P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 396

Warta Bea Cukai Edisi 396

4.0

|Views: 1,928|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2010

pdf

text

original

TAHUN XXXIX EDISI 396

NOPEMBER 2007

MENUNGGU IMPLEMENTASI
TUTUNG BUDI KARYA
DENGAN KEBERSAMAAN AKAN TIMBUL KOMUNIKASI YANG HARMONIS & SALING PERCAYA ANTARA BAWAHAN & ATASAN

PROFIL

WAWANCARA

PERMANA AGUNG

KITA INGIN AGAR MASYARAKAT BISA TRUST DAN CONFIDENCE PADA PEMERINTAH

DARI REDAKSI

64 Halaman
da yang sedikit berbeda dengan majalah WBC edisi November 2007. Kalau biasanya WBC muncul dengan isi 80 halaman, maka di edisi November ini WBC hadir agak ramping yaitu 64 halaman. Kenapa bisa begini ? Seperti sudah diketahui, pertengahan Oktober lalu, pemerintah menetapkan libur atau cuti bersama dalam rangka hari raya Idul Fitri dimulai hari Jumat 12 Oktober dan efektif kembali bekerja pada hari Senin 22 Oktober. Waktu libur yang cukup panjang ini ternyata menimbulkan persoalan tersendiri buat Redaksi. Pasalnya, sekalipun jadwal deadline sudah kami majukan sangat awal, kondisinya ternyata tidak seperti yang diharapkan. Artinya, Redaksi harus memilih apakah akan tetap muncul dengan 80 halaman namun dengan konsekuensi jadwal terbit yang dipastikan terlambat, atau harus memangkas jumlah halaman namun bisa terbit tepat pada waktunya, yaitu di kisaran akhir bulan tanggal 29-30 Oktober, untuk kemudian siap diedarkan di awal bulan November. Keputusan yang diambil, sekalipun berat hati adalah, memangkas jumlah halaman dengan maksud hadir tepat waktu. Kondisi ini membuat Redaksi terpaksa harus menunda beberapa artikel/berita yang telah selesai ditulis oleh redaktur WBC termasuk kiriman tulisan dari daerah, yang kemudian baru akan kami muat di WBC edisi Desember. Ada alasan lain kenapa kami berusaha untuk tidak terlambat terbit. Beberapa bulan belakangan Redaksi menerima keluhan tentang majalah WBC yang tiba sangat jauh dari tanggal terbit, khususnya terjadi di daerah-daerah luar pulau Jawa. Kalau WBC terbit tanggal 30/ 31 akhir bulan atau paling lambat tanggal 1 awal bulan, maka majalah ini baru bisa tiba di banyak tempat di luar pulau Jawa pada kisaran tanggal 15 bahkan 20 setiap bulannya. Perlu kami sampaikan kembali kepada para pembaca khususnya di luar pulau Jawa, bahwa pengiriman majalah WBC dilakukan dengan menggunakan jasa PT. POS. Ini dilakukan untuk menekan biaya pengiriman yang jumlahnya tidak sedikit. Pengiriman melalui jasa titipan swasta baik lokal ataupun asing bisa saja dilakukan, tapi pasti akan berdampak pada harga jual majalah yang akan terkerek naik. Untuk itu, apabila ada solusi yang bisa ditawarkan dalam hal pengiriman majalah ke daerah-daerah di luar Jawa, Redaksi akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Kami sendiri merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada, karena sebagai pelanggan tetap, Anda berhak mendapatkan yang terbaik, baik dari segi isi hingga masalah delivery. Namun hingga saat ini, pilihan menggunakan jasa pos adalah yang terbaik dengan mempertimbangkan berbagai kondisi. Terimakasih kami sampaikan untuk kesetiaan Anda sebagai pembaca setia majalah WBC. Kritik dan saran tetap kami nantikan untuk membuat majalah ini tampil lebih baik dari waktu ke waktu. Lucky R. Tangkulung

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Hanafi Usman Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kusdirman Iskandar Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Penindakan & Penyidikan Heru Santoso, SH Direktur Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan & Penerimaan KC Drs. Bambang Prasodjo Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum KC Drs. Erlangga Mantik, MA Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas & Kinerja Organisasi KC Drs. Joko Wiyono KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Dr. Kamil Sjoeib, MA WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Patarai Pabottinggi, Dra. Cantyastuti Rahayu, Ariohadi, SH, MA. Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Hendi Budi Santosa, Ir. Azis Syamsu Arifin, Muhammad Zein, SH, MA. Maimun, Ir. Agus Hermawan, MA. PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH ` Hilman Simbolon (Medan), Abdul Rasyid (Medan) Ian Hermawan (Pontianak) Donny Eriyanto (Makassar) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Mira Puspita Dewi S.Pt., M.S.M., Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO a/n : MIRA PUSPITA DEWI BANK BNI 1946 CABANG CIPINANG RAWAMANGUN, JAKARTA TIMUR Nomor Rekening : 131339374 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

A

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Dalam rangka pembenahan aparatur pemerintah, ditetapkanlah kedudukan, tugas pokok dan fungsi Inspektorat Jenderal Departemen. Apa saja tugas dan fungsi inspektorat jenderal khususnya di Departemen Keuangan, dan hal apa saja yang diawasi oleh lembaga ini? Ulasan lebih lanjut ada di rubrik Laporan Utama.

5-13

Wawancara

14-17
Menurut Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan, Permana Agung, agar seluruh jajaran Departemen Keuangan dapat melaksanakan peraturan perundang-undangan yang ada, Menteri Keuangan perlu perpanjangan tangan, mata dan telinga. Apa makna pernyataannya ini? Penjelasannya dapat disimak pada rubrik Wawancara.

Profil

60-63
Walaupu sejak kecil dirinya tinggal di lingkungan bea cukai, namun dirinya tidak tertarik untuk masuk kejajaran bea cukai, bahkan dirinya bercita-cita ingin bekerja di kehutanan. Bagaimana dirinya bisa terpikat menjadi pegawai bea cukai? Simak perjalanan hidup Tutung Budi Karya yang merupakan tokoh profil kali ini.

Pengawasan

38-45
DJBC kembali berhasil menegah barang-barang ilegal. Rubrik pengawasan kali ini akan menurunkan keberhasilan DJBC dalam menegah masuknya barang ilegal, diantaranya dari KPU Jakarta, KPPBC SoekarnoHatta, Kanwil DJBC Jakarta, dan ulasan mengenai kondisi penyidik di DJBC saat ini.

Daerah ke Daerah
Rubrik daerah ke daerah kali ini, akan menurunkan berita-berita dari daerah, diantaranya KPPBC Tanjung Pinang, Ambon, Purwakarta, dan sosialisasi UndangUndang Cukai yang dilaksanakan oleh Kanwil DJBC Sumatera Utara.

19-31

Apa Kata Mereka
Berbagai tanggapan akan kinerja bea cukai hingga kini terus disampaikan oleh masyarakat. Seperti halnya pendapat yang diutarakan oleh selebritis kita, Olivia Zalianty dan Gillbert Marciano, yang mereka tuangkan dalam rubrik Apa Kata Mereka kali ini.

64

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

1 3 4 18

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR INFO PEGAWAI Pegawai Pensiun per 1 Nopember 2007

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

TENAGA HONORER
Saya salah satu pegawai honorer mewakili teman-teman honorer yang bekerja di lingkungan DJBC Jakarta, ingin menanyakan soal pengangkatan PNS bagi honorer dibawah lingkungan DJBC. Kami sudah lama bekerja sebagai honorer di lingkungan DJBC, kami merasa seperti permainan sepakbola di oper sana di oper sini tentang status kepegawaian kami (tidak ada kejelasan). Sampai pada suatu ketika kami dimintai data yang katanya untuk pengangkatan menjadi PNS BC dan kami mendapat jawaban dari Sekretariat Jenderal dengan Nomor Surat S-205/SJ/2006 tanggal 3 April 2006 tentang Daftar Nama Pegawai Honorer Departemen Keuangan Yang Memenuhi Syarat Pendataan (melalui website www.beacukai.go.id). Alhamdulilah, apakah kami akan tetap diangkat sebagai pegawai Bea dan Cukai, karena menurut informasi yang kami tahu pengangkatan pegawai honorer sampai dengan tahun 2009. Terus terang kami kecewa sekali waktu ada pengangkatan pegawai tahun 2005, dari nama-nama kami yang telah di data tidak ada satu pun yang masuk diangkat menjadi pegawai. Setelah kami minta klarifikasi ke bagian kepegawaian ternyata honorer yang di daerah yang diangkat padahal dari mereka (honorer) ada yang baru saja menjadi honorer 1 tahun bahkan 6 bulan padahal kami yang sudah lebih dari 2 tahun tidak pernah ada tindak lanjutnya. Memang saya pernah dengar selentingan kalau honorer di Jakarta khususnya untuk pengangkatan sering menjadi ajang penyalahgunaan jabatan “bapakbapak” yang mempunyai jabatan sering memasukan nama honorer “gelap”. Kami benar-benar kecewa yang sudah tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata karena “pengabdian” kami, kerja keras kami selama ini tidak dihargai oleh DJBC, padahal kalau ditelaah kembali, secara tidak langsung kami telah membantu jalannya kerja (administrasi) Bea dan Cukai. Banyak di antara kami yang mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh pegawai Bea dan Cukai. Terkadang kami yang “dikejar-kejar” untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut padahal sifatnya tugas kami hanya membantu memperlancar saja, bahkan terkadang kami lembur. Kami minta maaf kalau surat kami ini kurang sopan tetapi inilah kenyataannya yang pada akhirnya harus kami ungkapkan kekecewaan kami saat ini karena banyak di antara kami yang akhirnya menganggur. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. S di KB Tanggapan : Sehubungan dengan pertanyaan Saudara S, bersama ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut : 1. Berdasarkan Pengumuman Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan nomor : S-205/ SJ/2006 tentang Daftar Tenaga Honorer Departemen Keuangan tanggal 3 April 2006 dapat dijelaskan bahwa : Bagi yang namanya tercantum dalam Daftar Tenaga Honorer Departemen Keuangan, tidak otomatis diangkat sebagai CPNS Departemen Keuangan. Proses pengangkatan akan dilaksanakan melalui prosedur sesuai peraturan perundangan yang berlaku apabila MENPAN telah menetapkan formasi untuk tenaga honorer di lingkungan Departemen Keuangan. 2. Bahwa Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dengan surat Nomor R-24/ M.PAN/8/2006 tanggal 16 Agustus 2006, dan Kepala BKN dengan surat Nomor K- 26/ 30/V.72-9/99 tanggal 7 Mei 2007 telah menyampaikan kepada Menteri Keuangan daftar nama tenaga honorer di lingkungan Departemen Keuangan yang diusulkan untuk diangkat sebagai CPNS untuk mengisi formasi tahun 2006. 3. Bahwa menanggapi hal tersebut dengan surat Nomor SR-112/MK.1/2007 tanggal Maret 2007 yang ditujukan kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan surat Nomor SR-313/ MK.1/2007 tanggal 3 Juli 2007 yang ditujukan kepada Kepala BKN, Sekretaris Jenderal atas nama Menteri Keuangan telah memberitahukan bahwa untuk saat ini Departemen Keuangan belum dapat mengangkat tenaga honorer menjadi CPNS, mengingat Departemen Keuangan sedang melaksanakan reformasi birokrasi dan penataan pegawai. Demikian kami sampaikan untuk diketahui. Kepala Bagian Kepegawaian Azhar Rasyidi / NIP 060079946

18 32 36

INFO PERATURAN SEPUTAR BEACUKAI SIAPA MENGAPA - Heri Winarko - Cahyo Wibowo - Anwar Lubis

48

KOLOM - Kita Boleh Saja Berencana, Tapi Hanya Boss Yang Boleh Menentukan - Customs Valuation : Sekedar Otokritik (2)

49

OPINI - Bea Masuk, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), Suatu pajak Atas Pajak ? - Pemeriksaan Barang

55

RUANG KESEHATAN Gusi Sering Bengkak

56

RENUNGAN ROHANI Silaturrahim

58

RUANG INTERAKSI Pahlawan, Siapa Pahlawan Diri Kita ?

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

Inspektorat Jenderal
Departemen Keuangan

LAPORAN UTAMA

Sesuai dengan peraturan yang berlaku, dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, pengawasan internal bagi unsur-unsur atau eselon I yang berada dibawah Departemen Keuangan, dilakukan oleh unit internal yang ada di Departemen Keuangan. Unit ini dikenal dengan nama Inspektorat Jenderal.

D

aparat pengawasan fungsional pemerintah di bawah Dealam rangka pembenahan aparatur pemerintah papartemen Keuangan. da awal berdirinya Orde Baru tahun 1966, Dengan dileburnya DJPKN menjadi BPKP sebagai aparat berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet Ampera pengawasan fungsional pemerintah di luar departemen, Nomor 15/U/Kep/8/1966 tanggal 31 Agustus 1966 maka sebagaimana departemen lainnya Departemen ditetapkan antara lain kedudukan, tugas pokok dan Keuangan hanya memiliki satu aparat pengawasan fungsi Inspektorat Jenderal Departemen. Pembentukan fungsional yaitu Inspektorat Jenderal. Mengingat beban tugas Institusi Inspektorat Jenderal pada suatu Departemen pada semakin berat, dirasakan perlu adanya peninjauan kembali saat itu dilakukan sesuai kebutuhan. susunan organisasi Inspektorat Jenderal Departemen Dengan keluarnya Keputusan Presidium Kabinet Keuangan, dan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Ampera Nomor 38/U/Kep/9/1966 tanggal 21 September Nomor Kep-800/KMK.01/1985 tanggal 28 September 1985 1966, dibentuk Inspektorat Jenderal pada delapan maka susunan organisasi Inspektorat Jenderal Departemen departemen termasuk Departemen Keuangan. Masih Keuangan disempurnakan kembali menjadi sebagai berikut: dalam Kabinet Ampera, dengan ditetapkannya Keputusan a. Sekretariat Inspektorat Menteri Keuangan Nomor Jenderal; 133/Men.Keu/1967 tanggal b. Inspektur Kepegawaian; 20 Juli 1967 (sambil GUIDING PRINCIPLES c. Inspektur Keuangan; menunggu pengesahan dari d. Inspektur Perlengkapan; Presidium Kabinet Ampera), INSPECTORATE GENERAL e. Inspektur Anggaran; dibentuk Badan Alat Pelakf. Inspektur Pajak; sana Utama Pengawasan 1. Always READ, Live in the the LEARNING g. Inspektur Bea dan Cukai; Departemen Keuangan yaitu h. Inspektur Umum. Inspektorat Jenderal DeparZONE, get out of the COMFORT ZONE temen Keuangan. 2. Set GOALS, hold your self ACCOUNTSelanjutnya, berdasarkan Memasuki masa Kabinet ABLE Keputusan Menteri Keuangan Pembangunan dengan Ren3. Be on time and prepared for meetings Nomor 2/KMK.01/2001 cana Pembangunan Lima tanggal 3 Januari 2001 Tahun (Repelita), upaya pe4. Do Not misuse confidental information tentang Organisasi dan Tata nyempurnaan aparatur pe5. Do Not WHINE Kerja Departemen Keuangan, merintah baik tingkat pusat 6. LISTEN to people struktur organisasi Inspektorat maupun di tingkat daerah kembali berubah secara terus dilanjutkan. 7. Give Back menyeluruh, yaitu menjadi Salah satu peristiwa pen8. Do The Right Thing, develop your action fungsi organisasi fungsional, ting yang ikut mewarnai plan before you get into a CRISIS dengan susunan sebagai sejarah perkembangan Ins9. Do Not Just point out problems, proposed berikut: pektorat Jenderal khususnya • Sekretariat Inspektorat Inspektorat Jenderal DeparSOLUTIONS Jenderal; temen Keuangan adalah 10. Guard your INTEGRITY and TOGETHER• Inspektorat Bidang I dibentuknya Badan PengaNESS, UNITY like it is your most precious sampai dengan wasan Keuangan dan Pempossession Inspektorat Bidang VII. bangunan (BPKP) berdasarkan Keputusan Presiden No11. Stay POSITIVE with PRIDE to be the mor 31 tahun 1983. PerangSejalan dengan adanya member of the Inspectorate General reorganisasi Departemen kat/aparat BPKP pada umum12. If you LIE to me, STEAL from the Keuangan, berdasarkan nya berasal dari Direktorat departement, STEAL from the customer, I Keputusan Menteri Keuangan Jenderal Pengawasan KeuaNomor 302/KMK.01/2004 ngan Negara (DJPKN) yang will “FIRE” you tanggal 23 Juni 2004 tentang merupakan salah satu unit/
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

GEDUNG INSPEKTORAT JENDERAL DEPARTEMEN KEUANGAN. Spot check juga harus menjamah seluruh eselon I di Depkeu.

Untuk mencapai visi tersebut, Inspektorat Jenderal mempunyai misi melakukan pengawasan untuk mengamankan penerimaan, pengeluaran, kekayaan dan hutang negara dalam rangka mewujudkan kepemerintahan yang baik (good governance) serta bebas dari praktik-praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme. Tercatat dalam sejarah organisasi pemerintah, Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan hadir pada tahun 1975 dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 405/MK/6/1975 tanggal 16 April 1975 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan. Setelah beberapa kali diubah, maka menurut perubahan yang terakhir yaitu Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 302/KMK.01/ 2004 tanggal 23 Juni 2004, Inspektorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional di lingkungan Departemen Keuangan terhadap pelaksanaan tugas semua unsur Departemen Keuangan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Inspektorat Jenderal menyelenggarakan fungsi: l Perumusan kebijakan, rencana, dan program pengawasan; l Pelaksanaan audit dan investigasi terhadap kebenaran pelaksanaan tugas,pengaduan, penyimpangan, dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh unsurunsur Departemen; l Pelaksanaan analisis terhadap kebijakan, ketentuan, kinerja dan laporan, yang bersumber dari unsur-unsur Departemen dan atau yang terkait dengan unsur-unsur Departemen. l Penyampaian hasil pengawasan, pemantauan, dan penilaian tindak lanjut hasil pengawasan. l Pembinaan, pengembangan sistem dan prosedur, dan teknis pelaksanaan pengawasan. l Pelaksanaan koordinasi pengawasan; l Pelaksanaan peran serta dalam rangka pemberantasan kejahatan internasional yang berkaitan dengan tugas dan fungsi Departemen; l Pelaksanaan urusan administrasi Inspektorat Jenderal.

Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, Inspektorat Jenderal membentuk sebuah unit investigasi yang disebut sebagai Inspektorat Bidang Investigasi sebagai pengganti Inspektorat Bidang VII. Sedangkan bidang tugas yang semula dilaksanakan Inspektur Bidang VII dilaksanakan oleh Inspektur Bidang VI. Dengan demikian, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 302/KMK.01/2004 tanggal 23 Juni 2004, Inspektorat Jenderal terdiri dari: 1. Sekretariat Inspektorat Jenderal; 2. Inspektorat Bidang I, dengan Obyek Pemeriksaan: DJP (kecuali PBB) BPPK; 3. Inspektorat Bidang II, dengan Obyek Pemeriksaan: DJP (kecuali PBB) dan 4. Inspektorat Bidang III, dengan Obyek Pemeriksaan: PBB dan DJLK; 5. Inspektorat Bidang IV, dengan Obyek Pemeriksaan: DJBC dan Itjen; . 6. Inspektorat Bidang V, dengan Obyek Pemeriksaan: Ditjen Perbendaharaan, DJAPK dan Bapeksi; 7. Inspektorat Bidang VI, dengan Obyek Pemeriksaan: Ditjen Perbendaharaan, Sekjen dan DJPLN; 8. Inspektorat Bidang Investigasi;

MEKANISME PENGAWASAN YANG DILAKUKAN ITJEN
Ditemui di ruang kerjanya, Permana Agung, Inspektur Jenderal Departemen Keuangan mengatakan, mekanisme pengawasan yang dilakukan Itjen terbagi menjadi 4 (empat). Pertama, pengawasan yang sifatnya rutin atau audit kinerja. Pengawasan yang sifatnya rutin ini mengawasi performance kantor-kantor atau auditan yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun demikian, lanjut Agung, pengawasan yang sifatnya rutin tersebut mempunyai kelemahan. “Karena objek yang diperiksa sudah mengetahui bahwa itu pemeriksaan rutin boleh jadi mereka dalam tanda kutip “sudah mempersiapkan”, tapi tidak masalah, karena itu kita harus berdayakan semua informasi. Mereka boleh saja sudah mempersiapkan terlebih dahulu, tapi kalau kita dapat info dari pengaduan dan lainnya maka kita bisa gunakan hal itu untuk menggali lebih dalam lagi,” jelasnya. Kemudian yang kedua adalah pemeriksaan yang tidak rutin atau yang dikenal dengan nama spot check. Sebelumnya spot check hanya berlaku untuk Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Tetapi karena pengawasan terhadap pengelolaan keuangan negara tidak hanya dilakukan oleh Bea Cukai saja tapi juga oleh unsur lain, maka spot check juga harus menjamah seluruh eselon I di Depkeu. Ketiga, audit tematik. Audit tematik merupakan pengawasan yang dilakukan berdasarkan tema atau current issue, yang bisa digali, didengar dan dirasakan dari media yang berkembang. “Jadi ada tema tertentu yang bisa kita jadikan dasar untuk melakukan audit,” tambah Permana. Kemudian yang terakhir adalah pengawasan integrated. Permana mencontohkan, sebelumnya kalau berbicara misalnya mengenai penerimaan tentang cukai hasil tembakau maka yang diperiksa oleh Inspektorat Bidang IV hanya DJBC saja. Padahal, penerimaan cukai juga menyangkut PPN yang dipungut oleh

VISI DAN MISI
Sesuai dengan tugas dan fungsi Inspektorat Jenderal telah menyusun visi dan misi yang digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan tugas dan mencapai tujuan. Visi Inspektorat Jenderal adalah menjadi pengawas intern Departemen Keuangan yang profesional dan bertaraf internasional atas pengelolaan keuangan dan kekayaan negara, yang hasil kerjanya diperlukan pimpinan untuk pengambilan keputusan. 6
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

DOK. WBC

Ditjen Pajak dimana Ditjen Pajak diawasi oleh Inspektorat Bidang I, II, dan III (tergantung regional kantornya-red). Kemudian, Ditjen Pajak juga harus menyetorkan penerimaan dari PPN tersebut ke Kas Negara yang juga merupkan unit eselon I Depkeu yang diperiksa oleh Inspektorat Bidang V dan VI. “Jadi sebelumnya, untuk satu tema yang boleh jadi saling erat hubungannya, pengawasannya agak terpisah. Sehingga pada saat proses audit, agak sulit menjadikan satu, bisa saja timingnya beda atau formatnya beda dan sebagainya. Untuk itu sekarang dicari jalan keluarnya. Kalau temanya satu, kita lakukan integrated. Jadi ada satu tim yang terdiri dari unit-unit bidang yang terkait yang ada di Itjen langsung memeriksa ke Bea Cukai, Ditjen Pajak, Kantor Kas Negara dalam rangka satu siklus tadi,” ujarnya. Jika dijumpai adanya pelanggaran atas aturan perundangan dan atau kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu) yang berdampak merugikan keuangan negara, dimana ada bukti awal yang kuat adanya indikasi tindak pidana, maka hasil temuan dari auditor atau pemeriksa MEDIA MASSA. Audit tematik merupakan pengawasan yang dilakukan berdasarkan tema atau current issue, yang bisa digali, didengar dan dirasakan dari media yang berkembang. tadi, diangkat dan diserahkan pada Inspektorat Bidang Investigasi atau IBI. gaimana proses pengawasan ini diawali dengan perencanaan, Sehingga, masalah yang berkaitan dengan penyelewengimplementasi, hingga sistem pelaporannya. Dan setahun 2 kali, an, penyalahgunaan wewenang apalagi sampai merugikan tiap akhir semester, Itjen membuat laporan ke Menkeu mengenai keuangan negara, harus dilakukan investigasi. Dalam hal ini performancenya,” jelas Agung. IBI bisa menyerahkan kasus pelanggaran tersebut pada Dengan demikian, tugas Itjen tidak hanya sebagai instrumen aparat penegak hukum lain, termasuk KPK, Polisi, Kejaksaan yang akan mengenakan sanksi pada setiap pelanggaran, tapi dan sebagainya. bisa dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya penyelewengan. Secara berkala IBI juga membuat laporan hasil investigasinya “Jadi, semua eselon I di Depkeu, baik Pajak, Bea Cukai, kepada Menteri Keuangan. Bahkan dikatakan Permana, Menkeu Anggaran dan lainnya mestinya sadar bahwa saya tidak mungkin sangat tertarik dengan hasil temuan yang diperolah Itjen sehingga bisa mengontrol anak buah saya, apakah mereka melaksanakan kerap diminta untuk mempresentasikan hasil temuan tersebut tugas dengan benar atau tidak, iya kan?” tanya Agung. keseluruh eselon I di Depkeu. Tujuannya agar mereka (eselon I di Ia melanjutkan, seharusnya unsur-unsur eselon I yang ada di Depkeu-red) menyadari masih adanya unsur-unsur mereka yang Depkeu mengatakan bahwa mereka membutuhkan Itjen agar melakukan penyelewengan dan penyalahgunaan wewenang dapat memastikan bahwa mereka melaksanakan tugas sesuai sehingga bisa segera diambil langkah-langkah perbaikan. dengan ketentuan. Jika tidak, akibatnya akan terjadi Lantas, siapa yang mengotrol IBI? Agung menjawab, pihakpenyalahgunaan wewenang, target tidak tercapai, penerimaan nya menunjuk salah satu bidang yang ada di Itjen untuk melakudrop, penyelewengan, pungutan liar dan sebagainya kan kontrol terhadap IBI. “Jadi kita saling kontrol dan itu sudah “Yang perlu saya sampaikan, Itjen sama sekali tidak punya baku disini. Ada komisi-komisi yang selalu melakukan evalusi bakeinginan awal untuk mencari korban… tidak seperti itu. Kita lebih DOK. WBC kepada melakukan peran prevention atau pencegahan, jangan sampai anda melakukan penyalahgunaan dan kalau sampai itu terjadi yang rugi tidak hanya diri anda dan institusi anda tapi juga Depkeu. Itu yang kita lakukan daripada melakukan enforcement,” tandasnya. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu ada masalah di Batam mengenai pembongkaran kasus rokok merek Marlboro. “Percaya atau tidak itu juga hasil dari Itjen. Jadi, berdasarkan pengaduan, pengamatan, kita melakukan spot check, ternyata teman-teman di lapangan, baru saja melakukan pemeriksaan fisik atas kontainer-kontainer yang datang. Saat Itjen masuk dan memeriksa ulang kontainer tersebut, hasilnya didapat rokok Marlboro sebanyak 10.000 slop yang disembunyikan didalam kemasan alat pengeras suara,” kata Permana. Berdasarkan temuan tersebut, ia kembali ingin menegaskan bahwa pihaknya hanya ingin menunjukkan bahwa Itjen berkeinginan untuk mengawal objek yang diperiksa. Pihaknya hanya ingin menyadarkan objek pemeriksa bahwa Itjen merupakan mitra yang sama-sama mengamankan keuangan negara, bahkan untuk menjaga integritas objek yang diperiksa. Untuk itu ia berharap agar unsur-unsur yang berada di bawah Departemen Keuangan harus GEDUNG KEJAKSAAN. IBI bisa menyerahkan kasus pelanggaran tersebut pada melaksanakan sesuai aturan dan harapan Menkeu. ifa aparat penegak hukum lain, termasuk KPK, Polisi, Kejaksaan dan sebagainya.
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA

Seluruh KPPBC yang Ada Di Indonesia
Ada atau tidak ada temuan, laporan harus disampaikan kepada Inspektur Jenderal, Departemen Keuangan (Itjen Depkeu), dan kepada objek yang diperiksa (dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai).

Periksa

Tidak Mungkin

B

erdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 131/KMK.01/2006, Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan terdiri dari 8 (delapan) Inspektorat Bidang dan Sekretariat. Salah satu dari delapan unit Inspektorat Bidang tersebut adalah Inspektorat Bidang IV, yang melaksanakan tugas pengawasan pelaksanaan tugas unsur Departemen Keuangan bidang pabean dan cukai serta pengawasan untuk tujuan tertentu. Inspektorat Bidang IV juga menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : (a) Penyiapan perumusan kebijakan, perencanaan dan pengawasan, review dan audit pada pelaksanaan tugas unsur Departemen Keuangan yang terkait dengan bidang tugas inspektorat serta kordinasi dan sosialisasi aspek pengawasan, (b) Menyelenggarakan pelaksanaan audit terhadap kebenaran, eksistensi dan atau efektifitas pelaksanaan tugas, juga atas pengaduan penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh unsur departemen. (c) Melakukan pelaksanaan analisis terhadap peraturan ketentuan yang ada dan yang diusulkan, (d) Melakukan pelaksanaan analisis terhadap kinerja dan laporan yang bersumber atau berkaitan dengan pelaksanaan tugas unsur departemen serta memberikan rekomendasi. (e) Menyampaikan informasi hasil pengawasan dan tindak lanjut mengenai penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang yang ditemukan serta rekomendasi yang telah dilakukan untuk mengatasinya, (f) Pelaksanaan peran compliance office untuk good government
WBC/ATS

dan risk management serta mendorong penerapan sistem pengendalian intern unsur departemen yang terkait dengan bidang atau tugas Inspektorat Bidang IV, (g) Pencegahan dan pendeteksian penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang pada semua pelaksanaan tugas unsur-unsur departemen yang terkait dengan bidang tugas Bidang IV, (h) Pelaksanaan peran serta dalam rangka pemberantasan kejahatan internasional yang berkaitan dengan tugas dan fungsi departemen, (i) Menyelenggarakan unsur ketatausahaan dan kerumahtanggaaan Inspektorat Bidang IV. Ditemui di kantornya, Edy Setyo, Inspektur Bidang IV, Itjen Depkeu mengatakan pada WBC bahwa objek pemeriksaan unit Bidang IV adalah salah satu unsur Departemen Keuangan (eselon I) DJBC, mulai dari Kantor Pusat, Kantor Wilayah, KPU dan KPPBC. Adapun pemeriksaan yang dilakukan oleh unit Bidang IV mencakup pertama, pemeriksaan reguler atau compliance audit (pemeriksaan menyeluruh terhadap objek pemeriksaan). Dalam hal ini dilakukan pada unit yang relatif beban kegiatannya rendah misalnya pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC). Sedangkan untuk unit atau kantor yang mempunyai beban kegiatan yang relatif tinggi, seperti unit pada Kantor Pusat, Kantor Wilayah ataupun KPU (Kantor Pelayanan Utama) dan KPPBC, pemeriksaan yang dilakukan berupa audit tematik (dengan tema tertentu) seperti pemeriksaan yang dilakukan pada unit audit di Kantor Pusat dan Kantor Wilayah. Disamping itu, dilakukan pula pemeriksaan untuk tujuan tertentu atau audit khusus yang ditugaskan dari Inspektur Jenderal Depkeu untuk melakukan pengawasan untuk tujuan tertentu. Misalnya, jika ada informasi tentang terjadinya kongesti, dalam hal ini Itjen melakukan penugasan pencarian fakta. Selain itu, jika ada pengaduan adanya penyimpangan, penyalahgunaan tugas maka dilakukan audit berdasarkan tujuan tertentu tadi. Dalam pelaksanaan pengawasan untuk tujuan tertentu tersebut, karena Itjen memiliki unit Inspektorat Bidang Investigasi (IBI), maka ada batasan dimana hasil pemeriksaan yang dilakukan Inspektorat Bidang IV dilimpahkan kepada IBI. Namun demikian, Inspektur Jenderal yang memutuskan apakah pemeriksaan awal bisa dilakukan oleh unit Bidang IV atau langsung pemeriksaan diserahkan atau dilakukan oleh IBI. Kemudian, ada pemeriksaan mendadak atau spot check. Pemeriksaan mendadak ditujukan untuk menilai kinerja petugas DJBC dalam kaitan dengan pelaksanaan pemeriksaan pabean dan prosedur pengeluaran barang, serta mendeteksi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam importasi. Hasil pemeriksaan tersebut akan dilaporkan ke KPPBC itu sendiri, Kanwil, KPU dan Kantor Pusat.

PEMERIKSAAN FISIK BARANG. Demi terlaksananya pemeriksaan fisik barang yang akan dilakukan oleh Tim Itjen, seperti barang yang hendak diperiksa oleh Itjen, seyogyanya tidak dikeluarkan tanpa koordinasi dengan Tim.

8

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

MEKANISME PEMERIKSAAN
Berbicara mengenai mekanisme pemeriksaan yang dilakukan unit bidang IV, terlebih dahulu dibuat program audit dan atau proposal untuk pemeriksaan reguler maupun tematik. “Setelah itu, dilakukan evaluasi oleh pimpinan, apakah disetujui atau tidak atau perlu disempurnakan. Apabila disetujui pimpinan, baru dilaksanakan audit atau pemeriksaan. Atas pelaksanaan tugas, dibuatkan laporan hasil pelaksanaan audit atau hasil pemeriksaan yang ditujukan kepada objek pemeriksaan dengan tembusan pimpinan unit terkait,” jelas Edy. Dalam pemeriksaan tersebut didapat temuan atau tidak, pelaporan yang dibuat merupakan bagian dari pertanggungjawaban yang harus disampaikan kepada objek pemeriksaan (pimpinan unit yang bersangkutan). Oleh sebab itu, sebelum dilakukan pelaporan, terlebih dahulu dilakukan closing conference antara tim pemeriksa Itjen dengan auditan yang menjadi objek pemeriksaan dengan maksud untuk mendapatkan tanggapan atas temuan tim audit Itjen. Dalam hal pemeriksaan tertentu seperti pemeriksaan atas adanya pengaduan, pelaporan disampaikan kepada pimpinan dari unit atau objek pemeriksaan. Edy mencontohkan adanya pengaduan dugaan penyalahgunaan barang bukti atas suatu perkara yang ditangani oleh aparat bea cukai. Pengaduan tersebut menjadi kajian untuk diteliti lebih jauh kebenarannya, termasuk si pelapor itu sendiri (dengan cara melakukan wawancara untuk mengetahui kebenaran identitas si pelapor, relevansi pengaduan yang disampaikan, serta kemungkinan adanya kepentingan pengaduan tersebut). Lantas bagaimana jika pelapor tidak berani menampakkan wajahnya? Edy menjawab, seandainya hal itu terjadi maka terhadap materi pengaduan akan dilakukan penelitian dan pendalaman. Jika materi pengaduan tersebut cukup mendasar maka dilakukan pemeriksaan, dalam hal ini termasuk pemeriksaan tujuan tertentu. Edy melanjutkan, apabila diduga kuat ada penyimpangan dan atau penyalahgunaan wewenang, maka unit Bidang IV akan mengkoordinasikan dengan unit Inspektorat Bidang Investigasi (IBI) untuk ditindaklanjuti. Ia juga menegaskan bahwa pegawai di Itjen Depkeu bukanlah PPNS (penyidik pegawai negeri sipil) melainkan unsur pengawas internal dalam jajaran Depkeu. Lalu, apa perbedaan pemeriksaan yang dilakukan unit Bidang IV dahulu dan sekarang? Edy menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan dalam hal pemeriksaan. Sebab, dari dulu hingga saat ini, pemeriksaan secara menyeluruh atau compliance masih dilakukan. Hanya saja, perbedaannya terdapat pada perkembangan dan situasi yang saat ini berbeda dengan dahulu. Misalnya, untuk unit yang memiliki beban kerja tinggi seperti unit pada Kantor Pusat, tidak mungkin dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh dengan waktu dan tenaga yang ada. Untuk itu, dilakukan pemeriksaan atau audit tematik. Namun demikian Edy mengaku, pemeriksaan secara menyeluruh dalam jangka waktu satu tahun untuk semua KPPBC yang ada di Indonesia tidak mungkin dilakukan mengingat tenaga pemeriksa yang terbatas. Oleh sebab itu, pemeriksaan secara menyeluruh dilakukan berdasarkan risk management. Pasalnya, tidak semua KPPBC mempunyai resiko yang sama, ada KPPBC di pelosok daerah yang mungkin tingkat resikonya lebih tinggi daripada KPPBC yang berada di kota besar. Sehingga, penilaian resiko tersebut digunakan untuk menentukan kantor mana yang mendapat skala prioritas untuk dilakukan pemeriksaan.

WBC/ATS

TIDAK SAMA. Tidak semua KPPBC mempunyai tingkat resiko yang sama.

saan mendadak yang dilakukan Itjen diperoleh data bahwa dalam proses penerbitan NHI untuk keperluan pemeriksaan mendadak masih terdapat hal-hal yang sebenarnya perlu dilakukan. “Demi terlaksananya pemeriksaan fisik barang yang akan dilakukan oleh Tim Itjen, seperti barang yang hendak diperiksa oleh Itjen, seyogyanya tidak dikeluarkan tanpa koordinasi dengan Tim, tapi ternyata barang tersebut tetap dikeluarkan sebelum dilakukan pemeriksaan mendadak. Hal tersebut merupakan hasil yang tidak terukur yang perlu mendapat perhatian pimpinan unit DJBC,” kata Edy. Sehingga, pemeriksaan dilakukan diluar atau ditempat importir. Untuk itu, diperlukan koordinasi dan kerjasama terus menerus antara Itjen dan petugas bea cukai, terutama di lapangan. Sementara itu, program kerja Inspektorat Bidang IV untuk tahun 2008, Edy menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan DJBC. Pertama, mengenai kebijakan-kebijakan yang berkaitan erat dengan program-program unggulan yang dicanangkan DJBC. Kedua, pelaksanaan tugas dari unit penunjang seperti Pangkalan Sarana Operasi. Pasalnya, unit penunjang tersebut berperan penting dalam proses pelaksanaan tugas DJBC.

KOORDINASI DENGAN EKSTERNAL
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, unit Bidang IV berkoordinasi dengan pihak internal maupun eksternal. Untuk internal, koordinasi dilakukan dengan unsur-unsur yang ada di Depkeu seperti DJBC, Sekretariat Itjen dan Biro Hukum Depkeu. “Berkaitan dengan Biro Hukum Departemen Keuangan, sudah beberapa kali Biro Hukum meminta masukan atau tanggapan pada kami atas draft yang disampaikan oleh DJBC pada Sekretaris Depkeu,” jelas Edy. Dengan demikian, sejak awal unit Bidang IV dapat mengetahui peraturan-peraturan atau produk perundangundangan yang akan dikeluarkan oleh DJBC. Misalnya, terkait dengan rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengawasan Pengangkutan Barang Tertentu Dalam Daerah Pabean dan rancangan Peraturan Menkeu tentang Audit Kepabeanan. Sedangkan koordinasi dengan pihak eksternal, Edy mencontohkan dalam hal pemeriksaan mendadak, Itjen dapat melakukan koordinasi dengan pihak Tempat Penimbunan Sementara (TPS), pihak angkutan barang, pengurus barang dan pihak luar lainnya yang terkait dengan pemeriksaan mendadak. Di akhir wawancara Edy berharap kedepannya unit Bidang IV yang merupakan salah satu unsur Itjen Depkeu, dapat memenuhi harapan pimpinan. Disamping sebagai pengawas internal dari unsur yang ada di Depkeu, unit Bidang IV juga diharapkan dapat menyelenggarakan fungsi compliance office untuk good government dan risk management. ifa
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

PROGRAM KERJA BIDANG IV
Saat ini, Itjen Depkeu telah melewati semester I dan menginjak triwulan ke IV atau semester II. Oleh sebab itu, program yang masih tersisa yang harus dilaksanakan Inspektorat Bidang IV antara lain adalah pemeriksaan audit compliance yang disesuaikan dengan tugas-tugas audit lainnya. Contohnya, pemeriksaan atas layanan unggulan pada KPU dan pemeriksaan yang terkait dengan impor sementara pada Kantor Pusat, Kanwil, KPPBC terkait. Program lain yang masih tersisa adalah melaksanakan tugas yang diberikan oleh Inspektur Jenderal, seperti melakukan pemeriksaan mendadak. Edy mencontohkan, dalam rangka pemerik-

9

LAPORAN UTAMA

yang Diperiksa
P
Untuk mengetahui masalah yang ada di unit yang akan diperiksa (DJBC), salah satu cara yang dilakukan Itjen Depkeu adalah dengan menggali informasi yang dapat menjadi prioritas penentuan atau rencana pemeriksaan.
dikuasai negara, dan barang yang menjadi milik negara, sesudah enanganan masalah yang ada di Direktorat Jenderal adanya KPU. Bea dan Cukai (DJBC) juga bisa dilakukan atas Demikian pula masalah SPKPBM, juga perlu mendapat pengaduan dari masyarakat. Demikian penjelasan perhatian. Hal itu terkait dengan pengelolaan SPKPBM yang Edy Setyo, Inspektur Bidang IV, Inspektorat Jenderal sebelumnya dilakukan oleh KPPBC Priok I, II, III dan kini Departemen Keuangan (Itjen Depkeu). dilakukan oleh KPU. Ia menjelaskan, pada dasarnya pemeriksaan atau progSelain concern dengan KPU, unit Bidang IV juga menyoram kerja yang dilakukan oleh unit Bidang IV pada tahun roti peraturan atau ketentuan petunjuk pelaksanaan tentang 2007, sudah disusun sejak tahun 2006 yang dalam perjalanpenetapan nilai pabean. Berdasarkan hasil pengamatan yang annya, terjadi beberapa penyesuaian dengan situasi dan dilakukan dalam rangka mengawal KPU, ada beberapa hal kondisi yang ada. Contohnya, program kerja Itjen untuk tahun yang perlu menjadi perhatian. Salah satunya adalah 2007 tidak mencantumkan pengawasan terhadap KPU implementasi nilai pabean di lapangan. Apakah telah sesuai karena pada saat program kerja itu disusun (2006-red), KPU dengan peraturan perundangan yang ada. belum ada. Ternyata dalam perjalanannya, tahun 2007 KPU diresmikan. “Sehingga, ada program kerja yang seharusnya kami MENINGKATNYA PENGAWASAN DI KPPBC lakukan pada tahun 2007 tidak kami lakukan, dan kami Dari hasil pemeriksaan mendadak yang dilakukan Itjen, melihat bahwa KPU menjadi prioritas atau unggulan DJBC berkenaan dengan pelaksanaan pemeriksaan fisik barang yang sehingga dalam mengawal KPU, kami perlu pertimbangkan dilakukan oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa Barang (PFPB), untuk pemeriksaan pada KPU dengan mempertimbangkan juga diperoleh data bahwa volume impor kegiatan pada KPPBC situasi dan kondisi yang ada,” urai Edy. yang secara geografis relatif dekat dengan KPU (seperti Merak, Ia menambahkan, saat ini pihaknya juga tengah memperBandung-Gede Bage), relatif meningkat sejak 1-2 bulan sebelum siapkan pembuatan suatu data base mengenai peta KPU diresmikan. kerawanan yang ada di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai “Peningkatan ini merupakan suatu indikator risiko yang perlu (DJBC) dan pihak luar yang berkaitan dengan DJBC. Edy diantisipasi dengan peningkatan pengawasan terhadap kantormengaku, meskipun pihaknya tidak langsung berhubungan kantor tersebut,” imbuh Edy. dengan pihak luar tersebut, tetapi karena masih ada Untuk itu Edy berharap agar dengan diresmikannya KPU, ashubungannya dengan DJBC maka hal itu bisa menjadi bahan pek pelayanan khususnya kelancaran arus barang menjadi sesupertimbangan. atu yang sangat vital untuk diperhatikan. Hal tersebut dikarenakan Ia mencontohkan peta kerawanan yang ada di DJBC salah kelancaran arus barang, baik impor maupun ekspor merupakan satunya berada di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai salah satu tolak ukur keberhasilan KPU tanpa mengurangi aspek (KPU) Tanjung Priok. Sejak KPU diresmikan hingga saat ini, Itjen pengawasan. Dengan demikian, KPU bisa berjalan sesuai Depkeu terus mengikuti perkembangan pelakdengan yang diharapkan oleh DJBC. WBC/ATS sanaan KPU tersebut. Namun demikian Edy Tidak hanya KPU, saat ini DJBC sedang mengaku bahwa pihaknya belum melakukan giat-giatnya merampungkan rencana ujicoba pemeriksaan ke KPU. Hal itu disebabkan beNational Single Window (NSW) di Tanjung lum adanya timing yang tepat untuk melakuPriok, akhir 2007. Edy menguraikan bahwa kan pemeriksaan. dalam pengamatannya, harus diperjelas Selama ini unit Bidang IV memperoleh dimana percepatan waktu pelayanan itu terjadi masukan mengenai KPU dari beberapa sumdengan adanya NSW, apakah saat impor ber, seperti dari internal DJBC, masyarakat clearance atau customs clearance. dunia usaha dan media massa. Masukan-maKedepannya, Edy berharap agar apa yang sukan tersebut dikelola, yang kemudian sudah dicapai DJBC perlu ditingkatkan dilakukan pencarian fakta di lapangan atau dengan memperhatikan situasi dam kondisi di informasi terkait mengenai KPU, seperti dari lapangan yang terus bergerak dinamis. Oleh TPS, importir, eksportir, PPJK dan DJBC itu sebab itu DJBC harus bisa mengantisipasi kesendiri. mungkinan hambatan yang bisa terjadi dalam Sebagai contoh, dengan adanya pergantipelaksanaan tugasnya. an hampir seluruh pegawai KPU dengan peSelain itu juga kedepannya agar tercipta gawai yang baru, yang dipilih melalui seleksi, persamaan persepsi diantara personil bea hal tersebut dapat menimbulkan pertanyaan, cukai, seperti persamaan persepsi dalam hal apakah pergantian tersebut berdampak penetapan nilai pabean, begitu pula koordinasi negatif atau positif dalam rangka melakukan antara unit yang satu dengan yang lainnya dapelayanan dan pengawasan? lam menangani suatu masalah yang berkaitan. Ada beberapa hal yang perlu mendapat “Saya rasa kepastian pelayanan dan EDY SETYO. Kepastian pelayanan dan perhatian dari KPU Tanjung Priok seperti, pepengawasan merupakan sesuatu yang menjapengawasan merupakan sesuatu yang nanganan barang yang tidak dikuasai, barang menjadi harapan bagi dunia usaha. di harapan bagi dunia usaha. Misalnya dalam
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

DJBC Sebagai Unit

10

DOK. WBC

menangani suatu permasalahan, seyogyanya ditangani dengan benar hingga tuntas, jangan sampai ada kesan bahwa penanganan permasalahan itu terkatung-katung atau tidak ada kejelasan,” kata Edy yang juga berharap agar DJBC bisa lebih bekerjasama dengan unit-unit internal di Depkeu maupun eksternal (seperti dengan aparat penegak hukum lainnya).

