P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 383

Warta Bea Cukai Edisi 383

5.0

|Views: 1,618|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2012

pdf

text

original

TAHUN XXXVIII EDISI 383

OKTOBER 2006

PENEGAKAN HUKUM
Mensinergikan Pelayanan & Pengawasan

MENUNGGU IMPLEMENTASI
AHMAD MS
“PERSONIL BARU HARUS TERUS DIBIMBING TIDAK BISA LENGSUNG DILEPAS”

PROFIL

WAWANCARA

HARKRISTUTI HARKRISNOWO
“... ATASAN HARUS MENERAPKAN PRINSIP GOOD GOVERNANCE”

DARI REDAKSI
TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
MISI: Membimbing dan meningkatkan kecerdasan serta Jende kesadaran karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap tugas negara Mendekatkan Hubungan antara atasan dan Jende bawahan serta antara karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan masyarakat IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Pencegahan & Penyidikan Drs. Endang Tata Direktur Verifikasi & Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. Kamil Sjoeib, M.A. Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Drs. Jody Koesmendro Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Sofyan Permana Inspektur Bea dan Cukai Drs. Bambang Heryanto, Ak KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Sjahrir Djamaluddin WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: M. Sadiatmo S., SE DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Hanafi Usman, Drs. Patarai Pabottinggi, Drs. Bachtiar, M.Si., Dra. Cantyastuti Rahayu, Drs. Nasar Salim, M. Si., Ir. Agung Kuswandono, M.A., Drs. Ahmad Dimyati PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH Donny Eriyanto (Balikpapan), Bendito Menezes (Denpasar), Bambang Wicaksono (Surabaya) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Niko Budhi Darma, S. Sos, Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

Keluarga Besar WARTA BEA CUKAI mengucapkan :

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H
Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
UU mengenai Kepabeanan dan Cukai dinilai sudah cukup untuk memberikan ruang bagi petugas untuk menegakan hukum, Namun itu semua kembali pada SDM-nya. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai penegakan hukum (khususnya di DJBC), simak liputan lengkapnya dalam laporan utama kali ini.

5

1 3 4 15

16

19 22

Wawancara
Hukum di Indonesia tidak terlalu jelek, untuk itu pemerintah harus bekerja keras menegakan hukum tersebut. Demikian penjelasan Dr. Harkristuti Harkrisnowo, Guru Besar hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dalam wawancaranya dengan WBC.

12

28

44

46

Profil

76
“Mensyukuri semua kesempatan dan berkah yang telah diberikan Tuhan,” demikian yang diucapkan oleh Ahmad MS, Nakhoda Kapal Patroli Kanwil II DJBC TBK. Ikuti perjalanan hidupnya dalam rubrik profil.

47

54 59 60 64 68 70 72 73 80

Daerah ke Daerah
Ikuti perjalanan WBC beberapa waktu lalu ke KPBC Belawan dan KPBC Pematang Siantar. Tak hanya itu rubrik ini juga menyajikan kisah Perayaan Ultah RI di Kanwil X DJBC Balikpapan.

30

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR KEPABEANAN INTERNASIONAL Kunjungan Delegasi Iran ke KPBC Tanjung Priok PUSDIKLAT Diklat Kesamaptaan Untuk Fisik dan Mental Tangguh Bagi Aparat DJBC CUKAI Kebijakan Baru Tentang Restitusi Cukai PENGAWASAN - Mengenal Anjing Pelacak Narkotika - Pelatihan Ketangkasan Menembak dan Menyelam PERISTIWA - Inkado Korda DKI Jaya dan Jawa Barat Intensifkan Pelatihan Untuk Pegawai DJBC - Family Gathering and Outbond Keluarga Besar KPBC Tanjung Priok II SIAPA MENGAPA - Tommy Hutomo - Gustami - Kasmin KONSULTASI KEPABEANAN DAN CUKAI Konsolidasi Barang Ekspor dari KB INFO PEGAWAI - Pegawai Pensiun per 1 Oktober 2006 - Mutasi dan Promosi Pejabat Eselon II - Dirjen Bea dan Cukai Melantik 41 Pejabat Eselon III SEPUTAR BEACUKAI INFO PERATURAN KOLOM “Pola Pembinaan SDM Bea dan Cukai“ yang Transparan OPINI - Kawasan Berikat dan KITE - Dirjen Baru Semangat Baru RENUNGAN ROHANI Menapaki Hari-hari Pasca Ramadhan RUANG INTERAKSI Sumpah Serapah Amarah, Perlukah ? RUANG KESEHATAN Kram dan terkilir Saat Olahraga SELAK Berkunjung ke Akademi Kastam Diraja Malaysia APA KATA MEREKA - Butet Kartaredjasa - Indra Brasco dan Mona Ratuliu

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku. KANTOR PELAYANAN UTAMA Pada tanggal 29 Agustus 2006 telah terbit surat dengan Nomor 1033/BC.1/ UP.10/2006 perihal Penawaran Pengisian Jabatan Pada Kantor Pelayanan Utama (KPU). Kami dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Kendari dan tentunya pegawai di Kantor Bea dan Cukai yang lain merasa gembira membaca dan memahami surat tersebut serta berbondongbondong membuat formulir pendaftaran sesuai lampiran 1 pada surat tersebut. Kami gembira karena momen ini mungkin adalah awal dari karir dan citacita untuk lebih baik dan jujur, namun kami harap kegembiraan kami tidak hapus sirna oleh oknum yang memanfaatkan momen ini. Sebab momen ini adalah dimana DJBC mempunyai peranan penting untuk memperbaiki citra yang selama ini disandang sebagai salah satu institusi yang korup. Kami harapkan momen tersebut betul-betul untuk merekrut pegawaipegawai yang profesional, berdedikasi tinggi, mempunyai visi dan misi kebesaran institusi dan bukan untuk memperbesar diri pribadi. Karena bukan hal rahasia lagi bila perekrutanperekrutan selama ini ada sebagian mempunyai unsur money politik, pertemanan (angkatan masing-masing / keakraban), serta SKSD (Sok Kenal Sok dekat) meskipun sekarang sudah mulai berkurang, dan untuk mengetahui hal tersebut kita tidak perlu susah-susah menggali lebih dalam, cukup perhatikan saja skep mutasi dan perekrutan peserta Diklat selama ini. Kami bangga menjadi bagian dari institusi ini namun platform bila pegawai bea cukai itu kaya, kerjanya ‘mengambil barang impor’ dan KKN, banyak istrinya baik terlihat maupun tak terlihat, arogan, masih melekat pada kita semua disebabkan mental orang pribadi ditempat ‘Ramai’ maupun ‘Sepi’ yang membuat imej semua pegawai DJBC menjadi jelek di mata masyarakat. Kami di daerah mengharapkan perekrutan-perekrutan baik untuk pendidikan maupun mutasi harus berdasar keadilan bukan atas kepentingan oknum-oknum tertentu baik golongan maupun pribadi. Untuk memperbaiki citra institusi kita ini marilah kita bersama-sama membangun DJBC agar besar dan berwibawa serta bebas dari KKN. Tidak lupa kami panjatkan sembah syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, institusi DJBC yang kami cintai, disamping itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ngadiman, SH, yang telah mengajarkan kami akan kepemimpinan, Bapak J. Didit Krisnadi, SH, yang juga mengajarkan kami akan pentingnya hubungan baik antara atasan dengan bawahan, Bapak Roebianto AS, yang mengajarkan tentang hubungan manusia dan penciptanya, Bapak Atong Soekirman, SE, yang mengajarkan kami akan hubungan pegawai Bea dan Cukai dengan masyarakat, serta saudarasaudara kami yang ikut andil dalam pembelajaran kami sampai saat ini serta istri tercinta yang selalu menemani dan memberi motivasi baik suka maupun duka. Terima kasih juga kami ucapkan pada Warta Bea Cukai serta segenap Redaksi/Tata Usaha yang telah menjadi media para pegawai DJBC di seluruh Indonesia. AGUS BASUKI (ABAS) 060101980 RALAT TARGET PENERIMAAN Pada WBC edisi September 2006, telah terjadi kesalahan penulisan pada rubrik Daerah ke Daerah Kantor Wilayah I DJBC Medan. Pada hal 34, sub judul “Penerimaan paling banyak dari KPBC Belawan”, pada paragraf pertama dituliskan sebagai berikut : Saat disinggung mengenai target penerimaan, Djasman mengatakan bahwa target penerimaan untuk Semester I (hingga Juli 2006) telah mencapai target. Untuk Bea Masuk (BM) sebesar 345.282.430 rupiah atau 58,16 persen dari target yang ditetapkan. Penerimaan BM tersebut paling banyak berasal dari KPBC Belawan yakni sebesar 303.260.920 rupiah. Sedangkan untuk penerimaan dari sektor cukai jumlahnya adalah 284.643.590 rupiah atau 54,07 persen dari target yang ditetapkan. Untuk cukai, penerimaan terbesar berasal dari KPBC Pematang Siantar, sebesar 213.340.370 rupiah. Seharusnya ditulis sebagai berikut : Saat disinggung mengenai target penerimaan, Djasman mengatakan bahwa target penerimaan untuk Semester I (hingga Juli 2006) telah mencapai target. Untuk Bea Masuk (BM) tahun 2006, Kanwil I DJBC Medan ditargetkan sebesar Rp 345.282.430.000. Hingga bulan Juli 2006, target yang telah terkumpul sebesar Rp 216.904.321.284; atau 62,82 persen dari target yang ditetapkan. Penerimaan BM tersebut paling banyak berasal dari KPBC Belawan yang hingga Juli 2006 berhasil mengumpulkan BM sebesar Rp 197.801.745.305. Sedangkan untuk penerimaan dari sektor cukai, target yang ditetapkan untuk Kanwil I DJBC Medan untuk tahun 2006 sebesar Rp 284.643.590.000. Hingga bulan Juli 2006, telah terealisasi sebesar Rp 160.344.670.000; atau 56,33 persen dari target yang ditetapkan. Untuk cukai, penerimaan terbesar berasal dari KPBC Pematang Siantar yang hingga Juli 2006 telah berhasil mengumpulkan cukai sebesar Rp 121.799.908.190. Demikian kami perbaiki, mohon maaf atas kesalahan penulisan yang terjadi. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Redaksi RALAT FOTO Pada rubrik Daerah ke Daerah WBC edisi 382 September 2006, di halaman 37 terjadi kesalahan pemuatan foto dengan judul foto Piala Bergilir. Foto beserta keterangan foto yang seharusnya dimuat adalah seperti tersebut di bawah ini :

PIALA BERGILIR. Dirjen Bea Cukai, Anwar Suprijadi, tampak sedang menyerahkan piala bergilir kepada Kepala KPBC Bekasi, Istyastuti Wuwuh Asri, dimana KPBC Bekasi terpilih sebagai pemenang pertama lomba Kantor Percontohan DJBC seIndonesia TA 2006. (WBC/ATS) Demikian kami perbaiki agar dapat dimaklumi, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Redaksi

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

LAPORAN UTAMA

HUKUM
Masih Ditakuti, Belum Untuk Ditaati
Lemah kuatnya penegakan hukum oleh aparat akan menentukan persepsi ada tidaknya hukum. Bila penegakan hukum oleh aparat lemah, masyarakat akan mempersepsikan bahwa hukum dilingkungannya tidak ada atau seolah berada dalam hutan rimba yang tanpa aturan

PENEGAKAN

H

al tersebut disampaikan Hikmahanto Juwana, Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dalam orasi ilmiahnya pada acara wisuda program Doktor, Magister dan Spesialis di Balairung Universitas Indonesia pada 4 Februari 2006 bertepatan dengan acara dies natalis Universitas Indonesia ke 56. Dalam orasinya ia mengatakan, pada saat ini masyarakat Indonesia masih pada taraf takut pada aparat hukum dan bukan pada taraf taat hukum. Pada masyarakat yang takut pada aparat penegak hukum lanjutnya, masyarakat tidak akan tunduk pada hukum bila penegakannya lemah, inkonsisten, dan tidak dapat dipercaya. Hikmahanto mencontohkan sikap pengendara terhadap lampu lalu lintas di jalan raya pada saat jam menunjukkan pukul 1 dinihari. Bila lampu lalu lintas menyala merah dan pengendara berhenti maka pengendara tersebut dikategorikan sebagai taat pada hukum. Namun, bila pengendara tersebut tidak berhenti walaupun lampu berwarna merah, maka pengendara tersebut dikategorikan sebagai pengendara yang takut pada hukum. Pada ilustrasi pertama ia menunjukan, bahwa pengendara tadi sudah taat kepada hukum. Pada ilustrasi kedua masih menurutnya menunjukan bahwa, pengendara tadi masih takut pada hukum karena ia tahu bahwa pada pukul 1 dinihari tersebut tidak ada polisi lalu lintas yang akan menegakan aturan atau paling tidak terbebas dari rasa khawatir untuk “berdamai” dengan polisi. “Bagi pengendara yang takut dengan hukum, lampu lalu lintas dipersepsikan sebagai bukan hukum, melainkan sekedar benda mati,” ujarnya dihadapan para peserta wisuda. Hal yang disampaikannya tadi

merupakan salah satu contoh yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, walaupun pada kenyataannya masih ada beberapa contoh lainnya. Hikmahanto kembali mengatakan, kenyataan pada saat ini hukum berfungsi dan difungsikan sebagai instrumen untuk membuat masyarakat takut pada hukum, yang pada saatnya nantinya masyarakat yang takut tadi akan menjadi tunduk pada hukum. Namun penegakan hukum sebagai instrumen masih menurutnya, telah dihinggapi berbagai problem yang akut. Ia mengatakan bahwa ada beberapa problem akut dalam proses penegakan hukum di Indonesia. Salah satunya problem penegakan hukum yang sudah ada sejak peraturan perundang-undangan dibuat,
DOK. WBC

ADA MASALAH AKUT

HIKMAHANTO JUWANA. Penegakan hukum yang tegas oleh aparat menunjukan bahwa hukum itu ada

dimana pembuat peraturan perundangundangan tidak memperhatikan dengan cukup baik apakah undang-undang yang dibuat tadi dapat dijalankan atau tidak. Ia mencontohkan pada tingkat nasional, undang-undang dibuat tanpa memperhatikan kemampuan suatu daerah untuk melaksanakannya. Akibatnya ketika ada suatu daerah yang bisa menjalankan sementara daerah lain tidak bisa menjalanakan, maka undang-undang tidak dapat ditegakan di beberapa daerah dan pada akhirnya undang-undang tadi menjadi undang-undang yang mati atau tidak dapat dijalankan. Pembuatan undang-undang yang sering tidak realistis adalah alasan kedua yang disampaikan Hikmahanto. Hal ini bisa terjadi karena karena undang-undang dibuat berdasarkan “pesanan” dan terkadang dianggap sebagai komoditas. ”Peraturan perundang-undangan yang menjadi komoditas, biasanya kurang memperhatikan isu penegakan hukum, sepanjang trade off telah didapat,”ujarnya kembali. Tipologi masyarakat pencari kemenangan dan bukan pencari keadilan menurutnya juga mempunyai andil dalam akutnya problem hukum di Indonesia, dimana segala upaya baik yang sah maupun yang tidak sah akan dilakukan. Bagi penegakan hukum, jelas ini merupakan problem, apabila penegak hukum kurang berintegritas dan rentan suap, maka masyarakat akan memanfaatkan kekuasaan dan uang untuk memperoleh kemenangan atau terhindar dari hukuman Faktor lainnya adalah pengaruh uang yang menyebabkan penegakan hukum menjadi lemah, dimana disetiap lini penegakan hukum, aparat dan pendukung aparat penegak hukum sangat rentan dan terbuka peluang untuk praktek korupsi atau suap.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

5

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

FAKTOR UANG. Menyebabkan penegakan hukum menjadi lemah.

Hukum yang dijadikan komoditas politik juga menjadi penyebab problem akutnya penegakan hukum. Pada masa orde baru lanjut Hikmahanto, penegakan hukum bisa diatur jika kekuasaan yang mengkehendakinya, bahkan pula bisa mengintervensi dalam menegakan hukum. “Ketika itu penegakan hukum akan dilakukan secara tegas karena penguasa memerlukan alasan yang sah untuk melawan kekuatan yang membela rakyat, namun penegakan hukum akan dibuat lemah oleh kekuasaan bila pemerintah atau elit politik yang menjadi pesakitan, ”tukas Hikmahanto. Problem lain adalah penegakan hukum yang dilakukan secara diskriminatif. Ia kembali mencontohkan, mengenai tersangka koruptor dan tersangka pencuri sandal yang mendapat perlakuan dan sanksi yang berbeda. Tersangka yang mempunyai status sosial yang tinggi di tengah-tengah masyarakat akan diperlakukan secara istimewa. Dalam kasus ini terang Hikmahanto, menunjukan bahwa penegakan hukum seolah hanya berpihak pada si kaya tetapi tidak pada si miskin. Bahkan hukum berpihak pada mereka yang memiliki jabatan dan koneksi dari para pejabat hukum atau juga akses terhadap keadilan. “Ini terjadi karena mentalitas aparat penegak hukum yang lebih melihat kedudukan seseorang di masyarakat daripada apa yang diperbuat,”paparnya kembali

lam penegakan hukum. Fundamen utama adalah agar para pengambil kebijakan harus dapat menerima bahwa berbagai problem penegakan hukum memang ada atau dengan kata lain tidak menutup mata. Seharusnya para pengambil kebijakan tidak dalam posisi menyangkal berbagai problem yang ada. Penyangkalan lanjut Hikmahanto, sama saja menjadikan berbagai solusi terhadap problem penegakan hukum menjadi tidak relevan. Ia sepakat bahwa pembenahan terhadap problem penegakan hukum memerlukan kesabaran yang tinggi, karena sifatnya yang tidak instant atau cepat, dimana saat ini diterapkan dan pada saat ini pula problem tersebut terselesaikan. Ia sangat menyayangkan pengambil kebijakan ataupun pakar hukum yang kerap menyederhanakan jalan keluar
DOK. WBC

LIBATKAN MASYARAKAT
Berbagai pihak yang berkompeten lanjut Hikmahanto telah menyampaikan solusi kepada pemerintah mengenai problem penegakan hukum dan sebagian telah diakomodasi pemerintah melalui berbagai kebijakan pemerintah. Namun solusi tersebut lanjutnya hanya memadai untuk sesaat saja tidak berorientasi pada masa depan. Kebijakan tersebut hanya sekedar memenuhi suatu kebutuhan saja, bahkan diadopsi agar pemerintah mendapat dukungan publik. Ia kembali mengatakan bahwa ada beberapa fundamen yang terpenting da6
WARTA BEA CUKAI

LALU LINTAS. Pelanggaran lalu lintas sering terjadi karena menganggap rambu lalu lintas bukan hukum, namun hanya sebagai benda mati

terhadap berbagai probelem penegakan hukum. Penyederhanaan solusi dilakukan dengan cara membuat peraturan perundang-undangan dengan substansi ‘anti’ dari masalah yang dihadapi. Dalam kenyataannya masih menurut Hikmahanto, solusi demikian tidak memberikan hasil, justru menjurus pada pengambilan kebijakan yang tidak dibenarkan menurut hukum dan ilmu pengetahuan hukum. Fundamen berikutnya adalah kesejahteraan aparat penegak hukum, yang harus juga mendapat perhatian. Mengedepankan kesejahteraan harus dilihat sebagai fundamen dari solusi tersebut dengan tujuan, agar pengaruh uang dalam penegakan hukum dapat diperkecil Kesan tebang pilih dalam proses penegakan hukum menurut Himahanto harus dihilangkan, dan untuk itu perlu meletakkan fundamen yang kuat agar aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya dapat menjaga konsistensi, paling tidak semua pihak, termasuk pemerintah, dapat menciptakan suasana kondusif agar penegakan hukum dilakukan secara konsisten. Upaya membersihkan institusi hukum dari personil nakal dan bermasalah merupakan fundamen yang menurut Hikmahanto harus dilaksanakan segera. Karena dalam konteks ini, para pengambil kebijakan harus memahami bahwa mentalitas aparat penegak hukum di Indonesia adalah takut pada hukum. Oleh karena itu, perlu diciptakan penegakan hukum yang tegas bagi para pejabat hukum yang melakukan penyelewengan jabatan dengan mekanisme yang dapat bekerja dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Fundamen berikutnya adalah pembenahan pada institusi hukum, yang harus dipahami sebagai pembenahan yang terkait dengan manusia. Pembenahan terhadap manusia hukum harus dilakukan secara manusiawi yang sedapat mungkin tidak menyinggung harga diri, bahkan merendahkan diri mereka yang terkena kebijakan. Bila tidak, akan ada perlawanan. Perlawanan lanjut Hikmahanto akan menjadikan proses pembenahan semakin rumit dan panjang. Oleh karenanya fundamen dari solusi yang dicari adalah pembenahan yang seminimal mungkin dapat menekan rasa dendam atau perlawanan. Dalam pembenahan penegakan hukum, penting untuk disadarkan dan diintensifkan partisipasi publik. Menurutnya fundamen yang melibatkan masyarakat ini mempunyai peran dalam pembenahan penegakan hukum. Partisipasi publik harus dilakukan secara bottom up, bila perlu dilakukan secara virtual dan tidak dirasakan. Penegakan hukum lanjut Hikmahanto merupakan faktor penting dalam kehidupan hukum di Indonesia. “Tanpa penegakan hukum yang kuat, masyarakat akan mempersepsikan bahwa hukum itu tidak ada,”ujarnya kembali. zap

EDISI 383 OKTOBER 2006

DJBC Harus Optimal

Tegakan Hukum
Undang-undang mengenai Kepabeanan dan Cukai dinilai sudah cukup untuk memberikan ruang bagi petugas untuk menegakan hukum, namun itu semua kembali pada sumber daya manusianya
yang juga mantan Dirjen Bea dan Cukai. Permana Agung mengatakan kedua undang-undang tadi merupakan alat yang digunakan untuk memastikan proses pelayanan dan pengawasan Kepabeanan dan Cukai berjalan lancar.Bukan hanya stake holder saja yang harus patuh pada kedua aturan tadi tetapi juga petugas dilapangan, harus memberikan pelayanan dan pengawasan kepada stake holder seperti yang diinginkan undang-undang. Undang-undang tersebut lanjut Agung, masih memiliki celah yang kemungkinannya bisa disalahgunakan oleh pihak–pihak yang tidak bertanggung jawab.”Bukan cuma Undang-Undang Kepabeanan dan Cukai (yang memiliki celah.red) tapi juga undang-undang lainnya,”terang Agung Untuk memperkecil celah tersebut ia mengatakan, harus ada kesamaan visi antara pimpinan dan para petugas dilapangan agar ruang tersebut tidak disalahgunakan dengan menggunakan interpretasi yang keliru, baik oleh petugas maupun para stake holder. “Kalau ada celah, maka pastikan pimpinan mengambil langkah untuk memastikan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, ini untuk menyempitkan misinterpretasi tersebut, kalau ini dijalankan berarti Undang-Undang nomor 10 dan nomor 11 ditegakan oleh petugas kita,”lanjutnya kembali. Mengenai Undang-Undang Kepabeanan dan Cukai yang saat ini dalam proses amandemen, Agung berpendapat bahwa itu sah-sah saja dilakukan, dan bukan berarti sebelum diamandemen kedua undang-undang tadi jelek. Disini Agung menegaskan,tidak ada suatu undang-undang yang sempurna, namun yang membuat undang-undang itu berhasil ditegakkan adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang melaksanakannya dilapangan, ”Di dunia tidak pernah ditemui customs yang ‘jempolan’ sebagai akibat undang-undangnya yang ‘jempolan’ sementara SDM-nya kurang baik. Tapi yang selalu dijumpai adalah Customs Administration yang ‘ jempolan’ hasil dari orang-orang dan pimpinannya yang’ jempolan’ juga, walaupun undang-undangnya jelek,”ungkapnya kembali. Direktur Verifikasi dan Audit Thomas Sugijata juga mempunyai pendapat serupa dengan Agung. Menurutnya kualitas SDM yang baik di DJBC harus memenuhi kriteria yang mencakup integritas moral dan profesionalisme intelektual dalam penegakan hukum terutama Undang-Undang nomor 10 dan 11 tahun 1995. Kualitas intelektual tanpa diimbangi dengan integritas moral akan menimbulkan rekayasa yang tidak dilandasi moral. Sementara integritas saja tanpa diimbangi dengan profesionalisme dapat mengakibatkan penerapan dan pemahaman penegakan hukum yang keliru dan menyimpang. Setiap petugas DJBC, lanjut Thomas harus mentaati semua aturan yang tertuang dalam Undang-Undang nomor 10 dan 11 tahun 1995 tentang Kepabeanan
WBC/ATS

R

evenue collection, trade facilitation, dan community protection, merupakan tugas yang diemban oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Jika dijabarkan kedalam bahasa yang sederhana dan lugas, maka tugas DJBC adalah melakukan pemungutan pajak dan melayani masyarakat industri atau usaha secara prima, tanpa meninggalkan pengawasan dalam rangka melindungi masyarakat. Semua kegiatan tersebut telah diatur dalam UndangUndang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dan Undang-Undang nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai, sehingga dalam menjalankan tugas tersebut baik stake holder maupun petugas selalu mengacu pada kedua aturan tadi yang kemudian diperjelas melalui aturan-aturan seperti Surat Keputusam Menteri Keuangan sampai pada Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai. Pengamat Kepabeanan dan Cukai
DOK. WBC

THOMAS SUGIJATA. Palayanan dan pengawasan yang tepat dan akurat yang diikuti dengan penegakan hukum, baik secara internal maupun eksternal dapat meningkatkan efektifitas penegakan hukum.

PERMANA AGUNG. harus ada kesamaan visi antara pimpinan dan para petugas dilapangan agar ruang tersebut tidak disalahgunakan dengan menggunakan interpretasi yang keliru, baik oleh petugas maupun para stake holder WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

7

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

dan Cukai, tidak terkecuali, dimana seluruh pegawai harus menjalankan ketentuan dalam undang-undang tadi sesuai dengan wewenang dan kewajibannya. “Penegakan hukum di DJBC tidak menjadi monopoli direktorat tertentu, tetapi menjadi kewajiban setiap pegawai yang tugasnya terkait dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan cukai,”tegas Thomas. Ia juga mencoba untuk meluruskan pendapat yang berkembang dimasyarakat dimana penegakan hukum identik dengan pengawasan. Menurutnya pegawai yang sedang melakukan pelayanan dokumen juga melakukan penegakan hukum meskipun mereka tidak melakukan pengawasan atau bukan pengawas,”Pengurusan dokumen itu khan untuk kelancaran arus barang juga, berarti dia juga penegak hukum,’ujar Thomas. Penegakan hukum yang dilakukan oleh DJBC lanjutnya, telah build in proses pelayanan, dan didukung dengan instrumen lainnya yaitu intelejen, surveillance dan post clearence audit. Untuk itu lanjut Thomas, kualitas SDM harus memadai dan harus pula didukung dengan tekad nyata dari pimpinan dalam bentuk program yang jelas agar peraturan perundang-undangan dapat ditegakan. “Pelayanan dan pengawasan yang tepat dan akurat yang diikuti dengan penegakan hukum baik secara internal maupun eksternal dapat meningkatkan efektifitas penegakan hukum,”papar Thomas kembali.

DRADJAT H. WIBOWO. Harus ada “Elliot Ness” di Bea Cukai untuk bisa memerangi mafia tersebut.

HARUS SEIMBANG
Pelayanan dan pengawasan selalu identik dengan DJBC dimana dengan dua tugas dan fungsi tersebut maka DJBC diharapkan dapat memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat tanpa melupakan pengawasan yang berpotensi pada kerugian negara seperti mencegah terjadinya penyelundupan. Thomas menjelaskan bahwa ciri utama dari

pelayanan yang baik yaitu sederhana, cepat dan murah. Dan ketika berbicara mengenai pengawasan maka akan dipastikan ada kegiatan pemeriksaan yang notabene akan menghambat kecepatan arus barang. Untuk itu lanjutnya kembali, DJBC dengan konsep Kepabeanan yang modern berupaya untuk mensinergikan pelayanan dan pengawasan sehingga pelayanan dan pengawasan dapat berjalan dengan efektif. Untuk itu dalam pelaksanaannya lanjut Thomas, DJBC menerapkan tiga pilar Kepabeanan yaitu selektifitas, manajemen resiko dan audit pasca pengeluaran. Selektifitas menurutnya, DJBC harus menggunakan kewenangannya untuk menarget pengawasan terhadap barang secara selektif dan tepat sehingga
DOK. WBC

DJBC. Dengan konsep Kepabeanan yang modern berupaya untuk mensinergikan pelayanan dan pengawasan sehingga pelayanan dan pengawasan dapat berjalan dengan efektif

kelancaran arus barang tidak terganggu. Manajemen resiko, masih menurut Thomas merupakan kegiatan pabean untuk mengelola resiko dalam rangka melakukan selektifitas walaupun interfensi pabean berkurang pada tahap pelayanan, sehingga kelancaran terjaga, peran pabean untuk melakukan pengawasan tetap dilakukan dengan menggunakan pengawasan pasca pengeluaran barang atau post clearence audit. Pelayanan dan pengawasan menurut Agung merupakan dua hal penting dan tidak dapat dipisahkan bagi Bea Cukai dalam menjalankan tugas. Menurutnya jika dulu pengawasan ditempatkan didepan dimana suatu barang tidak bisa keluar sampai dipastikan bahwa barang tersebut sesuai prosedur, maka sekarang ditempatkan dibelakang, atau setelah barang dikeluarkan dari kawasan pabean. Dengan konsepsi itu yang kini diterapkan DJBC, maka proses pengeluaran barang yang menjadi cepat dengan pengawasan yang dilakukan oleh Direktorat Verifikasi dan Audit pada saat barang telah keluar dari kawasan pabean, “Kita bisa mengaudit suatu perusahaan yang nakal jika mendapat laporan dari masyarakat, atau bahkan ada yang lolos sekalipun,jadi disini pelayanan terhadap masyarakat tetap berjalan baik tanpa meninggalkan faktor pengawasan, ”ujar Agung. Pengamat Kepabeanan dan Cukai yang juga mantan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Bandung Abdurrahman mengatakan, mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh DJBC sudah baik, apalagi dengan pengawasan yang dilakukan menerapkan post clearence audit. Ia mengusulkan agar alat yang digunakan oleh DJBC dalam melakukan pengawasan seperti verifikasi dan audit, manejemen resiko maupun intelejen ditempatkan dalam satu unit tugas tertentu sehingga bisa mempercepat proses pengambilan keputusan demi lancarnya pelayanan dan pengawasan, karena alat-alat tersebut saat ini berada pada Direktorat yang berbeda seperti Direktorat Verifikasi dan Audit, Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai untuk manajemen resiko dan Direktorat P2 untuk intelejen. Lain halnya dengan Abdurrahman, Agung merasa penempatan instrumen pengawasan pada beberapa Direktorat sudah tepat, mengingat konsep ini mengacu pada konsep check and balance. “Kalau semua dilakukan pada satu Direktorat tertentu, besar kemungkinan terjadi penyalahgunaan karena tidak ada yang melakukan check and balance. Kalau sekarang khan setelah dilakukan pengawasan oleh dit P2, maka akan dicek kembali oleh dit. verifikasi dan audit, setelah itu menggunakan manajemen resiko untuk pengambilan keputusan oleh pejabat yang berwenang, itu adalah konsep yang ideal di dunia saat ini,”papar Agung.

8

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

Ketika ditanya apakah dengan adanya pemisahan ini akan menyulitkan koordinasi? Agung menjawab, “Kalau masalah koordinasi dalam pengambilan keputusan menjadi lambat, itu yang harus diatasi kenapa jadi lambat .”

PELAYANAN DAN PENGAWASAN,

MASIH KURANG
Sementara itu anggota komisi XI DPR-RI yang membawahi bidang perekonomian, Dradjat H. Wibowo mengatakan, apa yang dilakukan oleh DJBC dalam proses penegakan hukum masih kurang dan masih harus ditingkatkan. Menurutnya saat ini penyelundupan masih terjadi dan itu melibatkan pegawai yang mempunyai integritas rendah dan juga pengusahapengusaha nakal. Sebenarnya lanjut Dradjat Undang-Undang nomor 10 dan 11 tahun 1995 sudah cukup memberikan ruang bagi DJBC untuk menegakan hukum, namun disini tinggal bagaimana SDM-nya yang menjalankan kedua undang-undang tadi. “Dalam undang-undang sanksi bagi para pelanggar itu banyak, tapi tidak dijalankan dengan konsisten, dan ini membuka peluang untuk terjadinya negosiasi. Sekarang diputuskan untuk diamandemen dan itu bagus sekali menurut saya,”lanjut Dradjat. Masalah permainan dan penyelundupan tersebut lanjutnya, sempat mengalami masa-masa sepi atau menurut istilahnya “tiarap”. Hal ini terjadi setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan ke DJBC. “Para pemain-pemain tersebut sempat menghilang beberapa minggu atau paling tidak dua bulan, setelah itu kembali bermain,”ujar Dradjat. Untuk bisa menekan para pemain-pemain yang ingin mengambil keuntungan untuk kepentingan pribadi tadi lanjutnya, harus diperlukan orang-orang yang berani dan mempunyai nyali yang cukup besar untuk bisa membasmi mafia-mafia tersebut. Dradjat mengatakan mafia karena penyelewengan yang terjadi tersebut sudah terorganisir, sehingga menempatkan orang-orang yang mempunyai integritas dan mampu melabrak sistem yang bobrok tersebut sangat dibutuhkan agar pendapatan negara tidak menguap begitu saja. “Harus ada “Elliot Ness” di Bea Cukai untuk bisa memerangi mafia tersebut, percuma kalau ganti pejabat tapi tidak mempunyai nyali untuk memerangi penyelewengan,”ujarnya kembali. Untuk mengamankan penerimaan negara dari pajak dan Bea dan Cukai, Dradjat mengusulkan agar kedua instansi tadi pajak dan DJBC digabung menjadi satu dalam badan penerimaan negara yang kemudian diisi oleh orang-orang yang baru dan fresh, selain orang lama yang track record-nya bagus. zap

Tidak Selalu Identik Dengan Keterlambatan
Pengawasan yang dilakukan tidak harus selalu mengakibatkan terjadinya ketidaklancaran arus barang keluar. Post Clearence Audit (PCA) menjadikan pengawasan dan pelayanan berjalan bersama, dan kelancaran arus barang terjaga

S

eiring dengan perkembangan dunia dan juga tuntutan masyarakat usaha akan kecepatan pelayanan, DJBC telah mengambil beberapa langkah untuk menjawab keinginan masyarakat tersebut. Keberadaan kawasan berikat, gudang berikat, sampai pada penyediaan jalur prioritas dan penerapan PDE manifest merupakan beberapa fasilitas dari sekian banyak fasilitas yang disediakan DJBC kepada para pengusaha sebagai jawaban dari perkembangan saat ini. Tentunya DJBC tidak hanya

memprioritaskan pada pelayanan, namun faktor pengawasan tetap diperhatikan tanpa harus menyebabkan adanya ketidaklancaran akibat dari pengawasan yang dilakukan. Permana Agung sebagai pengamat Kepabeanan dan Cukai mengatakan, sepakat bahwa pengawasan yang dilakukan oleh DJBC semata-mata dilakukan agar kerugian negara akibat dari proses kepabeanan yang tidak benar atau penyelundupan dapat ditekan semaksimal mungkin. Kalau DJBC hanya berorientasi pada penerimaan negara saja dimana setiap sen dari penerimaan negara
DOK. WBC

TERMINAL KONTAINER. Pengawasan dan pelayanan kini berjalan bersamaan sehingga proses pengeluaran barang tidak selalu terganggu EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

SDM. Dit Verifikasi Audit selalu melakukan evaluasi guna menilai mutu serta profesionalisme auditor dengan menilai penerapan prosedur dan teknik audit.

tidak bocor, maka dalam prakteknya lanjut Agung, petugas harus melakukan pengecekan terhadap setiap barang yang masuk dengan cara membongkar dan menelitinya, sementara jumlah barang yang datang jumlahnya banyak bahkan sampai ratusan kontainer, dan dibutuhkan waktu yang cukup banyak untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Hal ini lanjutnya, akan menimbulkan efek domino, dimana perusahaan yang mengimpor barang tersebut tidak bisa berproduksi, sementara sewa gudang dipelabuhan terus berjalan dan itu akan menimbulkan biaya ekonomi tinggi akibat dari pemeriksaan tersebut. Apabila kelancaran barang yang dimaksud tidak melalui proses pengawasan, Agung mengatakan, segala jenis barang dapat masuk ke Indonesia tanpa bea masuk, sehingga industri dalam negeri akan tertekan. Barang-barang larangan seperti narkoba dan lain sebagainya juga dapat masuk tanpa diawasi yang akan menimbulkan pecandu narkoba baru. Saat ini masyarakat tidak perlu merasa khawatir, karena pelayanan dan pengawasan berjalan secara bersamaan tanpa harus menimbulkan kelambatan. DJBC lanjut Agung, dalam menjalankan pelayanan dan pengawasan menggunakan beberapa cara. Ia mencontohkan, petugas menerapkan manajemen resiko dimana petugas menggunakan alat yang disebut profil seperti profil harga, profil importir dan lain sebagainya, dan juga atas dasar informasi yang diperoleh. Kalaupun ada barang yang tidak boleh masuk atau tidak memenuhi prosedur kepabeanan lolos dari pemeriksaan awal, hal itu masih bisa dilacak melalui proses audit yang dilakukan setelah barang keluar. “Audit itu post entry audit. Kalau ada barang yang sudah lolos suatu ketika dicurigai masyarakat, dilaporkan ke 10
WARTA BEA CUKAI

Bea Cukai, bisa di audit, dan kita punya hak 10 tahun untuk (mengaudit) mereka. Tinggal bagaimana petugas kita menjalankan ketentuan yang ada dalam proses pengawasan yang telah diatur dalam undang-undang dan aturan lainnya yang mendukung undang-undang tersebut,”tegas Agung. Mantan Kasubdit Penyidikan Direktorat P2 yang kini menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah XII DJBC Ambon CF. Sidjabat mengatakan, petugas DJBC yang berada di lapangan baik itu yang melakukan pengawasan dan pelayanan adalah para penegak hukum, karena mereka bekerja berdasarkan Undang-Undang nomor 10 dan 11 Tahun 1995 tentang kepabenan dan cukai. Pada Direktorat P2, lanjutnya tugas yang dilakukan adalah memastikan para stakeholder mematuhi ketentuan yang ada pada kedua undang-undang tadi. Lebih lanjut ia mengatakan, kalau semua prosedur telah dilakukan, baik itu oleh petugas dan para stakeholder, maka bisa dikatakan undang-undang tersebut sudah ditegakkan. Untuk itu Dit P2 selalu melakukan koordinasi dengan direktorat lainnya seperti koordinasi yang dilakukan dengan Direktorat Verifikasi dan Audit maupun juga Subdit Manajemen Resiko guna memastikan penegakan hukum itu dilakukan oleh para stakeholder. Sidjabat lebih lanjut mencontohkan, pada suatu kasus Dit P2 bisa meminta dilakukan audit investigasi kepada Dit Vera, atau bisa saja Dit P2 meminta dilakukan penyidikan. Jadi hubungan tersebut dilakukan dengan baik. Atau untuk memastikan sesuatu hal lebih detail, pihaknya berkoordinasi dengan Direktorat Teknis Kepabeanan maupun direktorat lainnya.

Thomas Sugijata menjelaskan, DJBC dalam hal ini Direktorat Verifikasi dan Audit melakukan tiga tahap dalam proses penegakan hukum yaitu tahap pre clearance, clearence dan tahap post clearence. Pada tahap pertama ini lanjutnya, pengawasan dilakukan oleh unit pengawas dari Kantor Pusat, Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan Bea Cukai, dan pelaksanaannya antara lain dengan kegiatan intelejen dan surveillance. Pada tahap kedua yaitu tahap clearence, pengawasan dilakukan oleh unit pengawasan yang ia sebutkan tadi dengan melibatkan Pejabat Fungsional Pemeriksa Barang (PFPB) dan pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) yang dilaksanakan dengan kegiatan intelejen, surveillance, pemeriksaan fisik dan penegahan dan pencegahan oleh unit P2 dari Kantor Pusat, Kanwil dan KPBC. Cara lain yang digunakan pemeriksaan fisik yang lebih mendalam oleh PFPB bersama dengan P2 dan penelitian dokumen oleh PFPD Lebih lanjut Thomas menjelaskan mengenai tahap post clearance. Penegakan hukum ini dilakukan oleh unit verifikasi (yang ada di Kanwil), audit (yang ada di Kantor Pusat dan Kanwil) dan P2 (yang ada di Kantor Pusat, Kanwil dan KPBC). Ini merupakan pelaksanaan penegakan hukum dengan melakukan verifikasi, post clearence audit (PCA), penyelidikan dan penyidikan. Kinerja petugas, lanjut Thomas akan meningkat apabila semua unit dan elemen yang disebutkan tadi di atas dapat bekerjasama dengan sinergi atau dengan kata lain saling mendukung
DOK. WBC

TIGA TAHAPAN
Direktur Verifikasi dan Audit DJBC

CF. SIDJABAT. P2 selalu bekerjasama dengan Direktorat terkait guna memastikan proses Kepabeanan dan Cukai dilakukan dengan benar.

EDISI 383 OKTOBER 2006

DOK. WBC

satu sama lain sesuai dengan kewenangan masing-masing. “Kasus tambah bayar dan tindak pidana sering ditemui oleh petugas ketika dilakukan audit oleh petugas,”ujar Thomas. Keterlibatan beberapa unit dari direktorat lain dalam proses pengawasan, lanjut Thomas dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Ia menjelaskan pihaknya melakukan tukar menukar informasi dan operasional dengan unit lain seperti dengan Subdit Manajemen Resiko, yang berada pada Direktorat Informasi Kepabenan dan Cukai (IKC) dan subdit intelejen pada Direktorat P2 seperti registrasi importir, dimana Direktorat Verifikasi dan Audit mengkoordinasikan penanganan registrasi sesuai kriteria eksistensi , pembukuan dan adminsitratif lainnya. Sementara Direktorat P2 mengkoordinasikan profil importir dan komoditi untuk penilaian skor pelayanan, sedangkan Direktorat IKC mengkoordinasikan Teknologi Informasi (TI) dalam pelayanan dan mendukung data dan informasi yang dikelolanya dalam database. Mengenai pelaksanaan penelitian lapangan, dilakukan oleh kantor wilayah dan pelaksanaan audit investigasi dilakukan antara Direktorat P2 dan Direktorat Verifikasi dan Audit Thomas kembali menjelaskan, agar PCA dapat dilakukan dengan efektif dan efisien pihaknya memperhatikan beberapa elemen infrastruktur baik dasar hukum maupun struktur organisasi. Selanjutnya para auditor dituntut harus memiliki kualitas berupa keahlian dan pengetahuan yang cukup yang tidak hanya sebatas pada prinsip dan prakatek akuntansi tetapi juga meliputi standard dan teknik audit, proses bisnis transaksi, peraturan perundang-undangan dibidang Kepabeanan dan Cukai maupun juga peraturan perundang-undangan yang dititipkan pada DJBC dan yang lebih utama lagi adalah memiliki kemampuan yang memadai dalam bidang komputer. Elemen lainnya adalah program audit yang terstandarisasi beserta manual yang jelas dan adanya suatu sistem dan mekanisme pemilihan objek audit yang jelas dan tepat serta menghindari adanya objek audit yang diperiksa berulang-ulang, adalah elemen yang terus terus diperhatikan. Pihaknya, lanjut Thomas, juga memperhatikan mekanisme audit yang jelas dan terencana sejak tahap awal hingga tahap pelaporan. Dalam mekanisme audit lanjutnya, harus disertai jadwal waktu yang diperlukan serta mekanisme pengawasan yang harus dilakukan kepada tim audit. Selanjutnya, untuk mengukur tingkat kesuksesan audit Direktorat Verifikasi dan Audit memberlakukan meka-

TEGAHAN. Walaupun lolos pada pemeriksaan awal, jika kemudian ditemukan ada penyimpangan,maka bisa diungkap melalui audit.

nisme evaluasi audit. Menurutnya hal ini dilakukan guna menilai mutu serta profesionalisme auditor dengan menilai penerapan prosedur dan teknik audit.

BERHUBUNGAN DENGAN INSTANSI TERKAIT
Kegiatan yang dilakukan oleh DJBC dalam rangka menegakan hukum tentunya akan berhubungan dengan instansi pemerintah lainnya. Jika diambil contoh adalah keterlibatan lembaga Karantina dan Imigrasi di wilayah Kepabeanan. Dalam pasal 53 (1) Undang-Undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan disebutkan “Untuk kepentingan pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan larangan dan pembatasan, instansi teknis yang menetapkan peraturan larangan dan /atau pembatasan atas impor atau ekspor barang tertentu wajib memberitahukan kepada menteri”. Dalam penjelasan pasal tersebut juga disebutkan bahwa instansi terkait harus menyampaikan peraturan dimaksud kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan dan dilaksanakan oleh DJBC. Thomas menjelaskan, instansi terkait selalu memberitahukan kepada Menteri Keuangan mengenai rekomendasi barang yang harus dikeluarkan oleh DJBC, dan DJBC akan mengeluarkan seperti yang diperintahkan Menteri Keuangan. “Seperti masuknya mobil bekas dari luar negeri, itu Departemen Perdagangan harus menyampaikan rekomendasi tersebut kepada Menteri Keuangan, dan DJBC baru bisa mengeluarkan kalau sudah ada ketetapan dari Menteri Keuangan,kalau tidak ada rekomendasi dari sana kita tidak akan keluarkan,”ungkap Thomas. Dalam prakteknya, lembaga

departemen atau non departemen akan memberikan rekomendasi kepada DJBC untuk mengeluarkan suatu barang, untuk itu, DJBC selalu melakukan konfirmasi kepada instansi mengenai kebenaran dari rekomendasi tersebut. Dan rekomendasi tersebut yang kemudian digunakan oleh DJBC untuk mengeluarkan barang tersebut. Hal senada juga disampaikan Sidjabat, menurutnya dalam beberapa praktek di lapangan proses permohonan kepada Menteri Keuangan dari instansi terkait guna pengeluaran barang jarang dilakukan mengingat hal ini terkait dengan masalah birokrasi, sementara kebutuhan agar barang tersebut sangat mendesak, sehingga instansi terkait selalu memberikan surat pemberitahuan kepada pihak DJBC yang ada dilapangan dengan berbagai tembusan kepada direktorat terkait maupun juga kepada Kantor Pusat. Hal ini masih menurut Sidjabat tidak melanggar ketentuan karena segala dokumen sudah diikutsertakan dan dilakukan pengecekan yang mendalam. Untuk dapat menjalankan ketentuan pasal 53, Permana Agung mengatakan, akan sangat baik jika antar instansi tersebut intens menjalin hubungan dengan Departemen Keuangan yang membawahi DJBC , sehingga pasal 53 tersebut dapat dijalankan dengan efektif oleh DJBC dalam hal ini petugas dilapangan. “Walaupun dalam prakteknya pasal 53 jarang digunakan, namun alangkah baiknya jika instansi pemerintah baik itu departemen maupun non departemen dapat menjalin hubungan yang intens dengan Departemen Keuangan untuk dapat menjalankan pasal 53 tersebut,sehingga pasal tersebut dapat dijalankan dengan konsekuen,”terang Agung. zap
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

11

WAWANCARA

Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo, SH, MA
GURU BESAR HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA

“...Harus Kerja Keras

Tegakkan Hukum... ”
Hukum di Indonesia dinilai oleh pengamat hukum dan juga akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia Dr. Harkristuti Harkrisnowo, SH, MA, sebenarnya tidak terlalu jelek, untuk itu pemerintah harus bekerja keras menegakan hukum yang tidak terlalu jelek tersebut. Keengganan masyarakat untuk mentaati hukum baik itu dalam kehidupan sehari-hari atau dalam suatu pengurusan jangan dijadikan sebagai penyebab susahnya mengajak masyarakat untuk taat pada hukum atau aturan yang berlaku, karena yang berkembang saat ini segala pengurusan tersebut terlalu rumit, sehingga masyarakat lebih memilih “jalan praktis”. Harkristuti menyempatkan waktu untuk berbincang dengan redaktur WBC Zulfril Adha Putra dan Fotografer Andy Tria Saputra mengenai perkembangan penegakan hukum di Indonesia dan fenomena yang terjadi dalam penegakan hukum di Indonesia.
dilakukan agar bisa menghindari atau setidaknya meminimalisirnya? Kuncinya ada pada pimpinan, dimana pimpinan harus menyadari bahwa sudah ada pembagian kewenangan. Kalau toh intervensi tersebut tidak dapat dihindari, harus dilihat intervensi itu jelas atau tidak, karena tidak selalu intervensi itu adanya penyelewengan, disini pimpinan harus memiliki sikap yang tegas untuk bisa menghadapi intervensi yang bisa mengakibatkan penyelewengan tersebut, jadinya disini pimpinan harus memback-up anak buah dengan policy yang clear. Ada wacana yang berkembang di masyarakat yang mengatakan hukum kita sebenarnya sudah bagus, tapi pelaksanannya belum bagus, apakah anda setuju dengan wacana yang berkembang seperti itu? Seperti yang saya sampaikan di awal, hukum kita itu tidak jelek, walaupun masih ada isinya yang berkaitan dengan interpretasi. Misalnya ada satu pasal, sementara interpretasinya berbeda-beda. Ini yang sering kali menimbulkan masalah. Seperti misalnya konflik antara Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia, itu kan ada landasan hukumnya, kemudian interpretasinya Mahkamah Konstitusi (MK) sudah tidak laku lagi. Kalau terjadi kemungkinan multi interpretasi, maka ketika orang ingin pelayanan A misalnya, maka orang tersebut mendapatkan pelayanan B, padahal landasan hukumnya sama. Kemungkinan ada juga hal lain seperti uang pelicin, kalau anda dikasih uang pelicin, maka anda akan mendapatkan urusan yang beres. Nah ini yang harus diperhatikan baikbaik oleh para pegawai negeri.

