P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 394

Warta Bea Cukai Edisi 394

4.5

|Views: 5,823|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2013

pdf

text

original

TAHUN XXXIX EDISI 394

SEPTEMBER 2007

Reorganisasi
UPAYA OPTIMALISASI KINERJA DJBC

V ertikal

DARI REDAKSI
TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Hanafi Usman Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kusdirman Iskandar Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Penindakan & Penyidikan Heru Santoso, SH Direktur Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan & Penerimaan KC Drs. Bambang Prasodjo Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum KC Drs. Erlangga Mantik, MA Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas & Kinerja Organisasi KC Drs. Joko Wiyono KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Dr. Kamil Sjoeib, MA WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Patarai Pabottinggi, Dra. Cantyastuti Rahayu, Ariohadi, SH, MA. Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Hendi Budi Santosa Ir. Azis Syamsu Arifin, Muhammad Zein, SH, MA. PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH ` Bambang Wicaksono (Surabaya) Ian Hermawan (Pontianak) Donny Eriyanto (Makassar) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Mira Puspita Dewi S.Pt., M.S.M., Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

L

PENGAWASAN DAN PELAYANAN

aporan utama edisi bulan September ini WBC membahas soal reorganisasi yang kembali dilakukan DJBC. Ada beberapa perubahan dalam reorganisasi kali ini. Selain pembentukan Kantor Pelayanan Utama (KPU), juga dimunculkan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) yang tidak lain perubahan nama dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC). Sesuai namanya, ‘jualan’ utama KPU ada pada pelayanan yang prima, tentu saja tanpa bermaksud mengabaikan pengawasan. Sebaliknya, munculnya KPPBC adalah karena fokus kantor yang dimaksud ada pada bidang pengawasan, juga tanpa bermaksud menomor duakan bidang pelayanan. Apabila rencananya KPU hanya akan terdiri dari beberapa kantor saja, itu berarti selebihnya adalah Kanwil dan KPPBC yang banyak tersebar di seluruh negeri ini. Kantor-kantor bea cukai inilah, terutama yang terletak di perbatasan, memainkan peranan teramat penting dalam hal pengawasan. Senin 20 Agustus 2007, WBC meliput pembukaan Patkor Kastima Borneo ke-6 yang berlangsung di KPPBC Tarakan. Acara ini merupakan kerjasama Kanwil DJBC Kalimantan Timur dengan Kastam Diraja Malaysia Negeri Sabah dalam upaya mengawasi dan mengamankan jalur perdagangan di wilayah masing-masing dari kegiatan illegal seperti penyelundupan. Di hampir seluruh dunia, yang namanya perbatasan antar dua atau lebih negara, bisa dipastikan rawan penyelundupan. Narkoba, senjata, permata, hingga manusia sering keluar masuk perbatasan negara secara gelap. Di Indonesia, kekayaan alam negeri ini menarik minat banyak pihak untuk membawanya secara illegal. Bulan Mei lalu saat WBC berkunjung ke KPPBC Tarakan, di bagian belakang kantor terhampar kayu-kayu tangkapan hasil operasi BKO di wilayah Tarakan (WBC edisi 391, Juni 2007). Sewaktu kami kembali pada bulan Agustus, kayu selundupan yang berhasil ditegah semakin banyak menumpuk di bagian belakang, bahkan meluber hingga ke bagian samping kantor. Kayu memang menjadi komoditas yang sangat penting buat negaranegara yang tidak atau sedikit memiliki hutan tropis yang melimpah seperti di Indonesia. Seorang sumber mengatakan kepada kami, kayu yang di Indonesia dibeli dengan ukuran kubik, setelah masuk ke Tawau Malaysia misalnya, dijual per kilogram ! Ketika terbang di atas wilayah Kalimantan, saya berkenalan dengan seorang bapak yang bekerja sebagai konsultan telekomunikasi. Tanggung jawab pekerjaannya adalah mengawasi pembangunan infrastrukur jaringan milik operator telekomunikasi swasta dan pemerintah. Pekerjaannya membuat ia telah berkeliling ke hampir seluruh wilayah Kalimantan, tidak hanya di kota, tapi juga masuk hingga ke wilayah hutan pedalaman. Dengan begitu ia mengaku menjadi salah satu saksi yang melihat kerusakan hutan Kalimantan secara langsung tidak hanya dari udara tapi juga dari dekat. Dalam percakapan dengannya, ia sempat berkata begini, “Kalau pemerintah tidak berbuat sesuatu, habis hutan kita !”. Menjaga kelestarian alam Indonesia seperti hutan bukanlah tugas DJBC. Tapi instansi ini punya peran untuk membuat para penyelundup berpikir dua kali bila mau membawa kayu haram atau komoditas lainnya ke luar negeri. Tidaklah salah apabila reorganisasi kali ini disebut sebagai upaya mempertajam fungsi dari sebuah kantor bea cukai. KPPBC, sesuai namanya punya tanggung jawab besar untuk fokus pada pelaksanaan pengawasan, sekalipun harus berhadapan dengan begitu luasnya area yang harus diawasi, ditambah dengan masalah klasik bangsa ini yaitu, minimnya dana, sarana dan sumber daya. Selamat menjalankan ibadah puasa. Lucky R. Tangkulung

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
DJBC kembali mengalami reorganisasi. Hal tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan hasil kajian tim percepatan reformasi. Selengkapnya mengenai reorganisasi di DJBC, dapat disimak pada rubrik Laporan Utama kali ini.

5-18

Info Pegawai

28-31
Pelantikan para pejabat eselon II, III dan IV di tubuh DJBC dan dan juga evaluasi penerimaan Negara dari sektor Bea Masuk dan Cukai semester I dapat disimak pada rubrik Info Pegawai.

32-43
Wartawan Departemen Keuangan mendapat dekat kegiatan pada KPPBC

Daerah ke Daerah

kesempatan untuk melihat dari Kudus serta proses pembuatan hologram pada pita cukai. Kegiatan tersebut dapat disimak pada rubrik daerah disamping kegiatan Raker Kanwil DJBC Kalimantan Timur dan kegiatan Patkor Kastima Borneo Ke-6.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

1 3 4 22

25 44

Wawancara

19-21
Menurut Deputi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Kelembagaan Ismadi Ananda, penyusunan organisasi seharusnya didasari pada visi dan misi yang akan dicapai. Selengkapnya mengenai tanggapannya mengenai organisasi pada suatu lembaga pemerintah, dapat disimak pada rubrik wawancara.

50

51

58

Pengawasan

46-48
Kegiatan pelatihan penggunaan senjata api dan Penyusunan Audit Insidentil dan DROA pada Kanwil DJBC Maluku, Papua & Irja Barat dapat disimak pada rubrik Pengawasan.

62

68

69

70 72

74 75 80

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR KOPERASI Strategi Koperasi Sebagai Soko Guru Perekonomian Nasional Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Anggota INFO PERATURAN SIAPA MENGAPA - Dewi Diana - Adrin Syahbana - Sukatno KEPABEANAN INTERNASIONAL Kastam Diraja malaysia Kunjungi Kantor Pusat DJBC KEPABEANAN - Rencana Uji Sistem National Single Window - DJBC Mulai Sosialisasikan Jalur Mitra Utama - Pemerintah berlakukan Registrasi PPJK KOLOM - Manfaat KITE (Studi Empiris KITE Jawa Timur) - Peluang Penerimaan Dari Pelayanan Pemeriksaan Kapal dan Perlindungan Lingkungan OPINI - Reformasi Bea Cukai - Menjaga Komitmen ` Perubahan DJBC KONSULTASI KEPABEANAN & CUKAI Permintaan Tenaga Pengajar RUANG KESEHATAN Beberapa kelainan Warda dan Bentuk Gigi RUANG INTERAKSI Merdeka RENUNGAN ROHANI Hamba Tuhan vs Hamba Hantu PERISTIWA CCC Tour De Kintamani SEPUTAR BEACUKAI APA KATA MEREKA - Denny Malik - Anwar Fuadi

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

TANGGAPAN ATAS PERTANYAAN DKP
Sehubungan dengan surat pertanyaan mengenai DKP yang ditujukan kepada Kepala Bagian Keuangan dan menindaklanjuti nota dinas Kepala Bagian Keuangan nomor ND-269/BC.13/ 2007 tanggal 7 Agustus 2007, perihal Pertanyaan tentang Dana Kesejahteraan Pegawai (DKP) yang telah dimuat pada WBC edisi 394 Agustus 2007 hal 3, bersama ini disampaikan bahwa pemotongan TKPKN untuk Dana Kesejahteraan Pegawai (DKP) akan dibahas lebih lanjut apakah masih diperlukan atau tidak, mengingat : 1. Apabila rencana remunerasi telah terlaksana, diharapkan TKPKN yang diterima oleh pegawai semakin besar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pegawai, sehingga akan dikaji apakah pemotongan DKP masih diperlukan. 2. Apabila masih ada pemotongan DKP sebagaimana usul Saudara untuk penyesuaian dana bantuan akan menjadi bahan kajian. Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih. Kepala Bagian Umum KP DJBC SONNY SUBAGYO NIP. 060062080

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

LAPORAN UTAMA

Reorganisasi
Untuk Mempertajam Fungsi Unit Kerja Instansi Vertikal
Dalam kurun waktu tujuh bulan, DJBC telah melakukan dua kali reorganisasi.

R

eorganisasi instansi vertikal yang dalam kurun waktu 7 bulan telah dua kali dilakukan itu, antara lain; pertama pada Januari 2007 melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 133/PMK/01/2006 dan yang baru-baru ini tepatnya pada Juli 2007, melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.01/2007 telah ditetapkan kembali organisasi dan tata kerja instansi vertikal DJBC, sehingga secara prinsip merubah peraturan Menteri Keuangan Nomor 133/PMK.01/2006. Perubahan organisasi dan tata kerja instansi vertikal DJBC tersebut, menurut Sekretaris Direktorat Jenderal (Sekditjen) Bea dan Cukai, Drs. Kamil Sjoeib MA, dilakukan dengan mempertimbangkan hasil kajian Tim Percepatan Reformasi DJBC, yaitu adanya perubahan pada sistim dan prosedur pelayanan, perubahan kebijakan di bidang pengawasan, serta adanya perubahan kebijakan di bidang sumber daya manusia, dimana pada akhirnya menuntut perubahan pada beberapa infrastruktur pelayanan dan pengawasan yang belum dapat ditampung pada struktur organisasi dan tata kerja instansi vertikal DJBC sebagaimana sebelumnya telah ditetapkan dalam PMK Nomor 133/PMK.01/2006. Mengenai latar belakang dilakukan kembali reorganisasi instansi vertikal belum lama ini, Kamil menegaskan, bahwa pada dasarnya reorganisasi instansi vertikal ini merupakan bagian dari program dan kebijakan DJBC dalam upaya mempercepat terwujudnya reformasi di bidang kepabeanan dan cukai. Salah satu pertimbangan perlu dilakukannya reorganisasi instansi vertikal di DJBC, lanjutnya, adalah karena terdapat fakta empirik pelaksanaan operasional pelayanan dan pengawasan di instansi vertikal DJBC yang menunjukkan karakteristik yang berbeda, misalnya : l Adanya beberapa Kantor Pelayanan yang secara operasional lebih fokus pada pelaksanaan pelayanan kepabeanan dan cukai. l Adanya beberapa Kantor Pelayanan yang secara operasional lebih fokus pada pelaksanaan pengawasan kepabeanan dan cukai l Adanya beberapa Kantor Pelayanan yang secara operasional melaksanakan pelayanan dan pengawasan secara berimbang Dengan adanya perbedaan karakteristik tersebut, maka salah satu hal pokok yang menjadi latar belakang dilakukan reorganisasi instansi vertikal di DJBC ini adalah untuk mempertajam fungsi unit kerja instansi vertikal berdasarkan beban kerja, dengan prinsip, pertama, pembagian tugas dan kewenangan

yang jelas dan tegas antara Kantor Pusat dan Instansi Vertikal . Kedua, perluasan desentralisasi kewenangan operasional. Sebagai contoh, reorganisasi instansi vertikal DJBC pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.01/2007, antara lain meliputi beberapa perubahan prinsip pelaksanaan tugas sebagai berikut : 1. Pembentukan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPU) yang lebih dititikberatkan pada pelaksanaan tugas di bidang pelayanan, dimana untuk tugas yang bersifat pengawasan dilaksanakan secara sistemik (built-in system) pada sistim aplikasi pelayanan, sehingga dapat mengurangi hambatan dalam proses pelayanan kepabeanan dan cukai. 2. Pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) yang secara operasional lebih dititikberatkan pada pelaksanaan tugas di bidang pengawasan. 3. Pelayanan Kepabeanan Cukai di KPU dan KPPBC dilaksanakan dengan proporsi yang berbeda dimana: a. Untuk pelayanan di KPU dimulai sejak pelayanan atas Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut sampai dengan proses penyelesaian keberatan b. Sedangkan pelayanan di KPPBC dimulai sejak pelayanan atas Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut sampai dengan proses SPPB (Surat Pemberitahuan Pengeluaran Barang). Menurut Kamil, dalam reorgansiasi di DJBC ada pertimbangan-pertimbangan yang diambil, antara lain; pertimbangan yang paling utama adalah adanya perubahan kebijakan pemerintah, baik kebijakan umum pemerintahan di bidang organisasi maupun kebijakan pemerintahan di bidang tugas pokok dan fungsi organisasi. DOK. WBC Kedua, adanya perkembangan dalam praktik perdagangan internasional dan perkembangan teknologi informasi yang menuntut perubahan paradigma terkait dengan tugas pokok dan fungsi DJBC di bidang pelayanan dan pengawasan kepabeanan. Ketiga, adanya tuntutan masyarakat terhadap peningkatan kinerja DJBC di bidang pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai, dimana strategi untuk memenuhi tuntutan tersebut adalah dengan melakukan perubahan pada sistim dan prosedur kepabeanan yang pada akhirnya juga berpengaruh pada struktur organisasi dan tata kerja DJBC.

PERAN SEKRETARIS JENDERAL BEA DAN CUKAI
Berdasarkan tugas dan fungsi DJBC, Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai secara prinsip bertanggung jawab terhadap peningkatan kapasitas DJBC. Dalam kaitannya dengan reorganisasi instansi vertikal DJBC, menurut Kamil, Sekditjen DJBC menjalankan fungsinya sebagai unit yang bertanggung jawab dalam proses penyusunan
WARTA BEA CUKAI

BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI DJBC, Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai secara prinsip bertanggung jawab terhadap peningkatan kapasitas DJBC.

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

5

LAPORAN UTAMA
rumusan organisasi dan tata kerja DJBC sampai dengan proses penyelesaian Peraturan Menteri Keuangan. Dalam merumuskan reorgansisasi instansi vertikal tersebut, Sekditjen meminta masukan dan tanggapan dari semua unit kerja terkait termasuk dengan para Tenaga Pengkaji di lingkungan DJBC, yang dalam mekanismenya dilakukan secara koordinatif dan komunikatif agar terwujud struktur organisasi dengan tata kerja yang ideal sesuai dengan yang diharapkan. Ketika ditanyakan pendapatnya mengenai struktur organisasi vertikal di DJBC apakah saat ini sudah cukup mendukung kinerja DJBC, Kamil pun mengungkapkan bahwa perubahan organisasi dan tata kerja instansi vertikal DJBC berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.01/ 2007 ditujukan untuk mengakomodasi tuntutan optimalisasi kinerja DJBC yang berkembang dalam masyarakat. Struktur organisasi dan tata kerja instansi vertikal DJBC yang telah dibangun saat ini dinilainya sudah cukup untuk mendukung kinerja DJBC tersebut, namun demikian masih bersifat relatif karena baru mulai dilaksanakan dan masih memerlukan peran aktif dari semua unit kerja terkait agar dapat dievaluasi bersama dalam rangka mengantisipasi setiap celah dan kelemahannya terutama hal-hal yang dapat mempengaruhi kinerja DJBC. Karena itu dalam melakukan suatu reorgansiasi pertimbangan yang paling utama adalah terkait dengan beban kerja, yang meliputi wilayah pengawasan, jumlah dokumen pelayanan serta persepsi . Kemudian perkembangan sistim dan prosedur pelayanan dan tugas pokok dibidang pengawasan kepabeanan dan cukai sebagai konsekuensi adanya perkembangan dalam praktik-praktik perdagangan internasional dan perkembangan dibidang tekonologi infromasi. Pertimbangan selanjutnya adalah efisiensi dan efektifitas organisasi dan tata kerja, terutama untuk menghindari terjadinya duplikasi pelaksanaan tugas. Kamil menegaskan bahwa perlu diketahui, organisasi bukanlah tujuan, tetapi merupakan salah satu “instrument” yang paling utama untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu struktur organsiasi yang ideal seharusnya sesuai dengan kebutuhan tujuan organisasi. “Sepanjang saya ketahui, tidak ada standar baku organisasi kepabeanan yang direkomendasikan WCO, namun demikian ciri khas dari organisasi administrasi kepabeanan yang berlaku di semua negara umumnya mempunyai struktur yang hampir sama terutama terlihat pada fungsi teknis kepabeanan, enforcement, post clearance audit, teknologi dan informasi dan beberapa fungsi kepabeanan lainnya,” jawab Kamil ketika ditanyakan mengenai standar baku dari WCO untuk organisasi Kepabeanan. ris
DOK. WBC

Peran Biro Organta Dalam Reorganisasi
Departemen Keuangan mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintah di bidang keuangan dan kekayaan negara. Pelaksanaan tugas di bidang keuangan dan kekayaan negara meliputi kegiatan dan upaya menghimpun, mengalokasikan, mengarahkan dan mengerahkan dana serta membina kekayaan negara.

T

TERDAPAT FAKTA EMPIRIK pelaksanaan operasional pelayanan dan pengawasan di instansi vertikal DJBC yang menunjukkan karakteristik yang berbeda.

ugas Departemen Kuangan tersebut semakin bertambah kompleks dan berat, antara lain adalah bidang optimalisasi pendapatan Negara, efisiensi dan efektivitas belanja negara, optimalisasi pengelolaan pembiayaan anggaran dan optimalisasi pengelolaan dan penilaian kekayaan negara, serta harus didukung oleh sistim penganggaran, kesinambungan fiskal, sistim pelaksanaan anggaran berjalan baik dan sistim penyusunan laporan keuangan yang memadai. Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Departemen Keuangan yang semakin kompleks dan bertambah berat, diperlukan organisasi yang efektif, efisien, tepat, akuntabel, independen, dan dapat merefleksikan dan mentransformasikan tugas-tugas yang diembannya. Oleh karena itu, menurut Kepala Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan (Organta) Departemen Keuangan (Depkeu), Drs. Sudihardjo MA, penataan organisasi Depkeu harus selalu dilakukan guna menjawab dan mengikuti tuntutan kebutuhan penyelenggaraan tugas dan perkembangan kebijakan pemerintah dibidang keuangan. Penataan organisasi dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi, sehingga dapat memberikan pelayanan secara cepat, tepat, berhasil guna, berdaya guna dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Hal ini sesuai dengan misi Depkeu di bidang organisasi/ kelembagaan yaitu “senantiasa memperbaharui diri (self reinventing) sesuai dengan aspirasi masyarakat dan perkembangan mutakhir teknologi keuangan serta administrasi publik, dengan didukung oleh pelaksana yang potensial dan mempunyai integritas yang tinggi. Lebih lanjut disampaikan Sudihardjo, berdasarkan PMK 131/PMK.01/2006, Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan penataan organisasi dan tata laksana pada semua satuan organisasi di lingkungan Departemen. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Biro Organta menyelenggarakan fungsi: l Pembinaan dan koordinasi pengembangan kelembagaan Departemen

6

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

DOK. ZAP

Menurut Sudihardjo, pada prinsipnya KPU Bea dan Cukai tersebut melaksanakan pelayanan terpadu pada satu atap (one stop service) dan tetap mengindahl kan serta menjaga asas-asas independensi, akuntabel dan transparansi, yaitu l antara mewujudkan hubungan kemitraan dengan pengguna jasa melalui pembentukan unit yang melaksanakan pembinal an, konsultasi, penyuluhan, dan pelayanan informasi. Kemudian menerapkan sistim pengendalian/ kepatuhan internal l agar pelaksanaan tugas dan kinerja pada setiap unit dan pegawai dapat meningkat, lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan peraturan perundangan yang l berlaku, dan memberikan rekomendasi perbaikan sistim kepada Kantor Pusat l sesuai dengan perkembangan. Selain pembentukan KPU Bea dan Cukai, dalam reorganisasi instansi vertiSedangkan visi Biro Organta BIRO ORGANTA bersama-sama Setditjen kal DJBC dilakukan perubahan nomenadalah “terwujudnya organisasi dan Bea dan Cukai dan Tim Modernisasi DJBC klatur Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tata laksana yang efektif dan efisien membahas dan menyusun konsep reorga- menjadi Kantor Pengawasan dan pada setiap satuan organisasi di nisasi instansi vertikal DJBC, memberi Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC), hal lingkungan Depkeu. masukan kepada Sekretaris Jenderal dan ini dilakukan mengingat tugas dan fungMenteri Keuangan. si pengawasan pada Kantor Pelayanan PERAN BIRO ORGANTA yang tidak menjadi KPU merupakan tugas yang lebih Mengenai peran dari biro Organta dalam proses reordominan. Selain itu juga, dilakukan penataan lokasi dan ganisasi instansi vertikal yang baru-baru ini dilakukan wilayah kerja Kanwil dan KPPBC, hal ini dilakukan untuk DJBC, menurut Sudihardjo, perlu diketahui, bahwa Biro lebih menyesuaikan dengan perkembangan perekonomiOrganta bersama-sama Setditjen Bea dan Cukai dan Tim an dan tata perkotaan/pemerintahan yang terjadi, sehingModernisasi DJBC membahas dan menyusun konsep reorganisasi instansi vertikal DJBC, memberi masukan ga organisasi akan lebih efektif. kepada Sekretaris Jenderal dan Menteri Keuangan (Menkeu) mengenai reorganisasi instansi vertikal DJBC untuk SUDAH MENDUKUNG KINERJA diusulkan kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur NegaKetika ditanyakan mengenai struktur organisasi vertira (Menpan). Disamping itu juga, memberikan argumenkal DJBC, apakah sudah mendukung kinerja, Sudihardjo tasi, latar belakang dan tujuan serta membahas konsep mengungkapkan, secara umum organisasi instansi reorganisasi dengan pejabat Kementerian PAN dan vertikal DJBC saat ini sudah mendukung kinerja DJBC. Sekretariat Kabinet dan memproses penetapan PMK-nya. Namun demikian secara berkala harus tetap dilakukan moMengenai pertimbangan ditetapkannya reorganisasi nitoring dan evaluasi organisasi untuk menjamin bahwa instansi vertikal DJBC sesuai dengan DOK. WBC PMK Nomor 68, lebih lanjut Sudihardjo menjelaskan, secara garis besar reorganisasi instansi vertikal DJBC tersebut adalah pembentukan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPU) yang ditujukan untuk; Pertama, mengoptimalkan fungsi utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai fasilitator perdagangan (Trade Facilitator), dukungan industri (Industrial Assistance), pelindung masyarakat (Community Protector), penghimpun penerimaan (Revenue Collector), meningkatkan hubungan kemitraan dan kepatuhan mitra kerja DJBC serta meminimalkan biaya pemenuhan kewajiban kepabeanan dan cukai (Compliance Cost). Kedua, meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa kepabeanan dan cukai dengan mengimplementasikan cara kerja yang cepat, efisien, transparan dan responsive terhadap pengguna jasa. Ketiga, untuk meningkatkan efektivitas dan citra organisasi serta dalam upaya mewujudkan Good Governance dan Clean Government di lingkungan DJBC. Keempat, pembentukan KPU terseUNTUK MENDUKUNG pelaksanaan tugas Departemen Keuangan yang semakin kompleks dan but dalam rangka mengemban amanat bertambah berat, diperlukan organisasi yang efektif, efisien, tepat, akuntabel, independen, dan Undang-undang Kepabeanan yang baru. dapat merefleksikan dan mentransformasikan tugas-tugas yang diembannya.
l

Pembinaan dan koordinasi pengembangan sistim dan prosedur kerja Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan sistim administrasi umum Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tata laksana pelayanan publik Pembinaan dan koordinasi pengembangan analisis jabatan dan jabatan fungsional Pembinaan dan koordinasi pengembangan kinerja organisasi pada semua satuan organisasi di lingkungan Departemen Koordinasi penyusunan laporan akuntabilitas kinerja Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Biro.

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA
organisasi instansi vertikal DJBC dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dapat berjalan dengan efektif. Selain untuk menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi, evaluasi yang dilakukan antara lain dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi modernisasi instansi vertikal DJBC yang menurut rencana akan diterapkan secara bertahap hingga 2012, sehingga dapat diketahui KPPBC yang layak dapat dijadika KPU Bea dan Cukai dan KPPBC yang secara “nature” tidak layak untuk dijadikan KPU Bea dan Cukai. “Untuk saat ini, organisasi DJBC sudah ideal, hal ini antara lain dapat dilihat dari tidak adanya tugas dan fungsi yang saling tumpang tindih, serta adanya garis perbedaan yang cukup jelas antara Kantor Pusat yang melakukan perumusan kebijakan dan instansi vertical yang melaksanakan kebijakan”, ujar Sudihardjo. Selain itu menurutnya, tipologi KPPBC yang saat ini terdiri dari 5 tipe lebih fokus dan menunjukkan karakteristik jenis pelayanan yang diberikan, KPPBC yang jenis pelayanannya lebih besar pada sektor kepabeanan susunan organisasinya dititikberatkan pula pada sektor pabean, untuk kantor pelayanan yang jenis pelayanannya lebih besar pada sektor cukai susunan organisasinya dititikberatkan pula pada sektor cukai. Dalam setiap melakukan reorganisasi harus memperhatikan prinsip-prinsip pengorganisasian, baik yang berlaku secara umum (dalam ilmu administrasi dan manajemen) maupun yang digariskan oelh Kementerian PAN yang meliputi asas Pembagian Tugas, Fungsionalisasi, Koordinasi, Kesinambungan, Akordion, Pendelegasian Wewenang, Keluwesan, Rentang Pengendalian Jalur dan Staf dan Kejelasan dalam Pembaganan. Dalam hal ini, penataan organsiasi antara lain harus memperhatikan: l Pengelompokan tugas dan fungsi yang sejenis/ terkait dalam rangka menciptakan institusi yang sistimatis dan satu atap(institutional coherence dan one stop service) l Keseimbangan beban, kualitas dan hasil kerja sehingga dapat diminimalisir adanya satuan organisasi yang “super body” yang memungkinkan terrciptanya kondisikerja yang kurang kondusif dan menurunkan share value (nilai kebersamaan) sehingga akan menurunkan kinerja organisasi secara keseluruhan Kesesuaian dengan kebutuhan, peraturan perundangan dan tuntutan stakeholders serta perkembangan yang terjadi (di bidang ekonomi, keuangan dan lainlain) Kejelasan tugas dan fungsi sehingga dapat dihindari kemungkinan tumpang tindih tugas dan adanya grey area (antara lain adanya garis perbedaan yang cukup jelas antara Kantor Pusat yang melakukan perumusan kebijakan dan instansi vertikal yang melaksanakan kebijakan), dan lain-lain.

l

l

Dalam hal ini Biro Organta sebagai perwakilan dari Depkeu, menurut Sudihardjo, melakukan kerjasama dan membina hubungan yang sudah berjalan baik dengan instansi terkait antara lain dengan Kementerian PAN, Sekretariat Kabinet, Lembaga Administrasi Negagara, Badan Kepegawaian Negara dan lain-lain. “Instansi-instansi tersebut merupakan mitra kerja Biro Organta dalam memproses penyempurnaan organisasi. Pada saat pembahasan penyempurnaan organisasi, pendapat dan masukan dari Biro Organta selalu mendapat perhatian dari Kementerian PAN,” ungkap Sudihardjo yang menurutnya, bagi Kementerian PAN, Biro Organta merupakan mitra kerjasama dan pintu gerbang utama dalam melakukan penataan organisasi di lingkungan Depkeu. Kementerian PAN tidak akan memproses usulan penataan organsiasi dari Direktorat Jenderal/ Badan yang tidak melalui Sekretariat Jenderal c.q Biro Organta. Ketika disinggung mengenai hubungan antara penyempurnaan organisasi instansi vertikal DJBC dengan Reformasi birokrasi di Depkeu, Sudihardjo menegaskan bahwa Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan meliputi reformasi di bidang kelembagaan ketataDOK. WBC laksanaan (bussines process) dan kepegawaian, penyempurnaan organisasi instansi vertikal DJBC merupakan salah satu bagian dalam reformasi birokrasi Depkeu di bidang kelembagaan. Reformasi birokrasi di bidang kelembagaan (yang merupakan tahap awal reformasi birokrasi secara keseluruhan) harus dilakukan secara hati-hati. Sebab, apabila susunan organisasi, tugas dan fungsi tidak tepat, tidak right sizing, beban kerja yang tidak seimbang, menimbulkan friksi, terdapat satuan organisasi yang bersifat eksklusif dan super body, terdapat tugas dan fungsi yang saling tumpang tindih, serta terdapat satuan organisasi yang pada kurun waktu tertentu mempunyai beban yang sangat besar namun pada kurun waktu berikutnya mempunya beban kerja yang sangat kecil, maka hasil reformasi birokrasi di bidang ketatalaksanaan dan kepegawaian juga tidak akan optimal dan efektif. Karena itu, penataan organisasi harus selalu dilakukan untuk meningkatkan efektitifitas dan efisiensi organisasi. “Untuk itu, masukan saya, agar setiap reorganisasi yang dilakukan Direktorat Jenderal senantiasa memperhatikan SECARA UMUM organisasi instansi vertikal DJBC saat ini sudah mendukung kinerja DJBC. prinsip-prinsip pengorganisasian Namun demikian secara berkala harus tetap dilakukan monitoring dan evaluasi organisasi untuk sebagaimana yang telah disebutkan tadi,” menjamin bahwa organisasi instansi vertical DJBC dalam melaksanakan tugas dan fungsinya tandas Sudihardjo. ris dapat berjalan dengan efektif. 8
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Karakteristik Organisasi V ertikal DJBC
Terdapat fakta empirik pelaksanaan operasional pelayanan dan pengawasan di instansi vertikal DJBC yang menunjukkan karakteristik yang berbeda. Ada beberapa kantor pelayanan yang fokus pada pelayanan kepabeanan dan cukai, sebaliknya ada yang fokus pada pengawasan kepabeanan dan cukai. Ada juga kantor pelayanan yang secara operasional melaksanakan pelayanan dan pengawasan secara berimbang

M

DOK. WBC

Beberapa kantor ada juga yang titik berat tuengenai karakteristik masing-magasnya lebih banyak ke masalah border consing kantor di tingkat vertikal trol dibandingkan dengan pengawasan yang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai built in di pelayanan. (DJBC) kini terdiri dari Kantor Wi“Ini merupakan hasil analisis pak dirjen, layah (Kanwil) DJBC, Kanwil Khumakanya hasil analisis itu kemudian kita dissus DJBC, Kantor Pelayanan Utama (KPU) kusikan. Jadi karakteristik inilah yang selama Bea dan Cukai dan Kantor Pengawasan dan ini dalam menentukan tipe kantor pelayanan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC). tidak pernah kita masukkan. Untuk itu kita Dalam penyempurnaan organisasi vertikal coba rancang sebuah kantor yang sesuai kali ini terdapat istilah baru yaitu Kantor Pengdengan karakteristik masing-masing wilayah awasan dan Pelayanan menggantikan istilah tadi,” ujar Nofrial. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Menurut Kepala Bagian Organisasi dan Tata Laksana (OTL) Kantor Pusat DJBC, Drs Nofrial M.A, KPU DAN KPPBC bahwa dalam pelaksanaan tugas kepabeanan Sesuai karakteristiknya, lanjut Nofrial, undan cukai pada organisasi vertikal DJBC, tuk kantor-kantor yang lebih berorientasi pada terdapat beberapa Kantor Pelayanan yang tugas di bidang pelayanan, secara bertahap mempunyai karakteristik tertentu dan sangat akan dijadikan Kantor Pelayanan Utama Bea spesifik, antara lain contohnya; dan Cukai sebagaimana telah mulai 1. Kantor-kantor besar seperti Tanjung Priok, dilakukan di Tanjung Priok dan Batam pada Soekarno-Hatta, Batam, Tanjung Emas, tanggal 1 Juli 2007. Tanjung Perak, Kudus, Kediri dan Malang Menurut Nofrial, salah satu dari hasil anaDrs. NOFRIAL, M.A. Berdasarkan struktur serta kantor-kantor besar lainnya yang lisis yang dilakukan, dari sekian kantor yang organisasi dan tata kerja, tidak terdapat lebih berorientasi pada tugas pelayanan titik pelayanannya lebih menonjol, ada bebeperbedaan yang signifikan antara KPBC kepabeanan dan cukai, jika dibandingkan rapa yang sangat menjanjikan seperti Tanjung dengan KPPBC. Namun demikian berdasardengan pelaksanaan tugas di bidang Priok, Soekarno-Hatta, Tanjung Perak dan kan subtansi tugas pokok dan fungsi pengawasan. sebagainya. Untuk kantor-kantor dalam kateterdapat perbedaan yang sangat mendasar. 2. Sebaliknya, kantor-kantor lainnya segori ini maka menyebutnya dengan istilah perti Tajung Balai Karimun, Pontianak, Makassar yang seKantor Pelayanan Utama, artinya pelayanan yang diutamakan kalipun juga melaksanakan tugas pelayanan namun prokarena tugas utamanya adalah pelayanan. porsinya relatif kecil jika dibandingkan dengan tugasnya Sedangkan untuk kantor-kantor yang lebih berorientasi pada di bidang pengawasan. tugas di bidang pengawasan ditetapkan menjadi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai. Dengan demikian, “Untuk kantor yang titik berat pelaksanaan tugasnya adalah tujuan utama yang menjadi latar belakang dibentuknya KPU dan benar-benar pelayanan atau lebih besar porsinya untuk bidang KPPBC adalah untuk menempatkan dan mengelompokkan pelayanan, dibandingkan dengan bidang pengawasan, maka organisasi instansi vertikal DJBC secara tegas, jelas dan pengawasannya di-built in di dalam sistim pelayanan. Jadi meproporsional sesuai dengan beban dan volume tugasnya dalam mang betul-betul murni pelayanan bagi masyarakat . Sedangkan pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai. tugas lalu lintas pengawasan barang di-built in dengan pelayanSebagai pembanding KPU adalah KPPBC, artinya unsur an. Sehingga masyarakat jadi mengetahui bahwa itu merupakan pengawasan lebih dikedepankan, sebab itu disebut Kantor pelayanan yang dilakukan bea dan cukai, walaupun pengawasan Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai. Sementara kantoryang dilakukan bea cukai melalui sistim pelayanan,” ujar Nofrial. kantor yang benar-benar besar disebut sebagai Kantor Survey yang dilakukan oleh Bidang OTL Kantor Pusat DJBC, Pelayanan Utama. Namun, bukan semata-mata karena kantor itu terdapat 11 kantor yang beban kerja di bidang pelayanan sekitar besar, tetapi dari sisi filosofi diharapkan sisi pelayanannya 89 persen, sisanya 11 persen adalah tugas yang kedua, yaitu diutamakan bukan sekedar melayani dalam arti pelayan, karena border control (pengawasan wilayah perbatasan). tugas Bea dan Cukai yang sebenarnya adalah mengawasi lalu Lalu, bagaimana dengan kantor yang berada di Pontianak, lintas barang,” imbuh Nofrial. Makassar, dan kantor lainnya ? Di perbatasan, lanjut Nofrial, dari “Dengan dibentuknya KPPBC ini merupakan suatu konsekusegi kepabeanan tidak hanya meliputi perbatasan laut dan darat ensi tersendiri bagi DJBC untuk lebih mengoptimalkan kinerja pesaja., ambil contoh seperti di Soekarno Hatta, bisa juga disebut ngawasan di bidang kepabeanan dan cukai,” ujar Nofrial kembali. wilayah perbatasan karena pesawat turun langsung ke wilayah Mengenai perbedaan antara KPPBC dengan Kantor PelayanIndonesia, sehingga tugas border control-nya juga berlaku. an yang ada sebelumnya, yaitu KPBC (Kantor Pelayanan Bea Begitu juga di Tanjung Priok, walaupun pada hakekatnya kapal dan Cukai), Nofrial menegaskan, berdasarkan struktur organisasi datang dari luar sampai di Tanjung Priok, setelah melapor maka dan tata kerja, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara berlakulah ketentuan batas atau berlaku border control. KPBC dengan KPPBC. Namun demikian berdasarkan subtansi
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC DOK. WBC

SESUAI KARAKTERISTIKNYA, untuk kantor-kantor yang lebih berorientasi pada tugas di bidang pelayanan, secara bertahap akan dijadikan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai.

UNTUK KANTOR-KANTOR yang lebih berorientasi pada tugas di bidang pengawasan ditetapkan menjadi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai

tugas pokok dan fungsi terdapat perbedaan yang sangat mendasar, dimana dengan adanya perubahan KPBC menjadi KPPBC maka suatu kantor yang semula melaksanakan tugas pelayanan dan pengawasan secara berimbang, menjadi lebih berorientasi pada tugas di bidang pengawasan. Sementara mengenai pengawasan di KPU adalah bagaimana melakukan pengawasan terhadap lalu lintas barang seefisien dan seefektif mungkin sehingga tidak menimbulkan cost bagi masyarakat. “Sebaiknya KPU bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal supaya jalur pengawasan tidak terlalu panjang antara pimpinan dengan yang dioperasionalkan oleh unit vertikal ini. Makanya di semua KPU kita usulkan pada waktu itu kepada Presiden untuk jadi eselon II. Nah dengan adanya usulan itu, berarti instansi vertikal Bea dan Cukai menjadi Kanwil, KPU dan KPPBC. Sedangkan KPPBC berada dibawah Kanwil dan Kanwil dibawah Dirjen, termasuk juga KPU yang langsung dibawah dirjen,” jelas Nofrial. Khusus mengenai KPU, lanjut Nofrial, masih banyak orang awam berpikiran bahwa jika sudah ada KPU maka kantor lain yang sebelumnya berada di wilayahnya maka akan dihapus. Jika misalnya KPU terdiri dari Kantor Pelayanan maka akan digabung menjadi satu sehingga tidak ada lagi Kantor Pelayanan yang lain, misalnya di Tanjung Priok, sebelumnya ada Priok I, II dan III, maka digabung menjadi satu dan Kanwilnya yang dibubarkan diganti dengan KPU. Dan perlu dicatat, dengan adanya KPU di Tanjung Priok telah dibentuk satu Kantor Pelayanan baru namanya KPPBC Tipe A4 Sunda Kelapa untuk menampung atau mem-back up pekerjaan diluar KPU Tanjung Priok. “Ada yang mengatakan Soekarno-Hatta nanti di KPU-kan lalu Kanwil Banten dibubarin, itu sama sekali tidak benar, karena kita ingin semua KPU yang kita buat mempunyai fokus sehingga kita benar-benar lebih mudah mengukurnya, kalau ada yang bilang Kanwil Banten dibubarin lantas yang Merak dan Tangerang bagaimana ? Jadi KPU itu terdiri dari seluruh kantor pelayanan yang ada dibawah Kanwil itu, jadi Kanwilnya kita bubarin dan kita buat KPU. Tetapi kalau hanya sebagian saja yang diambil Kanwilnya itu akan tetap, hanya saja wilayah kerjanya di kurangi, misalnya KPU Batam, maka yang Batam, Muka Kuning dan Tanjung Uban kita jadikan KPU, Kanwil yang dipimpin Pak Yosi (Yusuf Indarto, Kakanwil Khusus Kepulauan Riau-Tanjung Balai Karimun.red) yang kurang wilayah kerjanya, tetapi tetap ada Kanwil Tanjung Balai Karimun, hanya wilayah kerjanya yang dikurangi,” jelas Nofrial. Dan dalam reorganisasi ini terdapat hal baru yaitu berdasarkan karakteristik yang spesifik, di wilayah kerja Kepulauan Riau dibentuk Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Khu10
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

sus Kepulauan Riau (berlokasi di Tanjung Balai Karimun) yang selanjutnya disebut Kantor Wilayah Khusus. Karakteristik yang spesifik sebagaimana dimaksud adalah adanya pemisahan pelaksanaan fungsi penindakan dan penyidikan.

POKOK-POKOK PENYEMPURNAAN
Pokok-pokok penyempurnaan instansi vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) , menyebutkan bahwa instansi vertikal DJBC meliputi Kantor Wilayah (Kanwil) , Kantor Pelayanan Utama (KPU) dan Kantor Pengawasan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC). Kini, organisasi vertikal DJBC terdiri dari 16 Kanwil 114 KPPBC, 89 Kantor Bantu dan 592 Pos Pengawasan. Sedangkan untuk KPU terdiri dari 2 KPU, 2 Kantor Bantu dan 51 Pos Pengawasan. Yang masing-masing akan dijabarkan sebagai berikut: Kantor Wilayah Pada Kantor Wilayah, pokok-pokok yang disempurnakan adalah meliputi; l penghapusan nomor Kanwil l Tupoksi (tugas pokok organisasi) pengawasan internal l Likuidasi Kanwil VII Jakarta I l Kanwil Khusus Kepulauan Riau l Pengurangan wilayah kerja Kanwil Kepulauan Riau.
l l

Kantor Pelayanan Utama Pembentukan KPU Tanjung Priok dan Batam KPU terdiri dari Tipe A dan Tipe B

Kantor Pengawasan dan Pelayanan KPPBC terdiri dari Tipe A1, A2, A3, A4 dan B KPPBC kecuali yang dilakukan perubahan dan dijadikan KPU, tipe tetap sama dengan yang ditetapkan dengan KMK 133/PMK.01/2006 l Penghapusan KPBC Tanjung Priok I,II,III, KPBC Batam, KPBC Muka Kuning, KPBC Tanjung Uban l Penggantian Nomenklatur l Pembentukan KPPBC Tipe A4 Sunda Kelapa l Tupoksi Pengawasan Internal l Penggantian Tipe KPBC - KPBC Jakarta Tipe A3 menjadi A2 - KPBC Bandung Tipe A3 menjadi A2 - KPBC Kudus, Malang, Kediri Tipe A2 menjadi A3 - KPBC Tipe A3 Juanda menjadi A2 l Penggabungan KPBC Tipe B Iskandar Muda dan KPBC Tipe B Uleelheue menjadi KPBC Tipe A4 Banda Aceh. ris
l l

Kepatuhan Internal DJBC
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.01/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal DJBC, fungsi pengawasan internal atau kepatuhan internal didesentralisasikan pelaksanaannya kepada instansi vertikal DJBC baik di Kantor Wilayah (Kanwil), Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPU) dan Kantor Pelayanan dan Pengawasan DJBC (KPPBC).

P

DJBC, sekaligus dapat menjadi motivator pegawai untuk meningada dasarnya, pelaksanaan tugas pengawasan internal katkan kepatuhannya terhadap pelaksanaan tugas. Namun perlu atau kepatuhan internal telah ada sejak berlakunya juga diperhatikan bahwa jaminan meningkatnya kepatuhan Peraturan Menteri Keuangan Nomor. 131/PMK.01/2006, pegawai tersebut tentunya juga sangat dipengaruhi oleh peneraptentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan punishment yang konsisten dan konsekuen serta penerapan an, dimana sesuai dengan tugas pokok dan fungsi rewards berupa kebijakan pemberian remunerasi yang cukup DJBC, pelaksanaan pengawasan internal tersebut dilakukan oleh untuk kesejahteraan pegawai. Sekretariat DJBC terhadap seluruh unit di lingkungan DJBC. Secara umum, menurut Nofrial, unit kerja yang memberikan Fungsi pengawasan internal atau kepatuhan internal ini bertupelayanan diwajibkan menyusun Standard Operating Procedure juan untuk membantu Direktur Jenderal dalam melakukan pengdan Standar Pelayanan Publik yang berisi janji pelayanan kepada awasan, evaluasi dan mengambil kebijakan tentang performance masyarakat dimana secara periodik akan dievaluasi individual unit kerja maupun pegawai di lingkungan DJBC. pelaksanaannya oleh Sekretariat Direktorat Jenderal dan unit “Jadi Kepatuhan Internal yang ada di Kantor Wilayah dan yang membidangi pengawasan internal pada organisasi instansi KPPBC secara umum sama dengan yang ada di KPU”, demivertical DJBC. kian menurut Kepala Bagian Organisasi dan Tata Laksana Adapun unit kerja di bidang pengawasan internal tersebut Drs. Nofrial MA. melaksanakan tugasnya melalui mekanisme sebagai berikut ; Menurutnya, sesuai dengan organisasi dan tata kerja instansi melakukan tugas monitoring terhadap pelaksanaan tugas vertikal DJBC, sebagaimana Peraturan Menteri Keuangan Nomor individu, melakukan evaluasi terhadap hasil pelaksanaan tugas 68/PMK.01/2007, pelaksanaan Kepatuhan Internal dilakukan individu dan membuat rekomendasi hasil monitoring dan evaluasi secara hirarkis sesuai dengan struktur organisasi serta tanggung terhadap pelaksanaan tugas individu.Untuk mengetahui bahwa jawab dan kewenangannya. Dan berdasarkan Peraturan Menteri unit ini telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan maka Keuangan Nomor 68/PMK.01/2007 tersebut, KPU adalah unit evaluasi atau review terhadap efektivitas dan DJBC setingkat eselon II, dimana unit yang DOK. WBC efisiensi organisasi akan selalu dilakukan, membidangi Kepatuhan Internal di KPU dan dimana hasilnya nanti akan menjadi bahan Kantor Wilayah adalah sama yaitu Kepala masukan untuk menyempurnakan organisasi Bagian Umum (setingkat eselon III) sedangdan tata kerja DJBC baik di tingkat pusat kan di KPPBC dilaksanakan oleh Kepala maupun instansi vertikal. Subbagian Umum (setingkat Eselon IV). Sekretaris Direktorat Jenderal yang dalam Mengenai keberadaan Kepatuhan Internal hal ini dilaksanakan oleh Bagian Organisasi apakah dapat menjamin meningkatnya dan Tata Laksana, sesuai fungsinya akan kepatuhan pegawai terhadap pelaksanaan melakukan evaluasi terhadap kinerja organisatugas-tugasnya, Nofrial menegaskan, si. Disamping itu, Tenaga Pengkaji Bidang peningkatan integritas termasuk dalam hal ini Peningkatan Kapasitas Organisasi, sesuai kepatuhan pegawai, merupakan salah satu dengan bidangnya akan melakukan monitorkomitmen Departemen Keuangan untuk meing dan pengkajian terhadap efektivitas dan wujudkan reformasi birokrasi yang merupakan efisiensi organisasi. janji kepada masyarakat untuk memberikan kualitas pelayanan yang baik, dari segi waktu, biaya, transparansi mengenai prosedur dan KEPATUHAN INTERNAL DI KPU persyaratan administrasi. Mekanisme pengawasan bagi SDM di KPU Upaya untuk mewujudkan reformasi bidilakukan sepenuhnya oleh Bidang Kepatuhan rokrasi di lingkungan Departemen KeuangInternal (Bidang KI. Red) dimana pimpinan biBIDANG KI sudah melakukan tindakan an, khususnya DJBC dilakukan dengan dang ini melakukan penilaian terhadap setiap sesuai tupoksinya. Untuk tindak lanjut menerapkan strategi dan kebijakan sebaunsur satuan kerja dan pelaku organisasi metergantung permasalahannya. Ada yang gai berikut: menerapkan fungsi pengawas- langsung pada bidang/bagian terkait di lalui suatu mekanisme yang sistimatik untuk an internal pada setiap level birokrasi, me- KPU, atau melalui Kepala KPU. mengevaluasi dan meningkatkan efektifitias nerapkan key performance indicator setiap dari risk management, kontrol dan proses individu dan unit kerja serta, menerapkan sistim remunerasi bisnis dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Menurut Kepala berbasis kinerja Bidang KI KPU Tipe A Tanjung Priok, Oza Olavia, Ssi, Apt, M.Si, Dalam rangka mewujudkan reformasi birokrasi tersebut, Bidang KI mempunyai tugas melaksanakan pengawasan DJBC menerapkan formula untuk mencapai suatu program pelaksanaan tugas dan evaluasi kinerja di lingkungan Kantor pelayanan unggulan dimana keberhasilannya sangat tergantung Pelayanan Utama. Mengenai uraian tugas dari Bidang KI adalah: pada komitmen dari seluruh pegawai untuk senantiasa 1. melaksanakan pengawasan pelaksanaan tugas di bidang meningkatkan integritasnya di dalam melaksanakan tugas di pelayanan kepabeanan dan cukai, melaksanakan bidang pelayanan kepabeanan dan cukai. pengawasan pelaksanaan tugas di bidang intelijen, Hal tersebut, menurut Nofrial tentunya merupakan pertaruhan penindakan dan penyidikan di bidang kepabeanan dan cukai.
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA
2. melaksanakan pengawasan pelaksanaan tugas di bidang audit. 3. melaksanakan pengawasan pelaksanaan tugas di bidang administrasi. 4. melaksanakan evaluasi kinerja di bidang pelayanan, pengawasan dan administrasi kepabeanan dan cukai. 5. melaksanakan pemberian rekomendasi peningkatan pelaksanaan tugas. 6. melaksanakan pelaporan dan pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan kepatuhan internal dan hasil pemeriksaan aparat pengawasan fungsional. Sebagai suatu bidang baru perlu adanya koordinasi atas tugas dan kewenangan dari bidang ini. “Saya mencoba menindaklanjuti dari tupoksi bidang ini dan terutama yang keterkaitannya dengan seluruh bidang/bagian di KPU. Bersama-sama dengan seluruh anggota bidang ini, kita coba laksanakan berbagai kegiatan yang pada awalnya lebih mendukung seluruh kegiatan KPU dalam rangka memberikan pelayanan kepabeanan dengan tetap memastikan sistim KPU berjalan sesuai dengan prosedur dan tatanan yang telah ditetapkan,” lanjut Oza. “Disisi lain dengan dukungan dan bantuan dari Tim Percepatan Reformasi yang di pimpin Bapak Thomas Sugijata dan Kepala KPU, berupaya untuk menetapkan standar operasi prosedur untuk Bidang KI dan keseluruhan bidang di KPU guna penentuan standar penilaian kinerja keseluruhan pegawai di KPU,” tambah Oza. Mengenai action atau pelaksanaan di lapangan oleh Bidang KI, dijelaskan Oza, awalnya anggota KI langsung turun kesemua bidang untuk membantu kelancaran pelayanan di KPU. Bidang ini langsung menyelesaikan permasalahan di lapangan yang terkait langsung dengan prosedur dan pelayanan kepada pengguna jasa, mengingat pada saat awal memang masih ada beberapa kendala dalam pelaksanaan tugas KPU. Dalam hal ada pengaduan atau komplain dari pengguna jasa, maka bidang ini langsung menindaklanjuti pengaduan dari pengguna jasa tersebut. Setiap informasi yang ada dianalisa. Dalam hal pengaduan menyangkut tugas bidang lainnya, maka langsung diinformasikan pada bidang yang bersangkutan untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut dan Bidang KI memantau hasil tindak lanjut dari bidang tersebut, apabila terkait dengan masing-masing personil di KPU akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh Bidang KI. Bidang ini juga melakukan evaluasi atas keseluruhan kegiatan bagian/bidang di KPU dan menilai kinerja personil KPU, lanjut Oza. Mengenai tindakan yang telah diambil oleh bidang ini terutama berkaitan dengan KI, Oza mengungkapkan, pada prinsipnya bidang ini sudah melakukan tindakan sesuai dengan tupoksinya dan untuk tindak lanjut tergantung pada permasalahannya. Ada yang langsung pada bidang/bagian terkait
DOK. WBC

di KPU, atau melalui Kepala KPU. Misalnya sampai akhir Juli telah menangani dan menindaklanjuti 144 keluhan pengguna jasa mengenai kinerja PFPD, Pemeriksa Barang, Penerimaan dokumen, Pabean, Manifest, Hanggar, Gate, Ekspor, Perbendaharaan, HICO, Fasilitas, P2, Konsul, Rumahtangga dan SDM. Bidang KI juga telah melakukan analisa kinerja personil seperti Bidang Kepabeanan, Perbendaharaan, Fasilitas, Pemeriksa Barang dan Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen.

