P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 397

Warta Bea Cukai Edisi 397

4.6

|Views: 2,324|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/23/2012

pdf

text

original

TAHUN XXXIX EDISI 397

DESEMBER 2007

JALUR MITRA UTAMA
LAYANAN KEPABEANAN TANPA INTERVENSI

MENUNGGU IMPLEMENTASI
ANITA ISKANDAR
BEKERJA, TANPA BEBAN UNTUK HASIL YANG TERBAIK

PROFIL

WAWANCARA

THOMAS SUGIJATA

TERDAPAT PERBEDAAN YANG SIGNIFIKAN ANTARA JALUR MITA DENGAN JALUR LAINNYA

DARI REDAKSI
TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483

Keluarga Besar Warta Bea Cukai mengucapkan :

Selamat Hari Natal
25 Desember 2007 dan

Selamat Menyambut Tahun Baru 2008
Tuhan Memberkati

PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Hanafi Usman Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kusdirman Iskandar Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Penindakan & Penyidikan Heru Santoso, SH Direktur Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan & Penerimaan KC Drs. Bambang Prasodjo Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum KC Drs. Erlangga Mantik, MA Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas & Kinerja Organisasi KC Drs. Joko Wiyono KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Kamil Sjoeib, MA WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Patarai Pabottinggi, Dra. Cantyastuti Rahayu, Ariohadi, SH, MA. Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Hendi Budi Santosa, Ir. Azis Syamsu Arifin, Muhammad Zein, SH, MA. Maimun, Ir. Agus Hermawan, MA. PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH ` Hulman Simbolon (Medan), Abdul Rasyid (Medan), Ian Hermawan (Pontianak) Donny Eriyanto (Makassar) Bambang Wicaksono (Ambon) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Mira Puspita Dewi S.Pt., M.S.M., Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO a/n : MIRA PUSPITA DEWI BANK BNI 1946 CABANG CIPINANG RAWAMANGUN, JAKARTA TIMUR Nomor Rekening : 131339374 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Sejalan dengan dikembangkannya program reformasi kepabeanan, DJBC berusaha menciptakan jalur baru dimana dapat menjembatani antara importer jalur hijau dan jalur prioritas yang kini diberi nama jalur Mitra Utama (MITA). Laporan Utama akan mengupasnya secara lebih dalam.

5-15

Wawancara

16-18
Terdapat beberapa perbedaan yang signifikan antara jalur MITA dengan jalur lainnya. Apa saja perbedaan dan keunggulan jalur MITA, Thomas Sugijata ketua tim Percepatan Program Reformasi Kepabeanan, menjelaskan secara gambling mengenai masalah ini.

Profil

76-79
Pegawai wanita sudah lebih leluasa untuk bisa berkompetisi secara sehat dengan pegawai laki-laki karena sebetulnya kesempatan sudah terbuka luas, demikian menurut Anita Iskandar tokoh profil kita edisi ini. Lebih lanjut mengenai ceritanya, simak dalam rubrik profil.

Pengawasan

27-36
Berbagai berita mengenai pengawasan yang dilakukan DJBC kami rangkum dalam rubrik ini, antara lain terbongkarnya sindikat pita cukai palsu, beberapa hasil tegahan yang dilakukan KPU Tanjung Priok, pelatihan anjing pelacak dan registrasi importir dan audit kepabeanan.

Daerah ke Daerah
Baru-baru ini Sosialisasi UU Cukai dilakukan di beberapa tempat antara lain di Kanwil DJBC NAD Banda Aceh, Makasar, termasuk juga rakerwil di Kanwil Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat. Juga ada berita peringatan Hari Keuangan di Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur.

18-25

Kepabeanan

52-56
Kawasan pabean di Bandara Soekarno-Hatta kini siap ditata sesuai dengan peruntukkannya. Penertiban ini juga telah disetujui para pengusaha yang sampai sekarang ini masih meminta waktu untuk penataannya. Termasuk juga DJBC kini melakukan registrasi terhadap para PPJK sampai batas waktu yang tidak terbatas.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

1 3 4 26

37

39 44

46

57 62 63

66

67

68

71

72

74

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR KEPABEANAN INTERNASIONAL Dubes Australia Bill Farmer Kunjungi DJBC INFORMASI KEPABEANAN & CUKAI Teknologi Smart Client INFO PEGAWAI Pegawai Pensiun per 1 Desember 2007 SIAPA MENGAPA - Muamar Khadafi - Heriyanto - Abdul Rahman SEKRETARIAT - Dewan Kemakmuran Masjid DJBC, - Sambutan Menteri Keuangan Pada Peringatan Ke-61 Hari Keuangan SEPUTAR BEACUKAI INFO PERATURAN ENGLISH SECTION Green Customs Workshop PERISTIWA Perkumpulan Renang Bina Taruna, Tingkatkan Prestasi Olahraga Renang KONSULTASI KEPABEANAN & CUKAI Impor Alat Telekomunikasi OPINI - Interpretasi Pasal 23 A - Ekstensifikasi Cukai RUANG KESEHATAN Lama Haid Berubahubah RENUNGAN ROHANI Awas ! Natal (Bisa) Berbahaya RUANG INTERAKSI Selamat Hari Ibu

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku. NAMUN, SEMOGA TIDAK DI BEA CUKAI Seorang importir yang juga General Manager di sebuah perusahaan sempat pusing. Karena merasa telah dilayani dengan baik, berusaha memberi tips kepada saya berulang kali dan dengan banyak cara. Namun sesering itu pula berhasil saya tolak dengan berbagai argumentasi. Tetapi karena kelengahan saya, pada suatu saat dia datang. Setelah urusan saya layani, tiba-tiba dia membuka laci meja saya tanpa ijin, lalu memasukkan sesuatu di dalamnya, menutupnya kembali dan bergegas kabur. Setelah GM tersebut pergi, saya segera periksa laci. Ternyata sesuatu itu adalah tips berupa uang jutaan rupiah. Akhirnya saya kembalikan ke general manajer tersebut melalui Bidang Kepatuhan Internal KPU Tg. Priok. Saya tahu, di KPU Tg. Priok, saya dan semua pegawai KPU dilarang menerima hadiah, parsel, bingkisan, THR, voucher belanja, dan segala pemberian dalam bentuk apa pun. Apalagi saat-saat menjelang lebaran. Saya teringat dengan teman-teman di KPU yang masih kecewa dengan take home pay yang mereka terima, yang ternyata tidak seperti apa yang dijanjikan dahulu. Apalagi kini setelah teman-teman non-KPU juga terima take home pay nyaris sama dengan pegawai KPU, namun dengan ‘budaya lama’. Mereka semakin kecewa. Cukup banyak yang saya dengar pengin keluar dari KPU. Saya melihat masih ada diskriminasi disini, hak-hak yang diberikan sama tapi kewajiban-kewajiban yang dituntut jauu……uh berbeda. Saya juga teringat pesan Kepala KPU Priok Agung Kuswandono pada sebuah acara. “Jangan bandingkan gaji/tunjangan KPU dengan rejeki nomplok dengan budaya lama dulu di Priok. Kita akan kecewa. Tetapi bandingkanlah gaji/tunjangan baru dengan gaji/tunjangan sebelum dinaikkan. Juga lihatlah orang-orang di sekitar kita yang hidupnya kurang beruntung seperti kita. Itu kunci syukur.” Di atas semua itu, berempati kepada teman-teman yang tidak mampu membawa keluarganya pindah ke Jakarta, dan mengutip pakar sosiolog dari Universitas Indonesia Dr. Imam B. Prasodjo, negeri kita lebih menghargai (maaf) goyang pinggul dan kecantikan daripada ilmu dan moral. Namun, semoga tidak di Bea Cukai. Saya berharap pemerintah segera merivisi take home pay KPU. Sekali lagi, semoga. Ari Julianto, SE., Ak., MM NIP 060081709 Pelaksana pada KPU Tanjung Priok KLARIFIKASI TULISAN PROFIL KPPBC TANJUNG PINANG Sehubungan dengan pemuatan profil Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A3 Tanjungpinang pada Warta Bea Cukai (WBC) edisi 396 bulan November 2007 halaman 25, dengan ini disampaikan sebagai berikut : 1. Bahwa sampai saat ini saya, Henry Saut Siahaan, belum pernah sekalipun dihubungi dan diwawancarai oleh pihak WBC, namun dalam penulisannya seolah-olah yang memberikan statement/pernyataan adalah saya. 2. Dengan adanya pemberitaan tersebut saya merasa keberatan terhadap muatan profil KPPBC Tipe A3 Tanjungpinang pada edisi tersebut. 3. Untuk selanjutnya dihimbau agar menjunjung tinggi kode etik jurnalisme dan profesionalitas dalam menulis ataupun memuat berita. 4. Klarifikasi ini dilakukan tanpa tendensi apapun hanya dilandasi pada niat saling memberi masukan demi kebaikan. 5. Untuk mengklarifikasi kami mohon agar surat ini dimuat dalam surat pembaca pada edisi berikutnya. Demikian disampaikan untuk dimaklumi. Kepala Kantor Henry Saut Siahaan NIP 060050211

Tanggapan: Terima kasih atas surat klarifikasi yang dikirimkan Kepala KPPBC Tanjung Pinang. Redaksi WBC dalam hal ini melalui Pemimpin Redaksi telah menghubungi dan berbicara langsung dengan Kepala Kantor, Bpk. Henry S. Siahaan, untuk menjelaskan tulisan dimaksud. Hasil pembicaraan berlangsung dengan baik, dan Kepala Kantor telah memahami penjelasan kami. Redaksi mengakui tulisan tersebut bukan berdasarkan wawancara secara langsung dengan Kepala KPPBC Tanjung Pinang, untuk itu kami menyampaikan permohonan mohon maaf atas situasi yang terjadi. Redaksi WBC akan terus berusaha menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan profesionalisme dalam setiap pemberitaan. Pemimpin Redaksi WBC, Lucky R. Tangkulung

EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

LAPORAN UTAMA

JALUR MITA
JAWABAN ATAS TUNTUTAN DAYA SAING PERDAGANGAN
Guna mengantisipasi tuntutan akan daya saing perdagangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)memandang perlu dibuat suatu sistem pelayanan kepabeanan tanpa intervensi kepada pengguna jasa kepabeanan berisiko rendah, yang diberi nama jalur Mitra Utama (MITA).

P

erkembangan era globalisasi saat ini memang menuntut banyak perubahan di segala bidang, tidak terkecuali di bidang kepabeanan yang sejak lama banyak pengguna jasa menilainya masih terlalu berbelit-belit sehingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Melihat kenyataan yang ada saat ini, DJBC sejak dimulainya program reformasi kepabeanan sudah berusaha agar kelancaran arus barang dapat terwujud dengan baik dengan memangkas beberapa birokrasi yang ada selama ini. Dengan diawali peluncuran jalur prioritas pada tahun 2003 kepada importir produsen yang memiliki track record sangat baik, DJBC memberikan pelayanannya dengan sangat prima dimana selain tanpa adanya intervensi, para penerima fasilitas jalur prioritas ini juga diberikan kemudahan fasilitas fiskal seperti pembayaran berkala dan jaminan dengan corporate guarantee. Hingga saat ini jumlah importir penerima jalur prioritas memang masih sangat sedikit sekali, yaitu 99 perusahaan, hal ini tak lain karena persyaratan yang begitu ketat dan kegiatan kepabeanan yang perusahaan penerima jalur prioritas tersebut lakukan selama ini bukan semata-mata memfokuskan pada kegiatan impor, namun hanya sebagai bagian dari kegiatan utama mereka dalam membuat suatu produk. Dari perkembangan yang ada saat ini ternyata dirasakan masih dibutuhkan suatu pelayanan layaknya jalur prioritas agar importir-importir yang track record-nya sangat baik dapat pula menikmati fasilitas kemudahan dan pelayanan prima. Karena bagi importir yang baik dan masuk jalur hijau, terkadang merasa disamakan dengan importir yang notabene-nya tidak jelas, yaitu ketika mereka mendapat random jalur merah yang mengharuskan pemeriksaan fisik dan lain sebagainya.

LATAR BELAKANG DITERAPKANNYA JALUR MITA
Dari beberapa keluhan tersebut, DJBC, sejalan dengan dikembangkannya program reformasi kepabeanan, berusaha menciptakan jalur baru dimana dapat menjembatani antara importir jalur hijau dan jalur prioritas, yang kini diberi nama jalur Mitra Utama (MITA). Menurut Ketua Tim Percepatan Program Reformasi Kepabeanan, Thomas Sugijata, jalur MITA dibagi menjadi dua, yaitu MITA prioritas dan MITA non-prioritas. MITA prioritas terdiri dari pengusaha-pengusaha yang mendapat fasilitas jalur prioritas, sedangkan MITA non-prioritas merupakan fasilitas baru yang lahir dengan diterbitkannya Peraturan Direktur Bea dan Cukai nomor P-24/BC/2007 tentang Mitra Utama. “MITA baik prioritas maupun non-prioritas merupakan

bentuk pelayanan kepabeanan (di bidang impor) tanpa intervensi. Artinya, terhadap MITA tidak dilakukan pemeriksaan barang atau penelitian dokumen saat importasi, sehingga terhadap importasi perusahan-perusahaan tersebut terdapat kepastian biaya dan kepastian waktu pelayanan. Pada rubrik tulisan utama WBC kali ini, hanya akan difokuskan pada jalur MITA non-prioritas saja, karena pada MITA prioritas tidak banyak berbeda baik prosedur maupun pelayanannya, dan hal ini sudah dibahas sebelumnya. Terkait dengan latar belakang DJBC mengeluarkan P-24/ BC/2007 tentang Mitra Utama, Thomas Sugijata menjelaskan, dengan persaingan global yang semakin keras menuntut sistem yang efisien dalam mata rantai distribusi logistik (logistic supply chain) baik berupa bahan baku, barang jadi, maupun barang-barang untuk mendukung industri. Efisiensi pergerakan barang tersebut hanya dapat diciptakan jika seluruh simpul dalam rangkaian mata rantai distribusi tersebut efisien. Salah satu simpul penentu mata rantai distribusi logistik tersebut adalah bea dan cukai. “Guna mengantisipasi tuntutan perkembangan tersebut, best practice kepabeanan internasional memberikan gambaran kepada kita bahwa diperlukan satu sistem pelayanan kepabeanan tanpa intervensi kepada pengguna-pengguna jasa kepabeanan berisiko rendah,” ujar Thomas. Dengan demikian Thomas menambahkan, terkait dengan fungsi utamanya sebagai industrial assistant dan trade facilitator, DJBC juga harus responsif terhadap perkembangan tersebut. Komitmen DJBC dalam meningkatkan efisiensi sistem kepabeanan untuk perkembangan industri dalam negeri dan perdagangan internasional diwujudkan dengan penerapan program Mitra Utama non-prioritas. Program ini merupakan wujud dari pengembangan manajemen risiko sehingga dapat memberikan pelayanan tanpa intervensi kepada importir-importir yang diyakini memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi, mempunyai sistem pengendalian yang memadai, dan menekuni bisnis tertentu dalam jangka panjang.

SYARAT DAN KETENTUAN MITA
DJBC pada awalnya menetapkan sekitar 500 perusahaan dengan track record baik untuk dapat menikmati fasilitas MITA non-prioritas, hal ini sesuai dengan sosialisasi yang dilakukan oleh Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Bidang Pelayanan Bea dan Cukai, pada 13 Agustus 2007, dimana 500 perusahaan diundang untuk sosialisasi jalur Mitra Utama. Pada sosialisasi yang dilakukan itu juga dijelaskan, kendati DJBC merekomendasikan 500 perusahaan yang diundang pada acara sosialisasi tersebut untuk masuk jalur
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

Dengan ketentuan dan persyaratan tersebut, maka perusahaan penerima fasilitas jalur MITA non-prioritas akan mendapatkan hak nya, yaitu : 1. Tidak dilakukan penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang sebagaimana dilakukan terhadap jalur merah dan hijau kecuali terhadap : a. Barang impor sementara, b. Barang Re-ekspor, c. Barang yang kena nota hasil intelijen (NHI), d. Barang tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. 2. Pemeriksaan fisik terhadap barang sebagaimana dimaksud dalam butir a Selain itu perusahaan penerima jalur MITA LUPI HARTONO. Masih terlalu sehingga dapat dilakukan di gudang importir, non-prioritas juga dipersyaratkan, antara lain : lebarnya rentang jalur hijau,antara perlu adanya satu jalur lagi 3. Tidak perlu menyerahkan hardcopy PIB/ a. Dapat berkomunikasi secara elektronik jalur hijau dengan prioritas yang PEB, dengan DJBC, disebut dengan jalur MITA, untuk 4. Mendapat akses pelayanan client b. Mempunyai sifat bisnis (nature of busioptimalisasi pelayanan. coordinator, ness) yang jelas, 5. Update data registrasi kepabeanan satu atap. c. Memiliki sistem pengendalian yang memadai untuk menjamin keakuratan data yang disajikan, Jika hak tersebut dapat dinikmati oleh perusahaan d. Memiliki rekam jejak keakuratan pemberitahuan pabean penerima jalur MITA non-prioritas, perusahaan tersebut juga dan/atau cukai yang baik, mempunyai kewajiban yang harus dipenuhinya, yaitu: e. Telah diaudit oleh kantor akuntan publik yang menyaA. MITA wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh takan bahwa perusahaan tersebut mendapatkan opini instansi teknis terkait sebelum mengajukan PIB, wajar tanpa pengecualian atau wajar dengan pengecuB. MITA wajib menandatangani surat pernyataan tentang alian untuk dua tahun terakhir, dan
DOK. WBC

MITA non-prioritas, namun perusahaan-perusahaan tersebut juga diharuskan untuk memenuhi segala persyaratan yang diajukan DJBC dengan menyertakan, diantaranya : 1. Surat pernyataan sesuai dengan sebagaimana ditetapkan dalam lampiran peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Mitra Utama, 2. Laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik, 3. Dalam hal perusahaan menggunakan PPJK, menyerahkan daftar nama PPJK yang diberi kuasa dan identitas modul PPJK yang diberi kuasa, 4. Modul importir dan/atau modul PPJK, 5. Nama pegawai perusahaan yang ditunjuk untuk berhubungan dengan client coordinator, 6. Foto copy API/APIT.

f. Selalu dapat memenuhi pemenuhan ketentuan tentang perijinan dan persyaratan impor/ekspor dari instansi teknis terkait.

PELABUHAN TANJUNG PRIOK. Dengan diberlakukannya Jalur MITA diharapkan kelancaran arus barang dan dokumen akan semakin baik.

6

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

C.

D.

E.

F.

G.

kesanggupan untuk memenuhi kewajiban dan mematuhi peraturan yang ditetapkan serta menerima sanksi akibat pelanggaran, MITA wajib menyampaikan pemberitahuan impor atau ekspor secara elektronik, MITA dilarang memberikan dan/atau meminjamkan modul importir kepada pihak/perusahaan lain, MITA wajib melaporkan kehilangan dan/atau penyalagunaan modul importir pada kesempatan pertama, MITA wajib menyerahkan surat kuasa penunjukan nama-nama PPJK yang diberi kuasa untuk mengajukan pemberitahuan pabean dalam hal MITA menggunakan jasa PPJK, dan MITA wajib memberitahukan perubahan nama-nama PPJK yang diberi kuasa kepada kepala kantor.

KEUNTUNGAN MENDAPATKAN JALUR MITA
Menurut Ketua Sub Bidang Pengembangan Mitra Utama, Lupi Hartono, persyaratanpersyaratan tersebut ditujukan untuk mendapatkan perusahaan-perusahaan yang mempunyai track record yang baik di bidang kepabeanan, memiliki pengendalian internal yang baik yang mencerminkan good governance, dan memiliki bidang usaha tertentu dalam jangka panjang. Selain itu menurut Lupi, track record yang dimaksudkan adalah untuk meyakinkan bahwa perusahaan tersebut tidak pernah melakukan pelanggaran yang signifikan di bidang kepabeanan. Sementara itu, pengendalian internal yang dimaksud adalah untuk meyakinkan bahwa track record yang baik yang ditunjukkan perusahaan dapat dipertahankan secara konsisten melalui penerapan pengendalian internal yang baik dalam perusahaan. Sedangkan bidang usaha tertentu dalam jangka panjang yang dimaksud adalah, agar DJBC dapat mengidentifikasi pola transaksi perusahaan sehingga memudahkan pengawasan. “Jika semua itu sudah berjalan, maka perusahaan penerima fasilitas jalur MITA non-prioritas akan memperoleh keuntungan, seperti memperoleh layanan client coordinator

(CC) dan memperoleh layanan kepabeanan di bidang impor tanpa intervensi dan paperless,” kata Lupi. Keuntungan layanan CC pada perusahaan penerima jalur MITA non-prioritas, perlu ditekankan bahwa MITA bukan sekedar jalur pelayanan. MITA adalah suatu sistem yang berbasis account management, sehingga peran CC adalah sebagai account representative. Semua masalah antara MITA dengan DJBC dikonsultasikan kepada CC untuk menemukan penyeEDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA
lesaiannya. Hubungan antara MITA dengan CC dapat digambarkan seperti hubungan antara peserta asuransi dengan agen asuransi. Kemudahan dan kepercayaan penuh memang diberikan kepada perusahaan penerima fasilitas jalur MITA, atau secara spesifik pada jalur MITA mekanisme pelayanan yang diberikan DJBC, adalah tidak melalui analising point dan PFPD. Prinsip kemitraan yang diterapkan terhadap MITA menempatkan perusahaan-perusahaan MITA sebagai mitra kepercayaan DJBC yang pengawasannya dilakukan dengan monitoring secara proaktif melalui komunikasi yang intens dengan CC dan pengawasan setelah importasi melalui audit kepabeanan. Sementara untuk jalur merah dan hijau masih dikenakan pemeriksaan fisik dan analising point dari PFPD. Namun demikian MITA non-prioritas juga memiliki perbedaan pelayanan dengan MITA prioritas, karena untuk MITA prioritas merupakan puncak tertinggi layanan kepabeanan terutama di bidang impor. Sehingga, untuk MITA prioritas selain memperoleh layanan kepabeanan tanpa intervensi, juga mendapatkan fasilitas fiskal seperti pembayaran berkala dan jaminan dengan corporate guarantee. “Penyempurnaan fasilitas jalur MITA tentunya juga perlu dilakukan terus menerus, terutama dari sistem akreditasi/penetapan importir sebagai Mitra Utama dan sistem pengawasan proaktif. Sedangkan untuk pengembangan fasilitas pelayanan perlu dikembangkan kerjasama dengan instansi terkait sehingga kemudahan yang diberikan oleh DJBC benar-benar dapat dirasakan secara konkrit oleh masyarakat usaha,” papar Lupi.

KENDALA AWAL DI LAPANGAN

Untuk kendala di lapangan, Lupi menjelaskan pada masa awal ini lebih tepat disebut tantangan. Tantangan yang dihadapi oleh DJBC secara internal adalah merubah budaya para pejabat bea dan cukai yang terbiasa berkomunikasi dengan masyarakat usaha ketika telah terjadi masalah, menjadi proaktif berkomunikasi untuk mencegah terjadinya masalah. Secara eksternal, DJBC mengalami kendala dalam berkoordinasi dengan instansi teknis terutama dengan instansi terkait yang secara sistem belum siap untuk mendukung program ini. Dan kendala internal ini mungkin akan dapat teratasi dengan program National Single Window. “Kami memang belum melakukan evaluasi secara konprehensif, walaupun kami telah melakukan sosialisasi, namun dari pengamatan dan tanya jawab dengan beberapa perusahaan perserta ujicoba MITA, didapat kesimpulan bahwa terdapat perbaikan yang cukup signifikan dalam pelayanan kepabeanan. Selain itu, dilihat dari antusiasme perusahaan untuk mendaftarkan diri sebagai MITA, maka dapat diberikan penilaian sementara bahwa penerapan ujicoba MITA tersebut cukup berhasil,” ungkap Lupi. Lebih lanjut Lupi memaparkan, dari 500 perusahaan yang ditargetkan untuk menerima jalur MITA non-prioritas, kenyataannya yang memenuhi kriteria dalam masa ujicoba hanya 189 perusahaan (sesuai dengan DOK. WBC Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor Kep-91/BC/ 2007 tentang petunjuk perusahaan peserta ujicoba MITA), meskipun secara jumlah masih harus ditumbuhkan, tetapi DJBC tidak akan mengorbankan kualitas dalam melakukan seleksi, karena MITA harus terdiri dari perusahaan-perusahaan yang terpercaya. “Harapan kedepan DJBC dengan jalur MITA, secara internal diharapkan dapat menjadi tonggak dalam pengembangan manajemen risiko dimasa yang akan datang, sehingga pelayanan prima dan pengawasan yang efektif dapat benar-benar direalisasikan,” harap Lupi. Secara eksternal, Lupi menambahkan dengan diberlakukannya MITA, DJBC telah menerapkan pelayanan tanpa intervensi, sehingga tidak ada lagi ruang untuk terjadinya hambatan arus barang dan dokumen, maupun peluang bagi pejabat bea dan cukai untuk melakukan pungli. Dengan demikian, diharapkan semua instansi yang terkait dengan kegiatan ekspor impor melakukan upaya yang sejalan dengan yang telah dilakukan oleh DJBC, sehingga apa yang telah dilakukan oleh DJBC benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, karena tidak hanya bea dan cukai yang terkait dengan SOSIALISASI JALUR MITA. Dari 500 perusahaan yang ditargetkan untuk menerima jalur MITA non-prioritas, ekspor dan impor. adi hanya 189 perusahaan yang terseleksi dengan baik.
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

8

KUNCI UTAMA PENGAWASAN JALUR MITRA
Meskipun dalam pelayanan terhadap Mitra Utama (MITA) tidak dilakukan pemeriksaan fisik maupun penelitian dokumen, bukan berarti Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) membiarkan aktifitas kepabeanan di bidang impor MITA tidak terawasi. Walaupun tidak bersifat menghentikan arus barang dan dokumen, skema pengawasan terhadap MITA dilakukan secara berlapis.

PROACT

P

erusahaan penerima fasilitas jalur MITA kini dapat menikmati segala kemudahan impor yang dilakukan secara paperless. Dengan kepercayaan penuh yang DJBC berikan terhadap perusahaan ini, bukan berarti DJBC tidak mengawasinya. Pengawasan yang dilakukan pun cukup ketat, bahkan sekali mereka melakukan kesalahan maka fasilitas yang diberikan ini dapat dicabut oleh DJBC baik untuk sementara maupun selamanya. Persyaratan yang cukup ketat yang ditentukan DJBC untuk perusahaan penerima fasilitas jalur MITA, memang diharapkan dapat menjaring para importir dengan track record baik. Dengan persyaratan ini, DJBC dapat menilai apakah perusahaan tersebut termasuk yang low risk dan selalu konsisten dalam kegiatan importasinya.

disebut dengan aplikasi ProAct, berfungsi memisahkan transaksi-transaksi yang tidak biasa untuk dianalisa dan sistem akan memberikan peringatan (alert) apabila ada transaksi
WBC/ATS

APLIKASI PROACT
Sehingga, DJBC dapat dengan mudah melakukan pengawasan maupun pelayanan yang diberikan tanpa ada intervensi pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan dokumen. Menurut Ketua Sub Bidang Pengembangan Mitra Utama, Lupi Hartono, Mitra Utama bukan hanya masalah penjaluran. MITA merupakan satu paket program yang terdiri dari pelayanan dan pengawasan, yang dirancang secara terpadu dengan pendekatan manajemen risiko, memanfaatkan teknologi yang telah dimiliki DJBC saat ini. Dengan demikian, kendati pelayanan terhadap perusahaan penerima fasilitas jalur MITA tidak dilakukan intervensi baik pemeriksaan fisik maupun dokumen, namun DJBC bukan berarti tidak melakukan pengawasan. Pengawasan yang dilakukannya pun dijalankan secara berlapis. Artinya, segera setelah SPPB, PIB MITA akan dianalisis oleh suatu aplikasi yang disebut aplikasi “ProAct”, aplikasi komputer ini akan menganalisis dan memisahkan PIB-PIB yang mengandung data transaksi yang mencurigakan dari suatu perusahaan MITA. Lebih lanjut lagi, terhadap transaksi-transaksi yang mencurigakan tersebut dilakukan analisis lebih lanjut oleh petugas analis. Berdasarkan analisis, transaksi yang mencurigakan tersebut dapat dikonfirmasikan kepada perusahaan melalui client coordinator (CC) atau direkomendasikan untuk ditindaklanjuti oleh audit atau P2. “Jadi pengawasan terhadap MITA dilakukan dengan sistem pengawasan pro aktif, yaitu suatu sistem pengawasan yang melibatkan aplikasi komputer, analis, CC dan unit pengawasan audit atau P2,” ujar Lupi. Aplikasi komputer tersebut, lebih lanjut dijelaskan Lupi,

KEPASTIAN WAKTU DAN BIAYA. Perusahaan penerima fasilitas Jalur MITA akan lebih mendapatkan kepastian waktu dan biaya. EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

karena DJBC yakin bahwa perusahaan tersebut dapat diaudit, sehingga pemeriksaan atas perusahaan tersebut dapat ditunda hingga post clearance, pada tahap post clearance pemeriksaan yang detail dapat dilakukan melalui audit kepabeanan,” kata Lupi. Sedangkan perbedaan pengawasan yang dilakukan terhadap MITA dengan tiga jalur lainnya, Lupi menjelaskan, secara konkrit perbedaan pengawasan MITA dengan tiga jalur lainnya adalah, terhadap jalur merah dilakukan pemeriksaan fisik dan dokumen, terhadap jalur kuning dilakukan pemeriksaan dokumen sebelum SPPB, dan jalur hijau dilakukan penelitian PENGAWASAN AUDIT dokumen setelah SPPB, dan terhadap Pengawasan yang dilakukan ini tentuMITA dilakukan pengawasan proaktif yang nya juga berkaitan dengan segala persyatidak mempengaruhi arus barang. ratan yang ditentukan DJBC kepada “MITA adalah perusahaan-perusahaan perusahaan penerima fasilitas jalur MITA, HERU SULASTYONO. Hingga kini belum yang berdasarkan penelitian diperoleh keseperti pada syarat dapat berkomunikasi ada perusahaan penerima fasilitas jalur yakinan bahwa mereka mempunyai dokusecara elektronik dengan DJBC dan memi- MITA yang melakukan pelanggaran. mentasi transaksi dan pembukuan yang liki pola bisnis yang jelas. Hal tersebut memadai, sehingga nilai pabean MITA didasarkan pada bertujuan untuk memudahkan pembentukan profil transaknilai transaksi yang pembuktiannya akan dilakukan melasi dari MITA secara otomatis. lui audit,” jelas Lupi. Atau syarat memiliki sistem pengendalian yang memadai untuk menjamin keakuratan data yang disajikan dan telah di audit oleh kantor akuntan publik, yang menyataBELUM ADA PELANGGARAN kan bahwa perusahaan tersebut mendapatkan opini wajar Sementara itu menurut Kepala Bidang Penindakan dan tanpa pengecualian. Hal tersebut bertujuan untuk Penyidikan Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai memastikan bahwa audit dapat dilaksanakan dan adanya Tipe A Jakarta, Heru Sulastyono, pengawasan terhadap kepastian pelunasan tagihan yang berasal dari hasil MITA dilakukan dengan melihat aspek dari berbagai sudut, audit. termasuk sudut aset mereka, apakah aset ini cukup meng“Pada dasarnya, suatu perusahaan diberi status MITA cover bea masuk, kalau asetnya kecil sementara bea masuk yang dibayar tinggi berarti ada sesuatu yang DOK. WBC dilakukan oleh perusahaan penerima jalur MITA tersebut. “Kalau perusahaan tersebut sudah masuk ke kategori MITA, itu belum tentu seterusnya akan MITA, tergantung dari analisa intelijen kita nanti. Karena di analis intelijen nanti akan menerima berbagai informasi yang masuk, lalu kita olah dan sajikan yang produknya adalah NHI. Sekarang ini yang mendapat NHI kebanyakan bukan importir nakal tapi justru importir yang mendapat fasilitas,” ujar Heru. Lebih lanjut Heru menjelaskan, sejauh ini pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan penerima jalur MITA belum ada, hal ini tak lain karena jalur ini baru berjalan satu bulan dan masih menunggu hasil evaluasi lebih lanjut. Hal ini juga diamini oleh Lupi, menurutnya hingga kini mengingat program jalur MITA masih dalam tahap uji coba, maka yang dilakukan saat ini adalah pembinaan, tetapi jika dalam audit kepabeanan atau tindakan pengawasan lainnya terbukti melakukan pelanggaran, maka akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. “Sanksi yang dikenakan tentunya yang sesuai dengan Undang-Undang nomor 17 tahun 2006 tentang kepabeanan, ditambah dengan pencabutan sementara atau bahkan pencabutan tetap fasilitas MITA,” jelas Lupi. Untuk pengawasan internal, Lupi juga menjelaskan, selain pengawasan yang dilakukan DJBC, juga akan dilakukan pengawasan oleh instansi teknis terkait lainnya, yaitu Inspektorat Jenderal (Itjen) dari Departemen Keuangan. Itjen akan melakukan spot check terhadap kinerja pelayanan maupun pengawasan yang dilakukan DJBC terhadap seluruh jalur tidak terkecuali jalur MITA. Pelayanan dan pengawasan terhadap jalur MITA memang menjadi satu bagian yang tak terpisahkan, jika persyaratan yang ditentukan DJBC begitu ketat yang berujung pada pelayanan yang sangat prima dan kepercayaan penuh kepada importir, pengawasan yang dilakukan pun tak kalah sempurnanya dengan pelayanan PEMERIKSAAN FISIK. Perusahaan penerima fasilitas jalur MITA tidak yang diberikan. adi akan lagi dikenakan pemeriksaan fisik. yang tidak biasa (trantib). Dari peringatan (alert) tersebut, akan dianalisa dan jika perlu akan dikonfirmasi oleh CC kepada MITA atau direkomendasikan kepada bidang audit atau P2 untuk ditindaklanjuti Sementara itu, untuk komoditi yang diimpor oleh perusahaan penerima jalur MITA yang masuk dalam kategori larangan dan pembatasan (Lartas), juga merupakan salah satu objek penyaringan dari aplikasi ProAct, sehingga importasi lartas dapat diketahui oleh analis maupun CC. Dokumen-dokumen perijinan lartas tersebut akan diserahkan kepada CC setiap satu bulan sekali. 10
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

MELIHAT KONDISI DI LAPANGAN
Setelah berjalan satu bulan lamanya sejak diluncurkan pada 6 September 2007, jalur Mitra Utama (MITA) khususnya non-prioritas belum menerima hambatan berarti.

M

tiga bulan pelaksanaan jalur MITA berjalan akan diakumulatif, dan importir mana yang mempunyai skor tertinggi tentunya dengan sangat menyesal akan dicabut sementara fasilitas MITA-nya dan mereka dapat kembali mengajukan setelah segala persyaratan yang ditentukan kembali dipenuhi. Sementara itu menurut Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi KPU, Harry Mulya, secara teknis kendala perijinan adalah kendala yang terjadi dimasa ujicoba pelaksanaan jalur MITA. Namun demikian, kendala itu hanya dialami oleh beberapa perusahaan karena hanya beberapa perusahaan saja yang membutuhkan ijin instansi terkait untuk proses importasinya. Kendala lainnya, Harry menyatakan hampir tidak ada, karena importir jalur MITA sebelumnya adalah importir yang memiliki track record baik, sehingga dengan jalur ini baik untuk persyaratan maupun pelaksanaan di lapangan tidak mengalami kendala, dan umumnya mereka merasa puas karena pelayanan yang diberikan cukup baik dan proses pengeluaran barang pun menjadi cepat. “Fasilitas jalur MITA memang diharuskan menyerahkan laporannya setiap satu bulan sekali, nah terkait dengan kendala perijinan yang terjadi di awal-awal ujicoba, mungkin karena laporan tiap bulan sehingga mereka menganggap enteng perijinan dari instansi terkait, padahal dari sosialisasi yang kita lakukan sudah dijelaskan kalau perijinan harus dilengkapi KENDALA AWAL PENERAPAN JALUR MITA berbarengan dengan penyerahan dokumen,” ungkap Harry. Namun demikian, kendala awal-awal penerapan memang Selain dengan pihak Karantina, para importir jalur MITA juga pasti akan terjadi, karena sebagus apapun sistem yang dibuat saat ini masih terkendala dengan ijin dari Badan POM. Sama dekendala awal tidak dapat terelakan. Hal ini tak lain karena penyengan Karantina, pihak POM baru akan mengeluarkan ijin jika basuaian dari sistem lama kepada sistem baru yang sebenarnya rang impor tersebut telah dilakukan pemeriksaan fisik. Saat ini pijuga telah disosialisasikan oleh pihak bea cukai. hak KPU masih terus melakukan penjajakan dengan Badan POM, Adapun kendala tersebut adalah, kelengkapan dokumen yang harus dilengkapi oleh importir yang membutuhkan ijin atau agar ijin dapat keluar berbarengan dengan penyerahan PIB. persyaratan dari instansi terkait lainnya. “Memang Badan POM secara sistem WBC/ATS Misalnya, dokumen yang harus mendapat ijin mereka belum siap, jika importir mengalami dari pihak Karantina. Ijin seperti ini umumnya kendala tersebut, maka yang akan mereka para pengusaha terlambat menyerahkan, salahkan adalah bea cukai, namun kami padahal secara peraturan ijin tersebut sudah akan terus melakukan penjajakan sehingga harus ada sebelum importir jalur MITA mengiselain secara kesisteman Badan POM siap, rimkan dokumen. mereka pun dapat mengeluarkan ijin “Saat ini importir jalur MITA harus melengkapi berbarengan dengan dokumen PIB yang diserahkan importir kepada bea cukai,” ujar dulu ijin baru dapat sending dokumen, namun Harry. ada beberapa yang terlewatkan ijinya, sehingga Dari beberapa kendala yang ada tersemereka sending dokumen dulu baru menyerahbut, memang tidak seluruhnya dialami oleh kan ijin. Seperti ijin dari Karantina, karena importir jalur MITA non-prioritas, karena hamereka itu tetap harus dikenakan pemeriksaan nya beberapa saja dari mereka yang fisik sebelum barang tersebut mendapatkan ijin. importasinya memerlukan ijin instansi terkait. Untuk itu kami telah mengingatkan kepada seNamun demikian, sebenarnya DJBC telah luruh importir jalur MITA untuk segera mengurus melakukan sosialisasi kepada importir jalur ijin sebelum mereka meyerahkan PIB,” ujar MITA non-prioritas agar secepatnya menguAgung Kuswandono. rus ijin yang diperlukan, bahkan dalam Lebih lanjut Agung Kuswandono menjelasperaturan yang dikeluarkan DJBC untuk jalur kan, untuk kedepan nanti, hal-hal semacam itu MITA salah satu persyaratan yang harus dipetidak dapat ditolerir lagi, artinya pihak bea cukai akan tetap menerima, namun importir tersebut nuhi dan harus disanggupi oleh penerima jaAGUNG KUSWANDONO. Kendala awal akan diberikan skor kesalahan yang nilainya ber- hanya pada perijinan instansi terkait, lur ini adalah pengurusan ijin dari instansi tervariasi, sehingga dengan skor tersebut setelah kait sebelum mereka melakukan importasi. namun saat ini dapat terselesaikan. anfaat jalur Mitra Utama (MITA) yang saat ini baru ada di Kantor Pelayanan Utama (KPU) sepertinya sangat dinanti oleh para pengusaha. Setelah jalur ini berjalan satu bulan, para pengusaha dapat merasakan manfaat yang cukup besar terutama penekanan biaya-biaya tak terduga lainnya dalam proses importasi. Manfaat MITA juga dirasakan oleh pengusaha khususnya dengan pelayanan client coordinator (CC) yang secara proaktif memberikan pelayanan berupa penjelasan prosedur impor maupun menjembatani setiap permasalahan yang terjadi di lapangan, baik antara bea cukai dengan pengusaha, maupun pengusaha dengan instansi terkait lainnya. Menurut Kepala Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe A Jakarta, Agung Kuswandono, dengan adanya jalur MITA ini, gambaran akan kelancaran arus barang sudah dapat terlihat. Hal ini tak lain karena para penerima fasilitas MITA, dapat mengeluarkan barang hanya dalam hitungan menit saja. “Jalur MITA ini adalah paperless murni, jadi begitu mereka sending dokumen langsung keluar SPPB, dan dalam hitungan menit barang sudah dapat keluar. Jadi tidak ada lagi istilah dokumen mereka terblokir karena mereka tidak lagi menyerahkan dokumen hardcopy,” jelas Agung Kuswandono.
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA
TABEL PROSENTASI JUMLAH PIB DAN BEA MASUK DARI KESELURUHAN JALUR YANG ADA DI KPU
JALUR HIJAU MITA PRIORITAS MITA NON-PRIORITAS KUNING MERAH TOTAL JUMLAH PIB 16,156 4,407 2,616 887 8,193 31,932 % JUMLAH PIB 50,60% 13,80% 8,19% 1,75% 25,66% 100% BEA MASUK BAYAR 304,577,268,418.00 135,573,752,410.00 63,496,968,637.00 16,201,421,626.00 174,656,682,646.00 694,506,111,737.00 % BEA MASUK BAYAR 43.86% 19.52% 9.14% 2.33% 25.15% 100%

Keterangan : 1. Data periode 1 September 2007 sampai dengan 30 September 2007 2. Data dimbil tanggal 25 Oktober 2007 pukul 16.00

3. Data tidak termasuk SPKPBM 4. MITA mulai dilaksanakan pada tanggal 6 September 2007

PERAN CLIENT COORDINATOR
Terkait dengan arus barang yang menggunakan fasilitas MITA. Sebagai gambaran, dari jumlah keseluruhan PIB pada bulan September 2007, untuk jalur MITA nonprioritas sebanyak 2.616 atau 8,19 persen dari keseluruhan jumlah PIB. Dengan demikian bea masuk bayar yang disumbangkan oleh jalur ini adalah, Rp.63,496,986,637, atau 9,14 persen dari total bea masuk bayar keseluruhan. (Lihat Tabel) “Dengan jalur MITA non-prioritas ini, banyak biayabiaya tak terduga lainnya ikut terpangkas, misalnya kalau selama ini importir selalu dikenakan biaya penumpukan barang, pemindahan barang, yang sebenarnya biaya tersebut bukan dikenakan oleh bea cukai namun oleh instansi lain, kini dapat terpangkas,” ujar Harry. Sementara itu Agung Kuswandono menambahkan, selain kelancaran arus barang yang dapat dinikmati oleh importir jalur MITA non-prioritas, fasilitas lain yang juga dapat dinikmati oleh mereka adalah, mendapat pelayanan konsultasi kepabeanan sekaligus menjembatani setiap

permasalahan yang dihadapi oleh importir jalur MITA nonprioritas. Hal ini juga diamini oleh Harry Mulya, menurutnya, para importir tersebut masing-masing mendapatkan pelayanan dari satu petugas CC. Dan, dengan CC ini mereka dapat mengutarakan segala permasalahannya terkait dengan proses ekspor impor mereka. Sehingga, para importir tidak perlu harus menanyakan kemana mereka mengadukan persoalannya dan cukup menghubungi CC dan CC yang akan menyelesaikan persoalan mereka. “Kita saat ini menganggap importir bukan saja pengguna jasa yang harus dilayani, namun mitra kerja yang harus mendapatkan segala informasi terkait dengan kegiatannya, dan CC juga selalu pro aktif menanyakan kepada importir apa permasalahan yang mereka hadapi, termasuk memberitahukan jika ada peraturan-peraturan atau kebijakan-kebijakan baru dibidang kepabeanan,” papar Harry. Sebagai contoh, pihak CC akan menjembatani jika importir jalur MITA mendapat hambatan dari intern DJBC
WBC/ATS

CLIENT COORDINATOR. Menjembatani setiap persoalan hingga aktif memberitahukan setiap peraturan baru kepada importir.