Bisa diceritakan kondisi penegakan hukum di Indonesia saat ini? Keadaanya saat ini adalah kita harus bekerja keras untuk bisa menegakan hukum, karena hukum kita memang tidak terlalu jelek. Tapi ketika pada tataran implementasi, disini ada kesulitan karena berbagai faktor seperti Sumber Daya Manusia (SDM) kita memang belum sepenuhnya profesional. Selain itu juga sarana dan prasarana yang masih terbatas. Mungkin kalau di kota-kota besar seperti Jakarta itu sudah bagus tapi untuk daerah lain saya rasa masih memerlukan banyak peningkatan. Kemudian juga sering kali policy berubah-ubah. Sehingga masyarakat menjadi bingung. Kemudian juga untuk adanya kepastian hukum itu harus ada informasi. Informasi mengenai apa yang harus dilakukan oleh masyarakat untuk mendapatkan sesuatu itu sering kali tidak jelas. Kemudian juga apa yang diperoleh dilapangan tidak sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dalam satu dokumen, misalnya. Itu yang menyulitkan masyarakat. Kalau halhal yang saya sampaikan tadi sudah beres, maka diperlukan pimpinanpimpinan yang memahami tugasnya sebagai penegak hukum Terkadang intervensi sering dialami oleh para petugas dilapangan lalu apa yang harus 12
WARTA BEA CUKAI

“…PENEGAKAN HUKUM YANG IDEAL ITU ADALAH PELAYANAN HUKUM KEPADA MASYARAKAT DENGAN MENGEDEPANKAN KEPENTINGAN MASYARAKAT…”
jelek menurut saya. Misalnya, ada yang complain kepada petugas mengenai pelayanan yang lambat, maka pimpinan akan mengatakan jangan lambat dong. Hal itu bisa dibilang intervensi. Jadi pimpinan itu harus mempunyai orientasi pada pelayanan masyarakat. Kalau dalam pelaksanaan tugas dilapangan, suatu instansi mendapat intervensi yang bisa mengakibatkan

EDISI 383 OKTOBER 2006

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

13

WAWANCARA “…PIMPINAN HARUS MENGONTROL ANAK BUAHNYA SUPAYA MENJALANKAN TUGAS DENGAN ATURAN YANG ADA.”
Walaupun undang-undang kita sudah baik, pasti ditemui adanya celah yang bisa digunakan oleh para petugas untuk mengambil keuntungan, maupun juga oleh masyarakat, lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat agar celah hukum ini tidak disalahgunakan? Nah untuk menghindari hal tersebut, maka itu harus dimulai dari proses legislasi agar tidak membuka celah. Tapi harus diperhatikan juga bahwa hukum itu tidak bisa diperlakukan terlampau rigid apalagi kalau yang ada di undang-undang dimana implementasinya tidak harus kaku. Nah ini yang menurut saya dari mulai legislasi dengan melibatkan stakeholder sehingga kemudian rumusan yang ada dalam ketentuan tersebut memang sudah mengantisipasi masalah-masalah yang ada dilapangan. Disatu sisi kita harus ingat bahwa undang-undang itu perlu politik. Sehingga akibatnya ada kepentingan politik yang mungkin dimasukan kesana, nah kalau ini sudah masuk dan jadi suatu kepentingan, ini yang repot. Apakah sulit menghindari kepentingan yang masuk dalam perumusan tersebut? Sebenarnya tidak sulit, kalau kita benar-benar membuat undangundang yang mengacu pada kepentingan rakyat banyak. Apakah yang saya sampaikan itu sudah pada tahap itu apa belum? Apakah undang-undang yang ada saat ini sudah mengacu pada kepentingan rakyat banyak? Belum seluruhnya, dan menurut saya kembali lagi pada interpretasi pada peraturan. Jadi mungkin memerlukan suatu perumusan yang detail semacam juklak yang memberikan informasi yang jelas kepada petugas dilapangan. Petugas dalam menjalankan tugasnya dilapangan sering memiliki pertanyaan,”Apa yang harus dilakukan?” Pertanyaan tersebut akan terjawab melalui juklak yang menjadi panduan bagi petugas dalam menjalankan tugas. Saat ini masyarakat kurang percaya pada hukum dan juga aparatnya, ketika petugas menjalankan tugas dengan baik, masyarakat menilai petugas “mengada-ada”. Sedangkan ketika tidak menjalankan tugasnya dengan baik, masyarakat memberi kritikan yang bertubi-tubi, kenapa hal ini bisa terjadi? Nah disini harus dilihat, kenapa ada pendapat yang mengatakan “mengada-ada” tadi? Ini terjadi karena tidak ada keterangan jelas. Misalnya di kantor polisi ditempatkan papan pengumuman yang jumlahnya sekian poin misalnya, yang harus dijalankan oleh masyarakat. Tapi dalam prakteknya dilapangan lain lagi. Jadi disini sudah jelas jangan ada interpretasi lain selain juknis dan juklaknya. Disini pimpinan harus mengontrol anak buahnya supaya menjalankan tugas dengan aturan yang ada. Jadi jangan pakai jalan masing-masing. Apakah faktor masyarakat yang permisif dengan cara mudah memberi imbalan kepada petugas juga mempengaruhi? Tidak, masyarakat kita itu sebenarnya tidak permisif, cuma mereka tidak mau repot. Jadi kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, sebab beberapa pengurusan ada keruwetan, jadi jangan membuat suatu prosedur yang menyebabkan suatu keruwetan. Tapi yang diperlukan adalah prosedur yang jelas. Ini akhirnya akan mendorong pelayanan masyarakat itu bisa cepat,sederhana dan biaya ringan. Sebenarnya siapa saja yang bisa disebut sebagai aparat penegak hukum? Penegak hukum dalam proses peradilan cuma polisi, jaksa, hakim dan petugas LP(Lembaga Pemasyarakatan.red). Nah kalau yang lainnya menurut saya lebih kepada penerap hukum. Mereka menerapkan hukum yang sudah ada. Sebenarnya semua orang yang masuk jajaran pemerintahan khan menerapkan hukum yang sudah ada. Kalau bicara mengenai penegak hukum ini adalah istilah yang sudah kita punya sejak lama dan aparat hukum penegak hukum ini adalah lembaga yang terlibat dalam proses peradilan. Seperti halnya Bea Cukai dan juga instansi lain, mereka memiliki Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) apakah kemapuan mereka cukup untuk menegakan hukum? Saya kurang mendalami mengenai PPNS ini. Tapi harus kita akui kemampuan aparat penegak hukum kita masih terbatas. Dan mungkin di Bea Cukai sudah berbeda dengan penegak hukum lainnya. Dan untuk itu pastinya Bea Cukai sudah mengantisipasi untuk meningkatkan kemampuan PPNSnya melalui training dan lain sebagainya. Untuk mengukur kepuasan masyarakat akan kinerja lembaga penegakan hukum dalam melakukan penerapan hukum, apa yang harus dilakukan? Saya rasa harus ada assessment, saya rasa Bea Cukai harus melakukan assessment mengenai pandangan masyarakat terhadap kinerja mereka. Saya tidak bisa mengatakan Bea Cukai kinerja kurang memuaskan atau sudah baik. Tapi secara umum pelayanan publik kita masih jelek. Nah untuk itu juga atasan juga harus melakukan penerapan good governace, harus ada transparansi dan lain sebagainya, nah ini yang harus melekat pada fungsi seorang atasan. Kalau atasannya tidak bisa menerapkan ini maka atasannya sudah gagal. Terkadang ada kesulitan untuk menghilangkan kultur negatif dalam suatu instansi seperti seperti uang pelicin dan lain sebagainya, menurut anda apa yang harus dilakukan? Saya setuju kalau praktek seperti itu masih ada saat ini dan kita tidak menutup mata akan hal itu. Tapi bisakah kita memulai untuk sesuatu yang baik? Kalau dulu suka terima sogokan, bagaimana kalau sekarang tidak lagi (terima sogokan). Bagaimana kalau pimpinan tidak menerapkan waskat alias wajib setor ke atas kepada anak buahnya lagi. Kalau dia minta setoran akibatnya, anak buah yang harus kalang kabut mencari, akibatnya dia nyeleweng. Nah disitu atasannya harus menerapkan prinsip good governance untuk menghindari adanya penyelewengan dan lain sebagainya. Lalu bagaimana menurut anda penegakan hukum yang ideal? Menurut saya, penegakan hukum yang ideal itu adalah pelayanan hukum kepada masyarakat dengan mengedepankan kepentingan masyarakat yang didasarkan pada aturanaturan yang memang sudah mengandung keadilan pada masyarakat.

“…HUKUM ITU TIDAK BISA DIPERLAKUKAN TERLAMPAU RIGID.”
14
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

KEPABEANAN INTERNASIONAL

KUNJUNGAN DELEGASI IRAN
KE KPBC TANJUNG PRIOK
ada 14 September 2006, untuk pertama kalinya sejumlah 10 orang delegasi dari The Islamic Republic of Iran, mengunjungi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, tepatnya ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok II. Kunjungan delegasi Islamic Republic of Iran tersebut didampingi oleh beberapa orang pegawai dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Dalam menyambut kunjungan tersebut, DJBC diwakili oleh Agung Kuswandono, Kasubdit Kerjasama Internasional I, Dit. Kepabeanan Internasional (yang juga memberikan penjelasan pada delegasi Iran mengenai DJBC), serta didampingi oleh Kepala KPBC Tanjung Priok II (saat itu masih dijabat oleh Iwan Riswanto-red) dan Kepala Bagian Umum Kanwil IV DJBC Jakarta, Ganot Wibowo. Kesepuluh delegasi dari Islamic Republic of Iran tersebut adalah Mahmoud R. Radboy, Head of the Economic Section dari Embassy of The Islamic Republic of Iran; H.E. Ghasem Azizi, H.E. Mostafa Mohammadi dan H.E.N. Ashoori Ghale’h (ketiganya merupakan anggota parlemen Iran); H.E. Aliakbar Arabmazar, Deputy Minister of Economic Affairs and Finance dan juga sebagai President of Iranian National Tax Administration; H.E. Mahmoud Asgari Azad, Deputy Head of Management and Planning Organization for Social and Justice Affairs; Mr. Ali Pourkargar Taff, Director

Tahun depan Pemerintah Iran ingin mengimplementasikan VAT system (Pajak red Pertambahan Nilai atau PPN-red dinegaranya. red)

P

WBC/ATS

ALIAKBAR ARABMAZAR. Selama 20 tahun Indonesia telah berpengalaman mengimplementasikan VAT system. Sementara selama ini Iran tidak memiliki VAT system .

General of Major Tax Payers, Organization of State Tax Affairs; Mr. Mohammad Mirtakhraei, Secretary General of Managing Comprehensive Tax Plan of Iran; Mr. Reza Kabari, Expert of VAT Plan Office; dan Mallanazar, Interpreter. Dalam kunjungan singkat tersebut, selain medapatkan pemaparan di ruang
WBC/ATS

serba guna KPBC Tanjung Priok, delegasi Iran juga mengunjungi fasilitasfasilitas yang ada di KPBC Tanjung Priok, seperti fasilitas pengurusan dokumen dan pusat data. Setelah kunjungan ke fasilitas tersebut, acara diakhiri dengan penyerahan cenderamata dari delegasi Iran pada Iwan Riswanto dan Agung Kuswandono. Menurut Agung Kuswandono, tujuan dari delegasi Iran tersebut datang ke KPBC Tanjung Priok adalah ingin mengetahui lebih jauh mengenai tax system. Pasalnya, mereka ingin menyusun UU mengenai PPN (Pajak Pertambahan Nilai) di negaranya. Karena DJBC memungut Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) maka delegasi Iran tersebut ingin melihat sistem yang dipakai oleh DJBC. “Kita hanya menerangkan sebatas urusan Customs yang berkaitan dengan PDRI, kita jelaskan kalau kita sudah punya PDE, electronic payment, dan sebagainya. Jadi mereka ingin mempelajari sistem yang kita miliki,” imbuh Agung. Hal senada juga disampaikan Catur Rini Widosari, Kasubdit PPN Perdagangan, DJP, delegasi Iran tersebut ingin menerapkan PPN di negaranya sehingga mereka melakukan studi banding ke beberapa negara termasuk Indonesia. Di mata Pemerintah Iran, Indonesia telah berkembang pesat dalam hal penerapan PPN, ditambah lagi beberapa negara juga telah belajar
WBC/ATS

KUNJUNGAN KE FASILITAS. Dalam kunjungan singkat tersebut, delegasi Iran mengunjungi fasilitas pengurusan dokumen dan pusat data yang ada di KPBC Tanjung Priok.

CENDERAMATA. Delegasi Iran memberikan cenderamata pada Iwan Riswanto dan Agung Kuswandono dari DJBC. EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

15

PUSDIKLAT
mengenai PPN dari Indonesia, seperti Malaysia, Vietnam, India dan Pakistan. Catur melanjutkan, delegasi Iran tersebut ingin mempelajari PPN secara lengkap, mulai dari UU, sistem, flow, bentuk organisasi yang bisa menunjang sistem PPN tersebut, termasuk kendala-kendala yang dihadapi Indonesia. “Kendala tersebut perlu diungkapkan karena dimanapun juga kendala itu pasti ada, tapi untuk menghilangkan kendala tersebut kita katakan bahwa kita terus melakukan perbaikan untuk menghilangkan kendala tersebut,” jelasnya. Dalam wawancaranya dengan WBC, Aliakbar Arabmazar mengatakan, tujuannya datang ke Indonesia adalah untuk mempelajari tax system dalam hal ini VAT system (PPN-red) di Indonesia. Karena VAT system juga dikumpulkan oleh Bea dan Cukai maka pihaknya sengaja datang mengunjungi KPBC Tanjung Priok untuk mengetahui lebih jauh mengenai proses aplikasi yang dilakukan para importir, bagaimana para importir tersebut melakukan pembayaran dan sebagainya. Ia mengaku melakukan studi banding ke Indonesia karena selain Indonesia merupakan negara sahabat, Indonesia juga merupakan negara yang besar, memiliki wilayah pengawasan laut yang luas serta berbatasan langsung dengan negara lain. Selain Indonesia pihaknya juga mengunjungi negaranegara lain (Moroko, Korea Selatan, Perancis, dan lainnya) untuk mempelajari pengetahuan dan pengalaman negara-negara tersebut dalam hal VAT system. Dalam hal pajak, Indonesia dan Iran pada dasarnya tidak memiliki perbedaan karena memiliki standar sistem perpajakan yang sama. Tetapi, lanjut Arabmazar, dalam hal pengalaman terdapat perbedaan dan itu merupakan hal yang paling penting. Selama 20 tahun Indonesia telah berpengalaman dalam mengimplementasikan VAT system. Sementara selama ini Iran tidak memiliki dan belum pernah mengimplementasikan VAT system. Untuk itulah pihaknya melakukan studi banding ke beberapa negara dengan harapan dapat menciptakan VAT system dengan tingkat kesalahan seminim mungkin. “Saya sangat senang berada di Indonesia dan saya juga senang dengan keramahan tuan rumah (Bea dan Cukai-red). Disini saya bisa belajar banyak mengenai sistem yang dipakai di Indonesia. Sebab, tahun depan Pemerintah Iran berencana ingin mengimplementasikan VAT system,” kata Arabmazar. ifa 16
WARTA BEA CUKAI

DIKLAT KESAMAPTAAN,
Untuk Fisik dan Mental Tangguh Bagi Aparat DJBC
Memiliki fisik dan mental tangguh, yang didasari oleh sikap disiplin dan jiwa korsa (senasib sepenanggungan) wajib dimiliki bagi para pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

F

aktor ini mutlak dimiliki karena petugas DJBC bukan hanya bekerja di belakang meja dengan ruangan nyaman dan ber-AC, namun pada bidang-bidang tertentu petugas kerap kali turun ke lapangan dan bekerja di bawah terik matahari, bahkan harus menghadapi tantangan kerja di lapangan. Karena itu, selain memerlukan pemikiran yang cerdas, pegawai DJBC juga harus memiliki kemampuan fisik dan mental yang baik Seperti diungkapkan Kepala Bidang Penyelenggaraan, Pusdiklat DJBC, Maruli Sitompul, alasan dikirimnya para siswa untuk mengikuti diklat kesamaptaan adalah, aparat DJBC dalam melaksanakan tugasnya diwajibkan untuk mengenakan baju seragam seperti yang selama ini sudah berlaku. Disamping itu berdasarkan UU No.10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan khususnya pada pasal 74 ayat 2
WBC/ZAP

TRI EDI. Untuk menggunakan senjata, siswa harus tahu karakteristiknya, cara membersihkan senjata dan memperlakukannya.

disebutkan bahwa aparat DJBC di dalam melaksanakan tugasnya dapat dilengkapi dengan senjata api baik di darat maupun di laut yang jenis dan syarat-syarat pengunaannya diatur dengan peraturan pemerintah, maka itu diperlukan latihan kemiliteran. Disamping juga diklat-diklat teknis fungsional maupun diklat teknis penjenjangan dan sebagainya sesuai dengan pola pendidikan dan pelatihan pegawai Departemen Keuangan. Berdasarkan hal tadi maka dapat dipahami mengapa siswa ditugaskan untuk mengikuti diklat kesamaptaan ini. Pemahaman ini, lanjut Maruli, akan semakin jelas setelah siswa mengikuti diklat yang dijadwalkan berjalan selama kurang lebih 2 minggu. Dan sasaran yang ingin dicapai pada diklat ini adalah merupakan suatu upaya agar setelah lulus diklat siswa dapat terbentuk disiplinnya, akan terbiasa melaksanakan kegiatan dengan cara bekerjasama dan saling menghormati. “Sikap penting yang diharapkan pada diri siswa adalah bagaimana mereka harus menghormati atasan, dan bagaimana bersikap dengan bawahan atau teman sejawat.” Untuk itu belum lama ini Pusdiklat DJBC, pada 28 Agustus sampai 8 September 2006, telah menyelenggarakan Diklat Kesamaptaan bagi Prodip III Kepabeanan dan Cukai Tahun Anggaran 2006. Para peserta merupakan pegawai yang baru saja diterima sebagai pegawai DJBC pada 2005 lalu. Dalam Diklat Kesamaptaan ini materi yang diajarkan tidak sekedar baris berbaris dan olahraga saja. Tetapi ada beberapa materi pokok dan kurikulum yang lebih luas dari sekedar latihan berbaris, antara lain; Peraturan Baris-Berbaris, Peraturan Penghormatan Militer, Tata Upacara Militer, Peraturan Umum Dinas Dalam, Beladiri dan Olahraga Umum, Penggunaan Senjata, Ceramah dan Evaluasi yang semuanya berjumlah 108 Jam Latihan.

EDISI 383 OKTOBER 2006

WBC/ZAP

SISWA dan para pelatih usai menjalani latihan.

Diklat Kesamaptaan merupakan suatu alat dan sarana untuk menciptakan kedisiplinan para pegawai DJBC dan membentuk jiwa korsa. Selain itu juga menurut Maruli, manfaat latihan ini adalah untuk menjaga sikap, tingkah laku dan tutur kata yang baik, meningkatkan ketahanan mental dan fisik serta memberikan pemahaman olah persenjataan. Namun kesamaptaan di DJBC tidak bisa disejajarkan seperti yang diterapkan di TNI, karena DJBC memiliki kerangka dan tujuan yang berbeda. Jika tujuan kesamaptaan di TNI ditujukan untuk kepentingan
WBC/ZAP

MARULI SITOMPUL. “Sikap penting yang diharapkan pada diri siswa adalah bagaimana mereka harus menghormati atasan, dan bersikap dengan bawahan atau teman sejawat.”

bertempur maka di DJBC lebih bersifat untuk meningkatkan kedisiplinan dan membentuk jiwa korsa. Maka itu, lanjut Maruli, diharapkan dari semua pelatihan dalam kesamaptaan ini akan menumbuhkan sikap menghormati, menghargai, dan membentuk kerjasama tim yang kompak. Sebab kerjasama merupakan keharusan dalam organisasi. “Harapan kami kalau sudah ke unit organisasi dimanapun dia ditempatkan harus menjadi cermin yang lain, tidak terkena erosi, mempunyai stamina yang baik, tepat waktu, disiplin tinggi, mampu menghadapi segala macam bentuk pekerjaan apapun,” tandas Maruli. Pada diklat ini, tenaga pengajar merupakan para pelatih dari TNI yang didatangkan dari Rindam Jaya yang Resimen Induknya adalah Kodam Jaya. Seperti diketahui Resimen Induk Kodam Jaya adalah satu resimen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan dan pelatihan. Untuk kepentingan pelatihan tersebut, maka didatangkan sebanyak tiga orang pelatih, masing-masing Kapten Infantri Tri Edi untuk mata pelajaran pengetahuan senjata dan tehnik menembak, Pelda Leo untuk mata pelajaran baris berbaris dan Sertu Fery untuk beladiri militer. Mengenai materi yang diberikan selama mengikuti diklat kesamaptaan,menurut salah seorang pelatih, Kapten Infantri Tri Edi , sudah disesuaikan dengan kurikulum yang ada di Pusdiklat. Antara lain, untuk pertama-tama adalah masa orientasi setelah pembukaan Diklat Kesamaptaan, yaitu orientasi yang sifatnya mental dan fisik, kegiatannya antara lain membawa beban dalam

ransel masing-masing 7 kilogram, masuk ke dalam parit, lari jalanan, tiarap, jongkok dan berdiri dan lari lagi.

PENGGUNAAN SENJATA
Selesai melakukan orientasi, materi selanjutnya adalah Peraturan BarisBerbaris . Tujuan dari PBB ini, lanjut Tri, adalah untuk membentuk sikap disiplin. Materi berikutnya adalah penghormatan militer, kemudian materi peraturan di dalam, baik itu di dalam kesatrian maupun di barak. Dalam barak sendiri ada peraturan bagaimana cara melipat pakaian di dalam lemari, kerapihan barak, termasuk penempatan perlengkapan
WBC/ZAP

GUNTUR SETIONO. Selesai samapta bertekad ingin menjadi pegawai yang baik dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

17

PUSDIKLAT
WBC/ZAP

BELADIRI MILITER. Salah satu atraksi yang ditampilkan para siswa diklat kesamaptaan.

yang lain yang harus rapi dilakukan di dalam barak, tujuannya adalah untuk membentuk mental disiplin. Materi yang lain adalah Tata Upacara Militer. Untuk mengetahui bagaimana cara melakukan upacara baik itu upacara hari Senin maupun setiap hari Kemerdekaan RI, termasuk kelengkapan perangkatnya yang disesuaikan dengan buku pedoman dari Angkatan Darat. Khusus mengenai materi pengetahuan senjata. Pengetahuan senjata dalam hal ini mengenai karakteristik senjata. Senjata yang diajarkan adalah jenis Valmet kaliber 0,22 MM buatan Finlandia yang digunakan dalam demo senam senjata, kemudian jenis SKS kaliber 7,62 buatan Rusia yang dipakai dalam materi pengetahuan dan bongkar pasang senjata, serta Taurus Kaliber 0,32 MM yang digunakan untuk pengenalan dan pengetahuan senjata. Dalam mempelajari senjata ini, lanjut Tri Edi, selain menggunakan senjata, siswa juga harus mengetahui nama bagian senjata dan cara bongkar pasang senjata. “Jadi untuk menggunakan senjata harus mengetahui bagaima karakteristiknya, cara membersihkan senjata dan memperlakukannya.” Untuk senjata, ungkap Tri Edi pengadaannya dilakukan oleh Pusdiklat, hanya dalam pelaksanaannya tidak ada dukungan amunisi, maka itu siswa melaksanakan tehnik menembak kering. Jadi maksud tehnik menembak kering adalah sebelum menembak basah (menembak dengan peluru yang sebenarnya) diajarkan bagaimana sikap menembak yang baik, bagaimana sikap menembak duduk, sikap menembak berdiri, dan sikap tiarap. Yang telah dipraktekkan pada siswa 18
WARTA BEA CUKAI

adalah sikap menembak berdiri dan duduk maupun bersila, sedangkan untuk tehnik menembak kering dilakukan dengan cara tiarap dengan jarak bidik 15 meter tanpa menggunakan peluru. Tentunya untuk membentuk sikap disiplin bagi para siswa, bagian yang paling terkecil yang harus dibiasakan pada para siswa adalah sikap disiplin di dalam barak. Tentunya ada aturanaturan yang wajib dijalankan yang jika dilanggar akan mendapatkan hukuman disiplin. Hukuman ini tentu saja berlaku bagi siswa yang membuat kesalahan. Hukuman yang diberikan adalah 15 kali push up atau sit up. Mengenai kesulitan yang dihadapi selama diklat, diakui Tri, karena siswa berasal dari umum dan dengan latar belakang yang bukan dari militer ditambah lagi dengan waktu latihan yang singkat bisa dikatakan belum terisi (terbentuk) badannya artinya belum memiliki power karena singkatnya waktu latihan. Namun sekali lagi ia menegaskan, yang paling utama adalah pembentukan disiplin, karena disiplin sudah mencakup keseluruhannya. Sikap disiplin dapat dilihat mulai dari bangun tidur, waktu bekerja, sampai selesai bekerja. Maka itu disiplin sudah mencakup keseluruhannya.

SELESAI DIKLAT SAMAPTA
Ketika WBC melakukan liputan ini di Pusdiklat Bea dam Cukai, Bojana Tirta Rawamangun Jakarta Timur, Kamis, 7 September 2006 lalu, tampak 58 siswa dengan pakaian ala militer melakukan persiapan untuk upacara penutupan sebagai tanda berakhirnya ke-58 siswa ini menjalani diklat kesamaptaan selama dua minggu. Tampak para siswa melakukan berbagai atraksi antara lain demo PBB

(Peraturan Baris Berbaris), demo senjata api, demo beladiri militer dan senam senjata yang akan disuguhkan dalam upacara penutupan diklat kesamaptaan pada 8 September 2006 di lapangan upacara Pusdiklat Bea dan Cukai. Tampak ketiga pelatih yang selama pelatihan telah mendidik dan membimbing para siswa memperhatikan kemampuan dan ketrampilan para anak didiknya terhadap materi yang telah mereka ajarkan selama ini. Usai gladiresik, WBC sempatkan untuk berbincang dengan salah seorang siswa, Guntur Setiono yang merupakan Komandan Pleton Demonstrasi PBB. Ketika ditanyakan mengenai kesannya selama mengikuti diklat kesamaptaan, diakui Guntur begitu ia disapa, awalnya saat mengikuti samapta dirasakan sangat berat, mengingat kehidupan anak kos yang mengatur sendiri jadwal dan kegiataanya, tiba-tiba harus masuk asrama, dengan kondisi yang penuh disiplin, aturan ketat. Tetapi setelah beberapa hari menjalaninya baru ia merasakan betapa penting dan baiknya arti disiplin. “Jadi sangat baik untuk membentuk pribadi dan ketahanan mental kami. Bahkan yang semula saya mudah sakit, malah semakin fit begitu mengikuti samapta,” ujar Guntur. Namun ada masukan dari Guntur terhadap waktu pelaksanaan diklat kesamaptaan supaya dapat ditambah lagi. Menurutnya antara 5-6 minggu adalah waktu yang ideal untuk kesamaptaan sehingga benar-benar terbentuk fisik dan jiwa sesuai tujuan dari samapta. “Kalau hanya dua minggu rasanya kita baru mulai betah-betahnya berlatih, tetapi tiba-tiba sudah harus selesai.” Mengenai latihan fisik yang dilakukan, menurutnya, dirasakan cukup berat. Siswa harus bangun pagi pukul 3.30 WIB, sedangkan malam baru tidur pukul 22.00 WIB, setelah sebelumnya mempersiapkan segala keperluan untuk latihan esok harinya, sehingga tidak banyak waktu untuk beristirahat. Diakui Guntur, sebagai pegawai baru dilingkungan DJBC, sebelumnya ia tidak pernah terpikirkan jika harus melalui Latihan Samapta. Dari itu setelah selesai samapta Guntur bertekad ingin menjadi pegawai yang baik dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. “Insya Allah dengan samapta ini akan membentuk disiplin. Sebenarnya pendidikan samapta sangat baik untuk memperkuat mental. Memang untuk pertama kali badan akan terasa sakit namun seiring waktu maka kita jadi kebal dari keluhan sakit, malah kita jadi kuat dan tangguh,” tutur Guntur. ris

EDISI 383 OKTOBER 2006

CUKAI

Restitusi Cukai
Saat ini Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC), tidak dapat secara langsung mengeluarkan surat perintah pencairan dana (SP2D) kepada Bank untuk mencaikan pengembalian cukai. Pencairan baru dapat dilakukan setelah Kantor Perbendaharaan Negara (KPN) menyerahkan SP2D kepada Bank.

Kebijakan Baru Tentang

P

engembalian dan pemusnahan pita cukai, merupakan mekanisme alamiah yang dapat terjadi pada setiap pabrikan rokok. Pengembalian dan pemusnahan ini dapat dikarenakan adanya kenaikan harga jual eceran (HJE), atau juga dikarenakan masa berlaku pita tersebut telah habis karena adanya perubahan disain maupun tahun pembuatan dan diharuskan untuk diganti. Mekanisme pengembalian dan pemusnahan ini, sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, telah diatur dengan baik, bahkan keputusan Menteri Keuangan (Menkeu) dan peraturan Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, juga telah menatanya dengan sedemikian rupa. Hal ini tercermin dengan dikeluarkannya keputusan Menteri Keuangan nomor 422/KMK.05/1996 tentang pengembalian cukai, yang ditindaklanjuti dengan keputusan Dirjen nomor Kep-62/BC/1996 tentang tatacara pemasukan dan pemusnahan atau pengolahan kembali barang kena cukai yang telah dilunasi cukainya dari peredaran bebas untuk mendapatkan pengembalian cukai. Selain itu dikeluarkan juga keputusan Dirjen nomor Kep-67/BC/ 1996 tentang pengembalian cukai atas pita cukai yang rusak atau tidak dipakai dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Dengan ketiga ketetapan tersebut, jelas tergambar kalau pengembalian pita cukai atau restitusi pita cukai merupakan suatu hal yang pasti terjadi dan akan dialami oleh semua pabrik rokok, khususnya pabrik rokok yang besar. Dari semangat ketiga ketetapan tersebut, hingga sepuluh tahun berjalan memang hampir tidak terdapat kendala yang berarti, walaupun dari ketetapan tersebut ada beberapa hal seperti proses banding yang dilakukan oleh pengusaha rokok kepada pengadilan pajak, namun semua itu hingga saat ini tidak pernah terjadi.

Menurut Kepala Seksi Perijinan dan Fasilitas Hasil Tembakau, Tedy Himawan, proses yang berlangsung selama ini baik pengembalian pita cukai ataupun pemusnahan pita cukai, berjalan dengan baik sesuai yang diamanatkan oleh ketiga ketetapan tersebut, dan sesuai dengan kebijakan itu pengembalian pita cukai hasil tembakau pun dikenakan biaya cetak yang masing masing seri nilainya berbeda. Untuk seri I dikenakan biaya Rp 18, seri II Rp 35, dan seri III Rp18. Namun demikian dengan adanya semangat desentralisasi, maka ketiga ketetapan tersebut kini telah diganti dengan yang baru, yaitu Kep Menkeu nomor 422 tahun 1996 diganti dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 26/KMK.04/2006 tentang tatacara

pengembalian cukai dan/atau denda administrasi. Sedangkan untuk peraturan Direktur Jenderal bea dan Cukai, secara otomatis juga telah diganti, yaitu keputusan Dirjen nomor 62/BC/1996 diganti dengan peraturan Dirjen nomor 13/BC/2006, dan keputusan Dirjen nomor 67/BC/1996 diganti dengan Peraturan Dirjen nomor 14/BC/2006. “Saat ini seiring dengan aturan pengelolaan keuangan yang baru, ketiga ketetapan tersebut telah dicabut dan diganti dengan yang baru, adapun kebijakan yang baru tersebut pada dasarnya tidak berubah secara total, namun hanya pada poin tertentu, yaitu tentang kewenangan KPBC yang tadinya dapat memerintahkan langsung bank untuk mencairkan uang, kini
WBC/KY

KEBIJAKAN BARU

PENGHITUNGAN. Tim KPBC Cirebon dan kantor wilayah Bandung, melakukan penghitungan terlebih dahulu sebelum proses pembakaran. EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

19

CUKAI
WBC/KY

DIMUSNAHKAN. Sebanyak tujuh ratus ribu karton rokok yang telah habis masa berlakuknya dan pita cukai yang sudah tidak berlaku lagi, dimusnahkan dengan cara dibakar. Tampak dalam gambar Kepala KPBC Tipe B Cirebon Saat menyulutkan api ke ribuan karton rokok yang akan dimusnahkan

kepala kantor pelayanan menerbitkan surat perintah membayar kembali cukai (SPMKC) dan menyerahkan kepada KPN, baru KPN memerintahkan kepada Bank untuk mencairkan uang dengan SP2D,” jelas Tedy Himawan. Lebih lanjut Tedy menjelaskan, selain SP2D, hal lain yang juga dirubah
WBC/ADI

pada peraturan tersebut adalah pada masalah pemusnahan barang kena cukai, dimana untuk saat ini Kantor Pusat DJBC tidak lagi terlibat langsung dalam proses pemusnahan. Dengan demikian untuk jumlah nilai cukai yang tidak melebihi dari seratus juta rupiah, pengawasannya cukup dilakukan oleh Kepala KPBC yang beranggotakan pejabat dari kantor pelayanan. Sedangkan untuk nilai cukainya yang melebihi seratus juta rupiah, maka pengawasannya dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah, yang beranggotakan pejabat dari Kantor Wilayah dan kantor pelayanan.

tics Manager PT.BAT Indonesia, Paul Ganda Carter Panjaitan, pemusnahan kali ini memang tertunda beberapa bulan terkait dengan dikeluarkannya peraturan baru, namun demikian hal ini tidak menjadi permasalahan yang berarti karena tetap dapat dilaksanakan. Sementara itu untuk pemusnahan kali ini ada empat merk yang dimusnahkan dengan berbagai variannya. “Rokok yang kita musnahkan merupakan rokok yang pita cukainya sudah melewati batas waktu peredarannya dan yang lainnya dikarenakan adanya kenaikan HJE. Selama ini setiap ada kenaikan ataupun perubahan disain pada pita cukai, perusahaan rokok diberikan tenggang waktu untuk menghabiskan stok yang ada ataupun menariknya dari peredaran, jadi untuk pemusnahan kali ini adalah rokokrokok yang telah habis masa berlakunya,” kata Paul Sementara itu menurut Kepala KPBC Tipe B Cirebon, Bambang Wahyudi, pemusnahan yang dilakukan BAT untuk saat ini pengawasannya cukup dilakukan oleh tim dari KPBC Cirebon dan pejabat dari kantor wilayah Bandung. Hal ini tidak lain karena sesuai peraturan yang baru tidak perlu melibatkan petugas dari Kantor Pusat, walaupun jumlahnya melebihi seratus juta rupiah. “Proses pelayanan pemesanan pita cukai yang diberikan KPBC Cirebon kepada PT. BAT selama ini memang tidak pernah mengalami kendala, hal ini dikarenakan prosedur yang dijalankan oleh merekapun selalu berjalan tanpa ada masalah. Terkait dengan pemusnahan ini,
WBC/KY

PEMUSNAHAN PITA CUKAI
Berkaitan dengan pemusnahan pita cukai tersebut, pada 13 September 2006 lalu, WBC diberi kesempatan untuk menyaksikan langsung proses pemusnahan hasil tembakau yang dilakukan oleh PT. British American Tobacco (BAT) yang berada di Cirebon. Dalam pemusnahakan ini PT.BAT yang memproduksi rokok putih dengan merk Lucky Strike, Kansas, Ardath, Dunhill, Commodore, Mars Brand Shaq, dan Benson & Hedges, memusnahkan lebih dari tujuh ratus ribu karton rokok yang telah melebihi batas berlakunya pita cukai. Menurut Supply Planning & Logis-

TEDY HIMAWAN. Hanya dua poin penting yang berubah pada peraturan baru mengenai restitusi dan pemusnahan pita cukai hasil tembakau.

BAMBANG WAHYUDI. Sesuai dengan kebijakan baru pemusnahan kali ini hanya tim KPBC dan kantor wilayah saja.

20

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

WBC/KY

KPBC sesuai dengan peraturan yang baru, diberikan kewenangan untuk mengawasi langsung jalannya pemusnahan pita cukai, yang didampingi oleh pejabat dari kantor wilayah,” kata Bambang Wahyudi. Dalam proses pemusnahan itu, WBC menyaksikan secara langsung mulai dari proses pembukaan segel oleh tim KPBC dan kantor wilayah yang dilanjutkan dengan penghitungan jumlah pita cukai yang akan dimusnahkan di gudang milik PT. BAT yang terletak di daerah Pronggol Cirebon, hingga proses pemusnahan yang dilakukan dengan cara dibakar. Untuk kali ini pemusnahan yang dilakukan oleh PT.BAT dengan cara dibakar, hal ini tidak lain karena rokok-rokok tersebut selain pita cukainya yang telah melewati batas waktu, rokok-rokoknya pun juga telah kadaluarsa sehingga pemusnahannya dibakar secara keseluruhan. Proses pembakarannya pun dilakukan di luar pabrik, yaitu tepatnya di lapangan milik TNI Angkatan Udara di daerah Pilang Cirebon. Menurut pihak BAT, pemilihan lokasi yang jauh dan milik TNI ini, selain faktor keamanan juga faktor kesehatan. Dilokasi ini pemusnahan berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan dari masyarakat sekitar yang berpikiran rokok tersebut masih dapat digunakan sehingga mereka berniat untuk menjarahnya, selain itu lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk menyebabkan polusi yang dihasilkannya pun tidak berdampak pada penduduk sekitar. Proses pemusnahan yang berjalan satu hari ini, akhirnya berjalan dengan lancar dan pada pagi harinya hanya tinggal terlihat gundukan abu saja sisa pembakaran . adi
WBC/KY

PT. BAT Indonesia
S
iapapun pasti tahu kalau PT. British American Tobacco (BAT) adalah salah satu perusahaan rokok putih terbesar yang ada di Indonesia. Perusahaan yang mulai beroperasi sejak tahun 1924 di kota Cirebon, pada awal berdirinya hingga kini telah menghasilkan triliunan batang rokok dan triliunan rupiah untuk pajak cukainya. PT. BAT yang menjadi salah satu “Landmark” nya kota Cirebon, pembangunan pabriknya telah dimulai sejak tahun 1917 yang berlokasi di pingir pelabuhan Cirebon dengan arsitektur kolonial Belanda. Pada awal berdirinya PT. BAT memiliki 18 merk rokok yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Seiring perkembangannya, PT BAT juga mendirikan pabrik di beberapa kota lain di pulau Jawa, yaitu Semarang dan Surabaya. Namun untuk kedua kota ini, saat ini sudah tidak beroperasi lagi seiring dengan penurunan produksi karena tingkat persaingan yang semakin ketat. Saat ini PT. BAT hanya memiliki pabrik di kota Cirebon saja dengan luas pabrik 1,1 hektar, dan 17 bangunan gudang tembakau di daerah Pronggol Cirebon dengan luas 4,7 hektar. Dengan pabrik tersebut, kini PT. BAT yang menggunakan middle technology, mampu menghasilkan 8000 rokok permenit dan 4000 kg tembakau per jamnya. Sehingga untuk per tahunnya PT. BAT mampu menghasilkan 20 milyar batang rokok. Dari jumlah tersebut kini PT.BAT hanya mempunyai tujuh merek rokok dengan berbagai macam variannya. Dengan pengelolaan aset yang sangat transparan dan sangat sehat ini, PT.BAT mampu memperkerjakan 224 karyawan dengan status permanen, kontrak dan magang. Selain itu dengan manajemen yang baik, PT. BAT pun telah berhasil mendapatkan ISO 9001, Zerro Accident 6 kali dari BAT pusat, Golden Flag 2 kali dari pemerintah pusat, LK3 Audit BAT internasional setiap 3 tahun, dan K3 Audit pemerintah (Succofindo) setiap tiga tahun. adi
WBC/KY

Sekilas Tentang

PAUL GANDA CARTER PANJAITAN. Keterlambatan pemusnahan lebih dikarenakan . menunggu efektifnya kebijakan yang baru.

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

21

PENGAWASAN
FOTO: ISTIMEWA

Setelah pada edisi September lalu WBC menampilkan pelatihan anjing pelacak narkotika di DJBC, edisi kali ini WBC mencoba mengungkap lebih jauh mengenai anjing pelacak narkotika yang ada di Australia, Amerika dan Swedia.
njing merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan. Jika ia dilatih dan dipelihara secara baik dan benar, anjing sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Misalnya saja dalam berburu babi hutan (seperti yang dilakukan masyarakat Minang-red), anjing dipergunakan sebagai alat untuk menangkap babi hutan. Tak hanya itu, bagi penyandang tuna netra, anjing juga bisa dijadikan sebagai alat penuntun jalan. Bagi institusi penegak hukum, seperti kepolisian, anjing dipergunakan untuk menghalau pelaku kriminal ataupun perusuh. Sementara bagi Bea dan Cukai di Indonesia, anjing dipergunakan sebagai alat untuk mendeteksi narkotika. Tak heran jika anjing dikenal sebagai salah satu sahabat terbaik manusia. Banyak orang maupun institusi dibelahan dunia menggunakan anjing sebagai salah satu alat untuk membantu mereka dalam kegiatannya sehari-hari. Untuk membuat anjing menjadi alat yang berguna bagi kehidupan manusia, perlu dilakukan pemilihan dan pelatihan terhadap anjing-anjing tersebut. Anjing dengan kualitas terbaik dan didukung dengan pelatihan yang baik akan menghasilkan anjing yang bermutu tinggi. Untuk melatih anjing, para pelatih anjing terlebih dahulu harus memahami karakteristik anjing. Banyak unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam melatih anjing diantaranya unsur keturunan, naluri, indra dasar, pengalaman, kemampuan si anjing dan sebagainya. Orang yang melatih anjing harus paham bahwa anjing memiliki kepribadian masing-masing, sama dengan manusia. Dalam wacana mengenai tingkah laku, ada pendapat umum yang mengatakan bahwa “ anjing tidak berpikir, hanya berperilaku”. Rasanya hal itu merupakan pendapat yang salah sebab anjing dipandang sama dengan robot atau sama seperti menilai sesuatu hanya dari luarnya saja. Padahal, anjing memiliki kemampuan untuk berpikir meskipun tidak sedetil manusia. Sebagai contoh, seekor anjing Herder (German Sheppard) membawa pulang dengan bangga seekor kelinci yang sudah putus kaki tangannya kerumah majikannya. Namun sang majikan tidak memujinya (karena ingin memperbaiki kebiasaan buruk anjing tersebut-red). Waktu berikutnya, pada saat anjing tersebut membawa pulang seekor kelinci, majikannya memarahinya habis-habisan. Dikesempatan lain, pada waktu

A

Mengenal

Pelacak
Narkotika

Anjing

WORLD’S BEST PRACTISE. ACS berkomitmen untuk menjadi ‘ world ’s best practice ’ dalam hal pengembangbiakan, pelatihan maupun penyebaran anjing pelacak.

22

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

FOTO: ISTIMEWA

membunuh kelinci lagi, anjing tersebut menguburnya agar tidak ketahuan majikannya. Hal itu dilakukan agar tidak dimarahi jika pulang membawa kelinci yang mati. Dengan demikian hal itu bisa dianggap sebagai salah satu bukti bahwa anjing juga memiliki kemampuan berpikir.

PENCIUMAN YANG TAJAM
Nilai dasar anjing sebagai pelacak narkotika adalah kemampuannya dalam menunjukan fungsi deteksi. Banyak yang tahu bahwa anjing memiliki hidung yang hebat yang dapat mendeteksi bau, bahkan bau yang sangat halus sekalipun. Anjing cukup mampu untuk mencari bau tertentu diantara bau yang lain. Hal itu dikenal dengan istilah ‘kemampuan membedakan’. Untuk meningkatkan ‘kemampuan membedakan’ tersebut, dibutuhkan pelatihan yang cukup. Dalam pelatihan anjing pelacak narkotika, seleksi calon anjing narkotika yang bermutu adalah syarat paling utama. Metode pelatihan anjing pelacak narkotika pun berbeda dengan metode pelatihan anjing untuk perekrutan umum. Karena anjing pelacak narkotika dituntut untuk menangkap dalam sesaat bau jenis narkotika yang terbawa angin dan segera malacak asal bau tersebut dari tempat itu, maka diperlukan kemampuan anjing untuk mencari berkeliling secara aktif. Tak hanya itu, asal pasokan anjing merupakan unsur yang sangat penting. Biasanya asal pasokan calon anjing pelacak narkotika adalah dari tempat pelatihan anjing polisi swasta atau breeder
FOTO: ISTIMEWA

(peternak anjing ras). Anjing yang biasanya dipilih adalah German Sheppard dan Labrador Retriever. Namun, belakangan ini seiring dengan pengenalan anjing pasif, Golden Retriever dan Cocker Spaniel juga mulai dipilih dan dilatih. Pada dasarnya, tidak ada jenis anjing yang paling cocok sebagai anjing pelacak narkotika. Namun, selain jenis diatas, diluar negeri mulai direkrut Malinois dari ras Sheppard dan berbagai ras lainnya seperti Jack Russel.

MELIHAT ANJING PELACAK NARKOTIKA DI AUSTRALIA
Tak hanya Indonesia, negara-negara yang tergabung dalam World Customs Organization memiliki unit anjing pelacak narkotika, seperti halnya Australian Customs Service (ACS). ACS memiliki Detector Dog Program yang telah menjadi suatu hal yang sangat vital bagi customs border management. Diawali pada 1969 dimana saat itu ACS hanya memiliki 2 ekor anjing pelacak. Anjing tersebut direkrut dari tempat penampungan hewan dan dari orang-orang yang tidak menyukai binatang peliharaan. Dari situ ACS mulai mengembangkan program detector dog (anjing pelacak) secara berkelanjutan (1970-1980-an). Awal 1990-an ACS mulai mengalami kesulitan dalam mencari sumber/pasokan anjing yang berkualitas untuk mendukung program detector dog. Akhirnya, diputuskan untuk membangun customs detector dog breeding program yang bertugas memproduksi anjing yang dapat diandalkan dan berkualitas tinggi. Pembangunan tersebut juga termasuk penelitian untuk mendapatkan anjing dengan kualitas terbaik sesuai dengan persyaratan yang dibutuhkan oleh ACS. Pengembangbiakan anjing jenis Labrador pun dipilih karena kefokusan anjing tersebut, kepandaiannya dalam banyak hal, memiliki watak dan pemburu yang baik serta memiliki sifat retrieve (suka mengambil barang yang dilempar dan mengembalikan pada tuannya-red). Selama 3 tahun penelitian dilakukan secara intensif bersama-sama dengan Universitas Melbourne dan The Royal Guide Dogs Association of Australia di Customs National Breeding and Development Centre di Melbourne. Awal 1993, tepatnya bulan May, The Royal Guide Dog Association of Australia Program berhasil mengembangbiakan jenis Labrador yang berkualitas tinggi, melewati standar yang ditetapkan customs. Saat ini, program pengembangbiakan tersebut menjadi satu-satunya sumber pasokan anjing-anjing untuk customs detector dog. Banyak instansi di Australia yang menggunakan anjing yang dikembangbiakan oleh ACS, termasuk diantaranya Australian Federal Police, Australian Army, Australian Quarantine and Inspection Service, State and Territory Police. Namun perlu diketahui, ACS melibat-

ANJING JENIS SPRINGER SPANIELS. Karena ukurannya kecil dan ringan, membuat sang handler mudah mengangkat dan menurunkannya sehingga cocok untuk memeriksa kendaraan.