WAJIB MEMBANTU
Saat ditemui di ruang kerjanya, Kamil Sjoeib, Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatakan, tugas pokok dan fungsi Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan (Itjen Depkeu) adalah sebagai pengawas. Jadi, kalau Itjen Depkeu mendatangi semua objek pemeriksaannya, hal itu merupakan bagian dari tugas. “Kita wajib membantu karena menurut saya inti dari pemeriksaan itu adalah bisa meluruskan apa yang tidak benar dan harus ada penindakan kalau memang ada pelanggaran,” tambahnya. Menurut Kamil, efektif atau tidaknya tugas Itjen Depkeu tergantung pada individu atau orang yang melakukan pemeriksaan itu sendiri. Ia, yang pernah menjabat sebagai Inspektur Bidang Bea dan Cukai di Itjen Depkeu sekitar tahun 1993-1994, menjelaskan bahwa untuk melakukan pemeriksaan sebaiknya si pemeriksa harus memiliki pengetahuan dan gambaran yang cukup untuk melakukan pemeriksaan. Ia mencontohkan, seseorang yang ingin melakukan pemeriksaan keuangan berarti orang tersebut minimal harus mengetahui cara pengelolaan keuangan, konsep dari keuangan itu sendiri, apa yang diinginkan dan sebagainya. Kamil sendiri tidak mengetahui bagaimana mekanisme yang dilakukan Itjen Depkeu dalam melakukan pemeriksaan pada DJBC. “Mungkin ada penekanan-penekanan tertentu yang dilakukan. Yang jelas mereka datang dengan surat tugas beberapa hari sebelum pemeriksaan. Setelah itu nanti ada laporan yang harus mereka buat,” jelasnya. Ia juga menegaskan, pemeriksaan yang dilakukan Itjen terhadap DJBC merupakan hal biasa yang rutin dilakukan tiap tahun. Tak hanya itu, pada dasarnya DJBC juga kerap diperiksa oleh pemeriksa fungsional, entah itu dari Itjen Depkeu, BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan), BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan sebagainya. Sejauh ini, lanjut Kamil, tidak ada keluhan atas pemeriksaan yang dilakukan Itjen pada DJBC karena hal itu merupakan pemeriksaan rutin dengan berganti-ganti objek pemeriksaan. Namun demikian, ia menghimbau harus ada koordinasi antar instansi pemeriksa agar tidak terjadi bentrok jika melakukan pemeriksaan di suatu objek yang sama dalam waktu yang bersamaan. “Tapi begini, dulu waktu saya masih bertugas di Itjen, ada keWBC/ATS sepakatan konsensi antara BPKP dan Itjen, supaya mengatur waktu agar tidak bertabrakan dalam melakukakn pemeriksaan. Tapi saya tidak tahu kalau sekarang bagaimana. Sedangkan untuk BPK, yang merupakan lembaga di luar eksekutif, yang merupakan lembaga tinggi negara yang notabene mengatur sendiri, itu saya tidak tahu bagaimana pemeriksaannya, tapi saya kira tidak sesering BPKP atau Itjen dalam melakukan pemeriksaan,” imbuhnya. Ia melanjutkan, setelah unit Bidang IV Itjen melakukan pemeriksaan KAMIL SJOEIB. Bisa saja ada perbedaan pen- pada DJBC maka pihak yang diperiksa dimintai dapat dalam menanggapi temuan Itjen tersebut, tetapi hal itu selalu ada titik temunya. tanggapannya terhadap

KPU BEA DAN CUKAI TANJUNG PRIOK. Saat ini Itjen lebih banyak melakukan pemantauan dan mengikuti perkembangan KPU.

hasil temuan yang ada. “Bisa saja ada perbedaan pendapat dalam menanggapi temuan Itjen tersebut, tetapi hal itu selalu ada titik temunya, karena acuannya kan selalu sama. Kalau bisa meyakinkan si pemeriksa alasan kita menolak atau tidak setuju terhadap temuannya, selesai sudah,” katanya. Tetapi jika Itjen merasa tidak puas atas tanggapan atau alasan dari objek yang diperiksa, maka Itjen akan meminta tanggapan atau tindakan lebih lanjut. Hal tersebut menurut Kamil merupakan hak dan tugas dari Itjen sebagai pihak yang menilai. Namun, apabila DJBC menerima hasil temuan tersebut maka DJBC harus menindaklanjuti hasil temuan tersebut untuk kemudian hasil tindaklanjut itu dilaporkan kembali pada Itjen. Saat ditanya apakah Itjen sudah melakukan pemeriksaan di KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, Kamil menjawab, Itjen tidak melakukan pemeriksaan seperti pada umumnya. Saat ini Itjen lebih banyak melakukan pemantauan dan mengikuti perkembangan KPU. Kedepannya Kamil menyarankan agar institusi pemeriksa, dalam hal ini Itjen Depkeu, minimal harus mempunyai pengetahuan yang sama dengan objek yang diperiksa. Ia kembali mencontohkan, apabila Itjen memeriksa masalah-masalah yang bersifat teknis di Bea dan Cukai artinya Itjen juga harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sama antara si pemeriksa dan objek yang diperiksa. Bukan hanya memahami teori tapi juga pelaksanaannya di lapangan. Dengan demikian, bisa diketahui apakah objek yang diperiksa sudah memenuhi ketentuan/aturan yang ada atau tidak. ifa
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA

Kawal Reformasi
Sejalan dengan adanya reorganisasi Departemen Keuangan, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tanggal 23 Juni 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, Inspektorat Jenderal membentuk sebuah unit investigasi yang disebut sebagai Inspektorat Bidang Investigasi.

Bidang Investigasi

L

atar belakang pembentukan Inspektorat Bidang Investigasi pada awalnya bersamaan dengan reformasi pada Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai tahun 2003. Pada saat itu, Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan (Itjen Depkeu) juga mengalami reformasi dengan melaksanakan dua tugas. Pertama, Inspektorat Bidang IV (yang menangani Bea dan Cukai) diberikan kewenangan untuk melakukan spot check. Kedua, Inspektorat Bidang VII direformasi menjadi Inspektorat Bidang Investigasi karena mempunyai tugas untuk mengawal reformasi di Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai, berkenaan dengan komitmen pemerintah mengenai good governance dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Berdasarkan SK Menkeu 302/KMK.01/2004 IBI dibentuk. Demikian penjelasan Hadi Rudjito, Inspektur Bidang Investigasi, Departemen Keuangan, saat ditemui WBC di kantornya. Sesuai PMK No. 131/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan Pasal 1444, IBI mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan kegiatan pengawasan, melaksanakan kegiatan investigasi berdasarkan kebijakan dan aturan hukum yang berlaku, atas dugaan penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang yang berkaitan dengan tugas dan fungsi unsur departemen, serta penyusunan laporan hasil pengawasan. Untuk mendukung tugas tersebut, IBI memiliki fungsi sebagai: (a) Penyiapan perumusan kebijakan, perencanaan dan pengawasan review dan investigasi pada pelaksanaan tugas unsur departemen, serta koordinasi dan sosialisasi aspek pengawasan. (b) Pelaksanaan investigasi terhadap kebenaran, efisiensi, dan/atau efektifitas pelaksanaan tugas, pengaduan, penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh unsur departemen. (c) Pelaksanaan analisis pengaduan, penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan unsur departemen, serta menindaklanjuti hasil audit Inspektorat Bidang yang diterima Inspektorat Bidang Investigasi. (d) Pelaksanaan peran compliance office untuk good governance dan risk management serta mendorong penerapan sistem pengendalian intern unsur departemen. (e) Penyampaian kegiatan intelijen dalam rangka kegiatan audit investigasi. (f) Pemberian keterangan ahli dipersidangan. (g) Pelaksanaan peran serta dalam rangka pemberantasan kejahatan internasional yang berkaitan dengan tugas dan fungsi departemen. (h) Pelaksanaan urusan ketatausahaan dan kerumahtanggaan Inspektorat. Semua eselon I yang berada di bawah Departemen Keuangan (Depkeu) merupakan objek pemeriksaan IBI. “Saat ini tim saya sedang memeriksa beberapa eselon I yang ada di Departemen Keuangan, diantaranya Bea dan Cukai, Pajak,

Perbendaharaan dan Biro Umum Sekjen, serta satu kasus lama yang berhubungan dengan penerimaan suap dari Komisi Pemilihan Umum,” terang Hadi. Ia menambahkan, sumber IBI dalam melakukan investigasi terhadap penyimpangan dan atau penyalahgunaan wewenang pegawai Departemen Keuangan (dalam melaksanakan tugas dan fungsinya-red), diperoleh dari berbagai sumber seperti berdasarkan pengaduan dari masyarakat, perintah pimpinan, pengembangan hasil audit Inspektorat Bidang, current issue, dan sebagainya. Sumber-sumber tersebut kemudian diteliti dan apabila terdapat penyimpangan maka tim investigasi akan diterjunkan ke lapangan untuk melakukan investigasi. Lebih lanjut Hadi menjelaskan, pengaduan yang datang ke IBI ada yang menyebutkan identitas ada pula yang tidak, bahkan ada yang menggunakan alamat dan nama palsu. Menghadapi hal tersebut, hal pertama yang dilakukan IBI adalah mempelajari materi pengaduan. Jika terdapat indikasi yang kuat dan benar tapi tidak lengkap, maka IBI akan meminta dan mencari tambahan informasi yang bisa diperoleh dari unit dimana pelapor tersebut mengadu, atau dari inforWBC/ATS

PPATK. Kerjasama IBI dengan institusi pemeriksa lainnya, seperti PPATK, berjalan dengan baik.

12

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WBC/ATS

masi lain yang dimiliki para auditor Itjen. Terhadap pelapor yang tidak ingin identitasnya diketahui, IBI pun akan melindunginya dan tidak menyebarluaskan identitas si pelapor untuk menjaga keamanan si pelapor itu sendiri. Dalam satu tahun, IBI bisa menerima hingga 200 pengaduan. Sebagai perbandingan, tahun 2005 IBI menerima 200 pengaduan, 55 diantaranya telah dilakukan audit. Pada 2006, IBI menerima 223 pengaduan, 36 diantaranya telah dilakukan audit, dan semester I tahun 2007, sebanyak 84 pengaduan diterima oleh IBI (20 diantaranya telah dilakukan audit). Bentuk pengaduan tersebut bermacammacam, bisa berupa surat pengaduan, email, serta melalui HADI RUDJITO. Sebagian besar telepon. Semua pengaduan itu staf saya sudah pernah ditanggapi oleh IBI. mengikuti pendidikan PPNS, Dari 200 pengaduan tersebut, tetapi karena tidak ada paling banyak pengaduan yang landasan hukumnya maka mereka tidak bisa ditujukan pada Ditjen Pajak. mendapatkan sertifikat PPNS. Sedangkan untuk Ditjen Bea dan Cukai jumlahnya relatif kecil, sekitar 5-7 persen dari 200 pengaduan yang diterima dalam satu tahun. Masalah yang diadukan pun mayoritas mengenai masalah penyelundupan. Selanjutnya, setelah IBI selesai melakukan pemeriksaan atau investigasi, IBI akan menyusun laporan hasil investigasi. Laporan itu kemudian diserahkan pada Menteri Keuangan (Menkeu) dan eselon I unit yang diperiksa. Isi laporan tersebut antara lain mengemukakan fakta dan data yang diperoleh di lapangan. Setelah itu, IBI memberikan rekomendasi pada unit eselon I yang diperiksa, hal-hal apa yang harus diperbaiki, termasuk menyampaikan pemberian sanksi disiplin bagi pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran. Dalam melakukan pekerjaannya, terkadang IBI mengalami penolakan dari pihak yang akan diperiksa. “Kalau seudah begitu kita minta eselon I-nya untuk menyadarkan yang bersangkutan. Seperti misalnya pernah terjadi di Bea Cukai. Waktu itu ada salah satu personilnya yang melakukan tindak kekerasan saat melakukan pemeriksaan pada importir. Importir tersebut mengadukan kekerasan yang diterimanya pada kami dan pada saat kami melakukan pemeriksaan pada personil bea cukai tersebut, ia menolak untuk kami periksa. Akhirnya kami meminta bantuan dari Direktur Jenderal Bea Cukai untuk membantu kami,” paparnya.

VII. Untuk menjadi seorang investigator ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Diantaranya memiliki integritas tinggi, serta berkomitmen penuh untuk membantu pemerintah dalam rangka good governance. Para investigator juga harus melewati beberapa ujian, seperti tes psikologi dan tes kebohongan (bekerjasama dengan pihak Kepolisian-red). Saat ini jumlah investigator yang ada di IBI sebanyak 26 orang. Jumlah tersebut menurut Hadi dirasakan kurang cukup. Dengan banyaknya persoalan yang berkembang yang harus ditangani IBI, maka idealnya IBI memiliki sekitar 35 orang investigator. Kerjasama IBI dengan institusi pemeriksa lainnya pun berjalan dengan baik. Misalnya saja dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK), IBI telah menandatangani Tabel. Pelaksanaan Tugas IBI 2007 (Semester I)
Telah dilakukan audit hingga semester I sebanyak 20 penugasan. l Penjatuhan hukuman sanksi. Rekomendasi penjatuhan sanksi kepegawaian sesuai dengan PP 30 tahun 1980 dilakukan terhadap 23 orang pegawai dengan rincian : hukuman ringan : 9 orang hukuman sedang : 3 orang hukuman berat : 11 orang jumlah : 23 orang

Tabel. Rincian Penjatuhan Hukuman Sanksi dan Kerugian Negara Tahun 2007 (Semester I)
No. 1 2 3 4 5 6 7 No. 1 2 Eselon I DJP DJBC DJPb DJKN Setjen BPPK DJLK Total Uraian Kerugian negara Dikembalikan Hukuman Disiplin Pegawai Ringan 7 2 0 0 0 0 0 9 Sedang 2 0 1 0 0 0 0 3 Berat 7 2 1 1 0 0 0 11 Tahun 2007 8.159.391.291 211.000.000 16 4 2 1 0 0 0 23 Total

Tabel. Pelaksanaan Tugas IBI Tahun 2006
Telah dilakukan audit sebanyak 36 penugasan.· Penjatuhan hukuman sanksi.Rekomendasi penjatuhan sanksi kepegawaian sesuai dengan PP 30 tahun 1980 dilakukan terhadap 104 orang pegawai dengan rincian : - Hukuman ringan : 31 orang - Hukuman sedang : 34 orang - Hukuman berat : 39 orang - Jumlah : 104 orang

BUKAN PPNS
Hadi menambahkan, IBI bukan PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) karena Inspektorat Jenderal tidak memiliki Undang-Undang. “Padahal, sebagian besar staf saya sudah pernah mengikuti pendidikan PPNS, tetapi karena tidak ada landasan hukumnya maka mereka tidak bisa mendapatkan sertifikat, jadi kita hanya memperoleh ilmunya saja. Jadi, disini kami bekerja karena dedikasi ditambah nekat, sebab kami juga melakukan pengintaian,” imbuhnya. Saat melakukan investigasi ke lapangan, IBI tidak menggandeng unit Inspektorat Bidang lainnya. IBI bergerak sendiri. “Karena tugas kita khusus, yakni memeriksa pegawai di Departemen Keuangan bukan memeriksa kinerja kantor,” lanjut Hadi. Namun demikian, tim-tim dari Inspektorat Bidang lain kerap meminta bantuan pada IBI untuk melakukan pemeriksaan suatu kasus jika ada indikasi terjadi penyimpangan yang sifatnya harus dilakukan investigasi. Berbicara mengenai sumber daya manusia (SDM) IBI, Hadi mengatakan bahwa para investigator yang bertugas di IBI merupakan rekrutmen dari pegawai Inspektorat Bidang I-

Tabel.Rincian Penjatuhan Hukuman Sanksi dan Kerugian Negara Tahun 2006
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Eselon I DJP DJBC DJPb DJPLN Setjen BPPK DJLK ITJEN Total Uraian Kerugian negara Dikembalikan EDISI 396 NOPEMBER 2007 Hukuman Disiplin Pegawai Ringan 21 6 0 4 0 0 0 0 31 Sedang 26 1 1 3 0 2 0 1 34 Berat 29 2 1 4 1 0 1 1 39 Tahun 2006 204.887.928.261 5.084.191.640 WARTA BEA CUKAI 76 1 2 11 1 2 1 2 104 Total

No. 1 2

13

LAPORAN UTAMA
MoU dalam rangka penelusuran pegawai Departemen Keuangan yang diduga melakukan penyelewengan. Hadi mengaku hingga saat ini pihaknya belum pernah secara bersamaan dengan instansi pemeriksa lainnya melakukan investigasi ke lapangan. “Karena sebelum kita terjun kita selalu mencari informasi terlebih dahulu, seandainya bertemu dengan instansi pemeriksa lainnya pun biasanya pemeriksaannya beda. Karena kita kan memeriksa orang yang diduga melakukan penyelewengan, bukan kinerja kantor,” tandasnya. Ia juga mengatakan bahwa selama ini pihaknya belum pernah mendapat laporan secara langsung penyimpangan atau penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh pegawai IBI atau investigator. Hal tersebut kemungkinan besar dikarenakan IBI merupakan satusatunya unit di Departemen Keuangan yang menerima tunjangan kegiatan tambahan (TKT) sejak Januari 2005. “Tapi kalau laporan dari luar yang sifatnya emosional, merasa tidak puas, tidak senang pada IBI, itu banyak,” tambah Hadi yang menambahkan secara struktural Inspektur Jenderal yang langsung mengawasi IBI. Namun demikian, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga dapat memeriksa IBI. Lalu, apakah benar anggaran IBI untuk melakukan investigasi tidak terbatas? Hadi menolak anggapan tersebut. Tetapi, ia mengaku jika berbicara mengenai kelonggaran, IBI memang diberikan kelonggaran dalam penggunaan anggaran, dalam arti seberapa besar kebutuhan IBI akan dipenuhi. “Tapi dalam menggunakan anggaran tersebut kami selalu ada pertanggungjawabannya,” papar Hadi. Sebagai perbandingan, lanjut Hadi, antara tahun 2005-2006, anggaran yang dipergunakan oleh IBI lebih kecil dari hasil yang diperoleh. Bahkan untuk tahun 2005, bukan hanya jumlah kerugian negara saja yang bisa diungkap oleh IBI tapi juga uang yang dikembalikan ke negara juga lebih besar dari anggaran yang digunakan. Namun demikian, ia mengaku bahwa jumlah yang dicapai IBI tetap tidak lebih besar dari temuan yang diperoleh Inspektorat Bidang lainnya karena objek pemeriksaan IBI adalah personil Departemen Keuangan yang melakukan pelanggaran.

WAWANCARA

Inspektur Jenderal Departemen Keuangan

Permana Agung

Partner Untuk Menertibkan Kebocoran”
Sesuai dengan visinya, Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan (Itjen Depkeu) menjadi pengawas intern Departemen Keuangan atas pengelolaan keuangan atas kekayaan negara yang hasil kerjanya diperlukan untuk pengambilan keputusan. Untuk itu, peran Itjen Depkeu sangat dibutuhkan untuk menertibkan kebocoran-kebocoran yang mungkin terjadi pada tingkat eselon I di Departemen Keuangan. Untuk mengetahui bagaimana kerja Itjen Depkeu, Redaktur WBC Ifah Margaretta dan Fotographer Andy Tria Saputra, menyambangi Permana Agung, Inspektur Jenderal Departemen Keuangan, di kantornya. Berikut hasil liputannya.
Bisa dijelaskan visi Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan (Itjen Depkeu) sebagai pengawas intern Depkeu atas pengelolaan keuangan atas kekayaan negara? Saya mulai dulu dari pengelolaan keuangan negara. Sesuai dengan UU yang ada, yang dimaksud dengan pengelolaan keuangan negara adalah seluruh kegiatan yang dilakukan oleh pengelola keuangan negara. Yang ingin saya garis bawahi, ada 4 tingkat kegiatan pengelolaan keuangan negara, yakni perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawaban. Tugas atau peran pengelola keuangan negara tersebut pada dasarnya dilakukan oleh semua unsur di Depkeu yakni 12 unit eselon I. Dalam hal ini saya ingin menggarisbawahi kegiatan pengawasan. Selama ini kita melihat dan merasakan bahwa instrumen pengawasan dianggap sebagai sesuatu yang dalam tanda kutip “mengganggu”.

“Jadikan Inspektorat Jenderal Sebagai

PROGRAM KEDEPANNYA
Kedepannya, program kerja IBI adalah tetap melakukan pengawalan pada unsur-unsur yang ada di Depkeu agar tidak melakukan tindakan yang merugikan seperti KKN. Sesekali IBI juga melakukan sosialisasi mengenai tugas dan fungsi IBI ke unit-unit eselon I yang ada di Depkeu. “Tapi kedepannya saya berharap IBI ini akan bubar. Maksudnya, kalau Inspektur Bidang telah melakukan audit terhadap kinerja kantor dengan baik serta pelaksanaan tupoksi di masing-masing unit eselon I di Departemen Keuangan juga telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar, nantinya tidak akan terjadi penyimpangan. Kalaupun ada paling hanya satu-dua, itu pun bisa diredam oleh Inspektorat Bidang terkait. Dengan demikian fungsi IBI semakin berkurang,” paparnya. Di akhir wawancara Hadi berharap agar kedepannya Itjen, terutama para auditor bisa optimal dalam melaksanakan tugasnya. Ia juga berharap agar peran Itjen lebih pasti dan menonjol dibandingkan tahun sebelumnya serta mendapat kemudahan dalam menjalankan tugasnya. Ia mencontohkan, pasal 34 UU Perpajakan, menyulitkan investigator untuk memperoleh data perpajakan, karena harus meminta ijin dari Menteri Keuangan. Padahal, sebagai pengawas internal, seharusnya IBI tidak perlu mengalami kesulitan seperti itu. Untuk pegawai Ditjen Bea dan Cukai, Hadi menyarankan agar pegawai dapat bekerja lebih baik lagi dan mengabdi pada negara. Apalagi dengan adanya remunerasi, diharapkan pekerjaan yang dilakukan dapat lebih optimal. ifa 14
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

15

WAWANCARA
Mengganggu kepentingan mereka, mengganggu keberadaan mereka. Mereka katakan kalau Itjen datang, KPK juga datang, itu tumpang tindih waktunya, dan sebagainya. Boleh jadi itu benar…dan karena itu kita sebagai aparat pengawas, harus mengukur jangan sampai kegiatan kita melakukan pengawasan berdampak sebagai beban. Padahal, pengawasan di fungsi manajemen manapun ada yang namanya kontrol, apalagi Inspektorat Jenderal. tidak akan mudah memberikan kucuran dana kalau mereka tidak yakin apakah bantuan yang mereka berikan dapat meningkatkan kinerja, kan gitu? Dipihak lain, yakni Depkeu, supaya yakin bahwa kinerjanya itu terbukti maka Depkeu memasang janji-janji layanan unggulan tadi sebagai alat untuk mentrigger agar lembaga donor tadi mau memberikan bantuannya. Jadi, Itjen melihat layanan unggulan tidak saja sebagai wujud keberhasilan melakukan reformasi di Depkeu atau tidak, tapi sekaligus juga ada kaitannya bagaimana kesediaan lembaga donor memberikan bantuannya dalam rangka pembiayaan kita.

Untuk apa pengawasan tersebut dilakukan? Seorang Menteri Keuangan sebagai pimpinan tertinggi dari Depkeu sekaligus sebagai Bendaharawan Umum Negara juga harus menjadi pimpinan tertinggi mengelola Apakah KPU sudah memenuhi standar dari yang keuangan negara. Pertanyaannya, bagaimana seorang diharapkan Itjen, sejak diresmikan bulan Juli lalu? Menkeu bisa yakin bahwa 12 unit eselon I nya sampai pada Kalau saya lihat, Inspektorat Bidang IV itu rajin sekali jajaran paling bawah di seluruh Indonesia yang jumlah memantau perjalanan KPU, tiap minggu saya diberikan pegawainya 62.000 orang, melaksanakan aturan perundanglaporan tentang KPU entah itu sumbernya dari media atau undangan yang ada? Jadi, Menkeu perlu perpanjangan apa saja. Terus terang saat ini saya terlalu dini untuk tangan, perlu mata telinga, untuk meyakinkan dia dan itu adamenyampaikan penilaian pada KPU karena ini kan baru tiga lah Inspektorat Jenderal. bulan, masih banyak yang harus dilakukan KPU, entah itu Jadi, kalau dilihat dari struktur organisasi, Inspektorat mencari bentuk dan sebagainya, yang jelas masih dalam Jenderal mendampingi Menkeu dan Sekretaris Menkeu, yang proses. berfungsi membantu, memfasilitasi bagaimana agar rumah Berikan kesempatan pada mereka untuk mendevelop. Ini tangga Depkeu ini bisa berjalan dengan baik. Nah, nuansa ini tantangannya tidak main-main. Apalagi ujicobanya dilakukan yang membuat Itjen punya mata telinga dengan sanksi yang di Tanjung Priok, yang 75 persen volume impor ada disana. berbeda. Ini yang banyak tidak diketahui oleh jajaran yang Kalau ini gagal, tidak saja proses itu yang gagal tapi pasti ada lainnya. Kadang kita dibilang terlalu kejamlah, implikasi ekonomi yang juga sangat ini kan karena kita beda. substansial. Jadi, yang ada sekarang Itjen Jadi, kedatangan kita itu adalah atas nama justru mengawal KPU, sebagai mitra. MudahMenkeu. Untuk itu, salah satu tantangan Itjen mudahan bisa berhasil karena ini tidak mainSELAMA INI KITA adalah bagaimana meletakkan fungsi pengamain. wasan dari 4 kegiatan pengelolaan tadi, agar Saya punya pengalaman empiris di Amerika MELIHAT DAN menjadi cukup proporsional, jangan hanya dalam hal mengganti suatu undang-undang MERASAKAN heavy kepada salah satunya saja. Bahkan demi melakukan reformasi pelayanan publik. sekarang, masyarakat sudah menginginkan BAHWA INSTRUMEN Dari situ timbul pernyataan bahwa apa yang transparansi. Kita ingin agar masyarakat bisa sudah digantikan tadi, entah itu peraturannya, PENGAWASAN trust dan confidence kepada pemerintah. perundangannya, sistemnya, prosesdurnya, DIANGGAP SEBAGAI ternyata tidak terlalu memberikan banyak manfaat. Karena menurut mereka, the real Lalu, yang mengawasi Itjen sendiri siapa? SESUATU YANG regulation is not the one mention in the law or Harus ada semacam rasa ownership, is not the one return in the law. The real merasa dimiliki oleh masyarakat. Masyarakat DALAM TANDA regulation is in the name of the people. juga harus punya perasaan bahwa masyarakat KUTIP Jadi, regulasi yang riil yang menentukan yang memiliki Itjen. Masyarakat bisa menilai Itjen, disamping kita secara internal juga punya “MENGGANGGU”. bukan pasal sekian, bukan aturan, sistem atau tata laksana prosedur. Tapi pikiran orang-orang KPKA (komisi pengawas kualitas audit-red) yang melaksanakan tugas, sebagai ujung karena sebagian besar tulang punggung kita tombak, itu yang merupakan regulasi yang terdiri dari auditor. paling riil yang langsung dirasakan oleh para Komisi ini bertugas untuk mengawasi setiap eksportir, importir dan yang lain, bukan pasal-pasal tadi. auditor dalam melaksanakan tugas pengawasan tadi apakah Kalau orang-orang itu tidak berubah, masih melaksanakan sudah sesuai dengan standar-standar yang sudah ditetapkan bisnisnya atau tugasnya dengan menggunakan passion atau atau SOP (standard operation procedur-red). Kita harus press semangat yang lama, menggunakan standar yang lama, kuat pada pengaduan apapun dari masyarakat. Begitu kita akan gimana? Itu tantangan untuk semua untuk melakukan terima pengaduan kita akan katakan bahwa kita sudah teriperubahan mindset. ma pengaduan anda dan akan kita lakukan langkah-langkah menindaklanjutinya. Hasilnya pun akan kita sampaikan. Bagaimana anda melihat rencana ujicoba NSW di Tanjung Priok pada Desember nanti? Apa hot isue yang saat ini sedang berkembang, terutama mengenai Bea Cukai? Ini sebetulnya program yang relatif sudah lama, pada saat presiden melakukan diskusi antar negara wacana ini timbul, Sebetulnya ini relatif. Yang jelas, konsentrasi temanbagaimana caranya menghilangkan hambatan perdagangan teman itu sekarang adalah KPU. Ada janji-janji mereka yang antar negara terutama yang berada dalam satu region. dituangkan dalam SOP berupa layanan unggulan. Karena Karena begini, mereka yang memahami kiprah Bea Itjen harus mengawal reformasi kepatuhan internal, termasuk Cukai, mau tidak mau akan mengatakan bahwa Bea cukai itu didalamnya Bea Cukai, maka butir-butir yang ada di dalam hambatan. Karena seseorang yang ingin mengimpor barang layanan ini merupakan janji kepada masyarakat. Jadi tolong harus membuat dokumen, memberitahukan fisik barang, harsupaya janji itu bisa diwujudkan. Untuk itu Itjen memasang ganya, ijin dari instansi dan sebagainya, semua itu ditujukan mata telinga, lebih peka terhadap janji-janji itu. ke Bea Cukai. Jadi memang kiprahnya untuk menghambat, Kemudian, untuk tahun 2008 seharusnya kita punya tapi yang dihambat itu harus yang illegal, bukan yang legal. pemahaman bahwa anggaran kita hingga saat ini masih terus Makanya sekarang bergeser, peran customs sebagai berjalan. Pertanyaannya, kalau anggaran yang ada trade facilitation yang pro pada bisnis tapi tetap harus wasmengalami defisit maka harus ada sumber dana dari badan pada jangan sampai ada penyelundupan. Kaitannya dengan internasional. Sebagai lembaga donor, saya yakin, mereka

“ ”

16

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

NSW adalah menghilangkan hambatan tadi. NSW itu kan nantinya dokumen ekspor satu negara itu menjadi dokumen impor di negara tujuan atau negara lain. Sehingga tidak ada hambatan yang berarti yang diciptakan oleh Bea Cukai. NSW merupakan langkah terobosan supaya proses administratif jadi lebih cepat, ada yang di by pass dengan melakukan kemampuan teknologi sehingga ada langkah-langkah tertentu yang bisa dipotong. Masalahnya yang harus kita cermati, apakah NSW ini memotong proses kepelabuhanan atau juga memotong proses atau prosedur kebeacukaian. Ini harus dilihat juga. Jadi yang di breakthrough tadi proses yang dimana? Karena proses kepabeanan itu hanya sebagian dari proses transaksi ekspor dan impor. Jadi NSW itu berada diproses impor clerance atau customs clearance?

walaupun di Bea Cukai sendiri ada Bagian Penindakan dan Penyidikan atau P2.

Bagaimana hubungan Itjen dengan Bidang P2 di Bea Cukai? Sebetulnya saya bicara ini bukan hanya untuk Bea Cukai tapi juga Pajak yang juga memiliki instrumen pengawas internal. Begini, pertama kita harus bisa membedakan underperform dan abuse of power. Underperform berarti tugas dari pada unsur di Depkeu tidak sesuai dengan performance yang diekspektasikan oleh masyarakat bahkan oleh pimpinan departemen. Misalnya saja layanan unggulan di KPU harus ada standarnya, yang dulu satu hari sekarang bisa 1 jam misalnya. Itu kan janji yang sekaligus menimbulkan ekspektasi masyarakat. Contoh lain underperform, kalau saya datang terlambat, terus baca koran, tidak langsung Untuk program kerja Itjen kedepannya apa? bekerja, itu berarti performance saya turun tanpa saya Ada gagasan dan inovasi-inovasi baru, diantaranya agar melakukan pelanggaran. Sehingga, tugas masing-masing Itjen punya undang-undang sendiri tentang pengawasan ineselon I untuk melakukan deteksi karena mereka punya ternal. Itu kita belum ada. Selama ini kita bekerja hanya berunit kepatuhan internal atau unit P2. dasarkan Keputusan Menteri Keuangan. Yang ideal itu Tapi kalau unit kepatuhan internal atau unit P2 tersebut harusnya ada undang-undang sendiri. dalam melaksanakan tugasnya menemukan underperformanSaat ini tahapan rancangan undang-undang itu masih ce, kemudian mereka melakukan penelitian dan ternyata di dalam tingkat akademik review. Saya mengundang dalam penelitian tersebut ditemukan ada aparat yang melaUniversitas Pajajaran yang sudah mempelajari undangkukan abuse of power atau penyalahgunaan/penyelewengan undang ke-Itjenan di berbagai negara. Kita juga sudah kekuasaan maka harus dilaporkan pada Itjen. Sebab, sulit melakukan diskusi, seminar dan sudah mulai bagi mereka untuk memeriksa teman mereka memasukkan unsur-unsur data yang menjadi sendiri. Jadi, harus ada penanganan dari luar item didalam rancangan undang-undang itu. tapi masih di internal Depkeu, itulah Itjen. Kita juga sudah mulai melakukan diskusi Karena domain abuse of power itu tugasnya dengan penegak hukum lainnya, seperti KPK MEREKA TIDAK Itjen, bukan unit internal mereka. dan sebagainya. Tapi dipihak lain, kaitannya dengan Bea Bahkan saya sudah membuat guiding AKAN MUDAH Cukai, Itjen tidak bisa melakukan pemeriksaprinciple Itjen. Itu saya lakukan karena yang MEMBERIKAN an kepada importir, eksportir, karena domain namanya misi visi merupakan prinsip-prinsip kita adalah melakukan pengawasan pada yang harus mendasari semua aktifitas Itjen KUCURAN DANA aparat internal Depkeu. Yang kita periksa dalam melaksanakan tugas sesuai tupoksiKALAU TIDAK YAKIN aparat bea cukai, jadi Direktorat P2 yang nya. Pesan saya, tolong misi visi itu jangan dijadikan sebagai hiasan saja karena kegaAPAKAH BANTUAN punya kewenangan untuk menyelidiki, menyidik sampai menuntut importir maupun galan dari semua eselon I banyak berkaitan YANG DIBERIKAN eksportir karena mereka punya PPNS (penyidengan belum adanya rasa memiliki terhadik pegawai negeri sipil-red). dap visi misi. DAPAT Jadi, keinginan membuat undang-undang MENINGKATKAN adalah agar kita memiliki komitmen yang leHarapan anda terhadap Bea Cukai dan Itjen bih kuat. Masyarakat mengharapkan mereka sendiri? KINERJA. bisa trust dan confidence kepada DeparteSecara perlahan tapi pasti Bea Cukai harus men Keuangan. Kita sendiri berharap agar bisa menghandle dua hal tadi, public perseption masyarakat entah itu importir, eksportir untuk dan public assessment, untuk mengubah kesan patuh pada aturan yang ada. para pengguna jasa. Berikan contoh suri taulaPertanyaannya sekarang, bisakah kita membuat importir, dan yang baik, hanya dengan itu saja, kita bisa mengharapeksportir kita taat kepada aturan-aturan yang ada? Melihatkan eksportir maupun importir taat pada peraturan. nya begini, kalau kita bicara soal Bea Cukai, masyarakat itu Kedua, kerjasama dengan Itjen, jadikan Itjen partner hanya mau taat kepada aturan-aturan kepabeanan kalau untuk menertibkan semua yang sifatnya kebocoran, karena tergantung kepada dua hal. Pertama, public perseption pada kalau kita berdua gagal, maka masyarakat masih belum mau Bea Cukai. Sekarang kalau kita tanya secara jujur pada taat pada peraturan kepabeanan. Jaga kewibawaan baju biru pengguna saja, siapa saja… kalau berhubungan dengan Bea DJBC, DJBC harus menjadi aparat yang dibanggakan Cukai kesannya bagaimana? betul oleh masyarakatnya. Masyarakat juga bisa trust dan confidence pada mereka, dengan begitu kita aman di sektor yang berkaitan dengan ekspor impor. Banyak yang mengeluh? Selain itu harapan saya, untuk membuat sisdur layanan Memang benar, itu tidak salah. Umumnya banyak unggulan juga harus berani menunjukkan area mana yang yang mengeluh, diantaranya kalau berhubungan dengan masih rawan terhadap terjadinya penyelewengan. Itu kalau Bea Cukai pasti lama, ekonomi biaya tinggi, Bea Cukai kita mau transparansi. Dengan begitu Itjen bisa melakukan tidak pro pada bisnis, merasa diintimidasi, Bea Cukai lebih banyak peran prevention dan education daripada tidak profesional dan sebagainya. Itu umumnya public enforcement, karena itu lebih mulia. perseption. Kalau persepsinya masih demikian, bisakah Untuk Itjen, harapan kita adalah suatu saat kita dapat kita harapkan mereka comply atau taat kepada aturanmendudukkan fungsi pengawasan secara proporsional aturan yang ada? sejajar dengan bobot perencanaan, pelaksanaan dan Kedua, public assessment. Bagaimana publik bisa pertanggungjawaban secara transparansi karena itu juga mengassess kalau terjadi pelanggaran yang dilakukan yang diminta oleh masyarakat. Saya ingin melaksanakan pegawai Bea Cukai, apakah bisa didetect atau tidak? tugas tidak hanya untuk bangsa dan Departemen Dipenalti atau tidak? Bisa dikenakan sanksi atau tidak? Keuangan, tapi juga untuk mendapatkan ridho Allah... ifa Nah, kedua hal ini ada hubungannya dengan Itjen

“ ”

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

17

INFO PEGAWAI

PEGAWAI PENSIUN T.M.T 01 NOPEMBER 2007
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 N A M A N I P 060040533 060052219 060049500 060040044 060049227 060040697 060052787 060058613 060049473 060047078 060050561 060045483 060045301 060035320 060040374 060048013 GOL III/d III/a III/a III/b III/b III/a II/d II/a III/a II/d III/a III/c III/c IV/b III/c III/b J A B A T A N Kepala Seksi Keberatan dan Banding II Pelaksana Pelaksana Korlak Adm. Tempat Penimbunan Berikat Korlak Adm. Tempat Penimbunan Berikat Pelaksana Pelaksana Pelaksana Korlak Adm. Keuangan dan Rumah Tangga Pelaksana Pelaksana Kepala Seksi Tempat Penimbunan I Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai II Kepala Sub Bagian Keuangan Kepala Seksi Perbendaharaan Pelaksana K E D U D U K A N Kantor Wilayah DJBC Banten KPPBC Tipe A2 Purwakarta KPPBC Tipe A4 Yogyakarta KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A2 Bekasi Sekretariat KP DJBC KPPBC Tipe A2 Jakarta Pangkalan Sarana Operasi Tipe A Tg Balai Karimun KPPBC Tipe A3 Pekanbaru KPPBC Tipe A1 Soekarno Hatta KPPBC Tipe A2 Jakarta KPPBC Tipe A3 Surakarta KPPBC Tipe A3 Tanjung Pinang Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY KPPBC Tipe A4 Yogyakarta Kantor Wilayah DJBC Jakarta Anwar Dahlan Sumardiono Tulus Rahardjo Sri Rahayu Darjati Dadi Putri Pandansari Arjuna Karo Karo Ambjah Abidin Suherman A. Nasrel Fachriyana Zaimin Herman Saborang Pardede Heroni Mediyanto, SM.HK Mardilis Sudarno, SH Siti Widosari Hary Mutono, SH

INFO PERATURAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Oktober 2007
No. 1. 2. Peraturan Nomor 89/PMK.04/2007 90/PMK.04/2007 Tanggal 30-08-07 30-08-07 P E R I H A L Impor Barang Pribadi Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas Dan Barang Kiriman. Pengeluaran Barang Impor Atau Barang Ekspor Dari Kawasan Pabean Untuk Diangkut Terus atau Diangkut Lanjut Dan Pengeluaran Barang Impor Dari Kawasan Pabean Untuk Diangkut Ke Tempat Penimbunan Sementara Di Kawasan Lainnya. Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Impor Beras. Perubahan Ketujuh Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 92/ PMK.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu Dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor.