STANDAR TERUKUR DAN APPLICABLE
Yang menjadi tolok ukur bagi bidang ini dalam menjalankan tugasnya, menurut Oza adalah standar yang terukur dan applicable (measures), meliputi: Key Performance Indicator (KPI) dan Nilai Dasar dan Kode Etik Jabatan Pegawai KPU, hasil Kinerja Pegawai (performance), penilaian / pengukuran (performance measurement), laporan dan tindak lanjut hasil penilaian (measurement reporting) serta evaluasi dan monitoring hasil tindak lanjut (evaluation & monitoring) Mengenai SDM Bidang KI , menurut Oza, bidang yang dipimpinnya ini mempunyai tiga seksi yaitu : Seksi Kepatuhan Pelaksanaan Tugas Pelayanan, Seksi Kepatuhan Pelaksanaan Tugas Pengawasan, dan Seksi Kepatuhan Pelaksanaan Tugas Administrasi. Sedangkan pelaksana Bidang KI sebanyak 28 orang yang terdiri dari pelaksana administrasi dan pelaksana pemeriksa. “Untuk saat ini jumlah SDM untuk KI sudah sesuai dengan yang diinginkan dan pegawai di Bidang KI harus mempunyai karakteristik objective, integrity, confidentiality dan competency yang saat ini hal tersebut sudah terpenuhi , namun perlu tetap motivasi dan pengembangan diri,” ujar Oza. Sebagai suatu bidang baru di suatu kantor yang juga baru tentu ada permasalahan. Menurut Oza, suatu perubahan tentu perlu proses dan pemahaman dari seluruh pegawai KPU, bahwa tugas Bidang KI adalah melakukan pengawasan dan mengevaluasi kerja semua pegawai KPU. Pada awalnya mungkin ada pegawai yang merasa “aneh” apabila aktifitas mereka diawasi atau “takut” dengan personil kepatuhan internal. Namun dengan prinsip bahwa tugas KI bukan untuk menakut-nakuti pegawai tapi dalam arti menjamin semua proses berjalan sesuai prosedur dan ketentuan, maka Bidang KI mencoba memberikan pemahaman tersebut, dan pada akhirnya dapat dipahami oleh personil KPU. Permasalahan lainnya yang dihadapi bidang ini, mengingat semua penilaian yang ada berbasis kinerja, maka penentuan suatu acuan/ standar penilaian yang tepat untuk masing-masing pegawai dalam melakukan penilaian kinerja pegawai masih perlu koordinasi berkelanjutan dengan bidang/bagian lain di KPU untuk menjamin semua pegawai mengerti apa yang akan dinilai dari pelaksanaan kegiatan KPU. Dengan adanya Bidang KI di KPU pada khususnya dan di DJBC pada umumnya, Oza menyampaikan suatu masukan, menurutnya, semoga dengan adanya Bidang KI, mampu menjamin terlaksananya good governance. Keberhasilan KI yang berfungsi sebagai pengaman dan penjaga tingkat kinerja prima dari setiap bidang/bagian KPU akan mendukung tercapainya tujuan dan misi KPU. “Pada gilirannya keberhasilan KPU dapat menjadi ujung tombak pembaharuan sekaligus menjadi pilot project reformasi kepabeanan DJBC yang pada akhirnya diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat, investor, dunia usaha dan pemerintah. Dan kami mohon doa dan dukungan dari semua jajaran Bea dan Cukai agar Bidang ini tetap amanah dalam menjalankan tugas serta mampu melakukan kerja secara objektif dan transparan,” ungkap Oza. “Saya setuju adanya bidang seperti ini di DJBC, kalau kita mengacu pada sistim administrasi yang baik dan benar untuk setiap bidang kerja, maka perlu adanya suatu kontrol atas hasil kerja apakah sudah sesuai dengan prosedur yang dipersyaratkan atau belum. Jadi Bidang KI tidak hanya harus di KPU. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah prosedur, sarana dan SDM untuk pelaksanaan tugas tersebut agar tujuan organisasi untuk menciptakan sistim pengawasan internal dapat terselenggara dengan tepat dan benar,” demikian tanggapannya ketika ditanya mengenai KI di Kanwil dan KPPBC. ris

UNIT KERJA yang memberikan pelayanan diwajibkan menyusun Standard Operating Procedure dan Standar Pelayanan Publik yang berisi janji pelayanan kepada masyarakat.

12

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Organisasi Vertikal DJBC Yang Telah Disempurnakan
Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/ PMK.01/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, berikut adalah susunan organisasi Vertikal DJBC.
Nama Kanwil dan Tipe KPPBC Seluruh Indonesia Berikut ini adalah Nama, Tipe Lokasi dan Wilayah Kerja Kanwil DJBC, KPPBC dan Pos Pengawasan Bea dan Cukai, sebagai berikut ; I. Kanwil DJBC Nangroe Aceh Darussalam Lokasi : Banda Aceh (Aceh Darussalam). Terdiri dari 5 KPPBC, 7 Kantor Bantu dan 8 Pos Pengawasan, yaitu 1. KPPBC Tipe A4 Sabang 2. KPPBC Tipe A4 Banda Aceh (lokasi Banda Aceh), meliputi : pelabuhan laut Malahayati, pelabuhan udara Iskandar Muda, Kantor Pos Lalu Bea Banda Aceh. Kantor Bantu: Lhok Nga (Pelabuhan Laut/PL), Malahayati (PL), Iskandar Muda (Pelabuhan Udara/PU) . Pos Pengawasan: Lam Pulo (PL), Sigli (PL), Cot Bau (PL) 3. KPPBC Tipe B Meulaboh (lokasi Meulaboh), terdiri dari : Kantor Bantu; Sinabang, Tapak Tuan, Singkel. Pos Pengawasan : Susoh 4. KPPBC Tipe A4 Lhok Seumawe, meliputi : pelabuhan laut Blang Lancang, PL Krueng Geukeuh, Kantor Pos Lalu Bea Lhok Seumawe. Pos Pengawasan : Blang Lancang (PL) Krueng Geukeuh (PL) 5. KPPBC Tipe B Kuala Kangsa, meliputi Pos Pengawasan : Sarang Jaya, Kuala Langsa. II. Kanwil DJBC Sumatera Utara Lokasi : Medan (Sumatera Utara). Terdiri dari 7 KPPBC, 3 Kantor Bantu dan 32 Pos Pengawasan: 1. KPBC Tipe A1 Belawan, meliputi: pelabuhan laut Belawan. Pos Pengawasan: Percut Sei Tuan (PL), Pantai Cermin (PL), Pantai Labu (PL), Lubuk Pakam, Binjai, Ujung Baru (PL), Gudang Merah (PL), Gabion (PL), Rantau Panjang (PL) 2. KPBC Tipe A 3 Medan, meliputi; Pelabuhan Udara Polonia, Kantor Pos Lalu Bea Medan. Pos Pengawasan: Bandara I, Bandara II, Bandara III 3. KPPBC Tipe B Pangkalan Susu, meliputi: Pelabuhan Laut, Pangkalan Susu (Lokasi Pangkalan Susu). Kantor Bantu: Pangkalan Brandan. Pos Pengawasan: Tanjung Pura (PL), Pangkalan Susu (PL) 4. KPPBC Tipe B Pematang Siantar, meliputi : Kantor Pos Lalu Bea Pematang Siantar. Pos Pengawasan; Porsea, Kabanjahe, Sidikalang 5. KPPBC Tipe B Sibolga meliputi; Pelabuhan Laut Sibolga. Kantor Bantu; Gunung Sitolo (PL). Pos Pengawasan: Barus (PL), Natal (PL), Teluk Dalam (PL), Pulau Tello (PL), Sibolga (PL). 6. KPPBC Tipe A4 Teluk Nibung, meliputi : Pelabuhan Teluk Nibung dan Bagan Asahan Pos Pengawasan: Tanjung Tiram (PL), Tanjung Leidong (PL), Labuhan Bilik (PL), Rantau Prapat, Teluk Nibung (PL) 7. KPPBC Tipe B Kuala Tanjung, meliputi; Pelabuhan Laut Kuala Tanjung. Kantor Bantu : Tebing Tinggi. Pos Pengawasan ; Bandar Khalifah (PL), Teluk Mengkudu (PL), Tanjung Beringin (PL), Pangkalan Dodek (PL), Kuala Tanjung (PL) III. Kanwil DJBC Riau dan Sumatera Barat Lokasi Pekanbaru (Provinsi Riau). Terdiri dari 8 KPPBC, 12 Kantor Bantu dan 50 Pos Pengawasan : 1. KPPBC Tipe A3 Pekanbaru, meliputi; Pelabuhan udara Sultan Syarif Kasim II, Kantor Pos Lalu Bea Pekanbaru, Pelabuhan Laut Pekanbaru, Pelabuhan Peti Kemas Teluk Lembu. Kantor Bantu: meliputi Perawang (PL), Rumbai (PL), Rantau Panjang. Pos Pengawasan; Bandara I, Bandara II, Buatan (PL) 2. KPPBC Tipe A 3 Dumai, meliputi : Pelabuhan Laut Dumai.Kantor Bantu; Tanjung Medang. Pos Pengawasan: Selat Morong (PL), Tanah Putih (PL), Dumai (PL), Tanjung Medang (PL) 3. KPPBC Tipe A4 Tembilahan, meliputi Pelabuhan laut Tembilahan. Kantor Bantu: Sungai Guntung (PL), Rengat, Kuala Enok. Pos Pengawasan; Perigi Raja (PL), Concong Luar (PL), Sei Buluh Indragiri (PL) Pulau Kijang (PL), Kuala Gadung (PL), Kuala Blaras (PL), Kuala Enok (PL), Kualacinaku (PL), Japura (PU), Pulau Cawan (PL), Kuala Bayas (PL), Pulau Burung (PL) 4. KPPBC Tipe B Selat Panjang, meliputi; pelabuhan laut Selat Panjang. Pos Pengawasan; Tanjung Samak (PL), Teluk Belitung (PL), Terus (PL), Tanjung Kedabu (PL), Selat Panjang (PL), Penyalai (PL), Tanjung Motong (PL), Serapung (PL) 5. KPPBC Tipe B Bengkalis, meliputi; Pelabuhan laut Bengkalis.Kantor Bantu; Sungai Pakning (PL), Bantan Tengah (PL).. Pos Pengawasan: Siak Kecil (PL), Sei Kembung (PL), Bandul (PL), Bukit Batu (PL), Prapat Tunggal (PL), Bengkalis (PL) 6. KPPBC Tipe B Bagan Siapiapi, meliputi; Pelabuhan Bagan Siapiapi.Kantor Bantu; Panipahan. Pos Pengawasan; Sinaboi (PL), Lumba-Lumba (PL), Pulau Halang (PL), Bagan Siapiapi (PL). 7. KPPBC Tipe B Siak Indrapura, meliputi; Pelabuhan Laut Siak Sri Indrapura. Pos Pengawasan; Sungai Apit (PL), Tanjung Buton (PL), Siak Sri Indrapura (PL) Provinsi Sumatera Barat 8. KPPBC Tipe A3 Teluk Bayur, meliputi; Pelabuhan Laut Teluk Bayur, Pelabuhan udara Mingkabau, Kantor Pos Lalu Bea Padang Kantor Bantu; Sikakap (PL), Tua Pejat (PL). Pos Pengawasan; Muara Padang (PL), Siberut Mentawai, Pariaman (PL), Painan (PL), Muara (PL), Cubadak (PL), Teluk Bayur (PL), Tabing (PU), Air Bangis (PL), Bungus (PL). IV. Kanwil DJBC Kepulauan Riau Lokasi : Tanjung Balai Karimun (Provinsi Riau). Terdiri dari : 5 KPPBC, 4 Kantor Bantu dan 24 Pos Pengawasan : 1. KPPBC Tipe A3 Tanjung Balai Karimun, meliputi : Pelabuhan Laut Tanjung Balai Karimun, Pelabuhan Laut Pasir Panjang. Kantor Bantu : Moro Sulit (PL), Tanjung Batu (PL), Teluk Paku (PL). Pos Pengawasan: Sawang (PL), Urung (PL), Tanjung Balai Karimun (PL), Pasir Panjang (PL). 2. KPPBC Tipe A3 Tanjung Pinang, meliputi; pelabuhan Laut Tanjung Pinang, Pelabuhan Laut Kijang, Pelabuhan Udara Kijang, Kantor Pos Lalu Bea Tanjung Pinang. Pos Pengawasan; Tanjung Pinang (PL), Kijang (PL), Kijang (PU)
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA
3. KPPBC Tipe B Sambu Belakang Padang, meliputi; Pelabuhan Laut Sambu Belakang Padang. Pos Pengawasan; Pulau Layang (PL), Pulau Pelambung (PL), Sambu Belakang Padang (PL) 4. KPPBC Tipe B Dabo Singkep, meliputi:Pelabuhan Laut Dabo Singkep. Pos Pengawasan; Penuba (PL), Sungai Buluh (PL), Senayang (PL), Daik (PL), Dabo (PU), Dabo Singkep (PL) 5. KPPBC Tipe B Tarempa. Kantor Bantu; Ranai. Pos Pengawasan; udang natuna, matak, serasan, midai, tambelan, jemaja, bunguran barat, bunguran timur V. Kanwil DJBC Sumatera Bagian Selatan Lokasi : Palembang (Provinsi Sumatera Selatan). Terdiri dari : 6 KPPBC, 7 Kantor Bantu, 44 Pos Pengawasan : 1. KPPBC Tipe A3 Palembang, meliputi Pelabuhan Laut Boom Baru Palembang, Pelabuhan Laut Plaju, Pelabuhan Laut Sungai Gerong, Pelabuhan Laut Pusri, Pelabuhan Udara Sultan Mahmud Badarudin II, Kantor Pos Lalu Bea Palembang.Pos Pengawasan : Tanjung Buyut (PL), Muaraenim, Sekayu, Lubuklinggau, Baturaja, Palembang (PL), Plaju (PL), Sungai Gerong (PL), Pusri (PL), SM Badarudin II (PU). 2. KPPBC Tipe A3 Jambi, meliputi; Pelabuhan Laut Talang Duku, Pelabuhan Udara Sultan Thana, Kantor Pos Lalu Bea Jambi. Kantor Bantu: Kuala Tungkal (PL), Muara Sabak (PL). Pos Pengawasan : Pangkal Duri (PL), Simbur Nair (PL), Kuala Mendara (PL), Kampung Laut (PL), Nipah Panjang (PL), Jambi, Kuala Tungkal (PL) 3. KPPBC Tipe A4 Bengkulu, meliputi; Pelabuhan laut P. Baai, Pelabuhan Udara padang Kemiling, Kantor Pos Lalu Bea Bengkulu Pos Pengawasan; Linau (PL), Muko-muko (PL), Pulau Enggano (PL), P. Baai (PL), Padang Kemiling (PU). 4. KPPBC Tipe A3 Bandar Lampung, meliputi; Pelabuhan Laut Panjang, Pelabuhan Udara Branti, Kantor Pos Lalu Bea Tanjung Karang. Kantor Bantu : Kota Agung, Bratasena/Dipasena Pos Pengawasan : Bakauheni (PL), Pos Kantor Pos, Bandar Lampung, Dipasena, Way Seputih (PL), Bratesena, Raden Inten (PU), Seputih Mataran. 5. KPPBC Tipe A4 Pangkal Pinang, meliputi; Pelabuhan Laut Pangkal Balam, Kantor Pos Lalu Bea Pangkal Pinang, Pelabuhan Udara Depati Amir. Kantor Bantu : Belinyu (PL), Muntok Pos Pengawasan : Kurau ( PL), Air Itam (PL), Toboali (PL), Sungai Liat (PL), Lubuk Besar (PL), Sungai Selan (PL), Depati Amir Bangka (PU), Pangkal Balam (PL), Jebus (PL), Kayu Arang (PL), Tempilang (PL), Muntok (PL). 6. KPPBC Tipe B Tanjung Pandan, meliputi; Pelabuhan Tanjung Pandan, Kantor Pos Lalu Bea Tanjung Pandan. Kantor Bantu : Manggar (PL). Pos Pengawasan : Kampit, H.As Hanandjoeddin, Belitung (PU), Tanjung Pandan (PL). VI. Kantor Wilayah DJBC Banten Lokasi : Serang (Provinsi Banten). Terdiri dari 3 KPPBC dan 9 Pos Pengawasan, yaitu : 1. KPPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta, meliputi; Pelabuhan Udara Soekarno-Hatta, Kantor Tukar Pos Udara Jakarta Soekarno-Hatta. Pos Pengawasan : Bandara I, Bandara II, Bandara III 2. KPPBC Tipe A3 Merak, meliputi; Pelabuhan Laut Merak, Pelabuhan Tanjung Leneng, Pelabuhan Laut Cigading. Pos Pengawasan : Chandra Asri, Merak (PL), Cigading (PL), Tanjung Leneng (PL), Ciwandan (PL). 3. KPPBC Tipe A2 Tangerang. Pos Pengawasan : Tangerang VII.Kanwil DJBC Jakarta Lokasi Jakarta (Provinsi DKI Jakarta). Terdiri dari ; 3 KPPBC dan 15 Pos Pengawasan: 1. KPPBC Tipe A2 Jakarta, meliputi; Halim Perdana Kusuma. Pos Pengawasan : Halim Perdana Kusuma (PU) 14
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

2. KPPBC Tipe A4 Sunda Kelapa, meliputi; Sunda Kelapa (PL), Muara Baru (PL) Pos Pengawasan : Sunda Kelapa (PL), Marina Ancol, Muara Baru (PL), Widuri (PL), Arjuna (PL), Sinta, Cinta Natomas, Cilincing, Pertamina, Bogasari, Marunda, Dharma Karya Perdana (PLK), Kalibaru, Ujung Kerawang. 3. KPPBC Tipe B Kantor Pos Pasar Baru, meliputi; Kantor Pos Lalu Bea Jakarta VIII.Kanwil DJBC Jawa Barat Lokasi : Bandung (Provinsi Jawa Barat). Terdiri dari : 6 KPPBC, 1 Kantor Bantu dan 19 Pos Pengawasan: 1. KPPBC Tipe A2 Bekasi, meliputi; Kawasan Industri MM 2100 Cibitung, Kawasan Industri MM Jababeka I Cikarang, Kawasan Industri Jababeka II Cikarang 2. KPPBC Tipe A2 Bogor. Pos Pengawasan : Sukabumi, Pelabuhan Ratu (PL), Depok, Cianjur, Cibinong. 3. KPPBC Tipe A2 Purwakarta, meliputi; Terminal Peti Kemas Kota Bukit Indah, Kawasan Industri Kota Bukit Indah, Kawasan Industri EJIP. Pos Pengawasan : Purwakarta, Subang, Cilamaya (PL) 4. KPPBC Tipe A2 Bandung, meliputi : Dry Port Gede Bage, Pelabuhan Udara Husein Sastranegara, Kantor Pos Lalu Bea Bandung. Pos Pengawasan : Sumedang, Gede Bage, Bandara I, Bandara II 5. KPPBC Tipe A4 Cirebon, meliputi; Pelabuhan Laut Cirebon, Kantor Pos Lalu Bea Cirebon. Kantor Bantu : Balongan. Pos Pengawasan : Palimanan, Cirebon, Nasasari 6. KPPBC Tipe B Tasikmalaya. Pos Pengawasan: Garut, Ciamis, Pengandaran (PL), Tasikmalaya IX. Kanwil DJBC Jawa Tengah dan DI Yogyakarta Lokasi : Semarang (Provinsi Jawa Tengah). Terdiri dari : 8 KPPBC, 4 Kantor Bantu dan 48 Pos Pengawasan : 1. KPPBC Tipe A1 Tanjung Emas, meliputi; Pelabuhan Tanjung Emas, Pelabuhan Udara Ahmad Yani, Kantor Pos Lalu Bea Semarang. Pos Pengawasan : LIK Semarang, Demak, Purwodadi, Salatiga, Tanjung Emas I (PL), Tanjung Emas II (PL), Tanjung Emas III (PL), Bandara I, Bandara II, Kaliwungu. 2. KPPBC Tipe A3 Kudus. Kantor Bantu : Juwono (PL), Jepara (PL). Pos Pengawasan : Banyutowo, Rembang, Cepu, Blora, Karimun Jawa (PL). 3. KPPBC Tipe A3 Surakarta, meliputi; Dry Port Jebres, Pelabuhan Udara Adi Sumarmo, Kantor Pos Lalu Bea Solo. Pos Pengawasan : Kebak Kramat, Klaten, Karanganyar, Sragen, Sukohardjo, Wonogiri, Boyolali, Jebres, Bandara I, Bandara II 4. KPPBC Tipe A4 Cilacap, meliputi; Pelabuhan Laut Tanjung Intan, Pelabuhan Udara Tunggul Wulung. Pos Pengawasan : Tunggul Wulung (PU), Tanjung Intan (PL), Majenang, Kantor Bantu Kebumen 5. KPPBC Tipe B Pekalongan. Pos Pengawasan: Batang (PL), Pekalongan (PL). 6. KPPBC Tipe B Purwokerto, meliputi; Kantor Pos Lalu Bea Purwokerto. Pos Pengawasan : Purbalingga, Banjarnegara 7. KPPBC Tipe B Tegal, meliputi; Pelabuhan Laut Tegal, Kantor Pos Lalu Bea Tegal. Pos Pengawasan : Brebes, Pemalang, Slawi, Comal (PL), Surodadi, Tegal (PL), Sugih Waras Daerah Istimewa Yogyakarta 8. Daerah Istimewa Yogyakarta. KPPBC Tipe A4 Yogyakarta, meliputi; Pelabuhan Udara Adi Sutjipto, Kantor Pos Lalu Bea Yogyakarta, Kantor Pos Lalu Bea Magelang. Kantor Bantu: Magelang. Pos Pengawasan: Sleman, Wates, Bantul, Wonosari, Bandara I, Bandara II, Temanggung, Wonosobo, Purworejo X. Kanwil DJBC Jawa Timur I Lokasi : Surabaya (Provinsi Jawa Timur). Terdiri dari : 6 KPPBC dan 44 Pos Pengawasan;

1. KPPBC Tipe A1 Tanjung Perak, meliputi; Pelabuhan Tanjung Perak. Pos Pengawasan Bea dan Cukai : ICT I (PL), ICT II (PL), ICT III (PL), ICT IV (PL), Nilam I (PL), Nilam II (PL), Berlian I (PL), Berlian II (PL), Mirah I (PL), Mirah II (PL), Jamrud I (PL), Jamrud II (PL), Kamal (PL), Bangkalan (PL), Kalimas, Sepulu. 2. KPPBC Tipe A2 Pasuruan, meliputi; Pelabuhan Laut Pasuruan, Kawasan Industri PIER. Pos Pengawasan : Pasuruan (PL), Lekok (PL) 3. KPPBC Tipe A2 Juanda, meliputi ; Pelabuhan Udara Juanda, Kantor Tukar Pos Udara Juanda, Kantor Pos Lalu Bea Surabaya. Pos Pengawasan Bea dan Cukai; Bandara I, Bandara II, Bandara III, Mojokerto, Sidoarjo, Wates 4. KPPBC Tipe A3 Gresik, meliputi; Pelabuhan Laut Gresik, Pelabuhan Laut Poleng, Dermaga Khusus Petrokimia, Dermaga Khusus PLTGU, Dermaga Khusus Semen Gresik, Dermaga Khusus Maspion, Dermaga Khusus Smeiting Co. Pos Pengawasan : Tambak (PL), Sedayu Lawas (PL), Lamongan, Gresik (PL), Poleng (PL), Ngimboh (PL), Sangka Pura (PL). 5. KPPBC Tipe B Kalianget, meliputi; Pelabuhan Laut Kalianget. Pos Pengawasan : Pasean (PL), Sampang, Dongkek (PL), Sapudi (PL), Kangean (PL), Branta (PL), Trunojoyo (PL), Kalianget (PL), Telaga Biru (PL), Pagerungan (PL). 6. KPPBC Tipe B Bojonegoro, meliputi; Pelabuhan Laut Tuban dan Kantor Pos Lalu Bea Bojonegoro. Pos Pengawasan : Glondong, Socorejo-Jenu (PL), Tuban (PL) XI. Kanwil DJBC Jawa Timur II Lokasi : Malang (Jawa Timur). Terdiri dari :8 KPPBC dan 29 Pos Pengawasan: 1. KPPBC Tipe A3 Malang, meliputi; Kantor Pos Lalu Bea Malang. Pos Pengawasan : Sendang Biru (PL), Abdulrachman Saleh (PU). 2. KPPBC Tipe A3 Kediri, meliputi; Kantor Pos Lalu Bea Kediri. Pos Pengawasan : Nganjuk, Kertosono, Cukir, Jombang. 3. KPPBC Tipe B Tulung Agung, meliputi: Kantor Pos Lalu Bea Tulung Agung. Pos Pengawasan : Popoh (PL) 4. KPPBC Tipe B Blitar,meliputi: Kantor Pos Lalu Bea Blitar 5. KPPBC Tipe B Madiun,meliputi; Kantor Pos Lalu Bea Madiun. Pos Pengawasan : Magetan, Ngawi, Ponorogo, Caruban, Pacitan (PL). 6. KPPBC Tipe B Panarukan, meliputi; Pelabuhan Laut Panarukan, Kantor Pos Lalu Bea Jember, Dry Port Rambipuji..Pos Pengawasan; Situbondo, Besuki (PL), Kalbut (PL), Jangkar (PL), Bondowoso, Puger (PL), Panarukan (PL), Jember, Rambipuji 7. KPPBC Tipe B Banyuwangi, meliputi: Pelabuhan Laut Meneng. Pos Pengawasan; Tanjung Wangi (PL), Muncar (PL), Grajagan (PL), Ketapang (PL). 8. KPPBC Tipe B Probolinggo, meliputi: Pelabuhan Laut Probolinggo. Pos Pengawasan ; Pejarakan, Lumajang, Paiton (PL), Probolinggo (PL). XII. Kanwil DJBC Bali, NTB dan NTT Lokasi Denpasar (Bali). Terdiri dari 8 KPPBC, 11 Kantor Bantu dan 49 Pos Pengawasan: 1. KPPBC Tipe A3 Ngurah Rai, meliputi; Pelabuhan Udara Ngurah Rai, Kantor Pos Lalu Bea Tuban Badung. Pos Pengawasan ; Bandara I, Bandara II, Bandara III, Karangasem, Bangli, Klungkung, Gianyar, Tabanan, Pintu Utama Padang Bai (PL), Dermaga Padang (PL), Pertamina Amuk (PL) 2. KPPBC Tipe B Benoa, meliputi; Pelabuhan Laut Benoa. Kantor Bantu; Celukan Bawang. Pos Pengawasan: Nusa Penida (PL), Dermaga Cargo I (PL), Dermaga Cargo II (PL), Dermaga Kapal Ikan (PL), Dermaga Kapal Turis (PL), Buleleng (PL), Negara, Gilimanuk 3. KPPBC Tipe A4 Mataram, meliputi; Pelabuhan Laut Lembar, Kantor Pos Lalu Bea Mataram, Pelabuhan Udara

4.

5.

6.

7. 8.

Selaparang. Pos Pengawasan ; Labuhan Haji (PL), Labuhan Lombok (PL), Selaparang (PU), Lembar (PL), Pemenang (PL) KPPBC Tipe B Bima, meliputi; Pelabuhan Laut Bima. Kantor Bantu : Badas Sumbawa (PL), Benete (PL). Pos Pengawasan: Sape (PL), Labuhan Alas (PL), Brang Biji (PU), Palibelo (PU), Pototano (PL), Kempu, Taliwang, Calabai Dompu, Mata Plampang Sumbawa, Labuan Burung, Bima (PL). KPPBC Tipe A4 Kupang, meliputi; Pelabuhan Laut Tenau, Pelabuhan Udara El Tari, Kantor Pos Lalu Bea Kupang. Kantor Bantu; Waingapu (PL). Pos Pengawasan : Tenau, Mauhai (PU), Tamboloka (PU), Rua (PL), Baa/P. Rote (PL) KPPBC Tipe B Atapupu. Kantor Bantu : Mota Ain (LBD), Meta Mauk (LBD), Napan (LBD), Wini (LBD). Pos Pengawasan ; Haliwen (PU), Tusikain , Mali (PU). KPPBC Tipe B Kalabahi KPPBC Tipe B Maumere, meliputi; Pelabuhan laut Maumere, Kantor Pos Lalu Bea Maumere.Kantor Bantu : Kedindi Reo (PL), Ende (PL dan Pos Lalu Bea), Larantuka (PL). Pos Pengawasan: Labuan Bajo dan Komodo (PL), Satartacik (PU), Gewayangtama (PU), Wajoti (PU), H. Aroeboesman (PU), Padha Maleda (PU), Maumere (PL), Ende Ipi (PL), Labuan Bajo (PU)

XIII.Kanwil Kalimantan Bagian Barat Lokasi : Pontianak. Terdiri dari; 8 KPPBC, 10 Kantor Bantu dan 46 Pos Pengawasan: 1. KPPBC Tipe A3 Pontianak, meliputi; Pelabuhan Laut Pontianak, Kantor Pos Lalu Bea Pontianak.Kantor Bantu : Supadio (PU), Teluk Air (PL). Pos Pengawasan; Jungkat (PL), Pontianak (PL), Sungai Kakap (PL), Kubu (PL), Teluk Air (PL), Padang Tikar (PL). 2. KPPBC Tipe A4 Entikong, meliputi; Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong. Kantor Bantu: Nanga Badau. Pos Pengawasan : Marakai Panjang, Simpang Tiga Lubuk Sabuk, Bantan, Nanga Bayan, Segumon. 3. KPPBC Tipe A4 Sintete,meliputi ; Pelabuhan Laut Sintete. Kantor Bantu: Sambas, Singkawang, Aruk, Paloh. Pos Pengawasan: Aruk, Sajingan, Saparan, Temajuk (PL), Tebas (PL), Singkawang (PL), Teluk Suak (PL), Sidding, Pemangkat (PL),Penjajab (PL), Jawai, Sebangkau, Tg Batu, Sungai Raya, Sungai Duri, Merbau, Sekura 4. KPPBC Tipe B Ketapang, meliputi; Pelabuhan Laut Ketapang. Kantor Bantu : Kendawangan (PL). Pos Pengawasan: Teluk Batang (PL), Teluk Melano (PL), Ketapang (PL), Rahadi Usman (PU). 5. KPPBC Tipe B Jagoi Babang Kalimantan Tengah 6. KPPBC Tipe A4 Sampit,meliputi; Pelabuhan Laut Sampit. Pos Pengawasan : Samudra (PL), Kuala Pembuang (PL), Pegatan Mendawai (PL), H. Asan (PU), Sampit (PL). 7. KPPBC Tipe Tipe B Pangkalan Buun, meliputi; Pelabuhan Laut Pangkalan Buun. Kantor Bantu : Kumai (PL), Pos Pengawasan : Muara Sungai Arut (PL),Kuala Jelai (PL), Iskandar (PU), Pangkalan Buun (PL). 8. KPPBC Tipe B Pulang Pisau, meliputi; Pelabuhan Laut Pulau Pisang.Kantor Bantu : Kuala Kapusa (PL). Pos Pengawasan : Bahaur (PL), Cilik Riwut (PU), Pulang Pisau (PL), Beringin (PU), Mangkahoi XIV. Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur Lokasi : Balikpapan. Terdiri dari : 8 KPPBC, 7 Kantor Bantu dan 41 Pos Pengawasan 1. KPPBC Tipe A3 Balikpapan, meliputi; Pelabuhan Laut Balikpapan, Pelabuhan Laut Tanjung Batu, Pelabuhan Laut Penajam, Pelabuhan Laut Kampung Baru, Pelabuhan Udara Sepinggan, Kantor Pos Lalu Bea
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

15

LAPORAN UTAMA
Balikpapan Kantor Bantu : Tanah Grogot (PL). Pos Pengawasan : Balikpapan (PL), Tanjung Batu (PL), Penajam (PL), Kampung Baru (PL), Kariangau(PL). KPPBC Tipe A3 Samarinda, meliputi; Pelabuhan Laut Samarinda, Kantor Pos Lalu Bea Samarinda, Pelabuhan Laut Tanjung Santan. Kantor Bantu: Senipah (PL), Tanjung Santan. Pos Pengawasan : Handil II (PL), Muara Sanga-sanga (PL), Muara Badak (PL), Tenggarong (PL), Temindung (PU), Samarinda (PL). KPPBC Tipe A4 Bontang, meliputi; Pelabuhan Laut Bontang, Lhok Tuan (PL). Pos Pengawasan : Lhok Tuan (PL), Bontang (PL), Nyerangkat Sekambing (PL). KPPBC Tipe A4 Tarakan, meliputi: Pelabuhan Udara Juata Tarakan, Kantor Pos Lalu Bea Tarakan, Pelabuhan Laut Lingkas Tarakan. Kantor Bantu : Bunyu (PL), Tanjung Redep. Pos Pengawasan : Bunyu (PL), Tanjung Selor (PL), Tarakan (PU), Tanjung Redep (PU), Tarakan (PL), Long Nawang, Long Bawan, Malino. KPPBC Tipe A4 Nunukan. Meliputi; Pelabuhan Laut Nunukan Kantor Bantu:Sei Nyamuk (PL). Pos Pengawasan : Lamijung (PL), Nunukan (PL), Sungai Pancang, Aji Kuning (PL). KPPBC Tipe B Sangata, meliputi; Pelabuhan Laut Sangata Lama, Pelabuhan Laut Sangata Baru. Pos Pengawasan : Sangkurilang (PL), Tanjung Bara Sangata (PL) Pos Pengawasan Bea dan Cukai : Ampana (PL), Kasiguncu (PU), Moahino/Bohumbelu (PL), Poso (PL), Kolonedale (PL), Wakai. 9. KPPBC Tipe B Luwuk, meliputi ; Pelabuhan laut Luwuk. Pos Pengawasan : Pagimana (PL), Banggai (PL), Toili (PL), Bunta (PL), Bubung (PU), Luwuk (PL). Sulawesi Utara 10. KPPBC Tipe A4 Bitung, meliputi: Pelabuhan Laut Bitung. Pos Pengawasan : Kema (PL), Belang (PL), Kotabunan (PL), Likupang (PL), Bitung (PL), Ratatotok. 11. KPPBC tipe B Manado, meliputi; Pelabuhan Laut Manado, Pelabuhan Udara Sam Ratulangi, Kantor Pos Lalu Bea Manado. Kantor Bantu : Labuhan Uki (PL), Tahuna (PL), Hulu Siau (PL), Marore (PL), Miangas (PL), Amurang (PL), Lirung (PL). Pos Pengawasan : Inobonto (PL), Tagulandang (PL), Manado (PL), Sam Ratulangi(PU), Molibagu (PL). 12. KPPBC tipe A4 Gorontalo, meliputi; Pelabuhan Laut Gorontalo. Pos Pengawasan: Kuandang (PL), Paguat (PL), Papayato (PL), Jalaluddin, Gorontalo (PL). XVI.Kanwil DJBC Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat. Lokasi : Ambon (Provinsi Maluku). Terdiri dari : 13 KPPBC, 11 Kantor Bantu dan 63 Pos Pengawasan : 1. KPPBC Tipe A4 Ambon, meliputi: Pelabuhan laut Ambon, Kantor Pos Lalu Bea Ambon. Kantor Bantu : Waisarisa (PL), Pattimura (PU). Pos Pengawasan : Banda (PL), Namlea (PL), Masohi (PL), Geser (PL), Wainibe/ P. Buru (PL), Galala (PL), Tulehu (PL), Hitu (PL), Opini/Pasahari (PL), Ambon (PL). 2. KPPBC Tipe B Tual, meliputi; Pelabuhan Laut Tual. Pos Pengawasan : Dabo (PL), Benjina/ P. Kei (PL), Saurnlaki (PL), Ngadi, Elat, Larat, Wonreli/Kisar, D. Dumatubun Langgur (PU), Serwaru, Ilwaki/Wetar. Maluku Utara 3. KPPBC Tipe A4 Ternate , meliputi; Pelabuhan Laut Ternate, Kantor Pos Lalu Bea Ternate. Kantor Bantu; Pulau Gebe (PL), Galela/Tobelo (PL), P. Mangole (PL). Pos Pengawasan : Labuha (PL), Bullah (PU), Bastiong (PL), Tanjung Barnabas (PL), Ternate (PL), Sanana (PL) Irian Jaya Barat 4. KPPBC Tipe A4 Sorong, meliputi; Pelabuhan Laut Sorong, Kantor Pos Lalu Bea Sorong. Kantor Bantu : Teluk Kasim (PL). Pos Pengawasan : Jefman (PU), Pulau Gak (PL), Dermaga Khusus Usaha Mina (PL), Arar (PL), Sorong (PL). 5. KPPBC Tipe B Manokwari, meliputi; Pelabuhan laut Manokwari, Kantor Pos Lalu Bea Manokwari. Pos Pengawasan : Rendani (PU), Wimro, Manokwari (PL). 6. KPPBC Tipe B Bintuni. 7. KPPBC Tipe B Fak-Fak, meliputi; Pelabuhan Laut Fakfak, Kantor Pos Lalu Bea Fak-Fak. Pos Pengawasan: Kokas (PL), Pulau Adi (PL), Fak-fak (PU), Fak-fak (PL). 8. KPPBC Tipe B Kaimana 9. KPPBC Tipe A4 Jayapura, meliputi; Pelabuhan Laut Jayapura, Kantor Pos Lalu Bea Jayapura. Kantor Bantu; Sentani (PU), Skouw (LBD). Pos Pengawasan : Sarmi (PL), Kiwirok (PL), Sengai (PL), Waris (PL), Wembi (PL), Demta (PL), Wamena, Jayapura (PL). 10. KPPBC Tipe A4 Amamapare, meliputi; Pelabuhan Laut Amapare. Kantor Bantu : Timika (PU), Kuala Kencana/ Kota Baru. Pos Pengawasan; Corgodock, Pad XI, Teluk Etna, Tembagapura, Pomako I, Amamapare (PL). 11. KPPBC Tipe B Biak, meliputi ; Pelabuhan Laut Biak, Pelabuhan Udara Frans Kaisiepo, Kantor Pos Lalu Bea Biak. Pos Pengawasan : Serui (PL), Dawai (PL), Biak (PL) 12. KPPBC Tipe B Nabire 13. KPPBC Tipe B Merauke, meliputi: Pelabuhan Merauke, Kantor Pos Lalu Bea Merauke. Pos Pengawasan : Sorta (LBD), Bupul (LBD), Mindiptana (LBD), Agats (PL), Bade (PL), Mopah (PU), Merauke (PL), Wanam (PL).

2.

3. 4.

5.

6.

Kalimantan Selatan 7. KPPBC Tipe A3 Banjarmasin, meliputi; Pelabuhan Laut Banjarmasin, Kantor Pos Lalu Bea Banjarmasin Pos Pengawasan : Samsudin Noor (PU), Warukin (PU), Banjarmasin (PL), Jorong (PL), asam/Kintap (PL) 8. KPPBC Tipe A4 Kota Baru, meliputi; Pelabuhan Laut Kotabaru. Kantor Bantu: Batu Licin (PL). Pos Pengawasan : Pegatan (PL), Tg. Pemancingan (PL), Mekar Putih (PL), Stagen (PL), Kotabaru (PL), Tarjun (PL), Satui (PL), Stagen (PU). XV. Kanwil DJBC Sulawesi Lokasi : Makassar (Sulawesi Selatan). Terdiri dari : 12 KPPBC, 12 Kantor Bantu dan 66 Pos Pengawasan : 1. KPPBC Tipe A3 Makassar, meliputi; Pelabuhan Laut Soekarno, Pelabuhan Laut Hatta, Kantor Pos Lalu Bea Makassar, Pelabuhan Udara Hasanuddin. Kantor Bantu: Bantaeng/ Pulau Selayar (PL), Biringkassi (PL). Pos Pengawasan : Bantaeng (PL), Bulukumba (PL), Paotere (PL), Sukarno I (PL), Soekarno II (PL), Hatta I (PL), Hatta II (PL). 2. KPPBC Tipe B Pare-pare, meliputi: Pelabuhan Laut Pare-Pare. Pos Pengawasan : Watansoppeng,Mamuju (PL), Barru (PL), Pare-pare. 3. KPPBC Tipe B Malili, meliputi; Pelabuhan Laut Balantang. Kantor Bantu : Palopo. Pos Pengawasan : Siwa (PL), Balantang (PL), Soroako (PU), 4. KPPBC Tipe B Bajo’e, meliputi: Pelabuhan Laut Bajo’e. Pos Pengawasan : Bajo’e (PL), Areso’e (PL), Sinjai (PL), Uloe (PL), Pattiro. Sulawesi Tenggara 5. KPPBC Tipe A4 Kendari, meliputi : Pelabuhan Laut Kendari. Kantor Bantu : Bau-bau (PL), Pos Pengawasan : Wawoni (P), Lasolo (PL), Wanci (PL), Raha (PL), Sikeli (PL), Banabuni (PL), Wolter Mongonsidi (PU), Kendari (PL), Ereke (PL). 6. KPPBC Tipe B Pomalaa, meliputi; Pelabuhan Laut Pomalaa. Pos Pengawasan : Kolaka (PL), Pomalaa (PL), Boepinang. Sulawesi Tengah 7. KPPBC Tipe B Pantoloan, meliputi; Pelabuhan Laut Pantoloan. Kantor Bantu : Toli-toli (PL). Pos Pengawasan : Wani (PL), Sabang (PL), Parigi (PL), Mutiara (PU), Loli (PL), Ogotua (PL), Leok, Palele (PL), Pantoloan (PL), Pasang Kayu (PL), Moutong, Donggala (PL). 8. KPPBC Tipe B Poso, meliputi : Pelbauhan Laut Poso. 16
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai, Kantor Bantu dan Pos Pengawasan 1. Kantor Pelayanan Utama Tipe A Tanjung Priok. Lokasi : Tanjung Priok, Jakarta Utara, (DKI Jakarta). Terdiri dari 22 Pos Pengawasan. Pos Pengawasan : KBN, Nusantara I (002) (PL), Nusantara II (005) (PL), 009 X, Arsa, Utama E (PL), Pelabuhan Pelni Barat (Pos 104), Terminal Penumpang, Pos Lapangan 207 X, Pos Bantu KD 301/302, Pos KD 209/210, Pos UTPK II, UTPK I (eskpor) (PL), UTPK I (impor) (PL), Bitung Utama A (PL), Bitung Utama B (PL), Pos Bea Cukai 305, UTPK Koja I (PL), Dwipa I (PL), Dwipa II (PL), Agung Raya, Banda .2. Kantor Pelayanan Utama Tipe B Batam. Lokasi : Batam (kepulauan Riau). Terdiri dari : 2 Kantor Bantu dan 29 Pos Pengawasan. Kantor Bantu : Pulau Rempang (PL), Pulau Galang (PL). Pos Pengawasan: Pulau Buluh (PL), Tanjung Riau (PL), Tanjung Uncang

(PL), Tanjung Piay (PL), Batu Besar Pantai (PL), Sei Jodoh (PL), Momoi (PL), Tanjung Sau (PL), Pulau Ngenang (PL), Janda Berhias (PL), Tanjung Kasem (PL), Telaga Punggur (PL), Nongsa (PL), Sagulung (PL), Batu Ampar I (PL), Batu Ampar II (PL), Bandara I, Bandara II, Macobar (PL), Kabil (PL), Sekupang (PL), Tanjung Rempang, Tanjung Sipatung, Tanjung Karepa, Pokob Barat,Tanjung Cakang, Tanjung Uban (PL), Lagoi (PL), Lobam (PL).