12

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

WBC/ATS

SELAIN KELANCARAN ARUS BARANG,

EFISIENSI BIAYA BISA MENCAPAI 50 PERSEN
INSTANSI TERKAIT. Secara sistem masih ada instansi terkait yang belum siap mendukung pelaksanaan jalur MITA.

seperti dari PFPD. Jika hal itu terjadi maka CC akan meminta klarifikasi dari PFPD mengapa importir tersebut mendapat hambatan, setelah itu CC yang akan menjelaskan kepada importir. Jika memang importir tidak puas dengan penjelasan CC, maka CC akan mempertemukan PFPD dengan importir yang disaksikan CC dengan dibuat berita acara, dengan demikian semua pihak akan terselesaikan persoalannya dan solusi yang diberikan pun dapat dilakukan dengan baik dan benar. Untuk saat ini memang jumlah CC masih terbilang ideal dengan jumlah importir jalur MITA, dimana satu CC menangani 19 perusahaan yang harus mereka layani secara pro aktif. Namun kedepan nanti, setelah masa uji coba selesai dan penerima jalur MITA nonprioritas juga akan bertambah, maka jumlah CC juga perlu ditambah mengingat perusahaan yang mereka harus tangani bertambah banyak. Artinya, segala sarana dan prasarana juga perlu ditambah, mengingat saat inipun sarana yang ada masih cukup minim. Namun hal tersebut sudah dalam proses pengadaan karena demi kelancaran pelayanan yang diberikan CC kepada importir jalur MITA, hal tersebut perlu segera diwujudkan, dan DJBC pun telah berusaha untuk melaksanakannya. “Kendati masa uji coba belum berakhir, namun sudah banyak perusahaan-perusahaan yang mengajukan permohonan untuk mendapatkan fasilitas jalur MITA non-prioritas, yang sejak awalnya memang DJBC menargetkan sebanyak 500 perusahaan. Saat ini tetap kita terima permohonannya, namun belum dapat diproses karena masa uji coba belum selesai, begitu masa uji coba selesai permohonanpermohonan ini baru kita akan proses,” ungkap Agung Kuswandono. Peserta jalur MITA Non-proritas selama ini memang baru ditentukan oleh Kantor Pusat DJBC. Namun setelah masa uji coba selesai, KPU yang selanjutnya akan memproses setiap permohonan jalur MITA. Dengan pelayanan yang diberikannya ini para importir pun merasa sangat terbantu dan mereka menginginkan mendapat fasilitas tersebut. Karena, dengan kelancaran arus barang yang lebih menjanjikan, importir tentunya akan memperoleh keuntungan yang lebih banyak, lebih dari itu importir pun dapat berkomunikasi secara langsung dengan bea cukai tanpa rasa sungkan dan bingung harus kemana menanyakan persoalan yang mereka hadapi. adi

Walaupun jalur Mitra Utama (MITA) baru berjalan satu bulan, namun para importir sudah merasakan manfaat yang cukup banyak. Selain dapat menekan biaya hingga 50 persen, para importir jalur MITA non-prioritas juga kini diberikan kepercayaan memegang hardcopy dokumen impor.

J

alur Mitra Utama (MITA) memang cukup mendapat tanggapan yang positif dari para stakeholder, karena sejumlah kemudahan dan keuntungan dapat dirasakan langsung oleh importir penerima jalur ini. Sebagai contoh, kini dalam hitungan menit importir jalur MITA dapat mengeluarkan barangnya, dengan demikian akan banyak biaya tak terduga lainnya yang dipangkas dengan kelancaran arus barang tersebut. Terkait dengan persyaratan yang diajukan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) untuk perusahaan yang ingin mendapatkan jalur MITA, banyak yang menilai tidak memberatkan, bahkan untuk perusahaan yang memang benar-benar dalam melakukan importasinya, persyaratan tersebut tinggal mereka kirimkan tanpa harus melengkapi lebih jauh, karena selama ini memang sudah mereka jalankan.

PAPERLESS MURNI
Seperti yang diutarakan oleh W. Purindriayoga, selaku export-import coordinator dari PT. Sanggar Sarana Baja yang bergerak di bidang manufaktur untuk alat-alat berat, yang juga masuk dalam group Trakindo, menurutnya dengan menerima fasilitas jalur MITA non-prioritas, perusahaannya cukup banyak mendapat keuntungan dalam hal ekspor-impor, selain itu pelayanan yang kini murni paperless memudahkan mereka untuk mengirimkan dokumen tanpa harus menyerahkan hardcopy. “Kalau dulu sebelum kita impor maka kita harus menyiapkan segala dokumen dan menyerahkan dokumen hardcopy paling lambat tiga hari setelah PIB diajukan, sekarang cukup dengan elektronik, dokumen sudah dapat kita sending dan segala sesuatu yang terkait dengan dokumen seperti nomor B/L, master list, dan lain-lain cukup kita cantumkan diaplikasi tanpa harus menyerahkan aslinya,” jelas Purindriayoga. Hal ini juga diamini oleh Orry Worotikan, selaku Direktur PT. Surya Kamangta yang juga PPJK dari PT. Ultra Jaya. Dengan paperless murni ini, importir hanya diminta untuk membuat laporan satu bulan sekali, dan itu tidak terlalu menyulitkan karena importir yang memang selalu benar dalam
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS WBC/ATS

menjalankan bisnisnya sudah terbiasa membuat laporan secara berkala. “Ini merupakan suatu terobosan yang sangat luar biasa dari bea cukai, karena kami diberikan kepercayaan penuh dalam kegiatan ekspor impor tanpa harus menyerahkan hardcopy, dengan demikian ini harus dijaga oleh importir agar apa yang sudah bea cukai berikan kepercayaan tersebut dapat berlangsung terus dan kelancaran arus barang pun sudah tentu akan terwujud,” ujar Orry. Lebih lanjut Orry menjelaskan, pihaknya selaW. PURINDRIAYOGA. Berharap jalur MITA tidak hanya diterapkan di KPU ma ini selalu kesulitan danamun juga diseluruh kantor bea cukai. lam hal penimbunan barang, karena importir produsen yang diwakilinya setiap kali harus mendapat pemeriksaan fisik terkait dengan bahan baku yang dimpornya. Namun dengan adanya jalur MITA non-prioritas ini, kesulitan penumpukan barang tidak menjadi persoalan lagi, bahkan biaya penumpukan yang selama ini harus dikeluarkan dapat dipangkas hingga 50 persen. Terkait dengan paperless, Andri Hendrawan Exim Manager PT. Sumi Indo Wiring Systems yang bergerak dibidang produksi alat-alat otomotif atau kabel body mobil menjelaskan, hal tersebut merupakan kebijakan yang cukup baik dari DJBC, selain itu penilaian DJBC terhadap perusahaan penerima fasilitas MITA juga cukup profesional. “Dengan masuknya perusahaan kami menjadi jalur MITA non-prioritas, tentunya DJBC memiliki penilaian tersendiri, artinya DJBC sangat selektif dalam menilai perusahaan selama ini, karena hanya yang memiliki catatan baik saja yang direkomendasikan DJBC untuk mendapatkan jalur MITA ini,” kata Andri. Hal yang sama juga diutarakan oleh kedua nara sumber lainnya, yang menilai persyaratan yang diajukan DJBC kepada perusahaan penerima jalur MITA merupakan persyaratan umum yang sebenarnya sudah dijalankan setiap harinya, sehingga mereka tidak perlu lagi menyiapkan persyaratan tersebut, tinggal mengkopinya saja dan diserahkan kepada DJBC.

lur merah, namun kini bahan baku kami tidak lagi diperiksa atau kena jalur merah tapi masuk jalur kuning dimana fisik barang tidak diperiksa hanya dokumen kami saja yang diperiksa,” jelas Orry. Lalu bagaimana peran client coordinator (CC) yang selalu berperan aktif memberikan masukan maupun sebagai jembatan penyelesaian masalah importir? Menurut Purindriayoga, peran CC sangat membantu sekali, bahkan kalau dulu importir ingin bertanya kepada bea cukai jika ada masalah dengan importa- ORRY WOROTIKAN. Ini merupakan suatu terobosan yang sangat luar si layaknya orang tersebiasa dari bea cukai. sat, kini dengan CC sudah dapat terjembatani bahkan solusi yang diberikan pun dapat dilakukan saat itu juga. “Dengan adanya CC kami sangat terbantu sekali, karena kami dapat berkonsultasi langsung akan persoalan-persoalan yang kami hadapi, apakah itu soal kelengkapan dokumen, maupun peraturan yang kami kurang jelas memahaminya,” kata Purindriayoga. Lebih lanjut Orry juga menjelaskan, perusahaannya beberapa kali harus berbenturan dengan peraturan instansi terkait lainnya, dengan adanya CC, maka pihaknya langsung dapat meminta CC untuk menjembatani permasalahan tersebut, bahkan CC juga ikut terjun langsung ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. “Kalau menurut kami peran CC saat ini cukup baik dan sangat membantu dalam proses ekspor-impor, apalagi saat ini CC benar-benar proaktif untuk menanyakan kepada kami apa kendala yang kami hadapi, dan kami benar-benar merasa sangat terlayani sekali, karena kami bisa mendiskusikannya langsung jika ada peraturan baru,” jelas Purindiayoga. Sementara itu menurut Andri peran CC juga sudah cukup baik, namun jika ada peningkatan tentunya akan sangat lebih baik lagi, mengingat persoalan yang dihadapi importir bukan hanya pada peraturan DJBC tapi juga kepaDOK. PRIBADI da instansi terkait lainnya.

TERBANTU DENGAN ADANYA CLIENT COORDINATOR
Dari keseluruhan nara sumber yang WBC wawancarai, pada umumnya menyatakan tidak ada kendala baik saat ini maupun pada masa awal ujicoba, seperti diungkapkan Andri, perusahannya yang dulu masuk jalur hijau namun kerap terkena random jalur merah, kini dengan jalur MITA perusahannya tidak lagi dikenakan random jalur merah. Hal yang sama juga diamini oleh Purindriayoga dan Orry, menurutnya pemeriksaan fisik yang dulu kerap dikenakan pada perusahanya kendati perusahannya telah benar-benar dalam menjalankan peraturan kepabeanan, kini dengan jalur MITA mereka tidak lagi dikenakan jalur merah. “Kami ini importir produsen untuk pengolahan susu, dan kami memaklumi jika bahan baku gula kami harus dikenakan ja14
WARTA BEA CUKAI

MITA DIHARAPKAN JUGA DITERAPKAN DISELURUH KANTOR BEA CUKAI
Terkait dengan sosialisasi yang dilakukan DJBC kepada importir jalur MITA, dinilai sudah cukup baik bahkan DJBC sudah sangat pro aktif. “Untuk sosialisasi kami menilai cukup baik, bahkan dari asosiasi jalur prioritas kami juga mendapat undangan yang dihadiri langsung oleh Menteri Keuangan, sehingga kami cukup mendapat informasi apa itu jalur MITA dan apa keuntungan yang dapat kami peroleh dengan masuk jalur MITA,” papar Andri. Jalur MITA memang telah banyak memberikan jawaban akan persoalan yang selama ini dialami oleh importir, bahkan penerimaan negara untuk bea masuk dari jalur ini pun menunjukkan angka yang cukup besar, padahal ini baru 189 perusahaan yang mengikuti ujicoba jalur MITA non-prioritas. Jika target bea cukai sebanyak 500

ANDRI HENDRAWAN. Peran CC sangat membantu dalam menjembatani suatu persoalan yang dihadapi importir.

EDISI 397 DESEMBER 2007

perusahaan yang masuk ke jalur MITA non-prioritas dapat tercapai, tentunya kelancaran arus barang akan semakin baik lagi khususnya di pelabuhan Tanjung Priok, dan lebih dari itu penerimaan negara dari bea masuk juga akan meningkat tajam. Sementara itu DJBC juga dapat menekan angka penerima jalur merah yang memang direncanakan jauh lebih kecil dari yang sekarang. Dengan jalur MITA, perusahaan penerima fasilitas ini berharap agar MITA tidak hanya diterapkan pada KPU saja melainkan diseluruh kantor bea cukai, karena dengan diterapkannya MITA diseluruh kantor bea cukai, baik pelabuhan laut maupun udara, importir akan semakin banyak terbantu dan DJBC pun menurut mereka dapat menekan angka penyelundupan dengan seleksi ketat dari perusahaan penerima jalur MITA. “Saya berharap jalur MITA tidak hanya di KPU saja, akan tetapi berlaku juga di seluruh kantor bea cukai, karena tidak seluruh importir melakukan importasinya melalui laut, ada beberapa yang juga melalui udara. Jika semua menerapkan jalur MITA maka kita akan lebih terbantu lagi sehingga konsulasi kita pun juga semakin lebih baik,” harap Purindriayoga. Keinginan jalur MITA diterapkan diseluruh kantor bea

cukai juga diutarakan oleh Orry dan Andry, menurut mereka setelah ujicoba jalur MITA di pelabuhan Tanjung Priok ini berhasil, sudah seharusnya DJBC juga menerapkan di kantor-kantor lainnya, karena importasi melalui udara juga sangat banyak jumlahnya, dan selain Jakarta, kota-kota besar lainnya yang menjadi pelabuhan utama juga tak kalah banyaknya importasi yang dilakukan setiap hari. Dengan penerapan jalur MITA diseluruh kantor bea cukai, mereka merasa yakin kalau kelancaran arus barang dan ekonomi biaya tinggi yang selama ini selalu dikeluhkan oleh importir akan terjawab, dan pihak DJBC tentunya juga semakin mudah dalam memberikan pelayanan dan pengawasannya. Jalur MITA memang menjanjikan kelancaran arus barang, seperti yang diungkapkan para nara sumber, mereka sangat terbantu sekali dengan adanya fasilitas ini. DJBC kini dituntut untuk lebih meningkatkan lagi pelayanan dan pengawasan yang menjadi tugas dan fungsinya, karena hanya dengan mutu pelayanan yang baik dan pengawasan yang optimal citra DJBC di mata masyarakat akan meningkat. adi
WBC/ATS

EFISIENSI HINGGA 50 PERSEN. Penerapan satu bulan jalur MITA importir merasa telah menekan biaya tak terduga hingga 50 persen. EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

15

WAWANCARA

16

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

THOMAS SUGIJATA
DIREKTUR AUDIT SELAKU KETUA TIM PERCEPATAN PROGRAM REFORMASI

MERUPAKAN PENERAPAN MITA TAHAP AWAL”
Dengan dikeluarkannya Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-24/BC/2007 tentang Mitra Utama dan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor Kep-91/BC/2007 tentang petunjuk perusahaan peserta uji coba MITA, maka sebanyak 189 perusahaan dari 500 perusahaan yang ditargetkan mulai menerapkan fasilitas jalur MITA non-prioritas pada 6 September 2007 di pelabuhan Tanjung Priok. Jalur baru yang banyak mendapat perhatian dari para importir dengan track record baik ini, diharapkan dapat mewujudkan kelancaran arus barang dengan pelayanan prima dan pengawasan yang proaktif. Untuk mengetahui apa latar belakang Direktorat Jendaral Bea dan Cukai (DJBC) mengeluarkan kebijakan jalur baru ini, reporter WBC Supriyadi.W dan fotografer Andy Tria Saputra, mewawancarai Ketua Tim Percepatan Program Reformasi yang juga merupakan Direktur Audit, Sugijata ta. T homas Sugijata Apa saja komentarnya tentang fasilitas jalur Mitra Utama ini, berikut petikan wawancaranya :
Apa yang melatarbelakangi DJBC mengeluarkan P24/BC/2007 tentang Mitra Utama ? Ada dua hal yang melatarbelakangi dikeluarkannya peraturan tersebut, namun sebelumnya DJBC melihat persaingan global yang semakin keras menuntut sistem yang efisien dalam mata rantai distribusi logistik, baik berupa bahan baku, barang jadi, maupun barang-barang untuk mendukung industri. Efisiensi pergerakan barang tersebut hanya dapat tercipta jika seluruh simpul dalam rangkaian mata rantai distribusi tersebut efisien. Salah satu simpul penentu mata rantai distribusi logistik tersebut adalah bea dan cukai. Guna mengantisipasi tuntutan perkembangan tersebut, best practice kepabeanan internasional memberikan gambaran, bahwa diperlukan suatu sistem pelayanan kepabeanan tanpa intervensi kepada pengguna-pengguna jasa kepabeanan berisiko rendah. Dengan demikian, terkait dengan fungsi utamanya sebagai industrial assistant dan trade facilitator, DJBC juga harus responsif terhadap perkembangan tersebut. Komitmen DJBC dalam meningkatkan efisiensi sistem kepabeanan untuk perkembangan industri dalam negeri dan perdagangan internasional, diwujudkan dengan penerapan program Mitra Utama (non prioritas). Program ini merupakan wujud dari pengembangan manajemen risiko sehingga dapat memberikan pelayanan tanpa intervensi kepada importir-importir yang diyakini memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi, mempunyai sistem pengendalian yang memadai dan menekuni bisnis tertentu dalam jangka panjang. Dengan demikian, latar belakang DJBC mengeluarkan kebijakan tentang fasilitas jalur MITA, pertama MITA merupakan tuntutan perkembangan yang harus diakomodasi oleh DJBC sebagai trade facilitator dan industrial assistant. Kedua, MITA merupakan hasil dari pengembangan penerapan manajemen risiko DJBC. Apakah dengan jalur MITA kelancaran arus barang dapat lebih terjamin ? Sudah pasti, karena terhadap PIB MITA tidak dilakukan pemeriksaan fisik atau dokumen. Apa perbedaan yang signifikan dari jalur MITA, dibandingkan dengan tiga jalur lainnya ? Terdapat perbedaan yang signifikan antara jalur MITA dengan jalur lainnya, antara lain: hubungan yang bersifat kemitraan dengan adanya client coordinator (CC), tidak ada pemeriksaan fisik dan penelitian dokumen, dan pelayanan paperless. Bagaimana mekanisme pelayanan jalur MITA ini? Pada dasarnya pelayanan terhadap MITA adalah layanan kepabeanan di bidang impor tanpa pemeriksaan fisik dan penelitian dokumen. Selain itu, terhadap importasi MITA pada umumnya tidak perlu menyerahkan dokumen pelengkap kepabeanan (paperless). Untuk pengawasan, apakah jalur MITA sama mekanismenya dengan pengawasan tiga jalur lainnya ? Karena MITA ini merupakan hasil pengembangan manajemen risiko terbaru, maka telah dilengkapi dengan sistem pengawasan yang lebih sistematis. Dalam skema MITA dikenal satu sistem pengawasan yang disebut pengawasan proaktif, yaitu semacam sistem monitoring PIB-PIB yang diberitahukan oleh para MITA yang melibatkan aplikasi komputer, analis, CC dan unit pengawasan (Audit dan P2). Dengan persyaratan yang diberikan kepada perusahaan penerima MITA, apakah dirasakan cukup untuk menjaring importir yang benar-benar patuh?
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

“PEMBERLAKUAN MITA DI KPU

17

WAWANCARA

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO : MUQSITH HAMIDI

SALAH SATU SIMPUL PENENTU MATA RANTAI DISTRIBUSI LOGISTIK TERSEBUT ADALAH BEA DAN CUKAI

“ ”

Secara teori persyaratan yang diberikan dimaksudkan untuk menjaring perusahaan yang track record-nya patuh, memiliki pengendalian internal yang dapat menjamin kepatuhan dimasa lalu berlanjut ke masa yang akan datang, dan memiliki pola bisnis yang jelas sehingga mudah diawasi. Untuk melihat apakah dalam kenyataan kriteria ini berhasil kita tunggu hasil evaluasinya nanti. Keuntungan seperti apa yang dapat dinikmati oleh perusahaan yang telah menerima jalur MITA? Mereka akan mendapatkan kepastian waktu dan biaya dalam melakukan importasi, serta mendapatkan layanan konsultasi gratis dari DJBC.
UPACARA HARI KEUANGAN DI BALIKPAPAN. Berlangsung di Gedung Keuangan Negara Balikpapan, dipimpin langsung oleh Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ismartono.

Untuk sosialisasi, apakah sudah mencapai sasaran? Apa tanggapan dan masukan dari para pengusaha dengan adanya jalur MITA ? Melihat antusiasme perusahaan-perusahaan yang mendaftarkan diri sebagai MITA, kami berpendapat sosialisasi telah sesuai sasaran dan sosialisasi MITA tetap dilaksanakan secara berkesinambungan. Bagaimana dengan uji coba yang dilaksanakan selama ini, apakah sudah mencapai target yang diinginkan ? Selama masa uji coba tidak ditemu kendala yang berarti, dan berdasarkan tanya jawab dengan beberapa peserta uji coba, mereka merasa mendapat perbaikan yang signifikan dari segi pelayanan. Apakah dengan jalur MITA juga dapat memberikan kemudahan kepada instansi terkait lainnya, khususnya dalam hal prosedur dan birokrasi proses ekspor impor? MITA ini merupakan fasilitas DJBC, jadi belum menyentuh instansi terkait. Mungkin nanti akan terjawab dengan National Single Window. Untuk saat ini apakah jalur MITA masih memerlukan pengembangan lebih lanjut? Setiap program sebaiknya dilakukan evaluasi dan dikembangkan, demikian juga dengan program MITA. Bagaimana dengan sarana dan prasarana yang mendukung jalur MITA, apakah sudah terpenuhi ? Syarat minimal untuk pemberlakuan MITA memang sudah terpenuhi, tetapi sarana dan prasarana memang masih perlu dikembangkan untuk memperbaiki kualitas pelayanan maupun untuk lebih mengefektifkan pengawasan. Saat ini mengapa jalur MITA hanya diterapkan di KPU? Pemberlakuan MITA di KPU merupakan penerapan MITA tahap awal. Hal ini dilakukan karena MITA menuntut adanya komunikasi data elektronik. Pada saatnya MITA akan dikembangkan ke KPPBC-KPPBC lainnya. Apa kendala yang dihadapi DJBC saat ini dengan penerapan MITA? Kendala yang dihadapi mungkin terkait dengan budaya kerja, karena skema MITA adalah kemitraan, maka dituntut kesetaraan hubungan antara pejabat bea cukai dengan pengusaha MITA. 18
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

HARI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KE-61
DI BALIKPAPAN
Tanggal 30 Oktober menjadi hari bersejarah bagi Departemen Keuangan Republik Indonesia, dimana setiap tanggal tersebut diperingati sebagai “Hari Keuangan”, hari lahirnya mata uang Republik Indonesia yakni 61 tahun yang lalu. Khususnya di Balikpapan, selalu diadakan upacara untuk memperingatinya. Berikut liputannya.

PERINGATAN

S

eperti kata pepatah “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan pendahulunya”, Indonesia yang merupakan bangsa yang benar-benar besar (luas -red.) dan mempunyai sejarah yang panjang dan membanggakan, sudah sepantasnya kita sebagai penerus perjuangan tersebut selalu mengenang jasa-jasa mereka untuk membangkitkan semangat nasionalisme yang kini dirasa mulai pudar. Salah satunya adalah dengan mengadakan upacara bendera untuk memperingati hari-hari bersejarah tersebut. Tidak terkecuali Departemen Keuangan Republik Indonesia yang menjadikan tanggal 30 Oktober menjadi Hari Keuangan

POTONG TUMPENG. Dilakukan oleh Ismartono dalam acara halal bi halal pejabat eselon II dan III sesaat setelah upacara selesai dilaksanakan.

SATYALANCANA KARYA SATYA. Penganugerahan dan penyematan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dan pemberian piagam penghargaan oleh Ismartono.

Republik Indonesia yang bertepatan dengan diterbitkannya untuk pertama kali Uang Republik Indonesia. Tidaklah suatu bangsa apabila tidak memiliki mata uangnya sendiri dan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dapat membuktikannya sehingga dihormati oleh bangsa-bangsa lain. Tepat pukul 08.00 WITA, bertempat di halaman Gedung Keuangan Negara (GKN) di Balikpapan diadakan upacara bendera untuk memperingati Hari Keuangan yang ke-61 tahun 2007 oleh segenap pejabat dan pegawai dari seluruh instansi di bawah Departemen Keuangan yang ada di kota Balikpapan. “Dengan Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan kita bangun kepercayaan masyarakat melalui peningkatan kinerja, pelayanan dan perbaikan integritas aparat” begitu tema yang diambil dalam peringatan hari keuangan kali ini. Upacara yang penuh khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Timur, Drs. Ismartono yang bertindak sebagai inspektur upacara dan CH. Natawidjaja, Kasi Kepabeanan dan Cukai III KPPBC Tipe A3 Balikpapan, sebagai komandan upacara. Adapun semua petugas upacara merupakan gabungan dari Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan instansi DJBC di Balikpapan. Dalam kesempatan tersebut dibacakan amanat dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Dalam amanat tertulis yang dibacakan oleh inspektur upacara, Menteri Keuangan memberikan semangat dan motivasi untuk meningkatkan kinerja dan citra positif Departemen Keuangan sehingga meningkatkan pula kepercayaan masyarakat kepada birokrasi ini (Departemen Keuangan -red.). Apalagi masyarakat telah membaca bahwa ja-

jaran Departemen Keuangan telah mendapat kenaikan tingkat remunerasi. Menkeu juga berpesan agar Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan yang baru saja digulirkan bukan hanya menjadi slogan semata melainkan menjadi awal perubahan untuk menjadi lebih baik dalam meningkatkan dan mengelola keuangan negara terutama dalam hal pelayanan publik. Pada upacara tersebut juga diberikan penganugerahan dan penyematan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dan piagam penghargaan bagi pegawai di lingkungan Departemen Keuangan di Balikpapan atas pengabdian, kesetiaan, kejujuran, kecakapan dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas selama 10 tahun atau 20 tahun atau 30 tahun sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 059/TK/Tahun 2007 tanggal 18 September 2007. Setelah upacara selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara halal bi halal diantara para pejabat eselon II dan eselon III instansi di bawah Depkeu di Balikpapan di Aula GKN Balikpapan. Pada acara tersebut dilakukan pemotongan nasi tumpeng oleh Ismartono yang kemudian potongan pertama diserahkan kepada Tulus Imam Prasetyo, widyaswara BDK V Balikpapan yang mendapatkan penghargaan pada saat itu. Pada kesempatan tersebut Ismartono juga memberikan kesan pesannya yakni agar persaudaraan yang sudah terjalin antar Direktorat di lingkungan Depkeu selama ini tidak hanya dipertahankan melainkan ditingkatkan. Selain itu agar lebih ditingkatkan lagi kerjasama antar Direktorat dalam pelaksanaan tugas sehingga sebagai pengemban visi dan misi Departemen Keuangan dapat menjalankan tugasnya dengan baik. muqsith hamidi, balikpapan

PEGAWAI YANG MEMPEROLEH PENGHARGAAN
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12 13 14 N a m a Drs. I Gde Ekawana / NIP 060042746 Drs. Anak Agung Gede P. / NIP 060043797 Drs. Tulus Imam Prasetyo / NIP 060052020 Ria Puspita, SE / NIP 060065921 Hasyim, SE / NIP 060071658 Dina Ratna Dewi / NIP 060065346 Dewansyah, SE / NIP 060065694 Iriani Ardi / NIP 060066837 Suripah, SE / NIP 060063848 Sri Pujiningsih / NIP 060070587 Noortje Repi / NIP 060060335 Dekky Rudolf Gerung / NIP 060060338 Mustar B. / NIP 060060655 Nurhadi / NIP 060064616 Unit Kerja Kanwil DJP Kaltim Kanwil DJP Kaltim BDK V Balikpapan KPP Balikpapan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur Kanwil DJP Kaltim Kanwil DJP Kaltim KPP Madya Balikpapan Kanwil DJP Kaltim Kanwil DJP Kaltim KPPBB Balikpapan KPPBB Balikpapan KPP Balikpapan KPP Balikpapan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya XXX Satyalancana Karya Satya XXX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX Satyalancana Karya Satya XX
WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

19

DAERAH KE DAERAH

SOSIALISASI UU CUKAI
DI KANWIL DJBC NAD BANDA ACEH
Hari Kamis 30 Agustus 2007 diadakan sosialisasi Undang-Undang Cukai yang baru Nomor 39 tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai, yang telah disahkan pada 15 Agustus 2007. Sosialisasi dipaparkan oleh tim dari Kantor Pusat DJBC yang dipimpin oleh Drs. Bambang Prasodjo, Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Kepabeanan dan Cukai.

2. Pembacaan ayat suci Al-Quran yang disampaikan oleh Sdr. Afian 3. Kata pembukaan oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Nanggroe Aceh Darussalam Drs. Achmad Riyadi 4. Acara Sosialisasi dimulai oleh Drs. Bambang Prasodjo, Sunaryo, Kasi ATHP Hasil Tembakau Direktorat Cukai, Muji Rahardjo, Kasi Pelaksanaan Audit Direktorat Cukai, Aminullah Yusuf, Kepala KPPBC Tipe A4 Lhokseumawe. Dari keempat pembicara tersebut, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Undang-Undang Cukai yang baru sebagai revisi Undang-Undang Cukai yang lama telah mengakomodir sebagian aspirasi daerah antara lain adanya dana bagi hasil dari pungutan cukai untuk provinsi maupun kabupaten/kota. Dana bagi hasil ini sering menjadi salah satu keinginan masyarakat di daerah, bahkan di daerah Nanggroe Aceh Darussalam dana bagi hasil dengan Pemerintah Pusat inilah yang menjadi salah satu alasan sebagian masyarakat Aceh sehingga ingin melepaskan diri dari Pemerintah Pusat. Berlakunya Undang-Undang Cukai yang baru ini sejalan dengan salah satu tugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yaitu ikut mendorong pertumbuhan industri, termasuk pendirianpendirian pabrikan Barang Kena Cukai seperti etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol. Aparat Bea Cukai yang bertugas di bumi Serambi Mekkah ini cukup dilematis. Disatu sisi ingin menggali potensi atau ikut memberikan kemudahan dalam pendirian industri Barang Kena Cukai, namun sebagaimana diketahui bahwa pemerintah pusat telah memberikan atau memberlakukan Syariat Islam di tanah rencong ini. Sehingga tidak memungkinkan adanya pendirian pabrik barang kena cukai seperti etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol, termasuk peredarannya yang sama sekali dilarang. Acara sosialisasi diakhiri foto bersama dengan tim sosialisasi dari Kantor Pusat DJBC Jakarta. Semoga dengan akan berlakunya Undang-Undang Cukai yang baru ini, penerimaan cukai sebagai salah satu pembiayaan APBN dapat meningkat setiap tahun. Amir Hasan A. S. Sos, Kanwil DJBC NAD
FOTO : AMIR HASAN

P

elaksanaan sosialisasi di lingkungan Kantor Wilayah DJBC Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dilangsungkan di Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang dihadiri segenap Pejabat Eselon III, IV, dan para Pegawai Kanwil DJBC Nanggroe Aceh Darussalam serta para Kepala KPPBC, Korlak Penindakan dan Penyidikan, Korlak Pabean dan Cukai se-Kantor Wilayah DJBC Nanggroe Aceh Darussalam, juga dihadiri oleh stakeholder, dan instansi-instansi terkait. Acara-acara seperti sosialisasi ini sebagaimana yang lazim di Proinsi Nanggroe Aceh Darussalam dilaksanakan sebagai berikut : 1. Pembawa acara oleh Achmad Sandry Qumain, S.Sos

FOTO BERSAMA. Setelah acara sosialisasi, para pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil DJBC NAD berfoto bersama dengan Tim Sosialisasi dari Kantor Pusat

20

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

FOTO-FOTO : DONNY ERIYANTO

SAMBUTAN DIRJEN. Ketua Tim Sosialisasi, Joko Wiyono tengah menyimak pemutaran multimedia yang diantaranya berisi sambutan Dirjen Bea Cukai, Anwar Suprijadi.

Sosialisasi UU NO.39/2007 di Makassar

SERATUS PERSEN DARI DJBC“
Masih ada hal-hal yang belum tertampung dalam pelaksanaan UU No.11/1995, menyebabkan belum optimalnya upaya pengawasan dan pengendalian serta pemberdayaan peranan cukai sebagai salah satu sumber penerimaan negara.

“INISIATIF

D

TIM SOSIALISASI tengah memberikan sosialisasi di hadapan para pengguna jasa.

engan diberlakukannya UU No.39/2007 tentang perubahan atas UU No.11/1995, maka diharapkan kendala tersebut setidaknya akan dapat teratasi dengan sendirinya. Namun demikian masyarakat luas, baik pengusaha Barang Kena Cukai (BKC) maupun masyarakat lainnya sebagai pengguna BKC perlu memahami perubahan ini dengan diberikan sosialisasi. “Kita menyadari bahwa perubahan undang-undang, walaupun setelah diundangkan, dianggap masyarakat sudah mengetahui. Namun kita (DJBC) merasa perlu mensosialisasikan (UU No.39/2007) sehingga pemahaman

kita terhadap UU ini akan sama. Sehingga diharapkan dalam pelaksanaannya nanti tidak terjadi kesalahan penafsiran atau pengertian tentang UU ini,” kata Bachtiar, Kepala Kantor Wilayah DJBC Sulawesi, ketika membuka acara sosialisasi UU No.39/2007 yang berlangsung di Aula Kanwil Sulawesi pada 18-19 September 2007. Mengingat pentingnya sosialisasi ini, maka acara sosialisasi diadakan selama 2 hari berturut-turut. Hari pertama, acara ditujukan untuk pengusaha BKC, instansi terkait dan para pengguna jasa di bidang cukai lainnya. Pada kesempatan ini dihadiri oleh lebih dari 50 orang peserta. Sedangkan pada hari kedua, khusus diadaEDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

21

DAERAH KE DAERAH
kan bagi para pejabat eselon III dan IV serta pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Sulawesi. Tampil sebagai narasumber dalam sosialisasi ini adalah Joko Wiyono, Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas dan Kinerja Organisasi Kepabeanan dan Cukai, Patarai Pabotinggi, Kasubdit Cukai Hasil Tembakau Direktorat Cukai, Doni Viptanto R., Kasubag Umum KPPBC Bengkulu, dan Galih Elham S., Pj. Kasi Pelaksanaan Audit KWBC Bali . Menurut Joko Wiyono, UU No.39/2007 ini merupakan murni inisiatif dari DJBC sendiri.”Meskipun ada usulan-usulan baru dari DPR, tapi inisiatif pengajuan RUU ini bisa dikatakan 100% dari DJBC,” jelas Joko Wiyono. Dalam paparannya, Joko Wiyono terlebih dahulu menyinggung latar belakang dikeluarkannya UU No.39/2007 ini. Dijelaskannya bahwa dalam UU No.11/ 1995 yang dulu kurang secara tegas mendefinisikan BKC, sehingga dengan demikian kurang mengoptimalkan peranan cukai sebagai penerimaan negara. Filosofi UU Cukai memang bukan untuk penerimaan negara, lanjutnya, tetapi negara dalam hal ini masih membutuhkan penerimaan negara dari sektor cukai sebagai salah satu kontribusi yang besar dalam APBN. “Melalui UU No. 39/2007 ini paradigma harus kita rubah. Filosofi tetap tapi paradigma yang berubah. Paradigma harus sebagai safety, bukan sebagai penerimaan negara tetapi sebagai instrumen mengendalikan dan mengawasi barang yang akan ditetapkan sebagai BKC,” tegasnya. Disamping itu, penegasan cukai terhadap barangbarang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam UU perlu diperluas batasan dan cakupannya. Hal tersebut akan dapat memberikan keluwesan dan kekuatan hukum dalam upaya menambah atau memperluas obyek cukai dengan tetap memperhatikan aspirasi dan kemampuan masyarakat. Selain penegasan batasan obyek cukai, juga perlu penyempurnaan sistem administrasi pungutan cukai dan peningkatan upaya penegakan hukum (law enforcement) serta penegasan pembinaan pegawai dalam rangka tata pemerintahan yang baik (good governance). UU No.39/2007 ini sendiri merubah daripada UU No.11/1995. Sebelumnya di UU No.11/1995, terdiri dari 72 pasal. Sedangkan dalam UU No.39/2007 jumlah pasal menjadi 82 pasal. Perubahan tersebut antara lain 39 pasal diubah, 2 penjelasan pasal diubah, 19 pasal baru, dan 9 pasal dihapus. Setelah dipaparkan secara panjang lebar dengan pasal demi pasal dibahas, sosialisasi dilanjutkan dengan acara tanya jawab. Peserta sangat antusias dengan sesi tanya jawab ini, baik pada hari pertama maupun kedua. Hal ini dikarenakan UU No.39/2007 banyak memuat hal-hal baru dan sosialisasi ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengetahuinya. Seperti yang ditunjukkan oleh perwakilan dari PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) yang mengklaim sebagai konsumen tertinggi minuman alkohol dengan bertanya mengenai langkah-langkah yang harus dilakukannya terhadap minuman alkohol yang dimiliki dimana tidak diketahui penyalurnya memiliki NPPBKC atau belum. Tidak kalah dengan hari pertama, di hari kedua yang pesertanya dari kalangan pegawai DJBC terjadi ’hujan’ pertanyaan. Tapi karena keterbatasan waktu, tidak semua pertanyaan yang bisa dijawab dan hanya beberapa pertanyaan saja yang sempat dijawab. Tapi dari seluruh topik pertanyaan, pegawai pada umumnya menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pengalamannya selama berkecimpung di bidang cukai. dons, makassar 22
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

KANWIL DJBC MALUKU, PAPUA, DAN IRIAN JAYA BARAT
“ Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat Melalui Peningkatan Kinerja dan Integritas Dalam Rangka Reformasi DJBC” menjadi tema pada Rapat Kerja Wilayah DJBC Maluku, Papua dan Irian Barat untuk tahun ini.

RAPAT KERJA

R

apat kerja wilayah (rakerwil) merupakan salah satu agenda tahunan yang harus dilaksanakan oleh Kantor Wilayah (Kanwil) minimal satu kali untuk mengevaluasi segala kegiatan yang telah dilaksanakan dan mencari solusi terbaik untuk peningkatan ke arah selanjutnya. Rapat Kerja Kanwil DJBC Maluku, Papua, dan Irian Jaya Barat, telah dilaksanakan selama dua hari, tepatnya pada 14-15 November 2007, bertempat di aula Gedung Keuangan Negara Lantai V Ambon. Rakerwil DJBC Maluku, Papua, dan Irian Jaya Barat diikuti sekitar 50 peserta terdiri dari para Kepala Bidang dan Kepala Bagian Umum pada Kanwil dan para Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) di lingkungan Kanwil Maluku, Papua, dan Irian Jaya Barat, serta para Kepala Seksi Perlu diketahui, ada 13 KPPBC yang berada di bawah Kanwil ini, antara lain : KPPBC Ambon, KPPBC Tual, KPPBC Ternate, KPPBC Manokwari, KPPBC Bintuni, KPPBC Fak-Fak, KPPBC Kaimana, KPPBC Jayapura,KPPBC Amamapare,KPPBC Biak, KPPBC Nabire, KPPBC Sorong dan KPPBC Marauke. Pukul 09.00 waktu setempat, rakerwil dibuka oleh Kakanwil Maluku, Papua, dan Irian Jaya (MPI) Barat, Nazar Salim. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa dengan adanya reformasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, banyak sekali perubahan untuk itu diharapkan semua pegawai mengikuti segala perkembangan peraturan, terutama harus memahami betul UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dan UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Cukai. Tidak seperti acara rakerwil lainnya, kali ini panitia juga mengundang nara sumber penceramah dari Badan Koordinasai Penanaman Modal Daerah (BKPMD) H. Syukrillah Anis,SE dengan membawa tema “Arah Perkembangan Investasi di Maluku dan Papua”, serta dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku oleh Ir. A.A. Kotahatuhaha, MT dengan tema “Potensi Perikanan di Maluku”. Menurut Nazar Salim, rakerwil ini merupakan wadah untuk melakukan analisis segala permasalahan yang ada di masingmasing KPPBC dan mencari solusi pemecahannya sekaligus sebagai evaluasi kinerja sehingga ke depan dapat ditingkatkan lagi dalam hal pelayanan kepabeanan dan cukai. Rakerwil untuk kali ini mengusung tema “ Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat Melalui Peningkatan Kinerja dan Integritas Dalam Rangka Reformasi DJBC”, dengan pokok masalah yang dibahas meliputi :

EVALUASI TARGET PENERIMAAN TAHUN ANGGARAN 2007
Berdasarkan Surat Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: S-862/BC/2006 hal Penetapan Target Penerimaan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Target penerimaan Kanwil MPI TA 2007 adalah sebesar Rp. 77.087,010 miliar, yang kesemuanya

yang dimiliki oleh seluruh unit kerja di lingkungan Kanwil MPI, terutama peningkatan pelayanan dan pengawasan pada KPPBC dengan melaksanakan secara sungguh-sunguh semua peraturan yang ada.

BAGIAN UMUM
Beberapa permasalahan yang ada di bagian umum antara lain : Dari sisi sumber daya manusia, berdasarkan data kepegawaian yang dikelola oleh Bagian Umum Kanwil DJBC MPI, sampai dengan bulan Oktober 2007 jumlah keseluruhan pegawai di lingkungan Kanwil DJBC MPI adalah 269 (dua ratus enam puluh sembilan) orang. Hal tersebut sangat tidak sesuai dengan luas wilayah pengawasan yang luas terdiri atas empat propinsi dengan sarana transportasi dan komunikasi yang terbatas. Sebagai contoh KPPBC Kaimana dan KPPBC Nabire hanya ada tiga pegawai termasuk kepala kantor, serta KPPBC Bintuni lima pegawai termasuk kepala kantor. Selain dari segi kuantitas diperlukan pula kualitas keahlian khusus antara lain PPNS, tenaga komputer, dan tenaga pemeriksa. Tindak lanjut pemasalahan tersebut dengan mengajukan usulan kepada KPDJBC untuk penambahan tenaga. Sambil menunggu penambahan pegawai perlu dilakukan Analisis Beban Kerja, Mengintensifkan P2KP, dan melakukan mutasi lokal di lingkungan Kanwil MPI. Sarana transportasi kendaraan bermotor perlu adanya pengadaan yang disesuaikan dengan medan jalan yang dilalui. Misalnya KPPBC Manokwari yang memerlukan mobil sejenis Ford Ranger untuk patroli darat. Sedangkan KPPBC Amamapare memerlukan juga untuk angkutan antar jemput karyawan karena lokasi kantor tidak dilalui kendaraan umum dan medannya berlobang dan berbatu karena di sekitar pertambangan. Barang milik / kekayaan negara berupa kantor dan rumah dinas yang masih bermasalah dengan warga setempat perlu proses koordinasi dengan pemerintah setempat dan dengan Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, hal ini dialami oleh KPPBC Tual dan KPPBC Fak-fak Pengadaan inventaris kantor, misalnya kekurangan peralatan komputer untuk penyimpan cadangan (back up) beserta perlengkapan pemeliharaannya (Uninterrupible Power Supply) di KPPBC Biak dan inventaris berupa meja dan kursi yang merupakan pengadaan terakhir tahun 1970 di KPPBC Fak-fak. Hal tersebut sudah diusulkan ke KP-DJBC tetapi belum ada realisasinya

merupakan target Bea Masuk, dengan target penerimaan cukai Rp. 0 . Sampai dengan tgl 31 Oktober 2007, tingkat pencapaian / realisasi penerimaan Kanwil MPI TA 2007 baru mencapai 73,62 persen atau sebesar Rp.56.749,357 miliar. Jika segala faktor yang mempengaruhi dianggap tetap, maka diperkirakan target penerimaan Kanwil MPI tidak tercapai. Memperhatikan tingkat pencapaian yang rendah tersebut serta menindaklanjuti disposisi lisan Direktur Jenderal Bea dan Cukai saat melakukan kunjungan kerja ke Kanwil MPI pada 1 Agustus 2007 agar Kanwil MPI mengFOTO : BW ajukan revisi target penerimaan tanpa memasukkan perkiraan penerimaan bea masuk atas importasi beras, maka telah diajukan usulan revisi target penerimaan TA 2007 dimaksud menjadi Rp. 64.836,997 juta dengan surat MPI Nomor : 1756/WBC.17/ 2007 tanggal 3 Oktober 2007 kepada Dirjen BC dengan tembusan ke Dir.PPKC, namun hingga tulisan ini dibuat belum mendapat putusan lebih lanjut. Mempertimbangkan realisasi target penerimaan sampai dengan saat ini serta usulan revisi yang belum NAZAR SALIM. Rakerwil, wadah mendapat putusan lebih lanuntuk melakukan analisis segala jut, maka tetap harus dilaksapermasalahan yang ada di masingnakan upaya pencapaiannya masing KPPBC dan mencari solusi secara optimal menggunapemecahannya sekaligus sebagai kan segala sumber daya evaluasi kinerja.