3. 4.

93/PMK.011/2007 94/PMK.011/2007

31-08-07 31-08-07

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Oktober 2007
No. 1. Nomor PERATURAN Tanggal 26-09-07 P E R I H A L P-27/BC/2007 Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 24/PMK.01/2007 Tanggal 1 Maret 2007 Tentang Tata Laksana Impor Barang Dari Northern Territory Australia Ke Daerah Pabean Indonesia Selain Pulau Jawa Dan Sumatera. Standar Audit Di Bidang Kepabeanan.

2.

P-28/BC/2007

27-09-07

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Oktober 2007
PERATURAN No. 1. 18 Nomor SE-18/BC/2007
WARTA BEA CUKAI

Tanggal 17-09-07
EDISI 396 NOPEMBER 2007

P

E

R

I

H

A

L

Petunjuk Pelaksanaan Program Audit Dan Evaluasi Laporan Hasil Audit

DAERAH KE DAERAH
FOTO : BW/AMBON

FOTO BERSAMA, Kepala Kantor dan Staff KPPBC Ambon.

KPPBC Ambon
Diharapkan dengan membaiknya kondisi Ambon dapat merangsang tumbuhnya investasi di segala bidang untuk membangun kembali kota Ambon. Dengan banyaknya kegiatan investasi tersebut tentunya dapat mendorong kegiatan perekonomian. Dan pada akhirnya terjadi peningkatan kegiatan impor ekspor sehingga penerimaan dari sektor Bea Masuk dan pajak dalam rangka impor akan lebih meningkat.

K

epulauan Maluku adalah sekelompok pulau di Indonesia yang merupakan bagian dari wilayah nusantara. Kepulauan Maluku terletak di lempeng Australia. Ia berbatasan dengan Pulau Sulawesi di sebelah barat, Papua di timur, dan Timor di sebelah selatan. Pada zaman dahulu, bangsa Eropa menamakannya “Kepulauan Rempah-Rempah” istilah ini juga merujuk kepada sekelompok pulau di Afrika. Menurut sejarah banyak bangsa Asing yang singgah dan ingin menguasai hasil alamnya seperti Belanda, Portugis, dan Jepang. Kepulauan Maluku secara administratif merupakan bagian dari Provinsi Maluku yang beribukota propinsi di Ambon. Dengan adanya pemekaran wilayah pemerintahan daerah, Kabupaten Maluku Utara kemudian ditetapkan sebagai

provinsi tersendiri oleh pemerintah pusat sejak 4 Oktober 1999 berdasar UU No. 46/1999 dengan ibu kotanya Ternate. Provinsi Maluku kini terdiri dari wilayah kabupaten/kota : Ambon kota, kepulauan Aru, Buru, Maluku Tengah, Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, Seram Bagian Barat, dan Seram Bagian Timur Lokasi wisata dan peninggalan sejarah banyak terdapat di sini antara lain : Patung Pattimura di pusat kota Ambon, Patung Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang, Monumen Dolan di Kudamati, Tugu Trikora di Urimesing, Taman Makam Pahlawan PD II-Australia di Tantui, Monumen Australia di Laha ,Monumen Jepang di Tawiri,Patung Franciscus Xaverius di Batumeja ,Fort Victoria di Belakang Kota, Monumen Rumphius di Batu Meja, Museum Siwalima di Taman
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

19

DAERAH KE DAERAH
FOTO : BW/AMBON

Makmur , Pantai Namalatu di Latuhalat, Indonesia nomor : 444/KMK.01/2001 tanggal Pantai Natsepa Indah di Natsepa, Pantai 23 Juli 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Santai di Latuhalat, Tanjung di Tanjung Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Nusaniwe, Pintu Kota di Airlow. Cukai dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea wilayah kerja Kantor Pelayanandan Pengadan Cukai (KPPBC) Tipe A4 Ambon terletak di wasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe B Ambon area pelabuhan Yos Sudarso Ambon. dulu lebih luas dari yang ditetapkan sekarang Perjalanan dapat ditempuh dari Bandara Patiyaitu Kabupaten Maluku Tenggara yang terdiri mura lewat jalan darat yang halus, berkelok, dari Pulau Tual, Pulau Benjina, Pulau Dobo, dan terbentang pemandangan laut yang inKepulauan Saumlaki telah diserahterimakan dah dengan jarak kurang lebih 50 km. Apabila kepada KPPBC Tual, dan Pulau Mangole telah ingin mempersingkat jarak dan waktu dapat diserahterimakan kepada KPPBC Ternate. menyeberangi Teluk Ambon dengan kapal ferSejalan dengan perkembangan organisasi ry antara Poka sampai Galala. Nantinya direnDJBC maka ditetapkan Peraturan Menteri canakan oleh pemerintah daerah akan dibaKeuangan Republik Indonesia nomor : 68/ ngun jembatan yang menghubungkan kedua PMK.01/2007 yang menggantikan KMK no tempat tersebut sehingga perjalanan lebih lan444/KMK.01/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja instansi vertikal Bea dan Cukai maka car dan cepat. wilayah kerja Kantor Pelayanan Bea dan Cukai KPPBC Ambon selaku unsur pelaksana di Tipe B Ambon yang berganti nama menjadi daerah yang berada di bawah dan bertangKantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan gung jawab langsung kepada Kantor Wilayah KEPALA KPPBC AMBON, Munady Radiani. Cukai (KPPBC) Ambon terdiri dari Maluku, Papua, dan Irian Barat, mempunyai Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Buru tugas melaksanakan kegiatan operasional pedan Kotamadya Ambon yang dibagi dalam 1 (satu) Kantor layanan kepabeanan dan cukai berdasarkan peraturan perundangPengawasan Pelayanan Bea dan Cukai, 2 (dua) Kantor Bantu, undangan kepabeanan dan cukai dan kebijakan teknis yang dan 10 (sepuluh) pos sebagaimana terlihat pada tabel 1. ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai serta peraturanAgar pelaksanaan tugas pokok dan fungsi DJBC dapat peraturan dari instansi lain yang pelaksanaannya diserahkan kedilaksanakan secara optimal, faktor organisasi dan tata kerja yang pada bea dan cukai. ada saat ini seperti Kantor Bantu dan Pos perlu dilaksanakan Dalam tugas tersebut terkandung peran yang saling terkait evaluasi berkesinambungan sehingga dapat lebih akomodatif antara lain mengamankan penerimaan negara dari sektor impor, terhadap perubahan khususnya yang berkaitan dengan adanya ekspor dan cukai, melancarkan arus barang, membantu mencippemekaran wilayah di Propinsi Maluku. takan iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan industri dan investasi melalui pemberian fasilitas dan pencegahan unfair trading, serta menjamin perlindungan masyarakat terhadap ekses SUMBER DAYA MANUSIA negatif masuknya barang pembatasan dan larangan. Kondisi saat ini yang penuh persaingan serta perubahan lingKonsekuensi dari tugas utama tersebut adalah karakteristik kungan global, menuntut peran KPPBC Ambon yang lebih kompelaksanaan tugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) pleks sebagai penghimpun penerimaan negara, fasilitator dalam mempunyai 2 (dua) dimensi yang simultan, yaitu pelayanan dan perdagangan global, pengawas lalu lintas perdagangan pengawasan. Di bidang pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan internasional serta penegak hukum di bidang kepabeanan dan Cukai berusaha menciptakan dan memberdayakan sumber daya cukai, maka perlu dukungan SDM yang tangguh dengan menyang ada sehingga dapat melancarkan arus barang, mengurangi talitas bertanggung jawab dan moralitas yang tinggi, mengingat ekonomi biaya tinggi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif SDM merupakan faktor utama yang menentukan berhasil tidakbagi pertumbuhan industri dan investasi. nya misi organisasi Dilain pihak, melalui pelaksanaan tugas yang sama, DirektoSepenuhnya disadari bahwa komposisi sumber daya rat Jenderal Bea dan Cukai berusaha mengamankan penerimaan manusia KPPBC Ambon belum menunjukan komposisi yang negara, melindungi masyarakat, serta menegakkan law enforceideal untuk optimalisasi pencapaian tugas pokok dan fungsi ment untuk mencegah impor atau ekspor secara illegal dan apalagi dengan telah dilaksanakannya reorganisasi di masuknya barang larangan serta beredarnya barang kena cukai lingkungan Kantor Wilayah DJBC dan Kantor Pelayanan tanpa pembayaran cukai. DJBC yang memerlukan pegawai yang mempunyai Sebelum ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan Republik pendidikan teknis dalam bidang kepabeanan dan cukai.

JUMLAH KANTOR BANTU DAN POS
No Kantor Pelayanan 1 Ambon, meliputi : - Pelabuhan Ambon - Kantor Pos Lalu Bea Amboina No Kantor Bantu Pelayanan 1 2 Waisarisa (PL) Bandara Pattimura No Pos

Tabel 1

FOTO : BW/AMBON

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Banda (PL) Namlea (PL) Geser (PL) Wainibe/ P.Buru Masohi (PL) Ambon (PL) Galala (PL) Tulehu (PL) Hitu (PL) Opin/Pasahari (PL)

Ket : PL : Pelabuhan Laut 20
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

PEMANDANGAN PANTAI NATSEPA, salah satu obyek wisata alam Ambon yang indah.

FOTO : BW/AMBON

SARANA DAN PRASARANA

“Hingga saat ini jumlah pegawai KPPBC Ambon sebanyak 32 orang termasuk kepala kantor, idealnya secara kuantitas jumlah pegawai 45 orang dan secara kualitas perlu adanya tenaga pelaksana pemeriksa yang lulus dari D3,” tutur Munady Radiani selaku Kepala KPPBC Ambon. “Dalam kondisi keterbatasan jumlah pegawai dan wilayah kerja yang secara geografis terdiri dari pulau-pulau yang letaknya saling berjauhan, pelayanan kepada pengguna jasa (market forces) tetap diupayakan seoptimal mungkin sehingga arus barang impor dan ekspor tetap lancar,” jelas Munady. “Menjaga hubungan yang baik secara kekeluargaan dan keterbukaan antar pegawai serta hubungan pegawai dan stakeholder merupakan KUNJUNGAN DIRJEN BEA DAN CUKAI, Anwar Suprijadi Ke KPPBC Ambon didampingi Kakanwil Maluku, Papua, dan faktor pendukung dalam Irian Barat, Nazar Salim. menciptakan kinerja prima,”tutur Munady ketika ditanya lebih lanjut mengenai kiatmelaksanakan tugas.” Usulan pengadaan barang inventaris kankiatnya memipin KPPBC Ambon. tor telah diusulkan ke Kantor Pusat DJBC, tinggal menunggu realisasinya,” kata Munady Sarana dan prasarana yang dimiliki KPPBC Ambon berupa inventaris tanah, bangunan gedung atau rumah, alat angkutan, alat kantor, rumah tangga serta alat persenjataan, dan sebuah kapal patroli BC 1511. Sarana dan prasarana yang ada sudah berumur lebih dari 10 (sepuluh) tahun bahkan terdapat barang tidak bergerak yang berwujud bangunan tempat bekerja yang telah berusia lebih dari 30 (tiga puluh) tahun. Demikian pula halnya dengan barang bergerak yang menunjukan umur lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Mengingat perkembangan organisasi DJBC yang pesat, sarana dan prasarana yang ada dirasakan belum memenuhi persyaratan untuk mendukung pelaksanaan tugas dengan baik, yang pada gilirannya akan mempengaruhi kinerja DJBC. Untuk itu peremajaan dan pengembangan sarana dan prasarana sangat diperlukan, karena menentukan keberhasilan DJBC dalam
FOTO : BW/AMBON

DUNIA USAHA DAN INDUSTRI
Perkembangan perekonomian di Kawasan Timur Indonesia, berimplikasi langsung terhadap tumbuh dan berkembangnya dunia usaha industri dalam negeri pada umumnya dan wilayah Maluku pada khususnya. Hal ini dijabarkan dalam kebijaksanaan perekonomian yang menekankan kepada pertumbuhan ekonomi melalui pertumbuhan industri dan perdagangan yang berorientasi ekspor. Sebagian besar dunia usaha di Maluku bergerak di bidang usaha perikanan laut dan sisanya bergerak di industri kayu dan pertambangan. Kondisi kerusuhan beberapa tahun silam mengakibatkan dunia usaha mengalihkan kegiatan usahanya dari Ambon ke wilayah lain, bahkan ada juga yang memberhentikan kegiatan usahanya . Saat ini kegiatan dunia usaha dan industri yang berada di wilayah kerja KPPBC Ambon berupa usaha pertambakan udang, kegiatan pengeboran minyak dan usaha perikanan laut. Dengan cepat pulihnya kondisi keamanan di Ambon diharapkan akan memacu perkembangan industri serta investasi untuk pemulihan kondisi kota Ambon. Sehingga pada akhirnya akan membuka peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan penerimaan perpajakan dari sektor bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Sehubungan dengan itu, dalam mendukung upaya pengembangan dunia usaha dan industri di Maluku dan Ambon pada khususnya, dituntut pengurangan distorsi yang diakibatkan oleh terlalu banyaknya intervensi birokrasi di dalam aktivitas usaha dan industri. Hal ini menimbulkan tantangan, khususnya bagi DJBC yang memiliki karakteristik pelaksanaan tugas dalam 2 (dua) dimensi yang simultan yaitu pelayanan dan pengawasan. Di bidang pelayanan DJBC haruslah mampu memberdayakan sumber daya yang ada untuk memenuhi tuntutan tinggi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Namun disisi lain, DJBC harus mampu melakukan pengawasan dalam rangka mengamankan penerimaan negara, melindungi masyarakat, serta menegakkan hukum untuk mencegah masuk dan keluarnya barang secara illegal termasuk barang larangan dan pembatasan.
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

PENGAWASAN DENGAN patroli laut di sekitar Teluk Ambon dengan kapal patroli BC 1511.

21

DAERAH KE DAERAH
RUANG LINGKUP PELAYANAN DAN TARGET PENERIMAAN
Dalam bidang pelayanan KPPBC Ambon menunjukan kinerja yang baik dilihat dari segi tercapainya pencapaian peningkatan pelayanan serta kesadaran pengguna jasa untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran Bea Masuk yang harus dibayar. Kondisi ini merupakan refleksi dari kepuasan pelayanan yang diberikan aparat DJBC, sehingga hal tersebut dirasakan sebagai suatu hal yang mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif. Target penerimaan yang ditetapkan untuk KPPBC Ambon pada Tahun Anggaran 2006 dari sektor bea masuk adalah sebesar Rp. 880.680.000 sedangkan dari sektor cukai ditetapkan nihil karena tidak ada aktivitas pengusaha hasil tembakau maupun minuman ethyl alkhohol. Hasilnya, realisasi target penerimaan dalam TA. 2006 adalah sebesar Rp. 6.653.245.255,84 artinya jika dibandingkan dengan target penerimaan yang ditetapkan maka realisasi penerimaan mencapai 755,46 persen. “ Sumbangan bea masuk terbesar adalah impotasi beras oleh BULOG . Lebih lanjut target penerimaan bea masuk tahun 2007 pun telah tercapai bulan September ini dan diharapkan masih ada peningkatan hingga akhir tahun,” ungkap Munady Sebagai perbandingan target dan realisasi penerimaan bea masuk selama tiga tahun terakhir ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini

Sosialisasi Undang-Undang Cukai
Di Kanwil DJBC Sumatera Utara
Sosialisasi dilanjutkan oleh Tim Sosialisasi KP DJBC dengan menampilkan visualisasi dan penjelasan pasal demi pasal Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai oleh Tim Sosialisasi KP DJBC.

B

Jumlah ekspotir/importir yang terdaftar di KPPBC Ambon terdapat 24 buah. Impornya berupa pakan udang, perlengkapan penangkap ikan, dan beras. Sedangkan ekspor berupa ikan, udang, dan minyak. “ Pada awal November ini pun akan ada ekspor perdana tambang nikel di Piru Kabupaten Seram Barat yang diekspor oleh PT Usindo Sentosa, produksi sekitar 200.000 ton per tahun. Untuk ekspor perdana akan dikirim 30.000 ton dengan negara tujuan China,” kata Munady.

ertempat di Aula Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sumatera Utara,telah dilaksanakan sosialisasi Undang-undang No.39 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor : 11 Tahun 1995 Tentang Cukai oleh Tim Sosialisasi Kantor Pusat DJBC.Sosialisasi dilaksanakan selama dua hari yaitu tanggal 18 dan 19 September 2007.Hari pertama dilaksanakan terhadap Pengguna Jasa Barang Kena Cukai dan instansi terkait.Pada hari kedua diikuti oleh Pejabat/Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan serta para pegawai yang mewakili setiap unit kantor di lingkungan Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara. Acara sosialisasi dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil),Heryanto Budi Santoso dan dilanjutkan dengan penjelasan singkat oleh Direktur Cukai,Frans Rupang. Dalam penjelasan pembukaan,Direktur Cukai mengatakan bahwa perubahan Undang-Undang Cukai No.39 Tahun 2007 dimulai dengan melakukan inventarisasi yang perlu diamandemen kepihak-pihak yang berkompeten antara lain melalui para stakeholder,Asosiasi,Perguruan Tinggi, Ahli Bahasa dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sampai kepada pengesahan undang-undang oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2007. Buku Undang-undang No.39 Tahun 2007,hanya berisi pasalpasal yang berubah.Mengapa Undang-undang cukai dirubah?. Direktur Cukai memberikan penjelasan alasan perubahan yang terdapat dalam undang-undang baru yaitu : Agar lebih jelas,adanya kepastian hukum, kepastian berusaha dan lain-lain.
DOK. HULMAN & ABD RASYID

KUNJUNGAN SEHARI DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DI AMBON
Pada tanggal 1 Agustus 2007 Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi berkenan mengunjungi KPPBC Ambon dalam rangkaian kunjungan ke Kanwil Maluku, Papua, dan Irian Barat. Dirjen berkenan berkeliling ruangan, beramah tamah dengan pegawai, dan mengunjungi Pelabuhan Ambon Yos Sudarso. Dirjenberpesan kepada pegawai KPPBC Ambon agar tetap bekerja secara profesional dan sesuai peraturan yang berlaku. Bertitik tolak dari tugas-tugas yang diemban tersebut, KPPBC Ambon bertekad dengan sumber daya yang ada untuk lebih menyukseskan kebijakan maupun programprogram nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk membawa bangsa dan negara Republik Indonesia keluar dari krisis ekonomi untuk menuju masyarakat adil dan makmur seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 dengan mencanangkan suatu visi, misi, dan strategi sebagai pedoman rencana pengembangan KPPBC Ambon dimasa yang akan datang.

(Bambang Wicaksono, Koresponden WBC Wilayah Maluku, Papua, dan Irian Barat)
EDISI 396 NOPEMBER 2007

SUASANA SOSIALISASI UNDANG-UNDANG CUKAI. Yang melibatkan pengusaha Barang Kena Cukai di wilayah Sumatera Utara

22

WARTA BEA CUKAI

DOK. HULMAN & ABD RASYID

TIM SOSIALISASI KP-DJBC. Didampingi Kakanwil pada acara pembukaan acara sosialisasi. Tampak sebelah kiri Bambang Prasojo, Heryanto Budi Santoso dan Direktur Cukai Frans Rupang

Kriteria barang yang menjadi obyek cukai dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai perlu dipertegas dasar hukumnya dalam menetapkan BKC baru.Dalam undang-undang yang baru,kriteria BKC telah disusun dengan memperhatikan sifat kekhususan yang dimiliki oleh cukai yang menjadi faktor pembeda antara cukai dengan pajak.Beberapa prinsip dasar penegasan cukai yang menjadi acuan sifat dan karakteristik yang dimiliki cukai adalah : 1. Pemilihan cakupan ( selectivity in coverage ) dimana Cukai hanya dikenakan terhadap beberapa jenis barang tertentu. 2. Mempunyai sifat memilih sesuai dengan maksud atau tujuan pengenaan ( discrimination in intent)
DOK. HULMAN & ABD RASYID

3. Penegakan pemenuhan ketentuan ( aspek yuridis ) Dalam pandangan umum, Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Bambang Prasojo yang juga anggota tim sosialisasi memberikan motivasi kepada seluruh peserta sosialisasi untuk memahami undangundang cukai yang baru dengan baik.Undang-undang cukai No.11 Tahun 1995 terdiri dari 72 pasal, sedangkan Undangundang No.39 Tahun 2007 terdiri dari 82 pasal.Adapun lingkup perubahan meliputi : 1. Penegasan batasan obyek cukai 2. Tarif cukai paling tinggi 3. Pencetakan pita cukai 4. Peningkatan pelayanan dan optimalisasi penerimaan 5. Pengawasan dan peningkatan kepatuhan 6. Pemberatan sanksi di bidang cukai 7. Pembinaan pegawai dalam rangka kesetaraan 8. Dana bagi hasil cukai hasil tembakau 9. lain-lain Sosialisasi dilanjutkan dengan menampilkan visualisasi dan penjelasan pasal demi pasal Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai oleh Tim Sosialisasi KP DJBC. Pada sesi terakhir sosialisasi dilakukan tanya jawab antara peserta dengan Tim Sosialisasi.Pada hari pertama,tanya jawab dimulai dari mitra kerja dan pada hari kedua dimulai pertanyaan dari Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara,Heryanto Budi Santoso serta pertanyaan dari dari para pejabat/pegawai yang hadir.Seluruh pertanyaan dijawab oleh Tim Sosialisasi Kantor Pusat yang dipimpin oleh Direktur Cukai Frans Rupang.Direktur Cukai, dalam acara tanya jawab mengatakan bahwa bahan pertanyaan akan dipergunakan sebagai bahan masukan dalam menyusun petunjuk teknis pelaksanaan Undangundang Cukai yang baru. Tampak dalam gambar,Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara ,Heryanto Budi Santoso sedang mengajukan pertanyaan ke Tim Sosialisasi KP DJBC.

KAKANWIL DJBC SUMATERA UTARA. Mengajukan pertanyaan kepada tim sosialisasi dari KP-DJBC

Hulman Simbolon dan Abd. Rasyid Koresponden WBC Kanwil DJBC Sumatera Utara
WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

23

DAERAH KE DAERAH
FOTO : HULMAN SIMBOLON FOTO : HULMAN SIMBOLON

GEDUNG BARU KPPBC TIPE A4 TELUK NIBUNG

KEPALA KANTOR WILAYAH, HERYANTO BUDI SANTOSO sedang menandatangani prasasti gedung baru dan selanjutnya dilaksanakan pengguntingan pita yang disaksikan oleh Kepala Kantor DJBC Tipe A4 Teluk Nibung Beatus Hasibuan dan para tamu undangan lainnya.
FOTO : HULMAN SIMBOLON

Peresmian Gedung Baru
KPPBC Teluk Nibung
Proses pembangunan gedung tersebut dimulai sejak Desember 2006

P

ada tanggal 5 September 2007 bertempat di halaman Kantor Pengawasan dan Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Tipe A4, Jalan Besar Pelabuhan Teluk Nibung, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sumatera Utara, Heryanto Budi Santoso, meresmikan pemakaian gedung baru KPPBC Teluk Nibung yang ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita. Proses pembangunan gedung tersebut dimulai sejak Desember 2006 sampai dengan bulan Mei 2007,mempunyai luas bangunan sekitar 1000 m2 terdiri dari 3 lantai,menggunakan anggaran DIPA tahun 2006 sekitar Rp.4.02 miliar. Kepala Kantor Wilayah dalam sambutannya mengatakan bahwa, kebersamaan dalam proses pembangunan KPPBC Tipe A4 Teluk Nibung,Sumatera Utara adalah sangat baik, diharapkan dengan adanya kantor yang baru dapat menjawab tuntutan para pengguna jasa kepabean semakin baik. Pada kesempatan yang sama, Kakanwil mengatakan bahwa penerimaan Cukai KPPBC Teluk Nibung hingga Agustus 2007 mencapai sekitar 86 % sedangkan penerimaan Bea Masuk masih jauh dari target yang ditetapkan. Target penerimaan Bea Masuk KPPBC Teluk Nibung dianggap terlalu berat karena pencapaian target tergantung kepada volume kegiatan impor yang kondisinya jauh menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Selanjutnya,dukungan dari seluruh instansi
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

SAMBUTAN KAKANWIL DJBC SUMATERA UTARA. Pada saat peresmian KPPBC Tipe A4 Teluk Nibung. .

terkait dengan adanya kantor baru dapat mengoptimalkan performance dalam menunjang kebijakan-kebijakan pemerintah daerah.Dengan semangat profesionalisme dalam melaksanakan tugas pengawasan dan pelayanan diharapkan target cukai terlampaui dan target Bea Masuk tercapai. Hulman Simbolon Koresponden WBC Kanwil Sumatera Utara

24

DOK. KPPBC TANJUNG PINANG

KPPBC TIPE A3 TANJUNG PINANG. Dengan sarana dan prasarana yang ada, berusaha untuk tetap memberikan pelayanan dan pengawasan yang prima kepada masyarakat usaha.

Tanjung Pinang
Dengan terus melakukan pengawasan yang ekstra ketat dan memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat usaha, diharapkan trade mark Tanjung Pinang sebagai sarang penyelundup dapat terkikis secara perlahan-lahan.

KPPBC Tipe A3

S

ebagai pulau terbesar di kepulauaun Riau, Tanjung Pinang sejak dulu hingga sekarang tetap dijadikan motor perekonomian kepulauan Riau, selain Pulau Batam yang kini menjadi sentra industri dalam dan luar negeri. Perkembangan pesat Tanjung Pinang memang dapat dilihat dari berkembangnya kota Tanjung Pinang yang kini menjadi salah satu tujuan investor asing. Dengan letak geografis yang cukup strategis, yaitu berbatasan dengan dua negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Tanjung Pinang juga terkenal dengan sebutan “Kota Gurindam” karena tempat lahirnya sastra melayu dan kerajaan Melayu terbesar. Dengan potensi yang ada tersebut, maka seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, Tanjung Pinang pun kini menjadi Ibu Kota Propinsi dari Kepulauan Riau. Sebagai Ibu Kota Propinsi, Tanjung Pinang kian hari kian menunjukkan potensinya, mulai dari promosi sebagai daerah

yang cukup potensial untuk investasi, hingga promosi pariwisata yang memang tak kalah hebatnya dengan daerahdaerah lain di Indonesia, semua dilakukan demi berkembang dan majunya Tanjung Pinang. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang dalam hal ini dijalankan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A3 Tanjung Pinang, juga turut serta dalam meningkatkan perekonomian Tanjung Pinang dengan memberikan perlayanan ekspor impor yang hingga kini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hampir tiap hari ada komoditi unggulan Tanjung Pinang yang di ekspor, begitu juga dengan impor, hampir tiap minggu ada barang kebutuhan Tanjung Pinang yang diimpor dari luar negeri.

KEGIATAN KEPABEANAN PALING DOMINAN
Menurut Kepala KPPBC Tipe A3 Tanjung Pinang, Henry Saut Siahaan, kegiatan di KPPBC Tanjung Pinang meliputi kegiatan kepabeanan dan cukai, akan tetapi yang dominan adalah kegiatan kepabeanan. Dari kegiatan kepabeanan ini diantaranya adalah kegiatan impor dan ekspor oleh perusahaan umum, produsen, dan kawasan berikat. “Sektor perekonomian Tanjung Pinang lebih pada bidang perikanan, untuk itu ekspor ikan dari Tanjung Pinang dilakukan tiap hari sebanyak 20 ton dengan tujuan Singapura. Selain ikan, komoditi lain yang juga diekspor dari Tanjung
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

25

DAERAH KE DAERAH
WBC/KY

PELABUHAN LAUT INTERNASIONAL SRI BINGTANG PURA. Pintu gerbang bangsa yang perlu pengawasan lebih efektif dan ketat.

Pinang adalah, karet, granit, boksit, dan mulai bulan Februari kemarin Tanjung Pinang juga sudah mulai mengekspor sayur mayur tujuan Singapura dan Malaysia,” ujar Henry. Lebih lanjut Henry menjelaskan, untuk ekspor jumlah PEB dalam satu bulan mencapai 150 PEB, sedangkan untuk impor dalam satu bulan mencapai 30 PIB. Jumlah tersebut belum digabungkan dengan jumlah PIB dan PEB yang berasal dari kawasan berikat, karena di Tanjung Pinang juga memiliki delapan perusahaan yang menerima fasilitas kawasan berikat dan masih aktif, dengan komoditi tekstil, crumb rubber, tiang pancang dan komponen badan kapal, kapal laut, komponen badan kapal, perawatan kapal, dan beton bertulang. Sementara itu ada satu perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat yang sudah non aktif.

TIGA PELABUHAN DENGAN KENDALA PENGAWASAN
Selain kegiatan kepabeanan tersebut, KPPBC Tanjung Pinang juga melayani kegiatan cukai. Untuk cukai, Tanjung Pinang memiliki tiga perusahaan MMEA yang masing-masing memproduksi arak obat dan arak putih. Namun demikian ketiga perusahaan ini bukan termasuk skala besar hanya industri rumahan, yang produksinya tidak untuk luar Tanjung Pinang. “Dari kedua kegiatan tersebut, KPPBC Tanjung Pinang memiliki batasan wilayah pengawasan dan pelayanan yang cukup luas. Untuk pelayanan, wilayahnya mencakup kota Tanjung Pinang dan sebagian wilayah kabupaten Bintan. Sedangkan untuk pengawasan meliputi, pelabuhan laut Tanjung Pinang, pelabuhan laut Kijang, pelabuhan udara Kijang, dan kantor pos lalu bea Tanjung Pinang,” kata Henry. Khusus untuk pelabuhan udara Kijang, berdasarkan peraturan Menteri Keuangan nomor 68/PMK.01/2007 tentang organisasi dan tatalaksana instansi vertikal DJBC, maka pelabuhan udara kijang masuk dalam wilayah kerja KPPBC Tipe A3 Tanjung Pinang. Pada 24 September 2007 telah dilakukan penerbangan perdana yang melayani rute Tanjung Pinang-Jakarta PP. Sebelumnya pelabuhan udara ini hanya melayani rute Pekanbaru-Tanjung Pinang-Natuna PP dengan pesawat Riau Air Lines. Dengan masuknya pelabuhan udara Kijang menjadi wilayah pengawasan KPPBC Tanjung Pinang, kini telah ditempatkan pos di lokasi pelabuhan udara Kijang, hal ini juga dirasakan penting dalam rangka pengawasan 26
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

arus barang dan persiapan apabila diberlakukannya free trade zone di Batam, Bintan, dan Karimun. Untuk pelabuhan laut, Tanjung Pinang memiliki tiga pelabuhan yang cukup ramai, namun kondisinya kurang memadai. Pertama, pelabuhan internasional Sri Bintan Pura, merupakan pelabuhan penumpang dari Singapura dan Malaysia, termasuk domestik, kondisi pelabuhan ini masih cukup baik. Kedua, pelabuhan Sri Payung Batu VI, merupakan pelabuhan untuk kegiatan bongkar muat barang impor, ekspor dan antar pulau. Kondisi pelabuhan ini sangat tidak layak karena kadenya sudah lapuk, crane hanya satu, sandar kapal terpaksa harus berminggu-minggu. Selain itu tidak ada pemisah yang jelas antara kade pelabuhan antar pulau dengan yang untuk ekspor impor, dan TPS di pelabuhan sudah tidak layak. Pelabuhan ketiga adalah, pelabuhan laut Kijang (Sri Bayintan), merupakan pelabuhan untuk kapal PELNI dan untuk bongkar muat kapal ekspor. Kondisi pelabuhan ini masih baik, namun tidak memiliki crane dan tidak ada TPS di kawasan pelabuhannya. Dengan ketiga pelabuhan ini, KPPBC Tanjung Pinang harus mengawasi dengan ekstra ketat, karena Tanjung Pinang merupakan salah satu tujuan masuknya barang-barang ilegal. Untuk barang-barang ilegal ini, Tanjung Pinang memang sudah mendapat trade mark sebagai sarang penyelundup. Ini tak dapat dipungkiri dari sekian luasnya pulau Pinang, jalur masuk melalui tangkahan-tangkahan juga banyak dan sangat sulit untuk diawasi.”Dengan luas wilayah pengawasan yang harus kami awasi ini, kami juga memiliki kendala-kendala yang menjadikan Tanjung Pinang disebut sebagai sarang penyelundup,” kata Henry. Kendala tersebut adalah, patroli rutin dengan kapal patroli belum efektif karena hanya cukup untuk satu hari perjalanan, akibat bahan bakar premium yang sulit tersedia apabila diperlukan secara mendadak. Para pegawai yang melaksanakan pengawasan patroli darat umumnya menggunakan kendaraan pribadi, karena tidak ada kendaraan khusus patroli dan tidak sebanding dengan luasnya daerah pengawasan. Selain itu kendala lainnya, tidak ada X-Ray di pelabuhan keberangkatan internasional. Dan, luas pengawasan KPBC Tanjung Pinang didominasi wilayah lautan yang merupakan daerah rawan untuk dilalui kapal penyelundup, seperti perairan Pulau Mapor, Merapas, Selat Dompak, Selat Dempo, dan Pulau Karas.

SARANG PENYELUNDUP
Selain hal tersebut, di Tanjung Pinang juga banyak memiliki pelabuhan rakyat atau tangkahan yang memungkinkan terjadinya pelanggaran peraturan kepabeanan dan cukai.”Dengan kendala tersebut, kami berupaya semaksimal mungkin untuk tetap melakukan pengawasan dengan cara meningkatkan kegiatan intelijen, dan menjalin kerjasama dengan aparat teknis terkait termasuk pemerintah daerah. Selain itu kepada Kantor Pusat DJBC kami juga telah mengajukan permohonan untuk meminta tambahan dana guna kegiatan patroli laut,” ungkap Henry. Dengan upaya yang semaksimal mungkin, maka KPPBC Tanjung Pinang pun dapat membuktikannya melalui hasil tegahan yang belum lama ini didapat, yaitu pada 30 Juni 2007, KPPBC Tanjung Pinang berhasil menegah ekspor Cites atau satwa yang dilindungi. Keberhasilan itu berawal dari patroli rutin yang dilakukan KPPBC Tanjung Pinang mendapati tiga kardus barang yang tergeletak di atas ponton pelabuhan internasional Sri Bintang Pura tanpa ada pemiliknya. Atas temuan tersebut petugas langsung melakukan pemeriksaan, dan kedapatan ketiga dus tersebut berisi 57 ekor burung kakak tua jambul kuning, 10 ekor burung nuri kecil, dan 42 ekor burung nuri besar yang keseluruhannya dalam keadaan hidup, yang rencananya akan dikirim bersama kapal ferry Marina Syahputra dengan tujuan Malaysia. Dengan didominasi oleh wilayah lautan, Tanjung Pinang pun sejak dulu hingga sekarang memiliki trade mark sebagai sarang penyelundup. Dengan begitu banyaknya tangkahan yang sulit diawasi menyebabkan Tanjung Pinang sebagai salah satu pintu tujuan masuknya barang ilegal. Menanggapai hal tersebut Henry menyatakan, KPPBC Tanjung Pinang telah berupaya semaksimal mungkin untuk menekan masuknya barang ilegal, termasuk mengadakan pendekatan atau sosialisasi baik kepada instansi terkait, masyarakat usaha, maupun masyarakat umum. Kepada masyarakat usaha, KPPBC Tanjung Pinang tidak henti-hentinya mengadakan sosialisasi agar mereka dalam menjalankan usahanya selulu jujur dan mentaati segala peraturan yang ada. Sedangkan kepada masyarakat umum, KPPBC Tanjung Pinang juga melakukan pendekatan walaupun secara informal, yaitu melalui dialog dengan tokoh yang berpengaruh di Tanjung Pinang agar turut mengawasi masyarakat sekitar sehingga mereka tidak lagi memasukan atau menerima barang ilegal dari luar negeri. Sementara itu pendekatan yang dilakukan KPPBC Tanjung Pinang kepada instansi terkait termasuk pemda setempat, dilakukan melalui acara rutin seperti coffee morning yang dilakukan seminggu sekali, yang tujuannya mau mengubah citra Tanjung Pinang sebagai sarang penyelundup menjadi citra baik yang sebenarnya juga diharapkan oleh semua pihak.
WBC/KY

WBC/KY

KAPAL PATROLI. Sulitnya mencari bahan bakar jika diperlukan secara mendadak, membuat patroli laut kurang efektif. Sementara kondisi kapal pun juga memerlukan perhatian khusus.

“Bisa diakui kalau perbandingan harga barang legal pun sangat jauh perbedaannya di Tanjung Pinang, misalnya barang dari Jakarta dengan harga yang sama di Singapura atau Malaysia yang juga mutunya lebih baik, akan lebih mahal harganya dari Jakarta jika sudah sampai di Tanjung Pinang. Hal ini tak lain barang dari Jakarta membutuhkan biaya pengiriman yang jauh lebih mahal ketimbang dari Malaysia maupun dari Singapura yang jaraknya memang lebih dekat,” ujar Henry. Dengan disparitas harga dan jarak yang lebih dekat ditambah banyaknya tangkahan yang sulit diawasi tersebut, menyebabkan masyarakat Tanjung Pinang lebih memilih barang dari Singapura atau Malaysia yang menurut mereka lebih terjangkau dengan mutu yang lebih baik.”Dengan sosialisasi yang rutin kita lakukan, saat ini masyarakat Tanjung Pinang sudah mulai meninggalkan barang ilegal dan mereka sudah mau menerima barang legal atau dalam negeri walaupun dengan harga yang sedikit lebih mahal ketimbang barang luar negeri” Trade mark sebagai sarang penyelundup memang sangat menyakitkan, namun sebenarnya tidak semua barang ilegal
WBC/KY

BANDAR UDARA KIJANG. Untuk menghadapi diberlakukannya FTZ Batam, Bintan, dan Karimun KPPBC Tanjung Pinang telah menempatkan pos pengawasan lalu lintas barang pada pelabuhan udara Kijang.

POS PENGAWASAN/HANGGAR SRI PAYUNG. Dengan kondisi yang seadanya pos pengawasan Sri Payung memerlukan perhatian lebih karena memiliki peran yang cukup vital bagi Tanjung Pinang. EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

27

DAERAH KE DAERAH
DOK. KPPBC TANJUNG PINANG

FOTO BERSAMA. Seluruh pegawai KPPBC Tanjung Pinang berfoto bersama. Dengan SDM yang cukup handal di bidangnya, membuat KPPBC Tanjung Pinang selalu menjadi ujung tombak untuk pengawasan perbatasan negara.

yang beredar di Indonesia berasal dari Tanjung Pinang, sebagai contoh, beberapa kapal antar pulau yang berhasil ditegah selama ini seluruhnya bukan berasal dari Tanjung Pinang, namun karena kapal yang digunakan milik Tanjung Pinang, pandangan masyarakat langsung memvonisnya barang tersebut dari Tanjung Pinang. Hal ini lah yang kini akan diubah baik oleh KPPBC Tanjung Pinang, masyarakat usaha, instansi terkait, dan masyarakat Tanjung Pinang umumnya, karena mereka pun merasa sakit jika dikatakan daerahnya sebagai sarang penyelundup. Mampukan KPPBC Tanjung Pinang mengubah trade mark yang ada tersebut? Menurut Henry, KPPBC Tanjung Pinang akan berusaha semaksimal mungkin mengubah trade mark tersebut, karena dengan dukungan 91 pegawai yang ada saat ini, kemampuan mereka pun dinyatakan telah cukup untuk menjalankan tugas kepabeanan maupun cukai dengan maksimal. Selain itu, untuk lebih meningkatkan kemampuan pegawai KPPBC Tanjung Pinang selalu mengadakan P2KP yang diadakan setiap dua minggu sekali dengan materi tentang peraturan baru atau melakukan diskusi terhadap suatu kasus/permasalahan yang sedang terjadi. Sementara untuk masyarakat usaha, pelayanan yang prima, cepat dan efisien pun kini terus digalakan sehingga masyarakat benar-benar terbantu dalam bisnis mereka tanpa harus menyimpang dari peraturan.

