P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 382

Warta Bea Cukai Edisi 382

|Views: 3,658|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2015

pdf

text

original

TAHUN XXXVIII EDISI 382

SEPTEMBER 2006

Setelah Laut, Angkutan Udara Siap Terapkan

MENUNGGU IMPLEMENTASI
NANANG TADJUDIN
“BANYAK HIKMAH YANG BISA DIPEROLEH DENGAN BERPINDAH-PINDAH TUGAS”

PROFIL

WAWANCARA

ANWAR SUPRIJADI

SECARA TEKNIS SISTEM APLIKASI, BANDAR UDARA SUDAH SIAP

DARI REDAKSI

KOMPETENSI & KOMPETISI
Competition is the whetstone of talent (traditional proverb)

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
MISI: Membimbing dan meningkatkan kecerdasan serta Jende kesadaran karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap tugas negara Mendekatkan Hubungan antara atasan dan Jende bawahan serta antara karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan masyarakat IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Pencegahan & Penyidikan Drs. Endang Tata Direktur Verifikasi & Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. Kamil Sjoeib, M.A. Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Drs. Jody Koesmendro Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Sofyan Permana Inspektur Bea dan Cukai Drs. Bambang Heryanto, Ak KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Sjahrir Djamaluddin WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Hanafi Usman, Drs. Patarai Pabottinggi, Drs. Bachtiar, M.Si., Dra. Cantyastuti Rahayu, Drs. Nasar Salim, M. Si., Drs. Nirwala Dwi Heryanto, Ir. Agung Kuswandono, M.A., Ir. Agus Sudarmadi, M. Sc., Drs. Ahmad Dimyati PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH Donny Eriyanto (Balikpapan), Bendito Menezes (Denpasar), Bambang Wicaksono (Surabaya) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Niko Budhi Darma, S. Sos, Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

P

ada pertengahan Agustus lalu, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) hadir dalam sebuah forum bisnis yang diselenggarakan oleh satu perusahaan jasa titipan skala multinasional (hal. 63). Dalam forum tersebut, Dirjen Bea Cukai, Anwar Suprijadi menyampaikan kata sambutan disusul Kasubdit Impor Ekspor, Bachtiar tampil sebagai pembicara, menjelaskan kepada mitra bisnis yang hadir tentang kebijakan terkini DJBC di bidang impor ekspor di Indonesia. Selama kurang lebih 20 menit, Dirjen Bea Cukai menjelaskan secara singkat tentang instansi yang telah dipimpinnya selama hampir empat bulan. Salah satu poin yang dikemukakan oleh dirjen adalah tentang upaya pembenahan yang dilakukan menyangkut SDM. Nantinya, penilaian pegawai akan berdasarkan kompetensi, sehingga diharapkan tidak akan ada lagi apa yang dirjen istilahkan dihadapan para undangan sebagai PGPS, alias “Pintar Goblok Pendapatan Sama”. Di perusahaan-perusahaan swasta yang telah established, penilaian karyawan berdasarkan kompetensi adalah sesuatu yang jamak. Bila anda bertemu dengan HRD sebuah perusahaan swasta, coba tanyakan bagaimana performance appraisal terhadap karyawan di perusahaannya? Biasanya mereka akan secara lugas menyampaikan bagaimana perusahaan tersebut melakukan standar penilaian terhadap karyawannya yang tentu saja berujung pada promosi hingga kenaikan gaji atau sebaliknya. Kompetensi setiap individu bisa memperlihatkan sejauhmana pegawai tersebut mampu mengeluarkan yang terbaik (atau terburuk) yang dimilikinya dalam bekerja. Sering terjadi kompetensi timbul akibat adanya persaingan atau kompetisi. Persaingan antar karyawan secara sehat dan fair untuk suatu posisi kerap dikembangkan oleh perusahaan swasta untuk melihat siapa yang lebih potensial, lebih cerdas, lebih kreatif, inovatif, responsif, dan berbagai kelebihan lainnya yang dimiliki setiap calon. Bagaimana di DJBC? Menyimak pernyataan dirjen, jelas terlihat DJBC akan terus dikembangkan untuk menghasilkan SDM yang berkualitas. Secara pribadi saya percaya, DJBC saat ini diisi oleh begitu banyak pegawai yang punya kompetensi yang sangat mumpuni dalam pekerjaannya. Jangankan untuk yang sifatnya kedinasan, bahkan cukup banyak tulisan-tulisan yang masuk ke WBC baik yang sifatnya teknis maupun non-teknis, yang mempunyai standar penulisan cukup baik. Persoalannya sekarang adalah bagaimana DJBC memformulasikan suatu kompetisi yang sehat bagi pegawainya untuk suatu posisi yang strategis. Ketika sedang memberikan penjelasan tentang kebijakan bea dan cukai, Bachtiar mengatakan, DJBC sedang merencanakan membuat kantorkantor pelayanan utama. Sebagai pegawai bea cukai, mungkin Anda sudah lama mendengar kabar tersebut. Ada beberapa hal yang membuat kantor utama ini berbeda dengan kantor bea cukai lainnya, misalnya dari soal pelayanan hingga kepada gaji yang akan diterima oleh pegawai yang bekerja di kantor tersebut, yang kabarnya lumayan besar, jauh di atas ratarata. Apabila kantor pelayanan utama bea cukai benar-benar terwujud, pertanyaannya kemudian, siapa yang akan ditempatkan di kantor tersebut? Sekali lagi, menyimak pernyataan dirjen, penilaian pegawai berdasarkan kompetensi sepertinya adalah jawabannya. Tidak ada perusahaan yang mau menggaji besar seorang karyawan yang tidak mampu bekerja. Dan dari sekian banyak individu dengan kompetensi yang menonjol, semoga kompetisi yang sehat dan fair menjadi kunci utamanya, bukan kedekatan pribadi apalagi ‘bingkisan terima kasih’. Selamat bekerja, selamat berkompetisi, dan memasuki bulan suci Ramadhan di akhir September nanti, selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat muslim. Lucky R. Tangkulung

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Laporan Utama WBC kali ini akan mengangkat mengenai Mandatori Nasional SAP PDE Manifes. Lebih lanjut mengenai Mandatori SAP PDE manifes dapat dilihat pada rubrik laporan utama.

5

Wawancara
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Drs. Anwar Suprijadi,MSi dalam rubrik wawancara kali ini akan menuturkan mengenai pentingnya penerapan SAP PDE Manifes di DJBC. Selengkapnya dapat disimak dalam rubrik wawancara.

18

Selak

66
Perbatasan IndonesiaMalaysia jika dikelola secara bersama dapat dijadikan sebagai tempat wisata yang menarik sekaligus memberikan kontribusi bagi pendapatan dua negara. Untuk membandingkan perbatasan RI-Malaysia dengan Amerika Serikat-Kanada, dapat disimak dalam rubrik selak kali ini.

Pengawasan
Penegahan handphone ilegal dan pelatihan anjing pelacak narkotika DJBC, merupakan dua topik yang diangkat dalam rubrik pengawasan. Selengkapanya dapat disimak dalam rubrik ini.

22

Daerah ke Daerah
Dalam rangka meningkatkan SDM dalam penanganan masalah narkoba, terutama aparat penegak hukum yang berada di bandara, Bareskrim POLRI bekerja sama dengan DEA mengadakan pelatihan pada anggota satgas AI yang diselenggarakan di Bali. Selengkapnya dapat disimak dalam rubrik daerah ke daearah.

34

Profil

76
“Mengalir bagai air, apa adanya…” merupakan prinsip yang dipegang oleh tokoh porfil WBC kali ini, Nanang Tadjudin. Selengkapnya mengenai kiprahnya di DJBC, dapat disimak dalam rubrik profil kali ini.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

1 3 4 28

30

41 44

46

47

48

51

53 56

60 63

65 72 74 80

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR PPKC Penerimaan Bae Masuk dan Cukai Semester I 2006, Tidak Mencapai Target PERISTIWA - Pengenaan Pajak Untuk Kawasan berikat - RAPBN 2007, Pertumbuhan Ekonomi 6.3 Persen - Upacara Hari Proklamasi RI Ke61 Departemen Keuangan SEPUTAR BEACUKAI SIAPA MENGAPA - Suyono - Erni - Adil Rianto KONSULTASI KEPABEANAN DAN CUKAI HBL Sebagai Dokumen Pelengkap Pabean INFO PEGAWAI Pegawai Pensiun per 1 September 2006 KEPABEANAN Mengenal Lebih jauh Tentang Dumping dan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) ENGLISH SECTION a Virtuous Circle: Customs Modernization, Foreign Direct Investment, and Trade Liberation INFO PERATURAN KOLOM - Mungkinkah Fasilitas Kepabeanan Diberikan Lebih Besar bagi Kawasan Timur Indonesia ? - Meningkatkan Daya Saing Produk dalam Negeri OPINI “Kita dan Perubahan” MITRA - Forum Bisnis Bersama Pengusaha, DJBC dan Perdagangan - PT. Transdata Mitra Solusi RUANG KESEHATAN Sulit BAB RENUNGAN ROHANI Ramadhan, Madrasah Muttaqin RUANG INTERAKSI APA KATA MEREKA - Jupiter Fourtissimo - Nia Dinata

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

KEMBALI KE KAMPUNG HALAMAN
Akhir-akhir ini sering sekali kita mendengar beberapa pegawai Bea Cukai yang ingin/telah kembali (pulang kampung) ke daerahnya masingmasing untuk bertugas di tanah kelahiran mereka. Seperti pengalaman saya yang pernah bertugas di suatu kantor A yang mana rata-rata pegawainya adalah asli orang setempat (putera daerah), karena banyaknya mereka yang telah kembali dari perantauan (walaupun hanya 1 atau 2 tahun). Di satu sisi hal itu memang suatu kewajaran (masalah manusiawi) jika ada pegawai yang ingin kembali ke kampung halamannya. Namun menurut saya, jika suatu kantor telah dipenuhi oleh putera daerahnya akan berdampak buruk terhadap kemajuan kantor. Karena dengan pengalaman saya di kantor A tersebut, hanya sedikit sekali mereka yang bekerja, dan lebih banyak pegawai yang selalu menganggur. Hal ini dikarenakan kegiatan (khususnya ekspor/impor) di kantor itu memang/telah minim, sementara jumlah pegawainya kian hari makin bertambah. Ironisnya di Kantor Pusat sendiri diketahui masih banyak menerima usulan (waiting list) dari putera daerah yang bertugas di luar berupa permohonan untuk kembali ke kantor A itu. Alhasil mereka yang bukan orang asli disana malah ingin keluar (kemana saja) asalkan mereka mendapatkan kesibukan/peran di bidangnya masing-masing sesuai dengan potensi yang dimiliki, karena suasana kantor sendiri menjadi vakum dengan terus bertambahnya jumlah pegawai. Namun timbul pemikiran saya yang akhirnya saya tuangkan sendiri ke dalam surat ini, dengan berbagai pertanyaan untuk kita renungkan bersama. 1. Bagaimana nasib seorang pegawai Bea Cukai seperti salah seorang teman angkatan saya, yang mana jika ingin kembali ke daerahnya namun tidak ada kantor Bea Cukai sama sekali (Kanwil, KPBC, apalagi Pos Bantu) ? 2. Setiap pegawai punya keluarga (ayah, ibu, istri, anak, dan kerabat lainnya), dan jika alasan ini yang membuat pegawai tidak ingin dimutasi keluar dari daerahnya lalu bagaimana dengan para Pejabat Bea Cukai yang sudah bertahun-tahun tidak bahkan belum pernah sama sekali merasakan nikmatnya bekerja di tempat asal mereka ? 3. Dan bukan hanya satu, dua, si A, si B bahkan juga saya sendiri, tapi ada beribu-ribu pegawai Bea Cukai di sana-sini (dari Sabang sampai Merauke) yang ingin kembali ke kampung halamannya. Saya berharap (mudah-mudahan juga seluruh pegawai Bea Cukai) agar dikemudian hari kita mau dan/atau lebih menikmati dimana saja tempat kita bertugas (walaupun bukan di daerah masing-masing tentunya). Dan bagi DJBC sendiri kita mengharapkan kedepannya nanti agar penataan dan pelaksanaan dalam pemindahan pegawai dapat dijalankan dengan lebih baik. Demikian kritik dan saran dari saya, atas perhatian dan tanggapannya diucapkan terima kasih. Hormat Saya, Deni bin Umar

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

LAPORAN UTAMA

MANDATORI NASIONAL

S PDE Manifes AP
Setelah mandatori untuk Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) Pertukaran Data Elektronik (PDE) manifest (Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) + inward) yang full implementasi di Pelabuhan Tanjung Priok, 3 Juli 2006, kini mulai 1 September 2006 mandatori RKSP + Inward di pelabuhan laut serentak secara nasional. Menyusul 1 Oktober 2006, DJBC akan mandatori RKSP + Inward di pelabuhan udara (bandara) juga serentak secara nasional.
ada penerapan PDE manifest udara yang akan mandatori mulai 1 Oktober 2006, Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A SoekarnoHatta ditunjuk sebagai pilot project pelaksanaan sistem tersebut. Pertimbangan itu diambil antara lain karena secara umum, bandara terbesar di Indonesia adalah memang Bandara Soekarno-Hatta dengan frekuensi lalu lintas barang sedemikian tinggi dengan varian maskapai yang beragam dan multi internasional. Namun demikian, menurut Kepala KPBC Tipe A Khusus Soekarno Hatta, Achmad Riyadi, yang menjadi pertimbangan utama adalah kesiapan terhadap sarana dan prasarana yang diperlukan dalam penerapan PDE Manifes terutama aspek market forces yang ada. Untuk Kantor Pelayanan yang telah menerapkan PDE tentunya diharapkan tidak akan menghadapi kendala-kendala, terutama mengingat pengalaman pada saat penerapan Pemberitahuan Impor Barang, Elektronic Data Interchange (PIB EDI) maupun Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) EDI di KPBC Tipe A Khusus Soekarno Hatta. Untuk menghadapi itu, lanjut Riyadi, pihaknya melakukan beberapa persiapan antara lain, melakukan sosialisasi secara komprehensif kepada market forces yang dikoordinir oleh Tim SAP PDE Manifes, sosialisasi ke dalam berupa P2KP kepada seluruh pegawai KPBC, menyelenggarakan pelatihan kepada petugas yang menangani PDE Manifes dan menyiapkan posko 24 jam. Disamping itu juga, secara rutin pihaknya telah mengadakan pertemuan dengan pihak yang terkait di bandara terutama dengan pihak penerbangan dan dapat dikatakan bahwa semua pihak telah mendukung penerapan PDE Manifes. Namun demikian, lanjut Riyadi, para pihak yang terkait dengan penerapan PDE Manifes Udara, misalnya airlines asing, mengharapkan sosialisasi sampai dengan pelaksanaan, baik yang bersifat piloting maupun mandatori dapat mempunyai kerangka waktu yang jelas, mengingat proses adaptasi atas pelaksanaan akan membutuhkan investasi tambahan seperti software/ hardware yang memerlukan koordinasi dengan kantor pusat di negara masing-masing. Dalam melakukan pembicaraan dengan instansi terkait dan unsur yang terlibat dalam penerapan PDE manifest, ada masukan-masukan untuk pemerintah dalam hal ini Bea dan Cukai, yaitu kekhawatiran pada saat pelaksanaan PDE PIB ditemukan kendala teknis yang ternyata akan menambah waktu proses penyelesaian pemberitahuan Bea Cukai sehingga untuk itu diharapkan aplikasi tersebut dapat dikembangkan secara matang. Mengacu kepada karakteristik pengiriman barang melalui pesawat tentunya identik dengan variabel kecepatan pengiriman. Dengan dasar karakteristik itulah, lanjutnya, pada prinsipnya penerapan secara mandatori pada 1 Oktober tidak akan terkendala mengingat penyajian informasi dan data memang secara otomatis telah tersedia. Namun demikian untuk memperkuat keyakinan, perlu kiranya dilakukan sinkronisasi data-data yang perlu dikembangkan secara intensif dalam kaitannya dengan penerapan PDE Manifes. “Secara garis besar, administrasi pembongkaran tersebut ditangani langsung oleh cargo operator (PT.JAS, PT. Gapura dan lain-lain). Dapat saya tambahkan, salah satu cargo operator yang ada, menyatakan bahwa seluruh platform data yang ada pada PDE manifes sudah ada di database mereka termasuk rincian datanya (data HAWB) sehingga hal ini memudahkan pertukaran data elektronik,” ujar Riyadi. Dalam hal melaksanakan sistem pengawasan PDE Manifes, KPBC ini melalui Seksi P2-nya melakukan beberapa langkah, antara lain; l mempertajam analisis melalui mekanisme online sistem dalam waktu yang singkat atas kedatangan suatu
l l

P

barang sekaligus mengembangkan database profiling Diupayakan untuk melakukan pengembangan internal system menyangkut pengawasan terhadap proses pembongkaran melalui mekanisme rekonsiliasi Melakukan penertiban secara langsung dan tegas terhadap setiap adanya pelanggaran atas ketentuan pelaksanaan penyampaian manifes.

Sehubungan dengan belum ter-installnya aplikasi inhouse SAP manifest, pihak KPBC mengupayakan untuk mensosialisasikan pengetahuan mengenai aplikasi yang telah dikembangkan dan disampaikan oleh Tim SAP PDE Manifes, meskipun hanya dalam bentuk hardcopy media pelatihan kepada petugas yang terkait dengan manifes, namun demikian beberapa pegawai KPBC Soekarno-Hatta telah mencoba untuk mengenal aplikasi tersebut melalui sistem dummy data. Dengan diberlakukannya PDE Manifes tentunya akan lebih cepat dan mudah memperoleh data-data mengenai eksporimpor. Data-data yang diperoleh, menurut Riyadi, tentunya diharapkan akan mempermudah sistematika fungsi pelayanan maupun dalam fungsi pengawasan yang ada. Untuk proses pelayanan dapat langsung mengadopsi data-data ke dalam dokumen formalitas kepabeanan yang digunakan sedangkan dalam fungsi pengawasan, secara prinsip terdapat beberapa komponen data yang sangat mungkin untuk digunakan dalam kaitannya dengan pemantauan alur suatu barang. “Data-data pada manifest, seperti shipper, consignee, negara asal, deskripsi barang dan banyak data-data lainnya yang dapat kita gabungkan dan dianalis untuk proses profiling guna kepentingan pengawasan melalui mekanisme preventif maupun represif,” ujar Riyadi. Disinggung mengenai redress yang dalam aturan baru mengenai PDE Manifes ditegaskan kembali bahwa cukup
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

5

LAPORAN UTAMA
WBC/ZAP

diselesaikan di Kantor Pelayanan, Riyadi menjelaskan, pada dasarnya sebelum sistem PDE Manifes akan diterapkan pun, penyelesaian redress consignee cukup diselesaikan di Kantor Pelayanan namun tetap mengacu kepada Surat Direktur Jenderal Nomor : S-85/BC/2005 tanggal 28 Januari tentang perubahan penerima barang (consignee) dan atau notify party. Pada surat tersebut, telah diatur jelas koridor proses redress tersebut mengingat redress sangat dimungkinkan sebagai salah satu celah yang dapat dipergunakan oleh penerima barang sebagai upaya untuk pelarian terhadap kepentingan perijinan yang diperlukan mendalam terhadap proses redress tersebut. Dengan adanya PDE manifest diharapkan pemantauan terhadap proses redress akan lebih termonitor secara komprehensif. Terhadap pelaksanaan PDE Manifes, Riyadi memberikan beberapa masukan, yaitu: l Percepatan proses pelaksanaan PDE Manifes diharapkan pihak Bea Cukai dan market forces untuk lebih menjalin komunikasi intensif guna mendapatkan persamaan pandangan maupun dalam bentuk format-format lain dalam pelaksanaan tersebut. l Mempersiapkan kebijakan-kebijakan teknis dalam hal terdapat kendala pengiriman data secara PDE manifest tidak berjalan sepenuhnya l Adanya penilaian tersendiri untuk kepatuhan dari market forces yang melaksanakan PDE Manifes l SAP Manifes dapat mengukur efisiensi dari rekonsiliasi barang yang keluar (antara lain PIB, BC.2.3, PIBT, BC 1.2 dan Reekspor) dengan jumlah PU yang ditutup (Rekap perhari, perminggu, perbulan) l Permasalahan Pos-pos PU yang terbuka dapat diminimal, khusus pada perusahaan Jasa Titipan l Proses BCF 1.5 akan lebih maksimal l Mengingat market forces yang ada di bandara internasional multi nasional, tidak berlebihan kiranya jika ketentuan-ketentuan hukum PDE Manifes dapat diterjemahkan dalam bahasa internasional (Inggris dan atau Jepang) Ketentuan hukum yang berbahasa internasional akan memudahkan pihak agen penerbangan asing yang ada di Indonesia untuk mempertegas pelaksanaan PDE Manifes dengan pihak principal mereka di luar negeri.

ACHMAD RIYADI. “mempertajam analisis melalui mekanisme online sistem dalam waktu yang singkat atas kedatangan suatu barang sekaligus mengembangkan database profiling ”

ini berjalan di Amerika Serikat yang menerapkan Advance Manifest System (AMS), dimana semua airline yang akan tiba di Amerika sebelum mendarat di sana, maka seluruh manifest ataupun detil barang yang dibawa kapal tersebut diterima pihak Customs Amerika sehingga customs dapat mengetahui jenis barang apa saja yang dibawa, apakah barang berbahaya, larangan atau pembatasan. Jadi lebih mengarah pada security dan khususnya pihak custom berkaitan dengan pengenaan biaya pajak dan sebagainya. Sejauh ini, lanjutnya, provider dari Bea dan Cukai adalah PT EDI Indonesia , sedangkan dari pihak maskapai bernomor penerbangan SQ ini, sebagai perantara adalah Cargo Community Network (CCN). Kedua belah pihak dalam hal ini PT.EDII dan CCN sudah melakukan kerjasama, terutama dalam hal proses detilnya agar
WBC/ZAP

FLEKSIBEL SESUAIKAN KONDISI UDARA
Singapore Airlines, maskapai penerbangan yang memiliki wilayah operasi di Jakarta, menanggapi secara positif rencana pemberlakuan PDE Manifes. Seperti diungkapkan salah seorang narasumber yang mewakili Singapore Airlines Cargo, bahwa program ini merupakan suatu kemajuan dan lompatan besar bagi Bea Cukai Indonesia. Seperti yang ia lihat saat 6
WARTA BEA CUKAI

M. ZULKARNAEN. Karena sampai proses terakhir dilakukan secara elektronik maka lebih mudah dimonitoring dibandingkan sebelumnya masih secara manual dan menggunakan kertas.

sistem itu bisa me-link atau mentransfer data dari SQ kepada pihak Bea Cukai. Jika kedua belah pihak ini sudah berhasil mensinergikan proses data tersebut, maka pihak SQ yakin hal ini tidak jadi masalah lagi. Menyinggung masalah teknis, diakui pihaknya (SQ) tidak ada masalah, sebab dalam sistem penerbangan, ketika pesawat itu terbang maka SQ akan mengirimkan data secara computerize, dikirim langsung dan diterima di pihak yang di tuju, misalnya SQ mengirim ke bea cukai, maka akan bisa langsung terkirim ke bea cukai. Hanya saja kuncinya adalah bagaimana data ini akan bisa langsung otomatis. SQ berharap dalam implementasi, masalah karakteristik pengangkutan udara diperhatikan, sebab memiliki karakteristik waktu yang cepat dan terbatas. Misalnya, SQ yang start dari Singapura memiliki 8 kali penerbangan dalam sehari hanya menempuh satu jam waktu penerbangan, maka itu pihaknya berharap seluruh proses dapat benar-benar berjalan otomatis. Tentunya semua pihak yang terkait dengan penerapan sistem ini berharap bahwa idealnya data harus ditransmisikan secara otomatis, jangan sampai menimbulkan dua kali kerja, dalam arti misalnya ada kendala otomasi maka harus input lagi di Jakarta dan akhirnya waktu akan terbuang, sehingga tidak confined dan tujuan dari elektronik menjadi kabur, sebab sistem elektronik akan menstransfer data dengan cara cepat. Maka itu bagaimana data bisa ditransmit transmisi dengan lancar. Kendala dalam penerapan sistem baru pasti akan ditemui, menurut pihak SQ, ketika memulai PDE pada 1 Oktober, pasti kondisinya tidak langsung ideal, perlu uji coba minimal satu minggu atau lebih, dari hasil uji coba tadi akan terlihat hal-hal apa saja yang memerlukan revisi atau perbaikan untuk menemukan kondisi yang diinginkan. Mengenai identifikasi masalah yang akan dihadapi dalam penerapan SAP PDE Manifes, pihaknya telah melakukan hal itu, seperti masalah rutin yang ditemui SQ dengan pihak AMS Amerika, misalnya data tidak lengkap atau data terlambat dikirim, karena airlines dalam proses ini lebih ke aspek kelengkapan data, yaitu sejauhmana airlines bisa mem-provide data selengkapnya yang dibutuhkan bea dan cukai, misalnya data penerima. Sedangkan untuk kelengkapan dokumen sebenarnya standar saja karena ada AirWay Bill dan manifes dari airlines, sedangkan jika yang menerima adalah forwarder maka memiliki dokumen sendiri, sedangkan dari airlines sebenarnya tidak terlalu banyak dokumen, hanya AirWay Bill dan manifest. Lantas, untuk mengantisipasi identifikasi masalah, maka pihak SQ berusaha memenuhi kelengkapan datanya. SQ mengusahakan sejak dari pertama barang dikirimkan misalnya ada barang dari

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WBC/ZAP

Jepang tujuan ke Jakarta, maka sebelum barang tiba di Jakarta datanya sudah harus di-provide secara lengkap. Sebab ketidaklengkapan data akan menyebabkan keterlambatan ke tujuan dan itu juga merugikan pihak SQ, jadi tidak hanya pihak Bea Cukai. SQ mendukung program yang akan mulai mandatori pada 1 Oktober 2006, untuk selanjutnya dilakukan evaluasi setelah mandatori tersebut. Dalam hal ini Bea Cukai harus terbuka dengan kondisi kenyataan di lapangan bahwa di bisnis udara berbeda dengan bisnis di laut. Yang penting fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan kondisi udara. Karena diperlukan cepat maka datanya diotomasi dan ini tidak bisa dihindari karena setiap negara dari waktu ke waktu cenderung akan mengimplementasikan sistem PDE.

CARGO HANDLING
Bagi JAS Airport Service, ketika Bea dan Cukai akan memberlakukan sistem baru terutama untuk bandara, pihaknya aktif ikut serta dalam setiap rencana tersebut. Seperti yang diungkapkan Zulkarnaen, Cargo Development Project JAS Airport Service, bahwa sejak tahun 1996 saat rencana pemberlakuan PIB EDI dan melakukan survey ke Malaysia, pihak JAS yang bergerak di bidang cargo handling ini diikutsertakan dan beberapa keikutsertaan lainnya termasuk dalam rencana penerapan PDE manifes untuk jalur Udara. Menurut Zulkarnaen, secara teori sebenarnya sistem PDE akan mempersingkat waktu pelayanan, namun itu dikembalikan lagi kepada Bea Cukai mengenai komitmen tujuan utama diterapkannya PDE manifes. Dan perlu diketahui juga bahwa data-data yang nantinya diminta oleh Bea Cukai untuk kepentingan manifes, ternyata selama ini sudah tersedia di sistem JAS. Namun dikarenakan data tersebut tidak pernah diminta, maka selama ini hanya memberikan data yang diminta Bea Cukai. Maka itu, ia menegaskan untuk sistem yang baru ini pihak JAS tinggal merubah data yang diterima dari luar negeri bersama dengan penyelenggara dokumen data.

ZULKARNAEN. secara teori, PDE mempersingkat waktu pelayanan, namun dikembalikan lagi kepada Bea Cukai mengenai komitmen tujuan utama diterapkannya PDE manifest

Mengenai kegiatan sosialisasi yang dilakukan DJBC menjelang 1 Oktober 2006 penerapan sistem ini, ternyata PT. JAS, sesuai dengan permintaan Bea Cukai dijadikan pilot run sekitar pertengahan Agustus, dan pada 1 Oktober sudah harus running. “kalau dalam uji coba itu ditemui error atau masalah nanti akan dilakukan perbaikan, jadi ada waktu 2 minggu. Diharapkan sesuai dengan keputusan dirjen harus sudah running otomasi,” ujar Zulkarnaen. Sementara itu dari sisi teknis dan sistem aplikasi, IT Support Operation PT. JAS Airport Service, M Zulkarnaen menyatakan, dari segi kultur mungkin akan lebih memudahkan dalam proses karena sampai proses terakhir dilakukan secara elektronik sehingga lebih mudah dimonitoring dibandingkan sebelumnya masih secara manual dan menggunakan kertas. “Mungkin habit dari manual ke komputer yang harus dibiasakan, karena di JAS sendiri selama ini mengoperasikannya dengan menggunakan komputer dan tidak masalah buat kita. SDM kita sudah siap, karena sehari-hari telah mengope-

rasikan komputer dan JAS telah memiliki sistem pengecekan barang, petugas pun sudah biasa mengoperasikan. Jadi hanya merubah beberapa aspek saja tidak banyak dari segi kita,” ujar M. Zulkarnaen. Diakui M Zulkarnaen, dalam persiapan menjelang pilot run ini untuk aplikasi sistem, PT JAS masih melakukan modifikasi sistem PDE Manifes yang telah berjalan untuk laut. Mengingat volume data PT.JAS sangat tinggi, maka pihaknya berusaha menghindari peng-entry-an, untuk itu dengan pihak airlines PT. JAS hanya menerima intervisi saja. “Data airlines kita masukan dalam data server lalu diolah untuk kepentingan kita. Nah dengan adanya PDE manifes akan kita cover lagi dalam bentuk data yang dibutuhkan disesuaikan dengan kebutuhan customs. 90 persen elemen data dapat di outsources untuk sisi kargo udara. Hanya beberapa sisi perubahan saja diperlukan. Sistemnya masih sama seperti yang di Tanjung Priok. Modifikasi ini, pada akhirnya akan lebih sederhana dibandingkan di laut dimana banyak party yang terlibat,” tambah M. Zulkarnaen. Saat ini yang telah mengirimkan kelengkapan data untuk PDE Manifes kepada PT. JAS, baru dua airlines yaitu Singapore Airlines dan KLM, dari sembilan maskapai penerbangan asing yang menggunakan jasa PT.JAS, yaitu Qantas, Eva Air, Lutfhansa, Cathay Pacific, Emirate, Qatar, Etihad, termasuk Thailand. Untuk itu, pada kesempatan pertemuan dengan tim dari Bea Cukai, pihak airlines meminta dikeluarkannya rekomendasi atau permintaan resmi dari Bea dan Cukai agar perusahaan airlines asing wajib mengirimkan persyaratan data yang diminta Bea dan Cukai yaitu FFM, FWB dan FHL, dimana data-data itu akan dikonfersikan ke dalam bentuk PDE manifes. “Jika tiga hal itu sudah ada maka akan mudah dan tidak ada masalah. Sebetulnya mereka bukan enggan memberikan data, sebab selama ini tidak ada permintaan untuk data itu. Kita ke Amerika saja bisa, mengapa ke Indonesia kita tidak bisa. Jadi sebetulnya data sudah ada dan sistemnya sama,” tegasnya. ris

DIPILIHNYA BANDARA SOEKARNO HATTA menjadi Pilot Project, yang menjadi pertimbangan utama adalah kesiapan terhadap sarana dan prasarana yang diperlukan dalam penerapan PDE Manifes terutama aspek market forces yang ada. EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA

S PDE Manifes AP
Untuk keakuratan dan validitas data dari pengangkut (perusahaan pelayaran dan penerbangan) bagi keperluan manifes, maka Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) membuat standar sistem yang dapat memudahkan pengisian data-data barang niaga ke dalam manifes dan memudahkan penyampaiannya ke KPBC (Kantor Pelayanan Bea dan Cukai). Hanya saja kondisinya saat ini, KPBC masingmasing memiliki karakteristik dalam pengolahan data manifes. Ada KPBC yang telah menggunakan pengolahan data manifes secara elektronik, disket bahkan manual

KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI, JELANG MANDATORI

M

enjelang dimandatorikannya Sistem Aplikasi Pelayanan PDE Manifes, Kepala KPBC Tipe A Batam, Padmoyo Triwikanto, menyatakan, saat ini KPBC Batam tengah mengadakan persiapan-persiapan dalam menghadapi penerapan PDE manifes yang secara mandatori diterapkan pada 1 September 2006 untuk pelabuhan laut dan 1 Oktober untuk pelabuhan udara, baik persiapan sarana seperti pemasangan jaringan, pengadaan komputer maupun persiapan SDM berupa pelatihan kepada para pegawai. KPBC Batam yang mendapat skala prioritas A, dalam penerapan PDE Manifes, tentunya merupakan kebanggaan sekaligus menjadikan tantangan bagi KPBC ini untuk melaksanakan sistem PDE manifes dengan sebaik-baiknya meskipun dengan waktu yang relatif singkat. Untuk itu, menurut Padmoyo, persiapan sarana seperti pemasangan jaringan, pengadaan komputer maupun persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menangani pelayanan PDE manifes berupa pelatihan kepada para pegawai telah dilakukan. Disamping itu, upaya sosialisasi kepada pengguna jasa juga sedang dilaksanakan secara formal antara lain berupa pelatihan dengan bimbingan tim dari Direktorat. Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC) Kantor Pusat DJBC, maupun secara informal seperti meminta masukan kendala-kendala apa yang dihadapi para pengguna jasa jika sistem ini dilaksanakan Perlu diketahui, penerapan sistem PIB disket pada KPBC Batam, baik untuk laut maupun udara telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Lampiran III Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor 07/BC/2003. Beberapa hal yang bersifat ketentuan khusus yang berlaku di Pulau Batam, antara lain pengenaan Bea masuk untuk 4 komoditi barang, besarnya proWARTA BEA CUKAI

sentase penetapan jalur merah dibanding jalur hijau akibat registrasi impor. Maka itu dengan adanya sistem PDE manifes perbedaan mendasar dibanding sistem sebelumnya adalah cara penyerahan yang sebelumnya masih manual digantikan dengan media elektronik/ disket. “Hal ini sangat mempermudah tugas kami dimana selama ini setiap hari harus mengadministrasikan kurang lebih 50 buah manifes. Kemudahan lainnya adalah keseragaman format dan kejelasan jenis barang dengan dilaksanakannya PDE manifes nanti sehingga akan sangat membantu melakukan analisa manifes,” ungkap Padmoyo. Terhadap data manifes yang lama tetap disimpan dan diadministrasikan oleh Seksi P2 dan dimanfaatkan untuk kepentingan pengecekan data barang
DOK. WBC

PADMOYO TRIWIKANTO. Suatu perubahan ke arah perbaikan pasti akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak.

yang masuk atau keluar Pulau Batam apabila sewakti-waktu diperlukan. Sementara itu dengan diterapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.04/ 2006 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-10/BC/2006 diharapkan dapat lebih mengefektifkan pengawasan barang impor dengan analisa manifes maupun penutupan pos BC1.1 yang sebelumnya dilaksanakan secara manual. Diakui Padmoyo, meskipun terdapat keraguan dari pihak pengguna jasa mengenai efektifitas diterapkannya PDE manifes, pihaknya menilai hal itu merupakan hal yang biasa terhadap sesuatu penerapan yang baru apalagi dengan perbedaan yang cukup mendasar. Namun suatu perubahan ke arah perbaikan pasti akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. “Tentu saja pengguna jasa akan merasakan sendiri keuntungannya setelah sistem ini dilaksanakan.Keuntungan yang akan didapatkan oleh pengguna jasa antara lain kecepatan pelayanan yang diberikan oleh pihak Bea dan Cukai sehubungan dengan kemudahan yang didapatkannya,” ujarnya. Sementara bagi KPBC sendiri dengan diterapkannya PDE manifes, cukup banyak keuntungan yang didapatkan oleh KPBC, misalnya tidak diperlukan lagi ruangan untuk menyimpan hard copy BC1.1 yang jumlahnya cukup banyak. Sampai akhir Juli 2006 saja KPBC Batam sudah menerima penyerahan manifes sebanyak 10.337 buah yang terdiri dari 8.067 manifes kapal luar negeri dan 2.270 manifes antar pulau. Keuntungan lain adalah keamanan data, dimana dengan PDE manifes tidak lagi memungkinkan hilangnya lembaran BC1.1 baik karena kelalaian maupun kesengajaan. Pengisian data manifes yang seragam juga sangat mempermudah petugas melakukan analisa manifes sebelum

8

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

diajukannya pemberitahuan pabean. Penutupan pos BC1.1 akan lebih mudah dilakukan secara elektronik daripada secara manual. “Mekanisme pengawasan terhadap barang impor, ekspor, maupun barang Kawasan Berikat tetap dilaksanakan seperti biasa, namun kami kira dampaknya akan lebih baik seiring dengan beberapa kemudahan yang didapat dari penerapan PDE manifes ini,” ungkap Padmoyo. Penerapan PDE manifes yang akan dilaksanakan dengan media disket pada KPBC Batam telah diinventarisir permasalahannya dan saat ini sedang diberikan masukan-masukan kepada Direktorat P2 maupun kepada tim asistensi yang datang ke KPBC Batam. Sedangkan mengenai kendala-kendala yang dihadapi KPBC Batam adalah antara lain ; kedekatan Pulau Batam dengan Singapura secara geografis. Jarak Singapura yang tidak terlalu jauh dari Pulau Batam hanya memerlukan waktu kurang lebih 1 jam pelayaran mengakibatkan terdapat banyaknya pelayaran yang pengelolaan manajemennya masih tradisional. Hal ini juga memungkinkan kedatangan kapal yang sama lebih dari satu kali dalam satu hari. Kendala lain adalah, tersebarnya pelabuhan di seluruh pulau Batam. Seperti diketahui bahwa KPBC Batam melayani seluruh pelabuhan yang berada di seluruh Pulau Batam yang jumlahnya cukup banyak (4 pelabuhan resmi dan sekitar 20 pelabuhan tidak resmi). Agen pelayaran pada pelabuhan yang jaraknya jauh dari Kantor Pelayanan akan membutuhkan waktu yang lama (hingga 1 jam) untuk menyerahkan RKSP dan BC1.1 ke KPBC Batam. Kurang tersedianya sarana TPS juga masih menjadi kendala, karena tidak semua pelabuhan memiliki TPS sehingga menyulitkan pengawasan pihak KPBC Batam. Kemudian kendala selanjutnya,
DOK. PRIBADI

banyaknya pelayaran tradisional dan kapal antar pulau dimana sifat dari pelayaran ini berpotensi menimbulkan permasalahan dikarenakan keterbatasan prasarana dan SDM. Jika nantinya PDE manifest sudah terintegrasi dengan PDE PIB dikatakan Padmoyo, mungkin tidak ada sarana yang harus dipersiapkan karena hanya memerlukan penambahan software saja. Persiapan personil memang harus diupayakan dan pihaknya yakin dengan SDM yang ada sekarang mampu untuk melaksanakannya. Disinggung mengenai pendistribusian modul pengangkut dan modul entry data, diakuinya semuanya berjalan lancar dan sampai saat ini telah dibagikan 25 modul kepada peserta pelatihan, ditambah lagi dengan 5 agen pelayaran yang telah mengajukan permohonan maupun datang langsung ke KPBC. Ini berarti sudah hampir separuh dari sekitar 70-an agen pelayaran yang dilayani. Terhadap sisanya akan segera dibagikan dalam kesempatan pertama. Mengenai pelatihan atas inhouse aplikasi SAP manifes untuk petugas KPBC telah dua kali dilaksanakan. Pertama pada 28 Agustus 2006 untuk Kepala Seksi P2, Kepala Seksi OKDD bersama korlak yang dibawahinya, dan pada 8 Agustus 2006 untuk pelaksana yang dipersiapkan untuk menerima dan menutup manifes serta petugas analis. Sedangkan pelatihan untuk pengguna jasa dilaksanakan pada hari yang sama dengan pegawai KPBC. Dari uji coba yang dilaksanakan pada umumnya berjalan dengan lancar, hanya ditemui beberapa kendala mengenai cara pengisian data manifes. Terhadap penerapan PDE manifes ini, Padmoyo mengatakan bahwa hal ini merupakan langkah besar yang dibuat Direktorat Jenderal untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. “Sementara ini akan kami lihat dulu aplikasinya di lapangan dan kendala yang dihadapi nantinya, baru diadakan perbaikanperbaikan yang akan semakin memberikan pelayanan prima kepada pengguna jasa sehingga pada akhirnya akan memberikan citra yang semakin baik kepada DJBC,” demikian harapannya.

“Saat ini masih tahap sosialisasi, baik ditujukan ke internal DJBC maupun eksternal yaitu para pengguna jasa. Kita sudah berkomitmen kuat melaksanakan sekaligus mengamankan perintah Dirjen BC dalam hal implementasi PDE Manifest. Mengenai kegiatan teknis berikutnya, biasanya akan ada follow up lanjutan, baik berupa rapat maupun install infrastruktur sistem dan kami masih menunggu untuk itu. Karena target yang ditetapkan yaitu 1 September 2006 untuk laut sudah mandatori, maka harus sungguh-sungguh kita upayakan supaya tidak meleset,” ujar Rudi. Mengingat pelayanan yang diberikan kepada pengguna jasa masih secara manual, persiapan yang saat ini dilakukan hanyalah sebatas perencanaan penunjukan personel, penyiapan ruangan, pemahaman materi. Sedangkan persiapan menyangkut infrastrukturnya yang meliputi Hardware, Software, dan sarana pendukung lainnya menunggu perintah dan instruksi lebih lanjut dari pimpinan, mengingat hal teknis seperti ini biasanya dilakukan oleh personel yang ahli dan kompeten dari Kantor Pusat DJBC. “Semuanya diberikan kepada pengguna jasa dan pegawai KPBC, dengan harapan ke depan apabila tiba saatnya diperintahkan menggunakan PDE dalam pelayanan kepabeanan, para pengguna jasa tidak kaget dan kita sudah siap serta memiliki pemahaman yang memadai guna menghindari ekses yang tidak perlu di lapangan,” demikian menurutnya. Selama ini KPBC Bengkulu menerapkan sistem PIB manual, mengingat KPBC Bengkulu belum menerapkan PDE dalam pelayanan kepabeanan dan cukai. Seperti biasa prosedur PIB Manual pada pelaksanaannya tunduk pada Keputusan Dirjen Bea dan Cukai Nomor KEP-07/BC/ 2003 tanggal 31 Januari 2003, Intinya media yang disampaikan kepada petugas KPBC berupa pemberitahuan pabean
WBC/ADI

DETEKSI DINI YANG HANDAL, DAPAT DIPERCAYA, DAN ACCESSABLE
Sejak diterimanya Peraturan Dirjen Bea dan Cukai No: P-10/BC/2006 tanggal 16 Juni 2006, Kepala KPBC Tipe C Bengkulu, Rudi Aji Hermawan, sudah mengadakan sosialisasi ke pengguna jasa mengenai adanya peraturan baru tentang Tata Cara Penyerahan dan Penatausahaan RKSP, Inward Manifest, dan Outward Manifest sekaligus pembinaan ke dalam melalui program P2KP supaya sinkron dalam pelaksanaan di lapangan berkaitan dengan pelayanan KPBC Bengkulu yang selama ini masih menggunakan tata cara penyerahan dan penatausahaan dokumen secara manual.

RUDI AJI HERMAWAN. Menjadi ‘turning point’ yang luar biasa dan harus digarap dengan disiplin tinggi dan sungguh-sungguh, karena menyangkut keamanan negara.

DJUMALIN. Pada dasarnya cara untuk melakukan pengawasan tetap sama karena PDE merupakan satu sistem dalam mempermudah melakukan pengawasan. WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

9

LAPORAN UTAMA
WBC/ADI

SOSIALISASI PDE MANIFES untuk pegawai dan stakeholder di wilayah kerja DJBC Bandung dan Kanwil IX DJBC Pontianak.

masih menggunakan media formulir dan harus diantar sendiri, kemudian dicatat atau diregistrasi. Kemudian, setelah kewajiban mengenai pelunasan bea masuk, cukai, dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) selesai serta barang yang diberitahukan kedapatan sesuai fisiknya dengan dokumen, kemudian diberitahukan kepada petugas P2 untuk menutup pos BC 1.1 sebagai tanda bahwa prosedur dan formalitas kepabeanan sudah diselesaikan dan barang secara sah dapat dimasukkan ke dalam daerah pabean Indonesia. “Singkat kata semuanya “full manual” yang tentu saja bukan suatu kebanggaan di zaman yang serba Electronic Data Processing. Dengan adanya PDE manifest, nantinya proses penutupan posnya memakai prosedur elektronik, mengingat media manifes dan respons yang diberikan dalam bentuk data elektronik dan ini hanyalah pergeseran sedikit prosedur saja,” ujarnya. Lebih lanjut disampaikan Rudi, bahwa dengan adanya sistem PDE manifes, tujuannya sama yaitu menyerahkan salah satu jenis pemberitahuan pabean kepada instansi Bea dan Cukai sebagai bentuk sarana pengawasan untuk memenuhi ketentuan sebagaimana diatur undangundang, namun medianya saja yang berbeda. Sistem lama yang manual masih menggunakan media formulir dalam penyampaian pemberitahuan pabean, sedangkan pada PDE Manifest, penyampaian pemberitahuan pabean menggunakan data elektronik. Sementara itu, dikatakan Rudi, untuk pemanfaatan data pada sistem yang lama dengan tujuan salah satunya sebagai sarana pengawasan, sebenarnya sudah bagus dan berdayaguna, artinya segala informasi yang diperlukan tersedia. Hanya saja untuk kantor utama yang begitu sibuk karena volumenya yang tinggi, menurut hematnya 10
WARTA BEA CUKAI

sistem yang lama sudah menjadi usang dan kurang efisien. Sedangkan pendapatnya mengenai pemanfaatan data pada sistem yang baru ini, Rudi menyatakan, pada sistem yang baru lebih mengedapankan kecepatan, baik penyelesaian pemberitahuan maupun akses penggunaan data sebagai bahan pengawasan, statistik, maupun penyelesaian impor. Bagi pengguna jasa pun dengan adanya sistem ini, maka respon pemberitahuan pabean dapat dilakukan dengan cepat, jaminan kepastian penyelesaian dokumen yang tinggi, dan efisiensi waktu serta biaya pengurusan. Sedangkan keuntungan bagi KPBC atas penerapan sistem ini, KPBC akan mendapat keuntungan yang sangat signifikan. Pemikiran dan penerapan kebijakan PDE Manifest adalah terobosan brilian yang berorientasi masa depan. PDE Manifes akan membawa suatu kondisi pada sistem deteksi dini yang handal, dapat dipercaya, dan accessable sesuai otorisasi user, khususnya di bidang pengawasan. Hal tersebut, lanjutnya, dimungkinkan karena bentuknya sebagai data elektronik yang online sesuai kebutuhan, dan sangat mudah diakses. Hal utama yang sangat krusial dan menentukan adalah dalam hal pengelolaan profil tertentu melalui metode statistisk tertentu untuk data Manajemen Resiko. Mengingat pemeriksaan pabean menganut sistem pemeriksan selektif sesuai profil resiko tertentu, maka output profil yang andal dan dapat dipercaya, mudah diakses sesuai tingkat otorisasi user, dan dapat dipertukarkan sesuai kebutuhan adalah berbanding lurus dengan keamanan dan penerimaan negara. “Sekali lagi, ini menjadi ‘turning point’ yang luar biasa dan harus digarap dengan disiplin tinggi dan sungguhsungguh, karena menyangkut keamanan negara,” ungkap Rudi.

Mengenai mekanisme pengawasan dalam penerapan PDE manifes, Rudi mengemukakan pendapatnya, bahwa dalam mekanismenya nanti berjenjang sesuai otorisasi dan yang utama harus accessable. Pada sistem lama, pertukaran informasi memakan waktu lama mengingat masih menggunakan media formulir, namun dengan data elektronik hal tersebut tidak akan terjadi lagi dan hanya membutuhkan waktu dalam hitungan detik untuk mendapatkan informasi yang dikehendaki sebagai data untuk kegiatan dan tujuan tertentu. “Akses data harus diatur secara ketat sedemikian rupa dari level Direktur Jenderal sampai dengan satuan terkecil pengambil keputusan, dengan tujuan untuk menghindari penyalahgunaan penggunaan data oleh pihak yang tidak sah.” Mengenai kesiapan KPBC Bengkulu jika nantinya PDE manifes sudah terintegrasi dengan PDE PIB, menurutnya itu bukan sesuatu yang berat, mengingat SDM, Hardware, Software, Networking, User sudah dimiliki dan hanya dibutuhkan pengembangan dan integrasi dari sub sistem yang ada. Namun ini membutuhkan penelaahan yang memadai supaya hasil yang diharapkan dari integrasi tersebut sesuai harapan dan tujuan Bea dan cukai. “Tidak ada sistem yang sempurna, kecuali sistem ilahiyah dalam penciptaan alam semesta. DJBC harus senantiasa membuka diri menerima saran dan kritik demi kesempurnaan sistem tersebut,” tandas Rudi.

TIDAK BANYAK PERBEDAAN
Pendapat yang sama juga disampaikan Ary Untung Sutoto, Kepala Seksi P2 KPBC Tipe B Pangkalpinang, bahwa dengan adanya pemberlakuan manifes secara PDE sebenarnya tidak banyak perbedaan dengan sistem yang manual. Menurutnya penyerahan manifes di KPBC ini masih dilakukan secara manual. Mengenai upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka persiapan tersebut, secara teknis sudah dipersiapkan peralatan untuk penerapan PDE manifes, berupa komputer, demikian juga dengan SDM yang telah mengikuti sosialisasi dan pelatihan PDE Manifes yang diadakan di KPBC Batam pada 27-28 Juli 2006. Sedangkan untuk market forces, antara lain pelayaran, importir dan eksportir telah dijadwalkan untuk diberikan sosialisasi dan pelatihan modul pengangkut sekitar pertengahan bulan Agustus 2006. Selama ini, lanjut Ary, prosedur pemberitahuan impor barang (PIB) dilakukan dengan penyerahan PIB secara manual berupa hardcopy, kemudian dilakukan proses pelayanan PIB secara manual meliputi pemeriksaan dokumen, penetapan jalur, pemeriksaan fisik dan penerbitan SPPB, hingga pengeluaran barang. Dan dengan adanya pemberlakukan sistem PDE manifes, maka untuk PDE manifes yang penyerahannya secara

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

manual, tidak terlalu banyak perbedaan, yaitu hanya terletak pada kewajiban pengangkut untuk menggunakan modul pengangkut untuk mencetak hardcopy manifes yang akan diserahkan ke KPBC. Sedangkan PDE yang penyerahannya menggunakan disket cukup banyak perbedaan, selain hal di atas, perbedaan juga meliputi administrasi manifes, pelayanan perubahan manifes (redress), penutupan pos dan rekonsiliasi PEB. Sedangkan untuk pemanfaatan datanya dari dari sistem yang lama tentu terpisah dari sistem yang baru karena harus tetap menggunakan sistem manual. Jadi untuk PDE manifes yang diserahkan secara manual, maka pemanfaatan datanya akan sama saja dengan sistem yang lama, sedangkan PDE manifes dengan disket, datanya dapat dimanfaatkan lebih optimal, karena kemudahan fasilitas searching dan query. ”Mengenai keuntungan yang akan diperoleh para pengguna jasa dengan adanya PDE manifes, tentunya pengangkut akan memperoleh manfaat berupa tersedianya database manifes yang lebih rapi di perusahaan mereka, disamping akan mendapatkan pelayanan KPBC yang lebih cepat,” ujar Ary. Sedangkan bagi KPBC sendiri, manfaat yang diperoleh adalah adanya keseragaman manifes sehingga memudahkan dokumentasi, sedangkan apabila telah mengggunakan disket, manfaat yang diperoleh akan jauh lebih besar baik itu dari segi pelayanan, pengawasan maupun keperluan manajemen. Dari sisi pengawasan, lanjut Ary, dengan adanya sistem ini diharapkan pengawasan akan lebih efektif. Dalam hal impor, manifes merupakan sumber informasi yang pertama akan adanya importasi suatu barang. Dengan tersedianya database manifes akan memudahkan dalam melakukan analisa. Dari database manifes bisa di-generate lagi menjadi profil pemasok, profil importir dan profil komoditi. Demikian juga halnya dengan manifes ekspor. Ketika WBC tanyakan mengenai kesiapan KPBC ini jika PDE manifes sudah terintegrasi dengan PDE PIB. ” Dari segi teknis maupun SDM, saya kira tidak ada masalah, dan menurut saya, mau tidak mau arahnya harus kesana,” tegas Ary.

