sementara anak keduanya kuliah di Fakultas Farmasi. Tidak hanya dua anak mereka saja yang berhasil, anak ketiganya pun juga mempunyai nilai bagus di bangku sekolahnya. Ketika berbincang-bincang dengan WBC, awal Juli 2006, ia menceritakan putri bungsunya telah lulus SMP dengan nilai rata-rata 9 lebih dan telah diterima di salah satu SMA di Jakarta. Untuk urusan karir dan masa depan anak-anak, Efratha memberikan kesempatan luas kepada anak-anaknya, karena mereka yang akan merasakan dan yang menjalani kehidupan, sedangkan tugasnya hanya memberi pendapat dan masukan mengenai langkah yang akan diambil anak-anaknya. ”Untuk urusan karir saya tidak memaksa mereka harus jadi pegawai negeri atau yang lainnya, sebagai orang tua saya hanya memberikan masukan yang terbaik untuk mereka, ”ujarnya mengakhiri perbincangan. zap
DOK. PRIBADI

OUTBOND. Menjadi peserta outbond bersama dengan pejabat eselon III DJBC seluruh Indonesia di Puncak Jawa Barat EDISI 381 AGUSTUS 2006 WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA Henry Yosodiningrat

PERANG LAWAN NARKOBA
Walaupun sudah dikenal sebagai seorang pengacara handal, Henry memiliki kewajiban moral kepada masyarakat yaitu mengajak masyarakat memerangi narkoba. Menurutnya ia sendiri pernah mengalami bagaimana narkoba telah membuat salah satu anaknya kecanduan dan hampir tidak memiliki masa depan. Berbagai usaha pun ia lakukan demi kesembuhan anaknya tersebut. Mulai sejak itulah ia bersama dengan rekan-rekannya masyarakat dan juga para selebriti mendirikan suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus pada usaha memerangi peredaran gelap narkoba. “Kami tidak ingin semakin banyak pemuda kita yang rusak karena narkoba,”ujarnya kepada WBC ditengah acara malam sejuta lilin dalam rangka memperingati Hari Anti Narkoba Internasional pada 25 Juni di Bundaran HI Jakarta. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah seperti Polisi menangkap para gembong narkoba harus mendapat dukungan dari masyarakat. Dan ia juga berharap agar eksekusi mati terhadap para pengedar narkoba dapat dilaksanakan secepat mungkin agar memberikan efek jera. Mengenai Bea Cukai, pengacara yang selalu menolak mendampingi klien dalam kasus narkoba mengatakan, bahwa ia salut dengan Bea Cukai karena selalu berhasil menegah masuknya narkoba dari luar negeri,”Saya salut dengan Bea Cukai karena beberapa kasus penyelundupan narkoba selalu berhasil diungkap, dan Bea Cukai selalu menjalin kerjasama dengan instansi terkait dalam hal penanganan penyelundupan narkoba dari luar negeri, ”tutur Henry.

Andry Wongso

ADA KEINGINAN UNTUK BERUBAH
Mempunyai tekad dan keinginan yang kuat merupakan salah satu kunci sukses bagi seseorang untuk bisa meraih cita-cita. Demikian hal tersebut disampaikan Andry Wongso didepan peserta retraining integritas pada 30 Juni 2006 lalu di Kantor Pusat DJBC. Menurut tokoh motivator yang sukses memotivasi masyarakat ini, kunci sukses tersebut ia peroleh berdasarkan pengalamannya ketika masih muda. Hasilnya, ia berhasil ke Hongkong menjadi bintang film laga. “Karena saya mempunyai keinginan dan tekad yang kuat, akhirnya saya bisa pernah menjadi bintang film laga, karena waktu dulu cita-cita saya memang ingin menjadi bintang film laga,”ujar pria kelahiran Malang ini. Karena keberhasilan dirinya memotivasi diri sendiri akhirnya ia kini lebih dikenal sebagai seorang motivator daripada seorang bintang film laga. Ketika ditanya kesannya setelah memberikan motivasi pada acara retraining di Bea Cukai Andry mengatakan bahwa, ada suatu keinginan atau niat luhur dari para peserta untuk melakukan suatu perubahan yang luar biasa bersama dengan pemimpin yang baru. Lebih lanjut ia mengatakan perubahan itu dapat dilihat dengan diundangnya ia untuk memberikan motivasi di depan para pejabat Bea Cukai dan antuisiasnya para peserta mengikuti acara tersebut. “Setelah saya memberikan training saya yakin dalam waktu dekat akan ada perubahan, dalam arti ada keinginan untuk maju dan terlepas dari stigma negatif yang ada di masyarakat,”ujar Andry kembali. Untuk menghilangkan stigma negatif masyarakat terhadap Bea Cukai, ia mengatakan harus ada perubahan dalam kinerja, dan peningkatan pelayanan karena hal itu yang dituntut oleh masyarakat. “Kalau sudah berubah sudah pasti stigma negatif tersebut akan hilang dari pandangan masyarakat. Untuk berubah menuju kepada suatu hal yang lebih baik, keinginan dan tekad yang kuat harus dimiliki, tidak hanya Dirjennya, eselon dua-nya atau tiganya tapi semua pihak,”ujar Andry mengakhiri perbincangan dengan WBC. zap