BEBAN TARGET PENERIMAAN MENINGKAT
Dengan mulai meningkatnya perekonomian Tanjung Pinang, penerimaan negara dari bea masuk dan cukai kian tahun juga mengalami peningkatan, bahkan untuk tahun 2005 yang saat itu target bea masuk dan cukai ditentukan hanya Rp. 3 milyar, untuk tahun 2007 target penerimaan bea masuk dan cukai ditetapkan sebesar Rp. 39 milyar. Ini tentunya suatu peningkatan yang sangat signifikan. Perlahan namun pasti Tanjung Pinang sudah dikategorikan sebagai daerah potensial untuk investasi. Menurut Henry, penerimaan kali ini memang dirasakan cukup berat, karena peningkatan penerimaan dari tahun 2005 hingga 2007 bukan dikarenakan meningkatnya produksi impor. Hal ini lebih dikarenakan salah satu perusahaan pemeliharaan alat-alat pertambangan menerima kontrak kerja yang cukup banyak sehingga penerimaan bea masuk pun menjadi meningkat. “Tahun 2005 target bea masuk kita sebesar Rp.3,565,320,000 milyar, dan terealisasi sebesar Rp.3.312,623, 502 milyar atau hanya 98,77 persen. Untuk cukai target Rp.12,000,000 juta, terealisasikan Rp.15,522,840 juta atau 129,36 persen. Sementara 28
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

untuk target bea masuk tahun 2006 ditetapkan sebesar Rp. 5,600,000,000 milyar, setelah ada revisi menjadi Rp. 25.000,000,000 milyar, ini terealisasikan Rp. 27,051,037,147 milyar atau 108,44 persen. Sedangkan cukai ditetapkan Rp. 31, 650,000 juta, setelah direvisi menjadi Rp. 70,000,000 juta, dan terealisasikan hanya Rp. 41, 606,500 juta atau 59,44 persen,” ungkap Henry. Lebih lanjut Henry menjelaskan, mengapa peningkatan target penerimaan tahun 2006 dari 5,6 milyar menjadi 25 milyar dan itu dapat tercapai, tidak lain karena KPPBC Tanjung Pinang bagaikan menerima durian runtuh. Pasalnya sebelum ada revisi target penerimaan, salah satu perusahaan importir di Tanjung Pinang, yaitu PT. Indojaya Pipe mendapat kontrak kerja pengerjaan cutting pipa untuk pengoboran minyak sangat besar, bahkan 1 PIB mencapai Rp.19 milyar dan total keseluruhan mencapai Rp.20 milyar, dengan satu perusahaan tersebut saja terget penerimaan saat itu sudah dapat terealisasikan, dan saat itu target direvisi menjadi Rp.25 milyar maka hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi KPBC Tanjung Pinang. Bagaimana dengan target penerimaan tahun 2007 ini yang mencapai Rp.39,205,000,000 milyar atau mengalami kenaikan 56,82 persen dari tahun 2006 dan cukai ditetapkan Rp. 75.000.000 juta atau naik 7,14 persen dari tahun 2006, apakah dapat terpenuhi? Menurut Henry, kemungkinan besar sangat berat sekali, apalagi untuk tahun 2007 ini PT. Indojaya Pipe tidak menerima kontrak kerja yang besar, dan kalau pun menerima tarif bea masuk pipa yang dikenakan saat ini telah berubah menjadi nol persen. Namun demikian KPPBC Tanjung Pinang akan tetap berusaha secara maksimal agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai. Sebagai gambaran, hingga semester II ini, tepatnya Agustus 2007, penerimaan bea masuk yang baru mencapai Rp. 4.593.211,253 atau 12,11 persen dari keseluruhan target bea masuk yang ditetapkan. Sementara itu untuk cukai, hingga Agustus 2007 telah mencapai Rp. 49.744.500 atau 66,33 persen dari keseluruhan target cukai tahun 2007. Satu hal yang diharapkan KPPBC Tanjung Pinang saat ini adalah, pelabuhan yang ada di Tanjung Pinang seluruhnya dapat menjadi pelabuhan yang memadai, sehingga semua barang bisa sandar, dengan demikian akan dapat memudahkan dalam melakukan pengawasan. Selain itu komunikasi antar KPPBC juga dapat meningkat, karena beberapa hasil tegahan yang berhasil didapat beberapa waktu lalu adalah hasil komunikasi yang baik antara KPPBC Tanjung Pinang dengan KPPBC yang berada disekitarnya. adi

Perlu Segera Direalisasikan di KPPBC Purwakarta

Otomasi Sistim

M

Kekurangan SDM semestinya bisa diantisipasi dengan adanya otomasi sistim pelayanan dan pengawasan di KPPBC Purwakarta
Untuk menselaraskan tugas pelayanan dengan pihak yang dilayani dalam hal ini para pengusaha di KB dan GB bukanlah suatu hal yang mudah. Perlu ada kerjasama dan keterbukaan diantara kedua belah pihak. Untuk itu sebelum melakukan pembinaan keluar, pembinaan kedalam juga perlu dilakukan. Dalam rangka upaya tadi, langkah-langkah atau strategi yang dilakukan Martediansyah saat baru menjabat sebagai Kepala Kantor antara lain melakukan pembinaan kepada pegawai supaya pengusaha bisa comply mengikuti aturan kepabeanan yang berlaku, maka itu yang harus dibenahi dan diperhatikan terlebih dahulu adalah unsur dari para aparat Bea dan Cukai, agar pegawai KPPBC Purwakarta mengikuti ketentuan yang ada. “Pertama-tama saya melakukan pembinaan pada pegawai agar dalam melaksanakan tugas harus sesuai ketentuan, misalnya untuk pencatatan BC 2.3 dikarenakan wilayah kami lebih fokus mengawasi barang-barang yang terutang, Bea Masuk dan pajak. Peningkatan pembinaan pegawai dilakukan karena saya yakin masih banyak pegawai yang bekerja di KB belum mengetahui secara detil ketentuanketentuannya. Selanjutnya mengenai pembukuan, itu yang paling penting, karena mengawasi barang-barang yang terutang bea harus benar catatannya,” ujar Martediansyah. Lebih lanjut menurutnya, banyak perusahaan di KB di wilayah KPPBC Purwakarta tidak hanya menggunakan dokumen BC 2.3 impor tetapi BC.2.3 antar KB yang subkontrak untuk selanjutnya ke DPIL, sehingga variasi pergerakannya sangat banyak. Karena itu diperlukan suatu pembukuan yang sangat baik, ditambah lagi hingga saat ini KPPBC Purwakarta dalam melakukan pelayanan masih secara manual dan belum elektronik, sehingga sangat menganEDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

enempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Jakarta untuk mencapai Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A 2 Purwakarta. Begitu pula dari Ibukota Purwakarta, perlu waktu yang sama kurang lebih satu jam untuk mencapai KPPBC yang mulai beroperasi sejak 1 Mei 1998 ini. Lokasinya yang berada di kawasan industri Bukit Indah dinilai sangat sentral dan strategis untuk mempermudah dan memperlancar pelayanan kepada pengguna jasa yang melakukan kegiatan kepabeanan di sekitar wilayah Purwakarta. Wilayah kerja yang masuk dalam lingkup pelayanan dan pengawasan KPPBC Purwakarta meliputi Subang, Karawang dan Purwakarta serta sebagian Cikarang yang merupakan wilayah-wilayah yang penuh dengan kawasan berikat. Karena itu selain Bekasi, Purwakarta merupakan penyangga Jakarta dalam mendukung perekonomian Indonesia. Mengenai tugas aparat Bea dan Cukai di KPPBC yang dipimpin, Drs Martediansyah, MPM, memang lebih fokus pada pengawasan kegiatan perusahaan-perusahaan yang berada di dalam kawasan berikat di wilayah Kabupaten Purwakarta, Karawang, Subang dan sebagian wilayah Cikarang. Tercatat saat ini terdapat 228 obyek pengawasan, meliputi 56 Gudang Berikat (GB) dan 149 Kawasan berikat (KB) dan 3 Tempat Penimbunan Sementara (TPS). “Kita juga melayani penjualan dari KB ke DPIL (Daerah Pabean Indonesia Lainnya) dengan menggunakan Pemberitahuan Impor Barang (PIB), termasuk juga dari GB, seperti misalnya Honda Motor yang melakukan proses perakitan yang bahan bakunya terlebih dahulu masuk ke GB, kemudian dengan menggunakan PIB untuk membayar bahan baku dari gudang berikat,” ujar Martediansyah.

29

DAERAH KE DAERAH
WBC/ATS

“Tidak ada alasan mendesak sehingga dalkan kemampuan, kreativitas dan inovatif barang harus keluar segera lantas dokudari para pegawai. men bisa belakangan, kalau begitu caranya “Kalau dia malas mencatat, membukuresiko besar jadi kita yang tanggung. Kita kan dan segala macam yang berhubungan berikan fasilitas untuk menunda pembayardengan administratifnya wah bisa an BM merupakan sesuatu yang berarti amburadul. Jadi bagaimana caranya saya buat pengusaha, maka itu jangan meminta dan staf saya supaya bisa melakukan pelagi hal yang macam-macam seperti yang kerjaan untuk menghasilkan yang terbaik,” saya sebutkan tadi. Semua harus melalui imbuhnya. prosedur dan ada dokumennya yang Kepada para Kepala Seksi Penimbunmerupakan alat untuk pengawasan. Riskan an (di KPPBC Purwakarta terdapat 8 Kasi sekali barang keluar tanpa dokumen, makaPenimbunan) ia menghimbau agar berpenya kita jelaskan pada mereka. Sedangkan ran aktif, karena merekalah yang sosialisasi dengan pengusaha dilakukan membawahi para hanggar atau korlak yang secara insidentil atau pada saat kita minta berjumlah sekitar 30 orang Tidak ada masukan pendapat dari para pengusaha,” istilah bagi Kasi Penimbunan hanya duduk imbuh Martediansyah. dan menunggu laporan. Karena ujung Sedangkan pembenahan terhadap lingtombaknya pembinaan berada di Kasi kungan kantor, hal yang akan segera dilasedangkan pelaksananya adalah hanggar. kukannya salah satunya adalah penataan “Jika hanggarnya saja tidak mengerti dan pembenahan kembali ruang pelayanan ketentuan, bisa-bisa pekerjaannya berandikarenakan volume pelayanan di KPPBC takan dan sekali lagi saya tekankan karena DRS. MARTEDIANSYAH MPM. Karena sistim manual sehingga masih sangat Purwakarta jumlahnya terus bertambah sistimnya masih manual maka diperlukan mengandalkan kemampuan, kreativitas dari waktu ke waktu. Hal ini dilakukannya penataan administrasi yang baik,” ujar Mar- dan inovatif dari para pegawai. semata-mata untuk lebih memberikan ketediansyah yang juga sedang lebih meningpastian waktu dan kepastian hukum bagi para pengguna jasa katkan komunikasi dan koordinasi diantara para pegawainya. yang sebelumnya sudah berjalan dengan baik di KPPBC Mengenai masih digunakannya sistim pelayanan secara Purwakarta. manual di KPPBC Purwakarta, sebenarnya sejak kepala kantor sebelumnya telah diusulkan ke Kantor Pusat untuk segera dilakukan otomatisasi sistim secara elektronik. PENAMBAHAN DAN PEREMAJAAN PERSONIL Apalagi sejak tahun 2005 di KPPBC Purwakarta telah memiSaat ini terdapat 139 personil di KPPBC Purwakarta, liki pegawai lulusan Prodip yang paham sistim secara dibandingkan dengan luasnya wilayah pengawasan, personil elektronik. Mungkin saja, menurut Martediansyah, kebijakan sejumlah itu dirasa masih kurang memadai hal itu menurut Kantor Pusat saat ini adalah memprioritaskan dulu Kantor Martediansyah dikarenakan jumlah KB terus mengalami Pelayanan Utama, PDE Manifest dan lain-lainnya. Tetapi ia penambahan. Ini merupakan tantangan yang harus dihadapi berharap Kantor Pusat bisa segera merealisasikan tentang KPPBC Purwakarta agar bagaimana caranya mengambil otomasi sistim di KPPBC Purwakarta. KB merupakan potensi opportunity dari kekurangan tersebut. dan prospek yang harus diperhatikan, sebab fasilitas KB Misalnya, salah satunya dengan terus melakukan menjadi daya tarik investasi. pembinaan dan peningkatan kemampuan dan keterampilan Selain melakukan pembinaan ke dalam yaitu kepada para pegawai dalam rangka menjalankan tugas pelayanan serta pegawai, pembinaan keluar kepada para pengusaha juga membuat jejaring intelijen yang baik dalam rangka dilakukan. Para Kepala Seksi dan Hanggar diamanatkan menjalankan tugas pengawasan. Karena keterbatasan SDM, untuk meneruskan kembali kebijakan-kebijakan dan harapan tidak heran jika di KPPBC Purwakarta satu orang hanggar yang diinginkan bagi berhasilnya pelaksanaan tugas KPPBC bisa mengawasi 10 KB. Padahal idealnya satu perusahaan Purwakarta. Pembinaan pada para pengguna jasa bisa berdiri satu pos bea cukai. dilakukan sambil memberikan pelayanan, misalnya kawasan “Jadi memang ada kemungkinan perusahaan-perusahaan berikat adalah daerah yang restrict area, tugas para hanggar KB walau memiliki pos bea cukai tetapi petugasnya tidak ada, sambil menghimbau pengusaha agat tidak sembarang mengekarena dia di pos perusahaan yang lain. Pada saat barang masuk atau ada pelayanan dokumen barulah petugas masuk luarkan atau memasukkan barang, sebab ada prosedurnya. disitu. Nah itu yang saya bilang tadi, sangat dibutuhkan WBC/ATS pengetahuan yang baik dan administrasi yang rapi. Mengenai jumlah SDM yang kurang mestinya bisa ditingkatkan dari segi otomasi sistim. Kalau itu bisa balance, kita bisa mengatasi kekurangan tadi,” demikian imbuhnya. Lebih lanjut mengenai SDM di KPPBC Purwakarta dari jumlah 139 tadi, 80 persen berusia diatas 40-55 tahun, usia dimana tingkat produktivitasnya mulai menurun. Sedangkan 20 persen lagi berusia 20 tahun ke atas. Secara keseluruhan, dari jumlah 139 tersebut 79 orang diantaranya telah berusia antara 51-55 tahun. Dan para hanggar yang bertugas saat ini rata-rata berusia antara 40-55 tahun. Menurut Martediansyah, ini menjadi salah satu kendala, padahal lebih banyak tugas yang harus dilaksanakan di lapangan yang membutuhkan kreativitas. “Tugas kita tidak hanya melayani tetapi juga sangat membutuhkan kreativitas, inovasi dan daya pikir para personil yang banyak berasal dari usia yang masih produktif terutama dalam hal pembukuan untuk alat pengawasan. Maka itu, ujung tombaknya berada di hanggar, karenanya sangat perlu dilakukan penambahan dan peremajaan.” Lebih lanjut menurutnya, untuk mencapai sasaran RUANG PELAYANAN. Tampak petugas melayani para pengguna jasa yang optimal, selain harus didukung dengan SDM juga dalam pengurusan dokumen kepabeanan. 30
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

WBC/ATS

KEPALA KANTOR beserta para staf pegawai KPPBC Tipe A2 Purwakarta.

diperlukan dukungan sarana prasarana operasional. Untuk melakukan tugas pengawasan, KPPBC ini dilengkapi dengan satu unit kendaraan dinas pick up untuk kegiatan surveillance. Dikarenakan mobilisasi petugas yang sangat tinggi sampai saat ini masih banyak pegawai melaksanakan tugas di lapangan dengan menggunakan kendaraan pribadi, padahal, minimal diperlukan kendaraan roda dua supaya kegiatan pengawasan di lingkungan KB dan sekitarnya bisa lebih efektif dan efisien. Namun begitu selama ini tingkat pelanggaran di wilayah kerja KPPBC Purwakarta sangat kecil bahkan belum ada. Ini dikarenakan perusahaan di KB lebih banyak yang high tech yang memproduksi elektronik, otomotif maupun yang bersifat mekanikal.

didukung dengan sistim yang sudah otomasi untuk mendukung pelaksanaan tugas pelayanan dan pengawasan. “Karena kita tidak bisa menambah pegawai maka salah satu caranya adalah harus ditingkatkan dengan sistim otomasi untuk BC 2.3. Saya harapkan ini bisa segera direalisasikan, karena di KB tidak hanya impor tetapi juga ekspor dan banyak sekali pergerakannya, misalnya antara KB pinjam meminjam mesin lalu dikerjakan di DPIL, banyak sekali kegiatan seperti itu,” demikian harap Martediansyah yang dalam memimpin anak buahnya menerapkan prinsip, “Dalam memberikan pelayanan dan menjalankan pengawasan harus tertib dan disiplin.” ris
WBC/ATS

PENERIMAAN.
Untuk Tahun Anggaran (TA) 2007, sampai dengan September 2007 di wilayah kerja KPPBC Purwakarta tercatat terdapat 149 Pengusaha Kawasan Berikat (PKB) atau Pengusaha Dalam Kawasan Berikat (PDKB), 56 Pengusaha Gudang Berikat (PGB) atau Pengusaha Pada Gudang Berikat (PPGB) dan 3 Tempat Penimbunan Sementara (TPS) Dan tercatat telah mengeluarkan sebanyak 42.794 dokumen B.C 2.3 impor dan 10.229 dokumen PIB. Mengenai target penerimaan dari Bea Masuk untuk tahun ini, Martediansyah berharap dapat terpenuhi, karena hingga September 2007, targetnya sudah mencapai 80 persen lebih. Untuk penerimaan di KPPBC Purwakarta diperoleh dari Bea Masuk yang untuk TA 2007 ditargetkan sebesar Rp. 188.484.224.000, hingga 30 September 2007 terealisasi sebesar Rp. 169.316.481.869, atau pencapaian targetnya sudah sebesar 89,83 persen. Sedangkan dari sector cukai ditargetkan sebesar Rp. 984.000 sudah tercapai Rp. 1.036.800, atau target tercapai 105,37 persen. Menurutnya, karena Kawasan Berikat merupakan suatu sarana investasi yang berkembang, dan bertambah terus jumlahnya, maka sudah waktunya di KPPBC Purwakarta

PERUSAHAAN yang terdapat di Kawasan Berikat di wilayah kerja KPPBC Purwakarta. EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

31

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Pada 27 September 2007 Panitia Gema Ramadhan Masjid Baitut Taqwa KP-DJBC melaksanakan buka puasa bersama Dirjen Bea dan Cukai di Auditorium gedung utama KP-DJBC. Acara buka puasa ini diawali dengan pembacaan ayat suci Alqur’an dengan dilanjutkan sambutan dari Ketua Umum DKM Heri Kristiono. Acara buka puasa bersama ini diisi juga dengan penyerahan santunan dari Direktur Jenderal Anwar Suprijadi kepada sejumlah anak yatim piatu yang berada dilingkungan KPDJBC. Acara selanjutnya mendengarkan siraman rohani yang dibawakan oleh Ketua MPR Dr. Hidayat Nur Wahid dengan diakhiri buka puasa bersama. Hadir dalam acara buka puasa ini, Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kamil Sjoeib, Direktur P2 Heru Santoso, Direktur Audit Thomas Sugijata, Direktur Cukai Frans Rupang, Direktur Fasilitas Kepabeanan, Kusdirman, Direktur PPKC Hanafi Usman serta para pejabat eselon III, IV dan para pegawai dilingkungan KP-DJBC.
WBC/ATS

JAKARTA. Kurang lebih 50 stand yang menjual berbagai variasi seperti makanan, tanaman baju muslim, pernik-pernik, bunga dan buku-buku islam, mengikuti bazaar yang diselenggarakan oleh Koperasi Pegawai Kantor Pusat DJBC. Bazar Ramadhan ini diselenggarakan satu hari yaitupada 4 Oktober 2007 di belakang gedung utama KP-DJBC. Bazaar dibuka oleh Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi didampingi Ny. Anwar Suprijadi dengan disaksikan beberapa staf inti (gambar Kiri). Usai pembukaan acara dilanjutkan dengan meninjau tempat bazaar yang berada di belakang gedung utama KP-DJBC. Dalam kunjungan tersebut Dirjen Anwar Suprijadi membeli kue dan kain batik di stand Dharmawanita Persatuan KP-DJBC (gambar kanan).
WBC/ATS

JAKARTA. Panitia Gema Ramadhan Masjid Baitut Taqwa Kantor Pusat (KP) DJBC pada 13 Oktober 2007 menyelenggarakan Sholat Ied di halaman Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Sholat Ied tahun ini yang dipimpin oleh Ust Irhamsyah Putra, LC, MA, dihadiri umat islam yang berada dilingkungan KP-DJBC serta para pegawai dan para bea cukai (gambar kanan). Hadir dalam sholat ied mantan Direktur Fasilitas Kepabeanan Ibrahim A. Karim, Direktur Fasilitas Kepabeanan Kusdirman Iskandar, Kepala KPU Bea dan Cukai tipe A Tanjung Priok, Agung Kuswandono dan beberapa pejabat eselon III lainnya. Gambar kiri, usai Sholat Ied di Auditorium gedung B diselenggarakan halal bilhalal Dirjen Bea Dan Cukai Anwar Suprijadi dengan keluarga besar DJBC.

32

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

FOTO : DONNY ERIYANTO

MAKASAR. Bertempat di Aula Kanwil DJBC Sulawesi, pada tanggal 6 September 2007 dilangsungkan upacara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pejabat eselon IV yang bertugas di lingkungan Kanwil DJBC Sulawesi. Acara yang dipimpin langsung oleh Kakanwil DJBC Sulawesi Bachtiar, dihadiri oleh beberapa pejabat eselon III di lingkungan Kanwil DJBC Sulawesi. Dalam kesempatan itu, setelah upacara selesai Kakanwil berkesempatan memberikan briefing kepada para pejabat yang baru dilantik tersebut dan dilanjutkan dengan foto bersama. Don’s, Makassar (Foto : Donny Eriyanto)
FOTO : MUQSITH HAMIDI

BALIKPAPAN. Pada 19 September 2007 atau 8 Ramadhan 1428 H, bertempat di Aula KPPBC Tipe A3 Balikpapan diadakan acara buka puasa dan tarawaih bersama untuk menyambut bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan ampunan. Acara yang diselenggarakan dengan penuh kesederhanaan ini bertujuan untuk memupuk rasa tali persaudaraan antar pegawai khususnya di Kantor Pelayanan sendiri juga antar pegawai yang ada di Kantor Wilayah. Tampak dalam gambar ceramah yang diisi oleh Ustadz Ahmad Khan, serta Kepala KPBC Tipe A3 Balikpapan, Taryono Ekso Wardoyo tengah memberikan cinderamata kenang-kenangan kepada pegawai yang mutasi. Acara buka puasa bersama yang dilaksanakan di Aula KPPBC Tipe A3 Balikpapan mengundang Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono dan pegawai yang ada di Kanwil. Dalam acara ini juga sekaligus dilangsungkan acara perpisahan dengan 5 orang pegawai yang mutasi yakni Ade Wismiyati, Dwi Yogo Hardianto, Wahyudi, Agus Dwi Wahyono dan Rudy Rullyanto. Muqsith Hamidi, Balikpapan.
FOTO : HULMAN SIMBOLON

MEDAN. Pada 19 Agustus 2007 dilingkungan Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara diadakan pelantikan pejabat eselon III bertempat di Auditorium Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara.Upacara pelantikan dipimpin oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Heryanto Budi Santoso yang melantik 6 pejabat eselon III. Acara diawali dengan pembacaan sumpah jabatan oleh Kanwil dan selanjutnya dilakukan dengan penandatanganan naskah sumpah jabatan. Hulman Simbolon, Sumatera Utara

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

33

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : HULMAN SIMBOLON

MEDAN. Dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan RI ke-62, Kanwil DJBC Sumatera Utara mengadakan kegiatan olah raga yang diikuti para pegawai Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Tipe A1 Belawan , Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Tipe B Medan dan KPPBC Tipe A3 Medan.Cabang olah raga yang dipertandingkan adalah Bola Volley, Tennis Meja dan Catur.Kegiatan oleh raga dimulai sejak 3 Agustus 2007 - 16 Agustus 2007. Penyerahan hadiah kepada para juara diberikan seusai acara senam kesegaran jasmani pada tanggal 24 Agustus 2007 bertempat di halaman Kanwil DJBC Sumatera Utara. Ketua Panitia Perayaan Hari Kemerdekaan RI,Yudiarto, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan olah raga berjalan dengan baik dalam suasana kekeluargaan dalam rangka memupuk tali silaturahmi diantara pegawai. Selanjutnya KaKanwil Heryanto Budi Santoso dalam sambutan singkatnya mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan olah raga sudah menunjukkan adanya kerja sama yang baik. Tampak pada gambar, Heryanto memberikan piala juara umum kepada Kepala KPPBC Tipe A1 Belawan. Hulman Simbolon, Sumatera Utara
FOTO : KIRIMAN

TANGERANG. Bertempat di aula gedung A Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Soekarno-Hatta pada tanggal 26 September 2007 dilaksanakan kegiatan buka puasa bersama dengan para karyawan-karyawati dan ibu-ibu Dharmawanita KPPBC Soekarno- Hatta. Acara buka puasa ini diisi dengan ceramah agama oleh K.H. Ahya Al-Ansori. Selain itu acara diisi pula dengan pemberian santunan dan bingkisan untuk anak-anak Yatim Piatu dari panti asuhan yayasan “Darul Hiqmah” Tangerang. Tampak pada gambar Kepala KPPBC Soekarno Hatta Rahmat Subagio sedang menyerahkan santunan. Kiriman KPPBC Soekarno Hatta
FOTO : KIRIMAN

SEMARANG. Bertempat di aula Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY diselenggarakan Sosialisasi UU Nomor 39 tahun 2007 tentang perubahan atas UU nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, untuk lingkungan Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY yang dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY, Z. A. Likumahwa dan dengan menampilkan pembicara dari Tim Sosialisasi Kantor Pusat DJBC yang terdiri dari Direktur Cukai Frans Rupang, Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan Penegakan Hukum Kepabeanan dan Cukai Erlangga Mantik dan beberapa tim sossialisasi lainnya. Sosialisasi dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 4 September 2007 dihadiri oleh pengusaha barang kena cukai, instansi pemerintah (Pemda, Kepolisian dan Kejaksaan) serta para pegawai diwilayah kerja kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY. Kiriman Sudardjo, Kanwil DJBC Jawa Tengah dan DIY
FOTO : ARIE JULIANTO

JAKARTA. Panitia Ramadhan 1428 H Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kantor Pelayanan Utama (KPU) Tanjung Priok menggelar acara buka puasa bersama mitra pendukung pada 3 Oktober 2007 di Aula Lantai 5 Gedung Induk (gambar kiri). Ustadz Ade Purnama Hadi, Lc. dari MUI Jakarta Utara hadir memberikan tausyiah menjelang waktu berbuka puasa. Acara dihadiri oleh Kepala KPU Agung Kuswandono, pejabat struktural eselon IV ke atas, dan mitra pendukung seperti cleaning service, PKD, sopir, petugas parkir, dan pengurus masjid. Kepala KPU Agung Kuswandono, dalam sambutannya, mengajak mitra pendukung untuk membantu Bea Cukai mencegah KKN dengan tidak menjadi kurir dokumen maupun kurir uang suap. “Jangan mau jika disuruh memasukkan uang suap ke dalam mobil,” ajak Agung. Sebelumnya, juga dilakukan taklim Ramadhan setelah shalat Zuhur di Mesjid Baituttaubah dengan tema memperhatikan makanan yang dimakan, yang disampaikan Oggy Febri Adha, staf pada Bidang Kepatuhan Internal. Sementara keesokannya, 4 Oktober 2007 Taklim Ramadhan diisi dengan topik pedihnya siksa kubur yang disampaikan oleh Untung SM dari Bidang kepatuhan Internal KPU (gambar kanan). Arie Julianto, KPU

34

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

FOTO : AMIR HASAN

FOTO : MUQSITH HAMIDI

BANDA ACEH. Sebanyak 28 pejabat eselon IV dilingkungan Kanwil DJBC NAD dilantik oleh Kakanwil DJBC NAD Ahmad Riyadi pada tanggal 5 September 2007. Gambar berdiri dibelakang para pejabat eselon IV, duduk di depan Kakanwil dan para pejabat eselon III. Amir Hasan A, Kanwil NAD
FOTO : HULMAN SIMBOLON

BALIKPAPAN. Dalam rangka memasuki bulan Ramadhan 1428 H, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dan KPPBC Tipe A3 Balikpapan melaksanakan beberapa kegiatan antara lain memberikan bantuan berupa sembako kepada para korban banjir di Desa Giri Rejo, Karang Joang km.14 kota Balikpapan yang langsung diserahkan oleh Ny. Taryono Ekso Wardoyo sebagai wakil ketua DWP beserta pengurusnya. Selain itu DWP gabungan ini juga ambil bagian mengikuti Bazar di depan Kantor Pemerintah Kota Balikpapan yang dilaksanakan selama 4 hari dari tanggal 24 – 27 Agustus. Tampak pada gambar, secara simbolis penyerahan bantuan oleh pengurus DWP kepada para korban banjir serta kegiatan DWP di Stan Bea Cukai selama pelaksanaan Bazar. Muqsith Hamidi, Balikpapan.
FOTO : DONNY ERIYANTO

MEDAN. Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-62, Kanwil DJBC Sumatera Utara mengadakan upacara bendera pada 17 Agustus 2007 bertempat di halaman Kanwil DJBC Sumatera Utara. Bersamaan dengan acara tersebut, KaKanwil DJBC Sumatera Utara, Heryanto Budi Santoso memberikan penghargaan kepada 20 orang pegawai yang berdisiplin, berintegritas dan berdedikasi terbaik (teladan) di lingkungan Kanwil DJBC Sumatera Utara. Dalam sambutan singkat, Heryanto Budi Santoso selalu mengingatkan seluruh pegawai agar tetap mempertahankan performance dan meminta kepada seluruh jajarannya untuk meningkatkan kinerja yang sudah berjalan baik selama ini. Kepada para pegawai yang mendapat pengahargaan harus berbangga karena dari sekian jumlah pegawai yang terpilih menjadi pegawai teladan terbatas jumlahnya Pada prinsipnya semua pegawai mempunyai kinerja yang sudah baik hanya para pegawai yang berprestasi mempunyai nilai lebih dan para pegawai yang belum mendapat penghargaan agar memperbaiki kinerjanya. Hulman Simbolon, Sumatera Utara

MAKASAR. Dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan menyambut bulan suci Ramadhan 1428 H serta untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, Kanwil DJBC Sulawesi menyelenggarakan bimbingan mental dengan pengajian bersama Ust. Syaibani Mujiono. Acara ini diadakan pada tanggal 22 Agustus 2007 dengan mengambil tempat di Aula Kanwil DJBC Sulawesi. Kakanwil DJBC Sulawesi, Bachtiar, berkenan menghadiri acara tersebut sekaligus memberikan sambutan. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para pejabat eselon III dan IV serta para pegawai Kanwil DJBC Sulawesi. Don’s, Makassar
DOK. PANITIA STR

JAKARTA. Beberapa pegawai di lingkungan Kantor Pusat DJBC, diantaranya dari Dit. Audit, Cukai, Fasilitas, P2, Kepegawaian, Perlengkapan dan Keuangan, pada bulan ramadhan lalu mengadakan acara Sahur on the Road. Acara ini adalah kegiatan membagikan santap sahur untuk anak-anak jalanan dan kaum dhuafa yang tinggal di pinggir jalan atau perempatan jalan. Dana yang dibutuhkan untuk pembelian bahan konsumsi dikumpulkan secara swadana serta sumbangan dari para donatur. Tepat pada hari Minggu, 7 Oktober 2007 pukul 00.00, rombongan berjumlah 50 orang bergerak dari kantor pusat menuju arah Cawang, UKI hingga menuju Cakung, sambil membagikan santapan sahur beserta susu siap minum kepada anak jalanan dan kaum dhaufa di sepanjang perjalanan yang ditemui. Acara berjalan dengan lancar dan berakhir hingga pukul 03.00. Rasa lelah memang hinggap ditubuh, namun rasa bahagia menyelimuti hati rombongan. Terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak yang turut serta membantu suksesnya acara ini. Debby

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

35

SIAPA MENGAPA
H E R I W I N A R K O “Harus ada ide,” itulah yang terbersit dalam benak pegawai yang satu ini kala membuat suatu tulisan atau makalah. “Tanpa ide, saya tidak bisa menuangkan tulisan dalam secarik kertas,” ujar Heri Winarko yang menjadi juara I lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh Koperasi pegawai KP-DJBC dalam rangka memperingati HUT Koperasi ke-60 yang jatuh pada tanggal 12 Juli 2007. Karya Tulis yang dibuatnya untuk pertama kali ini berjudul Meningkatkan Partisipasi Anggota : Tantangan Koperasi Pegawai Negeri. Heri mengaku, tema dari karya tulisnya tersebut berdasarkan pada keinginannya untuk memajukan koperasi agar bisa menarik bagi anggotanya. Dengan demikian, anggotaanggota koperasi bisa lebih berpartisipasi. “Selama ini para anggota koperasi enggan untuk berpartisipasi, karena Koperasi DJBC belum bisa memenuhi keinginan anggotanya. Hal itu disebabkan pelayanan koperasi masih kurang, ditambah lagi dengan harga barang yang dijual masih sangat mahal,” kata pegawai yang menikahi Novana pada tahun 2004 ini. Lantas, kenapa barnag-barang yang dijual di koperasi mahal? Heri berasumsi bahwa hal tersebut disebabkan koperasi memiliki jaringan yang jumlahnya sedikit, jika dibandingkan dengan supermarket atau pasar swalayan yang memiliki jaringan besar, hingga ke pelosok-pelosok kota dan daerah. Tak heran kalau harganya menjadi lebih murah, karena barang-barang yang dibeli untuk dijual kembali akan mendapatkan diskon eceran maupun diskon grosiran dari penjual. Heri sendiri memaklumi keadaan tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan suatu problematik yang selama ini terus menerus diemban oleh koperasi. Saat ditanya perasaannya menjadi juara I dalam lomba karya tulis, ia mengaku senang dan bangga. Sejak duduk dibangku sekolah dasar, hobi menulis memang sudah melekat pada dirinya. Ia juga kerap membaca berbagai macam buku dan majalah yang setiap hari dibelikan oleh orang tuanya. “Saya itu bukan penulis produktif. Sebagai perbandingan, ada orang yang C A H Y O W I B O W O Ditemui di sela-sela kesibukannya sebagai seorang administrasi penyidikan Cahyo Wibowo bersedia diwawancarai seputar aktivitasnya. Akhir Juli 2007 pegawai yang satu ini harus meninggalkan Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I untuk mengemban tugas di Kantor Pelayanan Utama Batam.. Cahyo mulai meniti karir di Bea Cukai sejak tahun 1999. Menjadi pegawai negeri sipil bukan merupakan cita-citanya. Sejak kecil sebenarnya ia ingin menjadi dokter. “Cita-cita saya waktu SMA menjadi dokter tetapi pada waktu ujian masuk peguruan tinggi negeri yang diterima malah pilihan kedua yaitu MIPA Universitas Airlangga Surabaya. Selain itu saya juga cobacoba mendaftar di Departemen Keuangan karena ikut-ikutan teman dan diterima di Prodip I spesialisasi Bea dan Cukai. Dengan pertimbangan kepastian kerja akhirnya saya memilih Prodip I spesialisasi Bea dan Cukai ,” kenang pria kelahiran 15 Maret 1981 Setelah menempa pendidikan selama satu tahun di BPLK Malang pada 2000 kemudian ia ditempatkan di KPBC Tanjung Perak. Selama di KPBC Tanjung Perak ia telah beberapa kali pindah bagian dari bagian penerimaan dokumen, petugas dinas luar, dan penyidikan. Ketika ditanya mengenai suka duka selama bertugas di Bea dan Cukai ia menuturkan suka dalam tugas penyidikan dan duka ketika tugas dinas luar. “Sebagai tim penyidik sangat puas rasanya bila kasus yang disidik telah sele- sai walaupun dikerjakan secara maraton/lembur sebagaimana kasus yang pernah terjadi tahun 2005 mengenai penyelundupan motor,” tutur Cahyo “Sedangkan duka dalam tugas pernah saya alami ketika bertugas menjaga pintu gate in/gate out di terminal peti kemas pada saat bulan puasa ramadhan, apabila hendak makan sahur sangat sulit sekali karena jauh dari tempat penjual makanan, terkadang terpaksa tidak makan sahur,” ceritanya A N W A R L U B I S Mungkin 29 tahun telah cukup menggambarkan bagaimana pengalaman pria kelahiran 8 Nopember 1951 di Tapanuli Selatan ini selama berkarir di Bea Cukai. manis, asam, garam telah dirasakan bapak dua orang anak ini selama menjalankan tugasnya. Pembawaannya yang kalem dengan logat Medannya yang khas membuatnya disegani oleh rekan seprofesinya. Anwar Lubis, begitu nama sosok pria yang telah mengabdikan dirinya untuk Bea Cukai selama bertahun-tahun. Karirnya dimulai menjadi honorer di KPBC Panjang Lampung (sekarang KPPBC Lampung) pada tahun 1973 ketika dia lulus SMUO (SMU Olahraga red.) di Tapanuli Selatan. Lubis begitu ia disapa, jago dalam hal olahraga khususnya atletik dan volly karena bersekolah disana. Cita-cita menjadi Guru Olahraga diurungkannya ketika Rahmat Effendy (Kasi P2 KPBC Panjang Lampung waktu itu) memasukkannya menjadi honorer setelah melihat permainan volly pria satu ini. Kurang lebih setelah 5 tahun menjadi honorer akhirnya datang pula kesempatan menjadi pegawai. Dengan bermodal tekad dan keinginan yang kuat, Lubis menjalani test penerimaan pegawai hingga akhirnya diterima dan ditempatkan di Kanwil X Cakung (sekarang Kanwil Jakarta I). Pasukan Bodrex begitu nama familiar angkatan lubis pada tahun 1977-1978 di Kanwil X Cakung tersebut. Cukup 10 tahun di Kanwil X Cakung akhirnya ia dimutasi ke KPBC Kemayoran (sekarang sudah tidak ada). Kurang lebih 1,5 tahun disini kemudian mutasi ke KPBC Tanjung Priok I sebagai penjaga pintu. Karirnya belum padam sampai disitu karena pertengahan September 1994 untuk pertama kalinya Lubis mutasi ke Pulau Kalimantan tepatnya di KPPBC Tarakan dibidang P2. Disini ia mendapatkan banyak pengalaman mengenai situasi dan kondisi dilapangan khususnya wilayah perbatasan Kalimantan-Malaysia ketika patroli laut. Ia bercerita, pernah rekan setimnya tertembak sewaktu melaksanakan patroli sehingga waktu itu kegiatan patroli rutin sempat vakum karena tidak ada yang berani berpatroli. Patroli laut kembali berjalan lubis menjadi Komandan Patroli (Kopat) atas perintah Kepala Kantor dan dengan semangat juang beliau menjalankan tugas negara tersebut. Sebagai Kopat dijalani kurang lebih 4 tahun hingga akhirnya mutasi lagi ke Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur yang kemungkinan menjadi pelabuhan terakhir pria ini karena awal Desember menjadi akhir karirnya di DJBC sebagai

36

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

bisa membuat tulisan sebanyak 30 judul yang dimuat cuma dua, dan saya menulis hanya 10 dan yang dimuat juga cuma dua,” ucapnya. Jadi, tambahnya, orang yang pintar ngomong belum tentu bisa menulis. “Kenapa masyarakat kita susah untuk membuat tulisan? Karena masyarakat kita melewati beberapa lompatan budaya. Seharusnya, dari budaya lisan kita menuju budaya baca, baru ke budaya elektronik, televisi dan lain-lain. Tetapi kita tidak begitu, baru senang ngobrol langsung datang budaya elektronik,” paparnya. Heri yang bercita-cita ingin jadi wartawan ini mulai meniti karir di Bea dan Cukai sejak tahun 2002 dari seleksi penerimaan Sarjana. Pertama kali bertugas, ia ditempatkan di Direktorat PPKC bagian penyuluhan. Di bagian penyuluhan ini Heri mempunyai pengalaman yang berkesan karena ia kerap melakukan penyuluhan ke berbagai daerah. Hampir semua pulau sudah pernah disambangi, kecuali Papua dan Nusa Tenggara. Saat ini Heri Winarko masih tetap bertugas Direktorat PPKC bagian Subdit Penyuluhan dan Publikasi. Sejak diterima menjadi pegawai, ia hampir tidak mempunyai aktifitas di luar kantor. Padahal, ketika ia masih duduk di bangku SMA, ia sering melakukan berbagai pekerjaan, seperti loper koran, salesman majalah, reporter majalah Tiras, bahkan ia juga pernah bekerja di LSM (lembaga swadaya masyarakat. Ia juga suka menulis cerpen, resensi buku, kolom, artikel dan mengirimkannya ke suratkabar atau majalah. Beberapa diantara tulisannya ada yang dimuat di Kompas, Republika, Bernas, Suara Karya, Jawa Pos, Adil, Hai, Kawanku, Aneka, dan lain-lain. ats Selanjutnya ia juga punya kesan mendalam ketika menjalankan tugas pengawasan pendistribusian barang bantuan eks impor ke Yogyakarta pada 2006. “Dengan keterlibatan langsung dalam pendistribusian kepada korban gempa, benar-benar terasa sekali peranan Bea dan Cukai kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan sebagai salah satu fungsi sosial,” tutur Cahyo Selain aktivitas pekerjaan Cahyo memiliki beberapa prestasi di dunia olah raga yang sempat dipersembahkan pada Kantor Wilayah DJBC Surabaya waktu itu antara lain juara I Senam beregu Kesegaran Jasmani pada 2001, juara III senam beregu Poco-poco pada 2002, dan juara I Senam beregu Poco-poco pada 2003. Semua kegiatan lomba tersebut dilaksanakan di Jakarta dalam rangka hari ulang tahun pusat kebugaran Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Ketika ditanya mengenai prinsip hidup ia mengatakan bahwasanya hidup harus dipenuhi dengan segala kebaikan. Kebaikan itu dimulai dari hal yang kecil, dimulai dari sekarang, dan dimulai dari diri sendiri. Di akhir wawancara Cahyo menyampaikan suatu harapan kepada institusi DJBC yang sangat ia cintai ini.” Semoga dengan adanya Kantor Pelayanan Utama yang ada sekarang mampu meningkatkan citra Bea Cukai di mata masyarakat terutama stakeholder dan sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan pegawai juga,” harap pria yang hobby bulutangkis ini. bambang w. (sby) Wakil Komandan Patroli. Ditanya mengenai pengalaman yang paling mengesankan selama berpatroli maka tanpa ragu ia bercerita ketika berhasil k yang akan menyelundupkan kayu log sebanyak 3 ponton di perairan Ligitan (yang sekarang menjadi wilayah Malaysia). Juga membanggakan karena Dirjen BC waktu it, Permana Agung waktu itu datang langsung melihat hasil tangkapan kayu log tersebut. Entah berapa banyak sudah penyelundupan yang berhasil digagalkan oleh lubis bersama tim selama patroli laut karena menurutnya semua jenis barang selundupan sudah pernah ditegahnya. Karena prestasinya ini pula ia telah 2 kali mendapatkan penghargaan luar biasa pada tahun 2001 dan 2005. Ketika disinggung mengenai Patkor Kastima Borneo yang telah enam kali dilaksanakan kurun waktu 20002007, maka tidak tanggung-tanggung cuma lubis seorang yang tidak pernah absen mengikuti Patroli terkoordinasi dengan Kastam Diraja Malaysia tersebut. Menurut pendapat rekan kerjanya, Anwar Lubis sebagai pegawai senior yang patut menjadi panutan pegawai lainnya karena selain memiliki integritas dan disiplin tinggi, beliau juga suka membimbing para junior yang haus akan pengalaman. Diakhir wawancara, ia menyampaikan harapannya untuk Bea Cukai agar kedepannya menjadi lebih baik dengan Reformasi Birokrasi di tubuh DJBC yang sekarang ini sedang berjalan. Mendukung kebijakan dari yang di atas dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab lanjutnya. Secara pribadi beliau mendukung perubahan yang ada seperti adanya KPU, dengan adanya KPU ia optimis bahwa disiplin dan Integritas pegawai dapat ditingkatkan lanjut pria yang memiliki motto “Cintailah pekerjaan yang kita jalani sehingga kita akan menikmati hasil dari apa yang telah kita kerjakan”. Muqsith Hamidi, Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2006
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 120.000

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 396 NOPEMBER 2007

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

WARTA BEA CUKAI

37

PENGAWASAN

Guna Menjawab Tantangan Reformasi Kepabeanan dan Cukai
Jumlah Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) saat ini 751 orang, atau kurang lebih tujuh persen dari seluruh jumlah pegawai yang ada. Sementara itu, minimnya jumlah pelaksana penyidik disebabkan karena proses regenerasi PPNS yang lamban.
pengajar, yang terdiri dari Pusdikteknik 16 pengajar, Biro Psikologi Mabes Polri 1 pengajar, Pusdik Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (DephumHam) RI 1 pengajar, dan DJBC sebanyak 4 pengajar. Dari 30 pengawai yang mengikuti diklat, seluruhnya dinyatakan lulus dengan hasil kualifikasi baik, dan dinyatakan telah mampu memahami serta melaksanakan penyidikan tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai. Dirjen pada acara penutupan diklat PPNS ini juga didampingi oleh Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2), Heru Santoso, Kasubdit Penyidikan, Sugeng Apriyanto, Kabag Kepegawaian, Azhar Rasyidi, dan Kasi Penyidikan I, Sonny Surachman Ramli. Sementara itu dari Pusdik Reskrim Polri, turut hadir langsung Kepala Pusdik Reskrim Polri, Kombes Abdul Kholik, yang juga didampingi oleh para pengajar dan pembimbing diklat. Dalam kata sambutannya Dirjen menyatakan customs reform yang saat ini dilakukan adalah sebagai jawaban akan tuntutan masyarakat , untuk itu customs reform tidak mungkin dijalankan tanpa SDM yang memadai, khususnya PPNS yang handal dalam menjalankan tugasnya. “Kita melihat modus operandi dari beberapa pihak yang ingin melakukan pelanggaran undang-undang kepabeanan dan cukai semakin canggih, untuk ini saya berpesan bahwa diklat PPNS adalah langkah awal dari saudara-saudara sekalian, di lapangan anda harus mulai belajar sendiri kemudian juga mengembangkan diri karena 400 jam pelajaran tidak cukup, untuk ini banyak ilmu yang harus kita tempuh WBC/ATS khususnya di dalam kepabeanan dan cukai,” pesan Dirjen. Lebih lanjut Dirjen menyatakan, kedepan DJBC mencoba untuk mengurangi kontak person dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT), untuk itu PPNS juga harus memahami IT dan kecenderungan penyalagunaan IT untuk tindakan-tindakan yang menyimpang dari undangundang kepabeanan dan cukai. “Untuk ini saya mohon kepada Direktur P2, Kabag Kepegawaian, dan Kasubdit Penyidikan, untuk menempatkan para lulusan dengan konsisten dan memelihara, menjaga lulusan ini. Biasanya, di Pusdik mereka berdisiplin baik dan berprestasi, tetapi begitu di lapangan banyak godaan yang harus kita tanggulangi,” ujar Dirjen.