PDE manifes, pihaknya sudah melakukan persiapan, baik itu dari segi perangkat, personil, maupun ketentuan yang saat ini berlaku, sudah disiapkan untuk para pegawai, termasuk melakukan sosialisasi pada 31 Juli-1 Agustus 2006. “Jadi begitu diberlakukan itu kita sudah running. Perangkat seperti komputer kita sudah siap, karena pada dasarnya ada program atau sistem dari PT.EDI maka Insyaallah mulai hari ini sudah siap dan sudah betul-betul siap,”ujar Djumalin. Mengenai pengolahan manifes selama ini yang dilakukan, Djumalin, menjelaskan, bahwa sesuai dengan ketentuan sebelumnya menyebutkan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) merupakan ijin bongkar, makanya RKSP bisa saja dilakukan kapan saja sebelum kapal datang ke Indonesia. Jadi RKSP dibukukan dalam BC.1.0 dan diberi tanda terima untuk mendapat ijin bongkar apabila pada saat kapal tiba di Merak, misalnya. Namun untuk sekarang, RKSP hanya merupakan pemberitahuan rencana adanya kedatangan sarana pengangkut dan RKSP tidak berlaku lagi sebagai ijin bongkar, sebab yang berlaku sebagai ijin bongkar adalah manifes. “Begitu manifes dimasukkan ke KPBC Merak maka akan mendapat bukti bahwa dia sudah masukkan manifes, dengan bukti tanda terima BC.1.1 dari kami, akan menjadi ijin bongkar. Jadi nantinya dalam PDE ini yang menjadi ijin bongkar adalah BC.1.1,” demikian dijelaskan Djumalin. Mengenai kendala dalam pengawasan, selama ini dikatakannya memang ada, tetapi masih dapat diatasi, seperti misalnya dalam dalam pemberitahuan barang disampaikan sebagai sundry goods, atau general merchandise, yang tidak menunjukkan jenis barang yang sesungguhnya ada di dalam kontainer atau di dalam sarana pengangkut. “Dengan sistem baru

ini, minimal akan menuliskan 5 item barang atau lebih, sebab dalam manifes minimal disebutkan 5 item barang. Nah dengan itu kita dari awal sudah bisa mendeteksi,” ujar Djumalin. Jika dulu disebutkan general merchandise sulit untuk memastikan isi kontainer, lanjut Djumalin, namun demikian pihaknya selalu mengantisipasinya dengan cara pada saat pemberitahuan impor barang declare-nya mereka harus betul-betul meng-apply semua jenis barang yang ada di dalam kontainer. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik 100 persen, cara ini jadi jalan satu-satunya untuk melakukan pengawasan jika pihaknya tidak mau kecolongan. “Karena ini merupakan sistem baru kami juga sambil belajar mencari dimana titik lemahnya. Nah dititiklemah itu kami akan tutup, kalau sistemnya bagus kami teruskan berjalan sebab merupakan prioritas, tetapi kalau ada kelemahan kami tutup kelemahannya dan kami inventarisir sesuai dengan fungsi kami di pencegahan penyidikan,” demikian Djumlain, yang menurutnya saat ini di KPBC Merak untuk SDM bidang pengawasan sudah cukup memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. “Kalau pengawasan, kami tetap maksimal sesuai standar prosedur, kami tidak main-main di lapangan, sekecil apapun ada informasi tetap kita lanjuti. Kami ada sistem analisis, jadi kita lihat bobotnya berdasarkan prioritas. Dengan adanya sistem PDE ini akan lebih mempermudah pengawasan. Jadi saat ini lebih cepat, kapal pengangkut belum tiba sudah dikirim informasi mengenai muatan kapal. Begitu masuk ke wilayah pabean Indonesia sudah siap dibongkar. Dan dari laporan itu paling tidak bidang pengawasan sudah bisa mengantisipasi,” demikian tegasnya. ris
DOK. WBC

LEBIH MUDAH PENGAWASANNYA
Sementara itu dari lokasi sosialisasi penerapan PDE Manifes bagi pegawai KPBC Tipe A Merak dan para stakeholder, yang berlangsung selama dua hari dari 31 Juli-1 Agustus 2006 bertempat di Hotel Sari Kuring Indah, WBC berkesampatan meminta pendapat Kepala Seksi P2, KPBC Tipe A Merak, Djumalin, sehubungan dengan pemberlakuan PDE Manifes per 1 September 2006 (pelabuhan laut) dan 1 Oktober 2006 (pelabuhan udara). Menurutnya, di KPBC Tipe A Merak selama ini dalam hal penyerahan manifes masih dilakukan secara manual. Maka dengan adanya pemberlakuan

KPBC BATAM mendapat skala prioritas A, dalam penerapan PDE Manifes, tentunya kebanggan sekaligus tantangan untuk melaksanakan PDE manifes dengan sebaik-baiknya meski persiapannya relatif singkat. EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA

Cargo Community Network (CCN) :

MENGINTEGRASIKAN SISTEM AIRLINES DENGAN SISTEM BEA CUKAI
Untuk kepentingan ini, CCN menggunakan sistem web solution bea cukai yang sudah ada sehingga airlines, ground handling agent dan Bea Cukai dapat melakukan pengiriman data melalui PT EDII.

M

engenai pemberlakuan PDE Manifes per 1 September 2006, Sefri Wendy, Business Manager Cargo Community Network (CCN) mengemukakan bahwa dengan adanya pemberlakuan PDE Manifes, Bea Cukai Indonesia bisa mendapatkan manifest yang lebih akurat secara lebih efisien dan on-time. Khusus untuk angkutan udara, menurutnya, dikarenakan waktu perjalanan alat pengangkut lebih cepat dibandingkan angkutan laut, maka hal ini membutuhkan kemampuan pengiriman semua data yang dibutuhkan sesingkat mungkin. Sejak Bea Cukai Amerika Serikat memulai AMS (Advance Manifest System) pada tahun 2005, beberapa negara lain juga memulai, contohnya Bea Cukai India, Bea Cukai Kanada dan Bea Cukai Afrika Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa Bea Cukai Indonesia juga telah melakukan langkah maju dalam pencapaian beberapa hal sebagai berikut :

1. Kontrol penegakan keamanan yang lebih ketat 2. Pre-clearance sebelum kedatangan pesawat untuk mempersingkat cargo clearance secara keseluruhan. 3. Meningkatkan efisiensi dalam proses ekspor impor sehingga makin membantu negara dalam mengontrol perdagangan. Mengenai sosialisasi yang dilakukan DJBC mengenai PDE Manifes, sebenarnya, pada tahun 2003 Bea Cukai telah memperkenalkan PDE Manifes, namun dikemukakan Sefri, implementasinya tertunda. Setelah lewat tiga tahun, rasanya bukan hal yang mengagetkan kalau Bea Cukai akhirnya mengimplementasikannya. Menurutnya, pengenalan PDE Manifes harus dilakukan dan Bea Cukai butuh penerapan yang bertahap. Selain dapat membantu mengurangi timbulnya kontra, juga dapat memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk menye-

WORK FLOW yang diterapkan oleh Cargo Community Network (CCN) untuk mensinergikan sistem airlines dengan sistem bea cukai.

suaikan diri dalam implementasinya. “Kami percaya apabila hal tersebut dilakukan dengan cara yang mudah dimengerti dan user friendly, maka industri airfreight akan dengan senang hati bekerja sama dan memenuhinya. Hal ini dapat mengurangi berbagai kontra yang dapat timbul,” ujarnya. Dari pengalaman CCN dalam memfasilitasi hal yang sama untuk Bea Cukai India dan Kanada telah memberikan pengetahuan dan pengertian teknis dalam meminimalkan data entry dan data duplikasi sehingga manifes yang lebih akurat dapat dikirim secepat mungkin. “Dengan keberadaan CCN sejak tahun 2000 di Indonesia, airlines dan agen cargo telah dapat melakukan pertukaran data seperti Master Air Waybill data (FWB), Consol Manifest (FHL) dan sebagainya melalui one stop cargo portal kami, CCNhub. Dengan sedikit perubahan pada alur operasi yang ada, CCN dapat menyediakan data manifest seperti ditentukan oleh Bea Cukai,” ungkap Sefri. Lebih lanjut mengenai kesiapankesiapan Bea dan Cukai dalam melakukan sosialisasi kepada pengguna jasa, Sefri mengemukakan, secara umum semua pihak di airfreight telah mengerti mengenai PDE Manifes dan telah mempunyai pengalaman dalam memenuhinya untuk Bea Cukai Amerika Serikat. Namun peraturan dan elemen data yang dibutuhkan oleh Bea Cukai Indonesia sedikit berbeda dengan Bea Cukai Amerika Serikat, sehingga dibutuhkan beberapa penyesuaian. Kendala-kendala di lapangan yang masih ditemui sehubungan dengan

DOK. CCN

12

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

pengiriman data manifes kepada pihak Bea dan Cukai, tentunya dapat dimaklumi sebab butuh penyesuaian terhadap penerapan sistem baru. Untuk hal itu Sefri menyatakan, pihaknya mengerti bahwa airlines dan ground handling agent tidak menyukai manual data entry atau double data entry untuk PDE manifest. Dengan sejumlah besar data yang dibutuhkan Bea Cukai dan batas waktu yang singkat, manual data entry berakibat negatif untuk cargo clearance. Maka dari itu CCN bekerja sama dengan PT EDII (Elektronik Data Interchange Indonesia) untuk mengintegrasikan sistem airlines dengan sistem Bea Cukai Indonesia.

Neutral AWB Printing

IDENTIFIKASI MASALAH
Dari upaya mengintegrasikan sistem itu, maka pihak CCN telah mengiidenfitikasi masalah-masalah seputar penerapan sistem tersebut. Menurut Sefri, tantangan untuk PDE Manifest adalah menyediakan data yang lengkap sebelum kedatangan pesawat dan beberapa saat setelah keberangkatan pesawat. Jika masih melakukan manual data entry, akan membutuhkan tambahan sumber daya manusia untuk melakukan input data dan masih juga ada resiko kesalahan penginputan yang dapat mengganggu integritas data. Hal ini akan mengakibatkan keterlambatan bongkar muatan atau pengenaan denda administrasi yang dapat menimbulkan masalah serius kalangan usaha. Karena itu, dengan automatisasi data, lanjutnya, semua data yang telah dimasukan oleh agen dan airlines ke dalam sistemnya masing-masing akan dikirimkan secara online ke PT EDII untuk kemudian dikirimkan secara online ke Bea Cukai. Semua transaksi tersebut berjalan secara
DOK. PRIBADI

SEFRY WENDY. CCN merupakan jembatan penghubung sistem antara sistem Bea Cukai dengan airlines, untuk itu CCN telah menyiapkan hardware, teknologi dan jaringan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengakomodasi PDE Manifes.

otomotis melalui sistem tanpa mengganggu proses operasional yang ada. Dalam hal ini CCN merupakan jembatan penghubung sistem antara sistem Bea cukai dengan Airlines, untuk itu CCN telah menyiapkan hardware, teknologi dan jaringan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengakomodasi PDE Manifes. CCN telah menempatkan infrastruktur tersebut untuk koneksitas ke Bea Cukai. Yang lebih penting lagi CCN terus bekerja keras dengan airlines dan ground handling agent dalam menjamin kualitas tinggi transmisi data. “Kami memandang PDE Manifes sebagai hal yang penting dan untuk itu sistemnya sangat kami monitor. Kami mempunyai backup dan disaster recovery procedure yang ditempatkan untuk berjaga-jaga apabila timbul situasi yang tidak diinginkan, ”ungkap Sefri. Untuk kepentingan itu, CCN menggunakan sistem web solution bea cukai yang sudah ada sehingga airlines, ground handling agent dan Bea Cukai dapat melakukan pengiriman data melalui PT EDII. CCN menyesuaikan sistem tersebut agar dapat memenuhi persyaratan Bea Cukai. Termasuk juga online web application untuk perubahan, penarikan data dan manajemen data manifes. Sebagai tambahan, PDE Manifes akan diintegrasikan juga dengan beberapa fungsi aplikasi yang lain sehingga dapat digunakan dengan lebih nyaman dan user friendly untuk cargo agent dan airlines. Ditegaskan Sefri, pihaknya bekerja sama untuk memudahkan proses pemenuhan PDE manifes dan mengurangi gangguan pada proses yang telah ada, sehingga dapat menciptakan nilai tambah untuk industri airfreight. Berdasarkan pengalaman CCN di Bea Cukai negara lain dalam mengimplementasikan PDE Manifest, maka Sefri menyampaikan masukannya,

bahwa Bea Cukai Indonesia harus tegas dan adil dalam penerapan PDE Manifes. Tegas dalam tahap-tahap implementasinya dan tegas dalam menjamin bahwa pemenuhannya dapat dimengerti dan cocok. Selain itu Bea Cukai harus adil dalam memberikan jangka waktu penerapannya, juga memberikan periode waktu yang masuk akal untuk tahap uji coba sehingga masalah-masalah yang timbul dapat diselesaikan sebelum Bea Cukai menerapkan denda administrasinya. Dengan begitu program PDE Manifes dapat berjalan sukses dan mencapai tujuannya. Saat ini 25 airlines yang sudah terkoneksi dengan CCN adalah provider terdepan untuk secure and carrier neutral portal yang memberikan sejumlah jasa komprehensif bagi komunitas airfreight. CCN secara dramatis menekan biaya-biaya bagi pihak-pihak di industri airfreight dan menyediakan solusi terdepan dalam menjalankan free sales booking, analisa flight schedule, dan track and trace untuk memonitor keberadaan barang secara proaktif. CCN merupakan satu-satunya cargo portal yang dapat menangani e-invoicing and payment, dan pendistribusian Neutral AWB secara elektronik. CCN adalah vendor yang terakreditasi Cargo 2000 untuk syarat-syarat Common Data Management Platform. CCN menangani hampir 2 juta e-booking pada tahun 2005, ini lebih banyak dari cargo portal lain. CCN, yang baru saja memperkenalkan CCNhub, didirikan pada tahun 1991. CCNhub adalah versi upgrade Ezycargo yang diperkenalkan pada tahun 2003. CCN berpusat di Singapore dan beroperasi di Australia, Cina, India, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Sri Lanka, Thailand dan Vietnam. ris
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

13

LAPORAN UTAMA

Modul Pengangkut
M
elalui sistem ini, perusahaan pengangkut (shippinglines atau airline) berkewajiban menyampaikan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) dan Manifest (daftar muatan berupa barang export/import) baik pada saat kedatangan maupun keberangkatan kepada KPBC setempat. Cara penyampaian dokumendokumen tersebut disesuaikan dengan infrastruktur dan metode yang diterapkan oleh masing-masing KPBC a. Untuk KPBC yang telah menerapkan sistem PDE Kepabeanan maka pengiriman dokumen dilakukan melalui jaringan sistem PDE Kepabeanan. b. Untuk KPBC yang menerapkan sistem disket maka penyampaian dokumen menggunakan media penyimpan elektronik (disket, flashdisk, CD) c. Untuk KPBC yang masih menerapkan sistem manual, penyerahan dokumen dilakukan secara manual dengan menyerahkan manifest dalam format yang seragam / standard. (print-out dari modul pengangkut). Modul Pengangkut sebagai salah satu pilar dalam SAP PDE Manifest merupakan program aplikasi komputer yang berfungsi sebagai alat bantu (tools) bagi perusahaan pengangkutan untuk menyiapkan dan melakukan pengelolaan data dari dokumendokumen yang harus diserahkan kepada Kantor Pelayanan Bea Cukai.

Pengoperasian

SEBAGAI DUKUNGAN IMPLEMETASI SISTEM APLIKASI PELAYANAN (SAP) MANIFES
Sistem Aplikasi Pelayanan PDE Manifest untuk laut telah dimandatorikan sejak 3 Juli 2006 untuk KPBC Tanjung Priok dan sedang dilakukan persiapan mandatori di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) lainnya di seluruh Indonesia.
Fungsi-fungsi pokok yang terdapat dalam aplikasi ini adalah : 1. Entry data RKSP dan Manifest 2. Browse (explore) data RKSP dan Manifest 3. Loading dan Generate Flat File sebagai dukungan untuk penggabungan data manifest dari/ ke partner shipping line 4. Penyiapan, pengiriman data dan penerimaan respon dari KPBC melalui jaringan PDE (mode PDE) 5. Penyiapan data untuk dikirim dalam bentuk disket (mode disket)

RKSP
RKSP (Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut) merupakan pemberitahuan yang harus disampaikan kepada Kantor Pelayaranan Bea Cukai sebelum kedatangan sarana pengangkut (kapal / pesawat). Screen layout dari isian RKSP adalah sbb : (lihat gambar 1) Kegunaan masingmasing tombol fungsi yang ada di bagian kiri bawah screen entry tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini. (gambar 2) Beberapa elemen data yang harus diperhatikan adalah : a. No./Tgl. Agenda, elemen data ini akan terisi otomatis ketika mulai membuat dokumen baru b. KPBC, adalah kode Kantor Pelayanan Bea Cukai dimana data akan dikirimkan c. No./Tgl. BC 1.0 akan terisi otomatis setelah sistem aplikasi inhouse

Gambar 1. Screen Entry Data RKSP

14

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

Gambar 2. Tombol Navigasi Sreen Entry RKSP
Memperbaiki Data Menyimpan Data

Navigasi Record

Membuat data baru

Menghapus data

Membatalkan Perubahan

KPBC memberikan jawaban / respon berupa nomor dan tanggal penerimaan dokumen.

d. Agen adalah nama Agen Pengangkut (pihak yang bertanggung jawab dalam pengiriman data)

Gambar 3a. Manifest Header

e. Pemberitahu : Orang dari perusahaan pengangkut yang menyampaikan pemberitahuan ke KPBC f. Nama Sarana Pengangkut (Nama Kapal) pengisiannya dilakukan dengan memilih dari data referensi yang telah direkam terlebih dahulu. g. Data-data pendukung yang berkaitan dengan informasi tentang kapal seperti GT, LOA, bendera, batas maximum draft depan dan draft belakang akan terisi secara otomatis pada saat user memilih nama kapal (sarana pengangkut). h. Informasi tentang pelabuhan yang pernah dan akan disinggahi antara lain : 1. Pelabuhan Asal : yaitu titik awal sarana pengangkut berangkat (port of origin) 2. Pelabuhan Sebelumnya adalah pelabuhan singgah terakhir sebelum memasuki Kawasan Pabean 3. Pelabuhan Bongkar adalah pelabuhan di mana kapal melakukan penyandaran aktual untuk pembongkaran barang 4. Pelabuhan Berikutnya adanya adalah pelabuhan tujuan berikutnya (next port to call) Informasi perkiraan waktu (tanggal dan jam) kedatangan dan keberangkatan

i.

INWARD MANIFEST
Inward Manifest adalah daftar muatan barang ekspor/impor pada saat sarana pengangkut memasuki Kawasan Pabean. Dalam Modul Pengangkut data manifest dibagi dalam 3 segmen yaitu : a. Data Header yang berisi informasi tent ang sarana pengangkut, agen pengangkut, waktu kedatangan, rute kapal dan lain-lain sebagaimana biasa disampaikan dalam lembar pengantar dokumen manifest hardcopy. b. Data Pos Manifest berisi data manifest pos per pos yang antara lain berisi informasi tentang detail pos manifes c. Data Container berisi informasi container yang ada di masing-masing pos manifest. Berikut ini adalah format screen dari masing-masing segmen data manifest (gambar 3)
EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

Gambar 3b. Pos Manifest

15

LAPORAN UTAMA
Gambar 3c. Uraian Barang dan Container

OUTWARD MANIFEST
Screen operasional dalam Outward Manifest hampir sama dengan Inward Manifest, kecuali pada pengelompokan pos-nya. Kelompok

tersendiri yang bisa digunakan untuk melakukan entry data manifest (Modul Entry Data Manifest) dan menyerahkan hasil outputnya (berupa flat file) kepada pengangkut.

Pola pengumpulan data manifest dapat digambarkan sbb :( gambar 5) Untuk mendukung kebutuhan ini, Modul Pengangkut telah dilengakapi fasilitas untuk melakukan pembacaan (loading) flat file untuk keperluan penggabungan data dari para partner-nya. Berikut ini adalah bentuk screen loading flatfile : ( gambar 6)

Gambar 4. Kelompok Pos Outward Manifest

PENYIAPAN PENGIRIMAN DATA
Setelah penyiapan dokumen RKSP dan Manifest selesai dilakukan, baik dengan cara entry data maupun load flat file, maka yang harus dilakukan oleh agen pengangkut adalah pos dalam Outward Manifest adalah sebagai berikut : (gambar 4)

Gambar 5. Pola Pengumpulan Data Manifest

LOADING DAN PENGGABUNGAN DATA DARI PARTNER SHIPPING LINE
Dalam menyiapkan satu set data manifest (daftar muatan dalam satu kapal), pengangkut harus mengumpulkan data dari para partnernya. Hal ini disebabkan adanya praktek joint slot (penggunaan bersama) space dalam kapal oleh lebih dari satu perusahaan pengangkut (shipping line). Di samping itu shipping line juga menerima data manifest dari forwarder berupa barang-barang konsolidasi. Data dari forwarder ini masih harus dilakukan pemecahan (melaporkan data detail-nya). Dalam hal ini forwarder sudah dilengkapi dengan satu modul 16
WARTA BEA CUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

Gambar 6. Loading Flat File

mengirimkan data baik melalui jaringan PDE maupun disket atau media penyimpan elektronik lainnya. A. Pengiriman Data Melalui Jaringan PDE. Dokumen yang telah lengkap isiannya akan berstatus “READY”. Selanjutnya dokumen dengan status READY harus diubah terlebih dahulu ke dalam bentuk EDIFACT sebelum dikirimkan melalui jaringan PDE. Berikut ini adalah form screen untuk mengubah data ke dalam bentuk EDIFACT dan proses komunikasi. (gambar 7) B. Penyiapan Data dalam bentuk Disket Untuk KPBC yang masih menerapkan penerimaan data dari disket, maka pengangkut harus menyiapkan format data yang bisa dibaca (Load data dari disket) oleh aplikasi inhouse KPBC. Berikut adalah tahapan untuk men-generate file yang akan dikirmkan ke KPBC menggunakan media disket. (gambar 8) Johan Pratyaksono - PT. EDI Indonesia

Gambar 7a. Pembentukan EDIFACT

Gambar 7b. Komunikasi Data

Gambar 8. Transfer Manifest ke Disket

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WARTA BEA CUKAI

17

WAWANCARA

Drs. Anwar Suprijadi MSi
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

“SIAPAPUN PASTI SEPAKAT, PENERAPAN SAP PDE MANIFES

Sangat Bermanfaat... ”

Prosedur kepabeanan yang sederhana, efisien, dan predictable, diharapkan mampu menjadi titik sentra dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui partisipasi sektor usaha nasional dalam perdagangan internasional. Hal itu dapat terwujud dengan melakukan penyempurnaan sistem, seperti yang saat ini sedang dilakukan DJBC, yaitu melalui Pertukaran Data Elektronik (PDE) Manifes. Setelah mandatori sistem PDE Manifes untuk pengangkutan laut pada 3 Juli 2006, selanjutnya DJBC segera akan memandatorikan sistem PDE Manifes untuk pengangkutan udara pada 1 Oktober 2006. Sudah sejauhmana perkembangan pelaksanaan PDE Manifes untuk pengangkutan laut dan bagaimana persiapan yang dilakukan menjelang diterapkannya PDE Manifes Udara, Redaktur WBC, Aris Suryantini, melakukan wawancara dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Drs. Anwar Suprijadi MSi. Berikut petikan wawancaranya.
Melanjutkan program penerapan Sistem Aplikasi Pelayanan (SAP) PDE Manifes di Tanjung Priok, mulai 1 September 2006 akan dimandatorikan secara nasional sistem PDE Manifes untuk Laut dan rencananya 1 Oktober 2006 untuk Udara. Sudah sampai sejauhmana persiapannya ? Penerapan SAP PDE Manifes dari awal memang sudah direncanakan untuk dilakukan secara bertahap supaya masyarakat usaha lebih punya kesempatan untuk mempersiapkan diri dan dari sisi teknis ditujukan untuk memastikan bahwa sistem yang baru tersebut sudah dicoba pada satu kantor sebelum diberlakukan secara nasional. Untuk persiapan penerapan di Pelabuhan Laut secara nasional per 1 September 2006, Tim Kerja Penerapan SAP PDE Manifes sudah mempersiapkan sejak awal Juli yang 18
WARTA BEA CUKAI

lalu dengan melakukan sosialisasi ke seluruh Kanwil dan KPBC guna menyampaikan semua hal yang terkait dengan PDE Manifes kepada para pejabat/ pegawai di Kantor Wilayah (Kanwil) Bea dan Cukai dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) serta kepada seluruh pengguna jasa dan asosiasi usaha yang terkait. Pada kesempatan itu juga telah dilakukan persiapan secara teknis berupa instalasi dan set-up sistem di komputer KPBC dan bahkan sekaligus telah dilakukan pelatihan kepada para pejabat dan pegawai dan kepada stakeholder yang terkait langsung (perusahaan pelayaran, penerbangan dan forwarder). Untuk penerapan SAP PDE Manifes di Pelabuhan Udara (Bandara), rencananya baru akan mulai diterapkan per 1 Oktober 2006, namun demikian pada awal Septem-

ber 2006 ini akan kita mulai penerapan secara pilotting dengan segera menerapkan tahapan Pilot-Run di KPBC Soekarno-Hatta. Sebenarnya secara teknis sistem aplikasi untuk pelabuhan udara sudah siap, namun demikian ada beberapa substansi aturan didalam PerMenkeu maupun PerDirjen yang harus direvisi dan disesuaikan, mengingat alur proses bisnis melalui udara memang sangat berbeda dengan proses pengangkutan melalui laut. Mengenai penerapan PDE Manifes di Bandar Udara, yang tadi dijelaskan sangat berbeda prosesnya dengan yang di Pelabuhan Laut, bagaimana perbedaan tersebut sehingga harus merevisi PerMenkeu dan PerDirjen tentang Manifes ? Memang pada saat perumusan kedua aturan tersebut kita mencoba

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WARTA BEA CUKAI

19

WAWANCARA
membuat suatu aturan yang komprehensif yang dapat menampung semua aturan yang dibutuhkan dalam rangka administrasi pelayanan manifes, baik yang melalui laut maupun udara. Namun kenyataannya, memang karakteristik dari kedua jenis proses pengangkutan tersebut berbeda. Dan memang di banyak negara lain, aturan manifes untuk laut, udara dan darat dibeda-bedakan karena karakteristiknya yang memang berbeda. Untuk di bandar udara, ada beberapa ketentuan yang harus disesuaikan dengan realitas yang ada di lapangan, terutama yang terkait dengan masalah batasan waktu penyerahan dokumen, dimana masalah waktu ini menjadi titik kritis dan sangat sensitif di pengangkutan udara. Contohnya, kalau kita wajibkan mereka menyerahkan dokumen pemberitahuan paling lama 1 (satu) jam sebelum kedatangan pesawat, padahal ada beberapa International-Flight yang waktu tempuhnya nggak sampai 1 jam, seperti dari Polonia ke Penang (Malaysia) yang hanya 40 Menit, sehingga untuk kondisi tertentu aturan tersebut harus kita revisi karena nggak akan mungkin bisa diterapkan. Dengan masih akan dilakukannya penyempurnaan aturan untuk manifes di Bandara, apakah Bapak optimis target Pilot-Run di KPBC Soekarno Hatta awal September 2006 dan penerapan mandatory secara nasional pada 1 Oktober 2006 dapat dilakukan? Saya selalu memonitor tugas Tim Kerja Manifes tersebut dan kemarin saya sudah menerima laporan lengkap yang sudah kita bahas di rapat staf inti, sehingga saya yakin target waktu yang saya tetapkan akan dapat dipenuhi oleh Tim Kerja tersebut. Kalau dibandingkan dengan di pelabuhan laut (Tanjung Priok) dimana waktu itu hanya sempat dilakukan pilot-run selama 1 minggu, untuk di bandara dengan jangka waktu pilotting yang lebih lama maka saya lebih optimis untuk dapat dimandatorikan secara nasional 1 Oktober nanti. Kalau kita berbicara mengenai sistem dan proses pengangkutan melalui udara, pada dasarnya stake20
WARTA BEA CUKAI

holder kita (Airlines dan Cargo-handling) sudah jauh lebih siap dibandingkan yang di laut. Apalagi sistem administrasi mereka secara internasional tunduk kepada standard IATA (International Air Transport Association) sehingga akan lebih mudah bagi Tim Kerja manifes untuk segera memandatorikan penerapan SAP PDE Manifes. Untuk percepatan revisi aturan yang terkait dengan masalah udara, Tim Kerja sudah secara intensif melakukan pertemuan dan pembahasan dengan komunitas stakeholder yang ada di bandara, termasuk dengan beberapa asosiasi yang ada disana seperti dengan AOC (Air Operation Center), ACRB (Airlines Cargo Representative

Flight tidak sebanyak jumlah pelabuhan laut. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa yang akan direvisi itu hanya beberapa ketentuan tertentu karena adanya karakteristik khusus untuk pengangkutan udara, supaya aturan dan sistem tersebut applicable untuk diterapkan di lapangan. Dengan demikian nggak akan berpengaruh banyak terhadap persiapan secara teknis bagi penerapan mandatory di bandara. Mengenai penerapan PDE Manifes untuk udara, akan kita terapkan di semua bandara yang melayani penerbangan Internationl-Flight, karena untuk bandara-bandara seperti itu sudah pasti secara infrastruktur mereka sudah siap untuk mendukung penerapan PDE Manifes. Untuk penerapan mandatori secara nasional di pelabuhan laut yang dilakukan secara serentak pada 1 September 2006, kalau ada permasalahan di beberapa tempat, bagaimana penanganannya ? Untuk memberlakukan secara serentak PDE Manifes di pelabuhan laut tersebut, sudah diperhitungkan dengan persiapan yang matang, dimana di beberapa pelabuhan besar terutama untuk yang menerapkan sistem PDE (Tanjung Perak, Tanjung Mas dan Belawan) sudah dilakukan tahapan Pilot-Run terlebih dahulu dan para pejabat yang ada disana (Kasi P2 dan Kasi OKDD) secara khusus sudah dipersiapkan untuk mampu mengatasi masalah-masalah tertentu yang mungkin akan muncul pada saat mandatori. Sedangkan untuk mengantisipasi munculnya beberapa permasalahan, di Kantor Pusat sudah dibentuk semacam Posko Nasional oleh Direktorat P2 dan Direktorat IKC yang akan menangani semua permasalahan selama 24 jam sehari, sehingga diharapkan akan dapat menyelesaikan semua permasalahan yang mungkin akan muncul pada saat mandatori nanti. Bagaimana dengan persiapan dari pihak pengguna jasa ? Kalau ada yang belum siap, bagaimana mereka akan mengirimkan RKSP dan Manifes ke KPBC, padahal

DIHARAPKAN SAP PDE MANIFES INI AKAN MAMPU MENJADI LANGKAH AWAL MELAKUKAN REFORMASI BIROKRASI DAN ADMINISTRASI PELAYANAN KEPABEANAN.
Board), Gafeksi serta secara langsung dengan Airlines, Cargo-handling dan Pengusaha PJT (Perusahaan Jasa Titipan) di Cengkareng. Untuk persiapan dan sosialisasi penerapan mandatori secara nasional di laut sudah dilakukan secara serentak, bahkan perlu waktu sebulan lebih, lantas bagaimana dengan persiapan untuk udara ? Selain Bandara Soekarno-Hatta, Bandara mana saja yang akan menerapkan PDE Manifes ? Persiapan dan sosialisasi mengenai sistem dan ketentuan tentang PDE Manifes yang telah dilakukan oleh Tim Kerja sejak awal Juli kemarin, tidak hanya untuk laut tapi sekaligus juga untuk udara. Jadi secara teknis persiapan mereka sudah cukup matang, apalagi jumlah bandara yang melayani International-

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

setelah mandatori nanti KPBC (yang menerapkan PDE) hanya bisa menerima manifes secara elektronik ? Secara umum kesiapan pihak pengguna jasa, dalam hal ini perusahaan pelayaran dan forwarder, kepada mereka telah dibagikan Modul Pengangkut (untuk pelayaran) dan Modul Entry Data (untuk forwarder) dan telah diberikan pelatihan secara intensif oleh Tim Kerja pada saat sosialisasi selama sebulan lebih kemarin. Jadi pada dasarnya perangkat dan sistem mereka telah siap, demikian juga dengan SDM mereka sudah bisa mengoperasikan modul yang harus digunakan dalam sistem PDE Manifes. Untuk pengguna jasa yang mungkin saja belum siap, maupun pengguna jasa yang mungkin secara ekonomis merasa tidak efisien kalau harus menyiapkan sistem dan infrastruktur PDE Manifes, sudah disiapkan yang namanya PDE Service Center sesuai yang diatur dengan PerDirjen No. P-12/BC/2006 tanggal 15 Agustus 2006. PDE Service Center ini merupakan tempat usaha yang menyediakan jasa layanan PDE Kepabeanan sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengguna jasa untuk membantu pengiriman data secara elektronik ke KPBC. Jadi tempat ini berbeda dengan WarungEDI ataupun PPJK karena jasa layanannya betul-betul hanya akan menyediakan media/ sarana untuk melakukan transfer data ke KPBC dan tidak terkait sama sekali dengan isi/content data RKSP maupun Manifes. Diharapkan segera akan tersedia PDE Service Center tersebut di Tanjung Priok, Tanjung Perak, Tanjung Emas dan Belawan, sehingga akan dapat menyediakan alternatif media/ sarana pengiriman data untuk pelayaran yang tidak mempunyai sistem ataupun yang karena kondisi darurat sistemnya sedang rusak akan dapat mentransfer data melalui PDE Service Center ini. Secara umum, apa saja manfaat yang diperoleh dengan diberlakukannya SAP PDE Manifes ini secara nasional ?

Pada dasarnya, siapapun pasti sepakat bahwa Penerapan SAP PDE Manifes ini akan sangat bermanfaat untuk DJBC, baik dari sisi pelayanan, apalagi kalau ditinjau dari sisi pengawasan, karena manifes adalah dokumen Pemberitahuan Pabean yang pertama kali diserahkan kepada Bea Cukai dan berisikan semua data barang impor/ ekspor yang masuk ke Kawasan Pabean, maka sudah pasti manifes ini akan dijadikan acuan atau rujukan dari semua dokumen dan semua bentuk kegiatan pelayanan kepabeanan. Dengan adanya SAP PDE Manifes akan sangat membantu dalam proses pelayanan dan penatausahaan manifes, mengingat

melakukan analisis, risk-assessment dan targetting, dan dengan data manifes ini dapat digunakan sebagai tools untuk melakukan kontrol lalu lintas barang impor-ekspor. Sedangkan bagi perusahaan pelayaran, pengiriman manifest dapat dilakukan secara elektronik dari sistem komputer di kantor perusahaan tersebut sehingga tidak perlu datang menyerahkan print-out manifes ke KPBC dan pengiriman dapat dilakukan kapan saja ( 7X24 Jam Seminggu ) dan langsung mendapatkan jawaban dan respon dari sistem di KPBC, sehingga tentunya akan lebih menghemat waktu dan biaya. Kalau DJBC sudah menerapkan SAP PDE Manifes secara nasional, kira-kira apa rencana ke depan untuk memanfaatkan data-data manifes yang sudah di sistem komputer DJBC ? Sesuai dengan pemikiran awal pada saat merencanakan penerapan SAP PDE Manifes dimana DJBC sudah merencanakan penerapannya sejak kira-kira 10 tahun yang lalu pada saat awal penerapan UU No. 10 Tahun 1995, maka penyempurnaan sistem pelayanan manifes ini merupakan tonggak dasar dari penyempurnaan seluruh sistem administrasi pelayanan kepabeanan. Karena itu, kalau SAP PDE Manifes ini nanti sudah mulai berjalan lancar maka akan segera dilakukan integrasi sistem dengan semua sistem pelayanan yang lain (SAP Impor, Ekspor, BC2.3, BCF1.5 dan lain-lain) dan integrasi dengan sistem yang ada di Pelindo dan Pengusaha TPS. Tanpa adanya integrasi sistem tersebut maka keberadaan SAP PDE Manifes ini nanti tidak akan banyak manfaatnya, terutama terkait dengan upaya melakukan reformasi birokrasi pelayanan kepabeanan. Jadi, ke depan nanti dengan telah berjalannya SAP PDE Manifes, kita akan segera melakukan penyempurnaan besar-besaran di semua sistem pelayanan Kepabeanan, sehingga diharapkan SAP PDE Manifes ini akan mampu menjadi langkah awal melakukan reformasi birokrasi dan administrasi pelayanan kepabeanan.
WARTA BEA CUKAI

MENGENAI PENERAPAN PDE MANIFES UNTUK UDARA, AKAN KITA TERAPKAN DI SEMUA BANDARA YANG MELAYANI PENERBANGAN INTERNATIONALFLIGHT
selama ini administrasi manifes ini menjadi beban tersendiri yang tidak terpecahkan bagi KPBC, sehingga diharapkan akan dapat secara otomatis menghilangkan berbagai permasalahan yang terkait dengan administrasi manifes. Dari sisi pelayanan, dengan diintegrasikannya SAP Manifes dengan SAP impor dan SAP ekspor, akan sangat membantu dalam menegakkan berbagai ketentuan yang selama ini tidak bisa dijalankan sehingga akan dapat mewujudkan sistem pelayanan yang cepat dan efisien, namun tidak mengorbankan kepentingan administrasi kepabeanan. Dari sisi pengawasan, sudah jelas bahwa dengan adanya data-data manifes yang akurat dan sudah bisa diterima sebelum proses pelayanan kepabeanan, akan sangat membantu tugas-tugas unit pengawasan dalam

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

21

PENGAWASAN

PELATIHAN ANJING PELACAK NARKOTIKA BEA DAN CUKAI
September 2006, DJBC membeli 17 ekor anjing jenis Labrador Retriver untuk memperkuat unit Anjing Pelacak Narkotika DJBC.

“C

ome… find it…good boy… good girl…” itulah kata-kata yang kerap terlontar ketika para calon handler (pawang anjing-red) memerintahkan para anjing untuk mengikuti instruksinya. Ada yang agresif mondar-mandir mencari narkotika diantara kotak-kotak kardus, ada yang terlihat santai, ada pula yang malas bergerak. Tingkah laku tersebut ditunjukan para anjing dalam pelatihan unit Anjing Pelacak Narkotika (APN) di Kantor Pusat DJBC pada 17 April - 31 Juli 2006. Pelatihan itu sendiri diikuti oleh lima orang calon handler dan lima ekor calon anjing pelacak narkotika (2 jantan dan 3 betina) jenis Labrador Retriver yang usianya antara 2 – 3 tahun. Menurut Rico Poltak Tuahot Hutasoit, pegawai Direktorat P2 yang juga sebagai handler senior, kelima anjing
WARTA BEA CUKAI

tersebut merupakan pemberian dari Australia Customs Service (ACS). “Sebenarnya anjing-anjing tersebut merupakan request saya 10 tahun yang lalu sewaktu saya mengikuti pelatihan handler di Australia Customs. Tapi waktu itu mereka belum bisa memberikan karena belum ada anjingnya,” imbuh Rico yang menambahkan bahwa Australia Customs memiliki breeder (pengembangbiakan-red) anjing sendiri sehingga, semua kebutuhan akan anjing di seluruh instansi yang ada di Australia (seperti imigrasi, polisi dan sebagainya) di supply dan dilatih oleh ACS. Ditemui WBC saat pelatihan, instruktur APN BC Tri Yapiyanto atau yang biasa dipanggil Yapi ini mengatakan, pelatihan APN tersebut tidak hanya dilakukan diluar ruangan, tapi juga didalam ruangan. Tujuannya

adalah untuk menyosialisasikan pada anjing bahwa dimananpun ia (anjingred) berada dan dalam situasi apapun, ia bisa mendapatkan narkotika. Pelatihan itu sendiri dibagi dalam 2 tahap, yang pertama tahap marijuana and hashis detection. Tahap ini terdiri dari basic, practical dan advance training. Pada tahap basic ini, calon handler dan anjing melakukan latihan visual yaitu melempar dummy (berupa handuk yang digulung dan diikat menyerupai tongkat pendek serta pipa pvc yang sudah dilubangi sekelilingnya dan didalamnya berisi narkotika jenis hashis dan marijuana yang dibungkus dengan amplop) sambil dilihat oleh anjing untuk kemudian anjingnya mengejar, menggigit dan membawa dummy tersebut berlari. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan bau marijuana dan hashis pada anjing. Penggunaan pipa pvc sebagai dummy

22

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

dianggap aman untuk menghindari bocornya narkotika kalau digigit anjing (jika bocor dan tertelan, bisa berakibat kematian pada anjing-red). Setelah itu tahap berikutnya adalah nonvisual retrieve, dummy tersebut dilempar ditempat yang tersembunyi sehingga anjing harus menggunakan penciumannya untuk melacaknya. Seterusnya, tahapan tersebut akan semakin sulit. Delapan minggu kemudian dilakukan mid-term evaluation yakni ujian bagi para anjing untuk mencari marijuana dan hashis ditempat-tempat yang sulit seperti di koper, kardus, tembok dan sebagainya. Saat pelatihan, satu orang handler memegang satu ekor anjing secara bergantian, sambil dinilai dari segi kecocokan antara anjing dengan handler. Jika kurang cocok maka akan terus di switch diantara mereka hingga cocok. Menurut Yapi, idealnya satu orang handler memegang dua ekor anjing. Tujuannya untuk berjaga-jaga kalau ditengah jalan ada anjing yang gagal mengikuti step-step latihan (sehingga harus mengulang dari awal-red), maka masih ada sisa satu ekor lainnya yang menjadi cadangan. Tahap kedua adalah heroin, cocaine detection yang terdiri dari basic, practical dan advance training. Pada tahap ini, anjing semakin sulit untuk mencari jenis narkotika yang baunya halus, seperti heroin dan cocaine (yang baunya tidak sekeras hashis dan marijuana-red). Oleh sebab itu dibutuhkan keahlian handler untuk menunjukan pada anjing dimana tempat-tempat yang diperkirakan menjadi lokasi persembunyian narkotika jenis tersebut. Empat minggu kemudian dilakukan final evaluation atau ujian akhir. “Pada tahap akhir, tingkat penyembunyian barang lebih dipersulit. Contohnya, kita masukan hashis, marijuana, morphine, cocaine atau heroin kedalam koper, kemudian kita tambah dengan membungkusnya dengan plastik dan bau-bauan parfum, kopi dan sebagainya, sehingga makin sulit untuk dilacak,” ujar Yapi. Selama melakukan pelatihan tersebut para calon APN juga diujicobakan dilapangan (termasuk pesawat dan kapal kargo) seperti di Bandara Soekarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Priok atau Kantor Pos Pasar Baru sehingga mereka (calon APN-red) nantinya akan terbiasa. Setelah lulus, anjing-anjing tersebut berhak menyandang nama Anjing Pelacak Narkotika (APN) atau drug detector dogs Bea dan Cukai. Demikian pula dengan para handler yang setelah lulus berhak menyandang jabatan sebagai handler Anjing Pelacak Narkotika Bea dan Cukai. Selama melatih, Yapi mengaku mengalami kesulitan, terutama dalam hal fisik para calon handler. Pasalnya, selain harus memiliki fisik yang kuat,

handler juga harus cerdas untuk membantu anjing mencari barang-barang yang mungkin menjadi tempat persembunyian drugs. “Jadi, kalau fisiknya tidak kuat maka otak pun tidak bisa connect,” tutur Yapi.

KOMPOSISI PSIKOTROPIKA DAN NARKOTIKA HAMPIR SAMA
Dalam pelatihan tersebut, para anjing dilatih untuk membaui narkotika jenis heroin, morphine, marijuana, hashis dan cocaine. Sutikno, Kepala Seksi Narkotika dan Psikotropika, Dit. P2, mengatakan, “Kami tidak secara khusus melatih anjing pelacak narkotika dengan jenis psikotropika karena keterbatasan sarana latihan berupa ecstasy, shabu dan jenis psikotropika lainnya.” Namun demikian, anjing pelacak narkotika tetap mampu melacak jenis

psikotropika. Karena, pada dasarnya komposisi drugs itu hampir sama, demikian pula dengan baunya. Sehingga ketika anjing-anjing tersebut dicoba untuk melacak jenis psikotropika (ekstasi), anjing-anjing tersebut juga berhasil melacaknya. Ketika ditanya apakah Bea dan Cukai memiliki bahan-bahan narkotika dan psikotropika yang lengkap untuk mendukung pelatihan, Sutikno menerangkan bahwa DJBC memiliki heroin dan cocaine tiruan (pseudo heroin dan pseudo cocaine), hashis, ganja, shabu dan ecstasy. Tapi untuk psikotropika bahan yang dimiliki hanya sedikit. Selama ini DJBC mendapat bantuan bahan-bahan narkotika tersebut dari pihak kepolisian dan beberapa waktu yang lalu, Polda Metro Jaya memberikan bantuan 10 kg ganja pada unit APN
WBC/ATS

MENGENDUS BAU NARKOTIKA. Saat pelatihan di KP DJBC, calon anjing pelacak narkotika sibuk mengendus, mencari-cari dummy narkotika di antara tumpukan kardus. EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

23

PENGAWASAN
Bea Cukai (canine/K-9 BC) untuk dipergunakan pada saat pelatihan. “Kami juga sedang mengupayakan untuk mendapatkan bantuan sarana latihan berupa psikotropika (ecstasy dan shabu) dari Polda Metro Jaya,” imbuh Sutikno. Dengan demikian, untuk pelatihan 17 anjing pelacak narkotika yang akan datang, dapat juga dilatih secara khusus untuk mendeteksi psikotropika. Hingga kini, DJBC memiliki 29 ekor Anjing Pelacak Narkotika (APN) berjenis Labrador Retrievers, Golden Retrievers, German Shepherds dan Mallenois, yang tersebar di beberapa kantor pelayanan, seperti Batam (2 ekor), Medan (3 ekor), Bali (6 ekor), Surabaya (2 ekor), Soekarno Hatta (4 ekor) dan Kantor Pusat (7 ekor), ditambah 5 ekor anjing baru pemberian Australia Customs Service. Jumlah tersebut akan bertambah karena pada September 2006, DJBC membeli 17 ekor anjing jenis Labrador Retriver dari Eropa. Sehingga total jumlah APN yang dimiliki DJBC menjadi 46 ekor. Menurut Rico, ke-17 anjing jenis Labrador Retriver yang akan dibeli dari Eropa tersebut memiliki beberapa kualifikasi. Diantaranya, usia minimal 2 tahun, memiliki keingintahuan yang tinggi, daya penciuman yang tinggi, intelligency yang tinggi, posesif, senang bermain dengan dummy dengan cara melakukan tarik-menarik (tug of war game) dummy bersama tuannya, suka mengejar barang yang dilempar lalu mengembalikan barang tersebut pada tuannya (sifat retrieve-nya). Dalam pemilihan anjing-anjing tersebut, DJBC memang tidak memilih anjing yang agresif atau galak, tidak seperti anjing-anjing yang dimiliki oleh kepolisian. Anjing-anjing milik kepolisian biasanya harus yang agresif dan galak karena tujuannya untuk
WBC/ATS

menghadapi para pendemo atau penjahat. Jenis Labrador Retriver yang dipilih DJBC pun karena jenis tersebut memiliki ciri khas tertentu seperti tenang, familiar dengan orang, patuh pada tuannya dan tidak temperamen sehingga bagus untuk melakukan pelacakan narkotika.

DIBUTUHKAN KOORDINASI DENGAN UNIT PENGAWASAN LAINNYA
Sutikno menjelaskan, setelah pelatihan tersebut selesai, anjing beserta handlernya akan diuji coba untuk melacak narkotika di tempat-tempat yang akan ditentukan. Untuk tahap permulaan, lima ekor anjing pelacak narkotika baru tersebut akan dilibatkan dalam pelacakan di Bandara Soekarno Hatta, Halim Perdana Kusuma, Tanjung Priok dan Pasar Baru. Jadi, APN baru tersebut tidak langsung ditempatkan. “Setelah kita mendapatkan 17 ekor anjing pelacak baru dan melatihnya mulai September hingga Desember 2006, kita akan review seluruh unit APN yang kita miliki, seperti yang di Soekarno Hatta, Hang Nadim, Juanda, Ngurah Rai dan Medan,” kata Sutikno. Rencananya, unit APN didaerah akan diganti dengan yang baru. Kemudian, unit APN lama akan dilatih kembali (re-train). Kalau berhasil, anjing tersebut tetap dipakai untuk melacak narkotika. Tapi jika gagal dan tidak bisa digunakan lagi sebagai APN, anjing tersebut diusulkan untuk dihapuskan dari daftar inventaris supaya tidak membebani anggaran untuk makan, pemeliharaan dan perawatan. Setelah ada ada persetujuan dari Sekretaris DJBC, bekas Anjing Pelacak Narkotika tersebut diserahkan kepada yayasan penyayang binatang atau Institut Pertanian Bogor sebagai bahan penelitian. Saat disinggung apakah dari segi jumlah APN yang dimiliki DJBC cukup memadai untuk melakukan pengawasan? Sutikno menjawab, pada dasarnya entry point di Indonesia sangat banyak, jadi jelas jumlah APN yang dimiliki DJBC tidak mencukupi. Untuk itu DJBC melihat pada skala prioritas, unit K-9 BC hanya ditempatkan pada entry point yang beresiko tinggi (yang melayani rute penerbangan internasional) seperti di Polonia, Soekarno Hatta, Juanda dan Ngurah Rai. Namun tidak menutup kemungkinan bandara internasional lain juga akan ditempatkan unit APN. Ada beberapa bandara di Indonesia yang mulai ramai dengan penerbangan internasional seperti Bandara Sultan Syarif Kasim-Pekanbaru, SepingganBalikpapan dan Juwita-Tarakan. Namun hal tersebut masih menjadi program kedepan, melihat kemampuan jumlah unit APN dan kesiapan KPBC setempat akan fasilitas untuk unit APN seperti kennel (kandang anjing), gudang

penyimpanan bahan proficiency training, gudang bahan makanan dan gudang penyimpanan bahan narkotika dan psikotropika untuk latihan. Serta yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dari KPBC setempat terhadap unit APN. Sikap kooperatif yang baik dan dukungan dari kantor pelayanan setempat memang sangat dibutuhkan, mengingat tugas dari unit APN adalah melakukan upaya pencegahan terhadap masuknya illegal drugs ke Indonesia. Untuk itu Sutikno berharap agar aplikasi dilapangan dalam hal operasional harus saling back up antara unit APN dengan unit pengawasan di kantor setempat. Para handler pun harus selalu berkoordinasi dengan unit pengawasan di kantor setempat dalam melakukan pelacakan. Pasalnya, pemahaman terhadap APN dari unit pengawasan kantor pelayanan setempat agak kurang. Padahal, tugas melakukan pelacakan dan pencegahan terhadap penyelundupan narkotika merupakan tugas bersama. Sutikno menambahkan, anjing pelacak merupakan salah satu alat yang paling efektif untuk mendeteksi narkotika disampaing x-ray machine dan kemampuan pegawai itu sendiri. Dengan demikian, kerjasama yang baik antara pegawai BC (yang mempunyai kemampuan membaca dan mendeteksi berbagai indikator resiko penyelundupan narkotika dan psikotropika) dan dukungan Unit APN, diharapkan dapat menghasilkan prestasi penangkapan yang lebih bagus. “Jadi, kalau unit APN melakukan pelacakan, mohon kerjasamanya, sebab kita bukan ingin mengambil porsi
WBC/ATS

SUTIKNO. Berharap agar dalam hal operasional harus saling back up antara unit Anjing Pelacak Narkotika dengan unit pengawasan di kantor setempat.