BAGAN ORGANISASI
Dari hasil penyempurnaan organisasi vertikal DJBC, menghasilkan 9 struktur organsiasi, yaitu : Organisasi Kanwil DJBC, Organisasi Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau, Organisasi KPU Bea dan Cukai Tipe A, Organisasi KPU Bea dan Cukai Tipe B, Organisasi KPPBC Tipe A1, Organisasi KPPBC Tipe A2, Organisasi KPPBC Tipe A3, Organisasi KPPBC Tipe A4, Organisasi KPPBC Tipe B. Berikut struktur Organisasinya :

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

17

LAPORAN UTAMA

18

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WAWANCARA

Drs. ISMADI ANANDA, M.Si.
Deputi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) Bidang Kelembagaan

“Reorganisasi Dapat Dilakukan Apabila Terdapat Perubahan Signifikan Dalam Strategi Pencapaian Tujuan...”
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

19

WAWANCARA
Kementerian Negara PAN menyadari adanya perbedaan yang signifikan dalam penataan kelembagaan pemerintah yang antara lain didasarkan pada kewenangan, ruang lingkup, dan volume/beban kerja. Untuk mengakomodasi hal itu maka terdapat pengecualian kelembagaan bagi Departemen Keuangan, khususnya unit-unit organisasi yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang penerimaan seperti Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai. Pengecualian tersebut berlaku bagi penataan organisasi instansi vertikal Departemen Keuangan yang bersifat “holding company” yaitu Direktorat Jenderal tertentu memiliki Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan masing-masing di daerah, termasuk pembentukan KPU Bea dan Cukai yang dinilai sebagai ‘breaktrough” (terobosan) dalam pelayanan kepabeanan dan cukai pada masyarakat yang diyakini akan memberikan perubahan citra pelayanan yang lebih baik di bidang bea dan cukai. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai penataan organisasi, berikut wawancara yang dilakukan Redaktur WBC, Aris Suryantini dengannya Deputi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) Bidang Kelembagaan, Drs. Ismadi Ananda, M.Si M.Si.
Apa peran lembaga yang Bapak pimpin dalam proses reorganisasi di suatu instansi pemerintah ? Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor.9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara RI khususnya pasal 100 dan pasal 101, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang pendayagunaan aparatur negara dan pengawasan yang termasuk didalamnya proses reorgansiasi di suatu instansi pemerintah. Selain Peraturan Presiden tersebut, dalam hal penataan kelembagaan, Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN khususnya pasal 36 menyatakan bahwa setiap perubahan atau penyempurnaan organisasi dan atau pembentukan kantor/ satuan kerja dalam lingkungan departemen/lembaga harus terlebih dahulu mendapat persetujuan tertulis menteri yang berwenang di bidang pendayagunaan aparatur Negara. Berdasarkan uraian di atas, terlihat jelas bahwa Kementerian Negara PAN mempunyai peranan penting dan menentukan dalam pengendalian perkembangan organisasi pemerintah. Bagaimana tipe organisasi yang ideal pada umumnya ? Penyusunan organisasi seharusnya didasarkan pada visi dan misi yang akan dicapai di masa mendatang. Apabila visi dan misi tersebut telah diidentifikasikan secara jelas dalam strategi pencapaian tujuan, maka kemungkinan adanya pemborosan dalam pembentukan organisasi dapat dieliminasi sekecil mungkin. Hal ini juga akan membantu dalam proses perubahan dalam organisasi pemerintah, misalnya perubahan terhadap struktur organisasi yang mengikuti tahap-tahap pencapaian tujuan. Berkaitan dengan besaran organisasi yang akan dibangun, idealnya diterapkan prinsip “rightsizing” yaitu ukuran struktur organisasi sejalan dengan penjabaran visi dan misinya berupa fungsi-fungsi yang akan dilaksanakan. Hal ini juga sesuai dengan prinsip “structure follows strategy”, artinya, penyusunan struktur organisasi harus selalu mengikuti strategi yang telah ditetapkan. Selain kedua prinsip pengorganisasian di atas, dalam penyusunan organisasi perlu diperhatikan pula hal-hal sebagai berikut : pembagian habis tugas, koordinasi, keberlangsungan tugas, proporsionalitas, kejelasan kewenangan, rentang kendali, kejelasan dan pembaganan Lantas bagaimana tipe organisasi yang paling ideal bagi suatu instansi pemerintah yang mempunyai volume kerja tinggi dan berorientasi pada penerimaan ? Kementerian Negara PAN menyadari bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam penataan kelembagaan pemerintah yang antara lain didasarkan pada kewenangan, 20
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

ruang lingkup, dan volume/beban kerja. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah bahwa urusan fiskal nasional merupakan urusan Pemerintah (Pusat), maka kelembagaan Departemen Keuangan berbeda dengan departemen lainnya. Hal tersebut antara lain terlihat dari besaran organisasi, baik di tingkat pusat maupun unit organisasi vertikal di tingkat daerah. Di pusat, unit-unit organisasi yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang penerimaan negara mempunyai tantangan yang berat, di satu sisi terdapat tuntutan kinerja yang tinggi untuk sebesar-sebesarnya memperoleh penerimaan negara. Di sisi lain, struktur organisasi pemerintah dituntut untuk lebih efisien dan efektif. Di tingkat daerah, instansi vertikal Departemen Keuangan selain harus “in line” dengan alur pekerjaan dari unit-unit organisasi kantor pusat, disamping itu juga harus dapat beradaptasi dengan pemerintah daerah setempat dan unit-unit organisasi Pusat yang berada di daerah. Maka, untuk mengakomodasikan hal tersebut, terdapat pengecualian kelembagaan bagi Departemen Keuangan, khususnya unit-unit organisasi yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang penerimaan seperti Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 dan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 beserta perubahannya. Hal demikian juga berlaku bagi penataan organisasi instansi vertikal Departemen Keuangan yang bersifat “holding company” yaitu Direktorat Jenderal tertentu memiliki Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan masing-masing di daerah. Bentuk instansi vertikal semacam ini hanya berlaku bagi Departemen Keuangan saja. Dalam melakukan suatu reorganisasi, faktor-faktor apa saja yang menjadi pertimbangan ? Sebagaimana dikemukakan sebelumnya acuan utama penataan organisasi adalah visi dan misi lembaga yang bersangkutan. Reorganisasi dapat dilakukan apabila terdapat perubahan signifikan dalam strategi pencapaian tujuan dan atau yang disertai dengan adanya kewenangan, tugas dan fungsi baru bagi organisasi tersebut. Dalam melakukan reorganisasi perlu diperhatikan pula adanya pergeseran-pergeseran fungsi di antara unit-unit organisasi yang ditata ulang. Pemetaan organisasi perlu dilakukan terlebih dahulu agar tidak ada fungsi yang hilang atau fungsi yang tidak ditangani oleh unit organisasi apapun. Untuk reorganisasi di DJBC yang baru-baru ini dilaksanakan, apa peran instansi Bapak dalam hal ini ? Sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002, Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005, Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005), Menteri Negara PAN mempunyai tugas dan fungsi untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden terhadap unit

organisasi eselon I DJBC dan ketentuan organisasi instansi vertikal di daerah, serta memberikan persetujuan terhadap organisasi dan tata kerja eselon II ke bawah DJBC. Dalam pembahasan usulan perubahan organisasi instansi vertikal DJBC yang lalu, telah disepakati pembentukan Kantor Pelayanan Utama (KPU) sebagai ‘breaktrough” (terobosan.red) dalam pelayanan kepabeanan dan cukai kepada masyarakat. Unit organisasi ini (KPU.red) diyakini akan memberikan perubahan citra pelayanan yang lebih baik di bidang bea dan cukai. Upaya tersebut perlu terus dimonitor perkembangannya. Untuk itu, evaluasi kelembagaan secara berkala akan dilakukan, baik terhadap unit organisasi ini (KPU.red) maupun unit organisasi lainnya di lingkungan DJBC. Salah satu kebijakan dan implementasi kebijakan di bidang organisasi adalah adanya “job grading”. Apa tujuan dibuatnya “job grading” ? “Job grading” atau peringkatan jabatan bukan hanya implementasi kebijakan di bidang organisasi saja, tetapi juga dilakukan untuk penyusunan gaji ke dalam kinerja dan sistim merit. “Job grading” adalah tindak lanjut dari hasil evaluasi jabatan. Evaluasi jabatan didisain berdasarkan nilai relatif jabatan dalam kuantitas skor/poin. Nilai jabatan didapat dengan cara melakukan evaluasi jabatan terhadap setiap jabatan yang ada. Penilaian setiap jabatan didasarkan pada faktor-faktor nilai jabatan (compensable factor) yang berperan dalam melaksanakan tugas. Berdasarkan atas faktor-faktor itulah dan seberapa jauh kedalaman derajat tiap faktor, nilai relatif tiap kompetensi jabatan dikuantifikasi. Dengan demikian, setiap jabatan dalam suatu instansi atau keseluruhan birokrasi memiliki nilai relatif satu sama lain. Dengan adanya nilai relatif tiap jabatan dalam organisasi ditentukan berdasarkan besaran gaji jabatan, maka dapat diyakini bahwa jabatan-jabatan dalam organisasi digaji secara adil. Besar gaji jabatan dalam skala gaji pokok, ditentukan sepadan dengan nilai tugas tanggung jawab jabatan itu tidak lebih dan tidak kurang. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka tujuan dibuatnya “job grading” adalah untuk menentukan tingkat jabatan berdasarkan nilai bobot suatu jabatan yang diambil dari nilai kumulatif dari faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya jenjang jabatan, antara lain: pendidikan, pengalaman, upaya fisik dan mental yang dperlukan untuk melakukan kegiatan dalam suatu jabatan. Apakah pembuatan “job grading” bisa menjadi tolok ukur kinerja bagi suatu unit ? Pembuatan “job grading” tidak bisa menjadi tolok ukur kinerja bagi suatu unit, karena penentuan nilai setiap jabatan adalah berdasarkan penjumlahan dari hasil perkalian antara setiap nilai faktor dengan nilai tuntutan jabatan. Hasil “job grading” setiap jabatan akan berbeda-beda nilainya tergantung dari klasifikasi jabatan yang didudukinya. Tolok ukur kinerja tidak hanya ditentukan dari “job grading”, tolok ukur kinerja dihasilkan dari “out put (out comes)” dari masingmasing jabatan. Namun “job grading” bisa menuju kepada peningkatan profesionalisme dan kinerja PNS (pegawai negeri sipil.red) guna mendorong terciptanya pemerintah yang bersih. Salah satu tujuan dilakukannya penataan organisasi adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan sehingga dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada publik atau masyarakat. Bagaimana standar pelayanan publik aparat pemerintah saat ini ? Apakah sudah pernah ada pengukuran mengenai standar pelayanan publik oleh Kementerian Negara PAN ? Secara umum dapat digambarkan bahwa standar pelayanan publik yang sifatnya sangat mendasar, yaitu biaya, persyaratan dan waktu pelayanan pada dasarnya sudah diterapkan pada semua unit penyelenggara pelayanan

publik, baik pusat maupun daerah. Penerapan standar pelayanan tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. Penerapan tersebut dalam pelaksanaannya di lapangan antara satu unit penyelenggara pelayanan publik yang satu dengan yang lainnya adalah pada bentuk mengumumkan mengenai standar pelayanan yang tidak hanya terbatas terpampang di depan kantornya, tetapi sudah menggunakan website dan leaflet yang tersebar luas. Ada juga yang hanya mengumumkan terbatas di tempat pelayanannya saja. Kementerian Negara PAN senantiasa melakukan pengukuran dalam arti melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan standar pelayanan, dalam berbagai cara, diantaranya : Pertama, monitoring dan evaluasi yang dilakukan berdasarkan pelaporan instansi pembina pelayanan publik kepada Kementerian Negara PAN. Kedua, monitoring dan evaluasi di lapangan melalui uji petik terhadap beberapa instansi terpilih. Ketiga, penilaian kinerja pelayanan publik dalam rangka penghargaan citra pelayanan prima Keempat, kompetisi antar daerah kabupaten/kota untuk menilai kinerja Pemerintah Kabupaten/Kota Seperti apa sebenarnya standar pelayanan publik sesuai dengan yang dikeluarkan Kementerian Negara PAN ? Kementerian Negara PAN mengharapkan penerapan standar ini diperluas dan diarahkan untuk mendapatkan pengakuan internasional dengan menerapkan sistim manajemen ISO 9001 : 2000. Oleh karena itu, Menteri PAN telah menerbitkan Permen. PAN Nomor : PER/20/M.PAN/04/ 2006 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Publik. Pedoman tersebut dimaksudkan untuk memberikan acuan bagi unit pelayanan untuk menyusun standar pelayanan, yang diharapkan menjadi jembatan menuju penerapan sistim manajemen mutu ISO 9000:2001. Untuk mendukung agar standar pelayanan publik berjalan sesuai yang diharapkan, apa saja yang harus dipersiapkan ? Untuk mendukung agar standar pelayanan publik berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka standar pelayanan tersebut harus ditetapkan secara formal oleh Pimpinan Unit Penyelenggara Pelayanan Publik. Selanjutnya standar pelayanan tersebut harus diumumkan secara luas agar diketahui oleh seluruh pengguna layanan dan proses pelayanan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Dalam rangka menjaga konsistensi penerapan standar, unit penyelenggara pelayanan publik harus membuka akses seluas-luasnya kepada semua pihak agar dapat mengawasi penerapan standar pelayanan publik. Oleh karena itu agar standar pelayanan tersebut berada dalam sistim yang baik yang diaudit secara berkala, sangat diharapkan penerapan sistim manajemen mutu ISO 9000 : 2001 dapat segera diadopsi oleh para penyelenggara pelayanan publik. Apa harapan yang ingin dicapai Kementerian Negara PAN dengan adanya berbagai upaya yang dilakukan, salah satunya dengan adanya standar pelayanan publik di instansi pemerintah ? Harapan Kementerian Negara PAN dengan adanya penerapan standar pelayanan publik, unit penyelenggara pelayanan publik, baik di pusat maupun daerah dapat memberikan pelayanan yang prima, yaitu pelayanan yang benar-benar memenuhi harapan masyarakat. Dengan memberikan pelayanan yang prima diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat dan semakin berkembangnya dunia usaha yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan banyak lapangan pekerjaan sehingga dapat mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan dan terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

21

KOPERASI
JUARA II LOMBA KARYA TULIS DALAM RANGKA HARI KOPERASI

Strategi Koperasi Sebagai Sokoguru Perekonomian Nasional Dalam meningkatkan

Kesejahteraan Anggota
Oleh : Beni Novri

P

erekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan, sebagaimana tercantum dalam UUD ’45 Pasal 33 ayat 1, dan bagian perusahaan yang sesuai dengan asas tersebut adalah koperasi. UUD ’45 menempatkan koperasi pada kedudukannya sebagai sokoguru perekonomian nasional, mengingat bahwa koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat yang dalam konsepnya bukan hanya sebagai organisasi ekonomi dan sosial, tetapi secara komprehensif mencerminkan norma-norma atau kaidah-kaidah yang berlaku bagi bangsa Indonesia. Menurut Hendar Kusnadi (2005), hal tersebut tercermin dari fungsi dan peranan koperasi, antara lain: a. Sebagai alat untuk membangun dan mengembangkan potensi dan kemajuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial. b. Sebagai alat untuk memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional. Dalam hal ini, koperasi menempatkan posisi anggota sebagai pemilik dan sekaligus pelanggan, sehingga selain bertujuan untuk profit motive, juga melakukan pelayanan kepada anggotanya. Hal inilah yang membedakan dan merupakan keunggulan koperasi dibandingkan dengan unit ekonomi lainnya. Peran sentral anggota dalam berpartisipasi aktif untuk memajukan koperasi, sangat tergantung atas nilai manfaat yang dirasakan oleh anggotanya, dan harapan-harapannya di masa mendatang. Untuk itu selain anggota, peran manajemen koperasi sebagai pengelola bisnis koperasi sangat strategis dalam rangka meningkatkan keunggulan komparatif koperasi dari organisasi ekonomi lainnya. Agar memiliki keunggulan, koperasi harus memiliki strategi dengan melihat potensi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang selama ini dihadapinya. Melalui analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunites, dan Threats) akan diulas secara mendetail mengenai faktor-faktor tersebut di atas.

Menurut Pearce dan Robinson (1997), analisis SWOT pada dasarnya merupakan suatu cara sistematis untuk mengidentifikasi faktor-faktor terkait, guna menentukan strategi yang paling baik untuk diterapkan. Analisis ini didasarkan asumsi bahwa suatu strategi yang efektif akan memaksimalkan kekuatan dan peluang dan meminimalkan kelemahan dan ancaman. Adapun faktor-faktor yang terkait dengan koperasi dapat diuraikan sebagai berikut :

KEKUATAN KOPERASI
Faktor kekuatan koperasi harus selalu dioptimalkan, untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada dalam koperasi. Adapun yang menjadi kekuatan koperasi, antara lain sebagai berikut: 1. Kemampuan dalam menghadapi masa krisis dan ketidakpastian perekonomian nasional, karena ditunjang oleh kekuatan ekonomi para anggotanya dalam melakukan transaksi di unit-unit usaha koperasi. 2. Kemampuan daya tawar yang kuat di pasar, apabila para produsen suatu produk bergabung dalam sebuah koperasi, sehingga memiliki kekuatan dalam menetapkan harga untuk kepentingan para anggotanya. 3. Kegiatan koperasi bukan semata-mata sebagai profit motive, melainkan juga non profit motive, sehingga koperasi dapat lebih efisien dalam hal menurunkan biaya transaksi, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan output, misalnya pembelian dalam jumlah banyak dengan harga yang lebih murah (economic of scale), dan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjual output tersebut menjadi lebih rendah, karena hanya sedikit biaya promosi yang dikeluarkan. 4. Koperasi dapat membantu unit usaha anggotanya dengan memberikan pinjaman lunak, sehingga unit usaha anggotanya lebih berkembang dan pengembalian pinjaman menjadi lebih lancar. Hasilnya dapat digunakan untuk menumbuhkembangkan usaha-usaha anggota lainnya dengan social control dan management control dari para anggota koperasi sendiri. Secara umum, usaha ini dapat membantu pemerintah untuk menggerakkan sektor riil dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. 5. Secara prinsip, cita-cita koperasi adalah semata-mata untuk kepentingan para anggotanya, bukan hanya kepentingan individual pemilik modal. Prinsip ini apabila diterapkan secara luas dapat mengurangi dampak kesenjangan sosial yang lebih jauh antara yang kuat dan yang lemah.

PEMBAHASAN

KELEMAHAN KOPERASI
Secara umum, kelemahan klasik koperasi adalah dari sisi sumberdayanya, baik berupa sumberdaya manusia (SDM) atau sumberdaya permodalan dan sumberdaya lainnya. Adapun alasannya, antara lain sebagai berikut :

GAMBAR 1. DIAGRAM ANALISIS SWOT 22
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

1. Manajemen koperasi pada umumnya hanya sedikit yang memiliki pengurus koperasi dengan tingkat kualitas SDM yang memadai, dalam hal ini yang ditunjang dengan kemampuan wirausaha koperasi dengan berbagai inovasi yang dilakukan. 2. Pada umumnya, permodalan koperasi didapat dari iuran atau partisipasi dari para anggotanya, hanya beberapa koperasi yang telah maju modalnya didapat juga dari investasi di sektor keuangan, berupa investasi saham, reksadana, perbankan dan unit keuangan lainnya. 3. Partisipasi aktif dari para anggotanya yang belum optimal, umumnya koperasi terdiri dari banyak anggota, ada yang aktif dan banyak pula yang pasif. Sedangkan maju mundurnya koperasi, selain peran manajemen koperasi, juga peran aktif dari para anggotanya. Apabila banyak anggotanya, tetapi kurang peduli terhadap kemajuan koperasinya, maka kegiatan koperasi akan berjalan di tempat dan sulit untuk berkembang.

hanya memiliki beberapa unit usaha inti (core business), dan lambat laun seiring dengan perkembangan sumberdaya koperasi memiliki lebih banyak unit usaha dengan konsentrasi yang lebih luas. Dengan unit usaha yang banyak, maka konsentrasi menjadi terpecah dan tidak menutup kemungkinan pelayanan kepada para anggotanya menjadi berkurang. Bahkan kalau ada unit usaha tertentu yang merugi, akan menjadi beban bagi para anggotanya, sehingga hal ini dapat menurunkan partisipasi para anggotanya. Kendala seperti ini memang sering dihadapi oleh struktur organisasi yang makin membesar dengan unit usaha yang tumbuh berkembang. Namun hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen koperasi dalam mengelola ancaman tersebut menjadi kekuatan di masa yang akan datang.

KESIMPULAN
Berdasarkan analisis SWOT tersebut, eksistensi koperasi untuk tetap sebagai sokoguru perekonomian nasional masih dapat diandalkan. Paling tidak peranan faktor kekuatan dan peluang koperasi masih lebih dominan dibandingkan dengan faktor kelemahan dan ancamannya, sehingga berdasarkan gambar 1, strategi yang memungkinkan untuk diterapkan adalah strategi agresif atau strategi diversifikasi. Secara garis besar, benang merah yang dapat diambil dari analisis SWOT di atas, bahwa nilai-nilai luhur koperasi yang menempatkan anggota sebagai pemilik sekaligus pelanggan utama, banyak diadopsi oleh unit ekonomi lainnya dalam rangka mengingkatkan kesejahteraan para pegawainya, yang sedikit membedakan hanya di prosentase kepemilikan sahamnya. Hal ini dimaksudkan agar para pegawai ikut merasa memiliki perusahaan (rumosohandarbeni), walaupun benefit utama paling banyak diperoleh oleh pemilik modalnya. Koperasi dalam hal ini melihat, bahwa walaupun kontribusi para anggotanya berbedabeda dalam memberikan iuran sukarela, namun untuk pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) diupayakan tidak terlalu jauh berbeda, mengingat prinsip-prinsip perkoperasian tersebut, sehingga bagi semua anggota koperasi dapat merasakan manfaat dari kemajuan koperasinya. Kemajuan dan pertumbuhan koperasi dalam rangka meningkatkan manfaat bagi para anggotanya, dapat dilakukan melalui : 1. Meningkatkan kualitas SDM anggota dan manajemen koperasi, agar tercipta wirausaha koperasi yang memiliki daya inovasi yang mampu untuk direalisasikan. 2. Fokus terhadap usaha inti (core business), terlebih dahulu dengan mengoptimalkan kinerja unit usahanya yang telah ada, baik sebagai koperasi konsumen atau sebagai koperasi simpan pinjam. 3. Dalam rangka upaya meningkatkan daya saing usaha, koperasi dituntut untuk lebih efisien dalam hal menekan biaya (total cost), sehingga mampu untuk hasilkan profit. Profit diperoleh dari selisih antara Total Revenue (TR) dengan Total Cost (TC). Walaupun semata-mata bukan tujuan profit market, namun laba tersebut akan dikembalikan pula untuk kesejahteraan anggotanya, selain untuk pengembangan usaha koperasi. 4. Pengembangan usaha koperasi lebih diarahkan guna memenuhi kebutuhan dasar para anggotanya. Misalnya kebutuhan perumahan, kesehatan, sandang, pangan dan lain-lainnya. Bagi para anggota yang tingkat ekonominya lebih baik, maka motivasinya lebih diarahkan kepada aktualisasi diri dan penghargaan, dalam hal ini tujuan non profit market koperasi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan dengan melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang dimotori oleh para anggota koperasi itu sendiri. 5. Sejalan dengan upaya koperasi dalam meningkatkan citra
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

PELUANG KOPERASI
Peluang koperasi yang ada harus dimanfaatkan secara efektif, guna meningkatkan pertumbuhan koperasi yang bersangkutan. Adapun peluang yang ada, antara lain sebagai berikut: 1. Mengingat koperasi terdiri dari kumpulan anggota-anggota yang memiliki kepentingan yang sama guna memajukan koperasi, maka peluang berupa ide atau gagasan dari para anggotanya akan lebih banyak di dapat. Dari ide atau gagasan tersebut, secara mufakat para anggota dapat merealisasikannya dengan telah mempertimbangkan untung dan ruginya. 2. Dalam hal koperasi yang berdiri dalam suatu organisasi yang terdiri dari para anggota yang banyak, dengan ditunjang oleh aset yang potensial, maka peranan koperasi dalam mengelola aset organisasi yang ada untuk tujuan peningkatan kesejahteraan para anggotanya, dapat lebih diberdayakan. Misalnya, organisasi memiliki aset tanah yang strategis dekat dengan kantor, sementara banyak para pegawainya yang belum memiliki tempat tinggal, maka koperasi dalam hal ini dapat mengusulkan pendirian rumah susun dengan biaya yang terjangkau bagi para anggotanya, sehingga dapat mengurangi biaya operasional para anggotanya yang belum memiliki tempat tinggal. 3. Peranan koperasi dalam meningkatkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sangat berpeluang, mengingat jaringan (network) usaha koperasi yang banyak bersentuhan dengan produsen kecil dan menengah di pedesaan maupun di kota. Peningkatan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) melalui peranan koperasi merupakan faktor terpenting bagi kontribusi Gross Domestic Product (GDP) negara. Pada tahun 2003 saja, konstribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam GDP mencapai 56,7% (terdiri dari 41,1% Usaha Mikro dan Kecil (UMK) dan 15,6% Usaha Skala Menengah). Dalam hal ini hubungan antara koperasi dan UKM sangatlah erat, karena kemajuan koperasi banyak di tunjang oleh kegiatan UKM dan bisnis UKM banyak ditopang oleh kekuatan koperasi.

Faktor kekuatan koperasi harus selalu dioptimalkan

“ ”

ANCAMAN KOPERASI
Beberapa kelemahan koperasi apabila tidak segera diatasi, maka dapat menjadi ancaman di kemudian hari. Beberapa ancaman bagi koperasi adalah sebagai berikut: 1. Hengkangnya atau keluarnya anggota koperasi, karena kurangnya manfaat yang di dapat dengan menjadi anggota koperasi. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh unit usaha lainnya dengan merekrut anggota koperasi yang potensial dan bergabung menjadi unit pesaing bagi koperasi yang bersangkutan. 2. Pada umumnya, koperasi yang tergolong masih baru,

23

KOPERASI
dan kepercayaan para anggotanya, manajemen koperasi dapat melakukan hal-hal internal sebagai berikut: a. Meningkatkan pelayanan dari sisi kecepatan pelayanan dan harga yang bersaing. b. Menerapkan sistem door to door (pelayanan antar barang sampai di tempat) dengan menyediakan brosur/pamflet secara sederhana. c. Dalam menerapkan kebijakan harga yang ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan anggota, maka pada kondisi pasar persaingan sempurna, keseimbangan antara supply dan demand akan terjadi pada saat Marginal Revenue (MR) sama dengan Marginal Cost (MC). Pada situasi ini (gambar 2) koperasi dapat menjual output sebanyak Q1 dan menetapkan harga P1 sebagai harga jual produknya. Pada kondisi tersebut, koperasi akan memperoleh profit yang lebih rendah daripada kondisi profit maksimum yang menjadi sasaran usaha non koperasi. Namun koperasi masih mendapatkan profit sepanjang harga yang ditetapkan berada di atas biaya rata-rata (AC). Dalam hal ini koperasi akan menjual produknya sampai tambahan biaya per unit produknya (MC) sama dengan Price (P) yang sanggup dibayar oleh para anggotanya.

Iklan Keluarga
Mulai edisi Juni 2007, Majalah Warta Bea Cukai menyediakan halaman untuk mempublikasikan Iklan Keluarga khusus bagi keluarga besar, kerabat atau pensiunan pegawai DJBC di seluruh Indonesia tentang :

PERNIKAHAN KELAHIRAN ANAK u UCAPAN TERIMA KASIH u UCAPAN DUKA CITA u INFORMASI LAINNYA
u u
Dengan memasang iklan keluarga di majalah Warta Bea Cukai ini, apapun informasi anda tentang keluarga bisa sampai kepada kerabat anda, dengan harga yang cukup terjangkau seperta tabel berikut : UKURAN Halaman 1 1/2 1/4 Cm 21x28 14x21 10x14 7x10 HARGA Hitam/Putih 2.000.000 1.000.000 500.000 300.000 Berwarna 3.000.000 1.500.000 750.000 500.000

GAMBAR 2 Secara umum, di satu sisi koperasi masih mendapatkan profit. Namun di sisi lain, anggotanya diuntungkan karena dapat membeli produk yang lebih murah dibandingkan di tempat lain, sehingga daya beli para anggotanya (disposible income) menjadi lebih besar. Keuntungan lainnya adalah daya saving (S) para anggotanya akan lebih kuat. Berdasarkan fungsi: S = (Yd - C - Tax), maka apabila penghasilan tetap dan Tax tetap, namun konsumsi (C) dapat lebih hemat, karena harga yang bersaing, maka saving akan lebih besar dan kesejahteraan anggota akan lebih meningkat. Pada akhirnya anggota koperasi dan pengurus koperasi yang memiliki wirausaha koperasi, diharapkan mampu membawa keunggulan koperasi dari para pesaingnya, sehingga akan sanggup meningkatkan kesejahteraan para anggotanya disamping meningkatkan pertumbuhan koperasi itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA Kusnedi, Hendar, Ekonomi Koperasi (edisi kedua), Jakarta: LPFEUI,2005 Pearce, robinson, Manajemen Strategik (terjemahan), Jakarta: Binarupa Aksara,1997. Kadarisman, Hoedhiono, Memperkuat Ekonomi Nasional Berbasis Usaha Kecil dan Menengah, Jakarta: Lembaga Humaniora dan KII, 2007.

1/8

1/2 Halaman 14 x 21

1 Halaman 21 x 28 1/4 Halaman 10 x 14

1/8 Halaman 7 x 10

Data Penulis Nama : Beni Novri NIP : 060097691 Unit Kerja : Direktorat Cukai KP-DJBC

Materi iklan disediakan dan diserahkan pemasang paling lambat tanggal 15 untuk penerbitan bulan berikutnya ke alamat redaksi dan pembayaran bisa ditransfer ke rekening Warta Bea Cukai sesuai pada kolom redaksi. Informasi hubungi : Wirda, telp (021) 47865608, 47860504 fax (021) 4892353

24

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

INFO PERATURAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Agustus 2007
No. PERATURAN Nomor 1. 2. 103/PMK.010/2005 64/PMK.04/2007 Tanggal 23-03-07 20-06-07 PERIHAL

Ralat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 103/PMK.010/2005 Tentang Pengenaan Bea Masuk Anti Dumping Terhadap Impor Paracetamol. Perubahan Ketiga Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 144/KMK.05/1997 Tentang Pembebasan Bea Masuk Dan Cukai Atas Impor Barang Kiriman Hadiah Untuk Keperluan Ibadah Umum, Amal, Sosial, Dan Kebudayaan.

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Agustus 2007
PERATURAN No. 1. Nomor P-16/BC/2007 Tanggal 04-06-07 PERIHAL

Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 41/ PMK.010/2007 Tanggal 19 April 2007 Tentang Pemberian Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Bahan Baku Dan Bagian Tertentu Untuk Pembuatan Bagian Alat-alat Besar Serta Bagian Tertentu Untuk Perakitan Alat-alat Besar Oleh Industri Alat-alat Besar. Pakta Integritas Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 34/ PMK.011/2007 Tanggal 3 April 2007 Tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Bahan Baku Untuk Pembuatan Komponen Kendaraan Bermotor. Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor Pada Kantor Pelayanan Utama Bea Dan Cukai Tanjung Priok Label Tanda Pengawasan Cukai Untuk Barang Kena Cukai Yang Dijual Di Toko Bebas Bea. Mitra Utama

2. 3.

P-18/BC/2007 P-19/BC/2007

15-06-07 27-07-07

4. 5. 6.

P-21/BC/2007 P-23/BC/2007 P-24/BC/2007

29-06-07 05-07-07 09-08-07

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Agustus 2007
PERATURAN No. 1. Nomor SE-07/BC/2007 Tanggal 24-04-07 PERIHAL

Petunjuk Penyelesaian Pengalihan Tanggung Jawab Atas Barang-Barang Operasi Perminyakan Dari Satu Kontraktor Perminyakan Kepada Kontraktor Perminyakan yang lain. Pelaksanaan Pengeluaran Barang Impor Dengan Penangguhan Pembayaran Bea Masuk, Cukai Dan Pajak Dalam Rangka Impor Yang Akan Memperoleh Fasilitas Pembebasan Atau Keringanan. Penyalahgunaan Nama Direktur Jenderal Untuk Kemudahan Dalam Pelayanan Di Bidang Pabean dan Cukai. Pedoman Pelaksanaan Jangka Waktu Dan Biaya Pelayanan Di Bidang Kepabeanan. Petunjuk Pelaksanaan Penelitian Lapangan Pengelolaan Jaminan Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan.
WARTA BEA CUKAI

2.

SE-09/BC/2007

05-06-07

3. 4. 5.

SE-12/BC/2007 SE-13/BC/2007 SE-14/BC/2007

06-07-07 18-07-07 18-07-07

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

25

INFO PEGAWAI

PELANTIKAN. Menkeu Sri Mulyani Indrawati saat membacakan sumpah jabatan pada para pejabat yang dilantik.

Mutasi dan Promosi Pegawai
Eselon II, III dan IVdi lingkungan DJBC
Perubahan nomenclatur bukan hanya sekedar mengganti nama, tetapi memberikan kefokusan serta mempertajam unit yang bersangkutan.

S

esuai dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 314/KMK.01/UP.11/2007 dan No. 330/KMK.01/ UP.11/2007, pada 27 Juli 2007, bertempat di gedung Graha Sawala, Departemen Keuangan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melantik 18 orang pejabat eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Dalam sambutannya Menteri Keuangan (Menkeu) mengatakan, dalam acara pelantikan kali ini yang berubah hanya nomenclatur dari jabatan, seperti perubahan nomenclatur Kantor Wilayah di lingkungan DJBC. Menurutnya, perubahan nomenclatur tersebut bukan hanya sekedar mengganti nama tetapi memberikan kefokusan serta mempertajam unit yang bersangkutan. “Pada prinsipnya, kita mengedepankan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Pelayanan yang dilakukan diharapkan tidak menjadi beban bagi masyarakat tetapi bisa menjadi salah satu secure bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang baik. Masyarakat bisa dan berhak memahami prosedur yang harus dan akan dilakukan dalam mengurus barang-barang dan dalam menghadapi atau berurusan dengan Ditjen Bea dan Cukai,” tambah Sri Mulyani. Ia juga berharap agar praktek-praktek pungutan liar dapat dihapuskan dan pelayanan di Bea dan Cukai dapat ditingkatkan hingga lebih transparan. Untuk memperbaiki kinerja Ditjen Bea dan Cukai, kini telah dibentuk Kantor Pelayanan Utama (KPU) sebagai bagian dari reformasi di lingkungan DJBC. Tugas dan fungsi KPU adalah memberikan pelayanan prima dan pengawasan yang efektif kepada pengguna jasa. Dengan demikian, proses pembentukan KPU dilakukan atas dasar manajemen risiko dimana tingkat pelayanan dan pengawasan berdasarkan pada kategori stakeholder yang memiliki resiko rendah, sedang dan tinggi. Selain itu, lanjut Menkeu, telah dibentuk suatu unit kepatuhan dan layanan informasi dengan prinsip know your
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

customers untuk memberikan bimbingan pada para stakeholders sesuai kategori risiko agar dapat mencapai level kepuasan yang lebih baik. Dengan demikian, diharapkan agar para stakeholder yang memiliki risiko tinggi akan berkurang dan berangsur-angsur memiliki motivasi untuk dapat masuk ke kategori risiko rendah. “Semua itu merupakan proses reformasi yang telah, sedang dan terus dilakukan oleh Departemen Keuangan,” tandas Sri Mulyani. Ditemui WBC usai pelantikan, Agung Kuswandono, Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok mengakui bahwa pada dua minggu pertama berjalannya KPU, terdapat keluhan-keluhan dari masyarakat. Hal itu terjadi karena masa itu merupakan masa transisi dimana orang-orang yang duduk di KPU merupakan orang baru dengan sistem yang baru dan masyarakat pun belum banyak yang tahu akan hal itu. “Tetapi pada minggu ketiga, keluhan-keluhan tersebut sudah dibereskan, sehingga sebagian besar pekerjaan sudah lancar. Jadi masa transisinya tersebut yang membuat terjadinya kelambatan. Tapi sekarang sudah mulai beranjak normal,” tambah Agung.

SEBANYAK 13 ORANG PEJABAT ESELON III DILANTIK
Sementara itu, selasa, 24 Juli 2007, bertempat di aula gedung B, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, diselenggarakan acara pelantikan pegawai eselon III dan IV di lingkungan DJBC. Sebanyak 16 orang pegawai eselon III dan sejumlah 13 orang pegawai eselon IV, dilantik dan diambil sumpahnya. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB tersebut, dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi. Dalam sambutannya, Anwar berpesan pada pejabat yang baru dilantik bahwa reformasi birokrasi di lingkungan Bea dan Cukai antara lain dengan terbentuknya KPU di Tanjung Priok. Sejak uji coba KPU Tanjung Priok dilakukan, mulai 1 April -

26

31 Juni 2007, KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok menunjukkan hasil yang positif. Diantaranya, penerimaan negara mengalami kenaikan cukup signifikan dari bea masuk maupun pajak dalam rangka impor. Saat ditemui WBC usai pelantikan, Martediansjah yang kini menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Purwakarta mengatakan, program jangka pendek dan jangka panjang yang akan dilakukannya harus sesuai amanat pimpinan, yakni melaksanakan reformasi birokrasi. Untuk internal, ia akan melakukan pembenahan terhadap SDM yang ada. Sedangkan untuk eksternal, ia juga akan

melakukan pembinaan keluar agar para stakeholder dapat melaksanakan semua ketentuan dengan lebih baik. Sementara itu, saat diwawancara WBC, Rahmat Subagio yang kini menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Soekarno Hatta mengatakan, untuk program jangka pendek yang akan ia laksanakan adalah melanjutkan kebijakan sebelumnya. “Jangka menengahnya juga sama dengan jangka pendek karena Soekarno Hatta tahun depan sudah jadi KPU. Dalam menyiapkan KPU nanti, kita tinggal lihat blue printnya dari pusat dan kita akan melaksanakannya,” tandas Rahmat. ifa

Daftar Nama Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen Keuangan yang baru dilantik
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Nama/NIP Drs. Achmad Riyadi / 060060032 Heryanto Budi Santoso, S.H.,M.M / 060034937 Drs. Djoko Sutojo Riyadi / 060044386 Drs. R.P. Jusuf Indarto / 060061439 Drs. Kushari Suprianto, Ak. / 060079942 dr. Djuneidy Djusan / 060041333 Drs. Iswan Ramdana, M.Si / 060044391 Drs. Nasir Adenan, M.M / 060062022 Ir. Agung Kuswandono, M.A / 060079971 Drs. Jody Koesmendro / 060054087 Drs. Zeth Abraham Likumahwa / 060027823 Drs. Djasman Sutedjo / 060044457 Cyrus Fidelis Sidjabat, S.H.,M.P.A / 060034127 Drs. Faried Syibli Barchia, M.A / 060044379 Drs. Muhammad Chariri / 060044383 Drs. Ismartono / 060044469 Drs. Bachtiar, M.Si / 060034182 Drs. Nasar Salim, M.Si / 060062027 Jabatan Baru Kepala Kanwil DJBC Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh Kepala Kanwil DJBC Sumatera Utara, Medan Kepala Kanwil DJBC Riau dan Sumatera Barat, Pekanbaru Kepala Kanwil DJBC Kepulauan Riau, Tanjung Balai Karimun Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam Kepala Kanwil DJBC Sumatera Bagian Selatan, Palembang Kepala Kanwil DJBC Banten, Serang Pj. Kepala Kanwil DJBC Jakarta Pj. Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, Jakarta Kepala Kanwil DJBC Jawa Barat, Bandung Kepala Kanwil DJBC Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Semarang Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur I, Surabaya Pj. Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur II, Malang Kepala Kanwil DJBC Bali, NTB, dan NTT, Denpasar Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat, Pontianak Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Balikpapan Kepala Kanwil DJBC Sulawesi, Makassar Kepala Kanwil DJBC Maluku, Papua, dan Irian Jaya Barat, Ambon

Daftar pejabat eselon III di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Yang Baru Dilantik
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Nama/NIP Sugeng Apriyanto / 060078253 Effendy Saleh / 060035755 Maimun / 060040158 Julius Johny Da Costa / 060044384 Hendi Budi Santosa / 060079938 Dwi Restu Nugroho / 060079941 Efrizal / 060079935 Murjady / 060044466 Rahmat Subagio / 060079871 Iskandar / 060079965 Joseph Didit Krisnadi / 060035376 R. Fajar Donny Tjahjadi / 060077603 Sucipto / 060079891 Heru Pambudi / 060078154 Guntur Cahyo Purnomo / 060076049 Martediansyah / 060079904 Jabatan Baru Pj. Kepala Subdirektorat Penyidikan, Direktorat Penindakan dan Penyidikan Kepala Subdirektorat Manajemen Resiko, Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai Kepala Subdirektorat Perencanaan Sistem dan Sarana Otomasi, Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional I, Direktorat Kepabeanan Internasional Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional II, Direktorat Kepabeanan Internasional Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional III, Direktorat Kepabeanan Internasional Kepala Subdirektorat Penerimaan, Direktorat PPKC Kepala Subdirektorat Penyuluhan dan Publikasi, Direktorat PPKC Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Soekarno Hatta Kepala KPPBC Tipe A3 Merak Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kantor Wilayah DJBC Banten Pj. Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A2 Jakarta Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Jakarta Pj. Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A4 Sunda Kelapa Pj. Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil DJBC Jawa Barat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A2 Purwakarta
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

27

INFO PEGAWAI

Terpenuhi
Masa transisi Kantor Pelayanan Utama (KPU) memberi warna lain dalam beban target penerimaan semester I Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
maan periode yang sama pada tahun angarget penerimaan baik bea masuk garan 2006. maupun cukai yang dibebankan Lalu faktor apakah yang menyebabkan kepada DJBC tiap tahunnya selakedua penerimaan ini dapat terpenuhi? lu mengalami kenaikan. Hal ini Menurut Hanafi, meningkatnya penerimaan dapat dilihat dari peningkatan kebea masuk periode Januari hingga Juni naikan beban target sejak tahun 2000 hing2007 dibanding periode yang sama tahun ga saat ini yang menunjukan angka yang 2006, disebabkan oleh beberapa faktor, cukup signifikan. antara lain karena kondisi perekonomian Untuk tahun 2007, DJBC kembali meyang lebih kondusif, menguatnya nilai nerima target bea masuk dan cukai yang rupiah terhadap dolar Amerika, lebih tinggi dari tahun 2006, dan untuk propeningkatan peran analis intelijen, sentase kenaikannya juga dirasakan cukup peningkatan efektifitas verifikasi dan audit, tinggi khususnya untuk target yang dibepengefektifan penagihan tunggakan, serta bankan kepada cukai. Sebagai perbandingdengan adanya komitmen perbaikan an, tahun 2006 target bea masuk sesuai kinerja DJBC antara lain melalui uji coba dengan APBN-P, adalah sebesar Rp. program Kantor Pelayanan Utama (KPU). 13.583.300.000.000, dan cukai dibebankan “Dengan program KPU, DJBC dituntut sebesar Rp. 38. 522.600.000.000. Di tahun untuk lebih meningkatkan akurasi 2007, penerimaan dari bea masuk ditargetpenelitian nilai pabean dan klasifikasi kan menjadi Rp. 14. 417.600.000.000, sehingga diharapkan lebih mengoptimalkan sedangkan cukai menjadi Rp. 42. 034.700. FRANS RUPANG. Kebijakan kenaikan HJE mempengaruhi penerimaan cukai penerimaan bea masuk. Disisi lain dengan 000.000. (Lihat Tabel-I). tahun 2007. adanya komitmen perbaikan kerja DJBC, Dengan penetapan beban tersebut, pelaku dunia usaha mendapatkan pelayanan prima sehingga maka di tahun 2007, untuk bea masuk mengalami kenaikan mendorong pelaku dunia usaha untuk meningkatkan volume sebesar Rp. 834.300.000.000, sementara cukai mengalami importasinya, dan terbukti dengan meningkatkan devisa kenaikan Rp. 3. 512. 100.000.000. Menurut Direktur bayar, yang berdampak dengan meningkatnya penerimaan Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC), bea masuk,” jelas Hanafi. Hanafi Usman, sampai dengan berakhirnya semester I tahun Namun demikian Hanafi menambahkan, pada dua anggaran 2007 pada 29 Juni 2007, penerimaan negara yang minggu pertama masa transisi KPU di Tanjung Priok, bersumber dari pendapatan bea masuk telah mencapai Rp. penerimaan justru menurun, namun pada minggu ketiga dan 7,75 triliun atau mencapai 53,77 persen dari target yang telah ke empat sudah berjalan normal kembali. Hal ini disebabkan ditetapkan sebesar Rp. 14.417.600.000.000. Sehingga karena penerapan suatu peraturan baru secara nominal, penerimaan bea masuk WBC/ATS memang akan mengalami kendala. Secara meningkat sebesar Rp. 2,060 triliun atau internal di KPU masih banyak pegawai sekitar 36,20 persen dibandingkan dengan yang baru serta pertama kali ditempatkan penerimaan bea masuk untuk periode yang di Tanjung Priok sehingga harus sama pada tahun anggaran 2006. menyesuaikan dengan frekuensi pekerjaan “Untuk cukai, sampai dengan semester yang lebih banyak. Disamping itu, adanya I tahun anggaran 2007 telah mencapai peraturan-peraturan baru yang diterapkan Rp.20,09 triliun atau mencapai 49,82 di KPU juga menjadi kendala internal. persen dari target yang ditetapkan sebesar Sedangkan untuk eksternal, pada dua Rp. 42.034.700.000.000. Dengan demikian minggu pertama penerapan KPU para secara nominal penerimaan cukai meningpelaku usaha ingin melihat perkembangan kat sebesar Rp. 2,86 triliun atau sekitar dari KPU tersebut, karena mereka yang 15,84 persen dibandingkan dengan periode sifat bisnisnya profit oriented tentunya tidak yang sama pada tahun anggaran 2006 (Liingin pelayanannya terhambat, sehingga hat Tabel-II),” ujar Hanafi. menunggu KPU berjalan dengan lancar Masih menurut Hanafi, hingga semester baru kemudian kembali melakukan aktifitas I 2007, total penerimaan bea masuk dan importasinya. cukai telah mencapai Rp.28,69 triliun atau “Dua minggu pertama KPU di Tanjung 50,83 persen dari target yang ditetapkan Priok memang tidak ada peningkatan sebesar Rp. 56.452.300.000.000. Dengan malah cenderung turun, karena untuk Priok demikian penerimaan bea masuk dan cukai HANAFI USMAN. Optimis, optimis target itu kita targetkan average-nya Rp.700 sammeningkat sebesar Rp.4,92 triliun atau penerimaan bea masuk dan cukai tahun pai 800 milyar, tapi dua minggu pertama 20,71 persen dibandingkan dengan peneri- 2007 dapat tercapai. 28
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Target Bea Masuk dan Cukai Semester I DJBC

T

WBC/ATS

hanya Rp.200 milyar, namun di minggu kedua hingga keempat dan akhir Juni sudah bisa mencapai ke angka normalnya lagi. Demikian juga untuk Batam, dimasa transisi dari average-nya Rp.2 milyar sekarang sudah dapat mencapai angka Rp.4 milyar,” kata Hanafi. Selain peningkatan penerimaan dari KPU, pencapaian target pada semester I tahun 2007 juga dipengaruhi oleh 20 komoditi impor terbesar yang mencapai nilai impor sebesar USD 5.86 milyar yang menghasilkan bea masuk sebesar Rp. 946 milyar. Sedangkan importasi untuk 20 komoditi impor penyumbang bea masuk terbesar mencapai nilai impor sebesar USD 1.88 milyar, dengan menghasilkan bea masuk sebesar Rp. 1,80 triliun. (Lihat Tabel-III). Dengan pencapaian ini, DJBC memang tidak mengalami hambatan dalam penerimaannya, namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan bea masuk, antara lain, faktor tarif, faktor devisa bayar, dan faktor kurs. Untuk faktor tarif, dengan adanya berbagai perjanjian dibidang perdagangan internasional, maka terjadi kecenderungan penurunan tarif efektif rata-rata. Diantaranya, harmonisasi tarif untuk mengurangi hambatan perdagangan antar negara karena masalah tariff (tariff barier), perjanjian Free Trade Area, seperti AFTA, FTA ASEAN-China, EPA Indonesia-Jepang, FTA Indonesia-Korea Selatan, dan FTA Indonesia-India. Pada faktor devisa bayar, dibanding devisa bayar periode Januari-Juni 2006, devisa bayar periode Januari-Juni 2007 naik 33,60 persen. Devisa bayar periode Januari-Juni 2007 mencapai nilai USD 28.721.804.650, sedangkan periode yang sama tahun 2006 hanya mencapai USD 21.498.696. 760. Sedangkan untuk faktor kurs, nilai tukar rupiah rata-rata dari bulan Januari-Juni 2007 sebesar Rp.9.035,87 menguat 2 persen dibandingkan dengan kurs rata-rata tahun 2006 sebesar Rp.9.225,03.

TABEL 1

TABEL 2

TABEL 3

CUKAI
Sama halnya dengan penerimaan bea masuk, untuk penerimaan target cukai pada semester I tahun 2007, juga mengalami peningkatan, artinya dari beban yang ditargetkan hingga saat ini sudah mencapai 49,82 persen. Menurut Direktur Cukai, Frans Rupang, kekurangan 0,5 persen tersebut lebih dikarenakan oleh masa penundaan yang cukup lama oleh pemesanan pita.”Kalau penundaannya tidak terlalu lama semustinya target tersebut bisa terlewati, tapi karena kita menghitungnya pada saat jatuh tempo, harusnya cukai yang dipesan pada Mei sudah terlihat cukainya pada April, tapi karena adanya ketentuan bisa mundur sampai tiga bulan ya akhirnya bayarnya baru Juli nanti, sehingga angka tersebut tidak masuk,” jelas Frans Rupang. Lebih lanjut Frans Rupang menjelaskan, kenaikan penerimaan ini juga dipengaruhi oleh adanya kebijakan kenaikan cukai di bulan Maret dan awal Juni 2007, dengan adanya kenaikan tarif tersebut maka beban target yang ditentukan kepada DJBC dapat tercapai, namun jika tidak ada kebijakan kenaikan tarif maka beban target yang ditentukan akan sangat berat sekali untuk dapat tercapai (lihat tabel- IV dan V) Ketika ditanyakan mengenai prediksi semester II, Hanafi Usman menjelaskan, untuk periode semester II, diprediksi penerimaan bea masuk akan mencapai Rp. 7,32 triliun atau 50,75 persen dari target, sehingga sampai akhir tahun 2007 penerimaan bea masuk diperkirakan akan mencapai Rp.15,07 triliun atau 104,52 persen dari target yang dibebankan. Sedangkan untuk cukai pada semester II tahun 2007 diprediksi akan mencapai 21,33 triliun atau 50,75 persen dari target, sehingga sampai akhir tahun 2007 penerimaan cukai diperkirakan akan mencapai Rp. 42,27 triliun atau 100,57 persen. Dengan demikian secara keseluruhan penerimaan bea masuk dan cukai pada akhir tahun 2007 diperkirakan akan mencapai Rp.57, 34 triliun atau 101,58 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp. 56,45 triliun, yang berarti target yang dibebankan diharapkan akan terpenuhi. Dan, untuk dapat tercapainya itu semua DJBC pun telah melakukan langkah-langkah konkrit, diantaranya peningkatan

komitmen dengan market forces melalui registrasi importir, pelayanan jalur hijau, pelayanan jalur prioritas, dan pemberian fasilitas lainnya. Sementara untuk komitmen dengan pegawai dilakukan melalui pembinaan mental dan keterampilan, program peningkatan integritas, dan pemberian reward and punishment. Langkah lainnya yaitu, intensifikasi dalam bidang pabean dan cukai. Untuk bidang pabean, dilakukan melalui peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi, peningkatan efektifitas verifikasi dan audit (Lihat Tabel-VI), peningkatan akurasi intelijen dengan melakukan risk management, targeting dan profiling, dan peningkatan operasi pemberantasan penyelundupan dengan mengoptimalkan penggunaan sarana operasi seperti, kapal patroli, X-Ray machine, dan operasi terbatas pada pelabuhan utama dan daerah rawan penyelundupan (daerah perbatasan dan gugus kepulauan terluar). Sementara itu untuk bidang cukai juga dilakukan langkah konkrit, diantaranya operasi intelijen, operasi pemberantasan pita cukai palsu dan rokok tanpa pita cukai, peningkatan audit bidang cukai, personalisasi pita cukai, pembaharuan dan penyempurnaan design dan security pita cukai, kelancaran penyediaan pita cukai tepat waktu, sosialisasi peraturan di bidang cukai, dan kebijakan kenaikan harga jual eceran dan tarif. “Untuk tahun 2007, APBN-P tidak mengubah target yang ditetapkan kepada DJBC, dan Alhamdulillah itu tidak terjadi,
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

29

INFO PEGAWAI
TABEL 4

TABEL 5

TABEL 6

UNIT KERJA

namun jika itu terjadi tentunya akan sangat berat DJBC dapat memenuhi target yang sudah ditentukan tersebut,” ungkap Hanafi. Baik Hanafi maupun Frans Rupang, turut berharap agar seluruh pegawai DJBC dapat bekerja lebih optimal lagi, 30
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

sehingga baik dari pelayanan maupun pengawasan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lebih baik lagi dan semuanya dapat terwujud dengan tercapainya target penerimaan bea masuk dan cukai yang dibebankan kepada DJBC pada tahun 2007. adi

DAFTAR PEGAWAI PENSIUN
T.M.T 01 SEPTEMBER 2007
NO 1 N A M A Drs. A G U S W I D O D O N I P 060035368 GOL III/d J A B A T A N Kepala Seksi Dukungan Teknis Kepala Subbagian Umum K E D U D U K A N Kantor Wilayah XI DJBC Jawa Timur I Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Surakarta Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Soekarno Hatta

2

M. ANSJARI A.R, SM.HK

060035403

III/d

3

SALAMAH INDRA MEGA, Dra.