Diklat PPNS

P

ada 21 September 2007 lalu Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, menutup secara resmi Pendidikan dan Latihan (Diklat) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) pola 400 jam pelajaran (JP) yang diikuti oleh 30 pegawai DJBC di Pusat Pendidikan dan Latihan Resimen Kriminal (Pusdik Reskrim) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Mega Mendung Bogor Jawa Barat. Diklat yang berlangsung selama dua bulan ini, berlangsung sejak 24 Juli 2007 hingga 21 September 2007, dengan materi pelatihan meliputi, Pengantar (14 JP), Pengetahuan dan Keterampilan (252 JP) yang meliputi: hukum dan undang-undang (56 JP), taktis teknik penyidikan (102 JP), pelengkap (92 JP), serta Pembulatan (130 JP) yang meliputi: latihan (120 JP) dan ditambah karya (10 JP). Adapun tenaga pengajar pada Diklat ini melibatkan 22 tenaga

PETA PENYIDIK DJBC SAAT INI
DIKLAT PPNS. Perlu pengembangan diri lebih banyak dari lulusan diklat PPNS agar dapat menjadi seorang penyidik yang handal dalam menjalankan tugasnya.

Sementara itu menurut Kasubdit Penyidikan,

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WBC/ATS

WBC/ATS

ideal banyaknya PPNS di Sugeng Apriyanto, jummasing-masing KWBC lah PPNS DJBC saat ini dan KPPBC paling sedikit 751 orang (27 orang lima orang, terdiri dari diantaranya wanita), atau satu orang kepala kantor, kurang lebih tujuh persen satu orang kepala bidang, dari jumlah pegawai, desatu orang kepala seksi, ngan komposisi berdadan dua orang pelaksana sarkan struktur jabatan : penyidik. Selain hal terseeselon II 17 orang, eselon III 90 orang, eselon IV but, pada saat ini perekrut342 orang (4 orang dianan PPNS baru diutamataranya wanita), kelomkan pelaksana dari golopok fungsional 29 orang ngan IIB ke atas, yang (3 diantaranya wanita), masih memiliki masa dan pelaksana 196 orang kerja cukup lama sebagai (20 orang diantaranya pelaksana penyidik di wanita). level operasional. “Pada umumnya di seNamun, saat ini juga terdapat pejabat eselon III tiap KWBC dan KPPBC dan IV dan korlak pada sudah terdapat PPNS, unit P2, maupun kepala namun umumnya sudah SONNY SURACHMAN RAMLI. Kepercayaan SUGENG APRIYANTO. Idealnya jumlah PPNS KPPBC yang belum berstatus sebagai pejabat diri akan timbul apabila PPNS dapat sebanyak 10 persen dari jumlah pegawai. berstatus PPNS. Status memahami modus dan motif kejahatan atas eselon III dan IV, jadi sakasus yang sedang disidiknya. PPNS bagi pejabat eselon/kepala KPPBC juga penting, mengingat ngat sedikit bahkan tidak ada sama sekali PPNS para pejabat tersebutlah yang akan membuat surat perintah peberstatus pelaksana. Misalnya di KPPBC Tulung Agung, tidak ada nyidikan bagi PPNS bawahannya. sama sekali pelaksana penyidikannya, adapun pelaksana yang Dengan kondisi demikian, maka DJBC dalam waktu dekat ada saat ini sudah memiliki golongan kepangkatan cukup tinggi, akan melakukan pemetaan penyebaran PPNS diseluruh KPPBC, bahkan banyak yang sudah promosi eselon IV,” ujar Sugeng. bahkan jika diperlukan mereposisi PPNS yang ada. Pemetaan ini Masih menurut Sugeng, saat ini banyak juga pegawai pelaksalah satunya didasarkan pada faktor daerah-daerah yang sana berstatus PPNS tetapi tidak ditempatkan pada unit yang memempunyai potensi tinggi munculnya pelanggaran kepabeanan laksanakan tugas penyidikan. Tidak mudah pula untuk memerindan cukai. tahkan PPNS yang ditempatkan di luar bidang penyidikan untuk “Tentunya, nanti PPNS yang baru yang belum pernah melakumelakukan penyidikan, karena mereka pun memiliki kesibukan kan atau belum pernah membantu melakukan penyidikan, akan dan beban kerja pada unitnya masing-masing. dilatih/ditandem dengan PPNS yang sudah biasa melakukan Dengan kendala tersebut, maka tak heran kalau DJBC merapenyidikan sehingga akan berbagi pengalaman dan ilmunya. Kita sa selalu kekurangan jumlah penyidik, selain itu kendala tersebut berharap kepada PPNS senior untuk selalu membimbing, memjuga dikarenakan proses regenerasi PPNS yang lambat sehingga berikan masukan dan pengalamannya,” jelas Sugeng. minimnya jumlah pelaksana penyidik. Seperti saat ini, diklat baru diadakan pada September 2007 dimana 30 orang dinyatakan MUTU DAN KUALITAS PENYIDIK DJBC lulus, namun mereka masih menunggu proses pengesahan untuk Lalu bagaimana dengan mutu dan kualitas dari PPNS DJBC mendapat “licence” menyidik (surat keputusan sebagai PPNS) tersebut, apakah sudah cukup handal dalam menjalankan tugasdari MenhukHam. Sementara itu diklat yang lalu diadakan tahun nya ? Menurut Kepala Seksi Penyidikan I yang juga merupakan 2003, sebelumnya lagi bahkan tahun 1997. pengajar pada diklat PPNS, Sonny Surachman Ramli, seorang Dari sejumlah PPNS tersebut, tidak sedikit PPNS yang belum PPNS dapat dikatakan handal, apabila tidak hanya dapat mengupernah melakukan tugas penyidikan, hingga memberkas perkara asai materi hukumnya, tetapi yang lebih utama adalah seringnya siap dilimpahkan ke Kejaksaan. Hal ini juga bukan dikarenakan PPNS tersebut melakukan proses penyidikan, sehingga dirinya tidak adanya pelanggaran kepabeanan dan cukai, namun umummenjadi terbiasa, terampil dan terasah. nya yang melakukan tugas penyidikan PPNS-nya itu-itu saja. Selain itu, tentunya dalam setiap proses penyidikan seorang Sehingga saat ini DJBC memandang perPPNS akan selalu berhadapan dengan situasi WBC/ATS lu segera dilaksanakan regenerasi PPNS, jika dan kondisi yang berbeda-beda, hal inilah pada September 2007 telah 30 pegawai yang yang akan memperkaya pengalaman seorang lulus diklat PPNS, maka pada 2 Oktober PPNS sehingga dapat menguasai materi 2007, DJBC kembali mengirim 120 pegawai hukumnya, juga trik dan tekniknya. Untuk itu, untuk mengikuti diklat PPNS dengan pola 400 seorang PPNS diperlukan menguasai materi jam pelajaran, dan direncanakan akan disusul hukum dan pengalamannya, mengingat setiap sebanyak 60 pegawai/pejabat eselon untuk tindakan PPNS dapat dipraperadilankan. mengikuti diklat PPNS dengan pola 100 jam Proses penyidikan dapat berupa pelanggaran pelajaran. HAM yang dilegalkan dan diatur menurut “Idealnya jumlah PPNS sebanyak 10 perundang-undang. sen dari jumlah pegawai. Saat ini apabila dili“Terkait dengan diklat PPNS, maka jika hat dari penyebarannya berdasarkan struktur melihat silabus materi teori pendidikan jabatan eselon IV unit yang menangani bidang PPNS, dapat dikatakan cukup untuk menjadi PPNS namun belum dapat dikatakan bepenyidikan (Kasi P2 di KPPBC dan Kasi Penar-benar menjadi seorang penyidik, karenyidikan di KWBC), 64 persen sudah berstana setelah mengikuti diklat PPNS pegawai tus PPNS. Namun apabila penyebarannya akan mendapat pengesahan dari dilihat dari aspek kewilayahan, dirasakan beMenhukHam sebagai pegawai yang berkualum ideal. Ada beberapa KWBC dan KPPBC lifikasi PPNS, namun hanya menguasai yang kegiatan penyidikannya relatif banyak, materi dan teori saja,” ungkap Sonny. tapi jumlah PPNS sangat minim, begitupun Sementara itu Sugeng menambahkan, sesebaliknya,” kata Sugeng. CERAH BANGUN. Pendidikan saja tidak orang PPNS dapat dikatakan sebagai benarUntuk itu Sugeng menambahkan, jumlah cukup untuk menjadi seorang penyidik.
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

39

PENGAWASAN
Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) mengatakan, sangat relatif dikatakan pegawai telah siap menjadi PPNS hanya berdasarkan kepada materi dan subtansi yang diperoleh selama diklat PPNS. “Dalam implementasi penyidikan, masih diperlukan kemampuan-kemampuan atau keterampilan yang tidak diperoleh di diklat PPNS, seperti bagaimana melakukan under cover, observasi, interview, dan survellance untuk mengungkap suatu kasus. Keterampilan tersebut bisa diperoleh dari pengalaman di lapangan, oleh karena itu kemampuan tersebut harus dicari dan dikembangkan oleh penyidik,” ujar Cerah Bangun. Sementara itu menurut Sonny, kepercayaan diri seorang PPNS akan timbul apabila memahami modus dan motif kejahatan atas kasus yang sedang disidiknya, dan memang sudah terbiasa melakukan tugas penyidikan. Oleh karena itu, seorang PPNS dituntut untuk memahami setiap perkembangan peraturan dan proses kepabeanan dan cukai. “PPNS juga dituntut untuk memiliki motivasi dan komitmen tinggi sehingga kurangnya kemauan dapat teratasi, hal ini dapat dilakukan dengan kerjasama tim penyidik yang solid, saling membantu, melengkapi kekurangan, bertukar pikiran memberikan masukan, informasi dan pengalaman, serta didukung ketersediaan dana operasional yang memadai. Koordinasi dengan pihak terkait juga perlu dilakukan terus menerus,” kata Sonny.
WBC/ATS

benar seorang penyidik, apabila dirinya sering terjun langsung melakukan proses penyidikan dari awal sampai akhir proses, sehingga dirinya terbiasa, terbentuk, terampil dan terasah. Jika perlu mengantarkan surat panggilan sendiri, karena kemungkinan saja sewaktu mengantarkan surat pangilan ke lokasi seseorang yang dipanggil, seorang penyidik mendapat petunjuk baru yang dapat menjadi bahan informasi tambahan dalam proses pemeriksaannya. Karena saat ini ada anekdot, seorang PPNS enggan diperintahkan untuk menyidik dengan alasan dirinya sejak lulus diklat belum pernah melakukan proses penyidikan, atau dirinya tidak ditempatkan pada unit yang tugasnya melakukan penyidikan. Salah seorang lulusan terbaik pada diklat PPNS yang baru saja dilaksanakan, Cerah Bangun, yang juga merupakan Kepala Seksi Bantuan Hukum pada Direktorat Penerimaan dan
WBC/ATS

PENYIDIKAN. Memiliki effort yang sangat besar, sehingga membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dana, dan keluarga.

RUMAH TAHANAN. DJBC hanya memiliki dua rumah tahanan, yaitu di Kantor Pusat dan Kanwil Tanjung Balai Karimun

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

KENDALA
Jika diklat telah dilaksanakan, lalu pemetaan juga telah dijalankan. Lalu apakah kendala yang krusial bagi tugas penyidikan di DJBC saat ini. Menurut Sugeng, kendala terberat yang dihadapi umumnya datang dari dalam diri PPNS sendiri, yaitu kurangnya kemauan dan kepercayaan diri dalam melaksanakan tugasnya. Seorang PPNS harus bisa mengungkap fakta yang didukung oleh bukti dan alat bukti yang cukup, bahwa seseorang memang “pantas” diduga telah melakukan perbuatan pidana. Proses pengungkapan fakta inilah yang menguras energi, pikiran, tenaga, biaya, dan waktu. Tidak jarang PPNS harus bekerja diluar jam kantor yang dapat mengorbankan pikiran dan waktu buat keluarganya. Selain faktor diri PPNS itu sendiri, kendala lain yang dihadapi oleh penyidikan saat ini adalah, faktor sarana pendukung. Pada umumnya KPPBC tidak memiliki sarana/tempat untuk menahan orang (cabang rumah tahanan), sehingga harus menitipkan tersangka untuk dilakukan penahanan di Rumah Tahanan Negara (Rutan). Namun kondisi tersebut masih menguntungkan jika lokasi Rutan berada pada satu lokasi dengan KPPBC, jika tidak, maka memerlukan effort lagi untuk membawa ke Rutan terdekat. “Umumnya pihak Rutan hanya mau ketitipan tahanan pada hari dan jam kerja, apabila seseorang dikenakan status tahanan pada Jum’at malam, otomatis PPNS nya dan tersangka yang ditahan harus bermalam bersamasama di KPPBC sampai dengan Senin pagi, untuk dititipkan di Rutan. Potensi masalah tersebut adalah, keamanan tersangka bahkan PPNS itu sendiri. Bahkan pernah dilaporkan kepada kami, ada pihak Rutan yang belum memahami jika DJBC mempunyai PPNS yang dapat menitipkan tahanan di Rutan,” ungkap Sugeng. Kini, DJBC baru saja mendapatkan keputusan MenhukHam nomor: M.10-PR.07.03 tahun 2007 tanggal 11 Juli 2007 tentang tempat tahanan pada Kantor Pusat DJBC Departemen Keuangan sebagai Cabang Rumah Tahanan Negara (Cabang Rutan). Tempat tahanan di KP DJBC telah ditetapkan sebagai Cabang Rumah Tahanan dari Rumah Tahanan Negara kelas I Jakarta Pusat. Dan hal ini, masih dalam proses pembahasan penyelarasan menuju tahap operasionalnya, mengingat ketentuan tugas dan fungsi rutan harus mengacu pada keputusan Menteri Kehakiman no. 04.UM.07.03 tahun 1985 tentang organisasi dan tata kerja rutan dan Rupbasan (Rumah penyimpatan benda sitaan negara). “Kendala lainnya saat ini adalah, KPPBC tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan barang bukti penyidikan. Tidak jarang pula Rupbasan dalam kondisi sudah penuh, menolak menerima barang lagi untuk disimpan,” papar Sugeng. Bahkan dalam proses penyerahan tahap II (penyerahan tersangka dan barang bukti) ke Kejaksaan, pihak Kejaksaan malah menitipkan kembali barang bukti kepada PPNS mengingat Rupbasan sudah penuh dan tempat penyimpanan barang bukti di kantor Kejaksaan pun tidak memadai. Tentunya dalam kedua kondisi tersebut, diperlukan lagi pengawasan dan perawatan dari PPNS-nya. Penyidikan memang suatu tugas mulia yang penuh dengan tantangan, namun tugas penyidikan juga memiliki effort yang sangat besar, sehingga mengakibatkan banyak pegawai yang enggan untuk menggelutinya. Akan hal tersebut, DJBC akan berupaya semaksimal mungkin agar effort yang sangat besar menjadi tantangan yang menarik, sehingga DJBC memiliki jumlah ideal dari PPNS sekaligus pemetaan yang merata. Selain itu, DJBC juga akan mengeluarkan buku panduan tentang penyidikan yang berisikan teknik-teknik penyidikan beserta contoh kasus yang telah ada, dan buku ini lebih dikenal dengan julukan “Buku Hitam”. Dengan buku hitam diharapkan dapat menjadi guidance bagi para penyidik dalam menjalankan tugasnya sehingga apa yang diharapkan dapat terwujud dengan benar. adi

Barang Ilegal
Dalam kurun waktu satu bulan, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta, berhasil menegah lima kasus replika senjata api (Senpi), 11 kasus telepon selular, dan delapan kasus kosmetik dan obat-obatan ilegal.

Dalam Satu Bulan KPPBC Soekarno-Hatta Tegah 23 Kasus

K

PPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta kini menemukan modus baru dalam upaya penyelundupan telepon selular. Temuan modus didasari atas tegahan yang berhasil dilakukan terhadap 3.238 pcs atau sebelas temuan kasus penyelundupan telepon selular, selama periode 20 Agustus 2007 hingga 24 September 2007, dengan setimasi nilai keseluruhan sebesar Rp.2,3 milyar. Tegahan ini terungkap berkat kerja keras dan ketelitian petugas dalam menilai penampilan penumpang. Menurut Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan (P2) KPPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta, Eko Dharminto, pada salah satu kasus telepon selular ilegal, tersangka telah menyiapkan pakaian khusus agar dapat memasukan telepon selularnya secara ilegal ke Indonesia, dan dengan terlebih dahulu mempelajari situasi yang ada, sehingga tersangka mensiasatinya dengan menyiapkan pakaian khusus. “Ini merupakan modus baru yang kita temukan khusus untuk upaya pemasukWBC/ATS an telepon selular ilegal yang biasanya hanya melalui kopor. Dengan pakaian khususnya ini, tersangka berusaha memasukan 100 psc telepon selular tanpa diberitahukan dengan benar kepada petugas,” jelas Eko. Lebih lanjut Eko menjelaskan, selain tegahan telepon selular tersebut, pada periode 20 Agustus 2007 hingga 24 September 2007, KPPBC Tipe A1 SoekarnoHatta juga berhasil menegah barang impor kategori barang EKO DHARMINTO. Selama satu bulan larangan dan pembaada 23 kasus yang berhasil ditegah oleh tasan, baik yang masuk . petugas KPPBC Soekarno-Hatta.
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

41

PENGAWASAN
WBC/ATS

dewasa dan kadal yang seluruhnya berjumlah 80 ekor, dibawa oleh penumpang berkewargakenegaraan Indonesia yang datang dari Kuala Lumpur Malasia dengan menumpang pesawat KLM rute Amsterdam-Kuala Lumpur-Jakarta. Menurut Kasi P2 KPPBC Bandara Soekarno-Hatta Eko Darminto, keberhasilan pihaknya menegah masuknya ke-80 ekor reptil dari Kuala Lumpur yang kesemuanya dalam keadaan hidup tersebut bermula pada pemerikaan X-ray terhadap sebuah kardus yang berisi seperti dua buah speaker aktif. Pada pemeriksaan Xray lanjut Eko, pihaknya melihat adanya sebuah benda yang mencurigakan sehingMOBILE X-RAY. Kembali beroperasi dengan target khusus barang penumpang domestik yang penerbangannya high risk. ga memaksa petugas untuk melakukan pemeriksaan fisik terhadap kardus yang melalui terminal kedatangan penumpang, maupun melalui berisi dua buah speaker aktif tersebut. kantor pos tukar udara dengan menggunakan paket kirimPada pemeriksaan fisik yang dilakukan pada speaker an pos. aktif tersebut, didalamnya terdapat kotak-kotak plastik Adapun hasil tegahan tersebut adalah, kosmetik dan dan beberapa karung kecil yang berisi reptil-reptil terseobat-obatan asal Cina sebanyak delapan kasus dengan but. Guna pemeriksaan lebih lanjut, petugas Bea dan jumlah 105,94 kg, yang keseluruhannya dilakukan Cukai Bandara Soekarno-Hatta menyerahkan tersangka dengan modus tidak diberitahukan dengan benar dan beserta barang bukti kepada pihak Balai Karantina Bandabelum mendapat ijin dari Badan POM. Selain itu ada juga ra Soekarno-Hatta. tegahan replika senjata api (Senpi)/airsoftgun dan sparepart, sebanyak lima kasus atau sebanyak delapan koli Penyerahan kasus tersebut beserta dengan tersangka yang keseluruhannya diberitahukan dengan tidak benar dan barang bukti kepada pihak karantina lanjut Eko, dikadan belum mendapat ijin dari POLRI. renakan tindakan yang dilakukan tersangka melanggar Undang-Undang Karantina dan bukan melanggar “Untuk replika senpi dan obat-obatan kita tidak mengUndang-Undang Kepabeanan. Sementara 80 jenis reptil hitung berapa nilainya karena barang-barang tersebut tersebut diteliti oleh pihak Karantina dari kemungkinan masuk kedalam kategori larangan dan pembatasan, sehingga barangnya langsung kita tegah. Sedangkan unadanya penyakit yang membahayakan satwa di Indonesia. tuk telepon selular karena memiliki nilai ekonomis maka DOK. KPPBC SH kita hitung kerugian negaranya, yang kemudian peruntukannya menunggu keputusan Menteri Keuangan,” papar Eko. Selain beberapa tegahan tersebut, Eko juga menjelaskan kalau petugas pada 8 September 2007 berhasil menegah masuknya alat penyadap yang dibawa oleh penumpang asal Malaysia dengan pesawat MH-723, yang rencanannya akan ditujukan ke Kedutaan Malaysia. “Alat penyadap yang bernama Universal Monitoring System (UMS), merupakan alat untuk menyadap percakapan baik melalui telepon selular maupun telepon biasa, dan barang tersebut adalah barang yang dapat masuk melalui jalur diplomatik sehingga dapat bebas bea masuk dan pajak lainnya, namun kali ini alat tersebut dibawa oleh seorang yang non diplomatik,” ujar Eko.

TEGAH REPTIL DALAM SPEAKER AKTIF
Tidak lama setelah press realease mengenai tegahan barang illegal yang dilakukan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai selama satu bulan, Pada 5 Oktober 2007, petugas Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta kembali melakukan penegahan, kali ini terhadap masuknya hewan reptil dari berbagai jenis asal Malaysia. Reptil dari jenis Baby tarantula, ular, tarantula 42
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

SPEAKER AKTIF. Tampak petugas membuka speaker aktif yang digunakan untuk menyembunyikan reptil asal Malaysia

WBC/ATS

Berdasarkan pengakuan tersangka lanjut Eko, barang-barang yang ada pada tersangka bukan miliknya. Tersangka lanjut Eko mengaku hanya dititipkan saja oleh seseorang yang identitasnya kini sudah diketahui oleh pihak Karantina.

MOBILE X-RAY
Selain memiliki petugas yang cukup handal dalam tugasnya, belum lama ini KPPBC Soekarno-Hatta juga mendapat tambahan fasilitas pengawasan yang bertujuan agar fungsi pengawasan menjadi lebih efektif dan efisien lagi. Menurut Eko, tambahan fasilitas tersebut berupa Mobile X-Ray, yang fungsinya dapat mendukung kinerja petugas di lapangan dalam mengidentifikasi barang yang masuk melalui bandara domestik ke Soekar- MODUS BARU. Pakaian khusus menjadi modus baru untuk upaya penyelundupan telepon selular. no-Hatta. “Sebenarnya Mobile X-Ray ini bukan barang baru bagi dapat melaksanakan tugas untuk melakukan pengawasan DJBC, bahkan untuk KPPBC Soekarno-Hatta sendiri barang eks impor yang masuk ke Soekarno-Hatta. Adapun penggunaan Mobile X-Ray pada barang sebenarnya telah menggunakan fasilitas ini sejak tahun penumpang dan kargo domestik, juga telah disahkan oleh 1993 hingga 1999. Namun sejak tahun 2000 fasilitas Undang-Undang nomor 17 tahun 2006 tentang tersebut tidak dipergunakan lagi karena biaya perawatan Kepabeanan, yang mana disebutkan untuk barang-barang yang cukup tinggi dan saat itu fasilitas tersebut memang kurang men- dapat perhatian,” kata Eko. tertentu diberikan kewenangan kepada DJBC untuk Lebih lanjut Eko menjelaskan, Di tahun 2007 ini melakukan pengawasan antar pulau. Dengan demikian, kendaraan tersebut kembali dioperasikan karena cukup KPPBC Soekarno-Hatta berusaha untuk berperan aktif dengan target utama pengawasan adalah barang-barang potensial sebagai sarana untuk melakukan pengawasan yang membahayakan masyarakat, seperti narkoba. terutama berkaitan dengan barang penumpang atau “Selain telah diatur oleh undang-undang mengenai kargo eks domestik yang merupakan eks impor. Sebagaimana diketahui untuk barang domestik, DJBC pengawasan antar pulau, penggunaan fasilitas Mobile Xtidak memiliki alat untuk melakukan X-Ray baik diterminal Ray ini juga karena kita menginginkan suatu kondisi yang penumpang maupun kargo, maka dengan adanya alat ini lebih baik, sementara itu kendala di lapangan yang cukup pelik sehingga kita memerlukan lebih baik lagi perangkat diharapkan DJBC khususnya KPPBC Soekarno-Hatta pendukung, nah karena sebelumnya kita telah memiliki DOK. KPPBC SH fasilitas ini, sekarang tinggal memperbaikinya lagi dan mengganti perangkat yang rusak dengan yang baru,” kata Eko. Masih menurut Eko, dengan memperbaiki fasilitas yang ada, maka menjadi lebih efektif ketimbang mengadakan barang yang baru, karena selain membutuhkan biaya yang tinggi, waktu pengadaannya pun tentunya cukup lama. Untuk itu Mobile X-Ray yang ada sejak dulu kini lebih pada perbaikan kembali dan mengganti perangkat yang rusak dengan yang lebih baik dan canggih. Dengan kembali berfungsinya Mobile X-Ray tersebut, maka pengawasan yang dilakukan oleh KPPBC Soekarno-Hatta menjadi lebih terfokus, khususnya pada penerbangan yang high risk domestik, seperti Batam, Pekanbaru, dan Padang yang menjadi daerah resapan barang eks impor sehingga rawan terhadap masuknya narkoba. “Sejak tahun 1993 hingga 1999 tentunya Mobile X-Ray ini juga telah memiliki report hasil tegahan yang cukup banyak, sementara untuk saat ini masih belum karena baru saja penggunaannya. Sementara untuk jumlahnya tentunya masih sangat kurang namun kita tetap mencoba semaksimal mungkin untuk jumlah yang ada ini menjadi REPTIL. Sejumlah kotak yang berisi reptil yang berhasil diamankan efektif,” tandas Eko. adi/zap petugas Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

43

PENGAWASAN
WBC/ATS

P

Kuswandono dilakukan berdasarkan hasil kegiatan intelejen yang dilakukan petugas Bidang Penindakan dan Penyidikan KPU Tipe A Tanjung Priok. Kesepuluh kontainer yang diduga kayu ebony illegal tersebut terbagi dalam dua dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang kesemuanya dilakukan oleh PT PUR dengan penerima Shanghai Jia Dian Int’l Trading Co Ltd dengan tujuan China. Pengiriman lima kontainer pertama kayu tersebut berhasil digagalkan pada 2 Oktober 2007 dan lima kontainer kedua digagalkan pada 4 Oktober 2007. Kayu-kayu tersebut lanjut Agung, berasal dari Sulawesi EKSPORTASI KAYU ILLEGAL. Kepala KPU Agung Kuswandono, menerangkan kronologis eksportasi kayu illegal yang dikirimkan melalui Surayang diduga jenis ebony kepada pers. baya dengan tujuan akhir pelabuhan Tanjung Priok untuk selanjutnya dikirim ke China. Kecurigaan petugas terhadap eksportasi ilegal tersebut, berawal dari keganjilan pada pencantuman nomor Harmonized System (HS) Gold and Silver Ore atau bijih emas dan bijih perak yang tidak tepat pada kontainer-kontainer PT. PUR diduga mencoba memanfaatkan waktu tersebut guna menghindari aturan larangan dan pembamenjelang hari raya yang diperkirakan pengawasan terhadap tasan dari pemerintah. barang impor dan ekspor akan melonggar. Atas kecurigaan tersebut, maka dikeluarkan Nota Hasil Intelejen (NHI) atas partai barang ekspor dimaksud yang etugas Bea dan Cukai Kantor Pelayanan Utama Tipe dilanjutkan dengan penerbitan instruksi pemeriksaan fisik A (KPU) Tanjung Priok Jakarta, berhasil menggagalbarang dan akan dilakukan koordinasi dengan Badan kan eksportasi 10 kontainer berisi kayu gelondongan Revitalisasi Industri Kehutanan (BRIK) dalam pelaksanaan illegal yang diduga jenis Ebony menuju China. pemeriksaan untuk menentukan jenis kayu tersebut. Penggagalan tersebut menurut Kepala KPU Agung PT. PUR lanjut Agung, WBC/ATS diduga mencoba memanfaatkan waktu menjelang hari raya, yang diperkirakan pengawasan terhadap barang impor dan ekspor akan melonggar. Sepuluh kontainer yang berisi 150 M 3 kayu ilegal tersebut, hingga berita ini diturunkan masih berada dikawasan Terminal Kontainer Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta untuk proses penyelidikan dan penyidikan. Eksportasi ilegal tersebut merugikan negara sebesar Rp.7,5 Miliar, sementara aturan yang dilanggar adalah pasal 102A huruf (b) Jo pasal 103 huruf (a) UndangUndang Nomor 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan, dimana tersangka dikenai sanksi penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp.5 Miliar. zap BARANG BUKTI. Dua dari 10 kontainer yang berisi kayu eboni ilegal yang gagal dikirim ke China

Gagalkan Ekspor Kayu Gelondongan Ilegal

KPU Tipe A Tanjung Priok

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WBC/ATS

keseluruhan Rp. 2.790.000.000, 5 rim @ 500 lembar @ 120 keping pita cukai palsu, HJE senilai Rp. 3.550 dengan nilai keseluruhan Rp. 1.065.000.000. Selain itu juga diamankan, 212 lembar @120 keping pita cukai palsu HJE Rp.3.550 dengan nilai keseluruhan Rp.90.312.000. Dan, 172 lembar @ 120 keping pita cukai palsu HJE Rp.4.650 dengan nilai keseluruhan Rp. 95.976.000. Termasuk peralatan pendukung percetakan (pelat pelapis, tinta dan lain-lain). “Dari semua barang bukti tersebut, nilai pita cukai yang dipalsukan mencapai lebih dari Rp. 4,5 milyar. Dan berdasarkan pengakuan tersangka, mereka baru beroperasi selama satu tahun, dengan pesanan seminggu rata-rata diperkirakan lima rim (300.000 keping). Sehingga, diperkirakan nilai pita cukai palsu dari tindak pidana ini, rata-rata dalam seminggi mencapai Rp.1,06 milyar hingga Rp.1,4 milyar,” ujar Nasir Adenan . Namun, kalau melihat kapasitas produksi mesin cetak tersebut, yang bisa memproduksi 60 rim (30.000 ribu lembar/3,6 juta keping) setiap 8 jam per hari per mesin, maka nilai pita cukai yang dipalsukan tersebut dalam satu DIAMANKAN. Kakanwil DJBC Jakarta, Nasir Adenan saat memperlihatkan 16 rim pita cukai minggu bisa mencapai antara Rp.89 sampai depalsu siap edar yang berhasil diamankan tim P2 Kanwil DJBC Jakarta. ngan Rp.117 milyar (tergantung HJE-nya). Selain itu, dari seluruh kasus yang ditangani Kanwil DJBC Jakarta yang sudah P21 sebanyak 5 kasus. Sementara itu Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi pada gelar acara press release di Kanwil DJBC Jakarta menyatakan, prestasi yang cukup gemilang dari Kanwil DJBC Jakarta ini, merupakan kerja keras dari seluruh jajaran Kanwil Jakarta dalam memberantas pemalsuan pita cukai, karena dengan keberhasilan ini, pendapatan negara dari cukai akan bertambah karena Kanwil DJBC Jakarta kembali menunjukan prestasi yang yang melanggar menjadi semakin sedikit. “Kedepan DJBC akan melaksanakan operasi cukup gemilang, dengan berhasil menegah mesin cetak bersama dengan Kepolisian, dan ini sudah kami pita cukai palsu dan puluhan rim pita cukai palsu. sepakati antara DJBC dan Kapolri. Sedangkan daerah yang cukup rawan untuk peredaran pita cukai Dengan prestasi ini, maka negara berhasil diselamatkan palsu ini adalah Jawa Tengah mulai dari Tegal hingdari kerugian sekitar Rp.4,5 milyar. ga Jepara, dan daerah sekitar Jawa Timur. Sementara, untuk Pulau Sumatera itu di daerah Palembang dan untuk Pulau Sulawesi itu di daerah Makassar,” papar Dirjen. egahan yang berawal dari adanya informasi masyaraDengan berhasil ditegahnya para tersangka pembuat kat akan tindak pidana di bidang cukai dan ditindaklanpita cukai palsu ini, maka para tersangka dinyatakan telah juti dengan kegiatan surveillance oleh tim P2, akhirnya berhasil mengamankan tujuh orang tersangka dengan melanggar pasal 55 huruf b Undang-Undang Nomor 39 tahun barang bukti berupa tiga mesin cetak dan puluhan rim 2007 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 11 tahun pita cukai palsu siap edar. 1995 tentang Cukai, dengan ancaman hukuman pidana penjara antara 1 hingga 8 tahun, dan pidana denda antara 10 Menurut Kepala Kanwil DJBC Jakarta, Nasir Adenan, dari hingga 20 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. adi informasi yang diberikan oleh masyarakat tersebut, tim P2 langsung bergerak ke alamat yang dituju, yaitu daerah Teluk WBC/ATS Gong Jakarta Barat. Di daerah ini tim P2 Kanwil Jakarta, berhasil mengamankan tersangka Sdr. EM dan UD, dengan barang bukti berupa dua rim (120.000 keping) pita cukai palsu dengan HJE senilai Rp. 4.650/keping dengan nilai keseluruhan mencapai Rp. 558.000.000. “Dari penyidikan kedua tersangka tersebut, berhasil ditangkap lima pelaku lainnya, dan dari hasl penyidikan, para tersangka diketahui tidak bekerja sendiri namun mempunyai jaringan pita cukai palsu yang berujung pada tempat percetakan pita cukai palsu, yaitu CV. SA, dengan alamat di Kali Baru Jakarta Pusat. Dan, dari CV tersebut kita berhasil mengamankan pelaku lainnya, yaitu Sdr. W, Sdr. EA, dan Sdr. R,” ungkap Nasir Adenan. Saat ini dari tujuh tersangka, enam orang diantaranya telah dititipkan di Rutan salemba. Lebih lanjut Nasir Adenan menjelaskan, dari CV. SA ini berhasil diamankan juga antara lain, 18 negatif film, untuk mencetak pita cukai palsu (HJE senilai Rp.4.650 dan Rp.3.550 per keping), tiga unit mesin cetak merk Oliver made in German, 10 rim (1 rim = 500 lembar yang masing-masing lembarnya berisi 120 keping MESIN CETAK PITA CUKAI PALSU. Dalam waktu 8 jam, mesin ini dapat pita cukai palsu), HJE senilai Rp.4.650 per keping dengan nilai membuat 60 rim pita cukai palsu.

Pita Cukai Palsu Senilai Rp 4,5 Milyar
Ditegah Kanwil DJBC Jakarta

T

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

45

KOLOM

Oleh : Fauzan

POKOKNYA SEMUA YANG MUMPUNGMUMPUNG DITAMPUNG, SEMAKIN BANYAK SEMAKIN UNTUNG...