RICO HUTASOIT. Dari segi kualitas instruktur, DJBC telah memiliki instruktur dan standar pelatihan berkualitas internasional. Infrastruktur dan fasilitas yang lengkap juga dimiliki oleh unit APN DJBC.

24

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

mereka tapi kita ingin melakukan kerjasama yang bagus. Sehingga kalau memperoleh hasil, kan untuk Bea Cukai juga. Kalaupun anjingnya salah, kita bisa koreksi salahnya dimana sehingga kesalahan tersebut tidak terulang,” kata Sutikno. Selain ingin meningkatkan kinerja anjing pelacak itu sendiri dan tanpa melupakan tugas inti, Unit K-9 BC juga ingin membuat struktur organisasi Unit APN yang lebih bagus dilingkungan unit K-9 BC. Struktur organisasi Unit APN tersebut seperti dibawah ini: Bagi Kantor Pusat : Supervisory/Koordinator K9, Chief instructor, Senior K9 Instructor (Operasional), Drug Controller Officer, K9 Instructor, K9 Assistant Instructor (training), New handler. Bagi Unit APN di daerah : Chief Instructor, Senior K9 Instructor Operasional, Drug Controller Officer, Handler operasional. Namun untuk pelatihan, dipilih lagi asisten instructor untuk pelatihan dan operasional. Sutikno juga berharap agar unit K-9 BC dapat dilihat dan dikenal oleh masyarakat luas supaya masyarakat tahu bahwa DJBC memiliki unit APN, seperti yang dilakukan Customs dinegara-negara maju. Seperti Customs Jepang dan Australia yang secara rutin mengadakan demo anjing pelacak bagi siswa playgroup atau TK (taman kanak-kanak) bahkan orang dewasa yang datang berkunjung. Walaupun begitu, Unit K-9 BC kerap diundang untuk melakukan demo atau atraksi ketangkasan, diantaranya pada saat Presiden SBY berkunjung ke Kantor Pusat (awal tahun 2005), saat ultah BNN, saat DJBC menjadi pembiWBC/ATS

Data Tangkapan Narkotika/Psikotropika Unit Anjing Pelacak Narkotika Bea dan Cukai
Tgl. 25 - 10 - 2003 Lokasi Jumlah/Jenis Tersangka Rute Modus Operandi Keterangan : : : : : : Bandara Polonia Medan. 68 kapsul @ 14,2 gr (brutto) = 965,6 gr heroin. Okonkwo Nonso Kingsley. WN: Sierra Leone, Afrika Barat. Kuala Lumpur – Medan, MAS MH 860. Ditelan/Swallowed. Penangkapan berdasarkan reaksi positif Anjing Pelacak Narkotika DJBC. Kasusnya dilimpahkan ke Poltabes Medan untuk penyidikan lebih lanjut. Tgl. 14 - 01 - 2004 Lokasi : Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional Ngurah Rai. Jumlah/Jenis : 31 capsules = 461,7 gr heroin. Tersangka : Emmanuel O Ihejerika. WN: Repblik of Sierra Leone. Rute : Karachi – Kuala Lumpur – Hongkong – Kuala Lumpur – Denpasar (Malaysia Airlines MH-715). Modus Operandi : Ditelan. Keterangan : Penangkapan berdasarkan hasil analisis intelijen, profil penumpang dan Anjing Pelacak Narkotika DJBC. Barang bukti dan pelaku diserahkan ke Polda Bali. Tgl. 08 - 10 - 2004 Lokasi Jumlah/Jenis Tersangka Rute Modus Operandi Keterangan : : : : : Terminal Kedatangan Internasional Bandara Ngurah Rai. 4,2 kilogram marijuana. Schapelle Leigh Corby, WN: Australia. Sydney – Brisbane – Ngurah Rai Indonesia. Dikemas dalam kantong plastik dan dimasukan kedalam pembungkus boogie boards. : Penangkapan dilakukan berdasarkan reaksi Anjing Pelacak Narkotika DJBC. Serah terima ke Polda Bali dengan Berita Acara Penyerahan tersangka dan barang bukti pada 08 Oktober 2004. Tgl. 17 - 04 - 2005 Lokasi : Terminal Keberangkatan Internasional Bandara Ngurah Rai, Bali. Jumlah/Jenis : 10,9 kg heroin (12 kantong). Tersangka : Stephens Martin Eric, WN: Australia. Lawrence Renae, WN: Australia, Michael William, WN: Australia, Scott Anthony Rush, WN: Australia. Rute : Denpasar – Australia (Australian Air AO 7830) Modus Operandi : Barang dikemas dengan kantong plastik dan dililitkan pada pinggang dan kedua paha dengan menggunakan lakban warna coklat dan diluar bungkusan ditaburi bubuk merica. Keterangan : Penangkapan berdasarkan reaksi Anjing Pelacak Narkotika DJBC. Tersangka dan barang bukti diserahkan ke Polda Bali. cara pada diklat serse narkotika dan saat memperingati Hari Bhayangkara. saja, dalam perkembangannya kita mengalami pasang surut,” imbuh Sutikno. Rico menambahkan, sebetulnya dari segi kualitas instruktur, DJBC telah memiliki instruktur dan standar pelatihan berkualitas internasional dengan seringnya para handler dikirim keluar negeri untuk mengikuti pelatihan. Infrastruktur dan fasilitas yang lengkap juga dimiliki oleh unit APN DJBC. Hanya saja, untuk vehicle search atau pelacakan pada kendaraan penumpang, dirasa masih kurang. “Selama ini kita hanya menggunakan mobil pick up untuk latihan pelacakan pada kendaraan penum-pang, padahal mobil penumpang itu kan berbeda dengan mobil pick up,” lanjut Rico.
WARTA BEA CUKAI

PERKEMBANGAN UNIT APN BC
Jika melihat perkembangn unit APN BC di level Asia Tenggara, kualitas APN BC hampir sama dengan yang dimiliki Singapura dan Malaysia. Sebab anjingnya sama-sama berasal dari Eropa dan Amerika. “Jadi, kalau di level Asean kita bisa berbangga dengan unit kita, untuk level Asean Unit APN DJBC termasuk di jajaran terdepan drug detector. Dengan Jepang pun kita hampir sama karena sejak tahun 1979 Jepang sudah memiliki unit dog detector dan kita memilikinya sejak tahun 1980. Hanya

TRI YAPIYANTO. Idealnya, satu orang handler memegang dua ekor anjing untuk berjaga-jaga kalau ditengah jalan ada anjing yang gagal mengikuti step-step latihan.

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

25

PENGAWASAN

HASIL TEGAHAN UNIT K-9 BC. Emmanuel O Ihejerika, kedapatan membawa 461,7 gr heroin dalam bentuk 31 kapsul yang ditelan. Berdasarkan hasil analisis intelijen, profil penumpang dan Anjing Pelacak Narkotika DJBC, pria warga negara Republik of Sierra Leone, Afrika Barat tersebut berhasil ditangkap di Bandara Ngurah Rai-Bali.

Saat ini unit K-9 BC Kantor Pusat DJBC memiliki 2 unit mobil khusus pengangkut APN BC, Medan (1 unit mobil) dan Bali (1 unit mobil). “Tapi tahun ini rencananya DJBC akan menyediakan tambahan 2 unit mobil yang bisa mengangkut 4 anjing per unitnya. Kita juga sudah minta ke BNN dan mereka menyanggupi akan memberikan 3 unit mobil pengangkut APN tapi hal itu belum terealisasi,” jelas Sutikno. Hingga saat ini, Unit APN BC Kantor Pusat selalu mengadakan operasi rutin dengan melakukan pelacakan seperti di Sekarno Hatta, Tanjung Priok, Kantor Pos Pasar Baru dan Halim. Pelacakan tersebut dilakukan tidak pada semua barang tapi berdasarkan indikator resiko karena tidak mungkin untuk melacak seluruh kontainer, cargo maupun kapal yang ada. Indikator resiko tersebut diantaranya memilih cargo yang berasal dari negara sumber narkotika, seperti Thailand, Myanmar dan Laos yang terkenal sebagai golden triangle source heroin. Kemudian dari negara-negara di Asia Barat seperti Pakistan, India dan Afghanistan. Belanda juga masuk prioritas sebagai sumber dari psikotropika seperti ecstasy. Cargo yang berasal dari negara sumber cocaine seperti Colombia, Bolivia, Peru, ataupun alat angkut yang datang dari daerah sumber narkotika maupun singgah di negara sumber narkotika, juga menjadi prioritas sumber pelacakan. Tapi tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan pelacakan pada penerbangan 26
WARTA BEA CUKAI

yang non beresiko. (Lihat boks, prestasi yang telah diraih Unit APN BC). Selain karena rutinitas, pelacakan tersebut juga dilakukan jika ada informasi intelijen dari unit lain atau P2. Sutikno menambahkan, hampir semua media dapat dideteksi untuk melacak drugs, seperti cargo kapal laut dan udara, kendaraan biasa, baggage maupun penumpang. Pada penumpang biasanya drugs disembunyikan dengan cara ditelan, dimasukan dalam tubuh manusia (misalnya dubur-red) atau body strapping (dilekatkan di paha, pinggang, perut dan sebagainya). Sebenarnya, lanjut Sutikno, ada hambatan religius di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, sehingga tidak semua orang berani dengan anjing. Oleh sebab itu unit K-9 BC jarang melakukan pelacakan di areal penumpang. Kalaupun dilakukan pelacakan di terminal penumpang, harus menggunakan anjing yang pasif bukan agresif. Sebab, anjing yang pasif akan duduk disebelah penumpang yang menyembunyikan drugs di tubuhnya, anjing yang pasif tidak melakukan scratching (penggarukan).

UNIT APN BC BUKA PRAKTEK KONSULTASI
Ketika diwawancara WBC, Diana Anggraini, calon handler, mengatakan, ia merasa senang menjadi handler sebab sambil bermain dengan anjing, ia juga harus bisa mempertahankan agar anjing tersebut tetap mengikuti perintahnya dan mau melacak narkotika. Untuk itu ia mempersiapkan fisik yang sedemikian rupa agar mampu memegang anjing-anjing tersebut.

Sebagai seorang muslim, ia mengaku tidak ragu atau takut bersentuhan dengan anjing. “Menurut buku yang kami baca, bagi orang yang pekerjaannya berkecimpung dengan anjing memang ada keringanan, jadi dicuci dengan air dan sabun saja sudah cukup,” katanya. Hal senada juga diucapkan oleh Nugroho wahyu wibowo, calon handler. Ia menambahkan, selain latihan fisik, ia juga diberikan pembekalan mengenai narkotika, modus operandi dan sebagainya. Ia pun tidak merasa kesulitan menangani anjing-anjing tersebut. Pasalnya, selain ia lulusan dari ilmu Kedokteran Hewan atau veteriner, anjing-anjing tersebut sangat friendly. Rico menambahkan, karena para 5 (lima) orang handler tersebut merupakan lulusan dari ilmu kesehatan hewan atau veterinary ditambah dokter hewan dari RSPAD yang selama ini menangani kesehatan Anjing Pelacak Narkotika Bea Cukai, maka Unit APN membuka konsultasi bagi siapapun yang ingin berkonsultasi mengani hewan. “Kami siap untuk menjawab pertanyaan siapa saja yang ingin berkonsultasi mengenai hewan apapun, entah itu mengenai kesehatan, perawatan hewan dan sebagainya,” ujar Rico. Pertanyaan tersebut dapat dikirim melalui surat/fax ke WBC atau langsung ke unit APN Bea Cukai di Kantor Pusat DJBC. ifa (Edisi selanjutnya, WBC akan mengulas lebih lanjut mengenai anjing pelacak, diantaranya, mengenal anjing lebih dalam dan melihat perkembangan unit K-9 di Australia dan Amerika).

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

Berdalih Barang Pindahan,
RIBUAN HAND PHONE BERUSAHA DIMASUKAN MELALUI PELABUHAN TANJUNG PRIOK
Agar barang kirimannya luput dari pemeriksaan petugas, tersangka menggunakan modus sebagai barang pindahan milik tenaga kerja Indonesia (TKI), yang ternyata berisikan ribuan hand phone lengkap dengan accessoriesnya.

S

rima barang adalah Kasirah binti Waremakin ketatnya pengawasan jo, Warsiem, dan Parti Kromoteto. yang dijalankan Direktorat Atas dokumen tersebut, petugas Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) langsung melakukan pemeriksaan terhadap upaya penyelundupan, rufisik, dan dari hasil pemeriksaan fisik panya tidak membuat oknum penyeternyata isi party barang tersebut lundup berkecil hati dan berhenti adalah 63 carton berisi hand phone melakukan kegiatan haramnya. Berdan accessories sebanyak 26.000 bagai modus terus dicoba dan diupaunit, dengan merk sebagian besar yakan agar barang yang mereka adalah Nokia berbagai tipe. masukan dapat dengan bebas bereAtas temuan ini, petugas langsung dar di pasaran. melakukan penyegelan karena terhadaHal ini dapat dibuktikan dengan hap barang tersebut merupakan barang sil tegahan yang dilakukan oleh petuyang masuk kedalam barang larangan gas Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dan pembatasan (Lartas), dan menang(KPBC) Tipe A Khusus Tanjung Priok I kap dua tersangka yang mengajukan dan petugas Kantor Wilayah (Kanwil) IV dokumen barang tersebut. DJBC Jakarta, belum lama ini. Menurut Kepala Bidang PencegahKejadian ini berawal dari adanya informasi dan WBC/ZAP hasil analisa intelijen, pada 15 Juli 2006 lalu, terhadap kedatangan party barang impor yang dimuat dalam kapal MV. Pac Pahlawan Voy. 750S dari Singapura. Barang tersebut dalam pemberitahuanya dijelaskan sebagai barang pindahan (personal effects) milik TKI yang bekerja di Singapura. Dengan modus ini tersangka yang berinisial NJN yang mewakili PT.GMP dan SS selaku pemberi order, terlebih dahulu mengajukan permohonan impor dengan dokumen pemberitahuan impor barang tertentu (PIBT), 63 KARTON BERISI HANDPHONE. Dengan diberitahukan sebagai barang pindahan (personal Effect ), handphone tanpa ijin Ditjen dengan penePostel berhasil ditegah petugas.
EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

an dan Penyidikan (P2) Kanwil IV DJBC Jakarta, Rahmat Subagio, modus yang mereka lakukan memang terbilang baru karena dalam pengajuan PIBT yang mereka lakukan juga dilampiri paspor atas nama ketiga TKI yang dinyatakan sebagai penerima barang. “Para tersangka adalah warga negara Indonesia, dan hingga kini kami masih terus menelusuri pemilik asli barang tersebut. Selain itu kami juga masih menelurusi kemungkinan adanya pihak asing yang mendampingi para tersangka ini,” jelas Rahmat Subagio. Akan pelanggaran ini tersangka dinyatakan telah melakukan pelanggaran tindak pidana dibidang kepabeanan, melanggar pasal 103 huruf a Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, dengan kerugian negara diperkirakan sekitar Rp 4,7 milyar. Selain itu tersangka juga dinyatakan telah melanggar Peraturan Men teri Perhubungan Nomor, KM.10 tahun 1005 tentang sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi, karena atas party barang yang diimpornya tidak dilampiri sertifikat alat telekomu-nikasi yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. adi

27

PPKC

PENERIMAAN BEA MASUK DAN CUKAI SEMESTER I 2006,

Tidak Mencapai Target
Pertumbuhan ekonomi yang belum stabil dan penurunan tarif untuk komoditi tertentu,menjadi variabel yang menyebabkan tidak tercapainya target penerimaan dari sektor Bea Masuk dan Cukai.

P

DOK. WBC

ada APBN tahun 2006, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) ditargetkan untuk menghimpun pendapatan dari sektor Bea Masuk (BM) sebesar Rp16,5 triliun,dengan target pada semester satu atau per 30 Juni 2006 sebesar Rp.8,286 triliun. Sementara penerimaan dari sektor cukai, ditargetkan menghimpun pendapatan sebesar Rp36,5 triliun dengan target pada semester satu sebesar Rp.18,25 triliun. Target yang ditentukan dalam APBN per semester tersebut pada kenyataannya tidak tercapai. Menurut Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) Drs. M Wahyu Purnomo,Msc dalam wawancaranya dengan WBC pada 2 Agustus 2006 mengatakan, realisasi penerimaan dari sektor BM mencapai Rp.5,636 triliun dari target semester yang ditentukan. Sementara untuk Cukai, DJBC berhasil menghimpun pendapatan sebesar Rp. 18,089 triliun dari target yang telah ditentukan tadi. Dikatakan Wahyu, tidak tercapainya target penerimaan pada semester satu ini lebih dikarenakan faktor pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang lambat, sehingga dampaknya pada kemampuan untuk mengimpor barang yang semakin berkurang. Sementara harmonisasi tarif yang berujung pada

penurunan BM, juga mempengaruhi, ”papar Wahyu. Saat ini alat elektronik, mesin, kendaraan bermotor dan barang modal menjadi andalan bagi penerimaan negara dari sektor BM. Sementara dari sektor cukai, industri rokok masih menjadi andalan disamping pengenaan cukai pada produk Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan juga produksi Etil Alkohol (EA) Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menurut Wahyu, cukup prihatin dengan kondisi seperti ini, namun Menkeu, lanjutnya memahami faktor-faktor yang menyebabkan tidak tercapainya target tadi. Berdasarkan data-data yang dimiliki oleh DJBC lanjut Wahyu, pihaknya akan menganalisa faktor penyebabnya.

REVISI APBN
M. WAHYU PURNOMO. Perkembangan ekonomi Indonesia dan harmonisasi tarif dua variabel yang menentukan penerimaan negara dari sektor BM.

turunnya BM juga mempengaruhi target BM,” Impor sekarang menurun,karena pertumbuhan eknomi yang tidak tercapai seperti yang ditetapkan dalam APBN,selain pertumbuhan ekonomi, harmonisasi tarif yang berujung pada

Perkembangan penerimaan negara pada semester satu yang kurang memuaskan tersebut berujung pada usulan revisi penerimaan negara tahun 2006 dari kedua sektor tadi. Dalam rapat dengan anggota Panitia Anggaran DPR, Menteri Keuangan menurut Wahyu, menyampaikan faktor-faktor penyebab tidak tercapainya target penerimaan, sementara DPR melalui Panitia Anggaran

REALISASI PENERIMAAN BEA MASUK SEMESTER I TAHUN 2006 (Juta Rp)
SUMBER : DIT. PPKC

Kantor Wilayah I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII MEDAN TB. KARIMUN PALEMBANG JAKARTA BANDUNG SEMARANG SURABAYA DENPASAR PONTIANAK BALIKPAPAN MAKASAR AMBON BANDA ACEH JUMLAH

Target APBN 345,282.43 305,584.30 231,28.03 9,848,051.14 2,677,488.32 438,994.32 2,036,446.31 64,360.91 43,908.44 368,805.50 121,678.60 72,128.85 18,662.86 16,572,600.00

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Semester I 186,935.26 80,500.00 106,099.10 3,341,481.46 838,048.57 191,018.64 662,429.56 17,696.44 19,122.11 126,307.76 24,248.80 33,729.29 8,419.97 5,636,036.95

% Dari Target Tahunan 54.14 26.34 45.89 33.93 31.30 43.51 32.53 27.50 43.55 34.25 19.93 46.76 45.12 34.01

27,347.93 9,431.97 6,346.11 549,984.83 137,902.29 40,271.43 107,432.03 9,776.65 1,991.51 23,485.63 14,879.11 4,238.57 5,411.83 938,499.89

33,237.86 12,444.22 7,860.72 564,130.40 140,359.21 36,428.20 95,716.32 1,141.41 2,475.88 14,844.45 4,459.60 7,211.19 1,487.34 921.796.79

30,918.85 11,877.86 30,808.91 577,412.11 139,545,49 30,900.91 106,154.86 665.79 2,717.08 17,250.21 1,294.19 5,341.28 14.16 954,901.70

30,303.35 26,609.66 36,745.59 544,717.36 132,849.54 27,325.43 111,704.33 3,085.30 3,123.54 14,473.68 632.90 7,314.12 15.73 938,900.54

31,744.02 8,952.52 14,767.44 519,880.86 134,187.07 25,814.07 112,300.19 1,255.41 3,039.67 29,905.91 2,284.81 5,302.97 1,065.00 890,499.94

33,383.25 11,183.76 9,570.32 585,355.90 153,204.97 30,278.60 129,121.83 1,771.89 5,774.44 26,347.87 698.20 4,321.15 425.91 991,438.08

28

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

DOK. WBC

memahami dan menyetujui revisi APBN yang disampaikan pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan. Dalam rapat tersebut disepakati berubahnya komposisi target penerimaan negara dari kedua sektor tadi. Dimana sebelumnya DJBC yang ditargetkan menghimpun pendapatan negara sebesar Rp.53,092 triliun, setelah direvisi menjadi Rp.52,105 triliun, dengan komposisi penerimaan dari BM sebesar Rp.13,583 triliun dan cukai sebesar Rp.38,522 triliun. Mengenai revisi target untuk masing-masing Kanwil, menurut Wahyu akan ditentukan kemudian setelah menunggu disahkannya undang-undang yang mengatur mengenai revisi APBN tahun 2006 oleh DPR

TETAP OPTIMIS
Untuk semester kedua, Wahyu mengatakan optimis bisa mengikuti target yang telah ditentukan tadi. Untuk semester kedua menurutnya, Indonesia akan menghadapi tiga event penting yaitu Lebaran, Natal dan tahun baru. Pada tiga event tersebut menurutnya kegiatan impor diperkirakan cukup banyak terjadi, sehingga bisa meningkatkan penerimaan dari sektor BM. “Apakah dengan event tersebut akan tercapai penerimaan dari sektor BM, kita harus kerja keras,” paparnya lagi. Optimisme Wahyu tersebut juga dapat dilihat dari penerimaan dari sektor cukai pada semester satu ini sebesar 99,1 persen dari target yang ditetapkan. Menurutnya jika digabungkan antara penerimaan BM dengan cukai ia optimis penerimaan negara tahun 2006 dari kedua sektor tadi akan tercapai sesuai dengan target. Untuk meningkatkan kinerja dalam penerimaan negara. Wahyu menjelaskan, Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi telah menginstruksikan seluruh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) melalui para Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC di seluruh Indonesia untuk lebih bekerja keras dan meningkatkan pelayanan. Melalui peningkatan pelayanan maka penerimaan negara akan

INDUSTRI ROKOK. Masih menjadi andalan penerimaan negara dari sektor cukai

dapat diserap secara optimal. Selain itu Dirjen juga mengatakan agar para petugas dapat bekerja seteliti mungkin dalam mengenakan bea terhadap barang yang masuk dari luar negeri. Lebih lanjut Wahyu juga mengatakan bahwa DJBC melalui KPBC sebagai ujung tombak penerimaan negara harus menyadari bahwa dalam menjalankan tugasnya dibebani dengan target penerimaan. Target itu tidak akan terpenuhi jika kinerja atau performancenya masih biasa-biasa saja. “Jadi harus betul-betul lebih teliti. Dan pembeaan itu harus dilakukan dengan benar oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD). Begitu juga dengan pemeriksaan barang oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa Barang (PFPB), harus dilakukan dengan benar

juga karena pengaruhnya terhadap penentuan nilai pabean dan klasifikasi barang. Itu yang disampaikan Dirjen kepada para Kepala Kanwil untuk diteruskan kepada Kepala KPBC-nya, ”papar Wahyu. Untuk melihat kinerja KPBC dalam menghimpun penerimaan dari sektor BM dan Cukai pada semester kedua nanti, Dirjen menurut Wahyu, rencananya akan melakukan pertemuan rutin dengan para Kepala Kanwil dan Kepala KPBC seluruh Indonesia setiap bulannya. Pertemuan tersebut dilakukan agar dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab tidak tercapainya target penerimaan negara di masing-masing KPBC. Dan untuk KPBC yang bisa mencapai target penerimaan agar terus meningkatkan kinerjanya. zap

REALISASI PENERIMAAN CUKAI SEMESTER I TAHUN 2006 (Juta Rp)
SUMBER : DIT. PPKC

Kantor Wilayah I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII MEDAN TB. KARIMUN PALEMBANG JAKARTA BANDUNG SEMARANG SURABAYA DENPASAR PONTIANAK BALIKPAPAN MAKASAR AMBON BANDA ACEH JUMLAH

Target APBN 284,643.59 4,335.81 703.36 170,466.16 1,024,151.04 8,929,406.16 26,104,277.97 581.67 0.00 15.47 1,117.55 1.22 0.00 36,519,700

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Semester I

% Dari Target Tahunan 50.92 34.83 24.32 41.20 51.53 55.29 47.56 54.35 267.93 29.23 0.000 49.56

41,680.04 25,145.79 3.42 221.21 27.16 27.24 16,568.92 1,286.35 97,248.08 82,342.62 932,824.24 442,883.07 1,679,193.83 2,411,066.23 34.16 33.93 0.00 0.00 14.40 0.00 50.12 49.12 0.00 0.00 0.00 0.00 2,231,183.16 3,499,516.75

10,236.90 35,664.92 19,876.40 12,348.82 144,952.87 367.52 247.86 394.68 275.46 1,510.14 26.58 31.41 25.08 33.57 171.04 10,251.14 16,666.98 13,012.19 12,450.14 70,235.72 60,823.40 91,611.16 120,052.00 75,617.65 527,694.91 1,145,351.00 668,601.17 1,212,003.03 535,103.40 4,936,765.92 1,996,693.01 1,929,548.05 2,839,960.09 1,559,511.70 12,415,972.90 56.13 63.80 56.18 71.95 316.15 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8.88 15.84 2.33 41.45 51.17 52.54 86.05 37.71 326.70 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3,242,881.65 2,723,226.80 4,224,751.51 2,176,427.93 18,097,987.79

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WARTA BEA CUKAI

29

PERISTIWA

Dari Seminar Perpajakan Dan Kepabeanan

PENGENAAN PAJAK UNTUK KAWASAN BERIKAT
Masih adanya ketidaksinkronisasian kebijakan antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) terhadap penarikan pajak di daerah kawasan berikat, menyebabkan para penerima fasilitas ini menjadi terbebani antara dibebaskan namun tetap dikenakan pajak.

S

alah satu permasalahan yang hingga kini masih terus bergulir dan menjadi pembahasan di setiap acara diskusi dan seminar untuk kawasan berikat, adalah permasalahan perpajakan yang dinilai cukup membebani karena antara kebijakan dan kenyataan di lapangan tidak selalu sama. Dengan melihat adanya permasalahan tersebut, belum lama ini Center for Tax Education (CTE) atau lembaga konsultan yang bergerak di bidang perpajakan, menyelenggarakan seminar sehari tentang perpajakan dan kepabeanan, dengan mengambil tema “Aspek perpajakan dan kepabeanan untuk kawasan berikat”. Seminar yang diselenggarakan pada 28 Juli 2006 lalu di hotel Shangri-La Jakarta ini, mendapat sambutan yang cukup antusias dari para pengusaha kawasan berikat maupun pengusaha yang berencana mengajukan menerima
WARTA BEA CUKAI

fasilitas ini. Hadir sebagai pembicara untuk sisi perpajakan, Untung Sukardi, yang merupakan widyaiswara BPPKPusdiklat perpajakan Departemen Keuangan, dan Sutardi, yang merupakan Kasubdit Tempat Penimbunan Berikat Direktorat Teknis Kepabeanan, memaparkan materi seputar kepabeanan khususnya untuk kawasan berikat. Menurut S. Suyanto Rahardjo, selaku ketua penyelenggara seminar sekaligus sebagai Direktur CTE, permasalahan perpajakan memang hingga kini menjadi kendala utama bagi para investor. Terkait dengan kawasan berikat, permasalahan perpajakan juga menjadi kunci utama permasalahan dimana penerima fasilitas kawasan berikat yang dalam ketentuannya mendapatkan pem- bebasan beberapa pajak, namun kenyataannya masih dapat dikenakan juga. “Dengan seminar ini kami meng-

inginkan agar para investor atau pengusaha kawasan berikat dapat memahami dengan benar apa yang menjadi kewajiban dan apa yang menjadi haknya, selain itu kami juga berusaha menjadi partner pengusaha untuk memberikan bimbingan terkait dengan persoalan pajak yang harus mereka selesaikan,” ujar Suyanto Rahardjo. Sementara itu menurut Sutardi, dari sisi DJBC sebenarnya telah jelas diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1996 tentang Tempat Penimbunan Berikat dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 291/KMK.05/1997 Tanggal 26 Juni 1997 Tentang Kawasan Berikat; Barang yang dimasukkan ke Kawasan Berikat dari luar daerah pabean adalah barang yang mendapat fasilitas penundaan Bea Masuk (BM) dan tidak dipungut Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), dan oleh karena itu secara teknis maupun yuridis,

30

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WBC/ATS

barang-barang tersebut belum dimanfaatkan/ dikonsumsi di dalam negeri (peredaran bebas), dan oleh karena itu statusnya masih berada di bawah pengawasan pabean. Sehingga meskipun barang-barang tersebut telah “diimpor” sebagaimana pengertian impor pada butir 13 pasal 1 Undang-undang Nomor 10/ 1995, akan tetapi terhadap barang-barang tersebut belum dikenai BM dan PDRI karena barang-barang tersebut belum direlease dengan tujuan diimpor untuk dipakai. Menurut International best Customs practices bahwa kawasan berikat secara imajiner dianggap perpanjangan wilayah luar negeri yang ditarik ke dalam wilayah pabean Indonesia. Revised Kyoto Convention mendefinisikan Kawasan Berikat sebagai ”Free Zone” yang dijabarkan sebagai : “Suatu bagian dari daerah Contracting Party dimana setiap barang yang dibawa masuk kedalamnya sepanjang menyangkut bea masuk dan pajak, pada umumnya dianggap sebagai berada diluar daerah pabean” Kalau dalam kenyataannya hingga kini masih terjadi perbedaan pendapat antara beberapa pejabat DJBC dan beberapa pejabat DJP hal-tersebut semata-mata hanya dikarenakan perbedaan interprestasi saja. “Teman-teman dari DJP berpendapat bahwa barang yang berasal dari luar daerah pabean yang dimasukkan ke Kawasan Berikat sudah dianggap ”diimpor”. Mereka berpegang pada pengertian impor sebagaimana tercantum pada pasal 1 butir 13 Undang-Undang Kepabeanan, yang menyatakan bahwa impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam Daerah Pabean. Memang barang yang telah melewati perbatasan sudah terhutang BM dan PDRI akan tetapi belum wajib membayar/melunasi BM dan PDRI, karena barang tersebut harus dibawa kepelabuhan tujuan dan itu masih panjang jalannya. Berdasarkan pasal 7 ayat (1) bahwa barang impor harus dibawa ke Kantor Pabean tujuan pertama melalui jalur yang ditetapkan dan kedatangan tersebut wajib diberitahukan oleh pengangkutnya. Lebih jauh dikatakan dalam ayat (6) bahwa barang impor sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sementara menunggu pengeluarannya dari Kawasan Pabean, dapat ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara (digudang/ lapangan penimbunan di pelabuhan). Kemudian dalam ayat (7) dinyatakan bahwa terhadap barang-barang impor(yang telah melewati batas negara) yang kemudian ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara ( digudang/ lapangan penimbunan dipelabuhan) tersebut, dapat dikeluarkan dari Kawasan Pabean ( pelabuhan) dalam arti dilepas dari pengawasan pabean di Kawasan Pabean (di pelabuhan bongkar), setelah dipenuhinya Kewajiban Pabean untuk :

SUTARDI. Revised Kyoto Convention mendefinisikan Kawasan Berikat sebagai Free Zone.

a. diimpor untuk dipakai; b. diimpor sementara; c. ditimbun di Tempat Penimbunan Berikat; d. diangkut ke Tempat Penimbunan Sementara di Kawasan Pabean lainnya; e. diangkut terus atau diangkut lanjut; atau f. diekspor kembali. Dari ketentuan pasal 7 ayat (7) tersebut apabila dikaji lebih mendalam, sangat jelas bahwa hanya terhadap barang yang diimpor untuk dipakai saja (huruf a) yang wajib dilunasi Bea Masuk dan pungutan negara lainnya (Pajak Dalam Rangka Impor), sedangkan terhadap kegiatan lanjutan yang lain sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat (7) huruf b sampai dengan f, merupakan barang dalam pengawasan Bea Cukai (Under Customs Control), belum dimanfaatkan, sehingga dianggap masih dalam proses pengangkutan dan/ atau penimbunan, sehingga terhadap
WBC/ATS

S. SUYANTO RAHARDJO. Permasalahan pajak masih menjadi kendala bagi investor

barang-barang tersebut belum wajib dilunasi Bea Masuk dan pungutan negara lainnya, karena atas barang-barang tersebut tidak/ belum diimpor untuk dipakai (belum dimanfaatkan didalam daerah pabean), meskipun barang-barang sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat (7) huruf a sampai dengan f adalah sudah merupakan barang impor sebagaimana dimaksud pada butir 13 pasal 1 Undangundang Nomor 10/ 1995, akan tetapi jika barang tersebut diproses di kawasan berikat dengan tujuan ekspor kembali, maka barang tersebut sama sekali tidak dikenakan BM dan PDRI,” jelas Sutardi. Lebih lanjut Sutardi menyatakan untuk barang-barang yang masih berada di bawah pengawasan pabean, merupakan barang yang belum subjek pada BM dan PDRI, demikian juga barang yang dimasukkan ke Kawasan Berikat, hal tersebutlah yang sebenarnya menjadi inti permasalahan. Jika barang tersebut telah diimpor untuk dipakai maka pembebanan pajak sudah dapat dikenakan pada barang tersebut. Jadi baik DJP maupun DJBC sebenarnya telah memiliki visi yang sama, yaitu barang yang diimpor namun belum dimanfaatkan maka belum dapat dikenakan pajak. Pengenaan pajak dapat dilakukan pada barang tersebut jika telah dimanfaatkan. Hal ini berdasarkan prinsip”The destination of taxation” dimana dalam prinsip tersebut dianut bahwa ”No indirect taxes should be levied on goods that are not destined for domestic consumption”, artinya bahwa pajak tidak langsung hanya dikenakan terhadap barang-barang yang diimpor untuk dipakai, sedangkan barang yang dimasukkan ke Kawasan Berikat walaupun sudah diimpor menurut pengertian pasal 1 butir 13 UU No.10/ 1995 Tentang Kepabeanan, namun barang tersebut belum Diimpor Untuk Dipakai, sehingga timbulnya kewajiban membayar BM dan PDRI tersebut yaitu pada waktu barang dikeluarkan dari KB ke Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL). Hal ini diperkuat dengan adanya terminologi yang dipakai oleh UU 10/1995; PP 33/1996 dan KMK 291/1997; serta Kep DJBC 63/1997 yang selalu menyebutkan : ” Barang dari TPB/KB yang diimpor untuk dipakai....dst ”. Disamping itu semua pengeluaran barang dari KB ke DPIL (diimpor Untuk Dipakai) berlaku Ketentuan Umum di Bidang Impor. Dari penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh dua nara sumber tersebut, cukup membuat puas para peserta seminar, hal ini dapat dilihat dari gencarnya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka. Namun demikian persoalan belum dapat terselesaikan dengan sempurna, karena masih ada beberapa kendala di lapangan yang harus dihadapi oleh para pengusaha kawasan berikat dikarenakan adanya perbedaan interpretasi tersebut. adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

31

PERISTIWA
WBC/ZAP

Dalam RAPBN 2007 , Pertumbuhan Ekonomi

6,3 Persen

KONFRENSI PERS. Para Menteri perekonomian yang dipimpin oleh Menko Perekonomian memaparkan RAPBN tahun 2007.

Pemerintah masih optimis pertumbuhan ekonomi tahun 2007 bisa lebih baik dengan berbagai faktor yang ada didalamnya

P

erkembangan perekonomian Indonesia tahun 2006 masih dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Hal ini disampaikan Menko Perekonomian Boediono dalam acara konfrensi pers mengenai Pokok-Pokok RAPBN tahun 2007 dan nota Keuangannya yang juga dihadiri oleh para menteri perekonomian di Gedung Departemen Keuangan, Rabu 16 Agustus 2006. Menurut Boediono, faktor eksternal seperti ketidak seimbangan global, tingginya harga minyak mentah dunia dan tingginya tingkat bunga di luar negeri akibat penerapan kebijakan moneter yang relatif ketat terutama di Amerika Serikat, telah mengakibatkan pemerintah dan Bank Indonesia melakukan kebijakan antisipasi. Sedangkan dari sisi internal misalnya, masalah klasik seperti belum pulihnya kepercayaan konsumen dan dunia usaha yang dibarengi dengan daya beli masyarakat, belum terciptanya iklim usaha yang kondusif dan bencana alam di beberapa tempat di Indonesia juga menjadi bagian dalam perjalanan perekonomian Indonesia tahun 2006. Boediono memaparkan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2006 diperkirakan hanya akan mencapai 5,8 persen. Atau lebih lambat dari perkiraan semula sebesar 6,2 persen. Perlambahan tersebut telah terlihat dari tingkat pertumbuhan triwulan II tahun 2006 yang hanya mencapai sebesar 5,2 persen, lebih rendah dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi periode yang
WARTA BEA CUKAI

sama tahun 2005 sebesar 5,6 persen. Sementara untuk pertumbuhan ekonomi tahun 2007, pemerintah memperkirakan akan mencapai 6,3 persen lebih tinggi dibanding tahun 2006 yang tumbuh sebesar 5,8 persen. Hal ini menurut Boediono dapat dilihat dari membaiknya pertumbuhan ekonomi, membaiknya konsumsi masyarakat, meningkatnya kegiatan investasi dari sektor swasta dan belanja modal pemerintah, serta meningkatnya ekspor karena membaiknya stabilitas perekonomian.

RAPBN 2007
Mengenai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2007 Boediono mengatakan, hal itu merupakan pelaksanaan tahun ketiga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009 yang disusun berdasarkan visi dan misi presiden dalam rangka mewujudkan sasaran agenda pembangunan Kabinet Indonesia Bersatu. Penyusunan RAPBN tahun 2007 menurutnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2007, Kerangka Ekonomi Makro, dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2007 yang telah disepakati antara pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Berbagai besaran RAPBN tahun 2007 dihitung berdasarkan asumsi dasar

ekonomi makro seperti, laju inflasi sebesar 6,5 persen membaik dibandingkan dengan proyeksi inflasi dalam tahunb berjalan sebesar 8 persen. Asumsi lainnya seperti nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat diperkirakan Rp.9300, nilai suku bunga SBI 3 bulan diperkirakan 8,5 persen, rata-rata harga minyak mentah Indonesia dipasar Internasional US$65 per barel dan rata-rata lifting (produksi) minyak mentah Indonesia sebesar 1,0 juta barel per hari. Hal tadi menjadi asumsi bagi pemerintah untuk menentukan besaran RAPBN tahun 2007. Dalam RAPBN tahun 2007 Boediono menjelaskan, pendapatan negara dan hibah diperkirakan sebesar Rp. 713,4 triliun atau naik 14,1 persen dari sasaran pendapatan negara dan hibah dalam APBN tahun 2006. Rencana pendapatan negara tersebut bersumber dari penerimaan perpajakan Rp.505,9 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp.204,9 triliun. Lebih tingginya sasaran penerimaan negara pajak tersebut selain berkaitan dengan perkembangan kondisi ekonomi makro yang diperkirakan lebih baik dibanding kondisi tahun sebelumnya, juga karena adanya langkah-langkah reformasi administrasi perpajakan, kepabeanan dan cukai, yang akan dilakukan melalui modernisasi fungsi penyuluha dan pelayanan, modernisasi fungsi pengawasan, modernisasi fungsi pendukung serta penyempurnaan administrasi dan prosedur kepabeanan dan cukai. zap

32

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

M

Upacara Hari Proklamasi RI Ke-61 Departemen Keuangan

enteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 17 Agustus 2006 memimpin langsung upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-61 di halaman Departemen Keuangan Lapangan Banteng Jakarta Pusat. Dalam upacara kali ini, pelaksanaan tugas-tugas upacara didelegasikan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, diantaranya dalam pembacaan naskah Proklamasi, pembacaan naskah Pancasila, sebagai komandan upacara yaitu Kasubdit Kerjasama Internasional II Direktorat Kepabeanan Internasional Agung Kuswandono, dan dimeriahkan dengan Marchine Band Bea dan Cukai. Hadir dalam upacara tersebut pejabat eselon I, II, III dan IV dilingkungan Departemen Keuangan. Upacara yang dimulai pada pukul 08.00 WIB berlangsung secara khidmat dan berakhir pada pukul 09.30 WIB. ats
EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

33

DAERAH KE DAERAH
WBC/ATS

Kantor Wilayah I DJBC Medan

TARGET PENERIMAAN SEMESTER I TERLAMPAUI
Berkat kerjasama (team work) penyelundupan makin berkurang.

H

ari masih pagi (2/8), ketika WBC tiba di Kantor Wilayah I DJBC Medan. Hari itu seharusnya WBC dijadwalkan mewawancarai Kepala Kantor Wilayah I DJBC Medan. Namun karena kesibukannya, wawancara dilakukan pada keesokan hari. Di ruang kerjanya, Djasman Sutedjo, Kakanwil I DJBC Medan, menerima WBC dengan ramah. Dalam perbincangan kami, Djasman mengatakan bahwa saat ini tidak ada program baru yang sedang dilaksanakan oleh Kanwil I. Yang pasti ia hanya mengikuti instruksi Dirjen Bea dan Cukai dalam melaksanakan pekerjaannya, terutama dalam hal meningkatkan integritas pegawai. Tak bisa dipungkiri, integritas pegawai sangat diperlukan sebab banyak pegawai yang belum memiliki integritas yang tinggi. Padahal, keberhasilan DJBC terletak pada integritas pegawainya. Kalau pegawai memiliki integritas yang tinggi, citra Bea dan Cukai akan berubah, pandangan masyarakat yang negatif terhadap DJBC akan sirna. “Jadi, seharusnya pegawai itu menyadari bahwa DJBC adalah tempat dimana ia (pegawai-red) bekerja dan menghidupi keluarganya. Kalau pegawai sudah mengerti hal itu dan menjaga institusi Bea Cukai dengan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki, saya kira masyarakat tidak akan menganggap DJBC negatif,” katanya.
WARTA BEA CUKAI

Ia sendiri merasa kesulitan untuk merubah tabiat para pegawai kalau bukan dari kesadaran pegawai itu sendiri. Selain itu, ia berharap agar para pimpinan memberikan contoh yang baik bagi anak buahnya. Sebab, pimpinan juga memegang peran dan tanggung jawab yang besar bagi kedisiplinan anak buahnya. Pasalnya, apapun yang dikerjakan oleh pimpinan, akan menjadi acuan dan panutan bagi anak buah. Djasman sendiri mengaku tidak terbebani dalam tugasnya meningkatkan integritas pegawai. Baginya, para pegawai bea cukai merupakan pegawai negeri sipil yang mempunyai hak dan kewajiban yang jelas. Sehingga dalam pelaksanaannya tergantung pada hati nurani masingmasing pegawai. Ketika ditanya apakah gaji pegawai bea cukai harus dinaikan agar integritas pegawai semakin tinggi, Djasman menjawab, dirinya hanya mengacu pada perintah Dirjen BC dimana sedang diupayakan suatu kebijakan perubahan terhadap gaji pegawai untuk memperbaiki kesejahteraan pegawai. “Harus diakui walaupun itu masalah klasik tapi memang itu problema kita,” tandas Djasman.

target penerimaan untuk Semester I (hingga Juli 2006) telah mencapai target. Untuk Bea Masuk (BM) sebesar 345.282.430 rupiah atau 58,16 persen dari target yang ditetapkan. Penerimaan BM tersebut paling banyak berasal dari KPBC Belawan yakni sebesar 303.260.920 rupiah. Sedangkan untuk penerimaan dari sektor cukai jumlahnya adalah 284.643.590 rupiah atau 54,07 persen dari target yang ditetapkan. Untuk cukai, penerimaan terbesar berasal dari KPBC Pematang Siantar, sebesar 213.340.370 rupiah. Keberhasilan tersebut dicapai berkat berbagai upaya yang dilakukan para pegawai dilapangan, diantaranya dengan peningkatan pelayanan pada stakeholder dan peningkatan efektifitas pengawasan. Untuk itu, Kanwil I kerap meminta masukan masukan atau feedback dari masyarakat mengenai bagaimana pelayanan yang dilakukan KPBC-KPBC yang berada di bawah Kanwil I Medan. Hingga saat ini, Djasman mengaku belum ada masyarakat yang mengeluh mengenai pelayanan BC. “Mengacu pada kinerja berbasis code of conduct, berarti kita mengacu pada prilaku, citra, yang nilainya itu bukan dari segi kuantitatif tapi kualitatif yakni baik atau buruk. Sebenarnya kita sudah mengadakan suatu perbaikan-perbaikan yang disebut reformasi, hanya saja mungkin kurang sosialisasi pada masyarakat,” ujar Djasman. Djasman menganalisa, kalau dilihat dari sudut institusi Bea dan Cukai itu sendiri, sebenarnya DJBC itu berbeda dengan Ditjen Pajak. Orang-orang atau masyarakat yang berkepentingan dengan DJBC adalah orang-orang tertentu, misalnya eksportir dan importir. Tetapi kalau masyarakat umum ditanya mengenai Bea dan Cukai, banyak yang tidak mengerti. Djasman mencontohkan, masyarakat umum pasti mengenal Ditjen Pajak lewat
WBC/ATS

PENERIMAAN PALING BANYAK DARI KPBC BELAWAN
Saat disinggung mengenai target penerimaan, Djasman mengatakan bahwa

DJASMAN SUTEDJO. Kalau kita masing-masing sadar betapa pentingnya DJBC bagi kita, Insya Allah Bea dan Cukai akan menjadi baik.

34

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

NPWP, PPN. Hal itu dikarenakan pajak memang terbilang akrab ditelinga masyarakat. Tetapi tidak demikian halnya dengan Bea dan Cukai. Banyak masyarakat umum yang tidak mengetahui tugas dan fungsi Bea dan Cukai. Jadi, untuk merubah image masyarakat mengenai institusi BC sangat sulit. Oleh karenanya, integritas pegawai perlu dioptimalkan, salah satu caranya dengan mengadakan sosialisasi, seperti seminar yang dilakukan bersama KPK beberapa waktu lalu (Julired) di Gedung Depkeu, Medan. Saat ditanya apakah cara lain untuk meningkatkan integritas pegawai adalah dengan tidak membebankan DJBC dengan target penerimaan Bea Masuk, Djasman mengatakan bahwa pemerintah lebih mengerti mengenai hal itu. Sebagai pelaksana dilapangan, ia hanya melaksanakan kebijakan pimpinan. Tetapi kalau dilihat kedepan, tugas Bea dan Cukai memang bukan lagi sebagai pengumpul penerimaan (fiskal) melainkan memfasilitasi perdagangan, melindungi industri dalam negeri, serta melakukan pengawasan barang berbahaya dan selundupan. Dengan demikian, target penerimaan akan mengecil dimana kemudian akan diserahkan pada Ditjen Pajak. Ketika disinggung dengan kesiapan stakeholder di Medan menghadapi NSW (National Single Window), Djasman mengaku dirinya belum mengadakan sosialisasi mengenai hal tersebut dikarenakan NSW sendiri masih dalam tahap piloting di Batam. Namun demikian ia sudah menyampaikan secara lisan pada stakeholder di Medan, tetapi memang belum banyak yang mengerti mengenai hal tersebut. “Kita harus memberikan sosialisasi terutama pada internal kita dulu, harus ada persamaan persepsi antar pegawai mengenai apa yang dimaksud dengan single window,” tambah Djasman.

PENYELUNDUPAN MAKIN BERKURANG
Selama menjabat sebagai Kakanwil I DJBC Medan sejak Oktober 2005, Djasman mengakui bahwa tantangan dan hambatan yang dihadapi adalah masalah penyelundupan. Saat ini, penyelundupan melalui Pelabuhan Belawan relatif jauh berkurang. Hal itu disebabkan pembinaan yang terus diberikan pada para pengusaha dan masyarakat yang sebelumnya berpikir dengan pola tradisional. “Dulu mereka memasukan barang impor, biasanya dari Malaysia, melalui dermaga-dermaga kecil milik perorangan atau pelabuhan tidak resmi. Dan juga banyak orang-orang yang tidak berkepentingan kerap menghalangi tugas pegawai bea cukai. Akibatnya kegiatan mereka tidak bisa dikontrol,” kata Djasman. Untuk mengatasi kondisi tersebut,

Djasman meminta bantuan pada Kantor Pusat DJBC (dalam hal ini Dit. P2) dan Kanwil II DJBC TBK untuk mengatasi masalah tersebut. Hasilnya, pengusahapengusaha yang “nakal” diminta menyelesaikan prosedur pabeannya di TBK. Dengan demikian, jika terdapat masalah, pengusaha “nakal” tersebut tidak menyalahkan KPBC Belawan terhadap masalah yang dihadapinya karena prosedur kepabeanannya tidak diselesaikan di Belawan. Upaya tersebut berhasil. Penyelundupan melalui Belawan menjadi berkurang. Akibatnya penerimaan pun meningkat karena masyarakat mulai melakukan importasi lewat Belawan (jalur resmi-red). “Jadi, orang-orang yang berkepentingan itu tidak lagi meneror anak buah saya sehingga sekarang kita aman dan itu sudah hampir berjalan selama 7 bulan,” imbuh Djasman. Hal senada juga terjadi di KPBC Teluk Nibung. Sebelumnya penyelundupan di Teluk Nibung sulit untuk diberantas. Padahal Teluk Nibung merupakan salah satu etalase Sumatera Utara dimana daerah tersebut juga merupakan salah satu sarang penyeludupan. Untuk menertibkan penyelundupan tersebut, upaya juga dilakukan dengan membentuk team work yang terdiri dari Kantor Pusat DJBC (dalam hal ini Dit. P2), Kanwil I Medan dan Kanwil II TBK. Hasilnya, 2 unit kapal patroli (speed boat) yang dimiliki KPBC Belawan, diserahkan pada Kanwil II TBK. Tujuannya untuk mengefisiensikan operasional speed boat tersebut. Selama ini, dalam melakukan operasi pengawasan laut (menggunakan speed boat) daerah yang selalu dilalui kapal patroli Bea dan Cukai TBK diantaranya adalah Belawan dan Teluk Nibung. “Sehingga, saya usulkan pada Pusat agar speedboat yang dimiliki Kanwil I diberikan saja ke TBK, tapi bahan bakarnya tetap dari kami. Kan sama saja,

kalau mereka patroli lewat Belawan dan Teluk Nibung juga,” papar Djasman. Dengan demikian, pegawai yang tadinya melakukan pengawasan laut di Belawan dan Teluk Nibung, dapat dioptimalkan ditempat yang lain, misalnya melakukan pengawasan di pelabuhan dan itu berhasil. Hasilnya, sejak 6 bulan lalu penyelundupan di Teluk Nibung semakin berkurang. “Jadi, yang kita lakukan itu adalah suatu strategi bagaimana agar kita melakukan efisiensi dan tidak mengorbankan pegawai karena disini faktor psikologisnya berat,” imbuh Djasman. Sementara itu, untuk pengawasan di Bandara Polonia, selama ia menjabat sebagai Kakanwil, belum ada tegahan narkotika. Hal itu disebabkan tim Satgas Airport Interdiction telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Sedangkan untuk importasi, barang yang melalui Polonia jumlahnya hanya sedikit. Berbicara mengenai importasi, komoditi impor yang paling banyak di Sumatera Utara adalah barang-barang yang biasa dipakai oleh masyarakat sehari-hari seperti pupuk, bahan baku, makanan ternak, tepung gandum, gula, kacang kedelai, beras, jagung serta bijih plastik. Sedangkan untuk komoditi ekspor yang paling besar adalah CPO (crude palm oil), karet, pinang, kayu, biji kopi dan udang. Diperkirakan, produk CPO makin meningkat kedepannya dimana selama ini pemasarannya ke Malaysia dan Eropa. Ketika disinggung mengenai produk China yang membanjiri pasaran Indonesia, Djasman berkomentar, kalau mengacu pada ketentuan internasional, importasi dari China tidak boleh dilarang sepanjang memenuhi peraturan yang ada. Apalagi Indonesia masih membutuhkan barang-barang produk China karena harganya yang murah dan adanya faktor kedekatan budaya. Namun Djasman mengakui bahwa di seluruh dunia produk China kini menjadi suatu masalah. Indonesia sendiri tidak bisa lepas dari dunia perdagangan internasional, dimana free trade area atau perdagangan bebas akan menjadi kenyataan. “Apakah Indonesia mampu bersaing di dunia internasional? Hal itu kembali pada industri didalam negeri. Namun demikian, untuk menyiasati banjirnya barang-barang dari China ini, proteksi dari pemerintah sangat diperlukan agar barang-barang tersebut jangan sampai membanjiri Indonesia,” saran Djasman.