zap

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 381 AGUSTUS 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 33/PMK.02/2006 TENTANG TATA CARA REVISI DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) TAHUN 2006 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menyesuaikan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat dengan perubahan kebutuhan dan percepatan pencapaian kinerja Kementerian Negara/Lembaga, perlu dilakukan revisi/perubahan/ pergeseran anggaran dalam DIPA Tahun 2006; b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2005 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat, perubahan rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2006 ditetapkan oleh Menteri Keuangan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2006; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2005 tentang Angggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 133 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4571); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan anggaran Kementerian Negara/Lembaga; 5. Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2005 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2006; 6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/PMK.02/2005 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) Tahun 2006; 7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2005 tentang Petunjuk Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Revisi DIPA Tahun Anggaran 2006; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN T E N TA N G TATA C A R A R E V I S I D A F TA R I S I A N PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) TAHUN 2006 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 (1) Revisi DIPA adalah perubahan/pergeseran Anggaran Belanja Pemerintah Pusat sebagaimana dimuat dalam DIPA sebagai akibat perubahan rincian anggaran menurut alokasi anggaran per satuan kerja sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2005 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2006. (2) Revisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Pergeseran anggaran belanja : (1) antar unit organisasi dalam satu bagian anggaran; (2) antar kegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran tersebut merupakan hasil optimalisasi; dan/atau (3) antar jenis belanja dalam satu kegiatan;

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

1

K E P U T U S A N
b.

&

K E T E T A P A N

(1)

(2) (3) (4) (5) (6) (7)

Perubahan anggaran belanja yang bersumber dari peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP); dan/atau c. Perubahan pagu pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) sebagai akibat dari luncuran PHLN. Pasal 2 Hasil optimalisasi dari pergeseran anggaran belanja antar kegiatan dalam satu program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf a (2) merupakan hasil lebih atau sisa dana yang diperoleh setelah pelaksanaan dari suatu kegiatan yang target sasarannya telah tercapai. Hasil optimalisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan untuk meningkatkan sasaran atau untuk kegiatan lainnya dalam program yang sama. Perubahan anggaran belanja yang bersumber dari peningkatan PNBP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf b merupakan kelebihan realisasi penerimaan dari target yang direncanakan dalam APBN. Peningkatan PNBP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat digunakan oleh Kementerian Negara/Lembaga penghasil sesuai dengan ketentuan yang perundangan yang berlaku. Perubahan pagu PHLN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf c merupakan peningkatan pagu PHLN sebagai akibat adanya luncuran pinjaman proyek dan hibah luar negeri yang bersifat multi years. Luncuran pinjaman proyek dan hibah luar negeri sebagaimana dimaksud ayat (3) tidak mencakup PHLN yang belum disetujui dalam APBN tahun berjalan dan pinjaman yang bersumber dari kredit ekspor; PHLN yang belum disetujui dalam APBN tahun berjalan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) adalah pinjaman luar negeri yang naskah perjanjiannya belum ditandatangani sampai dengan APBN 2006 ditetapkan.

Pasal 3 Revisi DIPA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dilakukan sepanjang tidak mengurangi alokasi anggaran untuk : a. Gaji dan berbagai tunjangan yang melekat dengan gaji; b. Belanja untuk langganan listrik, telepon, gas dan air; c. Pembayaran untuk berbagai tunggakan; d. Belanja Barang untuk pengadaan bahan makanan (kode MAK 521113); dan e. Belanja mengikat perwakilan RI termasuk perwakilan Kementerian Negara/Lembaga di luar negeri, BAB II REVISI DIPA ANTAR PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Pasal 4 (1) Revisi DIPA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dilakukan sepanjang masih dalam satu provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan, atau dalam satu provinsi untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi. (2) Revisi DIPA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dilakukan antar provinsi/kabupaten/ kota untuk kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikal di daerah. (3) Kegiatan operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kegiatan yang didanai dari belanja pegawai mengikat dan belanja barang mengikat dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. BAB III TATA CARA REVISI DIPA Pasal 5 (1) Revisi DIPA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dilakukan setelah ditetapkannya perubahan rincian anggaran menurut alokasi anggaran/satuan anggaran per satuan kerja (SAPSK). (2) Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I Kementerian Negara/ Lembaga selaku kuasa pengguna anggaran menyampaikan usulan revisi DIPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan.