RUANG LINGKUP PELAYANAN
Kantor Wilayah MPI mempunyai wilayah kerja meliputi Daerah Tingkat I Maluku, Maluku Utara, Irian Jaya (Papua) dan Irian Jaya Barat yang mempunyai arti strategis di bidang ekonomi karena memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Daerah Tingkat I Irian Jaya dan Irian Jaya Barat yang kurang lebih 20 persen dari luas daratan seluruh Indonesia, sekitar 75 persen dari tanah daratan tersebut masih tertutup oleh hutan yang lebat yang mengandung beraneka ragam jenis kayu dan hasil hutan, ditambah lagi hasil tambang berupa minyak bumi,
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

23

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO : BW

FOTO BERSAMA, Kepala Kanwil DJBC Maluku, Papu dan Irian Jaya Barat, Nazar Salim, bersama para peserta Rakerwil.

emas, nikel serta hasil laut merupakan potensi ekonomi untuk berkembangnya kegiatan ekspor dan impor di Kawasan Indonesia Timur. Sedangkan Daerah Tingkat I Maluku dan Maluku Utara terkenal dengan hasil perkebunan rempah-rempah dan hasil laut. Dengan adanya pembentukan Kementrian Percepatan Pembangunan Kawasan Indonesia Timur (Sekarang Kementrian Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Indonesia Tertinggal), maka prospek perkembangan pembangunan ekonomi dan industri akan semakin pesat sehingga menempatkan posisi Kanwil MPI di tempat yang strategis. Komoditi yang diimpor melalui KPPBC di lingkungan Kanwil MPI sangat beragam, namun pada umumnya berupa; barang untuk keperluan operasional perusahaan industri kayu / plywood, barang untuk keperluan operasional perusahaan perikanan laut dan pertambakan, barang untuk keperluan operasional perusahaan pertambangan (PT Freeport Company dan PT. Aneka Tambang) yang diimpor berdasakan fasilitas PMA / PMDN maupun berdasakan kontrak karya, barang untuk keperluan operasional pertambangan minyak yang diimpor oleh Pertamina dan / atau kontraktornya serta beras pecah (grain white rice 15% broken) Sedangkan untuk komoditi ekspor yang dilayani pelaksanaan ekspornya oleh KPPBC dalam lingkungan Kantor MPI adalah ; konsentrat tembaga, minyak bumi, bijih nikel, plywood (kayu lapis), kayu olahan (moulding, blockboard, dll), ikan segar (ikan hias) dan ikan beku, hasil laut lainnya (udang, cumi, dll), hasil perkebunan, yaitu: cengkeh dan pala (rempah-rempah). Dalam memberikan pelayanan kepada stakeholder semua tak luput dari berbagai kendala, antara lain : l Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/ PMK.01/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pembagian wilayah kerja antara KPPBC Nabire dan KPPBC Biak belum jelas. Perlu diinventarisir pembagian wilayah kerja/pengawasan KPPBC secara tegas. Untuk sementara Impor diusahakan tetap kepada kantor yang mengawasinya sedangkan ekspor boleh ke kantor yang terdekat. l Kawasan Pabean yang saat ini ditetapkan masih berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : KEP-1441/ WBC.12/ 1998 tgl 19 Oktober 1998, bahkan masih ada KPPBC yang di 24
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

l

l

l

dalam daerah kerjanya belum ada satu pun Kawasan Pabean yang ditetapkan sehingga untuk sementara pembongkaran barang impor dan/atau pemuatan barang ekspor dapat tetap dilakukan, namun harus selalu dengan ijin Kepala KPPBC yang dimohonkan untuk setiap kali pembongkaran dan/atau pemuatan. Selanjutnya upaya persuasif secara proaktif masing-masing Kepala KPPBC (dengan memenuhi segala persyaratan sebagaimana diatur dalam PMK-70/2007 dan PBC20/2007) kepada para pihak berkepentingan dan/atau khususnya para pengelola pelabuhan, bandar udara dan/atau tempat lain dalam daerah kerjanya agar segera mengajukan penetapan sebagai Kawasan Pabean jika di area pelabuhan dan/atau bandar udara yang dikelolanya dilakukan kegiatan pembongkaran barang impor dan/atau pemuatan barang ekspor. Belum ada satupun PPJK yang berdomisili dalam wilayah kerja Kanwil MPI yang telah teregristrasi berdasarkan PMK-65/ 2007 jo. PBC-22/2007 sehingga perlu upaya persuasif secara proaktif Kepala KPPBC agar PPJK yang berdomisili dan/atau melakukan kegiatan dalam daerah kerjanya agar melakukan registrasi serta memenuhi segala persyaratan sebagaimana diatur dalam PMK-65/2007 dan PBC-22/2007, dan segera melakukan sosialisasi. Selain itu juga upaya alternatif mendorong agar para importir dan/atau eksportir melakukan kegiatan pengurusan impor dan/atau ekspor secara langsung tanpa menggunakan jasa PPJK jika memang belum ada PPJK yang teregistrasi dengan memenuhi persyaratan serta segala ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku Perbatasan RI – PNG belum diresmikan oleh Presiden RI sebagai jalur lalu lintas perdagangan internasional, karena PNG belum memberikan kepastian untuk membuka perbatasan sampai batas waktu yang ditentukan. Selain itu belum adanya kesepahaman antara BPKD (Badan Perbatasan dan Kerjasama Daerah) dengan instansi terkait mengenai perihal teknis dalam melayani perdagangan lintas batas, namun dalam prakteknya KPPBC Jayapura tetap melakukan pengawasan dan pelayanan kepada pengguna jasa yang melakukan perdagangan melalui perbatasan RI – PNG. Perdagangan melalui perbatasan RI-PNG masih bersifat tradisional namun lalu lintas barang yang melalui perbatasan telah ada sebelumnya.

RUANG LINGKUP PENGAWASAN
Tugas Pengawasan yang dilakukan secara umum telah berjalan dengan baik, tetapi belum optimal. Berikut beberapa kendala dalam pelaksanaan pengawasan antara lain : l Sarana Patroli. Tidak adanya sarana untuk melakukan patroli pengawasan baik kendaraan air maupun kendaraan darat seperti di KPPBC Manokwari sehingga dilakukan dengan menyewa speed boad guna melakukan pengawasan dan monitoring. Sedangkan di KPPBC Amamapare meskipun ada kapal patroli BC 1510 tapi terkendala dengan ukuran dan kapasitas tanki yang sedikit, sangat tidak memungkinkan untuk berpatroli di Laut Arafura yang memiliki ombak yang besar. l Tidak tersedianya sarana kapal patroli yang berukuran besar yang dapat digunakan melakukan patroli laut ke seluruh wilayah MPI dan belum adanya pangkalan sarana operasi strategis yang dapat mendukung pengawasan ke seluruh wilayah MPI yang berupa pulau-pulau yang tersebar jauh mulai kepulauan Maluku sampai Irian Jaya dengan kondisi lautnya yang sangat luas, ini memang merupakan kendala utama dalam pengawasan. Tindak lanjut dari permasalahan tersebut dengan menyarankan ke Kantor Pusat agar Kanwil MPI diberikan sarana patroli laut berupa kapal patroli yang berukuran besar yang dapat digunakan menjangkau ke seluruh wilayah MPI serta membangun pangkalan sarana kapal patroli di Sorong dengan alasan secara geografis Sorong terletak di tengah-tengah Kanwil MPI dan dapat menjangkau ke seluruh KPPBC yang berada di bawah pengawasan Kanwil MPI .Disamping itu untuk keperluan bunker, sorong mempunyai fasilitas bunker yang cukup memadai dengan adanya bunker milik Pertamina l Kurangnya perangkat komunikasi (HT) yang layak pakai. Pentingnya alat komunikasi ini karena daerah pengawasan yang luas dan tidak terjangkau jaringan komunikasi. Sehingga perlu pengusulan kepada KP-DJBC untuk pengadaannya. l Banyaknya senjata api yang sudah tidak layak pakai atau surat ijinnya yang mati, selain itu perlu tempat penyimpanan yang cukup memadai demi keamanan agar tidak terjadi halhal yang tidak diinginkan. l Kendala lain dalam hal pengurusan ijin senjata api kepada pihak yang berwenang memerlukan biaya. Selanjutnya menyarankan kepada Kantor Pusat DJBC agar pengiriman senjata api untuk Kanwil MPI ditunda sampai ada tempat penyimpanan yang memadai sesuai ketentuan dan biaya pengurusan ijin senjata api dimasukkan dalam anggaran.

KOMPOSISI KPPBC, KANTOR BANTU PELAYANAN DAN POS PENGAWASAN DI LINGKUNGAN KANWIL DJBC MPI
No. K P P B C Tipe Kantor Pos Bantu Pengawasan Pelayanan 1 2 2 2 3 1 11 5 8 6 10 6 3 4 8 3 10 63

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. J
l

KPPBC Sorong KPPBC Jayapura KPPBC Amamapare KPPBC Ambon KPPBC Ternate KPPBC Manokwari KPPBC Fakfak KPPBC Merauke KPPBC Biak KPPBC Tual KPPBC Bintuni KPPBC Kaimana KPPBC Nabire u m l a

A4 A4 A4 A4 A4 B B B B B B B B h

Kondisi geografis kantor bantu dan pos-pos bea cukai yang berada di daerah lokasinya sangat jauh, bahkan tidak dapat dilalui melalui darat (jalan tidak memadai), salah satu contoh Pos Demta dan Pos Sarmi di bawah KPPBC Jayapura. Dengan sumber daya yang ada telah diupayakan untuk memaksimalkan pengawasan terhadap lalu lintas barang ekspor, impor dan barang kena cukai. Berikut gambaran pada tabel komposisi kantor bantu dan Pos pengawasan

Rapat Kerja Wilayah telah dilaksanakan dan ditutup oleh Kakanwil pada 15 November 2007 sesuai dengan rencana dan berjalan lancar. Dengan demikian Kanwil MPI telah menganalisis segala permasalahan baik secara internal dengan memperhatikan aspek kekuatan (Strenghtness) dan kelemahan (Weakness ) yang dimiliki, maupun secara eksternal dengan memperhatikan aspek peluang (Opportunity) dan hambatan/ancaman (Threaten). Semoga semua hasil dari Rakerwil ini dapat mewujudkan misi dari Kanwil MPI yaitu PELAYANAN YANG TERBAIK KEPADA INDUSTRI, PERDAGANGAN DAN MASYARAKAT .

Bambang Wicaksono/Koresponden Ambon

BEBERAPA PERMASALAHAN, yang dibahas dalam rakerwil telah dilaksanakan sesuai dengan agenda rapat.

KAPAL PATROLI BESAR Perlu sarana kapal patroli yang berukuran besar yang dapat digunakan melakukan patroli laut ke seluruh wilayah MPI. EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

25

KEPABEANAN INTERNASIONAL
WBC/ATS

KUNJUNGAN DUBES AUSTRALIA. Diterima Sekditjen DJBC untuk membahas peningkatan kerjasama yang telah ada saat ini terutama pada masalah perbatasan yang salah satunya melibatkan DJBC didalamnya.

DUBES AUSTRALIA BILL FARMER KUNJUNGI DJBC
Kunjungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kerjasama antara Indonesia dengan Australia terutama pada masalah perbatasan yang melibatkan didalamnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)

S
26

ekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Sekditjen DJBC) Kamil Sjoeib, mewakili Direktur Jenderal Bea dan Cukai, beserta dengan jajaran eselon tiga dan empat dilingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Australia Bill Farmer di Kantor Pusat DJBC, Kamis 15 November 2007. Dubes Australia dalam kunjungan yang kedua kalinya ini menyertakan Commander Border Protection Command, Rear Admiral James Goldrick dan Counsellor Australian Customs Service pada kedutaan Australia Kate Walker, untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada DJBC yang terlibat pada penanganan masalah kegiatan imigran illegal yang berlangsung beberapa waktu lalu. Keterlibatan Indonesia khususnya DJBC pada penanganan masalah pendatang illegal ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antar dua negara bertetangga yang mempunyai potensi terjadinya kegiatan ilegal terutama masalah pendatang illegal. Melalui kerjasama ini diharapkan kedepannya antara IndoneWARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

sia dengan Australia akan terjalin kerjasama yang lebih baik lagi di berbagai bidang terutama pada masalah perbatasan yang melibatkan DJBC didalamnya. Selain menyampaikan ucapan terimakasih, Dubes Australia beserta rombongan pada pertemuan informal tersebut, mengajak DJBC untuk terus menggali berbagai program kerjasama lain yang bisa dilaksanakan terutama pada penanganan masalah perbatasan melalui kerjasama pada bidang maritime capacity building. Kamil Sjoeib sebagai tuan rumah pertemuan informal tersebut mengatakan, permasalahan yang dihadapi oleh Australia terutama di daerah perbatasan seperti imigran gelap, penangkapan ikan illegal dan kegiatan illegal lainnya juga dialami oleh Indonesia yang tentunya tidak dapat ditangani sendiri tanpa adanya kerjasama dengan negara tetangga. Kerjasama yang baik terutama dengan pihak DJBC menurut Kamil sudah banyak yang dijalankan dan mempunyai dampak yang cukup baik bagi peningkatan kinerja maupun juga fungsi DJBC terutama di perbatasan dan memberi dampak positif bagi hubungan Indonesia dan Australia . Mengenai ajakan untuk menggali berbagai potensi kerjasama selain yang telah terjalin saat ini,menurut Kamil masih akan dibicarakan pada level internal DJBC. Ia tidak merinci kerjasama yang ditawarkan oleh Australia selain yang telah berjalan saat ini seperti capacity building, intelejen dan lain sebagainya, mengingat permasalahan yang dihadapi oleh dua negara tidak selalu sama,dan setidaknya menurutnya, kerjasama antar dua negara adalah yang saling menguntungkan bagi dua negara baik Asutralia maupun Indonesia. Bagi Australia, masalah di perbatasan ditangani oleh Maritime Security yang terdiri dari berbagai lembaga seperti Australian Customs Service, Departement of Defence, Australian Fisheries Management Authority dan Australian Quarantine Inspection Service yang bersama-sama menangani masalah tersebut. Komando perbatasan tidak hanya mengandalkan pada keterampilan penanganan baik di laut dan udara, tapi juga membekali unit pelaksanaan operasi mereka dengan dasar yang kuat untuk melindungi perbatasan Australia baik udara maupun darat. zap

PENGAWASAN
FOTO-FOTO WBC/ATS

AGGRESSIVE DOG RESPONSE. Akan melakukan respon menggaruk pada suatu barang yang terdeteksi membawa narkoba

DETEKSI PENUMPANG. Passive dog response digunakan untuk mendeteksi narkoba yang dibawa oleh penumpang

PELATIHAN ANJING PELACAK NARKOBA,
TINGKATKAN KEMAMPUAN APN DAN DOG HANDLER

D

Jika masyarakat menggunakan anjing sebagai penjaga rumah, maka bagi beberapa instansi pemerintahan, hewan ini diperlakukan sebagai mitra kerja. Salah satunya adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

katan yang keseluruhannya berjumlah 14 orang mengingat JBC menggunakan anjing sebagai mitra untuk membantu mengungkap penyelundupan barangjumlah APN yang dimiliki DJBC yang terbatas, sehingga barang terlarang seperti narkoba yang dikirim untuk melakukan pelatihan dilakukan secara bergilir untuk mengefisienkan sarana yang ada. Mengenai perekrutan melalui berbagai sarana pengangkut seperti pesawat, kapal laut atau melalui pos, yang dog handler, Marisi menyebut beberapa tahapan seleksi dengan berbagai macam cara disembunyikan agar tidak yang harus diikuti oleh para handler seperti test aerobik, wawancara, tes narkotika dan zat adiktif terlihat atau diketahui oleh petugas maupun juga oleh alat deteksi lainnya. (Napza) dan cek kesehatan lengkap yang Menurut Kasubdit Penindakan Direktodilakukan di laboraturium yang telah ditunrat Penindakan dan Penyidikan (P2) DJBC juk oleh DJBC. Pelatihan APN ini lanjut Marisi, dilakuMarisi Zainuddin Sihotang, anjing pelacak yang dimiliki oleh DJBC masih kan sendiri oleh DJBC dengan kurikulum terbatas pada pendeteksian narkoba, dan yang dibuat sendiri oleh Dit P2,dan dilatih sangat dimungkinkan Anjing Pelacak oleh beberapa pelatih dari DJBC yang Narkoba (APN) dilatih untuk melacak bentelah mengikuti Training of Trainers APN da-benda lainnya seperti pelacakkan uang, yang diselenggarakan di Jepang dan Australia. Untuk komposisi pelatihan bahan peledak, seperti yang dilakukan oleh sendiri, DJBC memberikan porsi lebih Australian Customs Service Dog Unit. pada pelatihan praktek yang mencapai 93 Untuk meningkatkan kemampuan para persen,sementara untuk pelajaran dog handler, sebutan bagi petugas yang menakademik porsi yang diberikan sebanyak 7 dampingi APN,maupun APN sendiri, DJBC persen. Pelatihan praktek lapangan yang selalu melakukan pelatihan dan juga rekrutporsinya lebih besar dilakukan agar para men para dog handler yang berasal dari handler dan APN dapat menyesuaikan seluruh pegawai Diploma I spesialisasi Bea dengan kondisi yang ada di tempat dan Cukai di seluruh Indonesia. Untuk tahun operasional yang menjadi pekerjaan 2007, DJBC mengadakan pelatihan yang sehari-hari para dog handler dan juga APN terbagi dalam dua angkatan yaitu angkatan nantinya. XI, yang dimulai sejak 18 Juni hingga 28 SepMARISI ZAINUDDIN SIHOTANG. Pelatihan lapangan dilakukan di bebetember, dan angkatan XII, sejak 3 SeptemMengidentifikasi kebutuhan suatu rapa tempat di Jakarta seperti di Kantor ber hingga 26 Desember 2007. KPPBC akan APN dan juga dog Pelayanan dan Pengawasan Bea dan CuPelatihan ini dilakukan dalam dua ang- handler berdasarkan volume kerja
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

27

PENGAWASAN
FOTO-FOTO WBC/ATS

kai (KPPBC) SoekarnoHatta, KPPBC Pasar Baru, Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok dan KPPBC Jakarta. Sementara untuk pelatihan teori, DJBC melaksanakannya di pelatihan APN di Kantor Pusat DJBC Jakarta. Tentunya banyak yang ingin dicapai oleh DJBC khususnya Dit P2 dengan adanya pelatihan ini. Dengan adanya pelatihan ini lanjut Marisi, diharapkan mendapatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang professional dan memiliki keahlian khusus dalam mencegah peredaran geSTEVEN MANGALIK. Dibutuhkan lap narkotika dan psikotrokeseriusan untuk mengikuti pelatihan, pika, selain mengisi kekumengingat APN ini nantinya adalah rangan jumlah APN DJBC mitra kerja dalam menjalankan tugas di daerah-daerah yang rawan penyelundupan narkotika dan psikotropika, serta mengganti APN yang tidak dapat beroperasi lagi.

dalam bagasi penumpang, maka APN yang digunakan adalah jenis aggressive dog response dari jenis German Shepherd yang akan melakukan respon menggaruk jika mencium adanya barang penumpang yang berisi narkoba.

HARUS SALING MENGERTI
Asisten Instruktur APN Steven Mangalik mengatakan, untuk menjadi dog handler, dibutuhkan keseriusan untuk mengikuti pelatihan, mengingat APN ini nantinya adalah mitra kerja dalam menjalankan tugas. Dalam pelatihan ini BRAVIMAN E.TARIGAN. Dog lanjutnya, para dog handler harus bisa membangun handler akan dibimbing semangat APN oleh empat orang asisten instruktur dan satu orang instruktur untuk berlatih, mulai dari hal terkecil seperti merawat APN hingga bagaimana memperlakukan APN agar bisa bekerja sama dengan baik dengan para handlernya dan melatih untuk mencium narkoba untuk melakukan deteksi. Menurut Steven, selama ini kesulitan dalam melakukan pelatihan bagi APN maupun dog handler jarang ditemui, hanya saja mungkin yang agak sedikit masalah lanjutnya, adalah ketika menyatukan karakter APN dengan handlernya. Kesulitan ini terjadi pada saat APN tidak memiliki kemauan (drop-down) untuk berlatih bersama dengan handlernya. Untuk itu maka yang harus dilakukan pelatih dengan handlernya adalah melatih APN kembali hingga motivasi atau semangat dari APN tadi meningkat kembali. Begitu juga dengan para handler yang menurut Steven harus bisa mengendalikan APN dalam menjalankan tugasnya, jangan sampai APN tersebut terlalu agresif sehingga meresahkan, dan jangan sampai pula APN tersebut tidak dapat menjalankan tugasnya. Para dog handler, mendapat pelatihan baik untuk menangani APN jenis Aggressive Dog Response maupun juga Passive Dog Response. Salah satu peserta pelatihan dog handler yang mengikuti pelatihan APN di KP-DJBC, Braviman E Tarigan mengatakan, dirinya mengikuti pelatihan APN karena ketertarikannya pada hewan penjaga ini sejak kecil. Menurutnya kesulitan yang selalu dihadapi oleh para dog handler ketika latihan adalah ketika APN tersebut mengalami drop-down,sehingga berbagai macam cara harus dilakukannya agar APN dapat bekerja lagi. “Salah satu caranya adalah membujuknya dengan cara mengajak bermain dulu atau sekedar memujinya, nah (membujuk. red) ini salah satu materi yang kita peroleh selain pelatihan teknis lainnya,”terangnya. Braviman bersama dengan peserta latihan lainnya melatih APN dengan beberapa materi, seperti control retrieve (mengenal bau), port to port (mencari sasaran yang disembunyikan dari satu sisi ke sisi lain), dan Quartering (mengajar APN mencari sasaran dari berbagai sisi). Braviman menceritakan, terkadang APN gagal mendeteksi narkoba dalam latihan. Dan untuk itu maka pelatihan dilakukan dari awal lagi sampai APN tersebut berhasil mengidentifikasi narkoba. Kegagalan tersebut mungkin terjadi karena berbagai faktor seperti APN yang kelelahan, malas atau mungkin juga lupa.”Untuk itu dog handler harus bisa membangun semangat APN, selain dari materi yang kita peroleh, maupun juga dari cara kreatifitas dog handler sendiri,”ujar Bravirman. zap

KEBUTUHAN, BERDASARKAN VOLUME KERJA
Saat ini kebutuhan APN terbesar, berada pada KPPBC Soekarno-Hatta dan KPPBC Ngurah Rai, Bali, mengingat di dua tempat tersebut yang juga merupakan bandar udara internasional,frekuensi lalu lintas sarana pengangkut seperti pesawat udara dan lalu lintas kegiatan impor dan ekspor cukup padat, sehingga wilayah kerja dua KPPBC tersebut menjadi titik rawan penyelundupan narkotika dan psikotropika. “Jadi kami mengidentifikasi kebutuhan suatu KPPBC akan APN dan juga dog handler berdasarkan volume kerja suatu KPPBC, selain sarana yang disediakan disana bagi tim K-9 (dog handler) maupun juga APN-nya,”papar Marisi menceritakan identifikasi kebutuhan APN dan dog handler di suatu KPPBC. Jumlah APN dan juga para dog handler yang dimiliki DJBC dirasa masih belum mencukupi, mengingat luasnya wilayah yang harus diawasi dan juga beban kerja di suatu KPPBC yang tidak sama antara satu kantor dengan kantor lainnya. Saat ini DJBC memiliki 45 ekor APN yang tersebar di enam tempat yaitu di KP-DJBC, KPPBC Soekarno-Hatta, KPPBC Medan, KPPBC Batam, KPPBC Juanda dan KPPBC Ngurah Rai. APN yang dimiliki oleh DJBC masih didatangkan dari Belanda dan Australia yang banyak menghasilkan APN dari ras Labrador, German Shepard dan Cooker Spaniel yang bermutu tinggi. Hingga saat ini menurut Marisi, DJBC belum memungkinkan untuk melakukan pembiakkan sendiri terhadap APN dari jenis-jenis tadi, mengingat perlu beberapa pengkajian baik itu lokasi, dana dan lain sebagainya. “Untuk pembiakkan, DJBC perlu untuk melakukan studi banding dengan unit APN yang telah berhasil melakukan pembiakkan seperti dengan Australian Customs Service Detector Unit,dan harus melalui suatu kajian yang cukup panjang,”jelasnya. Marisi mengatakan, ada dua macam perlakuan yang dilakukan oleh APN baik kepada penumpang maupun juga barang bagasi penumpang dalam melakukan pendeteksian terhadap barang bawaan dalam bagasi yang diduga membawa narkoba. Untuk mendeteksi penumpang, maka APN yang digunakan adalah passive dog response dari jenis Labrador ,dimana APN hanya akan duduk disamping orang yang membawa narkoba tanpa melakukan kegiatan lainnya. Sedangkan untuk mendeteksi narkoba yang disimpan 28
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

REGISTRASI IMPORTIR DAN AUDIT KEPABEANAN
Melalui kegiatan registrasi, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dapat memastikan bahwa pengguna jasa kepabeanan yang akan melakukan impor jelas alamatnya, jelas pengurus dan penanggung jawab perusahaannya, jelas kegiatan usahanya, serta kepastian menyelenggarakan pembukuan yang dapat diaudit.
tahun 2003 melalui keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan nomor 527/KMK.04/2002 dan nomor 819/MPP/Kep/12/2002 tanggal 30 Desember 2002 tentang tertib administrasi importir. Selain itu ada juga keputusan bersama Direktur Jenderal Bea dan Cukai dan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, nomor Kep-03/BC/2003 dan nomor 01/DAGLU/KP/I/2003 tanggal 17 Januari 2003 tentang petunjuk teknis pelaksanaan tertib administrasi importir,” jelas Aziz. Lebih lanjut Aziz menjelaskan, diterbitkannya keputusan bersama tersebut merupakan bentuk keprihatinan kedua instansi karena masih terdapat importir yang dalam menjalankan usahanya tidak fair dengan menggunakan alamat yang tidak jelas (fiktif), pengurus dan penanggung jawab perusahaan tidak jelas, kegiatan usaha tidak jelas, dan melanggar pasal 49 UU no.10 tahun 1995, yaitu tidak menyelenggarakan pembukuan yang dapat diaudit. Sehingga dengan adanya kegiatan registrasi, DJBC dapat memastikan bahwa pengguna jasa kepabeanan yang melakukan kegiatan impor jelas alamatnya, jelas pengurus dan penanggung jawab perusahannya, jelas kegiatan usahanya, serta kepastian menyelengarakan pembukuan yang dapat diaudit.

T

erkait dengan pemberitaan di media massa yang sebelumnya memberitakan tentang registrasi importir dan audit kepabeanan, WBC mencoba mengetahui kedua kebijakan tersebut lebih lanjut sambil menguraikan perbedaan antara registrasi importi dan audit kepabenan yang lama dengan kebijakan yang baru tersebut. Menurut Kepala Subdirektorat Perencanaan Audit, Aziz Syamsu Arifin, latar belakang dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan nomor: 124/PMK.04/2007 tanggal 5 Oktober 2007 tentang registrasi importir adalah, dalam rangka melaksanakan amanat pasal 6A Undang-Undang nomor 17 tahun 2006 tentang perubahan Undang-Undang nomor 10 tahun 1995 tentang kepabeanan, yang menyebutkan bahwa: “Orang yang akan melakukan pemenuhan kewajiban pabean wajib melakukan registrasi ke DJBC untuk mendapat nomor identitas dalam rangka akses kepabeanan” dan “pengaturan lebih lanjut tentang registrasi ini dilakukan melalui peraturan Menteri Keuangan”. Selain itu, dengan semakin berkembangnya penggunaan teknologi informasi dalam kegiatan kepabeanan, diperlukan adanya sarana untuk mengenali pengguna jasa kepabeanan melalui nomor identitas pribadi yang diberikan DJBC. Dengan nomor identitas pribadi tersebut, dimaksudkan bahwa hanya orang yang memiliki nomor identitas tersebut yang dapat mengakses atau berhubungan dengan sistem teknologi informasi kepabeanan. Cara memperoleh nomor identitas pribadi tersebut dilakukan dengan registrasi. “Sebenarnya registrasi importir sudah dilakukan DJBC sejak

TUJUAN REGISTRASI IMPORTIR
Terkait dengan perbedaan antara registrasi yang lama dengan registrasi yang baru ini, Aziz menjelaskan, secera umum proses registrasi tidak ada perubahan, yaitu mengajukan permohonan registrasi importir melalui website DJBC, kemudian dilakukan penelitian administrasi oleh komputer DJBC, setelah itu dilakukan pemeriksaan lapangan oleh petugas dari Kantor Wilayah DJBC, dan dilakukan analisis oleh petugas analisis Direktorat Audit. Namun terdapat beberapa perbedaan yang signifikan, yang dapat dilihat pada tabel Perbedaan Registrasi Lama dengan Registrasi baru. (Lihat Tabel) “Sesuai dengan pasal 14 Permenkeu nomor 124/PMK.04/ 2007 maka, Surat Pemberitahuan Registrasi (SPR) importir yang dimiliki sebelum berlakunya Permenkeu ini, maka diberlakukan sebagai Nomor Identitas Kepabeanan (NIK). Dengan demikian, importir yang sudah memperoleh SPR tidak perlu melakukan registrasi kembali,” ujar Aziz. Namun, Aziz menambahkan, bagi yang sudah mengajukan permohonan tetapi belum memperoleh SPR sampai dengan di-

REGISTRASI IMPORTIR SUDAH ADA SEJAK 2003

PERBEDAAN REGISTRASI LAMA DENGAN REGISTRASI BARU
REGISTRASI LAMA 1. Pelaksanaan registrasi oleh DJBC, dan verifikasi dan evaluasi oleh Ditjen Daglu. 2. Importir yang telah memenuhi syarat registrasi diberikan surat pemberitahuan registrasi. 3. Tidak ada standar penilaian untuk menilai data pada formulir isian. 4. Pemblokiran importir yang tidak melakukan kegiatan kepabeanan 12 bulan berturut-turut diatur dalam peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. R E G I S T R A S I B A R U 1. Pelaksanaan registrasi seluruhnya dilaksanakan oleh DJBC. 2. Importir yang telah memenuhi syarat registrasi diberikan nomor identitas importir (NIK) 3. Terhadap data pada formulir isian diberikan penilaian sesuai dengan standar penilaian yang ditetapkan oleh DJBC. 4. Terhadap importir yang telah mendapatkan NIK sewaktu-waktu dapat dilakukan penelitian dan penilaian kembali. 5. Pemblokiran NIK diatur dalam peraturan Menteri Keuangan dan NIK diblokir apa bila : a. 12 bulan berturut-turut, importir tidak melakukan kegiatan impor, b. Hasil penelitian dan penilaian kembali terhadap importir yang telah memiliki NIK kedapatan eksistensi dan identitas pengurus dan penanggung jawab tidak sesuai, API/APIT habis masa berlakunya, dan tidak menyelenggarakan pembukuan. 6. Pencabutan NIK diperluas dengan tambahan apabila dalam waktu 3 bulan setelah dilakukan pemblokiran importir tidak memperbaiki data/dokumen maka NIK akan dicabut.
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

29

PENGAWASAN
berlakukannya Permenkeu tersebut pada 1 Desember 2007, maka bagi yang telah memenuhi syarat regitrasi akan diberikan NIK. Akan tetapi tujuan utama registrasi importir tersebut bukan semata-mata untuk mengeluarkan NIK, menurut Aziz, registrasi importir adalah kegiatan pendaftaran yang dilakukan importir kepada DJBC untuk mendapatkan NIK. NIK merupakan salah satu sarana untuk mengenali pengguna jasa kepabeanan, hanya yang mempunyai NIK lah yang dapat mengakses atau berhubungan dengan sistem teknologi informasi kepabeanan. “Tujuan utama registrasi importir adalah, terjaminnya hak-hak negara, karena pengguna jasa kepabeanan yang melakukan impor memiliki alamat yang jelas, pengurus dan penanggung jawab yang jelas, jenis usaha yang jelas, dan menyelenggarakan pembukuan yang dapat diaudit, sehingga apabila terdapat hakhak negara yang kurang dibayar oleh importir dapat dilakukan penagihan sesuai ketentuan,” jelas Aziz. Dengan adanya perbedaan antara kebijakan lama dengan yang baru tentang registrasi importir, untuk tahapan yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk dapat melakukan registrasi importir sesuai dengan kebijakan baru, terdapat lima tahap yang harus dilaluinya. Namun sebelum menjalankan kelima tahap tersebut, perlu ditekankan bahwa, importir yang dapat melakukan registrasi adalah importir yang sudah memiliki angka Pengenal Importir (API) atau Angka pengenal Importir Tertentu (APIT), yang dikeluarkan oleh instansi teknis terkait. Adapun lima tahap yang harus dijalankan oleh importir untuk melakukan registrasi setelah memperoleh API atau APIT adalah : 1. Tahap pengajuan permohonan. Importir mengajukan permohonan dengan cara mengisi formulir isian registrasi dan menyampaikannya melalui website DJBC (formulir isian dan tatacara registrasi dapat di download dari website tersebut), 2. Tahap penelitian administratif oleh komputer DJBC, yaitu untuk menguji kelengkapan dan kebenaran pengisian formulir isian, 3. Tahap pemeriksaan lapangan oleh petugas dari Kantor Wilayah DJBC, yaitu untuk menguji kebenaran pengisian formulir isian dengan dokumen-dokumen perusahaan yang menjadi dasar pengisian formulir isian, 4. Tahap penelitian administratif oleh petugas analis di Kantor Pusat DJBC, yaitu untuk menguji eksistensi, identitas pengurus dan penanggung jawab, jenis usaha, dan
FOTO-FOTO WBC/ATS

kepastian penyelenggaraan dengan cara membandingkan data formulir isian yang diajukan oleh importir dengan hasil pemeriksaan lapangan. “Untuk saat ini masih diterapkan registrasi importir dengan ketentuan yang lama, karena ketentuan yang baru akan diberlakukan mulai tanggal 1 Desember 2007. Sementara itu untuk jumlah importir yang saat ini sudah diregistrasi adalah sebanyak 16.458 importir,” jelas Aziz

AUDIT KEPABEANAN
Lalu, bagaimana dengan kebijakan baru tentang audit kepabeanan, apakah juga sama halnya dengan registrasi importir yang memiliki perbedaan antara kebijakan lama dengan yang baru? Menurut Aziz, dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan nomor 125/PMK.04/2007 tentang Audit Kepabeanan, adalah dalam rangka melaksanakan amanat pasal 86 UU nomor 17 tahun 2006, yang menyebutkan bahwa: “Pejabat bea dan cukai berwenang melakukan audit terhadap orang yang bertindak sebagai importir, eksportir, pengusaha tempat penimbunan sementara, pengusaha tempat penimbunan berikat, pengusaha jasa kepabeanan, atau pengusaha pengangkutan” dan “pengaturan lebih lanjut tentang tatacara pelaksanaan audit kepabeanan dilakukan melalui peraturan Menteri Keuangan.” “Sebenarnya DJBC sudah melakukan audit kepabeanan sejak tahun 1996 berdasarkan pasal 86 UU nomor 10 tahun 1996, dan peraturan pelaksanaannya melalui keputusan Menteri Keuangan nomor 489/KMK.05/1996 tentang pelaksanaan audit di bidang kepabeanan. Dengan demikian, secara umum tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan audit, namun ada beberapa hal baru yang diatur dalam kebijakan tersebut,” ungkap Aziz. Terhadap beberapa perbedaan antara kebijakan yang baru dengan yang lama, Aziz menjelaskan ada empat hal, diantaranya : 1. Jenis audit dibedakan menjadi audit umum, audit khusus, dan audit investigasi. Audit umum adalah, audit kepabeanan yang memiliki ruang lingkup pemeriksaan secara lengkap dan menyeluruh terhadap pemenuhan kepabeanan. Audit khusus adalah, audit kepabeanan yang memiliki ruang lingkup pemeriksaan terhadap pemenuhan kewajiban kepabeanan tertentu. Dan, audit investigasi adalah, audit kepabeanan yang dilakukan untuk menyelidiki dugaan tindak pidana kepabeanan. 2. Audit dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan instansi lain, 3. Kewenangan tim audit dan kewajiban auditee 4. Pengecualian untuk tidak menyusun daftar temuan sementara (DTS) untuk pelaksanaan audit khusus yang dilakukan dalam rangka keberatan atas penetapan pejabat bea cukai dan audit investigasi. Dengan demikian maka ada tiga tahapan yang akan dijalankan dalam pelaksanaan audit, yaitu : a. Tahap perencanaan, meliputi antara lain menyusun daftar rencana obyek audit melalui risk management untuk diaudit yang dilakukan secara terencana dan menetapkan skala prioritas untuk melaksanakan audit secara insidentil, menyusun tim audit, mempersiapkan surat tugas, melakukan pengumpulan dan analisis data, dan membuat rencana kerja audit. b. Tahap pelaksanaan, meliputi antara lain penyampaian surat tugas dan melakukan observasi, mengumpulkan data dan informasi, menyusun kertas kerja audit, menyusun daftar temuan sementara, dan melakukan pembahasan hasil audit dengan auditee. c. Tahap pelaporan, meliputi antara lain membuat laporan hasil audit dan tindak lanjutnya.

KEUNTUNGAN DENGAN ADANYA REGISTRASI IMPORTIR DAN AUDIT KEPABEANAN
REGISTRASI IMPORTIR. Dengan dilakukannya registrasi importir, maka kejelasan akan jenis usaha semakin mudah diketahui.

Dengan dijalankannya kedua kebijakan yang kini telah diperbaharui tersebut, DJBC juga memiliki keuntungan. Beberapa

30

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

SKEMA PENGAWASAN. Registrasi importir dan audit kepabeanan, keduanya masuk dalam skema pengawasan yang dilakukan DJBC.

AUDIT KEPABEANAN. Audit kepabeanan sudah dilakukan sejak tahun 1995, bahkan untuk kawasan berikat sudah dilaksanakan sejak tahun 1994.

keuntungan dengan adanya audit kepabeanan antara lain : a. DJBC dapat menerapkan risk management dalam pelayanan kepabeanan di bidang impor maupun ekspor, sehingga DJBC dapat menerapkan pemeriksaan pabean secara selektif, b. DJBC dapat menguji tingkat kepatuhan pengguna jasa kepabeanan atas pemenuhan ketentuan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan ketentuan perundang-undangan lainnya yang terkait dengan kepabeanan, c. Mengamankan penerimaan negara di sektor bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Sementara itu, beberapa keuntungan DJBC dengan adanya kebijakan registrasi importir adalah : a. DJBC dapat mengenali pengguna jasa kepabeanan dengan lebih baik, sehingga dapat disusun profil pengguna jasa kepabeanan dengan lebih akurat, b. DJBC dapat memberikan tingkat pelayanan dan pengawasan yang lebih tepat pada masing-masing pengguna jasa kepabeanan, c. DJBC dapat menjamin pemenuhan hak-hak negara, karena pengguna jasa kepabeanan yang melakukan kegiatan impor jelas alamat, pengurus dan penanggung jawabnya, jenis usahanya, dan auditable, d. DJBC dapat menciptakan iklim perdagangan yang sehat (fair trade). “Registrasi importir dan audit kepabeanan keduanya juga masuk dalam skema pengawasan yang dilakukan DJBC saat ini, karena registrasi importir merupakan salah satu bagian dari pengawasan pada tahap barang impor sebelum masuk ke dalam kawasan pabean dengan cara mengenali terlebih dahulu pengguna jasa kepabeanan yang akan melakukan kegiatan kepabeanan,” ungkap Aziz. Sementara itu untuk audit kepabeanan, Aziz menyatakan juga merupakan salah satu pengawasan barang impor setelah keluar dari kawasan pabean melalui pemeriksaan laporan keuangan, buku, catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan, dan surat yang berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk data elektronik, serta surat yang berkaitan dengan kegiatan di bidang kepabeanan dan/atau sediaan barang. Dengan demikian menurut Aziz, pengawasan di bidang kepabeanan meliputi tiga tahap, yaitu : 1. Pengawasan pada tahap sebelum barang impor masuk ke dalam kawasan pabean, 2. Pengawasan pada tahap pemenuhan kewajiban pabean di kawasan pabean, dan 3. Pengawasan pada tahap setelah barang impor keluar dari kawasan pabean.

Dengan dikeluarkannya kedua kebijakan tersebut, DJBC menurut Aziz akan melakukan sosialisasi terhadap kedua kebijakan ini. Hal ini menurutnya, audit kepabeanan yang telah dilaksanakan sejak tahun 1995, bahkan untuk kawasan berikat yang dulu disebut Enterpot Produksi untuk Tujuan Ekspor (EPTE), telah dilaksanakan lebih awal yaitu mulai tahun 1994. Sementara itu untuk registrasi importir, telah dilaksanakan sejak tahun 2003, sehingga pengguna jasa telah mengetahui bagaimana audit kepabeanan maupun registrasi importir. Apabila dirasa perlu untuk mensosialisasikan hal-hal yang baru dalam pelaksanaan kedua Permenkeu tersebut, maka akan dilakukan sosialisasi baik secara langsung kepada para pengguna jasa atau pun secara tidak langsung melalui website.

HAMBATAN REGISTRASI IMPORTIR DAN AUDIT KEPABEANAN
Namun demikian Aziz mengungkapkan, hingga kini DJBC juga masih mengalami hambatan dalam melaksanakan kedua kebijakan tersebut, antara lain, kurangnya sumber daya manusia. Untuk pelaksanaan kegiatan registrasi importir dan audit kepabeanan, pegawai yang diperlukan adalah pegawai DJBC yang sudah memiliki keahlian sebagai auditor. Saat ini pegawai DJBC yang sudah memiliki keahlian sebagai auditor masih sangat terbatas sehingga pelaksanaan kedua kebijakan tersebut belum optimal. Selain itu, sarana dan prasarana antara lain program aplikasi registrasi yang masih menggunakan program dari vendor, sehingga apabila terjadi perubahan atau gangguan pada aplikasi, DJBC tidak dapat dengan serta merta melakukan perubahan, hal ini dapat berdampak kepada pelayanan registrasi importir menjadi kurang optimal. Hambatan lainnya, masih adanya importir yang belum sepenuhnya melaksanakan kedua peraturan tersebut, antara lain tidak memberitahukan perubahan alamat dan atau pengurus dan penanggung jawab perusahaan kepada DJBC, tidak melaksanakan pembukuan secara konsisten, belum melaksanakan pembukuan sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan masih melakukan pencatatan secara manual sehingga menimbulkan kesulitan pada saat melakukan audit kepabeanan. “Dengan adanya kedua kebijakan yang baru untuk registrasi importir dan audit kepabeanan, DJBC berharap sesuai dengan kebijakan World Customs Organization (WCO), DJBC mampu berperan ganda dimana satu sisi dapat memperlancar arus perdagangan antar negara dengan menyederhanakan, mengharmoniskan, dan menstandarisasikan prosedur kepabeanan,” ujar Aziz. Dan disisi lainnya Aziz juga berharap dengan kedua kebijakan ini, dapat mengamankan penerimaan negara dalam bentuk bea masuk, cukai dan pungutan impor lainnya, serta dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap masuknya barang larangan dan pembatasan. adi
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

31

PENGAWASAN
WBC/ATS

KONFERENSI PERS. Menkeu (tengah) didamping (dari ki-ka) Kepala KPU Agung Kuswandono, Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, Sekjen Depkeu Mulya P. Nasution dan Irjen Depkeu Permana Agung, memaparkan evaluasi KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok melalui konferensi pers

KUNJUNGAN MENKEU KE KPU BEA DAN CUKAI TANJUNG PRIOK
Sejak dibentuknya KPU Tanjung Priok, terjadi peningkatan kinerja pelayanan, pengawasan dan penerimaan.