060061973

III/d

Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai I

4

SUKARNO

060040538

III/d

Kepala Seksi Kepabeanan I Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Bandung Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai II Pelaksana Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A2 Pasuruan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A2 Tangerang Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Bekasi Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Palembang Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe C Manado Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Purwakarta Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe C Fak-Fak

5

TUKIRAN

060041379

III/c

6

RACHJANA BIN R RACHMAT

060032092

III/b

7

SAYUTI BASRI

060032089

III/b

Koordinator Pelaksana Administrasi Tempat Penimbunan Berikat Pelaksana

8

MARWIJAH

060041276

III/a

9

A. O L O A N R A M B E

060045637

III/a

Koordinator Pelaksana Administrasi Impor Koordinator Pelaksana Administrasi Umum Pelaksana

10

JOLANDA LIANDO

060052269

III/a

11

KUSBANDI

060047933

III/a

12

SUPARLAN DJOJO

060058658

II/d

Koordinator Pelaksana Administrasi Kepabeanan dan Cukai Pelaksana

13

NGADIJANTO

060052399

II/c

Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok III Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Sampit

14

AGUS MADER

060057812

II/a

Pelaksana

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, Supiandi, Pelaksana Administrasi pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Soekarno Hatta, pada hari Jumat, 10 Agustus 2007, pukul 04.00 WIB. Jenazah telah dimakamkan pada hari Jumat, 10 Agustus 2007, pukul 14.00 WIB. Telah meninggal dunia, Suegino Wigno Sumarto (60), Ayahanda dari David Purwosusilo, Kasubbag Umum KPBC Tipe A4 Gorontalo, pada hari Rabu, 01 Agustus 2007 pukul 01.00 dinihari di RS. Kasih Ibu Solo. Jenazah telah dimakamkan pada hari Rabu, 01 Agustus 2007 pukul 14.00 WIB di Solo. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Amin.
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

31

DAERAH KE DAERAH

Rapat Kerja
Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur
Mendukung perubahan menjadi Bea Cukai Modern untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan berintegritas tinggi
FOTO : MUQSITH HAMIDI

P

permasalahan yang ada serta melakukan koordinasi dan konsolidasi mendalam antar kantor pelayanan di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, sekaligus sebagai evaluasi semester pertama pada tahun ini seperti yang dijelaskan Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono dalam sambutannya. Selain itu rapat kerja merupakan sarana komunikasi diantara para pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur. Tepat pukul 08.30 WITA Rakerwil dimulai dengan sambutan dari Kepala Bagian Umum, Hery Susanto sekaligus yang menjadi ketua panitia acara tersebut. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur Ismartono sekaligus membuka Rakerwil. Dalam sambutannya Kakanwil menjelaskan latar belakang dari Rakerwil antara lain : 1. Untuk menyamakan RAPAT KERJA (RAKERWIL). Membahas permasalahan-permasalahan yang ada dilingkungan Kantor Wilayah XV persepsi atau pandangan DJBC Kalimantan Bagian Timur untuk mencari solusinya. terhadap permasalahanpermasalahan yang ada di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur seagi itu (28/6) sekitar pukul 08.00 WITA, Kantor Wilahingga menemukan solusi pemecahan dari permasalahan yah DJBC Kalimantan Bagian Timur yang terletak tersebut. dipusat kota Balikpapan tepatnya di Jalan Jenderal 2. Untuk melakukan koordinasi dan konsolidasi internal Sudirman No.546 terlihat tidak seperti biasanya. Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur sehingga dapat Para pegawai terlihat begitu sibuk dengan persiapan mencapai target penerimaan yang telah ditetapkan. Rapat Kerja Kantor Wilayah (Rakerwil) DJBC Kalimantan 3. Sebagai Evaluasi kinerja selama semester pertama yang Bagian Timur yang diselenggarakan selama 2 (dua) hari yaktelah dilalui sehingga kinerja kedepan dapat lebih ni tanggal 28-29 Juni 2007, bertempat di gedung Aula Kanwil. ditingkatkan lagi dalam hal pelayanan Kepabeanan dan Rakerwil diikuti oleh Kepala Kantor Wilayah, Kepala Bagian Cukai. Umum, Kabid Kepabeanan dan Cukai, Kabid P2, Kabid Audit, Kabid IKC, Kepala Kantor Pelayanan di lingkungan Kantor Berdasarkan realisasi penerimaan Tahun Anggaran (TA) Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Timur beserta Kepala Sek2006 yang sebesar Rp.250.980.595 juta (88,95%) dari target si & Korlak yang mewakili. Ada delapan kantor pelayanan yang ditentukan sebesar Rp.282.151.893 juta, maka pada TA yang berada di bawah wilayah kerja Kanwil DJBC Kalimantan 2007 target penerimaan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian bagian Timur antara lain : KPBC Tipe A3 Balikpapan, KPBC Timur ke kas negara sebesar Rp.301.898.000 juta. Menurut Tipe A3 Samarinda, KPBC A3 Banjarmasin, KPBC Tipe A4 Kakanwil, Ismartono untuk semester I TA 2007 target tersebut Bontang, KPBC Tipe A4 Sangatta, KPBC Tipe A4 Tarakan, telah mencapai sebesar 53 persen. Target yang dibebankan KPBC Tipe A4 Nunukan dan KPBC Tipe A4 Kotabaru. tersebut menurutnya merupakan amanah yang harus Mengusung tema, ”Dengan semangat reformasi Kepadijalankan sebagai bentuk kepercayaan pimpinan kepada beanan dan Cukai melalui Profesionalisme, Integritas dan seluruh jajaran Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur. Akuntabilitas kita tingkatkan Kinerja dan Citra Bea dan Oleh karena itu Ismartono bertutur agar segenap pegawai Cukai”, Rapat Kerja Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur untuk yang diadakan tahun ini bertujuan untuk menyatukan bahu-membahu dan mengerahkan segala kemampuan untuk persepsi dan pendapat dalam menghadapi permasalahanWARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

32

FOTO : MUQSITH HAMIDI

mewujudkan kepercayaan tersebut sehinggat target yang diberikan dapat tercapai.

RAKERWIL, EVALUASI PENERIMAAN SERTA PENGAWASAN DAN PELAYANAN
Dari hasil evaluasi pada Rakerwil yang diselenggarakan terlihat bahwa ada empat kantor pelayanan yang telah mencapai target realisasi penerimaan selama semester I ini yaitu : KPBC Tipe A3 Balikpapan sebesar Rp. 99.807.020 juta (61,44%), KPBC Tipe A4 Tarakan sebesar Rp. 1.504.027 juta (49,82%), KPBC Tipe A3 Banjarmasin sebesar Rp. 21.931.502 juta (72,65%) dan KPBC Tipe A4 Kotabaru yang secara mengejutkan telah melampaui target tahunan (over target) sebesar 21.848.762 juta (133,28%). Untuk itu, menurut Kakanwil perlu adanya proyeksi target penerimaan dari masing-masing kantor pelayanan beserta dengan dasar pertimbangannya, sehingga dapat ditentukan perlu tidaknya revisi beban penerimaan yang telah diberikan seiring dengan menurunnya volume impor dibeberapa kantor pelayanan. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pencapaian target KANTOR WILAYAH DJBC KALIMANTAN BAGIAN TIMUR. Memerlukan sarana dan prasarana yang lebih memadai untuk menunjang kinerja pelayanan dan pengawasan diwilayah ini. tersebut antara lain : 1. Melakukan pemeriksaan fisik barang dengan benar, yaitu dengan mencatat seluruh informasi / b. Barang untuk keperluan operasional perusahaan data yang ada meliputi kebenaran jumlah dan jenis bapertambangan minyak yang diimpor oleh Pertamina dan rang, spesifikasi teknis, kandungan bahan, ukuran, voluperusahaan kontraktornya seperti PT Total E&P Indonesie me dan informasi lainnya yang memudahkan dalam penedan PT Chevron yang ada di Balikpapan. tapan klasifikasi, tarif dan nilai pabean. c. Barang untuk keperluan operasional perusahaan industri 2. Melakukan penetapan klasifikasi barang dengan benar, kayu (plywood) seperti PT Basirih Industrial Corporation di dengan memperlihatkan jenis barang, spesifikasi teknis Banjarmasin. (merk, tipe dll), bahan baku, catatan bagian, catatan bab, d. Barang kiriman luar negeri yang umumnya dikirim melalui catatan pos dan catatan sub pos dll. DHL (PT Birotika Semesta) di Balikpapan. 3. Melakukan penetapan nilai pabean berdasarkan mekanise. Barang Pelintas Batas, umumnya seperti bahan kebutuhme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan an pokok yang melalui perbatasan Nunukan - Tawau yang berlaku. (Malaysia) dimana KPBC Tipe A4 Nunukan memiliki 3 4. Melakukan operasi untuk pencegahan penyelundupan dan PPLB (Pos Pengawasan Lintas Batas) yakni di Pelabuhan Tunon Taka, Sungai Bolong serta Sungai Nyamuk yang perdagangan ilegal. ada di Pulau Sebatik (Indonesia-Malaysia). 5. Melakukan pemeriksaan sarana pengangkut dengan benar, f. Barang kebutuhan pokok terutama beras dan gula terutama kapal-kapal barang yang datang dari luar negeri yang diimpor oleh Bulog. khususnya daerah perbatasan Nunukan – Tawau (Malaysia). Sementara itu untuk pelayanan di 6. Melakukan kegiatan verifikasi dan audit FOTO : MUQSITH HAMIDI bidang ekspor, jenis komoditi yang umum secara efektif yang berorientasi untuk diekspor melalui KPBC di lingkungan penerimaan. Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur 7. Melakukan berbagai upaya untuk meantara lain : ningkatkan keterampilan, pengetahuan a. Kayu Olahan (Moulding dll), Plywood dan integritas pegawai. (kayu lapis). 8. Melakukan koordinasi dengan instansi b. Minyak Bumi maupun Batubara. terkait dalam rangka pengawasan di bic. Hasil laut (Ikan, kepiting, udang, cumi dang kepabeanan dan cukai, termasuk dll). pengawasan di wilayah perbatasan ned. Hasil industri perkebunan seperti gara. minyak kelapa sawit, karet dll 9. Meningkatkan sarana dan prasarana dae. Industri semen yakni PT Indocement lam rangka pelayanan dan pengawasan Tunggal Prakarsa yang ada di Kotabaru. dibidang kepabeanan dan cukai.

KEGIATAN IMPOR MAUPUN EKSPOR
Komoditi yang diimpor melalui Kantorkantor Pelayanan Bea dan Cukai di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur begitu beragam, namun pada umumnya antara lain : a. Barang untuk keperluan operasional perusahaan pertambangan (PT Badak di Bontang, PT Kaltim Prima Coal di Sangatta, PT Arutmin di Kotabaru, PT Thiess dan PT Halliburton di Balikpapan).

Di Wilayah Kalimantan Bagian Timur ini hanya memiliki lima perusahaan KITE diantaranya PT Basirih Industrial Corporation, PT Ata Surya, PT Darma Kalimantan Jaya, PT Gany Mulia Sejahtera Industrie dan CV Array Utama, yang kesemuanya merupakan Importir Produsen bahan baku plywood.
ISMARTONO. Perlu kerjasama dari segenap jajarannya untuk mendukung perubahan dalam tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

PENGAWASAN DI BIDANG KEPABEANAN DAN CUKAI
Dijelaskan Ismartono, bahwa pengawasWARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

33

DAERAH KE DAERAH
FOTO : MUQSITH HAMIDI

FOTO BERSAMA. Para peserta Rakerwil berfoto bersama di depan Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Timur.

an khususnya di laut sudah terkoordinasi dengan baik meskipun dengan sarana dan prasarana yang dinilai masih minim namun harus dimaksimalkan penggunaannya. ”Semua demi melaksanakan tugas dan amanah yang sudah diberikan kepada kita sebagai aparat bea cukai yakni melindungi pemasukan (bea masuk) yang merupakan hak negara kita” ujarnya. Lebih lanjut, Ismartono menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan pengawasan dilakukan oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan dan Bidang Audit. Dimana hasil-hasil yang dicapai dalam Bidang Pengawasan antara lain : Penindakan dan Penyidikan Pengawasan untuk di laut dan darat diperbatasan Tarakan-Nunukan dengan Malaysia menggunakan kapal patroli yang di-BKO-kan dari Pantoloan (Sulawesi). Pengawasan dengan kapal patroli ini sangat penting seiring dengan banyaknya aksi penyelundupan yang berhasil digagalkan oleh aparat bea cukai di wilayah perbatasan dalam beberapa bulan terakhir. Barang-barang yang biasa diselundupkan berupa kayu, pakaian bekas (cakar) maupun penyu yang sudah jelas dilindungi keberadaannya oleh undang-undang. Untuk itu, kegiatan di bidang ini yang harus ditingkatkan antara lain : a. Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait terutama guna mewujudkan kesepahaman terhadap larangan importasi barang-barang tertentu (misal : cakar) b. Meningkatkan pengawasan terhadap pemeriksaan sarana pengangkut, terutama dikawasan perbatasan. c. Pengawasan pemeriksaan fisik barang, d. Meningkatkan boatzoeking untuk operasi pencegahan penyelundupan Audit Selama semester pertama ini Bidang Audit Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur telah menerbitkan Laporan Hasil Audit (LHA) sebanyak 23 LHA dengan berbagai temuan diantaranya uraian barang yang tidak lengkap, dokumen pendukung yang tidak lengkap maupun nilai pabean yang diragukan. Dan telah dilakukan audit terhadap 20 perusahaaan sesuai Daftar Rencana Obyek Audit (DROA) yang ditetapkan pada semester I TA 2007 ini, dengan total tagihan sebesar Rp.1.628.195.528. 34
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN RAPAT KERJA (RAKERWIL)
Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono menjelaskan memang banyak permasalahan yang dievaluasi enam bulan terakhir dalam Rapat Kerja (Rakerwil) ini, tapi permasalahan-permasalahan tersebut tidak terlalu signifikan dalam pelaksanaan tugas dan masih bisa diatasi oleh masing-masing KPBC sehingga pelayanan yang diberikan tetap dapat berjalan. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dan dibahas dalam Rapat kerja (Rakerwil) antara lain : a. Permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dinilai masih kurang, dimana tidak meratanya jumlah pegawai di masing-masing KPBC. Selain itu masih kurangnya tenaga teknis di bidang-bidang tertentu seperti tidak adanya PPNS dimasing-masing KPBC, sehingga pelaksanaan tugas menjadi kurang optimal. b. Sarana dan Prasarana yang kurang memadai mengenai otomatisasi komputer dibeberapa KPBC untuk kelancaran pelaksanaan tugas. Masih ada beberapa KPBC yang manual dalam pengerjaan tugasnya, misalnya : PDE manifest yang belum semua KPBC menggunakannya. Masalah lain yakni tidak adanya TPB / TPS di KPBC Tipe A3 Banjarmasin, sehingga pengaturan barang impor / ekspor dan antar pulau tidak tertata sebagaimana mestinya. Masalah-masalah tersebut apabila tidak segera ditangani dapat mengganggu kinerja pegawai. c. Permasalahan teknis yang berkaitan dengan pelaksanaan ketentuan dibidang kepabeanan dan cukai yang memerlukan koordinasi sehingga ada kesamaan persepsi dalam penyelesaiannya pada masing-masing KPBC. d. Target penerimaan Bea Masuk (BM) terus meningkat, sedangkan volume kegiatan impor dibeberapa KPBC mengalami penurunan yang cukup drastis sehingga ada KPBC yang over target (KPBC Bontang) namun banyak yang under target karena penurunan volume tersebut. e. Masih adanya masyarakat usaha (importir/eksportir) yang beritikad kurang baik dengan maksud menghindar dari pungutan Negara (Bea Masuk, Bea Keluar dan PDRI lainnya). Sehingga diperlukan langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, antara lain : a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM yang ada

b.

c.

d.

e. f.

dengan mengadakan diklat-diklat yang dapat meningkatkan keterampilan pegawai, sehingga dapat mengoptimalkan jumlah pegawai yang tersedia. Selain menunggu tambahan pegawai dari Kantor Pusat DJBC juga dilakukan pemerataan jumlah pegawai di wilayah ini dengan melaksanakan mutasi pegawai pada masing-masing KPBC (sistem tambal sulam). Mengoptimalkan dana yang ada untuk meningkatkan sarana dan prasarana dalam menunjang kelancaran tugas sambil menunggu dana kebutuhan anggaran direalisasi oleh Kantor Pusat DJBC sesuai Daftar Usulan Proyek (DUK) tahun 2007 yang telah diajukan. ”Namun selama ini pekerjaan dari KPBC-KPBC yang ada di wilayah ini masih dapat berjalan optimal dengan memaksimalkan penggunaan peralatan yang ada” ujar Ismartono. Untuk permasalahan teknis dilakukannya koordinasi antara masing-masing KPBC sehingga ada kesamaan persepsi dalam penyelesaiannya sesuai dengan prosedur yang berlaku dan juga berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait sehingga menemukan solusi setiap masalah yang terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Perlu adanya proyeksi target penerimaan dari masing-masing kantor pelayanan dengan dasar pertimbangan yang jelas sehingga dapat ditentukan besarnya beban penerimaan yang diberikan pada masing-masing KPBC. Selain itu dengan melakukan audit terhadap perusahaanperusahaan tertentu sesuai Daftar Rencana Obyek Audit (DROA) serta melakukan penagihan kembali atas kekurangan pembayaran bea masuk dengan cara menerbitkan SPKPBM. Dalam hal pengawasan agar lebih ditingkatkan baik patroli laut dan darat, baik intern maupun koordinasi dengan instansi terkait. Melakukan pelayanan kepabeanan yang lebih baik kepada para pengguna jasa agar mereka taat membayar bea masuk dan pajak-pajak yang diwajibkan serta melakukan sosialisasi / penyuluhan peraturan-peraturan kepabeanan yang baru kepada para pengguna jasa.

Kunjungan Wartawan dan Biro Humas DepKeu ke

Kudus
Untuk mengetahui peran dan fungsi Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Kudus serta untuk melihat lebih dekat tentang proses pembuatan pengaman (hologram) pada pita cukai.

B

iro Hubungan Media Departemen Keuangan, bersama wartawan Forum Komunikasi Ekonomi, Keuangan dan Moneter (Forkem) melakukan kunjungan (press tour) ke Kudus, kota yang terkenal dengan industri rokok kreteknya. Tujuan kunjungan itu adalah untuk mengetahui secara langsung proses yang terjadi dari hulu ke hilir mengenai penerimaan cukai rokok sebagai salah satu kontribusi dalam penerimaan negara. Kunjungan diarahkan ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A3 Kudus sebagai kantor pengumpul cukai hasil tembakau bagi industri rokok di Kota Kudus, dan PT Pura Grup Indonesia selaku pembuat hologram untuk pengamanan pita cukai, sebagai alat bukti pembayaran cukai bagi para pengusaha pabrik rokok. Jumat 20 Juli 2007, rombongan berangkat pukul 17.30 WIB dari gedung Departemen Keuangan di Lapangan Banteng. Rombongan berjumlah kurang lebih 40 orang yang merupakan wartawan beberapa surat kabar dan media elektronik ibu kota, melakukan kunjungan kerja selama dua hari, yaitu mulai 21 sampai 22 Juli 2007. Tiba di Kudus tanggal 21 Juli 2007, pukul 5.30 WIB. Setelah istirahat melepas lelah sejenak dan mempersiapkan diri, pukul 9.00 WIB, rombongan diterima Kepala KPBC Kudus, Amin Shofwan (di
WBC/RIS

Dalam rapat kerja (Rakerwil) tersebut selain mengevaluasi kinerja selama enam bulan terakhir juga mengingatkan kembali dalam hal pengawasan agar lebih ditingkatkan dan dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat agar sesuai kode etik yang ada. Lebih lanjut dalam Rapat kerja tersebut, Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono menginformasikan kepada jajaran Kanwil bahwa sekarang dalam tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang mengalami banyak perubahan sehingga kepada segenap jajarannya untuk mendukung daripada pelaksanaan perubahan tersebut. Disinggung mengenai Kantor Pelayanan Utama (KPU) sebagai bentuk dari perubahan tersebut, Ismartono berpendapat hal itu merupakan suatu tuntutan menjadi Bea Cukai modern untuk bekerja lebih efektif dan efisien sesuai aturan sehingga dapat mewujudkan visi dan misi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yakni menjadi Bea dan Cukai yang bertaraf internasional. Nantinya Kantor Pelayanan Utama (KPU) akan diisi oleh SDM yang profesional dan berintegritas tinggi sesuai seleksi yang telah dilaksanakan sehingga akan menjadi Kantor Bea Cukai yang ideal. Dan adanya KPU ini bukan menjadi kesenjangan antar pegawai dilingkungan DJBC karena pegawai dalam KPU dituntut bekerja lebih optimal dan lebih ekstra sehingga layak mendapat remunerasi yang setimpal, tegasnya. muqsith hamidi, Balikpapan

PRODUK-PRODUK yang dihasilkan oleh PT Pura Grup. EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

35

DAERAH KE DAERAH
WBC/RIS

reorganisasi yang baru saja berlangsung, gram pada kertas pita cukai sudah mulai kini ia menjabat sebagai Kepala KPBC digunakan sejak tahun 1996 dan sampai Malang). Di ruang aula KPBC Kudus telah saat ini masih berjalan. Setelah sebelumberkumpul beberapa pengusaha rokok, nya melalui beberapa uji coba pembuatan pihak PT Pura Indonesia dan pejabat dari pita cukai rokok berhologram dengan meleBea dan Cukai Kantor Pusat yang dalam wati berbagai tahapan proses produksi hal ini diwakili oleh Kasi Intelijen Direktorat hingga aplikasinya di pabrik-pabrik rokok, P2 DJBC, Nugroho Wahyu dan beberapa akhirnya dinyatakan berhasil dan hologram pejabat KPBC Kudus. disetujui untuk dipakai sebagai tambahan Maksud dan tujuan dari pertemuan itu unsur pengaman pada pita cukai rokok. adalah untuk melakukan diskusi dan tanya Lebih lanjut disampaikan Hary, pada jawab seputar proses penerimaan cukai hatahun 2006 Pura Grup yang terus berkemsil tembakau. Diskusi yang dipimpin Kepala bang menjadi 24 divisi usaha ini, telah meKantor KPBC, Amin Shofwan berlangsung menangkan dua penghargaan IHMA (Intertidak terlalu lama mengingat rombongan national Hologram Manufactures Associaakan melanjutkan kunjungan ke PT Pura tion) dari Asosiasi Pembuat Hologram Grup Indonesia untuk melihat proses peminternasioanl yang berkedudukan di Lonbuatan hologram. Setelah memaparkan don Inggris. Penghargaan tersebut adalah tentang tugas dan fungsi KPBC Kudus ter“Holography Award Winner 2006” Untuk masuk mekanisme penerimaan cukai oleh hologram pengaman yang diterapkan pada KPBC Kudus, selanjutnya dilakukan sesi pita cukai rokok dan “Hologram Award tanya jawab. Commended 2006” untuk penerapan HERY AGUNG. Penerapan hologram pada Pada sesi ini, beberapa pertanyaan diholographic film pada kemasan karton kertas pita cukai sudah mulai digunakan tujukan pada Kepala KPBC Kudus, yaitu an- sejak tahun 1996. Eagle Medicated Oil. tara lain mengenai pengawasan terhadap Penghargaan internasional tersebut pita cukai khususnya mengenai rokok tanpa dilekati pita membuktikan bahwa teknologi dan kualitas hologram Pura cukai maupun rokok dengan pita cukai palsu. Menurut Amin diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Keunggulan Shofwan, secara rutin aparat bea cukai KPBC Kudus hologram pengaman pita cukai rokok produksi Pura melakukan pengawasan terhadap peredaran rokok untuk mempunyai sekuriti fitur berteknologi tinggi, dengan berbagai mengetahui apakah pita cukai yang digunakan telah kombinasi pengaman yang kompleks dan berlapis-lapis serta memenuhi ketentuan. Tantangan pun dihadapi aparat saat mudah diidentifikasi. Fitur-fitur tersebut antara lain adalah : melakukan pengawasan, mulai dari ancaman penculikan l Kompleksitas dalam pembuatan master hologram yaitu sampai ancaman membahayakan keselamatan jiwa, namun penggabungan teknik konvensional dipadukan dengan begitu, menurut Amin, hal itu tidak menjadi kendala dalam teknik computer generated hologram pelaksanaan tugas. l Proses demetalizing yaitu pelepasan logam sebagian yang membentuk image/tulisan tertentu (teknik pengaman ini juga digunakan pada mata uang Euro) MELIHAT PROSES PEMBUATAN HOLOGRAM Selesai melakukan kunjungan ke KPBC Kudus, selanjutl Proses reaksi kimia yaitu hologram dapat diidentifikasi denya rombongan bergerak ke PT Pura Grup Indonesia untuk ngan memberikan cairan aktifator yang bereaksi membenmelihat secara langsung proses pembuatan hologram, khutuk tulisan dengan warna spesifik. susnya hologram yang terdapat di dalam pita cukai. l Holo reader yaitu hologram dapat dibaca secara elektronis Dalam kegiatan tersebut, rombongan mendapat penjelasdengan mesin pembaca khusus. an mengenai fungsi hologram sebagai alat pengaman serta melihat langsung ke lokasi pembuatan hologram. Juru bicara KERJASAMA PT PURA PT. Pura Grup, Hery Agung menjelaskan, penerapan holoDisamping itu juga, menurut Hery, Pura selama ini terus membangun kerjasama yang baik dengan WBC/RIS Perum Peruri, misalnya pada pengadaan security hologram pita cukai rokok lebih dari 10 tahun dan pengadaan kertas suciry Minuman mengandung Etil Alkohol (MMEA) lebih dari 5 tahun. Karena itu, melihat kemampuan teknologi inovasi dan perkembangan yang dimiliki Pura, apabila kerjasama antara Pura dengan Perum Peruri terus ditingkatkan maka hal ini akan mengurangi ketergantungan kepada pihak asing bahkan membuka peluang untuk bersaing di pasar global, demikian imbuh Hery. “Harga kertas security dan kertas uang Pura Grup sangat kompetitif dibandingkan dengan harga dari negara-negara Eropa. Keunggulan komparatif dari sisi harga ini dilakukan tanpa mengorbankan mutu, tapi dari hasil efisiensi produksi dan hampir sebagian besar mesin pendukung dibuat sendiri oleh Divisi Rekayasa, salah satu divisi di Pura Grup. Disamping itu kepercayaan negara-negara Asia dan Timur Tengah terhadap kertas uang maupun kertas security lainnya produksi Pura Grup saat KUNJUNGAN KE KPBC KUDUS dan melakukan diskusi seputar proses penerimaan cukai hasil ini terus bertumbuh,” ujar Hery. ris tembakau di Kudus. 36
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

DAERAH KE DAERAH

Lindungi Perdagangan Legal, Perangi Perdagangan Ilegal
“Berat sama dipikul ringan sama dijinjing” Itulah kiranya pribahasa yang tepat untuk melukiskan kesamaan visi dan misi dalam memerangi masalah penyelundupan yang cukup berat, sehingga kesulitan dapat ditangani dengan kerjasama yang baik antar dua instansi kepabeanan serumpun yaitu Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) dengan Kastam Diraja Malaysia (KDRM).

Patkor Kastima Borneo ke-6

P

ada awalnya perdagangan lintas negara yang terjadi di wilayah Kalimantan umumnya dan Kalimantan Bagian Timur pada khususnya berawal dari perdagangan yang sifatnya tradisional yang telah berlangsung secara turun temurun dan berlangsung sejak lama. Namun seiring dengan perjalanan waktu, maka perdagangan tersebut dibatasi dan tidak dapat dilakukan seperti jaman dahulu ketika masyarakat dari kedua negara Indonesia dan Malaysia keluar masuk melawati wilayah perbatasan dengan bebasnya untuk berdagang. Kini baik pemerintah Indonesia maupun pemerintah Malaysia mengeluarkan berbagai peraturan yang mengatur perdagangan lintas negara. Hal tersebut juga disampaikan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Tarakan Kalimantan Timur Udin Hianggio. Menurutnya kebutuhan masyarakat Tarakan diperoleh dari

perdagangan antara Tarakan dengan Tawao yang sudah berlangsung sejak lama. Namun kini perdagangan tersebut diatur dengan berbagai peraturan, baik yang dikeluarkan pemerintah pusat maupun daerah. Udin mengapresiasi langkah-langkah yang diambil oleh Kantor Pelayanan dan Pengawasan (KPPBC) Tipe A4 Tarakan dan instansi pemerintah yang ada di Tarakan dalam mengamankan penerimaan negara dan juga perdagangan dengan cara melakukan penegahan terhadap kegiatan penyelundupan termasuk perdagangan illegal, disamping pembinaan terhadap masyarakat. “Kalau dari sisi aturan Bea Cukai tidak bisa mengizinkan perdagangan tersebut (illegal.red) karena melanggar aturan perdagangan internasional walaupun antar tetangga dan sudah berjalan sejak puluhan tahun lalu,”ungkap Udin. Ia mengakui memang masih banyak aturan-aturan yang

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

37 5

DAERAH KE DAERAH
WBC/KY

dibuat baik oleh pemerintah pusat maupun daerah belum maksimal untuk mencegah terjadinya penyelundupan dan perdagangan illegal. Walaupun belum sempurna, tetapi aturan yang ada selama ini dapat dijalankan dengan maksimal.

PATKOR KASTIMA BORNEO KE-6
Indonesia dan Malaysia sepakat bahwa masalah penyelundupan dan perdagangan illegal merupakan masalah yang harus ditangani bersama. Salah satu bentuk penanganan masalah penyelundupan adalah kerjasama dalam bentuk Patroli Bersama antara Kanwil Kalimantan Bagian Timur dengan Kastam Diraja Malaysia (KDRM) Negeri Sabah yang disebut Patroli Terkoordinasi Kastam Indonesia Malaysia (Patkor Kastima) Patkor Kastima Borneo tahun ini menginjak tahun ke-6. Pembukaan Patkor Kastima dilakukan di Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai (KPPBC) tipe A4 Tarakan pada 20 Agustus 2007 dan ditutup pada 28 Agustus 2007 di Tawao, Malaysia. Patkor Kastima dibuka langsung oleh Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono, yang didampingi oleh Ketua Pengarah Kastam Negeri Sabah Md. Yusof bin Abdurrachman, dan Kepala Kanwil DJBC Sulawesi Bachtiar. Dalam acara pembukaan, turut hadir para undangan dari instansi pemerintah dan dinas di wilayah Kabupaten Tarakan seperti, DPRD, TNI AL, Kejaksaan, Imigrasi, Kepolisian serta wakil dari beberapa KPPBC dibawah Kanwil DJBC Kalimantan Timur seperti KPPBC Nunukan dan KPPBC Balikpapan . Dalam upacara pembukaan Patkor Kastima Borneo ke-6 dengan inspektur upacara Ismartono, dilakukan penandatanganan surat perintah operasi oleh Kakanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dan Ketua Pengarah KDRM Negeri Sabah, yang dilanjutkan dengan penyematan atribut operasi secara simbolis kepada perwakilan Kanwil DJBC Kalimantan Timur dan KDRM serta penekanan tombol sirene dan pelepasan balon ke udara yang menandakan dimulainya Patkor Kastima Borneo ke-6. Dalam wawancaranya dengan media cetak dan elektronik, Ismartono mengatakan, Patkor Kastima Borneo ke-6 bertujuan untuk menyamakan persepsi dan mempererat kerjasama antara kedua tim teknis pencegahan penyelundupan yang dikoordinasikan oleh Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dan Kastam Diraja Malaysia Negeri Sabah. Selain itu lanjutnya, dengan Patkor Kastima Borneo ini menunjukkan keseriusan dua instansi pabean dalam mewujudkan daerah perdagangan yang bebas dari ancaman penyelundupan, memastikan terjaminnya keamanan di kawasan perdagangan antara Indonesia dan Malaysia khususnya dari musuh-musuh ekonomi yang masih bebas di kawasan perbatasan. Patkor Kastima Borneo ke-6 ini lanjutnya juga merupakan upaya mendukung aktifitas perdagangan yang legal dalam rangka mendorong perdagangan global antar dua negara bertetangga ini. Selain meningkatkan kerjasama antar dua negara, khususnya untuk mewujudkan sistem pertukaran informasi yang mampu membatasi kegiatan penyelundupan di kawasan perbatasan, juga
WBC/KY

FOTO BERSAMA, Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timar, Ismartono (kiri), Ketua Pengarah Kastam Negeri Sabah, Md. Yusof bin Abdurrachman (tengah), dan Kepala Kanwil DJBC Sulawesi, Bachtiar (kanan), diatas kapal BC 9005.

akan mempererat ikatan budaya dan kerjasama yang erat diantara kalangan warga kedua negara. Konsep Patkor Kastima Borneo menurut Ismartono selalu mengalami pembaharuan tiap tahunnya terutama pertukaran informasi dengan pihak Malaysia. Dengan pembaharuan informasi lanjutnya, Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur pada tahun 2006 lalu berhasil menegah 12 kapal yang melakukan kegiatan illegal di wilayah perbatasan.”Penegahan tersebut merupakan bentuk kerjasama yang semakin baik antara DJBC dengan KDRM dalam menangani masalah penyelundupan dengan cara saling tukar menukar informasi,”ujarnya. Sementara itu sejak bulan Januari hingga Agustus 2007, hasil tangkapan Bawah Kendali Operasi (BKO) Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur di wilayah Nunukan mencapai sembilan kasus dengan komoditi yang ditegah berupa kayu dan barang campuran. Dari sembilan kasus tersebut enam kasus sudah mempunyai kekuatan hukum tetap sementara tiga kasus lainnya masih dalam tahap penyidikan. Begitu juga dengan hasil operasi BKO Kanwil DJBC Kalimantan Timur di wilayah Tarakan, dimana dalam kurun waktu delapan bulan dari Januari hingga Agustus 2007, 12 kasus perdagangan illegal ditegah dengan komoditi berupa kayu,pakaian bekas dan juga penyeludupan penyu. Dari dua belas kasus tersebut dua kasus telah mempunyai kekuatan hukum tetap sementara sepuluh kasus lainnya telah P.21 atau proses penyelidikan telah selesai. Sementara itu Ketua Pengarah Kastam Diraja Malaysia Negeri Sabah Md. Yusof Bin Abdurracman mempunyai pandangan senada dengan Kakanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismar-

38 6

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WBC/KY

WBC/KY

PENANDATANGANAN SURAT PERINTAH OPERASI oleh Kakanwil DJBC Kalimantan Timur Ismartono dan Ketua Pengarah Kastam Negeri Sabah Md. Yusof bin Abdurrachman.

tono, mengenai pelaksanaan Patkor Kastima Borneo ke-6. Menurutnya, Patkor Kastima Borneo ke-6 merupakan bentuk pelaksanaan dari kesepakatan Sosial Ekonomi Malaysia Indonesia (Sosek Malindo) dimana salah satu tujuannya untuk mencegah penyelundupan di dua wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. “Kalau di Malaysia (perairan Tawao) kita siap menangani masalah ini, disamping juga tukar menukar informasi dengan pihak Bea Cukai,”ujarnya Selain itu ia mengatakan, dengan adanya Patkor Kastima Borneo tren perdagangan legal dari Indonesia ke Malaysia khususnya Tawao semakin meningkat, dan ini lanjutnya merupakan bukti bahwa kerjasama selama ini dengan pihak DJBC berhasil. “Kami selalu memberikan informasi kepada pihak Indonesia mengenai perkembangan perdagangan yang terjadi di Malaysia, sehingga masalah penyelundupan dapat ditangani bersama, dan tidak itu saja, di Malaysia kini pengolahan kayu dari Indonesia tidak dapat dilakukan jika tidak melalui proses hukum yang benar di Indonesia,” lanjutnya lagi.

KERAHKAN EMPAT KAPAL PATROLI
Acara pembukaan Patkor Kastima Borneo ke-6 diisi dengan kegiatan patroli simbolis di perairan Tarakan oleh kapal patroli milik DJBC yaitu kapal patroli BC 9005, BC9003, BC 10014 dan
WBC/KY

MALAM RAMAH TAMAH. Kepala KPPBC Tarakan, Heru Hariadi selaku tuan rumah pembukaan Patkor Kastima Borneo ke-6, menerima cinderamata dari Ketua Pengarah Kastam Negeri Sabah Md. Yusof bin Abdurrachman dalam acara ramah tamah.

BC 10015. Menurut Kepala Kanwil DJBC Sulawesi, Bachtiar, kapal patroli yang digunakan untuk Patkor Kastima Borneo ke-6 ini dua diantaranya BKO dari Pangkalan Sarana Operasi Bea Cukai di Pantoloan Sulawesi Tengah. Menurutnya kapal patroli tersebut yaitu 9005 dan 9003 cukup memadai untuk melakukan patroli guna mengamankan wilayah Indonesia dari penyelundupan. Rute patroli yang ditempuh oleh Kanwil Kalimantan Bagian Timur pada Patkor Kastima kali ini meliputi perairan Kalimantan Timur termasuk perairan Tarakan dan Nunukan. Sementara pihak KDRM Negeri Sabah melakukan patroli di wilayah perairan Seboko, Tawao dan wilayah perairan Sabah. Sebelum acara Patkor Kastima dimulai, delegasi Malaysia yang terdiri dari para pejabat dan juga pegawai KDRM tiba terlebih dahulu di Pelabuhan Melundung Tarakan pada 18 Agustus 2007. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Kepala KPPBC Tararakan Heru Hariadi, didampingi Kabid P2 Kanwil DJBC Kalimantan Timur Ambang Priyonggo serta para pejabat DJBC lainnya. Walau masih terasa letih setelah menempuh perjalanan selama 4 jam dari Tawao ke Tarakan, rombongan KDRM antusias mengikuti berbagai pertandingan olah raga persahabatan antar dua intansi kepabeanan tersebut. Tidak lama setelah tiba, para delegasi KDRM melakukan pertandingan sepak bola dengan pihak tuan rumah yang dimenangkan sepak bola DJBC dengan skor 2-0. Selain sepak bola, juga dilakukan pertandingan olahraga persahabatan voli dan bulu tangkis. Sebelum acara pembukaan dimulai, malam harinya dilakukan acara ramah tamah yang dihadiri oleh seluruh personil kedua instansi kepabeanan dan pimpinan muspida Kota Tarakan. Acara malam ramah tamah tersebut sekaligus menjadi ajang perkenalan antar personil untuk menjalin keakraban diantara kedua institusi. zap
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

39 7

DAERAH KE DAERAH
DOK. KPPBC MERAK

MAKE OVER yang dilakukan Kepala Kantor bersama staf bukan semata-mata karena adanya penilaian kantor yang dilakukan Kantor Pusat DJBC, tetapi untuk menjawab tantangan untuk merubah paradigma.

KPPBC Tipe A3 Merak
Pembenahan yang Menghasilkan Prestasi
Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A3 Merak terus berbenah diri meningkatkan kinerja, baik dari sisi pelayanan, pengawasan dan penerimaan negara. Rasanya tidak sia-sia upaya pembenahan tersebut, karena KPPBC ini meraih juara I Kantor Pelayanan Percontohan ditingkat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)

P

embenahan bukan hanya untuk menghadapi penilaian kantor saja, namun lebih mengarah pada pembuktian komitmen kantor ini kepada pengguna jasa kepabeanan untuk memberikan pelayanan prima sesuai moto yaitu Melayani Dengan Hati. Mengenai moto yang diterapkan kantor ini, menurut Kepala KPPBC Tipe A3 Merak Agus Sudarmadi (yang kini menjabat sebagai Kepala KPPBC Tipe A1 Tanjung Perak) ia peroleh ketika melihat kegiatan perbankan, dimana setiap nasabah yang datang selalu dilayani dengan baik oleh para petugas. Tidak heran jika kini memasuki KPPBC Merak sapaan hangat para petugas dirasakan oleh pengguna jasa, dan petugas dilini depan siap sedia membantu pengguna jasa melakukan pengurusan kepabeanan. Tata letak kantor yang memberi kenyamanan para pengguna jasa, pelayanan cepat dan transparan tidak luput dari perhatiannya. Di kantor ini tidak ditemui loket untuk pengurusan melainkan sederetan meja para petugas sebagai awal untuk melakukan kegiatan pelayanan kepabeanan kepada pengguna jasa. Petugas dilini depan bertugas melayani pengguna jasa, lalu ditindaklanjuti oleh petugas di lini belakang. Pengguna jasa dapat melihat sejauhmana pergerakkan dokumennya melalui komputer
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

yang ada di depan, ini mirip di bank, dimana nasabah yang akan mengajukan kredit akan bertemu dengan Customer Service, selebihnya dilakukan oleh sistem. Untuk mendukung kelancaran dan kecepatan pelayanan, penerapan pemeriksaan dokumen dan fisik barang dilakukan secara selektif, sehingga pengawasan dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi intelijen dan manajemen risiko terhadap pelayanan dan pengawasan. Keinginan Agus membuat suasana KPPBC Merak yang nyaman bagi pengguna jasa tidak terlepas dari dukungan seluruh stafnya. Begitu semangat melakukan pembenahan kantor tidak jarang setelah kantor dilakukan make over, para pegawai berinisiatif untuk memperindah ruang kerjanya dengan cara swadaya. “Make over yang dilakukan bersama staf bukan semata-mata karena adanya penilaian kantor yang dilakukan Kantor Pusat DJBC, tetapi karena tantangan yang ada dihadapan harus dijawab. Sebagian tantangan tersebut sudah terjawab walaupun masih ada kekurangan diberbagai sisi.” Ruangan pelayanan dibuat senyaman mungkin mengikuti konsep Bank, sehingga para pengguna jasa tidak merasa bosan ketika menunggu proses kepabeanan. Untuk menghindari kebosanan, deretan sofa dengan warna cerah dengan ruangan yang berpendingin bisa dijadikan pengguna jasa sebagai tempat

40 8

WBC/ZAP

untuk melepas lelah walau hanya sejenak sambil melihat siaran televisi kabel yang ada di ruang pelayanan. Tak lupa ia menyediakan ruang untuk merokok di lokasi taman, karena di dalam ruang pelayanan para pengunjung dilarang merokok. Awalnya para pengguna jasa merasa terkejut karena adanya perubahan pada model pelayanan di KPPBC Merak, walaupun perubahan fisik kantor tidak mengalami perubahan. Berbagai masukkan MENINGKATNYA kegiatan kepabeanan di dari pengguna jasa meMerak bukanlah suatu kebetulan. Kalau ngenai hal lain yang dikebetulan, maka kegiatan tersebut hanya butuhkan untuk meningbersifat insidentil saja, sementara yang katkan pelayanan juga terjadi di Merak sifatnya rutin. disampaikan, caranya dengan menyebar angket untuk dijawab oleh para pengguna jasa. Usul tersebut tidak dapat dijalankan secara bersamaan karena berbagai pertimbangan, namun usulan dari mereka mengenai kecepatan pelayanan, pemeriksaan dokumen dan lain sebagainya tetap diperhatikan dengan mengacu pada aturan yang ada. Sementara itu, Kasubbag Umum KPPBC Merak Maulidyah yang turut dalam proses perubahan kantor mengatakan, ia hanya menjalankan apa yang diinginkan oleh kepala kantor melalui diskusi dan juga konsultasi mengenai konsep ruang kantor. Koordinasi dengan staf juga dilakukan Lily sapaan akrab Maulidyah baik itu mengenai warna ruangan, pencahayaan dan lain sebagainya.”Semua pihak terlibat, tidak hanya kepala kantor tapi semuanya memberikan masukan,”ujarnya. Pembenahan untuk ruang pelayanan, ruang kerja petugas dan juga aula menjadi perhatiannya dimana setiap ruangan semuanya berfungsi dan tidak ada yang kosong. Untuk memperindah kantor, Lily bersama dengan korlak Keuangan dan Rumah Tangga, Noviyanti. juga berusaha memaksimalkan ruang kosong yang ada di belakang dengan membuat taman yang disertai dengan air mancur sehingga kantor semakin tampil menarik. “Waktu yang diperlukan untuk itu semua dilakukan dalam waktu dua minggu dan dilakukan secara terus menerus. Dukungan dari temanWBC/ZAP teman sangat baik, mereka punya semangat yang luar biasa,” ujar Yanti, panggilan akrab Noviyanti. Menjelang penilaian kantor yang dilakukan oleh Departemen Keuangan pada 21 Agustus 2007 untuk lomba tingkat nasional Departemen Keuangan, tampak semua fasilitas dan ruangan yang ada di dalam lingkungan KPPBC Merak berfungsi dengan maksimal. Ketika ditanya bagaimana perasaan mereka berdua dapat menyelesaikan tugas keduanya mengaDUKUNGAN dari teman-teman sangat baik, ku senang dan bahagia mereka punya semangat yang luar biasa.

PIAGAM KOMITMEN PELAYANAN KPPBC TIPE A3 MERAK
Kami menyadari bahwa : 1. Pengguna jasa adalah orang yang paling penting dalam instansi kami; 2. Pengguna jasa adalah bukan beban pekerjaan kami; 3. Pengguna jasa adalah tujuan dan alas an mengapa kami bekerja. Kami bukan diharuskan melakukan sesuatu pekerjaan untuk mereka tetapi merekalah yang memberi kesempatan kepada kami untuk bekerja; 4. Pengguna jasa tidak bergantung pada kami, tetapi kami lah yang bergantung kepada mereka; 5. Pengguna jasa adalah bukan “orang luar” dari instansi kami, tetapi mereka adalah bagian utama dari institusi kami; 6. Penguna jasa adalah bukan sekedar deretan nama, tetapi adalah pribadi-pribadi yang mempunyai perasaan, kemauan dan prangka; 7. Pengguna jasa datang kekantor kami tidak untuk diajak bertengkar, atau disakiti hatinya tetapi untuk dilayani dan di hormati. Tidak seorangpun dari kami berhak untuk berbuat semena-mena terhadap mereka; 8. Pengguna jasa dalah orang yang berhak dating ke institusi kami dengan berbagai kehendak, tugas kami adalah melaksanakan kehendaknya dengan baik; 9. Pengguna jasalah yang membayar kami melalui pajak yang dibayarkannya, tanpa mereka tidak mungkin ada institusi ini dan tidak ada pekerjaan yang kami tangani sekarang. Untuk itu mari bantulah kami melayani anda dengan hati, patuhilah sistem dan prosedur yang ada. karena walaupun dalam relatif waktu yang sangat singkat dapat menyelesaikan tugas ini dan meraih juara pertama Kantor Pelayanan Percontohan ditingkat DJBC. “Ini adalah kerja keras kami semua terutama pimpinan dan seluruh karyawan/ karyawati. Ini adalah prestasi kami bersama. Tugas saya di Merak tidaklah lama, hanya sekitar 2 bulan, oleh sebab itu, saya ingin meninggalkan kesan dan contoh kepada teman-teman bahwa beginilah kita seharusnya bekerja. Inilah sumbangsih saya pada KPPBC Merak, ,” ujar Lily. Untuk membenahi paradigma yang melekat pada KPPBC Merak bukanlan suatu WBC/ZAP pekerjaan yang mudah. Menurut Agus, kantor yang dipimpinnya pernah identik dengan kegiatannya yang sedikit, berbeda dengan KPPBC lain yang ada di Indonesia. Bahkan ketika Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi mengunjungi KPPBC Merak, hal pertama yang ditanyakan kepada Agus adalah kemampuan untuk merubah stigma. Untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan Dirjen untuk merubah paradigma tersebut, Agus memulainya dari penataan ruang kantor yang MENJALANKAN apa yang diinginkan oleh berorientasi pada kenykepala kantor melalui diskusi dan juga amanan dan pelayanan konsultasi mengenai konsep ruang kantor.
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

41 9

DAERAH KE DAERAH
prima kepada pengguna jasa yang melakukan pengurusan kepabeanan di KPPBC Merak. Masih menurut Agus, para pengguna jasa di KPPBC Merak adalah kalangan industri yang cukup besar dimana mereka sudah terbiasa dengan pelayanan yang nyaman, cepat dan pasti. Sehingga pelayanan yang prima dengan konsep yang dimilikinya bisa memberikan kepuasan kepada para pengguna jasa yang juga berpotensi pada penerimaan yang cukup besar . Dari sisi penerimaan menurut Agus pihaknya sampai bulan Juli 2007 telah menghimpun penerimaan Bea Masuk (BM) sebesar Rp481.175.536.707 atau 142 persen dari target rata-rata BM yang perbulannya ditetapkan Rp.45.978.304.750. Sedangkan dari penerimaan cukai, pihaknya jugatelah menghimpun Rp.97.440.000 atau mencapai 166 persen dari target rata-rata per bulan sebesar Rp.9.762.500. “Semua ini tercapai berkat kerja keras seluruh jajaran KPPBC Merak,”ujarnya Agus juga memaparkan, dibandingkan penerimaan BM periode Januari sampai dengan Juni 2007 dengan periode yang sama tahun 2006, terjadi peningkatan penerimaan sebesar Rp.198.554.543.039 atau 193 persen. Sedangkan cukai, penerimaannya mencapai Rp89.280.000 atau terjadi peningkatan 109 persen. “Sehingga dengan adanya pencapaian peningkatan penerimaan tersebut secara akuntabilitas KPPBC tipe A3 Merak telah berhasil melaksanakan peningkatan kinerja dibidang pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai,”papar Agus. Tidak hanya pembenahan fisik gedung dan pembenahan pelayanan, Agus juga mencoba menjalin kerjasama dengan instansi terkait di kawasan pelabuhan guna mendukung kinerja pelayanan dan pengawasan di KPPBC Merak. Pihaknya bekerjasama dengan pengelola pelabuhan, Dinas Perhubungan (dishub) bahkan dengan Pemda untuk meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasa, sehingga nantinya kawasan pelabuhan Merak bisa menjadi besar, sehingga kegiatan perekonomian berjalan. Mengenai pembenahan yang telah dilakukannya bersama dengan seluruh stafnya, Agus mengatakan belum dapat melihat hasilnya secara keseluruhan. Namun secara perlahan diakui Agus telah menunjukkan hasil seperti semakin meningkatnya kegiatan kepabeanan di Merak yang hal ini bukanlah suatu kebetulan karena sifatnya tidak insidentil saja melainkan rutin. Ini terjadi karena adanya perubahan paradigma KPPBC Merak. Kalau sebelumnya rata-rata 200 kontainer per bulan dilayani oleh KKPBC Merak, kini lanjutnya bisa mencapai 500 sampai 700 kontainer/ perbulan. Sementara untuk Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) di KPPBC Merak saat ini berjumlah empat orang, padahal idealnya seiring dengan meningkatnya kegiatan, dibutuhkan sekitar enam sampai tujuh PFPD. Untuk menyiasatinya lanjut Agus, jumlah jam kerjanya bertambah, biasanya sampai jam 5 sore, kini mencapai jam 9 malam. Ini semua ditempuhnya guna mencapai kepuasan pengguna jasa. Agus mengakui masih ada hal-hal yang belum terlaksana untuk meningkatkan mutu kinerja pelayanan, pengawasan dan juga penerimaan mengingat dirinya akan pindah tugas sebagai Kepala KPPBC Tanjung Perak Jawa Timur, namun para staf bisa meneruskan apa yang telah dirintisnya dibawah kepala KPPBC yang baru, bahkan dapat lebih meningkatkan hal-hal yang telah dilakukannya untuk kepentingan negara. Ia pun juga menepis anggapan bahwa maraknya kegiatan di Merak karena adanya Kantor Pelayanan Utama (KPU) di Tanjung Priok, sehingga beberapa proses kepabeanan pindah ke Merak. Menurutnya mungkin perubahan paradigma yang dilakukannya telah menstimulus pengusaha untuk memindahkan kegiatannya ke Merak terutama kegiatan impor curah seperti kacang kedelai. Dari segi biaya dan waktu kegiatan yang dilakukan di kawasan Merak cukup murah dan cepat sehingga jadi pertimbangan bagi pengusaha untuk memindahkan kegiatannya ke kawasan Merak ris 42 10
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Kanwil DJBC Jakarta

Tegah Tekstil dan MMEA
Walaupun baru efektif berjalan tiga bulan, namun Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Jakarta telah menunjukkan prestasi yang cukup gemilang, dengan berhasil menegah 14 kasus, dimana 2 kasus sudah P21, 1 kasus dalam proses di Kejaksaan Negeri, dan 11 kasus masih dalam proses penyidikan.