2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(3) Usulan revisi DIPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya dilampiri: a. Format 1.5 Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) yang memuat usulan perubahan/pergeseran anggaran per kegiatan, baik yang dananya bersumber dari Rupiah Murni maupun dari luncuran PHLN; b. Perhitungan anggaran yang diusulkan untuk dilakukan perubahan/pergeseran, termasuk penyediaan dana pendamping untuk Luncuran PHLN yang mensyaratkan adanya dana rupiah pendamping; c. Rincian sisa dana PHLN yang ditandatangani oleh kepala satuan kerja dan diketahui oleh Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara setempat, khusus untuk perubahan pagu PHLN sebagai akibat dari luncuran PHLN; d. Data Pendukung yang terkait. Pasal 6 (1) Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menetapkan perubahan SAPSK. (2) Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan menyampaikan surat penetapan perubahan SAPSK kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/ Sekretaris/Pejabat Eselon I Kementerian Negara/Lembaga selaku kuasa pengguna anggaran. (3) Berdasarkan surat penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Sekretaris Jenderal/ Sekretaris Utama/Sekretaris/Pejabat Eselon I Kementerian Negara/Lembaga selaku kuasa pengguna anggaran menyusun dan menandatangani revisi DIPA untuk selanjutnya disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan. (4) Surat penetapan perubahan SAPSK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi dasar pengesahan revisi DIPA oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan. BAB IV PELAPORAN PERUBAHAN SAPSK KEPADA DPR-RI Pasal 7 (1) Perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dilaporkan oleh Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan kepada DPR-RI sebelum dilaksanakan dan dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN-Perubahan (APBN-P) dan/atau Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). (2) Pelaporan oleh Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan kepada DPR-RI sebelum dilaksanakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara mengirimkan tembusan surat penetapan perubahan SAPSK dari Departemen Keuangan kepada DPR-RI berdasarkan usulan Kementerian Negara/Lembaga. (3) Yang dilaporkan pelaksanaannya dalam APBN-P sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk perubahan SAPSK yang dilakukan sebelum APBN-P diajukan kepada DPR-RI. (4) Yang dilaporkan pelaksanaannya dalam LKPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perubahan SAPSK yang dilakukan sepanjang tahun berjalan. (5) Diagaran tata cara revisi DIPA digambarkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini. BAB V KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 8 Perubahan/pergeseran Anggaran Belanja Pemerintah Pusat yang memerlukan persetujuan DPRRI diajukan kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan untuk selanjutnya dimintakan persetujuan DPR-RI. Pasal 9 Ketentuan teknis yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dan Direktur Jenderal Perbendaharaan secara bersama-sama atau secara sendiri-sendiri sesuai dengan bidang tugas masing-masing. Pasal 10 Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini maka ketentuan mengenai revisi/perubahan/ pergeseran anggaran yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/ PMK.02/2005 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penelaahan RKAKL Tahun 2006 dan

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

3

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2005 tentang Petunjuk Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Revisi DIPA Tahun Anggaran 2006 sepanjang belum diatur dan tidak bertentangan dengan Peraturan Menteri Keuangan ini dinyatakan tetap berlaku. Pasal 11 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 11April 2006 MENTERI KEUANGAN, ttd,SRI MULYANI INDRAWATI
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 33/PMK.02/2006 TENTANG TATA CARA REVISI DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) TAHUN 2006 DIAGRAM TATA CARA REVISI DIPA TAHUN 2006 No. 1. Uraian Kegiatan Usulan Revisi DIPA 2006 Penelaahan Usulan Revisi Penetapan Perubahan Satuan Anggaran Per Satuan Kerja (SAPSK) Penyampaian Perubahan SAPSK Penyusunan Konsep Revisi DIPA Penyampaian Konsep Revisi DIP Pengesahan Revisi DIPA Pelaporan Perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Kementerian Lembaga Dep. Keuangan (DJAPK) Dep. Keuangan (DJPBN)
s

DPR-RI

s

3.

s

4.

7.

8.

4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

s

s

6.

s

5.

s

s s s s

2.

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 39/PMK.04/2006 TENTANG TATALAKSANA PENYERAHAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa pengangkut yang sarana pengangkutnya akan memasuki Kawasan Pabean atau akan meninggalkan Kawasan Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan rencana kedatangan sarana pengangkut dan/atau manifes kedatangan sarana pengangkut atau manifes keberangkatan sarana pengangkut; b. bahwa penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diperlukan untuk meningkatkan pelayanan dan pengawasan di bidang kepabeanan serta untuk melakukan pengamanan hak-hak negara; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut; Mengingat : 1. Undang-Undang nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 3612); 2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3687); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3627); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4313); 5. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; 6. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 575/KMK.05/1996 tentang Tatalaksana Pengangkutan Terus Atau Pengangkutan Lanjut Barang Impor Atau Barang Ekspor; 7. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK.05/1997 tentang Pemberitahuan Pabean sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 48/PMK.04/2005; 8. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK.04/2003; 9. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 557/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor; 10. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 118/KMK.04/2004 tentang Tatalaksana Pembayaran dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; MEMUTUSKAN : Menetapkan : P E R AT U R A N M E N T E R I K E U A N G A N T E N TA N G TATA L A K S A N A P E N Y E R A H A N PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan : 1. Barang impor adalah barang yang dimasukkan ke dalam Daerah Pabean.