PUPPY FOSTER CARE. Masyarakat di Australia ikut membantu merawat anak-anak calon anjing pelacak dirumahnya hingga anak anjing tersebut kira-kira berusia 1 tahun.

kan anggota masyarakat dalam melatih anjing pelacak tersebut. Hal itu bisa dilihat dari metode puppy foster care atau orang tua asuh. Jadi, masyarakat (sebagai orangtua asuh-red) membantu merawat anak-anak anjing (hasil pengembangbiakan ACS-red) di rumah mereka selama 12 bulan. Perkembangan anak-anak anjing tersebut di monitor oleh ACS untuk mengetahui bagaimana cara mereka (anak anjing) bersosialisasi dalam lingkungan yang berbeda. Semua biaya makan, kesehatan dan biaya lain untuk perawatan anak anjing tersebut ditanggung oleh ACS. Setelah itu, anak-anak anjing tadi dilatih di Customs Detector Dog Training Centre (DDTC) di Canberra, Australia untuk mendeteksi secara spesifik baubauan yang menjadi target utama seperti narkotika, senjata api dan bahan peledak. ACS melatih anjing-anjing untuk merespon secara pasif dengan metode Multi Purpose Response (MPR). Pasalnya, anjing-anjing pasif sangat berguna untuk
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

23

PENGAWASAN
mencari orang maupun cargo yang dicurigai dan bisa bekerja dalam lingkungan apapun. Anjing-anjing MPR dilatih untuk memberikan respon pasif atau ‘duduk’ jika menemukan orang yang membawa atau menyembunyikan barang-barang terlarang ditubuhnya. Anjing-anjing MPR tersebut juga bisa mengais-ngaiskan kakinya untuk merespon jika ada kargo atau area yang menjadi tempat kemungkinan barangbarang berbahaya/terlarang disembunyikan. Dua kemampuan tersebut (duduk dan mengais-red) sangat baik bagi ACS dalam mengembangkan detector dogs. Kemampuan anjing pelacak narkotika tersebut dapat dibuktikan. Mereka mampu melacak ditempat-tempat yang tidak biasa seperti, cocaine yang disembunyikan didalam surat, ecstasy yang disembunyikan lewat pengiriman udara, cocaine yang disembunyikan di dalam tubuh penumpang, heroin yang diikat ditubuh penumpang, maupun heroin yang disembunyikan dalam botol shampoo. Tak hanya untuk mendeteksi narkotika, sejak tahun 2003 ACS mengembangkan Firearms/Explosive Detector Dogs (FEDD) atau pelatihan pada anjing untuk melacak berbagai tipe senjata api, komponen senjata api dan bahan peledak. Kini, anjing-anjing pelacak tersebut mampu mendeteksi berbagai hal, termasuk arson detection (melacak pembakaran rumah
WBC/ATS

yang disengaja), food detection (mendeteksi bahan makanan) serta mendeteksi senjata api/bahan peledak.

MENJADI WORLD ’S BEST PRACTICE
Untuk menjadi seorang customs detector dog handler, yang dibutuhkan adalah stamina yang fit dan prima. Seorang handler (pawang anjing-red) yang bagus juga harus memiliki kecepatan berpikir, cerdas dan memiliki etika kerja yang kuat dengan kemampuan untuk bekerja dengan atau tanpa pengawasan. Calon handler harus melalui kursus tahap basic selama 13 minggu di Canberra tepatnya di customs DDTC. Setelah kursus tersebut berhasil diselesaikan, para handler kembali ke daerah mereka masing-masing, dimana mereka akan menerima pelatihan lebih lanjut dibawah pengawasan handler senior yang sudah berpengalaman. Setelah 3 bulan pelatihan di daerah masing-masing, para handler kembali ke Canberra untuk melakukan final assessment selama 2 minggu dan jika berhasil mereka lulus sebagai customs detector dog handlers. Para handler tersebut nantinya juga bertugas untuk selalu mengupdate metode pelatihan dan teknik operasional untuk meningkatkan kemampuan anjing pelacak. Selain itu, setiap tahun anjing pelacak dan handlernya selalu dievaluasi oleh Tim Evaluasi dari Kantor Pusat mereka di Canberra. Kini ACS berkomitmen untuk menjadi ‘world’s best practice’ dalam hal pengembangbiakan, pelatihan maupun penyebaran anjing pelacak. ACS ingin dikenal di seluruh dunia sebagai pemimpin dalam memproduksi dan merawat anjing pelacak berkualitas tinggi. Sebagai bagian dari customs dunia, ACS juga mempunyai visi untuk mendirikan global gene bank untuk pengembangbiakan anjing pelacak dimasa depan dengan menggunakan model anjing pelacak dari Australia. Beberapa customs dan instansi hukum di dunia telah merasakan bantuan yang diberikan ACS berupa pelatihan handler, metode pelatihan maupun pemberian anjing pelacak itu sendiri. Negaranegara yang telah menikmati bantuan dari ACS tersebut antara lain Indonesia, Guam, Saipan, Papua New Guinea, China, Japan, New Zealand dan Thailand. Saat ini, lebih dari 40 anjing dan metodologi pengembangbiakan telah diberikan ACS untuk Amerika Serikat (AS).

UNIT K-9 DI AS
Pada tahun 1969, U.S Customs Service membuat suatu perencanaan untuk mempelajari bagaimana menggunakan anjing sebagai alat untuk mendeteksi narkotika dan obat-obatan terlarang. Setelah studi dilakukan secara intensif, perekrutan pelatih handler dari military service dimulai pada Januari 1970. Dalam tempo singkat, Maret 1970, telah diperoleh kerjasama antara Departemen Pertahanan, training facilities

UNIT K-9 BC. Anjing pelacak narkotika dituntut untuk menangkap dalam sesaat bau jenis narkotika yang terbawa angin dan segera melacak asal bau tersebut dari tempat tersebut.

dan logistics yang berpusat di Lackland Air Force Base, San Antonio, Texas. April 1970, eksperimen narcotic detector dog training program dimulai. Saat itu yang menjadi titik berat pelatihan adalah pelacakan pada marijuana dan hashish. Namun pada Agustus 1970, U.S. Customs Service menambah eksperimennya dengan mencoba pelatihan untuk melacak heroin dan cocaine. Akhir September 1970, telah terbukti bahwa satu ekor anjing yang sama dapat dilatih untuk mendeteksi sekaligus 4 jenis narkotika. Juli 1974, lokasi pelatihan dipindah dari San Antonio, Texas ke Washington D.C. pada saat itu lokasi pelatihan menempati lahan seluas 240 hektar. Pada 1980, detector dog program diubah namanya menjadi Canine Enforcement Program (CEP) dan pusat pelatihannya diberi nama Canine Enforcement Training Center (CETC). Pada 1993, fasilitas pelatihan dibangun dengan menambah 100 kandang baru, fasilitas laundry, gedung pelatihan, area pelacakan kendaraan, gedung akademi, canine isolation dan fasilitas karantina. CEP menggunakan beberapa variasi anjing diantaranya Labrador Retrievers, Golden Retrievers, German Shepherds, Belgian Malinois dan beberapa anjing campuran lainnya. Dalam memilih anjing pelacak yang paling penting bukanlah dari jenis/keturunannya tetapi sifat retrievenya. Anjing yang dipilihpun bisa betina maupun jantan tetapi usianya harus diantara 1-3 tahun. Anjing-anjing yang dipilih untuk dilatih tersebut berasal dari tempat penampungan hewan, LSM, maupun orang yang memiliki anjing (tapi tidak menginginkan anjing tersebut-red), yang tersebar di sebelah timur hingga barat AS. Bahkan, beberapa anjing milik masyarakat ada yang dikontrak oleh CEP untuk menjadi bagian anjing pelacak U.S. Customs Service. Untuk anjing pelacak yang memasuki masa pensiun karena usianya sudah tua atau sakit atau kemampuannya berkurang (masa kerja anjing pelacak hingga 8 tahun), biasanya sang handlerlah yang mengadopsi anjing pelacak tersebut atau diberikan pada masyarakat yang menginginkannya. CETC memiliki jumlah staff lebih dari 50 orang yang bertugas sebagai instruktur, pengurus binatang, ahli penyimpanan dan petugas administrasi. Rata-rata, perharinya pusat pelatihan tersebut diisi oleh 100-175 ekor anjing dan tiap tahunnya sekitar 120 tim K-9 CBP berhasil menyelesaikan pelatihannya. Maret 2003, Departement of Homeland Security dibentuk. Departemen tersebut menggabungkan antara unit K-9 hasil U.S. Customs Service, U.S. Border Patrol, U.S. Immigration and Naturalization Service dan The Animal Plant Health Inspection Service of the U.S. Departemen of Agriculture dibawah instansi baru yang bernama U.S. Customs and Border Protection (CBP).

24

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

FOTO: ISTIMEWA

CBP membagi dua program K-9, pertama Office of Field Operation (OFO) canine program, yang meliputi lebih dari 800 tim K-9 yang bertugas di bandara, pelabuhan dan perbatasan darat negara. Kemudian yang kedua, Office of Border Patrol (OBP) canine program, yang memiliki lebih dari 450 tim K-9 yang bertugas bertanggungjawab terhadap daerah yang berada diantara pelabuhan masuk.

TIM K-9 UNTUK MEMERANGI TERORIS
Kini, CBP telah memiliki jumlah Tim K9 yang besar dan bertugas dibeberapa Federal Law Enforcement Agency. Tim K9 tersebut telah ditugaskan di lebih dari 73 pelabuhan masuk dan 69 perbatasan negara AS. Petugas CBP Canine, juga menggunakan anjing pelacak yang terlatih untuk memerangi teroris yang mungkin masuk ke AS melalui perbatasan, pelabuhan, bandara maupun international mail facilities. Untuk menangkalnya, CBP Canine Program membangun pelatihan dengan spesialisasi pendeteksian yang meliputi: l chemical detector dogs, anjing dilatih untuk mendeteksi senjata kimia yang menjadi senjata pemusnah massal. l explosive detector dogs, anjing dilatih untuk mendeteksi bahan peledak yang disembunyikan di cargo, kendaraan, pesawat terbang, bagasi dan pada penumpang. l currency detector dogs, bertugas untuk mendeteksi bau mata uang/ jenis-jenis uang/jenis-jenis tinta, yang hendak diselundupkan keluar AS dimana kewajiban moneternya tidak dilaporkan. l agriculture detector dogs, mendeteksi buah-buahan, sayuran, daging atau bahan pertanian dan peternakan lainnya, seperti membawa binatang atau tumbuhan yang dilarang oleh pemerintah AS. l concealed human/narcotic detector dogs, mendeteksi penumpang yang membawa narkotika maupun imigran gelap yang masuk ke AS. l borstar canines, melakukan patroli pada perbatasan, mencari orang yang terluka dan sebagai tim penyelamat pada situasi darurat. Anjing-anjing ini dilatih untuk mencari orang hilang dan membantu handlernya menemukan lokasi orang hilang tersebut. l narcotic detector dogs, melacak dan mendeteksi narkotika seperti marijuana, hashish, heroin, cocaine, ecstasy dan methamphetamine.

DIKONTRAK. Beberapa anjing milik masyarakat bahkan ada yang dikontrak oleh CEP untuk menjadi bagian anjing pelacak U.S CBP.

SEKILAS ANJING PELACAK NARKOTIKA DI SWEDIA
Untuk mendukung pengawasan, selain dilengkapi dengan mobil dan peralatan fixed X-ray, detector dan fibre optics, salah satu alat yang terbaik yang dimiliki Swedish Customs adalah anjing pelacak narkotika (drug detector dogs). Swedish Customs melatih tim K-9nya sendiri sejak 2003 di Customs Training Center di Norrtalje. Selama tahun 2004,

13 ekor anjing baru telah berhasil menyelesaikan latihannya. Tahun 2005, 40 ekor tim K-9 juga telah berhasil menyelesaikan latihan, 2 diantaranya berasal dari Denmark. Kini, Swedish Customs memiliki sekitar 50 ekor anjing pelacak narkotika. Sebagian besar dari mereka merupakan anjing pemburu seperti Springer Spaniels, Labradors, Golden dan Flat Coated Retrievers. Tetapi keturunan lain juga ada, seperti jenis Alsatians. Anjing-anjing tersebut memiliki pekerjaan yang sama tetapi khusus untuk anjing kecil jenis Springer Spaniels, yang karena ukurannya kecil dan ringan, membuat sang handler mudah mengangkat dan menurunkannya sehingga cocok untuk melakukan pemeriksaan pada kendaraan (vehicle). Anjing-anjing tersebut memiliki daya penciuman yang tinggi. Sehingga, anjing yang didukung dengan handler yang berpengalaman dan kedekatan diantara mereka (anjing pelacak dan handlernya-red), penyelundupan dan peredaran narkotika

bisa terungkap. Bersama-sama dengan handlernya, anjing-anjing tersebut mendeteksi hampir setengah dari jumlah seluruh drugs yang berhasil ditemukan oleh Swedish Customs. Nilai narkotika yang berhasil ditegah Swedish Customs pada tahun 2005 sebesar SEK 1,7 miliar, sedangkan pada tahun 2004 sebesar SEK 1,3 miliar. Di Swedia, terdapat lebih dari 50 tim penegak hukum yang bekerja mulai dari wilayah Karesuando (sebelah utara) hingga Trelleborg (sebelah selatan). Tim-tim tersebut diantaranya terdiri dari tim ahli intelijen, pelacakan, penyeleksian, kontrol dan pemeriksaan terhadap komoditi, serta tim investigasi. Untuk beberapa pengecualian, tiap tim didukung oleh anjing pelacak narkotika. Dalam jangka waktu sangat singkat (hanya 3 tahun-red), Unit K-9 di Swedia sudah memiliki stuktur dan pelatihan yang handal, antara lain memiliki sekitar 50 ekor anjing dan tim-tim ahli yang mendukung kegiatan oprasional anjing pelacak. Akankah Indonesia Customs memiliki hal yang sama? ifa
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

25

PENGAWASAN

Pelatihan Ketangkasan Menembak dan Menyelam
Untuk meningkatkan fungsi pengawasan di Bea dan Cukai, diperlukan kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan biasa. Kemampuan khusus seperti menembak dan menyelam misalnya, termasuk yang sangat diperlukan.

S

ekitar pkl. 08.15 WIB, kapal patroli Bea Cukai yang WBC tumpangi melaju meninggalkan Pangkalan Sarana Operasi (Pangsarop) Tanjung Priok. Limabelas menit kemudian, kapal tiba di sebuah pulau yang bernama Pulau Pondok Dayung. Di pulau kecil yang masih merupakan bagian dari kota Jakarta tersebut, berdiri Markas Komando Armada RI Kawasan Barat Satuan Pasukan Katak (Kopaska) TNI-AL. Hari itu (12/9) adalah hari pertama dimulainya pelatihan menembak dan menyelam bagi 21 orang pegawai bea cukai yang bertugas di Pangkalan Sarana Operasi (Pangsarop) Tanjung Priok. Hingga 16 September 2006, mereka mengikuti pelatihan yang diselenggarakan atas kerjasama Subdit P2 Kanwil IV DJBC Jakarta dan Kopaska TNI-AL. Pelatihan itu sendiri dibagi menjadi dua tahap, dimana tahap kedua dilaksanakan pada tanggal 18 – 22 September 2006 dan diikuti oleh 24 peserta Para peserta pelatihan akan menetap di Markas Kopaska selama 5 hari untuk mengikuti pelatihan secara intensif dengan dilatih oleh 10 orang instruktur dari Kopaska. Acara pembukaan pelatihan tersebut dihadiri oleh para pejabat Kanwil IV dan Pangsarop Tanjung Priok, seperti Kabag

Umum Kanwil IV Ganot Wibowo, Kabid P2 Kanwil IV Rahmat Subagjo, Kepala Pangsarop Tj. Priok Pudjo Wibowo, Kasi P2 Kanwil IV Gatot Hariyo Sutejo, Kasi Nautika Pangsarop Tj. Priok S.N. Parangan. Usai penyematan tanda peserta pelatihan oleh Kapt. Agus Purwanto dari Kopaska, Kabag Umum Kanwil IV Ganot Wibowo, memberikan pengarahan pada peserta pelatihan. Setelah itu, pelatihan secara resmi dibuka oleh Kapt. Agus Purwanto, yang mewakili Komandan Satuan Pasukan Armada Barat. Menurut Pudjo Wibowo, pelatihan tersebut sengaja dilakukan mengingat kapal patroli Bea Cukai selama ini dilengkapi dengan senjata. Oleh sebab itu, seluruh ABK Pangsarop harus memiliki kemampuan untuk mengelola senjata, bagaimana merawatnya dan bagaimana menggunakannya. Dalam latihan tersebut, senjata yang digunakan adalah senjata yang dimiliki dan dipergunakan oleh Bea dan Cukai, seperti valmet, Metraliur kaliber 12,7 dan pistol kaliber 38. Selain latihan tembak, juga dilakukan latihan penyelaman. Hal tersebut bertujuan jika pada suatu saat dalam perjalanan patroli terdapat trouble dibawah air, maka para pegawai bisa mengatasinya dengan segera. Pudjo mengaku, pelatihan tembak dan
WBC/ATS

WBC/ATS

SIAP-SIAP MENYELAM.

KERJASAMA DJBC dengan KOPASKA

selam itu sendiri baru pertama kalinya dilakukan oleh Pangsarop Tj. Priok secara formal bersama Kopaska. Jika pelatihan ini berhasil maka kemungkinan besar Pangsarop yang berada di Pantoloan dan Tanjung Balai Karimun akan melakukan pelatihan serupa Ia juga mengaku senang dengan adanya pelatihan ini, sebab para pegawai nantinya akan tampil lebih gagah, berdisiplin tinggi dan memiliki rasa kebersamaan. Saat diwawancara WBC, Ganot Wibowo mengatakan, pelatihan tersebut sangat bermanfaat bagi para pegawai dalam kaitannya dengan patroli dan kegiatan pengawasan laut atau pelabuhan. “Jadi, ini merupakan salah satu sarana yang tepat untuk meningkatkan kemampuan kita, apalagi dengan bimbingan dari pasukan yang profesional, sehingga kedepannya saya berharap hasilnya akan bermanfaat bagi kita semua,” imbuhnya. Ia berharap agar pelatihan tersebut bisa berlanjut, dengan anggota-anggota peserta pelatihan yang diperluas, tidak hanya dari Pangsarop tapi juga meliputi

26

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

WBC/ATS

anggota-anggota lain yang berhubungan dengan pengawasan pelabuhan dan area sekitarnya. Menurut Kapten Laut (S) AD. Louhenapessy, Komandan Datasemen Kopaska TNI-AL, materi yang diajarkan dalam pelatihan tersebut antara lain pelatihan baris berbaris, teori kepemimpinan, teori menyelam dan pengenalan alat selam, praktek menyelam, teori dan praktek menembak serta praktek bongkar pasang senjata. Saat ditanya kegunaan praktek bongkar senjata, Louhenapessy mengatakan, hal tersebut diperlukan karena ada kalanya senjata yang digunakan mengalami malfunction (tidak berfungsi). Sehingga petugas dapat memperbaiki senjatanya dalam situasi darurat. Sedangkan untuk pelatihan menyelam, peserta pelatihan diajarkan teknik menyelam biasa, tujuannya adalah agar personil bea cukai dapat melakukan penyelamatan pada kapalnya sendiri. Namun demikian, lanjutnya, untuk pelatihan selam sebenarnya diperlukan waktu 2 minggu secara full. Tetapi karena keterbatasan waktu, pihaknya hanya mengenalkan secara umum mengenai prosedur penyelaman internasional dengan instruktur yang berpengalaman dan pernah mengecap pendidikan selam di luar negeri.

INSTRUKTUR DAN SELURUH PESERTA berpose bersama usai pelatihan.

PRAKTEK DI PULAU DAMAR BESAR
Pagi itu (16/9), usai mengambil senjata valmet dan peluru, para peserta pelatihan dan WBC meninggalkan Pangkalan Sarop Tj. Priok menuju Pulau Damar Besar yang terletak di gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta. Di pulau yang juga dikenal dengan sebutan Pulau Edam ini, para peserta pelatihan akan melakukan praktek menembak dan menyelam. Pulau Edam merupakan pulau kecil tapi memilki peranan penting sebagai navigasi kapal. Pasalnya, dipulau tersebut terdapat sebuah menara mercusuar setinggi 52 m dengan jarak tampak 20 mil laut. Mercusuar itu sendiri dibangun pada 1879 oleh Raja Willem III dari Kerajaan Belanda. Saat WBC bersama dengan anggota Kopaska menyusuri pulau
WBC/IFA

MEMBIDIK SENJATA

tersebut lebih dalam, kami menemukan 6 benteng peninggalan Belanda, serta sebuah benteng yang berada dibawah tanah (tempat masuknya seperti mulut gua) tersembunyi diantara rimbunnya pepohonan. Usai menyusuri hutan kecil P. Edam, kami pun kembali ke base camp. Tak lama kemudian, praktek pun segera dimulai, para instruktur membagi dua peserta pelatihan, regu pertama (9 orang) praktek menembak dan regu kedua praktek menyelam (12 orang) dimana kedua regu tersebut selanjutnya ditukar. Untuk praktek menyelam dilakukan di pinggir dermaga. Dengan menggunakan peralatan lengkap untuk menyelam (scuba diver) milik Kopaska, para peserta menyelam berpasangan menyusuri tali yang berada dibawah laut sampai mencapai titik yang ditentukan. Sedangkan untuk praktek menembak dilakukan di pinggir pantai yang lokasinya cukup jauh dari dermaga. Hal tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti peluru nyasar yang dapat melukai bahkan membunuh manusia (sebab jarak jangkauan senapan mencapai 400 m-red). Usai menancapkan target tembakan, peserta diberi pengarahan bagaimana teknik menembak dengan senjata valmet sambil duduk dan tiarap. Setelah itu tiap peserta dibekali 13 peluru (3 peluru untuk percobaan dan 10 peluru untuk penilaianred) dan harus menembak dengan jarak tembak 50 m. Saat praktek, banyak peluru yang tidak dapat terlontar karena isi peluru tersebut lembab. Alhasil, peluru-peluru tersebut dijemur terlebih dahulu agar

dapat digunakan. Tak hanya peluru, senjata milik Bea Cukai yang digunakan pun terlihat sudah tua sehingga beberapa kali mengalami kemacetan. Setelah menyelesaikan seluruh tahapan pelatihan di P. Edam, rombongan meninggalkan P. Edam untuk melakukan praktek menembak dengan menggunakan senjata Metraliur kaliber 12,7 dengan sasaran tong yang diarung ditengah laut. Walaupun beberapa kali tembakan tersebut meleset, tong-tong yang diarung tersebut berhasil juga ditembak dan tenggelam. Saat ditanya WBC mengenai kesannya selama mengikuti pelatihan, Wahyu Hadi, Kepala Kamar Mesin BC 024, Pangsarop Tj. Priok mengatakan, ia sangat terkesan dengan pelatihan tersebut. Pasalnya, ia belum pernah menggunakan senjata dan menyelam. Sehingga, lewat pelatihan tersebut ia mendapat ilmu yang sangat berguna. Untuk itu ia menyarankan, agar pelatihan selanjutnya bisa lebih continue sehingga penguasaan untuk pengoperasian patroli lebih baik lagi. Dalam perjalanan pulang, Lettu Parwanto mengatakan bahwa sebagian ilmu yang diberikan disesuaikan dengan misi bea cukai yang cenderung untuk melakukan pengawasan perdagangan. Ia sendiri menilai bagus hasil dari pelatihan tersebut, apalagi motivasi pegawai untuk mengikuti pelatihan terlihat sangat tinggi. Untuk itu ia berharap agar ilmu-ilmu yang diberikan nantinya akan banyak terpakai dilapangan.

Ifa/H. Edy Sudarnoto SH, Pelaksana P2 KPBC Tanjung Priok II
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

27

PERISTIWA

Intensifkan Pelatihan Untuk Pegawai DJBC
Walau hanya sebagai kegiatan tambahan yang ada dilingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), namun eksistensinya kini cukup diperlukan karena banyak kegiatan diklat yang saat ini telah menyertakan kemampuan bela diri dengan memberikan pelatihan karate kepada siswa diklat.

Inkado Korda DKI Jaya Dan Jawa Barat

I

ndonesia karate-Do (Inkado) adalah perguruan karateka yang ada di lingkungan DJBC selain perguruan karate Inkai. Dari beberapa koordinator daerah yang ada, salah satunya juga diketuai oleh pejabat di lingkungan DJBC. Akan hal tersebut kegiatan yang dilakukan juga mengikut sertakan pegawai DJBC baik yang mengikuti latihan secara kontinyu maupun yang duduk sebagai pengurusnya. Untuk program pelatihan yang ada, kini telah dipusatkan di KantorWilayah IV DJBC Tanjung Priok dan Kantor Wilayah V DJBC Bandung. Untuk Kantor Pusat yang pada beberapa waktu lalu juga menjadi pusat pelatihan, untuk sementara ini dialihkan. Adapun program lainnya selain pelatihan tersebut, Inkado selalu aktif dalam mengikuti setiap event kejuaran baik yang dilaksanakan secara lokal maupun yang dilaksanakan secara nasional. Untuk akhir tahun 2006 ini, event kejuaran yang baru

saja diikuti, yaitu kejuaran SIWO, Inkado Korda DKI berhasil keluar sebagai juara umum dengan merebut 9 emas, 14 perak, dan 21 perunggu. Akan hasil ini berhak atas piala bergilir SIWO dan piala tetap dari ketua umum PB. Forki. Sementara itu Inkado korda Jawa Barat berhasil merebut 2 emas dan 4 perunggu. Menurut Ketua Bidang Pembinaan Inkado sekaligus sebagai Pjs. Ketua Korda DKI Jaya dan juga Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Jambi, Maman Anurachman, program kejuaraan yang akan diikuti mendatang adalah kejuaraan Mendagri Cup dan kejuaran Inkado wilayah Barat dan Jawa. Sementara itu berkaitan dengan program pelatihan, saat ini untuk pelatihan di Kantor Pusat rencananya akan kembali diselenggarakan dan kini lokasi pelatihan bertempat di halaman Pusdiklat DJBC Jakarta. “Kita masih akan mengupayakan agar pelatihan di Kantor Pusat dapat diselenggarakan kembali, mengingat banyaknya
WBC/ADI

pegawai yang telah mengikuti dan kini vakum karena lokasi yang dialihkan ke Tanjung Priok. Selain itu, untuk ke depan nanti kami juga akan memprogramkan pada event pertandingan yang melibatkan para pegawai, hal ini tentunya bagi mereka yang telah selesai mengikuti seleksi,” papar Maman Anurachman. Sementara itu menurut Ketua Korda Jawa Barat yang juga sekaligus sebagai Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A khusus SoekarnoHatta, Agustinus Djoko Pinandojo, untuk wilayah Jawa Barat juga sama halnya dengan DKI dimana program kedepan akan melibatkan secara langsung pegawai untuk turun dalam setiap event pertandingan. “Jawa Barat memang memusatkan pelatihan di Kanwil V Bandung, namun demikian Dojo kami yang terbesar ada dilokasi Pondok Gede, sehingga para pegawai yang kemungkinan memiliki tempat tinggal yang dekat dengan kami juga dapat bergabung tidak hanya di Kantor Pusat,” ujar Agustinus. Baik Maman Anurachman maupun Agustinus berharap agar para pegawai yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan di Kantor Pusat, dapat meneruskan pelatihannya yang kini telah ada di beberapa tempat, seperti untuk DKI ada di KPBC Tanjung Priok, Cempaka Putih, Cilandak, dan beberapa sekolah menegah pertama dan atas di Jakarta. Sedangkan untuk wilayah Jawa Barat juga dapat mengikuti di Pondok Gede, Bekasi, Cileungsi, Depok, dan Bandung.

GASHUKU DI PANGALENGAN
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa program kerja di Inkado yang kini akan lebih memfokuskan untuk pelatihan kepada pegawai, program lainnya adalah ujian ghasuku dan kyu yang dilaksanakan setiap setahun sekali. Untuk Korda Jawa Barat belum lama ini telah melaksanakan ujian tersebut pada 19 hingga 20 Agustus 2006 yang dilaksanakan di Pangalengan Jawa Barat. Adapun kegiatan ujian tersebut selain diikuti oleh pegawai dilingkungan Kanwil V Bandung, juga beberapa putra-putri pegawai DJBC dan peserta non pegawai. Ujian yang kali ini berorientasi ke alam diikuti kurang lebih 500 peserta. “Ini adalah program tahunan kita selain program lainnya, sedangkan untuk program event pertandingan, korda Jawa Barat akan memfokuskan pada kejuaran Inkado wilayah Sumatera dan Jawa, dimana pada tahun lalu Jawa Barat keluar sebagai juara umum,” jelas Agustinus. Dengan program-program tersebut, diharapkan Inkado dapat tetap eksis di DJBC karena saat ini kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pencegahan dan Penyidikan untuk beberapa diklat juga telah menyertakan program bela diri karate sebagai dasar dari keterampilan pegawai. adi

KETERAMPILAN PEGAWAI. Inkado sebagai perguruan karate yang ada di DJBC, kini memfokuskan pada perlatihan untuk pegawai sebagai dasar dari keterampilan pegawai.

28

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

Family Gathering and Outbond
KELUARGA BESAR KPBC TANJUNG PRIOK II
Acara puncak yang juga mengawali kegiatan outbond atau team building adalah atraksi terjun payung yang dilakukan oleh lima orang pegawai bea cukai.
WBC/ATS

ANDHI PRAMONO. Diharapkan acara ini dapat menjaga kekompakan antar sesama pegawai sehingga pekerjaan di kantor bukan lagi suatu beban tetapi suatu keseharian yang menyenangkan.

Pada 16 – 17 September 2006, Keluarga Besar KPBC Tanjung Priok II melaksanakan kegiatan yang mengambil tema Family Gathering and Team Building Activities. Acara yang mengambil lokasi di Kinasih Resort, Bogor tersebut, diikuti oleh seluruh pegawai bea cukai KPBC Tanjung Priok II beserta keluarganya. Kegiatan family gathering dan outbond tersebut dimulai pada sabtu malam. Sambil bernyanyi, menari dan sebagainya, para peserta duduk mengelilingi api unggun. Dalam acara tersebut, diselipkan juga perenungan dan

ungkapan saling memaafkan menjelang masuknya bulan suci Ramadhan, sebagai tanda syukur menyambut bulan penuh berkah. Acara malam itu diakhiri dengan pesta kembang api. Paginya, kegiatan team building activities atau yang sering pula disebut sebagai kegiatan outbond dimulai. Acara tersebut diawali dengan atraksi menarik terjun payung yang dilakukan oleh 5 orang pegawai bea cukai. Mereka adalah Edy Sudarnoto, Dirgantoro, Tiyono, Wisnu dan Tri Utomo. Kelima peterjun tersebut berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta dengan menggunakan pesawat Cesna 197. Dari ketinggian 6000 kaki, kelima peterjun tersebut terjun dan mendarat dengan mulus di tengahtengah lapangan bumi perkemahan Kinasih Resort. Setelah aksi terjun payung yang memukau para penonton tersebut, acara dilanjutkan dengan penyerahan kaos dan topi berlogo bea cukai secara simbolis dari para peterjun kepada Andhi Pramono, Korlak Patroli dan Operasi KPBC Tanjung Priok II yang juga merupakan ketua panitia. Kemudian, acara dilanjutkan dengan kegiatan outbond, seperti spider web, flying fox dan sebagainya dengan didampingi oleh para fasilitator dari Kinasih Resort. Menurut Andhi Pramono, ada dua tujuan utama diadakannya acara family gathering dan outbond tersebut. Pertama, untuk pekerjaan. Diharapkan acara ini dapat menjaga kekompakan antar sesama pegawai sehingga pekerjaan di kantor bukan lagi suatu beban tetapi suatu keseharian yang menyenangkan. Kedua,

MENDARAT. Peterjun dari bea cukai mendarat mulus ditengah lapangan.

untuk kekeluargaan dimana menjelang bulan Ramadhan acara tersebut menjadi ajang silaturahmi, saling bermaafan dan saling mengenal antar keluarga pegawai. Sejak bekerja di Bagian Patroli Operasi, Andhi mengaku kegiatan outbond dan family gathering tersebut baru pertama kali diselenggarakan. Pihaknya pun berencana menyelenggarakan acara lanjutan yang lebih bagus setelah melihat acara tersebut sangat menyenangkan. Saat ditanya ide untuk menampilkan atraksi terjun payung, Andhi mengatakan, karena dirinya juga merupakan seorang peterjun, ia menghubungi sesama peterjun yang secara kebetulan juga banyak bekerja di Bagian Patroli dan Operasi di KPBC Tanjung Priok II. “Jadi, sekalian saja kita adakan kegiatan terjun payung,” imbuhnya. Ia berharap dengan adanya kegiatan outbond tersebut, keakraban dan kekompakan antar pegawai dan antar keluarga dapat terjalin. ifa
WBC/ATS

FOTO BERSAMA antara pegawai dan keluarga besar pegawai. EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

29

DAERAH KE DAERAH
WBC/ATS

KPBC TIPE C PEMATANG SIANTAR

URUTAN TERATAS DALAM PENERIMAAN CUKAI
Kecil-kecil cabe rawit... Ungkapan tersebut rasanya pantas disandang oleh KPBC Tipe C Pematang Siantar. Pasalnya, walaupun hanya merupakan kantor Tipe C, namun untuk urusan target penerimaan, KPBC Pematang Siantar menempati urutan kedua terbesar setelah KPBC Tipe A Belawan, bahkan untuk penerimaan cukai, KPBC Pematang Siantar menempati urutan pertama terbesar se-Kanwil I DJBC Medan.

C

uaca di Medan hari itu (4/8) agak mendung. Hari itu WBC ingin menyambangi KPBC Tipe C Pematang Siantar. Dengan diantar supir dan Lilik (pegawai Kanwil I Medan-red), mobil yang kami kendarai melaju menuju kota Pematang Siantar yang terletak di Kab. Simalungun, provinsi Sumatera Utara. Jarak dari Medan ke Pematang Siantar sendiri sekitar 120 km dan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Sekitar Pkl. 10.00 WIB, WBC tiba di KPBC Tipe C Pematang Siantar, sebuah kantor berlantai dua. Ketika berada di dalam gedung, WBC sempat tertegun
WARTA BEA CUKAI

dengan lorong-lorong dan taman yang terdapat di dalam gedung… mirip rumah sakit. Tak hanya itu, besarnya gedung dengan jumlah pegawai yang hanya 24 orang, membuat beberapa ruangan di lantai dasar terlihat kosong, hal itu terjadi karena jumlah ruangan yg ada dengan pegawai lebih banyak jumlah ruangan. Kondisi tersebut wajar saja terjadi sebab, menurut Putri Stellarina, yang sejak Januari 2006 menjabat sebagai Kepala KPBC Tipe C Pematang Siantar, dari 24 orang pegawai yang ada, 12 orang pegawai diantaranya berdinas di Kawasan Berikat (KB) dan Gudang Berikat yang ada di

KPBC Pematang Siantar. Disamping itu sebelum tahun 1998 KPBC Pematang Siantar berstatus sebagai Kantor Tipe B, namun sejak reorganisasi Departemen Keuangan sekitar tahun 1998 KPBC Pematang Siantar berubah status menjadi tipe C. Menurut cerita, sebelum krisis moneter pada tahun 1998, di wilayah KPBC Pematang Siantar banyak berdiri pabrik hasil tembakau. Oleh sebab itu, ketika pertama kali ditugaskan sebagai Kepala KPBC Pematang Siantar, yang pertama kali terbersit dipikiran Stella adalah bagaimana mempertahankan dan menaikan penerimaan

30

EDISI 383 OKTOBER 2006

WBC/ATS

cukai dan bea masuk (BM). Kedua, bagaimana membina para pengusaha pabrik hasil tembakau, pengusaha GB/PPGB dan pengusaha KB agar tercipta kerjasama yang baik antara market forces dengan Bea Cukai. KPBC Pematang Siantar sendiri memiliki wilayah kerja yang sangat luas, meliputi Kota Pematang Siantar, Kab. Simalungun, Kab. Dairi, Kab. Kaban Jahe dan Kab. Toba Samosir. KPBC Pematang Siantar tidak memiliki Kantor Bantu maupun Pos Pengawasan. Namun begitu, KPBC Pematang Siantar mengawasi 4 gudang berikat (PT. STTC, PT. Permona, PT. Sri Deli dan PT Sintong Sari Union yang berlokasi di Pematang Siantar), 2 kawasan berikat (PT. Toba Pulp Lestari yang terletak di Kab. Tobasa yang beroperasi sejak Januari 2005 dan PT. Nubika Jaya yang beroperasi sejak September 2005), 1 KITE dan 6 perusahaan hasil tembakau.

PEMATANG SIANTAR POTENSIAL UNTUK BERKEMBANG
Diakui Stella, peluang berkembangnya kawasan berikat di wilayah Pematang Siantar cukup tinggi. Perkebunan karet dan kelapa sawit yang berorientasi ekspor terbentang luas di wilayah kerja pematang siantar. Stella memang sangat concern dengan perkembangan KB di wilayah Pematang Siantar. Ditambah lagi Presiden telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Investasi yang menginstruksikan agar Kawasan Berikat menjadi salah satu paket kebijakan pemerintah untuk menarik investor. Menurut Stella, dengan adanya KB dapat dipastikan ribuan tenaga kerja akan terserap. Sehingga, selain membantu pemerintah menarik investor dan menciptakan lapangan kerja, pengusaha KB yang melakukan kegiatan ekspor juga ikut menyumbang devisa bagi negara. Untuk mendukung perkembangan KB di wilayah Pematang Siantar, program yang akan dilakukan KPBC Pematang Siantar pada semester II ini adalah jemput bola, diantaranya dengan mendatangi Kantor Bupati Simalungun dan Kantor Bupati Tobasa dan pemerintah daerah lainnya untuk lebih memperkenalkan KB dan fasilitas yang dimiliki KB. Stella melanjutkan, yang perlu diperhatikan pemerintah adalah masalah infrastruktur berupa jalan raya. “Jarak antara pabrik yang berada di dalam perkebunan dengan jalan raya itu sekitar 8 km dan masih berupa jalan tanah. Jadi seandainya pemerintah memperhatikan infrastruktur tersebut, saya optimis banyak investor yang akan menginvestasikan modalnya dibidang pengolahan kelapa sawit,” tandas Stella yang mengungkapkan bahwa kelapa sawit merupakan hasil alam yang sangat potensial untuk berkembang di Sumatera Utara (Sumut). Hubungan KPBC Pematang Siantar sendiri dengan pengusaha KB, pengusa-

PUTRI STELLARINA. Berharap agar KPBC Pematang Siantar tidak hanya dikenal dengan hasil cukainya saja tetapi juga dengan kawasan berikat-nya.

ha GB maupun pabrikan BKC (Barang Kena Cukai), cukup baik selama ini. Setiap ada peraturan baru yang menyangkut kerja perusahaan-perusahaan tersebut selalu disosialisasikan, seperti pada Pebruari lalu KPBC Pematang Siantar mengadakan sosialisasi P-22/BC/2006 tentang pemesanan pita cukai dan HJE, serta sosialisasi tentang Tempat Penimbunan Berikat kepada PGB/PPGB dan PKB/ PDKB. Rencananya, KPBC Pematang Siantar juga akan mengadakan sosialisasi tentang Fasilitas KB bagi eksportir yang ada dalam wilayah kerja KPBC Pematang Siantar dalam waktu dekat ini. Stella mengaku, terkadang berbicara person to person lebih tepat sasaran dari pada dalam suatu forum. “Untuk sementara ini, saya sudah meloby person to per-

son dengan pengusaha, seperti dengan sekretaris KADIN. Saya katakan, disini kami punya fasilitas KB dimana pengusaha diberikan fasilitas penundaan bea masuk dan PDRI untuk importasi barang, serta tidak dipungut PPN untuk barangbarang dari dalam negeri yang masuk ke pabrik yang produksinya lebih banyak untuk dijual ke luar negeri atau ekspor,” imbuh Stella. Untuk itu ia berharap agar KPBC Pematang Siantar tidak hanya dikenal dengan hasil cukainya saja tetapi juga dengan KB-nya. Ia juga optimis kalau sosialisasi KB sudah menyeluruh di Sumut, kemungkinan untuk membangun KBN (Kawasan Berikat Nasional) di Sumut bisa terwujud. Dengan berkembangnya KB, tentunya pegawai atau SDM yang ada juga harus siap dengan tantangan yang dihadapi seperti jauhnya wilayah pengawasan KB dari kantor dan masalah-masalah teknis lainnya. Saat ini saja, karena lokasi KB yang ada jauh dari kantor yaitu di Porsea dan Kota Pinang maka pegawai harus rela menginap di mess yang disediakan oleh pabrik/KB. Oleh sebab itu, untuk mengurangi kejenuhan maka setiap bulan pegawai yang bertugas di KB dan GB dibuat bergantian atau dirolling. “Menghadapi hal tersebut kami hanya menghimbau kepada pegawai agar menikmati pekerjaan sehingga tidak merasa terbebani oleh pekerjaan walaupun jauh dari keluarga selama satu bulan penuh dan berada ditengah hutan atau kebun kelapa sawit,” imbuh Stella. Stella juga menyarankan agar aturan mengenai fasilitas yang diterima oleh pegawai Bea dan Cukai yang bertugas menjaga KB harus jelas. Pasalnya, aturan yang ada hanya menyebutkan bahwa pengusaha KB/GB memberikan fasilitas yang memadai bagi pegawai Bea dan Cukai yang bertugas di KB/GB tersebut.
DOK. KPBC PEMATANG SIANTAR

HASIL OPERASI CUKAI. Pita cukai yang dilekatkan berbeda personalisasi. EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

31

DAERAH KE DAERAH
WBC/ATS

RUMAH DINAS. Kondisi rumah dinas tidak layak huni. Kalaupun bisa dihuni, itupun karena perawatan ekstra yang diberikan oleh pegawai.

Menurutnya, kata ‘memadai’ itu maknanya relatif (bermacam-macam). Sehingga, ia berharap ada kejelasan atas fasilitas yang ‘memadai’ itu seperti apa. Sebab, para pegawai harus meninggalkan keluarganya dalam jangka waktu yang lama untuk mengawasi KB/GB tersebut. Ia menambahkan, pada dasarnya wilayah Pematang Siantar sangat potensial untuk berkembang. Hal itu dapat dilihat dari rencana dibangunnya perpanjangan landasan lapangan terbang Silangit (agar dapat didarati pesawat jenis Boeing-red), yang terletak di Siborongborong, Kab. Taput (yang pada tahun lalu diresmikan oleh Presiden SBY). Dengan demikian, bandara tersebut kedepannya bisa menampung kegiatan ekspor impor di Sumut dan KPBC Pematang Siantar akan mempunyai pengawasan yang lebih luas.

TARGET PENERIMAAN TERUS MENINGKAT
Pada 2006, target penerimaan Bea Masuk (BM) untuk KPBC Pematang Siantar sebesar Rp 859.230.000;. Hingga 31 juli 2006, target BM yang sudah terealisasi sebesar Rp 269.388.047; atau sebesar 31,35 persen dari target yang ditetapkan. Sedangkan untuk cukai, target tahun 2006 sebesar Rp 213.340.370.000;. Hingga 31 Juli 2006, target cukai yang sudah terealisasi sebesar Rp 121.799.908.190; atau sebesar 57,09 persen dari target yang ditetapkan. Jika dibandingkan dengan target penerimaan tahun 2005, BM yang terealisasi sebesar Rp 712.661.618; atau 150,06 persen, melebihi target yang ditetapkan yakni sebesar Rp 474.920.000;. Sedangkan untuk cukai, terealisasi sebesar Rp 171.818.794.896; atau 92,10 persen dari target yang ditetapkan yakni sebesar Rp 186.564.770.000;. Dengan demikian, target BM untuk KPBC Pematang Siantar mengalami 32
WARTA BEA CUKAI

kenaikan sebesar Rp 384.310.000 atau 80,92 persen dibanding tahun 2005. Sementara untuk cukai mengalami kenaikan sebesar Rp 26.775.600.000 atau mengalami kenaikan sekitar 14,35 persen dibanding tahun 2005. “Dalam 3 tahun terakhir, baik target maupun realisasi penerimaan mengalami kecenderungan meningkat. Hasil dari target tersebut paling banyak berasal dari cukai hasil tembakau,” kata Stella. Ia melanjutkan, pencapaian target tersebut merupakan salah satu tantangan dan kebanggaan bagi KPBC Tipe C Pematang Siantar. Sebab, walaupun KPBC Pematang Siantar merupakan kantor kecil (Tipe C) namun dalam hal penerimaan BM dan cukai merupakan peringkat 2 (dua) terbesar se-Kantor Wilayah I DJBC Medan (setelah KPBC Tipe A Belawanred). Sementara itu, untuk penerimaan cukai, KPBC Pematang Siantar merupakan salah satu tumpuan penerimaan cukai se-Kanwil I DJBC Medan. Cukai memang menjadi primadona bagi KPBC Pematang Siantar. Komoditi andalan untuk ekspornya saja berupa hasil tembakau (rokok) dan pulp. Sedangkan untuk impor berupa daun tembakau. Kalau dilihat dari jumlah CK-8 (dokumen pelindung pengangkutan untuk hasil tembakau tujuan ekspor), setiap bulannya KPBC Pematang Siantar ratarata menerbitkan 20 dokumen dengan devisa ekspor berkisar USD 8 juta. Sedangkan untuk PIB, KPBC Pematang Siantar rata-rata menerbitkan 25 dokumen setiap bulannya dimana 95 persennya merupakan PIB dengan menggunakan fasilitas KITE yaitu PT. STTC (Sumatera Tobacco and Trading Company). PT. STTC merupakan pabrikan BKC terbesar di wilayah Pematang Siantar bahkan di P. Sumatera. “Kalau untuk PEB, memang tidak kami terbitkan karena ekspornya melalui KPBC Belawan,” ujar Stella.

Hingga kini, ada 6 perusahaan hasil tembakau yang beroperasi di Pematang Siantar yakni, PT. STTC (gol. II), PT. Wongso Pawiro (SPM gol. II/SKM gol. III A), PT. Permona (gol. III A), PR. Senang Jaya (gol. III A), CV. Surya Agam (gol. III B), CV. Mega Prima (gol. III B). Stella menambahkan, saat ini perusahaan-perusahaan BKC di KPBC Pematang Siantar sangat khawatir karena takut kalah bersaing dengan rokok-rokok dari P. Jawa yang sudah terkenal secara nasional seperti Gudang Garam, Dji Sam Soe, Djarum, dan sebagainya. Untuk itu, mereka (perusahaan BKC-red) berharap agar HJE jangan terus dinaikan, mereka khawatir perusahaan tidak mampu bersaing untuk meraih pasaran di dalam negeri. Saat ini saja, peredaran rokok-rokok dari P. Jawa sudah lebih banyak daripada rokok produksi lokal. Melalui iklan yang cukup gencar, rokok dari P. Jawa berhasil merajai wilayah Pematang Siantar. Untuk itu Stella berharap agar kebijakan pemerintah dalam hal HJE untuk pabrikan BKC di Pematang Siantar, sebaiknya ada dispensasi. Kalau pemerintah tidak memikirkan masalah HJE ini, Stella pesimis dengan perkembangan pabrikan BKC tersebut.

PERKEMBANGAN ROKOK ILLEGAL TIDAK MERESAHKAN
Saat ditanya mengenai tingkat kepatuhan para pengusaha BKC terhadap peraturan cukai, Stella menerangkan bahwa para pengusaha tersebut cukup patuh. Hingga saat ini, pihaknya belum menemukan pabrikan yang memasarkan rokok illegal. Ia juga menerangkan bahwa perkembangan rokok illegal di Pematang Siantar dan sekitarnya tidak meresahkan. Pabrikan di Pematang Siantar juga tidak pernah mengeluhkan adanya rokok illegal
WBC/ATS

ABDUL AZIS HADY. Di Pematang Siantar belum ditemukan pabrik rokok illegal.