M

enteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beserta rombongan yang terdiri dari Sekjen Departemen Keuangan,Irjen Departemen Keuangan dan Kabiro Humas Departemen Keuangan pada Kamis 8 November 2007 melakukan peninjauan ke Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok khususnya ke beberapa lokasi unit terminal peti kemas dan tempat penimbunan pabean untuk melihat hasil tegahan yang dilakukan aparat KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok. KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok sebelumnya berhasil menegah tiga unit mobil mewah eks kedutaan besar, merek Lamborghini dengan perkiraan nilai Rp. 3,8 miliar, Rolls Royce Phantom diperkirakan senilai Rp. 6 miliar, dan Ferrari yang diperkirakan senilai Rp. 2 miliar, dan berpotensi merugikan Negara hingga Rp. 9,3 miliar. Ketiga mobil tersebut berada di tempat penimbunan sementara (TPS) yang diperuntukkan bagi barangbarang yang tidak diambil lebih dari 30 hari. Dalam peninjauan ke sejumlah lokasi tegahan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, yaitu di Unit Terminal Peti Kemas (UTPK) impor dan UTPK Ekspor, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pihaknya akan menertibkan penggunaan fasilitas diplomatik dalam proses impor kendaraan mewah. Dalam empat
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

tahun terakhir (2003-2007) sebanyak 208 mobil mewah diimpor secara ilegal dengan menyalahgunakan fasilitas diplomatik. Pada kesempatan yang sama, KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, juga memperlihatkan hasil tegahan berupa 82 kendaraan berat bekas (tanker truck, cargo truck, freezer truck, dump truck serta self leader) yang diperkirakan senilai Rp. 5 miliar. “Dalam dokumen PIB, kendaraan truk tadi diberitahukan untuk Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias. Ketika dikonfirmasi ke BRR ternyata mereka tidak membutuhkan mobil jenis itu lagi,” ujar Menkeu. Disamping itu juga ada tegahan 35 unit mobil Isuzu DMax WD 3-OTD asal Jepang yang dalam dokumen pemberitahuan impor barang (PIB) dilaporkan sebagai ambulan. Terhadap ke-35 unit kendaraan niaga ini sedang dalam proses identifikasi dan pemanggilan pihak yang terkait untuk kepentingan klarifikasi status barang. Sebelumnya juga dilaporkan aparat bea cukai telah melakukan penegahan terhadap jenis komoditi meat bone meal yang diberitahukan sebagai “bird feed” sebanyak 112 kontainer ukuran 20 feet dengan perkiraan nilai sebesar Rp. 5.074.365.000 dengan kerugian immaterialnya adalah bahaya penyebaran virus berbahaya seperti flu burung dan anthrax juga penyegelan tabung

32

WBC/ATS

gas kapasitas 3 kg sebanyak 14.688 buah dengan perkiraan nilai sebesar Rp. 658. 296.000 dan LPG valve (kompor gas) sebanyak 30.000 buah yang diperkirakan bernilai Rp. 513.000.000. Selain itu, dengan modus pemberitahuan secara tidak benar, aparat menegah sebanyak 28.800 meter coaxial cable dan connector dengan nilai barang diperkirakan mencapai Rp. 755.119.000. Setelah meninjau tegahan di unit terminal peti kemas untuk komoditi impor, Menkeu yang didampingi oleh Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, Kepala KPU Tanjung Priok, Agung Kuswandono, dan jajaran pejabat eselon II Kantor Pusat Bea dan Cukai serta eselon III KPU Tanjung Priok, selanjutnya menuju ke unit terminal peti kemas tujuan ekspor. Di tempat ini diperlihatkan tegahan sebanyak 21 kontainer (20 feet) kayu gelondongan jenis ebony yang dilarang untuk di ekspor dengan perkiraan nilai barang sebesar Rp. 21.920.000.000. Juga tegahan sebanyak 9 kontainer (20 feet) rotan yang dilarang di ekspor yang nilainya diperkirakan mencapai Rp. 1.099.917.000. Di aula X-ray Container, selanjutnya Menkeu melakukan konferensi pers. Dalam pernyataan persnya, ia menegaskan kembali bahwa keberadaan KPU di Tanjung Priok, merupakan kantor pelayanan utama yang dibentuk sebagai awal TEGAHAN TRUK. Tampak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati didampingi Kepala KPU Agung proyek percontohan dalam upaya melakukan Kuswandono di tengah-tengah truk dan kendaraan berat yang menyalahi prosedur Kepabeanan pembenahan di tubuh Bea dan Cukai terutama di dalam hubungannya dengan fungsi Bea dan Cukai yaitu melayani menandatangani Pakta Integritas sebagai dasar bahwa mereka agar arus barang masuk dan keluar Indonesia benar-benar berdabenar-benar berniat membangun lembaga Bea dan cukai yang sarkan dokumen dan proses yang legal. melayani masyarakat usaha dengan prima dan taat kepada “Hal ini dilakukan semata-mata untuk melindungi kepentinghukum dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. an dan kebutuhan perekonomian Indonesia yang harus dijaga Kepada pegawai yang tidak mampu atau tidak mau menegakkan dari kepentingan sekelompok pihak yang merugikan. Terkait dekomitmen yang sudah disepakati akan berhadapan dengan ngan yang telah kita tinjau tadi, ada berbagai barang yang masuk Bidang Kepatuhan Internal KPU. ke Indonesia menggunakan dokumen palsu yang menyampaiKPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, mulai dicanangkan pada kan barangnya A ternyata isinya B, misalnya mobil panther yang 1 Juli 2007 setelah melalui masa percobaan dua bulan diimpor secara built in dari Jepang diakui oleh importinya sebagai sebelumnya. Dan hasilnya cukup menggembirakan. Selain ambulan. Padahal impor truk dan mobil bekas tidak diizinkan lagi meningkatnya kinerja pelayanan dan pengawasan di wilayah ini, masuk ke Indonesia, “ ungkap Menkeu. pemenuhan target penerimaan untuk kantor ini menunjukkan peningkatan. Tercatat, realisasi penerimaan bea masuk KPU PENGAWASAN EKSTERNAL DAN INTERNAL Tanjung Priok dari Januari hingga Oktober 2007 mencapai Rp. Selain melakukan pengawasan eksternal untuk meya6,85 triliun. Menurut Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, kinkan bahwa importir telah mematuhi aturan yang berlarealisasi itu lebih tinggi Rp. 1,8 triliun dibandingkan periode yang ku, Bidang Kepatuhan Internal Bea dan Cukai terus melasama tahun sebelumnya sebesar Rp. 5 triliun. ris kukan pembenahan di dalam lingkungan WBC/ATS KPU Tanjung Priok. Disela-sela mendampingi Menkeu, Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengungkapkan, sampai saat ini satu pejabat fungsional pemeriksa dokumen dalam proses penjatuhan hukuman disiplin berat, selain itu, enam orang staf hanggar dan satu orang pejabat pemeriksa barang dalam proses pemeriksaan, terkait dengan kasus pungutan liar. Sementara itu, satu orang staf administrasi sedang menjalani proses penjatuhan hukuman terkait tindakan indisipliner dan 17 orang pejabat pemeriksa barang dalam proses penjatuhan hukuman disiplin terkait dengan kasus sebelum dibentuknya KPU. Sebagaimana diketahui, SDM yang ada di KPU merupakan hasil seleksi dari 11.000 pegawai Bea dan Cukai, sekitar 4000 mengkuti test ulang, dan 1800 orang dinyatakan lulus untuk menjadi pegawai KPU di beberapa kantor Bea dan Cukai yang akan di KPU-kan, diantaranya 900 orang kini ditempatkan di KPU Tanjung Priok. FERRARI. Menteri Keuangan menunjuk mobil Ferrari yang di tegah KPU Bea dan Cukai Setiap pegawai KPU Tanjung Priok wajib Tanjung Priok
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

33

PENGAWASAN
WBC/ATS

PRESS RELEASE. Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi dan Direktur P2 Heru Santoso, memaparkan beberapa kasus kepabeanan dan cukai yang berhasil diungkap DJBC.

KINERJA DJBC TUNJUKKAN PENINGKATAN
Kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) baik dari sektor pengawasan, penerimaan negara dan juga pengajuan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) untuk tahun 2007 mengalami peningkatan jika dibandingan dengan tahun 2006 sebelumnya.
2007 selama kurun waktu Januari hingga Agustus, jumlah PIB yang masuk dan berhasil dilayani mencapai 376.841 dokumen. Begitu juga dengan penerimaan Bea Masuk (BM). Menurutnya BM pada periode Januari hingga Agustus 2006 mencapai Rp.7,693 triliun, sementara itu untuk periode yang sama tahun 2007 penerimaan BM telah mencapai Rp.10,563 triliun. Hal-hal tadi lanjut Anwar, merupakan upaya yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal yang dipimpinnya untuk memenuhi aspirasi masyarakat untuk menjalankan fungsi sebagai trade facilitator, community protector dan fungsi penegakkan hukum. Selain itu DJBC lanjutnya, memiliki komitmen secara berkesinambungan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan internal seperti yang diamanatkan dalam amandemen Undang-Undang Kepabeanan dan Undang-Undang Cukai. “Upaya tersebut bertujuan untuk merevitalisasi sistem pelayanan dan pengawasan seluruh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) yang bermuara pada peningkatan penerimaan negara. Mengenai pengawasan, Anwar mengatakan, penegakkan hukum dibidang kepabeanan dan cukai pada 2007 mendapat porsi yang signifikan, selain kegiatan penegakkan hukum yang telah rutin dilakukan sebagai implementasi dari amandemen Undang-Undang Kepabeanan dan Cukai. Pada Undang-Undang Kepabeanan yang telah diamandemen lanjutnya, DJBC diberi kewenenangan untuk melakukan pengawasan perdagangan antar pulau, karena perdagangan model tersebut menjadi salah satu modus tindak pidana penyelundupan barang-barang dari dan ke luar negeri.

D

irektur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, pada acara press release tegahan kasus-kasus terkini di bidang kepabeanan dan cukai di Kantor Pusat DJBC,10 Oktober 2007 mengatakan, peningkatan tersebut merupakan salah satu wujud perbaikan citra dan komitmen keterbukaan DJBC kepada masyarakat. Menurutnya, kinerja dalam bidang penegahan pada tahun 2007 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dimana tahun 2006 pada periode bulan Januari hingga Desember, terjadi penegahan kasus pelanggaran kepabeanan dan cukai yang mencapai 429 kasus. Sedangkan tahun 2007 sejak bulan Januari hingga Agustus, tercatat 1532 kasus pelanggaran kepabeanan dan cukai yang berhasil ditangkap atau ditangani oleh DJBC. Begitu juga dengan potensi nilai kerugian negara yang dapat diselamatkan. Menurut Anwar, pada tahun 2006 secara keseluruhan kerugian negara yang dapat diselamatkan sebesar Rp.25,218 miliar, sedangkan pada tahun 2007 sejak Januari hingga Agustus 2007 potensi kerugian negara yang dapat diselamatkan mencapai Rp. 88,412 miliar. Tidak hanya itu, Anwar juga membandingkan data Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang masuk tahun 2006 dan 2007. Pada periode Januari hingga Desember 2006, PIB yang masuk dan dilayani sebanyak 451.101 PIB. Sedangkan untuk tahun
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

BEBERAPA KASUS KEPABEANAN DAN CUKAI TERKINI
Pada kesempatan tersebut, Direktur Pencegahan dan Penyidikan (P2) DJBC Heru Santoso memaparkan tiga kasus pelanggaran kepabeanan dan satu kasus pelanggaran cukai. Kasus-

34

kasus pelanggaran kepabeanan yang Perbaikan Kinerja DJBC Selama Periode 2006-2007 berhasil diungkap lanjut Heru, adalah dari Beberapa Indikator Kinerja penyalahgunaan fasilitas kawasan berikat yang dimiliki oleh PT Hanin Nusa Mulya yang berlokasi di kawasan Citeureup Bogor, dimana 1245 garment dikeluarkan dari kawasan berikat ke ruko dikawasan Cempaka Mas dan gudang UD. Berkat Abadi di kawasan Tambun Bekasi tanpa menyelesaikan formalitas kepabeanan. Kasus yang diungkap pada 2728 Juni 2007 tersebut, menimbulkan kerugian negara mencapai Rp.356.000.000 dengan nilai barang yang diperkirakan sebesar 1 milyar rupiah. Kasus tersebut melanggar pasal 102 huruf F Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 (UU No.17/ 2006) tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, dengan SUMBER DJBC sanksi pidana paling sedikit satu tahun dan paling lama sepuluh tahun. Tidak hanya itu,pelaku diungkap selama periode April hingga Oktober 2007, juga dikenakan pidana denda paling sedikit Rp.50 juta dan pihaknya lanjut Heru, berhasil menegah sebanyak 42.0009 botol dan kaleng Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) paling banyak Rp.5 miiliar rupiah. Kasus tersebut lanjut Heru dari 44 outlet atau tempat penjualan eceran, subdistributor kini masih dalam proses penyelidikan. dan distributor, dimana MMEA tersebut tidak dilekati pita Kasus kepabeanan lainnya yang berhasil diungkap, adalah penegahan terhadap pengeluaran kontainer yang berisi cukai, menggunakan pita cukai palsu dan salah melekatkan fabric (kain) yang berjumlah 3729 roll dengan menggunakan pita cukai. Pengungkapan terhadap pelanggaran cukai dokumen BC 2.3 Nomor 130.251 yang diduga kuat palsu atau tersebut, berhasil menyelamatkan kerugian negara dari sektor cukai sebesar Rp.840.180.000 dan BM serta PDRI dipalsukan. Kerugian keuangan negara dari sektor BM dan sebesar Rp.5.907.515.625 dengan nilai barang diperkirakan PDRI yang berhasil diselamatkan pada penegahan tanggal Rp.2.100.450.000. 28 Juni 2007, mencapai Rp.282.000.000 dengan nilai barang diperkirakan sebesar Rp.960.000.000. Kasus tersebut melanggar pasal 54 dan pasal 56 Kasus yang kini dalam proses penyelidikan tersebut lanjut Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai, dimaHeru, melanggar pasal 103 huruf a UU No.17/2006, dimana na pelaku dikenai pidana denda paling banyak sepuluh kali nilai cukai yang seharusnya dibayar, dan pidana penjara papelaku dapat dipidana penjara paling singkat dua tahun dan ling lama empat tahun dan atau denda paling banyak sepuluh paling lama delapan tahun dan atau pidana denda paling kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. Ke-44 kasus sedikit 100 juta rupiah dan paling banyak 5 miliar rupiah tersebut, 20 diantaranya telah diserahkan kepada jaksa Pelanggaran kepabeanan juga berhasil ditegah di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 10 Juni 2007 di penuntut umum dan sembilan diantaranya telah P-21. terminal kedatangan 1A. Heru memaparkan, petugas bea Sedangkan 24 kasus lainnya masih dalam proses penyidikan pada tahap pemberkasan. zap cukai bandara ketika itu menegah lima koper barang bawaan penumpang dan dua buah karton WBC/ATS yang berisi Handphone merk Nokia berjumlah 1778 pieces dari berbagai macam tipe. Modus yang digunakan pelaku adalah dengan memasukkan barang impor melalui pelabuhan lain tanpa melalui prosedur kepabeanan yang berlaku dengan tujuan akhir Jakarta. Kerugian negara yang berhasil diselamatkan dari kegiatan illegal tersebut, baik dari sektor BM dan PDRI sebesar Rp.831.215.000 dengan nilai barang yang diperkirakan sebesar Rp.356.000.000. Kasus tersebut kini masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut petugas. Kasus tersebut melanggar pasal 104 huruf a UU No.17/2006, dimana pelaku dapat dikenakan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama tiga tahun. Tidak hanya itu pelaku juga dikenai pidana denda paling sedikit lima ratus juta rupiah dan paling banyak tiga miliar rupiah. Sementara pada kasus pelanggaran dibidang cukai yang berhasil MMEA ILLEGAL. Berhasil ditegah petugas dari 44 outlet di Jakarta da sekitarnya.
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

35

PENGAWASAN

SINDIKAT PITA CUKAI PALSU
DIBONGKAR APARAT BEA DAN CUKAI Dibongkar jaringan pembuat, penjual, pembeli pita cukai hasil tembakau dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) palsu

WBC/ATS

P

restasi kembali diraih aparat Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jakarta. Setelah sebelumnya pada pertengahan Oktober 2007 berhasil menegah pita cukai palsu senilai 4,5 milyar rupiah, kini aparat kembali membongkar sindikat pembuatan pita cukai palsu, sekaligus penjual dan pembelinya. Terbongkarnya sindikat pemalsu pita cukai tersebut berawal dari tertangkapnya ED dan kawan-kawan di daerah Poncol pada 10 Oktober 2007. Dari tangan para tersangka, aparat bea cukai mendapatkan barang bukti berupa pita cukai palsu untuk Hasil Tembakau (HT) beserta mesin cetaknya, demikian ungkap Pjs Kepala Kanwil Bea dan Cukai Jakarta, Adam Rudy Kembuan. Dari temuan itu, lanjut Rudy, Kanwil DJBC Jakarta mengembangkan penyelidikan tentang adanya percetakan lain yang melakukan tindak pidana yang sama. Berdasarkan informasi dari masyarakat maka dilakukanlah operasi intelijen pada 29 Oktober 2007 pukul 20.00 wib dan berhasil menangkap pelaku KK dan KY di daerah Ancol Jakarta Utara. Dari hasil pengungkapan kasus tersebut berhasil ditegah sebanyak lima rim (500 lembar) yang masing-masing rim berisi 24 keping (total sebanyak 600.000 keping ) pita cukai palsu MMEA golongan B2 yang perkepingnya bernilai Rp. 30.000 per liter. Dengan total potensi kerugian negara sebesar Rp. 1,8 miliar. Lebih lanjut menurut Adam Rudy, modus yang digunakan pelaku dalam hal ini adalah mencetak pita cukai palsu dengan menggunakan kertas HVS berperekat (stiker) dan dibuat sedemikian mirip dengan pita cukai aslinya.

BARANG BUKTI, berupa pita cukai palsu yang berhasil ditegah aparat bea dan cukai Kanwil DJBC Jakarta.

PENGUNGKAPAN KASUS
Dari pengembangan kasus hasil tangkapan pada 29 Oktober 2007 pukul 20.00 wib, masih pada hari yang sama tengah malam tepatnya pukul 00.00 wib petugas bea cukai melakukan penggeledahan dan penindakan di percetakan “GRD” daerah Jakarta Pusat. Dalam penggerebekan itu para pekerja percetakan tertangkap tangan sedang melakukan operasinya. Dan ditemukan barang bukti berupa dua buah mesin cetak yang salah satunya sedang beroperasi mencetak pita cukai palsu dan pita cukai WBC/ATS palsu yang telah jadi senilai Rp. 21.384.000.000. Penggeledahan dilanjutkan di rumah pelaku, “KK” dan ditemukan 1.322 lembar golongan B2 senilai Rp. 714.285.000. “Jadi total potensi kerugian negara yang bisa diselamatkan akibat tindak pemalsuan ini ditaksir mencapai 24 miliar rupiah,” ujar Adam Rudy. Tidak sampai disitu saja, aparat selanjutnya menyisir ke tempat percetakan yang lain yang dari hasil keterangan pelaku masih ada keterSEPTIA ATMA. Sudah 21 orang yang kaitan dengan kegiatan memtelah dan sedang diperiksa terdiri produksi pita cukai palsu, kali dari penjual, pembuat dan pemilik ini diarahkan ke percetakan mesin percetakan. 36
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

CGM, Kebon Kosong, Jakarta Pusat dan ditemukan pita cukai palsu yang telah rusak atau dirobek dan dua unit mesin cetak. Menurut Kepala Bidang P2, Kanwil DJBC Jakarta, Septia Atma, sampai dengan 1 Nopember 2007 sudah sebanyak 21 orang yang telah dan sedang diperiksa di Kanwil DJBC Jakarta, terdiri dari penjual, pembuat dan pemilik mesin percetakan. “Dalam kasus ini ternyata pemilik percetakan “GRD” tidak tahu menahu mengenai aktivitas anak buahnya mencetak pita cukai palsu, karena dikerjakan malam hari saat pegawainya lembur mengerjakan order cetakan dan tidak disangka ternyata yang dibuatnya adalah pita palsu. Pegawai percetakan pun hanya mengetahui bahwa mereka hanya mencetak stiker,” ujar Septia Atma yang menurutnya dari hasil pemeriksaan telah ditetapkan empat orang sebagai tersangka, yaitu KK, KY, DD dan S. Menurut Septia Atma, WBC/ATS percetakan pita cukai seharusnya dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Perum Peruri, tetapi karena ingin meraup keuntungan pribadi maka mulai banyak pihak-pihak yang melakukan pemalsuan yang jelasjelas telah melanggar pasal 55 huruf a Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang cukai. “Mereka diancam hukuman pidana penjara antara 1 sampai 8 tahun dan pidana denda antara 10 sampai 20 kali nilai cukai ADAM RUDY KEMBUAN. Pita cukai yang seharusnya dibayar,” palsu, dicetak menggunakan kertas tandas Septia Atma. ris stiker dibuat mirip dengan aslinya.

INFORMASI KEPABEANAN & CUKAI

Teknologi Smart Client

S

Aplikasi registrasi PPJK yang mulai digunakan pada bulan Juni yang lalu merupakan aplikasi yang menerapkan smart client

KARAKTERISTIK SMART CLIENT
l

mart client merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan arsitektur aplikasi yang menggunakan koneksi web, tidak memerlukan instalasi serta memiliki tampilan dan perlakuan seperti aplikasi desktop. Smart client adalah aplikasi yang melakukan proses secara lokal (local processing), menggunakan Web Services XML yang dapat dikembangkan (developed) dan diperbaharui (updated) pada server yang tersentralisasi. Smart client adalah solusi arsitektur aplikasi yang cerdik (smart) dan fleksibel yang menggunakan web service untuk komunikasi. Istilah ini muncul untuk membandingkan perbedaan di antara arsitektur aplikasi lainnya seperti thin client dan thick client. Sebelum membahas smart client lebih lanjut, kita harus mengetahui perbandingan antara thin client dan thick client yang dapat dilihat pada tabel 1. Melihat kedua arsitektur diatas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, maka muncullah istilah “smart client”, yaitu arsitektur aplikasi yang dapat menggabungkan kelebihan dari arsitektur thin client dan smart client. (Gambar 1) Smart client melakukan proses secara lokal menggunakan sumber daya lokal, dengan menggunakan web service untuk protokol berkomunikasi yang dapat di-update dan di implementasikan dari server yang tersentralisasi.

l

l

l

Penggunaan sumber daya lokal Aplikasi smart client selalu memiliki program pada komputer client yang memungkinkan sumber daya lokal pada client tersebut digunakan. Yang dimaksud dengan sumber daya lokal adalah seluruh sumber daya hardware dan software seperti memory, disk, atau alat lain yang terhubung dengan client serta software seperti aplikasi Microsoft Office, atau aplikasi bisnis lainnya (line-of-business) yang turut berinteraksi. Terhubung Aplikasi smart client tidak pernah berdiri sendiri dan selalu menjadi bagian dari suatu solusi aplikasi terdistribusi yang lebih besar. Artinya, aplikasi dapat berinteraksi dengan beberapa web service yang menyediakan akses ke data atau aplikasi lain. Kemampuan bekerja secara offline Keuntungan dari aplikasi smart client adalah user (client) tetap dapat bekerja walaupun mereka tidak terhubung kepada jaringan (offline). Hal ini disebabkan oleh aplikasi tersebut dapat menggunakan sumber daya lokal. Kemudahan instalasi dan update Aplikasi dapat di-update ketika aplikasi sedang berjalan. Bila menggunakan Microsoft .NET, maka .NET framework menyediakan sistem keamanan yang handal yang menjamin integritas aplikasi dan fitur-fitur yang terkait dan mampu memberikan batasan kewenangan untuk menghindari penyalahgunaan penggunaan fungsi aplikasi.

Tabel 1. PERBANDINGAN ANTARA THIN CLIENT DAN THICK CLIENT

EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

37

INFORMASI KEPABEANAN & CUKAI
Gambar 1. PERBANDINGAN ARSITEKTUR THICK CLIENT, SMART CLIENT, DAN THIN CLIENT
merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga konsistensi data. Pengembangan aplikasi pasti mengalami penyempurnaan (update) beberapa kali. Dengan metode smart client yang digunakan, setiap kali user mengakses aplikasi, maka secara otomatis sistem akan mengecek apakah aplikasi yang ada pada pengguna atau client menggunakan versi terbaru. Dengan demikian, seluruh client pada wilayah kerja DJBC dapat dipastikan menggunakan aplikasi dengan versi terbaru, dan mengakses aplikasi Registrasi PPJK yang sama antara satu sama lain. (Lihat Gabar 2)

Microsoft .NET adalah salah satu contoh tools yang menyediakan fasilitas untuk merancang dan membangun aplikasi smart client. Dengan metode ini, permasalahan konflik yang ditimbulkan dari perbedaan versi aplikasi setiap kali ada update terhadap aplikasi dapat teratasi.

SMART CLIENT PADA APLIKASI REGISTRASI PPJK ONLINE
Aplikasi registrasi PPJK yang mulai digunakan pada bulan Juni yang lalu merupakan aplikasi yang menerapkan smart client. Selain Kantor Pusat DJBC, aplikasi ini digunakan oleh seluruh Kanwil DJBC di seluruh Indonesia. Dengan aplikasi tersebut hasil penelitian lapangan yang dilakukan pegawai DJBC di Kanwil dapat sampai ke pusat secara real time melalui perekaman data pada aplikasi tersebut. Dalam pembangunan aplikasi, keseragaman aplikasi

Pada aplikasi registrasi PPJK, para pemohon PPJK mengajukan permohonan melalui server web public yang di-publish pada situs www.beacukai.go.id. Selanjutnya, data permohonan PPJK tersebut akan didistribusikan kepada Kanwil dan pegawai yang berwenang melalui sekretariat registrasi PPJK. Coba bayangkan bila setiap kali ada perubahan terhadap aplikasi, pegawai harus meng-update aplikasi yang ada pada setiap wilayah kerja, hal ini tentu menyita waktu dan biaya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alasan utama penggunaan teknologi smart client pada aplikasi Registrasi PPJK Online adalah handal dan ekonomis.
Daftar pustaka : http://en.wikipedia.org/wiki/Smart_client http://blogs.msdn.com/dphill/articles/66300.aspx http://www.codeproject.com/dotnet/DotNetBuildSmClnts.asp http://weblogs.asp.net/rhoward/archive/2005/11/03/429355.aspx Foreword by Mark Boulter,Smart Client Architecture and Design Guide, Foreword by Mark Boulter, Microsoft , 2004

Hotmauli Simamora, Pranata Komputer Pelaksana, Dit.IKC

Gambar 2. ARSITEKTUR APLIKASI REGISTRASI PPJK

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

INFO PEGAWAI

PEGAWAI PENSIUN T.M.T 01 DESEMBER 2007
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 N A M A NIP 060034937 060052390 060046131 060059537 060052593 060045284 060051301 060048588 060041330 060052395 GOL IV/e III/b III/b II/d III/a III/c III/c III/b IV/a III/b JABATAN Kepala Kantor Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Korlak Adm. Keuangan dan Rumah Tangga Korlak Adm. Tempat Penimbunan Pabean Pelaksana Pelaksana Pelaksana KEDUDUKAN Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Kanwil X DJBC Tipe B Balikpapan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Jakarta Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Samarinda Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A2 Bogor KPPBC Tipe A Dumai KPPBC Tipe A2 Tangerang Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Bekasi Kanwil V DJBC Tipe A Bandung Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Juanda Heryanto Budi Santoso, S.H., M.M. Anwar Lubis Satria Darma Tamrin Thowil Mufty Ibrahim Tamtelahitu Naomi I.Djuhro Sobandi Juliani, S.E., Ak. Mochamad Asjikin

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, Sri Rahayu, Pelaksana Administrasi pada KPPBC Tipe A4 Yogyakarta, pada hari Kamis, 4 Oktober 2007 di RS. Sardjito Yogyakarta. Jenazah telah dimakamkan pada hari Jum’at, 5 Oktober 2007 di Pemakaman Keluarga Kalirandu Bantul. Telah meninggal dunia, Hj. Rokhiatun Munadjat (70), Ibunda dari Andriyani Wuryastuti, S.H., Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai pada KPPBC Tipe A4 Yogyakarta, pada hari Rabu, 3 Oktober 2007 di Delanggu. Jenazah telah dimakamkan pada hari Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 14.00 WIB di Pemakaman Umum Ngebong, Delanggu. Telah meninggal dunia, Baherman, Pelaksana pada KPPBC Tipe A3 Kediri, pada hari Rabu, 24 Oktober 2007 di Jombang Jawa Timur. Jenazah telah dimakamkan di Jakarta Timur.

EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

39

SIAPA MENGAPA
MU’AMAR KHADAFI, S.Sos. “Sekedar mencoba menyalurkan hobi”, kata yang terucap dari Mu’amar Khadafi, pegawai Kanwil DJBC Banten yang terpilih menjadi juara III lomba karya tulis yang diselenggarakan Koperasi Pegawai Kantor Pusat DJBC dalam rangka memperingati Hari Koperasi ke-60 pada 12 Juli 2007. Selain itu, keikut sertaannnya juga dikarenakan ingin mencari tantangan dan pengalaman dalam lomba karya tulis. Karya tulisnya berjudul Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Koperasi di Era Kapitalisme. Dalam tulisan ini Mu’amar melihat koperasi dapat terus berkembang di era kapitalisme dan kembali mendapat tempat di hati anggotanya, dan dia menilai Kopesat sudah lumayan bagus walaupun masih banyak yang perlu disempurnakan. Mu’amar mulai tertarik menulis sejak masa kecil, dan ketika itu ia paling suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia khususnya mengarang. “Dengan mengarang kita bebas menuangkan pendapat dan gagasan murni dari kita sendiri tanpa ada intervensi atau tekanan dari pihak manapun dan bisa dibilang karya tulis merupakan cerminan kebebasan atau independensi yang bertanggung jawab”, ujarnya Telah banyak tulisan yang telah ia buat, bahkan ada beberapa yang dimuat di internet seperti situs Erasmuslim.com dalam rubrik Oase Iman yang isinya sarat dengan hikmah dan penuh makna kehidupan. Dalam lomba karya tulis tentang koperasi ini, sebenarnya Mu’amar tidak mempunyai persiapan khusus, praktis ia hanya punya waktu dua hari untuk menulis sebelum pendaftaran ditutup. Namun karena merupakan hobi, ia segera pergi ke perpustakaan bea cukai untuk mencari buku dan literatur tentang koperasi. Tidak ada kesulitan ketika ia mulai menulis. “Tema tulisan sudah ada dan bahan-bahannyapun sudah ada , tinggal kita menuangkan apa yang kita ketahui ditambah dengan berbagai teori yang berkaitan dengan apa yang kita tulis,” ujar pegawai kelahiran Ponorogo-Jawa Timur, 23 Oktober1973 “Perasaan senang dan bangga bisa terpilih menjadi juara itu pasti ada dan Insya Allah kedepan nanti akan terus mengikuti lomba, walau dengan tema yang berbeda,” ujar Mu’amar kembali yang belum pernah mngikuti pendidikan khusus tentang menulis. H E R I Y A N T O “Kerja itu hiburan”, kata Heriyanto. Sesulit apapun pekerjaan itu dan di tempatkan dimanapun ia mengaku selalu senang. “Dimanapun ditugaskan kita harus terima dengan lapang dada, seperti contoh saat saya bertugas di Bandara Soekarno-Hatta dibagian pintu keluar penumpang, disana kita bertugas dari pagi hingga malam berdiri mengamati penumpang yang datang dari luar negeri”, ujar pria kelahiran Purwokerto - Banyumas, 1954 Heriyanto, pegawai dengan pangkat Pengatur tingkat I saat ini menjabat sebagai Koorlak Administrasi Penerimaan dan Jaminan di KPPBC SoekarnoHatta. Ia mulai meniti karir sejak tahun 1974 melalui penerimaan pegawai yang diselenggarakan oleh Bea dan Cukai dan ditempatkan di Tanjung Priok selama 20 tahun. Tahun 1994 Heriyanto pindah ke Makassar. Dua tahun di Makassar ia dimutasi ke KPBC Panarukkan. Dari Panarukan Heriyanto yang suka berpetualang minta pindah ke Amamapare, Irian Jaya dengan biaya sendiri. Tujuh tahun disana, kemudian pada tahun 2006 ia mendapat promosi Koorlak Administrasi Penerimaan dan Jaminan di Soekarno-Hatta hingga sekarang. Selama bertugas di Bea Cukai setelah melalui beberapa kali pindah tugas, ia mengaku daerah yang mempunyai kesan tersendiri ketika bertugas yaitu di Amamapare. “Ditempat itu timbul suatu kepercayaan diri yang meningkat, beda dengan di Tanjung Priok dan Soekarno-Hatta atau didaerah A B D U L R A H M A N “Dimanapun kita ditempatkan harus kita terima dan kita jalani, sehingga kita selalu enjoy dan tidak pernah mengeluh, itulah kiat yang saya pegang selama ini,” ujar pegawai yang satu ini. Sebagai putra daerah yang baru sekali terkena mutasi ke luar daerah Palembang, ia mengaku tidak pernah bermasalah dalam hal mutasi, semua ia jalani apa adanya. “Saya merupakan putra daerah asli, keluarga saya di Palembang semuanya. Memang kalau dekat dengan keluarga lebih bagus, tapi kalaupun pimpinan menghendaki saya dimutasi ketempat lain akan saya jalankan amanat tersebut,” katanya saat ditanya tentang mutasi . Abdul Rahman mulai meniti karir di Bea dan Cukai sejak Pebruari 1983. Saat itu ia bertugas di Kantor Inspeksi Palembang (sekarang KPPBC Palembang-red). Satu tahun kemudian, ia dipindahkan ke Kanwil DJBC Palembang selama sembilan tahun. Kemudian tahun 1991, setelah mengikuti DPT II, ia dimutasi kembali ke KPPBC Palembang. Empat tahun berjalan, ia dipindahkan ke KPBC Tanjung Priok sebagai Asisten PFPD selama enam tahun. Kemudian, sejak tahun 2000 hingga sekarang, ia kembali dimutasi ke KPPBC Palembang dan kini menjabat sebagai Korlak Perbendaharaan. Selama bekerja di Bea dan Cukai, ia mengaku tidak memiliki pengalaman yang berkesan, semuanya berjalan biasa saja. Walaupun begitu, sewaktu bertugas sebagai Asisten PFPD, ia harus bekerja ekstra hati-hati. Apalagi kalau ada perusahaan yang harus tambah bayar. “Kita harus menghitung uang tambah bayar yang telah kita tetapkan. Misalnya terkena tambah bayar satu juta atau

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

Mu’amar mulai meniti karir di Bea Cukai sejak diterima di Prodip III angkatan VIII tahun 1992. Setelah lulus dari Prodip III tahun 1995 ia ditempatkan di Kantor Pusat DJBC pada Direktorat Pabean (sekarang Teknis Kepabeanan, red). Tahun 2002 ia dimutasi ke Direktorat Fasilitas Kepabeanan , kemudian pada 2005 pindah ke KPBC Bogor. Tahun 2007 hingga sekarang bertugas di Kanwil DJBC Banten sebagai Kepala Seksi Evaluasi Audit II. “Semua kantor tempat bertugas selalu berkesan dan memberi kenangan tersendiri dengan keunikan masingmasing”. Pengalaman berkesan yang tidak dilupakan menurut Mu’amar adalah ketika bertugas menyusun prosedur ekspor minyak dan gas bumi bersama petugas dari Ditjen Migas dan Pertamina.Dalam tugas ini, hampir seluruh daerah pertambangan minyak di Indonesia telah dikunjungi, baik offshore maupun onshore, dimulai dari ujung pulau Sumatera, perairan laut Natuna, pedalaman kepulauan Maluku sampai Papua. Pengalaman lain, yaitu saat menjadi Tim Petugas Haji Indonesia tahun 2004 dan sekaligus menjalankan ibadah haji. Dalam Tugasnya ini, ia selama dua bulan lebih berada di Arab Saudi yakni di Mekkah dan Madinah untuk memberikan pelayanan kepada jemaah haji Indonesia, ujar bapak kelahiran Ponorogo yang menikah dengan Fivy Miftahiyah tahun 1999 dan dikaruniai dua orang anak. Pegawai yang pernah mengikuti diklat PKN, Custom Valuation, pengadaan barang dan jasa serta, diklat pimpinan IV, diakhir wawancara memberikan saran untuk instansi DJBC agar lebih banyak lagi menyelenggarakan diklat atau training yang bersifat teknis maupun non teknis agar pegawai DJBC dapat berperan aktif dan profesional baik dikantor maupun dimasyarakat. ats lain yang pernah disinggahinya. Di Amamapare saat bertugas seperti gak ada beban yang berat, selain itu hubungan antara bawahan dengan atasan ataupun sebaliknya sangat erat sekali. Selain di Amamapare kesan lainnya sewaktu bertugas di Panarukan tahun 1996 dimana saat itu Indonesia mengalami krisis moneter (krisis ekonomi) ditambah lagi dengan kondisi Kantor Panarukan yang hampir tidak ada kegiatan. Tiga tahun disana dirasakan sebagai suatu masa yang paling sulit. Sulit dalam artian untuk memenuhi kebutuhan hidup, ditambah lagi ketika itu ada anaknya yang akan melanjutkan pendidikan ke SMA. Heriyanto masih akan menjalani tugas di Bea dan Cukai hingga 3 tahun kedepan, tahun 2010 ia memasuki masa pensiun. Ia berharap seandainya ada mutasi terhadap dirinya, Heriyanto berkeinginan ditempatkan di ujung barat Indonesia seperti di TBK atau tempat lainnya. “Mutasi yang pernah dialami selama ini didaerah ujung timur Indonesia”, ujarnya bapak dua orang anak laki-laki yang menikah dengan Trihartati pada tahun 1982. ats

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2006
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 120.000

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

ratusan juta, saya harus menghitung uang sebanyak itu dan harus sesuai,” paparnya. Menurut pria yang memiliki aktifitas kemasyarakatan di lingkungan rumahnya, selama bertugas ia kerap bekerja di bagian administrasi. Seperti misalnya ketika ia bertugas di Palembang, ia bekerja di bagian administrasi dan perbendaharaan. Begitu pula saat bertugas di Tanjung Priok, juga di bagian administrasi sebagai pemeriksa dokumen. Saat ditanya kendala yang ia hadapi selama bertugas, Abdul Rahman mengaku tidak pernah mengalami kendala yang berarti selama menjalankan tugasnya. “Hanya saja, kalau di perbendaharaan itu, kita sering menghadapi orangorang yang tidak mengerti dengan ketentuan yang berlaku dan mereka (pengguna jasa-red) juga sulit menerima kalau diberi pengarahan,” ungkapnya. Kedepannya ia berharap, Bea dan Cukai akan kembali dihormati seperti Bea dan Cukai yang dulu. “Untuk pegawai yang masih muda, sebagai generasi penerus, saya berharap dapat lebih meningkatkan kedisiplinannya. Sebab, saya sering melihat bahwa dari segi disiplin, mereka masih kurang. Untuk itu ada baiknya kalau mereka diberi pembekalan dalam hal meningkatkan disiplin,” imbuhnya. ats

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 397 DESEMBER 2007

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

WARTA BEA CUKAI

45

SEKRETARIAT
WBC/ATS

K

DJBC dan masyarakat pada umumnya untuk mendapat Ridho Allah SWT” Sementara itu untuk misi yang harus dijalankan adalah, meningkatkan kualitas iman dan takwa SDM di lingkungan DJBC, meningkatkan potensi masjid untuk aktif dalam menangani dan menyelesaikan problem sosial masyarakat, memberdayakan potensi ekonomi pegawai muslim DJBC dalam mendukung ekonomi ummat, dan menggalang kerjasama di antara pengurus masjid di lingkungan DJBC di seluruh Indonesia untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi DJBC. Dengan visi dan misi yang diembannya, Masjid Baitut Taqwa bukan hanya sekedar sebagai sarana beribadah saja, tapi juga mempunyai tujuan khusus, yaitu untuk syiar Islam khususnya di lingkungan Kantor Pusat DJBC dan menciptakan moral SDM yang Islami. Sebagai pusat dari syiar Islam yang berarti pusat bergeraknya dakwa Islam, maka Masjid Baitut Taqwa dituntut untuk MASJID BAITUT TAQWA. Dengan pengelolaan yang baik akhirnya mendapat prestasi sebagai masjid mempunyai peran yang luas yang aktif perkantoran terbaik se Kotamadya Jakarta-Timur. . dalam menjadikan Kantor Pusat DJBC khususnya dan umumnya di lingkungan DJBC seluruh Indonesia menjadi DEWAN KEMAKMURAN MASJID DJBC lingkungan yang bermoral dan memiliki integritas tinggi. Sehingga dapat mendorong terwujudnya Visi, Misi, dan Strategi DJBC karena didukung dengan SDM yang bermoral baik dan bisa menghidupkan hati nurani di saat berkarya. Untuk mendukung kegiatan syiar dan dakwah Islam serta kenyamanan dalam Dengan visi dan misi yang diemban oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Direktorat Jenderal Bea dan pelaksanaan ibadah, Masjid Baitut Taqwa KP DJBC selain dipasang penyejuk udaCukai (DJBC), diharapkan akan mendorong ra juga dilengkapi dengan sarana dan terbentuknya lingkungan DJBC dengan SDM yang prasarana, seperti tempat wudhu, kamar bermoral dan memiliki integritas tinggi. mandi, ruang perpustakaan yang dilengkapi kurang lebih 2000 judul buku, ruang sekretariat, ruang rapat terbatas yang sekaligus menjadi ruang eberadaan Masjid Baitut Taqwa di lingkungan Kantor kerja bidang pemberdayaan zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS), Pusat DJBC, sejak awal berdirinya hingga kini, telah tempat penitipan sepatu/sandal, dan mess petugas masjid yang menciptakan suatu suasana spiritual yang harmonis di terdiri dari dua rumah dengan empat kamar. antara pegawai sehingga berpengaruh pada moral pegawai yang hingga kini terus mengarah pada tingkatan integritas yang lebih tinggi dan lebih baik lagi. KEGIATAN RUTIN TIAP TAHUN Keberadaan masjid di lingkungan Kantor Pusat DJBC ini Sejak awal berdirinya hingga kini, Masjid Baitut Taqwa KP berawal ketika banyaknya desakan yang dilakukan oleh pegawai DJBC juga memiliki kegiatan rutin yang dilakukannya tiap yang merasa keberatan jika ingin melaksanakan ibadah harus tahun, adapun kegiatan rutin tersebut adalah, kegiatan harian menuju Masjid Baitut Taqdis, di Pusdiklat Bea dan Cukai yang yang meliputi shalat rawatib berjamaah setiap waktu shalat, berjarak 200 meter dari Kantor Pusat DJBC. kegiatan mingguan yang meliputi shalat Jum’at dan kajian Maka di tahun 1994, dimana semakin banyaknya keinginan Islam tiap Selasa dan Kamis. para pegawai untuk mendirikan masjid dilingkungan Kantor Pusat Selain itu, memanfaatkan momentum hari besar Islam dan DJBC, akhirnya dibentuklah panitia pembangunan masjid sesuai hari besar nasional untuk kegiatan syiar dan tabiyah Islam kepada dengan keputusan ketua yayasan Al Amanah Departemen pegawai DJBC, antara lain Milad Masjid Baitut Taqwa, Maulid Keuangan nomor 142/Kep/YA/1994 tanggal 25 Agustus 1994. Nabi Muhammad SAW, Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Idul Akhirnya, setelah proses pembangunan yang memakan wakFitri, Idul Adha, Hut Kemerdekaan RI, dan lain-lain. tu lebih dari dua tahun, dan menghabiskan dana kurang lebih Rp. Kegiatan rutin lainnya adalah, pengumpulan zakat, infaq, 1,3 milyar yang berasal dari sumbangan segenap pegawai DJBC, dan shadaqah dan usaha lainnya sebagai sumber dana kegitepatnya 30 Mei 1997 atau 23 Muharram 1418 H, selesailah atan dakwah, sosial, dan teknis operasional. Selain itu juga pembangunan masjid tersebut dan diberi nama Masjid Baitut ikut menggalang kerjasama di antara pengurus masjid di Taqwa yang peresmiannya ditandatangani langsung oleh Menteri lingkungan DJBC dan insitusi/ lembaga dakwah lainnya, dan Keuangan saat itu Marie Muhammad. terakhir adalah gema Ramadhan. Dengan visi, misi dan kegiatan rutin yang dijalankan oleh Masjid Baitut Taqwa, maka melalui Keputusan Direktur Jenderal VISI DAN MISI MASJID BAITUT TAQWA Bea dan Cukai nomor : Kep-42/BC/2002, dibentuklah susunan Agar dalam pengelolaan Masjid Baitut Taqwa dapat lebih terpengurus yang bertugas untuk mengoptimalkan pengelolaan arah dan optimal, maka Masjid Baitut Taqwa pun memiliki visi dan Masjid Baitut Taqwa dapat berjalan dengan baik. misi, yaitu untuk visi, “Sebagai pusat syiar Islam dan tarbiyah meNamun demikian, apa yang telah dijalankan oleh Masjid Baitut nuju masyarakat profesional yang islami khususnya di lingkungan

UNTUK MEWUJUDKAN CITRA POSITIF BEA CUKAI

46

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

WBC/ATS

WBC/ATS

GEMA RAMADHAN. Program tahunan yang selalu sukses dan kaya akan hikmah dan manfaat.

QURBAN. Salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh DKM Baitut Taqwa adalah, membagikan daging qurban kepada kaum dhuafa.