OPERASI CUKAI YANG PERTAMA
Saat dikonfirmasi mengenai operasi cukai, Djasman menjelaskan, selama ini kendala dalam melakukan operasi cukai
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

35

DAERAH KE DAERAH
adalah masalah dana untuk melakukan operasi. Namun setelah turun dana dari Kantor Pusat DJBC, operasi cukai dapat dilaksanakan pada 6 – 30 Juni 2006. Operasi tersebut meliputi wilayah kerja KPBC Teluk Bayur (Sumbar), KPBC Sibolga, KPBC Pematang Siantar, KPBC Teluk Nibung, KPBC Pangkalan Susu dan KPBC Belawan. Hasil dari operasi tersebut cukup signifikan. Barang bukti yang berhasil ditegah diantaranya, 979 karton dan 3.977 tin hasil tembakau dengan jenis pelanggaran, pita cukai yang dilekatkan tidak sesuai personalisasi serta tidak dilekati pita cukai. Barang bukti tersebut disimpan di KPBC Teluk Bayur. Kemudian sejumlah 154 karton dan 622 tin hasil tembakau dengan jenis pelanggaran, pita cukai yang dilekatkan tidak sesuai personalisasi serta tidak dilekati pita cukai. Barang bukti tersebut disimpan di KPBC Sibolga. Lalu sejumlah 7 karton hasil tembakau dengan jenis pelanggaran, pita cukai yang dilekatkan tidak sesuai personalisasi. Barang bukti tersebut disimpan di Gudang Agen Jl. Madio Santoso Komplek Taman Madio Santoso Prima Blok A No. 70, Krakatau Medan. Terakhir, sejumlah 7 karton hasil tembakau dengan jenis pelanggaran pita cukai yang dilekatkan tidak sesuai personalisasi dimana barang bukti tersebut disimpan di Kanwil I DJBC Medan. (Lihat data) Akibat pelanggaran tersebut, kerugian negara dari sektor cukai mencapai 272.352.952 rupiah disamping kerugian imateriil lainnya, yakni terganggunya industri hasil tembakau dalam negeri dan ketidakpatuhan pelaku usaha terhadap UU No. 11 tentang Cukai. Sepanjang pengetahuan WBC, operasi cukai yang dilakukan oleh Kanwil I DJBC merupakan operasi cukai yang pertama kalinya di Sumatera Utara. Hal tersebut diamini Djasman. Dari operasi tersebut tidak ada satupun pelaku yang ditahan mengingat produksi hasil tembakau tersebut dilakukan di luar P. Sumatera, dalam hal ini P. Jawa. “Jadi, operasi ini akan membantu pabrik cukai yang ada di Sumut dimana selama ini pemasarannya kalah dengan rokok illegal. Dengan operasi ini omset mereka akan terbantu dan otomatis mereka akan membayar cukai lebih besar,” kata Djasman. Di akhir wawancara Djasman berharap agar kedepannya citra Bea dan Cukai menjadi baik di mata masyarakat. Apalagi kedepannya DJBC lambat laun tidak terfokus pada penerimaan. “Jadi kita jangan mentang-mentang. Kita harus sadar bahwa kita hidup dari DJBC, keluarga kita makan dari DJBC. Kalau kita masing-masing sadar betapa pentingnya DJBC bagi kita, Insya Allah Bea dan Cukai akan menjadi baik,” tandas Djasman. ifa 36
WARTA BEA CUKAI

JUARA I KANTOR PERCONTOHAN
Upaya untuk meningkatkan pelayanan menjadi yang terbaik dan prima, akhirnya membuahkan hasil sebagai kantor percontohan terbaik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

KPBC Tipe A Bekasi

M

emberikan pelayanan yang terbaik dan prima, kini sudah bukan lagi slogan yang hanya didengungkan oleh para pegawai di lingkungan DJBC. Upaya untuk mewujudkan itu, kini juga terus dilakukan sehingga citra negatif yang melekat di instansi ini sedikit demi sedikit dapat pudar dengan pelayanan yang semakin memuaskan bagi para stakeholder. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan penilaian kepada seluruh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) yang ada di Indonesia, sehingga wujud pelayanan tersebut dapat terlihat dengan nyata. Hal ini terbukti kalau KPBC yang memberikan pelayanan terbaiknya akan menjadi contoh bagi seluruh KPBC yang ada. Penilaian terhadap kantor percontohan memang tidak mudah diberikan begitu saja kepada KPBC, penilaian tersebut memiliki kriteria tersendiri yang melibatkan banyak pertimbangan, khususnya pertimbangan akan pelayanan yang diberikan oleh KPBC tersebut. Sebagai contoh, walaupun dengan bangunan yang cukup sederhana namun pelayanan yang diberikan dapat cepat dan memuaskan para pengguna jasa, sudah menjadi satu poin penting yang mendapat nilai lebih.

SEMBILAN INOVASI
Untuk tahun 2006, setelah melalui tahapan penilaian yang cukup ketat oleh tim penilaian dari Kantor Pusat DJBC, akhirnya penilaian terbaik diberikan kepada KPBC Tipe A Bekasi yang dikukuhkan menjadi kantor pelayanan percontohan terbaik di lingkungan DJBC. Penilaian ini memang tidak sematamata karena gedung KPBC yang baru, namun KPBC Tipe A Bekasi dalam memberikan pelayanannnya selalu memuaskan para stakeholder dan komitmen untuk terus berupaya menjadi yang terbaik di bidang pelayanan. Selain itu KPBC Tipe A Bekasi juga terus berinovasi dalam memberikan pelayanan. Menurut Kepala KPBC Tipe A Bekasi, Istyastuti Wuwuh Asri atau yang lebih dikenal dengan panggilan Isti, saat ini KPBC Tipe A Bekasi memiliki 9 inovasi pelayanan yang terus diupayakan dan dilaksanakan sehingga dapat menciptakan inovasi baru lagi. Ke 9 inovasi tersebut pertama, mengatur jadwal petugas dan mengumumkan

bahwa pelayanan dilakukan 24 jam seminggu. Dua, menerapkan pelayanan PIB disket untuk pengeluaran barang dari gudang berikat ke DPIL yang berlaku sejak 1 April 2006. Tiga, menyediakan layanan informasi bagi pengguna jasa agar dapat memonitor perkembangan proses PIB (status PIB) sejak April 2006. Empat, menyediakan loket pelayanan fungsional agar dapat mempercepat pelayanan sejumlah lima loket sejak Mei 2006. Lima, menetapkan motto KPBC Bekasi untuk memotivasi pegawai dalam menjalin komunikasi antar pegawai. Enam, menetapkan pesan pelayanan bagi pengguna jasa. Tujuh, memanfaatkan tempat untuk perpustakaan sejak Mei 2006. Delapan, menyediakan poliklinik untuk menjaga kesehatan pegawai sejak Juni 2006. Sembilan, membentuk koperasi pegawai untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai dengan nama “Mukti Sejahtera” sejak Juli 2006. “Pada zaman/era globalisasi ini suatu industri dihadapkan pada persaingan yang sangat keras. DJBC sebagai fasilitator perdagangan dituntut dapat memecahkan masalah bukan menimbulkan masalah, akan hal ini KPBC Bekasi sadar, oleh karenanya harus dapat mendukung kelancaran arus barang impor-ekspor pengusaha sehingga tidak mengganggu jadwal dan dapat memenuhi order tepat waktu. Untuk itu KPBC Bekasi melakukan inovasi-inovasi tersebut,” ujar Isti. Lebih lanjut Isti menjelaskan, salah satu syarat yang diperlukan namun sering dilupakan oleh kantor-kantor pelayanan lain, adalah membuat motto untuk para pegawainya. Hal ini telah ditetapkan oleh peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN), dengan menciptakan motto dilingkungan kerja kita, maka diharapkan dapat menjadi ajang komunikasi antar pegawai. Selain hal tersebut, hal yang juga menjadi pertimbangan bagi tim penilai adalah, adanya publikasi dari pihak KPBC kepada masyarakat sekitar baik menyangkut keberadaannya maupun pelayanan yang diberikannya, sehingga dengan adanya publikasi seluruh masyarat akan tahu bahwa KPBC memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian daerah tersebut. “Saat ini memang masih banyak yang

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WBC/ATS

WBC/ATS

ANWAR SUPRIJADI. Memberikan kepastian kepada pengguna jasa adalah wujud untuk meningkatkan citra.

PIALA BERGILIR. Untuk tahun 2006 KPBC Tipe A Bekasi mendapat juara I kantor percontohan dilingkungan DJBC dan berhak atas piala bergilir DJBC.
DOK. WBC

belum memahami apa saja yang dinilai untuk menjadi kantor percontohan, semua hanya berorientasi pada fisik, padahal penilaian fisik hanya mendapat porsi 25 persen saja. Yang utama adalah bagaimana pelayanan yang diberikan selama ini, seperti contoh disini kami membuat janji waktu pelayanan yang dapat dijadikan patokan penguna jasa untuk menerima pelayanan kami. Misalnya waktu untuk mengurus pelayanan PIB adalah 25 menit, tapi disini ada catatan jarak antara KPBC dengan KB adalah 0,5 sampai dengan 25 Km, disini tidak ada angkutan umum dan terkadang ada kemacetan, nah untuk hal ini kami menyatakan kalau jam tidak berjalan (berlaku-Red) untuk perjalanan petugas ke KB atau GB,” jelas Isti.

PENYERAHAN PIALA KANTOR PERCONTOHAN.
Akhirnya melalui Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor Kep-84/
WBC/ATS

ISTYASTUTI WUWUH ASRI. Jangan jadikan fisik bangunan sebagai modal untuk meraih kantor percontohan, tapi jadikan peningkatan mutu pelayanan sebagai kunci dari pelayanan prima.

BC/2006, memutuskan pemenang utama pemilihan kantor pelayanan percontohan di lingkungan DJBC, adalah KPBC Tipe A Bekasi sebagai juara I, KPBC Tipe A Batam sebagai juara II, dan KPBC Tipe A Jakarta sebagai juara ke III. Acara penyerahan piala bergilir yang dilaksanakan pada 15 Agustus 2006 di KPBC Tipe A Bekasi, dise- KPBC TIPE A BEKASI. Dengan sembilan inovasi diharapkan rahkan langsung oleh Dirjen pelayanan prima dapat terwujud. Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, juga dihadiri oleh Sekditjen Bea pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi dan Cukai, Sjahrir Djamaluddin, Kakanwil yang sangat penting adalah sikap dan V DJBC Bandung, Joko Wiyono, Kabid P2 perilaku kita, jangan kekuasaan dan Bandung, Kepala KPBC Bandung, Kepala kewenangan kita untuk masyarakat KPBC Bogor, Kepala KPBC Purwakarta, disalahgunakan, marilah kita wujudkan para Kepala kantor yang mendapatkan bahwa kewenangan kita dengan memberikan pelayanan yang sebaikjuara, Kepala KPBC Malang, dan Kepala baiknya kepada masyarakat,” ujar Dirjen. KPBC Pontianak. Lebih lanjut Dirjen mengatakan, pemeSebelum piala bergilir diserahkan kenang kantor percontohan tahun 2006 ini, pada KPBC Bekasi, terlebih dahulu KPBC dapat juga merebut penghargaan ditingkat Malang yang juara pada tahun 2004, Departemen Keuangan dan tingkat menyerahkan piala bergilir ke KPBC nasional, untuk kantor pelayanan prima Pontianak sebagai juara pada tahun 2005. yang diselenggarakan oleh Menteri PAN. Hal tersebut dilakukan karena pada tahun Untuk dapat meraih itu semua maka harus 2005, KPBC Pontianak yang mendapat dijalankan pelayanan prima dengan juara I kantor percontohan, namun karena kepastian, baik kepastian akan waktu, satu dan lain halnya, acara penyerahan kepastian akan biaya terhadap pelayanan, piala bergilir tidak dapat dilaksanakan. dan kepastian akan syarat-syarat yang Dan setelah penyerahan itu, maka piala diperlukan untuk pelayanan. bergilir diserahkan kepada KPBC Bekasi Dengan upaya dan inovasi yang telah oleh Dirjen Bea dan Cukai. dijalankan, memang layak jika tahun 2006 Dalam kata sambutannya Dirjen meini predikat kantor percontohan diberikan ngatakan, prestasi yang telah diraih oleh kepada KPBC Tipe A Bekasi. Dan sesuai KPBC Tipe A Bekasi dapat dikembangkan dengan motto dari KPBC Tipe A Bekasi terus, karena citra bea cukai merupakan “Jadikan tempat kerja sebagai rumah sesuatu yang didambakan dan perlu kedua kita” maka dengan rendah hati ditingkatkan. KPBC Tipe A Bekasi menyambut “Berbicara soal pelayanan memang penghargaan ini bukan akhir, tapi awal tidak terlepas dari kompetensi dari pejabat dari peningkatan citra pelayanan prima yang menangani terhadap pelayanan ini, dari Bea dan Cukai. adi pengertian kompetensi tidak hanya
EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

37

DAERAH KE DAERAH

Togetherness
Bertemakan Sport for togetherness

Sport For

NONTON BARENG FINAL PIALA DUNIA 2006 KANWIL VIII DJBC DENPASAR
FOTO : BENDITO

maestro sepakbola Zinedine “Zizou” Zidane terhadap bek Italia Marco Materazzi. Sungguh demam sepakbola menulari semua orang, tidak terkecuali para pegawai yang berada dilingkungan Kanwil VIII DJBC Denpasar. Untuk mengalang kebersamaan dan persaudaraan diantara pegawai, maka bertempat diaula Kanwil VIII, diselenggarakan sebuah acara yang bertema “ Sport for Togetherness” yang dihadiri oleh semua pegawai dilingkungan Kanwil VIII dan KPBC Ngurah Rai. Acara ini dimeriahkan dengan live music, pertandingan sepakbola dunia maya “ playstation 2: winning eleven 10 “ antara tim KPBC Ngurah Rai dan Tim Kanwil VIII, lelang lagu, dan diakhiri dengan nonton bareng partai final Piala Dunia 2006 antara tim Azzurri Italia dan Tim Les Blues Perancis, serta pembagian doorprize. Dalam sambutannya diawal acara, Kakanwil VIII Heryanto Budi Santoso menegaskan pentingnya acara seperti ini untuk memperkuat dan mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan diantara semua pegawai dilingkungan Kanwil VIII. Selain itu Heryanto juga menyambut baik terselenggaranya acara tersebut dan berharap acara seperti ini tidak hanya diadakan empat tahun sekali, tetapi kalau bisa setahun sekali atau sebulan sekali. Dalam pertandingan winning eleven 10, tim KPBC Ngurah Rai yang memegang tim Italy harus mengakui keunggulan dari tim Kanwil VIII yang memegang tim Prancis dengan skor akhir 2:4. Dalam acara lelang lagu, tampil sebagai peserta lelang adalah Kakanwil VIII Heryanto Budi Santoso,
FOTO : BENDITO

LUAPAN KEMENANGAN. Kakanwil VIII Denpasar, Heryanto bersorak saat tim pujaannya memenangkan pertandingan. .

F

ever football atau demam sepakbola melanda dunia seiring dihelatnya pesta sepakbola empat tahunan terakbar yang lebih terkenal dengan FIFA WORLD CUP yang tahun ini diselenggarakan di negeri Bavaria Jerman. 32 negara dari berbagai belahan dunia bertanding memperebutkan tempat terhormat yaitu menjadi jawara pada piala dunia kali ini, mulai dari tim tangguh seperti tim samba Brazil sampai tim underdog seperti Tim Magribi Tunisia. Berbagai macam kejutan menghiasi perjalanan setiap tim, mulai dari penalti kontroversional Totti pada injury time yang meloloskan Italia dari hadangan tim Socceroos Australia, sampai peristiwa tandukkan maut
WARTA BEA CUKAI

FOTO BERSAMA. Pegawai di lingkungan Kanwil VIII Denpasar berfoto bersama setelah mengikuti acara nonton bareng piala dunia.

38

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

FOTO : BENDITO

Airport Interdiction
NUSA DUA BALI
PEMBERIAN CINDERAMATA. Kakanwil VIII DJBC Denpasar, Heryanto Budi Santoso, saat memberikan cinderamata kepada pegawai di acara nonton bareng.piala dunia 2006

SEMINAR

Kejahatan Narkotika telah menjadi sebuah ancaman serius bagi setiap umat manusia dibelahan bumi manapun, oleh sebab itu upaya pencegahan terhadap peredaran gelap narkotika menjadi kewajiban dan tugas setiap orang khususnya aparat penegak hukum yang secara khusus mengemban tugas ini.

Kabid Kepabeanan dan Cukai Ngadiman, Kabid Verifikasi dan Audit Aziz Syamsu Arifin dan Kasi Impor, Nunik. Setiap peserta lelang akan melakukan apa saja ( wajar dan patut ) yang diminta oleh pemenang lelang. Semua uang yang terkumpul disumbangkan sebagai kas tim sepakbola Kanwil VIII. Suasana dalam ruang Kanwil VIII semakin semarak ketika waktu menunjukkan pukul 03.00 wita yang berarti kick off babak pertama partai final piala dunia segera dimulai, supporter kedua tim yang berlaga meneriakkan nama tim unggulannya masingmasing. Pendukung Perancis bersorak ketika Zinedine Zidane menaklukkan Buffon Penjaga Gawang Italia lewat kotak penalti, yang merubah kedudukan menjadi 1:0. Pendukung Italia yang sempat terdiam, sontak kegirangan ketika tandukan Marco Materazzi menyamakan kedudukan menjadi 1:1. Akhirnya pendukung Perancis harus mengakui keunggulan Italia melalui adu penalti setelah Grosso berhasil merobek gawang Bhartez sehingga kedudukan akhir menjadi 5:3. Pendukung Italia bersorak gembira setelah timnya berhasil memastikan diri menjadi “Campione del mundo” untuk keempatkalinya. Acara nonton bareng ini diakhiri dengan pembagian doorprize dan foto bareng tim pendukung Italia. Piala dunia 2006 telah usai, namun semangat kebersamaan harus terus ditumbuhkan. Viva Bravo Charlie 8 – sport for togetherness. Adito Koresponden Denpasar

D

alam rangka peningkatan sumber daya manusia ( aparat penegak hukum), maka pemerintah Amerika Serikat melalui DEA (Drugs Enforcement Administration) bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, yakni BARESKRIM (Badan Reserse Kriminal) POLRI menyelenggarakan seminar yang bertajuk SEMINAR AIRPORT INTERDICTION, yang berlangsung selama 5 (lima) hari, mulai dari hari Senin 10 Juli sampai dengan Jumat 14 Juli 2006 di Jakarta Room Hotel Westin Resort Nusa Dua, Bali. Seminar ini di ikuti oleh peserta dari Kepolisian Republik Indonesia dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Peserta dari Bea dan Cukai berasal dari KPBC Juanda, KPBC Ngurah Rai, KPBC Balikpapan, KPBC Makasar, dan KPBC Manado. Sebagai pengajar dalam seminar ini adalah para agen DEA antara lain : George S. Karountzos (Kepala Unit Pelatihan Internasional Tim A), Daniel S. Perez ( Agen Khusus), Kevin Blair (agen Khusus), Jim Balcom (agen khusus, kantor perwakilan Singapura). Hari Senin 10 Juli 2006, seminar dibuka secara resmi oleh Kapolda Bali Irjen Pol. Sunarko. Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kapolda Bali, Kepala Badan Reserse Kriminal POLRI Komjen Pol. Makbul Padmanegara
FOTO : BENDITO

SEMINAR AIRPORT INTERDICTION. Dibuka oleh Kapolda Bali, Irjen Polisi Sunarko yang mewakili, Bareskrim Polri, Makbul Padmanegara. EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

39

DAERAH KE DAERAH
FOTO : ISTIMEWA

FOTO BERSAMA peserta dan pembicara seminar Airport Interdiction Nusa Dua, Bali.

menegaskan pentingnya pelatihan ini bagi peningkatan kemampuan aparat penegak hukum dalam rangka perang melawan kejahatan narkotika. Lebih lanjut Makbul meminta keseriusan dari semua peserta dalam mengikuti seminar airport interdiction tersebut serta, Makbul menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah USA dalam hal ini DEA yang bersedia membantu memberikan pelatihan serta berbagi pelatihan melalui seminar seperti ini. Diakhir sambutannya Makbul mengharapkan kerjasama seperti ini senantiasa terus digalakkan untuk kepentingan bersama. Setelah foto bersama dan perkenalan peserta, selanjutnya George Karountzos memaparkan sejarah DEA dan ditutup dengan perkenalan kasus oleh Daniel Perez.

Selasa, 11 Juli 2006, seminar dimulai dengan presentasi dari George Karountzos tentang operasi pencegatan, kemudian laporan perwakilan DEA Singapura oleh Jim Balcom dan diahkiri oleh Daniel Perez dengan materi Pemalsuan Dokumen. Rabu, 12 Juli 2006, sebagai pembicara pertama, Daniel Perez dengan materi pengawasan atau surveillance, kemudian Kevin Blair menjelaskan tentang tatacara mengidentifikasi Narkotika dengan menggunakan narkotest, dan operasi pengendalian pengiriman atau Delivery Control. Kamis, 13 Juli 2006, peserta dibekali pengetahuan tentang metode – metode penyelundupan dan penyembunyian narkotika oleh George KarounFOTO : BENDITO

tzos serta materi tentang informan oleh Daniel Perez. Acara hari kamis dikhiri dengan praktek pelatihan di bandara Internasional Ngurah Rai Bali, yaitu bagaimana melakukan pengawasan terhadap penumpang yang datang melalui bandara tersebut. Jumat, 14 Juli 2006 adalah hari yang paling dinantikan oleh semua peserta, yaitu hari kelulusan, setelah melewati sesi tinjauan ulang praktek lapangan, kritik dan saran pelatihan, acara diakhiri dengan upacara penutupan dan penyerahan sertifikat tanda kelulusan kepada semua peserta seminar. Seminar boleh berakhir, namun tugas kita untuk mencegah peredaran gelap narkotika tidak pernah usai. Setiap saat narkotika mengancam dan setiap waktu ada saja generasi muda kita yang menjadi korban. “Evil man always a step ahead,” penjahat selalu selangkah didepan kita barangkali makna dari kalimat tersebut, namun dengan semangat dan kerja keras, niscaya segala kendala akan teratasi. Tidak perduli seberapa lama atau berapa kali seorang penjahat dapat meloloskan diri, tetapi yakinlah bahwa pada akhirnya ia akan menjadi pecundang, sebab sepandai-pandainya tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Say no to drugs and viva bravo Charlie.
Adito Koresponden Denpasar
FOTO : BENDITO

TIM DEA. Banyaknya modus yang dijalankan oleh mafia narkoba, Tim DEA menjadi pembicara utama dalam seminar airport interduction.

UJIAN ULANG. Setelah mendapatkan materi tentang modus-modus dari mafia narkoba, peserta diharuskan mengikuti ujian agar lebih memahami materi yang diberikan.

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

SEPUTAR BEACUKAI
JAKARTA. Di Aula Loka Muda gedung B lantai 5 diselenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada 25 Juli 2006. Rapat dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan didampingi Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, dihadiri pejabat inti, pejabat eselon II dan III. Rakor yang membahas kinerja Bea dan Cukai dan permasalahan-permasalahannya selama dibawah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ini dihadiri juga dua pejabat senior yang menjabat sebagai Pemimpin Tim Prakarsa dan Reformasi Peningkatan Kinerja bidang Pajak dan Bea Cukai yakni Mar’ie Muhammad dan Marsilam Simanjuntak.
WBC/ATS

WBC/ADI

JAKARTA. Direktur Pencegahan dan Penyidikan (P2), Endang Tata, pada Jumat 4 Agustus 2006 menutup secara resmi pendidikan dan pelatihan anjing pelacak narkotika angkatan X tahun 2006. Pelatihan yang berlangsung sejak 17 April hingga 31 Juli 2006, juga mendapat bantuan dari Australian Customs Service dalam penyampaian materi teknis pelatihan yang sangat berguna bagi para Handler baru dalam melaksanakan tugasnya di lapangan. Acara yang berlangsung di aula wisma anjing pelacak ini juga di hadiri oleh beberapa undangan, diantaranya Kepala Seksi P2, KPBC Tanjung Priok I, II, dan III, KPBC Pasar Baru, KPBC Sokerno-Hatta, dan beberapa undangan lain dilingkungan Direktorat P2. Dikesempatan itu juga, Kasubdit Intelijen, Nasar Salim yang bertindak selaku ketua panitia memberikan laporannya seputar pelatihan yang dilanjutkan dengan penyematan tanda K9 oleh Direktur P2 kepada peserta yang telah lulus mengikuti pelatihan. Dan sebagai penutup acara diakhiri dengan demontrasi dari para Handler dengan memperlihatkan kemampuan anjing pelacaknya.
FOTO : BAMBANG WICAKSONO FOTO : DONNY ERIYANTO

SURABAYA. Pada 20 Juli 2006 diselenggarakan sosialisasi penerapan PDE manifest di Kanwil VII DJBC Surabaya. Sosialisasi dua hari ini diselenggarakan di aula Kanwil VII DJBC Surabaya dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah VII DJBC Surabaya Zeth Likumahwa, menampilkan dua pembicara dari Kantor Pusat yakni Susiwiyono, Kasubdit Menejemen Resiko Dit Informasi Kepabeanan dan Cukai, dan M. Zein Kasubdit Penyuluhan Dit. PPKC. Acara dihadiri para pengusaha ekspor dan impor yang menjadi mitra kerja Kanwil VII DJBC Surabaya. Bambang Wicaksono, Surabaya

BALIKPAPAN. Bertempat di Aula Kanwil X DJBC Balikpapan, pada 19 Juli 2006 diadakan Sosialisai Penerapan SAP Pendeteksian Pita Cukai dan PDE Manifes. Acara tersebut dibuka oleh Kabag Umum, Rudy Hernanto, diikuti oleh seluruh Kasi P2 dan Cukai KPBC-KPBC dilingkungan Kanwil X Balikpapan. Dalam acara tersebut, disampaikan juga sosialisasi berkaitan dengan integritas pegawai. Don’s, Balikpapan EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

41

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

ACEH. Pertandingan final sepakbola antara tim kesebelasan KPBC Sabang (jongkok) dengan tim kesebelasan gabungan KPBC Iskandar Muda danKPBC Meulaboh (berdiri) dalam rangka HUT RI ke-61 berlangsung pada 30 Juli 2006. Sebelumnya kedua tim foto bersama dengan Kakanwil XIII DJBC Aceh M. Chariri (foto kiri). Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 4 – 1 untuk KPBC Sabang. Foto kanan, penyerahan piala bergilir juara umum yang diserahkan oleh Kakanwil XIII DJBC Aceh kepada tim kesebelasan KPBC Iskandar Muda yang diterima oleh Kepala KPBC Iskandar Muda, Mochamad Munif,. Kiriman Kanwil XIII DJBC Aceh - Handoko Nindyo
WBC/ATS

JAKARTA. Pertandingan final sepak bola dalam rangka memperingati HUT RI ke-61 antara kesebelasan Direktorat P2 (berdiri kostum merah) melawan kesebelasan Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (jongkok kostum putih) berlangsung pada 19 Juli 2006 di Stadion Bea dan Cukai Bojana Tirta Jakarta Timur. Pertandingan yang berlangsung selama 2 X 30 menit dengan skor 3 – 1 dimenangkan kesebelasan Direktorat P2 sebagai juara I (gambar kiri). Gambar kanan, penyerahan piala bergilir kepada Direktorat P2 diterima oleh Sutikno (kiri).
WBC/ADI WBC/ATS

JAKARTA. Walaupun turun tanpa full tim, akhirnya tim Inkado Korda DKI Jaya pimpinan Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kantor Wilayah V DJBC Bandung, Maman Anurachman, berhasil keluar sebagai runner up di kejuaran karate Bang Fauzi Cup I 2006. Pada kejuaran yang berlangsung di GOR Jakarta Timur pada 3 hingga 6 Agustus 2006 ini, tim Inkado Korda DKI Jaya cukup mendapat perlawanan yang berat dari tim FORKI DKI. Dengan perjuangan yang keras, akhirnya tim Inkado DKI Jaya berhasil meraih 5 medali emas, 7 medali perak, dan 9 medali perunggu. Dengan hasil ini, maka tim Inkado DKI Jaya berhak atas posisi runner up di kejuaran karate ini.

JAKARTA. Warta Bea Cukai menyelenggarakan acara perpisahan dengan Kepala Bagian Umum KP-DJBC sekaligus Penanggung Jawab WBC, Soedirman A. Ghani, yang pertanggal 1 Agustus memasuki masa purna bakti. Tampak dalam foto Pemimpin Redaksi Majalah Warta Bea dan Cukai (WBC) Lucky R. Tangkulung (tengah) menyerahkan cinderamata kepada Soedirman A. Ghani (kanan). Acara perpisahan yang diselenggarakan pada 9 Agustus 2006 di Restoran Handayani Matraman Jakarta Timur ini dihadiri oleh seluruh kru WBC, perwakilan pt Bhinneka Dirgantara Loka, Sungkono serta beberapa pejabat seperti Kepala Seksi Rumah Tangga, Wahyudi, dan Kasubbag Tata Usaha Kearsipan dan Dokumentasi Niko Budi Dharma.

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WBC/ATS

JAKARTA. Sebanyak 80 mahasiswa Fakultas Hukum Perdata Universitas Lampung pada 19 Juli 2006 melakukan kunjungan ke Kantor Pusat DJBC dalam rangka kuliah umum. Kunjungan yang dipimpin oleh Ibu Melly Aida didampingi beberapa dosen diterima dan dibuka oleh Manahara Manurung, Kasubag Tata Usaha Dit. PPKC dengan para staf. Mahasiswa diberikan makalah tentang DJBC disertai penjelasan oleh Erwin Situmorang, Kasi Peraturan Kepabeanan Dit. PPKC,dan Mulyadi Kasi Penyidikan I dari Dit P2. Usai pemaparan kedua belah pihak saling menyerahkan cindera mata, dimana dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diserahkan oleh Manahara Manurung kepada pimpinan Universitas Lampung. Acara dilanjutkan ramah tamah dengan makan bersama..
FOTO : KIRIMAN

ACEH. Kakanwil XIII DJBC Banda Aceh M. Chariri (berdiri ditengah baju putih) foto bersama dengan panitia penyelenggara kegiatan olahraga HUT RI ke-61 KWBC XIII. Acara dibuka pada 28 Juli 2006 oleh Kakanwil XIII dilapangan Keutapang, Mata’ie Banda Aceh dengan serangkaian kegiatan olah raga yakni sepak bola, bola voli, tennis meja dan catur memperebutkan piala bergilir. Kiriman Kanwil XIII DJBC Aceh Handoko Nindyo
FOTO : KIRIMAN

WBC/ATS

JAKARTA. Pertandingan final Bulu Tangkis Kantor Pusat DJBC dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-61 berlangsung antara tim bulutangkis Sekretariat (kostum orange) melawan tim Direktorat PPKC (kostum biru) pada 11 Agustus 2006 di aula gedung B lantai dasar. Tampak dalam gambar R. Evy Suhartantyo (ketua panitia penyelenggara yang mewakili BAPORS KP-DJBC) dan beberapa hakim garis, berfose bersama kedua tim, dimuka serta trophy piala bergilir Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

JAKARTA. Dihalaman Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Jl. Gerbang Pemuda Senayan Jakarta, Deputi bidang Pemberdayaan Olahraga Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga pada 10 Agustus 2006 menyelenggarakan lomba Senam Kebugaran Jasmani (SKJ ‘2004) dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik ke-61 dan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) XXII tahun 2006. Lomba diikuti oleh instansi pemerintah BUMN, perusahaan swasta dan organisasi social dari seluruh Indonesia memperebutkan piala Menpora. DJBC mengirimkan 1 (satu) tim putra yang terdiri dari 7 orang sebagai tim inti dan 3 (tiga) orang cadangan. Dari hasil lomba SKJ tersebut Tim DJBC memperoleh juara harapan II dan menerima hadiah Trophy Menpora serta uang sebesar Rp. 500.000 (lima ratus ribu. Dalam foto bersama didepan Kantor Menpora tim DJBC didampingi tiga official dari BAPORS DJBC yakni Mira Puspita Dewi (baris depan no. 3 dari kiri), R. Evy Suhartantyo (baris depan no. 2 dari kanan) dan Sri Woroningsih (baris depan no 3 dari kanan) serta seorang pelatih yakni Nike (baris depan bertopi). Kiriman BAPORS KP-DJBC EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

43

SIAPA MENGAPA
S U Y O N O , S.Sos, MM. Pria kelahiran Purworejo, 17 Februari 1959 ini mengaku pengalaman kerjanya selama berkarier di Bea Cukai standar-standar saja. Pasalnya, menurut Suyono, dia pasrah saja menerima tugas ditempatkan dimana saja. Meskipun selama kariernya banyak dihabiskan diluar jawa. Suyono masuk di Bea Cukai melalui penerimaan pegawai tahun 1980. Penempatan pertamanya pada tahun 1980 dijalani selama enam tahun di KPBC Makassar. Tahun 1986, ia dipindahkan ke KPBC Bitung, Sulawesi Utara. Sama seperti di Makassar, di Bitung ia sehari-hari bertugas menangani perbaikan kapal patroli. Bagi pria yang telah dikaruniai tiga anak dari hasil pernikahannya dengan Ari Pinasti ini, bertugas di Bitung memberikan suatu pengalaman menarik ketika ia mendapat tugas dalam Operasi Patroli Bersama “Jaksa Masuk Laut (JML)”. Bersama-sama instansi lain, seperti Kejaksaan, Polisi, dan Angkatan Laut, kapal patroli yang ditumpangi Suyono tiba-tiba mesin motor kapalnya mati mendadak. Selama kurang lebih satu hari, dia bersama rombongan terombang-ambing di tengah lautan di sekitar Kepulauan Maluku.”Untung akhirnya kapal bisa diperbaiki, meski kapal hanya dapat berjalan dengan kecepatan hanya 1 knot saja. Jadi jarak antara Ternate ke Bitung ditempuh dalam waktu dua hari,”kenang pria ramah dan sederhana ini. Tahun 1990, ia dipindahtugaskan di Pangkalan Sarhub Tanjung Priok sebagai Bendaharawan rutin. Selama bekerja di Jakarta, ia menyempatkan diri E R N I Begitu singkat dan mudah diingat namanya. Pegawai wanita ini tidak asing bagi seluruh pejabat dan pegawai Kanwil IX DJBC Pontianak. Bagaimana tidak, dia adalah salah seorang protokoler Bea dan Cukai di Bandara Supadio Pontianak. Ketika WBC berkunjung ke Pontianak pun dia yang pertama kali menyongsong kedatangan di Bandara. Erni merupakan puteri daerah yang berkesempatan mengabdikan dirinya di DJBC, bermula dari tenaga honorer selama delapan tahun dengan tugas membantu administrasi di KPBC Pontianak. Ikut tes PNS menggunakan ijasah SMA dilaluinya bulan Desember 2004, setelah dinyatakan lulus ia menerima SK CPNS terhitung 1 Januari 2005. Dan sekarang ia telah resmi menjadi pegawai negeri sipil terhitung masa tugas per 1 April 2006. Karena memiliki banyak teman di bandara maka dia lebih banyak ditugaskan oleh pimpinan di Bandara Internasional Supadio. Meskipun satu hari hanya melayani satu pesawat internasional kedatangan penumpang dari Malaysia,tapi dia selalu standby sebagai seorang protokoler. Bahkan Minggu dan hari besar pun harus masuk. Selama masa bertugas, ia punya kisah menarik anatara lain ketika Hari Raya Idul Fitri.” Waktu itu saya harus segera bergegas ke Bandara untuk melayani kedatangan penumpang. Begitu selesai menunaikan shalat Idul Fitri di sekitar bandara saya langsung bertugas. Jadi berhari raya di BanA D I L R I A N T O

Takdir manusia adalah rahasia Tuhan, manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi, begitu juga dengan Adil, panggilan bagi pegawai yang bertugas di KPBC Tipe B Sintete. Ia tidak pernah menyangka nasib baik berpihak padanya dengan menjadi pegawai Bea dan Cukai. Adil, salah satu contoh manusia yang hidup dalam keprihatinan dan tak putus asa dalam berusaha. Sebagai juru parkir ia mengawali pekerjaannya untuk mempertahankan hidup. Prinsipnya setiap bekerja, akan memuaskan orang yang dilayaninya, maka tidak cukup tugasnya sebagai juru parkir hanya mencarikan tempat parkir mobil, melainkan juga pelayanan prima, begitu ia menyebut pelayanannya yang diberikan pada pelanggannya. “Kalau mobil atau kacanya kotor saya lap pakai kain basah. Jika mobil mau keluar saya seberangkan sampai benar-benar aman jalannya dan rata-rata puas dengan pelayanan saya,” ujarnya memulai perbincangan. Ternyata, profesinya sebagai juru parkir di pasar Singkawang, menjadi jembatan bagi Adil untuk berkenalan dengan salah satu pegawai bea cukai. “Dia almarhum Jesajas Hitijaubessy yang setiap parkir saya berikan pelayanan prima. Karena puas dengan pelayanan saya kemudian saya ditawari pak Jesajas untuk bekerja sebagai tukang cuci mobil.” “Ya saya siap pak, langsung saya jawab. Pikir saya kalau dapat gaji bulanan akan saya celengi untuk biaya hidup sehari-hari. Akhirnya saya jadi tukang cuci mobil. Bukan itu saja, Alhamdulillah saya juga diangkat cleaning service di KPBC Sintete tempat pak Jesajas bekerja tepatnya mulai tahun 1992 bekerja di KPBC Sintete,” ujar Adil. Saat diajak diajak masuk ke mobil alm. Jesajas, Adil menerka-nerka profesi alm. Jesajas. Dari seragam yang dikenakan alm. Jesajas ia menebak bahwa profesinya polisi, karena belum mengerti tentang Bea dan Cukai. Setelah mulai bekerja baru mengetahui bahwa ia bekerja di kantor bea cukai. Adil anak ke-7 dari 9 bersaudara, merupakan lulusan SMA, namun jika setiap ditanya teman-temannnya selalu mengaku lulusan SMP. Itu dilakukannya lantaran malu sebagai lulusan SMA hanya menjadi tukang parkir mobil. Setelah didesak akhirnya setelah 3 tahun di KPBC Sintete dia mengaku kalau ia lulusan SMA. Sejak itu ia mulai diperbantukan di bagian verifikasi. Di tempat inilah ia mulai memperoleh ilmu dari teman-teman pegawai, mulai dari mengetik dokumen, membuat SE-11 bahkan untuk menghitung Bea Masuk sudah ia kuasai. Jika tidak ada pekerjaan di verifikasi maka ia menjalani kembali profesinya sebagai cleaning service. “Rumah saya jauh, jadi bersih-bersih kantor dilakukan sore selepas jam kerja. Paginya bantu-bantu di verifikasi dan cuci mobil. Hanya anak saya sering bertanya kok bapak kerja di bea cukai tetapi gak pakai seragam ?,” begitu kenang ayah dua anak yang lahir di Singkawang, 14 Maret 1969 dan berpedoman hidup “Semeleh saja, harus seimbang urusan dunia dan akhirat.”

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

untuk mengambil kuliah di LAN sampai berhasil menyandang gelar S.Sos. Pada 1998, ia mendapat promosi menjadi Kaur Umum merangkap Kasubsi Pabean di KPBC Tarakan. “Pada waktu itu, masyarakat sana belum memahami peraturan (Kepabeanan). Jadi sering sekali mereka protes ke kita, bahkan sampaisampai mereka menyerang kantor kita. Tapi, Alhamdulillah sekarang mereka sudah lebih mengerti peraturan,”cerita Suyono yang berkesempatan meraih gelar S2 di Tarakan melalui program kuliah jarak jauh Universitas Soedirman Purwokerto. Berikutnya tahun 2001, ia dipromosikan lagi menjadi Kasi Perbendaharaan di KPBC Balikpapan sampai sekarang. “Jangan pernah menunda pekerjaan”, itulah motto hidup Suyono dalam bekerja. Dan memang dikalangan pegawai yang mengenalnya, ia dikenal sebagai pekerja keras dan ‘saklek’( taat ) dalam memegang peraturan. Kepada institusi DJBC, ia mempunyai suatu harapan. “Saya berharap agar pola karier di DJBC ini, kalau bisa, seperti di ABRI (TNI, red) dimana jenjang kariernya lebih bisa diprediksi,”demikian harapan pria yang juga menjadi staf pengajar di BDK Balikpapan ini. dons, balikpapan dara , “kenang Wanita kelahiran Pontianak tahun 1976. Pengalaman lucu pun ia alami semasa menjadi PNS, “Saya pernah merasa canggung dan kaku ketika diajarkan baris-berbaris di lingkungan Kanwil IX Pontianak semasa CPNS, karena sudah lama tidak pernah mengikuti sejak meninggalkan bangku SMA,” tutur wanita yang masih single ini. Di luar tugas kantor Erni memiliki aktivitas antara lain mengikuti olah raga bola voli bersama di lingkungan pegawai bandara karena rumah tinggalnya yang memang tidak jauh dari Bandara Supadio. Di usia yang menginjak 30 tahun ini Erni merasa bersyukur dan bangga menjadi pegawai DJBC dan akan selalu berpikir dan berbuat yang tebaik bagi institusi yang dicintainya. Di akhir wawancara Erni yang memiliki motto hidup lakukanlah suatu pekerjaan itu dengan doa, sabar, dan ikhlas insyaallah Tuhan akan memberikan yang terbaik, mengungkapkan harapannya pada institusi Bea dan Cukai. Ia berharap di masa yang akan datang Bea dan Cukai akan lebih maju dan lebih baik lagi. Bambang Wicaksono
Dengan gaji sebesar Rp. 25. 000 sebulan sebagai cleaning service, ia tidak tinggal diam namun terus belajar dari para seniornya. Pikirnya ketika itu sederhana saja, kalau ia diangkat menjadi pegawai bea cukai sudah bisa menguasai ilmu kebeacukaian, jadi kalau ada orang bertanya tentang ekspor-impor paling tidak ia dapat menjawabnya. Atas doa keluarga dan almarhum ibunya yang sebelum meninggal selalu berharap dan berdoa agar anaknya bisa diangkat sebagai pegawai negeri, akhirnya Adil diangkat menjadi pegawai bea cukai tepatnya pada 2003, saat usianya 34 tahun, batas usia akhir seseorang diangkat menjadi pegawai negeri sipil. “Alhamdulillah bahagia sekali saat resmi jadi PNS. Apa yang diberikan DJBC pada saya banyak sekali, tetapi saya belum bisa membalasnya. Maka itu saya ingin berbakti kepada DJBC, sesuai dengan slogan di Bea Cukai do and think the best for Directorate General Customs and Exice, semboyan saya sampai sekarang dan sebagai rasa terimakasih saya kepada DJBC saya berusaha kerja sebaik mungkin, ingin jadi pegawai yang profesional,” ujar pegawai yang saat ini sedang meneruskan kuliah S1-nya dengan mengambil jurusan hukum dan keinginannya untuk sekolah lebih tinggi dari S1 selalu mendapat dukungan dari keluarganya. Ditanya tentang pengalaman berkesannya setelah menjadi pegawai bea cukai, ia bercerita saat dirinya ikut dalam kegiatan joint operations dengan Kastam Diraja Malaysia. Saat itu ada beberapa peserta diperintahkan menulis naskah untuk pembacaan doa. Meski Adil tidak memiliki dasar sekolah agama, maka ditulisnya bait-bait doa tadi dan ternyata dipilih untuk dibacakan dalam acara penutupan joint operation tersebut., “Waah senang sekali, naskah saya bahkan diminta oleh orang Malaysia. Mereka bilang kata-kata milik saya bagus. Jadi bangga karena bait naskah saya bisa menginternasional, “ ujar Adil yang juga pernah terdampar bersama E.Rizal (Kasubag Umum) saat ke perbatasan Temajuk dan hanya minum air bekas dari orang yang juga pernah terdampar di pulau itu. Temajuk berjarak 7 km dari Sintete dan medan yang harus dilintasi untuk ke perbatasan itu antara lain sungai, hutan, pantai dan cadas. ris

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2005
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 120.000

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 382 SEPTEMBER 2006

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

WARTA BEA CUKAI

45

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

HBL SEBAGAI DOKUMEN PELENGKAP PABEAN
Pada WBC edisi Agustus 2006, yang laporan utama tentang penerapan Mandatory PDE Manifest sejak tangal 3 Juli 2006, pada hal 8 kolom satu, disebutkan semua proses pelayanan kepabeanan yang dilakukan oleh KPBC akan mengacu ke dalam dokumen manifest. Mulai dari proses pengeluaran barang dengan penyelesaian kewajiban pabean (PIB). Kolom dua, setiap inward manifest terdiri dari pos-pos dimana setiap pos tersebut mewakili satu dokumen BL sehingga dapat dikatakan satu pos tersebut mewakili satu party barang tersendiri atau satu transaksi impor/ekspor. Hal. 14 kolom 3, untuk pos yang diselesaikan dengan PIB dan pemberian atensi terhadap analisis data yang ada pada manifest. Perusahaan kami dalam penyelesaian formalitas kepabeanan impor menggunakan House Bill of Lading (HBL) sebagai dokumen pelengkap pabean untuk kondisi Full Cotainer Load (FCL). Inward manifest yang dikirim secara softcopy oleh agen pelayaran adalah Nomor Master Bill of Lading (MBL), dengan shipper dan consignee atas nama forwarder. Pertanyaan saya adalah : 1. Apakah sejak berlakunya PDE Manifest dengan dikeluarkannya Kep Dirjen BC No 10/2006 HBL tidak dapat dipakai sebagai dokumen pelengkap pebean penyelesaian formalitas impor ? (hanya untuk memastikan, memang pada SK tersebut tidak disebutkan akan hal ini) 2. Jika HBL dapat digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean, apakah MBL harus disertakan dan pada Notify Party dicantumkan nama perusahan kami sebagai pemilik barang ? 3. Jika MBL harus disertakan, apakah fotocopy dapat diterima ? Mengingat kondisi MBL adalah Telex Release atau Surrendered (release cargo without presentation of original BL) Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan ini sangat saya tunggu dari Bapak Endang Tata. Sebelum dan sesudahnya, saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, Hera Y Melati Jl. Bukit Duri Putaran No.14 Jak Sel 12840 Jawaban : 1. Menjawab pertanyaan saudari mengenai dapat/tidak House B/L digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean, sehubungan dengan pemberlakuan SAP PDE Manifest secara Mandatory, perlu kami jelaskan sebagai berikut : a. Pada dasarnya seluruh ketentuan di bidang kepabeanan tidak pernah menyatakan secara rinci mengenai penyebutan Master atau House B/L dalam proses pengurusan dokumen h. b. kepabeanan. Ketentuan di bidang kepabeanan hanya menyebut Bill of Lading (B/L) dan Air Way Bill (AWB) sebagai salah satu dokumen pelengkap dokumen kepabeanan. Hal tersebut dapat kita lihat pada penjelasan Pasal 28 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan yang menyatakan bahwa “Yang dimaksud dengan dokumen pelengkap pabean adalah semua dokumen yang digunakan sebagai pelengkap Pemberitahuan Pabean, misalnya : invoice, bill of lading, packing list dan manifest”; Perlu diketahui bahwa data-data yang tercantum dalam dokumen pelengkap pabean digunakan sebagai dasar pengisian dokumen Pemberitahuan Pabean, sehingga data yang tercantum dalam dokumen pemberitahuan pabean harus sesuai dengan data yang tercantum dalam invoice, bill of lading, packing list dan manifest; Manifest sesuai pada butir 1.3. tersebut di atas diberitahukan oleh pihak pengangkut (shipping line) dan setelah mendapat nomor dari pejabat pabean menjadi dokumen pabean (BC 1.1.); Yang menjadi permasalahan pada penggunaan House B/L adalah adanya perbedaan antara data yang tercantum dalam dokumen pemberitahuan pabean dengan data dalam BC 1.1 (terutama mengenai nama consignee). Namun consignee di dokumen pemberitahuan pabean adalah nama real consignee (sesuai dengan house B/L) sedangkan di BC 1.1 adalah forwarder; Pasal 5 huruf d Kep Dirjen Bea dan Cukai No. 07/BC/2003 menyatakan bahwa perbaikan manifest mengenai nama consignee dan atau notify party dilakukan apabila terdapat kesalahan penulisan dalam manifest, yang dapat dibuktikan dengan dokumen pelindung berupa : Bill of Lading (B/L)/Airway Bill (AWB), invoice, packing list, certificate of insurance, dsb; Menunjuk pasal 5 huruf d tersebut di atas, House B/L (dimana pada House B/L tersebut dicantumkan nama real consignee) seharusnya dipakai sebagai salah satu alat bukti untuk perbaikan BC. 1.1 (redress consignee); Berdasarkan uraian pada butir a sampai dengan h pada prinsipnya tidak ada ketentuan mengenai pelarangan penggunaan House B/L sebagai pelengkap dokumen kepabeanan. Pelayanan kepabeanan dapat dilaksanakan sepanjang data-data yang tercantum dalam dokumen pemberitahuan pabean sesuai dengan data-data yang tercantum di BC 1.1. Apabila terdapat perbedaan data antara dokumen pemberitahuan pabean dengan i. data yang tercantum di BC. 1.1., maka harus dilakukan perbaikan BC 1.1. (redress) terlebih dahulu, dengan salah satu bukti pendukung adalah House B/L; Mengenai hal yang tersirat pada pertanyaan Saudari bahwa pemberlakuan ketentuan mengenai perbaikan manifest (biasanya berkaitan dengan penggunaan house B/L) seolah-olah baru dilaksanakan setelah diberlakukannya SAP PDE manifest secara mandatory, perlu dijelaskan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ketentuan mengenai perbaikan BC 1.1 (redress consignee) berlaku sejak diterbitkan peraturan di bidang kepabeanan beserta aturan pelaksanaannya. Dengan diberlakukannya SAP PDE Manifest, data pemberitahuan pabean akan terkoreksi dengan data BC 1.1. secara otomatis sehingga dapat terkontrol, dan apabila terdapat perbedaan antara data-data tersebut akan dilakukan atensi untuk dilakukan analisis lebih lanjut; Ketentuan yang mengatur masalah penerapan SAP PDE Manifest diatur lebih lanjut di Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.04/2006 tanggal 19 Mei 2006 tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 10/BC/ 2006 tanggal 16 Juni 2006 tentang Tata Cara Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut.

c.

d.

j.

e.

f.