EDISI 383 OKTOBER 2006

DOK. KPBC PEMATANG SIANTAR

SELURUH PEGAWAI KPBC Pematang Siantar berpose bersama.

yang mengganggu pasaran produk mereka khususnya di wilayah Pematang Siantar. Menurut Abdul Azis Hady, Korlak P2 KPBC Pematang Siantar, beberapa waktu lalu (Juni 2006) dilakukan operasi cukai dibawah komando Kanwil I DJBC Medan. Hasilnya, di wilayah kerja KPBC Pematang Siantar tidak ditemukan pabrik rokok illegal, yang ditemukan hanya hasil tembakau yang menggunakan pita cukai yang bukan haknya. (berbeda personalisasinya), itupun hasil tembakau yang berasal dari P. Jawa, bukan dari pabrik yang ada di Pematang Siantar. Sebagai antisipasi terhadap peredaran rokok illegal, selama ini KPBC Pematang Siantar telah mengadakan operasi pasar dengan menekankan pada pentingnya sosialisasi terhadap rokok illegal. Sosialisasi tersebut antara lain memberikan gambaran bahwa menjual rokok illegal adalah tindakan pidana dan dapat dipenjara. Himbauan tersebut ditujukan kepada distributor, toko/warung dan pedagang. “Untuk itu, upaya-upaya penyadaran pada masyarakat terus dilakukan. Operasi pasar rutin juga terus kami lakukan dan kami siap bertindak jika ada informasi adanya rokok illegal di wilayah kerja kami,” tandas Stella. Azis menambahkan, operasi pasar se-

cara rutin dilakukan 3 bulan sekali. Setiap ada kesempatan selalu dilakukan operasi, terutama operasi-operasi pembinaan dan penyadaran kepada penjual dan distributor agar tidak menjual rokok illegal. Dari operasi pasar yang dilakukan, temuan yang didapat adalah adanya penggunaan pita cukai yang bukan haknya atau beda personalisasi dan adanya rokok-rokok dengan pita cukai yang sudah kadaluarsa misalnya adanya hasil tembakau dengan pita cukai dibawah tahun 2006 yang masih di jual. Terhadap hal ini dilakukan pembinaan dan sosialisasi kepada distributor dan penjual. Pada dasarnya, pengetahuan para penjual terhadap pita cukai atau mereka menyebutnya dengan istilah ‘bandrol’ sudah cukup baik. Mereka tidak akan mau menjual rokok tanpa bandrol namun yang mereka tidak tahu adalah masalah personalisasi. Tetapi hal ini dinilai wajar karena pita cukai dengan personalisasi baru diterapkan dua tahun ini, itupun tidak semua rokok ada personalisasinya. “Sehingga, jika produk hasil tembakau dengan beda personalisasi kami temukan di pasar maka kami membeli beberapa bungkus rokok tersebut dan melaporkannya ke Kantor Pusat karena temuan yang kami temukan biasanya hasil tembakau produksi pabrik yang ada

di Pulau Jawa” kata Azis. Azis juga mengungkapkan bahwa di Pematang Siantar belum ditemukan pabrik rokok illegal. Stella menambahkan, penyuluhan dan sosialisasi tentang pendeteksian pita cukai palsu di Kantor Pusat DJBC pada akhir Juni lalu, sangat berarti dalam melaksanakan pengawasan terhadap pita cukai palsu. Pihaknya sudah beberapa kali melakukan tes kelapangan untuk mencoba alat-alat pendeteksi pita cukai tersebut, terutama lampu sinar ultra violet dan kaca pembesar. Untuk pendeteksian dengan cairan aktivator baru sesekali digunakan karena belum ada indikasi adanya pemalsuan pita cukai. “Dengan cara kasat mata sudah bisa di identifikasi pita cukai tersebut asli sehingga cairan aktivator jarang digunakan, namun biasanya untuk meyakinkan kami menggunakannya juga sesekali,” kata Azis. Dalam melakukan pengawasan terhadap peredaran pita cukai, Stella mengaku tidak mengalami kendala yang signifikan. “Selama pendekatan kita diterima terhadap objek yang diawasi maka bentrok atau konflik tidak terjadi,” jelas Stella. Berbicara mengenai penyelundupan, Stella mengungkapkan bahwa penyelundupan secara langsung di Pematang Siantar tidak ada karena tidak adanya
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

33

DAERAH KE DAERAH
pelabuhan laut maupun udara. Namun demikian, dua tahun lalu KPBC Pematang Siantar pernah diminta menjadi saksi ahli dalam persidangan kasus penyelundupan gula yang barang buktinya ditangkap di wilayah Pematang Siantar. Azis menambahkan, bersamasama dengan Pemerintah Kota setempat dan jajaran intelijen lainnya, KPBC Pematang Siantar juga masuk dalam Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) dalam melakukan pengawasan. Tak hanya itu, kerjasama juga dilakukan dengan para pengusaha BKC. Kerjasama tersebut berupa pemberitahuan informasi kalau ada pedagang yang menjual rokok illegal. “Jadi ketika pengusaha BKC menyetorkan rokoknya ke warungwarung, mereka juga mengecek apakah diwarung tersebut ada rokok yang diduga rokok illegal. Jika ada, mereka akan beli dan menyerahkannya pada petugas bea cukai. Jadi mereka sangat pro aktif,” ujar Azis.

KPBC Tipe A Belawan

PENYELUNDUPAN
MAKIN BERKURANG
abu (2/8), WBC tiba di Medan, Ibukota provinsi Sumatera Utara. Medan merupakan kota terbesar yang ada di Sumatera Utara. Tak heran jika kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan sehari-hari kota tersebut. Walaupun macet, para pengendara sudah lebih tertib mematuhi peraturan lalu lintas, mereka tidak lagi menerobos lampu merah. Dengan demikian, umpatan Ini Medan bung, bukan Jakarta… (umpatan yang sering dikeluarkan jika ada pengemudi yang menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah-red), sepertinya sudah tidak berlaku lagi. Ketika mobil yang ditumpangi WBC mulai meninggalkan Kota Medan menuju Pelabuhan Belawan yang terletak diluar Kota Medan, tampaknya peraturan tertib lampu lalu lintas tidak berlaku lagi. Di setiap persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya, para pengemudi tidak mengindahkan lampu lalu lintas tersebut. Mereka dengan seenaknya menerobos lampu merah. Alhasil umpatan tadi sepertinya masih berlaku di luar kota Medan.
WBC/ATS

Target penerimaan semester I (hingga Juli 2006) untuk KPBC Tipe A Belawan, telah melampaui target semester I. Target tersebut berasal dari Bea Masuk.

R

SULIT MERUBAH PARADIGMA
Saat disinggung mengenai integritas pegawai, Stella memberitahukan pada anggotanya agar paradigma Bea dan Cukai sebagai birokrat yang berada diatas harus diubah, pasalnya pegawai bea cukai merupakan pelayan masyarakat. “Yang sulit adalah merubah paradigma dari yang tadinya sebagai birokrat menjadi pelayan masyarakat,” katanya. Ia juga berupaya menekankan pada anggotanya bahwa menjalin komunikasi antar pegawai bea cukai sangat penting. Dalam menjalankan tugas, Stella selalu melibatkan para anggotanya untuk bersama-sama berpikir dan mencari solusi atas suatu masalah. Tak hanya itu, untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman pegawai terhadap peraturan, sebanyak 2 kali tiap bulan diselenggarakan P2KP sebanyak dengan materi-materi kepabenan dan cukai yang dibutuhkan dalam tugas rutin sehari-hari. Ia juga mengatakan, SDM yang dimiliki oleh KPBC Pematang Siantar saat ini sudah memadai dengan tingkat pendidikan yang cukup memadai. Dari 24 pegawai, 5 pegawai diantaranya adalah sarjana, 2 orang sedang menempuh S2 dan sisanya lulusan SMA/sederajat. Mengenai permasalahan rumah dinas yang jumlahnya ada 29 rumah, Stella mengatakan bahwa semuanya dalam kondisi tidak layak. “Kalaupun sekarang bisa dihuni, itupun karena perawatan ekstra yang diberikan oleh pegawai,” tuturnya. Namun hal itu telah disampaikan ke Pusat dan telah mendapat tanggapan. Lokasi perumahan tersebut tersebar di beberapa tempat yakni, Meranti, Asahan, Kabu-Kabu, Tualang dan Surung Dayung. ifa 34
WARTA BEA CUKAI

EDDY KUSUMA. Saat ini pihaknya juga lebih fokus pada upaya menertibkan para pengguna jasa agar memberitahukan barangnya secara benar dan jujur.

Sinar matahari masih terik ketika WBC tiba di KPBC Tipe A Belawan (yang berada dalam satu gedung dengan Kanwil I DJBC Medan-red). Saat ditemui WBC di ruang kerjanya, Eddy Kusuma, Kepala KPBC Tipe A Belawan menyambut WBC dengan ramah. Dalam perbincangan kami, Eddy mengatakan bahwa beberapa waktu yang lalu, KPBC Belawan telah menyelesaikan proses serah terima kendaraan bermotor (mobil-red) hasil tegahan yang telah ditetapkan sebagai barang yang menjadi milik negara pada beberapa instansi pemerintah. Sesuai nota dinas Ketua Tim Pengkajian Pemanfaatan Kendaraankendaraan Bermotor yang telah ditetapkan sebagai barang yang menjadi milik negara No. ND-43/TPPKB/2006 tanggal 25 Nopember 2005, sejumlah 32 unit mobil hasil tegahan KPBC Belawan, 1 unit mobil hasil tegahan KPBC Pekanbaru, 5 unit mobil hasil tegahan KPBC Tanjung Pinang, disetujui untuk dijadikan inventaris instansi pemerintah. Sebanyak 32 unit mobil bekas jenis sedan Toyota Corona berhasil ditegah KPBC Belawan pada tahun 2005. Menurut Eddy, mobil-mobil tersebut menjadi barang milik negara karena dokumen impornya bermasalah. Diantaranya, importir yang mengimpor mobil tersebut tidak bisa melengkapi surat rekomendasi impor dari Departemen Perdagangan hingga batas waktu yang ditentukan. Dengan demikian sesuai peraturan yang ada, jika importir melewati batas waktu yang ditentukan maka mobil tersebut menjadi milik negara. Terhadap 32 unit mobil tersebut dihibahkan ke beberapa instansi pemerintah seperti BIN (4 unit), Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara Banda Aceh, Kanwil I Medan (2 unit), Komisi Yudisial (4 unit), KPPN Banda Aceh, Ditjen Perbendaharaan (1 unit), Kanwil DJP Sumatera Bagian Utara II (3 unit), Biro Hukum Depkeu (1 unit), Kanwil XIII Banda Aceh, DJBC (3 unit), KPBC Sabang (2 unit), KPBC Ulee Lheue (2 unit), KPBC Iskandar Muda (2 unit), KPBC Meulaboh (1 unit), KPBC

EDISI 383 OKTOBER 2006

WBC/ATS

an Pemanfaatan Kendaraan-kendaraan Bermotor yang Telah Ditetapkan sebagai Barang Milik Negara, yang ada di Kantor Pusat DJBC (dalam hal ini Dit. P2-red). Jadi, setelah ada persetujuan Menteri Keuangan, mobil-mobil tersebut dihibahkan sesuai keputusan tim. KPBC Belawan hanya melakukan proses administrasi terhadap mobil-mobil tersebut.

TARGET SEMESTER I TERLAMPAUI
Berbicara mengenai target penerimaan, yang terealisasi pada tahun 2005 sebesar Rp 270.160.941.543; atau 87,46 persen dari target yang ditetapkan yakni sebesar Rp 308.908.500.000;. Sedangkan target yang dibebankan pada KPBC Belawan untuk tahun 2006 adalah sebesar Rp 303.260.920.000;. Untuk semester I (hingga Juli 2006) target yang sudah dicapai sebesar Rp 196.981.571.592; atau 111,92 persen dari target semester I. Menurut Eddy, target tersebut berasal dari Bea Masuk (BM) karena di Belawan tidak ada pemasukan cukai. Hal itu bisa dilihat dari komoditi impor yang paling banyak menyumbang penerimaan diantaranya adalah beras, gula, tepung terigu, jagung dan pakan ternak. Barang-barang tersebut diantaranya diimpor dari Eropa, Australia, Hongkong dan India. Dalam hal pengawasan Tommy mengatakan, saat ini tingkat penyelundupan di Belawan semakin menurun. Barang-barang selundupan yang ditegahpun tidak dalam bentuk massal (banyak). Misalnya saja beberapa bulan yang lalu, KPBC Belawan menegah beberapa buah televisi selundupan yang merupakan barang bawaan ABK. “Jadi, sekarang ini yang kita tegah biasanya hanya barang bawaan ABK yang berasal dari kapal-kapal yang rutin melalui jalur Medan-Singapura. Barangbarang itu berupa televisi bekas, radio bekas dan jumlahnya tidak banyak,” imbuh Tommy. Berkurangnya tingkat penyelundupan di Belawan juga dikarenakan sejak tahun 2006 KPBC Belawan makin mengintensifkan pemeriksaan barang. Menurut Eddy, untuk importir yang terkena jalur merah, pemeriksaan fisik yang dilakukan rata-rata mencapai 100 persen. “Makanya, sekarang kita tinggal meluruskan saja agar para importir dan eksportir yang nakal itu bisa kita kendalikan. Kita beritahukan pada mereka bahwa sekarang bukan jamannya lagi melakukan penyelundupan,” imbuh Eddy. Tak hanya itu, saat ini pihaknya juga lebih fokus pada upaya menertibkan para pengguna jasa agar memberitahukan barangnya secara benar dan jujur. Caranya, dengan mengadakan pertemuan setiap bulan dengan para pengguna jasa. Pertemuan tersebut diharapkan dapat menjadi ajang
WARTA BEA CUKAI

KPBC TIPE A BELAWAN

Lhokseumawe (1 unit), Dit. Teknis Kepabeanan DJBC (2 unit), Dit. P2 DJBC (2 unit), Biro Hukum Depkeu (1 unit), Kanwil I Banda Aceh, Ditjen Perbendaharaan (1 unit). Namun demikian, hingga berita ini diturunkan (31/8), 3 unit mobil yang akan dihibahkan ke Kanwil DJP Sumatera Bagian Utara II belum diambil oleh pihak penerima. Eddy menambahkan, Kanwil I DJBC Medan dan KPBC Belawan sendiri memang tidak mendapatkan mobil hibah tersebut dikarenakan tidak memintanya.

“Sebenarnya, tidak ada aturan yang mengharuskan pengajuan permohonan untuk memperoleh barang hibah. Tapi kebetulan kali ini ada beberapa instansi yang mengajukan permohonan. Dan jika dilihat dari wilayah yang menerima, paling banyak dihibahkan ke instansi yang ada di Aceh karena disana kekurangan mobil akibat tsunami,” jelas Eddy. Tommy T.S. Kepala Seksi P2 KPBC Belawan menambahkan, yang memutuskan mobil-mobil tersebut dihibahkan ke suatu instansi adalah Tim Pengkaji-

EDISI 383 OKTOBER 2006

35

DAERAH KE DAERAH
WBC/ATS

TOMMY T.S. Kendala yang kerap dihadapi adalah belum bisa diterimanya peraturan Bea dan Cukai secara utuh oleh para pengguna jasa.

komunikasi antara KPBC Belawan dan pengguna jasa. Pengguna jasa bisa memberitahukan kendala yang dialaminya di lapangan dan memberikan input pada Bea dan Cukai agar memperbaiki kinerja Bea dan Cukai. Tommy menambahkan, kendala yang kerap dihadapi adalah belum bisa diterimanya peraturan Bea dan Cukai secara utuh oleh para pengguna jasa. Ia mencontohkan masalah impor pupuk yang harus disertai dokumen dari instansi lain dan wajib mengirimkan sample pupuk tersebut ke Jakarta (wajib SNI-red). “Menunggu keluarnya surat dari SNI itu kan bisa memakan waktu 1-2 bulan dan pengguna jasa tidak mau tahu kenapa pupuknya kita timbun, tidak kita keluarkan,” kata Tommy.

Menurut Eddy, aturan titipan tersebut (wajib SNI-red) terlalu birokrasi dan Bea Cukai tidak bisa menyederhanakan proses wajib SNI tersebut. Padahal tugas Bea Cukai adalah menjaga kelancaran arus barang baik ekspor maupun impor tanpa melemahkan pengawasan. “Jadi, dengan tertimbunnya pupuk terlalu lama secara otomatis kelancaran arus barang terganggu. Padahal idealnya antara pengawasan dan menjaga kelancaran arus barang harus dilakukan secara seimbang,” tandas Eddy. Saat disinggung mengenai infrastruktur Pelabuhan Belawan, Tommy mengatakan bahwa infrastruktur tersebut perlu ditingkatkan kembali. Pasalnya, panjang dermaga yang ada saat ini tidak bisa menampung banyaknya kapal yang akan bersandar. Akibatnya, antrian kapal untuk sandar pun terjadi dan hal itu menimbulkan high cost economy. Ditambah lagi masalah peralatan seperti pipa untuk mengangkut CPO (crude palm oil) yang akan diekspor ke dalam kapal. Pipa tersebut berada di pelabuhan lama dimana infrastruktur di pelabuhan lama tersebut masih minim. Kemudian mengenai crane (alat untuk menurunkan kontainer dari kapal ke darat dan sebaliknyared) yang berada di Pelabuhan Belawan, kerap mengalami kerusakan. Dengan keadaan tersebut, Indonesia sulit untuk bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

DISIPLIN PERLU DITINGKATKAN
Untuk meningkatkan SDM pegawai KPBC Belawan, setiap bulan secara rutin dilakukan P2KP.
WBC/ATS

MOBIL HIBAH. Sebanyak 32 unit mobil bekas jenis sedan Toyota Corona yang ditegah KPBC Belawan, telah ditetapkan sebagai barang yang menjadi milik negara dan dihibahkan ke beberapa instansi pemerintah.

Kemudian, setiap ada ketentuan atau peraturan baru, peraturan tersebut dengan segera disosialisasikan pada para pegawai. Sesuai anjuran Dirjen Bea dan Cukai, dalam rangka meningkatkan integritas pegawai, upaya yang saat ini dilakukan adalah meningkatkan disiplin pegawai diantaranya pada saat masuk maupun pulang kantor. Dengan meningkatnya disiplin pegawai diharapkan integritas pegawai juga akan meningkat. Namun demikian, lanjut Eddy, untuk melatih kedisiplinan pegawai bukanlah perkara yang mudah dan tidak bisa terwujud dalam waktu yang singkat, dibutuhkan kesabaran. Saat ini Eddy melihat para pegawai di lingkungan KPBC Belawan sudah mulai sadar dan saling memahami dalam menjalankan kedisiplinan tersebut. Apalagi belakangan ini KPBC Belawan sering dikunjungi pejabat negara. Seperti beberapa waktu lalu (Juli), Menteri Perhubungan didampingi Dirjen Bea dan Cukai melakukan sidak ke KPBC Belawan dan Pelabuhan Belawan untuk memantau kelancaran arus barang ekspor dan impor. Sedangkan kalau berbicara mengenai kualitas pegawai yang ada di KPBC Belawan, tentu berbeda dengan kualitas pegawai yang ada di Jakarta. Tommy mencontohkan, seorang pemeriksa yang bekerja di Tanjung Priok, Jakarta, tentu menghadapi banyak tantangan, diantaranya barang yang diperiksa lebih bervariasi. Hal itu menyebabkan pegawai di Tanjung Priok memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan pegawai di Belawan. Di Belawan, barang yang diperiksa cenderung itu-itu saja atau kurang bervariasi. “Tapi sebenarnya itu bukan alasan, karena pegawai juga harus belajar. Tapi kenyataannya ya seperti itu,” imbuh Eddy. Di akhir wawancara Eddy mengungkapkan harapannya terhadap institusi Bea dan Cukai. Karena kedepannya Bea dan Cukai berhadapan dengan lalu lintas barang eskpor impor, ia berharap agar penyelundupan dapat diminimalisasikan. “Kita tidak ingin yang muluk-muluk. Kita hanya ingin arus barang lancar, pengawasan juga berjalan lancar dan semua importir patuh memberitahukan apa adanya sehingga target tercapai, itu tujuan kita,” tandas Eddy. Tommy menambahkan, kalau ada kebijakan atau keputusan baru diharapkan segera disosialisasikan dan semua pegawai juga harus mengetahuinya. “Kita juga berharap agar perekonomian negara kita lebih maju dan kegiatan ekspor impor makin meningkat,” imbuh Tommy. ifa

36

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

DAERAH KE DAERAH

Agustusan
FOTO : DONS

di Kanwil X DJBC Balikpapan
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Untuk mengenang jasa para pahlawan dan mengisi kemerdekaan RI, sudah menjadi tradisi kita untuk merayakannya dengan berbagai kegiatan termasuk menggelar aneka perlombaan.
disambut antusias dengan keikutsertaan para pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil X dan KPBC Balikpapan dalam berbagai ajang perlombaan. Salah satu lomba yang paling meriah adalah sepakbola. Pertandingan sepakbola mempertandingkan tim Kanwil X Balikpapan melawan tim KPBC Balikpapan di lapangan Gunung Pasir. Pertandingan yang ditandai dengan kick-off opening (tendangan bola pertama) oleh Rudy Hernanto, Kabbag Umum Kanwil X Balikpapan, berlangsung cukup seru. Waktu 2 x 35 menit cukup bagi tim Kanwil X untuk mengalahkan tim KPBC Balikpapan dengan skor 3-1. Atas kemenangan itu, tim Kanwil X yang dikapteni oleh Heri Subagyo berhak menerima trophy dan hadiah yang diserahkan langsung oleh Rudy Hernanto. Puncak acara HUT Kemerdekaan RI ke-61 di Kanwil X diadakan pada tanggal 27 Agustus 2006 dengan menggelar acara semacam “Family day”. Acara yang diadakan di halaman Kanwil X Balikpapan ini khusus ditujukan kepada keluarga pegawai khususnya anak-anak. Untuk itu panitia menggelar lomba yang bersifat ringan dan lucu, seperti lomba makan kerupuk, memasukkan pensil dalam botol, mewarnai dan berjalan dengan balon. Acara tersebut dibuka oleh Rudy Hernanto mewakili Kakanwil X Balikpapan yang berhalangan hadir. “Harapan saya (acara ini) bisa menjalin silaturahmi bagi

SEPAKBOLA TERONG. Saling adu cepat memukul jeruk dengan terong untuk dapat TV.

S

eperti yang diadakan di Kanwil X DJBC Balikpapan bekerjasama dengan KPBC Tipe A Balikpapan menyelenggarakan berbagai perlombaan untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-61. Rangkaian perlombaan sudah dimulai sejak tanggal 19 Juli 2006 dengan menggelar lomba berbagai cabang olahraga, seperti bulutangkis, tennis, tenis meja, gaple, futsal, sepakbola, bola voli dan tarik tambang. Sejak semula panitia acara HUT Kemerdekaan RI ke-61 Kanwil X Balikpapan yang diketuai oleh Sukawanto, Kasubbag Kepegawaian, berusaha untuk mengemas acara semeriah mungkin. Keinginan panitia pun
FOTO : DONS

warga Bea Cukai. Semoga keakraban dan situasi ini bisa dipertahankan dan malah ditingkatkan,” kata Rudy yang juga bertindak sebagai penanggung jawab panitia dalam sambutan pembukaannya. Di sela-sela acara, ibu-ibu Dharma Wanita memanfaatkan waktu dengan mengadakan acara arisan di aula Kanwil X Balikpapan. Selain arisan, Dharma Wanita juga membagi-bagikan hadiah bagi ibu-ibu. “Satu…dua…tiga!,” teriak panitia dan anak-anak mulai berlari untuk menjadi yang pertama. Para orangtua turut berteriak memberi semangat ank-anaknya. Anak-anak pun makin senang, pasalnya selain hadiah lomba, panitia juga membagikan souvenir hadiah pada anak-anak. Untuk kategori dewasa, digelar lomba berjalan di atas kardus dan sepakbola terong. Sepakbola terong adalah menggunakan terong sebagai pemukul yang digantung dibelakang tubuh untuk memukul jeruk sebagai bola sampai garis finis. Lomba ini sangat diminati pegawai termasuk pejabatnya, pasalnya hadiah yang diperebutkan adalah sebuah TV 14”. Akhirnya hadiah TV itu berhasil direbut oleh Andin dan diserahkan langsung oleh Rudy Hernanto. Keakraban antar keluarga pegawai semakin hangat seiring dengan acara makan siang bersama dan dilajutkan pembagian doorprize. Dengan diiringi oleh sajian musik dari Douane Band, panitia membagikan berbagai macam doorprize, seperti kompor gas, rice cooker, VCD, dan banyak lainnya. Menutup rangkaian acara HUT Kemerdekaan RI ke-61 Kanwil X Balikpapan, pada tanggal 30 Agustus 2006 malam hari diadakan acara ramah tamah sekaligus pembubaran panitia di Tip Top restaurant. Acara dihadiri sebagian besar pegawai termasuk para pejabat, termasuk diantaranya Kakanwil X Balikpapan, Faried S. Barchia. Hadir pula Kepala KPBC Samarinda (sekarang menjabat Kabid di Pusdiklat Bea Cukai), J. Didit Krisnadi yang turut menyumbangkan sebuah lagu di kesempatan itu. dons, balikpapan
FOTO : DONS

JUARA SEPAKBOLA. Rudy Hernanto menyerahkan trophy kepada kapten sepakbola tim Kanwil X Balikpapan, Hery Subagyo.

TIM SEPAKBOLA. Sebelum pertandingan, kedua tim saling berfoto bersama. EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

37

Direktur dan Seluruh Staf

TEKNIS KEPABEANAN
Direktur dan Seluruh Staf

DIREKTORAT

FASILITAS KEPABEANAN
Direktur dan Seluruh Staf

DIREKTORAT

CUKAI
Pimpinan dan Seluruh Staf

DIREKTORAT

KANWIL I DJBC TIPE A

MEDAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

MEDAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

BELAWAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

TELUK NIBUNG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE B

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

RANAI

KPBC TIPE C

Direktur Jenderal

Pimpinan dan Seluruh Staf

BEA DAN CUKAI
Sekretaris dan Seluruh Staf

TANJUNG PINANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

BANDAR LAMPUNG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
Direktur dan Seluruh Staf

SEKRETARIAT

PANGKAL PINANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE B

BENGKULU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN PENYIDIKAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

JAKARTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

PASAR BARU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

B ATA M

KPBC TIPE A

MERAK
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

EDISI 383 OKTOBER 2006

PURWAKARTA
WARTA BEA CUKAI

KPBC TIPE A

39

Pimpinan dan Seluruh Staf

BOGOR
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE B

CIREBON
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE B

SEMARANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL VI DJBC TIPE A

KUDUS
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

TEGAL
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

PEKALONGAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

JUANDA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

GRESIK

KPBC TIPE A

Pimpinan dan Seluruh Staf

Pimpinan dan Seluruh Staf

JAKARTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL IV DJBC TIPE A

BOJONEGORO
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

BLITAR
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

SURABAYA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL VII DJBC TIPE A

PANARUKAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

PROBOLINGGO
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

PEKAN BARU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

BENOA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

TANJUNG BALAI KARIMUN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

MAUMERE
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

PALEMBANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL III DJBC TIPE B

KANWIL IX DJBC TIPE B

PONTIANAK
Pimpinan dan Seluruh Staf

TANJUNG PRIOK I

KPBC TIPE A KHUSUS

KANWIL VIII DJBC TIPE B

EDISI 383 OKTOBER 2006

DENPASAR
WARTA BEA CUKAI

41

Pimpinan dan Seluruh Staf

PONTIANAK
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

ENTIKONG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE B

PULANG PISAU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

KETAPANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

BALIKPAPAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

SAMARINDA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

KOTABARU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE B

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

TARAKAN

KPBC TIPE B

Pimpinan dan Seluruh Staf

TANJUNG PRIOK II
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A KHUSUS

Kepala Kantor Beserta Jajaran & Pembina, Ketua Beserta Jajaran Dharma Wanita Persatuan

BANDUNG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

BEKASI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

TANJUNG EMAS
Pimpinan dan Seluruh Staf Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

KUALA LANGSA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

MAKASSAR
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE A

MERAUKE
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

PANTOLOAN
Pimpinan dan Seluruh Staf
PANGKALAN SARANA OPERASI TIPE B

PANGKALAN SARANA OPERASI TIPE B

MANADO
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

BANDA ACEH
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL XIII DJBC TIPE B

TANJUNG PRIOK
Pimpinan dan Seluruh Staf

BAJO`E
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

ULEELHEUE
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

JAKARTA
Direktur dan Seluruh Staf

BPIB TIPE A

PANTOLOAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE C

SABANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPBC TIPE B

DIREKTORAT PENERIMAAN & PERATURAN KEPABEANAN DAN CUKAI
Pimpinan dan Seluruh Staf

POSO

KPBC TIPE C

PANGKALAN BUN

KPBC TIPE C

EDISI 383 OKTOBER 2006

SOEKARNO HATTA
WARTA BEA CUKAI

KPBC TIPE A KHUSUS
43

SIAPA MENGAPA
T O M M Y H U T O M O , S H. Mungkin tidak banyak pegawai Bea Cukai yang seberuntung Tommy Hutomo dengan mendapat kesempatan mengikuti kursus di Jepang. Bagi pria kelahiran Jakarta, 13 Juli 1973 ini, pengalaman selama 2 minggu di negeri matahari terbit untuk mengikuti “Training Course for PCA” yang diadakan oleh Ministry of Finance Jepang memberikan suatu pengalaman yang luar biasa. ”Orang Jepang punya pikiran dan teknologi maju, tetapi tetap menjunjung nilai – nilai budaya mereka. Misalnya, kita yang belajar di Pusdiklat mereka ( BC Jepang ), kita lihat anak – anak Pusdiklatnya itu juga diajari tata cara minum teh, merangkai bunga ( ikebana ), menulis kaligrafi Jepang (Sodho). Jadi artinya seninya tetap ( diajari ), tapi di Pusdiklat kita belum (mengajarkan seperti itu),”ceritanya sambil menambahkan bahwa peraturan kepabeanan kita banyak yang hampir sama dengan Jepang. Tommy yang lulus Prodip III tahun 1995 ( Angkatan VIII ), merasakan penempatan pertama kali di Polonia Medan sejak Januari 1996. Menurutnya Medan mempunyai tipikal tersendiri, terutama makanannya.”Orang-orangnya ramah, makanannya mantap dan karena sering ada penempatan ( rolling ) jadi banyak pengalaman,”kesannya. Pada Maret 2000, Tommy dimutasikan di Kanwil IV Tanjung Priok sebagai auditor. Tiga tahun kemudian, tepatnya Maret 2003, kembali dia dipindahkan ke Kanwil X Balikpapan.“Di Balikpapan ini U S T A M I Jalan hidup seseorang memang banyak misteri. Gustami yang awalnya merantau dari kampungnya Teluk Pakadai untuk bekerja di Perbatasan Entikong-Tebedu, kini menjadi seoarang pegawai Bea dan Cukai. “ Saya dulu bekerja serabutan membantu orangorang yang lalu lalang di perbatasan seperti pengisian formulir, paspor, dan dokumen lainnya,” tutur pria yang murah senyum ini mengawali ceritanya. “Selanjutnya pada suatu saat saya dipanggil oleh seorang pegawai Bea dan Cukai bernama Sofyan Ahmadi untuk membantu mengadministrasikan kendaraan yang keluar-masuk perbatasan. Sejak saat Januari 2001 itu saya menjadi pegawai honor lepas dalam artian tanpa ada skep pegawai honor dengan penghasilan lima belas ribu rupiah sehari, “ kenangnya. Tidak lama kemudian ia diperbantukan di KPBC Entikong karena waktu itu kekurangan pegawai dengan melakukan tugas membuat laporan dan pengetikan. Ketika ditanya mengenai suka duka berdinas di Bea dan Cukai, Gustami yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada K A S M I N Namanya cukup singkat dan mudah diingat. Lahir di Kudus 15 September 1957. Awal penempatannya sebagai pegawai Bea dan Cukai, ia lalui di Tanjung Balai Karimun pada 1980 sebagai pelaksana bidang P2. Mutasi berikutnya pada 1983 pelaksana P2 di KPBC Semarang. 15 tahun di Semarang, tahun 1998 Kasmin mendapatkan promosi sebagai Kasubsi Elektronik pada KPBC Pantoloan, tak lama kemudian Kasmin dipromosikan kembali menjadi Kepala KPBC Bagan Siapi-api pada 2002. Selama tiga tahun bertugas di Bagan Siapi-api, Kasmin merasa punya kesan tersendiri. Sebab selama penugasan dan memimpin ia hampir tidak menemui kendala yang berarti.Tentu saja hal itu berkat dukungan segenap pegawai KPBC Bagan Siapi-api. Pengalaman bertugas yang juga sangat berkesan pada saat diperbantukan menjadi Komandan Patroli kapal pada 2000. Ketika berpatroli di perairan Nunukan jam sepuluh malam, ia dan rekan-rekannya berhasil menangkap kapal bermuatan kayu hitam tanpa dilengkapi dengan surat / dokumen pelindung yang akan diselundupkan ke Malaysia. Berkat kewaspadaan dan kesigapan anak buah kapal patroli Bea dan Cukai, kapal dan muatannya dapat diamankan dan ditarik ke pangkalan. Jabatan Kasmin saat ini sebagai Kepala KPBC Probolinggo. Ditanya mengenai kiat-kiatnya dalam memimpin KPBC Probolinggo ia mengutarakan selalu fleksibel dalam menjalankan tugas, hal itu juga diterapkan kepada anak buahnya. G

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

saya ngerasain bahwa ternyata bisa mengunjungi tempat-tempat yang tidak pernah terpikir sebelumnya, kayak ujung Nunukan, Tarakan, pedalaman Grogot dan Lawe – lawe. Kayaknya nggak akan terlaksana kalau nggak mengaudit ( di Balikpapan ),”kata pria yang telah dikaruniai seorang putri ( 6 tahun ) dari pernikahan dengan Evie Rusmana. Di Balikpapan ini Tommy selalu dipercaya untuk menangani semua acara yang diadakan oleh Kanwil X Balikpapan, baik sebagai MC maupun berbagai kepanitiaan. Selama berkarier di Bea Cukai, berbagai pendidikan teknis telah didapatkan oleh pria yang juga menjadi pengajar di Balai Diklat Keuangan Balikpapan, seperti Diklat Kontainer ( 1998 ), Diklat PKN dan Customs Valuation (1999) serta Bahasa Inggris (1999). Kepada institusi DJBC, Tommy mempunyai suatu asa agar Bea Cukai harus benar-benar sejajar dengan institusi kepabeanan lainnya. Bukan hanya kualitas pelayanan, tapi juga gaji (kesejahteraan). Diakhir wawancara Tommy berkesempatan menitip salam.”Salam buat teman-teman di seluruh tanah air dimanapun ditempatkan…” dons, balikpapan

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2005
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 120.000

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

“Fleksibel dalam artian meskipun serius dan santai tapi faktor kedisiplinan juga perlu menjadi perhatian,” ujar suami dari Widji Astuti, yang dari pernikahannya telah dikaruniai dua orang anak, yaitu Eko Widjaja dan Dwi Widjaya. Beberapa pendidikan kedinasan yang pernah diikuti antara lain DPT II tahun 1991 di Jakarta, Diklat Pemeriksa Barang angkatan V 1992 di Jakarta, Diklat PPNS tahun 1994 di Jakarta, dan DPT III tahun 1998 di Jakarta. Berpisah dengan anggota keluarga merupakan resiko yang harus ia jalani. Kebetulan istrinya bekerja sebagai perawat di Kudus, sehingga sulit untuk menemaninya pindah. Namun Kasmin bersyukur antara tugas dan keluarga keduanya bisa ia jalani tanpa rintangan. Hubungan dengan istri dan anakanaknya yang berada di kota yang berbeda tidak pernah terputus. Setiap saat Kasmin menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan keluarga lewat telepon. Bahkan jika waktu memungkinkan beberapa minggu sekali Kasmin pulang ke Kudus untuk berakhir pekan. Ketika ditanya mengenai hobi, Kasmin mengaku bahwa ia tidak memiliki hobi yang spesial. Hanya terkadang melakukan jogging, bersepeda, dan renang. Bambang Wicaksono

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 383 OKTOBER 2006

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Desember 2004 ini mengatakan, “ Dulu ketika ada Ibu Lili (mantan Kasi Pabean KPBC Entikong) satu-satunya wanita yang ada di KPBC Entikong terasa ada seorang ibu yang membimbing, dan banyak acara contoh makan bersama dan buka puasa bersama. Karena beliau pindah terasa lain, perlu kiranya pegawai wanita di KPBC Entikong untuk memberi warna bagi kantor” Di usia yang menginjak 26 tahun ini Gustami merasa bersyukur menjadi pegawai DJBC karena sudah memiliki masa depan yang jelas dan akan selalu berpikir dan berbuat yang tebaik bagi institusi yang dicintainya.Selain itu dia berkeinginan pula melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Gustami memiliki suatu harapan kepada organisasi DJBC,”Saya harap Bea dan Cukai bisa diterima masyarakat luas dengan citra yang baik ,” harap pria kelahiran 9 Januari 1980. Bambang Wicaksono

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

WARTA BEA CUKAI

45

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

KONSOLIDASI BARANG EKSPOR DARI KB
Memperhatikan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : KEP-151/BC/2003 tanggal 28 Juli 2003 tentang Tata Laksana Kepabeanan di Bidang Ekspor dan Kep-63/BC/1997 tentang Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang dari dan ke Kawasan Berikat, dengan ini mohon diberikan penjelasan tentang hal-hal berikut : 1. Apakah dapat diijinkan dilakukannya Konsolidasi Barang Ekspor barang jadi hasil olahan antar PDKB? Apakah harus dilakukan oleh perusahaan Konsolidator? 2. Apakah perusahaan PDKB diijinkan membuat pemberitahuan PKBE ? 3. Bagaimana bila lokasinya tidak dalam satu Kawasan Berikat ? Misal PDKB di Semarang akan mengkonsolidasi barang ekspor pada PDKB di Surabaya dan akan diekspor melalui Surabaya ? 4. Bagaimana apabila 2 atau lebih perusahaan dalam satu grup telah memberitahukan perusahaan antar PDKB dalam grupnya kepada Direktur Jenderal ? 5. Apakah diijinkan Petugas/Pejabat Bea Cukai yang mengawasi PKB merangkap PDKB melakukan pengawasan konsolidasi tersebut? Apabila boleh bagaimanakah tata laksananya ? FERRY INDRAJAYA NIP. 060082369 Pegawai pada Kantor Pelayanan Tipe A Juanda Surabaya 46
WARTA BEA CUKAI

Jawaban : Sehubungan dengan pertanyaan dimaksud, kiranya dapat kami sampaikan tanggapan/jawaban sebagai berikut : 1) Bahwa konsolidasi barang ekspor barang jadi hasil olahan antara PDKB dapat diijinkan dengan pengawasan Bea dan Cukai. Konsolidasi dimaksud dilakukan oleh konsolidator yang telah mendapat persetujuan sebagai konsolidator barang ekspor dari kantor pabean yang mengawasi. 2) Pemberitahuan Konsolidasi Barang Ekspor (PKBE) diajukan oleh pengusaha konsolidasi/ konsolidator. PKBE dapat diajukan oleh PDKB dalam hal PDKB dimaksud telah mendapatkan persetujuan sebagai konsolidator barang ekspor dari KPBC yang mengawasi PDKB dimaksud. 3) Konsolidasi barang ekspor asal KB dapat dilakukan di KB, TPS, atau Tempat Lain di Luar Kawasan Pabean. Barang ekspor yang akan dilakukan konsolidasi di KB dapat berasal dari PDKB dalam KB yang bersangkutan, dari DPIL, dan/atau dari PDKB di luar KB yang bersangkutan. Dengan demikian kasus seperti yang Saudara pertanyakan dapat diperbolehkan dengan tatacara sesuai ketentuan dalam lampiran XV Keputusan Dirjen BC Nomor Kep-63/BC/1997. 4) Maksud dari pertanyaan yang Saudara ajukan (nomor 4) kurang

jelas. Namun demikian apabila yang Saudara maksud dari pertanyaan tersebut adalah ketentuan pelaksanaan konsolidasi ekspor yang dilakukan oleh beberapa PDKB yang tergabung dalam satu grup perusahaan, maka tatalaksana konsolidasi barang ekspor tetap mengacu pada ketentuan dalam lampiran XV Keputusan Dirjen BC Nomor Kep-63/BC/1997. 5) Bahwa yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan konsolidasi barang ekspor adalah petugas bea dan cukai di tempat konsolidasi. Dalam hal konsolidasi dilakukan di KB, maka dapat dimungkinkan petugas yang mengawasi PKB/ PDKB sekaligus merangkap sebagai petugas yang melakukan pengawasan konsolidasi. Ketentuan yang mengatur tentang konsolidasi barang ekspor asal KB dapat Saudara pelajari lebih lanjut pada Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor Kep-63/BC/1997 tanggal 25 Juli 1997, pasal 49 dan lampiran XV serta pasal 16 Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor Kep-151/BC/2003 tanggal 28 Juli 2003. Demikian untuk dimaklumi. Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana NIP 060054090

EDISI 383 OKTOBER 2006

INFO PEGAWAI

T.M.T 01 OKTOBER 2006 PERIODE T.A 2006
NO N A M A NIP GOL J A B A T A N KEDUDUKAN

PEGAWAI PENSIUN

1 2 3 4

Drs. Sjahrir Djamaluddin Nanang Tadjudin, SH Drs. Purwanto Asan Sitanggang, SH

060034881 060034205 060060010 060034173

IV/e IV/c IV/c IV/c

Sekretaris Direktorat Jenderal Kepala Bagian Umum Kepala Bagian Perlengkapan Kepala Perwakilan Bea dan Cukai

Sekretariat KP DJBC Kanwil I DJBC Medan Sekretariat KP DJBC Kedubes RI di Hongkong

5

Edy Muljadi

060034189

IV/a

Kepala Seksi Tempat Penimbunan I

KPBC Tipe A Tg. Balai Karimun

6 7 8

Said Attamimi Zulnaidi, SH Jusuf Indharto

640009469 060034193 060045635

IV/a IV/a III/c

Kasubbag Umum Kasubbag Umum Korlak Adm. Pemeriksa Dokumen

KPBC Tipe A Bekasi KPBC Tipe A Batam KPBC Tipe A Tanjung Emas

9 10 11 12 13 14

Toersilowati Sri Redjeki Djamnur Sjamsul Bachri Hatam Sadli Giri Subagio

060040715 060032053 060040051 060052417 060032171 060045364

III/d III/c III/b III/a II/b II/b

Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana

Dit. IKC KP DJBC KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok I KPBC Tipe A Bekasi KPBC Tipe A Tg. Pinang KPBC Tipe C Bima Pangsarop Tipe A Tg. Balai Karimun

RALAT
Pada rubrik Info Pegawai di WBC Edisi 382/September 2006 terdapat kesalahan penulisan pada nomor urut 7. Data yang sebenarnya adalah seperti tersebut di bawah ini ; Nama NIP Gol Jabatan : : : : Trisno Wardoyo, SH 060034199 IV/a Kepala Seksi Perbendaharaan KPBC Tipe A Malang

Demikian disampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, SIMPLISIUS KALU (35), pegawai Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe C Atapupu, pada hari Selasa, 15 Agustus 2006 di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Jenazah telah dimakamkan di Atapupu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Kepala Kantor dan seluruh karyawan serta keluarga besar Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe C Atapupu mengucapkan turut belasungkawa. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Amin
EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

47

INFO PEGAWAI

Mutasi Dan Promosi PEJABAT ESELON II DILINGKUNGAN DJBC
DILANTIK. Sebanyak enam pejabat eselon II dilingkungan DJBC mendapatkan mutasi untuk kesekian kalinya, dan satu pejabat eselon III mendapat promosi menjadi eselon II.

Menteri Keuangan melantik dan mengambil sumpah tujuh pejabat eselon II Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), yang mendapatkan mutasi untuk yang kesekian kainya, sementara itu satu orang pejabat eselon III di promosikan menjadi pejabat eselon II.