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

5

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

2. Barang ekspor adalah barang yang dikeluarkan dari Daerah Pabean untuk dibawa atau dikirim ke luar negeri. 3. Barang diangkut terus adalah barang yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui Kantor Pabean tanpa dilakukan pembongkaran terlebih dahulu. 4. Barang diangkut lanjut adalah barang yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui Kantor Pabean dengan dilakukan pembongkaran terlebih dahulu. 5. Kantor Pabean adalah Kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban Pabean. 6. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 7. Pejabat adalah Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995. 8. Pengangkut adalah orang, kuasanya, atau yang bertanggung jawab atas pengoperasian sarana pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang. 9. Sarana Pengangkut adalah kendaraan/angkutan melalui laut, udara, atau darat yang dipakai untuk mengangkut barang dan/atau orang. 10. Pelabuhan adalah pelabuhan laut dan pelabuhan udara. 11. Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan sarana pengangkut yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean. 12. Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan sarana pengangkut yang mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean. 13. Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) adalah daftar barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalui laut, udara dan darat pada saat memasuki Kawasan Pabean. 14. Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest) adalah daftar barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat meninggalkan Kawasan Pabean. 15. Saat kedatangan sarana pengangkut adalah : a. untuk sarana pengangkut melalui laut pada saat sarana pengangkut tersebut lego jangkar di perairan pelabuhan; b. untuk sarana pengangkut melalui udara pada saat sarana pengangkut tersebut mendarat di landasan bandar udara; c. untuk sarana pengangkut melalui darat pada saat sarana pengangkut tersebut tiba di Kawasan Pabean di daerah lintas batas. 16. Saat keberangkatan sarana pengangkut adalah: a. untuk sarana pengangkut melalui laut pada saat sarana pengangkut tersebut angkat jangkar dari perairan pelabuhan dalam Kawasan Pabean; b. untuk sarana pengangkut melalui udara pada saat sarana pengangkut tersebut lepas landas dari landasan Bandar udara dalam Kawasan Pabean; c. untuk sarana pengangkut melalui darat pada saat sarana pengangkut tersebut meninggalkan Kawasan Pabean di daerah lintas batas. Pasal 2 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya akan datang dari : a. luar Daerah Pabean; atau b. dalam Daerah Pabean yang mengangkut barang impor, barang ekspor dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) kepada Pejabat di setiap Kantor Pabean yang akan disinggahi, paling lambat 24 (dua puluh empat) jam sebelum kedatangan sarana pengangkut. (2) Pengangkut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang sarana pengangkutnya mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, cukup menyerahkan Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut (JKSP) kepada Pejabat di setiap Kantor Pabean yang akan disinggahi paling lambat 24 (dua puluh empat) jam sebelum kedatangan yang pertama dalam jadwal tertentu. (3) Pengangkut wajib memberitahukan setiap perubahan: a. RKSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling lambat pada saat kedatangan sarana pengangkut; b. JKSP sebagaimana dimaksud pada ayat (2), paling lambat pada saat kedatangan pertama sarana pengangkut.

6

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(4) Penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku bagi sarana pengangkut yang datang dari luar Daerah Pabean melalui darat. Pasal 3 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari : a. luas Daerah Pabean; atau b. dalam Daerah Pabean dengan mengangkut barang impor, barang ekspor dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kepada Pejabat di Kantor Pabean. (2) Kewajiban menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan paling lama: a. pada saat sebelum melakukan pembongkaran barang, untuk sarana pengangkut yang melalui laut dan udara; b. pada saat kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui darat. (3) Dalam hal pembongkaran tidak dapat segera dilakukan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam jangka waktu: a. paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui laut; b. paling lama 8 (delapan) jam sejak kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui udara. (4) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara rinci dalam pos-pos serta dikelompokkan secara terpisah dengan pengelompokan sebagai berikut: a. barang impor yang kewajiban pabeannya diselesaikan di Kantor Pabean setempat; b. barang impor yang akan diangkut lanjut; c. barang impor yang akan diangkut terus; d. barang ekspor yang dibongkar kemudian diangkut lanjut; e. barang ekspor yang akan diangkut terus; dan/atau f. barang asal Daerah Pabean yang diangkut dari satu Kawasan Pabean ke Kawasan Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean. (5) Selain Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling lama pada saat kedatangan sarana pengangkut, Pengangkut wajib menyerahkan pemberitahuan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris secara elektronik atau manual kepada Pejabat di Kantor Pabean, berupa: a. Daftar penumpang dan/atau awak sarana pengangkut; b. Daftar bekal kapal; c. Stowage plan; d. Daftar senjata api; dan e. Daftar obat-obatan termasuk narkotika yang digunakan untuk kepentingan pengobatan. (6) Untuk sarana pengangkut yang tiba melalui udara, Pengangkut wajib menyerahkan Daftar Penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a paling lambat 1 (satu) jam sebelum kedatangan sarana pengangkut. (7) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari luar Daerah Pabean, apabila sarana pengangkutnya tidak mengangkut barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib menyerahkan pemberitahuan nihil. (8) Dalam hal sarana pengangkut dalam keadaan darurat, pengangkut dapat melakukan pembongkaran barang terlebih dahulu, dan wajib: a. melaporkan keadaan darurat tersebut ke Kantor Pabean terdekat pada kesempatan pertama; dan b. menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (5) paling lama 72 (tujuh puluh dua) jam sesudah pembongkaran. (9) Kewajiban pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi sarana pengangkut yang tidak melakukan kegiatan bongkar/muat dan: a. berlabuh/lego jangkar tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam untuk sarana pengangkut laut; atau b. mendarat tidak lebih dari 8 (delapan) jam untuk sarana pengangkut udara. Pasal 4 (1) Sepanjang dapat dibuktikan dengan dokumen pendukung, pengangkut atau pihak-pihak lain