D

irektorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) kembali menunjukan prestasinya kepada masyakarat, melalui Kanwil Jakarta yang berhasil menegah ratusan ball tekstil dan ratusan minuman MMEA yang dilengkapi pita cukai palsu. Keberhasilan yang cukup signifikan ini, merupakan upaya keras dari Kanwil Jakarta walaupun usianya relatif masih muda. Menurut Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Jakarta, Nasir Adenan, tegahan ini merupakan hasil operasi rutin yang dilakukan oleh unit Penindakan dan Penyidikan (P2) Kanwil Jakarta, sesuai yang diamanatkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, yang secara garis besar, selain untuk menunjang kinerja dari Kanwil Jakarta, juga dapat memaksimalkan pelayanan dan pengawasan saat ini. “Operasi yang kami lakukan juga telah berkoordinasi dengan wilayah lain, seperti Bandung, Banten dan KPU sendiri, dan dengan hasil ini kami mengharapkan DJBC dapat memberikan pelayanan dan pengawasan yang baik, sehingga bea cukai semakin diakui bahkan dibutuhkan oleh masyarakat dan tidak hanya dijadikan kambing hitam,” ujar Nasir Adenan.

TEKSTIL DAN MMEA
Sementara itu menurut Kepala Bidang P2 Kanwil Jakarta, Septia Atma, untuk 14 kasus tegahan yang berhasil didapat oleh Kanwil Jakarta, keseluruhannya memiliki modus yang berbeda, yaitu untuk kasus WBC/ATS tegahan tekstil sebanyak 877 karung woman pants yang dilakukan oleh PT.TEI, modus yang dilakukan adalah dengan pemberitahuan tidak benar pada dokumen. Pada dokumen yang diajukan oleh PT.TEI yang terletak di Jalan Narogong Raya Bekasi dan merupakan perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat, perusahaan ini memberitahukan di PIB pada 7 Agustus 2007, untuk mengeluarkan barang yang telah rusak akibat banjir. Namun setelah dilakukan pemeriksaan fisik oleh petugas Bea Cukai, NASIR ADENAN. Hasil tegahan yang kedapatan barang yang didapat merupakan hasil operasi rutin dikeluarkan adalah yang dilakukan selama ini.

WBC/ATS

barang-barang dalam kondisi baru. Adamengakibatkan tidak terpenuhinya pungutpun barang yang rusak karena banjir haan negara. nya sekitar 20 persen saja. Kasus tersebut bermula dari kecuriDengan kasus tersebut, maka PT. gaan petugas intelijen Kanwil Jakarta, TEI dinyatakan telah melanggar pasal pada 15 Agustus 2007, terhadap satu 102 huruf F dan/atau hufuf H Undangmobil boks yang memuat 95 ball (3.400 Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Kg) 100 persen cotton woven fabric. MoKepabeanan. Dalam kasus ini, masih bil boks tersebut mengeluarkan barang dilakukan proses penyidikkan guna medari tempat penimbunan sementara nentukan tindak pidana dan tersangkalapangan 207 Pelabuhan Tanjung Priok, nya. Sementara itu, terhadap barang yang diberitahukan dengan dokumen BC bukti disimpan di tempat penimbunan 2.3 atas nama PT. GA yang beralamat di pabean Kantor Pengawasan dan PelaKBN Cakung. yanan Bea dan Cukai (KPPBC) Jakarta Atas kecurigaan tersebut, petugas yang berlokasi di Kawasan Berikat Numengikuti mobil boks tersebut, dan kesantara (KBN) Cakung. dapatan barang tidak dibawa ke KBN Untuk tegahan Minuman MenganCakung, akan tetapi langsung dibawa dung Etil Alkohol (MMEA), Kanwil Jakarta menuju arah Bandung, dengan surat hingga saat ini masih melakukan proses jalan ke PT. IDMP yang beralamat di penyelidikan atas tindak pidana di bidang Bandung. Melihat gelagat tidak benar cukai, yang dilakukan oleh 14 tempat tersebut, petugas langsung melakupenjualan eceran yang diduga melakukan penegahan dan mengamankan kan tindak pidana penjualan MMEA barang bukti ke Kanwil Jakarta. tanpa ijin (tidak memiliki NPPBKC) dan Dengan pelanggaran tersebut, KanMMEA tersebut dilekati oleh pita cukai wil Jakarta kini masih melakukan proses palsu. penyidikan guna menentukan tindak pida“Hingga saat ini kami masih terus na dan tersangkanya, karena pada kamelakukan penyelidikan dari mana sus tersebut nyata-nyata telah melangmereka mendapatkan pita cukai palsu gar pasal 102 huruf F Undang-Undang tersebut, karena MMEA yang kami tegah MMEA. Ditegah karena dilengkapi oleh pita cukai palsu. Nomor 17 tahun 2007 tentang Kepabeanan. seluruhnya telah dilekati oleh pita cukai “Dari 14 kasus yang kami tangani palsu, dan atas kepalsuannya ini, kami juga telah berkoordinasi dua kasus telah dinyatakan lengkap (P21) oleh penuntut umum, dengan pihak PERURI, yang menyatakan kalau pita cukai tersesatu kasus dalam proses di Kejaksaan Negeri, dan 11 kasus but memang benar-benar palsu,” kata Septia Atma. masih dalam proses penyidikan,” kata Nasir Adenan. Lebih lanjut Septia Atma menjelaskan, dari kasus Masih menurut Nasir Adenan, walaupun misi DJBC adalah tersebut, satu orang warga negara asing dinyatakan sebagai memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, tersangka sementara yang lainnya adalah warga negara perdagangan dan industri, namun DJBC tetap tidak lupa untuk Indonesia. Dan terhadap barang bukti MMEA tersebut, saat melakukan pengawasan terhadap importasi barang larangan dan ini disimpan di gudang Kanwil Jakarta. pembatasan. Dalam melakukan pengawasan, Kanwil Jakarta menerapkan strategi “planning the worst, expecting the best”. Artinya, dalam merencanakan suatu operasi, Kanwil Jakarta OPERASI CUKAI membuat rencana operasi dengan mengantisipasi kemungkinan Selain itu, Kanwil Jakarta bersama KPPBC Jakarta, kini terburuk, dan tentunya mengharapkan hasil yang terbaik. tengah melakukan operasi peredaran cerutu dan telah “Dengan SDM yang terbatas, hasil tegahan yang dicapai melakukan penindakan terhadap dua tempat penjualan eceran selama tiga bulan belakangan ini merupakan hasil terbaik yang mana telah melakukan penjualan atau menyediakan cerutu yang dapat dicapai oleh Kanwil Jakarta. Semoga hal tersebut untuk dijual tanpa dilekati dengan pita cukai. Untuk kasusnya kini dapat memicu semangat para petugas agar dapat lebih metengah dilakukan proses penyidikan oleh PPNS KPPBC Jakarta. ningkatkan kinerjanya yang selama ini memang sudah baik. Untuk kasus tegahan terbaru yang didapatkan oleh Kanwil Untuk itu, pada kesempatan ini pula, saya ingin menyampaiJakarta, adalah kasus pengeluaran barang impor yang belum kan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada semua diselesaikan kewajiban pabeannya dari kawasan pabean atau petugas di jajaran Kanwil Jakarta yang ikut terlibat dalam prodari tempat penimbunan berikat atau dari tempat lain di bawah ses penegahan tersebut,” tandas Nasir Adenan. adi pengawasan pabean, tanpa persetujuan pejabat bea cukai yang
WBC/ATS WBC/ATS

EX BANJIR. Diberitahukan sebagai barang ex banjir kedapatan 80 persen baru.

PITA CUKAI PALSU. Masih dalam proses penyidikan peredarannya untuk MMEA. EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

43 11

SIAPA MENGAPA

○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

D

E W I D I A N A Mendengar kata mutasi, ada pegawai yang suka dan ada pula yang tidak suka. Namun, sebagai pegawai negeri yang sudah disumpah dan berjanji untuk siap ditempatkan dimana saja, mutasi merupakan suatu komitmen pada negara yang harus dijalankan. Berkaitan dengan mutasi pegawai yang satu ini cukup beruntung, mutasi yang pernah dialaminya hanya disekitar kota kelahirannya yakni di Kantor Wilayah Palembang dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Palembang. Berawal dari diterimanya Dewi menjadi pegawai bea dan cukai tahun 1983 melalui tes penerimaan pegawai Departemen Keuangan Palembang. Setelah diterima, ia langsung di tempatkan di Kantor Wilayah (Kanwil) III DJBC Palembang (sekarang Kanwil DJBC Sumatera Bagian Selatan-red). Kemudian, setelah keluar Skep No. 03 tahun 1987 tentang dibentuknya Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Palembang, Dewi dimutasi ke KPBC Palembang (sekarang Kantor Pelayananan dan Pengawasan Bea dan Cukai – KPPBC-red). Enam tahun bertugas di KPPBC Palembang, Dewi kembali terkena mutasi ke Kanwil III DJBC Palembang selama dua tahun. Kemudian, tahun 2000 ia kembali dimutasi ke KPBC Palembang hingga sekarang. Saat ini, sudah lebih dari 14 tahun ia mengabdi di Bea dan Cukai. Walau hanya disekitar daerah Palembang ia dipindahtugaskan, tetapi pegawai yang satu ini tetap memiliki prinsip, dimanapun ia ditempatkan ia tetap enjoy. “Tidak ada pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dan yang terpenting saya akan tetap bekerja, berbuat dan berpikir yang terbaik untuk DJBC tercinta,” ujar pegawai yang selalu mendapat tugas di bagian keuangan, umum dan urusan pegawai. A D R I N S Y A H B A N A Saat WBC sedang bertugas mengambil gambar tentang pemeriksaan barang penumpang di Bandara Soekarno-Hatta pada awal bulan Juli, WBC melihat penampilan pegawai yang satu ini saat melayani dan memeriksa barang bawaan penumpang. Dengan postur tubuh yang tinggi dan murah senyum, pegawai yang satu ini memang sangat tepat bekerja dibagian tersebut. Saat diwawancara WBC, Adrin mengaku bahwa bertugas di bagian P2, khususnya bandara, penampilan harus prima, fresh dan penuh senyum, disamping diimbangi dengan fisik dan stamina yang kuat. “Karena itu kita harus mempunyai pola makan yang teratur, istirahat juga teratur dan didukung juga dengan berolahraga. Selain itu, yang bisa dianggap paling utama dalam bertugas adalah kita harus mempunyai pola berpikir yang positif, tenang, serta jangan mempunyai pikiran curiga terhadap seseorang,” terangnya. Pria yang menikah tahun 1997 dengan Gustina ini melanjutkan, dalam menjalankan tugas yang paling utama adalah disiplin dan kekompakan. Kalau dalam instansi tidak ada kekompakan yang solid, maka instansi lain akan menganggap remeh sehingga kewibawaan Bea dan Cukai menjadi berkurang. Pegawai lulusan Prodip III Bea dan Cukai angkatan 9 tahun 1992 ini mulai meniti karir di Bea dan Cukai tahun 1993. Penempatan pertamanya di Kanwil X Balikpapan (sekarang Kanwil Kalimantan Bagian Timur, Balikpapan-red) dibagian Verifikator selama kurang lebih 4 tahun. Kemudian, awal tahun 2001 ia dipindahkan ke KPPBC Bandar Lampung sebagai pemeriksa barang. Saat bertugas di KPPBC Bandar Lampung ia dipromosi menjadi Korlak Impor. Setelah berjalan empat tahun, tepatnya awal tahun 2005, ia dipindahkan lagi ke KPPBC tipe A Khusus Soekarno-Hatta sebagai Korlak Impor hingga sekarang. S U K A T N O Korlak Keuangan dari KPPBC Tipe A3 Tanjung Pinang ini, selama bekerja di bea cukai belum pernah berpindah dari Tanjung Pinang. Walaupun begitu, pria kelahiran Tanjung Pinang 3 Mei 1959 mengaku siap jika suatu saat harus dimutasikan dari Tanjung Pinang. Berasal dari Pacitan, ayah tiga anak ini terbilang cukup ketat dalam mendidik anak, hal ini terbukti dari kedua anaknya yang saat ini hampir lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Riau, Pekanbaru. Masuk menjadi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) pada tahun 1983, Sukatno yang sebelumnya memang sudah mengerti akan pekerjaan bea cukai, langsung ditempatkan di KPBC Tanjung Pinang sebagai pemeriksa di gate. Pengalaman menariknya saat menjadi pemeriksa, adalah ketika tahun 1985 dimana Tanjung Pinang menjadi tujuan para pedagang yang mencari barang-barang luar negeri yang masuk secara ilegal. “Saat itu para pedagang atau yang kita sebut inang-inang sangat banyak sekali membawa barang-barang dari luar untuk dimasukan ke Tanjung

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Apa yang telah dilakukan oleh ibu empat anak ini sehingga dipilih oleh Kepala Kantor KPPBC Palembang Bambang Aribasar untuk masuk dalam rubrik Siapa Mengapa ini? Menurut Kepala KPPBC dan rekan-rekan sekerjanya, pegawai yang satu ini merupakan pekerja ulet, jujur, disiplin dan tidak pernah menunda pekerjaan hingga esok hari. Saat ditanya pengalaman dan suka dukanya sebagai pegawai DJBC, Dewi mengaku tidak memiliki pengalaman yang berkesan. Baginya, semua yang ia jalankan dibiarkannya mengalir bagaikan air. Saat ini ia mengaku mendapat tantangan saat harus memberikan surat sanksi atau teguran dari atasan pada pegawai yang bersangkutan. “Sebagai anak buah, saya harus siap memberikan surat tersebut,” kata Dewi yang saat ini bertugas di bagian urusan kepegawaian. Putri daerah kelahiran Palembang tahun 1962 ini mengaku masih tersisa waktu untuk berkarir di Bea dan Cukai sebelas tahun lagi. Ia bercerita bahwa posisinya sebagai perempuan yang berkarir dan ibu rumah tangga bukanlah suatu masalah. Kedua posisi tersebut ia jalani dengan baik. “Kalau di kantor kita kerjakan tugas kantor, kalau di rumah ya kita kerjakan tugas sebagai ibu rumah tangga, tinggal bagaimana kita membagi waktunya saja,” ujar istri dari petugas polisi ini merendah. ats Dari beberapa mutasi yang pernah dialaminya, Adrin mengaku sangat terkesan saat bertugas di Soekarno-Hatta. “Seperti yang saya sebutkan tadi, di bandara ini kita harus mempunyai sikap ramah sopan dan murah senyum kepada penumpang. Karena yang datang itu bukan hanya para pengusaha atau masyarakat umum tapi juga anggota dewan, para pejabat di pemeritahan. Kita harus bisa bertindak secara profesional dan fleksibel di lapangan saat pejabat-pejabat tersebut tiba di bandara,” kata pria yang pernah mengikuti diklat kesamaptaan, DPI, Verifikator dan Training KPU ini. Karena dalam dalam bertugas ia selalu enjoy, maka suka duka yang dialaminya saat bertugas selalu disikapinya dengan perasaan gembira. Seperti yang pernah dialami oleh bapak dua orang anak ini ketika ada anggota dewan atau pejabat-pejabat pemerintah yang menolak untuk di scan dan memarahinya. Tak hanya itu, ada pula penumpang yang marah saat diwajibkan untuk membayar pajak atas tas mahal yang dibelinya dari luar negeri. Di akhir wawancara, pria kelahiran Sumatera Selatan, 14 Juni 1972 ini mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan S1-nya di Universitas Balikpapan Kalimantan Timur jurusan Ekonomi pada 2002. Ia pun telah menyelesaikan pasca sarjananya di Universitas Lampung jurusan Hukum pada 2005. ats Pinang, namun upaya mereka itu tidak dilakukan secara resmi, namun dengan cara melemparkannya ke kapal pompong jika sudah merapat di pelabuhan, nah kami saat itu harus kerja ekstra ketat karena para inanginang ini juga mencoba mengelabui kami dengan cara memamerkan badannya atau membuka rok mereka agar kami dapat terkecoh, tapi semua itu dapat kami atasi dengan baik dan Alhamdulillah sekarang kejadian itu tidak pernah ada lagi,” ujar Sukatno. Pria yang juga hoby sepeda ini, berharap agar instansi DJBC dapat selalu kompak dalam menjalankan tugasnya, bukan hanya dalam satu KPPBC tapi juga antar KPPBC sehingga kewenangan dan kewibawaan DJBC akan bersinar seperti pada tahun-tahun sebelumnya, dimana DJBC merupakan institusi yang sangat disegani baik oleh penyelundup maupun instansi lain. adi

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2006
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 120.000

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 394 SEPTEMBER 2007

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

WARTA BEA CUKAI

45

PENGAWASAN
WBC/KY

KPBC AMAMAPARE DI TIMIKA, PAPUA. Kantor pelayanan yang berada di wilayah Kanwil XVII DJBC.

Penyusunan Audit Insidentil (Tambahan Objek Audit) dan DROA Menggunakan Analisis Situasi di Kanwil DJBC Maluku, Papua & Irja Barat
Tugas pengawasan yang dilakukan Bidang Audit Kantor Wilayah adalah melaksanakan pemeriksaan kemudian terhadap perusahaan yang menjadi objek audit untuk menilai kepatuhannya terhadap peraturan terkait dan mengamankan keuangan negara.
ahap awal sebelum dilakukannya pemeriksaan kemudian tersebut adalah menentukan Daftar Rencana Objek Audit (DROA) enam bulanan, sedangkan untuk pelaksanaan tugas yang lain dapat melalui audit insidentil, sehingga perlu dibuat suatu analisis situasi agar tugas yang diamanahkan dapat dilaksanakan dengan sedikit bekerja banyak mencapai sasaran. 46
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Perusahaan yang dilakukan audit di Kanwil XVII Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat terdiri dari* : 1. Perusahaan pelayaran : + 4 perusahaan, 2. Fasilitas Impor Sementara : + 15 perusahaan, 3. BOP Gol II : + 5 perusahaan, 4. Importir : + 75 perusahaan, 5. Eskportir : + 120 perusahaan, * Berdasarkan Surat Kakanwil ke KPBC (Bln September 2006), tentang perusahaan yang melakukan kegiatan Kepabeanan dan Cukai untuk dijadikan profiling Bidang Audit.

T

Bagaimanakah menentukan perusahaan yang didahulukan untuk diaudit terhadap perusahaan lainnya, masih aktifkah perusahaan tersebut, terhadap komoditi apa atas

usaha tersebut, besarkah nilai impor perusahaan tersebut, apakah telah diperhitungkan terlebih dahulu antara cost and benefit baik dari segi waktu dan uang dalam pelaksanaan tugas audit? Semuanya itu dapat dibuatkan prosedur tetap dan diperiksa kembali secara berkelanjutan setelah berhasil diidentifikasikan isu-isu lingkungan yang strategis, sehingga tinggal menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada atas update data, bukan selalu membuat semuanya dari tidak mengerti/tidak ada data sama sekali.

PERMASALAHAN
Berdasarkan Instruksi Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor INS-1/BC/2006 tentang profiling dan targeting, bidang audit diharapkan melakukan tugas pengawasan yang maksimal, Kanwil XVII DJBC adalah kantor KPU (Kanwil Paling Ujung) mempunyai wilayah pengawasan 1/3 bagian dari Negara Indonesia di wilayah Timur dan alat transportasi udara/laut yang terbatas. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) yang dekat dengan Kanwil XVII hanya KPBC Tipe A4 Ambon, yang lain terdapat di kepulauan Maluku 2 Kantor, Papua dan Irian Jaya Barat (10 Kantor), serta memerlukan transportasi udara dan waktu pekerjaan yang panjang, disebabkan juga perjalanan menuju perusahaan yang menjadi objek jauh (memakan waktu lama), tidak dapat langsung dari Ambon harus melalui Makassar. Berdasarkan historis proses pelaksanaan sampai dengan penyelesaian audit kebanyakan lebih dari tiga bulan tidak sesuai dengan KEP 12/BC/1997, terkesan kinerja bidang audit rendah. Analisis situasi menjadi kebutuhan agar pelaksanaan tugas sampai dengan penyelesaiannya, dapat dibuat strategi (kesesuaian) yang memperhatikan kondisi internal SW (Strength, Weakness), dan kondisi eksternal OT (Opportunity, Threath), untuk mencapai goal sesuai visi dan misi.

karang yang membedakan KSF sekarang dengan KSF yang akan datang. Sebelum dilakukan analisis situasi perlu diketahui terlebih dahulu bahwa kekuatan (strength) adalah situasi internal berupa kompetensi, kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki, sebagai alternatif menangani peluang-ancaman. Kelemahan (weakness) situasi internal berupa kompetensi, kapabilitas/ sumberdaya yang dimiliki, yang sulit sebagai alternatif menangani peluang-ancaman. Peluang (opportunities) situasi eksternal yang berpotensi menguntungkan. Ancaman (threat) situasi eksternal yang berpotensi menimbulkan kesulitan. Acuan yang digunakan untuk identifikasi SWOT adalah : 1. Arah, tujuan organisasi 2. Posisi organisasi 3. Kinerja masa lalu 4. Standar yang disepakati 5. Penilaian Stakeholder utama Yang diterapkan sebagai identifikasi disini adalah arahtujuan pelaksanaan audit (compliance audit dan pengamanan keuangan negara)

ANALISIS SW :
Kekuatan (S) : l Besarnya anggaran yang dimiliki agar dimanfaatkan maksimal untuk Pelaksanaan Audit berjalan. l Team work yang kompak tanpa melihat pekerjaan sebagai tugas individu orang, tetapi pekerjaan sebagai tugas bersama. l Kemampuan pemahaman dan pengelompokkan peraturan untuk memudahkan pelaksanaan tugas sekaligus updatingnya. l Informasi dari bidang lain untuk membuat profil perusahaan yang menjadi objek audit dengan melihat nilai impor dan komoditas barang serta penerimaan Bea Masuk terbesar dari perusahaan mana di KPBC.
WBC/KY

ANALISIS

Penggunaan Analisis situasi diharapkan dapat menjawab sebagian besar pertanyaan dan ketidaksesuaian di atas. Analisis Situasi adalah kegiatan mendapatkan informasi. Baik lingkungan eksternal Kanwil XVII atau internal Kanwil XVII mempengaruhi untuk ditentukan menjadi suatu informasi termasuk sebagai kekuatan-kelemahan-peluang-tantangan. Tahap yang paling penting dan sering terlewat adalah penetapan acuan kekuatankelemahan-peluangtantangan yaitu keadaan yang menjadi pembanding untuk menetapkan apakah suatu kondisi disebut sebagai kekuatan-kelemahanpeluang, atau tantangan. Untuk dapat membuat kesesuaian harus dilihat key success factor (KSF) yang dijadikan acuan menentukan SWOT. Rumusan sebaiknya memperhatikan juga perubahan-perubahan dilingkungan masa yang akan datang, tidak sekedar kondisi eksisting seFREEPORT. Salah satu perusahaan objek audit di wilayah Kanwil XVII DJBC.

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

47

PENGAWASAN
Kelemahan (W) : l Pengambilan data yang tidak cepat pada waktu pelaksanaan tugas l Sumber daya manusia yang tidak memenuhi standar KEP 12/BC/1997. l Jarak yang jauh antara perusahaan dengan KWBC XVII. Analisis OT : Peluang (O) : Jumlah perusahaan yang sedikit memudahkan profiling perusahaan untuk dibuatkan prosedur tetapnya, baik nilai, komoditi, jenis perusahaan, lokasi, keringanan/pembebasan yang dimiliki. Ancaman(T) : l Jarak yang jauh antara KPBC dengan Kanwil sehingga koordinasi memakan waktu yang lama.
l

Pelatihan Pemeliharaan dan Penggunaan

Senjata Api
Dalam hal pemakaian, senjata api tersebut perlu dilakukan pemeliharaan/perawatan dan penggunaan yang sesuai prosedur atau petunjuk yang ada.

Dari analisis situasi yang sudah dicoba diterapkan pada Kanwil XVII DJBC, dapat dilihat bahwa profiling objek audit berdasarkan lokalisasi per KPBC yang membawahinya sangat perlu dibuat prosedur tetapnya untuk menghindari kesulitan pada waktu konfirmasi data, waktu yang lama, jarak yang berjauhan, biaya yang dikeluarkan untuk penyelesaian tugas Bidang Audit.

S

KESIMPULAN
Penyusunan audit insidentil dan DROA berdasarkan analisis situasi yang digunakan di Kanwil XVII Maluku, Papua, Irian Jaya barat adalah melihat profiling perusahaan yang dibagi per KPBC, dan agar dijadikan prosedur tetap melalui tahapan sebagai berikut : 1. Perusahaan yang masuk audit insidentil didahulukan diaudit sesuai hasil analisis dan rekomendasi yang ada. 2. Perusahaan importir umum diaudit secara reguler 2 tahunan. 3. Perusahaan yang memasukkan bea masuk dari yang tinggi ke rendah. 4. Perusahaan dipisahkan berdasarkan komoditi tertentu yang mengkontribusikan penerimaan bea masuk dari yang tinggi ke rendah. 5. Perusahaan yang memiliki fasilitas penangguhan bea masuk dengan jaminan dari yang tinggi ke rendah. 6. Perusahaan yang berlokasi satu tujuan pemberangkatan dan dukungan kemudahan alat transportasi udara/laut yang ada. 7. Anggaran dihitung dahulu untuk mencukupi pelaksanaan tugas. Dari uraian diatas, peningkatan kinerja bidang audit diperlukan agar memudahkan perencanaan tugas sampai dengan pelaporan hasil audit yang diharapkan sesuai tujuan yaitu menilai kepatuhan perusahaan yang sekaligus menjadi profil perusahaan dan mengamankan keuangan negara.

enjata api (fire arms) adalah suatu alat untuk melepas amunisi ke arah sasaran dengan tujuan untuk melumpuhkan. Saat ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memiliki senjata api dinas yang baru. Senjata api tersebut berasal dari pengadaan barang tahun 2006. Senjata api baru yang dimiliki DJBC merupakan produksi PT. Pindad (Persero). Pengadaan senjata api tersebut dipandang perlu dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas operasional DJBC khususnya di bidang penindakan dan penyidikan. Dalam hal pemakaian, perlu dilakukan pemeliharaan/ perawatan terhadap senjata api tersebut. Penggunaannya pun harus sesuai dengan prosedur/petunjuk yang ada. Sehingga, akan selalu tersedia senjata api yang siap pakai dan mempunyai masa pemakaian yang panjang. Rencananya, senjata api yang baru tersebut akan didistribusikan ke seluruh Kantor Wilayah DJBC di seluruh Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan pemberian pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia bagi pegawai DJBC dalam hal pemeliharaan dan penggunaan sarana senjata api. Oleh karena itu untuk pertama kalinya, pada 9 – 20 Juli 2007, dengan mengambil lokasi di PT. Pindad, Bandung, Jawa Barat, sebanyak 60 orang pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengikuti pelatihan pemeliharaan dan penggunaan senjata api. Pelatihan tersebut dibuka oleh Sofyan Hidayat, Bagian Depdiklat PT. Pindad (Persero). Hadir pada kesempatan itu, Suprapto, Bagian Divisi Senjata PT. Pindad (Persero) dan G.H. Sutejo, Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil DJBC Jawa Barat, Bandung. Pelatihan tersebut diikuti oleh dua gelombang, gelombang I dimulai tanggal 9 - 13 Juli 2007 dan gelombang II dimulai tanggal 16 – 20 Juli 2007. Masing-masing gelombang diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari seluruh Kantor Wilayah DJBC yang ada di Indonesia, khususnya bidang P2. Mengingat senjata api DJBC tersebut merupakan produksi PT. Pindad (Persero) maka tenaga instruktur yang memberikan pelatihan pemeliharaan
DOK. P2 KP. DJBC

Suwito, SE Ak, Msi Pj Kasi Pelaksanaan Audit I Kanwil XVII DJBC,

Daftar Pustaka Barry, Strategic Planning Workbook for Nonprofit Organizations, h.10.1986 David R. Fred, Concept of Strategic Management, 1998 Pearce, John A, Strategic Management, 1985

BONGKAR PASANG PISTOL. Tampak para peserta pelatihan saat mempraktekkan bongkar pasang pistol.

48

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

DOK. P2 KP. DJBC

FOTO BERSAMA. Para peserta pelatihan gelombang I berpose bersama di depan gedung Divisi Senjata.

senjata api berasal dari dari PT. Pindad (Persero). Pelatihan penggunaan senjata api itu pun dilakukan di PT. Pindad (Persero) karena perusahaan tersebut memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk melakukan pelatihan. Ada tiga orang instruktur yang membimbing para peserta pelatihan, masing-masing didampingi oleh tiga orang asisten. Adapun senjata api baru yang dibeli oleh DJBC dan digunakan dalam pelatihan ini terdiri dari dua jenis senjata api. Pertama, senjata bahu jenis SBC-1 Kaliber 222 (5,64mm) sebanyak 1.000 pucuk senjata dengan peluru/cartridges sebanyak 200.000 butir. Kedua, senjata api genggam jenis pistol P-3A kaliber 32 (7,65 mm) sejumlah 1.500 pucuk senjata dengan peluru/cartridges sebanyak 200.000 butir.

MENINGKATKAN SDM
Pelatihan itu sendiri bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia DJBC dalam hal pemeliharaan dan
DOK. P2 KP. DJBC

PRAKTEK MENEMBAK. Dengan jarak sasaran 50 m, peserta membidik sasarannya dengan menggunakan senjata api SBC-1 kaliber.222.

penggunaan sarana senjata api DJBC. Diharapkan sarana senjata api DJBC akan selalu terpelihara dan terpakai sebagaimana mestinya. Manfaat pelatihan tersebut sangat dirasakan bagi pegawai yang bertugas di lapangan, seperti mengetahui cara perawatan senjata, cara pemakaian dan bagaimana membongkar pasang senjata. Diharapkan, usai pelatihan tersebut, para pegawai dapat membagi ilmu yang diperolehnya pada pegawai DJBC lainnya di tempat ia ditugaskan. Adapun materi yang diberikan pada saat pelatihan antara lain penjelasan umum tentang senjata api produk PT. Pindad (Persero), peninjauan ke fasilitas produksi senjata, teori data teknis senjata, teknik bongkar pasang dan pemeliharaan SBC-1 Kal.222, praktek SBC-1 Kal.222, teknik bongkar pasang dan pemeliharaan pistol P-3A, praktek pistol P-3A, penggunaan senjata api (menembak), praktek menembak dan evaluasi. Pada saat peninjauan ke fasilitas produksi senjata, para peserta diarahkan ke bagian divisi senjata untuk melihat bagaimana cara pembuatan senjata. Setelah itu para peserta menuju ruangan pengepakan(packaging), ruangan penembakan (firing), tempat penembakan kering dan lokasi latihan tembak jarak 200 m. Untuk uji coba pelatihan menembak dengan menggunakan Pistol P-3A kaliber 7.65 mm, dilakukan dengan posisi berdiri, dengan jarak tembak 20 m. Sedangkan untuk uji coba pelatihan menembak dengan menggunakan laras panjang SBC-1 Kal.222, peserta harus melakukannya dengan posisi tiarap, duduk/jongkok dan berdiri dengan jarak tembak 50 m. Dalam kegiatan ini, peserta diajarkan untuk selalu melakukan tindakan pengamanan senjata. Kemudian, cara menggunakan senjata api dan membidik sasaran dengan benar dan tepat. Pada hari terakhir pelatihan, para peserta di beri kesempatan untuk mencoba menggunakan senjata api bahu produksi PT. Pindad yaitu jenis SS1 Varian 1 dengan menggunakan teleskop optics. Jarak tembak uji coba senjata tersebut sepanjang 200 m dengan posisi duduk di kursi dengan tangan memegang senjata di atas meja. Setelah itu, pelatihan ditutup oleh Triyono, Deputi Bidang Pemasaran dan Penjualan PT. Pindad (Persero) dan dihadiri oleh Sofyan Hidayat, Bagian Diklat PT. Pindad (Persero) dan Nurkiswar Eddy, Kepala Bagian Umum Kanwil DJBC Jawa Barat, Bandung. ifa
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

49

KEPABEANAN INTERNASIONAL
WBC/IFA

FOTO BERSAMA. Dengan mengambil lokasi di depan Gedung Utama, KP DJBC, rombongan Kastam Diraja Malaysia, Sabah berpose bersama dengan pegawai DJBC.

Kastam Diraja Malaysia
Kunjungi Kantor Pusat DJBC
Studi banding dalam hal best practices antar Indonesia Customs dan Malaysia Customs.

R

abu, 13 Agustus 2007, sejumlah 20 orang yang berasal dari rombongan Kastam Diraja Malaysia, Sabah, mengunjungi Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, di Jakarta. Rombongan sejak tanggal 11 Agustus 2007 telah berada di Bandung untuk melakukan lawatan ke beberapa lokasi di Bandung. Usai mengunjungi Bandung, rombongan bergerak menuju Jakarta, tepatnya Kantor Pusat DJBC. Pagi itu, bertempat di ruang rapat Menteri Keuangan, rombongan diterima oleh Bambang Prasodjo, Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerangan Kepabeanan dan Cukai, yang didampingi beberapa orang pejabat eselon III dan eselon IV di lingkungan KP DJBC. Sebelumnya, rombongan sempat mengunjungi beberapa sarana yang ada di KP DJBC, seperti tempat pelatihan anjing pelacak narkotika dan gudang tempat penyimpanan barang-barang hasil tegahan petugas bea cukai. Pada kesempatan itu, perwakilan dari Kastam Diraja Malaysia, Sabah, menerima pemaparan yang diberikan oleh para pejabat bea cukai, diantaranya mengenai sistem dan prosedur kepabeanan di bidang impor, sistem dan prosedur kepabeanan di bidang ekspor, pengawasan terhadap barang impor dan ekspor serta pemaparan mengenai pusdiklat di Bea dan Cukai. Usai pemaparan, rombongan bergerak menuju Gedung Pusdiklat Bea dan Cukai untuk melihat lebih dekat fasilitas yang ada di tempat itu. Saat di wawancara WBC, Durahim Bin Tutin, Senior Assistant Director of Customs, Kastam Diraja Malaysia, Sabah, mengatakan, tujuannya datang ke DJBC adalah untuk mempererat tali silaturahmi antara Kastam Diraja Malaysia, Sabah, dengan DJBC Indonesia. Selain itu, pihaknya juga
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

ingin melakukan studi banding dalam hal best practices antara Customs Malaysia dan Indonesia. Ia melanjutkan, pertemuan ini juga bertujuan meningkatkan pengetahuan pada pegawai Malaysia Customs tentang tata kerja Bea dan Cukai Indonesia, khususnya yang ada di Bandung dan Jakarta. Saat ditanya tentang patkorkastima (patroli bersama antara DJBC dan Kastam Diraja Malaysia) yang dilaksanakan pada 21 - 28 Agustus 2007, Durahim menjelaskan, patkorkastima merupakan agenda rutin yang dilakukan antara Customs Malaysia dan Indonesia, yang akan dimulai di Tarakan dan berakhir di Tawau, Malaysia, Sabah. Durahim juga menjelaskan bahwa pada dasarnya antara Malaysia dan Indonesia memiliki persamaan. Malaysia juga memiliki jalur merah, kuning dan hijau dalam kegiatan impornya. Hanya saja yang membedakan adalah, kalau DJBC memiliki jalur prioritas maka Malaysia memiliki sistem baru yang diberi nama customs golden clients, yang diberikan khusus pada importir yang masuk dalam kategori baik, dimana mereka (importir-red) diijinkan untuk melakukan impor secara terus menerus tanpa perlu dilakukan pemeriksaan. Hal lain yang juga membedakan adalah konsep penangguhan pembayaran cukai. Kastam Diraja Malaysia tidak secara reguler memberikan kemudahan terhadap penangguhan pembayaran cukai. Menurut Durahim, penangguhan tersebut hanya diberikan pada pihak yang mengajukan permohonan. “Sementara untuk bagian pengawasan atau pencegahan, Malaysia memiliki unit baru yang dikenal dengan nama unit verifikasi impor. Maksudnya, setelah dilakukan penilaian,

50

KEPABEANAN
kemudian penetapan cost tarif dan dilakukan pembayaran, maka semua barang-barang impor akan di periksa oleh unit verifikasi impor sebelum dilepaskan oleh bea cukai. Hal itu dapat dilihat di tata cara pengawasan impor,” jelas Durahim yang mengaku setelah mengunjungi KP DJBC, rombongan yang dipimpinnya juga akan mendatangi tempat-tempat wisata dan tempat-tempat menarik lainnya yang ada di Jakarta. Dari segi kemudahan, mereka juga memiliki fasilitas yang memudahkan pengguna jasa diantaranya adalah pemeriksaan bergerak. Maksudnya, pemeriksaan dokumen bisa dilakukan langsung di pabrik atau di pusat-pusat pengimpor sehingga barang bisa segera direlease. Ia menambahkan, untuk barang-barang darurat atau barang-barang yang mudah rusak, juga dipermudah dalam hal pengeluarannya. Mengenai pelatihan pegawai Kastam Diraja Malaysia, selain pelatihan fisik dengan mendaki gunung Kinabalu, pelatihan juga dilakukan dengan menggunakan e-learning, dengan demikian pelatihan jarak jauh (distance learning) dapat dilaksanakan. Ketika ditanya harapannya dengan adanya pertemuan ini, Durahim mengatakan bahwa pertemuan ini dapat menjadi suatu titik permulaan ke arah peningkatakan hubungan kedua negara, khususnya antara Customs Malaysia, Sabah, dengan Customs Indonesia. Selain itu, diharapakan dari pertemuan ini akan tercipta kesepahaman antar dua pihak sehingga bisa mencari penyelesaian dari permasalahan yang ada. “Melalui patkorkastima kita punya operasi bersama untuk menangani masalah-masalah penyelundupan di perbatasan, khususnya di Tarakan dan Tawau. Kita hidup serumpun, sebahasa, walaupun jauh tapi dekat di hati,” kata Durahim seraya berharap bahwa kerjasama ini akan terus terjalin dan berkelanjutan di masa yang akan datang. ifa
WBC/IFA

Rencana Ujicoba Sistem

National Single Window
Akhir tahun 2007, implementasi pilot project NSW akan dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok.

P

BERTUKAR CENDERAMATA. Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan saling bertukar cendera mata. Pihak Kastam Diraja Malaysia, Sabah, diwakili oleh Durahim Bin Tutin, Assistant Director of Customs, dan dari DJBC diwakili oleh Bambang Prasodjo, Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerangan Kepabeanan dan Cukai.

ada 14 Agustus 2007, bertempat di ruang Loka Muda, Gedung B, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (KP DJBC), diselenggarakan rapat pembahasan awal rencana kerja pelaksanaan ujicoba sistem National Single Window (NSW) di Pelabuhan Tanjung Priok oleh Tim Persiapan NSW dan Tim Kerja Pelaksanaan Ujicoba Sistem NSW. Hadir dalam kesempatan itu lima perwakilan dari government agencies (GA) yakni Bea dan Cukai, Badan POM, Puskari (Pusat Karantina Ikan), BKP (Badan Karantina Pertanian) dan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri. Juga hadir asosiasi dari pengguna jasa kepabeanan, Departemen Komunikasi dan Informasi, Departemen Perhubungan serta Port Operator. Dari rapat pembahasan tersebut, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, mengambil kesimpulan bahwa tim kerja yang terdiri dari tim pelaksana dan tim pengawas akan ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan. “Kemudian, dari diskusi tadi, ada yang mengatakan bahwa dibutuhkan tim pendukung atau tim support. Hal ini akan ditetapkan oleh Tim Pelaksana supaya tidak menambah jalur birokrasi,” tambah Anwar. Ia melanjutkan, yang tak kalah penting adalah perlu adanya call center, yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan kontak atau bertanya jika user mengalami masalah. Kemudian, telah dicapai kata sepakat bahwa uji coba NSW di Tanjung Priok masih terbatas pada 5 (lima) GA (Bea dan Cukai, Badan POM, Puskari, BKP dan Ditjen Daglu) ditambah 3 (tiga) TPS (tempat penimbunan sementara) yakni JICT, Koja, dan MTI. “Sedangkan dari aspek sistem, seratus persen sudah memenuhi minimal requirement dari Asean Single Window. Kemudian, pada bulan September 2007 kita akan melakukan uji coba integrasi sistem antara Badan POM dengan in house system di KPU DJBC,” kata Anwar. Tak hanya itu, lanjut Anwar, perlu adanya sosialisasi di tingkat nasional dan juga di Tanjung Priok. Ujicoba NSW di Tanjung Priok itu sendiri hanya untuk prosedur impor, yakni untuk PIB yang ditujukan pada importir jalur prioritas. “Ini harus disampaikan agar tidak timbul over estimate dari publik atau pihak-pihak yang terkait,” tandas Anwar. Di akhir kata ia berharap agar single window ini tidak
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

51

KEPABEANAN
2007. Kemudian, pada Januari 2008 akan dilakukan pengembangan (development) sistem NSW dan penanganan operasionalnya akan ditangani oleh Tim Kerja Pelaksanaan Ujicoba NSW di Tanjung Priok sambil menunggu keputusan pemerintah hingga akhir Maret 2008. Setelah sistem NSW di Tanjung priok berjalan, hasilnya akan dilaporkan pada Tim Persiapan NSW, untuk kemudian Menteri Keuangan, selaku Ketua Tim Persiapan NSW, akan memutuskan seperti apa skala prioritas berikutnya di 5 pelabuhan lain. “Baru nanti kita bicara tahap nasional pada bulan September 2008 untuk join ke ASW pada akhir tahun 2008,” tandas Susiwijono.

HASIL PERTEMUAN
akan menambah beban user atau pengguna jasa. Ia pun meminta agar semua pihak optimis bahwa NSW ini dapat terwujud. Sementara itu, dalam pemaparannya pada peserta rapat, Susiwijono, Kasubdit Otomasi Sistem dan Prosedur, Dit. IKC, mengatakan, akhir Agustus ini blue print NSW rencananya akan ditandatangani oleh Menteri Keuangan. Ia melanjutkan, sesuai dengan scope entitas dan kegiatan yang ada, pada tahap awal uji coba NSW akan dilakukan di Pelabuhan Tanjung Priok pada akhir Desember Dalam pertemuan tersebut, hal-hal yang harus dilakukan lima pimpinan GA agar jadwal tim kerja menjadi tepat waktu adalah: - Segera menunjuk salah satu pejabat (setingkat eselon III) untuk menjadi anggota pelaksana operasional yang akan menjadi perwakilan GA dan port yang dedicated dan secara penuh bertugas bersama-sama GA yang lain. - Kepastian mengenai telah diselesaikannya proses standarisasi elemen data dan harmonisasi bisnis proses. - Kepastian mengeWBC/ATS nai batas waktu penyelesaian pembangunan in-house system di masingmasing GA dan penyesuaian in-house system dengan kebutuhan sistem NSW. - Sesuai jadwal rencana kegiatan, mulai awal Oktober 2007 agar menugaskan unit yang menangani IT sistem, untuk berkoordinasi dengan tim kerja dalam melakukan penyiapan model interface antara sistem pada GA dengan sistem NSW. - Sesuai jadwal rencana kegiatan, mulai awal Oktober 2007 agar menugasRAPAT PEMBAHASAN. Suasana rapat pembahasan Ujicoba sistem NSW di Tanjung Priok yang diselenggarakan di kan unit yang menaruang Loka Muda, Gedung B, KP DJBC. 52
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

STATUS IMPLEMENTASI NSW DI NEGARA-NEGARA ANGGOTA ASEAN
l l l

BRUNAI DARUSSALAM National Steering Committee telah berdiri (bisnis proses dan masalah tekhnikal). Pengembangan NSW akan di sejajarkan dengan implementasi dari e-customs. Keseluruhan implementasi e-customs dan NSW akan dioperasikan pada 2008. KAMBOJA Kamboja telah menggabungkan NSW dalam customs reforms dan rencana modernisasinya. NSW Steering Committee (NSWSC) akan berdiri segera, dipimpin oleh Customs. INDONESIA Telah menyelesaikan pilot project NSW di Batam, menggunakan SAD, pada Desember 2006. Indonesia juga telah menyelesaikan draft blue print NSW untuk diimplementasikan. Implementasi NSW pilot project akan dioperasikan pada akhir 2007 di Pelabuhan Tanjung Priok. LAO PDR Tim untuk menyiapkan pengaktifan NSW telah disetujui oleh Menteri Keuangannya. National Steering Committee akan memulai fungsinya pada beberapa bulan kedepan. MALAYSIA Kastam Diraja Malaysia telah bekerja keras dan mendukung MITI dalam mengaplikasikan NSW. Customs portal project dimulai dengan dua fundamental modul ekspor dan impor. ACDD akan digunakan secara spesifik sesuai dengan ASW Protokol dengan beberapa adaptasi sesuai kebutuhan. MYANMAR National Single Window Steering Committee (NSWSC) telah berdiri. Proposal project untuk implementasi ICT akan disusun dalam waktu dekat. PHILIPINA Philipina telah melakukan konsultasi dengan pihak pengguna jasa dan para menterinya untuk tujuan NSW. SINGAPURA Terus melakukan pembaharuan sistem NSW tiap dua atau tiga tahun sekali. Upgrade terbaru akan di operasikan pada oktober 2007 (TradeXchange). Singapura juga telah memiliki jaringan yang eksis antara para pebisnis dengan model B to B. THAILAND Telah membuat kemajuan yang penting dengan kerjasama antara para pengguna jasa dan pemerintah untuk NSW. VIETNAM Steering Committee untuk implementasi NSW telah berdiri. Master plan untuk pengembangan NSW dan roadmap-nya sedang dikembangkan. tiga yang selama ini telah digunakan dalam pengembangan sistem di DJBC. Memanfaatkan sumber daya lain yang sudah ada dan atau yang diperlukan untuk pelaksanaan ujicoba sistem NSW tersebut. ifa

l l

l l l

l l

l l l

l l

l

l l l

l

l l

ngani IT sistem, untuk koordinasi dengan tim kerja dalam melakukan penyiapan coding untuk interface antara sistem pada GA dengan sistem NSW. Kebijakan pemerintah dalam rangka ujicoba sistem NSW: Uji coba sistem NSW di Indonesia akan dilaksanakan di pelabuhan Tanjung Priok pada akhir Desember 2007 dan akan dilakukan secara bertahap. Untuk keperluan pelaksanaan ujicoba sistem NSW, pembangunan dan pengembangan sistem NSW dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah. Dalam hal ini oleh Tim Persiapan NSW, dengan melibatkan semua unsur pemerintah dan unsur lainnya yang terkait dengan sistem NSW. Untuk pelaksanaan ujicoba sistem NSW tersebut maka tim persiapan NSW: menunjuk DJBC sebagai koordinator pelaksana ujicoba sistem NSW di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan membentuk Tim Kerja Pelaksanaan Ujicoba Sistem NSW di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta melalui keputusan ketua tim persiapan NSW. Untuk melaksanakan tugas ujicoba sistem NSW di Tanjung Priok tersebut, DJBC dapat: memanfaatkan sistem dan infrastruktur IT yang sudah dimiliki DJBC dan memanfaatkan sumber daya manusia dan tenaga ahli yang sudah ada, termasuk bantuan dari pihak ke-

-

-

Do you require any services ?
If you require the following services.
l Translation

Indonesia – English v. v

-

-

raining: Leadership: * Situational Leadership * Personnal Leadership * Interpersonal Leadership * Managerial Leadership * Change management Technical: * Telephone Technique * Customer Service * English Conversation * Grooming & Deportment Please contact Mrs. Hilda on +62812 8729 399

lT

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

53

KEPABEANAN

DJBC Mulai Sosialisasikan

Jalur Mitra Utama
Untuk mendukung kinerja dari Kantor Pelayanan Utama (KPU) di Tanjung Priok, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mulai menerapkan lima jalur baru sesuai dengan tuntutan dan perkembangan bisnis yang ada, yaitu jalur Merah, Kuning, Hijau, Mitra Utama (MITA), dan MITA Prioritas.
Sosialisasi jalur MITA dibuka oleh Direktur erkait dengan tututan masyarakat Audit, Thomas Sugijata dan didampingi oleh usaha akan kepastian dalam proses Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Bidang bisnis mereka, Direktorat Jenderal Pelayanan Bea Cukai, Lutfi Hartono dan Bea dan Cukai (DJBC) sebagai traKukuh Sumardono Basuki. Dijelaskan oleh de facilitator, saat ini telah melakuThomas Sugijata, kedepan nanti interaksi ankan reformasi birokrasi yang maksud dan tara DJBC dan pengusaha yang dulu sangat tujuannya adalah dalam rangka memperbaiki kurang, maka dengan KPU akan diimplemenproses bisnis pelayanan kepada masyarakat tasikan transparansi yang dibangun tidak hausaha, sehingga pelayanan tersebut mencanya komunikasi satu arah tapi ditengahi oleh pai tingkat yang benar-benar bisa memenuhi Client Coordinator yang kini telah ada di KPU. harapan masyarakat usaha. “Harapan DJBC, para pengguna jasa yang Untuk mewujudkan itu semua, maka baik dalam menjalankan bisnisnya harus diDJBC telah membentuk dan mengimplemenpertahankan kalau perlu ditingkatkan, dengan tasikannya melalui Kantor Pelayanan Utama demikian produktifitas kerja DJBC juga akan (KPU) yang ditetapkan di Tanjung Priok. tinggi, sehingga arus barang impor menjadi Dengan KPU ini bertujuan, dapat meningkatlebih baik, dan proses produksi menjadi lebih kan pelayanan atau mewujudkan tingkat pelaefisien,” ujar Thomas Sugijata. yanan yang ideal. Selain itu, KPU juga Sementara itu, dalam sosialisasi MITA merupakan upaya-upaya yang dilakukan yang disampaikan oleh Lutfi Hartono, dijelasDJBC untuk melakukan perubahan secara THOMAS SUGIJATA. MITA akan kan bahwa yang di maksud dengan MITA fundamental, yang tidak hanya dari sisi proses mendukung kinerja KPU sehingga baik adalah perusahaan yang memenuhi persyabisnis atau ketatalaksanaan, tapi juga DJBC maupun pengusaha akan mendapatkan manfaat yang lebih baik. ratan dan ditetapkan sebagai mitra utama merubah dari sisi kelembagaan dan SDM berdasarkan keputusan Direktur Jenderal. yang melaksanakan atau melayani di KPU. Sedangkan Client Coordinator adalah pejabat Bea Cukai yang Dengan tujuan yang telah jelas tersebut, maka untuk menduditunjuk oleh Kepala Kantor untuk menjadi penghubung antara kung itu semua DJBC sesuai dengan perubahan fundamental DJBC dengan pengusaha. yang dilakukan, berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Nomor Selain itu dijelaskan juga mengenai sistem pengawasan P-24/BC/2007, telah menetapkan lima jalur pelayanan impor proaktif untuk MITA, dimana sistem pengawasan yang dilauntuk wilayah kerja KPU. Adapun kelima jalur tersebut adalah kukan tanpa intervensi yang memadukan manajemen risiko, Merah, Kuning, Hijau, Mitra Utama (MITA), dan MITA Prioritas. aplikasi komputer dan hubungan masyarakat, yang secara otomatis memonitor pola transaksi pengguna jasa kepabeanSOSIALISASI KEPADA PENGGUNA JASA an dan/atau cukai, memberikan laporan adanya pola penyimTerkait dengan jalur MITA, DJBC kini mulai pangan yang berlaku (transaksi tidak biasa) dan menindakmensosialisasikannya dan hal tersebut telah berlangsung lanjuti laporan transaksi tidak biasa secara persuasif berdapada 13 Agustus 2007, bertempat di Auditorium Gedung sarkan prinsip-prnsip kemitraan. Utama Kantor Pusat DJBC. Sosialisasi yang diikuti oleh 500 Dengan demikian, jalur Mitra Utama akan memberikan jalur perusahaan yang terpilih karena selama ini telah sesuai penyelesaian pabean tanpa intervensi, melakukan analisis risiko dalam melakukan importasinya, diharapkan juga dapat secara sistematik terhadap entitas (bukan transaksi), melakukan menjadi peserta uji coba jalur MITA yang rencananya mulai monitoring transaksi secara proaktif untuk mencegah risiko dilaksanakan tepat pada 17 Agustus 2007.