Kita Boleh Saja Berencana, Tapi Hanya

Yang Boleh Memutuskan

” BOSS

H

ewan banyak bengong dan tidurnya sehabis makan kenyang, besok urusan besok, masa bodoh, nggak usah dipikir. Tuhan Maha Pemurah, ada hari ada mangsa, ada makanan. Ono dino ono upo, kata Mbah Ronggo dari Kediri. Bagi manusia tidak demikian. Sehabis makan enak, ia berpikir, apa makanan enak untuk besok ? Siapa yang enak dimakan ? Siapa yang bayar ? Apa-siapa... Nah untuk memenuhi rasa kepuasan dan keinginannya itu, jadilah ia, bersiasat membuat perencanaan, mengatur strategi. Mau makan enak, lihat dulu kondisi yang ada, baik intern maupun ekstern : Kondisi Intern, seperti seberapa kuat sih duit, perut, dan tenaga kita untuk makan enak besok ? Apa ada ijin keluar kantor, berapa banyak anggota geng yang mau dibawa, adakah sarana yang bisa dipakai untuk mencapai warung yang dituju, atau prasarana barang kali, seperti dapur maupun bahan-bahan yang dibutuhkan bila kita mau masak sendiri. Kondisi Ekstern, seperti apa ada geng lain yang juga punya maksud makan enak di luar kantor atau mau masak di dapur dalam waktu yang bersamaan ? Amankah jalan yang dilewati, tidak macet, banjir. Tersediakah sarana, mobil, sepeda motor, ojek, atau omprengan. Amankah warung yang dituju, adakah copet atau premannya, bagaimana kalau ketemu anak-bini, adakah famili yang bakal ketemu di warung ?

kacangan yang kita pamerkan, akan ditertawain !! Geng lain punya ilmu macan nggereng, kok dipamerin ilmu segitu, lha rak diemplok malang tenan sampeyan !! W, kata bukunya Weakness atau kelemahan. Apa saja sih semua kelemahan geng, seperti jumlah anggota yang minim, terlalu necis dan tidak pantas untuk duduk di warung kaki lima swalayan, maunya diladeni dan ditemani nona-nona berambut bule, maunya dikudhang, baru dibelai semenit saja langsung pulas, belum pengalaman nyopir di ibu kota, gaptek, dan lain-lain. Biar jelek, ndesoni, malu-maluin, nggak apa-apa, tulis saja. Nggak usah sampeyan sembunyiin, tutuptutupin, bahaya Mas !! Sekali kena elusan Mak Reot, maunya perkasa, malah kelenger geng sampeyan !! Toh ini rahasia geng sendiri dan tidak mungkin akan kita bocorkan ke geng lain, bisa bubar kita !! Mari kita permalukan diri sendiri, sebelum dipermalukan orang lain. O, kata bukunya Opportunity atau peluang, kesempatan, mumpung... Di luar kantor ada apa sih ? Mari kita data, semua yang masih mumpung, belum terlanjur bawa mobil, hari Kamis biasa ada famili yang andhok di warung itu, hari Jumat biasanya boss ke luar kota, jam segini jalanan belum macet, belum banyak pelanggan di warung, dan lain-lainnya. Pokoknya semua yang mumpung-mumpung ditampung, semakin banyak semakin untung, karena akan semakin banyak pilihan keputusan nantinya yang dapat digantung. Maksudnya untuk dipilih mas, bukan untuk dipelototi atau divideokan, bisa heboh !! T, kata bukunya Threats atau ancaman, hambatan. Di luar ada kemungkinan ancaman atau hambatan nggak sih, kalau kita ke warung ? Seperti teror bom, copet, preman, tempat parkir sempit dan tidak aman, banyak anak kecil dan besar yang suka main gores mobil, razia kendaraan, hujan dan becek, ada geng lain yang lebih sakti, kantong tebal, belum pesan makanan, dan sebanyak mungkin ancaman yang mungkin terjadi. Biar kecil ancaman itu, datain saja. Nggak rugi kok, ingat, biar kecil sebesar pasir, kalau masuk mata, ya merah dan pedih juga mata sampeyan. Nggak enak makan, suasana jadi penuh haru dan kasihan, pesta makan jadi nggak karuan. Nah, setelah semua sewot tadi kita data habis, baru kita aturlah rencanakan strategi menuju warung, untuk makan enak. Pertama, strategi untuk memanfaatkan O, peluang atau kesempatan yang ada, dengan memobilisasi aji mumpung: 2 S atau kekuatan. Mumpung belum terlanjur bawa mobil, lihat dulu berapa jumlah anggota geng yang mau makan enak. Lima orang ada Avanza, 7 orang ada APV, 10 orang bawa 2 Avanza. OK, sarana tidak masalah. Cek kondisi mobil, laik jalan, syukur. Ragu-ragu, manfaatkan montir dinas, cek dan servis mobil, gratis biaya dinas. Mumpung hari Kamis, ajak anggota yang punya famili, biar bisa nego, dan alhamdulillah makan enak gratis. Mumpung hari Jumat, ngabur aja, nggak perlu izin Boss, yang penting dalam jam istirahat.. Bila Boss ada, ya baik-baik saja minta izin beliau. Mumpung jalanan belum macet, warung belum banyak pelanggan, ada persiapan dini, kesepakatan anggota. Begitu sirene istirahat, langsung naik mobil dan tancap gas. Tapi, ada anggota yang masih sibuk dengan game-nya, bantu rame-rame menyelesaikannya, gotong royong-lah !! Tapi, anggota alergi warung kaki lima swalayan, yaaa.... dari awal dong rencana warung tujuan ditetapkan, jangan berdebat sekarang. Habis dah waktu istirahat dan akal sehat makan enak.... nikmat..
2

Jadi untuk berencana mau makan enak saja, kita harus mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada. Yah, istilahnya sewot gitu lah !! Kalau menurut bukunya, sewot itu dapat digambarkan sebagai berikut: S, kata bukunya Strength atau kuat, sakti. Apa saja sih daftar semua kesaktian geng yang dapat kita pamerkan kepada orang di luar geng, seperti ilmu pencak silat, ilmu kebal, ilmu totok, ilmu ngathok, kantong tebal, bahkan kalau perlu muka tebal pun dapat kita pamerkan. Nggak apa-apa, semua itu akan dapat kita manfaatkan dalam beberapa situasi tertentu. Jangan ilmu wedhus 46
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

W atau kelemahan. Tapi, siapa yang bayar? Biar pelit, kalau patungan bayar sendiri-sendiri mau kan? Tapi, kalau bayar sendiri-sendiri, nggak asyik dong, nggak bisa merasakan nikmatnya semua masakan yang dipesan ? Ya pesan makanan bermacam-macam, makan ramerame, bon dibagi rata gitu dong !! Ini baru namanya kerja sama, sinergi...,

Tapi, bagaimana jika ada anggota yang pulas di warung ? Ya bangunin, atau sebelum ke warung, latih fisik dulu, suruh push up 1000 kali, lari keliling kampung, gebukin badannya paling tidak selama sebulan, sehingga jadi kebal dan tidak akan mempan belaian. Bila masih mempan juga, kasih baju tebal orang Eskimo atau pinjemin baju dari NASA. Lho, kok masih mempan juga ? Kalo begitu, ndableg namanya, ya tendang saja dari keanggotaan geng !! Kedua, strategi menghadapi T, ancaman atau hambatan yang mungkin terjadi, dengan: 2 S atau kekuatan. Bagaimana kalau ada bom teroris ? Ya manfaatkan ahli militer, elektronik, dan kimia kita, kerja sama menjinakkan bom. Bagaimana jika ada preman apa copet ? Ya anggota yang punya ilmu bela diri suruh maju menghadapinya. Bagaimana jika mobil tidak aman dari goresan ? Ya ambil posisi makan dekat mobil dong !! Mau aman mobil, ya mestinya cari posisi tempat duduk di dekatnya, jangan dari kejauhan, Cuma bisa melototi dan ngegerundel saja. Bagaimana jika ada razia kendaraan ? Ya pakai kendaraan dinas yang masih komplit surat-suratnya, sopir anggota yang punya SIM dan seterusnya. Bagaimana kalau hujan dan becek ? Ya pakai jas hujan pembagian dinas, lepas sepatu, jinjing, dan pakai lagi di warung. Bagaimana kalau waktunya mepet ? Ya pesan makanan sebelumnya, gunakan fasilitas yang ada, telepon kantor, HP, faksimili, clening service, jangan cuma lingaklinguk, ah gampang itu nanti..., sambil jalan saja..., bisa nggak makan sampeyan !!
2

seterusnya ... ? Ya sebelumnya kita harus cari strategi untuk menghadapinya... Nah setelah semua yang kita rencanakan dengan berbagai strategi, yakin tidak ada yang luput dari segala pengamatan, maka dengan bertegap dada, langkah pasti, menyongsong hari H. Tepat jam 11.00, sejam sebelum jam istirahat, hari H, terdengar anouncer mengumumkan: “Bahwa sehubungan dengan..... yang dilanjutkan dengan acara makan siang bersama, maka seluruh anggota geng diwajibkan hadir dan tidak diperkenankan meninggalkan kantor sampai acara selesai. Tertanda Boss”. (Ya..., nasi kotak lagi...).
Penulis adalah Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kanwil DJBC Riau dan Sumatera Barat
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

W atau kelemahan. Bagaimana jika anggota lemah, tidak mampu menghadapi ancaman bom, preman, atau copet ? Ya sebelum berangkat, latih dulu kemampuan anggota, panggil Jet Lee untuk melatih kungfu Shao Lin, Rambo untuk menjinakkan bom, Nenek Lampir untuk ilmu mantera, Gatutkaca untuk ilmu kebal, Pendeta Durna untuk bersiasat, Henry Kissinger untuk bernegosiasi, dan masih banyak pakar yang dapat kita panggil. Bagaimana jika ternyata harga naik dan uang nggak cukup ? Ya kalau maunya menu ikan bawal bakar, ganti dengan ikan bandeng bakar. Menu iga bakar, ganti dengan tempe bakar. Masih sama-sama bakaran, bumbu sama, Cuma beda rasa sedikit kok !! Yang penting kita nikmati bersama. Bagaimana jika..., bagaimana jika..., bagaimana jika..., dan

47

48

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

49

50

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

51

52

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

53

54

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

55

56

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

57

58

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

59

60

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

61

62

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

63

KOLOM
PIB berbeda. Alasan dan maksud apa yang mendasari kata-kata “hanya berlaku untuk PIB bersangkutan” tidak perlu SEYOGYANYA, dibahas atau diperdebatkan lebih jauh. Namun, jika PENETAPAN KEMBALI menggunakan “logical thinking”, akan tampak hal-hal yang tidak lazim atau ekstrimnya agak menyimpang dari OLEH LEMBAGA alur pikir logis/normal. Misalnya, pengguna jasa mengajukan keberatan KEBERATAN DAPAT DI terhadap penetapan nilai pabean oleh PFPD ke lembaga UP-DATE DALAM yang lebih tinggi. Kemudian, keberatan tersebut diproses, dan diputuskan untuk diterima oleh lembaga DATABASE Oleh : yang lebih tinggi (KP-DJBC). Artinya, lembaga keberatan Nasir NASIONAL … menerima bahwa pemberitahuan nilai pabean si importir/ Adenan pengguna jasa memang merupakan nilai transaksi yang sebenarnya (actually paid or payable). Jadi, ada pengakuan dari lembaga keberatan/banding bahwa harga yang diberitahukan adalah benar (sebagai harga transaksi). Oleh karena itu, diluar kelaziman bila dikatakan bahwa penetapan tersebut hanya berlaku untuk PIB bersangkutan. Sebaliknya bahkan, si importir seharusnya berhak memberitahukan harga yang sama pada importasi berikutnya untuk barang identik/serupa yang diperoleh dari penjual yang sama. Besar kemungkinannya, untuk importasi pada 2-3 bulan berikutnya harganya akan lebih rendah dari harga pada saat pertama kali diimpor misalnya; adanya pergantian musim yang mengakibatkan terjadi obral, barang reject, cuci gudang, atau modelnya sudah out of date (kecuali ada kenaikan harga global akibat memburuknya perekonomian dunia; resesi, inflasi, stagflasi dll). Yang tidak lazim lainnya adalah untuk apa lembaga keberatan/banding dibentuk jika penetapannya hanya bersifat insidentil/temporer. Di negara hukum manapun di dunia, penetapan lembaga yang lebih tinggi berkekuatan hukum tetap, ilai pabean memang merupakan sumber perdebatan kecuali jika yang dirugikan mengajukan banding ke yang tak ada hentinya, dan memang asyik untuk diperlembaga tertinggi. Sayangnya lagi, keputusan/penetapan debatkan sepanjang itu mencari kebenaran. Mengutip diterimanya keberatan itu tidak pernah dimasukkan dalam peribahasa dari Thomas Huxley yang mengatakan bahdatabase harga nasional (up-dating harga), sehingga wa masalahnya, bukan pada siapa yang benar, melainberulang-ulang “notul” selalu terjadi untuk importasi kan apa yang benar. Karena itu, menyambung tulisan mengenai barang identik/serupa oleh importir yang masalah nilai pabean beberapa waktu yang lalu, sama dari penjual yang sama. Lucu dipandang perlu untuk menambahkan atau bermemang, kalau dikaitkan dengan bagi (sharing) pendapat mengenai pemahaman yang mengatakan bahwa keputusan (penetapan UNTUK MASALAH NILAI peribahasa yang mengatakan “takkan dua kali orang tua kehilangan tongkat” artinya, nilai pabean) lembaga yang lebih tinggi atas PABEAN, INDONESIA jangan sampai melakukan kesalahan yang keberatan/banding yang diajukan oleh importir/ ADALAH NEGARA YANG sama, atau keledai tidak akan terperosok pengguna jasa kepabeanan hanya berlaku unpada lubang yang sama. tuk PIB bersangkutan. DITUNJUK SEBAGAI Seyogyanya, penetapan kembali oleh COORDINATING COUN- lembaga keberatan dapat di up-date dalam KEBERATAN NILAI PABEAN DAN database nasional, baik itu menerima APLIKASINYA TRY DI ASEAN keberatan bersangkutan ataupun Hasil putusan terhadap keberatan nilai penetapan kembali, dan benar-benar pabean yang diajukan oleh pengguna jasa difungsikan sebagai “risk assessment tool” kepabeanan kepada lembaga yang lebih (bukan sebagai pembanding, salah kaprah yang tinggi (keberatan/banding) prinsipnya ada 2 jenis kepuselamanya dipahami. Untuk diketahui bahwa berdasarkan tusan : keberatan diterima atau keberatan ditolak. Untuk Metode 1, data yang hanya dapat digunakan sebagai keberatan yang diterima, berarti pemberitahuan nilai papembanding adalah data yang ada pada PIB importasi bean/harga oleh pengguna jasa adalah benar, sedangkan sebelumnya dan, ini yang paling penting, atas inisiatif si untuk keberatan yang ditolak mempunyai hasil keputusan, importir bukan bea cukai) dimana PFPD mempunyai pertama, ditolak dan menerima penetapan nilai pabean banyak alternatif rujukan harga. Sehingga PFPD dapat PFPD, atau kedua, ditolak dan ditetapkan kembali (lebih menetapkan harga terendah ( metode 2 dan metode 3 ) rendah atau lebih tinggi dari penetapan PFPD). dari berbagai alternatif yang ada dalam database harga Keputusan-keputusan oleh lembaga yang lebih tinggi, nasional. selama ini melekat (embedded) atau ditambah embelembel “hanya berlaku untuk PIB bersangkutan”, artinya, keputusan lembaga keberatan/banding hanya berlaku MALFUNCTION DAN AKIBATNYA untuk importasi barang-barang yang dipermasalahkan Malfunction (gagal fungsi) penetapan harga ini adalah nilai pabeannya pada PIB yang diajukan tersebut. berawal dari adanya instruksi yang juga gagal fungsi, Dengan kata lain, tidak berlaku untuk importasi artinya, ada pimpinan yang memberi instruksi bahwa barang-barang identik/serupa (yang diimpor oleh penetapan harga harus mengacu (baca: sesuai) dengan importir/pengguna jasa yang sama, dan dibeli dari database harga dengan toleransi 5% lebih rendah. Ini penjual yang sama), yang diajukan setelah itu dengan kemudian diterjemahkan oleh PFPD, yang mencari aman,

Valuation :
Sekedar Otokritik 2

” Customs

N

“ ”

48

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

OPINI
bahwa nilai pabean ditetapkan berdasarkan database harga nasional. Dengan kata lain, digunakan sebagai mekanisme untuk menetapkan harga minimum (yang jelas dilarang oleh undang-undang). Disamping itu, terkadang adanya intervensiintervensi yang menambah beban psikologis bagi PFPD. Ini menyimpang dari sasaran GATT Valuation Agreement yang menginginkan sistim nilai pabean yang adil, seragam dan netral. Sehingga profesionalisme PFPD selaku petugas yang berwenang menetapkan nilai pabean menjadi mandul, ironis memang ! Akibatnya, penerapan nilai pabean menjadi tidak pandang bulu, tidak melihat apakah barang tersebut diimpor oleh importir produsen, perorangan, pedagang ataupun perusahaan PMA, PMDN dan lain-lain, sepanjang harga/nilai pabeannya lebih rendah dari database harga, maka akan dikenakan “notul” (parahnya, notul tersebut seringkali tidak sama antara PFPD yang satu dengan PFPD yang lain, walaupun barangnya sama, dengan importir yang sama, dan penjual yang sama). Tidak perlu meneliti atau berkomunikasi dengan importirnya ( yang sebenarnya dimandatkan pasal 1 Agreement on Implementation of Article VII of GATT) untuk mengetahui apakah harga pada PIB benar-benar merupakan harga transaksi atau tidak. Sebetulnya, masih ada mekanisme yang dapat dilakukan baik oleh bea cukai maupun pengguna jasa (inipun kalau pintu komunikasi masih terbuka), yakni, kepala kantor dapat membatalkan “notul”(SPKPBM) tersebut jika pengguna jasa dapat membuktikan bahwa harganya merupakan harga transaksi. Jadi, importir/pengguna jasa tidak perlu mengajukan keberatan ke lembaga yang lebih tinggi, sehingga dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga.

Oleh: Agus Cahyono, S.E., Ak., M.Si

PENDAPAT UMUM ‘ORANG AWAM’ PERPAJAKAN BAHWA BEA MASUK DAN CUKAI TIDAK LAIN ADALAH PAJAK JUGA ...

“ ”

Suatu Pajak Atas Pajak ?

Bea Masuk, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI),

PENUTUP
Sebagaimana disinggung di atas, otokritik ini tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang benar/salah, melainkan apa yang benar/ salah. Jadi anggap saja sebagai kritik membangun, karena ada … AKIBATNYA, peribahasa yang mengatakan bahwa orang mulia menyalahkan PENERAPAN dirinya, orang bodoh NILAI PABEAN menyalahkan orang lain. Dalam hal nilai pabean, MENJADI TIDAK kunci untuk menyelesaikan kata PANDANG perselisihan antara pengguna jasa kepabeanan dan bea cukai, BULU … adalah komunikasi (dalam arti positif) antara kedua belah pihak. Artinya, bukan menutup pintu untuk berkomunikasi guna penyelesaian masalah. Yang perlu diingat dan digarisbawahi, bahwa untuk masalah nilai pabean, Indonesia adalah negara yang ditunjuk sebagai coordinating country di ASEAN. Semua perubahan mengenai nilai pabean sebaiknya dilaporkan ke WCO, sebagaimana yang pernah dilakukan pada waktu lalu. Karena itu, jika ada penerapan nilai pabean yang menyimpang dari GATT Valuation Agreement, tentunya dapat mencoreng kompetensi dan kapabilitas Indonesia. Seandainya banyak pendapat yang mengatakan bahwa suatu ketentuan menabrak ketentuan yang lebih tinggi, seyogyanya ketentuan tersebut dievaluasi. Karena kalau tidak, dengan menggunakan hirarki hukum, maka ketentuan yang lebih rendah akan batal demi hukum.

M

“ ”

Penulis adalah Kepala Kanwil DJBC Jakarta

embaca salah satu rubrik dalam Warta Bea Cukai edisi April 2007 mengenai pengenalan Bea dan Cukai bagi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya, Program Magister Akuntansi yang salah satu mata kuliahnya adalah Kepabeanan dan Cukai mengingatkan penulis pada saat menyelesaikan tugas akhir. Umumnya di program pasca sarjana perguruan tinggi lain dengan minat studi perpajakan, ‘ilmu’ Kepabeanan dan Cukai bukanlah merupakan mata kuliah tersendiri tetapi hanya merupakan bagian silabus dari mata kuliah perpajakan. Pendapat umum ‘orang awam’ perpajakan bahwa Bea Masuk dan Cukai tidak lain adalah pajak juga, maka tidak heran bila sang pembimbing dengan semangatnya mengajukan pertanyaan yang harus penulis jawab dan uraikan mengenai apakah sebenarnya Bea Masuk dan Cukai itu, bukankah Bea Masuk dan Cukai tidak lain merupakan bagian dari pajak itu sendiri atau dalam kata lain bila terdapat pajak atas barang impor (PDRI) dapat dikatakan terjadi pajak atas pajak? ‘Pajak atas pajak’ yang dimaksud si penanya yang notabene pengajar sekaligus praktisi perpajakan bukanlah double taxation sebagaimana dikenal dalam hukum pajak internasional khususnya kesepakatan mengenai penghindaran pajak berganda (P2B) melainkan persepsi pajak dalam negeri. Nampaknya tidak sulit untuk membedakan definisi bea masuk, cukai dan pajak pada umumnya namun ternyata memerlukan pemahaman yang mendalam untuk menjelaskannya secara sistematis. Tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai sesuatu yang pasti benar tetapi lebih merupakan pemahaman penulis yang masih jauh dari memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, namun paling tidak telah memberikan jawaban yang cukup memuaskan bagi penanya dalam memenuhi rasa ingin tahu kerangka sistematisnya. Apalagi seiring dengan berjalannya waktu, semakin tidak mudah untuk mendefinisikan makna pajak dengan baik tanpa terlebih dahulu berbekal pengetahuan tentang hukum, ekonomi, politik, sosiologi, filsafat dan sebagainya yang melatarbelakangi dasar hukum terbentuknya pajak.
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

49

OPINI
Sebagaimana menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H. bahwa pajak merupakan gejala sosial dan hanya terdapat dalam masyarakat hukum yaitu masyarakat yang mempunyai hubungan timbal balik antara individu dan masyarakat dengan melekat hak dan kewajibannya (2004:1), oleh sebab itu maka pemungutan pajak yang dilakukan negara ditetapkan berdasarkan undangundang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam rangka memenuhi aspek yuridisnya. Definisi pajak menurutnya sebagaimana dikutip oleh Santoso Brotodihardjo, S.H. (Wirawan B. Ilyas dan Richard Burton, 2004:4) “Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa-imbal (kontra-prestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.” Definisi tersebut telah diperbaharui menjadi, “Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.” (Mohammad Zain, 2005:11). arti dan fungsi tersendiri yang berkesinambungan dalam terjadinya utang pajak (Rochmat Soemitro, 2004:139). Dalam merealisasikan pajak-pajak negara, di Indonesia dikenal lembaga pelaksanaan pajak yang lazimnya disebut lembaga administrasi pajak yang terdiri dari Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai bagian dari Departemen Keuangan. Direktorat Jenderal Pajak melaksanakan pemungutan pajak berdasarkan hukum pajak formal yang pokok-pokoknya diatur dalam Undang-undang Nomor: 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah mengalami dua kali perubahan yaitu dengan Undangundang Nomor: 9 Tahun 1994 dan terakhir dengan Undangundang Nomor: 16 Tahun 2000. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melaksanakan pemungutan pajak berdasarkan hukum pajak formal tersendiri yang masing-masing diatur dalam Undang-undang Nomor: 17 tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dan Undangundang Nomor: 39 tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 11 tahun 1995 tentang Cukai. Ditinjau dari jenis pajak yang ada di Indonesia, pajak dapat Menurut Mohammad Zain (2005:12), jenis pungutan bea digolongkan dalam tiga golongan yaitu menurut sifat, sasaran/ dan cukai dikategorikan sebagai pajak tidak langsung. objek, dan lembaga pemungutnya: Adapun pengertian bea adalah, “Pungutan yang dikenakan a. Menurut Sifatnya atas suatu kejadian atau perbuatan yang berupa lalulintas Jenis-jenis pajak menurut sifatnya dapat dibagi dua yaitu barang dan perbuatan lainnya berdasarkan pajak langsung yaitu adalah pajak-pajak ketentuan peraturan perundang-undangan, yang bebannya harus dipikul sendiri oleh bea dapat berupa bea masuk yang dipuWajib Pajak; dan pajak tidak langsung “PAJAK DAN PUNGUTAN ngut atas barang–barang yang dimasukkan yaitu pajak yang bebannya dapat dilimpahke dalam daerah pabean berdasarkan kan kepada orang lain dan hanya dikenaLAIN YANG BERSIFAT harga atau nilai barang tersebut (tarif ad kan pada hal–hal tertentu atau peristiwaMEMAKSA UNTUK valorum) atau berdasarkan tarif yang sudah peristiwa tertentu saja, misalnya Pajak Perditentukan.” tambahan Nilai. KEPERLUAN NEGARA Sedangkan cukai ialah, “Pungutan yang b. Menurut Sasaran/Objek DIATUR DENGAN dikenakan atas barang-barang tertentu, Menurut sasarannya, jenis-jenis pajak daberdasarkan ketentuan peraturan perundangpat dibagi dua yaitu pajak subjektif yaitu UNDANG-UNDANG” undangan dan biasanya barang konsumsi. jenis pajak yang dikenakan dengan perta(AMANDEMEN UU DASAR Cukai dapat berupa cukai tembakau, cukai ma-tama memperhatikan keadaan pribadi rokok, cukai gula, cukai alkohol, cukai minumWajib Pajak (subjeknya). Setelah diketahui 1945, PASAL 23A) an keras dan lain-lainnya”. keadaan subjeknya barulah diperhatikan Secara yuridis, definisi bea masuk keadaan objektifnya sesuai daya pikul apadalam Undang-undang Nomor: 17 tahun kah dapat dikenakan pajak atau tidak, 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 10 misalnya pajak penghasilan; dan pajak objektif yaitu jenis tahun 1995 tentang Kepabeanan adalah, “pungutan negara pajak yang dikenakan dengan pertama-tama memperhatikan/ berdasarkan Undang-Undang ini yang dikenakan terhadap melihat objeknya baik berupa keadaan perbuatan atau peristiwa yang menyebabkan timbulnya kewajiban membayar barang yang diimpor.” Sedangkan bea keluar adalah, pajak. Setelah diketahui objeknya barulah dicari subjeknya “pungutan negara berdasarkan Undang-Undang ini yang yang mempunyai hubungan hukum dengan objek yang telah dikenakan terhadap barang ekspor.” Kepabeanan sendiri diketahui, misalnya Pajak Pertambahan Nilai. dalam undang-undang tersebut disebutkan sebagai, “segala c. Menurut Lembaga Pemungut sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas laluMenurut lembaga pemungutannya, jenis pajak dapat dibagi lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta dua jenis yaitu Pajak Pusat yang dipungut oleh pemerintah pemungutan bea masuk dan bea keluar”. pusat yang dalam pelaksanannya dikelola oleh Direktorat Mengenai cukai, dalam Undang-undang Nomor: 39 tahun Jenderal Pajak (DJP) seperti Pajak Penghasilan, Pajak Per2007 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 11 tambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, tahun 1995 tentang Cukai disebutkan bahwa “Cukai adalah Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak/Bea Perolehan Hak atas pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang Tanah dan Bangunan dan Bea Materai; dan yang dikelola tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) seperti Bea ditetapkan dalam undang-undang ini.” Masuk, Bea Keluar dan Cukai. Sebagai salah satu peserta dalam acara sosialisasi UndangSedangkan Pajak Daerah adalah jenis pajak yang dipuundang tentang Cukai belum lama ini, penulis sempat mendapat ngut oleh pemerintah daerah yang dalam pelaksanaan pertanyaan dari peserta lain mengenai definisi Cukai yang sehari-hari dilakukan oleh Dispenda (Dinas Pendapatan merupakan ’pungutan negara’, padahal istilah itu sudah ada sejak Daerah), seperti Pajak Daerah Tingkat I dan Pajak DaeUndang-undang Nomor: 11 tahun 1995 diundangkan bahkan karah Tingkat II. lau tidak salah jauh sebelum itu di dalam Ordonansi Cukai. Kalau kita perhatikan definisi bea masuk, bea keluar, dan cukai Berkaitan dengan lembaga perpajakan, dengan memahamemang tidak menggunakan terminologi ’pajak’ atau ’pajak negami lembaga-lembaga perpajakan yang ada maka akan lebih ra’ melainkan ’pungutan’ atau ’pungutan negara’. mudah memahami arti dan fungsi pajak dalam masyarakat. Dalam Undang-undang Dasar 1945 (Hasil Amandeman) Istilah “lembaga” yang dimaksud adalah sebagai permulaan khususnya pasal 23A yang berbunyi, “Pajak dan pungutan atau asal mula perpajakan, atau juga acuan (cetakan) atau lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur titisan (asal) yang sudah melembaga, menjadi suatu dengan undang-undang” (Redaksi Sinar Grafika,2002: 16). kesatuan yang mempunyai bentuk tertentu yang mempunyai Maka secara eksplisit definisi bea masuk, bea keluar, dan cu-

“ ”

50

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini”. Pada pasal 15 ayat (1) Undang-undang Nomor: 17 tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan menyebutkan bahwa, “nilai pabean untuk penghitungan bea masuk adalah nilai transaksi dari barang yang bersangkutan”. Sedangkan dalam pasal 6 ayat 2 Undangundang Nomor: 39 tahun 2007 tentang Perubahan atas Undangundang Nomor: 11 tahun 1995 tentang Cukai, disebutkan bahwa, HUBUNGAN ANTARA PAJAK, BEA DAN CUKAI “Harga Dasar yang digunakan untuk perhitungan cukai atas baHubungan antara pajak negara yang dipungut oleh Direktorat rang kena cukai yang diimpor adalah nilai pabean ditambah bea Jenderal Pajak dan “kewajiban” bea masuk/bea keluar dan cukai masuk atau harga jual eceran”, artinya harga dasar yang digunayang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai saling kan adalah nilai impor, yaitu nilai pabean ditambah bea masuk berkaitan erat dapat kita lihat melalui pemahaman istilah atau dapat juga harga jual eceran (biasanya harga jual eceran “kewajiban” dan pemahaman ketentuan perundangan yang ada. telah memperhitungkan nilai pabean, bea masuk dan biaya-biaya Dalam praktek perdagangan internasional lazim dikenal lain yang timbul dalam pengimporan serta margin keuntungan). adanya istilah customs duties atau diterjemahkan sebagai Dengan demikian dalam perhitungan suatu barang impor, ’kewajiban pabean’ yang di Indonesia saat ini dikenal adanya bea hubungan antara Dasar Pengenaan Pajak (UU Pajak) dan masuk dan bea keluar dan istilah excise duties yang Nilai Pabean (UU Kepabeanan) adalah bahwa Dasar Pengediterjemahkan sebagai ’kewajiban cukai’ atau ’cukai’. Istilah naan Pajak untuk penghitungan PPN, PPnBM dan PPh 22 ’duty’ atau jamaknya ’duties’ dalam literatur disebutkan sebagai : adalah jumlah Nilai Impor yaitu nilai pabean (biasanya konDuty, asal mulanya, ialah suatu pembayaran yang disi term cif) ditambah dengan bea masuk dan cukai. Jadi diwajibkan, terutama suatu pembayaran yang harus dilunasi Pajak dalam Rangka Impor berupa PPN, PPnBM dan PPh kepada pemerintah. Seperti yang sekarang dipakai, ialah atas impor (Pasal 22) yang dipungut oleh Ditjen Bea dan Cusuatu pembayaran pajak yang dipungut atas barang-barang kai dikenakan dengan dasar nilai pabean ditambah duties import atau export. Pada hakekatnya, suatu duty adalah pajak yang dibebankan atas barang tersebut. yang sebenarnya dipungut, sedang suatu Bagaimana kedudukan pajak, bea TARIFF itu adalah daftar atau tabel, dasar, masuk dan cukai dalam APBN? Dalam atau tingkat pajak itu, Jadi dalam teks ini, DALAM PRAKTEK Undang-undang Anggaran Pendapatan dan pelbagai penggolongan-penggolongan dan Belanja Negara yang ditetapkan setiap jenis tariffs atau duties dimasukkan dan PERDAGANGAN tahun bermacam jenis pajak dan pungutan didefinisikan di bawah TARIFF (AbdurrachINTERNASIONAL LAZIM negara secara skematis dikelompokkan man, 1991:359). DIKENAL ADANYA ISTILAH dalam beberapa golongan. Jenis pungutan bea dan cukai masing-masing Dalam TheFreeDictionary, istilah duty CUSTOMS DUTIES ATAU dikelompokkan tersendiri, kedudukan cukai dalam ilmu ekonomi sebagai berikut : adalah sebagai bagian dari pajak dalam “In economics, a duty is a kind of tax, DITERJEMAHKAN negeri yaitu semua penerimaan negara often associated with customs, a SEBAGAI ’KEWAJIBAN yang berasal dari pajak penghasilan, pajak payment due to the revenue of a state, pertambahan nilai barang dan jasa, pajak levied by force of law. Properly, a duty PABEAN’ ... penjualan atas barang mewah, pajak bumi differs from a tax in being levied on dan bangunan, bea perolehan hak atas taspecific commodities, financial transacnah dan bangunan, cukai dan pajak lainnya. tions, estates, etc, and not on individuSedangkan bea masuk merupakan bagian dari pajak als; thus it is right to talk of import duties, excise duties, perdagangan internasional yaitu semua penerimaan negara death or succession duties, etc, but of income tax as yang berasal dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor. being levied on a person in proportion to his income. Kesimpulan penulis dari uraian di atas adalah : (1) bahwa (Farlex, Inc, www.thefreedictionary.com:2006). secara hukum fiskal sesungguhnya bea masuk/bea keluar dan cukai merupakan pajak negara namun secara hukum Dari uraian di atas dijelaskan bahwa duty lebih ditekankan formal telah menjadi lembaga perpajakan yang berdiri sendiri; kepada hal yang berhubungan dengan kepabeanan atau aktifitas (2) Sementara orang ada yang berpendapat terjadinya ‘pajak impor/ekspor yaitu memasukkan/mengeluarkan barang dari/ke atas pajak’ terhadap Pajak dalam Rangka Impor (PDRI) luar negeri yang dikenakan terhadap barang tertentu atau kiranya dapat dijelaskan dengan penggunaan istilah ‘pajak transaksi keuangan tertentu yang tidak bersifat individual (subjekatas duties’. Kedua hal tersebut sesungguhnya telah tif). Sehingga atas impor barang tertentu yang termasuk dalam didukung oleh aturan perundang-undangan yang memadai. barang kena cukai dari luar negeri selain dikenakan bea masuk Demikian sekedar opini dari penulis mengenai kaitan Bea juga dikenakan cukai. Sebaliknya, terhadap produk dalam negeri Masuk, Cukai, dan Pajak dalam Rangka Impor sebagai suatu yang dikenakan cukai, apabila diekspor atau dikirim ke luar negeri terminologi ibarat dua sisi keping mata uang yang tak dapat dapat dimintakan pengembalian cukainya. dipisahkan. Kiranya masukan, kritik atau tanggapan dapat Hubungannya dengan Undang-undang Pajak, sebagai disampaikan melalui e-mail: aguscahyono@indosat.net.id. pajak objektif yang berkaitan dengan Barang Kena Pajak Penulis akan menerima dengan senang hati, terima kasih. yaitu PPN dan PPnBM, sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 8/1983 jo nomor 11/1994 jo 18/ DAFTAR PUSTAKA 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Abdurrachman A.1991. Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah disebutkan Jakarta: Pradnya Paramita. dalam ketentuan umum bahwa, “Dasar Pengenaan Pajak Farlex. 2006. www.thefreedictionary.com. New York : Farlex, Inc adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ilyas, Wirawan B. dan Richard Burton. 2004:Edisi Revisi. Hukum Pajak. Jakarta: Salemba Empat. Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Redaksi Sinar Grafika. 2002. UUD 1945 Hasil Amandemen & Proses Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar Amandemen UUD 1945 Secara Lengkap. Jakarta: Sinar Grafika. untuk menghitung pajak yang terutang”. Sedangkan Nilai Soemitro, Rochmat dan Dewi Kania Sugiharti. 2004. Asas dan Dasar Perpajakan I, Edisi Kedua (Revisi). Bandung: Refika Aditama. Impor adalah, “nilai berupa uang yang menjadi dasar Zain, Muhammad. 2005. Manajemen Perpajakan. Jakarta: Salemba Empat. penghitungan bea masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam perPenulis adalah Kepala Seksi Dukungan Teknis dan Distribusi Dokumen, aturan perundang-undangan Pabean untuk impor barang KPPBC Tipe A4 Bontang kai bukanlah termasuk pajak walaupun secara implisit adalah jenis pajak juga karena menurut penafsiran penulis bahwa ’pungutan lain yang bersifat memaksa’ dalam pasal tersebut dimaksudkan untuk penerimaan negara dari sektor bukan pajak (PNBP). Mungkin ’pungutan negara’ yang dimaksud dalam Undang-undang Kepabeanan dan Cukai adalah pungutan ’duties’ sebagaimana diuraikan di bawah ini.

“ ”

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

51

OPINI

Pemeriksaan

S

Barang

Oleh : Wirawan Sahli

UNTUK IMPORTASI YANG BERISIKO TINGGI TIDAK MUNGKIN KALAU HANYA DISERAHKAN KEPADA SEORANG PEMERIKSA SAJA

“ ”

ewaktu bertugas saya sering terlibat diskusi dengan rekan-rekan sekerja tentang peranan unit P2 (Penindakan dan Penyidikan). Ada beberapa rekan berpendapat telah terjadi overlapping atau bahkan duplikasi dalam tugas unit P2 karena dalam praktek pemeriksaan barang impor, petugas P2 ikut memeriksa barang padahal sudah ada petugas pemeriksa dari Seksi Pabean yang khusus ditunjuk untuk itu. Di lapangan selalu ada petugas P2 Kantor Pelayanan yang ikut memeriksa mendampingi petugas pemeriksa. Malah kadang-kadang ada juga petugas dari Bidang P2 Kantor Wilayah dan petugas Direktorat P2 Kantor Pusat. Jadi ada empat orang sekaligus memeriksa barang. Ada yang berpendapat hal ini tidak efisien, terlalu banyak orang dikerahkan jadi ada tenaga mubazir. Uraian tugas P2 adalah melakukan kegiatan intelejen, pencegahan, penindakan, penegahan dan penyidikan, jadi seharusnya tidak dilibatkan dalam pemeriksaan barang. Pemeriksaan barang yang bersifat rutin ditangani seksi pabean. Berdasarkan peraturan yang berlaku petugas P2 bisa melakukan pemeriksaan barang berdasarkan nota intelejen yang dibuatnya sendiri dan melakukan pemeriksaan sendiri tanpa melibatkan petugas seksi pabean. Hasilnya juga harus dipertanggungjawabkan sendiri. Tetapi kewenangan ini jarang dilakukan oleh petugas P2 di lapangan. Terlibatnya P2 dalam pemeriksaan fisik kemungkinan karena tidak jelasnya direktorat apa yang bertanggungjawab membina dan mengawasi pelaksanaan pemeriksaan fisik. Direktorat Teknis Kepabeanan tidak secara eksplisit menyebutkan adanya tugas ini, demikian juga Direktorat P2. Uraian tugas Direktorat Teknis Kepabeanan adalah menyiapkan perumusan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis, dan evaluasi pelaksanaan di bidang impor dan ekspor, identifikasi dan klasifikasi barang, tarif bea masuk dan nilai pabean. Sedangkan tugas Direktorat P2 adalah menyiapkan perumusan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis, dan evaluasi pelaksanaan di bidang intelejen, penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan dan penyidikan tindak pidana kepabeanan dan cukai, serta pelaksanaan intelejen dalam rangka pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai. Dari uraian tugas dua direktorat itu tidak ada yang tegas menyebutkan adanya tugas pembinaan atau pemberian bimbingan dalam pemeriksaan barang. Namun dalam praktek Direktur Jenderal selalu menanyakan dan menegur Direktur P2 jika dirasakan pemeriksaan fisik di lapangan tidak berjalan semestinya sehingga sering P2 ikut turun tangan dalam pemeriksaan barang. Disamping itu, mungkin ikut sertanya petugas P2 memeriksa barang karena situasi di lapangan dimana tidak ada yang mengkoordinasikan para pemeriksa. Memang ada
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

Korlak disitu tetapi ia tidak diberikan wewenang apa-apa. Penunjukkan petugas pemeriksa saja dilakukan oleh komputer. Jadi tidak punya wewenang untuk mengatur atau memimpin disitu. Ia tidak bisa misalnya memerintahkan dua atau tiga orang pemeriksa bersama-sama memeriksa satu kontainer yang berisi 30 jenis barang karena siapa pemeriksa yang bertugas sudah ditunjuk langsung oleh komputer. Jadi barang yang mudah dan yang sulit memeriksanya, yang berisiko tinggi dan yang berisiko rendah sama-sama diperiksa satu orang petugas saja. Tentu saja ini menimbulkan kerawanan di lapangan.

PEMERIKSAAN BERSAMA
Sejak saya masuk Bea Cukai tahun 1973 saya lihat pola pemeriksaan barang disini sudah dilakukan secara individual. Kepala Hanggar (sekarang Korlak) menunjuk siapa yang bertugas memeriksa barang apa dan yang ditunjuk untuk memeriksa suatu party barang hanya seorang saja setiap party. Apakah jumlah barang seratus peti atau satu peti sama saja diperiksa oleh seorang pemeriksa. Setelah ada gebrakan pemberantasan penyelundupan Operasi 902 pada tahun 1976 hampir semua barang impor diperiksa bersama-sama unit P2. Kepala Hanggar dalam penunjukan pemeriksa selalu menambahkan klausul diperiksa bersama-sama P2. Akhirnya terjadi hambatan dalam pemeriksaan barang karena jumlah petugas P2 terbatas sehingga seringkali petugas pemeriksa dari Seksi Pabean sudah siap memeriksa barang harus menunggu petugas P2 yang pontang panting harus lari kesana kemari karena banyaknya barang yang harus diperiksa. Maklum waktu itu belum ada jalur hijau, jadi semua barang diperiksa tanpa kecuali termasuk milik importir yang berisiko rendah. Waktu itu petugas pemeriksa dan petugas P2 sama-sama menandatangani nota pemeriksaan jadi kalau ada kesalahan dalam pemeriksaan mereka berdua yang harus bertanggungjawab. Pemeriksaan bersama ini tentu saja menimbulkan keluhan dari kalangan importir karena pelaksanaannya menyeluruh untuk semua barang. Karena adanya keluhan akhirnya hanya diberlakukan untuk 9 jenis barang yang berisiko tinggi saja. Malah kemudian dihapuskan oleh Inpres 4 Tahun 1985 yang memangkas kewenangan Bea Cukai dalam memeriksa barang. Jiwa Inpres itu adalah penyederhanaan prosedur dan pemeriksaan bersama itu dianggap hambatan yang menyulitkan importir dalam mengurus barangnya sehingga harus dihilangkan. Tetapi peran P2 sebagai unit pengawasan di lapangan itu tetap ada walaupun secara resmi tidak ikut memeriksa barang dan tidak ikut tandatangan di nota pemeriksaan. Karena disini tidak ada mekanisme pemeriksaan oleh beberapa orang dibawah Seksi Pabean maka yang muncul adalah pemeriksaan oleh unit kerja pabean bersama-sama dengan unit P2. Bahkan sekarang bersama-sama juga

52

dengan petugas Inspektorat Jenderal jika melakukan spotcheck. Spot-check yang seharusnya dilakukan setelah barang keluar dari pelabuhan ternyata dalam prakteknya dilakukan bersama-sama dengan pemeriksaan barang oleh seksi pabean didalam pelabuhan. Keterlibatan petugas P2 dalam pemeriksaan barang disini terjadi secara alamiah saja, tidak ada peraturan yang mendasari. Bahkan kalau kita lihat tatalaksana pabean di bidang impor disebutkan kalau pemeriksaan barang impor oleh satu orang pemeriksa yang ditunjuk dan namanya tercetak secara otomatis dalam instruksi pemeriksaan. Terlibatnya petugas P2 memeriksa barang mungkin karena kebiasaan yang sudah ada sejak dulu dan juga karena kondisi mengharuskan. Kondisi dimana banyak barang tidak diberitahukan seluruhnya dalam dokumen dan sering tidak terliput oleh seorang pemeriksa karena jumlah dan jenis barang yang sangat banyak dalam satu kontainer. Situasi ini yang menyebabkan turut sertanya petugas P2 memeriksa barang meskipun sudah ada pemeriksa yang ditunjuk dalam sistem. Seperti telah disinggung didepan biasanya Direktur Jenderal menegur dan memerintahkan Direktur P2 untuk turun ke lapangan jika dirasakan pemeriksaan barang terlalu longgar. Hal ini menyebabkan P2 ikut menangani pemeriksaan fisik. Uraian tugas dan fungsi Direktorat P2 yang membidangi intelejen, pencegahan dan penindakan pelanggaran undang-undang pabean dan cukai dan penyidikan dianggap lebih sesuai untuk mengatasi masalah pemeriksaan barang dilapangan dibandingkan uraian tugas dan fungsi Direktorat Teknis Kepabeanan. Selama ini Direktorat Teknis Kepabeanan hanya dianggap sebagai unit kerja yang menyiapkan dan membuat peraturan di bidang impor dan ekspor saja. Memang tidak ada uraian tugas yang tegas menyebutkan adanya wewenang membina dan mengawasi pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik di kantor pelayanan menjadi tugas seksi pabean tetapi di kantor pusat tidak jelas direktorat apa yang menangani dan bertugas jika ada suatu masalah dalam pemeriksaan fisik di lapangan. Dengan adanya pemeriksaan bersama seksi pabean dan seksi P2 memang menimbulkan masalah beban tanggungjawab kalau ada kesalahan dalam pemeriksaan karena mereka berada dalam unit kerja yang berbeda. P2 yang seharusnya memeriksa barang sendiri berdasarkan nota intelejen ternyata malah tidak pernah melakukan hal itu. Mereka malah lebih memilih memeriksa bersama petugas seksi pabean. Dalam Undang-Undang Kepabeanan dikenal adanya pemeriksaan barang setelah diajukan pemberitahuan impor yang diatur dalam Pasal 82, dan ada pemeriksaan karena jabatan (ex officio) yang diatur dalam Pasal 74 dan 77. Pasal 74 mengatur wewenang Bea Cukai untuk melakukan penindakan sedangkan Pasal 77 mengatur wewenang untuk melakukan penegahan. Wewenang Bea Cukai memeriksa jabatan dipertegas lagi dalam perubahan Undang-undang Kepabeanan dan disisipkan dalam Pasal 82 A. Penindakan dan penegahan merupakan tugas dan fungsi unit P2. Pemeriksaan setelah diajukannya pemberitahuan impor dilakukan oleh pemeriksa seksi pabean sedangkan pemeriksaan karena jabatan dilakukan oleh seksi P2. Seharusnya memang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah karena menggunakan dasar yang berbeda dan wewenang yang berbeda. Namun ini tidak pernah dilaksanakan dan yang nampak adalah pemeriksaan bersama. Pemeriksaan fisik barang impor di negara lain tidak selalu dilakukan oleh satu orang. Ada pemeriksaan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang secara bersama-sama, tetapi mereka berasal dari satu unit kerja yang sama. Di Kobe Jepang saya pernah melihat satu kontainer furniture dari Thailand diperiksa oleh lima orang petugas bersama-sama. Di perbatasan Hongkong-Shenzen saya juga pernah melihat satu kontainer barang impor dari Shenzen, Cina yang

diperiksa oleh empat orang. Memang disana ada juga yang diperiksa oleh satu orang saja dalam hal barang yang diperiksa satu macam atau untuk parsel yang ukuran kecil seperti di kantor pos. Jadi berapa banyak pemeriksa yang dikerahkan tergantung tingkat kesulitan dan tingginya risiko atas importasinya. Hal ini diatur oleh petugas setingkat Korlak di lapangan yang bertanggungjawab atas pemeriksaan barang. Tugas pemeriksaan barang disana merupakan tanggungjawab bersama satu kelompok yang dipimpin oleh seorang Korlak. Kalau kita disini menyamakan semua pemeriksaan barang, besar kecil, mudah atau sukar, kontainer atau parsel kecil diperiksa satu orang dan dianggap sebagai tugas dan tanggungjawab individual. Kalau terjadi kesalahan dalam menjalankan tugas menjadi tanggungjawab satu orang itu saja. Mekanisme untuk mengerahkan lebih dari satu pemeriksa untuk memeriksa satu party barang itu memang diperlukan. Untuk importasi yang berisiko tinggi tidak mungkin kalau hanya diserahkan kepada seorang pemeriksa saja. Di negara manapun untuk barang berisiko tinggi pasti akan dikerahkan lebih dari satu orang dan pejabat setingkat korlak yang menentukan berapa banyak pemeriksa yang harus dikerahkan untuk memeriksa barang. Peraturan yang ada sampai saat ini adalah satu pemeriksa untuk satu PIB (Pemberitahuan Impor Barang). Menurut hemat saya kita mesti meninjau ulang konsep kita tentang pemeriksaan fisik yang dilakukan hanya oleh satu orang saja tanpa memperhatikan tingkat kesulitan atau tinggi rendahnya risiko. Sistem pemeriksaan kita yang sudah kita terapkan sejak bertahun-tahun yang lalu sudah seharusnya diperbaharui. Harus ada panduan dan sistem yang memungkinkan satu PIB diperiksa oleh beberapa pemeriksa bersama-sama berdasarkan penunjukkan Korlak. Kelompok-kelompok kerja pada tingkat korlak ini harus dibangun yang solid dan menjadikan tugas pemeriksaan barang ini menjadi tugas kolektif bukan dianggap tugas individual seperti sekarang ini.