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

7

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

yang bertanggung jawab atas barang dapat mengajukan perbaikan Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) dalam hal : a. terdapat kesalahan mengenai nomor, merek, ukuran dan jenis kemasan dan/atau petikemas; b. terdapat kesalahan mengenai jumlah kemasan dan/atau petikemas serta jumlah barang curah; c. terdapat kesalahan nama consignee dan/atau notify party pada Manifes; d. diperlukan penggabungan beberapa pos menjadi satu pos, dengan syarat: 1) pos Inward Manifest yang akan digabungkan berasal dari Inward Manifest yang sama; 2) nama dan alamat shipper/supplier, consignee, notify address/notify party, dan pelabuhan pemuatan harus sama untuk masing-masing pos yang akan digabungkan; 3) telah diterbitkan revisi Bill of Lading/Airway Bill; e. terdapat kesalahan data lainnya atau perubahan pos manifes. (2) Perbaikan Manifes sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan persetujuan Kepala Kantor Pabean. (3) Dalam hal diperlukan perincian lebih lanjut atas pos Manifes dari barang impor yang dikirim secara konsolidasi, Pengangkut atau pihak-pihak lain yang bertanggung jawab atas barang dapat mengajukan perbaikan Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) tanpa persetujuan Kepala Kantor Pabean. Pasal 5 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya akan berangkat menuju: a. ke luar Daerah Pabean; atau b. ke dalam Daerah Pabean dengan membawa barang impor, barang ekspor dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest) dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kepada Pejabat di Kantor Pabean. (2) Kewajiban menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak keberangkatan sarana pengangkut. (3) Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara rinci dalam pos-pos serta dikelompokkan secara terpisah dengan pengelompokan sebagai berikut: a. barang ekspor yang dimuat di Kantor Pabean setempat; b. barang ekspor yang diangkut terus; c. barang impor yang diangkut lanjut; d. barang impor yang diangkut terus; dan/atau e. barang asal Daerah Pabean yang diangkut dari satu Kawasan Pabean ke Kawasan Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean. (4) Pengangkut, yang sarana pengangkutnya menuju ke luar Daerah Pabean dengan tidak mengangkut barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib menyerahkan pemberitahuan nihil. (5) Kewajiban pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi sarana pengangkut yang tidak melakukan kegiatan bongkar/muat dan: a. lego jangkar tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam untuk sarana pengangkut laut; atau b. mendarat tidak lebih dari 8 (delapan) jam untuk sarana pengangkut udara. Pasal 6 Atas pelayanan Manifes, Pengangkut wajib membayar jasa pelayanan berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai ketentuan yang berlaku. Pasal 7 (1) Pengangkut yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1), ayat (2) atau ayat (3), dikenal sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. (2) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari luar Daerah Pabean, yang tidak

8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(3)

(4) (5)

(6)

memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (7) atau ayat (8), dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari dalam Daerah Pabean, yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (2), ayat (3); atau ayat (8), dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pengangkut yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (5) atau ayat (6) dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 91 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pengangkut yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1), ayat (2) atau ayat (4), dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pengangkut yang mengajukan perbaikan Manifes sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b: a. Dalam hal jumlah kemasan dan/atau jumlah petikemas atau jumlah barang curah yang dibongkar kurang dari yang diberitahukan dan tidak dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut terjadi di luar kemampuannya, disamping wajib membayar Bea Masuk, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) atas barang yang kurang dibongkar, dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (4) UndangUndang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. b. Dalam hal jumlah kemasan dan/atau jumlah petikemas atau jumlah barang curah yang dibongkar lebih banyak dari yang diberitahukan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (5) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Pasal 8 (1) Penyerahan pemberitahuan berupa Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan pemberitahuan berupa Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward, Manifest) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dilakukan : a. melalui system Pertukaran Data Elektronik (PDE) Manifes, untuk Kantor-kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang menerapkan system PDE Kepabeanan; b. melalui system media disket, untuk Kantor-kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang menerapkan system pertukaran data dengan disket; c. secara manual untuk Kantor-kantor Pelayanan Bea dan Cukai lainnya. (2) Pemberlakuan penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Pasal 9 Ketentuan teknis yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Pasal 10 Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, sepanjang mengenai Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut, berlaku ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 11 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 Mei 2006 MENTERI KEUANGAN ttd, SRI MULYANI INDRAWATI