Taqwa masih dirasakan kurang dalam hal pembinaan moral dan mental pegawai, maka untuk lebih mengoptimalkannya lagi, dikeluarkanlah Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor : Kep-102/BC/2005 tentang Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di lingkungan DJBC. Mengapa harus ada DKM? Menurut Ketua I DKM Baitut Taqwa KP DJBC, Aziz Syamsu Arifin, latar belakang ditetapkannya DKM di lingkungan DJBC tidak lain karena, sejak digulirkannya reformasi di negara ini, seluruh elemen masyarakat menuntut agar para penyelenggara negara dapat mewujudkan good governance. Salah satu pilar agar good governance dapat terwujud yaitu, melalui pembangunan SDM yang memiliki semangat kerja keras, teliti, akurat, efisien, dan efektif dalam melaksanakan tugas, jujur, bersih, dan transparan serta moral dan integritas yang baik. “Pimpinan DJBC menyadari betul, bahwa untuk membangun SDM yang memiliki sifat-sifat tersebut harus dilakukan dengan pembinaan mental dan spiritual melalui peningkatan pemahaman terhadap agama. Untuk itu, perlu adanya peningkatan peran masjid/musholah di lingkungan DJBC dalam melaksanakan syiar Islam, pembinaan mental dan integritas pegawai DJBC, sehingga dapat mendorong terciptanya sinergi atas potensi keberadaan pengurus masjid/musholah di lingkungan DJBC dalam partisipasi aktif membangun visi, misi, dan citra positif DJBC,” ujar Aziz. Masih menurut Aziz, agar tugas dan fungsi masjid/mushola di lingkungan DJBC dapat berjalan dengan baik maka melalui Kep102/BC/2005 dibentuklah DKM, sementara itu, untuk DKM di lingkungan KP DJBC dibentuk melalui Kep-103/BC/2005, sekaligus ditunjuk sebagai koordinator DKM dilingkungan DJBC dengan masa kerja selama dua tahun atau hingga 2007. Sementara itu untuk kepengurusan tahun 2007 hingga 2009 telah dibentuk berdasarkan Kep-66/BC/2007. “Selain itu di dalam Al’Quran pada surat At’ Taubah ayat 18 dijelaskan, hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orangorang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orangorang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk,” ujarnya.

dan misi DJBC, DKM juga memiliki beberapa fungsi, diantaranya : 1. Menyelenggarakan kegiatan ibadah, dakwah dan pendidikan ke-Islaman sebagai sarana dalam membina mental dan meningkatkan integritas pegawai; 2. Memberdayakan zakat, infaq, shodaqoh dan bentuk pengumpulan dana lainnya yang tidak bertentangan dengan syariat Islam sebagai sumber dana dari seluruh kegiatan masjid; 3. Melaksanakan kegiatan pengadaan sarana dan prasarana masjid serta kegiatan pemeliharaannya; 4. Melaksanakan kegiatan hubungan kemasyarakatan, dokumentasi dan perpustakaan serta hal-hal yang mendukung peningkatan fungsi masjid sebagai sumber ilmu dan informasi; 5. Mengamankan bangunan masjid serta sarana dan prasarana pendukungnya termasuk untuk menjamin keamanan setiap kegiatan yang dilaksanakan atas nama masjid; 6. Melaksanakan kegiatan sosial yang dapat mendukung citra positif DJBC di masyarakat; 7. Melaksanakan kegiatan umum lainya yang dapat mendukung peran masjid dalam memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi pegawai. Sementara itu di dalam Kep-102/BC/2005 tentang DKM, beberapa hal yang diaturnya adalah, pembentukan DKM Kantor Pusat, Kantor Wilayah, Kantor Pelayanan, Balai Pengujian dan Identifikasi Barang, dan Pangkalan Sarana Operasi, tugas pokok dan fungsi DKM, biaya kegiatan dibebankan kepada anggaran DKM dan dana kesejahteraan pegawai DJBC, dan tatacara pengelolaan DKM diserahkan sepenuhnya kepada DKM masing-masing. “Dengan tugas pokok dan fungsi tersebut, WBC/ATS sasaran yang ingin dicapai dengan keberadaan DKM di lingkungan DJBC adalah membentuk SDM (pegawai DJBC) yang religius dengan didukung oleh segenap pengurus DKM yang mempunyai karakter cerdas, kreatif, sensitif atas kondisi sosial dan luwes dalam memilih prioritas program dan kegiatan yang bisa mengantarkan dalam memahami agama secara benar,” ungkap Aziz. Selain itu Aziz menambahkan, DKM akan mendorong terbentuknya lingkungan DJBC dengan SDM yang bermoral dan memiliki integritas tinggi. Karakter SDM religius inilah yang akan mempunyai rasa tanggung jawab, senantiasa manjaga amanah dan berperan banyak dalam mewujudkan visi, misi, dan strategi DJBC dan sekaligus membentuk citra positif DJBC di mata masyarakat.

TUJUAN DKM
Dengan demikian, apa sebenarnya tujuan utama dikeluarkannya Kep-102/BC/2005 dan kemakmuran yang bagaimana yang diharapkan pada DKM? Menurut Azis, sesuai dengan tugas pokok, dibentuknya DKM untuk mengoptimalkan pengelolaan masjid/mushola di lingkungan DJBC, serta kegiatan ibadah, dakwah, dan syiar Islam untuk membina sikap mental serta meningkatkan integritas pegawai DJBC dalam mendukung terwujudnya visi

AZIZ SYAMSU ARIFIN. Dengan memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi akan melahirkan pegawai DJBC yang berakhlakul karimah, jujur, bersih, disiplin, dan bersemangat tinggi.

MANFAAT DKM
Oleh karena itu pada Kep-102/BC/2005 ini ternyata juga memiliki manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh pegawai DJBC, baik
WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

47

SEKRETARIAT
langsung maupun tidak langsung. Diantaranya, meningkatnya pemahaman tentang syariat Islam, sehingga dapat meningkatkan kualitas ibadahnya sebagai bekal kehidupan diakhirat kelak, meningkatnya kualitas iman dan takwa pegawai sehingga menjadi pegawai yang memiliki pribadi yang jujur, bersih, bermoral, berdisiplin dan berintegritas sehingga menjadi pemimpin-pemimpin yang amanah. Manfaat lainnya, meningkatnya sifat sabar dan tawakal dalam melaksanakan tugas, memiliki jiwa sosial yang tinggi sehingga mampu berinteraksi dengan masyarakat luas, dan meningkatnya potensi ekonomi karena mendapat bimbingan tentang peningkatan ekonomi umat. Dengan terbentuknya DKM, maka kepengurusan dan pengelolaan masjid di masing-masing kantor akan menjadi lebih baik dan mencapai sasaran yang ingin dituju. Namun demikian, Azis mengatakan ada beberapa hal yang masih menjadi kendala dalam pengelolaan DKM tersebut. Menurutnya, memakmurkan masjid/musholla tidak hanya terkait ibadah dan dakwah saja, akan tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, sehingga DKM harus dikelola secara profesional, untuk itu perlu petugas khusus yang menangani secara konsisten dan berkesinambungan. “Saat ini pengurus yang mengelola DKM Baitut Taqwa ditunjuk dari pegawai struktural DJBC dari berbagai direktorat yang mempunyai tugas dan kesibukan di masing-masing direktorat, sehingga pengelolaan DKM seperti kegiatan sampingan saja, akhirnya menjadi kirang optimal,” ungkap Azis. Akan kendala tersebut, maka pengelola DKM Baitut Taqwa memilik rencana kedepan, yaitu setiap periode lima tahunan DKM Baitut Taqwa membuat rencana/program strategis. Penyusunan rencana/program strategis ini sudah dimulai sejak tahun 2003 dan akan berakhir pada 2007 ini. Rencana/program strategis untuk 2007 meliputi pembentukan DKM DJBC se-Jawa, program kerja bersama masjid di lingkungan DJBC, gema Ramadhan 1428 H, peringatan hari besar Islam. Dan program yang sangat mendesak untuk dilaksanakan adalah menyusun program/rencana strategis untuk lima tahun mendatang, yaitu 2008 hingga 2012. Untuk saat ini, kegiatan yang tengah dilakukan adalah gema Ramadhan, berkaitan dengan kegiatan tersebut, maka berdasarkan Kep-77/BC/2006 dan penetapan ketua umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) nomor Kep-09/UPZ/BAZNAS/VII/2006, dibentuklah unit pengumpul zakat (UPZ) KP DJBC. Kegiatan pengumpulan zakat yang kini dilakukan adalah, secara regular terdapat 300 orang pegawai KP DJBC yang bersedia dipotong gajinya untuk membayar zakat profesi, dan penyerahan zakat secara langsung dari pegawai DJBC kepada petugas UPZ. Sedangkan untuk pendistribusian zakat, dilakuikan dengan
WBC/ATS

UPZ. DKM Baitut Taqwa kini bekerjasama dengan BAZNAS dalam mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, infaq dan shadaqah.

cara program resmi UPZ, pemberian bea siswa untuk 78 siswa dari 12 sekolah kejuruan di 3 kecamatan. Pemberian santunan/ bantuan kepada masyarakat dhuafa, masjid lain, yayasan dan kampus, bantuan secara insidentil kepada masyarakat yang tertimpa bencana, memiliki poliklinik binaan untuk memberikan pengobatan gratis kepada kaun dhuafa, penyerahan 20 persen penerimaan ZIS UPZ kepada BAZNA, dan menjalin kemitraan dengan pos keadilan peduli umat (PKPU) dan rumah zakat Indonesia (RZI). Dengan kendala dan kegiatan rutin yang telah lakukan DKM Baitut Taqwa saat ini, kiranya perlu juga masukan maupun kritik yang membangun agar terciptanya tujuan dari DKM tersebut, karena keberhasilan suatu organisasi tidak hanya ditunjang oleh SDM yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, akan tetapi harus ditunjang oleh kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi. SDM yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi akan melahirkan SDM-SDM yang serba materialis. Dengan demikian, akan sangat sulit bagi DJBC untuk membangun good governance, untuk itu perlu dilakukan pembinaan-pembinaan kepada SDM DJBC agar memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi yang akan melahirkan pegawai-pegawai DJBC yang berakhlakul karimah, jujur, bersih, disiplin dan bersemangat tinggi. “Oleh karena masjid Baitut Taqwa memiliki fungsi membina akhlak dan moral pegawai DJBC, maka harus ditunjuk pengurus-pengurus yang khusus melakukan pembinaan tersebut. Dengan demikian perlu dipikirkan di unit organisasi DJBC ada satu bagian yang khusus menangani bimbingan mental dan spiritual yang salah satu tugasnya mengelola masjid/musholla, sehingga dapat bekerja secara fokus, konsisten dan berkesinambungan,” tandas Azis. adi

48

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

SAMBUTAN MENTERI KEUANGAN
PADA PERINGATAN KE- 61 HARI KEUANGAN TANGGAL 30 OKTOBER 2007

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Selamat pagi salam sejahtera

P

Saudara-saudara sekalian yang berbahagia, ada hari ini, kita kembali memperingati Hari Keuangan untuk mengenang sejarah pertama kali terbitkannya Uang Republik Indonesia, 61 tahun yang lalu. Peringatan ini bertepatan dengan momen di-gulirkannya reformasi birokrasi Departemen Keuangan. Seiring dengan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober, dan dengan semangat persatuan, marilah kita berdoa dan berusaha dengan keras untuk meningkatkan kinerja dan citra positif Departemen Keuangan, dalam rangka membangun kembali kepercayaan masyarakat kepada birokrasi kita. Pada kesempatan ini, tidak lupa saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 H, mohon maaf lahir dan Batin. Saudara-saudara sekalian, Seiring dengan berjalannya program reformasi birokrasi Departemen Keuangan, kita perlu mengembangkan semangat kerja keras, ketelitian, keakuratan, efisiensi dan efektifitas, serta memelihara integritas dan transparasi serta disiplin tinggi didalam mengelola keuangan Negara. Hal itu perlu agar tujuan bernegara kita yaitu mengelola dan memnfaatkan seluruh sumber daya nasional secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan sejalan dengan spirit Pancasila, yang kita peringati tanggal 1 Oktober yang lalu dapat kita capai. Tema peringatan Hari Keuangan tahun ini adalah sesuai dengan perioritas program kita, yaitu “Dengan Reformasi Birokrasi (Departemen Keuangan) Kita Bangun Kepercayaan Masyarakat Melalui Peningkatan Kinerja, Pelayanan dan Perbaikan integritas dan disiplin aparat. Saudara-saudara yang saya hormati, Tugas Departemen Keuangan untuk menyelenggarakan

EDISI 397 DESEMBER 2007 EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI WARTA BEA CUKAI

49 49

SEKRETARIAT
urusan pemerintahan di bidang keuangan dan kekayaan Negara, dari waktu ke waktu akan semakin kompleks dan mendatang. Tugas tersebut meliputi meningkatkan dan mengelola pendapatan negara, melakukan efisiensi dan efektifitas belanja negara dengan azas manfaat dan berbasis kinerja, mengelola resiko dan beban pembiayaan anggaran dan mengoptimalkan pengelolaan kekayaan Negara. Reformasi birokrasi di Departemen Keuangan dilakukan dengan memprioritaskan pada penataan dan penajaman fungsi organisasi, menyempurnaan business process dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk dapat memperbaiki layanan masyarakat dan membangun kepercayaan publik. Reformasi birokrasi Departemen Keuangan merupakan proses yang berkesinambungan secara menyeluruh dan terus menerus oleh seluruh jajaran dari tingkat paling atas hingga tingkat pelaksana. Dalam proses reformasi ini, disusun Analisa jabatan bagi masing-masing jabatan dari Eselon I sampai dengan pelaksana. Analisa jabatan ini dilakukan dalam rangka meletakkan the right person in the right place, dan akan dilakukan evaluasi secara berkala. Dalam tiap jabatan ada spesifikasi tanggung jawab dan beban kerja yang berbeda-beda. Ini pula yang menyebabkan setiap jabatan patut memperoleh penghargaan sesuai dengan tingkat kesulitan, tanggung jawab serta resiko yang dihadapinya. Selanjutnya, kepada publik dibuka akses untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif, sementara rencana kerja dan pertanggungjawaban harus dilaporkan dan diketahui oleh masyarakat. Saudara-saudara sekalian, Harus kita sadari, peran kita sebagai birokrat akan selalu disorot oleh masyarakat, terutama didalam hal perbaikan pelayanan publik. Untuk itu kita dituntut untuk terus menerus meningkatkan kualitas pelayanan kita kepada masyarakat. Menjawab tantangan itu, maka telah disusun suatu Standard Operating Procedure (SOP) di seluruh unit kerja Departemen Keuangan. SOP bukanlah sekedar buku petunjuk pelaksanaan kerja, namun merupakan pedoman standar dan bagaimana suatu pekerjaan harus dilakukan, yang harus diimplementasikan secara konsisten dan dapat diakses serta dikontrol oleh publik. Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan kemudahan dan kepastian layanan publik, serta dapat pula turut mengawasi pelaksanaan dan berfungsinya birokrasi di jajaran Departemen Keuangan. Dengan ini dan dengan semangat keterbukaan dan trasparansi ini diharapkan akan dapat dihilangkan unsur-unsur didalam birokrasi yang selama ini cenderung membebani dan merugikan masyarakat seperti korupsi dan in efisiensi. Langkah-langkah yang kita laksanakan adalah meliputi menghilangkan mata rantai pelayanan yang berbelit-belit, menghapus ekonomi biaya tinggi, mempercepat proses kerja, dan memanfaatkan teknologi didalam rangka otomasi administrasi dan pelayanan, khususnya bagi unit kerja Departemen Keuangan yang merupakan ujung tombak bagi pelayanan masyarakat. Dalam rangka meningkatkan layanan publik tersebut, maka ditetapkan 35 SOP Layanan Unggulan di bidang perpajakan, kepabeanan dan cukai, penganggaran, perbendaharaan, pengelolaan aset negara dan pelayanan bidang pasar modal dan lembaga keuangan non bank. Sebagai langkah awal kita telah meluncurkan Kantor Pelayanan Wajib pajak Besar atau Large Taxpayer Office, kantor Pelayanan Wajib pajak Madya atau Middle Taxpayer Office dan Kantor Pelayanan Wajib pajak Pratama atau Small Taxpayer Office dibidang pelayanan pajak, Kantor Pelayanan Utama (KPU) yang modern di bidang pelayanan bea dan cukai merupakan suatu percontohan serta Layanan Prima KPPN Percontohan di bidang perbendaharaan negara. Kantor-kantor tersebut diharapkan akan memberi contoh bagi pelayanan dan pelaksanaan tugas yang memiliki standard yang tinggi serta efisien yang lebih baik. Reformasi birokrasi hanya mampu memberi arti yang kongkrit bagi masyarakat dan bangsa ini apabila kita mampu mengubah perilaku dan cara berpikir dari para birokrat. Perubahan yang fundamental dan riel pada kultur birokrasi agar selalu berorientasi dan memprioritaskan pada peningkatan pelayanan publik dan penegakkan aturan yang konsisten dan tidak pilih kasih, dan tentu ini membutuhkan sewaktu proses dan waktu yang cukup panjang. Tidak ada jalan lain bagi kita semua selain membuktikan bahwa adanya perbaikan didalam cara kerja kita serta perbaikan integritas dan kinerja dari Departemen Keuangan sehingga reformasi birokrasi tidak hanya menjadi slogan dan bahan pidato semata, apalagi masyarakat telah membaca bahwa jajaran di Departemen Keuangan telah mendapat kenaikan tingkat pendapatan. Tugas dari kita adalah membuktikan bahwa beban tersebut yang ditanggung dengan uang rakyat akan memberikan hasil yang nyata bagi bangsa dan masyarakat dalam bentuk pelayanan yang lebih baik dan tingkat kepercayaan yang tinggi karena dijalankan oleh birokrasi yang bersih dan memiliki integritas kompeensi dan disiplin yang tinggi Secara khusus saya ingin ucapkan selamat dan berterimakasih kepada Tim Reformasi Birokrasi di Departemen Keuangan yang telah bekerja dan dedikasi untuk menyusun program reformasi birokrasi. Program reformasi birokrasi ini masih merupakan awal dari langkah kita bersama untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu memiliki birokrasi yang patut dibanggakan. Progran reformasi ini akan bisa berjalan baik dan efektif apabila didukung oleh seluruh pihak baik pada jajaran atasan dan terutama pada tingkat pelaksana. Oleh karena itu, saya menginstruksikan kepada seluruh jajaran Departemen Keuangan agar selalu aktif menjalankan program reformasi birokrasi yang berintikan pada perubahan sikap dan budaya kerja kita menuju kepada yang lebih baik lagi. Hari ini kita wajib melanjutkan perjuangan dari para pahlawan untuk mencapai cita-cita pendirian bangsa kita yang sekaligus juga kita peringati bersama-sama dengan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember mendatang. Dalam rangka Peringatan Hari Keuangan kali ini, kita patut berbangga kepada salah satu pendahulu kita, yaitu Mr. A.A. Maramis, Menteri Keuangan dalam kabinet Pemerintahan Darurat RI, yang pada hari ini akan diberikan penghargaan oleh MURI (Museum Rekor-dunia Indonesia) sebagai Menteri Keuangan yang pertama kali menandatangai 15 Oeang Republik Indonesia (ORI). Penghargaan tersebut akan diserahterimakan kepada keluarga besar (alm). Mr. A.A. maramis setelah acara ini. Saudara-saudara sekalian, Sebelum mengakhiri sambutan ini, atas nama Departemen Keuangan dan atas nama pribadi, saya juga menyampaikan selamat kepada saudara-saudara yang pada hari ini memperoleh Penghargaan Satyalencana Karya Satya, maupun yang memperoleh Piagam Penghargaan Pensiun. Terima kasih atas loyalitas dan integritas, serta kerja keras dan dedikasi yang telah saudara-saudara sumbangkan kepada Departemen Keuangan. Semoga hal ini dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua. Akhir kata, saya ucapkan selamat hari ulang tahun pada Departemen Keuangan yang ke-61. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan kepada kita semua dalam melaksanakan pengabdian kepada bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai bersama. Sekian dan terima kasih Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Jakarta, 30 Oktober 2007 Menteri Keuangan Ttd Sri Mulyani Indrawati.

50

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

1

2

6

3

4

5

UPACARA HARI KEUANGAN NASIONAL KE-61
Hari Keuangan Nasional ke-61 untuk mengenang sejarah pertama kalinya diterbitkan Uang Republik Indonesia diperingati dengan menggelar upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, pada 30 Oktober 2007, di halaman Departemen Keuangan Lapangan Banteng Jakarta Pusat (Foto 1). Seperti tahun sebelumnya, pelaksanaan tugas upacara tahun ini kembali didelegasikan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), diantaranya sebagai Komandan Upacara, Ajudan Pembina Upacara, Pengibar Bendera Merah Putih, Pembacaan Naskah Pancasila, Pembukaan UUD 45, serta Naskah Mengenang Detik-detik Beredarnya Uang Republik Indonesia, dan dengan diiringi Marching Band Bea Cukai Bina Caraka (Foto 2). Dalam upacara tersebut Menkeu menyerahkan penghargaan kepada empat Kantor Pelayanan Percontohan (KPP) terbaik tahun 2007. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A3 Merak yang tampil sebagai pemenang ketiga, menerima penghargaan yang diberikan oleh Menkeu kepada Kepala KPPBC Merak, Iskandar (Foto 3). Upacara Hari Keuangan tahun ini yang bertemakan Dengan Reformasi Birokrasi (Departemen Keuangan), Kita Bangun Kepercayaan Masyarakat Melalui Peningkatan Kinerja, Pelayanan dan Perbaikan Integritas Aparat”, dihadiri pejabat eselon I, II, III dan IV dilingkungan Departemen Keuangan serta para undangan lainnya. Usai upacara bendera, di ruang Graha Sawala, MURI (Musium Rekor Indonesia) memberikan penghargaan kepada A.A. Maramis sebagai otoritas keuangan pertama yang menandatangani 15 mata uang Oeang Republik Indonesia (ORI) terbitan 1945 - 1947. Jaya Suprana dari MURI menyerahkan penghargaan kepada Menkeu yang kemudian meneruskannya kepada keluarga (alm.) A.A. Maramis (Foto 4 & 5). A. A. Maramis adalah Menteri Keuangan Kabinet I RI sebagai pemrakarsa dan penandatangan uang atau alat bayar yang sah pertama RI pada tanggal 17 Oktober 1945 yang beredar mulai tanggal 30 Oktober 1946. Tampak dalam gambar, ramah tamah Menkeu Sri Mulyani dengan tamu undangan diantaranya mantan Menteri Keuangan Ali Wardhana, Widjojonitisastro, wartawan senior Rosihan Anwar, serta tokoh masyarakat Des Alwi (Foto 6) ats EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

51

KEPABEANAN
KAWASAN PABEAN DI BANDARA SOEKARNO-HATTA
tertib dan berada dalam satu wilayah sehingga pengawasan maupun pelayanannya dapat lebih efektif dan efisien. Selain itu menurutnya, dengan adanya PerMenkeu tersebut, juga bertujuan untuk penertiban TPS yang saat ini lokasinya tidak tertata dengan baik, hal ini pula yang pada dewasa ini banyak yang dijadikan alasan pengusaha untuk mengajukan permohonan pembuatan kawasan pabean yang sebenarnya mereka hanya ingin menjadikan tempat tersebut sebagai TPS. Karena menurutnya, secara teknis sangat tidak memungkinkan dalam satu daerah terdapat banyak kawasan pabean, selain itu mengenai luas kawasan pabean juga seyogyanya ada standar nilai minimum sehingga tidak sembarang tempat dengan luas yang minim dapat diajukan sebagai kawasan pabean. “Terkait dengan masih adanya gudang domestik yang berdampingan dengan gudang ekspor impor, apabila hal tersebut bersifat sementara tidak menjadi persoalan, yang penting sejauh barang-barang tersebut tidak tercampur dan tidak berada pada satu gudang serta dapat diawasi. Jadi kami tidak ingin menyusahkan pengusaha, namun mencoba untuk menata apa yang sebenarnya diharapkan sebagai kawasan pabean,” jelas Iswan Ramdana. Akan hal tersebut juga diamini oleh Rahmat Subagio, menurutnya kondisi gudang yang berdekatan hingga saat ini memang hampir dikatakan tidak ada permasalahan yang berarti, walaupun ada beberapa TPS yang lokasinya bersebelahan dengan gudang domestik, namun hal tersebut masih bisa diawasi, mengingat lokasinya berada dekat dengan KPPBC Soekarno-Hatta. “Untuk itu, pola pengawasan yang selama ini kami lakukan adalah dengan menempatkan pegawai KPPBC Soekarno-Hatta untuk melakukan pengawasan secara berkesinambungan terhadap gudang domestik yang lokasinya bersebelahan dengan gudang TPS,” kata Rahmat Subagio. KPPBC Soekarno-Hatta menurut Rahmat Subagio akan mulai mencoba untuk merelokasi gudang-gudang domestik ke lokasi tersendiri, sementara untuk TPS yang berada di kawasan pergudangan Soewarna Business Park akan dikelompokkan dan dipisahkan antara gudang TPS (gudang ekspor/impor) dengan gudang domestik.

SIAP DITATA
Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor P-70/PMK.04/ 2007 tentang kawasan pabean dan tempat penimbunan sementara, maka untuk kawasan pabean di bandara Soekarno-Hatta akan ditertibkan sesuai dengan peruntukannya. Penertiban ini juga telah disetujui para pengusaha yang sementara ini meminta waktu untuk penataannya.

K

awasan pabean yang didalamnya juga terdapat tempat penimbunan sementara (TPS), hingga saat ini khususnya di wilayah kerja Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta, memang memiliki jumlah yang cukup banyak, lebih dari itu jumlah TPS yang ada pun kini tersebar dimana-mana. Untuk menertibkan TPS berada dalam satu kawasan pabean di wilayah bandara ini, maka sesuai dengan PerMenkeu nomor P-70/PMK.04/2007 tentang kawasan pabean dan tempat penimbunan sementara, akan dilakukan penataan sedemikian rupa sehingga para TPS ini berada dalam satu daerah pabean dengan tujuan untuk lebih mempermudah proses pengawasan dan pelayanannya. Menurut Kepala KPPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta, Rahmat Subagio, jumlah TPS dalam satu kawasan pabean di bandara Soekarno-Hatta saat ini di bagi menjadi dua lini. Lini pertama terdapat delapan perusahaan, sedangkan lini kedua terdapat 24 perusahaan. “Dengan berlakunya PerMenkeu tersebut, maka kawasan pabean di bandara Soekarno-Hatta perlu disesuaikan terutama untuk gudang-gudang domestik yang bercampur dengan gudang internasional, dimana gudang-gudang impor, ekspor akan dijadikan kawasan pabean, sedangkan gudang domestik harus keluar dari kawasan pabean,” tutur Rahmat Subagio.

SOEWARNA MEMILIKI BEBERAPA TPS INDEPENDEN
Sementara itu menurut Senior General Manager Soewarna Business Park, Ishak Chandra, pihak Soewarna sangat mendukung dengan adanya kebijakan PerMenkeu tersebut, karena pada umumnya kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah bertujuan untuk kebaikan dan kelancaran usaha para pengusaha. WBC/ATS Memang pada awalnya dirasakan sangat tidak memungkinkan, mengingat dalam daerah pabean di Soewarna bukan hanya ditempati oleh beberapa TPS, tapi juga ada beberapa gudang domestik yang lokasinya sangat berdekatan. “Setelah kami berkonsultasi dengan pihak DJBC dan instansi terkait lainnya, maka kami telah memutuskan untuk menetapkan daerah mana saja yang akan dijadikan kawasan pabean dengan memberikan batasan-batasan yang sangat jelas, sementara itu untuk gudang domestik yang maRAHMAT SUBAGIO. Dengan adanya sih ada di daerah tersebut, PerMenkeu nomor P-70/PMK.04/2007, kami juga telah membicara- kawasan pabean di bandara Soekarnokannya dengan para peng- Hatta perlu penataan kembali.

RENCANA PENATAAN
Untuk penataannya Rahmat menjelaskan, akan mencoba untuk merelokasi gudang-gudang domestik ke lokasi sendiri, WBC/ATS sementara untuk TPS yang berada di kawasan pergudangan Soewarna Business Park akan dikelompokkan dan dipisahkan antara gudang TPS (gudang ekspor/impor) dan gudang domestik. Sehingga nantinya kawasan pergudangan Soewarna Business Park terpisah antara gudang yang diperuntukkan sebagai TPS dengan gudang yang diperuntukkan sebagai gudang domestik/ gudang umum. Sementara itu menurut Kepala Kantor Wilayah DJBC Banten, Iswan Ramdana, Penataan kawasan pabean di bandara bertujuan agar bandara SoekarnoISWAN RAMDANA. Dengan batasan Hatta benar-benar memiliki yang jelas, gudang domestik dapat kawasan pabean yang berdekatan dengan TPS. 52
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

DOK. SOEWARNA

REGISTRASI PPJK
SAMPAI WAKTU YANG TIDAK TERBATAS
Masalah kelancaran arus barang keluar masuk pelabuhan Tanjung Priok sebelum dan sesudah Idul Fitri, tidak berhubungan dengan proses registrasi PPJK.

S
SOEWARNA BUSINESS PARK. Telah menentukan kawasan pabean dengan batas-batas yang ditentukan.

WBC/ATS

usaha tersebut dan kami telah meminta waktu untuk merelokasinya mengingat waktu sewa mereka masih cukup panjang,” jelas Ishak Chandra. Satu hal yang juga masih terkendala oleh Soewarna, yaitu adanya beberapa perusahaan besar yang sudah memiliki TPS dalam kawasan gudang mereka atau yang disebut de ngan TPS independen. Untuk hal tersebut Ishak sudah memin- ta kebijakan kepada DJBC untuk tetap menerimanya karena perusahaan-perusahaan besar yang memiliki daerah pabean independen tersebut hingga kini tidak menyulitkan DJBC dalam melaksanakan pengawasan maupun pelayanannya. Dengan kondisi tersebut menurut Commercial Leasing manager Soewarna, Michael Hendra, pihaknya dapat memahami apa yang diinginkan oleh DJBC dalam penataan daerah pabean sesuai dengan PerMenkeu tersebut, dan DJBC juga tidak langsung serta merta menetapkan sesuai dengan aturan yang ada. Khusus untuk DOK. PRIBADI TPS independen yang ada di Soewarna Business Park, DJBC telah bertindak arif dengan tetap menerima keberadaannya sehingga para pengusaha pun merasa sangat terbantu dan terlayani dengan baik. “Satu hal yang kiranya perlu mendapat perhatian dari DJBC, adalah waktu sosialisasi dengan waktu penerapan sangat berdekatan sekali, sehingga kami merasa sangat terburuburu. Namun dengan jalinan komunikasi yang baik antara pihak kami dengan DJBC, kami pun diberikan masa tenggang untuk penerapan secara penuh ISHAK CHANDRA. Saat ini masih ada PerMenkeu tersebut,” tangudang domestik yang berdekatan das Michael. adi dengan TPS

etelah sempat menimbulkan kebingungan di kalangan Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) menyangkut batas waktu registrasi PPJK, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengeluarkan kebijakan melalui surat yang ditandatangani oleh Dirjen Bea dan Cukai mengenai pelayanan PPJK yang belum memiliki Nomor Pokok PPJK baru yang ditujukan kepada Kepala Kantor pela- ANWAR SUPRIJADI. Penolakan registrasi menurut Anwar lebih yanan Utama (KPU) dikarenakan pada PPJK yang tidak dan para Kepala Kantor menyelenggarakan pembukuan Pengawasan dan Pela- sesuai prinsip akuntansi Indonesia dan pengisian data yang tidak benar yanan Bea Cukai (KPPBC) seluruh Indo- atau tidak lengkap nesia. Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, kebijakan yang dimaksud yaitu mengenai registrasi PPJK yang tidak hanya dibatasi sampai 17 Oktober 2007, melainkan berkelanjutan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Pernyataan tersebut disampaikan Anwar Surijadi pada 24 Oktober 2007 lalu di KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok kepada Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Gabungan Forwarder dan Ekspedisi (Gafeksi) wilayah Jakarta, Dewan Pelabuhan Indonesia (Depalindo) yang dihadiri oleh Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai Hery Kristiono, Kepala KPU Agung Kuswandono, Pjs Direktur Teknis Kepabeanan Joko Wiyono dan juga pers. Pernyataan tersebut sekaligus mengklarifikasi pemberitaan yang menyebutkan, PPJK yang tidak melakukan registrasi sampai 17 Oktober 2007 tidak akan dilayani kegiatan kepabeanannya dan tidak dapat melakukan kegiatan registrasi. Menurut Anwar, yang ada saat ini selain PPJK yang telah melakukan registrasi dan telah mendapat Nomor Pokok PPJK (NP-PPJK) baru yang bisa melakukan kegiatan kepabeanannya, PPJK yang sudah melakukan registrasi sebelum tanggal 17 Oktober 2007 namun belum memiliki NPPPJK baru karena belum mendapat keputusan atau ditolak selain alasan existence (keberadaan) dan juga responsibility, maka PPJK tersebut masih dapat beroperasi dengan menggunakan nomor pokok yang lama sampai dengan 31 Desember 2007 dan menyesuaikannya dengan jangka waktu jaminan sesuai dengan ketentuan yang lama.
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

53

KEPABEANAN
WBC/ATS

data elektronik untuk bisa langsung on-line dengan bea cukai sehingga tidak harus melalui PPJK, sehingga bisa memudahkan dan mempersingkat waktu dan memperlancar usaha, ”Apalagi kalau memiliki PPJK, tentunya pelayanan akan lebih baik lagi”,ujar Toto.

ARUS BARANG DI TANJUNG PRIOK LANCAR.
Pertemuan tersebut juga mengklarifikasi pemberitaan lain yang mengatakan telah terjadinya kongesti di pelabuhan Tanjung Priok. Menurut Anwar Suprijadi, kelambatan kelancaran arus barang keluar masuk pelabuhan Tanjung Priok sebelum dan sesudah Idul Fitri, tidak berhubungan dengan proses registrasi PPJK, melainkan karena adanya kebijakan pemerintah yang membatasi pengangkutan barang non konsumsi dalam hal ini sembako, yang berdampak pula pada berkurangnya aktivitas industri dan aktivitas buruh pelabuhan selama lebaran dan lain-lain. Yard Occupancy Ratio (YOR) atau rasio keterisian lapangan kontainer terhadap jumlah kotainer yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok pada 20 Oktober 2007 lanjut Anwar mencapai 75 sampai 80 persen,”Kalau terjadi kongesti, maka YOR-nya mencapai 85 sampai 90 persen,”ujar Anwar Hal senada juga disampaikan oleh Sjukri Siregar, menurutnya penumpukkan kontainer di Tanjung Priok terjadi karena belum siapnya armada pengangkut untuk beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok mengingat masih banyaknya awak kendaraan yang masih libur selain adanya peraturan dari Menteri Perhubungan mengenai angkutan berat di masa lebaran tidak boleh beroperasi pada H-4 sampai H+1,”Secara full kegiatan pengangkutan di Tanjung Priok baru efektif tanggal 22 Oktober dan tidak ada hubungannya dengan kelambatan di di KPU,”ujar Sjukri. Cuti bersama tidak mengurangi aktivitas pelayanan dan pengawasan di KPU Tajung Priok. Menurut Kepala KPU Tanjung Priok Agung Kuswandono, hingga tanggal 23 Oktober 2007, jumlah Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang masuk melalui KPU mencapai 1500-an dan sudah kembali normal. Pada saat sebelum dan sesudah lebaran lanjut Agung, pihaknya siaga dan mendirikan posko 24 jam guna memperlancar arus barang. “Kita juga kerja seperti biasa sampai jam 5 sore dan ada posko 24 jam sejak tanggal 17 hingga 19 Oktober 2007. Namun arus barang baik masuk maupun keluar ketika itu juga rendah,”terang Agung. zap

POSKO REGISTRASI. Yang berada di KP-DJBC siap membantu kelancaran registrasi.

Sedangkan bagi PPJK yang ditolak registrasinya karena alasan tadi atau tidak melakukan registrasi sampai 17 Oktober 2007, tidak dapat dilayani kegiatan kepabeanannya, namun dapat mengajukan registrasi baru untuk selanjutnya diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jumlah PPJK yang telah melakukan registrasi hingga 17 Oktober 2007 berjumlah 1167 dengan rincian status proses hingga 22 Oktober 2007 yaitu; 482 registrasi diterima, 238 dalam proses analisa di Kantor Pusat DJBC, 262 dalam proses penelitian lapangan yang dilakukan di Kanwil DJBC dan 185 registrasi ditolak (berdasarkan data pada website DJBC jumlah PPJK yang telah mendapatkan NPPJK hingga 20 Nopember 2007 mencapai 849 PPJK). Penolakan registrasi menurut Anwar lebih dikarenakan PPJK tidak menyelenggarakan pembukuan sesuai prinsip akuntansi Indonesia dan pengisian data yang tidak benar atau tidak lengkap. Sedangkan sampai 7 November 2007, PPJK yang melakukan registrasi sebanyak 1192.

SAMBUTAN POSITIF PENGUSAHA.

Ketua DPW Gafeksi wilayah DKI Jakarta Sjukri Siregar pada pertemuan tersebut menyambut WBC/ATS gembira kebijakan tersebut, mengingat saat ini PPJK yang ada di Indonesia sebagian besar berbentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang harus dibina pemerintah, sehingga kalau proses registrasi tidak diperpanjang berdampak pada penutupan usaha dan terjadi pengangguran. Ia pun sepakat dengan adanya registrasi ini maka PPJK nakal akan tersingkir. Ketua Depalindo Toto Dirgantoro pada kesempatan tersebut mengamini pernyataan Sjukri tersebut. Dengan adanya kebijakan tersebut, maka importir produsen yang menggunakan PPJK diberi kepastian usahanya tidak terganggu dengan adanya registrasi PPJK tersebut, mengingat saat ini masih banyak importir produsen yang menggunakan jasa PPJK dalam melakukan pengurusan impor barang. Untuk kemudahan bagi importir produsen lanjut Toto, pihaknya menyarankan agar importir produsen mengajukan Pertukaran Data REGISTRASI PPJK. Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi didampingi pejabat eselon II dan III yang Elektronik (PDE) melalui PT EDI berkaitan dengan registrasi PPJK menyampaikan kepada Gafeksi, Depalindo dan pers mengenai batas selaku penyedia jasa pertukaran registrasi PPJK yang berkelanjutan sampai waktu tidak terbatas. 54
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

WBC/ATS

KONFERENSI PERS. Para pemimpin dari instansi yang terlibat dalam NSW memberikan penjelasan mengenai NSW

NATIONAL SINGLE WINDOW

INDONESIA SIAP JALANKAN SISTEM

P

Indonesia telah mampu membangun suatu otomasi sistem yang terintegrasi dalam proses pelayanan publik, dan sekaligus menunjukkan komitemen Indonesia terhadap kesepakatan ditingkat regional ASEAN

emerintah pada 19 November 2007, melakukan uji coba awal sistem National Single Window (NSW) di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (KP-DJBC), Jakarta. Uji coba NSW ini untuk sementara baru melibatkan dua instansi yaitu Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta sepuluh importir penerima fasilitas jalur prioritas yang bergerak dibidang impor makanan,minuman dan obat. Uji coba sekaligus soft launching official website Indonesia NSW dihadiri oleh Dirjen DJBC Anwar Suprijadi, Sekretaris Pelaksana NSW Eddy Putra Irawadi, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Dyah Maulidia, dan beberapa perwakilan dari instansi terkait seperti Badan POM, Badan Karantina Pertanian, Badan Karantina Ikan, dan instansi terkait lainya. Acara tersebut mengujicobakan pengiriman dan pemrosesan data elektornik melalui web service gateway antara in-house system yang ada di DJBC dalam hal ini Kantor Pelayanan Utama (KPU)Bea dan Cukai Tanjung Priok dengan in-house system yang ada pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sekretaris tim NSW Eddy Putra Irawadi mengatakan, uji coba awal ini merupakan langkah awal dan persiapan sebelum dilakukannya implementasi tahap kesatu sistem NSW di Indonesia yang melibatkan berbagai instansi pemerintah pada akhir

Desember 2007 hingga akhir Maret 2008, dimana sesuai dengan jadwal dan tahapan yang telah disepakati oleh negara anggota ASEAN, enam negara anggota ASEAN harus sudah mulai menerapkan sistem NSW pada akhir tahun 2007. Masih menurut Eddy, pada uji coba NSW, dua instansi tersebut yaitu DJBC dan BPOM telah melakukan proses pertukaran data dengan menggunakan data-data yang sebenarnya dan bukan lagi data yang sifatnya dummy,dimana pada in-house system milik DJBC terdapat dua sistem dengan platform yang berbeda yaitu in-house sistem milik DJBC dan in-house sistem milik BPOM yang berjalan secara paralel. Begitu juga dengan BPOM, yang sejak dimulainya ujicoba NSW sudah mulai diberlakukan proses keputusan perijinan yang diterbitkan dalam bentuk data elektronik melalui proses otomasi pada in-house system BPOM. Terlibatnya beberapa instansi pemerintah dalam sistem NSW, selain digunakan untuk membangun sistem elektronik yang terintegrasi, juga dapat dimanfaatkan sebagai forum bersama semua instansi pemerintah dalam memecahkan dan mencari solusi atas berbagai macam persoalan dan permasalahan di tingkat kebijakan, misalnya mengenai kejelasan dan kesamaan persepsi atas larangan dan pembatasan (tata niaga) berbagai komoditi impor antara semua instansi pemerintah terkait. “Salah satunya (solusi.red) adalah dengan penerapan risk management dalam layanan perijinan, dimana importir jalur prioritas nantinya tidak hanya akan diperlakukan “istimewa” pada saat customs clearance di DJBC, tapi juga akan menjadi priority client pada pengurusan perijinan di semua instansi pemerintah,”papar Herry Kristiono selaku Ketua Satuan Tugas Teknologi Informasi NSW ketika memaparkan sistem NSW yang di uji cobakan. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengatakan, pihaknya sebagai pihak yang ditunjuk untuk menjalankan
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

55

KEPABEANAN
FOTO-FOTO WBC/ATS

UJI COBA NSW. Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi bersama Sekretaris Tim NSW Eddy Putra Irawadi ketika mencoba situs NSW

WEBSITE INSW. Untuk sementara hanya akan digunakan untuk layanan penyampaian informasi dan media komunikasi dengan public

NSW, telah mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Nomor P33/BC/2007 tentang Pelaksanaan ujicoba sistem NSW pada KPU Tanjung Priok, yang pada intinya mengatur mengenai Tata Kerja Pelayanan Dokumen Elektronik dan penetapan peserta ujicoba awal sistem NSW yang berasal dari importir jalur prioritas. Setelah ujicoba ini diberlakukan, secara bertahap setiap minggunya akan dilakukan penambahan instansi pemerintah yang ikut bergabung kedalam sistem NSW. “Beberapa yang sudah siap dan sesuai dengan jadwal yang terdapat pada blueprint yaitu DJBC, Badan POM, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Badan Karantina Pertanian dan Pusat Karantina Ikan. Dengan demikian pada implementasi tahap kesatu akhir Desember 2007 lima instansi pemerintah tersebut terhubung dengan sistem NSW,” terang Anwar. Untuk mendukung keberhasilan tim penerapan sistem NSW, terutama pada saat implementasi tahap kesatu pada akhir Desember hingga Maret 2008 nanti, tim NSW sedang merumuskan konsep layanan informasi bersama yang ditujukan untuk menjadi media komunikasi dan konsultasi dalam menghadapi dan menyelesaikan semua permasalahan, kendala dan hambatan yang mungkin terjadi dalam proses ekspor dan impor. Untuk tahap ujicoba, disepakati akan menggunakan Client Coordinator pada KPU sebagai front desk dari layanan tersebut. Dengan adanya NSW, maka Indonesia telah mampu membangun suatu otomasi sistem yang terintegrasi dalam proses pelayanan publik, dan sekaligus menunjukkan komitemen Indonesia terhadap kesepakatan ditingkat regional ASEAN. “Selain itu yang paling penting adalah untuk menjawab tuntutan kebutuhan dan kepentingan nasional kita (Indonesia.red) dalam rangka meningkatkan pelayanan dan pengawasan atas lalu lintas ekspor impor,”ujar Anwar kembali.