KEPEMIMPINAN PADA LEVEL BAWAH
Dahulu waktu Kepala Hanggar masih diberi wewenang menunjuk pemeriksa seringkali di lapangan ada praktek yang tidak sehat misalnya pembagian pekerjaan yang tidak merata. Ada pemeriksa yang mendapat satu kali tugas pemeriksaan ada yang sudah dapat tiga kali pemeriksaan. Ada yang mendapat tugas memeriksa partai yang besarbesar dan ada yang mendapat tugas memeriksa yang kecilkecil saja. Jaman dulu sudah ada like and dislike. Kalau disenangi kepala hangar dapat bagian yang besar-besar, kalau tidak disenangi dapat bagian yang kecil saja. Tetapi juga ada pemeriksa yang nakal. Mereka mencegat dulu PIB sebelum didisposisi oleh kepala hangar dan langsung saja memeriksa barangnya. Bisa saja pemeriksa ini jengkel karena kepala hanggarnya tidak adil, bisa juga karena ia punya kedekatan dengan Kepala Seksi atau bahkan Kepala Bidang sehingga tidak takut kepada kepala hangar. Sepengetahuan saya hal ini jaman itu tidak pernah dibicarakan oleh pimpinan, jadi dianggap biasa dan tidak ada masalah apa-apa. Jadi kalau terjadi rebutan pekerjaan antar pemeriksa atau ada kepala hangar yang tidak adi, kepala seksi atau kepala bidang atau kepala kantor wilayah sekalipun tidak pernah memanggil mereka untuk dinasihati atau diberi petunjuk bagaimana mestinya menjalankan tugas, apa tugas dan tanggungjawab masing-masing, bagaimana membagi tugas secara adil dan sebagainya. Tidak pernah ada pembinaan kepada kepala hangar dan pemeriksa agar organisasi pada level bawah itu menjadi solid. Sepertinya kepemimpinan pada level ini dibiarkan saja hancur. Malah yang lebih parah lagi ada kepala hangar yang berebut kapal. Istilahnya waktu itu tarik menarik kapal dan ini
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

53

OPINI
bisa terjadi karena melibatkan petugas pelabuhan. Kapal yang menurut jadwal seharusnya sandar di gudang 007 tahutahu pindah sandar di gudang 008. Untuk hal-hal demikian juga tidak pernah ada perhatian dari pimpinan setempat yang kemudian memanggil dan menasihati bahwa ini tidak baik, merusak citra Bea Cukai atau memberikan tegoran supaya hal ini tidak terjadi lagi. Kepala Hanggar yang sebenarnya bisa dibina sebagai manajer pada level bawah untuk memimpin para pemeriksa pada akhirnya tugas dan fungsinya menjadi terpinggirkan (istilah sekarang: termarjinalisasi). Situasi dan kondisi yang tidak kondusif untuk menjalankan tugas ini tidak diatasi dengan memberikan pembinaan dan pendidikan kepada perangkat hangar dan bawahannya agar organisasi pada tingkat itu menjadi kuat tetapi malah makin mengurangi tugas dan fungsinya sehingga peranannya semakin kecil. Sepertinya kepemimpinan pada level itu dianggap tidak perlu dan dianggap sebagai benalu saja yang harus diamputasi. Akhirnya memang sekarang ini fungsi dan peranan kepala hangar tidak ada karena sudah digantikan oleh komputer. Pada jaman itu memang tidak nampak kepemimpinan para kepala hangar kepada bawahannya. Hal ini barangkali terjadi karena rotasi pegawai yang terlalu cepat. Biasanya di pelabuhan-pelabuhan besar tiap pemeriksa dirotasi setiap minggu dan kepala hangar dirotasi tiap tiga bulan sehingga atasan dan bawahan tidak pernah merasa satu unit kerja. Masing-masing sepertinya hidup sendiri-sendiri. Bahkan kalau ada yang rebutan pekerjaan antara pemeriksa itu juga dianggap sebagai masalah pribadi, bukan dianggap sebagai masalah organisasi. Karena peran kepemimpinan kepala hangar yang makin tidak nampak akhirnya yang kelihatan hanya tugas membagi-bagi pekerjaan, menunjuk petugas untuk melakukan pemeriksaan atas party barang. Malah akhirnya kegiatan membagi tugas inipun juga dianggap sebagai hambatan birokrasi dan memperbanyak meja yang harus dilalui. Pada gilirannya dalam rangka penyederhanaan prosedur fungsi kepala hangar membagi pekerjaan ini dipangkas dan penunjukan pemeriksa dilakukan oleh komputer secara otomatis. Alih-alih bisa menjadi manajer pada level bawah seperti di negara lain, fungsi kepala hangar di negara kita malah tereliminasi karena dianggap sumber masalah. Kebijakan kita yang terlalu bertumpu pada komputer akhirnya kurang memperhatikan manusia sebagai sumber daya yang seharusnya memimpin. Ada satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh komputer yaitu menjalankan kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan ini seharusnya ada pada level bawah. Waktu itu memang kepemimpinan pada level bawah ini tidak nampak atau tidak berjalan efektif, yang seharusnya itu harus diefektifkan bukan malah dieliminasi. Seharusnya kita membina korlak agar bisa memimpin bukan membiarkannya mandul dan tidak berfungsi sama sekali. Negara tetangga kita Malaysia bisa menjalankan kepemimpinan pada tingkat korlak ini. Disana pejabat setingkat korlak benar-benar bisa berfungsi dalam membagi tugas bawahannya. Mana yang harus diperiksa satu orang dan mana yang harus diperiksa lebih dari satu orang diatur oleh korlak tadi dan semua anak buahnya menurut dan patuh pada perintahnya. Mereka berhasil mengembangkan manajemen pada level bawah. Mungkin ini juga pengaruh mutu pendidikan mereka yang lebih tinggi daripada kita disini. Jadi yang namanya kerjasama dan bersinergi itu bisa terlaksana disana. Tentu saja ini terjadi karena ada kepemimpinan yang kuat pada level diatasnya. Pemeriksaan barang bisa menjadi tugas kolektif yang bisa dilaksanakan dengan efektif. Kalau ada barang diperiksa oleh lebih dari satu orang, ini semua adalah bawahan korlak yang berada dibawah seksi pabean. Jadi merupakan tanggungjawab dari unit tersebut tanpa campur tangan unit P2. Memang unit P2 mereka juga kadang-kadang memeriksa barang tetapi unit P2 itu sendiri yang menentukan dan yang 54
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

harus bertanggungjawab akan hasilnya. Sama dengan P2 disini juga berwenang memeriksa barang dengan menerbitkan nota intelejen. Biasanya P2 disana mempunyai tempat khusus untuk melakukan pemeriksaan barang. Masalahnya kita disini tidak ada kepercayaan kepada pejabat setingkat korlak untuk memimpin pemeriksaan barang impor. Pejabat setingkat korlak dari dulu dianggap tidak mampu dan tidak bisa dipercaya sehingga peran dan fungsinya dieliminasi. Bahkan tugas menunjuk pemeriksa saja sudah digantikan oleh komputer karena korlak dinilai tidak adil, pilih kasih dalam membagi tugas pemeriksaan barang. Malah korlak dianggap akan menghambat prosedur, mempersulit dan memeras orang saja. Jika pejabat setingkat korlak ini bisa dipercaya dan mampu memimpin seperti di negara lain tentu kita bisa menyerahkan tanggungjawab pemeriksaan barang kepada mereka. Memang bukan hal yang mudah menciptakan kepemimpinan pada tingkat korlak kalau tidak ada Kepala Seksi yang juga mampu memimpin. Jadi juga harus ada Kepala Seksi yang bisa memimpin dan juga harus ada Kepala Bidang atau Kepala Kantor yang bisa memimpin. Kalau tidak ada atasan korlak yang mampu memimpin, tentu organisasi setingkat korlak yang solid tidak dapat diwujudkan. Masalah tidak tersedianya sumber daya manusia yang mampu inilah yang merupakan kendala disini dalam rangka memperkuat kepemimpinan pada tingkat bawah. Yang perlu dibangun adalah kepemimpinan pada tingkat Korlak. Selama ini kalau ada jabatan eselon V (dahulu Kasubsi Hanggar) yang diutamakan adalah pengisian jabatan tersebut secara formal tetapi tugas dan fungsi eselon V untuk memimpin itu kurang diperhatikan. Jadi formasi yang tersedia diisi oleh pegawai tetapi tidak diperhatikan bagaimana kepemimpinannya dan tidak ada pembinaan dari atasannya. Kalau ada yang kurang bisa memimpin tidak dicoba untuk diperbaiki oleh atasannya. Akhirnya mutu pekerjaannya makin lama makin merosot dan akhirnya jabatan eselon V dianggap tidak ada manfaatnya sehingga kemudian ditiadakan. Sekarang muncul rencana untuk menghidupkan kembali jabatan eselon V. Rencana ini sangat baik untuk memperkuat kepemimpinan pada level bawah namun jangan sampai terulang kembali kejadian yang lalu dimana jabatan itu tidak pernah dibina dan ditumbuhkan kepemimpinannya oleh pimpinan diatasnya. Kalau kepemimpinan pada tingkat eselon V bisa terwujud dan mereka bisa memimpin dan bertanggungjawab atas pemeriksaan barang tentu keterlibatan P2 dalam pemeriksaan bersama bisa dikurangi dan P2 bisa menjalankan fungsi pemeriksaannya sendiri.

KESIMPULAN DAN SARAN
1. Harus ada kejelasan dalam uraian tugas dan fungsi direktorat di Kantor Pusat, direktorat apa yang bertanggungjawab membina dan mengawasi pelaksanaan pemeriksaan fisik di lapangan, selama hal ini tidak ditegaskan maka unit P2 akan selalu ikut mengawasi pemeriksaan barang. 2. Jika pemeriksaan fisik di lapangan menjadi tanggungjawab Seksi Pabean maka pada tingkat pusat seharusnya yang membina dan mengawasi adalah Direktorat Teknis Kepabeanan dan hal ini seyogyanya ditegaskan dalam uraian tugas dan fungsinya. 3. Petugas P2 jika memeriksa barang harus berdasar atas kewenangannya sendiri berdasarkan nota intelejen dan dilakukan terpisah dari pemeriksaan oleh Seksi Pabean. 4. Sistem pemeriksaan satu orang untuk satu PIB seyogyanya ditinjau lagi, harus ada mekanisme yang memungkinkan korlak mengerahkan lebih dari satu orang untuk memeriksa satu party barang yang dianggap berisiko. 5. Kepemimpinan pada tingkat Korlak harus dikembangkan dan diberi wewenang untuk memimpin bukannya malah dieliminasi dan pemeriksaan barang harusnya menjadi suatu pekerjaan kolektif bukan individual seperti sekarang ini.

Penulis adalah pensiunan Bea dan Cukai

S

Sering Bengkak

Gusi

RUANG KESEHATAN

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC
Periodontitis sendiri dapat terjadi karena beberapa penyebab, diantaranya adanya karang gigi, food impaksi (terjebaknya atau tersangkutnya makanan diantara gigi dimana sisa makanan tersebut tidak dapat dibersihkan dengan sikat gigi). Terapinya adalah dengan menghilangkan penyebab terjadinya peradangan dan pemberian antibiotik bila sudah terjadi pembengkakan dan adanya nanah digusi. 4. Trauma pada gusi. Pada kasus ini pembengkakan terjadi karena adanya benturan atau gesekan yang menyebabkan memar atau luka pada gusi. Pembengkakan dapat terjadi karena trauma di dalam mulut seperti benturan sikat gigi pada saat menyikat gigi, makanan yang keras sehingga melukai gusi, duri ikan atau tulang yang menusuk gusi. Dapat juga disebabkan oleh trauma dari luar mulut seperti terbenturnya mulut pada benda keras atau gusi terkena benda lain seperti tusuk gigi yang menyebabkan gusi terluka. Terapi utama pada kasus ini sama dengan kasus sebelumnya yaitu dengan menghilangkan penyebab terjadinya peradangan. Untuk trauma yang disebabkan oleh sikat gigi hendaknya dapat dilakukan penggantian jenis sikat gigi dengan bentuk yang lebih kecil dan bulu sikat lebih halus dan menyikat gigi dilakukan dengan gerakan lebih pelan agar tidak membentur gusi. Bila sudah ada nanah pemberian antibiotik juga membantu dalam proses penyembuhan. 5. Adanya alergi. Alergi dapat disebabkan oleh makanan, obat-obatan yang dimakan atau juga oleh pasta gigi. Bila penyebabnya makanan atau obat-obatan segeralah hubungi dokter untuk mendapat obat anti alergi. Ada beberapa orang yang tidak tahan terhadap bahan yang terkandung dalam pasta gigi, misalnya adanya detergen yang terkandung dalam pasta gigi. Bila hal ini menjadi penyebab terjadinya pembengkakan atau sariawan maka segeralah ganti pasta gigi dengan yang tidak mengandung detergen. 6. Hormonal. Pembengkakan gusi dapat juga terjadi pada saat terjadinya perubahan hormon, misalnya pada wanita yang sedang hamil. Pada ibu hamil biasanya penggunaan obat-obatan harus lebih hati-hati. Sebagai pencegahan dapat digunakan obat kumur yang dipakai setelah sikat gigi. 7. Penyakit sistemik. Ada beberapa penyakit atau keadaan yang dapat menyebabkan gusi menjadi bengkak, misalnya pada penderita diabetes militus atau kencing manis. Kekurangan vitamin seperti vitamin C pada umumnya dapat menyebabkan gusi berwarna lebih merah dan mudah berdarah dan bila ada penyebab lain seperti penyebab-penyebab yang telah disebutkan diatas, maka gusi akan menjadi lebih mudah meradang, sehingga terjadi pembengkakan yang berlanjut menjadi bernanah. Sebagai anjuran bila dirasa ada kelainan atau kejanggalan yang terjadi di dalam mulut segeralah ke dokter gigi untuk menanganinya. Sebaiknya kunjungan ke dokter gigi dilakukan setiap 6 bulan sekali untuk melakukan control dan pembersihan karang gigi, sehingga bila ada kelainan bisa diketahui sedini mungkin. Drg. Etty M. Hustiowati, Poliklinik KP-DJBC
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

aya seorang gadis berusia 25 tahun mempunyai keluhan terutama pada mulut. Saya seringkali mengalami gusi bengkak dan bernanah, apalagi jika gusi saya terkena sikat gigi pada saat saya menyikat gigi. Keluhan lainnya, mulut saya sering timbul sariawan yang membuat saya menderita sekali jika sedang mengunyah makanan. Apakah saya ini kekurangan vitamini dok ? Bagaimana untuk mengatasinya ?

JAWAB Gusi adalah salah satu bagian dari mulut dimana antara satu sama lain saling terkait dan berhubungan. Bila salah satu bagian dari mulut mengalami kelainan atau gangguan maka mulut tidak dapat berfungsi maksimal. Gangguan atau kelainan yang terjadi pada gusi menyebabkan beberapa fungsi dari mulut dapat terganggu : l Fungsi mengunyah. Pada saat mengunyah, lidah atau makanan kontak dengan gusi yang mengalami gangguan atau kelainan sehingga menimbulkan rasa sakit. l Fungsi bicara, bila posisi gusi yang mengalami gangguan berada pada daerah yang kontak dengan lidah pada saat pengucapan beberapa huruf maka akan menimbulkan rasa sakit dan pengucapan huruf menjadi kurang sempurna l Fungsi estetis, pada kasus yang sudah parah sehingga pembengkakan sudah tampak dari luar maka akan mempengaruhi estetis dari wajah. Dalam penentuan tindakan atau pengobatan terlebih dahulu harus diketahui penyebab dari timbulnya gusi bengkak dan bernanah tersebut. Beberapa hal yang dapat menyebabkan gusi menjadi bengkak dan bernanah adalah : 1. Gigi berlubang. Gigi pada lokasi dimana gusi tersebut bengkak mengalami peradangan atau infeksi yang disebabkan oleh gigi dengan lubang yang dalam dan sudah mengenai syaraf gigi. Pada kasus ini terapi dilakukan pada gigi yang mengalami infeksi dengan cara perawatan saluran akar, bila sudah tidak dapat dilakukan perawatan saluran akar tindakan selanjutnya adalah melakukan pencabutan pada gigi tersebut. Selain itu dibutuhkan pengobatan peroral dengan pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksinya. 2. Gigi patah atau fraktur. Gigi patah atau fraktur juga dapat menjadi penyebab terjadinya infeksi yang menyebabkan gusi bengkak. Dalam penegakan diagnosa dan penentuan perawatannya harus dilakukan rontgen pada gigi, dari hasil rontgen dapat ditentukan diagnosa serta tindakan yang harus dilakukan terhadap gigi faktur tersebut. Pemberian antibiotik peroral juga dibutuhkan pada kasus ini bila sudah ada pembengkakan dan bernanah. 3. Periodontitis. Periodontitis adalah peradangan yang terjadi pada jaringan penyangga gigi atau disebut juga jaringan periodontal. Selain dapat menjadi penyebab dari pembengkakan pada gusi bila tidak segera ditangani periodontitis dapat menyebabkan gigi menjadi goyang.

55

RENUNGAN ROHANI

Silaturrahim
“Silaturrahim dan hubungan baik terhadap tetangga akan membuat tempat tinggal kita makmur dan menambah umur.”

S

yang bertaqwa. Lalu bagaimanakah kriteria orang-orang alah seorang sahabat saya dalam satu organisayang bertaqwa yang akan mendapatkan surga, si kemasyarakatan, sambil silaturrahim lebaran, sebagaimana dimaksud dalam ayat ini. Ayat berikutnya mengeluhkan tentang hubungan yang tidak menjelaskan bahwa yang dimaksud muttaqin itu adalah harmonis antara anggota dan pengurus organi“orang-orang yang berinfak baik dalam keadaan lapang sasi itu. Hal ini terjadi karena kurangnya dan susah, orang-orang yang dapat mengendalikan hawa silaturrahim antara anggota dengan pengurus dan antara nafsunya dan orang-orang yang memberikan maaf pengurus dengan pengurus. Yang dimaksud silaturrahim kepada sesama manusia”. disini adalah betul-betul silaturrahim dari hati ke hati, Ciri pertama muttagin dalam ayat di atas adalah orang bukan sekedar kumpul-kumpul mengadakan acara, dan yang berinfaq, baik dalam keadaan lapang maupun bukan sekedar bersalaman dan berpelukan. Yang paling susah. Hal ini menunjukkan bahwa infaq adalah sesuatu pokok adalah bagaimana hati kita saling berkasih sayang. yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan muslim baik Dengan demikian, silaturrahim dapat menyelesaikan ia dalam keadaan kaya maupun dalam keadaan kurang hubungan yang tidak harmonis di antara kita. beruntung. Infaq itu diperintahkan sesuai dengan tingkat Pengalaman juga menunjukkan bahwa berbagai makemampuan ekonominya. salah dapat diselesaikan dengan silaturrahim. Pertikaian Ciri kedua adalah orang yang dapat dan pertentangan di antara kita sesungguhmengendalikan hawa nafsunya. Hal ini nya disebabkan oleh penyesatan-penyesatan menunjukkan bahwa manajemen hati begitu informasi dari orang-orang yang kebetulan SEMAKIN mendapat perhatian sehingga menjadi ciri sedang mengalami kebekuan komunikasi dan muttagin. Hati inilah pangkal dari kebaikan informasi dengan kita. BANYAK dan keburukan seseorang. Oleh karena itu, Penyesatan informasi itu dapat terjadi kaBERKUMPUL mengendalikannya menjadi sesuatu yang rena si informan tadi sesungguhnya tidak mengetahui secara langsung informasi itu. Akan DENGAN ORANG diperintahkan dalam Islam. Orang yang dari bertaqwa harus dapat mengendalikan hati tetapi, ia hanya menerima informasi dari MAKA AKAN hawa nafsu yang senantiasa menyesatkan orang lain yang kebenarannya belum terjanafsu kita akan min. Karena itu, kita diperintahkan untuk meSEMAKIN BANYAK kita. Dengan demikian, hawa dan terkontrol senantiasa dalam bimbingan ngecek kebenaran informasi itu dengan cara RIZKI YANG oleh agama. melakukan komunikasi yang baik dengan Ciri ketiga muttaqin adalah orang yang pihak-pihak yang memberikan informasi itu. DIRAIH dapat memaafkan sesama manusia. Hal ini Tidak dengan cara menjauhi atau bahkan memberi pelajaran kepada kita bahwa memusuhi mereka. Hal ini akan menambah muttaqin harus memiliki sifat lunak hati, tidak dan memperburuk hubungan di antara kita. keras hati, memberikan maaf kepada orang lain menjadi Sesungguhnya silaturrahim dapat dijadikan media dalam sarana untuk berlatih melunakkan hati kita. Sikap penuh mencairkan kebekuan komunikasi dan penyesatan informemaafkan ini telah diajarkan dan dicontohkan oleh masi di antara kita. Rasulullah SAW. Tidak seorang pun yang terlepas dari maaf Rasulullah SAW, bahwa orang yang memusuhinya CIRI MUTTAQIN tetap dimaafkan. Sikap memaafkan itu adalah realisasi Sikap memaafkan dan lapang dada seharusnya kita dari ajaran silaturrahim. miliki agar dapat mencairkan kebekuan komunikasi dan Orang-orang yang bersilaturrahim harus memiliki penyesatan-penyesatan informasi tersebut. Oleh karena sikap memaafkan. Sikap memaafkan ini adalah inti dari itu, dalam ayat al-Qur’an disebutkan : (artinya) silaturrahim. Dengan demikian, sesungguhnya “bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga silaturrahim itu tidaklah bersifat fisik, formalitas dan yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan seremonialitas semata, tetapi harus berawal dari rasa bagi orang-orang yang bertaqwa”. maaf dalam hati kita. Dengan silaturrahim, pertikaian, Surga dalam ayat ini dgambarkan dengan luasnya pertentangan, kecurigaan dan ketidakharmonisan antar seluas langit dan bumi, Penggambaran ini memberi arti keluarga, organisasi, kelompok dan masyarakat dalam bahwa luas surga itu tidaklah terbatas. Ayat ini juga konteks kehidupan berbangsa dan bernegara akan dapat menyatakan bahwa surga itu disediakan bagi orang-orang

“ ”

56

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan silaturrahim itu harus dari kalbu kita yang suci. Rasulullah bersabda “”sesungguhnya silaturrahim itu dapat menimbulkan rasa kasih dan sayang dalam keluarga dalam masyarakat dan dapat memperluas dan mengembangkan rizki”.

KEUNTUNGAN SILATURRAHIM
Hadis nabi ini memberi pengertian bahwa cinta kasih akan subur pada saat kita melakukan silaturrahim. Bahkan, silaturrahim akan menjadi daya dorong untuk berkembangnya harta dan bertambahnya rizki kita. Suksesnya bisnis kita, usaha kita dan seluruh aktifitas itu terkait dengan hubungan baik kita. Tanpa itu tidak akan tercapai. Hubungan baik itu sebenarnya adalah silaturrahim. Suatu perusahaan jika semakin banyak relasi dan hubungan dengan disertai silturrahim maka akan semakin berkembang usahanya dan semakin mendapat keuntungan yang banyak. Demikian juga sebaliknya, jika kita tidak melakukan silaturrahim maka rizki kita akan menjadi sempit. Dapat dibayangkan apa yang diperoleh jika tidak ada hubungan. Misalnya kita menyendiri di hutan, niscaya kita tidak akan mendapat rizki yang banyak. Rizkinya mungkin hanya buah-buahan dan hasil hutan yang tidak akan mencukupi standar kebutuhan moderen ini. Tanpa silaturrahim kita tidak akan meraih rizki dan lainnya. Akan tetapi, dengan silaturrahim kita akan dapat meraih rizki dan kesuksesan. Bahkan, kalau kita perhatikan ketika kita berkumpul dengan banyak orang maka disitulah kita akan mendapatkan banyak rizki. Semakin banyak berkumpul dengan orang maka akan semakin banyak rizki yang diraih. Fakta menunjukkan bahwa Jakarta adalah kota terpadat di Indonesia. Orang banyak berkumpul di sini pada umumnya untuk meraih rizki yang lumayan. Data juga menyatakan bahwa 85 persen uang beredar di Jakarta. Hal ini tentunya disebabkan diantaranya oleh banyaknya orang yang berkumpul di Jakarta. Ini yang kita lihat dalam kenyataan hidup sehari-hari. Dengan demikian, bertambahnya rizki dan keuntungan itu disebabkan silaturrahim. Kesuksesan berdagang dan bekerja itu tergantung pada silaturrahim. Dulu, penulis sempat merenung lama kenapa dinyatakan bahwa silaturrahim itu dapat memanjangkan umur. Ternyata, itu terdapat dua pemahaman. Pertama, misalnya orang itu umurnya tetap, tetapi dengan silaturrahim amal baiknya menjadi banyak sehingga seakan-akan umurnya menjadi panjang. Sebab, biasanya orang akan dapat meraih amal baik yang banyak jika

umurnya panjang. Kedua, betul-betul dipanjangkan umurnya. Umur memang taqdir Allah SWT, dan yang dapat mengubahnya hanyalah Allah SWT. Kalau Allah SWT menghendaki berubah maka tentu dapat berubah. Penyakit yang ganas sekarang ini, seperti stress, jantung dan gagal ginjal, itu terjadi karena tidak ada silaturrahim. Orang bekerja keras, tegang, kerjar target dan lupa istirahat. Tetapi kalau dia tetap melakukan silaturrahim dengan melakukan hubungan baik dengan orang lain, tetap bercanda dan mengobrol secukupnya maka stress akan hilang dengan sendirinya. Dengan sendirinya juga akan terhindar dari berbagai penyakit yang pada gilirannya akan menjadikan panjang umur. Akan tetapi, jika hubungan yang dilakukannya tidak baik maka itu bukan lagi disebut silaturrahim, tetapi disebut dengan shilatul aduww (hubungan FOTO : ISTIMEWA permusuhan). Ini jelas akan menambah stress. Stress merupakan penyakit yang sangat berbahaya, oleh karenanya harus dinetralisir dengan silaturrahim. Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dinyatakan : “Silaturrahim dan hubungan baik terhadap tetangga akan membuat tempat tinggal kita makmur dan menambah umur.” Hadis ini memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan tetangga bukan hanga tetangga rumah, tetapi juga termasuk tetangga kerja dan lingkungan kita. Silaturrahim dan berbuat baik dengan mereka akan menjadikan kita makmur dalam rizki dan menjadikan umur kita panjang. Tidak dapat dibayangkan, bagaimana tidak enaknya jika kita bermusuhan dengan tetangga rumah, dengan teman dan tetangga meja kerja di kantor, apalgi dengan orang-orang terdekat kita. Jadi kita harus mempertahankan sikap silaturrahim kita kepada siapapun di lingkungan manapun juga. Dengan melakukan silaturrahim, insya’allah semua akan clear. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim dinyatakan : “siapa yang menghendaki rizkinya luas dan kesannya baik dalam masyarakat maka sambunglah silaturrahim”. Dengan kesan yang baik kita akan dapat doa dari orang banyak. Mungkin doanya tidak terucap, tetapi doa dalam hati. Kalau kita berbuat baik kepada orang lain maka kita akan mendapat doa dari orang lain. Akan tetapi, jika yang terjadi sebaliknya maka mungkin kita akan mendapat laknat dari orang lain. Perbuatan-perbuatan buruk kita kepada orang lain akan membuat orang lain mendoakan yang buruk-buruk kepada kita, bahkan mendapat laknat para malaikat. Inilah sesungguhnya di antara makna silaturrahim. Mudah-mudahan kita dapat melakukan silaturrahim sehingga dapat menjaga hubungan baik antar sesama. Drs. H. A Zakky Mubarak, MA/ Titian Dakwah
EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

57

RUANG INTERAKSI
Oleh: Ratna Sugeng

Pahlawan Kita ? Siapa Pahlawan Diri
Menjadi pahlawan adalah berjalan dan berjuang sebaik apa yang bisa dilakukan, terus menerus, meski hasilnya tak dapat diduga, sampai titik akhir kenyataan berada didalam genggaman.

M

enghargai pahlawan senantiasa dilakukan, terutama pada tanggal 10 November bagi bangsa Indonesia. Saat itu kita menunduk mengingat kembali betapa besar jasa para pahlawan menegakkan kemerdekaan Indonesia, merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kemerdekaan perlu diperjuangkan, penjajahan perlu dienyahkan melalui perjuangan pahlawan. Maka setiap orang yang merasa terjajah, maju memerdekakan diri, melakukan perjuangan, seperti pahlawan memerdekakan negara. Siapakah pahCONTOH NYATA PAHLAWAN lawan itu bagi kemerdekaan individu ? Dalam drama penculikan Raisha Ali, 5 tahun, orangPahlawan senantiasa eksis, artinya individu atau ketua Raisha sangat terpukul namun terus bekerja lompok individu memerlukan seseorang atau menghubungi banyak pihak, merekam sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri pembicaraan dengan kelompok penculik, untuk memperjuangkan hak atas dirinya, kemengikuti berita setiap harinya dengan merdekaan. Kemerdekaan berkarya, informasi yang beragam, bekerjasama SIAPA berkreativitas dan membentuk kehidupannya. dengan banyak pihak, sampai polisi Sesuatu atau seseorang tersebut dapat saja SESUNGGUHNYA membebaskan Raisha dari penculiknya di figur publik seperti tokoh kesenian, ilmuwan, salah satu SPBU di Jakarta. Siapakah pemimpin dan banyak lagi. Kita mencari pahlawan disini bagi Raisha ? Ayahnya atau PAHLAWAN seseorang yang lebih hebat, lebih baik, dan polisi ? Ayah bekerja dengan naluri dan DALAM lebih kuat dari diri kita sendiri dalam hal rasa kecerdikannya sebagai seorang ayah, polisi percaya diri dan opininya. HIDUP KITA ? bekerja sesuai dengan ilmu yang dimilikinya dan intuisi kepolisiannya. Keduanya hebat, berjalan dan bekerja tanpa henti sampai APA ARTI PAHLAWAN ? keberhasilan diraih. Menurut Kamus Bahasa Indonesia KonMulanya jalan tak jelas, pada akhirnya temporer Drs Peter Salim dan Yenny Salim, berhasil. Artinya menjadi pahlawan adalah berjalan dan pahlawan adalah orang yang gagah berani; orang yang berjuang sebaik apa yang bisa dilakukan, terus menerus, berani dan berkorban membela kebenaran. Dalam kamus meski hasilnya tak dapat diduga, sampai titik akhir Webster, pahlawan adalah seorang yang besar kenyataan berada didalam genggaman. Kata Marie keberaniannya, berharga dan dikagumi hasil upayanya. Russel, ambil kesempatan, terima perjalanan perjuangan, Sementara masih di Webster, pahlawan (dapat laki-laki besarkan niat dan minat, maka pengalaman akan dan perempuan) yang memainkan peran utama atau membuktikan. tokoh sentral dalam novel, lakon sandiwara atau pertunDengan cara yang sama, dalam hidup kita, yang jukan. Maka pahlawan yang akan kita bicarakan adalah pertama dilakukan adalah yakin ada kemungkinan untuk tokoh sentral dalam kehidupan seseorang. menjadi pahlawan atau jadi orang istimewa.Sebelum Mari kita lihat apa yang dikatakan Shakespeare dalam

“As You Like It”, seperti juga lagu “Panggung Sandiwara”nya Achmad Albar: “Dunia adalah panggung sandiwara, Laki dan Perempuan para pemainnya. Mereka ada gilirannya bermain, dan berakhir dalam lakon panggung, setiap satu waktu mereka melakonkan sesuatu. Dan satu orang memainkan banyak peran…” Mensitir hal ini maka kita semua adalah pahlawan dalam lakon hidup kita. Kita mau eksis, mau tampil, mau maju, mau undur, mau dihargai, mau dicintai, mau dibenci, mau dihinakan adalah permainan peran kita sendiri, demikian Marie T. Russel dalam Hero Worship. Dan ketika kita memilih menjadi pahlawan, maka kita masuk dalam situasinya, berjuang dan membuat perubahan. Kita akan dapat menyelamatkan jiwa kita dari keterkungkungan untuk mencapai hidup lebih baik, demikian Marie Russel mengatakannya.

“ ”

58

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

kesempatan itu nyata datang, Marie Russel mengatakannya seperti Cinderella, pertamakali yang dicamkan dalam hatinya adalah kemauan untuk berada di aula menjumpai Pangeran Gagah. Jadi kita ambil langkah pertama dengan berani melangkah melawan pikiran negatif diri sendiri dan berharap mewujudkan mimpi. Kata Republik Mimpi: “Jangan hanya bisa mimpi. Melangkahlah dan jumpai mimpi yang kita bangun untuk menjadi nyata.”

SIAPA PAHLAWAN KITA ?
Mari kita berpikir siapa sesungguhnya pahlawan dalam hidup kita? Diri kita sendiri atau kita memerlukan seseorang diluar diri kita? Jika pahlawan kita berada diluar diri kita, maka kekuatan diri kita disalurkan pada orang luar tersebut. Jika kita menunggu seseorang untuk mengubah hidup kita (menyelamatkan diri, mengubah nasib, membuat kedudukan lebih baik), maka kita menyia-nyiakan waktu. Hanya kita sendiri yang dapat mewujudkan mimpi kita. Melihat contoh nyata pahlawan pembebasan dari penculikan diatas, bagaimana seseorang tahu kalau ayah Raisha dan polisi akan mempunyai kekuatan besar menemukan kembali Raisha? Jawabannya baru diketahui saat Raisha sudah bebas dari drama penculikan. Artinya jawaban diperoleh setelah mencoba berupaya dengan segala kekuatan yang sangat besar dan menyedot hampir semua energi. Sukses meraih mimpi hanya dapat diwujudkan bila kita mencoba, berupaya, mengerahkan segala daya tanpa kenal lelah. Adakah disana perasaan nyeri, pilu, duka, sedih ? Lihat ayah Raisha. Ia sedih, pilu, kuatir, kecewa berulangkali tetapi terus mencoba menghubungi berbagai pihak tanpa kenal lelah, kecewa telpon putus sambung dengan penculik. Jauh didalam hatinya ia pun mungkin takut gagal, tetapi terus dicobanya tanpa pamrih tanpa mengharapkan orang lain memujinya. Sebelum mencapai sukses, ambil langkah pertama. Kegagalan memang momok menakutkan. Langkah pertama adalah keberanian. Ayah Raisha melihat sesuatu masih gelap, tetapi ia berani melangkah. Tidak ada hal yang tidak mungkin, setelah dicoba baru ada jawaban untuk melangkah ke langkah selanjutnya. Hanya jika kita berani menempuh perjuangan dan luka batin, dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang kuat, kita dapat meraih mimpi dan menjadi pahlawan. Seberapa sering kita tercenung ragu melangkah ke kehidupan selanjutnya? Seberapa sering kita dilanda kerisauan akan kegagalan? Kita se-

ringkali nyaman dalam selimut ketenangan, kenyamanan dan keselamatan diri, situasi stabil tanpa kemajuan. Cobalah melangkah, percayalah masa depan akan menjadi realita dengan bekal pengetahuan dan keterampilan. Mengeluh tanpa mengambil tindakan, tidak membuat dunia kita berubah. Pahlawan tak pernah mengeluh. Kitalah pahlawan bagi diri kita, yang menempatkan hidup dalam kebebasan berinovasi, berkreasi dan berekreasi, Terimakasih saya pada keuletan keluarga Ali dalam memperjuangkan Raisha sampai kembali. Ia sumber inspirasi tulisan ini.
Ratna Sugeng adalah seorang Psikiater, pertanyaan ataupun konsultasi bisa melalui ardiawika@yahoo.com

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

59

PROFIL

Ir. Tutung Budi Karya, MA
KEPALA BAGIAN UMUM KANWIL DJBC SULAWESI

Membuat Tugas Seberat Apapun Terasa Ringan...”
Ungkapan di atas merupakan salah satu prinsip kerja yang dianutnya dalam menjalankan tugas sebagai aparatur negara dimanapun ia bertugas. Baik kebersamaan dengan atasan maupun dengan para bawahan, baginya merupakan suatu hal yang perlu diterapkan dalam menjalankan tugas yang dibebankan.

“Kebersamaan Dalam Menjalankan Tugas

B

agi tokoh profil WBC kali ini, Ir. Tutung Budi Karya, MA, kebersamaan dalam menjalankan tugas memang hal yang mutlak baginya dalam menjalankan tugas. Dengan kebersamaan akan timbul komunikasi yang harmonis dan saling percaya antara bawahan dan atasan. Dengan demikian, selama bertugas dimanapun ia merasa semuanya terasa enjoy dan tidak ada beban baginya. Tutung sendiri tidak kaget dengan penempatan tugas atau mutasi yang selalu berpindah-pindah tempat. Pasalnya, sejak kecil ia telah hidup berpindah-pindah mengikuti kedua orang tuanya. Ayahnya adalah seorang pegawai negeri di Departemen Perdagangan yang selalu mengalami mutasi kerja ke luar daerah. Lahir di Pekanbaru pada 1 Agustus 1965, anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan (Alm) Achjar Sukandar dan Alisjah ini sangat merasakan hasil didikan dari orang tuanya sejak masih kecil. Bagi orang tuanya, pendidikan adalah faktor yang memegang peranan penting dalam mendidik anak-anaknya. “Orangtua saya sangat menekankan pada pendidikan karena merupakan suatu investasi yang sangat berharga bagi anak-anaknya,” ujar Tutung BK mengawali ceritanya.

ANAK PENURUT
Bisa dibilang pada masa kanak-kanak, Tutung adalah tergolong anak yang selalu menurut akan perintah orang tua. Hampir bisa dikatakan apa yang diperintahkan orang tua, dijalankannya dengan sepenuh hati. Hal inilah yang membuatnya menjadi sosok anak yang dapat menjalani masa sekolahnya dengan hasil yang baik. Masa sekolah dilaluinya dengan hampir selalu menduduki rangking sepuluh besar. Masa kecil di Pekanbaru dijalani Tutung hanya sampai duduk di bangku kelas 5 SD. Karena sejak tahun 1976, ia terpaksa meninggalkan sekolahnya SD Santa Maria Pekanbaru untuk pindah ke SD Kartini Cirebon mengikuti orang tuanya pindah kerja. Di kota Cirebon ini secara kebetulan rumah yang ditempatinya berada di lingkungan rumah dinas Bea Cukai di jalan Wahidin. Jadi teman sepermainannya dirumahpun dengan anak-anak pegawai Bea Cukai. Dari sini dia mulai mengetahui sedikit hal mengenai Bea Cukai. “Saya lihat waktu itu, tahun 1977 – 1981, (pegawai) Bea Cukai untuk ukuran kota Cirebon sudah enak. Kehidupannya diatas rata – rata PNS yang lain. Padahal masih golongan biasa-biasa aja, lho,” kenang Tutung yang mengaku paling senang dengan kehidupan kota Cirebon. 60
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

Setelah lulus dari SMP Negeri 1 Cirebon, tahun 1981 ia kembali harus pindah ke daerah lain. Kali ini ia mengikuti orang tuanya pindah ke Lampung. Disini ia mengenyam pendidikan di SMA Negeri Telukbetung, Lampung. Lulus SMA, pada tahun 1984, Tutung berhasil mendapatkan program PMDK di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia berhak masuk IPB tanpa melalui tes masuk. Di IPB ini, Tutung mengambil jurusan Kehutanan. Banyak rekan seangkatannya di Bea Cukai yang alumni dari Kehutanan IPB. Walaupun pada waktu kanak-kanak tinggal di lingkungan Bea Cukai, tapi Tutung mengaku belum tertarik untuk masuk Bea Cukai. Ia malah bercita – cita bekerja di sektor kehutanan. Ketika ditanyakan alasannya tertarik dengan bidang kehutanan, Tutung mengaku karena faktor lingkungan masa kecilnya yang tinggal di Pekanbaru dimana masih banyak hutannya. “Saya orangnya senang jalan. Waktu saya kecil, Pekanbaru belum ramai seperti sekarang. Kalau (pergi) jalan ke Bukit Tinggi atau Padang, pasti melewati hutan alam yang indah,” katanya. Selain itu, alasan lain ketertarikannya dibidang kehutanan adalah di kehutanan ada bidang manajemen hutan, konservasi sumber daya alam dan teknologi hasil hutan. Setelah lulus dari IPB, Tutung langsung mengaplikasikan ilmunya dengan bekerja di perusahaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Ia sempat berpindah-pindah ke beberapa perusahaan. Selama kurun waktu dua tahun lamanya, ia telah bekerja di perusahaan HPH dan konsultan kehutanan. Bekerja di sektor kehutanan ternyata tidak seindah yang ia bayangkan. Ia merasakan kehidupan di kehutanan sangat berat. Pertama kali kerja, Tutung langsung bekerja di tengah hutan belantara dan ditempatkan di basecamp yang terletak sejauh 60 Km dari desa Sarolangun Bangko (Jambi). “Bayangin aja, kalau musim hujan, udah terputus hubungan. Jalan-jalannya tanah liat yang licin. Kalau hujan nggak ada kendaraan yang berani lewat,” cerita Tutung mengenang kisahnya dulu.