T

WBC/ATS

JALUR
JALUR Merah Pemeriksaan Fisik Merah Tanpa Pemeriksaan Fisik (Kuning) Hijau MITA PERLAKUKAN

DAN

PERLAKUANNYA
ANALISIS RISIKO Importasi terkait dengan risiko yang melekat pada fisik barang (seperti, jumlah, jenis, dll) dan/atau diimpor oleh importir-importir yang NoB-nya tidak jelas/tidak dapat diduga. Importasi yang risikonya melekat pada dokumen oleh importir yang eksistensi/jaminan finalsialnya kurang kuat. Importasi yang risikonya terkait dengan dokumen, oleh importir yang eksistensi/jaminan finalsialnya kurang kuat Importasi oleh importir yang telah diuji track record dan keandalan pengendalian internalnya, serta memiliki pola bisnis yang jelas.

Intervensi fisik barang, barang impor diijinkan keluar setelah seluruh kewajiban pungutan impor dipenuhi termasuk notul. Intervensi dokumen, barang impor diijinkan keluar setelah seluruh kewajiban pungutan impor dipenuhi termasuk notul. Intervensi dokumen, barang impor dapat segera dikeluarkan. Tanpa intervensi, pemeriksaan ditunda hingga post clearance,

54

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

yang berkaitan dengan fasilitas kepabeanan yang diperoleh dan/atau digunakan. Jika semua persyaratan tersebut telah terpenuhi maka, penerima jalur MITA akan memperoleh hak sebagai berikut, (a) Tidak dilakukan penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang sebagaimana dilakukan terhadap jalur merah, dan hijau kecuali terhadap, barang impor sementara, barang re-impor, barang yang kena nota hasil intelijen (NHI), dan barang tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. (b) Pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud dalam butif a dapat dilakukan di gudang importir. (c) Tidak perlu menyerahkan hardcopy PIB/ PEB. (d) Dapat mengakses pelayanan Client Coordinator. (e) Update data registrasi kepabeanan satu atap.

KEWAJIBAN MITA
INTERVENSI penyalagunaan, dan penyederhanaan prosedur pelayanan dan pengawasan paska penyelesaian pabean. Dengan diberikan hak tersebut, maka perusahaan penerima jalur MITA juga memiliki kewajiban, antara lain (1) MITA wajib memenuhi kewajiban yang ditentukan oleh instansi teknis terkait sebelum mengajukan PIB. (2) MITA wajib menandatangani surat pernyataan tentang kesanggupan untuk memenuhi kewajiban dan mematuhi peraturan yang ditetapkan serta menerima sanksi akibat pelanggaran. (3) MITA wajib menyampaikan pemberitahuan impor atau eskpor secara elektronik. (4) MITA dilarang memberikan dan/atau meminjamkan modul importir kepada pihak perusahaan lain. (5) MITA wajib melaporkan kehilangan dan/atau penyalagunaan modul importir pada kesempatan pertama. (6) MITA wajib menyerahkan surat kuasa penunjukkan nama-nama PPJK yang diberi kuasa untuk mengajukan pemberitahuan pabean dalam hal MITA menggunakan jasa PPJK. (7) MITA wajib memberitahukan perubahan nama-nama PPJK yang diberi kuasa kepada kepala kantor. Dari penjelasan yang disampaikan pada acara sosialisasi tersebut, para pengusaha masih banyak yang menanyakan akan keunggulan jalur MITA dengan jalur yang ada sekarang ini. Akan pertanyaan tersebut, tim menjelaskan jalur MITA hanya ada di kantor yang telah dijadikan KPU, dengan demikian bagi perusahaan yang telah tergabung dalam MITA akan lebih mendapatkan kepastian baik waktu maupun biaya dalam kegiatan importasi, walaupun dengan jalur yang ada sekarang juga telah ada kepastian, namun dengan MITA akan lebih baik lagi. adi

SYARAT MENJADI MITA

Lalu persyaratan apa yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar dapat menjadi MITA? Terhadap perusahaan-perusahaan yang telah memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai MITA diharuskan menyerahkan persyaratan administrasi, antara lain: (a) Surat pernyataan sesuai dengan sebagaimana ditetapkan dalam lampiran Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Mitra Utama. (b) Laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik. (c) Dalam hal perusahaan menggunakan PPJK, menyerahkan daftar nama PPJK yang diberi kuasa dan identitas modul PPJK yang diberi kuasa. (d) Modul importir dan/atau modul PPJK. (e) Nama pegawai perusahaan yang ditunjuk untuk berhubungan dengan Client Coordinator. (f) Foto copy API/APIT. Selain hal tersebut, untuk menjadi MITA juga ada subjek dan persyaratan sebagai orang yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang harus dipenuhi, yaitu (1) dapat berkomunikasi secara elektronik dengan DJBC. WBC/ATS (2) Mempunyai sifat bisnis (nature of business) yang jelas. (3) Memiliki sistem pengendalian yang memadai untuk menjamin keakuratan data yang disajikan. (4) Memiliki rekam jejak keakuratan pemberitahuan pabean dan/atau cukai yang baik. (5) Telah diaudit oleh kantor akuntan publik yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian atau wajar dengan pengecualian untuk dua tahun terakhir: dan (6) Selalu dapat memenuhi pemenuhan ketentuan tentang perijinan dan persyaratan ekspor/impor dari instansi terkait. Selain itu untuk subjek dan persyaratan MITA, ada syarat tambahan untuk penerima fasilitas kepabeanan, yaitu dalam hal perusahaan mendapatkan fasilitas pembebasan, keringanan dan/atau penangguhan bea masuk, persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (I) P-24/BC/2007, ditambah dengan melakukan penatausahaan dan pengelolaan sediaan barang yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diketahui jenis, spesifikasi, jumlah SOSIALISASI MITA. Sebanyak 500 perusahaan yang terpilih menjadi peserta uji coba MITA pemasukan dan pengeluaran sediaan barang mendapatkan sosialisasi dari DJBC.
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

55

KEPABEANAN

Pemerintah Berlakukan

Registrasi PPJK
Penetapan jumlah jaminan yang bervariasi kepada Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan, (PPJK) ditetapkan berdasarkan jumlah kegiatan dan risiko PPJK yang berada di KPPBC tempat PPJK melakukan kegiatan
WBC/ATS

P

emerintah mulai 20 Juni 2007 memberlakukan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.04/2007 tentang Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan, dan 20 Juli 2007 untuk Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor.P-22/BC/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan pemberian Nomor Pokok dan Pengawasan Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan. Peraturan tersebut menurut Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana merupakan penyempurnaan dari peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 65/PMK.04/2007 tentang Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-22/BC/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Nomor Pokok dan Pengawasan PPJK. Menurut Direktur Teknis Kepabeanan, Teguh Indrayana, dalam peraturan yang disempurnakan tersebut, pemberian nomor pokok diberikan kepada PPJK yang telah melakukan registrasi melalui website DJBC. “Jadi kunci untuk mendapatkan nomor pokok tersebut adalah dengan cara registrasi secara elektronik melalui website kita (www.beacukai.go.id), jadi kalau tidak registrasi maka PPJK tidak dapat nomor pokok dan tidak dapat melakukan akses kepabeanan,” tegasnya kembali. Registrasi PPJK lanjut Teguh merupakan upaya untuk menertibkan PPJK yang jumlahnya semakin banyak, yang tidak jarang ada PPJK yang menyalahgunakan usahanya untuk melakukan kegiatan illegal terutama dibidang kepabeanan,”Kalau dikatakan penertiban bisa dikatakan seperti itu, karena salah satu tujuannya mengarah kesana (penertiban.red),”terang Teguh. Kepala Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok Agung Kuswandono mengatakan waktu 90 hari bagi PPJK untuk melakukan registrasi secara on-line itu merupakan waktu yang cukup dimana jauh-jauh hari sebelumnya sudah ada pemberitahuan mengenai registrasi tersebut,”90 hari waktu yang cukup untuk registrasi, dan registrasi ini bisa juga WBC/ATS dikatakan sebagai upaya untuk mencegah munculnya PPJK yang mempunyai niat tidak baik dalam menjalankan usahanya,” terang Agung. Salah satu PPJK yang WBC temui untuk dimintai tanggapan pada 6Agustus 2007 yaitu PT. Bina Satria Sejati melalui Direktur Utamanya Darjono ES mengatakan, pihaknya belum melakukan registrasi tersebut karena masih ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi, dan menurutnya waktu yang diperlukan selama 90 hari untuk DARJONO ES. Prinsipnya setuju dengan melakukan registrasi ter- adanya jaminan.
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

sebut sudah cukup, namun menurutnya itu dikembalikan lagi pada kemampuan suatu PPJK. Selain registrasi, peraturan tersebut juga menetapkan jumlah jaminan yang harus diserahkan PPJK kepada Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai (KPPBC) untuk dapat menjalankan usahanya. Teguh menyebut angkaangka yang harus dipenuhi PPJK sebesar Rp. 250 juta pada KPPBC tipe A1, Rp150 juta pada KPPBC tipe A2, Rp.100 juta pada KPPBC TEGUH INDRAYANA. P Peraturan dibuat dan Tipe A3, Rp.50 juta Pada KPPBC Tipe A4 dan berlaku untuk semua pihak Rp.25 juta pada KPPBC tipe lainnya yang bentuknya dapat berupa uang tunai, jaminan bank dan atau jaminan dari perusahaan asuransi. Penerapan jaminan yang jumlahnya bervariasi tersebut menurut Teguh, lebih mengarah pada tanggung jawab PPJK terhadap bea masuk sebagaimana yang diatur dalam pasal 31 UU. No.17/2006, dimana PPJK yang mendapat kuasa sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 ayat 2 bertanggung jawab terhadap Bea Masuk yang terutang dalam hal importir tidak ditemukan Lebih lanjut ia mengatakan, besarnya jaminan tersebut ditetapkan dengan memperhatikan jumlah kegiatan dan tingkat risiko PPJK. Hal tersebut tercermin dari KPPBC dimana PPJK melakukan kegiatan sehingga penetapan jaminan berbeda untuk setiap tipe KPPBC.”Tidak fair apabila PPJK yang melakukan kegiatan di KPPBC tipe A4 disamakan dengan PPJK yang melakukan kegiatan di KPPBC tipe A1,”kata Teguh. Jaminan tersebut harus dipenuhi PPJK walaupun PPJK tersebut tidak memiliki kemampuan untuk memberikan jaminan kepada KPPBC. “Kedepannya DJBC bersama dengan Gabungan Forwarder Ekspor Impor Indonesia (Gafeksi) akan bertemu untuk menghasilkan suatu kesepakatan mengenai masalah jaminan ini bagi PPJK yang bentuknya Usaha Kecil Menengah (UKM), bentuk kesepakatan itu seperti apa kita belum tahu,”ujarnya kembali. Dengan adanya aturan yang mengatur mengenai jaminan tersebut, maka Gafeksi tidak termasuk sebagai pihak yang diijinkan untuk mempertaruhkan jaminan tertulis seperti yang diatur pada aturan sebelumnya. Mengenai jumlah jaminan yang ditetapkan, Darjono berpendapat, hal itu tidak mencerminkan rasa keadilan di kalangan PPJK. Darjono pada prinsipnya setuju dengan adanya jaminan yang harus diberikan PPJK kepada KPPBC, namun jumlahnya setidaknya disesuaikan dengan banyak tidaknya kegiatan yang dilakukan oleh suatu PPJK, “Jadi jaminan bagi PPJK yang kegiatannya banyak tidak sama dengan PPJK yang kegiatannya sedikit. Kalau dalam aturan baru ini dipatok berdasarkan tipe kantor, baik PPJK yang kegiatannya banyak dan yang sedikit, jaminannya sama, ini yang menurut saya kurang adil,”terangnya. Selanjutnya Darjono juga menyoroti mengenai tanggung

56

DOK. WBC

jawab PPJK jika terjadi suatu kasus dimana importir tidak ditemukan. Ia mempertanyakan mengenai definisi tidak ditemukan. Sejauh ini lanjutnya, tidak ada definisi jelas mengenai waktu diperlukan untuk mengatakan suatu importir tidak ditemukan “Apakah selama satu bulan atau satu tahun atau berapa saja-lah importinya tidak ketemu sudah masuk kategori tidak ditemukan, itu tidak jelas. Sebelumnya importir sudah di data terlebih dahulu oleh Bea Cukai, mulai dari ninjau lapangan sampai pemeriksaan pembukuan. Berarti kan importinya ada, kalau sampai gak ada atau tidak ditemukan berarti bukan PPJK saja yang bertanggung jawab tapi juga Bea Cukai juga,”terangnya.

HAL BARU
Ada hal-hal baru yang tercantum dalam peraturan tersebut dimana kewajiban PPJK untuk melakukan registrasi merupakan hal yang diamanatkan dalam pasal 6A Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (UU No.17/2006) tentang Perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, termasuk persyaratan untuk registrasi yang mencakup existence, WEBSITE BEA CUKAI. S Sarana bagi PPJK untuk melakukan registrasi PPJK melalui website responsibility, competence, dan auditable. Selain itu, nomor pokok PPJK berlaku diseluruh Kantor Pelauntuk semua pihak,termasuk didalamnya mantan pegawai DJBC yanan dan Pengawasan (KPPBC) diseluruh Indonesia. Hal ini yang bekerja sebagai ahli kepabeanan di suatu PPJK. Jadi berbeda dengan peraturan sebelumnya dimana PPJK harus memmantan pegawai yang bekerja di PPJK sebagai ahli pabean harus memiliki sertifikat ahli kepabeanan yang diterbitkan oleh BBPK. punyai nomor pokok PPJK sendiri-sendiri untuk setiap Kantor Sebagai informasi, selama ini BPPK juga melakukan diklat terhaBea Cukai tempat PPJK melakukan kegiatan. dap para mantan pegawai Bea Cukai, dan diterbitkan sertifikat Hal baru lainnya adalah keberadaan PPJK yang menjadi ahli kepabeanan,”tegas Teguh. salah satu unsur yang mendapatkan pelayanan dan pengawasan Hal ini pun juga mendapat tanggapan dari Darjono. Menurutkepabeanan, seperti kewajiban PPJK yang lebih detail, kewajiban nya waktu yang diperlukan untuk mengikuti kursus kepabeanan menggunakan perangkat dan modul sistem Pertukaran Data yang diselenggarakan oleh BBPK itu sangat singkat, sehingga ia Elektronik (PDE) untuk pembuatan dan penyerahan merasa belum bisa dijadikan bahwa seseorang yang telah mengipemberitahuan pabean,serta pengenaan sanksi kepada PPJK kuti kursus kepabeanan itu dikatakan ahli, setidaknya waktu yang secara bertahap mulai dari blokir dan pencabutan diperlukan cukup lama agar bisa dikatakan sebagai ahli pabean Teguh memaparkan, ada beberapa keuntungan yang diperSementara itu sosialisasi terhadap Peraturan Menteri Keuaoleh dengan adanya peraturan tersebut, seperti adanya database ngan Nomor 65/PMK.04/2007 tentang Pengusaha Pengurusan seluruh PPJK, dimana didalamnya terdapat profil masing-masing Jasa Kepabeanan dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan CuPPJK. kai Nomor.P-22/BC/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan pemberiDengan adanya profil PPJK tersebut, maka dapat diterapkan an Nomor Pokok dan Pengawasan Pengusaha Pengurusan Jasa manajemen risiko yang lebih komprehensif untuk pelayanan dan Kepabeanan telah dilakukan di KP DJBC Jakarta pada 12 Juli pengawasan kepabeanan atas barang impor dan barang ekspor, 2007 yang diikuti di beberapa daerah lainnya seperti Medan, yang pada akhirnya akan memperlancar arus barang impor mauSurabaya dengan para pembicara dari pusat maupun daerah pun ekspor. Untuk itu lanjut Teguh pihaknya sudah mempersiapyang telah mengikuti Training of Trainers yang diikuti oleh PPJK kan segala hal termasuk didalamnya aplikasi, sarana maupun menjelang diberlakukannya pada 20 Juli 2007. zap Sumber Daya Manusia (SDM) guna mendukung aturan yang merupakan penyempurnaan dari aturan terdahulu. WBC/ATS Hal lain dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.04/2007 dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor.P-22/BC/2007, adalah keberadaan seorang ahli pabean di PPJK dimana keberadaannya hanya bisa berada di satu PPJK dan tidak dapat merangkap di suatu PPJK lain, dengan tujuan agar tanggung jawab ahli pabean itu menjadi jelas. Seorang ahli pabean di suatu PPJK harus memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan, sedangkan mekanisme penerbitan sertifikat ahli kepabeanan dan diklat kepabeanan kewenangannya diatur oleh BPPK. Sertifikat tersebut menurut Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana, juga harus dimiliki oleh para mantan pegawai Bea Cukai yang bekerja sebagai ahli pabean pada suatu PPJK, walaupun mantan pegawai tersebut pernah menjabat suatu posisi tertentu di DJBC. SOSIALISASI. Salah satu acara sosialisasi yang dilakukan di KP-DJBC dengan mengundang “Pada prinsipnya, peraturan dibuat berlaku para pengusaha PPJK.
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

57

KOLOM

Manfaat

KITE
Studi Empiris KITE Jawa Timur

Oleh : Listrijono, S.Hut., M.A

Saat ini banyak dihembuskan berbagai pihak bahwa fasilitas KITE banyak merugikan negara...

“ ”

S

eperti diketahui bahwa salah satu misi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah industrial assistance dimana didalamnya mengandung tujuan agar industri dalam negeri dapat meningkatkan daya saing dengan cara pemberian fasilitas kemudahan berupa pembebasan dan/atau keringanan pungutan negara atas barang impor dengan tujuan untuk diekspor. Misi tersebut juga telah tertuang dalam pasal-pasal Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan. Di antara fasilitas yang sekarang ini dimanfaatkan sebagian perusahaan adalah fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dan Kawasan Berikat (KB). Fasilitas KITE sendiri hanya disebutkan secara singkat pada bagian ayat (1) huruf k Pasal 26 yang berbunyi, “Pembebasan atau keringanan bea masuk dapat diberikan atas impor barang dan bahan untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain dengan tujuan untuk diekspor. Sedangkan fasilitas KB diuraikan lebih luas dalam Pasal 44 s.d. 47.

perusahaan dalam alokasi cash flow dimana kebanyakan fasilitas pembebasan KITE dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan yang berskala menengah ke bawah yang memiliki modal yang terbatas.

MITOS KITE
Setelah berjalan 3 (tiga) tahun ini, fasilitas KITE sebenarnya belum banyak dipahami oleh pegawai bea cukai sendiri dikarenakan ada anggapan bahwa fasilitas ini bukan produk asli dari aturan bea cukai sehingga terkesan dianaktirikan. Juga di lapangan masih banyak pegawai yang awam mengenai apa fasilitas KITE tersebut sehingga pada waktu pengajuan BC 2.4 di KPBC sering terjadi kesalahan dan hal ini baru diketahui apabila BC 2.4 tersebut dipertanggungjawabkan di Tim KITE. Saat ini banyak dihembuskan berbagai pihak bahwa fasilitas KITE banyak merugikan negara sehingga muncul mitos bahwa fasilitas tersebut dijadikan sarang penyelundup dan sebaiknya dihapuskan. Sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya benar apabila kita menelaah mengenai fungsi DJBC sebagai industrial assistance. Fasilitas ini pada dasarnya ada di banyak negara guna merangsang industri dalam negeri untuk melakukan ekspor sebanyak-banyaknya dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar internasional. Ada perumpamaan yang sering kita dengar bahwa mengapa untuk membunuh tikus yang sering memakan padi di lumbung padi harus membakar lumbung padinya? Hal ini sama dengan fasilitas KITE, hanya beberapa perusahaan yang melanggar fasilitas KITE kemudian kita mengambil kesimpulan bahwa fasilitas ini harus dihapuskan. Apakah kita sudah memikirkan akibat hal ini? Berapa perusahaan yang akan kembang kempis? Berapa buruh yang di PHK? Bagaimana dengan kinerja ekspor kita?. Pertanyaanpertanyaan ini yang memang harus dipikirkan lebih mendalam sebelum mengambil tindakan tersebut. Secara gamblang sebenarnya dapat dilihat bahwa selama ini perusahaan yang memanfaatkan fasilitas KITE berjumlah ribuan dimana pengguna terbanyak ada di KITE Jakarta. Ribuan perusahaan tersebut sudah belasan

FASILITAS KITE

Dalam tulisan ini akan difokuskan kepada fasilitas KITE yang dulunya kerap disebut fasilitas Bapeksta Keuangan dan mulai tahun 2004 diubah namanya menjadi fasilitas KITE dengan mengacu kepada Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 580/KMK.04/2003 tanggal 31 Desember 2003. Secara umum fasilitas KITE terbagi menjadi 2 (dua) yaitu fasilitas Pembebasan KITE dan fasilitas Pengembalian KITE. Yang membedakan keduanya hanya pada waktu pengimporan barang dan atau bahan baku dimana pada fasilitas Pembebasan KITE barang dan atau bahan baku yang diimpor memperoleh fasilitas Pembebasan BM dan PPN dengan cara mempertaruhkan jaminan. Sedangkan fasilitas Pengembalian KITE, barang diimpor dilakukan pembayaran BM dan PPN terlebih dahulu baru mengajukan pengembalian. Juga pada waktu ekspor, untuk fasilitas Pembebasan KITE tidak harus diperiksa fisik namun untuk fasilitas Pengembalian KITE wajib dilakukan pemeriksaan fisik. Pada kenyataannya fasilitas pembebasan KITE-lah yang paling banyak dimanfaatkan oleh perusahaan. Hal ini memang didasari pada kemampuan masing-masing 58
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Jumlah pengguna fasilitas KITE di Jawa Timur ada 336 perusahaan

“ ”

MANFAAT KITE

tahun merasakan benar manfaat dari fasilitas ini dan banyak perusahaan yang telah menjadi kebanggaan nasional maupun lokal. Sebagai contoh di Jawa Timur, perusahaan PT Maspion yang bergerak di bidang produksi alatalat rumah tangga telah menjadi ikon bagi propinsi Jawa Timur. Kemudian PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan salah satu produsen alat tulis terbesar di Indonesia. Sedangkan perusahaan-perusahaan lain yang telah memiliki brand image di masyarakat seperti PT Ajinomoto Indonesia, PT Phillip Indonesia, PT Miwon Indonesia, PT PAL dan lain-lain yang kesemuanya telah menikmati fasilitas KITE. Terus yang menjadi pertanyaan bagaimana menghitung secara kuantitatif manfaat KITE dari sisi pemerintah sebagai pemberi fasilitas?. Hal ini merupakan tantangan bagi DJBC untuk menjawab kepada masyarakat bahwa fasilitas KITE sangat bermanfaat bagi negara. Memang kadang-kadang ironis bahwa DJBC yang telah memberi fasilitas tapi tidak tahu seberapa besar manfaat dari fasilitas tersebut. Untuk menjawab tantangan tersebut penulis mencoba melakukan penelitian kecil atas manfaat KITE di Jawa Timur dengan menggunakan data-data kuantitatif yang dapat dipertanggungjawabkan. Data-data tersebut dikumpulkan dari laporan-laporan ekspor semua perusahaan pemegang fasilitas KITE di Jawa Timur dari Pebruari 2004 s.d. Mei 2006. Dalam ketentuan KITE, laporan ekspor disebut laporan BCL.KT 01 dan dilaporkan oleh perusahaan sebagai pertanggungjawaban atas barang dan atau bahan yang diimpor menggunakan fasilitas pembebasan KITE yang telah diolah, dirakit atau dipasang pada barang lain kemudian diekspor. Seperti diketahui jumlah pengguna fasilitas KITE di Jawa Timur ada 336 perusahaan dimana 312 perusahaan menggunakan fasilitas pembebasan KITE. Kebanyakan pengguna fasilitas KITE bergerak di bidang/ industri furniture, TPT, sepatu, produk kertas, produk dari logam, produk dari plastik, alat rumah tangga dan produk ikan/ udang. Sampel data diambil dari 200 perusahaan (2004), 214 perusahaan (2005)

dan 155 perusahaan (2006) dimana jumlah laporan terdiri dari 721 register (2004), 1.022 register (2005) dan 421 register (2006). Jadi jumlah laporan untuk setiap perusahaan bergantung berapa banyak jumlah impor dan ekspor selama setahun dan bagaimana perusahaan mengatur jumlah PIB dan PEB yang dimasukkan pada setiap register. Laporan ekspor berisi konversi penggunaan barang dan atau bahan baku impor untuk menjadi bahan jadi yang telah diekspor. Laporan tersebut telah dilakukan secara komputasi dengan menggunakan modul KITE yang dicocokkan dengan dokumen imporekspornya. Metode yang digunakan untuk melakukan analisa manfaat KITE menggunakan konsep “nilai tambah” (value added method) dimana dihitung dari nilai ekspor dikurangi nilai impor pada setiap register untuk masing-masing perusahaan. Metode ini juga dapat mencerminkan berapa nilai kandungan barang dan atau bahan baku lokal yang melekat pada barang jadi yang telah diekspor dan berapa peningkatan nilai kualitas barang dari bahan baku ke barang jadi.

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

59

KOLOM
HASIL STUDI
Dengan metode di atas dan telah dilakukan perhitungan sederhana, manfaat KITE di Jawa Timur dapat digambarkan sebagai berikut : (Lihat Tabel 1) Menggunakan hasil di atas dapat digambarkan bahwa nilai tambah yang didapat oleh pemerintah khususnya di Jawa Timur atas fasilitas Pembebasan KITE yang digunakan perusahaan sangatlah besar dari segi nilai rupiah dan setiap tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Hal tersebut juga menggambarkan bahwa nilai kandungan barang dan atau bahan baku lokal yang melekat pada barang jadi yang telah diekspor empat kali lipat dari nilai kandungan barang dan atau bahan baku impor yang melekat pada barang jadi. Hal ini juga mencerminkan peningkatan nilai kualitas barang dan atau bahan baku lokal yang melekat pada barang jadi yang berimplikasi pada peningkatan daya saing mutu produk ekspor di pasar internasional. (Tabel 2) Gambaran di atas mencerminkan bahwa nilai tambah tertinggi dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar yang juga merupakan ikon dan memiliki brand image yang dikenal oleh masyarakat umum. Hal ini tidaklah mengherankan karena memang aktivitas impor-ekspor mereka sangatlah tinggi dan memiliki mesin-mesin yang berkapasitas besar sehingga produk bahan jadi juga banyak serta diversifikasi produk yang beragam. Dilihat dari sisi perusahaan, setiap tahunnya PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia menyumbang hampir separo nilai tambah dari total. Dan apabila melihat komposisi bahan baku yang diimpor oleh PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia bukan merupakan bahan baku utama karena bahan baku utama berupa pulp disuplai oleh perusahaanperusahaan lain yang berafiliasi dengan PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia.

Oleh : Togap M. Sihite

Inti pengawasannya adalah boleh, tidak boleh, atau boleh dengan syarat

Fasilitas KITE sebenarnya belum banyak dipahami oleh pegawai bea cukai sendiri

“ ”

Penerimaan
Dari Pelayanan Pemeriksaan Kapal dan Perlindungan Lingkungan
danya hak pejabat Bea dan Cukai untuk memeriksa kapal yang lego jangkar di perairan daerah pabean ternyata mengandung aspek berbeda selain menjalankan peraturan dalam Kep-07/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Dibidang Impor. Dalam pasal tiga disebutkan bahwa, “Pejabat dapat melakukan pemeriksaan atas sarana pengangkut yang datang dari luar daerah pabean”. Perhatian utama atas kutipan ayat diatas bukanlah kata dapat ataupun kata-kata pemeriksaan atas sarana pengangkut. Arti ayat diatas lebih pada penekanan digunakan atau tidak digunakan wewenang pemeriksaan. Sebagai tambahan pertimbangan perlunya pemeriksaan sarana pengangkut (SP, dalam hal ini kapal laut) selain analisa faktor risiko dan profil SP bahwa ada aspek lain yang mungkin terjadi, yaitu aspek peluang penerimaan dan peluang perlindungan lingkungan hidup yang akan mendorong pejabat menggunakan wewenang ini. Pejabat yang memeriksa SP mengikuti aturan internasional seperti rambu-rambu bendera Karantina dan prosedur pemeriksaan dokumen kargo (mendukung International Convention For The Safety of Life At Sea (SOLAS Convention) digabung dengan tatakrama yang mendukung pelayanan seperti pengetahuan tempattempat dan prasarana di pelabuhan. Selama berlangsung pelayanan pemeriksaan, sering timbul permohonan nahkoda kapal untuk menurunkan limbah yang dihasilkan kapal selama pelayaran. Nahkoda kapal dalam hal ini yang bertindak sebagai kuasa perusahaan pelayaran (Owner) mempunyai budget yang diperuntukkan bagi pengolahan limbah kapal. Budget ini hanya dapat digunakan apabila ada documenting

” Peluang

A

KESIMPULAN

Dari hasil studi di atas dapat diketahui bahwa manfaat yang dipetik oleh perusahaan atas fasilitas pembebasan KITE yang diberikan pemerintah melalui DJBC sangat besar. Dengan manfaat tersebut perusahaan setiap tahun dapat mengatur cash flow lebih optimal sehingga nilai tambah yang didapat digunakan untuk ekspansi perusahaan dan peningkatan kapasitas yang berimplikasi pada penambahan tenaga kerja. Secara regional, hal tersebut akan menghidupkan perekonomian dengan adanya penurunan jumlah pengangguran dan peningkatan pendapatan rakyat di sekitarnya. Secara ekonomi makro, nilai tambah yang tinggi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan daya saing produk ekspor Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional. Dalam jangka panjang diharapkan manfaat KITE dapat merangsang investorinvestor luar negeri untuk lebih banyak menanamkan modal di Indonesia dan akhirnya akan meningkatkan citra perekonomian nasional di mata dunia.
Penulis adalah mantan penanggung jawab Tim KITE Pembebasan Kanwil DJBC Jawa Timur I, Sekarang bertugas di KPBC Juanda sebagai Kasi Kepabeanan dan Cukai II

60

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

penggunaannya. Artinya ada prosedur yang pasti dan dokumen yang dapat digunakan bukti penggunaan dana. Permohonan nahkoda tersebut sangat dapat dipahami mengingat kepentingan kenyamanan pelayaran disamping mereka tentu memahami fungsi control dan revenue customs. Hal yang perlu diketahui pertama-tama tentunya adalah jenis limbah yang dihasilkan oleh sebuah kapal selama pelayaran. Dalam kaitannya dengan hal ini, didalam Text of The Basel Convention On Control Of Transboundary Movement Of Hazardous Wastes and Their Disposal, Switzerland, 22 Maret 1989 Article 1 Verse 4 disebutkan, “Wastes which derive from the normal operation of a ship, the discharge of which is covered by another international instrument, are excluded from the scope of this convention”. Artinya limbah yang berasal dari operasi normal sebuah kapal apabila diturunkan dari kapal untuk diolah/ diproses tidak tunduk kepada konvensi ini dan implikasi tidak memerlukan informasi-informasi yang harus disediakan didalam notifikasi-notifikasi perpindahan limbah antar Negara sebagai mana diatur dalam Kep. Memperindag No. 231/MPP/Kep/ 7/1997 tentang Tata Cara Impor Limbah. Pasal 1 ayat 4 diatas juga menyiratkan bahwa limbah hasil operasi normal sebuah kapal kargo konvensional bukan merupakan Hazardous Wastes. Ditengarai berdasarkan pengalaman di lapangan limbah yang dihasilkan dari suatu operasi normal sebuah kapal adalah used oil dari mesin kapal, Sludge dari rembesan oli atau solar, sampah-sampah dapur, tali-temali, kain-kain lap mesin (rag), dll. Tentunya akan lebih menarik apabila dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang jenis-jenis limbah ini. Secara awam limbah-limbah tersebut diatas bukanlah limbah yang memerlukan penanganan khusus atau Berbahaya dan Beracun (B3, Impornya telah dilarang melalui Kep. Memperindag No. 520/MPP/Kep/2003. Penanganan yang digunakan mungkin berkisar pada Recovery, Recycling, Direct re-use, sebagaimana sebagian cara-cara penanganan yang disebutkan dalam Basel Convention Annex IV Chapter B tentang Disposal Operation. Kembali kepada Basel Convention Article 1 ayat 4 pada kalimat “… another international instrument…” mengacu kepada limbah kapal. Menurut kami yang dimaksud dengan another international instrument itu adalah MARPOL Convention, 1973. Yaitu konvensi internasional untuk pencegahan polusi dari kapal laut. Dimana dalam Annex I disebutkan bahwa sebagai langkah preventive bagi pencemaran oli bekas, maka oli tersebut dapat diturunkan/discharging sepanjang memenuhi persyaratan-persyaratan, antara lain adanya fasilitas penampung, adanya alat discharging, adanya netralisasi/pengolahan standard dan yang tidak kalah penting adanya documenting dari instansi terkait seperti Kementrian Lingkungan Hidup dan Customs. Konvensi Marpol menyebutkan possibility bagi nahkoda menurunkan limbah operasi normal sebuah kapal demi kenyamanan bahkan mungkin keselamatan perjalanan kapal. Aturan ini juga sejalan dengan larangan membuang limbah ke laut. Secara psikologis apabila

Selama berlangsung pelayanan pemeriksaan, sering timbul permohonan nahkoda kapal untuk menurunkan limbah yang dihasilkan kapal selama pelayaran

keterpaksaan untuk menurunkan limbah ini menemui jalan buntu maka tidak tertutup kemungkinan nahkoda terpaksa membuang limbah ke laut. Jika pembuangan ini terjadi tentu akan mencemari lingkungan dan merugikan. Dilain sisi kemampuan untuk mengawasi lingkungan laut masih rendah. Relatif masih sedikit orang yang betulbetul peduli terhadap lingkungan. Prasarana untuk mengawasi masih kurang. Laboratorium-laboratorium lingkungan hidup pada lokasi-lokasi strategis masih kurang. Padahal hasil uji ini perlu sebagai bukti otentik atas suatu kasus/peristiwa dan menciptakan percaya diri melakukan tindakan hukum menyangkut lingkungan. Sebenarnya ada juga berbagai jenis limbah yang boleh diimpor sepanjang memenuhi aturan. Dalam Kep. Menperindag Nomor: 231/MPP/Kep/7/1997 lampiran I, II dan III. Sepanjang suatu jenis limbah masih dapat ditangani dengan cara-cara yang diatur dalam Annex IV B Basel Convention dapat diimpor. Kementrian Lingkungan Hdiup menitipkan peraturanperaturan yang berkaitan pada lingkungan hidup kepada Bea Cukai. Aturan ini berupa pengawasan ekspor/impor benda-benda yang berpengaruh pada lingkungan. Inti pengawasannya adalah boleh, tidak boleh, atau boleh dengan syarat. Untuk memutuskan boleh, tidak boleh, boleh dengan syarat memang bukan wewenang Bea dan Cukai tetapi hal ini menyangkut barang yang keluar/masuk daerah pabean. Jadi boleh, atau boleh dengan syarat tetap memerlukan dokumen kepabeanan sekalipun nilai pabeannya nol, jadi ada barang turun selain yang disebut dalam manifest. Dan untuk yang tidak boleh tanggung jawab customs hanya memastikan barang itu tidak masuk DPIL. Manfaat ekonomis dari pelayanan menurunkan limbah kapal adalah adanya kemungkinan penerimaan Negara dan adanya pekerjaan bagi sektor swasta. Sebab ada dana jasa yang disediakan oleh pemilik kapal lewat nahkoda untuk limbah kapal pada operasi normal. Dimana untuk menyimpan limbah ini, minimal ada biaya berupa freight yang dibebankan pada pembeli kargo kapal oleh pemilik.

KESIMPULAN :

1. Berdasarkan Basel Convention dan Marpol Convention terdapat kemungkinan limbah non-B3 yang berasal dari operasi normal sebuah kapal laut diturunkan sepanjang conform dengan national law. Jadi aspek-aspek dan imbasimbas yang mungkin terjadi sudah terprediksikan. 2. Adanya dana biaya freight yang disiapkan owner untuk setiap limbah yang berasal dari operasi sebuah kapal. 3. Adanya potensi penerimaan negara dan pekerjaan swasta atas pelayanan penurunan barang ini, jadi perlu dibuat dokumennya sebagai alat pengawasan. 4. Adanya kemungkinan inverse factor apabila permohonan penurunan limbah tidak dilayani yaitu dibuang kelaut. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi usahausaha kita fungsi customs to control, to facilitate and to collect lewat kata kunci to serve.
Penulis adalah Pelaksana pada KPBC Merak
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

61

OPINI

Reformasi

Oleh : Abdul Rachman

Keberhasilan reformasi sangat ditentukan oleh dukungan SDM

“ ”

Bea Cukai
S
udah lama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) melakukan reformasi birokrasi walaupun mungkin hanya secara parsial dan tidak dipublikasikan sebagai reformasi birokrasi. Reformasi yang dilakukan selama ini antara lain yang dikenal sebagai Customs Fast Release System (CFRS) di tahun 1990, bahkan sebelum itu DJBC direformasi oleh pemerintah melalui INPRES IV pada tahun 1985 yang mencabut sebagian tugas dan wewenamg DJBC. Reformasi tata kerja berikutnya yaitu penerapan Pertukaran Data Elektronik (PDE), pelayanan secara professional oleh Pejabat Fungsional (PFPD dan PFPB), kemudian beberapa kali dilakukan simplifikasi prosedur yang diikuti perubahan struktur organisasi, terakhir dengan pembentukan Kantor Pelayanan Utama (KPU). Itu adalah sebagian dari reformasi birokrasi yang telah dilaksanakan, mungkin yang belum memadai adalah perbaikan gaji dan tunjangan pegawai, tetapi itupun selama ini juga dilakukan dan saat ini konon telah dimulai diterapkan dalam jumlah yang memadai pada KPU. Apakah pembentukan KPU dan pemberian tunjangan yang memadai ini yang dianggap sebagai awal reformasi birokrasi di DJBC ? Sebelumnya tidak dianggap sebagai awal dari reformasi birokrasi, barangkali karena dianggap belum berhasil mencapai target yang diharapkan sehingga reformasi kali ini haruslah mencapai hasil yang diharapkan. Fungsi pelayanan dan pengawasan sudah lama dipisahkan walaupun tidak secara tegas dengan kantor terpisah namun di lapangan pelaksanaannya hampir berhimpitan, contohnya antara lain pemeriksaan fisik barang oleh pejabat fungsional selalu meminta persetujuan atau diawasi oleh pejabat pengawasan (P2) yang belum fungsional. Pelaksanaan tugas yang berhimpit ini juga terjadi pada pelayanan penumpang internasional. Contoh ini adalah salah satu tata kerja yang tidak efisien dan bahkan kadang-kadang tidak efektif karena terpusatnya perhatian petugas pada satu obyek yang tidak berisiko tinggi sehingga kesempatan bagi high risk target untuk melepaskan diri dari pengamatan petugas. Pada tahun 1997 Direktur Jenderal Bea dan Cukai (waktu itu dijabat Bapak Soehardjo) mencoba mereformasi sistem kerja Bea dan Cukai melalui konsep pemisahan antara fungsi pelayanan dan pengawasan
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

yang dikenal dengan konsep Customs Services System (CSS) dan Customs Inteligence System (CIS). Konsep ini bahkan akan dibiayai oleh JICA, karena dalam pembahasannya terjadi pro dan kontra sehingga tidak jadi dilaksanakan. Konsep seperti ini dikembangkan oleh Administrasi Pabean Jepang dan beberapa negara lainnya. Reformasi birokrasi bertujuan memperbaiki kualitas‘pelayanan kepada publik dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi dan juga untuk menciptakan aparatur yang bersih, profesional dan bertanggung jawab (Kompas, Senin 9 Juli 2007). Bagaimana kualitas pelayanan yang baik menurut masyarakat pengguna jasa Bea Cukai ? Sekali lagi DJBC bahkan sudah sampai pada tahap menetapkan dan menerapkan Bench Mark Pelayanan Prima dan kode etik pegawai pada waktu Dirjen Bea dan Cukai dijabat oleh Bapak Dr. R.B. Permana Agung. Upaya membangun kepercayaan masyarakat, menciptakan aparatur yang bersih, profesional dan bertanggung jawab juga terus dilakukan. Namun usaha tersebut belum mencapai target yang diharapkan. Pertanyaan yang timbul, apa faktor penghambat sehingga target tersebut tidak tercapai ? Untuk memberikan pelayanan yang prima (efisien) sekaligus melaksanakan pengawasan yang efektif sangat tergantung pada peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dari tugas dan kewenangan suatu birokrasi. Dari peraturan perundang-undangan tersebut ditetapkan sistem dan prosedur (sisdur) pelayanan dan pengawasan. DJBC mempunyai fungsi pengawasan terhadap lalu lintas barang dan pelayanan dalam pemungutan bea masuk dan keluar (Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 17 tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 Tentang Kepabeanan –selanjutnya ditulis UU No. 17). Selanjutnya berdasarkan sisdur yang diinginkan dibuat struktur organisasi yang diperlukan untuk menetapkan tingkat-tingkat dan jenis jabatan, tugas dan wewenang serta jumlah dan kualifikasi sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan dengan memperhatikan beban kerja. Tidak hanya jumlah SDM yang perlu ditetapkan tetapi juga kualitasnya dan keahlian apa saja dari SDM yang diperlukan merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Faktor pendukung lainnya dari keberhasilan pelaksanaan tugas pelayanan dan pengawasan dari

62

Administrasi Pabean (DJBC) yang tidak kalah pentingnya adalah sarana dan fasilitas kerja. Terakhir jangan lupa bahwa pelaksanaan tugas dan wewenang tersebut harus dipertanggungjawabkan. Di negara maju kalau tidak sanggup melaksanakan tugas atau gagal, ada kultur mengundurkan diri dari jabatan.

REFORMASI TOTAL
Kelihatannya pimpinan Departemen Keuangan menginginkan suatu reformasi yang menyeluruh dan tuntas, tidak lagi secara parsial seperti selama ini dan dibuat dengan loncatan bukan merayap (terutama TKPKN bagi pegawai) seperti selama ini. Seperti dikatakan program utama reformasi Depkeu tahun 2007 meliputi penataan organisasi, perbaikan sistem tata laksana (business process), peningkatan manajemen SDM dan perbaikan struktur remunerasi (Kompas, Senin 9 Juli 2007). Reformasi itu harus jelas dan tuntas tidak setengah jalan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, reformasi adalah perubahan radikal yang ditujukan untuk memperbaiki atau menjadikan lebih baik keadaan politik, agama atau sosial dalam tatanan masyarakat atau negara. Dan birokrasi adalah; 1. sistem pemerintahan oleh sekelompok, masing-masing berhubungan dengan jenis pekerjaannya dibawah pengarahan seorang kepala. 2. para pejabat yang mengurus biro pemerintah. 3. pemusatan wewenang pada biro-biro administratif. 4. penekanan yang terlalu banyak pada pekerjaan rutin yang kaku, mengakibatkan keterlambatan dalam mengambil keputusan. Jika kita berpedoman pada pengertian ini maka yang perlu dilakukan perubahan radikal adalah sistem dan kelompok (pelayanan dan pengawasan), pejabatnya, wewenang pejabat dan implementasi sisdur yang kaku. Buntut dari pro-kontra konsep CSS dan CIS tersebut diatas menghasilkan dua sub direktorat (subdit) yang sering dipertanyakan banyak orang, yaitu subdit Manajemen Risiko dan subdit Intelijen. Beberapa pengamat kinerja DJBC bertanya kepada penulis bahwa apa beda kedua subdit tersebut. Dengan lantang penulis menjawab bahwa bedanya adalah subdit Manajemen Risiko tugasnya mengolah data sedangkan subdit Intelijen tugasnya mengolah informasi. Penanya dengan sedikit mengejek dan tertawa sinis karena dia tahu bahwa penulis sulit menjawab pertanyaan tersebut, harus diakui bahwa inti dari Manajemen Risiko dan Intelijen dalam lingkup Administrasi Pabean (Customs Environment) adalah sama. Sekedar contoh lain dari belum efisiennya birokrasi Bea Cukai seperti adanya pekerjaan atau tugas sejenis yang masih dipecah menjadi kelompok pekerjaan seperti pemisahaan pejabat Manifest dan pejabat Informasi pada tingkat front line (KPBC). Perubahan struktur organisasi DJBC memiliki sejarah panjang, sampai era ‘70-an Nomenklaturnya Kantor Besar DJBC (ada direktorat-direktorat - eselon II), Kantor Inspektorat (eselon II), Kantor Inspeksi (eselon III), Kantor Cabang Tingkat I (eselon IV) dan Tingkat II (eselon V), Kantor Bantu dan Pos. Pada periode ini masih nampak bahwa penggolongan kantor-kantor dan direktorat-direktorat sesuai dengan fungsi dan kepentingan untuk melaksanakan pengawasan dan pelayanan. Pada era ‘70 sampai tahun 1985 (4 April 1985) strukturnya menjadi Kantor Pusat DJBC (ada direktorat-direktorat dan BINTEK-BINTEK – eselon II), Kantor Wilayah (ada Koordinator - eselon II), Kantor Inspeksi Tipe A (eselon III), Kantor Inspeksi tipe B (eselon IV?) dan Pos. Pada

Kultur melakukan reorganisasi yang bukan untuk kepentingan penyederhanan prosedur atau perubahan sistem perlu dihentikan

“ ”

era ini penambahan beberapa jabatan bertitik berat pada perlunya jabatan untuk personil yang harus diberikan jabatan/eselon. Sampai pada tahun 1985 Kantor Wilayah DJBC tidak hanya melakukan pengawasan tetapi juga memberikan pelayanan dalam pemungutan Bea Masuk dan pelayanan ekspor. Pada era ’90-an karena beban kerja, Kantor Inspeksi Tg. Priok dinaikkan menjadi Tipe Khusus (eselon II). Kantor Wilayah sampai saat ini mempunyai fungsi pengawasan terhadap kantor-kantor di wilayah kerjanya. Sejak berlakunya Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan yang telah diubah dengan UU No 17 Nomenklatur struktur organisasi DJBC seperti saat ini disamping Kantor Wilayah ada tambahan KPU (eselon II) dan Pengkaji (eselon II). Kalau melihat tupoksinya KPU disamping pelayanan sebagaimana yang dilakukan Kantor Pelayanan lainnya juga melakukan sebagian tugas pelayanan yang selama ini dilaksanakan oleh KP-DJBC. Seperti yang diberitakan bahwa nantinya ada 9 KPU, pertanyaan yang timbul adalah siapa yang mengawasi kinerja KPU itu ? Kalau diawasi oleh KP-DJBC apa tidak terlalu luas tugas pengawasan oleh KP-DJBC yang seharusnya cukup sebagai pengambil kebijakan ? Pertanyaan lain yang timbul, apakah KPU juga mengawasi KPBC non utama. Kalau tugas itu dilakukan apa nomenklatur dari KPBC (Tipe A, B, C dan D) yang ada sekarang sehingga tidak rancu bagi orang awam. Konsep KPU harus bukan merupakan uji coba seperti Kantor Inspeksi Tipe Khusus Tg. Priok di masa lalu atau tidak mengalami nasib yang sama. Beban kerja KPU Tg. Priok dapat dipastikan bahwa akan terjadi overload sehingga masih diperlukan adanya Kantor Wilayah untuk melakukan pengawasan sebelum dan setelah persetujuan impor/ ekspor, sehingga KPU itu cukup melakukan fungsi pelayanan saja. Sebagai ilustrasi Kantor Kastam dan Eksais Diraja Malaysia di Port Klang (level eselon II di Indonesia) yang melakukan pelayanan seperti KPBC Tipe A Tg Priok (dulu) sedangkan tugas pengawasan dilakukan oleh Kantor Wilayah Pencegahan (eselon II) yang berkedudukan di Kuala Lumpur, jadi unit pelayanan dan pengawasan terpisah. Pembentukan KPU harus diikuti simplifikasi dan transparansi prosedur, kejelasan sistem dan prosedur yang tidak standar ganda dan harus dipertanggungjawabkan. Seperti dikemukakan di atas bahwa berdasarkan UU No 17, fungsi DJBC ada dua yaitu pelayanan dan pengawasan. Di bidang pelayanan DJBC menerapkan sistem self assessment (sedikit sekali pelayanan kepada publik dengan sistem official assessment) dan dibidang pengawasan DJBC menerapkan sistem sebelum dan sesudah persetujuan impor/ekspor. Pengawasan sebelum persetujuan impor atau ekspor dapat berbentuk operasi pencegahan (patroli), penegahan, pemeriksaan atau investigasi, sedangkan pengawasan setelah persetujuan impor atau ekspor diberikan oleh pejabat Bea dan Cukai adalah dengan melakukan verifikasi dokumen impor/ekspor atau audit. Dari sistem ini (sesuai UU No 17), akan lebih efisien dan efektif jika kantor pelayanan dipisah dengan kantor pengawasan dalam arti struktur organisasi (garis perintah). Beritanya masih akan ada KPU, satu hal yang juga perlu dipertimbangkan bahwa tidak semua wilayah sama karakteristiknya. Batam misalnya (konon akan menjadi wilayah dan pelabuhan bebas) tentu struktur organisasi
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

63

OPINI
KPU-nya berbeda dengan KPU Jakarta, begitu juga Soekarno-Hatta. KPBC Soekarno-Hatta melayani penumpang internasional yang harus dipisahkan dari pelayanan kargo impor dan ekspor, bahkan tidak hanya struktur oganisasinya tetapi juga sisdurnya. DJBC dalam memberikan pelayanan banyak menimbulkan tugas pengawasan sebagai akibat dari prinsip pelayanan sederhana dan memuaskan. Salah satu contoh pelayanan yang memerlukan pengawasan lebih lanjut adalah pelayanan terhadap importasi yang mendapat faslitas KITE. Sudah terungkap bahwa pada saat barang impor dikeluarkan dari gudang penerima fasilitas KITE tujuan gudang pelaksana pekerjaan kontraktor/sub kontraktor untuk dikerjakan menjadi barang finished product untuk diekspor, ternyata diselundupkan. Ini adalah akibat dari sisdur pengawasan yang tidak jelas dan tuntas. Importir memang telah diwajibkan untuk registrasi (SRP) tetapi penerima order pekerjaan (kontraktor/sub kontraktor) yang mengerjakan bahan baku menjadi finished product yang harus diekspor oleh importir penerima fasilitas KITE tidak diwajikan untuk registrasi di DJBC sehingga tidak pernah diverifikasi kebenaran dari keberadaannya apalagi kemampuannya melaksanaan pekerjaan. Walaupun sisdur fasilitas KITE sudah sangat sederhana namun masih ada keluhan sering terjadinya keterlambatan release barang sehingga importir menyampaikan keluhan terlambatnya realisasi ekspor. Akibatnya ada yang memplesetkan huruf “K” bukan kemudahan tapi “kesulitan”. Keluhan itu masih berlanjut bukan hanya sampai disitu yaitu kebijakan pelaksanaan audit masih tidak jelas menurut pengguna jasa DJBC. Keluhan lain dari pengguna jasa Bea Cukai adalah penerapan penetapan nilai pabean, mereka menganggap DJBC melaksanakan standar ganda dalam penetapan nilai pabean. Penyelesaian impor umum juga masih perlu direformasi dari segi sisdur. Sebagai contoh pelayanan dengan jalur merah, setelah ditetapkan sebagai jalur merah, PFPD memberikan instruksi pemeriksaan fisik dan setelah pemeriksaan fisik ditetapkan HS dan harganya dan seterusnya sampai pada persetujuan impor (SPPB). Pada prosedur ini terdapat jalur/pejabat yang dilalui dokumen sebanyak dua kali, yaitu PFPD. Dokumen yang telah diperiksa/diberi keputusan pemeriksaan fisik/jalur merah kemudian diteruskan kepada pemeriksa fisik barang untuk pemeriksaan jumlah dan jenis barang. Setelah pemeriksaan fisik selesai dokumen dikembalikan lagi ke PFPD untuk penetapan HS dan harga serta segala persyaratan impor yang diperlukan, barulah diberikan persetujuan impor. Prosedur ini tidak sederhana. Ini juga harus direformasi, sebaiknya setelah PFPD menetapkan harus diperiksa fisik maka dokumen tersebut harus diselesaikan oleh Pejabat berikutnya yang dilalui dokumen tersebut (PFPB), PFPB setelah melakukan pemeriksaan fisik selanjutnya menetapkan HS, harga dan lain-lain, kemudian menerbitkan SPPB. Tidak hanya itu dokumen impor yang dilayani dengan jalur merah berarti statusnya sebagai self assessment berubah menjadi official assessment karena baik HS, harga dan persyaratan lainnya sudah ditetapkan oleh Pejabat Bea dan Cukai walaupun kadang-kadang apa yang diberitahukan importir sama dengan pendapat PFPD. Pelayanan dengan jalur merah ini lebih lanjut masih perlu direformasi karena sering importir yang selamanya dilayani dengan jalur merah tetapi dokumen impornya masih diverifikasi dan kadang-kadang dikenai tambah bayar bahkan yang ekstrim masih diaudit. Boleh saja 64
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Bagaimana kualitas pelayanan yang baik menurut masyarakat pengguna jasa Bea Cukai ?