SITUS RESMI NSW
Ketika ditanya dasar hukum mengenai pertukaran data elektronik yang terdapat pada NSW, Anwar memaparkan, tim persiapan NSW masih menunggu keluarnya peraturan presiden (Perpres) yang mengatur mengenai aspek legal penggunaan data elektronik dalam layanan publik ekspor impor,sambil menunggu disetujuinya Rancangan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektoronik. “Karena kebijakan ini (pertukaran data elektronik) berkaitan dengan kegiatan kepabeanan, maka kita akan mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 (UU No17/2006) tentang Kepabeanan, disitu (UU No.17/2006.red) ada aturan mengenai pertukaran data elektronik yang berkaitan dengan kepabeanan,”papar Anwar. Mengenai sanksi jika terdapat penyalahgunaan pertukaran data elektronik terutama yang berhubungan dengan kepabeanan, Anwar mengatakan akan ditindak dengan UU No.17/2006. Namun apabila berkaitan dengan tindak pidana ekonomi, mestinya akan mengacu pada tindakan yang me56
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

ngacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Mengenai dasar hukum pertukaran data elektonik yang berhubungan dengan NSW, Joko Agung dari Departemen Komunikasi dan Informasi yang hadir pada acara tersebut mengatakan, Perpres tersebut tidak dimaksudkan untuk mengganti Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektoronik yang kini pada tahap final pembahasan di DPR. Dasar hukum yang dikeluarkan melalui Perpres merupakan suatu status hukum atau keabsahan informasi elektronik dan transaksi elektronik dalam konteks NSW, dimana dalam Perpres tersebut diatur mengenai portal NSW, penanggung jawab portal dan para instansi terkait, pengguna portal, kewajiban, tanggung jawab dan juga keamanannya. “Mengenai sanksi memang tidak diatur dalam Perpres, karena ini merupakan suatu payung hukum dalam rangka menjalankan NSW di Indonesia sampai keluarnya Undang-Undang mengenai informasi dan transaksi elektronik,”ujar Joko. Pada acara uji coba NSW yang berbasis pada teknologi informasi, Tim persiapan NSW meluncurkan situs resmi NSW yang akan digunakan dalam penyampaian informasi kepada publik terkait dengan penerapan sistem NSW di Indonesia dengan alamat http://www.nsw.or.id. Eddy Putra Irawadi kembali menjelaskan, dengan adanya situs resmi tersebut, diharapkan semua pihak yang terkait dengan lalu lintas barang impor maupun ekspor dan semua calon pengguna sistem NSW, akan mendapatkan informasi yang lengkap dan jelas tentang berbagai hal dan perkembangan terakhir mengenai pembangunan dan penerapan sistem NSW di Indonesia serta perkembangan penerapan ASEAN Single Window. Susiwiyono selaku Wakil Ketua Satuan Tugas Teknologi Informasi NSW pada acara tersebut memaparkan, situs NSW yang diluncurkan pada soft launching, untuk sementara hingga pada tahap implementasi tahap kesatu, hanya akan digunakan untuk layanan penyampaian informasi dan media komunikasi dengan publik, guna menjelaskan semua permasalahan yang terkait dengan penerapan sistem NSW. “Pada saat implementasi tahap kesatu nanti, diharapkan akan sepenuhnya menjadi portal nasional untuk layanan publik secara elektronik yang terintegrasi dan direncakanan akan menggunakan alamat situs http://www.insw.go.id,” ujarnya lagi. Dalam kesempatan pemaparan mengenai situs NSW, Susiwiyono mengatakan, situs tersebut dalam proses percobaan, mengalami kendala akibat adanya serangan hacker yang berusaha untuk merusak situs tersebut. Namun dengan berbagai upaya lanjut Susiwiyono, serangan tersebut dapat diredam dengan berbagai macam cara sehingga dapat digunakan pada saat dilakukannya acara launching NSW. “Kami dari tim, terus berupaya untuk selalu meningkatkan keamanan situs tersebut dan terus memantau jangan sampai situs tersebut diserang,” ujar Susiwiyono zap

SEPUTAR BEACUKAI

WBC/ATS

JAKARTA. Badan Pelaksana Olah Raga Departemen Keuangan (Depkeu) RI pada 28 Oktober 2007 menyelenggarakan gerak jalan santai bagi keluarga besar di lingkungan Depkeu. Acara gerak jalan dalam rangka memperingati Hari Keuangan ke-61, dibuka oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati didampingi Menko Perekonomian, Boediono, ditandai dengan pengangkatan bendera start (gambar kiri). Gerak jalan yang diikuti seluruh pejabat eselon I, II, III, IV dan karyawan-karyawati dilingkungan Depkeu, menempuh jarak 5 km dengan rute Depkeu - Istana Negara – Kedubes Amerika – Stasiun Gambir – Kantor Pertamina – dan kembali ke gedung Depkeu. Usai gerak jalan, acara dilanjutkan dengan pertandingan voli persahabatan antara Menkeu Sri Mulyani Indrawati berserta staf eksekutif dilingkungan Depkeu dengan tim voli Forkem (Forum Komunikasi Ekonomi Moneter). Tampak pada gambar kanan foto bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani beserta staf eksekutif sebelum bertanding.
WBC/ATS

FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota, Dharma Wanita Persatuan Keluarga Besar DJBC Kantor Pusat dan sekitarnya mengadakan acara halal bihalal di Auditorium gedung B, pada 7 November 2007. Acara diisi dengan pembacaan ayat suci Alqur’an dan dilanjutkan dengan katakata sambutan dari Ketua penyelenggara Ny. Kusdirman dan Ketua Dharma Wanita Persatuan DJBC Ny. Anwar Suprijadi. Setelah itu dilanjutkan dengan ceramah siraman rohani dibawakan oleh Ustadz. Syahrulsyah (juri dalam acara Pidacil di Lativi). Hadir dalam acara tersebut Ny. Permana Agung, Ny. Eddy Abdurrachman, Ny. Rachmat Malik (Yayasan Kesejahteraan Pensiunan Bea dan Cukai), Ny. Syahrir Djamiluddin, Ny. Toto Sugiatno Samingan. Acara diakhiri dengan semua jajaran Dharmawanita Persatuan DJBC Kantor Pusat memberi ucapan Minal Aidin Walfaidzin kepada Ny. Anwar Suprijadi. MALANG. Pada 29 Oktober 2007 Tim Futsal Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II mengikuti pertandingan futsal antar instansi Departemen Keuangan, yang diselenggarakan oleh Kanwil Ditjen Pajak III Malang dalam rangka menyambut Hari Keuangan ke-61. Dalam pertandingan yang disaksikan langsung oleh Kakanwil DJBC Jatim II C.F Sidjabat beserta staff, tim futsal Kanwil DJBC Jatim II tampil sebagai juara pertama setelah mengalahkan dua tim yaitu tim futsal Kanwil DJP III Malang dengan skor 5-3, serta tim futsal KPPN (gabungan) Malang dengan skor cukup telak 9-2. Tampak pada gambar, tim futsal Kanwil DJBC Jawa Timur II bersama Pjs. Kabag Umum Arwansyah (tengah, baju safari) dan Kepala Seksi Fasilitas Kepabeanan Zulkifli Syah (berdiri memakai jaket, kedua dari kanan) serta kapten tim Marlon Wongkar (seragam no.10). Kiriman KPPBC Malang

s

EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

57

SEPUTAR BEACUKAI

FOTO : MUQSITH HAMIDI

BALIKPAPAN. Pada 24 Oktober 2007 bertempat di KPPBC Tipe A3 Balikpapan diadakan acara Halal bi Halal sebagai rasa syukur setelah berhasil selama sebulan penuh menjalani ibadah puasa dibulan Ramadhan. Acara ini juga sebagai wujud silaturahmi antar pegawai dilingkungan KPPBC Tipe A3 Balikpapan setelah satu minggu lebih menikmati libur untuk merayakan lebaran. Acara yang diselenggarakan secara sederhana ini dibuka oleh sambutan Kepala KPPBC Tipe A3 Balikpapan, Taryono Ekso Wardoyo kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh Ustadz Mayor (TNI AD) Drs. Sholehuddin Siregar, MM. Acara serasa makin lengkap dengan dilaksanakannya sholat Dzuhur berjamaah dan makan siang bersama di KPPBC Tipe A3 Balikpapan. Tampak pada gambar, Ustadz Mayor (TNI AD) Drs. Sholehuddin Siregar, MM menyampaikan ceramahnya dan Kepala Kantor Taryono yang tengah bersalamsalaman dengan semua jajarannya di KPPBC Tipe A3 Balikpapan. Muqsith Hamidi, Balikpapan.
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Keluarga besar KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok menyelenggarakan acara halal bi halal bersama seluruh pejabat dan pegawai pada Rabu 24 Oktober 2007 di Aula Lantai 5 Gedung Induk KPU Jl. Pabean No. 1 Tanjung Priok Jakarta Utara. Acara tersebut termasuk rangkaian ansyithah (agenda) Ramadhan 1428 H yang dibidani oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) KPU Tanjung Priok. Acara diisi dengan sambutan dari Kepala KPU Agung Kuswandono dan dilanjutkan dengan siraman rohani yang dibawakan oleh Ustadz Abdul Muyassir, Lc., M.Ag dari Pusat Studi Islam AlManar Jakarta Timur dan diakhiri dengan ramah tamah. Ari Julianto, Humas Panitia KPU Tanjung Priok.

FOTO : KIRIMAN

CENGKARENG. Pada 24 Oktober 2007 bertempat di gedung Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta telah dilangsungkan rapat dengar pendapat antara anggota DPR Komisi XI dengan Perum Angkasa Pura bersama instansi terkait di lingkungan Bandara Soekarno Hatta. Tampak dalam gambar Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Tipe A1 Bea dan Cukai (KPPBC) Soekarno Hatta, Rahmat Subagio, berdampingan dengan Ketua Komisi XI Endin AJ Soefihara sebagai Pemimpin Rapat, dan Direktur Utama Angkasa Pura. Pengirim Kasubag Umum KPPBC Tipe A1 Soekarno Hatta

58

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Dalam rangka memperingati HUT RI ke-62 tahun 2007, KPPBC Tipe A2 Jakarta menyelenggarakan donor darah yang diikuti oleh para Pejabat dan Pegawai, Honorer, cleaning service serta para stakeholder di lingkungan KPPBC Tipe A2 Jakarta pada 2 Nopember 2007. Kiriman Ridho Budi, KPPBC Jakarta

KUPANG. Kepala Kanwil DJBC Bali, NTB dan NTT Drs. Faried Syibli Barchia, MA dan Kabag Umum Drs. Efratha Simanjuntak melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A4 Kupang. Tampak dalam gambar foto bersama Kakanwil Denpasar, NTB dan NTT Drs. Faried Syibli Baarchia (nomor 4 dari kiri), KPPBC Drs. Budiarto, MM (nomor 3 dari kanan) beserta Kepala Seksi dan para Pegawai Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A4 Kupang. Basuki Rokhmat, KPPBC Tipe A4 Kupang
FOTO : KIRIMAN

t

FOTO : KIRIMAN

KUPANG. Australian Customs dan DJBC dalam hal ini melalui KPPBC Tipe A4 Kupang melakukan kerja sama penanganan Ilegal Fishing di daerah perbatasan kedua negara (Kupang – Darwin). Tampak dalamgambarb foto bersama Kepala Kantor Drs. Budiarto, MM dan staf dengan perwakilan Australian Customs (Kate Walker dan rekan). Basuki Rokhmat, KPPBC Tipe A4 Kupang
FOTO : KIRIMAN

PONTIANAK. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Pontianak mengadakan Sosialisasi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai pada hari Kamis 8 November 2007. Acara yang dihadiri oleh para Pengusaha Barang Kena Cukai tsb. dibuka oleh Kepala Kantor, GH Sutedjo SH, MH didampingi oleh Kepala Seksi Pabean , Agus Pramono SH dan Kepala Seksi P2 Sukimin SH serta Kepala Bidang P2 Kanwil Pontianak, Isja Bewirman Selanjutnya, presentasi materi disampaikan oleh Kepala Seksi Pabean dan ditutup dengan tanya jawab. Kiriman KPPBC Pontianak.

EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

59

SEPUTAR BEACUKAI

FOTO-FOTO : KIRIMAN

TERNATE. Dalam rangka memeriahkan HUT Keuangan ke-61 pada 30 Oktober 2007, perwakilan Departemen Keuangan Maluku Utara, KPPBC Tipe A4 Ternate berhasil meraih prestasi juara umum perlombaan olah raga yakni voli (juara I), Tenis Meja (juara I), lomba kartu domino (juara I dan II) dan juara II untuk catur dan bilyard. Tampak pada gambar, tim voli KPPBC Tipe A4 Ternate (berdiri) foto bersama dengan tim voli dari KP PBB Ternate (jongkok) sesaat sebelum pertandingan voli dimulai. Kiriman KPPBC Tipe A4 Ternate

TERNATE. Pada 5 September 2007 di Aula KPPBC Tipe A4 Ternate telah dilakukan pengambilan sumpah/pengukuhan jabatan kepada lima pejabat eselon IV pada KPPBC Tipe A4 Ternate oleh Kepala KPPBC Tipe A4 Ternate, Suaidy, S.Pt., MM., dengan saksi dua pejabat dari Kanwil XXVIII Ditjen Perbendaharaan Ternate. Tampak pada gambar, Kepala KPPBC Tipe A4 Ternate sedang menyematkan tanda jabatan kepada salah satu perwakilan pejabat eselon IV yang dikukuhkan. Kiriman KPPBC Tipe A4 Ternate

TERNATE. Sosialisasi Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai, telah diselenggarakan oleh KPPBC Tipe A4 Ternate pada 4 Oktober 2007 dengan mengambil tempat di Aula Gedung Kanwil XXVIII Ditjen Perbendaharaan Ternate. Acara dibuka oleh Kepala KPPBC Tipe A4 Ternate, Suaidy, S.Pt., MM, dan sebagai pemberi materi Kasi DTDD A. Putut Wijayadi, SH., MH. Sosialisasi ini dihadiri oleh para market forces dan instansi pemerintah yang terkait. Kiriman KPPBC Tipe A4 Ternate

PALEMBANG. Dalam memperingati Hari Keuangan ke-61, perwakilan Departemen Keuangan Palembang menyelenggarakan berbagai kegiatan olah raga yang diikuti oleh semua instansi di lingkungan Depkeu sewilayah kerja Kota Palembang. KPPBC Palembang berhasil meraih Juara I cabang bola volley, Juara II cabang Tenis Meja, Juara II cabang Tarik Tambang, Juara III cabang Bulu Tangkis dan Juara III cabang Futsal. Tampak dalam gambar adalah Tim Juara I cabang Bola Volley dari KPPBC Palembang. (Try Novianto, KPPBC Palembang).

60

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

FOTO-FOTO : KIRIMAN

CENGKARENG. Bertempat di Aula gedung A KPPBC Tipe A1 Bea dan Cukai Soekarno Hatta pada 25 Oktober 2007 telah dilangsungkan acara Halal Bihalal dengan seluruh karyawan karyawati dan ibu-ibu Dharmawanita. Acara diisi dengan ceramah siraman rohani yang dibawakan oleh Ustadz Ir. Jamil Azzaini, MM. Tampak dalam gambar Jamil Azzaini dan Kepala KPPBC Tipe A1 Soekarno Hatta Rachmat Subagio beserta Nyonya menerima ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H sambil bermaaf-maafan dari seluruh karyawan dan juga Ibu-ibu Dharma Wanita. Pengirim Kasubag Umum KPPBC Tipe A1 Soekarno Hatta

TANGERANG. KPPBC Tipe A2 Tangerang sejak 27 Oktober 2007 telah menempati kantor baru di daerah BSD, tepatnya di Komplek Tol Boulevard BSD City Jl. Pahlawan Seribu Blok B 1-5, Tangerang. Acara syukuran dan peresmian kantor baru dilaksanakan pada 8 November 2007 oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Banten, Iswan Ramdana. Dalam acara yang dihadiri oleh Pejabat Eselon III di lingkungan Kanwil Banten, segenap pejabat dan pegawai KPPBC Tangerang serta para stakeholder, juga sekaligus diselenggarakan dalam rangka Halal Bihalal 1428 H dan pelepasan tiga pegawai KPPBC Tangerang yang menjalani masa purna tugas. Syaifuddin, Kasi P2 KPPBC Tangerang

BANTEN. Dalam rangka memperingati Hari Keuangan ke-61 di lingkungan Departemen Keuangan Propinsi Banten diselenggarakan pertandingan voli yang diikuti Ditjen Bea dan Cukai, Ditjen Pajak, Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Kekayaan Negara. Dari hasil pertandingan final pada 29 Oktober 2007 Kanwil DJBC Banten tim putra menjadi juara I dan tim putri menjadi juara III, dan dengan demikian Kanwil DJBC Banten memegang gelar juara umum dalam pertandingan voli dilingkungan Departemen Keuangan Propinsi Banten tersebut. Tampak pada gambar kiri, foto bersama tim putra Kanwil DJBC Banten yang menjadi juara I dan gambar kanan, foto bersama tim putri Kanwil DJBC Banten yang menjadi juara III. Penyerahan piala dilakukan pada saat upacara Hari Keuangan RI ke-61 pada 30 Oktober 2007 di halaman gedung KPP Pratama Serang. Kiriman Eddy Kusuma, Kepala bagian Umum Kantor Wilayah DJBC Banten

EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

61

INFO PERATURAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Nopember 2007
No. P E R A T U R A N Nomor 1. 2. 101/PMK.04/2007 102/PMK.04/2007 Tanggal 05-09-07 05-09-07 Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Peralatan Dan Bahan Yang Digunakan Untuk Mencegah Pencemaran Lingkungan. Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Obat-Obatan Yang Dibiayai Dengan Menggunakan Anggaran Pemerintah Yang Diperuntukan Bagi Kepentingan Masyarakat. Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Buku Ilmu Pengetahuan. Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Bibit Dan Benih Untuk Pembangunan Dan Pengembangan Industri Pertanian, Peternakan, atau Perikanan. Pembebasan Bea Masuk dan/atau Cukai Atas Impor Kembali Barang Yang Telah Diekspor. Pemeriksaan Jabatan Atas Barang Impor Atau Barang Ekspor. Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Hasil Laut Yang Ditangkap Dengan Sarana Penangkap Yang Telah Mendapat Izin. Ketentuan Untuk Melakukan Perubahan Atas Kesalahan Data Pemberitahuan Pabean Impor. Pajak Pertambahan Nilai Dibayar Oleh Pemerintah Atas Penyerahan Minyak Goreng Curah Di Dalam Negeri. P E R I H A L

3. 4.

103/PMK.04/2007 105/PMK.04/2007

05-09-07 05-09-07

5. 6. 7. 8. 9.

106/PMK.04/2007 107/PMK.04/2007 113/PMK.04/2007 115/PMK.04/2007 118/PMK.011/007

05-09-07 05-09-07 19-09-07 19-09-07 24-09-07

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Nopember 2007
P E R A T U R A N No. 1. Nomor P-29/BC/2007 Tanggal 26-10-07 Nota Hasil Intelijen P E R I H A L

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Nopember 2007
P E R A T U R A N No. 1. 2. Nomor SE-19/BC/2007 SE-20/BC/2007 Tanggal 11-10-07 22-10-07 Pelayanan Dan Penyediaan Pita Cukai Selama Cuti Bersama Dan Bulan Desember 2007. Penetapan Wilayah Operasi Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Dan Wilayah Kerja Balai Pengujian Dan Identifikasi Barang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Proaktif. P E R I H A L

3.

SE-21/BC/2007

26-10-07

62

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

ENGLISH SECTION

Green Customs Workshop
The goal of Green Customs Workshop is to enhance customs officers capacity to detect and act on illegal trade in environmentally-sensitive items covered by the relevant international agreements

“U

N Chief says global warming is an emergency”. It is as headline of Jakarta Post, daily newspaper, November, Sunday 11, 2007. The headline is so attractive and stimulates me to know more not only about that news but also what the global warming is. United Nation Secretary General Ban Ki-moon called for urgent political action to tackle global warming. UN Chief spoken based on last situation and condition happen in Antartika that prove the global warming tends to increase. Serious effects of the global warming enhance me to write down some information that relevant with Indonesian Customs measurement and hopefully, it can drive Indonesian Customs offiPHOTO BY CERAH BANGUN

INDONESIAN’S PARTICIPANTS. From left to right Bernardus Sutcipto, Santi, and Cerah Bangun.

cer doing job properly, especially at border. Then, following is an occasion proved Indonesian is doing something to minimize global warming. As we know that Indonesia will be hosting the 13 th Conference of Parties of The United Nation Framework on Convention on Climate Change (UNFCCC), December 3-14, 2007, in Bali. This is a time to remind our commitment regarding global warming. Wikipedia states that climate change refers to the variation in the Earth’s global climate or in regional climates over time. It describes changes in the variability or average state of the atmosphere over time scales ranging from decades to millions of years. These changes can be caused by processes internal to the earth, external forces (e.g. variations in sunlight intensity) or, more recently, human activities. This paper discusses regarding climate change caused by human activities or human influences, especially the increasing of Carbon Monoxide (CO). Based on research, the biggest factor of present concern is the increase in CO levels due to emissions from fossil fue combustion, followed by particulate aerosols (particulate matter in the atmosphere) which exerts a cooling effect and cement manufacture. Other factors, including land use, ozone depletion, animal, agriculture and deforestation also affect climate. Especially talking about Ozon Depleting Substances (ODS), there are many actions that have been created either internationally, regionally, or nationally to enhance capability of both government and non-government institutions in deal with missuse of ODS. What action has done relevant with customs effort to support global warming campaign ? One of them is Green Customs Workshop. After receiving the award “Champions of the Earth” from United Nation Environment Program (UNEP), the Royal Government of Bhutan hosted the first sub regional Green Customs Workshop in 2005. Around 40 participants, both from the Customs and Environment Department of eight countries in the region (Bangladesh, Bhutan, China, India, Indonesia, Nepal, Sri Lanka, and Thailand), were attending the workshop, organized by United Nations Environment Program (UNEP) in collaboration with the World Customs Organization, Interpol, and the Organization for Prohibition of Chemical Weapons. As Indonesian’s Participants were Mr. Cerah Bangun (the writer, at that time assigned as Head of Investigation and Prevention Section at Customs Service Office Belawan), Mr. Bernardus Sutcipto (at that time assigned as Head of Investigation and Prevention Section at Customs Service Office Ngurah Rai Denpasar) and Mrs. Santi (Indonesian Environment Ministry). I met with Mr. Bernardus and Mrs. Santi, in Bangkok and we discussed
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

63

ENGLISH SECTION
PHOTO BY CERAH BANGUN

BHUTAN. After receiving the award “Champions of the Earth” from United Nation Environment Program (UNEP), this country hosted the first sub regional Green Customs Workshop in 2005.

and prepared material for the workshop. Later, we went together to Bhutan. After transit at Mombay airport, India, we flied through Himalaya mountains passed by beautiful snow covered the sharp mountains, and landed in Paro airport, Bhutan. Pilot must have enough experience flying because the sky can blind suddenly and there are many mountains should be avoided before landing as Himalaya Mountain one of the highest mountains in the world. What a tight flight!

GREEN CUSTOMS
What is the Green Customs? The Green Customs known as Green Customs Initiative (GCI), launched in 2001 alongside partner organizations such as The Secretariats of the Basel, Stockholm and Rotterdam Conventions, The Montreal and Cartagena Protocols, The Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), The United Nations Environment Program (UNEP), and Interpol. The GC dealt with other institutions both nationally and regionally, to enhance responsibility about Environment. This Initiative is not only aimed at raising the awareness of customs services and other border control agencies about the different Multilateral Environmental Agreements (MEAs) but also offers a coordinated approach for 64
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

providing information, training and awareness to customs officials to help them monitor trade in commodities of environmental concern. The goal of Green Customs Workshop is to enhance customs officers’ capacity to detect and act on illegal trade in environmentally-sensitive items covered by the relevant international agreements such as the World Customs Organization (WCO), Interpol, The Convention on Biological Diversity (CBD), The Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), The Basel Convention (Basel Convention on the Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and their Disposal), The Montreal Protocol (The Montreal Protocol on Substances That Deplete the Ozone Layer), The Rotterdam Convention (Rotterdam Convention on the Prior Informed Consent Procedure for Certain Hazardous Chemicals and Pesticides in International Trade), The Stockholm Convention (Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants), and CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna. Frankly speaking, all the conventions are relevant with customs duty and discussed at the Green Customs Workshop, but in this paper I want to highlight The Montreal Protocol. What is The Montreal Protocol ? The Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone

Layer is an international environmental agreement that was signed in September 1987 and came into force in 1 January 1989. The Protocol was developed in response to indisputable scientific findings that the depletion of the stratospheric ozone layer, due to chlorine and bromine emissions from human activities, is causing considerable damage to the environment and human health. The main objective of the Protocol is to reduce and eliminate consumption and emission of ozone depleting substances (ODS) by setting freeze and phase out schedules for both developed and developing countries and countries with economies in transition (CEITs) and providing financial and technical assistance to the various stakeholders. In 2005, the combined efforts of the 191 countries having ratified the Protocol led to a 95 % global reduction in ozone depleting substances. Globally, the emission of ODS like CFC refrigerants to atmosphere leads to the depletion of the ozone layer and to global warming or climate change and thus affects ecosystems and human health. Developed and developing countries are affected by these changes and the response must be appropriate to deal with the existing problem and to lessen the impact in the longer term. Several MEAs regulate the cross-border movement of items, substances, and product mainly in the form of imports, exports, and re-exports. This gives the front-line customs responsible for controlling trade across borders and a very important role in protecting the national and global environment. What is the role of Customs Officer? As a Customs Officer or border protection officer, we can ensure that national laws are complied with when goods enter or leave our country. Customs authorities must have the capacity to monitor and control the flow of chemicals and goods covered by MEAs. Indonesian Customs should deal with illegal movement of environment items. As we know about Indonesia’s geography, Indonesia consists of 17.500 islands. Like or dislike, as consequences, Indonesia has ratified Viena Convention, Montreal Protocol & it’s amendments regarding ODS. Indonesian Government has stipulated some agreements about ODS in Many Indonesian Law systems, such as President Decree number 23 Year 1997 about ratification of Viena Convention. President Decree number 92 Year 1998 about ratification of Montreal Convention Base on the laws. There are many Indonesian Institutions or Department involve to control ODS, such as Environment, Customs, Trade, and Police Department. So, it needs cooperation and networking among the institutions. Environment Ministry for instance, there is Ozone Layer Protection Unit. This unit is responsible to conduct a main policy of ODS in Indonesia. What’s about Indonesian Customs & Excise Organization? At Indonesian Customs organization, there is a special unit, Investigation and Prevention unit, functioned to arrange cooperation, to broad networking, and to conduct and to control relevant matters about environment, include ODS. Most environmental problems encountered in the world today have a transboundary nature and a global impact, and they can only be addressed effectively through the kind of international co-operation and shared responsibility made possible through MEAs. MEAs regulate the transboundary movement of a wide variety of items that a Customs or border control officer might encounter in work. These can include chemicals such as ozone-depleting substances (almost always a gas in canisters or cylinders). Sometime, it is quite difficult to identify the kind of ODS. As we know that there are many kinds of ODS and not

all of ODS is prohibited importation. So, customs officer should equip themselves with proper tools to differ the ODS. It also needs a complex task and large responsibility to verify shipments and their documentation, and to verify compliance with national laws and to take action when violations occur. The implementation of MEA provisions in national legislation can demand a great deal of effort and commitment. However, customs officers are not expected to do this alone. At the national level, there are various agencies and institutions that are responsible for MEA implementation and that can assist us in working, and they also rely on our efforts to ensure national compliance with the MEAs. International support, such as through the Green Customs Initiative on training, is also a source of information and advice. What is important to recognize is that through such efforts, we are helping deliver a better environment and a sustainable future for our country and for all nations. There are many problems that commonly faced d by Indonesian Customs in overseeing both importation and exportation of ODS, such as: 1. It is difficult to identify many kinds of ODS 2. Identifying ODS should be through process of laboratory, so it needs more time. 3. Indonesian Customs Officers have not had proper equipment for identifying ODS 4. There is no standarization of ODS’ container.

Cerah Bangun, Head of Legal Assistance at Directorate Revenue and Regulation Participant at 2005 Green Customs Workshop in Thimpu, Bhutan
DOC. WBC

WASTE DETENTION. Indonesian Customs should deal with illegal movement of environment items. EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

65

PERISTIWA
FOTO-FOTO WBC/ATS

KEJUARAAN REANG KELOMPOK UMUR. Melibatkan 11 perkumpulan renang wilayah DKI Jakarta dengan jumlah atlet 205.

PERKUMPULAN RENANG BINA TARUNA, TINGKATKAN PRESTASI OLAHRAGA RENANG
Salah satu pola pembinaan yang dilakukan oleh Perkumpulan Renang Bina Taruna (PR BNT) untuk mengasah kemampuan para anak didiknya dalam olahraga renang adalah melalui berbagai kejuaraan renang yang diselenggarakan baik oleh Pengurus Daerah Persatuan Renang Seluruh Indonesia DKI Jakarta (Pengda PRSI DKI Jakarta), maupun yang diselenggarakan pada tingkat nasional.
potensial tersebar diseluruh Indonesia, yang dapat diperoleh melalui berbagai kejuaraan,salah satunya adalah melalui kejuaraan yang diselenggarakan oleh BNT yang bekerja sama dengan Pengda PRSI Jakarta. Ketua penyelenggara kejuaraan renang kelompok pemula, Komisaris Polisi Gunawan mengatakan, kejuaraan ini melibatkan tiga kelompok umur, yaitu kelompok 5 umur 8 tahun, kelompok 4 umur 9-10 tahun dan kelompok 3 umur 11-12 tahun. Kejuaraan ini mempertandingkan renang gaya bebas, gaya kupukupu dan gaya dada dengan jarak 50 sampai 200 meter. Pada kejuaraan ini catatan waktu tercepat menjadi acuan prestasi atlet dari suatu perkumpulan renang untuk menjadi juara pada kejuaraan renang ini. Catatan waktu yang digunakan untuk mengukur prestasi atlet pada kejuaraan ini adalah catatan waktu yang tercatat resmi pada pengda PRSI DKI Jakarta. Gunawan mencontohkan, waktu yang harus diperoleh atlet kelompok umur 8 tahun untuk jarak 50 meter adalah 35 detik, sehingga seorang atlet harus bisa memperoleh catatan waktu tersebut atau kurang RICKY HANAFIE. PR BNT berhasil untuk dapat berprestasi. memberangkatkan salah satu “Tentunya untuk dapat atletnya untuk mengikuti kejuaraan mencapai catatan waktu renang kelompok umur tingkat Asia tercepat, latihan dan juga pada tahun 2006 di Singapura

S

ebagai salah satu bagian dari kepengurusan Badan Pembinan Olahraga (Bapor) DJBC, PR BNT berkomitmen untuk memajukan olahraga renang yang dibinanya. Salah satunya melalui kerja sama dengan Pengda PRSI dalam penyelenggaraan kejuaraan renang kelompok umur pemula yang dilaksanakan di kolam renang Bojana Tirta Jakarta, 8-10 November 2007. Kejuaraan renang yang melibatkan 11 perkumpulan renang di Jakarta dan melibatkan 205 atlet, sudah dua kali dilaksanakan oleh PR BNT. Ketua Bapor DJBC yang juga Kepala Bagian Umum Kantor Pusat DJBC Sonny Subagyo ketika secara resmi membuka acara tersebut mengatakan, kejuaraan ini merupakan salah satu sarana bagi para atletatlet muda untuk bisa berkiprah dalam olahraga nasional. Untuk itu pihaknya sangat mendukung acara tersebut mengingat dari kejuaraan-kejuaraan seperti ini akan menghasilkan atlet renang yang berprestasi dan membawa nama Indonesia dalam berbagai kejuaraan. Menurut Sonny, kondisi olahraga tanah air yang saSONNY SUBAGYO. Mengikuti at ini tengah lesu, diharapkejuaraan merupakan salah satu kan dapat kembali bangkit, sarana bagi para atlet-atlet karena saat ini tanpa muda untuk bisa berkiprah dalam disadari banyak atlet-atlet olahraga nasional
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

66

motivasi atlet menjadi salah satu pendukung untuk bisa terjuan dalam kejuaraan ini,”ujar Gunawan.

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

PRESTASI MEMBANGGAKAN
PR BNT yang didirikan pada tahun 1975 atas instruksi Gubernur DKI Jakarta yang ketika itu dijabat Ali Sadikin, telah menghasilkan beberapa atlet renang yang pernah mencatat prestasi pada berbagai kejuaraan renang baik tingkat nasional maupun internasional. Tercatat nama Zoraya Perucha yang pernah membawa nama Indonesia dalam berbagai kejuaraan renang internasional, merupakan salah satu atlet yang mengawali latihannya di PR BNT. Menurut Ketua Pengurus Harian PR BNT Ricky M. Hanafie, keluarnya instruksi gubernur tersebut merupakan upaya dari pemerintah daerah ketika itu untuk menghasilkan atlet renang DKI yang berkualitas dari PR BNT, dan kini tujuan untuk menghasilkan atlet berkualitas tersebut tetap menjadi acuan BNT dalam menjalankan berbagai program kerjanya selama ini. Salah satu anak didik dari PR BNT yaitu Guntur, menurut Ricky, mewakili DKI Jakarta dalam Pekan Olahraga Nasional dan mendapat bea siswa untuk mengikuti pendidikan di sekolah atlet Ragunan Jakarta. Tidak hanya itu, PR BNT juga berhasil memberangkatkan salah satu atletnya yang bernama Widad, untuk mengikuti kejuaraan renang kelompok umur tingkat Asia pada tahun 2006 di Singapura yang pertama kali diselenggarakan. Dan dalam kejuaraan tersebut, Widad mendapatkan prestasi sebagai atlet terbaik untuk nomor gaya bebas dengan catatan waktu 20 detik untuk jarak 20 meter. Widad,atlet renang binaan PR BNT yang sewaktu ditemui WBC disela-sela kejuaraan mengatakan, keikutsertaannya dalam kejuaraan renang kelompok umur di Singapura merupakan kebanggan bagi dirinya. Ketika itu, saingan terberat yang dihadapinya adalah dari Vietnam. Layaknya anak-anak, menurut Endang Sudirman, ayah Widad, anaknya mengikuti kejuaraan tanpa beban target harus mendapatkan juara. Namun kenyataannya, Widad berhasil meraih juara sebagai atlet terbaik dalam kejuaraan tersebut. Untuk bisa menghasilkan atlet seperti Widad, PR BNT kedepannya menurut Ricky, akan terus melakukan pembinaan yang intensif untuk menghasilkan atlet berkualitas dan mampu berkompetisi diberbagai tingkatan. Untuk mendapatakan atlet yang berkualitas, tentunya PR BNT tidak hanya mengandalkan kemampuan pribadi atlet tanpa adanya pembinaan dan pelatihan yang memadai dari para pelatih yang professional. Untuk itu kata Ricky, PR BNT memiliki para pelatih dari Univeristas Negeri Jakarta khususnya dari fakultas olahraga yang berjumlah enam orang, sehingga anak didik mendapat pelatihan professional untuk menjadi atlet yang berkualitas dari pelatih yang berasal dari latar belakang olahraga Mengenai pembinaan yang diberikan oleh DJBC, menurut Ricky sudah dirasakan cukup memadai, dimana hingga saat ini PR BNT masih diperbolehkan untuk melakukan pelatihan dan juga merekrut anggota. Namun disayangkan sampai saat ini jumlah anggota PR BNT masih berasal dari luar keluarga besar DJBC. Walaupun tidak mempermasalahkan, namun Ricky mengharapkan kedepannya anggota PR BNT banyak yang berasal dari keluarga besar DJBC dan akan lebih membanggakan lagi jika dapat berprestasi. Diakui Ricky, penyebarluasan informasi mengenai keberadaan PR BNT kepada rekan-rekan pegawai baik disekitar KP-DJBC maupun di wilayah lainnya minim, untuk itu kini PR BNT mencoba untuk mulai memperkenalkan kembali keberadaannya melalui berbagai cara salah satunya melalui kejuaraan renang yang diselenggarakan ini,maupun rencana akan dibuatnya coaching clinic dengan mendatangkan atlet renang nasional maupun juga pelatih nasional. zap

P

IMPOR ALAT TELEKOMUNIKASI

erkenalkan kami dari PT. Anugrah Nata Wiweka (ANW Transport) yang beralamat di Gedung IBA-Bank Inn Lantai 5, Jl. Raya Pasar Minggu No. 2 B-C, Jakarta Selatan. Perusahaan kami bergerak dalam bidang forwading dan dalam waktu dekat ini perusahaan kami ingin mengimpor alat-alat telekomunikasi dari Thailand, 1. Saya ingin menanyakan aturan main impor dari Bea Cukai di Indonesia untuk pengiriman by Air atau Sea, untuk commodity alat-alat telekomunikasi. 2. Apakah ada verifikasi khusus di BC Indonesia mengenai aturan main untuk mengimpor alat-alat telekomunikasi tersebut. Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. IMAM ASYHARI PT. Anugrah Nata Wiweka (ANW Transport) Gedung IBA-Bank Ina, Lantai 5 Jl. Raya Pasar Minggu No. 2 B-C, Jakarta Selatan

Tanggapan : Sehubungan dengan surat yang disampaikan oleh PT Anugrah Nata Wiweka, dengan ini disampaikan tanggapan sebagai berikut : 1. Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.10 Tahun 2005 tentang Sertifikasi Alat dan Perangkat Komunikasi diatur bahwa : a. setiap alat dan perangkat telekomunikasi yang dibuat, dirakit, dimasukkan untuk diperdagangkan dan atau digunakan di wilayah Negara RI wajib melalui sertifikasi. b. Sertifikasi atas alat dan perangkat telekomunikasi dilaksanakan oleh Lembaga Penilaian Kesesuaian. c. Pelaksanaan sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi meliputi pengujian dan penerbitan sertifikat. d. Sertifikat alat dan perangkat telekomunikasi yang diterbitkan terdiri dari Sertifikat A untuk pabrikan atau distributor dan Sertifikat B untuk importir atau institusi. e. untuk mendapatkan sertifikasi, Pabrikan/Distributor/ Importir/Institusi mengajukan permohonan sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi kepada lembaga penilaian kesesuaian (lembaga sertifikasi) 2. Berkenaan dengan ketentuan tersebut, maka terhadap setiap importasi alat dan perangkat telekomunikasi, bea cukai (DJBC) melakukan pemeriksaan pemenuhan ketentuan sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi dimaksud. 3. Informasi lebih lanjut dapat diketahui di Direktorat Standarisasi Pos dan Telekomunikasi, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Departemen Perhubungan (Gedung Sapta Pesona Lt. 8, Jl. Medan Merdeka Barat 17 Jakarta 10110, telp. 021-3835840, fax. 021-3835845, http://www.postel.go.id). Demikian disampaikan. DIREKTUR JENDERAL u.b. Pjs. Direktur Teknis Kepabeanan Ariohadi NIP 060035491
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

67

OPINI

” INTERPRETASI
UU NOMOR 17 TAHUN 2006

HARUS ADA PASAL TERTENTU DALAM PP YANG AKAN DIBENTUK ITU TENTANG APA YANG DIMAKSUD DENGAN KEDUA Oleh: ISTILAH TERSEBUT … Muhamad Rafik

PASAL 23 A

P

asal 23 A Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 menyatakan bahwa, “Bea masuk tindakan pengamanan dapat dikenakan terhadap barang impor dalam hal terdapat lonjakan barang impor baik secara absolut maupun relatif terhadap barang produksi dalam negeri yang sejenis atau barang yang secara langsung bersaing, dan lonjakan barang impor tersebut : a. menyebabkan kerugian serius terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis dengan barang tersebut dan/atau barang yang secara langsung bersaing; atau b. mengancam terjadinya kerugian serius terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis dan/atau barang yang secara langsung bersaing”.

Selanjutnya Penjelasan Pasal 23 A ini memberikan keterangan sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan bea masuk tindakan pengamanan (safeguard) yaitu bea masuk yang dipungut sebagai akibat tindakan yang diambil pemerintah untuk memulihkan kerugian serius dan/atau mencegah ancaman kerugian serius terhadap industri dalam negeri sebagai akibat dari lonjakan impor barang sejenis atau barang yang secara langsung merupakan saingan hasil industri dalam negeri yang mengalami kerugian serius dan/atau ancaman kerugian serius tersebut dapat melakukan penyesuaian struktural…...”. Berdasarkan bunyi Pasal 23 A tersebut beserta Penjelasannya dapat ditemukan dua istilah yang sepintas lalu serupa tapi sebenarnya tak sama, yaitu “lonjakan barang impor” dalam redaksional Pasal 23 A dan “lonjakan impor barang” dalam Penjelasan Pasal 23 A. Yang menjadi permasalahan di sini adalah apakah ada konsekuensi dari penggunaan masing-masing istilah tersebut? Bagaimana kaitan penggunaan dua istilah tersebut dengan ketentuan yang dimaksud dalam Article XIX of GATT 1994 (Agreement on Safeguard) yang merupakan aturan main safeguard menurut WTO? Adakah akibat hukum dari penggunaan dua istilah tersebut dalam implementasi Pasal 23 A?

penjelasan pasal yang bersangkutan. Bila tidak ditemukan penjelasannya, dapat diinterpretasi dengan cara yang lain seperti dengan cara sistematis yaitu dengan menggunakan pasal-pasal yang ada dalam peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau interpretasi secara kebahasaan. Tidak ada penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan lonjakan barang impor menurut Penjelasan Pasal 23 A, begitu pula halnya dengan lonjakan impor barang. Oleh karena itu digunakan interpretasi secara kebahasaan dan sistematis untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh kedua istilah tersebut. Dari segi bahasa, lonjakan berarti jumlah sesuatu telah mengalami kenaikan yang ekstrem. Jadi kalau dipadankan dengan kata-kata barang impor dan impor barang pengertiannya menjadi ‘jumlah barang impor telah mengalami kenaikan yang ekstrem’ dan ‘jumlah impor barang telah mengalami kenaikan yang ekstrem’. Selanjutnya bagaimana dengan istilah barang impor dan impor barang? Secara sistematis dapat ditemukan apa yang dimaksud dengan impor, yaitu dari redaksional Pasal 1 butir (13) UU Kepabeanan yang menyatakan bahwa, “Impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean”. Dengan menggunakan teori D-M (Diterangkan – Menerangkan), maka pengertian barang impor menjadi, “barang yang berasal dari kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean”, sama pengertiannya dengan ‘Orang Jawa’ yang berarti orang yang berasal dari jawa (pulau Jawa). Sedangkan ‘impor barang’ merupakan kata atau istilah yang sebenarnya tidak efisien, karena tanpa menggunakan kata ‘barang’ pun impor sudah berarti ‘kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean’, sama pengertiannya dengan ‘naik ke atas’ yaitu tanpa menggunakan kata ‘ke atas’ sudah pasti pengertian naik adalah ke atas. Tetapi jika dirangkai dengan kata ‘sejenis’ (sebagaimana dimaksud dalam Penjelasan Pasal 23 A) pengertiannya menjadi ‘kegiatan memasukkan barang sejenis ke dalam daerah pabean’. Dari pengertian kedua istilah tersebut dapat disimpulkan bahwa barang impor adalah berbicara mengenai fisik sedangkan impor barang berbicara mengenai suatu aktivitas. Sehingga penggunaan masing-masing istilah tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari sisi objeknya. Objek yang dimaksud oleh barang impor adalah barang (fisik), sedangkan objek yang dimaksud oleh impor barang adalah impor (aktivitas). Jadi jika dirangkaikan dengan kata ‘lonjakan’, pengertian lonjakan barang impor menjadi jumlah barang yang berasal dari kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean telah mengalami kenaikan yang ekstrem. Sedangkan pengertian lonjakan impor barang menjadi jumlah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean telah mengalami kenaikan yang ekstrem. Berdasarkan pengertian tersebut, maka konsekuensi logis dari penggunaan dua istilah tersebut adalah perbedaan pada tolok ukurnya. Pada istilah lonjakan barang impor, yang menjadi tolok ukurnya adalah jumlah barang impor (kuantitas fisik barang impor) sedangkan pada istilah lonjakan impor barang, yang menjadi tolok ukurnya adalah jumlah aktivitasnya yang dalam hal ini dapat diwakili oleh jumlah Pemberitahuan Impor Barang (PIB). Jadi untuk mengetahui apakah telah terjadi lonjakan barang impor, maka yang perlu diperhatikan adalah apakah jumlah barang impor telah mengalami kenaikan yang ekstrem. Sedangkan untuk mengetahui apakah telah terjadi lonjakan impor barang, maka yang perlu diperhatikan adalah apakah jumlah PIB telah mengalami kenaikan yang ekstrem.

BAGAIMANA MENURUT AGREEMENT ON SAFEGUARD ?
Menurut Pasal 2 ayat (1) Agreement on Safeguard: “A Member may apply a safeguard measure to a product only if that Member has determined, pursuant to the provisions set out below, that such product is being imported into its territory in such increased quantities, absolute or relatives to domestic industry that produces like or directly competitive products.” Jika disimpulkan, suatu negara boleh mengenakan bea masuk safeguard apabila barang yang diimpor meningkat jumlahnya. Dengan demikian yang tepat digunakan dalam Pasal 23 A berikut Penjelasannya adalah peningkatan jumlah barang im-

KONSEKUENSI LOGIS PENGGUNAAN ISTILAH ‘LONJAKAN BARANG IMPOR’ DAN ‘LONJAKAN IMPOR BARANG’
Dalam ilmu hukum, untuk mengetahui konsekuensi logis dari suatu penggunaan istilah dalam suatu pasal adalah dengan menginterpretasikan istilah tersebut. Interpretasi resmi suatu pasal atau istilah yang ada di dalamnya dapat ditemukan dalam 68
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

por bukan peningkatan impor barang, lonjakan impor barang, maupun lonjakan barang impor. Mengapa demikian? Karena istilah peningkatan jumlah barang impor dapat mewakili berbagai kondisi kenaikan jumlah barang impor, mulai dari meningkat secara ekstrem maupun peningkatan yang hanya disebabkan oleh kenaikan satu unit saja. Di samping itu juga sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Pasal 2 ayat (1) Agreement on Safeguard.