B

ertempat di Graha Shawala Departemen Keuangan (Depkeu), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 572/KMK.01/UP.11/2006 dan nomor 573/KMK.01/UP.11/2006 tentang mutasi para pejabat eselon II dilingkungan Departemen Keuangan, pada Jum’at 1 September 2006 melantik tujuh pejabat eselon II dilingkungan DJBC yang mendapatkan mutasi pada akhir tahun ini. Pada mutasi kali ini satu pejabat eselon III mendapatkan promosi menjadi eselon II untuk Kantor Wilayah XII DJBC Ambon dan satu pejabat dimutasikan dilingkungan BPPK. Selain melantik dan mengambil sumpah pejabat eselon II dilingkungan DJBC, Menteri Keuangan (Menkeu) juga melantik beberapa pejabat eselon II dilingkungan Depkeu, antara lain Direktorat Perbendaharaan, Inspektorat Jenderal, Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan dan Kerjasama Internasional, dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Acara yang dihadiri oleh seluruh pejabat eselon I dan II dilingkungan Depkeu, juga disaksikan oleh mantan Menkeu Marie Muhamad yang juga
WARTA BEA CUKAI

bertindak selalu tim pengawas kinerja Depkeu dan beberapa pejabat tim pengawas lainnya. Dalam kata sambutannya Sri Mulya-

ni mengatakan, mutasi yang dilaksanakan pada kali ini adalah suatu hal yang biasa dalam organisasi, selain untuk mengisi kekosongan jabatan juga seba-

ESELON IV. Di hari yang sama Sekditjen juga melantik tujuh pejabat eselon IV dan 18 CNPS dilingkungan DJBC

48

EDISI 383 OKTOBER 2006

MUTASI PARA PEJABAT ESELON II DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KEUANGAN
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI No. 1 2 3 4 5 6 No. 1 N A M A Drs. Erlangga Mantik, M.A. Dr. Heri Kristiono, S.H.,M.A. Drs. Joko Wiyono, M.A. Heru Santoso, S.H. Drs. Jody Koesmendro Cyrus Fidelis Sidjabat, S.H., MPA N A M A Drs. Endang Tata J A B A T A N Diangkat sebagai Direktur Pencegahan dan Penidikan; Diangkat sebagai Pj. Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai; Diangkat sebagai Kepala Kantor Wilayah III DJBC Tipe B Palembang; Diangkat sebagai Kepala Kantor Wilayah IV DJBC Tipe A Jakarta; Diangkat sebagai Kepala Kantor Wilayah V DJBC Tipe A Bandung; Diangkat sebagai Kepala Kantor Wilayah XII DJBC Tipe B Ambon; J A B A T A N Diangkat sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai;

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 572/KMK.01/UP.11/2006 TANGGAL 30 AGUSTUS 2006 NOMOR 573/KMK.01/UP.11/2006 TANGGAL 30 AGUSTUS 2006 TENTANG

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 243/BC/UP.9/2006 TENTANG

MUTASI PEJABAT ESELON IV DILINGKUNGAN DJBC
N I P 060040372 060078254 060079869 060078080 060078264 060081790 060078245 Pj. Pj. Pj. Pj. Pj. Pj. Pj. J A B A T A N

No. 1 2 3 4 5 6 7

N A M A Sari Wulan Nugroho Wahyu Widodo Sugeng Apriyanto Agus Yulianto Mochamad Mulyono Eko Rudi Hartono Dwijanto Wahyudi

Kasubag Gaji dan Kesejahteraan Sekretariat DJBC Kepala Seksi Intelijen II Direktorat Pencegahan dan Penyidikan Kepala Seksi Pencegahan I Direktorat Pencegahan dan Penyidikan Kepala Seksi Pencegahan III Direktorat Pencegahan dan Penyidikan Kepala Seksi Lingkungan Hidup Direktorat Pencegahan dan Penyidikan Kepala Seksi Barang Bukti Direktorat pencegahan dan Penyidikan Kepala Seksi Verifikasi Ekspor Direktorat Verifikasi dan Audit. an peraturan merupakan salah satu yang menjadikan image buruk bagi Depkeu secara umum maupun DJBC secara khususnya untuk bisa diperbaiki secara segera. “Tentu saya mengharapkan jajaran DJBC mampu untuk menjalankan atau memenuhi espektasi tersebut, saya selalu tekankan, dari mulai Presiden sampai dengan Menteri, kami tidak memberikan beban apapun atau titipan misi apapun, jadi kalau Dirjen Bea Cukai beserta seluruh jajarannya tidak mampu memperbaiki diri, itu berarti memang kualitas hidup kita yang tidak mampu memperbaiki kualitas diri, karena kami tidak membebani dengan misi apapun kecuali memperbaiki citra dari institusi. Oleh karena itu ini adalah suatu tahapan atau waktu untuk membuktikan apakah Depkeu umumnya atau DJBC khususnya memang patut menjadi institusi yang masih bisa diharapkan menjadi institusi yang baik,” harap Menkeu. Sedangkan untuk Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Menkeu juga mengharapkan, sebagai unit yang melaksanakan pembinaan koordinasi di bidang pendidikan dan penataran keuangan negara, semakin dituntut untuk mampu menjadi sentral efek dan menjadi suatu tempat untuk membuahkan menjadi SDM yang diharapkan sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Untuk itu diharapkan seluruh jajaran BPPK untuk selalu mampu
WARTA BEA CUKAI

gai mata rantai dari rangkaian upaya untuk menata organisasi pemerintahan khususnya dilingkungan Depkeu. Selain itu hal ini juga sebagai penugasan sekaligus untuk pemutaran atau mutasi dari berbagai posisi, serta penyegaran bagi pejabat-pejabat yang dilantik maupun yang digantikan. “Kegiatan yang dilakukan pada hari ini tidak terlepas dari langkah awal pelaksanaan keputusan Presiden nomor 66 tahun 2006 tentang unit organisasi dan tugas dari eselon I Kementerian negara Republik Indonesia, serta keputusan Menkeu nomor 466/KMK.01/2006 tentang organisasi dan tata kerja Depkeu. Pelantikan ini juga sebagai langkah awal bagi kelembagaan Depkeu yang bertujuan untuk menciptakan suatu pembagian tugas yang makin jelas terutama diantara unit eselon I dikaitkan dengan tugas Depkeu,” ujar Menkeu. Lebih lanjut Menkeu mengatakan, langkah awal akan menekankan kepada seluruh unit dan jajaran yang ada di Depkeu terutama kerjasama di antara masing-masing direktorat, karena Depkeu merupakan suatu depertemen yang luar biasa pesat bahkan di dalam satu unit eselon I, maupun antar eselon I menjadi sangat kritis untuk semakin diperbaiki dan ditingkatkan. Yang kedua adalah, perbaikan dari sisi kemampuan pegawai untuk melayani publik atau melayani

lembaga-lembaga publik, karena Depkeu adalah sumber sekaligus muara dari seluruh kegiatan pemerintahan yang berkaitan dengan keuangan negara, karena itu kinerja maupun aktifitas dan kualitas pekerjaan pegawai akan sangat langsung dirasakan oleh masyarakat dan berkaitan dengan keuangan negara. Sementara itu khusus untuk DJBC, Menkeu mengharapkan perbaikan kinerja yang salah satu elemennya adalah pencapaian target yang ada didalam dokumen APBN tahun 2006, sebesar Rp 51,59 triliun dan untuk tahun 2007 yang akan datang Rp.56,45 triliun atau ada peningkatan sebesar 6,9 persen. “Peningkatan setoran maupun target penerimaan hanya satu hal saja, sisi lain DJBC juga memiliki fungsi yang sangat penting untuk mengemban suatu fungsi pelayanan yang semakin hari semakin disorot oleh publik, ini yang perlu kita tingkatkan. Saya menggaris bawahi kepada seluruh pejabat yang dilantik pada hari ini, fungsi pelayanan dan menumbuhkan kepercayaan publik merupakan prioritas yang paling tinggi,” kata Menkeu Selain itu Menkeu juga mengharapkan pada DJBC karena masih adanya keluhan maupun berbagai indikasi kebocoran yang muncul, baik dari sisi cukai maupun dari sisi kepabeanan. Bentuk kebocoran maupun pelanggar-

EDISI 383 OKTOBER 2006

49

INFO PEGAWAI
mengadopsi berbagai tantangan dan perubahan menjadi suatu kegiatan pelatihan dan pendidikan, sehingga bisa mempersiapkan SDM di lingkungan Depkeu secara baik. Seusai acara pelantikan C.F.Sidjabat selaku pejabat yang mendapatkan promosi sebagai Kakanwil XII DJBC Ambon pada pelantikan kali ini, ketika diwawancarai WBC mengatakan langkah awal yang akan dilakukannya adalah dengan mempelajari apa yang telah dijalankan selama ini dan melihat hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki.”Kami akan mengevaluasi target penerimaan sampai sejauh ini bagaimana, dan bagaimana realisasi yang akan kita dapatkan nanti, selain itu kami juga akan mengevaluasi SDM yang ada sehingga apa yang kita harapkan dapat benar-benar terwujud,” jelas Sidjabat. Sementara itu menurut Heru Santoso yang kini menjabat sebagai Kakanwil IV DJBC Jakarta, langkah awal yang akan dilakukannya adalah, dengan meningkatkan pelayanan disamping pengawasan dan integritas juga akuntabilitas. ”Kemampuan pegawai juga menjadi prioritas utama sehingga dalam pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan baik,” ujat Heru Santoso.

MELANTIK 41 PEJABAT ESELON III
Sebanyak 41 pejabat eselon III di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dilantik dan diambil sumpahnya pada 6 September 2006. Dari 41 pejabat tersebut, sebanyak tiga pejabat mendapatkan promosi menjadi eselon IIIa dan sebanyak tujuh pejabat eselon IV mendapatkan promosi menjadi pejabat eselon IIIb.

DIRJEN BEA DAN CUKAI

B

erdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 576/KMK.01/UP.11/2006 tentang mutasi para pejabat eselon III di lingkungan Departemen Keuangan, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, melantik 41 pejabat eselon III di lingkungan DJBC. Acara pengambilan sumpah dan pelantikan yang berlangsung di aula gedung B Kantor Pusat DJBC, juga dihadiri oleh seluruh pejabat eselon II dan III dilingkungan Kantor Pusat. Pada acara pengambilan sumpah dan pelantikan ini, bertindak selaku saksi pejabat adalah Sekretaris DJBC, Sjahrir Djamaluddin dan Direktur Cukai,

Frans Rupang. Dalam pelantikan ini sebanyak tiga pejabat eselon IIIb mendapat promosi menjadi pejabat eselon IIIa, dan sebanyak tujuh pejabat eselon IV mendapatkan promosi menjadi pejabat eselon IIIb. Dalam kata sambutannya Dirjen menjelaskan peran dan tugas yang diemban oleh DJBC sebagai institusi global yang diharapkan mampu menangani aktifitas-aktifitas global dengan biaya serendah mungkin sehingga mampu menciptakan competitive edge bagi perekonomian nasional. “Berkaitan dengan peran yang lebih diarahkan pada pelayanan terhadap
WBC/ATS

PELANTIKAN ESOLON IV DAN CPNS
Setelah pada pagi harinya dilaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan eselon II, pada sore harinya Sekretaris Jenderal Bea dan Cukai, Sjahrir Djamaluddin, melantik dan mengambil sumpah tujuh pejabat eselon IV dan 18 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dilingkungan DJBC. Acara yang berlangsung di aula gedung B Kantor Pusat DJBC ini, juga dihadiri oleh pejabat eselon II, III dan IV dilingkungan Kantor Pusat DJBC. Dalam kata sambutannya Sekditjen kembali menekankan apa yang telah disampaikan oleh Menkeu, bahwa mulai dari Presiden hingga Menteri tidak membebani tugas yang khusus kepada DJBC, untuk itu perbaikan kinerja dan citra harus dilaksanakan dengan baik, sehingga DJBC dapat menjadi institusi yang dapat diharapkan. Sementara itu menurut Theo Dorus H.Z, yang juga merupakan salah satu CPNS yang dilantik dan diambil sumpahnya mengatakan, dengan pelantikan ini dirinya merasa benar-benar menjadi pegawai DJBC dan akan memberikan seluruh kemampuannya untuk DJBC. adi 50
WARTA BEA CUKAI

DILANTIK. Untuk yang pertama kalinya Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, melantik 41 pejabat eselon III dilingkungan DJBC

EDISI 383 OKTOBER 2006

MUTASI PARA PEJABAT ESELON III DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KEUANGAN
No. NAMA/NIP 2 Pangkat Golongan/ Ruang 3 Jabatan Dan Tempat Kedudukan LAMA 4 BARU 5

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 576/KMK.01/UP.11/2006 TENTANG

1

DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI 1 2 3 4 Sekretariat Direktorat Jenderal M. Sadiatmo S., S.H Penata TK.I 060050123 III/d Direktorat Fasilitas Kepabeanan Drs. Gunawan Pembina TK.I 060044473 IV/b Direktorat Pencegahan dan Penyidikan Marisi Zainudin Sihotang.,S.H.,M.M Pembina 060053452 IV/a Gusli M. Tambunan, S.H.,M.Hum 060050131 Direktorat Verifikasi dan Audit Ir. Aziz Syamsu Arifin. 060079907 Pembina IV/a Pembina IV/a Pj. Kepala Bagian Umum Kantor Wilayah XII DJBC Ambon Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Jakarta Kepala Bidang Rencana dan Program Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai BPPK Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kantor Wilayah IX DJBC Tipe B Pontianak Kepala Bidang Verifikasi dan Audit Kantor Wilayah VIII DJBC Tipe B Denpasar PJ. Kepala Bagian Umum Kepala Subdirektorat Pembebasan Kepala Subdirektorat Pencegahan Kepala Subdirektorat Penyidikan Kepala Subdirektorat Perencanaan dan Evaluasi Audit Pj. Kepala Subdirektorat Manajemen Risiko Pj. Kepala Subdirektorat Otomasi Sistem dan Prosedur Kepabeanan dan Cukai Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Teluk Bayur Kepala Bagian Umum Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kepala Bidang Verifikasi dan Audit Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Palembang Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Pangkal Pinang Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Jambi Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok II Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok III Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Jakarta

5

6 7

8 9 10 11 12 13 14 15

16 17 18

Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai Ir. Sucipto, M.M Penata TK.I Kepala Seksi Tempat Penimbunan III 060079891 III/d Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Pontianak Susiwijono, S.E Penata TK.I Pj. Kepala Subdirektorat Manajemen 060078074 III/d Risiko Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai Kantor Wilayah I DJBC Tipe A Medan Tambos Maringan Naiborhu, S.H.,L.L.M Pembina TK.I Kepala Kantor Pelayanan Bea dan 060040560 IV/b Cukai Tipe A Merak Amrullah Saidi, S.H. Pembina Kepala Kantor Pelayanan Bea dan 060052370 IV/a Cukai Tipe B Pangkal Pinang Kantor Wilayah II DJBC Tipe A Khusus Tanjung Balai Karimun Drs. Roeslan Montjo Soetedjo Pembina TK.I Kepala Kantor Pelayanan Bea dan 060044452 IV/b Cukai Tipe A Malang Kantor Wilayah III DJBC Tipe B Palembang Ir. Setioko, M.M Pembina Kepala Seksi Tempat Penimbunan II 060079906 IV/a Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Belawan Wahidin, S.E., M.Si. Pembina TK.I Kepala Bidang Audit Kantor Wilayah VII 060079878 IV/b DJBC Tipe A Surabaya Drs. Bambang Irawan Aribasar Pembina TK.I Kepala Kantor Pelayanan Bea dan 060045072 IV/b Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok III Drs. Indra Buana, M.M Pembina Kepala Subbagian Evaluasi Laporan 060034185 IV/a Hasil Pemeriksaan Sekretariat Direktorat Jenderal Maman Anurachman, S.H., M.Si Pembina Kepala Bidang Pencegahan dan 060051195 IVa Penyidikan Kantor Wilayah V DJBC Tipe A Bandung Kantor Wilayah IV DJBC Tipe A Jakarta Mulia Simandjuntak, S.H., M.Hum Pembina Kepala Kantor Pelayanan Bea dan 060034175 IVa Cukai Tipe A Jambi Drs. Ganjar Nugraha 060059697 Sudi Rahardjo, S.IP. 060035365 Pembina TK.I IV/b Pembina TK.I IV/b Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Purwakarta Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Teluk Bayur

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

51

INFO PEGAWAI
19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Kantor Wilayah V DJBC Tipe A Bandung Drs. Nurkiswar Eddy, M.M. Pembina 060040547 IV/a Ir. Agus Sudarmadi, M.Sc Pembina TK.I 060079885 IV/b Iskandar, S.E., M.B.A Pembina 060079965 IV/a Kantor Wilayah VI DJBC Tipe A Semarang Ir. Iwan Riswanto Pembina 060079936 IV/a Ir. Purwidi, M.M Penata TK.I 060079875 III/d Kantor Wilayah VII DJBC Tipe A Surabaya Supriady, S.H., M.M Pembina 060051365 IV/a Gamal Saktaji, S.E., M.Si 060079948 Pembina IV/a Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kantor Wilayah I DJBC Tipe A Medan Kepala Subdirektorat Otomasi Sistem dan Prosedur Kepabeanan dan Cukai Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Gorontalo Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok II PJ. Kepala Bidang Verifikasi dan Audit Kantor Wilayah III DJBC Tipe B Palembang Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kantor Wilayah XIII DJBC Tipe B Banda Aceh Kepala Bidang Audit Kantor Wilayah VI DJBC Tipe A Semarang Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kantor Wilayah VIII DJBC Tipe B Denpasar Kepala Subdirektorat Pencegahan Direktorat Pencegahan dan Penyidikan Kepala Bidang verifikasi dan Audit Kantor Wilayah IX DJBC Tipe B Pontianak Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kantor Wilayah XII DJBC Tipe B Ambon Kepala Subdirektorat Perencanaan dan Evaluasi Audit Direktorat Verifikasi dan Audit Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Entikong Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Bekasi Kepala Seksi Kepabeanan IV Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Jakarta Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Palembang Kepala Seksi Kerjasama WCO III Direktorat Kepabeanan Internasional Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Purwakarta Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Merak Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Purwakarta Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Pj. Kepala Bidang Audit Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kepala Bidang Audit Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Malang Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kepala Bidang Verifikasi dan Audit Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kepala Bidang Verifikasi dan Audit PJ. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Pontianak Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Entikong Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Sampit Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Samarinda Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Gorontalo

Ngadiman, S.H. Pembina 060041389 IV/a Kantor Wilayah VIII DJBC Tipe B Denpasar Drs. Hansen Hutagalung Pembina TK.I 060044468 IV/b Drs. Eksi Nugroho Heru Prasatiyo Pembina 060079881 IV/a Kantor Wilayah IX DJBC Tipe B Pontianak Budiman KaroKaro, S.E., M.M Pembina 060056416 IV/a Nirwala Dwi Heryanto, S.E. 060079963 Hisenhower 060051278 Guntur Cahyo Purnomo, S.H. 060076049 Pembina TK.I IV/b Penata TK.I III/d Penata TK.I III/d

Robert Darmadio Sadarpo, S.H. Penata TK.I 060066341 III/d Kantor Wilayah X DJBC Tipe B Balikpapan Drs. Zulfikri Pembina TK.I 060044381 IV/b Kantor Wilayah XI DJBC Tipe B Makassar Ir. Hary Budi Wicaksono, M.Si Pembina 060079883 IV/a Alamsyah, S.H., M.Si Penata TK.I 060075091 III/d Kantor Wilayah XII DJBC Tipe B Ambon Natal Siahaan, S.H., M.H Pembina 060040269 IV/a Chairul Saleh, S.H., M.Si 060076057 Penata TK.I III/d

37 38

39 40

Kantor Wilaah XIII DJBC Tipe B Banda Aceh Drs. Posman Pohan Siahaan Pembina TK.I 060047795 IV/b Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Joseph Didit Krisnadi, S.H Pembina 060035376 IV/a

Kepala Bagian Umum Kepala Bidang Pencegahan Dan Penyidikan Kantor Wilayah VII DJBC Tipe A Surabaya Pj. Kepala Bidang Pencegahan Kepala Seksi Tempat Penimbunan IV Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A dan Penyidikan Jakarta Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Pontianak Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Samarinda Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kepala Bidang Rencana dan Program Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Kepala Bidang Keuangan/ Atase Keuangan pada Konsulat Jenderal RI di Hongkong

41

Diperbantukan Pada Departemen Luar Negeri Ir. Decy Arifinsjah, M.A. Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Pembina 060079896 Kantor Wilayah XI DJBC Tipe B IV/a Makassar
WARTA BEA CUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

52

WBC/ATS

PENGARAHAN. Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, memberikan pengarahan kepada seluruh pejabat eselon II dan pejabat eselon III yang baru saja dilantik.

masyarakat dan dunia usaha, bea dan cukai perlu didukung oleh SDM yang kompetitif dan memiliki integritas tinggi sehingga bea dan cukai dapat menyelenggarakan fungsi pelayanannya dan masyarakat usaha yang menjadi pengguna jasa dari bea dan cukai merasakan suatu kepuasan karena lancarnya arus barang dan dokumen dengan biaya yang minimal,” ujar Dirjen. Selain hal tersebut Dirjen juga kembali mengingatkan apa yang telah disampaikan oleh Menteri Keuangan dalam kata sambutannya pada pelatikan pejabat eselon II di Departemen Keuangan pada 1 September 2006 lalu, dimana untuk DJBC ada tiga hal penting untuk dilaksanakan sehingga apa yang selama ini dikeluhkan oleh masyatakat dapat terjawab dan terlaksana dengan baik. Adapun ketiga hal tersebut adalah, pencapaian target penerimaan, fungsi pelayanan yang semakin baik, dan meminimalkan kebocoran-kebocoran yang selama ini menjadi sorotan masyarakat. “Dengan menjadi institusi kepabeanan dan cukai yang efektif dan efisien, maka bea dan cukai akan dapat memulihkan kepercayaan market forces untuk lebih memilih bea dan cukai sebagai institusi yang menangani administrasi kepabeanan dan cukai dibandingkan dengan menggunakan PSI,” jelas Dirjen.

PENGARAHAN DIRJEN PADA SELURUH PEJABAT ESELON II DAN III
Seusai acara pengambilan sumpah

dan pelantikan pejabat eselon III, acara kembali dilanjutkan di ruang Loka Muda gedung B Kantor Pusat DJBC. Pada kesempatan ini Dirjen menyaksikan serah terima jabatan pejabat eselon II yang baru dilantik pada 1 September 2006 lalu. Seusai serah terima jabatan pejabat eselon II, acara dilanjutkan dengan pengarahan yang diberikan oleh Dirjen kepada seluruh pejabat eselon II dan pejabat eselon III yang baru saja dilantik. Pada pengarahan itu kembali Dirjen mengingatkan pesan Menteri Keuangan yang ditujukan kepada DJBC agar terus berupaya kepada tiga hal pokok yang tentunya diharapkan akan dapat membangun kinerja dan citra DJBC. “Kita cukup prihatin dengan target penerimaan bea masuk dan cukai yang hingga saat ini belum dapat terealisasikan dengan baik, untuk itu langkah-langkah yang kita jalankan sudah jelas dengan menerapkan nilai pabean yang sesuai dengan nilai transaksi. Dengan demikian diharapkan pada November nanti kita bisa mengatasinya. Sedangkan khusus untuk nilai pabean, dari Direktorat PPKC, akan ada peraturan baru yang perlu kita sosialisasikan bersama,” kata Dirjen. Lebih lanjut Dirjen mengarahkan untuk lebih meningkatkan lagi post audit, sehingga akan membantu dalam pencapaian target penerimaan. Sementara untuk pencegahan penyelundupan, perlu ditingkatkan lagi khususnya pada kantor-kantor dan pelabuhan-pelabuhan utama. Untuk meningkatkan

kesejahteraan pegawai juga akan terus diperhatikan, khususnya pada mereka yang menjalankan tugas patroli laut dimana uang lauk pauk yang saat ini sudah sangat tidak memungkinkan, akan lebih ditingkatkan lagi. “Kepada seluruh pegawai dan pejabat DJBC, saudara diharapkan untuk dapat mengemban tugas institusi yang diemban oleh negara kepada bea dan cukai. Jadikanlah diri saudara menjadi pejabat yang selalu dapat mengemban amanat dengan baik yang dapat ditunjukan melalui prestasi saudara dalam bekerja. Bekerjalah dengan penuh integritas. Berbuat dan berfikirlah yang terbaik untuk bea dan cukai. Semoga niat baik kita semua untuk bersama-sama membangun negara dan membawa bangsa ini ke masa depan yang lebih baik melalui pelaksanaan tugas yang diamanatkan kepada kita selalu dibimbing dan dilindungi Tuhan yang Maha Kuasa,” harap Dirjen. Pada akhir pengarahannya Dirjen juga mengharapkan kepada seluruh pejabat untuk tidak segan-segan memberikan koreksi kepada Dirjen jika ada hal-hal yang memang perlu dikoreksi, karena menurutnya proses pembelajaran kepabeanan dan cukai juga memerlukan waktu sehingga akan sangat berterimakasih sekali jika terdapat saling koreksi dan pendapat. “Saya berprinsip lebih baik diganti ketimbang harus menyalahgunakan peraturan, dan saya harap ini juga dapat dijadikan prinsip oleh pejabat sekalian dalam menjalankan tugas,” tandas Dirjen. adi
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

53

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berserta staf eksekutif dilingkungan Departemen Keuangan melakukan pertandingan persahabatan dengan tim voli Forkem (Forum Diskusi Wartawan Keuangan dan Moneter) pada 4 September 2006. Pertandingan persabatan ini dalam rangka memperingati Hari Keuangan ke-60. Tampak pada gambar kiri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melancarkan smash ke lawan, dan gambar kanan, Menteri Keuangan memberi salam kepada kapten tim voli Forkem seusai pertandingan yang dimenangkan oleh tim pejabat Departemen Keuangan dengan skor 2 – 1.
WBC/ATS-SYS

JAKARTA. Dalam rangka memperingati Hari Keuangan ke-60, Departemen Keuangan (Depkeu) RI pada 10 September 2006 menyelenggarakan gerak jalan santai bagi keluarga besar di lingkungan Depkeu. Acara dibuka oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, ditandai dengan pengangkatan bendera start (gambar kiri). Acara dimeriahkan juga dengan Tarian Gentong dari Kantor Perbendaharaan Negara Purwakarta. serta panggung gembira yang menampilkan artis-artis Departemen Keuangan dengan diselingi penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba yakni lomba voli, bilyard, dan tenis meja. DJBC tahun ini hanya meraih juara II dalam lomba voli putra dan putri dan bilyard. Tampak pada gambar kanan, Anggito Abimanyu menyerahkan piala juara II voli yang diterima oleh Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi.
WBC/ATS

JAKARTA. Usai penyambutan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di garis finish dengan tarian Gentong dalam acara gerak jalan santai pada 10 September 2006, Marching Band Bea dan Cukai pimpinan Frans Rupang juga ikut tampil memeriahkan Hari Keuangan ke-60. Marching Band (gambar kiri) mendemontrasikan kebolehannya memainkan beberapa lagu diantaranya lagu karya band “Samson” (kenangan yang terindah). Dalam demo ini Menteri Keuangan ikut menyanyikan lagu tersebut beserta beberapa pejabat lain (gambar kanan).

54

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

WBC/ATS

WBC/ATS

JAKARTA. Usai sholat Jumat pada 8 Oktober 2006 di Aula Intelijen lantai 4 gedung B diselenggarakan acara pisah sambut Direktur P2 dari pejabat lama Endang Tata dan pejabat baru Erlangga Mantik. Setelah penyampaian pesan dan kesan dari pejabat lama dan baru. acara dilanjutkan dengan pembacaan doa serta diakhiri ucapan selamat dari seluruh pegawai kepada pejabat baru dan lama, didampingi nyonya.

BANDUNG. Bertempat di kediaman Nisfu Chasbullah jalan Cilaki No. 22 Bandung pada 19 Agustus 2006 diselenggarakan acara silaturahmi “Paguyuban Purna Bakti Bea dan Cukai Bandung” yang dihadiri para mantan pejabat Bea dan Cukai. Paguyuban Purna Bakti Bea dan Cukai Bandung yang baru dibentuk Mei 2006 ini diketuai Soepardjo, Sekretarias Kristianto, bendahara Melva Marpaung dan sebagai penasehat Nisfu Chasbullah dan Noek Soefoeroh. Bagi para pensiunan Bea dan Cukai yang ingin ikut bergabung khususnya yang berdomisili di wilayah Bandung dapat menghubungi sekretariat paguyuban Jl. Ciheulang No.4A Bandung, telp. (022) 2511008, HP. 08122009673.
WBC/ATS

JAKARTA. Pada 6 September 2006 diselenggarakan final voli tim putra dan putri Bea dan Cukai dalam rangka Hari Keuangan ke-60 . Tampak pada gambar kanan tim putra Bea dan Cukai (kostum kuning) melawan tim Direktorat Jenderal Pengelolaan Lelang Negara (DJPLN) dan pada gambar kiri tim putri Bea dan Cukai (kostum hitam) melawan tim Direktorat Pajak (DJP). Pertandingan yang diselenggarakan di lapangan voli Departemen Keuangan untuk tim putra dimenangkan oleh tim DJPLN dengan skor 3 – 1 dan untuk putri dimenangkan oleh DJP juga dengan skor 3 – 1.
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. BAPORS Kantor Pusat DJBC dalam rangka Hari Kemerdekaan RI ke-61 menyelenggarakan final voli antara tim Direktorat Teknis Kepabeanan melawan Tim Sekretariat DJBC. Final yang diselenggarakan pada 4 Agustus 2006 ini dimenangkan tim voli Direktorat Teknis Kepabeanan dengan skor 3 – 1, dan memperoleh piala bergilir dari Dirjen yang diserahkan oleh Nirwansyah Rahim mewakili ketua BAPORS.

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

55

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN WBC/ZAP

MEDAN. Workshop sehari tentang Peran dan Fungsi DJBC dalam Rezim AntiPencucian Uang di Indoneia diselenggarakan pada 15 Agustus 2006. Workshop yang menghadirkan nara sumber dari PPATK, Bank Indonesia dan DJBC ini diperuntukan untuk petugas dari Kanwil I DJBC Medan, Kanwil II DJBC Tanjung Balai Karimun, Kanwil III DJBC Palembang dan Kanwil XIII DJBC Aceh. Penyelenggaraan workshop ini merupakan terakhir setelah sebelumnya diadakan di Jakarta, Bali dan Makassar, dengan tujuan untuk mensosialisasikan PBC 01/BC/2005 tentang Tatalaksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai sebagai peraturan pelaksanaan dari UUTPPU (Undang-undang Nomor 15 tahun 2002 sebagaimana telah diamandemenkan dengan 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang) dan Peraturan Bank Indonesia nomor : 4/8/2002 tentang Tata Cara Membawa Uang Rupiah Keluar atau Masuk wilayah Pabean RI. Kiriman Subdit PBLP Dit. P2 KP-DJBC

JAKARTA. Bertempat di gedung pertemuan kompleks perumahan Bea Cukai Pasar Minggu Jakarta, dilakukan acara reuni sekaligus memperingati ulang tahun Pusat Pelatihan DJBC (sekarang Pusdiklat DJBC) ke 40 pada 20 Mei 2006. Acara yang diselenggarakan oleh alumni Puspla juga dihadiri oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Drs. Anwar Suprijadi dan juga beberapa pejabat eselon II dilingkungan DJBC. Alumni Puspla yang masih aktif juga hadir diantaranya Drs. ZA. Likumahwa dan Drs. Ibrahim Karim yang masing-masing menjabat sebagai Kakanwil VII DJBC Surabaya dan Direktur Fasilitas Kepabeanan DJBC.
WBC/ATS

JAKARTA. Dharma Wanita Persatuan Kantor Pusat DJBC pada 24 Agustus 2006 menyelenggarakan acara dalam rangka Hari Anak Nasional di Auditorium Gedung Utama KP-DJBC. Acara dihadiri oleh sekolah taman kanak-kanak yang dibina oleh yayasan DJBC yakni TK Bahtera Cipta Pondok Bambu dan TK Bahtera Trisna Pasar Minggu. Dalam acara tersebut dilakukan penyerahan cinderamata kepada empat guru pada TK tersebut yang telah lama mengabdi dan yang akan pensiun, yang dalam hal ini diserahkan oleh Ny. Anwar Suprijadi didampingi Ketua Panitia Ny. Teguh Indayana (foto kiri). Selain itu acara dimeriahkan oleh tariantarian yang dibawakan oleh anak-anak kedua TK tersebut, dan juga paduan suara Dharma Wanita KP-DJBC serta dimeriahkan pula oleh badut-badut lokal. Acara diakhiri dengan ramah tamah dan foto bersama (gambar kanan).
WBC/ATS

JAKARTA. Seluruh pejabat eselon III, IV dan para pegawai menghadiri acara pisah sambut Pejabat eselon II Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai yang diselenggarakan pada 7 September 2006 di Auditorium gedung B KP-DJBC. Pisah sambut dari pejabat lama Jody Koesmendro (sekarang Kakanwil V DJBC Bandung) kepada pejabat baru Heri Kristiono dan pelepasan Kasubdit Otomasi Sistem dan Prosedur Kepabeanan dan Cukai Agus Sudarmadji (sekarang Kepala KPBC Merak). Acara diawali kesan dan pesan kedua pejabat serta dari pegawai yang diwakili oleh pegawai senior dan dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan kepada Jody Koesmendro yang diserahkan oleh pejabat baru Heri Kristiono. Acara diakhiri ramah tamah dengan makan siang bersama diiringi dengan organ tunggal Alan Marton didampingi artis penyanyi ibukota.

56

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

WBC/ATS

JAKARTA. PT. Dwipa Manunggal Containa untuk pertama kali menyelenggarakan kegiatan lomba dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI ke-61 dilingkungan pelabuhan Tanjung Priok yakni pertandingan Futsal, dorong forklift, bulutangkis dan voli. Dalam pertandingan tersebut Kepala Hanggar Bea dan Cukai ikut tiga kategori lomba yakni dorong forklift, bulutangkis dan voli. Tampak pada gambar kiri, foto bersama dua tim dalam final voli yang diselenggarakan pada 16 Agustus 2006 antara Tim Kanwil IV DJBC Jakarta yang dimotori oleh Korlak Hanggar Tanjung Priok II Machmud Ali, melawan tim PT. Glorius Interbuana (Forwarder), yang berakhir dengan skor 3 – 2 dimenangkan tim PT. Glorius Interbuana. Dalam penyelenggaraan lomba ini dari seluruh hasil pertandingan tersebut Bea dan Cukai dinobatkan menjadi juara umum dan memegang piala bergilir dari PT. Dwipa Manunggal Containa yang dalam hal ini diserahkan langsung oleh Direktur Utama kepada Machmud Ali (mengangkat piala) pada 24 Agustus 2006 di Kelapa Gading Sport Club seperti tampak pada gambar.
FOTO : BENDITO

DENPASAR. Jumat 15 September 2006, bertempat diaula Kanwil VIII DJBC Denpasar, berlangsung acara Sertijab dan Pisah Sambut Pejabat Eselon III di lingkungan Kanwil VIII. Tampak dalam gambar, KakanwilVIII Heryanto Budi Santoso menyaksikan penandatanganan naskah serah terima jabatan dan menyerahkan cinderamata kepada kedua pejabat yang akan pindah ketempat tugas yang baru yaitu Aziz Syamsu Arifin dan Ngadiman. Adito, Denpasar
FOTO : BENDITO

DENPASAR. Kamis 14 September 2006, KPBC Ngurah Rai menyelenggarakan Sosialisasi SAP PDE Manifes yang dihadiri oleh Agen Penerbangan, Ground Handling, BPS dan Bank Indonesia. Tampil sebagai pembicara pada kesempatan tersebut, Susiwijono Kasubdit Otomasi Sistem dan Prosedur Direktorat IKC (pada saat sosialisasi menjabat sebagai Kasubdit Manejemen Resiko). Adito, Denpasar

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

57

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : BENDITO FOTO : BENDITO

DENPASAR. Kamis 17 Agustus 2006, jajaran Perwakilan Departemen Keuangan Republik Indonesia Propinsi Bali menggelar upacara bendera merayakan HUT Kemerdekaan ke-61 Republik Indonesia di halaman Gedung Keuangan Negara I Niti Mandala Renon. Tampil sebagai Pembina Upacara adalah Kepala Perwakilan Depkeu RI Propinsi Bali. Adito, Denpasar

DENPASAR. Rabu, 9 Agustus 2006, Kakanwil VIII DJBC Denpasar Heryanto Budi Santoso, dengan didampingi Kepala KPBC Atapupu Agung Saptono melakukan kunjungan kerja ke Makodam IX/Udayana. Kunjungan ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kerjasama antara DJBC, utamanya Kanwil VIII dengan TNI dalam melakukan pengawasan di wilayah perbatasan RI – Timor Leste. Dalam kunjungan kali ini Kakanwil VIII diterima oleh Pangdam IX / Udayana Mayjen TNI Zamroni diruang kerjanya. Diakhir kunjungan Kakanwil VIII menyerahkan cinderamata berupa profil Kanwil VIII untuk lebih memperkenalkan Kanwil VIII khususnya KPBC Atapupu. Adito, Denpasar
FOTO : KIRIMAN

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

SURABAYA. Pemotongan tumpeng oleh Kakanwil VII Surabaya Zeth Likumahwa dalam rangka HUT RI ke-61 dilakukan usai upacara HUT RI yang dipimpin langsung oleh Kakanwil VII DJBC Surabaya. Upacara dan pemotongan tumpeng diikuti oleh pagawai dan pejabat dilingkungan Kanwil VII DJBC Surabaya. Bambang Wicaksono, Surabaya

BEKASI. Poliklinik KPBC Bekasi bekerjasama dengan Laboratorium pada tanggal 14 September 2006 menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan lengkap bagi pegawai. Tampak pada gambar Kepala KPBC Bekasi Istyastuti Wuwuh Asri didampingi dokter Victoria dan para pegawai sedang antri rontgen dihalaman belakang kantor. Kiriman KPBC Bekasi
FOTO : BENDITO

DENPASAR. Dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan Ke-61 Republik Indonesia, Pemprov Bali menyelenggarakan Pameran Pembangunan yang berlangsung mulai tanggal 14 – 23 Agustus 2006 di lapangan Kapten Japa Padanggalak Denpasar. Perwakilan Depkeu Propinsi Bali ikut ambil bagian dalam pameran kali ini. Tampak dalam gambar, Wagub Bali I Gusti Alit Kelakan menabuh kulkul sebagai tanda pembukaan pameran pembangunan, dan Kakanwil VIII DJBC Denpasar berfoto bersama dengan panitia di Stand Depkeu dengan latar belakang bahan display dari Direktorat Jenderal Bea Cukai. Adito, Denpasar

58

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

FOTO : BENDITO

DENPASAR. Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke-61, Keluarga Besar Kanwil VIII DJBC Denpasar mengelar perlombaan Catur, Tenis Meja, Bola Volley, serta Sepak bola terong yang bertujuan untuk semakin memperkuat rasa kekeluargaan diantara pegawai dilingkungan Kanwil VIII dengan motto Sport For Togetherness, sebagai Kordinator acara ini adalah Hanif AZ. Tampak dalam gambar Kakanwil VIII Heryanto sedang mengikuti lomba sepakbola terong dan Kakanwil sedang memotong tumpeng untuk merayakan HUT RI. Acara ini berlangsung dari tanggal 8-25 Agustus 2006. Adito, Denpasar
FOTO : KIRIMAN

FOTO : DONNY ERIYANTO

BALIKPAPAN. Bertempat di Musholla Baitut Taqwim Kanwil X DJBC Balikpapan, pengurus masjid secara rutin setiap 2 minggu sekali mengadakan pengajian. Kegiatan yang dimaksudkan sebagai siraman rohani diikuti seluruh pegawai muslim di Kanwil X Balikpapan. Seperti tampak dalam gambar, Ust. Rahmat Abu Zahra menyampaikan ceramah bertema “Syukur Nikmat” pada tanggal 10 Agustus 2006. Don’s, Balikpapan

BEKASI. Kepala KPBC Bekasi Istyastuti Wuwuh Asri (baju kuning) foto bersama dengan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) KWBC V Bandung Ibu Joko Wiyono (duduk nomor 4 dari kanan) beserta Ketuaketua DWP Persatuan KPBC se-Jawa Barat beserta jajarannya dalam acara pertemuan tiga bulanan. KPBC Bekasi dalam pertemuan tersebut yang diselenggarakan pada tanggal 3 Agustus 2006 menjadi tuan rumah. Acara diisi dengan beberapa kegiatan diantaranya lomba kuis, Lomba pengetahuan tentang wanita dan lain sebagainya. Selain itu acara juga dimeriahkan dengan pemberian door prize dan diakhiri dengan ramah tamah. Kiriman KPBC Bekasi

INFO PERATURAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Agustus 2006
PERATURAN No. 1. 2. 3. 4. 5. Nomor P-11/BC/2006 P-12/BC/2006 P-13/BC/2006 P-14/BC/2006 P-15/BC/2006 Tanggal 08-08-2006 15-08-2006 15-08-2006 15-08-2006 25-08-2006 Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP205/BC/2003 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kemudahan Impor Tujuan Ekspor dan Pengawasannya Penyelesaian Jasa Layanan Pertukaran Data Elektronik (PDE) Kepabeanan Dalam Rangka Penyerahan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP), Inward Manifest dan Outward Manifest Pengembalian Cukai Atas Barang Kena Cukai Yang Dimusnahkan Atau Diolah Kembali Pengembalian Cukai Atas Pita Cukai Yang Rusak Atau Tidak Dipakai Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-10/BC/2006 Tentang Tata Cara Penyerahan dan Penatausahaan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifest Kedatangan Sarana Pengangkut, dan Manifest Keberangkatan Sarana Pengangkut. PERIHAL

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Agustus 2006
SURAT EDARAN No. 1 Nomor SE-27/BC/2006 Tanggal 15-08-2006 PERIHAL Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran Biaya Pengganti, Pengembalian Berkas Pbck-3 Dan Pengisian Formulir Ck-2 Dan Ck-3 59

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

KOLOM

Oleh: (Alm.) Dibyosusilo*

“Pola Pembinaan SDM” Bea dan Cukai
YANG TRANSPARAN
si yang dapat menghambat tercapainya tujuan. Dalam tulisan “urun rembug” tersebut, disebutkan kondisi teritorial intern Bea dan Cukai adalah bersifat majemuk antara lain : (a) tempat kerja dan jenis kerja yang menyebabkan perbedaan dalam memperoleh dalam tambahan rejeki, baik dengan cara yang masih dipandang memakai “irama” mapun dengan “main kayu” (tempat enak dan tempat tidak enak). (b) masalah rekrutmen (pengadaan pegawai) yang berasal dari berbagai macam latar belakang tingkat pendidikan. Kondisi tersebut mempunyai potensi untuk timbulnya kerawanan-kerawanan seperti : l Tumbuhnya isu-isu kelompok yang menjurus kearah rivalitas/kompetisi yang tidak sehat dan tidak masuk akal yang berdampak muncul dan suburnya keresahan (kelompok TP dan TRIP; kelompok STIKN dan Penilik; kelompok Pasar Minggu, IIK, Sarmud, dan Akuntan). l Surat Kaleng dan Katebelece l Suburnya iri hati, pilih kasih, budaya “ngatok”, setor “upeti”, dsb. Dalam upaya untuk meminimalkan risiko kerawanan-kerawanan tersebut dan di lain pihak untuk memacu tumbuhnya partisipasi dan motivasi positif, perlu dipikirkan adanya Pola Jalur Karir Jabatan, Pola Mutasi, Pola Promosi, Persyaratan Jabatan, Tolak Ukur Prestasi, dan sebagainya. Singkatnya penyakit-penyakit organisasi itu muncul antara lain disebabkan belum adanya Pola Pembinaan SDM yang dibakukan dalam suatu sistem menuju kearah Peningkatan Profesionalisme. Dalam “urun rembug” tersebut tersirat petunjuk bahwa Kebijaksanaan Personalia harus berdasar dan mengacu Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian; dan bahkan harus merupakan penjabaran dan pelaksanaannya. Adapun asas-asas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tersebut antara lain:
l l l l

ulisan ini hanyalah merupakan telaah untuk mencermati dan menggaris bawahi tulisan (Alm.) Bp. Moerdoko berjudul “urun rembug” (sumbang saran) yang disampaikan kepada (mantan) Dirjen BC Bapak Soehardjo, tanggal 5 Oktober 1992 (buku ini terdapat di Perpustakaan KP DJBC) , dikaitkan/dipadukan dengan tulisan Sdri. Dian Jusriyati, SE, dengan judul “Promosi, Mutasi dan Koneksi” (Warta Bea dan Cukai edisi 375 Bulan Februari 2006)

T

Keselarasan antar kepentingan dinas dan perorangan. Ajang kompetisi positif. Sejauh mungkin mengurangi subyektifitas. Sistem “karir” dan “merit”.

ARTI PENTING POLA PEMBINAAN SDM
a.) Dari tulisan Bpk Moerdoko terdapat pengakuan tentang pentingnya SDM: l …demikian pula sewaktu ditunjuk menjabat Kepala Bagian Kepegawaian DJBC tahun 1983-1986, dibandingkan pengalaman Teknis Kebeacukaian, ternyata masalah personalia lebih memerlukan ketekunan sekaligus kecermatan yang berhati-hati dan adil, karena disini terletak kekuatan… l Masalah personalia adalah penting, karena dalam setiap pelaksanaan tugas, motto “the man behind the gun” tetap berlaku walaupun teknologi semakin maju (kepegawaian merupakan garis depan organisasi). Maksud dari tulisan tersebut tidak lain bahwa akhirnya sumber daya manusialah sebagai “unsur penentu” dalam setiap upaya untuk mencapai tujuan. Kesadaran tersebut telah diketahui dan menjadi pendapat umum, oleh karena itu tidak menjadi permasalahan lagi. Yang menjadi masalah adalah “manusia yang bagaimana” dan “bagaimana mengelola dan mendayagunakan SDM tersebut untuk mencapai tujuan”. Kekurangan dalam hal perlakuan keadilan, ketekunan, kecermatan, dan kehatihatian dalam kebijaksanaan pengelolaan SDM dapat menyebabkan timbulnya kerawanan-kerawanan dan penyakit organisa60
WARTA BEA CUKAI

b.) Dari Tulisan Sdri. Dian Jusrijati, S.E. yang berjudul “Promosi, Mutasi dan Koneksi” Dalam tulisan Sdri. Dian Jusrijati, yang berjudul “Promosi, Mutasi dan Koneksi”, pada intinya juga mengulas kerawanankerawanan dan penyakit organisasi di tubuh Bea Cukai, sebagai akibat belum ada tolak ukur yang baku, tertulis dan transparan khususnya dalam kebijaksanaan promosi dan mutasi. “Kebijaksanaan yang cenderung subjektif dan tidak ada tolak ukur tertulisnya, akan berakibat “bias”. Artinya dari sudut pegawai, masing-masing mengambil langkah kompulsif, dan dari sudut pemegang kebijaksanaan terbuka peluang adanya “koneksi” dalam arti negatif. Misalnya, pengertian “prestasi” bisa diartikan dengan bermacam leksikal padahal prestasi adalah syarat untuk promosi, muncul isu adanya pilih kasih terhadap pegawai atau sekelompok pegawai tertentu dengan julukan “orang kuat” sehingga hampir tak tersentuh oleh siapapun, karena sering nongol untuk unjuk badan, unjuk kerja, unjuk gigi, dan yang paling menyesakkan unjuk dana”. (ringkasan penulis) Sangat yakin dan dapat memperkirakan bahwa Sdri. Dian belum pernah membaca bahkan melihat buku “urun rembug” tersebut, tapi terdapat “benang merah” yang sejalan dalam alur pemikiran, solusi dan harapan akan perlunya dibuat Pola Pembinaan SDM yang baku dalam suatu sistem menuju ke arah peningkatan profesionalisme dalam tubuh Bea Cukai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dambaan dan harapan akan terciptanya Pola Pembinaan SDM tersebut (untuk me-

EDISI 383 OKTOBER 2006

minimalkan risiko kerawanan dan menjaga sejauh mungkin tegaknya rasa keadilan) adalah hal yang sangat wajar, alami dan manusiawi, karena bertumpu pada “akal sehat” (common sense) dan “nurani bening” yang bersemayam pada setiap manusia. Walaupun terpaut jauh dalam ukuran rentang generasi (Bpk. Moerdoko tahun 1983 dan Sdri. Dian tahun 2006) pengamatan dan kesimpulannya, sejalan. c.) Contoh-contoh permasalahan Promosi dan Mutasi (dalam buku “urun rembug”) Promosi Sebagai akibat dari kemajemukan dalam tubuh Bea Cukai, apabila dari masing-masing tingkat dan latar belakang pendidikan tersebut pada suatu saat yang sama dapat mencapai pangkat yang sama, sedangkan jumlah lowongan jabatan yang sesuai dengan pangkat tersebut lebih kecil/lebih sedikit; timbul masalah dalam memilih mana yang harus dipertimbangkan lebih dulu untuk mengisi jabatan tersebut (promosi). Misalnya : - SMA pangkat III/a masa kerja : 18 tahun. - Sarmud pangkat III/a masa kerja : 13 tahun - Sarjana pangkat III/a masa kerja : 4 tahun Jumlah personil III/a : 90 orang, lowongan eselon IV : 40 orang. Memang sebagai pertimbangan menurut peraturan kepegawaian dapat dipecahkan sesuai dengan daftar urut kepangkatan (DUK). Tetapi sering ada pemikiran oleh karena belum seragam serta mantapnya pendidikan, dalam praktek pangkat/ golongan belum tentu mencerminkan tingkat kemampuan, atau kalau harus “urut kacang” kapan kesempatan maju bagi generasi berikutnya, yang mungkin lebih baik kualitasnya, luntuk mendapatkan giliran memberikan sumbangsih kemampuannya (merit). Pada saat itu di DJBC, selalu kekurangan jatah baik Sespa, Sepadya, Sepala maupun Sepada. Sebagai perbandingan dan terobosan apakah tidak mungkin diatur sebagai berikut : Untuk jabatan eselon III, kecuali bagi yang telah lulus Sepadya atau punya kualifikasi Master di tentukan dengan tes dari Lembaga Manajemen Independen seperti LPEM UI (diumumkan dan disosialisasikan) dengan syarat : pangkat minimal III c eselon IV, umur maks. 50 tahun, kesempatan tes 2 (dua) kali atau kalau perlu persyaratan lain seperti penguasaan bahasa asing dan komputer. Bagi yang sudah 2 (dua) kali tidak lulus tidak dapat dipertimbangkan lagi untuk menduduki jabatan eselon III. Demikian juga untuk menduduki jabatan eselon II dan IV perlu ditentukan persyaratannya sebagaimana diatas. Secara filosofis hakekat “memilih” adalah menilai, inti menilai adalah mengukur,

untuk itu mutlak harus jelas alat ukurnya. Kalau untuk mengetahui “panjang” atau “jarak” dengan ukuran meter/mil. Kalau untuk mengukur berat, ukurannya kg/ton. Demikian terhadap kemampuan manusia, manusia mempunyai kemampuan yang “terlihat” dan “tidak terlihat”. Untuk menilai kemampuan yang “terlihat” seperti kesehatan, kecerdasan relatif lebih mudah dengan menggunakan tes fisik atau tes IQ. Namun terhadap kemampuan “tidak terlihat” seperti kejujuran, integritas, komitmen ukurannya sangat sulit. Maksimal hanya dapat diamati dari indikator-indikatornya. Padahal ini maha penting (Knowledge is Power, but Character is More) Mutasi Dalam pembinaan personil diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian untuk “sejauh mungkin menyelaraskan antara kepentingan dinas dan kepentingan perorangan”. Namun apabila terjadi perbenturan, kepentingan dinaslah yang harus didahulukan. Jangka waktu mutasi ditentukan antara 2 (dua) sampai 5 (lima)

Sebagaimana dimaklumi bahwa tujuan mutasi (tour of duty dan tour of area), antara lain : l untuk mengurangi potensi kolusi antara pegawai dan market forces l memberikan pengayaan pengalaman dan pematangan sikap l serta memberikan pemerataan dalam kesempatan memperoleh keadilan. Tujuan tersebut harus selalu menjadi pedoman atau acuan. Patut dicatat dalam tour of duty terdapat beberapa jenis penugasan, antara lain bidang Cukai, Pabean, Sarhub, Auditor, P-2, Sekretariat bahkan Arsip dan Perpustakaan. Sedangkan dalam tour of area dikenal adanya Wilayah Barat (Sumatra), Wilayah Tengah (Jawa), dan Wilayah Timur (Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Irja, NTT/NTB). Disini juga diingatkan adanya dua fenomena yang menarik menurut Mantan Mendikbud Fuad Hasan yang dimuat di Harian Kompas tanggal 13 Januari 1987 antara lain sebagai berikut : l Surat kaleng ; apakah isinya keluhan, laporan atau fitnahan tempatnya tetap disampah. Hanya pengecut, yang melempar batu sembunyi tangan. Penulisnya biasanya menderita kekerdilan jiwa. l Kalung kucing ; ini merupakan terjemahan keliru untuk cortabelle yang dikenal dengan kattabelletje. “Jadi tak ada sangkat pautnya dengan kalung atau kucing,” kata Fuad. Secara bebas dan ilustratif Mendikbud menerjemahkan dengan kalung kucing, karena genta mungil yang bergantung pada leher kucing memang menjadi sinyal bagi penerimanya. “Tetapi kucing yang berkalung genta, tak akan pernah berhasil menangkap tikus”. Barangkali Ditjen Bea dan Cukai pada saat ini masih menghadapi kasus-kasus serupa dalam promosi dan mutasi, paparan ini mungkin dapat dipergunakan sebagai acuan. Sebagai perbandingan, pembinaan personil dilingkungan TNI dan POLRI dapat terlaksana dengan baik oleh karena adanya sistem yang relatif baku sejak “rekrutmen” sampai “pengakhiran tugas”. Walaupun tidak semua yang baik untuk organisasi TNI dan POLRI cocok diterapkan di organisasi Pegawai Negeri Sipil khususnya Ditjen Bea dan Cukai. Tetapi tidak ada jeleknya memetik pengalaman dan penerapan prinsip-prinsip pembinaan personil TNI dan POLRI yang dapat berlaku umum, disesuaikan dengan kondisi dan situasi setempat. Dalam hubungannya dengan arti penting dari Pola Pembinaan SDM yang transparan, sebagai analog patut dicatat tulisan Solahuddin Wahid yang berjudul “Sumber Manusia Tak Berdaya” (Suara Pembaruan, 21 Februari 2006) antara lain: ”Tanpa upaya serius membenahi pendidikWARTA BEA CUKAI

NAMUN TERHADAP KEMAMPUAN “TIDAK TERLIHAT” SEPERTI KEJUJURAN, INTEGRITAS, KOMITMEN UKURANNYA SANGAT SULIT.
tahun disesuaikan dengan tersedianya anggaran. Demikian juga dalam pelaksanaan mutasi, secara sederhana dapat dikatakan pada dasarnya setiap pegawai perlu atau butuh 3 (tiga) hal yang dalam bahasa jawa diringkas menjadi 3 J yaitu : l Jenang (rejeki) : sandang, pangan dan papan. l Jeneng (jabatan, pangkat) : karier. l Jenak (ketenangan) : misal, dekat keluarga. Dalam memindahkan seseorang untuk kepentingan dinas, perlu diupayakan sejauh mungkin agar minimal mendapatkan salah satu dari 3 (tiga) J tersebut, supaya timbul gairah dan motivasi postif dalam melaksanakan tugas. Manakala salah satu dari 3 (tiga) J tidak didapatkan, berdasarkan pengalaman akan timbul perasaan negatif yang dapat diringkas menjadi 2 (dua) J yaitu : l Jendhel (terpasung di suatu tempat) : merasa dianaktirikan. l Jeleh (putus asa dan apatis) : tidak bergairah, justru menjurus tidak produktif dan bisa menjadi beban/ merusak organisasi.