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

9

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P-08/BC/2006 TENTANG PEMBERIAN PENUNDAAN PEMBAYARAN CUKAI ATAS PEMESANAN PITA CUKAI HASIL TEMBAKAU DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 3 dan 4 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 240/KMK.05/1996 tanggal 1 April 1996 tentang Pelunasan Cukai, persyaratan untuk mendapatkan penundaan pembayaran cukai serta petunjuk pelaksanaan teknis keputusan tersebut diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai; b. bahwa dalam rangka mempercepat proses pemberian persetujuan penundaan pembayaran cukai, petunjuk pelaksanaan pemberian penundaan pembayaran yang telah dikeluarkan sebelumnya dipandang perlu disempurnakan kembali guna kepentingan perencanaan penerimaan negara di bidang cukai; c. bahwa untuk melakukan penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada huruf b perlu ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Mengingat : 1. Undang–Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612); 2. Undang–Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 3. Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi; 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 240/KMK.05/1996 tentang Pelunasan Cukai sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 105/KMK.05/1997; 5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 469/KMK.06/2003 tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Pejabat Eselon I Di Lingkungan Departemen Keuangan Untuk Dan Atas Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat Atau Keputusan Menteri Keuangan; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG PEMBERIAN PENUNDAAN PEMBAYARAN CUKAI ATAS PEMESANAN PITA CUKAI HASIL TEMBAKAU Pasal 1 (1) Kepada Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau yang termasuk sebagai Pengusaha Kena Pajak atau Importir Hasil Tembakau dapat diberikan penundaaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai selama-lamanya dua bulan terhitung sejak dari tanggal dilakukan pemesanan pita cukai. (2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau yang termasuk sebagai Pengusaha Kena Pajak dapat diberikan penundaaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai untuk produksi hasil tembakau selain dari jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM ) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) selama – lamanya tiga bulan terhitung sejak dari tanggal dilakukan pemesanan pita cukai. Pasal 2 Pemberian penundaan pembayaran cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dilakukan oleh: a. Kepala Kantor Pelayanan a.n. Direktur Jenderal untuk jumlah sampai dengan Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah); b. Kepala Kantor Wilayah a.n. Direktur Jenderal untuk jumlah lebih dari Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah) sampai dengan Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh milyar rupiah); c. Direktur Cukai a.n. Direktur Jenderal untuk jumlah lebih dari Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh milyar rupiah). Pasal 3 (1) Untuk mendapatkan pemberian penundaan pembayaran cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, Pengusaha Pabrik atau Importir Hasil Tembakau mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan setempat dengan menggunakan formulir sebagaimana contoh dalam Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal ini.

10

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(2) Untuk mendapatkan pemberian penundaan pembayaran cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b, Pengusaha Pabrik atau Importir Hasil Tembakau mengajukan permohonan Kepada Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai setempat melalui Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang mengawasi dengan menggunakan formulir sebagaimana contoh dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal ini. (3) Untuk mendapatkan pemberian penundaan pembayaran cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c, Pengusaha Pabrik atau Importir Hasil Tembakau mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai u.p Direktur Cukai melalui Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang mengawasi dengan menggunakan formulir sebagaimana contoh dalam Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal ini. (4) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) wajib dilampiri dengan : a. Laporan Keuangan Perusahaan yang telah diaudit oleh Akuntan Publik. b. Daftar pemesanan pita cukai tiap – tiap jenis hasil tembakau dari Pabrik atau Importir Hasil Tembakau yang bersangkutan selama enam bulan terakhir. c. Perhitungan besarnya penundaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai yang diminta sebagaimana contoh dalam Lampiran IV Peraturan Direktur Jenderal ini. Pasal 4 Perhitungan besarnya penundaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (4) huruf c dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) sebanyak dua kali dari nilai cukai rata – rata per bulan yang dihitung dari pemesanan pita cukai dalam masa 6 (enam) bulan terakhir atau dua kali dari nilai cukai rata-rata per bulan yang dihitung dari pemesanan pita cukai 3 (tiga) bulan bulan terakhir. b. Untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Kelembak Kemenyan (KLM), Sigaret Klobot (KLB), Tembakau Iris (TIS), Cerutu (CRT) dan Hasil Tembakau lainnya sebanyak tiga kali dari nilai cukai rata – rata per bulan yang dihitung dari pemesanan pita cukai dalam masa 6 (enam) bulan terakhir atau tiga kali dari nilai cukai rata – rata per bulan yang dihitung dari pemesanan pita cukai 3 (tiga) bulan bulan terakhir. c. Hasil penjumlahan perhitungan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan/atau huruf b ditambah dengan separuh (50%) dari hasil penjumlahan tersebut. Pasal 5 (1) Kepala Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berkewajiban, dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan secara lengkap dan benar, memberi keputusan atas permohonan tersebut. Dalam hal jangka waktu 14 (empat belas) hari dilampaui, permohonan yang bersangkutan dianggap diterima. (2) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berkewajiban, dalam jangka waktu paling lama 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan secara lengkap dan benar, memberi keputusan atas permohonan tersebut. Dalam hal jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari dilampaui, permohonan yang bersangkutan dianggap diterima. (3) Direktur Cukai berkewajiban, dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan secara lengkap dan benar, memberi keputusan atas permohonan tersebut. Dalam hal jangka waktu 30 (tiga puluh) hari dilampaui, permohonan yang bersangkutan dianggap diterima. (4) Setiap persetujuan pemberian penundaan pembayaran atas pemesanan pita cukai diberikan untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal diterbitkannya. Pasal 6 (1) Dalam hal terjadi perubahan Peraturan Menteri Keuangan atas Harga Jual Eceran dan/atau Tarif yang mengakibatkan kenaikan nilai cukai yang wajib dibayar, maka jumlah penundaan yang telah diberikan berdasarkan perhitungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, disesuaikan sebesar prosentase perubahan Harga Jual Eceran dan/atau Tarif baru. (2) Untuk kenaikan jumlah penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diperlukan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. (3) Direktur Jenderal menetapkan keputusan kenaikan jumlah penundaan pembayaran cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 7 (1) Bagi Importir Hasil Tembakau yang telah mendapat persetujuan penundaan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 1, wajib menyerahkan jaminan bank atau jaminan