AKIBAT HUKUM PENGGUNAAN ISTILAH ‘LONJAKAN BARANG IMPOR’ DAN ‘LONJAKAN IMPOR BARANG’ DALAM IMPLEMENTASI PASAL 23 A
Pada dasarnya penggunaan kedua istilah tersebut tidak sejalan dengan yang diamanatkan oleh Pasal 2 ayat (1) Agreement on Safeguard, selain itu ukurannya pun menjadi tidak jelas yaitu kondisi yang bagaimana atau kapan suatu barang impor dapat dinyatakan mengalami lonjakan. Akibat hukum dari penggunaan kedua istilah itu adalah bahwa terhadap suatu barang impor hanya dapat dikenakan bea masuk safeguard apabila telah terjadi peningkatan yang ekstrem atas barang impor tersebut. Jika hanya meningkat satu atau beberapa unit saja dan menimbulkan kerugian atau ancaman kerugian sebagaimana dimaksud Pasal 23 A, produk impor tersebut tidak dapat dikenakan bea masuk safeguard. Jadi penggunaan istilah lonjakan barang impor hanya akan menghambat upaya industri dalam negeri yang merasa mengalami kerugian atau acaman kerugian yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah barang impor tetapi tidak dalam jumlah yang ekstrem. Akibat hukum lainnya adalah bahwa istilah lonjakan barang impor dalam redaksional Pasal 23 A menjadi tidak ada artinya karena telah dihapus secara implisit oleh istilah lonjakan impor barang dalam redaksional Penjelasan Pasal 23 A. Karena interpretasi resmi terhadap suatu pasal adalah ada pada penjelasannya, maka pengertian dari istilah lonjakan impor baranglah yang digunakan untuk mengimplementasikan Pasal 23 A. Dengan demikian otoritas penyelidik pengenaan safeguard harus menjadikan jumlah PIB sebagai patokan dalam menentukan ada tidaknya lonjakan impor barang, karena hanya PIB saja yang sejauh ini dapat mengkuantifisir seberapa banyak kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean Indonesia. Penggunaan jumlah aktivitas memasukkan barang ke dalam daerah pabean Indonesia (jumlah PIB) tentu saja melanggar apa yang ditentukan oleh Pasal 2 ayat (1) Agreement on Safeguard. Akibat hukum ini menyebabkan setiap pengenaan bea masuk safeguard yang didasarkan pada patokan tersebut akan selalu digugat oleh negara yang produk ekspornya dikenakan bea masuk safeguard oleh Indonesia dan sudah dapat dipastikan sejak awal Indonesia akan selalu dalam posisi yang kalah.

” EKSTENSIFIKASI
BEBERAPA CATATAN KECIL MENGENAI

PENGENAAN OBYEK CUKAI DI INDONESIA TERGOLONG SEDIKIT DIBANDINGKAN DENGAN JUMLAH EXCISE DI Oleh : NEGARA-NEGARA LAIN... Beni Novri, SE, MM

(DALAM RANGKA MENYAMBUT UU NO. 39/2007)

CUKAI

D

isatu sisi kita menyambut gembira bahwa perluasan kriteria obyek cukai telah tertampung di dalam UU No. 39 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai, hal ini berarti akan memperkuat ranah hukum di dalam melakukan pembahasan mengenai obyek cukai (excise) yang baru. Berdasarkan literatur yang ada mengisyaratkan bahwa pengenaan obyek cukai di Indonesia tergolong sedikit (narrow object) dibandingkan dengan jumlah excise di negara-negara lain. Hal ini dapat terjadi karena berdasarkan penelitian bahwa objek excise di negara lain merupakan objek Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan/atau objek Pajak Barang Mewah (PPnBM) di negara Indonesia. Diharapkan dengan adanya UU baru ini yang memiliki 4 (empat) karakteristik Barang Kena Cukai (BKC), memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk melangkah lebih maju dibandingkan dengan pembahasan yang hanya berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai, seperti pada masamasa yang lalu.

SEJARAH PEMBAHASAN
Sudah beberapa kali pemerintah membentuk Tim Ekstensifikasi Cukai, semenjak Direktur Jenderal Bea dan Cukai dijabat oleh DR. Permana Agung hingga Edy Abdurrachman. Pepatah mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik”, proses pembahasan tersebut merupakan sebuah proses learning by doing, yang menjadikan proses pembelajaran ke arah yang positif bagi kita semua. Dimulai dari usulan 12 (dua belas) calon BKC baru yang diketengahkan oleh Permana Agung pada tahun 1999, kemudian setelah ditelaah hanya difokuskan kepada 3 (tiga) obyek yaitu Semen, Ban dan Soft Drink pada pengkajian tahap pertama. Berdasarkan catatan kecil kami, pada saat itu Tim melakukan survei ke berbagai instansi terkait seperti Deperindag, BPS, LIPI, UI, Asosiasi-asosiasi terkait yang dilanjutkan dengan kunjungan ke berbagai pabrik yang bersangkutan. Pada saat itu hasil kajian Tim sedikit banyak telah mendapatkan masukan dari berbagai kalangan termasuk dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Memang dirasakan bahwa dinamika di masyarakat mengenai usulan tersebut cukup menghangat, namun dari beberapa tanggapan asosiasi mengenai usulan tersebut, ada salah satu asosiasi yang pada prinsipnya menerima dengan catatan khusus bahwa timing penerapannya ditunda, karena
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

SOLUSINYA
Pasal 23 A dan Penjelasannya sudah terlanjur menggunakan kedua istilah tersebut. Bukan perkara yang gampang untuk mengganti atau merevisi suatu pasal. Tetapi dalam hal ini belum dikenal istilah ‘nasi sudah menjadi bubur’. Masih banyak jalan menuju Roma. Ada celah yang dapat digunakan untuk meluruskan kembali maksud Pasal 23 A dan Penjelasannya agar sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Agreement on Safeguard. Celah tersebut adalah Pasal 23 D ayat (1) yang mengamanatkan pembentukan Peraturan Pemerintah (PP) untuk pengaturan lebih lanjut Pasal 23 A itu. Harus ada pasal tertentu dalam PP yang akan dibentuk itu tentang apa yang dimaksud dengan kedua istilah tersebut, kondisi yang bagaimana yang menyebabkan kedua istilah tersebut terpenuhi keinginannya, dan hal lainnya yang ada kaitannya dengan kedua istilah tersebut. Jika tidak, bakal terjadi istilah ‘maju kena mundur kena’.

Penulis adalah Kepala Seksi Evaluasi Audit Kanwil DJBC Jawa Barat, mantan investigator anti dumping dan safeguard KADI dan KPPI

69

OPINI JENIS BARANG DAN TINGKAT ELASTISITASNYA
No Jenis Barang 1. Barang-barang dengan kategori mewah (Berlian, Mobil mewah, Barang Elektronik tertentu) Minuman Beralkohol (Spirit, wine, anggur, bir) Hasil Tembakau (Cerutu, Rokok) Tingkat Keterangan Elastisitas In Elastis, Resistensi rendah apabila harga dinaikkan. (Prestise) Resistensi rendah apabila harga dinaikkan. Resistensi rendah apabila harga dinaikkan. Ada sedikit resistensi
Tabel 1. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Alasan Pengenaan Cukai Tingkat Produksinya Jumlah Tenaga Kerja Faktor Eksternalitas Proyeksi Penerimaan Negara Jenis Pajak/Retribusi yang Telah Dibebankan Aspek Legalitas Hukumnya, dan Tingkat Elastisitas calon BKC.

2.

In Elastis, Ep < 1

In Elastis, Ep < 1

3.

Substitusi Rendah (Semen, Ban, BBM, Batere, hasil hutan, sumur bor) Barang-barang kebutuhan pokok (Makanan, minuman, sabun, deterjen, shampoo, pasta gigi).

In Elastis

4.

In Elastis

Resistensi cukup kuat, karena menyangkut hajat hidup orang banyak

masih merasakan dampak krisis ekonomi. Kemudian seiring dengan adanya resistensi di masyarakat pada masa itu maka kerja Tim untuk sementara ditangguhkan. Selanjutnya dengan adanya penugasan tertentu oleh Menteri Keuangan maupun pihak lain, untuk melakukan kajian terhadap obyek BKC baru, maka dibentuklah tim-tim lanjutan, diantaranya yang pernah dibahas adalah obyek Deterjen, Elektronik, VCD/DVD. Namun karena belum kuat dari aspek legalitas hukum pengenaan cukainya, maka hasil pembahasannya lagi-lagi mengalami resistensi yang cukup alot khususnya dari asosiasi terkait. Akhirnya sejalan dengan niat pemerintah untuk melakukan amandemen UU No. 11 Tahun 1995 Tentang Cukai, maka muatan perluasan sifat atau karakteristik pengenaan cukai menjadi salah satu substansi pokok dari usulan amandemen tersebut. Sejarah membuktikan bahwa salah satu kelemahan dalam melakukan pembahasan obyek Barang Kena Cukai baru adalah dari aspek legalitas hukum pengenaan cukainya, yang dalam undang-undang baru ini telah tertampung mengenai aspek tersebut.

Berkaitan dengan sisi Mikro, penulis akan fokus terhadap pemilihan obyek cukai baru yang dianalisis berdasarkan tingkat elastisitas harga barang tersebut. Elastisitas harga merupakan derajat kepekaan jumlah barang yang diminta akibat adanya perubahan harga. Semakin besar kepekaannya, semakin elastis barang tersebut. Dengan kata lain bahwa apabila sedikit saja harga dinaikkan karena faktor tertentu, maka permintaan akan cenderung menurun, biasanya terjadi pada barang-barang yang elastisitasnya tinggi, misalnya barangbarang yang memiliki substitusi tinggi. Lain halnya terhadap barang-barang in elastis, yang apabila harga dinaikkan, maka permintaan cenderung tidak berubah, misalnya terhadap barang-barang pokok, barangbarang kategori mewah dan barang-barang tertentu yang menyebabkan kecanduan/ketagihan, misalnya hasil tembakau (rokok) dan minuman mengandung etil alkohol. Pada kenyataannya walaupun harga jual dinaikkan namun permintaan terhadap barang tersebut tidak berubah secara signifikan. (Lihat tabel) Berdasarkan Tabel tersebut, dapat dijelaskan bahwa apabila tujuan pengenaan cukai lebih diarahkan kepada penerimaan negara, maka lebih tepat pada kategori barang-barang kebutuhan pokok, namun hal tersebut akan mendapatkan resistensi yang cukup kuat karena menyangkut hajat hidup orang banyak, kecuali ada pengalihan dari PPn atau PPnBM menjadi obyek cukai. Apabila tujuan pengenaan cukai dengan alasan pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan maka lebih tepat kepada kategori barang-barang mewah yang khususnya dikenai PPnBM. Apabila tujuan pengenaan cukai karena pemakaiannya menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, maka lebih tepat kepada kategori barangbarang dengan substitusi rendah, karena berkaitan dengan penggunaan sumber daya alam dan aspek lingkungannya. Apabila tujuan pengenaan cukai secara klasik karena konsumsinya perlu dikendalikan atau peredarannya perlu diawasi, maka lebih tepat kepada kategori barang-barang yang dapat menimbulkan unsur-unsur kecanduan atau ketagihan (addicted), misalkan minuman beralkohol dan rokok.

SIMPULAN
Dalam hal ini jika pengenaan cukai bukan semata-mata karena konsumsinya perlu dikendalikan atau peredarannya perlu diawasi, maka ketentuan yang ada dalam UU No. 39 Tahun 1997 perlu dijabarkan kembali dalam Peraturan Pemerintah atau perangkat hukum lainnya, guna mengatur ketentuan dari obyek cukai tertentu yang penerapannya perlu pengaturan khusus, tanpa meninggalkan dasar-dasar ketentuan UU No.39 Tahun 1997. Seiring dengan makin optimalnya penerimaan cukai dari Hasil Tembakau yang pada suatu titik tertentu akan mengalami penurunan, maka dengan adanya BKC baru akan memberikan sinergi dalam rangka meningkatkan penerimaan negara dari sektor cukai, mengingat bahwa sektor pajak dan cukai masih merupakan andalan utama bagi penerimaan negara dari dalam negeri. Pada akhirnya, semangat dari penulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran sekilas mengenai ruang lingkup ekstensifikasi cukai, sebagai masukan guna pembahasan atau pengkajian berikutnya, apabila pada saatnya nanti pemerintah menekankan perlunya program tersebut. Tulisan ini berupa catatan kecil dari pengalaman penulis dan hasil analisis dari beberapa literatur yang terkait khususnya berkenaan dengan Micro Economics. Semoga Bermanfaat.

KAJIAN TEKNIS DARI SISI MIKRO
Diakui bahwa proses pembahasan perluasan obyek cukai baru membutuhkan waktu yang cukup panjang dengan didasari oleh kajian-kajian ilmiah sebagai bahan pendukung pembahasan. Berdasarkan pengalaman, bahwa aspek-aspek yang dinilai dari calon BKC baru oleh Tim, antara lain : 70
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

Penulis adalah Mahasiwa Program Doktoral IPB

RUANG KESEHATAN

LAMA HAID BERUBAH-UBAH

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

S

ditentukan oleh hormon-hormon wanita di ovarium seperti estrogen dan progesterone, ditentukan pula oleh bagian dari otak besar. Bisa terjadi : l POLYMENORRHOEA = haid sering datang, jadi siklus pendek kurang dari 25 hari. l OLIGO MENORRHOEA = haid jarang, siklus panjang lebih dari 25 hari. 2. Bila kelainan dalam banyaknya pendarahan dan lamanya pendarahan. Banyaknya pendarahan ditentukan oleh beberapa hal : l Lebarnya pembuluh darah karena adanya tumor-tumor JAWAB : seperti myoma. Hal ini terjadi juga pada Astheri (terlalu Haid merupakan ciri khas kedewasaan manusia dengan adakurus). Dimana pada dua hal ini akibat daya kontraksi otot nya perubahan-perubahan siklus pada alat kandungannya rahim berkurang dan tonus otot berkurang. Pengobatan sebagai persiapan untuk kehamilan. Terjadinya haid merupakan dengan uterotomica (penguat otot rahim) atau operasi. suatu proses yang kompleks dan harmol Banyaknya pembuluh darah yang nis meliputi organ otak besar (cerebrum) terbuka atau luasnya luka. Ini dapat alat-alat genital dan kelenjar-kelenjar terjadi selama atau sesudah menderita dalam tubuh kita seperti kelenjar thyroid suatu penyakit, kemungkinan lain Pengaruh dari luar (kelenjar gondok), kelenjar endokrin. karena terlalu lelah/kecapekan yang Pada setiap perubahan-perubahan menyebabkan tonus (kekuatan) otot Cerebrum siklus haid tadi dimana akan terjadi haid menjadi kurang. Pengobatan dengan terdapat persiapan secara teratur dari uterotomica dan pemberian vitamin, endometrium (bagian dari sel rahim istirahat yang cukup dan makan dengan wanita) untuk menerima ovum (sel telur) makanan bergizi seimbang. yang sudah dibuahi oleh 1 sperma setel Tekanan darah yang tinggi (hipertensi), Sel lah terjadi ovulasi (kesuburan). MasaPayah jantung (decomper satio Cordis). telur masa ini dipengaruhi secara ritmik oleh Pengobatan dengan konsultasi ke hormone-hormon wanita yaitu : estrogen dokter. Ovulasi dan progesteron. l Daya beku darah berkurang pada peLamanya siklus haid yang normal atau nyakit kelainan darah seperti hemofilia. yang dianggap sebagai siklus haid klasik l Adanya infeksi yang disebut sebagai Hormon adalah 28 hari ditambah atau dikurangi ENDOMETRITIS (infeksi di rahim). wanita dua sampai tiga hari. Siklus ini dapat ber- Estrogen Infeksi ini menyebabkan pembuluh beda-beda pada wanita yang normal dan darah melebar sehingga haid menjadi Progessehat. lebih lama. teron Pada setiap siklus haid dikenal tiga l Adanya kelainan letak dari rahim yang masa utama, yaitu : disebut : RETROFLEXI dimana letak 1. Masa haid, selama dua sampai de- Endometrahim lebih kebelakang dari biasanya lapan hari. Pada masa ini sel endo- rium sehingga haid menjadi lebih panjang Hari dalam metrium dilepas. karena adanya bendungan pembuluh siklus haid 2. Masa PROLIFERASI, sampai hari darah balik. keempat belas. Pada masa ini sel Masa Proliferasi Masa Sekresi endometrium tumbuh kembali mengDarah haid terlalu banyak dapat adakan proliferasi. Antara hari kedua belas dan keempat bediketahui kalau ada bekuan darah dalam darah haidnya. las dapat terjadi pelepasan sel telur (ovum) dari ovarium 3. Lamanya pendarahan dalam masa haid. (indung telur). Hal ini yang merupakan masa subur seorang Secara normal haid sudah berhenti dalam 8 hari, kalau haid wanita yang biasa disebut : OVULASI. Proses ovulasi ini lebih lama dari 8 hari maka daya regenerasi endometrium terjadi bila ada kerjasama yang harmonis antara otak besar, berkurang. Daya regenerasi berkurang dapat terjadi pada bagian otak lain, kelenjar-kelenjar dalam tubuh kita seperti infeksi seperti endometritis, pada myoma atau polyp atau kelenjar gondok, kelenjar endokrin lain. Termasuk dalam tumor rahim lain. proses ovulasi adanya pengaruh dari luar seperti stress atau Lama haid bertambah panjang selain dari hal-hal tadi seperti psikis/pikiran. infeksi (endometritis) dapat juga dari bila anda terlalu lelah 3. Masa Sekresi. Pada masa ini sel endometrium berbelokatau sesudah menderita sakit, dimana selain menyebabkan belok dan mulai bersekresi mengeluarkan cairan bening daya regenerasi endometrium berkurang tonus otot rahim judan jernih yang disebut : getah cervix. Pada akhir masa ga berkurang. Jika anda terlalu kurus (bentuk badan Asthenis) ini sel-sel ini berubah sehingga mempermudah perlekatan sebaiknya hal ini harus mendapat perhatian dari anda dengan sel telur yang sudah dibuahi sebagai suatu kehamilan, menaikkan berat badan, mengurangi kelelahan dengan babila sel telur tadi bertemu dengan 1 sperma. nyak istirahat, minum vitamin serta makan dengan gizi yang seimbang (sayur-sayuran, buah-buahan, telur, susu). Jika terdapat kelainan dalam siklus haid tadi dan banyakKarena siklus haid anda teratur maka kemungkinan terjadi nya pendarahan dalam haid ada beberapa sebab. kesuburan (ovulasi) tetap ada, sehingga tidak ada kesulitan 1. Bila kelainan dalam siklus haid. Kelainan dalam siklus ini untuk mendapat keturunan. dr. Linda Harahap, Poliklinik KP DJBC aya seorang gadis berusia ± 22 tahun. Saya mendapatkan haid pertama kali saat berusia 11 tahun. Memang awalnya haid tidak teratur. Saya juga mengalami lama haid yang tidak sama, terkadang 4 hari, tetapi terkadang hanya 2 hari sudah selesai. Tetapi secara berangsurangsur haid sudah mulai normal. Namun sejak 6 bulan yang lalu lama haid saya tidak teratur, menjadi lebih panjang. Haid yang terakhir kemarin menjadi lebih panjang 6 hari yang biasanya hanya 6 hari menjadi 12 hari. Mengapa lama haid saya bisa demikian ? apakah saya nanti sulit mendapat keturunan ? lantas dok bagaimana mengatasinya ?

FISIOLOGI HAID

EDISI 397 DESEMBER 2007

WARTA BEA CUKAI

71

RENUNGAN ROHANI

NATAL (BISA) BERBAHAYA
We wish you a Merry Christmas, we wish you a Merry Christmas, we wish you a Merry Christmas...

AWAS !

N

yaitu Yusuf merupakan tukang kayu. Seorang tukang kayu yanyian itu kembali mengalun dan terdengar didi Israel pada jaman itu mempunyai penghasilan yang telinga kita. Yah, rupanya tanpa terasa sebentar sedang-sedang saja. Penghasilannya tidak sebesar pemilagi kita akan merayakan Natal dan gemanya lik kebun anggur atau pemilik perahu penangkap ikan. telah menyapa kita. Di berbagai pusat perbelanDengan kata lain, Yusuf dan Maria adalah orang-orang jaan, mall-mall berlomba-lomba memutar lagu biasa. Mereka keluarga sederhana. Natal. Di tengah segala kesibukan rutinitas serta kepenatDi tengah masyarakat yang dewasa ini cenderung an yang dirasakan setiap harinya, menjadi suatu hiburan konsumtif dan mengidealkan kemewahan kita perlu meliyang menyenangkan bisa kembali mendengarkan lagu hat bahwa untuk kelahiran Yesus Sang Juruselamat, Allah Natal. Tibalah bagi kita untuk merayakan Natal, memilih keluarga sederhana. Ini bukan berarti bahwa kita merayakan kedatangan Sang Juruselamat dimuka bumi harus hidup dalam kemiskinan sebagai hidup yang ini. Bersibuk ria menyiapkan segala sesuatu yang berbau kristiani, seakan-akan dengan keadaan miskin kita menjaNatal. di dekat kepada Allah. Hal ini untuk mengingatkan kita Merayakan Natal kelihatannya sebagai hal yang begitu apa perlunya kita mengejar kemewahan ? Apakah hidup menarik perhatian, menyenangkan dan gampang dilakuini hanya diukur dengan belum punya ini dan belum kan, tetapi sebenarnya susah. Susah dalam arti berbahapunya itu ? ya dan berisiko, ibarat berjalan di tepi empang pada Peristiwa Natal telah terjadi dalam suasana sederhana waktu malam tanpa bantuan cahaya. Kalau kurang hatidan prihatin. Tetapi mengapa sekarang kita hati bisa tercebur ke dalam empang. cenderung merayakannya dengan suasana Yang paling mencolok adalah bahwa kita muyang sebaliknya ? dah terperosok ke dalam komersialisasi Natal. Atau ketika berkata bahwa kita perlu membuTanpa kita sadari Natal telah dijadikan sumber PADA HARI NATAL ka hati menjadi “palungan”supaya Yesus lahir di rupa-rupa bisnis dan mengais rezeki. Natal seolah-olah tidak dapat dipisahkan dari pohon dalam hati manusia. Kata-kata itu begitu indah TIBA-TIBA KITA terang, hiasan Natal, lampu kelap-kelip, kartu terdengar, tetapi apakah maknanya ? Natal, kue Natal, tour Natal dan sejumlah komo- BERUBAH MENJADI Kebanyakan dari kita ketika masih bayi ditas atau barang dagangan lain. Saya membaBAIK HATI, DAMAI dilahirkan di rumah sakit, rumah bersalin atau yangkan bagaimana ya seandainya bila Tuhan paling tidak di sebuah tempat tinggal sendiri, DAN PEMURAH. Yesus datang ke perayaan Natal pada zaman biasanya ini banyak terdapat di daerah sekarang, mungkin dengan terheran-heran Ia HAMPIR SEMUA pedesaan. Kalaupun kita dilahirkan di rumah berpikir, “Apa hubungannya barang-barang ini sendiri pastinya kita dilahirkan diatas ranjang/ DARI KITA MENJADI tempat tidur bukan ? Ranjang/tempat tidur dengan kelahiran-Ku ?” adalah tempat pertama yang dirasakan oleh Begitulah, kita jatuh dalam kesibukan memSEPERTI seorang bayi setibanya di dunia ini dan itu persiapkan perayaan Natal. Beberapa SINTERKLAS memang tempat yang wajar dan layak. minggu sebelumnya kita sudah kena demam Namun kelahiran Yesus terjadi di tempat Natal, di rumah, di Gereja, di sekolah, di yang tidak begitu wajar. Ia dilahirkan disebutempat kerja. Sibuk berbelanja ini itu. Rumah ah tempat yaitu kandang hewan di sebuah dicat, perabotan diganti yang baru, memakai rumah persinggahan. Bagi bangsa Israel pada masa itu, baju baru, memasang pohon Natal. Belum lagi menghasebuah rumah persinggahan terdiri dari dua bagian, yaitu diri rapat-rapat panitia Natal. Apalagi pada hari ruangan untuk tamu dan ruangan untuk hewan yang mepelaksanaannya. Kita ingin tampil sempurna. Di dalam rupakan alat transportasi mereka, hewan tersebut adalah gereja kita bernyanyi, “Malam Kudus, sunyi senyap ….” keledai, kuda atau onta. Karena masa itu merupakan Namun hati kita tidak tenang, hiruk pikuk meliputi. Belum saatnya penduduk melaksanakan sensus maka seluruh lagi kantuk yang menyerang karena semalaman tidak tidur penginapan penuh semua sehingga tidak ada lagi tempat sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan dihidangkan bagi Yusuf dan Maria untuk beristirahat dan untuk tamu-tamu yang datang. mempersiapkan kelahiran Yesus. Natal dirayakan dengan penuh kemewahan dalam suDi bagian tempat hewan itulah Yesus dilahirkan dan di asana gemerlapan dan gegap gempita. Kira-kira apa yang baringkan dalam sebuah palungan. Palungan adalah kita rasakan kalau kita merayakan Natal di tengah kemetempat makanan hewan. Yang tentunya didalamnya terdawahan, padahal yang sedang kita rayakan adalah kelahirpat sisa-sisa makanan hewan yang kotor dan bau serta an seorang bayi yang hadir di tengah keluarga yang sisa-sisa rumput. Tentunya tidak ada seorang pun ibu sederhana. yang mau anaknya lahir di tempat seperti itu kalau bukan Dalam Matius 13:55 (Bukankah Ia ini anak tukang kakarena terpaksa sekali. yu?) dan Markus 6:3 (Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Palungan sebagai tanda ketersisihan itu hendak Maria…) kita dapat mengetahui bahwa orang tua Yesus

“ ”

72

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

menunjukkan solidaritas Yesus dengan mereka yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat. Sepanjang hidupnya Yesus menunjukkan hal itu. Ia solider terhadap orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat karena faktor status sosial (pemungut cukai dan perempuan pelacur), atau karena faktor kedudukan ekonominya (nelayan), faktor jasmaninya (orang lumpuh, orang buta, orang kusta) atau karena faktor suku bangsa dan keturunannya (orang Samaria). Belum lagi pada hari Natal tiba-tiba kita berubah menjadi baik hati, damai dan pemurah. Hampir semua dari kita menjadi seperti Sinterklas. Kita jatuh dalam kemunafikan Natal, begitu Natal usai kita kembali ke pola hidup yang semula yaitu egois, beringas dan mata duitan. Ternyata hidup yang kita lakoni itu tidak jauh berbeda dengan lampu dan hiasan Natal begitu nampak indah warna warni serta menyala kelap kelip namun sayang hanya dipasang setahun sekali.

MERAYAKAN NATAL DENGAN HATI-HATI
Ternyata Natal banyak bahayanya. Itu sebabnya tadi

dikatakan bahwa merayakan Natal bukan perkara gampang. Kita mudah terperosok ke dalam hal-hal yang mengaburkan makna Natal yang sesungguhnya. Tetapi itu bukan berarti kita tidak melakukan perayaan Natal. Adanya bahaya dan risiko menjadikan kita berhati-hati. Itulah yang kita pelajari, merayakan Natal dengan hati-hati. Kita sering merayakan Natal secara formal saja tetapi makna Natal itu sendiri tidak nampak dan terwujud dalam tingkah laku kita sehari-hari. Kita sering menjadi orang Kristen secara formal dalam ibadah-ibadah saja tetapi dalam relasi atau hubungan antara orang tua dan anakanak, suami istri, sahabat maupun orang lain yang tidak dekat di hati kita kekristenan itu tidak meninggalkan bekas. Natal Yesus Kristus membebaskan, yaitu berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan yang tersedia bagi manusia (Markus 1:15, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”), serta kebebasan, keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan yang dikehendaki Allah untuk dunia. Natal Kristus mengubah citra manusia dari hamba dosa menjadi anakanak Allah dan sebagai puncak penyataan serta kehadiran Allah di tengah-tengah dunia dan manusia. Dalam perumpamaan pada Matius 24:3744, Yesus berkata, “Berjaga-jagalah kamu”. Artinya, sebagai anak Allah sebenarnya tidak lain daripada kesediaan untuk taat pada kehendak dan rencana Allah. Dengan ini kita diingatkan bahwa Natal mempunyai makna bagi setiap hidup kita, agar kita mengarahkannya demi keselamatan dan sebagai tanda solidaritas, tanda kesetiakawanan Allah terhadap keberadaan hidup manusia. Sebab Imanuel tidak lain adalah “Allah solider, Allah setia kawan dengan manusia”. Natal hendaknya mengoreksi setiap kecenderungan dan tradisi dari setiap kehidupan kita yang sebagian besar hanya dihabiskan untuk kepentingan diri sendiri, tidak setia kawan dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dengan orang-orang yang memerlukan uluran tangan belas kasihan.
Vikaris Deby Asadama, saat ini ditempatkan di GPIB Koinonia, Jakarta
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

73

RUANG INTERAKSI
Oleh: Ratna Sugeng

SELAMAT HARI IBU

B

Meski secara tradisonal ayah adalah kepala keluarga pencari nafkah utama, pada kenyataannya banyak ibu yang menempati posisi pencari nafkah utama

dapat menolong dirinya sendiri dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Tulisan Wikipedia saya sitirkan dengan adaptasi. 1. Tenang dan sabar. Menjadi ibu merupakan pekerjaan menantang. Cobalah kaji apa yang anda lakukan jika anak anda menyelinap dalam kamar anda dan dengan tanpa permisi mengacak lemari serta alat-alat berdandan anda ? Berteriak, tersenyum, atau menuntun anak tentang apa yang ingin diketahuinya ? Dapatkah anda dengan tenang menegur dan menjawab keinginan tahu anak dalam hal ini ? Demikian juga pada kegiatan anak lainnya yang mungkin mengejutkan anda dan anda tak ingin ia melakukannya, seperti ketika anak kedapatan membaca buku porno. 2. Berperanlah pada bidang yang diminati anak. Jika anak anda menyukai mobil, anda dapat ikut bermain dengan mobilmobilan atau menggunakan mobil-mobilan yang perlu dirakit lebih dahulu sebelum dapat melaju dalam sirkuit pertandingan seperti bermain Tamiya. Jika anak anda menyukai fotografi maka cobalah mempelajari seluk beluk fotografi dimulai dari yang paling sederhana.

ulan Desember tanggal 22, kita di Indonesia memperingati hari Ibu, sementara Mother’s Day yang diproklamirkan oleh Julia Ward Howe diperingati pada bulan Juni, sejak pertama kali diproklamirkan pada tahun 1870-an, dan kemudian masih banyak versi Mother’s Day lainnya di Amerika. Melihat begitu ramainya orang menegakkan hari Ibu, tentulah hari Ibu merupakan hal penting untuk diperingati. Ibu adalah orang yang melahirkan, suatu jabatan yang tak tergantikan, tetapi apakah ibu memang orang yang berarti dalam kehidupan, merupakan sebuah pertanyaan yang perlu kajian. Berikut ini pendapat dari beberapa orang yang mewakili anak tentang makna ibu.

GINA, 19 TAHUN, MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN

Bunda menemaniku di saat susah dan senang. Kalau aku pu3. Bermain bagi anak adalah bekerja. Jangan pernah terlalu kikir nya masalah, seburuk apapun, bunda dapat mendengarkan. Baik untuk membeli perangkat pembelajaran. Jawaban: “Ibu tak ketika aku putus pacar dimasa SMA ataupun saat aku sulit konsenpunya uang”, jika selalu didendangkan, bukan lagi metrasi pada materi kuliahku, bunda tak pernah menuduh rupakan lagu merdu, tetapi menjadi sebuah bumerang aku bersalah. Ia berusaha mendengarkan dan memberi apatisme dengan sindiran. Namun juga tidak bijak jika komentar ketika aku memintanya. Sekarang ketika aku kuliah jauh dari bunda, aku selalu ada kontak setiap MENJADI IBU semua kehendak anak menjadi mudah dibelikan. Kajilah bersama anak seberapa besar kebutuhannya pagi sebelum pukul 6 untuk menghemat biaya pulsaku. MERUPAKAN dan hitunglah percepatan kemajuan intelektualitas serta Bundaku bekerja sebagai pembantu dekan di salah satu perguruan tinggi negeri. Buat ku, ia tokoh idolaku. PEKERJAAN keterampilannya dengan materi yang kita berikan. Misalnya apakah sebuah Ipod, memang mutlak diperlukan?

SANDI, 21 TAHUN, MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI

MENANTANG

Mama orang yang aku bisa percaya. Ketika aku kedapatan nonton CD porno dikomputerku, mama dengan tenang berdiri dibelakangku dan mengajak diskusi. Malunya mak saat itu. Tetapi mamaku tetap dengan wajah datar memandangku dan aku terundang untuk diskusi. Saat SMP pun mama dapat kami ajak bicara, terutama kalau aku bersama teman-temanku naik mobil yang disupiri mama. Mama bisa diajak cerita tentang mimpi basah, ketakutan kami akan masturbasi, dan rasa ketertarikan kami pada lawan jenis. Mama juga dengan senyum berwibawa akan membicarakan nilai buruk ulanganku jika itu terjadi. Kami bisa ’ngobrol’ sambil belajar ulang apa yang sulit. Mama sebetulnya tidak berkehendak aku kuliah di fakultas ekonomi, namun ia bisa menerima pilihanku setelah kami berdiskusi. Aku menetapkan pilihan sekolahku, dan mama berharap aku bertanggung jawab atas pilihanku. Sekarang ketika aku jauh dari mama kuliah di luar Jakarta, aku selalu ditelpon mama (hehehe supaya pulsaku dibayar mama). Mama bisa mengerti ketika aku membeli obligasi dan belajar ’deal’ valas untuk mempraktekan ilmu dari kuliahku. Mamaku bekerja di lembaga dunia untuk kesehatan.

“ ”

4. Pastikan anda adalah orang yang nyaman diajak diskusi atau menjadi tempat mengadu. Upayakan anda berjiwa besar, tenang menghadapi halilintar kabar buruk dan atasi kemelut hati anda untuk tetap tidak gugup mendengarkan keluhan serta mengatasi masalah. Ibu yang disenangi anak adalah ibu yang dapat dijadikan teman atau sahabat kala susah dan senang. Ibu yang dapat diajak bicara seks, pacar, pelajaran , fesyen, musik dan etika.. Jika anak berbicara dengan orang yang salah, maka sangat mungkin informasinya menjerumuskannya ke jurang dalam. Misalnya ketika ibu-ibu di Jawa Barat kehilangan anak-anak perempuan remajanya yang diduga masuk aliran sesat (publikasi televisi bulan Oktober 2007)

MENJADI IBU
Setelah mengamati komentar wakil dari anak atas ibunya, kita coba melihat apa kata dunia internasional jika kita ingin menjadi ibu yang sesuai dengan irama anak. Berikut ini langkah untuk menjadi ibu yang menanamkan dasar kepribadian anak agar kelak 74
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

5. Dukunglah perkembangan anak. Mentertawakan kesenangan atau hobi anak membuat ia merasa ditolak. Ketika anak lakilaki anda mengatakan ia akan menjadi musisi dan tak ingin menjadi dokter seperti ayahnya, cobalah untuk memahami apa yang membuat anak senang pada hobinya. Seringkali orangtua dilanda kecemasan akan masa depan anak yang dikatakan tak jelas dari bermain musik. Cobalah kita tengok cerita gitaris Eet Syahranie, yang putra mantan gubernur. Ia dapat menjadi gitaris terkemuka di Indonesia dan tak memilih jejak ayahnya menjadi tokoh pemimpin daerah (Tayangan Empat Mata di televisi 24 Oktober 2007). Menertawakan atau mengejek membuat hubungan dengan

anak menjadi renggang dan ibu akan kehilangan kendali atas perjalanan anak untuk beranjak dewasa. Memahami perbedaan keinginan dan pilihan karir dimasa depan merupakan proses panjang pertempuran dalam diri ibu dan juga ayah. Apapun yang dipikirkan, disikapi , diidolakan anak, pelajari bersama anak keuntungan dan perkembangan tokoh idolanya. Lingkungan anak , teman-temannya, sangat mempengaruhi gaya pergaulan anak. Cobalah memahami kebutuhan mereka untuk diterima lingkungan, namun tetap aman dari bahaya penjerumusan ketidaktahuan risiko seks, narkotika, dan aliran sesat. Anda tidak harus mengikuti gaya anak, namun dapat memahami dan mengamankannya. 6. Jangan ragu untuk meminta maaf ketika anda bersalah, sebab salah adalah manusiawi. Orangtua bisa salah, juga anak. Sulit rasanya meminta maaf kepada anak, dan juga sulit untuk memaafkan kesalahan besar anak, pergulatan batin ibunda akan menghasilkan kata putus yang diarahkan pada bijaksana. Dengan sikap bijak, kita akan menyelamatkan pihak-pihak yang terlibat dalam masalah. Tenangkan diri, kaji kesalahan diri, mengapa terjadi kesalahan, apa akibat dari kesalahan, kemudian uraikan benang bermasalah bersamasama. Terangkan kepada anak mengapa kejadian itu terjadi, bagaimana situasi ibu saat itu, apa yang ada pada pikiran ibu dan apa yang tidak terduga. Mulailah dengan, “Saya akan bicara kepadamu, ibu minta maaf atas sikap ibu tadi dan ibu kemudian menyadari ada yang salah ...., dan kemudian masuk ke dalam pokok permasalahan. Menjadi ibu memerlukan waktu belajar mematangkan diri. Terutama ibu yang harus menghadapi berbagai situasi seorang diri, seperti ibu tunggal yang sekaligus harus menjadi ayah dan ibu. Kunci pengasuhan yang harmonis adalah hubungan perkawinan yang seimbang. Namun perkawinan langgeng pada masa sekarang nampaknya sulit untuk dipertahankan mengingat pertumbuhan kepribadian ayah dan ibu tidak sama percepatannya, sementara yang berada di depan terus melaju, yang tertinggal malu terseok-seok. Meski secara tradisonal ayah adalah kepala keluarga pencari nafkah utama, pada kenyataannya banyak ibu yang menempati posisi pencari nafkah utama. Situasi seperti ini patut dibincangkan bersama. Tidaklah aib jika terjadi pertukaran peran, dan diperlukan kematangan pribadi ayah dan ibu menerima situasi perkembangan seperti ini. Pandangan lingkungan masih terasa melecehkan, kedua orang dalam posisi ayah-ibu perlu menghadapinya dengan kekuatan bersama agar keutuhan daya tahan keluarga tetap tegak. Ketika saya mengajukan materi ini kepada kawankawan konselor dan mahasiswa, mereka meminta dituliskan tip

bagaimana menjadi ibu yang mendekatkan hubungan dengan anak. Berikut ini disampaikan beberapa tip: l Bantu anak menyelesaikan pekerjaan rumahnya, bukan hanya untuk mengetahui sampai dimana pengetahuan anak atas pelajaran yang diterimanya, tetapi juga untuk mengukur kemampuan anak dalam menikmati sekolahnya dan lingkungan pergaulannya. Sifat ibu membantu membuat anak tak segan menemui ibu ketika ia memerlukannya l Sediakan waktu untuk anak. Bermain ‘petak umpet’, menikmati ‘Time Zone” bersama anak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama, dan kerjakanlah semuanya dengan kegembiraan l Senantiasa mendukung dan menerima anak sebagaimana adanya l Bersikaplah jujur dan adil. Jangan pernah menyogok anak ketika anda merasa bersalah telah melalaikan kewajiban tertentu pada anak. l Jangan katakan bahwa ia berhutang pada anda, sudah dikandung 9 bulan dengan susah payah, ibu mencari nafkah hanya untuk anak siang dan malam, semua yang ibu lakukan demi anak. Anak sudah tahu hal itu, dan ia hadir atas kehendak orangtua menghadirkannya, sengaja atau tidak. Orangtua memang bekerja, karena itu kewajibannya, ada atau tidak ada anak. l Amatilah anak dari berbagai sisi pandang. Dia tak hanya anak, ia manusia yang tumbuh dan dapat lebih cerdas serta lebih bijak dari orangtuanya. Hargailah pertumbuhan dan perkembangannya l Orangtua adalah guru yang mengajari anak untuk menjadi dewasa dan mandiri, serta menghargai lingkungan hidupnya dimanapun ia berada. Usahakan bekerja bersama anak, bukan untuk anak, agar ia dapat kelak melakukannya sendiri yang dimulai dari contoh awal orangtua. l Hidup adalah fakultas penuh ilmu dimana setiap orang dapat menimba pengalaman dan mencerdaskan dirinya. Upayakan tidak terlalu cepat mengambil alih hal-hal yang tidak dapat diselesaikan anak, agar ia merasakan dan membuat dirinya terampil menuju kemampuan dewasa matang. l Anak adalah manusia utuh, bukan perpanjangan atau tiruan orangtuanya. Hargailah ia sebagai manusia. l Cintailah mereka tanpa pamrih, jangan memaksa mereka berpikir dengan cara dan gaya orangtua, dan jangan menuntut pembalasan cintanya atas jasa anda membesarkan. Orangtua menjadi orangtua karena anak menempatkannya demikian, tanpa pengakuan anak maka kedudukan orangtua tidak eksis. Ibu, selamat berhari ibu. Semoga ibu yang cerdas dan terampil membawa anak ke masa depan yang dapat dihadapinya dan tak pernah dihadapi ibunya.
Ratna Sugeng adalah seorang Psikiater, pertanyaan ataupun konsultasi bisa melalui ardiawika@yahoo.com
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

75

PROFIL

Anita Iskandar, SS, MPP
KABID PERBENDAHARAAN DAN KEBERATAN KPU BEA DAN CUKAI TIPE A TANJUNG PRIOK

BERUSAHA INGIN HIDUP SEIMBANG
Seperti sudah menjadi ritual tahunan WBC setiap edisi Desember menampilkan profil dari kalangan pegawai perempuan khususnya di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Anita Iskandar, menjadi pilihan untuk tokoh profil dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember.