“ ”

diverifikasi atau diaudit tetapi akibat hukumnya harus dipertangungjawabkan oleh Pejabat Bea Cukai yang memberikan persetujuan impor karena telah dilakukan pemeriksaan dokumen dan fisik barang artinya status dokumen impornya sebagai official assessment. Ilustrasi lain dalam reformasi DJBC yaitu komponen data dalam manifest terutama akan diberlakukannya NSW, sebagian stakeholder yang akan menggunakan data manifest melalui NSW itu memerlukan data harga barang, mungkin perlu dipikirkan untuk mewajibkan importir memberitahukan harga barangnya kepada pengangkut dan pengangkut mencantumkannya dalam manifest. Teori manajemen risiko/intelijen mengajarkan kita untuk mengajak stakeholder untuk ikut bertanggung jawab agar tercapai tujuan pelayanan yang memuaskan dan pencegahan yang efektif, untuk itu ada baiknya barang-barang impor tujuan Kawasan Berikat, Gudang Berikat dan Gudang importir yang mendapat fasilitas KITE menjadi tanggung jawab pengangkut sampai barang-barang tersebut ditimbun di gudang yang bersangkutan. Pengawasannya juga lebih mudah yaitu unit pengawasan memberitahukan kepada importir berdasarkan manifest bahwa barang impornya akan dikirim oleh pengangkut ke alamat yang tercantum dalam manifest. Dengan cara ini manipulasi impor tujuan Kawasan Berikat yang beberapa kali terungkap dengan cara di bawa ke peredaran bebas dan tidak diakui oleh PDKB sebagai miliknya dapat dicegah. Sektor yang juga menentukan adalah sarana/fasilitas kerja dalam melakukan reformasi seperti kapal patroli, x-ray, kendaraan bermotor dan lain-lain untuk sementara cukup walaupun perlu ditambah dan di upgrade. Keberhasilan reformasi sangat ditentukan oleh dukungan SDM. DJBC sudah lama mengembangkan pejabat fungsional tetapi jalan ditempat istilah populernya karena sampai sekarang belum diterapkan pejabat fungsional verifikasi dokumen, audit, patroli, pencegahan, penyidikan, administrasi kantor dan lain-lain. Sudah saatnya DJBC mempertimbangkan untuk memisahkan atau mengelompokkan pegawai seperti, auditor, PFPD, PFPB, penyidik, verifikator, auditor, administrator dan tugas fungsional lainnya untuk penugasan dan pendidikannya, dalam arti mereka berkarya dibidang tersebut dalam jangka waktu yang panjang misalnya 10 sampai 15 tahun sehingga pola mutasinya juga jelas. Pada era ‘60-an pegawai DJBC ada dua kelompok yaitu pegawai teknis dengan lambang tongkat (seperti pada badge di lengan sebelah kiri baju dinas pegawai DJBC sekarang) dan pegawai administrasi dengan lambang bulu ayam. Karena beban kerja di lapangan semakin bertambah sehinga pegawai administasi tadi ditekniskan melalui diklat. Bukan hanya pola mutasinya jelas tetapi penghematan anggaran, sebagai ilustrasi pegawai administrasi terutama pegawai sekretariat kantor pusat, wilayah dan pelayanan tidak perlu dimutasi dalam masa yang cukup lama. Catatan yang juga perlu diperhatikan dalam reformasi adalah DJBC perlu melakukan kerjasama DJP dan Akuntan Publik dalam hal pelaksanaan audit. Harus diakui bahwa kedua stakeholder tersebut diperlukan oleh DJBC agar tercapai efisiensi, efektivitas dan kepuasan pengguna jasa mengingat besarnya jumlah klien auditor DJBC. Hal ini sekaligus mengeliminir keluhan dibidang pelaksanaan audit oleh DJBC yang kadang-kadang hasil auditnya diperotes/ keberatan atau banding dan dimenangkan oleh Auditee.

PERUBAHAN KULTUR
Paparan di atas barulah sebagian kecil dari hal-hal yang perlu direformasi, masih banyak hal yang perlu ditelaah kembali yang menyangkut struktur organisasi, sisdur dan terutama SDM. Kontroversi kultur atau tradisi susah dibahas disini, menarik untuk pecahkan pengakuan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Bapak Anwar Suprijadi bahwa tantangan terbesar (dalam reformasi?) adalah perubahan “tradisi”. Misalnya kebiasaan menerima amplop dan ngopeni berbagai instansi (Kompas, Rabu 11 Juli 2007 halaman 21). Kultur melakukan reorganisasi yang bukan untuk kepentingan penyederhanan prosedur atau perubahan sistem perlu dihentikan. Ingat kembali jabatan BINTEK di tingkat pusat dan KOORDINATOR di tingkat wilayah. Hal yang sama dengan pertanyaan apa bedanya menajemen risiko dan intelijen. Di bidang prosedur di era ’70-an SPPB (dulu dikenal dengan nama SJ 38) diterbitkan oleh Kepala Hanggar (setingkat eselon V), setelah kelompok tertentu naik eselon maka penerbitan SPPB menjadi wewenang Kasi Pabean (eselon IV). Kultur pemeriksaan fisik barang atas impor jalur merah selalu meminta pendapat P2 perlu dihentikan, alasannya petugas pemeriksa dan petugas P2 samasama PNS DJBC yang telah dididik dan dilatih dengan bekal pengetahuan yang sama, juga samasama telah disumpah pada saat diangkat menjadi PNS atau menduduki jabatan. Dan yang aneh kadang-kadang petugas pemeriksa barang lebih tinggi pangkatnya dan pendidikan teknisnya lebih memadai dari pada petugas P2. Kultur memperpanjang prosedur sehingga nampak berkuasa dan kultur penempatan pegawai sesuai selera hubungan baik bukan karena prestasi dan keahlian, berapa banyak pegawai yang penempatannya tidak sesuai pendidikan dan pelatihan yang telah diperolehnya juga harus direformasi. SDM yang dimiliki DJBC sudah memadai baik dari segi jumlah, kualitas dan kemampuan teknis di bidang kepabeanan dan cukai, tidak sulit untuk mereformasinya. Mereka perlu ditanya mereka ingin bekerja dimana dan bidang apa, sembari menilai jawaban/alasan pegawai tersebut juga perlu mempertimbangkan rekam jejaknya. Dari jawabannya itu dan past record-nya akan menentukan reformasi bagi dirinya. Selamat bekerja dengan struktur dan sisdur yang baru.

Oleh : Toupik Kurohman

Merubah manusia memiliki tingkat kerumitan ekstra dibanding merubah sistem

” Menjaga Komitmen Perubahan DJBC
S
eorang pegawai tampak sedang sibuk membenahi dokumendokumen PIB dan PEB yang belum diverifikasi, rutinitas yang dia jalani sehari-hari sebagai verifikator. Tampak seperti tidak ada sesuatu yang berbeda, dia belum mengetahui kalau bidang verifikasi sudah dilikuidasi dari struktur organisasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang baru. Ditempat lain ada pegawai yang sibuk browsing internet mengecek kabar terbaru tentang KPU, mencari kalaukalau ada undangan diklat ’pertanda’ yang ditunggu-tunggu oleh pegawai yang dinyatakan lulus tes KPU, eh yang ada malah pembukaan lowongan KPU bagi yang belum tes untuk menutupi kekurangan pegawai yang direkomendasikan dari hasil tes sebelumnya. Awal tahun 2007 ini arus perubahan di DJBC memang mulai tampak mencuat ke permukaan, setelah menjalani masa inkubasi yang panjang. Idealnya setiap pegawai menjadi bagian dari arus besar perubahan ini bukan menjadi penonton apalagi tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Derasnya tuntutan masyarakat yang menginginkan adanya perubahan yang signifikan atas institusi DJBC, mendorong pemerintah bersama DJBC melakukan upaya-upaya serius bekerja keras untuk menuntaskan program reformasi di tubuh DJBC. Reformasi yang kini sedang dijalankan DJBC antara lain dilakukan menyangkut tiga aspek yaitu, reorganisasi, reposisi dan revitalisasi. Reorganisasi dilakukan dengan menata dan menyempurnakan struktur kelembagaan yang ada. Reposisi dilakukan dengan pergantian kepemimpinan yang baru dalam berbagai level serta penyiapan SDM berkualitas. Revitalisasi dilakukan melalui tahap implementasi sistem pelayanan dan pengawasan modern. Ketiga hal ini menjadi sinyalemen kuat komitmen manajemen untuk melakukan percepatan reformasi di tubuh DJBC, untuk menjawab tuntuan masyarakat yang masih menaruh kepercayaan sekaligus harapan kepada DJBC untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Dinamika perubahan terhadap sistem yang sudah melembaga dengan kultur yang sudah terbentuk cukup lama memang bukan perkara gampang. Setidaknya ada tiga elemen dasar yang harus menjadi perhatian apabila DJBC ke depan ingin maju, yaitu instrumen, struktur dan kultur. Dari sisi
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

LOKOMOTIF PERUBAHAN

Penulis adalah Pensiunan Bea Cukai/ Staf Khusus Gubernur NAD

65

OPINI
instrumen saat ini eksistensi DJBC tidak perlu dikhawatirkan. UU No. 17 tahun 2006 yang mengamandemen UU No. 10 tahun 1995 masih memberikan kewenangan kepada DJBC untuk menjalankan kebijakan dibidang kepabeanan, dan amandemen UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai yang memberikan kewenangan menjalankan kebijakan dibidang cukai kepada DJBC. Kedua, yang berhubungan dengan struktur saat ini proses reorganisasi DJBC sudah rampung melalui Peraturan Presiden No. 95 tahun 2006 tentang kedudukan, tugas pokok, fungsi, susunan organisasi vertikal Depkeu dan Reorganisasi instansi pusat telah disahkan melalui Keputusan Menteri Keuangan No. 466/KMK.01/2006. Struktur DJBC disesuaikan dengan kebutuhan dan penyempurnaan prosedur pelayanan dan pengawasan. Ketiga, masalah yang paling sulit adalah perubahan kultur yang terus dituntut masyarakat. Selama ini yang menjadi keluhan masyarakat terhadap DJBC antara lain dianggap tidak mampu mengakomodasi kebutuhan steakholder, menimbulkan ekonomi biaya tinggi, waktu pelayanan yang lama, birokratis serta membiarkan ilegal trading. an. Persoalan sistem menjadi penting sebagai instrumen yang mengatur pergerakan mesin perubahan, mengantar perubahan sampai pada tujuannya. Sistem menjadi safeguard yang menjaga sub-subnya berjalan dalam koridor yang telah ditentukan.

MERIT SISTEM YANG ADIL DAN TRANSPARAN
Harus kita akui sistem yang ada selama ini belum dapat menciptakan kultur kerja yang produktif dan berkualitas, besarnya kewenangan yang ada tidak ditopang oleh merit sistem yang adil dan transparan sehingga dampak yang terjadi adalah munculnya berbagai tindak penyimpangan. Sepertinya merit sistem menjadi agenda yang perlu memperoleh prioritas dalam proyek perubahan untuk menstimulus perubahan kultur kerja DJBC. Ada empat komponen dari merit sistem tersebut yaitu performance apprasial, compensation, career, training. Pertama performance appraisal, harus diakui sebagian besar pegawai masih bekerja dibawah performa, mereka bekerja cendrung apa adanya dan sekedar melaksanakan kewajiban. Ploting sistem pemberdayaan pegawai belum efektif. Kemampuan dan potensi besar yang dimiliki para pegawai belum terpetakan dengan baik. Suasana kompetitif diantara pegawai untuk meningkatkan kinerja dan memperoleh prestasi kerja belum terbangun. Tidak adanya evaluasi yang objektif atas penilaian kinerja bedasarkan sejumlah key performance indicator. Sistem yang ada seperti penilaian DP3 sudah tidak efektif lagi dan sangat tidak mencerminkan kinerja yang ada. Kedua compensation, sistem renumerasi yang ada dinilai belum mencerminkan keadilan kalau dibandingkan antara kewenangan yang dimiliki DJBC sebagai revenue collector dan trade fasilitator dengan take home pay yang diperoleh. Sistem reward and punishment belum berjalan efektif. Hal ini ditengarai sebagai penyebab tumbuh suburnya korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Sudah saatnya sistem renumerasi ditata dengan berbasis pada kinerja, yang menyangkut aspek prestasi kerja, risiko kerja dan beban kerja. Ketiga career, sistem pengelolaan karir pegawai yang menyangkut aspek kenaikan pangkat, pola promosi, alur mutasi, kesempatan memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi (beasiswa) hendaknya dilakukan secara transparan dan accountable sehingga dapat menciptakan iklim kompetisi yang sehat diantara pegawai. Para pegawai satu sama lain akan bersaing secara fair untuk meningkatkan karir mereka dengan tolok ukur kinerja, prestasi dan kompetensi mereka. Kempat training, diklat masih menjadi barang istimewa bagi sebagian pegawai DJBC. Masih banyak pegawai yang belum mengikuti DTSD, padahal DTSD merupakan diklat yang sangat mendasar dan sudah selayaknya menjadi sesuatu yang wajib diikuti oleh setiap pegawai sebelum bekerja di DJBC. Usulan diselenggarakan diklatdiklat tertentu dilaksanakan di daerah, seperti DTSD untuk efektifitas dan efesiensi serta memungkinkan seluruh pegawai dapat memperoleh basic knowledge pelaksanaan tugas mereka di lapangan. Sistem diklat idealnya dirancang berbasis kompetensi untuk meningkatkan performance pegawai di lapangan untuk memenuhi kebutuhan DJBC untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Pembentukan Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai (KPU) pada dasarnya menjadi semacam prototype bagi

TRANSFORMASI KULTUR
Kultur atau budaya adalah sesuatu yang bersifat masif, berlaku dominan dalam sebuah komunitas. Agar kultur di DJBC dapat berubah menyesuaikan diri dengan semangat reformasi, mendukung agenda-agenda reformasi yang diusung, mengalami proses akselerasi, maka prasyaratnya arus besar perubahan tersebut seharusnya bisa menjadi gerakan kolektif dan menjadi kebutuhan bagi semua unsur di dalamnya. Sebuah perubahan dapat menjadi gerakan kolektif ketika, pertama, ide/gagasan dalam visi yang diusung proyek perubahan adalah nilai-nilai yang menjadi keyakinan serta memberikan garansi pemenuhan harapan atas kontribusi dan komitmen yang mereka berikan. Visi perubahan menjadi inspirasi para pegawai untuk mengimplementasikan misi-misi perubahan. Kedua, eksistensi dan aspirasi mereka diakomodasi, sebagian besar pegawai merasa menjadi bagian dari gerbong yang ditarik oleh lokomotif perubahan, ini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki (self belonging) terhadap proyek perubahan. Ketiga, arus perubahan tersebut dapat lancar mengalir mulai dari level pimpinan tertinggi kepada pimpinan di setiap level sampai kepada para pegawai di tingkat bawah, tidak ada missing. Perlu komitmen kuat dari para pimpinan (strong leader) yang tercermin dalam sikap, perilaku dan tindakan sehingga mereka menjadi rule model yang menghembuskan semangat dan nafas perubahan kepada para pegawai. Pimpinan menjadi opinion leader yang mampu mengkomunikasikan proyek perubahan sehingga ujungnya setiap pegawai dapat menyanyikan bersama lagu perubahan dengan suara merdu, tidak ada yang menyuarakan nada sumbang, bersikap skeptis, dan hanya berpangku tangan. Dalam teori perubahan ada dua komponen klasik yang menjadi fokus perubahan yakni masalah manusia dan sistem. Persoalan kultur adalah persoalan yang menyangkut diri manusia yang menjadi komponen yang menciptakan kultur sebuah komunitas. Merubah manusia memiliki tingkat kerumitan ekstra dibanding merubah sistem. Sosok manusia yang dibutuhkan DJBC untuk menjadi aktor-aktor perubahan adalah pegawai yang memenuhi kreteria integritas, kompetensi dan insiatif. Semakin banyak pegawai yang memenuhi kreteria ini maka proses perubahan kultur akan mengalami percepat66
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Reformasi yang kini sedang dijalankan DJBC antara lain dilakukan menyangkut tiga aspek yaitu, reorganisasi, reposisi dan revitalisasi

“ ”

LEVERAGE KPU

satu malam layaknya cerita-cerita legenda/mitos di negeri ini seperti SangKRITERIA Struktur Kebutuhan Ketersediaan kuriang yang mem(PERSYARATAN) Organisasi SDM SDM buat Gunung TangKPU kuban Perahu atau Bandung Bondowoso yang membuat Candi Prambanan. PENDAFTARAN Maka sangat tepat CALON PEJABAT/ kiranya perubahan PEGAWAI harus dilakukan secara bertahap, by process. Kita harus SELEKSI berhitung kesiapan (TES) dan kemampuan kita. Di sisi lain, bagi manajemen DJBC dapat menjadikan hasil tes ini sebagai PAKTA TRAINING bahan kajian untuk INTEGRITAS (RETRAINING) pemetaan pegawai sekaligus untuk menentukan kebijakan dibidang kepegawaian untuk semakin meningkatkan kualiEVALUASI tas pegawai ke depan. Mempersiapkan pegawai untuk mengahadapi proyekPENEMPATAN proyek perubahan berikutnya. Pembentukan KPU tahap Sumber : Program Kerja Bidang Peningkatan Integritas dan Sumber Daya Manusia, pertama di Batam Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Bidang Pelayanan Bea dan Cukai dan Tanjung PriokSukarno Hatta bukan akhir melainkan awal dari strategi jangDJBC untuk menampilkan model proyek perubahan. KPU ka panjang proyek perubahan DJBC. Komitmen yang kuat diharapkan menjadi model modernisasi kantor-kantor dari manajemen DJBC untuk melakukan reformasi perlu menDJBC dalam menjawab tantangan yang ada. KPU dianggap bisa me-leverage kinerja dan citra DJBC dalam dapat apresiasi dan dukungan dari seluruh pegawai. mensejajarkan diri dengan institusi kepabeanan lain di Sehingga disisi lain para pegawai pun dapat mengukur diri, dunia. KPU diharapkan mampu menjawab tantangan meningkatkan kompentensi, dan memberikan kontribusi opekternal dan tuntutan internal. Konsep KPU DJBC timal sebelum memperoleh kompensasi maksimal. digulirkan seiring dengan suksesnya modernisasi yang Kita pasti menginginkan semua kantor kalau bisa dijadilakukan saudara kandungnya DJP (Ditjen Pajak). dikan KPU, tapi kita juga pasti realistis mengatakan Untuk merealisasikan pembentukan KPU, Dirjen BC bahwa itu sesuatu yang tidak masuk akal dilakukan saat melalui Kep 66/BC/2006 tanggal 14 Juni 2006 ini. Ketika memiliki keyakinan kuat kita bisa melakukan membentuk Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Bidang perubahan untuk memperoleh harapan kita, mimpi kita, Pelayananan Bea dan Cukai yang antara lain bertugas masa depan kita, maka ini bisa menjadi energi luar biasa merumuskan kebijakan SDM DJBC untuk menyediakan untuk mempercepat bergeraknya mesin perubahan. SDM yang berintegritas, kompeten dan kapabel serta Kecuali bagi mereka yang merasa sudah nyaman dan dalam rangka pelaksanaan percepatan reformasi Bea menginginkan institusi ini terus terpuruk. dan Cukai. Untuk tahap pertama ini, jumlah saudara-saudara kita yang ditugaskan ke KPU saya yakin lebih sedikit dibanSKEMA PERENCANAAN SDM KPU ding jumlah pegawai secara keseluruhan. Mungkin ada Beberapa tahap dari skedul pembentukan KPU memang diantara rekan kerja kita yang harus berangkat terlebih terlambat dari rencana, salah satunya karena jumlah dahulu ke KPU, kita harus legawa, mendoakan dan pegawai yang dinyatakan layak untuk mengisi posisi men-support agar mereka menjalankan tugas dengan Client Coordinator, Pelaksana Pemerikasa, Auditor dan baik dan kinerja maksimal. Sehingga proyek ini bisa berPelaksana Administrasi dari para pegawai yang mengikuti hasil dan pada tahap-tahap berikutnya kita pun akan tes seleksi calon pegawai KPU masih belum mencukupi menyusul. kebutuhan, sehingga diadakan lagi proses seleksi untuk Ketidakberangkatan kita pada kesempatan pertama kipara pegawai yang belum mengikuti tes sebelumnya. ta tebus bukan dengan sesuatu negatif tetapi dengan Hasil tes psikologi yang dilakukan oleh lembaga indekesabaran dan keikhlasan sambil kita mempunyai cukup penden dari UI ini menjadi potret yang memberi gambarwaktu untuk semakin mengasah kemampuan kita dan beran umum kualitas personal para pegawai. Dari hasil tes benah mengukir prestasi di tempat tugas sekarang. Boleh seleksi ini hendaknya dapat dipahami oleh semua pihak jadi kantor kita belum KPU tetapi kinerjanya sudah kita bahwa proyek perubahan yang sedang diretas di instansi jadikan kinerja KPU bahkan lebih, waullohu a’lam yang kita cintai ini memerlukan proses dan kesiapan Penulis adalah Pelaksana pada Bidang Audit semua pihak. Perubahan tidak dapat dilakukan dalam Kantor Wilayah DJBC Sumatera Bagian Selatan Palembang
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

SKEMA PERENCANAAN SDM KPU

67

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

Tenaga Pengajar
Dengan hormat, Berkaitan dengan telah terbitnya Surat Edaran dari Menteri Keuangan RI No: SE-551/MK.1/2006 tanggal 7 Nopember 2006, apabila : 1. Dari instansi teknis terkait di daerah sering menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, misalnya dari Dinas Perindagkop yang dalam materi pelatihan itu juga memberikan materi tentang kepabeanan, peserta pelatihan biasanya pengusaha atau calon pengusaha yang menjadi binaan Disperindagkop tersebut. 2. Dari institusi pendidikan biasanya berusaha untuk memberikan bekal kepada anak didiknya diantaranya juga dari Bea dan Cukai dengan materi tentang Kepabeanan. Disamping itu juga ada beberapa institusi pendidikan misalnya Akademi Maritim yang memasukkan dalam kurikulumnya materi Kepabeanan. Pertanyaannya : a. Terhadap permintaan dari institusi-institusi seperti tersebut di atas sebagai pengajar, apakah juga harus ada ijin dari pejabat eselon I seperti yang dimaksud surat edaran tersebut ? Menurut pendapat kami hal tersebut tidak sama dengan kegiatan seminar, workshop maupun lokakarya. b. Mungkin bisa diinformasikan latar belakang keluarnya surat edaran tersebut. Demikian pertanyaan kami untuk mendapat perhatian dan jawaban seperlunya. PARIYO KPBC Yogyakarta kepada pegawai/pejabat Bea dan Cukai harus ada ijin dari pejabat eselon I. Bukankah hal tersebut tidak sama dengan kegiatan seminar, workshop atau lokakarya Jawab : Pada prinsipnya kepada semua pegawai/ pejabat Bea dan Cukai yang terlibat dalam kegiatan seminar/lokakarya/workshop atau kegiatan sejenis lainnya yang diselenggarakan oleh instansi lain, sesuai amanat SE-551/MK.1/2006, harus mendapat ijin tertulis dari Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Kegiatan pengajaran/pelatihan memang tidak disebut secara jelas, namun termasuk dalam salah satu kegiatan sejenis lainnya. Sehingga Apabila ada pegawai/pejabat DJBC yang melakukan tugas sebagai pembicara, pembahas, atau moderator dalam kegiatan seminar/lokakarya/workshop atau kegiatan lainnya di luar kedinasan, tanpa mendapat ijin tertulis dari Direktur Jenderal, akan dikenakan sanksi hukuman disiplin sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. 2) Tanya : Latar belakang keluarnya Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor: SE-551/MK.1/2006 tanggal 7 November 2006 Jawab : Latar belakang diterbitkannya SE-551/MK.1/ 2006 tanggal 7 November 2006 adalah dalam rangka menjaga ketertiban atas ajakan kerja sama dari pihak ketiga, baik yang mengatasnamakan individu, instansi, yayasan, koperasi, atau lembaga lainnya, kepada pejabat/pegawai Departemen Keuangan, untuk menyelenggarakan atau menjadi pembicara dalam kegiatan seminar/lokakarya/workshop atau kegiatan lainnya. Demikian disampaikan. Direktur PPKC, HANAFI USMAN NIP 060044454

Permintaan

Tanggapan : Sehubungan dengan surat pertanyaan konsultasi Sdr. Pariyo dari KPBC Yogyakarta mengenai Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor : SE-551/MK.1/2006 tanggal 7 November 2007, disampaikan hal-hal sebagai berikut : 1) Tanya : Apakah permintaan sebagai tenaga pengajar oleh instansi teknis/institusi pendidikan di daerah 68
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

RUANG KESEHATAN

Beberapa Kelainan

D

Warna dan Bentuk Gigi
okter, saya sering memperhatikan beberapa orang yang mempunyai warna gigi serta bentuk gigi yang berbeda dengan gigi normal. Ada yang berwarna abu-abu, kekuningan, kecoklatan, berbintik putih terang, berbercak-bercak coklat bahkan email giginya ada yang cekung membentuk garis. Apakah yang menyebabkan adanya perbedaan tersebut dan apakah hal tersebut dapat diperbaiki atau dilakukan tindakan perawatan ? Jawab : Memang banyak sekali variasi kelainan bentuk dan warna gigi yang ada serta penyebabnya juga sangat banyak. Bila tidak terlalu diperhatikan kelainan tersebut morfologinya kadang-kadang sangat mirip. Saya akan menjabarkan beberapa kelainan saja yang sering kita jumpai. a. Gigi berwarna abu-abu, kuning, coklat warna abu-abu bias agak muda atau abu-abu tua demikian juga dengan yang kekuningan dan coklat. Hal ini disebabkan oleh pemberian obat Tetra Siklin pada anak-anak atau ibu hamil. Warna abnormal tersebut terutama di leher gigi depan. Perbedaan dengan kelainan genetic yang giginya berwarna juga adalah; bila gigi berwarna karena Tetracyclin disinari dengan sinar ultraviolet, maka gigi-gigi tersebut akan berfluoresensi (memancarkan warna khas). Perawatan yang dapat dilakukan adalah dengan therapy pemutihan gigi (bleaching), veneer (melapisi permukaan fasial gigi) dan mahkota gigi. b. Berwarna coklat, berbercak coklat dan putih atau bercak putih terang. Hal ini disebabkan oleh cacat email, karena kadar Fluoride yang terlalu tinggi dalam air yang di minum. Kejadian ini sangat sering ditemukan di berbagai Negara Timur Tengah, India, Afrika. Di Indonesia kadang-kadang dapat kita jumpai juga. Fluorosis (kelebihan kadar Fluoride dalam air minum) mengenai beberapa buah gigi, bentuk yang paling ringan adalah noda-noda bercak putih atau selaput putih. Yang lebih parah adalah bila terdapat garis atau bercak coklat kekuningan. Yang sangat parah adalah bila selain adanya noda warna disertai pula dengan celah-celah pada email gigi. Perawatan yang dapat dilakukan oleh dokter gigi adalah

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

dengan veneer atau dapat juga dilakukan dimahkotai gigi (crown and bridge). c. Cekungan dangkal di email gigi dapat berupa celah-celah sempit saja atau berbentuk garis. Hal ini disebabkan oleh : - Kelainan genetika - Trauma atau infeksi pada gigi yang sedang bertumbuh - Lahir prematur (lahir dini) - Infeksi intra uterus, (misalnya oleh Rubella (cacar jerman), sipilis. - Kekurangan vitamin D - Down sindrom - Hipokal semia (kekurangan kalsium) - Radioterapi (Rontgen) dengan radiasi cukup tinggi yang mengenai gigi yang sedang bertumbuh - Chemoterapy - Fluorosis yang hebat (kekurangan fluor) Perawatan yang dapat dilakukan oleh dokter gigi adalah sedapat mungkin memperbaiki bentuk giginya dengan penambalan gigi. d. Amelogenesis Imperfekta Warna gigi kekuningan sampai kuning kecoklatan, menyeluruh di semua gigi. tipe 1 : Gigi biasanya tidak beraturan (crowded) semakin bertambahnya usia warna gigi semakin gelap. Gigi bentuknya normal, lunak mudah dicungkil emailnya tipe 2 : Gigi mempunyai email yang keras, mengkilat tetapi bentuknya tidak normal, sering memiliki celah kecil. Amelogenesis Imperfekta disebabkan oleh kelainan genetik (cacat bawaan). Perawatan yang dapat dilakukan dengan melapisi gigi atau memahkotai giginya. e. Bentuk gigi-gigi rahang atas depan sangat khas yaitu conus atau berbentuk obeng. Ada celah diantara rahang atas dengan rahang bawah. Kelainan ini disebabkan oleh karena pada masa di kandungan, ibunya terkena penyakit sipilis. Demikian sekilas mengenai beberapa kelainan warna gigi serta bentuk gigi yang dapat kita jumpai, tetapi semua hal di atas sedapat mungkin masih dapat dilakukan perawatan atau perbaikan oleh dokter gigi.

Drg. IG. A. Heni Haryanti, Poliklinik Kantor Pusat Ditjen Bea dan Cukai Jakarta

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

69

RUANG INTERAKSI

Oleh: Ratna Sugeng

Merdeka
K
Indonesia telah merdeka, sejak diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan kemerdekaan kita dapat melangkah tanpa rasa ketakutan dalam cengkraman penjajahan.
alau negaranya saja sudah merdeka, maka rakyat pun merdeka. Jika rakyat merdeka, maka demikianlah para individunya, merdeka berpikir, merdeka bertindak, merdeka menentukan diri dan merdeka mengujudkan cita-citanya. Suatu kemerdekaan individu matang, yang senantiasa mempertimbangkan bahwa setiap langkah selalu diiringi konsekuensi dan risiko. Artinya manusia dewasa yang merdeka, berani menentukan pilihan, berani bertindak mengujudkan pilihan dan berani bertanggung jawab atas pilihan. Hidup adalah pilihan, sebuah kata yang sangat sering kita dengar dan lontarkan. Untuk memilih apa yang akan dilakukan dan berani bertanggung jawab atas pilihan diperlukan keberanian. Keberanian tidak datang segera, keberanian dibangun sejak kita ada. Hidup dibuka dengan tangisan kala seorang bayi melepaskan diri dari rahim ketergantungan ibunya menuju hidup bebas dengan pelajaran kemandirian. Fase demi fase dalam kehidupan dilalui, sejak fase menyusui, disapih, belajar berjalan, menanggung rasa cemburu ketika ibu juga memberi perhatian pada orang lain seperti ayah atau kakak, sampai mampu mencintai ibu dan mengatasi kecemburuan pada orang yang memiliki ibunya, berani menatap masa depan memasuki pergaulan sosial yang lebih luas. Freud (ahli psikiatri) mengatakan, berani mena tap kehidupan masuk dalam pergaulan luas memerlukan kepercayaan bahwa dunia adalah tempat indah, dipercaya dapat menumbuhkan kematangan diri dan semua yang pahit adalah pelajaran untuk meningkatkan kemampuan diri. Ibu adalah guru yang baik dalam hal ini. Anak yang pandai dan mandiri senantiasa mempunyai guru yang bijak dan memahami perkembangan anak. Guru yang mampu membangun persepsi bahwa duka, lara, kegagalan dan kehilangan merupakan pelajaran untuk meraih keberhasilan lebih besar jika kita mampu mengatasinya. Mengatasi masalah bukan dengan masalah, mengatasi masalah dengan memperbaiki setiap sandungan yang membuat jatuh memerlukan dukungan kuat dari ibu bijak. Ibu dan bapak merupakan model perkembangan kematangan kepribadian anak. Shinta, 28 tahun, sejak kecil gemar menggambar. Ia menekuni keriangannya menggambar, juga kesedihannya 70
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

dapat ia tuangkan pada gambar. Ayah dan ibunya berprofesi sebagai dokter spesialis yang potensial dan berdedikasi di bidangnya. Ayah dan ibunya tentu saja berharap anaknya dapat hidup mapan mandiri, dan mengarahkan anak untuk mampu mandiri. Tidak pernah terbayangkan bahwa anaknya akan dapat menikmati hidup dari gambarnya. Namun ibunya yang psikiater dan ayahnya yang dokter anestesi, berembug untuk mendukung kemerdekaan Shinta menentukan karirnya. Kini ia telah menghasilkan komik edukasi, dan berkarya mantap di bidang animasi gambar menggambar. Keluarga dokter Sindu (bukan nama sebenarnya, berkarya di Jakarta) sukses dalam bidang usaha kesehatan. Bapak dan ibu Sindu menetapkan bahwa semua anaknya harus menjadi dokter dan mensyaratkan menantumenantunya juga dokter. Tidak menjadi dokter disimbolkan sebagai kegagalan hidup dan kehilangan hubungan kekerabatan. Dalam suatu sesi terapi keluarga terungkap bahwa bapak dan ibu Sindu sangat yakin bahwa hanya dokter seperti dirinya yang tidak akan mengalami kesulitan dalam hidup. Ia memaksakan setiap anak menjalani kuliah di fakultas kedokteran. Jika gagal di fakultas kedokteran favorit, ia akan pindahkan anaknya masuk fakultas kedokteran lainnya yang kurang favorit. Memang kemudian semua anak-anaknya menjadi dokter, dan para anak menyerahkan ijazahnya pada bapak dan ibu Sindu, lalu mereka memilih jalan hidup mereka sendiri dengan tidak menjalani profesi dokter. Syarat kemerdekaan mereka telah dipenuhi, menjadi dokter memerdekakan mereka dalam memilih karir masing-masing.

Hidup adalah pilihan

“ ”

MERDEKA MENGATUR WAKTU DAN MENU MAKAN
Ibu Nani dan bapak Santoso telah 30 tahun menikah, dikaruniai dua orang anak yang kini telah menapaki karirnya masing-masing. Keluarga ini unik. Jam makan tidak pernah sama bagi setiap anggotanya, namun kekompakan mengobrol di meja makan dapat terujud. Jam makan mereka ditentukan oleh saat ketibaan di rumah atau sinyal lapar perut. Pagi hari mereka biasa dengan ritme kerja atau sekolah masing-masing. Makan pagi dapat dilakukan diatas kendaraan atau saat sampai tempat menimba ilmu atau tempat kerja. Makan siang ditempat berkegiatan, makan malam pada jam yang berbeda sesuai jam sampai di rumah atau sesuai selera. Menu kesukaannyapun berbeda-beda, sehingga juru masak di rumah akan memasakkan satu menu sesuai pesanan untuk setiap anggota keluarga, dan satu menu bersama. Misalnya sop wortel untuk semua, dan lauk

MERDEKA MENENTUKAN DAN MENJALANI KARIR

lainnya sesuai dengan pesanan masing-masing. Bila juru masak libur, maka masing-masing akan mengurus dirinya sendiri memenuhi lauk kesukaannya. Tak ada beban perasaan tak nyaman, semua biasa menentukan pilihan menunya dan saat menyantapnya. Makan bersama dilakukan seminggu sekali pada hari libur yang disepakati, tetap dengan menu pilihan masing-masing.

MERDEKA MENGATUR JADWAL BERKEGIATAN
Keluarga Alif terdiri dari anggota keluarga yang padat aktivitas. Sejak anak-anak masih usia taman kanakkanak, mereka mempunyai aktivitas berkesinambungan, dari acara keluarga sampai acara pekerjaan atau sekolah. Bapak Alif dan ibu pada saat anak-anak telah melampaui masa SMA mulai mencurahkan banyak waktunya untuk mengembangkan diri. Perjalanan kerja keluar kota atau mancanegara bukan hal yang luar biasa, bukan hanya bapak dan ibu, kemudian anak-anak juga mengikuti irama kerja yang padat. Jadwal kegiatan diatur oleh diri masing-masing dan dikomunikasikan perencanaan perjalanan serta aktivitasnya. Kalau kebetulan kegiatan di satu kota dan dapat saling bertemu, maka direncanakan tempat pertemuannya. Aktivitas yang harus dihadiri bersama seperti ulang tahun kerabat, pernikahan anggota keluarga besar, dan aktivitas sosial bersama lainnya dikomunikasikan dan direncanakan bersama. Untunglah masa ini ponsel sangat membantu.

kusi ditegakkan, yakni hanya satu orang berbicara pada satu saat dan yang lain menyimak. Topiknya telah lebih dahulu dikonfirmasi, misalnya “Aku Sekarang dan Masa Datang”. Setiap orang bebas merdeka mengeluarkan pendapat, yang seringkali memerlukan kesiapan orangtua untuk menerima kabar atau pendapat atau komentar yang mengkritik pola asuh dan pola kendali orangtua. Nenek, orangtua dan anak terlibat diskusi serius, merdeka mengeluarkan isi hati dan pikiran. Melalui kritik, saran dan pertimbangan, yang notabene seringkali sangat menyentuh (kalau tidak dapat dikatakan sakit hati) semua pihak mem- bangun diri, mematangkan kepribadian dan mengubah sikap perilaku ke arah penyesuaian norma keluarga.

MERDEKA MENGATUR KEUANGAN
Pasangan Uun dan Ika telah menjalani masa pernikahan 10 tahun. Keduanya mempunyai karir yang bagus di bidang perbankan dan leasing. Sejak mereka menikah telah menetapkan kesepakatan bahwa pengelolaan keuangan diatur secara mandiri dengan pembagian tugas tanggung jawab bersama yang jelas. Maka Ika dan Uun sampai saat ini bebas merdeka menginvestasikan, membelanjakan, menolong keluarga dengan uang masing-masing tanpa rasa beban ketidaksenangan. Hobi masing-masing dijalani, yang satu senang main tenis, yang satu senang badminton. Hampir tak ada friksi masalah keuangan pada keluarga ini.

MERDEKA MENGEMUKAKAN PENDAPAT
Keluarga besar Kusuma mempunyai 10 cucu dari 4 anak, dan 1 cicit. Mereka tinggal di Jakarta, dengan cucu yang tersebar studi di beberapa kota. Pada masa liburan atau kesempatan penting, senantiasa ada acara bersama, kumpul bareng, di suatu tempat atau di kebun nenek. Semua anggota membentuk lingkaran, termasuk anak, menantu dan cucu dari yang berusia 7 tahun sampai 23 tahun, untuk diskusi. Peraturan dis-

SIMPULAN
Dari cerita nyata beberapa keluarga diatas, dapatlah kita simak bahwa ada beberapa prasyarat untuk merdeka : 1. saling percaya 2. saling bertanggung jawab atas pengambilan keputusan 3. saling mendukung 4. keduanya berkedudukan setara sehingga posisi tawar sama 5. saling dapat menerima kritik dan saran membangun Selamat menikmati kemerdekaan.
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

71

RENUNGAN ROHANI

Hamba Tuhan vs Hamba Hantu
Di dalam kehidupan yang serba modern ini, banyak perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan itu dapat berdampak kepada yang membawa sikap positif atau negatif.

S

ecara positif banyak pekerjaan manusia secara signifikan dapat dikerjakan dengan efektif dan efisien. Maksud secara efektif adalah segala sesuatu dapat dibenahi dengan tepat dan benar, lebih lanjut, secara efisien segala sesuatu dibenahi dengan tidak mengeluarkan banyak biaya. Namun demikian ada berbagai perubahan-perubahan juga yang bersifat negatif yang kita lihat di kehidupan yang serba modern ini. Perilaku manusia semakin mengklaim bahwa dirinya sebagai seseorang yang egois dan tidak mau menghargai satu dengan yang lain. Perilaku ini jika terus-menerus dikembangkan maka yang terjadi sikap-sikap yang mengidolakan dan menyembah kemampuan diri sendiri melebihi Tuhan Allah di surga. Sudah barang tentu, jika ini dilakukan ada akibat yang menerpa sebagai contoh bencana alam, sakit penyakit, korupsi, kolusi, nepotisme dan lain sebagainya yang merebak dan mengelontorkan iman, harap, dan kasih yang murni dari Allah. Dalam perspektif Rohani Kristiani, sikap yang mengelontor iman, harap dan kasih Tuhan berakibat pada gugurnya pemahaman dan pengenalan akan Tuhan. Ditambah lagi, dengan menjadi tidak percaya akhirnya berkembang menjadi orangorang yang semakin anti dengan Tuhan alias Anti Christ. Oleh sebab itu kita harus tetap waspada terhadap segala hal yang buruk dan tidak menguntungkan tersebut. Artinya kita harus mampu membedakan dan mengevaluasi diri kita sendiri apakah kita hamba Tuhan atau hamba hantu. Sebelum kita masuk tentang menjadi hamba Tuhan, kita akan membahas atau berbicara hamba hantu atau anti Kristus. Hamba-hamba hantu atau anti Kristus memiliki sikap yang menolak terhadap semua ajaran-ajaran tentang kebenaran Kristus. Ciri-ciri yang dapat kita lihat adalah perilaku yang dilihat lewat II Timotius 3:2-5 yakni Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Ciri-ciri ini sudah merebak di babak baru dalam era ke-21 bahkan membahayakan dan sudah merasuk ke dalam umat Tuhan. Tuhan Yesus dan pengikut-pengikutnya pun pernah diperhadapkan sebelumnya dengan sikap
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang

“ ”

dan pola hidup orang-orang yang memilih status sebagai hamba hantu ini. Sebagai contoh, ketika Tuhan Yesus menghardik pohon ara yang tidak berbuah. Di dalam cerita itu Tuhan Yesus sedang berjalan-jalan pada waktu pagi dan ia lapar untuk mencari makan. Namun, ia tidak menemukan makanan yang ada selain melihat pohon ara. Pohon ara itu tidak ada buah saja melainkan dedaunan saja (Baca Matius 21:18-20). Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa kehidupan pada jaman Tuhan Yesus hidup adalah jaman dimana penguasa yang berkuasa adalah orang-orang Romawi. Dalam hal ini bangsa Israel yang merupakan tawanan dan penguasaan bangsa Romawi itu. Selanjutnya, dalam keberadaannya bangsa Israel itu dipimpin oleh para tuatua adat dan pemimpin-pemimpin agama yakni orangorang Farisi. Kegiatan keagamaan dari bangsa Israel setelah Perjanjian Lama praktis mengalami ketidakpastian. Hal ini disebabkan mereka masih menantikan Mesias yang luar biasa yang mampu menyelamatkan mereka dari tangan para tirani Romawi yang berkuasa. Lebih jauh, seiring dengan waktu berjalan, Mesias pun datang yang kita kenal sebagai Tuhan Yesus Kristus. Hal ini menimbulkan permasalahan yang pelik. Karena di satu sisi orang Farisi menantikan sang juruselamat yang dahsyat dan hebat yang dapat melepaskan mereka dari belenggu penjajah Romawi. Sementara Tuhan Yesus menyatakan diriNya sebagai Tuhan yang hidup padahal Kristus adalah manusia biasa. Konflik antara Tuhan Yesus dengan orang Farisi pun menyebabkan terjadinya jurang dualisme kepemimpinan dalam kehidupan masyarakat Yahudi. Sebagian dari mereka memilih orang-orang Farisi dan sebagian lagi memilih Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Pohon ara yang tidak berbuah adalah orang-orang yang tidak memilih untuk mencari dan mengenal kebenaran Allah. Orang-orang Farisi itu memilih untuk tidak mengenal maupun mencari kebenaran Firman Allah yang asli didalam Kristus. Alhasil, tidak ada buah-buah roh yang dapat dipancarluaskan dalam kehidupan mereka. Buah-buah roh yang dimaksud: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Tetapi sebaliknya, yang ada adalah perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Galatia 5:19-21). Inilah yang mengakibatkan Tuhan Yesus marah dan menghar-

72

dik ketidakbenaran tersebut dalam kehidupan yang penuh dengan intrik dan tidak dalam keadilan dan keyakinan terhadap kuasa Allah dari pohon ara itu. Bentuk ketidakpastian akan pengenalan dan mencari akan Allah berlanjut sampai sekarang ini. Banyak dari orang-orang yang tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan mencari keuntungan dalam hidup secara instan. Artinya mereka selalu mengejar kebahagiaan tanpa memikirkan sumber kebahagian tersebut. Sebuah contoh kejadian sejarah dapat kita lihat di era abad ke-17 masuk ke abad 18 pada masa Amerika mengalami masa transisi dari masa keagamaan ke masa rasionalisasi. Peraturan agama banyak yang dilanggar dan masyarakat Amerika lebih banyak berpikir cara untuk menempuh kehidupan yang berbahagia dengan mengejar secara cepat tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Hal ini menyebabkan perubahan-perubahan yang terjadi yang mengakibatkan tidak ada keseimbangan antara rasionalisasi pemikiran manusia dengan kehidupan beragama. Lebih-lebih di era sekarang muncul era yang dinamakan era new age. Di era ini pada dasarnya memilih untuk tidak mau tahu tentang Tuhan. Manusia lebih terkait dengan hal-hal yang bersifat spiritual semu dan menyenangi hal-hal material yang berlebihan. Kesemuanya ini berdampak bahwa masyarakat sekarang berpikir bagaimana mengoptimalkan hawa nafsu ketimbang berpikir tentang kehidupan masa depan yang berkerajaan surga. Tentunya ini sangat bertentangan dengan kebenaran dalam Kristus. Oleh sebab itu kita harus memilih untuk menjadi Hamba Tuhan. Memilih untuk menjadi Hamba Allah lebih memfokuskan kehidupan yang mengandalkan Tuhan dalam berbagai hal. Artinya seluruh aspek dan aset kehidupan hanya ditujukan untuk kebahagiaan yang abadi bersama Tuhan. Proses untuk mencapai kehidupan abadi ini perlu dinamakan penyaliban diri terhadap Kristus. Artinya memilih untuk hidup dalam kebenaran dan tidak memilih hidup dalam kedagingan serta lebih memantapkan hidup kita dalam hidup dalam Roh. Jika hal ini kita lakukan secara berkesinambungan maka iman yang tak tergoyahkan akan muncul. Jika ini muncul maka segalanya akan

menjadi kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun juga. Selanjutnya ketika iman itu semakin menjadi kuat maka ia akan melahirkan pengharapan yang melekat dan tidak mau putus-putusnya hilang akibat kekekalan terhadap Allah. Lebih jauh, jika pengharapan itu semakin bertambah dalam maka cinta atau kasih semakin merekah dan memberi nilai-nilai yang bertambah kuat. Jika cinta itu dipupuk dengan pergaulan karib dengan Tuhan Yesus maka yang terjadi adalah perubahan-perubahan yang belum terpikirkan sebelumnya. Keadaan yang dahulu penuh dengan ketidakpastian dapat diubahkan dengan keadaan yang manis dengan cara-cara Kerajaan Surga yang kekal. Sebagai contoh yang sangat dahsyat adalah pesta perjamuan di Kana. Disinilah awal dalam perjanjian baru, Allah melakukan kegiatan yang supranatural yang menjadi natural. Tuhan Yesus secara adikodrati mengubah air menjadi anggur yang terbaik. Ini menandakan bahwa Allah ingin kita menjadi anggur yang terbaik bagiNya. Anggur yang terbaik itu adalah jika anggur itu melekat kepada sumber yang benar dan tepat. Kita adalah angguranggur terbaik itu dan Kristus adalah sumberNya. Hanya dengan melekat dan berpaut lewat Firman Allah maka Allah sumber berkat itu dapat memberikan kehidupan yang berkelimpahan. Seperti yang dikatakan di dalam Yohanes 15:5-7 yang menyebutkan Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Pilihan tergantung kepada kita apakah kita hamba Tuhan atau hamba hantu? Selamat memilih. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Petrus Titus R, Rohaniawan SIC ( Surabaya International Church)
EDISI 394 SEPTEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

73

PERISTIWA
WBC/ATS

CCC Tour De Kintamani
START. Dengan mengambil lokasi di atas lokasi wisata Danau Batur Kintamani, para peserta start dengan medan menurun dan menanjak.