2. Pertanyaan Nomor 2 telah dijawab dengan merujuk pada jawaban nomor 1. Apabila telah dilakukan perbaikan BC 1.1., maka data pada House B/L telah sama dengan data yang tercantum di Dokumen Pemberitahuan Pabean maupun di BC 1.1. 3. Dalam hal data yang tercantum di dokumen pemberitahuan pabean telah sesuai dengan BC 1.1., maka fotocopy, telex release, surrendered B/L (master) dapat digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean sepanjang telah diendorse (ditandasahkan) oleh agen pelayaran serta dilengkapi surat keterangan tentang keaslian dokumen yang dibuat oleh importir (consignee) sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai Nomor SE-21/BC/ 2003 tanggal 20 Juni 2003. Demikian disampaikan untuk dimaklumi. Direktur Pencegahan & Penyidikan ENDANG TATA NIP 060044462

g.

46

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

INFO PEGAWAI

PEGAWAI PENSIUN
T.M.T 01 SEPTEMBER 2006 PERIODE T.A 2006
M A NIP 060058749 060054086 060035517 060035314 060034178 060035296 060034199 060064454 060045468 060040583 060041430 060040279 060047899 060052336 060045356 060052652 060041269 060056640 060052356 060071169 060056616 060057715 060060184 060057630 GOL IV/c IV/c IV/b IV/a IV/a IV/a III/d III/c III/c III/b III/b III/b III/b III/a III/a III/a III/a III/a III/a II/d II/d II/c II/b II/b JABATAN Kepala Bagian Umum Kepala Bidang Audit Kasubbag TU & RT Kepala Seksi Ekspor dan Cukai Kasubag Pengadaan II Kepala Seksi Tempat Penimbunan IV Kepala Seksi Perbendaharaan Korlak Distribusi Dokumen Korlak Adm. TPB Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 N A KEDUDUKAN Kanwil V DJBC Bandung Kanwil IV DJBC Jakarta Kanwil I DJBC Medan Kanwil VI DJBC Semarang Sekretariat KP DJBC KPBC Tipe A Juanda KPBC Tipe A Malang KPBC Tipe A Dumai KPBC Tipe A Palembang KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok III KPBC Tipe A Batam KPBC Tipe A Surakarta KPBC Tipe A Bandung KPBC Tipe A Bekasi KPBC Tipe A Tg. Balai Karimun KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok II KPBC Tipe A Khusus Soekarno – Hatta Dit. P2 KP DJBC KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok III KPBC Tipe A Khusus Soekarno – Hatta KPBC Tipe C Pasar Baru KPBC Tipe C Pare-pare KPBC Tipe C Tg. Uban KPBC Tipe B Pangkal Pinang IR. MARWAN KUSUMA, MM DRS. SOENARDI DJOKO WARSONO BUDI SANTOSA MUHADI HIRZON RAHIM DRS. MARSONO TRISNO WARDOYO, SH SARITO DULBAKRI AGUSTAM MUHAMMAD JUSUF KAMAR PILANGNO WIBOWO TOTO SUPRIYANTO SUKARNO IRMAN IBNU HAJAR ARISMAN BUDI PURNOMO ENAN AMIR RUDIANTO SURYA SUSETYO ABDUL LATIF MUSTAFA BAKAR EFENDI

RALAT DATA KEPEGAWAIAN
Pada rubrik Info Pegawai di WBC Edisi 381/Agustus 2006 terdapat kesalahan penulisan pada nomor urut 30. Data yang sebenarnya adalah seperti tersebut di bawah ini : Nama : Suratno Nip : 060045530 Gol : III/a Demikian kami perbaiki, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, DIBYO SUSILO (61), pensiunan Bea dan Cukai, terakhir menjabat sebagai Manager Toko Kopesat DJBC, pada hari Rabu, 2 Agustus 2006 di RS. Mitra Keluarga Jakarta. Jenazah telah dimakamkan pada hari Kamis, 3 Agustus 2006 di Klaten, Jawa Tengah. Segenap Pimpinan dan Karyawan Koperasi Pegawai Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengucapkan turut belasungkawa. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Amin
EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

47

KEPABEANAN

MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG

DUMPING DAN KOMITE ANTIDUMPING INDONESIA (KADI)
Oleh: Dheni Wiguna, SE, SST, Ak, MM
Berdasarkan kesepakatan perdagangan dunia (World Trade Organization/WTO), dumping adalah kegiatan yang dilarang.

M

asih segar dalam ingatan kita ketika negara-negara Uni Eropa mengenakan tarif bea masuk anti dumping atas produk sepatu dari Cina dan Vietnam yang mengakibatkan produsen-produsen sepatu yang berada di kedua negara tersebut merelokasi pabriknya ke Indonesia. Jumlah pabrik yang akan direlokasi sampai dengan saat ini telah mencapai 15 pabrik dengan total kapasitas produksi 11 juta pasang per tahun, suatu jumlah yang luar biasa besar terutama dari segi penyerapan tenaga kerja. Dengan dampak yang demikian besar dari pengenaan tarif bea masuk anti dumping tersebut tentunya sebagian orang akan bertanya-tanya ‘apakah dumping itu?’

2. Mematikan industri pesaing agar dapat memonopoli (predatory dumping) 3. Menjual barang yang kelebihan produksi akibat permintaan menurun (cycling dumping) 4. Memperoleh valuta asing (statetrading dumping) 5. Mencapai tujuan strategis tertentu (strategic dumping)

suk Antidumping dan Bea Masuk Imbalan 4. Membuat laporan pelaksanaan tugas KADI berperan dalam melindungi industri dalam negeri yang mengalami kerugian akibat adanya barang impor yang dijual secara dumping. Setiap industri dalam negeri secara perorangan atau kelompok yang mengalami kerugian atau ancaman kerugian karena adanya barang impor yang dijual secara dumping tersebut dapat mengajukan permohonan perlindungan kepada KADI. Atas dasar permohonan tersebut KADI melakukan penyelidikan untuk membuktikan kebenaran adanya dumping dan terjadinya kerugian atau ancaman kerugian yang disebabkan oleh barang impor tersebut. Beberapa hal pokok yang diteliti KADI dalam membuktikan terjadinya kerugian yaitu penurunan harga, penurunan penjualan, kehilangan pangsa pasar, penurunan produksi, penurunan keuntungan, dan unsur-unsur lain yang mengalami kesulitan. Apabila terbukti, akan ditetapkan besarnya perlindungan yang dapat diberikan dengan menaikkan bea masuk impor atas barang yang dimaksud.

STRUKTUR, TUGAS DAN PERAN KADI
KADI dibentuk oleh Menteri Perindustian dan Perdagangan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1996 Tentang Bea Masuk Anti Dumping dan Bea Masuk Imbalan untuk menangani permasa-

APA DAN UNTUK APA DUMPING?
Dumping merupakan praktek perdagangan yang tidak fair yang dilakukan oleh eksportir negara lain yang menjual atau mengekspor barang hasil produksinya ke Indonesia dengan harga yang lebih rendah dari harga jual di dalam negerinya sendiri atau nilai normal dari barang tersebut. Berdasarkan kesepakatan perdagangan dunia (World Trade Organization/WTO), dumping adalah kegiatan yang dilarang. Karena itu, setiap negara anggota WTO diperkenankan untuk melakukan tindakan perlindungan terhadap industri di dalam negeri yang menjadi korban barang impor yang dijual dengan harga tidak wajar dengan mengenakan Bea Masuk Antidumping sesuai dengan Agreement On Implemention of Article VI of GATT 1994. Kesepakatan internasional tersebut telah diratifikasi oleh Indonesia dengan UndangUndang No. 7 tahun 1994. Adapun praktik dumping tersebut pada umumnya dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Memperbesar pangsa pasar (market-expansion dumping) 48
WARTA BEA CUKAI

KADI BERPERAN DALAM MELINDUNGI INDUSTRI DALAM NEGERI YANG MENGALAMI KERUGIAN AKIBAT ADANYA BARANG IMPOR YANG DIJUAL SECARA DUMPING
lahan yang berkaitan dengan upaya penanggulangan importasi barang dumping. Saat ini KADI dipimpin oleh seorang ketua yang membawahi tiga kepala bidang dan empat orang investigator. Berdasarkan PP No 34 Tahun 1996 tersebut KADI mempunyai tugas pokok sebagai berikut: 1. Melakukan penyelidikan terhadap Barang Dumping dan Barang Mengandung subsidi 2. Mengumpulkan, meneliti dan mengolah bukti dan informasi 3. Mengusulkan pengenaan Bea Ma-

PERKEMBANGAN KINERJA KADI
Sejak berdiri tahun 1996 sampai dengan Juni 2006 baru terdapat 33 kasus yang masuk untuk ditangani KADI. Dari jumlah tersebut 12 kasus telah dikenakan Bea Masuk Anti Dumping, 12 kasus tidak dikenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), 5 kasus ditutup karena tidak memenuhi syarat untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut, 3 kasus telah direkomendasikan untuk pengenaan BMAD, dan 1 kasus masih dalam proses penyelidikan. Jumlah tersebut terasa kecil bila dibandingkan

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

Tabel 1 FREKUENSI NEGARA DITUDUH DAMPING

Sumber : www.wto.org

dengan jumlah tuduhan dumping negara-negara lain terhadap Indonesia yang sampai dengan akhir tahun 2005 sudah mencapai angka 121 kasus. (Lihat Tabel 1) Rendahnya jumlah kasus yang ditangani KADI disebabkan oleh tingkat kesadaran dan pengetahuan produsen di Indonesia yang masih rendah mengenai fungsi dan peran dari KADI itu sendiri. Padahal setiap tahun tidak kurang dari 10 kali KADI melakukan penyuluhan terhadap pengusaha-pengusaha dan universitas-universitas di daerah tentang fungsi, peran dan prosedur-prosedur yang dilaksanakan oleh KADI untuk melakukan penyelidikan akan adanya dugaaan dumping tersebut.

Data-data yang harus disiapkan oleh pemohon adalah sebagai berikut : 1. Data Umum yang terdiri dari : a. Latar belakang permohonan b. Data pemohon c. Penjelasan bahwa pemohon merupakan bagian dari industri dalam negeri di Indonesia d. Barang yang dituduh dumping e. Negara pengekspor dan produsen/eksportir f. Importir yang diketahui g. Total barang impor yang diduga dumping 2. Dugaan Dumping, yang berisikan a. Perhitungan Normal Value Perhitungan normal value di negara produsen bisa dilakukan dengan dua cara yaitu berdasarkan harga domestik dan berdasarkan biaya produksi. Contoh perhitungan berdasarkan harga domestik : -- Harga domestik : USD100 / MT -- Biaya Transportasi : USD 5 / MT -- Biaya Handling : USD 2 / MT Harga Domestik eks-pabrik : USD 93 / MT

PROSEDUR UNTUK MEMPEROLEH PERLINDUNGAN
Permohonan perlindungan diajukan kepada KADI dengan melengkapi pengisian formulir yang telah disediakan. Pemohon harus mewakili sebanyak 25% dari total produksi dalam negeri untuk produk yang sama dengan produk yang dijual secara dumping dan didukung oleh produsen lainnya sehingga paling kecil mencapai 50% dari total produksi. KADI memutuskan untuk melakukan inisiasi (penyelidikan) atau menolak permohonan tersebut dalam 30 hari

Apabila pemohon tidak memperoleh harga domestik di negara eksportir, maka normal value dapat dihitung berdasarkan biaya produksi seperti contoh berikut : -- Biaya bahan mentah : USD 45 / MT -- Biaya pekerja langsung : USD 10 / MT -- Biaya overhead pabrik : USD 15 / MT -- Jumlah biaya produksi : USD 80 / MT -- Biaya pemasaran dan administrasi : USD 8 / MT -- Financing charges : USD 2 / MT -- Total Biaya : USD 90 / MT -- Profit (5%) : USD 5 / MT -- Normal Value : USD 95 / MT b. Harga Ekspor Agar diperoleh perhitungan yang setara, maka harga ekspor harus dihitung berdasarkan harga ekspor eks-pabrik. Contoh perhitungannya adalah sebagai berikut:
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

49

KEPABEANAN
FOTO : ISTIMEWA

diduga dumping telah menyebabkan kerugian pada industri dalam negeri sebagaimana dikemukakan pada butir 3. Hubungan sebab akibat ini sering dihubungkan dengan efek volume dan efek harga. Efek volume diukur dengan terjadinya peningkatan impor dari negara-negara tertuduh sedangkan efek harga terdiri dari 3 indikator, yaitu price undercutting, price depression dan price suppression. 5. Faktor lain penyebab kerugian pada perusahaan pemohon Pemohon harus menjelaskan semua faktor yang dapat mengakibatkan masalah yang sedang dihadapi. Dumping mungkin saja bukan penyebab utama kerugian yang diderita industri dalam negeri, tetapi jika sedang resesi maka barang dumping dapat membuat keadaan bertambah buruk. 6. Prospek dan pandangan ke depan Pemohon hendaknya memberikan penjelasan mengenai kemungkinan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari apabila tidak dikenakan tindakan anti dumping.
PABRIK SEPATU. Akibat negara-negara Uni Eropa mengenakan tarif bea masuk anti dumping atas produk sepatu dari Cina dan Vietnam, produsen-produsen sepatu yang berada di kedua negara tersebut merelokasi pabriknya ke Indonesia.
----

PENUTUP
Dalam era perdagangan bebas ini mau tidak mau industri dalam negeri harus siap bersaing secara sehat dengan barang-barang impor. Namun demikian, bila barang yang diimpor harganya tidak wajar disebabkan adanya praktek dumping maka pemerintah tidak boleh berdiam diri mengingat hal tersebut dapat merusak industri dalam negeri. Dengan tulisan ini penulis berharap dapat memberikan gambaran singkat serta masukan mengenai praktik dumping dan cara menanganinya. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Departemen Perdagangan Gedung II Lantai 10 Jl. MI Ridwan Rais No. 5 Jakarta 10110 Telp : (021) 3850541 Fax : (021) 3850541
Sumber Data : 1. Agreement On Implemention of Article VI of GATT 1994 2. Peraturan Pemerintah No.34 Tahun 1996 Tentang Bea Masuk Anti Dumping dan Bea Masuk Imbalan 3. Pedoman Permohonan Penyelidikan Dumping – KADI 4. Http : www.wto.org

Harga Ekspor CIF : USD105 / MT Sea Freight : USD 20 / MT Inland Freight : USD 2 / MT Harga Ekspor eks-pabrik : USD 83 / MT

c. Marjin Dumping Merupakan selisih antara Harga Domestik eks-pabrik dengan harga ekspor ekspabrik yaitu sebesar USD 93 – USD 83 = USD 10. Dengan demikian marjin dumping terhadap harga Ekspor CIF adalah sebesar (USD10 : USD105) x 100 % = 9,52 %. Perhitungan sebenarnya mengenai normal value, harga ekspor dan marjin dumping akan dilakukan oleh KADI berdasarkan data yang diperoleh dalam penyelidikan jika permohonan tersebut disetujui untuk di inisiasi. 3. Kerugian (Injury) Pemohon mengemukakan kerugian yang diderita akibat adanya barang impor yang diduga dumping, baik kerugian material yang telah terjadi maupun kerugian yang dianggap akan 50
WARTA BEA CUKAI

terjadi dalam waktu dekat. Indikator kerugian tersebut adalah sebagai berikut: a. Penurunan penjualan dalam negeri b. Penurunan profit atau malah mengalami loss c. Penurunan produksi d. Penurunan utilitasi kapasitas e. Penurunan pangsa pasar f. Penurunan / tidak mampu meningkatkan produktivitas g. Gangguan terhadap Return On Investment h. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga dalam negeri i. Dampak dari marjin dumping j. Gangguan terhadap cash flow k. Meningkatnya tingkat persediaan l. Terjadinya penurunan jumlah upah kerja m. Terjadinya pengurangan tenaga kerja n. Penurunan pertumbuhan secara menyeluruh o. Gangguan terhadap peningkatan modal dan investasi 4. Hubungan sebab akibat antara dumping dengan kerugian (injury) Pemohon harus memberikan ringkasan bahwa barang yang

Penulis adalah Pelaksana Pengendali Teknis Audit pada Kanwil IV Jakarta dan Investigator pada Komite Anti Dumping Indonesia

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

ENGLISH SECTION

a Virtuous Circle: CUSTOMS MODERNIZATION, FOREIGN DIRECT
INVESTMENT AND TRADE LIBERALIZATION ,
Oleh: Nasir Adenan
As the world moves increasingly toward trade liberalization, the cost of tolerating an inefficient customs administration will become too great to bear

I

n line with Keppres 3/2006, lately the world business organizations, urges governments, and in particular trade and finance ministers, to recognize that modernization of customs administrations - both of their own countries and of their trading partners - is an important catalyst to economic development. Modernization of a country’s internal customs administration benefits growth and investment, while modernization of the customs administrations of trading partners is necessary to ensure the full realization of negotiated trade benefits. As tariff and other trade barriers are reduced or eliminated through global and regional trade negotiations, customs modernization becomes more and more important to each country’s interest in attracting foreign direct investment. As tariff barriers fall, multinational and other companies look increasingly to the existence of business friendly policies in deciding where to invest. Countries that fail to keep pace with world class standards for customs administration will find that investors simply cannot afford the high logistics costs imposed by customs inefficiencies. Finance ministers in these countries will find foreign direct investment (FDI) migrating to nations with more sophisticated customs administrations. Moreover, customs inefficiency imposes a significant tax, hidden but very real, on consumers and traders - taxes whose “revenues” are not realized by the government, but rather comprise a dead waste to the economy. Because customs administration can be an important barrier to trade, countries with inefficient customs administrations are breaking faith with their partners who have made tariff concessions. Absent a uniformly high standard of customs efficiency, the benefits of market opening are unfairly denied to those countries that have efficient customs administrations and trade with neighbors whose inefficient customs administrations act as nontariff barriers. Trade ministers in countries with forward looking customs

administrations must insist on the modernization of the customs administrations of their trading partners if they are to realize the benefit of the bargains they strike with their neighbors. Understanding the competitive costs associated with tolerance of inefficient customs administration, trade and finance ministers should be strong internal advocates for customs improvement. Much can be done unilaterally and voluntarily to improve prospects for attracting foreign investment and increasing trade. Additional gains are available from the synergies engendered by an across-the-board improvement in customs efficiency. Consequently, trade and finance ministers should support multilateral and regional initiatives to modernize customs administrations as well. These include World Trade Organization

(WTO) initiatives to simplify and improve trade procedures; the work of the World Customs Organization (WCO) on revision of the Kyoto Convention on the Simplification and Harmonization of Customs Procedures; and regional efforts to simplify and harmonize customs procedures.

THE VIRTUOUS CIRCLE
The accelerating trend toward trade liberalization, both globally and regionally, puts customs modernization at the heart of a mutually beneficial “race to the top” in a form of virtuous circle in four steps: l Improving customs administrations enables further trade liberalization by ensuring that countries will reap the rewards of negotiated trade concessions. Higher levels of trade liberalization increase the competiDOK. WBC

CUSTOMS ADMINISTRATION. Can be an important barrier to trade EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

51

ENGLISH SECTION
DOK. WBC

FOREIGN Direct Investment

l

l

l

tive benefits of customs modernization, and so on Trade liberalization eases the need to invest behind tariff barriers, and investors are freer to seek businessfriendly environments, rather than being forced to invest behind high tariff barriers in each country where they hope to do business. Countries that modernize their customs administrations see increasing flows of FDI, putting pressure on their trading partners to respond in kind. Increasing levels of trade liberalization become a worldwide reality through WTO and regional negotiations.

While this virtuous circle encompassing trade liberalization, FDI, and customs modernization benefits all who participate in it, the costs of nonparticipation will become increasingly burdensome in terms of lost investment and increasing economic isolation.

(NAFTA), the Association of South East Asian Nations Free Trade Area (AFTA), the Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), the European Union (EU) and its association agreements, numerous Latin American trade arrangements, and the negotiation of the Free Trade Area of the Americas also contribute to the downward pressure on trade barriers. And the spirit of liberalization has taken firm root; in the face of the Asian financial crisis, members of the Association of South East Asian Nations did not abandon, but rather accelerated duty reduction schedules under AFTA. At the same time, economic turbulence has the potential to arouse protectionist sentiments that are selfdefeating and lead to a vicious circle that can trigger worldwide trade wars and economic depression. Customs frequently is a favored tool of protectionists. Countries must guard against employing their customs administrations as barriers to trade.

behind tariff barriers. High trade barriers in a country create an incentive for investment to serve consumers of that country that does not depend on efficiency of the workforce, availability of world-class material suppliers, access to other markets, or the maintenance of an effective system of commercial law. Even the advantages to be gained from economies of scale are overwhelmed, often requiring the construction of small, inefficient plants in each of several markets that could be served collectively by a single, scaleefficient factory. Markets traditionally protected by trade barriers often fall behind world standards because the goods and services they provide are not tested by international competition. When tariff and non-tariff barriers to trade are removed, investment decisions increasingly are made on the basis of the ability of the market to provide an environment that is conducive to the establishment and maintenance of a world-class manufacturing operation to serve the regional market and often to produce for worldwide export. Workforce availability, a stable economic system, and an effective legal system all assume greater importance in making investment decisions. Equally important is logistics - the ability to maintain a reliable, low-cost flow of raw materials and components into a manufacturing facility, and an effective system to distribute finished products flowing out of the facility.

CUSTOMS MODERNIZATION AS NATIONAL COMPETITIVE ADVANTAGE
Logistics - the efficient movement of goods to and from a manufacturing facility is critically important. Any world-class manufacturing facility must have access to world-class sources of raw materials and components. Certainly, many inputs will be available locally in quantities and quality needed to support such manufacturing. However, no single market either developed or emerging, can produce all of the world-class inputs needed for a complex manufacturing operation. Aided by rapid improvements in the speed of information exchange, global corporations are creating sophisticated international supply chain management systems to move goods quickly and economically around the world. Countries that stop or slow down these supply chains will be left out of the process. Consequently, access to imported raw materials and components is an important consideration in plant siting. And customs administration is critically important to this access in many ways: l Clearance time - In order to support world-class manufacturing, customs clearance time must be measured not in weeks, or even days, but in hours. Any customs administration that can provide reliable, timely cus-

TREND TOWARD TRADE LIBERALIZATION
The initial condition for realization of the virtuous circle is a trend toward trade liberalization, and it is clear that that condition holds in today’s world. Trade liberalization at the multilateral and regional levels is progressing at an accelerated pace. The Uruguay round and creation of the WTO have resulted in substantial, continuing tariff reductions, and ongoing work in the WTO will further market liberalization on many fronts. Regional arrangements, such as the North American Free Trade Agreement 52
WARTA BEA CUKAI

FDI AND THE BUSINESS ENVIRONMENT
Traditionally, FDI has been driven in substantial part by the need to invest

“THE IMPORTANCE OF CUSTOMS ADMINISTRATION TO FDI DECISIONS IS NOT HYPOTHETICAL”

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

INFO PERATURAN
toms clearance, or immediate release based on pre-clearance, creates an enormous competitive advantage in attracting manufacturing. Predictability - Delayed delivery of a key input can shut down an entire manufacturing line, at enormous cost. Unpredictable delivery due to customs administration can require the maintenance of excessively large “safety stock”, with unacceptable inventory carrying costs. Arbitrary or unpredictable customs clearance delays are incompatible with efficient manufacturing. Transparency - Arbitrary or unexplained changes in classification or valuation of goods can disrupt logistical flows and marketing plans, thereby seriously detracting from efficient operation.

PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Agustus 2006
K E P U T U S A N No. Nomor 1. 51/PMK.02/2006 Tanggal 07-07-06 Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 92/ PMK.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu Dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor. Pembebasan Bea Masuk Dan Tidak Dipungut Pajak Dalam Rangka Impor Atas Pengeluaran Barang Dari Kawasan Berikat dan Pengusaha Penerima Fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) Yang Disumbangkan Untuk Korban Bencana Alam Di Propinsi Jawa Tengah Dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tata Cara Pembayaran Domestic Market Obligation Fee Dan Over/ Under Lifting Di Sektor Minyak Dan Gas Bumi. Perubahan Penyebutan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan, Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan, Direktur Pembinaan Akuntan Dan Jasa Penilai Dalam Keputusan Menteri Keuangan Yang Mengatur Jasa Akuntan Publik Dan Penilai. P E R I H A L

l

l

2.

54/PMK.04/2006

12-07-06

The importance of customs administration to FDI decisions is not hypothetical. Case studies of real-world decisions have been done to illustrate the importance of customs in making plantsiting decisions.

REAPING THE BENEFITS
Countries that are early in recognizing the competitive advantage of customs modernization will reap the lion’s share of the rewards. Experience in the developed world includes several examples of smaller countries that have taken advantage of such factors as favourable location, modern transportation, trade culture and services industries to rank among the largest trading economies. These successes would not have been possible without modern customs services. In the developing world, there are some more recent examples that are following this pattern. The experience in these countries already demonstrates that customs modernization and trade facilitation are compatible with revenue collection and enforcement. It is noteworthy that customs revenues have increased with modernization efforts because greater volumes of trade are processed more efficiently.

3.

56/PMK.02/2006

13-07-06

4.

57/PMK.01/2006

13-07-06

CONCLUSION
Governments have an important stake in the modernization of their customs administrations and those of their trading partners. As the world moves increasingly toward trade liberalization, the cost of tolerating an inefficient customs administration will become too great to bear. The International Chamber of Commerce urges governments, and in particular trade and finance ministers, to become ardent advocates of internal customs reform and vocal demandeurs of regional and worldwide rules to ensure multilateral movement toward a uniformly high standard of customs administration.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Agustus 2006
SURAT EDARAN No. Nomor 1 SE-24/BC/2006 Tanggal 10-07-06 Ralat Surat Edaran Nomor SE14/BC/2006 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kenaikan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau Dan Pelayanan Pemesanan Pita Cukai P E R I H A L

* Nasir Adenan, Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Priok I

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WARTA BEA CUKAI

53

KOLOM

Oleh: Djanurindro Wibowo, ST MT ,

Mungkinkah
S
ebagaimana telah kita ketahui, bahwa dalam dekade terakhir ini pemerintah telah menetapkan kebijakankebijakan guna memacu pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Berdasarkan Keputusan Presiden RI (Kepres) No. 44 Tahun 2002 tanggal 1 Juli 2002, telah ditetapkan 14 propinsi yang berada di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua sebagai KTI yang perlu dilakukan percepatan pembangunan guna mewujudkan kesetaraan akses ekonomi, sosial serta keberdayaan masyarakat dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI). Sebagai tindak lanjut meningkatkan pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional percepatan pembangunan KTI telah diterbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 7 tahun 2002 tanggal 27 November 2002. Upaya percepatan pembangunan dilakukan dalam lima bidang kegiatan, diantaranya bidang insentif melalui pemberian insentif bagi investor yang membangun usaha di KTI. Institusi Kepabeanan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1995, selain memiliki tugas berupa pengawasan atas lalu lintas barang dan pemungutan Bea Masuk serta perlindungan kepentingan masyarakat, juga mempunyai tugas sebagai fasilitator perdagangan dan industri. Sebagai fasilitator, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melaksanakan tugas-tugas yang didelegasikan oleh Menteri Keuangan dalam memberikan insentif berupa keringanan/pembebasan Bea Masuk serta fasilitas kemudahan pabean lainnya Pembahasan penulis, akan menekankan fasilitas kepabeanan dari sisi insentif berupa keringanan/pembebasan Bea Masuk.

FASILITAS KEPABEANAN DIBERIKAN LEBIH BESAR BAGI KAWASAN TIMUR INDONESIA?
KONDISI EKSISTING KTI
Kawasan Timur Indonesia terdiri dari beberapa pulau dan kepulauan dengan luas wilayah daratan 1.293.215 kilometer persegi atau sebesar 67,91% dari seluruh wilayah Indonesia. KTI yang luas ini, masih kurang didukung oleh prasarana dan sarana fisik yang memadai. Berdasarkan Lampiran Inpres 7 tahun 2002, dijelaskan pada tahun 1998/1999 rasio jalan di KTI sebesar 0,11 Km/Km2 sementara di KBI sebesar 0,375 Km/Km2, rasio elektrifikasi sebesar 47,74% di KTI sementara di KBI sebesar 76,16%. Selain masalah infrastruktur KTI yang masih tertinggal dibandingkan KBI, dalam Inpres 7 tahun 2002 dijelaskan permasalahan produktivitas yang relatif rendah, peran serta masyarakat dan swasta belum optimal, kualitas sumber daya manusia yang rendah, jumlah penduduk relatif sedikit dan distribusi yang tidak merata, tingkat pembangunan daerah dan kondisi ekonomi wilayah yang belum memadai. Berbagai keterbatasan yang ada menyebabkan investasi di KTI akan relatif mahal dan kurang diminati. Hal ini digambarkan pada tahun 2000 porsi penanaman modal asing KTI sebesar 11,69% sedangkan untuk penanaman modal dalam negeri sebesar 40,29% dari seluruh kawasan di Indonesia. Karakter kegiatan investasi di KTI masih tertumpu pada komoditi-komoditi dengan kandungan teknologi rendah dan lebih berorientasi pada produk akhir bahan mentah atau setengah jadi. Analisis penulis terhadap produk ekspor dan penanaman modal di KTI diluar migas dan pertambangan, terdiri dari komoditi hasil hutan (kayu dan rotan), hasil laut (perikanan, udang rumput laut dan mutiara), perkebunan (kakao, mete, lada, kopi dan pengolahan kelapa/sawit), serta sejenisnya. Mencermati kondisi-kondisi tersebut, perlu dilakukan bentuk-bentuk insentif yang lebih besar bagi KTI agar kawasan tersebut memiliki keunggulan komparatif daripada KBI dan menarik investor untuk melakukan investasi di KTI serta mampu menggeser jenis industri dengan padat karya dan bernilai tambah tinggi. Persoalannya bentuk insentif apa yang perlu dipertimbangkan, mengingat pemerintah telah mengeluarkan paket-paket insentif guna memacu pertumbuhan kawasan tertentu seperti fasilitas Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). Analisis Fasilitas Kepabeanan bagi Kegiatan Investasi Fasilitas kepabeanan berupa insentif Bea Masuk yang ditetapkan pemerintah dengan orientasi pertumbuhan ekonomi nasional, terdiri antara lain fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), Kawasan Berikat, impor mesin barang dan bahan dalam rangka pembangunan/ pengembangan industri (sering disebut fasilitas BKPM atau fasilitas 135), KAPET, fasilitas untuk industri-industri tertentu (industri komponen otomotif, pesawat terbang, perkapalan, kelistrikan, industri alat-alat besar, dan sebagainya). Berangkat dari berbagai fasilitas yang telah ada, menurut penulis, yang terkait langsung dalam upaya mendorong kegiatan investasi adalah : 1. Fasilitas keringanan Bea Masuk atas impor mesin, barang dan bahan dalam

Tabel 1 Perbandingan Fasilitas 135/BKPM dan KAPET
Jenis Fasilitas Fasilitas 135/BKPM Bentuk Insentif Keringan Bea Masuk tarif akhir 0-5% Objek Fasilitas Mesin, barang dan bahan (bahan baku) apabila menambah kapasitas >30%, kecuali suku cadang dan komponen Jangka Waktu Fasilitas Mesin 2 tahun pengimporan, barang/bahan 2 tahun produksi dan 2 tahun pengimporan Mesin 2 tahun pengimporan, barang/bahan 4 tahun produksi dan 4 tahun pengimporan
EDISI 382 SEPTEMBER 2006

Fasilitas KAPET

54

WARTA BEA CUKAI

rangka pembangunan/pengembangan industri/industri jasa sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No. 135/KMK.05/ 2000 tanggal 1 Mei 2000 jis No. 47/ PMK.04/2005 tanggal 17 Juni 2005, No. 28/KMK.05/2001 tanggal 26 Januari 2001 (fasilitas 135/BKPM). 2. Fasilitas Kepabeanan di KAPET (PP No 20 Tahun 2000 jis. KMK No 200/ KMK.04/2000 tanggal 6 Juni 2000, KMK No. 11/KMK.04/2001 tanggal 12 Januari 2001 (fasilitas KAPET). Fasilitas KAPET berdasarkan Kepres No 9 tahun 1998 ditetapkan untuk Sabang, Sanggau, Batulicin, DAS Kakab, Sasamba, Manado-Bitung, Batui, Pare-Pare, Bukari, Seram, Biak, Bima dan Mbay. Dua belas kawasan terakhir berada di KTI. Insentif yang diberikan bagi fasilitas 135/BKPM dibandingkan fasilitas KAPET memiliki kemiripan yaitu keringanan Bea Masuk dengan tarif akhir 0 – 5%, perbedaannya terletak besarnya fasilitas barang dan bahan (bahan baku) KAPET untuk 4 tahun produksi dan 4 tahun pengimporan sebagaimana dijelaskan dalam tabel 1. Efektivitas pemberian insentif Bea Masuk perlu untuk dicermati. Pada saat sekarang ini tarif Bea Masuk untuk mesin rata-rata sudah 0% dan untuk barang dan bahan berkisar 5-20%. Berarti manfaat insentif yang signifikan terletak pada fasilitas barang dan bahannya. Namun sesuai ketentuan fasilitas 135 dan KAPET, pemberian fasilitas barang dan bahan atas pemberian fasilitas mesinnya. Sebagaimana diuraikan diatas, sifat investasi KTI yang masih tertumpu pada komoditi pengolahan bahan-bahan produk pertanian, kehutanan dan kelautan. Jenis industri demikian, tidak membutuhkan barang dan bahan impor dalam proses produksinya namun memerlukan barang dan bahan sebagai penolong dalam jumlah terbatas seperti barang-barang kimia yang miliki tarif Bea Masuk rata-rata 5%. Barang lain yang dibutuhkan dengan tarif Bea Masuk di atas 5% berupa pengemas/pengepak. Sehingga, insentif barang dan bahan menjadi tarif akhir Bea Masuk rata-rata 05% untuk barang penolong yang tarif Bea Masuk awalnya 5% menjadi tidak efektif/ tidak terjadi penurunan tarif. Hal ini mendorong adanya wacana untuk memberikan insentif yang betul-betul langsung dirasakan manfaatkan untuk kondisi investasi di KTI.

Cukai. Bentuk insentif fiskal yang diberikan oleh BOI secara zonasi adalah : Gambar Zonasi Insentif Fiskal

selama 3 tahun dan dapat diperpanjang 7 tahun terhadap lokasi pabrik di Industrial Estate atau Promoted Industrial Zone. 3. Pembebasan Bea Masuk atas bahan baku dan penolong yang digunakan untuk produk ekspor selama 1 tahun. Zona 3 : meliputi 61 propinsi sisanya ditambah Laem Chabang Industrial Estate. Bentuk Insentif : 1. Pembebasan Bea Masuk mesin 2. Pembebasan PPh perusahaan selama 8 tahun 3. Pembebasan Bea Masuk atas bahan baku dan penolong yang digunakan untuk produk ekspor selama 1 tahun. (sumber : www.customs.go.th dan www.boi.go.th)

REKOMENDASI BENTUK FASILITAS KEPABEANAN GUNA MEMACU PEMBANGUNAN EKONOMI KTI
Menyadari berbagai keterbatasan investasi di KTI dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, aksesibilitas dan faktor lainnya seperti diuraikan diatas, akan menciptakan beban biaya yang lebih tinggi dan daya saing industri yang makin rendah. Menurut penulis, beban biaya ini perlu dikompensasi dengan memberikan insentif di sektor fiskal yang lebih besar dibandingkan dengan KBI. Permasalahannya, insentif yang ada tidak secara khusus membedakan KTI dan KBI serta kendala investasi di KTI. Selain itu, insentif diharapkan mampu menjadi daya tarik investasi di KTI. Belajar dari strategi BOI Thailand untuk mengembangkan investasi dalam bentuk zonasi yang memperoleh perlakuan berbeda insentif fiskalnya, agaknya perlu dilakukan pendekatan bentuk insentif yang membedakan KTI dalam satu zona dengan KBI dalam zona lainnya. Prinsip insentif yang diberikan di KTI menurut penulis, seyogyanya mempertimbangkan : insentif yang lebih besar dan signifikan, terjadinya pergeseran jenis industri yang padat karya, padat modal serta bernilai tambah tinggi, dan insentif yang mampu meningkatkan petumbuhan industri eksisting yang berbasis kehutanan, kelautan/perikanan, pertanian/ perkebunan, dan hasil alam lainnya. Langkah-langkah untuk mencapai prinsip di atas, menurut penulis perlu dipertimbangkan wacana pemberian insentif khusus bagi KTI, antara lain : 1. Memberikan insentif fiskal yang lebih besar dan signifikan berupa pembebasan Bea Masuk untuk mesin dan peralatan yang terkait langsung dengan kegiatan industri termasuk kepentingan penyimpanan material serta suku cadang pendukung sebesar 5% dari nilai mesin dan peralatan (konsep fasilitas suku cadang pernah diberlakukan secara nasional sebelum 1 Mei 2000). Pertimbangannya manfaat
WARTA BEA CUKAI

Zona 1 : meliputi Bangkok, Samut Prakan, Samut Sakhon, Nakhon Pathom, Nonthaburi dan Pathum Thani. Bentuk Insentif : 1. Pembebasan dan pengurangan pajak diberikan apabila nilai ekspor tidak kurang dari 80% dari penjualan atau lokasi pabrik di Industrial Estate atau Promoted Industrial Zone. Pengurangan Bea Masuk 50% untuk mesin (tidak termasuk penurunan tarif dari Menteri Keuangan) dan diberikan jika nilai tarif Bea Masuk lebih besar atau sama dengan 10%. 2. Pembebasan dan pengurangan PPh perusahaan/badan apabila nilai ekspor tidak kurang dari 80% dari penjualan atau lokasi pabrik di Industrial Estate atau Promoted Industrial Zone dan diberikan untuk 3 tahun pembebasan. 3. Pembebasan Bea Masuk atas bahan baku dan penolong yang digunakan untuk produk ekspor selama 1 tahun. Zona 2 : meliputi Samut Songkhram, Ratchaburi, Kanchanaburi, Suphanburi, Angthong, Ayutthaya, Saraburi, Nakhon Nayok, Chachoengsao, and Chonburi. Bentuk Insentif : 1. Pengurangan Bea Masuk atas mesin sebesar 50% (tidak termasuk penurunan tarif dari Menteri Keuangan) dan diberikan jika nilai tarif Bea Masuk lebih besar atau sama dengan 10%. 2. Pembebasan PPh perusahaan/badan

KASUS PEMBERIAN FASILITAS KEPABEANAN SECARA ZONASI DI THAILAND
Pemerintah Thailand dalam upaya untuk menarik investasi asing melakukan pemberian fasilitas khusus di bidang kepabeanan dan perpajakan melalui Board of Investment/ BOI (semacam BKPM) dengan masukan dari pihak Bea

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

55

KOLOM
insentif diperoleh secara signifikan pada peralatan pendukung (seperti peralatan transpor material) dan suku cadang; 2. Menciptakan insentif fiskal yang mampu mendistribusikan investasi padat karya dan bernilai tambah tinggi seperti Tekstil dan Produk Tekstil, sepatu dan perakitan. Upaya yang diberikan dengan memberikan insentif tambahan berupa pembebasan Bea Masuk untuk barang dan bahan termasuk bahan baku penolong untuk industri tertentu yang memberikan dampak yang besar bagi penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah (trackling dawn effect). Bagi industri tertentu di KTI dapat diberikan pembebasan barang dan bahan serta bahan baku penolong untuk 4 tahun kapasitas produksi riil terpasang. Selain itu bagi industri yang memiliki nilai investasi tertentu (misalnya diatas USD 1 juta.) perlu memperoleh tambahan insentif barang dan bahan termasuk bahan baku penolong untuk 1 – 2 tahun kapasitas produksi riil terpasang. Beberapa negara menetapkan minimal investasi sebagai persyaratan fasilitas. Dengan insentif ini diharapkan terjadi pergeseran industri yang berbasis padat karya dan padat modal ke KTI. 3. Meningkatkan kegiatan investasi eksisting yang bertumpu pada hasil kehutanan, kelautan dan pertanian atau sejenisnya dengan memberikan insentif tambahan berupa pembebasan Bea Masuk atas barang dan bahan serta bahan baku penolong untuk 2 tahun kapasitas produksi riil terpasang.

Oleh: Hasanuddin, S.Sos., M.Si.

MENINGKATKAN DAYA SAING PRODUK DALAM NEGERI
P
ada era globalisasi sulit untuk menentukan suatu negara yang benar-benar dapat mandiri dan dapat memenuhi kebutuhannya dari hasil produksi negaranya sendiri. Langsung atau tidak langsung, membutuhkan dan melakukan pertukaran barang dan jasa dengan negara lain. Kenyataan ini membuktikan betapa pentingnya perdagangan internasional pada saat ini dan pada saat mendatang demi kepentingan pemasukan devisa negara untuk menunjang pembangunan nasional suatu negara. Hal tersebut hanya dapat dicapai jika hasil produksi dalam negeri memiliki daya saing global. Upaya meningkatkan produksi dalam negeri yang berdaya saing global, diperlukan interaksi yang konstruktif diantara tiga domain, yaitu pemerintah, sektor pengusaha (swasta) dan masyarakat. Dari ketiga domain tersebut, tampaknya domain pemerintah memiliki peranan yang cukup penting dalam meningkatkan produk ekspor Indonesia melalui fungsi pengaturan yang memfasilitasi domain sektor dunia usaha dan masyarakat, namun demikian dunia usaha juga tidak kalah pentingnya. Akan tetapi kebanyakan sektorsektor industri di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia menghadapi kendala dalam melakukan efisiensi proses produksi, seperti apa yang dikatakan oleh Gerald yang dikutip Todaro (2000:73) mengatakan sebagai berikut : ...persoalan yang dihadapi di negara-negara Dunia Ketiga adalah terlalu seringnya tercipta sektor-

MELALUI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KAWASAN BERIKAT SECARA EFEKTIF
sektor industri yang tidak efisien, beroperasi jauh di bawah kapasitas terpasang, sedikit sekali menciptakan kesempatan kerja, sangat boros devisa, dan prospeknya bagi pertumbuhan produktivitas lebih lanjut sangat kecil. Oleh karena itu, tujuan kebijakan di negara-negara Dunia Ketiga sekarang ini harus segera disesuaikan dan diupayakan agar secara bertahap mampu menciptakan struktur insentif yang lebih baik bagi berbagai aktivitas industri agar semuanya menjadi lebih produktif dan efisien, sehingga dengan demikian hal itu akan mendorong terbentuknya sektorsektor industri manufaktur barang modal dan barang setengah jadi di dalam negeri yang benar-benar tangguh, dan benar-benar bisa mengisi kebutuhan aneka produk yang semula harus diimpor, serta pada akhirnya menumbuhkan sektor-sektor industri manufaktur tangguh yang diharapkan mampu menggalakkan ekspor. Pendapat tersebut menjelaskan secara gamblang persoalan yang dihadapi oleh kebanyakan negaranegara dunia ketiga, dan negara berkembang termasuk Indonesia di dalamnya, serta memberi pedoman atau arah kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Kebijakan pemerintah untuk menggalakkan ekspor adalah merupakan jawaban strategis atas

KESIMPULAN
Memaklumi adanya keterbatasan daya dukung investasi di KTI serta belum adanya perbedaan yang signifikan insentif fiskal di KTI dengan KBI, perlu dilakukan kompensasi biaya yang lebih tinggi melalui bentuk insentif fiskal. Salah satu bentuknya adalah insentif kepabeanan yang secara signifikan harus mampu dinikmati bagi investor di KTI mengingat fasilitas 135/BKPM maupun KAPET masih memberikan perlakukan yang hampir sama. Insentif yang diberikan juga sekaligus sebagai daya tarik bagi kegiatan investasi dan mampu menciptakan pola pergeseran industri padat karya, padat modal dan bernilai tambah tinggi ke KTI. Kondisi ideal yang perlu dipertimbangkan adanya insentif kepabeanan juga perlu diiringi pemberian insentif di bidang perpajakan yang khusus bagi KTI.

Penulis adalah Kasi Impor Kanwil XI Makassar
WARTA BEA CUKAI

56

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

persoalan tersebut, sekaligus untuk mengimbangi penerimaan negara di sektor minyak dan gas alam (migas) yang cenderung menurun semakin tajam dari tahun ke tahun. Indonesia tidak lagi bisa mengandalkan penerimaan negara dari sektor migas, sehingga perlu dicari alternatif lain sebagai produk pengganti, dan pilihan itu nampaknya jatuh kepada ekspor non-migas. Menciptakan produk ekspor yang berdaya saing tinggi, perlu didukung ketersediaan bahan baku yang berkualitas baik. Persoalannya bahan baku tersebut harus didatangkan dari luar daerah pabean (impor). Sesuai dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, setiap barang impor umum (non fasilitas) diwajibkan membayar Bea masuk (BM), Bea Masuk Tambahan (BMT), serta pungutan lainnya dalam rangka impor berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), dan Pajak Penghasilan (PPh) impor. Selain itu sesuai Undang-undang Nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah, ditetapkan bahwa terhadap penyerahan barang kena pajak di dalam negeri (lokal) diwajibkan untuk membayar PPN dan PPnBM. Pungutan-pungutan tersebut dalam skala besar cukup mengganggu posisi cash flow perusahaan. Untuk mengatasi permasalahanpermasalahan tersebut, dan guna meningkatkan daya saing hasil industri dalam negeri di pasar global serta dalam rangka memberikan suasana investasi yang bergairah bagi investor asing agar mau melakukan investasi di Indonesia, pemerintah mengeluarkan dan mengembangkan sebuah kebijakan yang dikenal dengan fasilitas Kawasan Berikat (bonded zone). Fasilitas yang diberikan berupa : 1. Terhadap bahan baku impor yang dimasukkan ke Kawasan Berikat (KB) untuk diproduksi, diberikan penangguhan Bea Masuk, Cukai, dan tidak dipungut pajak-pajak impor. 2. Terhadap bahan baku lokal yang dimasukkan ke Kawasan Berikat untuk di produksi, diberikan pembebasan PPN, dan PPnBM. 3. Terhadap barang impor/ekspor yang dimasukkan/dikeluarkan ke/dari Kawasan Berikat, diberikan kemudahan pelayanan kepabeanan. Pemerintah dalam hal ini hanya sebagai fasilitator bagi tumbuh dan berkembangnya roda perekonomian, maka persoalan bisa atau tidaknya sebuah perusahaan menjadi perusahaan Kawasan Berikat semata-mata bukan saja bergantung dari sisi pemerintah, namun

faktor-faktor yang berada di dalam perusahaan itu sendiri juga turut menentukan dan menjadi pertimbangan apakah suatu perusahaan layak menjadi perusahaan Kawasan Berikat.