S

ebagai seorang pegawai, istri dan ibu bagi kedua anaknya, ia sangat mendambakan bisa hidup seimbang diantara ketiga peran tersebut. Seimbang antara pekerjaan, keluarga dan kehidupan pribadi. Meski mengaku belum bisa menyeimbangkan waktu diantara ketiga itu terutama untuk keluarganya, namun terus berusaha dan mencoba untuk bisa mencapai keseimbangan yang ia dan keluarganya dambakan. Memasuki tahun ke-11 karirnya sebagai seorang pegawai negeri sipil pada DJBC, Anita Iskandar sebenarnya tidak pernah berpikir khusus tentang karirnya, apalagi berstrategi dalam hal meniti karir. Seperti yang ia katakan, “Pokoknya saya menikmati apa yang saya kerjakan sehingga bisa bekerja menghasilkan yang lebih baik dan tidak ada beban. Rasanya saya seperti terhanyut saja sampai ke posisi saya sekarang ini,” demikian ucapannya mengawali pembicaraan. Anita mengaku, dari perjalanan hidup yang dilaluinya hanya mengikuti irama dan arah air mengalir, karena pada dasarnya ia adalah orang yang ingin maju dan tipe orang yang senang untuk terus mengeksplor diri. Baginya yang terpenting untuk melakukan pekerjaan adalah berusaha sebaik-baiknya sedangkan untuk hasil akhir dari pekerjaan itu tinggal pimpinan yang menilai hasil kerjanya. Sebagai Kepala Bidang Perbendaharaan dan Keberatan, Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, Anita merasa beruntung karena termasuk mendapat kesempatan menjadi pejabat eselon III di usia yang ke-37, dari sekian banyak pegawai perempuan di DJBC khususnya. Perempuan kelahiran 18 Februari 1970 ini menilai bahwa kesempatan yang telah diberikan DJBC kepada para pegawai, baik laki-laki maupun perempuan saat ini sudah sama. Anita melihat saat ini sudah banyak pegawai perempuan yang menjadi pejabat, tetapi itu kembali lagi ke pada diri perempuan, apakah mereka benar-benar mau mempergunakan kesempatan tadi. Menurutnya, pegawai wanita sudah lebih leluasa untuk bisa berkompetisi secara sehat dengan pegawai laki-laki karena sebetulnya kesempatan sudah terbuka luas, maka itu kepada para pegawai perempuan tunjukkanlah keinginan untuk maju, caranya dengan bekerja keras sehingga dengan sendirinya akan menghilangkan stereotype bahwa wanita tidak bisa berkompetisi dengan laki-laki. “Dari segi lingkungan, wanita harus diberi kesempatan, tetapi dari dalam diri perempuan pun dia harus mau maju, artinya proses pengembangan diri jangan berhenti, kalau ada wanita layak untuk maju ya berilah kesempatan untuk ditempatkan,” kata penyuka olahraga renang dan jalan kaki ini. Bidang tugasnya saat ini cukup memberikan tantangan bagi Anita. Menurutnya untuk bidang perbendaharaan yang
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

paling terpenting adalah akurasi dalam hal pengolahan data, apalagi data di bidang yang dipimpinnya diperlukan oleh banyak pihak, terutama data mengenai penerimaan ataupun penagihan. Karena itu bagaimana supaya bidang ini bisa memprioritaskan masalah pengolahan data dengan dukungan sistim otamasi yang baik, sebab jika dikerjakan secara manual, hasilnya tidak akan optimal. “Di Tanjung Priok ini, yang semula tiga kantor pelayanan bea cukai dengan sistim yang berbeda-beda, kemudian disatukan semuanya, kini harus dimulai dari awal lagi. Nah itu yang jadi tantangan buat kita. Sedangkan mengenai sarana kita telah usulkan dan sedang dalam proses. Jadi obsesi saya di bidang ini adalah bagaimana sarana otomatisasi benar-benar bisa mendukung kinerja bidangnya, caranya dengan mengotomasi sistim, sebab kalau manual saya rasa akan kesulitan sebab data itu jumlahnya sangat banyak, beribu-ribu dan harus diolah,” demikian ujarnya. Untuk mengembangkan bidang ini menurutnya ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yang pertama membuat pendataan yang baik dan untuk mendukung itu telah meminta bantuan kepada Kantor Pusat (KP) DJBC dalam hal ini Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai, sedangkan di KPU, oleh Kepala KPU juga telah dibentuk satgas informasi teknologi yang akan membantu membuatkan database. Tak kalah pentingnya dalam hal ini adalah SDM-nya dan memang saat ini bidang perbendaharaan dan keberatan telah diisi oleh pegawaipegawai terbaik. Senang mendengar pendapat dan masukan dari anak buah menjadi strateginya dalam memimpin bidang pekerjaannya. Anita lebih senang mendatangi langsung para anak buahnya saat mereka menjalankan tugas sehingga mengetahui kesulitan yang dihadapi para pelaksana di lapangan ketimbang hanya duduk dibelakang meja sambil menunggu datangnya laporan hasil kerja. Dalam kesehariannya, Anita senang menjadikan anak buah sebagai partner kerjanya. “Saya beri mereka kebebasan untuk menata unit kerjanya masing-masing untuk kemudian kita lihat hasilnya bersama, saya ingin tim kerja yang baik, sebagai atasan saya ingin sebagai partner dari anak buah, bukan sebagai atasan kepada bawahan,” ujarnya. Saat ini tim kerjanya sedang terfokus pada masalah proses penyelesaian Form A, karena menurut Anita, Form A sangat tinggi tuntutannya untuk dapat segera selesai lebih cepat dari yang lainnya. Dan memang banyak kendala-kendala yang dihadapi terutama masalah restitusi karena terkait dengan unit-unit lain baik internal maupun eksternal KPU.

76

SENANG TANTANGAN
Anita Iskandar lahir di Kota Manado. Merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Iskandar dan Engelin Rompas. Masa kecil, tepatnya sejak tahun 1972 banyak dihabiskan di kota Banda Aceh saat mengikuti tugas ayahnya yang seorang pegawai negeri di Manado yang kemudian ditugaskan ke Aceh. Kembali menceritakan masa kecilnya, Anita mengaku sejak kecil memang menyukai kegiatan traveling dan bermain di pantai setiap minggu bersama ayah, ibu dan ketiga saudaranya. Lok Ngah merupakan tempat favoritnya saat itu. Sebelum terjadinya bencana Tsunami, Lok Ngah merupakan pantai yang sangat indah di wilayah Aceh. Di pantai inilah mereka bermain-main sambil menunggu sang ayah memancing ikan. Kalau sedang tidak ke pantai, maka air terjun menjadi persinggahan keluarga ini untuk berlibur. Tak jarang pula keliling kota berkunjung ke Lhokseumawe, Tapak Tuan, Takengon sampai Medan (Sumatera Utara) dan Kota Padang (Sumatera Barat) yang diakuinya walau bepergian dari kota ke kota melintasi hutan dengan mobil tetapi tidak pernah menemui gangguan keamanan dari GAM Tinggal di Banda Aceh hingga akhir di bangku kelas enam, kemudian mengikuti pindah tugas ayahnya ke Jakarta. Praktis melanjutkan SMP dan SMA di Jakarta. Lulus SMA tahun 1988 kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia mengambil program studi pada Fakultas Sastra Perancis. Ketertarikannya memilih sastra Perancis, terutama karena bahasanya yang menurutnya memiliki dialek sangat unik bagi yang mendengarnya dan memiliki ciri khas tersendiri. Sebagai mahasiswa, Anita yang senang dengan kegiatan yang menantang mengikuti salah satu kegiatan yang diadakan kampusnya, yaitu pecinta alam. Di kegiatan ini pula ia kemudian menemukan jodohnya, yang merupakan seniornya dari fakultas lain, Tantyo Bangun Wirupati yang ketika itu bersama timnya sedang latihan untuk persiapan pendakian ke Puncak Gunung Himalaya. Oleh temannya, Anita kemudian diperkenalkan pada Tantyo, maka ibarat pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulino, karena sering bertemu maka jadilah mereka sebagai sepasang kekasih. Tantyo Bangun menikahi Anita pada tahun 1998 dan kini telah dikaruniai dua orang anak, masing-masing Adinda Fazrina (8) dan Atma Jiwa Kembara (14 bulan). Menyelesaikan kuliah tahun 1994, Anita sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta, kemudian saat itu ia melihat informasi mengenai penerimaan pegawai di Departemen Keuangan (Depkeu) yang dimuat di salah satu surat kabar harian nasional. Ia pun tertarik untuk mengikuti tes tersebut alasannya saat itu kalau menjadi pegawai negeri sipil (PNS) ia dapat memperoleh penghasilan tetap dan kebetulan ada lowongan untuk sarjana sastra Perancis, terlebih PNS Depkeu penghasilannya lebih tinggi dibandingkan dengan PNS lain.

untuk selanjutnya mengikuti diklat sampai Juni 1997, setelah itu ditempatkan sebagai Pelaksana pada Bagian Hubungan Internasional sampai tahun 2000. Mei 2000, Anita dimutasi sebagai Pelaksana di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Soekarno-Hatta, Cengkareng. Tahun 2002 ia mendapat promosi di kantor ini sebagai Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai VIII. Tahun 2003, Anita mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2-nya di Tokyo, Jepang. Setelah setahun menempuh pendidikan akhirnya gelar Master of Public Policy berhasil diraihnya. Selama menempuh pendidikan selama

KARIRNYA DI DJBC
Setelah dinyatakan lulus tes sebagai PNS di Departemen Keuangan, ternyata ia mendapat penempatan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tepatnya pada Maret 1996
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
FOTO-FOTO : DOK. PRIBADI

KELUARGA. Anita, bersama suami dan buah hatinya.

setahun itu, ia mengaku senang mengeksplor diri dengan berbagai kegiatan. Misalnya saat itu salah satu majalah internasional, Cosmopolitan terbitan Indonesia memintanya untuk menjadi stringer berita-berita selebriti dunia yang berkunjung ke Jepang. Diantara bintang-bintang kaliber dunia yang pernah diwawancarainya antara lain ; penyanyi R & B kulit hitam, Janet Jackson, bintang sepak bola Inggris, David Beckham, dan artis Kirsten Dunst (pemeran Mary Jane dalam film Spiderman). Pengalaman itu tentunya menyenangkan hatinya, selain berkesempatan mewawancarai bintang sekaliber dunia, ia juga berkesempatan masuk ke hotel super mewah di Jepang tempat dilaksanakannya wawancara. “Jadi ceritanya waktu itu karena ada kesempatan saja. Saya ditawari teman yang bekerja di majalah Cosmopolitan untuk menjadi stringer selama di Jepang. Akhirnya saya bersedia dan disodori beberapa pertanyaan yang akan diajukan. Bermodalkan kamera dan tape recorder, jadilah saya seorang wartawan. Memang sih saya ini suka tantangan, makanya selama di Jepang juga suka jalan-jalan sendirian, mengeksplor diri, “ kenang Anita. Selama melanjutkan pendidikan di Jepang, Anita tercatat sebagai Pelaksana di Sekretariat Kantor Pusat DJBC ( tahun 2003) dan tahun 2004 sebagai Pelaksana Pemeriksa Direktorat Cukai. Sepulangnya dari Jepang ia ditempatkan kembali di KPBC Soekarno-Hatta sebagai Kasi Tempat Penimbunan III. Pada Desember 2005, Anita ditugaskan sebagai Kasi Kerjasama WTO Direktorat Kepabean Internasional (yang dulunya bernama Bagian Hubungan Internasional). Desember 2006 menjabat Kasi Asia dan Afrika masih di direktorat yang sama. Hingga pada Juni 2007 saat DJBC meluncurkan KPU Bea dan Cukai, Anita diangkat menjadi Kepala Bidang Perbendaharaan dan Keberatan KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok. Dari sekian penempatannya selama berkarir di DJBC, 78
WARTA BEA CUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

menurutnya selama berkecimpung dalam kegiatan hubungan internasional telah memberikan kesan baginya. Menurut pendapatnya, hubungan internasional sangat penting dalam hal ini Direktorat Kepabeanan Internasional DJBC di forum internasional ibarat wajahnya Bea dan Cukai di luar negeri dan berperan sebagai Public Relation DJBC. Karena semua hal yang terkait dengan masalah dunia internasional, Direktorat Kepabeanan Internasional-lah yang menyampaikannya di forum-forum tersebut, baik mengenai program maupun visi dan misi dari DJBC. “Berbeda dengan unit lain yang sudah punya sisdur dan pakem, berkembangnya performance Dit. Kepabeanan Internasional bergantung bagaimana strategi para pejabatnya dalam merepresentasikan visi dan misi DJBC secara aktif keluar dan mensosialisasikan perkembangan luar ke dalam, di samping harus proaktif mengikuti dan mengamati trend perkembangan kegiatan yang berkaitan dengan dunia pabean internasional. “Di bidang hubungan internasional banyak mengikuti aturan yang ada di luar negeri dan sifatnya global sehingga memerlukan pemahaman yang lebih mengenai aturan kepabeanan yang berlaku di dunia,” ujar Anita yang pernah berkesempatan ke Brussel tahun 2000 saat mengikuti konferensi World Customs Organization (WCO ) mengenai fellowship program enforcement. Anita yang menguasai bahasa Inggris dan Perancis waktu itu mengikuti program yang pembahasannya dilakukan dalam bahasa Perancis selama sebulan penuh dan dilanjutkan setengah bulan berikutnya di Jepang.

SALAH SATU KEGIATAN OUTDOOR bersama keluarga saat waktu libur.

KETIKA MENGIKUTI WCO Fellowship Programme Enforcement di Brussel. .

BERSAMA-SAMA REKAN DJBC dan Kepolisian saat mengikuti training Airport Interdiction di Bangkok.

Saat ditanya penempatannya di tempat lain yang juga berkesan, ia menceritakan mengenai pengalamannya saat bertugas di Soekarno-Hatta saat menangkap seorang wanita asal Indonesia yang tertangkap tangan membawa heroin. Anita ketika itu menjadi salah satu anggota tim yang dibentuk untuk mengamati penumpang pesawat kedatangan internasional untuk mengetahui penumpang yang membawa barang terlarang. Anita menceritakan kembali, ketika itu ada seorang wanita asal Indonesia yang gerak-geriknya mencurigakan sekali. Setelah ia ikuti sampai ke mesin x-ray ternyata benar telah membawa heroin seberat 1,1 kilogram. “Dari pengakuan si pelaku , dia orang Indonesia yang baru saja pulang berlibur dari Nepal dengan kekasihnya yang seorang negro. Oleh kekasihnya tadi, perempuan ini dititipkan barang haram tadi, bisa saja dititipkan dengan sepengetahuannya atau tanpa sepengetahuannya. Jadi selama di Soekarno-Hatta itu yang bisa tertangkap tangan langsung oleh saya untuk penyelundupan heroin dan itupun juga atas kerjasama tim yang sangat kompak,” ujar Anita yang juga berkesempatan ke Bangkok mengikuti Airport Interdiction tahun 2002 mengikuti training mengenai pencegahan penyelundupan di bandara khususnya narkotika.

“Kita sering jalan-jalan ke berbagai tempat dan kegiatan yang berbeda-beda, karena pengalaman itu tadi sangat baik untuk perkembangan anak, mereka jadi punya berbagai macam pengalaman dan wawasan untuk sosialisasi dengan lingkungan yang berbeda-beda dan pengembangan cara berpikir mereka,” demikian alasan Anita. Untuk membagi waktu agar dapat seimbang dengan keluarga, Anita merasakan bahwa sampai saat ini ia masih belum bisa mencapainya meski sampai sekarang dirinya sedang berusaha untuk seimbang membagi waktu antara pekerjaan, keluarga dan kehidupan pribadinya. “Sepertinya menurut saya sudah seimbang tetapi ternyata kata anak-anak saya belum cukup. Ya kita atur-atur saja supaya bisa seimbang. Harapan saya, saat bekerja tidak ada complain dari klien, begitu juga semoga tidak ada complain dari anak dan suami. Saya sadar sebagai perempuan tuntutannya lebih tinggi dari laki-laki, karena perempuan dituntut untuk lebih memperhatikan rumah tangga. Padahal kalau kita mau saklek ya kalau memang suami istri bekerja mestinya semuanya dikerjakan sama-sama, tetapi pada kenyataannya tidak, perempuan kalau sudah pulang ke rumah harus kembali kepada kodratnya,”tandas Anita. ris

WAKTU BERSAMA KELUARGA
Di luar aktifitas Anita sebagai pegawai kantoran, ia bersama keluarganya senang mengisi waktu liburan dengan berbagai kegiatan. Berusaha mengenalkan anaknya dengan bermacammacam kegiatan disaat waktu libur sekolah. Tidak hanya mengunjungi tempat plesiran, anak-anaknya juga dikenalkan dengan berbagai kegiatan yang mendidik,seperti pameran misalnya, atau kegiatan outdoor. Bahkan dunia yang digeluti suaminya di bidang jurnalistik juga diperkenalkan kepada anak-anaknya. Tak jarang jika suami sedang melakukan tugas jurnalistik dan kebetulan hari libur sekolah, Anita dan kedua anaknya ikut serta, seperti misalnya belum lama ini mengikuti pengamatan (observasi) badak di Ujung Kulon, Banten terkait untuk sebuah penulisan artikel (suami Anita bekerja sebagai Chief Editor di Majalah National Geographic Indonesia ). SAAT BERTUGAS menjadi pelaksana pemeriksa di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.
EDISI 397 DESEMBER 2007 WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA

HARUS EFEKTIF DAN BERORIENTASI PADA PELAYANAN
Tidak hanya sukses dengan album-albumnya yang bergenre rock, rocker yang pernah sukses lewat lagu yang berjudul preman dan lagu lainnya yang menjadi soundtrack film Catatan si Boy pada tahun 80’an, Ikang Fauzi juga sukses dalam bisnis property. Menurutnya telah banyak perumahan yang telah dibuat olehnya melalui perusahaan yang dipimpinnya, bahkan suami dari politikus Marrisa Haque ini juga terlibat dalam program pembangunan rumah sehat sederhana yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kawasan Jonggol Jawa Barat. Setelah acara peresmian tersebut pada 1 November 2007, WBC berkesampatan berbincang-bincang dengan Ikang seputar karir dan kegiatan berkeseniannya saat ini. Untuk bidang seni terutama tarik suara, ia bersama-sama dengan Gilang Ramadhan dan Eky Sukarno tengah menggarap album yang juga bergenre rock. Band yang diberi nama Bro tersebut juga telah melemparkan singlenya yang bertema religius bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 2007 ini. Karena kesibukkannya di bidang property, Ikang kini lebih memilih untuk melakukan show di cafe-cafe, hal ini menurutnya untuk bisa lebih leluasa menyapa-rekan-rekannya yang datang, “Show dilapangan terbuka sudah tidak saya lakukan seperti dulu, sekaligus mencoba hal baru, dan kalau (manggung) di cafe, saya bisa lebih leluasa menyapa-temanteman yang datang,”ujarnya. Sebagai pengusaha property di Indonesia, perjalanan keluar negeri juga sering dilakukannya. Ia mengatakan sebagai public figure, dirinya sering disapa dan disalami oleh patugas pada otoritas bandara di Indonesia termasuk didalamnya petugas bea cukai. Menurutnya petugas bea cukai di bandara selalu menyapa ramah dan terkadang mengajaknya ngobrol,”Karena saya orangnya suka ngobrol, jadinya petugas memeriksa barang bawaan saya sambil ngobrol, dan teman-teman bea cukai ramahramah,jadinya seperti ketemu teman lama aja,”ujarnya lagi. Saat ini menurutnya petugas bea cukai terutama yang ada dibandara sudah lebih baik dan lebih berorientasi melayani,”Saya harap petugas bea cukai lebih menjalankan tugasnya dengan efektif dan lebih berorientasi pada pelayanan, “ujarnya mengakhiri pembicaraan dengan WBC. zap

Ikang Fauzi

PELAYANAN HARUS LEBIH DITINGKATKAN
Gusti Randa, sineas yang juga berprofesi sebagai pengacara, ternyata pernah mengalami pemeriksaan di bea cukai bandara Soekarno-Hatta. Ia menceritakan pada tahun 2000 lalu,ia membawa film yang ia buat ke Bangkok Thailand untuk dilakukan proses lebih lanjut disana. Film yang dibawa ke Bangkok tersebut menurutnya masih dalam bentuk pita film dan setelah diproses di Bangkok dan dibawa pulang ke Indonesia dalam bentuk film utuh ternyata harus membayar Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) oleh petugas bea cukai bandara SoekarnoHatta. Gusti mengaku kecewa dengan adanya kebijakan tersebut karena ia menilai film yang dibuatnya di Indonesia dan diproses di luar negeri bukan barang mewah yang harus dikenai PPN/BM. Atas kejadian tersebut Gusti pun harus merogoh kocek untuk membayar PPN/BM tersebut. Ia mengatakan sebaiknya pemerintah mempertimbangkan kembali untuk mengenakan PPN/BM untuk film Indonesia yang telah dilakukan proses produksi diluar negeri. ”Ini merupakan salah satu bentuk pembinaan untuk kemajuan film Indonesia,”ujarnya lagi. Ketika ditanya kinerja petugas bea cukai terutama di bandara setelah ia melakukan perjalanan ke luar negeri dalam rangka bisnis, Gusti mengaku kini sudah ada peningkatan dan lebih baik dari waktu-waktu, ”Semoga pelayanannya tetap ditingkatkan jangan sampai mudur apalagi jalan di tempat,”ujarnya lagi. zap

Gusti Randa

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 397 DESEMBER 2007

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 89/PMK.04/2007 T E N T A N G

IMPOR BARANG PRIBADI PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS DAN BARANG KIRIMAN
MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan Pasal 10B ayat (5), Pasal 13 ayat (2) dan Pasal 25 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Impor Barang Pribadi Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas Dan Barang Kiriman; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); 3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984); 4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985); 5. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3986); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1996 tentang Penindakan Di Bidang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3626); 7. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG IMPOR BARANG PRIBADI PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS DAN BARANG KIRIMAN. BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007 1

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan : 1. Barang pribadi penumpang adalah barang yang dibawa oleh setiap orang yang melintasi perbatasan wilayah negara dengan menggunakan sarana pengangkut, tidak termasuk barang yang dibawa awak sarana pengangkut atau pelintas batas. 2. Barang awak sarana pengangkut adalah barang yang dibawa oleh setiap orang yang karena sifat pekerjaannya harus berada dalam sarana pengangkut dan datang bersama sarana pengangkutnya. 3. Barang kiriman adalah barang impor yang dikirim oleh pengirim tertentu di luar negeri kepada penerima tertentu di dalam negeri. 4. Barang pelintas batas adalah barang yang dibawa oleh pelintas batas. 5. Pelintas batas adalah penduduk yang berdiam atau bertempat tinggal dalam wilayah perbatasan negara serta memiliki kartu identitas yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dan yang melakukan perjalanan lintas batas di daerah perbatasan melalui pos pengawas lintas batas. 6. Customs Declaration yang selanjutnya disingkat CD adalah pemberitahuan atas barang impor yang dibawa penumpang atau awak sarana pengangkut. 7. Pas Lintas Batas yang selanjutnya disingkat PLB adalah kartu yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi yang diberikan kepada pelintas batas. 8. Pos Pengawas Lintas Batas yang selanjutnya disingkat PPLB adalah tempat yang ditunjuk pada perbatasan wilayah negara untuk memberitahukan dan menyelesaikan kewajiban pabean terhadap barang pelintas batas. 9. Kartu Identitas Lintas Batas yang selanjutnya disingkat KILB adalah kartu yang dikeluarkan oleh kantor pabean yang membawahi Pos Pengawas Lintas Batas yang diberikan kepada pelintas batas setelah dipenuhi persyaratan tertentu. 10. Buku Pas Barang Lintas Batas yang selanjutnya disingkat BPBLB adalah buku yang dipakai oleh pejabat bea dan cukai untuk mencatat jumlah, jenis, dan nilai pabean atas barang yang dibawa oleh pelintas batas dari luar daerah pabean. 11. Jalur hijau adalah jalur pengeluaran barang impor dengan tidak dilakukan pemeriksaan fisik barang. 12. Jalur merah adalah jalur pengeluaran barang impor dengan dilakukan pemeriksaan fisik barang. 13. Perusahaan Jasa Titipan yang selanjutnya disingkat PJT adalah perusahaan yang memperoleh ijin usaha jasa titipan dari instansi terkait serta memperoleh persetujuan untuk melaksanakan kegiatan kepabeanan dari Kepala kantor pabean. 14. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 15. Undang-Undang Kepabeanan adalah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006. 16. Pejabat bea dan cukai adalah pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan. 17. Kantor pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan ketentuan UndangUndang Kepabeanan. BAB II PEMBEBASAN BEA MASUK DAN PERLAKUAN PAJAK DALAM RANGKA IMPOR 2 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 2 Terhadap barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang kiriman sampai batas nilai pabean dan/atau jumlah tertentu diberikan : a. pembebasan bea masuk; dan b. tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundangundangan di bidang perpajakan yang berlaku. Bagian Kesatu Barang Pribadi Penumpang Pasal 3 (1) Barang pribadi penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 merupakan barang yang tiba bersama penumpang. (2) Barang pribadi penumpang yang tiba sebelum atau setelah kedatangan penumpang dianggap sebagai barang yang tiba bersama penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sepanjang memenuhi ketentuan sebagai berikut : a. paling lama 60 (enam puluh) hari setelah kedatangan penumpang untuk penumpang yang menggunakan sarana pengangkut laut; atau b. paling lama 15 (lima belas) hari setelah penumpang tiba untuk penumpang yang menggunakan sarana pengangkut udara. (3) Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dapat dibuktikan kepemilikannya dengan menggunakan paspor dan boarding pass yang bersangkutan. (4) Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilewati, terhadap barang yang tidak tiba bersama penumpang tidak mendapatkan fasilitas pembebasan bea masuk dan dipungut pajak dalam rangka impor. Pasal 4 (1)Terhadap barang pribadi penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dengan nilai pabean paling banyak FOB USD 250.00 (dua ratus lima puluh US dollar) per orang atau FOB USD 1,000.00 (seribu US dollar) per keluarga untuk setiap perjalanan, diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundangundangan di bidang perpajakan yang berlaku. (2)Dalam hal barang pribadi penumpang melebihi batas nilai pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka atas kelebihan tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Pasal 5 (1) Selain pembebasan bea masuk terhadap barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), terhadap barang pribadi penumpang yang merupakan barang kena cukai juga diberikan pembebasan cukai untuk setiap orang dewasa paling banyak: a. 200 (dua ratus) batang sigaret, 25 (dua puluh lima) batang cerutu, atau 100 (seratus) gram tembakau iris/hasil tembakau lainnya; dan b. 1 (satu) liter minuman mengandung etil alkohol. (2) Dalam hal hasil tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a lebih dari satu jenis, pembebasan cukai diberikan setara dengan perbandingan jumlah per jenis hasil tembakau tersebut. (3) Atas kelebihan barang kena cukai dalam jumlah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan penumpang yang bersangkutan. BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007 3

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Bagian Kedua Barang Awak Sarana Pengangkut Pasal 6 (1) Barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean tidak melebihi FOB USD 50.00 (lima puluh US dollar) per orang untuk setiap kedatangan diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundangundangan di bidang perpajakan yang berlaku. (2) Dalam hal barang awak sarana pengangkut melebihi batas nilai pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka atas kelebihan tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Pasal 7 (1) Selain diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku terhadap barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), terhadap barang awak sarana pengangkut yang merupakan barang kena cukai diberikan pembebasan cukai, dengan ketentuan : a. paling banyak 40 (empat puluh) batang sigaret, 10 (sepuluh) batang cerutu, atau 40 (empat puluh) gram tembakau iris/ hasil tembakau lainnya; dan b. paling banyak 350 (tiga ratus lima puluh) mililiter minuman mengandung etil alkohol. (2) Dalam hal hasil tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a lebih dari satu jenis, pembebasan cukai diberikan setara dengan perbandingan jumlah per jenis hasil tembakau tersebut. (3) Dalam hal barang awak sarana pengangkut yang merupakan barang kena cukai melebihi jumlah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), atas kelebihan barang tersebut langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan awak sarana pengangkut yang bersangkutan. Bagian Ketiga Barang Pelintas Batas Pasal 8 (1) Barang pelintas batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku, dengan ketentuan nilai pabean sebagai berikut : a. Indonesia dengan Papua New Guinea paling banyak FOB USD 300.00 (tiga ratus US dollar) per orang untuk jangka waktu satu bulan; b. Indonesia dengan Malaysia : 1) paling banyak FOB MYR 600.00 (enam ratus ringgit Malaysia) per orang untuk jangka waktu satu bulan, apabila melewati batas daratan; 2) paling banyak FOB MYR 600.00 (enam ratus ringgit Malaysia) setiap perahu untuk setiap trip, apabila melalui batas lautan (sea border); c. Indonesia dengan Filipina paling banyak FOB USD 250.00 (dua ratus lima puluh US dollar) per orang untuk jangka waktu satu bulan. d. Indonesia dengan Timor Leste paling banyak FOB USD 50.00 (lima puluh US dollar) per orang per hari. (2) Dalam hal barang pelintas batas melebihi batas nilai pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka atas kelebihan barang tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor. 4 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Bagian Keempat Barang Kiriman Pasal 9 (1) Terhadap barang kiriman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku, dengan nilai pabean paling banyak FOB USD 50.00 (lima puluh US dollar) untuk setiap orang per kiriman. (2) Dalam hal nilai pabean barang kiriman melebihi batas pembebasan bea masuk, barang kiriman dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk. BAB III PEMBERITAHUAN, PEMERIKSAAN, DAN PENGELUARAN BARANG Pasal 10 (1) Barang impor yang dibawa oleh penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang kiriman wajib diberitahukan kepada pejabat bea dan cukai di kantor pabean. (2) Barang impor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dikeluarkan dengan persetujuan pejabat bea dan cukai. Bagian Kesatu Pemberitahuan dan Pengeluaran Barang Pribadi Penumpang Pasal 11 (1) Atas barang pribadi penumpang yang tiba bersama penumpang, wajib diberitahukan kepada pejabat bea dan cukai dengan menggunakan CD. (2) CD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib diisi dengan lengkap dan benar. (3) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara lisan, pada tempat-tempat tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. Pasal 12 (1) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, penumpang dapat memilih mengeluarkan barang impor melalui : a. jalur merah, dalam hal penumpang membawa barang impor: 1) dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk yang diberikan dan/atau jumlah barang kena cukai melebihi ketentuan pembebasan cukai; 2) berupa hewan, ikan, dan tumbuhan termasuk produk yang berasal dari hewan, ikan, dan tumbuhan; 3) berupa narkotika, psikotropika, obat-obatan, senjata api, senjata angin, senjata tajam, amunisi, bahan peledak, benda/publikasi pornografi; 4) berupa film sinematografi, pita video berisi rekaman, video laser disc atau piringan hitam; atau 5) berupa uang dalam Rupiah atau dalam mata uang asing senilai Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih. b. jalur hijau, dalam hal penumpang tidak membawa barang impor sebagaimana dimaksud pada huruf a. (2) Setelah menerima pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, pejabat bea dan cukai; BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007 5

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

a. memberikan persetujuan pengeluaran barang, dalam hal penumpang melalui jalur hijau; atau b. melakukan pemeriksaan fisik, dalam hal penumpang melalui jalur merah. (3) Dalam hal terdapat kecurigaan, pejabat bea dan cukai berwenang melakukan pemeriksaan fisik atas barang penumpang yang melalui jalur hijau. Pasal 13 (1) Apabila dari hasil pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf a, ditemukan : a. kelebihan barang kena cukai dari jumlah yang ditentukan, terhadap kelebihan barang kena cukai tersebut langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan penumpang yang bersangkutan. b. barang yang terkena larangan atau pembatasan impor, pejabat bea dan cukai melakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku. c. barang pribadi penumpang dengan nilai pabean tidak melebihi batas pembebasan bea masuk, maka terhadap barang pribadi penumpang tersebut diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku. d. barang pribadi penumpang dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk, maka atas kelebihan nilai pabean barang pribadi penumpang tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk. (2) Pejabat bea dan cukai melakukan pencatatan terhadap hasil pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tersebut pejabat bea dan cukai menetapkan nilai pabean dan tarif serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor pada lembar CD. (3) Dalam hal dari hasil pemeriksaan fisik tidak ditemukan barang pribadi penumpang dengan kondisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b dan huruf d, pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang tersebut. Pasal 14 (1) Penumpang wajib membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor berdasarkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dan diberikan bukti pembayaran. (2) Setelah menerima pembayaran, pejabat bea dan cukai harus membukukan data barang pribadi penumpang yang dikenakan pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagaimana tercantum dalam CD ke dalam buku catatan pabean. Pasal 15 (1) Persetujuan pengeluaran atas barang pribadi penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf d diberikan oleh pejabat bea dan cukai setelah penumpang melunasi bea masuk dan pajak dalam rangka impor. (2) Persetujuan pengeluaran barang penumpang yang akan digunakan selama berada di daerah pabean dan dibawa kembali pada saat meninggalkan daerah pabean berlaku ketentuan mengenai impor sementara. (3) Pengeluaran barang pribadi penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) yang : a. terdaftar di dalam manifes, diselesaikan dengan Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT); b. terdaftar sebagai barang “Lost and Found”, diselesaikan dengan CD. 6 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Bagian Kedua Pemberitahuan dan Pengeluaran Barang Awak Sarana Pengangkut Pasal 16 (1) Barang awak sarana pengangkut yang tiba dari luar daerah pabean, wajib diberitahukan kepada pejabat bea dan cukai dengan menggunakan CD. (2) Awak sarana pengangkut harus mengisi CD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan lengkap dan benar serta menyampaikannya kepada pejabat bea dan cukai. (3) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara lisan, pada tempat-tempat tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. Pasal 17 (1) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, awak sarana pengangkut dapat memilih mengeluarkan barang impor melalui : a. jalur merah, dalam hal awak sarana pengangkut membawa barang impor: 1) dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk yang diberikan dan/atau jumlah barang kena cukai melebihi ketentuan pembebasan cukai; 2) berupa hewan, ikan, dan tumbuhan termasuk produk yang berasal dari hewan, ikan, dan tumbuhan; 3) berupa narkotika, psikotropika, obat-obatan, senjata api, senjata angin, senjata tajam, amunisi, bahan peledak, benda/publikasi pornografi; 4) berupa film sinematografi, pita video berisi rekaman, video laser disc atau piringan hitam; atau 5) berupa uang dalam Rupiah atau dalam mata uang asing senilai Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih. b. jalur hijau, dalam hal awak sarana pengangkut tidak membawa barang impor sebagaimana dimaksud pada huruf a. (2) Setelah menerima pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, pejabat bea dan cukai : a .memberikan persetujuan pengeluaran barang, untuk barang awak sarana pengangkut yang melalui jalur hijau; atau b. melakukan pemeriksaan fisik, untuk barang awak sarana pengangkut yang melalui jalur merah. (3) Dalam hal terdapat kecurigaan, pejabat bea dan cukai berwenang melakukan pemeriksaan fisik atas barang awak sarana pengangkut yang melalui jalur hijau. Pasal 18 (1) Apabila dari hasil pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a, ditemukan : a. kelebihan barang kena cukai dari jumlah yang ditentukan, terhadap kelebihan barang kena cukai tersebut langsung dimusnahkan dengan atau tanpa disaksikan awak sarana pengangkut yang bersangkutan; b. barang yang terkena larangan atau pembatasan impor, pejabat bea dan cukai melakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku; c. barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean tidak melebihi batas pembebasan bea masuk, maka terhadap barang awak sarana pengangkut tersebut diberikan pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku; d. barang awak sarana pengangkut dengan nilai pabean melebihi batas pembebasan bea masuk, maka atas kelebihan nilai pabean barang awak BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007 7

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

sarana pengangkut tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor dengan dasar nilai pabean penuh tanpa dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk. (2) Pejabat bea dan cukai melakukan pencatatan terhadap hasil pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tersebut pejabat bea dan cukai menetapkan nilai pabean dan tarif serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor pada lembar CD. (3) Dalam hal dari hasil pemeriksaan fisik tidak ditemukan barang awak sarana pengangkut dengan kondisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b dan huruf d, pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang tersebut. Pasal 19 (1) Awak sarana pengangkut wajib membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor berdasarkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dan diberikan bukti pembayaran. (2) Setelah menerima pembayaran, pejabat bea dan cukai harus membukukan data barang awak sarana pengangkut yang dikenakan pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagaimana tercantum dalam CD ke dalam buku catatan pabean. Pasal 20 Pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang awak sarana pengangkut setelah awak sarana pengangkut melunasi bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) atau berdasarkan pemeriksaan fisik barang tersebut telah sesuai dengan batasan nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasa16 dan Pasal 7. Bagian Ketiga Pemberitahuan dan Pengeluaran Barang Pelintas Batas Pasal 21 (1) Setiap pelintas batas yang membawa barang wajib memiliki KILB. (2) KILB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh kepala kantor pabean yang mengawasi PPLB atas permohonan pelintas batas. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diajukan kepada kepala kantor pabean dengan dilampiri fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan fotokopi PLB yang ditandasahkan oleh pejabat imigrasi setempat. (4) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), kepala kantor pabean memberikan KILB kepada pelintas batas tersebut dan dibuatkan BPBLB sesuai dengan contoh format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I dan Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 22 (1) Pelintas batas yang tiba dari luar daerah pabean dengan membawa barang bawaan wajib menunjukkan KILB dan memberitahukan barang bawaannya kepada pejabat bea dan cukai di PPLB. (2) Pelintas batas yang tidak dapat menunjukkan KILB tidak diberikan fasilitas berupa pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (3) Setelah menerima KILB, pejabat bea dan cukai di PPLB : 8 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

a. melakukan pemeriksaan fisik dan menuangkan hasil pemeriksaan fisik tersebut ke dalam Nota Pemeriksaan sesuai contoh format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Menteri Keuangan ini; b. melakukan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan fisik ditemukan bahwa barang tersebut terkena larangan atau pembatasan impor; c. menetapkan nilai pabean dan tarif barang yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; d. menetapkan besarnya bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang harus dipungut dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk, dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan kedapatan nilai pabean barang melebihi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8; dan e. memberikan persetujuan pengeluaran barang, dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan kedapatan nilai pabean barang tidak melebihi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. (4) Pelintas batas wajib membayar bea masuk dan pajak dalam rangka impor berdasarkan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d di kantor pabean dan diberikan bukti pembayaran. (5) Pejabat bea dan cukai memberikan persetujuan pengeluaran barang setelah bea masuk dan pajak dalam rangka impor sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilunasi. (6) Dalam hal ditemukan adanya penyalahgunaan fasilitas pembebasan bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor atas barang pelintas batas, maka fasilitas tersebut dicabut. Bagian Keempat Barang Kiriman Pasal 23 (1) Impor barang kiriman dilakukan melalui pos atau PJT. (2) Terhadap barang kiriman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pemeriksaan pabean oleh pejabat bea dan cukai. (3) Pemeriksaan pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang. (4) Pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan secara selektif. (5) Dalam hal dilakukan pemeriksaan fisik barang sebagaimana dimaksud pada ayat (4), pemeriksaan fisik tersebut disaksikan oleh petugas pos atau petugas PJT. (6) Barang kiriman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikeluarkan setelah dipenuhi kewajiban pabean dan mendapat persetujuan dari pejabat bea dan cukai. Bagian Kelima Barang Kiriman Melalui Pos Pasal 24 (1) Pejabat bea dan cukai menetapkan tarif dan nilai pabean serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang wajib dilunasi atas barang kiriman melalui pos. (2) Barang kiriman melalui pos yang telah ditetapkan tarif dan nilai pabeannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diserahkan kepada penerima barang kiriman melalui pos setelah bea masuk dan pajak dalam rangka impor dilunasi. BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007 9

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 25 (1)Penyelesaian impor barang kiriman melalui pos dilakukan oleh PT. Pos Indonesia (Persero) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. (2)Penyelesaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penanganan kantung pos, pelalubeaan serta pengawasannya. Bagian Keenam Barang Kiriman Melalui Perusahaan Jasa Titipan Pasal 26 (1) PJT yang akan melaksanakan kegiatan impor barang kiriman harus mengajukan permohonan kepada Kepala kantor pabean sesuai contoh format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepala kantor pabean memberikan persetujuan sesuai contoh format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran V Peraturan Menteri Keuangan ini. (3) PJT dapat melaksanakan kegiatan impor barang kiriman setelah menyerahkan mempertaruhkan jaminan tunai, jaminan bank, atau customs bond yang besarnya ditetapkan oleh kepala kantor pabean. (4) Penetapan jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilakukan dengan memperhatikan jumlah bea masuk dan pajak dalam rangka impor dalam periode penangguhan pembayaran tertentu atas barang kiriman yang diberitahukan oleh PJT. Pasal 27 (1) Barang kiriman melalui PJT harus memenuhi ketentuan paling berat 100 (seratus) kilogram untuk setiap House Airway Bill (AwB). (2) Pengecualian dari ketentuan mengenai barang kiriman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan terhadap : a. barang kiriman untuk tujuan tempat penimbunan berikat; atau b. barang kiriman lainnya yang memperoleh izin dari Direktur Jenderal. (3) Atas barang kiriman melalui PJT yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diberlakukan ketentuan umum di bidang impor. Pasal 28 (1) Pengeluaran barang kiriman melalui PJT dilaksanakan setelah diajukan Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT). (2) PIBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan ke kantor pabean melalui media elektronik atau secara manual. (3) Pejabat bea dan cukai menetapkan tarif dan nilai pabean serta menghitung bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang wajib dilunasi atas barang kiriman melalui PJT. (4) Bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang terutang wajib dilunasi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah diterbitkannya persetujuan pengeluaran barang. Pasal 29 (1) Pengeluaran barang kiriman melalui PJT untuk tujuan tempat penimbunan berikat berlaku ketentuan mengenai prosedur pemasukan barang ke tempat penimbunan berikat. (2) Pengeluaran barang kiriman melalui PJT yang terkena ketentuan pembatasan impor, dapat disetujui setelah semua persyaratan impornya dipenuhi. 10 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

BAB IV PENETAPAN TARIF BEA MASUK Pasal 30 Pejabat bea dan cukai menetapkan tarif bea masuk atas impor barang pribadi penumpang, barang awak sarana pengangkut, barang pelintas batas dan barang kiriman. Pasal 31 (1) Penetapan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 didasarkan pada tarif bea masuk dari jenis barang bersangkutan. (2) Dalam hal barang impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 lebih dari 3 (tiga) jenis barang, pejabat bea dan cukai menetapkan hanya satu tarif bea masuk berdasarkan tarif barang tertinggi. BAB V KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 32 Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku : (1) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 490/KMK.05/1996 tentang Tatalaksana Impor Barang Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas, Kiriman Pos, Dan Kiriman Melalui Perusahaan Jasa Titipan; (2) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 358/KMK.04/ 2001 tentang Pembebasan Bea Masuk, Pajak Dalam Rangka Impor Dan Cukai Atas Pemasukan Barang Penumpang Dari Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas Sabang Ke Dalam Daerah Pabean Indonesia Lainnya, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 33 Ketentuan teknis yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 34 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Agustus 2007 MENTERI KEUANGAN ttd SRI MULYANI INDRAWATI BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007 11

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 89/PMK.04/2007 TENTANG IMPOR BARANG PRIBADI PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS DAN BARANG KIRIMAN

DEPARTEMEN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI ................................ KARTU IDENTITAS LINTAS BATAS Nomor : ............ Nama Tgl. Lahir/Umur Pekerjaan Alamat No. Pas Lintas Batas/Paspor KTP No. Jumlah orang dalam Keluarganya yang memperoleh KILB : : : : : : : ………….., ……………………….20……

Kepala Kantor

Pas Foto 3x4 Nama NIP

Berlaku s.d tanggal

MENTERI KEUANGAN, Ttd SRI MULYANI INDRAWATI 12 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 89/PMK.04/2007 TENTANG IMPOR BARANG PRIBADI PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS DAN BARANG KIRIMAN. BUKU PAS BARANG LINTAS BATAS Atas Nama : ……………. Nomor KILB : ……………. Bulan : Tgl. URAIAN BARANG BRUTO Kg JUMLAH JENIS NILAI PABEAN

KETERANGAN *)

Keterangan :

*) diisi antara lain : * * Ringkasan Hasil Pemeriksaan Penetapan oleh Pejabat Bea dan Cukai tentang Nilai Pabean, Jumlah bea-bea yang harus dibayar

MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007 13

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 89/PMK.04/2007 TENTANG IMPOR BARANG PRIBADI PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS DAN BARANG KIRIMAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KANTOR WILAYAH ………………… KANTOR PELAYANAN ……………………. Jalan………………….. ……………………….. Telepon Faksimili : : ……..………….. ………………….

NOTA PEMERIKSAAN Nomor : ………….. Tanggal ……………… KILB : ……………

Pejabat Bea dan Cukai,

Nama NIP.

Penetapan Nilai Pabean

MENTERI KEUANGAN ttd. SRI MULYANI INDRAWATI

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 89/PMK.04/2007 TENTANG IMPOR BARANG PRIBADI PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS DAN BARANG KIRIMAN (kop surat dari yang bersangkutan)

Tanggal ………………… Hal : Permohonan untuk Melakukan Kegiatan Kepabeanan di Wilayah Kerja Kantor ……………. ……………….. ………………..

Yth.

:

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan NPWP Alamat Izin PPJK No./Tgl Izin PJT No./Tgl : : : : : : ………………………………… ………………………………… ………………………………… ………………………………… ………………………………… …………………………………

dengan ini mengajukan permohonan untuk mendapatkan surat persetujuan melakukan kegiatan kepabeanan di bidang usaha jasa titipan di wilayah kerja Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ……………………… Demikian disampaikan untuk dimaklumi.

Pemohon, …………….. (nama jelas)

MENTERI KEUANGAN ttd. SRI MULYANI INDRAWATI BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007 15

s

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 89/PMK.04/2007 TENTANG IMPOR BARANG PRIBADI PENUMPANG, AWAK SARANA PENGANGKUT, PELINTAS BATAS DAN BARANG KIRIMAN. DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KANTOR WILAYAH ……………. KANTOR PELAYANAN ………………. Jalan ………………….. ………………………… Telepon Faksimili : : …………… …………….

Nomor Sifat Lamp. Hal

: : : :

S/BC…./20…. Persetujuan melakukan kegiatan Kepabeanan a.n. Perusahaan Jasa Titipan ……………………… …………………. ………………….

Tanggal …………………

Yth.

:

Menunjuk surat Saudara Nomor : ………………….. tanggal …………… hal ………………. dengan ini kami sampaikan bahwa permohonan Saudara untuk melakukan kegiatan kepabeanan di bidang usaha Jasa Titipan di wilayah kerja Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ………………. Dapat disetujui dengan syarat mempertaruhkan jaminan tunai/bank pada Bendaharawan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai ………….. sebesar Rp …………………… (……………………….). Demikian untuk dimaklumi. Kepala Kantor, Nama NIP. Tembusan Yth. : 1. Direktur Teknis Kepabeanan 2. Kepala Kantor Wilayah …………….. MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI 16 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 397 DESEMBER 2007

s

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->