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

11

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

asuransi yang masing-masing berlaku tersendiri untuk setiap dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) yang diajukannya. (2) Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh bank atau perusahaan asuransi yang berlokasi di wilayah pengawasan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setempat. Pasal 8 Persetujuan pemberian penundaaan pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai sebagaimana dimaksud dalam pasal 2: a. Dibekukan, dalam hal pengusaha yang bersangkutan tidak melunasi pembayaran cukai pada tanggal jatuh tempo sebagaimana dimaksud pada pasal 9 dan pasal 10, sampai dengan pengusaha yang bersangkutan melunasinya; b. Dibekukan untuk jangka waktu enam bulan, terhitung sejak tanggal pencabutan, dalam hal pengusaha yang bersangkutan melanggar ketentuan larangan penjualan hasil tembakau berhadiah; c. Dibekukan selama enam bulan dalam hal pemeriksaan atau hasil audit yang dilakukan Pejabat Bea dan Cukai kedapatan selisih kurang jumlah pita cukai yang seharusnya ada, sesuai Buku Daftar Pita Cukai (BDCK-4); d. Dicabut, dalam hal dari hasil pemeriksaan atau audit yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai terbukti bahwa lampiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) ternyata tidak benar. Atas pencabutan ini pengusaha yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan kembali setelah 6 (enam) bulan, terhitung sejak tanggal pencabutan; atau e. Dicabut, dalam hal terhadap pengusaha yang bersangkutan berdasarkan putusan tetap dari pengadilan dijatuhi sanksi pidana karena melakukan pelanggaran peraturan perundangundangan di bidang Cukai. Pasal 9 (1) Pembayaran cukai atas pemberian penundaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) paling lama pada tanggal yang sama dengan tanggal pengajuan dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) dari bulan kedua setelah bulan pengajuan CK-1 bersangkutan. (2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terhadap : a. Dokumen pemesanan pita cukai (CK -1) dari setiap tanggal 31, kecuali yang ditentukan pada huruf b ayat ini, ditetapkan tanggal akhir pembayaran selambat lambatnya pada akhir bulan kedua setelah bulan pengajuan CK-1 yang bersangkutan. b. Dokumen pemesan pita cukai (CK-1) dari setiap tanggal 29 sampai dengan tanggal 31 dalam bulan Desember ditetapkan tanggal akhir pembayaran selambat-lambatnya pada tanggal terakhir bulan Pebruari tahun berikutnya. (3) Pembayaran cukai atas pemberian penundaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) paling lama pada tanggal yang sama dengan tanggal pengajuan dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) dari bulan ketiga setelah bulan pengajuan CK-1 bersangkutan. (4) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), terhadap: a. Dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) dari setiap tanggal 31, kecuali yang ditentukan pada huruf b ayat ini, ditetapkan tanggal akhir pembayaran selambat lambatnya pada akhir bulan ketiga setelah bulan pengajuan CK-1 yang bersangkutan. b. Dokumen pemesan pita cukai (CK-1) dari setiap tanggal 28 sampai dengan tanggal 30 dalam bulan Nopember ditetapkan tanggal akhir pembayaran selambat-lambatnya pada tanggal terakhir bulan Pebruari tahun berikutnya. Pasal 10 Dalam hal tanggal akhir pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 jatuh pada hari libur, hari diliburkan, atau bukan hari kerja dari Bank Persepsi, Bank Devisa Persepsi, dan/atau PT (Persero) Pos Indonesia, maka pembayaran cukainya wajib dilakukan paling lama pada hari kerja sebelum tanggal akhir pembayaran Pasal 11 Keputusan Persetujuan Penundaan yang telah diberikan berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-58/BC/1999 tentang Pemberian Penundaan Pembayaran Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai Hasil tembakau sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-52/BC/2001 dinyatakan tetap berlaku sampai habis masa berlakunya Pasal 12 Pada saat berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ini, maka Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-58/BC/1999 tentang Pemberian Penundaan Pembayaran

12

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-52/BC/2001 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 13 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 Mei 2006 DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332 Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P-08/BC/2006 Tanggal : 30 Mei 2006 ………, …………...........……………….. Nomor : .……………....... Lampiran : ……………….... Perihal : Permohonan Penundaan Pembayaran Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau Kepada : Kepala Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di ………………………………… Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan Alamat : ………………………………. : ………………………………. : ............................................
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama ........................ NPPBKC ......... berkedudukan di ........................... dengan ini mengajukan permohonan Penundaan Pembayaran Cukai atas pemesanan pita cukai hasil tembakau sebesar Rp ................................ (........................................................................................) dengan lampiran sebagai berikut : 1. Laporan Keuangan Perusahaan tahun.... yang telah diaudit oleh Akuntan Publik. 2. Daftar pemesanan pita cukai selama 6 (enam) bulan terakhir. 3. Perhitungan besarnya nilai cukai yang dapat diberikan penundaan pembayaran dan perhitungan rasio keuangan perusahaan. Demikian surat permohonan ini dibuat dengan sebenarnya dan kami menyatakan sanggup menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku apabila di kemudian hari ternyata permohonan ini tidak benar. Pemohon (Materai) (………………………….) Tembusan: 1. Kepala Kantor Wilayah ... (nama kantor Wilayah) 2. Direktur Cukai. DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

13

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P-08/BC/2006 Tanggal : 30 Mei 2006 ………, ………………………….. Nomor : .……………... Lampiran : ………………. Perihal : Permohonan Penundaan Pembayaran Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau Kepada : Yth. Kepala Kantor Wilayah……… Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di ………………………………… Melalui : Kepala Kantor Pelayanan.............. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di ………………………………… Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan Alamat : ………………………………. : ………………………………. : ............................................