POKOK PERMASALAHAN
Harapan pemerintah, dengan fasilitas atau kemudahan yang diberikan kepada eksportir produsen melalui kebijakan Kawasan Berikat adalah terjadi peningkatan daya saing yang signifikan atas produk ekspor Indonesia. Filosofinya, dengan memberi fasilitas kepabeanan dan perpajakan, efesiensi proses produksi akan lebih terpacu, dan pada gilirannya para investor akan lebih terangsang untuk melakukan kegiatan bisnisnya secara terpadu, serta hasil produknya dapat lebih bersaing di pasar internasional, dengan demikian akan meningkatkan ekspor nonmigas secara signifikan. Sampai disini pertanyaan terbesar adalah sudah seberapa besarkah

SUDAH SEBERAPA BESARKAH KEBIJAKAN KAWASAN BERIKAT BERPENGARUH TERHADAP PENINGKATAN EKSPOR NON-MIGAS DAN PENINGKATAN INVESTASI DI INDONESIA ?
kebijakan Kawasan Berikat berpengaruh terhadap peningkatan ekspor non-migas dan peningkatan investasi di Indonesia ? Mampukah kebijakan tersebut membuat sektor industri menjadi produktif dan efisien ? Dan apakah kebijakan tersebut telah diimplementasikan secara efektif ? Mari kita lihat kondisi riil di bawah ini ; Pertama, komunikasi (communication) kebijakan belum diimplementasikan secara efektif. Kebijakan Kawasan Berikat ditinjau dari aspek finansial maupun administrasi, banyak memberi keuntungan dan kemudahan bagi dunia usaha. Dari aspek finansial, dengan diberikan penangguhan Bea Masuk dan pembebasan pajak impor tentunya akan membawa keuntungan bagi cash flow perusahaan. Dari aspek administrasi (pelayanan) terjadi penghematan waktu dan biaya terhadap aktivitas ekspor dan impor barang. Melalui keunggulan-keunggulan tersebut semestinya para pengusaha berlomba-lomba menentukan pilihan untuk menjadikan fasilitas Kawasan Berikat sebagai satu-satunya kebijakan yang dapat meningkatkan hasil produksinya. Namun kenyataannya harapan tersebut belum menampakkan

hasil yang maksimal. Sebagai contoh, di Kabupaten/Kota Bandung, dari sekitar tiga ratusan eksportir aktif, hanya empat puluh perusahaan yang menggunakan fasilitas Kawasan Berikat. Hal tersebut disebabkan, masih banyak para eksportir produsen yang belum mengetahui dan memahami manfaat serta keunggulankeunggulan kebijakan Kawasan Berikat. Dapat diindikasikan bahwa desiminasi atau sosialisasi kebijakan yang merupakan proses dari komunikasi kebijakan, belum dilaksanakan secara maksimal oleh Bea dan Cukai, kalaupun telah dilaksanakan, namun belum optimal. Kedua, kebijakan KB tidak didukung oleh sumber-sumber (resources) yang dapat mendukung tercapainya tujuan kebijakan. Agar tujuan kebijakan dapat tercapai, implementasi kebijakan tentunya harus didukung oleh sumber-sumber (resources), yang meliputi jumlah pegawai yang memadai serta keahlian-keahlian yang memadai bagi pelaksanaan tugastugas mereka, serta ditunjang oleh wewenang yang diperlukan guna melaksanakan pelayanan publik. Hari ini kita bisa melihat, masih banyak petugas di Kawasan Berikat melakukan tugas rangkap, jelas-jelas hal ini sangat berpengaruh terhadap efisiensi dan efektifitas kerja. Belum lagi tingkat keahlian dan keterampilan masing-masing pegawai yang tidak merata, serta pembagian wewenang dan tanggung jawab yang kurang tegas antara masingmasing pejabat/pegawai yang bertugas di Kawasan Berikat. Ketiga, kurangnya kecenderungan (disposition) pegawai terhadap kebijakan. Secara pribadi kita tidak memiliki kecenderungan untuk mengedepankan kualitas pelayanan kepada stakeholders, keluhan tentang mutu pelayanan yang diberikan oleh aparat Bea dan Cukai merebak dimana-mana. Terlibatnya oknum Bea Cukai dalam kasus ekspor fiktif yang membobol uang negara melalui restitusi PPN pada awal tahun 2006 merupakan contoh kurangnya kecenderungan pegawai terhadap tujuan kebijakan untuk senantiasa bekerja sesuai sistem. Keempat, struktur birokrasi (bureaucratic structure) masih sentralistik. Disadari atau tidak struktur birokrasi (bureaucratic structure) di Bea dan Cukai masih sangat commanding dan sentralistik. Contoh, masih banyak kebijakan-kebijakan menyangkut Kawasan Berikat yang sifatnya operasional masih ditentukan oleh Kantor Pusat. Kondisi seperti ini sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan zaman mondial kini dan masa depan, dimana dibutuhkan kecepatan dan akurasi pengambilan keputusan. Artinya, organisasi dan manajemen yang dibutuhkan lebih ke empowering (pemberdayaan). Pemberdayaan ini pada gilirannya dapat menciptakan figur-figur pelaku birokrasi profesional yang
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

57

KOLOM
menguasai keilmuan, mampu mentransfer ilmu menjadi keterampilan dan memiliki integritas yang baik di setiap lapisan. Bertitik tolak dari masalah-masalah di atas, maka yang menjadi permasalahan pokok sekaligus sebagai perumusan masalah dalam tulisan ini adalah bagaimana memberdayakan peran Kawasan Berikat sebagai instrumen kebijakan publik yang efektif dan efisien melalui implementasi kebijakan secara efektif dalam rangka meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar global. Sehingga pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan devisa negara serta dapat membangkitkan gairah investasi di Indonesia. publik yaitu, komunikasi, sumber-sumber, kecenderungan, dan struktur birokrasi). 1. Komunikasi (Communication) Ada tiga hal penting dalam proses komunikasi kebijakan Kawasan Berikat yaitu transmisi, konsistensi dan kejelasan. Faktor pertama yang berpengaruh terhadap komunikasi kebijakan adalah transmisi. Bagi para implementor pemahaman maksud dan tujuan kebijakan adalah sesuatu yang sangat penting. Banyak sekali ditemukan keputusan-keputusan yang telah dikeluarkan, diabaikan oleh para pelaksana, atau jika tidak demikian, seringkali terjadi kesalahpahaman terhadap keputusan-keputusan yang dikeluarkan. Hal tersebut disebabkan oleh terhambatnya proses transmisi kebijakan. Biasanya hambatan yang timbul dalam mentransmisikan perintah-perintah implementasi adalah, informasi melewati berlapis-lapis hierarkhi birokrasi. Seperti kita ketahui birokrasi mempunyai struktur yang ketat dan cenderung sangat hierarkhis. Kondisi ini sangat mempengaruhi tingkat efektivitas kompleksitas kebijakan, kurangnya konsensus terhadap tujuan-tujuan kebijakan, menghindari pertanggungjawaban kebijakan. Faktor ketiga yang berpengaruh terhadap komunikasi kebijakan adalah konsistensi. Jika implementasi kebijakan ingin berlangsung efektif, maka perintahperintah pelaksanaan harus konsisten dan jelas. Walaupun perintah-perintah yang disampaikan kepada para pelaksana kebijakan mempunyai unsur kejelasan, tetapi bila perintah tersebut tumpang tindih maka perintah tersebut tidak akan memudahkan para pelaksana kebijakan menjalankan tugasnya dengan baik. Di sisi lain perintah-perintah implementasi kebijakan yang tidak konsisten akan mendorong para pelaksana mengambil tindakan yang sangat longgar dalam menafsirkan dan melaksanakan kebijakan. Bila hal ini terjadi, maka akan berakibat pada ketidakefektifan implementasi kebijakan karena tindakan yang sangat longgar besar kemungkinan tidak dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan. 2. Sumber-Sumber (Resources) Tanpa sumber-sumber, kebijakankebijakan yang telah dirumuskan di atas kertas mungkin hanya akan menjadi rencana saja dan tidak pernah ada realisasinya. Sumber-sumber yang akan mendukung kebijakan secara efektif terdiri dari jumlah staf yang cukup, staf memiliki keterampilan yang memadai, serta memiliki kewenangan. Persoalan yang timbul dalam implementasi kebijakan Kawasan Berikat adalah, sering dijumpai jumlah pegawai yang kurang memadai untuk melakukan pekerjaan. Akibat yang ditimbulkan dari kekurangan personil ini adalah ketidakefektifan dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan secara langsung. Beberapa kasus menyangkut pelayanan di Kawasan Berikat, bukan berasal dari kurangnya jumlah pegawai, namun lebih disebabkan oleh kurangnya tenaga profesional. Karena semakin teknis kebijakan yang dilaksanakan dan semakin besar keahlian yang dibutuhkan dari para pelaksana, maka semakin besar pula kekurangan personil yang mempunyai keterampilan yang memadai dan hal ini akan menghambat pelaksanaan kebijakan. Kewenangan merupakan sumber lain yang penting bagi implementasi kebijakan. Kewenangan erat hubungannya dengan sahnya suatu perbuatan atau tindakan yang diambil. Kebijakan yang dikeluarkan oleh orang yang tidak berwenang adalah tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Kewenangan itu biasanya sejak semula sudah ditetapkan dalam ketentuan-ketentuan pokok organisasi tentang hak-kewajiban, wewenang dan tanggung jawab. Kewenangan secara vertikal dan horizontal harus dihormati oleh pihak lain,

FAKTOR KRUSIAL DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
Perumusan kebijakan tidak lagi menjadi dominasi pemerintah, namun kini telah melibatkan semakin banyak warga negara dan kelompok-kelompok kepentingan. Dengan demikian, pemerintah dihadapkan pada tuntutantuntutan yang semakin beragam. Paralel dengan kondisi tersebut adalah bahwa globalisasi informasi telah melahirkan tipe masyarakat yang semakin kritis. Akibatnya, warganegara sekarang ini semakin peduli terhadap kebijakankebijakan publik yang berpengaruh secara langsung terhadap kehidupannya baik secara pribadi maupun organisasi, sehingga pemerintah harus semakin responsif dan akomodatif. Membuat atau merumuskan suatu kebijakan, apalagi kebijakan negara, bukanlah suatu proses yang sederhana dan mudah. Setelah kebijakan selesai dibuat, selanjutnya harus diimplementasikan, karena implementasi kebijakan adalah sesuatu yang sangat penting, seperti dikemukakan oleh Udodji (1981:32), “The execution of policies is as important if non more important than policy making. Policies will remain dreams or blue prints file jackets unless the are implemented”. Pendapat tersebut menegaskan, sebaik apapun sebuah kebijakan jika tidak diimplementasikan tidak ada artinya, untuk itulah sebuah kebijakan setelah selesai dibuat, harus diimplementasikan agar kebijakan tersebut dapat mencapai tujuan secara efektif. Implementasi kebijakan merupakan proses yang rumit dan kompleks. Namun, dibalik kerumitan dan kompleksitasnya, implementasi kebijakan memegang peran yang cukup vital dalam proses kebijakan. Tanpa adanya tahap implementasi kebijakan, program-program kebijakan yang telah disusun hanya akan menjadi catatan-catatan resmi di meja para pembuat kebijakan. Edward III (1980:9-10) mengatakan : “Four critical factors or variable is implementing public policy : Communication, resources, disposition, and bureaucratic structure” (empat faktor atau variabel krusial dalam implementasi kebijakan 58
WARTA BEA CUKAI

BAGAIMANA MEMBERDAYAKAN PERAN KAWASAN BERIKAT SEBAGAI INSTRUMEN KEBIJAKAN PUBLIK YANG EFEKTIF DAN EFISIEN...
komunikasi kebijakan yang dijalankan. Penggunaan sarana komunikasi yang tidak langsung dan tidak adanya saluruansaluran komunikasi yang ditentukan mungkin juga menjadi faktor penyebab distorsi perintah-perintah pelaksanaan. Faktor kedua yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan adalah kejelasan. Jika kebijakan-kebijakan diharapkan membawa hasil sesuai dengan tujuan yang diinginkan, tentunya petunjuk-petunjuk pelaksanaan tidak hanya harus diterima oleh para pelaksana kebijakan, tetapi juga komunikasi kebijakan tersebut harus jelas. Seringkali instruksi-instruksi yang diteruskan kepada pelaksana-pelaksana di lapangan kabur dan tidak jelas. Ketidakjelasan pesan komunikasi yang disampaikan berkenaan dengan implementasi kebijakan akan mendorong terjadinya interpretasi yang salah bahkan mungkin bertentangan dengan makna pesan awal. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya ketidakjelasan komunikasi kebijakan biasanya disebabkan oleh,

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

sehingga dapat terhindar pengambilan wewenang dari pihak yang satu oleh pihak lain. Menghormati dan sekaligus menjaga kewenangan pihak lain merupakan tindakan koordinasi yang sangat diperlukan dalam implementasi kebijakan. Agar kebijakan Kawasan Berikat dapat mencapai tujuan secara efektif, dibutuhkan kecepatan dan akurasi wewenang pengambilan keputusan. Artinya, organisasi dan manajemen yang dibutuhkan lebih ke empowering (pemberdayaan). Pemberdayaan ini pada gilirannya dapat menciptakan figur-figur pelaku birokrasi profesional yang menguasai keilmuan, mampu mentransfer ilmu menjadi keterampilan dan memiliki integritas yang baik di setiap lapisan. Untuk itu perlu dilaksanakan pendelegasian wewenang lebih banyak di tingkat Kantor Pelayanan, otomatis dimungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan (diharapkan) lebih akurat. Wewenang yang memadai seringkali langka terutama dalam hal mengatasi masalah-masalah baru yang timbul di lapangan yang tidak terakomodir oleh standard operating procedure yang ada. 3. Kecenderungan (Disposistion) Kecenderungan dari para pelaksana kebijakan merupakan faktor krusial ketiga yang mempunyai konsekuensikonsekuensi penting bagi implementasi kebijakan Kawasan Berikat. Jika para pelaksana bersikap baik terhadap suatu kebijakan, dan hal ini berarti adanya dukungan, kemungkinan besar mereka melaksanakan kebijakan sebagaimana yang diinginkan oleh para pembuat kebijakan. Demikian pula sebaliknya, bila tingkah laku atau perspektif para pelaksana berbeda dengan para pembuat keputusan, maka proses pelaksanaan suatu kebijakan menjadi semakin sulit. Dalam beberapa kasus di Kawasan Berikat, seringkali suatu kebijakan atau peraturan bersifat multi interpretasi. Hal ini berakibat pada semakin terbukanya kecenderungan para pelaksana untuk melakukan bermacam-macam interpretasi terhadap kebijakan dimaksud, dan bila hal ini benar-benar terjadi maka akan berakibat pada semakin sulitnya implementasi kebijakan, sebab interpretasi yang terlalu bebas dari para pelaksana terhadap kebijakan atau peraturan, akan semakin mempersulit implementasi yang efektif dan besar kemungkinan implementasi yang dijalankan menyimpang dari tujuan awalnya. Oleh karena itu para pelaksana memegang peran penting dalam implementasi kebijakan, maka usahausaha untuk memperbaiki kecenderungan-kecenderungan pegawai menjadi sangat penting. Langkah yang dapat dilakukan, hendaknya setiap Kantor Wilayah/Pelayanan melakukan secara

konsisten dan terencana program pembinaan peningkatan keterampilan pegawai (P2KP). 4. Struktur Birokrasi (Bureaucratic Structure) Pada dasarnya para pelaksana kebijakan mungkin mengetahui apa yang dilakukan dan mempunyai cukup keinginan serta sumber-sumber untuk melakukannya, tetapi dalam pelaksanaannya mereka mungkin masih dihambat oleh struktur-struktur birokrasi di mana mereka menjalankan kegiatan tersebut. Struktur birokrasi pada organisasi publik pada dasarnya tidak berbeda dengan organisasi publik pada umumnya, namun bagi Direktorat Jendereal Bea dan Cukai yang orientasinya kepada pelayanan dan pengawasan, ada sedikit perbedaan dalam penerapannya, karena antara pelayanan dan pengawasan merupakan sesuatu yang paradoks dan sulit berjalan secara simultan, sehingga dalam implementasinya sangat banyak menimbulkan persoalan yang multi kompleks. Oleh karena itu struktur birokrasi yang

MASIH BANYAK KEBIJAKAN-KEBIJAKAN MENYANGKUT KAWASAN BERIKAT YANG SIFATNYA OPERASIONAL MASIH DITENTUKAN OLEH KANTOR PUSAT
dimaksud di sini tidak semata-mata dalam perwujudan susunan organisaasi, melainkan lebih banyak pada pengaturan dan mekanisme kerjanya yang harus mampu menghasilkan pelayanan yang memadai sekaligus menghasilkan pengawasan yang efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya sarana pendukung yang berfungsi memperlancar mekanisme itu. Sarana pendukung itu ialah sistem dan prosedur yang berfungsi sebagai tata cara atau tata kerja agar pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan lancar dan berhasil baik. Sistem dan prosedur merupakan dwitunggal yang tak terpisahkan, karena satu sama lain saling melengkapi. Sistem merupakan kerangka mekanismenya organisasi sedang prosedur adalah rincian dinamikanya mekanisme sistem. Jadi tanpa sistem, prosedur tidak ada landasan berpijak untuk berkiprah dan tanpa prosedur, suatau mekanisme sistem tidak akan berjalan. Demikian eratnya hubungan antara sistem dan prosedur sehingga keduanya sering digabung

dalam peristilahan menjadi sistem dan prosedur (sisdur). Sistem adalah susunan atau rakitan komponen atau bagian-bagian yang membentuk satu kesatuan yang utuh dengan sifat-sifat saling tergantung, saling mempengaruhi dan saling berhubungan. Susunan atau rakitan komponen atau bagian-bagian tersebut yang membentuk sistem, demikian eratnya sehingga kerusakan pada salah satu komponen atau bagian akan mengakibatkan terganggunya seluruh sistem. Contoh sistem yang paling sempurna adalah sistem yang ada pada tubuh manusia yang terdiri dari ratusan bahkan ribuan sub sistem yang semuanya menyatu menjadi global system. Jika salah satu sub-sistem tidak berfungsi baik, maka akan mempengaruhi daya kerja sub-sistem yang lain, dan pada akhirnya akan mengganggu efektifitas kerja sistem secara keseluruhan. Prosedur biasa diterjemahkan sebagai tata cara yang berlaku dalam organisasi. Kedudukannya demikian penting sebab sah atau tidaknya perbuatan orang dalam kaitan organisasi ditentukan oleh tingkah lakunya berdasarkan prosedur itu. Sekali prosedur ditetapkan siapapun yang tidak mengikutinya, tidak menghasilkan apa yang dituju, atau apa yang mungkin diperoleh menjadi tidak sah. Karena prosedur bersifat mengatur perbuatan baik ke dalam (intern) maupun ke luar (ekstern), maka ia harus diketahui dan dipahami oleh orang yang berkepentingan, baik pegawai/pekerja maupun pihak-pihak di luar organisasi. Pandangan Edward tersebut di atas cukup memberikan referensi untuk mengkaji keberhasilan dan kegagalan implementasi kebijakan Kawasan Berikat yang sangat dipengaruhi oleh empat faktor. Pemahaman tentang tujuan kebijakan bukan hanya dominasi para implementor atau para pelaksana kebijakan, akan tetapi seluruh masyarakat usaha yang menjadi sasaran dari kebijakan Kawasan Berikat perlu memahami makna kebijakan yang dikeluarkan pemerintah (DJBC). Proses pemahaman secara luas dapat dilakukan melalui desiminasi kebijakan, karena desiminasi juga merupakan bentuk komunikasi yang disyaratkan Edward. Fasilitas sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya dalam implementasi kebijakan Kawasan Berikat sangat menentukan, serta kecenderungan para implementor juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi kebijakan Kawasan Berikat. Di sisi lain struktur birokrasi sangat membantu mempercepat proses pelaksanaan kebijakan Kawasan Berikat dalam upaya meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar global serta menggairahkan iklim investasi di Indonesia.

Penulis adalah Korlak pada KPBC Soekarno Hatta
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

59

OPINI

Oleh: Agus Sudarmadi

Perubahan”
(SEBUAH CERITA DARI NEGERI ANIMUSCENTRIK)
berkomunikasi satu sama lainya untuk menuju ke batu sakti. Walhasil, karena bingung dan pusing tujuh keliling melihat dan memahami fenomena reaksi rakyatnya tersebut, Lion the King sang raja memanggil empu kapekapanoramix, untuk menganalisis fenomena tersebut sekaligus diharapkan dapat memberikan saran alternatif pemecahan masalahnya.

“Kita dan

LATAR CERITA

A

lkisah, di suatu Negara yang bernama animuscentrik, Lion the King sang raja yang bergelar lionyangbersihhatidansaktisekalix, sedang gundah gulana memikirkan respon dan tingkah rakyat animuscentrik dalam sebuah rapat parlemen. Rapat tersebut adalah rapat maha penting yang diadakan dalam rangka membahas usulan kebijakan pemerintahannya untuk memindahkan batu sakti di tengah pusat pemerintahan. Konon dengan menggeser batu sakti tersebut, pelayanan publik kerajaan kepada masyarakat akan meningkat dan akan menjadikan kerajaannya menjadi bersih dan berwibawa. Ragam respon yang diberikan oleh rakyatnya, berdasarkan hasil pengamatan baginda Lion the King sebagai berikut : Monyetkutranix sepanjang hari hanya berjumpalitan loncat kiri, loncat kanan dan mundar mandir tidak karuan dalam ruang sidang. Jerapahumanix hanya diam dengan leher panjangnya dan tidak memberikan reaksi apapun, terus mengamati batu sakti sambil mengunyah dan terus mengunyah daun di dekatnya. Gajahgedebangetix hanya sibuk menggeleng-gelengkan kepala dan memainkan belalainya sepanjang rapat dilangsungkan. Kutubusuksangitix terus berjalan dari satu kursi ke kursi lainnya sambil memainkan tajinya menusuk- nusuk dari bawah kursi. Sementara, burunghantukukuktix diam sepanjang pertemuan dan hanya sesekali kali mengeluarkan suara khasnya “kukuk” yang terasa aneh dan terkadang menyakitkan peserta rapat. Dan terakhir semuthitamanisix dengan barisan panjangnya berjalan teratur rapih dan saling
WARTA BEA CUKAI

KERJANYA HANYA MENGHISAP DARAH RAKYAT YANG LAIN …
Atas penunjukkan tersebut, akhirnya sang empu kapekapanoramix angkat bicara dan menyampaikan pendapatnya : “Ehm, Baginda Lion the King yang mulia, setelah bersemedi dan melakukan studi banding ke Negara tetangga bernama pabeanpahitmanisix yang pernah mengalami hal tersebut, Hamba berhasil mendapat jawaban atas fenomena tersebut, namun sebelumnya hamba perlu menyampaikan sesuatu kepada baginda.” “Baiklah empu, silahkan sampaikan pendapat anda,” titah Lion the King, sang raja. “Begini paduka, menggeser batu sakti tersebut adalah suatu pekerjaan yang maha besar dan akan mempengaruhi masa depan bangsa ini, karena sekali batu itu bergeser akan berdampak kepada kehidupan keseharian bangsa ini. Baginda kan tahu, kalau batu ini digeser konon pelayanan kita kepada masyarakat akan menjadi lebih baik sehingga iklim pemerintahan kita akan menjadi bersih dan berwibawa, sementara kalau kita

lihat kondisi sekarang, waduh waduh…. jauh panggang dari api.” “Baginda nampaknya kurang berhati-hati, tidak memperhatikan situasi dan kondisi rakyat pada saat itu dan terburu-buru ketika menyampaikan maksud mulia tersebut. Hal itu terlihat jelas dari reaksi rakyat baginda, menurut hasil pengamatan saya persis seperti kejadian di negara tetangga pabeanpahitmanisix ketika meluncurkan suatu program pembersihan negaranya. Mari kita analisis satu persatu baginda,” ujar sang empu.
l

l

l

l

Tingkah monyetkutranix yang jumpalitan, jalan kiri kanan tanpa tujuan yang jelas, adalah sifat khas rakyat Negara tetangga. Setiap kali ada perubahan, pasti ada sekelompok rakyat disana yang terlihat aktif bergerak, bahkan cenderung reaktif tapi tanpa arah yang jelas… kelihatannya istilahnya sok sibuk gitu loh! Namun hasilnya tidak ada. Hanya buang-buang energi karena tidak sejalan antara gerakkan dan tujuan. Tujuan kita menggeser batu, namun monyetkutranix bukannya bergerak menggeser batu tapi jumpalitan tidak karuan. Jaka sembung naik ojek, alias nggak nyambung jek. Jerapahhumanix lain lagi baginda. Berdasarkan pengamatan hamba, monyetkutranix masih lumayan, ada gregetnya, ada gerakannya. Kalau di Negara tetangga, tingkah jerapahumanix adalah tingkah khas rakyat yang tidak perduli apapun yang terjadi. Mereka hanya melihat dari jauh keriuhan yang terjadi sambil menatap dari ketinggian, dan berkata : ngapain itu orang pada sibuk?, nggak ada kerjaan kali ya. Buat gue yang penting “gue bisa makan…”, begitu kira-kira. Tidak ada greget, tidak ada gerakkan,

l

l

l

l

60

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

adem ayem, istilah ekstrimnya tidak perduli, I don’t care.
l

Gajahgedebangetix, ini khas si penolak. Pokoknya geleng kepala terus. Baginda bicara apapun atau punya program apapun pokoknya geleng kepala dahulu alias tidak setuju, mau baginda benar, atau tidak itu tidak penting. Yang penting “daku berkata tidak”. Oposisi is my way of life, kira-kira begitu falsafah hidupnya. Parahnya lagi, sambil berkata tidak, dengan belalainya yang halus dia mainkan jurus mengelus dan mengelitik agar rakyat lainnya terpengaruh, beliau bikin program yang kelihatannya ok banget dan sejalan dengan program baginda, namun ujung-ujungnya dipastikan akan menjerumuskan baginda, karena rata-rata programnya tidak membumi alias tidak aplikable, benefit costnya tidak jelas, dalam banyak kasus seringkali resep yang diberikan adalah obat sakit kepala padahal penyakitnya adalah penyakit panu. Ini kan berbahaya baginda, bisa banyak rakyat kita yang mati karena salah resep alias salah obat. Jadi, Baginda harus berhati-hati dengan tipe seperti ini, karena cara bermainnya sangat halus, maklum kan memang tujuannya hanya untuk oposisi. Kutubusuksangitix, wah namanya juga kutu busuk berbau sangit. Tipe yang ini jelas, merupakan musuh Negara nomor satu. Kerjanya hanya menghisap darah rakyat yang lain, kelihatan rajin bergerak namun hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. “Coba baginda lihat, batu sakti kan ada di tengah, ini kok dia dan komplotannya hanya bergerak di bawah kursi sambil menghisap darah. Ini jelas berbahaya baginda. Saran saya pites saja yang seperti ini. Hanya satu judul untuk kutubusuksangitix…. yaitu Pites!! Libas!!. Hehehehe.. sadis banget saran saya ya baginda! Burunghantukukutix, wah ini tipe yang paling tidak jelas. Baginda, bisa lihat sepanjang rapat dia diam. Terlihat mengamati dengan seksama, kelihatannya menyimak dengan penuh perhatian, tapi jangan percaya dulu lihat aksinya setiap palu akan dipukul untuk mendapatkan persetujuan. Saya pastikan dia akan bersuara ‘kukuk”. Kalau di negara sebelah kukuk itu artinya, sebentar jangan diputuskan dulu. Setelah bersuara kukuk, si burunghantukukutix ini akan berceramah panjang lebar dengan sejuta teori dan pengetahuannya, yang dapat dipastikan ujung kalimatnya seperti ini:

Secara prinsip saya setuju dengan konsep bla, bla, bla, TETAPI/ NAMUN menurut saya sebaiknya bla bla bla… alias menyampaikan pendapat lain yang tidak sejalan dengan keputusan yang akan diambil. “Baginda! Saya paham berpendapat adalah hak rakyat yang paling asasi, hanya sayangnya, kenapa selalu pendapatnya disampaikan pada saat terakhir, setiap kali keputusan akan diambil dan selalu mengajukan alternatif yang berbeda. Kok tidak dari tadi gitu loh! Rapat kan akhirnya nggak pernah selesai dan tidak pernah ada keputusan. Ujung-ujungnya berdebat tidak karuan. Kalau baginda hitung, ini kukuk yang keseribu dari seribu rapat yang sudah kita adakan.
l

bernyanyi. Karena hanya itulah yang bisa menghibur hatinya. Sambil terus berfikir, kok untuk meningkatkan kinerja pelayanan dan pengawasan publik rakyatnya susah banget ya ?

ULASAN CERITA
Merujuk kepada dongeng diatas, setiap pembaca mungkin akan mempunyai kesimpulan dan persepektif yang berbeda atas tingkah polah raja beserta rakyat animuscentrix. Yang pasti, Penulis tidak akan menghakimi apupun pendapat kita, karena memang tidak memiliki otoritas apapun untuk menilai mana yang benar mana yang salah. Namun, jika kita dekatkan dengan keseharian kita dimanapun dan apapun profesi kita, kejadian seperti itu kok nampaknya mirip dengan situasi keseharian kita. Terlebih lagi kalau menyangkut apapun yang dinamakan rencana ataupun tindakan perubahan. Baik itu perubahan di diri kita sendiri ataupun lingkungan kita atau bahkan organisasi tempat kita bernaung atau bekerja. Baik itu perubahan yang bersifat revolusi, reformasi maupun hanya yang bersifat reparasi, (lihat: tulisan penulis terdahulu di WBC tentang reformasi atau reparasi) Menyikapi hal itu, penulis teringat pelajaran fisika dasar di SMP tentang hukum Newton, yang mungkin dapat digunakan untuk melakukan pendekatan terhadap situasi diatas. NEWTON 1ST LAW OF MOTION: An object at rest tends to stay at rest. An object in motion to stay in motion with the same speed an in the same direction unless acted by an in balance force. Hukum fisika dasar tersebut kalau diartikan kurang lebih : 1. Setiap benda/situasi/kondisi/ lingkungan memiliki kecenderungan untuk tetap dalam kondisi saat ini/ kondisi kekinian mereka berada dan tetap berusaha untuk mempertahankan hal itu. 2. Sudah menjadi hukum alam setiap benda/situasi/kondisi/lingkungan untuk menentang/berlawanan arah dengan setiap perubahan yang akan merubah kekinian. Mereka akan tetap diam dan memberikan daya tentang sampai ada kekuatan yang lebih besar yang melebihi kekuatan daya tentang yang dimilikinya. Daya tentang terhadap perubahan itu didalam hukum fisika dinamakan: INERTIA NEWTON 3RD LAW OF MOTION For every action there is an equal and opposite reaction. Hukum tersebut dapat diartikan sebagai berikut :
WARTA BEA CUKAI

Semuthitamanisix, wah baginda mereka itu kelompok rakyat jelata, rakyat kebanyakan alias rakyat kecil, karena memang bentuk tubuhnya kecil. Tapi mungkin baginda , rakyat kita seharusnya bisa mencontoh tingkah laku mereka. Mereka kelihatannya aktif, saling berkomunikasi, dan arahnya jelas, mereka menuju batu sakti yang sangat besar itu. Dan ada upaya untuk menggeser batu itu, dengan

l

DIPERLUKAN ADANYA KEINGINAN BERUBAH YANG DITERJEMAHKAN DALAM BANYAK AKSI
badan kecil yang mereka miliki. Hanya kalau melihat upayanya yang hanya dilakukan oleh mereka sendiri dan tidak didukung oleh yang lain, saya pesimis akan hasilnya. Maksud semuthitamnisix baik tapi kan kekuatannya tidak ada. Mana mungkin mereka bisa menggeser batu itu dengan tubuh dan kekuatan yang kecil seperti itu. Mendengar penuturan empu kapekapanoramix, Lion the King sang raja, semakin bingung, dari mana akan memulai perubahan, karena berdasarkan hasil environmental scanning sang empu, kondisi rakyatnya tidak mendukung program mulia untuk menggeser batu sakti. Hanya dengan menggeser batu sakti tersebut, negara animussentrix akan bersih dan berwibawa. Padahal program itu sudah sangat mendesak kalau negaranya tidak mau hancur. Pada akhirnya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa Lion the King sang Raja, hanya bisa bernyanyi: “..bingung bingung aku bingung tra la lala tra lalala”. Beliau bernyanyi dan terus

l

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

61

OPINI
1. Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap ada aksi pasti ada reaksi. 2. Manajemen aksi dan reaksi inilah yang akan menentukan arah pergerakkan. Dalam proses aksi reaksi ini akan menimbulkan satu gaya yang dinamakan friksi (pergesekan atau benturan). Besar mana gaya aksi, atau gaya reaksi. Hal itu yang akan menentukan arah gerak, ke arah aksi atau ke arah reaksi. 3. Untuk mempermulus pergerakkan ke arah aksi yang diinginkan, diperlukan kekuatan yang mampu meminimalisir friksi hingga ke tingkat yang paling minimal. Karena memang sudah menjadi hukum alam, kita tidak akan bisa menghilangkan friksi. Karena setiap ada aksi ada reaksi dan pasti ada friksi. Penulis berpendapat bahwa inilah apa yang dinamakan dengan Sunnatullah atau hukum Allah terhadap alam semesta. Mungkin tingkah polah rakyat animuscentrik memang alamiah dan sesuai kehendak alam, Sang Raja melancarkan aksi dan rakyatnya memberikan reaksi. Maka pasti akan timbullah friksi. Terlebih lagi program sang raja akan mengusik kekinian yang ada. Sekuat apa aksinya, sekuat apa reaksinya, dan sebesar apa reaksinya, nah itu yang penulis belum tahu, dikarenakan sang empunya cerita belum memberikan lanjutan ceritanya kepada penulis. Terlepas dari selesai atau tidaknya cerita diatas, mungkin dapat disimpulkan bahwa membuat suatu aksi nampaknya mudah namun kesiapan untuk menerima adanya reaksi dan adanya friksi itu yang tidak mudah, dan disitulah tantangan para pemimpin atau siapapun yang menjadi inisiator adanya aksi. Kalau dalam ilmu fisika yang menyangkut benda mungkin isu yang ada hanya sebatas kekuatan gaya, baik itu gaya tolak, gaya dorong ataupun gaya perlawanan. Namun kalau itu sudah menyangkut organisasi, pekerjaan, hajat hidup, cita-cita, idealisme atau apapun yang menyangkut “MANUSIA DAN KEMANUSIANNYA”, maka persoalannya bukan hanya sebatas gaya aksi, reaksi ataupun friksi saja. Ada faktor lain yaitu : Human Interest. Inilah yang membuat berbeda antara fisika kebendaan dengan fisika kemanusiaan. Menyikapi hal ini, mungkin benar tutur sebuh lagu: ‘Rocker juga Manusia, punya hati punya rasa.’
l

l

l

l

l

Akhir-akhir ini ada keinginan yang sangat kuat dari internal maupun eksternal agar kita segera melakukan perubahan. Dan kita pun sangat menyadari perubahan yang diinginkan oleh stakeholder kita yang pada intinya adalah: meningkatnya pelayanan publik DJBC, meningkatnya Governance DJBC dan meningkatnya akuntabilitas DJBC. Untuk itu diperlukan adanya keinginan berubah yang diterjemahkan dalam banyak aksi. Keinginan itu akan mengakibatkan adanya perubahan yang pada gilirannya akan memunculkan Sunatullah seperti yang ada pada hukum Newton, karena perubahan yang diharapkan akan merubah kekinian kita. Dalam Menghadapi perubahan tersebut, aksi apa yang tepat yang harus kita lakukan tanpa menimbulkan reaksi yang berlebihan yang pada gilirannya akan menimbulkan friksi yang tidak tertahankan. Dimana letak akar permasalahan institusi kita, yang harus dirubah ge-

mungkin ada manfaatnya penulis sampaikan sebuah pakta pelayanan pelanggan dari sebuah institusi swasta**) yang coba penulis rekontruksi untuk kita renungkan dengan harapan bermanfaat bagi kita semua:

SIAPAKAH PENGGUNA JASA DJBC ?
l l l

l

l

l

l

PENGGUNA JASA ADALAH BUKAN BEBAN PEKERJAAN KITA
l

l

l

PENUTUP CERITA
Sebagai akhir cerita yang cukup panjang dan mungkin melelahkan ini, dan dalam rangka menyikapi gaung program reformasi (atau reparasi?) di tubuh DJBC institusi tercinta kita, penulis mencoba menarik benang merah atas cerita fiktif di atas dengan kondisi kekinian insititusi kita melalui sebuah perenungan : 62
WARTA BEA CUKAI

l

dung kantorkah? Struktur organisasikah? Teknologinyakah? Sistemnyakah? Atau mungkin tidak usah merubah semuanya tetapi cukup merubah manusianya – dalam artian pola tindak dan perilakunya. Kalau masalah pelayanan yang sering dikeluhkan, kalau masalah pengawasan yang banyak di komplain, apakah layak HANYA gedung kantor yang harus disalahkan? Apakah teknologi yang harus disalahkan? Atau hanya struktur organisasi yang menjadi biang keladi? Atau lebih ekstrimnya sistem pelayanan atau pengawasannya yang harus dirombak?? Berbicara kinerja pelayanan dan pengawasan yang baik, siapa yang harus bertanggung jawab, manusianya? Atau kantornya? Atau sistemnya? Dalam hukum fisika, setiap proses di alam ini adalah fana, tidak ada yang abadi ataupun kekal. Semua bergerak ke arah perubahan. Jadi yang abadi adalah perubahan itu sendiri.

l

l

Pengguna jasa adalah orang yang paling penting dalam institusi kita; Pengguna jasa adalah bukan beban pekerjaan kita; Pengguna jasa adalah tujuan dan alasan mengapa kita bekerja, kita bukan diharuskan melakukan sesuatu pekerjaan untuk mereka tetapi merekalah yang memberi kesempatan kita untuk bekerja; Pengguna jasa tidak bergantung pada kita, tetapi kitalah yang bergantung kepada mereka; Pengguna jasa adalah bukan “orang luar” dari institusi kita, tetapi mereka adalah bagian utama institusi kita; Pengguna jasa adalah bukan sekedar deretan nama, tetapi adalah pribadi-pribadi yang mempunyai perasaan, kemauan dan prasangka; Pengguna jasa datang ke kantor kita tidak untuk diajak bertengkar, atau disakiti hatinya tetapi untuk dilayani dan dihormati. Tidak seorang pun dari kita berhak untuk berbuat semena-mena terhadap mereka; Pengguna jasa adalah orang yang berhak datang ke institusi kita dengan berbagai kehendak, tugas kita adalah melaksanakan kehendaknya dengan baik; Pengguna jasa pada dasarnya benar dan tidak salah, karena kalau mereka bertindak salah mereka tidak akan datang kepada kita tetapi akan bertindak tanpa kita atau mencari bantuan dari selain kita (menyelundup). Yang paling penting: Pengguna jasalah yang membayar kita melalui pajak yang dibayarkannya, tanpa mereka tidak mungkin ada institusi ini dan tidak ada pekerjaan yang kita tangani sekarang.

Demikianlah akhir serita kita kali ini, Wallahu alam bissawab. Lebih kurangnya mohon maaf, Long Life Customs Reform, Hidup Perubahan. Viva DJBC.
*) Terinspirasi dari komik Asterix , retraining integritas, ESQ dan Ceramah motivasi Bapak Andre Wongso. **) Dikutip, Diformulasikan dan disarikan dari pakta pelayanan pelanggan “Impressions” sebuah pusat pelayanan perawatan tubuh dan kesehatan, di Jakarta.

Sebagai sebuah konklusi sederhana dan mungkin bekal bagi kita untuk berubah menuju peningkatan kualitas pelayanan dan pengawasan kita,

Penulis adalah Kepala Subdirektorat Otomasi Sistem dan Prosedur Kepabeanan dan Cukai, Dit. IKC

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

MITRA
WBC/KY

DIRJEN BEA DAN CUKAI ANWAR SUPRIJADI saat memberikan kata sambutannya.

FORUM BISNIS
K
egiatan mengimpor barang bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan, seperti pembayaran tagihan dan transfer biaya kepada supplier di negara asal yang kerap dihantui isu perbedaan nilai tukar. Belum lagi masalah yang berkaitan dengan kelengkapan dokumentasi dan kepabeanan. Untuk itu, pada 15 Agustus 2006, bertempat di Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, DHL sebagai penyedia layanan ekspress dan logistik, menyelenggarakan forum bisnis mengenai peraturanperaturan Bea dan Cukai serta manfaatnya bagi komunitas ekspor dan impor di Indonesia. Forum bertema Expanding Your Business to The International Market ini bertujuan untuk memberikan informasi yang mendetil mengenai peraturan-peraturan Bea dan Cukai. Tak hanya itu, forum ini juga sebagai sarana untuk menyampaikan pada importir dan eksportir bagaimana caranya memanfaatkan peraturanperaturan yang ada untuk meningkatkan daya saing. Edi Prayitno, National Marketing Manager, PT. Birotika Semesta/DHL Express mengatakan, sebagai fasilitator

BERSAMA PENGUSAHA, DJBC DAN PERDAGANGAN
Memanfaatkan peraturan yang ada di Bea dan Cukai dalam mengembangkan bisnis.
perdagangan, DHL ingin menyosialisasikan dan mengimplementasikan peraturan-peraturan yang ada di Bea dan Cukai karena hal tersebut sangat pen-

ting bagi komunitas bisnis, terutama bagi mereka yang bergerak di bidang impor dan ekspor. Pasalnya, terkadang pelaku bisnis kurang memahami peraturan yang ada sehingga menyulitkan mereka dalam melakukan kegiatan bisnis. Forum bisnis itu sendiri dihadiri oleh eksekutif bisnis dari berbagai macam industri di Indonesia. Hadir dalam acara tersebut adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi dan dua pembicara utama, yakni Bachtiar, Kasubit Impor dan Ekspor Dit. Teknis Kepabeanan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Harmen Sembiring, Direktur Fasilitas Ekspor dan Impor dari Departemen Perdagangan. Dalam pidatonya, Anwar Suprijadi mengatakan, forum bisnis semacam ini sangat menarik. Melalui forum tersebut, pengusaha dan pemerintah dapat mengantisipasi pasar internasional melalui customs reform, diantaranya dengan memangkas sistem birokrasi. Untuk itu kedepannya yang harus dikembangkan adalah single administration di Bea dan Cukai. Salah satu program single administration tersebut adalah PDE Manifest untuk inward di Pelabuhan Tanjung Priok yang di mandatory pada 3 Juli 2006. Saat ditemui WBC disela-sela acara, Bachtiar mengatakan kegembiraannya dengan adanya forum bisnis semacam ini. Pasalnya, ada pengusaha atau pelaku bisnis yang memang masih kurang mengerti dengan peraturan-peraturan di Bea dan Cukai. ia juga menambahkan, lewat acara tersebut, ia juga bisa memperkenalkan website DJBC dimana pengusaha dapat mengaksesnya jika ingin mencari dan mengetahui lebih jauh tentang peraturan-peraturan yang ada di Bea dan Cukai. ifa
WBC/KY

SESI TANYA JAWAB. Edi Prayitno, National Marketing Manager PT. Birotika Semesta/DHL Express dan Bachtiar, Kasubit Impor dan Ekspor Dit. Teknis Kepabeanan, DJBC, saat sesi tanya jawab dengan pengusaha. EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

63

MITRA
WBC/KY

oleh dari produk kami,”ujar Amiruddin. Mengenai manfaat yang didapat oleh PJT dengan produk EXPRESS ini ia mengatakan, bahwa pengurusan dokumen kepabeanan akan menjadi lebih cepat dan efisien. Selain itu alternatif yang disediakan melalui beberapa produk tadi bisa digunakan oleh PJT. Selain itu juga ia menambahkan, PJT tidak memerlukan tambahan investasi untuk dapat mengakses produk mereka karena perubahan yang dilakukan pada sisi PJT sangat sedikit dan bisa dibilang tidak ada. Sementara dokumen pendukung dapat disertakan dalam format elektronik, dan fasilitas batch up load yang memungkinkan data entry dapat dilakukan secara bersamaan.

SANGAT MENDUKUNG
SOFT LAUNCHING. Mendengarkan paparan dan demo produk EXPRESS dihadiri oleh anggota ASPERINDO dan Bea Cukai.

PT. Transdata Mitra Solusi

SIAP JEMBATANI PDE ANTARA PJT DENGAN DJBC
PT Tansdata Mitra Solusi sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Informasi (TI), menawarkan solusi mengenai Pertukaran Data Elektronik (PDE) yang mereka hasilkan bagi Perusahaan Jasa Titipan (PJT) yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jasa Titipan (Asperindo).

M

enurut Chief Executive Officer PT Transdata Mitra Solusi Amiruddin Budiman, pihaknya mencoba menjembatani PJT dengan DJBC dalam hal PDE, mengingat DJBC melalui Peraturan Dirjen nomor P-10/BC/2006 telah mengeluarkan aturan mengenai PDE .”Kami mencoba menjembatani PJT dengan DJBC dalam melakukan PDE melalui produk TI kami,”ujar Amiruddin disela-sela Soft Launching produk mereka
WBC/KY

SYARIFUDDIN. Tiga produk Transdata bisa menunjang PDE antara PJT dengan DJBC.

yang dinamakan EXPRESS dihadapan anggota Asperindo pada 14 Agustus 2006 di Hotel Sheraton Bandara. Amiruddin lebih lanjut mengatakan, bahwa produk mereka ini tidak hanya ditujukan kepada PJT yang melakukan Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT) dalam jumlah besar, namun juga bagi PJT yang melakukan PIBT dalam jumlah kecil. Produk yang dihasilkan oleh Transdata adalah EXPRESS GEARS yang dirancang untuk PJT yang telah mempunyai Sistem Informasi yang mapan, database yang terintegrasi dan penanganan dokumen dalam jumlah besar per harinya. Produk lainnya adalah EXPRESS WEB, dimana produk ini ditujukan kepada PJT yang ingin melakukan PDE namun tidak memungkinan diterapkannya solusi pertama atau EXPRESS GEAR sebagai solusi pertama. Solusi ini menurutnya dapat digunakan selama pengguna dapat terhubung dengan koneksi internet. EXPRESS ZONE, merupakan solusi yang dirancang bagi PJT yang tidak ingin direpotkan dengan masalah teknologi. Dengan bantuan Express Agent, sebutan bagi tenaga ahli TI terlatih yang diminta PJT dalam melakukan PDE secara elektronik, dapat dengan mudah dilaksanakan. “Kami mempunyai komitmen untuk membantu PJT dalam penyediaan TI yang berkualitas yang diperlukan oleh PJT dalam menjalankan PDE, tentunya semua itu hanya dapat diper-

Syarifuddin Direktur Eksekutif Asperindo mengatakan, pihaknya yang menaungi 140 PJT di Indonesia, menyambut positif produk yang ditawarkan oleh PT. Transdata Mitra Solusi, mengingat produk yang ditawarkan oleh Transdata dapat digunakan oleh anggotanya, mulai dari PJT yang menangani dokumen dalam jumlah besar maupun juga dalam jumlah kecil. Namun, masih menurutnya apakah seluruh anggotanya akan menggunakan produk Transdata itu dikembalikan lagi kepada anggotanya. “Tentunya kami mendukung produk Transdata sejauh produk mereka itu bisa digunakan oleh anggota kami dan yang terpenting link dengan DJBC,”ujar Syarifuddin. Chandra Soerjowibowo, Kasi Opersional Komputer dan Distribusi Dokumen (OKDD) KPBC Soekarno-Hatta mengatakan, bahwa dengan adanya PDE ini maka pihaknya akan lebih dimudahkan dalam hal pengumpulan data yang berasal dari PJT. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa proses pengurusan yang tadinya manual dan memerlukan dokumen yang banyak, nantinya tidak akan diperlukan dan sifatnya akan paperless. zap
WBC/KY

AMIRUDDIN BUDIMAN. Menyediakan produk TI yang dapat digunakan oleh PJT baik besar maupun menengah.

64

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

RUANG KESEHATAN

Sulit BAB
S
JAWAB :

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

dan Nyeri Kepala
aya (18) setiap kali menjalani sembelit atau susah buang air besar pasti di barengi dengan rasa nyeri di kepala. Apakah ini bisa dihindarkan dok dan makanan apa saja yang bisa menghilangkan rasa sakit kepala saya saat sembelit ? DONNY – Jakarta Sembelit atau susah buang air besar yang dalam bahasa kedokterannya disebut KONSTIPASI, merupakan suatu kesulitan defekasi (buang air besar) akibat hambatan perjalanan (passorgi) tinja melalui usus. Normalnya dalam 24 jam usus besar harus dikosongkan secara teratur. Tetapi beberapa orang sehat melakukan difikasi 2-3 kali sehari, dan ada pula kebiasaan defekasi dalam 2 hari sekali. Beberapa sebab yang menimbulkan hambatan, passorgi tinja melalui usus besar adalah adanya kebiasaan yang salah misalnya tidak teratur atau selalu menunda-nunda waktu defekasi, sehingga lama kelamaan dapat menyebabkan hambatan pada “pasange” di usus besar. Demikian juga pada kebiasaan tidak teraturnya waktu defekasi, perubahan rutin sehari-hari misalnya bepergian kelain tempat, kesibukan dan lain-lain. Terdapat juga pada kebiasaan makan makanan yang tidak mengandung serat (selulose) sehingga dapat timbul konstipasi. Kemungkinan lain pada kebiasaan minum yang kurang (intake cairan yang kurang) dan makan makanan hanya sedikit sekali sehingga menimbulkan sisa makanan diusus besar (low residue diet). Gangguan dalam hambatan ini menyebabkan fungsi usus besar menjadi tidak baik.Fungsi usus besar diantaranya melakukan absorpsi cairan, zat-zat organic seperti gula, protein, lemak dari zat-zat makanan dimana absorpsi air ini terus berjalan sampai di bagian usus paling bawah. Jika pada anda yang sering menjalani konstipasi, sebagai akibat dari absorpsi cairan yang terus berlangsung selama 24 jam itu maka tinjanya akan menjadi lebih padat dan mengeras.

Tinja yang keras dan padat menyebabkan makin susahnya defekasi (BAB), sehingga ada kemungkinan akan menimbulkan ambeian (wasir). Absorpsi zat-zat organik dari bahan makanan protein dalam keadaan konstipasi dipecahkan dalam usus menjadi zat-zat indol dan skatol yang dapat menjadi zat-zat racun (toksin) dalam usus, yang disebut : Intestinal Toksemia. Intestinal Toksemia inilah yang menyebabkan sakit kepala, perut selalu dirasa penuh serta dirasa mendesak ke atas, kembung, berbunyi, mual-mual. Oleh sebab itu Sdr. Donny harus cari tahu sebab timbulnya sembelit, karena yang Donny keluhkan sakit kepala disaat sembelit hanya sebagai akibat sedangkan sebabnya adalah kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam memperbaiki fungsi usus besar. Ada 4 (empat) langkah praktis untuk membantu Sdr. Donny memperbaiki fungsi usus besar dan mengatasi sembelit. 1. Minum 1 gelas air putih saat perut kosong dipagi hari. 2. Jadwalkan setiap BAB anda, hal ini untuk membentuk kondisi refleks untuk ke belakang. BAB 1 kali sehari bukanlah suatu keharusan, pastikan saja bahwa fungsi usus besar anda normal/ teratur. 3. Lakukan olah raga yang cukup, yang dapat merilekskan otototot perut (yoga) atau memperkuat otot seperti fitness, jogging, berenang. 4. Pengaturan diet perlu sekali, terutama diet tinggi serat yang cukup yaitu makan makanan yang banyak mengandung sayursayuran, buah-buahan dan roti gandum, karena ini berguna untuk memperlancar defekasi. Dianjurkan minum banyak, sekurang-kurangnya 1 liter sehari. Minum susu tiap hari adalah baik. Jika mungkin kurangi pedas, minum beralkohol, kopi dan merokok. Dilarang makan makanan yang menyebabkan timbulnya konstipasi misal-nya : pasta, kentang, pala, salak, tepung beras, kue-kue, dan roti putih.
EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

65

SELAK

Melintas Batas Dua Negara
Jika penulis bandingkan antara perbatasan dua negara di Amerika-Kanada dengan IndonesiaMalaysia, alangkah baiknya jika Malaysia dan Indonesia bekerjasama menjadikan perbatasannya menjadi suatu tempat obyek wisata yang dapat memberikan masukan devisa bagi kedua negara dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada.

P

erbatasan sebuah negara, atau state’s border, dikenal bersamaan dengan lahirnya negara. Negara dalam pengertian modern sudah mulai dikenal sejak abad ke-18 di Eropa. Perbatasan sebuah negara tidak hanya membelah etnisitas yang berbeda. Ia bahkan membelah etnis yang sama, karena mengalami sejarah kebangsaan yang berbeda oleh warga etnis yang sama. Misalnya, hubungan warga perbatasan Entikong-Indonesia dan Tebedu-Malaysia sangat erat, meskipun beda negara tetapi terjalin hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan di antara mereka diwujudkan dengan tradisi perayaan Gawai sebagai ungkapan syukur setelah keberhasilan masa panen. Pada perayaan Gawai masyarakat kedua batas negara saling mengunjungi. Di Indonesia, kajian atau studi tentang perbatasan masih berada pada tahap paling awal. Kajian yang ada umumnya masih dilakukan dengan pendekatan konvensional, dalam arti belum menggunakan konsep-konsep dari kerangka teoritis yang mulai dikembangkan oleh berbagai pusat kajian tentang perbatasan, baik di Eropa mau-

pun Amerika. Dalam pendekatan yang konvensional, daerah perbatasan masih dipandang dalam kacamata pertahanan keamanan suatu negara, atau dilihat sebagai sekedar daerah frontier yang masih harus dikembangkan secara ekonomi. Berikut penulis akan bercerita dan berbagi pengalaman ketika melintas perbatasan Indonesia dengan Malaysia dan perbatasan Amerika dengan Kanada. Selepas tugas meliput di KPBC Entikong pada 2 Juni 2006 penulis bersama-sama Aris Suryantini (redaktur WBC) dan rekan-rekan KPBC Entikong ( Ahmad Taufik, Ponthas Aritonang, Susila Brata, dan Clemens ) berkesempatan melintas perbatasan negara Entikong-Indonesia dengan Tebedu-Malaysia menuju Kota Kuching, Serawak-Malaysia dengan menempuh jalur darat dengan waktu kurang lebih 2 jam. Secara geografis Kalimantan Barat memiliki lima pintu perbatasan dengan Sarawak, Malaysia. Kelima perbatasan itu adalah Entikong di Kabupaten Sanggau, Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang, Nanga Badau Kapuas Hulu, Senaning di Kabupaten Sintang,
FOTO : BW/SBY

PEMANDANGAN Kota Kuching di malam hari.

dan Sajingan terletak di Kabupaten Sambas. Dari kelima pintu tersebut, Entikong menjadi pusat perdagangan dan keluar masuknya warga, Sedangkan Nanga Badau baru saja diselesaikan sarana penunjang administrasi. Melewati pos pengawasan lintas batas Malaysia nampak banyak perbedaan, ini dapat dilihat dari segi ketertiban pelayanan dan kebersihan bangunan. Masuk gate in awal setiap kendaraan yang masuk, rodanya terlebih dulu disemprot air dan diinsekfetan. Kemudian kami melewati pos imigrasi dan Kastam Diraja Malaysia untuk pengecekan dokumen/ paspor. Kami ditanya mengenai maksud dan tujuan ke Malaysia dan akan berapa lama tinggal di sana. Berdasarkan perjanjian Sosek Malindo kita dapat melintas batas sekaligus membawa kendaraan pribadi dengan jangka waktu 30 hari dan dapat diperpanjang 30 hari. Di Pos Pengawas Lintas Batas (PPLB) Malaysia tidak terdapat polisi maupun tentara, yang berjaga hanya security atau satpam saja. Beda halnya dengan di Pos PPLB Entikong, polisi dan TNI terlibat di dalamnya. Selepas pemeriksaan kami disambut dengan jalan halus layaknya jalan tol. Nampak pemandangan bukit dan perkebunan sepanjang jalan. Perbatasan bagian Malaysia benar-benar menunjukkan wajah muka dari negaranya. Sementara Indonesia terkesan kurang tersentuh pembangunan, bahkan semak dan tanaman liar tidak tertata menyambut warga Malaysia yang masuk ke wilayah Entikong, Indonesia. Setiba di Kuching, menunjukkan pukul 12.00 siang atau pukul 11.00 waktu Indonesia Bagian Barat. Kami sempatkan untuk makan Canai atau Cane (sejenis makanan India) di salah satu sudut kota. Cane merupakan makanan khas Malaysia biasanya keturunan India, merupakan sejenis martabak telor yang diberi gulai daging dan rasanya masih cocok dengan lidah orang Indonesia. Setelah rehat sejenak kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Taman Buaya “Jong’s Crocodile Farm”, di sini

66

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

FOTO : BW/SBY

MELIHAT DARI dekat air terjun Niagara Falls dgn kapal Maid of The Mist.

terdapat berbagai jenis buaya yang dikoleksi dan dipelihara. Tiket masuk untuk dewasa RM( Ringgit Malaysia) 8.00 atau sekitar Rp. 20.000 ( 1 RM = Rp 2500 ) sedangkan untuk anak RM 4.00. Di Kuching, kami menginap di Hotel Borneo.