P

Selain disuguhi oleh rute yang sangat menantang, para peserta pun dihibur oleh panorama alam yang sangat indah.

ara biker Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang tergabung dalam Customs Cycling Club (CCC), memang tak bosan-bosannya menjelajah alam Indonesia yang kaya akan tantangan dan rintangan. Kegiatan bersepeda bersama yang kian hari kian banyak peminatnya ini, membuat CCC semakin aktif dalam menyelenggarakan kegiatan sepeda bersama di kalangan pegawai DJBC. Salah satu kegiatan CCC yang baru saja dilaksanakan adalah, menjelajahi Gunung Batur Kintamani, Bali sejauh 36 kilometer dengan rute off road, pada 11 Agustus 2007. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT RI ke-62 serta perpisahan Kepala Bidang Audit Kantor Wilayah Bali, NTB dan NTT- Denpasar, Siswa Murwono yang dimutasikan sebagai Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan (P2) Kantor Wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, banyak diminati para peserta dari berbagai daerah. Hal ini dapat dilihat dari ragamnya peserta yang mengikuti kegiatan CCC di Kintamani ini, yaitu dari Kanwil dan KPBC Denpasar, Bandung, Semarang, Surabaya, Kupang, Tarakan, dan juga dari Kantor Pusat DJBC, dengan jumlah keseluruhan peserta mencapai 30 orang. Diambilnya rute off road di daerah Gunung Batur Kintamani Bali, adalah karena rute yang ditempuh dirasakan cukup menantang sehingga para peserta dapat membuktikan kepiawaiannya dalam bersepeda. Selain itu para peserta pun disuguhi dengan pemandangan Danau Batur Kintamani yang sangat indah, sehingga rasa lelah yang dialami para peserta dapat terobati dengan pemandangan yang menakjubkan. Dengan mengambil lokasi start di atas lokasi wisata Danau Batur, para peserta pun melalui jalur menurun dan menanjak hingga mencapai Danau Batur yang terletak di bawah. Setelah istirahat di pos pertama, para peserta melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya, dimana mereka diharuskan mengitari Gunung Batur dengan medan off road yang sangat menantang yang sebelumnya memang tidak diduga medannya. Akhirnya setelah menjelajahi Gunung Batur selama tiga jam, para peserta pun finish di tempat pemandian air panas Toyabungka Danau Batur. Sekalipun dalam kondisi lelah, namun para peserta tetap terlihat sangat senang, karena mereka tidak menyangka dapat mengitari Gunung Batur yang jika dilihat dari atas sangat tidak mungkin untuk dijelajahi. “Kami memang sengaja memilih jalur ini karena jika sebelum-sebelumnya CCC selalu mengadakan rute biasa, kali ini kami menginginkan rute yang cukup menantang. Dan terbukti para peserta pun banyak yang berminat, dan rencana kedepan CCC pun akan kembali mengambil rute off road di pulau Jawa,” jelas Siswa. Lebih lanjut Siswa mengutarakan, untuk rute off road selanjutnya kemungkinan akan diadakan di daerah Jawa Tengah dengan mengambil rute antara Magelang hingga Boyolali dengan jarak sekitar 40 kilometer. Sementara itu, CCC juga telah memiliki agenda di daerah Bandung yang rencananya akan dilaksanakan pada 26 Agustus 2007. Dengan dua agenda CCC tersebut, diharapkan para peserta juga akan semakin mencintai kegiatan sepeda bersama di kalangan pegawai DJBC. adi
WARTA BEA CUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

DIHIBUR PANORAMA ALAM. Walaupun medan yang dilalui cukup berat, namun para peserta tetap merasa senang karena dihibur oleh panorama alam yang sangat indah.

74

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : SYAMSUL MAULANA

JAKARTA. Upacara bendera Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-62 di Departemen Keuangan Lapangan Banteng Jakarta Pusat dipimpin langsung Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 17 Agustus 2006. Pelaksanaan upacara dikoordinir oleh petugas dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, diantaranya dalam pembacaan naskah Proklamasi, pembacaan naskah Pancasila, sebagai komandan upacara yaitu Kasubdit Perencanaan dan Evaluasi Audit Direktorat Audit, Azis Syamsu Arifin, dan dimeriahkan dengan Marching Band Bea dan Cukai. Upacara dihadiri pejabat eselon I, II, III dan IV dilingkungan Departemen Keuangan. Upacara yang dimulai pada pukul 08.00 WIB berlangsung secara khidmat dan berakhir pada pukul 09.30 WIB.
WBC/ADI

JAKARTA. Untuk yang kesekian kalinya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menghibahkan hasil tegahan mobil kepada instansi terkait lainnya untuk mendukung kinerja dan operasional instansi tersebut. Untuk hibah kali ini, DJBC pada 3 Agustus 2007, menghibahkan dua unit mobil Honda kepada Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) yang acara penyerahannya secara simbolis dilaksanakan di ruang Loka Utama Kantor Pusat DJBC. Acara penyerahan hibah ditandatangani oleh Kasubdit Penyidikan Direktorat P2, Sugeng Apriyanto, dan Mayor Infantri Eko Budi Santoso, dan bertindak sebagai saksi Direktur P2, Heru Santoso, dan Irjen Polri, Drs. Ansyaad. Acara hibah ini juga disaksikan langsung oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, Kasubdit Penindakan, dan Kasubdit Intelijen Direktorat P2.
WBC/ATS WBC/ATS

JAKARTA. Dalam rangka memperingati HUT RI ke-62 Bapors Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada 5 Agustus 2007menyelenggarakan pertandingan Tenis Lapangan di stadion Tenis Lapangan Bea dan Cukai Bojana Tirta Rawamangun. Pertandingan diikuti enam tim yakni Direktorat KPU Tanjung Priok, Inspektorat Jenderal Depkeu, Kanwil DJBC Banten, KP-DJBC, KPPBC Soekarno-Hatta. Dari enam tim yang bertanding, yang masuk dalam babak final adalah tim Inspektorat Jenderal Depkeu dan KPU Tanjung Priok, yang dimenangkan oleh tim Inspektorat Jenderal Depkeu. Tampak pada gambar, foto bersama dua tim yang tampil dalam babak penyisihan yakni Tim Inspektorat Jenderal Depkeu yang dipimpin oleh Permana Agung (kepala Inspektorat Jenderal Depkeu) dan Tim Kanwil DJBC Jakarta.

JAKARTA. Pertandingan final sepak bola dalam rangka memperingati HUT RI ke62 antara kesebelasan Sekretariat (berdiri kostum putih) melawan kesebelasan Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (jongkok kostum merah) berlangsung pada 7 Agustus 2007 di Stadion Bea dan Cukai Bojana Tirta Jakarta Timur. Pertandingan berlangsung selama 2 X 30 menit, dengan skor 3 – 1 dimenangkan kesebelasan Sekretariat sebagai juara I.

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

75

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

WBC/ATS

s

JAKARTA. Rumah Bersalin Pasar Minggu milik Ditjen Bea dan Cukai (diresmikan pada 20 Januari 1970) yang dikelola oleh Dharma Wanita Persatuan KP-DJBC pada 7 Agustus 2007 diserahkan pengelolaannya kepada Kantor Pusat DJBC. Acara diawali dengan beberapa sambutan dan dilakukan penandatanganan serah terima yang dilakukan oleh ketua pengelola rumah bersalin Pasar Minggu Ny. Ibrahim A. Karim kepada Sekretaris DJBC yang dalam hal ini diwakilkan oleh Kepala Bagian Umum Sonny Subagio, disaksikan oleh Ny. Anwar Suprijadi. Selain itu acara juga diisi dengan pemberian cinderamata dari Ny. Anwar Suprijadi dan Ny. Erlangga Mantik kepada 2 orang dokter, 1 bidan, 5 perawat dan 5 karyawan.

JAKARTA. Foto bersama pertandingan final Bulu Tangkis Kantor Pusat DJBC dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-62 yakni antara tim bulutangkis Direktorat P2 (kostum hitam) melawan tim Direktorat IKC (kostum biru) pada 9 Agustus 2007 di aula gedung B lantai dasar. Hasil akhir pertandingan dimenangkan tim Direktorat P2.
WBC/ATS

JAKARTA. Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-62, KP-DJBC menyelenggarakan berbagai pertandingan olahraga yang melibatkan para pegawai dari 10 Direktorat yang ada di KP-DJBC. Pertandingan tersebut diantaranya adalah tenis lapangan, bulu tangkis, sepak bola dan pertandingan voli. Final voli diselenggarakan di belakang gedung utama KP-DJBC pada 10 Agustus 2007. Sebelumnya dilakukan pertandingan eksibisi bola voli antara Tim voli Eksekutif DJBC yang terdiri dari pejabat eselon II (kostum putih) melawan tim putri pegawai DJBC (kostum kuning) yang dimenangkan tim putri dengan skor 2 – 1. Usai pertandingan final antara tim Direktorat P2 melawan tim Direktorat IKC dilakukan penyerahan piala kepada para juara lomba, yang diserahkan oleh Direktur Audit Thomas Sugijata, Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Bambang Prasodjo, dan Kepala Bagian Umum Sonny Subagio.

s

FOTO : KIRIMAN

TELUK BAYUR. Pada tanggal 27 – 29 Juni Kepala Kanwil DJBC Riau dan Sumatera Barat, Djoko Sutojo Riyadi beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke KPPBC Tipe A3 Teluk Bayur. Dalam Acara yang berlangsung di aula gedung KPPBC Teluk Bayur tampak Kepala KPBC Teluk Bayur Buhari Sirait, SE, MM sedang menyampaikan penjelasan mengenai situasi/kondisi daerah yang berada dalam pengawasan KPPBC Tipe A3 Teluk Bayur dengan diakhiri foto bersama. Kiriman KPPBC Teluk Bayur Henry Tresman Situmorang

76

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

SURABAYA. Sosialisasi Tariff Bea Masuk Korea (FTA) di Hotel Tunjungan Surabaya pada 26 Juli 2007 oleh Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan dihadiri oleh para stakeholder. Sosialisasi diikuti kurang lebih 50 peserta terdiri dari pengguna jasa dan para pengusaha Korea serta para pejabat dilingkungan Departemen Keuangan. Bambang Wicaksono, Surabaya

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

s

SURABAYA. Pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan eselon IV serta pengambilan sumpah jabatan pegawai negeri sipil di lingkungan Kanwil DJBC Jawa Timur I dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Djasman Soetedjo pada 7 Agustus 2007. Bambang Wicaksono, Surabaya

BALIKPAPAN. Bertempat di Aula Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur pada tanggal 19 Juli 2007 dilangsungkan Sosialisasi tentang Kawasan Pabean, Tempat Penimbunan Sementara (TPS) dan Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) yang dihadiri para pejabat dan pegawai dilingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur serta para PPJK dan pengguna jasa. Sosialisasi dilaksanakan sehubungan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70/PMK.04/2007 dan Peraturan Dirjen BC Nomor P-20/BC/ 2007 tentang Kawasan Pabean dan TPS serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.04/2007 dan Peraturan Dirjen BC Nomor P-22/BC/2007 tentang PPJK. Tampil sebagai pembicara yakni Kabid Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur Ir. Wisnu Wibowo. Tampak dalam gambar, tanya jawab antara pengguna jasa dan pembicara. Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur

s
SURABAYA. Bertempat di aula Kanwil DJBC Jawa Timur I diselenggarakan pelantikan pejabat baru eselon III dilingkungan Kanwil DJBC Jawa Timur I oleh Kakanwil Djasman Soetedjo pada 24 Juli 2004. Pejabat yang dilantik antara lain Putut T. Ismojo (KaKPBC Pasuruan), Ngadiman ( Kabid Fasilitas kepabeanan), dan Hari Budi Wicaksono ( Kabid P2 ). Acara dihadiri oleh pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Jawa Timur I. Bambang Wicaksono, Surabaya

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

s

FOTO : KIRIMAN

77 13

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

BALIKPAPAN. Pada 20 Juli 2007 bertempat di Aula Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dilangsungkan upacara pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan pejabat eselon III yang akan bertugas di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur yakni Ambang Priyonggo, S.IP.,M.P.A. serta pengambilan sumpah jabatan pegawai negeri sipil di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur yang berjumlah 11 orang. Acara dipimpin langsung oleh Kakanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono dengan disaksikan para pejabat eselon III dan rohaniawan. Tampak dalam gambar, Ka Kanwil tengah melantik Kabid Penindakan dan Penyidikan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ambang Priyonggo, S.IP.,M.P.A. Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur

s
BANDA ACEH. Kanwil DJBC Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) menyelenggarakan pekan olah raga pada 10 – 12 Agutus 2007 yang diikuti kontingen dari seluruh kantor di lingkungan Kanwil DJBC NAD yakni KPPBC Sabang, KPPBC Lhokseumawe, KPPBC Kuala Langsa, Ulee Lheue, KPPBC Iskandar Muda dan KPPBC Maulaboh. Sebelum acara pertandingan dimulai dilakukan upacara pembukaan POR yang dilakukan oleh Drs. Achmad Riyadi selaku Kepala Kanwil DJBC NAD. Tampak pada gambar, foto bersama dengan Kepala Kanwil Achmad Riyadi (berdiri nomor 5 dari kiri) DJBC NAD sebelum pertandingan sepakbola antara tim Kanwil DJBC NAD melawan KPPBC Lhokseumawe. Kiriman Amir Hasan A. - Kanwil DJBC NAD
FOTO : KIRIMAN

BANDA ACEH. KPPBC Sabang pada 30 Juli 2007 menerima kunjungan kerja Sekretaris Ditjen Bea dan Cukai Kamil Sjoeib dan Kepala Bagian Kepegawaian Azhar Rasyidi KP-DJBC. Kunjungan ini diterima oleh Kepala Kanwil DJBC NAD Achmad Riyadi dan beberapa pejabat lainnya. Tampak Pada gambar foto bersama Sekretaris Ditjen Bea dan Cukai dan Kepala Bagian Kepegawaian dengan Kepala Kanwil DJBC NAD Achmad Riyadi dengan beberapa pejabat KPPBC Sabang. Kiriman Amir Hasan A. - Kanwil DJBC NAD

FOTO : KIRIMAN

BANDA ACEH. Bertempat dihalaman Kanwil DJBC NAD dilangsungkan upacara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan delapan pejabat eselon III yang akan bertugas dilingkungan Kanwil DJBC NAD. Pengambilan sumpah jabatan dilakukan pada 9 Agustus 2007 (gambar kiri). Acara diisi dengan pembacaan sumpah jabatan dan dilakukan penyematan tanda jabatan oleh Kepala Kanwil DJBC NAD Achmad Riyadi kepada Kepala KPPBC Banda Aceh yang baru, Ali Purnama, SH. (yang merupakan penggabungan KPPBC Ulhe Lheu dengan KPBC Iskandar Muda). Kiriman Amir Hasan A. - Kanwil DJBC NAD

FOTO : KIRIMAN

78 14

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

s

s

s

FOTO : KIRIMAN

BANDA ACEH. Pada 12 Juli 2007 Kepala Kanwil DJBC NAD. Drs. Achmad Riyadi meresmikan Dermaga Sementara Kapal Patroli BC 15021 Kanwil DJBC NAD yang berlokasi didaerah Keudah ditepi Sungai Krueng Aceh yakni Sungai yang membelah kota Banda Aceh (gambar kiri). Selain peresmian, acara diisi syukuran dengan menyantuni anak yatim-piatu yang berada disekitar dermaga (gambar kanan). Kiriman Amir Hasan A. - Kanwil DJBC NAD
FOTO : KIRIMAN

s

BANDA ACEH. Dengan menggunakan kapal patroli Kepala Kanwil DJBC NAD Achmad Riyadi melakukan kunjungan kerja ke KPPBC Sabang pada 16 Juli 2007. Kapal patroli bersandar di Pelabuhan Bebas Sabang dan diterima oleh Kepala KPPBC Sabang dan beberapa staf. Dalam kunjungan tersebut Kakanwil berdialog dengan para pegawai yang dipimpin oleh Kepala KPPBC Sabang dan diakhiri dengan foto bersama. Kiriman Amir Hasan A. - Kanwil DJBC NAD

WBC/ATS

WBC/KY

TARAKAN. Pada 19 Agustus 2007, bertempat di stadion olahraga Datu Adil, Tarakan, berlangsung pertandingan sepakbola persahabatan antara tim sepakbola DPRD Kota Tarakan melawan tim sepakbola gabungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dengan Kastam Diraja Malaysia (KDRM) Negeri Sabah. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh tim gabungan dengan skor 4-1. Pertandingan sepakbola ini adalah salah satu rangkaian kegiatan olahraga persahabatan antar kedua institusi pabean, selain pertandingan bola voli dan bulutungkis. Tampak pada gambar kiri penyerahan plakat oleh Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Timur Ismartono kepada Ketua DPRD Tarakan Udin Hianggio usai pertandingan, sedangkan gambar kanan foto bersama kedua tim, berdiri tim DJBC dan KDRM, dan duduk tim DPRD.

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

s
79 15

JAKARTA. Upacara Bendera Merah Putih juga diselenggarakan di Sekolah Yayasan Bhakti Tugas Cabang Pasar Minggu Jakarta Selatan yang berada di komplek Bea dan Cukai pada 17 Agustus 2005 lalu. Upacara dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-62 dipimpin oleh Kepala Sekolah dan dihadiri seluruh murid Sekolah Dasar dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) serta para guru. Selain itu upacara juga dihadiri oleh pengurus sekolah Yayasan Bhakti Tugas dan para mantan pegawai Bea dan Cukai yang pernah menjadi tentara dalam membela negara RI serta para Pengurus Pusat Yayasan Kesejahteraan Bhakti Tugas. Pada kesempatan yang sama bertepatan dengan memperingati hari kemerdekaan Sekolah SMP Yayasan Bhakti Tugas Cabang Pasar Minggu Jakarta memperingati hari ulang tahun yang ke-21. Dalam acara dilakukan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan Kesejahteraan Bhakti Tugas Cabang Jakarta Selatan Sri Soemaryati (Yayok) dan diserahkan kepada Kepala Sekolah SMP Katena Spd. Setelah itu acara dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada juara I, II, III dari masingmasing kelas dalam lomba baca puisi, menggambar peta, menata ruangan dan lain-lainnya.

APA KATA MEREKA
FOTO : ISTIMEWA FOTO : ISTIMEWA

Denny Malik
“Yang Penting Petugas Ramah Kepada Penumpang”

Artis sekaligus penata gerak Denny Malik selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik, terbukti sudah banyak para penari yang ia didik menjadi penari terkenal dan memiliki sanggar tari. Bagi Denny keberadaan para mantan muridnya yang memiliki sanggar tari bukanlah sebagai saingan melainkan sebagai partner dalam dunia hiburan. Rupanya talenta yang dimilikinya tidak hanya sebatas di bidang tari, melainkan juga dibidang tarik suara sehingga tawaran untuk tampil sebagai penyanyi pun mampir kepadanya, begitu pula tawaran sebagai pembawa acara yang kerap kali datang padanya. Kepiawaiannya dibidang dunia hiburan terkadang membawa Denny sampai ke luar negeri, sehingga Denny menyambangi beberapa negara untuk show tari atau bahkan juga menyanyi. Perjalanannya ke luar negeri diakuinya lebih banyak dilakukan dalam rangka show. Ketika ditanya pengalamannya ketika berhadapan dengan petugas bea cukai setelah pulang dari luar negeri, Denny mengatakan tidak mengalami suatu permasalahan dan mengikuti prosedur yang berlaku,”Kalau kita diperiksa, kita ikuti saja selain itu juga saya tidak pernah bawa barang yang aneh-aneh, selain tidak perlu, harganya juga mahal,”ujarnya lagi. Mengenai petugas di lapangan, ia mengatakan sudah cukup baik dan ramah, ”Saya rasa mereka itu baikbaik walaupun ada juga yang agak sangar, tapi saya mengerti tugas mereka yang cukup melelahkan menurut saya, tapi yang penting ramah kepada penumpang,” terangnya. zap

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Walaupun selalu mendapatkan peran antagonis pada beberapa sinteron yang dibintangi, namun pada kenyataannya pria kelahiran Palembang ini tidak sama dengan perannya di sinetron yang diperaninya. Itulah Anwar Fuadi pemain sinetron yang identik dengan peran antagonis dalam beberapa sinteron yang dibintanginya. Ia mengatakan peran antagonis yang ia lakoni tidak jarang berimbas sampai ke kehidupan nyata. Ia menceritakan pernah ada seorang yang memarahinya ketika ia sedang berada di luar lokasi syuting. Ia pun bingung, tapi setelah itu baru disadarinya bahwa orang yang memarahinya kesal karena perannya di sinteron yang antagonis tersebut,”Saya maklum aja kalau ada yang marah, berarti peran saya cukup berhasil bisa bikin orang kesal,”terangnya kembali. Tidak jarang ada juga penggemar yang menyapanya dengan ramah dan bahkan minta berfoto bersama dengannya di luar lokasi syuting. Begitu pula ketika ia pulang dari luar negeri ketika mendapat undangan untuk melakukan show. Kesan bersahabat selalu ditunjukkan kepadanya baik oleh para kru pesawat maupun petugas yang berada di bandara. Ketika ditanya pengalamannya ketika berhadapan dengan petugas Bea Cukai di bandara, Anwar mengatakan petugas selalu menyapanya dengan ramah.”Mereka menyapa dan bertanya kepada saya dan penumpang lain dengan ramah, gak ada kesan galak, dan saya selalu ikuti apa kata petugas ketika harus membuka koper dan saya gak keberatan,”ujarnya. Mengenai barang apa saja yang dibawa, Anwar mengatakan hanya membawa barang-barang cendera mata yang tidak mahal yang biasabiasa saja. “Saya gak biasa bawa barang yang aneh-aneh, disamping mahal dan belum tentu juga saya gunakan. Petugas juga ramah-ramah, itu menjadi cerminan bagi para pendatang asing bahwa di Indonesia itu negeri yang aman dan penduduknya ramahramah, itu tercermin dari perilaku petugas yang ramah di bandara sebagai pintu gerbang masuknya turis asing ke Indonesia,”ujarnya menutup pembicaraan dengan WBC. zap

Anwar Fuadi Disapa Ramah oleh Petugas

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 394 SEPTEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 65/PMK.04/2007 TENTANG

PENGUSAHA PENGURUSAN JASA KEPABEANAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai ketentuan Pasal 29 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006, dalam hal importir atau eksportir tidak dapat melakukan sendiri pengurusan pemberitahuan pabean, importir dan eksportir tersebut dapat menguasakan kepada Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan; b. bahwa Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud pada huruf a, mempunyai peranan yang penting dalam pelayanan kepabeanan kepada masyarakat, sehingga dipandang perlu untuk menyempurnakan ketentuan yang mengatur persyaratan untuk menjadi Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan antara lain keharusan memiliki kejelasan dan kebenaran kedudukan, identitas pengurus dan penanggung jawab, dan kompetensi ahli kepabeanan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, dan d perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 3. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK.04/2003; 5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 557/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENGUSAHA PENGURUSAN JASA KEPABEANAN. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan :
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

1. Importir adalah orang perseorangan atau badan hukum yang mengimpor barang. 2. Eksportir adalah orang perseorangan atau badan hukum yang mengekspor barang. 3. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengurusan pemenuhan kewajiban pabean untuk dan atas kuasa importir atau eksportir. 4. Ahli Kepabeanan adalah orang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang kepabeanan yang telah diberikan Sertifikat Ahli Kepabeanan yang dikeluarkan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. 5. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 6. Pejabat adalah pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu. 7. Kantor Pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean. 8. Unit Pengawasan adalah unit kerja pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang melakukan kegiatan pengawasan baik secara fisik maupun secara administrasi. Pasal 2 (1) Pengurusan Pemberitahuan Pabean atas barang impor atau ekspor dilakukan oleh pengangkut, importir, atau eksportir. (2) Dalam hal pengurusan Pemberitahuan Pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan sendiri, importir, atau eksportir dapat memberikan kuasanya kepada Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan. Pasal 3 (1) Untuk dapat melakukan pengurusan jasa kepabeanan, Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan wajib memiliki nomor identitas berupa Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan dalam rangka akses kepabeanan. (2) Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya. Pasal 4 (1) Untuk mendapatkan Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan wajib melakukan registrasi melalui media elektronik kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya. (2) Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang akan melakukan registrasi, wajib memenuhi persyaratan: a. kejelasan dan kebenaran alamat (existence); b. kejelasan dan kebenaran identitas pengurus dan penanggung jawab (responsibility); c. mempunyai pegawai yang berkualifikasi Ahli Kepabeanan (competency); dan d. kepastian penyelenggaraan pembukuan (auditable). (3) Pejabat Bea dan Cukai melakukan penelitian dan penilaian terhadap pemenuhan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 5 (1) Hasil registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) digunakan untuk

2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

melakukan penilaian dan pembuatan profil Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan. (2) Penilaian dan profil Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan digunakan sebagai salah satu dasar dalam pemberian pelayanan dan/atau pengawasan kepabeanan kepada pengangkut, importir, dan eksportir yang menguasakan pengurusan jasa kepabeanannya kepada Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan. Pasal 6 (1) Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya memberikan keputusan atas registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, paling lama 45 (empat puluh lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya data registrasi secara lengkap dan benar. (2) Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. Pemberian Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan, dalam hal registrasi memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam pasal 4; atau b. Surat penolakan dengan menyebutkan alasannya. (3) Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a berlaku di seluruh Kantor Pabean di Indonesia dan berlaku sampai dengan ada pencabutan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya. Pasal 7 (1) Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang telah mendapatkan Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a, sebelum melakukan kegiatannya wajib menyerahkan jaminan kepada Kantor Pabean yang mengawasi. (2) Besarnya jumlah jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan memperhatikan jumlah kegiatan dan tingkat risiko Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan. (3) Bentuk jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. uang tunai; b. jaminan bank; dan/atau c. jaminan dari perusahaan asuransi. Pasal 8 Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang akan melakukan kegiatan pengurusan jasa kepabeanan di Kantor Pabean yang telah menerapkan sistem Pertukaran Data Elektronik (PDE) Kepabeanan, wajib menggunakan perangkat dan modul Pertukaran Data Elektronik (PDE) milik sendiri untuk pembuatan dan penyerahan pemberitahuan pabean. Pasal 9 (1) Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang telah mendapat Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan wajib memberitahukan perubahan data Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya. (2) Pemberitahuan perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui media elektronik.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

3

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(3) Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya melakukan penelitian atas pemberitahuan perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 10 (1) Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang telah mendapat Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan wajib memenuhi seluruh peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan, cukai, dan perpajakan, serta ketentuan lain di bidang impor dan ekspor. (2) Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan bertanggung jawab terhadap pungutan negara dalam rangka impor atau ekspor dalam hal importir, atau eksportir tidak ditemukan. (3) Segala isi dan bentuk perjanjian antara Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan dan importir, atau eksportir tidak mengurangi tanggung jawab Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sesuai peraturan perundangundangan di bidang kepabeanan dan cukai. Pasal 11 (1) Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan diblokir dalam hal : a. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang sedang menjalani proses penyelidikan atau penyidikan atas suatu pelanggaran pidana di bidang kepabeanan yang berkaitan dengan jasa kepabeanan yang dilakukannya; b. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan tidak menyerahkan hardcopy Pemberitahuan Pabean dan dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan; c. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan tidak memenuhi kewajiban memberitahukan perubahan data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1); d. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan tidak lagi memiliki jaminan yang cukup dalam hal adanya pencairan jaminan sebagai akibat tanggung jawab Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2); e. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan tidak lagi memiliki pegawai yang mempunyai Sertifikat Ahli Kepabeanan; dan/atau f. berdasarkan rekomendasi dalam Laporan Hasil Audit dan/atau Unit Pengawasan lainnya. (2) Pemblokiran Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dicabut dalam hal: a. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan telah selesai menjalani proses penyelidikan atau penyidikan atas suatu pelanggaran pidana di bidang kepabeanan yang berkaitan dengan jasa kepabeanan yang dilakukannya dan telah dinyatakan terbukti tidak bersalah; b. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan telah menyerahkan hardcopy Pemberitahuan Pabean dan dokumen pelengkap pabean yang diwajibkan; c. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan telah menyerahkan laporan perubahan data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1); d. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan telah menaruhkan jaminan yang cukup atau telah memenuhi jaminan yang ditetapkan; e. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan telah memiliki pegawai yang mempunyai Sertifikat Ahli Kepabeanan; dan/atau f. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan telah melaksanakan rekomendasi berdasarkan Laporan Hasil Audit dan/atau Unit Pengawasan lainnya.

4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 12 Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan dicabut dalam hal Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan: a. tidak memenuhi tanggung jawab terhadap bea masuk dan pajak dalam rangka impor dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2); b. terbukti melakukan pelanggaran tindak pidana di bidang kepabeanan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap; c. selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus dalam status pemblokiran; d. tidak menjalankan kegiatan/usaha dalam jangka waktu 1 (satu) tahun secara terus-menerus; e. dinyatakan pailit; dan/atau f. mengajukan permohonan pencabutan. Pasal 13 Pemblokiran Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan pencabutan Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, tidak menggugurkan tanggung jawab Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan terhadap pungutan negara dalam rangka impor atau ekspor dalam hal importir, atau eksportir tidak ditemukan. Pasal 14 (1) Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang telah memiliki Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan sebelum berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, wajib melakukan registrasi ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk mendapatkan Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Nomor Pokok Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan yang diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini masih berlaku dan dapat dipergunakan untuk pengurusan jasa kepabeanan sampai dengan 90 (sembilan puluh) hari sejak berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 15 Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini ditetapkan oleh Direktur Jenderal. Pasal 16 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Juni 2007 MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

5

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 70/PMK.04/2007 TENTANG

KAWASAN PABEAN DAN TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (4), Pasal 10A ayat (9), Pasal 11A ayat (7), Pasal 32 ayat (4), dan Pasal 43 ayat (4) Undangundang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 17 Tahun 2006, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Kawasan Pabean dan Tempat Penimbunan Sementara; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3481); 2. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3493); 3. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 4. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 127); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 128); 7. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG KAWASAN PABEAN DAN TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan :

6

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

1. Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di Pelabuhan Laut, Bandar Udara, atau Tempat Lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 2. Pelabuhan Laut adalah pelabuhan dan pelabuhan khusus. 3. Pelabuhan yaitu tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. 4. Pelabuhan Khusus yaitu pelabuhan yang dikelola untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu. 5. Bandar Udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos, serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. 6. Tempat Lain adalah tempat tertentu di daratan yang berada dalam kawasan/ area industri dan tempat tertentu lainnya yang berfungsi sebagai pelabuhan laut, yang mendukung kegiatan impor dan/ atau ekspor. 7. Tempat Penimbunan Sementara adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di kawasan pabean untuk menimbun barang, sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya. 8. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 9. Pejabat Bea dan Cukai adalah pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan. 10.Kantor Pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Kepabeanan. BAB II KAWASAN PABEAN Bagian Kesatu Persyaratan dan Tatacara Penetapan Sebagai Kawasan Pabean Pasal 2 Penetapan suatu kawasan sebagai Kawasan Pabean ditetapkan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan. Pasal 3 (1) Untuk memperoleh penetapan sebagai Kawasan Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pengelola Pelabuhan Laut, Bandar Udara, atau Tempat Lain mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

7

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

memuat data tentang identitas penanggung jawab, badan usaha, dan lokasi serta ukuran luas kawasan yang akan dimintakan penetapan sebagai Kawasan Pabean, dan dilampiri dengan : a. Salinan Akte Pendirian Perusahaan sebagai Badan Hukum; b. Surat Izin Usaha dari instansi terkait; c. Bukti penetapan sebagai Pelabuhan Laut atau Bandar Udara, kecuali untuk Tempat Lain; d. Bukti status kepemilikan dan/atau penguasaan tempat atau kawasan; e. Bukti Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); f. Ukuran luas kawasan; g. Gambar denah lokasi; dan h. Berita Acara Pemeriksaan Lokasi. Pasal 4 (1) Atas permohonan penetapan sebagai Kawasan Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan memberikan persetujuan atau penolakan dalam jangka waktu paling lama 45 (empat puluh lima) hari sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar. (2) Persetujuan atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menerbitkan Keputusan Penetapan sebagai Kawasan Pabean oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan. (2) Penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan menerbitkan surat pemberitahuan penolakan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan yang disertai dengan alasan penolakan. (3) Keputusan penetapan sebagai Kawasan Pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku sejak tanggal ditetapkan sampai dengan adanya pencabutan. Pasal 5 (1) Untuk kepentingan pengawasan di bidang kepabeanan, Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan menetapkan batas-batas kawasan dan pintu masuk/keluar atas suatu tempat atau kawasan yang diajukan permohonan untuk penetapan sebagai Kawasan Pabean. (2) Kawasan Pabean merupakan kawasan yang terbatas (restricted area). Bagian Kedua Larangan Penimbunan di Kawasan Pabean Pasal 6 Barang selain untuk tujuan impor dan/atau ekspor dilarang untuk ditimbun, dimasukkan, dan/atau dikeluarkan ke dan/atau dari Kawasan Pabean, kecuali untuk tujuan pengangkutan selanjutnya.

8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Bagian Ketiga Pencabutan Penetapan Sebagai Kawasan Pabean Pasal 7 (1) Penetapan sebagai Kawasan Pabean dicabut dalam hal : a. Kawasan Pabean tidak menjalankan kegiatan/usaha dalam jangka waktu 1 (satu) tahun secara terus-menerus; b. pengelola Kawasan Pabean terbukti bersalah telah melakukan pelanggaran tindak pidana di bidang kepabeanan yang mempunyai kekuatan hukum tetap; c. pengelola Kawasan Pabean dinyatakan pailit; dan/atau d. Pengelola Kawasan Pabean mengajukan permohonan sendiri untuk dilakukan pencabutan. (2) Pencabutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai. BAB III TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA Bagian Kesatu Penetapan dan Jenis Tempat Penimbunan Sementara Pasal 8 (1) Penetapan suatu kawasan, bangunan, dan/atau lapangan sebagai Tempat Penimbunan Sementara ditetapkan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan. (2) Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa : a. Lapangan Penimbunan; b. Lapangan Penimbunan Peti Kemas; c. Gudang Penimbunan; dan/atau d. Tangki penimbunan. (3) Penambahan jenis Tempat Penimbunan Sementara selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal. Bagian Kedua Persyaratan dan Tatacara Penetapan Sebagai Tempat Penimbunan Sementara Pasal 9 (1) Untuk dapat ditetapkan sebagai Tempat Penimbunan Sementara, Pengusaha tempat penimbunan harus mengajukan permohonan penetapan suatu kawasan, bangunan, dan/atau lapangan sebagai Tempat Penimbunan Sementara kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilampiri dengan:
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

9

K E P U T U S A N
a. b. c. d. e. f.

&

K E T E T A P A N

g. h.

i. j. k.

Salinan Akte Pendirian Perusahaan sebagai Badan Hukum; Surat Izin Usaha dari instansi terkait; Izin dari Pemerintah Daerah setempat; Foto copy bukti kepemilikan atau penguasaan suatu bangunan, tempat atau kawasan yang mempunyai batas-batas yang jelas; Bukti Nomor Pokok Wajib Pajak; Gambar denah dan batas-batasnya yang meliputi tempat penimbunan barang impor, ekspor, barang untuk diangkut ke dalam daerah pabean lainnya melalui luar daerah pabean, dan tempat pemeriksaan barang dan ruang kerja Pejabat Bea dan Cukai; Daftar peralatan dan fasilitas penunjang kegiatan usaha yang dimiliki dan surat pernyataan sanggup untuk menyediakan peralatan dan fasilitas yang memadai; Surat keterangan dari pengusaha atau penanggung jawab Kawasan Pabean tentang penggunaan bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di dalam Kawasan Pabean bersangkutan sebagai Tempat Penimbunan Sementara; Berita Acara Pemeriksaan Lokasi; Surat pernyataan sanggup melaksanakan administrasi pembukuan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia; dan Surat pernyataan sanggup memenuhi peraturan perundangundangan di bidang kepabeanan.

Pasal 10 (1) Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap permohonan penetapan sebagai Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dalam jangka waktu paling lama 45 (empat puluh lima) hari sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar. (2) Persetujuan atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan menerbitkan Keputusan Penetapan Sebagai Tempat Penimbunan Sementara oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan. (3) Penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan menerbitkan surat pemberitahuan penolakan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan yang disertai dengan alasan penolakan. (4) Keputusan penetapan sebagai Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku sejak tanggal ditetapkan sampai dengan adanya pencabutan. Bagian Ketiga Penimbunan Barang di Tempat Penimbunan Sementara Pasal 11 (1) Penimbunan barang impor dan barang ekspor sementara menunggu pengeluaran atau pemuatannya, dilakukan di tempat penimbunan yang telah mendapatkan penetapan sebagai Tempat Penimbunan Sementara.

10

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(2) Barang yang berasal dari dalam daerah pabean dilarang ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara kecuali untuk : a. tujuan ekspor; b. tujuan reekspor; atau c. tujuan dikirim ke tempat lain dalam daerah pabean dengan melewati tempat di luar daerah pabean. Pasal 12 (1) Penimbunan barang di dalam Tempat Penimbunan Sementara wajib dipisahkan antara barang impor, barang ekspor, dan barang untuk diangkut ke dalam daerah pabean lainnya melalui luar daerah pabean. (2) Barang-barang berbahaya, merusak, dan/atau yang memiliki sifat dapat mempengaruhi barang-barang lain atau yang memerlukan instalasi atau penanganan khusus, wajib ditimbun di tempat khusus yang disediakan untuk itu. (3) Peti kemas kosong wajib ditimbun di tempat khusus yang disediakan untuk itu. (4) Barang impor, ekspor, atau untuk diangkut ke dalam daerah pabean lainnya melalui luar daerah pabean yang ditimbun di gudang penimbunan, wajib diberi identitas secara jelas. Pasal 13 (1) Peti kemas atau kemasan barang-barang lainnya yang ditimbun dalam Tempat Penimbunan Sementara hanya dapat dibuka untuk kepentingan pemeriksaan fisik barang dalam rangka pemeriksaan pabean. (2) Dalam hal terdapat permohonan tertulis dari pemilik barang atau kuasanya, Pejabat Bea dan Cukai dapat memberikan persetujuan untuk membuka peti kemas atau kemasan barang untuk tujuan selain yang dimaksud pada ayat (1). Pasal 14 (1) Penimbunan barang di Tempat Penimbunan Sementara yang berada di dalam area pelabuhan laut atau bandar udara ditetapkan paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penimbunan. (2) Penimbunan barang di Tempat Penimbunan Sementara yang berada di tempat lain, ditetapkan paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penimbunan. (3) Barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara yang tidak dikeluarkan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan sebagai Barang yang Dinyatakan Tidak Dikuasai. Bagian Keempat Kewajiban dan Tanggung Jawab Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara Pasal 15 (1) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara wajib menyediakan tempat atau bangunan dan sarana yang memadai untuk tempat pemeriksaan barang yang ditimbun di dalam Tempat Penimbunan Sementara. (2) Tempat, bangunan, dan sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan yang memungkinkan dapat dilakukannya
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

11

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

pengeluaran, pemeriksaan, dan pemasukan barang dari dan ke peti kemas atau kemasan barang lainnya serta mengurangi resiko terjadinya kehilangan atau kerusakan barang. Pasal 16 (1) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara yang telah mendapatkan Keputusan Penetapan sebagai Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2), sebelum memulai operasional kegiatan sebagai Tempat Penimbunan Sementara wajib menyerahkan jaminan kepada Kepala Kantor Pabean yang mengawasi Tempat Penimbunan Sementara. (2) Besarnya jumlah jaminan ditetapkan dengan memperhatikan kapasitas, jenis, dan/atau volume Tempat Penimbunan Sementara. (3) Bentuk jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. uang tunai; b. jaminan bank; dan/atau c. jaminan dari perusahaan asuransi. Pasal 17 Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara yang akan memulai operasional kegiatan sebagai Tempat Penimbunan Sementara wajib memberitahukan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pabean yang mengawasi. Pasal 18 Tempat Penimbunan Sementara yang berada di bawah pengawasan Kantor Pabean yang telah menerapkan sistem Pertukaran Data Elektronik (PDE) Kepabeanan wajib memiliki aplikasi pengelolaan barang di Tempat Penimbunan Sementara dan menyediakan media komunikasi data elektronik yang terhubung (on-line computer) dengan aplikasi kepabeanan Kantor Pabean. Pasal 19 (1) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara wajib memberitahukan setiap perubahan data, tata letak lapangan atau bangunan, dan/atau pengalihan pengusahaan Tempat Penimbunan Sementara kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya. (2) Dalam hal perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyangkut perubahan terhadap kapasitas, jenis, dan/atau volume Tempat Penimbunan Sementara yang mengakibatkan perubahan besarnya jaminan, Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara wajib melakukan penyesuaian besarnya jaminan ke Kantor Pabean yang mengawasi. Pasal 20 Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara wajib menyampaikan daftar barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara yang telah melewati jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) kepada Kepala Kantor Pabean. Pasal 21 (1) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara wajib menyelenggarakan pembukuan dan menyimpan catatan dan dokumen, termasuk data

12

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

elektronik, yang berkaitan dengan pemasukan dan pengeluaran barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun. (2) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara wajib menyerahkan laporan keuangan, buku, catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan, surat yang berkaitan dengan kegiatan usaha termasuk data elektronik, serta surat yang berkaitan dengan kegiatan di bidang kepabeanan untuk kepentingan audit kepabeanan. Pasal 22 (1) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara bertanggung jawab atas bea masuk dan/atau cukai serta pajak dalam rangka impor yang terutang atas barang yang ditimbun dalam Tempat Penimbunan Sementara terhitung sejak saat penimbunan sampai dengan tanggal Pemberitahuan Pabean atas Impor. (2) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara dibebaskan dari tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam hal barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Sementaranya: a. musnah tanpa sengaja; b. telah diekspor kembali, diimpor untuk dipakai, atau diimpor sementara; atau c. telah dipindahkan ke Tempat Penimbunan Sementara lain, Tempat Penimbunan Berikat atau Tempat Penimbunan Pabean. (3) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara yang tidak dapat mempertanggungjawabkan barang yang seharusnya berada di tempat penimbunannya, wajib membayar bea masuk dan/atau cukai serta pajak dalam rangka impor yang terutang dan dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari bea masuk yang seharusnya dibayar. (4) Perhitungan bea masuk dan/atau cukai serta pajak dalam rangka impor yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sepanjang tidak dapat didasarkan pada tarif dan nilai pabean barang yang bersangkutan, didasarkan pada tarif tertinggi untuk golongan barang yang tertera dalam pemberitahuan pabean pada saat barang tersebut ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara dan nilai pabean ditetapkan oleh Pejabat Bea dan Cukai. Bagian Kelima Sanksi Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara Pasal 23 Kapala Kantor Pabean yang mengawasi Tempat Penimbunan Sementara memberikan peringatan tertulis kepada Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara dalam hal pengusaha Tempat Penimbunan Sementara: a. tidak mengindahkan ketentuan pemisahan penimbunan barang impor, barang ekspor, dan barang untuk diangkut ke dalam daerah pabean lainnya melalui luar daerah pabean, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1); b. menimbun barang-barang berbahaya, merusak, dan yang karena sifatnya dapat mempengaruhi barang-barang lain atau yang memerlukan instalasi
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

13

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

c. d. e. f. g. h.

i.

atau penanganan khusus, tidak di tempat khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2); menimbun peti kemas kosong, tidak di tempat khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3); tidak memberikan identitas barang impor dan barang ekspor yang ditimbun di gudang penimbunan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4); tidak lagi memenuhi ketentuan tentang tempat pemeriksaan barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15; tidak menyerahkan jaminan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan Pasal 19; tidak memberitahukan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pabean yang mengawasi sebelum memulai operasional kegiatan sebagai Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17; tidak memberitahukan perubahan data dan/atau kondisi fisik Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) berdasarkan rekomendasi dalam Laporan Hasil Audit di bidang kepabeanan atau dari unit pengawasan lainnya; dan/atau tidak menyampaikan daftar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20.

Pasal 24 (1) Keputusan Penetapan sebagai Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) dibekukan dalam hal pengusaha Tempat Penimbunan Sementara: a. menimbun barang selain yang diijinkan untuk ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2); b. tidak lagi memiliki dan menyelenggarakan sistem Pertukaran Data Elektronik (PDE) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18; c. tidak menyelenggarakan pembukuan dan tidak bersedia menyerahkan dokumen dan pembukuan lainnya sehubungan dengan audit di bidang kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21; d. tidak memenuhi kewajiban pelunasan bea masuk dan/atau cukai serta pajak dalam rangka impor, dan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah penagihan; e. tidak memenuhi ketentuan yang menjadi alasan diterbitkannya surat peringatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal surat peringatan; dan/atau f. direkomendasikan oleh unit pengawasan untuk dibekukan. (2) Pembekuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan dengan Surat Pemberitahuan Pembekuan atas Keputusan Penetapan Sebagai Tempat Penimbunan Sementara berdasarkan hasil penelitian atau audit yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai. (3) Selama dalam status pembekuan, Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara dilarang memasukkan barang ke dalam Tempat Penimbunan Sementara. Pasal 25 (1) Pembekuan Penetapan sebagai Tempat Penimbunan Sementara

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dicabut dalam hal pengusaha Tempat Penimbunan Sementara: a. telah mengeluarkan barang yang ditimbun selain yang diizinkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2); b. telah memiliki dan menyelenggarakan sistem Pertukaran Data Elektronik (PDE) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 sesuai waktu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal; c. telah menyelenggarakan pembukuan dan menyatakan bersedia menyerahkan dokumen yang diminta sehubungan dengan audit kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21; d. telah memenuhi kewajiban pelunasan bea masuk dan/atau cukai serta pajak dalam rangka impor, dan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3); e. telah memenuhi ketentuan yang menjadi alasan diterbitkannya surat peringatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23; dan/atau f. telah melaksanakan rekomendasi dari unit pengawasan. (2) Pencabutan pembekuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya dengan Surat Pemberitahuan Pencabutan Pembekuan atas Keputusan Penetapan Sebagai Tempat Penimbunan Sementara berdasarkan hasil penelitian atau audit yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai. Pasal 26 (1) Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri Keuangan melakukan pencabutan Keputusan Penetapan sebagai Tempat Penimbunan Sementara berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai. (2) Pencabutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam hal: a. Tempat Penimbunan Sementara dalam status pembekuan dalam waktu selama 6 (enam) bulan secara terus-menerus; b. Tempat Penimbunan Sementara tidak menjalankan kegiatan/usaha dalam jangka waktu 1 (satu) tahun secara terus-menerus; c. Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara terbukti bersalah telah melakukan pelanggaran tindak pidana di bidang kepabeanan berdasarkan putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap; d. Tempat Penimbunan Sementara dinyatakan pailit; dan/atau e. Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara mengajukan permohonan sendiri untuk dilakukan pencabutan. (3) Pencabutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi tanggung jawab Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara untuk menyelesaikan kewajiban pabean. (4) Atas pencabutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Pencabutan atas Penetapan Sebagai Tempat Penimbunan Sementara. BAB IV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 27 (1) Terhadap Kawasan Pabean yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Pabean
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

15

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

sebelum berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, wajib diajukan permohonan oleh pengelola Kawasan Pabean sesuai ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 3 atau diajukan permohonan untuk melakukan pemutakhiran data (up-dating) kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Terhadap Tempat Penimbunan Sementara yang telah ditetapkan sebagai Tempat Penimbunan Sementara sebelum berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, wajib diajukan permohonan oleh pengusaha Tempat Penimbunan Sementara sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 9 kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini. (3) Dalam hal pengelola Kawasan Pabean atau Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan memutuskan pencabutan penetapan sebagai Kawasan Pabean atau Tempat Penimbunan Sementara. BAB V PENUTUP Pasal 28 Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal. Pasal 29 Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini berlaku maka : a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 573/KMK.05/1996 tentang Tempat Penimbunan Sementara; b. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 131/KMK.05/1997 tentang Kawasan Pabean; dan c. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 147/KMK.05/1997 tentang Penunjukan Tempat Penimbunan Sementara, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 30 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2007. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Juni 2007 MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI

16

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 394 SEPTEMBER 2007

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->