EDISI 383 OKTOBER 2006

61

KOLOM
an/pola pembinaan personil, maka tidak mungkin kita memiliki Sumber Daya Manusia, kita hanya akan memiliki Sumber Manusia Tak Berdaya”. dan masalah bersama yang harus dipecahkan secara bersamasama, agar semua aliran pemikiran dapat tertampung dan hasilnya adalah merupakan karya “kebersamaan”. Anggota tim terdiri dari wakil : Penilik 1963, Puspla Pasar Minggu 1968, IIK 1977, IIK (Umum) 1978, Sarmud 1973 dan Sarjana Akuntan 1979. b. Draft dari rancangan tersebut, setelah selesai dikirimkan ke seluruh wilayah untuk mendapatkan tanggapan dan masukan. Selanjutnya disempurnakan dalam pleno dengan mengikutsertakan/ masukan dari : Pakar/Kampus, Biro Kepegawaian Depkeu, BAKN, Bagian Personalia TNI-Polri, Para Senior/Pensiunan BC. c. Setelah selesai, oleh Dirjen akan diajukan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi dengan maksud agar supaya lebih mengikat walaupun jabatan Dirjen setiap saat dapat berganti. d. Pelaksanaan penyusunan rancangan tersebut sesederhana mungkin (baik tempat dan waktu), yang penting “semangatnya” . lunak (software); – Perangkat keras (hardware) b. Perangkat relatif adalah – Perangkat Otak (brain ware) yang bukan saja berarti kecerdasan, kepintaran tetapi juga kekenyalan nalar ; - Tak kalah pentingnya adalah perangkat mental (mental ware). Gabungan perangkat keras (absolut ware) dan perangkat relatif (relatif ware) disebut sebagai PRODUKTIFITAS MULTI FAKTOR. Setelah itu masih perlu : c. Faktor-faktor budaya, kerja keras, disiplin, sifat inovatif dan lain sebagainya (CONDITIONAL WARE). Hasil interaksi dari Produktifitas Multi Faktor dengan Conditional Ware telah mengintroduksi satu konsep yang disebut PRODUKTIFITAS PRESTASI. Padahal Pola Pembinaan SDM mungkin hanya termasuk perangkat lunak (software) saja. Jadi bagian kecil dari syarat penopang keberhasilan sistem. Demikian juga tulisan English Nainggolan dengan judul “Pengangkatan PNS Dalam Jabatan Struktural” (Suara Karya, Mei 1994) antara lain …”Obyektifitas akan terwujud apabila pejabat atau pimpinan instansi masingmasing dapat menghilangkan unsur kepentingan pribadi atau subyektifitasnya. Bagaimanapun bagusnya peraturan apabila tidak ada kemauan untuk menerapkan secara konsisten maka peraturan tersebut hanya merupakan kekuatan di atas kertas. Sebaliknya, sekalipun suatu peraturan kurang mendukung atau banyak kelemahannya, akan tetapi pejabat tersebut melaksanakannya secara arif bijaksana, obyektif, maka peraturan tersebut akan lebih sempurna”. (Justru Pejabat dan Pimpinan Instansi lah yang pertama-tama harus terikat dengan ketentuan Pola Pembinaan SDM). Sementara itu di lain pihak ada juga yang berpandangan skeptis, karena dengan adanya Pola Pembinaan SDM yang transparan justru akan menimbulkan gejolak yang dapat mendorong maraknya protes-protes dan bermacam-macam tuntutan; lebih-lebih masalah “adil” adalah sulit dan sangat relatif. Kekuatan manusia terletak pada “kebersamaan” dan “kerjasamanya”. Oleh karena itu semuanya diharapkan peduli dan turut bertanggung jawab mendorong terhadap terciptanya habitat/lingkungan yang nyaman, dimana dapat berlangsung ajang kompetisi sehat dan fairplay. Ibarat permainan sepak bola, tersedia arena/ lapangan yang mulus, aturan main yang jelas dan transparan, serta wasit yang adil-tidak memihak.

LANGKAH-LANGKAH DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
Kronologis Upaya Sebenarnya pimpinan DJBC dari waktu ke waktu juga sudah menaruh perhatian terhadap masalah Pembinaan Personil, terbukti : 1. Pada tahun 1979, saat Dirjen dijabat oleh Bpk. Tahir (Sekditjen. Bpk. Koesmayadi, Kabag Kepeg. Bpk. Karyoso) pernah dibentuk Tim Kepegawaian. 2. Pada tahun 1982, saat Dirjen dijabat oleh Bpk. Wahono (Sekditjen. Bpk. Abdul Masis, Kabag Kepeg. Bpk. Karyoso) pernah diterbitkan Surat Edaran Dirjen BC No. : SE-163/BC/1982 tanggal 23 Agustus 1982, tentang Pedoman Kebijaksanaan Kepegawaian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Penerapan dan pelaksanaan SE tersebut terhambat, dengan terbitnya INPRES No. 4 tahun 1985 yang akibatnya menggoyahkan sendi-sendi tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, baik menyangkut kewenangan/ jatidiri, organisasi tata kerja dan personil. Sehingga seluruh potensi Bea dan Cukai pada saat itu terserap ke arah upaya untuk tetap “survive”. Keberanian dan keberhasilan menerbitkan SE tersebut adalah merupakan upaya positif dan patut dicatat, bahkan prinsip-prinsip dan kearifan yang terkandung didalamnya mungkin masih relevan dan berguna sebagai bahan untuk dikaji dan dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi. Dalam rangka alur rumusan : Kesinambungan, Peningkatan, Koreksi, dan Pembaharuan yang terus menerus tiada henti. 3. Pada tahun 1988, saat Dirjen dijabat oleh Bpk. Hardjono (Sekditjen. Bpk. Martono Sukastowo, Kabag Kepeg. Bpk. Ibrahim A. Karim) dibentuk Tim Kepegawaian dengan ketua Bpk. Ibrahim A. Karim, yang bertugas untuk membuat draft (rencana) : - Pola Jalur Karir Jabatan - Pola Mutasi dan Promosi - Ukuran Penilaian Keberhasilan Tugas/Prestasi - Syarat-syarat Jabatan Karena inilah masalah yang penting dan mendesak, namun secara bertahap akan disusul pembahasan polapola lainnya yang berhubungan dengan masalah SDM dari sejak proses rekrutmen sampai pengakhiran tugas. Butir-butir pengarahan Dirjen Hardjono, antara lain : a. Anggota Tim terdiri dari semua unsur kelompok yang ada, dengan alasan karena ini masalah besar 62
WARTA BEA CUKAI

MASALAH “ADIL” ADALAH SULIT DAN SANGAT RELATIF.
4. Pada tahun 2002, saat Dirjen dijabat oleh Bpk. DR. R.B. Permana Agung/ Eddy Abdurachman (Sekditjen. Bpk. Thomas Sugijata, Kabag Kepeg. Bpk. Oentarto Wibowo) dibentuk Tim Prakarsa Peningkatan Integritas Pegawai.

KENDALA DAN HAMBATAN
Mungkin muncul pertanyaan, mengapa sampai saat ini Bea Cukai belum juga berhasil merealisasikannya? Untuk membuat Pola Pembinaan SDM yang baku, adil, seimbang, transparan, layak terap, berkesinambungan serta lestari ternyata mudah diucapkan tetapi sulit untuk mewujudkannya. Merumuskan sesuatu yang berhubungan dengan manusia adalah hal yang sangat pelik karenanya memerlukan kajian yang mendalam, belum lagi menyangkut kelembagaan yang diserahi tugas sebagai perumus, pelaksana, pengawas, dan pengkaji agar selalu sesuai dengan tuntutan jaman dan tempat. Integritas dan komitmen menjadi persyaratan pokoknya. Disinilah perlunya dipertimbangkan adanya “Dewan Jabatan”. Patut disimak tulisan Bpk. DR. R.B. Permana Agung, yang berjudul Beberapa Aspek “Makro” dari CFRS (WBC edisi 193 bulan Desember 1990) yang pada intinya dikemukakan, bahwa suatu sistem dapat berjalan dan berhasil kalau ditopang oleh : a. Perangkat absolut adalah – Perangkat

PERANAN AGAMA
T.B. Simatupang dalam tulisannya yang berjudul “Persiapan Doktrin, Kader, dan Lembaga” (Kompas 26 April 1985), menyatakan ”…tanpa kesadaran tentang dimensi teologis, masalah

EDISI 383 OKTOBER 2006

politik, ekonomi dan sosial akan dihadapi secara dangkal…” Demikian pula DR. Nurcholis Madjid, dalam bukunya “Islam, Doktrin dan Peradaban” menulis antara lain, “Dan dari penuturan sekitar Adam (dan istrinya, Hawa) dapat disimpulkan bahwa agama atau, lebih tepatnya, berbagai ajaran (kalimat) dari Tuhan itu adalah untuk melengkapi manusia agar ilmu pengetahuannya yang menjadikannya diangkat sebagai penguasa di bumi tidak justru membuatnya sesat dan menjerumuskannya kepada kesengsaraan. Atau, sebutkanlah dalam bahasa Kontemporer, orientasi ilmiah manusia dilengkapi dengan, dan harus dibimbing oleh nilai rohaniah”. Makna Keadilan Sosial Agama apapun pasti bermaksud menuntun manusia ke arah “adil” dan “sejahtera”. Dalam agama Islam makna “keadilan sosial” menurut tafsir Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran, hal. 124 : Alquran menetapkan bahwa salah satu sendi kehidupan masyarakat adalah keadilan. Tidak lebih dan tidak kurang. Hal 125 : Setiap anggota masyarakat dituntut untuk Fastabiqul Khairat/ berlomba-lomba dalam kebajikan (Al Baqarah (2):148). Setiap perlombaan menjanjikan “hadiah”. Disini hadiahnya adalah mendapatkan keistimewaan bagi yang berprestasi. Tentu akan tidak adil jika peserta lomba dibedakan atau tidak diberi kesempatan yang sama. Tetapi tidak adil juga setelah berlomba dengan prestasi yang berbeda hadiahnya dipersamakan. Sebab akal maupun agama menolak hal ini. Keadilan sosial seperti terlihat di atas, bukan mempersamakan semua anggota masyarakat, melainkan mempersamakan dalam kesempatan mengukir prestasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keadilan Sosial didefinisikan sebagai “kerjasama untuk mewujudkan masyarakat yang bersatu secara organik, sehingga setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan nyata untuk tumbuh berkembang sesuai kemampuan masing-masing”. Kalau ada yang tidak dapat meraih prestasi, masyarakat berkeadilan sosial terpanggil membantu mereka agar dapat juga menikmati kesejahteraan. Keadilan akan mengantarkan kesejahteraan. Dengan kata lain, bukti atau anak sah keadilan adalah kesejahteraan sosial. Jika memang demikian, asas-asas yang tersirat dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 seperti dikemukakan diatas antara lain : - Keselarasan antar kepentingan dinas dan perorangan. - Ajang kompetisi positif. - Sejauh mungkin mengurangi subyektifitas. - Sistem “karir” dan “merit”. Khusus asas “ajang” kompetisi positif

selaras dengan makna keadilan sosial dari tafsir Quraish Shihab terhadap Al Baqarah (2) :148, dan Al Zumar (39) :9 yaitu : “mempersamakan dalam kesempatan mengukir prestasi”. Juga selaras definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia “…sehingga setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan nyata untuk tumbuh berkembang sesuai kemampuan masing-masing”. Dengan demikian dapat disimpulkan asas-asas yang tersirat dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1974 dapat dikategorikan sebagai “keadilan sosial”. Selanjutnya Pola Pembinaan SDM yang merupakan peraturan pelaksanaan dan penjabaran dari Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tersebut, kiranya juga dapat dikatakan sebagai salah satu usaha sungguh-sungguh untuk menegakkan keadilan. Makna Kesejahteraan Sosial Dari buku Wawasan Al-Quran, karangan Quraish Shihab dikatakan, sejahtera menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah aman, sentosa, makmur, selamat (terlepas) dari segala macam gangguan, kesukaran dan sebagainya.

keadilan) dapat terwujud dan terlaksana dengan benar, diharapkan akan tercipta kondisi yang dapat menuntun langkah kearah lajur dan jalur yang juga benar (on the right track), menuju masyarakat Bea dan Cukai yang aman sejahtera. Upaya sungguh-sungguh untuk menjabarkan, melaksanakan serta menegakkan “keadilan” dalam konteks dan lingkup Ditjen Bea dan Cukai, kiranya juga dapat dikatakan sebagai melaksanakan “amanah/amal”, “kebajikan” (kasih sayang), “dharma” atau ”laku”. K.H. Mustofa Bisri mengingatkan dalam tulisannya di harian Indo Pos tanggal 20 Februari 2006 sebagi berikut ; Adil : Sulit, Tapi Harus. Berlaku Adillah !…itu dekat kepada takwa…(QS Al Maidah (5) :8)

PENUTUP
Korps kita, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pernah merasakan pahit dan sakitnya mendapatkan stigma dari masyakarat yang intinya : “Bea Cukai telah menistakan dirinya sendiri, maka patut untuk dinistakan”. Mimpi buruk ini terjadi pada tahun 1985 pada saat terbitnya Inpres Nomor 4 Tahun 1985. Dan sampai saat ini kiranya sayup-sayup masih terdengar suara-suara miring, bahkan Menkeu DR. Sri Mulyani Indrawati memberikan sinyal dengan menyatakan : “Saya Rasa Tantangan Paling Besar Dari Bea Cukai Adalah Reputasi” dan “Saya Rasa Masih Jauh Kita Mengatakan Bahwa Kita Merasa Cukup Puas Dan Bangga Dengan Kinerja Bea dan Cukai Selama Ini…” (WBC Edisi 375 Februari 2006). Adakah hubungannya dengan Pengelolaan dan Pembinaan Sumber Daya Manusia? Terlepas apakah suara-suara tersebut benar atau salah, ada dua kata bijak yang perlu dicermati : 1. George Santanaya (Filsuf Amerika) : “those who cannot remember the past, are condemned to repeat it”. (Mereka yang melupakan sejarah, akan terkutuk untuk mengulanginya) 2. Kearifan Cina Kuno : “Daripada tenggelam meratapi kegelapan, lebih baik berusaha menyalakan lilin”. Tulisan “urun rembug” Bpk. Moerdoko ditutup dengan kiasan dalam bahasa jawa : “Klungsu-klungsu kenoa kanggo sesawat”, yang artinya ibarat “biji buah asem” sudah barang tentu tidak menarik, tidak berbobot dan tidak bernilai ; gunanya hanya sebagai pelengkap kalau-kalau ingin melempar. Demikian jugalah untuk tulisan ini. Kalau tidak, anggap saja “ocehan” lansia yang sedang mengigau (jawa : wong tuwo kang lagi ngomyang, ngelindur lan ndleming). Mohon maaf, wassalam.
* Almarhum Dibyo Susilo adalah Pensiunan Pegawai Bea Cukai, terakhir menjabat sebagai Manager Toko Kopesat DJBC. Almarhum tutup usia pada tanggal 2 Agustus 2006. Tulisan ini diserahkan kepada WBC sebelum wafatnya almarhum.
WARTA BEA CUKAI

DISINILAH PERLUNYA DIPERTIMBANGKAN ADANYA “DEWAN JABATAN”
Makna/gambaran kesejahteraan sosial menurut tafsir Quraish Shihab tercantum dalam Al-Quran Surat : Thaha (20) :117119; Al-Waqiah (56) :25-26; Ya Sin (36) : 55-58, dan Al-Thur (52) : 21. Untuk masa kini kita dapat berkata bahwa yang sejahtera adalah terhindar dari rasa takut terhadap penindasan, kelaparan dan dahaga, penyakit, kebodohan, masa depan diri dan sanak keluarga bahkan lingkungan. Tafsir/makna keadilan sosial tersebut senafas dengan tulisan Sdri. Dian Jusrijati, yang berbunyi antara lain : “Adalah suatu kebutuhan yang mendasar bagi seorang pegawai untuk bisa merasakan kehidupan yang tenang, damai dan bahagia bersama seluruh anggota keluarganya. Unsur dari adanya rasa tenang itu diantaranya adalah fungsi perencanaan hidup keluarga dimasa depan serta kepastian akan apa yang telah dan akan di perbuat dikemudian hari, tingkat pencapaian yang diinginkan serta fungsi jaminan hidup bagi keluarganya”. Hubungan Pola Pembinaan SDM – Keadilan – Kesejahteraan Oleh karena dikatakan bahwa bukti atau anak sah keadilan adalah kesejahteraan sosial, maka apabila Pola Pembinaan SDM (dapat ditafsirkan sebagai usaha pelaksanaan asas

EDISI 383 OKTOBER 2006

63

OPINI

Oleh: Wirawan Sahli

Kawasan Berikat

dan KITE
mayoritas kegiatannya impor / ekspor dan penjualan ke dalam negerinya kecil sebaiknya mendirikan KB saja. Sebaliknya kalau sebagian besar kegiatannya adalah penjualan ke dalam negeri sedangkan kegiatan ekspornya sekali sekali saja sebaiknya menggunakan fasilitas KITE. Di lapangan sering saya temukan pengusaha KITE yang mayoritas bahan bakunya impor dan mayoritas produknya diekspor. Tentu ia sangat repot karena misalnya setiap bulan harus mengurus rata-rata 20 kali pengimporan bahan baku dan 30 kali pengeksporan barang jadi. Untuk mengimpor bahan baku ia harus mengurus Skep pembebasan bea masuk. Kemudian setiap pengimporan bahan baku ia harus menyerahkan jaminan atas BM, PPN, No. 1. KITE Tidak harus di kawasan industri dan tidak harus memenuhi persyaratan bangunan yang ditetapkan Menteri Keuangan. Tidak perlu dijaga Bea Cukai karena berada di peredaran bebas Pengawasan Pabean insidentil Harus menaruh jaminan atas bea masuk, PPN, PPh atas bahan baku impor

B

ea Cukai memberikan kemudahan atau fasilitasi perdagangan kepada dunia usaha. Kemudahan dan fasilitas perdagangan yang tersedia antara lain Kawasan Berikat (KB) dan KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor). Banyak pengusaha yang masih belum jelas apa bedanya antara Kawasan Berikat dan KITE karena kedua fasilitas ini sama-sama memungkinkan pengusaha mengimpor bahan baku dengan pembebasan bea masuk, PPN dan PPh kemudian mengolah dan mengekspor hasil olahannya. Meskipun kedua jenis fasilitas ini mempunyai persamaan namun ada juga perbedaannya yaitu : No. 1. Kawasan Berikat Harus berlokasi di kawasan industri dan bangunannya harus memenuhi syarat yang ditentukan Menteri Keuangan. Dijaga petugas Bea Cukai karena berstatus sebagai kawasan pabean Pengawasan Bea Cukai terus menerus (full customs control) Tidak perlu jaminan bea masuk, PPN, PPh atas bahan baku yang diimpor

PERBEDAAN

2.

2.

3. 4.

3. 4.

karena mereka sudah biasa sejak dulu menggunakan fasilitas KITE dan oleh orang-orang Bapeksta dulu selalu dianjurkan untuk terus memakai fasilitas KITE tanpa tahu perbedaan dasarnya. Sebaliknya ada juga pengusaha yang kegiatan impor / ekspornya kecil tetapi menggunakan fasilitas KB, mayoritas bahan bakunya dari dalam negeri, demikian juga pemasaran barang jadinya ke dalam negeri. Hanya sekali-sekali saja ia mendapat order dari luar negeri dengan bahan baku yang harus diimpor. Jadi fasilitas KBnya kurang dimanfaatkan (idle). Padahal KB tadi sudah memenuhi persyaratan lokasi yang harus di kawasan industri, syarat bangunannya dan ada penjagaan dari Bea Cukai. Karena jarang ada kegiatan impor / ekspor maka petugas Bea Cukai yang ada disitu banyak menganggur, jadi mubazir. Petugas Bea Cukai di KB mestinya bertugas mengawasi barang impor yang belum dibayar beanya yang ada disitu tetapi karena mayoritas bahan baku yang masuk kesitu adalah barang dalam negeri dan penjualan barang jadi juga ke dalam negeri sehingga keberadaan Bea Cukai disitu kurang relevan. Terhadap pengusaha seperti ini biasanya saya sarankan untuk memakai faslitas KITE saja.

TIDAK MUNGKIN DIGABUNG
Ada yang berpendapat bahwa karena kedua jenis fasilitas ini (KB dan KITE) hampir sama sebaiknya digabung saja menjadi satu sistem atau satu jenis fasilitas misalnya KITE dihapus dan semua KITE menjadi KB atau KB dihapus dan semua KB menjadi KITE. Kalau hal ini kita jalankan tentu ada pihak yang dirugikan karena KITE dan KB mempunyai perbedaan dan masingmasing mempunyai karakteristik tertentu serta cocok untuk perusahaan tertentu. Perusahaan yang mayoritas beroperasi di pasar domestik yang hanya kadang-kadang saja melayani pesanan dari luar negeri akan dirugikan kalau harus menggunakan fasilitas KB. Karena perusahaannya (pabriknya) harus ditempatkan dibawah pengawasan pabean terus menerus

Perusahaan KITE tidak perlu dijaga Bea Cukai karena atas bahan baku yang diimpor sudah dijamin bea masuk dan PPN/PPh-nya. Sebaliknya perusahaan KB harus dijaga Bea Cukai karena tidak ada jaminan bea masuk / PPN/PPh atas impor bahan bakunya. Jadi kontrol yang dilakukan Bea Cukai terhadap perusahaan KITE ada pada jaminan yang diserahkan, sedangkan kontrol terhadap perusahaan KB adalah penjagaan fisik oleh petugas Bea Cukai terhadap bahan baku impor yang belum dibayar beanya yang ada didalam KB. Saya pernah ditanya seorang pengusaha yang akan memproduksi garmen untuk diekspor, apakah sebaiknya mendirikan KB atau cukup memakai fasilitas KITE saja. Menurut hemat saya kalau 64
WARTA BEA CUKAI

PPh dan membuat PIB. Setelah barang jadi diekspor ia harus menarik jaminan Prosedur yang harus ditempuh dalam pengimporan bahan baku pada fasilitas KITE lebih panjang dan lebih sulit dibandingkan pada fasilitas KB. Adanya kewajiban menyerahkan jaminan bea masuk/ PPN/PPh juga menjadikan fasilitas KITE memakan biaya yang lebih besar dibandingkan fasilitas KB. Karena itu jika volume dan frekuensi impor bahan baku cukup tinggi akan lebih murah dan mudah jika pengusaha yang bersangkutan menggunakan KB. Saya sering menasehati pengusaha kelompok ini untuk berpindah ke fasilitas KB saja. Mereka ini pada umumnya belum tahu kemudahan dan keuntungan yang bisa dinikmati pengusaha KB. Hanya

EDISI 383 OKTOBER 2006

(dijaga petugas) padahal hanya sekalisekali saja ada bahan baku impor disitu. Seperti kita ketahui di KB yang dijaga Bea Cukai juga diwajibkan adanya pemberitahuan pemasukan dan pengeluaran barang meskipun barang tersebut berasal dari dalam negeri yang tidak wajib bea. Jadi penjagaan Bea Cukai tidak tepat guna atau bahkan mubazir terhadap perusahaan seperti ini. Sebaliknya perusahaan yang mayoritas operasinya adalah pasar luar negeri yang frekuensinya impor bahan bakunya tinggi (katakanlah 30 kali sebulan) tentu akan repot sekali jika harus memakai fasilitas KITE karena setiap kali mengimpor harus menaruh jaminan bea masuk, PPN/PPh dan setelah mengekspor harus mengurus penarikan jaminan tersebut. Pengaturan dalam UU Kepabeanan juga dibuat terpisah antara KITE dan KB. KITE diatur dalam Pasal 25 tentang pembebasan Bea Masuk atas impor barang dan bahan untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain dengan tujuan untuk diekspor. Bisa juga disebut sebagai prosedur impor untuk diolah dan diekspor kembali. KB diatur dalam pasal 44 s.d 47 Undang-undang Kepabeanan dalam bagian tentang Tempat Penimbunan Berikat bersama-sama dengan Gudang Berikat, Entrepot Partikelir untuk pameran dan Toko Bebas Bea. KB dan KITE masing-masing ada keuntungan dan kerugiannya. Keuntungan sistem KB adalah tidak perlu menyerahkan jaminan BM, PPN dan PPh tetapi perusahaannya harus dijaga Bea Cukai. Setiap pemasukan dan pengeluaran barang harus mendapat persetujuan dari petugas Bea Cukai, jadi laporan / pemberitahuan yang harus dibuat banyak sekali. Barang dalam negeri pun keluar masuk KB harus diberitahukan kepada Bea Cukai yang bertugas disitu. Sebaliknya KITE meskipun harus menyerahkan jaminan BM, PPN, PPh tetapi pabriknya tidak perlu dijaga Bea Cukai dan keluar / masuk barang ke pabrik tidak perlu mendapat persetujuan dari Bea Cukai. Bahwa pada saat ini banyak orang bingung membedakan antara KITE dan KB karena dalam peraturan pelaksanaannya ada prinsip-prinsip KITE yang diberlakukan untuk KB dan sebaliknya ada prinsip KB yang diberlakukan untuk KITE. Contohnya adalah Bea Masuk yang harus dibayar untuk pengusaha KITE yang menjual hasil olahan ke peredaran bebas menurut Pasal 16 ayat (1) Keputusan Dirjen Bea dan Cukai No.KEP205/BC/2003 tanggal 31 Desember 2003, berdasarkan tarif bea masuk barang jadi. Pengenaan bea masuk dengan tarif barang jadi sebenarnya adalah prinsip untuk Kawasan Berikat. Dalam pasal 45 Undang-undang Kepabeanan dinyatakan bahwa produk KB yang diimpor untuk dipakai dikenakan

tarif yang berlaku pada saat diimpor untuk dipakai, jadi kalau pada saat diimpor untuk dipakai sudah dalam keadaan barang jadi harus dikenakan tarif barang jadi. Tetapi peraturan pelaksanaan untuk KB yaitu Keputusan Menteri Keuangan No. 291/KMK.05/1997 Tanggal 26 Juni 1997 tentang Kawasan Berikat, malah mengenakan tarif bea masuk atas bahan baku atas barang jadi yang diimpor ke peredaran bebas. Sebenarnya pengenaan tarif bea masuk bahan baku ini adalah prinsip untuk KITE. Mengapa demikian ? Karena pada saat bahan baku masuk ke KITE pengusaha sudah mengajukan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dengan perhitungan Bea Masuk dan Pajak atas bahan baku tersebut. Pengusaha KITE sudah menyerahkan jaminan bea masuk dan pajak menurut perhitungan tersebut. Pengusaha KITE juga sudah menyerahkan perhitungan konversi bahan baku menjadi barang jadi. Berapa banyak bahan baku yang diperlukan untuk membuat satu unit barang jadi sudah diberitahukan kepada Bea Cukai. Karena itu apabila ada barang jadi yang diimpor ke peredaran bebas seharusnya perhitungan bea masuk

KB DAN KITE HARUS TETAP DIPERTAHANKAN DAN KEDUA-DUANYA HARUS TETAP ADA...
berdasarkan perhitungan pada saat bahan baku masuk ke KITE. Pada saat masuk ke KITE dengan PIB yang tercantum adalah bahan baku dengan tarif bea masuknya. Karena perhitungan bea masuk (duty assesment) sudah dilakukan dimuka pada saat PIB diajukan, maka jika barang jadi di impor ke peredaran bebas semestinya dikenakan tarif bea masuk atas bahan baku. Hal ini sesuai dengan Aneks Khusus F Bab I butir 23 Konvensi Internasional Tentang Penyederhanaan dan Harmonisasi Prosedur Pabean (yang telah diamandemen) yang berbunyi : “ Peraturan Perundang-undangan nasional hendaknya menetapkan bahwa dalam hal produk kompensasi tidak diekspor, jumlah bea masuk dan pajak yang dikenakan tidak melebihi jumlah bea masuk dan pajak yang berlaku terhadap barang impor yang dimasukkan untuk diolah “ (“National legislation should provide that the amount of import duties and taxes applicable in the case where the compensating products are not exported shall not exceed the amount of import duties and taxes applicable to the imported goods admitted for inward processin” ).

Aneks Khusus F ini tentang impor untuk diolah (Inward Processing) sama dengan prosedur KITE kita. Hal tersebut di atas berbeda dengan KB yang pada pemasukan bahan baku impornya belum ada perhitungan bea masuk. Pada saat bahan baku impor masuk ke KB pengusaha harus mengajukan Pemberitahuan Pengangkutan Barang Dalam Pengawasan Pabean (BC 2.3) yang tidak ada / belum ada perhitungan bea masuk dan pajak sehingga kalau barang jadi hasil olahan akan diimpor untuk dipakai ( ke peredaran bebas ) harus dikenakan tarif bea masuk barang jadi. Dalam Konvensi Internasional Tentang Penyederhanaan dan Harmonisasi Prosedur Pabean (yang telah diamandemen) kita tidak menemukan Aneks tentang Kawasan Berikat (KB). Aneks yang mendekati atau bisa dirujuk untuk pengaturan KB adalah Aneks Khusus D Bab 2 tentang Kawasan Bebas ( Free Zones ) karena Aneks ini mengatur pemasukan barang impor tanpa dipungut bea masuk dan pajak untuk diolah di tempat tersebut. Dalam Aneks tersebut ada standar ketentuan kalau barang yang sudah diolah dapat dipindahkan ke Kawasan Bebas lain atau dialihkan ke prosedur pabean lain. Dialihkan ke prosedur pabean lain ini berarti barang tersebut dapat diekspor atau diimpor untuk dipakai (ke dalam peredaran bebas). Jika diimpor untuk dipakai harus memenuhi persyaratan dan formalitas yang berlaku untuk prosedur impor untuk dipakai. Kalau prosedur impor untuk dipakai berarti harus ada penelitian tentang jenis dan tarif bea masuknya. Karena barang sudah diolah dan waktu masuk bahan bakunya belum ada perhitungan bea masuknya, maka tentu tarif bea masuknya adalah tarif bea masuk barang jadi.

KESIMPULAN
1. KB dan KITE harus tetap dipertahankan dan kedua-duanya harus tetap ada karena memang diperlukan oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda tipe operasinya. 2. Perusahaan yang mayoritas bahan bakunya diimpor dan mayoritas produknya diekspor dianjurkan memakai fasilitas KB, sebaliknya perusahaan yang mayoritas bahan bakunya dalam negeri dan produknya dijual di dalam negeri dan hanya kadang-kadang saja mendapat pesanan untuk ekspor dengan bahan baku impor dianjurkan untuk memakai fasilitas KITE. 3. Prinsip yang berlaku untuk KITE seyogyanya tidak diberlakukan untuk KB dan sebaliknya prinsip KB tidak diberlakukan untuk KITE. Untuk ini Konvensi Internasional Tentang Penyederhanaan dan Harmonisasi Prosedur Pabean ( yang telah diamandemen ) dapat dijadikan rujukan.

Penulis adalah Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Bandung
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

65

OPINI

Oleh: Toupik Kurohman

Dirjen Baru
K
ini DJBC memiliki pemimpin baru, setumpuk harapan dipikul di pundak beliau. Para pegawai DJBC pada umumnya cukup surprise atas prosesi suksesi kali ini, tak lain karena yang menjadi dirjen kali ini Bapak Anwar Supriyadi bukan orang karir DJBC. Penunjukan dirjen di luar kalangan DJBC hendaklah disikapi dengan postif dan proporsional. Dirjen bukanlah jabatan politis, yang menjadi pertimbangan mendasar penunjukan dirjen semata-mata berdasarkan pada kebutuhan dan kepentingan strategis instansi yang bersangkutan. Bagi DJBC menculnya Bapak Anwar Supriyadi dengan segudang pengalaman dan latar belakang di bidang penataan kelembagaan, manajemen administrasi dan manajemen SDM memberikan ruh baru untuk menuntaskan permasalahan dan tantangan yang dihadapi DJBC. Bagi kami para pegawai siapa pun yang diberi amanah memimpin institusi ini adalah orang pilihan yang oleh Presiden dianggap layak untuk membuat DJBC lebih baik lagi. Arus besar reformasi di tubuh DJBC ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu memecahkan kejumudan kultural yang selama ini sulit diubah, kepemimpinan yang mampu mengurai benang kusut birokrasi yang menghambat perputaran roda organisasi DJBC, kepemimpinan yang bisa membuat DJBC lebih responsif, dinamis, dan dapat berdiri tegak memberikan pelayanan publik serta memberikan kontribusi optimal bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri, kepemimpinan yang mampu mengangkat reputasi DJBC dalam kinerja dan citra. Kita semua percaya bahwa pendahulu-pendahulu sebelumnya pun telah bekerja keras membangun DJBC. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun sangat memberi perhatian pada DJBC, hal ini terbukti ketika masa-masa awal kepemimpinan beliau DJBC mendapat prioritas untuk dikunjungi selian Polri, KeWARTA BEA CUKAI

SEMANGAT BARU
jaksaan Agung dan DJP. Pada kunjungan tersebut presiden sangat menaruh harapan terhadap peran strategis DJBC dalam menyukseskan pembangunan nasional. Pada kesempatan tersebut presiden bahkan memberikan garansi ‘kertas putih’ kepada DJBC untuk memulai perbaikan kinerjanya. Kini tak terasa sudah satu setengah tahun berjalan sejak kunjungan mendadak presiden tersebut. Apa yang berkembang dan terjadi di DJBC tentunya menjadi catatan dan evaluasi tersendiri pimpinan di negeri ini. Banyak hal yang sudah terjadi, mulai dari reshuffle Kabinet Indonesia DJBC memberikan pelayanan publik sekaligus melaksanakan pengawasan melekat pada para pengguna jasa. Sebagai institusi yang menetapkan kebijakan, pelaksana kebijakan sekaligus pengawas kebijakan jelas sangat membutuhkan struktur kelembagaan yang kokoh, yang menjamin berjalannya mekanisme cek and balance dan penilaian akuntabilitas kinerja yang memadai. Dualisme peran di atas seringkali menimbulkan monopoli kekuasaan dan menciptakan kewenangan diskresi yang terlau besar. Sehingga jalan keluarnya adalah penataan struktur kelembagaan yang dapat mencegah penyalahgunaan kewenangan tersebut. Ibarat dua belah tangan pada orang Indonesia umumnya, tangan kanan biasanya merupakan simbul sopan santun, penghargaan dan keluhuran etika menjalankan berfungsi dominan melayani aktifitas sehari-hari seperti makan, minum, menulis, berjabat tangan, inilah hakekatnya fungsi pelayanan yang bertujuan memberikan kepuasan kepada pengguna jasa dengan pelayanan sepenuh hati dengan menjunjung tinggi etika dan kehormatan. Sedangkan tangan kiri biasanya disimbolkan sebagai ungkapan ketidaksopanan, tidak menghargai berfungsi ‘maaf’ sebagai pembersih sama halnya dengan fungsi pengawasan yang sama sekali tidak memberikan toleransi terhadap pelanggaran, membersihkan berbagai penyimpangan terhadap peraturan, menjaga institusi tetap bersih. Kedua belah tangan itu saling bekerjasama dan melengkapi, ada pembagian tugas, pemisahan fungsi satu sama lain begitulah sejatinya fungsi pelayanan dan pengawasan. Agenda internal kedua adalah manajemen sumber daya manusia. Turunnya reputasi, kinerja dan citra DJBC penyebab utamanya adalah manajemen sumber daya manusia yang tidak optimal sehingga terjadi penodaan terhadap karakter

MARI KITA BERSAMASAMA MEMBANGUN KEMBALI JATI DIRI DAN REPUTASI DJBC
Bersatu yang menempatkan Dr. Sri Mulyani Indrawati menjadi Menteri Keuangan sampai pada pergantian eselon satu di departemen keuangan. Hal ini menunjukkan pemerintah serius untuk mengadakan perubahan-perubahan, untuk setiap instansi harus siap merespon dinamika perubahan yang setiap saat bisa terjadi. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sudahkah ada perubahan signifikan pada DJBC ataukah kita malah berjalan di tempat? Inilah PR besar yang harus kita semua buktikan bersama dibawah kepemimpinan dirjen yang baru.

AGENDA INTERNAL
Agenda internal pertama adalah penataan kelembagaan. Dualisme peran yang terkesan antagonistik seperti yang Ibu Menteri Keuangan sampaikan pada saat pelantikan eselon satu dijalankan sekaligus oleh institusi fiskal seperti DJBC.

66

EDISI 383 OKTOBER 2006

organisasi sebagai akibat berkembangnya budaya kerja yang tidak sehat di tubuh organisasi. Sistem dan struktur kelembagaan yang telah dirancang sedemikian rupa menjadi mandul oleh perilaku pegawai yang menyimpang. Perilaku disintegritas pegawai menciptakan budaya tidak sehat, berpengaruh destruktif dan pembunuhan karakter organisasi. Harus diakui perilaku disintegritas yang berkembang menjadi mata rantai tak terputus di berbagai lini, sudah berlangsung turun-temurun bahkan cenderung sistemik dan menjadi habit. Perilaku disintegritas bentuk dan faktor penyebabnya bermacam-macam. Hal yang paling mengemuka adalah masalah disintegritas seperti misalnya masalah korupsi di lingkungan administrasi kepabeanan yang antara lain disebabkan oleh : 1. Terdapatnya monopoli kekuasaan, misalnya : keputusan clearance barang di pelabuhan adalah kewenangan penuh DJBC, tidak dapat dilakukan oleh instansi lain. 2. Terdapatnya discretionary power (kewenangan diskresi) yang terlalu besar dimana dengan kekuasaan itu dapat menentukan ”nasib” pengguna jasa, misalnya: dengan dimilikinya kewenangan untuk membuat professional judgement terhadap dokumen PIB ataupun barang penumpang. 3. Tidak terdapatnya penilaian akuntabilitas kinerja yang memadai. Di negara berkembang seperti Indonesia tindak korupsi dapat berkembang lebih dahsyat lagi karena faktor- faktor berikut : 1. Tingginya tingkat toleransi terhadap korupsi, ada anggapan kewajaran dan sudah menjadi ’kebiasaan’ orang timur untuk suatu tindakan korupsi. 2. Rendahnya law enforcement (penegakan hukum) yang mengakibatkan rendahnya hukuman yang dijatuhkan. 3. Rendahnya resiko yang ditanggung pelaku 4. Rendahnya gaji dan insentif yang legitimate 5. Belum dipatuhinya kode etik dan perilaku dengan baik. Diperlukan komitmen dan political will yang kuat dari para pimpinan untuk menuntaskan masalah disintegritas. Gerakan peningkatan integritas pegawai hendaklah menjadi agenda prioritas. Dimulai dari pimpinan sampai ke pegawaipegawai pelaksana di lapangan. Selama ini program peningkatan integritas pegawai belum menyeluruh, menyentuh, terhujam dalam diri setiap pegawai, dan tidak dipahami secara utuh oleh pegawai. Contohnya mengenai korupsi, diakui atau tidak realitas di lapangan masih terjadi, disamping masih banyak pegawai teknis di lapangan yang masih memiliki persepsi yang berbeda tentang tindakan yang termasuk korupsi, walaupun peringatan larangan korupsi terpampang

jelas di kantor-kantor. Perlu kiranya dibuat standarisasi dan petunjuk teknis yang memberikan ketegasan kepada pegawai yang mudah dipahami dan ditindaklanjuti terkait dengan tindakan yang dikategorikan korupsi dalam lingkungan dinas. DJBC sebenarnya sudah memiliki modal dasar yang cukup bagus untuk menunjang berjalannya mekanisme kelembagaan. Warna semi militer yang terbentuk pada para pegawai DJBC seharusnya menanamkan kedisplinan, jiwa pengabdian pada bangsa dan negara, semangat patriotik, dan jiwa korsat/korps yang tinggi, hal ini pula yang menjadi karakter khas DJBC yang membedakan dengan instansi lain di departemen keuangan. Keberhasilan kepemimpinan sebuah organisasi ditentukan oleh sejauh mana para pengambil keputusan tersebut dapat memahami betul karakteristik organisasi untuk selanjutnya dapat mereduksi kelemahan-kelemahan serta menyatukan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki untuk bersama-sama mencapai

terbentuk selama ini memang pada intinya menghendaki adanya perubahan mendasar dari behavior seluruh aparat DJBC. Untuk itu perlu dilakukan reformasi sikap dan profesionalisme DJBC. Tuntuan tersebut menjadi masalah yang cukup serius dengan turunnya misi International Monetary Fund (IMF) untuk memberikan bantuan teknis dan mengidentifikasi permasalahan utama yang terjadi di DJBC serta merumuskan strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Hasilnya tanggal 11 Februari 2002 misi tersebut menyampaikan AideMemoire, Republic of Indonesia : Customs Administration At a Critical Juncture yang berisi 4 butir rekomendasi program reformasi DJBC, yaitu : 1. Program pemberantasan penyelundupan 2. Program peningkatan pemberian fasilitas perdagangan 3. Program peningkatan integritas pegawai 4. Program koordinasi dengan Stakeholders Diperlukan perubahan paradigma pegawai untuk mengedepankan asek pelayanan kepada para pengguna jasa. DJBC ini adapun berfungsi untuk melayani para pengguna jasa tersebut. Perlu penataan dan polesan teknis untuk bisa memberikan tampilan yang lebih ramah, nyaman, mudah di unit-unit pelayanan terdepan. Perlu dibangun komunikasi yang intensif dengan para pengguna jasa untuk menghindari kesalahpahaman dan cepat merespon keinginan mereka. Hal ini bukan berarti mengabaikan aspek pengawasan, karena standar peraturan kita jelas. Kita akan melayani dengan baik tentunya para pengguna jasa yang patuh dan memenuhi persyaratan sedangkan bagi mereka yang tidak memenuhi persyaratan diberikan proses komunikasi yang transparan sehingga mereka bisa memperbaiki dan bagi para pelanggar yang jelas-jelas melawan peraturan tentunya kita tindak dengan tegas. Pergantian pimpinan DJBC ini hendaklah bisa menjadi momentum yang tepat untuk memantapkan kembali gaung perubahan yang selama ini didengungkan. Mari kita bersama-sama membangun kembali jati diri dan reputasi DJBC. Komitmen dan itikad baik dari para pemimpin kita harus kita respon untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap DJBC. Dirjen kita yang baru sudah berupaya menampilkan citra dan sosok baru wajah kepemimpinan di DJBC, beliau mengatakan akan memulai dari dirinya sendiri dengan harapan mudah-mudahan arus itu terus berkembang sampai ke pegawaipegawai di bawah. Kita juga harus memulai dari diri kita, sedikit atau banyak kita juga berkontribusi atas keadaan DJBC sekarang ini. Wallahu a’lam

...SUDAHKAH ADA PERUBAHAN SIGNIFIKAN PADA DJBC ATAUKAH KITA MALAH BERJALAN DI TEMPAT?
tujuan yang telah ditetapkan, disinilah tantangan bapak dirjen yang baru.

AGENDA EKSTERNAL
Agenda Eksternal DJBC berorentasi pada fungsi DJBC sebagai public service. Arahnya sangat jelas yakni berusaha memberikan pelayanan terbaik dengan tujuan pada kepuasan para pengguna jasa. Ada beberapa keluhan stakeholder yang harus direspon secara postif oleh DJBC sebagaimana dirilis oleh hasil penelitian LP3M UI: 1. Ketidakjelasan besarnya biaya pengurusan kepabeanan yang disebabkan banyaknya cost, baik yang resmi maupun tidak resmi yang harus dikeluarkan 2. Ketidakpastian waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan prosedur kepabeanan 3. Kegagalan DJBC dalam memberantas penyeludupan dan mengatasi pelanggaran pabean lainnya di pelabuhan (misalnya praktek undervaluation) 4. Bocornya penerimaan negara Terlepas dari masalah apakah tuntutan tersebut lebih banyak dilatarbelakangi oleh vasted interest (kepentingan tertentu) sekelompok orang atau cerminan dari performance DJBC sesungguhnya, kita wajib memberi perhatian serius. Bagaimanapun juga opini masyarakat yang terlanjur

Penulis adalah Pelaksana pada Bidang Verifikasi dan Audit Kanwil III DJBC Palembang
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

67

RENUNGAN ROHANI

Pasca R
R
KONDISI KEHIDUPAN DI DUNIA

Menapaki Hari-hari
asulullah SAW menggambarkan kehidupan ini dengan mensitirkan pernyataan Lukman al-Hakim, seorang yang zuhud, alim dan namanya terpatri di dalam alQuran. Katanya, hidup di dunia itu bagaikan kita hidup di atas perahu yang sedang mengapung di atas gelombang besar dan diterjang angin kencang. Lautnya sangat dalam dan banyak orang yang menjadi korban. Dalam keadaan itu, dipesankan bahwa dalam bahtera yang penuh gelombang, perahu yang dipakai hendaknya perahu taqwa kepada Allah dan penumpangnya agar tetap beriman kepada Allah SWT. Berkaitan dengan ini, Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangkasangkanya.” (QS. al-Thalaq (65):2-3).