KUCHING, KOTA YANG ASRI
Terdapat berbagai cerita tentang asal usul nama Kuching. Dalam bahasa melayu, Kuching artinya binatang kucing tetapi kota ini sepertinya tidak ada hubungan dengan binatang tersebut. Jadi ada orang lain yang mengatakan Kuching berasal dari kata Mandarin “Gu Chin” yang berarti pelabuhan. Ada yang bilang kuching adalah nama buah yang bentuknya seperti lychee yang bernama “mata Kuching”. Kota ini diresmikan namanya sebagai Kuching pada bulan Agustus 1872 dan menjadi sebuah kota pada 1 Agustus 1988. Kuching dulunya adalah sebuah pusat perdagangan dimana selama berabad-abad yang lalu telah datang orang-orang dari berbagai negara untuk menetap di sini. Orang China, India, Eropa dan lain-lain telah menjadi sebuah kelompok di daerah ini dan membangun sebuah kota dengan budaya yang unik dan kaya. Menurut majalah Asiaweek, Ranking 17 kota terbaik di Asia untuk didiami adalah kota Kuching yang merupakan satu diantara kota di Asia Tenggara yang paling bersih dan hijau. Anda akan takjub dengan lingkungan hijaunya yang menawan. Selain itu yang cukup mengesankan adalah ketertiban berlalu lintas yang tidak nampak kemacetan satu pun. Jarang kami melihat sepeda motor atau bahkan angkutan umum kecuali bebe-

rapa taksi. Tidak beda jauh dengan Kuala Lumpur, ibukota Malaysia yang pernah penulis kunjungi sebelumnya , pemerintah Malaysia sangat concern dengan penataan kota-kotanya. Anda tidak akan pernah melihat pengemis, gelandangan, atau bahkan kaki lima di sepanjang jalan. Malaysia, negara berkembang yang digolongkan berpenghasilan menengah, selain itu posisi mata uang ringgit cukup tangguh menempati urutan ke-10 terkuat.Penyangga utama keberhasilan negeri ini adalah hasil buminya yaitu timah dan karet, di mana sebagai penghasil utama dunia atas kedua komoditi tersebut. Malaysia memiliki luas wilayah 2,5 kali pulau jawa. Terdiri dari 13 negara bagian yaitu : Johor, Kedah, Kelan tan, Pahang, Perak, Perlis, Selangor, Trenggano,

Negeri Sembilan, Malaka, Penang, Sabah, dan Serawak. Kuching sendiri merupakan kota bagian Serawak. Penduduk kota Kuching (kira-kira 450.000 orang) bangga dengan kota yang mereka tinggali, kebanggaan itu di gambarkan melalui sikap mereka terhadap wisatawan-wisatawan yang datang. Penduduk Kuching terdiri dari bermacam-macam suku: Melayu, China, India dan penduduk pribumi Dayak, terdiri dari suku-suku pribumi seperti Bidayuh, Iban (yang juga di kenal sebagai Dayak Laut), Orang Ulu, orang Kayan, orang China (yang juga terdiri dari bermacam-macam suku – seperti hakka, hokkien, foochow, teociu, heng hua, mandarin atau kantonis), Juga ada beberapa pendatang asing dari Jerman, Inggris dan Australia. Agama-agama yang ada di Malaysia
FOTO : BW/SBY

RAINBOW BRIDGE menghubungkan Kanada dan Amerika. EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

67

SELAK
FOTO : BW/SBY

dengan sup. Beberapa macam makanan biasanya dimakan dengan sendok kecil (ditangan kiri) dan sumpit (ditangan kanan). Hidangan yang biasa terdiri dari: Kolo Mie, Nasi Lemak (Nasi Santan), Laksa, Sayap ayam, Nasi Ayam, Roti Canai, Sate, Belacan Bihun, Mie Sua, Kam Pua, Kari Ayam, Rendang Sapi, Yew Cha Kueh, dan sebagainya. Anda juga bisa menemukan bermacam makanan barat di Kuching, seperti, KFC, Mc Donalds, Coffee Bean, Pizza Hut dan sebagainya. Jika anda mencari buah-buahan lokal, coba rambutan, atau durian (“raja buah” yang memiliki bau yang kuat), pepaya, pisang, ciku, manggis, langsat, belimbing, dan sebagainya. Anda juga bisa mengunjungi pasar di Jalan Satok, dimana anda bisa menjumpai bermacam-macam makanan lokal yang enak, buah-buahan dan sayur-sayuran.

PANORAMA SUNGAI SERAWAK
KANTOR US CUSTOMS di perbatasan Niagara Falls.

adalah Islam, Kristen, Buddha, Taoisme dan Hindu. Semua suku hidup dengan harmonis dan dikenal oleh para wisatawan dengan keramahan dan sikap suka menolong. Bermacam-macam daya tarik wisata di Kuching, seperti pusat perbelanjaan yang bagus, tempat jajanan makanan dan museum-museum. Kuching terletak di Sarawak, merupakan negera bagian terbesar di Malaysia, yang berada di pulau Borneo (Kalimantan). Sarawak memiliki pesisiran pantai yang mencapai kepanjangan 720 km menghadap Laut China Selatan, dibatasi negara Brunei Darussalam di bagian Utara, Sabah (negeri Malaysia yang lain) di bagian timur laut dan Kalimantan Indonesia di bagian selatan. Seperti bagian Malaysia lainnya, Kuching memiliki cuaca tropik dengan temperatur rata-rata di siang hari antara 24-32 derajat Celsius. Kuching mengalami hujan sepanjang tahun. Dari pusat kota Kuching, anda dapat pergi ke suatu tempat indah dinamakan Pantai Damai. Disini anda dapat melihat pantai dan pasir, hutan lebat yang merupakan rumah bagi beratusratus spesies flora dan fauna dan sebagai museum hidup Taman Budaya Sarawak, dimana anda bisa menjelajahi Sarawak dalam waktu setengah hari. Museum ini melambangkan kehidupan kelompok-kelompok suku yang ada di Sarawak dan melukiskan cara hidup mereka di sebuah daerah seluas 14 hektar. Anda juga bisa menyaksikan festival musik Rainforest Dunia setiap tahun, festival 3 hari yang unik yang membawa semua ahli musik dunia terkenal dan legenda musik dari pulau borneo. Anda akan dapat menyaksikan pertunjukan ini di bulan Juli setiap tahun. Setelah puas pusing-pusing (istilah 68
WARTA BEA CUKAI

jalan-jalan untuk masyarakat melayu) mengelilingi kota dan belanja di mall kami mampir makan malam di Food Terminal . Banyaknya pengunjung membuat kami agak kesulitan mencari tempat dan harus rela antre untuk naik lift karena letaknya di lantai enam. Di sini terdiri dari berbagai outlet makanan yang bisa dipilih sesuai selera, jadi semacam foodcourt. Masakan Malaysia biasanya sangat pedas. Makanan di Kuching biasanya terdiri dari nasi atau mie dan dihidangkan dengan mangkok kecil,

Malam menunjukkan pukul 8.30 ketika kami sampai di Waterfront, untuk menikmati indahnya suasana Sungai Serawak. Cuaca malam yang cerah dan diterangi lampu-lampu hias sangat mendukung untuk berjalan kaki sambil melihat pemandangan di tepi sungai. Di sini juga terdapat bazaar yang menjual berbagai barang cinderamata berupa kerajinan, pakaian, makanan khas, dan sebagainya. Anda juga jangan segansegan menawar untuk dapat harga yang lebih murah. Disini juga terdapat beberapa bangunan bersejarah di sepanjang taman dan bangunan-bangunan modern, teater terbuka dan pancuran air berirama. Tempat lain yang tak kalah menarik untuk dilihat adalah Kelenteng China
FOTO : BW/SBY

POSE SEJENAK dengan Kastam Diraja Malaysia yang sedang berjaga di perbatasan Tebedu.

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

FOTO : BW/SBY

tertua di Sarawak, Tua Pek Kong yang dipercayai sudah ada sejak 1843 walaupun record resmi hanya mengakui kemunculannya pada 1876. Kelenteng yang berada di tengah kota ini menjadi tempat masyarakat etnis China bersembahyang di sana memohon kedamaian dan kemakmuran. Kelenteng ini terletak di tengah rambu lalu-lintas dekat jalan besar. Bangunan lainnya, Main Bazaar, terdiri dari dua deretan bangunan ruko 2 tingkat yang terletak di sebuah jalan tertua di Kuching yang didirikan sejak 1864. Sekarang ia bisa disebut sebuah pusat antik yang menjual bermacam-macam barang antik dan barang kerajinan tangan. Pembeli dapat mencari sebuah koleksi perhiasan tradisional, produk-produk tembaga, patung-patung, keramik, seni lokal dan sebagainya. Ada juga bangunan Steamship Sarawak dibangun pada 1930, sebelumnya adalah kantor dan gudang perusahaan steamship Sarawak. Setelah diperbaiki, sekarang merupakan sebuah restoran dan toko. Sedangkan Menara Persegi Empat (Square Tower) dibangun pada 1879 sebagai tempat tahanan. Sekarang tempat itu menjadi pusat informasi multimedia dan teater video yang menyediakan informasi tentang pariwisata Sarawak. Kantor pos pusat bangunan pada 1931 ini berdiri dengan megah dan unik. Bangunan ini akan di jadikan Museum Seni. Di Kuching, kami menginap satu malam, dan keesokan harinya, 3 Juni 2006 kami berkemas dari hotel menuju airport, kami berpisah dengan rombongan rekan-rekan KPBC Entikong. Kami menggunakan pesawat Batavia Air menuju Pontianak. Satusatunya penerbangan yang menuju Pontianak dari Kuching dan hanya satu kali dalam sehari yaitu pada pukul 9.30 waktu Malaysia. Sedangkan rekanrekan dari KPBC Entikong kembali ke Entikong via darat. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk rekanrekan KPBC Entikong yang berkenan mendampingi kami “pusing-pusing” di Kuching yang tentunya menambah pengalaman baru dan tak terlupakan.

MELINTAS PERBATASAN AMERIKA DAN KANADA
Untuk memasuki wilayah negara Amerika sangatlah tidak semudah dahulu ketika penulis berkesempatan mengunjungi pada 1995. Pasca peledakan gedung WTC tahun 2001, Amerika memperketat kunjungan orang asing ke negerinya terutama untuk negaranegara yang dipandang sebagai biang teroris. Sekarang dalam mengurus visa harus ada sponsorship dari orang yang ada di Amerika, mengisi kuisioner tertulis,wawancara khusus, dan biaya visa US$ 100/ orang. Apabila tidak lulus dalam wawancara tersebut uang tersebut tidak kembali. Tapi syukur Alhamdulillah

penulis mendapat visa selama lima tahun terhitung dari tahun 2003 sampai dengan 2008. Maret 2003 merupakan musim semi di Amerika, matahari bersinar terang dengan udara yang masih dingin menusuk tulang. Perjalanan cukup melelahkan karena harus transit di Kuala Lumpur, Malaysia dan Dubai, UEA. Untuk waktu tempuh perjalanan 24 jam di dalam pesawat Malaysia Airlines, belum ditambah waktu transit di Malaysia kurang lebih 12 jam dan di Dubai satu jam. Pemeriksaan Customs Dubai sangatlah ketat sampai sepatu dan sabuk pun harus dilepas untuk pengecekan di x-ray. Paspor saya sempat ditahan beberapa waktu untuk dicek lebih mendalam oleh petugas berpakaian preman. Saya menduga mereka orang Amerika yang bertugas mengecek orang yang transit MASJID AL HIKMAH - Indonesian Muslim Community. dan akan masuk ke kalau datang waktu shalat lima waktu, negaranya. Mereka meragukan visa kita tidak mungkin menjumpai mushalla saya karena mungkin orang Indonesia atau masjid di setiap tempat seperti di mendapat visa cukup lama. Syukur Indonesia Solusinya shalat di kendaraakhirnya situasi dapat terkendali dan an atau dijama’. Kalau mau melaksanapaspor saya dikembalikan. Tiba di Bankan ibadah shalat Jumat di pinggiran dara Newark, New Jersey waktu masih New York ada Masjid Al Hikmah menunjukkan pukul 10 pagi. tepatnya di 48-01 31 ST Avenue, Long Beruntung, di tengah antrian yang panIsland, NY, yang didirikan oleh jang imigrasi dan US Customs kami Masyarakat Indonesia di sana. Masjid mendapat ‘jalur prioritas’ karena ini didirikan di atas lahan kurang lebih dijemput oleh petugas US Customs. 400 m2 dan didanai secara swadana. Dua – tiga hari sejak kedatangan Penceramah, Imam, dan Jamaahnya masih terasa jet-leg maklum perbedaan kebanyakan orang Indonesia dan waktu antara Indonesia dan Amerika beberapa orang muslim Amerika. Jika adalah 12 jam, jika di Indonesia jam 12 anda di Washington D.C. anda bisa siang maka di Amerika 12 malam. Jadi sholat di Kedutaan Besar Republik Inwaktu orang-orang tidur saya bangun donesia atau di Islamic Centre. sedangkan waktunya orang bangun Penulis berkesempatan mengunjungi saya tidur dengan pulasnya. keluarga yang sedang bertugas di Beberapa kendala perbedaan antara Perwakilan Tetap Republik Indonesia lain misalnya, dalam hal makanan pun untuk PBB New York. Selama di sana perlu adaptasi yang mendalam karena penulis berkesempatan menembus kebanyakan restauran dan rumah makan perbatasan Amerika dan Kanada melewati bermenu western yang tidak ada nasinya. Niagara Falls, Waktu tempuh dari kota Mc Donald pun tidak menjual ayam New York kurang lebih sekitar delapan jam potong dan nasi, yang ada nugget ayam dengan menggunakan mobil pribadi. dan kentang goreng. Sebagai orang Sebelum menuju perbatasan kita Indonesia-jawa yang berteman dengan harus membawa paspor dan mengurus nasi sangatlah tidak afdol kalau tidak visa di Kedutaan Kanada di Amerika makan nasi. Jadi satu-satu jalan keluarnya jika ingin melintas perbatasan. Hal ini adalah cari restaurant chinesse-food pasti dikecualikan untuk warga Amerika, kita akan bertemu nasi. meskipun tidak membawa paspor pun Salah satu yang agak sulit adalah
EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

69

SELAK
tetap diperkenankan melintas di perbatasan dengan hanya membawa identitas lainnya, misalnya driving license atau birth certificate atau naturalization paper. Untuk mata uang kita bisa membawa dollar Amerika maupun dollar Kanada, karena dua mata uang ini dapat diterima di perbatasan kedua belah negara. Seperti diketahui bahwa Niagara Falls terletak persis di perbatasan Amerika Serikat dengan Kanada. Persisnya di antara negara bagian New York, Amerika Serikat, dan kota Ontario, Kanada Hal yang unik di perbatasan ini adalah tidak hanya sebagai batas antar kedua negara tetapi juga sebagai obyek wisata yang menghasilkan devisa bagi negara. Batas utama dua negara ini dihubungkan oleh jembatan yang membentang beberapa ratus meter diantara air terjun Nigara Falls. Jembatan tersebut bernama Rainbow Bridge. Di tengah jembatan tersebut berkibar bendera Amerika, PBB, dan Kanada. Pada akhir pekan liburan musim panas biasanya jembatan tersebut ramai dan menimbulkan kemacetan. Jika sudah macet bisa membutuhkan waktu satu jam untuk melintas jembatan tersebut. Apabila anda ingin berjalan kaki melintas jembatan tersebut juga bisa, tetapi jangan lupa tetap membawa paspor karena petugas Customs dan Imrigasi kedua Negara akan menanyakannya. Setelah melewati pemeriksaan petugas US Customs dan Imigrasi penulis melewati Rainbow Bridge menuju Kanada, hari masih terang meski pun agak berkabut karena percikan air dari air terjun Niagara. Mungkin karena masih awal musim semi, pohon-pohon masih gundul. Daundaun baru mulai tumbuh. Udara pun cukup dingin, sekitar 10 derajat Celsius.. Pemandangannya ... Wow! ! ! Setibanya di seberang jembatan disambut oleh petugas Canada Customs dan diwajibkan melaporkan segala dokumen dan barang-barang bawaan. Petang itu penulis tidak mempunyai banyak waktu untuk mengagumi air terjun Niagara dari jendela kamar di lantai 10 Sheraton Hotel. Penulis hanya mempunyai waktu untuk mandi atau refreshing sebentar dan harus segera turun jalan-jalan. Setelah kembali baru kami mempunyai kesempatan untuk sejenak menikmati pemandangan air terjun Niagara yang disinari lampu sorot warna warni dari jendela kamar. Tepat jam 12 malam, lampu-lampu sorot dimatikan. Namun pantulan dari lampulampu jalan, lampu-lampu rumah dan lampu-lampu dari kamar-kamar hotel di air terjun memberikan illuminasi yang cukup indah. seorang imam (pastor) katolik yang juga seorang penjelajah (explorer). Air terjun Niagara ada dua. Maksudnya terdiri atas dua bagian, yaitu “American Falls” milik Amerika Serikat dan “Horseshoe Falls” milik Kanada. American Falls, meski pun lebih tinggi dua meter, tetapi lebih kecil dibandingkan dengan Horseshoe Falls milik Kanada yang melengkung seperti tapal sepatu kuda. Itulah sebabnya mengapa air terjun milik Kanada itu disebut “Horseshoe Falls”. Di antara kedua air terjun itu terdapat sebuah pulau bernama “Goat Island” (Pulau Kambing). Bila pulau itu tenggelam atau terkikis habis, entah berapa ribu atau juta tahun lagi, kedua bagian air terjun itu bisa menyatu. Tinggi Horseshoe Falls 53 meter sedangkan tinggi American Falls 55 meter. Untuk menjaga keindahan air terjun, antara Pemerintah Kanada dan Amerika Serikat bersepakat agar pada musim-musim wisatawan (tourist seasons) debit air terjun (Horseshoe Falls milik Kanada) diatur sedemikian rupa sehingga tidak kurang dari 2.800 meter kubik per detik, sedangkan pada off season debit air tidak kurang dari 1.400 meter kubik per detik. Keesokan harinya penulis mencoba naik di menara pandang Skylon Tower sehingga dapat menikmati pemandangan yang luar biasa, seperti menikmati aliran air yang tiada henti berjatuhan mengisi aliran sungai di bawahnya. Derasnya air yang jatuh menimbulkan pantulan yang membumbung tinggi, sehingga nampak seolah air terjun itu selalu diselimuti awan. Selanjutnya penulis sempatkan mengunjungi toko-toko penjual cenderamata yang berderet menyambut para wisatawan di kawasan tersebut. Mulai berjualan kartu pos, gantungan kunci, kaus bergambar Niagara, sampai buku dan sendok kecil untuk hiasan dinding. Di seberang jalan nampak sebuah kereta kencana dengan empat kuda putih dan kusir berpakaian hitam tampak menunggu pelanggannya yang bersedia membayar US$ 10 per orang. Perjalanan pun sampai pada bagian atas Air Terjun Niagara. Pemandangan utama yang selalu dikagumi dunia ini benar-benar membuat orang berdecak kagum. Air yang jatuh ke bawah sedalam 52 meter itu bergemuruh. Butir-butir air (halimun) terbang ke udara, membasahi pengunjung. Para pengunjung bisa melihat keajaiban alam ini dari tepian yang dibatasi pagar setinggi dada. Dengan memasukkan uang receh US$ 25 sen, Anda bisa melihat air terjun lebih dekat, menggunakan teropong. Bila kurang puas, Anda bisa mendekati air terjun di bawah sana, dengan kapal angkut bernama Maid of the Mist (Perawan Halimun).

SEKILAS NIAGARA FALLS
Meski pun bukan air terjun terbesar di dunia, Niagara merupakan air terjun yang paling terkenal. Air terjun yang paling besar adalah air terjun Guairia di perbatasan Argentina - Brazil dengan debit 13.000 meter kubik per detik, sedangkan debit air terjun Niagara “hanya” kurang dari 6000 meter kubik per detik. Air terjun Niagara terletak di Sungai Niagara yang berhulu di Danau Erie dan bermuara di Danau Ontario. Berdasarkan penelitian, air terjun ini terbentuk 12.000 tahun lalu ketika lempeng-lempeng es raksasa mencair dan meluberkan Danau Erie. Luapan air itu kemudian membentuk Sungai Niagara dan mengalir ke Utara memotong bukit-bukit dan menyebabkan munculnya air terjun. Namun air terjun itu baru “ditemukan” pada tahun 1678 oleh Louis Hennepin,
FOTO : BW/SBY

SETELAH PUAS mengelilingi kota kami mampir makan malam di Food Terminal .

70

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

Selanjutnya dengan membayar tiket US$ 12, Anda akan memasuki jembatan raksasa yang sampai ke sebuah menara berisi dua lift. Dari sini, Anda akan dibawa amblas turun ke bumi sedalam 55 meter. Lalu seorang penjaga memberi jas hujan warna biru, dan menyilakan Anda menuju kapal. Perjalanan selama 15 menit itu terasa berjam-jam, karena kapal senantiasa bergoyang hebat, dihantam ombak Sungai Niagara. Presiden Franklin D. Roosevelt melukiskan perjalanan itu dengan kata-kata: ‘’Sampai Anda melihat Niagara Falls dari anjungan kapal Maid of the Mist, Anda tidak tahu betapa hebatnya kekuatan alam. Tatkala kapal semakin mendekati air terjun, seluruh penumpang basah kuyup didera embun yang jatuh seperti hujan gerimis. Embun yang menerpa wajah anda, deru mesin diesel kapal, dan hantaman ombak membuat kita tidak akan melupakan pengalaman ini.’’

TIPS BEPERGIAN KE LUAR NEGERI
alan-jalan memang menyenangkan, tapi kadang-kadang bisa merepotkan jika tidak dipersiapkan dengan baik, apalagi perjalanan ke luar negeri. Bahasa yang tidak akrab telinga, perbedaan aturan dan kebiasaan dapat serta merta mendatangkan masalah buat traveler. Namun dengan sedikit perencanaan ke luar negeri bisa jadi pengalaman paling berkesan selama hidup. Berikut tipsnya : n Rencanakan Perjalanan Anda : 1. Lakukan riset dan pelajari sebanyak mungkin fakta tentang destinasi anda 2. Cek juga cuaca di Negara tersebut sehingga anda bersiap untuk menyesuaikannya 3. periksa apakah ada travel warning untuk pergi ke Negara tujuan anda 4. Pastikan paspor masih berlaku. Beberapa Negara bahkan menolak jika paspor akan kadaluwarsa dalam waktu enam bulan 5. Cari tahu apakah diperlukan visa atau dokumen lain untuk masuk ke Negara tersebut 6. Lakukan riset tentang harga-harga di sana sehingga bisa merancang anggaran belanja. Cek kolom bisnis surat kabar untuk perbandingan kurs mata uang 7. pelajari beberapa patah kata dalam bahasa lokal n Uang di Perjalanan 1. Bawa kartu kredit dengan merek-merek terkenal seperti visa, mastercard, dan American express 2. Pastikan itu kartu kredit, bukan sekedar kartu debet dengan logo perusahaan kartu kredit di atasnya. Banyak lokasi yang mensyaratkan kartu kredit bukan kartu debet 3. Dengan kartu kredit kadang mendapat memungkinkan anda mendapat harga tukar lebih baik daripada menukar secara langsung 4. Dengan kartu kredit tidak perlu membawa uang tunai secara banyak 5. Kartu ATM juga bisa mendapatkan uang tunai karena mereka memberikan uang dalam mata uang lokal. Hubungi bank anda untuk memastikannomor PIN bisa digunakan di luar negeri 6. Jangan tunggu hingga benar-benar uang habis sebelum pergi ke ATM n Menjaga Kesehatan 1. Jika anda alergis terhadap makanan tertentu cari tahu nama makanan tersebut dalam bahasa lokal untuk berjaga-jaga 2. Sebaiknya pergi ke dokter gigi sebelum melakukan perjalanan jika sudah lama tidak melakukannnya. Pengalaman membuktikan ada seorang teman lebih baik pulang ke Indonesia untuk berobat ke dokter gigi sekalian menengok keluarga karena harga tiket PP lebih murah daripada berobat di sana. 3. Jika perut anda sensitif sebaiknya tetap minum air dalam kemasan atau minuman ringan 4. Hindari makanan mentah karena bisa menjadi jalan untuk masuknya penyakit n 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Menjaga Keamanan Berpakaian wajar dan berusaha membaur Hati-hati ketika memilih hotel dan moda transportasi jangan mengenakan perhiasan berlebih atau memamerkan uang tunai Hindari berpergian sendiri Hati-hati berbagi rencana perjalanan anda dengan orang asing Selalu waspada kepada keadaan sekeliling Jangan menerima hadiah atau paket dari orang tak dikenal Untuk menghindari copet hindari jalan-jalan kecil penyelenggara baik dari pusat maupun di daerah kabupaten/kota, demi mengabdi kepada bangsa dan negara, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

J

DAERAH PERBATASAN, ALTERNATIF TUJUAN WISATA
Jika penulis bandingkan antara perbatasan dua negara di AmerikaKanada dengan Indonesia-Malaysia. Alangkah baiknya jika Malaysia dan Indonesia bekerjasama menjadikan perbatasannya menjadi suatu tempat obyek wisata yang dapat memberikan masukan devisa bagi kedua Negara dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada. Pembangunan daerah perbatasan Entikong,Indonesia merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Pengelolaan daerah perbatasan menghendaki adanya perhatian yang lebih fokus agar terjadi peningkatan kualitas pembangunan dan kualitas penduduk di wilayah tersebut. Secara garis besar, permasalahan pembanguanan daerah perbatasan mencakup : permasalahan kondisi geografis dan topografi wilayah; permasalahan yang berdimensi lokal berupa kemiskinan; permasalahan yang berdimensi nasional berupa kegiatan ekonomi ilegal; dan permasalahan yang berdimensi regional seperti kesenjangan sosial antara penduduk negeri sendiri dengan penduduk negara tetangga, serta pergeseran garis tapal batas; dan permasalahan berdimensi ekonomi, yaitu belum berkembangnya komoditas unggulan yang sinergis dengan industri pengolahan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya penyelundupan dan pemasaran yang berorientasi ke luar. Pembangunan daerah perbatasan memerlukan kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor pembangunan, koordinasi, serta kerja sama yang efektif mulai dari pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota, yang dijabarkan melalui kebijakan makro yang pelaksanaannya bersifat strategis

dan operasional dengan mempertimbangkan aspek waktu yang ketat. Dalam pencapaiannya, pembangunan daerah perbatasan perlu dilandasi semangat, konsistensi, serta etika/moral yang baik dari pihak

Bambang Wicaksono/Surabaya

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WARTA BEA CUKAI

71

RENUNGAN ROHANI

MADRASAH
S
untuk meningkatkan keimanannya urat Al Baqarah ayat 183 yang sampai ke tingkat yang sempurna. menjadi landasan dasar dari Allah SWT menegaskan bahwa pelaksanaan puasa merupakan orang-orang yang memiliki iman yang suatu ibadah yang didirikan atas sempurna adalah mereka yang landasan keimanan kepada Allah senantiasa bergetar hatinya jika SWT m,elalui jalan pengendalian diri disebut Asma Allah, senantiasa untuk tidak berpaling dari Allah SWT bertambah keimanan mereka jika dengan tujuan untuk mencapai suatu membaca atau mendengar ayat-ayat derajat yang paling mulia di sisi Allah SWT, senantiasa bersandar Allah SWT, yaitu taqwa, dengan dekepada Allah SWT dalam mikan kita bisa memahami betapa menghadapi persoalan apapun serta ibadah puasa menempati kedudukan beribadah kepada Allah SWT (Qs. Alyang sangat istimewa dalam ajaran anfal:2-4). Mereka yang senantiasa Islam. menjaga adab-adab Berdasarkan penjelasan dari terhadapRasullulah, menjadikan surat Al Baqarah ayat 183 tersebut di beliau sebagai panutan, berpegang atas minimal ada tiga unsir yang teguh dengan sunnah beliau serta sangat penting untuk senantiasa kita menjauhi perbuatan-perbuatan yang renungkan, lebih-leboh ditengah bertentangan kesulitan, kesemdengan sunnah pitan, kesusahan beliau (An-Nur: yang sedang PENGENDALIAN DIRI 62). Mereka yang melanda umat ini, senantiasa ketiga unsur terMERUPAKAN memperkokoh sebut adalah keSESUATU YANG jalinan tali imanan, pengenpersaudaraan dalian diri dan keSANGAT PENTING antar sesama taqwaan. muslim (AlBAGI KEHIDUPAN Hujurat:10). UNSUR KEIMANAN UMAT MANUSIA Mereka yang Jika kita telusenantiasa suri penjelasan beriman kepada Allah SWT dalam Allah SWT dan RasulNya kemudian Al Qur’an kita akan menemukan batidak ada keraguan sedikitpun dalam nyak sekali sifat-sifat orang-orang hati mereka untuk berjuangdengan beriman. Namun ada beberapa sifat harta dan jiwa mereka di jalan Allah yang sangat istimewa yaitu sifat-sifat SWT (QS. Al-Hujurat:15) yang menggambarkan tentang keimanan yang sempurna. Kami sebut dengan sifat-sifat istimewa, karena UNSUR PENGENDALIAN DIRI Allah AWT menggambarkan sifat-sifat Pengendalian diri merupakan tersebut dengan redaksi yang sesuatu yang sangat penting bagi mengandung pengkhususan, yaitu kehidupan umat manusia, karena ia menggunakan kalimat ‘innama’ merupakan jalan untuk mencapai yang artinya adalah ‘Hanya’. Oleh kebahagiaan dalam kehidupan. Kita karena itu sudah seharusnya bagi tidak pernah bisa setiap individu muslim agar senantimembayangkanbagaimana akhir dari asa berusaha bersungguh-sungguh kehidupan umat manusia ini kalau

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orangorang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (Qs. Al Baqarah 183)
72
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

KEUTAMAAN ORANG YANG BERPUASA
Ada beberapa keutamaan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, keutamaan yang tidak akan didapatkan oleh siapapun selain mereka. Diantara keutamaan itu adalah; 1. Kekhususan pahala puasa Dari abu hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman, bahwa semua amal perbuatan anak Adam untuknya kecuali puasa, maka itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari-Muslim) 2. Memperoleh Kegembiraan Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:”Bagi orang yang berpuasa (akan merasakan) dua kegembiraan. Jika berbuka ia bergembira, dan jika berjumpa dengan Tuhannya ia akan gembira karena puasanya (HR. Bukhari-Muslim) 3. Masuk Surga melalui pintu Ar-Royyan Dari Sahl Ra, Rasulullah bersabda: “Sesunggunya di surga itu ada sebuah pintu bernama Ar-Royyan. Yang masuk dari pintu itu pada hari kiamat hanyalah orang-orang yang berpuasa. Tidak boleh masuk daripintu itu selain mereka. Lalu dipanggil: Dimanakah orang-orang yang berpuasa? Maka bangunlah mereka dan msuk ke pintu itu, dan tidak boleh masuk dari situ selain mereka. Jika sudah semuanya, maka ditutup dan tidak boleh orang lain masuk.” (HR.BukhariMuslim) Dengan keikhlasan, semata-mata karena Allah SWT, semoga puasa kita mengantarkan kita untuk memperoleh keutamaan yang demikian besar di sisi-Nya.
WARTA BEA CUKAI

MUTTAQIN
menyimpang dari tujuan yang seandainya manusia hidup tanpa sesungguhnya. Oleh karena itu Islam pengendalian diri. dengan segala kesempurnaannya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam telah meluruskan usaha kitab Al-Fawa’id menjelaskan betapa pengendalian diri ini dengan konsep pentingnya sebuah pengendalian ini keseimbangannya untuk bagi umat manusia lebih-lebih bagi mengembalikan manusia kepada seorang muslim dengan mengatakan fitrahnya, yang sesungguhnya, dan “Pengembaraan dalam mencari Allah salah satu bentuk usaha serta negeri akherat tidak akan lurus pengendalian diri yang disyari’atkan perjalanannya kecuali dengan dua dalam islam adalah pelaksaan pengendalian. Pengendalian hati ibadah puasa. untuk tidak berpaling kepada selainNya dan pengendalian lisan dari ucapan yang tidak bermanfaat dan UNSUR KETAQWAAN memaksanya untuk senantiasa Para ulama telah memberikan berdzikir kepada Allah dengan berbagai definisi tentang taqwa sesuatu yang senantiasa menambah diantaranya Ali bin Abi Thalib. Beliau keimanan serta pengetahuan menjelaskan bahwa orang yang tentang-Nya dan juga mengendalikan bertqwa itu adalah orang-orang yang seluruh anggota tidak takut tubuh dari sedikitpun kecuali kemaksiatan dan kepada Allah ORANG YANG BERsyahwat sekaliSWT, oranggus memaksanya orang yang TAQWA ITU ADALAH untuk senantiasa bertqwa itu ORANG-ORANG YANG melaksanakan adalah orangkewajiban-kewaorang yang TIDAK TAKUT jiban serta senantiasa anjuran-anjuran menjadikan Al SEDIKITPUN KECUALI Islam. Ia tidak Qur’an sebagai KEPADA ALLAH SWT berhenti dari way of life dalam pengendalian ini seluruh dimensi sampai ia kehidupan berjumpa dengan Robbnya, ia keluar mereka, orang yang bertqwa itu dari penjara dunia yang sempit ini adalah orang-orang yang senantiasa menuju keluasan serta keindahan bersyukur dan ridho terhadap akherat” ketentuan Allah SWT sekaligus Sejarah telah membuktikan berusaha dengan sungguh-sungguh bahwa umur pengetahuan tentang mempersiapkan diri mereka untuk pengendalian diri ini berbanding menghadapi kesulitan yang dahsyat tegak lurus dengan perkembangan pada hari kiamat nanti. Terkahir, peradaban umat manusia. Jika kita semoga Allah SWT memberikan telusuri, kita akan menemukan kesempurnaan iman serta taqwa betapa banyak bentuk pengendalian kepada kita sehingga kita menjadi diri yang ada ditengah masyarakat, orang-orang yang mampu meraih namun sungguh sangat disayangkan kemuliaan di bulan Ramadhan ini. bahwa banyak bentuk usaha Wallahua’alamu bishshawab. pengendalian diri ini yang telah Hendriyardi. Lembaga Dakwah Ruhamah

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

73

RUANG INTERAKSI

Oleh: Ratna Sugeng

MENOLAK Pergi Sekolah
Jika anak menolak pergi sekolah, periksa apa yang melatarbelakanginya

P

pernah fobia sekolah, dikemudian hari dapat mendorong ergi ke sekolah bagi kebanyakan orang merupakan terjadinya kecemasan dan depresi pada orang tersebut. aktivitas yang menyenangkan, mereka tak sabar untuk hadir di sekolah dengan berbagai alasan. Dua persen dari anak usia sekolah mengalami penolakan APA PENYEBAB FOBIA SEKOLAH ? sekolah. Bukan membolos, tetapi sama sekali menolak Salah satu sebab anak tidak mau pergi sekolah pergi ke sekolah, suatu fobia sekolah. Anak yang adalah ketakutan berpisah dari orangtua atau orang pembolos mempunyai karakter yang berbeda, mereka dimana ia nyaman melekatkan diri. Dalam istilah psikologi mempunyai perilaku antisosial, dan tidak cemas kalau tak dikenal sebagai cemas perpisahan. Meski ibu atau ayah mengikuti pelajaran, dan mereka tak berada di dekat tempat ia melekat marah besar kepadanya, ia tetap tak orangtua atau kontak dengan guru ketika membolos. akan pergi ke sekolah. Danu, 23 tahun, mahasiswa sebuah perguruan tinggi Penyebab lainnya adalah sakit, kecelakaan atau teknik negeri di Bandung, menolak pergi kuliah setelah kematian, juga ‘kematian’ dari anggota keluarga. semester V. Waktu kecil ia pernah ‘Kematian’ anggota keluarga dialami menolak sekolah dan kemudian oleh kasus Dono. Ketika ia sedang di ditemani ibunya mulai sekolah Amerika bersama ayah-ibu yang KETAKUTAN PERGI kembali. Karena ia menolak kuliah di mengasuhnya, ibu kandungnya Bandung, oleh ayah dan ibunya ia menelponnya dan mengatakan bahwa SEKOLAH dipindahkan ke Jakarta. Setelah Dono bukan anak dari ibu yang MENIMBULKAN semester 2 ini, kembali ia menolak mengasuhnya melainkan anak pergi sekolah. Ia anak yang cukup kandungnya. Saat itu Dono syok, STRES BESAR PADA pandai. terdiam dan mogok sekolah. Ia dapat Dono, 18 tahun, menolak sekolah kembali sekolah atas dorongan ibu ANAK SENDIRI DAN dengan alasan tak jelas. Ia kemudian yang mengasuhnya sampai SMP ORANGTUANYA belajar sendiri di rumah dengan kelas 2. Di SMP kelas 3, ibu bantuan seorang guru. SMP ia lulus kandungnya menjemputnya dan tak dengan ujian paket B. Itupun ia ujian memperkenankan ia kembali ke di dalam mobil, karena tak mau ke ’sekolah’ tempat ujian. rumah ayah-ibu asuhnya. Ia anak yang cerdas. Perceraian, kehadiran adik baru lahir, dan berpindahnya tempat tinggal merupakan penyebab lainnya dari fobia sekolah. Selain penyebab yang berasal APA YANG DIMAKSUD DENGAN FOBIA SEKOLAH ? dari rumah juga dimungkinkan penyebab dari sekolah Fobia sekolah merupakan suatu fakta bahwa anak seperti ketakutan pada guru atau murid-murid lain, takut sangat cemas dan menolak pergi sekolah. Fobia sekolah mengerjakan tugas dimuka kelas atau diolok-olok di erat hubungannya dengan menolak sekolah, dikenal sekolah. sebagai school avoidance. Fobia digambarkan sebagai ketakutan yang luar biasa tanpa sebab yang jelas. Fobia dapat menyebabkan kecemasan besar atau serangan APA TANDA AWAL ANAK MENOLAK SEKOLAH ? panik. Serangan panik merupakan keadaan cemas sangat Jika ia masih diijinkan menangis, ia akan menangis besar, dimana orang merasa waktunya mati sudah dekat, ketika tiba waktunya untuk pergi ke sekolah. Orangtua tercekik tak mampu bernafas, bukan disebabkan karena sangat sulit memaksanya berangkat sekolah, meski telah gangguan fungsi tubuh. menjanjikan bermacam hadiah sebagai iming-iming. Ia Fobia sekolah banyak dimulai pada usia 5-7 tahun, akan deg-degan, berkeringat dingin, sakit kepala, mual, juga remaja. Seringkali fobia sekolah dimulai sesudah muntah, diare, gemetar atau kejang. liburan atau tak masuk sekolah karena sakit. Ketakutan Ketika memikirkan sekolah pun gejala mual, muntah, pergi sekolah menimbulkan stres besar pada anak sendiri diare, sakit kepala sudah muncul. Anak menjadi menarik dan orangtuanya. Dalam kehidupan seseorang yang diri tak mau berhubungan dengan siapapun, sedih, tak
WARTA BEA CUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

74

FOTO: ISTIMEWA

Jika tidak ditangani, penolakan pergi sekolah dalam jangka panjang akan memberi stres besar pada keluarga. Dapat terjadi kemerosotan kemampuan berpikir, buruknya interaksi dengan orang, penolakan mandiri dengan tidak mau menolong kehidupan diri sendiri, gangguan psikologik dan psikiatrik.

FOBIA SEKOLAH ERAT HUBUNGANNYA DENGAN MENOLAK SEKOLAH

dapat bermain ataupun melakukan kegiatan.

APA YANG TERJADI JIKA MENOLAK PERGI SEKOLAH DIABAIKAN ?

APA YANG DAPAT DILAKUKAN ?
Lakukanlah konseling dengan psikiater atau psikolog klinis guna membantu menghilangkan kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Kunjungan konseling, atau lebih tepatnya psikoterapi dapat dijadwalkan oleh orangtua dan anak secara intensif dan berkesinambungan. Terapi ini tidak dapat dijalani hanya dengan datang dua atau tiga kali, namun memerlukan penjadwalan sesuai kebutuhan anak dan orangtua. Seringkali psikiater akan memberikan obat untuk ditelan jika dijumpai gejala yang memerlukan terapi anti cemas, antidepresi, pemulihan mood. Bagi anak dengan gangguan atensi dan konsentrasi mungkin diberikan psikostimulan untuk memperbaiki energinya. Membuat diri orangtua menerima anak yang menolak sekolah sangat berat. Seringkali orangtua menjadi jengkel, marah, sedih dan ini menambah ketakutan dan kecemasan pada anak. Para terapis akan memberikan pedoman akan apa yang perlu dilakukan di rumah dan aktivitas apa yang dapat membantu pemulihan. Dalam banyak situasi, perubahan sikap, pikiran dan tindakan orangtua dan orang yang dekat dengan anak perlu direalisasikan.

BAGAIMANA MENGHADAPI ANAK YANG MENOLAK SEKOLAH ?
Jika anak menolak pergi sekolah, periksa apa yang melatarbelakanginya. Dokter akan mungkin membantu pemeriksaan kesehatannya. Jika ia sehat, periksa apakah ada peristiwa pemicu tak mau sekolah . Kadang anak dapat didorong kembali ke sekolah oleh teman-teman yang merasa membutuhkannya. Bilamana anak mengeluhkan hal tentang tes, ulangan, menyontek atau hal spesifik lainnya, maka ajaklah guru membicarakan solusi, terutama wali kelas dan guru konseling. Strategi yang dilakukan beberapa orangtua adalah memberikan rasa aman pada anak dengan menemaninya ke sekolah atau memberikannya aktivitas yang disenangi sesudah sekolah dijalani. Bilamana upaya ini tak lagi berhasil, maka mutlak diperlukan pendekatan terapis profesional dan mengubah beberapa sikap perilaku orangtua yang meningkatkan kecemasan atau menurunkan rasa percaya diri anak. Terapi sangat tergantung kasusnya. Banyak anak yang menolak sekolah karena suatu alasan seperti takut disiplin sekolah, merasa tak mampu bergaul, kemudian tinggal di rumah asyik dengan permainan dengan diri sendiri (menonton TV, bermain video game). Perencanaan terapi yang memerlukan dukungan penuh orangtua akan sangat menolong. Tanpa perbaikan sikap perilaku orangtua, keberhasilan dipertanyakan.
EDISI 382 SEPTEMBER 2006

FOBIA SEKOLAH. Banyak dimulai pada usia 5-7 tahun WARTA BEA CUKAI

75

PROFIL

Nanang Tadjudin
KEPALA BAGIAN UMUM KANTOR WILAYAH I DJBC MEDAN

“Mengalir Bagai Air, Apa Adanya... ”
Senyum mengembang dan sapaan hangat menyambut WBC, saat bertemu dengan Nanang Tadjudin, Kepala Bagian Umum Kantor Wilayah I DJBC Medan di kantornya. Memang, sosok Nanang begitu ia biasa dipanggil, sudah tidak asing lagi bagi WBC. Pasalnya pada tahun 2004 lalu (sebelum gempa dan tsunami melanda Aceh-red WBC pernah bertemu dengannya di Aceh saat red), red ia bertugas di Kanwil XIII DJBC Banda Aceh.

I

barat bertemu dengan teman yang sudah lama tidak bersua, pembicaraan kami pun berlangsung dengan hangat. Sesekali guyonan Nanang membuat suasana semakin akrab padahal, hari itu cuaca diluar sangat panas. Saat ditanya mengenai pengalaman hidupnya, Nanang bertutur, ia merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Orangtuanya bekerja sebagai petani dan tinggal di sebuah kampung di Kecamatan Banjaran, Bandung Selatan, yang terletak di lembah Gunung Malabar. Sejak kecil, orangtuanya mendidiknya dengan keras dan cenderung otoriter. Walaupun begitu, ia dan adik-adiknya tetap patuh menuruti perintah orangtua. Sikap keras orangtuanya yang cukup membekas ia alami ketika duduk di bangku SMP kelas 1. “Waktu itu di rapor saya ada angka 5 untuk pelajaran menulis karena tulisan saya jelek. Padahal seumur hidup saya belum pernah mendapat angka 5 di rapor. Orangtua saya tidak mau menandatangani rapor saya. Akhirnya, tandatangan orangtua saya dipalsu oleh paman yang prihatin melihat saya,” kenang Nanang. Namun demikian, buah dari didikan orangtuanya yang keras membuat Nanang menjadi siswa yang berprestasi disekolah. Usai menamatkan SMA-nya di Bandung (1968), Nanang tidak tahu harus kuliah dimana, ia hanya mengikuti temantemannya. Akhirnya, ia memutuskan kuliah di Akademi Geologi Pertambangan, Bandung, itu pun tidak tamat, hanya sampai tingkat II. Setelah itu ia memilih untuk kuliah di Akademi Bank Nasional, Bandung. Saat sedang menunggu hasil ujian akhir (Maret 1972), Departemen Tenaga Kerja mengeluarkan pengumuman penerimaan pegawai untuk Departemen Keuangan. Nanang lalu mendaftar dengan menggunakan ijasah SMA (karena pada waktu itu ia belum lulus kuliah-red). Semasa menunggu pengumuman penerimaan, Nanang berhasil menyelesaikan kuliahnya dan sempat mengikuti training di Dago, Bandung, selama 3 bulan untuk bekerja di kapal pesiar Holland American Lines. Desember 1972, Nanang mendapat
WARTA BEA CUKAI

panggilan dan diterima bekerja di Departemen Keuangan. Ia ditempatkan sebagai CPNS Bea Cukai di Kantor Inspeksi Bea dan Cukai Pekanbaru. “Tiga hari sebelum berangkat ke Pekanbaru, saya baru bilang ke orangtua bahwa saya diterima di Departemen Keuangan,” ujar Nanang. Terang saja orangtuanya kaget dan merasa berat untuk melepaskannya pergi. Apalagi dikampungnya belum pernah ada masyarakatnya yang merantau. Dengan berat hati, orangtuanya merelakan Nanang berangkat ke Pekanbaru.