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama ........................ NPPBKC ......... berkedudukan di ........................... dengan ini mengajukan permohonan Penundaan Pembayaran Cukai atas pemesanan pita cukai hasil tembakau sebesar Rp ................................................. (........................................................................) dengan lampiran sebagai berikut : 1. 2. 3. Laporan Keuangan Perusahaan tahun.... yang telah diaudit oleh Akuntan Publik. Daftar pemesanan pita cukai selama 6 (enam) bulan terakhir. Perhitungan besarnya nilai cukai yang dapat diberikan penundaan pembayaran dan perhitungan rasio keuangan perusahaan.

Demikian surat permohonan ini dibuat dengan sebenarnya dan kami menyatakan sanggup menerima sanksi sesuai dengan ketentuaan yang berlaku apabila di kemudian hari ternyata permohonan ini tidak benar. Pemohon (Materai) (………………………….) Tembusan: Direktur Cukai. DIREKTUR JENDERAL, ANWAR SUPRIJADI ttd NIP 120050332

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P-08/BC/2006 Tanggal : 30 Mei 2006 ………, ………………………….. Nomor : .……………... Lampiran : ………………. Perihal : Permohonan Penundaan Pembayaran Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau Kepada : Yth. Direktur Cukai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di ………………………………… Melalui : Kepala Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di ………………………………… Yang bertanda Nama Jabatan Alamat tangan di bawah ini : : ………………………………. : ………………………………. : ............................................

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama ........................ NPPBKC ......... berkedudukan di ........................... dengan ini mengajukan permohonan Penundaan Pembayaran Cukai atas pemesanan pita cukai hasil tembakau sebesar Rp ................................................. (.........................................................................) dengan lampiran sebagai berikut : 1. 2. 3. Laporan Keuangan Perusahaan tahun.... yang telah diaudit oleh Akuntan Publik. Daftar pemesanan pita cukai selama 6 (enam) bulan terakhir. Perhitungan besarnya nilai cukai yang dapat diberikan penundaan pembayaran dan perhitungan rasio keuangan perusahaan.

Demikian surat permohonan ini dibuat dengan sebenarnya dan kami menyatakan sanggup menerima sanksi sesuai dengan ketentuaan yang berlaku apabila di kemudian hari ternyata permohonan ini tidak benar. Pemohon (Materai) (………………………….) Tembusan : Kepala Kantor Wilayah ...... (nama kantor Wilayah) DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

15

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran IV Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P-08/BC/2006 Tanggal : 30 Mei 2006 PERHITUNGAN BESARNYA PENUNDAAN Nama Pengusaha/Importir : …………………………………………………. Nama Perusahaan : …………………………………………(NPPBKC......) Alamat Perusahaan : ……………………........……………………………… Data pemesanan pita cukai dalam 6 (enam) bulan terakhir : No Bulan SKM / SPM 1 2 3 4 5 6 Pebruari Maret April Mei Juni Juli 214.500.000,00 534.900.000,00 218.700.000,00 187.200.000,00 624.000.000,00 468.000.000,00 426.400.000,00 374.550.000,00 Jumlah Cukai (Rp) Selain SKM / SPM 79.920.000,00 152.820.000,00 75.600.000,00 71.280.000,00 71.280.000,00 118.320.000,00 86.960.000,00 94.870.000,00 Jumlah 294.420.000,00 687.720.000,00 294.300.000,00 258.480.000,00 695.280.000,00 586.320.000,00 1.540.080.000,00 2.816.520.000,00

Jumlah 3 bulan Jumlah 6 bulan

1) Pesanan pita cukai rata-rata per bulan : a. Dalam 6 (enam) bulan terakhir Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar Rp. 374.550.000,00 Selain SKM / SPM sebesar Rp. 94.870.000,00 Dalam 3 (tiga) bulan terakhir Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar Rp. 426.400.000,00 Selain SKM / SPM sebesar Rp. 86.960.000,00

b.

2) Kredit maksimum + cadangan 50% diperhitungkan sebagai berikut : a. b. c. untuk SKM/SPM : ( 2 x Rp. 426.400.000,00) x 150% = Rp. 1.279.200.000,00

untuk selain SKM/SPM : ( 3 x Rp. 86.960.000,00) x 150% = Rp. 391.320.000,00 + Plafon kredit diperhitungkan a + b sebesar Pemohon Rp. 1.670.520.000,00

(………………………….) DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

16

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 381 AGUSTUS 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->