KELUAR HUTAN, MASUK BEA CUKAI
Melihat kenyataan tersebut, Tutung mulai tidak betah bekerja di sektor swasta kehutanan. Alamnya yang keras dan jenjang karir yang tidak jelas membuatnya ingin pindah bekerja di sektor lainnya. Pucuk dicinta ulam tiba, tanpa disangka suatu hari temannya memberi kabar bahwa ada penerimaan pegawai negeri di Departemen Keuangan. Kebetulannya lagi, pegawai yang dibutuhkan salah satunya dari jurusan kehutanan. “Padahal jarang sekali lho, penerimaan pegawai negeri untuk jurusan Kehutanan...”

EDISI 396 NOPEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

61

PROFIL
DOK. PRIBADI

BERSAMA KELUARGA. Keluarga merupakan salah satu motivator saya untuk bekerja sebaik-baiknya dan menjadi teladan bagi anak-anak.

Tanpa berpikir panjang, Tutung langsung mendaftarkan diri. Dan Alhamdulillah, akhirnya ia dinyatakan lolos masuk menjadi pegawai negeri Departemen Keuangan dan ditempatkan di Bea Cukai. Maka sejak tahun 1991, resmilah ia bergabung dalam instansi Bea Cukai. Pertama kali bertugas, Tutung ditempatkan sebagai pelaksana P2 di Kantor Pusat pada tahun 1992. Kemudian ia ditunjuk menjadi anggota tim Verifikasi yang bertugas untuk memverifikasi dokumen-dokumen di Tanjung Priok pada tahun 1993. Tidak lama bertugas di Tanjung Priok, pada tahun 1994 ia mendapat tawaran beasiswa S2 luar negeri dari BPPK dalam rangka program PPSDM. Tapi sebelum berangkat ke Amerika Serikat, Tutung harus mengikuti terlebih dahulu diklat “In
DOK. PRIBADI

Country Preparation” untuk memperdalam bahasa Inggrisnya. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1995, ia baru berangkat ke Amerika Serikat untuk menimba ilmu di University of Colorado at Boulder. Dua tahun lamanya ia belajar di Amerika Serikat, banyak suka duka yang dialaminya. “Faktor bahasa yang menjadi kendala bagi saya disana. Tapi saya terus berusaha untuk belajar karena saya termotivasi dengan orang luar yang punya kemauan belajar yang tinggi,” kata Tutung yang terpaksa harus meninggalkan istri dan puterinya yang baru berusia 4 bulan. Tahun 1997 ia kembali ke tanah air dengan meraih gelar MA. Tidak lama kemudian, pada bulan September di tahun yang sama, ia mendapat promosi menjadi Kepala Seksi Impor di Kanwil I Medan. Di Medan, tidak banyak kenangan yang dirasakan Tutung. Pasalnya, disana ia hanya 6 bulan saja. Itupun dipotong dengan mengikuti diklat spesialis Intelijen selama 1,5 bulan dan ADUM 1,5 bulan. Maret 1998, ia pindah ke Kantor Pusat untuk menjabat sebagai Kasi Fasilitas Kemudahan Industri Hasil Pertanian Kehutanan. Disini ia tidak merasakan banyak hambatan dalam bekerja. “Tidak terlalu banyak hambatan karena Surat Keputusan Fasilitas yang diberikan selalu mengacu pada syarat-syarat yang telah ditetapkan. Saya tinggal mengikuti saja,” kata Tutung yang selalu menyenangi hal-hal baru. Dua tahun delapan bulan di kantor Pusat, ia kemudian dimutasikan menjadi PFPD di Tanjung Priok I. Citra negatif yang waktu itu menempel pada PFPD memberikan beban moral tersendiri bagi Tutung sebagai seorang PFPD. PFPD selalu dianggap salah. “Tapi saya prinsipnya mengikuti arahan pimpinan. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa,” kata Tutung akan kiatnya menjadi seorang PFPD. Walaupun begitu, tidak jarang Tutung mengalami komplain dari pengguna jasa. Para pengguna jasa ini kebanyakan tidak sabar untuk menunggu selesainya dokumen mereka. Padahal dokumen mereka sedang diperiksa yang kadangkadang butuh waktu untuk menyelesaikannya. “Saya butuh waktu untuk ngecek barang. Untuk itu harus dilakukan cek pasar dimana butuh waktu sehari karena saya pulang kantor baru bisa cek (harga barang) ke pasar. Saya,kan, punya alasan untuk mencantumkan harga yang diberitahukan wajar atau tidak, apalagi saya tahu barang yang diimpor oleh importir high risk,” jelas Tutung .

KEBERSAMAAN DALAM MENJALANKAN TUGAS
Tutung merasakan kenangan indah ketika bertugas di Direktorat Teknis Kepabeanan Kantor Pusat sebagai Kasi Nilai Pabean pada bulan Desember 2003. Memberikan kenangan indah karena di tempat kerja ini kebersamaan yang menjadi prinsip kerja dari Tutung benar-benar tercipta. Suasana kerja yang harmonis ini tidak hanya terjadi di dalam kantor tetapi juga di luar kantor. Kerap kali Tutung mengajak para staff di seksi Nilai Pabean mengadakan kegiatan jalan bersama untuk sekedar refreshing. “Kita sering ngadain jalan-jalan bareng, kumpul-kumpul, rafting atau rekreasi ke Puncak untuk sekedar refreshing dari rutinitas kerja sehari-hari,” kenang Tutung yang memang hobi travelling. Sebagai Kasi Nilai Pabean, tugas utama Tutung adalah diantaranya menyusun data base harga. Disini ia merasakan betapa beratnya dalam menyusun database harga. Hal ini menyangkut dengan data harga barang yang cepat berubah. Selain itu, merek dan tipe juga terus berubah. “Jadi waktu saya menjadi PFPD yang menggunakan database harga itu, kita sering komplain mengenai database ini. Begitu saya mengalami sendiri (sebagai penyusun data base) ternyata memang tidak gampang. Jadi memang harus ada kesamaan pemahaman tentang fungsi Database Harga dengan PFPD sebagai user,” kata Tutung yang pernah berangkat ke Jepang mengikuti Regional Focussed on ASEAN Cutoms Valution tahun 2004, dan ke Vietnam mengikuti ASEAN Customs Valuation Guide Workshop pada tahun 2005. Perubahan mendasar yang dilakukannya sewaktu menyu-

REGIONAL FOCUSSED ON ASEAN CUSTOMS VALUTION. Tutung BK baris ketiga dari kiri, saat mengikuti Regional Focussed on ASEAN Customs Valution di Jepang.

62

WARTA BEA CUKAI

EDISI 396 NOPEMBER 2007

DOK. PRIBADI

sun database harga adalah ketika ia bersama pimpinan dan staff berusaha semaksimal mungkin mencantumkan data yang lengkap pada database harga. Jadi bila ada data yang tidak jelas, maka tidak dicantumkan. Dengan demikian, yang tampil dalam database harga adalah betul-betul yang jelas spesifikasinya. Meskipun demikian, masih banyak pihak yang tidak puas dengan data base harga tersebut. “Karena kita coba mencantumkan merk dan tipe yang real. Jadi ada data harga yang mahal dan murah tergantung merk dan tipe. Tapi entah dapat informasi dari mana data harga yang diberitahukan importir high risk seringkali mengacu ke harga yang murah. Akhirnya tetap dikomplain juga. Jadi karena sering jadi tempat dikomplain orang, kita hadapi bersama-sama. Kalau dikompalin, ya kita rasakan bareng-bareng,”cerita Tutung. Setelah tiga tahun di Nilai Pabean, Tutung dipromosikan menjadi Kepala Bagian Umum Kanwil DJBC Sulawesi. “Saya termasuk promosi agak belakangan. Tapi waktu dapat (promosi) ke Makassar, saya senang karena kebetulan bersamaan dengan teman-teman seangkatan. Selain itu, saya punya pimpinan Pak Yosi (Jusuf Indarto, sekarang Kakanwil DJBC Kepulauan Riau ) yang menyenangkan. Kalau ngajak kuliner dan pergi juga sama-sama. Olahraga juga kita main bersama. Jadi waktu tidak terasa berlalu. Kemudian pengganti Pak Yosi, Pak Bachtiar, juga hampir sama gaya kepemimpinannya,” kesan Tutung selama bertugas di Makassar ini. Menjadi seorang KBU merupakan tantangan tersendiri bagi Tutung. Mengingat selama ini dia belum pernah bertugas di bagian Umum. “Terus terang saya selama ini (bertugas) di bidang Teknis. Saya sebelumnya tidak tahu masalah TU/RT, Kepegawaian atau Keuangan. Tapi saya yakin kalau saya percaya kepada staff, staff akan membantu saya. Ya, sambil jalan belajarnya,” kata Tutung yang dikalangan pegawai dikenal sebagai orang yang low profile.

KUNJUNGAN KERJA. Saat mengikuti kunjungan kerja bersama Kakanwil DJBC Sulawesi, Jusuf Indarto (sekarang Kakanwil Kepulauan Riau ) di KPPBC tipe A4 Pare-Pare.

KELUARGA SEBAGAI MOTIVATOR
“Keluarga merupakan salah satu motivator saya untuk bekerja sebaik-baiknya dan menjadi teladan bagi anak-anak. Saya merasa harus meneladani orang tua saya yang juga menjadi PNS dimana beliau bisa menyekolahkan anak-anaknya. Mudahmudahan kalau tidak ada cacatnya (dalam bekerja) akan menjadi kebanggaan bagi saya dan keluarga,” tegas Tutung. Tutung yang menikah dengan Treesye Anom Sari pada tanggal 22 Mei 1994 sekarang ini dikarunia 3 putra-putri. Putri pertama, Prillia Kusuma Puteri (12) yang duduk di kelas 1 SMP 139 Jakarta. Sedangkan dua adiknya kembar, yakni Muhammad
DOK. PRIBADI

Dwi Ramadhani (9) dan Dwi Rachma Shinta (9) yang keduanya masih duduk di bangku kelas 5 SD Cipinang Melayu. Selama bertugas di Makassar Tutung terpaksa harus berpisah dengan keluarganya di Jakarta. Pasalnya, sang isteri sehari-harinya masih bekerja sebagai PNS di Pemda Jakarta Timur. Mau tidak mau Tutung harus mengalah dengan bolakbalik Makassar – Jakarta. Selain harus membagi waktu dengan keluarga, Tutung masih menyisakan waktu untuk hobinya berolahraga. Banyak jenis olahraga yang ia sukai. Diantaranya bersepeda, tenis, bulutangkis, dan diving. Khusus untuk bersepeda, ia sudah menjelajahi beberapa daerah, diantaranya Johor-Malaysia, Danau Toba, Bontang dan lainnya. Yang paling berat, menurutnya adalah di Gunung Bromo. Prestasi pun pernah dicapainya ketika menjadi juara 3 beregu di Lembang. Untuk diving, Tutung sudah pernah mencoba ke Bali, Bunaken dan Kepulauan Seribu. Kepada DJBC, Tutung hanya berharap agar koordinasi antar unit di DJBC bisa lebih ditingkatkan. “Kita punya potensi SDM yang baik dan apa yang telah dilakukan Bea Cukai sudah lebih baik dari instansi lain. Tujuan kita kan sama, untuk memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat usaha dan industri tanpa mengurangi pengawasan. Tapi kita masih kurang dalam koordinasi,” tandas Tutung yang mewakili DJBC mengikuti program CIEMP (Customs International Executive Management Programs) di Australia tahun 2007 ini. dons, makassar
DOK. PRIBADI

JALAN SEHAT. Bersama dengan Kakanwil DJBC Sulawesi, Bachtiar ketika mengikuti jalan sehat dalam rangka HUT RI Ke-62.

BERSEPEDA. Menyalurkan hobi bersepeda di waktu senggang. EDISI 396 NOPEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

63

APA KATA MEREKA
FOTO : ISTIMEWA

Pertengahan bulan Juni lalu (26/6), berbagai negara di belahan dunia memperingati hari anti madat internasional, begitu pula Indonesia. Di Indonesia, hari anti narkoba internasional diperingati dengan berbagai cara, salah satunya yang dilakukan beberapa artis ibukota.- Mereka menggelar aksi simpatik mengkampanyekan hari anti madat internasional dengan membagi-bagikan bunga dan brosur yang berisi himbauan say no to drugs. Ditemui WBC di depan bundaran HI, Jakarta, Olivia Zalianty mengatakan bahwa acara tersebut mengambil tema love in action, yang salah satunya disponsori oleh Polda Metro Jaya. Ia sendiri terpilih untuk menjadi icon atau duta anti madat oleh Polda Metro Jaya. Untuk itu, ia sangat mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan dan kesehatan. Saat ditanya pandangannya tentang narkoba, Olivia menjelaskan bahwa saat ini narkoba sudah mulai menguasai Indonesia, khususnya Jakarta. Oleh sebab itu, dalam kampanyenya kali ini, ia tidak ingin menggurui dan tidak bermaksud melarang penggunaan narkoba itu sendiri, tapi lebih kepada memberikan pilihan-pilihan yang lebih baik dalam menjalani hidup. “Aku sendiri suka olahraga, aku sehat dan tidak menggunakan drugs,” tambahnya. Saat ditanya tanggapannya terhadap petugas bea cukai yang bertugas di bandara internasional seperti Soekarno Hatta, Olivia mengaku tidak pernah mengalami masalah yang berarti dengan petugas bea cukai sepulangnya dari luar negeri. Hanya saja, tas atau koper yang dibawanya kadang terlampau berat sehingga kerap ditandai oleh petugas bea cukai, untuk kemudian diperiksa. “Tapi aku gak pernah bawa yang macam-macam. Jadi sebenarnya gak pernah ada masalah karena tiap barang yang aku bawa pasti legal,” kata cewek yang saat ini masih aktif syuting untuk FTV. Ia sendiri yakin bahwa petugas yang mengenalnya pasti tahu bahwa ia tidak pernah membawa barang ilegal, ia hanya membawa barang belanjaan. Olivia memang kerap melakukan traveling ke luar negeri, selain untuk jalan-jalan, juga dalam rangka keperluan syuting. Banyak negara telah disinggahinya, seperti Thailand, Singapura, Hongkong (yang hampir tiap tahun disambanginya-red), China, Jepang, Inggris, Belanda, Monaco, Paris, Australia, Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah dan masih banyak lagi. Saat ditanya apakah ia mengetahui tugas dan fungsi Bea dan Cukai, Olivia mengaku tidak terlalu mengetahui tugas dan fungsi Bea dan Cukai. “Aku gak bisa banyak komentar, karena aku gak begitu paham soal Bea Cukai,” ucapnya. Ia juga mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang taat pada peraturan. Namun demikian, ia menyarankan agar petugas bea cukai menggunakan nalurinya dalam melakukan pekerjaannya. Dengan menggunakan naluri, penyelundupan obat-obatan terlarang bisa diminimalisir. Ia berharap petugas jangan hanya mengikuti aturan-aturan saja saat melakukan pemeriksaan tapi juga mengikuti naluri karena modus operandi yang digunakan para penyelundup drugs saat ini lebih bervariasi. “Jadi, bekerja dengan menggunakan naluri untuk mendeteksi drugs itu penting sekali,” paparnya.

Gillbert Marciano

“Mukanya Jutek…”
Ditemui di tempat yang sama dengan Olivia Zalianty, salah satu artis muda Indonesia, Gillbert Marciano mengaku kehadirannya ditempat itu karena ingin berpartisipasi dalam rangka memperingati hari anti madat internasional. Ia ingin turut serta memberitahukan pada masyarakat mengenai bahaya narkoba dan turut berpartisipasi perang melawan narkoba. Ketika disinggung pandangannya tentang narkoba di Indonesia, Gilbert mengatakan bahwa tingkat penggunaan narkoba di Jakarta masih tinggi. “Kita bisa lihat… masih banyak banget orang, baik itu anak-anak muda, para ABG (anak baru gede-red), bahkan orangtua pun ada yang menggunakan narkoba,” katanya. Untuk menanggulanginya, seluruh masyarakat harus lebih mengantisipasi peredaran narkoba. Namun demikian, menurutnya antisipasi saja tidaklah cukup untuk meminimalisir peredaran narkoba tetapi harus kembali pada kesadaran diri masing-masing untuk say no to drugs. “Sebab, akan percuma kalau hanya antisipasi tapi tidak kembali kepada diri masingmasing untuk menolak narkoba. Aku menghimbau, untuk yang ingin mencoba memakai atau yang baru memakai narkoba, mendingan jangan diterusin deh,” saran cowok yang menyukai olahraga billiard, sepakbola, basket dan musik ini. Saat ditanya apakah cowok yang sedang sibuk syuting film horror untuk layar lebar ini, pernah punya pengalaman dengan petugas bea cukai di bandara, khususnya Soekarno Hatta, Gilbert mengaku tidak pernah mengalami masalah dengan petugas bea cukai. Selama ini semuanya berjalan dengan baik. Sebagai seorang artis, ia juga mengaku petugas tidak pernah membeda-bedakannya dengan penumpang lain. Petugas selalu memeriksa barang bawaannya. “Tapi, walaupun tidak diskriminasi, petugas tetap saja mukanya jutek kalo lagi memeriksa,” ungkapnya seraya tersenyum. Untuk itu ia menyarankan agar petugas tidak memasang wajah seram saat melakukan pemeriksaan. “Disiplin itu boleh, menegakkan hukum juga boleh, tapi jangan judes-judes dong mukanya, senyum dikit lah,” katanya lagi seraya terkekeh. Ketika disinggung apakah ia tahu tugas dan fungsi Bea Cukai, Gilbert mengaku bahwa sepanjang pengetahuannya tugas Bea Cukai adalah mengawasi perdagangan antara satu negara dengan negara lain, termasuk didalamnya narkoba. Sehingga, barang-barang yang berasal dari negara lain yang ingin masuk ke dalam daerah Indonesia harus diawasi oleh Bea Cukai. ifa

ifa

Olivia Zalianty

“Pasti Legal...”
64
WARTA BEA CUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 83/PMK.02/2007

Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor
MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sesuai kesepakatan dalam rapat koordinasi tingkat menteri mengenai masalah minyak goreng pada tanggal 15 Juni 2007 di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan dalam rangka efektifitas dan kepastian hukum dalam pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.011/2007, perlu dilakukan perubahan terhadap Pasal 3 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.02/2005 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.011/2007; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan Keenam Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.02/2005 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor; Mengingat : 1. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; 2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.02/2005 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu Dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.011/2007; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN KEENAM ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 92/PMK.02/2005 TENTANG PENETAPAN JENIS BARANG EKSPOR TERTENTU DAN BESARAN TARIF PUNGUTAN EKSPOR.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007 1

Perubahan Keenam

TENTANG

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal I Ketentuan Pasal 3 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.02/2005 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor yang telah beberapa kali diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan : a. Nomor 130/PMK.010/2005; b. Nomor 30/PMK.02/2006; c. Nomor 51/PMK.02/2006; d. Nomor 88/PMK.010/2006; e. Nomor 61/PMK.011/2007; dihapus, sehingga Pasal 3 berbunyi sebagai berikut : Pasal 3 (1) Jenis barang ekspor tertentu dan besaran tarif Pungutan Ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Dihapus. Pasal II Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Juli 2007 MENTERI KEUANGAN,

SRI MULYANI INDRAWATI

2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : P-26/BC/2007

Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari satu Tempat Penimbunan Sementara Ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Menimbang : a. Bahwa pemindahan lokasi penimbunan barang-barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya karena tuntutan akan kelancaran arus barang di pelabuhan berpotensi risiko tidak terpenuhinya hak-hak negara; b. Bahwa upaya peningkatan pelayanan guna memperlancar arus barang impor dan ekspor perlu diimbangi dengan sistem pengawasan di bidang kepabeanan yang efektif dan efisien guna mencegah pelanggaran perundang-undangan yang berlaku; c. Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Tatalaksana Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari Satu Tempat Penimbunan Sementara ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal di Lingkungan Departemen Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007 3

Tatalaksana

TENTANG

s

K E P U T U S A N
3.

&

K E T E T A P A N

4. 5.

6. 7.

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK.04/2003; Keputusan Menteri Keuangan Nomor 557/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor; Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 39/PMK.04/2006 tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2006; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70/PMK.04/2007 tentang Kawasan pabean dan Tempat Penimbunan Sementara.

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG TATALAKSANA PINDAH LOKASI PENIMBUNAN BARANG IMPOR YANG BELUM DISELESAIKAN KEWAJIBAN KEPABEANANNYA DARI SATU TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA KE TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA LAINNYA. Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini yang dimaksud dengan : 1. Barang impor adalah barang yang dimasukkan ke dalam Daerah Pabean. 2. Kantor Pabean adalah Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean. 3. Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, Bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 4. Tempat Penimbunan Sementara (TPS) adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di kawasan pabean untuk menimbun barang, sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya. 5. Pejabat adalah Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006. 6. Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara (Pengusaha TPS) adalah pengusaha yang mengelola lapangan atau gudang penumpukan container atau barang impor dalam suatu kawasan pabean yang berada di dalam area pelabuhan, yang memiliki ijin sebagai Pengusaha TPS dari Menteri Keuangan berdasarkan Undang-undang Kepabeanan.
4 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

s

K E P U T U S A N
7.

&

K E T E T A P A N

Yard Occupancy Ratio (YOR) atau tingkat penggunaan lapangan penumpukan adalah perbandingan antara jumlah penggunaan lapangan penumpukan dengan lapangan penumpukan yang tersedia (siap operasi) yang dihitung dalam satuan ton/hari atau m3/hari. 8. Shed Occupancy Ratio (SOR) atau tingkat penggunaan gudang adalah perbandingan antara jumlah penggunaan ruang penumpukan dengan ruang penumpukan yang tersedia yang dihitung dalam satuan ton/hari atau m3/hari. 9. Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) adalah pemindahan lokasi penimbunan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya dari suatu gudang atau lapangan penumpukan Tempat Penimbunan Sementara (TPS) tertentu ke suatu gudang atau lapangan penumpukan tertentu atau TPS lainnya yang berada dalam satu wilayah pengawasan Kantor Pabean. 10. Container Scanner Inspection System adalah sistem pemeriksaan fisik barang impor dalam peti kemas dengan menggunakan alat Container Scanner. 11. Kantor Pabean adalah Kantor Pelayanan Utama dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai. Pasal 2 (1) Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin dari Pejabat yang menangani administrasi manifest atas nama Kepala Kantor Pabean, berdasarkan permohonan dari Pengusaha TPS yang mengelola gudang atau lapangan penumpukan asal. (2) Dalam rangka pengambilan keputusan terhadap permohonan PLP, Pejabat yang menangani administrasi manifest dapat berkoordinasi dengan Pejabat yang menangani penindakan dan penyidikan. Pasal 3 (1) Izin PLP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dapat diberikan dalam hal : a. YOR atau SOR TPS bersangkutan telah melampaui batas 85% dan berdasarkan pertimbangan Kepala Kantor Pabean dapat terjadi stagnasi; atau b. Barang impor konsolidasi, pengangkutan barang impor menggunakan satu kontainer untuk lebih dari satu atau untuk banyak alamat consignee/ penerima barang (Less than Container Load = LCL); atau penyimpanan atau penumpukan yang khusus dan tidak tersedia di gudang atau lapangan penumpukan barang di tempat penimbunan sementara. (2) Pengusaha TPS yang mengajukan permohonan PLP wajib mencantumkan: a. Keterangan yang menyatakan bahwa atas YOR atau SOR TPS yang bersangkutan telah melampaui 85% dalam hal permohonan PLP diajukan berdasarkan kondisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf (a);
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007 5

s

K E P U T U S A N
b.

&

K E T E T A P A N

c.

Rincian jumlah dan jenis barang, nama consignee, nomor koli atau nomor container dan nomor segel pelayaran barang impor yang dimohonkan PLP-nya; Surat pernyataan dari Pengusaha TPS tempat tujuan PLP akan ketersediaan ruang atau tempat penimbunan bagi barang impor yang dimohonkan PLP-nya.

(3) Format surat permohonan PLP adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I Peraturan ini. Pasal 4 (1) Pemberian keputusan atas permohonan PLP wajib diterbitkan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari kerja sejak permohonan PLP dan dokumen pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) diterima dengan lengkap. (2) Dalam hal batas waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terlampaui, permohonan PLP dianggap disetujui dan tetap diterbitkan keputusan persetujuan. (3) Keputusan atas permohonan PLP diterakan pada surat permohonan PLP sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I Peraturan ini. (4) Surat permohonan PLP yang telah disetujui sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dipergunakan sebagai pelindung pengangkut Barang impor pada pelaksanaan PLP. Pasal 5 (1) Pemberian izin PLP berdasarkan pertimbangan YOR atau SOR TPS bersangkutan telah melampaui batas 85%, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a hanya terhadap Barang impor yang termasuk dalam kategori komoditas berisiko rendah dan diimpor oleh importir berisiko rendah. (2) Pejabat yang menangani penindakan dan penyidikan pada Kantor Pabean dapat melakukan pemeriksaan menggunakan Container Scanner Inspection System terhadap Barang impor yang diberikan izin PLP. (3) Dalam hal dari pemeriksaan dengan menggunakan Container Scanner Inspection System menyimpulkan adanya dugaan pelanggaran kepabeanan dan diperlukan pemeriksaan fisik lebih lanjut, maka Kepala Kantor Pabean dapat memerintahkan kepada Pejabat yang menangani penindakan dan penyidikan untuk segera melakukan pemeriksaan karena jabatan dan/atau penindakan lain yang diperlukan demi pengamanan hak keuangan negara atas barang yang bersangkutan. (4) Pemeriksaan karena jabatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku.
6 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 6 (1) Pengangkutan Barang impor yang telah diberikan ijin PLP dari TPS asal ke TPS tujuan wajib dilindungi dengan segel dan dapat dilakukan pengawalan dalam hal dianggap perlu. (2) Pemasangan segel dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi pengeluaran barang di TPS asal barang. (3) Segel sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) hanya dapat dilepas oleh Pejabat Bea Cukai yang mengawasi pemasukan barang di TPS tujuan. (4) Pengusaha TPS yang mengajukan permohonan PLP wajib menjamin agar segel sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak rusak, lepas atau hilang. (5) Kelalaian atas kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dikenakan sanksi berdasarkan Pasal 105 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pasal 7 (1) Pengusaha TPS asal wajib menyelenggarakan pembukuan terhadap barang impor yang telah diberikan izin PLP dan telah dikeluarkan dari TPS asal. (2) Pengusaha TPS tujuan wajib menyelenggarakan pembukuan terhadap barang impor yang telah mendapat izin PLP dan telah selesai dibongkar di TPS tujuan. (3) Sebagai pertanggungjawaban atas pelaksanaan PLP, Pengusaha TPS Asal dan TPS Tujuan wajib melaporkan Laporan Bulanan Rekapitulasi PLP Barang impor kepada Kepala Kantor Pabean u.p Pejabat yang menangani administrasi manifest. (4) Format Laporan Bulanan Rekapitulasi PLP adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II Peraturan ini. Pasal 8 (1) Pengusaha TPS yang mengajukan permohonan PLP bertanggungjawab atas Bea Masuk, Cukai dan Pajak Dalam rangka Impor yang terutang atas barang Impor yang diberikan izin PLP sampai dengan Barang impor tersebut selesai dipindahkan ke TPS tujuan, sebagaimana diatur dalam Pasal 32 Undangundang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. (2) Segala biaya dan risiko terkait pelaksanaan PLP menjadi tanggung jawab pemohon PLP. (3) Tata Kerja Pengajuan dan Pelaksanaan PLP adalah sebagaimana diatur dalam Lampiran III Peraturan ini. Pasal 9 Penghitungan jangka waktu penimbunan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya dihitung sejak ditimbun di TPS yang pertama.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007 7

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 10 (1) Pengeluaran Barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya dengan tujuan TPS selain pelabuhan pada Kantor Pabean lainnya dilaksanakan dengan menggunakan mekanisme angkut lanjut (BC 1.2). (2) Pengeluaran Barang impor sebagaimana dimaksud dalam pada ayat (1) dapat diberikan dalam hal : a. Barang impor yang akan dipindahkan penimbunannya adalah Barang impor yang termasuk dalam kategori komoditas berisiko rendah dan diimpor oleh importir berisiko rendah; atau b. Barang impor yang karena sifatnya membutuhkan sarana dan prasarana penyimpanan atau penumpukan yang khusus dan tidak tersedia di gudang atau lapangan penumpukan barang di tempat penimbunan sementara di Kantor Pabean asal. Pasal 11 Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku mulai tanggal 01 September 2007. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur Jenderal ini dengan menempatkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 Agustus 2007 DIREKTUR JENDERAL

ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P-26/BC/2007 tanggal 30 Agustus 2007 tentang Tatacara Pelaksanaan Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor Yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari Satu Tempat Penimbunan Sementara ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya Dalam Satu Wilayah Pengawasan Kantor Pelayanan Utama atau Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai

Nomor Tanggal Lampiran Hal

: ……/PLP/200.. : : : Permohonan Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor FORMAT SURAT PERMOHONAN PLP

Yth. Kepala Seksi Administrasi Manifest Dengan ini kami mengajukan permohonan Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya (PLP) atas party barang sebagai berikut: Nama Sarana Pengangkut : ………………………………………………….... Voyage No : ………………………………………….………… TPS Asal : ……………………………………….…………… TPS Tujuan : ……………………………………….…………… Alasan Pindah Lokasi : ( ) YOR/SOR TPS telah melampaui batas 85%; ( ) Barang impor konsolidasi, pengangkutan barang impor menggunakan satu container untuk lebih dari satu atau untuk banyak alamat consignee/penerima barang (Less than Container Load = LCL); ( ) Barang impor yang karena sifatnya membutuhkan sarana dan prasarana penyimpanan penumpukan yang khusus dan tidak tersedia di gudang atau lapangan penumpukan barang di tempat penimbunan sementara. No BCF 1.1: No Pos No.Kontainer/ No. Koli Consignee Jenis Barang Jumlah Barang No. Segel Pelayaran Disetujui/ Ditolak

atau

Demikian kami sampaikan untuk mendapat keputusan. Hormat kami Pemohon ……………. * Menyetujui/Tidak Menyetujui Permohonan PLP: a.n. Kepala Kantor, Kepala Seksi Administrasi Manifest ………................…….. NIP Pejabat Bea dan Cukai Yang mengawasi TPS Asal …………….......……. NIP * Coret yang tidak perlu DIREKTUR JENDERAL, ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332 Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS Tujuan …………........………. NIP

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

9

s

10

s

Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P-26/BC/2007 tanggal 30 Agustus 2007 tentang Tatacara Pelaksanaan Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor Yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari Satu Tempat Penimbunan Sementara ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya Dalam Satu Wilayah Pengawasan Kantor Pelayanan Utama atau Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai

Yth. Kepala Kantor ……………………………………. u.p Kepala Seksi Administrasi Manifest

DAFTAR REKAPITULASI PINDAH LOKASI PENIMBUNAN TPS ………………………………………………………………… PERIODE BULAN…………………………… TAHUN……………….. Jumlah dan jenis barang Nama consignee Nomor segel Nama TPS Asal/Tujuan*

K E P U T U S A N

No

Nomor/Tanggal Izin PLP

No. Kontainer/ No. Koli

&

*coret salah satu Pimpinan TPS………………………… DIREKTUR JENDERAL, ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

K E T E T A P A N

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P-26/BC/2007 tanggal 30 Agustus 2007 tentang Tatacara Pelaksanaan Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor Yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari Satu Tempat Penimbunan Sementara ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya Dalam Satu Wilayah Pengawasan Kantor Pelayanan Utama atau Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai

TATA KERJA PENGAJUAN DAN PELAKSANAAN PLP
A. Pemohon PLP/Pengusaha TPS Asal 1. Mengajukan surat permohonan PLP dengan disertai dokumen-dokumen pendukung kepada Pejabat yang menangani administrasi manifest Dalam hal permohonan PLP disetujui menyiapkan barang impor yang akan dipindahlokasikan untuk disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS asal. Menyimpan copy surat persetujuan PLP yang telah disetujui sebagai arsip. Melakukan PLP sesuai dengan izin yang diberikan. Menyelenggarakan pembukuan terhadap Barang impor yang telah diberikan izin PLP dan telah dikeluarkan dari TPS. Membuat dan mengirimkan Laporan Bulanan Rekapitulasi PLP Barang impor kepada Kepala Kantor Pabean u.p. Pejabat yang menangani administrasi manifest.

2.

3. 4. 5.

6.

B.

Pengusaha TPS Tujuan 1. Menyelenggarakan pembukuan terhadap Barang impor yang telah diberikan izin PLP dan telah ditimbun di TPS. Membuat dan mengirimkan Laporan Bulanan Rekapitulasi PLP Barang impor kepada Kepala Kantor Pabean u.p. Pejabat yang menangani administrasi manifest.

2.

C.

Pejabat yang menangani administrasi manifest 1. Menerima surat permohonan PLP dalam rangkap 3 (tiga) dan dokumen pendukung secara lengkap dari pengusaha TPS.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007 11

s

K E P U T U S A N
2.

&

K E T E T A P A N

Membukukan dan memberikan nomor pendaftaran pada surat permohonan PLP;

3.

Meneliti permohonan PLP yang diajukan pengusaha TPS.

4.

Dalam hal diperlukan penelitian terhadap profil komoditi dan profil importir, berkoordinasi dengan Pejabat yang menangani penindakan dan penyidikan untuk melakukan penelitian terhadap profil komoditi dan profil importir atas permohonan PLP.

5.

Menerima hasil penelitian terhadap profil komoditi dan profil importir dari Pejabat yang menangani penindakan dan penyidikan.

6.

Mencocokkan surat permohonan PLP dengan pos BC 1.1: a. apabila kedapatan sesuai: i. ii. iii. menutup pos BC 1.1 yang bersangkutan; memberikan persetujuan atas permohonan PLP; mengirimkan surat permohonan PLP kepada Petugas yang mengawasi pengeluaran/pemuatan barang, untuk dilakukan pencocokkan nomor, merek, ukuran, jumlah dan jenis kemasan/ petikemas dan peneraan segel pada kemasan/petikemas serta untuk pengawasan pengeluaran/pemuatan barang;

b.

apabila kedapatan tidak sesuai, permohonan PLP ditolak dan dikembalikan kepada pemohon PLP.

7.

Menyerahkan copy permohonan PLP yang telah disetujui lembar pertama kepada pengusaha TPS pemohon PLP.

8.

Menyerahkan permohonan PLP yang telah disetujui lembar pertama kepada Pejabat yang mengawasi TPS asal untuk melindungi pengangkutan barang sampai di TPS tujuan.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

12

s

K E P U T U S A N
9.

&

K E T E T A P A N

Menyerahkan permohonan PLP yang telah disetujui lembar kedua kepada Pejabat yang mengawasi TPS asal sebagai verkliker.

10. Memberikan keterangan mengenai lokasi penimbunan terakhir pada pos manifest Barang Impor sebagaimana dimaksud dalam surat persetujuan permohonan PLP.

11. Menerima copy Berita Acara Penyegelan dari pejabat yang mengawasi TPS asal.

12. Menerima surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar pertama yang telah diberi catatan oleh pejabat yang mengawasi TPS asal dalam hal jumlah dan jenis barang, nama consignee, nomor koli atau nomor container dan nomor segel pelayaran sesuai.

13. Mencantumkan pada permohonan PLP yang telah disetujui jangka waktu pengangkutan barang impor sampai di TPS tujuan (2 hari kerja).

14. Menyimpan surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar ketiga untuk monitoring.

15. Menerima surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar kedua yang telah diberi catatan selesai dibongkar oleh Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS tujuan untuk diadministrasikan bersama berkas PLP dimaksud.

16.

Apabila surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar kedua tidak diterima kembali dalam jangka waktu 2 (dua) hari, meminta konfirmasi dari Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS asal.

17.

Apabila hasil konfirmasi yang diperoleh dari Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS tujuan, bahwa surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar pertama tidak diterima dari TPS asal; atau
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007 13

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

barang impor dimaksud tidak sampai di TPS tujuan, atau barang impor dimaksud telah dibongkar/ditimbun kedapatan kurang: a. Menyampaikan berkas surat permohonan PLP yang telah disetujui namun kedapatan tidak sesuai kepada Pejabat yang menangani penindakan dan penyidikan; Menerbitkan Surat Penetapan kekurangan pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan sanksi administrasi berupa denda; Menyerahkan Surat Penetapan kekurangan pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan sanksi administrasi kepada Pejabat yang mengelola penagihan/pengembalian untuk menerbitkan Surat Tagihan.

b.

c.

18. Menyampaikan berkas surat permohonan PLP yang telah disetujui yang kedapatan tidak sesuai kepada pejabat yang menangani penindakan dan penyidikan untuk dilakukan penyelidikan/penyidikan lebih lanjut.

19. Menerima dan mengadministrasikan Laporan Bulanan Rekapitulasi PLP Barang Impor dari Pengusaha TPS.

D.

Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS asal: 1. Menerima surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar pertama dan lembar kedua dari Pejabat yang mengelola administrasi manifest. Mengawasi pengeluaran barang dengan mencocokkan surat keputusan persetujuan PLP dengan jumlah dan jenis barang, nama consignee, nomor koli atau nomor container dan nomor segel pelayaran Barang impor yang bersangkutan : a. kedapatan sesuai, barang impor dapat dikeluarkan dengan disegel; kedapatan tidak sesuai, barang impor tidak dapat dikeluarkan, memberikan catatan pada surat permohonan PLP yang telah disetujui dan mengirimkannya kepada Pejabat yang menangani administrasi manifest untuk penyelesaian lebih lanjut;

2.

b.

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

s

K E P U T U S A N
3.

&

K E T E T A P A N

Memberikan catatan tentang pengeluaran/pemuatan barang dan peneraan segel pada permohonan PLP yang telah disetujui; Mengirimkan copy surat persetujuan PLP lembar pertama yang telah diberi catatan pengeluaran/pemuatan dan peneraan segel kepada Pejabat yang mengelola manifest sebagai monitoring. Mengirimkan permohonan PLP yang telah disetujui lembar kedua kepada Pejabat yang mengawasi TPS tujuan sebagai verkliker. Apabila surat permohonan PLP lembar kedua tidak diterima kembali dalam jangka waktu 2 (dua) hari, meminta konfirmasi dari Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS tujuan dan menyampaikan hal tersebut kepada Pejabat yang menangani administrasi manifest.

4.

5.

6.

E.

Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS tujuan 1. Menerima surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar kedua sebagai verkliker. Menerima surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar pertama dari TPS asal sebagai dokumen pelindung barang impor. Mencocokkan surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar pertama dan lembar kedua. Meneliti kondisi segel serta mencocokkan surat permohonan PLP yang telah disetujui dengan jumlah dan jenis barang, nama consignee, nomor koli atau nomor container dan nomor segel pelayaran barang Impor yang bersangkutan: a. kedapatan sesuai: membuka segel, membuat Berita Acara Pembukaan segel, memberikan keterangan telah dilakukan pembongkaran dan penimbunan di TPS tujuan pada surat permohonan PLP yang telah disetujui lembar pertama; kedapatan tidak sesuai: memberikan catatan pada surat permohonan PLP yang telah disetujui dan mengirimkannya kepada Pejabat yang menangani administrasi manifest untuk penyelesaian lebih lanjut;
15

2.

3.

4.

b.

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

s

K E P U T U S A N
5.

&

K E T E T A P A N

Mencatat hasil pemeriksaan pada surat permohonan PLP lembar pertama ke dalam surat permohonan PLP lembar kedua. Mengirimkan surat permohonan PLP lembar kedua yang telah diberi catatan pembongkaran kepada Petugas yang mengawasi TPS asal. Mengirimkan kembali surat persetujuan permohonan PLP lembar kedua kepada Pejabat Bea dan Cukai yang mengawasi TPS asal dalam jangka waktu maksimal 2 (dua) hari. Menyimpan keputusan persetujuan PLP lembar pertama sebagai arsip.

6.

7.

8.

F.

Pejabat yang menangani penindakan dan penyidikan 1. Menerima tembusan surat keputusan atas permohonan PLP dari Pejabat yang menangani administrasi manifest. Memberikan informasi yang diperlukan dalam proses pembuatan keputusan atas permohonan PLP kepada Pejabat yang menangani administrasi manifest terkait penelitian terhadap profil komoditi dan profil importir. Melakukan Analisa terhadap tembusan surat Keputusan atas permohonan PLP. Melakukan penindakan terhadap Barang impor yang akan dipindahlokasikan yang berdasarkan analisa intelijen diduga kuat akan atau telah terjadi pelanggaran ketentuan di bidang kepabeanan. Menerima berkas surat persetujuan PLP yang kedapatan tidak sesuai dari Pejabat yang menangani administrasi manifest dan melakukan penyelidikan/penyidikan lebih lanjut terhadap permasalahan tersebut.

2.

3.

4.

5.

DIREKTUR JENDERAL

ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
16 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 396 NOPEMBER 2007

s

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->