PINDAH DULU, SKEP MENYUSUL
Di Kinsp Pekanbaru ia ditempatkan di Sekretariat (sekarang Subbag Umum), kemudian rolling ke bagian-bagian lainnya. Saat bertugas di Pekanbaru, Nanang sempat dikumandah ke Kantor Inspeksi Bea dan Cukai Bengkalis. Waktu itu jalan menuju Bengkalis memakan waktu 1 hari 1 malam melalui sungai dengan menggunakan kapal pong-pong (kapal kayu yang kecil). Nanang mengaku terkesan ketika bertugas di Bengkalis. “Pada waktu itu, jalan beraspal di kota Bengkalis panjangnya hanya 100 m saja, itupun jalan menuju rumah Bupati Bengkalis,” kenangnya. Selama bertugas di Bengkalis, ia menyempatkan diri melihat Pos Bea Cukai Bantan Tua yang berhadapan langsung dengan pantai Barat Malaysia. Dengan mengayuh sepeda, Nanang menuju pos yang berjarak 16 km dari Bengkalis. Saat itu pos Bantan Tua berupa menara dengan ketinggian sekitar 10 m dari atas tanah. Dari puncak menara terlihat laut lepas dan kota Malaka yang indah di malam hari. Setelah kumandah di Bengkalis, Nanang kembali ke Pekanbaru. Dua bulan kemudian, ia mengikuti pendidikan Puspla (sekarang DPT 2-red) di Kantor Pusat DJBC, Jakarta, untuk menjadi pemeriksa bea cukai. Usai pendidikan, akhir tahun 1975 ia ditempatkan untuk pertama kalinya sebagai PNS di Kantor Cabang Bea dan Cukai Tingkat I Magelang (sekarang KPBC Tipe C-red) sebagai pemeriksa. Di Magelang itulah Nanang menikah pada 1978 dengan pujaan hatinya,

seorang gadis asal Tasikmalaya bernama Nina Rafaldina. Pada 1979, saat istrinya sedang mengandung anak pertama, Nanang dipindahkan ke Kantor Wilayah Bea dan Cukai Semarang sebagai pemeriksa (saat itu Kanwil Semarang masih melakukan pelayanan-red). Seminggu di Semarang, sang istri melahirkan anak yang pertama. Setelah Inpres No. 4 Tahun 1985 keluar, untuk pertama kalinya DJBC melakukan re-organisasi. Nanang ditempatkan di Kantor Inspeksi Bea Cukai Kudus sebagai Kasubseksi Entrepot. Saat di Kudus, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti SGS Training Course di Jakarta dan Singapura. Setelah mengikuti training (1990), Nanang kembali ke Kudus. Saat istirahat makan siang ia menerima telepon dari Kantor Pusat. Orang dari Kantor Pusat tersebut mengatakan, besok ia harus berada di Kantor Pusat dan menghadap Direktur Pabean (saat itu Daeng Nasirred). “Katanya, keberangkatan saya ini berkaitan dengan customs fast release system (CFRS), sistim komputerisasi yang pertama kali di Bea Cukai. Sebab waktu itu saya juga baru selesai mengikuti kursus CFRS di Surabaya sebagai pemeriksa dokumen,” terang Nanang. Begitu menghadap Dir. Pabean, ternyata hari itu juga ia harus berangkat ke Cengkareng. “Saya bingung, apa saya dimutasi tapi katanya saya sudah menandatangani surat pernyataan siap ditempatkan dimana saja makanya saya dilarang bertanya dimutasi atau tidak,” imbuh Nanang. Akhirnya Nanang berangkat ke Cengkareng, saat itu untuk pertama kalinya realease barang menggunakan komputer (1990) dan sebagai Pejabat Fungsional, Nanang bekerja menandatangani, memeriksa dan meneliti dokumen. Untuk itu ia harus bekerja kadang-kadang sampai pukul 24.00 dan sewaktu-waktu diawasi langsung oleh Menteri Muda Keuangan (waktu itu dijabat Nasrudin Sumintapura-red). Setelah bekerja selama 3 bulan di

76

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

WBC/ATS

Cengkareng, keluarlah SK Dirjen BC bahwa ia dikumandah ke Cengkareng selama 3 bulan. Kumandah tersebut terus diperpanjang sampai akhirnya ia telah dikumandah di Cengkareng selama 1,5 tahun. Setelah itu keluarlah Kep yang menyatakan bahwa Nanang ditetapkan bertugas di Cengkareng sebagai Pejabat Fungsional. April 1995, Nanang dimutasi sebagai Kepala Kantor Tipe C Amamapare, Papua. Ia sempat bingung karena tidak tahu letak Amamapare. Untunglah secara kebetulan anak tetangga disebelah rumahnya adalah pegawai PT. Freeport. Anak tersebut datang kerumahnya dan menawarkan untuk berangkat bersama menuju Amamapare. Seminggu setelah SK mutasi keluar, ia berangkat ke Amamapare. Ketika pesawat hendak landing di Timika, Nanang terkagum-kagum dengan pemandangan dibawahnya. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanya hutan yang ‘keriting’ (sangat lebat-red). Di Timika, kendaraan dari PT. Freeport sudah menunggu. Melewati jalan berbatu, sepanjang jalan menuju Amamapare (sekitar 60 km) yang ada hanyalah hutan yang lebat dan gelap. Beberapa jam kemudian perjalanan berhenti tepat di bibir pantai. Di pantai tersebut hanya terdapat sebuah terminal kecil. Dari terminal tersebut, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi selat karena KPBC Amamapare berada di suatu delta. Yang menarik, saat bertugas di Amamapare Nanang menemukan suatu keganjilan saat ada pengiriman barang menggunakan tongkang dengan tujuan Etna Bay (Teluk Etna). Biasanya, barang yang dikirim melalui Amamapare tujuannya adalah Tembaga Pura dan tanpa menggunakan tongkang. Ia penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh dimana letak Etna Bay. Namun keinginannya itu tidak bisa terlaksana karena menurut pegawai Freeport, untuk menuju Etna Bay dibutuhkan waktu sekitar 20 jam perjalanan laut dengan menggunakan tongkang. Dengan diliputi rasa penasaran, Nanang membongkar dokumen mengenai letak konsesi PT. Freeport. Dalam dokumen tersebut, Etna bay tidak terdapat didalamnya. Lewat peta, ia berhasil menemukan kata ‘Etna’ berada dileher bawah kepala burung Pulau Papua, dekat kota Kaimana. Nanang langsung berinisiatif menghubungi Topografi Angkatan Darat di Timika untuk meminta tolong mencari letak Etna Bay. “Akhirnya ketahuan kalau Etna Bay ini berada disekitar Kaimana, Fak-Fak sebelah selatan” tandasnya. Akhirnya, begitu ada pengiriman barang berikutnya dengan tujuan Etna Bay, pengiriman tersebut untuk sementara dihentikan. Nanang pun bersikeras untuk pergi ke Etna Bay. Empat hari kemudian, dengan menggunakan fasilitas PT. Freeport, Nanang bersama seorang Kasubsinya, bergerak menuju Etna Bay dari Timika dengan menaiki pesawat amphibi. Sebelum menaiki pesawat, Nanang diperkenalkan dengan dua orang asing
EDISI 382 SEPTEMBER 2006 WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
DOK. PRIBADI

BERSAMA KELUARGA. (Ki-ka) Armand Priya Pramudana (putra kedua), Evan Satria Indrawila (putra ketiga), istri (Nina Rafaldina), Nanang Tadjudin, Okki Bunga Arsianti (putri pertama).

1985 tidak berlaku alias dicabut. Sebagai gantinya, dikeluarkan Kepres No. 85 yang menyatakan bahwa barang-barang impor melalui KPBC Amamapare tidak diperiksa lagi oleh surveyor (SGS) melainkan oleh Bea dan Cukai. Sekitar Oktober 1996, Nanang menerima telepon dari Sekretaris DJBC agar segera berangkat ke Jakarta untuk mengikuti suatu kursus. “Pada saat itu saya berpikir, dengan kursus ini kayanya saya dicabut nih dari Amampare,” kata Nanang. Benar saja, usai kursus (1997) ia tidak kembali lagi ke Amamapare. Ia diinstruksikan untuk bertugas di Tanjung Perak sebagai PFPD. Pada saat itu Tanjung Perak baru menerapkan sistem komputerisasi dalam memeriksa dokumen. Setelah 3 bulan bertugas, barulah keluar SK yang menyatakan bahwa ia dikumandah di Tanjung Perak. Dengan demikian, ia merangkap dua jabatan sekaligus, sebagai Kepala KPBC Amamapare dan PFPD. Akibatnya, 3 minggu sekali ia berangkat ke Amamapare untuk melihat kondisi disana. Barulah Oktober 1997 ia dikukuhkan sebagai PFPD di Tanjung Perak, Surabaya, hingga April 2000.

yang juga akan pergi ke Etna Bay (belakangan baru ketahuan bahwa kedua orang itu adalah vice president PT. Freeport yang ada di Houston, Amerika). Sekitar 2 jam perjalanan udara, pesawat pun mendarat di teluk. Begitu turun dari pesawat, ia melihat banyak kontainer berjejer di pinggir teluk. Suasana disekitar teluk tersebut tampak ramai dengan pegawai perusahaan yang hilir mudik, seperti berada di sebuah kampung. “Saya rasa harus ada Kantor Bantu ditempat itu karena suasananya ramai dan kegiatannya banyak. Saya sendiri tidak mengerti apakah ada hubungannya dengan PT. Freeport,” ucap Nanang. Namun ia mengakui bahwa transportasi un-

tuk menuju Etna Bay sangat sulit. Pasalnya, lokasi Etna Bay berada di pedalaman hutan, dekat teluk dan hanya bisa dilalui oleh tongkang dan pesawat amphibi. Setelah kejadian itu, Nanang melaporkan pada pimpinan dan memberanikan diri untuk memeriksa barang-barang impor yang datang lewat Amamapare dengan sistem acak, random. Hasilnya, terdapat banyak kesalahan. Namun untuk menghindari keterhambatan atas produksi, pengeluaran terhadap barang-barang impor tersebut tetap dilakukan dan harus disertai dengan jaminan tunai. Kemudian setelah ada persetujuan dari Menteri Keuangan, khusus untuk KPBC Amamapare, Inpres No. 4 Tahun
DOK. PRIBADI

TERKESAN DI ACEH
Jumat pagi yang indah, Nanang baru saja selesai senam pagi di kantor (Tg. Perak, Surabaya). Tiba-tiba ada telepon untuknya dari Kepala Bagian Umum Kanwil IV Tanjung Priok. “Katanya nanti siang saya akan dilantik oleh Kakanwil IV tapi kenapa saya belum melapor? Lha, saya kan bingung, apakah saya dipindah? Tapi saya kok tidak terima skepnya?” kata Nanang. Uniknya, pada saat itu biasanya untuk PFPD hanya ada pencabutan dan pengangkatan PFPD, tidak ada mutasi PFPD. Setelah melapor pada Kakanwil Surabaya (saat itu Eddy Abdurrachman-red), hari senin ia sudah berdinas di Tanjung Priok. Dari Tanjung Priok Nanang dimutasi ke Pusdiklat. Sekitar tahun 2002, ia dimutasi ke Kantor Wilayah XIII DJBC Banda Aceh sebagai Kepala Bagian Umum. Desember 2005 ia dipindahkan ke Kanwil I DJBC Medan juga sebagai Kepala Bagian Umum. Dari sekian banyak mutasi, Nanang mengaku terkesan ketika menjabat sebagai Kabag Umum Kanwil XIII DJBC Banda Aceh. Pasalnya dengan jabatan yang sama, sebagai Kabag Umum Kanwil XIII, ia bertugas di 3 tempat yang berbeda, semuanya dalam keadaan darurat dan menata kantor baru. Pertama, Kantor Pusat karena saat itu Aceh masih dalam keadaan darurat militer makanya Kanwil XIII bermarkas di Kantor Pusat, Jakarta. Kedua, di Banda Aceh dan yang ketiga, di Medan (saat gempa dan tsunami melanda Aceh, Kanwil XIII dipindahkan ke Medan-red). Ada hal lain yang membuat Nanang terkesan saat bertugas di Aceh. Saat pulang kantor tiba (waktu itu masih darurat militer), jalan dari Ulee Lheuee menuju Mess Bea Cukai di Banda

SGS TRAINING COURSE. Bersama Mr. Marlow, instruktur SGS (dari Inggris Customs) saat mengikuti SGS Training Course di Pusdiklat Bea dan Cukai (1990).

78

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

DOK. PRIBADI

Aceh, sudah dibarikade oleh polisi. Saat itu Banda Aceh seperti kota mati karena pada Pkl. 20.00, masyarakat tidak ada yang berani keluar rumah. Saat gempa dan tsunami meluluhlantakan Aceh, Nanang membentuk posko evakuasi di Medan untuk para pegawai bea cukai yang bertugas di Aceh. Evakuasi melalui jalan darat dilakukan mulai dari Meulaboh menuju Tapak Tuan yang berjarak sekitar 200 km. Kemudian dari Tapak Tuan menuju Meukik, terus ke Bakongan. Di Bakongan jalan terputus, akibatnya Nanang harus mengirim kendaraan jenis L300 dari Medan untuk mengangkut pegawai yang tertahan di Bakongan pada pkl. 02.00 dini hari. Sementara yang terluka parah dievakuasi dengan menggunakan pesawat carter. Sepanjang bekerja di Bea dan Cukai, Nanang merasa beruntung dengan adanya mutasi. Lewat mutasi ia menjadi salah satu manusia yang jarang dijumpai yang ada di DJBC. “Sampai tingkat eselon III bisa dihitung dengan jari orang-orang yang pernah bertugas dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia. Di ujung timur saya pernah ke kilometer akhir yang berbatasan dengan PNG dan Australia. Di ujung barat saya pernah ke kilometer nol di Sabang, Aceh,” ujar pria yang hobi jalan kaki ini. Yang jelas dari sekian banyak mutasi tersebut, beberapa diantaranya tidak ia ketahui bahwa akan dimutasi. Tiba-tiba saja ia dipindahkan tanpa pemberitahuan yang jelas. “Tapi saya menjalani semuanya bagaikan air mengalir, apa adanya,” ujarnya. Ia mengaku banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pengalamannya tersebut. Diantaranya, ia mengetahui karakteristik masyarakat Indonesia yang berbhineka tunggal ika. “Jadi, pengalaman tersebut bisa saya jadikan pelajaran untuk saya sampaikan pada anak-anak saya, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung,” begitu petuahnya. Selain dari pengalaman, Nanang ingin
DOK. PRIBADI

agar anak-anaknya selalu bersemangat untuk menimba ilmu dan menjadi anak yang berguna, terutama dalam hal agama. Saat ini anak pertamanya Okki Bunga Arsianti telah menyelesaikan S2 di MMU, Malaysia. Sementara anak keduanya, Armand Priya Pramudana telah menyelesaikan S1 di Universitas Pasundan, Bandung dan anak ketiga, Evan Satria Indrawila masih kuliah di Universitas Maranatha, Bandung, jurusan Teknik Elektro. Sebagai ayah, Nanang mengaku kurang berperan dalam mendidik anakanaknya. Pasalnya, terakhir kali ia berkumpul dengan anak-anaknya adalah saat anak pertamanya duduk di bangku SMP. Jadi, sang istrilah yang sangat berperan dalam mendidik anak-anaknya. Untuk itu Nanang menyarankan pada pegawai yang masih aktif agar menyadari pentingnya peran istri dalam mendidik anakanak. Nanang sendiri merasa bangga bisa melanjutkan kuliah sambil bekerja dan berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas 17 Agustus (Untag), Semarang. Berhubungan dengan kuliahnya di Untag, ia mengaku punya pengalaman menarik. Waktu itu ia sedang mengikuti DPT 3. Pada saat mengabsen siswanya, seorang pengajar, menyebut namanya lengkap, “Nanang Tadjudin SH.” Lalu pengajar itu bertanya ia bertugas dimana. Nanang menjawab di Soekarno Hatta. Tiba-tiba pengajar itu nyeletuk, “Eh, Soekarno Hatta itu kan singkatannya SH, jangan ditambahkan dibelakang nama kamu dong, jadi seolah-olah SH itu gelar di belakang nama kamu.” Hari berikutnya pengajar tersebut mengatakan, “Saudara Nanang… SH itu apa?” Nanang menjawab, “Sarjana Hukum pak.” Kemudian pengajar itu bertanya tempat kuliahnya. Saat Nanang menjawab di Untag, Semarang, pengajar tersebut kembali nyeletuk, ”Saudarasaudara… untuk saudara ketahui, Universitas 17 Agustus itu adalah universitas yang sangat susah bagi mahasiswanya untuk tidak lulus.” Kontan semua siswa yang mendengar hal itu tertawa. “Berarti kan saya termasuk siswa yang sulit untuk tidak lulus,” ujar Nanang sambil tertawa.

ETNA BAY. Saat melakukan tinjauan lokasi ke PT. Irja Mining di Etna Bay, yang terletak di dekat Kaimana, Fak-Fak, Papua.

BANYAK HIKMAH DARI MUTASI
Di akhir wawancara Nanang berharap agar pimpinan memanfaatkan semaksimal mungkin SDM yang dimiliki DJBC. “Banyak orang-orang di Bea Cukai yang masih muda dan pintar sehingga mereka bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin,” katanya. Ia juga menyarankan pada pegawai yang selama ini takut dimutasi agar jangan menganggap hal itu sebagai beban. “Banyak hikmah yang bisa diperoleh dengan berpindah-pindah tugas. Yang jelas, pengalaman adalah pelajaran yang berharga, baik untuk menjalani hidup maupun agama karena bagaimanapun

STUDI BANDING. Berpose di depan Customs House saat studi banding ke Australia Customs di Canberra.

juga pengalaman itu sangat penting,” imbuh Nanang. Jadi, seorang pejabat, sepintar apapun ia, setinggi apapun jabatannya tapi kalau hanya bertugas disuatu tempat saja, misalnya Jakarta, Nanang menganggap hal itu kurang pas. Pasalnya, dengan mutasi ke beberapa daerah, berbagai macam karakter pegawai, mulai dari bagian barat Indonesia hingga bagian Timur Indonesia, bisa diketahui. “Sehingga, kalau suatu saat pegawai tersebut ditempatkan dibagian kepegawaian, ia akan tahu bagaimana karakter orang-orang di berbagai daerah,” imbuhnya. Per tanggal 1 Oktober Nanang memasuki masa purna bhakti. Setelah pensiun, ia ingin menikmati hidup dan menjalaninya apa adanya. Ia tidak ingin merencanakan kegiatannya saat pensiun nanti. “Biasanya kalau kita rencanakan suka tidak kesampaian seperti ketika saya berharap dipindah ke kampung halaman saya menjelang pensiun, ternyata tidak dipindah,” katanya. Untuk itu ia menyarankan pada pimpinan di BC kalau ada pengawai yang ingin pensiun, agar pindahkan ke kampung halamannya, jangan dijauhkan dari keluarga. Sebab ia pernah menemui pegawai yang sudah tua dan menjelang pensiun, meninggal dunia pada saat bertugas. Tapi karena jauh dari keluarga maka tidak ada satupun keluarga yang mengurus jenazahnya. Ia juga mengaku, dirinya sangat prihatin dengan kondisi DJBC saat ini. “Kita harus introspeksi kenapa Bea Cukai sampai dianggap negatif seperti itu? jawabannya ada didalam diri kita masingmasing,” tandas Nanang. Ia mencontohkan banyak pegawai yang masih muda tapi hidup eksklusif dan bermewahmewahan sehingga masyarakat semakin mencibir. Seharusnya, dalam suasana yang seperti ini pegawai dapat membawa diri, mengimbangi diri dengan tidak hidup bermewah-mewahan dan pimpinan pun harus memberi contoh hidup sederhana. “Jadi kalau ada yang komplain dengan Bea Cukai ya jangan marah tapi tanya pada diri sendiri kenapa kita demikian. Jadi yang wajar sajalah. Tuhan kan Maha Penyayang,” tutur Nanang mengakhiri perbincangan. ifa
WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

79

APA KATA MEREKA
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
Setelah sekian lama menghilang dari dunia sinetron, Jupiter Fourtissimo Jansen Tallaga, kini kembali muncul di dunia yang mengharumkan namanya. Lewat sinetron berjudul ‘Pink’, Jupiter beradu akting dengan artis sinetron yang juga penyanyi, Agnes Monica. Selama menghilang, cowok berdarah Batak ini mengaku mempunyai kegiatan lain, yakni berkecimpung disebuah stasiun radio sebagai penyiar dalam sebuah acara rohani. Saat ditemui WBC disebuah café di bilangan Jakarta Pusat, Jupiter mengaku tidak pernah bermasalah dengan petugas bea cukai di Bandara Soekarno Hatta. “Sampai saat ini barang-barang aku belum pernah ada yang ditahan oleh petugas bea cukai, paling yang suka diperiksa itu barang-barang yang terbuat dari stainless atau besi, biasanya petugas langsung tanya barang itu untuk apa,” kata Jupiter. Ia juga mengaku pernah dipermudah oleh petugas saat pulang dari Malaysia. Waktu itu ia tidak diperiksa oleh petugas. “Jadi aku tidak diperiksa lagi, langsung disuruh lewat hehehe…,” ucapnya. Ia sendiri tidak mengerti apakah hal itu disebabkan petugas mengenal dirinya sebagai seorang artis sinetron sehingga dipermudah. Tetapi ia pernah merasa kesal dengan petugas yang kerap tidak membantu kembali merapihkan barang-barangnya yang telah dibongkar/diperiksa. “Jadi kita yang ngeluarin, kita juga yang masukin sendiri. Udah gitu mereka nyuruhnya kadang kasar atau petugasnya gak sabaran,” ujarnya. Namun ia menyadari bahwa hal itu merupakan bagian dari tugas, hanya saja ia menyarankan agar petugas membantu kembali merapihkan barang karena yang dibelakang masih banyak yang mengantri. Ketika ditanya mengenai pendapatnya soal kinerja petugas bea cukai di bandara, Jupiter berterus terang kalau dirinya tidak mengerti soal Bea dan Cukai. Sehingga, ia merasa tidak berkompeten untuk menilai kinerja petugas bea cukai. “Aku juga nggak bisa ngasih saran karena aku nggak begitu tahu tugas bea cukai, ntar salah lagi hehe…,” aku cowok yang biasanya pergi keluar negeri dalam rangka liburan. Namun demikian, cowok yang punya hobi berenang dan membaca ini mengungkapkan bahwa sejauh ini airport Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Apalagi kalau dilihat dari kerapihan, kebersihan dan prosedurnya. “Kitanya sendiri masih kurang tertib, ngantrinya masih gak benar, berebutan, kalau disuruh harus berada dibelakang garis kadang kita malah suka ngelewatin garis. Tidak seperti diluar negeri dimana penumpangnya tertib. Apa mungkin itu karena petugasnya juga ya yang kurang disiplin?” tanya Jupiter. Untuk itu ia berharap agar petugas maupun penumpang belajar dari negara tetangga sehingga semuanya bisa terlihat rapih dan prosedur yang ada dibuat lebih sistematis. ifa

NIA DINATA “Film Saya Tidak Mempunyai Nilai Komersil”
Setelah sukses menjadi sutradara pada film Arisan yang berhasil menggondol piala citra, Maret lalu Nia Dinata kembali meluncurkan film terbarunya yang berjudul Berbagi Suami. Saat ditemui WBC di kantornya, Kalyana Shira Film, Nia yang mempunyai nama lengkap Nurkurniati Aisyah Dewi, menuturkan bahwa dalam setahun ia sering pergi ke luar negeri (bisa 3-4 kali). Kepergiannya ke luar negeri biasanya untuk mengikuti festival film atau melakukan prosesing untuk film layar lebarnya. Setiap kepergiannya keluar negeri, Nia selalu melengkapi film-nya dengan surat-surat pendukung, seperti surat dari Departemen Pariwisata dan Kebudayaan. “Sebab saya suka ditanyai sama petugas mengenai surat-suratnya. Jadi kalau ada yang mau coba-coba silahkan saja. Saya punya surat-surat lengkap,” tuturnya. Nia mengaku selama ini, perjalanannya ke maupun dari luar negeri tidak selalu berjalan lancar. “Ada aja yang iseng, koper saya ditandain lah karena film itu kan berat. Kadang petugas mau lihat film-nya, lha mau lihat dimana? Itu kan negatif film?” tanya Nia yang mengaku bahwa hal tersebut sudah beberapa kali ia alami. Menurutnya hal tersebut terjadi karena dari individu petugasnya kurang mendapatkan pengetahuan atau seminar mengenai bagaimana harus menghormati film sebagai suatu bagian dari budaya Indonesia. “Lewat film kita bisa mempromosikan Indonesia di luar negeri. Jadi, kalau kita bawa film untuk diproses di luar negeri kemudian kita bawa lagi ke Indonesia untuk diputar di Indonesia dimana nantinya film tersebut mungkin diundang untuk mengikuti festival film di luar negeri, maka tolong dihormati karena itu adalah kebudayaan, jadi jangan dipersulit,” tandasnya. Nia mengaku agak trauma dengan pengalaman pahitnya berurusan dengan petugas bea cukai di Bandara Soekarno Hatta. Waktu itu ada sebuah festival fim di Italy. Nia berhalangan untuk menghadiri festival tersebut, tapi ia tetap mengirim filmnya ke Italy lewat Perusahaan Jasa Titipan (PJT). Setelah festival itu selesai, film tersebut dikirim kembali ke Indonesia (kepada Nia-red) melalui PJT juga. Namun, setelah menunggu selama satu bulan, Nia belum juga menerima film tersebut. Nia memutuskan untuk bertanya pada panitia festival film di Italy mengenai nasib film-nya. Pihak panitia mengatakan, film tersebut sudah sampai di Indonesia sekitar 30 hari yang lalu. Nia pun melakukan pengecekan, ternyata film tersebut tertahan di Bandara Soekarno Hatta. Untuk mengeluarkannya, Nia harus membayar sejumlah uang. “Saya kaget, lha saya saja ikut festival tidak dibayar, ini kan non profit,” imbuh Nia. Setelah diselidiki, ternyata pihak panitia di Italy tidak mengisi formulir yang menanyakan apakah film tersebut memiliki commercial value atau tidak. Akhirnya Nia menelepon pihak panitia festival agar membuat surat yang menyatakan bahwa film tersebut non profit dan diputar untuk festival film di Italy. Setelah surat tersebut selesai dan diberikan pada petugas, tetap saja Nia harus membayar sejumlah uang. “Waktu itu saya tidak mau ribut karena saya yang salah. Saya juga takut kalau tidak segera diambil, film tersebut bisa rusak karena terlalu lama disimpan digudang yang panas. Sejak saat itu, semua film untuk festival yang saya kirim melalui kurir service, pihak panitia festival harus mengisi formulir bahwa film ini non commercial,” ujarnya. Untuk itu Nia berharap agar Bea dan Cukai memiliki peraturan yang ikut memikirkan barang-barang untuk perfilman. Sehingga ada koordinasi, kalau film untuk festival tidak boleh di charge. Selain itu kalau ada kesalahan pada pengisian formulir, ia juga berharap ada peraturan tertulisnya bahwa kesalahan tersebut bisa diperbaiki dan tidak ada hak untuk menchargenya. “Saya tidak tahu, apakah kalau kesalahan tersebut sudah kita perbaiki lantas kita harus tetap mengeluarkan uang? Seharusnya kan tidak. Kalau ada peraturannya saya mau lihat hitam diatas putihnya, peraturan yang mana?” tandasnya. ifa

Jupiter

Fourtissimo

“Pernah

Dipermudah... ”

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 382 SEPTEMBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 39/PMK.04/2006 TENTANG TATALAKSANA PENYERAHAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa pengangkut yang sarana pengangkutnya akan memasuki Kawasan Pabean atau akan meninggalkan Kawasan Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan rencana kedatangan sarana pengangkut dan/atau manifes kedatangan sarana pengangkut atau manifes keberangkatan sarana pengangkut; b. bahwa penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diperlukan untuk meningkatkan pelayanan dan pengawasan di bidang kepabeanan serta untuk melakukan pengamanan hak-hak negara; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 3612); 2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3687); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3627); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4313); 5. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; 6. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 575/KMK.05/1996 tentang Tatalaksana Pengangkutan Terus Atau Pengangkutan Lanjut Barang Impor Atau Barang Ekspor; 7. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK.05/1997 tentang Pemberitahuan Pabean sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 48/PMK.04/2005; 8. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK.04/2003;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

9. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 557/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor; 10. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 118/KMK.04/2004 tentang Tatalaksana Pembayaran dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA LAKSANA PENYERAHAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan : 1. Barang impor adalah barang yang dimasukkan ke dalam Daerah Pabean. 2. Barang ekspor adalah barang yang dikeluarkan dari Daerah Pabean untuk dibawa atau dikirim ke luar negeri. 3. Barang diangkut terus adalah barang yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui Kantor Pabean tanpa dilakukan pembongkaran terlebih dahulu. 4. Barang diangkut lanjut adalah barang yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui Kantor Pabean dengan dilakukan pembongkaran terlebih dahulu. 5. Kantor Pabean adalah Kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban Pabean. 6. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 7. Pejabat adalah Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995. 8. Pengangkut adalah orang, kuasanya, atau yang bertanggung jawab atas pengoperasian sarana pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang. 9. Sarana Pengangkut adalah kendaraan/angkutan melalui laut, udara, atau darat yang dipakai untuk mengangkut barang dan/atau orang. 10. Pelabuhan adalah pelabuhan laut dan pelabuhan udara. 11. Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan sarana pengangkut yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean. 12. Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan sarana pengangkut yang mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean. 13. Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (inward Manifest) adalah daftar barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalui laut, udara dan darat pada saat memasuki Kawasan Pabean. 14. Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest) adalah daftar barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat meninggalkan Kawasan Pabean.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

2

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

15. Saat kedatangan sarana pengangkut adalah : a. untuk sarana pengangkut melalui laut pada saat sarana pengangkut tersebut lego jangkar di perairan pelabuhan; b. untuk sarana pengangkut melalui udara pada saat sarana pengangkut tersebut mendarat di landasan bandar udara; c. untuk sarana pengangkut melalui darat pada saat sarana pengangkut tersebut tiba di Kawasan Pabean di daerah lintas batas. 16. Saat keberangkatan sarana pengangkut adalah : a. untuk sarana pengangkut melalui laut pada saat sarana pengangkut tersebut angkat jangkar dari perairan pelabuhan dalam Kawasan Pabean; b. untuk sarana pengangkut melalui udara pada saat sarana pengangkut tersebut lepas landas dari landasan Bandar udara dalam Kawasan Pabean; c. untuk sarana pengangkut melalui darat pada saat sarana pengangkut tersebut meninggalkan Kawasan Pabean di daerah lintas batas. Pasal 2 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya akan datang dari : a. luar Daerah Pabean; atau b. dalam Daerah Pabean yang mengangkut barang impor, barang ekspor dan/ atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) kepada Pejabat di setiap Kantor Pabean yang akan disinggahi, paling lambat 24 (dua puluh empat) jam sebelum kedatangan sarana pengangkut. (2) Pengangkut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang sarana pengangkutnya mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, cukup menyerahkan Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut (JKSP) kepada Pejabat di setiap Kantor Pabean yang akan disinggahi paling lambat 24 (dua puluh empat) jam sebelum kedatangan yang pertama dalam jadwal tertentu. (3) Pengangkut wajib memberitahukan setiap perubahan : a. RKSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling lambat pada saat kedatangan sarana pengangkut; b. JKSP sebagaimana dimaksud pada ayat (2), paling lambat pada saat kedatangan pertama sarana pengangkut. (4) Penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku bagi sarana pengangkut yang datang dari luar Daerah Pabean melalui darat. Pasal 3 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari : a. luar Daerah Pabean; atau b. dalam Daerah Pabean dengan mengangkut barang impor, barang ekspor dan/ atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kepada Pejabat di Kantor Pabean.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

3

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

4

(2) Kewajiban menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan paling lama : a. pada saat sebelum melakukan pembongkaran barang, untuk sarana pengangkut yang melalui laut dan udara; b. pada saat kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui darat. (3) Dalam hal pembongkaran tidak dapat segera dilakukan, kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam jangka waktu: a. paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui laut; b. paling lama 8 (delapan) jam sejak kedatangan sarana pengangkut, untuk sarana pengangkut yang melalui udara. (4) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara rinci dalam pos-pos serta dikelompokkan secara terpisah dengan pengelompokan sebagai berikut : a. barang impor yang kewajiban pabeannya diselesaikan di Kantor Pabean setempat; b. barang impor yang akan diangkut lanjut; c. barang impor yang akan diangkut terus; d. barang ekspor yang dibongkar kemudian diangkut lanjut; e. barang ekspor yang akan diangkut terus; dan/atau f. barang asal Daerah Pabean yang diangkut dari satu Kawasan Pabean ke Kawasan Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean. (5) Selain Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling lama pada saat kedatangan sarana pengangkut, Pengangkut wajib menyerahkan pemberitahuan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris secara elektronik atau manual kepada Pejabat di Kantor Pabean, berupa: a. Daftar penumpang dan/atau awak sarana pengangkut; b. Daftar bekal kapal; c. Stowage plan; d. Daftar senjata api; dan e. Daftar obat-obatan termasuk narkotika yang digunakan untuk kepentingan pengobatan. (6) Untuk sarana pengangkut yang tiba melalui udara, Pengangkut wajib menyerahkan Daftar Penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a paling lambat 1 (satu) jam sebelum kedatangan sarana pengangkut. (7) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari luar Daerah Pabean, apabila sarana pengangkutnya tidak mengangkut barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib menyerahkan pemberitahuan nihil. (8) Dalam hal sarana pengangkut dalam keadaan darurat, pengangkut dapat melakukan pembongkaran barang terlebih dahulu, dan wajib: a. melaporkan keadaan darurat tersebut ke Kantor Pabean terdekat pada kesempatan pertama; dan b. menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (5) paling lama 72 (tujuh puluh dua) jam sesudah pembongkaran. (9) Kewajiban pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi sarana pengangkut yang tidak melakukan kegiatan bongkar/muat dan:
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

a. berlabuh/lego jangkar tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam untuk sarana pengangkut laut; atau b. mendarat tidak lebih dari 8 (delapan) jam untuk sarana pengangkut udara. Pasal 4 (1) Sepanjang dapat dibuktikan dengan dokumen pendukung, pengangkut atau pihak-pihak lain yang bertanggung jawab atas barang dapat mengajukan perbaikan Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) dalam hal : a. terdapat kesalahan mengenai nomor, merek , ukuran dan jenis kemasan dan/ atau petikemas; b. terdapat kesalahan mengenai jumlah kemasan dan/atau petikemas serta jumlah barang curah; c. terdapat kesalahan nama consignee dan/atau notify party pada Manifes; d. diperlukan penggabungan beberapa pos menjadi satu pos, dengan syarat : 1) pos Inward Manifest yang akan digabungkan berasal dari Inward Manifest yang sama; 2) nama dan alamat shipper/supplier, consignee, notify address/notify party, dan pelabuhan pemuatan harus sama untuk masing-masing pos yang akan digabungkan; 3) telah diterbitkan revisi Bill of Lading/Airway Bill; e. terdapat kesalahan data lainnya atau perubahan pos manifes. (2) Perbaikan Manifes sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan persetujuan Kepala Kantor Pabean. (3) Dalam hal diperlukan perincian lebih lanjut atas pos Manifes dari barang impor yang dikirim secara konsolidasi, Pengangkut atau pihak-pihak lain yang bertanggung jawab atas barang dapat mengajukan perbaikan Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) tanpa persetujuan Kepala Kantor Pabean. Pasal 5 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya akan berangkat menuju: a. ke luar Daerah Pabean; atau b. ke dalam Daerah Pabean dengan membawa barang impor, barang ekspor dan/ atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest) dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kepada Pejabat di Kantor Pabean. (2) Kewajiban menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak keberangkatan sarana pengangkut. (3) Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara rinci dalam pos-pos serta dikelompokkan secara terpisah dengan pengelompokan sebagai berikut :
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

5

K E P U T U S A N
a. b. c. d. e.

&

K E T E T A P A N

barang ekspor yang dimuat di Kantor Pabean setempat; barang ekspor yang diangkut terus; barang impor yang diangkut lanjut; barang impor yang diangkut terus; dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut dari satu Kawasan Pabean ke Kawasan Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean. (4) Pengangkut, yang sarana pengangkutnya menuju ke luar Daerah Pabean dengan tidak mengangkut barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib menyerahkan pemberitahuan nihil. (5) Kewajiban pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi sarana pengangkut yang tidak melakukan kegiatan bongkar/muat dan : a. lego jangkar tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam untuk sarana pengangkut laut; atau b. mendarat tidak lebih dari 8 (delapan) jam untuk sarana pengangkut udara. Pasal 6 Atas pelayanan Manifes, Pengangkut wajib membayar jasa pelayanan berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai ketentuan yang berlaku. Pasal 7 (1) Pengangkut yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1), ayat (2) atau ayat (3), dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. (2) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari luar Daerah Pabean, yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (7) atau ayat (8), dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. (3) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari dalam Daerah Pabean, yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (8), dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. (4) Pengangkut yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (5) atau ayat (6) dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 91 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. (5) Pengangkut yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1), ayat (2) atau ayat (4), dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. (6) Pengangkut yang mengajukan perbaikan Manifes sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b : a. Dalam hal jumlah kemasan dan/atau jumlah petikemas atau jumlah barang curah yang dibongkar kurang dari yang diberitahukan dan tidak dapat membuktikan
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

6

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

bahwa kesalahan tersebut terjadi di luar kemampuannya, disamping wajib membayar Bea Masuk, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) atas barang yang kurang dibongkar, dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. b. Dalam hal jumlah kemasan dan/atau jumlah petikemas atau jumlah barang curah yang dibongkar lebih banyak dari yang diberitahukan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (5) UndangUndang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pasal 8 (1) Penyerahan pemberitahuan berupa Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan pemberitahuan berupa Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dilakukan : a. melalui sistem Pertukaran Data Elektronik (PDE) Manifes, untuk Kantor-kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang menerapkan sistem PDE Kepabeanan. b. melalui sistem media disket, untuk Kantor-kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang menerapkan sistem pertukaran data dengan disket; c. secara manual untuk Kantor-kantor Pelayanan Bea dan Cukai lainnya. (2) Pemberlakuan penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Pasal 9 Ketentuan teknis yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Pasal 10 Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, sepanjang mengenai Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut, berlaku ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 11 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 19 Mei 2006 MENTERI KEUANGAN ttd. SRI MULYANI INDRAWATI
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

7

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P- 10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang : a. bahwa dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.04/ 2006 tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut, dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut perlu diatur ketentuan teknis untuk pelaksanaan peraturan tersebut; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a di atas perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal tentang Tata Cara Penyerahan dan Penatausahaan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut, dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 3612); 2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3687); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3627); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4313); 5. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; 6. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 575/KMK.05/1996 tentang Tatalaksana Pengangkutan Terus Atau Pengangkutan Lanjut Barang Impor Atau Barang Ekspor; 7. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK.05/1997 tentang Pemberitahuan Pabean sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 48/PMK.04/2005;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

8

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

8. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK.04/2003; 9. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 557/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor; 10 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 118/KMK.04/2004 tentang Tatalaksana Pembayaran dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.04/2006 tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut; 12.Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP- 35/BC/2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatacara Pengangkutan Lanjut Kargo Udara Melalui Bandar Udara Internasional; 13.Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP- 151/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor; 14.Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP- 152/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor Yang Mendapat Kemudahan Impor Tujuan Ekspor; 15.Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP- 07/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-19/BC/2005; 16.Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-27/BC/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran dan Penatausahaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT. Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini yang dimaksud dengan : 1. Barang impor adalah barang yang dimasukkan ke dalam Daerah Pabean. 2. Barang ekspor adalah barang yang dikeluarkan dari Daerah Pabean untuk dibawa atau dikirim ke luar negeri. 3. Barang diangkut terus adalah barang yang diangkut dengan Sarana Pengangkut melalui Kantor Pabean tanpa dilakukan pembongkaran terlebih dahulu. 4. Barang diangkut lanjut adalah barang yang diangkut dengan Sarana Pengangkut melalui Kantor Pabean dengan dilakukan pembongkaran terlebih dahulu. 5. Kantor Pabean adalah Kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban Pabean.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

9

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

10

6. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 7. Pejabat adalah Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995. 8. Pengangkut adalah orang, kuasanya, atau yang bertanggung jawab atas pengoperasian Sarana Pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang. 9. Sarana Pengangkut adalah kendaraan/angkutan melalui laut, udara, atau darat yang dipakai untuk mengangkut barang dan/atau orang. 10.Pelabuhan adalah pelabuhan laut dan pelabuhan udara. 11. Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan Sarana Pengangkut yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean. 12.Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut adalah pemberitahuan tentang rencana kedatangan Sarana Pengangkut yang mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, yang disampaikan oleh pengangkut ke suatu Kantor Pabean. 13.Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut (Inward Manifest), untuk selanjutnya disebut Inward Manifest adalah daftar muatan barang niaga yang diangkut oleh Sarana Pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat memasuki Kawasan Pabean. 14.Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut (Outward Manifest), untuk selanjutnya disebut Outward Manifest adalah daftar muatan barang niaga yang diangkut oleh Sarana Pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat meninggalkan Kawasan Pabean. 15.Sistem Pertukaran Data Elektronik (PDE) adalah proses pertukaran data dengan menggunakan hubungan langsung antar komputer melalui sistem pertukaran data elektronik. 16.Media Penyimpan Data Elektronik adalah disket atau media penyimpan data elektronik lainnya. 17.Secara manual adalah proses penyerahan data tanpa menggunakan sarana komputer. 18.Saat kedatangan Sarana Pengangkut adalah: a. untuk Sarana Pengangkut melalui laut pada saat Sarana Pengangkut tersebut lego jangkar di perairan pelabuhan; b. untuk Sarana Pengangkut melalui udara pada saat Sarana Pengangkut tersebut mendarat di landasan bandar udara; c. untuk Sarana Pengangkut melalui darat pada saat Sarana Pengangkut tersebut tiba di Kawasan Pabean di daerah lintas batas. 19. Saat keberangkatan Sarana Pengangkut adalah: a. untuk Sarana Pengangkut melalui laut pada saat Sarana Pengangkut tersebut angkat jangkar dari perairan pelabuhan dalam Kawasan Pabean; b. untuk Sarana Pengangkut melalui udara pada saat Sarana Pengangkut tersebut lepas landas dari landasan bandar udara dalam Kawasan Pabean; c. untuk Sarana Pengangkut melalui darat pada saat Sarana Pengangkut tersebut meninggalkan Kawasan Pabean di daerah lintas batas.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 2 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya akan datang dari : a. luar Daerah Pabean; atau b. dalam Daerah Pabean yang mengangkut Barang impor, Barang ekspor dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) kepada Pejabat di setiap Kantor Pabean yang akan disinggahi, paling lambat 24 (dua puluh empat) jam sebelum kedatangan Sarana Pengangkut. (2) Pengangkut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang sarana pengangkutnya mempunyai jadwal kedatangan secara teratur dalam suatu periode tertentu, cukup menyerahkan Jadwal Kedatangan Sarana Pengangkut (JKSP) kepada Pejabat di setiap Kantor Pabean yang akan disinggahi paling lambat 24 (dua puluh empat) jam sebelum kedatangan yang pertama dalam jadwal tertentu. (3) Pengangkut wajib memberitahukan setiap perubahan: a. RKSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling lambat pada saat kedatangan Sarana Pengangkut; b. JKSP sebagaimana dimaksud pada ayat (2), paling lambat pada saat kedatangan pertama Sarana Pengangkut. (4) Penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku bagi Sarana Pengangkut yang datang dari luar Daerah Pabean melalui darat. (5) Pemberitahuan RKSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan JKSP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah diterima dan mendapat nomor pendaftaran di Kantor Pabean merupakan Pemberitahuan Pabean BC 1.0. Pasal 3 (1) Penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) dilakukan : a. melalui sistem PDE, untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem PDE Kepabeanan; b. melalui Media Penyimpan Data Elektronik, untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem pertukaran data dengan Media Penyimpan Data Elektronik; c. secara manual, untuk Kantor Pabean selain yang dimaksud pada huruf a dan b. (2) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan RKSP/JKSP secara manual adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal ini. (3) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan RKSP/JKSP melalui Media Penyimpan Data Elektronik adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal ini. (4) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan RKSP/JKSP melalui sistem PDE adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal ini.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

11

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

12

Pasal 4 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari : a. luar Daerah Pabean; atau b. dalam Daerah Pabean dengan mengangkut Barang impor, Barang ekspor dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Inward Manifest dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kepada Pejabat di Kantor Pabean. (2) Kewajiban menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan paling lama: a. pada saat sebelum melakukan pembongkaran barang, untuk Sarana Pengangkut yang melalui laut dan udara; b. pada saat kedatangan Sarana Pengangkut, untuk Sarana Pengangkut yang melalui darat. (3) Dalam hal pembongkaran tidak dapat segera dilakukan, kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam jangka waktu: a. paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak kedatangan Sarana Pengangkut, untuk Sarana Pengangkut yang melalui laut; b. paling lama 8 (delapan) jam sejak kedatangan Sarana Pengangkut, untuk Sarana Pengangkut yang melalui udara. (4) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara rinci dalam pos-pos serta dikelompokkan secara terpisah dengan pengelompokan sebagai berikut: a. Barang impor yang kewajiban pabeannya diselesaikan di Kantor Pabean setempat; b. Barang impor yang akan diangkut lanjut; c. Barang impor yang akan diangkut terus; d. Barang ekspor yang dibongkar kemudian diangkut lanjut; e. Barang ekspor yang akan diangkut terus; f. barang asal Daerah Pabean yang diangkut dari satu Kawasan Pabean ke Kawasan Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean. (5) Pos-pos sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibuat atas dasar Bill of Lading/Seaway Bill atau Airway Bill dengan uraian barang yang dapat menunjukkan klasifikasi sekurang-kurangnya 4 (empat) digit pos Harmonized System sebagaimana contoh dalam Lampiran IV Peraturan Direktur Jenderal ini. (6) Dalam hal elemen data uraian barang dalam satu pos sebagaimana dimaksud pada ayat (5) lebih dari 5 (lima) jenis barang, Pengangkut mencantumkan uraian barang sekurang-kurangnya 5 (lima) jenis barang yang paling besar nilai atau volume barangnya. (7) Selain Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling lama pada saat kedatangan Sarana Pengangkut, Pengangkut wajib menyerahkan pemberitahuan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris secara elektronik atau manual kepada Pejabat di Kantor Pabean, berupa : a. Daftar penumpang dan/atau Awak Sarana Pengangkut; b. Daftar bekal kapal; c. Stowage plan;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

d. Daftar senjata api; dan e. Daftar obat-obatan termasuk narkotika yang digunakan untuk kepentingan pengobatan. (8) Untuk Sarana Pengangkut yang tiba melalui udara, Pengangkut wajib menyerahkan Daftar Penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf a paling lambat 1 (satu) jam sebelum kedatangan Sarana Pengangkut. (9) Pengangkut yang sarana pengangkutnya datang dari luar Daerah Pabean, apabila sarana pengangkutnya tidak mengangkut barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib menyerahkan pemberitahuan nihil. (10)Dalam hal Sarana Pengangkut dalam keadaan darurat, pengangkut dapat melakukan pembongkaran barang terlebih dahulu, dan wajib: a. melaporkan keadaan darurat tersebut ke Kantor Pabean terdekat pada kesempatan pertama; dan b. menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (7) paling lama 72 (tujuh puluh dua) jam sesudah pembongkaran. (11) Kewajiban pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Sarana Pengangkut yang tidak melakukan kegiatan bongkar/muat dan: a. berlabuh/lego jangkar tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam untuk Sarana Pengangkut laut; atau b. mendarat tidak lebih dari 8 (delapan) jam untuk Sarana Pengangkut udara. (12)Inward Manifest sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang telah diterima dan mendapat nomor pendaftaran di Kantor Pabean merupakan Pemberitahuan Pabean BC 1.1 dan berlaku sebagai persetujuan pembongkaran barang. Pasal 5 (1) Penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dilakukan : a. melalui sistem PDE, untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem PDE Kepabeanan; b. melalui Media Penyimpan Data Elektronik, untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem pertukaran data dengan Media Penyimpan Data Elektronik; c. secara manual, untuk Kantor Pabean selain yang dimaksud pada huruf a dan b. (2) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan Inward Manifest secara manual adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran V Peraturan Direktur Jenderal ini. (3) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan Inward Manifest melalui Media Penyimpan Data Elektronik adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VI Peraturan Direktur Jenderal ini. (4) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan Inward Manifest melalui sistem PDE adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VII Peraturan Direktur Jenderal ini. Pasal 6 (1) Sepanjang dapat dibuktikan dengan dokumen pendukung, pengangkut atau
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

13

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

pihak-pihak lain yang bertanggungjawab atas barang dapat mengajukan perbaikan terhadap BC 1.1 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (12) dalam hal: a. terdapat kesalahan mengenai nomor, merek, ukuran dan jenis kemasan dan/atau petikemas; b. terdapat kesalahan mengenai jumlah kemasan dan/atau petikemas serta jumlah barang curah; c. terdapat kesalahan nama consignee dan/atau notify party pada Manifes; d. diperlukan penggabungan beberapa pos menjadi satu pos, dengan syarat : 1) pos BC 1.1 yang akan digabungkan berasal dari BC 1.1 yang sama; 2) nama dan alamat shipper/supplier, consignee, notify address/notify party, dan pelabuhan pemuatan harus sama untuk masing-masing pos yang akan digabungkan; 3) telah diterbitkan revisi Bill of Lading/Airway Bill; e. terdapat kesalahan data lainnya atau perubahan pos manifes. (2) Perbaikan terhadap BC 1.1 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan persetujuan Kepala Kantor Pabean. (3) Dalam hal diperlukan perincian lebih lanjut atas pos BC 1.1 dari Barang impor yang dikirim secara konsolidasi, Pengangkut atau Pihak-pihak lain yang bertanggungjawab atas barang dapat mengajukan perbaikan terhadap BC 1.1 tanpa persetujuan Kepala Kantor Pabean. (4) Tanggung jawab berkenaan dengan pengajuan perbaikan terhadap BC 1.1 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dibebankan pada pihak yang mengajukan perbaikan. Pasal 7 Tata cara perbaikan terhadap BC 1.1 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VIII Peraturan Direktur Jenderal ini. Pasal 8 (1) Pengangkut yang sarana pengangkutnya akan berangkat menuju: a. ke luar Daerah Pabean; atau b. ke dalam Daerah Pabean dengan membawa Barang impor, Barang ekspor dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut ke dalam Daerah Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Outward Manifest dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris kepada Pejabat di Kantor Pabean. (2) Kewajiban menyerahkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan paling lama 24 (dua puluh empat) jam sejak keberangkatan Sarana Pengangkut. (3) Outward Manifest sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara rinci dalam pos-pos serta dikelompokkan secara terpisah dengan pengelompokan sebagai berikut :
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

14

K E P U T U S A N
a. b. c. d. e.

&

K E T E T A P A N

Barang ekspor yang dimuat di Kantor Pabean setempat; Barang ekspor yang diangkut terus; Barang impor diangkut lanjut; Barang impor yang diangkut terus; dan/atau barang asal Daerah Pabean yang diangkut dari satu Kawasan Pabean ke Kawasan Pabean lainnya melalui luar Daerah Pabean. (4) Pos-pos dalam Outward Manifest sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibuat atas dasar Bill of Lading/Seaway Bill atau Airway Bill dengan uraian barang yang dapat menunjukkan klasifikasi sekurang-kurangnya 4 (empat) digit pos Harmonized System sebagaimana contoh dalam Lampiran IV Peraturan Direktur Jenderal ini. (5) Dalam hal elemen data uraian barang dalam pos sebagaimana dimaksud pada ayat (4) lebih dari 5 (lima) jenis barang, Pengangkut mencantumkan uraian barang sekurang-kurangnya 5 (lima) jenis barang yang paling besar nilai atau volume barangnya. (6) Pengangkut, yang sarana pengangkutnya menuju ke luar Daerah Pabean dengan tidak mengangkut barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib menyerahkan pemberitahuan nihil. (7) Kewajiban pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Sarana Pengangkut yang tidak melakukan kegiatan bongkar/muat dan: a. lego jangkar tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam untuk Sarana Pengangkut laut; atau b. mendarat tidak lebih dari 8 (delapan) jam untuk Sarana Pengangkut udara. (8) Outward Manifest sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang telah diterima dan mendapat nomor pendaftaran di Kantor Pabean merupakan Pemberitahuan Pabean BC 1.1. Pasal 9 (1) Penyerahan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dilakukan : a. melalui sistem PDE, untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem PDE Kepabeanan; b. melalui Media Penyimpan Data Elektronik, untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem pertukaran data dengan Media Penyimpan Data Elektronik; c. secara manual, untuk Kantor Pabean selain yang dimaksud pada huruf a dan b. (2) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan Outward Manifest secara manual adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IX Peraturan Direktur Jenderal ini. (3) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan Outward Manifest melalui Media Penyimpan Data Elektronik adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran X Peraturan Direktur Jenderal ini. (4) Tata cara penyerahan dan penatausahaan pemberitahuan Outward Manifest melalui sistem PDE adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XI Peraturan Direktur Jenderal ini.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

15

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 10 (1) Penutupan pos BC 1.1 dapat dilakukan secara manual atau secara elektronik. (2) Penutupan pos BC 1.1 adalah dengan mencantumkan nomor dan tanggal pemberitahuan pabean atau dokumen lain yang digunakan untuk penyelesaian kewajiban pabean. Pasal 11 (1) Ketentuan mengenai RKSP/JKSP dan Inward Manifest dalam Peraturan Direktur Jenderal ini, untuk: a. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok I, II, dan III, mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2006; b. Kantor Pabean lainnya, mulai berlaku pada tanggal 1 September 2006. (2) Ketentuan mengenai Outward Manifest dalam Peraturan Direktur Jenderal ini, mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober 2006. Pasal 12 (1) Hari dan jam kerja Kantor Pabean diberlakukan sesuai Keputusan Menteri Keuangan tentang Hari dan Jam Kerja di Lingkungan Departemen Keuangan. (2) Kantor Pabean memberikan pelayanan 24 (dua puluh empat) jam setiap hari terhadap kegiatan penerimaan RKSP/JKSP, Inward Manifest, dan Outward Manifest. (3) Kepala Kantor Pabean mengatur penempatan petugas yang melayani kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 13 Pengajuan RKSP/JKSP, Inward Manifest, dan Outward Manifest melalui sistem PDE dilayani berdasarkan kesepakatan antara Pengangkut dengan Kepala Kantor Wilayah yang dituangkan dalam Nota Perjanjian Penggunaan Sistem PDE. Pasal 14 Dengan berlakunya Peraturan Direktur Jenderal ini maka Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-61/BC/2000 dinyatakan tidak berlaku. Pasal 15 Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2006 DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 382 SEPTEMBER 2006

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->