Agaknya tidaklah berlebihan jika dikatakan orang-orang yang beriman itu sungguh beruntung. Disamping term beriman itu merupakan predikat yang luhur dari Allah SWT, juga bagi orang-orang yang beriman mendapat jaminan dari Allah yaitu akan mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Hal ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya (Artinya) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman: (QS. al- Mukminun (23) :1) Mengapa orang yang beriman itu beruntung, dijawab oleh Allah dalam firman-Nya yang lain (artinya) “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. al-Bawarah (2):5). Yakni, sebab mereka mau menuruti dan diatur oleh Allah SWT. Dan firman Allah yang lain menyatakan (Artinya) “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. al-Baqarah(2):38).

PASCA RAMADHAN
Ramadhan telah kita lalui, selama Ramadhan itu kita telah dididik, dibina dan ditempa oleh Allah SWT yang tujuannya adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Selama bulan Ramadhan itu kita menikmati aroma yang mengasyikkan, tenang, indah, bahagia dan khusyu beribadah kepada Allah SWT. Maka, setelah Ramadhan berlalu, kita berhadapan dengan aroma yang pengak dan gersang. Rasulullah SAW berpesan kepada sahabatnya yang wara’, Abu Dzar alGhifari. Ada empat point penting untuk dibawa oleh manusia, terutama untuk menghadapi pasca Ramadhan. Pertama, kencangilah; kuasai dan teliti perahu kehidupan kamu dengan taqwa. Meskipun menjadi orang yang sangat senior dalam kezuhudan, Abu Dzarat al-Ghifari tetap diberi pesan untuk menjaga ketaqwaannya oleh Nabi SAW. Oleh karena itu, apalagi kita yang tidak sebanding dengan kezuhudan Abu Dzar al-Ghifari. Kedua, banyak-banyaklah mencari bekal untuk masa kemudian agar mendapatkan rida Allah SWT. Bekal itu adalah petunjuk Allah SWT.

Ketiga, sebagai orang yang sedang mengadakan perjalanan, jangan membawa barang-barang yang tidak berguna. Sebab, perjalananmu itu panjang dan berliku-liku. Untuk itu, hendaknya sisa umur itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna, jangan disia-siakan. Dalam kaitan ini, Allah SWT memberikan kesempatan yang sangat luas bagi umat Islam untuk segera bertaubat. Selagi ruh itu belum kembali kepada Allah, pintu taubat senantiasa terbuka lebar. Diantara ayat al-Quran yang membimbing agar bertaubat adalah QS.al-Baqarah (2):286 “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika lupa atau bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Keempat, hendaklah menanam segala aktivitas kita, baik aktivitas dalam konteks horizontal maupun vertikal dengan penuh keikhlasan. Sebab, Allah SWT senantiasa memantau segala aktivitas kita. Empat pesat tersebut, menurut pengakuan Abu Dzar al-Ghifari , sangat baik dan kebaikannya itu melebihi daripada kebaikan kehidupan dunia ini. Dan, empat pesan di atas jika diterapkan dalam kehidupan pasca Ramadhan agaknya sangat tepat.

DZUL HIJJAH
Sebagai bulan setelah Ramadhan, bulan Dzul Hijjah merupakan bulan yang memiliki kelebihan tersendiri, di antaranya adalah adanya kewajiban haji dan dianjurkannya untuk berkurban. Pertama, ibadah haji. Haji merupakan salah satu ketentuan agama yang telah disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Firman Allah SWT menyatakan “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang

68

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

Ramadhan
kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orangorang yang sengsara lagi fakir. (QS. al-Hajj (22):27-28). Ibadah haji sesungguhnya bukanlah rekayasa penguasa atau pemerintah Arab Saudi. Akan tetapi, itu merupakan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah SWT. Ibadah ini tidak diwajibkan semua umat Islam, tetapi hanya kepada orang-orang Islam yang memiliki kemampuan dan bekal untuk pergi berhaji. Allah SWT berfirman, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”. (QS. Ali Imran (3):97). Kedua, ibadah kurban. Ibadah kurban disebut oleh oleh Al-Quran dalam tiga kurun waktu : masa Nabi Adam, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Ibadah kurban masa Nabi Adam diceritakan oleh Firman Allah SWT yang menyatakan, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu !”. Berkata Habil :”Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. al-Maidah) (5):27). Pada masa Ibrahim, ibadah kurban juga pernah disyariatkan. Diceritakan bahwa dalam usia 96 tahun lebih, Nabi Ibrahim belum dikaruniai anak. Ketika itu Nabi Ibrahim berdoa “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh)” (QS. al-Shafat (37):100). Lalu ia dan isteri Ibrahim yang bernama Siti Hajar, lahirlah seorang anak yang diberi nama Ismail. Ketika Ismail menginjak usia remaja, Nabi Ibrahim bermimpi menyembelihnya. Mimpiitu terulang tida kali. Mimpi pertama terjadi ketika Ibrahim berangkat untuk menunaikan ibadah jai. Besok malamnya di Mina, Nabi Ibrahim bermimpi yang sama. Berangkat ke Arafah pada malah ke-9 Dzul Hijjah, Nabi Ibrahim mimpi menyembelih

PESAN RASULULLAH SAW, ADA EMPAT POINT PENTING UNTUK DIBAWA OLEH MANUSIA, TERUTAMA UNTUK MENGHADAPI PASCA RAMADHAN. PERTAMA, KENCANGILAH; KUASAI DAN TELITI PERAHU KEHIDUPAN KAMU DENGAN TAQWA. KEDUA, BANYAK-BANYAKLAH MENCARI BEKAL UNTUK MASA KEMUDIAN AGAR MENDAPATKAN RIDA ALLAH SWT....”
Ismail juga. Meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah, Ibrahim mimpi yang sama juga. Nabi Ibrahim belum tega menyampaikan mimpinya itu kepada Ismail. Ketika di Mina, Ibrahim memiliki keberanian untuk memberitahukan mimpinya itu. Dalam firman Allah SWT, dialog antara ayah dan anaknya itu diabadikan. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS, al-Shafat(37):102). Oleh karena keikhlasan kedua orang itu, kurban yang pada awalnya berbentuk manusia itu kemudian diganti oleh Allah SWT dengan seekor gibas. Hal ini diterangkan oleh al-Quran. Atkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggillah dia, “Hai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. alShafat (37): 103-107). Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ibadah kurban disyariatkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (QS. al-Kautsar (108):1-3). Dengan uraian di atas, ibadah kurban merupakan ibadah yang memiliki akar histories yang panjang. Oleh karena itu, hendaknya kita dapat melaksanakan ibadah ini. Sebab, ibadah kurban merupakan ibadah yang banyak imbalannya. Disebutkan setiap tetesan darah yang mengalir dari hewan kurban itu menjadi saksi di hadapan Allah bahwa seseorang telah melakukan kurban. Dan setiap bulu dari hewan itu dapat menghapus kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang yang berkurban. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua. Amin. Minal Aidzin Walfaidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1427 Hijriah.
KH. Masyuri Syahid, MA. Titian Dakwah
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

69

RUANG INTERAKSI
Oleh: Ratna Sugeng

PERLUKAH ?
D
alam tayangan televisi dan media cetak, nampak kemarahan kerap tak terbendung, diluapkan dengan akibat kematian anak atau orang, perlukaan, kecacatan, dan kerugian masa depan lainnya. Inikah kesan masa modern dimana isi hati boleh tertuang dalam bentuk bebas dan merugikan tanpa rasa sungkan ? Marah merupakan bagian hidup manusia, tidak berbeda dengan rasa senang, namun dampak keduanya seringkali amat berbeda. Apakah marah perlu ditampilkan atau dikendalikan ? Atau biarkan marah berbuah kekerasan ?

SUMPAH SERAPAH AMARAH

Mereka yang mudah marah dalam psikologi disebut ambang toleransi marahnya rendah, mudah frustasi, mudah merasa tak nyaman, atau mengomel. Mereka tak dapat berpikir positif, dengan sedikit koreksi untuk kesalahan kecil saja mereka merasa sangat tersinggung dan marah besar.
secara sadar dan nirsadar. Ada tiga pendekatan terhadap marah, yakni mengekspresikan, meredam, dan menenangkan. Mengekspresikan kemarahan dengan mengungkapkan perasaan asertif -bukan agresif - adalah cara yang paling baik. Untuk dapat melakukannya diperlukan proses pembelajaran diri. Mulailah dengan menegaskan pada diri apa sebenarnya yang diinginkan dan bagaimana meraihnya, tanpa melukai orang lain. Menjadi asertif bukan berarti menekan atau menuntut, tetapi menghargai diri sendiri dan orang lain. Kemarahan dapat disupresi, diredam, dan kemudian diputar arah tujuannya. Caranya dengan menangkap kemarahan anda, berhenti memikirkan kemarahan tersebut, dan fokus pada sesuMARAH, MENGAPA TERJADI ? atu yang positif. Tujuannya adalah menghambat atau meredam “Marah merupakan keadaan emosi dengan berbagai tahap kemarahan dan membalik arahkan ke intensitas mulai dari tersinggung ringan samperilaku lebih konstruktif. Keburukan dari pai marah besar dengan kekerasan,” kata cara ini adalah ketika anda membalikkan Charles Spielberger, PhD, seorang psikolog APA YANG MEarahnya, masuk ke diri sendiri tanpa digeser yang ahli dalam psikologi marah. Seperti NYEBABKAN ORANG ke pemikiran positif. Kemarahan yang emosi lainnya, ia juga menyertakan tanda fidiputarbalikkan ke diri sendiri akan membuat sik, seperti denyut jantung, nadi dan tekanan MUDAH MARAH? tekanan darah meningkat, atau asam darah yang meningkat, akibat peningkatan lambung meninggi, atau depresi. hormon adrenalin dan noradrenalin. BEBERAPA HAL Kemarahan yang tidak diekspresikan Kemarahan dapat dibangkitkan oleh SEPERTI GENETIK, akan membuat masalah, seperti perilaku suasana diluar diri atau dari dalam diri. pasif-agresif (ngambek dan berpura-pura Boleh jadi kita marah pada seseorang FISIOLOGIK, SANGAT tak marah tetapi tak mau melakukan apa tertentu, seperti isteri/suami, teman kerja, yang seharusnya dilakukan), disini dapat atau oleh situasi seperti kemacetan lalu MEMPENGARUHI. juga dicerminkan dengan tindakan yang lintas, tertundanya penerbangan, atau senantiasa bermusuhan atau sinis. marah yang disebabkan kecemasan atau Orang-orang yang kerapkali dan hampir selalu merendahkan masalah pribadi. Teringat akan kejadian traumatik dan kejadiorang lain, mengkritik segala sesuatu, dan berkomentar sinis an yang membangkitkan emosi kemarahan dimasa lalu akan adalah mereka yang belum belajar mengekspresikan dapat memicu perasaan marah sekarang. kemarahan secara konstruktif. Tipe kepribadian seperti ini biasanya tidak disukai lingkungan, dan sulit mencapai MENGEKSPRESIKAN KEMARAHAN keberhasilan dalam berelasi. Ketika orang marah, wajah sebenarnya telah menampilAnda dapat menenangkan diri, artinya mengendalikan kannya, meski kadangkala diingkari. Marah dilampiaskan seamarah keluar, dengan mengontrol respon internal, seperti cara agresif. Marah adalah respon dari sebuah kondisi atau menarik nafas dalam menurunkan debar jantung yang situasi yang dianggap mencemaskan, tenaga menjadi meninggi akibat marah, dan merelakan perasaan meredup demikian besar, garang, seringkali agresif , perasaan dan dari kemarahan. Dr. Spielberger mengatakan, “Jika tiga teknik perilaku menggambarkan seorang yang sangat bertenaga mengekspresikan marah dapat dilakukan, maka akan ada dan menakutkan, seperti menyerang musuh agar diri orang yang terluka, termasuk diri sendiri.” terlindungi dari bahaya, semacam menyelamatkan diri dari kehancuran. Kehidupan bermasyarakat kita, membuat kemarahan tidak MENGELOLA AMARAH bisa diledakkan pada setiap orang dan obyek, terutama secara Tujuan mengelola amarah adalah menurunkan perasaan fisik. Pada sekelompok masyarakat, marah tak boleh ditampilkan, emosional dan bangkitan fisiologik yang ditimbulkan olehnya. terutama pada orang yang berarti dalam hidup. Pada budaya Anda dapat menghindar, atau lari dari orang atau obyek tertentu, sampai suatu batas, marah boleh diekspresikan . pembangkit amarah, namun kita tak dapat mengubahnya, Kebanyakan orang dapat mengendali kan kemarahan, baik dan kita dapat mengendalikan reaksi emosi kita.
WARTA BEA CUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

70

APAKAH ANDA TERLALU MARAH?
Ada beberapa tes psikologi yang mengukur intensitas perasaan marah, seberapa mudah anda menjadi marah, dan seberapa kuat anda mengelolanya. Sekarang anda dapat mencoba mengenali diri bahwa amarah sudah menyentuh perasaan anda. Jika sudah kenal tanda-tanda bahwa diri anda marah, cobalah berpikir positif tentang sebab marah anda marah dan apa sebenarnya yang anda mau dari marah ini. Bila amarah diluar kendali anda dan anda juga takut menghadapinya, carilah bantuan untuk mengelola emosi ini.

Lakukanlah teknik ini setiap saat anda punya waktu. Jika telah terampil, dapat dilakukan setiap anda menghadapi ketegangan.

MENYUSUN KEMBALI KOGNITIF
Kata ringkasnya adalah mengubah cara berpikir. Orang yang marah cenderung berkata berapi-api semua isi pikirannya. Jika marah, maka orang akan mengucapkan katakata dramatik seperti : ”Gila, Mati, Kiamat”. Cobalah mengubah kata-kata tersebut lebih rasional, misalnya : “bikin frustrasi, kecewa“. Dengan kata frustasi atau kecewa orang dapat memahami kemarahan anda. Dan marah bukanlah kiamat dan bukan pula menyelesaikan masalah. Berhati-hatilah dalam mengucapkan “selalu, tak pernah“ bila membicarakan perilaku seseorang. Misalnya : ”Kamu selalu saja membuat saya sakit hati“, “Ini orang tak pernah bikin senang orang” atau “Dasar kamu selalu lupa“. Dengan kata-kata ini kita berasumsi tak akan pernah ada suatu perbaikan, tak ada solusi. Ingatkan diri sendiri bahwa marah bukanlah untuk memastikan segala sesuatu, sehingga tak dapat lagi diperbaiki, dan tentu saja keadaan akan makin buruk. Kemarahan seringkali mengacaukan pikiran rasional. Dapatkah kita membuat otak kita berpikir dingin dan logik, sehingga tak perlu dididihkan oleh amarah ? Dunia tidak akan seburuk yang anda bayangkan, atau marah akan membuat penyelesaian menjadi lebih baik. Ketika menjumpai seseorang marah, refleksikan perasaannya dan pahami bahwa ia marah. Kebanyakan orang yang marah menuntut perhatian, dipahami, dikenali, dan jika ini didapatkan, kemarahannya akan menurun. Lakukan penyusun kognitif kembali dengan

MENGAPA SESEORANG MUDAH MARAH SEMENTARA LAINNYA TIDAK?
Menurut Jerry Deffenbacher, PhD, seorang ahli manajemen marah, beberapa orang gampang naik darah daripada lainnya; mereka mudah tersinggung dan marahnya berat dari orang ratarata. Juga ada orang yang tak menunjukkan kemarahannya secara spektakuler akan tetapi mudah tersinggung kronis dan galak. Mudahnya mereka menjadi marah bukan berarti mereka secara nyata menunjukkan kemarahan di depan umum dan bertindak kasar, kadang mereka menarik diri dari pergaulan, merajuk atau secara fisik sakit. Mereka yang mudah marah dalam psikologi disebut ambang toleransi marahnya rendah, mudah frustasi, mudah merasa tak nyaman, atau mengomel. Mereka tak dapat berpikir positif, dengan sedikit koreksi untuk kesalahan kecil saja mereka merasa sangat tersinggung dan marah besar. Apa yang menyebabkan orang mudah marah? Beberapa hal seperti genetik, fisiologik, sangat mempengaruhi. Beberapa anak dilahirkan mudah marah, tersinggung, merajuk, dan ini sudah dapat dilihat sejak umur muda sekali. Lainnya mungkin sosial budaya. Marah merupakan hal yang oleh banyak budaya dianggap negatif, karena itu kita seringkali tak dibekali keterampilan mengelola amarah. Riset membuktikan bahwa peran keluarga cukup besar. Dalam keluarga yang kacau dan mudah marah maka cara ini telah terpolakan pada anak-anak.

BIARKAN WAKTU YANG MEMBERESKAN?
Mitos ini menyesatkan, beberapa orang menggunakan cara ini untuk menyakiti orang lain. Riset psikolologi membuktikan bahwa membiarkan kemarahan tertelan waktu, sebenarnya makin menggunungkan kemarahan. Kemarahan demi kemarahan ditimbun sampai pada suatu saat ledakan agresif meledak tanpa dapat dikendalikan. Keadaan menjadi semakin buruk. Cobalah untuk menelusuri apa pemicu kemarahan, kemudian susun strategi agar penyebab marah tidak menggiring anda kepada suatu ledakan.

STRATEGI MEMBUAT KEMARAHAN TETAP DALAM KENDALI
Relaksasi Relaksasi sederhana seperti menarik nafas panjang dan membuat bayangan dalam kepala bahwa kita sedang berada di ruang/situasi menyenangkan dan santai. Relaksasi demikian akan menurunkan ketegangan perasaan marah. Jika anda dan pasangan keduanya orang yang mudah ‘mendidih’, maka keduanya akan menolong jika belajar relaksasi. Langkah mudah relaksasi : l Tarik nafas panjang dari dada, keluarkan nafas dari perut. Mengeluarkan nafas dari dada tak akan membuat anda rileks l Ulangi perlahan kata-kata menenangkan : rileks.. rileks .. ketika anda sedang bernafas dalam. l Berkhayalah seolah anda berada di tempat tenang, danau yang sejuk, gunung yang biru, air terjun yang mengalir mendinginkan diri. l Jika anda pandai yoga, lakukanlah

mempelajari keinginan dibalik kemarahan, lalu tuntun diri bahwa sekarang sedang kecewa, dan kita dapat mengatakan : ”saya menginginkan ..... dan sekarang tak saya dapatkan, saya kecewa ....”. Dengan demikian kemarahan telah digantikan cerminan keinginan akan sesuatu yang belum terpenuhi. Pernyataan kecewa telah mengubah kognitif kita, karena kita telah mencoba tahu apa yang kita kehendaki dan apa yang tidak kita dapatkan, dan berpikir ulang menyusun strategi ke depan.
EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

71

RUANG KESEHATAN

KRAM DAN TERKILIR

SAAT OLAHRAGA
etiap kali saya berolahraga saya sering khawatir kalaukalau saya mengalami terkilir atau kram. Padahal saya sangat menyenangi olah raga seperti fitness, marathon dan sepeda. Untuk menghindari kram dan terkilir tadi, pemanasan apa saja yang harus dilakukan dokter ? ANDRI - Batam JAWAB : Terkilir dan kram adalah dua gangguan yang berbeda tapi sama-sama sering timbul pada saat melakukan kegiatan fisik atau olahraga (cedera olahraga). Terkilir ada dua jenis, yaitu terkilir otot dan terkilir ligamen. Terkilir otot terjadi pada saat mengerut secara kuat dengan tiba-tiba seperti pada saat terpeleset, salah angkat, sehingga menimbulkan rasa sakit dan kaku bila digerakkan. Sedangkan terkilir ligamen yang sering disebut orang keseleo, timbul karena sendi kita bergerak melebihi kisaran geraknya yang normal biasanya disebabkan oleh karena gerakan pemutaran. Sering terjadi pada pergelangan kaki, lulut, atau lengkungan telapak kaki. Terkilir menyebabkan terjadinya pembengkakan dengan cepat. Umumnya, semakin hebat rasa sakitnya, semakin berat cederanya. Kram dapat terjadi pada semua otot terutama pada otot kaki. Timbul pada saat olahraga akibat penumpukan sisa pembakaran kimia di otot. Penyebab lain kram adalah kehilangan air dan garam dari tubuh secara berlebihan, misalnya karena berkeringat terlalu banyak.Gejala pada otot yang kram terasa sakit dan terasa lebih keras dan kaku. Dapat berlangsung dalam beberapa menit. Ada banyak cedera yang dapat dicegah dengan pemanasan sebelum olahraga. Pemanasan yang baik akan meningkatkan fleksibilitas dan menurunkan kekakuan di otot dan persendian. Contoh pada olah raga lari, mulailah secara perlahan dan ditingkatkan secara bertahap untuk menghindari penekanan terlalu banyak dan mendadak pada tubuh. Gunakan pakaian, sepatu olah raga dan peralatan lain sesuai dengan rekomendasi untuk olahraga tersebut. Pilih olah raga secara seksama misalnya jangan melakukan jogging bila menderita sakit punggung kronis atau nyeri di lutut Lakukan pemanasan, kendurkan, regangkan dan secara perlahan tambahkan kegiatan 5-10 menit Setelah olah raga lakukan pendinginan dengan meregangkan otot Bila melakukan jenis olah raga baru, lakukan secara bertahap. Tingkatkan intensitas dalam beberapa minggu Hati-hati menggunakan obat penghilang rasa sakit, karena kita cenderung lebih mudah melakukan gerakan berlebihan dan merusak jaringan tanpa menyadarinya atau kehilangan kesadaran meskipun sebentar. Bila sudah cedera, lakukan kegiatan olahraga secara bertahap atau ganti jenis olah raga lain sampai cedera itu sembuh.
WARTA BEA CUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

S

Pemanasan biasanya melibatkan latihan yang sifatnya aerobik yang kemudian diikuti peregangan. Aerobik meningkatkan aliran darah melalui jaringan tubuh. Hal ini akan meningkatkan aliran darah melalui jaringan tubuh. Hal ini akan meningkatkan temperatur tubuh dan membuat jaringan tubuh/ otot lebih flesibel (lakukan selama 8-10 menit), setelah puncak olah raga turunkan intensitas olah raga supaya tubuh masih dalam keadaan panas, sementara dilakukan regangan pada otot. Ulangi peregangan pada kedua sisi tubuh dan pertahankan regangan kurang lebih 10 detik. Ini yang disebut pendinginan.

CONTOH-CONTOH PEMANASAN DAN PENDINGINAN
Latihan aerobik seperti jogging dan sepeda statis adalah latihan yang cukup baik dimana dapat meningkatkan denyut jantung secara bertahap. l Peregangan bagian tubuh atas yaitu bagian dada dan leher. Latihan ini dapat mengurangi ketegangan di bagian atas punggung. Contoh peregangan dada dengan tangan digenggam di belakang tubuh. Dalam keadaan posisi pundak tetap, tangan perlahan dibawa menjauhi sumbu tubuh. Peregangan leher salah satu dengan membiarkan kepala jauh ke arah sisi kiri, kanan, depan dan belakang atau memutarkan kepala 360 derajat ke arah kiri kana bergantian. l Peregangan otot lengan dan pundak, terutama dilakukan pada olah raga yang menggunakan raket atau tangan. Salah satunya dengan cara menyilang lengan kanan kiri dan ke dua telapak tangan berhadapan. Angkat lengan tersebut ke atas kepala terus ke belakang telinga dan regangkan ke atas. l Peregangan otot kaki. Banyak cedera olah raga yang terjadi di daerah kaki, karena itu peregangan otot kaki sangat penting. Contoh peregangan otot kaki bagian bawah, salah satu kaki berada di posisi depan dan kedua tangan menempel di permukaan dinding, kemudian berat badan dijatuhkan ke kaki depan, tumit kaki belakang menekan ke bawah. Peregangan otot dalam paha dengan regangkan kedua kaki lebar. Berat badan ditumpukan ke salah satu kaki dengan menekukkan punggung dalam keadaan tegak. Lakukan peregangan juga pada otot panggul dan otot paha belakang. l Peregangan otot punggung dan otot samping tubuh. Bila peregangan ini dilakukan akan membantu mencegah sakit pinggang. Contoh peregangan otot punggung bawah dengan berlutut, kepala di depan lutut lengan disamping kepala,kemudian regangkan lengan menjauh dari tubuh. Peregangan sisi tubuh dengan membuka kedua kaki selebar pundak. Berdiri tegak, kemudian salah satu lengan diayunkan ke atas kepala, berat badang ditumpu ke panggul sisi lainnya. Rasakan regangan disisi tersebut.
l

MENCEGAH CEDERA OLAH RAGA :
l

l l l

l

l

Masih banyak contoh-contoh pemanasan dan pendinginan yang dapat dilakukan. Yang penting lakukan pemanasan dan pendinginan secara benar sebelum dan sesudah olah raga. Mudahmudahan dapat meminimalkan terjadinya cidera olah raga.

72

SELAK
DOK. PRIBADI

AKMAL MELAKA. Seluruh peserta, pejabat dan pegawai AKMAL berpose bersama di dalam area AKMAL Melaka.

BERKUNJUNG KE

AKADEMI KASTAM DIRAJA MALAYSIA
Selama di Kuala Lumpur diisi dengan kegiatan kunjungan ke Akademi Tax Malaysia, kantor yang mengolah Anggaran dan Kantor Pusat Kastam Diraja Malaysia.
Soekarno-Hatta dengan menggunakan bis Damri yang berangkat dari terminal Rawamangun menuju bandara. Jadwal flight saya pukul 15.45 WIB dengan menggunakan maskapai nasional negeri jiran yaitu MAS. Tepat pukul 15.30 WIB, saya boarding dan duduk pada kursi nomor 21d, di sebelah saya seorang bapak dan anaknya yang berwajah India yang setelah berkenalan ternyata orang Malaysia. Jakarta ke Kuala Lumpur menempuh waktu kurang lebih dua jam, selama di perjalanan saya habiskan waktu membaca koran tempatan (Malaysia) dan ngobrol dengan orang Malaysia yang duduk di sebelah saya, dia banyak bertanya tentang Indonesia terutama Jakarta karena dia berkeinginan untuk pindah kerja di Jakarta. Dari masalah tempat tinggal, sekolah dan harga kebutuhan sehari-hari, dia menyimpulkan bahwa di Jakarta sangat murah dibandingkan dengan Kuala Lumpur.

I

ni adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri dalam rangka tugas belajar yang diselenggarakan oleh Akademi Kastam Diraja Malaysia (AKMAL), namun sewaktu saya masih tinggal di Tarakan Kalimantan Timur, setiap liburan saya pasti pergi ke Tawau - Sabah, karena kota saya dan salah satu kota di Malaysia tersebut sangat dekat yang hanya memakan waktu sekitar 4 jam dengan menggunakan speed boat. Perjalanan ini adalah untuk memenuhi undangan dalam mengikuti The Malaysian Technical Coorperation Programme (MTCP) di Akademi Kastam Diraja Malaysia dengan tema Commercial Fraud Course yang di selenggarakan 27 Maret sampai 8 April 2006.

KUALA LUMPUR INTERNATIONAL AIRPORT SEPANG
“Beberapa saat lagi kita akan tiba di Kuala Lumpur Internatioanal Airport (KLIA) Sepang dan silakan untuk menggunakan sabuk pengaman, lipat meja di depan dan luruskan sandaran kursi, waktu sekarang menunjukkan 6.40 waktu Kuala Lumpur lebih cepat 1 jam dari waktu di Jakarta,” itulah katakata yang disampaikan oleh kru. Segera saya pasang sabuk pengaman dan berdoa dalam hati agar pendaratan ini berjalan lancar. Beberapa saat kemudian pesawat mendarat dengan lancar dan hati saya merasa lega dan bahagia. Begitu pesawat berhenti segera saya ambil ransel saya dan keluar dari pesawat melalui belalai gajah. Di luar pintu belalai gajah saya melihat seseorang dengan membawa secarik kertas bertuliskan nama dan asal saya. Saya hampiri orang tersebut dan memperkenalkan diri saya begitu pula sebaliknya.
WARTA BEA CUKAI

KEBERANGKATAN
Waktu menunjukkan pukul 13.05 WIB, saya berpamitan dengan keluarga saya untuk berangkat menuju bandara

EDISI 383 OKTOBER 2006

73

SELAK
DOK. PRIBADI

FOTO BERSAMA. Di kantor pusat Kastam Diraja Malaysia Kuala Lumpur, penulis paling kanan.

Dia bernama Zul, Zul adalah pegawai dari agen travel yang ditunjuk langsung oleh AKMAL untuk mengantar jemput saya. Dia berkata pada saya agar menuju counter imigrasi dan mengambil barang bawaan dan tunggu di counter kastam (bea cukai Malaysia) karena dia harus menjemput peserta dari Myanmar dulu. Saya pun menuju ke counter imigrasi, antrian cukup panjang tapi hanya beberapa menit saja sudah selesai urusan imigrasi saya, kemudian saya menuju tempat pengambilan bagasi, saya melihat sekeliling bandara dan saya merasa takjub karena bandara Sepang sangat bagus jauh dibandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta. Setelah mengambil bagasi, saya menuju counter Kastam dekat pintu keluar. Sesampainya di counter kastam saya bertemu dengan petugas dan memberitahukan bahwa saya dari Customs Indonesia, dan dia langsung bereaksi senang dan berkata, “Bea Cukai ya, sila masuk bapak, tunggu di dalam saja”. Saya pun mengucapkan terima kasih dan saya bilang, “Saya duduk di luar saja cik”. Di pikiran saya saat itu, saya ingin menelpon keluarga saya dan segera saya menuju ke telepon umum karena handphone tidak ada sinyal. Di telepon umum tersebut dapat menggunakan kartu kredit tapi setelah dicoba berkali-kali selalu gagal, saya berpikir untuk menelepon dari Malaka saja. Menunggu hampir 30 menit, Zul dan peserta dari Myanmar menghampiri saya dan kami bersama-sama menuju ke pintu keluar. Dengan menggunakan mobil sedan nasional Malaysia yaitu Proton yang saya lihat agak mewah juga.

AKADEMI KASTAM DIRAJA MALAYSIA MELAKA
Sekitar pukul 21.45 waktu Melaka atau 74
WARTA BEA CUKAI

pukul 20.45 WIB, kami tiba di Melaka. Perjalanan dari bandara Sepang ke Melaka memakan waktu kurang lebih dua jam, namun perjalanan tersebut tidak melelahkan bagi saya karena jalanan yang sangat bagus. Setibanya di Melaka atau tepatnya seperti Asrama di AKMAL, saya disambut oleh petugas atau pegawai AKMAL yang memberikan perlengkapan alat tulis dan yang lainnya serta kunci kamar. Di depan ruangan kantor ada beberapa peserta yang telah dahulu datang dan menghampiri saya. Kami berkenalan, ada yang dari Sudan, Malaysia, Brunei, Timor Leste dan Kamboja. Lalu saya menuju ke kamar untuk menaruh barang-barang bawaan saya dan melihat betapa menyenangkan tinggal di kamar tersebut karena kamar tersebut seperti hotel bintang 4 dimana sudah tersedia AC, TV satelit dan air panas untuk mandi. Kemudian saya kembali ke lobby asrama (dekat dengan ruang komputer dimana kita bisa akses internet selama 24 jam dengan gratis) untuk menemui rekan tadi. Saya berbincang-bincang dengan peserta dari Malaysia yang bernama cik Rameli pegawai Kastam Kuala Lumpur. Tidak berapa lama kemudian cik Rameli mengajak saya keluar asrama untuk pergi mencari minum. Sekembalinya dari mencari minum kami masih ngobrol sampai sekitar pukul 23.50 waktu setempat. Malam itu saya susah tidur karena terlalu banyak pikiran terutama memikirkan keluarga. Sekitar pukul 5.55 terdengar azan subuh, saya pun shalat dan setelah shalat saya keluar kamar bermaksud berolahraga dengan berlari dan berjalan. Suasana di sekitar asrama pada pukul 6.15 masih gelap sekali, hal ini berbeda dengan di Jakarta karena pada jam tersebut suasana sudah mulai cerah.

MINGGU PERTAMA DENGAN 25 NEGARA
Waktu menunjukkan pukul 7.50, saya turun menuju ke ruang makan untuk sarapan dengan berpakaian jas. Sesampainya di ruang makan sudah banyak peserta yang sedang sarapan dan sambil mengucapkan kata “Good Morning” semua peserta yang ada di ruangan tersebut membalasnya dengan “Good Morning”. Pukul 8.30 kami semua memasuki ruang kelas yang dekat dengan ruang makan. Pada hari pertama di ruang kelas kami memperkenakan diri masing-masing, seluruhnya ada 30 peserta dari 25 negara seperti negara Asean, Asia, Kepulauan Karibia, Afrika, Amerika Llatin dan Oseania. Setelah “coffe break” kami berganti pakaian sport untuk dinamik program yaitu seperti outbound. Tujuannya adalah untuk mengakrabkan sesama peserta agar lebih mengenal lebih dekat lagi. Hari berikutnya diisi dengan presentasi country report dari masing-masing peserta. Di AKMAL juga tersedia bagi yang suka menyanyi yaitu ruangan khusus untuk karaoke yang cukup lumayan bagus, ketika malam tiba dan waktu ada kami pergi ke ruangan tersebut untuk bernyanyi bersama dan sudah pasti peserta dari Indonesia wajib menyanyi dan berjoget dangdut. Setiap ada kesempatan waktu, di sore hari diisi dengan acara jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat bersejarah (Melaka Kota Sejarah) dan sudah pasti mall-mall yang ada di Melaka baik secara rombongan atau perorangan. Kadang juga diselingi dengan bermain sepakbola. Yang paling berkesan sewaktu kami mengunjungi tempat yang bernama China Town di mana disana disajikan atraksi khas dari china dan pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangannya khas Malaysia. Disana juga ada panggung

EDISI 383 OKTOBER 2006

terbuka dimana kita dapat menyumbangkan lagu dengan menyanyi secara karaoke. Saya berbincang-bincang dengan panitia panggung dan dia menawarkan saya untuk menyanyi di panggung dengan syarat harus membayar 2 ringgit (sekitar 5000 rupiah). Saya memberanikan diri untuk menyanyi, dan saya menanyakan lagu Indonesia apa yang tersedia, mereka menyodorkan 1 VCD lagu keroncong yang salah satu lagunya saya tahu yaitu “Bengawan Solo”. Dengan hati deg-degan karena ini adalah pertama kalinya saya tampil di atas panggung untuk menyanyi. Kenapa saya nekat untuk berani tampil menyanyi di panggung tersebut karena saya pikir “Toh tidak ada yang mengenal saya dan saya ingin menampilkan kepada teman-teman saya bahwa inilah Indonesia dan inilah lagu Indonesia”. Begitu saya mulai bernyanyi, penonton dan terutama teman-teman peserta lainya memberikan tepuk tangan yang begitu meriah. Setelah selesai bernyanyi kembali tepuk tangan saya terima dan turun ke panggung, seluruh teman-teman saya memberikan ucapan selamat. Saya sempat bingung, apa karena lagu dan suaranya bagus atau karena lucunya saya menyanyi. Namun kata panitia baru kali ini ada peserta yang mau menyanyi di atas panggung tersebut. Setelah saya amati rata-rata penonton panggung tersebut orang-orang yang sudah tua yang kebanyakan berwajah cina. Teman peserta dari Malaysia nyeletuk mereka itu “Cina Senyap”, maksudnya adalah orang cina kaya yang pura-pura miskin.

ini cukup melelahkan tapi menyenangkan karena kita berada di suasana yang sangat baru dan di negara orang lain. Sepanjang perjalanan kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat sejenak di tempat peristirahatan yang tersedia tempat makan. Kebanyakan pegawai tempat makan tersebut berasal dari Indonesia karena kebetulan saya memakai kaos yang bertuliskan Indonesia. Sekitar pukul 4.30 kami harus melewati jembatan sepanjang 5 km yang akan mengantarkan kita ke Pulau Penang. Dari jembatan tersebut kita dapat melihat kota Pulau Penang yang begitu indah dan cantik. Tepat jam 5 sore hari kami tiba di sebuah hotel di dekat pantai, hotel tersebut sangat bagus dimana di belakangnya pantai yang cantik dan indah. Kegiatan selama di Pulau Penang adalah mengunjungi Kastam Pulau Penang dan selebihnya diisi dengan melihatlihat keindahan Pulau Penang seperti ke Bukit Bendera dimana untuk menuju ke puncak bukit tersebut kita hanya dapat menggunakan kereta listrik yang menggunakan rel dengan membayar 4 ringgit (10 ribu rupiah). Dari atas bukit tersebut kita dapat menyaksikan kota Pulau Penang yang begitu indah dan cantik. Di bukit tersebut juga ada penduduknya.

tengah kota dan stasiun yang disinggahi hanya dari mall ke mall. Saya sempat pergi ke suatu tempat yang di sebut “Little India” karena disana adalah pertokoan yang rata-rata pemilik dan pegawainya orang yang berwajah India. Selama di Kuala Lumpur diisi dengan kegiatan kunjungan ke Akademi Tax Malaysia, kantor yang mengolah Anggaran dan Kantor Pusat Kastam Diraja Malaysia. Sewaktu kami berkunjung ke Akademi Tax Malaysia, saya melihat betapa majunya negeri jiran kita ini dalam hal membangun prasarana pendidikan. Dan sewaktu berkunjung ke Kantor Anggaran dan Kantor Pusat Kastam Diraja Malaysia yang kebetulan satu lokasi yaitu Putra Jaya. Putra Jaya adalah suatu kota mandiri dimana disana berdiri gedung-gedung megah untuk perkantoran pejabat pemerintahan Malaysia. Dari salah seorang rekan peserta dari Malaysia, gedung tersebut disewa (leasing) oleh Kerajaan Malaysia kepada donator yang membangun kota tersebut yaitu Petronas. Selebihnya kami juga mengunjungi Menara Kembar Petronas dan Kuala Lumpur Tower.

BACK TO MELAKA DAN JAKARTA
Dua hari di Kuala Lumpur cukup menyenangkan dan tepat di sore Kamis kami kembali ke Melaka. Di hari Jum’at kami melakukan kegiatan di kelas berupa presentasi kelompok mengenai ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti kursus ini. Dan malam harinya, bertempat di sebuah hotel di Melaka diadakan acara penutupan. Acara penutupan tersebut dihadiri seluruh pejabat tinggi dan pegawai AKMAL. Di acara tersebut kita bersuka cita dan bersedih karena harus berpisah dan lagilagi saya didaulat untuk menyanyi dan berjoget dangdut yang diikuti seluruh peserta. Keesokan harinya saya menuju bandara Sepang untuk kembali ke Jakarta. Malaysia pengalaman yang tak terlupakan. Ade, SE. Kasi Verifikasi Ekspor Dit. Vera
DOK. PRIBADI

KUALA LUMPUR
Setelah dua hari di Pulau Penang, tepat selasa pagi kami menuju Kuala Lumpur. Perjalanan ditempuh sekitar 6 jam. Pada pukul 15.15 kami memasuki kota Kuala Lumpur, saya tertegun dalam hati, begitu cantik, rapi, teratur dan megah kota Kuala Lumpur. Dari dalam bis kita juga dapat melihat di kejauhan Menara Kembar yang menjadi kebanggaan Malaysia. Tepat pukul 16.00 kami tiba di hotel yang tepat di tengah kota Kuala Lumpur. Setelah mandi saya diajak cik Rameli dan cik Ibnul dari Brunei untuk berkeliling kota dengan menggunakan kereta listrik dan monorel, sekali lagi saya tertegun. Monorel tersebut hanya melewati di
DOK. PRIBADI

PULAU PENANG
Di Minggu pagi kami menuju Pulau Penang salah satu kota besar di Malaysia setelah Kuala Lumpur. Perjalanan dari Melaka ke Pulau Penang menempuh waktu sekitar delapan jam dengan menggunakan bis yang dimiliki AKMAL. Perjalanan

GEREJA TUA. Penulis ketika sedang berpose di sebuah gereja tua di kota Melaka yang dikenal dengan kota sejarah.

PETRONAS. Dari atas Kuala Lumpur Tower kita dapat melihat seluruh kota Kuala Lumpur, tampak dibelakang menara kembar Petronas yang menjadi kebanggaan rakyat Malaysia. EDISI 383 OKTOBER 2006 WARTA BEA CUKAI

75

PROFIL

Ahmad MS
NAKHODA KAPAL PATROLI KANWIL II DJBC TBK

Berkah yang Telah Diberikan Tuhan
Nama baik dan kepercayaan yang diberikan pada diri seseorang haruslah utuh dijaga.

Mensyukuri Semua Kesempatan dan

“S

ama halnya dengan kita kalau berlayar pakai perahu, pakai kapal, atau pakai apa sajalah, itu adalah sarana. Kapal, perahu, atau yang lain-lainnya sebagai sarana itu haruslah dipelihara dengan baik. Kalau perahu atau kapal itu sudah bocor, harus didempul; kalau catnya sudah luntur, supaya kayunya bisa tahan lama, harus dicat kembali dan mesin-mesinnya harus dirawat kembali, dengan demikian kapal ini bisa berlayar mengarungi lautan yang luas sekali untuk mencapai tujuan daratan yang akan kita tuju,” demikian bait ungkapan dari salah seorang nakhoda kapal patroli yang dimiliki Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) saat ini, khususnya di Kanwil II DJBC Tanjung Balai Karimun (TBK). Ahmad MS, demikian nama yang melantunkan bait tersebut. Pria kelahiran Tanjung Balai Karimun pada 22 Mei 1957 ini, biasa disapa oleh rekan-rekannya dengan panggilan Abbas. Panggilan itu lebih familiar di telinga rekan-rekannya ketimbang nama aslinya. Usut punya usut, ternyata nama panggilan itu memiliki sejarah. Alkisah dari cerita orang tuanya, Akhmad adalah nama pemberian kedua orang tuanya sejak dilahirkan. Namun karena Akhmad kecil saat itu sering menderita sakit, maka digantilah nama Akhmad menjadi Abbas. Boleh percaya atau tidak, ternyata setelah namanya diganti dengan Abbas, ia pun jarang menderita sakit. Hingga kini pun orang lebih sering memanggilnya dengan sebutan Abbas. “Sayapun sempat bingung, ketika masih kecil saya tanyakan pada mamak, mengapa bisa memiliki dua nama… oh ternyata saat menyandang nama panggilan Ahmad saya sering sakit. Bahkan setiap ada pejabat yang baru datang memanggil saya dengan sebutan Ahmad dari buku absen, selang setelah beberapa lama mulai tahu panggilan saya Abbas dan dijelaskan kisahnya, tak sampai seharipun mereka panggil saya Abbas,” demikian ungkap Abbas dengan logat melayunya. Begitu juga dengan menuliskan nama Ahmad MS pada daftar nama pegawai. Dikarenakan di kantornya tempat bekerja lebih dari 10 orang bernama Ahmad,
WARTA BEA CUKAI

akhirnya ia menambahkan nama MS yang merupakan nama orang tuanya yaitu Maksum untuk membedakan dengan Ahmad yang lainnya. Jadi nama yang tertera dalam daftar nama pegawai adalah Ahmad Maksum. Abbas merupakan anak ketiga dari enam bersaudara, pasangan alm Maksum dan almarhumah Fatimah. Ayahnya juga seorang pegawai bea cukai di TBK era tahun 1950-an. Unik memang kisahnya hingga menjadi pegawai bea cukai. Mungkin karena ayahnya berada di lingkungan bea cukai maka ia pun tertarik mengikuti jejak ayahnya untuk berkecimpung di lingkungan bea cukai. Hanya berbekal ijasah Sekolah Dasar (SD), Abbas melamar ke Bea dan Cukai. Ia tamat SD tahun 1971. Almarhum ayahnya sebenarnya sangat meninginkan supaya Abbas mau melanjutkan sekolah, namun dengan alasan dirinya malu di sekolah karena hanya dapat menulis dengan tangan kiri (kidal), Abbas pun enggan melanjutkan sekolahnya setamat SD. Ia meminta pada ayahnya untuk mengijinkan dirinya bekerja dan tidak lagi melanjutkan sekolah. Tahun 1972 mulailah Abbas mengenal lingkungan bea cukai dengan bekerja di bagian bengkel mobil milik Bea Cukai TBK. Kemudian pada tahun 1979 ada penerimaan pegawai bea cukai di TBK dengan persyaratan ijasah SD untuk ditempatkan dibagian kapal. Kesempatan yang ia idam-idamkan itupun tidak ia siakan-siakan. Abbas akhirnya mendaftarkan diri dan menjalani test dan hasilnya ia dinyatakann lulus. Akhirnya Abbas mengawali pengabdiannya menjadi pegawai bea cukai pada tahun 1979. Awal penempatannya tahun 1980 ia ditempatkan di bengkel, bagian perbaikan dinamo. Kira-kira satu tahun, baru kemudian ia ditempatkan di kapal sebagai juru masak. “Pengalaman saya mengenal laut, dimulai dengan menjadi tukang masak, waktu itu ditugaskan berlayar ke Jakarta, naik kapal patroli BC 2002, tujuan TBK-Tanjung Priok selama satu bulan. Tahun 1983 saya pindah kapal ke BC 5001 tugas ke Belawan selama satu bulan, kembali lagi ke TBK.” Tahun 1990, Abbas diperintahkan

untuk mengikuti pendidikan Mualim Pelayaran Terbatas (MPT) di Tanjung Pinang, selama tiga bulan. Lulus dari pendidikan tersebut pada tahun 1993 Abbas diangkat menjadi juru mudi. Selanjutnya tahun 1999, Abbas diangkat menjadi Mualim Satu dan langsung diperintahkan mengambil kapal yang waktu itu sedang ada pengadaan kapal baru jenis VSP. “Ketika saya diangkat menjadi mualim satu, kepala pangkalannya saat itu Bapak Harry Wahyudi. Tahun 2001 saya dipanggil lagi oleh Pak Harry, beliau menyampaikan bahwa saya diangkat menjadi nahkoda, wah senang sekali saya dan sejak saat itu saya menjadi nakhoda kapal patroli,” ujar Abbas yang telah empat kali mengikut Patkor Kastima, tepatnya mulai tahun 2001.

MENGARUNGI LAUTAN SEBAGAI NAKHODA KAPAL
Sejak 2001, Abbas resmi menjadi nakhoda kapal patroli Bea dan Cukai. Berbagai pengalaman telah ia rasakan, mulai dari yang menyenangkan dan menegangkan menghadapi ganasnya gelombang lautan. Pengalaman itu pun ia rasakan bukan saja sejak diangkat menjadi nakhoda, tetapi sejak dipercaya menjadi juru masak kapal patroli. Seperti kisah yang yang dialaminya pada tahun 1987 saat ke Ujung Pandang. Dengan kapal patroli BC 8004, tim yang ada di kapal tersebut harus terombangambing karena kuatnya gelombang lautan sampai ketinggian tiga meter. Tujuannya ketika itu dari Ujung Pandang ke Kendari. Sambil bergumul melawan ombak-ombak yang kuat dan kapal yang terombangambing dimainkan gelombang, ia hanya pasrah dengan nasib yang akan diterimanya. Abbas baru kali itu merasakan ketakutan yang luar biasa. Apalagi ombak yang kuat itu hampir mematahkan kapal yang ditumpanginya. “Saya hanya termenung dan sangat pasrah karena ombak begitu besarnya. Saya terus berdoa, Tuhan kasihanilah kami, tolonglah kami Tuhan, selamatkan kami dari badai ini,” begitu doanya saat itu, lebih lanjut Abbas menceritakan, setelah melewati waktu yang lumayan lama, akhirnya laut kembali tenang, dan ombak

76

EDISI 383 OKTOBER 2006

EDISI 383 OKTOBER 2006

WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
DOK. PRIBADI

baru satu jam di darat bertemu istri sudah harus berangkat lagi kalau ada perintah patroli, dan bersyukur istrinya sangat mengerti tugasnya. Kalau sedang bernasib, Abbas bisa berhasil menangkap enam buah kapal tanker dalam waktu dua bulan saja.

SUKA DUKA HADAPI PENYELUNDUP
Belajar mengemudikan kapal, sebenarnya tidak pernah ia pelajari secara khusus. Abbas memperolehnya secara otodidak karena terbiasa dengan bidang perkapalan selama menjadi pegawai bea cukai. Jadi ibarat pepatah asa bisa karena biasa, mungkin ungkapan itu tepat ditujukan padanya. Sebagai juru mudi yang menang pengalaman, Abbas merupakan nakhoda yang sangat profesional membawa kapal. Dan memang kemahiran bermanuver dan mengolah gerak kapal namun tetap waspada menjadi syarat utama menjadi nakhoda kapal patroli bea cukai, karena diketahui jalur pelayaran yang akan dilewati banyak kayu mengapung dan tentunya berisiko bagi kapal. “Berdasarkan pengalaman saya, dari mana kapal itu keluar, saya tahu akan ketemu dengan kapal itu di wilayah yang sudah saya tentukan karena kita menggunakan radar, satelit dan GPS, kalau tidak ada radar susah juga,” ujarnya. Ketika matahari mulai menapak tinggi, jika musim badai tiba, maka cuaca sangat buruk karena hujan deras yang disertai angin bertiup kencang. Dan kalau cuaca buruk seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh penyelundup untuk melakukan aksinya. Hal ini dapat dimengerti karena wilayah perairan Tanjung Balai Karimun terkenal sebagai surga bagi penyelundup,
WBC/RIS

SAAT MENIKAHKAN ANAK YANG PERTAMA. (Dari kiri ke kanan.) Riki Sirajudin (anak kedua) Mahrani (istri), menantu, Mardiana (anak pertama), Abbas, Rini Mailani (anak ketiga), (barisan depan) Poppy Juwita (anak keempat) dengan seorang keponakannya.

badai yang menyerang kapal patroli yang ditumpanginya telah berlalu. Dari sekian banyak nakhoda yang dimiliki DJBC, Abbas memiliki keunikan, tanpa membandingkan dengan nakhoda yang lain, dari beberapa pendapat yang terlontar mengenai Abbas, ia merupakan salah satu nakhoda yang handal. Seperti disampaikan Septia Atma, Kabid P2 Kanwil II DJBC TBK. Menurut Atma, Abbas memiliki satu kelebihan, ia tidak pernah meleset dalam mencapai suatu tempat tujuan jika mendapat perintah untuk melakukan patroli di satu wilayah perairan. “Boleh dikatakan seluruh perairan di Tanjung Balai Karimun telah ia kuasai, bahkan bukan di TBK saja, melainkan dari Sabang sampai Merauke karena pengalamannya mengarungi lautan sampai ke ujung Indonesia. Kalau diperintahkan untuk patroli dia tidak pernah terdampar. Kalau dikasih perintah cegat kapal penyelundup di posisi lintang dan bujur yang telah disebutkan selalu tepat dan menemukan obyek sasaran. Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki Abbas,” demikian pendapat Atma mengenai Abbas. Menanggapi pendapat Atma, Abbas dengan rendah hati menyatakan, bahwa dirinya hanya menjalan tugas yang diberikan atasan. “Setiap diberi informasi oleh Pak Atma alhamdulillah saya pasti dapat menangkap kapalnya. Saya tidak tahulah mengapa Pak Atma mempercayakan saya, kalau beliau mendapat informasi, pasti saya yang dipanggilnya, yang jelas saya senang 78
WARTA BEA CUKAI

menjalani tugas ini, ” begitu ucap penerima penghargaan sebagai pegawai berprestasi luar biasa sebanyak dua kali ini, yaitu tahun 2002 dan 2003. Pengalaman menangkap kapal penyelundup tidak dapat dihitung lagi yang otomatis dilakukannya sejak mengenal laut dan berkecimpung dengan patroli laut. Ia akui, ia sangat mencintai pekerjaannya ini. Bahkan tidak jarang

PADA ACARA PENUTUPAN PATKOR KASTIMA ke-12 Tahun 2006 di Hotel Novotel, Batam.

EDISI 383 OKTOBER 2006

WBC/RIS

WBC/RIS

BERPOSE DI ATAS KAPAL PATROLI BC 9004 sebelum berangkat tugas patroli laut.

ABBAS, siap menjalankan tugas berlayar dimanapun ia ditugaskan.

diantaranya sembako, bahan bakar minyak dan kayu bahkan terdapat beberapa kasus penyelundupan bayi. Tak jarang jika akan ditangkap, penyelundup melakukan berbagai macam perlawanan. Pengalaman seperti itupun pernah Abbas alami tepatnya pada 2003 bersama tim patroli bea cukai. Suatu ketika timnya yang akan menangkap kapal bermuatan kayu sudah jadi (furniture) di sekitar Perairan Changi, dekat Singapura mendapat perlawanan yang bisa membahayakan awak kapal patroli bea cukai. Kapal pengangkut kayu itu berasal dari Dabo Singkep dengan tujuan Singapura. Saat kapal patroli mendekat untuk menangkap kapal, tiba-tiba orang dari dalam kapal kayu itu menyiram kapal patroli dengan bensin dan segera akan membakarnya. Sebagai pengemudi kapal dengan sigap Abbas memutar haluan dan terpaksa melarikan kapal untuk menjauh, setelah keadaan kapal sudah aman dan bersih dari siraman bensin, akhirnya kapal sandar lagi dan menangkap kapal penyelundupn tersebut. Diakui Abbas, jika ia mendapat informasi dari atasan mengenai adanya upaya penyelundupan, di perairan manapun pasti dapat diketemukannya. Namun untuk saat ini sudah sangat sulit. Kondisi ini dikarenakan semakin majunya teknologi informasi. “Oke, disatu sisi kemajuan teknologi informasi memberi manfaat bagi kita, namun disisi lain memberi kesulitan dan kendala, seperti yang saat ini kami alami. Karena canggihnya teknologi, kadangkala informasi bocor sehingga menemui kegagalan. Saat akan berangkat berdasarkan informasi ternyata sudah ada yang membocorkan dengan telepon seluler atau telepon satelit. Beda seperti

dulu, mungkin orang baru sedikit yang memiliki telepon satelit. Sekarang, teknologi yang makin canggih ini justru jadi menyulitkan kami.” Lancar menjalankan pekerjaan, tetap sehat hingga mendekati usia 50 tahun ini, merupakan karunia bagi Abbas. Setiap rezeki dan berkah yang diberikan Tuhan selalu ia syukuri. Hal itu seiring dengan motto hidup yang dijalaninya. Tidak ngoyo apa adanya saja, begitu ia menjalani hidup ini. Ia sangat sadar bahwa dirinya tidak memiliki banyak pilihan untuk pindah ke tempat tugas di wilayah lain karena pendidikan formalnya. Dengan polos dan rendah hati Abbas mengutarakan isi hatinya, bahwa apa yang telah diperolehnya saat ini sudah lebih dari cukup. Penghargaan dari DJBC yang ia terima atas jasa-jasanya, ia rasakan sudah sangat cukup, karena itu ia sangat mensyukuri semua kesempatan dan berkah yang telah diberikan Tuhan. Ibarat kapal, Abbas mengumpamakan, panjang sekali perjalanan kapal kehidupan ini. Maka karena itu, sarana-sarana seperti jasmani, pikiran, dan kesadaran yang kita punyai itu harus dirawat dengan baik sekali, digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan akhir. Supaya badan jasmani ini, yang diumpamakan sebagai kapal yang mengarungi kehidupan yang maha luas ini, bisa dipakai terus sampai tujuan tercapai. Jadi harus kita rawat. Merawat jasmani dan pikiran ini.

MENULARKAN ILMU KEPADA JUNIOR
Sebagai orang yang berpengalaman dibidang perkapalan, Abbas tak segansegan selalu memberikan tips dan masukan kepada pegawai-pegawai bea cukai di TBK yang baru masuk. Kepada mereka, berdasarkan pengalamannya,

Abbas menunjukkan bagaimana cara mengemudikan kapal yang baik. Termasuk karakteristik perairan di TBK yang banyak batunya sehingga harus sangat berhati-hati membawa kapalnya. “Saya pesankan kepada kapten kapal, seandainya kalian ragu membawa kapal ini, berhentilah dulu jangan dipaksa, sebab kapal yang kita bawa ini sangat mahal sparepart-nya termasuk propellernya. Jadi berhati-hatilah karena itu dari pengalaman saya. Jadi nakhoda harus tahu kondisi kapal, apalagi daerah Batam ini banyak daerah batu, kalau kita tidak hati-hati kapal akan tertumbuk batu.” “Syukurlah mereka mau menerima masukan saya, sebab kapal yang selama ini saya bawa tidak pakai peta, hanya berdasarkan GPS dan radar, maka kalau tidak berdasarkan pengalaman kita bisa kandas.Maka itu anak baru harus terus dibimbing, tidak bisa langsung di lepas,” ungkap ayah dari empat orang anak ini. Status Abbas saat ini, tercatat sebagai nakhoda di bagian P2 Kanwil II DJBC TBK. Saat ini ia ditugaskan sebagai nakhoda kapal patroli jenis speed. Namun ia akui terkadang keberadaannya tidak tetap. Terkadang atas permintaan Kabid P2, mengharuskan ia membawa kapal patroli jenis VSP, tidak lama kemudian jenis boat. Namun secara resmi ia tercatat anggota P2 Kanwil TBK. Abbas yang menikah dengan Mahrani pada tahun 1982 di Medan ini telah dikaruniai empat orang anak. Anak pertama, Mardiana telah berumahtangga, anak kedua, Riki Sirajudin dan ketiga, Rini Mailani saat ini berkuliah di Sumatera Utara sedangkan anak keempat Popy Juwita masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. ris
WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

79

APA KATA MEREKA

BUTET KARTAREDJASA

“Rikuh Karena Tidak Diperiksa...”
Wajah dan namanya sangat popular setelah ia berhasil tampil sebagai aktor monolog yang mampu menirukan suara “mantan orang nomor satu dinegeri ini”. Sejak tahun 1978, anak kelima seniman tari Alm. Bagong Kusudiardja ini memang giat berteater. Kini Butet Kartaredjasa banyak memiliki kegiatan kesenian, sejumlah sinetron dan film (Petualangan Sherina) pernah dibintangi. Akhir-akhir ini pun anda pasti sering melihat wajah seniman panggung asal Jogjakarta ini sebagai bintang iklan ditelevisi untuk produk kendaraan bermotor. Ditemui WBC saat lunch disebuah hotel berbintang dibilangan Jakarta Pusat, Butet mengaku tidak pernah mendapat masalah dengan petugas bea cukai saat pulang dari luar negeri. “Malah mereka sangat membantu misalnya dengan tidak memeriksa barang-barang saya, sampai saya jadi rikuh karena tidak diperiksa,” ujarnya. Kejadian tersebut (tidak diperiksa-red) kerap ia alami sepulangnya dari luar negeri. “Mereka percaya bahwa saya orang baik-baik, tapi kan tidak enak sama penumpang lainnya, meskipun saya senang karena tidak repot,” imbuh Butet yang kerap keluar negeri untuk melakukan performace musik Djaduk Ferianto, adik kandungnya. Tetapi hal yang tidak menyenangkan dengan petugas bea cukai pernah ia alami sewaktu menemani sang ayah saat pulang performace pameran lukisan dari Singapura. Kejadian tersebut terjadi sekitar awal 1990-an. Dalam pameran tersebut, tidak seluruh lukisan ayahnya laku terjual. Lukisan yang tidak laku dibawa pulang kembali ke Indonesia. Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, lukisan tersebut ditahan karena dianggap barang impor sehingga harus membayar tax. “Kan aneh, itu kan barang kami sendiri kenapa kami harus bayar. Ujung-ujungnya mereka minta duit dan saya tidak mau ngasih,” kata Butet. Tetapi karena tidak ingin lukisannya ditahan, akhirnya sang ayahpun membayar sejumlah uang. Butet menambahkan, kejadian tersebut tak hanya dialami oleh ayahnya, tetapi teman-temannya yang berprofesi sebagai pelukis, juga kerap mengalami hal yang sama. “Jadi, saat mereka diundang untuk pameran keluar negeri, pada saat balik lagi itu biasanya ujung-ujungnya duit. Padahal lukisan itu koleksi pribadi, tidak dijual. Nah, saya tidak mengerti peraturannya bagaimana,” ujarnya. Butet merasa bahwa ketidaktahuan masyarakat terhadap peraturan di Indonesia, khususnya, Bea Cukai, selalu dimanfaatkan oleh oknum birokrasi untuk mengadali rakyat. Untuk itu ia berharap agar aparat birokrat tidak membodohi rakyatnya. Kalau memang rakyat tidak mengetahui peraturan tertentu, hendaknya diberikan pengarahan supaya rakyat mendapatkan rasa aman dan tidak terperangkap dalam sebuah permainan. “Jadi, jangan mentang-mentang Bea Cukai itu suatu institusi yang mempunyai kekuasaan malah justru memainkan kekuasaannya untuk mempermainkan rakyat kecil,” tandas Butet yang mengaku tidak tahu tugas dan fungsi institusi Bea dan Cukai. Selain itu, Butet melihat para pegawai bea cukai yang bertugas dibandara kurang ramah. Sering ia melihat para TKI, TKW maupun masyarakat keturunan diperlakukan dan diperiksa secara ‘over’, dicari-cari kesalahannya. Ia melihat masih ada perlakuan diskriminatif antar penumpang. Untuk itu ia menyarankan agar petugas jangan diskriminatif, sebab semua adalah sama-sama orang Indonesia. ifa

INDRA BRASCO DAN MONA RATULIU

“Disangka Jualan...”

Saat ditemui WBC di sebuah acara yang menyajikan permainan tradisional untuk anak-anak, pasangan selebritis muda Indra Brasco dan istrinya, Mona Ratuliu yang datang ke acara tersebut bersama putri mereka, mengaku sangat senang dengan acara yang disponsori oleh salah satu produsen deterjen itu. Menurut Mona, tempat bermain di Jakarta sangat sedikit sehingga, anak-anak kekurangan tempat untuk bermain. “Makanya, setelah melihat disini ada sarana permainan tradisional, saya jadi inget kalau dulu suka banget mainan kotor-kotoran kaya gini. Sekarang kan permainan tradisional itu sudah jarang banget ya,” ujar Mona. Untuk itu ibu satu anak ini menyarankan agar pemerintah membuat taman kota dan taman bermain untuk anak-anak. Tak hanya membuat, ia juga berharap agar pemerintah juga merawat taman tersebut agar keberadaannya tetap terjaga. Ketika ditanya apakah pasutri ini pernah berurusan dengan petugas bea cukai di Bandara Soekarno Hatta, Indra menjawab cepat, “Pernah… waktu Mona belanja lumayan banyak dari luar negeri, dari Singapura.” Mona pun langsung nyeletuk, “Soalnya keluarga aku dan dia (Indra-red) banyak yang suka nitip barang-barang kalo kita lagi pergi keluar negeri. Jadi waktu itu aku bawa pulang sepatu dua kardus besar. Eh dicurigai sama petugas bea cukai, disangkanya saya mau jualan.” Namun, persoalan tersebut bisa diatasi setelah Indra dan Mona menjelaskan bahwa mereka tidak hendak berjualan dan sepatu itu adalah barang titipan dari keluarganya. Indra mengaku biasanya keluarga mereka pergi ke luar negeri dalam rangka liburan. Dalam setahun, mereka bisa 2-3 kali pergi keluar negeri. Tempat favorit mereka selama berwisata masih diseputar Asia, seperti Singapura dan Malaysia. Ketika ditanya Mona apakah ia tahu tugas dari institusi Bea dan Cukai, Mona langsung menjawab tidak. Namun Indra buru-buru mengatakan bahwa sepanjang pengetahuannya, tugas Bea dan Cukai adalah memeriksa semua barang yang keluar masuk dari luar dan dalam negeri. Bea dan Cukai juga mengatur pajakpajak pembelian barang-barang tersebut. “Terus terang saya kurang mengerti dengan tugastugas Bea Cukai, jadi kalau ditanya saran untuk Bea Cukai, paling yang perlu diperbarui adalah SDM Bea Cukai,” kata Indra. Menurutnya, terkadang orang memikirkan Bea Cukai secara negatif, misalnya gampang disuap dan sebagainya. Oleh karena itu, SDM yang berkualitas harus dimiliki oleh Bea dan Cukai. “Dan yang pasti, pemerintah harus memberikan gaji yang besar pada pegawai Bea Cukai dan pegawai negeri lainnya karena kalau gaji pegawainya kecil kadang jadi gampang disuap,” tambah Indra. ifa

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 383 OKTOBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RKSP/JKSP SECARA MANUAL A. Pengangkut : 1. Menyerahkan RKSP/JKSP kepada Pejabat yang mengelola manifes di Kantor Pabean yang disinggahi dalam rangkap 2 (dua), dengan elemen data sekurangkurangnya : a) nama Sarana Pengangkut; b) nomor pengangkutan (voyage/flight number); c) nama pengangkut; d) pelabuhan asal; e) pelabuhan tujuan/bongkar; f) perkiraan tempat sandar/kade/parkir; g) perkiraan tanggal dan jam kedatangan Sarana Pengangkut; h) jumlah kemasan, petikemas, atau barang curah yang diangkut; i) perkiraan tanggal dan jam keberangkatan Sarana Pengangkut; 2. Menerima kembali RKSP/JKSP lembar kedua setelah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.0 dari Pejabat yang mengelola manifes, sebagai tanda bukti penerimaan; 3. Memberitahukan kepada Pejabat yang mengelola manifes, apabila ada perubahan RKSP/JKSP; 4. Menerima tanda bukti penerimaan perubahan RKSP/JKSP dari Pejabat yang mengelola manifes. B. 1. 2. 3. Pejabat yang Mengelola Manifes : Menerima RKSP/JKSP dalam rangkap 2 (dua) dari Pengangkut; Meneliti kelengkapan data isian pada RKSP/JKSP; Memberikan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.0 serta membukukannya ke dalam Buku Catatan Pabean (BCP BC 1.0); 4. Menyerahkan RKSP/JKSP lembar kedua setelah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.0 kepada Pengangkut sebagai tanda bukti penerimaan; 5. Menerima pemberitahuan perubahan RKSP/JKSP dari Pengangkut, dalam hal ada perubahan; 6. Menyerahkan tanda bukti penerimaan perubahan RKSP/JKSP kepada Pengangkut. DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN II PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RKSP/JKSP MELALUI MEDIA PENYIMPAN DATA ELEKTRONIK A. Pengangkut: 1. Menyiapkan RKSP/JKSP dengan menggunakan program aplikasi manifes/ modul pengangkut dengan elemen data: a) nama Sarana Pengangkut; b) nomor pengangkutan (voyage/flight number); c) nama pengangkut; d) pelabuhan asal; e) pelabuhan tujuan/bongkar; f) perkiraan tempat sandar/kade/parkir; g) perkiraan tanggal dan jam kedatangan Sarana Pengangkut; h) jumlah kemasan, petikemas, atau barang curah yang diangkut; i) perkiraan tanggal dan jam keberangkatan Sarana Pengangkut; 2. Mencetak RKSP/JKSP dan melakukan transfer data RKSP/JKSP ke Media Penyimpan Data Elektronik; 3. Menyerahkan hasil cetak RKSP/JKSP dan Media Penyimpan Data Elektronik kepada Pejabat yang mengelola manifes di Kantor Pabean yang disinggahi; 4. Menerima kembali RKSP/JKSP setelah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.0 dari Pejabat yang mengelola manifes, sebagai tanda bukti penerimaan; 5. Memberitahukan kepada Pejabat yang mengelola manifes, apabila ada perubahan RKSP/JKSP; 6. Menerima bukti penerimaan perubahan RKSP/JKSP dari Pejabat yang mengelola manifes. B. Pejabat yang Mengelola Manifes : 1. Menerima hasil cetak RKSP/JKSP dan Media Penyimpan Data Elektronik dari Pengangkut; 2. Memeriksa kondisi Media Penyimpan Data Elektronik dan data yang ada di dalamnya; 3. Melakukan transfer data RKSP/JKSP dari Media Penyimpan Data Elektronik ke dalam Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean; 4. Menyerahkan RKSP/JKSP yang telah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.0 dan Media Penyimpan Data Elektronik kepada Pengangkut sebagai tanda bukti penerimaan; 5. Menerima pemberitahuan perubahan RKSP/JKSP dari Pengangkut, dalam hal ada perubahan; 6. Menyerahkan tanda bukti penerimaan perubahan RKSP/JKSP kepada Pengangkut. C. 1. 2. 3. Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean : Menerima dan meneliti kelengkapan data (validasi) RKSP/JKSP; Memberikan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.0; Mengubah data RKSP/JKSP, dalam hal ada perubahan. DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN III PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RKSP/JKSP MELALUI SISTEM PDE A. Pengangkut : 1. Menyiapkan RKSP/JKSP dengan menggunakan program aplikasi manifes/ modul pengangkut dengan elemen data: a) nama Sarana Pengangkut; b) nomor pengangkutan (voyage/flight number); c) nama pengangkut; d) pelabuhan asal; e) pelabuhan tujuan/bongkar; f) perkiraan tempat sandar/kade/parkir; g) perkiraan tanggal dan jam kedatangan Sarana Pengangkut; h) jumlah kemasan, petikemas, atau barang curah yang diangkut; i) perkiraan tanggal dan jam keberangkatan Sarana Pengangkut; 2. Mengirimkan data RKSP/JKSP melalui sistem PDE ke Kantor Pabean yang disinggahi; 3. Menerima respon dan mencetak bukti penerimaan berupa nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.0; 4. Mengirimkan data perubahan RKSP/JKSP, dalam hal ada perubahan; 5. Menerima respon dan mencetak bukti penerimaan perubahan RKSP/JKSP. B. Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean : 1. Menerima dan meneliti kelengkapan data (validasi) RKSP/JKSP yang dikirim melalui sistem PDE oleh Pengangkut; 2. Mengirimkan respon penerimaan RKSP/JKSP yang berupa nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.0 kepada pengangkut apabila RKSP/JKSP telah diisi dengan lengkap; 3. Menerima dan meneliti perubahan data (validasi) RKSP/JKSP, dalam hal ada perubahan; 4. Mengirimkan respon penerimaan perubahan data RKSP/JKSP. DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

3

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN IV PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

CONTOH PENULISAN URAIAN BARANG PADA INWARD MANIFEST DAN OUTWARD MANIFEST No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Tidak Sesuai Ketentuan Spare parts, auto parts Electronic parts, Electric parts Foodstuff Stationery Household Chemical product, chemicals, chemical goods Fabrics, textile Plastic products Electrical goods, Electronics Machinery Tools Home appliances Various goods Sundry goods General cargo, general merchandise Personal effect Raw Material Diuraikan sesuai jenis barang Diuraikan sesuai jenis barang DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332 Jeans, T-shirt, underwear, socks, sweater, hat Toys, Tooth brass Television, Radio, Video player, CD player, magic jar Drilling machine, sewing machine, knitting machine, printing machine Screwdriver, hammer, saw, drill Blender, Juicer, Mixer, Stove, Microwave oven Diuraikan sesuai jenis barang Diuraikan sesuai jenis barang Diuraikan sesuai jenis barang Sesuai Ketentuan Gear, Nut, Bolt, Chain, Camshaft Diode, transistor, LED, IC, PCB, cable Noodle, Candy, Tea, Coffee Books, pencil, pen, ink Refrigerator, Washing machine, Chair, Television Dyestuff, Surfactant, Soap, Toothpaste

4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN V PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN INWARD MANIFEST SECARA MANUAL A. Pengangkut : 1. Menyiapkan Inward Manifest dengan elemen data sekurang-kurangnya : a) Bagi Sarana Pengangkut melalui laut : 1) nama Sarana Pengangkut; 2) bendera/kebangsaan; 3) nomor pelayaran(voyage number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal/ pelabuhan muat; 6) pelabuhan tujuan/bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Bill of Lading; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Bill of Lading; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan/petikemas; 15) nomor segel kemasan/petikemas; 16) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 17) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 18) uraian barang; 19) berat kotor (brutto); 20) ukuran/volume barang; 21) mother vessel, apabila ada; 22) keterangan; 23) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. b) Bagi Sarana Pengangkut melalui udara : 1) nama Sarana Pengangkut; 2) Bendera/Kebangsaan; 3) nomor penerbangan (flight number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal / pelabuhan muat); 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Airway Bill; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Airway Bill; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan; 15) jumlah dan jenis kemasan; 16) uraian barang; 17) berat kotor (brutto);
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

5

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

18) ukuran/volume barang; 19) first carrier, apabila ada; 20) keterangan; 21) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. c) Bagi Sarana Pengangkut melalui darat : 1) nomor tanda kendaraan (car registration number); 2) nama pengangkut; 3) tempat asal; 4) tempat tujuan; 5) tanggal kedatangan; 6) nomor urut; 7) nama dan alamat pengirim (supplier); 8) nama dan alamat penerima barang; 9) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 10) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 11) uraian barang; 12) berat kotor (brutto); 13) ukuran/volume barang; 14) keterangan; 15) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. 2. Melakukan pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai tarif yang ditetapkan atas pelayanan manifes melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean dan menerima tanda bukti pembayaran; 3. Menyerahkan Inward Manifest dengan dilampiri bukti pembayaran PNBP kepada Pejabat yang mengelola manifes di Kantor Pabean yang disinggahi; 4. Menerima tanda bukti penerimaan berupa BCF 1.1 yang berisi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1. B. Pejabat yang Mengelola Manifes : 1. Menerima Manifes Inward Manifest dari Pengangkut beserta bukti pembayaran PNBP dari Pengangkut; 2. Meneliti kelengkapan dan kebenaran elemen data Inward Manifest; 3. Membukukan Inward Manifest ke dalam Buku Catatan Pabean (BCP BC 1.1) dan mencantumkan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1 pada Inward Manifest bersangkutan; 4. Memberikan bukti penerimaan berupa BCF 1.1 dengan mencantumkan nomor dan tanggal BC 1.1 dan menyerahkan kepada Pengangkut; 5. Meneliti uraian barang dalam BC 1.1 dan mencatat nomor pos BC 1.1 yang uraian barangnya kurang jelas; 6. Melakukan penutupan pos BC 1.1; 7. Meneliti dan memproses pos-pos BC 1.1 yang masih terbuka serta memindahkan pos BC 1.1 yang masih terbuka kedalam BCF 1.5 apabila jangka waktu penimbunannya sudah melebihi: a) 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal BC 1.1, bagi barang yang ditimbun di TPS dalam area pelabuhan; atau b) 60 (enam puluh) hari sejak tanggal BC 1.1, bagi barang yang ditimbun di TPS di luar area pelabuhan; 8. Menyerahkan BCF 1.5 kepada Pejabat yang mengelola Tempat Penimbunan Pabean (TPP). DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

6

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN VI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN INWARD MANIFEST MELALUI MEDIA PENYIMPAN DATA ELEKTRONIK A. Pengangkut: 1. Menyiapkan Inward Manifest menggunakan program aplikasi manifes/modul pengangkut dengan elemen data sekurang-kurangnya : a) Bagi Sarana Pengangkut melalui laut: 1) nama Sarana Pengangkut; 2) bendera/kebangsaan; 3) nomor pelayaran (voyage number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal/ pelabuhan muat; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Bill of Lading; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Bill of Lading; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan/petikemas; 15) nomor segel kemasan/petikemas; 16) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 17) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 18) uraian barang; 19) berat kotor (brutto); 20) ukuran/volume barang; 21) mother vessel, apabila ada; 22) keterangan; 23) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. b) Bagi Sarana Pengangkut melalui udara: 1) nama Sarana Pengangkut; 2) Bendera/Kebangsaan; 3) nomor penerbangan (flight number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal / pelabuhan muat; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Airway Bill; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Airway Bill; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan; 15) jumlah dan jenis kemasan; 16) uraian barang; 17) berat kotor (brutto); 18) ukuran/volume barang; 19) first carrier, apabila ada; 20) keterangan; 21) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. c) Bagi Sarana Pengangkut melalui darat:
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

7

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

1) nomor tanda kendaraan (car registration number); 2) nama pengangkut; 3) tempat asal; 4) tempat tujuan; 5) tanggal kedatangan; 6) nomor urut; 7) nama dan alamat pengirim (supplier); 8) nama dan alamat penerima barang; 9) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 10) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 11) uraian barang; 12) berat kotor (brutto); 13) ukuran/volume barang; 14) keterangan; 15) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. 2. Melakukan pembayaran PNBP sesuai tarif yang ditetapkan atas pelayanan manifes melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean dan menerima tanda bukti pembayaran; 3. Mencetak lembar pengantar Inward Manifest serta melakukan transfer data Inward Manifest ke Media Penyimpan Data Elektronik; 4. Menyerahkan Media Penyimpan Data Elektronik yang berisi data Inward Manifest dan lembar pengantarnya dengan dilampiri bukti pembayaran PNBP kepada Pejabat yang mengelola manifes di Kantor Pabean yang disinggahi; 5. Menerima tanda bukti penerimaan berupa BCF 1.1 yang berisi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1. A. Pejabat yang Mengelola Manifes : 1. Menerima Media Penyimpan Data Elektronik yang berisi data Inward Manifest beserta bukti pembayaran PNBP dari Pengangkut; 2. Memeriksa kondisi Media Penyimpan Data Elektronik dan data yang ada di dalamnya; 3. Melakukan transfer data Inward Manifest dari Media Penyimpan Data Elektronik ke dalam Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean; 4. Memberikan bukti penerimaan berupa BCF 1.1 dengan mencantumkan nomor dan tanggal BC 1.1 dan menyerahkan kepada Pengangkut; 5. Meneliti uraian barang dalam BC 1.1 dan mencatat nomor pos BC 1.1 yang uraian barangnya kurang jelas; 6. Melakukan penutupan pos BC 1.1 dengan dokumen penyelesaian kewajiban pabean dalam hal penutupan pos masih dilakukan secara manual (entry data); 7. Menyerahkan BCF 1.5 kepada Pejabat yang mengelola Tempat Penimbunan Pabean (TPP). C. Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean : 1. Menerima dan meneliti kelengkapan data (validasi) Inward Manifest; 2. Memberikan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1; 3. Mencetak tanda terima pendaftaran dengan mencantumkan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1; 4. Melakukan penutupan pos BC 1.1; 5. Meneliti dan memproses pos-pos BC 1.1 yang masih terbuka serta memindahkan pos BC 1.1 yang masih terbuka kedalam BCF 1.5 apabila jangka waktu penimbunannya sudah melebihi: a) 30 (tiga puluh) hari sejak ditimbun, bagi barang yang ditimbun di TPS dalam area pelabuhan; atau b) 60 (enam puluh) hari sejak ditimbun, bagi barang yang ditimbun di TPS di luar area pelabuhan. DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN VII PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN INWARD MANIFEST MELALUI SISTEM PDE A. Pengangkut : 1. Menyiapkan Inward Manifest menggunakan program aplikasi manifes/modul pengangkut, dengan elemen data sekurang-kurangnya: a) Bagi Sarana Pengangkut melalui laut: 1) nama Sarana Pengangkut; 2) bendera/kebangsaan; 3) nomor pelayaran (voyage number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal/ pelabuhan muat; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Bill of Lading; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Bill of Lading; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan/petikemas; 15) nomor segel kemasan/petikemas; 16) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 17) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 18) uraian barang; 19) berat kotor (brutto); 20) ukuran/volume barang; 21) mother vessel, apabila ada; 22) keterangan; 23) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. b) Bagi Sarana Pengangkut melalui udara : 1) nama Sarana Pengangkut; 2) Bendera/Kebangsaan; 3) Nomor penerbangan (flight number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal / pelabuhan muat; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Airway Bill; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Airway Bill; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan; 15) jumlah dan jenis kemasan; 16) uraian barang; 17) berat kotor (brutto);
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

9

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

18) ukuran/volume barang; 19) first carrier, apabila ada; 20) keterangan; 21) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. c) Bagi Sarana Pengangkut melalui darat: 1) nomor tanda kendaraan (car registration number); 2) nama pengangkut; 3) tempat asal; 4) tempat tujuan; 5) tanggal kedatangan; 6) nomor urut; 7) nama dan alamat pengirim (supplier); 8) nama dan alamat penerima barang; 9) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 10) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 11) uraian barang; 12) berat kotor (brutto); 13) ukuran/volume barang; 14) keterangan; 15) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. 2. Melakukan pembayaran PNBP sesuai tarif yang ditetapkan atas pelayanan manifes melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean dan menerima tanda bukti pembayaran; 3. Mengirim Inward Manifest ke Kantor Pabean yang disinggahi melalui sistem PDE; 4. Menyerahkan tanda bukti pembayaran PNBP kepada Pejabat yang mengelola manifes di Kantor Pabean; 5. Menerima respon bukti penerimaan Inward Manifest yang telah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1. B. Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean : 1. Menerima dan meneliti kelengkapan data (validasi) Inward Manifest yang dikirim melalui sistem PDE oleh Pengangkut; 2. Mengirim respon bukti penerimaan Inward Manifest yang dengan memberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1; 3. Melakukan penutupan pos BC 1.1; 4. Meneliti dan memproses pos-pos BC 1.1 yang masih terbuka serta memindahkan pos BC 1.1 yang masih terbuka kedalam BCF 1.5 apabila jangka waktu penimbunannya sudah melebihi: a) 30 (tiga puluh) hari sejak ditimbun, bagi barang yang ditimbun di TPS dalam area pelabuhan; atau b) 60 (enam puluh) hari sejak ditimbun, bagi barang yang ditimbun di TPS di luar area pelabuhan. C. Pejabat yang Mengelola Manifes : 1. Meneliti uraian barang dalam BC 1.1 dan mencatat nomor pos BC 1.1 yang uraian barangnya kurang jelas; 2. Melakukan penutupan pos BC 1.1 dengan dokumen penyelesaian kewajiban pabean dalam hal penutupan pos masih dilakukan secara manual (entry data); 3. Menyerahkan BCF 1.5 kepada Pejabat yang mengelola Tempat Penimbunan Pabean (TPP). DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

10

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN VIII PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT
TATA CARA PERBAIKAN TERHADAP BC1.1 A. Pengangkut atau Pihak-pihak Lain yang Bertanggung Jawab Atas Barang: 1. Menyiapkan permohonan perbaikan BC 1.1 mengenai: 1) nomor, merek, ukuran dan jenis kemasan dan/atau petikemas; 2) jumlah kemasan dan/ atau peti kemas serta jumlah barang curah; 3) consignee dan/atau notify party; 4) penggabungan pos BC 1.1; 5) kesalahan data lainnya atau perubahan pos BC 1.1; 2. Menyiapkan permohonan untuk perbaikan BC 1.1 mengenai perincian lebih lanjut atas pos BC 1.1 dari Barang impor yang dikirim secara konsolidasi; 3. Melakukan pembayaran PNBP atas pelayanan Inward manifest melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean dan menerima tanda bukti pembayaran; 4. Menyerahkan permohonan perbaikan BC 1.1 sebagaimana dimaksud pada angka 1, kepada Kepala Kantor Pabean disertai bukti pembayaran PNBP dan dokumen pendukung sebagai lampiran permohonan perbaikan BC 1.1 berupa : a) Bill of Lading/Airway Bill; b) lembaran Inward manifest perbaikan, untuk Kantor Pabean yang menerapkan penyerahan data secara manual; c) soft copy Inward manifest perbaikan, untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem PDE atau sistem pertukaran data dengan Media Penyimpan Data Elektronik; d) Invoice dan/atau Packing List, dalam hal perbaikan BC 1.1 berupa perubahan Consignee dan/atau Notify Party; e) dokumen pendukung lainnya; 5. Menyerahkan permohonan perbaikan BC 1.1 sebagaimana dimaksud pada angka 2, kepada Pejabat yang mengelola manifes; 6. Menerima pemberitahuan persetujuan atau penolakan perbaikan BC 1.1 dari Pejabat yang mengelola manifes; 7. Menerima Surat Penetapan Sanksi Administrasi (SPSA) dan/atau penetapan kekurangan pembayaran Bea Masuk, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), dalam hal perbaikan BC 1.1 dilakukan karena adanya kelebihan bongkar atau kekurangan bongkar yang wajib membayar Bea Masuk, Cukai, PDRI dan/atau sanksi administrasi berupa denda; 8. Membayar Bea Masuk, Cukai, PDRI dan/atau sanksi administrasi berupa denda berdasarkan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk (SPKPBM) dan/atau SPSA yang telah diterbitkan. B. Pejabat yang Mengelola Manifes : 1. Menerima permohonan perbaikan BC 1.1 disertai bukti pembayaran PNBP dan dokumen pendukung dari Pengangkut atau pihak-pihak lain yang bertanggung jawab atas barang; 2. Melakukan penelitian terhadap permohonan perbaikan BC 1.1 dan dokumen pendukung serta mencocokkannya dengan BC 1.1 yang bersangkutan, sedangkan untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem PDE atau sistem pertukaran data dengan Media Penyimpan Data Elektronik, dilakukan juga pencocokkan antara permohonan dan dokumen pendukung dengan data BC 1.1 di Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes; 3. Menerbitkan SPSA, dalam hal perbaikan BC 1.1 disebabkan adanya kelebihan bongkar yang mengakibatkan dikenakannya sanksi administrasi berupa denda; 4. Menerbitkan SPSA dan penetapan kekurangan pembayaran Bea Masuk, Cukai dan PDRI dalam hal perbaikan BC 1.1 disebabkan adanya kekurangan bongkar yang mengakibatkan dikenakannya Bea Masuk, Cukai, PDRI dan/ atau sanksi administrasi berupa denda; 5. Apabila permohonan perbaikan BC 1.1 disetujui : a) melakukan perbaikan pada pos BC 1.1 atau menggabungkan lembaran Inward Manifest perbaikan pada BC 1.1, untuk Kantor Pabean yang menerapkan penyerahan data secara manual; b) merekam atau melakukan transfer data perbaikan BC 1.1 ke Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes, untuk Kantor Pabean yang menerapkan sistem PDE atau sistem pertukaran data dengan Media Penyimpan Data Elektronik; c) menyerahkan pemberitahuan persetujuan atas permohonan perbaikan BC 1.1; 6. Apabila permohonan perbaikan BC 1.1 ditolak, menyerahkan pemberitahuan penolakan atas permohonan perbaikan BC 1.1. C. Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean : 1. Menerima dan memproses perbaikan BC 1.1 yang telah diberikan persetujuan untuk dilakukan perbaikan; 2. Mengirimkan respon elektronik berupa pemberitahuan mengenai persetujuan perbaikan BC 1.1.

DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

11

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN IX PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN OUTWARD MANIFEST SECARA MANUAL A. Pengangkut: 1. Menyiapkan Outward Manifest dengan elemen data sekurang-kurangnya : b) Bagi Sarana Pengangkut c) Bagi Sarana Penga) Bagi Sarana Pengangkut melalui udara : angkut melalui darat: melalui laut : 1) nama Sarana 1) nomor tanda 1) nama Sarana Pengangkut; Pengangkut; kendaraan (car 2) bendera/kebangsaan; 2) Bendera/Kebangsaan; registration 3) nomor pelayaran (voyage 3) nomor penerbangan; number); number); 4) nama pengangkut; 2) nama 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal / pengangkut; 5) pelabuhan asal/ pelabuhan pelabuhan muat; 3) tempat asal; muat; 6) pelabuhan bongkar; 4) tempat tujuan; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam 5) tanggal 7) tanggal dan jam kedatangan; kedatangan; kedatangan; 8) jumlah Bill of Lading; 8) jumlah Airway Bill; 6) nomor urut; 9) nomor urut; 9) nomor urut; 7) nama dan 10) nomor dan tanggal Bill of 10) nomor dan tanggal alamat pengirim Lading; Airway Bill; (supplier); 11) nama dan alamat pengirim 11) nama dan alamat 8) nama dan (shipper/supplier); alamat penerima 12) nama dan alamat penerima pengirim (shipper/ barang; (consignee); supplier); 9) jumlah dan jenis 13) nama dan alamat pemberitahu 12) nama dan alamat kemasan/ (notify address/notify party); penerima (consignee); petikemas; 14) nomor dan merek kemasan/ 13) nama dan alamat 10) ukuran dan tipe petikemas; pemberitahu (notify kemasan/ 15) nomor segel kemasan/ address/notify party); petikemas; petikemas; 14) nomor dan merek 11) uraian barang; 16) jumlah dan jenis kemasan/ kemasan; 12) berat kotor petikemas; 15) jumlah dan jenis (brutto); 17) ukuran dan tipe kemasan/ kemasan; 13) ukuran/volume petikemas; 16) uraian barang; barang; 18) uraian barang; 17) berat kotor (brutto); 14) keterangan 19) berat kotor (brutto); 18) ukuran/volume barang; (nomor dan 20) ukuran/volume barang; 19) first carrier, apabila ada; tanggal PEB/ 21) mother vessel, apabila ada; 20) keterangan (nomor dan Pemberitahuan 22) keterangan (nomor dan tanggal PEB/ Pabean lainnya); tanggal PEB/Pemberitahuan Pemberitahuan 15) tanda tangan Pabean lainnya); Pabean lainnya); dan nama jelas 23) tanda tangan dan nama jelas 21) tanda tangan dan napengangkut. pengangkut. ma jelas pengangkut. 2. Melakukan pembayaran PNBP sesuai tarif yang ditetapkan atas pelayanan manifes melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean dan menerima tanda bukti pembayaran; 3. Menyerahkan Outward Manifest dengan dilampiri bukti pembayaran PNBP kepada Pejabat yang mengelola manifes di Kantor Pabean; 4. Menerima tanda bukti penerimaan yang telah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1. B. Pejabat yang Mengelola Manifes : 1. Menerima Outward Manifest dari Pengangkut beserta bukti pembayaran PNBP dari Pengangkut; 2. Meneliti kelengkapan dan kebenaran elemen data Outward Manifest; 3. Membukukan Outward Manifest ke dalam Buku Catatan Pabean (BCP BC 1.1) dan memberikan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1 pada Outward Manifest bersangkutan; 4. Memberikan bukti penerimaan dengan mencantumkan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1 dan menyerahkan kepada Pengangkut; 5. Meneliti uraian barang dalam BC 1.1 dan mencatat nomor pos BC 1.1 yang uraian barangnya kurang jelas; 6. Menyampaikan data pos BC 1.1 kepada Pejabat yang memeriksa dokumen ekspor barang untuk dilakukan rekonsiliasi. DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

12

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN X PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN OUTWARD MANIFEST MELALUI MEDIA PENYIMPAN DATA ELEKTRONIK A. Pengangkut : 1. Menyiapkan Outward Manifest menggunakan program aplikasi manifes/modul pengangkut dengan elemen data sekurang-kurangnya : a) Bagi Sarana Pengangkut melalui laut : 1) nama Sarana Pengangkut; 2) bendera/kebangsaan; 3) nomor pelayaran (voyage number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal/ pelabuhan muat; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Bill of Lading; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Bill of Lading; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan/petikemas; 15) nomor segel kemasan/petikemas; 16) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 17) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 18) uraian barang; 19) berat kotor (brutto); 20) ukuran/volume barang; 21) mother vessel, apabila ada; 22) keterangan (nomor dan tanggal PEB/Pemberitahuan Pabean lainnya); 23) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. b) Bagi Sarana Pengangkut melalui udara : 1) nama Sarana Pengangkut; 2) Bendera/Kebangsaan; 3) nomor penerbangan (flight number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal / pelabuhan muat; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Airway Bill; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Airway Bill; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan; 15) jumlah dan jenis kemasan; 16) uraian barang;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

13

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

17) berat kotor (brutto); 18) ukuran/volume barang; 19) first carrier, apabila ada; 20) keterangan (nomor dan tanggal PEB/Pemberitahuan Pabean lainnya); 21) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. c) Bagi Sarana Pengangkut melalui darat: 1) nomor tanda kendaraan (car registration number); 2) nama pengangkut; 3) tempat asal; 4) tempat tujuan; 5) tanggal kedatangan; 6) nomor urut; 7) nama dan alamat pengirim (supplier); 8) nama dan alamat penerima barang; 9) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 10) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 11) uraian barang; 12) berat kotor (brutto); 13) ukuran/volume barang; 14) keterangan (nomor dan tanggal PEB/Pemberitahuan Pabean lainnya); 15) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. 2. Melakukan pembayaran PNBP sesuai tarif yang ditetapkan atas pelayanan manifes melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean dan menerima tanda bukti pembayaran; 3. Mencetak lembar pengantar Outward Manifest serta melakukan transfer data Outward Manifest ke Media Penyimpan Data Elektronik; 4. Menyerahkan Media Penyimpan Data Elektronik yang berisi data Outward Manifest dan lembar pengantarnya dengan dilampiri bukti pembayaran PNBP kepada Pejabat yang mengelola manifes di Kantor Pabean; 5. Menerima tanda bukti penerimaan yang telah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1. B. Pejabat yang Mengelola Manifes : 1. Menerima Media Penyimpan Data Elektronik yang berisi data Outward Manifest beserta bukti pembayaran PNBP dari pengangkut; 2. Memeriksa kondisi Media Penyimpan Data Elektronik dan data yang ada di dalamnya; 3. Melakukan transfer data Outward Manifest dari Media Penyimpan Data Elektronik ke dalam Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean; 4. Menyerahkan tanda bukti penerimaan yang telah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1 kepada Pengangkut; 5. Meneliti uraian barang dalam BC 1.1dan mencatat nomor pos BC 1.1 yang uraian barangnya kurang jelas. C. Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean : 1. Menerima dan meneliti kelengkapan data (validasi) Outward Manifest; 2. Memberikan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1; 3. Mencetak tanda bukti penerimaan dengan mencantumkan nomor dan tanggal BC 1.1; 4. Melakukan rekonsiliasi PEB dan Pemberitahuan Pabean lainnya dengan pos BC 1.1. DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN XI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-10/BC/2006 TENTANG TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN RENCANA KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, MANIFES KEDATANGAN SARANA PENGANGKUT, DAN MANIFES KEBERANGKATAN SARANA PENGANGKUT

TATA CARA PENYERAHAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERITAHUAN OUTWARD MANIFEST MELALUI SISTEM PDE A. Pengangkut : 1. Menyiapkan Outward Manifest menggunakan program aplikasi manifes/Modul Pengangkut, dengan elemen data sekurang-kurangnya : a) Bagi Sarana Pengangkut melalui laut : 1) nama Sarana Pengangkut; 2) bendera/kebangsaan; 3) nomor pelayaran (voyage number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal/ pelabuhan muat; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Bill of Lading; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Bill of Lading; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee); 13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan/petikemas; 15) nomor segel kemasan/petikemas; 16) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 17) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 18) uraian barang; 19) berat kotor (brutto); 20) ukuran/volume barang; 21) mother vessel, apabila ada; 22) keterangan (nomor dan tanggal PEB/Pemberitahuan Pabean lainnya); 23) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. b) Bagi Sarana Pengangkut melalui udara : 1) nama Sarana Pengangkut; 2) Bendera/Kebangsaan; 3) nomor penerbangan (flight number); 4) nama pengangkut; 5) pelabuhan asal / pelabuhan muat; 6) pelabuhan bongkar; 7) tanggal dan jam kedatangan; 8) jumlah Airway Bill; 9) nomor urut; 10) nomor dan tanggal Airway Bill; 11) nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); 12) nama dan alamat penerima (consignee);
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

15

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

2. 3. 4. 5.

13) nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); 14) nomor dan merek kemasan; 15) jumlah dan jenis kemasan; 16) uraian barang; 17) berat kotor (brutto); 18) ukuran/volume barang; 19) first carrier, apabila ada; 20) keterangan (nomor dan tanggal PEB/Pemberitahuan Pabean lainnya); 21) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. c) Bagi Sarana Pengangkut melalui darat: 1) nomor tanda kendaraan (car registration number); 2) nama pengangkut; 3) tempat asal; 4) tempat tujuan; 5) tanggal kedatangan; 6) nomor urut; 7) nama dan alamat pengirim (supplier); 8) nama dan alamat penerima barang; 9) jumlah dan jenis kemasan/petikemas; 10) ukuran dan tipe kemasan/petikemas; 11) uraian barang; 12) berat kotor (brutto); 13) ukuran/volume barang; 14) keterangan (nomor dan tanggal PEB/Pemberitahuan Pabean lainnya); 15) tanda tangan dan nama jelas pengangkut. Melakukan pembayaran PNBP sesuai tarif yang ditetapkan atas pelayanan manifes melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean dan menerima tanda bukti pembayaran; Mengirimkan Outward Manifest ke Kantor Pabean melalui sistem PDE; Menyerahkan tanda bukti pembayaran PNBP kepada Pejabat yang mengelola Manifes; Menerima respon bukti penerimaan Outward Manifest yang telah diberi nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1.

B. Sistem Aplikasi Pelayanan Manifes di Kantor Pabean : 1. Menerima dan meneliti kelengkapan data (validasi) Outward Manifest yang dikirim melalui sistem PDE oleh Pengangkut; 2. Mengirimkan respon bukti penerimaan Outward Manifest kepada Pengangkut yang telah diberikan nomor dan tanggal pendaftaran BC 1.1; 3. Melakukan rekonsiliasi PEB dan Pemberitahuan Pabean lainnya dengan pos BC 1.1. C. Pejabat yang Mengelola Manifes: Meneliti uraian barang dalam BC 1.1 dan mencatat nomor pos BC 1.1 yang uraian barangnya kurang jelas. DIREKTUR JENDERAL, ttd ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

16

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 383 OKTOBER 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->